Eps 3 Beruang Salju - Sin Liong
Baca online Beruang Salju - Sin Liong
Cersil Beruang Salju - Sin Liong.
"Manusia seperti engkau mana ada harganya menemui kami? Suruh pemuda she Yo itu turun ke mari!"
Muka Liu Ong Kiang tidak berobah mendengar ejekan tersebut, dia malah tertawa.
"Sabar, sabar......!"
Katanya kemudian.
"Yo Kongcu sedang berpakaian, tidak lama lagi tentu Yo Kongcu akan turun menemui kalian. Tetapi bolehkah aku si pengemis miskin mengetahui apa maksud ke dua taijin dan Taysu mencari Yo Kongcu?" "Hemmmm,"
Orang Mongolia yang berpakaian bangsawan itu telah mendengus dingin.
"Ada sesuatu yang perlu kami tanyakan padanya!"
"Ya, suruh dia turun untuk menemui kami!"
Berkata Tiat To Hoatong dengan suara mengandung kemendongkolan.
"Rewel-rewel banyak mulut seperti kau ini, akan kami hajar biar kau dikirim ke akherat.....!"
"Galak sekali pendeta ini, berpikir Liu Ong Kiang. Hemm, dia sebagai Koksu negara, memang telah kudengar perihal kepandaiannya yang tinggi, hanya di bawah setingkat dari kepandaian Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko. Sekarang ia bisa muncul bersama bangsawan ini, yang tidak kuketahui siapa adanya, apa yang ingin mereka lakukan? Tetapi walaupun berpikir begitu, namun Liu Ong Kiang tahu bahwa ke dua orang ini tentunya mengandung maksud tidak baik, dengan sabar ia berkata.
"Yo Kongcu tidak lama lagi akan turun menemui kalian tetapi jika memang kalian memiliki urusan penting, kalian sampaikan kepadaku, biar nanti kuberitahukan pada Yo Kongcu......!"
"Oh pengemis bau yang terlalu banyak mulut!"
Teriak Tiat To Hoatong, dia juga telah menggebrak meja keras sekali, sehingga meja itu miring. Sebab salah satu kakinya hampir patah menjadi dua, belum putus.
"Kau memang perlu dibungkamkan!"
Dan Tiat To Hoat-ong telah mengambil cawan di depannya, tahu-tahu dia telah menyiram Liu Ong Kiang dengan arak yang berada di dalam cawan itu.
Arak itu bagaikan selembar benang putih, telah menyambar ke muka Liu Ong Kiang.
Walaupun kepandaian Liu Ong Kiang memang tidak bisa mengimbangi kepandaian Tiat To Hoat-ong, namun diapun tidak lemah.
Saat melihat arak yang menyambar ke arah dirinya disertai tenaga dalam yang tinggi, si pengemis telah menyingkir ke samping tanpa menunggu tibanya arak itu pada sasaran.
Maka arak yang tidak berhasil mengenai sasaran, telah mengenai dinding ruangan itu, dan seketika dinding itu jadi berlobang sedalam lima dim!
Si pelayan yang berdiri agak jauh dari tempat itu berobah pucat, mengawasi dengan ketakutan.
Ia beranggapan pendeta Mongolia ini mempergunakan ilmu siluman, karena dengan siraman arak saja ia bisa membuat dinding batu itu berlobang begitu dalam.
Kalau tadi sampai mengenai muka si pengemis, tentu muka itu akan berlobang dan pasti rusaknya, juga si pengemis akan menemui kematian, sebab kepalanya akan pecah remuk oleh siraman arak tersebut.
Liu Ong Kiang sendiri jadi mengeluh dalam hati.
Apa yang pernah didengar bahwa Tiat To Hoat-ong merupakan Koksu kerajaan Mongolia yang sakti, memang benar.
Hanya sekarang, di saat kerajaan Mongolia telah berhasil menguasai daratan Mongolia, Koksu ini lebih bengis lagi, di mana ia selalu bertindak dengan tangan besi, karena kekuasaan yang ada di tangannya sebagai Koksu negara membuatnya ia memiliki pengaruh yang sangat besar.
Terlebih lagi memang tokoh-tokoh sakti daratan Tiong-goan telah hidup mengasingkan diri.
Maka boleh di bilang sejak kémenangan kublai Khan merebut daratan Tiong-goan, Koksu negara yang memiliki kepandaian sangat tinggi itu, tidak pernah menemui tandingan lagi.
Waktu terjadi pertempuran di Siang-yang, walaupun Liu Ong Kiang tidak ikut serta, namun sebagai seorang tokoh Kay-pang, ia memang ikut mengerahkan anggota Kay-pang guna bantu perjuangan dari para orang-orang gagah melindungi Siang-yang.
Dan perihal diri Koksu negara Tiat To Hoat-ong telah banyak didengarnya.
Dan sekarang, begitu melihat kepada Tiat To Hoatong, pakaiannya dan keadaannya, seketika ia telah menduga kepada Koksu yang bengis tersebut.
Melihat siraman araknya gagal, Tiat To Hoat-ong jadi gusar bukan main, dengan penasaran ia telah menyambar cawan yang satunya yang masih ada isinya.
Ia menyiram lagi.
Namun kali ini arak tidak menyambar dalam bentuk seutas benang, melainkan terpecah dalam butir-butir seperti air hujan.
Liu Ong Kiang tahu apa akibatnya jika ia tidak berhasil menyelamatkan diri dari arak itu, maka ia melompat tinggi sekali.
Tiga tombak, hampir saja kepalanya menyentuh wuwungan.
Butir-butir arak itu telah lewat di bawah kakinya, dan kembali menghantam dinding itu berlobang-lobang bagaikan ditusuk oleh benda tajam!
Hal ini memperlihatkan lweekang Tiat To Hoat-ong telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali dan kepandaiannya itu luar biasa sekali.
Muka Liu Ong Kiang jadi pucat waktu turun ke lantai dan baru saja ia ingin berkata dengan sengit karena kuatir dan penasaran menjadi satu, untuk memaki si pendeta dan berusaha mencegah pendeta itu menyerang lebih lanjut, bangsawan Mongolia itu telah berkata kepada Koksu negara tersebut.
"Koksu, biarkan dulu aku menanyakan beberapa soal kepada pengemis itu!"
Tiat To Hoat-ong sesungguhnya tengah penasaran dan ingin menimpuk sekalian dengan cawan di tangannya.
Waktu melihat serangan araknya tidak berhasil juga namun mendengar cegahan dari bangsawan Mongolia tersebut, ia mengangguk dengan perlahan.
Mau ia patuh pada permintaan bangsawan Mongolia itu, tetapi patuhnya itu patuh terpaksa!
"Pengemis bau, sekarang kau katakan, kuminta kau bicara yang jujur, karena sekali saja kau berdusta, maka jangan mempersalahkan aku nanti memperlakukan kau tidak baik!
Nah, pertama-tama yang ingin kuketahui, pemuda yang telah menimbulkan kegaduhan di kota ini, yaitu dengan melawan seekor binatang dan seorang berpakaian aneh, apakah benar-benar she Yo?"
Si pengemis mengangguk.
"Ya,"
Sahutnya. Walaupun mendongkol dan penasaran, Liu Ong Kiang tidak berani main gila di hadapan Tiat To Hoat-ong.
"Dan pemuda she Yo itu, yang katanya memiliki kepandaian sangat tinggi, sehingga bisa mengusir biruang yang ganas dan seorang yang aneh dan memiliki kepandaian hebat itu. Apakah orang she Yo yang ada hubungannya dengan Yo Ko?" Ditanya begitu, Liu Ong Kiang berdiam diri sejenak, namun ia segera teringat, ketika Yo Him sedang bercakap-cakap dengan Swat Tocu, semua orang yang waktu itu berada di tempat tersebut, jelas telah mendengar sendiri bahwa Yo Him adalah putera dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko. Percuma saja jika memang si pengemis she Liu ini menyangkal, terpaksa ia mengangguk juga.
"Benar, memang tepat!"
Katanya.
"Ada urusan apakah Taijin dan Taysu...... berdua ingin bertemu dengannya?"
Bangsawan Mongolia itu telah memperdengarkan suara dingin, sikapnya semakin tawar dan matanya mengawasi bengis kepada Liu Ong Kiang.
"Di mana dia berada sekarang?"
Tanya bangsawan Mongolia itu.
"Ada di kamarnya......!"
Menyahuti Liu Ong Kiang.
"Mengapa dia tidak segera turun menemui kami, atau memang ia tengah berusaha melarikan diri? Hemmmm, jangan mimpi, di sekeliling rumah penginapan ini telah kami tempatkan orang-orang kami. Jangankan orang she Yo itu, seekor lalatpun tidak akan lolos dari mata kami! Perintahkan dia turun menemui kami!"
Liu Ong Kiang tahu, Yo Him sekarang ini tentu tengah mengerahkan tenaga dalamnya, dan tidak boleh diganggu.
Permintaan bangsawan Mongolia tersebut tidak mungkin dikabulkannya.
Maka sambil tertawa ia berkata.
"Sayang sekali Yo Kongcu belum bisa menemui Taijin dan Taysu sekarang ini. Tunggulah sebentar lagi jika memang pekerjaan Yo Kongcu selesai, ia tentu akan turun menemui kalian....." "Apa yang sedang dilakukannya di sana......?"
Tanya bangsawan Mongolia itu dengan bengis.
"Ia......!"
Tetapi Liu Ong Kiang tidak bisa meneruskan perkataannya, sebab Tiat To Hoat-ong tahu-tahu telah menjejakkan kakinya, tubuhnya gesit sekali telah melompat ke samping Liu Ong Kiang, di waktu itulah tangan kanan pendeta itu diulurkan untuk membekuk Liu Ong Kiang.
Walaupun kepandaian Liu Ong Kiang tidak setinggi kepandaian Tiat To Hoat-ong, namun ia merupakan seorang tokoh Kay-pang yang memiliki kepandaian boleh juga.
Melihat dirinya hendak dibekuk oleh pendeta Mongolia tersebut, ia telah mengelakkan diri dengan memiringkan tubuhnya ke kanan dan menggeser kakinya untuk menjauhi diri dari pendeta Mongolia yang berangasan itu.
Tiat To Hoat-ong melihat si pengemis berusaha menjauhi diri dari dia, cepat sekali dia membangkol mempergunakan tangannya yang lain waktu itulah cepat bukan main.
Dengan gerakan yang sulit diikuti oleh pandangan mata tubuh Liu Ong Kiang telah terjerembab kena dibangkol oleh Tiat To Hoat-ong.
Malah belum lagi si pengemis tahu apa yang terjadi tangan kanannya telah dicekal oleh pendeta Mongolia tersebut, yang telah memijit nadinya, sehingga punahlah semua tenaga si pengemis.
Waktu Tiat To Hoat-ong menariknya agar si pengemis itu berdiri, dia telah tertawan tanpa daya dan hanya berdiri tidak bisa memberikan perlawanan.
"Hemm, pengemis bau seperti engkau ini biasanya bersekongkol dengan orang-orang Song itu..... mereka adalah para penghianat dan pemberontak. Mereka harus ditangkap semuanya!"
Suara Tiat To Hoat-ong menyeramkan.
"Mereka merupakan manusiamanusia yang tidak tahu mampus, tidak mau mengakui kekuasaan dari Khan kami yang agung......!"
Liu Ong Kiang telah memandang kepada Tiat To Hoat-ong dengan sorot mata mengandung kemendongkolan, katanya.
"Hemm, engkan main kasar seperti ini, apakah kau kira engkau merupakan jago yang paling gagah dan nomor satu di kolong langit! Kudengar waktu menghadapi Sin-tiauw-tay-hiap, engkau sampai terkencingkencing dan terkentut-kentut.....!"
Mendengar perkataan Liu Ong Kiang, bukan main murkanya Tiat To Hoat-ong, mukanya merah padam dan ia mengangkat tangan kirinya maksudnya ingin menghantam pecah batok kepala Liu Ong Kiang.
Namun bangsawan Mongolia itu telah menahan gerakan tangan Tiat To Hoat-ong, katanya tawar.
"Koksu, kau tidak perlu membinasakan dia dulu, kita belum lagi bertemu dengan pemuda she Yo itu......!"
Tiat To Hoat-ong jadi gagal dengan maksudnya, ia tidak jadi turunkan tangan mautnya itu. Namun dengan muka yang merah padam karena masih murka, dia berkata bengis.
"Jika nanti benar engkau berserikat dengan manusia-manusia pemberontak itu, hemm, aku akan menghantam pecah batok kepalamu ini......!"
Dan setelah berkata begitu, Tiat To Hoat-ong tetap memegangi tangan Liu Ong Kiang, yang terus juga dipijit jalan darahnya, sampai pengemis itu tetap tidak memiliki tenaga untuk mengadakan perlawanan.
Liu Ong Kiang tidak jeri, memang ia mengakui tidak ungkulan ia menghadapi Tiat To Hoat-ong, di mana tidak mungkin ia bisa mendampingi pendeta yang liehay dan berangasan itu, namun dengan diperlakukan demikian kasar oleh pendeta ia jadi gusar dan penasaran sekali.
Dia telah memperdêngarkan suara tertawa dingin, katanya tawar.
"Tiat To Hoat-ong, aku memang tidak pernah bertemu denganmu, tetapi sebagai Koksu negara Mongolia yang engkau banyak dikenal orang. Sayang sekali, semula aku pernah membayangkan bahwa seorang Koksu dari Mongolia yang merupakan kerajaan yang selalu diagung-agungkan itu tentunya seorang Koksu yang benar-benar hebat dan gagah! Sayang sekali......!"
"Apanya yang sayang sekali?"
Bentak Tiat To Hoat-ong tambah murka. Liu Ong Kiang sengaja menghela napas, dia telah meneruskan perkataannya.
"Sudah kukatakan, aku merasa sayang, bahwa apa yang telah kubayangkan itu ternyata meleset!"
Menyahuti begitu, Liu Ong Kiang menyeringai tertawa, sama sekali dia tidak jeri, walaupun dia telah terjatuh ke dalam Koksu Mongolia.
"Mengapa?"
Bentak Tiat To Hoat-ong penasaran.
"Karena Koksu yang terkenal dari kerajaan Mongolia yang katanya begitu agung, ternyata tidak lebih tidak kurang dari pada seekor buduk yang gemar menggigit......!"
Sahut Liu Ong Kiang.
Hebat ejekan Liu Ong Kiang, muka Tiat To Hoat-ong merah seperti dibakar, ia mengerang satu kali, dan seketika lupa diri.
Tangannya digerakkan, tahu-tahu tubuh Liu Ong Kiang telah dilemparkan dengan sekuat tenaga, dan tubuh si pengemis menggelinding di lantai berguling-guling.
Namun Liu Ong Kiang memang telah nekad.
Sambil merangkak berdiri ia telah memperdengarkan suara mengejek, lalu katanya lagi mengoceh.
"Dan memang benar-benar terbukti sekarang, apa yang disebut sebagai Koksu negara itu tidak lebih dari seekor anjing buduk yang gemar menggigit, jika menghadapi lawan yang lebih lemah, memperlihatkan taringnya. Tetapi jika menghadapi manusia yang memiliki kepandaian tinggi, lalu cepat-cepat sembunyikan ekor! Sungguh Koksu yang bau kotoran anjing dan babi.....!"
Si pengemis memang hidup di kalangan kaum pengemis, yang biasa menggunakan kata-kata makian yang kasar dan kotor, sekarang kata-kata kasar itu dipergunakan untuk memaki Tiat To Hoat-ong.
Koksu negara yang sangat agung dan dihormati semua orang.
Jangankan rakyat, sedangkan Kaisar sendiri, Kublai Khan, menghormatinya.
Bisa dibayangkan perasaan murka yang bergolak di dada Tiat To Hoat-ong.
Karena terlalu murka, untuk sejenak Tiat To Hoat-ong hanya bisa berdiam diri saja di tempatnya, dia mengawasi Liu Ong Kiang dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar, bagaikan biji matanya akan melompat keluar.
"Pengemis anjing, kau......!"
Memaki Tiat To Hoat-ong dengan murka yang tidak tertahan.
Sesungguhnya bisa saja dia binasakan Liu Ong Kiang, tetapi pengemis itu terlalu menghina dan membuat dia gusar seperti itu maka pendeta Mongolia yang liehay ini justeru jadi tidak ingin membinasakan Liu Ong Kiang, di waktu itu juga dia ingin menyiksa Liu Ong Kiang dengan cara yang hebat, agar si pengemis nanti mati dengan perlahan-lahan, untuk hidup tidak bisa, matipun tidak dapat.
"Kau akan merasakan akibatnya nanti atas perkataanmu yang kurang ajar itu.....!"
Dan setelah berkata begitu, Tiat To Hoat-ong melangkah mendekati Liu Ong Kiang, tangan kanannya dihantamkan ke punggung Liu Ong Kiang.
Si pengemis berusaha mengelakkan diri namun dia kalah cepat, telapak tangan Tiat To Hoat-ong telah singgah di punggungnya.
Tidak ampun lagi tubuh Liu Ong Kiang terjungkal rubuh bergulingan di atas lantai.
Belum lagi Liu Ong Kiang bisa bangkit dan masih mengerang sakit karena tulang punggungnya seperti akan patah akibat pukulan Tiat To Hoat-ong, di waktu itulah tubuh TiatTo Hoat-ong yang tinggi besar namun dapat bergerak lincah dan ringan telah berada di sampingnya, tahu-tahu kaki kanannya telah menginjak punggung Liu Ong Kiang, dia menginjak dengan kuat sekali, sampai terdengar suara "krek!"
Ada tulang-tulang punggung Liu Ong Kiang yang patah!
Bukan main menderitanya Liu Ong Kiang, dia menderita kesakitan yang hebat, sampai dia mengeluh perlahan.
Namun pengemis dari Kay-pang ini, walaupun menderita kesakitan seperti itu, sama sekali tidak menjerit.
Dan bukannya merintih malah telah membuka mulutnya untuk memaki lagi.
"Koksu bau busuk, manusia seperti engkau, yang mirip anjing dan babi, mana pantas menjadi Koksu? Hemm...... kalau kau bertemu dengan Sin-tiauw-tay-hiap, aku ingin lihat, apakah engkau masih memiliki nyali untuk pentang mulut! Kukira, engkau akan akan terkencing-kencing dan terkentut-kentut berlutut di hadapan Sin-tiauw-tay-hiap memohon-mohon pengampunan untuk jiwa anjingmu itu!"
Bukan main gusarnya Tiat To Hoat-ong, dia sampai menggigil menahan keamarahannya itu. Dan kemudian katanya dengan berang.
"Baik, baik, aku tidak akan membunuhmu dulu, agar citacitamu itu terlaksana! Kau akan melihat nanti, bagaimana aku membekuk si buntung Yo Ko itu......! Memang kami tengah mencari jejaknya. Tetapi engkau tidak bisa dibiarkan dalam keadaan seperti ini, terlalu enak untukmu......!"
Dan setelah berkata begitu, ketika baru saja kata-katanya itu diucapkan, ke dua tangan Tiat To Hoatong telah digerakkan, di mana dia telah patahkan ke dua tangan Liu Ong Kiang!
Sama sekali Liu Ong Kiang tidak menjerit, hanya menggigit bibir menahan sakit.
Dan kemudian Tiat To Hoat-ong telah menginjak ke dua kaki si pengemis dengan ke dua kakinya, mengerahkan lweekangnya, maka dengan memperdengarkan suara "krekkk!"
Tulang ke dua kaki Liu Ong Kiang akhirnya remuk juga!
Itulah cara membuat bercacad lawan yang sangat keji sekali.
Tiat To Hoat-ong memang benar-benar tidak hendak membinasakan orang yang telah menghinanya ini, malah dia akan membiarkannya hidup dulu.
Sampai kelak baru dia akan melakukan siksaan lagi, membuat orang sulit hidup dan sukar untuk mati.....
Bangsawan Mongolia yang berdiri diam dengan sepasang alis mengkerut.
Tidak mengucapkan apa-apa, hanya mengawasi saja apa yang dilakukan Koksu Negara itu, karena ia yakin percuma ia menahan sepak terjang Koksu itu yang tengah murka sekali.....
Ko Tie yang telah dipesan oleh Liu Ong Kiang agar menunggui pintu kamar, diam-diam telah mengintai dari atas tangga loteng, semua yang terjadi telah dilihatnya dengan jelas.
Anak itu jadi bingung dan ngiris hatinya menyaksikan Liu Ong Kiang dianiaya seperti itu, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Hanya satu yang diingatnya, yaitu memberitahukan pada Yo Him.
Namun anak ini teringat bahwa Yo Him telah berpesan, agar tidak seorangpun dlperbolehkan masuk ke dalam sebelum ia selesai mengerahkan lweekangnya méngobati Cin Piauw Ho.
Sedang anak itu kebingungan sendiri, dilihatnya Tiat To Hoat-ong telah menginjak hancur tulang kaki Liu Ong Kiang, maka tidak ada pilihan lain pada diri anak ini, ia memutuskan untuk memberitahukan Yo Him, karena jika terlambat tentu Liu Ong Kiang akan disiksa jauh lebih hebat lagi.
Cepat-cepat Ko Tie kembali ke kamarnya, membuka pintu perlahan-lahan dan menghampiri pembaringan.
Dilihatnya Yo Him masih duduk bersila, tengah menyalurkan tenaga dalamnya pada Cin Piauw Ho.
Yo Him berdiri di sisi pembaringan tanpa bisa membuka suara.
Yo Him melirik padanya, dan mmgisyaratkan seperti bertanya apakah terjadi sesuatu, karena dilihatnya muka Ko Tie begitu pucat.
Ko Tie suara terbata-bata akhirnya, bisa juga berkata.
"Paman pengemis...... tengah..... dianiaya orang......!"
Mendengar itu.
sepasang alias Yo Him mengkerut dalam-dalam.
Entah orang liehay mana yang sampai dapat menganiaya Liu Ong Kiang?
Tetapi waktu itu Yo Him tengah berada pada saat-saat yang begitu sangat genting dan terakhir ia mengerahkan tenaga dalamnya itu dua putaran lagi, barulah selesai.
Jika di saat itu ia menyudahi pengerahan tenaga dalamnya, bukan saja Cin Piauw Ho akan celaka, karena seperti juga tenaga yang tengah beredar itu tahutahu terlepas dari libatan dan bisa menyerang bagian dalam anggota tubuh Cin Piauw Ho pun Yo Him sendiri bisa terluka di dalam.
Maka dengan anggukan kepala ia seperti mengatakan agar Ko Tie menunggu beberapa saat lagi.
Maka iapun telah mengerahkan tenaga dalamnya, di mana ia ingin segera mengakhiri pengerahan tenaga dalamnya itu.
Dua putaran tidak lama, hanya beberapa puluh detik.
Namun, belum lagi Yo Him menyelesaikan pengerahan tenaga dalamnya itu.
Justru pintu kamar telah ditendang seseorang kuat sekali, sampai daun pintu kamar menyeblak keras dan tampak di ambang pintu berdiri dua orang yang berpakaian sebagai bangsawan Mongolia dan pendeta Lhama......
Yo Him juga segera mengenali salah seorang dari ke dua orang yang berdiri di muka pintu itu tidak lain dari Tiat To Hoat-ong, musuh bebuyutan dari ayahnya, saudara dari Kim Lun Hoat-ong yang telah terbinasa delapanbelas tahun yang lalu......
◄Y► Diam-diam Yo Him jadi mengeluh juga, ia tengah berada dalam keadaan yang sulit, di mana ia tengah mengerahkan tenaga dalamnya di saat-saat yang genting seperti itu.
Disamping itu pula, ia pun telah mempergunakan banyak sekali tenaga dalamnya, ia dalam keadaan lemah.
Dan yang muncul sekarang ini, yaitu Tiat To Hoat-ong, orang terpandai dari Mongolia.
Koksu negara yang mempunyai kepandaian hanya sedikit di bawah kepandaian ayahnya.
Jika memang dalam keadaan biasa, tentu Yo Him tidak jeri menghadapi Koksu negara Mongolia tersebut.
Tetapi sekarang justru dia dalam keadaan seperti terjepit.
Namun dia tabah, dia juga tidak menjadi gugup.
Dengan sikap yang tenang ia telah meneruskan menyelesaikan pengerahan tenaga pada Cin Piauw Ho tanpa memperdulikan kehadiran ke dua orang Mongolia itu.
Tiat To Hoat-hong waktu melihat Yo Him tengah mengerahkan tenaga dalamnya pada seseorang, yang rebah di pembaringan dalam keadaan lemah.
Telah memperdengarkan suara tertawa dingin, katanya.
"Oh, kiranya kau tengah berusaha mengobati seseorang."
Dan sambil berkata begitu, mulut bicara kaki melangkah mendekati pembaringan.
Ia telah mengulurkan tangannya untuk mencengkeram dada Yo Him.
Ko Tie ketakutan dan berkuatir melihat pendeta Lhama yang ganas berangasan itu hendak mencengkeram Yo Him, sedangkan Yo Him sendiri tahu, bahwa cengkeraman itu bukanlah cengkeraman yang ringan, bisa mematikannya.
Tetapi Ko Tie maupun Yo Him, tidak bisa berbuat lain selain berdiam.
Yang seorang, Ko Tie hanya bisa menyaksikan dengan bingung tanpa dapat menolong.
Sedangkan Yo Him berdiam dengan meneruskan pengerahan tenaga dalamnya menyelesaikan penyaluran tenaga murni itu pada Cin Piauw Ho.
Dan Tiat To Hoat-ong meneruskan cengkeramannya.
Tetapi waktu tangan Tiat To Hoat-ong hampir mengenai sasaran, mendadak pendeta itu mengeluarkan suara seruan tertahan, mengandung perasaan sakit, ia pun batal mencengkeram dan mundur menjauhi pembaringan dengan muka berobah pucat dan merah bergantian.
Apakah yang terjadi?
Ternyata waktu Yo Him menghadapi bahaya yang cukup hebat, Cin Piauw Ho yang tengah rebah menerima hawa murni Yo Him, telah melihat Tiat To Hoat-ong berdiri tepat di dekat kepalanya.
Maka tanpa pikir panjang lagi, dengan mempergunakan seluruh tenaganya yang masih ada, walaupun ia sangat lemah, Cin Piauw Ho berhasil menggerakkan tangan kirinya menghantam selangkangan Tiat To Hoat-ong, kepada alat vitalnya pendeta Mongolia itu.
Apa yang dilakukan Cin Piauw Ho tidak disangka sama sekali oleh Tiat To Hoat-ong, mimpipun tidak.
Maka alat vitalnya itu kena dihantam oleh Cin Piauw Ho.
Untung saja waktu itu Cin Piauw Ho tengah terluka dan tidak memiliki tenaga, di mana ia sangat lemah, pukulannya itu perlahan.
Namun karena jatuhnya di tempat yang vital sekali, juga telak, walaupun perlahan, memberikan hasil yang membuat Tiat To Hoat-ong harus meringis menahan sakit dan menahan cengkeramannya.
"Kau..... kalian benar-benar harus dimampusi!"
Teriak Tiat To Hoatong setelah perasaan sakit pada selangkangannya itu berkurang.
Namun waktu pendeta yang menjadi Koksu negara Mongolia ini hendak menghampiri, waktu itulah bangsawan Mongolia itu telah mencekal tangannya, kata bangsawan Mongolia itu.
"Jangan ganggu mereka dulu, Koksu, biarkan saja dulu. Kita mempunyai waktu yang banyak, sebentar lagi kau menghajar mampus mereka juga kukira belum terlambat......!"
Tiat To Hoat-ong sesungguhnya ingin melampiaskan kemurkaannya itu dengan sekali hantam membinasakan Yo Him dan Cin Piauw Ho.
Tetapi atas cegahan bangsawan Mongolia itu, seperti juga telah membuatnya tersadar, bahwa mereka belum memperoleh keterangan apapun juga.
Justru yang mereka kehendaki, adalah mengorek keterangan dari Yo Him, di mana sekarang ini Yo Ko, Siauw Liong Lie dan jago-jago lainnya telah menyembunyikan diri.
"Baik, aku memberikan kesempatan hidup kepada mereka sampai batas waktu malam ini. Besok walaupun bagaimana aku harus membinasakan mereka termasuk juga si pengemis anjing yang di luar itu......!"
Berkata Tiat To Hoat-ong dengan menahan kegusaran hatinya.
Waktu itu Yo Him telah selesai menyalurkan seluruh tenaga dalamnya pada Cin Piauw Ho dan ia telah mengangkat telapak tangannya dari perut Cin Piauw Ho.
Namun pemuda she Yo ini letih sekali.
"Orang she Yo, ada sesuatu yang ingin kami tanyakan kepadamu!"
Kata bangsawan Mongolia itu dengan suara yang angker gagah, sikapnya agung-agungan.
Yo Him mengawasi bangsawan Mongolia tersebut, lalu ia menoleh memandang Tiat To Hoat-ong, kemudian tertawa mengejek diiringi pertanyaan.
"Hemm, tidak kusangka bahwa aku akan menerima kunjungan kehormatan dari dua orang tamu istana!"
Tiat To Hoat-ong mengawasi mendelik saja tanpa mengatakan suatu apapun juga. Sedangkan si bangsawan Mongolia itu telah berkata lagi dengan sifatnya yang agung-agungan itu.
"Orang she Yo, kami telah mengetahui bahwa kau puteranya Yo Ko, yang bergelar Sin-tiauw-tay-hiap itu..... maka kami ingin menanyakan sesuatu kepadamu mengenai.....!" "Tunggu dulu.....!"
Kata Yo Him sambil tersenyum tenang, walaupun saat itu otaknya tengah bekerja keras memikirkan cara yang terbaik untuk menghadapi Tiat To Hoat-ong. Jika sampai harus terjadi pertempuran.
"Bolehkah aku tahu siapa Taijin yang menjadi tamuku terhormat ini?"
Bangsawan Mongolia itu tampak ragu-ragu. Namun akhirnya ia menyahuti.
"Aku keponakan dari Khan kami yang agung, aku bernama Ghalik."
Memang bangsawan Mongolia itu adalah pangeran Ghalik, yang memiliki kekuasaan sangat besar dan menjadi kepercayaan orang Kublai Khan.
Dia adalah keponakan luar dari Kublai Khan, yang sejak kecil gemar sekali mempelajari ilmu silat dan gulat.
Waktu delapan belas tahun yang lalu tentara Mongolia telah gagal merebut kota Siang-yang, di mana akhirnya tentara Mongolia itu telah ditarik kembali pulang ke pedalaman Mongolia, pangeran Ghalik tersebut telah bertemu dengan seorang berkepandaian tinggi dan aneh, yang tidak mau memberikan keterangan mengenai dirinya.
Namun orang aneh itu memiliki kepandaian yang liehay sekali, di mana ia telah mewarisi kepandaiannya pada pangeran Ghalik ini, sehingga pangeran tersebut sekarang memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Dengan demikian, pangeran Ghalik telah jadi kepercayaan Kublai Khan, terutama untuk memimpin pasukan istana yang menjaga kediaman raja Mongolia tersebut.
Begitulah, Ghalik dengan kekuasaannya yang tidak terbatas itu telah mencari orang-orang pandai yang memiliki kepandaian tinggi dan bersedia menakluk dan juga mengejar pangkat dan harta, bekerja di bawah perintah Ghalik, guna menjadi pembantunya yang dapat diandalkan.
Tiat To Hoat-ong sesungguhnya tidak menyukai cara dan tindakan yang dilakukan oleh pangeran Ghalik, yang menerima jago-jago dari kerajaan Song juga, di mana mereka telah di tempatkan menjadi satu dengan para jago dari Mongolia.
Menurut Tiat To Hoat-ong, dengan menerima jago-jago dari kerajaan Song itu, sama saja dengan memelihara anak macan, jika telah tumbuh sayap malah bisa menerkam majikan.
Dan Tiat To Hoat-ong justru kuatir kalau saja nanti para jago-jago Song yang bekerja pada perintah pengeran Ghalik itu suatu waktu kelak akan memberontak dan menimbulkan kesulitan yang tidak kecil buat kerajaan Khan nya yang agung.
Namun pangeran Ghalik memiliki pendirian tersendiri, ia berpikir jauh sekali.
Tanpa ditariknya jago-jago kerajaan Song, sulit buat mereka memberantas para jago-jago bekas kerajaan Song yang menentang kekuasaannya Kaisar Kublai Khan.
Dengan begitu, ia bermaksud untuk memperalat jago-jago bekas kerajaan Song tersebut, untuk mendekati para jago-jago kerajaan Song yang telah hidup mengasingkan diri di tempat-tempat persembunyian yang sukar dicari.
Dengan adanya mereka, yaitu para jago-jago kerajaan Song yang telah bisa dipicuk dengan harta dan pangkat.
Mereka diperalat buat menghantam dan membasmi para jago-jago Song yang menentang kekuasaan Kublai Khan.
Dan kebijaksanaan yang diambil oleh pangeran Ghalik memang disetujui oleh Kublai Khan, dengan demikian Tiat To Hoat-ong jadi tidak bisa memperlihatkan ketidak senangannya itu.
Dia berdiam diri saja, menindih perasaan jelusnya itu.
Sesungguhnya, yang membuat Tiat To Hoat-ong tak setuju pangeran Ghalik mengambil jago-jago kerajaan Song yang telah runtuh itu, ia kuatir justru nanti mempersulit dirinya.
Dia sebagai Koksu negara, dan memang pernah bertempur dengan para jagojago Song seperti Yo Ko dan tokoh-tokoh lainnya, di mana dirinya juga telah dipermainkan.
Ia telah menaruh dendam dan sakit hati pada setiap jago-jago kerajaan Song yang telah runtuh itu.
Adalah cita-citanya, begitu Kublai Khan berhasil menancap kaki di daratan Tiong-goan ini, di saat mana ia telah memperoleh kekuasaan yang besar, Tiat To Hoat-ong bermaksud mengadakan pengejaran pada jago-jago kerajaan Song itu menumpas dan membasmi sampai ke akarakarnya.
Dan kekecewaan yang diterimanya oleh tindakan pangeran Ghalik yang malah merangkul para jago-jago Song itu, di antaranya terdapat beberapa orang jago bekas ikut bertempur berdiri di pihak Yo Ko, namun sekarang terpicuk oleh harta dan pangkat.
Dendam Tiat To Hoat-ong itu tetap menyala, namun sebagai seorang Koksu, di mana ia memperoleh kepercayaan dan juga dihormati Kaisarnya, dia tidak mau bertindak terlalu ceroboh.
Ia berpendapat berhasilnya dia untuk melampiaskan sakit hati dan dendamnya itu bukan tergantung dari waktu.
Sekarang memang ia tidak bisa untuk menentang pangeran Ghalik.
Tetapi jika memang telah tiba waktunya.
Walaupun itu terjadinya kelak lima tahun lagi atau juga sepuluh tahun pasti ia akan melampiaskan dendamnya itu untuk membasmi para jagojago Song, yang memang tidak disenanginya.
Tidak terlalu mengherankan begitu bertemu dengan Liu Ong Kiang ketika si pengemis salah tingkah dan salah bicara sedikit saja menyinggung hati dan perasaannya, Tiat To Hoat-ong telah turunkan tangan keji dan bengis tidak mengenal kasihan lagi.
Dan juga begitu melihat Yo Him terlebih lagi dia mengetahui bahwa Yo Him itu adalah puteranya Yo Ko.
Musuh bebuyutannya itu.
Ia ingin mempergunakan kesempatan dikala Yo Him tidak berdaya, untuk turun tangan membinasakannya.
Namun kenyataannya maksudnya itu telah dihalangi oleh pangeran Ghalik, membuat Tiat To Hoat-ong tambah penasaran dan menaruh perasaan tidak senang yang kian tebal pada diri pangeran itu.
Waktu itu pangeran Ghalik telah tertawa tawar kepada Yo Him, katanya.
"Orang she Yo, sekarang kau harus bicara dengan jujur! Kami akan bertanya secara baik-baik, dan kuharap engkau tidak terlalu keras kepala dan juga terlalu angkuh untuk menjawab setiap pertanyaanku, karena jika terjadi hal seperti itu, tentu hanya akan mempersulit dirimu sendiri......!"
"Pertanyaan apakah yang hendak diajukan oleh Taijin?"
Tanya Yo Him dengan sikap yang tenang.
Ia memang senang jika orang hendak banyak bertanya, sebab demikian bisa membuat ia memiliki kesempatan yang banyak guna memulihkan tenaga dalamnya, agar tenaganya itu kembali pulih seperti biasa dan memperoleh kesegarannya.
Pangeran Ghalik telah tertawa tawar sambil katanya dingin.
"Di manakah sekarang ini ayahmu berada?"
Tanyanya. Yo Him mengangkat bahu.
"Sayang sakali aku telah mengembara cukup lama, telah beberapa tahun sejak pertempuran terjadi waktu Khan kalian belum berhasil merebut Siang-yang dan menguasai daratan Tiong-goan, kami berpisahan lama dan belum bertemu lagi."
Mata pangeran Ghalik berputaran, ia tertawa tawar, ia tidak memperlihatkan kegarangan atau kegusaran, hanya tanyanya.
"Pemuda she Yo, kau masih berusia muda, apakah kau bermaksud untuk seumur hidupmu selalu merantau dan berkelana dalam rimba persilatan? Apakah kau tidak berpikir untuk hidup senang dengan harta yang banyak dan pangkat yang tinggi?"
Yo Him mendengar orang bertanya itu, ia mengerti pangeran Ghalik ini telah membujuknya, berusaha untuk menariknya dengan harta dan pangkat, itu memang telah menjadi kebiasaan kuno dari pembesar Boan ini, yaitu kerajaan Mongolia yang berkuasa sekarang ini di daratan Tiong-goan.
Yang memicuk para jago-jago Song yang ada dengan harta dan pangkat.
Tetapi Yo Him tidak memperlihatkan perasaan apapun juga pada wajahnya, dia hanya berkata tawar.
"Untuk itu belum lagi terpikir olehku. Karena sekarang ini aku masih senang mengembara untuk mendatangi tempat-tempat yang indah dan menikmati keindahan alam yang ada. Dengan demikian, tidak dapat dikatakan juga bahwa aku senang berkelana terus menerus, hanya saja disebabkan memang pengalamanku belum ada dan belum puas menikmati keindahan seluruh daratan Tiong-goan ini. Setelah puas pula melihat keramaian dan keindahan alam dan pemandangan yang ada di seluruh daratan Tiong-goan ini barulah aku memikirkan baik-baik, apakah aku akan hidup mengasingkan diri di tempat sunyi, atau akan pergi mencari pangkat!"
Mendengar perkataan Yo Him, pangeran Ghalik tertawa, sikapnya jauh lebih manis.
"Yo Siauwhiap!"
Kata pangeran yang memiliki sifat licik itu.
"Sesungguhnya aku tertarik sekali melihat kau. Kau demikian muda, gagah dan tampan sekali. Jika memang engkau memiliki pikiran yang luas dan panjang demi masa depanmu yang cemerlang, maka alangkah baiknya sekarang-sekarang ini kau mulai memikirkan perihal kedudukan di dalam kerajaan. Orang seperti kau ini memang sangat dibutuhkan sekali oleh kerajaan......! Maafkan, aku bicara demi kebaikanmu.....!"
Yo Him tertawa mendengar perkataan pangeran Ghalik, katanya.
"Ya, terima kasih untuk budi baik dan juga kemurahan Taijin, apa yang disarankan oleh Taijin akan kupikirkan baik-baik......!"
Waktu itu muka Tiat To Hoat-ong telah berobah merah padam mendengar Yo Him tengah dibujuk oleh Pangeran Ghalik, yang bermaksud menarik pemuda itu ke pihak mereka.
Tetapi karena pangeran Ghalik merupakan orang kepercayaan Kublai Khan, disamping itu juga memang pangeran Ghalik ini memiliki kekuasaan yang sangat besar.
Walaupun Tiat To Hoatong sebagai Koksu negara toh sesungguhnya dia masih berada di bawah kekuasaan pangeran Ghalik itu.
Karena itu Tiat To Hoatong hanya bungkam saja dan mengawasi Yo Him dengan mata mendelik.
Yo Him juga tahu jika dalam keadaan seperti itu dia berkeras dan mengejek pangeran Ghalik tentu akan menimbulkan kesulitan, maka pemuda she Yo hanya bermaksud mengulur waktu agar dapat memulihkan tenaga dalamnya, mengatur pernapasannya.
Dan jika ia telah berhasil memulihkan pernapasan dan tenaganya di waktu itulah baru ia akan mempergunakan kekerasan untuk menghadapi Tiat To Hoat-ong dan pangeran Ghalik.
Sedangkan pangeran Ghalik jadi girang dia melihat usia Yo Him masih muda, dan tentunya pemuda itu akan dapat dibujuknya untuk dipicuk dengan harta dan pangkat.
Dengan begitu, kalau sampai dia bisa menarik Yo Him ke pihaknya, jelas ia memperoleh tambahan tenaga yang dapat diandalkan.
"Siauwhiap tampaknya seorang pemuda yang memiliki pikiran luas dan bisa melihat sesuatu dengan baik dan pertimbanganpertimbangan yang bijaksana,"
Kata Pangeran Ghalik.
"Justeru aku telah melihat semua itu, dan itulah pula sebabnya mengapa aku berani menawarkan padamu sedikit kedudukan. Jika memang Siauwhiap tidak menolak, tentu aku bisa menyampaikannya pada Khan kami yang agung, agar memberikan kedudukan yang setimpal dengan kepandaian yang dimiliki Siauwhiap......!" Yo Him tertawa mendengar tawaran yang manis seperti itu, dia berkata dengan suara yang tenang.
"Terima kasih atas kebaikan Taijin yang telah begitu bermurah hati mau bercapai lelah mengurusi diriku. Sayangnya sekarangsekarang ini aku belum mau lagi terikat oleh pangkat dan kedudukan...... tentu saja tugas sebagai seorang yang memiliki pangkat dan kedudukan, akan membuat aku tidak dapat mengerjakannya dengan baik, karena itulah pekerjaan yang tidak mudah......!"
Pangeran Ghalik tertawa.
"Tetapi Siauwhiap terus berpikir jauh,"
Katanya kemudian.
"Bukankah Siauwhiap juga mengetahui bahwa ayahmu pernah terlibat dalam bentrokan dengan kami, dan juga dari pihak kami kini tengah giat-giatnya mencari orang-orang yang dulu pernah menentang kami begitu keras. Tentu saja termasuk ayahmu. Aku bicara berterus terang demikian, agar Siauwhiap mengetahui dengan jelas bahwa jika memang Siauwhiap mencintai orang tuamu itu, tentu engkau akan mau menerima pangkat dan harta dari kami. Dengan begitu, engkaupun telah menyelamatkan ayahmu karena dengan menjadi orang kami, jelas ayahmu itu tidak akan diganggu pula dan juga malah kami akan melupakan tindakan dan perbuatannya di masa lalu......!"
Yo Him tertawa, katanya menyahuti perlahan.
"Terima kasih, terima kasih. Tetapi Taijin rupanya salah dalam hal ini. Maksudku salah dalam menentukan sikap dan memandang terlalu rendah kepada ayahku! Ayahku itu manusia macam apa tentunya Taijin telah mengetahui, tidak mungkin ia mengharapkan belas kasihan dari pihak Mongolia. Terlebih lagi mengharapkan dengan masuknya sang putera ke pihak Mongolia, mengharapkan untuk dapat lolos dari kejaranmu itulah terlalu rendah sekali untuk ayahku, dan ayahku itu tentu tidak mengharapkan belas kasihan dari siapapun juga......!"
Melihat Yo Him tersinggung seperti itu, pangeran Ghalik telah berkata.
"Jika memang begitu, Siauwhiap yang telah salah mengartikan perkataanku. Sesungguhnya, bukan maksudku ingin menyatakan bahwa Sin-tiauw-tay-hiap itu seorang yang rendah dan mengharapkan belas kasihan. Tetapi justru dari Siauwhiap sendiri sebagai puteranya yang harus memiliki kesadaran untuk menyelamatkan orang tua yang tengah terancam keselamatannya.
"Memang terus terang kuakui, bahwa aku secara pribadi merasa kagum dan salut sekali kepada Sin-tiauw-tay-hiap. Jika mungkin malah aku hendak mengangkatnya menjadi guru, itupun jika memang Sin-tiauw-tay-hiap bersedia menerimanya. Namun, justru sekarang yang tengah menjadi persoalan adalah urusan negara, di mana yang menentukan untuk melakukan pengejaranpengejaran kepada jago-jago yang pernah menentang berkuasanya kerajaan Khan kami yang agung itu, harus dibasmi dan ditumpas, bukan berada dalam wewenangku......! Harap Siauwhiap memakluminya, tadi aku hanya ingin memberikan saran, ya, hitung-hitung mempêringatimu memberikan pikiran yang baik agar kau bisa Uh-hauw kepada orang tua......!"
Yo Him tertawa. "Jika begitu dapatkah Taijin memberikan kepadaku kesempatan dua atau tiga hari untuk berpikir?"
Tanyanya.
Pangeran Ghalik memang seorang yang licik mana mungkin ia bisa mengabulkan permintaan Yo Him.
Karena begitu ia memberikan kesempatan yang diminta pemuda itu, berarti Yo Him selain akan memperoleh semangatnya yang baru, juga kemungkinan dia melarikan diri memang besar, terutama sekali karena dia memiliki kepandaian yang sangat tinggi.
Di mana pangeran Ghalik telah mendengar Yo Him sudah berhasil menundukkan seekor biruang yang sangat besar dan juga telah berhasil menahan tiga jurus serangan majikan si biruang yang bergelar sebagai Swat Tocu.
Namun untuk menolak, pangeran Ghalik pun tidak dapat menolak dengan kasar.
Bukankah dia tengah membujuk pemuda itu agar dapat menarik tenaga Pemuda she Yo tersebut ke pihaknya, di mana ia mengharapkan Yo Him bisa dimanfaatkan sebagai tenaga andalannya!
Orang she Yo itu masih muda, memiliki kepandaian yang tinggi, maka besar manfaatnya dan faedahnya untuk dia sebagai pemimpin dari pasukan istana kaisarnya.
"Baiklah Yo Siauwhiap, aku bersedia untuk memberi kesempatan kepada Yo Siauwhiap untuk mempertimbangkan usul yang kau berikan itu. Jangankan dua hari, satu bulan kau minta untuk memikirkan dan mempertimbangkan persoalan itu, aku akan meluluskannya. Hanya saja sekarang kita baru bertemu. Mari kau ikut denganku ke istana untuk merayakan pertemuan ini!"
Itu merupakan desakan halus yang tersembunyi maksud-maksud menahan pemuda ini, yang hendak ditahan dengan cara yang samar-samar sekali.
Jika memang Yo Him mengandung maksud untuk menentang dan menolak tawarannya maka pangeran Ghalik akan menangkap pemuda itu.
Malah jika perlu membunuhnya.
Yo Him juga menyadari akan maksud penahanan yang halus seperti itu.
Ia tertawa.
Waktu tadi dia berkata-kata dengan pangeran Ghalik, ia telah berhasil memulihkan sebagian tenaga dalamnya.
Dia tidak jeri berurusan dengan pangeran Ghalik, juga tidak takut untuk berhadapan dengan Tiat To Hoat-ong.
Namun pemuda yang cerdik ini segera dapat menduga tentunya rumah penginapan ini telah dikepung rapat sekali oleh anak buah pangeran Ghalik tersebut.
Untuk dirinya sendiri memang segala rintangan itu tidak berarti apa-apa, namun untuk keselamatan Cin Piauw Ho, Liu Ong Kiang dan Ko Tie, tentu saja Yo Him tidak bisa membawa caranya sendiri, tidak bisa ia berkeras pada pangeran Ghalik ini.
Maka akhirnya ia memutuskan untuk mengambil jalan lunak saja, katanya sambil tertawa.
"Itulah suatu kehormatan yang mimpipun sukar untuk diperoleh. Tentu saja aku tidak berani untuk menerima kehormatan sebesar itu. Begini saja Taijin, berikan kesempatan padaku dua hari untuk menyembuhkan sakitnya sahabatku ini. Jika memang sakitnya telah sembuh tentu aku akan segera pula bersedia dengan senang hati memenuhi undangan Taijin!"
Pangeran Ghalik tersenyum sambil mengawasi Cin Piauw Ho, lalu dia berkata dengan suara yang sabar.
"Sahabatmu itu terluka? Parahkah lukanya? Ha, Yo Siauwhiap, engkau tidak perlu kuatir. Mengapa harus sulit-sulit begini? Kau turut serta dengan kami ke istana, nanti di sana banyak tabib-tabib pandai yang bisa menyembuhkan penyakit sahabatmu itu. Tentunya kau tidak menolak undanganku itu, bukan?"
Yo Him terpojokkan, dan belum lagi ia sempat menyahuti, di waktu itulah Ghalik telah menoleh kepada Tiat To Hoat-ong memberikan isyarat kepada Koksu itu.
Tiat To Hoat-ong seperti mengerti isyarat itu, dia telah melangkah dua langkah mendekati Yo Him.
Kemudian Koksu Mongolia tersebut berkata dengan suara tidak sekasar tadi.
"Benar Yo Siauwhiap, tentu di istana banyak sekali tabib yang bisa membantumu menyembuhkan luka sahabatmu itu. Sesungguhnya apa yang kulihat, luka yang diderita sahabatmu itu tidak parah...... dan kau Yo Siauwhiap tidak perlu kuatir. Mari kita berangkat!"
Yo Him melihat Tiat To Hoat-ong membujuk seperti itu.
Ia berpikir keras.
Ini merupakan paksaan halus kepadanya, agar ia ikut dengan mereka, yang berarti juga ditawan secara tidak langsung.
Benar dia diundang oleh pangeran Ghalik, tetapi sesungguhnya dia merupakan orang tawanan.
Hanya bedanya masih memiliki kebebasan untuk bergerak dengan hanya di bawah pengawasan belaka.
Sedangkan kalau ditahan berarti ia lênyap kebebasannya.
Tapi untuk kepentingan sahabat-sahabatnya itu Yo Him akhirnya mengangguk.
"Baiklah......!"
Kata Yo Him kemudian.
"Jika Taijin dan Koksu telah begitu baik hati dan memberi muka kepadaku, mana berani aku menampik undangan yang diberikan Taijin dan Koksu?" Setelah berkata begitu, Yo Him juga menjura menyatakan terima kasihnya. Puas pangeran Ghalik, begitu juga Tiat To Hoat-ong, karena dengan ikut sertanya pemuda she Yo tersebut ke istana, berarti mereka lebih mudah menguasai pemuda tersebut. Syukur-syukur kalau pemuda she Yo itu tunduk dan patuh pada mereka, sehingga memperalat pemuda untuk mencari dan menangkap Yo Ko, Sintiauw-tay-hiap yang memiliki kepandaian tinggi dan menjadi ayah pemuda ini. Tetapi jika memang Yo Him kelak memperlihatkan gejala kurang baik, tentu Tiat To Hoat-ong dan pangeran Ghalik bisa menawannya. Bukankah di istana banyak sekali jago-jago pandai? Dan jika memang Tiat To Hoat-ong tidak bisa membekuknya, tentu dengan dibantu para jago-jago istana itu, dengan mudah ia akan dapat merubuhkan pemuda itu. Pangeran Ghalik telah memanggil anak buahnya yang mêngadakan penjagaan di pintu rumah penginapan itu, untuk mempersiapkan kereta guna membawa Cin Piauw Ho begitu juga Liu Ong Kiang yang telah terluka cukup parah dimasukkan ke dalam kereta itu. Waktu melihat keadaan Liu Ong Kiang bukan main gusarnya Yo Him. Tetapi pemuda ini menyembunyikan perasaan tidak senangnya itu, karena ia tidak mau jika membawa kesulitan untuk sahabatsahabatnya itu. Bisa saja waktu itu Yo Him mempergunakan kekerasan menghadapi Tiat To Hoat-ong dan pangeran Ghalik. Jika ia sampai terdesak, dengan mudah tentu ia bisa melarikan diri lolos dari mereka. Namun bagaimana nasib sahabat-sahabatnya? Bagaimana dengan Ko Tie? Karena berpikir begitu, akhirnya Yo Him hanya mengalah dan menurut saja untuk pergi ke istana pangeran Ghalik, walaupun melihat keadaan Liu Ong Kiang begitu menyedihkan dan mengenaskan sekali. Liu Ong Kiang biarpun terluka cukup parah seperti itu, tokh tidak jeri, dia mengawasi dengan mata mendelik mengandung kegusaran.
"Pendeta anjing, mengapa engkau tidak membunuhku?"
Waktu itu Liu Ong Kiang masih sempat memaki pada Tiat To Hoat-ong.
Namun Tiat To Hoat-ong tidak melayani hanya tersenyum, begitu juga waktu Liu Ong Kiang berulang kali memakinya, pendeta tersebut hanya pura-pura tuli.
Begitulah Liu Ong Kiang, Cin Piauw Ho, Ko Tie dan Yo Him telah ikut rombongan pangeran Ghalik untuk pergi ke istana pangeran itu.
Ternyata pangeran Ghalik mengajak anak buahnya yang cukup banyak jumlahnya, tadi memang rumah penginapan itu telah dikepungnya dengan ketat.
Pangeran Ghalik telah mendengar kabar dari seorang mata-matanya bahwa di kota tersebut terjadi kerusuhan, seorang pemuda she Yo dan seorang pengemis setengah baya telah bertempur dengan biruang tinggi besar , lalu pemuda yang mengaku bernama Yo Him itu berhasil merubuhkan biruang tersebut.
Malah ketika majikan binatang buas tersebut datang, berhasil dilayaninya juga, sampai akhir kesudahannya dengan kepergian majikan dan binatang peliharaannya itu.
Tentu saja yang menarik hari pangeran Ghalik, bukanlah binatang buas dan majikannya dari Pulau Salju itu, karena ia hanya tertarik pada pemuda yang katanya bernama Yo Him anak dari Sin-tiauwtay-hiap!
Inilah yang menarik hatinya, karena selama ini memang ia tengah mencari Yo Ko untuk ditangkapnya.
Dan begitu juga beberapa orang kawan-kawannya Sin-tiauw-tay-hiap.
Kebetulan sekali sekarang ini ia memperoleh laporan bahwa di kota tersebut terdapat puteranya Yo Ko.
Sedangkan Pangeran Ghalik berada di kota adalah dalam rangka perjalanannya ke beberapa kota untuk melihat keamanan setempat, setelah sekian lama Kublai Khan berhasil menguasai daratan Tiong-goan, dan berkuasa penuh sebagai Kaisar.
Itulah sebabnya pangeran Ghalik yang didampingi Tiat To Hoatong telah mengajak pasukannya ke rumah penginapan.
Segera juga pengepungan dilakukan dengan ketat sekali, sehingga jangankan manusia, lalatpun sulit untuk terbang lolos dari pengawasan pasukan pangeran Ghalik yang berjumlah ratusan orang itu.
Demikianlah, sekarang pangeran Ghalik telah mengundang Yo Him untuk datang ke istananya, yang terletak tidak jauh dari kota tersebut.
Setelah melakukan perjalanan dua hari, mereka telah tiba di sebuah tempat, yaitu di tanah pegunungan yang sunyi.
Semula Yo Him heran dan bingung juga, ia tidak tahu entah pangeran Ghalik ini akan mengajaknya kemana.
Dan waktu melihat meréka dibawa ke tanah pegunungan yang begitu sunyi, Yo Him jadi heran.
Entah apa yang hendak dilakukan oleh pangeran Ghalik dan Tiat To Hoat-ong terhadap mereka di tempat ini.
Cuma saja Tiat To Hoat-ong telah mengatakan kepada Yo Him.
"Istana pangeran Ghalik terletak di sebelah kanan di balik tebing itu,"
Katanya.
"Dan kita pergi ke sana. Istana itu merupakan istana tertutup buat siapapun juga yang tidak boleh sembarangan memasukinya, dengan demikian pangeran Ghalik telah menjadikan tempat itu sebagai tempat merundingkan masalahmasalah yang sulit, juga tempat berkumpulnya para jago-jagonya!"
Yo Him mengangguk baru mengerti.
Rupanya memang sengaja pangeran Ghalik mendirikan istananya di tempat tersebut, bukan di dekat istana Kaisar di kotaraja.
Tentunya pangeran Ghalik memiliki maksud tertentu.
Tetapi mengenai maksud dan tujuan pangeran Ghalik mendirikan istananya di tanah pegunungan tersebut masih belum diketahui oleh Yo Him.
Waktu itu rombongan pangeran Ghalik telah tiba di tempat tujuannya, yaitu seperti sebuah lembah yang tertutup di balik tebing, yang di kiri kanannya.
Yo Him mengawasi sekitar tempat itu.
Matanya yang tajam dapat melihat di balik semak-semak yang lebat dan rimbun, bersembunyi beberapa sosok tubuh.
Hal itu berulangkali dapat dilihatnya di sekitar tempat itu, yang dilalui oleh mereka.
Rupanya memang di sekitar tempat itu telah di tempatkan penjagaan yang ketat kuat sekali.
Tentu saja tidak mudah untuk orang luar sembarangan masuk ke tempat ini.
Karena baru saja masuk di mulut lembah, mereka tentu telah tertangkap.
Pangeran Ghalik telah mengajak Yo Him dan rombongannya ke sebuah pintu gerbang yang terbuat dari lapisan besi, yang tampaknya kuat sekali.
Beberapa orang tentara berpakaian lapis besi telah menyambut kedatangan mereka.
Ternyata istana di lembah itu merupakan istana yang dibangun kuat sekali, karena dindingnya selain terbuat dari tembok batu yang kuat, juga semuanya dilapisi besi, sehingga merupakan seperti perbentengan kuno yang keadaannya menyeramkan sekali.
Suara yang sekecil apapun akan terdengar bergema berpantulan.
Keadaan seperti itu membuat Yo Him jadi berpikir keras.
Waktu ia melangkahkan kaki memasuki gerbang istana tersebut dan melihat keadaan istana seperti itu.
Ia segera berpikir, tentunya sulit buat dia keluar lagi.
Masuk mudah, tapi untuk meninggalkan sempat itu sulit sekali.
Terlebih lagi ia bersama dengan Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang, yang ke duanya terluka.
Begitu pula Ko Tie yang masih berusia kecil dan tidak mengerti apa-apa itu.
Pangeran Ghalik perintahkan orang-orangnya mempersiapkan meja perjamuan.
Yo Him tidak kuatir dirinya diracuni oleh pangeran itu.
Ia bersantap dengan lahap.
Karena Yo Him berpikir selama ia belum menolak tawaran yang diajukan oleh pangeran Ghalik, dan selama pangeran Ghalik mengharapkan dia mau tunduk dan menjadi anak buahnya tak mungkin dirinya dicelakai.
Setelah selesai bersantap, di mana Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang telah di tempatkan di sebuah kamar yang cukup luas dan diperlengkapi dengan peralatannya yang mewah.
Hanya saja semuanya dalam keadaan tertutup, dindingnya juga berlapis besi, sehingga ruangan agak dingin.
Waktu itu Yo Him telah berkata képada Tiat To Hoat-ong.
"Apakah kini sudah boleh kita memanggil tabib istana pangeran Ghalik untuk mengobati luka-luka sahabatku itu Koksu?"
Tiat To Hoat-ong tersenyum.
"Jangan kuatir, tanpa Yo Siauwhiap meminta, pangeran Ghalik tadi telah memerintahkan beberapa orang tabib untuk memeriksa keadaan ke dua sahabatmu itu! Sayang sekali aku tidak mengetahui bahwa kita akhirnya akan jadi orang sendiri dan telah salah tangan cukup berat pada seorang sahabatmu itu, harap kau mau memaafkan......!"
Begitu sabar kata-kata Tiat To Hoat-ong, berbeda di rumah penginapan, di sana dia begitu bengis, tetapi Yo Him juga telah melihat, betapa wajah Tiat To Hoat-ong memancarkan sikap yang licik sekali.
Dan juga tidak bisa lolos dari mata Yo Him, beberapa kali Tiat To Hoat-ong sering memberikan isyarat dengan kedipan matanya kepada beberapa orangnya di sekitar tempat yang dilalui mereka.
Waktu itu tampak Yo Him selalu bersikap tenang tidak memperlihatkan sikap menentang sedikitpun juga.
Seperti juga Yo Him tertarik untuk bekerja pada pangeran Ghalik, di mana hal itu membuat pangeran Ghalik dan memperlakukannya dengan manis.
Tiat To Hoat-ong jadi Memang benar apa yang dikatakan Tiat To Hoat-ong, bahwa Liu Ong Kiang dan Cin Piauw Ho tengah memperoleh perawatan tabib.
Luka yang diderita Liu Ong Kiang walaupun tampaknya parah, tokh dalam beberapa hari, akhirnya telah sembuh.
Cuma saja ia belum boleh terlalu banyak berjalan, sebab ke dua kakinya yang telah patah dan remuk tulangnya itu baru tersambung, jadi belum kuat untuk dipergunakan berjalan.
Cin Piauw Ho memperoleh pengobatan pagi dan sore terus menerus, karena racun yang mengendap di tubuhnya sangat berbisa sekali.
Semula tabib-tabib di istana pangeran Ghalik ini heran juga melihat hebatnya racun yang mengendap di tubuh Cin Piauw Ho, tetapi setelah mengadakan pemeriksaan, tiga orang tabib yang merawatnya telah menentukan obatnya.
Harus diketahui, sebagai seorang pangeran yang menjadi kepercayaan Kaisar Kublai Khan, dengan sendirinya pangeran Ghalik memiliki kekuasaan yang besar.
Terlebih lagi ia memang menjadi pemimpin dari pasukan istimewa kaisar dan menjadi pemimpin para jago-jago kerajaan Song yang telah runtuh dan bersembunyi dari itu, melakukan pengejaran terus untuk mendesak mereka bertekuk lutut atau memang dibinasakan.
Disebabkan itu pula, pangeran Ghalik menyediakan obat-obat istimewa, untuk mengobati orang-orangnya, jika terdapat luka parah pada mereka.
Begitu pula halnya pangeran Ghalik telah memerintahkan orang-orangnya mencari tabib pandai mengundangnya untuk bekerja di istananya yang istimewa ini.
Dengan demikian, Cin Piauw Ho jadi tertolong juga oleh obat istimewa yang dimiliki pangeran Ghalik.
Dan walaupun ia tidak bisa disembuhkan keseluruhannya di mana racun Sam-hun-tok tidak bisa dilenyapkan keseluruhannya, namun kini tubuh Cin Piauw Ho boleh dibilang telah sehat kembali.
Racun bisa dibendung berkumpul hanya di jalan darah Lung-siu-hiat, dan Cin Piauw Ho akan dapat hidup selama dua atau tiga tahun lagi, di waktu mana racun itu baru akan bergerak pula menjalar ke arah jantung.
Menurut tabib-tabib pangeran Ghalik, jika tiga tahun nanti racun mulai bergerak menjalar liar pula, di waktu itu mereka akan mengobati lagi.
Tentu saja disamping itu, ketiga tabib itu menjanjikan, bahwa mereka akan mencari obat yang lebih baik lagi selama tiga tahun ini guna melenyapkan benar-benar seluruh sisa racun Sam-hun-tok tersebut.
Yo Him yang melihat kesembuhan Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang, diam-diam jadi girang.
Karena tidak percuma saja ia mengalah pada pangeran Ghalik ini, sebab sekarang Cin Piauw Ho yang menghadapi kematian, bisa disembuhkan, walaupun racun Sam-hun-tok tidak bisa dimusnahkan.
Mengenai Liu Ong Kiang, Yo Him bermaksud untuk membujuknya, agar sementara waktu itu tidak memperlihatkan sikap bermusuhannya pada Tiat To Hoatong, karena ia tengah memikirkan daya untuk menghadapinya.
Liu Ong Kiang walaupun menaruh dendam yang setengah mati besarnya pada Tiat To Hoat-ong yang telah menyiksanya mematahkan ke dua tangan dan meremukkan ke dua tulang kakinya, mau juga mengerti dan tidak memperlihatkan perasaan dendamnya itu.
"Jika memang telah tiba saatnya, barulah kita nanti menghadapi mereka dengan kekerasan. Sekarang ini di samping Cin toako, Liu Lopeh juga perlu istirahat yang cukup,"
Kata Yo Him.
"Biarlah sementara ini kita menuruti saja setiap kata pangeran Mongolia itu, di mana kita pura-pura patuh. Dengan demikian, kitapun bisa mempelajari dan mengetahui keadaan pangeran itu! "
Jika kulihat, ancaman yang ada memang sangat besar, pangeran itu tengah memupuk kekuatan untuk menangkap para jago-jago kerajaan Song, termasuk ayah ibuku dan tokoh-tokoh lainnya.
Karena itu kita harus perlahan-lahan mempelajari keadaan mereka.
Syukur jika memang kita bisa mengetahui kekuatan mereka itu......!"
Liu Ong Kiang mengangguk, ia memang mengerti akan maksud Yo Him.
Maka dari itu, diapun menurut saja apa yang diperintahkan oleh Tiat To Hoat-ong dan pangeran Ghalik.
Tetapi Tiat To Hoat-ong dan pangeran Ghalik bukan manusiamanusia bodoh.
Mereka memang melihat Yo Him dan ke dua orang kawannya itu, Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang, selalu patuh pada setiap perkataan mereka.
Bahkan tampaknya mereka bertiga memang bersedia untuk bekerja pada pangeran itu.
Kenyataannya pangeran Ghalik tidak bisa mempercayai sepenuhnya, ia hanya baru saja mempercayainya tiga bagian saja, dan diapun telah perintahkan orang-orang kepercayaannya untuk selalu mengawasi gerak-gerik Yo Him, Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang.
Sedangkan Lie Ko Tie, anak kecil itu, karena dia masih kanak-anak, maka pengawasan padanya tidak seketat itu dan anak itu juga bebas untuk berkeliaran di dalam istana pangeran Ghalik itu.
Tidak demikian halnya Yo Him, Cia Piauw Ho dan Liu Ong Kiang yang terbatas ruang geraknya, yang tidak diperbolehkan memasuki beberapa ruangan tertentu, dengan alasan ruanganruangan terlarang itu tertutup buat siapapun juga, selain pangeran Ghalik sendiri.
Yo Him jadi tertarik dan ingin mengetahui, entah ruangan-ruangan yang katanya tertutup untuk siapapun juga itu, di dalamnya terdapat barang-barang apakah.
Maka ketika mengetahui bahwa Ko Tie tidak dilarang untuk berkeliaran di dalam istana pangeran Ghalik, Yo Him telah meminta anak tersebut untuk melakukan penyelidikan.
Pura-pura berkeliaran di sekitar istana dan ruanganruangan terlarang itu.
Lalu apa yang dilihatnya agar dilaporkan kepada Yo Him.
Begitulah, pada sore itu, Ko Tie telah mendatangi sebuah ruangan yang terdapat di belakang istana pangeran Ghalik, pintu ruangan itu terbuat dari besi yang tebal dan kuat sekali, di depan pintu tersebut berdiri dua orang penjaga yang berpakaian sebagai tentara Mongolia.
Ko Tie `pura-pura tidak melihat mereka, ia bermain-main sejenak di situ seorang diri, lalu melangkah perlahan-lahan akan memasuki ruangan tersebut.
"Eh bocah, engkau tidak boleh masuk ke dalam kamar itu!"
Teriak dua orang penjaga tersebut yang mencegahnya. Ko Tie menoleh sambil tersenyum.
"Kenapa?"
Tanyanya.
"Siapapun juga dilarang memasuki kamar itu...... karena di dalam kamar itu terdapat seekor harimau yang garang....."
"Harimau? Kalian menangkap dan mengurung harimau itu di dalam ruangan tersebut?"
Tanya Ko Tie dengan suara yang terkejut. Ke dua penjaga itu mengangguk.
"Tetapi....."
Kata Ko Tie ragu-ragu.
"Kenapa?"
Tanya salah seorang penjaga itu dengan tawar.
"Pangeran Ghalik tidak pernah melarang aku untuk mendatangi tempat manapun di dalam istananya ini......!"
Sahut Ko Tie.
"Tetapi kami memang mendapat Perintah pangeran agar tidak mengijinkan siapapun memasuki ruangan itu!"
Menyahuti salah seorang pengawal tersebut dengan suara mendongkol.
"Jika memang kau memaksa hendak masuk, kami tidak bisa melarangnya. Tetapi jika engkau nanti terbinasa di dalam ruangan itu, kami tidak bertanggung jawab. Kami mencegah kau memasuki ruangan itu karena kami kuatir kau menerima bencana yang tidak kecil." Ko Tie berdiam diri sejenak. Anak ini sesungguhnya ingin sekali masuk ke dalam ruangan itu. Ia tidak percaya bahwa di dalam ruangan itu terkurung harimau. Tetapi untuk memaksa tentu saja tidak bisa. Karena kemungkinan ke dua pengawal itu akan menolaknya dengan kasar jika ia memaksa terus. Akhirnya Ko Tie mengangguk sambil angkat bahu, katanya.
"Baiklah......! Jika memang begini akupun tidak ingin memaksa untuk masuk ke dalam kamar itu......!"
Tetapi baru saja Ko Tie berkata sampai di situ, tiba-tiba terdengar suara yang dalam dan parau.
"Mengapa anak itu dilarang masuk ke mari?"
Ke dua penjaga itu berobah mukanya, tetapi kemudian salah seorang di antara mereka telah berkata tawar.
"Tidak pantas anak kecil itu melihat harimau yang sudah mau mampus seperti kau maka kami melarangnya......!"
Ko Tie memandang ke dua penjaga itu dengan sepasang mata terbuka lebar-lebar, tanyanya kemudian.
"Itu suara manusia..... jadi bukan harimau yang terkurung di dalam kamar itu!"
Ke dua penjaga itu mengangguk hampir berbareng.
"Benar,"
Menyahuti salah seorang di antara mereka.
"Memang yang dikurung di dalam kamar ini seorang manusia. Namun ia lebih buas dari harimau. Pernah terjadi, salah seorang sahabat kami yang tidak mematuhi larangan pangeran Ghalik, mereka telah masuk ke dalam kamar itu, dan tubuhnya telah dirobek-robek sampai hancur, menemui kematian yang mengerikan sekali. Sejak saat itulah pangeran kami telah perintahkan untuk selalu menjaga pintu kamar ini, jangan sampai terulang lagi kejadian seperti itu......!"
"Bolehkah aku melihat sejenak orang di dalam kamar itu. Didengar dari suaranya, dia tidak buas seperti yang kalian katakan!"
Ke dua penjaga itu tampak ragu-ragu. tetapi salah seorang akhirnya menyahut.
"Baiklah, tetapi jika memang kau mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, kau tak bisa mempersalahkan kami, dan juga pada pangeran, tentu kau tidak bisa menunjuk bahwa kami yang memperbolehkan kau masuk ke dalam, hanya engkau sendiri yang telah memaksa kami......!"
Ke dua pengawal itu mengalah demikian karena ia mengetahui bahwa pangeran Ghalik tengah membujuk dan bersikap manis kepada Yo Him, Cin Piauw Ho dan Liu Ong Kiang.
Dan anak ini datang bersama mereka bertiga.
Dengan begitu, jika menolak keinginan Ko Tie, tentu menimbulkan hal-hal yang tak baik untuk mereka.
Salah seorang di antara ke dua penjaga itu telah mengambil kunci pintu yang berukuran besar dan membukanya.
Ko Tie girang bukan main, ia percaya orang di dalam kamar itu tentunya salah seorang tawanan pangeran Ghalik.
Anak ini tabah dan ia yakin tidak mungkin dirinya akan dianiaya oleh orang di dalam kamar itu.
Setelah pintu berlapis besi tersebut dibuka agak lebar, Ko Tie melangkah masuk.
Kamar itu tidak memiliki penerangan, apa lagi setelah Ko Tie melangkah masuk, belum lagi ia bisa melihat keadaan ruangan itu, pintu itu telah ditutup lagi rapat-rapat oleh ke dua penjaga tersebut.
Lama juga Ko Tie berdiri diam, untuk membiasakan matanya di tempat gelap.
Sampai akhirnya ia bisa melihat juga samar-samar keadaan di kamar itu.
Ternyata ruangan itu memang sangat luas, namun merupakan sebuah ruangan kosong tanpa perabotan sama sekali.
Dan belum lagi Ko Tie bisa melihat jelas, ia mendengar teguran parau dari dalam.
"Anak kau memaksa masuk ke mari, apakah kau tidak takut?"
Ko Tie berusaha mençari orang yang berkata itu, tetapi dia belum bisa melihatnya.
"Aku berada di sini, di sebelah kanan sudut ruangan ini!"
Kata orang itu lagi.
Ko Tie menoleh ke arah kanannya, memang samar-samar dia melihat sesosok tubuh yang tengah duduk.
Ko Tie melangkah dan mendekatinya.
Setelah berada di dekat orang itu Ko Tie menjadi kaget sendiri.
Ia menyaksikan pemandangan yang mengerikan dan aneh sekali.
Orang yang duduk di sudut ruangan itu ada seorang lelaki berusia lanjut, mungkin hampir enampuluh tahun, dengan pakaian yang telah koyak-koyak tidak mirip lagi.
Dan yang luar biasa, karena pada pundak kiri dan kanan tampak rantai besi berukuran besar, yang ujung-ujung rantai yang lainnya tergantung ke atas, menancap di dinding tembok itu.
Ke dua tangan orang tua itupun dirantai oleh rantai besar, demikian juga dengan ke dua kakinya.
Benar-benar orang tua itu merupakan tawanan dari pangeran Ghalik yang keadaannya menyedihkan sekali.
Melihat dari rambut, kumis dan jenggotnya yang tumbuh begitu panjang dan tidak teratur, tentunya telah cukup lama ditahan di situ.
Setelah mengawasi sekian lama akhirnya Ko Tie bisa mengendalikan goncangan hatinya, tanyanya dengan suara bergetar.
"Siapa...... paman? Mengapa kau diperlakukan seperti itu?"
Orang itu tersenyum.
"Inilah perbuatan binatang Ghalik itu......! Dia kuatir aku akan melarikan diri dan membunuhnya! Maka dia berpikir, dengan memperlakukan aku seperti ini tentu bisa membuat aku tidak berdaya. Hemmm, hemmm, tetapi suatu saat kelak aku tentu akan membunuh pangeran biadab itu.......!"
Suara lelaki tua itu terdengar parau dan juga mengandung dendam yang sangat. Sepasang matanya bersinar-sinar dalam kegelapan yang ada, seperti juga mata harimau.
"Apakah paman musuh dari pangeran Ghalik?"
Tanya Ko Tie lagi. Orang tua itu berdiam sejenak, lalu menghela napas, sikap garangnya seperti tadi telah lenyap. Lalu katanya.
"Jika memang kujelaskan engkau pun tidak akan mengerti karena kau masih kanak-anak!" "Apakah aku bisa membantu paman untuk membukakan rantai yang menyiksamu itu?"
Tanya Ko Tie lagi. Namun orang tua itu telah menggelengkan kepalanya perlahan lesu sekali.
"Jangankan engkau sedangkan aku sendiri tidak berdaya untuk melepaskan rantai itu?"
Katanya kemudian.
"Hemm, kau berusia demikian kecil, namun engkau berani dan baik hati. Siapakah kau nak? Dan mengapa bisa datang ke tempat seperti ini?"
"Aku ikut dengan paman Yo, dan akhirnya bertemu dengan pangeran Ghalik, di mana kami telah dibawa ke mari. Begitu juga dengan paman Cin dan paman Liu, mereka berdua dibawa ke mari juga.....?"
Menyahuti Ko Tie.
"Apakah paman-pamanmu itu sahabat dari pangeran Ghalik?"
Tanya orang tua itu lagi, dia mengawasi tajam pada Ko Tie. Ko Tie menggeleng.
"Paman Yo bilang, malah mereka membenci pangeran Ghalik. Dan jika sekarang mereka memenuhi keinginan pangeran Ghalik hanyalah disebabkan paman Yo kuatir nanti pangeran Ghalik menyiksa paman Liu dan paman Cin yang yang tengah terluka itu..... maka paman Yo telah mengalah!"
"Siapakah nama paman Yo mu itu?"
Tanya orang tua itu lagi.
"Paman Yo bernama Him.... Apakah paman pernah mendengar tentang paman Yo?" Orang tua itu menggeleng.
"Tidak hanya mendengar paman Yo mu itu she Yo. Aku jadi teringat kepada seseorang yang she Yo juga. Seorang pendekar budiman yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya berhati mulia dan sakti sekali.....!"
Setelah berkata begitu, orang tua tersebut menghela napas dalam. Lalu menggumam perlahan.
"Sayang sekali sekarang ini pendekar budiman she Yo itu telah hidup mengasingkan diri. Aku yakin jika saja pendekar sakti she Yo itu mendengar keadaanku seperti ini. Tentu akan datang menolongi aku......!"
"Siapakah pendekar sakti yang paman sebut itu?"
Tanya Ko Tie tertarik. Orang tua itu menghela napas lagi.
"Pendekar budiman yang memiliki kesaktian tiada duanya di kolong langit ini bernama Yo Ko, bergelar Sin-tiauw-tay-hiap, dia adalah......!"
"Tunggu dulu, Paman!!"
Potong Ko Tie. Orang tua itu berdiam sambil mengawasi Ko Tie, sedangkan dia telah melanjutkan perkataannya lagi.
"Tadi paman mengatakan bahwa pendekar sakti yang budiman itu adalah Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, bukan?!" "Benar......!"
Mengangguk orang tua itu.
"Kau pernah bertemu dengannya?"
Setelah bertanya begitu, orang tua itu ini mengawasi Ko Tie dengan sinar mata yang tajam sekali. Ko Tie menggeleng.
"Tidak......!"
Sahutnya.
Semula orang tua itu yang menduga Ko Tie pernah bertemu dengan Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.
Tetapi mendengar jawaban Ko Tie.
Ia jadi lesu kembali.
Waktu itu Ko Tie telah melanjutkan perkataannya.
"Tetapi aku pernah mendengar perihal pendekar sakti yang budiman itu, belum lama yang lalu.....!"
Menjelaskan Ko Tie. Muka orang tua yang keadaannya menyedihkan dengan rantai seperti itu jadi berseri-seri lagi, lalu tanyanya.
"Di mana kau mendengar perihal pendekar sakti Yo Taihiap itu? Kapan kau mendengar perihal diri Yo Taihiap itu?"
"Belum lama yang lalu, sebelum bertemu dengan pangeran Ghalik...... itupun dari percakapan antara paman Yo dengan Swat Tocu!"
Segera Ko Tie menceritakan pertemuan Yo Him dengan biruang salju dan Swat Tocu pemilik pulau salju itu.
Mendengar hal itu, orang tua itu jadi girang bukan main, ia sampai memukul pahanya berulang kali, di mana rantai di tangan dan juga kakinya bergerak-gerak gemerincing.
"Benarkah itu? Oooh, benarkah paman Yo mu itu putera dari Yo Taihiap? Dan..... oooh, aku tidak menyangka sama sekali tokoh sakti seperti Swat Tocu akhirnya muncul di dalam Kang-ouw lagi, kukira ia telah meninggal dunia......!"
Setelah berkata begitu, tiba-tiba orang tua tersebut menangis terisak isak. Ko Tie jadi heran melihat sikap orang tua itu.
"Paman apakah ada sesuatu yang tidak menyenangkan hatimu!"
Orang tua itu menghapus air matanya, ia mengangkat kepalanya memandang Ko Tie, katanya.
"Anak, sesungguhnya aku gembira sekali, putera Yo Taihiap berada di tempat ini, di dalam istana pangeran Ghalik, karena aku masih memiliki harapan akan tertolong......?"
Setelah berkata begitu, orangtua itu menghela napas dalam-dalam dan mulai menceritakan perihal dirinya yang sebenarnya.
"Aku sesungguhnya she Wang dan bernama Put Liong. Aku bergelar Sin-hauw-ciang-hiap (Pendekar Pukulan Harimau Sakti), di mana dulu waktu terjadinya pertempuran di Siang-yang antara tentara Mongolia dengan tentara Song aku ikut bertempur dan membantu pihak Song. Namun aku telah tertawan oleh mereka. Tetapi walaupun mereka memaksa agar aku mau tunduk dan bekerja pada mereka, aku menolak dengan keras, sehingga akhirnya aku diperlakukan demikian."
Semula hanya dikurung di dalam tahanan yang kuat belaka.
Ketika aku membinasakan tiga orang Mongolia yang datang ke dalam kamar tahananku, pangeran Ghalik telah perintahkan orang274 orangnya untuk merantai diriku seperti ini.
Ke dua tulang pie-peku ini telah ditembusi rantai besi, yang ujung rantai telah ditanamkan pada dinding, dengan begitu selain tenagaku lenyap, juga aku tidak mungkin bisa meloloskan diri lagi.
Sepasang tangan dan kakiku juga telah dirantai, dengan demikian, keadaanku sama seperti binatang.
"Mereka pun hanya memberikan aku makan satu kali setiap harinya memberikannya dengan melemparkan dari luar pintu seperti juga memberi makan seekor anjing belaka...... Aku kencing dan buang kotoran di sini, sehingga kau tentu bisa merasakan betapa ruangan ini demikian bau......!"
Ko Tie mengangguk.
Memang sejak tadi dia memasuki ruangan yang luas tanpa penerangan ini, begitu bau dan tidak sedap untuk hidung.
Semula dia menduga bau itu hanya merupakan bau-bau yang tidak sedap dari ruangan yang tidak pernah dilalui udara segar.
"Tetapi sekarang aku yakin, dengan adanya putera Yo Taihiap, tentu aku masih bisa memperoleh kebebasanku, tentu putera Yo Taihiap itu akan mau menolongku, membebaskan aku!"
Kata Sinhauw-ciang-hiap (Pendekar Pukulan Harimau Sakti) Wang Put Liong dengan suara bersemangat.
"Jika memang aku bisa lolos dari tempat ini, walaupun hanya satu hari, aku akan mempêrgunakannya, untuk berusaha membinasakan pangeran itu, seratus hari aku bisa hidup, selama seratus hari pula aku akan membinasakan pangeran biadab itu.....!" Setelah berkata begitu, dengan berapi-api dan disertai dengan kemurkaan yang sangat, tampak orang tua she Wang tersebut telah menghela napas berulang kali, katanya lagi.
"Tetapi yang mengalami nasib seperti aku ini bukan hanya aku seorang, cukup banyak jago-jago lainnya yang telah terjatuh ke dalam tangan pangeran biadab itu...... Hemm, jika saja aku bisa membinasakan pangeran biadab itu, untuk mati aku puas dan tentunya bisa mati dengan mati yang meram!"
Wang Put Liong sesungguhnya bukan jago sembarangan, di dalam rimba persilatan ia memiliki nama yang cukup disegani, karena ia merupakan seorang pendekar dari aliran lurus dan putih.
Waktu pecah peperangan antara kerajaan Mongolia yang menyerbu ke daratan Tiong-goan ke Siang-yang, maka waktu itulah Wang Put Liong telah ikut memperjuangkan tanah airnya untuk mempertahankan dari serbuan musuh.
Tetapi dengan jatuhnya Siang-yang dan berhasilnya Kublai Khan merebut kota-kota lainnya, di mana akhirnya daratan Tiong-goan terjatuh dalam genggaman Kublai Khan, maka Wang Put Liong juga dalam suatu kesempatan, di mana ia tengah dalam keadaan terluka parah, telah ditangkap oleh beberapa orang jago Mongolia yang jadi anak buah dari pangeran Ghalik.
Maka selanjutnya Wang Put Liong jadi tawanan pangeran itu.
Malah memperoleh perlakuan yang tidak selayaknya, di mana ia disiksa tanpa hentinya, selain untuk dikorek keterangannya, juga untuk memaksa dia menakluk.
Namun sebagai seorang gagah yang membenci kejahatan, dan juga cinta pada tanah air, Wang Put Liong tidak mau menyerah pada musuh, walaupun ia disiksa ia tidak mau menyerah.
Ia bahkan lebih rela mati dari pada harus berbalik bekerja untuk musuh.
Dengan demikian, Wang Put Liong telah disiksa hebat, dan boleh dibilang, hampir sebagian besar kepandaiannya telah termusnahkan oleh siksaan-siksaan yang dilakukan orangorangnya pangeran Ghalik, para algojo yang memiliki kekejaman melebihi binatang buas itu.
Namun Wang Put Liong tidak hendak menyerah, hanya saja sulit buat dia, mati sukar untuk hidup pun tidak bisa, karena biarpun masih bernapas dan juga masih hidup, tetap saja sudah tidak ada artinya lagi, di mana dia sudah merupakan seorang manusia bercacad yang tidak ada gunanya lagi, kepandaiannya juga telah termusnahkan......
Mendengar cerita Wang Put Liong, Ko Tie jadi mengawasi orang tua itu dengan perasaan kasihan.
Ia juga merasa kagum untuk kekerasan hari jago ini, yang tidak mau menakluk pada pihak musuh, walaupun telah mengalami penyiksaan seperti itu.
Sedangkan Wang Put Liong telah berkata lagi.
"Engko kecil, maukah kau memberitahukan kepada paman Yo mu itu, bahwa aku ingin sekali bertemu dengannya?"
Ko Tie mengangguk cepat.
"Nanti akan kusampaikan pesan paman...... tentu paman Yo bersedia untuk datang ke mari!"
Kata Ko Tie. Orang tua she Wang itu mengangguk gembira dan mengucapkan terima kasih.
"Aku pun ingin menyampaikan sesuatu yang penting sekali kepada paman Yo mu itu, di mana menyangkut keselamatan dari beberapa orang tokoh sakti dari daratan Tiong-goan, yang keselamatan mereka terancam sekali oleh kebuasan tentara Mongolia ini dan kelicikan dari Kaisar yang sekarang berkuasa yaitu Kublai Khan!"
Ko Tie mengangguk, dan Wang Put Liong tidak mau menyebutkan rahasia apa yang disebutnya penting itu.
Karena ia beranggapan Ko Tie masih terlalu kecil.
Di waktu itu, Ko Tie telah menyatakan dia akan kembali ke tempatnya, sebelum berlalu Ko Tie telah bertanya.
"Apakah paman Wang ingin makan sesuatu! Biar nanti aku mengirimkannya?"
Wang Put Liong tersenyum pahit, katanya.
"Tidak, percuma makanan itu tidak akan sampai padaku! Jika memang aku bisa bertemu muka sekali saja dengan paman Yo mu itu, putera Sintiauw-tay-hiap Yo Ko, tentu aku telah puas, dan jika memang akhirnya aku harus menemui ajalku, akupun puas!"
Ko Tie mengangguk dan meminta diri.
Dia mengetuk-ngetuk pintu berlapis besi itu dengan gedoran yang cukup keras, di mana pengawal di luar telah membukanya.
Waktu melihat Ko Tie, salah seorang di antara mereka telah berpesan.
"Apa yang telah kau lihat tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Kau mengerti?"
Ko Tie sudah tidak banyak rewel lagi dengan ke dua pengawal tersebut, ia hanya mengangguk saja dan berlalu dari tempat itu.
Ketika bertemu dengan Yo Him, anak ini menceritakan apa yang telah dialaminya.
"Wang Put Liong? Ohh, dia seorang pendekar yang baik dan cukup terkenal di dalam kalangan Kang-ouw, kepandaiannya juga tidak rendah. Telah banyak perbuatan mulia yang dilakukannya, tidak kusangka ia mengalami nasib buruk seperti ini!"
Setelah berkata begitu, Yo Him menghela napas dalam-dalam.
Kemudian waktu mendengar pesan Wang Put Liong yang disampaikan Ko Tie, bahwa orang she Wang itu bermaksud untuk bertemu dengan dirinya, pemuda ini telah mengangguk saja, sedangkan otaknya telah bekerja keras berusaha mencari jalan untuk datang ke tempat itu, guna menemui Wang Put Liong.
Ia juga jadi memikirkan, entah rahasia apa yang ingin disampaikan oleh Wang Put Liong yang dikatakannya rahasia penting itu.
Menjelang malam, Yo Him, perintahkan Ko Tie pergi tidur di kamar mereka, disamping itu Yo Him juga periksa keadaan Cin Piaw Ho dan Liu Ong Kiang.
Keadaan Liu Ong Kiang memang telah jauh lebih baik, hanya Cin Piauw Ho yang belum bisa terlalu banyak bergerak.
Mereka berdua masih harus rebah beristirahat beberapa hari, namun Yo Him puas melihat keadaan ke dua orang kawannya itu.
Setelah memikirkan sekian lama, akhirnya Yo Him buru-buru mendatangi kamar tahanan Wang Put Liong segera diam-diam.
Begitulah, menjelang tengah malam, Yo Him telah keluar dari kamar.
Keadaan sepi dan sunyi sekali.
Namun Yo Him memiliki mata yang awas sekali, ia telah melihat beberapa sosok tubuh bersembunyi di tempat-tempat tertentu.
Tentu saja, mereka itu adalah anak buah pangeran Ghalik yang mengadakan pengawasan terhadap gerakgerik Yo Him dan kawan-kawannya.
Yo Him memiliki ginkang yang sempurna sekali.
Ia tidak kuatir dengan adanya orang-orang itu.
Dengan diam-diam ia keluar dari kamarnya dan mempergunakan sebutir batu kecil ia menimpukkan ke arah kanan.
Suara jatuhnya batu-batu itu membuat orang-orang pangeran Ghalik yang tengah bersembunyi di sekitar tempat tersebut telah menoleh ke arah datangnya suara tersebut.
Mempergunakan kesempatan waktu mereka menoleh seperti itu, Yo Him telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat ringan dan cepat bukan main.
Ia telah meninggalkan tempat itu menuju ke arah belakang dari istana tersebut.
Memang istana ini sangat luas, terbagi dalam beberapa kelompok ruangan.
Tetapi Yo Him tadi telah bertanya jelas pada Ko Tie, sehingga ia tahu ke arah mana yang harus diambilnya.
Banyak pengawal-pengawal istana yang melakukan penjagaan, memang ketat sekali.
Namun Yo Him memiliki ginkang yang tinggi dan sempurna, ia bisa bergerak lincah dan juga ia berlaku hati-hati.
Dengan demikian, ia bisa melewati semua penjagaan itu dengan mudah, tak jarang Yo Him juga harus mengambil jalan di atas genteng.
Akhirnya setelah melewati beberapa lapis penjagaan, Yo Him tiba di tempat yang ditujunya.
Dilihatnya lima orang tengah mengadakan penjagaan di tempat tersebut, dua di depan pintu, tiga lainnya berada tidak berjauhan dari mereka berdua, di sebelah kiri.
Yo Him berdiam diri sejenak di tempat bersembunyinya mengawasi mereka.
Jika melihat cara pengawalan yang ketat seperti itu terhadap diri Wang Put Liong, tentu orang she Wang itu merupakan tawanan yang cukup penting.
Dalam hal ini tentu saja Yo Him tidak boleh berlaku ceroboh, oleh karena apabila gagal ia menemui Wang Put Liong, mungkin dirinya tidak akan diperlakukan keras oleh pangeran Ghalik, paling tidak hanya ditegur.
Tetapi yang kasihan adalah Wang Put Liong yang akan menerima perlakuan dan siksaan yang membuat dia lebih menderita.
Setelah mengawasi sekian lama, Yo Him menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat cepat sekali di saat ketiga orang pengawal lainnya tengah mengadakan pemeriksaan di samping ruangan itu.
Gerakan Yo Him sangat ringan, begitu ia hinggap di lantai, ia telah berada di dekat ke dua pengawal di depan pintu.
Ke dua pengawal itu hanya melihat berkelebat sesosok bayangan.
Belum lagi mereka bisa melihat jelas siapa orang yang datang dengan ringan itu seperti bagaikan seekor burung rajawali belaka yang terbang turun di samping mereka, tahu-tahu ke duanya merasakan punggung mereka telah kena dicengkeram kuat bukan main, dan kepala mereka telah dibenturkan satu dengan yang lainnya.
Di mana ke duanya segera pingsan tidak sadarkan diri.
Suara benturan kepala dan jatuhnya tubuh ke dua pengawal itu, telah didengar oleh ketiga pengawal lainnya.
Mereka menoleh terkejut dan kemudian menghampiri dengan setengah berlari.
Salah seorang di antara mereka telah membentak.
"Apa yang terjadi.....?"
Baru bertanya sampai di situ, justru Yo Him telah mendatangi, memapak mereka.
"Aku ingin bicara pada kalian, sahabat......!"
Katanya tenang. Ketiga orang pengawal itu merandek dan heran, salah seorang di antara mereka telah berkata.
"Yo Siauwhiap...... kau......?"
Waktu itu Yo Him telah mendatangi dekat sekali, sambil tersenyum-senyum ia menggerakkan tangannya, liehay tangannya.
Ia telah sekaligus menotok dua orang pengawal itu, sampai mereka rubuh tertotok tidak berdaya lagi, karena jalan darah Tiam-sie-hiat masing-masing telah tertotok telak sekali.
Pengawal yang seorang lagi jadi kaget, ia telah dapat berpikir cepat dan menduga adanya sesuatu yang tidak beres, maka ia telah memutar tubuhnya sambil membuka mulutnya untuk berteriak.
"Ada......!"
Baru saja ia berteriak begitu, tangan kanan Yo Him telah bergerak, di mana Yo Him telah memukul dari jarak jauh ke arah punggung pengawal itu, sampai pengawal tersebut terjerembab dan kemudian pingsan tidak sadarkah diri, karena pukulan pada punggung pengawal itu kuat sekali.
Yo Him melakukan hal seperti itu, karena tidak keburu dia mengejar pengawal itu, di mana pengawal tersebut juga telah mementang mulutnya untuk berteriak.
Maka jalan satu-satunya agar pengawal yang seorang itu tidak menimbulkan keributan yang bisa mengundang pengawal-pengawal lainnya, Yo Him terpaksa menyerangnya seperti itu.
Setelah membereskan kelima pengawal tersebut, Yo Him menghampiri salah seorang di antara mereka, mengambil anak kunci yang tergantung di pinggangnya, yang kemudian dipergunakan untuk membuka pintu kamar itu.
Keadaan di dalam ruangan itu tetap gelap pekat, namun Yo Him telah berkata perlahan.
"Wang Kiesu (orang gagah she Wang)....."
Panggilnya perlahan.
"Apakah Yo Siauwhiap.....?"
Terdengar sahutan.
"Ya, Boanpwe Yo Him datang untuk memenuhi panggilan Wang Kiesu......!"
"Aku berada di sudut kanan ruangan itu......!"
Menjelaskan Wang Put Liong, karena ia tahu, disebabkan ruangan yang gelap pekat ini, tentu Yo Him tidak bisa segera melihatnya.
Yo Him memiliki penglihatan yang tajam setelah berdiam sejenak mengawasi sekitar tempat tersebut.
Ia mulai bisa melihat dengan baik, maka dihampirinya Wang Put Liong.
Wang Kiesu, kudengar dari Tie-jie, kau memiliki suatu rahasia penting yang ingin disampaikan padaku...... Aku telah memenuhi panggilanmu untuk datang ke mari. Rahasia apakah itu?"
"Yo Siauwhiap......!"
Berkata Wang Put Liong terharu.
"Tak disangka akhirnya aku bisa bertemu dengan putera Yo Taihiap......! Hai, hai jika akhirnya aku harus menemui ajal di sini, aku akan mati dengan puas......!"
"Wang Kiesu, rahasia apakah yang ingin kau sampaikan itu. Kita tidak boleh terlalu banyak membuang waktu karena tidak lama lagi tentu kedatanganku ke mari akan diketahui oleh orang-orangnya pangeran Ghalik......!"
"Ya, ya, memang aku hendak menyampaikan sesuatu pada Yo Siauwhiap...... itulah mengenai ancaman terhadap para orangorang gagah yang menentang Kaisar Mongol tersebut. Pangeran Ghalik telah berhasil menghimpun kekuatan, yang memang terdiri dari tenaga campuran, tenaga jago-jago Mongolia di bawah pimpinan Tiat To Hoat-ong, dan jago-jago golongan kita yang telah bertekuk lutut bekerja pada mereka demi harta dan pangkat. Semuanya akan dikerahkan untuk melakukan pengejaran terhadap jago-jago yang pernah membantu perjuangan tentara Song menghadapi kerajaan Mongolia. Malah di antara jago-jago yang hendak dicelakai mereka terdapat nama-nama Yo Tayhiap suami isteri, Oey Yok Su Locianpwe dan beberapa tokoh lainnya.
"Jika memang hal ini tidak cepat diberitahukan pada mereka agar bersiap sedia, tentu mereka akan dicelakai dengan berbagai akal bulus. Juga yang terancam bahaya tidak kecil adalah Toan Hong284 ya, di mana In-lam akan dijadikan arena pertempuran lagi. Karena Kublai Khan akan merebut Tay-lie menangkap Toan Hong-ya dan membinasakan jago-jago Tay-lie lainnya. Harap Yo Siauwhiap setelah berhasil meninggalkan tempat ini, segera memberitahukan hal itu pada mereka......!"
Yo Him mengangguk dengan sikap yang tenang, katanya.
"Perihal itu memang telah kami ketahui. Ayah dan ibuku serta tokoh-tokoh lainnya pun telah menduga sebelumnya bahwa pihak Mongolia pasti akan memusuhi mereka dan melakukan pengejaran, karena itu mereka telah pergi menetap di tempat-tempat yang sulit dicari. Harap Wang Kiesu tidak terlalu kuatir......!"
"Tetapi Yo Siauwhiap, di antara jago-jago Song yang telah berkhianat dan berpaling muka, di mana mereka lebih rela menyerah dan memeluk pangkat, bekerja untuk penjajah tersebut, mereka telah membongkar dan memberitahukan di mana tempattempat berdiamnya dari tokoh-tokoh sakti itu......! Memang tokohtokoh sakti itu tidak jeri berurusan dengan penjajah, mereka memiliki kepandaian tinggi. Namun yang kukuatirkan justeru pangeran Ghalik telah menyusun rencana yang licik sekali, mereka akan mempergunakan tipu daya yang kotor sekali untuk dapat menangkap dan membinasakan para tokoh sakti dan jago-jago kerajaan Song.
"Disamping itu masih ada sesuatu yang penting sekali yaitu padaku terdapat peta tempat penyimpanan harta karun dari kerajaan Song. Aku yang telah memperoleh tugas untuk menyelamatkan peta harta karun itu, yang kelak harus diberikan kepada orang yang bermaksud mengusir penjajah, di mana harta yang tidak ternilai harganya itu, yang bisa diselamatkan dari kemusnahan di tangan penjajah itu, telah disembunyikan di suatu tempat yang dirahasiakan sekali......! Sebelum Kublai Khan berhasil merebut kotaraja, Kaisar kita telah mempersiapkan orang-orangnya mengangkut seluruh harta kekayaan kerajaan yang bisa diselamatkan dan disembunyikan di suatu tempat......"
Mendengar perkataan Wang Put Liong itu, Yo Him jadi tertarik, ternyata rahasia penting yang hendak disampaikan Wang Put Liong itu benar-benar merupakan suatu urusan yang penting sekali, bukan hanya sekedar rencana pangeran Ghalik yang ingin mencelakai para jago-jago yang masih setia pada kerajaan Song yang telah musnah itu.
"Mengenai rencana pangeran Ghalik, bagaimana cara dan akal licik apa yang hendak dipergunakan olehnya untuk mencelakai jago-jago yang setia pada negara yang telah dimusnahkan oleh kaum penjajah itu, telah kuketahui dan kucatat dan kusimpan di suatu tempat yang tersembunyi...... Karena jika kubawa serta jelas sudah terjatuh di tangan pangeran Ghalik. Kau bisa mengambilnya harta karun itu dan menyelamatkannya. Bersediakah Yo Siauwhiap melakukan tugas mulia ini?"
Yo Him berdiam sejenak, lalu tanyanya.
"Wang Kiesu, engkau baru saja bertemu denganku sekali ini. Tetapi mengapa urusan yang demikian penting kau telah segera mempercayai begitu saja padaku? Bukankah sekarang ini justru aku tengah menjadi orang undangan pangeran Ghalik?" Wang Put Liong tersenyum pahit, katanya.
"Walaupun benar aku telah mendengar dari engko kecil yang tadi telah menemui aku, namun aku percaya, sebagai putera dari seorang pendekar besar seperti Yo Taihiap, jelas Yo Siauwhiap tidak akan melakukan hal hal Yahg bisa mendatangkan aib untuk keluargamu...... Itulah sebabnya mengapa aku segera percaya bahwa hanya engkau satu-satunya orang yang akan sanggup melaksanakan tugas ini, karena tentunya engkaupun memiliki kepandaian tinggi yang telah diwarisi orang tuamu, disamping tentunya pula kau sebagai seorang Ho-han yang bisa dipegang kata-katanya......"
Yo Him tersenyum.
"Tentu saja Boanpwe tidak akan mengecewakan harapan Wang Kiesu......!"
Kata Yo Him.
"Dan di manakah peta harta karun yang tidak ternilai harganya itu bisa diperoleh Boanpwe?"
Wang Put Liong mengangkat tangannya, dia menunjuk dadanya.
"Di dadaku ini......!"
Sahutnya.
"Di dadamu, Wang Kiesu?"
Melihat Yo Him terkejut seperti itu, Wang Put Liong mengangguk.
"Ya, aku telah menyembunyikannya di balik kulit dadaku. Kau pergunakan pedangmu untuk mengambil kulit dadaku ini. Di dalamnya terdapat peta harta karun itu. Sengaja aku menyimpannya secara istimewa seperti ini, karena memang untuk mencegah jangan sampai terjatuh ke tangan penjajah!"
Yo Him mengangguk mengerti. "
Baiklah, jika memang peta harta karun itu telah disimpan yang begitu baik sekali oleh Wang Kiesu, tidak perlu aku mengambilnya sekarang.
Yang terpenting, kini cara bagaimana meloloskan Wang Kiesu dari tempat ini......!"
Wang Put Liong tersenyum pahit.
"Kau telah melihat keadaanku ini bukan?'' katanya kemudian.
"Ke dua tulang pie-pe ku telah dilobangi dan dirantai seperti ini, juga seluruh otot-ototku telah diputuskan oleh algojo-algojonya pangeran busuk itu, di mana aku kini menjadi manusia bercacad. Selain kepandaianku telah musnah, juga mereka membuat aku menjadi manusia yang sudah tidak punya guna."
Kalau memang Yo Siauwhiap bersusah payah berusaha menyelamatkan aku, itupun hanya sia-sia belaka, tidak seimbang dengan tenaga dan bahaya yang akan kau hadapi.
Karena itu, aku sudah tidak mengharapkan untuk hidup lebih lama, kalau memang peta harta karun ini bisa diselamatkan, aku telah bisa berlapang dada dan puas."
Semula memang aku masih mengharapkan bisa ditolong seseorang untuk melarikan diri dari tempat ini.
Mengharapkan Yo Taihiap mengetahui keadaanku dan datang menolongiku.
Hal itu hanyalah disebabkan aku tidak mau peta harta karun itu untuk terkubur bersama aku, jika sampai aku menemui kematian, sehingga selamanya tidak ada orang yang akan mengetahui perihal peta harta karun tersebut.
"Tetapi setelah bertemu dengan kau Siauwhiap dan engkau juga menyanggupi untuk melaksanakan tugas mulia itu, melindungi peta harta karun ini, yang merupakan harta peninggalan kerajaan Song kita, aku telah puas. Untuk matipun aku bisa dengan mata terpejam dan tenang......!"
Namun Yo Him telah menggelengkan kepalanya.
"Wang Kiesu, dalam hal ini aku harus berusaha menyelamatkan kau......! Biarlah sekarang, aku harus berusaha untuk memutuskan rantai itu......!"
Yo Him berdiri, dia mencekal rantai yang tertanam di dinding tembok itu.
"Kita tidak memiliki waktu terlalu banyak, maka dari itu kita harus bekerja cepat........!"
Setelah berkata begitu Yo Him mengerahkan tenaga dalamnya menarik rantai itu, agar terlepas dari dinding.
Namun rantai itu benar-benar tertanam dalam sekali di samping sangat kuat.
Waktu Yo Him menariknya dengan mempergunakan lweekangnya, hanya sedikit sekali tembok yang meluruk namun rantai itu tidak terlepas juga.
Yo Him mencoba beberapa kali menariknya, ia penasaran karena tidak bisa melepaskan rantai itu dari dinding.
Wang Put Liong tersenyum pahit, katanya.
"Sudahlah Yo Siauwhiap, percuma kau mengeluarkan tenaga seperti itu, akan sia-sia belaka usahanya. Aku berterima kasih atas maksud baikmu yang ingin menolongi aku. Tetapi dalam hal ini, aku telah yakin, rantai itu tidak mungkin bisa melepas dari benamannya di tembok itu. Karena ujung rantai itu ditanam sedalam lima tombak lebih. Yang dibuat melingkar-lingkar di dalam tembok itu, sehingga tidak mungkin bisa ditarik terlepas......"
Yo Him masih ingin coba menarik rantai itu, waktu mana ia mendengar suara ribut-ribut di luar kamar tersebut.
"Orang-orangnya pangeran terkutuk itu telah datang, mereka mungkin mengetahui kau berada di dalam kamar ini, Yo Siauwhiap. Kau harus cepat-cepat menyingkirkan diri. Sekarang juga kau harus mengambil peta harta karun itu di dadaku. Dan di dalam peta itu kujelaskan, di mana aku menyimpan rencana pangeran Ghalik untuk membasmi para jago-jago yang mencintai negara Song kita...... Cepatlah Yo siauwhiap, sebelum mereka datang, kau harus segera dapat menyelamatkan dirimu bersama peta harta karun itu!"
Suara langkah kaki dan suara bentakan di luar kamar terdengar ramai sekali.
Malah terdengar juga saling benturnya senjata tajam.
Yo Him mengerutkan alis.
Ia harus cepat-cepat melakukan apa yang dikatakan oleh Wang Put Liong dan kemudian menerobos keluar.
Tetapi hatinyapun tidak begitu tega untuk membedah kulit dada Wang Put Liong, malah kemudian meninggalkannya.
Maka Yo Him terdiam ragu-ragu.
Dalam keadaan seperti itu, di luar kamar terdengar suara ribut-ribut itu bertambah ramai.
Namun tidak ada seorangpun yang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan ini.
Setelah berdiam diri sekian lama, Yo Him bisa menduga.
"Mungkin tengah terjadi sesuatu di luar kamar......! Mereka masih belum mengetahui perihal beradanya aku di sini Wang Kiesu......!"
Wang Put Liong tengah berpikir serupa, ia mengangguk.
"Entah siapa yang telah datang ke mari?"
Katanya menggumam.
"Tentunya seorang yang gagah dan sakti berani mengacau di istananya pangeran Ghalik itu......!"
Belum Yo Him menyahuti, waktu itu ia telah mendengar suara bentakan bengis.
"Bangsat dari mana yang datang mengacau di sini?"
Itulah suaranya pangeran Ghalik.
Terdengar suara tertawa yang nyaring dan tinggi sekali, Yo Him seperti pernah mendengar suara tertawa seperti itu, namun ia tidak ingat lagi, entah di mana ia pernah mendengarnya.
"Aku yang ingin membeset tubuh dan mematahkan tulang leher dari manusia yang bernama Ghalik......!"
Menyahuti seseorang, kemudian disusul dengan suara tertawanya lagi yang nyaring meninggi. Wang Put Liong waktu itu jadi sibuk sekali, katanya.
"Yo Siauwhiap. Cepat kau ambil peta harta karun itu dari dalam lapisan kulit dadaku.......!"
Yo Him menggerakkan ke dua tangannya mengisyaratkan agar Wang Kiesu berlaku tenang.
Lalu dia memegang rantai itu yang ditariknya dengan sekuat tenaganya.
Betotannya itu memang lebih kuat dari sebelumnya, karena tembok itu kembali berguguran.
Yo Him mengempos semangatnya dan tenaganya lagi, di mana dia menarik lebih kuat lagi.
Kali ini berhasil, karena rantai itu telah berhasil ditariknya keluar dari dinding sepanjang tiga dim.
Walaupun sedikit, itu merupakan harapan yang besar untuk Yo Him.
Pemuda ini mengerahkan tenaga dalamnya lagi, ia memang memiliki latihan lweekang yang sempurna, maka setelah menarik dua kali, rantai itu telah berhasil ditarik keluar dari benaman tembok sepanjang empat dim pula.
Mempergunakan kesempatan di luar tengah terjadi kericuhan seperti itu, waktu orang-orangnya pangeran Ghalik tengah sibuk menghadapi orang yang datang mengacau di istananya itu, maka Yo Him ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyelamatkan Wang Put Liong.
Melihat rantai itu hanya bisa ditariknya sedikit demi sedikit, akhirnya Yo Him tidak sabar, ia mengempos tenaganya menyalurkan tenaga murninya pada telapak tangannya digerakkan menghantam tembok itu.
Kuat bukan main pukulan yang dilakukan pada tembok itu, sampai dinding itu tergetar dan akhirnya meluruk tembok yang jadi sempal tersebut oleh pukulan tapak tangan Yo Him.
Berulang kali Yo Him melakukan pukulannya itu, sehingga beberapa bata terhajar menjadi hancur.
Dan rantai telah dapat ditarik lebih panjang lagi.
Lewat sesaat lagi, rantai itu telah berhasil terlepas dari tembok itu, setelah Yo Him mengerahkan seluruh tenaganya dan menarik kuat sekali.
Namun Yo Him masih perlu menarik keluar rantai yang satunya lagi.
Ia melakukannya dengan cara yang sama seperti tadi.
Yang membawa hasil yang cukup baik, di mana rantai yang satunya itu telah berhasil ditarik terlepas dari benaman di tembok itu.
"Akhirnya kita berhasil, Wang Kiesu!"
Kata Yo Him sambil menghapus keringatnya.
"Tetapi kita tidak bisa keluar dari tempat ini, mereka berada di luar......!"
Menggumam Wang Put Liong dengan terharu mengandung kegembiraan yang tiada tara, karena melihat rantai yang mengikat tulang pie-pe nya itu telah berhasil ditarik terlepas dari benamannya di dinding itu.
"Jangan kuatir. Nanti aku akan mengusahakannya dengan cara bagaimanapun, agar kau bisa diselamatkan, Wang Kiesu...... yang terpenting engkau harus diselamatkan dulu!"
Wang Put Liong hanya mengangguk disamping girang, iapun sangat kagum sekali terhadap kekuatan tenaga lweekang yang dimiliki Yo Him.
Tadi dia telah melihatnya betapa pemuda itu telah berhasil menarik terlepas ke dua rantai itu, yang tentu saja tidak mudah dilakukan oleh sembarangan orang.
Waktu itu Yo Him telah melompat ke dekat pintu.
Ia mengintai keluar.
Segera juga dilihatnya pertempuran yang tengah berlangsung di luar ruangan itu.
Dua sosok tubuh, yang satu bertubuh pendek kecil dengan seorang lagi seorang yang bertubuh agak langsing tengah bergerak-gerak lincah sekali, dikepung oleh orang-orang pangeran Ghalik.
Sedangkan pangeran Ghalik telah berdiri di luar gelanggang pertempuran dengan sebatang golok tajam tercekal di tangannya mengawasi kejadian itu dengan sepasang mata yang terpentang lebar karena setiap saat bisa saja ia melompat ikut menyerang ke dua sosok tubuh itu.
Waktu Yo Him menegaskan ternyata orang yang bertubuh pendek itu adalah seorang pemuda yang berparas cukup tampan mungkin usianya duapuluh tahun lebih.
Hanya bentuk tubuhnya yang pendek sekali, bagaikan seorang anak belasan tahun.
Gerakan tubuhnya begitu cepat dan lincah, karena tampaknya pemuda bertubuh pendek kecil itu memiliki ginkang yang luar biasa.
Dan sosok tubuh seorangnya lagi, adalah seorang wanita yang telah berusia cukup tua, seorang nenek yang memiliki rambut masih hitam.
Gerakan nenek itu juga lincah sekali, di mana ia telah melompat-lompat ke sana ke mari dengan gerakan yang sangat cepat, setiap tangannya menyambar, tentu`senjata dari salah seorang pengepungnya dapat dirampas.
Tentara Mongolia yang merupakan jago-jago pilihan dari pangeran Ghalik, telah menyerang hebat dengan senjata masing-masing, mengepung ke dua orang itu.
Dan jumlah mereka hampir limapuluh orang.
Namun semuanya tidak berdaya untuk mendesak si nenek dan pemuda itu.
Sedangkan yang membuat Yo Him tambah kaget di sebelah kanan di luar kalangan, berdiri seseorang, yaitu seorang yang bertubuh tinggi besar, dengan muka yang memerah, yang tidak lain dari Swat Tocu......
Suara teriakan yang nyaring tinggi yang didengar Yo Him ternyata tidak lain dari teriakan Swat Tocu.
Ia selalu berteriak-teriak dengan suara yang nyaring, di mana ia tidak ikut bertempur, hanya menganjurkan si nenek dan pemuda bertubuh pendek itu, agar mereka bisa menghadapi para pengepungnya lebih baik lagi.
Yo Him juga heran, mengapa Swat Tocu berada di istana pangeran Ghalik, dan juga tanpa biruangnya, biruang Salju peliharaannya......
Tetapi yang membuat Yo Him girang, dengan adanya Swat Tocu ia mendapat bantuan tenaga yang tidak kecil untuk menghadapi pangeran Ghalik.
Bukankah mereka telah pernah bertemu dan tampaknya Swat Tocu memang bersikap baik padanya?
Lagi pula kepandaian Swat Tocu begitu sempurna dan tinggi.
Cepat-cepat Yo Him menghampiri Wang Put Liong, katanya.
"Wang Kiesu, mari ikut keluar. Kebetulan sekali Swat Tocu datang bersama dengan dua orang temannya. Tampaknya ke dua temannya itupun memiliki kepandaian tinggi. Swat Tocu memiliki kepandaian yang sulit diukur, mungkin juga kita memiliki kesempatan untuk meloloskan diri......!"
Wang Put Liong bimbang, namun akhirnya mengangguk.
"Yo Siauwhiap, jika memang kau yakin kita bisa meloloskan diri, hal itu memang menggembirakan, tetapi yang kukuatirkan, justru dengan mengajakku, tentu akan mempersulit dirimu. Karena aku sudah tidak memiliki tenaga...... belum lagi kau nanti harus melindungi ke dua orang temanmu. Yang katanya pun terluka dan juga engko kecil yang pernah bertemu denganku......!?"
Yo Him bersenyum sabar, katanya dengan tenang.
"Kau jangan berpikir terlalu panjang seperti itu, karena dengan adanya Swat Tocu, kau tidak perlu kuatir. Tentu Swat Tocu bersedia membantuku untuk melindungimu, dan akupun akan segera memanggil ke dua orang sahabatku itu, yaitu Cin toako dan Liu Lopeh serta Tie-jie......!"
Wang Put Liong mengangguk, dan ketika Yo Him menggendong, di mana Wang Put Liong didudukan pada pundaknya, dia juga menurut saja.
Dengan menggendong Wang Put Liong, tampak Yo Him menghampiri pintu.
Dia mementang mata mengawasi keadaan di luar, karena jika telah tiba kesempatan yang memungkinkan dia membawa lari Wang Put Liong, barulah pemuda ini akan keluar dari dalam ruangan itu.
Di saat seperti ini memang pertempuran tengah berlangsung di luar ruangan, terjadi lebih seru.
Pemuda bertubuh pendek itu tengah melompat gesit sekali, sebentar ke kiri dan sebentar lagi tubuhnya melompat ke kanan, dan ke dua tangannya telah digerakkan dengan lincah, di mana ke dua tangannya terdapat sebatang pisau yang pendek kecil, yang tersembunyi di telapak tangannya.
Jika tidak diperhatikan dengan benar, tentu tidak akan terlihat jelas.
Maka setiap kali dia berhasil menggores lawannya, lawan itu mengeluarkan suara jeritan dan lukanya mengucurkan darah.
Dengan demikian tidak ada lawannya yang berani terlalu mendesaknya.
Sedangkan si nenek yang rambutnya masih hitam itu.
Juga tidak kalah tangguhnya.
Karena telah memberikan perlawanan yang sangat gigih sekali, setiap lawan mendesaknya tentu akan dihajarnya, sehingga itu harus mundur dengan menderita kesakitan.
Pangeran Ghalik merupakan orang kepercayaan kaisar Kublai Khan, ia memiliki banyak sekali jago-jago pilihan.
Dan jagojagonya yang tengah mengepung si nenek dengan pemuda bertubuh pendek tersebut semuanya merupakan jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi.
Maka aneh sekali, walaupun jumlah mereka begitu banyak.
Tokh mereka tidak bisa berbuat apa-apa pada ke dua lawan mereka itu, yang tangguh bukan main, di mana mereka hanya bisa mengepung belaka.
Pemuda bertubuh pendek itu rupanya telah habis sabarnya melihat jumlah lawan demikian banyak dan tetap saja dia bersama nenek yang terkurung seperti itu.
Maka dalam suatu kesempatan dia telah memasukkan pisau kecil di tangannya itu ke dalam sakunya.
Setelah mendesak mundur dua orang lawannya, tahu-tahu dia telah berjongkok, dan ke dua tangannya digerakkan perlahan dari mulutnya terdengar suara kodok, suara "krookk, kroookk"
Seperti suara kodok, lalu ke dua tangannya didorongkan ke depan kuat sekali.
Cepat cara menyerang pemuda bertubuh pendek tersebut, karena seketika itu juga tubuh tiga orang jago dari pangeran Ghalik terpental keras, rubuh kejengkang dan kemudian rebah tidak bernapas lagi!
Pemuda bertubuh pendek tersebut juga bukan hanya satu kali melaksanakan serangannya yang aneh seperti itu, ia tetap berjongkok, dan waktu mulutnya memperdengarkan suara "Krookk, krookkk"
Pula dan ke dua tangannya digerakkan seperti tadi, maka terpentallah empat orang jago yang menjadi lawannya.
Mereka kejengkang rebah pingsan dengan luka parah, dan yang seorang seketika juga langsung putus jiwanya.
Menyaksikan keadaan seperti itu, di mana pemuda itu mempergunakan ilmu yang aneh namun hebat itu, semua lawannya jadi kaget dan memandang ragu-ragu untuk maju menyerang lagi.
Pangeran Ghalik juga telah memandang kaget dan dia sampai mundur dua tindak ke belakang, mengawasi tegang kepada pemuda yang tangguh itu.
Swat Tocu yang berdiri di pinggir telah tertawa nyaring, suaranya tinggi, lalu katanya.
"Bagus! Bagus! Memang apa yang pernah kalian katakan ibu dan anak memang benar, bahwa kalian masih memiliki hubungan erat dengan Auwyang Hong, si bisa bangkotan itu! Itulah Ha-mo-kang!"
Yo Him kaget mendengar disebutnya cara serangan yang dilakukan oleh pemuda itu disebut sebagai ilmu mujijat ini.
Sejak kematian Auwyang Hong dan sama sekali Yo Him tidak menyangka bahwa sekarang ia bisa menyaksikan ilmu mujijat itu, ilmu pukulan kodok Auwyang Hong yang pernah menggetarkan rimba persilatan.
Memang Yo Him juga sering mendengar dari ayah dan ibunya, mengenai sepak terjang Auwyang Hong di masa lalu, di mana sempat juga Yo Ko menjadi "murid"
Dari Auwyang Hong.
Namun karena ilmu itu terlalu ganas, setelah memiliki kepandaian yang sempurna, Yo Ko jarang sekali bahkan hampir sama sekali tidak pernah mempergunakannya.
Begitu juga kepada Yo Him dia tidak menurunkan ilmu Ha-mo kang tersebut, hanya memberikan penjelasan singkat saja.
Begitu halnya juga dengan Oey Yok Su, waktu Yo Him telah menjadi muridnya, Oey Yok Su menceritakan kepadanya, bahwa Ha-mo-kang nya Auwyang Hong sesungguhnya merupakan ilmu kodok yang sangat hebat sekali.
Dan Oey Yok Su sendiri mengakui, jika saja Auwyang Hong tidak sampai terbinasa, tentu akan dapat melatihnya lebih sempurna.
Benar ilmu Ha-mo-kang tersebut tidak bisa merubuhkan Oey Yok Su, tetapi buat Oey Yok Su juga sulit menghadapi dan merubuhkannya.
Maka dari itu Yo Him telah mengetahui akan kehebatan ilmu Hamo-kang itu.
Namun kini yang membuat Yo-him heran, pemuda berusia muda dan bertubuh pendek itu, dapat menjalankan ilmu tersebut dengan baik, di mana setiap gerakan dari ke dua tangannya itu, yang dipergunakan untuk menyerang lawannya, selalu berhasil dengan memuaskan.
Dengan demikian membuat Yo Him memandang tertegun sejenak lamanya.
Sedangkan si nenek telah tertawa nyaring, katanya.
"Untuk apa aku mendustaimu? Justru karena kami pernah menerima pesan dari Auwyang Hong. Kami juga berani menjelaskan duduk persoalannya padamu! Kami memang tidak ingin mempergunakan pengaruh dari Auwyang Hong untuk meminta bantuanmu, itu terserah padamu...... tetapi kukira tentunya dengan memandang pada Auwyang Hong tentu engkau bersedia untuk membantu kami menyelesaikan suatu urusan......!"
Dan setelah berkata begitu, si nenek yang rambutnya masih hitam telah mengeluarkan suara siulan yang nyaring, di mana dia telah menggerakkan ke dua tangannya, maka telah dua orang lagi lawannya yang tergempur mundur.
Namun serangan si nenek berambut hitam itu tidak sehebat seperti pemuda bertubuh pendek tersebut karena dia masih kalah tenaga.
Ilmu yang digunakannya tidak sehebat Ha-mo-kang yang dipergunakan pemuda bertubuh pendek itu.
Yo Him jadi menduga-duga siapakah pemuda bertubuh pendek yang liehay ini?
Juga siapa nenek itu yang masih memilik rambut yang hitam, dan sisa-sisa dari kecantikan masih berbekas di wajahnya walaupun usianya telah lanjut.
Dan mereka tampaknya memiliki hubungan yang cukup akrab dengan Swat Tocu, malah disebut-sebut mereka memiliki hubungan dengan Auwyang Hong, malah sekarang pemuda bertubuh pendek itu telah membawakan ilmu Ha-mo-kang, ilmu andalan Auwyang Hong.
Sesungguhnya, si nenek dan pemuda bertubuh pendek itu adalah ibu dan anak.
Mereka adalah Cek Yian dan Phu-jie, yang pernah kita kenal dalam kisah Sin-tiauw-thian-lam, yang pernah mengakui sebagai isteri Auwyang Hong, dan putera sebagai puteranya Auwyang Hong.
Sejak peristiwa di Hoa-san, di mana mereka mendapatkan kenyataan kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong dibongkar orang, dan Cek Tian telah bertempur dengan Yo Ko, maka akhirnya ia mengajak Phu-jie untuk mengembara, menyelidiki dan mencari orang yang telah membongkar kuburan Auwyang Hong.
Tetapi tahun demi tahun usaha mereka itu tidak berhasil sama sekali sampai sekarang, sesudah duapuluh tahun lebih, waktu Phu-jie, pemuda yang memiliki pertumbuhan tubuh yang pendek itu telah dewasa, barulah mereka mengendus tentang peristiwa pembongkaran kuburan Auwyang Hong yang terjadi hampir duapuluh tahun lebih yang silam!
Sesungguhnya Phu-jie memang putera Auwyang Hong namun putera tidak resmi di mana Phu-jie dianggap merupakan si anak haram!
Pek-to-san di mana ia berdiam di sana sebagai juga seorang raja dengan pelayan-pelayannya terdiri dari gadis-gadis cantik.
See-tok Auwyang Hong merupakan seorang jago luar biasa dari keempat jago lainnya, karena See-tok merupakan tokoh sakti yang kepandaiannya tidak berada di bawah kepandaian Oey Yok Su, Ong Tiong Yang, Ang Cit Kong maupun It Teng Taysu.
Karena sibuk mempersiapkan ilmu untuk menghadapi keempat jago-jago luar biasa itu maka See-tok telah mencurahkan seluruh perhatiannya untuk melatih ilmu tersebut perhatiannya dan tidak mau menikah.
Sebagai seorang manusia, tentu saja Auwyang Hong tidak bisa terlepas dari kodrat manusia di mana ia sebagai seorang pria yang dikelilingi oleh para pelayan yang ratusan orang jumlahnya semua terdiri dari wanita-wanita cantik.
Maka dari itu hampir semua pelayan wanitanya itu memang dijadikan semacam isteri tidak resmi, tidak ada seorangpun yang diambil secara sah sebagai isterinya.
Dengan demikian, mereka disamping menjadi "isteri", juga merangkap sebagai "pelayan"
Dan juga "murid"
Dari Auwyang Hong. Dari seorang "isteri"
Yang bernama Mie San Lie, diperoleh seorang anak, hasil hubungan gelap mereka, di mana telah terlahir seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Auwyang Kongcu.
Namun disebabkan malu untuk mengakui anaknya sebagai puteranya, Auwyang Hong menceriterakan bahwa Auwyang Kongcu adalah keponakannya.
Tetapi Auwyang Hong sangat mencintai Auwyang Kongcu, di mana seluruh kepandaiannya telah diturunkan pada putera merangkap keponakan tersebut, sehingga Auwyang Kongcu jadi liehay namun bernasib sial yang akhirnya harus terbinasa muda......
Jika memang hendak diturutkan, tentu Auwyang Hong akan memiliki ratusan anak haram atas hubungan gelapnya dengan para pelayan wanita yang berjumlah ratusan orang itu.
Namun setiap kali pelayannya hamil, tentu Auwyang Hong memberikan semacam obat sehingga kandungan itu gugur.
Dan setelah Auwyang Kongcu binasa, saat itulah Auwyang Hong baru berhasrat untuk memiliki seorang anak lagi.
Maka atas hubungannya dengan seorang pelayan wanitanya yang bernama Cek Tian, ia berhasil memiliki seorang anak pula, diberi nama Auwyang Phu.
Hanya saja disebabkan telah tiba waktunya untuk diselenggarakan pertemuan di Hoa-san antara Auwyang Hong dengan keempat jago-jago lainnya yaitu Oey Yok Su, Ong Tiong Yang, Ang Cit Kong dan It Teng Taysu, See-tok telah kembali ke daratan Tiong-goan, meninggalkan puteranya yang pada saat itu baru berusia sembilan bulan.
Hanya sebelum berangkat, See-tok telah meninggalkan se
Jilid kitab ilmu silat dengan pesan jika memang ia tidak beruntung memperoleh kemenangan dalam pertemuan di Hoa-san dan terbinasa, maka Cek Tian harus mendidik Phu-jie sebaik mungkin mendidik ilmu silatnya yang terdapat di dalam kitab warisannya itu.
Dengan demikian, Cek Tian telah mematuhi perintah suami tidak resmi yang merangkap menjadi gurunya.
Memang sejak diculik Auwyang Hong, dan Cek Tian bekerja sebagai pelayan merangkap istri.
Dia juga memperoleh didikan ilmu silat dari Auwyang Hong sehingga memiliki kepandaian yang tinggi sekali.
Sekarang menanti sekian tahun, waktu Phu-jie telah berusia tujuh tahun, Auwyang Hong belum kembali, Cek Tian mengajak Phu-jie ke daratan Tiong-goan untuk mencari ayah anaknya itu disamping mengajari ilmu silat yang dimilikinya.
Karena memang Phu-jie putera See-tok yang licin dan cerdik itu membuat anak itu pula memiliki otak yang encer pula.
Dia bisa mempelajari ilmu warisan See-tok dengan baik.
Namun sayangnya ketika mereka ibu dan anak melakukan pengembaraan di daratan Tiong-goan.
Di mana waktu itu Cek Tian telah berusia setengah baya, karena See-tok baru mau memiliki anak darinya setelah ia berusia pertengahan tahun seperti itu.
Ibu dan anak ini mendengar berita atas kematian Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.
Maka Cek Tian mengajak Phu-jie ke Hoa-san untuk menyambangi kuburan See-tok.
Kejadian yang ada, kuburan itu telah bongkar orang.
Waktu ibu dan anak itu tiba di sana, malah telah salah paham dengan Yo Ko dan Lo Ban Thong......
Karena hampir duapuluh tahun lamanya tidak berhasil mencari jejak pembongkar kuburan Auwyang Hong, Cek Tian bermaksud hendak mengajak Phu-jie kembali ke Pek-to-san.
Namun anak itu malah lebih senang mengembara di daratan Tiong-goan, yang memiliki keindahan alam yang permai dan indah.
Disamping itu, kini Phu-jie telah menjadi seorang pemuda yang kepandaiannya tangguh sekali.
Hanya ada satu kekurangan padanya, bentuk tubuhnya yang pendek tak bisa membesar, tampaknya seperti anak belasan tahun belaka.
Sang ibu yang sangat mencintai anak tunggalnya itu, yang kini telah berusia lanjut, menuruti saja kemauan Auwyang Phu.
Mereka telah mengembara terus dalam daratan Tiong-goan.
Soal penyerbuan tentara Mongolia, tak menarik perhatian ibu dan anak tersebut, karena mereka lebih mementingkan pribadi mereka, tanpa memperdulikan keadaan di sekitar mereka.
Waktu peperangan telah usai, di mana daratan Tiong-goan telah berhasil dikuasai Kublai Khan.
Waktu itulah Cek Tian bersama Auwyang Phu baru memperoleh berita bahwa peristiwa pembongkaran kuburan ayahnya itu, yang terjadi telah puluhan tahun lalu, memiliki hubungan dan sangkut paut dengan pangeran Ghalik, keponakan dari Kublai Khan.
Maka mereka ibu dan anak telah mencari pangeran Ghalik.
Semula mereka mengacau di istana kaisar Kublai Khan.
Namun setelah tidak berhasil menemukan jejak pangeran Ghalik, dan setelah dikepung oleh perwira istana Kublai Khan yang umumnya memiliki kepandaian tinggi itu, akhirnya mereka melarikan diri dari istana dan menyelidiki lagi mencari jejak pangeran Ghalik.
Selama menyelidiki, mereka juga selalu main bunuh dan membinasakan tentara-tentara Mongol yang mereka jumpai dan mendesak mereka untuk memberi keterangan.
Karena tangan ibu dan anak yang begitu telengas, maka suatu kali seorang tentara Mongolia yang takut mati, telah menceritakan bahwa pangeran Ghalik sesungguhnya memiliki istana yang tersembunyi di sebuah lembah......
Tidak urung setelah memberikan keterangan tentara yang nasibnya sial ini digempur batok kepalanya sampai lumat oleh pukulan tangan Auwyang Phu.
Begitulah Cek Tian bersama puteranya telah berangkat menuju ke lembah Sam-cie-kok di pegunungan Liang-san.
Tempat itu memang tersembunyi letaknya, namun ibu dan anak ini memang memiliki kepandaian yang tinggi dan juga memang ginkang mereka sempurna, sehingga mereka bisa menemukannya.
Dan waktu tiba di istana yang merupakan perbentengan itu, ibu dan anak ini juga telah bertemu dengan seseorang yang tengah mengamuk hebat membinasakan beberapa orang tentara Mongolia yang melakukan penjagaan di luar istana.
Orang itu tidak lain Swat Tocu yang ingin masuk ke dalam istana.
Namun telah ditahan, sehingga Swat Tocu bersama biruang saljunya mengamuk di mana setiap kali ada tentara Mongolia yang tercekal oleh biruang salju Pek-swat-jie, tentara itu akan terbinasa dengan tubuh yang dirobek-robek oleh binatang buas tersebut!
Juga Swat Tocu sendiri telah membinasakan belasan tentara penjaga.
Sisanya segera melarikan diri ke dalam istana.
Cek Tian dan Auwyang Phu telah berkenalan dengan Swat Tocu.
Waktu mendengar nyonya itu mengakui sebagai isteri Auwyang Hong dan Auwyang Phu sebagai putera Auwyang Hong, Swat Tocu jadi tidak mempercayainya.
Tetapi nyonya itu mengatakan, nanti setelah mereka tiba di dalam istana.
Ia akan membuktikan kebenaran dari perkataan mereka.
Memang kedatangan mereka ke istana ini untuk mencari pangeran Ghalik, guna memperhitungkan sakit hati mereka terhadap pembongkaran kuburan Auwyang Hong.
Nyonya Cek Tian tidak berani bersikap kurang ajar pada Swat Tocu, karena dari Auwyang Hong ia pernah juga mendengar terdapat seorang tokoh yang memiliki kepandaian sangat lihay, tidak berada di bawah kepandaian Auwyang Hong, yaitu Swat Tocu.
Dan tidak disangkanya bahwa kini mereka bisa bertemu.
Malah tanpa segan-segan Cek Tian memohon agar Swat Tocu membantu mereka untuk membalas sakit hati mereka pada pangeran Ghalik.
Swat Tocu menyatakan dengan memandang muka See-tok yang telah terbinasa dan diperhina dengan pembongkaran kuburannya oleh pangeran Ghalik, ia bersedia membantu.
Terlebih lagi ia tertarik melihat Auwyaug Phu merupakan seorang pemuda yang memiliki bakat dan tulang baik untuk mempelajari ilmu silat, walaupun tubuhnya begitu pendek dan cebol......
Memang kedatangan Swat Tocu ke lembah ini kebetulan saja.
Setelah berpisahan dengan Yo Him, ia mengajak biruang saljunya meninggalkan kota itu dan tiba di lembah ini.
Tak disangka mereka juga tiba di lembah Sam-cie-kok tersebut, sehingga Swat Tocu melihat istana yang megah.
Sebagai seorang tokoh sakti yang memiliki adat sangat aneh, ia ingin sekali mengetahui, entah apa isinya istana tersebut dan siapa penghuni istana yang aneh terletak di dalam lembah tersembunyi itu.
Dengan berani dia hendak memasuki istana itu.
Siapa tahu ia ditegur dan dicegat oleh para penjaga di luar istana, membuat Swat Tocu memaksanya dan setelah dicegah terus, ia mengamuk bersama biruang saljunya.
Begitulah Swat Tocu akhirnya bersama dengan Tek Cian dan Auwyang Phu telah masuk ke istana tersebut, sedangkan Pekswat-jie, menanti di luar istana, untuk berkeliaran di lembah itu menangkap burung dan binatang kecil lainnya......
Jago-jago yang mengurung Cek Tian dan Auwyang Phu semakin ganas, mereka melihat banyak kawan mereka yang telah menjadi korban.
Dan karena itu, mereka telah bertekad untuk membinasakan Auwyang Phu dan Cek Tian.
Mereka memperketat kepungan, dengan senjata mereka bersama meluruk melancarkan serangan yang hebat.
Cek Tian melihat bahwa ia mau atau tidak harus mempergunakan kekerasan membuka jalan berdarah.
Maka wanita setengah baya itu telah berjongkok dan kemudian mulutnya mengeluarkan suara "krookk, krook", di mana kemudian ke dua tangannya digerakkan ke depan memotong.
Sama sikapnya seperti yang dilakukan oleh Auwyang Phu, karena memang Cek Tian mempergunakan ilmu Ha-mo-kang.
Hebat kesudahannya, sebab tampak tiga orang lawannya telah terpental keras dan seorang terbinasa, dua pingsan dengan luka di dalam yang hebat.
Ibu dan anak telah mempergunakan Ha-mo-kang.
Ilmu warisan Auwyang Hong, yang tercatat di dalam kitab warisannya itu, memang telah diwarisi seluruhnya pada Auwyang Phu, sehingga Auwyang Phu memiliki kepandaian yang sangat tinggi.
Dengan demikian, Cek Tian dan Auwyang Phu seperti juga dua orang momok yang mengerikan bagi semua lawannya.
Pangeran Ghalik yang sejak tadi melihat bahwa ke dua orang ini berbahaya sekali, dan juga belum lagi Swat Tocu yang tampaknya memiliki kepandaian yang jauh lebih lihai belum turun tangan, maka diam-diam pangeran Ghallik telah membisiki seorang anak buahnya, meminta agar memanggil Tiat To Hoat-ong secepatnya.
Memang waktu itu Tiat To Hoat-ong belum lagi meninggalkan istana pangeran ini, belum pulang ke ibu kota.
Dan setelah itu, pangeran Ghalik sendiri telah melompat kehadapan Cek Tian, bentaknya.
"Wanita tua tidak mengenal mampus, kau berani mengacau di istanaku, heh?" Dan golok di tangannya, di punggung goloknya yang bergigi seperti gergaji itu telah digerakkan untuk membacok Cek Tian. Namun Cek Tian mempergunakan menghantam pangeran itu. ilmu Ha-mo-kangnya Pangeran Ghalik memang pernah menerima pelajaran ilmu silat dari seorang aneh, yang kosen dan memiliki kepandaian luar biasa tingginya, ia berkelit cepat dan gesit sekali. Di mana pukulan Hamo-kang yang dilancarkan oleh Cek Tian gagal mengenainya, hanya menyambar dinding di belakang pangeran Ghalik, sehingga dinding jebol berlubang. Pangeran Ghalik jadi terbang semangatnya. Dia boleh liehay kepandaiannya, tetapi menghadapi wanita kosen ini, ia jadi menggigil juga. Sedangkan Swat Tocu telah tertawa bergelak-gelak dengan suara yang nyaring.
"Bagus, bagus, manusia bertingkah seperti dia memang harus dimampusi!"
Cek Tian juga telah berseru bengis.
"Bukankah engkau pangeran Ghalik?"
Pangeran Ghalik telah berhasil mengumpulkan semangatnya, dengan melintangkan goloknya di dada, ia telah menyahuti.
"Benar!"
Tetapi di saat itu terdengar tiga jeritan lagi, tiga sosok tubuh terpental oleh pukulan Ha-mo-kang Auwyang Phu. "Bagus! Memang kau yang tengah kami cari!"
Kata Cek Tian.
"Ada urusan apa kalian mencariku dan sekarang mengacau di sini?"
Bentak pangeran Ghalik ragu-ragu, lenyap kebengisannya dan keagungannya sebagai seorang pangeran, walaupun ia masih hendak bersikap keagung-agungan.
"Aku hendak menanyakan soal pembongkaran kuburan suamiku!"
Menyahuti Cek Tian.
"Siapa suamimu?"
"Auwyang Hong...... yang kuburannya di Hoa-san telah kau bongkar!"
Muka Pangeran Ghalik jadi berubah.
"Ini...... ini......!"
Katanya dengan suara terbata-bata.
"Hmmm, dalam hal ini kau mengakuinya bukan, bahwa yang perintahkan orang-orangmu untuk membongkar kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong adalah kau sendiri?"
Tanya Cek Tian tambah bengis.
Pangeran Ghalik memandang ragu.
Memang peristiwa pembongkaran kuburan di Hoa-san, yaitu kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, yang sampai saat itu masih merupakan teka teki buat Yo Ko, Lo Boan Thong Ciu Pek Tong dan tokoh-tokoh lainnya, ternyata dilakukan oleh orangorangnya pangeran Ghalik.
Sebelum penyerbuan ke daratan Tiong-goan, Kublai Khan memang perintahkan Tiat To Hoat-ong untuk berusaha membinasakan jago-jago daratan Tiong-goan, jika dapat membujuk mereka dan menguasai jago-jago daratan Tiong-goan agar mau bekerja untuk pihak Mongolia.
Memang Tiat To Hoat-ong berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, banyak juga jagojago Tiong-goan yang berhasil ditarik ke pihaknya.
Disamping Tiat To Hoat-ong, Kublai Khan telah perintahkan pangeran Ghalik, agar pangeran itu menyelusup pula ke daratan Tiong-goan membawa jago-jago pilihannya, guna menimbulkan kekacauan dan mengadu domba satu dengan yang lainnya dari sekian banyak para jago-jago Tiong-goan.
Memang pangeran Ghalik memiliki otak yang cerdas sekali sehingga setelah mempelajari selama setahun lebih, dia telah mengetahui siapa saja yang terpandai di antara para jago-jago Tiong-goan, diapun menyebar orangnya untuk mencari jejak dari para jago-jago tersebut.
Dan perintahkan jago-jago Tiong-goan yang telah berpihak pada Mongolia untuk mengantarkan surat palsu kepada Yo Ko, It Teng Taysu dan juga jago lainnya, dengan memalsukan surat-surat mereka.
Dengan demikian pangeran Ghalik ingin mengadu domba mereka.
Dan untuk menimbulkan kecurigaan satu dengan yang lainnya di antara para jago-jago itu, sengaja pangeran Ghalik telah perintahkan orang-orangnya untuk membongkar kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong di puncak Hoa-san.
Dan para tokoh sakti yang diundang dengan undangan palsu itu, diminta berkumpul di Hoa-san.
Memang pangeran Ghalik berhasil dengan tipunya ini, sehingga Yo Ko dan tokoh-tokoh sakti lainnya hanya tercurah perhatiannya pada urusan terbongkarnya kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong oleh orang-orang yang tidak diketahui siapa adanya.
Dengan begitu perhatian mereka terhadap urusan negara berkurang banyak.
Dan itu sangat besar artinya buat Kublai Khan.
Tetapi siapa tahu sekarang ini justeru telah muncul Cek Tian dan Auwyang Phu, yang ingin menuntut balas.
Setelah lewat puluhan tahun, di mana Kublai Khan telah berkuasa sebagai seorang Kaisar yang berdaulat di seluruh daratan Tiong-goan.
Soal pembongkaran kuburan di puncak Hoa-san itu timbul lagi.
"Sekarang kedatangan kami ibu dan anak ingin meminta pertanggungan jawab dari kau pangeran Ghalik!"
Kata Cek Tian dengan suara berang.
Dilihatnya pangeran Ghalik berdiri bengong saja dengan golok melintang di depan dadanya.
Malah Cek Tian bukan sekedar berkata begitu saja, sepasang tangannya dengan ke dua kaki di tekuk berjongkok, telah didorongkan kuat sekali, mulutnya memperdengarkan suara "krokkk, krookk"
Yang nyaring, karena memang dia telah menyerang dengan mempergunakan Ha-mo-kang.
Pangeran Ghalik seperti baru tersadar, cepat ia mengelak.
Gerakannya terlambat sedikit, pergelangan tangan kirinya terkena serempetan angin pukulan yang hebat itu.
Malah belum lagi pangeran Ghalik sempat untuk mengadakan persiapan di waktu itu Cek Tian telah menyerang lagi dengan Ha-mo-kangnya.
Hebat cara menyerang Cek Tian, karena ia benar-benar bersakit hati atas dibongkarnya kuburan suaminya itu, yaitu suami tidak sah, yang merangkap sebagai majikan dan guru itu.
Berulangkali pangeran Ghalik berusaha menghindarkan diri, berulang kali pula ia diserangnya.
Karena memang Cek Tian telah menyerang secara bertubi-tubi dengan hebat.
Pangeran Ghalik jadi terdesak hebat.
Sama sekali pangeran Ghalik tidak bisa memberikan perlawanan, di mana ia main mundur.
Dalam keadaan terdesak seperti itu, tampak berkelebat sesosok bayangan dari ruangan dalam, disusul dengan teriakan seorang wanita, yang didengar dari suaranya tentu seorang wanita tua, yang berkata.
"Pangeran, jangan kuatir, biar kuhajar perempuan kurang ajar itu......!"
Malah menyusul dengan perkataannya itu, berkelebat juga tiga sinar putih, yang menyambar ke arah Cek Tian.
Tiga sinar putih itu adalah sinar dari senjata rahasia berbentuk jarum yang halus, yang menyebar ke tiga bagian anggota tubuh yang mematikan di diri Cek Tian.
Tentu saja Cek Tian tidak mau membiarkan tubuhnya dijadikan sasaran dari serangan senjata rahasia tersebut, ia telah menunda serangan Ha-mo-kangnya pada Pangeran Ghalik dan melompat berdiri, menghindarkan diri dari ketiga jarum rahasia itu.
Sesosok bayangan itupun telah tiba pula di hadapan Cek Tian, tanpa banyak rewel telah menggerakkan tangan kanannya untuk mencengkeram.
Sekali melihat cara bergerak wanita itu dan juga cara melepaskan ke tiga batang jarum rahasia itu yang mengandung maut, Cek Tian segera mengetahui bahwa lawannya kali ini merupakan lawan yang berat dan memiliki kepandaian tinggi.
Dia mengelakkan diri cepat sekali.
Tetapi lawan yang baru ini telah melakukan penyerangan yang gencar, sampai Cek Tian berulang kali harus menghindarkan diri.
Dia baru bisa melihat bahwa penyerangnya itu adalah seorang nenek yang telah tua sekali, jauh lebih tua dari dia sendiri......
Ternyata nenek tua yang baru muncul ini, yang usianya telah lanjut sekali, dan rambutnya yang putih itu bagaikan perak berkilauan adalah si nenek yang telah dijumpai Yo Ko di muka kuil di puncak Hoa-san duapuluh tahun yang lalu.
Dialah yang telah melukai Sin Tiauw milik Yo Ko dengan jarumnya itu, dan juga dia telah bertempur dengan Yo Ko ratusan jurus, dengan mempergunakan ikat pinggangnya.
Dan ia membantu pangeran Ghalik membongkar kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong di mana dia merupakan seorang tokoh berkepandaian tinggi yang mau bekerja untuk kerajaan Mongolia.
Dan setelah Kublai Khan berhasil menguasai daratan Tiong-goan, pangeran Ghalik mengangkat nenek tua itu mengadi penasehatnya, pembantunya yang bisa dipercaya.
Kini waktu mendengar suara ribut-ribut, ia telah keluar dari kamarnya dan kebetulan melihat pangeran Ghalik tengah mengalami ancaman bencana yang tidak kecil.
Itulah sebabnya dia segera maju menyerang.
Nenek tua itu she Liong bernama Tie Siang.
Dia merupakan seorang wanita yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.
Waktu dulu terjadi pertempuran yang seru antara dia dengan Yo Ko di puncak Hoa-san.
Kepandaiannya hanya terpaut sedikit saja dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.
Baca Sin-tiauw-thianlam.
Setelah melihat Cek Tian berhasil mengelakkan beberapa serangan cengkeram tangannya, tampak si nenek tua Liong Tie Siang telah melepaskan ikat pinggangnya.
Bagaikan seekor naga yang bergulung-gulung, ikat pinggang itu telah menyambarnyambar akan menyerang Cek Tian.
Auwyang Phu melihat ibunya didesak oleh wanita tua itu yang memiliki kepandaian sangat tinggi, segera mengeluarkan bentakan bengis merubuhkan dua orang lawannya lagi, lalu melompat akan membantu ibunya.
Jago-jago lain melihat munculnya Liong Tie Siang, telah melompat menyingkir, untuk menyaksikan saja.
Karena mereka mengetahui bahwa Liong Tie Siang merupakan nenek liehay yang memiliki kepandaian bukan main tingginya, di mana tentu nenek she Liong ini tentu akan dapat menghadapi Cek Tian dan Auwyang Phu.
Tanpa membuang-buang waktu, ang-kin Liong Tie Siang telah berputar-putar.
Memang Liong Tie Siang mengandalkan senjatanya yang istimewa ini.
Dengan ang-kinnya ini entah telah berapa banyak jago-jago rimba persilatan yang berhasil dirubuhkannya.
Sedangkan dulu di puncak Hoa-san, Yo Ko sendiri agak repot menghadapi ang-kin si nenek, walaupun akhirnya Liong Tie Siang telah melarikan diri karena tidak berdaya menghadapi Sin-tiauwtay-hiap.
Sedangkan Cek Tian dan Auywang Phu walaupun memiliki kepandaian warisan Auwyang Hong yang hebat bukan main, tetapi karena mereka berlatih diri tanpa bimbingan dari Auwyang Hong secara langsung, melainkan melatih sendiri sedapat dan sebisa mereka, dengan demikian, kepandaian mereka itu tidak sempurna.
Hebat ilmunya, namun latihannya yang kurang sempurna, arti dari ilmu yang hebat itu menurun banyak.
Sekarang menghadapi ang-kin Liong Ti Siang yang hebat, tentu saja Cek Tian dan Auwyang Phu jadi ripuh sendirinya, mereka ibu dan anak jadi sibuk sekali.
Ujung ang-kin itu sebentar menyambar ke kiri, menyambar ke pinggang menyambar ke bawah, menyambar ke daerah yang mematikan.
Malah ang-kin itu sebentar keras dan kaku sekali, seperti juga tongkat yang menyerang untuk menggemplang, dilain saat berobah lagi menyadi lemas dan lunak, akan melibat dan mengikat ibu dan anak itu.
Auwyang Phu beberapa sekali berusaha mempergunakan Ha-mokangnya untuk menghadapi Liong Tie Siang, namun sejauh itu ia masih belum sempat juga mempergunakan ilmu tersebut.
Begitu juga dengan Cek Tian yang tidak berhasil untuk mempergunakan ilmu andalannya itu.
Ia bersama puteranya selalu main mundur saja.
Melihat keadaan seperti itu, Swat Tocu jadi tertarik.
Dia merupakan seorang tokoh sakti dan kini melihat nenek tua itu memiliki kepandaian tinggi sekali, disamping itu juga memang tampaknya Cek Tian dan Auwyang Phu tidak berdaya di bawah serangan angkin nenek tua she Liong itu.
Dengan demikian ia telah bermaksud untuk maju main-main dengan Liong Tie Siang.
Terlebih lagi ia pun ingat waktu di luar istana, ia telah menjanjikan ibu dan anak itu bahwa ia akan membantu mereka menghadapi pangeran Ghalik dan orangorangnya.
Setelah berdiam diri sejenak lamanya, akhirnya Swat Tocu telah tertawa nyaring.
katanya.
"Kalian ibu dan anak, mundurlah, biarlah aku yang main dengan nyonya itu......!"
Dan walaupun mulutnya perintahkan Cek Tian dan Auwyang Phu mundur, tidak menanti sampai Cek Tian dan anaknya itu mundur, tubuh Swat Tocu telah melompat maju ke tengah gelanggang.
Gerakan tubuhnya itu gesit sekali, sehingga tidak bisa dilihat jelas cara bergeraknya.
Tahu-tahu ia telah berada di hadapan Liong Tie Siang.
Sambil melompat begitu, Swat Tocu juga telah menggerakkan tangan kirinya, katanya.
"Mundurlah dulu, nyonya. Mari kita bicara......!"
Waktu itu Liong Tie Siang tengah melancarkan serangan angkinnya dengan cepat dan mengandung kekuatan yang bisa mematikan kepada Cek Tian dan Auwyang Phu.
Namun waktu merasa samberan angin kibasan tangan Swat Tocu yang aneh sekali, di mana menyambarnya angin dingin bukan main dan tubuhnya seperti terbungkus oleh lapisan es, Liong Tie Siang mengeluarkan suara jeritan tertahan, karena heran dan kaget.
Gesit bukan main, tampak Liong Tie Siang telah melompat mundur dua tindak ke belakang.
Mempergunakan kesempatan itu, Cek Tian dan Auwyang Phu telah mundur.
Dengan mata mendelik, Liong Tie Siang telah mengawasi Swat Tocu.
"Siapa kau, manusia edan?"
Tegurnya, dia menyebut Swat Tocu dengan sebutan manusia edan, karena melihat pakaian Swat Tocu yang aneh dan terbuat dari kulit binatang buas. Swat T'ocu tertawa.
"Aku Swat Tocu, tentu kau pernah mendengar......!"
Sahutnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Tubuh Liong Tie Siang jadi menggigil.
Kagetnya tidak terkira mengetahui bahwa orang aneh ini adalah Swat Tocu, tokoh sakti dari Pulau Salju yang terkenal itu.
Namun melihat muka Swat Tocu yang masih begitu muda, paling tidak hanya limapuluh tahun lebih, sedangkan menurut perkiraannya, di mana Swat Tocu telah terkenal sejak delapanpuluh tahun lalu tentu usianya kini telah seratus tahun lebih, Liong Tie Siang jadi ragu dan tidak mempercayainya.
Maka setelah mengawasi beberapa waktu lamanya, ia telah tertawa dingin.
"Heemm engkau ingin menggertakku dengan mempergunakan nama Swat Tocu?"
Ejeknya. Swat Tocu tidak melayani ejekan itu, melainkan dia menggerakan ke dua tangannya.
"Terimalah seranganku ini, engkau akan mengetahui apakah aku ini Swat Tocu."
Dan membarengi dengan perkataannya dan tampak dia telah menyerang dengan tenaga Inti Esnya.
Liong Tie Siang seketika merasakan tubuhnya seperti dikurung oleh hawa dingin, bagaikan dirinya telah dikuasai oleh lapisan es, dingin sekali.
Cepat tanpa berayal sedikitpun juga, Liong Tie Siang telah menggerakkan ang-kinnya.
Maksudnya dia ingin mendesak dia dengan Pukulan Inti Esnya terlebih jauh.
Waktu itulah Swat Tocu agar orang itu tak mundur sama sekali, dia mengulurkan tangan kanannya, dan mencekal ujung ang-kin.
"Ke mari kau......!"
Bentaknya menarik dengan kuat sekali.
Swat Tocu memang telah memiliki latihan lweekang yang sempurna sekali.
Begitu ang-kin ditarik, begitu tubuh Liong Tie Siang terbetot keras.
Kepandaian Liong Tie Siang juga tidak lemah.
Dia sesungguhnya memiliki lweekang yang sempurna juga.
Namun karena ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu, malah Swat Tocu menariknya dengan tiba-tiba dan mempergunakan lweekang yang kuat sekali, dengan sendirinya tubuh Liong Tie Siang terbetot melayang menghampiri Swat Tocu.
Di saat tubuh Liong Tie Siang akan menubruk kepadanya di waktu itulah tampak Swat Tocu telah menghajar dengan telapak tangan kanannya memapaki ke arah dada nenek tersebut.
Liong Tie Siang kaget bukan main, itulah berbahaya untuk dirinya.
Pukulan yang dilakukan Swat Tocu bukanlah pukulan biasa.
Dia memukul dengan mempergunakan Pukulan Inti Esnya, dengan demikian, jika terkena serangan itu, berarti darah di sekujur tubuhnya akan beku, dan ia juga akan terbinasa.
Tetapi dirinya tengah berada di tengah udara, malah menghampiri ke arah Swat Tocu, bagaikan tengah menghampiri maut.
Lawannya itupun seorang tokoh sakti dari pulau Salju.
Dengan demikian, Liong Tie Siang menghadapi bahaya kematian......
Tetapi seperti yang dijelaskan bahwa kepandaian yang dimiliki Liong Tie Siang memang merupakan kepandaian yang tidak rendah.
Walaupun belum bisa disejajarkan dengan kepandaian Yo Ko, It Teng Taysu ataupun Oey Yok Su, namun di waktu itu dalam jamannya itu, mungkin Liong Tie Siang merupakan jago wanita yang ke dua setelah Siauw Liong Lie.
Karena itu,walaupun tengah menghadapi ancaman bahaya seperti itu, sama sekali ia tidak jadi gugup.
Setelah menetapkan goncangan hatinya, waktu melihat telapak tangan Swat Tocu tengah menyambar ke arah dirinya, dan hawa dingin juga telah menyelubunginya, ia telah keluarkan suara seruan nyaring seperti pekik tikus.
Kemudian cepat bukan main dia menggerakkan ke dua tangannya, dia telah menyampoknya dengan seluruh kekuatan yang ada.
Memang Liong Tie Siang berhasil menangkis telapak tangan Swat Tocu.
Malah tubuh Liong Tie Siang juga terpental ke belakang, berjumpalitan dan berhasil hinggap di tanah kembali dengan selamat, tidak urung dia menggigil kedinginan.
Ketika tadi telapak tangannya itu bentrok dengan telapak tangan Swat Tocu, dia merasakan dari telapak tangan Swat Tocu bagaikan mengalir menerobos hawa yang dingin sekali, melebihi dinginnya es.
Dan juga sekarang, walaupun dia telah berhasil menyelamatkan diri dari kematian di tangan Swat Tocu, tidak urung ujung ang-kinnya masih dipegang oleh Swat Tocu.
Begitulah, ujung ang-kin yang satu dicekal oleh Swat Tocu, ujung yang lainnya dicekal oleh Liong Tie Siang, mereka berdiri saling mengawasi.
Walaupun tubuh mereka diam, tidak bergerak sama sekali, begitu juga halnya dengan ke dua tangan dan ke dua kaki mereka masing-masing tidak saling bergerak, kenyataannya memang mempelihatkan bahwa mereka sebetulnya tengah mengadu lweekang tingkat tinggi.
Sebab tadi begitu Liong Tie Siang terpental, dan telah hinggap di atas lantai tanpa kurang suatu apapun juga, di saat itulah Swat Tocu tanpa membuang waktu telah mengerahkan ilmu Inti Esnya melalui ujung dari ang-kin yang masih dicekalnya itu.
Segulung hawa dingin yang luar biasa telah tersalurkan ke tangan Liong Tie Siang.
Sedangkan Liong Tie Siang waktu merasakan menerobosnya hawa dingin dari ujung ang-kinnya, telah cepat-cepat mengerahkan seluruh kekuatan lweekangnya.
Ia mempergunakan hawa Yang, hawa panas untuk melawan hawa dingin tersebut.
Memang baru Liong Tie Siang berhasil, dia bisa menghadapi hawa dingin, namun perlahan-lahan hawa dingin itu menindih hawa Yang yang dikerahkannya, dan juga hawa dingin mulai menerobos perhatiannya, sehingga berangsur-angsur tubuh Liong Tie Siang mulai mengigil.
Semakin lama semakin keras, menggigil semakin kuat, bagaikan dia berada di tengah-tengah danau es yang dingin sekali......
Liong Tie Siang mengeluh di dalam hatinya, dia yakin bahwa lawannya ini memang Swat Tocu adanya, yang sangat terkenal itu, yaitu tokoh sakti yang kepandaiannya memang tidak berada di bawah kepandaian ke lima jago luar biasa lainnya.
Dengan demikian, Liong Tie Siang mati-matian mengadakan perlawanan.
Memang masih ada terdapat satu jalan yang bisa menyelamatkan dirinya.
Yaitu dengan melepaskan ujung ang-kin yang dicekalnya, sehingga dia terlepas dari pengaruh Inti Esnya Swat Tocu, dan dia bisa menyelamatkan dirinya.
Tetapi Liong Tie Siang tidak rela jika harus melepaskan ang-kinnya itu terjatuh di tangan lawannya.
Setelah berpikir sekian lama dan merasakan pertahanan dirinya kian tergempur dan tidak lama lagi jika dia bertahan seperti ini, tentu dirinya akan terluka oleh Inti Esnya Swat Tocu.
Liong Tie Siang jadi nekad dan dia mengeluarkan suara pekikan yang mirip dengan suara pekikan seekor tikus.
Kemudian dengan cepat ia menjejakkan ke dua kakinya lagi, bukan menerjang kepada lawannya, hanya melompat mundur.
Dan sambil melompat mundur itu, dia menarik sekuat tenaga angkinnya, maka karena Swat Tocu bertahan juga dengan cekalan yang kuat, ang-kin itu yang jadi korban terputuskan di tengah, menjadi dua potong.
Yang sepotong dicekal oleh Swat Tocu, sedangkan yang sepotong lagi dicekal oleh Liong Tie Siang.
Waktu itu, tampak Liong Tie Siang setelah berhasil melepaskan diri dari libatan tenaga dingin lawannya, dia telah mengatur jalan pernapasannya, dan sisa hawa dingin yang menguasai tubuhnya itu telah lenyap.
Dia berkata dengan suara yang tawar.
"Swat Tocu, di antara kita tidak terdapat permusuhan, dan juga engkau dengan pihak Mongolia tidak tersangkut paut hubungan dan urusan apapun juga. Malah engkau sebagai seorang tokoh sakti yang hidup di pulau Esmu dan juga sebagai seorang tokoh sakti yang dihormati oleh semua jago-jago rimba persilatan, sekarang mengapa engkau memusuhi kami?"
Swat Tocu tertawa.
"Aku tidak memusuhi kalian, aku juga tak mau tahu apa yang ingin kalian lakukan, karena aku hanya tahu jika diriku tidak diganggu, akupun tidak akan mengganggu dan tidak mau tahu urusan kalian! Sekarang aku hanya tertarik untuk main-main beberapa ratus jurus dengan kalian, terutama dengan kau!"
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Swat Tocu, bukan main mendongkolnya Liong Tie Siang.
Karena walaupun Swat Tocu mengatakan bahwa dia tidak mau mencari urusan dengannya dan pihak kerajaan Mongolia, namun dilihat dari sikapnya, memang ia tengah mencari urusan dan gara-gara......
"Baiklah......!"
Kata Liong Tie Siang kemudian.
"Jika memang kau tetap ingin mengadu kepandaian denganku, akupun tidak bisa menolak. Biarlah aku akan mempertaruhkan jiwa tuaku ini. Akupun ingin mengetahui berapa hebat sih kepandaian Swat Tocu yang terlalu dipuji-puji dan dibesar-besarkan itu......!"
Memang Liong Tie Siang merupakan seorang wanita yang tidak mau mengalah menghadapi siapapun.
Sejak mudanya dia selalu bersikap keras pada siapapun juga.
Jika sekarang dia mau bertekuk lutut bekerja di bawah perintahnya pangeran Ghalik, pangeran yang memiliki kepandaian lebih rendah dari dia, karena pangeran itu memperlakukannya dengan baik dan menghormat.
Seperti terjadi di puncak Hoa-san, Liong Tie Siang tidak mau selangkahpun mengalah pada Yo Ko, malah tanpa kenal takut, dia telah bertempur dengan Yo Ko, baca Sin-tiauw-thian-lam.
Maka terlebih lagi sekarang, di waktu dia telah melatih diri lebih jauh selama duapuluh tahun dan kepandaiannya telah mengalami banyak kemajuan.
Walaupun memang Liong Tie Siang menyadarinya bahwa kepandaian Swat Tocu sangat luar biasa, tokh dia tidak jeri karenanya.
Di waktu itu, Swat Tocu telah tertawa.
"Itulah yang kuhendaki, yaitu engkau menemaniku main-main untuk beberapa jurus......!"
Dan setelah berkata begitu cepat Swat Tocu telah melangkah maju.
Tampaknya Swat Tocu melangkah dengan tindakan kaki yang perlahan namun tubuhnya tiba di hadapan Liong Tie Siang begitu cepat, tahu-tahu dia telah berada di hadapan wanita she Liong tersebut.
Tangannya juga digerakkan, didorong ke arah Liong Tie Siang, menyerang dengan gerakan seperti main-main dan ayal-ayalan.
Tetapi hebat dari cara menyerang seperti itu, karena memang Swat Tocu telah mempergunakan pukulan Inti Es nya tingkat pertengahan, berbeda dengan tadi, di mana ia mengerahkan tenaga Inti Esnya baru dua bagian saja.
Dengan begitu, bisa dibayangkan betapa hebatnya hawa dingin yang telah mengurung Liong Tie Siang.
Waktu menghadapi Yo Him beberapa waktu yang lalu, di mana Swat Tocu tiga jurus melakukan penyerangan kepada Yo Him.
Diapun mempergunakan lima bagian tenaga dalamnya dari Inti Esnya itu.
Setiap kali Yo Him mengelak dan benda-benda yang terkena pukulan itu jadi terbungkus oleh lapisan es.
Kali inipun tenaga Inti Es yang dipergunakan oleh Swat Tocu sama tingginya seperti waktu menghadapi Yo Him, maka dari itu, ketika Liong Tie Siang mengelakkan diri di mana angin pukulan itu menyambar terus dan mengenai seorang jago yang berdiri di belakang Liong Tie Siang.
Dia mengeluarkan suara teriakan kaget, kemudian tubuhnya menggigil, lalu diam kaku.
Dan tubuhnya telah terbungkus oleh lapisan es!
Swat Tocu tertawa keras waktu melihat Liong Tie Siang berhasil meloloskan diri dari serangannya itu.
Dia telah mengulangi lagi serangannya.
Dalam keadaan seperti ini, tampaknya, Swat Tocu tidak mau memberikan kesempatan sedikitpun juga kepada Liong Tie Siang.
Liong Tie Siang mendongkol bukan main, tetapi dia mendongkol tanpa daya, karena dia harus sibuk mengelakkan diri berulang kali, kalau memang tubuhnya tidak mau sampai terbungkus oleh lapisan salju.
Tetapi Liong Tie Siang juga tidak tinggal diam, walaupun dia sibuk mengelakkan diri, beberapa kali dia masih berusaha membalas menyerang dengan tenaga Yang nya.
walaupun selalu gagal.
Setelah bertempur belasan jurus, Liong Tie Siang jadi mengeluh.
Sekarang dia baru mengakuinya, bahwa tidak percuma bahwa Swat Tocu dikenal oleh jago-jago rimba persilatan sebagai tokoh sakti yang kepandaiannya katanya tidak berada di bawah kepandaian Oey Yok Su berlima.
Kenyataan yang sekarang dihadapinya memang membuktikan bahwa kepandaian yang dimiliki Swat Tocu memang benar-benar luar biasa.
Dalam keadaan seperti itu, Liong Tie Siang juga baru menyadari, jika memang mereka meneruskan pertempuran seperti ini sebanyak sepuluh jurus lagi tentu yang rugi adalah dirinya, di mana dia tidak akan sanggup menghadapi Swat Tocu lebih jauh.
Maka sambil mengelakan diri dari serangan Swat Tocu berikutnya, Liong Tie Siang telah memeras otak memikirkan jalan yang sebaik mungkin untuk meloloskan diri.
Di waktu itulah, tampak Swat Tocu telah tertawa nyaring.
Dengan sikap ayal-ayalan, telah menggerakkan ke dua tangannya, katanya.
"Nah, sekarang kau terimalah jurus seranganku ini...... Aku menghendaki engkau menjadi boneka nenek-nenek dari es......!"
Benar-benar hebat serangan yang kali ini dilancarkan oleh Swat Tocu.
Karena dari ke dua telapak tangannya yang digerakkan dengan berbareng itu telah mengalir hawa yang dingin bukan main.
Jangankan Liong Tie Siang, sedangkan para jago-jago lainnya yang telah berkumpul di sekitar tempat tersebut menggigil keras sekali.
Tapi mereka ada yang bercatrukan dan juga muka mereka pucat.
Walaupun mereka telah mundur beberapa langkah ke belakang menjauhi diri dari gelanggang, tokh tidak urung mereka kedinginan juga.
Begitu juga halnya dengan pangeran Ghalik, tubuhnya sampai menggigil.
Walaupun ia menggigil tidak hebat, namun semakin lama tubuhnya semakin menggigil lebih keras, menunjukkan bahwa dia menderita kedinginan yang hebat.
Yo Him dan Wang Put Liong yang berada di dalam ruangan di balik pintu berlapis besi itu juga merasakan hembusan angin yang dingin sekali.
Jika Yo Him tidak terpengaruh oleh hawa dingin itu, sebab begitu dia mengerahkan tenaga lweekangnya dia bisa menguasai diri dan telah mengusir hawa dingin tersebut.
Tetapi yang hebat adalah Wang Put Liong, walaupun ia terpisah di tempat yang jauh, tokh terkena sambaran angin itu, tubuhnya telah menggigil.
Yo Him tersenyum, dia mengulurkan tangan kanan mencekal tangan Wang Put Liong, dikêrahkan tenaga dalamnya.
Dia lalu menyalurkan tenaga Yang nya pada orang she Wang ini, maka seketika rasa dingin yang mempengaruhi tubuh Wang Put Liong jadi berkurang dan akhirnya lenyap.
"Berbahaya!
Sungguh berbahaya!"
Mengeluh Wang Put Liong kemudian dengan suara gumaman yang perlahan. Yo Him sendiri kagum bukan main terhadap ilmu Inti Es yang dimiliki oleh Swat Tocu.
"Dia adalah Swat Tocu dari pulau Salju, kepandaiannya memang tidak berada di bawah Locianpwe lainnya, seperti Oey Suhu, It Teng Locianpwee dan ayahku......!"
Wang Put Liong telah mengangguk.
"Ya, aku baru melihat pertama kali ini ilmu yang luar biasa ini, mengerikan sekali......!"
Menyahut orang she Wang tersebut. Yo Him tersenyum.
"Tetapi Swat Tocu sahabatku, dia tentu berdiri di pihak kita......!"
Kata Yo Him.
"Tetapi yang aneh adalah nenek dan pemuda pendek itu. Mengapa mereka bisa membawakan ilmu Ha-mo-kang, ada hubungan apa mereka dengan Auwyang Hong Locianpwe?"
Wang Put Liong jadi terkejut.
"Auwyang Hong?"
Tanyanya. Yo Him mengangguk.
"Ya, ilmu yang tadi mereka pergunakan untuk menghadapi orangorangnya pangeran Ghalik adalah Ha-mo-kang, ilmu pukulan kodoknya Auwyang Hong Locianpwe yang sangat terkenal. Dan tadi wanita tua itu juga telah menyebut-nyebut bahwa Auwyang Hong Locianpwe ada suaminya, yang kuburannya telah dibongkar oleh pangeran Ghalik.
"Ayahku pernah menceritakan peristiwa dibongkarnya kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong Locianpwe, yang telah dibongkar orang yang tidak diketahui siapa...... Sampai sekarang masih tidak diketahui apa maksud dari pembongkaran kuburan itu dan siapa yang melakukannya.
"Namun didengar dari perkataan nenek tua itu dengan pangeran Ghalik, tampaknya peristiwa duapuluh tahun yang lalu tentang pembongkaran kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong Locianpwe dilakukan pangeran Ghalik. Tapi yang aneh lagi, yang kuketahui Wang Kiesu, justeru Auwyang Hong Locianpwe tidak memiliki isteri. Jika nenek itu mengakui dia sebagai isteri Auwyang Hong Locianpwe, apakah pemuda itu adalah puteranya Auwyang Hong Locianpwe?"
Sambil menggumam begitu, Yo Him telah mengawasi terus dan memperhatikan keadaan si nenek dan pemuda bertubuh pendek itu, yaitu Auwyang Phu.
Untuk sementara perhatiannya pada pertempuran yang tengah berlangsung antara Liong Tie Siang dengan Swat Tocu itu telah beralih kepada diri ibu dan anak itu, di mana Yo Him lebih tertarik untuk mengetahui siapakah adanya wanita tua itu dan Auwyang Phu.
Wang Put Liong juga mengawasi kepada Cek Tian dan Auwyang Phu.
Sedangkan Liong Tie Siang yang tengah sibuk menghadapi serangan Swat Tocu.
Mulai keripuhan sendiri.
Hatinya mulai goncang di mana dia yakin tidak mungkin bisa lebih lama lagi menghadapi Tocu dari Pulau Salju itu.
Tetapi sebagai seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja Liong Tie Siang tidak mau menyerah begitu saja.
Dia telah mempergunakan seluruh kekuatan tenaga lweekang yang ada padanya.
Harus diketahui, jika seseorang mempergunakan seluruh kekuatan tenaga lweekangnya, sepenuh tenaga, malah akan membuat dia terluka di dalam.
Walaupun pertempuran itu bisa dimenangkannya, tetapi tetap saja setelah pertempuran itu, di mana orang tersebut telah mempergunakan seluruh kekuatan lweekangnya, tentu akan menderita sakit.
Dengan demikian Liong Tie Siang sendiri telah menyadari bahwa dengan mengerahkan seluruh kekuatan lweekangnya ini menghadapi Swat Tocu, di mana dia malu untuk menyerah dan mundur mengakui kekalahannya di hadapan pangeran Ghalik, bahwa dirinya jika tokh berhasil menghadapi serangan Swat Tocu itu, kesudahannya dia yang akan jatuh sakit parah atau juga mungkin terluka di dalam yang berat.
Namun disebabkan memang Liong Tie Siang nekad, dan dia juga mengeluarkan seluruh kekuatan lweekangnya, tanpa memperdulikan akibatnya.
Begitulah, tenaga Yang yang dikeluarkan oleh Liong Tie Siang telah berbentur keras dengan hawa dingin yang dikerahkan oleh Swat Tocu.
Dengan begitu, tampak tubuh Liong Tie Siang telah bergoyang-goyang seperti akan mundur, namun Liong Tie Siang berusaha bertahan terus.
Sedangkan Swat Tocu tidak mengalami sesuatu apapun juga.
Sambil tertawa keras, dia menarik pulang kembali ke dua tangannya, kemudian tanpa henti dia telah mendorong lagi, kembali menyerang dengan Pukulan Inti Esnya.
Hawa dingin yang lebih kuat telah menerjang Liong Tie Siang dengan hebat.
Kali ini Liong Tie Siang tampaknya tidak bisa mempertahankan diri lagi.
Dengan mengeluarkan suara perlahan mengandung perasaan kaget, tubuh Liong Tie Siang telah terhuyung dua tindak ke belakang, tergempurlah tenaga dalamnya dan juga perbentengan pertahanan dirinya.
Karena di waktu itu dia telah terserang hebat.
Di waktu bersamaan dengan itu, waktu Liong Tie Siang tengah menghadapi ancaman bahaya maut yang tidak kecil.
Telah berlarilari seseorang, diiringi dengan suara bentakannya.
"Ohh, makhluk kurang ajar yang ingin mengacau di sini tanpa kenal malu...... biar aku yang menghajar mampus.....!"
Dan orang itu bukan hanya berlari sambil berteriak tangannya digerakkan, dia memegang pundak Liong Tie Siang, menahan agar tubuh itu tidak mundur lebih jauh.
Malah dari telapak tangannya telah keluarkan kekuatan lweekang yang hebat sekali di mana telah disalurkan masuk ke dalam tubuh Liong Tie Siang.
Untuk sejenak Liong Tie Siang memperoleh tenaga tambahan, tenaga lweekangnya yang telah tergempur tadi, bisa disatukan kembali, dan ia jadi bisa berdiri tegak kembali!
Malah hawa dingin yang seperti mengurung diri Liong Tie Siang telah lenyap, tidak bisa menguasai dirinya lagi.
Dengan buyarnya hawa dingin itu, maka Liong Tie Siang bisa bergerak lebih leluasa.
Berulang kali dia mengeluarkan suara erangan itu untuk memusatkan tenaganya.
Dengan tambahan tenaga dari orang yang menempelkan telapak tangannya pada punggungnya, maka Liong Tie Siang menggerakkan ke dua tangannya, mendorong kepada Swat Tocu.
Swat Tocu tertawa, ia melihat orang yang muncul membantu Liong Tie Siang, sehingga nenek itu tidak terjungkal, adalah seorang Mongolia berpakaian sebagai pendeta.
Ia tidak mengenal pendeta yang telah berusia cukup lanjut itu.
Hanya ia heran juga bahwa kepandaian pendeta itu demikian tinggi.
Karena Liong Tie Siang telah mendorong ke arahñya dengan kekuatan yang berlipat dari tenaganya yang semula.
Swat Tocu juga mempergunakan tenaga Inti Esnya jauh lebih kuat.
"Aduhhh......!"
Teriak Liong Tie Siang sambil menggigil keras.
Karena waktu tenaganya bentrok dengan tenaganya Inti Es yang dipergunakan Swat Tocu, ia merasakan tenaganya itu buyar dan tenaganya itu bagaikan lenyap tidak berbekas.
Malah tubuhnya seperti dibungkus oleh lapisan es lagi, ia menggigil dengan sekujur tubuhnya terasa nyeri.
Pendeta Mongolia yang muncul membantu Liong Tie Siang tidak lain dari Tiat To Hoat-ong.
Waktu melihat keadaan Liong Tie Siang seperti itu, dia pun terkejut, karena walaupun berdiri di belakang Liong Tie Siang, tokh Tiat To Hoat-ong merasakan sekujur tubuhnya dingin sekali terkena sambaran pukulan Swat Tocu.
Cepat-cepat pendeta Mongolia itu menyambar tubuh Liong Tie Siang.
Dia juga melompat ke samping, sehingga Liong Tie Siang bisa diselamatkan dari pengaruh tenaga dinginnya Swat Tocu.
"Toanio, kau beristirahat dulu. biar aku yang menghadapinya.....!"
Kata Koksu Mongolia tersebut sambil melompat ke tengah gelanggang menghadapi Swat Tocu. Matanya mengawasi bengis, sambil bentaknya garang.
"Siapa kau? Mengapa berani mengacau di istana pangeran?"
Swat Tocu tertawa dingin, ia tidak memandang sebelah mata pada pendeta ini.
Walaupun dilihatnya Tiat To Hoat-ong memiliki kepandaian yang tinggi, malah lebih tinggi dari kepandaian Liong Tie Siang, tokh Swat Tocu tetap tidak menganggapnya sebagai lawan yang perlu dihadapi dengan sungguh-sungguh.
Sebagai seorang tokoh sakti, tentu saja Swat Tocu merasa bahwa dirinya yang tertinggi kepandaiannya di kolong langit ini, karena Oey Yok Su, salah seorang dari kelima jago luar biasa di daratan Tiong-goan yang pernah bertempur dengannya, tidak berdaya untuk merubuhkannya.
Maka, mana dipandang sebelah mata Tiat To Hoat-ong ini?
"Kemana aku ingin datang, tidak ada seorangpun yang bisa melarangku.
Ingin datang ke mari, engkau tidak bisa melarangku.
Jika memang engkau hendak mengurus diriku, nanti kuberikan kau surat undangan dari Giam-lo-ong......!"
Suara Swat Tocu dingin sekali.
Tiat To Hoat-ong merupakan Koksu negara, ia dihormati oleh rakyat dan Kaisar Mongolia, bahkan kepandaiannyapun tinggi luar biasa.
Tidak biasanya ia dilayani dengan sikap seperti yang diperlihatkan Swat Tocu.
Walaupun telah dilihatnya tadi betapa Swat Tocu membuat Liong Tie Siang jadi kelabakan seperti itu.
Namun sama sekali Tiat To Hoat-ong tidak jeri.
Malah dengan gusar ia mengebutkan ujung jubahnya, di mana kemudian ke dua tangannya dirangkapkan, dengan sikap siap menyerang.
Swat Tocu tetap berdiam saja mengawasi sikap Tiat To Hoat-ong, ia merasakan sambaran dan dorongan kuat sekali dari ujung jubah Tiat To Hoat-ong.
Namun Swat Tocu hanya dengan memusatkan kuda-kuda ke dua kakinya, lalu balas mendorong dengan tenaga Inti Esnya.
Tiat To Hoat-ong jadi terkejut, ia merasakan tubuhnya disambar angin yang dingin sekali, melebihi dinginnya es dan juga tubuhnya seperti terbungkus oleh lapisan es.
Tetapi sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, disamping itu juga memang telah menguasai ilmu Yoga dengan sempurna, Tiat To Hoat-ong tidak jeri dengan hawa dingin tersebut.
Ia telah merangkapkan ke dua tangannya.
Kemudian memusatkan tenaga murni di tan-tiannya, lalu menggerakkan ke dua tangannya itu.
Dengan demikian tampak ia telah mengeluarkan hawa Yang (panas) yang bukan main.
Dua kekuatan yang berlainan sifatnya itu.
Yang satu dingin melebihi es, dan yang satunya lagi panas melebihi panasnya api telah saling bentur.
Untuk orang-orang yang berkepandaian rendah, tentu mereka tidak mengetahui hebatnya bentrokan yang terjadi itu.
Maka mereka hanya mengetahui bahwa ke dua orang itu hanya mengadu kekuatan tenaga dalam.
Tetapi Liong Tie Siang dan juga pangeran Ghalik, telah melihat bahwa Koksu negara itu tengah berusaha untuk membendung serangan hawa dingin dari tenaga inti Es yang dilancarkan Swat Tocu.
Begitu juga halnya dengan Swat Tocu, yang telah berusaha untuk menindih dan memunahkan tenaga "Yang"
Yang dikeluarkan oleh Tiat To Hoat-ong.
Ke dua orang itu masing-masing berdiri berhadapan dengan terpisah jarak setombak lebih.
Mereka mengawasi dengan muka yang terpancar kekerasan dan juga urat-urat di muka mereka mulai tampak.
Begitu keadaan menjadi sunyi, ke duanya telah bergerak lagi dengan ke dua tangan digerakkan.
Hampir bersamaan dengan benturan yang terjadi, tubuh mereka juga bergoyang goyang.
Yang seorang diselubungi oleh hawa dingin, mukanya memerah, tubuhnya dingin bagaikan darah di sekujur tubuhnya menjadi beku.
Sedangkan yang seorang lagi, Swat Tocu, mukanya mulai merah, keringat mengucur keluar deras sekali dari sekujur tubuhnya.
Dilihat dari keadaan seperti ini, tampaknya Swat Tocu juga tengah dikuasai hawa "Yang"
Yang luar biasa panasnya.
Tiat To Hoat-ong sama sekali tidak menyangka bahwa Swat Tocu ini merupakan tokoh sakti yang mungkin sudah tidak ada duanya di kolong langit ini......
Tadi memang ia telah melihatnya bahwa Swat Tocu bukan orang sembarangan, namun sebagai Koksu negara yang memiliki kemuliaan, tentu saja dia harus turun tangan membela pangeran Ghalik.
Hanya saja ia tidak menyangkanya bahwa Swat Tocu demikian tangguh.
Dalam beberapa kali gebrakan dengan saling menggebrakkan tangan, mengadu tenaga dalam yang berlainan sifatnya itu tanpa saling bentur itu, Tiat To Hoat-ong telah mengetahui bahwa lawannya ini sesungguhnya masih menang setingkat dari dirinya.
Tetapi Tiat To Hoat-ong tentu saja tidak mau menyerah begitu saja, lebih lagi ia memang merupakan seorang Koksu, yang dianggap paling mulia di samping Kaisar mereka.
Walaupun harus mempertaruhkan jiwanya, Tiat To Hoat-ong tetap melindungi pangeran Ghalik.
Setelah merasakan bahwa tenaga Yang nya itu semakin lama semakin tertindih oleh hawa dingin dari lawannya, Tiat To Hoatong mengeluarkan suara bentakan nyaring, di mana tubuhnya telah digetarkan dan bulu-bulu di sekujur tubuhnya seperti berdiri tegak.
Pendeta ini telah mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu Soboc , semacam ilmu yang telah diciptakannya dari intisari Yoga dan intisari lweekang di daratan Tiong-goan ini, di mana sepuluh tahun lebih belakangan ini Tiat To Hoat-ong memang telah merampungkan ilmunya tersebut.
Waktu ilmu itu belum rampung benar, Tiat To Hoat-ong tidak pernah mempergunakannya.
Dan baru kali ini ia ingin mencobanya untuk dipergunakan menghadapi ilmu Swat Tocu.
Soboc ternyata merupakan ilmu tenaga dalam yang luar biasa.
Karena Tiat To Hoat-ong telah berhasil melatih rampung, ia telah mencapai tingkat yang tinggi sekali, di mana ia bisa mempergunakan tenaga murninya sekehendak hatinya.
Setiap kali ilmu tersebut digunakan, bulu-bulu di sekujur tubuh Tiat To Hoatong berdiri, dari seluruh pori-pori kulitnya menguap semacam kekuatan, di mana munculnya tenaga itu bergelombang.
Mula-mula perlahan, namun semakin lama semakin menjadi kuat.
Yang lebih luar biasa lagi, jika tenaga tersebut memperoleh perlawanan, semakin kuat tenaga lawan, semakin kuat daya tolaknya, semakin lunak serangan lawannya, semakin ketat pula libatan tenaga dalam Tiat To Hoat-ong.
Dengan begitu, baik lawan yang berkepandaian tidak begitu tinggi atau memang lawan yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, jika telah terkena serangan itu, niscaya akan mengalami suatu bencana yang tidak kecil.
Kini Tiat To Hoat-ong memang bermaksud mencoba ilmunya itu, yang memang sebelumnya tidak pernah dipergunakan.
Dengan tubuh menggigil, ia telah menggerakkan perlahan-lahan ke dua tangannya.
Soboc memang hebat, karena tidak lama kemudian hawa dingin yang mempengaruhi tubuh pendeta itu berangsur-angsur telah berkurang.
Swat Tocu sendiri terkejut.
Berulangkali ia mengempos semangat dan tenaganya untuk mengirim tenaga Inti Es nya.
Namun setiap kali pula tenaganya itu seperti terbendung oleh suatu kekuatan.
Dan akhirnya lenyap tidak berbekas, sama sekali tidak memberikan hasil, kepada lawannya yang seorang itu tenaga Inti Es nya seperti tidak memiliki keampuhan lagi.
Diam-diam Swat Tocu kaget bukan main.
Ia penasaran.
Karena sejak ia telah melatih sempurna tenaga Inti Es nya itu.
Tidak pernah ada yang sanggup menghadapinya.
Terlebih lagi jika ia telah mempergunakan sampai tingkat kedelapan.
Namun sejauh itu Swat Tocu memang tidak mempergunakan sampai ketingkat delapan begitu juga sekarang, dikala ia menghadapi Tiat To Hoatong, baru mempergunakannya sampai tingkat keenam.
Namun melihat tenaga Inti Es nya itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap Tiat To Hoat-ong, Swat Tocu menambah lagi kekuatan Inti Es nya itu, di mana ia telah mempergunakan kekuatan tingkat ke tujuh.
Maka hawa dingin yang mengurung Tiat To Hoat-ong semakin dingin dan lapisan es yang seperti akan membungkus tubuh Tiat To Hoat-ong semakin tebal juga.
Namun Tiat To Hoat-ong dengan ilmu Soboc nya itu juga telah mengerahkan kekuatan murninya, di mana ia menggetarkan tubuhnya semakin cepat juga, dan di saat itu tampak Tiat To Hoatong tengah berusaha membuyarkan seluruh pengaruh hawa dingin yang menerjang dirinya.
Jika memang ia berhasil memunahkan hawa dingin itu, dan juga berhasil membendung kekuatan tenaga Inti Es yang dipergunakan Swat Tocu, berarti ia akan dapat segera membalas menyerang dengan ilmunya kepada Tocu pulau salju itu.
Dengan semakin cepat dan kerasnya tubuh Tiat To Hoat-ong yang menggigil itu, dan juga bulu-bulu di sekujur tubuhnya yang semakin tegak berdiri dengan pori-pori kulit yang semakin besar terbuka, telah menyebabkan hawa yang muncul menguap dari tubuhnya itu semakin tebal.
Daya pertahanannya semakin kuat, sehingga hawa dingin dari Swat Tocu tidak bisa mendekatinya, walaupun Swat Tocu telah mempergunakan ilmunya itu sampai tingkat ke tujuh!
Yo Him dan Wang Put Liong yang tengah menyaksikan jalannya pertempuran itu dari tempat persembunyian mereka, memandang kagum.
Itulah suatu pertempuran yang jarang sekali terjadi di dalam Kang-ouw.
Begitu juga Cek Tian dan Auwyang Phu, di mana ibu dan anak ini mengawasi takjub dan kagum.
Cek Tian dan Auwyang Phu memang telah melatih ilmu warisan Auwyang Hong.
Seperti diketahui bahwa Auwyang Hong adalah salah seorang dari kelima jago luar biasa juga.
Dengan diwarisinya kepandaian tersebut, yang tertulis seluruh kepandaiannya di kitab yang telah diberikan kepada Cek Tian, berarti Cek Tian maupun puteranya itu telah melatih dengan baik.
Hanya saja, yang kurang buat Auwyang Phu adalah latihan dan pengalaman.
Dan bagi Cek Tian, dia memang telah berusia cukup lanjut, pula ia seorang wanita.
Waktu Auwyang Hong menciptakan ilmunya itu untuk dipergunakan oleh laki-laki, maka tidak sesuai dipergunakan oleh wanita.
Itulah sebabnya Cek Tian tidak bisa melatih diri lagi dengan sempurna.
Pangeran Ghalik yang memiliki kepandaian yang tidak rendah, walaupun tidak setinggi kepandaian Tiat To Hoat-ong, namun dia memiliki kepandaian yang tidak sembarangan.
Ia juga memiliki pengetahuan yang luas, pengalaman yang cukup.
Melihat jalannya pertempuran seperti itu, ia jadi kagum bukan main.
Diam-diam di hatinya berpikir.
Baca Juga: Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan
Baca Juga: Sepasang Pendekar Kembar 2