Eps 6 Beruang Salju - Sin Liong
Baca online Beruang Salju - Sin Liong
Cersil Beruang Salju - Sin Liong.
Lelaki yang dipanggil toako itu juga telah menghela napas dan kemudian menoleh kepada wanita itu sambil tersenyum.
Itulah senyum yang mengandung keputus-asaan juga.
"Benar adik Hu, jika dalam tiga hari kita tidak berhasil bertemu dengan daratan, tentu berarti kita membuang jiwa percuma di lautan ini......!"
Dan dia menghela napas lagi. Wanita itu, si Adik Hu, telah menghela napas dalam-dalam, katanya.
"Jika kita berdua harus membuang jiwa di lautan ini memang tidak menjadi persoalan apa-apa, kitapun tidak akan menyesal karenanya. Aku akan menerima dengan ikhlas dan senang hati. Tapi bagaimana dengan si Kie itu.......?!"
Sambil berkata begitu, wanita ini telah menggeser duduknya, dia mengawasi gadis kecil yang tengah rebah tertidur nyenyak tidak jauh dari tempatnya duduk.
Dilihatnya gadis kecil itu seperti tengah bersenyum, hatinya semakin berduka, dia bilang lagi.
"Makhluk kecil yang masih suci dan tidak tahu apa-apa.... kasihan jika si Kie ini harus ikut membuang jiwa di lautan ini..... betapa mengecewakan sekali! Aku benar-benar menyesal.....!"
Dan tanpa bisa ditahan lagi, dari ke dua sudut mata wanita itu telah menitik butir-butir air mata.
Rupanya dia memang tengah berduka dan berputus asa.
Laki-laki yang tadi dipanggil Toako itu telah bangkit untuk berdiri, dia mengawasi sekitar lautan itu.
Hanya permukaan laut dan langit yang dilihatnya, semuanya tidak bertepi.
Kelam dalam kegelapan malam, walaupun dibantu oleh cahaya rembulan dan jutaan bintang namun keadaan di sekitar lautan itu kelam dan gelap hanya di permukaan laut itu saja yang berkerlap-kerlip tertimpah cahaya rembulan dan bintang, yang berkilauan memantulkan cahaya dari ke dua penjaga malam itu.
"Ya, memang sulit buat kita lolos dari kematian jika dalam beberapa hari ini belum berhasil menemukan daratan. Telah empat hari kita tidak makan sepotong barang makanan apapun juga, kasihan si Kie, walaupun dia bisa bertahan satu-dua hari lagi, tapi bagaimana selanjutnya? Kita memerlukan air untuk minum.....! "
Toako, aku benar-benar menyesal sekali....."
Kata wanita itu lagi.
"Apa yang kau sesalkan?"
Tanya toako itu.
"Si Kie ini.....!"
Menyahuti adik Hu itu, "Inilah sudah takdir.....
kita mana menduga sebelumnya akan bencana yang menimpah kita?
Soal si Kie, dengan sendirinya diapun mengalami nasib buruk seperti ini, karena memang dia ikut serta dengan kita dalam perjalanan ini."
"Justeru karena dia ikut bersama kita dalam perjalanan kali ini, maka akhirnya kita sama juga seperti mencelakai si Kie, menyeretnya terlibat dalam bencana ini. Aku benar-benar menyesal! Coba jika waktu keberangkatan kita itu aku memenuhi permintaan Kong-kong agar si Kie ini ditinggal saja bersama dia, untuk dibawa ke Tho-hoa-to, tapi permintaan Kong-kong telah kutolak, karena aku berat untuk berpisah dengan si Kie ini. Akhirnya..... akhirnya....!"
Dan adik Hu itu tidak bisa meneruskan perkataannya, karena dia telah terisak-isak menangis, tampaknya benar-benar dia sangat berduka dan berputus asa.
Si Toako itu menghela napas, katanya dengan sabar.
"Sudahlah adik Hu, untuk apa engkau berduka seperti itu? Tokh semuanya ini telah terjadi, yang terpenting kita harus berusaha bagaimana mengatasinya dan mudah-mudahan saja, dalam satu atau dua hari ini kita bisa bertemu dengan daratan......!"
Si adik Hu itu menghapus air matanya, dia menghela napas lagi dalam-dalam.
Tapi dia tidak bilang sesuatu apa lagi, hanya mengawasi gadis kecil yang tengah tertidur nyenyak itu, di mana si Kie itu tampak tertidur dengan bibir masih seperti tersenyum, pipi yang memerah.....
Perahu kecil itu masih terombang-ambing terus di permukaan laut, karena si Toako itu tidak memiliki kayu pengayuh, dengan sendirinya perahu itu terombang-ambing tidak dapat dikendalikan arahnya, hanya menuruti saja ke mana gelombang laut membawanya.....
Ternyata, wanita yang dipanggil sehagai adik Hu itu tidak lain dari Kwee Hu.
Sedangkan toako itu adalah suaminya, yaitu Yeh-lu Chi.
Mereka memang telah belasan tahun, bahkan hampir duapuluh tahun menjadi suami isteri, selama itu belum juga dianugerahi turunan.
Dan baru empat tahun yang lalu mereka dikaruniai seorang puteri, yang sangat dimanja oleh mereka.
Dan si Kie itu, puteri mereka satu-satunya, merupakan dambaan kasih sayang mereka yang dilimpahkan seluruhnya dengan segala kemanjaannya.
Tapi siapa tahu sekali ini di saat mereka melakukan perjalanan air dengan mengajak si Kie ini, justeru telah bertemu bencana yang tidak mereka sangka-sangka sehingga hati mereka berat sekali memikirkan keselamatan si Kie ini......
Sesungguhnya Yeh-lu Chi bersama isterinya, Kwee Hu dan puterinya, si Kie, tengah melakukan perjalanan dari So-ciang akan menuju ke Ciat-kang, mereka telah menumpang di sebuah kapal besar yang penumpangnya umumnya para saudagar.
Perjalanan laut seperti itu mungkin akan memakan waktu satu bulan lebih untuk mencapai Ciat-kang.
Di hari-hari pertama pelayaran itu tak menemui rintangan apapun juga, kapal berlayar dengan tenang.
Namun pada hari ketigabelasnya di waktu tengah malam yang sunyi dan kapal besar itu tengah meluncur dengan menerjang gelombang itu di saat para penumpangnya tengah tertidur lelap dengan mimpi masingmasing, maka telah datang bencana yang tidak diinginkan.
Semua itu diawali dengan bermunculan puluhan kapal yang cukup besar, yang telah mengepung kapal ini, mereka rupanya adalah bajak-bajak laut.
Malah panah-panah berhamburan ke kapal besar itu.
Anak kapal jadi panik, terlebih lagi ratusan pembajak itu telah melompat naik pindah ke kapal besar yang ditumpangi oleh Yeh-lu Chi bersama isteri dan puterinya serta para saudagar itu.
Suara teriakan mereka yang hiruk pikuk telah membangunkan penumpang kapal itu yang semuanya jadi ketakutan.
Dari rombongan pembajak itu telah muncul seorang lelaki bertubuh semampai, dengan kopiah pelajar dan jubah panjang, di tangannya mencekal sebatang seruling, yang telah dibolang-balingkan berulang kali, dan wajahnya dingin waktu dia berkata.
"Semua barang-barang kalian bawa ke mari, tidak sepotong barangpun boleh disembunyikan, yang membangkang, jiwanya akan dikirim menghadap Hay-liong-ong!"
Semua penumpang kapal itu dan juga para awak kapal ketakutan bukan main.
Terlebih lagi para anak kapal itu, yang segera mengetahui bahwa bajak laut ini, yang memakai bendera bergambar sebatang pedang pada tiap-tiap kapal mereka itu merupakan bajak laut-bajak laut yang sangat terkenal sekali di sekitar lautan yang melintas untuk mencapai Ciat-kang, yaitu Kiam-mo-pang atau si Pedang Maut.
Keganasan bajak laut Kiam-mo-pang ini memang telah diketahui oleh semua pemilik kapal layar yang sering mengambil lintas perjalanan di sekitar lautan itu.
Dan justru tidak diduga oleh pemilik kapal yang ditumpangi oleh Kwee Hu dan yang lainnya, bahwa bajak laut yang terkenal keganasannya itu bisa muncul menghadang mereka.
Jika semua penumpang kapal yang lainnya tengah panik dan ketakutan, justru di saat itu Yeh-lu Chi bersama Kwee Hu dan puteri mereka diam di kamar mereka dengan tenang.
Mereka hanya berwaspada jika memang bajak-bajak laut itu akan mengganggu, barulah mereka akan turun tangan.
Banyak barang-barang yang telah dikumpulkan saudagar yang menumpang di kapal itu dan rupanya si pemuda pelajar yang di tangannya mencekal seruling itu masih tidak puas tahu-tahu dia menggerakkan tangan kanannya itu, sambil katanya.
"Geledah semuanya, tidak boleh sepotong barangpun yang tertinggal!"
Anak buah pembajak itu yang semula hanya berdiam diri saja telah bersorak dengan suara yang hiruk pikuk dan menyerbu masuk ke dalam ruangan bawah kapal itu.
Kamar demi kamar telah diperiksanya dan setiap barang yang ditemukannya, selalu mereka ambil tanpa memperdulikan pemiliknya yang berlutut dan sesambatan meminta agar mereka itu dikasihani dan barang mereka jangan diambil ke seluruhannya.
Ketika dua orang pembajak telah berada di hadapan kamar Yeh-lu Chi, mereka saling pandang karena pintu kamar terkunci.
Salah seorang di antara mereka telah tertawa menyeringai dan menggerakkan kaki kanannya, mendupak daun pintu dengan kuat sekali.
Pintu menjeblak terbuka dan ke duanya melangkah masuk dengan tertawa-tawa.
Tapi suara tertawa mereka segera berhenti, diganti dengan suara jeritan karena tubuh ke dua orang bajak laut yang kekar dan tinggi besar itu telah terlempar keluar kamar lagi.
Menyusul dengan itu, tampak melangkah keluar Yeh-lu Chi dengan muka yang merah padam.
"Manusia-manusia yang mencari mampus!"
Kata Yeh-lu Chi.
"Kalian benar-benar ingin pergi menghadap Hay-liong-ong, heh?!"
Ke dua pembajak itu jadi ketakutan karena mereka merasakan tadi, waktu melangkah masuk, tahu-tahu Yeh-lu Chi ini menggerakkan tangan kanannya dan tubuh mereka berdua telah tersampok keluar dengan menderita kesakitan hebat di dada mereka, karena beberapa tulang iga mereka telah patah.
Tanpa mengatakan suatu apapun juga, hanya dengan meringis menahan sakit mereka telah merangkak untuk meninggalkan kamar itu.
Waktu itulah telah berdatangan belasan pembajak lainnya.
Yeh-lu Chi telah menghampirinya, dan tanpa mengatakan sepatah katapun juga, telah menggerakkan ke dua tangannya, maka jungkir baliklah para pembajak itu sambil mengeluarkan suara jerit kesakitan dan kaget.
Senjata tajam yang dicekal mereka masing-masing telah terlepas terlempar malang melintang di lantai.
Keadaan jadi ribut sekali oleh jerit kesakitan mereka dan juga mereka telah ada yang lari ketakutan keluar meninggalkan ruangan bawah kapal itu.
Mendengar suara ribut-ribut di ruangan bawah, lelaki berpakaian pelajar dengan seruling di tangan kanannya itu, telah mendengus sambil menggumam perlahan dengan sikap mendongkol.
"Gentong-gentong nasi yang tidak punya guna...... Entah apa yang tengah dilakukan mereka?"
Dan dia melangkah masuk ke ruangan bawah.
Di saat itu, Yeh-lu Chi juga telah melangkah keluar, dan mereka berpapasan.
Pemuda pelajar itu mengawasi Yeh-lu Chi beberapa saat dengan bibir tersungging senyuman mengejek, kemudian dia menegur dengan tawar.
"Engkaukah yang melabrak anak buahku?"
Yeh-lu Chi tidak segera menyahuti, dia mengawasi pelajar itu, dia mengetahui pemuda ini tentunya memiliki kepandaian yang tidak rendah, namun dia tidak jeri.
Dengan suara yang tawar Yeh-lu Chi telah berkata.
"Benar, memang aku yang telah menghajar mereka. Sekarang juga kalian menggelinding tinggalkan kapal ini.....!"
Sambil berkata begitu Yeh-lu Chi telah bergerak gesit sekali, dia bukan hanya sekedar berkata saja, ke dua tangannya telah bekerja dengan cepat sekali.
Di mana setiap kali tangannya bergerak, dia telah berhasil mencengkeram seorang bajak laut dan melemparkannya keluar kapal, sehingga bajak laut itu tercebur ke laut dan air muncrat tinggi sekali diiringi suara jerit kaget mereka.
Dalam waktu sekejap saja belasan orang telah dilontarkan seperti itu oleh Yeh-lu Chi.
Pelajar yang mencekal seruling di tangannya berobah mukanya, dia telah menyaksikan bahwa orang ini tentunya bukanlah sembarangan orang, kepandaianya tinggi sekali.
Dia mendengus dua kali, tanpa mengatakan sesuatu apapun juga, dia telah menggerakkan serulingnya dengan lompatan yang sangat ringan, ujung serulingnya akan menotok pundak Yeh-lu Chi.
Namun Yeh-lu Chi berhasil menghindarkan totokan itu dengan gesit sekali, tangan kanannya digerakkan untuk menyampok, tangan kirinya bekerja cepat akan mencengkeram.
Pelajar itu berkelit ke samping, dia menurunkan serulingnya itu dengan sikap seperti tengah memberi hormat, namun kenyataannya serulingnya itu menyambar hebat sekali akan menotok dada di sebelah kiri Yeh-lu Chi.
Yeh-lu Chi telah menyampok pula serangan itu, itulah sampokan yang kuat dan cepat, maka seruling itu telah berhasil disampok terpental ke samping, benturan yang terjadi sangat kuat sekali!
Pelajar itu terkejut, dia melompat mundur beberapa langkah ke belakang, dia mementang matanya lebar-lebar dan mengawasi tajam, lalu dengan suara tawar dia bertanya.
"Siapa kau..... tampaknya engkau tidak lemah dan kepandaianmu itu lumayan juga.....!"
Yeh-lu Chi telah tertawa dingin.
"Aku Yeh-lu Chi, ingin kulihat apa yang hendak kalian lakukan.....!"
Dan sambil berkata, Yeh-lu Chi telah melirik, dilihatnya ratusan anak buah pelajar yang mempergunakan seruling sebagai senjatanya itu, telah mengambil sikap mengepung. Diam-diam Yeh-lu Chi berpikir.
"Hemmm, jumlah mereka sangat besar. Memang aku tidak perlu jeri berurusan dengan mereka, namun jika mereka mengeroyok terus menerus dengan nekad, tentu sulit buat aku merubuhkan mereka semuanya..... Aku harus segera memperlihatkan sesuatu untuk menundukkan mereka!"
Karena berpikir begitu, tanpa menanti serangan pelajar yang mempergunakan seruling sebagai senjatanya itu, Yeh-lu Chi telah melompat sambil mencengkeram, dan tangan kirinya pun bergerak beruntun beberapa kali, dengan demikian cengkeraman dan pukulan saling berseliweran tidak hentinya.
Pelajar itu sesungguhnya ingin berkata-kata lagi, tapi melihat dirinya diserang seperti itu, dia jadi terkejut, karena belum lagi serangan sampai justru dia telah merasakan sambaran angin yang kuat sekali menyambar ke berbagai bagian anggota tubuhnya.
Dengan gesit dia mengelakkan, dia telah mempergunakan serulingnya untuk membalas menyerang, dia pun menotok beberapa kali.
Jurus demi jurus lewat cepat sekali namun kali ini Yeh-lu Chi telah menyerang dengan hebat sekali, karena dalam beberapa jurus dia ingin menawan pelajar itu, untuk dipergunakan menggertak anak buahnya.
Serangan yang dilakukan oleh Yeh-lu Chi memang telah berulang kali membuat pelajar itu harus melompat mundur, karena dia sudah tidak sempat untuk menangkis atau berkelit sama sekali.
Pemimpin bajak ini tidak menyangka bahwa hari ini dia bertemu dengan seorang yang memiliki kepandaian demikian tinggi seperti Yeh-lu Chi ini.
Waktu itu, Yeh-lu Chi telah berulang kali mendesak pelajar itu, kemudian cepat luar biasa tangan kirinya telah digerakkan untuk mengelakkan diri.
Di saat yang tepat sekali Yeh-lu Chi telah menggerakkan tangannya yang kanan, tahu-tahu dia telah menghajar dengan kuat sekali pundak pemimpin bajak itu, sampai tubuh pemimpin bajak tersebut terhuyung.
Dan mempergunakan kesempatan baik ini, Yeh-lu Chi telah membarengi lagi menotok dua jalan darah yang berada di pinggang pelajar itu.
Totokan itu jitu mengenai sasaran, rubuhlah pelajar yang bersenjata seruling tersebut.
Yeh-lu Chi melihat ratusan pembajak itu akan bergerak menyerbu kepadanya dengan senjata terhunus, maka cepat-cepat Yeh-lu Chi berjongkok, tangannya menekan jalan darah Sun-tai-hiat dari pelajar tersebut, dia membentak perlahan.
"Perintahkan mereka mundur......!"
Pelajar itu yang telah tertotok dua jalan darah di dekat pinggangnya, tidak bisa bergerak dan sekarang orang memijit jalan darah Sun-tai-hiat nya.
Jika memang jalan darah itu dipijit lebih kuat lagi, niscaya dia akan punah kepandaiannya dan menjadi manusia bercacad seumur hidup.
Dengan muka pucat dan ketakutan dia telah berseru kepada semua anak buahnya.
"Mundur! Kalian mundur.....!"
Para pembajak yang semula hendak menyerbu itu, jadi merandek dan memandang heran kepada pemimpin mereka, namun tidak seorang pun di antara mereka yang berani membantah perintah tersebut.
Mereka telah mundur lagi menjauhi.
"Hemmm, sekarang kau pilih, apakah kau ingin mengajak anak buahmu menyingkir atau memang kau ingin mampus?!"
Tanya Yehlu Chi dengan suara yang bengis.
"Apakah kau berani membunuhku?!"
Tanya pelajar itu dengan suara mengejek.
"Hemm, selembar saja dari rambutku terganggu di tanganmu, walaupun kau melarikan diri ke ujung dunia, hemmm, hemmm, tentu pihak Kiam-mo-pang tidak akan berpeluk tangan.....!"
Yeh-lu Chi tertawa dingin.
"Oh, jadi kalian dari Kiam-mo-pang! Bagus! Bagus!"
Kata Yeh-lu Chi.
"Apanya yang bagus?!"
Tanya pemimpin bajak itu sengit, dia meadongkol telah dirubuhkan Yeh-lu Chi dengan mudah dan sedang heran menduga-duga entah siapa lelaki yang berusia setengah baya namun liehay ilmunya ini.
"Memang kami dari Kay-pang bermaksud untuk menumpas Kiammo-pang! Telah cukup banyak yang kami dengar, bahwa Kiam-mopang merupakan perkumpulan bajak laut yang sesat! Jika hanya sekedar membajak kapal-kapal saudagar, itu tidak bisa kami persalahkan karena memang itulah pekerjaan kalian, yang berdagang tanpa modal di lautan ini! "
Tapi, yang kami dengar berlainan.
Kiam-mo-pang bukan hanya sekedar melakukan pekerjaan itu menurut aturan Kang-ouw yang ada, dan banyak melakukan perbuatan hina, yaitu wanita-wanita yang jadi penumpang kapal yang dibajak itu diperkosa, diculik dan dibunuh dengan kejam.
Para penumpang laki-lakinya disiksa dan dianiaya, walaupun harta benda mereka telah dirampas!"
Yang lebih hebat lagi, Kiam-mo-pang pun telah membantu pemerintah Boan-ciu dalam hal datang ke daratan Tiong-goan, banyak anak buah Kiam-mo-pang yang telah bekerja untuk tentara musuh.....!
Inilah merupakan hal yang inginku ketahui dengan jelas, kau harus menjawabnya dengan jujur!
Benarkah kalian bekerja untuk pemerintah Boan-ciu?!"
Muka pelajar itu jadi berobah.
Dia adalah Hu Pangcu, wakil ketua, dari Kiam-mo-pang, wakil ketua tingkatan muda.
Sesungguhnya, dia hanya bertugas untuk membajak setiap kapal yang mereka jumpai.
Urusan yang ditanya oleh Yeh-lu Chi tidak diketahuinya dengan pasti, namun yang diketahuinya, Pangcunya memang memiliki hubungan yang erat dengan pihak pemerintah yang berada di daratan Tiong-goan, yaitu orang-orang Boan itu.
Dengan demikian selamanya bajak laut Kiam-mo-pang itu tidak pernah memperoleh gangguan dari pasukan kerajaan......
Melihat orang termenung diam saja, Yeh-lu Chi telah bertanya bengis.
"Cepat kau jawab, apakah benar kalian memang telah bekerja untuk tentara Boan?" Pelajar itu telah dapat mengendalikan goncangan hatinya, dia mengawasi Yeh-lu Chi, tanyanya dengan dingin.
"Jadi kau dari Kay-pang.....?!"
Yeh-lu Chi mengangguk.
"Ya, aku dari Kay-pang.....!"
Mengangguk Yeh-lu Chi.
"Baik, sekarang kau bebaskan aku dari totokanmu, nanti aku akan sampaikan pada Pangcu kami, dan tentu kami dari Kiam-mo-pang akan berkunjung pada Kay-pang untuk meminta pengajaran......!"
Kata pelajar bersenjata seruling itu.
"Aku Giok-bian-gin-tok (Muka Kumala Seruling Perak) Sun Boh Siang tak akan mensia-siakan keinginanmu untuk menyelesaikan urusan ini......!"
Yeh-lu Chi mendengar perkataan pelajar itu jadi tertawa dingin, dia bilang tawar.
"Jadi kau ingin menentang dan memusuhi Kay-pang? Bagus! Bagus! Seperti yang telah kukatakan tadi bahwa kami memang sesungguhnya ingin sekali menumpas Kiam-mo-pang, dan sekarang aku bertemu dengan kau, biarlah kau berangkat terlebih dulu menghadap ke Giam-lo-ong.....!"
Dan sambil berkata begitu Yeh-lu Chi mengangkat tangan kanannya, akan menghantam batok kepala Sun Boh Siang. Muka Sun Boh Siang jadi pucat pias. Dia berseru.
"Tahan......!"
Yeh-lu Chi melihat gertaknya telah berhasil memecahkan nyali orang she Sun tersebut. Ia bertanya dengan diiringi tertawa dinginnya.
"Bagus, apakah sekarang kau mau bicara......?!" "Soal hubungan kami dari Kiam-mo-pang dengan pihak kerajaan Boan, tidak kuketahui dengan jelas. Aku bicara dari hal yang sebenarnya..... tapi yang jelas, memang kami memiliki hubungan yang erat dengan beberapa orang pembesar Boan. Jika memang kau menghendaki keterangan yang lebih lengkap, maka silahkan tuan ikut bersama kami ke markas Kiam-mo-pang, di sana aku seorang she Sun akan mengajar kenal tuan dengan pemimpinpemimpin kami......!"
"Hemmm, bukankah maksudmu agar aku masuk ke dalam sarang kalian dan di waktu itu dengan mempergunakan tipu daya yang keji dan licik, kalian akan membinasakan? Hemm, Hemm."
Dan Yeh-lu Chi telah mengawasi dengan mata yang mendelik, tanyanya.
"Siapa-siapa saja pemimpin kalian.....?"
"Semua ada..... ada empat orang..... termasuk aku jadi jumlahnya lima....!"
Kata Sun Boh Siang dengan suara tidak begitu lancar.
"Pemimpin kami yang pertama adalah Sin-kun-bu-tek (Kepalan Dewa Tanga Tandingan) Shangkuan Eng Liang, dan..... dan.....!"
Tetapi Sun Boh Siang belum melanjutkan perkataannya itu anak buah kapal tersebut telah menjadi panik, karena angin berhembus keras sekali, semakin lama gelombang lautan itu semakin besar dan menerjang-nerjang kapal tersebut.
Anak buah Kiam-mo-pang sendiri juga telah panik, di antara mereka telah berteriak-teriak.
"Kapas putih datang! Kapas putih datang.....!"
Yeh-lu Chi tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh anak buah Sun Boh Siang dengan sebutan "Kapas Putih"
Itu.
Tetapi yang diketahuinya angin memang berhembus semakin kuat saja, gelombang laut menerjang dengan dahsyat sangat tinggi sekali.
Malah dua buah kapal milik pembajak-bajak itu telah terhempas gelombang besar itu, sampai saling bentur dengan keras dan hancur karenanya!
Perlahan-lahan, ke dua kapal yang telah hancur itu karam ke dalam laut!
Semua orang jadi semakin panik terutama anak buah Sun Boh Siang yang telah berlompat-lompat untuk melompat naik ke kapal mereka masing-masing.
Namun akibat besarnya gelombang dan angin yang berhembus sangat kuat sekali, maka kapal-kapal itu tergoyang-goyang tidak hentinya.
Banyak di antara anak buah Sun Boh Siang yang telah tergelincir jatuh ke dalam laut dan dilempar gelombang, kemudian lenyap tertelan lautan yang mulai ngamuk itu, entah dibawa pergi kemana.....
Yeh-lu Chi yang menyaksikan ini juga terkejut.
Dia menoleh kepada pemilik kapal yang ditumpanginya itu sambil berseru agar anak-anak kapal itu berusaha untuk mengendalikan kapal mereka.
Dan para anak kapal tersebut telah bekerja, mereka telah menurunkan layar, malah ada salah satu tiangnya yang telah patah ambruk menimpah lantai kapal, menimbulkan goncangan yang keras.
Apa lagi, gelombang laut waktu itu menerjang dahsyat sekali, sehingga kapal itu miring ke kiri dan ke kanan tidak hentinya seperti akan terbalik.
Malah yang lebih hebat, dari arah barat telah datang bergulunggulung semacam gumpalan angin yang berputar-putar, berwarna putih.
Mungkin juga gulungan angin yang berputar itulah yang disebut "Kapas Putih"
Oleh para pembajak itu.
Bukan main kagetnya Yeh-lu Chi yang melihat gulungan angin topan yang bergulung-gulung itu.
Jika kapal mereka masuk ke dalam lingkaran gulungan angin itu niscaya kapal ini tidak dapat selamat dan akan tergulung karam karenanya.
Tanpa memperdulikan segala apa lagi, Yeh-lu Chi telah menjejakkan kakinya, dia melompat masuk ke ruang bawah kapal itu, untuk memeluk puterinya dengan kuat dan meminta Kwee Hu memegang tangannya dengan kuat.
Kwee Hu sesungguhnya memiliki kepandaian yang tinggi dan hanya satu tingkat di bawah kepandaian suaminya.
Namun menghadapi bahaya seperti itu, di mana mereka terancam akan terkubur di dasar lautan, jika saja kapal ini karam, terutama memang mereka pun bersama-sama puteri tunggal mereka yang sangat dikasihi, Kwee Hu pun jadi panik sekali.
"Tenang mari kita mencari kapal penolong....!"
Kata Yeh-lu Chi.
Dan belum lagi dia menyelesaikan perkataannya itu, tiba-tiba telah terdengar suara benturan yang keras, dibarengi dengan suara patahnya papan atau kayu.
Di waktu itu kapal itu juga telah tergoncang hebat sekali.
Syukur Yeh-lu Chi dan Kwee Hu memiliki ginkang yang telah sempurna, mereka menancapkan kuda-kuda ke dua kaki mereka.
Tubuh mereka tidak sampai terlempar terguling, walaupun kapal itu telah tergoncang begitu hebat.
Yeh-lu Chi sendiri telah memeluk kuat-kuat puterinya, karena dia kuatir pelukannya itu akan terlepas.
Saat itu, terdengar suara benturan keras lagi disusul dengan suara jeritan dari beberapa orang yang tengah panik dan rupanya banyak penumpang kapal itu, saudagar maupun pemilik dan anak kapal itu yang telah terlempar dari kapal mereka.
Di saat mana anak buah dari Kiam-mo-pang juga sebagian telah terlempar ke laut, di mana mereka diseret gelombang yang sangat besar sekali.
Waktu itu, Yeh-lu Chi melihat bahwa goncangan di kapal itu semakin keras dan hebat.
Dengan demikian telah membuat Yehlu Chi melompat ke samping isterinya, dia mengulur tangan kanannya, dia mencekal tangan isterinya, agar jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Misalnya kapal itu hancur atau karam, dia bisa tetap berkumpul dengan isteri dan puterinya untuk menyelamatkan diri.
Dengan demikian, Yeh-lu Chi juga telah bilang kepada Kwee Hu.
"Engkau harus berusaha dengan mempergunakan ilmu ginkangmu, aku akan mencari sebuah kapal untuk kita pergunakan menyelamatkan diri, adik Hu.....!"
Setelah berkata begitu, tampak Yeh-lu Chi dengan menggendong puterinya si Kie itu, yang telah menangis karena kaget mengalami kepanikan seperti itu, juga dengan tangan yang satu tetap mencekal lengan Kwee Hu, melompat gesit sekali.
Kwee Hu menuruti pesan suaminya, dia mempergunakan ginkangnya, sehingga tubuhnya jadi ringan sekali waktu suaminya mengajaknya melompat seperti itu.
Tapi ketika Yeh-lu Chi bersama isteri dan puterinya telah tiba di atas kapal itu, rupanya topan dan badai yang menerjang itu tengah bergolak hebat sekali dengan gulungan angin yang membuat kapal itu berputar-putar.
Muka Yeh-lu Chi jadi pucat pias, dia segera menekan lengan isternya, dia bilang.
"Duduk..... duduk bersemadhi..... duduk!"
Kwee Hu menuruti permintaan suaminya, dia duduk, dan di waktu itu tampak Yeh-lu Chi telah melompat mengambil sebuah tambang dan telah mengikat tubuh Kwee Hu dengan beberapa libatan.
Lalu Yeh-lu Chi bekerja lagi dengan cepat.
Sambil tangannya yang satu memeluki puterinya, tangannya yang lain telah mengikat dirinya sendiri.
Dengan demikian tidak lama kemudian waktu angin yang bergulung-gulung itu tiba dan kapal itu berputar, Yeh-lu Chi, Kwee Hu, tidak terlempar dari tempatnya berada.
Hanya saja, kepala mereka jadi pusing bukan main, mata mereka jadi nanar, karena kapal di mana mereka berada itu seperti juga sebuah kulit kacang yang telah berputar-putar tidak hentinya tergulung oleh angin yang kuat dan keras bergulung-gulung itu.
Yeh-lu Chi jadi mengeluh, karena dilihat dalam suasana yang begitu hiruk pikuk dan juga sekitarnya gelap oleh kabut yang tebal, si Kie puterinya, telah pingsan tidak sadarkan diri!
Sedangkan Kwee Hu waktu itu menutup matanya rapat-rapat, untuk mengendalikan tubuhnya agar tidak terseret keluar oleh gulungan angin hebat itu.
Cepat-cepat dengan mempergunakan tangan kanannya, Yeh-lu Chi mengurut-uruti punggung puterinya, dan si Kie memang telah tersadar kembali.
Waktu itu, putaran pada kapal tersebut telah mulai perlahan, karena memang hembusan angin bergulung hebat itu telah lewat laut.....
Lautpun tidak lama kemudian menjadi tenang kembali.
Setelah menanti sekian lama, dan setelah yakin semuanya tenang dan bahaya telah lewat, Yeh-lu Chi membuka ikatan pada tubuhnya.
Diapun lalu membuka ikatan pada tubuh Kwee Hu, menyerahkan puterinya pada isterinya, di waktu mana Kwee Hu masih merasakan kepalanya itu pusing dan matanya berkunangkunang, karena terputar-putar terus menerus waktu kapal itu diperintahkan oleh gulungan angin.
Namun sebagai pendekar wanita yang memiliki kepandaian tinggi, cepat sekali dia dapat mengusai diri.
Dan Yeh-lu Chi sendiri dengan mengerahkan lweekangnya, telah berhasil pulih kesegarannya.
Dia melompat keluar, dan waktu berada di tingkat atas kapal itu, dia jadi menjublek!
Kapal di mana mereka berada ternyata telah mengalami kerusakan yang hebat sekali, di kapal itupun tidak terlihat seorang manusia pun juga.
Semua barang telah terbawa pergi oleh gulungan angin.
Hanya sebuah perahu kecil yang masih terikat kuat di tubuh kapal itu!
Kapal inipun tampaknya tidak lama lagi akan karam, mengalami banyak kebocoran di berbagai tempat.
Dan di waktu itu kapal tersebut pun tengah masuk ke dalam laut perlahan-lahan.
Walaupun lemah, namun Yeh-lu Chi melihat ancaman seperti itu, telah melompat ke perahu kecil itu.
Tanpa berpikir dua kali lagi, dia membuka ikatan pada perahu tersebut, dan lalu menjemput Kwee Hu dan puterinya, meminta agar isterinya itu membawa puterinya melompat ke perahu kacil itu.
Yeh-lu Chi menyusul kemudian.
Waktu perahu kecil itu telah belayar beberapa lie, maka tampak kapal itu telah karam sebagian besar, hanya terlihat sisa-sisa dari puncak tiang layarnya.....
Semua penghuni kapal itu telah tersapu bersih dibawa oleh hembusan angin topan bergulung itu.
Entah di mana mereka berada pada waktu ini, tapi besar kemungkinan semuanya telah berada di dasar lautan menjadi sahabatnya Haylong-ong, si raja laut itu......"
Yeh-lu Chi telah menghela napas beberapa kali, hatinya lega karena dia dan istri maupun puterinya telah berhasil selamat dari bencana hebat itu.....
inipun berkat ilmu silat mereka yang memang telah tinggi serta sempurna.
Coba jika mereka memiliki kepandaian yang tanggung-tanggung, niscaya mereka pun akan mengalami nasib seperti penumpang-penumpang kapal yang lainnya.....
Berhari-hari Yeh-lu Chi bersama Kwee Hu, si Kie, puterinya itu, terombang-ambing di kapal kecil itu tanpa makan, minum atau memiliki sepotong barang lainnya.
Karena dalam keadaan panik dan tergesa-gesa, Yeh-lu Chi sudah tak sempat untuk mengurusi segalanya itu, mengambil barang makanan atau lainnya.
Karena waktu itu yang dipikirkan hanyalah bagaimana dapat memindahkan isteri dan puterinya itu ke perahu kecil tersebut, meninggalkan kapal besar yang akan karam itu......
Maka, jika dalam satu-dua hari ini mereka tidak berhasil menemukan daratan, niscaya mereka akan menemui kematian juga, di mana biarpun mereka telah berhasil menyelamatkan diri dari bencana yang baru lewat itu, namun ancaman bencana lainnya, yaitu mati kelaparan dan kehausan telah mengancam lagi.
Juga selama dua hari ini, Yeh-lu Chi, Kwee Hu dan si Kie merasakan tubuh mereka semakin lemah saja.....
yang kasihan adalah puteri Yeh-lu Chi itu, yaitu Yeh-lu Kie, mengalami penderitaan yang tidak ringan.
Namun anak ini rupanya memang memiliki daya tahan yang agak luar biasa.
Juga memiliki sifat yang riang, di kala berlayar dengan perahu kecil itu, justru dia jadi girang dapat menyaksikan ikan-ikan yang berlompatan di laut.
Memang dengan ikan-ikan itulah akhirnya Yeh-lu Chi berpikir untuk mengisi perut.
Rasa lapar itulah yang membuat pikirannya terbuka, dan akhirnya dia berusaha menangkap beberapa ekor ikan dan memakannya mentah-mentah, tanpa memperdulikan perasaan jijik dan amisnya ikan-ikan tersebut......
Semula Kwee Hu tidak bisa menelan daging ikan mentah itu, namun perasaan lapar dan haus juga yang menyebabkan dia memaksa diri untuk memakannya juga.
Walaupun dengan sedikit rasa agak asin......
Semula berhari-hari mereka terombang-ambing di laut merupakan hal yang sangat menjengkel sekali.
Mereka bisa mengatasi rasa lapar dan haus mereka dengan menangkap ikan yang dijadikan santapan mereka, memakan daging dan ikan mentah, yang setidak-tidaknya bisa mengurangi rasa lapar dan haus mereka.....
Jika siang mereka kepanasan dan sangat menderita sekali, karena tidak memiliki pakaian atau kain yang bisa dipergunakan sebagai pelindung, dan kalau malam mereka disiksa oleh hawa yang dingin luar biasa.
Untuk melindungi Yeh-lu Kie, puteri mereka dari serangan terik matahari di siang hari, Yeh-lu Chi telah mempergunakan baju luarnya untuk melindungi kepala puterinya itu.
Siang itu, keringat telah membasahi sekujur tubuh mereka baik Yeh-lu Chi, Kwee Hu maupun Yeh-lu Kie.
Mereka sangat menderita sekali.
Dan waktu itu, Yeh-lu Kie juga merasakan tubuhnya lemas bukan main.
Setiap hari dia hanya ikut makan ikan mentah, tapi karena dia terlalu merasa jijik dan amis, ikan tersebut tidak bisa ditelannya, dia sulit sekali memakan ikan itu.
Dan jika tokh dia berhasil memakannya, itu hanya sepotong demi sepotong kecil saja dengan memaksakan diri, memijit hidungnya, untuk mengurangi bau amis tersebut.
Tetapi, dikala siang itu Kwee Hu dan Yeh-lu Chi tengah rebah lesu, dan juga Yeh-lu Kie tengah duduk terpekur, tiba-tiba dia melihat sesuatu.
"Ayah, lihat! Ibu..... kau lihat.....!"
Berseru anak itu dengan suara yang nyaring, diapun telah berdiri sehingga menimbulkan goncangan di perahu mereka.
Kwee Hu dan Yeh-lu Chi terkejut, mereka menyangka bahwa anak mereka ini telah melihat sesuatu ancaman dari semacam makhluk laut yang berbahaya.
Mereka berdua telah duduk.
Ternyata yang ditunjuk oleh Yeh-lu Kie adalah semacam benda mengambang meluncur mendatangi ke arah perahu mereka, dan benda itu berkilauan tertimpa cahaya matahari.
Setelah datang dekat, tiba-tiba muka Yeh-lu Chi berobah berseri-seri girang sekali.
"Gumpalan es!"
Berseru Yeh-lu Chi. Kwee Hu juga bersorak girang, dia telah bilang.
"Kita akan tertolong......!"
Yeh-lu Chi menantikan gumpalan es yang tidak begitu besar meluncur datang lebih dekat, dan ketika akan lewat di sisi perahunya, Yeh-lu Chi telah menyambarnya mengambil potongan es itu.
"Kita bisa mencairkannya untuk minum kita!"
Kata Yeh-lu Chi.
Kwee Hu mengangguk.
Hanya yang membuat mereka jadi bingung, mereka tidak memiliki cawan maupun barang lainnya yang dipergunakan menampung cairan es itu.
Akhirnya Yeh-lu Chi telah meminta puterinya agar dongak ke atas sambil membuka mulutnya.
Es itu lalu dicekalnya, dan Yeh-lu Chi mengerahkan lweekangnya.
Dari telapak tangannya tersalur hawa yang panas, es itu jadi mencair, dan tetes demi tetes telah masuk ke dalam mulut puterinya.
Dengan cara seperti itulah mereka bergantian "minum"
Cairan es tersebut.
Dan tidak lama kemudian, mereka telah bertemu dengan kepingan-kepingan es yang lebih banyak jumlahnya, ada empat potong!
"Kita pasti akan tertolong, tidak jauh dari tempat ini tentu terdapat sebuah pulau......!"
Kata Yeh-lu Chi.
"Dengan adanya pecahan es ini, berarti tidak jauh lagi dari tempat ini terdapat sebuah tempat yang dapat kita singgahi. Cuma saja kita tidak mengetahui, entah sekarang ini kita berada di mana dan pulau di depan itu entah pulau apa......!"
Perahu terus meluncur terus, dan pecahan kepingan es semakin banyak, malah ukurannya pun besar-besar.
Perahu mereka sering membentur pecahan kepingan es tersebut.
Karena kuatir perahu mereka akan terbentur bocor atau hancur oleh kepingan es yang semakin banyak dan besar itu, Yeh-lu Chi terpaksa mempergunakan baju luarnya untuk digulung seperti cambuk, lalu dengan mempergunakan lweekangnya, dia membuat gulungan baju itu keras seperti baja.
Dengan itulah dia telah menyampok setiap kepingan es yang akan membentur perahunya.
Dan malah, dengan menotol pada permukaan kepingan itu mempergunakan ujung gulungan bajunya, perahunya meluncur maju semakin cepat memiliki tenaga dorongan......
Tidak lama kemudian, di depan mereka tampak sesuatu yang membuat mereka suami isteri jadi girang bukan main, yaitu tampak sebuah pulau yang luas sekali, di mana seluruh permukaan pulau itu diselubungi oleh salju dan juga perahu mereka sulit untuk maju terus terhalang oleh kepingan es yang besar-besar ukurannya.
Pulau yang tertutup salju itu merupakan sebuab pulau yang memancarkan sinar berkilauan, sehingga tampaknya dari kejauhan seperti juga berkilauannya batu permata yang memancarkan warna-warni beraneka warna......
"Kita tidak bisa mempergunakan terus perahu ini!"
Kata Yeh-lu Chi.
"Biarlah aku akan menggendong si Kie, dan kau adik Hu, segera kau pergunakanlah ginkangmu untuk berjalan di atas permukaan kepingan es itu! Ingatlah kau harus hati-hati.... Jika kau salah perhitungan, kau akan tergelincir......!"
Kwee Hu mengangguk.
Begitulah, sepasang suami isteri tersebut, dengan Yeh-lu Chi menggendong puterinya, telah berlari-lari di atas permukaan kepingan es itu.
Mereka dapat bergerak dengan gesit sekali, karena memang mereka memiliki ginkang yang tinggi sekali.
Dengan demikian, dengan bersusah payah, namun akhirnya tokh mereka telah bisa mendapat tepian pulau tersebut.
Waktu itu sinar matahari memancarkan cahayanya yang terik, namun anehnya, es-es yang membeku di pulau itu tidak mencair.
Dan dibantu dengan hawa dingin yang dipancarkan dari kepingankepingan es itu, maka Yeh-lu Chi bersama Kwee Hu dan puteri mereka tidak terlalu tersiksa oleh teriknya matahari.
Hanya saja yang membuat mereka jadi tidak bergembira, mereka memperoleh kenyataan pulau tersebut hanya merupakan pulau salju yang kosong belaka.
Sejauh mata memandang permukaan pulau tersebut dibungkus oleh salju, tidak ada pohon ataupun sesuatu yang hidup di pulau ini.
Berarti mereka telah terdampar di pulau es yang kosong, berarti mereka sama saja tidak akan tertolong dari ancaman kematian, malah jika malam di pulau es ini tentu akan jauh lebih dingin dibandingkan jika mereka berada di perahu mereka.....
Tapi Yeh-lu Chi tidak berputus asa, dia yakin, di dalam pulau itu tentu terdapat suatu tempat yang bisa dipergunakan berteduh.
Dan untuk melewati hari-hari, bisa saja mereka memakan akan hasil tangkapannya.
Begitulah sambil menggendong puterinya, Yeh-lu Chi telah mengajak Kwee Hu memasuki pulau itu lebih jauh.
Sangat licin sekali dan sulit perjalanan yang mereka lakukan.
Setelah menyusuri empatbelas lie lebih tiba-tiba pasangan suami isteri jadi berdiri menjublek dengan muka yang berobah memancarkan kegembiraan.
Dan Kwee Hu, setelah tersadar dari tertegunnya itu, sambil tertawa keras, telah menubruk dan memeluk suami dan puterinya.
Demikian juga halnya dengan Yeh-lu Chi, dia jadi gembira bukan main.
Karena di hadapan mereka ternyata terbentang sebuah tempat yang berbeda sekali dibandingkan dengan keadaan pulau di sebelah depan itu.
Mereka melihat hamparan lapangan rumput yang tumbuh subur, melihat pohon-pohon bunga yang tumbuh subur dan batang-batangnya agak pendek, dengan pohon bunga yang tumbuh segar, sehingga tampaknya tempat itu indah luar biasa.
Disamping batu gunung yang menonjol, terdapat sebuah pancuran air, yang mirip dengan air terjun, walaupun air terjun ini tidak begitu tinggi.
Setelah bersorak-sorak kegirangan dan Yeh-lu Kie telah turun dari gendongannya, Yeh-lu Chi bersama Kwe Hu berlari-lari di lapangan rumput itu, demikian juga Yeh-lu Kie, yang telah bergulingan gembira di lapangan rumput itu.
Waktu itulah, tiba-tiba terdengar suara seorang anak kecil menegur.
"Hei, hei, apa yang kalian lakukan?"
Kwee Hu dan Yeh-lu Chi yang waktu itu tengah gembira, sama sekali tidak menyangka bahwa pulau ini ada penghuninya juga.
Mereka memang tengah dikuasai kegembiraan yang meluap-luap, sehingga perhatian mereka pada sekelilingnya tidak ada sama sekali, dan setelah ditegur oleh orang itu, barulah mereka tersadar dengan terkejut.
Mereka menoleh, dihadapan mereka berdiri seorang anak lelaki berusia lima atau enam tahun, tengah memandang heran kepada mereka.
Anak lelaki itu memiliki paras muka yang cakap, dengan kulit yang putih dan pipi yang memerah sehat.
Waktu itu, diapun tidak hentinya mengawasinya Yeh-lu Chi dan Kwee Hu.
Ketika dia melihat Yeh-lu Kie, dan si gadis cilik ini tengah mengawasinya juga, anak lelaki itu tampaknya menjadi gembira, dia telah melangkah menghampiri si gadis kecil.
"Hei, siapa kau... pulau ini?!"
Tanya lelaki itu.
"Bagaimana kalian bisa tiba di Yeh-lu Kie sendiri telah berhari-hari terombang-ambingkan oleh lautan yang demikian menjemukan, di samping itu diapun telah menderita tidak sedikit disebabkan bencana yang telah dialami bersama ayah dan ibunya. Kini, dia bisa berada di tempat yang begitu indah, dan hawa udaranya yang nyaman hangat, juga memperoleh seorang teman cilik yang sama usianya seperti dia, maka kegembiraannya terbangun. Cepat dia pun menjawab sambil tertawa.
"Koko apakah engkau tinggal disini?!"
Anak lelaki itu mengangguk.
"Benar, aku bersama suhu berdiam di sini!"
Menyahuti anak lelaki itu.
"Bagaimana kalian bisa datang ke mari?!"
Yeh-lu Kie telah menunjuk kepada ayah dan ibunya.
"Ayah dan ibuku yang telah mengajakku ke mari...... kami menemui bencana di laut, kapal kami telah rusak dan karam, sehingga akhirnya kami terdampar di pulau ini......!"
"Menurut Suhu, tidak diperkenankan siapa pun menginjak pulau ini, siapa juga tidak diperbolehkan untuk datang ke pulau ini, dan kalian sekarang telah datang ke tempat ini, tentu Suhu akan marah dan bergusar.....!"
Anak itu telah berkata lagi, dia seperti tidak memperdulikan Kwee Hu dan Yeh-lu Chi, hanya bicara kepada Yeh-lu Kie.
Mendengar perkataan anak lelaki itu, Yeh-lu Chi telah menghampiri anak tersebut, dia memegang pundaknya dan menepuk perlahan, sambil katanya disertai senyumnya.
"Anak siapakah namamu....., dan siapakah suhumu....?!" Anak itu telah mengangkat kepalanya, dia mengawasi Yeh-lu Chi beberapa saat, dilihatnya wajah Yeh-lu Chi tidak ada tanda-tanda seperti seorang manusia jahat, maka senang hati anak itu untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku she Lie..... namaku Ko Tie.....!"
Menyahut anak tersebut.
"Dan Suhu...... nama Suhu tidak boleh kuberitahukan!"
"Mengapa begitu? tanya Yeh-lu Chi.
"Kami bukan orang jahat, kami hanya kebetulan saja terdampar di sini, maka dari itu kau tidak perlu takut dan berkuatir, karena kami tidak bermaksud jahat. Siapakah Suhumu? Bisakah kami bertemu dengannya? Kau tentu tersedia mengajak kami untuk bertemu dengan Suhumu itu."
Tapi Lie Ko Tie, anak itu telah mengelengkan kepalanya.
Yeh-lu Chi menoleh kepada Kwee Hu dan Kwee Hu mengerti apa maksud suaminya itu.
Dia telah menghampiri anak itu, dipegang pundaknya dengan ramah sekali, dia telah bertanya halus.
"Anak, kami tengah mengalami bencana tidak kecil, sehingga kami telah terdampar di pulau ini. Jelas memang kami harus pergi menemui gurumu itu untuk menghunjuk hormat kepadanya, agar jangan sampai kami nanti disebut sebagai manusia-manusia tidak tahu aturan!"
Lie Ko Tie mengangkat kepalanya dia menatap Yeh-lu Chi dan Kwee Hu bergantian sampai akhirnya dia menggeleng lagi.
"Tidak..... Suhu telah berpesan kepadaku, kepada siapa juga aku tidak boleh memberitahukan siapa nama Suhu, juga tidak boleh mengajak orang luar untuk bertemu dengan Suhu.....!"
Menyahuti Lie Ko Tie kemudian.
"Lebih baik kalian meninggalkan pulau ini saja, karena jika Suhu mengetahui kedatangan kalian ke mari, tentu kalian akan dihukumnya...!"
Kwee Hu bersenyum.
Dia memang sebagai orang Kangouw, tentu saja mengetahui, bahwa hal itu memang lumrah, bahwa seorang pemilik pulau tentu tidak senang jika pulaunya didatangi oleh seseorang asing yang tidak dikenalnya.
Bukankah sifat kakeknyapun sama saja dengan sifat pemilik pulau salju ini, di mana kakeknya tidak akan membiarkan seseorang tidak dikenal datang ke Tho-hoa-to??
Bukanlah Oey Yok Su, kakeknya itu akan menghukum orang yang lancang datang ke pulaunya?
"Baiklah anak....
kami memang telah tersesat ke mari, kami terdampar di pulau ini karena kami mengalami bencana di lautan, dengan demikian, kedatangan kami ini tanpa disengaja.
Jika Suhumu diberitahukan peristiwa yang sebenarnya, tentu diapun akan dapat memaklumi kesulitan kami......!"
Dan setelah berkata begitu Kwee Hu menoleh kepada puterinya, Yeh-lu Kie, dia bilang lagi.
"Kie, coba kau ke mari.....!"
Yeh-lu Kie telah menghampiri, dan dia telah mendekati ibunya. Kwee Hu memegang tangan puterinya, dia bilang dengan sabar.
"Kie nanti kau ajak koko ini untuk bermain-main, sekarang kau memiliki seorang kawan, sehingga engkau tidak akan kesepian lagi......!" Setelah berkata begitu, Kwee Hu menoleh kepada Ko Tie, tanyanya.
"Nanti kau bermain dengan puteri kami, si Kie ini, tentunya kau juga senang memiliki seorang kawan, bukan? Nah, sekarang kau ajaklah kami pergi menemui gurumu itu, dan nanti di saat kami tengah bercakap-cakap dengan suhumu itu, kalian berdua boleh bermain dengan gembira......!"
Lie Ko Tie mengawasi si Kie itu beberapa saat lamanya, sampai akhirnya Yeh-lu Kie telah mengulurkan tangannya, dia telah berkata.
"Koko....., mari kita bermain......."
Ko Tie telah menggelengkan kepalanya, dia bilang.
"Tunggu dulu, kalian boleh menanti di sini, aku akan pergi memberitahukan dulu kepada suhu perihal kedatangan kalian..... Jika Suhu mengijinkan kalian menemuinya, nanti kalian akan kuajak untuk bertemu dengan Suhu."
Setelah berkata begitu, Ko Tie mengawasi Yeh-lu Chi dan Kwee Hu bergantian, lalu tanyanya.
"Jika memang paman dan bibi tidak keberatan maukah memberitahukan kepadaku siapakah nama paman dan bibi agar nanti aku bisa memberitahukannya kepada Suhu!"
Ko Tie memanggil Yeh-lu Chi dengan sebutan Pehhu dan memanggil Kwe Hu Pehbo, paman dan bibi. Kwee Hu tersenyum anak lelaki ini memang manis dan juga tampaknya cerdik sekali. Dia telah bilang.
"Suamiku itu bernama Yeh-lu Chi dan bibimu sendiri bernama Kwee Hu. Tolong kau sampaikan hormat kami kepada Suhumu dan maksud kami yang ingin bertemu dengannya guna menghunjuk hormat......!" Ko Tie mengangguk, setelah menoleh satu kali lagi kepada Yeh-lu Kie, dia telah memutar tubuhnya, berlari-lari ke arah batu gunung yang mempunyai air terjun itu, dia telah menghilang di tikungan tempat itu. Setelah Lie Ko Tie pergi, Kwe Hu meno¬leh kepada Yeh-lu Chi, suaminya, katanya.
"Tampaknya pemilik pulau ini bukan orang sembarangan.....!"
Yeh-lu Chi mengangguk.
"Ya, tetapi kita harus berusaha untuk menetap di sini beberapa saat, karena tidak bisa kita tinggalkan pulau ini sebelum kita memiliki perahu yang baik dan perbekalan selama dalam pelayaran..... Jika memang pemilik pulau ini tidak mengijinkan, kita harus berusaha agar kita bisa memaksanya.....! Semua ini demi kebaikan puteri kita.....!"
Kwee Hu mengangguk.
Waktu itu, tampak Lie Ko Tie telah berlari-lari mendatangi lagi.
Anak itu berlari cukup gesit, membuktikan bahwa anak itu pun telah mempelajari ginkang atau ilmu meringankan tubuh.
Hanya disebabkan usianya masih terlalu kecil, maka ginkang yang dimiliki itu tidaklah terlalu tinggi.
Setelah sampai di hadapan Kwee Hu dan Yeh-lu Chi, Lie Ko Tie menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya.
"Suhuku bilang, kalian dipersilakan untuk meninggalkan pulau ini dalam waktu satu jam, jika dalam satu jam kalian belum juga meninggalkan pulau ini, Suhu tentu akan menjatuhkan hukuman!" Muka Kwee Hu jadi berobah. Memang waktu masa gadisnya dia adalah seorang gadis yang aseran sekali dan memiliki perangai yang berangasan. Jika sekarang dia bisa bersikap lembut dan sabar, itulah karena selama jadi nyonya Yeh-lu Chi, banyak hal yang bisa dipelajarinya ini. Semakin meningkat usianya, perangainya yang berangasan itu jadi berkurang. Namun sekarang mendengar perkataan Ko Tie yang menyatakan bahwa Suhunya menolak maksud mereka yang ingin menghadap, telah membuat Kwee Hu jadi tidak senang. Dia telah bilang.
"Anak, kami sesungguhnya tidak mau datang ke pulau ini. Inipun kami terpaksa sekali jika datang ke pulau ini, sebab memang kami tidak berdaya dalam tertimpah bencana yang tidak kami inginkan, sehingga kami terpaksa terdampar di sini dan tidak berdaya untuk pergi dalam waktu yang singkat!"
"Tadi akupun telah memberitahukan Suhu, bahwa Pehhu dan Pehbo tengah dalam kesulitan, karena telah mengalami bencana di laut, namun Suhu malah bilang.
"Hu, manusia she Kwee itu.......! Hu manusia she Kwee itu.....! lalu Suhu telah perintahkan agar aku memberitahukan kepada Pehhu dan Pehbo, dalam satu jam harus meninggalkan pulau ini dan Suhu tidak ingin bertemu dengan kalian.....!"
Mendengar keterangan Lie Ko Tie, muka Kwee Hu jadi berobah.
"Lalu, apa maksud gurumu dengan mengatakan.
"Hu, manusia she Kwee......!"
Seperti itu?!"
Tanyanya. Ko Tie menggeleng. "Aku tidak tahu apa maksudnya."
"Biar kami yang pergi menemuinya sendiri!"
Katanya. Mendengar perkataan Kwee Hu seperti itu, Ko Tie jadi kaget.
"Tidak boleh! Jangan!"
Kata Ko Tie.
"Kenapa?!"
Tanya Kwee Hu dengan suara mengejek.
"Suhu selalu tidak senang kalau ada orang yang datang ke pulaunya, dan selalu pula menghukumnya dengan hukuman yang berat. Aku kuatir...... kuatir jika memang Pehhu dan Pehbo menemuinya. Nanti Suhu menurunkan tangan keras menghukum kalian..... lebih baik kalian cepat meninggalkan pulau ini......!"
Mendengar perkataan Ko Tie, Kwee Hu memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Hu, hu, sebetulnya manusia apa sih gurumu itu?!"
Dia bilang dengan nada mengejek. Waktu itu Ko Tie telah mengulap-ulapkan tangannya, dia bilang.
"Pehbo jangan marah seperti itu, aku telah memberitahukan dari hal yang sebenarnya, karena dari itu, janganlah Pehbo memaksa untuk menemui guruku itu, karena Pehbo juga yang akan celaka nanti..... Nah, silahkan Pehbo dan Pehhu meninggalkan pulau ini sebelum guruku datang.....!"
Bukan main mendongkolnya Kwee Hu, terlebih lagi dia teringat betapa sengsaranya dia bersama puterinya dan suaminya yang berhari-hari terombang-ambing di lautan.
Dengan demikian, tentu saja dia tidak meninggalkan pulau ini, untuk bersengsara lagi seperti itu.
"Tidak!"
Kata Kwee Hu kemudian.
"Jika memang Suhumu itu tidak mengijinkan kami berdiam di pulau ini, kami akan tetap berdiam disini! Hu, hu, kami ingin melihat. Apa sih yang bisa diperbuatnya?!"
Dan setelah berkata begitu, Kwee Hu mendengus beberapa kali, mendengus mengejek, karena dia memang tengah mendongkol sekali.
Yeh-lu Kie ketika melihat ibunya bergusar seperti itu, telah menghampiri sambil tangannya menarik ujung lengan baju ibunya, dia bilang.
"Ibu, mengapa kau harus marah seperti itu. Biarlah aku pergi bersama Koko ini menemui Suhunya, untuk meminta agar kita diperbolehkan berdiam di pulau ini beberapa saat lamanya.....!"
Kwee Hu mana bisa membiarkan puterinya pergi menemui gurunya anak lelaki ini, dia telah menggeleng perlahan, dan menarik lengan puterinya, katanya.
"Kau diamlah di sini...... biarlah Suhunya yang datang ke mari, nanti baru kita bicara lagi dengannya!"
Setelah berkata begitu, Kwee Hu menoleh kepada Ko Tie, dia bilang.
"Sekarang pergilah kau kembali pada Suhumu, beritahukan padanya bahwa kami tidak pergi, kami akan berdiam mungkin satu atau dua bulan di sini. Jika memang dia tidak senang dengan kami, dia datang ke mari untuk bicara dengan kami!"
Ko Tie jadi memandang Kwee Hu dengan muka yang tidak senang, dia mendengar gurunya seperti dianggap remeh seperti itu.
Tapi belum lagi dia menyahuti, waktu itu Yeh-lu Chi yang melihat keadaan seperti itu, di mana isterinya itu telah gusar sekali, dia tertawa sambil menghampiri Ko Tie, dan menepuk-nepuk pundak anak lelaki itu, dia juga bilang.
"Anak, sekarang kau ajaklah aku untuk pergi menemui Suhumu, hanya aku seorang diri saja. Jika memang nanti aku telah bicara dengannya dan dia benar-benar tidak ingin menemui kami dan juga tidak mengijinkan kami berlama-lama di pulau ini. Disamping itu diapun tidak bersedia melayani kedatangan kami, terpaksa kamipun harus meninggalkan pulau ini!"
Ko Tie tetap gelengkan kepalanya, dia bilang dengan segera.
"Tidak mungkin..... tidak mungkin. Jika memang Pehhu memaksa seperti itu untuk bertemu dengan Suhu, tentu kau akan celaka ditangannya, kau tentu akan dihukum berat olehnya.....! Lebih baik kalian jangan mencari kesulitan untuk diri kalian, cepatlah pergi meninggalkan pulau ini.....!"
Yeh-lu Chi telah menghela napas dia bilang kepada Kwee Hu.
"Adik Hu, biarlah kita berdiam dulu beberapa saat di sini nanti juga Suhunya akan keluar memperlihatkan diri...!"
Tetapi baru saja Yeh-lu Chi bilang begitu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa tergelak-gelak, suara itu sebentar panjang, sebentar pendek, sesaat lagi terdengar di tempat jauh sejenak lagi terdengar sangat dekat, seperti juga di pinggir telinga mereka.
Dengan demikian Kwee Hu maupun Yeh-lu Chi jadi kaget bukan main, karena mereka mengetahui itulah suara tertawa yang disertai dengan tenaga lweekang yang sempurna sekali.
Mendengar suara tertawa yang disertai dengan lweekang seperti itu, tentunya orang itu memiliki kepandaian yang tinggi di atas mereka, karena sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian cukup tinggi, tentu saja Yeh-lu Chi dan Kwee Hu sekali dengar saja telah dapat menilai berapa tinggi tenaga dalam lawan.
Dan sekarang yang membuat mereka kaget, suara tertawa yang disertai lweekang itu merupakan tenaga lweekang dari tingkat tinggi yang telah mencapai puncak kesempurnaannya.
Dengan demikian, sepasang suami isteri itu jadi bersikap jauh lebih hatihati.
Waktu itu telah terdengar suara orang yang menegur di antara suara tertawa yang diselang-seling itu.
"Siapa yang begitu lancang berani menginjakkan kakinya yang bau dan kotor di pulauku? Siapa dia yang bermulut besar seperti itu? Atau memang mulutnya itu ingin kurobek?!"
Karena tidak mengetahui siapa yang telah berkata-kata seperti itu, Yeh-lu Chi telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah memberi hormat.
"Locianpwe, kami suami isteri dan puteri kami, sungguh tidak beruntung telah tertimpah bencana yang tidak ringan di lautan, sehingga terdampar di sini, harap Locianpwe mau maafkan kelancangan kami! Dengan ini, Boanpwe, Yeh-lu Chi dan isteri Boanpwe, Kwee Hu serta puteri Boanpwe, Yeh-lu Kie, mengunjuk hormat buat Locianpwe......!"
Terdengar suara tertawa dingin yang mengandung ejekan.
"Hemm, Kwee Hu, puterinya Kwee Ceng dan Oey Yong, cucunya Oey Yok Su, si sesat dari Timur itu? Hemm, hemm, kakekmu telah memiliki pulau yang cukup luas seperti Tho-hoa-to, mengapa kau sebagai cucunya berkeliaran di pulauku?!"
Dan kemudian terdengar lagi suara tertawa yang mengandung ejekan, suara tertawa yang disertai dengan lweekang yang tinggi sekali.
Dan tidak lama kemudian tampak berkelebat sesosok tubuh dengan gerakan yang gesit sekali, dan telah berdiri di hadapan Yeh-lu Chi dan Kwee Hu.
Dialah seorang lelaki bertubuh tidak begitu tinggi, dengan pakaiannya yang aneh, terbuat dari kulit binatang buas.
Mukanya yang memerah sehat, dan juga tubuhnya yang tampak berotot kuat itu, di samping itu sinar matanya yang memancar berkilauan, benar-benar merupakan sikap seorang Locianpwe yang angker sekali.
Dari sinar matanya itu saja telah terlihat, bahwa dialah seorang yang memiliki lweekang sangat tinggi sekali.
Yeh-lu Chi yang menduga bahwa orang ini adalah pemilik pulau ini, telah maju dua langkah, dia telah merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat.
"Boanpwe Yeh-lu Chi menghunjuk hormat untuk Locianpwe..... Maafkanlah kelancangan kami yang telah terdampar di pulau Locianpwe..... Dan bolehkah kami mengetahui nama besar Locianpwe, agar kelak setelah kami meninggalkan pulau ini, kami dapat mengingat baik-baik budi kebaikan Locianpwe......?!"
"Apa itu nama besar? Apa itu budi kebaikan!"
Tanya orang itu, yang ternyata tidak lain dari Swat Tocu.
Dia juga telah mendengus beberapa kali, tampaknya dia tidak senang menerima hormatnya Yeh-lu Chi, karena tahu-tahu tangan kanannya telah dikebutkannya dengan hebat sekali, sambil diiringi perkataannya.
"Pergilah menggelinding kau, aku tidak mengijinkan kalian menginjak pulauku ini..... pergi sebelum aku menjatuhkan hukumanku pada kalian! Aku mau memandang terangnya muka Oey Lao Shia. Jika memang aku telah gusar, hemmm, hemmm, biarpun Oey Lao Shia berada disini, jangan harap kalian bisa terhindar dari hukumanku!"
Yeh-lu Chi melihat Swat Tocu mengebutkan tangannya, dia tahu tentunya itulah kebutan yang mengandung kekuatan tenaga yang dahsyat.
Tapi sebagai Pangcu dari Kay-pang, tentu saja Yeh-lu Chi memiliki kepandaian yang tinggi.
Terlebih lagi dialah muridnya Ciu Pek Thong, dengan sendirinya mana bisa dia berdiam diri saja.
Cepat dia mengangkat lebih tinggi ke dua tangannya yang tengah dirangkapnya itu, dia dengan sikap seperti juga tengah memberi hormat, dia telah menyambuti tenaga kebutan dari Swat Tocu.
Kebutan itu memang menimbulkan serangkum angin serangan yang kuat bukan main, dan ketika bentrok dengan tangkisan Yehlu Chi, maka telah terdengar suara benturan yang sangat keras sekali dan yang membuat Yeh-lu Chi tambah kaget.
Dia merasakan tubuhnya tergetar, kemudian kuda-kuda ke dua kakinya tergempur, tanpa bisa dikendalikan lagi, tubuhnya telah terhuyung mundur akan kejengkang.
Untung saja Yeh-lu Chi memang mempunyai tenaga lweekang yang cukup tinggi dan terlatih baik, dia dengan cepat telah memusatkan tenaga dalamnya pada ke dua kakinya.
Setelah mundur terhuyung tiga langkah ke belakang, dia bisa berdiri tetap lagi, tidak sampai rubuh terjengkang karenanya.....
Yeh-lu Chi ketika telah berdiri tetap, mukanya agak pucat.
Dia merasakan tenaga dalamnya seperti bergolak, akibat dari gempuran yang diterimanya dari Swat Tocu.
Tapi, sebagai pangcu Kay-pang yang telah menerima gembelengan dari gurunya yang memang memiliki kepandaian luar biasa tingginya, yaitu Ciu Pek Thong, itu si bocah tua yang berandalan, dengan sendirinya Yeh-lu Chi jadi bisa menguasai diri dengan cepat dan tenaga dalamnya itu telah dapat dikendalinya lagi dengan baik.
Dalam keadaan seperti itu, Swat Tocu telah membentak bengis.
"Apakah engkau tidak mau cepat-cepat angkat kaki?!!"
Ditegur seperti itu, tampak Yeh-lu Chi telah merangkapkan ke dua tangannya, dia memaksakan diri untuk tersenyum.
"Locianpwe, memang kamipun tidak bermaksud untuk berdiam di pulaumu ini, tapi inilah terpaksa. Bersama kami terdapat puteri kami yang masih kecil, dia tentu tidak akan sanggup bersengsara terus terombang ambing di lautan! Jika memang hanya kami berdua, pasangan suami isteri saja, tentu hal itu tidak berarti apaapa buat kami! Dengan memandang pada puteri kami itu, dan juga dengan menaruh belas kasihan pada makhluk kecil tidak berdaya itu, maulah Locianpwe mengijinkan kami menetap beberapa saat di pulaumu ini, guna mengambil baban perbekalan, untuk nanti dipergunakan dalam perjalanan kami......!" Setelah kerkata begitu, kembali dia telah menjura dalam-dalam. Tapi muka Swat Tocu tetap dingin, dia telah mengebutkan ke dua tangannya. Sekali ini Yeh-lu Chi telah bersiap sedia karenanya dia telah menyambuti serangan itu dengan kelitannya yang sangat gesit. Dia tidak mau menyambuti seperti tadi, karena Yeh-lu Chi menyadari jika memang dia menyambutinya seperti tadi yang rusak adalah dirinya, di mana dia akan terluka di dalam. Tapi waktu itu, tampak Swat Tocu bukan hanya satu kali saja mengebut dengan tangannya, karena dia telah menyusuli lagi dengan kebutan lainnya, di mana dia telah mengebut dengan tenaga yang jauh lebih kuat lagi. Kebutan itu telah menyambar menyusul pula pada Yeh-lu Chi. Tentu saja Yeh-lu Chi jadi sibuk bukan main, karena dia baru saja berkelit dari satu gempuran, serangan lainnya dari tenaga yang dahsyat itu telah menyambar lagi, dengan demikian telah membuat dia harus cepat-cepat menyingkir pula ke samping. Namun sekali ini gerakannya terlambat, karena itu lengannya telah kena terhajar oleh angin pukulan itu. Kwee Hu yang melihat bahaya mengancam diri suaminya, telah mencabut pedangnya, dia pun melompat ke dekat Swat Tocu. Dengan gesit sekali dia menyerang mempergunakan pedang itu, yang berkelebat menyambar ke punggung majikan pulau salju itu. Swat Tocu menggerakkan ke dua tangannya saling susul, tapi sepasang kakinya tetap berdiam di tempatnya. Dengan demikian, waktu Kwee Hu menikam ke punggungnya pemilik pulau itu sama sekali tidak menggerakkan ke dua kakinya. Dia hanya menggerakkan ke dua tangannya itu ke arah belakangnya, membuat Kwee Hu terkejut dan merasakan sambaran angin serangan yang dahsyat sekali. Sebelum pedangnya berhasil mencapai sasaran, di waktu itulah dia telah menarik pulang pedangnya dan menyingkir ke samping. Gerakannya gesit, namun tidak urung dia telah terhuyung-huyung beberapa kali. Swat Tocu telah berkata dengan suara yang dingin mengandung ejekan.
"Hemmm, ayah dan ibumu belum tentu berani menyerang aku dan berbuat kurang ajar seperti kau! Kakekmu saja mungkin menghormati aku dengan sepenuh hati dan tidak akan mencari urusan denganku walaupun dia sebagai si sesat.... Tetapi kau bocah, hemmm, hemmm, engkau berani demikian lancang telah menyerang diriku, maka tanpa memperdulikan si tua bangka she Oey itu, aku akan turun tangan menghantam patah ke dua kaki dan tanganmu......!"
Dan Swat Tocu memang bukan hanya berkata dan mengancam saja, karena dengan cepat luar biasa dia telah melompat ke dekat Kwee Hu di samping kanannya di mana tangan kirinya diulur, dia bermaksud akan menangkap lengan Kwee Hu.
Tapi, Kwee Hu juga tidak tinggal diam, walaupun dia terkejut tokh dia tidak menjadi gugup, dengan gesit dia berusaha mengelakkan.
Gerakannya itu sangat cepat sekali, di mana dia telah melompat ke samping kanan.
Hanya saja, untuk kagetnya lagi, waktu itu tahu-tahu tangan Swat Tocu telah berada di dekat lengannya lagi, sehingga membuktikan bahwa ginkang Swat Tocu berada di atasnya.
Dan untuk menyelamatkan dirinya hanya ada satu jalan saja, yaitu membuang diri bergulingan di tanah, di mana dia telah bergulingan untuk menyingkir diri.
Cuma saja, karena dia menyelamatkan diri seperti itu, di waktu itulah dia merasakan tangannya dingin, di mana pedangnya telah berpindah tangan, dapat direbut oleh Swat Tocu.
Dan ketika Kwee Hu melompat bangun, dia masih sempat melihat Swat Tocu telah mematahkan pedangnya itu sampai menjadi lima potongan pendek!
Dengan muka yang sebentar pucat dan sebentar merah, Kwee Hu telah mendeliki Swat Tocu, tapi Swat Tocu telah tertawa dingin, dia bilang.
"Aku telah bilang, aku tidak akan memperdulikan kakekmu itu, si tua bangka she Oey yang sesat itu. Aku tetap akan mematahkan tangan dan kakimu sekarang juga, hukumanmu ditambah lagi, ke dua biji matamu itu harus dikorek keluar......"
Dan kembali tubuh Swat Tocu telah bergerak lagi, dia telah melompat dengan gerakan yang benar-benar seperti gerakan hantu saja, yang tidak terlihat oleh mata biasa, sebab tahu-tahu tubuhnya telah berada di samping Kwee Hu.
Tentu saja hal ini membuat Kwee Hu kaget sekali dan cepat-cepat menyingkirkan diri.
Namun baru saja ke dua kakinya menginjak tanah, di waktu itu kembali Swat Tocu telah berada di sampingnya.
Melihat isterinya terancam, Yeh-lu Chi telah mengeluarkan seruan kuatir, dan dia bukan hanya berseru saja, karena secepat kilat, tampak dia telah menggerakkan sepasang tangannya, tubuhnya menerjang kepada Swat Tocu.
Tapi buat Swat Tocu, pukulan itu tidak dipandang sebelah mata.
Walaupun dia mengetahui Yeh-lu Chi tengah menyerang punggungnya, sama sekali Swat Tocu tidak berusaha mengelakkan diri, sama sekali tidak berusaha untuk menangkis.
Dia hanya mengempos semangatnya dan tenaga dalamnya melindungi punggungnya.
Dan waktu serangan Yeh-lu Chi telah menghantam punggungnya, sama sekali Swat Tocu tidak terluka.
Malah Yeh-lu Chi sendiri yang telah mengeluarkan suara teriakan kesakitan, karena begitu dia menghantam punggung Swat Tocu, segera dia merasakan punggung lawannya lunak seperti kapas dan belum lenyap kagetnya, tenaga pukulannya itu telah membal balik, menghantam ke dirinya!
Malah hantaman itu hebat luar biasa, mengandung kekuatan yang berlipat kali lebih dahsyat dari tenaga pukulannya.
Dengan mengeluarkan jerit kesakitan, karena ke dua kepalan tangannya itu dirasakan nyeri dan pedih sekali, tubuhnya juga telah terpental, walaupun tidak sampai terjengkang.
Namun telah memperlihatkan bahwa tenaga lweekang yang dimiliki Swat Tocu memang merupakan lweekang yang telah sempurna sekali.
Kwee Hu melihat keadaan suaminya, juga jadi kaget.
Dia sendiri waktu itu tengah menghadapi bahaya yang tidak kecil, karena biarpun Yeh-lu Chi telah menyerangnya, tokh kenyataannya terlihat ke dua tangan Swat Tocu tetap menjulur kepadanya, di mana serangan Swat Tocu tidak jadi batal karenanya.
Mati-matian Kwee Hu berusaha untuk menangkisnya, dia memusatkan seluruh kekuatan tenaga lweekangnya, dan menyalurkan kekuatannya itu, dia telah berusaha menindih kekuatan dari lawan.
Namun bukannya dia berhasil malah telah tergempur hebat.
Tubuh Kwee Hu terpental empat tombak bergulingan di rumput.....
Untung saja Kwee Hu masih sempat untuk mengempos semangatnya, sehingga ketika dia terbanting dan bergulingan di rumput, dia telah melindungi tubuhnya dengan tenaga dalamnya.
Dia tidak sampai menderita luka di dalam, hanya dia merasakan tubuhnya sakit-sakit, terluka di luar, dengan lengannya yang terluka beberapa goresan.
Dengan demikian, Kwee Hu menyadari.
Biarpun dia bersama suaminya mengeroyok Swat Tocu, pemilik pulau ini, tokh tetap bukan menjadi tandingannya.
Waktu itu Swat Tocu telah tertawa terbahak-bahak, katanya.
"Mana bukti dari perkataan besarmu tadi.....? Sekarang aku telah datang ke mari, mengapa engkau tidak mau melayani? Ayo, ayo, mari, mari, aku ingin membuktikan, berapa tinggi kepandaian yang dimiliki cucu dari si sesat tua she Oey itu..... dan juga suaminya ini, hemmm, hemmm, tampaknya engkau bukan bangsa Han, tentunya setidak-tidaknya engkau bangsa Boan.....! Aku heran dan tidak mengerti, mengapa si Oey tua sesat itu bisa mengijinkan cucunya menikah dengan orang Boan seperti engkau?!"
Yeh-lu Chi waktu itu telah berdiri tegak dengan waspada.
Mengetahui lawannya liehay, maka dia berlaku lebih hati-hati, dia telah mengerahkan seluruh lweekangnya, memusatkan pada ke dua tangannya, di mana dia bersiap sedia untuk menerima serangan lawannya yang tangguh ini.
Walaupun dia menyadari, biarpun dia berdua dengan isterinya mengeroyoknya, Swat Tocu bukanlah tandingan mereka.
Dengan demikian, jika sekarang dia menantikan serangan berikutnya, itulah terpaksa, karena dia menyadari Swat Tocu ini memiliki perangai yang tidak kalah aneh dan sesatnya seperti Oey Yok Su, kakek mertuanya itu......!
Waktu itu Kwee Hu juga telah bisa berdiri pula, dia telah mengawasi Swat Tocu dengan mata yang merah karena gusar bukan main, dia telah bilang.
"Hem, hem, jika memang engkau memiliki kepandaian yang tinggi, tentunya engkau akan memilih lawan bukan yang terdiri dari kami, orang-orang angkatan muda....! Hemmm, hemmm, memang hebat sekali, seorang Locianpwe telah memberikan pelajaran yang bagus buat kami kaum muda, tentunya saja ini akan menambah pengalaman yang bagus buat kami, pengalaman yang akan membuat mata kami lebih terbuka..... terima kasih, ......terima kasih!"
Dan setelah berkata begitu, kembali beberapa kali Kwee Hu telah memperdengarkan tertawa dingin, berulang kali dia memperlihatkan sikap mengejek dengan demikian telah membangkitkan kemurkaan Swat Tocu, dia telah membentak dengan bengis.
"Siapa yang menghina kaum boanpwe?!"
Setelah berkata begitu, dia telah menjejakan ke dua kakinya, tubuhnya berkelebat bagaikan bayangan, dan ke dua tangannya itu telah bergerak menyerang dengan dasyat sekali, dengan mempergunakan tenaga lweekangnya beberapa bagian.
Disamping itu dia juga telah membentak dengan bengis sekali.
"Justru aku ingin memberikan hajaran kepada kalian, memberikan hukuman atas kelancangan kalian.....! Nah, sekarang kalian terimalah ini......!"
Berbareng dengan habisnya perkataan itu, ke dua tangan Swat Tocu telah dikebutkan perlahan, sehingga tidak ampun lagi Kwee Hu maupun Yeh-lu Chi telah terpelanting, dan juga tubuh mereka telah bergulingan di rumput itu.
Swat Tocu rupanya tidak mau membuang-buang kesempatan.
Dengan gesit sekali tubuhnya bergerak lagi, dia telah mengulurkan ke dua tangannya, mencengkeram pundak Kwee Hu, dan melontarkannya sehingga tubuh nyonya itu telah melayang ke tengah udara meluncur turun dengan cepat, sehingga membuat Yeh-lu Chi yang menyaksikan keadaan isterinya yang tengah menghadapi ancaman bahaya seperti itu mengeluarkan suara seruan kuatir.
Dia cepat-cepat ingin melompat, guna menolonginya.
Namun belum lagi Yeh-lu Chi sempat bergerak, waktu itu, tampak Swat Tocu telah melompat ke dekatnya, dan tanpa bisa mengelakkan lagi, biarpun Yeh-lu Chi sebetulnya mati-matian berusaha berkelit, punggungnya telah kena dicengkeram kuat sekali, menimbulkan perasaan sakit bukan main.
Lalu tubuhnya telah dilontarkan ke tengah udara, sehingga Yeh-lu Chi merasakan kepalanya jadi pusing dan juga dadanya menyesak, di mana dia terbanting keras sekali.
Jika Kwee Hu masih sempat bergulingan dan juga beruntung sekali jatuhnya terbanting ditumpukan rumput yang agak tebal.
Namun beda dengan yang dialami oleh Yeh-lu Chi karena dia telah terbanting lebih kuat, malah jatuhnya, dadanya yang menghantam lebih dulu pada tanah, sehingga dia menderita kesakitan.
Waktu dia merangkak bangun, darah telah bercipratan pada pakaiannya.
Kwee Hu melihat keadaan suaminya seperti itu, cepat-cepat menerjang pada Swat Tocu, untuk menyerang nekad, karena dia kuatir Swat Tocu akan menyerang lagi pada suaminya, sehingga kemungkinan besar suaminya akan terbinasa.
"Aku akan mengadu jiwa dengan kau, manusia biadab.....!"
Memaki Kwee Hu dengan murka, dan memang benar-benar dia menyerang nekad, dia telah menghantam berulang kali mempergunakan seluruh kekuatan lweekang yang ada padanya.
Swat Tocu telah memperdengar suara tertawa dingin, dia bilang.
"Hemm, hemm, kau hendak mengadu jiwa denganku? Kau anggap apa aku ini?"
Dan setelah berkata, cepat sekali dia telah menggerakkan ke dua tangannya.
Baru saja serangan yang dilakukan oleh Kwee Hu tiba, maka bukan Swat Tocu yang terpental, justru Kwee Hu yang telah terlempar ke udara cepat sekali dan terbanting keras sekali, sampai dia merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunangkunang nanar.
Malah kemudian dia merasakan tenggorokannya seperti tercekik, setelah mengeluarkan seruan tertahan satu kali, dia rubuh pingsan tidak sadarkan diri!
Menyaksikan keadaan ayah dan ibunya seperti itu Yeh-lu Kie jadi kaget dan takut.
Dia telah berlari menubruk ibunya, sambil memeluk ibunya yang tengah pingsan itu, dia memanggil-manggil ibunya.
"Kau..... kau kakek jahat..... kau kakek jahat!"
Berseru si Kie itu dengan suara yang nyaring.
"Kau telah menganiaya ayah dan ibuku..... kau kakek jahat.... aku tidak mau berteman dengan kau!"
Melihat gadis cilik itu memakinya, Swat Tocu tidak gusar, malah dia telah tersenyum, sambil katanya.
"Anak kecil, kau minggir, biar aku menghajar adat pula pada ayah dan ibumu itu, agar di lain waktu dia tidak lancang seperti itu.....!"
Dan setelah berkata begitu, Swat Tocu mengulurkan tangannya.
Dia mencengkeram punggung anak itu, dia bermaksud akan melontarkan anak tersebut.
Namun tangannya yang telah terangkat itu jadi tertahan di tengah udara, dia tidak jadi melempar, sehingga tubuh Yeh-lu Kie tergantung di tengah udara.
Waktu itu, tampak Swat Tocu telah mengawasi gadis cilik tersebut, kemudian dia menghela napas.
"Akh kau..... kau merupakan makhluk kecil yang tidak tahu apaapa! Ayah ibumu yang kurang ajar dan lancang, engkau tidak selayaknya dihajar, hanya mereka yang perlu dihajar.....!"
Dan Swat Tocu telah menurunkan gadis cilik itu.
Tadi Yeh-lu Kie melihat bahwa ayah dan ibunya telah disiksa begitu rupa oleh orang tua yang pakaiannya aneh ini, dan ketika dia diturunkan di samping Swat Tocu, tahu-tahu gadis cilik ini telah memeluk kaki Swat Tocu, dia telah mementangkan mulutnya dan membenamkan giginya di kaki Swat Tocu.
Swat Tocu berjengkit kesakitan, karena gigi anak itu telah membenam ke dalam daging kakinya.
Yeh-lu Kie telah menggigitnya dengan sekuat-kuatnya.
"Bocah, cepat kau lepaskan gigitanmu..... cepat.... atau kau akan kuhajar mampus?!"
Bentak Swat Tocu dengan bengis, malah diapun telah mengangkat tangan kanannya yang akan dihajar ke kepala gadis cilik itu.
Yeh-lu Kie tidak mau melepaskan gigitannya itu, dia telah menggigit terus semakin kuat, di dalam hati gadis cilik ini berpikir.
Jika memang dia menggigit terus kaki Swat Tocu, tentu Swat Tocu tidak mungkin bisa menganiaya ayah dan ibunya lagi!
Karena pikiran yang sederhana itu, dia telah menggigit terus, dia tidak menyadari bahaya yang tengah mengancam dirinya, karena Swat Tocu menurunkan tangan kanannya itu menghantam batok kepalanya niscaya batok kepalanya itu akan hancur dan dia akan menemui kematiannya.
Swat Tocu yang menderita kesakitan pada kakinya akibat gigitan si gadis keci1 itu telah meneruskan mengayun tangan kanannya, dia bermaksud akan menyampok si gadis kecil she Yeh-lu itu.
Waktu itulah Lie Ko Tie telah melompat ke dekat Swat Tocu sambil berseru.
"Suhu...... jangan.....!" Swat Tocu menoleh, dia melihat muridnya tengah mengawasi dengan sikap berkuatir.
"Jangan mencelakai dia, Suhu!"
Berseru Ko Tie lagi, suaranya memohon.
Swat Tocu telah menghela napas.
Dia memang sangat menyayangi muridnya yang tunggal ini.
Dan sekarang muridnya telah memohon kepadanya agar tidak mencelakai Yeh-lu Kie.
Dengan demikian, dia telah meluluskan permintaan Ko Tie.
Hanya saja, dia telah membungkukkan tubuhnya, mengulurkan ke dua tangannya dan telah mencekal lengan Yeh-lu Kie.
Dia memijit sedikit, si gadis cilik itu kesakitan hebat dan menjerit, dan kesempatan itulah telah diambil oleh Swat Tocu untuk menarik tubuh Yeh-lu Kie, sehingga gigitan si gadis kecil itu telah terlepas.
Waktu itu.
tampak Yeh-lu Kie telah dilepas dan diturunkan di atas tumpukan rumput dia telah menangis sambil berteriak-teriak.
"Kau jangan menganiaya ayah dan ibuku.....!"
Ko Tie telah menghampiri, dia telah berkata membujuk pada gadis cilik itu.
"Jangan menangis, ayah dan ibumu tidak akan mengalami apapun juga..... guruku tadi telah cukup menghukum mereka.....!"
Tetapi Yeh-lu Kie tetap menangis sambil geleng-gelengkan kepalanya. Air matanya telah mengucur deras, dia juga terus menerus mengatakan.
"Kakek jahat itu tidak boleh menganiaya ibu dan ayahku..... kakek itu jahat sekali..... dia seorang kakek yang jahat, aku tidak mau bermain dengan dia.....!" Swat Tocu tertawa mengejek, dia melihat Yeh-lu Chi telah melompat ke samping isterinya tengah berusaha menyadari isterinya. Walaupun, telah terluka di dalam, namun menyaksikan isterinya pingsan seperti itu, Yeh-lu Chi telah melupakan luka dideritanya. Dia berusaha menotok beberapa jalan darah di tengkuk isterinya, dan akhirnya itu tersadar juga. Kwee Hu ketika tersadar. dia telah mengeluh pendek, matanya masih nanar. Di saat itulah, tampak Kwee Hu telah menggerakkan tangan kanannya menunjukkan kepada Yeh-lu Kie, katanya dengan suara yang tidak lancar.
"Dia..... dia harus dilindungi.... dia..... si Kie.....!"
Dan Kwee Hu tidak bisa meneruskan perkataannya lagi, karena tenaganya habis, kembali dia pingsan dalam pelukan suaminya.
Yeh-lu Chi telah mengurut-urut lagi beberapa bagian di tengkuk isterinya, dan isterinya itu telah tersadar kembali.
Di saat itulah Yeh-lu Kie yang melihat ibunya telah tersadar dan kemudian pingsan kembali, cepat-cepat memburu dengan cepat, dia telah berlari menghampiri begitu sambil berseru-seru.
"Ibu..... ibu......!"
Tetapi Yeh-lu Chi telah menahan puterinya tersebut, dia memberikan isyarat kepada puterinya itu jangan mengganggunya dulu.
Dan tangan Yeh-lu Chi telah bergerak mengurut-urut terus tengkuk isterinya, sampai akhirnya Kwee Hu memperdengarkan suara keluhan dan tersadar.
"Kakek jahat, kakek jahat, kau lihat, ibuku sampai demikian macam keadaannya.....!"
Teriak Yeh-lu Kie tidak bisa menahan kemarahannya.
Gadis cilik ini jadi sangat bersedih hati melihat keadaan ibunya yang pingsan seperti itu.
Swat Tocu telah melangkah menghampiri, tetapi Yeh-lu Kie telah menghadang dan melintang dihadapannya, sambil bentaknya dengan suara yang nyaring.
"Kakek jahat, kau tidak boleh mendekati ayah dan ibuku!"
Tetapi Swat Tocu telah tertawa mengejek.
"Hemmm, kau sayang pada ibu dan ayahmu?!"
Tanya Swat Tocu dengan suara yang tawar.
"Jika kau menganiaya ibu dan ayahku lagi, hemmm, aku akan menggigit terus kakimu.....!"
Mengancam Yeh-lu Kie. Swat Tocu mendengar perkataan gadis cilik ini, jadi tertawa. Dia telah menunjuk ke arah muridnya, Ko Tie, dia bilang.
"Lebih baik engkau pergi bermain dengan muridku itu biarlah ibu dan ayahmu kuurus....!"
"Apa? Aku pergi bermain? Dan kau, kakek tua yang jahat apakah akan menyiksa ayah dan ibuku lagi?!"
Teriak Yeh-lu Kie.
Swat Tocu telah menggeleng.
Sebetulnya Swat Tocu telah membawa adatnya yang sangat aneh sekali.
Dia tidak pernah akan memperdulikan segala peradatan, dan apa yang disenanginya tentu dilakukannya, dan jika dia tidak menyukai seseorang pasti orang itu akan dihajarnya!
Tetapi, karena melihat Ko Tie tampaknya memperhatikan Yeh-lu Kie, di mana usia merekapun sebaya.
Rupanya memang selama di pulau salju ini, selain bertemu dengan biruang salju, Ko Tie tidak memiliki sahabat.
Dan sekarang ada gadis cilik ini, bukankah gadis cilik ini bisa diminta untuk jadi sahabatnya bermain?
Karena berpikir begitulah, telah membuat Swat Tocu akhirnya memutuskan tidak akan menghukum Yeh-lu Chi dan Kwee Hu lebih jauh.
Dia melihat Yeh-lu Chi telah berhasil menyadarkan isterinya, dia telah memayang isterinya untuk berdiri.
Dan Kwee Hu sendiri telah menoleh kepada Swat Tocu, dengan suara yang masih lemah dia berkata.
"Hemmmm, engkau hanya pandai menyiksa kaum muda! Jika melihat usia dan tingkatanmu, tentu engkau setingkat dengan ayah dan ibuku! Atau mungkin lebih..... mungkin tingkatanmu sama dengan tingkatan kakekku. Mengapa engkau tidak coba-coba untuk mengadu ilmu dengan ibu atau ayahku? Hemmm, mungkin mereka hanya dua atau tiga jurus saja akan dapat merubuhkan kau dengan mudah!"
Muka Swat Tocu jadi berobah merah, dia mendongkol bukan main.
"Panggil ayah dan ibumu itu, aku akan menghajar mereka habishabisan babak belur di hadapanmu.....!"
Kata Swat Tocu sengit.
"Hemm!"
Kwee Hu tertawa mengejek.
"Kau telah mengetahui bahwa kita berada di sebuah pulau yang terpisah oleh jarak yang jauh dari tempat ayah dan ibuku berada, karena dari itu engkau tadi berani mementang mulut besar seperti itu! Manusia seperti kau ingin menghajar babak belur ayah dan ibuku? "
Hu, hu, hanya dalam satu atau dua jurus engkau akan dibinasakannya, setidak-tidaknya ilmu silatmu akan dipunahkan oleh mereka!
Manusia jahat seperti engkau memang tidak selayaknya dibiarkan hidup terus di dunia ini......!
Itu baru ayah dan ibuku, belum lagi kakekku hanya setengah jurus, tidak sampai satu jurus tentu engkau telah jangkir balik berlutut sambil manggutmanggutkan kepala memohon-mohon ampun!"
Muka Swat Tocu merah padam saking marahnya.
Dia tahu, Kwee Hu memancing kemarahannya, tetapi dia memang benar-benar marah.
Dialah seorang aneh yang selalu menuruti kata hatinya, karena dari itu dalam murkanya seperti itu, dia telah melompat gesit ke samping Yeh-lu Chi, ke dekat Kwee Hu, dengan geram dan bengis dia telah membentak.
"Sebelum mereka, si Oey tua yang sesat, sebelum ayah dan ibumu itu kuhajar, sekarang lebih dulu engkau yang akan kuhajar babak belur, mulutmu yang akan kurobek.....!"
Kwee Hu walaupun hatinya jeri dan kuatir, tetapi dia sengaja memperdengarkan suara tertawa dingin, dia telah bilang.
"Hemm, memang sudah kukatakan engkau hanya berani kepada orangorang golongan muda, tidak berani untuk membentur golongan tua.....! Kami memang dari tingkatan muda, jelas kami tidak akan sanggup menghadapi kau, maka dari sekarang kau jual lagak dihadapan kami, bicara besar dan bertingkah seperti lutung! "
Hemm, sudah kukatakan jika memang engkau yakin memiliki kepandaian yang berarti, cukup engkau hadapi ayah atau ibuku......
tidak perlu sampai menghadapi kakekku itu.....
karena dengan menghadapi ayah dan ibuku saja, engkau tentu akan dibuat jungkir balik memohon pengampunan tidak hentinya dan ilmu silatmu akan dipunahkan!
Tetapi jika menghadapi kakekku, hu, hu, kakekku itu manusia yang luar biasa, manusia yang hampir mencapai tingkat kedudukan seperti dewa, jangan harap engkau bisa menghadapinya walaupun hanya setengah jurus.....!"
Setelah mengejek begitu, sengaja Kwee Hu mendengus memperdengarkan beberapa kali tertawa mengejeknya, tampaknya dia memang sengaja untuk membangkitkan kemarahan Swat Tocu.
Dan usaha Kwee Hu memang berhasil, muka Swat Tocu telah merah padam, dia berseru murka.
"Kau pergi panggil ayah dan ibumu..... panggil mereka ke mari.....!"
"Untuk memanggil mereka mudah. Aku bersedia menyampaikannya tantanganmu itu nanti. Tetapi kami masih letih, karena dari itu kami perlu beristirahat dulu di sini, nanti setelah kami pulang kembali ke daratan Tiong-goan, tantanganmu itu akan kusampaikan kepada ayah dan ibuku itu, dan pasti mereka akan menerimanya dan cepat-cepat menuju ke mari......!"
Swat Tocu tertawa dingin.
"Hemmm, engkau hendak memperdayakan diriku dengan tipu licikmu itu? Apakah dengan berkata begitu, memanas-manaskan hatiku, lalu aku akan mengijinkan kalian meninggalkan pulau ini begitu saja, dengan alasan hendak pergi menemui ke dua orang tuamu, agar mereka mengukur ilmu denganku? Tidak mudah.....! Jika tadi, sebelum kau berusaha membakar hatiku, aku memang telah bermaksud mengampuni diri kalian suami isteri, tapi sekarang, hemmm, hemmm, aku akan mengurung kalian di pulau ini, seumur hidup jangan harap kalian bisa meninggalkan pulau ini!"
Kwee Hu tidak gentar mendengar perkataan Swat Tocu, dia telah memperdengarkan tertawa mengejek, lalu katanya.
"Terus terang saja kau akui, bahwa engkau jeri untuk berurusan dengan ibu dan ayahku! Hu, hu, belum lagi jika harus berhadapan dengan kakekku, mungkin engkau akan terkencing-kencing dan akan terberak-berak karenanya.....!"
Itulah hinaan yang bukan main hebatnya buat Swat Tocu.
Dia telah mengerang bengis, dia pun melompat sambil menggerakkan tangan kanannya menghantam ke arah kepala Kwee Hu.
Waktu itu Kwee Hu dalam keadaan terluka di dalam, dan dia lemah sekali, karena tenaganya seperti telah habis meninggalkan raganya.
Diapun tengah berdiri menyender pada Yeh-lu Chi suaminya.
Dan Yeh-lu Chi sendiri juga tengah terluka hebat, karenanya tidak mungkin dia mewakili isterinya menyambut, serangan maut yang dilontarkan Swat Tocu.
Angin dari serangan telapak tangan Swat Tocu begitu kuat dan dahsyat sekali.
Jika memang mengenai tepat pada sasarannya, jangankan kepala manusia, sedangkan batu yang besar sekalipun, jika kena dihantam tentu akan hancur karenanya.
Yeh-lu Chi sendiri mengetahui hebatnya serangan itu, demikian juga Kwee Hu.
Namun mereka suami isteri sudah tidak berdaya untuk mengelakkannya, dan Kwee Hu sendiri menduga bahwa ejekannya dan usahanya untuk memperdayakan Swat Tocu telah gagal, dia hanya bisa memejamkan ke dua matanya dengan putus asa.
Swat Tocu yang tengah gusar sekali telah menyerang dengan tenaga lweekang yang tidak tanggung-tanggung pada telapak tangannya, tapi belum lagi serangan itu mengenai sasarannya yaitu kepalanya Kwee Hu, terdengar teriakan yang melengking nyaring.
"Kakek jahat yang berhati busuk, kau jangan aniaya ibuku lagi.....!"
Mendengar teriakan itu, teriakannya Yeh-lu Kie, Swat Tocu seperti tersadar dia menahan meluncur tangannya, lalu dengan mengkertak giginya, dia berkata bengis.
"Masih untung aku mau menaruh belas kasihan kepada puteri kalian, jika tidak, hemm, hemm......!!"
Kwee Hu yang melihat Swat Tocu tidak meneruskan pukulannya itu, telah tertawa dingin, bangun keberaniannya.
"Apanya yang hemmm, hemmm, begitu? Apakah di hadapan ayah dan ibuku kau bisa bersikap hemm hemman seperti itu?!"
Bukan main mendongkol dan gusarnya Swat Tocu mendengar ejekan Kwee Hu. Dia sampai mengerang murka, dan membanting kaki kanannya, dia lalu membentak bengis.
"Baik, Sekarang kita berangkat mencari ke dua orang tuamu itu......!" "Jangan sekarang!"
Kata Kwee Hu cepat.
"Jika sekarang di rumah ayah dan ibu tengah menerima kunjungan kakekku, karena kami ingin berangkat, kakekku telah mengatakan akan berdiam di sana selama satu-dua tahun..... Jika engkau berangkat sekarang, tentu engkau bisa celaka, karena jangankan menghadapi kakekku itu, sedangkan menghadapi ke dua orang tuaku saja engkau akan terkui-kui memohon ampun! Kakekku itu juga seorang yang adatnya ku-koay. Melihat kau, dia bisa memperlakukan kau seperti seekor anjing.....!"
Gemetar tubuh Swat Tocu menahan kegusarannya yang luar biasa.
Karena tidak bisa membendung lagi kemarahannya itu, dia telah mengeluarkan suara bentakan sambil mengayunkan tangan kanannya menghantam gundukan salju.
Salju itu bukannya hancur buyar, hanya seketika mencair, tidak berbekas.
Memang Swat Tocu memiliki ilmu pukulan Inti Es, dan telah menguasai sifat salju, dan dinginnya tangan Swat Tocu itu melebihi dingin es itu sendiri, dengan demikian, pukulannya itu bukan main dahsyatnya.
Kwee Hu dan Yeh-lu Chi sendiri tercekat hati mereka menyaksikan hebatnya tangan Tocu dari pulau salju ini.
Coba jika tadi Swat Tocu, menyerang dengan pukulan istimewanya itu, bukankah berarti mereka akan terbinasa dalam satu atau dua jurus saja?
Tetapi Kwe Hu tidak memperlihatkan perasaan takutnya itu, dia telah memperdengarkan suara tertawa dingin, malah dia telah bilang.
"Mengapa engkau harus marah begitu sampai gundukan salju yang dijadikan sasaran?! Tidak mengherankan jika salju itu bisa dipukul mencair seperti itu, akupun bisa melakukannya......!" "Apa? Kau bisa melakukannya?!"
Bentak Swat Tocu sengit.
"Baik, baik, sekarang kau lakukan, jika engkau bisa melakukannya biarlah aku akan berlutut dan akan memanggil kau sebagai nenekku!"
"Cisss! Siapa yang kesudian menjadi nenekmu? Setiap wanita di dunia ini tidak seorangpun yang mau cepat-cepat tua dan menjadi nenek, semuanya ingin awet muda dan tetap cantik, siapa yang kesudian menjadi seorang nenek.....!"
"Jika memang engkau bisa memukul sekali tetapi gundukan salju itu mencair, aku akan bersedia melakukan apa saja yang kau perintahkan! Tapi ingat, jika engkau hanya bicara besar, hemmm, hemm, aku akan mengambil jiwamu.....!"
"Tidak perlu engkau mengancam begitu, nanti jika telah bertemu dengan ayah dan ibuku maka aku akan membuktikan kepadamu, bahwa aku bisa mencairkan es itu......! Sekarang ini, aku sedang letih dan akupun telah terluka olehmu, maka dari itu, sebagai orang tingkatan muda, aku harus tahu diri......!"
Dikocok pulang pergi oleh Kwee Hu, Swat Tocu sangat gusar, tapi dia gusar tanpa bisa melampiaskan, dia hanya berdiri mendelik, melotot gusar kepada nyonya Yeh-lu itu.....
Kwee Hu melihat orang bergusar seperti itu, dia malah tertawa mengejek.
Senang hatinya bisa mempermainkan Swat Tocu seperti itu, di mana dia berhasil memancing kemarahan Tocu dari pulau salju ini, tanpa Tocu itu bisa melampiaskan kemarahannya itu.
"Bagaimana?
Apakah kau ingin pergi sekarang atau nanti saja?
Jika pergi sekarang, aku sih hanya ingin menasehati saja kepadamu karena aku berkasihan kepadamu.
Sekarang ini kakekku berada bersama ayah dan ibuku.
Lebih baik kau menanti sampai tahun depan saja sehingga nanti jika bertemu dengan ayah dan ibuku, kau hanya menghadapi mereka berdua saja.....!"
Muka Swat Tocu jadi merah padam, membanting kaki, dia bilang dengan murka.
"Kita berangkat sekarang, aku ingin melihat apa yang bisa dilakukan oleh si tua sesat Oey itu.....!"
Dan setelah berkata begitu, dia menoleh kepada Ko Tie, katanya.
"Tie-jie bersiap-siaplah kau untuk ikut berangkat ke daratan Tiong-goan!"
Kwee Hu yang pancingannya berhasil jadi girang, bukankah dengan demikian mereka akan berhasil kembali ke daratan Tionggoan.
Jika nanti telah berada di tempat ayah dan ibunya, itulah urusan ayah dan ibunya untuk menghadapi Tocu ini.
Mereka suami isteri tidak perlu berkuatir lagi.....!
Yeh-lu Chi waktu itu telah membisiki Kwee Hu.
"Jika kita sampai di Tiong-goan dan tidak berhasil bertemu dengan ayah dan ibu, karena mereka kebetulan tengah berkelana, bagaimana kita menghadapi makhluk berangasan ini?!"
"Itu urusan nanti.....!"
Menyahuti Kwee Hu.
"Mustahil kita dengan dibantu oleh para Tianglo Kay-pang dan juga sahabat-sahabat Kangouw lainnya, tidak dapat kita menghadapinya?!"
Yeh-lu Chi hanya mengangguk saja.
Waktu itu, Swat Tocu jadi sibuk bukan main.
Dia telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan pelayaran.
Ko Tie juga telah bantu mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa serta dalam pelayaran mereka.
Waktu itu, Yeh-lu Kie telah berbisik kepada Ko Tie meminta makanan.
Ko Tie telah memberikan kepadanya beberapa kati daging panggang dan juga air minum.....
Sambil duduk mengaso, Yeh-lu Chi, Kwee Hu dan puterinya telah menangsal perut dengan daging panggang tersebut.
Tetapi di saat mereka tengah mengayem daging panggang tersebut, justru di waktu itu terdengar suara erangan yang aneh sekali, suara erangan yang keras dan panjang.
Waktu Yeh-lu Chi, Kwee Hu dan puterinya menoleh, semangat mereka seperti terbang.
Dari balik batu gunung tampak seekor biruang putih yang tinggi besar, yang tengah melangkah menghampiri mereka.
Yeh-lu Chi yang kaget dan berwaspada telah melompat untuk melindungi isteri dan puterinya.
Namun biruang putih itu yang bulunya putih seperti salju, hanya mengerang perlahan sambil menghampiri, tidak terlihat tanda-tanda bahwa dia akan menyerang.
Di tangannya ternyata membawa beberapa macam buah-buahan, dan setelah menghampiri Yeh-lu Kie lebih dekat lagi.
Binatang tersebut mengangsurkan ke dua tangannya, mengangsurkan buabuahan itu, bagaikan menghadiahkan buah-buahan itu untuk si gadis kecil tersebut.
Melihat biruang tersebut tidak mengandung maksud buruk dan tidak akan mengganggu, Yeh-lu Chi dan Kwee Hu jadi tenang kembali.
Demikian juga halnya dengan Yeh-lu Kie, yang tertarik pada binatang ini, sehingga tak lama kemudian gadis kecil itu telah bermain-main dengan biruang tersebut.
Itulah biruang salju peliharaan Swat Tocu, di mana biruang ini memang merupakan seekor biruang yang jinak sekali, disamping itu diapun telah menerima pendidikan ilmu silat.
Walaupun dia hanya seekor binatang belaka, namun dia bisa bersilat dengan gerakan yang cukup tangguh.
Jika biasanya dia hanya bermain dengan Ko Tie, dan sekarang dia memperoleh sahabat baru.
Dengan sendirinya biruang salju inipun jadi gembira sekali.
Tampak beberapa kali biruang salju itu telah melempar-lemparkan Yeh-lu Kie ke tengah udara, dilempar dan ditanggapnya, begitu berulang kali, sehingga Yeh-lu Kie berulang kali pula telah tertawa gembira.
Waktu itu, Ko Tie telah muncul juga, dan ikut bermain, tampaknya Ko Tie maupun Yeh-lu Kie dan biruang salju itu telah bermain dengan riang.
Mereka begitu asyik bermain, tidak memperhatikan lagi Kwee Hu maupun Yeh-lu Chi.
Begitu juga dengan Swat Tocu, yang telah duduk di bawah sebatang pohon, duduk termenung mengawasi anak-anak itu yang tengah bermain-main.
Tadi dia telah mempersiapkan kapalnya yang akan dipergunakan untuk berlayar, sebuah kapal yang ditempatkan di pantai sebelah barat dari pulau itu, dan berukuran cukup besar.
Setelah lewat beberapa saat lagi, Swat Tocu telah meneriaki Ko Tie untuk segera berangkat.
Kwee Hu dan Yeh-lu Chi juga cepatcepat mengajak Yeh-lu Kie untuk berangkat.
Inilah keberangkatan yang akan menggembirakan sekali buat Yeh-lu Chi maupun Kwee Hu, karena mereka tokh akhirnya akan tiba kembali di Tiong-goan, dan tidak terpencil terdampar di pulau salju ini.
Biruang salju kali ini tidak diajak oleh majikannya, Swat Tocu hanya mengajak Ko Tie.
Dengan hati dan sikap yang sedih, biruang salju itu telah melambai-lambaikan tangannya ketika kapal itu mulai berlayar meninggalkan pulau itu.
Gelombang laut tidak seberapa besar dan kapal itu memang dapat berlayar di lautan dengan tenang.
Terlebih lagi Tocu dari pulau salju itu mengetahui benar bagaimana harus mengemudikan kapalnya dan mengetahui pula perihal udara baik atau buruk, dan dia pun pandai sekali untuk menguasai kapalnya jika diterjang oleh gelombang yang mengganas dan besar......
Begitulah, kapal Swat Tocu telah berlayar berhari-hari menuju ke daratan Tiong-goan.
Sebetulnya, sejak herhasil membawa Ko Tie ke pulaunya, Swat Tocu sudah memutuskan tidak akan kembali ke daratan Tiong-goan, di mana dia akan berdiam di pulaunya bersama Ko Tie dan biruang saljunya, sebab Swat Tocu ingin mendidik Ko Tie sebaik mungkin.
Namun siapa sangka ejekanejekan dan pancingan yang dilontarkan Kwee Hu telah merobah keputusannya itu, sehingga kini dia tengah berlayar untuk datang pula ke daratan Tiong-goan......
◄Y► Kotaraja dari pemerintahan Boan-ciu mengalami perpindahan.
Jika semulanya ibukota dari kerajaan Song dan juga kerajaan sebelumnya, seperti kerajaan Beng, adalah Lam-khia atau Kimleng, sebuah tembok batu yang paling besar di kolong langit, maka Kaisar dari kerajaan Boan justru beranggapan bahwa Kim-leng sudah tidak cocok untuk dijadikan sebagai kotaraja, maka telah dipindahkan ke Pak-khia.
Dengan demikian kotaraja dari pemerintahan kerajaan Boan tersebut berpusat di Pak-khia.
Sebagai kotaraja, Pak-khia merupakan kota yang sangat besar dan luas, terutama sekali kerajaan Boan telah menjadikan Pakkhia sebagai perbentengan dan pusat dari gerakan mereka waktu ingin merebut daratan Tiong-goan.
Dengan demikian Pak-khia merupakan pusat dari segala keramaian yang ada.
Bicara soal kemegahan, walaupun Lam-khia merupakan kota yang sangat besar, yang sampai memperoleh julukan sebagai kota terbesar di kolong langit, namun dibandingkan dengan Pak-khia jadi tidak nempil.
Bukan saja Pak-khia jauh lebih luas dan besar, juga memang Pak-khia merupakan kota yang tersusun baik sekali.
Sebagai seorang Kaisar yang pandai, raja Boan itu telah memerintahkan pembentukan kota yang benar-benar baik dan strategis sekali, di mana Pak-khia merupakan pusat urat nadi yang akan memiliki hubungan erat dengan kota-kota di sekelilingnya, maupun di sebelah barat, timur, selatan dan utara.
Dan sebagai pusat dari urat nadi lalu lintas, perdagangan dari berbagai propinsi di timur, barat, selatan dan utara itu, Pak-khia setiap hari kebanjiran para pelancong dan juga orang-orang yang ingin pelesiran di kota raja.
Waktu rombongan pangeran Ghalik tiba di kota raja ini, mereka telah menyamar sebagai penduduk biasa.
Merekapun memecah diri menjadi tiga rombongan, mengambil tempat di sebuah rumah penginapan dan mengambil sikap seperti orang tidak kenal mengenal.
Pangeran Ghalik dengan Ciu Pek Thong dan tiga orang pahlawannya menjadi satu rombongan sedangkan ketiga orang pahlawannya yang lain bergabung dengan Hek Pek Siang-sat menjadi satu rombongan lainnya.
Yo Him dan Sasana merupakan rombongan lainnya.
Dengan memecah diri menjadi tiga rombongan ini, tentu saja untuk menghindarkan perhatian dari pihak kerajaan dan juga kecurigaan dari penduduk setempat.
Dengan adanya Ciu Pek Thong yang mengawal ayahnya, Sasana dan Yo Him boleh bertenang hati, karena memang Ciu Pek Thong merupakan orang yang memiliki kepandaian luar biasa sekali, tentu boleh dibilang di zamannya ini sudah tidak ada orang yang bisa menandingi lagi.
Dan dengan bersama Ciu Pek Thong, keselamatan pangeran Ghalik boleh terjamin penuh.
Hek Pek Siang-sat dan ketiga orang pahlawannya pangeran Ghalik yang lainnya juga mengambil kamar di sebelah kamar rombongan pangeran tersebut, dengan demikian, di setiap detik jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka bisa segera memberikan pertolongan.
Dan Yo Him bersama Sasana mengambil sebuah kamar juga, mereka mengatakan pada pemilik rumah penginapan itu bahwa mereka adalah kakak dan adik.
Memang buat Yo Him tidak leluasa mengambil sebuah kamar bersama-sama dengan Sasana, demikian juga sebaliknya.
Namun mereka terpaksa, karena jika mereka masing-masing mengambil sebuah kamar, tentu akan mengandung kecurigaan kuasa rumah penginapan itu.
Sasana juga telah melihat, bahwa Yo Him seorang lelaki sejati, yang tidak pernah memperlihatkan sikap-sikap kurang ajar, dialah seorang Kuncu yang bisa dipercaya penuh.
Malam pertama, Yo Him dan Sasana memperoleh tugas untuk pergi melakukan penyelidikan di sekitar istana Kaisar.
Mereka tidak berani memukul rumput mengejutkan ular, maka dari itu mereka tidak mau terlalu dekat dengan istana, kuatir dilihat oleh Tiat To Hoat-ong dan orang-orangnya, yang mungkin saja mengenali mereka.
Karena itu, mereka hanya menyelidiki keadaan di sekitar istana itu saja, tanpa memasuki istana.
Tetapi pada keesokan malamnya, ketika giliran jatuh pada Ciu Pek Thong untuk pergi menyelidiki keadaan di istana Kaisar, si bocah tua yang berandalan ini malah girang bukan main.
Dia telah mengajak Yo Him, dan ketika telah berada dekat dengan istana Kaisar, Loo-boan-tong pun bilang kepada Yo Him.
"Kita masuk ke dalam istana Kaisar, aku jamin kau bisa makan santapan yang lezat-lezat..... kau bisa menikmati santapan yang belum pernah kau makan.....! Kita akan pergi ke dapur istana dulu, ini yang paling utama, setelah kenyang barulah kita menyelidiki keadaan di istana.....!" "Tetapi Ciu Locianpwe..... jika mungkin..... jika mungkin....."
Kata Yo Him ragu-ragu.
"Jika mungkin apa?!"
Tanya Loo-boan-tong tidak sabar.
"Apakah engkau seorang yang tidak senang makan yang enak-enak?!"
"Bukan begitu Locianpwe...... tetapi jika mungkin Boanpwe harap kita tidak perlu menimbulkan keonaran dan jika memang sampai bertemu dengan Tiat To Hoat-ong kita harus berusaha menghindar. Jangan sampai memukul rumput mengejutkan ular.....! Ciu Pek Thong tertawa geli, kemudian katanya.
"Oho, oho, rupanya memang aku si Loo-boan-tong selamanya harus menerima nasehat dari orang tingkatan muda, selalu pula aku dinasehati seperti itu, dari dulu sampai sekarang..... dan kini engkau memang memberikan nasihat seperti itu! Aku juga sadar bahwa aku si Looboan-tong memang selalu mencari keonaran dan berandalan, semakin tua keberandalanku itu semakin menjadi! "
Tetapi engkau tidak perlu kuatir karena aku berjanji, aku hanya ingin menikmati santapan lezat-lezat, masakan dari koki istana!
Lain dari itu tidak menarik perhatianku, apa lagi pertempuran.
Hu, hu, tanganku sedang baal dan tidak gatal, karenanya aku tidak tertarik untuk main-main dengan si gundul Tiat To Hoat-ong atau yang lainnya begundalnya Kaisar itu......"
Dan setelah berkata begitu Ciu Pek Thong kembali tertawa bergelak-gelak lagi sambil tubuhnya melesat dengan gesit luar biasa melompat ke depan.
Yo Him tersenyum girang sambil mengikutnya, si bocah tua berandalan itu telah berjanji tidak akan menimbulkan keonaran lagi.
Memang dari Oey Yok Su, gurunya Yo Him sendiri telah mendengar bahwa Ciu Pek Thong memang merupakan manusia yang berandalan dan jenaka, semua selalu sekehendak hatinya melakukan apa yang disenanginya.
Waktu itu Ciu Pek Thong menemani Oey Yok Su di pulau Tho-hoato, selama itu pula Yo Him telah mengenal watak dan tabiat dari Loo-boan-tong ini, yang sifatnya seperti anak-anak, walaupun usianya telah lanjut, di mana kegemarannya selalu bermain.
Dan salah satu lagi kegemarannya selalu melahap santapan yang lezat-lezat juga Loo-boan-tong ini gemar sekali untuk mendengarkan cerita-cerita dongeng mengenai kerajaan Langit.....!"
Istana Kaisar Kublai Khan merupakan istana yang megah dan besar serta luas bukan main.
Kaisar ini memang sejak berhasil merebut Tiong-goan, daerah yang demikian subur dan juga permai dengan segala keindahan yang terdapat di situ, berbeda sekali dengan keadaan di Mongolia yang merupakan rumput padang pasir yang tandus, maka telah memerintahkan ratusan bahkan ribuan pekerjaan yang ahli untuk membangun istananya ini.
Bahkan, walaupun telah bertahun-tahun dia berkuasa di daratan Tiong-goan, memerintah sebagai seorang Kaisar, tokh pembuatan istananya itu masih belum rampung keseluruhannya, di mana di bagian sayap kiri dan sayap kanan dari istana Kaisar tersebut masih dikerjakan dan dibangun terus.
Jika ingin diperbandingkan, luasnya istana yang di tempati Kaisar Kublai Khan sama luasnya dan besarnya seperti sebuah kota!
Ciu Pek Thong memang pernah dulu berkeliaran ke istananya Kaisar Song, namun istana Kaisar itu walaupun megah dan luas, tidak seluas dan sebesar istana Kublai Khan.
Dengan demikian, telah membuat Ciu Pek Thong terbangun semangatnya, dia telah bilang kepada Yo Him.
"Kita akan bertamasya di istana ini......!"
Yo Him mengangguk. Diapun telah bilang.
"Ya, istana ini sama saja dengan luasnya sebuah kota! Jika kita berkeliaran satu harian di dalam istana ini, itupun belum tentu kita bisa mengelilingi habis istana ini.....!"
Ciu Pek Thong tertawa sambil berjingkrak, dia bilang.
"Tidak habis satu hari? Apakah engkau hendak berlomba adu lari denganku? Ayo, jika memang engkau ingin adu lari denganku mengelilingi istana ini, aku akan melayaninya!"
Yo Him tersenyum, sedangkan di hatinya dia bilang.
"Hemmm, adu lari di istana ini, apakah kau kira dengan demikian bukan sama saja kau memperlihatkan dirimu kepada orang-orang istana akan kehadiran kita di sini?!"
Walaupun berpikir begitu, tokh telah menyahuti juga.
"Mana bisa Boanpwe mengimbangi ginkang Locianpwe, tentu Boanpwe akan tertinggal jauh.....! Sekarang, disini saja Boanpwa mengaku kalah!"
Ciu Pek Thong tertawa senang, pemuda ini tidak berani untuk adu lari dengannya. Dia telah bilang lagi.
"Baik, tetapi sebagai si pecundang, engkau harus menuruti parintahku! Pertama, engkau harus menemani aku pergi ke dapur istana, untuk mengambil santapan raja yang paling lezat!" Yo Him hanya mengangguk. Begitulah, Yo Him dan Ciu Pek Thong telah berkeliaran di dalam istana. Mereka memiliki kepandaian yang telah sempurna. Walaupun Yo Him tidak sehebat Ciu Pek Thong dan mungkin masih berada satu tingkat di bawah kepandaian Loo-boan-tong, namun dijaman ini sudah sulit mencari ke duanya pemuda seperti ini, yang memiliki beberapa macam kepandaian yang hebat-hebat dari beberapa guru yang luar biasa juga! Begitulah, setelah berkeliaran di dalam istana Kaisar dan melewati beberapa tempat penjagaan dengan mudah, di mana para pengawal istana yang mengadakan penjagaan yang ketat tidak berhasil membendung Ciu Pek Thong dan Yo Him, ke duanya telah tiba di dapur istana. Mereka menempatkan diri di atas penglari ruangan dapur dan dikala para pelayan istana tengah keluar dan ada juga sebagian yang tertidur, Ciu Pek Thong telah menyambar beberapa macam makanan yang akan disajikan kepada Kaisar, dilahapnya dengan nikmat sekali. Yo Him juga telah mencoba beberapa masakan koki istana memang lezat bukan main karena semua makanan yang dimasak di dalam dapur istana itu merupakan makanan-makanan yang terpilih dan telah terbukti kelezatannya, yang mungkin juga tidak akan diperoleh di rumah-rumah makan biasa. Ciu Pek Thong ternyata gembul juga, dia telah menghabiskan cukup banyak bermacam-macam makanan yang semula memang akan disajikan kepada Kaisar, jika memang di setiap waktu Kaisar itu merasa lapar atau hendak bersantap. Walaupun gembulnya Ciu Pek Thong ini tidak sehebat Ang Cit Kong, bekas Pangcu Kay-pang yang senang menggayem itu, yang senang makan makanan lezat, dan juga sering berkeliaran di istana Kaisar dan sering mengurung diri di dapur istana sampai berbulan-bulan lamanya itu. Tokh Ciu Pek Thong, memang memiliki perut yang daya tampungnya tidak tanggung-tanggung. Setelah kenyang dan puas, Ciu Pek Thong baru mengajak Yo Him untuk mengitari dan mengelilingi istana, guna melakukan penyelidikan. Istana itu benar-benar luas, walaupun Ciu Pek Thong bersama Yo Him telah mengelilingi lama sekali, tokh mereka masib belum berhasil untuk menemukan kamarnya Kaisar. Waktu itu telah larut malam, telah jam dua malam. Dan Ciu Pek Thong penasaran, dia ingin melihat bagaimana indahnya kamar dari Kaisar itu dibangun, karena melihat bentuk istananya yang demikian megah dan istimewa, tentunya kamar raja itupun istimewa dan hebat sekali. Sebagai orang yang berandalan dan senang bermain, rasa ingin tahunya terhadap hal-hal yang belum pernah dilihatnya, telah membuat Ciu Pek Thong mengajak Yo Him untuk tetap menyelidiki keadaan di seputar istana Kaisar ini. Waktu itu, Yo Him sebetulnya sudah ingin mengajak Ciu Pek Thong untuk meninggalkan istana dan kembali ke rumah penginapan. Menurut Yo Him, jika memang terlalu lama keliaran di istana Kaisar Kublai Khan, niscaya akhirnya tokh mereka akan diketahui oleh pengawal istana. Walaupun Ciu Pek Thong dan Yo Him tak perlu kuatir untuk menghadapi para pengawal itu, namun Tiat To Hoat-ong dengan para jago-jagonya itu, yang semuanya memiliki kepandaian yang tinggi, cukup berbahaya juga. Bukankah sekarang dengan berada di istana Kaisar ini sama juga Ciu Pek Thong dan Yo Him tengah berada di sarang macan? Bukankah juga Tiat To Hoat-ong mengetahui kehadiran mereka di istana ini, maka mereka akan memperoleh kesulitan tidak kecil? Untuk menghadapi seorang lawan seorang, memang Ciu Pek Thong dan Yo Him tidak perlu jeri atau takut. Tetapi jika Tiat To Hoat-ong dengan orang-orangnya itu, yang umumnya merupakan jago-jago pilihan, main keroyok dan kepung, inilah merupakan urusan yang tidak bisa dipandang remeh. Belum lagi pasukan istana Kim-ie-wie, (pasukan Kaisar berpakaian emas), pasukan khusus Kaisar yang semuanya terdiri dari jago pilihan, jika mereka ikut mengepung, bukankah akan sulit untuk Yo Him dan Ciu Pek Thong nanti meloloskan diri? Telah beberapa kali ajakan Yo Him agar mereka meninggalkan istana Kaisar tersebut ditolak oleh Ciu Pek Thong, yang masih senang untuk herkeliaran di istana raja yang megah dan mewah ini. Yo Him juga tidak berdaya untuk membujuk Loo-boan-tong, si bocah tua bangka yang berandalan ini. Akhirnya Yo Him hanya menuruti saja untuk mengelilingi terus istana Kaisar Kublai Khan, untuk mencari kamar pribadi Kaisar itu...... Tetapi apa yang dikuatirkan oleh Yo Him memang akhirnya terbukti juga. Karena waktu Yo Him dan Ciu Pek Thong tengah berindapindap di sebuah ruangan yang merupakan ruangan luas dan dibangun dengan mempergunakan batu-batu marmer dan giok itu, dan ruangan tersebut sangat mewah, tiba-tiba dari arah samping mereka, telah menyambar tiga batang anak panah tangan yang melesat sangat cepat sekali kepada mereka berdua. Ciu Pek Thong dan Yo Him tidak terkejut, mereka hanya mempergunakan kebutan lengan baju. Senjata rahasia itu telah bisa disampok jatuh. Namun yang membuat mereka terkejut adalah dari sekeliling ruangan itu, dari segala sudutnya telah muncul orang-orang yang berpakaian sebagai pengawal istana. Ada juga sebagian dari mereka yang berpakaian biasa, dan ternyata mereka adalah jago-jago istana yang menjadi bawahan Tiat To Hoat-ong. Malah, di saat itu telah terdengar suara seseorang yang berkata dengan suara yang nyaring.
"Bagus! Rupanya kami menerima kunjungan tamu terhormat, mengapa tidak memberi kabar terlebih dulu, agar kami bisa mengadakan penyambutan yang selayaknya.....?!"
Ciu Pek Thong menoleh kepada Yo Him, dia tertawa nyengir, dia bilang.
"Aneh orang itu, kita datang ke mari secara diam-diam, mengapa dia bilang kita harus memberi kabar agar disambut dengan selayaknya oleh mereka? Hem, sedangkan kita justru jemu dengan sambutan mereka. Kita datang secara diam-diam karena tak ingin disambut selayaknya oleh mereka.....!"
Dan Ciu Pek Thong tertawa bergelak-gelak.
Di waktu Ciu Pek Thong tertawa, adalah Yo Him yang tidak tertawa.
Dia telah mengenali suara orang yang bicara itu, tidak lain dari suaranya Tiat To Hoat-ong, yang orangnya memang telah muncul dengan segera.
Tiat To Hoat-ong muncul dengan diiringi oleh lima atau enam orang pengikutnya.
Sedangkan ratusan orang yang mengepung ruangan itu, mengurung Ciu Pek Thong dan Yo Him, masih mengambil posisi semula, tanpa bergerak dan tanpa merobah kedudukan.
Yo Him telah melihat, di belakang Tiat To Hoat-ong itu adalah jagojago Mongolia pilihan, juga terdapat beberapa orang jago bangsa Han.
Tiat To Hoat-ong sendiri telah muncul dengan langkah kaki lebar dan mulut tersenyum, muka berseri-seri, sama sekali dia tidak memperlihatkan sikap bengis, diapun telah bilang.
"Aha, kiranya Yo kongcu! Selamat datang! Dan kau, Ciu Tayhiap, rupanya engkau pun meringankan kaki untuk datang berkunjung ke mari!"
Ciu Pek Thong telah beberapa kali bertempur dengan Tiat To Hoatong di waktu-waktu yang lalu.
Mengenai cerita pertempuran Tiat To Hoat-ong dengan Ciu Pek Thong dapat diikuti dalam cerita Sintiauw-thian-lam.
Sekarang mereka bertemu pula.
Walaupun Tiat To Hoat-ong memiliki ilmu yang sangat tinggi, tokh dia masih kalah seurat jika dibandingkan dengan Ciu Pek Thong, di mana dulu dia telah terdesak hebat oleh serangan-serangan Loo-boan-tong yang jenaka dan berandalan ini.
"Hemmm, Tiat To Hoat-ong, sekarang kita bertemu lagi, inilah jodoh namanya!"
Berseru Ciu Pek Thong dengan girang.
Karena dia sangat girang bisa bertemu dengan Tiat To Hoat-ong, dan tangannya juga jadi gatal lagi, di mana dia ingin main-main dengan pendeta Mongolia yang tangguh itu.
Yo Him waktu itu melihat, bahwa di belakang Koksu Mongolia itu terdapat Gochin Talu jago Mongolia yang memiliki kepandaian tinggi dan tangguh itu, juga disamping itu, tampak pula Lengky Lumi.
Diam-diam Yo Him jadi berpikir keras, melihat lawanlawannya yang terdiri dari jago-jago tangguh itu berkumpul semuanya di situ.
Yo Him pun merasa bahwa sulit buat dia menyingkir diri dengan gampang.
Selain dari Lengky Lumi dan Gochin Talu, juga tampak jago-jago tangguh lainnya yang semuanya memang memiliki kepandaian tinggi, begundalnya Tiat To Hoat-ong.
Ciu Pek Thong dasarnya Loo-boan-tong, karena belum lagi Tiat To Hoat-ong menyahuti justru begitu habis dengan perkataannya, tubuhnya telah menyusul dengan cepat melompat ke depan Tiat To Hoat-ong, dia telah mengulurkan tangannya untuk menarik hidungnya si pendeta.
Tapi Tiat To Hoat-ong sejak munculnya tadi, karena mengetahui bahwa lawan-lawannya ini adalah dua orang yang memiliki kepandaian yang sangat tangguh telah berlaku waspada sekali.
Dan di waktu Ciu Pek Thong begitu tiba-tiba sekali menyerang kepadanya, dia telah mengelakkan diri ke samping.
Gochin Talu yang berdiri tepat di belakangnya Koksu Mongolia tersebut, telah mewakili Tiat To Hoat-ong menyambuti uluran tangan Ciu Pek Thong, dia telah menangkis dengan tangan kanannya untuk menghantam pergelangan tangan Ciu Pek Thong.
Ke dua tangan itu jadi membentur, malah membenturnya juga kuat dan keras sekali, sampai memperdengarkan suara benturan yang hebat bukan main.
Dalam keadaan seperti itulah, Ciu Pek Thong menarik pulang tangannya.
Loo-boan-tong telah tertawa.
"haha hihi,"
Dia bilang.
"Bagus, engkau yang mau mewakili si gundul itu menerima tanganku?"
Dan dia tidak tinggal diam, karena dia telah membarengi dengan pukulan tangannya yang berkelebat-kelebat dengan cepat sekali.
Bukan hanya soal cepat dan gesitnya, tapi yang terpenting dalam pukulan-pukulan yang dilakukan oleh Ciu Pek Thong adalah soal tenaga lweekang yang dipergunakannya, demikian hebat luar biasa saja terkena angin pukulannya itu, tanpa perlu terkena serangan jitu, tentu akan berjumpalitan.
Terlebih lagi jika memang terkena telak pukulan itu, tentu tubuh jago itu akan jungkir balik dengan tulang rusuknya berantakan!
Namun Cochin Talu ini merupakan seorang jago yang memiliki kepandaian tidak lemah.
Walaupun dia tidak sehebat Tiat To Hoatong dan masih kalah setingkat dengan Ciu Pek Thong, di dalam kalangan Kangouw dia sudah sulit dicari tandingannya.
Menerima serangan Ciu Pek Thong seperti itu, Gochin Talu tidak menjadi gugup, malah dia mengempos semangatnya.
Setelah dia mengegos ke samping kanan tahu-tahu telapak tangan kanannya menyambar akan menepuk jalan darah Bun-cie-hiatnya Ciu Pek Thong.
Ciu Pek Thong adalah seorang yang memiliki ilmu Khong-bengkun yang luar biasa, yang memiliki tujuhpuluh dua jalan.
Melihat orang menyerang dia dengan cara seperti itu, dia bukannya terkejut malah jadi girang.
Seperti diketahui, Ciu Pek Thong adalah seorang yang keranjingan ilmu silat.
Walaupun usianya kian hari kian bertambah tua, bukan saja sifat berandalnya yang semakin menjadi-jadi, begitu juga keranjingannya pada ilmu silat semakin menggila, di mana setiap hari dia juga terus berlatih, tidak ada satu haripun yang disia-siakan begitu saja.
Sekarang memperoleh perlawanan yang cukup berat dari Gochin Talu, semangatnya terbangun.
Walaupun sudah banyak makan asam garam dunia, juga menyadari kedatangannya ini ke istana Kaisar hanya untuk melakukan penyelidikan belaka, namun dasarnya Loo-boan-tong si berandalan, bukannya dia berusaha menghindari diri dari keonaran, malah, dia jadi gatal tangannya.
Apalagi sifat jagonya masih belum berkurang.
Melihat cara lawan, dia telah mengibas tangan bajunya akan melilit tangan Gochin Talu.
Kesempatan yang ada ini untuk bertarung dengan Gochin Talu tidak disia-siakan, malah dia telah berseru.
"Jangan hanya kau seorang diri saja, karena jika kau cuma seorang, masih tanggung! Juga kau, hei pendeta gundul, ayo maju..... ayo maju semuanya!"
Itulah tantangan yang ditujukan kepada Tiat To Hoat-ong dan orang-orangnya, dan Loo-boan-tong menantangnya dengan muka berseri-seri.
Setelah berhasil memunahkan tepukan telapak tangan Gochin Talu, malah Loo-boan-tong telah menerjang ke arah lawannya sambil membentak.
"Sambutlah tanganku ini!"
Tangan kanannya telah menghantam dan dalam serangan pertama dia telah mempergunakan Kong-beng-kun nya yang semuanya memiliki tujuhpuluh dua jalan atau jurus itu, bukan main dahsyatnya cara menyerang Ciu Pek Thong.
Walaupun memiliki kepandaian tinggi, tidak urung Gochin Talu jadi tercekat hatinya.
Segera juga dia balas menyerang dengan tangan kirinya untuk menyambuti gempuran itu.
Mendadak dia merasakan tenaga lawan sebentar ada sebentar hilang, sehingga pukulannya jadi serba salah.
Keras salah, lunak pun tidak benar.
Dia segera mengerti, bahwa sekarang dirinya tengah menghadapi lawan terkuat selama hidupnya.
Maka segera saja dia mengeluarkan pukulan yang telah dilatih selama belasan tahun, Dengan diiringi suara menderu-deru dia mengirim tiga pukulan berantai.
Tenaga pukulan itu demikian hebat, sehingga seperti apa yang biasa disebut bunga-bunga rontok dan jatuh di tanah bagaikan hujan gerimis.
Setelah itu dia susul pula dengan tiga pukulan beruntun.
Mendadak terdengar suara bentrokan tangan yang hebat sekali.
Semula Gochin Talu beranggapan tenaga lweekang Ciu Pek Thong mungkin berimbang atau menang sedikit dari dia.
Namun sesudah menyerang dua kali, hatinya jadi tercekat kaget, karena dia memperoleh kenyataan bahwa lweekang Ciu Pek Thong masih lebih tinggi setingkat dari tenaga dalamnya!
Gochin Talu juga tahu, jika kurang hati-hati, dia akan jatuh dan dirobohkan kakek jenaka yang berandalan itu.
Maka dia mengempos semangatnya dan telah menyerang terus dengan tidak sungkan-sungkan dan tanpa memperdulikan lagi sekelilingnya, karena waktu itu dia tengah berusaha untuk dapat merebut waktu, guna merubuhkan Ciu Pek Thong dalam waktu yang singkat.
Jika mereka bertempur lebih lama, berarti akhirnya dirinya yang akan menjadi pecundang.
"Liehay! Kau sungguh liehay,"
Berseru Loo-boan-tong sambil tertawa tidak hentinya. Pertandingan seperti ini barulah meresap di hati, sungguh menyenangkan!"
Yo Him waktu itu telah mengerutkan alisnya dia tidak habis mengerti mengapa Loo-boan-tong masih tidak bisa melenyapkan keberandalannya atau sedikitnya mengurangi, agar tidak menimbulkan keonaran.
Namun sekarang semuanya telah terjadi demikian, dia jadi memutar otak untuk kelak menghadapi Tiat To Hoat-ong dan orang-orangnya itu, jika sampai Kok-su Mongolia itu turun tangan.
Jarak tenaga pukulan ke dua lawan itu semakin lama jadi semakin luas, sehingga banyak orang-orangnya Tiat To Hoat-ong terpaksa mundur ke belakang.
Tidak lama kemudian, Ciu Pek Thong sudah menggunakan seluruh jurus Khong-beng-kunnya.
Walaupun dia lebih menang dari lawannya, tetapi dia tidak bisa cepat-cepat merubuhkan lawannya itu, karena Gochin Talu pun bukan lawan yang ringan dan bisa diremehkan.
Setelah mempergunakan seluruh Khong-beng-kun, dan Gochin Talu masih bisa bertahan, tiba-tiba Ciu Pek Thong tertawa panjang, dia telah merobah cara bersilatnya.
Sekarang dia menyerang dengan ilmu "memecah pikiran"
Yang memang telah digubahnya sendiri, yang diciptakannya dengan sempurna.
Dengan mempergunakan ilmu tersebut, dia menyerang dengan dua macam ilmu silat, sehingga dalam sekejap Gochin Talu seolaholah menghadapi dua orang Ciu Pek Thong, yang membuat dia jadi sibuk sekali dan mulai terdesak.
Jalan satu-satunya buat Gochin Talu adalah mengempos semangatnya dan mempergunakan seluruh lweekangnya untuk berusaha menangkis, mengelakkan dan berkelit dari terjangan dan serangan si tua berandalan tersebut.
Pertempuran itu semakin lama jadi semakin seru berlangsung dahsyat, di mana angin pukulan menderu-deru mengurung diri ke dua orang yang tengah mengadu kepandaian itu.
Tiat To Hoat-ong yang memang telah pernah merasakan tangannya Loo-boan-tong, tidak kaget melihat kehebatan Ciu Pek Thong, ia cuma kagum, bahwa Loo-boan-tong bisa memiliki ilmu yang demikian sempurna dan hebat.
Walaupun sekarang Tiat To Hoat-ong telah hampir berhasil merampungkan pelajaran ilmu Soboc nya, tokh kenyataannya di hati kecil Koksu itu harus mengakuinya, jika dia sendiri yang menghadapi Ciu Pek Thong, belum tentu dia bisa menghadapinya sebanyak seribu jurus......
Diam-diam, Koksu negara inipun jadi teringat kepada adik seperguruannya, yaitu Kim Lun Hoat-ong yang telah terbinasa waktu ikut serta dalam penyerbuan ke Siang-yang, sebelum Mongolia berhasil merebut Tiong-goan dan merubuhkan kerajaan Song.
Kim Lun Hoat-ong merupakan sutenya yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya, dan Tiat To Hoat-ong mengakuinya itu, dia sendiri waktu itu mungkin masih kalah satu tingkat dari sutenya itu.
Kim Lun Hoat-ong selain mahir ilmu silatnya, orangnyapun cerdik sekali.
Namun dia akhirnya harus menemui kebinasaan ditangan jago-jago di daratan Tiong-goan.
Jika dilihat demikian, jelas bahwa jago-jago di daratan Tiong-goan memang umumnya merupakan jago-jago yang hebat.
Sekarang saja dia telah menyaksikan bahwa Ciu Pek Thong setelah berpisah dengan dia beberapa lamanya, kini telah memperoleh kemajuan yang lebih hebat dibandingkan sebelumnya.
Teringat kepada adik seperguruannya itu, Kim Lun Hoat-ong, hati Tiat To Hoat-ong jadi berduka.
Diapun menyadari, bahwa kedatangannya ke Tiong-goan ini sesungguhnya semula berpangkal disebabkan kebinasaan Kim Lun Hoat-ong.
Dia datang ke Tiong-goan untuk menuntut balas pada jago-jago di daratan Tiong-goan.
Namun justru Kaisar Kublai Khan yang mengetahui perasaannya itu, telah memanfaatkannya dengan memberikan kedudukan padanya sebagai Koksu negara, sehingga akhirnya Tiat To Hoatong terlibat dalam urusan politik negaranya.
Di samping itu, semakin lama dia terlibat semakin dalam, dan dia merasakan sekarang ini sulit buat dia melepaskan diri dari dunianya yang sekarang, dunia yang berbau politik.
Dan walaupun dia telah menerima juga murid-murid tertentu, namun di antara muridmuridnya itu sekarang ini tidak ada seorang pun yang bisa memuaskan hatinya.
Dia ingat, Kim Lun Hoat-ong, sang sute yang telah menutup mata itu, memiliki tiga orang murid di kala dia masih hidup.
Murid sutenya yang pertama, yaitu yang nomor satu itu memiliki kepandaian tinggi dan kecerdikan yang boleh terpuji, karena dia paham ilmu silat dan ilmu surat.
Bakatnya sangat baik sekali, dia hendak diambil sebagai ahliwarisnya Kim Lun Hoat-ong, yang akan menggantikan kedudukan sang guru itu.
Namun sayang sekali, apa lacur murid itu mati siang-siang dalam usia muda.
Lalu murid yang nomor dua, yaitu Dalpa, polos dan sederhana sekali sifatnya, tetapi dia tidak berbakat untuk menjadi seorang jago yang liehay.
Murid Kim Lun Hoat-ong yang ketiga, yaitu pangeran Hotu, tipis budi pekertinya, diapun murtad terhadap gurunya.
Semua itu telah membuat Kim Lun Hoat-ong jadi berduka.
Dia menyesal kepandaiannya tidak bisa diwariskan kepada seorang murid yang pandai dan dapat diandalkan.
Tidakkah sayang jika kepandaian itu habis dengan begitu saja?
Sampai akhirnya dia menutup mata dengan kecewa, ketembus api.
Sekarang Tiat To Hoat-ong juga memiliki perasaan yang sama seperti yang pernah dirasakan oleh sutenya itu.
Dia memang telah mulai menerima murid, namun tidak ada seorang pun yang bisa mewarisi seluruh kepandaiannya.
Diapun kecewa, karena dia kuatir kelak kepandaiannya yang luar biasa, terutama kepandaiannya ilmu Soboc itu, akan lenyap terbawa mati olehnya.....
Waktu itu, pertempuran ke dua orang di kalangan semakin hebat saja, karena baik Ciu Pek Thong maupun Gochin Talu telah mengempos dan mengeluarkan kepandaian mereka yang hebat.
Malah waktu itu Ciu Pek Thong yang berulang kali telah berhasil mendesak Gochin Talu, telah mengejek berulang kali.
"Mana kepandaianmu yang berarti? Jika aku harus melayani lawan seperti kau yang hanya mempergunakan ilmu yang itu-itu juga dan tidak ada artinya, hemmm, hemmm percuma saja akan membuang-buang tenagaku!"
Mendengar ejekan Loo-boan-tong, Gochin Talu jadi gusar bukan main. Diam-diam dia memusatkan seluruh lweekangnya, lalu menyahuti dengan suara yang lantang.
"Loo-boan-tong! Kau terlalu memandang enteng padaku, Gochin Talu! Kau berkata begitu mengartikan bahwa aku tidak mungkin nempil dan tidak ada harganya bertempur dengan kau, si Looboan-tong? Huh, huh! Jika aku tidak bisa menang, aku akan segera menggorok leher di istana Kaisar ini......!"
Dan tanpa menantikan jawaban dari Loo-boan-tong, tampak Gochin Talu telah melompat mengirimkan pukulan.
Loo-boan-tong pun segera balas menyerang.
Tapi kali ini, karena merasa memang lawannya menggempur dia jauh lebih hebat, Loo-boan-tong tidak berani main-main dan memandang remeh, dia telah menggunakan untuk menggertak lawannya pada bagian-bagian yang berbahaya.
Setelah lewat lagi beberapa puluh jurus, biarpun mereka hertempur dengan seru seperti ini dan Gochin Talu mempergunakan seluruh tenaga dan kepandaiannya namun tetap saja dia tidak bisa berada di atas angin, tetap Loo-boan-tong lebih menang dari dia, seperti juga Loo-boan-tong selalu mempermainkannya.
Dalam keadaan terdesak seperti itu, cepat luar biasa Gochin Talu telah maju setindak dan coba mengirim satu pukulan balasan untuk mendesak Loo-boan-tong.
Tapi di luar dugaan, baru saja tinjunya menyentuh tubuh, tiba-tiba dia merasa otot kepungan Loo-boan-tong yang diserangnya itu telah bergerak dengan berbareng, dilain detik, tinjunya terpental!
Gochin Talu kaget tidak terkira, cepat-cepat dia melompat ke samping.
Bahwa seorang ahli silat mengempeskan dada dan perut untuk menghindarkan diri dari pukulan musuh adalah peristiwa yang lumrah, namun melawan musuh dengan mempergunakan gerakan otot, benar-benar belum pernah didengar atau dialami olehnya.
Dia heran bukan main, dan waktu itu dia pun tidak berani berayal untuk menyingkir ke pinggir.
Tiat To Hoat-ong yang melihat kawannya telah kewalahan seperti itu menghadapi Ciu Pek Thong, dan jika memang dipaksakan terus untuk bertempur dalam beberapa jurus lagi, tentu Gochin Talu akan dapat dirubuhkan Ciu Pek Thong atau juga dapat dicelakainya, karena dari itu dia menghadang di depan Ciu Pek Thong, sepasang tangannya telah dilintangkan, dia telah bersiapsiap untuk menerima serangan.
Dengan demikian, setiap gerakan yang dilakukannya itu merupakan gerakan yang akan dapat menerima serangan dari lawan, jika saja waktu itu Ciu Pek Thong melancarkan serangan padanya.
Namun si bocah tua berandalan itu tidak menyerang, dia hanya tertawa haha-hihi saja, dia juga telah bilang dengan sikapnya yang jenaka sekali.
"Pendeta gundul, apakah engkau juga ingin mengadu tangan denganku?!"
Tiat To Hoat-ong tersenyum, dia telah bilang dengan sikap yang diusahakan sesabar mungkin.
"Ciu Tayhiap. kepandaianmu memang hebat, dan mungkin di dalam dunia ini jarang dicari duanya orang yang memiliki kepandaian setinggi kau! Hemmm, aku Tiat To Hoat-ong memang harus mengakuinya bahwa sesungguhnya ilmu yang dimiliki oleh Ciu Tayhiap, merupakan ilmu yang luar biasa sekali......!"
Ciu Pek Thong melengak sejenak.
Dia tadinya menduga Tiat To Hoat-ong menghadang di depannya untuk bertempur, siapa tahu Koksu Monggolia itu justru memujinya.
Dan Ciu Pek Thong telah tertawa lagi, dia bilang.
"Kau mengumpak aku seperti itu tentunya kau memiliki maksud tertentu!"
Tiat To Hoat-ong berusaha untuk tersenyum dan dia bilang dengan suara yang sabar.
"Untuk apa mengumpakmu, Ciu Tayhiap? Bukankah memang aku telah mengatakan dari hal yang sebenarnya, bahwa memang kepandaian yang kau miliki itu merupakan kepandaian yang sangat tinggi sekali??"
Ciu Pek Thong telah tertawa lagi, dia mengangguk.
"Baik, baik,"
Katanya.
"Jika memang engkau mengatakan kepandaianku sangat tinggi, sekarang mari kita main-main beberapa jurus..... Aku sendiri jadi ingin membuktikan, apakah memang benar-benar aku memiliki kepandaian yang tinggi, dan dalam berapa jurus aku bisa merubuhkan dirimu, kepala gundul.....!" Tiat To Hoat-ong tersenyum dipaksakan, itulah senyum mengandung kemendongkolan juga karena berulang kali Ciu Pek Thong selalu menyebut dia dengan sebutan kepala gundul, namun Tiat To Hoat-ong juga menindih kemendongkolannya itu, diapun berpikir.
"Orang memang liehay kepandaiannya, diapun tidak berada di bawah kepandaian dari Oey Yok Su dan lain-lainnya. Jika memang aku bisa membujuknya agar dia mau bekerja sama denganku, bukankah berarti suatu keuntungan yang tidak kecil? Hemmm, hemmm. biarlah aku akan mencobanya!"
Dan setelah berpikir begitu, Tiat To Hoat-ong juga telah bilang dengan suara yang diiringi oleh tertawanya.
"Ciu Tayhiap, di dalam hal ini tentunya engkau mau berlaku lunak padaku, agar tidak menyerang terlalu hebat, tidak terlalu mendesakku dengan pukulan yang mematikan, karena aku akan berusaha melayanimu beberapa jurus.....!"
Sambil berkata begitu, Tiat To Hoat-ong bersiap-siap, dia telah mengangkat ke dua tangannya, dan mengambil sikap menantikan serangan.
Secara diam-diam Tiat To Hoat-ong juga bermaksud untuk mengadu ilmu Soboc nya guna mencoba sampai berapa jauh kemajuan yang telah diperolehnya selama ini.
Waktu itu Ciu Pek Thong telah berkata dengan suara yang dingin.
"Kau kepala gundul, engkau memiliki lidah yang bercabang, aku tahu di mulut engkau memuji aku, tetapi sesungguhnya engkau tengah menyumpahi mampus padaku.....!"
Dan setelah berkata begitu, Ciu Pek Thong menggerakkan ke dua tangannya, diapun berseru.
"Ayo jaga serangan.....!" Kali ini Ciu Pek Thong menyerang lebih hebat jika dibandingkan ketika dia berhadapan dengan Gochin Talu, karena memang Ciu Pek Thong sendiri pernah beberapa kali bentrok dengan Koksu negara dari Mongolia ini. Dia telah merasakan bahwa ilmu yang dimiliki Tiat To Hoat-ong lebih tinggi dari kepandaian Gochin Talu. Jika dalam pertempuran kali ini Ciu Pek Thong berlaku ayal atau memandang remeh padanya, bisa-bisa dirinya sendiri yang akan celaka di tangan Koksu itu.....! Tiat To Hoat-ong melihat bahwa pukulan ke dua tangan Ciu Pek Thong mengandung tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya, yang bisa meremukkan tulang dan tubuh. Karena itu menyadari dirinya tengah menghadapi seorang jago yang benar-benar memiliki ilmu yang sangat tinggi, disamping itu juga memang Tiat To Hoat-ong baru saja sembuh dari luka di dalamnya akibat pertempurannya dengan Swat Tocu waktu di dalam istananya pangeran Ghalik, dengan sendirinya dia berlaku lebih hati-hati. Selama ini Tiat To Hoat-ong telah berlatih diri dengan tekun, dia berusaha untuk menembus tingkat berikutnya dari latihan ilmu Sobocnya itu. Melihat tinju Ciu Pek Thong telah menyambar datang seperti itu cepat-cepat Tiat To Hoat-ong telah berusaha untuk mengelakkan diri ke samping kanan, dan dia menangkis dengan tangan kirinya, tangannya beradu dengan tangan Ciu Pek Thong, terdengar suara.
"Duk!"
Yang keras sekali.
Tiat To Hoat-ong merasakan tubuhnya tergetar, dadanya jadi menyesak, dan dia juga merasakan dorongan yang bergelombang dari kekuatan tenaga dorongan dari tinju Ciu Pek Thong.
Dalam keadaan seperti ini rupanya Ciu Pek Thong juga tidak mau mensia-siakan kesempatan yang ada, karena cepat sekali dia telah mengeluarkan seruan.
"Jaga serangan.....!"
Kembali tinjunya itu telah bergerak dengan beruntun, di mana dia menyerang berulang kali mendesak Tiat To Hoat-ong.
Tiat To Hoat-ong melayaninya dengan lebih banyak berkelit dan memperhatikan kepandaian Ciu Pek Thong.
Jurus demi jurus diperhatikan dengan seksama, karena dia ingin mencari kelemahan diri Loo-boan-tong.
Dalam keadaan seperti itu tampak Ciu Pek Thong jadi mendongkol juga, karena lawannya lebih banyak mengelak dan berkelit belaka.
"He pendeta gundul, mengapa, engkau tak balas menyerang?!"
Teriak si bocah tua bangka yang berandalan itu. Tiat To Hoat-ong tersenyum, dia telah menggerakkan tangan kirinya merapat pada dadanya, tangan kanannya membarengi mendorong, dia telah mengatakan.
"Ya, kau terimalah ini.....!"
Di mana dia telah menyerang dengan ilmu Sobocnya.
Angin menderu-deru kuat sekali menerjang kepada Ciu Pek Thong, dan angin pukulan yang dilakukan Tiat To Hoat-ong sangat kuat sekali.
Namun Ciu Pek Thong bisa menyambut dengan keras dilawan keras, dia menangkis dengan berani.
Berulang kali terdengar suara benturan tangan.
Namun yang terdesak adalah Tiat To Hoat-ong, diam-diam dia harus mengakuinya, bahwa ilmu dan kepandaiannya masih kalah seurat dengan Ciu Pek Thong, Dalam suatu kesempatan, waktu Ciu Pek Thong melompat mundur untuk menghindar pukulan lawannya, Tiat To Hoat-ong telah berseru.
"Tahan.....!"
Ciu Pek Thong mencilak-cilak matanya, dia bertanya dengan suara yang tawar.
"Apakah engkau mau menyudahi pertandingan ini begini saja?!"
"Bukan,"
Menyahuti Tiat To Hoat-ong.
"Tetapi aku ingin menganjurkan kepadamu, agar kita beristirahat saja dulu..... apakah usulku ini bisa diterima oleh Ciu Tayhiap?!"
"Beristirahat?!"
Tanya Ciu Pek Thong sambil mementang matanya lebar-lebar.
"Ya, kita beristirahat dulu, karena tadi Ciu Tayhiap telah bertempur dengan Gochin Talu, sahabatku itu, dan tenagamu tentu sudah banyak terbuang karenanya. Jika sekarang kita bertempur terus, tanpa Ciu Tayhiap beristirahat dulu, tentunya jika aku beruntung bisa merebut kemenangan, hal itu kurang menggembirakan, di mana Ciu Tayhiap tentu bisa saja mengatakan bahwa kemenanganku itu diperoleh secara tidak adil..... aku merebut kemenangan itu di saat engkau sendiri tengah dalam keletihan.....!"
Ciu Pek Thong tertawa.
"Aku sebetulnya tidak lelah, tetapi jika memang benar engkau ingin beristirahat, aku bersedia meluluskannya, mari kau beristirahat dulu, nanti baru kita melanjutkan pula untuk mengadu tenaga dan kepandaian.....!" Tiat To Hoat-ong menoleh pengawal-pengawal istana yang sedang mengepung Ciu Pek Thong. Salah seorang dari mereka telah pergi ke dalam istana, dan tidak lama kemudian telah membawa keluar secawan arak. Dia telah membawanya langsung kepada Ciu Pek Thong, dan lalu mengangsurkan dengan ke dua tangannya, sikapnya menghormat sekali. Ciu Pek Thong yang telah bertempur banyak jurus dan telah mempergunakan banyak tenaga, dengan sendirinya merasa haus. Sekarang orang membawakan dia secawan besar arak, maka dia menyambuti sambil tertawa. Tiat To Hoat-ong waktu itu telah berkata.
"Hanya itulah persembahan kami, untuk menghormati kunjungan Ciu Tayhiap ke istana Kaisar ini.....!"
Ciu Pek Thong hanya tertawa, kemudian dia membawa cawan itu ke dekat bibirnya untuk meneguk tehnya.
Namun di saat tepian cawan akan menempel pada bibirnya si Loo-boan-tong, tampak melesat dua sinar dan terdengar.
"Tranggggg,"
Cawan di tangan Ciu Pek Thong telah hancur berantakan, dan juga isinya telah tumpah membasahi lantai.
Ciu Pek Thong terkejut.
Dia menoleh ke arah datangnya serangan gelap itu.
Ternyata Yo Him yang telah melontarkan dua batang paku kecil, malah waktu itu Yo Him telah berkata.
"Ciu Locianpwe, hati-hati, tidak boleh kau sembarangan minum barang yang dipersembahkan mereka.....!"
Ciu Pek Thong tersadar cepat. Dia berjingkrak dan menunduk dilihatnya batu yang digenangi oleh tumpahan arak itu, telah berubah warnanya menjadi hitam. Maka Ciu Pek Thong jadi gusar bukan main.
"Pendeta gundul biadab dan keji, kau hendak meracuni aku, heh?"
Tiat To Hoat-ong semula tengah girang bukan main melihat Ciu Pek Thong akan minum arak itu.
Namun melihat Yo Him telah mempergunakan paku kecil untuk menghantam hancur cawan di tangan Ciu Pek Thong, maka gagallah dia dengan maksudnya yang ingin meracun Ciu Pek Thong.
Sekarang mendengar Ciu Pek Thong berkata begitu, dengan muka yang merah padam karena gusar, dia telah membentak juga.
"Bagus! bagus! Sesungguhnya manusia seperti kalian tidak ada gunanya diracuni, karena walaupun kalian memiliki sayap, tokh kalian tidak mungkin bisa terbang meninggalkan tempat ini.....!"
Dan berbareng dengan perkatannya itu Tiat To Hoat-ong telah menggerakkan tangan kanannya, dia telah mengebut dengan gerakan yang perlahan.
Namun semua orang-orangnya mengerti, di mana mereka serentak telah bergerak mengepung rapat Ciu Pek Thong dan Yo Him di tengah-tengah.
Sedangkan Yo Him telah melompat mundur, karena dia memang tidak ingin ikut terkepung.
Tetapi jumlah dari semua orang-orang yang mengepungnya itu, yaitu para pengawal istana, sangat banyak sekali, ratusan orang.
Kemana Yo Him meloncat, di sana telah mengepung pengawal lainnya.
Dengan demikian, Yo Him akhirnya telah memutuskan akan melabrak barisan pengawal istana itu bersama-sama dengan Ciu Pek Thong, di mana dia akan merubuhkan para pengawal tersebut guna menerobos kepungan.
Dia melirik kepada Ciu Pek Thong, dia juga bilang.
"Ciu Locianpwe, kita terobos saja keluar......!"
Ciu Pek Thong mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yo Him, dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya berkelebat, dan sepasang tangannya telah bergerak dengan serentak, maka terdengar lima atau enam orang pengawal itu yang menjerit, tubuhnya mereka terpental kuat Yo Him juga tidak tinggal diam, karena pemuda ini telah bekerja tidak tanggung, sepasang tangan dan kakinya telah bekerja, maka belasan orang pengawal istana telah terjungkir balik terpental kena hantaman tangannya atau dupakan kakinya.
Tiat To Hoat-ong telah melirik kepada Lengky Lumi dan Gochin Talu, segerti juga memberi isyarat kepada ke dua jagonya itu agar maju untuk mengepung Ciu Pek Thong.
Melihat jumlah lawan yang banyak seperti itu, membuat Ciu Pek Thong dan Yo Him jadi menyadari bahwa mereka tidak boleh berlambat atau berayal menghadapi mereka.
Besar kemungkinan Tiat To Hoat-ong bisa saja memanggil pasukan lainnya untuk ikut mengepung mereka.
Jika jumlah para pengawal istana itu lebih banyak lagi, tentu mereka akan dikepung lebih rapat dan sulit untuk bergerak.
Tidak berpikir lagi lebih jauh, Ciu Pek Thong telah menyambar dua orang pengepungnya, dia telah mencengkeram ke dua orang itu.
Kemudian tubuhnya diayun-ayun, dibolang balingkan menghantam para pengawal lainnya.
Tentara istana yang melihat hal ini, segera mundur dengan cepat.
Ciu Pek Thong mempergunakan kesempatan itu untuk melompat keluar kepungan, dia telah melompat dengan gesit, sambil ke dua orang tawanannya diputar terus.
Yo Him juga telah menyusul.
"Kejar dan tangkap mereka.....!"
Tiat To Hoat-ong pun telah berseru.
Dia bukan hanya berseru begitu saja, karena gesit bukan main tubuhnya yang tinggi besar telah mencelat ke tengah udara bagaikan seekor burung elang yang besar.
Dia telah menyambar ke arah Ciu Pek Thong.
Telapak tangannya ditepukkan ke pundak Ciu Pek Thong, karena dia ingin menghantam pundak Ciu Pek Thong dengan ilmu pukulan Sobocny Ciu Pek Thong merasakan berkesiuran angin yang kuat menyambar di dekat pundaknya.
Tanpa menoleh, dia hanya mengangsurkan seorang tawanannya yang tercekal di tangan kirinya.
Segera terdengar suara jerit kematian pengawal yang ditawannya itu, justru telah mewakilinya menerima hantaman telapak tangan Tiat To Hoat-ong.
Dan dikala tubuhnya terhantam seperti itu, di saat itu juga dia telah tidak bernapas lagi dengan tubuh yang segera berobah menjadi hitam......!
Waktu itu, tampak Ciu Pek Thong sendiri telah melompat lagi meneruskan larinya.
Yo Him juga telah mengikuti di belakangnya, mereka sama-sama gesit, dan dalam waktu yang singkat, mereka telah tiba di luar istana.
Tidak ada seorang pengawalpun yang bisa menahan mereka, karena jika ada pengawal istana yang merintanginya, Ciu Pek Thong akan menghantamnya dengan mempergunakan orang tawanannya itu, sehingga tawanan itu menjerit kesakitan dan menderita sekali.
Begitu juga si pengawal yang dihantam akan terjungkir balik dan menderita luka parah.
Setibanya mereka di luar istana Yo Him dan Ciu Pek Thong telah mempergunakan ginkang mereka untuk pulang ke rumah penginapan.
Setelah menceritakan segalanya, Yo Him mengajak pangeran Ghalik dan yang lainnya untuk meninggalkan rumah penginapan.
Mereka telah keluar dari kota raja, mereka pun telah mencari sebuah rumah penduduk yang letaknya agak terpencil.
Kepada pemilik rumah itu mereka menumpang......
Dengan terjadinya peristiwa itu pihak kerajaan tidak tinggal diam.
Karena keesokan paginya waktu matahari fajar belum lagi menyingsing, di saat itu tentara istana telah mengadakan penggeledahan di seluruh rumah penduduk kota raja ini, bahkan semua rumah penginapan satupun tidak ada yang lolos.
Tiat To Hoat-ong yang memimpin sendiri penggeledahan dengan alasan mencari penjahat yang malam tadi menyatroni istana, telah melakukan pemeriksaan dengan ketat.
Bahkan beberapa orang pemilik rumah penginapan telah ditangkap, didengar keterangannya.
Semula rakyat menjadi panik dengan adanya penggeledahan yang ketat seperti itu.
Namun menjelang sore hari, akhirnya penggeledahan itu selesai tanpa berhasil pihak kerajaan mencari "penjahat"
Yang mereka cari itu.....
Tiat To Hoat-ong gusar bukan main, dia penasaran sekali.
Dengan adanya Ciu Pek Thong di kota raja, demikian juga halnya dengan Yo Him, tentunya pangeran Ghalik berada bersama mereka.
Karena dari itu diam-diam Tiat To Hoat-ong juga telah menyebar jago-jagonya untuk melakukan penyelidikan di seluruh kota raja maupun di luar kota raja.
Dengan demikian, Gochie Talu dan Lengky Lumi telah memimpin ratusan orang pengawal istana yang terdiri dari jago-jago yang memiliki kepandaian tidak rendah, untuk melakukan penyelidikan terus di luar Kota raja.
Semua rumah penduduk telah diperiksa, bahkan tidak jarang tentara istana mempergunakan kekerasan menyiksa penghuni dari sebuah rumah, untuk memaksa mereka bicara.
Tetapi sejauh itu, tetap Lengky Lumi maupun Gochin Talu masih tidak memperoleh keterangan yang diinginkannya.
Pencarian terhadap Ciu Pek Thong dan yang lainnya dilakukan sampai lima hari, tanpa memperoleh hasil yang diinginkannya.
Pangeran Ghalik dan rombongannya telah mengetahui perihal tindakan yang diambil oleh Tiat To Hoat-ong, yang mengerahkan jago-jagonya untuk terus menerus mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan di kota raja dan di sekitarnya.
Dengan demikian, pangeran Ghalik menyadari dengan diamnya mereka di rumah, tentu mereka tidak akan aman.
Mereka telah menyingkir lebih jauh lagi, beberapa lie dari kotaraja, dan menumpang di rumah penduduk di sekitar tempat itu.
Bahkan, atas usul Yo Him, rombongan pangeran Ghalik ini telah dipecah menjadi tiga rombongan lagi, untuk menginap di tiga rumah penduduk yang berlainan.
Menurut Yo Him, jika mereka ini menumpang hanya di sebuah rumah penduduk, dengan jumlah rombongan yang demikian besar, tentu akan menarik perhatian dari penduduk di sekitar daerah itu, disamping itu akan menimbulkan kecurigaan.
Dan usul Yo Him memang diterima oleh pangeran Ghalik, di mana pangeran tersebut memecah rombongannya menjadi tiga rombongan pula, sama halnya seperti ketika mereka tengah berada di kota raja, yang memecah diri menjadi tiga rombongan....
◄Y► Tiat To Hoat-ong sangat mendongkol dengan lolosnya Ciu Pek Thong dan Yo Him dari kepungan anak buahnya.
Karena dengan lolosnya mereka, berarti Tiat To Hoat-ong kehilangan jejak lagi, sehingga dengan demikian juga dia tak mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan oleh Yo Him dan Ciu Pek Thong.
Ke dua orang itu memiliki kepandaian yang tinggi luar biasa, dengan demikian membuat Tiat To Hoat-ong tidak bisa meremehkan mereka.
Jika dia salah dalam perhitungannya, niscaya dirinya yang akan hancur.
Namun peristiwa kedatangan Ciu Pek Thong dan Yo Him ke dalam istana, yang malam itu berhasil dipergokinya, telah membuat Tiat To Hoat-ong memperoleh suatu keuntungan yang tidak kecil!
Dia telah melaporkan keesokan paginya kepada Kaisar Kublai Khan, bahwa pangeran Ghalik semalam telah mengirim dua orang kepercayaannya yang memiliki kepandaiannya tinggi untuk membunuh Kaisar!
Dengan demikian dia lebih mudah memasukkan dongeng kosongnya untuk memfitnah pangeran Gbalik.
Di mana Tiat To Hoat-ong juga telah menceritakan salah seorang dari ke dua calon pembunuh yang mengincar jiwa Kaisar itu terdapat seorang pemuda yang rupanya akan menjadi mantunya pangeran Ghalik, yaitu Yo Him.
Bahkan diapun menceritakan bahwa Yo Him adalah puteranya Sintiauw-tay-hiap Yo Ko yang tengah dikejar-kejar jejaknya oleh kerajaan, karena Yo Ko merupakan dedengkot dari para jago-jago Tiong-goan yang pernah membantu kerajaan Song mempertahankan diri dari serangan tentara Mongolia.
Dengan adanya pengakuan seperti itu, Kaisar Kublai Khan lebih dapat dikuasai oleh Tiat To Hoat-ong, di mana Kaisar ini telah mengeluarkan firman, mengumumkannya dengan disiar luaskan, bahwa pangeran Ghalik adalah seorang pemberontak yang harus ditangkap dan meminta kepada rakyat, jika mereka mengetahui di mana beradanya pangeran Ghalik, agar segera melaporkan hal itu kepada alat negara, untuk segera diadakan tindakan penangkapan terhadap pemberontakan itu.
Di dalam firman Kaisar juga dijanjikan hadiah yang besar jumlahnya buat orang yang dapat menunjukkan tempat bersembunyinya pangeran Ghalik dan kaki tangannya.
Firman Kaisar itu sempat membuat geger kalangan pembesar di istana, karena banyak mereka yang mengenal dengan baik benar keadaan pangeran Ghalik.
Sebagai seorang pangeran yang jujur dan setia pada negara, dan juga yang semula memegang kekuasaan sangat besar.
Dengan dicapnya pangeran Ghalik sebagai pemberontak, dengan demikian banyak pembesar dan panglima angkatan perang yang dipecat atau juga ditangkap, karena mereka sebelumnya merupakan bawahan dari pangeran Ghalik.
Pimpinan-pimpinan terhadap angkatan perang Boan-ciu, telah mengalami banyak penggantian yang kini dikuasai oleh orangorangnya Tiat To Hoat-ong.
Semua perobahan besar-besaran di dalam angkatan perang Boan-ciu itu hanya terjadi dalam beberapa bari saja.
◄Y► Selama bersembunyi di rumah penduduk di luar kota raja itu, pangeran Ghalik telah berusaha untuk bertindak lebih hati-hati lagi, di mana jika siang hari rombongan pangeran Ghalik tidak pernah keluar rumah.
Dan hanya Ciu Pek Thong yang tidak bisa diam serta berandalan itu yang selalu berkeliaran saja.
Tetapi mengingat bahwa dia memang memiliki ilmu yang sangat tinggi, maka hal itu tidak perlu dikuatirkan.
Jika memang si Looboan-tong ini bertemu dengan lawan yang tangguh atau juga anak buahnya Tiat To Hoat-ong, tentu dia bisa menghadapinya dengan baik.
Demikian juga halnya dengan Yo Him dan Sasana, karena telah berkumpul sekian lams bersama, di samping itu merekapun telah bergaul lebih intim, maka di hati masing-masing telah bersemi benih cinta kasih.
Yo Him sendiri tidak bisa memungkiri, bahwa diapun menyukai gadisnya pangeran Ghalik.
Hanya yang membuat Yo Him merasa sulit, ialah gadis itu adalah puteri pangeran Ghalik, yaitu seorang pangeran Mongolia, yang sesungguhnya merupakan musuh besar dari ayahnya dan jagojago Tiong-goan lainnya.
Walaupun dirinya tidak ada sangkutan apa pun juga dengan pangeran Ghalik tersebut, tokh sedikit banyak tugas yang dipikulnya, untuk menegakkan kembali kerajaan Song, menjadi tugasnya juga.
Tetapi cinta telah bicara, dan benih kasih sayang telah muncul di hatinya, maka itu tidak bisa dielakkan.
Di kala rembulan bersinar terang dan juga sering di malam yang indah dengan bintangbintang yang berkerlap-kerlip, pasangan muda mudi itu mengadakan pertemuan dengan mesra.
Sebetulnya pangeran Ghalik mengetahui hubungan yang terjadi antara puterinya dengan Yo Him, hati kecilnya tidak menyetujuinya?
Namun pangeran Ghalik juga harus dapat melihat kenyataan yang ada, bahwa ia tengah membutuhkan tenaga pemuda itu, dengan demikian membuat dia membiarkan saja.
Ciu Pek Thong yang mengetahui hubungan muda mudi itu, sering menggodanya.
Malam itu rembulan memancarkan sinarnya yang terang, tampak Yo Him dan Sasana tengah berjalan perlahan-lahan dengan berendeng di antara pohon-pohon di depan sebuah hutan kecil yang terletak tidak jauh dari rumah penduduk di mana mereka menumpang.
Banyak yang dibicarakan oleh Yo Him dan Sasana, tentu saja hal-hal yang berhubungan dengan hubungan mereka berdua.
Tetapi ketika Yo Him dan Sasana akan duduk di sebuah batu yang menonjol, dia telah mendengar suara seseorang yang tengah bercakap-cakap di dalam hutan.
Yo Him segera mendekati telunjuknya di dekat bibirnya memberi isyarat agar Sasana tidak menimbulkan suara.
Dengan berindap-indap mereka telah mendekati hutan itu, dan menyelinap ke dalamnya.
Suara orang yang tengah bercakap-cakap itu semakin jelas terdengar, malah Yo Him dan Sasana telah dapat menangkap pembicaraan mereka.
Bersama Sasana pemuda ini telah menempatkan diri di balik sebatang pohon yang cukup besar yang disampingnya terdapat gerombolan pohon bunga yang lebat.
Mereka telah mendengarkan percakapan orang itu, yang rupanya lebih dari empat atau lima orang.
"Sungguh aneh sekali!"
Terdengar salah seorang dari orang-orang yang berkumpul di dalam hutan itu telah berkata dengan suara yang mengandung keheranan.
"Inilah peristiwa yang benar-benar tidak dapat dimengerti olehku..... Menurut Ciu Tianglo, bahwa pangcu kita berada di Kwie-ciu, tetapi ketika kami menyusul ke sana justru kami telah menemukan peristiwa aneh ini, sedangkan jejak Pangcu sama sekali tidak terendus oleh kami.....!"
"Kou Sie-ko, apakah yang telah kau alami di Kwie-ciu?!"
Tanya orang yang lainnya.
"Itulah peristiwa yang besar?
Aneh!
Waktu itu aku tengah menjalankan pekerjaanku, yaitu meminta belas kasihan pada orang-orang agar memberikan sisa makanannya kepadaku.
Dan ketika aku berada di depan sebuah rumah makan yang memasang merek Kiu-hong-lauw, di waktu aku tengah berdiri di muka pintu rumah makan tersebut, tiba-tiba di dalam terdengar suara ributribut.
"Rupanya telah terjadi pertempuran, di mana kulihat seorang lelaki setengah baya yang disebut-sebut namanya sebagai Cu Kun Hong, tengah melabrak lima atau enam orang lintah darat..... mereka itu semuanya memiliki tubuh yang tinggi besar dan muka yang bengis, mempergunakaa senjata tajam di tangan masingmasing. Namun Cu Kun Hong itu dapat menghajar mereka dengan mudah, seorang demi seorang telah dilontarkan keluar rumah makan.....!"
Terdengar salah salah seorang di antara orang-orang di dalam hutan itu tertawa.
"Itulah peristiwa biasa,"
Kata kawannya.
"Benar, memang itulah peristiwa biasa saja, akupun waktu itu berpikir sama seperti kau, sama sekali hatiku tidak tertarik untuk menyaksikan keramaian itu lebih lanjut. Aku bermaksud akan pindah ke rumah makan lainnya, karena sudah terbiasa, jika di sebuah rumah makan terjadi keributan, kita jangan harap bisa memperoleh sisa makanan, karena tamu dan kuasa rumah makan tengah panik, jika aku berlama-lama di situ perutku akan lapar......! Oya aku tadi bercerita sampai di mana?!" "Orang yang bernama Cu Kun Hong itu melemparkan lawanlawannya keluar rumah makan.....,"
Menyahuti kawannya.
"Benar! Dan waktu itu, mereka, kawanan lintah darat yang menjagoi juga daerah itu telah melarikan diri. Sedangkan Cu Kun Hong telah duduk kembali di mejanya. Namun inilah istimewanya dan anehnya peristiwa itu. Mendadak saja telah menghampiri seorang pendeta bertubuh gemuk, dengan galak dia menepuk meja Cu Kun Hong. Meja itu ringsak hancur, cawan dan mangkok hancur berantakan di lantai dan Cu Kun Hong itu, yang sebelumnya kulihat memiliki kepandaian yang tinggi, telah terlempar keluar rumah makan, terbanting di jalan dengan keras."
"Apakah tenaga pendeta itu demikian hebatnya?"
Tanya dua orang kawannya.
"sehingga sekali tepuk saja selain menghancurkan meja itu berikut juga perabotan makan itu, juga Cu Kun Hong telah terlontarkan demikian rupa?"
Orang yang tadi bercerita itu telah mengiyakan, dia juga telah berkata.
"Benar, memang pendeta berkepala gunodul dan tinggi gemuk itu memiliki ilmu yang luar biasa, karena dia membuat Cu Kun Hong seperti bola saja, yang dipermainkan sekehendak hati! Begitu Cu Kun Hong berada di luar rumah makan dan hendak merangkak bangun, pendeta gemuk itu telah menghentak kaki kanannya pada bumi, maka aneh sekali, tubuh Cu Kun Hong tahutahu terlempar ke tengah udara, seperti juga dihantam oleh suatu tenaga yang kuat namun tidak tampak oleh mata."
Kawan-kawan orang yang berceritakan itu jadi mengeluarkan seruan, tampaknya mereka merasa aneh dan takjub.
Yo Him dan Sasana juga jadi tertarik sekali mendengar cerita seperti itu.
Mereka telah mendengarkan lebih jauh.
Diam-diam Yo Him juga telah berpikir di hatinya.
"Hemmm, itulah tenaga lweekang yang telah sempurna, hanya dengan mempergunakan hentakan kakinya pada tanah, dia melontarkan lawannya. Waktu itu, ada seorang kawan dari orang yang bercerita itu bertanya.
"Lalu bagaimana orang she Cu itu..... apakah dia tidak memberikan perlawanan?!"
"Oh, dia memang berusaha untuk dapat mengendalikan dirinya, berusaha untuk mempertahankan diri, melakukan perlawanan pada pendeta itu, namun setiap kali si pendeta gemuk itu menghentakkan kakinya, tubuh Cu Kun Hong terlempar ke tengah udara. Dibanting-banting secara aneh seperti itu, tentu saja bukan saja dia jadi lemah, juga membuat Cu Kun Hong kesakitan dan kehabisan tenaga, di mana akhirnya napasnya memburu, tubuhnya di atas tanah."
Waktu itu, kawan dari orang yang bercerita tersebut telah ada yang mengeluarkan seruan.
"Dan yang lebih aneh lagi, waktu Cu Kun Hong numprah, pendeta gemuk itu kembali menghentakkan kakinya, maka tubuh Cu Kun Hong terpental lagi. Jika keadaan seperti itu berlangsung terus, niscaya akhirnya Cu Kun Hong akan mati sendirinya karena telah dan kehabisan tenaga, karena dia dilontarkan secara aneh seperti itu tanpa dia bisa memberikan perlawanan sama sekali. Itulah ilmu yang seperti ilmu sihir, yang dipergunakan si pendeta dengan menakjubkan sekali....." "Lalu, bagaimana nasib orang she Cu itu?!"
Tanya beberapa orang itu.
"Ini lebih aneh lagi! Jika memang tidak munculnya urusan ini, mungkin juga sudah tidak perlu ditawar-tawar lagi Cu Kun Hong itu akan binasa di tangan si pendeta gemuk yang tampaknya memiliki ilmu sangat tinggi dan juga menguasai ilmu gaib dan sihir......! "
Justru di saat jiwa Cu Kun Hong tengah terancam, di mana dia hanya bisa numprah dan terlontar bergantian dengan muka yang pucat pias dan menderita sekali, telah muncul seorang berlengan buntung.....
Menurut si pendeta yang menyebut-nyebut orang itu sebagai orang she Yo.
Coba kalian duga siapakah orang berlengan tunggal itu....?!"
Hati Yo Him tercekat. Dia ingin menduga kepada ayahnya, yaitu Yo Ko. Sasana yang belum pernah mendengar perihal Yo Ko hanya mendengarkan terus cerita orang itu.
"Apakah orang berlengan tunggal itu Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko adanya?!"
Tanya beberapa orang kawan dari orang yang tengah bercerita itu.
"Tepat,"
Membenarkan orang yang tengah bercerita.
"Dia memang Sin-tiauw-tay-hiap. Tetapi aneh sekali, benar-benar aneh! Dengan Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko aku pernah bertemu muka beberapa kali, aku telah menyaksikan tabiatnya yang benar-benar seorang lakilaki tulen, seorang Ho-han luar biasa di jaman ini.
"Tapi waktu itu justru dia bukan menegur perbuatan si pendeta gemuk itu yang telah menyiksa orang yang bernama Cu Kun Hong itu, hanya berbisik-bisik dengan si pendeta gemuk, lalu bergegas ke duanya meninggalkan tempat itu..... Si pendeta gemuk itupun sama sekali tidak memperdulikan Cu Kun Hong pula, yang waktu itu masih duduk numprah tidak berdaya karena rupanya dia telah terluka di dalam......!"
Mendengar cerita orang itu, bukan hanya kawan-kawan orang tersebut yang merasa heran, sedangkan Yo Him sendiri jadi heran bukan main.
Dia tidak percaya ayahnya menyaksikan peristiwa yang dialami oleh Cu Kun Hong dengan sikap begitu saja, malah dengan berbisik-bisik begitu kepada si pendeta gemuk itu.
Siapakah si pendeta gemuk itu, yang telah menyiksa Cu Kun Hong.
Dan apa yang ingin dikerjakan oleh ayahnya?
Lalu mengapa ibunya tidak turut serta?
Dan juga, menurut cerita-cerita yang didengar dari ayahnya memiliki hubungan yang cukup baik dengan Cu Kun Hong, seseorang yang pernah bertemu dengan ayahnya itu beberapa kali.
Maka sikap dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko kali ini tidaklah sangat mengherankan sekali?!
Karena perasaan ingin tahunya, maka Yo Him telah mengintai orang, yang tengah berkumpul di dalam hutan itu.
Mereka berjumlah enam orang.
Semua berpakaian sebagai pengemis.
Di punggung masing-masing membawa karung, yang lima orang, yang tengah mendengarkan cerita semuanya menggemblok empat karung, sedangkan yang tengah bercerita, seorang pengemis berusia setengah tua, menggemblok lima karung.
"Hemmm, mereka adalah anggota Kay-pang.....!"
Berpikir Yo Him.
"Mengapa orang-orang Kay-pang bisa berkumpul di sini, apa yang ingin mereka lakukan?!"
Tengah Yo Him berpikir begitu, si pengemis yang menggemblok lima karung itu telah meneruskan ceritanya, dia bilang.
"Ada lagi kelanjutannya dari peristiwa aneh itu. Setelah Sin-tiauw Tai-hiap Yo Ko dan pendeta gemuk itu bergegas pergi, di saat Cu Kun Hong telah duduk bersemedi rupanya ingin membenarkan jalan pernapasannya. Waktu itu, dari arah ujung jalan lainnya telah muncul serombongan orang lainnya, yang sebagian dari mereka kukenal dengan baik! Coba kalian terka, siapa mereka?"
"Kou Sie-ko, bagaimana kami bisa mengetahui siapa mereka? Bukankah kami waktu itu tidak berada di sana?"
Sahut ke dua orang kawannya sambil tersenyum.
"Ayolah Kou Sie-ko kau teruskan ceritamu itu, jangan kau gantung-gantung seperti.....!"
Si pengemis mengangguk.
yang menggemblok lima karung itu, telah "Benar juga, memang kalian tentu tidak akan mengetahuinya siapa mereka!
Tetapi inilah benar-benar aneh sekali.
Di antara mereka kulihat Pangcu kita, yaitu Yeh-lu Chi Pangcu, bersama isteri dan puterinya!
Aku ketika melihat Pangcu, jadi girang dan hendak keluar menyambutnya.
"Tetapi justru waktu itu kawan seperjalanan Pangcu, seorang yang berpakaian aneh sekali, yaitu pakaian terbuat dari kulit binatang buas dan seorang bocah lelaki berusia antara lima atau enam tahun, telah bisik-bisik juga dengan Pangcu, lalu mereka berlari680 lari menghampiri Cu Kun Hong, menanyakan sesuatu. Tampak orang yang memakai baju terbuat dari bahan kulit binatang buas itu mencengkeram dada Cu Kun Hong seperti menanyakan sesuatu, dan Cu Kun Hong telah menunjuk ke arah jalan di mana tadi, Sin-tiauw-tay-hiap dan pendeta gemuk itu pergi......"
Setelah bercerita sampai di situ, Kou Sie-ko ini, si pengemis yang menggemblok lima karung telah mendehem-dehem beberapa kali. Kawan-kawannya jadi tidak sabar.
"Lalu bagaimana? Teruskan ceritamu. Kou Sie-ko.....!"
Desak mereka.
"Sabar.....!"
Menyahuti Kou Sie-ko.
Yo Him sendiripun jadi tergerak hatinya.
Dia segera menduga pada Swat Tocu orang yang diceritakan oleh Kou Sie-ko mengenakan baju yang terbuat dari kulit binatang buas.
Tentu saja peristiwa itu memang memancing perasaan herannya.
Kou Sie-ko waktu itu telah melanjutkan ceritanya lagi.
"Pangcu bersama isteri dan puterinya segera mengejar ke arah di mana Sintiauw-tay-hiap dan pendeta gemuk itu tadi pergi meninggalkan tempat itu. Demikian juga dengan orang yang mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit binatang buas itu bersama si bocah telah berlari-lari menyusulnya. Tinggal Cu Kun Hong yang masih duduk bersila mengatur jalan pernapasannya.
"Aku sendiri jadi tertarik bukan main, di samping itu aku bingung sekali. Aku bermaksud akan memanggil Pangcu, tetapi Pangcu berlari pesat sekali, di samping itu aku melihat di wajah Pangcu terbayang perasaan kuatir. Aku jadi menguntit terus, sedapat mungkin aku mengerahkan seluruh ginkangku, agar dapat mengikuti mereka dan tidak kehilangan jejak."
Akhirnya pangcu telah berhasil mengejar Sin-tiauw-tay-hiap dan pendeta gemuk itu.
Yang mengherankan sekali Sin-tiauw-tay-hiap tengah duduk bersila di samping pintu kota, dan begitu pula halnya dengan pendeta gemuk tersebut.
Mereka duduk bersila dengan mata tertutup rapat-rapat.
"Pangcu bersama orang aneh berpakaian yang terbuat dari kulit binatang buas itu telah menghampiri. Mereka tampaknya menegurkan sesuatu, tetapi si pendeta gemuk itu telah membuka matanya. Dia menggerak-gerakkan sepasang tangannya, mulutnya berkemik-kemik perlahan. Dan aneh sekali! "
Pangcu bersama kawannya itu, juga isteri dan puterinya serta bocah kecil itu jadi seperti manusia-manusia yang tidak berarwah lagi. Ketika si pendeta gemuk itu melompat bangun dan berkata pada mereka.
"Kalian harus ikut denganku......!"
Semuanya diam seperti patung.
Tangan pendeta gemuk itu menepuk pundak Sin-tiauw-tay-hiap, dan Sin-tiauw-tay-hiap telah melompat berdiri, lalu berjalan mengikuti si pendeta gemuk itu.
Pangcu dan yang lainnya juga mengikuti dengan gerakan tubuh yang kaku, bagaikan patung-patung hidup saja, di mana mereka telah mengikuti seperti dalam satu barisan saja.....!
"Nah, sekarang coba kalian katakan, tidakkah kejadian ini merupakan peristiwa yang aneh sekali?
Tentu si pendeta gemuk itu memiliki ilmu sihir, sebab dia bisa menguasai Pangcu dan kawannya itu dengan mudah, sehingga mereka begitu menurut saja apa yang diperintahkan oleh si pendeta gemuk tersebut....."
Pengemis-pengemis lainnya jadi duduk mendelong saja, karena mereka tampaknya begitu takjub mendengar cerita dari kawan mereka itu, yaitu si Kou Sie-ko.
Dengan demikian, merekapun tidak mengerti, apakah yang telah diceritakan oleh kawan mereka ini merupakan cerita yang sebenarnya atau memang hanya isapan jempol belaka.
Karena mungkinkah seorang yang hebat dan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya seperti Sin-tiauw-tay-hiap, tampaknya menurut cerita Kou Sie-ko, telah tunduk dan patuh pada si pendeta gemuk.
Begitu juga perihal dengan Pangcu mereka, yaitu Yeh-lu Chi dan isterinya maupun puterinya Pangcu itu.
Lalu kawannya Pangcu mereka yang keadaannya begitu aneh dan akhirnya semua itu telah tunduk di bawah perintah si pendeta tanpa memiliki perlawanan sedikitpun juga.
Dengan demikian telah membuat kawanan pengemis memandang kawannya setengah percaya setengah tidak.
itu Rupanya Kou Sie-ko itu mengetahui bahwa kawan-kawannya itu kurang mempercayai ceritanya, dia telah bilang.
"Apa yang kuceritakan itu semuanya dari hal yang sebenarnya. Dan juga ini akan ada ekornya yang lebih aneh lagi..... kalian dengarkanlah baik-baik.....!"
Waktu berkata sampai di situ, Kou Sie-ko tidak meneruskan ceritanya dulu, dia telah mengawasi kawan-kawannya, lalu tanyanya.
"Sekarang coba kalian katakan dulu, apakah yang telah kualami itu peristiwa yang aneh atau tidak?!"
Kawanan pengemis itu telah mengangguk.
"Itulah aneh dan menguatirkan sekali. Mengapa Pangcu dan Pangbo serta puterinya bisa dikuasai begitu rupa tanpa perlawanan sama sekali? Bagaimana jika si pendeta gemuk itu mencelakai mereka!"
"Sabar.....!"
Kata Kou Sie-ko kemudian.
"Kalian dengar dulu..... hal itu belum sampai demikian jauh, karena akupun tetap mengikuti mereka. Perasaanku pada waktu itu sama seperti perasaan kalian, yaitu menguatirkan keselamatan Pangcu, isterinya dan puterinya itu. Maka aku berusaha menguntit dengan hati-hati sekali, agar aku tidak dipergoki pendeta gemuk itu. Bukankah jika diapun mempergunakan ilmu sihirnya kepadaku, maka akan membuat urusan jadi berantakan?!"
Setelah berkata sampai di situ, Kou Sie-ko menghela napas beberapa kali, baru dia melanjutkan lagi ceritanya.
"Dan waktu itu, si pendeta gemuk tersebut telah membawa Pangcu, Sin-tiauw-tayhiap dan juga orang yang berpakaian aneh, isteri Pangcu, puterinya dan bocah kecil ke sebuah hutan yang lebat sekali. Dia mengajak mereka memasuki sebuah goa yang luas, yang terdapat di dalam hutan itu. Itulah goa buatan.
"Aku tidak berani terlalu dekat dengan mereka, aku hanya mengintai dari kejauhan ssja. Maka dari itu, ketika si pendeta gemuk tengah bicara kepada Pangcu dan yang lainnya, aku tidak mendengar perkataannya itu. Aku hanya melihat Pangcu dan yang lainnya telah melangkah kaku memasuki goa itu dengan tindakan kaki yang berat. Namun dari mereka tidak terlihat sedikitpun sikap perlawanan karena mereka telah melangkah dengan patuh sekali.....!"
"Dan bagaimana dengan Sin-tiauw-tay-hiap.....?!"
Tanya salah seorang kawan Kou Sie-ko.
"Diapun sama. Tayhiap itu mengalami nasib sama seperti Pangcu dan yang lainnya. Sin-tiauw-tay-hiap telah memasuki goa itu dengan langkah kaki yang berat dan kaku......!"
"Aku...... aku kurang begitu yakin.....!"
Kata salah seorang pengemis itu.
"Kau kurang yakin...? Kurang yakin bagaimana?"
Tanya Kou Sieko.
"Aku kurang yakin jika Sin-tiauw-tay-hiap itu patuh terhadap perintah si pendeta gemuk itu. Walaupun sempurna dan tingginya kepandaian pendeta gemuk itu, tidak dapat dia memperlakukan Sin-tiauw-tay-hiap seperti itu..... Bukankah di jaman ini Sin-tiauwtay-hiap merupakan satu-satunya manusia yang memiliki kepandaian ilmu silat tertinggi di kolong langit, merupakan jago nomor satu.....!"
"Maka dari itu, bukankah sejak dari semula aku telah mengemukakan dugaanku. Kemungkinan besar pendeta gemuk itu telah mempergunakan ilmu sihirnya untuk menguasai Sin-tiauwtay-hiap dan yang lainnya? "
Bicara soal kepandaian silat, tentu saja hal itu tidak bisa dikatakan untuk masalah ini.
Baca Juga: Tamu Aneh Bingkisan Unik 4
Baca Juga: Rondo Kuning Membalas Dendam 1