Eps 4 Beruang Salju - Sin Liong
Baca online Beruang Salju - Sin Liong
Cersil Beruang Salju - Sin Liong.
"Orang aneh itu yang menjadi lawan Koksu itu memang benar-benar hebat. Kepandaiannya itu jarang sekali terdapat di dalam rimba perailatan. Jika saja dia bisa kutarik ke dalam tanganku. Dia dapat diberikan kedudukan sebagai wakil ataupun sebagai pemimpin dari seluruh jago-jago yang bekerja di bawah perintahku......"
Berpikir seperti itu, Pangeran Ghalik telah mengawasi jalannya pertempuran yang luar biasa itu dengan sikap bersungguhsungguh. Namun hati kecilnya terus juga berpikir.
"Memang belakangan ini kulihat ada gejala kurang baik pada Koksu. Sikapnya padaku tidak seperti beberapa waktu yang lalu.
"Walaupun dia selalu bersikap manis, namun di balik sikapnya yang manis itu lewat sinar matanya, tampak jelas dia seperti juga membenciku...... Malah menurut laporan terakhir dari orang kepercayaanku, bahwa Koksu kemungkinan tengah menghimpun jago-jago di bawah kekuasaannya untuk melakukan sesuatu. Yang jelas dia ingin menindih pengaruhku!"
Karena berpikir begitu, maka pangeran Ghalik telah mengawasi Koksu Tiat To Hoat-ong yang tengah memusatkan seluruh kekuatan tenaga Soboc nya untuk membendung hawa dingin lawannya di mana Swat Tocu memang tengah mengerahkan tenaga Inti Es nya tersebut pada tingkat ke tujuh.
Tubuh Tiat To Hoat-ong tergetar cukup keras, karena disamping dia mengerahkan tenaga, lagi pula dia pun menerima gempuran yang hebat mengandung hawa dingin yang luar biasa.
Jika memang Swat Tocu hanya menyerang dengan gempuran tenaga biasa tentu Tiat To Hoat-ong akan dapat menghadapi dengan mudah mempergunakan Soboc nya ini, tetapi justeru di balik kekuatan tenaga dalam setiap gempuran Swat Tocu, mengandung hawa dingin yang melebihi dinginnya es, sehingga tubuh Tiat To Hoat-ong seperti juga akan dibungkus oleh lapisan es, yang tidak tampak sangat namun dingin sekali.
Swat Tocu juga tampaknya penasaran bukan main, berulang kali tangannya itu telah diulurkannya, dia berulangkali mengempos hawa dingin untuk membungkus tubuh Tiat To Hoat-ong, agar Koksu negara ini tidak bisa untuk memberikan perlawanan lebih lanjut.
Namun yang membuat Swat Tocu memperoleh kesulitan tidak kecil, justru dari sekujur tubuh Tiat To Hoat-ong telah menguap semacam uap tipis yang membuyarkan setiap hawa dingin yang menyelubungi sekujur tubuhnya, di mana hawa dingin yang dikirim Swat Tocu lewat pukulan-pukulannya itu seperti telah buyar sendirinya.
Pangeran Ghalik waktu itu masih berpikir lebih jauh.
"Beberapa orang-orangku telah berhasil menyelidiki juga bahwa Koksu berusaha untuk merebut kedudukanku dan mengambil alih pengaruhku. Telah ada beberapa jago di bawah perintahku yang telah di pengaruhinya. Dia memang liehay dan memiliki kepandaian yang sempurna, dia merupakan saingan yang berat jika memang dia memiliki maksud-maksud yang tidak baik. Di samping aku harus hati-hati mengawasinya dengan ketat, akupun harus berusaha menyelidiki terus apa yang dilakukan oleh Koksu akhir-akhir ini. Karena belakangan ini, dia jarang hadir dalam rapat-rapat yang kuadakan, di mana dia sering tidak berada di istana, dan telah pergi ke suatu tempat yang tidak ingin disebutkannya......!"
Dan setelah berpikir begitu, tanpa dikehendakinya pangeran Ghalik telah menghela napas berulang kali.
Tetapi perhatiannya terhadap pertempuran yang tengah berlangsung dengan hebat antara Swat Tocu dan Tiat To Hoat-ong tetap tercurahkan dengan baik.
Dan diapun merasakan menyambar-nyambarnya hawa dingin yang terpancarkan dari setiap pukulan yang dilakukan oleh Swat Tocu pada Tiat To Hoat-ong, sehingga si pangeran tersebut harus mundur menjauhi diri dari kalangan tiga tindak......
Tiat To Hoat-ong sendiri heran bercampur kaget.
Heran karena dia tidak menyangka ada ilmu seperti itu, yang demikian luar biasa, memiliki hawa yang demikian dingin menggigilkan tubuh.
Waktu dia mulai melatih Soboc nya, hal itu tidak pernah terpikirkan olehnya.
Dia memang melatih tenaga lweekangnya yang bisa dipergunakan dengan leluasa, yaitu jika lawannya menyerang keras, maka perlawanan dari tenaga latihan Soboc nya akan menolak lebih kuat dan keras.
Jika lawan menyerang mempergunakan cara yang lunak, perlawanan itu akan melibat dengan lunak pula, sehingga tenaga lawan bisa dilibatkan dan di balikkan untuk menghantam lawan itu sendiri.
Namun sama sekali Tiat To Hoat-ong tidak menyangka bahwa sekarang ada orang yang bisa menyerang dengan begitu kuat, disamping dalam tenaga gempurannya itu terkandung hawa yang demikian dingin, yang melebihi dinginnya es......!
Memang tenaga pukulan lawannya bisa dihadapinya, ditolaknya, namun hawa dingin itu yang seperti juga ingin membungkus tubuhnya, tidak bisa dilenyapkan oleh Tiat To Hoat-Ong, karena hanya hawa panas yang menguap dari sekujur tubuhnya, lewat tenaga latihan Soboc nya, maka hawa dingin itu bisa dibuyarkan.
Itu hanya untuk sedikit, kemudian hawa dingin itu mengurung tubuhnya lagi.
Buyar lagi, dan datang lagi.
Begitu seterusnya.
Tentu saja telah membuat Tiat To Hoat-ong harus memutar otak mencari jalan untuk dapat menghadapi ilmu yang aneh seperti itu.
Sedangkan Swat Tocu sendiri semakin lama semakin penasaran.
Semakin cepat dia menggerakkan ke dua tangannya semakin hebat hawa dingin yang berhamburan menerjang ke tubuh Tiat To Hoat-ong.
Di mana tampak Swat Tocu berusaha untuk membungkus sekujur tubuh Tiat To Hoat-ong dengan pengaruh hawa dinginnya itu.
Memang Swat Tocu juga merasakan betapa uap tubuh Tiat To Hoat-ong sering menolak padanya tenaga yang kuat sekali, mengembalikan tenaga gempurannya.
Dengan demikian Swat Tocu juga kagum untuk kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Koksu negara tersebut.
Namun sebagai tokoh sakti yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang seumurnya belum pernah bertemu tandingan, Swat Tocu mana mau menerima keadaan seperti ini begitu saja?
Setelah gagal beberapa dengan serangannya, Swat Tocu merubah cara menyerangnya.
Sekarang sambil menggerakkan terus ke dua tangannya yang silih berganti menyerang kepada Tiat To Hoat-ong, juga ke dua kakinya telah melangkah menghampirinya, jarak mereka terpisah semakin dekat.
Tiat To Hoat-ong mengkerutkan alisnya.
"Manusia aneh, ini memiliki ilmu yang hebat luar biasa, siapakah dia? Tampaknya dia telah menguasai pusat inti bumi yang bisa dilatihnya dan bisa menyalurkan hawa yang demikian dingin...... Aku harus berusaha merubuhkannya dengan segera. Karena jika tidak, sekali saja dia bisa menguasai diriku, di mana tubuhku terkurung oleh hawa dinginnya. Peredaran darahku membeku, sehingga tidak leluasa aku menggerakkan ke dua tangan dan sepasang kakiku ini, dia segera bisa mencelakaiku!"
Mereka tampaknya bertempur dengan seru, tapi hati mereka berpikir terus berusaha untuk mencari jalan guna merubuhkan lawan masing-masing.
Pikiran mereka pun bekerja terus, sedangkan mata mereka telah memandang dengan sorot yang bengis dan mereka telah bertekad untuk menyelamatkan jiwa masing-masing.
Dalam pertempuran ini, bukan lagi dipersoalkan kalah atau menangnya.
Karena justeru dengan terjadinya pertempuran antara dua orang tokoh yang memiliki kepandaian yang begitu hebat dengan sendirinya sekali saja mereka lengah dan dapat termakan oleh lawan, jelas mereka akan bercelaka......!
Waktu itu, Swat Tocu telah beberapa kali melangkah maju mendekati Tiat To Hoat-ong.
Jarak pisah mereka semakin dekat juga, mereka telah berhadapan tidak lebih terpisah dari setombak.
Wang Put Liong telah berbisik di pinggir telinga Yo Him, katanya.
"Tiat To Hoat-ong merupakan Koksu negara dari Mongolia, dia seorang luar biasa. Kepandaiannya juga terlalu dahsyat...... sedangkan lawannya itupun bukan lawan yang ringan, maka jika memang mereka bertempur dengan cara seperti itu, tentu akan membuat mereka celaka bersama-sama. Yo Him mengangguk.
"Ya, Swat Tocu seorang tokoh yang memiliki kepandaian luar biasa juga. Tetapi tampaknya, mereka akan segera menghentikan pertempuran karena ke duanya rupanya berimbang jika tidak ada salah seorang yang terluka tentu mereka akan menghentikan pertempuran itu dengan segera. Jika tidak mereka akan terlibat dalam pertempuran yang tak berkesudahan selama berhari-hari, itu bisa mencelakai diri mereka masing-masing. Di mana tenaga lweekang mereka akan punah sebagian!"
Wang Put Liong menghela napas.
"Jika melihat ke dua orang itu, segera aku menyadari bahwa kepandaian yang kumiliki sesungguhnya tidak memiliki apaapa......, dengan demikian, berarti untuk dapat malang melintang dalam kalangan Kang-ouw, memang tidak pantas untukku......! Hai, aku telah duapuluh tahun lebih berlatih diri namun kepandaian yang kami miliki tidak seujung kuku ke dua orang itu.....!"
Setelah berkata begitu, muka Wang Put Liong jadi guram. Yo Him tertawa.
"Mereka merupakan tokoh-tokoh yang hebat, sedangkan aku sendiri belum tentu bisa menghadapi mereka, Cianpwe!"
Kata Yo Him.
"Kepandaian mereka mungkin berimbang dengan kepandaian ayah ibu."
Wang Put Liong menghela napas lagi.
"Ya, jika saja sekarang ini ada Yo Tayhiap tentu mereka bisa dipisahkan,..... aku perlu diselamatkan keluar dan tempat ini......."
Yo Him tersenyum.
"Walaupun ayah tidak mau mencampuri lagi urusan dalam dunia persilatan, tetapi aku sebagai anaknya tentu tidak akan membiarkan cianpwe terlantar di sini......! Jangan kuatir, walaupun pangeran Ghalik memiliki banyak pahlawan-pahlawannya yang gagah, nanti aku menolongmu keluar dari tempat ini!"
Wang Put Liong tersenyum pahit, katanya.
"Sesungguhnya aku tidak memikirkan perihal keselamatan diriku, hanya yang membuatku jadi tidak tenang adalah tempat penyimpanan harta karun ini. Jika sampai terjatuh ke dalam tangan pangeran Ghalik, maka sia-sia belaka usahaku, selama ini......!"
Beberapa kali Wang Put Liong menghela napas lagi, wajahnya semakin guram saja.
Waktu itu Yo Him ingin menghiburnya lagi, tetapi dia dikejutkan oleh suara teriakan Tiat To Hoat-ong di luar ruangan, di mana tampak Tiat To Hoat-ong sambil memutar ke dua tangannya itu berulang kali untuk mendesak Swat Tocu, dia telah mengeluarkan pekik yang mengguntur.
Hebat cara dia menyerang, demikian dahsyat cara dia mendesak, sehingga tenaga gempuran yang disalurkan oleh Swat Tocu bagaikan terbentur dengan lapisan dinding yang tebal sekali, dan berbalik malah menghantam Swat Tocu sendiri!
Pemilik pulau Es itu tidak berdiam diri saja, dia telah mengeluarkan suara tertawa bergelak-gelak yang nyaring kemudian katanya.
"Memang hebat sekali kepandaian lawanku ini...... sungguh menggembirakan! Sungguh menggembirakan!"
Dan sambil berkata begitu, tampak Swat Tocu telah mengempos semangatnya.
Dia telah menerjang lagi dengan ke dua tangan dimajukan lurus ke dada lawannya disamping itu tenaga gempuran yang dipergunakannya semakin hebat.
Tiat To Hoat-ong juga mengempos semangatnya.
Ke dua jago yang memiliki kepandaian begitu luar biasa, telah berhadapan dengan tubuh menggigil.
Jika Tiat To Hoat-ong mulai dikuasai oleh hawa dingin yang membuatnya menggigil, namun muka dan tubuhnya basah oleh butir-butir keringat akibat pengerahan hawa tenaga murni Soboc nya, maka waktu itu Swat Tocu juga terhuyung-huyung dengan tubuh bergoyang-goyang seakan-akan ingin jatuh.
Tapi ke dua kakinya tidak berobah kedudukan, di mana dia tetap berada di tempatnya.
Dengan demikian, ke dua orang ini memang tengah saling memusatkan seluruh kekuatan mereka yang terhebat, berusaha untuk saling menindih lawannya.
Dalam keadaan tegang seperti itu, di mana dua orang tokoh sakti tengah mengadu kekuatan untuk mempertaruhkan mati hidupnya jiwa mereka, dari dalam ruangan terdengar suara seruan tertahan seorang gadis.
Kemudian tampak berlari keluar seorang gadis berusia tujuh atau delapanbelas tahun, di mana gerakan tubuhnya gesit sekali, dan dia telah melangkah mendekati pangeran Ghalik.
Dia pun telah memanggil.
"Ayah......!"
Pangeran Ghalik telah menoleh dan tersenyum, katanya.
"Kau Sasana? Pergilah kau masuk kembali, di sini ada orang jahat...... nanti jika urusan telah selesai, aku akan segera menemuimu!"
Tetapi gadis cantik jelita itu, seorang gadis Mongolia, yang ternyata merupakan puteri dari pangeran Ghalik, yang bernama Sasana itu telah tersenyum dengan manis.
"Tidak ayah!"
Katanya menggeleng perlahan.
"Justeru aku ingin menyaksikan keramaian! Jika memang ayah memaksa aku masuk ke istana, maka biarlah untuk selanjutnya aku tidak mau makan dan minum......!"
Ayah itu kewalahan, dia memang sangat memanjakan puterinya tersebut, yang merupakan Puteri tunggalnya, jadi terlalu manja. Akhirnya pangeran Ghalik telah mengangguk.
"Baiklah, tetapi jika memang keadaan tidak mengijinkan. Engkau harus meninggalkan tempat ini. Sebab bisa membahayakan dirimu......!"
Katanya. Sasana mengangguk.
"Ayahku seorang pahlawan raja, memiliki pengaruh dan kekuasaan besar. Juga gagah perkasa! Siapa yang berani menghina aku?"
Menyahuti puteri itu dengan manja dan memperlihatkan sikap jenaka dengan meleletkan lidahnya.
Pangeran Ghalik tersenyum, dia menarik tangan puterinya agar berdiri di sampingnya.
Kemudian ayah dan gadisnya itu telah menyaksikan lebih lanjut pertempuran yang tengah berlangsung antara Swat Tocu dengan Tiat To Hoat-ong.
Sedangkan Auwyang Phu waktu melihat munculnya gadis itu, telah memandang dengan mata tidak berkedip.
Memang baru pertama kali ini dia telah melihat gadis secantik itu di mana selain pakaiannya yang reboh, juga demikian cantik jelita.
Matanya yang gemerlapan, bagaikan kerlap kerlipnya bintangbintang di langit, sikapnya yang manja dan luwes itu, disamping dengan kejelitaannya yang memukau benar-benar merupakan seorang gadis yang sempurna kecantikannya.
Lama dia memandang ke arah gadis itu, sampai suatu kali Sasana telah menoleh kepadanya, dan telah tersenyum pada pemuda bertubuh pendek kecil itu!
Hati Auwyang Phu tergoncang keras, mukanya merah, dia juga balas tersenyum, namun segera membuang pandang ke arah pertempuran di tengah gelanggang.
Jantungnya berdegup keras sekali.
Ibunya Cek Tian telah melihat sikap puteranya.
Ia menarik lengan baju anaknya itu, bisiknya.
"Dia puteri musuh besar kita, matamu jangan jelalatan seperti itu!"
Auwyang Phu hanya mengiyakan dengan pipinya yang berobah merah lagi.
Dia jengah ibunya mengetahui lagaknya tadi.
Waktu itu Tiat To Hoat-ong telah mengeluarkan suara bentakan lagi, tangan silih berganti mengebut ke arah depannya, pada Swat Tocu.
Setiap kali dia menggerakkan salah satu tangannya, yang digerakkan perlahan dan lambat sekali, bagaikan tangannya itu berat bukan main.
Ke dua kaki Tiat To Hoat-ong telah melesak beberapa dim di lantai.
Dan lantai yang terdiri dari batu hijau itu telah hancur, kemudian kaki itu semakin melesak ke dalam.
Setiap kali Tiat To Hoat-ong menggerakkan ke dua tangannya, setiap kali itu pula ke dua kakinya melesak semakin dalam sampai akhirnya telah melesak sebatas betisnya!
Swat Tocu waktu itu keadaannya tidak separah Tiat To Hoat-ong.
Namun diapun tidak kurang berbahayanya, karena dirinya seperti juga terancam oleh kekuatan lweekangnya Tiat To Hoat-ong setiap waktu.
Jika ia memang lengah, tentu dirinya akan terluka parah.
Serangan hawa dingin yang terpancar dari setiap pukulannya itu seperti juga sudah tidak memiliki pengaruh apa-apa untuk Tiat To Hoat-ong lagi.
Sekujur tubuh Tiat To Hoat-ong bagaikan telah terlindung dan terlapis oleh kekuatan Soboc nya yang menguap hawa panas yang semakin tebal juga.
Tetapi Swat Tocu tidak mau menerima keadaan seperti itu, karena dia penasaran bukan main.
Beberapa kali dia telah mengempos semangatnya.
Walaupun memang terlihat dia menang dalam satu tingkat itu dari Tiat To Hoat-ong, namun sulit sekali baginya untuk dapat merubuhkan Koksu negara itu dalam waktu yang singkat sekali.
Sedangkan Tiat To Hoat-ong sendiri memang telah menyadari, tidak mungkin dia bisa merubuhkan lawannya, namun diapun tidak mungkin bisa dirubuhkan lawannya.
Yang jelas dan pasti, jika memang mereka bertempur terus menerus seperti itu tentu akan menyebabkan mereka terluka di dalam, sama-sama bisa bercelaka.
Kemungkinan besar merekapun akan binasa bersamasama......!
Yo Him yang menyaksikan jalannya pertempuran seperti itu berpikir.
"Alangkah sayangnya jika ke dua orang itu sampai terluka...... Mereka merupakan dua orang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian yang luar biasa, tentunya dilatih dan diperoleh tidak dengan mudah...... Alangkah sayangnya jika sampai mereka berdua tercelaka......! Sedang Yo Him berpikir seperti itu, tiba-tiba mata pemuda itu jadi terpentang lebar-lebar, karena waktu itu dilihatnya muka Tiat To Hoat-ong bengis bukan main, mimik mukanya keras sekali, yang heran, ke dua kakinya biarpun terpendam dalam tanah, tokh tubuhnya itu telah bergoyang-goyang, sebentar ke depan sebentar ke belakang, dengan demikian dia seperti juga orang yang akan rubuh ke depan atau kejengkang ke belakang. Sedangkan tubuh Swat tocu tetap berdiam dari di tempatnya. namun mukanya sebentar merah, sebentar hijau, sebentar kuning pucat..... Ke dua orang itu benar-benar tengah menghadapi detik-detik yang menentukan dalam pertempuran itu. Semua orang-orang hadir di tempat itu jadi memandang dengan tegang. Sedangkan Swat Tocu dan Tiat To Hoat-ong masing-masing mengerahkan seluruh kekuatan yang ada pada mereka, untuk mengatasi keadaan yang demikian membahayakan jiwa masingmasing...... Dalam kesunyian seperti itu, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan hijau, gerakannya begitu ringan dan cepat sekali. Disusul dengan teriakan kaget pangeran Ghalik.
"Sasana......!"
Rupanya di waktu Tiat To Hoat-ong dan Swat Tocu dalam keadaan terancam seperti itu di mana ke duanya terlibat dalam pertempuran yang menentukan, dengan secara tiba-tiba Sasana telah melompat dengan gesit sekali.
Gerakannya begitu ringan yang tahu-tahu telah melompat ke tengah gelanggang.
Tentu saja perbuatan Sasana membuat pangeran Ghalik jadi terkejut bukan main.
Dia berkuatir sekali.
Untuk mencegah perbuatan putrinya yang selalu dimanjakan itu, sudah tidak keburu lagi.
Jika memang Sasana menyelak di tengah-tengah ke dua orang yang tengah saling mengadu kekuatan untuk mati dan hidup itu, tentu tubuh Sasana akan hancur tergempur dua kekuatan tenaga raksasa.....!
Tetapi apa yang dikuatirkan oleh pangeran Ghalik ternyata berlebihan.
Sebab waktu itu, Sasana yang tiba di pinggiran Tiat To Hoat-ong dan Swat Tocu, tidak berdiam diri.
Dia memang menyelak di tengah, namun ke dua tangannya digerakan cepat sekali.
Tangan kirinya diulurkan untuk menyampok tangan Tiat To Hoat-ong, sedangkan tangan kanannya telah mengebut perlahan tangan Swat Tocu.
Gerakan yang dilakukannya seperti juga tidak mempergunakan tenaga.
Ke dua jago yang tengah mengadu ilmu itu telah letih sekali.
Walaupun mereka bertempur belum setengah harian, namun mempergunakan kekuatan tenaga mereka itu yang berlebihan, sebab merekapun memang menemukan tandingan yang setimpal, dengan kepandaian yang sama-sama tinggi dari sempurna.
Hebat, kesudahan dari dorongan ke dua tangan Sasana, karena tubuh Swat Tocu telah terdorong melangkah mundur satu tindak ke belakang dan Tiat To Hoat-ong terdorong dengan tubuh seperti akan terjengkang, karena ke dua kakinya telah tertancap ke dalam bumi, dengan sendirinya, hanya tubuhnya itu saja yang seperti ingin kejengkang.
Kemudian, Sasana telah melompat menjauh dua tindak, sambil berkata.
"Hentikan......!!"
Swat Tocu dan Tiat To Hoat-ong yang terpisah dari libatan kekuatan tenaga masing-masing, telah berdiri tertegun sejenak.
Apa yang dilakukan oleh Sasana sesungguhnya berbahaya.
Dia meminjam kekuatan ke dua tenaga dalam dari ke dua orang yang tengah bertarung, dengan cara "setail melontarkan seribu kati"
Sehingga dengan cara yang tepat.
Walaupun dengan tenaga yang tidak begitu besar si gadis bisa memisahkan ke dua tokoh persilatan yang lihay itu.
Jika memang harus menghadapi salah seorang dari ke dua jago itu Sasana tidak akan sanggup, karena kepandaiannya masih berada di tingkat bawah terpaut jauh sekali.
Semula mereka menduga orang yang menyelak di antara mereka, untuk melepaskan mereka dari libatan dua kekuatan yang tengah saling bentur itu adalah seorang tokoh persilatan yang telih lanjut usia.
Tetapi kenyataannya seorang wanita yang demikian cantik jelita, juga masih berusia muda sekali.
Dan yang paling terkejut adalah Tiat To Hoat-ong.
Segera saja ia mengenali orang yang telah memisah dia dengan Swat Tocu adalah puteri dari pangeran Ghalik.
Sama sekali dia tidak menduga bahwa Sasana memiliki kepandaian yang hebat!
Semua orang juga jadi berdiri bengong mengawasi gadis itu.
Demikian halnya juga dengan pangeran Ghalik.
Semula dia kuatirkan keselamatan puterinya itu, tetapi setelah melihat apa yang terjadi dia jadi lebih kaget dan bercampur girang, karena kaget mengetahui puterinya itu memiliki kepandaian yang demikian hebat, sedemikian girang.
Dia sama sekali tidak pernah mengetahui bahwa puterinya itu sesungguhnya merupakan salah seorang pandai yang memiliki kepandaian silat jauh di atasnya?
Jangankan untuk memisahkan Tiat To Hoat-ong dengan Swat Tocu yang tengah terlibat dalam suatu pertempuran yang seru dan menentukan itu, sedangkan untuk ikut maju ke tengah gelanggang saja, berdiri di dekat ke dua orang itu mungkin pangeran Ghalik sudah tidak sanggup!
Tetapi puterinya itu......
Sasana justeru telah berhasil memisahkan ke dua orang yang memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya itu dengan hanya satu gerakan!
Setelah tersadar dari bengongnya, pangeran Ghalik telah berlari memburu kepada Sasana, tegurnya.
"Sasana kau membuat aku hampir mati kaget!"
Tetapi Sasana yang cantik jelita itu telah tersenyum manis.
"Ayah, sudah ku katakan, kau tak perlu berkuatir atas diriku...... aku sudah besar ayah!"
"Aku bisa jaga diri baik-baik!"
Kata Sasana.
"Tapi...... kepandaianmu itu...... siapa yang telah mewarisinya? Siapa gurumu?"
Tanya pangeran Ghalik. Sasana tersenyum.
"Tidak ada orang yang mengajari, akupun tidak memiliki kepandaian apa-apa, ayah!"
Menyahuti Sasana sambil tertawa lebar, sehingga terlihat jelas betapa barisan giginya yang putih berkilauan itu.
Tiat To Hoat-ong telah menghapus keringat di kening dan mukanya, lalu dia membungkukkan sedikit tubuhnya.
Sambil tangan kanannya diletakkan di dada, katanya.
"Terima kasih atas pertolongan Kuncu (puteri)! Hebat sekali tenaga lweekangmu itu, hampir saja aku tidak sanggup menerima tolakan tanganmu itu!"
Sasana tersenyum.
"Koksu, itu hanya kebetulan saja, kau telah letih, maka mudah saja aku mendorong untuk memisahkan kalian, bukan?"
Menyahuti Sasana.
Sedangkan Swat Tocu berbeda dengan Tiat To Hoat-ong.
Dia gusar sekali, penasaran bukan main.
Dialah seorang tokoh yang memiliki kepandaian luar biasa.
Tak sembarang orang menerima tangannya dan serangannya.
Tetapi kêtika di waktu dia tengah memusatkan kekuatan hebat untuk menindih Tiat To Hoat-ong, si gadis yang muda usia itu, didengarnya telah dipanggilnya oleh Tiat To Hoat-ong sebagai Kuncu (Puteri), dengan sekali gerakan tangannya berhasil mendorongnya sampai mundur satu langkah ke belakang, kudakuda ke dua kakinya juga tergempur.
Inilah pengalaman pertama yang pernah dialaminya.
"Siapa kau?"
Tanyanya bengis.
"Atau kau memang ingin menggantikan orang Mongolia si gundul itu untuk berurusan denganku?"
Sasana tersenyum manis. "Maaf, maaf paman!"
Katanya cepat dengan sikap yang jenaka.
"Jangan paman marah! Aku hanya ingin memisahkan kalian saja! Mana berani aku bersikap kurang ajar padamu?"
Swat Tocu mengetahui jika memang dia tadi bisa mengerahkan tenaganya seperminuman teh lagi kemungkinan besar dia bisa merubuhkan Tiat To Hoat-ong.
Karena dia merasakan tenaga dalam Koksu itu telah terguncang tidak karuan, daya lawan dan daya bendungnya tidak sekuat semula.
Dalam keadaan seperti itu Tiat To Hoat-ong memang telah jatuh di bawah angin.
Tapi siapa sangka, gadis ini telah memisahkan mereka.
Dengan demikian, jelas si gadis bukan memisahkan mereka, hanya sengaja menolongi Tiat To Hoat-ong.
Rupanya Sasana juga mengetahui, jika pertempuran itu berlangsung beberapa saat lagi lamanya.
Tentu Tiat To Hoat-ong akan bercelaka......
Swat Tocu mendengus dingin.
Dia merupakan golongan tua, tidak bisa dia turun tangan terhadap gadis muda jelita itu yang termasuk golongan muda.
Namun hatinya mendongkol dan penasaran sekali, maka dia menggerakkan tangan kanannya.
"plakk"
Batu gunung yang ada disampingnya telah ditamparnya semplak besar sekali, meluruk jadi abu! Itulah tamparan yang mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya.
"Hem, beritahukan siapa gurumu?"
Kata Swat Tocu dingin.
"Suruh dia keluar untuk bertemu denganku!"
Karena melihat gadis ini memiliki lweekang yang luar biasa, jelas gurunya itu seorang liehay yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali. Sasana telah bersenyum.
"Maafkan aku telah berlaku kurang hormat, guruku itu jarang sekali muncul dalam Kang-ouw, maka itu jarang sekali orang mengetahui namanya dan diapun tidak ingin namanya disebut-sebut..... maafkan!"
Dan Sasana telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah menjura memberi hormat.
Sedangkan Swat Tocu telah mengawasi dengan mata mencilak, tahu-tahu dia mengebut dengan tangan kanannya.
Dari mana muncul angin yang menerjang kuat sekali kepada Sasana.
Sasana menundukkan tubuhnya sedikit, yang membungkuk ke depan, maka lewatlah serangan Swat Tocu.
Dia hanya merasakan hawa dingin yang mempengaruhi punggungnya, tetapi itu tidak lama, kemudian lenyap.
"Hebat kepandaianmu, usiamu masih muda namun engkau bisa memunahkan serangan itu dengan mudah! Baiklah, suatu saat kelak, aku ingin sekali berkenalan dengan gurumu itu!"
Setelah berkata begitu, dengan masih mendongkol, Swat Tocu telah bersiul nyaring.
Dari luar istana yang mirip perbentengan itu telah terdengar suara mengerang aneh sekali, kemudian berkelebat sesosok bayangan putih yang melompat masuk.
Ternyata itulah seekor biruang, yang tak lain dari biruang salju peliharaan Swat Tocu.
Kemudian dengan gerakan yang ringan sekali, Swat Tocu telah melompat ke punggung biruang itu.
Dia duduk di punggung biruang tersebut yang membawanya melompat dinding yang tinggi itu, meninggalkan tempat tersebut!
Sedangkan Pangeran Ghalik telah menghela napas dalam-dalam kemudian menoleh kepada Auwyang Phu dan Cek Tian, tanyanya.
"Kalian telah menimbulkan kekacauan di tempat ini, dosa kalian tidak ringan! Tangkap ke dua orang itu!"
Dan perintah yang terakhir itu ditujukan kepada anak buahnya. Cek Tian telah tertawa dingin, sama sekali dia tidak takut. Malah katanya.
"Hmmm. kami berani datang ke mari berarti kami memang bersedia untuk menerima apa yang akan terjadi pada diri kami! Kami akan mempertaruhkan jiwa kami untuk kebinasaanmu ini.....!"
Tetapi Auwyang Phu mengambil sikap lain dengan ibunya.
Walaupun tubuhnya bercacad, ukurannya yang pendek seperti anak kecil itu, namun otaknya tidak demikian dangkal, dia cerdik sekali.
Dilihatnya, disamping pangeran Ghalik yang memang memiliki kepandaian yang tidak rendah, juga terdapat pahlawanpahlawannya pangeran itu yang semuanya memiliki kepandaian sangat tinggi dan terutama sekali juga terdapat Tiat To Hoat-ong yang lihay dan puteri pangeran itu yang tampaknya memiliki kepandaian yang luar biasa, maka Auwvang Phu tidak berlaku nekad, dia menarik tangan ibunya, katanya;
"Ibu mari kita pergi......!"
Ibunya telah menoleh kepada anaknya itu dengan sorot mata yang tajam.
"Apa kau bilang?"
Tanyanya, diapun telah melihat pahlawanpahlawannya pangeran Ghalik telah mengurung mereka.
"Kita pergi meninggalkan tempat ini, jika memang kelak kita memiliki kesempatan lagi tentu kita akan berkunjung lagi untuk bertemu dengan si Ghalik itu!"
"Hm, apakah kau takut menghadapi mereka?"
Tegur Cek Tian jadi gusar bukan main. Auwyang Phu menggeleng.
"Tidak ada gunanya menghadapi mereka dalam keadaan seperti sekarang......!"
Menyahut Auwyang Phu.
"Kalian menyerahlah untuk kami ringkus......,"
Bentak salah seorang pahlawan pangeran Ghalik sambil melintangkan goloknya dan mengeluarkan rantai borgolan.
"Jangan kalian mempersulit diri kalian sendiri......"
Dan pahlawan yang seorang ini melangkah maju untuk memborgol ke dua tangan Auwyang Phu.
Mendongkol Auwyang Phu oleh sikap pahlawan pangeran yang seorang tersebut tahu-tahu dia angkat kaki kanannya dan mendupak.
Pahlawan yang seorang ini merupakan pahlawan yang memiliki kepandaian cukup tinggi, tidak mudah dia didupak seperti itu.
Dia telah mengelakkan diri dari tendangan si pemuda bertubuh pendek bulat kecil itu.
Tetapi dia jadi kaget, karena Auwyang Phu begitu gagal menendang ,justru dia telah menekuk ke dua kakinya setengah berjongkok dan tahu-tahu tangannya mendorong ke arah si pahlawan tersebut.
"Bukk!"
Tubuh pahlawan itu terpental seperti daun kering, kemudian terbanting dikejauhan tiga tombak lebih. Auwyang Phu tanpa memperdulikan korbannya itu telah menarik tangan ibunya.
"Mari kita berangkat bu!"
Cek Tian tidak membantah lagi, hanya matanya mendelik bengis mengawasi selintas pada pangeran Ghalik penuh dendam, kemudian melangkah akan ikut puteranya meninggalkan tempat itu dengan jalan melompati tembok yang tinggi itu.
Namun belasan orang pahlawannya pangeran Ghalik telah melompat untuk mengurung.
Tiat To Hoat-ong juga telah melompat untuk membekuk pemuda bertubuh pendek she Auwyang tersebut.
Sasana menoleh kepada ayahnya.
"Biarkan mereka pergi, ayah......!"
Kata gadis itu. Pangeran Ghalik bimbang, namun akhirnya dia berseru.
"Biarkan mereka pergi! Jangan diganggu!?"
Perintah Pangeran Ghalik tidak berani dibantah oleh para pahlawannya itu, yang segera mengundurkan diri membuka kepungan mereka.
Demikian juga Tiat To Hoat-ong, yang sebetulnya waktu itu baru saja mengulurkan tangan kanannya guna menjambak punggung Auwyang Phu namun mendengar teriakan Pangeran Ghalik, ia telah menarik pulang tangannya.
Namun dari mukanya terlihat dia tidak puas.
"Hmm, mereka hendak mencelakaimu, mereka mengandung maksud buruk padamu, tetapi kau seenaknya membiarkan mereka pergi!"
Berpikir Tiat To Hoat-ong di dalam hatinya.
Tetapi Koksu negara ini tidak mengutarakan pikirannya itu, dia hanya berdiam diri.
Namun hatinya semakin tidak puas kepada pangeran ini.
Auwyang Phu bersama ibunya telah melompat dengan ringan, dan mereka telah berlalu lenyap dari pandangan mata semua orang.
Sedangkan pangeran Ghalik telah menoleh kepada puterinya, tanyanya.
"Mengapa kau minta agar mereka dibebaskan begitu saja? Tentunya kau mempunyai alasan tertentu, Sasana?"
Sasana tersenyum.
"Mereka merupakan orang-orang Kang-ouw yang memiliki kepandaian yang tidak rendah juga. Tadi aku telah melihat pemuda pendek itu mempergunakan jurus ilmu silat Ha-mo-kang ilmu silat kodok yang merupakan kepandaian tunggal Auwyang Hong yang terkenal, yang kuburannya pernah dibongkar oleh ayah belasan tahun yang lalu! "
Kita sementara ini tidak boleh mencari bentrokan dengan orangorang Kang-ouw karena bukankah baru beberapa tahun kita menancapkan kaki di daratan Tiong-goan dan Kaisar kita berkuasa belum lagi mantap.
Jika memang kita mencari urusan dengan orang-orang Kang-ouw, sehingga mereka selalu mengganggu pihak kita, bukankah kita memperoleh kesulitan yang tidak kecil?
Hmm, bukankah ayahpun menerima tugas untuk menghimpun para jago-jago untuk tunduk bekerja di bawah perintah ayah untuk memusuhi mereka?!
" Ayah itu telah menepuk keningnya.
"Ai, kau benar! Memang ayah telah melupakan hal yang penting itu! Mereka telah datang untuk memusuhi ayah, tanpa pikir panjang lagi ayah ingin mempergunakan tangan besi. Tetapi memang itu keliru, suatu kekeliruan yaug tidak kecil! Seharusnya ayah menyambutnya dengan baik-baik, merangkulnya agar mereka tunduk di bawah perintah ayah, karena tampaknya mereka anak dan ibu memang memiliki kepandaian yang tidak rendah......!"
Puteri itu telah tersenyum.
"Namun belum lagi terlambat, biarlah nanti puterimu yang pergi mempengaruhinya! Yang menarik sekali, tampaknya mereka ibu dan anak itu memiliki hubungan yang dekat dengan Auwyang Hong. Jelas warisan dari Auwyang Hong telah diperoleh mereka, karena ilmu tunggal yang sakti dari Auwyang Hong tampaknya dikuasai dengan baik oleh pemuda itu!"
"Tetapi Sasana......"
Pangeran Ghalik tampaknya ragu-ragu sekali.
"Apakah ayah ingin menyatakan kekuatiranmu terhadap keselamatan diriku?"
Tanya puterinya sambil tetap tersenyum. Pangeran Ghalik telah tertawa.
"Tidak, justru kulihat engkau memiliki kepandaian yang luar biasa, dan tidak pernah kuduga sebelumnya! Sama sekali ayah tidak mengetahui bahwa engkau memiliki kepandaian yang begitu hebat. Anak, siapakah sebenarnya gurumu, mengapa kau tidak memperkenalkan kepada ayah?'' "
Dia seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian luar biasa!
Yang bisa menandinginya bisa dihitung dengan jari tangan.
Tetapi maaf ayah, seperti pesan yang diberikan oleh guru, maka sementara ini anakmu belum bisa memberitahukan siapa adanya guruku itu!"
"Apakah dia berada dalam istana ini bersama-sama kita?"
Tanya pangeran Ghalik lagi. Puterinya mengangguk.
"Ya, tetapi ayah jangan sekali-kali coba menyelidikinya, karena jika guruku itu tersinggung dan pergi, bukankah anak yang akan menderita rugi, karena untuk selanjutnya tidak memperoleh bimbingannya lagi? Itu masih belum seberapa, karena jika sampai guruku gusar dan menegur aku, jelas aku bisa celaka, karena telah melanggar pesannya......"
Pangeran Ghalik mengangguk, dia mengerti kesulitan puterinya ini.
Walaupun masih diliputi keheranan yang bukan main, namun pangeran Ghalik tidak banyak bertanya lagi.
Dia hanya girang mengetahui bahwa puterinya ternyata telah memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya.
Walaupun menghadapi Tiat To Hoatong, belum tentu puterinya itu dengan mudah dirubuhkan oleh Koksu negara itu.
Tiat To Hoat-ong sendiri sejak tadi hanya mendengarkan saja percakapan antara anak dan ayahnya.
Dia pun ikut heran dan menduga-duga, entah siapa guru puteri dari pangeran Ghalik ini.
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak menanyakan hal ini hanya dalam hati dia berpikir.
"Kelak aku akan menyelidikinya.....!"
Waktu itu pangeran Ghalik telah mengibaskan tangannya.
Semua pahlawannya segera mengundurkan diri.
Begitu juga halnya dengan Liong Tie Siang dan yang lainnya telah meninggalkan tempat itu.
Tiat To Hoat-ong telah membungkukkan tubuhnya sedikit, diapun telah mengundurkan diri.
Waktu pangeran Ghalik mengajak puterinya untuk kembali ke istana mereka.
Puteri itu mengatakan bahwa, dia ingin beranginangin di tempat ini dulu.
Ayahnya tidak mencegah, dan pangeran Ghalik telah melangkah pergi meninggalkan puterinya.
Sasana melangkah perlahan-lahan ke sana ke mari dengan sepasang alis mengkerut.
Tampaknya ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.
Kemudian dia telah melangkah ke arah barat, ke arah tempat di mana Yo Him dan Wang Put Liong berada.
Gadis itu telah mengawasi tajam sekali, karena dia melihat tidak ada pengawal di depan pintu ruang tahanan itu.
Kemudian terdengar dia tertawa dingin.
"Apakah kau ingin berdiam terus di situ sampai tua?"
Tegurnya dengan suara tawar.
"Mengapa tidak keluar memperlihatkan diri!"
Yo Him memang sejak tadi telah merasa kagum akan kepandaian nona itu, terutama kecantikan si puteri itu yang begitu menawan hati.
Sekarang melihat bahwa Sasana mengetahui mereka berdua bersembunyi di dalam ruang tahanan itu, dia tambah kagum lagi.
"Ternyata matanya tajam sekali!"
Pikir Yo Him. Namun pemuda ini sama sekali tidak jeri, dia telah menarik tangan Wang Put Liong, lalu digendongnya untuk dibawa keluar. Sasana mengawasi mereka, kemudian katanya dengan tawar.
"Apakah kau anggap mudah untuk keluar dari perbentengan ini?"
Yo Him tersenyum, sabar sekali.
"Nona...... rupanya memang nona señgaja ingin membiarkan kami pergi tanpa memperoleh gangguan, karena nona sama sekali tidak memberitahukan kepada ayahmu perihal kami walaupun nona rupanya telah mengetahui sejak tadi......!"
"Yo kongcu!"
Kata Sasana kemudian dengan sikap bersungguhsungguh.
"Ayahku telah demikian baik padamu, mengundang ke mari. Untuk dijamu dan diberikan kedudukan yang baik buatmu, namun engkau seperti mencari kesulitan untuk dirimu sendiri! Sesungguhnya, apakah kau memang tidak mau menerima kebaikan ayahku itu? Atau memang pertolongan yang telah diberikannya menyembuhkan luka yang diderita oleh kawanmu itu dianggap oleh kau sebagai perbuatan yang tiada artinya?"
Yo Him tersenyum tawar.
"Nona, tentu saja aku si orang she Yo tidak akan melupakan budi kebaikan dari pangeran Ghalik, tetapi...... jelas dalam persoalan ini, aku pun tidak bisa bekerja di bawah perintahnya!"
"Jika memang engkau tidak bersedia menerima tawaran ayahku guna memegang pangkat dan kedudukan, mengapa kau menerima dan menyanggupi? Apakah itu perbuatan seorang lakilaki gagah? Hmm, ucapan seorang gagah tidak akan ditarik pula, walaupun apa yang terjadi! Apakah demikian rendah harga derajat dan dirimu?"
Muka Yo Him berubah merah, diapun mendongkol.
Sebetulnya dia hendak mengatakan bahwa dia jelas tidak bisa tunduk pada Pangeran Ghalik, karena pangeran itu hanyalah bermanis budi untuk merangkul guna mencapai maksud dan tujuannya.
Jadi bukan sesungguhnya berbaik hati padanya.
Tetapi akhirnya Yo Him batal untuk mengutarakannya, dia hanya bilang.
"Aku memiliki suatu kesulitan yang sukar sekali kujelaskan padamu......!"
"Hm!"
Tertawa dingin gadis itu.
"Lalu apa maksudkan kau dengan membawa-bawa orang she Wang yang menjadi tawanan kami itu!"
"Kami adalah sahabat-sahabat, dan kulihat dia menerima perlakuan demikian macam, perlakuan yang demikian manis dari ayahmu. Hmm, jelas tidak dapat aku melihat saja tanpa berbuat sesuatu pada keadaannya ini.......!"
Sasana telah tertawa dingin lagi.
"Apakah kau yakin bisa membawa pergi orang she Wang itu?"
Tanyanya.
"Akan kuusahakan......!"
Menyahut Yo Him berani.
Tiba-tiba Sasana telah tertawa keras dan nyaring, namun suara sangat merdu.
"Kau memandang rendah pada kami, kau meremehkan kami.
Tahukah kau, jangankan untuk membawa keluar dari perbentengan ini, sesungguhnya untuk membawanya keluar dari pintu ruang tahanan itu saja tidak mudah, jika memang aku tidak sengaja membiarkannya!
Tidak perlu aku atau guruku yang mencegah.
Cukup jika Koksu kami atau beberapa orang pahlawan ayahku yang merintangi, seumur hidup kau jangan harap bisa keluar dan meninggalkan kamar tahanan itu!"
Setelah berkata begitu, Sasana memandang dengan sorot mata yang tajam. Kemudian dia berkata lagi dengan sikap yang dingin waktu melihat Yo Him berdiam diri saja.
"Sesungguhnya seluruh perihal keadaanmu telah "
Kuketahui', begitu kau menjejakkan kaki di tempat ini.
Telah kuperhatikan gerak gerikmu.
Hanya saja Yo kongcu, karena aku memandang muka terang ayahmu yaitu Yo Tayhiap yang masih memiliki hubungan dengan guruku, maka aku berlaku lunak padamu.
Tidak kulakukan hal-hal yang sama merugikan kau!"
Yo Him tidak jeri, walaupun gadis itu telah menggertaknya secara halus, malah ia telah tertawa sambil tetap menggendong Wang Put Liong, tanyanya dengan suara yang tetap sabar walaupun hatinya mendongkol sekali.
"Bolehkah aku mengetahui nama dan gelaran guru nona yang mulia?"
"Hmmmmmm, jangankan kau, sedangkan ayahku saja tidak akan kuberitahukan! Cuma di sini dapat kutegaskan bahwa guruku memiliki hubungan yang cukup dekat ayahmu! Karena itu jika memang kau berbuat sesuatu yang bisa merugikan kedudukan ayahku, hmmm, hmmm, tentu akupun tidak bisa selalu berpegang pada memberi muka terang pada ayahmu, jelas aku akan bertindak! Maaf, bukan aku bermaksud hendak mempersulit dirimu, tetapi janganlah engkau mencari kesulitan untuk dirimu sendiri!"
Setelah berkata sampai di sini, Sasana berdiam diri sejenak, mukanya jadi bersungguh-sungguh waktu dia meneruskan lagi berkata dengan suara yang tegas.
"Kembalikan Wang Put Liong ke ruang tahanan itu!"
Yo Him tertawa dingin, katanya.
"Maafkan nona, bukan aku orang she Yo tidak mau mematuhi perintah seorang puteri agung seperti kau...... Wang Put Liong harus kubawa pergi dari tempat ini.....! Dia telah disiksa demikian mengenaskan sekali. Maka harus diselamatkan dari tangan-tangan manusia biadab seperti ayahmu nona......!"
Muka si gadis telah berubah merah padam, tetapi itu hanya sejenak. Kemudian dia telah tertawa dingin dengan sikap tidak acuh, dan memandang remeh pada Yo Him, tanyanya.
"Apakah engkau telah memikirkan dua kali akan maksud hatimu itu, Yo kongcu?"
"Ya, apapun yang terjadi, Wang Put Liong harus dibawa keluar dari perbentengan ini! Dan perihal maksud ayahmu nona yang ingin menarik menjadi orangnya, itu bisa dibicarakan nanti di belakang hari!" Sasana tiba-tiba tertawa keras lagi bergelak-gelak lalu katanya.
"Baiklah! Baiklah Yo kongcu! Yo Tayhiap merupakan tokoh rimba persilatan yang memliki kepandain tinggi sekali! Aku memang telah banyak dengar dari keterangan guruku......! Kebetulan di sini ada kau sebagai puteranya, maka ingin meminta petunjukmu!"
Dan puteri pangeran Ghalik yang nampaknya begitu lincah dan gesit, telah bersiap-siap untuk mengirimkan satu serangan kepada Yo Him. Tapi Yo Him tidak jeri, ketika dia mendengar Sasana berkata.
"Bersiaplah, Yo kongcu, aku akan segera meminta petunjukmu.....!"
Yo Him juga telah memusatkan kekuatan lweekangnya pada ke dua tangannya.
Dia telah menggendong Wang Put Liong di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya telah diluruskan turun ke bawah, setiap detik bisa dipergunakan untuk menghadapi segala kemungkinan.
Sasana melangkah dua tindak mendekati Yo Him, dan tangan kanannya tahu-tahu bergerak menotok ke arah ketiak Yo Him.
Gerakan yang dilakukannya itu lambat dan perlahan sekali, bagaikan gadis itu memang bermaksud hanya menunjuk belaka, tetapi dari ujung jari telunjuknya itu telah meluncur keluar angin yang tajam sekali.
Yo Him terkejut.
Semula melihat cara menyerang gadis itu, dia menduga bahwa Sasana itu mempergunakan ilmu It-yang-cie, ilmu turunan raja raja Tayli, yang dimiliki oleh Toan Hong It Teng Taysu.
Namun setelah memperhatikan dengan seksama, walaupun memang sama-sama menyerang dengan mempergunakan jari telunjuk, namun ilmu yang dipergunakan oleh Sasana bukanlah Ityang-cie.
Angin yang tajam itu seperti juga mata pedang yang menerobos pertahanan Yo Him.
Sebagai seorang pemuda yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, Yo Him cepat mengelak ke samping.
Tapi untuk kagetnya, jari telunjuk gadis itu bergerak cepat sekali, tahu-tahu ujung jarinya itu telah ikut miring ke samping dan menempel di baju Yo Him!
Itulah gerakan yang luar biasa cepat dan gesitnya.
Tapi memang Yo Him telah menyaksikan, betapa Sasana berhasil memisahkan Tiat To Hoat-ong yang tengah bertempur hebat dengan Swat Tocu, hal itu membuktikan bahwa tenaga dan kepandaian gadis ini memang luar biasa.
Karena itu, Yo Him pun berlaku hati-hati.
Menghadapi keadaan seperti ini, Yo Him sama sekali tidak gugup.
Cepat sekali dia telah menggerakkan tangan kanannya.
Dia bukan ingin menangkis, hanya akan mencengkeram muka si gadis.
Terpaksa Sasana menarik pulang serangannya, gadis itu mundur dua langkah, menghindarkan mukanya dari cengkeraman Yo Him, kemudian tanyanya.
"Bagaimana, apakah dalam satu jurus ini kau telah bisa berpikir dengan baik untuk maksudmu membawa pergi orang she Wang itu?"
Yo Him tertawa tawar, katanya.
"Memang nona memiliki kepandaian yang mengagumkan sekali! Tapi maafkanlah, aku orang she Yo terpaksa harus mengiringi kemauan nona......!" Setelah berkata begitu, Yo Him kembali bersiap-siap, dia menantikan serangan lagi. Sasana tidak segera menyerang. Tadi dia telah menyerang dengan mempergunakan jurus yang sesungguhnya merupakan jurus yang berbahaya sekali. Jarang orang bisa menghindarkan serangan seperti itu, jika memang kepandaiannya tanggung. Tapi Yo Him, dengan mudah bisa menyelamatkan dirinya. Ini memperlihatkan bahwa Yo Him pun bukan lawan yang ringan.
"Yo kongcu, ayahku bermaksud baik, dan engkau diperlakukan baik pula!"
Kata Sasana.
"Apakah engkau tidak mau melihat sebelah mata terhadap semua itu......?"
"Sayang sekali kami memiliki pandangan yang berlainan, terlebih lagi yang harus di ingat, ayah nona seorang pangeran yang memiliki kedudukan mulia dan agung..... sedangkan aku ini? Hmm, tentu aku tidak pantas menerima kebaikan-kebaikannya itu" !"
"Tetapi bicara soal bangsa, banyak juga jago-jago dari daratan Tiong-goan yang bersedia bekerja pada ayahku!"
Menyahuti si gadis.
"Janganlah Yo kongcu berpandangan bahwa ayah seorang pangeran Mongolia, maka terputus hubungan antara kalian! Tidakkah jika memang Yo kongcu menerima uluran tangannya, maka di antara kita ini akan terikat pula hubungan tali persahabatan yang menggembirakan."
Yo Him menghela napas.
"Satu tawaran yang menarik......!"
Katanya. "
Apakah Yo Kongcu bersedia untuk mengambil sikap baik-baik dalam memutuskan persoalan ini?' tanya Sasana lagi sambil menatap tajam sekali.
"Nona......"
Menyahuti Yo Him.
"Nona adalah puteri dari pangeran Ghalik, jelas engkau akan berdiri di pihak ayahmu. Kepandaianmu juga tidak rendah! Engkau seorang wanita yang luar biasa, memiliki segala-galanya! Wajahmu cantik, kepandaianmu tinggi benarbenar mengagumkan sekali, jarang ada seorang wanita yang sehebat engkau! "
Tapi sekarang aku ingin bertanya padamu, jika saja aku menawarkan padamu nona bahwa engkau akan diberikan kedudukan yang tinggi dalam suatu pemerintahan di daratan Tiong-goan, oleh bangsa Han kami, apakah kau akan menerimanya dengan meninggalkan ayah dan juga bangsamu?"
Disanggapi seperti itu, muka Sasana telah berobah jadi merah, dia telah berkata dengan tawar.
"Jika memang kedudukan yang ditawarkan itu memang menggembirakan dan menguntungkan, mengapa harus ditolak? Tetapi sayang, sayang sekali..... justru untuk kedudukan mulia telah kumiliki, ingat, aku adalah puteri dari seorang pangeran. Pangeran Ghalik yang merupakan tangan kanan dari Kaisar kami, dan memiliki kekuasaan yang besar tidak terbatas! Jadi kau salah alamat jika bertanya seperti itu padaku......!"
Dan setelah berkata begitu, si gadis tertawa dengan sikapnya yang angkuh sekali, keagung-agungan. Yo Him tertawa tawar, katanya.
"Tetapi pertanyaanku tadi adalah jawaban yang hendak kuberikan! Jika nona menjawab dengan jujur hati atas pertanyaan itu, maka demikian pula jawabanku!"
"Jadi benar-benar Yo Kongcu memang tidak bersedia bekerja sama dengan ayahku?"
Tanya Sasana.
"Kita bicara ke sana ke mari mutar-mutar, tetapi akhirnya tujuannya satu, yaitu nona berusaha untuk mendesak agar aku menerima tawaran ayah nona bukan?"
Sasana tidak menyahuti, dia mengawasi Yo Him beberapa saat lamanya, sampai akhirnya mukanya berohah guram, dia menunduk sejenak. Wang Put Liong yang berada dalam gendongan Yo Him telah berbisik.
"Yo Siauwhiap, biarlah kau kembalikan aku ke dalam ruang kamar tahanan itu, tapi kau ambillah dulu peta harta karun di dadaku. Setelah itu kau berusaha untuk meloloskan diri dari tempat ini......!"
Yo Him tidak menyahuti, dia hanya menggelengkan kepalanya. Dan matanya mengawasi Sasana dengan tajam. Waktu itu Sasana telah mengangkat kepalanya, dia menghela napas.
"Sesungguhnya Yo kongcu,"
Kata Sasana kemudian.
"Kau masih belum mengerti duduknya hal......!" "Jika memang boleh kutahui, persoalan apakah itu nona?"
Tanya Yo Him dengan sikap yang tenang. Sasana menghela napas, wajahnja tetap muram, seperti juga ada sesuatu yang mengganjel hatinya.
"Kau tentu menduga, bahwa ayahku bekerja dengan setia menyerahkan jiwa dan raganya untuk Kaisar, bukankah begitu?"
Yo Him mengangguk.
"Memang seorang pangeran yang telah menerima kekuasaan dan kepercayaan dari Kaisarnya tentu akan melakukan tugasnya sebaik mungkin......!"
"Memang benar, tapi ayahku tengah menghadapi kesulitan yang tidak kecil.....!"
"Apakah nona ingin mengatakan bahwa ayah nona akan berhadapan dengan kami, para kesatria daratan Tiong-goan?"
Tanya Yo Him dengan sikap mengejek.
"Bukan!"
Menggeleng si gadis.
"Lalu?"
Tanya Yo Him.
"Justru ayahku tengah mengalami gangguan dalam dari orangorangnya sendiri!"
Kata Sasana. Yo Him mengerutkan alisnya, kemudian tertawa tawar. "Kukira itu tidak ada perlunya diceritakan nona!"
Katanya kemudian.
"Tetapi, tahukah Yo kongcu, bahwa sekarang ayahku dalam keadaan terancam? Bukan kami ayah dan anak memberatkan kedudukan kami, tetapi justru keselamatan kami......! Di mana orang kepercayaan ayah, yang sangat diandalkan, ternyata merupakan musuh dalam selimut......"
Yo Him diam saja.
"Kongcu tentu kenal dengan Koksu kami, yaitu Tiat To Hoat-ong bukan?"
Tanya Sasana. Yo Him mengangguk.
"Dialah Koksu negara kalian yang tangguh berkepandaian tinggi sekali. Ayahpun telah beberapa kali beradu tangan dengannya......?!"
Menyahuti Yo Him. Sasana menghela napas lagi, diapun telah memperlihatkan wajah yang murung.
"Justru Tiat To Hoat-ong sekarang ini tengah berusaha menghimpun suatu kekuatan, untuk menggeser pengaruh ayahku!"
Kata Sasana. Yo Him memandang tertegun pada si gadis tetapi kemudian katanya tawar.
"Itulah urusan di antara kalian. Tentu tidak dapat aku memberikan komentar......!"
"Benar!"
Mengangguk si gadis.
"Ayahkupun tidak mengetahui maksud buruk dari Tiat To Hoat-ong. Baru aku seorang yang telah berhasil mengetahui dengan jelas maksud Koksu kami itu yang ingin menggeser dan meruntuhkan ayahku, menindih pengaruhnya, mempengaruhi Kaisar kami agar ayah terpojokkan......
"Sejauh itu...... Koksu kami itu telah berhasil menghimpun banyak sekali jago-jago silat di daratan Tiong-goan, diapun telah mendatangkan beberapa orang jago liehay dari negeri kami yaitu Mongolia......! Aku yang mengetahui kedudukan ayahku terancam, sebagai puterinya, apakah tidak layak jika memang akupun berusaha untuk menghimpun suatu kekuatan, yang akan membantu dan melindungi ayahku?"
Yo Him tertawa tawar.
"Memang di kalangan atas, sering terjadi permainan saling caplok seperti itu, saling makan satu dengan yang lainnya!"
Menyahuti Yo Him.
"Aku sebagai rakyat jelata, tentunya tidak mengetahui dan tidak mengerti dengan persoalan seperti itu!"
Sasana telah menghela napas waktu wajahnya memperlihatkan kesungguhan, waktu dia berkata lagi.
"Tetapi Yo Kongcu adalah maksud dan tujuanku agar kau bersedia mau membantu ayah, dengan adanya kau yang kuketahui memiliki kepandaian tinggi serta sempurna, tentu keselamatan ayahku bisa terjamin! Dalam hal ini yang memberatkan hatiku, bukanlah kedudukan ayah! Walaupun ayah dicopot gelar kebangsawanannya dan menjadi rakyat jelata biasa, aku rela......! Namun justru dari golongan Tiat To Hoat-ong terkandung maksud buruk yang ingin membasmi kami sekeluarga......!"
Yo Him jadi memandang tertegun pada si gadis. Dia tidak mengerti, mengapa puteri dari pangeran Ghalik, yang baru pertama kali ini bertemu. Telah dapat membuka urusan yang penting tersebut padanya.
"Cukup jika memang Yo Kongcu menyanggupi untuk membantu melindungi ayahku, maka budi Yo Kongcu tidak akan kulupakan. Mengenai Wang Put Liong, juga persoalan lainnya, di mana mengenai sahabat Yo Kongcu aku tentu tidak akan mempersulit mereka, akan kuusahakan agar mereka bisa meninggalkan tempat ini dengan aman tanpa memperoleh gangguan apapun juga......!"
Yo Him memandang tajam pada si gadis.
"Apa maksud nona?"
Tanyanya.
"Begini saja, kita adakan jual beli!"
Menyahuti si gadis.
"Untuk sekarang ini Yo Kongcu membantu kami, untuk menghadapi Tiat To Hoat-ong dan orang-orangnya itu. Dan kawan-kawan Yo Kongcu akan kami lepaskan......!"
Yo Him ragu-ragu.
Itulah tawaran yang menarik.
Memang bisa saja Yo Him segera menyanggupi permintaan si gadis, agar Wang Put Liong serta Liu Ong Kiang dan Cin Piauw Ho bisa meninggalkan perbentengan ini tanpa memperoleh gangguan suatu apapun juga.
Tetapi tentu saja Yo Him tidak mau berdusta, karena itu dia tidak dapat mengiyakan tawaran itu.
Dia hanya bilang.
"Jika memang nona telah menawarkan bantuan seperti itu padaku, inilah hal yang menggembirakan sekali! Begini saja, bebaskan dulu sahabat-sahabatku, jika mereka telah meninggalkan perbentengan ini, barulah nanti kita bicarakan pula persoalan ini. Bagaimana pendapatmu?"
Sasana telah mengawasi bimbang, namun akhirnya mengangguk.
"Baiklah, mereka akan dibebaskan dua hari lagi. Jika besok, tentu akan mendatangkan kecurigaan pada Tiat To Hoat-ong, Koksu negara kami. Maka, mereka harus meninggalkan perbentengan ini secara diam-diam, sedangkan Koksu kami itu besok akan menerima perintah dari ayah untuk pergi memberikan laporan pada Kaisar, sehingga terbuka kesempatan yang luas. Yo Him mengangguk.
"Tetapi Yo Kongcu,"
Kata Sasana lagi.
"Kuharap saja kau tidak merubah pikiranmu lagi......!"
Setelah berkata begitu.
puteri pangeran Ghalik telah bersenyum, manis sekali.
Yo Him hanya mengawasi kepergian puteri dari pangeran Ghalik.
Lama sekali Yo Him berdiri di tempatnya itu.
Sama sekali dia tidak menyangka bahwa pangeran Ghalik memiliki seorang puteri selain demikian cantik rupawan, juga memiliki kepandaian yang demikian tinggi.
Entah siapa gurunya, yang dirahasiakannya itu?
Setelah bayangan si gadis lenyap dari pandangannya, Yo Him menghela napas.
Di saat itulah Wang Put Liong telah berkata menyadarkan Yo Him dari lamunannya.
"Gadis itu memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Dia juga puteri dari pangeran Ghalik, kau harus waspada menghadapinya, Yo Siauwhiap!"
Yo Him mengangguk.
"Jangan sampai kau terkena tipu dayanya......!"
Kata Wang Put Liong lagi.
"Entah yang diceritakannya itu mengenai Tiat To Hoat-ong benar atau memang hanya merupakan karangannya belaka?"
Menggumam Yo Him.
Dengan menggendong Wang Put Liong, Yo Him telah kembali ke kamarnya.
Dilihatnya Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang tengah menantikannya.
Ko Tie juga tampak bergelisah sekali.
Satu hari telah lewat, tidak terjadi suatu apapun juga.
Hanya mendekati sore terlihat beberapa orang pahlawan pangeran Ghalik yang lewat dengan sikap tergesa-gesa.
Merekapun seperti tengah membicarakan sesuatu, namun Yo Him tidak mengerti bahasa mereka.
Malam itu keadaan di perbentengan tersebut sunyi sekali.
Yo Him bulak-balik di pembaringan dengan pikiran yang agak resah.
Dilihatnya kesehatan Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang telah mengalami kemajuan yang pesat.
Malah Cin Piauw Ho, walaupun tidak bisa disembuhkan keseluruhannya dari lukanya, dan racun yang mengendap di tubuhnya itu tidak bisa dilenyapkan, namun Cin Piauw Ho telah dapat berjalan dengan langkah perlahan-lahan.
Yang diperlukan oleh Cin Piauw Ho adalah obat penawar racun yang bisa memunahkan seluruh racun yang mengendap di tubuhnya itu.
Tapi dengan memperoleh pengobatan dari tabibtabibnya pangeran Ghalik, racun itu untuk sementara bisa dibendung daya kerjanya sehingga Cin Piauw Ho mungkin bisa hidup tiga-empat bulan selama belum memperoleh obat penawar racun yang tepat.
Dalam kesunyian malam seperti itu, Yo Him memikir keras.
Banyak teka-teki yang dihadapinya di perbentengannya pangeran Ghalik.
Karena segala yang dialaminya demikian beruntun dan belum bisa dipecahkan rahasianya.
Seperti munculnya Swat Tocu, Cek Tian dan puteranya, yaitu Auwyang Phu, dan juga putri dari pangeran Ghalik, yaitu Sasana, yang memiliki kepandaian tinggi serta sempurna itu.
Juga Yo Him jadi teringat akan cerita Sasana mengenai niat busuk Tiat To Hoatong yang ingin menindih pengaruh dari pangeran Ghalik.
Memang urusan itu bukan menjadi urusannya, karena itu persoalan dari orang-orang Mongolia tersebut.
Malah membawa suatu keuntungan yang tidak kecil untuk orang-orang Han, yaitu dari kerajaan Song yang telah musnah, namun masih tersebar di seluruh daratan Tiong-goan, dengan harapan suatu saat bisa membangun negeri mereka lagi.
Jika terjadi perpecahan di dalam pemerintahan penjajah itu, niscaya akan menyebabkan mereka lemah dan kelak mudah untuk dirubuhkan dan diusir dari tanah air mereka.
Namun Yo Him kini menghadapi persoalan yang tidak ringan, karena selain Tiat To Hoat-ong sendiri memiliki kepandaian yang tinggi bukan main, juga pangeran Ghalik bersama dengan para pahlawannya itu bukan lawan yang enteng.
Apa lagi dibantu oleh Sasana, puterinya pangeran tersebut, yang memang memiliki kepandaian sangat tinggi.
Yo Him juga mengetahui maksud pangeran Ghalik membujuknya agar mau tunduk dan bekerja di bawah perintahnya.
Hanyalah ingin dimanfaatkan untuk mengorek keterangannya di mana adanya para jago-jago yang membantu kerajaan Song, yang hendak ditumpas oleh pangeran Ghalik ini.
Sedang Yo Him rebah gulak gulik di pembaringannya itu, tiba-tiba dia mendengar suara yang ringan sekali di luar jendela kamarnya dibarengi kemudian dengan ketukan perlahan.
"Yo kongcu, mari kau ikut aku......!"
Terdengar suara yang halus di luar jendela.
Yo Him terkejut, dia telah melompat turun dari pembaringan.
Liu Ong Kiang dan Cin Piauw Ho pun telah terbangun dari tidur mereka.
Rupanya ke dua orang inipun telah mendengar suara ketukan di jendela itu, dan ke duanya sedang memandang pada Yo Him dengan sorot mata tanda tanya.
Ko Tie dan Wang Put Liong waktu itu tengah tertidur nyenyak.
Yo Him mengangguk pada Liu Ong Kiang dan Cin Piauw Ho, dia mendekati jendela.
Dia mengenali bahwa suara orang di luar jendela itu adalah suaranya Sasana puteri dari pangeran Ghalik yang telah bertemu dengannya malam ke marin.
Didorongnya daun jendela itu dengan waspada karena dia kuatir nanti Sasana berlaku licik membokongnya.
Tetapi hanya angin malam menghembus.
Tampak sesosok bayangan tengah berlarilari dengan tangan dilambaikan padanya.
Yo Him hanya bimbang sejenak, kemudian katanya pada Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang.
"Aku akan pergi sebentar, segera aku kembali!"
Dan tubuh Yo Him gesit sekali melompat keluar dari jendela itu.
Sosok tubuh yang tengah berlari-lari itu yang tidak lain dari Sasana, berlari gesit dan cepat sekali.
Di bawah sinar cahaya rembulan, tampak tubuh yang langsing itu bagaikan selembar daun yang melayang-layang di tengah udara.
Yo Him mengejarnya.
Tetapi Sasana tidak menghentikan larinya.
Dia berlari terus menuju ke arah timur, dan akhirnya tiba di suatu tempat yang banyak sekali ditumbuhi pohon-pohon bunga beraneka warna.
Itulah taman dari istana atau perbentengan pangeran Ghalik tersebut.
Yo Him pun telah tiba dengan cepat.
Sasana sudah tidak berlari lagi, dia berdiri agung dan cantik sekali.
Pakaiannya yang reboh, dengan paras mukanya yang cantik dan rambutnya yang disanggul dua, tampak dia bagaikan seorang dewi yang baru turun dari kahyangan, yang tengah menantikan Yo Him dengan bibir tersungging senyuman yang manis.
Yo Him telah merangkapkan tangannya, tanyanya.
"Ada urusan apakah di malam larut seperti ini nona mengundangku datang ke tempat ini?"
Sasana mengawasi Yo Him sejenak, kemudian dia menyahut.
"Ada sesuatu yang penting ingin kubicarakan denganmu Yo kongcu!"
"Urusan apakah itu?"
Tanya Yo Him heran.
"Apakah tidak lebih baik jika memang besok siang saja nona menyampaikannya?"
Sasana menggeleng perlahan.
"Inilah untuk keselamatanmu juga Yo kongcu juga kawankawanmu itu......!"
Menjelaskan Sasana. Yo Him heran, diapun terkejut, hatinya tercekat, tanyanya.
"Apakah itu nona? Apa maksudmu dengan mengatakan untuk keselamatan kami?"
Sasana menghela napas.
"Sesungguhnya aku sebagai puteri dari ayahku, tidak dapat aku memberitahukan rahasia ini kepadamu, tetapi kemarin malam aku telah menjanjikan padamu akan bantu membebaskan kawanmu itu...... karena itu aku terpaksa harus memberitahukan juga urusan ini padamu......!"
Yo Him berdiam saja mendengarkan dengan penuh perhatian, dan diam-diam hatinyapun memuji akan kecantikan gadis di hadapannya ini, yang memang memiliki kecantikan yang luar biasa.
"Sesungguhnya, Tiat To Hoat-ong telah diperintahkan ayah untuk pergi ke kotaraja guna memberikan laporan kepada Kaisar mengenai perkembangan dunia Kang-ouw belakangan ini dan dia memang menerima tugas itu, namun mêminta pengunduran waktu keberangkatannya itu selama tiga hari!"
Menjelaskan Sasana.
"Kukira urusan Koksu negara kalian itu tidak ada hubungannya dengan kami!"
Kata Yo Him. Sasana mengangguk.
"Seharusnya memang begitu!"
Menyahuti Sasana.
"Tetapi sekarang ini lain urusannya. Tiat To Hoat-ong rupanya mengajukan permintaan untuk pengunduran hari keberangkatannya itu, rupanya memang memiliki rencana sendiri, yang ingin dilakukannya di luar tahu ayahku!"
"Urusan apakah yang nona maksudkan?"
Tanya Yo Him akhirnya.
"Rupanya Tiat To Hoat-ong tidak puas atas sikap ayahku yang berusaha untuk memperlakukan kau dengan baik, juga telah perintahkan tabib-tabib ayah untuk mengobati penyakit dan luka dari kawan-kawanmu itu..... Dia memiliki maksud yang terkandung di hatinya, maksud yang jahat dan buruk sekali...... di mana Koksu negara kami itu ingin membinasakan kalian semua, yang telah diatur sedemikian rupa agar tampaknya kalian terbinasa karena kecelakaan......!" Muka Yo Him berobah. Sedangkan Sasana telah meneruskan ceritanya.
"Kebetulan sekali sore itu aku tengah berada di ruangan belakang istana ayah. Aku melihat sesosok bayangan yang berkelebat gesit sekali. Aku mengejarnya secara diam-diam untuk membuntutinya. Dia adalah Lonang Shing, orang kepercayaan Tiat To Hoat-ong, yang baru sebulan lebih tiba di Tiong-goan ini datang dari Mongolia atas undangan Koksu......! "
Aku mengikuti terus, di mana Lonang Shing menuju ke kamarnya Tiat To Hoat-ong, mereka bicara kasak-kusuk.
Aku tidak berani menghampiri terlalu dekat jendela kamar Koksu karena itu aku tidak bisa mendengar jelas percakapan mereka, hanya tidak lama kemudian kulihat Lonang Shing telah keluar pula dari kamar Koksu dan menuju ke tempat berkumpulnya para pahlawan ayah......!"
Lonang Shing telah menemui beberapa orang pahlawan secara diam-diam, aku telah berhasil pula mendengar percakapan mereka.
Ternyata mereka mengandung maksud buruk terhadap kalian.
Yang akan dibinasakan besok menjelang magrib, di mana kalian akan diundang untuk menghadiri jamuan perpisahan atas keberangkatan Tiat To Hoat-ong dalam perjamuan itu, kalian akan diracuni......!"
"Ah!"
Berseru Yo Him kaget.
Sasana menghela napas dan katanya lagi.
"Inilah memang kebetulan sekali, kuketahui maksud buruk mereka!
Itu belum hebat, ternyata rencana mereka bukan hanya sekedar membinasakan kalian berempat yaitu kau bersama she Cin dan Liu beserta si bocah kecil yang bersama kalian.
Tetapi urusan ini memiliki ekor yang tidak singkat buat ayahku, karena Tiat To Hoatong pun telah mempersiapkan laporan yang akan disampaikan kepada Kaisar, bahwa ayahku telah berserikat dengan kau untuk melakukan pemberontakan!
Itulah fitnahan yang dilontarkan kepada ayahku!"
Yo Him jadi heran berbareng kaget.
"Bukankah pangeran Ghalik itu merupakan orang kepercayaan Kaisar kalian? Ayahmu memiliki kekuasaan penuh untuk seluruh angkatan perang Mongolia......"
Sasana mengangguk mengiyakan, namun dia menerangkan.
"Benar apa yang kau katakan itu, Yo kongcu. Tapi Tiat To Hoatong pun bukan manusia tolol. Dia mengerti dan yakin bahwa Kaisar tentu tidak akan mempercayai begitu saja laporannya. Tentu Kaisar kami akan mengirim orang-orangnya untuk melakukan penyelidikan.
"Tetapi Tiat To Hoat-ong telah memiliki bahan yang cukup kuat untuk fitnahnya itu, di mana dia jika berhasil membinasakan kau bersama ketiga orang kawanmu itu. Bukankah dia dapat saja meyakinkan Kaisar bahwa memiliki hubungan dengan Sin-tiauwtay-hiap Yo Ko dan para pendekar bekas kerajaan Song kalian? Bukankah kau terbunuh di dalam istananya ayahku? "
Dan engkaupun telah diperlakukan demikian manis oleh ayahku, yang telah mengundang dan menjamu kalian, di mana hampir seluruh penghuni istana ini melihatnya?
Jika memang utusan Kaisar datang melakukan penyelidikan, tentu Tiat To Hoat-ong menang angin, sedikit banyak cerita dari penghuni istana ini akan memperkuat fitnahnya itu......!"
Yo Him hanya berdiam diri saja dengan mengerutkan sapasang alisnya.
Dia tidak menyangka sama sekali di antara pangeran Ghalik dengan Koksu negara Mongolia tersebut terdapat bentrokan seperti ini, saling cakar demikian rupa.
Padahal, Yo Him pernah melihat bahwa Tiat To Hoat-ong merupakan jago andalan dari pangeran Ghalik.
Maka agak luar biasa jika terjadi pangeran Ghalik dengan Tiat To Hoat-ong cakar-cakaran merebut pengaruh.
"Mengenai urusan ini,"
Kata Sasana lagi.
"Ayahku belum lagi mengetahuinya. Ayahku baru dapat menduga-duga tentang maksud buruk Tiat To Hoat-ong namun belum mengetahui keseluruhnya. Hanya aku yang secara keseluruhan mengetahui rencana busuk dari koksu itu.
"Lalu apa yang ingin nona lakukan?"
Tanya Yo Him.
"Tentu saja, tanpa bukti tidak bisa aku bertindak,"
Kata Sasana.
"Tiat To Hoat-ong setelah mencelakai kalian segera akan meninggalkan tempat ini untuk pergi ke kotaraja. Racun yang dipergunakannya itu adalah racun yang bekerja lambat sekali, di mana baru bekerja selewatnya lima hari.
"Biarpun bekerja lambat, racun itupun merupakan racun yang tidak pernah dapat ditarik jiwanya dari genggaman elmaut! Racun itu diolah dari nyalinya ular berbisa, nyali kelabang, nyali kalajengking, nyali kodok hitam, dan juga beberapa macam nyali dari binatangbinatang berbisa lainnya, sehingga merupakan racun yang luar biasa......!"
Yo Him tercekat hatinya. Walaupun bagaimana dia tak menyangka bahwa Tiat To Hoat-ong akan mengambil tindakan sekeji itu.
"Jika memang Tiat To Hoat-ong telah berangkat ke kotaraja. Lewat beberapa hari racun itu baru bekerja, dengan demikian pihakmu akan menduga bahwa ayahku yang telah meracuni kalian dan itu merupakan suatu keuntungan buat Tiat To Hoat-ong, karena dia berhasil mengadu domba antara pihakmu dengan ayahku? Sedangkan pada Kaisar dia bisa menyampaikan bahwa itu adalah jasanya dan juga akan melontarkan fitnah yang berat sekalipada ayahku!"
"Jadi maksud nona?"
Tanya Yo Him.
"Seperti yang telah kukatakan padamu bahwa aku ingin mengadakan jual beli denganmu. Persoalan ini belum diketahui oleh ayahku maka dari itu, aku yang memberikan janji padamu, bahwa ketiga orang sahabatmu akan kubebaskan, setelah itu kau sendiri harus membantu aku untuk melindungi ayahku, menghadapi orang-orangnya Tiat To Hoat-ong!"
Yo Him bimbang, dia berdiam diri sejenak lamanya, tidak memberikan jawaban terhadap "tawaran"
Istimewa gadis tersebut.
Sasana mengawasi Yo Him dengan sinar mata yang berkilauan.
Di bawah sinarnya rembulan yang menerangi tempat itu, dengan berada di taman bunga yang penuh pohon-pohon bunga beraneka warna, si gadis demikian cantik.
Sinar matanya itupun menggoncangkan perasaan Yo Him.
Tetapi cepat sekali Yo Him bisa mengendalikan perasaannya, dia mengangguk.
"Baiklah, jika memang benar apa yang dikatakan oleh nona mengenai rencana busuk Tiat To Hoat-ong terhadap diriku dan kawan-kawan itu, aku bersedia membantumu! Tetapi perlu kutegaskan di sini, bahwa aku tidak menjanjikan untuk membantu ayahmu.
"Jika sekarang aku menyanggupi itupun hanya untukmu, dengan adanya jual beli di antara kita! Juga bantuanku hanya terbatas melindungi ayahmu dari tangan jahat Tiat To Hoat-ong aku tidak mengatakan akan melindungi keseluruhannya. Sebab di luar dari urusan ayahmu dengan Tiat To Hoat-ong, bukanlah menjadi urusanku lagi!"
"Itupun telah lebih dari cukup!"
Kata Sasana sambil tersenyum dan wajahnya berseri-seri.
"Terima kasih Yo kongcu dengan kesediaanmu untuk membantuku, maka semua urusan tentu dapat dibereskan dengan baik! Jiwa ayahku tentu bisa terhindar dari bencana!"
Yo Him mengawasi si gadis beberapa saat lamanya, di mana tampak wajah Sasana berseri-seri dan di bawah cahaya rembulan begitu cantik, senyumnya pun menawan sekali.
Pemuda ini jadi menghela napas.
katanya dengan suara yang agak perlahan.
"Nona, mengenai janjiku itu memang akan kutepati, tetapi aku tidak berani memastikan akan berhasil membantumu menghadapi Tiat To Hoat-ong dengan orang-orangnya. Aku hanya berjanji akan membantumu sekuat tenaga dan engkau juga akan membebaskan kawan-kawanku, sedangkan mengenai kekuatan Tiat To Hoat-ong dengan orang-orangnya itu hanya engkau juga yang mengetahuinya.
"Benar, itu adalah urusanku. Tapi yang kubutuhkan adalah bantuanmu, Yo kongcu, karena hanya engkau yang pasti dapat menghadapi Tiat To Hoat-ong, sedangkan orang-orangnya itu adalah urusanku dan ayahku di mana kami akan sanggup menghadapinya. Asal memang kau sedia membantu kami dan menepati janjimu, semuanya akan beres."
Setelah berkata begitu, Sasana telah mengerling sejenak pada Yo Him, lalu melanjutkan lagi perkataannya.
"Besok malam kawankawanmu itu akan kubebaskan...... dan Yo Kongcu kau boleh memberitahukan pada mereka agar bersiap-siap!"
Yo Him mengangguk.
Sasana telah memutar tubuhnya untuk berlalu.
Yo Him pun telah kembali ke kamarnya.
Dia menceritakan semuanya ini pada Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang.
Sedangkan Wang Put Liong yang waktu itu telah terbangun juga mendengarkan cerita tersebut.
Tampaknya Wang Put Liong jadi gelisah sekali.
"Wang Locianpwe, kau boleh menungguku di markas Kay-pang bersama dengan Liu Locianpwe!"
Kata Yo Him. Kemudian dia menoleh kepada Cin Piauw Ho, katanya.
"Kesehatanmu telah pulih walaupun racun yang mengendap di tubuhmu belum bisa dilenyapkan, Cin toako! Maka jika memang kau berhasil meninggalkan tempat ini, tentu kau bisa pergi ke Cialeng-kwan. Mudah-mudahan saja kau bisa memperoleh penawar racun yang tepat dalam waktu-waktu yang dekat, namun disamping itu akupun akan mencari obat untukmu Cin toako. Jika urusan di sini telah selesai, aku akan segera menyusulmu ke Cialeng-kwan."
Cin Piauw Ho menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya.
"Baiklah, terima kasih atas bantuan yang selama ini diberikan Yo Siauwhiap!"
Yo Him juga telah berpesan kepada Liu Ong Kiang untuk membawa serta Ko Tie meninggalkan tempat itu, di mana Yo Him menjanjikan dalam beberapa bulan mendatang nanti ia akan mengunjungi markas Kay-pang untuk menjemput Ko Tie kembali, disamping itu tentu karena pada orang tersebut terdapat urusan yang penting sekali.
Juga Yo Him telah berkata kepada Liu Ong Kiang, agar setelah nanti keluar dari istana pangeran Ghalik ini Liu Ong Kiang boleh menyelêsaikan urusan Kay-pang yang tengah goyah mengalami perpecahan itu.
Liu Ong Kiang tidak membantah, hanya saja yang memberatkan hatinya ia kuatirkan keselamatan Yo Him.
Sebab dengan berada seorang diri di dalam istananya pangeran Ghalik ini sama saja Yo Him dengan berada di kandang harimau, yang sewaktu-waktu bisa menerkamnya.
Malah Liu Ong Kiang meragukan Sasana, yang dikuatirkannya justeru tengah memasang penangkap untuk Yo Him di mana pangeran Ghalik memang sengaja memperalat puterinya yang jelita itu untuk menjebak Yo Him.
Namun Yo Him telah tetap dengan keputusannya.
Keesokan malamnya, dalam kesunyian malam yang telah begitu larut dan juga kepekatan di sekitar istananya pangeran Ghalik, tampak beberapa sosok tubuh tengah bergerak perlahan-lahan menuju ke pintu istana pintu gerbang yang besar dan megah itu.
Dua orang penjaga yang melihat sosok tubuh itu segera membentak dengan suara yang keras.
"Siapa?"
"Aku! Cepat buka pintu!"
Menyahuti salah seorang sosok tubuh itu dengan suara yang nyaring, suara seorang wanita.
Salah seorang penjaga pintu istana itu mengangkat tinggi-tinggi pelita tengtoleng di tangannya, sehingga dia dapat melihat jelas orang di depannya.
Seorang gadis yang cantik jelita sedangkan di belakangnya tampak empat orang lelaki yang dikenalnya sebagai "tamu istimewa"
Dari pangeran Ghalik, bersama mereka juga tampak seorang anak lelaki.
"Oh Kuncu?"
Seru mereka kaget.
Dan tanpa banyak rewel lagi mereka segera membuka pintu gerbang istana.
Ternyata gadis yang cantik jelita itu tidak lain dari Sasana bersamasama, dengan Yo Him, Cin Piauw Ho, Liu Ong Kiang, Wang Put Liong dan Ko Tie.
Setelah pintu gerbang terpentang Yo Him merangkapkan tangannya memberi hormat kepada Cin Piauw Ho, Liu Ong Kiang dan Wang Put Liong, di mana waktu itu Wang Put Liong yang sepasang tangannya masih terborgol oleh rantai besi, tengah digendong oleh Cin Piauw Ho, sedangkan Ko Tie digendong oleh Liu Ong Kiang.
"Cin toako, Wang Locianpwe, selamat jalan! Juga kau Ko Tie, selama dalam perjalanan, kau tidak boleh nakal, ya?! Kau tunggu aku di tempatnya Liu Locianpwe. Nanti aku akan datang menjemputmu!"
Ko Tie mengiyakan, padahal di hati bocah itu merasa berat untuk berpisah dengan Yo Him, namun dia tidak berani mengemukakan perasaannya.
Begitulah, Cin Piauw Ho, Wang Put Liong, Liu Ong Kiang dan Ko Tie telah meninggalkan istana yang mirip perbentengan tersebut.
Namun baru saja mereka melangkah beberapa tindak tiba-tiba dari arah belakang mereka telah menyambar angin yang berkesiuran cepat sekali ke punggung Liu Ong Kiang.
Ternyata itulah beberapa batang jarum yang tengah menyambar ke jalandarah-jalandarah yang mematikan di tubuh Liu Ong Kiang dan Cin Piauw Ho.
Yo Him yang mengetahui itu, jadi terkejut.
Dilihatnya jarum-jarum itu menyambar dengan tenaga timpukan yang sangat kuat sekali.
Maka Yo Him telah mengebut dengan lengan bajunya, di mana jarum-jarum itu telah runtuh ke tanah sebelum tiba pada sasarannya.
"Mau pergi kemanakah, tuan?"
Tegur suara yang dingin, namun bengis sekali.
"Apakah pelayanan kami selama ini kurang baik, sehingga kalian ingin meninggalkan tempat kami secara diamdiam seperti ini?!" Semua orang menoleh, tampak beberapa sosok tubuh berdiri di dekat tembok istana ini, di tempat yang agak terhindar dari penerangan api tengtonglengnya si penjaga pintu gerbang tersebut. Salah seorang di antara mereka yang berdiri paling depan, yang memiliki bentuk tubuh yang tinggi besar, dan juga dilihat dari cara berpakaiannya itu tidak lain dari Tiat To Hoat-ong. Muka Sasana jadi berobah ketika melihat Koksu negaranya itu. Dia telah mengawasi sejenak, namun puteri pangeran Ghalik ini cepat dapat menguasai perasaannya. Dia telah berkata dengan disertai senyumnya.
"Oh, Koksu? Kebetulan sekali, ada sesuatu yang ingin kusampaikan?"
Tiat To Hoat-ong melangkah maju beberapa langkah ke depan, membungkukkan tubuhnya sedikit memberi hormat lalu dengan muka yang bengis dan dingin. Dia bilang.
"Kuncu, kebetulan sekali aku lewat di tempat ini dan melihat kalian......! Tetapi yang membuatku jadi heran, mengapa mereka ini, tamu-tamu kita yang terhormat tampaknya ingin meninggalkan istana ayahmu. Merekapun tampaknya semuanya membawa perbekalan seperti juga akan melakukan suatu perjalanan yang jauh......!"
Sasana mengerti, itulah kata-kata sindiran dari Koksu negara. Tetapi Sasana telah tersenyum, katanya dengan sikap yang tenang.
"Mereka telah menemui ayahku, telah meminta ijin untuk meninggalkan tempat ini!"
"Lalu pangeran telah mengijinkan mereka pergi?"
Tanya Tiat To Hoat-ong sambil memperdengarkan suara tertawa dingin. "Ya!"
Sasana mengangguk.
"Memang ayahku telah memberikan ijin......!"
"Hmmm seperti Kuncu ketahui, setiap orang di dalam istana ini, kecuali pangeran dan aku, maka yang hendak keluar dari istana ini harus memiliki "
Surat jalan"
Yang ditandatangani oleh pangeran! Tentu peraturan yang, dikeluarkan oleh ayah Kuncu diketahui jelas olehmu, bukan?!"
Muka si gadis jadi berobah merah, ternyata Tiat To Hoat-ong memang mendesaknya terus.
Dan belum lagi si gadis sempat mencarikan jawaban yang tepat, Tiat To Hoat-ong telah menoleh kepada Yo Him dengan sorot mata yang tajam bengis sekali, namun ia membungkukkan sedikit tubuhnya dengan agak memberi hormat, dia bilang dengan suara yang dingin.
"Hawa udara di malam selarut ini dingin sekali, harap tuan-tuan kembali ke tempat kalian. Karena salah-salah nanti kesehatan kalian terganggu."
Yo Him memandang pada Sasana, dia seperti menantikan keputusan dari puteri pangeran Ghalik tersebut. Sedangkan Sasana waktu itu telah mengambil keputusan, diapun berkata dengan suara yang nyaring.
"Koksu! Kau dengarlah! Untuk sekali ayah tergesa-gesa, sehingga ayahku lupa untuk memberikan surat jalan yang seperti Koksu katakan tadi! Memang merekapun adalah merupakan tamu-tamu istimewa, sehingga mereka tidak memerlukan segala macam peraturan seperti itu! Mereka adalah kesatria ternama, maka jika memang harus ikuti peraturan yang ada itu tentunya kukira kurang begitu menyenangkan untuk mereka......!"
"Begini saja Kuncu, kita kembali dulu ke dalam, di mana kita pergi menghadap pada ayah Kuncu, dan nanti setelah pangeran menyatakan mereka memang tidak perlu surat jalan untuk keluar dari istana ini, akupun tentu tidak berani untuk merintanginya......! "
Terlebih lagi selama berada di sini, aku bertugas untuk menjaga keselamatan pangeran dan juga seluruh istana ini berada dalam penguasaanku, itu semua untuk keselamatan kalian juga!
Tidak bisa aku bersikap sembarangan, setidak-tidaknya setiap peraturan yang telah diadakan oleh pangeran jelas tidak bisa dilanggar oleh siapapun juga.
Semua ini untuk keselamatan dari seluruh penghuni istana ini juga!
Maafkanlah Kuncu aku hanya sekedar menjalankan tugas......"
Muka Sasana berubah merah.
Biasanya Tiat To Hoat-ong tidak pernah membantah perkataannya.
Sebagai puteri dari pangeran Ghalik, yang menjadi orang kepercayaan utama dari kaisar dan memiliki kehidupan yang mutlak, mutlak terhadap angkatan perang kerajaan, tentu saja Sasana merupakan orang yang agung dan dihormati sekali.
Namun malam ini, tampaknya Tiat To Hoat-ong memang ingin mencegah kepergian dari Cin Piauw Ho dan yang lain-lain tersebut, tanpa memperdulikan Sasana pula.
"Koksu!"
Kata Sasana dengan suara yang nyaring.
"Apa yang kukatakan adalah yang sebenarnya! Apakah memang Koksu tidak mempercayai perkataanku? Jika memang kita pergi menemui ayahku, akan sama pula jawabannya......!"
Tiat To Hoat-ong tersenyum dengan sikap tawar.
"Tetapi jika memang aku mendengarnya langsung dari pangeran, tentu hal itu berarti aku tidak menyalahi tugasku ini!"
Menyahuti Tiat To Hoat-ong. Melihat keadaan semakin runyam seperti ini, tiba-tiba Sasana teringat sesuatu maka katanya sambil mengawasi Tiat To Hoatong.
"Koksu kudengar malam ini seharusnya Koksu sudah berangkat ke kota raja untuk memberikan laporan kepada Kaisar! Tapi mengapa Koksu belum berangkat? Lagi pula kekuasaan untuk keamanan istana ini, seluruhnya telah diserahkan kepada Gochin Talu!"
Koksu negara tersebut tersenyum.
"Kebetulan sekali kesehatanku terganggu, memang benar perkataan Kuncu bahwa keberangkatanku ke kota raja ditunda dua hari lagi sampai kesehatanku pulih!"
Menyahuti Koksu tersebut.
"Karena itu, walaupun seluruh wewenang mengadakan penjagaan untuk keamanan istana ini telah diserahkan kepada Gochin Talu, tokh aku tetap bertanggung jawab penuh akan keamanan di tempat ini selama aku berada di sini? Bukankah Gocin Talu ini, hanyalah memang merupakan wakilku semata jika aku tidak berada di tempat?"
Tiat To Hoat-ong tersenyum.
Sasana terdesak lagi, sedangkan Yo Him telah melihat keadaan semakin tidak beres, sedangkan anak buah Tiat To Hoat-ong, tujuh orang pendeta Mongolia yang berpakaian sama dengan Tiat To Hoat-ong, hanya usia mereka semuanya mungkin baru tigapuluhan tahun, telah menghampiri berdiri di belakang Tiat To Hoat-ong, menahan kepergian Cin Piauw Ho dan yang lainnya mempergunakan jarum rahasianya itu, maka memperlihatkan bahwa Tiat To Hoat-ong tidak main-main untuk mencegah kepergian mereka.
Jelas walaupun bagaimana koksu negara itu akan berusaha menahan kepergian Cin Piauw Ho dan lainnya.
"Kuncu,"
Kata Yo Him kepada Sasana.
"Jika memang urusan yang dikatakan oleh Taysu itu merupakan suatu peraturan di sini, apa salahnya jika Kuncu tolong pergi mengambilkan "
Surat jalan"
Yang dimaksudkan oleh Taysu? Bukankah Kuncu bisa pergi menemui ayahmu dan meminta "surat jalan"
Itu?"
Tiat To Hoat-ong tertawa menyeringai, katanya.
"Ya, jika memang Kuncu bersedia untuk pergi menghadap pangeran hanya seorang diri, itupun tidak ada halangannya. Tetapi kuharap tuan-tuan kembali dulu ke tempat kalian! Kukira alangkah baiknya jika kalian meninggalkan tempat ini besok pagi, dengan melakukan perjalanan di tengah malam begini bukankah merupakan perjalanan yang menyebalkan?"
Setelah berkata begitu Tiat To Hoat-ong mengambil sikap seperti mempersilahkan Yo Him dan yang lainnya untuk kembali ke dalam istana.
Sedangkan Sasana mengawasi Koksu itu dengan sepasang alis yang mengkerut, otaknya bekerja keras sekali, untuk mencari jalan guna menyingkirkan Koksu tersebut.
Dilihatnya ke tujuh pendeta muda, yang diketahui oleh Sasana merupakan kawan-kawan Tiat To Hoat-ong, yang baru datang dari Mongolia belum lama yang lalu, telah memperlihatkan sikap bersiap-siap untuk menghadapi sesuatu.
Merekapun tampaknya memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Diam-diam di hati Sasana juga telah menimbang-nimbang menakar kekuatan.
Yo Him memang bisa menghadapi Tiat To Hoat-ong.
Walaupun belum dapat dipastikan Yo Him bisa merubuhkan Koksu negara yang sangat lihay itu di mana kepandaiannya tinggi sekali.
Namun sedikitnya Tiat To Hoat-ong juga tidak bisa berbuat banyak pada Yo Him.
Sedangkan yang diragukan Sasana adalah ke tujuh orang anak buah Tiat To Hoatong itu.
Sasana mungkin bisa menghadapi dua orang di antara mereka.
Lalu yang lima orang lagi siapa yang menghadapinya?
Cin Piauw Ho baru saja sembuh dari keracunan itupun belum sembuh keseluruhan, di mana racun yang mengendap di tubuhnya belum lagi bisa dipunahkan.
Dengan demikian, tenaga dalamnya belum lagi dipergunakan karena tidak bisa dikerahkan.
Sekali saja Cin Piauw Ho mengempos semangat dan tenaga lweekangnya, sehingga hawa murninya bergolak, berarti bisa membahayakan keselamatannya, racun yang mengendap dalam darahnya akan menerjang ke jantung.
Begitu pula Liu Ong Kiang, diapun tengah terluka, walaupun lukanya itu telah mulai pulih tokh semangatnya tidak bisa dipergunakan penuh keseluruhannya.
Dan yang paling utama Liu Ong Kiang tidak dapat bergerak dengan leluasa.
Wang Put Liong pun dalam keadaan terborgol.
Sedangkan Ko Tie tidak memiliki kepandaian apa-apa.
Jika memang sampai terjadi pertempuran di antara mereka berarti yang akan menderita kerugian adalah pihaknya.
Maka Sasana akhirnya mengambil sikap lunak, katanya.
"Baiklah, jika memang Taysu menghendakinya begitu, biarlah nanti aku akan memberitahukan pada ayah. Agar ayah bisa memberikan apa yang dikehendaki oleh Taysu! Nah Yo kongcu, marilah ajak kawankawanmu untuk kembali......!"
Tiat To Hoat-ong memperdengarkan tertawa dingin, sikapnya sinis sekali.
"Kuncu, jika memang beberapa hari mendatang nanti aku telah berangkat ke kota raja, kuharap saja, tidak terjadi peristiwa seperti sekarang ini, di mana pangeran lupa memberikan "
Surat jalan"
Yang diperlukan para tamu-tamu kita itu.
Engkau yang harus mengingatkannya, karena kukira Gochin Talu tidak akan mengambil sikap seperti yang kulakukan.
Dia seorang yang memiliki sifat yang kasar dan tidak mengenal kesopanan, dikuatirkan nanti dia melakukan sesuatu yang bisa mendatangkan malu untuk kita......
di mana dia bertindak kurang hormat pada tamu-tamu kita ini!"
Sasana mengerti, itulah ancaman yang diberikan oleh Tiat To Hoat-ong.
Sama saja arti perkataannya itu dengan ingin mengatakan bahwa Gochin Talu adalah anak buahnya juga.
Kemungkinan besar jika terjadi Sasana berusaha meloloskan "tawanan istimewa"
Tersebut, berarti Gochin Talu akan mengambil tindakan tegas dengan meperlakukan mereka dengan tindakan yang agak kasar.
Untuk kata-kata itu Sasana telah tertawa tawar.
Kemudian bersama-sama Yo Him serta yang lainnya telah kembali ke dalam.
Sedangkan Tiat To Hoat-ong telah mengawasi kepergian Sasana bersama dengan tamu-tamu istimewa tersebut.
Setelah mereka lenyap dari pandangan mata, Koksu negara itu telah menoleh kepada ke tujuh pendeta Mongolia katanya.
"Kalian berdiam di sini, larang setiap orang keluar dari pintu gerbang ini, tidak seorangpun diijinkan untuk meninggalkan istana ini. Siapa yang bersikeras dan memaksa, kalian boleh menangkapnya dan menahannya!"
"Kami menerima perintah Koksu!"
Menyahuti ke tujuh pendeta itu.
Merekapun memperlihatkan sikap yang menghormat sekali.
Tiat To Hoat-ong bergegas menuju ke tempat kediaman pangeran Ghalik, yaitu di dekat bagian tengah istana itu.
Di mana penjagaan di istana tersebut ketat sekali.
Tetapi karena Koksu yang masuk, maka tidak ada seorang penjaga yang mencegahnya.
Ketika sampai di ruangan dalam, Tiat To Hoat-ong melihat di muka sebuah kamar, berdiri dua orang, yang tidak lain dari Liong Tie Siang dan seorang pendeta Mongolia berusia empatpuluh tahun.
Ke dua orang tersebut yang melihat Tiat To Hoat-ong segera menghampirinya dengan segera.
Malah Liong Tie Siang telah mengedipkan matanya, tangannya menunjuk ke dalam kamar.
"Pangeran Ghalik berada di kamarnya, tampaknya ada sesuatu yang tengah menyusahkan hatinya!"
Bisik Liong Tie Siang perlahan pada Koksu negara itu. Tiat To Hoat-ong mengangguk, dia menoleh kepada pendeta Mongolia yang berusia empatpuluh tahun lebih, katanya.
"Lengky Lumi sejak sekarang kau memiliki tugas baru! Awasi manusia she Yo itu dan kawan-kawannya. Jika memang mereka melakukan sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan kapadaku. Jika memang terpaksa engkau boleh segera turun tangan untuk menangkap atau membinasakan mereka! "
Tadi ada seorang kawan kita yang telah melaporkan maksud mereka yang hendak meninggalkan istana secara diam-diam, untung aku masih keburu menghalanginya, sehingga mereka tidak sampai keburu meninggalkan tempat ini.
Tampaknya Kuncu Sasana berdiri di pihak mereka, dan juga putri dari pangeran Ghalik itu telah mengetahui maksud kita.
Dia yang berusaha meloloskan orang-orang itu!
Rencana yang telah kita atur sebelumnya berjalan sebagaimana telah ditetapkan......"
Lengky Lumi telah merangkapkan tangan memberi hormat, diapun berlalu meninggalkan tempat itu.
Lengky Lumi adalah seorang pendeta Mongolia yang tangguh, ia memiliki latihan Yoga yang tinggi sekali, terutama sekali ilmu gulatnya.
Memang baru empat bulan lebih dia datang ke daratan Tiong-goan, untuk diperbantukan pada pangeran Ghalik.
Namun diam-diam, dia pun telah berhasil dipengaruhi oleh Tiat To Hoat-ong, di mana Lengky Lumi akhirnya bekerja untuk Tiat To Hoat-ong, bukannya mengawal keselamatan pangeran Ghalik.
Malah Lengky Lumi merupakan mata-mata yang selalu mengawasi pada setiap gerak geriknya pangeran tersebut yang selalu melaporkan sesuatunya kepada Tiat To Hoat-ong.
Setelah Lengky Lumi pergi, Tiat To Hoat-ong berkata pada Liong Tie Siang.
"Dan kau tetap diam di sini. Nanti jika ada sesuatu yang penting aku akan segera memanggilmu. Aku hendak pergi menemui pangeran.....!"
Liong Tie Siang mengangguk, dilihatnya Tiat To Hoat-ong dengan langkah lebar telah mendekati pintu kamar.
Kamar itu adalah kamar pribadi pangeran Ghalik, di mana pangeran tersebut memang berada di dalamnya.
Tadi pangeran Ghalik telah perintahkan Liong Tie Siang dan Lengky Lumi untuk mengadakan penjagaan di muka kamarnya, siapapun dilarang mengganggunya.
Tetapi justru sekali yang ingin masuk ke dalam kamar itu adalah Tiat To Hoat-ong dengan demikian Liong Tie Siang berdiam diri saja.
Tiat To Hoat-ong telah sampai di depan pintu kamar, Koksu ini telah berdiam sejenak mendengarkan.
Dia mendengar suara langkah kaki yang berat satu-satu.
Tampaknya pangeran Ghalik memang belum tidur.
Tengah berjalan mondar-mandir dalam kamarnya.
Setelah mendengarkan sekian lama akhirnya Tiat To Hoat-ong mengetuk pintu itu.
"Siapa?"
Terdengar suara pangeran Ghalik yang bertanya dengan mempergunakan bahasa Mongolia.
"Ada sesuatu yang penting hendak dilaporkan. Apakah aku boleh mengganggu sebentar?!"
Menyahuti Tiat To Hoat-ong. "Hmm!"
Terdengar suara pangeran Ghalik disusul kemudian dengan suara dibukanya pintu, lalu daun pintu terpentang. Tampak pangeran Ghalik sendiri yang membuka pintu tersebut.
"Ada urusan penting apakah malam selarut ini koksu menghadap?"
Tiat To Hoat-ong membungkukkan sedikit tubuhnya, katanya.
"Baru saja tadi aku dapat menyelesaikan suatu urusan yang mungkin tidak kecil, dan ingin memperoleh keterangan dari pangeran mengenai keadaan yang sebenarnya!"
Kemudian Tiat To Hoat-ong melangkah masuk.
Pangeran Ghalik mempersilahkan Koksu negara yang memiliki kepandaian tinggi itu untuk duduk di sebuah kursi di hadapannya.
Dipandanginya Tiat To Hoat-ong dengan sorot mata menyelidik, kemudian tanyanya.
"Urusan apa yang ingin dilaporkan Koksu hingga tampak Koksu begitu tergopoh-gopoh dan hendak melaporkan sendiri?!"
Tiat To Hoat-ong memperlihatkan senyum tawar. Dia bilang dengan sikap sinis.
"Tadi Kuncu Sasana ingin mengijinkan orang she Yo dan beberapa orang tawanan lainnya, termasuk orang she Wang yang kita tahan di kamar khusus itu, untuk meninggalkan istana ini. Menurut Kuncu, semua itu adalah atas persetujuan dari pangeran! "
Tetapi, karena seperti peraturan,yang telah dikeluarkan oleh pangeran, selain pangeran dan aku berdua, maka setiap orang yang hendak meninggalkan istana harus membawa surat ijin keluar dari pangeran.
Namun mereka tidak memiliki surat ijin keluar itu, maka telah kularang mereka meninggalkan istana.
Sekarang, yang ingin kuketahui, apakah semua itu benar atas perintah pangeran?!"
Muka pangeran Ghalik berobah, dia memandang heran pada Tiat To Hoat-ong beberapa saat lamanya, sampai akhirnya mengangguk perlahan.
"Benar....! Memang semua itu atas ijinku!"
Muka Tiat T’o Hoat-ong berobah merah, tampaknya dia tidak puas. Lalu katanya.
"Tetapi pangeran, bukankah orang she Yo itu merupakan tawanan penting, dari dia kita bisa memperoleh keterangan-keterangan penting yang kita butuhkan mengenai keadaan orang-orang yang pernah membantu kerajaan Song yang telah runtuh itu? Dengan dilepasnya mereka, jelas hal ini akan mempersulit kita juga......!"
Pangeran Ghalik tidak segera menyahuti, dia telah bangun dari duduknya, berjalan perlahan-lahan ke arah jendelanya.
Lama dia memandang keluar jendelanya, mengawasi kegelapan malam.
Waktu itu otaknya tengah bekerja keras.
Karena sebelum Tiat To Hoat-ong datang menghadap, sore tadi memang Sasana pernah mengungkapkan pada ayahnya ini, bahwa Tiat To Hoat-ong tengah menyusun suatu kekuatan untuk menindih pengaruh pangeran tersebut.
Bahkan Sasana telah menceritakan segala apa yang telah dilakukan oleh Tiat To Hoat-ong.
Hanya saja Sasana waktu itu mengatakan, dia belum begitu jelas siapa-siapa saja yang benar-benar berada di pihak Tiat To Hoatong, dan belum lagi bisa memastikan pahlawan-pahlawan pangeran Ghalik yang mana-mana saja yang telah berpihak pada Koksu tersebut.
Sasana hanya meminta perhatian ayahnya, agar lebih waspada menghadapi Koksu tersebut.
Kini Koksu itu menyampaikan laporan mengenai sepak terjang puterinya itu.
Dan pangeran Ghalik yakin tentu Sasana memiliki rencana sendiri.
Sebab itu, walaupun dia tidak pernah mengijinkan Sasana untuk membebaskan Yo Him dan yang lainnya, tokh dia telah mombenarkan pertanyaan Tiat To Hoat-ong itu.
"Pangeran.....!"
Panggil Tiat To Hoat-ong tambah tidak senang, tampaknya dia mulai tidak sabar.
"Sesungguhnya, aku memang harus tahu diri, bahwa disini aku hanya bawahan pangeran, seluruh kekuasaan mutlak berada di tangan pangeran. Aku hanya seorang Koksu negara, dan hanya dapat memberikan nasehatnasehat kepada Kaisar kita.
"Namun, disini pula letak ketidak mengertianku. Jika memang orang she Yo dan kawan-kawannya itu, malah termasuk juga orang she Wang yang kita duga menyimpan peta tempat penyimpanan harta karun bekas kaisar Song itu, dilepaskan begitu saja, bukankah pangeran pun akan mempersulit kedudukanku? Laporan apa yang harus kuberikan kepada Kaisar? Dan apa yang harus kujelaskan jika memang Kaisar menanyakan perihal diri orang she Wang itu, yang memang tidak mau mengatakan di mana beradanya peta tempat penyimpanan harta karunnya bekas raja Song itu?"
Pangeran Ghalik telah menghela napas, dia memutar tubuhnya, mengawasi Tiat To Hoat-ong dengan sorot mata yang tajam, katanya.
"Koksu, seperti yang telah kupesankan kemarin, di mana sebelum tertundanya keberangkatan Koksu ke kotaraja untuk memberikan laporan kepada Kaisar, aku telah menitipkan laporanlaporan yang terperinci mengenai kegiatan kita paling akhir ini, bukan?!"
Tiat To Hoat-ong hanya mengangguk.
"Dan kukira dalam laporan tersebut telah dijelaskan keseluruhannya! Mengenai orang she Yo dan beberapa orang temannya itu, yang sengaja kubiarkan untuk meninggalkan istana, hanyalah merupakan pancingan belaka. Itu adalah kebijaksanaanku, untuk melempar umpan memperoleh hasil yang kita harapkan! Nanti akan kujelaskan kepada Koksu jika memang Koksu telah kembali dari kotaraja!"
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak puas, dia masih bertanya juga.
"Tentang peraturan yang melarang siapapun meninggalkan istana tanpa membawa surat ijin keluar, apakah masih berlaku?!"
Pangeran Ghalik mengangguk.
"Ya,"
Sahutnya.
"Memang peraturan itu masih tetap berlaku, tidak bisa siapapun sembarangan keluar meninggalkan istana."
"Tapi pangeran, kukira hal itu masih kurang sempurna. Ada saran yang hendak kusampaikan kepada pangeran, entah dapat atau tidak kukatakan?!"
"Katakanlah, apa saran Koksu?" "Menurut pendapatku, alangkah lebih baik dan bijaksana jika ijin keluar istana dikeluarkan oleh Gochin Talu yang akan memegang tugas menggantikan diriku selama pergi ke kota raja. Karena dengan Gochin Talu yang mengeluarkan surat ijin keluar itu, berarti segalanya bisa diatur lebih baik dan teliti. Sedangkan pangeran, tidak selamanya berada di istana, bukankah sewaktu-waktu akan berada di luar istana untuk satu urusan yang mendadak? Mungkin kesempatan seperti itu akan dipergunakan oleh orang-orang tertentu untuk melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan!"
"Saran yang baik, akan kupertimbangkan dulu beberapa hari, walaupun nanti Koksu telah berangkat, jika memang kukira saran itu sempurna dan baik, tentu kekuasaan penuh akan kuberikan pada Go-chin Talu!"
Menyahuti pangeran Ghalik.
Tiat To Hoat-ong sesungguhnya masih ingin menyatakan ketidak puasan hatinya, namun melihat sikap pangeran Ghalik yang telah memperlihatkan sikap seperti meminta dia meninggalkan ruangan, Koksu itu telah memberi hormat dengan membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu berlalu.
Seperginya Tiat To Hoat-ong, pangeran Ghalik telah berjalan mundar-mandir dalam kamarnya dengan sepasang alis yang mengkerut.
Tampaknya banyak sekali persoalan yang belum dapat dipecahkan.
Sampai akhirnya pangeran Ghalik telah memanggil Liong Tie Siang, yang diperintahkan untuk memanggil Sasana, agar segera menghadap padanya.
Liong Tie Siang segera berlalu untuk melaksanakan tugasnya.
Namun dalam perjalanan ke istananya Sasana, puteri pangeran tersebut, Liong Tie Siang telah singgah di tempat Tiat To Hoat-ong, memberitahukan bahwa Kuncu Sasana dipanggil menghadap pangeran Ghalik.
Tiat To Hoat-ong hanya berpesan pada Liong Tie Siang agar benar-benar mengikuti pembicaraan mereka.
Kuncu Sasana waktu mengetahui dirinya dipanggil ayahnya, segera bisa menduga bahwa panggilan itu ada hubungannya dengan peristiwa tadi, di mana dia gagal mengeluarkan "tawanan"
Istimewa ayahnya. Tetapi Sasana cepat-cepat menghadap ayahnya. Pangeran Ghalik telah memperhatikan puterinya tajam sekali waktu Sasana telah duduk dihadapannya, di kamarnya. Baru kemudian katanya.
"Sasana, segala yang kau lakukan memang demi kebaikan ayah. Ayahpun yakin, engkau tentu telah menyusun segala sesuatunya untuk menghadapi maksud jahat Tiat To Hoatong, seperti apa yang pernah kau ceritakan kepadaku. Tapi mengenai maksudmu membebaskan beberapa orang tawanan kita itu, inilah yang tidak dimengerti olehku.....! Tadi Koksu telah menghadap padaku, menceritakan segalanya, di mana dia telah melarang tawanan-tawanan itu meninggalkan istana!"
Sasana tersenyum, katanya.
"Ayah, seperti yang pernah kulaporkan, bahwa Tiat To Hoat-ong memang bukan manusia baik-baik. Koksu mengandung maksud yang paling buruk untukmu! Seperti juga ditangguhkannya keberangkatan Koksu ke kota raja, ini merupakan sesuatu yang mencurigakan sekali.
"Kulihat, dia sehat dan segar bugar, tidak ada penyakit yang mengendap padanya. Namun dengan alasan sakit dan kesehatannya itu terganggu, dia menangguhkan keberangkatannya ke kota raja! Mengenai maksudku yang ingin membebaskan tawanan-tawanan itu, hal itu bukanlah urusan yang terlalu penting......!"
Pangeran Ghalik telah memandang puterinya dengan sinar mata yang tajam, sampai akhirnya dia bilang.
"Coba kau jelaskan duduk persoalannya yang sesungguhnya, agar ayah bisa mengetahuinya dengan jelas dan jika memang perlu, ayah dapat mengambil tindakan yang seperlunya!"
Sasana mengangguk.
Dia segera menceritakan kepada ayahnya mengenai maksud buruk Tiat To Hoat-ong, yang telah memupuk suatu kekuatan, yang hendak menindih pengaruh pangeran Ghalik.
Bahkan juga mengenai pahlawan-pahlawan dari pangeran Ghalik yang telah berbalik untuk tunduk pada Tiat To Hoat-ong, yang sebagian, dari mereka telah bersedia menjadi kaki tangannya Koksu itu.
Karena itu Sasana juga menegaskan, agar ayahnya itu lebih berhati-hati terhadap para pahlawannya itu, yang kekemungkinan bukannya semata-mata mengawasi keselamatannya, bahkan akan menjadi duri atau musuh dalam selimut.
Setelah mendengar jelas cerita Sasana mengenai maksud Tiat To Hoat-ong, yang juga ingin memfitnahnya pada Kaisar, pangeran Ghalik jadi murka bukan main.
Namun dia seorang pangeran yang ulung dan cerdik, tidak mau pangeran itu mengambil tindakan yang tergesa-gesa.
Bahkan dalam waktu sesingkat itu, dia ingin segera mengadakan pembersihan dalam pasukan pahlawannya.
Bukankah dalam satu-dua hari lagi Tiat To Hoat-ong akan pergi ke kota raja, dan dalam kesempatan itulah pangeran Ghalik akan bertindak.
Sasana juga telah menceritakan tentang jual-beli yang dilakukannya dengan Yo Him.
"Kawan-kawan orang she Yo itu bukanlah manusia-manusia yang berarti, mereka pun tidak terlalu penting, hanya Wang Put Liong seorang saja yang tetap harus kita perhatikan. Walaupun anak ingin membebaskan mereka, tokh aku telah memerintahkan beberapa orang kepercayaanku untuk mengikuti terus orang she Wang itu. Malah jika ada kesempatan, maka orang she Wang itu akan ditawan lagi, tetapi itulah dilakukan di tengah perjalanan, kemudian ditahan di suatu tempat, sehingga orang she Yo tersebut sama sekali tidak mengetahui! "
Kepandaian orang she Yo itu liehay, dia putera Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, juga telah mewarisi kepandaian ke dua orang tuanya, juga tokoh-tokoh persilatan lainnya telah menurunkan ilmunya padanya.
Dengan demikian dia merupakan tenaga yang cukup penting buat kita, di mana dapat kita pergunakan untuk menghadapi Koksu.
"Memang aku bisa meminta bantuan guruku, mungkin ilmu guruku itu luar biasa dan di atas dari kepandaian orang she Yo, namun dia seorang yang luar biasa. Adatnya pun ku-koay sekali. Sedangkan namanya saja dilarang tidak boleh kusebutkan pada siapapun juga, begitu juga halnya pada ayah, tidak boleh kuberitahukan perihal dari guruku itu......! Tetapi ayah, jika memang waktunya telah tiba dan keadaan benar-benar genting sekali, terpaksa aku akan memohonnya juga, agar guruku itu bersedia untuk membantu kita......!" Pangeran Ghalik telah mengelah napas dalam-dalam, kemudian katanya.
"Baiklah Sasana, keteranganmu telah cukup, kau boleh kembali ke tempatmu!"
Puteri itu memberi hormat pada ayahnya dan mengundurkan diri.
Sedangkan pangeran Ghalik telah berpikir keras untuk mencari jalan yang tepat menghadapi Tiat To Hoat-ong Koksu, secara yang di luar tampaknya tunduk padanya, di dalam memiliki maksud busuk yang ingin menindih pengaruhnya, bahkan hendak memfitnahnya pada Kaisar.
Inilah urusan yang tidak boleh dipandang remeh, walaupun Kaisar tidak akan begitu saja mempercayai keterangan Koksu tersebut, namun sedikit banyak akan mempengaruhi juga pandangan Kaisar terhadapnya.
Dan jika memang kebetulan terjadi dia melakukan suatu kesalahan, ditimpali dengan fitnah dari Koksu tersebut, jelas akan membuat kedudukannya terjepit.....
Tapi tanpa disadari oleh pangeran Ghalik bahwa seluruh percakapannya dengan Sasana telah diketahui oleh Tiat To Hoatong yang menerima laporan dari Liong Tie Siang.......
◄Y► Yo Him waktu itu tengah berunding dengan Cin Piauw Ho dan yang lainnya.
Mereka juga telah mengetahui bahwa di dalam istana ini terdapat dua kekuatan yang saling bentrok satu dengan yang lainnya.
Golongan yang pertama adalah pangeran Ghalik, yang ingin menancapkan kekuasaannya di mana dia ingin membasmi seluruh jago-jago yang pernah membantu kerajaan Song, dan jika memang tidak mau tunduk padanya, berarti akan memperoleh kematian.
Sedangkan golongan yang lainnya, yang memiliki kekuasaan tidak kalah besarnya seperti pangeran Ghalik, adalah Tiat To Hoat-ong si Koksu yang ingin menindih kekuasaan pangeran Ghalik, dan membasmi semua jago-jago daratan Tionggoan tanpa pamrih lagi, dia ingin membabat sampai keakarakarnya.
Pertentangan yang terdapat pada ke dua golongan tersebut, yang belum lagi terlihat dengan jelas, hanya menanti waktu-waktu tertentu untuk meledak.
Yang dibicarakan oleh Yo Him adalah cara-cara untuk dapat meninggalkan istana pangeran Ghalik.
Memang antara Yo Him dengan puteri pangeran Ghalik tersebut telah terdapat kata sepakat mengenai maksud "jual-beli'"
Yang bisa menguntungkan ke dua belah pihak, antara Yo Him dengan pangeran Ghalik.
Tetapi, justru disamping itu terdapatnya Tiat To Hoat-ong, yang merupakan golongan yang lainnya, yang menyebabkan "jual-beli"
Itu jadi batal dengan sendirinya.
Tetapi Yo Him mengerti, bahwa diapun tidak dapat mempercayai sepenuhnya keterangan yang diberikan oleh puteri Sasana, sebab dalam urusan itu terkandung urusan yang lainnya.
Jika tokh memang dia menerima tawaran yang diajukan oleh puteri Sasana, itu hanya disebabkan dia ingin menyelamatkan Cin Piauw Ho, Wang Put Liong, Liu Ong Kiang dan Ko Tie dari istana pangeran Ghalik ini.
Karena jika hanya dia seorang diri, jika kelak menghadapi peristiwa yang bagaimana hebat sekalipun, tentu bisa dihadapinya dengan baik olehnya.
Namun justru usaha untuk meloloskan Wang Put Liong dan yang lain-lainnya dari istana ini, telah mengalami kegagalan.
"Kita lihat saja perkembangan selanjutnya!"
Kata Yo Him akhirnya.
"Menurut dugaanku, Tiat To Hoat-ong setelah mengetahui maksud puteri Sasana yang ingin meloloskan kita dari istana ini jelas tidak akan dibiarkan olehnya begitu saja.....!"
Yang lainnya hanya menyatakan setuju.
Begitulah, malam itu mereka lewati di istana pangeran Ghalik tersebut, tidak ada peristiwa apapun juga.
Keesokan paginya, Yo Him dan kawan-kawannya melihat banyak sekali tentara yang berpakaian seragam lengkap dengan senjata mereka, tengah melakukan pemeriksaan dan penjagaan yang ketat sekali, juga sebagian dari mereka telah mengadakan pemeriksaan di seluruh istana.
Tampak kesibukan yang menguasai istana.
Tiat To Hoat-ong pun tampak lewat dua kali di depan tempat Yo Him dan kawan-kawannya berada, di mana Koksu negara tersebut telah melirik dengan sorot mata yang bengis kepada Yo Him dan kawan-kawannya.
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak melakukan sesuatu apapun juga.
Dengan melihat semua itu, Yo Him dan yang lainnya mengetahui bahwa istana pangeran Ghalik ini tengah diliputi oleh hawa panas, yang setiap saat bisa melahirkan peristiwa......
Dan dugaan Yo Him memang tidak meleset, pada malam ke dua itu telah terjadi peristiwa yang cukup hebat......
Malam telah cukup larut, suara kentongan telah dipukul dua kali, rembulan tergantung di langit memancarkan sinarnya yang kuning keemas-emasan, menerangi keadaan di sekitar istana pangeran Ghalik.
Waktu itu Yo Him, Cin Piauw Ho, Liu Ong Kiang, Wang Put Liong, belum lagi tidur, sedangkan Ko Tie telah tertidur.
Tetapi Yo Him tengah merundingkan cara untuk melarikan diri.
Hanya yang membuat mereka tidak bisa mengambil jalan kekerasan melarikan diri adalah disebabkan kesehatan Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang belum lagi sembuh keseluruhannya.
Sedangkan Wang Put Liong boleh dibilang telah terpunahkan seluruh kepandaiannya.
Ko Tie pun masih terlalu kecil dan tidak mengerti apa-apa, setidak-tidaknya hanya merupakan beban belaka.
Jika dalam keadaan biasa, jelas Yo Him dan kawankawannya itu akan mempergunakan ginkang mereka untuk meninggalkan istana pangeran Ghalik.
Yo Him sebetulnya ingin sekali bertemu dengan Sasana untuk mengajak puteri pangeran Ghalik merundingkan rencana mereka.
Tapi justeru untuk bertemu dengan puteri dari pangeran tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah.
Bahkan Yo Him mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong telah menempatkan orang-orangnya untuk mengawasi dirinya.
Hal ini membuat Yo Him pun harus berlaku waspada.
Waktu Yo Him tengah berunding seperti itu, tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki yang ringan sekali di luar kamarnya.
Wang Put Liong dan yang lainnya pun mendengar setelah lewat beberapa saat.
Didengar dari suara langkah kaki itu, bukan hanya satu orang saja yang tengah mendatangi, sedikitnya tiga atau empat orang.
Yo Him memberi isyarat kepada kawan-kawannya, agar mereka berwaspada, sedangkan Yo Him sendiri dengan gerakan yang gesit telah melompat ke dekat meja, memadamkan api penerangan.
Lalu dia melompat ke dekat pintu.
Suara langkah kaki berhenti di luar kamar.
Tidak lama kemudian terdengar pintu diketuk perlahan.
"Orang she Yo, kami mengundang kau untuk ikut bersama kami!"
Terdengar suara yang dingin, suara itu menyeramkan, karena parau dan dalam, terutama sekali dalam suara itu mengandung hawa pembunuhan.
Yo Him segera mengetahui bahwa kedatangan orang-orang itu itu tentunya tidak mengandung maksud baik.
Setelah menoleh kepada kawan-kawannya, Yo Him membuka pintu kamarnya dalam keadaan siap sedia dan berwaspada terhadap serangan bokongan.
Di luar kamar berdiri lima sosok tubuh yang semuanya berpakaian sebagai pendeta Mongolia.
Ternyata mereka adalah lima orang pendeta Mongolia dari ke tujuh pendeta yang ke marin bersamasama Tiat To Hoat-ong mencegah mereka meninggalkan istana.
Wajah mereka dingin tidak memperlihatkan perasaan memandang tajam sekali.
"Yo kongcu, kau bersama kawan-kawanmu harus ikut bersama kami!"
Kata salah seorang di antara mereka, yang rupanya jadi pemimpinnya, suaranya tetap dingin menyeramkan.
"Hari telah larut malam seperti ini, kukira ada baiknya jika kami besok pagi saja ikut bersama dengan kalian!"
Kata Yo Him yang ingin menolak ajakan ke lima pendeta itu.
"Ini perintah dari Koksu dan kalian harus turut dengan kami!"
Kata pendeta itu lagi, suaranya keras dan meninggi, mukanya kian dingin, matanya memancarkan sinar yang tajam menyeramkan. Yo Him tertawa tawar.
"Maafkan, kami tidak bisa mematuhkan perintah Koksu kalian. Kami disini hanya tamu, jadi bukan orang bawahan Koksu, dan jika memang kami perlu dipanggil menghadapnya, tentu hal itu dilakukannya besok pagi..... Sedangkan sekarang hari telah selarut ini dan kukira juga tidak ada baiknya jika kami dalam keadaan seperti sekarang harus menghadap pada Koksu kalian! Lihatlah, bahwa kawan-kawan kami pun sudah mengantuk......!"
Muka ke lima orang pendeta itu berobah waktu mendengar perkataan Yo Him, malah yang menjadi pemimpin mereka telah berkata dengan suara yang tawar.
"Kalian jangan memaksa kami mempergunakan kekerasan pada kalian untuk menyeret kalian menghadap pada Koksu, lebih baik kalian ikut kami dengan cara baik-baik.....!"
"Hemm, maafkan! undangan Koksu!"
Maafkan!
Tidak dapat kami memenuhi Pendeta yang menjadi pemimpin dari kawan-kawannya itu rupanya telah habis sabar.
Dia mengulurkan tangan kanannya akan mencengkeram pergelangan tangan Yo Him.
Cengkeraman itu bukan cengkeraman yang sembarangan, karena itu adalah semacam ilmu mencengkeram dari ilmu gulat di Mongolia.
Siapa yang terkena dicekal, tentu sulit untuk meloloskan tangannya dari cekalan tersebut.
Di Tiong-goan, ilmu seperti itu memiliki kemiripan dengan ilmu Kin-na-chiu, ilmu mencengkeram dan menangkap.
Yo Him mendengus tertawa dingin, dia telah menggeser tangannya yang ingin dicengkeram, kemudian cepat dan gesit sekali, tangan kanannya mendorong ke arah dada si pendeta.
Gerakan yang dilakukannya itu merupakan gerakan yang sangat kuat sekali, karena Yo Him telah mendorong dengan disertai oleh tenaga lweekangnya.
Pendeta itu yang gagal mencengkeram pergelangan tangan Yo Him, dan melihat dadanya yang telah diserang ingin didorong oleh Yo Him cepat menarik pulang tangannya.
Tapi tangannya itu dipergunakan untuk menampar tangan Yo Him, yang ditangkisnya dengan kuat.
Malah cara menangkisnya pendeta ini aneh sekali, begitu tangannya saling bentrok dengan tangan Yo Him, maka tangan si pendeta seperti juga terbuat dari karet, bisa melibat.
Yo Him terkejut juga.
Dia tadi mendorong dengan mempergunakan tenaga lweekang yang tidak ringan.
Tenaga dorongannya itupun berkesiuran kuat, tidak sembarangan orang bisa menangkisnya.
Dan sekarang ternyata, selain pendeta itu bisa menangkis, dan juga bisa melibat pergelangan tangannya.
Semua itu berlangsung hanya beberapa detik saja.
Yo Him juga tidak tinggal diam, karena begitu pergelangan tangannya dilibat, Yo Him segera mengempos semangatnya.
Jika tadi dia mempergunakan dua bagian tenaga dalamnya, kini dia mengerahkan lima bagian dari tenaga dalamnya, maka pergelangan tangannya itu keras dan kuat seperti besi, sehingga walaupun tangan dari pendeta itu melibatnya dengan kuat, yang ingin meremukkan tulang pergelangan tangan Yo Him, namun dia gagal dengan maksudnya.
Begitu tangan si pendeta melibat dan seperti ingin meremas pergelangan tangan Yo Him, dia merasakan pergelangan tangan itu keras sekali.
Di saat si pendeta tengah mengeluh karena gagal dengan maksudnya itu, tampak Yo Him telah menggerakkan tangan kirinya, dia telah menotok ke arah jalan Jeng-kian-hiat.
Jalan darah itu merupakan hiat-to yang penting, karena merupakan jalan darah yang bisa mematikan.
Dengan demikian, segera terlihat si pendeta tidak berani berayal untuk melepaskan libatannya.
Karena pendeta tersebut yakin, jika sampai hiat-tonya tertotok, berarti dia akan tercelaka hebat, sedikitnya akan bercacad.
Begitu melepaskan libatan tangannya, si pendeta juga telah mundur dua langkah ke belakang.
Memang maksud si pendeta ingin menyelamatkan kiri dari totokan Yo Him, tapi dengan dilepaskan libatan tangannya pada tangan kanan Yo Him, dia lebih celaka lagi.
Karena Yo Him begitu merasakan libatan tangan si pendeta mengendor, lalu terlepas, dia membarengi dengan gerakan tangan kanannya, mendorong ke depan hebat sekali.
"Bukkk!"
Keras bukan main dada si pendeta telah terkena hantaman telapak tangannya, maka tubuh si pendeta telah terhuyung ke belakang beberapa langkah, dan di saat itulah, tampak telah memuntahkan darah segar.
Walaupun totokan tangan kiri Yo Him terloloskan, tokh gempuran telapak tangan Yo Him bukanlah pukulan yang ringan.
Keempat pendeta lainnya jadi terkejut, mereka telah mengeluarkan seruan marah dan mengurung Yo Him.
Tapi Yo Him berdiri di tempatnya tanpa bergeming, dia menantikan serangan.
Sedangkan pendeta yang telah terluka itu, rupanya telah bisa mengatur jalan pernapasannya dengan cepat.
Dia memandang Yo Him dengan sorot mata yang tajam, katanya sambil menyusut darah di sudut bibirnya.
"Yo kongcu, engkau memaksa kami harus menempuh jalan kekerasan..... Maafkan, bukan kami tidak berlaku hormat pada tamu..... tapi Yo kongcu yang mencari kesulitan sendiri!" Sambil berkata begitu, tampak si pendeta telah melangkah maju lagi, dia telah menggerakkan ke dua tangannya, dirangkapkan, bilangnya.
"Dari Kong lompat ke Thian, lalu tutup di Beng dan kemudian ke Liang!"
Berseru begitu, ke dua tangannya telah mendorong Yo Him. Rupanya, dia memberikan petunjuk kepada ke empat pendeta lainnya, agar menduduki "pintu"
Tertentu, untuk mengepung Yo Him.
Tenaga dorongan dari pendeta tersebut, walaupun tampaknya dia telah terluka di dalam yang tidak ringan sampai memuntahkan darah tokh tenaga mendorongnya itu menderu-deru bagaikan angin topan.
Ini membuktikan bahwa tenaga dalam dari pendeta tersebut memang terlatih baik sekali.
Dan tenaga dalam yang dipergunakannya itu bukan merupakan latihan lweekang namun merupakan latihan Yoga.
Ilmu yang dilatihnya dengan baik sekali, telah mencapai tingkat ke tujuh sehingga dorongan ke dua tangannya bisa merubuhkan batu dan menumbangkan pohon!
Yo Him melihat cara orang menyerang seperti itu telah berkelit ke samping dia menyampok dengan tangannya, keras dilawan keras.
Dua kekuatan telah saling bentur.
Waktu itulah, pendeta yang menduduki "pintu"
Thian telah menyerang ke arah pinggang Yo Him.
Pukulannya tidak kalah hebat dengan pendeta yang seorang itu.
Menghadapi serangan seperti ini Yo Him tidak boleh berayal, memang ke lima pendeta itu jika ingin dibandingkan dengan kepandaian Yo Him, mereka masih berada di bawah beberapa tingkat.
Cuma saja yang luar biasa adalah ilmu mereka, yaitu kombinasi dari ilmu gulat Mongolia dan ilmu Yoga, yang menjurus ke arah latihan ilmu Soboc nya Tiat To Hoat-ong!
Belum sempat Yo Him menghindari serangan dari pendeta yang menduduki "pintu"
Thian yang berada di "pintu"
Kong, Beng dan Liang telah mengeluarkan suara bentakan yang bengis dan serentak telah menyerang juga, sehingga angin serangannya itu menderu-deru kuat sekali.
Tidak ada pilihan lain buat Yo Him, dia memutar ke dua tangannya, dan dengan gerakan yang cepat bukan main.
Dia telah memutar tubuhnya seperti gangsing, hawa sakti dari ke dua telapak tangannya telah menghantam kuat sekali.
Terdengar suara "bukk, bukk, bukkk, bukkk, bukkk!"
Lima kali, disusul dengan seruan kaget tertahan dari ke lima pendeta tersebut, di mana mereka telah terhuyung mundur masing-masing dua langkah ke belakang.
Tubuh Yo Him bergoyang-goyang, namun kedudukan ke dua kakinya tetap tidak tergoyahkan.
Di waktu itu Yo Him tidak membuang waktu sia-sia, dia membarengi dengan tangan kanannya terulur kepada pendeta yang menduduki "pintu"
Kong, di mana dia mencengkcram baju di punggung si pendeta terpental.
Menyusul beruntun tangan Yo Him bergerak lagi dua kali, dua orang pendeta lainnya telah berhasil dilontarkan sejauh dua tombak lebih keluar kamar.
Sedangkan dua orang pendeta lainnya, telah berdiri tergagap, karena mereka tidak menyangka sama sekali kepandaian Yo Him demikian tinggi.
Sedangkan Yo Him setelah berhasil melontarkan ke dua pendeta yang tadi, membarengi dengan uluran tangannya menyambar lagi ke punggung pendeta yang satu lagi, yang pertama-tama tadi dilontarkan, yang waktu itu baru bisa berdiri dengan tubuh yang bergoyang-goyang.
Pendeta itu terkejut, ia mengeluarkan seruan tertahan ketika melihat menyambarnya ke dua tangan Yo Him.
Tetapi dia bisa melihat menyambarnya ke dua tangan Yo Him tanpa bisa mengelakkan dari cengkeram Yo Him karena itu tubuhnya telah terlempar kembali ke tengah udara.
Yang mengejutkan justeru tubuhnya itu meluncur ke arah sebuah tiang.
Jika memang kepalanya membentur tiang itu, jika tidak mati, tentu kepalanya itu sedikitnya akan retak.
Sisa ke dua pendeta lainnya yang telah tersadar dari tertegun mereka, waktu melihat ancaman yang dialami oleh kawan mereka yang seorang itu, cepat-cepat telah menjejakkan kakinya.
Tubuhnya mereka berbareng mencelat menyambut ke arah kawan mereka.
Gerakan mereka gesit sekali, tetapi yang berhasil menyambar lengan dari pendeta yang seorang itu adalah si pendeta yang menjadi pimpinan mereka, karena dia bergerak lebih gesit.
Dan begitu berhasil mencekal lengan kawannya, dia menariknya, dan ketika dia hinggap di lantai, kawannya itu bisa diselamatkan sehingga kepalanya tidak sampai membentur tiang itu.
Dengan berhasilnya dilontarkan ketiga orang pendeta tersebut, berarti pecahlah barisan pengepungan ke lima pendeta itu.
Yang membuat mereka jadi kaget justru belum lagi mereka memulai dengan penyerangan mereka, dalam satu gebrakan Yo Him telah berhasil memukul pecah barisan mereka, malah hampir saja kawan mereka yang seorang ini tercelaka karenanya.
Ke lima pendeta itu telah berdiri pula di hadapan Yo Him dengan sikap bersiap sedia untuk menyerang.
Yo Him telah tertawa dingin, katanya.
"Lebih baik kalian pergi melaporkan pada Koksu kalian, besok aku akan pergi menemuinya. Namun jika Koksu kalian memiliki urusan penting sekali denganku, mintalah agar dia sendiri yang datang ke mari!"
Mendengar perkataan Yo Him seperti itu, ke lima pendeta ini rupanya telah terpukul pecah nyalinya, mereka tidak berani mendesak lagi. Hanya si pemimpinnya telah berkata.
"Baiklah, Yo kongcu menimbulkan kesulitan untuk kalian sendiri. Jika memang Koksu kami murka, maka kami tidak bisa berbuat lain lagi dan janganlah Yo kongcu nanti menyesali kami. Sebab kami telah mengundang Yo kongcu dengan cara yang baik.....!"
Setelah berkata begitu, si pendeta yang jadi pimpinan dari ke empat pendeta lainnya, telah memberi isyarat, agar mereka segera mengundurkan diri.
Yo Him hanya memperlihatkan senyum mengejek, dia mengawasi kepergian ke lima pendeta itu.
Sedangkan di dalam hatinya Yo Him yakin, tidak lama lagi tentunya Tiat To Hoat-ong akan melakukan sesuatu yang licik dan jahat sekali untuk mencelakainya bersama kawan-kawannya.
Karena itu, begitu ke lima pendeta tersebut berlalu, Yo Him lalu meminta kepada Cin Piauw Ho, Wang Put Liong, Liu Ong Kiang dan Ko Tie yang dibangunkan dari tidurnya, agar mereka segera berwaspada.
Malam itu mereka tidak akan tidur, karena mereka kuatir Tiat To Hoat-ong melakukan sesuatu, tindakan yang kasar.
Tetapi menanti sekian lama, tidak terjadi sesuatu apapun lagi sampai menjelang fajar.
Matahari memancarkan sinarnya yang hangat, dan tampak pasukan keamanan istana pangeran Ghalik mulai sibuk pula di tempat mereka masing-masing dengan penjagaan yang ketat.
Waktu pelayan mengantarkan makanan pagi untuk Yo Him dan kawan-kawannya, pelayan itu telah menyerahkan sehelai surat kepada Yo Him yang dilipat kecil sekali.
Setelah Yo Him membukanya dan membacanya, ternyata surat itu dari Sasana.
Isi surat tersebut antara lain.
"Malam ini datang ke tempatku untuk bertemu, ada yang sangat penting ingin kusampaikan."
Surat itu tidak ditanda tangani, dan hanya terdapat beberapa huruf kecil lagi di bawahnya yang berbunyi.
"Datang seorang diri tepat kentongan ke dua."
Yo Him menghela napas.
Ia menyadari dirinya mulai terlibat dalam pergolakan yang terjadi di istananya pangeran Ghalik ini.
Di mana dengan janjinya dia bersedia membantu Sasana, berarti Yo Him telah membiarkan dirinya terseret dalam pergolakan tersebut.
Menjelang kentongan ke dua Yo Him bersiap-siap untuk menuju ke istananya Sasana.
Sebelum meninggalkan kawan-kawannya, Yo Him telah berpesan jika selama dia pergi dan tempat kawankawannya itu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka Liu Ong Kiang diminta agar melepaskan panah api bersuara, untuk isyarat kepada Yo Him, yang berjanji akan segera secepatnya kembali.
Istana dari puteri pangeran Ghalik ternyata merupakan sebagian dari istana pangeran Ghalik yang terletak di sebelah barat dari bangunan yang menyerupai perbentengan itu.
Dan istana tempat kediaman Sasana merupakan tempat yang indah sekali, dipenuhi oleh pohon-pohon bunga beraneka warna.
Di istana ini, Sasana menempatinya bersama ibunya, dan dilayani oleh para pelayan wanita.
Tidak seorang pria pun penghuni istana yang diijinkan untuk memasuki bagian dari istana tersebut, selain pangeran Ghalik sendiri.
Ketika Yo Him tiba di tempat tersebut, keadaan sunyi sekali, hanya sinar rembulan yang memancarkan sinarnya yang guram.
Dan ketika itu Yo Him melihat seorang pelayan wanita yang tengah berjalan menuju ke dalam istana.
Cepat-cepat Yo Him menyusulnya, dengan beberapa kali lompatan, dia telah mengejar pelayan itu.
Si pelayan terkejut waktu tiba-tiba di dekatnya berkelebat sesosok tubuh, tetapi setelah melihat jelas bahwa orang itu tidak lain dari Yo Him, mukanya jadi berseri-seri.
"Yo Him kongcu? Kuncu kami tengah menantikan kedatanganmu!"
Katanya.
Segera pelayan itu mengajak Yo Him menuju ke sebuah ruangan.
Benar saja Sasana telah menantikan di situ, dan waktu melihat Yo Him memang memenuhi panggilannya, mukanya jadi berseri-seri waktu dia menyambut.
"Yo kongcu, akhirnya kau mau memenuhi undanganku! Maafkanlah, aku mengundangmu dengan cara yang kurang begitu sopan......!"
"Di dalam surat nona dinyatakan ada urusan yang sangat penting, sesungguhnya urusan apakah itu?"
Tanya Yo Him sambil menatap kepada si gadis dengan hati yang agak berdegup tergoncang, karena dia melihat betapa jelita dan cantik rupawannya puteri pangeran Ghalik.
Gadis itu bagaikan seorang dewi belaka, dengan senyumannya yang begitu manis, tubuhnya yang langsing menggiurkan, dan juga dengan keagungannya dalam pakaiannya yang reboh itu.
"Benar Yo kongcu, memang ada urusan penting yang ingin kurundingkan bersamamu.....!"
Kata Sasana kemudian.
"Dan urusan itu mengenai urusan Tiat To Hoat-ong. Pagi tadi, Koksu negara kami itu telah menemuiku. Kami telah bertengkar, dan Koksu kami itu telah mengancam akan mengambil tindakan yang bisa merugikan diriku dan ayahku!"
"Lalu apa yang dilakukan oleh nona?"
Tanya Yo Him.
"Melaporkan seluruhnya pada ayahku, dan ayahku telah mengadakan penjagaan yang ketat sekali. Tetapi yang membuat kami ragu-ragu, kami tidak mengetahui, siapa-siapa saja di antara anak buah ayah yang telah berpihak pada Tiat To Hoat-ong. Inilah yang mempersulit ayah.
"Memang ada beberapa orangnya yang menjadi kepercayaan ayah, namun sejauh itu jumlah kami diperkirakan sekarang jauh lebih sedikit dari jumlah yang dimiliki Tiat To Hoat-ong, sebab Koksu kami itu memiliki banyak sekali jago-jago yang berkepandaian tinggi. Terutama sekali, memang dia telah mendatangkan jago-jago Mongolia yang menjadi keponakan murid maupun saudara seperguruannya......!"
Mendengar keterangan Sasana, Yo Him teringat sesuatu.
"Apakah keponakan Tiat To Hoat-ong itu terdiri dari pendetapendeta muda dari Mongolia?!"
Tanya Yo Him.
Sasana mengangguk.
Yo Him segera menceritakan pengalamannya ke marin malam di mana dia telah bertempur dengan ke lima pendeta yang datang menyatroni kamarnya.
Kepandaian mereka memang tidak seberapa tinggi tapi tampaknya mereka memiliki semacam barisan untuk mengepung.
Entah masih berapa banyak lagi anak buah Tiat To Hoat-ong namun urusan ini kukira harus diselesaikan oleh ayahmu secepat mungkin, nona.
Karena jika menanti sampai Tiat To Hoat-ong berhasil memasukkan orang-orangnya lebih banyak lagi di istana ini, jelas ayahmu lebih sulit lagi kedudukannya.....!"
Sasana mengangguk. "
Memang Tiat To Hoat-ong pun telah mengatakan kepadaku, bahwa dia batal pergi ke-kotaraja, karena dia ingin menundanya sebulan lagi, di mana kukira selama sebulan dia akan berusaha untuk dapat memupuk kekuatan dan menghimpun jago-jagonya yang lebih banyak lagi jumlahnya.
Namun ayahku waktu kuberitahukan perihal itu, telah mengeluarkan pengumuman tadi pagi, tidak perduli siapapun adanya, mulai hari ini dilarang untuk memasukkan orang luar ke dalam istana!"
Dengan demikian, keinginan Tiat To Hoat-ong yang hendak menyusupkan orang-orangnya bisa dibendung sebagian.
Jika memang hal itu dilakukan juga secara diam-diam, berarti ayah memiliki alasan yang kuat untuk menumpasnya!"
Yo Him mengangguk pelahan, namun urusan tingkat atas seperti ini sesungguhnya tidak menarik perhatian Yo Him, karena yang lebih menarik hatinya adalah paras si gadis yang ada di hadapannya yang begitu jelita.
"Lalu, tindakan apa yang nona rencanakan? Dan bantuan-bantuan apakah yang sekiranya bisa kuberikan?!"
Tanya Yo Him kemudian dengan suara yang perlahan, sambil mengawasi si gadis.
"Jika memang Yo kongcu tidak keberatan aku bermaksud untuk pergi ke tempatnya Tiat To Hoat-ong bersama denganmu!"
Menyahuti Sasana. Yo Him tercekat hatinya.
"Apakah...... apakah nona telah memperhitungkan baik-baik kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi? Karena kukira, di sana tentu berkumpul banyak sekali kawan-kawan Tiat To Hoatong. Aku memang tidak jeri berurusan dengannya namun dalam hal ini, walaupun aku bisa menghadapi Tiat To Hoat-ong, tokh nona terancam oleh anak buahnya yang pasti berjumlah tidak sedikit itu.......!"
Sasana tersenyum.
"Semua itu telah kuperhitungkan baik-baik. Dan jika memang keadaan terpaksa sekali di mana kita terpaksa menghadapi orangorangnya Tiat To Hoat-ong, guruku telah memberikan janjinya akan membantu!"
Menyahuti Sasana.
"Guru nona?"
Tanya Yo Him sambil mengawasi si gadis.
"Bolehkah aku mengetahui siapa guru nona?"
Sasana tersenyum, lalu menyahuti.
"Guruku seorang Locianpwe, yang menurut pengakuannya merupakan sahabat dekat ayahmu..... nanti kau juga mengetahuinya, Yo kongcu!"
Yo Him masih penasaran, dia telah bertanya.
"Siapakah she guru nona?"
Sasana tertawa lagi.
"Nanti juga guruku itu akan menyusul......!"
Yo Him mengangguk.
"Baiklah, mari kita segera berangkat!"
Katanya.
"Tunggu dulu Yo kongcu!"kata Sasana.
"Aku hendak memakai ini dulu!" Setelah berkata, Sasana mengeluarkan sehelai kain hitam, yang kemudian dikenakan untuk menutup mukanya. Lalu mengambil sehelai lainnya, untuk diberikan kepada Yo Him.
"Kaupun lebih baik memakai topeng ini, Yo kongcu, untuk menghindarkan kerewelan!"
Yo Him menurut, dia telah menutupi mukanya dengan topeng itu.
Kemudian dengan gerakan yang gesit, Yo Him berdua dengan Sasana telah berlari-lari di atas genting.
Sasana memang mengenal benar keadaan di istana tersebut, sehingga beberapa pos penjagaan telah mereka lewati dengan mudah.
Ilmu meringankan tubuh gadis itupun tidak rendah, walaupun masih berada di bawah ginkang Yo Him, namun gadis itu memiliki ginkang yang bukan sembarangan.
Sambil berlari-lari di atas genting, Yo Him memperhatikan gerakgerik si gadis.
Dia melihat cara melompat dan berlari si gadis mengingatkan Yo Him pada seseorang.
"Akh, tidak mungkin!"
Pikir Yo Him kemudian.
"Orang tua itu tidak mungkin berada di tempat ini. Tapi ilmu gadis ini memang mirip dengan ilmunya orang tua itu!"
Dan setelah berpikir begitu, Yo Him juga teringat ketika si gadis dengan nekad berusaha untuk memisahkan Tiat To Hoat-ong dan Swat Tocu.
Walaupun lweekang si gadis belum sesempurna ke dua tokoh itu, dan juga walaupun gadis ini masih berada di tingkat bawah kepandaian ke dua orang itu, namun dengan jurus yang luar biasa, dia bisa meminjam ke dua tenaga yang hebat itu, sehingga dia tidak terluka dan ke dua orang tokoh persilatan itu, Swat tocu dan juga Tiat To Hoat-ong telah bisa dipisahkan.
Jurus yang dipergunakan oleh si gadis yang mempergunakan tolakan ke dua tangannya dengan berbareng, yang satu menolak tangan Tiat To Hoat-ong, sedangkan yang lainnya tangan si gadis telah menolak tangan Swat Tocu mengingatkan Yo Him kepada ilmu Kong-beng-kun atau Kepalan Kosong, yang dimiliki sebagai ilmu andalan seseorang yang dikenalnya.
Namun Yo Him tidak yakin bahwa Sasana menerima pelajaran ilmu "Kong-beng-kun"
Dari orang tersebut. Begitu juga waktu pernah Sasana menyerangnya dengan jari tunggal yang ingin menotok Yo Him, yang semula Yo Him menduga sebagai "It-yang-cie"
Yang kemudian ternyata bukan, baru sekarang Yo Him teringat lagi, bahwa jurus tersebut merupakan salah satu jurus dari Kong-beng-kun juga, hanya saja, yang dirobah ialah dari pukulan dijadikan totokan jari tunggal.
Namun gerakan tersebut memang merupakan salah satu gerakan Kong-beng-kun yang bernama "Naga Menerobos Matahari."
Sambil mengikuti berlari-lari di belakang Sasana, pikiran Yo Him bekerja terus.
Dia jadi berpikir keras, entah siapa sebenarnya guru dari puteri pangeran Ghalik ini.
Dengan demikian, berarti si gadis telah memperoleh ilmu yang tinggi sekali, walaupun latihannya belum lagi sempurna.
Cuma, yang membuat Yo Him tidak mengerti, ilmu Kong-beng-kun itu, dia memang memilikinya juga, yang pernah diterimanya dari Ciu Pek Thong, selama dia berguru pada Oey Yok Su dan berdiam di pulau Tho-hoa-to.
Karena selama itu Ciu Pek Thong, si tua berandalan itupun menetap di pulau itu, menemani Oey Yok Su untuk bermain catur.
Secara tak resmi, Ciu Pek Thong merupakan guru Yo Him.
"Apakah Ciu Locianpwe yang menjadi guru puteri pangeran ini?!"
Berpikir Yo Him dalam hatinya.
"Tapi.... akh, tidak mungkin! Tidak mungkin! Mana mungkin Ciu Locianpwe mau menurunkan kepandaiannya pada gadis Mongolia ini, terlebih lagi dialah puteri dari pangeran Ghalik, yang memiliki tngas untuk membasmi para jago-jago daratan Tiong-goan."
Dengan berpikir seperti itu, Yo Him jadi bingung sendirinya, jadi tidak mengerti dan menduga-duga.
Karena semakin diperhatikan olehnya, semakin terlihat jelas bahwa memang Sasana memiliki ilmu yang banyak persamaannya dengan ilmu-ilmu yang pernah diperolehnya dari Ciu Pek Thong.
Waktu itu Sasana telah berlari sampai di balik batu gunung, di mana dia telah melompat menyelinap ke balik batu gunung itu.
Tangannya melambai memanggil Yo Him.
Yo Him juga melompat ke balik batu gunung itu, berdiri di dekat si gadis.
Jarak mereka dekat sekali, sehingga Yo Him bisa mencium bau harum yang menerjang hidungnya.
Bau yang membuat tenaga dan semangat Yo Him tergoncang, di mana tubuhnya dirasakan jadi lemas dan hatinya berdegupan tidak hentinya.
Itulah bau harum yang benar-benar membuat pikiran Yo Him melayang-layang.
Namun akhirnya pemuda ini cepat-cepat menetapkan pikirannya, diapun membathin.
"Akh, urusan besar ada di depan mata, bagaimana mungkin sekarang ini aku berpikir yang tidak-tidak.....!"
Waktu Yo Him berpikir begitu, kebetulan si gadis tengah menoleh dan beberapa helai anak rambutnya yang telah menyentuh mukanya si pemuda.
Kembali membuat jantung pemuda ini tergoncang karenanya, sebab waktu itu dia mencium harumnya rambut itu, selain lembut bagaikan sutera.
"Mereka berada di dalam kamar rahasia di balik batu gununggunungan ini!"
Menjelaskan Sasana.
"Kita harus hati-hati, karena kita tidak boleh diketahui oleh mereka, bisa menimbulkan kerincuhan dan pekerjaan kita akan gagal karenanya. Sedapat mungkin kita harus bisa menyelidiki keadaan mereka, di mana nanti bisa menyusun rencana sebaik mungkin guna menghadapi mereka.....!"
Yo Him mengangguk.
"Apakah Tiat To Hoat-ong juga berada di dalam ruangan rahasia itu?"
Tanya Yo Him dengan suara yang berbisik. Sasana mengangguk.
"Ya, menurut hasil penyelidikan dari beberapa orang-orang kepercayaanku yang mengawasi gerak-gerik mereka, Tiat To Hoat-ong memang sering mengadakan pertemuan dengan orangorangnya di tempat ini. Dan sekarang diapun tengah memimpin pertemuan di antara anak buahnya itu. Yang terpenting bagi kita, harus dapat menyelidiki, siapa-siapa saja orang ayah yang telah ditarik ke pihaknya dan pahlawan-pahlawan ayah yang mana saja telah mengkhianati ayah......!"
Yo Him mengiyakan.
Merekapun telah memasang mata.
Keadaan di sekitar tempat itu sunyi sekali, tidak terlihat seorang manusia pun juga.
Namun setelah berdiam sekian lama akhirnya mereka mendengar samar-samar suara orang yang tengah bercakapcakap.
Yo Him memasang pendengarannya lebih tajam, dia mendengar beberapa patah perkataan yang tidak jelas, seperti.
"Harus dapat..... dua malam sejak sekarang ini..... kematian pangeran...... kita akan berhasil...... urusan rahasia...... di antara keterangan..... Kaisar..... para pahlawan......"
Dan setelah itu tidak begitu jelas lagi kata-kata berikutnya, karena suara orang yang berkata-kata itu semakin perlahan dan semakin tidak jelas. Yo Him menoleh kepada si gadis dia bilang.
"Jika dilihat demikian, tampaknya mereka benar-benar tengah mengatur suatu rencana untuk mencelakai ayahmu, nona......! Kaisarpun disebut-sebut oleh mereka!"
Sasana mengangguk.
"Karena itu bantuan Yo kongcu kami harapkan sekali! Memang guruku sangat liehay, dia bisa menghadapi beberapa orang-orang penting Tiat To Hoat-ong, namun yang perlu kita selidiki, fitnah apa yang hendak dilontarkan oleh Tiat To Hoat-ong kepada ayah, yang akan dilaporkan kepada Kaisar!" "Apakah kau tidak mengetahui kunci rahasia dari ruangan itu?"
Tanya Yo Him. Si gadis mengangguk.
"Aku mengetahui, tetapi jika sekarang kita menggeser batu itu yang merupakan pintu utama ruangan rahasia tersebut, tentu akan menimbulkan suara yang cukup keras dan akan diketahui oleh mereka......"
Setelah berkata begitu, Sasana berdiam sejenak, kemudian dia telah berpikir beberapa waktu lamanya. Sampai akhirnya dia mengulurkan tangannya mencekal tangan Yo Him, katanya lagi.
"Mari kau ikut aku, ada tempat yang bisa kita pergunakan mengintai mereka!"
Tetapi baru saja mereka ingin meninggalkan tempat tersebut, Yo Him melihat sesosok tubuh yang berkelebat gesit sekali, gerakannya begitu ringan dan cepat, sehingga dia seperti juga bayangan saja.
Yo Him menahan tangan si gadis yang ditariknya agak keras, bisiknya.
"Diam dulu...... ada orang!"
Sosok bayangan itu telah bergerak dekat sekali di sebelah kanan mereka, dan Sasana juga telah melihatnya. Setelah melihat jelas, ternyata orang itu tidak lain dari Swat Tocu! "Aneh!"
Bisik Yo Him dengan suara perlahan sekali di pinggir telinga si gadis.
"Apa maksudnya Swat Tocu datang ke mari? Apakah..... apakah dia pun telah berkomplot dengan Tiat To Hoatong. Tetapi berkata sampai di situ, Yo Him telah menggeleng sendirinya. Waktu menggeleng begitu, dia merasakan beberapa helai anak ramput Sasana bermain di mukanya, menggelitik perasaannya, karena anak-anak rambut itu diterbangkan oleh desiran angin malam. Bau harumnya menggelitik perasaan Yo Him juga. Namun dalam keadaan seperti ini Yo Him harus menindih perasaannya. Dia pun tidak berani menggeser tubuhnya dari sisi si gadis, karena sedikit saja mereka menimbulkan suara yang perlahan, tentu Swat Tocu akan mengetahui kehadiran mereka di tempat itu, karena Swat Tocu memang merupakan tokoh persilatan yang jarang tandingannya. Sedangkan Yo Him dan Sasana sendiri belum mengetahui di pihak mana Swat Tocu berdiri, musuh atau memang kawan dan juga apa maksud kedatangannya kembali ke istana pangeran Ghalik ini.
"Tidak mungkin!"
Akhirnya Yo Him berbisik lagi pada Sasana.
"Tidak mungkin Swat Tocu berhasil dipengaruhi oleh Tiat To Hoatong. Dia seorang tokoh rimba persilatan yang setingkat dengan Oey Locianpwe, ayahku atau beberapa tokoh persilatan lainnya dari angkatan tua...... maka tidak mungkin dia mau membiarkan dirinya diperalat oleh Tiat To Hoat-ong. Namun apa maksudnya datang ke mari lagi? Apakah dia mengandung maksud buruk terhadap ayahmu?"
Sasana berdiam diri saja, hanya wajahnya memperlihatkan bahwa gadis ini diliputi perasaan tegang.
Matanya juga mengawasi tajam, tangannya mencekal keras sekali pada pergelangan tangan Yo Him, sehingga Yo Him merasakan telapak tangan yang dingin dan begitu lembut.....
halus sekali.
"Kau tidak usah kuatir, kuyakin bahwa Swat Tocu Locianpwe tidak akan berdiri di pihak Tiat To Hoat-ong. Kita hanya perlu mengawasi dulu, apa yang ingin dikerjakannya!"
Waktu itu Swat Tocu telah melompat ke samping batu gunung, yang berhadapan dengan Yo Him dan Sasana, hanya terpisah beberapa batang pohon.
Rupanya Swat Tocu juga telah memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, sampai akhirnya tampak dia menggerakkan tangan kanannya, mempergunakan telapak tangannya yang ditempel pada batu gunung di hadapannya.
Luar biasa sekali!
Batu itu meluruk menjadi abu tanpa menimbulkan suara.
Beberapa kali Swat Tocu melakukan hal seperti itu, yaitu menempelkan telapak tangannya pada batu gunung tersebut, maka batu gunung itu telah hancur sampai cukup besar.
Rupanya Swat Tocu tengah membuat lobang yang cukup besar pada batu gunung itu, yang akan dipergunakan untuk mengintai ke dalam yaitu ruangan rahasia di dalam batu gunung itu.
Diapun telah mendekati mukanya ke dekat lobang itu, mengawasi ke dalam.
Lama sekali Swat Tocu dengan sikapnya itu, dia seperti tengah memperhatikan sesuatu yang menarik hatinya.
Sampai akhirnya setelah puas mengawasi seperti itu, Swat Tocu berdiri tegak sekali, matanya mengawasi tajam, kemudian tangan kanannya telah digerakan menghantam batu gunung yang telah dilobanginya tadi, dihantamnya dengan kuat, sehingga berbunyi nyaring sekali.
"Plakkk!"
Batu gunung itu telah sempal besar sekali menimbulkan suara yang bergemuruh keras.
"Pendeta gundul Mongolia! Keluar kau, mari kita mengadu kekuatan lagi!"
Teriak Swat Tocu dengan suara yang perlahan, namun tajam.
Dia berkata-kata seperti itu dengan mempergunakan hawa lweekangnya yaitu mempergunakan ilmu mengirim suara.
Terdengar seruan kaget dari beberapa orang di dalam ruangan rahasia di balik batu gunung itu, malah kemudian disusul dengan melompatnya sesosok tubuh tinggi besar, diikuti oleh beberapa sosok tubuh lainnya.
Orang yang pertama melompat itu tidak lain dari Tiat To Hoat-ong, yang dengan muka merah padam karena murka telah mengawasi kepada Swat Tocu.
Sedangkan di belakangnya tampak beberapa orang pendeta Mongolia lainnya, yang berdiri dalam keadaan siap sedia untuk menyerang.
"Swat Tocu!"
Kata Tiat To Hoat-ong dengan suara yang dingin.
"Kau rupanya masih belum puas dan telah datang kembali ke mari untuk mencari urusan denganku! Baiklah, dengan cara apa kau ingin mengadu kekuatan?"
Swat Tocu tertawa dingin.
"Pendeta gundul, hari itu karena kau ditolong oleh puteri pangeran Ghalik, sehingga aku mengampuni jiwamu dan melepaskan kau dari kematian, karena aku tidak sampai hati untuk membinasakan gadis secantik itu! Namun sekarang, kita bisa mengukur ilmu sepuas hati!" Ternyata Swat Tocu setelah dipisahkan oleh Sasana dalam pertempurannya dengan Tiat To Hoat-ong beberapa hari yang lalu itu, merasa penasaran sekali. Semakin dipikir, dia jadi semakin penasaran. Karena dia yakin, bahwa dia akan dapat merubuhkan Tiat To Hoat-ong. Apa lagi setelah dia menyelidiki dan mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong adalah Koksu dari Mongolia, di mana Kaisar mereka kini berkuasa di daratan Tiong-goan. Dengan demikian, penasaran Swat tocu semakin besar juga. Akhirnya dia memutuskan, untuk mengadu ilmu lagi dengan Tiat To Hoat-ong, dan dia telah mendatangi istana pangeran Ghalik. Karena ginkangnya yang sempurna dan juga kepandaiannya tinggi, dengan mudah Swat Tocu berkeliaran di istana pangeran Ghalik, walaupun waktu itu di istana yang menyerupai perbentengan itu dijaga kuat sekali. Malah Swat Tocu telah mencekuk seorang pengawal istana, memaksanya keterangan dari pengawal itu perihal Tiat To Hoat-ong. Dia pun mengetahui dari pengawal itu di mana pada waktu itu beradanya Koksu negara tersebut. Karena itu dengan mudah Swat Tocu menemukan tempat itu. Tiat To Hoat-ong mengetahui bahwa Swat Tocu merupakan seorang tokoh persilatan yang luar biasa kepandaiannya. Jika beberapa hari yang lalu dia berhasil menghadapi ilmu dari Swat Tocu, itulah disebabkan Tiat To Hoat-ong memang telah berhasil meyakinkan ilmu Soboc nya. Dan juga waktu itu Swat Tocu memang bukan menyerang, melainkan hanya mempergunakan tenaga Inti Es nya yang hendak menguasai Tiat To Hoat-ong, yang hendak dibekukan dalam lapisan es. Jika memang Swat Tocu bertempur bersungguh-sungguh, tentu Tiat To Hoat-ong akan dapat dirubuhkannya. Juga waktu Tiat To Hoat-ong akan berhasil dirubuhkannya itu, di saat itulah memang tampak betapa Swat Tocu masih setengah hati, sehingga ketika Sasana "memisah"
Kan mereka. Swat Tocu tidak meneruskan penyerangannya. Tetapi sebagai seorang yang memiliki kedudukan sebagai Koksu negara, tentu saja Tiat To Hoat-ong tidak mau memperlihatkan kelemahannya.
"Pendeta gundul, kita pernah main-main beberapa jurus dan kepandaianmu memang lumayan! Sekarang justeru aku ingin melihat, sampai berapa tinggi kepandaian yang engkau miliki..... mari kita mulai!"
Tiat To Hoat-ong tertawa dingin.
"Untuk bertempur mengadu kekuatan memang mudah, tetapi apakah engkau telah memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa engkau mudah memasuki istana ini namun sulit untuk angkat kaki?"
Swat Tocu tertawa dingin.
"Siapa yang bisa menahanku? Kau?"
Tanyanya dengan suara yang dingin.
"Ayo maju! Jika memang kau tidak memiliki nyali, kau boleh perintahkan seluruh anak buahmu maju mengeroyokku, nanti kubinasakan mereka semua terlebih dulu, baru nanti aku menghantam pecah batok kepalamu yang gundul itu!"
Tiat To Hoat-ong selama itu telah berpikir keras sekali.
Dia mengetahui bahwa dirinya tengah menghadapi dua macam persoalan yang sulit.
Pertama, dia tengah bersiap-siap untuk menindih pengaruhnya pangeran Ghalik.
Sekarang di saat rencananya untuk mencelakai pangeran Ghalik, muncul Swat Tocu ini.
Tetapi Swat Tocu demikian mendesak, akhirnya Tiat To Hoatong tidak memiliki pilihan lain, dia mengangguk.
"Baiklah...! Tetapi sebelumnya kau jelaskan dulu, apakah engkau memang melakukan semua ini untuk membela Pangeran Ghalik?"
"Pangeran Ghalik? Hemm! Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan dia! Aku tidak bekerja untuk siapapun! Aku tidak dapat diperintah oleh Kaisarmu sekalipun! Aku hanya ingin melihat sampai berapa tinggi kepandaian yang kau miliki!"
Waktu Swat Tocu berkata begitu, dari kejauhan terdengar suara erangan yang panjang sekali, terdengar samar-samar.
Swat Tocu mengetahui bahwa suara erangan itu adalah suara erangan dari biruang salju yang ditinggal di luar istana.
Sepasang alis Swat Tocu jadi mengkerut.
Dia heran, entah apa yang terjadi pada diri biruang saljunya itu.
Tetapi Tiat To Hoat-ong telah bersiap-siap untuk mulai mengukur kepandaian.
"Mulailah!"
Kata Swat Tocu kemudian.
Tiat To Hoat-ong tidak membuang waktu lagi, telah menggerakkan tangannya, menyerang dengan hebat, karena begitu menyerang dia telah mempergunakan delapan bagian dari tenaga dalamnya.
Swat Tocu memperdengarkan suara tertawa dingin, tubuh Tocu dari pulau salju tersebut berkelebat gesit sekali, gerakannya begitu ringan.
Beruntun Tiat To Hoat-ong telah menyerang lagi, dan beberapa kali pula Swat Tocu hanya berkelit.
Lewat lima jurus, barulah Swat Tocu menggerak-gerakkan sepasang tangannya, maka berkesiuran angin serangannya, menyambar-nyambar dingin melebihi dinginnya es.
Begitulah, ke dua orang itu telah bertempur dengan hebat.
Ke duanya memang memiliki kepandaian yang tinggi, maka begitu bertempur mereka telah mengeluarkan kepandaian andalannya masing-masing.
Yo Him dan Sasana yang bersembunyi di balik batu gunung hanya mengawasi saja sampai akhirnya.
Dikala ke dua orang itu tengah bertempur dengan seru, Sasana telah menarik Yo Him, bisiknya perlahan.
"Inilah kesempatan baik untuk kita menyelidiki keadaan di dalam ruangan rahasia itu......!"
Yo Him mengangguk.
"Ya, orang-orang Tiat To Hoat-ong yang masih berdiam di dalam ruangan rahasia itu tentunya terdiri dari para pahlawan ayahmu. Mereka mendengar ribut-ribut, namun mereka tidak berani memperlihatkan diri dulu, sebab mereka menduga bahwa yang datang adalah orang-orang ayahmu.....!"
Setelah berkata begitu, Yo Him mengeluarkan pedangnya, dia mencekal batu gunung-gunungan itu.
Tajam sekali pedang itu, maka dengan mudah dan cepat dia berhasil membuat lobang yang cukup besar pada batu gunung-gunungan tersebut.
Setelah selesai melobangi batu gunung-gunungan tersebut, mereka mengintai ke dalam.
Rupanya batu gunung-gunungan tersebut, selain dipergunakan sebagai pintu rahasia, juga merupakan dinding yang berhubungan langsung dengan ruangan rahasia di dalamnya.
Yo Him dan Sasana melihat bahwa di dalam ruangan itu terdapat puluhan orang, semuanya ternyata memang merupakan orangorang kepercayaan dari ayahnya si gadis.
Dan juga Sasana melihat diantara mereka itu terdapat Liong Tie Siang, Lengky Lumi, Gochin Talu dan beberapa pahlawan-pahlawan kepercayaan ayahnya.
"Hmmm,"
Bisik Sasana lagi di pinggir telinga Yo Him.
"Pantas selalu saja apa yang hendak dikerjakan oleh ayah diketahui jelas oleh Tiat To Hoat-ong. Rupanya mereka memang telah bekerja untuk Koksu!"
"Persoalan ini harus segera diberitahukan kepada ayahmu, agar segera diadakan penyergapan pada mereka. Jika ayahmu terlambat mengambil tindakan, memang bisa mencelakai diri ayahmu sendiri! Seperti yang telah mereka rundingkan tadi, walaupun tidak bisa kutangkap keseluruhannya dari percakapan mereka, namun dirangkaikan perkataannya itu, tampaknya memang dalam dua hari ini mereka hendak mencelakai ayahmu dengan menurunkan tangan jahat......!"
Sasana mengangguk.
"Kita tunggu sampai pertempuran antara Swat tocu dan Koksu selesai...... baru nanti kita menghadap pada ayahku!"
Kata si gadis.
Yo Him hanya menurut saja.
Swat Tocu dan Tiat To Hoat-ong bertempur seru sekali, tetapi lewat beberapa belas jurus lagi, mulai tampak Tiat To Hoat-ong terdesak hebat.
Karena setiap kali dia menyerang, selalu pula dia yang berbalik terkena gempuran hawa dinginnya serangan Swat tocu.
Dengan demikian, telah membuat Tiat To Hoat-ong bertempur semakin hati-hati, dan tenaga serangan yang dipergunakannya pun semakin hebat juga, namun selalu dapat diruntuhkan lawannya yang akhirnya membuat Tiat To Hoat-ong seperti kehabisan tenaga sendiri.
Sedangkan Swat tocu menyerang semakin lama semakin bersemangat dan gencar, hawa pukulannya pun semakin dingin membekukan, sampai beberapa orang pendeta Mongolia yang keluar bersama Koksu tersebut, telah menggeser kedudukan kaki mereka, berdiri lebih jauh, menghindari hawa dingin yang menusuk tulang itu......
Tiat To Hoat-ong sendiri mengeluh, dia tak menyangka bahwa Swat Tocu demikian hebat, beberapa kali punggungnya hampir membeku dilapisi oleh lapisan es serangannya tocu itu.
Jika sampai punggungnya itu dilapisi oleh lapisan es dan membeku, berarti akan membekukan juga peredaran darahnya, yang akan membuat tubuhnya tidak leluasa bergerak dan mengurangi tenaganya.
"Baru beberapa hari berpisah, ternyata kepandaiannya jadi demikian hebat!"
Diam-diam Tiat To Hoat-ong berpikir dalam hatinya.
Karena biarpun dia telah mengeluarkan ilmu Soboc nya tokh tidak urung terdesak hebat sekali.
Sesungguhnya, dalam beberapa hari itu bukan kepandaian Swat Tocu yang semakin hebat atau memang kepandaian dari Tiat To Hoat-ong yang semakin lemah.
Kejadian yang sesungguhnya adalah Swat Tocu setelah bertempur dengan Tiat To Hoat-ong beberapa hari yang lalu, telah bisa melihat kelemahan ilmn Tiat To Hoat-ong.
Sebagai tokoh sakti yang jarang tandingannya, kepandaian Swat Tocu hebat sekali.
Jika beberapa hari yang lalu tampaknya dia agak sulit untuk dapat merubuhkan Tiat To Hoat-ong, itulah untuk pertama kali dia bertemu menghadapi ilmu seaneh Soboc.
Tetapi selama beberapa hari, Swat Tocu memutar otak memikirkan kehebatan Soboc nya Tiat To Hoat-ong, dan mempelajarinya kelemahan dari ilmu lawannya itu dengan mengingat-ingat lagi cara bertempurnya Tiat To Hoat-ong.
Karena itu, sekarang dia bisa bertempur dengan menyerang bagian-bagian terlemah dari Tiat To Hoat-ong, membuat Tiat To Hoat-ong terdesak hebat sekali.
Swat Tocu melihat lawannya telah kewalahan seperti itu, dia memperhebat serangannya.
Dari sepasang tangannya telah menyambar angin serangan yang dingin luar biasa, menerjang beruntun kepada Tiat To Hoat-ong.
Bahkan Yo Him dan Sasana yang bersembunyi di tempat yang cukup jauh itu, merasakan sambaran-sambaran hawa dingin yang menggigilkan tubuh itu.
"Tidak seberapa ilmu dan kepandaianmu pendeta gundul!"
Teriak Swat Tocu mengejek.
"Hmm sungguh terkebur sekali kau pendeta gundul, dengan memiliki kepandaian sebegini saja engkau berani menjabat kedudukan Koksu!"
Dan sambil mengejek, Swat Tocu telah memperhebat serangan-serangannya, membuat Tiat To Hoat-ong tadi terdesak mundur berulang kali.
Dan juga tampak Tiat To Hoat-ong telah bermandikan keringat, yang telah membeku oleh hawa dingin serangan Swat Tocu.
Butiran keringat yang telah membeku itu jatuh ke tanah menimbulkan suara.
"ting, ting, ting...!"
Waktu keadaan Tiat To Hoat-ong terdesak seperti itu, di mana belakangan ini Tiat To Hoat-ong hanya lebih banyak berkelit dan mengelakkan diri belaka.
Tampak beberapa orang pendeta lainnya yang sejak tadi hanya menyaksikan saja, telah bersiap-siap hendak menerjang maju guna membantui Koksu tersebut.
Namun waktu mereka ingin melompat, mereka selalu terkena sambaran angin pukulan yang dingin menggigilkan tubuh mereka.
Pendeta-pendeta tersebut memiliki lweekang yang jauh di bawahnya Tiat To Hoat-ong dengan sendirinya daya pertahanan mereka pun jauh lebih lemah dari Tiat To Hoat-ong.
Jangankan terkena serangan langsung dari pukulan Swat Tocu, sedangkan terkena desiran angin pukulan itu saja setiap kali ingin menerjang maju, mereka terpaksa selalu harus melompat mundur lagi karena tidak kuat untuk mempertahankan diri dari hawa yang dingin itu.
Beberapa kali pendeta-pendeta itu gagal melompat maju untuk membantui Tiat To Hoat-ong.
Sedangkan Swat Tocu semakin lama semakin hebat melancarkan serangannya, angin pukulannya semakin dingin.
Berbeda dengan pertempuran beberapa hari yang lalu, di mana Swat Tocu menyerang dari jarak jauh, yang hanya berusaha membekukan Tiat To Hoat-ong dengan ilmu Inti es nya.
Sekarang justru setiap kali menyerang dengan hawa mukjijatnya itu, diapun membarengi dengan uluran tangannya itu, untuk menghantam dan mencengkeram, maka Tiat To Hoat-ong terdesak hebat sekali.
Dalam keadaan terdesak hebat seperti itu, Tiat To Hoat-ong hanya bisa mempergunakan ilmu Soboc nya untuk menghalau hawa dingin, dan selalu berkelit ke sana ke mari menghindari diri dari cengkeraman, pukulan dan totokan.
Dan setiap gerakan itu hanya merupakan pembelaan diri tanpa bisa melancarkan serangan balasan.
Tapi, dari sebelah selatan istana itu, tiba-tiba sekali tampak cahaya terang, dan berlari-lari cepat puluhan sosok tubuh.
Gerakan mereka ringan sekali, dan yang berlari di sebelah depan di tangan kanan masing-masing memegang sebuah tengtoleng, sehingga ketika mereka tiba di tempat pertempuran itu, segera juga di sekitar tempat tersebut jadi terang benderang.
Malah Tiat To Hoat-ong yang tengah bertempur dan terdesak, masih sempat melihat, bahwa salah seorang yang berlari paling depan tidak lain dari pangeran Ghalik!
Namun pangeran Ghalik yang datang bersama belasan orang pahlawannya itu tidak segera turun tangan, hanya berdiri menyaksikan jalannya pertempuran itu.
Tiat To Hoat-ong mendongkol bukan main karena di hatinya dia jadi berpikir.
"Hemmm, kau melihat aku dalam keadaan terdesak seperti ini, tapi engkau tidak cepat turun tangan untuk membantuku......"
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak bisa berpikir terlalu lama, sebab berulang kali dia harus menghindarkan diri dari serangan-serangan Swat Tocu.
Swat Tocu sendiri pun telah melihat kedatangan pangeran Ghalik bersama para pahlawannya itu.
Namun Swat Tocu hanya mendengus memperdengarkan suara tertawa dingin, tapi ke dua tangannya tetap bergerak cepat dan hebat sekali mendesak Tiat To Hoat-ong.
Sasana dari tempat persembunyiannya yang melihat kedatangan ayahnya, jadi girang luar biasa.
Karena dalam keadaan seperti ini di waktu Tiat To Hoat-ong dalam keadaan terdesak oleh Swat Tocu, dan semangat maupun tenaganya tentu telah lemah, tentu ayahnya bisa mempergunakan kesempatan ini untuk membongkar penghianatan dari orang-orang kepercayaannya.
Namun waktu Sasana hendak melompat keluar dari tempat persembunyiannya, waktu itulah Yo Him telah mencekal lengannya, bisiknya perlahan.
"Tunggu dulu nona, kau lihat itu......!" Yo Him menunjuk ke arah sebelah timur istana tersebut. Segera tampak beberapa sosok tubuh lain yang berkelebat dengan gesit dan lincah sekali, di mana sosok-sosok tubuh yang kurang lebih berjumlah enam orang itu, telah tiba di tempat terjadinya pertempuran itu dengan cepat sekali. Malah langkah kaki mereka tidak memperdengarkan suara sedikitpun, menunjukan ginkang ke enam orang tersebut tinggi sekali! Semua orang yang melihat kedatangan ke enam orang tersebut, yang rupanya bukan orang sembarangan, telah mengawasi dengan sorot mata tajam. Terutama sekali pangeran Ghalik yang telah menoleh kepada ke dua orang pahlawannya, yaitu yang seorang bermuka putih bertubuh tinggi jangkung dan yang seorang lagi, yang berdiri di sebelah kanannya bermuka hitam, berbisik.
"Hek Pek Kiesu, kalian berdua harus berwaspada!"
Sepasang orang yang berdiri di dekat pangeran Ghalik, yang mukanya yang seorang putih dan yang seorang hitam itu telah mendengus saja.
Mereka telah menoleh ke belakang, bicara beberapa patah perkataan kepada belasan orang lainnya dari pahlawan-pahlawan pangeran Ghalik.
Ke enam orang yang baru datang itupun telah berdiri tegak mengawasi ke sekitar tempat itu.
Dan orang yang berada paling depan telah mengerutkan alisnya ketika menyaksikan pertempuran yang tengah terjadi antara Tiat To Hoat-ong dangan Swat Tocu.
Dialah seorang yang berpakaian sebagai pengemis dan usianya cukup lanjut, namun mukanya segar sekali.
Pakaiannya itu terbuat dari potongan kain berwarna yang dijahit menjadi satu.
Ke lima orang lainnya yang datang bersama juga berpakaian sebagai pengemis.
Melihat orang yang pertama itu, si pengemis tua yang tengah mengerutkan alisnya menyaksikan pertempuran yang tengah berlangsung antara Tiat To Hoat-ong dengan Swat Tocu itu, Yo Him hampir berteriak girang dari tempat persembunyiannya.
Karena segera juga Yo Him mengenal, pengemis tua itu tidak lain dari Wie Liang Tocu, Wie Tocu yang telah angkat saudara dengannya, yang menjadi Toakonya.
Peristiwa pengangkatan saudara antara Yo Him dengan Wie Tocu bisa diikuti dalam Sin-tiauw-thian-lam.
Yang membuat Yo Him jadi tidak mengerti, apa maksud Wie Tocu, sang Toako itu, datang ke istananya pangeran Ghalik di mana Toako itu telah datang justru bersama ke lima pengemis lainnya itu?
Apakah memang kedatangan Wie Liang Tocu memang ingin memusuhi pangeran Ghalik juga?
Apakah tokoh pengemis itu memang ingin melakukan sesuatu di istananya pangeran tersebut?
Karena berpikir begitu, Yo Him telah melirik ke arah Sasana yang berada di sampingnya.
Jika memang Wie Liang Tocu bersama ke lima pengemis lainnya itu memusuhi pangeran Ghalik, berarti bertambah lagi lawan tangguh buat ayah si gadis.
Sasana sendiri mengerutkan alisnya, dia berbisik heran kepada Yo Him.
"Aneh, apa yang diinginkan ke enam pengemis itu? Siapa mereka sebenarnya?" "Mereka dari Kay-pang!"
Menjelaskan Yo Him, berbisik juga di pinggir telinga si gadis.
"Dan pergemis tua yang berada di depan itu adalah Wie Liang Tocu, dialah toakoku!"
"Apa?"
Tanya Sasana terkejut, dia juga telah menoleh memandang tajam pada Yo Him, sorot matanya tajam dan bola matanya tampak begitu bening.
Waktu dia menoleh juga anak-anak rambutnya telah menyentuh lembut pipi Yo Him, sehingga pemuda inipun mengendus bau harum semerbak.
"Wie Liang Tocu memang kakak angkatku!"
Kata Yo Him kemudian, menjelaskan.
"Entah apa maksud kedatangannya ke mari?"
Waktu itu Wie Liang tocu, pengemis yang tadi memandang pertempuran yang tengah berlangsung antara Tiat To Hoat-ong dengan Swat Tocu, dengan suara yang perlahan.
"Sungguh, pertempuran yang menarik! Aku tidak menyangka, bahwa si pengemis miskin seperti kita bisa menyaksikan pertunjukan yang menarik seperti ini!"
Ke lima pengemis itu memperdengarkan suara tertawa mereka.
Tampaknya mengambil sikap yang tenang dan memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu dengan sikap yang waspada, di mana ke lima penpemis tersebut berdiri dengan mengambil kedudukan di sekitar Wie Tocu tersebut.
Rupanya, memang ke lima pengemis ini berkuatir kalau-kalau mereka mendadak diserang secara membokong oleh orangorangnya pangeran Ghalik.
Tetapi Wie Tocu sendiri cuma memperlihatkan jalannya pertempuran antara Tiat To Hoat-ong dengan Swat Tocu, sama sekali tidak mengacuhkan semua orang yang berada di tempat tersebut.
Waktu itu, Tiat To Hoat-ong yang melihat kedatangan ke enam pengemis tersebut, juga jadi terkejut.
Dia telah sering mendengar akan kehebatan Kay-pang, dan dilihat dari cara berpakaian ke enam pengemis itu, yang walaupun merupakan baju tambalan, tokh mereka tampaknya merupakan pengemis yang bersih.
Segera ia menyadari ke enam pengemis ini adalah pengemispengemis Kay-pang.
Malah tadi Tiat To Hoat-ong telah menyaksikan cara datangnya ke enam pengemis itu yang gerakan tubuhnya begitu ringan menunjukkan ginkang mereka hebat sekali.
"Apakah dia orangorang undangan pangeran?"
Diam-diam Tiat To Hoat-ong juga jadi berpikir di dalam hatinya.
Koksu ini pun segera berpikir, untuk memanggil keluar orangorangnya yang masih berada di dalam ruangan rahasia, jika memang terjadi pertempuran, orang-orangnya itu bisa membantuinya.
Namun, justru di tempat tersebut juga ada pangeran Ghalik, di mana jika Tiat To Hoat-ong memanggil keluar orang-orangnya yang berada di dalam ruangan rahasia itu, jelas hal itu sama saja dengan membuka kedoknya sendiri, yang telah berkomplot untuk merencanakan sesuatu, karena orang-orang itu adalah pahlawan-pahlawannya pangeran Ghalik juga, yang telah berpaling muka dan berkhianat pada pangeran tersebut.
Tengah Tiat To Hoat-ong bersangsi seperti itu, justru Swat Tocu yang tidak memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, telah melancarkan gempuran yang beruntun kepada Tiat To Hoat-ong.
Hawa dingin dari tenaga Inti Es nya semakin hebat, bergulunggulung hendak membungkus Tiat To Hoat-ong dengan lapisan es.
Bukan main sibuknya Tiat To Hoat-ong harus menghindar ke sana ke mari mengelakkan diri dari setiap serangan yang dilancarkan oleh Swat Tocu.
Akhirnya pendeta Mongolia yang menjabat Koksu negara itu menyadari bahwa dalam keadaan demikian tidak dapat dia memecahkan perhatiannya, karena dia tengah menghadapi maut, dan harus memusatkan seluruh perhatiannya.
Maka segera juga Tiat To Hoat-ong mengempos semangatnya, dia berusaha untuk dapat menyanggah semua gempuran hawa dingin itu dengan Soboc nya, sehingga dari tubuh Tiat To Hoat-ong mengepul uap yang panas sekali, tidak urung keringatnya tetap membeku keras karena terlalu dinginnya hawa serangan lawannya.
Namun disebabkan Tiat To Hoat-ong mengerahkan seluruh hawa murninya, untuk sementara itu dia masih bisa mempertahankan diri.
Swat Tocu beberapa kali memperdengarkan suara tertawa dingin, dia telah merasa yakin dalam beberapa jurus lagi tentu dapat merubuhkan Tiat To Hoat-ong.
Bukan main girang hatinya, semangatnyapun terbangun dan menyerang beruntun beberapa kali lagi.
Yo Him yang menyaksikan jalannya pertempuran telah sampai ke tingkat yang menentukan seperti itu, mengawasi dengan penuh perhatian.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa kepandaian Swat Toou demikian hebat.
Jika memang Yo Him sendiri yang menghadapinya diapun belum begitu pasti apakah akan sanggup menerima hawa tenaga Inti Es nya Swat Tocu tersebut.
Wie Liang Tocu yang melihat jalannya pertempuran itu beberapa saat lamanya, akhirnya menoleh kepada pengemis-pengemis lainnya, katanya.
"Apakah kalian telah melihat! Itulah merupakan tenaga Inti Es yang sangat terkenal sekali. Dan yang seorang itu, adalah Koksu negara Mongolia yang ternama dan terkenal akan kegagahannya. Hahaha! Hebat sekali kepandaiannya, lihatlah butir-butir keringatnya pun bisa menjadi butir-butir es!"
Jelas bahwa Wie Liang Tocu memang sengaja mengejek Tiat To Hoat-ong.
Baca Juga: Sepasang Pendekar Kembar 4
Baca Juga: Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 9