Eps 1 Beruang Salju - Sin Liong
Baca online Beruang Salju - Sin Liong
Cersil Beruang Salju - Sin Liong.
BERUANG SALJU SIN LIONG Kata Pendahuluan Kisah Beruang Salju ini merupakan cerita lanjutan dari kisah-kisah Hoa San Lun Kiam, Lima Jago Luar Biasa, Sia Tiauw Eng Hiong, Sin Tiauw Hiap Lu dan Sin Tiauw Thian Lam, yang semuanya itu merupakan hasil karya Chin Yung.
Di dalam kisah "Beruang Salju"
Ini para pembaca akan bertemu dengan seorang tokoh dengan bermacam perangai yang anehaneh dan kepandaian yang luar biasa, para pembaca juga masih bisa bertemu dengan tokoh-tokoh lama, seperti Kwee Ceng, Oey Yok Su, dan lain-lainnya.
Tetapi secara keseluruhannya, Kisah Beruang Salju ini merupakan cerita yang benar-benar menarik, di mana walaupun sebagai kelanjutan dari cerita Sin Tiauw Thian Lam, akan tetapi bisa dibaca tersendiri.
Nah, silahkan para pembaca mengikuti cerita ini.
Penulis Pohon-pohon yang kering kerontang dengan tanah yang tandus, di mana tidak terlihat kehidupan pada alam di sekitar perkampungan Lung-cie yang terpisah empatratus lie dari kota Siang-yang, di mana angin tidak berhembus, beku dan seperti mati.
Dan juga terik kemarau itu menambah keresahan untuk setiap makhluk yang berada di sekitar daerah tersebut, merupakan suasana yang tidak menarik sekali.
Daerah tersebut merupakan daerah yang pernah dilanda oleh suatu peperangan yang panjang dan ganas sekali sehingga perkampungan Lung-cie merupakan daerah yang termasuk daerah bekas korban peperangan, termasuk penduduknya yang banyak mengalami kerusakan harta benda maupun jiwa dan raga.
Banyak yang berjatuhan sebagai korban peperangan, membuang jiwa terbinasa oleh peperangan antara dua, Mongolia yang menyerbu untuk merebut Siang-yang dan kekuatan tentara Song yang bertahan di Siang-yang.
Kerusakan hebat yang dialami oleh penduduk perkampungan Lung-cie justru rumah mereka umumnya menjadi hancur porak poranda rata dengan bumi, malah yang lebih menderita lagi adalah kaum wanita penduduk perkampungan tersebut.
Setiap wanita yang memiliki paras cukup cantik telah menjadi korban keganasan dari para tentara Mongolia yang menculik dan memperkosa mereka sehingga tercerai berai dari suami isteri dan keluarga maupun anak-anak mereka.
Itulah peristiwa yang menyedihkan sekali, korban dari peperangan merupakan sesuatu yang mengerikan dan dikutuk, walaupun dengannya peperangan pasti akan membawa korban untuk penduduk di tempat terjadinya peperangan tersebut.
Segala keganasan dan kebiadaban terjadi dalam pergolakan setiap peperangan di mana saja.
Lebih celaka lagi setelah Siang-yang terjatuh di tangan Kublai Khan, dan Kaisar Mongolia tersebut berkuasa di daratan Tionggoan, dengan kerajaannya yang bernama Boan-ciu tersebut, musim kemarau melanda daratan Tiong-goan.
Kemiskinan akibat peperangan yang telah mencekam dan menyiksa penduduk di sekitar daerah ini, justru hebat akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Dan rupanya penduduk di daerah tersebut belum juga habis menderita di mana mereka beruntun harus mengalami penderitaan yang tidak berkesudahan.
Sebelum pecahnya peperangan antara pasukan tentara Mongolia dengan pasukan tentara kerajaan Song di Siang-yang, jumlah penduduk di perkampungan Lung-cie tersebut kurang lebih seribu keluarga.
Tetapi setelah usainya peperangan, dan diterjang musim kemarau yang berkepanjangan, maka jumlah penduduk perkampungan Lung-cie tidak lebih dari seratus keluarga.
Perkampungan yang dulunya indah dan ramai kini menjadi perkampungan yang mati, tiada terlihat kegiatan pada penduduk perkampungan Lung-cie tersebut.
Wajah-wajah yang suram, tiada kegiatan apapun pada penduduk perkampungan tersebut, dan juga keresahan di samping kelesuan, telah meliputi seluruh penduduk kampung Lung-cie tersebut.
Mereka merupakan sisa-sisa dari manusia-manusia yang menjadi korban peperangan, dan yang masih tabah untuk melanjutkan hidup mereka di daerah tersebut.
Namun justru keadaan alam yang beku dan mati, dengan tanah yang kering tandus dan juga kemiskinan yang mereka hadapi, mereka tidak ada bergairah untuk bekerja.
Jika sebelumnya di perkampungan tersebut cukup banyak bangunan gedung yang bertingkat tiga dan megah, sekarang semua itu telah menjadi reruntuhan yang memuakkan, disamping itu juga gubuk-gubuk reyot yang memenuhi perkampungan tersebut, telah banyak yang rusak di sana sininya, dengan atapnya yang terbuat dari daun-daunan dan bilik yang terbuat sederhana dari kayu-kayu pohon.
Segala apa yang terlihat pada saat itu di perkampungan Lung-cie memang menyedihkan.
Terlebih lagi jika melihat keadaan penduduknya, yang umumnya memiliki tubuh yang kurus kerempeng dan tidak terdapat semangat hidup, lesu dan tidak jauh beda dengan sekeliling mereka.
Kesulitan dalam penghidupan yang diderita oleh penduduk Lungcie memang kian hari kian berat juga, di mana mereka mengalami derita yang tidak berkeputusan.
Banyak yang bersyukur jika dalam seharinya mereka bisa makan tiga kali, mengisi perut yang lapar, karena sebagian besar dari mereka justru terdapat yang hanya makan pagi tetapi tidak untuk sore, makan sore tidak mengisi perut di pagi hari.
Dan keadaan yang diliputi kemiskinan seperti itu membuat sebagian penduduk Lung-cie mengungsi ke perkampungan lain, harapan mereka akan bisa membina hidup baru dengan keadaan yang jauh lebih baik dari pada jika mereka berdiam terus di perkampungan Lung-cie.
Dengan begitu jumlah penduduk perkampungan Lung-cie, semakin lama semakin sedikit saja.
Setiap hari, yang sering terlihat hanyalah tentara-tentara Mongolia yang mondar mandir melakukan pemeriksaan di sekitar daerah tersebut, tetapi merekapun umumnya memperlihatkan sikap yang telah jemu melihat keadaan sekeliling mereka yang serba mati.
Manusia-manusianya yang tidak memiliki kegairahan dalam menghadapi hidup, perkampungan yang miskin dan melarat, dengan keadaan alam di sekitarnya yang kering mati, beku dan tidak memiliki lagi suatu rangsangan untuk memperoleh suatu kegembiraan.
Dan jika pasukan tentara Mongolia yang melakukan pemeriksaan setiap harinya di sekitar daerah tersebut masih melaksanakan tugas mereka, itupun disebabkan kewajiban dari tugas mereka, guna menjaga sebaik mungkin kota Siang-yang yang telah berhasil direbut dengan bersusah payah tersebut.
Kemenangan yang telah diperoleh Kublai Khan dengan berhasil menerobos terus ke pedalaman daratan Tiong-goan, menjatuhkan kerajaan Song, dan lalu mendirikan kerajaan Boan-ciu, merupakan suatu kemenangan mutlak.
Namun di daerah perbatasan tersebut, yang diliputi kemiskinan, belum memperoleh perhatian dari pemerintahan yang baru saja berdiri itu.
Dan para penduduk yang terdapat di sekitar daerah yang berdekatan dengan kota Siang-yang belum pula pulih dari tekanan perasaan takut dan sikap tidak acuh mereka.
Pagi itu, angin tidak berhembus, beku dan kering sekali, dan di sekitar permukaan dari perkampungan Lung-cie, hanya tampak beberapa ekor ayam dan anjing yang kurus.
Jumlah binatangbinatang tersebut pun bisa dihitung dengan jari tangan.
Dari arah utara pintu perkampungan tersebut, tampak berjalan seorang pria berusia tigapuluh tahun lebih, memakai baju yang longgar berwarna kuning gading.
Ikat pinggangnya terjuntai panjang berwarna merah daging, dengan kopiah yang melesak agak dalam menutupi keningnya.
Bahan pakaiannya itu terdiri dari bahan pakaian yang tidak mahal, namun jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pakaian dari para penduduk perkampungan tersebut.
Debu yang memenuhi pakaian dan kopiahnya yang lusuh itu, menunjukkan bahwa pria itu telah melakukan perjalanan yang cukup panjang di daerah yang kering dan tandus ini.
Ketika memasuki pintu perkampungan Lung-cie, pria tersebut memandang sekitarnya, dan sepasang alisnya telah mengkerut dalam-dalam waktu melihat kemiskinan yang begitu parah meliputi perkampungan itu.
Terlebih lagi ia melihat beberapa orang penduduk perkampungan tersebut yang umumnya berpakaian tidak keruan dengan wajah yang pucat kurus, dengan tubuh yang kerempeng.
Disamping itu juga sikap mereka yang acuh tak acuh, duduk terkulai menyandar di permukaan rumah mereka masingmasing, yang merupakan rumah-rumah yang tidak mirip lagi disebut sebagai rumah, karena telah reyot dan rusak di sana sininya dan lebih mirip dengan bangunan sebuah kandang binatang, dan juga tidak memiliki perabotan rumah tangga.
Benarbenar merupakan pemandangan yang menyedihkan sekali.
Kaum wanitanya, yang juga bertubuh kurus kering dan kenyang ditelan oleh penderitaan, hanya duduk atau berdiam diri dengan tak acuh pula, karena mereka tidak mengetahui apa yang perlu dilakukan mereka, memasak ataupun melakukan tugas sebagai seorang ibu rumah tangga.
Tiada pekerjaan yang bisa mereka lakukan.
Pria asing yang baru datang di perkampungan tersebut telah menghela napas dalam-dalam waktu menyaksikan pemandangan yang menyedihkan seperti itu.
"Inilah korban peperangan yang tak mengenal kasihan kepada makhluk yang berada di tempat terjadinya peperangan tersebut, laknat dan jahat sekali....... korban-korban peperangan yang patut dikasihani......!"
Dan setelah menggumam begitu, pria asing tersebut menghela napas lagi dalam-dalam.
Ia menghampiri sebuah rumah gubuk yang terdapat tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi, dan di depan pintu rumah itu, tampak seorang lelaki tua dengan kumis dan jenggot tak teratur dan pakaian yang compang camping telah lusuh, di saat mana tengah memainkan sebatang rumput kering yang ujungnya digigit-gigitnya dengan sikapnya yang tak acuh.
Wajah yang pucat seperti seraut wajah mayat, dan matanya yang telah tidak memiliki sinar itu hanya melirik sekejap saja pada pria asing yang tengah menghampirinya.
Pria asing itu telah merangkapkan tangannya, memberi hormat, sambil katanya dengan suara yang ramah.
"Lopeh (paman), bolehkah aku bertanya sesuatu?" Lelaki tua yang bertubuh kurus kering itu telah melirik lagi dengan sinar matanya yang tidak bersemangat sekali, ia mengeluh perlahan dan membenarkan letak duduknya dengan sikap acuh tak acuh, ia berkata perlahan.
"Apa hendak kau tanyakan, anak muda?"
"Siauwte tengah mencari seseorang, mungkin Lopeh kenal padanya,"
Kata pria asing tersebut.
"Sengaja Siauwte telah berkunjung ke perkampungan Lung-cie ini, untuk mcncari Lie Tiang An. Dan menurut kabar yang Siauwte terima, belakangan ini Lie Tiang An masih berdiam di perkampungan Lung-cie ini."
Tetapi orang tua bertubuh kurus kering tersebut telah menggeleng perlahan, dengan lesu ia berkata.
"Sayang sekali orang yang engkau cari itu telah tiada......"
"Telah tiada Lopeh?"
Tanya pria asing tersebut memperlihatkan wajah yang terkejut. Orang tua itu telah mengangguk perlahan dengan tidak bersemangat ia menyahuti.
"Ya, empat bulan yang lalu ia meninggal karena suatu serangan penyakit yang dideritanya......!"
"Tetapi...... tetapi keluarganya masih berdiam di perkampungan ini, Lopeh?"
Tanya Pria asing itu lagi.
Orang tua tersebut telah mengangguk, ia memutar duduknya ke arah kanan kemudian tangan kanannya menunjuk ke arah sebuah rumah yang terpisah kurang lebih empat buah rumah lainnya.
"Mereka tinggal disana.....!"
Katanya dan kemudian duduk menyandar dengan lesu.
Pria asing tersebut telah memandang ke arah rumah yang ditunjuk orang tua, tangannya merogoh sakunya, mengeluarkan dua tail perak, yang diangsurkan kepada orang tua itu.
"Lopeh, terima kasih atas keterangan yang kau berikan, terimalah sekedarnya hadiah dariku ini......!"
Kata pria asing itu. Orang tua itu memandang ke arah uang di tangan pria asing itu, kemudian tersenyum sinis dengan sikap tak acuh ia berkata.
"Uang? Kukira di perkampungan Lung-cie ini, uang tidak memegang peranan yang terlalu berarti!"
"Kenapa begitu, Lopeh?"
Tanya pria asing tersebut terkejut dan heran. Orang tua tersebut dengan sikap tak acuh telah menyahuti.
"Walaupun kita memiliki uang yang banyak, tetapi tidak ada sesuatu yang bisa dibeli di perkampungan yang miskin seperti ini...... yang terpenting buat kami adalah makanan dan barangbarang kebutuhan yang kami perlukan. Tanpa adanya barang makanan dan barang-barang lainnya yang kami butuhkan, walaupun kita memilki uang yang banyak, tidak ada artinya, tidak bisa kita pergunakan. Simpanlah kembali uangmu itu, anak muda...... mungkin engkau lebih memerlukannya!"
Pria asing itu menghela napas dalam-dalam, ia sudah tidak ingin berbantahan dengan orang tua tersebut, dimasukkan kembali uangnya ke dalam sakunya.
Iapun telah melihatnya bahwa perkampungan Lung-cie merupakan perkampungan yang terlalu miskin dan melarat, dengan demikian di situ pun tidak ada toko ataupun orang-orang yang berjualan.
Penduduk perkampungan tersebut hanya melewati hari-hari dengan seadanya yang masih bisa dimakan.
Memang uang tidak memiliki arti yang banyak dalam perkampungan yang serba kering dan juga miskin tersebut.
Di musim kemarau tersebut, di mana panen mereka telah tiga musim mengalami paceklik, dan juga sudah tidak bisa menanam sesuatu di tanah yang kering dan tandus tersebut, menyebabkan mereka lebih mementingkan menyimpan barang makanan dari pada uang.
Itulah sebabnya, jangankan ada orang yang dagang menjual belikan barang-barang keperluan pokok, seperti beras dan lain-lainnya, buat memakainya sendiri saja sudah sulit dan tidak cukup.
Setelah mengucapkan terima kasihnya sekali lagi, pria asing tersebut meninggalkan orang tua yang kurus kerempeng itu, yang tengah duduk merenungi nasibnya dan membayangkan bagaimana hari-harinya mendatang besok.
Waktu sampai di muka rumah gubuk yang tadi ditunjuk oleh orang tua itu, pria asing itu melihat betapa rumah itu sudah tidak bisa disebut sebagai rumah lagi.
Segalanya sudah rusak dan tak keruan, genteng juga tak ada sebagian.
Tiang-tiang bangunan yang terbuat dari bambu dan batang kayu banyak yang rubuh dan rumah itu reyot sekali.
Daun pintu rumah tersebut telah miring, karena sebagian pakunya telah terlepas, begitu pula lantai rumah tersebut yang terdiri dari tanah belaka, kotor sekali, penuh oleh barang-barang rongsokan yang tidak terpakai.
Dari celah-celah pintu yang memang tergantung tidak bisa tertutup itu, pria asing itu melihatnya tidak ada satu barang apapun yang masih utuh di dalam rumah tersebut.
Dengan langkah yang perlahan dan agak ragu, pria asing tersebut telah menghampiri daun pintu.
Ia mendorongnya.
Daun pintu terbuka menimbulkan suara "krekkk!"
Yang panjang, dan pria asing itu melangkah masuk.
Dua tindak dia melangkah memasuki pintu tersebut, ia jadi berdiri terbelalak dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar.
Apa yang dilihatnya memang mengenaskan sekali, sesosok tubuh wanita menggeletak tidak bernapas lagi.
Tubuh yang kurus kering sehingga seperti tinggal kerangka saja, seperti tulang dibungkus kulit saja menggeletak mati dengan pakaian yang sudah tidak bisa disebut pakaian lagi, selain compang camping, juga sudah kotor bukan main.
Wajah wanita yang telah menjadi mayat tersebut juga kotor sekali, mukanya begitu kurus dan cekung hanya tulang pipinya yang menonjol.
Sepasang mata mayat tersebut juga cekung dalam sekali, mulutnya yang tipis menyeringai memperlihatkan baris-baris giginya, menyedihkan sekali keadaan mayat tersebut.
Setelah menghela napas beberapa kali pria asing tersebut melangkahi mayat wanita itu dan ia menuju ke bagian dalam dari rumah tersebut.
Di sebelah ruang dalam, adalah sebuah ruangan sempit yang hanya berbatas dengan selapis dinding yang terbuat dari anyaman kulit kayu.
Ruang itu juga sempit sekali tidak terdapat sepotong barangpun.
Sebuah pembaringan juga tidak berada di tempat itu.
Tetapi pria asing tersebut tertarik melihat sesosok tubuh kecil yang kurus kering, sama halnya seperti wanita yang menggeletak menjadi mayat di ruang depan itu, tengah meringkuk dengan pakaian yang tak keruan, dan yang telah robek di sana sininya.
Tetapi sosok tubuh kecil yang ternyata seorang anak lelaki berusia enam atau tujuh tahun itu, belum menjadi mayat.
Terlihat napasnya masih berjalan satu-satu, di mana dadanya yang tipis dan seperti jaga tulang-tulang pai-kut (tulang dada) yang dibungkus oleh kulit itu, bergerak-gerak lemah sekali.
Cepat-cepat pria asing tersebut berjongkok memeriksa keadaan anak itu.
Ia menghela napas.
Waktu memperoleh kenyataan anak lelaki tersebut masih hidup dan walaupun bernapas lemah sekali, namun anak lelaki itu tidak dalam keadaan yang menguatirkan.
Hanya saja keadaannya yang lemas tidak bisa bergerak dan meringkuk di tempat tersebut mungkin disebabkan telah beberapa hari tidak makan, membuat anak tersebut jadi lemah dan tidak bertenaga.
Waktu tubuhnya diperiksa oleh pria asing tersebut, anak lelaki itu telah membuka matanya, bola matanya yang guram tidak bercahaya itu, bergerak-gerak lemah, bagaikan heran dan kaget melihat orang asing di dekatnya.
Bibirnya yang kering itu telah bergerak perlahan.
"Mama...... Mama......!"
Suaranya serak dan terlampau lirih sekali hampir tidak terdengar jelas.
Pria asing tersebut bersenyum penuh kasih sayang dengan hati yang teriris pedih melihat keadaan anak tersebut.
Iapun telah berkata lembut sekali.
"Anak, tenanglah! Engkau akan segera sehat kembali...... tenanglah......!"
Dan cepat-cepat pria asing tersebut merogoh sakunya, ia mengeluarkan sebungkusan barang yang agak besar, yang terbungkus oleh sehelai kain berwarna hijau.
Ia mengeluarkan beberapa bolu kecil di mana ia juga telah mengeluarkan kurang lebih delapan butir pil berwarna-warni.
Dengan sabar ia memasukkan sebutir demi sebutir ke mulut anak itu, sambil menuangkan juga air ke mulut anak kecil itu dari kantong airnya.
Pil tersebut merupakan ramuan obat untuk menyehatkan tubuh.
Karena keadaan tubuh anak tersebut telah lemah sekali, jika ia tidak segera ditolong dengan diberikan pertolongan obat-obatan tersebut, tentu akan menyebabkan kesehatan anak itu sulit pulih.
Dan juga, dalam keadaan menderita lapar dan haus seperti itu, anak itupun tidak boleh segera diberikan makanan karena bisa mengganggu pencernaan perutnya, yang bisa membahayakannya.
Setelah memberikan pil-pil tersebut memang anak lelaki itu merasakan tubuhnya agak segar, terlebih lagi iapun telah diberi minum air sedikit-sedikit, sehingga waktu ia bicara, suaranya jauh lebih terang dan jelas.
"Paman...... siapakah paman...... di manakah Mamaku......?"
Pria asing itu tersenyum dengan sabar, katanya.
"Nanti akan paman jelaskan, sekarang kau makanlah perlahan-lahan makanan kering ini......!"
Sambil berkata begitu, pria asing tersebut telah membuka buntalannya, yang tadi diletakkan disampingnya, dari dalam buntalannya itu, ia mengeluarkan bungkus makanan kering.
Diangsurkannya kepada anak tersebut, sepotong daging kering, di mana anak itu telah memakannya dengan lahap dan terburu-buru.
"Makanlah perlahan-lahan!"
Kata pria asing tersebut dengan hati yang terharu melihat betapa anak ita makan dengan lahap dan terburu-buru.
"Lagi paman......!"
Minta anak lelaki tersebut sambil menjilatkan bibirnya.
"Ya, aku akan memberikan makanan kepadamu nak, lebih banyak dari ini,"
Kata lelaki asing itu.
"tapi engkau harus makan...... sedikitsedikit dulu sampai nanti pencernaanmu yang telah kosong itu, bisa bekerja kembali dengan baik. Nah, habiskanlah yang sepotong ini lagi......!"
Dan setelah berkata begitu, pria asing tersebut telah mengangsurkan sepotong daging lagi, kemudian dua potong kuwe kering.
Setelah menghabiskan kedua potong kuwe kering itu, anak lelaki tersebut rupanya masih merasa lapar, ia telah memintanya pula.
Namun lelaki asing tersebut telah menggeleng sambil tersenyum.
"Sekarang engkau tidak boleh makan terlalu kenyang dulu, nanti paman akan memberikan lagi. Nah, sekarang engkau ikut dengan paman untuk meninggalkan tempat ini......!"
Anak lelaki itu telah memandang kepada pria asing tersebut beberapa saat lamanya, kemudian dengan suara ragu-ragu ia berkata.
"Paman..... di mana..... di mana Mamaku......?"
"Nanti paman akan menceritakannya, mari engkau ikut dengan paman......!"
Kata pria asing tersebut setelah merapihkan buntalannya yang dibungkus kembali dengan rapih dan digemblokkan pada punggungnya.
"Engkau akan paman ajak ke suatu tempat yang menyenangkan.....!"
Sambil berkata begitu, pria asing itu telah mengulurkan tangannya bermaksud akan menggendong anak lelaki tersebut.
Namun bersamaan dengan itu, terdengar suara tapak kaki kuda yang cukup ramai, menunjukkan bahwa tempat tersebut telah datang cukup banyak penunggang kuda.
Muka pria asing itu telah berobah, dia diam sejenak memperdengarkan.
Dan didengar suara tapak kaki kuda itu berhenti, lalu terdengar suara seseorang berkata dengan suara yang dalam.
"Menurut laporan yang kuterima tadi pria asing itu memasuki perkampungan ini......!"
Setelah mendengari sampai di situ, lelaki asing itu cepat menggendong anak lelaki itu ia membawa melompat ke pojok ruangan.
Namun gerakannya itu rupanya sudah terlambat, karena dua orang lelaki bertubuh tinggi besar, berpakaian sebagai tentara Mongolia, telah melangkah masuk dengan kasar mendorong daun pintu sampai terlepas dan rubuh terbanting di lantai tanah itu.
Menimbulkan suara yang berisik.
"Hei kau......!"
Teriak salah seorang dari kedua orang tentara Mongolia itu.
"Ke mari kau.....!"
Mengetahui dirinya bersama anak lelaki itu tak dapat bersembunyi maka lelaki tersebut telah memutar tubuhnya. Sambil tersenyum lebar dia menghampiri ke arah kedua tentara Mongolia itu lalu berkata.
"Rupanya tuan-tuan memiliki keperluan denganku?" Kedua tentara. Mongolia itu mengawasi lelaki asing tersebut dengan sorot mata yang tajam. Salah seorang di antara mereka yang memelihara jenggot dan kumis yang tebal, telah tertawa keras. Sambil menggerakkan cemeti di tangannya.
"Tarrr......!"
Suara cemeti itu menggeletar di tengah udara.
"Engkau orang asing telah datang ke kampung ini, tentunya ada sesuatu yang hendak kaulakukan, heh?"
Lelaki asing itu tertawa dengan sikap yang tenang, katanya.
"Kebetulan saja aku melewati daerah ini dan singgah di perkampungan ini, maka aku telah menemui seorang anak yang dalam keadaan mengenaskan seperti ini. Sama sekali tidak ada sesuatu yang hendak kulakukan. Harap tuan-tuan jangan terlalu mencurigaiku. Bukankah nasib anak ini, yang dalam keadaan sekarat ini, harus dikasihani?"
Bola mata dari kedua tentara Mongolia itu mencelak berputar. Mereka memperhatikan dari kepala sampai ke ujung kaki pria asing tersebut, lalu yang berkumis dan berjenggot balik berkata garang.
"Siapa kau? agaknya engkau bukan manusia baik-baik tidak mematuhi anjuran pemerintah, untuk mengepang rambutmu......!"
Lelaki asing tersebut tertawa sabar sekali, lalu ia membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Aku bukan hendak membangkang perintah dan peraturan pemerintah, namun sungguh, aku tidak mengetahuinya hal peraturan yang baru dikeluarkan oleh pemerintah......!" Mendengar perkataan lelaki asing tersebut, kedua tentara Mongolia tersebut telah mendengus perlahan, dan yang seorang lagi telah berkata dengan bengis.
"Aku bertanya, siapa kamu?"
"Aku she Lie dan bernama Su Han,"
Menyahuti lelaki itu.
"Apakah ada sesuatu yang tidak beres tuan-tuan?"
Baru saja Lie Su Han, lelaki asing tersebut berkata sampai di situ, dari luar telah menerobos masuk tiga orang tentara Mongolia lainnya yang semuanya memiliki potungan tubuh yang tegap dan wajah yang angker mengerikan.
Tentara Mongolia yang berkumis dan berjenggot itu telah tertawa dingin, ia berkata dengan suara yang bengis.
"Engkau tidak cepatcepat menghormat tuan besarmu?"
"Kukira aku cukup hormat menghadapi tuan-tuan..... dan......!"
Tetapi belum lagi Lie Su Han menjelesaikan perkataannya itu, justru tentara Mongolia yang seorang itu telah menggerakkan cemeti di tangannya sehingga suara "tarrr!"
Yang keras memecahkan udara lagi.
"Berlutut! Cepat berlutut! Jika kau membangkang, hemm, hemm, batok kepalamu itu akan kami pisahkan dari batang lehermu......!"
Mendengar perkataan terakhir dari tentara Mongolia tersebut Lie Su Han mengerutkan sepasang alisnya. "Sesungguhnya apa yang dikehendaki oleh tuan-tuan?"
Tanya Lie Su Han mulai memperlihatkan sikap tidak senang, karena ia merasakan betapa tentara-tentara Mongolia ini keterlaluan sekali.
"Mengapa engkau masih banyak rewel? Cepat berlutut!"
Bentak tentara Mongolia yang berkumis dan berjenggot itu.
"Cepat berlutut!"
"Hei!"
Katanya.
"Baiklah!"
Kata Lie Su Han sambil membenarkan letak tubuh anak lelaki yang ada dalam gendongannya.
Ia melangkah tiga tindak ke depan, mendekati para tentara Mongolia tersebut.
Tubuhnya dibungkukkan sedikit, seperti juga hendak berlutut, tiba-tiba tangan kanannya telah disampokkan ke arah atas, ke dada dari tentara Mongolia yang berkumis dan berjenggot tersebut.
"Dukkkkk!"
Telapak tangan Lie Su Han telah menghantam dengan kuat dada tentara Mongolia tersebut.
Dan luar biasa sekali, tubuh tentara Mongolia yang berkumis dan berjenggot tersebut, telah terlempar dari tempatnya, menubruk ke arah salah seorang temannya, sehingga kedua-duanya telah terlempar keluar dari dalam rumah itu dan terbanting keras di atas tanah.
Ketiga tentara Mongolia yang lainnya terkejut menyaksikan peristiwa yang tidak disangka semuanya oleh mereka.
Mereka tertegun sejenak, tetapi kemudian waktu mereka tersadar dan hendak mencabut golok mereka masing-masing yang tersoren di pinggang.
Waktu itu Lie Su Han sudah tidak tinggal diam.
Ia mengebutkan tangan kanannya lagi, maka tubuh ke tiga orang tentara Mongolia tersebut terpental kembali dengan kuat, dan terbanting pula di atas tanah di luar rumah.
Ke lima tentara Mongolia tersebut terkejut berbareng kesakitan namun cepat sekali mereka melompat berdiri sambil mencabut goloknya masing-masing.
Namun Lie Su Han tidak jeri, ia mengeluarkan suara tertawa dingin.
Dan kemudian ia melangkah menghampiri ke lima tentara Mongolia tersebut, berani sekali sikapnya.
Ke lima tentara Mongolia tersebut memisahkan diri, mereka mengurung Lie Su Han.
Malah tentara Mongolia yang berkumis dan berjenggot itu, telah mengeluarkan suara bentakan bengis mengandung kemarahan, goloknya telah digerakan untuk membacok ke arah batang leher Lie Su Han dan bacokan itu menimbulkan angin serangan "wuttt!"
Yang keras sekali. Lie Su Han memperdengarkan suara tertawa dingin, tahu-tahu tubuhnya telah mandek ke bawah. Dan membarengi dengan itu, telunjuk dari tangan kanannya telah menyentil.
"Tringgg......!"
Golok tentara Mongolia yang tengah membacok tersebut telah disentilnya, sehingga golok tersebut terpental dan terlepas dari cekalan tangan pemiliknya.
Dan belum lagi tentara Mongolia yang seorang itu mengetahui apa yang terjadi, tahu-tahu ia merasakan dadanya sakit sekali.
Ternyata Lie Su Han setelah menyentil, ia telah membarengi mengulurkan tangan kanannya itu, mencengkeram dada si tentara tersebut kemudian menghentaknya dengan kuat sekali sehingga tubuh tentara Mongolia yang seorang itu terpental ke tengah udara, lalu meluncur jatuh terbanting di atas tanah dengan keras.
Tentara Mongolia tersebut hanya bisa mengeluarkan, suara erangan perlahan mengandung kesakitan yang sangat.
Kemudian kepalanya terkulai lemah, ia telah pingsan.
Ke empat kawan dari tentara Mongolia tersebut kaget bukan kepalang, mereka tertegun sejenak, lalu tersadar dengan murka.
Sambil mengeluarkan suara gerengan yang menyeramkan, mereka berempat telah melompat sambil menggerakkan goloknya membacok serentak ke berbagai bagian tubuh dari Lie Sun Han.
Namun Lie Su Han rupanya memang bukan salah seorang pria yang sembarangan, ia memiliki kepandaian silat yang tinggi.
Karena begitu melihat menyambarnya ke empat batang golok tersebut, ia telah mengeluarkan suara tertawa dingin, sambil menggumam.
"Hemm, kalian mencari penyakit sendiri!"
Dan tahutahu tubuhnya telah berkelebat-kelebat seperti juga bayangan, dengan tangan kanannya ia telah berhasil merampas ke empat batang golok dari ke empat orang tentara Mongolia tersebut.
Ketika ke empat tentara Mongol yang kehilangan senjata mereka tengah tertegun kaget, Lie Su Han telah melontarkan ke empat batang golok itu telah meluncur cepat menyambar ke arah sebatang pohon yang kering, tumbuh tidak jauh dari tempat itu.
Kuat sekali ke empat batang golok itu menancap di batang pohon tersebut, dan dalam juga menancapnya, lalu badan keempat golok tersebut telah bergoyang memperdengarkan suara mendengung.
Dan tanpa membuang waktu lagi, tubuh Lie Su Han juga telah berlompatan ke sana ke mari, tahu-tahu terdengar empat kali suara jeritan yang beruntun, disusul dengan tubuh ke empat tentara Mongolia yang telah terpental dan terbanting bertumpuk di atas tanah!
Kepala mereka jadi pusing dengan mata berkunangkunang.
Setelah mengeluarkan suara keluhan, ke empat tentara Mongolia itu tidak sadarkan diri.
Pingsan.
Lie Su Han telah mengebul pakaiannya dengan jari tangan kanannya.
Ia memperdengarkan suara tertawa dingin memandang sinis kepada ke lima tentara Mongolia yang menggeletak pingsan, tubuhnya kemudian mencelat ringan sekali ke atas punggung salah seekor kuda milik ke lima tentara mongol itu.
Ketika ia menghentak tali les kuda tunggangan itu, kuda tunggangan tersebut telah mementang kaki mereka, berlari dengan cepat sekali, meninggalkan kampung Lung-cie......
◄Y► Lie Sun Han sesungguhnya merupakan seorang ahli silat yang cukup ternama di dalam rimba persilatan tapi akibat pecahnya peperangan antara tentara Mongolia dengan tentara Song, telah menimbulkan kekacauan yang sangat di daratan Tiong-goan.
Seperti juga hal dengan para orang-orang gagah yang yang mencintai negeri, Lie Su Han telah mendaftarkan diri di kantor Tiehu di kota Bun-cung, di mana dia bermaksud ingin ikut berjuang.
Tetapi betapa kecewanya Lie Su Han melihat kenyataan bahwa tentara Song dan juga kerajaan Song akhirnya runtuh, di mana Kublai Khan telah berhasil merebut daratan Tiong-goan dan pemerintah dengan nama kerajaan Boan-ciu.
Dengan demikian, untuk mengurangi kekecewaan hatinya, Lie Su Han telah mengembara.
Di saat suasana tenang mulai terasa di daratan Tiong-goan, di mana pemerintah Boan-ciu mulai berjalan lancar dengan Kubilai Khan mengeluarkan beberapa peraturan untuk mengamankan negeri, di waktu itulah Lie Su Han teringat kepada kakaknya yaitu Lie Tiang An.
Perasaan rindunya telah menyebabkan Lie Su Han menuju ke perkampungan Lung-cie, untuk menengoki kakaknya tersebut.
Berbeda dengan Lie Su Han yang sejak kecil memang senang sekali dengan ilmu silat, yang telah melatih diri giat sekali berbagai ilmu silat dari beberapa cabang pintu perguruan, tetapi Lie Tiang An justru seorang kutu buku, yang setiap hari menghabiskan waktunya untuk membaca buku, karena Lie Tiang An memang lebih senang memilih Bun (sastera) daripada ilmu Bu (silat).
Tetapi di saat negeri dalam keadaan perang seperti itu, di mana selalu timbul kekacauan, maka kekuatan dari seseorang sangat diperlukan sekali, maka ilmu silat memegang peranan tidak kecil.
Jika Lie Su Han bisa menjaga keselamatan dirinya dengan mengandalkan kepandaian silatnya, tetapi Lie Tiang An justru merupakan manusia yang lemah dan tak berdaya.
Ketika timbul peperangan, ia menjadi salah seorang korban perang.
Di mana keluarganya, ia bersama anak dan isterinya, telah ditimpa kesulitan dan kemelaratan.
Lie Tiang An hanya bisa menerima nasib saja, ketika perkampungan Lung-cie dilanda paceklik setelah usainya peperangan.
Lie Tiang An juga tidak berdaya apa-apa, terlebih lagi Lie Tiang An telah terserang oleh semacam penyakit menular akibat kekurangan makan yang mengandung zat-zat penguat tubuh.
Disamping itu ia pun sangat berduka dan kecewa melihat negeri Song telah porak poranda oleh serbuan tentara Mongolia, membuat Lie Tiang An mati melas.
Isterinya ketika melihat kematian suaminya yang begitu mengenaskan, telah semakin tidak bersemangat menghadapi hidup di hari-hari selanjutnya.
Jika ia masih bertahan hidup dalam kemiskinan seperti itu, hanya disebabkan anaknya belaka yang bernama Lie Ko Tie, yang waktu itu berusia enam tahun.
Tetapi tekanan perasaan dan juga kemelaratan dari penghidupan ibu dan anak ini, di mana setiap harinya mereka hanya bisa makan semangkok bubur yang encer, telah menyebabkan nyonya tersebut menghembuskan napasnya yang terakhir, tidak berdaya untuk menjagai terus anaknya menjadi dewasa.
Untung saja di saat elmaut belum merenggut nyawa Lie Ko Tie, di waktu itu Lie Su Han tiba di perkampungan Lung-cie, sehingga jiwa keponakannya itu bisa diselamatkan oleh Lie Su Han.
Dengan mempergunakan kuda rampasannya dari tentara-tentara Mongolia itu, Lie Su Han melarikan terus binatang tunggangan itu menuju ke Siang-yang, dengan Lie Ko Tie berada dalam gendongannya.
Jarak antara perkampungan Lung-cie dengan kota Siang-yang terpisah empatratus lie.
Dan setelah melakukan perjalanan hampir dua hari, barulah Lie Su Han tiba di kota Siang-yang.
Berbeda dengan keadaan di perkampungan Lung-cie.
Walaupun cukup banyak bekas bangunan yang telah tinggal menjadi puing-puing reruntuhan, namun kota Siang-yang cukup ramai, dan kehidupan pendudukan kota tersebut mulai berjalan normal.
Dengan begitu, beberapa buah rumah penginapan yang selamat menjadi puingpuing akibat peperangan beberapa saat yang lalu, mulai dengan usahanya tersebut, menerima tamu-tamunya kembali, jumlah tamu-tamu yang berkunjung sedikit sekali, jika tidak ingin disebut tidak ada sama sekali.
Setiap harinya, rumah-rumah penginapan tersebut lebih banyak dikunjungi oleh para tentara Mongolia yang menguasai kota Siangyang.
Untuk berpesta pora, di mana mereka makan minum dan menginap, lalu membayar sekehendak hati mereka.
Tapi para pengusaha rumah penginapan di kota Siang-yang tersebut memang tidak berdaya, karena mereka menyadarinya bahwa kini mereka menjadi rakyat jajahan belaka.
Tidak terlalu mengherankan, jika rumah penginapan yang masih ada itu, tidak keruan juga kotor tidak terurus dengan baik.
Waktu Lie Su Han tiba di kota Siang-yang, ia melihat orang-orang yang berdagang pun sedikit sekali, di samping barang dagangan mereka yang tidak berarti sama sekali, serba sedikit.
Setelah melakukan perjalanan dua hari dua malam seperti itu, Lie Su Han merasa letih, karena sepanjang perjalanannya ia jarang beristirahat.
Sedangkan Lie Ko Tie yang berada dalam gendongannya, memang bisa tidur dengan baik, namun kesehatannya masih lemah sekali, dan tentunya perjalanan dua hari dua malam itu, bisa mengganggu kesehatannya anak tersebut.
Maka begitu tiba di kota Siang-yang segera Lie-Su Han menghampiri sebuah rumah penginapan, yang memasang merek ‘Gu-an-tiam’ di mana rumah penginapan tersebut rupanya merangkap membuka rumah makan.
Seorang pelayan yang berpakaian kumal telah menyambut kedatangan Lie Su Han, dan menyambuti kuda tunggangan sang tamu.
Sambil menggendong Lie Ko Tie, Lie Su Han telah melangkah ke dalam ruangan makan penginapan tersebut.
Ia juga telah memesan sebuah kamar untuk mereka berdua, kemudian mengajak Lie Ko Tie untuk bersantap.
Sejak menerima beberapa butir pil obat yang diberikan oleh Lie Su Han kekuatan tubuh anak kecil itu mengalami kemajuan yang pesat sekali.
Dan begitu juga selama dalam perjalanan dua hari dua malam itu.
Lie Su Han telah beberapa kali memberikan pil obatnya tersebut kepada Lie Ko Tie, di samping memberinya makan dengan makanan kering yang berada dalam persediaannya.
Sekarang selain letih, Lie Ko Tie boleh dibilang telah sehat.
Begitulah, dengan bernafsu keponakan dan sang paman itu telah bersantap makanan yang di pesan.
Memang di rumah penginapan tersebut tak bisa dipesan masakan yang istimewa.
Karena dalam keadaan yang belum aman benar dan juga masih agak kacau oleh korban peperangan di kota tersebut, hanya masakan yang sederhana belaka yang dapat disajikan oleh pemilik rumah penginapan itu.
Tetapi buat Lie Ko Tie anak lelaki tersebut, yang sebelumnya selain hanya dapat memakan bubur encer, masakan yang dihadapinya merupakan masakan yang paling lezat.
Setelah puas bersantap, keponakan dan paman itu masuk ke dalam kamar mereka untuk istirahat.
Dengan berada di kota Siang-yang, Lie Su Han bisa merawat kesehatan keponakannya itu sampai pulih benar.
Berangsurangsur tubuh Lie Ko Tie mulai gemuk berisi kembali.
Mukanya yang semula kurus cekung dan hanya terlihat tulang pipi saja yang pucat pias itu, perlahan-lahan telah berangsur memerah berisi kembali.
Lie Su Han juga telah membeli beberapa perangkat pakaian untuk Lie Ko Tie.
Setelah berdiam sebulan lebih, kesehatan Lie Ko Tie memang berangsur-angsur pulih kembali.
Anak itu menjadi seorang anak yang sehat dan lincah, dengan tubuh yang montok dan memiliki tubuh yang padat berisi.
Lie Su Han yang melihat perkembangan kesehatan keponakannya tersebut, jadi girang dan bersyukur sekali kepada Thian, karena keponakannya itu rupanya masih dipayungi oleh Thian.
Tetapi rupanya segala apapun tidak bisa selalu berjalan dengan licin, sewaktu-waktu akan tiba saatnya mengalami sesuatu yang di luar dugaan.
Seperti halnya Lie Su Han dan Lie Ko Tie, yang selama sebulan lebih berdiam di kota Siang-yang dengan tenang tenteram, pada suatu hari telah menemui suatu peristiwa yang akhirnya akan menyeret diri mereka terlibat dalam suatu kancah pergolakan yang dahyat, yang terjadi di dalam kalangan Kang-ouw di mana mereka akhirnya harus mengalami banyak peristiwa yang aneh-aneh dan menakjubkan sekali.
Awal dari peristiwa tersebut berpangkal pada pagi hari itu, di saat mana Lie Su Han dan Lie Ko Tie tengah bersantap di ruang makan rumah makan tersebut dan di waktu itu Lie Ko Tie tengah mendengar cerita dari Lie Su Han, bagaimana keadaan dalam rimba persilatan.
Memang Lie Su Han senang menceritakan segala pengalamannya, terutama sekali pengalamannya ketika ia ikut berperang melawan pasukan tentara Mongolia.
Lie Su Han memang telah bertekad untuk membawa Lie Ko Tie, keponakannya tersebut menemui gurunya, yaitu Bu Siang Siansu, seorang pendeta aneh yang hidup menyendiri di pegunungan yang memiliki kepandaian tinggi sekali.
Namun ada suatu keanehan pada tabiat dari pendeta tersebut, ia mempelajari ilmu silat untuk mengisi kegemarannya belaka, tetapi tidak mau mempergunakannya untuk bertempur.
Dan juga Bu Siang Siansu selalu hidup menyendiri, tidak pernah memamerkan kepandaiannya.
Jika orang tidak mengenalnya, tentu tidak akan mengetahuinya bahwa pendeta tersebut sesungguhnya merupakan seorang pendeta sakti yang memiliki ilmu tinggi sekali.
Lie Su Han menjadi murid Bu Siang Siansu itupun terjadi secara kebetulan sekali.
Lie Su Han seorang pemuda yang baru meningkat usia enambelas tahun pada waktu bertemu Bu Siang Siansu.
Pada suatu hari ia berkelahi dengan belasan orang perampok dan di waktu itu, Lie Su Han memberikan perlawanan gigih walaupun sekujur tubuhnya telah terdapat banyak luka.
Ketika Lie Su Han menghadapi bahaya yang bisa membahayakan keselamatan dirinya, di mana tubuhnya mulai terhuyung-huyung tidak bisa berdiri tetap dan juga napasnya telah tersengal-sengal kehabisan tenaga, di saat itulah Bu Siang Siansu telah muncul dan memberikan pertolongannya.
Hanya dua kali menggerakkan tangannya saja, Bu Siang Siansu berhasil merubuhkan belasan orang perampok itu, yang telah lari tunggang langgang.
Di saat itulah Lie Su Han telah berlutut dan memohon agar ia diterima menjadi murid Bu Siang Siansu.
Dan Bu Siang Siansu yang melihat bahwa Lie Su Han merupakan seorang pemuda yang memiliki kemauan yang keras dan hati baja disamping itu juga jujur maka ia menerimanya menjadi muridnya dengan perjanjian Bu Siang Siansu akan menurunkan separuh dari kepandaiannya kepada pemuda tersebut dan ilmu itu akan dipergunakan oleh Lie Su Han untuk dipergunakan melakukan perbuatan mulia dan adil.
Separuh lagi dari kepandaian Bu Siang Siansu akan diturunkan lagi pada Lie Su Han, setelah Lie Su Han berusia empatpuluh tahun.
Di waktu itu tentunya Lie Su Han telah menjadi seorang yang berhati sabar dan memiliki pemikiran yang matang dan tidak mungkin melakukan perbuatan-perbuatan dan tindakan yang ceroboh yang bisa membahayakan jiwa orang lain.
Menurut Bu Siang Siansu jika saat itu ia mewarisi seluruh kepandainnya kepada Lie Su Han dan pemuda tersebut yang memang masih memiliki jiwa muda yang mungkin juga cepat naik darah, hal itu akan membahayakan sekali keselamatan orang lain.
Dengan begitu, ia memutuskan akan mewarisi separuh kepandaiannya setelah Lie Su Han memperlihatkan bahwa ia mempergunakan kepandaian Bu Siang Siansu yang separuh itu untuk melakukan perbuatan baik, bukan untuk kejahatan.
Itulah sebabnya Lie Su Han telah memutuskan untuk mengajak Lie Ko Tie menemui gurunya tersebut.
Ia berharap semoga saja Lie Ko Tie diterima menjadi murid Bu Siang Siansu.
Keponakannya tersebut, yang telah kehilangan kedua orang tuanya, dan hidup sebagai anak yatim piatu, memang benar-benar harus dikasihani nasib dan keadaannya, di mana Lie Su Han harus memikirkan bagaimana agar anak yatim ini bisa berdiri sendiri kelak, dan bisa hidup di kalangan masyarakat dengan layak.
Selesai bersantap, seperti biasanya Lie Su Han hendak mengajak Lie Ko Tie untuk mengelilingi kota Siang-yang melihat-lihat tempat yang penting di mana dulu sebelum pecahnya peperangan dan sebelum Siang-yang terjatuh ke tangan Mongolia merupakan tempat dari pasukan tentara Song menghimpun kekuatan.
Dan juga Lie Su Han sering mengajak Lie Ko Tie mendatangi tempattempat di mana dulu para orang-orang gagah seperti Yo Ko, Kwee Ceng, Ciu Pek Thong, It Teng Taysu dan jago-jago ternama lainnya itu berkumpul ikut membantu perjuangan para tentara kerajaan Song.
Tetapi baru saja Lie Su Han membayar harga makanan yang telah disantap oleh mereka, dan baru saja ingin bangkit dari duduknya di saat itulah terdengar suara langkah kaki yang ramai di bagian ruang depan rumah penginapan tersebut.
Juga terdengar ramainya suara orang yang tengah bercakap-cakap.
Lie Su Han telah menoleh, ia melihat dua orang tojin yang di tangan masing-masing membawa sebatang hud-tim tengah melangkah masuk ke ruang makan tersebut.
Di belakangnya tampak delapan atau sembilan orang tentara Mongolia, yang sambil melangkah mengikuti kedua tojin tersebut memasuki ruang makan itu, tertawatawa dan bercakap-cakap ramai sekali.
Tetapi mata Lie Su Han yang tajam, segera dapat mengenali, di antara tentara Mongolia yang mengikuti di belakang kedua tojin itu terdapat dua orang tentara Mongolia yang pernah dihajarnya di perkampungan Lung-cie.
Dari kelima tentara mongolia rupanya yang dua orang ini telah kembali ke Siang-yang.
Cepat-cepat Lie Su Han menundukkan kepalanya.
Ia batal untuk berlalu, dan duduk sambil menarik tangan Lie Ko Tie.
"Jangan memandang ke arah mereka,"
Bisik Lie Su Han dengan suara yang perlahan.
"Tundukkan kepalamu."
Lie Ko Tie walaupun heran, tetapi telah menuruti perintah pamannya, ia telah menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sedangkan kedua tojin dan tentara-tentara Mongolia itu, yang keseluruhannya ternyata berjumlah sembilan orang, telah menghampiri sebuah meja yang besar yang letaknya di seberang meja Lie Su Han.
Mereka bercakap-cakap ramai sekali, dan dilihat dari sikap para tentara Mongolia tersebut, mereka sangat menghormati kedua tojin itu.
Mereka bercakap-cakap sambil tertawa-tawa dengan suara yang ramai.
Seorang pelayan telah segera melayani mereka.
Waktu salah seorang tojin itu tengah memesan makanan yang dikehendakinya, tiba-tiba salah seorang di antara kedua tentara Mongolia yang pernah dihajar pingsan oleh Lie Su Han, telah melihat Lie Su Han dan Lie Ko Tie.
Mukanya seketika berobah pucat, tetapi cepat sekali pulih kembali sambil melirik kepada kedua tojin itu.
Rupanya ia sangat mengandalkan kedua tojin tersebut, sehingga perasaan terkejutnya waktu melihat Lie Su Han segera lenyap, malah ia tertawa dingin.
Dengan suara yang perlahan ia telah membisiki kawannya yang seorang.
Lalu berbisik-bisik lagi dengan tujuh orang tentara Mongolia lainnya.
Mereka semuanya telah memandang tajam kepada Lie Su Han dan Lie Ko Tie.
Dan tidak selang lama, tentara Mongolia yang seorang itu, dari kedua orang yang pernah dihajar pingsan oleh Lie Su Han, yang memiliki kumis dan jenggot tebal telah berdiri dari duduknya, melangkah dengan langkah yang lebar langsung menghampiri meja Lie Su Han.
Dengan wajah yang garang dan bengis, ia berkata dengan suara yang besar.
"Sahabat, sepertinya kita berjodoh bertemu kembali disini!"
Melihat dirinya bersama Lie Ko Tie sudah tidak bisa menyingkirkan diri, Lie Su Han mengangkat kepalanya, tertawa lebar, iapun telah mengangguk.
"Benar tuan...... siapa sangka kita bisa bertemu lagi disini!"
Menyahuti Lie Su Han. Lenyap tertawanya tentara berkumis dan berjenggot tebal itu, mukanya garang sekali diiringi bentakannya.
"Berdiri!" "He, berdiri? Untuk apa?"
Tanya Lie Su Han, tetap duduk tenang di tempatnya.
Tentara Mongolia yang seorang ini telah melirik ke arah rombongan kawannya, yang waktu itu tengah tertawa-tawa mengawasi ke arahnya dan Lie Su Han bersama Lie Ko Tie.
Muka tentara Mongolia yang seorang itu jadi berobah merah padam dan ia malu jika ia memang kalah gertak dengan Lie Su Han, maka ia maju, menepuk meja dengan kuat dan keras.
"Telah kukatakan, mengguntur. berdiri kau!"
Bentaknya dengan suara Lie Su Han tersenyum, sikapnya sabar sekali dan ia membetulkan dua cawan yang terbalik akibat tepukan tangan tentara Mongolia yang telah menepuk dengan keras.
"Jangan tuan, jangan garang-garang seperti itu!"
Kata Lie Su Han sambil tetap tersenyum di wajahnya, sama sekali tidak memperlihatkan rasa jeri. Ia berkata dengan suara yang sabar dan tenang.
"Dan, kukira peraturan pemerintah yang ada, tentu tidak terdapat peraturan yang mengharuskan rakyat mesti berdiri jika menghadapi seorang tentara seperti tuan......!"
Muka tentara Mongolia itu jadi berobah merah padam, ia mendongkol bukan main. Dengan muka yang tetap garang, ia memegang gagang goloknya.
"Rupanya engkau ingin merasai tajamnya golokku ini heh!"
Lie Su Han tersenyum dingin, katanya.
"Hemmm, apakah tuan tidak kapok hendak main-main dengan senjata tajam seperti itu?" Tetapi tentara Mongolia tersebut rupanya sudah habis sabarnya, cepat sekali dia mencabut keluar goloknya, dan membacok ke arah salah satu ujung meja, sehingga ujung meja itu seketika sempal karenanya terbacok oleh golok tersebut. Lie Su Han tetap duduk tenang di tempatnya, tidak memperlihatkan perobahan apapun pada wajahnya. Sedangkan Lie Ko Tie jadi ketakutan dan tubuhnya merengket ketika melihat kegarangan tentara Mongolia itu.
"Tuan, engkau datang ke tempat ini marah-marah dan merusak barang milik rumah makan ini. Apakah engkau memang merasa bahwa rumah makan ini milikmu?"
Ditanggapi dengan ejekan seperti itu oleh Lie Su Han, wajah tentara Mongolia yang seorang itu telah berobah semakin merah padam.
Ia mengeluarkan suara dengusan dengan mata yang terpentang lebar melotot kepada Lie Su Han, goloknya telah bergerak cepat sekali.
Melihat menyambarnya golok ke arah pundaknya.
Lie Su Han kini tidak berani tinggal diam.
Dia mengulurkan tangan kanannya menyentil golok itu terdengar suara "triinggg......!"
Golok tersebut telah berhasil disentilnya dan terpental.
Hampir saja punggung golok menghantam mukanya si tentara Mongolia tersebut, untung saja dia masih keburu memiringkan kepalanya, sehingga mukanya itu selamat dari terjangan punggung goloknya.
Lie Su Han tidak berhenti sampai di situ saja secepat kilat ia mengulurkan tangan kanan, dan telah menghantam perut tentara Mongolia itu pula.
Tidak ampun lagi tubuh tentara Mongolia itu telah terjungkal rubuh di lantai.
Namun bersamaan dengan itu sesosok tubuh telah berkelebat gesit sekali, salah satu tangannya telah diulurkan untuk mencekal baju di punggung tentara Mongolia tersebut, iapun berkata.
"Longgie-cu, mundur kau.....!"
Ternyata orang yang telah menolongi si Mongolia agar tidak sampai perlu terbanting menggelinding terlalu lama di lantai rumah makan, adalah salah seorang dari kedua imam yang datang bersama dengan para tentara Mongolia tersebut.
Ia merupakan seorang tojin yang berusia enampuluh tahun, dengan kumis dan jenggot yang tumbuh tipis panjang.
Pandangan matanya tajam dan sipit sekali, memancarkan sinar yang licik, wajahnya juga kurus berpotongan tirus seperti tikus, memperlihatkan tojin tersebut memiliki watak yang tidak begitu baik.
Dengan melihat gerakan tubuhnya yang ringan dan juga dapat menyambar tubuh dari si tentara Mongolia yang terhajar rubuh oleh Lie Su Han, memperlihatkan tojin ini memang memiliki kepandaian yang tinggi.
Lie Su Han hanya berdiam diri saja di tempatnya dan iapun heran dalam hatinya ia membathin.
"Hemm tampaknya kedua tojin ini merupakan anjing peliharaan Kubilai Khan..... Kepandaian mereka miliki juga tinggi, aku harus hati-hati dan berusaha menyelamatkan keponakanku...... Tie-jie harus diselamatkan dari tempat ini, karena jika terjadi pertempuran, tentu para tentara Mongolia tersebut, dengan kedua tojin itu, tidak akan segan-segan untuk mengeroyok diriku!" Karena berpikir begitu, Lie Su Han telah menoleh kepada Lie Ko Tie, katanya.
"Ti-jie (anak Ti) kembalilah dulu ke kamar......!"
Lie Ko Tie tidak mengerti mengapa dirinya diperintahkan untuk kembali ke kamarnya, tetapi ia tidak berani bertanya kepada pamannya itu, hanya mengiyakan mengangguk dan meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kamarnya.
Waktu itu tojin yang telah menolongi si tentara Mongolia yang seorang itu, mengawasi Lie Su Han, katanya dengan suara yang dingin.
"Pemuda kurang ajar, begitukah caranya menghadapi hamba negara?"
Lie Su Han telah tersenyum sambil bangkit.
"Totiang! Sesungguhnya aku tidak memiliki urusan apa-apa dengan para tentara kerajaan Mongolia itu...... tetapi mereka selalu mencari urusan denganku!"
"Tentara kerajaan Mongolia? Hu, hu, sekarang ini terdapat berapa banyaknya tentara kerajaan lainnya? Apakah disamping Khan yang agung Kublai Khan, masih terdapat Kaisar lainnya? Apakah engkau masih bermimpi akan terbangunnya kembali kerajaan Song? Hemm, pemberontak rupanya engkau harus ditangkap untuk menerima hukuman yang setimpal!"
Sambil berkata begitu, tojin tersebut tidak berdiam diri.
Dengan hud-timnya, ia mengebut ke arah dada sebelah kiri Lie Su Han, yaitu akan menotok jalan darah Bun-ciang-hiat nya orang she Lie.
Cara mengebut dari tojin tersebut merupakan kebutan yang aneh dan juga hebat.
Aneh, karena bulu hud-timnya itu telah berkumpul menjadi satu sehingga seperti bulu pit (pena Tiong-hoa), dan juga ujung dari gabungan bulu hud-tim itu.
Lie Su Han menyadari apa artinya dari totokan tersebut jika sampai terkena pada sasarannya, yaitu bahaya yang tidak kecil tentu akan menerjang dirinya, akan membuat dia bercacad untuk seumur hidup.
Sebab jika jalan darah bun-ciang-hiat tersebut tertotok, tenaga murni di tubuh Lie Su Han akan buyar.
Dan setidaknya tenaga lweekangnya, yang telah dilatihnya belasan tahun, akan buyar punah, berarti untuk selanjutnya ia menjadi manusia bercacad.
Tetapi Lie Su Han juga memiliki kepandaian yang cukup tinggi, mana mau dirinya dibiarkan terserang seperti itu?
Cepat sekali tangan kirinya telah bergerak menyambar cawan minuman di depannya, yang diangkatnya untuk menyanggapi ujung hud-tim lawan.
Kemudian membarengi dengan itu tangan kanannya akan menotok jalan darah Tu-lie-hiat di ketiak si tojin.
Gerakan yang dilakukan oleh Lie Su Han sangat cepat sekali, karena begitu dia mengangkat cawan minumannya, segera dia menerima serangan ujung hud-tim tojin tersebut yang menimbulkan suara nyaring.
"Treengg......!"
Cawan tersebut membentur keras sekali oleh ujung hud-tim tersebut, dan benturan itu bukan benturan sembarangan, sebab pada waktu itu ujung dari hud-tim telah diselubungi oleh kekuatan lweekang si tojin.
Namun Lie Su Han juga bukan menangkis begitu saja, sebab cawan di tangannya itu jika hanya dipergunakan begitu saja untuk menangkis, cawan tersebut akan pecah berantakan.
Justru Lie Su Han sambil mencekal cawan tersebut, telah mengerahkan lweekangnya yang tersalurkan melindungi cawan itu, hal mana membuat cawan itu jadi kuat dan keras melebihi besi.
Itulah sebabnya, walaupun telah dibentur oleh ujung Hud-tim yang mengandung kekuatan lweekang dari si tojin, tokh cawan tersebut tidak menjadi pecah karenanya.
Tojin itu mengeluarkan seruan suara tertahan, dan lebih kaget lagi waktu melihat tangan kanan Lie Su Han telah menyambar akan menotok jalan darah di ketiaknya.
Cepat-cepat tojin tersebut menarik pulang hud-timnya, dan melangkah mundur dua tindak ia memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri, dan di waktu tangan Lie Su Han menyambar lewat, ia telah menggerakkan hud-timnya dengan menyalurkan tenaga Im, yaitu tenaga lunak, di mana bulu-bulu hud-tim itu telah menjadi lemas dan akan melibat pergelangan tangan Lie Su Han.
Tetapi Lie Su Han cepat-cepat membatalkan serangannya itu, ia menarik pulang tangannya, totokannya yang batal membuat bulubulu hud-tim si tojin menyambar tempat kosong.
Bersamaan dengan itulah, kedua tangan Lie Su Han memegang tepian meja, dibarengi dengan suara bentakannya yang nyaring, dia melompat berdiri sambil kedua tangannya mendorong dan mengangkat tepian meja itu.
Dengan cepat meja tersebut terdorong dan terangkat terbalik kepada si tojin.
Tojin itu mengeluarkan suara kaget dan telah melompat ke belakang.
Gerakan tojin ini memang gesit, ia berhasil meloloskan diri dari samberan meja yang diterbalikkan oleh Lie Su Han.
Di saat itulah, tubuh si tojin juga tidak tinggal diam, ia telah mengeluarkan suara seruan nyaring lagi, tubuhnya seperti seekor harimau, telah menerjang kepada Lie Su Han, melompat sambil menggerakkan hud-timnya, untuk melancarkan totokan beruntun beberapa kali, ke bagian yang mematikan di tubuh Lie Su Han.
Tetapi Lie Su Han telah bersiap sedia, ia berkelit dari kebutan hudtim tojin itu, lalu ia mengulurkan tangannya dan cepat luar biasa ia berhasil menangkap ujung hud-tim tojin itu dan waktu itulah segera terlihat mereka saling menarik mengadu kekuatan tenaga.
Di saat Lie Su Han dan tojin saling mengadu kekuatan tenaga lewat hud-tim si tojin tersebut, tiba-tiba tojin yang seorangnya lagi yang berusia lebih muda, telah melompat dari tempat duduknya, tubuhnya meluncur ke samping Lie Su Han, ia berkata.
"Pinto Po San Cinjin ingin minta pengajaran dari kau juga......!"
Dan tanpa menanti selesainya perkataannya itu, terlihat kedua tangan Po San Cinjin telah melayang akan menghantam batok kepala Lie Su Han.
Walaupun saat itu Lie Su Han tengah mengerahkan tenaganya saling menarik hud-tim dengan tojin yang seorang itu, namun ia tidak gentar menghadapi pukulan telapak tangan dari Po San Cinjin.
Sambil berkelit begitu, kaki kanan dari Lie Su Han telah bekerja, menggaet kaki kirinya si tojin yang mengaku bergelar Po San Cinjin.
Tidak ampun lagi tubuh Po San Cinjin terjerunuk ke samping.
Harus diketahui bahwa saat itu Po San Cinjin menepuk dengan telapak tangannya dengan kekuatan tenaga lweekangnya yang penuh maka di waktu ia kehilangan sasarannya, tubuhnya jadi doyong ke depan, dan bersamaan dengan itu kakinya kena digaet.
Maka hilanglah keseimbangan tubuhnya dan dia terjerunuk menubruk sebuah meja yang berada tak jauh dari tempat berada.
Tidak ampun lagi meja tersebut menjadi pecah berantakan terkena pukulan telapak tangan Po San Cinjin, yang mengandung kekuatan lweekang itu.
Suara berisik dari hancurnya meja tersebut juga terdengar bising sekali.
Tojin yang seorangnya yang lagi mengadu kekuatan dengan Lie Su Han dengan menarik hud-timnya, menjadi kaget melihat kawannya itu terguling begitu rupa.
Baru saja ia ingin berkata, tojin yang berusia lebih muda darinya itu, Po San Cinjin, telah melompat berdiri dengan muka yang merah padam mengandung kegusaran yang bukan main.
Dari mulutnya juga terdengar suara bentakan yang bengis.
"Pemberontak, jika hari ini engkau tidak dibekuk, tentunya itu akan merepotkan negara Boan-ciu dan juga bisa mendatangkan celaka untuk kaum Boan-ciu!"
Selesai berkata, ia telah melompat lagi, mempergunakan hudtimnya di tangan kiri untuk meyerang, tangan kanannya juga menghantam dengan kekuatan lweekang.
Dengan cara menyerangnya seperti itu benar-benar membuat Lie Su Han terkurung oleh tenaga kekuatan dari tiga macam gempuran kedua tojin tersebut.
Waktu itu Lie Su Han tengah memusatkan tenaga lweekangnya untuk menarik hud-tim tojin yang lebih tua usianya itu.
Tetapi justru kini telah datang serangan dari Po San Cinjin sehingga membuat ia jadi terkepung sedemikian rupa.
Namun Lie Su Han tidak habis daya, ia mengeluarkan suara tawa, tiba-tiba cekalannya pada ujung bulu hud-tim tojin, yang tahu-tahu kehilangan tenaga menariknya dan tubuhnya terhuyung ke belakang hilang keseimbangan tubuhnya, akhirnya ia terjengkang ke belakang.
Mempergunakan kesempatan seperti itu.
Lie Su Han telah menggerakkan kedua tangannya dibarengi dengan kedua kakinya yang ditekuk, sehingga tubuhnya berjongkok rendah, dan cepat luar biasa, dari kedua telapak tangan Lie Su Han telah menyambar kekuatan lweekang yang sangat dahsyat.
"Dukkkkk, Bukkkkk'!"
Terdengar dua kali suara benturan.
Ternyata dua serangan dari Po San Cinjin telah berhasil ditangkisnya dengan mempergunakan tenaga lweekangnya, dengan demikian, segera juga tubuh mereka berdua tergoncang keras.
Muka Po San Cinjin juga berobah pucat waktu ia telah berdiri kembali di lantai.
"Tangkap pemberontak ini!"
Teriak Po San Cinjin setelah mengatur jalan pernapasannya.
Teriakannya itu ditujukan kepada para tentara Mongolia itu.
Segera juga sembilan tentara Mongolia tersebut termasuk Long-gicu mengurung Lie Su Han, mereka juga telah mencabut goloknya masing-masing.
Melihat dirinya dikurung demikian banyak tentara Mongolia, yang umumnya memiliki bentuk tubuh tinggi tegap dan juga dengan ikut sertanya dua orang tojin yang masing-masing memiliki kepandaian tinggi tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya.
membuat Lie Su Han jadi mengeluh.
Tetapi para tentara Mongolia tersebut sama sekali tidak mau memberikan kesempatan kepada Lie Su Han.
Sembilan batang golok telah menyambar cepat sekali, meluncur ke berbagai bagian anggota tubuh Lie Su Han.
Sedangkan Po San Cinjin dan tojin yang seorangnya lagi, yang bergelar Bo Liang Cinjin, tidak berdiam diri saja.
Mereka berdua juga telah menyerbu maju dengan mempergunakan hud-timnya menyerang Lie Su Han.
Lie Su Han telah dikepung dari berbagai jurusan, dan hal ini memaksa dia harus berusaha menghadapi sebaik mungkin.
Tiada jalan lain baginya, ia telah mencabut keluar pedang dari balik bajunya.
Dan dengan pedang pendek tersebut, yang diputarnya cepat sekali, Lie Su Han melindungi dirinya dari setiap serangan lawan-lawannya.
Tubuh Lie Su Han berkelebat-kelebat cepat bagaikan bayangan saja di antara para pengepungnya itu.
Segera terlihat, tentara Mongolia yang memang hanya mengerti cara bertempur di medan perang, tetapi tidak memiliki ilmu silat yang berarti telah terdesak mundur karena setiap kali golok mereka terbentur dengan pedang Lie Su Han, justu mereka merasakan telapak tangan mereka sakit dan pedih, sebab tenaga lweekang Lie Su Han yang menyelubungi tubuh pedangnya itu, membuat setiap serangan tentara Mongolia tersebut tidak berarti apa-apa buatnya.
Yang diperhatikan sekali oleh Lie Su Han adalah kedua tojin itu, yaitu Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin.
Kedua tojin tersebut dengan kedua hud-timnya, yang memang telah diselubungi oleh kekuatan tenaga dalamnya, benar-benar merupakan tandingan yang cukup berat buat Lie Su Han.
Karena itulah berulang kali Lie Su Han telah berusaha untuk berkelit dari senjata lawan-lawannya itu.
Namun Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin selalu mendesak dengan keras kepada Lie Su Han, terutama sekali mereka juga menerima bantuan dari ke sembilan tentara Mongolia itu walaupun ke sembilan tentara Mongolia tersebut tidak memiliki arti yang banyak dalam hal bantuannya, setidak-tidaknya bisa memecahkan perhatian Lie Su Han.
Dan itu merupakan suatu keuntungan yang tidak kecil buat Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin.
Lie Su Han kewalahan juga menerima terjangan kedua tojin itu dengan sembilan tentara Mongolia.
Terlebih lagi tidak lama kemudian Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin telah mencabut keluar pedang mereka masing-masing, yang semula tergemblok di punggung mereka.
Dua sinar putih berkelebat-kelebat mengurung Lie Su Han, di mana kedua batang pedang kedua tojin tersebut seperti juga dua ekor naga yang tengah melingkar-lingkar menyambar di berbagai tempat dari anggota tubuh Lie Su Han yang mematikan.
Lie Su Han mengeluh juga, walaupun bagaimana tidak mungkin ia bisa menerobos kepungan itu, karena memang kepandaian kedua tojin tersebut tidak berada di sebelah bawah dari kepandaiannya.
Pertempuran itu berlangsung dengan seru, namun semakin lama tampak Lie Su Han telah semakin terdesak dan membuat Lie Su Han sering mengeluh.
Dan sekali waktu pundaknya telah kena diserempet oleh tebasan pedang Bo Liang Cinjin, untung saja lukanya itu tidak telalu dalam dan parah.
Melihat lawannya telah terluka, semangat bertempur dari Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin jadi terbangun, seketika itu juga mereka menambah kekuatan lweekang mereka untuk melancarkan serangan dengan sepasang pedang mereka, yang terus juga berkelebat-kelebat cepat bukan main.
Dengan terluka seperti itu, bukannya takut malah Lie Su Han semakin berani, dengan nekad ia telah mernpergunakan pedang pendeknya untuk melakukan tikaman dan tabasan maut yang berulang kali.
Iapun telah berhasil melukai tiga orang tentara Mongolia, di mana mereka telah dilukai oleh tikaman pedangnya pada lengan masing-masing, sehingga darah mengucur deras sekali.
Tetapi ke sembilan tentara Mongolia tersebut masih juga terus menyerang dengan golok masing-masing.
Keringat telah membasahi pakaian Lie Su Han, dan ia berusaha memberikan perlawanan terus, sehingga benturan senjata tajam terdengar ramai sekali.
Di waktu pelayan dan pemilik rumah makan, serta dua atau tiga orang tamu yang berada di tempat tersebut ketakutan dan bersembunyi di kolong meja, justru dari arah luar telah terdengar suara.
"ting-tong ting-tong"
Yang cukup nyaring, disusul dengan kata-kata.
"Aha, ha, ha, ha, rupanya ada pertunjukan yang menarik disini.....!"
Dan dari luar, melangkah masuk seorang pendeta yang bertubuh gemuk, dengan kepala yang licin pelontos.
Hwesio tersebut mungkin berusia limapuluh tahun pakaiannya terbuat dari pada bahan cita yang kasar berwarna kuning gading, dan pada tangannya terdapat kayu bok-hie bersama ketukkannya yang terbuat dari besi.
Dan waktu itu ketukan bok-hie tersebut bukannya mengetuk kayu bok-hie itu, malah telah mengetuk pinggiran tepi kayu bok-hie, yang terlapiskan oleh besi, sehingga terdengar suara ting-tong ting-tong tidak hentinya.
Lie Su Han tengah sibuk sekali mengadakan perlawanan atas serangan lawan-lawannya itu, maka kedatangan hwesio tersebut tidak membuatnya menoleh, karena jika dia menoleh, tentu akan membuat pecah perhatiannya dan ia bisa menerima bahaya yang hebat.
Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin telah melirik sejenak, dan waktu melihat orang yang datang tersebut tidak lain dari seorang hwesio, mereka memperlihatkan wajah mengejek dan telah meneruskan pula penyerangannya pada Lie Su Han malah sekarang lebih gencar lagi, dan juga tenaga lweekang yang mereka pergunakan itu jauh lebih kuat.
Ke sembilan tentara Mongolia yang sebagian dari mereka telah terluka oleh tikaman maupun tabasan pedang Lie Su Han, membuat mereka sengit melakukan penyerangan dengan senjata mereka jauh lebih garang dari semula.
Mereka rupanya bermaksud untuk membinasakan Lie Su Han, jika memang mereka tidak berhasil menangkapnya.
Dengan demikian si hwesio seperti juga tidak menerima layanan, apa lagi memang pelayan rumah penginapan tersebut, bersama pemiliknya tengah bersembunyi di kolong meja ketakutan bukan main.
Si pendeta berkepala botak pelontos tersebut tertawa lebar waktu melihat jalannya pertempuran itu, iapun telah mengetuk-ngetuk terus pinggiran dari tepian kayu bok-hie itu, sehingga suara tingtong ting-tong terdengar semakin jelas dan nyaring, seperti mengiringi jalannya pertempuran tersebut.
Tetapi waktu melihat beberapa kali tubuh Lie Su Han terhuyung seperti akan rubuh si hwesio mengeluarkan suara seruan yang tiada henti-hentinya.
"Sayang, sayang..... seorang diri, melawan tikus-tikus besar yang berjumlah begitu banyak. Inilah tidak pantas! Inilah tidak pantas! Tidak sedap dilihat!"
Dan setelah berkata begitu, segera Hwesio mengetuk kayu bok-hienya itu lebih gencar, sehingga terdengar suara.
"ting-tong, ting-tong, ting-tok, ting-tok!"
Ramainya suara dari terketuknya kayu bok-hie tersebut, yang sekali-sekali diselingi dengan terketuknya pembalut tepian kayu bok-hie itu, ramai sekali memenuhi ruangan tersebut, sehingga pertempuran yang tengah berlangsung itu seperti juga merupakan suatu pertunjukan yang benar-benar menarik hati.
Lie Su Han rupanya memang telah terdesak hebat sekali, dan juga tampaknya tenaganya mulai berkurang banyak, sehingga ia berulang kali harus terhuyung-huyung akan rubuh dan terdesak keras oleh lawan-lawannya.
Namun Lie Su Han juga memiliki latihan yang cukup matang pada ilmu silatnya, sehingga sejauh itu ia masih bisa mempertahankan diri, walaupun dengan luka-luka yang mulai memenuhi di beberapa bagian anggota tubuhnya.
Satu kali tampak Lie Su Han mengeluarkan seruan kaget, karena mata pedang dari Bo Liang Cinjin telah menyambar dekat sekali dadanya sebelah kiri hanya terpisah kurang lebih empat dim, dan jika mata pedang itu berhasil menembusi dadanya tentu akan menembus langsung ke jantung!
Hal itu tentu saja berarti kematian untuk Lie Su Han.
Dengan demikian Lie Su Han jadi agak gugup juga, ia mengangkat pedang pendeknya dan mempergunakan untuk menyampok, dengan jurus Menyingkap Awan Melihat Langit, di mana pedangnya itu berhasil menangkis pedangnya Bo Liang Cinjin.
Namun pendeta dari agama To tersebut rupanya tidak menyerang sampai di situ saja, ia telah membarengi dengan kebutan-kebutan hud-timnya pada kepala Lie Su Han, di mana bulu kebutan hud-timnya telah berkumpul menjadi satu dan menyambar akan menghantam hebat kepada sasarannya.
Po San Cinjin juga telah mempergunakan pedangnya menikam ke arah pinggang Lie Su Han diiringi juga dengan kebutan Hud-timnya ke arah lutut Lie Su Han, di mana bulu-bulu hud-tim itu tidak berkumpul malah berpencar satu dengan lainnya, mekar seperti sekuntum bunga.
Itulah serangan yang berbahaya, karena ujung dari bulu-bulu hudtim itu seperti juga mata jarum.
Bila mengenai sasarannya, jelas akan membuat jalan darah yang terletak di sekitar lutut Lie Su Han akan tertotok.
Belum lagi tikaman pedang dari Po San Cinjin pada pinggangnya.
Benar-benar keadaan Lie Su Han terjepit menghadapi serangan lawan-lawannya itu, ke sembilan golok dari para tentara Mongolia juga telah menyambar kilat ke berbagai tubuhnya.
Tiada jalan mundur atau berkelit bagi Lie Su Han di mana membuat ia jadi mengeluh sendirinya.
"Habislah aku kali ini.......,"
Teriak Lie Su Han di dalam hatinya.
Kini hwesio gemuk itu sudah tidak bisa tertawa lagi waktu melihat keadaan Lie Su Han terjepit seperti itu.
Ketukan pada kayu bok-hie juga berhenti.
Walaupun tubuhnya gemuk.
Namun gerakan si hwesio ternyata lincah dan gesit sekali, karena begitu dia menjejakkan kakinya, tubuhnya seperti sebuah bola yang melambung di tengah udara.
Dan di saat itu kayu bok-hie di tangannya, berikut pemukulnya juga telah dimasukkan ke dalam jubahnya, di mana kemudian waktu tubuhnya meluncur di dekat gelanggang pertempuran itu, si hwesio telah menggerakkan kedua telapak tangannya dengan cepat.
"Aduuuh!"
Terdengar suara jerit kesakitan, lalu disusul dengan suara jeritan lainnya lagi.
Saling susul tampak sembilan tubuh telah terpental berjumpalitan dan kemudian membentur keras sekali dinding ruangan itu.
Rupanya ke sembilan tentara Mongolia itu telah dapat dibikin terpental satu demi satu oleh si hwesio gemuk tersebut, sehingga begitu mereka membentur dinding, tubuh mereka terkulai rubuh di lantai dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri.
Sesungguhnya Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin tengah dalam kegembiraan yang melihat bahwa lawan mereka dalam beberapa saat lagi akan berhasil mereka rubuhkan, karena mereka melihat bahwa Lie Su Han memang sudah tidak memiliki jalan mundur lagi untuk menyelamatkan dirinya.
Namun betapa terkejutnya mereka waktu melihat kejadian yang tidak pernah mereka sangka, yaitu ke sembilan dari tentara Mongolia itu, masing-masing telah berhasil dibuat terpental begitu rupa oleh si hwesio gemuk tersebut.
Karena kedua tojin itu terkejut maka mereka menahan sedikit serangan mereka yang merandek beberapa detik.
Mempergunakan kesempatan itulah si hwesio gemuk tersebut telah mengulurkan tangan kanannya mencengkeram baju di punggung Lie Su Han, dan menghentaknya, menarik dengan cepat, sehingga tubuh Lie Su Han bisa diselamatkan dari serangan kedua tojin itu.
Bukan main marahnya Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin, mereka telah mengawasi si hwesio dengan sorot mata yang tajam bengis.
"Kerbau..... siapa kau yang begitu lancang tangan berani mencampuri urusan kami?"
Bentak Bo Liang Cinjin kemudian dengan suara bengis mengandung kemarahan yang sangat.
"Ya, kau rupanya mencari mampus, kerbau gundul!"
Teriak Po San Cinjin dengan suara yang tidak kalah bengisnya.
Si hwesio gemuk tertawa bergelak, ia melepaskan cekalannya pada pakaian Lie Su Han, yang waktu itu telah merasa bersyukur, karena dirinya telah diselamatkan oleh si hwesio.
"Aku si pendeta miskin yang tidak bernama...... Kebetulan aku menyaksikan pertandingan yang tidak sedap dipandang, sehingga Siauw-ceng terpaksa ikut mencampurinya.......!"
Menyahuti hwesio tersebut dengan sikapnya yang tetap riang.
"Siauw-ceng hanya menghendaki kalian bertempur dengan cara yang adil, seorang demi seorang, tidak seperti tadi, main meluruk begitu......!"
Dan si pendeta tersebut telah tertawa bergelak. Bo Liang Cinjin dari Po San Cinjin membuka mata lebar-lebar dan membentak mengandung kemarahan yang sangat.
"Engkaukah yang bergelar Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu?"
Tanya Bo Liang Cinjin kemudian.
Si pendeta tertawa sambil mengangguk.
Memang gelarannya adalah Sung Ceng Siansu.
Tetapi disebabkan ia gemar sekali tersenyum dan tertawa tidak henti-hentinya setiap menghadapi lawan bicaranya, maka pendeta ini telah diberikan julukan lainnya, yaitu Bi-lek-hud, si Buddha tertawa.
"Memang tidak salah, rupanya Totiang berdua memiliki mata yang sangat tajam......!"
Kata Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu. Dan sekarang apakah totiang berdua akan meneruskan main-main dengan senjata tajam itu dengan tuan ini?"
Sambil berkata begitu, si Bi-lek-hud telah menunjuk kepada Lie Su Han, yang waktu itu berdiri di sampingnya.
Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin berdua sesungguhnya telah cukup lama dan sering mendengar nama Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu, yang merupakan seorang hwesio yang memiliki kepandaian tinggi dan disegani oleh jago-jago rimba persilatan.
Tetapi walaupun begitu Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin juga merupakan dua orang tojin dari pintu perguruan Kun-lun-pay yang memiliki kepandaian tinggi.
Mereka juga merupakan dua orang murid tingkat ketiga, dengan demikian mereka memiliki nama dan tingkat derajat yang tinggi dalam bilangan pintu perguruan Kun-lunpay.
Sekarang, dalam keadaan marah seperti itu, walaupun mereka telah mengetahui bahwa hwesio gemuk tersebut adalah Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu yang kesohor namanya di dalam kalangan Kang-ouw, tokh mereka tidak merasa gentar.
"Kami tidak akan memperdulikan dulu pemberontak itu. Jika memang Taysu bisa merubuhkan kami berdua, maka pemberontak itu akan kami ijinkan untuk pergi bebas kemana dia mau.....!" Hebat kata-katanya yang diucapkan oleh Bo Liang Cinjin, karena itulah sebuah tantangan untuk Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu. Tetapi Sung Ceng Siansu tidak melawan kata-kata tantangan itu dengan sikap mendongkol atau marah, ia malah tertawa. Sama seperti julukannya, yaitu Bi-lek-hud, ia telah memperlihatkan sikapnya yang selalu riang.
"Lucu sekali,"
Kata Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu kemudian.
"Kalian membawa sikap seperti anak kecil. Jika boleh siauw-ceng ingin sekali mengetahui gelaran yang mulia dari Jie-wie totiang......!"
"Pinto Bo Liang Cinjin dan ini adikku Po San Cinjin,"
Kata Bo Liang Cinjin, suaranya tetap memperlihatkan perasaan tidak senang dan membenci kepada Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu.
"Dan kami justru hendak meminta petunjuk dari Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu yang begitu terkenal namanya di kalangan Kang-ouw!"
"Hahaha,"
Tertawa pendeta yang selalu riang itu sambil mengusapusap perutnya yang memang membuncit, dan kemudian ia berkata.
"Benar-benar lucu! Rupanya hari ini Siauw-ceng berjodoh bertemu dengan dua orang tokoh Kun-lun-pay yang memiliki nama begitu menggetarkan rimba persilatan! Inilah namanya suatu rejeki yang besar dan keberuntungan yang tidak pernah siauw-ceng berani harapkan sebelumnya! Apa lagi sekarang, jie-wie totiang hendak mengajak siauw-ceng main-main, dengan begini, itulah suatu penghormatan yang besar untuk siauw-ceng. mana berani siauw-ceng untuk menampiknya?"
Sambil berkata, tangan kanan Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah mengusap-usap perutnya yang memang sangat buncit itu.
Mendengar bahwa tantangan mereka itu diterima dengan cara seperti itu, Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin tidak membuangbuang waktu pula.
Bo Liang Cinjin menggerakkan pedangnya di tangan kanannya menikam ke arah perut si hwesio, gerakannya cepat sekali.
Dan juga Hud-tim nya telah dikebutkan ke kepala si hwesio.
Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu mengeluarkan suara teriakan kaget diiringi tawanya.
"Celaka....."
Serunya, dan tangan kanannya mengusap perutnya yang buncit lebih cepat, tangan kirinya menutupi kepalanya yang gundul itu, seperti takut kena dikemplang.
Dan sambil berbuat dengan tingkah laku yang lucu seperti itu, ia juga telah mencelat ke samping, gerakannya begitu ringan dan cepat sekali.
Dan gerakan dari Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu tersebut telah membuat tikaman dan kejaran hud-tim Bo Liang Cinjin jatuh di tempat kosong.
Sedangkan Po San Cinjin yang melihat tikaman dan kemplangan hud-tim dari saudara seperguruannya tidak berhasil mengenai sasarannya, jadi mengeluarkan suara seruan nyaring sambil menggerakkan pedang dan hud-timnya juga menikam dari mengebut kepada Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu.
Gerakan yang dilakukannya itu disertai oleh kerahan tenaga lweekang sembilan bagian.
Hal ini disebabkan Po San Cinjin menyadari bahwa orang yang tengah dihadapinya ini adalah seorang lawan yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali dengan demikian telah membuat ia melakukan tikaman dan kebutan hud-timnya itu dengan mempergunakan tenaga lweekang yang tidak kepalang tanggung.
Tetapi seperti tadi, Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah mengulapulapkan tangannya, sambil berkata.
"Celaka perutku......! Celaka perutku! Habislah kepalaku! Ohhh, celaka! Sungguh celaka!"
Walaupun Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu berbuat tingkah laku yang jenaka seperti itu, tokh kenyataannya gerakan tubuhnya cepat dan gesit sekali, sama sekali serangan yang dilakukan Po San Cinjin tidak berhasil mengenai sasarannya, karena pedang dan hudtimnya telah menyerang ke tempat kosong.
Dengan begitu Po San Cinjin dan Bo Liang Cinjin penasaran bukan main, dan mereka telah berbareng mengeluarkan suara bentakan sambil menggerakkan senjata mereka, yaitu sepasang pedang dan sepasang hud-tim saling samber cepat sekali dari empat jurusan kepada Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu.
Tetapi Sung Ceng Siansu telah melompat ke sana ke mari dengan gerakan tubuh yang ringan sekali, di mana ia pula acap kali berteriak-teriak.
"Celakalah aku! celakalah aku.....! Ooh perutku tersayang, akan robeklah engkau dicium pedang totiang ini......! Sungguh celaka kalau sampai kepalaku yang gundul ini kena dibelai oleh bulu-bulu dari totiang-totiang itu.....!"
Dan tubuhnya telah melejit ke sana ke mari.
Memang cukup menakjubkan, walaupun bentuk tubuhnya gemuk bundar seperti itu, kenyataannya Sung Ceng Siansu bisa bergerak begitu gesit dan lincah.
Malah sering sekali ia berteriak-teriak seperti orang ketakutan, tidak lupa ia menyelingi dengan suara tertawanya.
Setelah lewat sepuluh jurus, semakin lama Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin semakin panas hatinya.
Keduanya telah mengerahkan seluruh kekuatan lweekang mereka dan telah menikam dan mengebut dengan hud-tim dan pedang mereka gencar sekali.
Kenyataannya, kedua tojin tersebut tetap mendesak Sung Ceng Siansu.
Malah setelah lewat sepuluh jurus pula di saat mana Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin tetap tidak berhasil untuk melukai Sung Ceng Siansu.
Bahkan mendesak si hwesio saja mereka tidak bisa, di saat itulah Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah berkata dengan suara yang sangat nyaring.
"Aha haha haha, rupanya sekarang giliran aku si gemuk untuk memperlihatkan betapa tebalnya perutku ini, dan betapa atosnya kulit kepalaku...... hihihihi, hahahaha.....!"
Dan sambil tertawa begitu, tahu-tahu Sung Ceng Siansu sambil berkelit mengelakkan tikaman dari Bo Liang Cinjin yang menggerakkan pedangnya ke arah pahanya.
Tubuh pendeta gemuk itu telah melambung ke atas setombak lebih, kedua kakinya ditekuk.
dan kedua tangannya dilibatkan pada kedua kakinya di mana tubuhnya yang gemuk itu benar-benar jadi bulat seperti juga sebuah bola.
Dan tubuh dari Sung Ceng Siansu berputaran di tengah udara.
Lalu kepalanya itu menyeruduk kepada Bo Liang Cinjin, di saat tubuh hwesio tersebut meluncur turun dengan cepat.
Bo Liang Cinjin yang, menyaksikan cara menyerang Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu yang aneh dan luar biasa ini, tertegun sejenak, karena ia tidak mengerti, bahwa hwesio ini benar-benar membuktikan ancamannya, bahwa ia akan memperlihatkan kekedotan dan keatosan kulit kepalanya.
Namun Bo-liang tidak bisa berlaku ayal, karena tubuh Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah meluncur cepat sekali dan kepalanya yang gundul itu hanya terpisah tiga dim dari dada Bo Liang Cinjin.
Mati-matian Bo Liang Cinjin telah menjengkangkan tubuhnya ke belakang, dengan gerakan "Tiat-pan-ko"
Atau jembatan besi, sehingga walaupun tubuhnya terjengkang ke belakang, ia masih bisa berdiri di atas kedua kakinya yang tertekuk dalam-dalam itu.
Sikap yang diperlihatkan pada gerakannya benar-benar mirip dengan Jembatan Besi, seperti nama dari jurus itu.
Karena tidak mengenai sasarannya, maka serudukan Sung Ceng Siansu mengenai dinding, ia tidak bisa menahan meluncurnya tubuhnya yang berputar seperti bola itu, maka kepalanya yang gundul plontos menghantam kuat sekali dinding ruangan sebelah kanan.
Terdengarlah suara menggelegar yang sangat keras sekali, dan dinding itu jadi jebol berlobang, karena dinding itu seperti dihantam oleh sesuatu benda yang keras dan kuat sekali.
Sedangkan Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu sendiri sambil tertawa.
"Hahaha!"
Telah berdiri dengan kedua kakinya, sedikitpun tidak terlihat mabok atau pusing akibat benturan kepalanya itu dengan dinding tersebut yang jadi berantakan batunya, meluruk hancur di kaki tembok.
Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin jadi berdiri kaku kaget dan heran, mereka tidak mengerti betapa kuatnya kepala botaknya si Buddha tertawa itu, Sung Ceng Siansu.
Sambil tertawa hahahaha tidak hentinya, Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu telah melangkah mendekati Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin!
Tiba-tiba hwesio gemuk ini duduk di lantai sambil tertawa tergelak-gelak tiada hentinya, kedua tangannya mengusap-usap perutnya yang buncit.
"Lucu sekali..... lucu sekali......!"
Kata hwesio gemuk tersebut terus menerus dengan tertawanya yang terpingkal.
"Seperti itu, sungguh menggelikan...... hahaha...... sungguh lucu!"
Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin yang telah tersadar dari tertegunnya dan berkurang perasaan kaget mereka, ketika melihat tingkah laku hwesio jenaka tersebut yang seperti juga mengejek diri mereka.
Keduanya jadi memandang benci dan Bo Liang Cinjin telah bertanya dengan suara membentak.
"Apanya yang lucu?"
"Kalian berdua, lucu sekali......!"
Menyahuti Sung Ceng Siansu sambil terus tertawa keras terpingkal-pingkal.
"Ada apa pada kami yang lucu?"
Bentak Po San Cinjin, yang jadi mendongkol bukan main.
"Kalian berdua merupakan tojin-tojin yang tidak punya guna..... lucu sekali, seperti anak kecil yang takut menghadapi kodok...... mengapa kalian tidak menangkis terjanganku tadi dan melainkan kalian hanya berusaha menyingkir menyembunyikan ekor?"
Menyahuti Sung Ceng Siansu dengan diselingi suara tertawanya yang bergelak-gelak.
Muka Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin jadi berobah merah padam, mereka gusar dan penasaran bukan main, keduanya menahan kemarahan mereka sampai tubuh mereka menggigil.
"Baiklah,"
Kata Bo Liang Cinjin dengan suara yang keras.
"Pinto ingin melihat sampai berapa tinggi kepandaian dari Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu yang dipuji-puji orang rimba persilatan....."
Dan membarengi perkataannya tampak Bo Liang Cinjin telah mengebutkan hud-timnya ke samping, lalu pedang di tangan kanannya menyambar ke arah Sung Ceng Siansu, yang masih tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak.
Po San Cinjin juga rupanya tidak mau berdiam diri.
Ia pun penasaran karena dengan maju berbareng berdua seperti itu, biasanya mereka merupakan jago yang sulit sekali ditundukkan oleh siapapun juga.
Namun sekarang malah hwesio berkepala gundul yang jenaka ini bagaikan tidak memandang sebelah mata pada mereka.
Dengan demikian, perasaan penasaran telah meliputi kedua tojin, sekarang turun tangan mereka melakukan tikaman dengan pedang masing-masing, juga melancarkan kebutan dengan hud-tim mereka.
Kedua tojin itu melakukan dengan bersungguh-sungguh dengan mempergunakan jurus ilmu pedang Kun-lun-kiam-hoat.
Ilmu pedang Kun-lun-kiam-hoat terdiri dari delapanpuluh enam jurus.
Dan setiap jurus dipecah menjadi dua gerakan, dengan demikian, jumlah seluruh gerakan dari Ilmu pedang itu menjadi seratus tujuhpuluh bagian.
Ilmu pedang Kun-lun juga memiliki banyak perubahan, antara jurus satu dengan jurus lainnya selalu memiliki hubungan yang erat.
Jika serangan pertama gagal maka jurus selanjutnya akan segera menambal kekurangan yang terdapat pada jurus yang terdahulu itu.
Dengan begitu, ilmu pedang tersebut bagaikan memiliki rangkaian yang erat dan selalu beruntun sekali jurus demi jurus mengepung lawannya.
Terlebih lagi sekarang Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin melakukan serangan kepada si pendeta jenaka itu dengan berbareng, sekaligus maju berdua, dan juga mereka memainkan ilmu pedang Kun-lun-kiam-hoat dengan bersungguh-sungguh.
Dengan demikian, telah menyebabkan setiap jurus yang mereka pergunakan memiliki kekuatan yang bisa mematikan.
Tetapi Sung Ceng Siansu sama sekali tidak jeri untuk berurusan dengan kedua tojin Kun-lun-pay tersebut, ia masih tetap duduk di tempatnya dengan tertawanya yang bergelak-gelak tidak hentinya.
Waktu dilihatnya kedua batang pedang Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin itu menyambar ke arah perut dan pundaknya, Sung Ceng Siansu tetap tertawa malah iapun berseru.
"Ohh, bisa celaka aku! Sungguh berbahaya.....!"
Lalu tubuhnya seperti bola bundar telah menggelinding di lantai, dan kemudian telah duduk pula di bagian lainnya.
Dengan demikian sambaran kedua batang pedang Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin mengenai tempat kosong.
"Ayo kita bermain petak......!"
Kata hwesio jenaka tersebut.
"Aku gembira sekali bisa bermain-main dengan kalian berdua, jie-wi Totiang!"
Muka Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin jadi berobah merah, karena mereka benar-benar penasaran sekali.
Tidak disangka oleh mereka sama sekali, bahwa kini justru mereka seperti juga dipermainkan oleh pendeta gundul yang jenaka itu, dan seperti juga ilmu pedang mereka yang sesungguhnya telah dilatih mahir, bagaikan tidak memiliki arti apa-apa lagi buat si pendeta berkepala botak tersebut.
"Baiklah lihat serangan....."
Bo Liang Cinjin telah membentak, sambil melompat pedang di tangannya digetarkan sekaligus melancarkan tikaman ke tiga bagian di tubuh anggota bagian pendeta gundul tersebut yaitu lengan, dada dan perut.
Po San Cinjin juga rupanya tak mau ketinggalan, ia maju mendekati si hwesio jenaka itu dari arah samping kanan, pedangnya digerakkan menabas ke arah pinggang si hwesio.
Tetapi Sung Ceng Siansu tergelak-gelak tiada hentinya.
Kini ia tidak menggelinding di lantai seperti biasanya tetapi tetap duduk di tempatnya, kedua tangannya telah digerakkan yang tangan kiri diulurkan untuk menjepit pedang Bo Liang Cinjin dengan jari telunjuk dengan jari tengahnya, kemudian tangan satunya lagi digerakkan untuk menjepit pedang Po San Cinjin.
Kedua tojin tersebut melihat gerakan Sung Ceng Siansu, dan mereka juga mengetahui maksud dari pendeta jenaka itu yang hendak menjepit pedang mereka.
Namun mereka tidak berdaya untuk mengelakkan pedang mereka dari jepitan si hwesio, karena gerakan yang dilakukan oleh Sung Ceng Siansu sangat cepat, sehingga mereka hanya bisa melihat meluncurnya kedua tangan Sung Ceng Siansu.
Tahu-tahu mereka telah kena dipermainkan oleh hwesio jenaka itu, di mana ketika pedang mereka masing-masing kena dijepit oleh jari tangan Sung Ceng Siansu, tahu-tahu Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin merasakan tubuh mereka terangkat terapung di tengah udara, berputar-putar tidak hentinya.
Karena dengan menjepit pedang kedua lawannya itu, Sung Ceng Siansu telah mengerahkan lweekangnya, dan kemudian lewat ke dua badan pedang itu, ia mengangkat naik kedua tubuh tojin itu.
Kedua tojin itu kaget bukan kepalang, mereka mengeluarkan suara seruan nyaring, berusaha memberatkan tubuh mereka guna turun ke lantai pula.
Namun mereka seperti tidak berdaya lagi, tubuh mereka tetap melayang terapung di tengah udara.
Kedua tojin itu menyadari, mereka baru bisa menghindarkan diri dari libatan tenaga lweekang Sung Ceng Siansu, jika saja mereka melepaskan pedang masing-masing.
Namun dengan melepaskan pedang, berarti mereka telah menampar muka sendiri, karena bagi orang-orang persilatan, senjata sama dengan jiwa mereka.
Dengan terlepasnya senjata mereka, berarti pamor dan nama baik mereka runtuh dengan sendirinya, dan sulit untuk mengangkat kepala lagi.
Itulah sebabnya.
Untuk beberapa saat lamanya Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin jadi ragu-ragu dan bimbang untuk melepaskan senjata mereka.
Berulang kali hud-tim mereka berusaha menghantam ke arah kepala dan pundak si hwesio jenaka itu.
Namun Sung Ceng Siansu sambil tertawa hahahahaha tidak hentinya menggerakkan dua tangannya itu, yang jari tangannya menjepit pedang kedua lawannya itu.
Kepalanya yang gundul pelontos telah digerakkan miring ke kiri dan ke kanan cepat sekali, menghindari dengan mudah setiap kali kebutan hud-tim dari kedua tojin muda itu tiba.
Memang terdapat kesulitan yang tidak kecil buat Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin.
Pedang mereka berukuran panjang, dengan begitu hud-tim mereka yang berukuran lebih pendek dari pedang mereka, jadi selalu gagal mencapai sasaran yang mereka kehendaki.
Lie Su Han yang menyaksikan dari jarak tiga tombak lebih, merasakan berkesiuran angin dari meluncurnya ke dua tubuh tojin itu, yang tetap melayang-layang terapung di tengah udara.
Betapa kagumnya Lie Su Han, sehingga ia memuji tidak hentinya.
Kepandaian yang telah diperlihatkan oleh Sung Ceng Siansu memang menakjubkan, dan menurut Lie Su Han mungkin hanya gurunya, yaitu Bu Siang Siansu yang dapat menandinginya.
Sung Ceng Siansu rupanya menganggap bahwa telah cukup mempermainkan ke dua tojin itu karena setelah memutar tubuh ke dua tojin itu beberapa saat lamanya pula, tahu-tahu Sung Ceng Siansu telah menghentak ke dua tangannya.
Pedang Bo Liang Cinjin patah tiga, dan pedang Po San Cinjin patah dua.
Tubuh mereka terlempar ke tengah udara.
Mati-matian Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin berusaha menguasai tubuh mereka, sehingga mereka jatuh tanpa terbanting, ke dua kaki mereka terlebih dulu tiba di lantai.
Namun karena disebabkan mereka tadi telah diputar-putar, sehingga mereka merasa pening, mata mereka juga berkunang-kunang.
Begitu kaki mereka menginjak lantai, tubuh mereka terhuyung-huyung lama, sampai akhirnya ke dua tojin itu bisa menguasai tubuh mereka tidak terhuyung lagi.
Ke sembilan tentara Mongolia yang tadi telah pingsan dibanting oleh Sung Ceng Siansu, kini telah tersadar dan berdiri di samping dengan hati yang kecut.
Nyali mereka telah pecah karena mereka menyadari jika mereka maju lagi, niscaya mereka akan menderita siksaan yang jauh lebih hebat lagi dari hwesio yang kepandaiannya tinggi itu.
Buktinya ke dua tojin yang berkepandaian sangat tinggi yang mereka andalkan, telah berhasil dipermainkan oleh hwesio tersebut.
Sung Ceng Siansu telah melompat berdiri, tetapi tidak hentinya tertawa.
"Apakah kalian masih hendak main-main dengan Siauw-ceng?"
Tanya pendeta itu.
Muka Bo Liang Cinjin dan Po San Cinjin berobah merah, mereka penasaran dan marah sekali, tetapi mereka juga dapat melihat keadaan.
Walaupun mereka penasaran, tokh disebabkan mereka menyadari tidak akan dapat melayani pendeta tersebut, mereka memutuskan untuk menyudahi pertempuran itu.
Segera Bo Liang Cinjin berkata.
"Baiklah, kali ini kami dirubuhkan olehmu, tetapi kelak Pinto berdua akan mencarimu untuk meminta petunjuk pula......!"
Dan setelah berkata begitu, Bo Liang Cinjin melirik kepada Po San Cinjin, memberikan isyarat kepada kakak seperguruannya itu guna berlalu.
Begitu juga ke dua tojin ini telah mengangkat tangannya untuk memberi tanda kepada sembilan tentara Mongolia yang tadi datang bersama mereka, untuk berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu tertawa bergelak-gelak dengan sikapnya yang jenaka, ia menoleh kepada Lie Su Han waktu Bo Liang Cinjin dan kawan-kawannya itu berlalu dari ruangan makan rumah penginapan tersebut.
"Anak muda, apakah engkau tidak mengalami cidera di dalam tubuh....?"
Tanya Sung Ceng Siansu di antara suara tertawanya itu. Lie Su Han cepat-cepat merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat, dan ia berkata dengan sikap sangat berterima kasih.
"Terima kasih atas pertolongan yang diberikan Taysu.... Siauwte hanya terluka luar saja. Luka yang tidak begitu berarti dan nanti setelah diobati, tentu akan sembuh dengan cepat....."
"Bagus!"
Kata Sung Ceng Siansu kemudian dengan suara yang nyaring. Lalu mengeluarkan kayu bok-hienya yang kemudian diketuk-ketuk.
"kukira akupun harus berlalu......!"
Lie Su Han nenyatakan terima kasihnya lagi dan ia mengantarkan Sung Ceng Siansu sampai di muka pintu rumah penginapan tersebut.
Tetapi waktu pendeta jenaka itu hendak berlalu sambil mengetukkan terus kayu bok-hienya terdengar suara jeritan tertahan dari seorang anak kecil.
Cepat sekali Lie Su Han dan Sung Ceng Siansu menoleh mereka melihat sosok tubuh melompat ke jendela dan lenyap di luar.
Sosok tubuh itu yang berpakaian berwarna jingga, tangannya mengempit sesosok tubuh kecil lainnya.
Tetapi mata Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han yang tajam seketika mengenal bahwa anak kecil yang berada dalam kempitan orang berpakaian jingga itu adalah Lie Ko Tie keponakan Lie Su Han.
Bukan main kagetnya Lie Su Han, gesit sekali ia melompat menyusul ke arah jendela itu di mana ia melompat keluar untuk menggejar orang yang menculik Lie Ko Tie.
Sung Ceng Siansu yang batal pergi meninggalkan tempat itu telah melayang melompat juga ke jendela itu dan ia telah melayang dengan ringan sekali.
Empat kali menjejakkan kakinya di lantai seketika itu juga ia berhasil melampaui Lie Su Han.
Orang yang berpakaian baju warna jingga itu ternyata memiliki ginkang yang tinggi sekali.
Walaupun di tangan kanannya mengempit Lie Ko Tie tetapi ia bisa bergerak dengan ringan sekali di mana ia telah melompat ke genting rumah penduduk lainnya.
Sung Ceng Siansu boleh memiliki ginkang yang mahir tetapi kenyataan ia tidak bisa mengejarnya dengan segera, jarak mereka masih terpisah cukup jauh.
Lie Su Han yang memiliki ginkang di bawah ginkang Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu tertinggal jauh sekali.
Bukan main berkuatirnya Lie Su Han, ia sampai mengucurkan keringat dingin, dan juga di waktu itu ia seperti melupakan luka64 luka yang terdapat di sekujur tubuhnya.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ada padanya, ia berlari cepat sekali.
Dan beberapa kali, karena tergesa-gesa seperti itu, keseimbangan berat ke dua kakinya sering tidak terkendalikan dan menginjak pecah beberapa genting rumah penduduk.
Sung Ceng Siansu yang dijuluki orang rimba persilatan sebagai Bilek-hud, si Buddha tertawa itu, sekarang ini jadi tidak bisa tertawa.
Ia heran dan kaget juga di dalam hatinya melihat orang yang menculik Lie Ko Tie ternyata tidak berhasil dicandaknya dengan segera.
Karena penasaran, Sung Ceng Siansu mengempos semangatnya dan telah mengerahkan tenaganya, tubuhnya yang bulat gemuk itu berlari secepat terbang.
Orang yang berpakaian jingga itu berlari menuju ke arah pintu Gomay.
Ia berlari begitu cepat sekali, sehingga setibanya di pintu kota tersebut, di mana ada belasan orang tentara Mongolia yang menjaga pintu kota tersebut hendak menegurnya.
Tapi tubuh lelaki berpakaian jingga tersebut telah melesat melewati mereka dengan ringan, sehingga belasan penjaga itu hanya berdiri tertegun saja, dengan hati bertanya-tanya apakah mereka bertemu hantu di siang hari bolong seperti itu.
Dan belum lagi lenyap heran mereka, waktu itu telah berkelebat pula sesosok tubuh yang gemuk dan telah lenyap dari pandangan mata mereka dalam waktu yang singkat.
Itulah Sung Ceng Siansu yang juga mengejar lelaki berpakaian jingga keluar dari kota Siangyang.
Lie Su Han yang memiliki ginkang tidak setinggi Sung Ceng Siansu tidak bisa melewati barisan penjaga kota tersebut begitu saja, karena diapun tengah dalam keadaan terluka napasnya juga memburu keras sekali.
Belasan penjaga pintu kota itu telah menghadangnya.
Lie Su Han mengeluh, karena jika ia melayani belasan penjaga pintu tersebut, tentu akan membuang waktu saja, dan berarti juga ia akan semakin tertinggal oleh penculik Lie Ko Ti dan Sung Ceng Siansu.
Tetapi sekarang belasan penjaga pintu kota itu telah menghadangnya, dengan demikian Lie Su Han mau atau tidak harus berusaha melewati mereka, karena jika tidak tentu banyak kerewelan.
Untuk mengambil jalan memutar lewat pintu kota lainnya tentu akan membuang waktu.
"Berhenti......!"
Bentak beberapa tentara penjaga pintu kota tersebut ketika melihat Lie Su Han berlari semakin dekat.
Lie Su Han tidak mengurangi kecepatan berlarinya, ia terus juga berlari dengan gesit sekali.
Hanya diam-diam Lie Su Han telah menyalurkan kekuatan lweekangnya pada ke dua tangannya.
Dan waktu tiba di hadapan para penjaga pintu kota tersebut, tangannya beruntun bergerak, maka terlemparlah lima orang dari tentara penjaga pintu kota tersebut, sisanya terkejut.
Tetapi sewaktu mereka hendak mengangkat tombak dan golok mereka waktu itu Lie Su Han telah menggerakkan pula ke dua tangannya.
Empat orang lagi dari tentara Mongolia penjaga pintu kota tersebut terlempar ke udara.
Sisanya dua orang, mereka semua ciut nyalinya dan tidak berani menghalangi Lie Su Han pula.
Maka cepat sekali Lie Su Han telah melewati mereka dan berlari terus keluar kota Siang-yang.
Penculik Lie Ko Tie yang memiliki ginkang mahir itu, masih terus berlari cepat sekali, dalam waktu sekejap mata saja telah limapuluh lie lebih dilewatinya, namun Sung Ceng Siansu yang penasaran melihat ia masih belum bisa mengejarnya.
Suatu kali di waktu jarak mereka terpisah belasan tombak, Sung Ceng Siansu mengayunkan tangan kanannya, maka melesatlah besi pengetuk kayu bok-hienya.
Lemparan besi pengetuk kayu bok-hie itu disertai dengan kekuatan lweekang yang hebat, hal mana bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya, maka besi pengetuk kayu itu menyambar ke arah punggung lelaki berpakaian jingga itu.
Penculik Lie Ko Tie tidak menghentikan larinya, hanya tangan kirinya telah dikebutkan ke belakang.
Gerakan yang dilakukannya itu luar biasa kuatnya, karena batang besi pengetuk kayu bok-hie tersebut bisa disampoknya terpental ke samping kanan.
Namun disebabkan gerakannya itu, membuat larinya penculik tersebut terlambat beberapa detik saja.
Dan juga pada waktu yang lainnya beberapa detik itu justru telah dapat dipergunakan sebaik mungkin oleh Sung Ceng Siansu.
Karena waktu itu si pendeta yang digelari orang rimba persilatan dengan julukan Bi-lek-hud tersebut, telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat cepat sekali dan berada di dekat penculik itu, hanya terpisah dua tombak lebih.
Penculik Lie Ko Tie masih berusaha melarikan diri, tetapi justru di waktu itulah Sung Ceng Siansu telah menggerakkan tangan kanannya menghantam kepada penculik itu dengan pukulan Pekkong-ciang.
Sehingga walaupun mereka terpisah masih dua tombak lebih, tokh angin pukulan itu bisa menghancurkan batu, apalagi hanya punggung manusia.
Penculik Lie Ko Tie terpaksa harus mengelakkan gempuran itu dengan memandekkan tubuhnya, yang dibungkukkan dan dimiringkan juga ke kiri.
Dengan demikian ia bisa menghindarkan diri dari terjangan tenaga gempuran Sung Ceng Siansu.
Namun akibat berkelitnya dia, kesempatan itu dipergunakan Sung Ceng Siansu untuk melompat ke hadapan penculik tersebut menghadang jalan larinya.
"Hahahahaha......!"
Pendeta jenaka ini tertawa keras bergelakgelak, kini ia baru bisa tertawa karena telah berhasil mengejar penculik tersebut.
"Rupanya engkau akhirnya harus mengakui juga, bahwa aku Sung Ceng Siansu masih lebih menang di atasmu....."
Sambil berkata begitu, Sung Ceng Siansu mengawasi si penculik.
Ternyata dia seorang lelaki yang wajahnya kurus panjang, dengan kumis dan jenggot yang tipis pendek, dan mata yang terbuka besar menclos agak keluar, seperti juga mata ikan koki, mulutnya kecil, monyong seperti mului tikus.
Usianya mungkin sudah limapuluh tahun.
Waktu itu si penculik tersebut telah berkata dengan marah.
"Pendeta gundul, kau mencari mampus heh?"
Dan penculik berpakaian jingga tersebut juga bukan hanya berkata begitu saja, dengan tangan kirinya ia telah mendorong kepada Sung Ceng Siansu, ke arah dada pendeta tersebut.
Dorongan itu mengandung tenaga yang kuat sekali, menerjang seperti datangnya gelombang laut yang saling susul.
Sung Ceng Siansu tertawa keras, tubuhnya yang bulat itu telah melompat ke tengah udara, ke dua kakinya ditekuk, dan ke dua tangannya memeluk ke dua kakinya tersebut, dan seperti bola bundar, tubuh si pendeta yang gemuk itu telah berputar di tengah udara, tahu-tahu meluncur menyambar ke arah dada si penculik.
Penculik tersebut terkejut.
Ia mengetahui hebatnya cara menyerang Sung Ceng Siansu, maka ia tidak bisa meremehkannya.
Tetapi waktu itu ia sudah tidak memiliki waktu yang banyak guna menghindarkan diri.
Dan jalan satu-satunya, ia mengangkat tubuh Lie Ko Tie yang telah dalam keadaan tertotok tidak bisa bargerak, untuk diangsurkan menerima terjangan kepala gundulnya Sung Ceng Siansu.
Kaget bukan main Sung Ceng Siansu.
"Perbuatan licik......!"
Berseru Sung Ceng Siansu dengan gusar, tetapi ia tidak bisa membendung meluncur tubuhnya, yang kepalanya akan menerjang penculik itu.
Hanya jalan satu satunya si pendeta memusatkan kekuatan lweekangnya untuk memiringkan tubuhnya, yang segera merobah arah terjangannya, melewati sisi tubuh penculik tersebut dan meluncur terus di mana kepalanya kemudian menghantam batang pohon yang sebesar mulut mangkok sehingga menimbulkan suara yang nyaring sekali, dan yang luar biasa batang pohon tersebut segera patah dan tumbang.
Sedangkan Sung Ceng Siansu sendiri seperti tidak mengalami sesuatu apapun juga, telah berdiri.
Penculik Lie Ko Tie yang melihat kesempatan itu telah mengempit Lie Ko Tie dan bermaksud hendak melarikan diri lagi.
Tetapi Sung Ceng Siansu telah mengeluarkan suara tertawa bergelak-gelak, sambil katanya.
"Aduh anak manis..... aduh anak manis...... jangan pergi dulu. Kepalaku yang alot dan atos ini belum lagi mencium tubuhmu......!"
Sambil berseru Sung Ceng Siansu telah menjejakkan kaki, tubuhnya telah melompat pula dengan sikap seperti tadi.
Yaitu ke dua kaki ditekuknya dan ke dua tangan memeluk ke dua kaki tersebut, tubuhnya yang berputar di tengah udara seperti sebuah bola itu telah meluncur menyerudukkan kepalanya ke arah punggung penculik Lie Ko Tie.
Penculik Lie Ko Tie rupanya jadi mendongkol juga karena didesak terus menerus seperti itu.
Tahu-tahu ia telah melemparkan tubuh Lie Ko Tie dari gendongannya, di mana tubuh Lie Ko Tie memang dalam keadaan tertotok dan tidak bisa bergerak itu, telah terlempar jatuh di bawah batang pohon yang tadi tumbang terkena terjangan kepala Sung Ceng Siansu.
Rupanya penculik Lie Ko Tie mempergunakan lweekangnya yang disalurkan pada ke dua telapak tangannya itu, untuk menahan terjangan kepala botaknya Sung Ceng Siansu.
"Dukkk!"
Kuat sekali benturan yang terjadi antara batok kepala Sung Ceng Siansu dengan ke dua telapak tangan penculik tersebut.
Kesudahannya memang luar biasa karena ke dua telapak tangan penculik itu tidak kuat menahan terjangan kepala botaknya Sung Ceng Siansu, di mana ke dua tangannya itu telah tertekuk, terdorong kuat sekali oleh terjangan kepala Sung Ceng Siansu.
Dan yang celaka lagi, kepala botaknya Sung Ceng Siansu terus menyambar meluncur ke arah dadanya penculik tersebut.
Bukan main terkejutnya penculik tersebut.
Ia sampai mengeluarkan suara seruan kaget, dan mati-matian ia telah mengelakkan diri dengan menjejakkan ke dua kakinya.
Dan tubuhnya telah melayang ke tengah udara, untuk menghindarkan diri dari terjangan kepala Sung Ceng Siansu, sehingga terjangan kepala Sung Ceng Siansu tidak berhasil mengenai sasarannya, dan hanya mengenai paha dari peculik tersebut.
"Aduhhh......!"
Penculik tersebut telah mengeluarkan suara jeritan dan tubuhnya hampir saja terjungkal, namun ia masih bisa menguasai tubuhnya supaya tidak rubuh.
Untung saja tadi terjangan kepala botaknya Sung Ceng Siansu tidak mengenai tepat pas paha dari penculik tersebut, hanya menyerempet saja.
Jika mengenai tepat, jelas tulang paha penculik tersebut akan hancur karenanya.
Di saat itu, segera terlihat Sung Ceng Siansu sambil tertawa bergelak-gelak telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat lagi ke tengah udara, dan ke dua kakinya ditekuk pula, dengan sepasang tangannya dipelukkan pada ke dua kakinya itu.
Dengan demiklan, seperti sebuah bola bulat, ia telah menerjang pula cepat sekali.
Kali ini sasaran Sung Ceng Siansu tetap dada penculik tersebut.
Karena telah menyaksikan betapa hebatnya kekuatan batok kepala dari Sung Ceng Siansu, penculik tersebut tidak berani berayal lagi.
Tahu-tahu tangan kanannya telah merabah pinggangnya, dan ia telah mencabut keluar sebatang seruling perak, yang berkilauan putih menyilaukan mata.
Dengan mempergunakan seruling itu dengan jurus Naga Keluar dari Goa, tampak seruling itu digerakkan menotok ke arah batok kepala Sung Ceng Siansu.
Serulingnya itu telah menyambar tepat di jurusan ubun-ubun kepala Sung Ceng Siansu.
Perlu diketahui, walaupun bagaimana kedot dan kuatnya kepala seseorang yang telah dilatih dengan baik, dan juga dilindungi oleh lweekang yang kuat, namun kenyataannya bagian yang paling lemah dan tidak mungkin dilatih dengan sering itu menjadi kebal dan kuat, adalah bagian ubun-ubun kepala, di mana merupakan bagian yang terlemah untuk setiap manusia.
Melihat cara menotok dari lawannya, Sung Ceng Siansu tertawa bergelak-gelak sambil menundukkan kepalanya lebih dalam.
Dengan demikian ia tetap menyeruduk begitu tetapi jurusan totokan ujung seruling lawannya jatuh bukan pada ubun-ubun kepalanya, hanya mengenai belakang kepalanya, sehingga menimbulkan suara yang nyaring.
"Tukkk!"
Tetapi kepala Sung Ceng Siansu tidak terluka dan masih tetap menyeruduk.
Bukan main kagetnya si penculik itu, karena tidak menyangka serangan serulingnya itu akan gagal, dan terjangan kepala pendeta tersebut, yang bisa mematikan itu, tetap meluncur ke arah dadanya.
Terpaksa, ia menggeser ke dua kakinya, tubuhnya telah melompat minggir untuk meloloskan diri dari terjangan kepala si hwesio jenaka itu.
Tetapi Sung Ceng Siansu begitu gagal dengan terjangannya, segera menyusul lagi dengan terjangan berikutnya.
Tubuh pendeta jenaka tersebut seperti juga sebuah bola yang melayang-layang ke sana ke mari dengan cepat, menyambar berulang kali kepada si penculik.
Namun penculik tersebut juga cukup lihay walaupun ia terdesak tetapi tidak sampai terkena terjangan tersebut.
Dengan demikian, dia masih bisa mempertahankan diri.
Mempergunakan kesempatan waktu si penculik tengah menghindarkan diri dari terjangan kepalanya, tubuhnya Sung Ceng Siansu telah meluncur terus, dan tahu-tahu tangan kanannya telah menyambar tubuh Lie Ko Tie yang menggeletak di bawah batang pohon yang telah tumbang itu.
Si penculik gusar sekali apalagi ia melihat Sung Ceng Siansu telah mengempit Lie Ko Tie.
"Lepaskan anak itu......!"
Bentak penculik tersebut, dan serulingnya segera menyambar berulang kali dengan gerakan yang cepat dan mengandung kekuatan lweekang yang sangat dahsyat.
Tetapi Sung Ceng Siansu mengeluarkan suara tertawa terbahakbahak, dan tubuhnya telah melompat tinggi melambung ke tengah udara, sehingga totokan seruling dari penculik tersebut mengenai tempat kosong.
"Tahan.....!"
Bentak Sung Ceng Siansu.
"Siauw-ceng hendak bicara.....!"
Penculik itu berhenti melancarkan totokannya dengan serulingnya itu. Ia telah memandang tajam kepada Sung Ceng Siansu, kemudian tanyanya.
"Apa yang hendak kau bicarakan?"
"Siapa kau, mengapa engkau menculik anak ini ‘?"
Tanya Sung Ceng Siansu.
"Aku Hang-ciu-kui-bian (Muka Setan dari Hang-ciu) Auwyang Bun!"
Menyahuti penculik tersebut.
"Aku memiliki sedikit keperluan dengan anak itu...... kukira engkau tidak perlu mencampurinya......!"
"Hahahahaha, aduh, aduh...... perutku sakit..... perutku sakit......!"
Kata Sung Ceng Siansu sambil tertawa dan tangan kanannya memeluki tubuh Lie Ko Tie yang dikempit dalam keadaan tertotok itu, sedangkan tangan kirinya mengusap-usap perutnya.
Muka Hang-ciu-kui-bian Auwyang Bun jadi berobah, ia heran melihat kelakuan si pendeta, lalu katanya.
"Jika engkau sakit perut, pergilah kau meninggalkan tempat ini, aku bersedia memberikan pengampunan untukmu, tetapi lepaskan anak itu......!"
Si pendeta Sung Ceng Siansu tertawa semakin keras, iapun berulang kali berteriak-teriak.
"Aduh perutku...... perutku sakit sekali...... aku ingin membuang kotoran...... aku ingin membuang air......!"
Dan si pendeta telah memutar tubuhnya untuk meninggalkan tempat tersebut. Hang-ciu-kui-bian terkejut dan marah, ia cepat-cepat menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat menghadang di depan si pendeta.
"Lepaskan dulu anak itu......!"
Katanya dengan suara membentak.
"Hemmm...... engkau rupanya tidak melihat aku bukan? Baiklah...... baiklah, biarlah Siauw-ceng menahan dulu sakit perut ini, aku akan melayani keinginanmu. Apa yang kau kehendaki?"
"Anak itu!"
Menyahuti Auwyang Bun.
"Ada urusan apa dengan anak ini...... dia adalah keponakan dari seorang sahabatku...... tidak mungkin dia kuberikan......!"
"Hemmm,"
Tertawa dingin Auwyang Bun.
"Jika engkau tidak mau melepaskan anak itu, jangan harap engkau bisa meloloskan diri dari tanganku......!"
Dan tampak Auwyang Bun telah menggerakkan serulingnya.
Ia telah menyerang dengan cara menotok beberapa kali ke tubuh si pendeta.
Totokan seruling Auwyang Bun merupakan totokan-totokan maut.
Dan ia juga tahu, pendeta ini tengah sakit perut.
Jika dia menghalangi terus tentu akhirnya pendeta tersebut kewalahan.
Sedang Sung Ceng Siansu sambil mengelakkan totokan Auwyang Bun berulang kali tertawa sambil berteriak-teriak.
"Aduh perutku sakit..... sakit sekali, aku sakit perut. Aduh aduh, tidak tahan lagi......!"
Dan berkata sampai di situ, si pendeta sambil memiringkan tubuhnya yang gemuk itu, menghindarkaa diri dari totokan yang dilancarkan Auwyang Bun pada tulang iganya di sebelah kanan.
Tahu-tahu ia mengeluarkan angin busuk.
Kentut suaranya nyaring sekali, baunya juga bukan main.
Mendongkol sekali Auwyang Bun, bercampur geli di hati karena melihat kelakuan si pendeta, yang jenaka ini.
Maka ia telah menunda serangan serulingnya dan iapun berkata sambil menahan tertawanya.
"Jika engkau memang mau menyerahkan anak itu kepadaku, engkau boleh segera berlalu untuk mengurus perutmu yang sakit itu......!"
Tetapi Sung Ceng Siansu telah tertawa lagi dengan keras, tahutahu ia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melayang ke tengah udara.
"Awas serangan......!"
Kata pendeta jenaka tersebut, tahu-tahu tangan kirinya meluncur akan menepuk kepala Auwyang Bun Gerakan yang dilakukan si pendeta mengejutkan Auwyang Bun, karena waktu itu mereka terpisah tidak terlalu jauh, dan angin serangan telapak tangan si pendeta begitu kuat.
Untuk menghindarkan diri sudah tidak keburu maka ia hanya mengangkat serulingnya untuk menangkis tangan kiri si pendeta.
Tetapi rupanya Sung Ceng Siansu hanya menggertak belaka.
Begitu seruling lawannya bergerak hendak menangkis, Sung Ceng Siansu telah menarik pulang tangannya dan tubuhnya melompat menghindar dan menjauh diri dari Auwyang Bun dan bermaksud menghindar diri dari Auwyang Bun.
Auwyang Bun mana mau melepaskan Sung Ceng Siansu berlalu begitu saja, maka ia mengejarnya dengan cepat.
Disaat itu dari kejauhan tampak Lie Su Han berlari mendatangi.
Sung Ceng Siansu sambil tertawa melemparkan Lie Ko Tie sambil katanya.
"Terimalah anak ini......!"
Dan tubuh Lie Ko Tie meluncur cepat ke arah Lie Su Han.
Lie Su Han terkejut, ia berusaha memusatkan tenaga untuk mengulurkan ke dua tangannya untuk menyambut tubuh Lie Ko Tie.
Memang Lie Su Han berhasil menyambuti tubuh keponakannya itu dengan baik, tetapi tubuh Lie Su Han terhuyung seperti akan rubuh, karena kuatnya tenaga lemparan yang dilakukan Sung Ceng Siansu.
Untung saja Lie Su Han telah bersiap sedia mengerahkan tenaga dan kekuatan pada ke dua kakinya, sehingga hanya kuda-kuda ke dua kakinya saja yang tergempur tetapi tidak sampai ia terjatuh.
Setelah melemparkan Lie Ko Tie, Sung Ceng Siansu langsung saja menghadapi Auwyang Bun.
"Orang she Auwyang.......!"
Bentak Sung Ceng Siansu, tidak ketinggalan suara tertawanya yang nyaring.
"Sekarang kita boleh main-main dengan sepuas hati kita masing-masing......!"
Auwyang Bun telah berkata dengan suara mengandung kemurkaan, karena ia melihat betapa Lie Ko Tie telah berhasil dilemparkan kepada Lie Su Han.
"Pendeta celaka,"
Bentak Auwyang Bun dengan suara yang mengandung kemarahan itu.
"Kau jagalah seranganku......!" Dan seperti kalap Auwyang Bun telah mengerakkan serulingnya, di mana ia telah menotok beberapa bagian anggota tubuh Sung Ceng Siansu. Sekarang tanpa mengempit Lie Ko Tie, Sung Ceng Siansu bisa bergerak dengan gesit dan leluasa. Iapun telah mempergunakan cara bertempur dengan mengandalkan kepalanya, tubuhnya seperti sebuah bola telah melompat ke sana ke mari dengan gesit dan juga sangat lincah sekali. Auwyang Bun memang dapat melayani setiap terjangan Sung Ceng Siansu, tapi makin lama semakin terlihat jelas bahwa orang she Auwyang itu telah terdesak oleh setiap terjangan si pendeta. Yang luar biasa, setiap kali kepala Sung Ceng Siansu kena ditotok atau diketok oleh seruling peraknya Auwyang Bun, pendeta itu sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia menderita kesakitan. Auwyang Bun juga heran sekali, karena ia tidak mengerti si pendeta bisa melatih kepalanya sampai begitu kuat dan keras sekali. Maka Auwyang Bun mulai berobah cara bertempurnya, ia menotok sekujur tubuh dari Sung Ceng Siansu. Totokan demi totokan telah meluncur cepat sekali, dan juga jalan darah yang hendak ditotoknya itu merupakan jalan darah yang mematikan dan berbahaya sekali. Lie Su Han sambil menggendong keponakannya, telah berdiri mengawasi dengan takjub. Ia heran bisa bertemu beruntun dengan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, seperti Bo Liang Cinjin, Po San Cinjin, Sung Ceng Siansu dan juga Auwyang Bun ini. Dalam waktu yang satu harian ini, telah empat orang rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi dan aneh dijumpainya. Dan Lie Su Han seketika merasakan bahwa ilmu yang dimilikinya itu ternyata jauh dari apa yang disebut mahir dan sempurna. Karena jika ia yang bertempur dengan orang-orang tersebut, paling tidak ia hanya bisa bertahan sepuluh jurus saja. Setelah itu segera ia dapat dirubuhkan. Maka dari itu, Lie Su Han telah berjanji kepada dirinya sendiri. Jika nanti ia memiliki waktu yang cukup banyak. Tentu akan melatih diri lebih giat lagi, guna memperoleh kepandaian yang lebih tinggi. Waktu itu Auwyang Bun penasaran sekali, karena setiap totokannya selalu dapat dipunahkan oleh Sung Ceng Siansu, maka semakin lama Auwyang Bun telah melakukan totokan-totokan yang semakin cepat dan mempergunakan tenaga lweekang yang semakin kuat. Sung Ceng Siansu sambil bertempur selalu memperdengarkan suara tertawanya yang jenaka dan diapun telah mengadakan perlawanan yang benar-benar mengejutkan Auwyang Bun. Setiap kali ia selalu mengelakkan diri dari serangan Auwyang Bun tersebut, tentu Sung Ceng Siansu akan membarengi dengan serangan balasannya sehingga telah membuat Auwyang Bun harus berlaku hati-hati sekali. Yang membuat Lie Su Han jadi heran adalah orang she Auwyang itu. Mengapa ia hendak menculik Lie Ko Tie. Tentu saja hal itu merupakan tanda tanya yang tidak terjawab oleh Lie Su Han. Karena setahunya, Lie Ko Tie merupakan keturunan orang anak biasa saja, dan tentu tidak akan nanti akan jadi persoalan yang terlalu menarik untuk dipersoalkan. Tetapi kenyataannya, Auwyang Bun memang begitu gigih untuk menculiknya. Tentunya di balik dari semua ini, terdapat sesuatu yang agak luar biasa. Sambil mengawasi pertarungan antara Auwyang Bun dengan Sung Ceng Siansu tampak Lie Su Han berdiri terpekur sambil menggendong keponakannya, sedangkan pikirannya bekerja keras untuk memecahkan persoalan tersebut. Auwyang Bun yang melihat bahwa dirinya tidak mungkin bisa merubuhkan Sung Ceng Siansu, akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari gelanggang pertempuran itu. Maka ia telah menggerakkan serulingnya mendesak pendeta itu berulang kali. Dan di waktu Sung Ceng Siansu tengah menyingkirkan diri mengelakkan serangan itu, Auwyang Bun melompat mundur beberapa langkah, dan berkata.
"Pendeta gundul...... sekarang biarlah aku tidak akan menarik panjang urusan ini. Tetapi nanti jika memang kita memiliki kesempatan yang baik tentu kita akan bertemu dan main-main lagi sepuas hati.....!"
Dengan berkata begitu, Auwyang Bun hendak menutupi malunya sendiri, karena ia memang tidak mungkin bisa mengalahkan Sung Ceng Siansu, maka dia bermaksud untuk meninggalkan pendeta tersebut.
Sung Ceng Siansu tertawa tergelak-gelak.
"Jika memang engkau hendak bermain-main sepuas hati sekarang atau nanti aku pendeta miskin selalu menuruti, siauw-ceng bersedia untuk menerima ajakanmu untuk latihan, menguruskan tubuh...... hahaha......!"
Si pendeta tertawa sampai bergelak-gelak tubuhnya bergoncang keras.
Auwyang Bun mengawasi mendelik si pendeta.
Kemudian menoleh kepada Lie Su Han yang tengah menggendong Lie Ko Tie memang matanya melotot seperti mata ikan koki.
Sekarang dia mendelik penuh kemarahan seperti itu, tentu saja membuat keadaan mukanya menyeramkan sekali.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu Auwyang Bun memutar tubuhnya, ia bermaksud untuk meninggalkan tempat tersebut.
Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han hanya mengawasi saja, di mana tampak Auwyang Bun telah berlari-lari mennju ke arah permukaan hutan yang terpisah tidak jauh dari tempat itu.
Setelah bayangan Auwyang Bun lenyap, Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han yang menggendong Lie Ko Tie bermaksud kembali ke Siang-yang.
Namun baru saja mereka berjalan belasan langkah, tiba-tiba terdengar jeritan melengking tinggi sekali dari arah di mana Auwyang Bun tadi berlari memasukinya.
Dan menyusul dengan suara jeritan yang menyayatkan hati itu, di waktu Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han memutar tubuh mereka untuk melihat apa yang terjadi, tampak sesosok tubuh tengah berlari mendatangi sambil mengeluarkan suara orang meraung kesakitan yang tak hentinya.
Gerakan tubuhnya itu cepat sekali, berlari seperti bayangan dan menjerit kesakitan.
Cepat sekali Sung Ceng Siansu den Lie Su Han mengenali bahwa orang tersebut tidak lain dari Auwyang Bun!
Tetapi yang luar biasa sekali, muka Auwyang Bun berlumuran darah, pakaiannya telah koyak-koyak, dan juga ia berlari mendatangi sambil menjerit-jerit kesakitan sekali dengan sikap yang diliputi oleh perasaan ketakutan yang bukan main!
Inilah pemandangan yang diluar dugaan dari Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han.
Karena bukankah tadi Auwyang Bun masih dalam keadaan segar bugar dan juga tidak terluka sama sekali.
Mengapa sekarang begitu ia memasuki hutan tersebut, belum begitu lama, ia telah keluar kembali dalam keadaan terluka parah seperti itu?
Dan juga, sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, yang hampir berimbang dengan kepandaian Sung Ceng Siansu, mengapa Auwyang Bun jadi lari terbirit-birit dari dalam hutan tersebut, dengan sikap ketakutan begini rupa?
Seperti juga ada sesuatu yang benar-benar sangat ditakutinya.
Lie Su Han yang melihat keadaan Auwyang Bun seperti itu, jadi menggidik ngeri dan tergetar keras hatinya.
Itulah pemandangan yang benar-benar sungguh sangat mengerikan sekali.
Auwyang Bun hanya berlari-lari sampai di dekat Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han, setelah melewati tiga tombak, tubuhnya terjungkal dan berkelonjotan di tanah, menggelepar-gelepar keras sekali.
Mulutnya meraung-raung mengeluarkan suara jeritan yang mengandung perasaan sakit yang bukan kepalang, dan juga sepasang matanya terpentang lebar-lebar.
Wajahnya tertarik keras sekali bahkan otot mukanya itu telah mengejang memperlihatkan ia tengah dicekam oleh ketakutan yang sangat hebat.
"Aduhhh..... dia..... dia...... akan datang..... lari kalian lari......!"
Dalam jeritan kesakitan dan ketakutannya itu, Auwyang Bun masih sempat menganjurkan Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han untuk meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin.
Sung Ceng Siansu berdiri mengejang kaku di tempatnya, lupa dia dengan julukannya sebagai Bi-lek-hud, yang selalu tertawa.
Wajahnya memperlihatkan ketegangan.
Ia tidak menyangka seorang jago persilatan yang memiliki kepandaian tinggi seperti Auwyang Bun bisa mengalami nasib yang begini mengenaskan dan juga anehnya ia begitu ketakutan sekali.
Lie Su Han juga hanya berdiri tertegun kaget dan ngeri di tempatnya, mengawasi tubuh Auwyang Bun menggelepar dengan sekujur tubuh dan wajahnya berlumuran darah.
"Cepat lari..... cepat..... aduhhh, aduhh!"
Tubuh Auwyang Bun masih menggelepar-gelepar terus keras sekali, bergulingan di atas tanah.
Sung Ceng Siansu seperti baru tersadar bengongnya, cepat-cepat ia melompat ke sisi tubuh Auwyang Bun yang masih menggelepar begitu seperti juga menahan rasa sakit yang bukan main.
Pendeta ini berjongkok dan bertanya dengan suara yang agak tergetar.
"Apa yang telah terjadi? Apa yang sesungguhnya terjadi? Katakanlah.....!" Auwyang Bun telah mengerang-erang kesakitan sambil menggelepar terus, mukanya memperlihatkan perasaan ketakutan bagaikan ada sesuatu yang benar-benar membuat hatinya ngeri.
"Lari...... aduhhh...... aduhhh...... lari kataku..... dia akan segera datang!"
Teriak Auwyang Bun dalam kesakitan dan ketakutannya itu.
Napasnya memburu keras dan tersendat-sendat, bagaikan jantungnya tergoncang keras sekali, darah juga masih mengucur deras sekali sekujur tubuh Auwyang Bun yang terluka begitu pula wajahnya yang dilumuri darah yang memerah mengerikan.
Wajah Auwyang Bun memang telah buruk.
Sékarang keadaannya sedemikian rupa, sehingga menyebabkan mukanya jadi benarbenar mengerikan sekali.
Sung Ceng Siansu berdiam sejenak dalam kebimbangan, hatinya jadi tergetar juga.
Tetapi setelah berdiam diri sejenak lamanya, ia berdiri, katanya kepada Lie Su Han.
"Pergilah kau bawa keponakanmu itu kembali ke Siang-yang, biarlah aku nanti yang akan melihat sesungguhnya apa yang terjadi! Pergilah, kelak siauw-ceng juga akan menyusul ke Siang-yang."
Tetapi Lie Su Han menggelengkan kepalanya. Tidak mau ia meninggalkan Sung Ceng Siansu dalam keadaan seperti itu.
"Kalian aduhhh..... aduhhh...... kalian jangan terlambat pergi dari tempat ini...... dia akan segera datang, pergi cepat...... pergi..... cepat pergi..... aduhhh...... aduhhh......!"
Dan tubuh Auwyang Bun menggelepar semakin kuat, bergulingan di atas tanah.
Iapun akan meraung lagi untuk melampiaskan perasaan sakit yang dideritanya, tubuhnya mengejang-ngejang, sepasang matanya mendelik lebar-lebar.
Kulit wajahnya seperti tertarik mengejang membayangkan ketakutan yang sangat, mulutnya menyeringai dan akhirnya tubuhnya diam, napasnya putus dengan keadaan wajahnya yang tetap membayangkan ketakutan yang sangat.
Hati Sung Ceng Siansu jadi tergoncang juga, ia membayangkan bahwa Auwyang Bun seorang tokoh persilatan yang memiliki kepandaian tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya, tadi mereka telah saling tempur, dan Sung Ceng Siansu walaupun tidak berhasil dirubuhkan Auwyang Bun.
Namun sekarang Auwyang Bun telah mengalami nasib seperti ini, dengan tubuh yang lukaluka parah dan muka yang juga terluka berlumuran darah, lain dengan keadaannya yang ketakutan seperti itu, di mana akhirnya ia telah menghembuskan napasnya menemui kematian dengan cara yang begitu mengerikan, benar-benar membuat Sung Ceng Siansu jadi merasa tergetar juga hatinya.
Entah manusia atau makhluk macam mana yang telah menyebabkan kematian Auwyang Bun dengan cara yang begitu mengerikan sekali?
Di waktu itu Lie Su Han merasakan sepasang lututnya menggigil gemetaran, jantungnya berdegup sangat cepat, hatinya tergetar menyaksikan kematian Auwyang Bun yang begitu mengerikan dan mengenaskan sekali.
Di saat mereka tengah berpikir begitu, tiba-tiba Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han mendengar suara tertawa yang mengikik perlahan, namun tajam menusuk telinga.
Bukan main terkejutnya Sung Ceng Siansu.
Sebagai seorang yang telah mahir tenaga dalamnya, dengan sendirinya Sung Ceng Siansu mengetahui bahwa suara perlahan dan halus itu namun tajam menusuk telinga, adalah suara tertawa dari seorang yang telah terlatih baik sekali lweekangnya.
Suara tertawa yang perlahan itu, walaupun didengar dari dekat atau jauh, nyaringnya tetap sama.
Dari dekat didengarnya memang perlahan tetapi dari jauhpun tetap perlahan seperti itu, namun tetap terdengar jelas tidak berkurang atau lebih keras tekanan suara tertawa itu.
Hal itulah disebabkan sempurnanya latihan lweekang dari orang yang bersangkutan.
Bagi seorang yang belum sempurna lweekangnya, jika menginginkan lawannya mendengar suara tertawanya, ia harus tertawa keras sambil mengerahkan lweekangnya, sehingga lawannya dapat mendengar suara tertawanya itu dari tempat yang jauh sekalipun.
Tetapi jika didengar dari dekat, suara tertawa seperti itu tentu akan memekakkan dan menyakitkan anak telinga.
Sebagai contoh disini bisa dikemukakan, seperti seseorang yang memainkan alat musik kecapi.
Seseorang yang belum begitu ahli, tentu sentilan pada tali-tali kecapi itu akan kasar dan terdengarnya menusuk telinga.
Tetapi semakin ahli orang yang bersangkutan menguasai alat makin halus petikannya pada tali-tali alat musik kecapi tersebut.
Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan bahwa suara tertawa yang semakin halus dan dapat didengar dari jarak yang jauh, menunjukkan orang tersebut memiliki lweekang yang tinggi sekali.
Diam-diam Sung Ceng Siansu mengerutkan sepasang alisnya.
Apakah orang yang memperdengarkan suara tertawa itu yang seperti suara tertawa seorang wanita, yang telah melukai sampai Auwyang Bun terbinasa dengan cara mangenaskan itu?
Sampai begitu tinggi dan luar biasa kepandaiannya, sehingga Auwyang Bun yang memiliki kepandaian silat yang tinggi, hanya dalam waktu sekejap mata saja, dapat dibinasakan dengan cara yang mengerikan?
Sehebat-hebatnya kepandaian orang itu, tentu Auwyang Bun tidak mungkin dapat dirubuhkan dalam sekejap mata saja.
Tetapi kenyataannya, Auwyang Bun baru memasuki hutan itu, dan baru saja Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han melangkah belasan tombak, dia telah berlari keluar lagi dari dalam hutan, dengan keadaannya yang terluka begitu parah dan mengerikan sekali, dan akhirnya terbinasa.
Inilah peristiwa yang benar-benar mengejutkan sekali.
"Sampai begitu hebatkah kepandaian orang yang mendatangi ini?"
Berpikir Sung Ceng Siansu dalam hatinya, yang masih saja tergoncang terpengaruh oleh suara tertawa yang sangat perlahan namun sangat tajam sekali menusuk telinga itu.
"Siapakah orang itu?"
Didengar dari nada suara tertawa itu, tentunya ia seorang wanita......!"
Dan Sung Ceng Siansu dalam waktu beberapa detik itu berusaha untuk mengingat tokoh wanita di rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi tentunya orang yang tengah mendatangi itu, setidaknya lweekangnya sudah dilatih lebih limapuluh tahun.
Sedang Sung Ceng Siansu berpikir begitu, suara tertawa yang halus dan perlahan itu tetap terdengar, dan akhirnya dari permukaan hutan itu muncul sesosok tubuh.
Memang seorang wanita, tetapi bukan seperti yang diduga oleh Sung Ceng Siansu.
Yang muncul justru seorang wanita yang cantik jelita, paras mukanya segar, usianya tidak lebih dari duapuluh lima tahun, hidungnya mancung.
Sepasang alisnya melengkung seperti bulan sabit, sepasang matanya yang lentik dengan sinarnya yang gemerlapan itu seperti juga bintang Pak-tauw, dan juga bibirnya yang merah dan kecil mungil, bagaikan juga buah tho.
Rambutnya yang hitam dan tebal itu, dibuntut kuda dan diikat oleh sehelai pita berwarna merah.
yang berkibar-kibar terhembus angin.
Wanita cantik ini memakai gaun atas yang berwarna merah darah, sedangkan gaun bawahnya berwarna kuning gading dengan diberi hiasan berwarna-warni pada tepian bawah gaun tersebut.
Iapun mengenakan cukup banyak barang-barang perhiasan pada pergelangan tangannya, leher, di rambutnya dan juga di telinganya.
Di ke dua tangannya yang dilipat pada dadanya, tampak menggendong sesuatu.
Dan waktu wanita cantik jelita ini telah mendatangi dekat, barulah Sung Ceng Siansu dan Li Su Han bisa, melihat jelas apa yang digendong oleh wanita tersebut.
Dan Sung Ceng Siansu maupun Lie Su Han telah mengeluarkan suara seruan tertahan, mereka kaget tidak terkira.
Ternyata yang berada dalam gendongan wanita cantik tersebut, tidak lain dari seorang bayi berusia beberapa bulan, yang matanya tengah terpejam, dan mukanya pucat pias.
Langkah kaki wanita tersebut perlahan sekali, selangkah demi selangkah menghampiri Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han, namun kenyataan ia bisa juga untuk dapat pula bergerak cepat luar biasa, karena hanya sekejap mata saja ia telah berada di hadapan Bi-lek-hud Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han.
Hal itu memperlihatkan bahwa ginkang wanita cantik ini memang tinggi sekali.
Lenyap suara tertawanya, terdengar senandungnya.
"Anakku, tidurlah..... tidurlah esok kau bangun untuk bergembira bermain dengan ibu...... tidurlah anakku..... tidurlah anakku......!"
Suara wanita cantik ini halus sekali, ia pun menggerak-gerakkan perlahan ke dua tangannya, seperti tengah menimang-nimang anak tersebut.
Tetapi bayi yang berada dalam pelukan ke dua tangan wanita tersebut diam saja, dan wajahnya yang pucat itu, pias sekali.
Setelah berada dekat sekali, barulah Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han melihatnya nyata bahwa bayi tersebut ternyata sudah tidak bernapas!
Bayi yang digendong oleh wanita cantik tersebut ternyata hanyalah sesosok mayat bayi belaka!
Bi-lek-hud yang biasanya gemar tertawa, seketika berobah menjadi pucat dan hatinya tergetar.
Sedangkan Lie Su Han telah mengeluarkan suara seruan tertahan.
Ke dua tangannya menggéndong Lie Ko Tie erat-erat, yang dipeluknya dengan ketat.
Wanita cantik itu masih menina bobokan bayi yang telah menjadi mayat itu, seperti juga ingin menidurkan bayi tersebut.
Tidak terlihat perasaan sedih, berduka, kesal, merana, maupun perasaan lainnya.
Wajahnya itu begitu polos, hanya memancarkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
"Tidurlah anak..... tidurlah anak..... engkau tidur yang nyenyak, besok engkau bangun dengan riang gembira, bermain dengan ibu..... tidurlah anak....!"
Dan suara wanita cantik tersebut semakin halus, tergetar, dan telah mengayunkan ke dua tangan, seperti menimang-nimang mayat bayi itu, agar mau tertidur!
Tetapi setelah melakukan semua itu, di saat Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han tengah berdiri bengong mengawasi keadaan di hadapan mereka yang demikian luar biasa, tiba-tiba wanita cantik tersebut telah menoleh kepada Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han dengan wajah yang bengis, sinar matanya yang sangat tajam sekali.
"Kalian datang ke tempat ini hanya mengganggu ketenangan tidurnya anakku.....!"
Bentaknya itu disertai dengan langkah kakinya yang mendekati Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han.
Belum lagi Sung Ceng Siansu dam Lie Su Han menyahuti, tahutahu tangan kanan wanita itu telah bergerak mengebut.
"Wuttt......!"
Serangkum angin yang kuat sekali menerjang Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han dengan serentak.
Dan yang luar biasa sekali adalah tubuh Sung Ceng Siansu dan Lie Su Han terpental seketika itu juga.
Jika tubuh Sung Ceng Siansu begitu terpental, dia dapat berjumpalitan dan kemudian turun ke tanah dengan ke dua kakinya terlebih dulu.
Justru Lie Su Han begitu terpental, segera dia terbanting bergulingan di tanah bersama-sama dengan keponakannya yang berada dalam gendongannya itu.
Lie Su Han juga tidak bisa segera bangkit berdiri, ia merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan matanya berkunang-kunang.
Wanita cantik itu tertawa dingin, ia berkata lagi.
"Kalian perlu dihajar lagi.....!"
Dan tampaklah tangan kanan wanita bergerak cepat menghantam kepada Sung Ceng Siansu.
Gerakan wanita tersebut sangat cepat dan kuat, tubuhnya bergerak ringan dengan mayat bayi berada dalam gendongan salah satu tangannya dan angin kebutan tangannya itu telah menyambar ke arah Sung Ceng Siansu.
Tentu saja Sung Ceng Siansu tidak berani berbuat ayal dengan berdiam diri, ia telah merasakan betapa kuatnya tenaga kebutan wanita tersebut.
Dengan merasakan kebutan wanita tersebut Sung Ceng Siansu telah mengetahuinya bahwa lweekang yang dimiliki wanita tersebut sangat dahsyat sekali.
Sekarang ia diserang dengan kebutan seperti itu lagi.
Dengan gesit Sung Ceng Siansu melompat ke tengah udara, dan tubuhnya berjumpalitan di tengah udara kemudian menekuk ke dua kakinya, tangannya memeluk ke dua kakinya dan tubuhnya telah meluncur turun dengan kepala menyeruduk ke arah dada si wanita cantik yang memiliki sikap aneh dan telengas itu.
Dengan cara menyerang menyerudukan kepalanya seperti itu, Sung Ceng Siansu bermaksud mempergunakan kekebalan dan kekuatan batok kepalanya untuk menyerang si wanita cantik tersebut.
Tetapi wanita cantik tersebut memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali.
Dengan kecepatan luar biasa, ia telah berkelit ke samping dan tahu-tahu tangannya yang satu itu telah bergerak menghantam batok kepala Sung Ceng Siansu.
"Dukkk!?’ hantaman itu kuat sekali mengenai sasarannya. Walaupun kepala Sung Ceng Siansu tidak sampai pecah atau retak, tokh kenyataannya begitu ia turun berdiri di atas tanah, ia merasakan pusing dan terhuyung beberapa langkah, dengan tubuh yang seperti akan jatuh terjerembab. Hebat, inilah pengalaman yang pertama kali dialami oleh Sung Ceng Siansu. Karena biasanya, walaupun dia menyeruduk dinding batu atau batang pohon, malah korban serudukannya itu yang akan hancur berantakan, dan dia tidak merasa pusing sedikitpun juga. Namun sekarang dia ditabok begitu saja oleh telapak tangan wanita tersebut, ia merasakan kepalanya seperti dihantam oleh benda keras yang kuat sekali, membuat ia merasa sangat pusing. Dengan demikian, segera dia mengetahui bahwa lweekang yang dimiliki wanita cantik yang aneh ini memang berada di sebelah atasnya. Tetapi Sung Ceng Siansu penasaran sekali ia mengeluarkan suara tertawanya, walaupun tidak secerah biasanya, namun suara tertawanya itu memang ciri khasnya. Berbareng tubuhnya bergerak lagi, di mana ia telah melompat dan menyeruduk lagi cepat sekali mempergunakan kepalanya. Di saat itulah, segera tampak wanita cantik tersebut mengeluarkan suara tertawa dingin, dan segera ia menggerakkan tangannya untuk menghantam lagi. Cepat dan tepat sekali, telapak tangannya telah mengenai sasarannya sehingga terdengar suara "
Dukkk!"
Yang keras sekali, kepala Sung Ceng Siansu kena dihantam lagi oleh telapak tangan wanita cantik tersebut.
Tubuh si pendeta kali ini terpelanting bergulingan di atas tanah, karena hantaman telapak tangan wanita aneh tersebut benarbenar kuat sekali.
Dia merasakan matanya berkunang-kunang dan juga di saat itu terlihat Sung Ceng Siansu tidak bisa segera berdiri, malah mengeluarkan suara erangan perlahan, seperti mengeluh kesakitan.
Sedangkan wanita cantik itu telah menimang-nimang mayat bayi di tangannya.
Mulutnya masih bersenandung dengan suara yang lembut, selembut seorang ibu yang tengah mencurahkan kasih sayangnya pada anaknya.
"Tidurlah anakku..... tidurlah..... tidurlah..... tidurlah yang nyenyak anakku sayang..... engkau akan bangun esok dengan riang dan gembira, bermain lincah dengan ibu...... tidurlah anakku sayang..... tidurlah......!"
Tetapi justru mayat bayi itu diam kaku dengan wajah yang tetap pucat dan sepasang mata yang terpejam, sama sekali tidak bergerak.
Tidak menyahuti, dan tidak bernapas.....
Sung Ceng Siansu telah menggedik-gedikkan kepalanya beberapa kali, dan kemudian bangkit berdiri.
Tetapi belum lagi ia sempat membuka mulut.
Wanita aneh yang cantik itu telah berkata dengan suara yang halus, ditujukan kepada mayat bayi yang berada dalam gendongannya.
"Anakku ibumu hendak menghajar dulu seekor babi.........!"
Dan sambil berkata begitu.
tanpa menoleh kepada Sung Ceng Siansu tangannya telah mengebut lagi dengan kuat.
Sung Ceng Siansu belum sempat mempersiapkan diri, di saat itu serangkum angin serangan yang kuat sekali telah menyambar dengan dahsyat.
Tubuh Sung Ceng Siansu telah terpental kembali dengan kuat, sehingga mukanya mencium tanah.
Darah segar mengucur keluar dari hidungnya, bibirnya juga telah pecah dan mengeluarkan darah.
Dan yang lebih celaka lagi, justru giginya sudah rontok dua......!
Inilah pengalaman yang baru pertama kali dialami oleh Sung Ceng Siansu.
Dengan demikian ia kaget dan penasaran sekali.
Kaget, karena ia melihat kepandaiannya kini seperti tidak ada artinya apa-apa dalam menghadapi wanita tersebut, dan juga penasaran, karena baru dua kali gebrak, justru dua kali itu pula wanita cantik tersebut telah berhasil membuatnya terguling seperti itu.
Dengan demikian jelas wanita cantik jelita yang aneh tersebut memiliki kepandaian yang sulit sekali diukur.
Di saat itu Lie Su Han yang baru saja bangkit berdiri sambil berusaha mengangkat tubuh keponakannya, yaitu Lie Ko Tie, justru telah merasakan menyambarnya serangkum angin yang kuat sekali.
Belum lagi Lie Su Han sempat mengangkat Lie Ko Tie di waktu itulah Lie Su Han terjungkal lagi, mukanya telah menyambar sebatang pohon, karena tubuhnya seperti terbang, terangkat dan terlempar kuat sekali.
Begitu mukanya menghantam batang pohon, di saat itu juga Lie Su Han pingsan tidak sadarkan diri.
Tubuhnya menggeletak di bawah batang pohon itu.
Sung Ceng Siansu jadi mengeluh.
Ia teringat akan anjuran Auwyang Bun agar segera melarikan diri dan meninggalkan tempat tersebut.
Tanpa menanti apa-apa lagi dengan sendirinya Sung Ceng Siansu jadi menyesal bukan main, karena wanita cantik jelita yang aneh dan menggendong mayat seorang bayi tersebut, benarbenar sangat tangguh sekali.
Di mana kepandaiannya sulit sekali dijajakinya.
Tetapi Sung Ceng Siansu tidak bisa berpikir terlalu lama.
Di waktu itu segera terlihat betapa wanita yang menggendong bayi yang telah menjadi mayat dalam rangkulannya itu melangkah mendekati dia, sambil mulutnya terus juga bersenandung.
"Anakku..... sebentar lagi malam tiba, tidurlah...... tidurlah yang nyenyak..... ibu akan mengusir nyamuk-nyamuk jahat ini, agar engkau bisa tidur dengan nyenyak......!"
Dan mulutnya memang bersenandung seperti ingin menidurkan "bayi"
Yang telah menjadi mayat itu.
Namun tangannya yang satu telah digerakkan lagi ke arah Sung Ceng Siansu.
Hebat kesudahannya.
Tubuh Sung Ceng Siansu seperti diterjang oleh gelombang laut yang hebat sekali dan sangat kuat, tanpa bisa dipertahankan lagi, tubuhnya telah terpental ke tengah udara.
Tetapi Sung Ceng Siansu cepat-cepat mengempos semangatnya.
Ia menyalurkan tenaga lweekangnya pada sekujur tubuhnya.
Dan ia memang memiliki kepandaian yang agak aneh yaitu menyerang lawannya selalu dengan serudukan kepalanya yang kebal dan kuat itu.
Di mana iapun selalu berlompatan dengan sepasang kaki ditekuk dan dirangkul oleh ke dua tanganya, karena iapun memiliki ginkang yang terlatih baik sekali.
Sekarang tubuhnya telah melayang di udara demikian cepat akibat tenaga sampokan tangan wanita cantik jelita yang aneh dan mengerikan itu.
Namun Sung Ceng Siansu sekarang tidak mau tubuhnya sampai terbanting pula.
Cepat sekali ia menguasai tubuhnya, lalu ia menjejakkan kakinya dan tubuhnya melompat ke udara ringan sekali, ia telah menyerudukkan kepalanya itu pada si wanita cantik tersebut.
Kali ini Sung Ceng Siansu berlaku hati-hati sekali.
Di mana ia menyeruduk sambil mempersiapkan ke dua tangannya, walaupun ke dua kakinya tetap ditekuknya, namun ke dua telapak tangannya itu dipentang, seperti juga seekor burung yang tengah merentangkan ke dua sayapnya.
Wanita cantik itu memperdengarkan suara tertawa dingin, dan menghantam dengan telapak tangannya ke kepala Sung Ceng Siansu.
Namun belum lagi tangan wanita cantik tersebut mengenai kepala si pendeta yang sesungguhnya gemar tertawa itu, tiba-tiba Sung Ceng Siansu telah menggerakkan ke dua tangannya.
Hebat bulan main kesudahannya, sepasang tangan Sung Ceng Siansu telah bentrok dengan tangan wanita cantik jelita yang aneh dan bertangan telengas tersebut.
Tetapi yang menderita kerugian adalah Sung Ceng Siansu.
Karena begitu tangan mereka saling bentur, tubuh Sung Ceng Siansu terpental keras dan terbanting lagi di atas tanah bergulingan beberapa kali.
Belum sempat Sung Ceng Siansu bangun berdiri, wanita cantik jelita tersebut telah melompat ke sampingnya dan telah mengulurkan tangannya.
"Brettth......!"
Tahu-tahu bahu Sung Ceng Siansu kena dicakarnya.
Cakaran yang dilakukan oleh wanita cantik berkepandaian tinggi tersebut bukan cakaran sembarangan.
Karena begitu ia mencakar, segera pakaian yang dipakai Sung Ceng Siansu bagian bahunya telah kena terobek lebar dan darah segera mengucur deras sebab kulit tangannya juga telah ikut robek.
Ternyata dengan kuku-kuku jari tangannya yang memang runcing dan cukup panjang, wanita cantik tersebut telah mempergunakannya sebagai pengganti senjata tajam.
Luka yang derita oleh Sung Ceng Siansu juga bukan luka sembarangan.
Sebab begitu tercakar, ketika itu juga si pendeta merasakan tubuhnya menjadi panas, bagaikan mengeluarkan uap.
Ternyata pada jari tangan wanita tersebut terdapat racun yang bekerjanya cepat sekali.
Sung Ceng Siansu kaget bukan main.
Pendeta gemuk yang dijuluki Bi-lek-hud si Budha Tertawa tersebut, kini sudah tidak ada tertawanya lagi.
Dengan bersungguh-sungguh ia memusatkan pada kekuatan lweekangnya untuk membendung racun yang mulai menjalar di setiap jalan darahnya di bagian bahunya.
Ia berusaha mendesak racun tersebut keluar dari permukaan kulit bahunya.
Tetapi rupanya racun itu memang hebat sekali, karena Sung Ceng Siansu telah berusaha mendorongnya keluar sampai mempergunakan sebagian besar tenaga lweekangnya, tokh racun itu tidak bisa didorong keluar keseluruhannya.
Malah yang sebagian lagi, yang terdorong keluar oleh kekuatan lweekang si pendeta, telah berkumpul di dalam lapisan kulit bagian bahu si pendeta.
Dengan begitu, racun tersebut sewaktu-waktu bisa bekerja kembali, begitu daya tahan Sung Ceng Siansu berkurang atau lenyap.
"Tidurlah anakku sayang..... tidurlah ibu sedang menghajar seekor babi gemuk biar dia mampus cepat-cepat.....! Tidurlah anakku sayang, besok engkau akan bermain dengan ibu...... tidurlah......!"
Menina bobokan wanita cantik tersebut pada mayat bayi yang berada dalam pelukannya.
Walaupun mulutnya menina bobokan bayi yang telah menjadi mayat dalam rangkulannya itu tokh tangan wanita cantik itu bekerja cepat sekali.
Di mana tangan kanannya itu berkelebat-kelebat cepat sekali bagaikan telah berubah menjadi sepuluh tangan.
Karena cepatnya setiap saat gerakan yang dilakukannya menyambar ke berbagai tubuh dari si pendeta yang dijuluki Bi-lekhud.
Bukan main kagetnya Sung Ceng Siansu melihat kecepatan berkelebatnya tangan wanita cantik tersebut, dan ia sudah tidak keburu lagi untuk mengelakkan diri, di mana tahu-tahu Sung Ceng Siansu merasakan di beberapa bagian anggota tubuhnya terasa sakit dan pedih sekali.
Rupanya tangan wanita cantik itu telah berhasil menggurat beberapa bagian anggota tubuh Sung Ceng Siansu seperti lengannya, pundaknya, punggungnya, dadanya dan paha dari Bi-lek-hud.
Darah juga telah mengucur deras sekali dari luka-luka tubuh Sung Ceng Siansu karena setiap luka yang dideritanya itu sangat lebar, kulit tubuhnya terobek dan darah mengucur banyak sekali membasahi tubuhnya, menyebabkan keadaan Sung Ceng Siansu mengenaskan sekali.
Wanita cantik tersebut tidak melancarkan cakaran-cakarannya lagi.
Ia melompat mundur sambil tertawa-tawa menina bobokan mayat bayi di dalam rangkulannya.
"Tidurlah yang nyenyak anakku...... tidurlah..... tidurlah anakku......!" Tetapi hebat penderitaan Sung Ceng Siansu waktu itu, ia merasakan tubuhnya seperti terbakar oleh kobaran api. Dia merasakan di dalam tubuhnya seperti juga berjalan puluhan ekor kelabang atau semut yang membuat ia bergelinjang dan disusul kemudian dengan perih dan pedih pada setiap bagian anggota tubuhnya. Ke dua kakinya berkelejotan terus menerus tidak bisa dikendalikan dan sepasang tangannya juga seperti ingin bergerak di luar kehendaknya. Wajah Sung Ceng Siansu waktu itu mengejang kaku, karena dua guratan yang panjang terdapat di mukanya. Dan juga, darah telah melumuri wajah si pendeta gemuk itu, mulutnya jadi menyeringai diluar kemauannya dan sepasang matanya terpentang lebar dan mengeluarkan jeritan yang panjang. Tampaknya Sung Ceng Siansu sangat tersiksa dengan keadaannya seperti itu. Lie Su Han yang waktu itu telah tersadar dari pingsannya, tengah merangkak bangun, iapun telah berusaha mengangkat Lie Ko Tie, yang dirangkulnya dan kemudian mementangkan ke dua kakinya untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Tetapi wanita cantik berkepandaian liehay itu telah tertawa renyai dengan nadanya yang seperti juga mengejek. Ia telah menina bobokan terus mayat bayi dalam rangkulannya.
"Tidurlah anakku....... tidurlah, ibu hendak menangkap seekor babi lainnya......!"
Dan dikala mulutnya berkata begitu dengan nada yang penuh kasih sayang ditujukan kepada mayat bayi dalam rangkulannya namun ke dua kakinya telah menjejak.
Tubuhnya melompat seperti juga terbang, dan tahu-tahu telah berada disamping Lie Su Han, di mana tangan si wanita cantik telah bergerak, dan "breeettt!"
Segera juga pakaian di bagian punggung Lie Su Han kena dirobeknya, bahkan kulit punggung Lie Su Han juga telah robek oleh cakaran tangan wanita tersebut, darah segera mengucur deras.
Lie Su Han menggeliat sambil mengaduh.
Rangkulannya pada Lie Ko Tie terlepas, sehingga Lie Ko Tie menggelinding di atas tanah dalam keadaan masih tertotok.
Kemudian tubuh Lie Su Han terjerunuk dan jatuh lemas.
Wanita cantik tersebut telah memandang Lie Su Han dengan sorot mata yang dingin.
kemudian menina bobokan mayat bayi dalam rangkulannya.
Lie Su Han berusaha untuk berdiri walaupun sekujur tubuhnya dirasakan pada sakit dan pedih.
Sepasang kaki Lie Su Han gemetaran tenaganya seperti lenyap meninggalkan raganya, di mana luka pada punggungnya itu pedih sekali seperti digerayangi oleh ribuan ekor semut.
Kepandaian Lie Su Han memang berada jauh di bawah Sung Ceng Siansu, dengan demikian daya tahan yang dimiliki Lie Su Han juga tidak sekuat Sung Ceng Siansu.
Dengan begitu, sekali ia terluka, seluruh tenaganya telah punah dan juga di waktu ia berhasil lari, ia telah terjungkal kembali di atas tanah.
Lie Su Han juga meraung keras dengan wajah yang telah bersemu hijau gelap.
Ia menggeliat-geliat kesakitan.
Wanita cantik aneh yang memiliki kepandaian tinggi itu mengeluarkan suara tertawanya lagi yang renyai, kaki kanannya bergerak menendang tubuh Lie Su Han, sehingga Lie Su Han terlempar ke udara tinggi sekali hampir tiga tombak.
Kemudian jatuh menggelinding di atas tanah pula.
Dengan begitu, penderitaan Lie Su Han jadi lebih hebat lagi, terutama kulit pada wajahnya terasa seperti mengejang kaku.
"Paman......!"
Tiba-tiba Lie Ko Tie menjerit dengan suatu yang nyaring.
Hati anak lelaki ini ngeri melihat keadaan pamannya.
Ia memang dalam keadaan tertotok, tetapi ia tertotok pada jalan darah Tiancie-hiat, sehingga tubuhnya saja yang kaku, di mana sepasang tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan.
Tetapi Ah-hiatnya (jalan darah gagu)nya tidak tertotok, anak lelaki ini masih bisa bicara.
Karena tidak tahan melihat penderitaan pamannya, anak lelaki she Lie ini telah menangis mengucurkan airmata.
Mendengar teriakan Lie Ko Tie, wanita tersebut menoleh.
Ia melihat Lie Ko Tie yang rebah di tanah.
Semula ia memang tidak memperhatikan keadaan anak lelaki tersebut.
Namun sekarang, di saat mendengar teriakan Lie Ko Tie, entah mengapa ia telah menoleh dan melihat kepada anak lelaki tersebut seperti ada sesuatu yang menarik hatinya.
Dengan mulut masih bernyanyi bersenandung perlahan, menina-bobokan mayat bayi dalam rangkulannya, ia melangkah mendekati Lie Ko Tie.
Waktu berada di dekat anak lelaki itu.
wanita cantik tersebut telah memperhatikan baik-baik Lie Ko Tie.
Dan setelah mengawasi sekian lama, kaki kirinya telah ditendangkan pada jalan darah "Wut-tie-hiat"
Dan jalan darah "Lung-kie-hiat". sehingga totokan pada jalan darah "'Tian-cie-hiatnya"
Anak lelaki itu telah terbebaskan dan Lie Ko Tie dapat menggerakkan ke dua kaki dan ke dua tangannya kembali.
Begitu terbebas dari totokannya, Lie Ko Tie merangkak bangun dan berlari menubruk pamannya yang dirangkulnya sambil menangis.
"Paman..... paman.....!"
Panggilnya goncangkan tubuh Lie Su Han. sambil menggoncang-Lie Su Han mengerang menahan rasa sakit yang bukan main pada sekujur tubuhnya. Ia pun berkata dengan suara yang susah payah.
"Lari..... cepat kau tinggalkan tempat ini..... lari......!"
Tetapi Lie Ko Tie bukannya lari meninggalkan tempat tersebut, malah telah berdiri dan memutar tubuhnya menghadapi wanita cantik yang liehay itu.
"Wanita iblis......!"
Memaki Lie Ko Tie dengan suara yang keras dan mengandung kemarahan.
"Engkau memang seperti iblis yang jahat sekali yang tidak memiliki prikemanusiaan...... hemm.....hemmm. Thian tentu akan mengutukmu!"
Wanita cantik yang liehay itu semula tertegun melihat keberanian Lie Ko Tie, anak lelaki kecil tersebut, yang berani memakinya.
Tetapi setelah tersadar dari tertegunnya, ia malah tertawa.
"Anak, berapa usiamu?"
Tanyanya kemudian dengan suara yang sabar. Lie Ko Tie mendelikkan matanya.
"Tidak perlu engkau menanyakan usiaku!"
Menyahuti anak lelaki itu.
"Cepat keluarkan obat pemunah racun untuk menyembuhkan pamanku..... dan juga paman pendeta itu!"
Kata Lie Ko Tie.
"Engkau tidak merasa takut kepadaku, nak?"
Tanya wanita cantik itu.
"Takut? Mengapa aku harus takut kepada wanita iblis jahat seperti engkau? Cepat kau keluarkan obat untuk ke dua paman itu.....!"
"Jika aku menolak......?"
Tanya wanita cantik tersebut, yang merasa lucu di dalam hatinya melihat sikap Lie Ko Tie.
Ditanggapi begitu oleh wanita cantik tersebut, Lie Ko Tie jadi berdiam diri bengong memandangi wanita cantik tersebut.
Ia juga menyadari, jika memang wanita cantik tersebut tidak mau memberikan obat untuk pamannya dan pendeta itu, tentu ia juga tidak bisa memaksanya, karena bukankah kepandaian wanita cantik itu sangat tinggi sekali.
Pamannya dan pendeta itu saja tidak berdaya apa lagi ia seorang anak kecil tak tahu apa-apa.....
habis daya ia, tubuhnya menubruk ke arah wanita itu sambil teriaknya.
"Akan kugigit pecah kulit tubuhmu.....!"
Wanita cantik tersebut tersenyum ketika melihat kelakuan Lie Ko Tie, dengan mudah ia berkelit ke samping.
Tahu-tahu telah berada di belakang Lie Ko Tie, ia menepuk punggung anak itu perlahan sekali tepukannya, tetapi hebat kesudahannya, tubuh Lie Ko Tie jadi terjerembab dan kemudian bergulingan di atas tanah.
Waktu Lie Ko Tie bangun berdiri, mukanya telah dilumuri darah, karena dari hidungnya telah mengucur darah merah yang masih segar, bocor akibat terbentur dengan tanah.
"Kau...... kau......!"
Kata Lie Ko Tie tergagap, tetapi anak ini tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Wanita cantik itu tertawa, dengan suara yang tetap renyai dan sabar. Katanya.
"Kutanya, siapa namamu?"
"Aku she Lie...... bernama Ko Tie.....!"
Menyahuti Lie Ko Tie kemudian.
"Berapa usiamu......?"
Tanya wanita cantik itu lagi "Enam tahun.....!"
"Hemm, sama sebaya dengan anakku ini!"
Kata wanita cantik tersebut sambil menunjuk kepada mayat bayi yang berada dalam rangkulannya.
Melihat mayat bayi dalam rangkulan wanita itu, muka Lie Ko Tie jadi berubah pucat.
Ia bergidik merasa ngeri karena melihat betapa mayat bayi itu pucat dan sepasang matanya terpejamkan, dan sekarang dipersamakan dengan dirinya.
Melihat Lie Ko Tie berdiam diri, wanita cantik tersebut tertawa lagi,.
lalu katanya.
"Ke mari kau mendekat.....!" Lie Ko Tie sesungguhnya tidak mau menuruti panggilan wanita cantik itu. Ia melirik kepada Lie Su Han yang tengah mengerangerang dengan tubuh berkelonjotan kaku seperti juga tengah menderita kesakitan yang hebat. Ketika itu di hati Lie Ko Tie berpikir.
"Lebih baik kuturuti saja kemauan wanita iblis ini baik-baik, agar ia mau memberikan obat untuk pamanku dan pendeta itu......!"
Dan Lie Ko Tie melangkah mendekati wanita cantik itu.
"Tadi kau mengatakan bahwa orang itu adalah pamanmu?"
Kata wanita cantik tersebut. Lie Ko Tie mengangguk.
"Tadi engkau juga memintaku untuk memberikan obat penawar kepada pamanmu bukan?"
Tanya wanita cantik itu lagi. Lie Ko Tie telah mengangguk pula.
"Baik, aku akan memberikannya, tetapi ada syaratnya!"
Kata wanita cantik tersebut sungguh-sungguh.
"Apa syaratnya?"
Kata Lie Ko Tie yang girang mendengar wanita cantik yang bertangan liehay tersebut memberikan obat kepada pamannya, dan tentunya juga kepada paman pendeta itu juga.
"Syaratnya tidak sulit. Engkau pasti dapat melakukannya jika memang engkau bersedia!"
Menyahuti wanita cantik tersebut.
"Engkau harus ikut bersamaku.....! Aku akan membagikan obat yang kau minta, tetapi kau ikut bersamaku. Bersediakah kau?" Lie Ko Tie jadi tertegun di tempatnya. Inilah syarat yang sama sekali tidak diduganya semula.
"Ikut denganmu? Untuk...... untuk apa?"
Tanya Lie Ko Tie dengan suara tergagap.
"Untuk menjadi kacungku, untuk menggendong anakku ini......!"
Menyahuti wanita cantik tersebut. Lie Ko Tie jadi tambah heran, disamping ia juga bergidik ngeri.
"Menjadi kacungmu?"
Tanya Lie Ko Tie dengan suara tergagap.
"Dan..... dan aku harus menggendong mayat bayi itu?"
Mendengar pertanyaan Lie Ko Tie, muka wanita cantik tersebut berobah merah, tampaknya ia jadi marah.
"Sekali lagi kau mengatakan bahwa anakku ini telah menjadi mayat, mulutmu itu akan kurobek !"
Katanya galak sekali.
Lie Ko Tie terkejut.
Ia juga berada dalam kebimbangan, antara menerima atau tidak syarat dari wanita tersebut antara menolongi jiwa pamannya dan menggendong mayat itu.
Tapi jika ia menolak, jelas pamannya akan celaka di tangan wanita cantik tersebut.
Waktu itu juga Lie Ko Tie mendengar suara erangan Lie Su Han yang semakin lemah dan perlahan.
Tubuh pamannya berkelonjotan tidak hentinya dengan mukanya yang mengejang kaku menyeringai dan sepasang matanya yang mendelik terbuka lebar-lebar.
Keadaannya sangat mengenaskan dan mengkhawatirkan.
Begitu juga ketika Lie Ko Tie melirik kepada Sung Ceng Siansu, ia melihat Bi-lek-hud dalam keadaan sekarat juga.
Namun disebabkan pendeta itu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Lie Su Han, maka ia memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat, tetapi keadaan pendeta itu juga mengenaskan.
Keadaannya sama seperti Lie Su Han.
Sepasang kaki dan tangannya berkelonjotan kejang kaku dengan sepasang mata yang terbeliak lebar-lebar dan juga mulutnya seperti menyeringai.
"Bagaimana? Jika engkau berlambat-lambat jiwa mereka tidak akan tertolong lagi...... di waktu itu. Biarpun engkau bersedia menerima syaratku, tidak nantinya aku bisa menolong mereka.....!"
Kata wanita cantik tersebut. Lie Ko Tie menghela napas dalam-dalam akhirnya ia mengangguk nekad.
"Baiklah, kau berikan obat untuk ke dua paman itu!"
Katanya.
Dan sambil berkata begitu ia telah memandang ke arah mayat bayi yang ada di pelukan wanita cantik tersebut, hatinya tergetar dan tubuhnya bergidik lagi.
Wanita cantik tersebut tertawa, ia berkata.
"Aku akan segera mengampuni ke dua orang itu dari kematian, akan kuberikan obat penawar racun yang dibutuhkan mereka. Namun ingat, engkau juga tidak boleh memungkiri janjimu yang telah menyanggupi untuk ikut serta denganku, untuk menjadi kacungku dan menggendong anakku ini......!"
Lie Ko Tie tidak bisa menyahuti, ia hanya mengangguk saja.
Perasaan ngeri jadi mencekam hatinya, anak ini bergidik berulang kali.
Namun menolong jiwa pamannya dan paman pendeta itu jauh lebih penting dari segalanya, maka ia telah memutuskan untuk menahan perasaan seram dan ngerinya untuk menerima syarat dari wanita tersebut asalkan Lie Su Han dan Sung Ceng Siansu bisa tertolong jiwanya.
Di waktu itu wanita cantik tersebut telah merogoh saku bajunya, ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan mengangsurkan kepada Lie Ko Tie, katanya.
"Pergilah kau masukkan ke dalam mulut ke dua orang itu masing-masing sepuluh butir. Sisanya yang sepuluh butir lagi, biarkan di dalam botol itu. Berikan kepada mereka dan pesan jika kelak tiga bulan kemudian mereka masing-masing memakannya lagi lima butir. Pergilah kau lakukan!"
Cepat-cepat Lie Ko Tie menerima botol tersebut dan melakukan apa yang dipesankan oleh wanita cantik tersebut.
Ia mengeluarkan sepuluh butir pil yang berwarna hijau dan berukuran kecil seperti tahi cicak, di mana ia masukkan ke dalam mulut Lie Su Han.
"Telanlah paman......!"
Katanya kemudian.
Walaupun waktu itu sekujur tubuh Lie Su Han telah kejang kaku, namun keadaannya itu tidak menyebabkan pikirannya terganggu.
Ia masih bisa berpikir dengan baik.
Dan ia telah mendengarkan percakapan Lie Ko Tie tadi waktu itu dan tanpa dua kali Lie Ko Tie menganjurkannya agar menelan pil tersebut, ia telah mempergunakan bantuan air ludahnya untuk menelan sepuluh butir pil tersebut.
Lie Ko Tie telah menghampiri Sung Ceng Siansu dan sama seperti tadi.
Ia memasukkan sepuluh butir pil obat tersebut ke dalam mulut pendeta itu dan menganjurkan agar Bi-lek-hud menelannya.
Botol obat yang berisi sisa sepuluh butir lagi telah disesapkan ke dalam tangan Sung Ceng Siansu, sambil katanya.
"Paman pendeta di dalam botol itu terdapat sepuluh butir pil obat dan kalian harus memakannya seorangnya lima butir lagi, jika telah tiga bulan mendatang nanti......!"
"Ke mari kau......"
Baru saja Lie Ko Tie berkata sampai di situ, ia telah dipanggil oleh wanita cantik yang liehay tersebut.
Dengan perasaan segan dan langkah kaki yang satu-satu, Lie Ko Tie telah menghampiri wanita cantik tersebut.
"Gendonglah.....!"
Katanya sambil mengangsur mayat bayi dalam gendongannya itu ke Lie Ko Tie.
Kembali anak lelaki she Lie tersebut jadi menggidik ngeri, di mana ia harus menggendong mayat seorang bayi yang telah dingin.
Namun dengan menguatkan hati, Lie Ko Tie telah mengulurkan tangannya menyambut mayat bayi tersebut.
Ia merasakan betapa mayat bayi itu telah dingin, sedingin es, dan keras sekali seperti batu.
Bukan main perasaan ngeri yang terbayang diotaknya dan berkecamuk di hati Lie Ko Tie.
Jantungnya jadi berdegupan sangat keras sekali, ke dua tangannya yang dipakai untuk menggendong mayat bayi tersebut juga gemetaran keras.
Jika saja Lie Ko Tie tidak mengeraskan hati, tentu ia tidak sanggup menggendong bayi yang telah menjadi mayat tersebut, tentu akan terlepas jatuh dari ke dua tangannya yang gemetaran keras itu.
Sesungguhnya, wanita cantik bertangan liehay dan membawabawa mayat bayi dalam gendongannya itu adalah seorang tokoh pendekar wanita yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.
Namanya juga sangat terkenal di dalam dunia persilatan.
Ia she Khiu bernama Bok Lan.
Sepuluh tahun yang lalu ia merupakan pendekar wanita yang disegani oleh jago-jago dari kalangan putih maupun hitam.
Empat tahun lamanya ia berkecimpung di dalam kalangan Kang-ouw, sampai akhirnya ia menikah dengan seorang pemuda yang memiliki kepandaian yang tidak berada di bawahnya, yaitu Siangkoan Ting.
Setelah menikah, ke duanya giat sekali berlatih diri terus, sehingga ke duanya memperoleh kemajuan yang lebih banyak dari semula, mereka jadi semakin liehay.
Setahun sejak perkawinan mereka, Khiu Bok Lan hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki, yang diberi nama Siangkoan Sin Lun.
Namun sayang sekali, kebahagiaan pasangan suami isteri tersebut hanya berlangsung tidak lebih dari enam bulan.
Di waktu mana bayi mereka itu terserang semacam penyakit dan meninggal dunia, betapa berdukanya Khiu Bok Lan dan Siangkoan Ting.
Malah Khiu Bok Lan tidak hendak berpisah dengan anaknya itu, maka dengan mempergunakan bermacam-macam ramuan obat, ia telah mengeraskan tubuh mayat bayinya itu, agar tidak menjadi rusak.
Memang ramuan obat yang dibuat oleh Khiu Bok Lan dan Siangkoan Ting berhasil mengawetkan mayat bayi tersebut di mana Khiu Bok Lan selalu membawa mayat bayinya tersebut dalam gendongannya dan memperlakukan mayat bayi tersebut seperti juga masih hidup!
Tetapi setahun kemudian sejak meninggalnya bayi mereka, Siangkoan Ting pun terserang semacam penyakit.
Ditambah dengan hatinya yang memang selalu diliputi perasaan duka menyaksikan isterinya selalu menggendong mayat bayi mereka, akhirnya iapun mati meleras.
Penderitaan yang diterima oleh Khiu Bok Lan terlalu hebat.
Kematian bayinya, sekarang ia kehilangan suaminya.
Ia berduka bukan main dan akhirnya terganggu pikirannya, ia menjadi gila!
Begitulah, setiap hari ia selalu berkeliaran kemana-mana sesenang ke dua kakinya, menggendong-gendong mayat bayinya sambil selalu bersenandung, seperti juga tengah menidurkan anaknya tersebut.
Tahun demi tahun telah lewat, dan Khiu Bok Lan tetap dengan kelakuan gilanya itu, sehingga ia hidup dengan caranya yang tidak berketentuan.
Iapun selalu melakukan perbuatan-perbuatan sesuka hatinya, di mana jika ia tidak menyukai seseorang ia akan membinasakannya.
Kepandaiannya memang tinggi, terutama sekali di saat ia telah menjadi gila, ia telah melatih sepasang tangannya.
Ditambah pula pada ujung-ujung kuku jari tangannya diberi racun yang sangat berbisa sekali.
Maka setiap korban keganasan dari Khiu Bok Lan menemui ajalnya dengan cara yang mengenaskan sekali.
Tetapi Khiu Bok Lan juga tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, ia selalu muncul di mana saja tanpa berketentuan.
Banyak orangorang kang-ouw akhir-akhir ini yang menjulukinya sebagai "Tokkui-sin-jie" (Setan Racun dengan Anak Sakti), dan ia merupakan momok yang mengerikan.
Setiap orang-orang rimba persilatan yang telah mengetahui atau pernah mendengar nama Tok-kui-sinjie Khiu Bok Lan, tentu jika bertemu dengan iblis wanita tersebut akan segera menyingkir jauh-jauh.
Pertemuannya dengan Auwyang Bun dan Sung Ceng Siansu maupun Lie Su Han, memang suatu pertemuan yang tidak disangka-sangka.
Baca Juga: Seruling Gading 5
Baca Juga: Pecut Sakti Bajrakirana 1