Eps 2 Beruang Salju - Sin Liong
Baca online Beruang Salju - Sin Liong
Cersil Beruang Salju - Sin Liong.
Waktu itu Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan sedang beristirahat di dalam hutan dan di saat itulah tampak Auwyang Bun memasuki hutan rimba itu, sehingga ia telah turun tangan menyiksa Auwyang Bun, dengan begitu, Auwyang Bun telah menemui kematian yang sangat mengerikan sekali.
Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han justru tidak keburu menyingkirkan diri.
Dengan demikian, Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han telah kena dilukai dengan cara yang mengenaskan sekali.
Dalam keadaan seperti itu.
untung saja masih ada Lie Ko Tie, di mana Khiu Bok Lan telah tertarik untuk mengambilnya menjadi kacungnya.
Dengan demikian, segera juga jiwa dari ke dua manusia jagoan dari rimba persilatan tersebut nyaris terbinasa di tangan Khiu Bok Lan.
"Mari berangkat!"
Kata Khiu Bok Lan sambil memutar tubuhnya.
Lie Ko Tie sambil menggendong mayat bayi Khiu Bok Lan, telah menoleh kepada Lie Su Han dan Sung Ceng Siansu, yang waktu itu telah dapat berduduk.
Tetapi mereka telah terluka cukup parah oleh racun yang sangat berbisa dari Khiu Bok Lan.
Dengan demikian, tenaga mereka seperti telah habis dan membuat mereka jadi tidak bisa segera berdiri.
Hati Lie Ko Tie jadi ngenas sekali melihat keadaan ke dua orang itu.
Ia segera melangkah perlahan mengikuti Khiu Bok Lan.
Lie Su Han dan Sung Ceng Siansu hanya bisa menyaksikan saja kepergian Lie Ko Tie.
Sedangkan Khiu Bok Lan telah melangkah sambil bersenandung dengan suara perlahan.
"Anakku...... kini engkau bisa tidur yang nyenyak...... tidurlah anakku...... engkau telah berada dalam gendongan kacungmu..... tidurlah anakku."
Dan ia telah melangkah terus.
Lie Ko Tie juga tidak berani berayal.
Ia telah mengikuti sampai akhirnya wanita she Khiu itu bersama Lie Ko Tie telah lenyap dari pandangan mata Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han.
Ke dua orang tersebut menghela napas panjang, dan kemudian Sung Ceng Siansu telah berkata dengan suara yang mengandung penyesalan.
"Sayang sekali aku tidak memiliki kepandaian yang lebih tinggi. Dengan begitu, aku tidak bisa melindungi keponakanmu yang telah dibawa pergi oleh iblis wanita itu.....!"
Dan setelah berkata begitu Sung Ceng Siansu menghela napas beberapa kali. Sedangkan Lie Su Han juga menghela napas dengan wajah yang murung.
"Apa yang telah dilakukan oleh Taysu telah lebih dari cukup, karena hampir saja Taysu membuang jiwa akibat membela kami......!"
Katanya.
Ke dua orang ini telah berdiam diri, lalu masing-masing mengerahkan lweekang mereka, untuk memulihkan semangat mereka.
Dan setelah setengah harian duduk bersila di tempat tersebut, mereka berhasil memulihkan pernapasan mereka.
Ke duanya telah kembali ke Siang-yang.
Dan di waktu itulah mereka telah bersepakat untuk pergi menemui Bu Siang Siansu, guru Lie Su Han, untuk merundingkan cara terbaik, guna mengambil pulang Lie Ko Tie dari tangan Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan, wanita iblis yang bertangan telengas tersebut.
◄Y► Lie Ko Tie yang dibawa oleh wanita itu ternyata dibawa masuk ke dalam hutan yang terdapat di situ.
Menyelusuri hutan tersebut dan tiba di depan sebuah tempat yang penuh dengan batu-batu yang saling susun ditindih berukuran besar-besar.
Khiu Bok Lan telah duduk di sebuah batu yang tertonjol keluar kemudian menoleh kepada Lie Ko Tie, sambil tunjuknya ke sebuah batu lainnya.
"Duduklah di situ!"
Katanya dengan suara yang sabar, dan kemudian mengawasi anaknya yang telah menjadi mayat dan berada dalam gendongannya Lie Ko Tie.
Lie Ko Tie duduk di batu yang ditunjuk oleh Khiu Bok Lan dan kemudian mengawasi mayat bayi yang berada dalam gendongannya, lalu ia berkata dengan suara yang perlahan dan ragu-ragu.
"Liehiap...... apakah tidak lebih baik..... lebih baik..... anak ini....."
Tetapi Lie Ko Tie tidak meneruskan perkataannya tersebut.
Khiu Bok Lan memandang kepada Lie Ko Tie.
Ia mengawasinya menantikan anak itu meneruskan perkataannya, tetapi Lie Ko Tie tidak berani meneruskan perkataannya itu.
"Apa yang hendak kau katakan?"
"Aku ingin menyerahkan.... agar..... agar.....bayi ini..... bayi ini......!"
Suara Lie Ko Tie tergagap.
Dan di waktu itulah, ke dua tangannya gemetaran mengangsurkan bayi yang telah menjadi mayat itu, seperti ingin menyerahkan kepada Khiu Bok Lan.
Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan jadi mengawasi Ko Tie dengan sinar matanya yang sangat tajam, kemudian katanya.
"Apa yang hendak kau katakan?"
Suara Khiu Bok Lan terdengar nyaring dan keras.
"Aku ingin menyarankan, apakah tidak....., tidak sebaiknya bayi yang telah menjadi mayat ini dikubur saja.......?"
Menyahuti Lie Ko Tie. Muka Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan jadi berubah merah padam. Matanya mendelik mengawasi Lie Ko Tie. "Apa kau bilang?"
Katanya dengan suara yang mengandung kemarahan.
Ko Tie jadi bungkam, ia jadi ketakutan melihat Khiu Bok Lan dalam keadaan marah seperti itu.
Anak ini telah menundukkan kepalanya dalam-dalam tetapi sepasang tangannya yang menggendong bayi tersebut jadi menggigil semakin keras.
Khiu Bok Lan telah tertawa dingin, katanya.
"Bocah, engkau bicara terlalu sembarangan..... engkau menganjurkan aku agar mengubur anakku itu?"
Ko Tie mengangkat kepalanya dan ia mengangguk ragu.
Tetapi ketika sinar matanya bentrok dengan mata Khiu Bok Lan, ia telah menunduk kembali.
Waktu itu Khiu Bok Lan telah berdiri dari duduknya, ia menghampiri Ko Tie.
Sinar matanya sangat tajam, mengandung kemarahan.
Ko Tie jadi ketakutan, dan ia menunduk saja dengan sepasang tangan yang semakin gemetaran.
Ia kuatir kalau-kalau dirinya disiksa oleh wanita iblis tersebut.
"Bocah!"
Tiba-tiba Khiu Bok Lan membentak dengan suara yang keras, di mana ia telah berkata dengan sikap yang mengancam.
"Rupanya mulutmu itu perlu dirobek!"
Ko Tie semakin ketakutan.
Sepasang tangannya yang memang telah menggigil jadi semakin menggigil keras.
Dan tahu-tahu mayat bayi dalam gendongannya telah terlepas di mana mayat bayi tersebut telah menggelinding jatuh di tanah.
"Ohhh, kau membanting anakku?
Anakku.....
anakku!"
Teriak Khiu Bok Lan sambil melompat dan mengambil mayat bayi itu, yang digendongnya dalam rangkulannya.
Ko Tie sendiri jadi semakin ketakutan.
Ia telah berdiri dari duduknya dan telah beringsut ke dekat sebuah batu lainnya.
Maksudnya jika memang Khiu Bok Lan hendak memukulnya, ia akan melarikan diri.
Di waktu itu setelah menggendong mayat bayinya, Khiu Bok Lan dengan suara bengis berkata kepada Ko Tie.
"Bocah jahat engkau membanting anakku dan engkau harus dihajar sepuluh kali bantingan....."
Sambil berkata begitu, tubuh Khiu Bok Lan telah mencelat ke samping Ko Tie.
Dengan menpergunakan tangannya yang satu, ia telah mencengkeram pundak Ko Tie.
Dan di waktu itulah, sekali menghentak tubuh Ko Tie telah terlempar empat tombak lebih ke tengah udara.
Lalu anak lelaki tersebut jatuh terbanting di atas tanah, menimbulkan suara gedebukan yang sangat keras sekali, dan ia menjerit kesakitan.
Pandangan matanya berkunang-kunang dan juga ia merasakan pinggangnya seperti hendak patah.
Khiu Bok Lan mengeluarkan suara tertawa yang menyeramkan mengandung kemarahan.
Ia melompat lagi dan mengangkat tubuh Ko Tie yang hendak dibantingnya pula.
Ko Tie memejamkan matanya.
Ia yakin, begitu dibanting sekali lagi, tentu jiwanya akan segera melayang......
Tetapi waktu tangan Khiu Bok Lan bergerak hendak melempar Ko Tie ke atas udara, di waktu itulah dari atas tiba-tiba telah meluncur sebungkah batu yang besar sekali, dan lalu menggelinding jatuh serta menimbulkan suara yang berisik sekali meluncur akan menimpa Khiu Bok Lan.
Hal itu benar-benar mengejutkan Khiu Bok Lan, karena ia tidak menyangka akan adanya batu yang longsor seperti itu, terlebih lagi jarak pisah antara batu dengan dirinya tidak begitu jauh.
Tetapi Khiu Bok Lan yang memiliki kepandaian tinggi, mana bisa berdiam diri saja membiarkan dia bersama dengan mayat anaknya dan Ko Tie tertimpah batu besar tersebut?
Dengan gerakan secepat kilat, tubuhnya telah melayang jauh sekali.
Dan batu tersebut telah menimpa tanah di mana tadi Khiu Bok Lan berada dengan menimbulkan suara gedebukan yang sangat keras sekali.
Khiu Bok Lan telah mengangkat kepalanya menengok ke atas dan dilihatnya sesosok tubuh telah bergerak cepat sekali dengan gerakan yang sangat ringan.
Tubuhnya itu seringan kapas dan waktu hinggap di atas tanah tidak menimbulkan suara sedikitpun juga.
Khiu Bok Lan telah menegaskan dan dilihatnya orang yang baru turun itu tidak lain dari seorang pemuda yang mungkin berumur duapuluh tiga tahun atau duapuluh empat tahun.
Wajahnya tampan, dan tubuhnya tegap, dengan pakaian yang sederhana namun bersih.
Pemuda itu waktu hinggap di atas tanah telah membarengi dengan perkataannya.
"Mengapa hendak menyiksa anak kecil tidak berdaya seperti itu.......? Ciecie tentunya engkau tidak akan menurunkan tangan bengis kepada anak yang tidak berdaya itu, bukan?"
Khiu Bok Lan telah mengawasi pemuda tersebut dengan sorot mata yang tajam, dan kemudian katanya.
"Siapa kau? Ada urusan apa kau mencampuri urusanku?"
Khiu Bok Lan bertanya begitu karena biasanya setiap orang yang bertemu dengannya, tentu akan ketakutan, tetapi pemuda yang baru muncul ini justru tidak memperlihatkan perasaan takut sedikitpun juga.
Pemuda itu dengan sikap yang sabar telah menyahuti.
"Siauwte she Yo dan bernama Him kebetulan tadi lewat di tempat ini dan melihat Ciecie yang hendak menyiksa anak tidak berdaya itu, dan mengapa mayat bayi yang telah kaku seperti itu tidak dikubur?"
Muka Khiu Bok Lan jadi berubah merah padam.
Ia menghentakkan tangannya, maka tubuh Ko Tie yang sejak tadi berada dalam cengkeramannya telah terlempar dan meluncur akan terbanting di atas tanah.
Pemuda itu, Yo Him yang melihat ini, gesit sekali telah melompat sambil mengulurkan tangannya.
Gerakan yang dilakukannya cepat sekali, sehingga mudah saja ia menyambar punggung Ko Tie dan ia telah berhasil mencegah Ko Tie terbanting.
Dengan sabar Yo Him menurunkan tubuh anak tersebut, yang berdiri di sampingnya.
Ke dua kaki Ko Tie masih menggigil karena anak ini masih diliputi perasaan ketakutan.
Yo Him mengusap-usap kepala anak tersebut.
Ia berkata dengan sabar.
"Jangan takut. Ciecie itu tentu tidak akan mengganggumu lagi!"
Tetapi Khiu Bok Lan seperti juga tidak memperdulikan Yo Him, telah menina bobokan anaknya. Yang ditimang-timangnya, sambil bersenandung dengan suara yang perlahan.
"Anak yang baik, tidurlah kembali, tadi kau kaget terjatuh bukan? Tidurlah kembali...... tidurlah kembali!"
Dan sambil menina bobokan anak itu, ia telah mengayun-ayunkan mayat bayi tersebut dalam gendongannya, sedangkan tubuhnya telah bergerak perlahan melangkah dua tindak ke dekat Yo Him.
Tahu-tahu tangannya yang satu dipergunakan untuk menjambret baju Yo Him.
Gerakan Khiu Bok Lan cepat sekali, dan juga cakaran yang dilakukannya itu merupakan cakaran maut yang bisa mematikan, kalau saja kuku jari tangannya yang mengandung racun itu mengenai sasarannya.
Tetapi Yo Him hanya tersenyum saja, walaupun Khiu Bok Lan bergerak cepat sekali, tokh pemuda itu bisa mengelakkan sambaran tangan Khiu Bok Lan dengan mudah, dan tanpa merubah kedudukan ke dua kakinya.
Tampak ia telah menggerakkan tangan kanannya, akan menotok jalan darah "Bunsu-hiat"
Di dekat lengan Khiu Bok Lan.
Totokan itu merupakan totokan yang biasa saja, tetapi karena dilakukan oleh Yo Him.
pemuda yang memiliki tenaga dalam telah mahir, dengan sendirinya totokan tersebut bisa membahayakan orang yang menjadi lawannya, kalau saja mengenai sasaran dengan tepat.
Khiu Bok Lan sendiri terkejut.
Belum lagi jari telunjuk Yo Him tiba, justru ia telah merasakan hebatnya sambaran angin dingin yang menyerap seperti masuk ke dalam tulang lengannya.
Cepat ia menarik pulang tangannya membatalkan cakarannya, dan kemudian sambil tetap bersenandung menina-bobokan anaknya yang telah menjadi mayat itu, ia berkata dengan suara yang dingin.
"Kau harus binasa dengan keadaan yang lebih mengerikan dibandingkan dengan korbanku yang terdahulu......!"
Dan tangannya itu telah berkelebat cepat sekali.
Saking cepatnya, tangannya telah berubah menjadi beberapa tangan yang berkelebat menyambar ke berbagai bagian anggota tubuh Yo Him yang mematikan.
Yo Him heran juga melihat wanita tersebut memiliki kepandaian yang demikian tinggi.
Namun dilihat dari kelakuannya, tampaknya seperti wanita yang kurang beres pikirannya, karena menggendong-gendong dan menina bobokan bayi yang telah menjadi mayat itu.
Tetapi Yo Him juga tidak bisa berdiam diri saja, karena Khiu Bok Lan telah menyerangnya dengan cakaran-cakaran yang begitu gencar dan mematikan, mengincar bagian-bagian anggota tubuh yang bisa mematikan jika terkena cakaran tersebut.
Juga di waktu itu Yo Him berhasil mengendus bau amis yang menusuk hidung, waktu tangan wanita cantik yang memiliki ilmu tinggi tersebut berseliweran ke arah tubuhnya.
Segera ia mengetahui bahwa pada kuku-kuku jari tangan wanita ini tentunya diborehkan racun.
Tanpa ayal, Yo Him telah menggerakkan ke dua kakinya, melangkah dengan aturan pat-kwa, di mana ke dua kakinya bergerak-gerak di situ-situ juga, namun tubuhnya telah berkelebat cepat.
Dan semua cakaran yang dilakukan wanita itu telah berhasil dielakkannya.
Malah kalau bergerak menurut aturan pat-kwa tersebut, Yo Him tidak meninggalkan Ko Tie yang tetap berada di sisinya, dilindunginya kalau wanita tersebut menyerang Ko Tie.
Khiu Bok Lan yang melihat kejadian ini jadi penasaran bukan main.
Jarang sekali ia gagal dalam cakaran yang dilakukannya karena ilmu mencakarnya tersebut telah dilatihnya dengan baik.
Dan baru kali ini ia bertemu dengan lawan yang berhasil menghindarkan diri dari setiap cakarannya tersebut dengan cara yang begitu amat mudah.
Dengan demikian, membuat Khiu Bok Lan memusatkan tenaga dalamnya pada setiap jari tangannya dan telah melancarkan cakaran-cakaran yang jauh lebih cepat dan mempergunakan jurusjurus yang lebih aneh.
Mulutnya masih bersenandung tetapi senandungnya itu perlahan sekali, karena Khiu Bok Lan lebih mencurahkan perhatiannya kepada lawannya.
Yo Him yang telah diserang berulang kali seperti itu tidak berdiam diri lagi.
Melihat Khiu Bok Lan melakukan cakaran pula dengan gerakan yang lebih membahayakan, di waktu itulah Yo Him telah mempergunakan ke dua tangannya bergerak dengan cepat untuk menyampok pergelangan tangan lawannya dan tangannya yang satu mendorong kuat sekali ke arah bahu wanita itu.
Apa yang dilakukan oleh Yo Him merupakan gerakan yang liehay sekali.
Maka dalam sekejap mata saja, ia telah berhasil menangkis tangan Khiu Bok Lan.
Dan tangannya yang satu telah berhasil untuk mendorong bahu wanita yang liehay itu.
Khiu Bok Lan sesungguhnya hendak mengelakkan benturan tangan Yo Him.
Waktu melihat pergelangan tangannya dapat ditangkis dengan begitu kuat sekali oleh pemuda itu, ia membuat tubuhnya doyong ke belakang.
Namun gerakan yang dilakukannya itu tidak membantu banyak.
Telapak tangan Yo Him tiba di pundaknya, dan tubuh Khiu Bok Lan seperti didorong oleh serangkum kekuatan yang besar sekali, yang membuat tubuhnya jadi terhuyung mundur akan terjengkang.
Untung Khiu Bok Lan memang memiliki kepandaian tinggi, ia telah membarengi dengan jejakkan kakinya.
Tubuhnya jadi melompat mundur dengan meminjam tenaga dorongan Yo Him juga, di mana tubuhnya kemudian turun dua tombak lebih di waktu mana kekuatan dorongan telapak tangan Yo Him telah lenyap.
"Anakku..... tidurlah..... tidurlah.....ibu hendak membereskan seekor babi hutan dulu.....!"
Walaupun tubuhnya telah terdorong seperti itu, toh Khiu Bok Lan masih bersenandung dengan suara yang perlahan, menina bobokan mayat anaknya.
Tetapi walaupun mulutnya bersenandung begitu.
Ia telah melangkah maju lagi, di mana ia menggerakkan tangannya yang kanan untuk mencengkeram ke arah batok kepala Yo Him.
Gerakan yang dilakukannya itu seperti juga gerakan seekor harimau yang hendak mencakar lawan.
Cepat bukan main, karena ke lima jari itu telah dipentang lebar-lebar, dan memang kuku jari tangannya itu runcing dan tajam sekali, yang sering dipergunakan untuk mencakar robek kulit bagian tubuh lawannya.
Sekarang ia menyerang begitu, bagaikan hendak membenamkan ke lima kuku jari tangannya itu di kepala Yo Him.
"Serangan yang telengas sekali......!"
Teriak Yo Him terkejut waktu melihat cara menyerang Khiu Bok Lan.
Tubuhnya menyingkir ke samping kiri dua langkah.
Lalu dengan gerakan yang cepat, Yo Him telah mempergunakan gerakan "Kodok Mendorong rembulan", ilmu pukulan tangan kosong yang diperolehnya dari Ciu Pek Thong.
Hebat kesudahan dari dorongan tangan Yo Him, karena ia telah mendorong dengan kekuatan lweekang yang benar-benar terlatih baik, sehingga dorongannya itu menimbulkan suara yang bergemuruh berisik.
Cara menyerang Yo Him memang aneh.
Telapak tangannya mendorong tapi waktu telapak tangan meluncur akan mendorong di waktu itulah telapak tangan itu seperti turun naik tidak menentu, sehingga arah sasaran dari serangannya itu tidak berkepastian.
Dan memang Khiu Bok Lan sendiri heran dan terkejut melihat cara menyerang Yo Him, terlebih lagi ia merasakan tenaga yang menerjang kepadanya begitu kuat, membuat Khiu Bok Lan tidak berani meneruskan cakaran jari tangannya kepada kepala Yo Him.
Ia menarik pulang tangan kanannya itu dan menangkis tangan Yo Him.
Namun tenaga dorongan Yo Him telah tiba lebih dulu, dan tanpa ampun lagi tubuh Khiu Bok Lan telah terdorong mundur lagi beberapa langkah ke belakang.
Dengan begitu terlihat wanita cantik she Khiu tersebut telah berusaha mengerahkan tenaga dalamnya pada kukunya, telah berdiri tertegun mengawasi Yo Him, seperti juga tidak mau mempercayai bahwa pemuda yang berada di hadapannya ini memang memiliki kepandaian begitu tangguh.
Yo Him telah tertawa lagi, katanya.
"Ciecie. mengapa engkau harus mendesak aku dengan serangan yang mematikan seperti itu? Bukankah di antara kita tidak terdapat permusuhan atau persoalan apapun juga?"
Sabar waktu Yo Him bertanya begitu. Khiu Bok Lan telah tertawa dingin, katanya.
"Anakku telah terganggu tidurnya. Tadipun telah terbanting oleh bocah itu, maka bocah itu perlu dihajar untuk menebus dosanya. Kau serahkan bocah itu dan engkau boleh angkat kaki tidak akan kuganggu......!"
Yo Him tertawa.
katanya "Anak ini masih terlalu kecil, ia belum bisa apa-apa, belum mengerti urusan.
Mengapa cici harus melayaninya?
Biarlah, jika engkau tidak keberatan, anak ini akan kubawa serta......!!"
Muka Khiu Bok Lan menjadi merah, ia marah sekali. "Apakah dengan mudah kau hendak membawa kacungku?"
Bentak Khiu Bok Lan dengan suara bengis.
"Hemm, jika tetap ingin mencampuri urusanku, jangan harap kau meninggalkan tempat ini dengan bernapas.....!"
Setelah berkata begitu, segera tampak tubuh Khiu Bok Lan melompat ke tengah udara, ke dua tangannya berulangkali menyambar hendak mencakar dan mencengkram tubuh Yo Him.
Tetapi Yo Him beberapa kali mengelakkan cakaran dan cengkraman itu dengan mudah.
Dan sama sekali ia tidak memperoleh kesulitan untuk memunahkan setiap serangan yang dilakukan Khiu Bok Lan.
Di waktu itu, sambil mengeluarkan tawa yang menyeramkan, Khiu Bok Lan berkata.
"Engkau rupanya memang sengaja hendak mencari urusan denganku...........!"
Dan berbareng dengan perkataannya, ia telah melompat ke samping meletakkan mayat bayinya di atas batu. Katanya dengan suara yang penuh kasih sayang pada mayat bayi tersebut.
"Anakku tidurlah dulu. Ibu hendak membereskan babi hutan itu!"
Setelah meletakan mayat bayi tersebut di atas batu, tubuh Khiu Bok Lan dengan cepat telah berkelebat seperti juga sesosok bayangan yang mengelilingi tubuh Yo Him dan Ko Tie, di mana tampak ke dua tangannya bergerak dengan cepat.
Saking cepatnya, ke dua tangannya itu seperti telah menjadi seperti sepuluh pasang tangan, berkelebat ke sana ke mari, dengan ancaman bahaya maut untuk Yo Him, terkadang juga menjurus ke diri Ko Tie.
Melihat serangan wanita cantik yang liehay namun memiliki tangan telengas tersebut.
Yo Him tidak bisa main-main lagi menghadapinya.
Dengan bersungguh-sungguh ia berkata.
"Ciecie, engkau terlalu mendesakku......!"
Dan setelah berkata begitu, Yo Him juga bergerak cepat sekali.
Pertama tangan kanannya merangkul pinggang Ko Tie, yang dikempitnya.
Dengan begitu ia bermaksud melindungi Ko Tie, sebab bisa saja terjadi Khiu Bok Lan menurunkan tangan bengis dan mengandung maut kepada anak tersebut.
Setelah mengempit, sambil berkelit beberapa kali, Yo Him mempergunakan tangan kirinya memberikan perlawanan.
Dari telapak tangan kirinya telah berkesiuran angin hebat sekali.
Khiu Bok Lan boleh lihai tapi kenyataannya ia tidak berdaya menghadapi Yo Him, karena Yo Him memiliki kepandaian yang benar-benar telah tinggi, memiliki bermacam kepandaian yang beraneka ragam, diperoleh dari It Teng Taysu, Ciu Pek Thong, Yo Ko, Siauw Liong Lie, dan juga telah berguru kepada Oey Yok Su sehingga mewarisi seluruh kepandaian Oey Yok Su.
Dengan demikian, Yo Him merupakan seorang pemuda yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.
Setelah bertempur sepuluh jurus lebih, waktu itu Yo Him mulai mengeluarkan ilmu yang diperolehnya dari Tocu Tho-hoa-to, yaitu Oey Yok Su.
Ke dua kakinya bergerak-gerak menurut gerakan patkwa, dan juga tangannya telah menyambar-nyambar cepat sekali, menindih kecepatan bergerak ke dua tangan Khiu Bok Lan.
Dengan begitu, tampak tubuh Khiu Bok Lan beberapa kali terhuyung, disamping selalu gagal untuk mencakar dan mencengkeram, juga Khiu Bok Lan telah terkena gempuran yang dilakukan Yo Him.
Dengan demikian, lewat lagi empat jurus, telapak tangan kiri Yo Him telah menghantam tepat sekali pada punggung wanita bertangan telengas itu.
Tubuh Khiu Bok Lan terhuyung ke depan beberapa langkah, dia segera memuntahkan darah segar, tubuhnya mengigil.
Ia berdiri di tempatnya sejenak lamanya, seperti mengatur jalan pernapasannya di mana tenaga dalamnya telah tergempur.
Yo Him juga tidak melakukan penyerangan lagi, ia berdiri di tempatnya sambil dia kempit terus Ko Tie, katanya dengan sabar.
"Ciecie, apakah akan diteruskan pertempuran ini?"
Khiu Bok Lan telah memutar tubuhnya, ia berkata dengan sengit, mukanya merah padam dan mengandung penasaran.
"Kali ini engkau memang menang, tetapi tunggulah, aku tentu akan mencarimu! Walaupun engkau lari ke ujung langit, tentu aku akan menemukanmu....."
Sehabis berkata begitu tubuh Khiu Bok Lan telah melompat gesit sekali di mana ia telah melompat ke dekat batu yang tadi dipergunakan meletakkan bayinya.
Tangannya cepat sekali menyambar mayat bayi tersebut lalu dengan bersenandung perlahan.
"Tidurlah anakku..... kita pergi dari tempat ini, nanti aku akan menangkap babi hutan itu untukmu, tidurlah.....!" dan sambil bersenandung begitu, ia melangkah meninggalkan tempat tersebut, tetapi langkah kakinya sering sempoyongan. Rupanya Khiu Bok Lan telah terluka di dalam yang cukup berat. Dan wanita cantik yang sinting ini menyadari bahwa jika ia terus bertempur dengan Yo Him tentu yang celaka adalah dirinya, maka ia telah mengundurkan diri dan meninggalkan tempat tersebut. Melihat wanita yang tingkahnya sinting seperti itu telah berlalu, Yo Him menurunkan Ko Tie, katanya.
"Engkau tak perlu takut, perempuan jahat itu telah pergi. Siapa namamu?"
Ko Tie menyebutkan namanya dan ia mengatakan.
"Terima kasih atas pertolongan yang..... diberikan oleh paman."
Yo Him menanyakan pada Ko Tie, mengapa anak tersebut bisa terjatuh ke dalam tangan wanita yang kejam dan bertangan telengas itu.
Ko Tie segera menceritakannya.
Dan Yo Him setelah mendengar cerita Ko Tie mengajak anak tersebut untuk menuju ke Siang-yang guna menemui Lie Su Han dan Sung Ceng Siansu.
Namun setibanya mereka di Siang-yang, Yo Him tidak menemukan ke dua orang itu, baik Lie Su Han dan Sung Ceng Siansu sudah tidak berada di rumah penginapan di mana sebelumnya Ko Tie diajak Lie Su Han menginap.
Rupanya Lie Su Han dan Sung Ceng Siansu telah meninggalkan Siang-yang.
Yo Him menanyakan Ko Tie ke mana ia hendak pergi.
Anak itu sendiri jadi bingung, ia menangis dan menceritakan bahwa ia sudah tidak memiliki ayah dan ibu lagi, dan tidak memiliki sanak famili selain Lie Su Han, pamannya itu.
Dan kini pamannya itu sudah tidak berada di Siang-yang, dengan demikian ia tidak tahu harus pergi kemana.
Mendengar cerita anak tersebut hati Yo Him tergerak.
"Apa engkau bersedia ikut denganku?"
Ia tanya kemudian. Ko Tie mengangguk cepat.
"Jika memang paman Yo tidak keberatan, tentu menggembirakan sekali kalau memang aku bisa turut serta dengan kau."
Sambil berkata begitu, Ko Tie telah menekuk ke dua kakinya, ia berlutut di hadapan Yo Him.
Cepat-cepat Yo Him membangunkan anak itu, ia telah perintahkan Ko Tie duduk di kursinya kembali.
Yo Him mengajak Ko Tie bersantap setelah itu mereka meninggalkan Siang-yang.
Ternyata Yo Him sejak meninggalkan Tho-hoa-to telah mengembara di dalam dataran Tiong-goan.
Dengan begitu Yo Him hendak menghibur hati, karena ia berduka sekali jika membayangkan betapa kerajaan Song telah terjatuh ke dalam tangan Kublai Khan.
Dengan demikian, maka Yo Him semakin tak memperdulikan keadaan perkembangan pemerintahan di saat itu, di mana Kublai Khan telah mengeluarkan peraturan-peraturan, yang mengharuskan rakyat di Tiong-goan mengkepang rambutnya, juga harus bicara mempergunakan bahasa Mongolia.
Dan pula mengenai pajak-pajak yang membebani rakyat.
Semua itu semakin dilihat semakin mendatangkan kesedihan di hati Yo Him.
Pemuda ini hanya bertekad, jika ia bertemu dengan peristiwa yang tak adil, maka ia akan membantunya, turun tangan membereskannya, tetapi sama sekali Yo Him tidak bermaksud untuk mencampuri soal-soal yang menyangkut urusan kepemerintahan.
Tentang peraturan yang juga dikeluarkan Kublai Khan, bahwa rakyat di daratan Tiong-goan harus mengkepang rambutnya, pun tak dipatuhi oleh Yo Him, di mana ia hanya mengikat rambutnya dan kemudian dia memakai sebuah kopyah.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, memang Yo Him bisa melakukan banyak sekali perbuatan-perbuatan mulia, membela yang lemah tertindas dari si kuat tetapi jahat.
Dengan begitu, Yo Him bisa terhibur juga hatinya, karena dirinya memiliki kepandaian yang tinggi seperti itu, ia sama sekali tidak pernah menemui kesulitan dalam melakukan segala tindakantindakannya.
Dengan demikian, nama Yo Him semakin terkenal saja, dengan julukannya Sin-tiauw-thian-lam, Rajawali Sakti dari Langit Selatan.
Sekarang dengan ikut sertanya Ko Tie, Yo Him mengajak anak tersebut ke tempat yang indah, untuk pesiar dan menikmati keindahan alam yang ada.
Dengan Begitu, Yo Him berusaha untuk menghibur anak ini agar riang gembira.
Ko Tie juga melihat bahwa Yo Him sangat sayang padanya.
Hanya hatinya sering merasa berduka jika ia teringat kepada Lie Su Han, pamannya.
Ia menguatirkan keselamatan dan kesehatan pamannya tersebut.
Sering Ko Tie menyatakan kepada Yo Him perasaannya itu, dan Yo Him mengatakan, bahwa mereka kelak akan mencari Lie Su Han, paman Ko Tie tersebut.
Tetapi Ko Tie ketika ditanya Yo Him di mana tempat Lie Su Han ini, juga tidak mengetahuinya.
Dan juga Ko Tie memang tidak mengetahui dari Siang-yang pamannya itu akan pergi ke mana.
Selama mengajak Ko Tie melakukan perjalanan bersama dengannya, Yo Him juga telah menurunkan sejurus dua jurus ilmu silat, pada dasarnya.
Ia juga telah melatih ilmu meringankan tubuh anak kecil itu.
Ko Tie ternyata memiliki otak yang cukup terang.
Walaupun tidak terlalu luar biasa, namun iapun bukan seorang anak yang bodoh.
Setiap pelajaran ilmu silat yang diajarkan Yo Him dapat diterimanya dengan baik.
Dengan demikian Yo Him jadi bergembira dan bersemangat mendidik anak itu.
Beberapa macam ilmu pukulan kepalan tangan kosong, telah diajarkan juga kepada anak tersebut.
Hari itu mereka berada di propinsi Kwie-cu, di mana mereka berada di luar kota Lung-an-kwan, terpisah puluhan lie di sebuah tegalan rumput yang tumbuh cukup lebar.
Yo Him dan Ko Tie tengah melakukan perjalanan dengan sikap yang gembira dan juga telah bercakap-cakap juga.
Banyak yang diceritakan Yo Him mengenai keadaan di rimba persilatan.
Terutama sekali Yo Him menceritakan kepada Ko Tie mengenai peperangan di Siang-yang, di mana saatsaat jatuhnya kota tersebut ke dalam tangan Kubilai Khan.
Sedang mereka bercakap-cakap sambil melakukan perjalanan, di waktu itu dari arah belakang mereka terdengar suara derap langkah kaki kuda, yang tengah mencongklang cepat sekali.
Dan juga tidak lama kemudian, waktu Yo Him dan Ko Tie menoleh ke belakang, mereka melihat seekor kuda berbulu kuning kecoklatan tengah berlari dengan cepat dan gesit sekali.
Tubuh kuda itu tinggi besar, merupakan potongan kuda Mongolia.
Yo Him menarik tangan Ko Tie, yang diajaknya minggir, karena Yo Him melihat kuda itu mencongklang cepat sekali menuju ke arah mereka.
Seperti juga akan menerjang mereka.
Penunggang kuda tersebut seorang lelaki bertubuh tinggi besar, memelihara berewok yang tebal dan kaku, dengan kopiah yang melesak menutupi kepalanya dan juga dengan pakaian yang singset berwarna hitam.
Tetapi waktu itu ia melarikan kuda tunggangannya itu dengan tubuh yang agak dibungkukkan, tangan kirinya memegang tali les, sedang tangan kanannya memegangi dadanya, dari mana mengucur darah merah membasahi tangannya.
Rupanya penunggang kuda itu tengah terluka pada dadanya oleh senjata tajam.
Ketika kuda tunggangannya berlari cepat akan melewati Yo Him dan Ko Tie.
Di saat itulah tampak lelaki berewokan tersebut sudah tak bisa mempertahankan dirinya.
Tubuhnya bergoyang-goyang dan akhirnya telah terlempar dari punggung kudanya, terbanting di atas rumput yang cukup tebal.
Yo Him mengerutkan alisnya, ia cepat-cepat mengajak Ko Tie menghampiri.
Di waktu itu, ia telah melihat lelaki berewok tersebut telah rebah telentang di atas rumput dengan napas yang lemah sekali.
Wajahnya yang garang itu pucat sekali dan tangannya masih memegangi luka di dadanya, mulutnya yang tampaknya kering itu telah mengeluh perlahan, keluhan kesakitan.
Kuda tunggangan orang tersebut telah berlari cepat sekali, mencongklang terus walaupun majikannya telah terbanting jatuh di rumput.
Sekejap mata saja kuda tunggangan tersebut telah lenyap dari pandangan mata.
Yo Him berjongkok untuk memeriksa keadaan orang tersebut.
Ia melihat luka di dada lelaki itu cukup besar, di mana di bagian dadanya itu merobek ke arah dada kiri dan juga seperti telah terluka di bagian dadanya itu oleh tabasan mata pedang.
Dan waktu itu.
lelaki berewokan tersebut tengah mengeluh dengan suara yang perlahan sekali.
"Air...... Air.....!"
Yo Him cepat-cepat mengambil kantong airnya, membuka tutupnya dan memberi minum kepada orang tersebut.
Setelah cukup banyak meneguk air, kesegaran lelaki berewok itu agak pulih dan ia menoleh memandang sayu pada Yo Him tanyanya dengan suara lemah.
"Siapa...... siapakah Kongcu.....?! Terima kasih....... terima kasih atas pertolongan yang diberikan olehmu!" Yo Him mengulapkan tangannya, katanya.
"Jangan berkata begitu. Sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong satu dengan yang lainnya...... Mengapa saudara terluka demikian rupa?"
"Aku..... aku telah dilukai oleh Tok-ong-kiu-cie (Raja Racun Berjari Sembilan). Aku terkena tabasan mata pedangnya yang beracun, sehingga aku...... aku akan segera terbinasa...... karena racun itu akan bekerja setelah lewat dua kali duapuluh empat jam...... dan sekarang telah lewat dua hari dua malam, di mana racun ini mulai bekerja...... sehingga....... sehingga seluruh tenagaku habis..... dan mungkin malam ini, malam terakhir aku bisa hidup terus..... Karena racun itu telah mulai bekerja dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya..... seluruh otot dan urat di tubuhku akan hancur, dan juga daging tubuhku akan mencair busuk.....!"
Mendengar perkataan mengerutkan alisnya. lelaki berewok tersebut, Yo Him "Racun yang jahat sekali..... permusuhan apakah yang terdapat antara saudara dengan Tok-ong-kiu-cie itu?"
Tanya Yo Him kemudian.
"Aku hanya menemuinya untuk meminta semacam obat untuk suhengku, tetapi..... ia tak mau memberikannya, sehingga aku mendesaknya terus, dan kami bertempur, di mana akhirnya aku telah dilukai begini rupa.....!"
Yo Him menghela napas, ia meminta lelaki berewok tersebut mengangkat tangan kanannya yang memegangi lukanya tersebut, dan kemudian memeriksa luka itu dengan teliti.
Dilihatnya, sesungguhnya robekan yang terjadi pada kulit di dada lelaki berewok tersebut, tidak terlalu dalam, hanya lebar.
Dan di sekeliling bekas luka tersebut tampak sinar kehitam-hitaman, rupanya daging di bagian tempat terluka tersebut juga mulai membusuk.
Dengan demikian, tampaknya lelaki berewok itu memang telah keracunan yang hebat.
Yo Him cepat-cepat merogoh saku bajunya ia mengeluarkan semacam yo-wan (obat pil) yang berwarna merah darah, katanya.
"Walaupun obat ini bukan merupakan obat nomor satu di dalam dunia tetapi memiliki khasiat yang cukup ampuh untuk menyembuhkan orang yang keracunan. Memang racun yang dipergunakan oleh Tok-ong-kiu-cie itu tidak kuketahui. Entah ia mempergunakan racun apa, tetapi kukira pil ini bisa mengurangi sedikit rasa sakit dan juga bisa membendung bekerjanya racun itu sementara waktu. Tetapi lelaki berewok tersebut menggelengkan kepalanya lemah sekali. Iapun tersenyum.
"Terima kasih kongcu..... terima kasih atas maksud baikmu itu..... tetapi sayang sekali racun yang dipergunakan oleh Tok-ong-kiu-cie ini merupakan racun yang bekerjanya sangat hebat, dan juga tidak mungkin bisa dipunahkan oleh obat biasa. Itulah racun "
Sam-huntok"
Yaitu racun Tiga Arwah, di mana jika seseorang terkena racun ini, dua hari pertama memang masih tidak mengalami sesuatu, tetapi setelah memasuki hari ketiga, arwah tidak mungkin bisa direbut kembali dari malaikat elmaut.
Percuma saja.....
bukan aku tidak mempercayai khasiat dari obat pilmu itu, tetapi memang tidak mungkin racun yang telah mengendap di dalam tubuhku ini dapat dipunahkan oleh obat itu......!"
Yo Him baru pertama kali mendengar perihal Tok-ong-kiu-cie.
si Raja Racun Berjari Sembilan itu, dan juga baru pertama kali ini ia mendengar perihalnya racun Sam-hun-tok tersebut.
Dilihatnya napas lelaki berewok itu telah semakin perlahan, dan juga sewaktu itu, rupanya lelaki berewok tersebut telah semakin lemah.
Setelah memaksa dua kali dan orang brewok itu masih menolak, akhirnya Yo Him menyimpan lagi obatnya itu.
Ia masukan kembali ke dalam sakunya.
"Kongcu,"
Kata lelaki berewok tersebut sambil mengawasi Yo Him.
"Ada sesuatu permintaan yang hendak kuajukan, meminta pertolonganmu. Entah kau akan meluluskannya atau tidak?"
"Katakanlah, jika memang aku bisa membantu, tentu aku akan membantunya......!"
Kata Yo Him cepat.
"Aku telah terluka oleh racun Sam-hun-tok dan hanya bisa disembuhkan oleh semacam obat..... obat yang luar biasa.....!"
"Obat apa itu?"
Tanya Yo Him.
"Obat yang luar biasa dan sulit sekali diperoleh...... tetapi aku telah yakin tidak mungkin aku bisa memperolehnya......!"
Menyahuti lelaki berewok tersebut dengan suara yang semakin lemah.
Yo Him memperhatikan muka lelaki berewok itu yang semakin pucat dan bibirnya telah mengering kembali, tampak tergetar.
"Katakanlah.....
mungkin aku bisa mencarikannya,"
Kata Yo Him. Tetapi lelaki brewok tersebut menggelengkan kepalanya. tersenyum lemah sambil "Tidak..... tidak mungkin,"
Katanya.
"Obat itu sukar sekali diperoleh. Tidak semua orang bisa memiliki dan tidak mungkin terdapat pada tabib-tabib biasa..... obat itu hanya dimiliki oleh seseorang......!"
Berkata sampai di situ orang berewok yang tengah terluka keracunan itu menggeliat.
Ia mengeluh kesakitan dan tangan kanannya telah memegangi lukanya, mukanya semakin pucat.
Yo Him cepat-cepat menotok beberapa jalan darah di sekitar lukanya untuk mengurangi perasaan sakit yang diderita oleh lelaki berewok tersebut, tetapi usaha yang dilakukan oleh Yo Him ternyata tidak berhasil.
Tampaknya lelaki berewok tersebut semakin menderita kesakitan.
Beberapa kali ia merintih, suaranya semakin lemah dan perlahan, akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.
Melihat itu, Yo Him tahu ia tidak boleh berlaku ayal untuk menolong jiwa orang ini.
Segera ia mengeluarkan lagi obat yang tadi ditolak oleh lelaki berewok tersebut.
Ia memijit pil tersebut dengan mempergunakan tenaga lweekangnya, dan di waktu itu telah membuat pil tersebut terpijit menjadi bubuk halus dan memasukkannya ke dalam mulut lelaki brewok tersebut.
Dan lalu menuangkan sedikit air ke dalam mulut lelaki berewok itu, lalu ia memijit di bawah dagu lelaki berewok tersebut sehingga bubuk obat itu terdorong oleh air masuk tenggorokan orang itu.
Kemudian Yo Him meminta Ko Tie agar memeluk lehernya, menggemblok di punggungnya.
Dan sambil menggendong Ko Tie, tampak Yo Him telah mengangkat tubuh lelaki berewok tersebut, ia berlari cepat sekali.
Tujuannya adalah kota atau kampung yang terdekat dengan tempat itu.
Ia menggunakan ginkangnya, tubuhnya seperti terbang, di mana ke dua kakinya bagaikan tidak menginjak rumput.
Dan di saat itu biarpun ia membawa Ko Tie di punggungnya dan juga membawa tubuh lelaki berewok tersebut dengan ke dua tangannya, namun tidak mengurangi kepesatan larinya Yo Him.
Tidak lama kemudian Yo Him telah melihat pintu kota Lung-ankwan.
Ia mempercepat larinya dan tubuhnya bagaikan terbang memasuki pintu kota.
Ia berpapasan dengan beberapa penduduk kota tersebut yang memandang heran sekali.
Yo Him tidak memperdulikannya.
Ia berlari terus memasuki kota itu, mencari rumah obat.
Setelah melewati tiga lorong yang panjang di dalam kota itu, ia melihat sebuah rumah obat itu yang cukup besar, maka dihampirinya rumah obat itu untuk meminta tabib pemilik rumah obat tersebut memeriksa luka lelaki berewok yang digendongnya.
Pemilik rumah obat itu adalah seorang tabib yang sudah lanjut usia, mungkin telah tujuhpuluh tahun, memakai baju thung-sia dengan hun-cwe (pipa tembakau yang memiliki batang panjang), memelihara kumis sedikit, yang telah berubah warnanya menjadi putih.
Ketika memeriksa luka di dada lelaki berewok tersebut, lelaki itu mengerutkan alisnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
Lalu ia bilang dengan suara perlahan.
"Sayang sekali telah terlambat..... ia tidak mungkin tertolong....."
Dan tabib itu telah menghela napas lagi.
"Sianseng tolonglah.....!"
Kata Yo Him memohon dengan sangat, ia juga sangat berkuatir sekali.
"Mungkin Sianseng memiliki semacam obat yang bisa memperlambat menjalarnya racun itu."
Tabib itu berdiam sejenak seperti berpikir lalu dia berkata dengan suara yang perlahan.
"Baiklah biarlah aku memberikan padanya ramuan dari campuran Bwee-tan, Kiok-cie, Sin-lung dan Cuk-liutan. Mungkin ramuan ini bisa memperpanjang namun setelah itu tidak mungkin orang ini hidup lebih lama lagi......!"
Setelah berkata begitu, tabib tersebut segera bekerja meramu obat-obatan yang disebutkannya tadi.
Dengan bantuan Yo Him akhirnya tabib itu telah mencekoki lelaki berewok tersebut dengan ramuan obatnya itu.
Yo Him sendiri berpikir, jika memang ramuan obat tabib itu mujarab dan benar-benar lelaki berewok itu bisa diperpanjang hidupnya selama lima hari, ia akan berusaha mencari obat yang diperlukan oleh lelaki berewok itu.
Selesai mencekoki obat itu ke dalam mulut lelaki berewok tersebut segera tabib itu berkata pada Yo Him.
"Semua bahan obat-obatan yang telah kucampur menjadi satu untuk diberikan kepada dia terdiri dan bahan obat-obatan yang serba mahal, dengan harga seluruhnya limabelas tail perak.....!" Yo Him tidak rewel-rewel lagi telah membayar harga yang diminta tabib itu, lalu dengan mengajak Ko Tie meninggalkan rumah obat tersebut. Yo Him telah menggendong si lelaki berewok untuk mencari rumah penginapan. Di dalam kamar rumah penginapan, Yo Him melihat bahwa napas lelaki berewok mulai lancar walaupun masih lemah. Namun wajahnya tidak memperlihatkan ia tengah menderita kesakitan, tenang sekali tidurnya. Yo Him menghela napas dalam-dalam ia berpikir.
"Kalau dilihat dari cara berpakaiannya, tampaknya ia seorang Kang-ouw yang memiliki kepandaian tidak rendah. Namun siapakah sebenarnya Tok-ong-kiu-cie itu?"
Yo Him telah menunggui lelaki berewok tersebut bersama Ko Tie.
Tetapi setelah hari menjelang malam, dan lelaki berewok tersebut belum tersadar dari pingsannya, Yo Him telah memerintahkan Ko Tie untuk tidur.
Yo Him sendiri menunggui lelaki berewok tersebut sampai ketika keesokan paginya.
Di waktu matahari fajar mulai menyingsing memperlihatkan diri, lelaki berewok tersebut baru siuman.
Dan di waktu itulah, Yo Him telah memberikan kepada lelaki berewok tersebut sedikit air teh.
Dengan sabar Yo Him juga telah menyuapi bubur yang telah dibawakan oleh pelayan rumah penginapan tersebut.
Setelah dapat menelan lima atau enam sendok bubur dengan telanan yang agak sulit, lelaki berewok itu menggelengkan kepalanya waktu Yo Him mengangsurkan sendok berikutnya.
"Bagaimana keadaan saudara?"
Tanya Yo Him dengan penuh perhatian. Lelaki berewok itu telah berusaha untuk tersenyum, ia bilang dengan lemah.
"Kukira aku telah berada di akherat tidak tahunya, masih berada di dunia......! Biasanya setiap orang yang menjadi korban racun Sam-hun-tok dalam tiga hari, jiwanya tidak bisa dipertahankan...... tetapi sekarang mengapa aku masih hidup terus?"
Yo Him tersenyum.
"Itulah kebesaran Thian..... mungkin memang belum tibanya saudara menemui kematian......!"
Kata Yo Him dengan disertai senyumannya untuk menghibur lelaki berewok tersebut. Iapun melanjutkan pula perkataannya.
"Dan obat yang pernah kau sebut itu, yang kau bilang obat itu merupakan obat yang sulit dicari, sesungguhnya obat apa? Jika memang kau bersedia menyebutkan namanya, mungkin aku bisa bantu mencarikannya. Atau jika memang obat itu hanya dimiliki oleh seorang saja, siapakah orang itu...... biarlah siauwte pergi menemuinya untuk memintanya mungkin akan diberikannya!"
Lelaki berewok tersebut telah tersenyum pahit, dengan suara yang lemah ia berkata.
"Orang itu aneh sekali dan hatinyapun kejam dan jiwanya jahat sekali, ia merupakan raja iblis yang paling terkenal di dalam rimba persilatan..... yaitu Sam-touw-liong (Naga berkepala tiga) Wie Go Ciang......!"
Yo Him sebelumnya sering mendengar perihal diri Sam-touw-liong Wie Go Ciang, Iblis yang menguasai propinsi Souw-ciu, tetapi ia tak menyangka sama sekali bahwa Wie Go Ciang merupakan seorang iblis yang paling ditakuti dan disegani oleh orang-orang persilatan seperti si lelaki berewok, karena dilihatnya bahwa lelaki berewok itu setidaknya pasti memiliki kepandaian yang tinggi.
Namun buat menghibur lelaki berewok tersebut, Yo Him telah berkata dengan suara yang sabar.
"Tenanglah saudara..... aku akan berusaha untuk pergi menemuinya......!"
Tetapi di mulut ia berkata begitu, sedangkan di hatinya ia jadi berpikir keras.
Untuk mencapai Souw-ciu dari Lung-an-kwan harus memakan waktu perjalanan hampir satu bulan.
Dengan demikian jelas ia tidak memiliki waktu yang begitu banyak guna menemui iblis she Wie itu.
Bukankah lelaki berewok itu tengah dalam keadaan sekarat dan mungkin hanya bisa bertahan lima hari saja?
Jelas, untuk mencapai Souw-ciu hanya dalam waktu lima hari perjalanan tak mungkin bisa dilaksanakan.
Sedangkan lelaki berewok tersebut tersenyum pahit, katanya.
"Kongcu, engkau tak perlu menghiburku lagi. Aku telah mengetahui bahwa diriku juga tidak akan lama lagi hidup di dunia...... percuma saja jika engkau berusaha untuk pergi ke Souw-ciu. Belum tentu iblis she Wie itu bersedia membagikan obatnya kepadamu, juga tidak mungkin aku bisa bertahan terus sampai satu bulan lebih. Engkau melakukan perjalanan dengan kuda jempolan yang bagaimanapun juga tentu untuk mencapai ke Souw-ciu memakan waktu hampir satu bulan, dan kembali pula ke mari telah satu bulan. Berarti dua bulan..... di waktu itu aku telah putus napas.....!"
"Jika demikian, biarlah aku mengajakmu sekalian menuju ke Souwciu untuk mempersingkat waktu. Tentu jika Wie Go Ciang melihat keadaanmu seperti ini, saudara, dia tentu akan bersedia menolongnya.....!"
Lelaki berewok tersebut tersenyum pahit lagi. Ia bilang dengan sikapnya yang sudah berputus asa, katanya.
"Jika memang kau hendak menghiburku dengan kata-kata bahwa sekarang ini aku perlu bergembira dan makan yang enak-enak itu masih lebih pantas. Tetapi untuk mengharapkan obat dari Wie Go Ciang itulah merupakan suatu impian yang sulit terlaksana...... Sudahlah Kongcu..... akupun sudah tidak berpikir untuk hidup lebih lama lagi. Jika memang engkau bisa memenuhi satu permintaanku, yaitu kelak engkau pergi ke kota Cia-leng-kwan untuk menemui orang yang bernama Kwan Po Sin, menyampaikan padanya perihal kematianku di tangannya Tok-ong-kiu-cie. Itupun telah lebih dari cukup dan aku sangat berterima kasih.....!"
Yo Him menghela napas, dan akhirnya ia berkata dengan disertai anggukan kepalanya.
"Baiklah tenangkan hatimu..... saudara...... aku akan laksanakan pesanmu itu......!"
Kata Yo Him.
"Tetapi walaupun bagaimana kita harus berusaha untuk memperoleh obat yang kau butuhkan itu......!"
Namun si lelaki berewok telah tersenyum pahit sambil katanya dengan suara yang putus asa.
"Sayang sekali aku tidak berhasil memperoleh obat untuk menyembuhkan penyakit suhengku..... hai..... hai, jika memang aku harus menemui kematian. Itu sesungguhnya bukan persoalan yang terlalu kusesalkan..... namun sayang sekali suhengku harus membuang jiwa disebabkan aku gagal memperoleh obat yang dibutuhkannya.......!"
Dan setelah berkata begitu, lelaki berewok tersebut menghela napas lemah berulang kali, lalu katanya lagi.
"Dan aku Cin Piauw Ho, benar-benar merupakan manusia tidak guna. Setelah gagal memperoleh obat yang dibutuhkan suhengku itu, justru aku harus membuang jiwa disini sehingga aku tidak berhasil menemui suhengku itu lagi......!"
Yo Him menghela napas juga dan katanya kemudian sambil cepatcepat tersenyum.
"Siapakah suhengmu itu Cin-heng?"
"Suhengku she Bun dan bernama Ie Wang. Ia telah dilukai oleh lawannya dari Tibet yang telah mempergunakan racun yang sangat berbisa sekali, dan juga hanya Tok-ong-kiu-cie yang bisa menyembuhkannya. Telah dua kali suhengku itu mendatangi Tokong-kiu-cie di mana ia mohon agar Tok-ong-kiu-cie bersedia untuk mengobatinya tetapi dua kali itu pula Tok-ong-kiu-cie selalu menolaknya. Sedangkan racun yang mengendap di dalam tubuh suhengku itu kian hari kian membahayakan.
"Racun itu semacam racun yang agak aneh di mana bekerjanya sangat lambat. Namun mengerikan sekali akibatnya, yaitu setiap korbannya akan hancur satu persatu urat dan nadi besarnya. Setiap tujuh hari satu dari sekian banyak urat besar di tubuhnya akan putus, dengan begitu, jika telah terputuskan 72 urat nadi dari sekujur tubuhnya, jangan diharap jiwanya tersebut bisa ditolong kembali, walaupun menerima obat dewa! Selama berada dalam cengkeraman racun yang jahat seperti itu Bun suheng juga sangat menderita. Setiap tujuh hari ia harus menderita hebat dikala mana urat besarnya putus satu. Bisa kau bayangkan Kongcu betapa menderita dan sakitnya setiap urat nadi besar Bun suheng akan terputuskan itu......!"
Sebagai seorang ahli silat yang telah memiliki kepandaian tinggi, tentu saja Yo Him mengetahui pentingnya ke tujuhpuluh dua urat nadi besar yang biasa dinamakan sebagai Cit-cap-jie Sin-hiat itu.
Jika memang ke tujuhpuluh dua urat besar Cit-cap-jie Sin-hiat tersebut terputuskan, maka jangan harap orang yang bersangkutan bisa hidup wajar sebagaimana biasa.
Karena selain akan musnah seluruh tenaga dan kekuatannya, di mana korban tersebut akan rebah terus tanpa bisa duduk atau berdiri untuk matipun tidak bisa, hidup tidak punya guna.
Itulah yang ditakuti oleh setiap korban yang akan terputuskan urat besar Cit-cap-jie Sin-hiat nya, karena korban itu akan menjadi manusia bercacad yang benar-benar tidak punya guna lagi.
"Bun suheng telah berputus asa, dan waktu itu hanya tinggal menantikan saat-saatnya yang mengenaskan itu di rumahnya gieheng (saudara angkat) ku yaitu Kwan Po Sin. di kota Cia-lengkwan.....! Aku telah menjanjikan pada suhengku itu untuk pergi menemui Tok-ong-kiu-cie guna memaksanya untuk membagikan obat yang diperlukan suhengku itu walaupun dengan jalan yang bagaimanapun juga..... Tetapi usahaku itu gagal sama sekali, bahkan aku telah dilukai sedemikian rupa di mana akupun telah terkena racun yang begitu berbahaya dari Raja Obat tersebut.....! "
Dan hanya Wie Go Ciang, itu si Sam-touw-liong yang banyak mempelajari soal racun, karena sebagai iblis telengas, ia memang telah merantau kemana-mana mengumpulkan berbagai macam racun, dengan begitu ia mengerti banyak sekali soal racun.
Sayangnya iapun merupakan seorang yang berhati kejam, dengan demikian harapan untuk memperoleh bantuan darinya sama juga kita mengharapkan hujan uang dari langit......!"
Yo Him masih memaksakan diri untuk tersenyum karena hatinya sendiri telah berpikir.
Memang sulit sekali untuk mencarikan obat buat Cin Piauw Ho.
Karena menurut tabib yang telah memberikan obat padanya kemarin itu, telah menyatakan paling tidak daya tahan yang dimiliki Cin Piauw Ho sampai lima hari saja.
Setelah itu tentu ia akan terbinasa tidak bisa ditolong lagi.
Namun urusan ini adalah urusan jiwa yang penting sekali, harus ditolongnya.
Yo Him akan berusaha sekuat tenaga dan kemampuan yang ada padanya untuk mencarikan obat buat Cin Piauw Ho.
Walaupun hatinya sendiri tidak yakin akan bisa menolong jiwa Cin Piauw Ho dalam lima hari mendatang, di mana sekarang ini telah lewat satu hari.
Berarti tinggal empat hari lagi Yo Him memiliki waktu untuk mencarikan obat dan pertolongan buat orang she Cin tersebut.
Setelah menghibur Cin Piauw Ho beberapa saat lamanya, kemudian menganjurkan Cin Piauw Ho agar tidur memelihara tenaganya.
Yo Him juga telah bersemedhi guna mengatur jalan pernapasannya.
Sebagai seorang tokoh muda yang telah memiliki lweekang cukup sempurna dengan sendirinya cukup bagi Yo Him duduk bersemedhi selama sepertanakan nasi, kesegarannya telah pulih kembali.
Waktu Yo Him membuka mata dilihatnya Lie Ko Tie telah berada di dekatnya duduk mengawasi saja.
"Engkau tentu telah lapar, Tie-jie?"
Tanya Yo Him sambil bangkit.
"Tunggulah aku pesan makanan untuk kita......!"
Kepada pelayan Yo Him telah memesan beberapa macam makanan dan bersama Ko Tie mereka bersantap, sedangkan Cin Piauw Ho rebah dengan mata terpejamkan.
Walaupun ia tidak tertidur, tokh ia berdiam diri saja, sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.
di mana racun yang mengendap di dalam tubuhnya itu memang mulai bekerja.
Untuk melapangkan hati, Yo Him mengajak Ko Tie berjalan-jalan mengelilingi kota tersebut.
Mereka melihat kota ini cukup ramai di mana banyak orang berdagang dan juga mereka banyak yang menyaksikan keramaian tersebut, seperti pertunjukan-pertunjukan penjual silat.
Sekali-sekali mereka berjumpa dengan rombongan tentara Mongolia, namun Yo Him tidak mau mencari urusan dengan para tentara tersebut dan mereka telah menyingkir saja.
Tetapi waktu Yo Him mengajak Ko Tie menyaksikan sebuah pertunjukan wayang orang yang terletak di tengah lapangan rumput.
Di waktu itulah Yo Him melihat seseorang yang agak luar biasa keadaannya.
Ia melihat seorang lelaki berusia empatpuluh tahun lebih, berpakaian compang-camping dengan wajah yang kurus, kumis yang sedikit tumbuh selembar-selembar, membawa sebatang tongkat kayu di tangan kanannya, tengah berdiri mengikuti jalan cerita pertunjukan wayang orang yang berlangsung di atas panggung.
Pertunjukan wayang orang itu menceritakan kisah klasik di mana perihal cerita Hong Sin dan memang cukup menarik pertunjukan tersebut, di mana para pemainnya memiliki keahlian yang mengagumkan.
Sedangkan seorang gadis yang berpakaian baju merah dengan celana kuning gading, telah mengelilingi lapangan rumput itu, mendatangi seorang demi seorang para penonton, sambil mengangsurkan sebuah kantong yang cukup besar ukurannya terbuat dari kain meminta saweran.
Ko Tie sendiri tampaknya asyik mengikuti jalan cerita pertunjukan wayang orang tersebut.
Rupanya anak ini senang sekali bisa menyaksikan pertunjukan seperti itu.
Tetapi Yo Him diam-diam memperhatikan terus tingkah laku dari lelaki berpakaian compang-camping itu, yang tingkah lakunya mencurigakan sekali.
Yo Him melihatnya, sambil berjalan perlahan, lelaki berpakaian seperti pengemis tersebut menggerakkan tangannya perlahan ke samping kiri dan kanannya.
Tahu-tahu ia telah berhasil menyambar isi saku dari orang-orang yang berada dekat dengannya.
Hal itu ia lakukan berulang kali, di mana lelaki berpakaian sebagai pengemis tersebut juga telah berpindah-pindah tempat.
Sedangkan orang-orang yang isi sakunya telah berpindah ke tangan si pengemis, sama sekali tidak mengetahui bahwa mereka telah kecopetan.
Mereka tengah asyik menyaksikan jalannya pertunjukan wayang orang tersebut.
Di mana tengah berlangsung adegan pertempuran antara Lo Cin dengan pihak raja laut Hayliong-ong.
Setelah cukup mencopet uang dan barang-milik orang-orang yang berada di lapangan rumput tersebut, lelaki berpakaian compangcamping seperti pengemis itu telah melenggang tenang-tenang meninggalkan tempat tersebut.
"Tie-jie, aku hendak pergi sebentar....., kau tontonlah dulu. Nanti kau tunggu aku disini..... aku akan segera kembali dengan segera.....!"
Kata Yo Him kepada Ko Tie.
Anak itu heran tetapi ia mengangguk juga.
Cepat Yo Him mengikuti lelaki berpakaian compang-camping itu, di mana ia melihatnya lelaki berpakaian compang-camping tersebut telah meninggalkan lapangan rumput itu menuju ke pintu kota di sebelah selatan.
Ia terus juga menuju ke kiri dan menyusuri jalan kecil berumput, tidak lama kemudian tiba di muka kuil yang besar.
Lelaki berpakaian compang-camping itu menghampiri emperan kuil tersebut, meletakkan tongkat kayunya dan kemudian merebahkan tubuhnya di situ.
Rupanya ia ingin mengaso.
Yo Him mengambil sebutir batu, ditimpukkannya ke bahu pengemis itu.
Walaupun tidak terlalu keras, karena Yo Him menimpuknya dengan perlahan tanpa mempergunakan lweekang tokh batu itu telah menyambar mengeluarkan suara desiran yang cukup nyaring.
Yo Him bermaksud mempermainkan pengemis itu, tetapi ia jadi kecele sendiri, karena pengemis itu menggoyangkan bahunya tanpa menggerakan tubuhnya yang rebah.
Batu itu telah berhasil dielakkannya menyambar terus ke dinding kuil.....
"tuk!"
Menimbulkan suara benturan yang cukup nyaring.
Sedangkan lelaki berpakaian compang-camping itu tetap rebah di tempatnya.
Tanpa memperhatikan sekitarnya, bagaikan ia tidak mengetahui sambaran batu itu, dan ia mengelakkan sambaran batu itu seperti secara kebetulan saja.
Yo Him tertegun sejenak, lalu mengambil dua butir batu lagi dan menimpuknya.
Kali ini Yo Him menimpuk mempergunakan dua bagian tenaga lweekangnya.
Ke dua butir batu itu telah menyambar cepat sekali ke arah lutut si pengemis dan yang satunya lagi menyambar pahanya.
Tetapi pengemis tersebut tiba-tiba mengangkat kakinya, mengulurkan tangannya, ia memperlihatkan sikap seperti menggaruk.
Ke dua butir batu itu telah lolos lagi tidak berhasil mengenai sasarannya menyebabkan Yo Him jadi mengerutkan alisnya.
"Hemm rupanya dia memang memiliki kepandaian yang tinggi...... pantas saja tangannya liehay mencopet tanpa korbannya mengetahui bahwa isi saku mereka telah berpindah ke tangan pengemis ini...... Siapakah dia?"
Sambil berpikir begitu, Yo Him telah mengambil lagi dua butir batu dan melontarkannya kepada si pengemis dengan mempergunakan tenaga lweekang lima bagian.
Ke dua butir batu itu menyambar cepat sekali berkesiuran keras.
Dan dengan demikian walaupun orang yang memiliki kepandaian tinggi jika diserang seperti itu oleh Yo Him, tentu sulit mengelakkan diri dalam keadaan rebah seperti itu.
Tetapi pengemis itu tetap rebah di tempatnya seperti juga tidak mengetahui menyambarnya ke dua butir batu itu.
Waktu ke dua butir batu tersebut menyambar dekat pada lengan dan dadanya, pengemis itu telah menggerakkan tangan kanannya.
Tahu tahu dengan mudah ia telah menyambuti ke dua butir batu itu yang kemudian dibuangnya ke samping.
Mulutnya juga mengoceh.
"Jangan jail...... keluarlah perlihatkan dirimu anak muda!"
Yo Him telah keluar melangkah mendekati pengemis itu, kemudian katanya.
"Paman pengemis, rupanya engkau seorang yang luar biasa! Tidak kusangka di tempat seperti ini aku bisa menjumpai seorang yang memiliki kepandaian tinggi seperti kau......!"
Pengemis itu telah tertawa "Hehehe!"
Dan melompat duduk. Ia memandangi Yo Him dan kemudian katanya dengan suara yang tawar.
"Pemuda tampan, tampaknya kepandaianmu tinggi sekali, dan aku tidak mungkin bisa menandinginya......! Hemmm. engkau memuji aku tetapi dibalik dari pujianmu itu justeru engkau hendak mengejekku, bukan?"
Yo Him tersenyum, ia mengangkat ke dua tangannya yang dirangkapkan kemudian memberi hormat disertai kata-katanya.
"Paman pengemis..... aku she Yo dan bernama Him..... tadi secara kebetulan aku melihat engkau telah mencopet uang dan barang milik orang-orang yang tengah menyaksikan wayang orang di padang rumput...... maka aku telah mengikuti ke mari......! Kalau boleh kutahu, siapa engkau adanya, paman pengemis?"
Pengemis itu mementang ke dua matanya lebar-lebar. Ia mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang tajam dan wajahnya jadi bersungguh-sungguh.
"Yo Him? Engkaukah tanyanya kemudian. yang bergelar Sin-tiauw-thian-lam?"
Yo Him mengangguk.
"Itulah julukan yang diberikan oleh sahabat rimba persilatan......!"
Menyahuti Yo Him. Pengemis itu telah melompat berdiri, lalu katanya.
"Bagus! Bagus! Tidak disangka akan bertemu dengan putera Sin-tiauw-tai-hiap Yo Ko......! Hahaha, inilah yang dinamakan jodoh. Di mana kita berjodoh bertemu......!"
Yo Him heran melihat sikap pengemis itu tetapi ia mengawasi saja. Sedangkan si pengemis telah berkata lagi sambil diiringi tertawanya.
"Aku Sin-bok-koay-kay (Pengemis Aneh Berkayu Sakti) Liu Ong Kiang. Akulah si pengemis yang selalu bekerja dengan ke dua tanganku untuk memindahkan isi saku orang lain ke sakuku......! Dan tentunya engkau telah mengetahui kebiasaan dari kami kaum pengemis, bukan? Telah lama aku mendengar namamu, di mana banyak orang-orang rimba persilatan yang memuja akan kepandaianmu yang tinggi dan hebat..... maka aku dengan memberanikan diri telah melakukan perjalanan mengelilingi beberapa propinsi dan puluhan kota serta ratusan kampung untuk menemuimu..... siapa sangka. Hari ini kita berjodoh untuk bertemu!"
Yo Him jadi heran, ia bertanya dengan perasaan ingin tahu.
"Ada urusan apakah kau mencariku, Liu Lopeh (paman Liu)...? Bolehkah aku mengetahui?"
Pengemis she Liu itu telah tertawa. Ia membungkukkan tubuhnya mengambil tongkat kayunya yang ditimang-timangnya, katanya kemudian.
"Jika aku tidak memiliki urusan penting, untuk apa aku melakukan perjalanan jauh, mendatangi berbagai tempat berusaha untuk bertemu denganmu, Yo Kongcu? Sekarang baiklah kita duduk-duduk dulu. Nanti akan kujelaskan......!"
Yo Him telah duduk di tempat yang ditunjuk oleh pengemis she Liu itu sedangkan pengemis Liu Ong Kiang telah duduk di tempatnya semula, sambil tertawa ia bilang.
"Aku Liu Ong Kiang sesungguhnya tidak pernah mengharapkan bantuan orang lain, tetapi sekali ini justru tengah menghadapi suatu urusan yang cukup penting dan juga bisa membahayakan kami kaum pengemis, maka itu sengaja aku mencarimu Yo Kongcu, untuk meminta bantuanmu. Entah kau bersedia atau tidak membantu kami?"
"Katakanlah Liu Lopeh, jika memang aku bisa membantumu, tentu aku bersedia membantunya, tetapi justru sekarang ini persoalannya saja belum kuketahui.....!"
Menyahuti Yo Him.
"Tentu dengan memandang muka Oey Yong Pangcu yang pernah memimpin partai kami, partai Kay-pang, tentu Yo Kongcu bersedia untuk membantu kami......! Sesungguhnya kami tengah dalam kesulitan yaitu dua orang pemimpin kami telah mengalami suatu bencana yaitu ditangkap oleh pihak kerajaan Boan-ciu, di mana mereka sesungguhnya telah berusaha menghindarkan bentrokan dengan pihak Boan-ciu, namun tanpa disengaja telah terjadi urusan yang agak aneh......!"
"Urusan aneh, apakah itu Liu Lopeh?"
Tanya Yo Him semakin ingin mengetahui.
Pengemis itu menghela napas, ia menggerak-gerakkan kayu di tangannya, tongkat itu ditimang-timangnya sambil dipandanginya.
Akhirnya ia berkata dengan suara yang agak perlahan.
"Ke dua pemimpin kami masing-masing Sun Tianglo dan Khu Tianglo..... setengah tahun yang lalu secara kebetulan mereka berada di kota Po-sun-kwan di dalam bilangan Kang-ouw."
Sebagaimana biasa, mereka tidak pernah mencampuri urusan yang biasa saja, karena mereka sebagai Tianglo kami, tentu tidak sembarangan mencampuri urusan yang tidak penting.
Mereka baru turun tangan jika memang benar-benar menyaksikan urusan yang tidak adil, dan itupun jika memang urusan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh anggota Kay-pang.
"Tetapi pada malam itu, waktu ke dua Tianglo kami tengah tidur di sebuah kuil rusak, yang terdapat di kota tersebut mereka mendengar suara ribut-ribut di luar kuil. Ke duanya sebetulnya merasa segan untuk bangun dari tidur mereka, tetapi suara ributribut itu disusul dengan bentrokan senjata tajam yang ramai sekali, menyebabkan mereka tertarik juga dan keluar untuk melihatnya. "
Ketika berada di luar kuil, dilihatnya seorang berpakaian hitam dengan muka yang tertutup topeng terbuat dari kain hitam juga tengah mempergunakan pedang di tangan kanannya telah melakukan perlawanan terhadap puluhan tertara Mongolia yang mengepungnya dengan rapat.
Di antara tentara Mongolia itu terdapat juga ahli-ahli silat yang memiliki kepandaian tinggi, sehingga lelaki bertopeng hitam tersebut tidak bisa melarikan diri dan memecahkan kepungan tersebut.
"Ke dua Tianglo kami yang menyaksikan jalannya pertempuran itu, jadi tergerak hatinya. Mereka telah menyaksikan ketidak adilan seperti itu, di mana seorang diri si orang bertopeng hitam tersebut dikepung dan dikurung ketat oleh puluhan orang-orang lawannya itu. Apalagi yang mengurungnya itu adalah para tentara Mongolia, dengan begitu, ke duanya akhirnya menerjang maju untuk memberikan bantuannya kepada orang pertopeng hitam itu.
"Tetapi tanpa disadari oleh mereka justru ke dua Tianglo kami itu telah melakukan suatu kesalahan. Dengan ikut campurnya mereka dalam urusan tersebut. Mereka telah melibatkan diri dalam urusan yang berekor panjang sekali. Memang dengan majunya ke dua Tianglo kami itu, di mana Sun Tianglo dan Khu Tianglo memiliki kepandaian tinggi, bisa memberikan kesempatan untuk orang bertopeng hitam itu bernapas karena begitu turun tangan ke dua Tianglo kami berhasil melemparkan tiga orang tentara Mongolia yang mengepung orang bertopeng hitam itu."
Dengan datangnya bantuan ke dua Tianglo kami, orang bertopeng hitam tersebut semakin bersemangat.
Setelah memutar pedangnya lebih cepat disertai oleh tenaga lweekangnya yang tersalur lewat pedangnya, disamping itu ilmu kiam-hoatnya memang luar biasa telah menyambar-nyambar dengan kuat.
Dua orang tentara Mongolia telah berhasil dilukai mereka.
Sambil melakukan perlawanannya terus kepada pengepungnya itu, beberapa kali orang bertopeng hitam itu mengucap terima kasihnya kepada ke dua Tianglo kami.
Dalam suatu kesempatan, ia melompat ke dekat ke dua Tianglo kami, di mana Khu Tianglo dan Sun Tianglo jadi berdiri saling memunggungi dengan orang bertopeng tersebut."
Tentara Mongolia tersebut rupanya jadi semakin gusar melihat kawan-kawan mereka yang banyak berjatuhan di tangan Khu Tianglo dan Sun Tianglo, disamping itu ada beberapa orang yang telah menjadi korban ketajaman pedangnya si orang bertopeng hitam tersebut.
Beberapa orang dari rombongan tentara Mongolia yang memiliki kepandaian tinggi telah memutar senjata mereka dengan ganas menyambar-nyambar pada Sun Tianglo, Khu Tianglo dan orang bertopeng hitam itu."
Sampai akhirnya pertempuran yang berlangsung itu semakin lama jadi semakin seru.
Dua orang dari rombongan tentara Mongolia telah berhasil dirobohkan kembali oleh ke dua Tianglo kami, membuat rombongan tentara Mongolia tersebut melakukan kepungan mereka semakin ganas......
Sedangkan beberapa orang di antara mereka telah berteriak kepada orang bertopeng hitam itu.
"Sebelum kau menyerahkan kembali peta itu kepada kami, kau akan kami kejar terus, kemanapun engkau melarikan diri. Walaupun engkau mengundang kawanmu, kami bisa saja meminta bantuan dari kota raja untuk melakukan pengejaran ke segala penjuru...... "
Sambil berkata begitu, segera rombongan tentara Mongolia tersebut melakukan tikaman, bacokan dan serangan tangan kosong yang semakin kuat dan mendesak.
Tetapi ke dua Tianglo kami memiliki kepandaian tinggi, sedangkan orang bertopeng hitam itu juga memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Dengan demikian rombongan tentara Mongolia tersebut, walaupun berjumlah banyak, tokh tidak banyak yang bisa mereka lakukan."
Setelah bertempur sekian lama lagi, akhirnya orang bertopeng hitam itu berkata kepada Khu Tianglo, katanya.
"In-kong..... ada sesuatu yang hendak kami titipkan...... harap in-kong mau menerimanya.......!"
Dan sebelum Khu Tianglo sempat menyahuti, di waktu itulah orang bertopeng hitam tersebut menyusupkan sesuatu barang ke dalam tangan Khu Tianglo, dan tahu-tahu tubuh orang bertopeng hitam itu telah melompat berjumpalitan di tengah udara dan tubuhnya seperti seekor burung telah melayang di tengah udara, tiba di luar gelanggang pertempuran itu.
Dia tidak berhenti sampai di situ saja, tubuhnya telah melompat lagi dan beberapa kali menjejakkan kakinya.
Ia telah terpisah puluhan tombak.
Orang bertopeng hitam tersebut bermaksud melarikan diri.
"Khu Tianglo kami telah melirik barang yang ada di tangannya, segulung kertas. Rupanya benda ini yang tengah diperebutkan antara orang bertopeng hitam itu dengan rombongan tentara Mongolia tersebut. Melihat orang bertopeng hitam hendak melarikan diri, di waktu itulah tampak beberapa orang tentara Mongolia telah mengejarnya. Namun seorang yang berpakaian sebagai perwira dan rupanya menjadi pemimpin mereka telah membentak.
"Kembali, biarkan dia pergi...... peta yang kita kehendaki berada di tangan pengemis itu......!"
Maka tentara Mongolia yang beberapa orang itu telah kembali ke gelanggang pertempuran mengepung Khu Tianglo dan Sun Tianglo."
Khu Tianglo sendiri sesungguhnya tidak sudi dititipi barang tersebut karena ia bersama Sun Tianglo hanya berbaik hati hendak membantu orang bertopeng hitam tersebut.
Ia tidak menyangka orang bertopeng hitam itu akan menitipkan barang itu dengan cara begitu, tanpa meminta persetujuannya lagi telah menyesapkan gulungan kertas tersebut ke dalam tangannya.
Tetapi hendak mengembalikannya juga sudah tidak keburu lagi, karena orang bertopeng hitam itu telah lenyap ditelan kegelapan malam."
Khu Tianglo kami dan Sun Tianglo memberikan perlawanan yang gigih terhadap terjangan tentara Mongolia itu, malah Sun Tianglo telah berkata perlahan pada Khu Tianglo.
"Tinggalkan mereka......!"
Lalu ke dua Tianglo kami itu dengan gesit telah melarikan diri. Mereka memiliki ginkang yang mahir, dengan demikian mereka bisa meninggalkan para lawannya itu dengan mudah......!"
"Lalu bagaimana.....?"
Tanya Yo Him yang tertarik hatinya. Liu Ong Kiang menghela napas dalam-dalam, lalu katanya.
"Tetapi rupanya memang pihak orang Mongolia telah menyebar orangorang yang sangat banyak, di antara mereka juga terdapat jagojago berkepandaian tinggi yang bertugas di istana Kublai Khan. Rupanya peta yang telah berada di tangan Khu Tianglo dibutuhkan sekali oleh mereka, benda yang sangat berharga sekali. Ke dua Tianglo kami itu dikejar oleh puluhan jago-jago kelas satu dari istana Kublai Khan. Akhirnya dengan cara mengepung yang rapat dan juga dengan mempergunakan segala akal licik, ke dua Tianglo kami itu bisa mereka tawan.....!"
Yo Him mengangguk mengerti.
"Jadi maksud Liu Lopeh hendak meminta aku agar membantui pihak Kay-pang guna membebaskan ke dua Tianglo kalian dari tangan pemerintah Mongolia?"
Tanya Yo Him. Wajah Liu Ong kiang berubah muram. Ia menunduk sejenak, lalu mengangguk perlahan dan mengawasi Yo Him.
"Jika memang hendak dikatakan sesungguhnya memalukan sekali. Kay-pang sesungguhnya memiliki cukup banyak jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi. Memang harus diakui sejak ditinggal oleh Ang Pangcu, Ang Cit Kong, Kay-pang mengalami banyak kemunduran. Sebab waktu jabatan Pangcu dipegang Oey Yong Pangcu justru seluruh perhatian Oey Pangcu tidak bisa dicurahkan seluruhnya untuk kemajuan Kay-pang. Disamping itu juga memang tengah pecah peperangan antara kerajaan Song dengan tentara Mongolia sehingga Oey Pangcu sibuk untuk berjuang mengerahkan seluruh tenaga dan perhatiannya guna mempertahankan kota Siang-yang.
"Setelah itu Oey Pangcu menyerahkan jabatan Pangcu itu kepada Pangcu kami yang sekarang..... selama ini Kay-pang belum lagi dapat memupuk kekuatan tunggal seperti di masanya jabatan Pangcu dipegang oleh Ang Cit Kong Pangcu, di mana banyak juga tokoh-tokoh Kay-pang yang bermaksud memisahkan diri dari Kaypang. Ada yang hendak mengambil jalannya masing-masing, begitu juga dengan pimpinan-pimpinan daerah tidak begitu mematuhi pula perintah dari pusat, mereka seperti berdiri sendirisendiri. Itulah sebabnya kini Kay-pang kekurangan tenaga yang benar-benar memiliki kepandaian benar-benar tinggi....."
Yo Him menghela napas, ia ikut menyesali Kay-pang yang mengalami perpecahan seperti itu.
Dengan begitu, sebuah partai pengemis yang semula begitu kuat dan disegani oleh seluruh orang-orang rimba persilatan, yang memiliki banyak sekali jagonya dan menguasai seluruh daratan Tiong-goan dengan anggota pengemisnya tersebut, kini tampaknya mulai menuju ke jurang perpecahan.
Dengan begitu, berarti Kay-pang semakin lama semakin lemah.
Dan jika tidak segera diusahakan untuk memulihkan keadaan Kay-pang, jelas partai pengemis itu akan bertambah lemah juga.
"Lalu sekarang apa rencana Liu Lopeh?"
Tanya Yo Him. Si pengemis yang bergelar Sin-bok-koay-kay tersebut menghela napas dengan sikap yang mengandung penyesalan, katanya.
"Sesungguhnya Khu Tianglo dan Sun Tianglo telah bersepakat untuk memulihkan keadaan Kay-pang, guna membentuk beberapa pimpinan Kay-pang di daerah yang baru, untuk memulihkan kewibawaan Kay-pang. Tetapi itu baru merupakan rencana belaka, dan cita-cita ke dua Tianglo kami itu belum lagi berhasil, mereka telah berurusan dengan peta yang diperebutkan oleh pemerintah Mongolia tersebut, di mana akhirnya mereka telah kena ditawan oleh orang-orang Mongolia.
"Sedangkan orang bertopeng hitam itu, yang memang memiliki kepandaian tinggi dan telah menyerahkan gulungan peta itu kepada Khu Tianglo sampai sekarang ini belum lagi diketahui siapa adanya dia......! Aku telah berusaha menyelidiki, tetapi sejauh itu belum juga berhasil mengetahui siapa adanya orang bertopeng hitam itu yang merupakan sumber dari tertangkapnya Khu Tianglo dan Sun Tianglo oleh tentara Mongolia!"
Waktu itu Yo Him telah mengerutkan sepasang alisnya. Ia berkata ragu-ragu.
"Namun selama berkelana di dalam rimba persilatan, aku belum pernah mendengar ada seorang tokoh persilatan dengan memakai topeng hitam sebagai penutup mukanya.....!"
Liu Ong Kiang telah menghela napas, ia berkata lagi.
"Namun sebulan yang lalu justru aku telah berhasil mendengar kabar selentingan, bahwa orang yang memakai topeng hitam itu adalah seorang tokoh dari pintu perguruan Bu-tong-pay. Namun sejauh itu kebenaran berita yang kuperoleh dari sahabat rimba persilakan, belum lagi dapat dipastikan.....!"
Yo Him memperlihatkan sikap terkejut, lalu tanyanya.
"Apakah..... apakah orang Bu-tong-pay akan melakukan tindakan seperti itu? Tidak mungkin! Tidak mungkin! Mereka tentu merupakan orangorang yang memiliki kedudukan tinggi dan terhormat. Tidak mungkin karena disebabkan peta itu, mereka lalu mencuci tangan dan menyebabkan pihak Kay-pang yang berurusan dengan pihak tentara Mongolta......!"
Liu Ong Kiang mengangguk, katanya.
"Memang kaum Bu-tong-pay merupakan orang-orang, rimba persilatan yang memiliki kedudukan yang dihormati oleh setiap sahabat rimba persilatan. Namun justru orang yang melakukan tindakan ini merupakan murid yang telah keluar dari pintu perguruan tersebut. Ia bekerja hanya seorang diri. Jadi bukan maksudku bahwa ia bekerja atas nama Bu-tong-pay.....!"
"Siapakah orang itu Liu Lopeh? Tahukah engkau akan namanya?"
Tanya Yo Him. Si pengemis menggelengkan kepalanya perlahan, lalu katanya dengan suara yang mengandung penyesalan.
"Aku belum lagi mengetahui...... cuma menurut kabar-kabar selentingan. Orang itu adalah salah seorang murid tingkat ketiga dari Bu-tong-pay."
"Mengapa Lopeh tidak menanyakan langsung kepada pihak Butong-pay"?"
Tanya Yo Him.
"Aku telah mengunjungi dua kali pintu perguruan tersebut. Namun sejauh itu pihak Bu-tong-pay menyatakan bahwa mereka tidak mencampuri lagi urusan murid yang telah diusir dari pintu perguruan tersebut. Dan ketika kutanyakan siapakah adanya murid Bu-tong-pay yang telah diusir dari pintu perguruan tersebut, pihak Bu-tong-pay tidak bersedia menyebutkannya. Karena menurut mereka itulah rahasia rumah tangga pintu perguruan tersebut.....!"
"Tetapi lopeh, jika memang kita langsung menemui Ciang-bun-jin Bu-tong-pay dan menceritakan kesulitan yang dialami oleh pihak Kay-pang, di mana jelas akan menimbulkan pergolakan yang tidak menggembirakan di dalam rimba persilatan tentu Ciang-bun-jin Butong-pay bersedia memberitahukan siapa-siapa saja murid Butong-pay yang telah diusir oleh pihak pintu perguruan tersebut......!" Liu Ong Kiang tersenyum pahit, ia berkata.
"Justru kami dari pihak Kay-pang juga tidak memiliki muka yang begitu tebal untuk terlalu merendahkan diri pada pihak Bu-tong-pay. Bukankah jika mereka mengatakan bahwa Kay-pang memiliki banyak orang-orangnya yang berkepandaian tinggi, dan kini ternyata tidak memiliki kesanggupan untuk menyelesaikan persoalannya dengan pihak tentara Mongolia itu, akan mendatangkan malu buat kami. Terlebih lagi yang kini ditahan oleh pihak kerajaan Mongolia itu adalah ke dua Tianglo kami, yang memiliki kedudukan tidak rendah dalam Kay-pang. Sampai mereka tidak bisa menyelamatkan diri dari tangan pihak Mongolia tersebut, huh! Itu hanya akan menjadi bahan tertawa yang tidak mengenakkan hati kami pihak Kaypang......!"
Yo Him menghela napas.
"Lalu tindakan apa yang hendak dilakukan oleh pihak Kay-pang dalam usaha menolong ke dua Tianglo kalian itu, Liu Lopeh?"
Tanya Yo Him.
"Sesungguhnya dari pihak Kay-pang kami telah menyusun rencana untuk melakukan penyerbuan ke tempat ke dua Tianglo kami itu ditahan, guna membebaskannya dengan mempergunakan kekerasan. Namun kami masih mempertimbangkan akibat yang akan muncul, di mana akan menyebabkan goncangan yang terlalu luas untuk rimba persilatan. Disamping itu akan menimbulkan jatuhnya korban yang tidak sedikit.....!"
Dan setelah menyahuti begitu, Liu Ong Kiang menjadi serba salah, lalu ia menghela napas berulang kali dengan wajah yang semakin muram.
Yo Him tertawa perlahan untuk menghibur Liu Ong Kiang, pengemis Kay-pang itu, katanya kemudian.
"Jika memang Liu Lopeh hendak pergi menolongi Khu Tianglo dan Sun Tianglo dari tangan orang-orang Mongolia itu, tidak perlu sampai mengerahkan anggota Kay-pang seperti apa yang disebut oleh Liu Lopeh tadi. Cukup jika kita bersama beberapa tokoh Kay-pang lainnya yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi dan bisa diandalkan untuk pergi menolongnya."
Liu Ong Kiang menghela napas lagi. Wajah masih bermuram durja seperti tengah berpikir keras, lalu berkata lagi.
"kalau saja memang Yo Kongcu bersedia untuk membantu kami tentu urusan akan menjadi beres dengan mudah!"
"Tentu saja aku mau untuk membantu pihak Kay-pang terlebih lagi ini merupakan urusan penasaran dari Kay-pang, bukan menipiskan urusan yang buruk. Mengapa aku harus menolak membantu Kaypang? Tetapi sayang justru kini aku tengah berusaha menolong jiwa seseorang......"
"Menolong jiwa seseorang......?"
Tanya Liu Ong Kiang terkejut. Yo Him mengangguk.
"Ya. Seorang sahabat telah terkena racun yang hebat dan kini dalam keadaan yang menguatirkan sekali, maka aku harus mencari obat untuk menyembuhkannya. Waktu dan kesempatan yang ada hanya lima hari saja selewatnya dari waktu itu ia akan menemui kematian dengan cara yang mengerikan sekali, yaitu dengan tubuh mencair busuk......!" Liu Ong Kiang memperlihatkan wajah terkejut, tanyanya.
"Racun apa yang yang telah mengendap di tubuhnya?"
Yo Him menghela napas.
"Sahabat itu dilukai Tok-ong-kiu-cie yang mempergunakan racun Sam-hun-tok yang menurut katanya hanya bisa disembuhkan oleh Sam-touw-liong Wie Go Ciang, iblis yang menetap di Souw-ciu. Tetapi itu tidak mungkin karena dari kota ini tidak mungkin mencapai pulang pergi hanya dalam lima hari..... Kasihan sekali nasib sahabat itu.....!"
Mendengar disebutnya nama Tok-ong-kiu-cie dan Sam-touw-liong Wie Go Ciang muka Liu Ong Kiang jadi berobah hebat, katanya dengan suara yang terbata-bata.
"Inilah urusan yang tidak mainmain. Tentunya sahabatmu itu Kongcu merupakan seorang rimba peralatan yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Siapakah sahabatmu itu. Kongcu?"
"Dia she Cin dan bernama Piauw Ho,"
Menjelaskan Yo Him.
"Kini ia tengah rebah tidak berdaya di dalam kamar rumah penginapan......!"
"Mari kita melihat keadaannya.....!"
Ajak Liu Ong Kiang sambil berdiri dari duduknya. Yo Him mengangguk, katanya.
"Tetapi kita harus menjemput Ko Tie dulu......!"
"Ko Tie? Siapa dia?"
"Seorang sahabat kecil.....!" "Ohh....!"
Liu Ong Kiang dan Yo Him telah pergi ke tempat pertunjukan wayang orang, waktu itu pertunjukan tengah berlangsung seru dengan adegan pertempuran.
Seluruh penonton tengah asyik menyaksikan pertunjukan tersebut.
Begitu juga halnya dengan Ko Tie yang tengah berdiri sambil sekali-sekali bersorak girang.
melihat ramenya adegan pertempuran yang terjadi di atas panggung pertunjukan itu.
Yo Him segera menghampiri Ko Tie.
dan mengajak anak itu untuk kembali ke rumah penginapan.
Lie Ko Tie tidak membantah, ia bersama Yo Him dan Liu Ong Kiang telah kembali ke rumah penginapan.
Waktu mereka tiba di kamar penginapan, tampak Cin Piauw Ho tengah rebah di atas pembaringnn dengan muka yang pucat kehijau-hijauan.
Napasnya juga perlahan dan lemah sekali.
Sepasang matanya terpejam rapat.
Yo Him menghampiri pembaringan, memegang perlahan tangan Cin Piauw Ho.
Kemudian katanya dengan suara yang mengandung kekuatiran.
"Cin Toako..... bagaimana keadaanmu? Apa yang engkau rasakan?"
Cin Piauw Ho membuka matanya, dan memandang dengan sinar mata lesu tidak bercahaya kepada Yo Him. Kemudian melirik kepada Liu Ong Kiang dan Ko Tie yang bersama Yo Him.
"Rasanya sulit sekali bagi aku berharap bisa hidup lebih lama lagi, paling lambat mungkin hari ini aku masih bisa bertahan..... setelah itu mungkin aku akan putus jiwa.....!"
Kata Cin Piauw Ho dengan suara yang lemah. Yo Him memaksakan diri untuk tertawa guna menghibur dan memberikan semangat kepada Cin Piauw Ho, lalu katanya.
"Kau jangan berkata begitu Cin toako, aku akan berhasil untuk mencarikan obat dan usaha menolong jiwamu dari kematian..... engkau tenang-tenanglah beristirahat..... jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak."
Cin Piauw Ho menghela napas, ia tampaknya putus asa. Liu Ong Khang yang sejak tadi mengawasi keadaan Cin Piauw Ho, telah menoleh kepada Yo Him, lalu katanya hati-hati.
"Yo Kongcu, aku mengerti sedikit-sedikit mengenai ilmu racun, karena kami kaum pengemis sering menangkap ular dan kalajengking. Dengan begitu aku mengenal beberapa jenis racun. Walaupun Kongcu tadi telah mengatakan bahwa sahabatmu ini terluka oleh racun Samhun-tok, tetapi kukira ada baiknya aku memeriksa lukanya itu dulu.....!"
Yo Him girang mendengar perkataannya si pengemis, ia mengangguk sambil katanya katanya.
"Jika memang Liu Lopeh ingin menolongi Cin toako, mengapa aku harus menghalangi? Tidak ada salahnya jika Liu Lopeh memeriksa keadaannya. Siapa tahu Liu Lopeh bisa mengobatinya?"
"Aku hanya mengerti sedikit sekali mengenai beberapa jenis racun, tetapi aku akan berusaha untuk memperpanjang daya bertahan saudara Cin itu......!"
Sambil berkata begitu, Liu Ong Kiang menghampiri ke dekat pembaringan lalu dengan dibantu oleh Yo Him, ia telah melepaskan pakaian atas Cin Piauw Ho, di mana di dekat pundaknya tersebut tampak sebuah luka yang telah bersemu hitam, daging di sekitarnya luka itu mulai membusuk dan menyiarkan bau yang tidak sedap untuk hidung, juga warna hitam gelap itu telah melebur ke dekat punggung serta ketiak.
Sekali lihat saja, segera bisa diketahui bahwa Cin Piauw Ho telah terluka berat dan racun mulai bekerja.
Memang jika racun tersebut telah menjalar sampai ke jantung, jangan harap Cin Piauw Ho mengharapkan dapat hidup lebih lama lagi dan di waktu itu tubuhnya akan mencair dan membusuk.
Liu Ong Kiang mengerutkan alisnya.
Wajahnya muram ketika melihat keadaan luka yang diderita oleh Cin Piauw Ho.
Malah akhirnya pengemis itu telah menghela napas dalam-dalam, katanya dengan suara perlahan.
"Memang racun Sam-hun-tok racun yang sangat dahsyat..... Aku baru kali ini melihat luka yang demikian hebat..... dan tidak kusangka bahwa Sam-hun-tok dapat bekerja perlahan namun kesudahannya demikian hebat. Menurut Yo Kongcu, saudara Cin ini telah diberikan obat oleh tabib, tetapi obat itu rupanya hanya dapat membendung menjalarnya racun untuk waktu yang tidak begitu lama. Menurut penglihatanku, paling lambat besok. Saudara Cin tidak akan sanggup bertahan lagi......!"
Dan Liu Ong Kiang menghela napas berulang kali. Yo Him mengawasi kuatir pada pengemis itu dan Cin Piauw Ho bergantian lalu dengan ragu-ragu katanya.
"Apakah tidak ada jalan lain untuk menolong Cin toako agar ia bisa bertahan lebih lama lagi?" Liu Ong Kiang berdiam diri sejenak namun akhirnya menyahuti juga.
"Bisa, jika saja memperoleh pil Swat-lian-tiat-tan (pil teratai emas besi). Sayang sekali obat yang diramu dengan campuran swat-lian dari puncak Thian-san itu jarang sekali bisa diperoleh! Padaku terdapat pil Kim-lian-tan (pil teratai emas), tetapi aku belum tahu apakah pil yang kumiliki ini bisa mencegah menjalarnya racun Sam-hun-tok lebih jauh. Untuk menyembuhkan dan memunahkan racun Sam-hun-tok dengan mempergunakan pil obatku itu, memang tidak bisa, namun mudah-mudahan saja bisa memperlambat menjalarnya racun yang ganas itu, karena sedikitnya Kim-lian-tan dibuat mempergunakan campuran racun Swat-lian juga hanya sedikit sekali."
Dan setelah berkata begitu, Liu Ong Kiang merogoh sakunya.
Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna merah, di dalam botol tersebut terdapat dua butir pil berwarna coklat tua.
Pengemis tersebut lantas saja mengeluarkan sebutir, lalu melanjutkan keterangan.
"Pil ini sesungguhnya kuperoleh dari seorang aneh dari Kun-lun yang pernah bertemu denganku secara kebetulan. Ia memberikan aku tiga butir. Tetapi yang sebutir telah dipergunakan untuk mengobati luka seorang anggota Kay-pang, maka pil mujijat ini hanya tinggal dua butir. Tetapi kurasa luka yang diderita oleh saudara Cin itu cukup parah. Untuk mencegah menjalarnya racun Sam-hun-tok lebih jauh, ia harus memakan ke dua butir pil ini. Sekarang dimakannya sebutir dan sore nanti ia baru memakannya sebutir lagi.....!" Sambil berkata begitu, Liu Ong Kiang telah menghampiri pembaringan. Memijit rahang Cin Piauw Ho meminta Cin Piauw Ho membuka mulutnya. Cin Piauw Ho yang memang telah berputus asa dan sudah tidak memiliki harapan hidup, tanpa rewel telah membuka mulutnya. Dan setelah pil Kim-lian-tan dimasukkan ke dalam mulutnya, di mana Cin Piauw Ho merasakan bau harum menyegarkan tersiar dari pil tersebut, ia menelannya.
"Nah, sekarang kau istirahat dulu, saudara Cin. Nanti kau harus memakan yang sebutir ini lagi. Mudah-mudahan saja pil Kim-liantan ini bisa memperlambat menjalarnya racun Sam-hun-tok itu.....!"
Kata Liu Ong Kiang kemudian.
"Terima kasih atas pemberian pil obat itu!"
Kata Cin Piauw Ho dengan suara yang tidak begitu lancar.
"Pil itu merupakan obat mujijat yang tidak ternilai harganya, dan saudara telah memberikan kepadaku. Entah bagaimana nanti aku membalas budimu......!"
Kata kata itu tidak bisa diteruskan, karena Cin Piauw Ho merasakan sakit yang luar biasa pada lukanya. Ia mengerang perlahan sambil meringis. Liu Ong Kiang menghela napas, ia bilang.
"Jangan terlalu banyak bicara dan bergerak dulu. Nah, tidurlah! Mungkin lebih baik lagi, bila engkau bisa tidur untuk istirahat, sehingga tidak banyak gerak dan obat bekerja lebih baik, saudara Cin.....!"
Cin Piauw Ho hanya mengangguk dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Namun mukanya masih meringis menahan sakit yang luar biasa.
Keadaannya mengenaskan sekali.
Menyaksikan itu, Yo Him menghela napas berulang kali, sedangkan Ko Tie yang sejak tadi hanya bisa mengawasi saja, jadi berdiri diam dengan hati yang bingung dan berkasihan.
Ia bingung karena memang Ko Tie tidak bisa melakukan sesuatu apapun juga.
Berkasihan karena melihat keadaan Cin Piauw Ho seperti itu.
Setelah melihat Cin Piauw Ho memejamkan mata rapat-rapat dan akhirnya perasaan sakit yang dideritanya mulai berkurang, sebab mukanya tidak meringis seperti tadi.
Yo Him mengajak Ko Tie dan Liu Ong Kiang untuk keluar dari kamar tersebut.
Mereka duduk di ruang bawah, di mana Yo Him memesan teh dan beberapa macam makanan kecil.
Banyak yang dibicarakan oleh Yo Him dan Liu Ong Kiang yaitu mengenai perkembangan dunia persilatan di saat itu.
Waktu Yo Him menceritakan perihal dia menolongi Ko Tie dari tangannya wanita sinting Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan, si pengemis mengerutkan alisnya.
"Perempuan sinting itu memang banyak menimbulkan keonaran akhir-akhir ini, karena telah cukup banyak juga jago-jago Kang-ouw yang menjadi korbannya. Dalam tiga tahun, perempuan sinting dengan selalu membawa-bawa mayat bayi yang telah diawetkan itu memang telah dicari oleh beberapa orang tokoh Kangonw untuk ditumpas. Ia bertangan telengas dan juga menurut apa yang sering kudengar, setiap kali turun tangan selalu membinasakan korbannya dengan kejam sekali......!"
Setelah berkata begitu, Liu Ong Kiang menghela napas berulang kali, baru melanjuti lagi perkataannya.
"Memang belakangan ini, sejak berakhirnya peperangan dan berhasilnya Kublai Khan menguasai daratan Tiong-goan, cukup banyak jago-jago yang bermunculan di dunia Kang-ouw. Dan yang membuat aku heran, mereka umumnya merupakan jago-jago muda yang memiliki kepandaian tidak rendah! Inilah yang merupakan ancaman tidak kecil buat rimba persilatan, karena syukur jika jago-jago muda itu mengambil jalan Pek-to, putih dan lurus. Tetapi jika mereka yang masih berusia muda dan berdarah panas itu memilih jalan Hek-to, maka akan menimbulkan bencana yang tidak kecil buat Kangouw......!"
Yo Him mengangguk.
"Apa yang dikatakan oleh Liu Lopeh memang tepat,"
Kata Yo Him.
"Dalam hal ini memang harus diperhatikan baik-baik. Karena sepak terjang dari jago-jago muda itu yang bermunculan cukup banyak dengan kepandaian tinggi. Dibiarkan begitu saja mereka mengumbar keganasan mereka, niscaya korban-korban yang berjatuhan akan banyak sekali, sedangkan tokoh sakti yang telah kecewa dengan kekalahan kerajaan kita dan berkuasanya Kubilai Khan di daratan Tiong-goan ini benar-benar mengundurkan diri dan hidup mengasingkan diri di tempat tertentu, sudah tidak mau mencampuri lagi urusan Kang-ouw......!"
Liu Ong Kiang berdiam diri sejenak. Namun akhirnya dia mengawasi Ko Tie. Dia mengawasi agak lama dan teliti sekali, seperti juga terdapat sesuatu yang menarik pada diri Ko Tie.
"Anak yang baik!"
Memuji Liu Ong Kiang akhirnya.
"Tampaknya anak ini memiliki bakat dan tulang yang baik sekali untuk mempelajari ilmu silat! Apakah ia murid Yo Kongcu?"
Sambil bertanya begitu, Liu Ong Kiang juga telah menoleh kepada Yo Him.
Yo Him menggeleng, ia cepat-cepat menceritakan siapa adanya Ko Tie dan bagaimana terjadi pertemuan di antara mereka.
Pula Yo Him menceritakan riwayat Ko Tie seperti apa yang pernah Ko Tie ceritakan padanya.
Rupanya Liu Ong Kiang tertarik sekali pada Ko Tie yang dipujinya sebagai seorang anak yang memiliki bakat berkepandaian tinggi, bimbingan yang baik dari seorang yang tangguh di kemudian hari.
Namun waktu mereka bercakap-cakap seperti itu, tiba-tiba mereka mendengar suara ribut-ribut di luar rumah penginapan.
Suara jerit ketakutan dan teriakan teriakan kaget.
Yo Him dan Liu Ong Kiang saling pandang.
Lalu ke duanya cepat-cepat keluar untuk melihat apa yang tengah terjadi itu.
Ternyata di jalan raya tampak orang-orang wanita dan laki-laki berlari-lari sambil berteriak-teriak ketakutan, semuanya tengah mencari tempat persembunyian banyak juga yang lari menerobos masuk ke dalam rumah penginapan dengan muka yang pucat.
Yo Him dan Liu Ong Kiang mengerutkan alisnya.
Ia melihat dari arah mana orang-orang itu datang berlari ketakutan dan segera juga mereka melihat sesuatu yang mengejutkan.
Karena terpisah puluhan tombak dari tempat mereka berada, tampak tengah mendatangi mahkluk yang cukup mengerikan, berbulu putih dan tinggi besar sambil melompat-lompat setengah berlari mengeluarkan suara erangannya yang keras sekali, menyeramkan.
Makluk mengerikan itu tidak lain dari seekor biruang putih, yang bulunya bagaikan tumpukan salju......
giginya yang panjang runcing itu tampak mengerikan sekali setiap kali binatang buas tersebut menyeringai.
Yo Him dan Liu Ong Kiang jadi heran entah dari mana datangnya binatang buas tersebut, karena inilah merupakan peristiwa yang jarang sekali terjadi bahwa di tengah-tengah keramaian kota muncul makhluk buas seperti itu.
Sedangkan biruang berbulu putih yang tinggi besar itu telah berlarilari kecil sambil melompat-lompat dan mengeluarkan sekali-sekali suara erangannya yang menyeramkan di jalan raya yang sepi.
Semua orang yang tadi berada di jalan raya telah bersembunyi dengan ketakutan.
"Entah darimana datangnya makluk itu?"
Menggumam Liu Ong Kiang dengan suara yang perlahan.
"Ini tidak boleh dibiarkan saja. Terutama jika biruang itu mengamuk, tentu bisa menimbulkan korban jwa......!"
Yo Him mengangguk, namun belum lagi ia menyahut, Liu Ong Kiang menjejakkan kakinya.
Tubuhnya melompat ke tengah jalan raya, dengan beberapa kali lompatan lagi.
Dia telah berada di depan biruang putih itu, menghadangnya, ingin meringkus.
Biruang berbulu putih itu memiliki ukuran tubuh dua kali tinggi dari tubuh Liu Ong Kiang, dan juga kuku jari-jari tangan dan kakinya tampak begitu runcing, mengerikan sekali.
Belum lagi taring-taring yang menonjol di mulutnya, di mana tampak menyeramkan setiap kali ia menyeringai.
Melihat ada seseorang yang merintangi jalannya, biruang putih itu telah menepuk-nepuk ke dua tangannya pada dadanya dan mengeluarkan raungan yang keras sekali.
Liu Ong Kiang tidak jeri menghadapi binatang buas tersebut, ia telah bersiap-siap untuk membekuk binatang yang sangat menyeramkan itu.
Sin-bok-koay-kay ini memang seorang pengemis yang lihay, ia merupakan seorang tokoh Kay-pang, dengan demikian, kepandaiannyapun tinggi sekali.
Menghadapi makhluk buas seperti ini, sama sekali ia tidak kuatir akan kena dicengkeram atau akan dirobek-robek karena memang Sin-bokkoay-kay Liu Ong Kiang bisa saja mempergunakan ginkangnya yang tinggi untuk menghadapinya.
Setelah meraung keras seperti itu, tahu-tahu makhluk buas tersebut menubruk akan memeluk Liu Ong Kiang.
Gerakan yang dilakukannya sangat cepat sekali.
Liu Ong Kiang yang telah bersiap-siap segera melompat menyingkir ke samping, biruang berbulu putih itu menubruk tempat kosong.
Penasaran sekali binatang buas tersebut ia telah mengerang lagi dengan keras dan menubruk kembali.
Tubuhnya yang tinggi besar bergerak secepat kilat, sehingga seperti juga gulungan warna putih belaka yang menerjang kepada Liu Ong Kiang.
Diam-diam Liu Ong Kiang terkejut karena cara menerjang biruang putih itu sangat lincah, dan juga anehnya menurut gerakan dari ilmu ginkang yang biasa dipelajari oleh manusia!
Tetapi Liu Ong Kiang telah menjejakkan kakinya lagi, tubuhnya terapung ke tengah udara di waktu mana kaki kanannya menjejak punggung binatang buas tersebut.
Tendangan yang dilakukan oleh kaki kanan si pengemis sesungguhnya sangat kuat sekali, karena ia menjejak dengan mempergunakan tenaga dalamnya.
Namun begitu telapak kakinya berhasil menjejak punggung biruang yang lunak-lunak keras tersebut, ia tidak herhasil sedikitpun untuk merubuhkan binatang buas itu.
Malah waktu kaki kanan Liu Ong Kiang menjejak punggungnya, biruang berbulu putih itu tanpa memutar tubuhnya, telah menggerakkan ke dua tangannya akan menjambret ke belakang.
Liu Ong Kiang tambah heran, gerakan yang dilakukan oleh biruang berbulu putih itu merupakan salah satu jurus ilmu silat yang dikenal dengan nama "Naga Sakti mengebutkan Ekor" , dan juga ke dua tangan dari biruang berbulu putih itu mengandung tenaga yang dahsyat.
Liu Ong Kiang memang sebelumnya telah berpikir, ia memang tidak jeri menghadapi biruang itu, namun makluk itu memiliki tenaga yang sangat kuat sekali.
Sekali saja ia tertangkap kena dicengkeram, tentu tubuhnya akan dibeset, dirobek-robek oleh makluk buas tersebut.
Jalan yang paling terbaik untuk dapat ia menghadapi lawan yang istimewa ini, memang hanya mengandalkan kegesitannya, dan nanti baru berusaha merubuhkannya.
Diluar dugaannya, makluk buas tersebut ternyata memang memiliki gerakan yang lincah.
Tubuhnya yang tinggi besar itu rupanya tidak menjadi rintangan baginya untuk dapat melompat gesit dan lincah.
Malah semakin lama, Liu Ong Kiang semakin heran dan bingung.
Karena biruang berbulu putih tersebut telah bertempur dengannya mempergunakan gerakan-gerakan ilmu silat, di mana setiap gerakan tangan dan kakinya mempergunakan berbagai jurus ilmu silat yang biasa dipergunakan oleh manusia.
Inilah peristiwa yang benar-benar sangat aneh dan tidak dimengerti oleh Liu Ong Kiang.
Sampai ia mau menduga, apakah binatang buas ini memang telah dipelihara oleh seorang jago Kang-ouw, yang mendidik dan melatihnya ilmu silat?!
Untuk beberapa saat lamanya, Liu Ong Kiang hanya melompat ke sana ke mari, berkelit dan mengelakkan diri, karena ia jadi tertarik dan ingin mengetahui, sampai berapa jauh binatang buas tersebut menguasai ilmu silat.
Yo Him yang mengawasi jalannya pertempuran yang istimewa dan aneh itu, antara seorang manusia dengan seekor binatang buas, yang sanggup menjalankan jurus-jurus ilmu silat telah berpikir.
"Binatang buas ini bisa muncul di tengah-tengah keramaian kota, dan juga ia bisa menjalankan jurus ilmu silat, setiap gerakan ke dua tangannya, merupakan pukulan dan cengkeraman yang aneh dan kuat sekali, juga badannya yang besar bergerak cukup lincah. Tentu binatang buas ini telah dipelihara oleh seseorang yang memiliki kepandaian tinggi dan juga majikan binatang buas ini telah mengajari dan mendidiknya dengan baik! Namun siapakah jago Kang-ouw yang telah mendidik biruang ini?" Sedang Yo Him berpikir begitu, di hatinya juga menduga beberapa orang tokoh Kang-ouw. Ko Tie yang telah keluar juga, malah menyaksikan pertempuran yang telah terjadi antara Liu Ong Kiang dengan biruang itu dengan tertarik beberapa kali anak kecil itu berseru.
"Bagus!"
Jika memang dilihatnya biruang itu menerjang dan menyerang Liu Ong Kiang dan pengemis tersebut berhasil mengelakkan diri.
Setelah melewatkan waktu beberapa saat, Liu Ong Kiang telah melihat bahwa biruang itu memang benar-benar setiap kali menerjang selalu mempergunakan jurus-jurus ilmu silat, bahkan teratur sekali.
Ia akhirnya memutuskan untuk menotok lumpuh binatang itu karena telah cukup membiarkan binatang buas tersebut selalu menyerang dirinya.
Dengan gesit, Liu Ong Kiang telah melompat ke sana ke mari, dan ke dua tangannya juga bergerak sangat lincah sekali.
Ia menotok berbagai tubuh biruang berbulu putih itu.
Setiap totokan yang dilakukan oleh Liu Ong Kiang memang selalu tepat mengenai berbagai jalan darah di tubuh binatang buas tersebut, tetapi binatang itu benar-benar kuat, ia sama sekali tidak rubuh.
Jika seorang manusia terkena totokan seperti itu, tentu akan rubuh dalam keadaan tidak berdaya.
Tetapi rupanya memang biruang putih itu memiliki kekuatan yang sangat hebat, sehingga totokan yang dilakukan oleh Liu Ong Kiang bagaikan garukan dan cuwilan perlahan pada tubuhnya, yang dilindungi bulu putih yang tebal itu.
Malah karena Liu Ong Kiang telah menotok beberapa kali, berulang kali hampir saja tangan Liu Ong Kiang kena dicengkeram oleh binatang buas tersebut.
Dengan demikian pengemis itu bertindak lebih hati-hati lagi.
Yo Him setelah mengawasi sekian lama memperoleh kenyataan bahwa Liu Ong Kiang tentu tidak mudah merubuhkan binatang buas yang aneh ini.
Benar Liu Ong Kiang memiliki kepandaian yang tinggi, pengemis itu memang liehay, namun menghadapi binatang buas yang seperti kedot dari totokan, di mana tubuhnya kebal dari setiap totokan dan tidak terpengaruh sama sekali tentu akhirnya Liu Ong Kiang sendiri yang mulai letih dan kehabisan tenaga.
"Aku harus segera membantuinya.....!"
Berpikir Yo Him, maka ia telah melompat mendekati gelanggang pertempuran itu, yang terjadi di tengah jalan tersebut.
Dengan gerakan yang sangat ringan tubuhnya berkelebat ke sana ke mari, dia pun menyerang biruang itu dengan pukulan-pukulan yang cukup kuat.
Memang bisa saja Yo Him menghajar sekalian membinasakan biruang itu, dengan menghantam hancur batok kepalanya atau juga mempergunakan pedangnya itu menikam sampai binasa binatang buas tersebut, kenyataannya Yo Him tidak mau melakukan hal seperti itu, karena ia memang bermaksud hanya melumpuhkan binatang buas tersebut.
Yo Him telah yakin, bahwa biruang pasti memiliki majikan, yang terdiri dari seorang tokoh Kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi, sebab binatang tersebut bisa membawakan jurus-jurus ilmu silat dengan baik.
Maka Yo Him tidak mau sembarangan turun tangan mencelakai biruang itu, karena jika binatang buas itu terbinasa di tangannya, pasti akan timbul bentrokan dengan orang yang telah memelihara biruang tersebut.
Disamping itu, memang Yo Him juga tertarik sekali melihat biruang ini bisa dilatih menjalankan ilmu silat, yang berarti bahwa binatang buas tersebut merupakan binatang yang cukup menarik, sayang jika dibinasakannya.
Begitulah, dengan melompat-lompat ke sana ke mari mempergunakan ginkangnya, Yo Him dan Liu Ong Kiang telah mempermainkan biruang tersebut, yang selalu gagal menubruk salah seorang di antara mereka.
Semakin lama biruang semakin menjadi penasaran, dan juga jadi kalap.
Dengan mengeluarkan suara raungan yang sangat keras sekali, tahu-tahu dia telah melompat menerkam dengan mementangkan ke dua tangannya ke arah Yo Him, yang maksudnya hendak dipeluk dan dicengkeramnya.
Tetapi Yo Him bisa bergerak cepat sekali, kaki kanannya menendang biruang itu dan tubuhnya telah melesat mundur meminjam tenaga tendangan itu, maka di waktu ke dua tangan biruang tersebut memeluk, dia memeluk angin alias tempat kosong.
Sedangkan Liu Ong Kiang juga mempergunakan kesempatan tersebut menggerakkan tangan kanannya, menghantam kuat sekali punggung binatang buas itu.
"Bukkkk!" , pukulan itu telah menyebabkan biruang tersebut terjerunuk ke depan, namun tidak sampai terjerembab mencium tanah. Rupanya pukulan yang dilakukan Liu Ong Kiang kali ini, menimbulkan perasaan sakit juga di punggungnya, biruang itu telah meraung dengan suara yang kuat sekali. Dia tengah murka dan kalap disamping penasaran, di mana kalau sampai binatang buas itu kalap, tentu bisa menimbulkan bahaya yang tidak kecil untuk orang lain kalau saja Liu Ong Kiang dan Yo Him tidak bisa menguasainya.
"Yo Kongcu, apakah kita binasakan saja binatang buas ini?"
Teriak Liu Ong Kiang dengan suara yang nyaring, karena pengemis ini merasakan ia cukup lelah setelah menghadapi binatang buas yang kuat dan tangguh itu sekian lama.
"Jangan!"
Teriak Yo Him.
"Kita harus dapat melumpuhkannya saja, tetapi jangan membinasakan binatang ini! Coba kita lihat saja, apakah pemiliknya akan memperlihatkan diri atau tidak!"
Berkata sampai di situ, Yo Him terpaksa melompat ke samping kanan, untuk mengelakkan terjangan kuat dan berbahaya dari binatang buas tersebut.
Tetapi Yo Him juga bukan hanya sekedar menyingkir, cepat bukan main ke dua tangannya dirangkapkan dan dia memukul dengan mempergunakan lima bagian tenaga dalamnya.
Pukulan seperti ini mengandung tenaga yang bisa menghancurkan batu, maka begitu mengenai telak kepala binatang buas itu, tubuh biruang berbulu putih itu telah terhuyung-huyung, kemudian terjatuh duduk dengan kepala yang pusing dan mata yang nanar.
Hanya mulutnya yang terpentang lebar mengeluarkan suara erangan marah.
Yo Him telah tertawa menghampiri Liu Ong Kiang, katanya.
"Sesungguhnya, binatang buas seperti ini harus dibinasakan, karena dengan adanya dia di tengah-tengah keramaian kota, tentu bisa mencelakai manusia...... tetapi anehnya, binatang buas ini bagaikan terpelihara baik dan pandai sekali mempergunakan jurus-jurus ilmu silat. Seperti tadi aku telah melihatnya Liu Lopeh, biruang ini membawakan jurus-jurus ilmu silat dengan teratur sekali. Entah siapa pemiliknya......?!"
Liu Ong Kiang telah mengangguk, ia menghela napas sambil melirik mengawasi biruang itu, lalu katanya.
"Benar aku yakin biruang ini pasti peliharaan orang Kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi...... entah siapa dia?"
Biruang putih itu, yang duduk dengan kepala digerak-gerakan ke kiri dan ke kanan, seperti juga tengah merasa pusing bukan main, telah berusaha untuk berdiri.
Semula ia mengerang-erang dengan tidak hentinya, setelah berdiri, walaupun tubuhnya masih sempoyongan bagaikan hendak jatuh kembali.
Ia telah membuka ke dua tangannya memukuli dadanya, dan mengerang dengan suara raungan yang seperti menggentarkan sekitar tempat itu.
Suara raungannya begitu panjang dan menyeramkan, membuat semua orang yang tengah bersembunyi di berbagai tempat, yang menyaksikan hal itu, telah menggigil ketakutan.
Ketika biruang putih ini muncul di kota tersebut, sesungguhnya waktu itu di jalan raya cukup ramai oleh manusia-manusia yang sibuk dengan kebutuhan mereka masing-masing.
Namun begitu binatang buas tersebut muncul, mereka jadi kaget dan ketakutan, dengan panik mereka telah berlari-lari mencari tempat bersembunyi.
Sekarang melihat biruang itu telah dihajar oleh Yo Him dan Liu Ong Kiang, bukannya jadi lumpuh dan pergi meninggalkan tempat itu, malah telah meraung dengan sikapnya yang bertambah ganas dan juga bertambah kalap, membuat orang-orang itu tambah ketakutan.
Karena kalau sampai terjadi biruang itu mengamuk dan Yo Him bersama Liu Ong Kiang tidak bisa menguasainya, niscaya akan menimbulkan kerusakan yang cukup hebat untuk toko-toko dan rumah-rumah penduduk di sekitar jalan tersebut, juga yang dikuatirkan akan jatuhnya korban manusia di tangan binatang buas itu......!
Biruang putih itu meraung terus, namun tidak menerjang lagi kepada Yo Him atau Liu Ong Kiang.
Dengan sikapnya seperti itu, segera juga Yo Him dan Liu Ong Kiang dapat menduga, bahwa biruang tersebut seperti tengah memanggil seseorang.
Dan tentunya yang dipanggil binatang buas dengan isyarat suara raungannya itu, adalah majikannya, orang yang telah memeliharanya......
Apa yang diduga oleh Yo Him dan Liu Ong Kiang memang tepat.
Karena setelah biruang putih itu meraung berulang kali dengan suara yang begitu menyeramkan, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara raungan seperti biruang putih itu, karena suara raungan itu adalah suara raungan dari seorang manusia.
Malah tidak lama kemudian tampak berkelebat mendatangi sesosok bayangan, yang gesit sekali.
Disusul deagan kata-katanya.
"Siapa yang telah berani menghina Pek-swat-jie (Anak Salju Putih)?"
Baru saja kata-katanya itu habis diucapkan, orangnya sudah tiba di samping biruang putih itu.
Dia adalah seorang lelaki bertubuh tinggi besar, dengan pakaian yang aneh sekali terbuat dari kulit binatang, dan juga mukanya memerah segar.
Usianya mungkin limapuluh tahun lebih, sikapnya gagah dan tenaganya tampak kuat sekali.
Dilihat dari keadaannya, orang itu seperti juga bukan orang daratan Tiong-goan.
Sepasang matanya telah mencilak ke sana ke mari, mengawasi sekelilingnya, mendelik Yo Him dan Liu Ong Kiang.
Biruang itu telah merangkul lelaki tersebut, ia mengeluarkan suara erangan perlahan, bagaikan tengah mengadu bahwa ia telah dihina oleh Yo Him dan Liu Ong Kiang.
Sedangkan lelaki itu yang aneh sekali cara berpakaiannya, telah mengangguk-angguk berulang kali.
Yo Him dan Liu Ong Kiang mengawasi saja, mereka tidak mengetahui entah siapa lelaki luar biasa ini.
Namun melihat cara datangnya tadi menunjukkan bahwa ginkangnya memang sangat tinggi sekali.
Walaupun tidak melebihi jauh ginkang yang dimiliki Yo Him, namun berada di atas dari ginkang Liu Ong Kiang!
Dilihat dari kulit tubuhnya yang putih kemerah-merahan, orang itupun rupanya tinggal di tempat yang dingin sekali, dan jarang terkena sinar matahari.
Namun dengan munculnya orang tersebut bersama dengan binatang peliharaannya itu, benar-benar sangat aneh dan membingungkan sekali.
Setelah merangkul lelaki itu beberapa saat, biruang itu melepaskan rangkulannya dan tangannya menunjuk-nunjuk pada Yo Him dan Liu Ong Kiang.
Lelaki aneh itu telah mengawasi mendelik kepada Yo Him dan Liu Ong Kiang, lalu bentaknya.
"Mengapa kau menghina Pek-swatjie?"
Yo Him cepat-cepat merangkapkan sepasang tangannya, ia menjura memberi hormat.
"Locianpwe, kami sama sekali tidak bermaksud mengganggu binatang peliharaanmu itu, tetapi kukira dengan membawa-bawa binatang buas di tengah keramaian kota ini bukanlah suatu perbuatan yang terpuji, karena biruang itu telah menimbulkan kepanikan penduduk kota! Juga, jika sampai binatang itu mengganggu penduduk di mana terjadi korban jiwa, bukankah hal itu harus disesalkan sekali......!?!"
Muka lelaki itu berobah merah, ia memang memiliki wajah yang putih kemerah-merahan, maka mukanya itu marah seperti juga kepiting yang direbus, diliputi kemarahan yang luar biasa.
"Kau mengatakan Pek-swat-jie mengganggu penduduk kota ini? Apakah kau bisa memperlihatkan siapa orang yang telah diganggu dan menjadi korban Pek-swat-jie?! Aku tahu benar, Pek-swat-jie tidak mungkin mengganggu manusia!"
Liu Ong Kiang tidak sesabar Yo Him dia mendengus dingin, katanya.
"Binatang itu walaupun telah dididik dengan baik, tetap saja binatang! Tadi dia telah mengejar-ngejar penduduk di kota ini, mereka jadi ketakutan dan panik berlari tidak menentu..... menakut-nakuti seperti itu, tentu akan menimbulkan kerusuhan di kota ini. Alangkah baiknya jika kau membawa pergi, binatang peliharaanmu itu!"
Mata lelaki aneh itu telah mendelik mengawasi Liu Ong Kiang, katanya.
"Pengemis bau apakah kau tahu dengan perkataanmu itu, tubuhmu bisa dibeset-beset oleh Pek-swat-jie?"
Liu Ong Kiang memang tengah mendongkol, karena lelaki aneh ini telah membawa-bawa dan melepaskan binatang buas yang jadi peliharaannya itu di tengah-tengah keramaian kota.
Ia memang tidak puas terhadap perbuatan lelaki aneh ini.
Sekarang dia ditegur seperti itu, maka katanya dengan sikap yang dingin.
"Jika memang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan binatang itu merusak atau mencelakai manusia, jelas engkau yang harus bertanggung jawab! Hemm, terlebih lagi jika memang binatang itu berani berbuat kurang ajar padaku, hemm, hemm, apakah kau kira aku ini bak-pauw, yang mudah untuk dibesetbeset?"
Lelaki bermuka merah yang pakaiannya begitu aneh, telah mendekati dengan gusar.
"Pengemis bau, mulutmu lancang dan kurang ajar sekali! Kau perlu dihajar......"
Dan setelah berkata begitu dengan gerakan yang sulit sekali diikuti oleh penglihatan manusia, tangannya bergerak untuk mencengkeram pundak Liu Ong Kiang.
Yo Him melihat gerakan yang dilakukan oleh orang berpakaian aneh itu luar biasa cepatnya, dan juga tangannya telengas sekali, serangannya bengis dan bisa melumpuhkan, karena yang diincernya adalah tulang pie-pe di pundak Liu Ong Kiang.
Sedangkan si pengemis hatinya tercekat waktu itu tahu-tahu jari tangan orang aneh itu menyentuh baju di pundaknya.
Mati-matian ia telah mengelakkannya dengan menurunkan pundaknya.
Tidak urung, bajunya di bagian pundak telah berhasil dirobek oleh jari tangan orang aneh itu, sehingga tampak kain baju itu berkibar-kibar tertiup angin, robek cukup lebar.
Bukan main gusarnya Liu Ong Kiang, ia sampat berjingkrak mengeluarkan makian sengit.
"Binatangnya buas, majikannya juga buas, maka ke dua-duanya perlu dimampusi!"
Lalu dengan perkataannya itu, Liu Ong Kiang telah mencabut tongkat bambu yang terselip di pinggangnya.
Tombak bambu itu sepanjang dua kali lebih, berwarna kuning kehijau-hijauan.
Biasanya, jarang sekali Liu Ong Kiang mempergunakannya jika memang bukan tengah menghadapi lawan yang tangguh.
Karena melihat bahwa orang aneh ini memang memiliki kepandaian yang tinggi dan tidak bisa dipandang remeh, maka ia telah mengeluarkan tongkat bambunya itu untuk menghadapi orang tersebut.
Bahkan begitu mengeluarkan tongkat bambunya, segera Liu Ong Kiang telah menggerakkannya untuk memukul ke pinggang orang aneh itu.
Orang aneh dengan pakaian yang aneh juga, telah mengeluarkan suara tertawa mengejek.
"Hemm, tongkat pemukul anjing buduk dari partai pengemis hendak dipergunakan menghadapi aku, Swat Tocu (pemilik pulau salju)?"
Teriaknya dengan suara yang dingin, dan tampak dia telah menjentik dengan jari telunjuknya menyentil tongkat bambu itu, yang telah kena disetilnya kuat sekali, sampai tongkat bambu itu terpental dan tidak berhasil mengenai sasarannya.
"Sedangkan Pangcu Kay-pang sendiri akan berlaku dan tidak berani berlaku kurang ajar!"
Mendengar bahwa orang yang ada di hadapannya ini, yang menjadi pemilik biruang putih itu, adalah Swat Tocu (majikan pulau salju), Liu Ong Kiang terkejut bukan main.
Ia pun tadi tengah kaget karena tongkatnya yang kena disentil oleh Swat Tocu tersebut telah terpental keras sekali, malah ia merasakan telapak tangannya begitu pedih dan sakit sekali, hampir saja tongkatnya itu tidak bisa dicekalnya terus dan terlepas.
Namun karena Liu Ong Kiang memang memiliki kepandaian yang tak rendah dia masih bisa berusaha mencegah terlepasnya tongkat bambu itu dari cekalan tangannya.
Swat Tocu memang merupakan seorang tokoh sakti yang sangat ditakuti oleh tokoh-tokoh rimba persilatan daratan Tiong-goan, karena Swat Tocu merupakan seorang tokoh tua yang telah berusia seratus tahun lebih.
Namun karena ia tinggal di tempat yang dingin di pulau Swat-to, Pulau Salju, yang seluruh permukaan pulau itu diselimuti oleh lapisan salju, membuat ia awet muda dan tampak seperti seorang yang baru berusia limapuluh tahun.
Rahasia awet mudanya itupun justru karena ia telah melatih lweekang yang mempergunakan inti es, yang bisa diperolehnya dari dasar pulaunya, di mana ia melatih lweekangnya itu dengan menyedot inti es yang terdapat di dasar pulau saljunya.
Maka inti es yang telah diresapnya itu, merupakan suatu kekuatan yang sangat hebat.
Jarang sekali ada orang yang bisa menghadapi inti es telapak tangan Swat Tocu, karena sekali saja Swat Tocu menyerang dengan pukulan yang mengandung kekuatan lweekang, lawannya akan terbinasa dengan tubuh yang kaku dan darah di tubuhnya membeku.
Begitu sempurnanya kepandaian lweekang yang telah dilatih oleh Swat Tocu, sehingga ia merupakan tokoh sakti yang boleh dibilang sudah tidak memiliki lawan sama sekali.
Sebagai seorang tokoh sakti yang memiliki kepandaian sulit untuk diukur lag Swat Tocu tidak sepuluh tahun sekali keluar meninggalkan pulaunya.
Bahkan tidak jarang sampai duapuluh tahun ia tidak pernah meninggalkan pulaunya itu.
Dengan demikian, orang-orang yang pengetahuannya tidak luas dan berkepandaian biasa saja, tentu tidak akan mengenal perihal Swat Tocu.
Beberapa orang tokoh sakti yang mengetahui adanya Swat Tocu.
Dan Liu Ong Kiang sendiri mendengar perihal Swat Tocu ini dari Pangcunya, di mana ia pernah mendengar Pangcunya itu mengatakan bahwa ada seorang tokoh sakti yang mungkin kepandaiannya tidak berada di bawah kepandaian Yo Ko dan tokoh-tokoh sakti lainnya.
Hanya saja, Swat Tocu itu memang jarang sekali menginjakkan kaki di daratan Tiong-goan, menyebabkan namanya seperti terpendam di antara tumpukan salju di pulaunya saja.
Malah menurut Pangcu dari Kay-pang itu, ketika Lima Jago Luar Biasa Oey Yok Su, Ong Tiong Yang, Ang Cit Kong, Auwyang Hong dan Toan Hong-ya mengadakan pertemuan di puncak Hoa-san, untuk merundingkan ilmu silat dan pedang, Swat Tocu ingin diundang.
Namun karena memang merekapun tidak mengetahui dengan tepat di mana letak pulau Salju itu, maka mereka tidak mengundangnya.
Hanya Oey Yok Su seorang yang pernah bertemu muka dengan Swat Tocu.
Itupun terjadi hanya satu kali saja.
Mereka telah bertempur sampai tiga hari tiga malam, dengan kesudahan berimbang, tidak ada seorangpun yang kalah.
Malah Oey Yok Su sendiri mengakui, jika bertempur terus dua atau tiga hari lagi, kesudahannya tentu dia yang akan merubuhkan Swat Tocu.
Pertemuan mereka itu terjadi di tengah laut, di mana Oey Yok Su tengah melakukan pelayaran, dan Swat Tocu juga kebetulan tengah berlayar juga.
Malah Oey Yok Su walaupun pernah bertemu satu kali dengan tokoh sakti yang memiliki kepandaian luar biasa dan juga sangat liehay itu, tidak mengetahui di mana letak pulau Salju.
Tocu dari Tho-hoa-to itu sendiri memang memiliki adat yang aneh, sulit sekali dimengerti perangainya.
Namun Swat Tocu malah lebih aneh lagi wataknya dibandingkan denyan sifat dan tabiat Oey Yok Su.
Sekarang tidak disangka-sangka tokoh sakti itu muncul di kota ini, malah bersama biruang putihnya yang tinggi besar dan ganas itu.
Benar-benar merupakan urusan yang sangat mengejutkan dan di luar dugaan.
Liu Ong Kiang sendiri merasakan hatinya jadi dingin, karena ia maklum, jika memang tokoh sakti ini menyerang terus, tentu dia akan celaka di tangannya.
Kalau kepandaian Swat Tocu memang melebihi atau setidak-tidaknya berimbang dengan kepandaian Oey Yok Su berlima dengan Ang Cit Kong, Ong Tiong Yang, Toan Hong-ya dan Auwyang Hong, mana mungkin Liu Ong Kiang dapat menghadapinya?
Yo Him sendiri kaget tidak terkira.
Ia telah berguru pada Oey Yok Su, dan sering juga gurunya itu bercerita mengenai tokoh-tokoh tua di masa lalu yang memiliki kepandaian sangat tinggi.
Oey Yok Su sering menyinggung-nyinggung juga perihal diri Swat Tocu yang diduga telah meninggal dunia karena usia tua, sebab waktu bertemu dengan Oey Yok Su dan mereka bertempur di tengah lautan, usia Swat Tocu waktu itu telah empatpuluh tahun lebih, sedangkan Oey Yok Su sendiri baru berusia duapuluh lima tahun.
Dengan demikian di saat Oey Yok Su telah tua seperti sekarang tentu Swat Tocu jauh lebih tua lagi.
Dan karena memang tidak pernah terdengar sepak terjangnya dan selalu berdiam di pulau saljunya.
Oey Yok Su menduga tentunya tokoh sakti yang aneh itu telah meninggal dunia.
Liu Ong Kiang juga telah melompat mundur, ia cepat-cepat memasukan tongkat bambunya menjura sambil merangkapkan ke dua tangannya.
"Maaf, maaf. Boanpwe tidak mengetahui bahwa tengah berhadapan dengan Swat Tocu Locianpwe. Apakah selama ini Swat Tocu Locianpwe baik-baik saja?"
Swat Tocu tidak menyerang lagi, ia berdiri dengan muka yang dingin, matanya masih mendelik, dengan suara gusar ia menyahuti;
"Jika aku tidak berada dalam keadaan baik-baik dan sehat, bagaimana mungkin aku bisa berada di sini? Matamu itu buta atau memang engkau terlalu tolol sehingga bertanya begitu?"
Disanggapi seperti itu, Liu Ong Kiang melengak, namun ia menahan diri dan tertawa.
"Benar-benar memang Boanpwee memiliki mata namun tidak bisa melihat bintang Pak-tauw!"
"Hemmm, dengan kekurang ajaran seperti yang kau lakukan tadi, telah cukup alasan buatku membinasakanmu! Biarlah, nanti aku mempertanggung jawabkan pada Pangcumu, aku mau lihat apakah si pengemis tua yang jadi Pangcu Kay-pang itu akan cobacoba membalas sakit hatimu......!"
Dan setelah berkata begitu, tampak Swat Tocu telah melangkah mendekati Liu Ong Kiang.
Muka Liu Ong Kiang jadi berobah agak pucat, ia memang jeri setelah mengetahui bahwa orang aneh ini adalah Swat Tocu, tokoh sakti itu, dan juga mendongkol melihat orang memperlakukan dirinya keterlaluan sekali.
Namun karena menyadari bahwa dirinya tidak berdaya untuk mengadakan perlawanan pada Swat Tocu yang memiliki kepandaian sempurna sekali, Liu Ong Kiang telah memaksakan diri untuk tersenyum, katanya.
"Locianpwee, tunggu dulu......!" "Tunggu dulu kakekmu?"
Tegur Swat Tocu dengan suara yang dingin.
"Tadi kau telah menghina Pek-swat-jie, maka sekarang engkau harus dihukum! Dengan memandang muka Pangcumu, aku bersedia memberikan keringanan untukmu, aku tidak akan membinasakanmu, tetapi akan mematahkan ke dua tangan dan ke dua kakimu......!"
Muka Liu Ong Kiang jadi pucat.
Jika memang Swat Tocu benarbenar membuktikan perkataannya, tentu Liu Ong Kiang tidak mungkin sanggup menghadapinya, berarti ia akan menerima bencana yang hebat bagi keselamatan dirinya.
Untuk menjelaskan pada manusia aneh yang memiliki perangai aneh juga, memang sulit.
Akhirnya, karena sudah tidak memiliki jalan keluar, Liu Ong Kiang telah tersenyum pahit, katanya nekad.
"Saat sekarang ini Boanpwe tengah menjalankan sebuah tugas yang penting untuk keselamatan Kay-pang, maka jika memang Swat Tocu ingin memberikan pelajaran kepada Boanpwe, dua tahun lagi Boanpwe akan datang menemui Locianpwe......!"
Swat Tocu telah tertawa dingin, katanya dengan tawar.
"Hemmm, siapa yang bisa mempercayai perkataanmu? Engkau pengemis bau, tentu engkau hanya berusaha untuk dapat meloloskan diri dari tanganku, setelah itu kau akan mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan ekor! Hemm, sekarang juga aku akan menghukummu! Aku tidak mau tahu perihal Kay-pang bangpak kalian itu.....!"
Dan perkataannya baru saja habis sampai di situ, tubuh Swat Tocu telah bergerak cepat sekali mengulurkan ke dua tangannya, maksudnya akan mencengkeram tangan kiri dan tangan kanan Liu Ong Kiang.
Liu Ong Kiang sendiri mati-matian telah berusaha mengelakkan diri.
Dia menghindar dengan melompat mundur sejauh mungkin sampai tiga tombak lebih.
Namun begitu ke dua kakinya menyentuh tanah, begitu juga ia merasakan sambaran angin dari cengkeraman tangan Swat Tocu, yang akan mencengkeram ke dua tangannya pula.
Rupanya biarpun Liu Ong Kiang telah bergerak gesit dan cepat sekali untuk menghindarkan diri, kenyataannya Swat Tocu dapat bergerak lebih gesit lagi, di mana dia seperti membayangi Liu Ong Kiang.
Dengan mengeluarkan suara seruan tertahan, Liu Ong Kiang matimatian telah membuang dirinya bergulingan di atas tanah dan di waktu itulah Swat Tocu menggerakkan kaki kanannya menendang.
"Pengemis bau pengecut......!"
Makinya.
Tendangan yang dilakukan oleh Swat Tocu mengenai telak sekali pinggang Liu Ong Kiang sampai pengemis itu mengeluarkan suara jeritan yang nyaring, tubuhnya telah terlempar empat tombak lebih, jauh dan tinggi sekali sampai dia terbanting keras.
Dan tidak bisa segera bangun berdiri, hanya meringkuk mengerang kesakitan.
Yo Him kaget, dalam waktu hanya beberapa detik ternyata Swat Tocu telah berhasil menghajar Liu Ong Kiang.
Inilah menunjukkan bahwa Swat Tocu memang memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.
Malah belum lagi Yo Him tahu apa yang harus dilakukannya, tubuh Swat Tocu telah melayang ke dekatnya dan berdiri di sampingnya, sambil mengeluarkan tangannya untuk mencengkeram pundaknya.
Gerakan itu cepat sekali, angin serangannya berkesiuran tajam.
Namun Yo Him telah menerima didikan dari tokoh-tokoh sakti seperti Oey Yok Su dan juga ayahnya yang memiliki kepandaian hebat, juga Siauw Liong Lie yang telah mendidiknya dengan berbagai ilmu yang hebat.
Dari gabungan ilmu itu Yo Him telah menjadi seorang tokoh muda yang memiliki kepandaian hampir sempurna walaupun usianya itu masih muda.
Menghadapi ancaman serangan seperti itu, cepat-cepat Yo Him mengangkat tangan kanannya, ia telah menangkis.
Tangan mereka saling bentur dan tubuh Yo Him terlempar dua tombak.
Namun Yo Him bisa jatuh dengan ke dua kaki tiba lebih dulu, ia jatuh dalam sikap berdiri, tanpa kurang suatu apapun juga.
Swat Tocu sendiri ketika tangannya saling bentur dengan tangkisan Yo Him, merasakan pergelangannya agak nyeri, dia mundur selangkah dengan muka berubah hebat.
Baru kali ini seumur hidupnya ia mengalami peristiwa seperti ini, yaitu selain gagal mencengkeram lawannya, ia sampai terdorong mundur selangkah.
Memang tidak banyak, hanya selangkah, namun inilah kejadian pertama kali yang dialaminya.
"Hebat pemuda ini, kepandaiannya tidak rendah, entah siapa dia?"
Berpikir Tocu dari Pulau Salju tersebut dengan mata mendelik mengawasi Yo Him dan menduga-duga entah siapa adanya pemuda liehay ini.
"Siapa kau dan siapa gurumu?"
Tanya Swat Tocu akhirnya.
Yo Him walaupun mendongkol, namun disebabkan ia mengetahui tengah berhadapan dengan seorang tokoh sakti yang memiliki kepandaian sangat luar biasa, ia menindih perasaan mendongkolnya itu, merangkapkan ke dua tangannya, memberi hormat katanya.
"Boanpwe she Yo dan bernama Him. Boanpwe memiliki beberapa orang guru, yang sulit sekali dijelaskan di sini."
"Kau she Yo? Ada hubungan apa kau dengan Yo Ko?!"
Tegur Swat Tocu.
"Itulah ayah Boanpwe......!"
Menyahuti Yo Him.
"Hemmm,"
Mendengus Swat Tocu.
"Di mana ayahmu sekarang berada?"
"Ayah dan ibu telah hidup mengasingkan diri di suatu tempat, mereka tentu gembira sekali kalau memperoleh kunjungan Locianpwe.....!"
Menyahuti Yo Him.
"Hemm, aku telah mendengar cukup banyak mengenai sepak terjang Yo Ko, ayahmu itu...... dan juga mengenai sepak terjangnya yang terakhir mempertahankan kota Siang-yang. Aku memang ingin bertemu dengannya untuk membicarakan suatu persoalan karena aku pernah mendengar dari beberapa orang Kang-ouw bahwa ayahmu itu merupakan pendekar sakti masa kini, yang sudah tidak ada lawannya. Sampai Oey Yok Su, dan tokoh-tokoh sakti lainnya yang masih hidup, sudah bukan tandingannya lagi......! Benarkah itu?"
Yo Him cepat-cepat merangkapkan ke dua tangannya menjura memberi hormat.
"Itulah pujian yang terlalu tinggi! Oey Suhu (guru Oey) adalah tingkatan cianpwee, dan juga belum pernah bertempur dengan ayah karena memang mereka memiliki hubungan baik, maka tidak ada perlunya untuk memperbandingkan kepandaian mereka. Tentu saja masing-masing memang memiliki kepandaian sendirisendiri dan keistimewaan masing-masing!"
"Hemm, dengan berkata begitu, secara tidak langsung engkau ingin mengatakan ayahmu itu memang hebat dan apa yang disiarkan oleh orang-orang Kang-ouw bahwa ayahmu itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, merupakan pendekar maha sakti tidak ada salahnya bukan?"
"Tidak berani boanpwee berkata begitu!"
Sahut Yo Him cepat.
"Baiklah! Karena kau putera Yo Ko, tentu engkau telah mewarisi seluruh kepandaiannya! Lewat engkau juga aku bisa menarik kesimpulan berapa tinggi kepandaian ayahmu! Kau akan menerima tiga seranganku itu...... Jika memang engkau bisa menghadapi tiga seranganku itu, maka kawanmu itu, yang telah sama-sama menghina Pek-swat-jie, akan lolos dari hukuman patahkan tangan dan kaki! Kau bersiaplah.....!"
Waktu berkata begitu, Swat Tocu membawa sikap yang dingin.
Yo Him jadi berdiri bimbang, ia telah melirik kapada Liu Ong Kiang, yang tengah merayap bangun untuk berdiri, namun rupanya tendangan kaki Swat Tocu pada pinggangnya menyebabkan ia terluka di dalam.
Untuk sejenak lamanya Liu Ong Kiang belum berhasil berdiri, hanya berjongkok sambil memegangi pinggangnya itu dengan muka meringis.
"Tocu dari Pulau Salju ini memang memiliki kepandaian yang sudah tidak ada batasnya dan sulit dihadapi, walaupun benar, mungkin dia tidak bisa merubuhkan aku, namun jika ia mengumbar kemarahannnya itu kepada Liu Lopeh, bukankah keselamatan jiwa Liu Lopeh terancam? Tocu dari Pulau Salju ini juga memiliki perangai yang aneh sekali, dan sangat ku-koay, maka aku harus menghadapinya dengan baik. Apa salahnya aku menerima tiga serangannya. Bukankan jika aku telah berhasil menerimanya, berarti bukan saja menyelamatkan Liu Lopeh, juga yang berarti akan mengurangi kecongkakan Tocu ini.....!"
Pikir Yo Him dengan hati yang ragu.
"Ayo bersiap, aku tidak mau membuang waktu terlalu lama!"
Kata Swat Tocu dengan suara yang dingin, sedingin salju, matanya juga mengawasi tajam sekali.
Yo Him membungkuk dengan merangkapkan ke dua tangannya, dia membawa sikap seperti menanti serangan dari tingkatan tua, kemudian katanya.
"Silahkan Locianpwe mau berlaku murah hati sedikit......!" "Jika memang aku tidak bermurah hati, dengan sekali hajar saja, engkau dapat kubinasakan dan tidak perlu mempergunakan cara seperti ini.....!"
Kata Swat Tocu tawar.
Dan sehabis berkata begitu, tubuhnya berdiri tegak, ke dua tangannya diputar digerak-gerakkan dengan gerakan yang lambat, mukanya memperlihatkan kesungguhan, semakin lama semakin merah semakin lama muka Swat Tocu bagaikan dilapis oleh darah yang berkumpul di mukanya itu.
Ia pun telah berkata.
"Aku akan segera mulai, kau bersiap-siaplah......!"
Dan ke dua tangannya itu ditekuk di depan dadanya tahu-tahu perlahan sekali ia mendorong ke arah Yo Him.
Mereka berdiri dalam jarak yang cukup jauh, yaitu dua tombak lebih.
Tentu saja ke dua tangan Swat Tocu yang didorongkan ke depan itu tidak mungkin menyentuh tubuh Yo Him, namun kesudahannya atas serangan ini membuat Yo Him jadi kaget setengah mati.
Lain dari biasanya, Yo Him tidak merasakan samberan angin serangan.
Ia memandang heran, dan waktu bengong mengawasi Swat Tocu yang menggerakkan ke dua tangannya itu, di saat itulah tampak Yo Him menggigil.
Karena ia seperti dibungkus oleh lapisan es yang dingin, di mana tubuhnya bagaikan dialiri oleh hawa dingin yang luar biasa melebihi dinginnya es.
Karena peristiwa ini terjadi demikian tiba-tiba dan tidak disangka sama sekali oleh Yo Him, juga memang cara menyerang dari Swat Tocu ini aneh luar biasa.
Tanpa menimbulkah angin serangan sama sekali, dan juga seperti juga tidak ada tenaga menyerang sama sekali, tahu-tahu tubuh Yo Him telah diliputi oleh hawa yang dingin luar biasa, yang semakin lama hawa dingin itu seperti bertambah tebal dan telah membuat dia seperti dibungkus oleh lapisan es.
Dengan demikian telah membuat Yo Him menjadi kaget setengah mati.
Dan pemuda she Yo ini menyadari, apa artinya semua itu.
Jika sampai hawa dingin itu semakin lama semakin dingin, darah di tubuhnya akan membeku, berarti akan sulit ia menggerakkan ke dua tangan dan kakinya, yang akan menjadi kaku.
Yo Him juga menyadari bahwa cara menyerang yang dilakukan oleh Swat Tocu ini benar-benar ilmu yang luar biasa.
Sebagai majikan dari pulau Salju, ternyata pukulan yang dipergunakannya juga mengandung hawa dingin dari salju, bahkan melebihi dinginnya dari es itu sendiri.
Swat Tocu memang telah mempergunakan ilmu pukulan Inti Esnya, di mana dia telah berhasil mengambil hawa inti es tersebut dari pusat bumi di bawah dasar pulaunya.
Karena pulau yang di tempatinya itu adalah pulau salju, yang sepanjang jaman selalu ditutupi oleh salju.
Tidak pernah terkena oleh cahaya matahari dan juga tidak pernah mencair selama ribuan tahun, bahkan puluhan ribu tahun.
Dengan demikian pusat bumi di bawah dasar pulau tersebut memiliki hawa yang dingin sekali, di mana hawa dingin dari tumpukan salju sepanjang puluhan ribu tahun itu telah meresap ke dalamnya dan terkumpulkan di pusat bumi, akhirnya merupakan inti Es yang paling dingin sekali dan memiliki kemujijatan yang luar biasa.
Justru Swat Tocu telah menyedot Inti Es dari pusat bumi itu, di mana ia telah menyedot dan mempergunakannya untuk latihan lweekangnya, yang berhasil mengumpulkan Inti Es tersebut pada tan-tiannya, sehingga ia memiliki lweekang yang aneh dan luar biasa selain membuatnya awet muda.
Sekarang dalam serangan pertama, karena mengetahui lawannya yang muda usia itu adalah putera Yo Ko, dengan sendirinya ia telah menyerang dengan ilmunya yang hebat itu.
Tanpa angin serangan dan tanpa suara, hanya hawa dingin belaka yang luar biasa menyerang Yo Him, membungkusnya.
Dengan demikian, ia menghendaki, sekali serang ini Yo Him bisa dilumpuhkannya.
Telah cukup sering Swat Tocu mendengar akan Oey Yok Su berlima dengan Ong Tiong Yang, Ang Cit Kong, Auwyang Hong dan Toan Hong-ya, yang merupakan lima jago luar biasa di daratan Tiong-goan.
Lalu kemudian menyusul dengan nama-nama Kwee Ceng dan Yo Ko.
Malah yang terakhir itu, Yo Ko, akhirnya menjadi seorang jago maha sakti yang kepandaiannya sudah tidak ada duanya di dunia ini.
Maka Swat Tocu yang mendengar hal itu jadi penasaran.
Hanya disebabkan ia tengah melatih ilmunya yang mencapai tingkat kesembilan, merupakan tingkat penentuan untuk menyempurnakan latihan ilmu Inti Esnya yang dia hisap dari pusat bumi itu, membuat selama belasan tahun terakhir ia belum bisa meninggalkan pulau Saljunya.
Dan baru sekarang setelah ilmunya itu terlatih rampung dan sempurna, ia meninggalkan pulaunya, dengan mengajak Biruang putihnya itu, yang sesungguhnya merupakan Biruang Salju, yang menemaninya selama ia hidup di Pulau Salju.
Usia Biruang tersebut telah cukup tua, mungkin delapanpuluh tahun.
Namun karena memang Biruang ini tinggal di pulau Salju, sama halnya seperti juga Swat Tocu, maka ia awet muda, dan panjang usia.
Malah binatang itu telah dididik oleh Swat Tocu untuk melatih ilmu silat.
Binatang buas itu walaupun tidak bisa menerima keseluruhan dari ilmu yang diturunkan oleh Swat Tocu, karena secerdik-cerdiknya Biruang Salju, tetap ia merupakan binatang, tapi sebagian dari ilmu Swat Tocu telah berhasil dikuasainya dengan baik.
Jika memang baru menghadapi jago-jago yang memiliki kepandaian biasa saja, tentu Biruang Salju itu bisa menghadapinya dengan baik.
Tadi justru dia menghadapi Liu Ong Kiang yang dibantu oleh Yo Him, maka Biruang Salju menjadi tidak berdaya.
Karena ke dua orang itu justru dia merupakan manusia-manusia yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi.
Yo Him menyadari ancaman bahaya yang tidak kecil untuk dirinya jika memang hawa dingin yang dilancarkan oleh Swat Tocu itu semakin lama semakin kuat dan juga semakin dingin membungkus tubuhnya.
Cepat-cepat Yo Him menyedot hawa Tan-tiannya, lalu ia menyalurkan ke seluruh pembulu jalan darahnya.
Ia mempergunakan cara Yang-khie-lek, yaitu hawa murni yang panas, guna menghadapi hawa dingin itu.
Seketika tubuhnya memancarkan hawa yang panas sekali.
Namun tetap saja hawa dingin yang menyelubungi sekujur tubuhnya itu tidak juga tertembus oleh hawa Yang-khie-lek tersebut di mana tampak Yo Him masih dikuasai oleh hawa dingin itu dengan rapat, membuat tubuhnya jadi menggigil.
Terkejut sekali Yo Him menghadapi kenyataan ini, namun ia tidak jeri.
Sekali lagi Yo Him memusatkan hawa Tan-tian dan mengemposnya dipergunakan untuk menerjang hawa dingin yang menyelubungi tubuh itu.
Dengan demikian akhirnya berangsur-angsur Yo Him telah berhasil mengurangi hawa dingin yang menguasai dirinya, dan juga perlahan-lahan hawa panas dari Yang-khie-lek itu telah menerobos menguap dari sekujur tubuhnya.
Dan dengan berkurangnya hawa dingin itu telah membuat Yo Him semakin bersemangat mengerahkan Yang-khie-lek nya tersebut.
Dia berhasil menentang hawa dingin tersebut, dan akhirnya Yo Him berhasil berdiri tetap di tempatnya tanpa kurang suatu apapun.
Menyaksikan bahwa serangannya yang pertama dengan mempergunakan tenaga inti esnya sebesar lima bagian masih tidak bisa merubuhkan pemuda itu, Swat Tocu diam-diam jadi kagum sekali.
Karena boleh dibilang di dunia ini hanya beberapa orang saja yang sanggup menerima serangan inti esnya sebesar lima bagian itu.
"Bagus!"
Memuji Swat Tocu kemndian dengan suara yang nyaring.
"Engkau berhasil menerima seranganku yang pertama. Tetapi sekarang kau terimalah serangan yang ke dua!" Yo Him waktu itu melihat Swat Tocu telah menarik ke dua tangannya yang kemudian diputar-putarnya kembali, untuk digerakkan perlahan, lalu mendorong lagi ke arah Yo Him. Jarak mereka terpisah masih cukup jauh, namun dorongan yang kali ini dilakukan oleh Swat Tocu, yang tetap tidak menimbulkan angin serangan itu telah menyambar hawa dingin yang jauh lebih hebat dari hawa dingin yang sebelumnya, karena seketika itu juga tubuh Yo Him seperti terbungkus oleh lapisan es yang tebal, di mana juga hawa dingin itu jauh lebih dingin dari es manapun di dunia ini! Ternyata Swat Tocu telah mempergunakan delapan bagian dari tenaga Inti Esnya, dan ia juga telah mempergunakan Inti Esnya itu dari tingkat ketujuh, dengan demikian merupakan tingkat yang tinggi sekali dan belum pernah dipergunakannya. Sesungguhnya ilmu Inti Es yang dilatih oleh Swat Tocu itu terdiri dari sembilan tingkat. Dan tingkat kesembilan itu baru saja diselesaikannya, di mana telah rampung dan sempurna ilmu Inti Esnya itu. Sekarang dia mempergunakan tingkat ketujuh, seharusnya merupakan tingkat yang sangat hebat, karena jika ia sampai mempergunakan tingkat kesembilan, berarti ia telah mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya. Begitu Swat Tocu mempergunakan tingkat kesembilan, berarti selesailah ia menjalankan seluruh hawa inti es tersebut disalurkan untuk membungkus tubuh lawannya. Yo Him kaget bukan main merasakan tubuhnya terbungkus hawa dingin yang jauh lebih dingin dari semula. Pemuda ini sekarang tidak mau berdiam diri di situ terus, ia telah menyingkir ke samping. Tubuhnya bergerak sangat gesit sekali, maksudnya menyingkir dari libatan hawa dingin itu. Namun setiap kali Yo Him menyingkir baik ke kiri atau ke kanan, hawa dingin itu tetap ikut padanya karena ke dua tangan dari Swat Tocu yang teracungkan itu tetap di arahkan kepadanya. Jika memang Yo Him bergerak lebih cepat dan ke dua tangan dari Swat Tocu belum sempat teracung ke arahnya mengikuti tubuh Yo Him yang bergerak ke kiri dan ke kanan, maka hawa dingin yang tersalur dari ke dua tangan Swat Tocu itu telah mengenai tempat lain, seperti undakan tangga di pintu atau juga batang-batang pohon di tepi jalan tersebut, yang tumbuh sebagai pohon hias di muka rumah penginapan tersebut jadi terbungkus oleh lapisan putih, yaitu salju Semua orang yang menyaksikan ini jadi heran dan takjub. Itulah luar biasa. Bagaikan Swat Tocu tengah bermain sulap, karena pohon dan undakan anak tangga yang terkena arah acungan tangan dari Swat Tocu, di mana tidak terhalang oleh tubuh Yo Him lagi, jadi terbungkus lapisan salju, bagaikan waktu itu adalah musim dingin! Memang jika lawan Swat Tocu bukan Yo Him, biarpun memiliki kepandaian yang tinggi, namun lweekang yang selurus dan setinggi yang dimiliki Yo Him tentu mereka akan dapat dirubuhkan oleh Tocu dari Pulau Salju tersebut dan tubuh mereka siang-siang telah terbungkus oleh lapisan es. Tetapi disebabkan Yo Him telah menerima pelajaran khusus dari Oey Yok Su dan juga Yo Ko maupun Siauw Liong Lie dan tokoh-tokoh sakti lainnya, maka membuat Yo Him memiliki lweekang yang sangat tinggi dan juga lurus, sehingga dengan hawa murninya yang bisa dipancarkan menguap dari sekujur tubuhnya. Hawa dingin dari pukulan Inti es yang dilancarkan oleh Swat Tocu itu tidak bisa menguasai dirinya, dan juga tidak bisa membungkus dirinya dengan lapisan salju. Di waktu itu Liu Ong Kiang yang berhasil berdiri, mengawasi jalannya pertandingan, aneh bukan main. Dilihatnya Yo Him memang benar-benar tangguh dan juga menakjubkan sekali. Cara bertanding itu benar-benar istimewa dan jarang sekali terjadi dalam rimba persilatan. Liu Ong Kiang yang memiliki pengalaman sangat luas, belum pernah menyaksikan cara bertanding seperti itu. Untuk seketika lamanya Liu Ong Kiang jadi melupakan rasa sakit di pinggangnya dan telah mengawasi jalan pertandingan yang tengah berlangsung dengan bengong dan takjub, seperti tidak mempercayai apa yang dilihatnya, yaitu setiap benda yang dilanggar oleh serangan Inti Es Swat Tocu, akan terlapis oleh lapisan salju.
"Bila aku yang menjadi lawannya, tentu sekali serang saja, aku telah berhasil dibinasakannya dengan tubuh kaku dan darah membeku......!"
Diam-diam Liu Ong Kiang berpikir.
"Memang Yo Kongcu hebat sekali, tidak percuma ia jadi putera dari scorang tokoh maha sakti seperti Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko!"
Dengan demikian, perasaan hormat dan juga kagumnya pada Yo Him kian bertambah.
Yo Him sendiri yang baru menerima dua kali serangan dari Swat Tocu, benar-benar telah jadi bingung dan kelabakan juga.
Karena jika semula serangan ke dua itu memang hanya memiliki hawa dingin yang jauh lebih dingin dari jurus yang pertama, lewat sekian lama tiba-tiba Yo Him merasakan seluruh tubuhnya seperti menjadi kaku.
Walaupun Yo Him telah mengempos hawa murninya, yaitu hawa Yang-khie-lek nya, yang merupakan inti sari ilmu lweekang Kiuyang-cin-khie yang diajarkan Yo Ko, Siauw Liong Lie dan Oey Yok Su, namun tetap saja Yo Him tidak bisa memecahkan hawa dingin itu, tidak bisa menerobosnya.
Semakin lama tubuhnya semakin kaku dan darahnya seperti mulai membeku.
"Celaka!"
Diam-diam Yo Him berpikir dalam hatinya.
"Ini adalah serangannya yang ke dua, tubuhku telah kaku dan darah-darah di setiap pembuluh darah seperti tidak beredar dengan lancar lagi, dengan demikian bisa aku celaka di tangannya. Maka dari itu, dalam keadaan seperti ini, aku harus berusaha dapat menguasai ilmu yang luar biasa itu......!"
Sambil berpikir begitu, Yo Him telah berpikir keras untuk mencari akal guna menghadapi ilmu Inti Es yang dimiliki Swat Tocu.
Yo Him sendiri menyadari, jika saja ia berlaku lambat, dan sampai darahnya membeku dan tidak dapat beredar lagi dengan baik, tentu akan membuat dia celaka tidak tertolong lagi.
Bukan saja kepandaiannya akan termusnahkan sebagian, kemungkinan besar ia terbinasa dan seringan-ringannya terluka di dalam yang akan membuat ia sakit berat, tentu selanjutnya ia akan menjadi manusia bercacad.
Belum lagi orang aneh itu yang menjadi Tocu dari Pulau Salju melancarkan serangannya yang ketiga, yang pasti jauh lebih hebat dari ke dua serangan ini.
Seketika itu juga Yo Him telah memusatkan seluruh kekuatan murninya untuk mengadakan perlawanan terhadap hawa dingin yang membungkus tubuhnya.
Ia tidak bisa mengadakan perlawanan dengan cara lain, hanya harus dapat menguasai hawa dingin itu.
Tetapi dikala itu, di otak Yo Him telah berkelebat serupa ingatan.
"Dia melakukan penyerangan dengan ilmu aneh ini, yang memiliki hawa dingin melebihi dinginnya salju, tentu dia hanya melatih lweekang tingkat tinggi seperti ini tanpa lebih memperhatikan bagian lainnya dari ilmu luar. Coba aku menghadapinya dengan mempergunakan gempuran tenaga yang dahsyat......!"
Dan karena berpikir begitu, Yo Him telah menggerakkan ke dua tangannya, mengikuti gerak yang dilakukan oleh Swat Tocu tadi, ia juga berusaha menahan hawa dingin yang menguasai dirinya, walaupun tubuhnya mulai menggigil dan giginya bercatrukan tidak hentinya.
Setelah menggerakkan ke dua tangannya, tahu-tahu Yo Him memusatkan sembilan bagian tenaga dalamnya, dengan kekuatan dahsyat yang sepenuhnya itu, dia telah mempergunakan menghantam ke arah Swat Tocu.
Pukulan yang dilakukan oleh Yo Him ini bukan pukulan sembarangan.
Karena jangankan manusia, sedangkan batu karang saja akan tergempur hancur menjadi bubuk.
Tadi saja Biruang Salju itu, Pek-swat-jie, yang memiliki kekebalan dan kekuatan luar biasa, dihantam dengan lima bagian tenaga dalam Yo Him, telah membuat binatang itu jadi pusing dan tidak bisa bangun untuk sementara waktu.
Dengan demikian, bisa dibayangkan, betapa hebatnya tenaga serangan yang dilancarkan oleh Yo Him dengan mempergunakan sembilan bagian tenaga dalamnya.
Angin pukulan itu menerjang kuat sekali pada Swat Tocu, di mana Tocu dari Pulau Salju itu jadi kaget, tubuhnya berkelebat seperti bayangan mengelakkan serangan Yo Him.
Dengan menyingkirnya Swat Tocu, maka sementara hawa dingin yang mengurung dirinya jadi buyar.
Dan juga Yo Him tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada, ia telah menjejakkan ke dua kakinya, cepat bukan main tubuhnya seperti juga seekor burung rajawali, melayang di tengah udara dan tangannya melakukan pukulan pula ke diri Swat Tocu.
Swat Tocu tidak menyangka Yo Him akan melakukan gerakan seperti itu, maka dengan cepat iapun telah mengebutkan ke dua tangannya, di mana ia telah mempergunakan tenaga Inti Esnya, dan berkesiuranlah hawa dingin itu berusaha membungkus Yo Him lagi.
Namun karena sekarang Yo Him mempergunakan siasat lain, ia melompat ke sana ke mari seperti juga burung elang yang akan menyambar mangsanya, tubuhnya sulit dibungkus oleh hawa dingin itu.
Juga akibat melompat-lompatnya dia seperti itu membuat Yo Him jadi merasakan darahnya bergolak hangat, dan dia berhasil juga mengerahkan Yang-khie-lek nya itu, yang telah berhasil dikerahkan untuk melindungi sekujur tubuhnya.
Cara yang dipergunakan oleh Yo Him ternyata memang memberikan hasil yang menggembirakan, karena sama sekali Inti Es Swat Tocu gagal menguasai dirinya, maka dari itu, Yo Him telah melanjutkan caranya seperti itu.
Swat Tocu jadi mendongkol, dia telah berseru nyaring, sambil berdiri tetap di tempatnya.
"Kau jagalah seranganku yang ketiga ini! Jika memang kau berhasil memunahkan seranganku yang ketiga ini tanpa kurang suatu apapun juga berarti engkau telah menolongi sahabatmu itu, si pengemis bau, dari hukuman yang seharusnya dia terima......!"
Dan Swat Tocu bukan hanya sekadar saja, karena ke dua tangannya kembali digerakkan.
Namun sekarang gerakan ke dua tangannya itu berbeda sekali dengan gerakan yang dilakukannya tadi, karena kini ia menggerakkan ke dua tangannya itu silih berganti mendorong ke depan, ke arah mana beradanya Yo Him.
Setiap gerakan itu mengandung kekuatan hawa dingin yang luar biasa hebatnya karena Swat Tocu telah mempergunakan ilmu Inti Esnya itu sampai tingkat kedelapan.
Hawa dingin membungkus Yo Him terus menerus, walaupun ia melompat ke sana ke mari tokh sekarang ini ia tidak bisa menyingkir dari gulungan hawa dingin itu.
Malah ketika Yo Him ingin melompat lagi, pada waktu itu Swat Tocu telah menghentak tangan kanannya maka seketika itu juga tubuh Yo Him telah tertarik oleh suatu kekuatan yang tidak tampak, dan seketika itu telah membuat tubuhnya terbetot kuat bukan main, di mana ia telah rubuh terbanting di tanah.
Dalam keadaan seperti itu, tampak Swat Tocu ingin menarik pulang hawa dinginnya itu, sebab beranggapan bahwa Yo Him telah bisa dirubuhkannya.
Tetapi Swat Tocu jadi kaget sendirinya, tahu-tahu kakinya terasa nyeri sekali.
Karena waktu tubuh Yo Him tertarik dan terbanting, di waktu itulah Yo Him tidak membuang waktu lagi telah bergulingan menyambar ke dua kaki Swat Tocu dengan ke dua tangannya, di mana dia telah memukul dengan seluruh kekuatan lweekangnya.
Walaupun Swat Tocu memang memiliki ilmu yang sempurna dan juga kuda-kuda yang sangat kuat sekali, tidak urung begitu diserang, kuda-kuda kakinya tergempur juga.
Namun dia tidak sampai rubuh, hanya ke dua kakinya itu sakit bukan main, membuat dia berjingkrak kesakitan, dan telah melompat tiga tombak jauhnya mundur ke belakang.
Dengan demikian, Swat Tocu berdiri beberapa saat dengan muka meringis, kaki kanannya diangkat, dia mengusap-usapnya.
Yo Him telah melompat berdiri, sambil tertawa telah menjura.
"Bagaimana Swat Tocu Locianpwe...... apakah pertandingan ini telah dapat diputuskan bahwa aku berhasil menerima tiga serangan Swat Tocu Locianpwe? Boanpwe mohon maaf atas kelancangan Boanpwe yang telah lancang tangan menyerang Locianpwe, karena memang Boanpwe tidak memiliki jalan lain....... dengan demikian telah memaksa Boanpwe terpaksa berlaku kurang ajar......!"
Swat Tocu telah mengawasi Yo Him beberapa saat lamanya, dilihatnya bahwa Yo Him tidak kurang suatu apapun juga, walaupun tadi dia telah ditarik oleh kekuatan tenaga inti Es nya.
Malah pemuda itu yang telah sanggup menghadapi tiga serangannya tanpa kurang suatu apa pun juga, mendatangkan perasaan kagum di hatinya.
Dengan demikian, membuat Swat Tocu harus mengakui kehebatan Yo Him.
"Hebat kau, anak muda!"
Katanya kemudian dengan suara mengandung kagum.
"Engkau bisa menerima tiga seranganku tanpa kurang suatu apapun juga, tanpa terluka! Itu merupakan kejadian yang jarang sekali terjadi, karena setiap lawanku, jangankan menerima tiga kali serangan Inti Es yang dilancarkan beruntun seperti itu, mungkin dalam satu jurus, atau sebanyakbanyak dua serangan, mereka telah beku, jika tidak menemui kematiannya, pasti terluka parah......!"
"Jadi, Locianpwee ingin mengartikan Liu Lopeh dari Kay-pang itu telah dibebaskan dari hukuman yang semula hendak dijatuhkan Locianpwe padanya?"
Menanya Yo Him segera. Swat Tocu telah melirik kepada Liu Ong Kiang, yang waktu itu berdiri memandang bengong kepada Swat Tocu dan Yo Him.
"Baiklah!"
Kata Swat Tocu setelah berdiam diri sejenak.
"Seperti apa yang tadi kujanjikan, jika memang engkau bisa menerima tiga kali seranganku tanpa kurang suatu apapun, maka aku akan membebaskan pengemis bau itu!"
Setelah berkata begitu, Swat Tocu berdiam diri beberapa saat mengawasi Yo Him, lalu ia melanjutkan lagi perkataannya.
"Dan kulihat engkau memang tidak kurang suatu apapun juga, walaupun telah menerima tiga seranganku...... engkau tidak terluka dan masih dalam keadaan sehat walafiat, maka dari itu, aku harus memenuhi janjiku......! "
Memang tidak percuma nama besar dari Sin-tiauw-tay-hiap, di mana tentunya ia memiliki ilmu yang sempurna sekali, karena engkau sebagai puteranya walaupun engkau masih berusia demikian muda tokh engkau telah bisa memiliki kepandaian yang demikian tinggi....."
Yo Him cepat-cepat menjura memberi hormat.
"Locianpwe terlalu memuji!"
Kata Yo Him.
"Jika memang, ada jodoh, tentu aku ingin sekali bertemu dengan ayahmu!"
Kata Swat Tocu kemudian. Hanya sayang sekali akupun berkunjung ke daratan Tiong-goan ini dengan meninggalkan pulauku, karena aku memiliki urusan yang penting! Aku harus mengerjakan sesuatu."
Setelah berkata begitu, Swat Tocu menghela napas, katanya lagi.
"Sekarang usiaku sudah tidak muda lagi, telah lanjut sekali, seratus lima tahun, itulah usia yang tidak muda! Tetapi justru di saat usia setua ini, aku harus melakukan sebuah pekerjaan yang berat sekali!" Yo Him dan orang-orang lainnya, yang mendengar perkataan Swat Tocu, jadi heran dan telah memandang kepada Swat Tocu dengan sorot mata yang tajam. Karena mereka kaget dan kagum, bahwa Swat Tocu mengaku telah berusia seratus lima tahun itu, ternyata masih demikian gagah dan sehat segar bugar, di mana tampaknya seperti seorang lelaki berusia limapuluh tahun, dengan tubuh yang keras dan padat sekali, otot-otot yang tampak bertonjolan, memperlihatkan dia seorang yang memiliki tenaga sangat kuat. Inilah peristiwa yang benar-benar hampir sulit dipercaya. Seorang kakek tua berusia seratus lima tahun dengan bentuk tubuh yang begitu gagah dan wajah bagaikan yang baru berusia limapuluh saja. Benar-benar membuat Yo Him sendiri jadi kagum sekali, karena Yo Him segera menduga, mungkin juga Swat Tocu memiliki semacam ilmu mujijat yang bisa membuat dia jadi awet muda seperti itu. Biruang Salju, yaitu Pek-swat-jie, telah menghampiri Swat Tocu, binatang buas itu telah merangkulnya dan mengerang perlahan. Swat Tocu mengusap-usap kepala binatang tersebut, katanya dengan suara penuh kasih sayang.
"Pek-swat-jie, orang-orang itu rupanya semula tidak mengetahui siapa kau, dan juga menyangka kau akan menimbulkan keonaran, maka mereka telah salah paham dan berusaha mengganggumu. Mari sekarang kita pergi!"
Dan membarengi dengan perkataannya itu tubuh Swat Tocu telah melompat ringan tahu-tahu ia telah duduk di punggung Biruang Salju itu, dan binatang buas tersebut, sambil mengeluarkan suara erangan perlahan, telah melompat-lompat dan berlari-lari kecil meninggalkan tempat itu.
Yo Him menghela napas melihat kepergian Swat Tocu, sedangkan orang-orang lainnya, yang semula bersembunyi di berbagai tempat, telah bermunculan.
Mereka menyatakan perasaan kagum mereka kepada Yo Him.
Namun Yo Him tidak mau terlalu dilibat oleh orang-orang itu yang hanya akan memuji-mujinya saja.
Bersama-sama dengan Liu Ong Kiang dan Ko Tie, mereka telah masuk ke dalam rumah penginapan dan kembali ke kamar mereka di mana mereka melihat Cin Piauw Ho tengah tertidur.
Yo Him menghampiri pembaringan, dia telah melihatnya keadaan Cin Piauw Ho jauh lebih baik dari sebelumnya.
Rupanya obat Kimlian-tan yang diberikan Liu Ong Kiang mulai bekerja.
Walaupun pil itu tidak bisa menyembuhkan luka yang diderita oleh Cin Piauw Ho dan tidak juga bisa memunahkan racun, kenyataannya masih memiliki kemujijatan dan faedah yang tidak kecil, yaitu bisa membendung sementara waktu menjalarnya racun lebih jauh.
Yo Him sendiri memikirkan daya untuk bantu meringankan penderitaan Cin Piauw Ho.
Ia mengatakan pikirannya pada Liu Ong Kiang bahwa ia bermaksud malam ini, akan mempergunakan tenaga lweekangnya guna membantu dan mendesak racun mengendap di tubuh Cin Piauw Ho, agar ia bisa ditolong dari kematian.
Dengan mempergunakan obat Kim-lian-tan, dan juga menyalurkan tenaga dalamnya, tentu akan membuat racun itu terdorong ke lukanya, dan mudah-mudahan bisa terdorong keluar.
Yo Him menyatakan kebimbangannya, karena Sam-hun-tok itu merupakan racun yang hebat sekali, maka ia sangsi justru usahanya itu tidak akan memberikan hasil sama sekali.
Tetapi Liu Ong Kiang justru menyatakan, kalau saja Yo Him mempergunakan tenaga dalamnya untuk mendesak racun yang mengendap di tubuh Cin Piauw Ho, tentu saja racun itu bisa didorong ke tempat luka semula.
Walaupun tidak bisa disembuhkan, tetapi racun itu bisa dibendung lebih jauh dari jantung.
Terlebih lagi dengan bantuan Kim-lian-tan, dengan begitu, jiwa Cin Piauw Ho bisa diselamatkan selama satu bulan atau lebih.
Selama itu kesempatan tersebut bisa dipergunakan untuk mencari tabib pandai guna mengobati lukanya.
Atau juga mencari obat mujarab di berbagai tempat terkenal.
Menurut Liu Ong Kiang, Siauw-lim-sie merupakan pintu perguruan yang memiliki obat terlengkap, karena para pendeta Siauw-lim-sie, yang semuanya merupakan orang-orang pandai dan tokoh rimba persilatan terkemuka, merupakan orang-orang Kang-ouw yang mempelajari ilmu silat dan agama.
Dengan demikian, kalau sampai Yo Him berhasil mempergunakan tenaga murninya membendung racun yang mengendap di tubuh Cin Piauw Ho, dan jiwa Cin Piauw Ho bisa diselamatkan selama sebulan lebih dari kematian, waktu yang ada itu bisa dipergunakan untuk melakukan perjalanan ke Siauw-lim-sie.
Yo Him setuju dengan pikiran yang dikemukakan Liu Ong Kiang.
Namun yang jadi pemikiran Yo Him, jika ia mempergunakan lweekangnya untuk mengobati Cin Piauw Ho, berarti akan lenyap dua atau tiga bagian dari tenaga murninya itu.
Tetapi walaupun ia baru saja kenal dengan orang she Cin itu.
Tokh ia telah merasa cocok dan berkasihan padanya, karena ia melihat Cin Piauw Ho bukanlah sebangsa manusia golongan sesat.
"Baiklah!"
Yo Him akhirnya memutuskan.
"Malam ini aku akan mengobatinya dengan tenaga lweekang yang kumiliki, semoga saja berhasil dengan baik, setidak-tidaknya bisa meringankan penderitaan Cin toako. Dengan dibendungnya menjalar racun itu ke jantung, tentu Cin toako memiliki kesempatan untuk mencari obat yang bisa memunahkan racun yang mengendap di tubuhnya."
Begitulah, di waktu sang malam telah tiba Yo Him mempersiapkan segala sesuatunya untuk pengobatan yang dilakukan pada Cin Piauw Ho dengan mempergunakan lweekangnya.
Sedangkan Liu Ong Kiang telah dipesannya agar berjaga di muka pintu kamar, siapapun tidak boleh masuk ke dalam kamar selama Yo Him tengah mengerahkan lweekangnya, untuk disalurkan pada Cin Piauw Ho.
Sekali saja curahan perhatiannya terganggu tentu akan membawa bahaya yang tidak kecil buat Yo Him.
Maka dari itu, ia menempatkan Liu Ong Kiang di muka kamar guna mencegah sesuatu yang tidak dikehendakinya, yaitu untuk melarang siapapun masuk ke dalam kamar, baik pelayan atau siapa saja.
Ko Tie juga berdiam di luar kamar bersama Liu Ong Kiang.
Yo Him telah mempergunakan lweekangnya untuk disalurkan ke tubuh Cin Piauw Ho.
Pemuda itu duduk di pembaringan dengan bersila, tangan kirinya diletakkan di bawah dada tiga dim, ditekankan telapak tangannya itu, dari mana mengalir hawa murni yang hangat, menyelusup ke dalam tubuh Cin Piauw Ho.
Sedangkan tangan kanan Yo Him perlahan-lahan mengurut-urut pundak Cin Piauw Ho, guna mendorong racun itu agar naik ke tempat luka semula, di mana Yo Him bermaksud mendesak racun yang telah menjalar ke ketiak Cin Piauw Ho kembali ke tempatnya semula.
Usaha yang dilakukan oleh Yo Him ini memang memakan waktu yang cukup lama, karena hawa murni yang dikerahkannya itu harus disalurkannya perlahan-lahan.
Jika ia menyalurkannya dengan serentak mempergunakan kekuatan yang sangat hebat, tentu bisa memperoleh hasil yang sebaliknya dari yang diharapkan, dan bisa mencelakai Cin Piauw Ho.
Setelah mengerahkan tenaga murninya, dari dua bagian meningkat jadi tiga bagian, terus empat dan lima bagian, Cin Piauw Ho segera merasakan tubuhnya bertambah segar.
Karena waktu itu, hawa murni tersebut telah tersalur ke Tan-tian nya, dan juga telah mendorong sedikit demi sedikit racun yang semula telah menjalar sampai ketiak itu, kembali ke atas pundak, di sekitar luka itu.
Yo Him telah mandi keringat, karena mengeluarkan kekuatan murninya itu, dan begitu juga Cin Piauw Ho, sekujur tubuhnya telah dibanjiri keringat sehingga basah kuyup.
Liu Ong Kiang yang duduk dimuka pintu kamar bersama Ko Tie, tengah bercerita mengenai keadaan rimba persilatan.
Cerita Liu Ong Kiang memang menarik sekali, di mana Ko Tie mendengarkan baik-baik, penuh perhatian.
Waktu itu Ko Tie juga selalu menanyakan siapa-siapa saja yang menjadi tokoh Kay-pang, dan mengapa mereka lebih rela hidup sebagai pengemis, dan juga tidak mau hidup dengan cara yang layak, mengenakan pakaian yang tambal-tambal dan juga tampaknya kotor sekali.
Padahal mereka memiliki kepandaian tinggi.
Liu Ong Kiang yang mendengar pertanyaan anak ini telah tertawa, katanya.
"Inilah keistimewaan Kay-pang, karena memang kami umumnya terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian lumayan, namun kami sengaja memilih Kay-pang sebagai perkumpulan kami, dan hidup sebagai pengemis, melakukan pekerjaan meminta belas kasihan orang...... Karena itu pula, kamipun telah berusaha untuk hidup prihatin, membuka mata dan juga memasang telinga, menyaksikan betapa di dunia ini sesungguhnya banyak sekali manusia yang sengsara dan hidup menderita karena kemiskinan dan ketiadaan......! "
Itulah sebabnya, kami puas sebagai pengemis, karena kami tidak akan melakukan suatu kejahatan.
Pekerjaan kamipun kami anggap tidak hina, sebab disamping sebagai pengemis kami memiliki tugas khusus yang harus dilakukan dengan penuh kegagahan, yaitu membela setiap orang yang lemah, yang berada dalam tindasan si kuat namun busuk hatinya dan jahat!
"Maka dari itu, Kay-pang merupakan sebuah perkumpulan dari manusia-manusia yang mulia hatinya.
Aku bukan hendak memuji diri sendiri dengan membuka mulut lebar dan menepuk dada, namun memang kenyataan Kay-pang telah banyak sekali melakukan perbuatan-perbuatan mulia.
Terlebih lagi waktu jabatan Pangcu berada di tangan Ang Cit Kong Pangcu!"
Ko Tie yang mendengar cerita Liu Ong Kiang, jadi mendengarkan dengan hati yang tertarik sekali.
Terlebih lagi mendengar sepak terjang mengenai Kay-pang, di mana perkumpulan pengemis, yang walaupun sebagai perkumpulan dari para pengemispengemis itu di seluruh daratan Tiong-goan tersebut, tokh kenyataannya sepak terjang yang dilakukan oleh anggota Kaypang umumnya tidak menyimpang dan tidak berbeda dengan sepak terjang yang dilakukan para pendekar Kang-ouw dari jalan putih dan lurus.
Malah Liu Ong Kiang telah menceritakan, betapa banyak anggota Kay-pang yang telah berhasil menumpas ratusan orang penjahat dengan mengandalkan kepandaiannya, telah mendirikan jasa yang tidak keçil untuk kemajuan partai mereka.
Dan Liu Ong Kiang mengatakan kepada Ko Tie.
"Engko kecil, engkau pun bisa kalau saja kau tekun mempelajari ilmu silat, rajin-rajin berlatih dan memperoleh bimbingan yang baik dari seorang guru yang liehay. Menurut penglihatan pamanmu ini, engkau memiliki bakat dan tulang yang baik untuk mempelajari ilmu silat. Maka jika memang engkau bersungguh-sungguh untuk menghayati ilmu silat, tentu engkau akan berhasil dengan baik......!" Ko Tie memandang Liu Ong Kiang dengan sepasang mata terpentang lebar-lebar, lalu katanya perlahan.
"Paman pengemis, sesungguhnya seseorang yang mempelajari ilmu silat, apa saja yang harus dipelajari?"
"Banyak....., engkau harus melatih ginkang, tenaga dalam yang disebut lweekang atau lwee-keh, dan juga engkau harus mempelajari ilmu pukulan tangan kosong dan ilmu pedang. Banyak sekali pelajaran yang harus engkau pelajari. Disamping itu, memakan waktu yang tidak sedikit, karena paling cepat sepuluh tahun baru engkau bisa merampungkan pelajaranmu dan memperoleh kepandaian yang tinggi, juga pengalaman dan latihan-latihan yang teratur perlu sekali, agar dapat meningkatkan kepandaianmu itu, ke tingkat yang jauh lebih sempurna. Maka dari itu, seseorang yang mempelajari ilmu silat jelas tidak boleh berlaku congkak dan angkuh karena orang yang pandai, masih terdapat orang yang jauh lebih pandai lagi. Disamping itu pula, jika seseorang menguasai benar lweekang, yaitu tenaga dalam, belum tentu dia memiliki ginkang yang sempurna.
"Itulah sebabnya, seorang jago yang memiliki serupa kepandaian, belum tentu menguasai ilmu lainnya. Semakin kita mempelajari ilmu silat, semakin sedikit kepandaian yang baru kita kuasai. Kita melihat ilmu silat itu semakin banyak ragamnya. Semakin tinggi kepandaian silat seorang, semakin keras pula keinginannya untuk mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi dan memperdalam kepandaiannya, karena ilmu silat itu sendiri tidak akan habis dipelajari, walaupun sampai ajal kita......!" Ko Tie mendengarkan keterangan yang diberikan oleh Liu Ong Kiang dengan tekun. Waktu itu tampak mendatangi seorang pelayan, yang telah menghampiri Liu Ong Kiang katanya.
"Ada seorang tamu ingin bertemu dengan Yo kongcu......!"
Liu Ong Kiang mengerutkan alisnya.
"Siapa?"
Tanya pengemis ini kemudian setelah berdiam bimbang.
"Seorang bangsawan Mongolia dan seorang pendeta Mongolia,"
Menjelaskan pelayan itu.
Muka Liu Ong Kiang jadi berobah mendengar keterangan si pelayan, sampai pengemis ini berdiam diri sejenak lamanya.
Pelayan itu menantikan keputusan Liu Ong Kiang tidak sabar, tanyanya.
"Apakah ke dua tamu itu diundang ke mari saja?"
Cepat-cepat Liu Ong Kiang menggelengkan kepalanya, ia menggumam.
"Jangan......! Jangan......! Hai, mengapa di saat-saat seperti ini muncul gangguan seperti ini?"
Liu Ong Kiang menggumam begitu, karena ia mengetahui, dengan munculnya ke dua orang Mongolia itu, yang menurut si pelayan terdiri dari seorang bangsawan Mongolia dan seorang pendeta Mongolia, tentu akan menimbulkan kesulitan untuk mereka.
Namun karena Yo Him memang tidak boleh diganggu di saat seperti itu, di mana selain bisa membahayakan keselamatan Cin Piauw Ho dan juga bisa membuat celaka Yo Him kalau sampai perhatiannya terpecah oleh gangguan yang tidak diinginkan di saat ia tengah memusatkan seluruh tenaga dalamnya mengobati luka Cin Piauw Ho.
Akhirnya Liu Ong Kiang berkata.
"Biarlah aku yang pergi menemui mereka......!"
Si pengemis juga menoleh kepada Ko Tie, katanya.
"Kau tunggu di sini saja, Tie-jie!"
Ko Tie mengiyakan.
Bersama pelayan itu, Liu Ong Kiang telah turun dari loteng dan menuju ke ruang bawah penginapan itu.
Segera dilihatnya dua orang Mongolia, seorang yang berpakaian sebagai bangsawan Mongolia dan seorang lagi berpakaian sebagai Lhama (pendeta), tengah duduk di sebuah meja, sebelah kanan ruangan tersebut.
Waktu mendengar suara langkah kaki yang menuruni undakan anak tangga, tampak ke dua orang Mongolia itu menoleh.
Dan Liu Ong Kiang waktu mengenali si pendeta Mongolia tersebut, jadi kaget bukan main, karena ia segera mengenali bahwa Lhama itu tidak lain dari Koksu Mongolia, yaitu Tiat To Hoat-ong.
Sedangkan yang seorang lagi yang berpakaian seorang bangsawan Mongolia itu, berusia hampir limapuluh tahun dan memiliki potongan muka persegi empat, tampaknya gagah, tidak dikenalnya.
Karena telah terlanjur turun, Liu Ong Kiang juga tak bisa menarik diri lagi, dia menghampiri dan sambil tertawa berkata.
"Ha, tidak disangka-sangka bisa bertemu dengan dua orang mulia di tempat seperti ini!" Tiat To Hoat-ong telah mengawasi Liu Ong Kiang dengan sorot mata tajam. Sedangkan bangsawan Mongolia juga telah meneliti keadaan si pengemis, lalu menoleh kepada pelayan yang datang bersama Liu Ong Kiang.
"Mana pemuda she Yo itu?"
Tegur yang berpakaian sebagai bangsawan Mongolia itu.
Waktu itu daratan Tiong-goan telah dikuasai oleh Kublai Khan, dengan demikian orang-orang Mongolia merupakan orang-orang yang selain dihormati dan ditakuti.
Si pelayan juga telah menjura.
"Siauwjin telah menyampaikan pesan Taijin, tetapi tuan pengemis ini yang menjadi sahabat Yo Kongcu, mengatakan dia yang akan menemui Taijin!"
Sewaktu menyahuti begitu, tampaknya pelayan ini ketakutan sekali.
Ia kuatir bangsawan Mongolia itu akan murka dan ia bisa celaka.
Tiat To Hoat-ong telah mendesis dengan suara angkuh dan sikap dingin, katanya tawar.
Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 6
Baca Juga: Rase Emas 1