Eps 5 Beruang Salju - Sin Liong
Baca online Beruang Salju - Sin Liong
Cersil Beruang Salju - Sin Liong.
Waktu itu napas Tiat To Hoat-ong telah memburu keras dan cepat, mukanya pun sebentar pucat sebentar merah.
Dia merasa terdesak hebat sekali.
Namun mendengar ejekan Wie Liang Tocu, dia jadi murka bukan main.
Dan Koksu negara ini jadi nekad.
Dengan mengeluarkan suara bentakan, tahu-tahu dia mementang ke dua tangannya, dia telah mempergunakan seluruh sisa tenaganya, di mana dia bermaksud akan mengadu jiwa dengan Swat Tocu.
Di saat itu Swat Tocu telah mengeluarkan bentakan juga, karena dia telah menyerang dengan hebat sekali, dia pun memang tengah ingin merubuhkan Tiat To Hoat-ong pada jurus ini.
Hebat benturan dua kekuatan raksasa itu, yang satu mengandung hawa dingin bagaikan es juga satunya lagi tenaga dengan hawa panas melebihi api.
Dan benturan itu menimbulkan suara yang menggelegar.
Semua orang yang menyaksikan itu jadi memandang tertegun, sebab kesudahannya benar-benar menakjubkan sekali.
Tubuh Tiat To Hoat-ong tidak tergeser dari tempatnya berdiri.
Cuma saja di seluruh tubuhnya telah terlapis oleh lapisan es, yang lapisannya retak dan pecah, malah beberapa potong es telah berjatuhan ke lantai menimbulkan suara "ting, ting"
Yang cukup nyaring.
Swat Tocu sendiri memang masih berdiri di tempatnya.
Namun sama sekali tidak bergerak.
Sepasang matanya terpejamkan, karena waktu itulah dia merasakan dadanya sesak sekali dan hawa murninya tergoncang sekali sehingga dia menyadari bahwa tenaga dalamnya tergempur hebat.
Yang parah adalah keadaan Tiat To Hoat-ong.
Setelah berdiri diam beberapa saat dengan tubuh yang diselubungi lapisan es itu, akhirnya rubuh kejengkang ke belakang dengan mengeluarkan suara keluhan pendek.
Pendeta itu merangkak untuk duduk, lalu duduk bersemedhi mengatur pernapasannya.
Pendeta-pendeta Mongolia yang sejak tadi menyaksikan jalannya pertempuran itu dengan hati yang kebat-kebit berkuatir, dan beberapa kali gagal untuk menerjang maju memberikan bantuannya pada Tiat To Hoat-ong, telah melompat ke dekat Tiat To Hoat-ong untuk membantu Koksu itu dengan menempatkan telapak tangan mereka berlima di punggung Tiat To Hoat-ong.
Mereka masing-masing telah mengempos lweekang yang mereka salurkan ke dalam tubuh Tiat To Hoat-ong.
Waktu itu sesungguhnya Tiat To Hoat-ong tengah tergempur tenaga dalamnya oleh tenaga inti es yang membuat ratusan jalan darah di tubuhnya membeku.
Jika memang terlambat untuk membuka seluruh sumbatan dari jalan-jalan darah yang membeku itu, jika memang tidak menemui kematian tentu Tiat To Hoat-ong akan jadi bercacad seumur hidupnya.
Namun berkat ke lima pendeta Mongolia yang menyalurkan lweekang mereka kepada Tiat To Hoat-ong, jalan darah yang membeku itu jadi bisa lancar kembali karena hawa panas dari gabungan para pendeta Mongolia itu banyak membantu semedhinya Tiat To Hoat-ong.
Swat Tocu sendiri setelah berdiri diam dengan sepasang mata terpejamkan itu, telah berhasil mengatur jalan pernapasannya yang menjadi lurus kembali.
Dia membuka matanya dan berkata perlahan.
"Ternyata memang cukup hebat tenagamu, pendeta gundul!"
Tiat To Hoat-ong tidak melayani perkataan Swat Tocu.
Dia tetap duduk diam dengan sepasang mata terpejamkan mengerahkan seluruh sisa tenaganya, untuk mengatur pernapasannya dan mempergunakan tenaga Soboc nya, untuk menghangatkan tubuhnya agar jalan darah di sekujur tubuhnya yang telah membeku itu bisa beredar lancar kembali.
Sedangkan Swat Tocu telah tertawa bergelak-gelak, seakan-akan keadaan di sekitar tempat itu jadi tergetar oleh suara tertawa Swat Tocu, yang tertawa dengan disertai tenaga lweekangnya.
Sedangkan pangeran Ghalik yang melihat keadaan sudah sampai seperti itu, mengerling memberi isyarat kepada ke dua orang pengawalnya itu, yang hitam dan putih itu.
Dan juga kepada belasan orang pahlawannya yang lain sehingga mereka yang mengetahui akan arti dari isyarat tersebut, telah melompat mengurung Swat Tocu.
Malah, orang yang bermuka hitam seperti pantat kuali itu, telah berkata dengan dingin.
"Kami Hek Pek Siang-sat ingin meminta pengajaran dari kau, orang pandai!"
"Hmmm, Hek Pek Siang-sat? Dua orang jago dari Persia yang banyak disebut-sebut oleh sahabat-sahabat rimba persilatan?! Hem! Hem! Majulah, aku Swat Tocu tentu tidak akan mengecewakan harapan kalian.....!"
Dan Swat Tocu walaupun tadi telah mempergunakan tenaga yang banyak sekali dan masih letih.
Namun di waktu itu telah bersiap-siap untuk melakukan pertempuran lagi dengan Hek Pek Siang-sat.
Di kala itu Hek Pek Siang-sat telah saling memandang satu dengan yang lainnya, lalu Hek Pek Siang-sat telah berkata kepada belasan pahlawan pangeran Ghalik yang lainnya.
"Biarlah kami berdua yang menghadapinya untuk meminta beberapa petunjuknya!"
Belasan orang pahlawan itu telah mengiyakan dan telah melompat mundur ke dekat pangeran Ghalik lagi.
Sedangkan Hek Pek Siang-sat telah bersiap-siap untuk bertempur.
Di kala itu tampak Hek Pek Siangsiat mengeluarkan suara erangan, tubuh ke dua tergetar keras sekali, karena mereka tengah memusatkan dan mengempos semangat serta hawa murni mereka.
Cepat sekali mereka telah menyalurkan hawa murni kepada telapak tangan masing-masing.
Sesungguhnya semangat Swat Tocu belum lagi terkumpul semua, karena waktu itu dia boleh dibilang belum berhasil untuk mengerahkan dan mempersatukan tenaga dalamnya yang tadi telah tergempur dan dipergunakan untuk merubuhkan Tiat To Hoat-ong.
Namun sebagai tokoh persilatan yang memiliki nama sangat disegani setiap jago rimba persilatan, dengan sendirinya Swat Tocu tidak mau memperlihatkan kelemahannya, dia menerima tantangan Hek Pek Siang-sat.
Ke dua jago hitam dan putih itu memang merupakan jago-jago yang hebat sekali, memiliki latihan tenaga Yoga yang digabung dengan ilmu dari Barat, di mana mereka berasal dari Persia.
Dan sudah cukup lama membantu pemerintah Mongolia terutama mereka bekerja di bawah perintah pangeran Ghalik.
Mengenai Hek Pek Siang-sat ini bisa pembaca jumpai dalam Sin-tiauw-thian-lam.
Tetapi di saat Swat Tocu akan segera bertempur dengan Hek Pek Siang-sat, waktu itulah terdengar seseorang berseru.
"Tahan......!"
Lalu tampak dua sosok bayangan yang melompat keluar dari balik batu gunung-gunungan yang tidak lain dari Sasana dan Yo Him.
Mereka telah melompat ke dekat pangeran Ghalik.
Semula belasan orang pahlawannya pangeran Ghalik terkejut dan serentak mencabut senjata untuk melindungi pangeran Ghalik ketika ke dua sosok tubuh itu melompat ke dekat junjungan mereka.
Namun setelah mengenali ke dua sosok tubuh itu tidak lain dari Sasana dan Yo Him, mereka telah memasukkan senjata tajam mereka ke dalam kerangkanya masing-masing.
"Ayah!"
Kata Sasana kepada pangeran Ghalik yang memandangi puterinya dengan heran.
"Perintahkan Hek Pek Siang-sat Locianpwe agar mundur......!"
"Kenapa?"
Tanya tertegunnya.
pangeran Ghalik setelah tersadar dari "Swat Tocu secara tidak langsung telah membantu ayah mengapa harus dipersulit oleh ayah.
Cepat perintahkan Hek Pek Siang-sat Locianpwe agar mundur.
Nanti akan kujelaskan semuanya.....!"
Pangeran Ghalik bimbang sejenak namun akhirnya dia telah perintahkan Hek Pek Siang-sat agar kembali ke dekatnya.
Swat Tocu telah memperdengarkan suara tertawa dingin waktu Hek Pek Siang-sat menarik diri ke dekat pangeran Ghalik pula.
"Ayah! Koksu telah berserikat dengan beberapa orang pahlawan ayah yang berkhianat, mereka adalah......!"
Tetapi baru saja Sasana berkata sampai di situ telah terdengar seseorang berseru dengan suara yang nyaring.
"Dusta! Dusta!"
Itulah suaranya Tiat To Hoat-ong, yang telah membuka ke dua matanya dan melompat berdiri, walaupun mukanya masih pucat namun seluruh jalan darahnya telah terbuka dan darah bisa beredar kembali dengan lancar.
"Semua yag dikatakan itu dusta pangeran.....! Dan tadi telah menyusup ke mari Tocu keparat itu. Dia berusaha untuk mencelakai pangeran. Namun telah kepergok denganku, maka niatnya itu jadi gagal, di mana kami jadi bertempur!"
Sasana tertawa dingin.
"Semua rencana busukmu telah siang-siang diketahui oleh ayah!! Mengapa engkau harus pengecut seperti itu. Tak tahu malu, berusaha untuk memungkirinya?"
Mendengar ejekan Sasana, muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah merah padam, katanya.
"Lalu apa yang diinginkan Kuncu?"
"Tidak banyak, hanya menghendaki pengakuanmu yang jujur, Koksu! Bukankah kau berusaha untuk menindih pengaruh ayah dan juga akan melontarkan finah yang keji kepada ayah? Hmm, tidakkah kau mengakui semua itu?"
Muka Tiat To Hoat-ong tambah merah padam, dan belum lagi dia sempat menyahut, waktu itu Sasana telah berkata lagi.
"Dan di kamar rahasia itu terdapat Liong Tie Siang, Lengky Lumi dan Gochin Talu serta beberapa orang pahlawan ayah yang telah berkhianat itu!"
Rupanya Tiat To Hoat-ong terdesak oleh kata-kata Sasana, akhirnya dia jadi nekad.
"Kuncu, di sini aku yang memegang kekuasaan keamanan pangeran dan seluruh penghuni istana, tak mungkin aku hendak mencelakai pangeran. Jika memang aku memiliki niat tidak baik, mengapa aku harus milih bertempur dengan manusia keparat itu untuk berusaha membekuknya? Hemm, Kuncu kau telah bicara dengan memutar lidah...... sesungguhnya...... sesungguhnya.....!" "Sesungguhnya, sesungguhnya apa?"
Bentak Sasana berani sekali.
"Justru waktu Swat Tocu Locianpwe itu tiba di sini, kalian tengah berunding untuk melakukan sesuatu yang bisa mencelakai ayahku! Nah sekarang mari kita mendengar keterangan Swat Tocu. Karena sebelum bertempur dengan kau, kebetulan sekali Swat Tocu juga telah mendengar perihal rencana jahat kalian!"
Muka Tiat To Hoat-ong sebentar merah.
Dia gusar bercampur penasaran namun, dia juga tidak berdaya dalam keadaannya seperti itu.
Maka dia hanya berdiam diri.
Sasana telah menoleh kepada Swat Tocu, tanyanya dengan suara nyaring disertai senyumnya.
"Swat Tocu Locianpwe. Bukankah apa yang kukatakan tadi itu memang benar dan tidak ada sepatah kata yang kutambahi atau kukurangi?"
Swat Tocu mengangguk sambil memperdengarkan tertawa dinginnya.
"Memang benar si gundul itu tengah merencanakan sesuatu bersama kawan-kawannya untuk mencelakai junjungannya! Tetapi aku tak mau mencampuri urusan ini dan aku hanya ingin menguji kepandaian si gundul itu saja!"
Muka pangeran Ghalik berobah walaupun tadi dia telah mendengar segala sesuatunya dari Sasana puterinya tokh pangeran Ghalik masih bertanya.
"Koksu benarkah apa yang dikatakan oleh puteriku?"
Tiat To Hoat-ong tidak menyahuti hanya matanya memandang dengan bengis kepada Sasana. Kemudian baru menyahuti pertanyaan Pangeran Ghalik.
"Jika memang benar apa yang dikatakan puterimu, mengapa aku harus takut mengakuinya? Hmm, terserah kepadamu. Kau ingin mempercayai perkataannya itu atau tidak terserah kepadamu! Besok aku akan pulang ke kota raja dan akan kulaporkan segala sesuatunya yang terjadi di sini dengan sebenarnya......!"
Pangeran Ghalik menghela napas.
"Koksu, ada sesuatu yang tidak dimengerti olehku,"
Kata pangeran itu.
"Mengapa Koksu bermaksud untuk mencelakaiku, malah menurut laporan-laporan yang masuk padaku menyatakan bahwa Koksu bermaksud melemparkan fitnah kepadaku yang akan meruntuhkan kedudukanku ini, yaitu dengan memberikan laporanlaporan yang tidak benar kepada Kaisar!"
Muka Tiat To Hoat-ong berobah semakin tidak enak dipandang, sampai akhirnya dia berkata.
"Jika memang pangeran mempercayai segala omongan kosong dari puterimu itu dan aku tidak bisa bilang sesuatu apapun juga! Terserah kepada pangeran! Jika memang pangeran menuduh aku bermaksud melakukan sesuatu yang tidak baik untuk kedudukanmu, akupun tidak bisa membantahnya, karena percuma saja dan akan sia-sia belaka kalau tokh aku bermaksud untuk membantahnya!"
"Hemm!"
Mendengus pangeran Ghalik.
"Tetapi apa maksud Koksu dengan selalu sering mengadakan perundingan-perundingan dengan beberapa orang tertentu, seperti Lengky Lumi, Gochin Talu dan Liong Tie Siang? Begitu juga dengan beberapa orang pahlawan lainnya yang telah ikut berunding dengan Koksu dan kabarnya mereka telah berdiri di pihak Koksu untuk menentangku! Benarkah itu? Coba Koksu jelaskan agar persoalan menjadi jelas......!"
Tiat To Hoat-ong tampak gusar bukan main namun dalam keadaan seperti itu jelas dia tidak bisa berbuat sesuatu terlebih lagi dengan pangeran Ghalik ada pahlawan-pahlawan pilihan, seperti Hek Pek Siang-sat dan di situ juga terdapat Swat Tocu.
Maka akhirnya Tiat To Hoat-ong hanya menyahuti.
"Sesungguhnya aku tengah berunding dengan mereka mengenai keamanan di istana ini, karena setelah aku berangkat ke kota raja bukankah tampuk pimpinan di sini akan dipegang oleh Gochin Talu! Aku tengah memberikan petunjuk-petunjuk pada mereka sepeninggal aku ke kota raja agar mereka dapat mengadakan pengawalan yang ketat dan rapi untuk keselamatan pangeran juga?"
Pangeran Ghalik telah menghela napas beberapa kali.
Baru saja dia ingin berkata, saat itu tampak Yo Him telah melompat ke dekat Wie Liang Tocu.
Waktu itu memang Wie Liang Tocu tengah memandang bengong kepada Yo Him.
Sejak Yo Him muncul berdua dengan Sasana dari tempat persembunyian mereka, pengemis tersebut telah mengawasi tertegun seperti juga dia kenal dengan Yo Him, sampai akhirnya Yo Him telah melompat ke dekatnya sambil berseru.
"Toako!"
"Ahh benar-benar kau, Yo hiante!"
Berseru Wie Tocu.
Ke duanya telah saling rangkul dan berpelukan melepaskan rindu.
"Telah lama sekali kita berpisah dan tidak bertemu.
Ternyata sekarang engkau telah menjadi pemuda yang gagah dan tampan sekali!"
Kata Wie Liang Tocu dengan senyum lebarnya.
"Bagaimana? Apakah kau telah bertemu dengan ayahmu?"
Yo Him mengangguk.
"Ya, Toako!"
Sahutnya.
"Malah aku telah bertemu dengan mereka berkumpul beberapa lamanya."
"Mengapa kau berada di sini, Yo Hiante?"
Tanya Wie Liang Tocu lagi.
"Inilah urusan yang panjang sekali ceritanya, Wie Toako! Nanti setelah persoalan Koksu itu selesai baru kita bicarakan lagi persoalan tersebut. Dan tentunya Toako pun memiliki urusan yang penting datang ke mari?"
"Ya, mencari seseorang sahabat kami....., seorang Kay-pang yang telah lenyap....., kabarnya berada di sini!"
Menyahuti Toako itu yang mendadak mukanya jadi guram.
"Siapakah orang yang Toako cari itu?"
Tanya Yo Him ingin mengetahui. Wie Liang Tocu tidak segera menyahuti. Hanya matanya telah mencilak melirik ke arah pangeran Ghalik.
"Sejak dulu waktu kau masih kecil. Orang-orang rimba persilatan di daratan Tiong-goan telah diacak-acak dan diadu domba oleh dia!"
Dan tangan Wie Liang Tocu telah menunjuk kepada pangeran Ghalik.
"Dan sampai sekarang diapun masih tetap dengan usahanya yang ingin menimbulkan kekacauan.
Dan tak segan-segan satu dengan yang lain juga di daratan Tiong-goan yang tidak berhasil dibujuknya untuk bekerja di bawah kekuasaan Kaisarnya, telah diadu domba, agar jago-jago daratan Tiong-goan menjadi lemah dan di waktu itulah akan ditumpas olehnya......!"
Berkata sampai di situ Wie Liang Tocu telah berhenti sejenak. Kemudian baru meneruskan perkataannya lagi.
"Dan Kay-pang juga tidak terlepas dari tipu busuknya itu. Di mana dia mengutus beberapa orang kepercayaan untuk menyusup ke dalam Kaypang. Menjadi anggota kami, dan akan selalu mengadakan pemberontakan di berbagai Kay-pang cabang daerah, sehingga selama puluhan tahun ini Kay-pang menjadi kacau balau. Ada yang berusaha untuk meruntuhkan perkumpulan kami itu.
"Hemm, semula kami tidak mengetahuinya. Namun setelah menyelidiki dengan seksama, rupanya memang semua itu hasil perbuatan dari dia itu!"
Yang dimaksudkan oleh Wi Liang Tocu dengan perkataan "dia"
Itu adalah pangeran Ghalik.
Pangeran Ghalik mendengar perkataan Wie Liang Tocu telah melirik kepada Hek Pek Siang-sat, maksudnya agar orangorangnya itu berwaspada.
Sedangkan Wie Liang Tocu telah melanjutkan perkataannya.
"Sesungguhnya usiaku telah lanjut, dan akupun tidak lama lagi tentu akan masuk liang kubur. Tapi dalam hal ini, aku tentu harus dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi di Kay-pang. Karena itu walaupun hatiku sesunggguhnya berat sekali harus kembali berkecimpung dalam Kang-ouw, tokh keselamatan Kay-pang lebih penting. Terlebih lagi akhir-akhir ini kami menerima laporan bahwa salah seorang anggota kami berada di tangan pangeran busuk itu yang ditawannya......!"
"Siapa orang Kay-pang itu, Toako?"
Tanya Yo Him tidak sabar.
"Dia Liu Ong Kiang bergelar Sin-bok-koay-kay, Pengemis Aneh Berkayu Sakti!"
Sahut toako itu.
"Oh, kiranya Liu Ong Kiang Locianpwe!"
Kata Yo Him Sambil tertawa.
"Memang Liu Locianpwe berada bersama-sama denganku, Toako! Jangan kuatir kesehatannya baik dan dia tidak mengalami sesuatu apapun juga!"
Wie Liang Tocu tampak terkejut bercampur girang.
"Benarkah Yo Hiante?"
Tanyanya kemudian sambil mencekal tangan Yo Him.
"Ahh.....! Di mana sekarang adanya Liu Ong Kiang?"
"Dia berada di tempat yang aman, Toako tidak perlu kuatir tentang keselamatannya! Sekarang yang terpenting kita lihat penyelesaian yang bagaimana akan dilakukan pangeran itu terhadap Koksu yang ingin mengkhianatinya?"
Wie Liang Tocu telah mengangguk saja sambil tersenyum. Kemudian melirik kepada pangeran Ghalik dan memperdengarkan suara tertawa dinginnya beberapa kali. "Hmm Hmm!"
Waktu itu Tiat To Hoat-ong juga telah mendengus "Bagus! Rupanya pangeran telah mengundang ke istana manusiamanusia berandalan dan pengemis busuk seperti itu!"
"Mereka bukan diundang olehku!"
Kata pangeran Ghalik cepat.
"Baiklah! Memang bagus juga, dengan berkumpulnya mereka di sini manusia-manusia yang menjadi musuh kerajaan tentu pangeran memang mengandung maksud-maksud tertentu! Tetapi kuharap saja tidak benar dugaanku, bahwa pangeran memiliki maksud tertentu ingin memberontak terhadap kaisar!"
Dan setelah berkata begitu, Tiat To Hoat-ong mendengus tertawa dingin beberapa kali lagi.
Muka pangeran Ghalik berobah.
Dia memandang mendelik pada Tiat To Hoat-ong dengan sorot mata yang tajam lalu katanya.
"Koksu, kau jangan bicara sembarangan! Justru aku datang ke sini karena mendengar keributan di sini sedangkan dengan mereka aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun juga."
Namun Tiat To Hoat-ong telah tertawa dingin.
"Lihatlah betapa mesranya hubungan Kuncu dengan pemuda she Yo itu. Mungkin juga pangeran memang mengandung maksud untuk berbesan dengan Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko? Syukur jika memang dugaanku tidak benar!"
Mata pangeran Ghalik jadi bertambah semakin merah padam di mana dia telah berkata dengan murka.
"Koksu, kau terlalu lancang sekali. Baiklah, perlu kujelaskan di sini bahwa telah lama aku mengawasi gerak-gerikmu Koksu, terutama sekali dengan rencana jahatmu yang ingin meruntuhkan kedudukanku! Mengenai maksudmu yang hendak melontarkan fitnah padaku kepada Kaisar, itupun telah kuketahui......!"
Namun Tiat To Hoat-ong tidak mau kalah bicara, dia telah bilang dengan suara yang nyaring.
"Pangeran! Justru menurut apa yang kusaksikan di sini, dan juga menurut laporan-laporan dari orangorangmu seperti Lengky Lumi, Gochin Talu dan Liong Tie Siang, begitu juga dengan beberapa pahlawanmu yang lainnya di mana mereka bersedia memberikan kesaksian mereka apa yang dilihat dan juga apa yang dilakukan oleh pangeran selama ini yang hendak berserikat dengan para jago-jago Tiong-goan, untuk melakukan sesuatu yang merugikan kedudukan Kaisar......!"
Bukan main gusarnya pangeran Ghalik, karena sudah jelas Tiat To Hoat-ong yang hendak meruntuhkan kedudukannya dan menindih pengaruhnya dengan mempengaruhi pahlawan-pahlawannya.
Namun sekarang justru Koksu itu telah melemparkan fitnahnya yang menyatakan pangeran Ghalik ingin memberontak pada Kaisar mereka.
Inilah tuduhan tidak bisa diterimanya.
Baru saja dia ingin membentaknya, di saat itulah terdengar Tiat To Hoat-ong telah berteriak dengan suara yang nyaring.
"Keluarlah kalian....., mari kita buka kartu di hadapan pangeran!"
Segera dari balik batu gunung-gunung itu telah melangkah keluar beberapa orang ternyata mereka adalah Lengky Lumi, Gochin Talu dan Liong Tie Siang serta beberapa orang pahlawan lainnya.
"Nah, mereka telah berada di sini!"
Kata Tiat To Hoat-ong dengan suara yang nyaring.
"Dan merekapun bersedia untuk memberikan kesaksian mereka mengenai apa yang mereka ketahui perihal maksud dan apa yang telah dilakukan oleh pangeran."
Kemudian Tiat To Hoat-ong telah menoleh kepada Lengky Lumi, katanya.
"Lengky Lumi, sekarang coba kau katakan apa yang telah kau laporkan kepadaku!"
Lengky Lumi, Gochin Talu, Liong Tie Siang dan yang lainnya waktu berdiam di ruangan rahasia itu telah mendengar semua percakapan Tiat To Hoat-ong dengan pangeran Ghalik, maka sekarang Lengky Lumi diperintahkan seperti itu oleh Tiat To Hoatong maka segera dia mengerti apa yang diinginkan oleh Koksu tersebut.
Dia dengan lancar telah berkata dengan suara yang nyaring.
"Pangeran Ghalik telah berusaha untuk mengadakan kontak dengan jago-jago daratan Tiong-goan yang pernah membantu kerajaan Song melawan raja kita! Dan Pangeran Ghalik juga merencanakan agar semua jago-jago daratan Tiong-goan, yang menjadi musuh kerajaan kita itu untuk mengganggu keagungan dan keangkeran Kaisar kita.....
"Itulah rencana busuk. Kami tidak berani mencegahnya, kamipun tidak berani memberikan saran, karena jika kami mencegahnya, tentu pangeran akan turun tangan bengis pada kami, maka jalan satu-satunya yang ada pada kami karena tidak rela jika pangeran Ghalik dengan maksudnya untuk mengganggu kewibawaan dan keangkeran Kaisar kita, kami hanya bisa memberikan laporan selengkapnya kepada Koksu negara agar bisa disampaikan kepada Kaisar.....! "
Itulah yang telah membuat kamipun meninggalkan pangeran Ghalik.
Jadi kami bukan berkhianat atau coba-coba berontak padanya, namun demi kewibawaan dan keangkeran Kaisar, untuk keselamatan Kaisar juga, kami rela dicap sebagai pemberontak oleh pangeran Ghalik!
Namun kami yakin bahwa Kaisar kami seorang yang biijaksana, tentu Kaisar lebih mengetahui segalanya dengan baik!"
Setelah berkata begitu, Lengky Lumi menoleh kepada Gochin Talu dan Liong Tie Siang tanyanya.
"Bukankah kalian pun mengetahui hal itu juga?"
Gochin Talu, Liong Tie Siang telah mengangguk serentak.
Demikian juga halnya dengan beberapa orang pahlawan lainnya yang telah menjadi pengikutnya Tiat To Hoat-ong, dengan serentak telah membenarkan keterangan Lengky Lumi.
Bukan main gusarnya pangeran Ghalik, mukanya sampai merah padam dan tubuhnya menggigil keras di mana dirasakan dadanya hendak meledak.
Demikian juga Sasana, karena gadis ini diliputi kemarahan yang sangat.
"Ngaco balau!"
Teriak gadis itu.
"Aku sendiri yang telah mendengarnya kalian telah mengatur rencana busuk yang hendak mencelakai ayahku!"
"Kuncu bisa berkata begitu, karena pangeran Ghalik adalah ayahmu! Adakah seorang puteri yang hendak memberatkan dosa dan kesalahan ayahnya? Kuncu berusaha untuk meringankan dosa ayahmu maka telah melemparkan semua kesalahan ke punggung kami! Hmm, dengan memutar balik urusan bahwa kami yang ingin memberontak. Kuncu bermaksud melindungi ayahmu dengan niatnya yang buruk terhadap Kaisar?"
Dan setelah berkata begitu, Tiat To Hoat-ong tertawa bergelak-gelak. Pangeran Ghalik sudah tidak menahan kemarahan hatinya, dengan suara bengis dia membentak.
"Tangkap penghianat itu!"
Hek Pek Siang-sat merupakan dua orang jago Persia yang memang telah lama bekerja di bawah kekuasaan pangeran Ghalik, dengan demikian, mereka telah banyak melakukan pekerjaan untuk kebaikan pangeran.
Tentu saja merekapun bersetia pada pangeran tersebut.
Sekarang mendengar perintah pangeran dengan sendirinya mereka telah meloncat dengan serentak kepada Tiat To Hoat-ong, yang ingin dibekuknya.
Waktu itu Tiat To Hoat-ong tengah dalam keadaan lemah sekali, kerena mukanya selain masih pucat, juga memang seluruh kekuatan hawa murninya belum lagi pulih semuanya.
Karena itu jika Hek Pek Siang-sat menyerang di waktu itu, tentu Tiat To Hoatong tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan dirinya.
Tapi Lengky Lumi, Gochin Talu maupun Liong Tie Siang tidak berdiam diri.
Dengan gesit sekali ke tiga orang itu telah berdiri di sekelilingnya Tiat To Hoat-ong.
Waktu Hek Pek Siang-sat ingin melompat menyerang Tiat-to Hoatong, Lengky Lumi telah menggerakkan tangan kanannya, di mana dia menangkis gempuran yang dilakukan oleh Hek Siang-sat, si Hitam itu.
Benturan terjadi dengan kuat, terdengar suara yang keras sekali.
Tubuh Lengky Lumi terhuyung dua langkah demikian juga dengan Hek Siang-sat telah melangkah mundur setindak lebih.
Memang selama ini, Lengky Lumi berada di bawah perintah Hek Pek Siang-sat, dan ini tidak memuaskan hati Lengky Lumi.
Sejak lama karena dia menghendaki, dia hanya berada di bawah perintah langsung pangeran Ghalik.
Sekarang dia memiliki kesempatan untuk jadi pengikut Tiat To Hoat-ong yang menjanjikan padanya.
Jika berhasil meruntuhkan pangeran Ghalik sehingga kelak keamanan negara dan seluruh kekuasaan atas angkatan perang Mongolia berada di tangan Koksu ini, Lengky Lumi akan diangkat sebagai panglima perang untuk angkatan darat sedangkan Gochin Talu jadi panglima angkatan lautnya dan Liong Tie Siang akan diangkat sebagai panglima keamanan kotaraja.
Dengan janji-janji muluk seperti itulah ketiga orang tersebut yang semula adalah pahlawannya pangeran Ghalik, akhirnya telah menjadi pengikutnya Tiat-to Hoat-ong.
Lengky Lumi bertiga Gochin Talu maupun Liong Tie Siang masing-masing memang memiliki banyak sekali anak buah.
Maka dengan berpalingnya mereka menjadi pengikutnya Tiat To Hoat-ong dengan sendirinya merekapun telah mengajak semua anak buah mereka untuk berpihak pada Tiat To Hoat-ong.
Sedangkan Hek Siang-sat mendongkol bukan main tidak berhasil serangannya yang dirintangi Lengky Lumi.
Beruntun dia menyerang beberapa kali, namun Lengky Lumi telah menghadapinya dengan gagah sekali, mati-matian berusaha melindungi Tiat To Hoat-ong.
Demikian juga halnya dengan Gochin Talu dan Liong Tie Siang yang menghadapi Pek Siang-sat si Putih, di mana mereka telah bertempur dengan seru.
Tiat To Hoat-ong yang melihat perkembangan telah terjadi seperti itu, segera menyingkir ke pinggiran, ke dekat para pahlawan yang jadi pengikutnya, yang semuanya telah mencabut senjata mereka masing-masing untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan dan melindungi keselamatan Tiat To Hoat-ong.
Waktu itu tampak pengeran Ghalik sendiri telah mencabut senjatanya, goloknya, dengan itu diapun telah melompat ke dekat Tiat To Hoat-ong karena dia penasaran sekali dituduh hendak memberontak pada Kaisarnya.
Maka pangeran Ghalik bernafsu sekali untuk membinasakan Tiat To Hoat-ong.
Pangeran Ghalik juga menyadari bahwa kepandaiannya memang masih berada di bawah kepandainnya Tiat To Hoat-ong.
Namun sekarang lain, Tiat To Hoat-ong tengah terluka dan tenaga dalamnya belum pulih kembali dan biarpun jalan darah di sekujur tubuh berjalan lancar, tokh semangatnya itu belum bisa dikumpulkan buat dipergunakan bertempur.
Golok pangeran Ghalik menyambar cepat sekali dan bertenaga sangat kuat sekali.
Di waktu itu para pahlawan yang melindungi Tiat To Hoat-ong pun ragu-ragu karena mereka sebelumnya memang merupakan anak buah pangeran Ghalik walaupun kini mereka telah berkhianat dan berdiri di pihaknya Tiat To Hoat-ong.
Tokh melihat pangeran Ghalik yang berada dalam keadaan murka seperti itu mereka terpengaruh juga dan memandang ragu-ragu.
Hanya beberapa orang saja yang menggerakkan senjata mereka berusaha menangkis bacokan pangeran Ghalik.
Pangeran Ghalik menarik kembali goloknya dengan muka merah padam dan mata mendelik dia membentak.
"Kalian mundur tinggalkan Koksu sendiri!"
Bentakan itu berpengaruh para pahlawan itu ragu-ragu dan senjata mereka diturunkan sebagian ada yang menundukkan kepalanya. Namun di saat itulah Tiat To Hoat-ong berkata nyaring.
"Kalian hadapi dia. Jika ada yang bisa menangkapnya tentu jasanya tak akan dilupakan oleh kaisar dan akan kuberitahukan jasanya pada Kaisar agar memperoleh imbalan yang setimpal dengan jasanya itu!"
Perkataan Tiat To Hoat-ong memiliki pengaruh yang tidak kecil, karena waktu itu empat orang pahlawan telah melompat ke depan Tiat To Hoat-ong untuk melindungi Koksu itu.
Mereka menghadapi pangeran Ghalik dengan sikap menantang dan senjata terhunus!
Bukan main murkanya pageran Ghalik, dia melompat akan membacok lagi, namun Sasana telah berteriak.
"Ayah tahan.....!"
Pangeran Ghalik menahan goloknya yang melayang di tengah udara melirik pada puterinya.
"Kenapa?"
"Biarlah aku yang menghadapi mereka!"
Kata Sasana dengan suara yang nyaring. Tubuhnya telah melompat ke dekat ayahnya. Pangeran Ghalik memang pernah melihat kelihayan puterinya, dia mengangguk.
"Mari kita membereskan mereka bersama-sama!"
Dan setelah berkata begitu tampak tubuh pangeran Ghalik telah melompat dengan gesit, goloknya berkelebat membacok seorang pahlawan yang menghalangi di depannya Tiat To Hoat-ong.
Golok itu bergerak cepat, pun mengandung tenaga yang kuat sekali, angin bacokan itu menderu-deru.
Pahlawan itu mengangkat goloknya menangkis keras beradu senjata itu.
Namun disertai dengan suara "trang!"
Golok pahlawan itu tertebas putus menjadi dua potong dan potongan golok itu jatuh ke lantai dan menimbulkan suara berkentrongan nyaring sekali.
Pangeran Ghalik tidak membuang-buang kesempatan lagi, dia menyusul dengan bacokan melintang dari samping kiri menebas ke kanan, pun bacokan itu cepat sekali.
Pahlawan yang seorang itu tengah terkesiap kaget karena goloknya tertebas putus dan kini dia diserang lagi dengan bacokan yang hebat dengan sendirinya telah membuat pahlawan tersebut jadi mengeluh dan berusaha mengelakkan diri.
Walaupun dia mengetahui terlambat baginya untuk menghindarkan diri dari bacokan.
Tapi belum lagi serangan pangeran Ghalik tiba, di waktu itulah pahlawan yang seorangnya lagi telah menangkis golok pangeran Ghalik dengan kuat.
Kembali golok pahlawan itu telah tertabas putus, karena golok yang dipergunakan oleh pangeran Ghalik ternyata merupakan golok mestika.
Walaupun begitu tokh pahlawan yang seorang itu telah tertolong jiwanya dari kematian.
Dan di saat seperti ini pula, Sasana telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat ringan sekali sambil mengulurkan tangan kanannya untuk menotok Jing-kin-hiat dari pahlawan yang seorang itu.
Pahlawan tersebut berusaha untuk mengelakkan diri dengan melompat ke samping.
tapi dia berlaku kurang cepat dari jari telunjuk Sasana telah menotok tepat sekali Jing-kin-hiat nya, sehingga tubuh pahlawan itu seketika terkulai lemas tidak bertenaga dan tidak bisa bergerak lagi.
Sasana tidak berhenti hanya sampai di situ saja karena dengan gerakan yang cepat luar biasa tampak dia telah menyerang lagi dengan bacokannya beberapa kali.
Dua kali mengenai sasaran di mana dua orang pahlawan lain telah dilukai tidak berkutik lagi karena telah tertotok jalan darahnya, sedangkan dua totokan lainnya yang dilancarkan Sasana kepada Tiat To Hoat-ong mengenai tempat kosong.
Waktu itu keadaan memang tidak menguntungkan buat Tiat To Hoat-ong, di mana Koksu tersebut juga menyadari bahwa dia harus cepat-cepat meloloskan diri dari tempat itu.
Pangeran Ghalik yang tengah diliputi kegusaran yang sangat, telah meloncat lagi dengan goloknya yang membacok ke arah kepala Koksu itu.
Gerakannya cepat, dia yakin bacokannya kali ini tentu akan berhasil sebab Koksu telah terluka di dalam, jelas tak mungkin bisa menghindarkan diri dari bacokannya itu.
Tapi di saat golok tengah meluncur dengan tenaga yang kuat dan Koksu dalam keadaan terancam maut, dan memang Koksu itu tidak memiliki kesempatan untuk berkelit lagi, tampak sesosok bayangan yang bergerak cepat dan gesit sekali sambil menangkis golok pangeran Ghalik dengan pedangnya sehingga berbunyi nyaring sekali dan golok pangeran Ghalik tersampok ke samping.
Rupanya orang yang menolong Koksu tak lain dari Liong Tie Siang, di mana Liong Tie Siang yang mencekal sebatang pedang mestika.
Setelah ditangkisnya yang pertama berhasil menyelamatkan Tiat To Hoat-ong, dia telah membarengi lagi dengan tusukan yang beruntun sampai tiga kali mengincar tiga tempat yang mematikan di tubuh pangeran Ghalik.
Tikaman-tikaman maut seperti itu memaksa pangeran Ghalik harus mengelakkan diri dengan melompat mundur dua tindak ke belakang.
Dia juga memutar goloknya untuk melindungi tubuhnya dari tikaman selanjutnya dari Liong Tie Siang.
Kemudian dengan suara yang bengis pangeran Ghalik telah membentak.
"Liong Tie Siang apakah engkau benar-benar hendak memberontak? Tahukah kau hukuman apa yang bisa kau terima jika semua persoalan di sini kulaporkan pada kaisar?"
Tapi Liong Tie Siang rupanya memang telah nekad. Dia tertawa dingin, katanya.
"Pangeran Ghalik, kau jangan memutar balik persoalan. Engkau yang ingin memberontak dan bermaksud hendak mengganggu keselamatan kaisar. Tapi sekarang engkau menuduh kami yang ingin memberontak! Terimalah tikaman ini! Nanti di hadapan Kaisar, akupun ingin melihat, apakah kau yang dapat menuduh kami atau memang Kaisar lebih mempercayai keterangan Koksu!" Membarengi dengan perkataannya itu, tampak Liong Tie Siang bergerak cepat sekali pedangnya beruntun telah menikam dan menusuk dengan cepat dan juga jurus yang dipergunakan begitu luar biasa. Pedangnya itu berkelebat-kelebat cepat bagaikan secercah sinar perak yang bergulung-gulung di sekitar pangeran Ghalik seperti juga seekor Naga putih yang tengah mengamuk. Pangeran Ghalik sendiri sesungguhnya memiliki kepandaian yang cukup tinggi, di mana diapun memiliki ilmu silat yang boleh diandalkannya. Karena waktu Kaisar Mancu meninggal di tangan Yo Ko, dan pasukan tentara Mongolia telah ditarik mundur pulang ke tanah air mereka, waktu itu pangeran Ghalik memang telah berguru pada seorang aneh yang memiliki kepandaian tinggi. Namun sejauh itu nama gurunya itu tidak diketahuinya, karena guru tersebut seorang Han, tidak mau memberi tahukannya. Namun seluruh kepandaian dan ilmu dari gurunya telah diwariskannya. Kini di saat dia tengah marah seperti itu maka pangeran Ghalik telah mengeluarkan ilmu goloknya. Goloknya juga menderu-deru menyambar dahsyat sekali, mengimbangi pedang Liong Tie Siang yang bergulung-gulung sangat hebat. Ke duanya sama-sama mempergunakan senjata mustika, karena itu mereka dapat bertempur dengan seru, tidak ada salah seorang di antara mereka yang terdesak. Malah semakin lama tampak mereka seperti tidak memperdulikan keselamatan jiwa mereka lagi, telah terkurung oleh gulungan-gulungan sinar pedang dan golok, tubuh mereka hanya berkelebat seperti bayangan belaka. Sasana yang bertempur dengan tubuhnya yang lincah, telah menghadapi beberapa orang pahlawan pengikut Tiat To Hoat-ong, tangan si gadis berkelebat-kelebat cepat dan berbahaya, karena biarpun dia mempergunakan jari telunjuknya namun setiap totokan yang dilancarkan bisa melumpuhkan lawannya. Malah jika saja totokan itu mengenai jalan darah yang mematikan tentu lawannya itu akan menemui kematian, atau sedikitnya akan bercacad. Waktu itu Hek Pek Siang-sat juga lebar-lebar mengawasi jalannya Ghalik dengan Liong Tie Siang. terancam bahaya, ke duanya menolonginya. telah mementang mata mereka pertempuran antara pangeran Karena jika junjungan mereka akan segera turun tangan Gochin Talu yang menyaksikan pertempuran telah dimulai, di mana keadaan kacau seperti itu, telah melompat ke samping Tiat To Hiat ong hatinya pun berpikir.
"Yang terutama sekali Koksu yang harus diselamatkan dulu!"
Tangan kanannya juga cepat sekali melingkari pinggang Tiat To Hoat-ong, dia telah berkata perlahan sekali.
"Mari kita menyingkir, Koksu.....!"
Di mana Gochin Talu telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat ringan membawa kabur Tiat To Hoat-ong.
Koksu itu girang bukan main karena dia melihat Gochin Talu memang tetap berdiri di pihaknya, bahkan sekarang tengah berusaha untuk menyelamatkan dirinya.
Dia yakin, Gochin Talu tentu akan dapat membawanya pergi keluar dari istana yang menyerupai perbentengan itu.
Tapi Gochin Talu belum lagi bergerak jauh baru beberapa tombak, telah berkelebat sesosok tubuh dengan gerakan yang gesit bukan main.
Belum lagi tubuhnya berhasil menyandak, Gochin Talu yang ingin melarikan Tiat To Hoat-ong, di waktu itu telah berkesiuran angin pukulan yang dingin luar biasa, seperti juga selapis es dingin membungkus Gochin Talu dan Tiat To Hoat-ong.
Tapi Gochin Talu telah cepat-cepat melompat ke pinggir untuk menghindarkan diri dari pukulan itu.
Namun gerakannya jadi terhambat oleh pukulan tersebut, dan juga orang yang menghalanginya telah berada di hadapannya.
Orang itu tidak lain dari Swat Tocu!
"Hmm!"
Mendengus Swat Tocu dengan suara yang dingin.
"Hendak dibawa lari kemana si gundul itu?"
Swat Tocu bukan hanya mengejek melainkan tangan kanannya telah digerakkan untuk menghantam Gochin Talu.
Kemudian menyusul tangan kirinya menyambar lagi akan menghantam lebih kuat.
Cara menyerang Swat Tocu merupakan serangan yang mengandung tenaga Inti Es yang dahsyat sekali, karena itu sekujur tubuh Gochin Talu dan Tiat To Hoat-ong telah diliputi oleh selapis uap dingin yang luar biasa.
Gochin Talu yang mengetahui bahwa Swat Tocu bukan orang sembarangan, dan menyadari walaupun dia mengerahkan seluruh kepandaiannya tidak mungkin bisa menghadapi Swat Tocu, hanya memikirkan cara untuk meloloskan diri.
Karena diserang dahsyat seperti itu oleh Swat Tocu, dan dalam keadaan terdesak dengan membawa-bawa Tiat To Hoat-ong yang membuat gerakan Gochin Talu kurang begitu leluasa, dia berusaha untuk menyingkir ke pinggir kiri kemudian menjejakkan kakinya pula, untuk melarikan diri lagi.
Melihat orang ingin menyingkir, Swat Tocu tertawa dingin, katanya.
"Jangan harap kau bisa angkat kaki seenakmu begitu saja! Tinggalkan si gundul itu!"
Dan tangan kanannya telah bergerak cepat sekali, kembali segumpal uap dingin yang menusuk tulang menyambar lagi ke arah Gochin Talu.
Tiat To Hoat-ong tengah terluka di dalam walaupun dia telah berhasil membuka jalan darahnya yang semula membeku itu, tokh dia tidak bisa mempergunakan Soboc nya lagi, karenanya, begitu Gochin Talu disêrang beruntun dengan pukulan tenaga Inti Es dari Swat Tocu, Tiat To Hoat-ong dalam gendongan Gochin Talu jadi mengigil keras sekali karena dia merasakan hawa yang dingin melebihi es itu bagaikan menyusup ke dalam tulang sumsumnya, membuat tubuhnya menggigil dan giginya berceratukan menahan hawa dingin yang meliputi sekujur tubuhnya.
Tiat To Hoat-ong juga menyadari, jika keadaan seperti ini berlangsung terus, niscaya akan menyebabkan dia terluka di dalam lagi.
Berarti dia akan mengalami luka yang tidak ringan dan kemungkinan besar akan membuat dirinya jadi bercacad.
Tapi Gochin Talu memang tidak berdaya untuk cepat-cepat menyingkirkan Tiat To Hoat-ong dari tempat tersebut.
Terlebih lagi memang Swat Tocu, tokoh rimba persilatan yang liehay luar biasa itu tidak mau melepaskannya dan telah melancarkan pukulannya berulang kali, sehingga hawa dingin itu semakin tebal dan juga semakin mengigilkan tubuh.
Gochin Talu sendiri telah menggigil menahan dingin dan ia masih berusaha untuk bertahan agar dirinya tidak rubuh karena hawa dingin itu.
Swat Tocu memang tidak ingin membiarkan Tiat To Hoat-ong dibawa pergi Gochin Talu, karena dia telah menyerang terus dengan pukulan Inti Esnya itu.
"Tinggalkan si gundul. Kau boleh angkat kaki!"
Bentak Swat Tocu dengan suara yang dingin.
Waktu itu Gochin Tolu, yang sesungguhnya memiliki kepandaian yang tinggi, tengah memutar otak untuk mencari jalan meloloskan diri.
Jika menghadapi jago-jago biasa, tentu Gochin Talu tidak memperoleh kesulitan.
Cuma saja, sekarang justru yang merintanginya adalah Swat Tocu, seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian yang luar biasa dan sulit diukur tingkatannya.
Dengan nekad, akhirnya Gochin Talu mempergunakan tangan kiri untuk menyerang kepada Swat Tocu, dia bermaksud begitu Swat Tocu mundur menghindarkan pukulannya itu, dia ingin mempergunakan kesempatan itu untuk berusaha melarikan diri lagi.
Namun yang membuat Gochin Talu jadi kaget bukan main, di saat itu tampak pukulannya seperti lenyap tidak berbekas dan tidak memberikan hasil apa-apa.
Malah Swat Tocu telah menyerang lagi dengan tangan kanannya, segumpal hawa sangat dingin menerjang ke diri Gochin Talu dan Tiat To Hoat-ong.
Gochin Talu mengeluh, dia berusaha membuang diri bergulingan di tanah bersama Tiat To Hoat-ong.
Swat Tocu tertawa tawar, katanya dengan dingin.
"Hemmm, mengapa engkau tetap hendak melarikan si gundul? Tinggalkan dia dan engkau boleh pergi dari sini!"
Tapi Gochin Talu yang telah bergulingan di lantai, tetap merangkul Tiat To Hoat-ong, yang dipeluknya kuat sekali, kemudian mengerahkan tenaga dalamnya pada ke dua tangannya.
Tahutahu dia melontarkan tubuh Tiat To Hoat-ong sejauh empat tombak lebih sambil katanya.
"Menyingkirlah lebih dulu Koksu!"
Walaupun tubuh Tiat To Hoat-ong tinggi besar, namun dia telah berhasil dilontarkan begitu jauh, membuktikan tenaga dalam Gochin Talu memang tidak lemah.
Tiat To Hoat-ong sendiri walaupun dalam keadaan terluka namun masih bisa turun di tanah tanpa terbanting.
Sebagai seorang yang licik dan cerdik, tentu saja Tiat To Hoat-ong pun kenal bahaya, begitu ke dua kakinya menyentuh tanah, segera dia menjejakkan lagi kédua kakiñya tubuhnya telah melompat sejauh dua tombak lebih, dia berusaha untuk melarikan diri.
Swat Tocu tidak memperdulikan Gochin Talu, tahu-tahu tubuhnya telah berkelebatan dan berdiri di hadapan Koksu itu, kemudian katanya.
dengan tawar.
"Kau hendak menyingkir ke mana?!"
Muka Tiat To Hoat-ong berobah merah padam, dia telah menatap Swat Tocu dengan bola mata terpentang lebar-lebar mendelik pada Swat Tocu.
"Jika kau ingin membunuhku, bunuhlah! Aku tak takut! Lakukanlah, jangan menghinaku terlebih jauh!"
Keras sekali suara Tiat To Hoat-ong. Swat Tocu tertawa mengejek.
"Hemm, jika memang engkau berani untuk menerima kematian, tentu sejak tadi tidak ada niatan untuk melarikan diri! Baik! Baik! Jika memang engkau meminta aku mengirimmu menghadap ke Giam-lo-ong aku tentu tidak akan mengecewakanmu, aku akan meluluskan keinginanmu itu. Dan setelah berkata begitu, Swat Tocu menggerakkan ke dua tangannya, yang siap akan dihantamkan kepada Tiat To Hoat-ong. Sedangkan Tiat To Hoat-ong telah mengawasi dengan hati mengeluh, karena dia yakin dirinya segera akan terbinasa. Begitu hawa Inti Es dari Swat Tocu menerjang dirinya, tentu tubuhnya akan membeku dan dia menemui kematian. Namun dia tidak memiliki jalan lain untuk meloloskan diri, untuk memberikan perlawananpun dia sama sekali tidak berdaya, karena tengah terluka seperti itu. Dengan sendirinya Tiat To Hoat-ong hanya menantikan tibanya kematian. Cuma yang membuat dia menyesal, dirinya harus menerima kematian dengan cara yang mengecewakan seperti ini......
"Tahan Swat Tocu Locianpwe!"
Tiba-tiba ada suara yang berteriak nyaring, disusul sesosok tubuh yang melompat ke samping Swat Tocu.
Swat Tocu menahan gerakan tangannya yang telah berada di tengah udara setengah terangkat itu, dia melirik.
Dilihatnya orang yang mencegahnya itu tidak lain dari Yo Him.
"Kenapa?!"
Tanya Swat Tocu dengan suara yang dingin.
"Locianpwe!"
Kata Yo Him cepat.
"Kumohon agar kau jangan membinasakannya.....!"
Kata Yo Him itu disusul dengan tubuhnya yang membungkuk memberi hormat. Swat Tocu telah mendengus lagi.
"Si gundul itu terlalu bertingkah, jika memang aku hendak membunuhnya. Siapa yang berani melarangku?!"
Yo Him tersenyum sabar, diapun telah menyahut.
"Tapi Locianpwe, jika memang dia dibinasakan tentu akan menimbulkan badai yang tidak kecil dalam kalangan Kang-ouw, karena Kaisarnya jelas akan mengerahkan seluruh pahlawannya untuk melakukan penangkapan dan membinasakan jago-jago daratan Tiong-goan, di mana jêlas yang akan menjadi korban kelak nanti orang-orang yang tidak bersalah! Karena bisa saja Kaisarnya menuduh bahwa yang telah mencelakainya adalah kita orangorang Han!"
Swat Tocu berdiam sejenak, namun akhirnya dia tertawa dingin.
"Aku tidak perduli semua itu!"
Katanya.
"Ada hubungan apa denganku? Aku hanya berurusan dengan si gundul ini!"
"Tapi Locianpwe! Akibatnya sangat besar sekali buat orang-orang Han yang lemah. Untuk keselamatan mereka, bebaskan pendeta itu. Nanti boanpwe akan menjelaskan lagi urusan yang jauh lebih penting!" Swat Tocu ragu-ragu, tapi akhirnya dia telah mengangguk juga.
"Baiklah!"
Katanya.
"Memandang muka terang ayahmu Sin-tiauwtay-hiap, mau juga aku memenuhi permintaanmu ini!"
Waktu itu Tiat To Hoat-ong tertawa dingin.
"Mengapa kau belum turun tangan juga?"
Ejeknya.
"Jika memang kau ingin membinasakanku, ayoh turun tangan cepat. Aku ingin melihat apakah engkau memiliki keberanian untuk membunuhku!"
Muka Swat Tocu jadi berubah merah padam karena gusar.
Tadi telah menyanggupi permintaan Yo Him untuk tidak membunuh Tiat To Hoat-ong, namun sekarang pendeta ini menantang sedemikian rupa, maka matanya memancarkan sinar yang sangat tajam sekali.
Dia bermaksud akan menyerang lagi pada Tiat To Hoat-ong.
"Biarlah Swat Tocu Locianpwe, jangan locianpwe membunuhnya. Kita akan mengurus suatu urusan yang jauh lebih penting......!"
Kemudian Yo Him berkata kepada Tiat To Hoat-ong katanya dengan tawar.
"Pergilah! Jika memang kelak ternyata engkau mencelakai orang-orang Han yang tidak bersalah, aku tentu akan mengajak locianpwe-locianpwe lainnya untuk mencarimu! Waktu itu biarpun engkau berlutut sambil menangis memohon pengampunan tidak akan kami layani......!"
Tiat To Hoat-ong tertawa dingin. dia mengebutkan lengan jubahnya! "Bocah, apakah engkau tidak menyesal?" "Pergilah!"
Menyahuti Yo Him. Tapi Tiat To Hoat-ong tidak segera berlalu. Waktu itu Swat Tocu telah melangkah dua tindak ke depan, dia bilang dengan bengis.
"Jika memang aku tidak ingin memberi muka terang kepada Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, tentu jiwamu itu telah kukirim pergi menghadap pada Giam-lo-ong! Sekarang kau bertingkah pura-pura tidak takut mampus dan tidak mau segera angkat kaki! Hmmm, inilah tanda mata dariku!"
Dan tangan kanan Swat Tocu bergerak menghantam Tiat To Hoat-ong, dan dia menghantam jalan darah Leng-jin-hiatnya si pendeta, untuk membuat si pendeta bercacad seumur hidupnya menjadi manusia lumpuh.
Yo Him terkejut, namun dia tidak bisa mencegahnya karena Swat Tocu melakukan pukulan itu cepat sekali.
Tapi di saat Tiat To Hoat-ong terancam bahaya, terdengar suara orang tertawa hahaha hihihi, disusul dengan sesosok tubuh yang berkelebat sangat gesit sekali.
Malah telah menghadang di depan Swat Tocu, mempergunakan tangan kanannya untuk menyanggahi pukulan tangan Swat Tocu.
"Plakk!"
Terdengar suara benturan yang sangat kuat sekali, dan di waktu itulah tampak jelas tubuh Swat Tocu bergoyang-goyang akan terhuyung ke belakang, namun kuda-kuda ke dua kakinya masih tetap di tempatnya.
Begitu juga orang yang baru datang itu tubuhnya bergoyang-goyang.
Swat Tocu lalu mementang matanya lebar-lebar dilihatnya yang berdiri di hadapannya adalah seorang lelaki tua dengan keadaan yang luar biasa.
Sebab selain rambutnya yang telah putih itu tumbuh panjang menutupi bahunya, juga kumis dan jenggotnya yang telah berwarna putih itupun tumbuh panjang sampai ujungnya menyentuh tanah.
Yo Him pun terkejut, tidak terkecuali Tiat To Hoat-ong.
Karena mereka segera mengenalinya bahwa orang yang keadaannya luar biasa itu tidak lain dari Ciu Pek Thong!.
"Ciu Locianpwe!"
Berseru Yo Him girang bukan main. Si tua berandalan telah tertawa dengan sikapnya yang jenaka, dia pun membalas sapaan Yo Him.
"Yo Hiante! Ai, ai kau menimbulkan kerusuhan di sini, sehingga aku terpaksa harus memperlihatkan diri! Ai, engkau telah membuat aku jadi salah tingkah, semua ini adalah gara-garamu. Berdiam di tempat persembunyian salah, keluar juga salah harus berhadapan dengan begundal ini!"
Dan sambil berkata begitu Ciu Pek Thong, si tua berandalan itu telah menunjuk kepada Tiat To Hoat-ong.
"Muridku telah menceritakan segalanya, memang si gundul ini jahat sekali! Dulu, waktu engkau belum terlahirkan, si gundul inipun telah mengganggu ayah ibumu sehingga ibumu melahirkan tanpa didampingi ayahmu!"
Dan setelah berkata begitu, Ciu Pek Thong mementang matanya lebar-lebar memperlihatkan sikap jenaka, katanya lagi meneruskan bicaranya tadi.
"Dan akhirnya terlahirkan seorang bocah nakal seperti kau yang sekarang memiliki kepandaian yang tinggi dan disebut-sebut selalu oleh muridku, hua ha haa haaa!"
Ciu Pek Thung tertawa bergelak dengan suara yang nyaring sekali.
Loo491 boan-tong tampaknya tidak memperdulikan bahwa di tempat itu berkumpul banyak sekali orang, dan juga ada beberapa orang tengah bertempur hebat sekali mempertaruhkan jiwanya.
Yo Him girang bukan main, dia telah maju untuk memberi hormat pada Loo-boan-tong kemudian bertanya dengan perasaan heran.
"Mengapa Ciu Locianpwe meninggalkan Tho-hoa-to?!"
"Aku bosan menemani Oey Lo Shia!"
Sahut Ciu Pek Thong.
"Setiap hari hanya main catur diam seperti patung, akhirnya aku ingin pesiar. Oey lo Shia juga tidak melarang keinginanku ini, maka aku telah meninggalkan pulaunya.....!"
"Apakah puteri pangeran Ghalik, nona Sasana, murid Ciu Locianpwe?"
Tanya Yo Him.
"Tepat, tidak salah!"
Mengangguk si tua berandalan itu. Waktu itu Sasana yang tengah dikepung oleh beberapa orang pahlawan yang jadi pengikut Tiat To Hoat-ong telah berseru girang.
"Suhu, akhirnya kau mau juga keluar......!"
Ciu Pek Thong mendengar seruan muridnya dia tertawa terbahakbahak kemudian menyahuti.
"Muridku, teruskan menghajar kurcaci itu.....! Aku sendiri akan mengikir kepala gundul Tiat To Hoat-ong ini jadi lebih licin!"
Swat Tocu waktu itu gusar bukan main karena pukulannya telah ditangkis oleh Ciu Pek Thong.
Walaupun di hatinya dia mengakui bahwa kepandaian dan tenaga dalam Ciu Pek Thong bukan sembarangan, kemungkinan juga lweekangnya itu tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya.
Namun dia penasaran sekali sebab Ciu Pek Thong telah begitu lancang menghalangi untuk turun tangan pada Tiat To Hoat-ong, sedangkan Ciu Pek Thong sendiri tidak memperdulikannya dan berjenaka seenaknya.
"Hai tua bangka jenggotan?"
Bentak Swat Tocu dengan suara yang dingin.
"Apakah engkau ingin main-main denganku?"
Ciu Pek Thong telah menoleh memandang tajam pada Swat Tocu, kemudian berkata dengan tertawa jenaka.
"Ha, galak benar?! Mengajak aku main-main kok galak seperti itu? Apakah kau hendak mengajakku main kelereng atau main catur? Main kelereng aku mau, tapi kalau memang main catur aku menyerah saja.....!"
Swat Tocu telah memandang bengis sekali pada Ciu Pek Thong.
"Aku bukan tengah bergurau denganmu,"
Katanya dengan suara yang dingin.
"Aku tahu engkau memang memiliki kepandaian yang lumayan, dan engkaupun tentu Loo-boan-tong, adik seperguruan dari Ong Tiong Yang bukan?"
Ciu Pek Thong mengangguk sambil tetap tertawa jenaka, dia bilang.
"Ya ya, ya, benar apa yang kau bilang! Tapi, jika mengajak orang untuk main-main, jangan ajak-ajak seperti itu. Aku Loo-boantong paling tidak enak jika dibentak-bentak seperti itu."
"Jika kau dibentak-bentak apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Swat Tocu dingin.
"Aku tidak sudi menemani kau main-main!"
Menyahuti Ciu Pek Thong. "Kalau aku memaksanya apakah kau tetap bisa menolaknya?"
Tanya Swat Tocu dengan mendongkol berbareng geli juga melihat lagak si tua berandalan yang jenaka ini.
"Oh tentu, tentu, jika aku bilang tidak mau, biar kau sampai terkencing-kencing di situ, tetap aku tidak mau!"
Menyahuti Ciu Pek Thong. Muka Swat Tocu jadi merah, dia tambah mendongkol.
"Aku hendak melihat apakah kau bisa menolak ajakanku untuk main.....?"
Katanya, yang disusul dengan gerakan tangan kanannya.
Tapi Ciu Pek Thong bersikap acuh, cuma saja dikala tangan Swat Tocu hampir tiba di saat itulah dia telah mengeluarkan suara bentakan yang nyaring dan tangan kirinya menolak.
Ternyata dia telah mempergunakan Kong-beng-kun di mana dia memang bisa memecah ke dua tangannya itu seperti menjadi dua, yang bisa digerakan setiap tangannya dengan jurusnya masing-masing.
Tolakan Ciu Pek Thong tidak keras, tapi hebat kesudahannya.
Ciu Pek Thong memang telah mencapai kesempurnaan ilmunya.
Coan-cin-kauw merupakan pintu perguruan yang lurus dan bersih terutama sekali Ong Tiong Yang memang selalu mengutamakan kelurusan dan kebersihan dalam pintu perguruannya, yang ilmu silatnya merupakan golongan lurus dan juga kebersihan pikiran, yang mengutamakan pula kejujuran.
Ciu Pek Thong setelah berhasil memecahkan pelajaran Coan-cin-kauw menembus sampai puncak kesempurnaan.
Kini boleh dibilang jarang ada orang yang bisa menandinginya, hanya beberapa orang saja yang setanding dengannya, itupun bisa dihitung dengan jari tangan.
Jika memang lawannya terdiri dari jago biasa saja, dengan menggerakan tangannya yang satu itu, tentu lawannya akan terpental hebat.
Jika memang tidak terbinasa, tentu sedikitnya terluka parah sekali.
Namun justru sekarang yang menjadi lawannya adalah Swat Tocu, yang juga kepandaiannya tidak rendah, maka tangkisan Ciu Pek Thong itu cuma dapat membendung serangan Swat Tocu tidak mampu menggempur kuda-kuda Swat Tocu.
"Ha, rupanya memang aku bertemu teman bermain yang hebat sekali!"
Berseru Ciu Pek Thong.
"Sungguh menyenangkan sekali! Sungguh menyenangkan sekali!"
Memang Loo-boan-tong merupakan seorang yang menuruti sifat berandalan, namun juga jenaka.
Iapun memang senang sekali untuk menekuni pelajaran silat.
Semakin aneh dan hebat kepandaian yang dihadapinya, semakin bersemangat si tua jenaka ini untuk mempelajarinya.
Namun walaupun demikian, disamping senang mencari urusan dengan orang, diapun seorang yang jujur dan polos.
Karena itu walaupun dia seorang yang berandalan namun dihormati oleh orang-orang rimba persilatan.
Jika memang bertemu dengan lawan yang tangguh dan memiliki kepandaian yang tinggi Ciu Pek Thong semakin tertarik dan semakin bersemangat untuk berkelahi.
Sekarang melihat Swat Tocu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, walaupun dia tidak kenal entah siapa adanya Swat Tocu, namun Ciu Pek Thong tertarik sekali.
Semangatnya terbangun dan diapun tertawa telah melompat ke sana ke mari dengan gerakan yang gesit, beruntun dia melakukan totokan, pukulan dan jambretan.
Semua gerakannya itu sangat cepat sekali, tangannya berkelebatkelebat cepat seperti juga kilat.
Dan waktu itu Swat Tocu untuk menghindarkan ke tiga jurus serangan Ciu Pek Thong harus menyingkir ke samping, guna melewatkan pukulan-pukulan itu.
Ciu Pek Thong jadi heran dan merasa aneh sekali melihat bahwa ke tiga jurus serangannya itu tidak berhasil mengenai sasarannya.
"Eh, benar-benar engkau memiliki kepandaian yang bolehan!"
Serunya.
Diapun bersiap-siap untuk melancarkan pukulan-pukulan berikutnya, maka dalam keadaan seperti itu, diapun telah mengempos semangatnya, karena Ciu Pek Thong memang semakin girang bertemu dengan lawan tangguh.
Swat Tocu semakin mendongkol.
Orang itu telah menyerangnya tiga kali, maka kini adalah gilirannya untuk membalas menyerang, tentu Swat Tocu juga tidak mau berdiam diri saja.
Dengan serentak ke dua tangannya digerakkan.
"Wuss"
Angin yang dingin sekali menyambar ke arah Ciu Pek Thong.
"Ihhh, dingin!"
Ciu Pek Thong tiba-tiba berseru sambil menggigil. Dia tertawa-tawa.
"Sungguh dingin! Seperti aku tengah mandi di air salju!"
Tetapi sama sekali Ciu Pek Thong tak terpengaruh lama oleh hawa dingin itu.
Karena tubuhnya sudah tidak menggigil lagi.
Dikala si tua berandal yang jenaka itu mengempos lweekangnya untuk memberikan perlawanan membendung hawa dingin itu.
"Ayo seranglah lagi..... enak....., nyaman. Ayo serang lagi, yang lebih dingin!"
Berseru Ciu Pek Thong dengan suara yang nyaring disertai tertawanya berulang kali.
Swat Tocu berdiri tertegun, karena dia tak menyangka bahwa Ciu Pek Thong sanggup menghadapi serangannya yang dahsyat itu, karena tadi dia telah menyerang dengan menggunakan kekuatan enam bagian.
Dengan demikian jika jago biasa tentu tubuhnya seketika itu juga akan membeku kaku.
Tapi Ciu Pek Thong hanya menggigil sejenak, kemudian malah minta dipukul lagi.
"Baik, coba kau terima ini!"
Berseru Swat Tocu dengan suara yang nyaring, diliputi oleh kegusaran dan ke dua tangannya telah digerakkan.
Swat Tocu dalam keadaan penasaran seperti itu kali ini telah menyerang dengan mempergunakan delapan bagian dari Inti es.
Jelas hawa dingin yang menyambar kepada Ciu Pek Thong juga semakin hebat dibandingkan dengan yang tadi, di mana jika memang orang biasa yang menerima serangan seperti itu, selain akan segera terbungkus lapisan es dan menjadi beku, pun segera terbinasa karena seluruh darah di tubuhnya akan ikut beku.
Tapi Ciu Pek Thong menerima serangan itu dengan tubuh menggigil sebentar, diapun berseru-seru jenaka.
"Nyaman sekali! Ohhh, sungguh nyaman.....!"
Dan sebentar kemudian, tubuhnya sudah tidak menggigil lagi, malah Ciu Pek Thong telah meneruskan seruannya sambil menggerakkan ke dua tangannya bergantian seperti tengah mengupas.
"Ohhh, ayo serang lagi..... mana hawa dinginmu..... sungguh panas, sungguh hawa udara yang buruk demikian panas.....! Mana hawa dingin yang nyaman itu?"
Swat Tocu jadi penasaran bukan main, ia mengeluarkan suara bentakan tanpa memberikan tanggapan suatu apapun juga atas perkataan Ciu Pek Thong, dia telah menyerang lagi dengan dua kali pukulan.
Cara memukul Swat Tocu kali ini merupakan pukulan yang benar-benar dahsyat, karena selain ke dua tangannya digerakkan serentak dan tenaga dalamnya yang dipergunakan delapan bagian, tubuhnya juga berputar-putar, karena dia hendak mengincar bagian yang mematikan di tubuh Ciu Pek Thong.
Hebat tenaga serangan dari Swat Tocu membuat Ciu Pek Thong kali ini tidak bisa main-main.
Dia telah melompat ke atas setinggi empat tombak.
Gerakan yang dilakukan oleh Ciu Pek Thong membuat angin pukulan dari Swat Tocu jatuh di tempat kosong, dan malah menghantam sebuah patung singa-singaan yang terdapat tak jauh dari batu gunung-gunungan itu.
Seketika itu juga singa-singaan terbungkus oleh lapisan es, dan kemudian terdengar suara "kretek,"
Yang perlahan, ketika lapisan es telah mencair, patung singa-singaan itu telah hancur menjadi bubur.
Di kala itu tampak Swat Tocu yang penasaran bukan main telah mulai memukul lagi.
Cara memukulnya juga lebih hebat dari tadi.
Ciu Pek Thong tiga kali harus menghindarkan diri dan tiga kali pula pukulan yang dilakukan oleh Swat Tocu menghantam batang pohon dan dinding di tempat itu, yang seketika menjadi hancur setelah terbungkus oleh lapisan es.
Ciu Pek Thong meleletkan lidahnya, dia berseru berulang kali.
"Hebat! Berbahaya sekali! Hebat bukan main! Hebat!"
Namun pujian yang diberikan Ciu Pek Thong dengan sikap jenaka seperti itu telah membuat Swat Tocu tambah mendongkol, karena dia merasakan bahwa pujian itu merupakan ejekan untuknya, bukankah dia menyerang selalu tanpa berhasil?
Dengan mengeluarkan suara erangan yang nyaring, tampak Swat Tocu bertubi-tubi telah menyerang lagi kepada Ciu Pek Thong.
Sedangkan Yo Him dan Sasana yang telah berhenti dari bertempurnya dengan pahlawan, mengawasi dengan hati yang berkuatir sekali.
Begitu juga dengan para pahlawan yang menjadi anak buah serta kaki tangannya Tiat To Hoat-ong telah berdiri mematung memandang kehebatan ke dua orang yang tengah bertempur itu, yang membuat mereka jadi menggidik, karena setiap kali Swat Tocu gagal menyerang Ciu Pek Thong, barangbarang yang menjadi korban dari pukulan Swat Tocu akan hancur setelah dilapis es.
Itulah pemandangan yang baru pertama kali disaksikan mereka, karena inilah cara bertempur luar biasa.
Ciu Pek Thong sendiri juga tidak berdiam diri, si tua yang berandal ini tidak mau kalah, karena diapun telah memperlihatkan kehebatannya.
Setiap kali dia berhasil menghindarkan diri dari pukulan Swat Tocu, Ciu Pek Thong mengayunkan salah satu tangannya, dia menghantam.
Memang Ciu Pek Thong telah meyakinkan Kiu-im-cin-keng, karena itu tidak terlalu mengherankan lagi, tokoh persilatan dari Coan-cinkauw yang memiliki kepandaian tinggi, inipun membuat Swat Tocu jadi kewalahan juga.
Mereka seperti berimbang, hanya saja kepandaian mereka belaka yang berlainan sifat, tapi untuk kesempurnaan ilmu silat masing-masing, mereka telah mencapai puncaknya.
Beberapa kali Ciu Pek Thong berhasil memukul membuat Swat Tocu jadi terdesak hebat oleh angin gempurannya yang bagaikan gunung runtuh itu.
Dan Swat Tocu jika memang bukannya memiliki kuda-kuda kaki yang benar-benar tangguh dan sempurna jelas siang-siang telah berhasil dirubuhkan oleh Ciu Pek Thong.
Dengan demikian tampak Swat Tocu juga mulai berpikir dua kali untuk menyerang dengan membabi buta, karena itu dia telah memperhitungkan tiap serangannya.
Sedikit saja dia melakukan suatu kesalahan dalam melontarkan pukulannya, niscaya dirinya sendiri yang akan menerima bahaya tak kecil di tangan Ciu Pek Thong.
Karena itu sekarang tampak ke dua orang tua itu telah saling menerjang bukan dengan cara yang cepat.
Mereka menggerakkan ke dua tangan dan tubuh mereka dengan perlahan dan teratur, namun tenaga dalam yang mereka salurkan dalam setiap pukulan mereka mengandung kekuatan yang dahsyat, yang bisa membinasakan.
Itulah pertempuran yang bukan main-main lagi seperti yang dianggap oleh Ciu Pek Thong pada mulanya.
Ciu Pek Thong sendiri walaupun berandalan dan jenaka, namun otaknya tidak dungu.
Ia merupakan seorang yang cerdas juga, hanya saja terlalu jujur.
Sekarang melihat Swat Tocu telah mendesak dirinya bertubi-tubi seperti itu, dengan setiap serangan yang bisa mematikan, Ciu Pek Thong telah merobah cara bertempurnya.
Hanya saja mulutnya tidak hentinya mengoceh.
"Sungguh mengagumkan! Sungguh mengejutkan! O, o, bukan main! Sungguh mengagetkan sekali! Ai, ai, mengapa menyerang seperti kalap begitu! O, o, menyeramkan sekali!"
Ciu Pek Thong yang mengoceh, namun yang panas hatinya adalah Swat Tocu, sampai tokoh persilatan yang memiliki kepandaian hebat itu mengeluarkan suara erangan penasaran dan gusar sambil menyerang semakin hebat.
Karena penasaran Swat Tocu bertekad untuk dapat merubuhkan Ciu Pek Thong.
Memang sudah lama ia mendengar akan hebatnya kepandaian Ciu Pek Thong, yang menurut sebagian dari tokoh-tokoh Rimba Persilatan bahwa kepandaian yang sekarang dimiliki Ciu Pek Thong telah berimbang dengan kepandaian Ong Tiong Yang.
Tetapi karena baru mendengar nama dan belum pernah bertemu muka, dengan sendirinya, baru kali inilah Swat Tocu mengetahui dan melihat sendiri bahwa kepandaian Ciu Pek Thong, memang merupakan kepandaian yang luar biasa.
Kepandaian dan ilmu dari si tua berandalan tersebut yang berasal dari kitab Kiu-im-cin-keng itu benar-benar merupakan kepandaian yang sulit sekali untuk dihadapinya.
Walaupun ilmu Inti Es nya telah mencapai tingkat yang sempurna, namun Swat Tocu tidak bisa berbuat banyak.
Swat Tocu menyadari juga bahwa pertempuran mereka kali ini bukanlah pertempuran sembarangan, karena sekali saja salah satu dari pukulan mereka terkena pada sasarannya, niscaya lawannya akan segera terbinasa.
Begitu juga dengan keadaan dirinya, jika sekali saja dia berayal untuk mengelakkan diri, niscaya dia akan menemui bencana yang tidak kecil.
Waktu itu Ciu Pek Thong mengerutkan sepasang alisnya waktu melihat betapa Swat Tocu telah menyerang semakin hebat dan dahsyat belaka.
Ciu Pek Thong pun merasakan betapa napasnya mulai sesak, karena hawa dingin yang mengurung dirinya semakin tebal, membuat dia sulit untuk bernapas.
"Inilah berbahaya, aku harus dapat membuyarkan hawa dingin yang mengurung diriku!"
Demikian pikir Ciu Pek Thong.
Karena si tua berandal jenaka itu menyadari, walaupun Swat Tocu tidak mungkin bisa merubuhkan dirinya, tokh jika memang terus menerus dirinya terkurung oleh lapisan hawa dingin itu, sehingga dia sulit bernapas.
Tohk akhirnya akan membuat dirinya lemas sendirinya, dan akan, membuat geraknya jadi lambat, maka itu bisa membahayakan dirinya, yang kemungkinan besar dirubuhkan dan dibinasakan Swat Tocu.
Setelah berpikir begitu, Ciu Pek Thong mengeluarkan suara seruan nyaring, tubuhnya tahu-tahu melompat-lompat tidak hentinya.
Dan kemudian dia telah menggerakkan ke dua tangannya mendorong dengan kuat sekali, sehingga berkesiuran angin yang menderu-deru menerjang Swat Tocu.
Dengan cara mendorong seperti itu, Ciu Pek Thong telah membuyarkan hawa dingin yang mengurung dirinya.
Dan di kala Swat Tocu menyambuti tenaga dorongan itu dengan berdiri tegak, dengan ke dua tangan diulurkan ke depan, maka terjadi benturan yang kuat sekali.
Ciu Pek Thong maupun Swat Tocu jadi berdiri kaku tegak di tempatnya sama sekali tidak bergerak.
Karena ke duanya tengah mengempos semangat dan tenaga murni mereka untuk berusaha menindih kekuatan lawan.
Dengan demikian, walaupun tubuh mereka tidak bergerak dan tangan mereka teracung dua-duanya ke tengah udara dan tetap seperti sikap mendorong, tokh inilah pertempuran yang menentukan sekali.
Karena sekali saja tenaga dalam dari salah seorang di antara mereka berkurang dan menjadi lemah, tentu akan celakalah dia, sedikitnya terluka dan musnah seluruh ilmu maupun tenaga dalamnya.
Malah kemungkinan akan menemui kematian!
Pangeran Ghalik sendiri telah berdiri memandang meñgawasi jalannya pertempuran itu.
Tadi dia telah mendengar puterinya, Sasana telah memanggil orang tua yang jenggot kumisnya begitu panjang dan membawa lagaknya edan-edanan, sebagai gurunya.
Dengan begitu pangeran Ghalik telah menduga, tentu guru puterinya itu tidak lain dari Ciu Pek Thong, si tua berandalan jenaka tersebut.
Memang Pangeran Ghalikpun mengetahui perihal Ciu Pek Thong yang sering didengarnya sebagai seorang tokoh terkemuka di antara Oey Yok Su, Yo Ko, Kwee Ceng dan lain-lainnya.
Namun baru kali ini dia melihat keadaan si tua itu.
Malah tak disangkanya tokoh rimba persilatan tersebut menjadi guru dari puterinya!
Beberapa hari yang lalu, waktu pangeran Ghalik mengetahui puterinya memiliki ilmu silat yang tinggi sekali, dia menduga bahwa guru dari muridnya itu adalah seorang tokoh dunia Kang-ouw, tapi ia menyangka seorang wanita yang sangat liehay sekali.
Tidak diduga-duganya sama sekali, bahwa yang menjadi guru puterinya itu tidak lain dari Ciu Pek Thong, si tua berandalan jenaka tersebut......
Setelah menyaksikan sekian lama jalannya pertempuran itu, pangeran Ghalik menghela napas.
Ke dua orang itu benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, dan melihat ini pangeran Ghalik merasakan bahwa kepandaian dan ilmu silat yang dimilikinya merupakan kepandaian yang tiada artinya.
Jika memang harus menghadapi salah seorang antara Ciu Pek Thong atau pun juga Swat Tocu, maka beberapa jurus saja dia bisa dirubuhkan terbinasa.....!"
Benar-benar di daratan Tiong-goan terdapat banyak sekali tokohtokoh Kang-ouw yang memiliki kepandaian luar biasa!
Sesungguhnya tugas yang kuterima dari Kaisar merupakan tugas yang sangat berat!
Duapuluh tahun aku telah berusaha mengacaukan jago-jago Tiong-goan itu, mempengaruhi satu dengan yang lainnya dengan mengadu domba......
tapi ternyata tugasku itu sampai sekarang memberikan hasil yang belum begitu jelas!
"Kini Koksu malah telah memfitnah aku ingin memberontak pada......
itulah fitnah yang berat sekali!
Jika memang Kaisar mempercayai fitnahan dari Koksu, inilah yang benar-benar mengecewakan sekali."
Setelah berpikir begitu, beberapa kali pangeran Ghalik menghela napas.
Hek Pek Siang-sat menghampiri pangeran Ghalik, berdiri di ke dua sisi dari pangeran, karena mereka hendak mengadakan penjagaan untuk keamanan pangeran tersebut.
Malah Hek Siang-sat telah berkata dengan suara yang perlahan.
"Pangeran, terlebih baik kau meninggalkan tempat ini. Biarlah kami yang mengurusnya ini demi keselamatan pangeran dan urusan besar tidak terbengkalai! Hek Siang-sat memang meminta pangeran Ghalik untuk menyingkir, karena dia sesungguhnya berkuatir kalau dirinya bersama Pek Siang-sat dan pahlawannya pangeran Ghalik yang lain tidak sanggup mengatasi keadaan di tempat ini. Berarti dengan menyingkimya pangeran Ghalik terlebih dulu, mereka tidak usah terpecahkan perhatian mereka pada keselamatan pangeran itu junjungan mereka. Pangeran Ghalik memang mengerti bahaya yang tengah mengintai dirinya. Jika sampai pecah pertempuran di antara mereka yang terbagi dalam tiga golongan, yaitu golongan Tiat To Hoat-ong, golongan pangeran Ghalik sendiri juga para pengemis dari Kaypang dengan Swat Tocu serta Ciu Pek Thong. Dengan demikian keadaan akan kacau balau dan kemungkinan besar dirinya yang akan tercelakakan, karena bukan hanya Tiat To Hoat-ong dan anak buahnya akan menindih dan mendesak dirinya, pun para pengemis Kay-pang itu pun tentu memusuhinya. Setelah berdiam diri sejenak, pangeran Ghalik mengangguk, katanya.
"Baiklah!"
Dan pangeran ini melambaikan tangannya memanggil Sasana.
"Mari kita pergi dari tempat ini nak..... biarlah Hek Pek Siangsat Losianseng yang akan menyelesaikan urusan ini!"
Kata pangeran Ghalik. Tapi Sasana menggeleng perlahan.
"Ayah pergilah sendiri, aku ingin menyaksikan Suhu mengajar Swat Tocu......
"kepandaian mereka sangat tinggi sekali, dengan demikian bisa membuka mataku dan menambah pengalaman!"
Sahut Sasana.
Pangeran Ghalik mengetahui, bahwa dirinya memang merupakan orang yang sangat penting dan memiliki tugas yang berat.
Jika dia tercekal dalam kekalutan di tempat ini, jelas hanya akan membuat urusan besar jadi pikiran.
Setelah berpesan agar puterinya itu baik-baik dan bisa menjaga diri, malah dipesankan jika keadaan tidak memungkinkan agar Sasana segera pergi menyingkirkan diri, pangeran Ghalik telah memutar tubuhnya, dengan diiringi beberapa orang pahlawannya ingin meninggalkan tempat itu.
Namun baru saja pangeran Ghalik melangkah beberapa tindak, di saat itulah terdengar seorang telah membentak.
"Tahan, jangan pergi dulu!"
Orang yang membentak itu tidak lain dari Wie Liang Tocu, yang juga telah melompat ke depannya pangeran Ghalik, gerakannya gesit sekali.
Hek Pek Siang-sat yang menyaksikan ini.
jadi terkejut dan mendongkol.
Terkejut karena dia melihat Wie Liang Tocu tidak mau membiarkan kepergian junjungan mereka dan juga dilihat dari gerakannya itu, Wie Liang Tocu memang merupakan tokoh Kaypang yang memiliki kepandaian tidak rendah.
Malah ke lima orang pengemis lainnya telah melompat juga ke depan pangeran Ghalik berdiri di belakang Wie Liang Tocu dengan keadaan bersiap sedia untuk menyerang.
Para pahlawannya pangeran Ghalik telah mencabut senjata mereka bersiap akan mengadu jiwa guna melindungi junjungan mereka, semuanya mengelilingi pangeran Ghalik berdiri dengan tegak, bagaikan memagari pangeran Ghalik.
Wie Liang Tocu waktu itu telah tertawa dingin, katanya.
"Bukankah engkau pangeran Ghalik?"
Pangeran Ghalik mengangguk sahutnya.
"Benar! Ada urusan apa engkau menyusup ke dalam istanaku?"
Dan pangeran Ghalik, walaupun hatinya tengah bekuatir, tokh membawa sikap yang agung dan tidak memperlihatkan perasaan jeri sedikit di wajahnya.
"Jika memang kalian tidak cepat-cepat angkat kaki, apakah kalian tidak kuatir nanti dicap sebagai pemberontak yang hendak mencelakai diriku?!"
Wie Liang Tocu tertawa dingin lagi, sikapnya mengejek.
"Memang kedatangan kami kemari hendak membunuhmu!"
Katanya terus terang.
"Hemmm, banyak orang-orang kami yang telah bercelaka di tanganmu! Sekarang kau jawab yang jujur, bukankah Liu Ong Kiang juga ditawan olehmu?"
Pangeran Ghalik tertawa dingin.
"Hemmm, orang she Liu itu adalah tamuku bersama-sama dengan Yo Siauwhiap!"
Menyahuti pangeran Ghalik.
"Hal itu memang telah kudengar dari Yo hiante! Tapi yang ingin kutanyakan kepadamu apakah benar engkau yang telah menawan Liu Ong Kiang?!"
"Sama sekali aku tidak menawannya, dia bebas kemana dia ingin pergi! Malah, selama berada di dalam istanaku ini, dia memperoleh rawatan yang baik pada luka-lukanya itu....... Bagaimana bisa dibilang dia ditawan olehku?"
Wie Liang Tocu telah tertawa dingin sedangkan ke lima pengemis lainnya telah bersiap-siap hendak maju ke depan.
Hek Pek Siangsat yang menyaksikan hal ini juga telah bersiap-siap untuk melindungi junjungan mereka, serta beberapa orang pahlawan pangeran Ghalik telah bersiap untuk menerjang juga.
"Pangeran Ghalik!"
Kata Wie Liang Tocu dengan suara yang nyaring.
"telah belasan anggota Kay-pang kami yang terbinasa di tangan anak buahmu.....! Sejauh itu, kaki tanganmu menjalankan berbagai jalan yang licik dan usaha yang benar-benar busuk sekali, dengan menyusup jadi anggota Kay-pang pusat dengan cabang daerah.....! "
Hemm, demikian juga dengan beberapa orang kaki tanganmu yang telah menyusup menyamar jadi anggota Kay-pang......!
Tetapi semua akal licikmu dan tipu muslihatmu yang busuk yang ingin meruntuhkan Kay-pang telah berhasil kami bongkar!
Karena itu, sekarang kedatangan kami ini hanya memperhitungkan semuanya itu!"
Pangeran Ghalik sama sekali tidak memperlihatkan perasaan takut atau jeri pada Wie Liang Tocu, malah dia memperdengarkan suara tertawa dinginnya.
Namun waktu dia ingin buka mulut, belum lagi dia berkata-kata waktu itu dari arah belakang istana terdengar suara teriakan yang gaduh.
Waktu semua orang menoleh, maka mereka melihat warna merah yang membubung naik di bagian belakang istana.
Asap dan api berkobar sangat tebal sekali, diiringi oleh suara pekik dan jerit pria dan wanita.
"Api! Api! Kebakaran! Kebakaran!"
Pangeran Ghalik kaget bukan main, namun dia tidak menjadi gugup.
"Semuanya siap dan tetap berada di tempat......!"
Teriaknya.
Berteriak sampai di situ, pangeran Ghalik telah menyaksikan suatu pemandangan yang benar-benar luar biasa.
Karena dari empat penjuru tampak telah berlompatan muncul orang-orang yang bersenjata tajam terhunus di tangan, disertai pekik teriak mereka yang ganas dan bengis.
Pangeran Ghalik mengerutkan alisnya.
Mereka itu orang yang baru muncul dengan senjata tajam dari seluruh bagian istana itu, merupakan orang-orang yang bercampur aduk antara pasukan istana pangeran Ghalik, pendeta Mongolia dan jago-jago daratan Tiong-goan yang memang telah bersedia bekerja untuk kerajaan Mongolia.
Namun yang membuat marah pangeran Ghalik, di mana orangorang itu yang seharusnya merupakan kaki tangannya, malah berteriak teriak.
"Hukum mati pemberontak Ghalik! Mampusi Ghalik! Pengkhianat Ghalik pancung kepalanya! Hukum mati Ghalik!"
Ternyata semua orang itu telah menjadi pengikut Tiat To Hoat-ong.
Pangeran Ghalik juga tersadar dengan cepat, karena segera dia mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong memang berhasil menghimpun kekuatan yang tidak kecil, sebagian besar dari pengikut dirinya telah berhasil dipengaruhinya.
Malah pangeran Ghalik segera menduga, yang membakar istananya di bagian belakang itu tentunya dilakukan orang-orang ini.
Bukan main murkanya pangeran Ghalik, keadaan waktu itu sangat kacau balau karena orang-orang tersebut menyerbu maju dengan senjata tajam mereka yang dibolang balingkan menyerang membabi buta.
Mereka merupakan pengawal-pengawal istana, yang memiliki kepandaian tidak begitu tinggi tapi juga sedikitnya mereka memang memiliki ilmu silat dan pandai mempergunakan senjata tajam.
Pertempuran yang kacau terjadi, dengan Wie Liang Tocu dan ke lima pengemis lainnya terlibat dalam pertempuran yang sulit untuk ditentukan pula, mana kawan mana lawan itu.
Hanya saja Wie Liang Tocu telah membinasakan lima orang pengawal istana, berusaha untuk mengejar pangeran Ghalik, yang waktu itu telah melarikan diri untuk menyingkir bersama-sama dengan dengan Hek Pek Siang-sat yang mengawalnya, juga beberapa orang pahlawan yang jadi pengikut pangeran tersebut telah berlari-lari meninggalkan tempat itu.
Api berkobar sangat tinggi dan semakin besar, anginpun waktu itu berhembus sangat kencang, api seperti dikipasi, menyebabkan menyala tambah besar dan langit menjadi merah karenanya.
Sebagian dari penghuni istana juga sibuk sekali berusaha untuk memadamkan api itu.
Waktu itulah Sasana telah menoleh kepada Yo Him, katanya dengan suara yang berbisik.
"Inilah kesempatan baik untuk meloloskan kawan-kawanmu.......!"
Yo Him mengangguk menyetujui pendapat puterinya dari pangeran Ghalik tersebut.
Segera mereka telah berlari-lari ke istana di mana Cin Piauw Ho dan yang lainnya berada.
Namun di tempat itu Yo Him hanya menemui Cin Piauw Ho, Wang Put Liong dan Liu Ong Kiang.
Ko Tie tidak dilihatnya.
Segera juga dia menanyakan perihal anak itu.
Cin Piauw Ho bertiga juga menyatakan, ketika mereka melihat terjadinya kebakaran di bagian belakang istana pangeran Ghalik, mereka tidak melihat Ko Tie.
Mereka telah mencari-carinya, tetapi anak itu tidak juga berhasil mereka temui.....
Yo Him dan yang lainnya telah mencari beberapa saat, namun Ko Tie tetap tidak berhasil ditemui jejaknya.
Sedangkan Sasana telah mendesak agar mereka cepat-cepat berangkat.
Akhirnya, setelah tidak berhasil mencari Ko Tie, dengan hati yang masih bingung, terpaksa Yo Him mengajak kawan-kawannya itu untuk meninggalkan tempat tersebut.
Pintu gerbang istana tertutup dan di situ terdapat pengawalan yang ketat sekali.
Namun Yo Him dan Sasana berhasil menotok tubuh semua pengawal di tempat itu.
Yo Him yang telah membuka pintu gerbang, sedangkan Sasana telah mengambil tiga ekor kuda, di mana kuda-kuda tersebut yang sesungguhnya milik para pengawal pintu gerbang tersebut telah diserahkan kepada Cin Tiauw Ho, Wang Put Liong dan Liu Ong Kiang.
Yo Him hanya berkata.
"Wie Liang Tocu berada di sini, kau tidak perlu kuatir Liu Locianpwe, jika urusan di sini telah selesai, tentu aku bersama-sama deñgan Wie Liang Tocu akan menyusul ke markas Kay-pang."
Mendengar Wie Liang Tocu berada di dalam istana Pangeran Ghalik ini, Liu Ong Kiang jadi ragu-ragu untuk pergi, dia menyatakan ingin berdiam di sini menemui Wie Liang Tocu.
Namun Yo Him telah mendesaknya agar mereka segera menyingkir agar tidak menjadi beban yang cukup berat baginya.
Sebab jika memang Liu Ong Kiang gagal meloloskan diri berarti perhatian Yo Him akan terbagi, antara membantu Sasana dengan melindungi keselamatan orang ini.
Akhirnya Liu Ong Kiang mengerti juga, ketiga kuda itu telah dilarikan dan larinya kuda itu tidak dapat cepat karena Wang Put Liong dalam keadaan lemah, dan tangannya dalam keadaan terborgol.
Cuma saja sebentar kemudian kuda itu telah cukup jauh meninggalkan istana tersebut.
Cahaya api yang kemerah-merahan terlihat bayangannya, tampak di belakang ke tiga orang itu ketika mereka berada di mulut lembah.......
Yo Him dan Sasana sendiri setelah melihat Liu Ong Kiang bertiga bersama Cin Piauw Ho dan Wang Put Liong lenyap dari pandang mereka, segera ke duanya kembali ke belakang istana.
Di tempat itu terjadi kekalutan, beramai-ramai orang tengah berusaha memadamkan api.
Yo Him dan Sasana membantu mereka untuk memadamkan kobaran api.
Akhirnya, seperminuman teh, apipun berhasil dipadamkan walaupun masih terlihat di sana sini kobaran api yang kecil, tokh itu sudah tidak membahayakan lagi.
Sedangkan di tempat pertempuran masih terjadi pertempuran yang kalut sekali.
Swat Tocu sudah berapa banyak membinasakan orang-orangnya Tiat To Hoat-ong.
Koksu itu sendiri telah menyingkir entah kemana, Gochin Talu yang masih melakukan perlawanan yang gigih pada dua orang pengemis anak buahnya Wie Liang Tocu.
Mereka bertempur dengan menpergunakan senjata tajam, dan pakaian Gochin Talu telah koyak-koyak.
Pangeran Ghalik pun sudah tidak terlihat.
Hek Pek Siang-sat yang mengawalnya pun tidak terlihat bayangannya.
Anak buah Tiat To Hoat-ong sangat banyak, mereka berada di mulut lembah, mereka mungkin lebih dari seratus orang semuanya membekal senjata tajam.
Dengan demikian, mereka pun mengandalkan jumlah yang banyak, walaupun kepandaian mereka tidak berapa, tokh berhasil untuk mendesak ke lima pengemis anak buahnya Wie Liang Tocu.
Dan di waktu itu mereka bertempur dengan membabi buta.
Lengky Lumi sendiri telah mempergunakan goloknya untuk menyerang dengan hebat pada Swat Tocu, dibantu oleh belasan orang pahlawan yang menjadi anak buahnya Tiat To Hoat-ong.
Namun karena kepandaian Swat Tocu mengebutkan tangannya, para pahlawan itu tidak bisa mendesak untuk mendekatinya.
Karena mereka terserang hawa yang sangat dingin, membuat tubuh mereka menggigil keras dan ada jago yang telah terbungkus oleh lapisan es.
Keadaan seperti ini telah berlangsung terus dengan korban-korban berjatuhan tidak terhitung.
Tidak lama kemudian tampak Wie Liang Tocu telah berlari-lari mendatangi, tampaknya Wie Liang Tocu gagal untuk membekuk pangeran Ghalik.
Setelah mengejarnya sekian lama, dia kehilangan jejak pangeran Ghalik.
Menyaksikan pertempuran yang kalut itu dan ke lima Pengemis yang datang bersamanya ada yang terluka, segera Wie Liang Tocu berseru.
"Angin keras......!" Ke lima pengemis itu mengiyakan, mereka mendesak pengepungnya lalu melompat ke dekat Wie Liang Tocu. Wie Liang Tocu sendiri menoleh kepada Yo Him.
"Yo Hiante, kau ikut serta?"
"Aku nanti menyusul Wie Toako......!"
Menyahuti Yo Him.
"Liu Locianpwe telah berhasil menyingkir dari istana ini, dia tengah menuju ke markas Kay-pang!"
Mendengar penjelasan itu. Wie Liang Tocu girang, dia menyahuti.
"Baiklah, kami menantikanmu di markas Kay-pang, Yo Hiante!"
Yo Him mengiyakan.
Begitulah, ke enam pengemis itu telah berlalu, mereka bekerja sama dan juga memiliki kepandaian yang tinggi, mudah buat mereka menyingkirkan diri dari tempat itu.
Sedangkan anak buah Tiat To Hoat-ong telah menyerbu kepada Yo Him dan Sasana.
Mereka telah menyerang dengan senjata yang tajam masing-masing.
Yo Him dari Sasana telah memberikan perlawanan sejenak.
Waktu memperoleh kenyataan pangeran Ghalik telah berhasil menyingkirkan diri dari tempat itu, Yo Him dan Sasana pun beranggapan tidak ada gunanya untuk berdiam terus di tempat ini.
Setelah merubuhkan dua orang lawannya lagi, Sasana dan Yo Him telah meninggalkan tempat itu untuk mencari pangeran Ghalik.
Swat Tocu masih mengamuk terus bersama Ciu Pek Thong.
Si tua jenaka yang berandal itu tampaknya gembira sekali, dia main tarik dan cabut rambut maupun kumis dari lawannya sambil tertawa hahaha, hehehe tidak hentinya.
Waktu itu korban yang berjatuh di tangan Swat Tocu banyak sekali.
Namun di saat dia hendak mengamuk terus, waktu itulah didengarnya suara pekik yang menyerupai erangan panjang suara dari biruang saljunya yang berada di luar istana.
Swat Tocu jadi balik pikir.
Setelah menghantam hancur dua batok kepala lawannya, dia menjejak tanah, tubuhnya melesat bagaikan anak panah cepatnya meninggalkan tempat tersebut.
Tinggal Ciu Pek Thong yang dikeroyok semakin ketat oleh kaki tangannya Tiat To Hoat-ong, karena tinggal dia seorang dan semua senjata telah menyambar-nyambar ke arahnya.
Ciu Pek Thong tertawa-tawa sambil katanya kemudian.
"Sudahlah! Sudahlah! Semua telah pergi! Kakek kalian juga tidak memiliki selera untuk main-main dengan kalian!"
Lalu Ciu Pek Thong menggerakkan ke dua tangannya, maka tampak lima sosok tubuh terpental jauh sekali terbanting di tanah sambil mengeluarkan suara jeritan yang keras sekali.
Lawan-lawannya yang lain jadi terdiam tertegun sejenak lamanya.
Ciu Pek Thong sendiri sambil tertawa hahahaha, hehehehe, dengan gerakan tubuh yang lincah dan gesit sekali, hanya beberapa kali loncat telah meninggalkan tempat tersebut dan lenyap dari penglihatan semua orang.
Di situ bergelimpangan sosok-sosok tubuh yang terluka dan mati, mereka ada yang merintih, dan juga yang mengerung-gerung sebab menahan sakit yang luar biasa.
Setelah melihat tidak ada lawan yang harus diserang lagi, para pahlawan istana pangeran Ghalik yang telah menjadi pengikutnya Tiat To Hoat-ong itu menolongi kawan-kawan mereka.
Lengky Lumi juga cepat-cepat mengeluarkan obat luka, di mana dia memakaikan pada luka-luka tubuhnya sendiri, kemudian membagikan kepada anak buahnya.
Gochin Talu sendiri telah perintahkan agar mereka meninggalkan tempat tersebut untuk pergi menemui Tiat To Hoat-ong......
Dalam waktu sekejap saja.
tempat itu jadi sepi dan sunyi, di mana tempat yang semula begitu ramai dengan pekik dan teriak yang mengandung nafsu membunuh.
Sekarang sunyi sepi hanya terdengar suara kutu malam belaka.......!"
Namun dengan terjadinya pertempuran seperti tadi, kini telah jelas batas-batas lawan dan kawan dan Pangeran Ghalik pun telah memperoleh bukti-bukti yang jelas mengenai pengkhianatan Tiat To Hoat-ong.
Dengan demikian hanyalah bagaimana Pangeran Ghalik mengatur langkah-langkah untuk mengatasi semua itu, untuk menumpas pengkhianatan Tiat To Hoat-ong dan orangorangnya yang sebagian besar jadi pengikutnya si Koksu itu.
Dañ juga pangeran Ghalik ingin segera berangkat ke kota raja, untuk memberikan laporan selengkapnya pada Kaisar......
◄Y► Sasana dan Yo Him telah berhasil bertemu dengan Pangeran Ghalik di sebuah ruangan rahasia, yang rahasia cara membuka ruangan itu cuma diketahui oleh pangeran Ghalik dan Sasana berdua.
Tadi waktu melihat pangeran Ghalik telah meninggalkan tempat terjadinya pertempuran, Sasana segera menduga bahwa ayahnya tentu telah pergi bersembunyi di ruangan rahasia bawah tanah yang terletak di tengah-tengah istana, di tempat yang agak tersembunyi.
Karena itu Sasana telah mengajak Yo Him pergi ke ruangan rahasia tersebut.
Dan memang dugaannya tepat, di mana mereka bertemu dengan pangeran Ghalik, yang waktu itu didampingi oleh Hek Pek Siang-sat dan enam orang pahlawan istana yang tetap setia pada pangeran ini.
Sesungguhnya terdapat ganjalan antara Yo Him dengan pangeran Ghalik.
Namun melihat pangeran Ghalik yang biasanya memiliki kekuasaan besar, agung dan berwibawa kini harus mengkeret bersembunyi di ruangan rahasia di bawah tanah ini, Yo Him jadi merasa kasihan juga.
Terutama sekali, pangeran inipun telah dikhianati oleh sebagian besar pengikutnya.
"Yo kongcu telah memberikan janjinya ayah, bahwa dia akan membantuku untuk melindungimu.....!"
Sasana telah menjelaskan pada pangeran Ghalik. Pangeran Ghalik mengucapkan terima kasihnya, sedangkan di dalam hatinya dia berpikir.
"Apakah pemuda she Yo ini memang benar-benar ingin bekerja di bawah perintahku, atau memang ia hanya pura-pura untuk melakukan penyelidikan perihal diriku, bukankah sekarang ini aku dalam keadaan lemah? Tidakkah mudah baginya jika memang dia hendak mencelakaiku? Tapi apa yang dipikirkannya itu tidak diutarakan pada wajahnya, pangeran Ghalik tersenyum manis dan ramah sekali.
"Apa rencana ayah berikutnya untuk menghadapi keadaan seperti ini?' tanya Sasana lewat beberapa saat lagi.
"Aku ingin berangkat ke kota raja, mungkin perjalanan ke sana memakan waktu dua bulan. Jika memang kita bisa tiba lebih dulu dari Koksu, maka kita bisa membeber semua ini pada Kaisar...... Namun jika Koksu tiba di kotaraja terlebih dulu dari kita, inilah yang benar-benar sulit, karena dia tentu telah melontarkan fitnah, sehingga berarti kita memperoleh kesulitan yang tidak kecil.....!"
Setelah berdiam sejenak dan menghela napas, pangeran Ghalik meneruskan perkataannya.
"Tapi aku yakin, Kaisar tentu tidak akan mempercayai sepenuhnya fitnah Koksu!"
Sasana mengangguk.
"Kukira pagi ini Tiat To Hoat-ong bersama pengikutnya akan berangkat meninggalkan istana ini, dan kita boleh segera meninggalkan tempat ini juga.......!"
"Tapi.....!"
Pangeran Ghalik tampak ragu-ragu, dia melirik kepada Yo Him, baru melanjutkan perkataannya.
"Bagaimana denganYo kongcu?" "Aku telah memberikan janjiku pada puterimu untuk melindungimu, maka kupikir setiba di kota raja, selesailah tugasku!"
Menyahut Yo Him. Pangeran itu tersenyum getir. Dia tidak bilang apa-apa, hanya menoleh kepada puterinya tanyanya.
"Lalu bagaimana dengan gurumu?"
Yang dimaksudkan pangeran Ghalik adalah Çiu Pek Thong, si tua berandalan yang jenaka itu.
"Tadi kami tinggalkan dia di saat pertempuran masih berlangsung, entah sekarang dia telah kembali ke tempatnya apa belum......!"
"Selama ini di mana kau sembunyikan gurumu sehingga aku sendiri tidak mengetahui bahwa kau diam-diam tengah mempelajari ilmu silat yang tinggi dari orang she Ciu itu?"
Tanya pangeran Ghalik.
"Di kamarku......!"
Menyahut Sasana terus terang.
"Suhu gemar sekali mendengari cerita-cerita, maka jika aku telah menceritakan sebuah dongeng padanya, maka dia menghadiahkan aku satu jurus ilmu silatnya, begitu seterusnya.....!"
"Hemmm, bagaimana cara kalian bertemu?"
Tanya pangeran Ghalik lagi.
"Itulah terjadi secara kebetulan sekali. Waktu itu aku bersama dengan beberapa orang dayang tengah berada di luar istana untuk menangkap burung di lembah. Ternyata di lembah itu burungburung telah jadi jinak sekali, entah mengapa. Padahal hari-hari sebelumnya burung-burung tersebut merupakan burung-burung yang liar. Hal ini mengherankan, kami menyelidikinya. "
Setelah setengah harian menyelidiki, ternyata burung-burung tersebut dipelihara oleh seseorang, yang melatihnya dengan baik, sehingga boleh dibilang burung di lembah jinak semuanya.
Orang itu tidak lain adalah suhu, Loo-boan-tong......!"
Diapun senang bersahabat denganku, dia menanyakan apakah aku memiliki cerita-cerita yang menarik.
Karena melihat dia bukan orang sembarangan yang tentunya memiliki kepandaian yang tinggi, aku telah menceritakan dua buah dongeng padanya.
"Ternyata dia puas. Dan minta diceritakan lagi dongeng lainnya. Tapi aku bilang padanya, aku letih dan ingin istirahat. Maka dia telah ikut ke istana..... selanjutnya setiap kali aku selesai berdongeng, dia menghadiahkan aku satu jurus ilmu silatnya, dan secara berangsur-angsur, akhirnya seluruh kepandaiannya telah diwariskan kepadaku! "
Cuma saja, ilmu Suhu demikian luar biasa.
Latihanku yang belum begitu sempurna tentu sulit untuk menguasainya dengan baik.
Suhu mengatakan, sedikitnya aku masih memerlukan waktu lima tahun untuk berlatih diri......!"
"Jadi kalian angkat guru dan murid itu tidak secara resmi?"
Tanya pangeran Ghalik.
"Waktu itu memang tidak,"
Menyahuti Sasana.
"Tetapi ketika Suhu ingin menuturkan ilmu Kong-beng-kun, dia mengatakan ilmu ini tidak bisa diturunkan pada orang yang bukan muridnya dan selamanya diapun memang tidak pernah menerima murid secara resmi. Setelah kubujuk, akhirnya dia bersedia diangkat menjadi guruku, maka resmilah aku sebagai muridnya, ayah!" Pangeran Ghalik mengangguk sambil menghela napas.
"Tapi sama sekali tidak kusangka bahwa akan terjadi penghianatan Tiat To Hoat-ong seperti sekarang ini.....! Sayangnya, aku mengambil tindakan yang kurang cepat, sehingga dia bisa menghimpun kekuatan yang tidak kecil..... Jika dulu waktu aku menerima laporan mengenai maksud dan rencana busuknya yang ingin menindih pengaruhku itu, dan segera aku bertindak, tentu tidak akan terjadi peristiwa seperti sekarang ini.....!"
Dan pangeran Ghalik telah menghela napas beberapa kali. Hek Pek Siang-sat waktu itu telah ikut berkata suara parau mereka.
"Pangeran, apakah tidak lebih baik jika kita berangkat sekarang saja?"
Pangeran Ghalik mengangguk.
"Pergilah kalian menyelidiki keadaan di luar dulu!"
Perintah pangeran Ghalik.
"Apakah Koksu dan kaki tangannya telah meninggalkan istana atau belum!"
Hek Pek Siang-sat terima perintah dan segera mereka berlalu.
Tidak lama kemudian mereka telah kembali mengatakan bahwa istana sangat sepi boleh dibilang menyerupai istana kosong belaka.
Karena Tiat To Hoat-ong telah mengajak semua kaki tangannya meninggalkan istana.
Pangeran Ghalik menghela napas.
Dia pun perintahkan untuk mempersiapkan kuda dan perbekalan.
Karena mereka begitu fajar menyingsing akan segera berangkat menuju ke kota raja.
Selama itu Yo Him sendiri tenggelam dalam pikirannya sendiri karena dia tengah memikirkan entah kemana perginya Ko Tie.
Waktu Sasana menanyakan padanya, mengapa dia hanya melamun belaka, pemuda ini telah menceritakan perihal lenyapnya Ko Tie membuat dia tidak tenang, karena dia yakin bocah itu tentu masih berada di sekitar istana ini.
"Jika begitu, mari kita pergi mencarinya!"
Ajak Sasana.
Yo Him setuju, maka sambil menantikan keberangkatan mereka meninggalkan istana.
Sasana berdua Yo Him telah mencari Ko Tie di sekitar istana ini.
Dan mereka memperoleh hasil yang nihil karena memang Ko Tie seperti lenyap masuk ke dalam perut bumi......
Dengan muka muram, akhirnya Yo Him dan Sasana kembali ke kamar rahasia di bawah tanah.
Waktu itu Hek Pek Siang-sat telah mempersiapkan perbekalan mereka.
Dan rombongan itupun berangkatlah meninggalkan istana tersebut, yang telah sunyi sekali.
Beberapa orang pengurus dapur dan juga pelayan-pelayan wanita telah dipesan oleh pangeran Ghalik agar mengurus istana ini baik-baik selama pangeran tersebut meninggalkannya.
Perjalanan ke kota raja bukanlah perjalanan yang dekat harus memakan waktu dua bulan lebih.
Dan juga perjalanan menuju ke kota raja harus melewati dua propinsi Siam-say dan Kiang-po.
Waktu itu, pangeran Ghalik boleh dibilang sudah lenyap setengah semangatnya karena ia memikirkan betapa sebagian besar dari pengikutnya dan orang-orang kepercayaannya telah berpihak pada Tiat To Hoat-ong.
Bahkan beberapa orang tawanan penting pangeran Ghalik telah dibebaskan oleh Tiat To Hoat-ong, dan mengambil orang-orang itu untuk dijadikan kaki tangannya.
Sasana berulang kali menghibur ayahnya, dan puterinya itu mengatakan, jika mereka telah menghadap Kaisar, tentu pengkhianatan Tiat To Hoat-ong dapat dibeber dan nanti Kaisar akan mengambil tindakan yang semestinya pada Koksu negara terebut.....
Sepanjang perjalanan, pangeran Ghalik lebih banyak berdiam diri saja.......
◄Y► Kemanakah perginya Ko Tie, yang tidak berhasil ditemui jejaknya oleh Yo Him?
Ternyata, ketika Swat Tocu memasuki istana pangeran Ghalik, dia meninggalkan biruang saljunya di luar istana.
Dan setelah menantikan sekian lama, Swat Tocu masih belum kembali.
Biruang Salju itu tampaknya jadi tidak sabaran, diapun jadi iseng dan dengan lompat yang ringan telah masuk ke dalam istana.
Setelah mutar ke sana ke mari, kebetulan dia melihat Ko Tie yang tengah berdiri di depan pintu dari ruangan, di mana dia bersama Cin Piauw Ho dan yang lainnya di tempatkan.
Ko Tie mengenali biruang saljunya Swat Tocu, anak ini jadi girang, dia menghampirinya dan bermain-main dengan biruang salju itu.
Tapi tidak disangkanya, si biruang salju telah melibat pinggangnya dan anak itu dibawa berlari-lari keluar istana lagi!
Semula Ko Tie memang merasa takut, tapi setelah tiba di luar istana, biruang salju itu menggesek-gesekkan kepalanya pada punggung Ko Tie, tampaknya bersahabat sekali.
Ko Tie pun gembira bisa bermain dengan biruang salju yang luar biasa ini.
Mereka berdua, biruang dan si bocah, sama sekali tidak mengetahui bahwa di dalam istana tersebut sesungguhnya tengah berlangsung pertempuran yang hebat sekali, dan juga Swat Tocu waktu itu tengah mengamuk hebat.
Hanya saja akhirnya mereka melihat kobaran api, yang menunjukkan bagian belakang istana pangeran Ghalik tengah terbakar.
Biruang Salju semula hendak melompat masuk ke dalam istana, namun akhirnya dia batal sendirinya, hanya mengeluarkan suara erangan perlahan sekali menggerakkan kepalanya di punggung Ko Tie.
Lama mereka menanti, Swat Tocu belum kembali.
Sampai akhirnya biruang salju itu memekik dengan suara erangan yang panjang dan keras sekali.
Suara erangan itulah yang telah menyebabkan Swat Tocu meninggalkan lawan-lawannya, dan telah keluar dari istana tersebut.
Ketika melihat biruang salju tidak mengalami sesuatu, hatinya jadi lega karena semula waktu mendengar suara erangan binatang peliharaannya itu, dia menduga bahwa biruang saljunya tengah menghadapi bahaya.
Dan dia jadi heran dan girang ketika melihat Ko Tie berada bersama-sama dengan biruang saljunya.
Merekapun segera berangkat meninggalkan tempat itu, di mana Ko Tie sudah tidak bisa tawar menawar lagi harus ikut serta bersama Swat Tocu.
Beberapa kali Ko Tie berusaha untuk memberikan penjelasan pada Swat Tocu bahwa dia harus pamitan dulu pada Yo Him dan yang lainnya, namun Swat Tocu tidak mengacuhkan permintaan si bocah, yang telah digendongnya terus dan dibawa berlari dengan çepat sekali......
Biruang salju itu pun sebentar-sebentar mengeluarkan pekiknya, pekik girang karena selanjutnya dia akan memperoleh sahabat yaitu Ko Tie......
Swat Tocu ternyata menyukai Ko Tie yang dilihatnya bahwa anak ini selain memiliki bakat yang baik, pun merupakan seorang bocah ajaib, yaitu Sin-tong, yang jarang terdapat pada bocah-bocah lainnya.
Karena Ko Tie selain memiliki tulang yang bagus, otot-otot yang berisi dan padat sekali, juga memiliki bahan yang baik untuk digembleng ilmu silat.
Swat Tocu sering merabah-rabah dan mengurut tubuh Ko Tie agar seluruh jalan darah anak itu terbuka dan lancar, karena selama merabah itulah, Swat Tocu jadi memperoleh kenyataan Ko Tie memang memiliki tulang yang bagus sekali.
Dengan demikian Swat Tocu jadi tambah menyukai Ko Tie.
Ko Tie sendiri selama dalam perjalanan selalu merengek minta pada Swat Tocu agar di pertemukan lagi dengan Yo Him.
Begitu juga ketika mereka berada di sebuah pinggiran kampung yang sunyi, Ko Tie telah berkata.
"Paman, mengapa aku dibawabawa olehmu..... Tidakkah kau kasihan padaku, nanti paman Yo tentu bingung dan mencari-cariku! Satu kali saja kau pertemukan kami setelah memberitahukan paman Yo, maka selanjutnya engkau hendak mengajakku kemana saja aku tentu tidak akan banyak rewel lagi." Swat Tocu telah tertawa sambil katanya.
"Engkau terlalu rewel.....! Hmm apakah kau kira mudah seorang anak yang ingin ikut serta bersama-sama denganku? Tidak mudah! Tidak semudah itu. Banyak syarat-syaratnya!"
Ko Tie yang waktu itu berada di punggung biruang salju, telah menoleh.
"Syarat-syarat?"
Tanyanya.
"Syarat-syarat apakah itu?"
Swat Tocu memperdengarkan tertawanya.
"Tentu saja syarat-syarat yang kuberikan, dengan demikian, jika seorang anak bisa memenuhi syarat-syaratku itu tentu ia baru bisa ikut bersamaku!"
Sahutnya.
"Apakah syarat-syaratnya itu, paman?"
Tanya Ko Tie.
"Tidak berat, tapi yang pertama-tama anak itu harus merupakan seorang Sin-tong, seorang anak ajaib!"
Menyahuti Swat Tocu.
"Sin-tong? Apakah itu, paman?"
Tanya Ko Tie tambah tidak mengerti.
"Lalu apa bedanya seorang anak biasa dengan seorang Sin-tong?"
"Bedanya besar sekali!"
Menyahuti Swat Tocu.
"Ayo kau turun dulu, duduk di sini. Aku akan menceritakan segalanya padamu, sambil kita beristirahat!" Sedang biruang salju itu telah menurunkan Ko Tie dari punggungnya waktu Ko Tie menepuk bahunya sambil katanya.
"Turunkanlah aku, sahabatku.....!"
Setelah duduk di dekat Swat Tocu, yang waktu itu telah duduk di bawah sebatang pohon, Ko Tie bertanya lagi.
"Coba paman tolong jelaskan, apa bedanya seorang anak biasa dengan seorang anak yang disebut Sin-tong!"
Swat Tocu mengangguk.
Sesungguhnya tokoh persilatan yang awet muda dan memiliki kepandaian yang tinggi sekali dan memiliki ilmu andalan tenaga Inti Es itu memiliki adat yang aneh sekali, ku-koay bukan main.
Namun terhadap Ko Tie.
entah mengapa sifat ku-koaynya itu jadi hilang dan senang sekali dia bercerita pada anak ini yang memang disukainya.
"Seorang anak Sin-tong tentu saja memiliki tulang dan bakat seperti halnya anak-anak biasa lainnya. Tetapi Sin-tong, seorang anak ajaib, tentu memiliki kelainan, selain tulangnya yang bagus, juga otot-ototnya yang baik, dan memiliki bakat yang sangat baik untuk menerima pelajaran ilmu silat.....!"
"Hemmmm, jika memang demikian, tentunya anak itu seorang anak yang sangat luar biasa sekali.....!"
Kata Ko Tie. Swat Tocu mengangguk.
"Ya.....! Memang begitu. Memang begitu!"
Menyahuti Swat Tocu.
"Itulah memang anak yang luar biasa dalam segala-galanya." "Lalu mengapa aku diijinkan oleh paman untuk ikut serta, malah paman yang telah membawaku dan tidak mengacuhkan permintaanku agar mempertemukan dulu antara aku dengan paman Yo?!"
Swat Tocu tersenyum, katanya sabar.
"Justru engkau seorang anak yang patut disebut Sin-tong!"
"Apa, paman.....?"
Tanya Ko Tie heran dan agak terkejut.
"Aku..... aku seorang Sin-tong?!"
Swat Tocu mengangguk.
"Ya, memang demikian adanya!"
Kata Swat Tocu.
"Kulihat engkau memiliki tulang yang bagus, memiliki otot-otot yang baik dan bakat yang sangat cemerlang. Jika memang engkau memperoleh bimbingan yang baik, tentu engkau akan memperoleh kemajuan yang pesat untuk mempelajari ilmu silat tingkat tinggi!"
Ko Tie jadi memandang bengong kepada Swat Tocu, sampai akhirnya dia bertanya.
"Tapi paman..... dalam hal ini......!"
"Dalam hal ini apa?!"
Tanya Swat Tocu sambil memandangi anak itu.
"Menurut pendapatku, apa yang paman duga mengenai diriku tentunya tidak tepat. Aku seorang anak yang biasa saja, seorang anak yang tidak memiliki keluar biasaan..... Akupun merupakan seorang anak yang berasal dari keturunan yang miskin, anak yatim piatu, di mana ke dua orang tuaku sudah tiada, dan aku hidup terlunta-lunta mengandalkan belas kasihan! "
Dulu aku telah ditolong oleh pamanku, yang diajak untuk berkelana, sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita sinting yang selalu menggendong-gendong mayat bayi, yang menurut keterangan pamanku bergelar Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan.
Sampai akhirnya aku telah dipaksa untuk menjadi pelayan, untuk menggendong-gendong mayat bayinya yang telah dikeraskan dan diawetkan itu.
Sungguh menyeramkan sekali!"
Untung saja datang paman Yo yang segera menolongku, di mana akhirnya untuk selanjutnya aku hanya mengikuti saja kemana paman Yo Him pergi, ke sanalah aku pergi!
Maka tidak benar apa yang dikatakan oleh paman, bahwa aku adalah seorang Sin-tong yang memiliki keluarbiasaan-keluarbiasaan yang paman katakan tadi!"
Swat Tocu tersenyum.
"Ko Tie,"
Katanya.
"Engkau bicara sebenarnya, itu dapat kumaklumi. Tapi engkau mana mengetahui keadaanmu yang sebenarnya? Justru aku yang telah melihatnya, bahwa engkau memang merupakan seorang Sin-tong. Seorang anak mujijat yang ajaib sekali, yang memiliki banyak keluarbiasaan yang tidak terdapat pada anak-anak lainnya!"
Ko Tie jadi terdiam, tampaknya anak ini tengah berpikir.
"Apa yang kau pikirkan??"
Tanya Swat Tocu sambil tertawa.
"Aku sedang teringat pada keadaan ayah dan ibu, yang telah meninggal dunia. Keadaan kami waktu itu pun miskin sekali! Hai, hai, betapa aku seorang anak yang malang sekali, tapi meñgapa paman mengatakan bahwa aku seorang anak yang memiliki bakat yang bagus, tulang yang baik, dan juga sebagai Sin-tong! Sungguh membuat aku benar-benar tidak mengerti!"
"Mengapa kau tidak mengerti?!"
"Seorang anak yang malang nasibnya, apakah memang benar dapat merupakan seorang Sin-tong yang memiliki keluar biasaan seperti yang dikatakan oleh paman?"
"Tentu saja bisa terjadi. Memang tidak dalam sepuluhribu anak terdapat seorang Sin-tong, karena itu, kau merupakan seorang anak yang baik, jika engkau memperoleh bimbingan seorang guru yang pandai. Tentu engkau kelak akan manjadi manusia yang sangat berguna sekali!"
Ko Tie telah mengawasi Swat Tocu beberapa saat lamanya, sampai akhirnya anak ini telah berkata lagi dengan sikap yang ragu-ragu.
"Paman ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada paman. Entah boleh kutanyakan atau tidak dan kau akan marah atau tidak, paman?"
"Mengapa aku harus marah? Pertanyaan apa yang ingin kau ajukan?"
Tanya Swat Tocu sambil tertawa lebar.
"Nah, kau tanyalah, jika memang mengetahui tentu aku akan menjawab dengan sebenarnya."
"Paman, sesungguhnya..... sesungguhnya, apakah paman mengajakku selalu bersamamu?"
Tanya Ko Tie. maksud Swat Tocu tidak segera menyahuti, dia menunduk memandang pada pakaiannya yang diperhatikan sesaat lamanya, kemudian baru mengangkat kepalanya mengawasi Ko Tie. Tanyanya.
"Ko Tie, kau lihat pakaianku ini?"
Ko Tie mengangguk.
"Tentu engkau melihat aku berpakaian seperti ini yang tidak karuan macam, tentunya kau beranggapan bahwa aku seorang yang tidak mempunyai harta dan benda seorang yang miskin, dan juga sampai pakaian saja tidak ada. Itukah yang memberatkan hatimu selama ini untuk ikut bersamaku?"
Ko Tie menggeleng.
"Bukan!"
Sahutnya.
"Aku hanya tidak mengetahui mengapa paman justru mengajakku bersama-sama denganmu, sedangkan tampaknya paman tengah memiliki urusan yang penting di istananya pangeran Ghalik!"
Swat Tocu tersenyum.
"Memang aku telah datang kembali ke istananya pangeran Ghalik ingin menghajar si pendeta gundul yang menjadi Koksu negara. Dia memang memiliki kepandaian yang tinggi dan ilmu andalan yang agak aneh, namun sayangnya kurang latihan, di mana ilmunya yang luar biasa itu belum dilatih sempurna."
"Apakah paman bermusuhan dengannya?"
Tanya Ko Tie.
"Tidak!"
Swat Tocu menjawab.
"Aku hanya ingin mengetahui berapa tinggi kepandaian yang dimiliki Koksu itu! Dan sesungguhnya aku memang tidak mempunyai urusan lainnya lagi, karena itu, melihat kau, aku jadi tertarik dan membawamu serta. Apa kau tidak senang dengan maksudku hendak mengajakmu pesiar ke sebuah tempat yang indah, yang tidak mungkin dilihat oleh sembarangan orang?!"
"Paman hendak mengajakku pesiar ke suatu tempat yang indah? Tempat apakah itu, paman?"
Tanya Ko Tie.
"Hmm nanti akan kujelaskan!"
Kata Swat Tocu.
Dan waktu itu mukanya telah berubah keren sekali, Swat Tocu juga menggeser duduknya jadi tegak menghadapi Ko Tie dengan tatapan mata yang tajam sekali, bagaikan dari bola matanya itu memancar kilatan api.
"Sekarang kau katakan yang jujur, jika ada orang yang pandai dan memiliki kepandaian tinggi yang hendak mengambil kau sebagai muridnya untuk dididik agar kau menjadi seorang yang berguna dan memiliki kepandaian yang tinggi, apakah kau bersedia menerima maksud baik orang itu atau memang akan menolaknya?"
Ko Tie bingung menghadapi pertanyaan seperti itu, dia telah mengawasi Swat Tocu beberapa saat, sampai akhirnya dia telah menundukkan kepalanya.
"Aku..... aku seorang anak yang berasal dari keluarga miskin dan juga tidak memiliki sanak saudara...... sebagai anak yatim piatu apakah bisa memiliki keberuntungan sebagai itu?!" "Hmmm, kau bukannya menjawab pertanyaanku, malah mengoceh yang tidak-tidak!"
Kata Swat Tocu.
"Sekarang kau jawab dulu pertanyaanku!"
Ko Tie bersenyum, katanya.
"Tentu saja aku akan berterima kasih sekali jika ada orang yang menaruh kasihan dan sayang padaku seperti itu..... Perhatian yang diberikannya tentu saja harus dihargai!"
Swat Tocu tersenyum, tampaknya dia puas oleh jawaban yang diberikan Ko Tie.
"Baiklah, sekarang kau jawab pertanyaanku!"
Kata Swat Tocu.
"Apakah kau bersedia untuk menjadi muridku?!"
"Apa...... apa paman?"
Tanya Ko Tie kemudian dengan suara tergagap.
"Aku bertanya kepadamu, apakah engkau bersedia menjadi muridku?"
Ko Tie memang cerdik, tapi walaupun dia mengetahui Swat Tocu adalah tokoh persilatan yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, dia juga pernah menyaksikan Yo Him bersikap hormat sekali pada Swat Tocu, dan biarpun telah sanggup menerima tiga jurus serangan Swat Tocu, tokh Yo Him sesungguhnya berada di bawah tingkat kepandaian Swat Tocu.
Sekarang Swat Tocu hendak mengangkat dirinya menjadi murid bukankah hal itu menggémbirakan sekali?
Namun yang membuat Ko Tie jadi berat perasaannya, yaitu dia belum bertemu dengan Yo Him.
Swat Tocu mengawasi tajam pada anak ini dia melihat anak itu hanya bengong saja, tidak menjawab pertanyaannya, maka akhirnya Swat Tocu telah bertanya.
"Bagaimana? Apakah engkau menerima tawaranku itu?"
Ko Tie akhirnya mengangguk, tahu-tahu dia telah menekuk kakinya berlutut di hadapan Swat Tocu, katanya.
"Jika memang paman memandangku demikian tinggi, tentu saja aku berterima kasih sekali. Sedangkan untuk meminta saja agar diterima menjadi muridmu aku tidak berani....., tapi paman sekarang telah menawarkan. Bukankah itu merupakan suatu yang sangat sulit sekali untuk dibalas walaupun sampai menjelang akhir hidupku?!"
"Ha, engkau bicara seperti seorang kakek-kakek saja!"
Kata Swat Tocu.
"Ayo bangun! Ayo bangun! Akupun menyukaimu, maka jika engkau bersedia menjadi muridku tentu aku senang menerima kau menjadi muridku!"
Ko Tie telah bangun dari berlututnya, dia berkata dengan raguragu.
"Tadi paman telah mengatakan bahwa untuk selamanya bersama denganmu seorang aku harus memiliki syarat-syarat tertentu, syarat pertama telah paman sebutkan lalu syarat-syarat apa lagi yang lainnya?"
"Hmm, itulah syarat-syarat yang mengharuskan seorang anak memiliki bakat yang baik, tulang yang baik dan sebagai seorang Sin-tong. Disamping itu juga, harus memiliki kecerdasan yang baik, dapat menghormati guru sebagai pengganti orang tua, tidak boleh membantah perkataan guru, tidak boleh mengkhianati pintu perguruannya.
"Dan jika memang melanggar salah satu dari larangan yang telah kusebutkan itu, maka murid itu tentu akan menerima hukuman yang berat. Untuk urusan lainnya, mengenai tidak boleh melakukan tindak kejahatan, belum kau mengerti walau kujelaskan di sini, maka jika kelak kau sudah lebih dewasa, aku akan menyebutkannya satu demi satu lebih terperinci."
Ko Tie mengangguk.
"Jika memang demikian syarat-syarat yang paman katakan itulah demi kebaikan,"
Kata Ko Tie kemudian.
"Ya, memang begitu maksudnya!"
Menyahuti Swat Tocu.
"Lalu, kau bersedia untuk mematuhi semua syarat-syarat itu?!"
Ko Tie mengangguk dan berlutut lagi, dia memanggil.
"Suhu!"
Dan anak itu telah mengangguk-anggukkan kepalanya sembilan kali. Waktu itu, Swat Tocu telah mengangkat Ko Tie agar berdiri, katanya.
"Mulai sekarang kau telah menjadi muridku dan kaupun akan mewarisi kepandaianku! Seumur hidupku belum pernah menerima murid. Jadi engkau merupakan muridku yang pertama juga yang terakhir sebab memang aku hanya menghendaki seorang murid tunggal belaka! "
Secara kebetulan sekali aku menemukan bahan yang baik seperti kau, maka aku puas!
Asal kau harus rajin-rajin dan tekun belajar, dan kita akan kembali ke pulauku, di sana kita akan hidup dengan tenang dan kau bisa mempelajari ilmu silat yang akan kuwarisi sebaik mungkin......!"
Ko Tie mengucapkan terima kasihnya dan juga berjanji akan belajar dengan rajin.
Sedangkan Swat Tocu telah berdiri, dia memberikan isyarat kepada biruang saljunya yang menghampirinnya.
Kemudian Ko Tie diangkat oleh Swat Tocu, di mana anak tersebut telah didudukkan di punggung biruang salju itu.
"Mari kita meneruskan perjalanan kita untuk mencapai pulau tempat kediamanku, mungkin akan memakan waktu perjalanan selama dua bulan lebih......"
Ko Tie yang duduk di punggung biruang salju telah mengiyakan.
Dan waktu Swat Tocu berlari dengan cepat, kala itu biruang salju itupun telah berlari dengan gesit mengikuti dari belakangnya.
Begitulah, Swat Tocu telah melakukan perjalanan dengan mengajak biruang salju dan Ko Tie untuk kembali ke pulau tempat kediamannya, di mana Swat Tocu memang bermaksud untuk mendidik Ko Tie agar anak itu telah kelak menjadi seorang pendekar yang memiliki kepandaian yang tinggi dan sakti......
◄Y► Sepanjang perjalanan yang dilakukan olah pangeran Ghalik ternyata tidak selancar apa yang diduga sebelumnya, karena mereka selalu menemui berbagai kejadian yang menghambat perjalanan mereka.
Seperti pada waktu itu, rombongan pangeran Ghalik, yang terdiri Hek Pek Siang-sat, Sasana, Yo Him dan enam orang pahlawan pangeran Ghalik tengah beristirahat di sebuah rumah penginapan di kota Kiu-san-kwan.
Kota itu memang tidak terlalu besar, namun cukup penting, karena banyak para pedagang dari daerah Ho-pak dan Ho-lam yang ingin menuju ke Siam-say harus melewati daerah tersebut.
Memang terdapat jalan lain, yang lebih jauh dan harus memutar, disamping itu jalur jalan yang satu itu pun tidak aman sering terjadi perampokan.
Karena itu, banyak sekali para pedagang yang memilih jalur jalan di kota Kiu-san-kwan sebagai jalur lintas mereka yang lebih dekat dan aman.
Dengan demikian, jelas betapa kota itu selalu kebanjiran para pengunjung yang terdiri dari para pedagang keliling maupun juga para pelancong yang ingin pesiar ke berbagai daerah yang berdekatan.
Pangeran Ghalik sendiri telah berpakaian sebagai rakyat jelata untuk menghindarkan perhatian dari orang di sepanjang jalan.
Terlebih lagi perjalanan menuju ke kota raja memang dilakukan mereka dengan cepat, jika tidak perlu tentu mereka tidak beristirahat.
Kalau memang kuda-kuda mereka telah lelah dan juga para penunggangnya itupun letih sekali, barulah mereka singgah di suatu tempat untuk beristirahat.
Adalah keinginan pangeran Ghalik, untuk tiba di kotaraja dalam waktu yang secepat-cepatnya, agar dapat melaporkan segalanya peristiwa yang terjadi pada Kaisar.
Yang terutama sekali pangeran Ghalik kuatir kalau Tiat To Hoat-ong dapat tiba terlebih dulu di kota raja, sehingga Koksu itu bisa lebih dulu memberikan laporan palsu memfitnah pangeran Ghalik.
Di kota Kiu-san-kwan mereka beristirahat di sebuah rumah penginapan yang cukup bagus bertingkat dua.
Mereka mengambil empat buah kamar.
Pangeran Ghalik bersama para pengiringnya yang terdiri dari Hek Pek Siang-sat mengambil sebuah kamar yang besar, sedangkan Yo Him memperoleh sebuah kamar dan Sasana pun sebuah kamar.
Sedangkan ke enam orang pahlawannya pangeran Ghalik memperoleh sebuah kamar juga.
Mereka bermaksud untuk bermalam satu malaman di kota ini untuk melepaskan lelah karena besok menjelang fajar mereka segera akan melanjutkan perjalanan mereka.
Namun malam itu telah terjadi suatu peristiwa.
Waktu itu pangeran Ghalik dan Hek Pek Siang-sat belum lagi tidur, dan mereka tengah merundingkan untuk menghadapi Tiat To Hoat-ong, jika memang kelak mereka telah berdekatan dengan kota raja, karena pangeran Ghalik yakin, Tiat To Hoat-ong pasti akan menempatkan orangorangnya untuk menghadang mereka di tengah jalan.
Waktu pangeran Ghalik tengah membicarakan segala sesuatu rencananya itu untuk menghadapi Tiat To Hoat-ong, di luar rumah penginapan terdengar suara tambur yang dipukul nyaring sekali.
Seorang pelayan telah mengetuk pintu kamar pangeran Ghalik.
"Apakah toaya bisa memberitahukan bersama kalian terdapat pangeran Ghalik?"
Pelayan itu bertanya waktu Pek Siang-sat membuka pintu kamar. Muka Pek Siang-sat jadi berubah, dia terkejut dan heran pelayan itu mengetahui bersamanya ada pangeran Ghalik. "Siapa kau?"
Bentak Pek Siang-sat sambil menjambak baju di dada si pelayan yang dicengkeramnya dengan kuat.
"Darimana kau mengetahui bersama kami ada pangeran Ghalik?"
"Ampun Toaya..... aku... aku hanya diperintah oleh taijin di bawah itu...... Taijin itu mengaku dirinya datang dari istana Kaisar di kotaraja mencari pangeran Ghalik."
Muka Pek Siang-sat jadi berubah, dia melepaskan cengkeramannya.
Kemudian menutup pintu kamar melaporkan segalanya pada pangeran Ghalik.
Pangeran Ghalik sendiri jadi heran dan kaget.
Heran karena adanya utusan Kaisar yang datang mencarinya, sehingga dia ingin menduga apakah Kaisar telah menerima laporan Tiat To Hoatong?
Dan juga dia kaget karena menduga tentunya utusan Kaisar itu tidak mengandung maksud baik padanya.
Jika memang utusan Kaisar itu datang untuk menyambut dirinya atas perintah Kaisar, jelas akan membawa pasukan dan penyambutan tidak dilakukan di rumah penginapan seperti sekarang ini.
"Pergi kau tanyakan dulu siapa pembesar yang menjadi utusan Kaisar!"
Kata pangeran Ghalik kemudian pada Pek Siang-sat.
Pek Siang-sat mengiyakan, segera dia meninggalkan kamar itu.
Sedangkan Hek Siang-sat telah bersiap-siap berdiri di samping pangeran Ghalik, untuk menjaga segala kemungkinan guna melindungi junjungannya ini kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.
Sedangkañ keenam pahlawannya pangeran Ghalik telah mendengar ribut-ribut, segera keluar dari kamar mereka.
Dan juga mereka telah bersiap-siap berdiri di samping junjungan mereka.
Untuk menjaga suatu kemungkinan yang tidak mereka inginkan.
Pangeran Ghalik telah menoleh kepada salah seorang pahlawannya itu, katanya.
"Pergi kau memanggil Kuncu dan Yo kongcu!"
Pahlawan itu mengiyakan, dia pergi memanggil Sasana dan Yo Him, yang telah datang dengan cepat.
Belum lagi pangeran Ghalik sampai menceritakan suatu apapun pada Sasana, Pek Siang-sat telah kembali dengan wajah yang guram.
"Yang datang berkunjung Sim Thaykam dari istana, pangeran!"
Melapor Pek Siang-sat.
Muka pangeran Ghalik berubah.
Sim Thaykam atau, orang kebiri she Sim itu, yang biasanya dipanggil dengan sebutan Sim Kongkong merupakan Thaykam yang selalu mendampingi kaisar dan juga orang kepercayaan Kaisar.
Sekarang thaykam itu menemuinya di rumah penginapan, inilah urusan luar biasa dan jarang terjadi.
"Malah..... Sim Thaykam..... membawa firman!"
Melapor Hek Siang-sat lebih jauh.
"Hmm membawa firman?"
Tanya perasaannya semakin tidak tenang. pangeran Ghalik yang Pek Siang-sat membenarkan.
"Sim Thaykam perintahkan agar pangeran segera keluar menyambut firman!"
Kata Pek Siang-sat lebih jauh. Pangeran Ghalik menghela napas, kemudian dia menggumam.
"Hmm, jika dilihat demikian, tentunya Tiat To Hoat-ong telah mendahului kita tiba di kotaraja.....!"
Tetapi pangeran Ghalik dengan langkah lebar telah keluar dari kamar itu.
Ketika dia tiba di ruang bawah, benar saja dilihatnya Sim Thaykam tengah berdiri megah dengan sikap yang keagung-agungan, di pinggir kiri kanannya tampak dua orang Thaykam muda yang masing-masing memegang sebuah tambur berukuran tidak begitu besar.
Pangeran Ghalik segera menghampiri Thaykam itu, dia telah membungkukkan tubuhnya menjura kepada Sim Thaykam, katanya.
"Ada perintah apakah dari Kaisar sampai Sim Kong-kong menemuiku ke mari?"
Tetapi muka Sim Thaykam tetap dingin karena dia hanya memperlihatkan senyuman ketus dan matanya memandang tajam sekali.
Berbeda dengan sebelumnya, di mana Sim Thaykam sangat menghormati pangeran Ghalik.
Karena jika ingin dibandingbandingkan, pangkat Sim Thaykam tidak berarti banyak buat seorang pangeran yang memiliki kekuasaan yang sangat besar terhadap angkatan Perang Mongolia seperti pangeran Ghalik.
"Apakah kau tidak mau segera berlutut untuk menerima firman Kaisar?!"
Bentak Sim Thaykam dengan suara yang dingin. Tentu saja hal ini tidak diduga oleh pangeran Ghalik, bahwa Sim Thaykam akan bersikap kurang ajar seperti itu padanya.
"Hmm, menerima firman Kaisar?!"
Tanya pangeran Ghalik dengan suara yang dingin juga tidak senang oleh sikap Thaykam tersebut.
"Baik! Mengenai penerimaan firman aku tentu mengetahui caranya harus bagaimana, kukira tidak perlu Sim Kong-kong menjelaskan lagi kepadaku.....! Tapi sekarang yang ingin kutanyakan kepada Sim Kong-kong, apakah demikian sikap seorang Thaykam yang tengah berhadapan dengan seorang Panglima Terbesar dari seluruh angkatan perang?"
Sim Thaykam memperdengarkan suara mendengus dingin, katanya.
"Panglima Terbesar dari seluruh angkatan?"
Katanya dengan suara yang tawar sekali, dan berulang kali mendengus tertawa dingin, baru kemudian melanjutkan perkataannya lagi.
"Firman kaisar akan segera dibaca, berlututlah!"
Membarengi dengan perkataan Sim Thaykam, segera juga ke dua orang Thaykam muda berdiri di sisi kiri dan kanan Sim Thaykam telah memukul tambur mereka, suaranya bertalu-talu nyaring sekali.
Sedangkan Sim Thaykam telah mengeluarkan segulungan kertas, diangkat tinggi-tinggi, teriaknya dengan suara yang lantang.
"Firman Kaisar akan segera dibacakan. Harap diterima sebagaimana layaknya!"
Walaupun mendongkol dan gusar, tokh pangeran Ghalik tidak berani main-main dengan firman Kaisar.
Dia telah menekuk ke dua kakinya berlutut untuk menerima Firman.
Segera juga Sim Thaykam telah membacakan firman itu dengan suara yang nyaring!
"Kaisar telah memutuskan seluruh kekuasaan yang berada di tangan Pangeran Ghalik diambil alih keseluruhannya sampai persoalannya dapat diselesaikan.
Dan pangeran Ghalik, diperintahkan untuk segera menghadap ke istana.
Firman ini dikeluarkan untuk menjaga keamanan negara dan jika pangeran Ghalik menolak firman ini akan segera diambil tindakan yang jauh lebih tegas lagi."
Lantang dan nyaring sekali suara Thaykam itu, sedang tubuh pangeran Ghalik yang tengah berlutut itu bergemetaran.
Walau di dalam firman tersebut tidak disebut-sebut mengenai salah dan dosanya pangeran tersebut, tapi jelas dengan dicopot seluruh kekuasaannya oleh Kaisar, untuk selanjutnya dirinya akan mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan......!
Sim Thaykam waktu itu telah berkala lagi.
"Dan kami harap pangeran bersedia untuk ikut bersama kami tanpa menimbulkan kerusuhan!"
Muka pangeran Ghalik berubah pucat.
Diapun mendongkol dan penasaran bukan main, karena seumur hidup dia berjuang bersungguh-sungguh untuk negeri dan Kaisar, bahkan atas usahanya, Mongolia kini pun telah berhasil menduduki Tiong-goan.
Semua itu merupakan jasanya yang tidak kecil karena pangeran Ghalik berhasil untuk mengadu domba para jago-jago daratan Tiong-goan disamping itupun berhasil mempengaruhi para pembesar Kerajaan Song, sehingga mereka bersedia bekerja untuk Mongolia yang akhirnya membawa keruntuhan untuk kerajaan Song tersebut.
Tapi sekarang, justru pangeran Ghalik telah difitnah oleh Tiat To Hoat-ong, di mana Kaisar begitu saja mengambil keputusan mempercayai laporan palsu Tiat To Hoat-ong.
Betapa urusan ini membuat pangeran Ghalik jadi penasaran bukan main.
Sim Thaykam yang melihat pangeran Ghalik hanya berlutut berdiam diri dengan muka yang pucat, segera berkata lagi.
"Pangeran Ghalik, ini adalah perintah Kaisar engkau benar-benar hendak membangkang?"
Pangeran Ghalik bangkit dengan lesu, tanyanya.
"Sesungguhnya Sim Kong-kong, apa dosa dan kesalahanku, sehingga Kaisar mengeluarkan firman seperti itu....?"
"Itu akan kau ketahui jelas jika telah bertemu dengan Kaisar..... sekarang kau harus ikut bersamaku untuk kembali ke kotaraja.....!"
"Tunggu dulu Sim Kong-kong, apakah memang Kong-kong dapat menjelaskan...... semua ini mungkin disebabkan oleh Koksu yang telah kembali ke kota raja! Bukankah begitu?"
Kata pangeran Ghalik lagi. Sim Thaykam tersenyum tawar, sikapnya sinis sekali, dia menyahuti.
"Untuk urusan ini aku tidak mengetahuinya dengan jelas, karena aku hanya menerima tugas untuk membawa firman dan untuk itu harap pangeran mau memberi muka padaku, tidak mempersulit kedudukanku.....!" Pangeran Ghalik tersenyum tawar kemudian tanyanya lagi.
"Kalau memang ini menyangkut persoalan Tiat To Hoat-ong, aku hendak menjelaskan kepada Kaisar semua duduk persoalannya."
"Ya! Jika memang pangeran Ghalik telah sampai di kotaraja, tentu kau dapat menjelaskan segala-galanya kepada kaisar, karena itu sekarang harap bersedia untuk ikut bersama dengan kami ke kotaraja!"
"Tapi tidak bisa dengan cara seperti ini, di mana statusku sebagai tawanan!"
Kata Pangeran Ghalik.
"Pangeran......?"
Pangeran Ghalik menggelengkan kepalanya perlahan, wajahnya muram sekali.
"Di dalam urusan ini tersangkut penasaran, karena itu tak dapat aku menuruti begitu saja untuk ikut ke kota raja bersama dengan Sim Kong-kong.....! Maafkan, bukan aku membangkang terhadap firman Kaisar, namun aku sekarang tengah menuju ke kotaraja, dan aku akan menghadap Kaisar, bukan sebagai tawanan! Jika memang Kaisar telah mendengar seluruh keterangan dan laporanku, tentu Kaisar akan dapat mengambil kesimpulan lain, bahwa apa yang telah dikeluarkan dalam firmannya adalah tidak tepat.....!"
Muka Sim Thaykam jadi berubah.
"Pangeran Ghalik, kau berani mencercah dan mempersalahkan Kaisar?"
Tanyanya dengan suara yang dingin.
"Dan itu engkau berani mengatakan tidak ingin menerima firman. Apakah engkau menyadari dosa berat apa yang telah kau lakukan?!"
Pangeran Ghalik tersenyum tawar, kemudian katanya.
"Jika memang aku harus menghadap kepada Kaisar sebagi tawanan, jelas aku tidak bersedia. Bukan membangkang. Tapi jika memang Kaisar memerintahkan Sim Kong-kong untuk meñyambutku untuk bersama-sama menghadap Kaisar, itu lain lagi urusannya! Terlebih lagi, aku tidak pernah melakukan suatu pekerjaan yang bisa merugikan negeri dan Kaisar, aku merasa tidak dosa apapun juga, maka dari itu, aku akan menghadap pada Kaisar sebagaimana biasanya. Muka Sim Thaykam berubah merah, dia tertawa bergelak-gelak, kemudian dengan bengis dia bilang.
"Pangeran Ghalik, dengarlah! Dosamu telah bertambah dengan sikap membangkangmu ini! Ketahuilah, memang Kaisar kita yang maha agung telah menduga akan terjadi hal seperti ini, maka ketika akan berangkat, aku telah diberikan hak sepenuhnya serta kekuasaan untuk menghadapi kejadian seperti sekarang ini, kalau memang terjadi pembangkangan dari kau!"
Pangeran Ghalik telah berdiri tegak.
"Telah berpuluh tahun aku menjabat kedudukanku, pangkat dan kebesaran serta kekuasaan yang kumiliki, kujalankan dengan baik di mana tugas yang diberikan oleh Kaisar selalu kulaksanakan dengan sebaik mungkin! Tidak pernah satu kalipun aku berusaha untuk membangkang atau memang memiliki pikiran untuk berkhianat maupun memberontak! Tapi mengapa aku harus menerima perlakuan seperti ini? Mengapa?!"
Semakin lama suara pangeran Ghalik semakin meninggi.
Melihat ini Sim Kong-kong telah tertawa dingin, tapi hatinya sesungguhnya jeri karena dia mengetahui bahwa pangeran Ghalik memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi.
Disamping itu juga memang pangeran Ghalik masih memiliki kekuasaan yang besar dan pengaruh yang tidak kecil pada angkatan perang Mongolia.
Jika memang terjadi sesuatu pada diri pangeran Ghalik, sehingga berita itu tersiar, jelas akan menimbulkan kerusuhan di antara angkatan perang Mongolia, inilah yang tidak dikehendaki oleh kaisar.
Dan sebelum Sim Thaykam berangkat untuk membawa Firman, memang telah dipesan agar mengundang pangeran Ghalik secara baik-baik, dan baru mengambil tindakan kekerasan jika keadaan memaksa sekali.
"Pangeran Ghalik, soal dosa dan kesalahan apa yang telah kau lakukan semua itu belum lagi jelas, sebab itulah jika memang kau menghadap Kaisar, kemungkinan besar urusan ini bisa diselesaikan......! Karena itu, janganlah pangeran menimbulkan kesulitan untuk dirimu sendiri. Alangkah bijaksananya jika bersedia ikut bersama denganku secara baik-baik!"
"Sim Kong-kong! Kau kembalilah ke kotaraja dan sampaikan kepada Kaisar, dalam beberapa hari mendatang, akupun akan segera menghadap pada Kaisar. Kukira, tidak perlu dengan cara pemanggilan seperti ini, aku tidak akan menyingkirkan diri! Karena memang akupun memiliki laporan yang penting untuk kaisar......!" Muka Sim Thaykam jadi berubah tak enak dilihat. Kemudian katanya dengan suara yang tawar.
"Hmmm, jika memang demikian, baiklah! Terpaksa aku tidak berani melanggar perintah yang diberikan oleh kaisar. Aku harus kembali menghadap kaisar bersamamu!"
Waktu itu Sasana telah keluar dari kamarnya, tanya si gadis dengan wajah berubah pucat ketika melihat Sim Thaykam.
"Ada apa, ayah?!"
Pangeran Ghalik telah memandang sejenak pada puterinya, kemudian katanya perlahan.
"Tiat To Hoat-ong telah tiba lebih dulu di kotaraja. Inilah utusan Kaisar......"
Muka Sasana jadi berobah semakin pucat, dia mengerti apa yang telah terjadi. Karenanya dia telah berkata dengan suara tergagap.
"Ayah ini..... ini......!"
"Kau kembalilah ke kamarmu. Biarlah kuhadapi semua ini!"
Kata pangeran Ghalik.
"Tidak ayah! Kau harus dapat menjumpai Kaisar. Jika memang êngkau harus ikut dengan Sim Kong-kong tentulah perkaramu ini akan di tangani orang lain.....!"
"Akupun bukan hendak ikut bersama Sim Kong-kong!"
Kata pangeran Ghalik.
"Aku telah meminta pada Sim Kong-kong, bahwa aku akan pergi sendiri menghadap pada Kaisar.
"Tapi ayah!" Pangeran Ghalik tersenyum getir, katanya.
"Hemmmmm. engkau ingin mengatakan, begitu aku tiba di kota raja tentu aku akan disergap dan ditawan oleh orang-orangnya Kaisar. Bukankah begitu?!"
Sasana mengangguk.
"Ya...... sekarang urusan telah menjadi lain lagi, ayah! Jika beberapa lama yang lalu, kita memang bermaksud untuk ke kotaraja guna menghadap Kaisar. Jika memang keadaan telah berubah jadi demikian, di mana Kaisar telah dipengaruhi Koksu, lalu tidakkah sangat bahaya jika memang ayah tetap datang ke kotaraja untuk menghadap Kaisar?"
Sim Kong-kong waktu itu telah berkata dengan suara yang nyaring.
"Pangeran Ghalik, apakah tetap kau tidak mau turut serta dengan kami? Atau memang aku terpaksa harus memaksamu?!"
Pangeran Ghalik telah tersenyum pahit, katanya.
"Sim Kong-kong, seperti yang telah kukatakan, engkau kembali ke kotaraja dan aku akan menyusul segera menghadap Kaisar. Percayalah aku tidak akan melarikan diri.......!"
Namun Sim Thaykam telah telah menggelengkan kepalanya, dia telah mendengus dingin ke dua tangannya digerakkan, bertepuk tangan.
Dari luar penginapan tampak masuk ke dalam puluhan tentara berpakaian lengkap, mereka semua memiliki tubuh yang tinggi tegap dan juga memang merupakan pasukan istana Kaisar, di mana mereka diperbantukan pada Sim Kong-kong.
Melihat itu, alis pangeran Ghalik telah mengkerut dan telah memandang tajam, katanya dengan tawar.
"Apakah Sim Kongkong memang bersungguh-sungguh hendak menangkapku??"
"Hmm, apakah perintah Kaisar dapat dilalaikan?"
Sahut Sim Thaykam.
Waktu itu pangeran Ghalik menyadari bahwa dirinya tidak mungkin bisa meloloskan diri lagi dari thaykam ini, karena jika dia mengadakan perlawanan, berarti dirinya bisa dicap sebagai pemberontak, dan untuk selanjutnya Kaisar lebih mempercayai kepada Koksu negara.
Karena itu dia telah mengawasi Sim Thaykam beberapa saat lamanya.
Sampai akhirnya dia telah berkata dengan suara yang mengandung kedukaan.
"Sim Kong-kong baiklah dari pada timbul kerusuhan di sini aku ikut bersamamu ke kotaraja."
Sasana terkejut mendengar keputusan ayahnya.
"Ayah..... kau tidak boleh ikut serta dengan mereka, karena engkau bisa dicelakai oleh mereka!"
Teriak Sasana. Pangeran Ghalik telah merangkul puterinya katanya dengan suara yang perlahan mengandung kedukaan.
"Anakku pergilah kau kembali ke istana kita, kau nantikan aku. Jika memang aku tidak ke rumah dalam waktu tiga bulan, untuk selanjutnya kau tidak perlu memikirkan aku pula..... karena telah terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.....! Tapi jika memang di waktu tiga bulan itu aku telah bisa memberikan pengertian pada kaisar dengan laporan yang sebenarnya......!" Sasana jadi menangis, air matanya mengucur deras sekali. Dan di saat itu Yo Him yang juga telah keluar dari kamarnya, melihat betapa ayah dan anak itu saling merangkul bertangis-tangisan. Pangeran Ghalik telah melirik kepada Yo Him, lalu katanya. Yo kongcu, kutitipkan puteriku ini agar dapat kau lindungi dengan baik!"
Sim Thaykam telah mendengarkan suara tertawa dengan katanya tawar.
"Oh, kiranya Yo kongcu yang merupakan putera dari Sintiauw-tay-hiap Yo Ko berada bersama-sama dengan kalian dan melakukan perjalanan bersama denganmu juga, pangeran Ghalik? Sungguh suatu persahabatan yang akrab sekali..... sehingga engkaupun mempercayai puterimu untuk dijaga baik oleh pemuda itu!"
Jelas kata Sim Thaykam itu memang mengejek Yo Him dan terutama untuk memojokkan pangeran Ghalik.
Waktu itu sebagai seorang pangeran yang telah lama berkecimpung dan juga memimpin angkatan perang Mongolia, otak pangeran Ghalik telah bekerja cepat sekali.
Segera ia berpikir, dia telah melakukan suatu kesalahan yang paling besar sekali, karena bukankah kelak Sim Thaykam bisa saja melaporkan kepada Kaisar bahwa dia menjalin hubungan yang erat dengan Yo Him, puteranya Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko tapi semua itu telah terjadi dan pangeran Ghalik hanya menghela napas saja.
"Mari kita berangkat pangeran Ghalik!"
Ajak Sim Thaykam dengan suara yang tawar.
Pangeran Ghalik menghela napas.
Dia bersedia untuk ditawan oleh Sim Thaykam dan orang-orangnya untuk dibawa ke kotaraja karena dia mengetahui, jika sampai terjadi pertempuran antara Hek Pek Siang-sat dan para pahlawannya tentu akan jatuh korban.
Dan itu akan menambah buruknya pandangan Kaisar padanya.
Karena itulah, akhirnya dia memilih jalan mengalah untuk ikut serta dengan Sim Thaykam untuk pergi ke kota raja menghadap Kaisar.
Hal itu juga menyangkut akan keselamatan puterinya, jika sekarang ini pangeran Ghalik memberikan perlawanan, untuk selanjutnya ia akan dicap sebagai pemberontak, dan tentu saja seluruh keluarganya akan disapu bersih memperoleh hukuman juga.
Dan Sasana pun tentu tak akan terhindar dari hukuman mati juga.
Hek Pek Siang-sat mendengar bahwa pangeran Ghalik bersedia untuk ikut bersama Sim Thaykam, segera melompat ke samping pangeran.
Ke dua jago yang setia pada pangeran Ghalik ini juga menyadari, memang junjungan mereka sulit sekali untuk menolak firman Kaisar.
Namun disamping itu karena Hek Pek Siang-sat mengetahui junjungan mereka itu tengah mengalami peristiwa penasaran, mereka bersedia untuk membela mati-matian pada pangeran ini.
Kala itu Hek Siang-sat telah berkata dengan dingin pada Sim Thaykam.
"Sim Kong-kong jika memang kau mengetahui urusan yang sesungguhnya, tentu tidak demikian sikapmu...... junjungan kami memang benar-benar menerima urusan penasaran. Koksu telah memfitnahnya!"
Tapi Sim Kong-kong telah tertawa dingin katanya.
"Aku hanya menjalankan tugas saja!"
"Hmm!"
Mendengus Pek Siang-sat.
"Jika memang pangeran memerintahkan kami untuk menerjang, jangankan utusan Kaisar, sekalipun utusan Giam-lo-ong akan kami hadapi!"
Setelah berkata begitu Pek Siang-sat mendengus beberapa kali dengan sikap menantang sekali. Sasana telah menghampiri Yo Him katanya.
"Yo kongcu, apa yang harus dilakukan?! Ayah tidak boleh dibiarkan ikut bersama mereka......!"
"Benar nona, mereka adalah utusan kaisar dan sesungguhnya mereka tentu hanya menjalankan tugas belaka. Tapi di dalam persoalan ini, Kaisar telah dipengaruhi oleh Koksu sehingga memiliki pandangan yang salah terhadap ayahmu......! Aku telah berjanji untuk bantu melindungi ayahmu, dan ini merupakan tugasku...... Bagaimana kalau kita melarikan ayahmu dengan jalan kekerasan saja?!"
"Tapi...... apakah kekuatan kita cukup?!"
Tanya Sasana ragu-ragu.
"Dan urusan ini bukan urusan biasa, juga bukan urusan kecil. Sekali saja kita keliru mengambil langkah, berarti kita akan bercelaka semua......!"
"Itu adalah urusan belakangan yang perlu dipikirkan sekarang......! Yang terpenting kita harus memikirkan bagaimana caranya agar dapat meloloskan diri dari orang-orang itu! Namun ingat, kita tidak boleh melukai salah seorang di antara mereka, karena jika di antara mereka ada yang terbinasa, tentu pandangan Kaisar terhadap diri ayahmu akan tambah buruk lagi!"
Sasana mengangguk.
"Sayang guruku tidak ikut serta......!"
Menggumam si gadis.
"Aku berada di sini!"
Tiba-tiba terdengar suara orang berseru sambil tertawa "hahaha, hihihi."
Sasana dan orang-orang lainnya yang berada di tempat tersebut terkejut, mereka telah menoleh ke atas dari mana asal suara itu.
Terlihat seorang tengah duduk di wuwungan dengan sikap seenaknya sambil tertawa-tawa.
Orang itu memiliki kumis dan jenggot yang telah memutih, yang tumbuh panjang sampai menutupi seluruh tubuhnya.
Rambutnya juga dibiarkan tumbuh panjang.
Ternyata orang tersebut tak lain dari Ciu Pek Thong!
"Suhu!"
Teriak Sasana dengan perasaan girang yang meluap-luap.
"Ciu Locianpwe!"
Berseru Yo Him yang ikut girang juga.
Dengan adanya si berandal jenaka ini, tentu urusan jadi lebih mudah diatur.
Waktu itu Ciu Pek Thong telah berkata dengan suara yang riang, di antara suara tertawanya yang "hahaha, hihihi,"
Bilangnya, "
Aku telah tinggal selama beberapa tahun di dalam istananya pangeran Ghalik, selama itu aku makan dan tidur gratis tanpa perlu bayar!
Hmm, walaupun dia adalah pangeran Mongolia, namun aku berhutang budi pada pangeran.
Adalah pantas jika sekarang aku membalas budi kebaikan pangeran Ghalik.....!"
Membarengi dengan habisnya perkataan Ciu Pek Thong, tampak tubuh Ciu Pek Thong telah melompat turun dengan gerakan yang ringan sekali.
Kala itu Sim Sie Thaykam dan para pahlawannya istana kaisar telah memandang dengan bengis dan semuanya bersiap-siap dengan memegang senjata tajam.
Ketika melihat tubuh Ciu Pek Thong meluncurkan turun menyambar ke bawah, mereka jadi terkejut dan segera juga beberapa orang pahlawan telah menyerbu maju untuk menyerang Ciu Pek Thong dengan senjata tajam mereka.
Tapi Ciu Pek Thong tetap meluncur turun dengan cepat sekali, ke dua tangannya telah digerakkan untuk mengebut lima orang pahlawan itu terpental.
Tubuh Ciu Pek Thong tetap meluncur.
Dengan perlahan dia mendorong pundaknya Sim Thaykam, sehingga membuat orang kebiri itu terguling-guling di lantai sambil berseru-seru, dengan suara yang mengandung kemarahan bukan main dan juga perintahkan para pahlawan istana Kaisar agar segera mengepung Ciu Pek Thong untuk membekuknya.
Tapi mereka semua itu mana bisa menghadapi si tua berandalan yang jenaka itu?
Dengan mengeluarkan suara tertawa yang nyaring.
"hahaha, hihihi,"
Ciu Pek Thong telah sampai di samping pangeran Ghalik, di mana dia telah mengulurkan tangannya dan ketika Pangeran Ghalik tengah berdiri bengong seperti itu, dia telah merangkul pinggang Pangeran Ghalik.
Dalam waktu yang singkat sekali, Ciu Pek Thong telah mencelat membawa kabur pangeran Ghalik.
Gerakan Ciu Pek Thong begitu gesit dan cepat sehingga tak bisa dirintangi.
Dalam keadaan seperti inilah, tampak para pahlawan istana Kaisar telah berlari-lari mengejar sambil berteriak-teriak.
"Tangkap pemberontak! Tangkap pemberontak!"
Namun ketika tiba di luar rumah penginapan Ciu Pek Thong dan pangeran Ghalik lenyap dari pandangan mereka.
Sim Thaykam jadi mengamuk penuh kemarahan juga membentak para pahlawan Kaisar itu perintahkan mereka untuk menangkap Yo Him dan Sasana, serta Hek Pek Siang-sat dengan para pahlawannya pangeran Ghalik yang berjumlah enam orang itu.
Namun Yo Him dan Sasana memiliki kepandaian yang tinggi, mereka mudah sekali menerobos kepungan itu sampai di luar rumah penginapan, sedangkan Hek Pek Siang-sat pun telah mempergunakan kepandaiannya merubuhkan para pahlawan Kaisar yang merintangi jalan mereka.
Pek Siang-sat sendiri yang tengah murka terhadap Sim Thaykam, ketika lewat di samping Sim Thaykam, telah mengayunkan tangannya.
"Bukk!"
Tubuh Sim Thaykam telah terpental keras sekali dan ambruk di lantai bergulingan tidak bisa berkutik lagi karena telah pingsan.
Begitulah Yo Him, Sasana, Hek Pek Siang-sat dan keenam pahlawannya Pangeran Ghalik telah menyingkirkan diri berlari-lari gesit sekali keluar kota.......
Tidak ada seorangpun para pahlawan Kaisar yang dibawa oleh Sim Thaykam yang dapat menghalangi mereka.
Bukan main marahnya Sim Thaykam, dia telah mencaci maki beberapa saat lamanya sampai akhirnya mengajak para pahlawan Kaisar untuk itu kembali ke kota raja guna memberikan laporan pada Kaisar.
Sesungguhnya, jika saja Kaisar mau mendengar petunjuk Tiat To Hoat-ong, tentu sulit buat pangeran Ghalik terlolos dari tangan mereka.
Karena Tiat To Hoat-ong telah meminta kepada Kaisar agar mengikut sertakan para pahlawannya, jago-jago silat yang memiliki kepandaian tinggi.
Namun Kaisar telah menolak permintaan Koksu tersebut.
Menurut Kaisar, pangeran Ghalik yang masih terikat darah sebagai saudara sepupunya, tentu tidak akan membangkang terhadap firmannya.
Karena itu, Kaisar hanya perintahkan para pahlawan Kaisar untuk ikut serta mengiringi Sim Thaykam.
Tapi hasil yang diperoleh adalah kegagalan belaka.
Tapi inipun cukup menggembirakan Koksu negara itu, karena Tiat To Hoatong segera bisa menyebar racun yang lebih hebat pada Kaisar, di mana ia melaporkan hal-hal yang tidak benar pada Kaisar mengenai sepak terjang pangeran Ghalik, yang dikatakannya telah berserikat dengan Sin-tiauw-tay-hiap dan para pendekar yang pernah membantu kerajaan Song, ingin melakukan suatu pemberontakan pada Kaisar.
Karena hasutan seperti itulah, maka kaisar telah mengambil tindakan seperlunya.
Para panglima dan jenderal yang diketahui merupakan orang-orangnya pangeran Ghalik yang memimpin berbagai pasukan angkatan perang telah dicopot dan dipecat dari jabatannya, digantikan oleh orang-orang kepercayaan Kaisar lainnya, yang menjadi kaki tangan Koksu.
Terlebih lagi dengan terjadinya peristiwa di mana pangeran Ghalik tidak mau menerima firman dan telah melarikan diri ditolong oleh kawan-kawannya, di mana Sim Thaykam juga menceritakan di dalam rombongan pangeran Ghalik itu terdapat juga Yo Him putera Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.
Hasutan Koksu negara itu makin termakan oleh Kaisar yang semakin mempercayai keterangan palsu Koksu tersebut.
Karena itu, setelah Sim Thaykam melaporkan kegagalannya menunaikan tugas untuk "menangkap"
Dan membawa pangeran Ghalik ke kota raja, Kaisar telah bersungguh-sungguh menghadapi masalah ini.
Dikerahkannya beberapa orang pahlawan pilihan dari istana Kaisar untuk memimpin pasukan melakukan pengejaran menangkap pangeran Ghalik.
Juga disamping itu kaisar telah memerintahkan pada Tiat To Hoat-ong agar Koksu ini memimpin jago-jago yang berada di bawah kekuasaannya untuk segera melakukan pengejaran pada pangeran Ghalik, guna menangkapnya.
Tentu saja perintah itu menggembirakan Koksu tersebut, di mana dia telah dapat memiliki kekuasaan yang penuh untuk menangkap pangeran Ghalik.
Maka dua hari kemudian, Tiat To Hoat-ong telah berangkat diiringi oleh Gochin Talu, Lengky Lumi dan lain-lainnya melakukan pengejaran pada pangeran Ghalik.
Selama berada d istana Kaisar, memang Tiat To Hoat-ong telah menyembuhkan luka dalamnya.
Di mana semangat dan tenaga murninya telah terkumpulkan kembali, sehingga pendeta Mongolia yang menjadi Koksu negara tersebut bersemangat sekali.
Dia yakin dengan dibantu oleh jago-jagonya tentu dia bisa menangkap pangeran Ghalik.
Hanya yang dikuatirkan oleh Tiat To Hoat-ong cuma Swat Tocu saja.
Jika memang Swat Tocu merupakan orangnya pangeran Ghalik, tentu Koksu ini menemui kesulitan yang tidak kecil guna menangkap pangeran itu, yang telah dicap sebagai pemberontak......!
◄Y► Ternyata Ciu Pek Thong memang telah mengikuti rombongan pangeran Ghalik diam-diam.
Sasana ketika ingin berangkat telah memberitahukan maksudnya yang ingin ikut serta ke kota raja mengiringi ayahnya.
Dan Ciu Pek Thong hanya tertawa-tawa saja tidak memberikan sambutan apaapa.
Namun setelah tiga hari keberangkatan muridnya itu di mana Ciu Pek Thong, dilayani oleh para pelayan wanita istana pangeran Ghalik dengan baik sekali menimbulkan kebosanan juga pada si tua berandalan yang jenaka ini.
Dia memang seorang yang jenaka dan gemar bermain, maka lewat tiga hari tanpa muridnya, tanpa mendengar dongeng-dongeng, membuat dia jadi bosan berada terus menerus di istana pangeran Ghalik.
Akhirnya ia pergi meninggalkan istana.
Karena memang Ciu Pek Thong memiliki ginkang yang sangat sempurna sekali, sampai Oey Yok Su, Auwyang Hong pun sulit untuk menandingi ginkangnya itu, dia bisa menyusul rombongan pangeran Ghalik dengan cepat.
Tapi Ciu Pek Thong memangnya berandalan dan jenaka, dia tidak segera memperlihatkan diri hanya mengikuti terus rombongan pangeran Ghalik.
Dia ingin mengejutkan muridnya.
Siapa tahu, justru terjadi urusan Sim Thaykam yang membawa firman Kaisar, yang hendak menangkap pangeran Ghalik.
Dengan demikian memaksa Ciu Pek Thong harus memperlihatkan diri menolongi pangeran Ghalik.
Ciu Pek Thong memang memiliki kepandaian yang telah mencapai tingkat yang tinggi dan puncak kesempurnaan.
Dengan mengandalkan kepandaiannya itu, dia telah berhasil menyelamatkan pangeran Ghalik, yang telah dibawa lari keluar kota tersebut.
Pangeran Ghalik sendiri yang berada dalam kempitan Ciu Pek Thong telah berseru.
"Ciu locianpwe! Berhenti dahulu, ada yang hendak kukatakan padamu!" Namun Ciu Pek Thong lari terus dengan tidak mengurangi kecepatannya, malah dia telah menyahutinya.
"Hemmm, apa yang hendak dibicarakan lagi? Engkau memang ingin menggantikan puterimu untuk menceritakan sebuah dongeng kepadaku?"
"Ada urusan yang penting sekali yang perlu kukatakan padamu!"
Sahut pangeran Ghalik.
"Nanti jika kita telah tiba di tempat yang aman, barulah kita bercakap-cakap. Syukur jika memang engkaupun memiliki banyak cerita dongeng yang bisa ceritakan kepadaku!"
Dan Ciu Pek Thong telah berlari terus dengan cepat sekali.
Dalam waktu yang singkat hampir limapuluh lie dilaluinya.
Waktu itulah Ciu Pek Thong baru menghentikan larinya di muka sebuah rumah penduduk, dia menurunkan pangeran Ghalik dari kempitannya.
"Kita mengasoh di sini!"
Kata Ciu Pek Thong.
"Tapi kau telah membawaku ke tempat sedemikian jauh. Tentu......!"
Kata pangeran Ghalik.
Dia melihat walaupun berlari cepat dalam jarak begitu jauh, Ciu Pek Thong tetap tenang dan napasnya tidak memburu sama sekali.
Sedangkan pangeran Ghalik sendiri, yang sejak tadi hanya berada dalam kempitan Cia Pek-thong, namun karena dibawa lari sehingga tubuhnya terguncang terus menerus.
merasakan napasnya memburu.
Maka diam-diam pangeran Ghalik tambah menaruh perasaan kagum pada jago tua tersebut.
"Tentu, tentu apa?!"
Tanya Ciu Pek Thong sambil tertawa.
"Tentu mereka tidak bisa menyusul kita!"
Menyahuti pangeran Ghalik. Ciu Pek Thong tertawa tergelak-gelak.
"Apakah memang kau menginginkan manusia-manusia busuk itu bisa mengejar kita?!"
Tanyanya kemudian setelah puas tertawa.
"Bukan begitu maksudku!"
Menyahuti pangeran Ghalik cepat.
"Maksudku Yo kongcu dan yang lain-lainnya itu bersama dengan puteriku, tentu mereka tidak mencari kita, karena kita berada di tempat yang demikian jauh, terlebih lagi ginkang mereka tentunya tidak sehebat yang dimiliki Ciu Locianpwe!"
Mendengar perkataan pangeran Ghalik, Ciu Pek Thong jadi berhenti tertawa dia memandang bengong. Kemudian dia mengangkat tangannya mencabuti kumisnya itu dengan sikap seperti sedang berpikir keras.
"Benar juga, apa yang kau katakan pangeran!"
Kata Ciu Pek Thong kemudian.
"Kita telah meninggalkan kota itu terlalu jauh...... ai, ai, tentu mereka tidak akan dapat menyusul ke mari sebab setelah mencari-cari kita belasan lie jauhnya, mereka akan mengambil arah lain! Celaka! Sungguh celaka!"
Sambil berkata begitu, Ciu Pek Thong telah berjingkrak-jingkrak.
Waktu Ciu Pek Thong berjingkrak-jingkrak seperti itu dan pangeran Ghalik ingin berkata lagi, pintu rumah penduduk itu terbuka.
Dari dalam keluar seorang lelaki tua, karena dia mendengar suara ributribut di luar rumahnya.
"Ohhhh, ada tamu!"
Kata tuan rumah itu dengan ramah.
"Silahkan masuk silahkan masuk!"
Tapi Ciu Pek Thong telah menggelengkan kepalanya berulang kali dia berkata.
"Tidak, tidak, aku ada urusan penting! Celaka! Celaka! Sungguh celaka."
Tuan rumah yang sudah lanjut usia itu jadi bengong saja mengawasi tamu-tamunya yang agak istimewa ini.
"Apanya yang celaka?' tanya tuan rumah itu waktu melihat Ciu Pek Thong masih berjingkrakan menyebut-nyebut celaka.
"Ada yang celaka! Ada yang celaka!"
Menyahuti Ciu Pek Thong.
"Siapa yang celaka!"
Tanya tuan rumah itu tambah tidak mengerti.
"Aku dan pangeran!"
Menyahuti Ciu Pek Thong.
"Kau dan pangeran '? Pangeran mana?"
Tanya tuan rumah tambah heran.
"Aku dan pangeran Ghalik, celaka."
"Apakah kalian bertemu perampok?"
Tanya tuan rumah lagi. "Tidak! Bukan!"
Menyahuti Ciu Pek Thong.
"Tapi kami justru telah melarikan diri terlalu jauh......!"
"Melarikan diri? Melarikan diri untuk menghindarkan apa?!"
Tanya tuan rumah itu lagi, tambah heran, juga sangat tertarik sekali.
"Apakah tidak lebih tuan-tuan singgah dulu untuk beristirahat sambil minum teh?!"
Ciu Pek Thong menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian katanya.
"Tidak, aku sedang menghadapi urusan yang bisa membuat aku celaka!"
"Apakah memang jiwa kalian tengah terancam bahaya?!"
Tanya orang tua itu.
"Jika memang benar, apakah tidak lebih baik kalian bersembunyi di rumahku."
Ciu Pek Thong berhenti berjingkrak kemudian memandang tuan rumah itu dengan sepasang mata terpentang lebar-lebar.
"Bersembunyi di rumahmu? Ohhh, justru aku tengah ingin kembali untuk menemui orang-orang itu! Karena jika tidak berhasil bertemu dengan mereka, celakalah aku..... karena aku tidak bisa mendengar dongeng-dongeng lagi, cerita-cerita yang menarik itu!"
Tuan rumah jadi bengong bercampur heran dan lucu, dia telah bertanya dengan suara yang ragu-ragu.
"Tidak bisa mendengar cerita saja merupakan hal yang celaka? Ohhhhhh, benar-benar merupakan urusan yang mengherankan sekali!"
"Aku telah meninggalkan muridku cukup jauh, jika itu muridmuridku itu tidak bisa menyusul ke mari. Karena itu, jika memang kami tidak bisa bertemu lagi, jelas aku bisa celaka, nasibku jadi buruk, karena untuk selanjutnya aku tidak bisa mendengar muridku bercerita, menceritakan dongeng-dongeng yang sangat menarik sekali!"
"Jika begitu kalian bisa menunggu di sini saja, aku akan menyediakan air teh pada kalian, untuk beristirahat dulu! Bagaimana? Bukankah nanti jika muridmu telah menyusul ke mari, tuan, kalian murid dan guru bisa bertemu kembali, bukan?"
"Tidak, aku harus kembali menemui mereka!"
Menyahuti Ciu Pek Thong.
Dan baru saja perkataannya itu habis diucapkan, mendadak dia mengulurkan tangannya, tubuhnya telah melompat dengan gesit sekali, dia berlari-lari meninggalkan tempat itu.
Tuan rumah itu jadi bengong, karena tahu tahu tubuh Ciu Pek Thong yang mengempit pangeran Ghalik, telah lenyap dari pandangan matanya, menghilang begitu cepat, bagaikan setan saja yang berkelebat lenyap.
Setelah tersadar dari tertegunnya orang tua empunya rumah bergidik sendirinya, dia menyangka telah bertemu hantu di siang hari bolong, maka dia cepat-cepat menutup pintu rumahnya.
untuk segera dipalangnya kuat-kuat......!
◄Y► Ciu Pek Thong telah membawa pangeran Ghalik berlari-lari cepat sekali, kembali ke jurusan dari mana tadi mereka mendatangi.
Berlari-lari sekian lama, sampai tigapuluh lie lebih mereka masih belum bertemu dengan rombongan Yo Him.
"Apakah mereka telah ditawan oleh Sim Thaykam?"
Menggumam pangeran Ghalik dengan suara mengandung kekuatiran.
"Apa kau bilang!"
Tanya Ciu Pek Thong sambil menahan larinya.
"Aku kuatir...... aku kuatir......!"
Kata pangeran Ghalik dengan wajah muram.
"Kau kuatir, kuatir apa?"
Tanya si tua berandalan jenaka itu.
"Apa yang dikuatirkan pangeran!"
"Aku kuatir mereka tidak bisa meloloskan diri dari orang-orangnya Sim Kong-kong!"
Menyahuti pangeran Ghalik.
"Sim Kong-kong, orang kebiri itu!"
Tanya Ciu Pek Thong.
"Dan kau kuatir para pahlawan yang jadi pengiringnya itu akan berhasil menangkap muridku dan juga pemuda she Yo itu......?!"
"Ya...... tentu sudah terjadi pertempuran yang hebat di antara mereka! Sedangkan Hek Pek Siang-sat dan keenam orang pahlawanku itu mereka merupakan pengikutku yang setia, tak mungkin berkhianat dan menyerah pada Sim Kong-kong......! Namun keselamatan puteriku itu......"
"Mari kita kembali saja ke sana......!"
Kata Ciu Pek Thong tidak sabaran.
"Jika terjadi sesuatu pada muridku atau Yo Him, hem, hem, biarlah Sim Kong-kong itu kucabuti seluruh bulu di tubuhnya!" "Tunggu dulu, lihat itu! Apakah bukan mereka!"
Kata pangeran Ghalik sambil menunjuk ke arah kanannya.
Ciu Pek Thong menoleh dan melihat serombongan orang yang tengah berlari-lari dengan cepat sekali.
Ciu Pek Thong berjingkrak kegirangan, diapun telah melepaskan kempitannya pangeran Ghalik dan berseru.
"Benar! itulah muridku! Hai muridku, cepat kau ke mari untuk menceritakan dongengdongeng menarik untukku!"
Teriakan terakhir dari Ciu Pek Thung sangat nyaring sekali karena dia berteriak dengan mempergunakan lweekangnya.
Rombongan yang tengah berlari-lari itu mendatangi memang tidak lain dari pada Yo Him, Sasana, Hek Pek Siang-sat dan ke enam orang pahlawannya pangeran Ghalik!
Rombongan pangeran Ghalik setelah berunding untuk mencari jalan keluar yang baik nanti menghadapi Tiat To Hoat-ong dan orang-orangnya, akhirnya mereka melakukan perjalanan ke kota raja.
Memang pangeran Ghalik menyadarinya, jika dalam waktu-waktu sekarang dia menghadap Kaisar, tentu Kaisar yang tengah berada dalam pengaruh Tiat To Hoat-ong akan menjatuhkan hukuman mati padanya tanpa mempertimbangkan lagi akan hal itu dan tidak memperdulikan benar atau tidaknya dosa pangeran Ghalik seperti yang difitnah oleh Tiat To Hoat-ong.
Namun sebagai seorang pangeran dan panglima yang memiliki kekuasaan atas semua angkatan perang Mongolia, Boan-ciu.
jelas dia memiliki bawahan-bawahan yang bekerja di bawah perintahnya.
Jika dianggap sebagai pengkhianat dan pemberontak, jelas bawahannya itu akan bercelaka juga.
Demikianlah ancaman bahaya untuk semua orang-orang bawahannya itu, dan pangeran Ghalik tidak bisa membiarkan begitu saja.
Walaupun harus menempuh bahaya yang tidak kecil, tokh dia mengajak rombongannya untuk pergi ke kota raja, dan disamping nanti mencari jalan untuk bertemu dengan kaisar dan memberikan pengertian kepada rajanya itu.
Ciu Pek Thong si bocah tua bangkotan yang jenaka yang semakin tua semakin jadi keberandalannya itu, hanya menyetujuinya saja.
Malah dia gembira bukan main, karena melakukan perjalanan ke kota raja yang menurut dia di kota raja tentu dia akan menyaksikan banyak keramaian.
Sasana dan Yo Him sesungguhnya tidak menyetujui keinginan pangeran Ghalik, karena menurut mereka dengan pergi ke kota raja berarti mereka menghampiri maut, sedikitnya mencari kesulitan untuk mereka.
Sasana beranggapan, sekarang ini bukanlah waktunya yang tepat untuk menghadap Kaisar.
Puteri pangeran Ghalik ini berpendapat, jika keadaan telah reda dan dalam kesempatan tertentu yang tepat sekali, barulah ayahnya itu menghadap kaisar untuk menjelaskan duduknya perkara.
Pangeran Ghalik tetap dengan keinginannya itu, di mana dia bersama rombongannya akan pergi ke kota raja, untuk menjelaskan duduknya persoalannya pada Kaisar.
Karena menurut pangeran Ghalik, jika peristiwa yang menimpa dirinya itu dibiarkan berlarut-larut, tentu segalanya akan berubah jadi semakin hebat.
Disamping dia benar-benar akan dituduh sebagai pemberontak dan pengkhianat bangsa, juga orang-orang bawahannya akan menerima bencana tidak kecil.
Akhirnya Sasana maupun Yo Him telah menuju ke kota raja, dengan harapan di sana mereka akan memiliki kesempatan yang baik untuk menyelesaikan urusan pangeran Ghalik, agar dia terlepas dari fitnahan yang dilontarkan oleh Tiat To Hoat-ong.
Dengan adanya Ciu Pek Thong bersama mereka, memang rombongan pangeran Ghalik tidak perlu jeri terhadap siapapun juga, karena Loo-ban-tong ini seorang tokoh yang memiliki kepandaian pada puncak kesempurnaan dan boleh dibilang sudah tidak ada tandingannya lagi di jaman ini selain beberapa tokoh Rimba Persilatan lainnya yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan dan mereka semua umumnya telah mengundurkan diri hidup mengasingkan diri di tempat-tempat yang sunyi.
Begitulah, rombongan pangeran Ghalik telah melakukan perjalanan ke kota raja.
Untuk mencapai kota raja sesungguhnya tidak memerlukan waktu perjalanan yang terlalu lama.
Sebab memang mereka telah berada dalam jarak yang cuma dua hari perjalanan guna mencapai Kotaraja......" **** Bintang-bintang yang memenuhi permukaan langit yang tersebar puluhan ribu, mungkin ratusanribu atau jutaan, yang kerlap kerlip dengan sinarnya, dan juga rembulan yang waktu itu tidak bersinar penuh, dalam bentuk seperti perahu mayang dengan sinarnya yang tidak begitu terang, dan awan-awan yang bersih hanya di beberapa bagian saja, di permukaan langit yang dilaluinya merupakan malam yang sangat cerah dan bersih sekali indah bukan main.
Dengan siliran angin yang lembut mempermainkan permukaan air laut, sehingga permukaan laut beriak perlahan saling susul tidak henti-hentinya, sambung menyambung bagaikan tengah bercumbu satu dengan yang lainnya.
Kesunyian yang langgeng memenuhi sekitar lautan itu, tidak terlihat lainnya lagi, hanya laut yang terhampar begitu luas.
Sejauh mata memandang hanya air laut yang bergelombang perlahan itu yang terlihat.
Tapi dikejauhan tampak sebuah titik, yang tengah melayanglayang meluncur di permukaan laut.
Semakin dekat, barulah jelas bahwa itulah sebuah perahu yang tidak begitu besar, bahkan tidak memiliki layar atau peralatan lainnya.
Perahu itu merupakan perahu yang kosong, dan tidak ada sepotong barang apapun juga, selain tiga sosok tubuh manusia yang tengah rebah terlentang di dalam perahu tersebut.
Dua sosok tubuh merupakan orang dewasa dan sosok tubuh yang lainnya adalah seorang anak kecil berusia antara empat tahun lebih belaka.
Jika sosok tubuh kecil itu rebah terlentang tertidur nyenyak dan pipinya yang memerah, rambutnya yang dikepang dua tampaknya dia merupakan seorang gadis kecil yang manis sekali.
Dia tertidur dengan bibir seperti tersenyum.
Rupanya tengah bermimpi indah dan lucu, dia juga tengah bermimpi bergembira di antara pohonpohon bunga yang indah.
Tidak demikian halnya dengan ke dua sosok tubuh orang dewasa itu, yang ternyata seorang lelaki berusia antara limapuluh tahun dengan kumis tipis.
Wajah tampan dan gagah.
Walaupun telah berusia cukup tinggi seperti itu, tokh masih tersisa kecakapan dan kegantengannya di masa muda yang lalu.
Matanya terbuka lebarlebar tengah mengawasi bintang-bintang yang bertaburan di permukaan langit.
Dan yang seorang lagi seorang wanita berusia empatpuluh tahun dan rupanya juga seorang wanita yang cukup cantik walaupun usianya melewati empatpuluh tahun, raut paras mukanya masih cantik, rambutnya dikonde dua walaupun agak kusut.
Wanita ini tentunya di usia mudanya merupakan seorang gadis yang cantik jelita.
Hanya saja, pada garis bibir dan mukanya terlihat dia adalah seorang wanita yang keras hati.
Sama halnya seperti lelaki yang rebah diam, wanita itupun rebah diam mengawasi ribuan bintang yang bertaburan di langit sepertinya juga tengah berpikir keras.
Kesunyian benar-benar menguasai sekitar mereka, hanya suara riak gelombang kecil di air laut yang terdengar menyentuh-nyentuh mencium tubuh perahu yang mereka tumpangi itu.
Dilihat dari keadaan ketiga orang ini rupanya mereka telah mengalami suatu peristiwa hebat di tengah lautan, karena muka sepasang manusia dewasa itu yang rupanya ayah dan ibu dari si gadis kecil sangat letih sekali.
Juga terlihat dari perahu mereka yang kosong tidak terdapat sepotong barang apapun juga.
tiba-tiba terdengar wanita berusia empatpuluhan tahun lebih itu telah menghela napas dalam-dalam, diapun bergerak perlahan, untuk duduk.
Diliriknya lelaki yang rebah di sampingnya, yang waktu itu masih mengawasi ribuan bintang yang berhamburan di permukaan langit.
"Toako, jika tiga hari lagi kita harus terombang-ambing seperti sekarang ini, berarti kita sulit menghindari diri dari para malaikat maut.....!"
Kata wanita itu kemudian dengan suara perlahan, seperti juga dia berputus asa.
Baca Juga: Seruling Samber Nyawa 11
Baca Juga: Perintah Maut 6