Eps 2 Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.
Di saat bersamaan, mendadak Tio Cie Hiong membuka sepasang matanya, lalu mendongakkan kepala memandang ke atas, tempat Sam Gan Sin Kay mengintip.
Bukan main terkejutnya Pengemis tua itu.
Segera ia menggerakan kepalanya kebelakang.
Apakah Tio Cie Hiong telah mendengar suara langkahnya?
Pikir Sam Gan Sin Kay.
Padahal tadi ia telah menggunakan ilmu ginkang tingkat tinggi, bagaimana mungkin Tio Cie Hiong mendengar suara langkahnya?
Sam Gan Sin Kay sungguh tidak habis pikir, akhirnya dengan isi kepala penuh kebingungan ia meninggalkan tempat itu.
Sam Gan Sin Kay berjalan mondar-mandir di ruang tengah, bahkan mulutnya terus bergumam.
"Heran! Sungguh mengherankan! Kenapa bisa begitu? Itu sungguh mengherankan sekali! Dia betulbetul Sin Tong (Anak Sakti)..."
"Eh?"
Mendadak muncul Tui Hun Lojin sambil memandangnya dengan mata terbelalak.
"Pengemis busuk! Masih pagi kok engkau sudah bangun? Engkau sedang gerak jalan ya? Dan kenapa terus menerus bergumam seperti orang gila?"
"Setan tua!"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Mungkin aku sudah hampir gila gara-gara terus menerus berpikir."
"Apa yang kau pikirkan?"
Tui Hun Lojin tercengang.
"Sungguh luar biasa!"
Sahut Sam Gan Sin Kay bergumam lagi.
"Dia betul-betul luar biasa, sungguh merupakan anak sakti!"
"Siapa yang kau maksudkan Pengemis busuk?"
Tanya Tui Hun Lojin tertegun.
"Anak itu."
"Siapa?"
"Tio Cie Hiong."
"Lho? Kenapa dia?"
"Mari kita duduk, akan kuberitahukan!"
Ujar Sam Gan Sin Kay sambil duduk. Tui Hun Lojin pun duduk dengan wajah penuh keheranan.
"Pengemis busuk! Sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi?"
Tanya Tui Hun Lojin.
"Setan tua! Engkau sama sekali tidak tahu? Padahal di tempatmu ini telah muncul seorang anak sakti."
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Pengemis busuk, jangan membingungkan aku, jelaskanlah!"
Ujar Tui Hun Lojin dengan kening berkerut-kerut.
"Tio Cie Hiong itu anak sakti."
Sahut Sam Gan Sin Kay, lalu menutur kejadian semalam.
"Apa?"
Tui Hun Lojin terbelalak.
"Engkau tidak bohong?"
"Setan tua, pernah aku berbohong?"
"Anak itu..."
Mulut Tui Hun Lojin ternganga lebar.
"Be... benarkah itu?"
"Aku telah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, bahkan suara suling itu dapat mempengaruhi diriku pula."
"Kalau begitu, kita harus bertanya pada Sian Eng."
Ujar Tui Hun Lojin. Kebetulan Gouw Han Tiong muncul menghampiri mereka, maka langsung saja Tui Hun Lojin berseru.
"Han Tiong, cepat panggil putrimu ke mari!"
"Ada apa, ayah?"
Gouw Han Tiong heran.
"Cepat panggil dia ke mari!"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Ya."
Gouw Han Tiong cepat-cepat ke dalam, dan tak lama ia sudah kembali bersama Gouw Sian Eng.
"Kakek panggil aku ya?"
Tanya anak gadis itu sambil mendekati Tui Hun Lojin.
"Cucuku..."
Tui Hun Lojin menatapnya dalam-dalam.
"Kakek dengar, engkau sering datang ke kamar Cie Hiong. Benarkah itu?"
"Benar, Kek."
Gouw Sian Eng mengangguk.
"Apa yang kalian perbuat di dalam kamar Cie Hiong?"
Tanya Tui Hun Lojin.
"Kami tidak berbuat apa-apa... Dia hanya mengajariku ilmu sastra."
Gouw Sian Eng memberitahukan.
"Apa?"
Tui Hun Lojin terbelalak.
"Dia... dia mengerti ilmu sastra?"
"Dia pandai sekali ilmu sastra."
Jawab Gouw Sian Eng sambil tersenyum.
"Dia bilang sejak kecil sudah belajar ilmu sastra."
"Apakah ia bisa ilmu silat?"
Tanya Sam Gan Sin Kay.
"Dia tidak berniat belajar ilmu silat, bagaimana mungkin dia bisa ilmu silat? Bukankah Kakek ingin mengajarnya ilmu silat, tapi dia menolak?"
"Sian Eng!"
Tui Hun Lojin menatapnya tajam.
"Engkau tidak boleh membohongi kakek, harus memberitahukan dengan jujur!"
"Aku tidak bohong, Kek!"
"Pernah dia memberi petunjuk kepadamu mengenai ilmu pedang Pengejar Roh yang kakek ajarkan?"
Tanya Tui Hun Lojin mendadak.
"Pernah."
Gouw Sian Eng mengangguk. Thian Tek mengerutkan kening.
"Apa katanya mengenai ilmu pedang itu?"
"Dia bilang terdapat kelemahan, maka aku mohon petunjuk padanya,"
Jawab Gouw Sian Eng jujur.
"Han Tiong, berikan dia pedang!"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Ya."
Gouw Han Tiong segera memberikan sebilah pedang kepada putrinya, kemudian memandang Tui Hun Lojin dengan penuh keheranan.
"Sian Eng! Perlihatkan Tui Hun Kiam Hoat pada kami!"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Ya."
Gouw Sian Eng mulai menggerakkan pedang itu, dan seketika tampak pedang itu berkelebatan.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Gouw Sian Eng berhenti dengan wajah berseri-seri.
Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong saling memandang setelah menyaksikannya, sebab ilmu pedang itu telah mengalami perubahan yang di luar dugaan mereka, jauh lebih lihay dari ilmu pedang yang aslinya.
"Bagaimana?"
Tanya Sam Gan Sin Kay.
"Terdapat banyak perubahan,"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Berubah lihay atau berantakan?"
Tanya Sam Gan Sin Kay lagi.
"Bertambah lihay, itu sungguh diluar dugaan!"
Tui Hun Lojin menarik nafas. Kemudian bertanya pada Gouw Sian Eng.
"Benarkah dia yang memberi petunjuk kepadamu?"
"Benar Kek."
Jawab Gouw Sian Eng dengan wajah berseri.
"Karena Tui Hun Kiam Hoat terdapat kelemahan, maka kakak Hiong menciptakan beberapa gerakan untuk menutup kelemahan itu."
"Dia... dia yang menciptakan gerakan-gerakan itu?"
Wajah Tui Hun Lojin tampak memucat karena terkejut, begitu pula Gouw Han Tiong, putranya.
"Huaha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Semalam aku pun seperti kalian. Betul kan? Dia anak sakti."
"Itu... bukan main!"
Gumam Tui Hun Lojin.
"Aku... aku sendiri kiranya tidak mampu menciptakan gerakan-gerakan seperti itu."
"Sama."
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Dia pun mengisi beberapa gerakan dalam jurus-jurus Toat Beng Kiam Hoat yang kuajarkan pada Sian Eng."
"Kakak Hiong memang pintar sekali,"
Ujar Gouw Sian Eng dan menambahkan.
"Dia pun pandai sekali meniup suling."
"Aku sudah mendengar suara sulingnya."
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Setan tua!"
Ujar Sam Gan Sin Kay pada Tui Hun Lojin.
"Kelak akan kujodohkan cucuku dengannya."
"Kakek pengemis! Cucu kakek Pengemis anak perempuan ya?"
Tanya Gouw Sian Eng mendadak.
"Ya."
Sahut Sam Gan Sin Kay sambil tertawa gelak.
"Cucuku itu harus menikah dengannya."
"Maksud Kakek Pengemis Kakak Hiong?"
Tanya Gouw Sian Eng lagi.
"Ya."
Sam Gan Sin Kay mengangguk.
Mendadak wajah Gouw Sian Eng berubah murung, kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Itu tidak terlepas dari mata Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong, sehingga mereka berdua saling memandang.
Namun Sam Gan Sin Kay tidak mengetahuinya, sebaliknya malah terus tertawa gelak.
"Sian Eng panggilah Cie Hiong ke mari!"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk lalu segera berlari ke luar.
"Kita harus bertanya pada Cie Hiong, agar kita tidak bingung memikirkannya,"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Benar!"
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Kita memang harus bertanya kepadanya."
Gouw Sian Eng sudah kembali bersama Tio Cie Hiong, dengan wajah berseri-seri, tak murung lagi.
"Kakek memanggilku ya?"
Tanya Tio Cie Hiong kepada Tui Hun Lojin.
"Cie Hiong!"
Tui Hun Lojin menatapnya tajam.
"Aku sudah tua, maka engkau tidak boleh membohongiku."
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Cie Hiong, betulkah engkau tidak pernah belajar ilmu silat?"
Tanya Tui Hun Lojin.
"Betul, Kakek. Aku tidak bohong,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Kalau engkau tidak pernah belajar ilmu silat, kenapa engkau bisa memberi petunjuk tentang ilmu pedang kepada Sian Eng?"
Tanya Tui Hun Lojin lagi.
"Maaf, kakek!"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Aku sendiri pun tidak tahu apa sebabnya, hanya saja setelah aku menyaksikan latihan Adik Eng, semua gerakannya seakan sudah berada dalam otakku."
Tui Hun Lojin mengerutkan kening.
"Cie Hiong!"
Sam Gan Sin Kay menatapnya tajam.
"Kami berdua sudah tua dan sudah berbau tanah, jadi engkau tidak boleh membohongi kami! Aku harap engkau berterus terang!"
"Dalam hal apa aku berbohong?"
Tanya Tio Cie Hiong kebingungan.
"Cie Hiong, aku telah menyaksikannya, engkau tidur dalam keadaan bersemadi, tentunya engkau melatih semacam ilmu bukan?"
Sahut Sam Gan Sin Kay memberitahukan.
"Ooooh!"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Jadi semalam yang berada di atap rumah adalah Kakek Pengemis!"
Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.
"Aku malah mengira pencuri."
"Haaah...?"
Sam Gan Sin Kay terkejut bukan main.
"Engkau... engkau mendengar suara langkahku?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Setan tua!"
Ujar Sam Gan Sin Kay pada Tui Hun Lojin.
"Itu bukan main kan? Aku menggunakan ginkang khasku, dalam rimba persilatan yang bisa mendengar suara langkahku dapat dihitung dengan jari, tapi anak itu..."
"Betul-betul luar biasa!"
Tui Hun Lojin juga terkejut.
"Cie Hiong, kami berdua penasaran sekali. Karena itu alangkah baiknya kalau engkau berterus terang."
"Kakek, aku harus berterus terang mengenai apa?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil memandang Tui Hun Lojin.
"Pernahkah engkau belajar semacam ilmu silat atau ilmu yang lainnya?"tanya Tui Hun Lojin. Tio Cie Hiong diam, memang tidak baik membohongi kedua orang tua itu, lagi pula mereka berdua sangat baik terhadapnya. Pikir Tio Cie Hiong, akhirnya ia berterus terang juga.
"Ada seorang tua memberikan aku sebuah kitab tipis. Katanya kalau aku mempelajari kitab tipis itu, tubuhku akan bertambah sehat. Karena itu, aku mempelajari cara bernapas dan menghimpun tenaga dan yang lain-lainya sesuai yang tertera di dalam kitab itu."
Tio Cie Hiong memberitahukan, namun tetap merahasiakan nama kitab tipis itu, dan juga tidak menyebut Paman Tan yang di Puri Angin Halilintar, sesuai dengan pesan Paman Tan.
"Engkau bersemadi menuruti petunjuk dalam kitab tipis itu?"
Tanya Sam Gan Sin Kay.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Di mana kitab tipis itu?"
Tanya Tui Hun Lojin mendadak.
"Sudah dibakar oleh orang tua itu setelah aku menghafal isinya!"
Tio Cie Hiong memberitahukan. Tui Hun Lojin manggut-manggut, kemudian bertanya lagi.
"Sejak kapan engkau belajar meniup suling?"
"Sejak aku berumur lima tahun,"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Pantas engkau begitu pandai meniup suling!"
Ujar Sam Gan Sin Kay sambil tertawa gelak dan menambahkan.
"Pikiranku terhanyut oleh suara sulingmu."
"Kakek Pengemis pernah mendengar aku meniup suling?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Ya."
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Semalam aku mengintip dari balik pohon, jadi aku pun tahu engkau memberi petunjuk pada Sian Eng mengenai ilmu pedang itu."
"Kakek Pengemis, aku minta maaf!"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Karena aku telah lancang memberi petunjuk kepada adik Eng, aku harap Kakek Pengemis jangan tersinggung."
"Ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak lagi.
"Bagaimana mungkin aku akan tersinggung? Sebaliknya aku malah merasa girang dan kagum padamu."
"Terimakasih, Kakek Pengemis!"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Sejak Kakak Hiong bekerja di sini, aku sudah tahu dia sangat pintar,"
Sela Gouw Sian Eng dengan wajah cerah ceria.
"Maka aku berani minta petunjuk kepadanya."
"Dasar anak kecil!"
Tegur Tui Hun Lojin sambil tersenyum.
Sementara Sam Gan Sin Kay terus menatap Tio Cie Hiong, mendadak timbul suatu niat dalam hatinya, yakni ingin menurunkan beberapa jurus ilmu silat kepadanya, karena itu ia tertawa seraya berkata.
"Cie Hiong, aku akan memperlihatkan beberapa jurus ilmu tongkatku. Cobalah engkau lihat, apakah ilmu tongkatku itu terdapat kelemahan?"
"Kakek Pengemis, aku... aku tidak berani."
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Kenapa tidak berani?"
Tanya Sam Gan Sin Kay tidak senang.
"Kakek Pengemis adalah Pengemis Sakti, bagaimana mungkin aku..."
"Itu tidak menjadi masalah,"
Potong Sam Gan Sin Kay sambil bangkit berdiri, kemudian berjalan ke tengah-tengah ruang itu.
"Nah, engkau harus perhatikan dengan baik-baik, aku akan mulai."
Sam Gan Sin Kay mulai menggerakkan tongkat bambunya, dan seketika juga terdengar suara menderu-deru.
Gouw Sian Eng segera mundur, sedangkan Tio Cie Hiong masih tetap berdiri di tempat memperhatikan gerakan-gerakan tongkat bambu itu.
Ketika Sam Gan Sin Kay menggerakkan tongkat bambunya, kening Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong tampak berkerut, sebab Sam Gan Sin Kay mengeluarkan Sam Ciat Kun Hoat (Tiga Jurus Tongkat Maut).
Itu adalah ilmu tongkat rahasia Sam Gan Sin Kay, termasuk Tah Kauw Kun Hoat (Ilmu Tongkat Pemukul Anjing).
Kedua ilmu tongkat tersebut hanya boleh diturunkan pada ketua Kay Pang.
Kalau tidak dalam keadaan bahaya, kedua ilmu tersebut tidak akan dikeluarkan.
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa lihay dan hebatnya kedua ilmu tongkat itu.
Kini Sam Gan Sin Kay mengeluarkan salah satu dari ilmu tongkat rahasianya itu, tentunya amat mengherankan Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong.
Setahu mereka, dalam ilmu tongkat tersebut sama sekali tidak terdapat kelemahan.
Sam Ciat Kun Hoat (Tiga Jurus Tongkat Maut) terdiri dari tiga jurus, yakni Membalikkan Langit Memetik Bulan, Pelangi Di Ujung Langit dan jurus ketiga adalah Memecahkan Gunung Memindahkan Laut.
Berselang sesaat, barulah Sam Gan Sin Kay berhenti.
Ia tertawa sambil memandang Tio Cie Hiong dan bertanya.
"Bagaimana? Apakah ilmu tongkat itu terdapat kelemahan?"
"Ilmu tongkat Kakek Pengemis sungguh lihay dan hebat,"
Sahut Tio Cie Hiong serius.
"Sama sekali tiada kelemahannya. Hanya saia..."
"Kenapa?"
Tanya Sam Gan Sin Kay cepat.
"Ilmu tongkat Kakek Pengemis terdiri dari tiga jurus, yang setiap jurusnya memiliki keistimewaan sendiri, terutama jurus ketiga itu, sungguh lihay bukan main,"
Jawab Tio Cie Hiong dan menambahkan.
"Tapi... Kakek Pengemis bergerak agak ayal-ayalan, seakan meremehkan pihak yang diserang, itu akan mencelakai diri Kakek Pengemis"
"Haah?"
Sam Gan Sin Kay terbelalak, sebab apa yang dikatakan Tio Cie Hiong memang benar adanya, sehingga sangat mengejutkannya, kemudian tertawa gelak.
"Ha ha! Engkau memang anak Sakti!"
"Maafkanlah kelancanganku yang telah mengkritik Kakek Pengemis!"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Engkau benar, aku telah berlaku ayal-ayalan dalam jurus-jurus itu."
Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.
"Ohya, setelah engkau menyaksikan ilmu Sam Ciat Kun Hoatku, apakah engkau dapat memecahkannya?"
Sementara Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong terus saling memandang dengan wajah penuh keheranan, karena ketika mereka berdua menyaksikan ilmu tongkat itu, sama sekali tidak melihat gerakan yang ayal-ayalan.
Namun, Tio Cie Hiong yang baru berusia empat belas dan tak pernah belajar ilmu silat, malah dapat melihatnya, tentunya sangat mengejutkan mereka berdua.
"Kakek Pengemis!"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Bagaimana mungkin aku dapat memecahkan ilmu tongkat itu?"
"Bukankah engkau dapat memecahkan ilmu pedang Pencabut Nyawa? Nah, tentunya engkau pun dapat memecahkan ilmu tongkatku ini."
Ujar Sam Gan Sin Kay mendesak.
"Kakek Pengemis..."
Tio Cie Hiong tampak ragu.
"Engkau jangan ragu, aku cuma ingin menguji kecerdasanmu"
Ujar Sam Gan Sin Kay mendesak.
"Tapi..."
Tio Cie Hiong tetap ragu.
"Kakak Hiong!"
Sela Gouw Sian Eng.
"Kakek Pengemis selalu berbangga diri karena ilmu tongkatnya tak terkalahkan. Cobalah kau pecahkan ilmu tongkat itu, agar Kakek Pengemis tidak berani berbangga diri lagi!"
"Sian Eng!"
Bentak Gouw Han Tiong.
"Jangan kurang ajar!"
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Selama ini aku memang merasa bangga, karena dalam rimba persilatan, tiada seorang pun yang dapat memecahkan ilmu tongkat Sam Ciat Kun Hoat dan Tah Kauw Kun Hoat."
"Kakek Pengemis, tidak baik berbangga diri,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Itu akan menyebabkan diri kita menjadi sombong, dan kesombongan itu akan meruntuhkan diri kita sendiri."
"Apa?"
Sam Gan Sin Kay terbelalak.
"Kalau begitu, engkau harus mencoba memecahkan ilmu tongkatku, kalau tidak, aku tetap akan berbangga diri."
Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong saling memandang. Mereka berdua nyaris tertawa geli ketika mendengar teguran yang dicetuskan Tio Cie Hiong.
"Ayoh Kakak Hiong, jangan mempermalukan aku"
Ujar Gouw Sian Eng mendadak.
"Aku yakin engkau pasti bisa memecahkan ilmu tongkat itu."
"Adik Eng, itu tidak baik,"
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Ayohlah!"
Desak Gouw Sian Eng.
"Kalau engkau tidak mau mencoba memecahkan ilmu tongkat itu, aku... aku benar-benar akan merasa malu."
"Adik Eng?"
Tio Cie Hiong heran.
"Kenapa engkau merasa malu?"
"Selama ini aku sangat kagum kepadamu, bahkan amat mempercayaimu pula. Maka kalau engkau tidak mau mencoba memecahkan ilmu tongkat itu, aku... aku merasa kecewa sekali."
"Adik Eng..."
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
Gouw Han Tiong ingin menegur putrinya, namun Tui Hun Lojin memberi isyarat padanya, sebab orang tua ini ingin tahu bagaimana cara Tio Cie Hiong memecahkan ilmu tongkat itu.
Iapun mengakui dalam hati, sama sekali tidak mampu memecahkan ilmu tongkat tersebut.
"Benar! Benar!"
Ujar Sam Gan Sin Kay sambil tertawa terbahak.
"Kalau engkau tidak mau mencoba memecahkan ilmu tongkatku, itu berarti telah mempermalukan Sian Eng."
"Baiklah... jika kakek pengemis memaksa."
Tio Cie Hiong mengangguk.
Tio Cie Hiong kemudian memejamkan matanya.
Sedangkan Sam Gan Sin Kay, Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong saling memandang.
Mereka bertiga tentu saja yakin, Tio Cie Hiong tidak dapat memecahkan ilmu tongkat tersebut.
Berselang sesaat, mendadak sepasang tangan Tio Cie Hiong bergerak-gerak.
Sungguh aneh gerakan sepasang tangannya itu, sehingga membuat Sam Gan Sin Kay, Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong bingung.
Ternyata dalam gerakan tangan itu, tercampur jurus-jurus ilmu pedang yang pernah dipelajari Siau Eng dan juga jurus-jurus Sam Ciat Kun Hoat, tentunya sangat mengejutkan Sam Gan Sin Kay.
Tak seberapa lama kemudian, Tio Cie Hiong membuka matanya sambil bangkit berdiri, dan segeralah Sam Gan Sin Kay bertanya.
"Bagaimana? Dapatkah engkau memecahkan ilmu tongkatku?"
"Dapat,"
Sahut Tio Cie Hiong. Sam Gan Sin Kay tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Kalau engkau dapat memecahkan ilmu tongkatku, apa saja permintaanmu pasti kukabulkan."
"Aku tidak akan mengajukan permintaan apapun."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Sekarang aku harap Kakek Pengemis memperlihatkan satu jurus ilmu tongkat itu, lalu aku pun akan memperlihatkan gerakanku untuk memecahkan jurus itu."
"Baik."
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
Setelah itu ia pun langsung mengeluarkan jurus Memecahkan Gunung Memindahkan Laut, yaitu jurus ketiga.
Kenapa Sam Gan Sin Kay mengeluarkan jurus ketiga?
Tidak lain ingin membuat Tio Cie Hiong kacau pikirannya karena itu adalah jurus yang paling kuat dan tiada kelemahan menurutnya.
"Nah, itulah salah satu jurus ilmu tongkatku, bagaimana cara engkau memecahkannya?"
Tio Cie Hiong segera menggerakkan sepasang kakinya berputar, kemudian sepasang tangannya pun tampak bergerak ke samping kiri dan kanan, lalu berhenti.
"Dengan gerakan ini aku memecahkan jurus ilmu tongkat itu,"
Ujar Tio Cie Hiong.
Sam Gan Sin Kay tidak menyahut, tapi wajahnya telah memucat bagaikan kertas putih.
Karena gerakan Tio Cie Hiong tadi memang tepat untuk memecahkan jurus ilmu tongkatnya itu.
Betapa terkejutnya Sam Gan Sin Kay menyaksikan itu.
Sedangkan Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong cuma saling memandang.
Mereka berdua tidak melihat jelas jurus yang dikeluarkan Sam Gan Sin Kay, maka tidak tahu gerakan Tio Cie Hiong dapat memecahkan jurus tersebut atau tidak?.
"Pengemis busuk!"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Kenapa engkau seperti kehilangan sukma?"
"Setan tua!"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Itu... itu sungguh di luar dugaan sekali!"
"Gerakan yang amat sederhana itu dapat memecahkan jurus tongkatmu itu?"
Tanya Tui Hun Lojin heran.
"Benar."
Sam Gan Sin Kay mengangguk.
"Gerakan itu memang tampak sederhana sekali, namun justru dapat memecahkan jurus tongkatku itu. Tui Hun Lojin terbelalak.
"Cie Hiong!"
Sam Gan Sin Kay memandang tajam dan kagum.
"Aku akan memainkan sisa dua jurus ilmu tongkat itu, cobalah kau pecahkan lagi!"
"Ya, Kakek Pengemis."
Tio Cie Hiong mengangguk. Sam Gan Sin Kay menarik nafas dalam-dalam, kemudian menggerakkan tongkat bambunya secepat kilat, sehingga menyilaukan mata semua orang.
"Nah!"
Ujar Sam Gan Sin Kay setelah selesai memainkan jurusnya.
"Cobalah kau pecahkan!"
Tio Cie Hiong mengangguk, lalu menggerakkan kaki dan tangannya.
Menyaksikan gerakan itu, wajah Sam Gan Sin Kay memucat lagi.
Ternyata gerakan-gerakan Tio Cie Hiong dapat memecahkan kedua jurus ilmu tongkat tersebut.
"Kakek Pengemis!"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Gerakan-gerakanku itu dapat memecahkan kedua jurus ilmu tongkat Kakek Pengemis bukan?."
"Cie Hiong..."
Mulut Sam Gan Sin Kay ternganga lebar.
"Kenapa engkau begitu luar biasa?"
"Kakek Pengemis..."
Tio Cie Hiong menundukkan kepala, karena merasa tidak enak telah memecahkan Sam Ciat Kun Hoat (Tiga Jurus i1mu Tongkat Maut) itu. Ia khawatir Sam Gan Sin Kay akan tersinggung.
"Cie Hiong, aku harap engkau menjawab sejujurnya!"
Sam Gan Sin Kay menatapnya dalamdalam.
"Seandainya aku langsung menyerangmu, bisakah engkau langsung memecahkan jurusjurus ilmu tongkatku itu?"
"Tentu saja tidak bisa,"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Kenapa?"
Tanya Sam Gan Sin Kay.
"Karena aku belum melihat jurus-jurus ilmu tongkat itu. Kecuali aku sudah lebih dulu untuk menyaksikannya. Setelah itu, barulah aku bisa memecahkan ilmu tongkat itu,"
Jawab Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Disamping itu juga semua gerakan itu hanya ada dalam pikiranku saja, jadi kalau kakek pengemis langsung menyerang tentu saja aku tidak bisa menghindar."
"Cie Hiong, kenapa otakmu begitu luar biasa?"
Sam Gan Sin Kay menatapnya dengan penuh keheranan.
"Kakek Pengemis, aku berterus terang saja. Di dalam kitab tipis yang telah kupelajari itu, juga menguraikan banyak jenis-jenis dan bentuk-bentuk pukulan, tendangan, ilmu pedang dan lain sebagainya. Maka setelah aku menyaksikan ilmu tongkat kakek pengemis, diotakku terbayang gerakannya dan gerakan selanjutnya yang harus aku lakukan, maka aku bisa memecahkannya."
Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Cie Hiong!"
Sam Gan Sin Kay menatapnya seraya bertanya sungguh-sungguh.
"Kalau aku bertemu dengan orang yang menggunakan gerakan-gerakan sepertimu tadi, yang memecahkan jurus-jurus tongkatku, lalu aku harus bagaimana?"
"Kakek Pengemis..."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku..."
"Cie Hiong!"
Desak Sam Gan Sin Kay.
"Anggaplah aku mohon petunjuk padamu!"
"Kakek Pengemis aku anak kecil, bagaimana mungkin berani memberi petunjuk kepada Kakek Pengemis?"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala lagi.
"Anggaplah aku lebih kecil darimu, beres kan?"
Ujar Sam Gan Sin Kay terus mendesaknya untuk memberikan petunjuk.
"Kalau begitu..."
Sela Gouw Sian Eng sambil tertawa geli.
"Kakek pengemis harus memanggil Kakak Hiong, Kakak besar!"
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa geli.
"Itu tidak apa-apa."
"Sian Eng!"
Gouw Han Tiong melototi putrinya.
"Jangan kurang ajar!"
Gouw Sian Eng langsung diam dengan wajah merengut, sedangkan Tio Cie Hiong masih tetap berdiri ragu di tempat.
"Ayohlah... Kakak besar!"
Desak Sam Gan Sin Kay.
"Apakah aku perlu berlutut di hadapanmu?"
"Kakek Pengemis... jangan main-main, aku tentu saja akan membantu..."
Tio Cie Hiong terkejut, kemudian berkata.
"Jurus pertama tongkat bambu itu jangan diangkat terlampau tinggi, dan kaki kanan yang di depan harus ditekut sedikit. Apabila ada serangan balasan yang mendadak, maka jurus itu bisa langsung berubah menjadi jurus ketiga, dan lawan pun tidak bisa berkutik."
"Oh?"
Sam Gan Sin Kay segera bergerak sesuai dengan petunjuk Tio Cie Hiong, dan seketika itu juga ia tertawa terbahak-bahak.
"Secara langsung engkau telah memperbaiki jurus pertama ini. Bagaimana dengan jurus kedua dan ketiga?"
Kembali Tio Cie Hiong menjelaskan, Sam Gan Sin Kay bergerak menuruti petunjuk Tio Cie Hiong, sampai berulang-ulang bertanya dan di jelaskan oleh Tio Cie Hiong.
Setelah itu, ia menatap Tio Cie Hiong dengan mata terbeliak lebar.
"Saudara kecil! Perlukah aku memanggilmu guru?"
Tanyanya mendadak, bahkan ia sudah memanggil Tio Cie Hiong sebagai saudara kecil pula.
"Kakek Pengemis, jangan bergurau!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Pengemis busuk!"
Ujar Tui Hun Lojin sambil tertawa.
"Sam Ciat Kun Hoatmu itu apakah sudah bertambah lihay dan hebat."
"Benar."
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Itu berkat petunjuk dari saudara kecil."
"Kakak Hiong!"
Ujar Gouw Sian Eng girang.
"Engkau memang hebat, luar biasa sekali."
"Adik Eng, aku cuma anak biasa saja. Engkau tidak usah terus menerus memuji diriku,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum malu.
"Ohya!"
Mendadak Gouw Sian Eng memandang Sam Gan Sin Kay.
"Kakek Pengemis harus menepati janji lho!"
"Janji apa?"
Sam Gan Sin Kay heran.
"Tuh! Sudah lupa kan?"
Gouw Sian Eng mengingatkannya.
"Kakek Pengemis telah berjanji tadi, kalau Kakak Hiong bisa memecahkan ilmu tongkat itu..."
"Oooh!"
Sam Gan Sin Kay tertawa sambil manggut-manggut.
"Cie Hiong, apa permintaanmu kepadaku?"
"Aku tidak meminta apa pun,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Biar bagaimana pun, engkau harus mengajukan sebuah permintaan kepadaku! Kalau tidak, anak gadis itu pasti mengatakan aku tidak menepati janji."
"Tapi..."
"Kakak Hiong! Ajukan saja sebuah permintaan, itu tidak apa-apa."
Ujar Gouw Sian Eng sambil tersenyum.
"Itu..."
Tio Cie Hiong berpikir sejenak, kemudian berkata pada Sam Gan Sin Kay.
"Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan."
"Tanyalah!"
Sahut Sam Gan Sin Kay sambil tertawa "Jangankan hanya sebuah pertanyaan, seratus pertanyaan pun pasti akan kujawab."
"Kakek Pengemis, aku ingin bertanya, tahukah Kakek Pengemis Ku Tok Lojin berada di mana?"
Tanyata TO Cie Hiong mengajukan pertanyaan itu.
"Haah...!' Sam Gan Sin Kay tertegun.
"Aku... aku tidak tahu. Kenapa engkau menanyakan dia?"
"Karena Ku Tok Lojin tahu siapa sebenarnya kedua orang tuaku."
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Sebelum pamanku meninggal, dia berpesan ke padaku harus mencari Ku Tok Lojin di Heng San. Aku sudah datang ke sana, tapi dia tidak ada di sana. Kata penduduk di sana, beberapa tahun yang lalu Ku Tok Lojin telah meninggalkan tempat itu."
"Ku Tok Lojin..."
Gumam Sam Gan Sin Kay, kemudian memandang Tui Hun Lojin.
"Setan tua, tahukah engkau di mana Ku Tok Lojin itu?"
"Tidak tahu."
Tui Hun Lojin menggelengkan kepala.
"Aku tidak pernah mendengar nama tersebut."
"Cie Hiong!"
Sam Gan Sin Kay menarik nafas.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu sekarang."
"Tidak apa-apa."
Ujar Tio Cie Hiong.
"Tapi, aku akan berusaha mencarinya... tenang saja saudara-saudaraku banyak menyebar dimana-mana."kata Sam Gan Sin Kay menambahkan lagi.
"Sian Eng!"
Ujar Tui Hun Lojin kepada cucunya.
"Sekarang engkau boleh mengajak Cie Hiong pergi."
"Ya, Kakek."
Gouw Sian Eng mengangguk, lalu mengajak Tio Cie Hiong pergi. Tui Hun Lojin menarik nafas panjang setelah Gouw Sian Eng dan Tio Cie Hiong pergi.
"Setan tua!"
Sam Gan Sin Kay tercengang.
"Kenapa engkau menarik nafas? Apa yang terganjel dalam hatimu?"
"Anak itu..."
Tui Hun Lojin menggeleng-gelengkan kepala.
"Maksudmu Cie Hiong?"
Sam Gan Sin Kay menatapnya.
"Ya."
Tui Hun Lojin mengangguk.
"Kenapa dia?"
Sam Gan Sin Kay heran.
"Dia betul-betul luar biasa. Tapi..."
Tui Hun Lojin menarik nafas sambil melanjutkan.
"Apabila kelak dia berubah jahat, celakalah rimba persilatan..."
"Setan tua!"
Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Kalau itu, aku berani jamin dia tidak akan berubah jahat.
"Syukurlah kalau memang begitu!"
Ucap Tui Hun Lojin.
"Ohya, dia tadi bilang kitab tipis. Mungkinkah kitab tipis itu adalah kitab pusaka peninggalan Pak Kek Siang Ong di dalam kotak pusaka yang jadi rebutan itu?"
"Tidak mungkin."
Sam Gan Sin Kay menggelengkan kepala.
"Pengemis busuk, kenapa engkau mengatakan tidak mungkin?"
Tui Hun Lojin menatapnya.
"Itu bagaimana mungkin?"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Kotak pusaka itu telah jatuh ke tangan Sam Mo (Tiga Iblis), jadi aku berkesimpulan bahwa kitab tipis itu bukan kitab pusaka peninggalan Pak Kek Siang Ong."
Tui Hun Lojin manggut-manggut.
"Masuk akal juga..."
"Setan tua! Sudah belasan hari aku makan tidur di sini, sekarang aku Sudah mau pamit."
Ujar Sam Gan Sin Kay sambil bangkit berdiri, lalu berpesan pula.
"Apabila Pek Ih Mo Li (Wanita Iblis Baju Putih) datang, aku harap engkau bersedia memberitahukan padaku!"
Tui Hun Lojin mengangguk. Sam Gan Sin Kay berjalan ke luar, kemudian melesat pergi sambil tertawa gelak. Terdengar pula suara seruannya yang parau.
"Sampai jumpa!"
Di dalam rimba itu, tampak sebuah bangunan tua mirip biara.
Itulah markas pusat Partai Pengemis.
Di luar bangunan itu, tampak para pengemis duduk sambil bercakap-cakap.
Mendadak berkelebat sosok bayangan, yang ternyata Sam Gan Sin Kay.
"Tetua pulang! Tetua pulang!"
Sorak para pengemis itu dan memberi hormat. Sam Gan Sin Kay manggut-manggut, sambil berjalan ke dalam bangunan itu. Seorang pengemis berusia lima puluhan menghambur ke luar menyambutnya.
"Ayah!"
Panggil pengemis itu, yang tidak lain Lim Peng Hang, Si Tongkat Maut ketua Kay Pang.
"Peng Hang! Di mana Ceng Im si Binal itu?"
Tanya Sam Gan Sin Kay.
"Biasa."
Sahut Lim Peng Hang.
"Entah keluyuran ke mana?"
"Dia benar-benar tidak betah di markas ini."
Sam Gan Sin Kay menggeleng-gelengkan kepala, kemudian bergumam.
"Sungguh luar biasa, itu betul-betul luar biasa sekali."
"Ayah..."
Lim Peng Hang, ketua Kay Pang itu terheran-heran.
"Apa yang luar biasa?"
"Anak lelaki itu,"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Anak lelaki yang mana?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Peng Hang?!"
Sam Gan Sin Kay tidak menyahut, melainkan balik bertanya.
"Tahukan engkau, kenapa engkau dijuluki si Tongkat Maut?"
"Karena ilmu tongkatku sangat lihay,"
Jawab Lim Peng Hang dan menambahkan.
"Ayah tahu kan? Selama ini ilmu tongkat kita tak terkalahkan."
"Maksudmu Sam Ciat Kun Hoat dan Tah Kauw Kun Hoat kan?"
"Ya."
"Tapi..."
Sam Gan Sin Kay menarik nafas panjang.
"Ada seseorang yang dapat memecahkan Sam Ciat Kun Hoat dengan gampang sekali."
"Apa?"
Lim Peng Hang terperanjat.
"Siapa orang itu? Lam Hai Sin Ceng (Padri Sakti Laut Selatan) atau Kim Siauw Suseng (Sastrawan Suling Emas)?"
"Huh!"
Dengus Sam Gan Sin Kay.
"Padri keparat dan Sastrawan sialan itu mana mampu memecahkan kedua ilmu tongkat kita?"
"Kalau begitu, siapa orang itu?"
Tanya Lim Peng Hang dengan kening berkerut-kerut.
"Dia lah anak lelaki itu..."
Jawab Sam Gan Sin Kay dan sekaligus menutur tentang kejadian yang menimpanya itu.
"Apa?"
Lim Peng Hang terbelalak.
"Itu... itu bagaimana mungkin? Anak lelaki baru berumur empat belas tahun.... Ayah jangan bergurau...??"
"Pernahkah aku bergurau?"
Bentak Sam Gan Sin Kay.
"Kalau engkau tidak percaya, sekarang juga engkau boleh serang aku dengan Sam Ciat Kun Hoat!"
Lim Peng Hang tertegun, karena kurang percaya akan apa yang dikatakan ayahnya, maka ia pun langsung menyerang ayahnya dengan jurus Membalikkan Langit Memetik Bulan.
Sam Gan Sin Kay segera bergerak, seketika itu juga Lim Peng Hang terpental jatuh.
"Ayah..."
Bukan main terkejutnya Lim Peng Hang.
"Nah!"
Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Anak lelaki itu memecahkan jurus ini dengan gerakan yang kulakukan barusan. Coba engkau bayangkan, luar biasa tidak anak lelaki itu."
"Lu... luar biasa."
Mulut Lim Peng Hang ternganga lebar.
"Apakah dia juga dapat memecahkan dua jurus lainnya?"
"Ya."
Sam Gan Sin Kay mengangguk dan memberitahukan.
"Karena itu, aku pun minta petunjuk kepadanya."
"Ayah minta petunjuk kepada anak lelaki itu?"
Lim Peng Hang terbelalak.
"Benar. Sekarang seranglah aku lagi dengan kedua jurus itu, agar engkau tidak merasa penasaran."
"Baik."
Lim Peng Hang langsung menyerang dengan jurus Pelangi Di Ujung Langit. Sam Gan Sin Kay bergerak, tahu-tahu tongkat bambu yang di tangan Lim Peng Hang telah terpental.
"Haaah?"
Lim Peng Hang berdiri mematung di tempat.
"Ambit tongkat itu, dan serang aku lagi dengan jurus ketiga!"
Ujar Sam Gan Sin Kay.
Lim Peng Hang segera mengambil tongkat itu, kemudian menyerang Sam Gan Sin Kay dengan jurus Memndahkan Gu nung Memindahkan Laut.
Kali ini Lim Peng Hang menyerang dengan sepenuh tenaga.
Namun mendadak ia merasa pergelangan tangannya telah dicengkeram, bahkan merasa ada sebuah telapak tangan melekat di dadanya.
"Peng Hang! Kalau aku mengerahkan tenaga dalam, bagaimana engkau?"
Tanya Sam Gan Sin Kay.
"Ayah..."
Wajah Lim Peng Hang pucat pias.
"Aku... aku pasti mati."
"Nah! Dapat engkau bayangkan, betapa luar biasanya anak lelaki itu, maka kusebut dia sebagai anak sakti."
Ujar Sam Gan Sin Kay.
"Ayah, kalau begitu Sam Ciat Kun Hoat..."
"Jangan khawatir!"
Sam Gan Sin Kay tersenyum.
"Aku akan memperlihatkan Sam Ciat Kun Hoat yang telah disempurnakan oleh anak sakti itu."
Sam Gan Sin Kay segera memainkan Sam Ciat Kun Hoat tersebut. Terbelalak Lim Peng Hang menyaksikannya, bahkan mulutnya pun ternganga lebar.
"Ayah! Itu bukan main!"
Ujar Lim Peng Hang setelah Sam Gan Sin Kay berhenti.
"Sam Ciat Kun Hoat kita bertambah lihay sekali."
"Tidak salah."
Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Peng Hang, aku ingin menjodohkan Ceng Im dengannya kelak."
"Ayah!"
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Urusan Jodoh lebih baik terserah pada Ceng Im saja. Sebab... dia tidak bisa dipaksa."
"Kalau dia tidak dijodohkan dengan anak lelaki itu, betul-betul sayang sekali."
Sam Gan Sin Kay menghela nafas.
"Ohya, Peng Hang! Apakah sudah ada kabar tentang Pek Ih Mo Li?"
"Belum."
"Aku curiga dia adalah putri almarhum Hui Kiam Bu Tek-Tio It Seng."
"Ayah! Aku pun bercuriga begitu,"
Ujar Lim Peng Hang dan menambahkan.
"Ada suatu kabar yang cukup mengejutkan."
"Kabar apa?"
"Tujuh partai besar bersepakat bergabung untuk melawan Pek Ih Mo Li, namun masih ditentang oleh Hui Khong Taysu, ketua partai Siauw Lim dan It Hian Tojin ketua Bu Tong. Kedua ketua itu mengatakan bahwa Pek Ih Mo Li hanya melukai murid-murid beberapa partai besar,jadi tujuh partai besar tidak perlu bergabung untuk melawannya."
"Hm!"
Dengus Sam Gan Sin Kay.
"Kepala keledai (Cacian bagi para Hweeshio) dan hidung kerbau (Cacian untuk para pendeta Taosme) itu masih punya perasaan. Kalau tujuh partai bergabung, maka kita pun harus turun tangan mendamaikan mereka, agar peristiwa di Tebing Awan Putih belasan tahun lalu tidak terulang lagi!"
"Ya, Ayah."
Lim Peng Hang mengangguk.
Walau sudah larut malam, namun masih tampak terang, sebab malam ini bulan bersinar dengan terang sekali.
Mendadak tampak sosok bayangan berkelebat memasuki halam Ekspedisi Harimau Terbang, lalu berhenti.
Salah seorang piauwsu (Pengawal Ekspedisi) melihatnya dan segera menghampirinya.
"Maaf! Ada urusan apa Nona datang di tengah malam?"
Tanya piauwsu itu sambil memberi hormat.
"Aku mau bertemu Tui Hun Lojin, cepatlah engkau suruh dia keluar!"
Sahut pendatang itu, yang ternyata seorang gadis berbaju putih.
"Tuan besar sudah tidur..."
"Cepat masuk ke dalam melapor!"
Bentak gadis berbaju putih.
Piauwsu merasa aneh tapi terus saja mengangguk, lalu segera masuk ke dalam untuk melapor kepada Cit Pou Tui Hun-Gouw Han Tiong.
Berselang sesaat, piauwsu itu sudah keluar bersama Gouw Han Tiong.
"Ada urusan apa Nona ingin menemui ayahku?"
Tanyanya sambil menatap gadis itu.
"Ada urusan penting! Engkau pasti Cit Pou Tui Hun-Gouw Han Tiong, Cepat panggil ayahmu ke mari!"
Sahut gadis itu dingin.
"Nona siapa?"
Gouw Han Tiong tampak tidak senang.
"Engkau tidak perlu tahu aku siapa, pokoknya engkau harus segera masuk ke dalam panggil ayahmu!"
Gadis itu tertawa dingin.
"Kalau tidak, aku akan menerjang ke dalam!"
Gouw Han Tiong juga tertawa dingin.
"Nona mampu menerjang ke dalam?"
"Kenapa tidak?"
Gadis itu menghunus pedangnya.
"Cepatlah engkau ambil pedang, aku tidak akan menyerang orang yang tak bersenjata!"
"Beng Sam! Ambilkan pedangku!"
Ujar Gouw Han Tiong pada piauwsu itu.
"Ya, Tuan."
Piauwsu itu segera berlari ke dalam, tak lama ia sudah keluar dengan membawa sebilah pedang, lalu diserahkannya kepada Gouw Han Tiong.
"Kini aku sudah bersenjata!"
Ujar Gouw Han Tiong kepada gadis itu sambil menghunus pedangnya.
"Nona boleh mulai menyerang!"
"Baik!"
Gadis itu mengangguk, lalu dengan pedangnya mulai menyerang Gouw Han Tiong.
Sungguh aneh gerakan pedangnya, sehingga membuat Gouw Han Tiong tersentak.
Cepat-cepatlah is menangkis.
Trang!
Terdengar suara benturan pedang, dan seketika tampak bunga-bunga api berpijar.
Bukan main terkejutnya Gouw Han Tiong, karena ia merasa telapak tangannya yang menggenggam pedang sakit sekali.
Kini is baru tahu bahwa gadis itu berkepandaian amat tinggi.
"Hm!"
Dengus gadis itu dingin.
"Cuma begitu saja kepandaian Cit Pou Tui Hun?"
Ucapan yang menyindir itu tentunya menggusarkan Gouw Han Tiong. Ia segera menghimpun Iweekangnya seraya membentak.
"Lihat serangan!"
Gouw Han Tiong menyerang gadis itu.
Ia mengeluarkan salah satu jurus dari Tui Hun Kiam Hoat (llmu Pedang Pengejar Roh).
Itu lah jurus Dalam Awan Menempur Naga.
Gadis itu tertawa panjang, badannya melesat kesamping.
Pada waktu bersamaan, Gouw Han Tiong menyerangnya lagi dengan jurus Menyapu Melintang Gunung Laut.
Bukan main dahsyatnya jurus tersebut, sebab mengandung tiga perubahan yang tak terduga.
Akan tetapi, mendadak gadis itu menggerakkan pedangnya membuat beberapa buah lingkaran.
Lingkaran-lingkaran begitu saja dapat mematahkan serangan Gouw Han Tiong.
Dapat dibayangkan, betapa terperanjatnya Gouw Han Tiong, karena gadis itu Dapat mematahkan serangannya dengan gampang sekali.
"Hiyaaat!"
Pekik Gouw Han Tiong sambii menyerangnya.
Ia mengeluarkan jurus Bayangan Pedang Memenuhi Langit, yaitu jurus yang paling lihay dari Tui Hun Kiam Hoat.
Dalam tujuh langkah, pihak lawan tidak akan terluput dari bayangan pedangnya.
Tapi mendadak badan gadis itu berputar-putar melesat ke atas.
Seketika itu pula pedangnya menciptakan puluhan lingkaran kecil.
Trang!
Trang!
Trang!
Terdengar suara benturan nyaring, sekaligus terdengar pula uara jeritan Gouw Han Tiong.
"Aaaakh...!"
Ternyata bahunya telah berlumuran darah, dan pedangnya telah terpental entah ke mana.
"Kita tidak bermusuhan, maka aku tidak membunuhmu!"
Ujar gadis itu dingin.
"Karena engkau mengeluarkan jurus yang mematikan, aku pun terpaksa melukai bahumu!"
"Perempuan jahat! Kenapa engkau melukai ayahku?"
Terdengar suara bentakan nyaring.
Ternyata Gouw Sian Eng telah muncul di situ, dan langsung menyerang gadis berbaju putih dengan pedang mengeluarkan ilmu Pedang Pencabut Nyawa.
Gadis berbaju putih terperanjat menyaksikan serangan-serangan Gouw Sian Eng.
Ia cepat-cepat berkelit, tapi tidak balas menyerang.
"Perempuan jahat! Kenapa engkau datang melukai ayahku?"
Bentak Gouw Sian Eng dan terus menyerang gadis berbaju putih.
Beberapa jurus kemudian, mendadak gadis berbaju putih menggerakkan pedangnya.
Gerakan pedang itu membuat Gouw Sian Eng terhuyung-huyung ke belakang, pedangnya pun terpental.
"Jangan lukai dia!"
Terdengar suara bentakan nyaring, sehingga membuat telinga gadis berbaju putih terasa sakit, dan segera membalikkan badannya.
Tio Cie Hiong sudah berdiri di situ dengan wajah gusar sambil menatap gadis berbaju putih.
Gadis itu tampak tertegun ketika menyaksikan tatapan yang tidak asing baginya itu.
"Engkau masih muda dan cantik, tapi kenapa hatimu begitu kejam?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Tengah malam datang melukai orang, sungguh keterlaluan!"
"Eh? Adik kecil..."
Gadis itu menatapnya dengan kening berkerut.
"Engkau jahat sekali, malah masih ingin melukai gadis kecil itu! Percuma engkau berkepandaian tinggi hanya untuk melukai orang!"
"Adik kecil!"
Gadis berbaju putih tersenyum lembut.
"Siapa engkau? Apakah engkau putra Gouw Han Tiong?"
"Bukan!"
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Aku bekerja di sini!"
"Kalau begitu, siapa orang tuamu?"
Tanya gadis itu lagi.
"Aku tidak punya orang tua!"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Sudahlah! Engkau tidak usah banyak bertanya, cepatlah pergi!"
"Adik kecil, bolehkah aku tahu namamu?"
Gadis berbaju putih menatapnya dalam-dalam.
"Aku..."
Ketika Tio Cie Hiong ingin memberitahukan, mendadak terdengar suara bentakan keras.
Ternyata Tui Hun Lojin sudah muncul di situ, maka Tio Cie Hiong diam, tidak jadi memberitahukan namanya pada gadis itu.
"Siapa engkau, Nona? Kenapa datang tengah malam dan melukai putraku?"
Bentak Tui Hun Lojin.
"Apakah engkau Tui Hun Lojin?"
Tanya gadis itu dingin.
"Benar."
Tui Hun Lojin menatap gadis itu tajam.
"Siapa engkau? !"
"Pek Ih Mo Li (Wanita Iblis Baju Putih)!"
Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong terkejut. Kemudian Tui Hun Lojin manggut-manggut seraya berkata.
"Aku tahu apa sebabnya engkau datang ke mari."
"Engkau tahu?"
Gadis berbaju putih itu ternyata Pek Ih Mo Li. Ia menatap Tui Hun Lojin tajam.
"Kalau sudah tahu, harap jelas kan peristiwa belasan tahun lampau di Tebing Awan Putih!"
"Pada waktu itu, aku memperoleh kabar bahwa Hui Kiam Bu Tek-Tio It Seng dan istrinya dikeroyok kaum golongan hitam dan tujuh partai besar. Itu disebabkan Tio It Seng memperoleh Kotak Pusaka. Ketika aku sampai di sana, telah terjadi pertempuran yang kacau balau."
"Jadi benar tujuh partai besar bergabung untuk membunuh Hui Kiam Bu Tek?"
Tanya Pek Ih Mo Li dengan mata berapi-api.
"Sulit dikatakan."
Tui Hun Lojin menarik nafas panjang.
"Karena pada waktu itu, tujuh partai besar itu juga menyerang kaum golongan hitam, namun mereka pun menyerang Hui Kiam Bu Tek dan istrinya. Kalau Bu Lim Sam Mo tidak muncul, aku yakin Hui Kiam Bu Tek dan istrinya tidak akan mati, dan putri mereka pun tidak akan tergelincir ke dalam jurang."
"Kalau begitu..."
Sepasang mata Pek Ih Mo Li membara.
"Bu Lim Sam Mo yang membunuh mereka berdua?"
"Benar."
Tui Hun Lojin manggut-manggut.
"Kotak Pusaka itu pun dibawa pergi oleh mereka bertiga, kemudian aku bersama ketua partai Siauw Lim dan ketua partai Bu Tong mengubur mayat Hui Kiam Bu Tek dan istrinya."
"Engkau ke sana, apakah juga ingin merebut Kotak Pusaka itu?"
Tanya Pek Ih Mo Li mendadak.
"Sama sekali tidak."
Tui Hun Lojin menggelengkan kepala.
"Sebaliknya aku malah ingin menolong Hui Kiam Bu Tek dan istrinya serta putri mereka."
Pek Ih Mo Li menatapnya heran.
"Kenapa engkau berniat begitu?"
"Karena Hui Kiam Bu Tek pernah menolong putraku."
Tui Hun Lojin memberitahukan. Pek Ih Mo Li manggut-manggut.
"Nona!"
Tui Hun Lojin memandangnya.
"Apakah engkau putri almarhum Hui Kiam Bu Tek?"
"Nona!"
Tui Hun Lojin memandangnya.
"Apakah engkau putri almarhum Hui Kiam Bu Tek?"
Pek Ih Mo Li tidak menyahut. Ia menjura kepada Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong, lalu mendadak melesat pergi.
"Ayah!"
Gouw Sian Eng mendekati Tui Hun Lojin seraya berbisik.
"Bagaimana menurut Ayah, apakah Pek Ih Mo Li adalah putri almarhum Hui Kiam Bu Tek?"
"Kelihatannya tidak salah."
Sahut Tui Hun Lojin, kemudian berkata kepada Gouw Sian Eng dan Tio Cie Hiong.
"Kalian berdua boleh kembali ke kamar masing-masing. Gouw Sian Eng dan Tio Cie Hiong mengangguk, lalu segera masuk ke kamar masing-masing.
"Hang Tiong!"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Aku harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang menemui Sam Gan Sin Kay untuk memberitahukan tentang ini."
"Kapan Ayah akan berangkat ke sana?"
"Sekarang."
"Kok sekarang?"
"Lebih cepat lebih baik."
Tui Hun Lojin langsung melesat pergi menggunakan ginkang.
Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan ke dalam rumah.
Ia sama sekali tidak menyangka, kalau kepandaian Pek Ih Mo Li begitu tinggi, dapat merobohkannya hanya dalam beberapa jurus.
Kalau Pek Ih Mo Li ingin membunuhnya, saat ini ia mungkin telah jadi mayat.
Tui Hun Lojin telah sampai di markas Partai Pengemis.
Sam Gan Sin Kay dan Lim Peng Hang Si Tongkat Maut, ketua Kay Pang menyambut kedatangannya dengan gembira.
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Setan tua! Kok engkau mau merepotkan diri sendiri untuk ke mari? Ada sesuatu yang penting?"
"Sesuai dengan pesanmu, pengemis busuk,"
Sahut Tui Hun Lojin. Sam Gan Sin Kay menatapnya.
"Kalau begitu, duduk dulu!"
Tui Hun Lojin duduk, lalu menghela nafas seraya berkata memberitahukan.
"Semalam Pek Ih Mo Li telah datang di tempatku."
Sam Gan Sin Kay mengerutkan kening.
"Engkau bertarung dengannya?"
"Tidak."
Tui Hun Lojin menggelengkan kepala.
"Putraku yang bertarung dengannya. Hanya dalam beberapa jurus, putraku sudah roboh dengan bahu terluka."
"Dia menyerang putramu?"
Tanya Sam Gan Sin Kay terkejut.
"Kepandaiannya begitu tinggi?"
"Dia tidak menyerang putraku, melainkan mereka bertanding. Kepandaiannya memang tinggi sekali, itu sungguh di luar dugaan."
Tui Hun Lojin menarik nafas panjang.
"Dia masih berbelas kasihan terhadap putraku, kalau tidak, putraku pasti sudah mati."
Kening Sam Gan Sin Kay berkerut-kerut.
"Paman! Apakah Pek Ih Mo Li itu putri almarhum Hui Kiam Bu Tek?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Menurutku tidak salah,"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Aku bertanya kepadanya, tapi dia tidak mau memberitahukan. Aku yakin dia putri almarhum Hui Kiam Bu Tek yang tergelincir ke dalam jurang itu."
"Heran!"
Gumam Sam Gan Sin Kay.
"Kok kepandaiannya begitu tinggi? Murid siapa dia?"
"Kulihat bahwa ilmu pedangnya sangat aneh, pedangnya selalu menciptakan lingkaran,"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Apa?"
Sam Gan Sin Kay tampak tertegun.
"Pedangnya selalu menciptakan lingkaran?"
"Ya."
Tui Hun Lojin mengangguk.
"Pengemis busuk, engkau kenal ilmu pedang itu?"
"Itu... itu bagaimana mungkin?"
Gumam Sam Gan Sin Kay sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Maksudmu?"
Tui Hun Lojin tercengang. Bagian 5
"Sekitar lima puluh tahun lampau, dalam rimba persilatan telah muncul seorang Pendekar wanita yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi. Aku tertarik dan langsung mencarinya untuk bertanding,"
Tutur Sam Gan Sin Kay.
"Tapi aku malah roboh di tangannya. Ternyata kepandaiannya setingkat lebih tinggi dari kepadaianku!"
Tui Hun Lojin terbelalak.
"Siapa Pendekar wanita itu?"
"Tiada seorang pun tahu namanya."
Sam Gan Sin Kay menghela nafas sambil melanjutkan.
"Dua tahun kemudian, lihiap itu hilang dari rimba persilatan, hingga kini tiada kabar beritanya."
"Apakah ilmu pedangnya selalu menciptakan lingkaran-lingkaran?"
Tanya Tui Hun Lojin.
"Ya."
Sam Gan Sin Kay mengangguk.
"Maka aku berkesimpulan bahwa Pek Ih Mo Li adalah muridnya."
"Ayah!"
Sela Lim Peng Hang.
"Kalau benar Pek Ih Mo Li adalah putri almarhum Hui Kiam Bu Tek, kita harus membantunya."
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut, kemudian berkata kepada Tui Hun Lojin.
"Setan tua, kalau tidak salah, tujuh partai besar akan bergabung untuk melawannya. Apakah engkau berniat membantunya?"
"Apa?"
Tui Hun Lojin terkejut sekali.
"Tujuh partai besar akan bergabung untuk melawannya?"
"Ya."
Sam Gan Sin Kay mengangguk.
"Karena itu, aku ingin mendamaikan urusan itu agar peristiwa belasan tahun lampau di Tebing Awan Putih tidak akan terulang!"
"Kalau begitu, aku pun harus turut membantu dalam hal itu,"
Ujar Tui Hun Lojin sungguhsungguh.
"Bagus!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Kita harus segera pergi mencari Pek Ih Mo Li."
"Ayah, perlukah aku ikut?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Tidak perlu, masih banyak urusan lain yang harus engkau kerjakan,"
Sahut Sam Gan Sin Kay, lalu berkata kepada Tui Hun Lojin.
"Setan tua, mari kita pergi!... aku tahu tempat dimana para orang-orang tujuh partai berkumpul..."
Sam Gan Sin Kay langsung melesat pergi, dan Tui Hun Lojin pun mengikutinya.
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala, lalu masuk ke dalam menuju ke halaman belakang.
Tampak Lim Ceng Im si pengemis dekil duduk melamun di situ.
"Ceng Im, kenapa engkau melamun di situ?"
Tanya Lim Peng Hang dan mendekatinya.
"Ayah!"
Wajah Lim Ceng Im kelihatan muram.
"Aku...."
"Sedang memikirkan anak lelaki itu ya?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Aku...."
Lim Ceng Im menundukkan kepala.
"Nak!"
Lim Peng Hang membelainya.
"Engkau masih kecil, tidak pantas memikirkan anak lelaki. Belum waktunya lho!"
"Ayah! Dia... dia anak baik,"
Ujar Lim Ceng Im.
"Kini dia entah berada di mana?"
"Nak!"
Lim Peng Hang tersenyum.
"Engkau pasti bertemu dengannya kelak. Sekarang lebih baik curahkanlah segenap perhatianmu pada ilmu silat, jangan terus menerus memikirkan anak lelaki itu."
"Ayah! Bolehkah aku pergi seminggu saja?"
Tanya Lim Ceng Im mendadak.
"Tidak boleh"
Sahut Lim Peng Hang.
"Bukankah ayah tadi sudah bilang, curahkan segenap perhatianmu untuk berlatih, sebab kelak engkau harus menggantikan kedudukanku."
"Ayah...."
Lim Ceng Im membanting-bantingkan kaki.
"Nak!"
Lim Peng Hang membelainya.
"Kalau engkau sudah berhasil menguasai seluruh kepandaianku, dan juga engkau sudah dewasa, ayah tidak akan melarangmu kemana pun. Engkau mau pergi mencari anak lelaki itu juga terserah, namun sekarang ini jangan."
"Ayah...."
Wajah Lim Ceng Im bertambah muram.
Sam Gan Sin Kay dan Tui Hun Lojin berlari dengan sangat cepat dan telah memasuki sebuah lembah.
Begitu sampai di tempat, mereka melihat para ketua tujuh partai besar, dan murid-murid masing-masing partai tengah mengepung seorang gadis berbaju putih.
"Pengemis busuk!"
Tui Hun Lojin memberitahukan.
"Gadis baju putih itu Pek Ih Mo Li!"
Sam Gan Sin Kay memandang sekilas gadis itu.
tanpa menerunkan kecepatan larinya ia lalu melesat ke hadapan Hui Khong Taysu, ketua partai Siauw Lim.
Hui Khong Taysu tersentak ketika melihat kemunculannya dan Tui Hun Lojin yang melesat ke arah It Hian Tojin, ketua Partai Bu Tong.
"Pengemis bau! Kenapa engkau datang ke mari?"
"Hei! Hweeshio pikun! Kenapa engkau tidak membaca doa di Siauw Lim, tapi malah berada di sini?"
Sahut Sam Gan Sin Kay sambil menatapnya.
"Pengemis bau, aku datang ke mari ingin mendamaikan urusan ini"
Ujar Hui Khong Taysu.
"Mendamaikan atau ingin mengeroyok Pek Ih Mo Li?"
Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Pengemis bau...."
Wajah Hui Khong Taysu memerah. Ia tahu jelas sifat Sam Gan Sin Kay, yang amat usil dan suka mencampuri urusan orang.
"Omitohud!"
"Hweeshio pikun!"
Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.
"Engkau selalu menyebut Omitohud, maka harus pula selalu berdiri di atas kebenaran dan keadilan. Kenapa engkau malah membawa Cap Pwee Lohan (Delapan Belas Arhat) ke mari untuk mengepung Pek Ih Mo Li?"
"Pengemis bau! Pek Ih Mo Li telah melukai beberapa murid Siauw Lim yang meminta sedekah. Aku bertanya padanya, tapi dia tidak mau memberi penjelasan...."
"Karena itu, engkau menyuruh Cap Pwee Lohan mengurungnya?"
Tanya Sam Gan Sin Kay sinis.
"Tidak."
Sahut Hui Khong Taysu memberitahukan.
"Cap Pwee Lohan dan beberapa murid Partai Bu Tong sedang menjaga Pek Ih Mo Li agar tidak diserang oleh ketua partai lain."
"Benarkah?"
Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Omitohud! Pengemis bau, engkau harus mempercayaiku."
Sahut Hui Khong Taysu sungguhsungguh. Sementara Tui Hun Lojin pun menatap It Hian Tojin sambil tertawa-tawa.
"Tojin tua, apa kabar? Sudah belasan tahun kita tidak bertemu, tentunya engkau baik-baik saja kan?"
Tanyanya kemudian.
"Terima kasih!"
Sahut It Hian Tojin.
"Aku baik-baik saja. Setan tua, kenapa engkau datang kemari bersama pengemis bau itu?"
"Ingin menyaksikan kalian mengeroyok Pek Ih Mo Li."
Ujar Tui Hun Lojin sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tojin tua, engkau makin tua makin gagah saja. Membawa beberapa murid kesayanganmu ke mari mengurung Pek Ih Mo Li, nama partai Bu Tong pasti makin harum pula."
Wajah It Hian Tojin berubah tak sedap dipandang.
"Setan tua, janganlah engkau menghina Partai Bu Tong!"
"Aku tidak menghina, buktinya memang begitu. Bukankah murid-muridmu sedang mengurung Pek Ih Mo Li?"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Engkau harus tahu, Pek Ih Mo Li telah melukai beberapa murid Bu Tong."
It Hian Tojin memberitahukan.
"Itu pasti ada sebab musababnya,"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Kenapa engkau tidak bertanya kepadanya?"
"Aku sudah bertanya kepadanya, tapi dia tidak mau menjelaskannya,"
Sahut It Hian Tojin.
"Karena itu, kalian semua ingin mengeroyoknya?"
Tanya Tui Hun Lojin sambil mengerutkan kening.
"Kalau dia berkeras tidak mau menjelaskan, itu apa boleh buat!"
Jawab It Hian Tojin dan menambahkan.
"Pek Ih Mo Li pun telah melukai para murid Hwa San, Kun Lun, Go Bie, Khong Tong dan Swat San."
"Aku sudah tahu itu, maka aku dan Sam Gan Sin Kay datang ke mari,"
Ujar Tui Hun Lojin sambil menengok ke arah pengemis sakti itu.
"Huaha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak, kemudian mendadak melesat ke hadapan Pek Ih Mo Li.
"Engkau pasti putri almarhum Hui Kiam Bu Tek. Ketahuilah, almarhum ayahmu adalah teman baik putraku, maka engkau jangan takut. Aku dan Tui Hun Lojin pasti membantumu."
"Terimakasih, Lo cianpwee!"
Ucap Pek Ih Mo Li "Hei! Kalian para ketua dengar baik-baik!"
Seru Sam Gan Sin Kay lantang.
"Siapa berani mengeroyok Pek Ih Mo Li, akan berhadapan denganku duluan!"
"Sam Gan Sin Kay! Kenapa engkau turut campur dalam urusan ini?"
Tanya Hui Liong Sin Kiam (Pedang Sakti Naga Terbang) Tan Cun Kiat ketua Partai Hwa San.
"Engkau mau apa?"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Cianpwee!"
Ujar Hui Liong Sin Kiam-Tan Cut Kiat memberitahukan.
"Pek Ih Mo Li telah melukai beberapa murid Hwa San."
"Dia pun telah melukai murid-murid Kun Lun,"
Sambung Wie Hian Cinjin ketua partai Kun Lun.
"Murid kami pun telah dilukainya!"
Seru Ceng Sim Suthay ketua partai Go Bie, Beng Leng Hoatsu ketua partai Khong Tong dan Pek Bie Lojin ketua partai Swat San serentak.
"Kalian diam!"
Bentak Sam Gan Sin Kay dengan melotot.
Seketika juga para ketua itu diam.
Sam Gan Sin Kay adalah salah seorang Bu Lim Ji Khie, juga tetua Kay Pang.
Kedudukannya sangat tinggi dalam rimba persilatan, maka para ketua itu amat segan kepadanya.
"Pek Ih Mo Li!"
Sam Gan Sin Kay menatapnya.
"Maukah engkau menjelaskan, kenapa engkau melukai para murid tujuh partai besar itu?"
"Karena Lo cianpwee yang bertanya, maka aku akan menjawabnya."
Sahut Pek Ih Mo Li.
"Bagus!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Nah, jelaskanlah agar para ketua itu tidak penasaran!"
Pek Ih Mo Li mengangguk, lalu berkata dengan suara nyaring.
"Beberapa Hweeshio Siauw Lim meminta sedekah dengan cara paksa, maka kulukai mereka. Beberapa murid partai besar lainnya, ingin melakukan perkosaan terhadap wanita baik-baik, karena itu, aku pun melukai mereka. Kalau kalian para ketua menghendaki bukti, sudah kutuliskan di dalam kitab."
Pek Ih Mo Li mengeluarkan sebuah kitab kecil, kemudian diserahkan kepada Sam Gan Sin Kay.
Pengemis sakti itu membaca sejenak kitab kecil itu, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah itu diberikannya kitab itu kepada Hui Khong Taysu, ketua Partai Siauw Lim.
"Bacalah sendiri, Hweeshio pikun!"
Kata pengemis sakti itu. Hui Khong Taysu segera membacanya, sedangkan Sam Gan Sin Kay mendekati Pek Ih Mo Li.
"Benarkah engkau putri almarhum Hui Kiam Bu Tek?"
Tanya Sam Gan Sin Kay sambil menatapnya.
"Lo cianpwee!"
Pek Ih Mo Li menjura memberi hormat. Ia pun memberi hormat kepada Tui Hun Lojin.
"Terima kasih Lo cianpwee, terimakasih Tui Hun Lojin!"
Mendadak Pek Ih Mo Li melesat pergi, Sam Gan Sin Kay ingin mengejarnya, tapi keburu dicegah oleh Tui Hun Lojin.
"Eh?"
Sam Gan Sin Kay melotot.
"Kenapa engkau mencegahku?"
"Pengemis busuk, percuma engkau mengejarnya,"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Yang jelas dia pasti putri almarhum Hui Kiam Bu Tek."
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Setan tua, mari kita pergi!"
Tui Hun Lojin mengangguk.
Mereka berdua lalu melesat pergi tanpa menghiraukan tujuh partai besar itu.
Para ketua dan murid-muridnya hanya bisa melihat saja tanpa bisa berbuat lebih dari itu.
Pagi ini seusai menyapu, Tio Cie Hiong duduk di bawah pohon sambil melamun.
Di saat bersamaan, muncullah Gouw Sian Eng mendekatinya.
"Kakak Hiong, kenapa engkau melamun?"
"Adik Eng, aku...."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Hiong!"
Gouw Sian Eng duduk di sisinya.
"Kenapa engkau pagi ini? Beritahukanlah kepadaku!"
"Adik Eng, hingga saat ini aku masih belum tahu siapa kedua orang tuaku. Karena itu...."
"Kakak Hiong...."
Wajah Gouw Sian Eng berubah murung.
"Engkau ingin pergi mencari Ku Tok Lojin?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Aku harus tahu siapa kedua orang tuaku."
"Kapan engkau berangkat?"
Tanya Gouw Sian Eng dengan mata berkaca-kaca.
"Hari ini,"
Sahut Tio Cie Hiong singkat.
"Apa?"
Gouw Sian Eng nyaris menangis seketika.
"Engkau ingin berangkat hari ini?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Adik Eng, sudah setahun aku tinggal di sini, dan kini sudah waktunya aku pergi mencari Ku Tok Lojin."
"Kalau begitu...."
Air mata Gouw Sian Eng mulai meleleh.
"Kita... kita akan berpisah?"
"Adik Eng!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kita akan berjumpa lagi kelak, jadi engkau tidak usah berduka."
"KakaK Hiong...."
Gouw Sian Eng terisakisak.
"Adik Eng, jangan menangis!"
Tio Cie Hiong menggenggam tangannya.
"Kelak aku pasti datang menemui lagi."
"Kakak Hiong...."
Gouw Sian Eng terus menerus terisak-isak. Pada waktu bersamaan, muncul Gouw Han Tiong. Ia tercengang ketika melihat putrinya menangis terisak-isak dengan air mata berderai-derai.
"Eh? Sian Eng! Kenapa engkau?"
"Ayah, Kakak Hiong... kakak Hiong..."
Sahut Gouw Sian Eng tersendat-sendat.
"Kenapa dia?"
Gouw Han Tiong mengerutkan kening ketika melihat Tio Cie Hiong menggenggam tangan putrinya.
"Kakak Hiong mau pergi."
"Apa?"
Gouw Han Tiong tercengang.
"Cie Hiong, engkau mau pergi ke mana?"
"Paman!"
Tio Cie Hiong melepaskan genggamannya di tangan Gouw Sian Eng.
"Aku ingin pergi mencari Ku Tok Lojin."
"Itu bagaimana mungkin?"
Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau tidak tahu dia berada di mana, lalu bagaimana cara engkau mencarinya?"
"Aku akan mengembara dalam rimba persilatan mencari Ku Tok Lojin,"
Jawab Tio Cie Hiong telah mengambil keputusan.
"Aku... aku harus tahu siapa kedua orang tuaku."
"Kapan engkau akan berangkat?"
Tanya Gouw Han Tiong.
"Hari ini."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Cie Hiong...."
Gouw Han Tiong menarik nafas.
"Baiklah! Aku akan memberimu seribu tael perak."
"Tidak usah begitu banyak, Paman!"
Ujar Tio Cie Hiong menolak.
"Tidak... tidak...."
Gouw Han Tiong tersenyum.
"Dalam pengembaraan, engkau pasti membutuhkan uang."
"Terima kasih, Paman!"
Ucap Tio Cie Hiong. Gouw Han Tiong manggut-manggut, lalu masuk ke dalam. Sedangkan Gouw Sian Eng memandang Tio Cie Hiong dengan air mata bercucuran.
"Kakak Hiong, kapan kita akan berjumpa kembali?"
Tanya Gouw Sian Eng terisak-isak.
"Setelah aku bertemu Ku Tok Lojin, aku pasti datang menemuimu,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Sungguh?"
"Aku tidak akan membohongimu."
"Kakak Hiong...."
Gouw Sian Eng menatapnya dalam-dalam dengan air mata berlinang-linang.
"Kapan pun aku pasti menunggumu."
Tio Cie Hiong telah meninggalkan Ekspedisi Harimau Terbang.
Gouw Sian Eng mengantarnya sampai di pinggir kota.
Setelah Tio Cie Hiong hilang dari pandangannya, barulah anak gadis itu pulang dengan mata basah.
Begitu sampai di dalam kamarnya, ia langsung menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan isak tangisnya pun meledak.
"Nak!"
Gouw Han Tiong menghampirinya.
"Kenapa engkau menangis?"
"Ayah...."
Karena ditanya, maka isak tangis Gouw Sian Eng semakin menjadi.
"Kakak Hiong telah pergi...."
"Nak!"
Gouw Han Tiong membelainya.
"Engkau tidak usah berduka, kelak dia pasti datang menengokmu. Percayalah!"
"Tapi...."
Gouw Sian Eng menggeleng-gelengkan kepada.
"Entah kapan dia akan datang, lagi pula... belum tentu dia akan datang."
"Nak!"
Gouw Han Tiong tersenyum.
"Percayalah! Dia pasti datang menemuimu."
"Ayah!"
Gouw Sian Eng memeluk Gouw Han Tiong erat-erat. Aku...."
"Ayah tahu...."
Gouw Han Tiong manggutmanggut.
"Engkau sangat suka kepadanya, bukan?"
"Dia sangat baik kepadaku, aku... aku...."
Wajah Gouw Sian Eng kemerah-merahan.
"Dia anak lelaki yang baik, wajar kalau engkau menyukainya."
Gouw Han Tiong tersenyum lagi.
"Ayah, aku... aku pasti menunggunya,"
Ujar Gouw Sian Eng dengan suara rendah.
"Kalau dia tidak datang menemuiku, aku... aku ingin menjadi biarawati saja."
"Apa?!"
Gouw Han Tiong terperanjat.
"Nak, engkau...."
"Ayah, aku mau menjadi isterinya. Tidak mau menikah dengan orang lain."
Ujar Gouw Sian Eng sungguh-sungguh.
"Nak!"
Gouw Han Tiong menghela nafas.
"Engkau masih kecil, sedangkan itu urusan kelak, maka jangan terlampau kau pikirkan! Mulai sekarang engkau harus giat berlatih, agar kelak kalau bertemu dia, engkau sudah berkepandaian tinggi."
Gouw Sian Eng mengangguk.
Sementara Tio Cie Hiong terus melanjutkan perjalanan tanpa arah tujuan, terserah kepada sepasang kakinya membawa dirinya ke mana.
Selama berada di Ekspedisi Harimau Terbang.
Beberapa hari kemudian, Tio Cie Hiong memasuki sebuah lembah yang sangat indah.
Beberapa hari itu, ia selalu menolong orang-orang miskin dan para pengemis.
Setelah memasuki lembah itu, mendadak ia mendengar suara suling yang amat merdu sekali.
Segeralah ia menuju ke arah suling itu Karena tertarik hatinya.
Tampak seorang lelaki berusia empat puluhan duduk di atas sebuah batu sambil meniup suling.
Sulingnya gemerlapan tertimpa sinar matahari.
Tio Cie Hiong terus berdiri di belakangnya dan mendengar suara suling itu dengan penuh perhatian.
Berselang sesaat barulah lelaki itu berhenti meniup suling.
"Bocah! Engkau tertarik kepada suara sulingku?"
Tanyanya tanpa menoleh.
"Ya,"
Sahut Tio Cie Hiong dan bertanya.
"Paman tahu kehadiranku di sini?"
"Bocah!"
Lelaki itu tersenyum.
"Walau aku sedang meniup suling, telingaku tetap bisa menangkap suara apa pun yang ada di sekitar tempat ini."
Tio Cie Hiong terbelalak.
"Kalau begitu, paman tidak begitu memusatkan perhatian untuk meniup suling?"
"Aku tetap memusatkan perhatianku untuk meniup suling,"
Sahut lelaki itu sambil membalikkan badannya. Ketika melihat Tio Cie Hiong, lelaki itu Tampak tertegun.
"Namun sepasang telingaku tetap bisa menangkap suara apa pun di sekitar tempat ini"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Kalau begitu, Iweekang Paman sudah tinggi sekali."
"Bocah!"
Lelaki itu menatapnya dalam-dalam.
"Engkau tahu tentang Iweekang, itu berarti engkau pernah belajar ilmu silat, bukan?"
"Paman, aku tidak pernah belajar ilmu silat, hanya saja selalu melatih napas di setiap malam,"
Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Kalau begitu, engkau pasti melatih semacam Iweekang. Iweekang apa yang engkau latih itu?"
Tanya lelaki itu.
"Iweekang untuk menyehatkan tubuh,"
Jawab Tio Cie Hiong. Lelaki itu menatapnya lagi seraya bertanya.
"Sebetulnya engkau siapa? Dari mana dan mau ke mana?"
"Aku Tio Cie Hiong,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Aku datang dari suatu tempat untuk mencari seseorang."
"Siapa yang kau cari?"
"Ku Tok Lojin."
"Untuk apa engkau mencarinya?"
"Menanyakan siapa kedua orang tuaku."
"Jadi...."
Lelaki itu menatapnya tajam.
".... engkau masih tidak tahu siapa kedua orang tuamu?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Ohya! Engkau tadi kelihatan begitu tertarik akan suara sulingku, apakah engkau bisa meniup suling?"
Tanya lelaki itu mendadak.
"Sejak kecil aku sudah belajar meniup suling, tapi cuma meniup suling bambu, tidak pernah meniup suling yang seperti milik Paman,"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Ini suling emas,"
Ujar lelaki itu sambil tersenyum, sekaligus memperkenalkan diri.
"Aku Kim Siauw Suseng (Sastrawan Suling Emas)."
Tio Cie Hiong cuma mengeluarkan suara 'Oh'. Ia mana tahu lelaki yang di hadapannya itu adalah Bu Lim Ji Khie (Dua Orang Aneh Rimba Persilatan) yang sangat tersohor itu.
"Pantas suara suling Paman sangat merdu!"
Ujar Tio Cie Hiong tertarik pada suling emas itu.
"Bocah!"
Kim Siauw Suseng tersenyum.
"Engkau ingin mencoba meniup suling emas ini?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
Kim Siauw Suseng menyerahkan suling emas itu.
Tio Cie Hiong menerimanya dengan wajah berseri.
Setelah itu, ia mulai mencoba meniupnya, namun sama sekali tidak mengeluarkan suara.
"Bocah!"
Kim Siauw Suseng tertawa.
"Tidak gampang meniup suling emasku ini... karena hanya..."
Kim Siauw Suseng berhenti tertawa karena melihat pancaran mata Tio Cie Hiong yang bersinar-sinar itu.
Hati Tio Cie Hiong tentu saja penasaran.
Ia segera duduk dan berkonsentrasi untuk meniup suling itu, dan secara otomatis ia mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang.
Seketika juga terdengar suara alunan suling yang amat merdu.
Kim Siauw Suseng terbelalak, karena sama sekali tidak menyangka kalau Tio Cie Hiong yang masih kecil itu mampu meniup suling emasnya, bahkan lama kelamaan ia pun terpengaruh oleh suaranya.
Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Kim Siauw Suseng, sehingga memandang Tio Cie Hiong dengan mata terbelalak lebar.
Sekonyong-konyong terdengar suara siulan yang sangat nyaring, kemudian muncullah seorang pengemis tua, yang tidak lain Sam Gan Sin Kay.
Tio Cie Hiong segera berhenti meniup suling emas itu.
Begitu melihat Sam Gan Sin Kay, iapun berseru.
"Kakek Pengemis!"
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Cie Hiong, ternyata engkau yang meniup suling emas itu! Semula aku mengira Kim Siauw Suseng."
"Pengemis bau! Apakah bocah ini cucumu?"
Tanya Kim Siauw Suseng.
"Sastrawan sialan! Dia bukan cucuku, tapi dia memanggilku kakek pengemis, itu membuatku merasa bangga sekali"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Lho? Kenapa?"
Kim Siauw Suseng tercengang.
"Sastrawan sialan, engkau harus tahu, dia adalah Sin Tong (Anak Sakti),"
Ujar Sam Gan Sin Kay memberitahukan.
"Anak Sakti?"
Kim Siauw Suseng kebingungan.
"Engkau masih belum menyadari akan hal itu?"
Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Kalau dia anak biasa, bagaimana mungkin mampu meniup suling emasmu?"
"Iya, ya."
Kim Siauw Suseng manggut-manggut.
"Itu sungguh mengherankan!"
"Masih ada yang jauh lebih mengherankan,"
Ujar Sam Gan Sin Kay.
"Aku telah mengalaminya."
"Oh?"
Kim Siauw Suseng menatap Tio Cie Hiong, kemudian menoleh pada Sam Gan Sin Kay seraya berkata.
"Pengemis bau, begitu melihat engkau, tanganku merasa gatal."
"Sama-sama,"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Tanganku pun sudah gatal."
"Kalau begitu, mari kita bertanding!"
Tantang Kim Siauw Suseng.
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Sudah puluhan tahun kita pasti bertanding begitu bertemu, maka tanganku langsung merasa gatal."
"Bagus!"
Kim Siauw Suseng juga tertawa gelak.
"Kalau begitu, mari kita mulai!"
Mereka berdua adalah Bu Lim Ji Khie, tapi kalau bertemu pasti bertanding.
Sudah puluhan tahun mereka bertanding, namun selama itu tiada seorang yang menang maupun kalah.
Mereka berdua selalu bertanding seri.
"Sastrawan sialan!"
Ujar Sam Gan Sin Kay memberitahukan.
"Pertandingan kita hari ini akan disaksikan anak lelaki itu."
"Tentu,"
Sahut Kim Siauw Suseng.
"Cie Hiong!"
Ujar Sam Gan Sin Kay.
"Engkau sebagai saksi, tentunya tidak akan keberatan kan?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk, lalu mengembalikan suling emas itu kepada Kim Siauw Suseng.
"Nah! Mari kita mulai!"
Seru Kim Siauw Suseng setelah menerima suling emasnya.
"Baik."
Sam Gan Sin Kay mengangguk lalu langsung menyerangnya.
"Ha ha!"
Kim Siauw Suseng tertawa gelak.
"Tah Kauw Kun Hoatmu itu cuma mampu memukul anjing, tidak bisa digunakan untuk memukulku."
Kim Siauw Suseng mulai berkelit, kemudian balas menyerang dengan ilmu andalannya.
Terjadilan pertarungan yang amat seru.
Tio Cie Hiong memandang dengan penuh perhatian.
Sam Gan Sin Kay mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihay dari Tah Kauw Kun Hoat, sehingga tongkat bambunya berkelebatan.
Namun suling emas Kim Siauw Suseng juga bergerak cepat.
Tak terasa pertarungan mereka telah melewati belasan jurus.
"Hiyaat!"
Teriak Sam Gan Sin Kay mendadak, ternyata ia mulai menyerang Kim Siauw Suseng dengan Sam Ciat Kun Hoat.
"Haaah...?"
Kim Siauw Suseng tampak terkejut. Ia meloncat mundur secepat kilat dan memandang Sam Gan Sin Kay dengan mata terbelalak.
"Pengemis bau, kulihat jurus Sam Ciat Kun Hoatmu ada kemajuan dibandingkan tahun lalu?"
"Sastrawan sialan! Tentu saja begitu...!!!"
Sahut Sam Gan Sin Kay sambil melirik Tio Cie Hiong, setelah itu ia mulai menyerang Kim Siauw Suseng lagi dengan jurus Pelangi Di Ujung Langit.
Kim Siauw Suseng terpaksa berkelit, tak mampu balas menyerang.
Mendadak Sam Gan Sin Kay berteriak keras, sekaligus menyerang Kim Siauw Suseng dengan jurus Memecahkan Gunung Memindahkan Laut.
Bukan main terkejutnya Kim Siauw Suseng.
Secepat kilat ia melesat ke atas, sekaligus berjungkir balik ke belakang.
Setelah sepasang kaki nya menginjak tanah, barulah ia menarik nafas lega.
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana Sam Ciat Kun Hoatku sekarang?"
"Jauh lebih lihay dari belasan tahun lampau,"
Sahut Kim Siauw Suseng sejujurnya.
"Tapi aku belum kalah, mari kita bertanding lagi!"
"Tidak usah bertanding lagi!"
Sela Tio Cie Hiong mendadak.
"Kenapa?"
Kim Siauw Suseng heran.
"Sebab Paman sudah kalah,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Apa?"
Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.
"Aku sudah kalah?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk dan memberitahukan.
"Lengan baju Paman telah berlubang tertusuk tongkat bambu Kakek Pengemis, maka Paman sudah kalah."
Kim Siauw Suseng segera menengok lengan bajunya. Memang benar lengan bajunya telah berlubang. Sam Gan Sin Kay tertegun, ternyata ia sendiri sama sekali tidak mengetahui akan hal itu.
"Aku... aku telah kalah? Aku telah kalah..."
Gumam Kim Siauw Suseng penasaran.
"Sastrawan sialan!"
Ujar Sam Gan Sin Kay jujur.
"Aku tidak mengalahkanmu."
"Tapi lengan bajuku telah berlubang."
Kim Siauw Suseng menghela nafas.
"Aku tidak menyangka Sam Ciat Kun Hoatmu bertambah lihay, sehingga dapat mengalahkanku."
"Terus terang, yang mengalahkanmu adalah anak lelaki itu."
Sam Gan Sin Kay menunjuk Tio Cie Hiong.
"Pengemis bau, apa maksudmu?"
Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.
"Begini..."
Sahut Sam Gan Sin Kay dan menutur tentang semua itu. Kim Siauw Suseng mendengar dengan mulut ternganga lebar.
"Apa?! Jadi... anak lelaki itu yang menambahkan gerakan dalam Sam Ciat Kun Hoatmu?"
"Ya."
Sam Gan Sin Kay mengangguk.
"Kalau tidak, tak mungkin tongkat bambuku sampai saat ini dapat melubangi lengan bajumu."
"Pantas engkau menyebutnya sebagai anak sakti!"
Kim Siauw Suseng manggut-manggut.
"Tidak heran kalau dia juga mampu meniup suling emasku."
"Kini engkau sudah percaya bahwa dia anak sakti?"
Tanya Sam Gan Sin Kay sambil tersenyum.
"Ya."
Kim Siauw Suseng mengangguk.
"Pengemis bau, kita masih harus bertanding."
"Tentu,"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Sebab engkau masih ingin memperdengarkan Toh Hun Mi Im kan?"
"Benar. Itulah pertandingan kita berikutnya,"
Ujar Kim Siauw Suseng, lalu ia duduk bersila.
"Ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. Ia pun duduk bersila di hadapan Kim Siauw Suseng.
"Mulailah!"
Kim Siauw Suseng mulai meniup suling emasnya, dan seketika terdengarlah suara suling yang sangat merdu.
Ketika suara suling itu mulai meninggi, Sam Gan Sin Kay menghimpun tenaga dalamnya, kemudian mengeluarkan siulan yang amat nyaring dan panjang.
Mereka berdua telah melupakan Tio Cie Hiong.
Ketika merasa telinganya seperti ditusuk-tusuk, Tio Cie Hiong segera duduk dan mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang.
Barulah ia merasa telinganya tidak seperti ditusuk-tusuk lagi.
Ada satu hal yang tidak disadarinya, karena dengan adanya suara suling dan suara siulan yang mengandung Iweekang tingkat tinggi itu, secara tidak langsung akan melatih Iweekangnya sendiri, sebab ia akan terus menerus mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang untuk menekan suara-suara itu, sehingga merupakan latihan yang sangat bermanfaat bagi dirinya.
Sementara suara suling itu makin meninggi, begitu pula suara siulan.
Ternyata Kim Siauw Suseng dan Sam Gan Sin Kay mulai mengadu Iweekang melalui suara suling dan siulan.
Sedangkan Tio Cie Hiong terus mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang untuk menekan suara-suara itu.
Kim Siauw Suseng dan Sam Gan Sin Kay telah mengerahkan Iweekang masing-masing sampai pada puncaknya.
Siapa pun tidak berani berhenti lebih dulu, sebab siapa yang berhenti lebih dulu akan terluka oleh Iweekang lawan.
Akan tetapi, apabila mereka terus mengadu Iweekang dengan cara demikian, akhirnya mereka pasti akan mengalami luka dalam yang amat parah.
Wajah Kim Siauw Suseng dan Sam Gan Sin Kay telah pucat pias.
Keringat dingin mereka pun terus mengucur, kedua-duanya sudah berada dalam keadaan kritis.
Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara siulan yang halus menekan suara suling dan suara siulan Sam Gan Sin Kay, sehingga membuat Kim Siauw Suseng berhenti meniup sulingnya, dan Sam Gan Sin Kay pun berhenti bersiul.
Ternyata tanpa sadar Tio Cie Hiong mengeluarkan suara siulan, yang secara tidak langsung telah menolong Kim Siauw Suseng dan Sam Gan Sin Kay.
Setelah Kim Siauw Suseng berhenti meniup suling dan Sam Gan Sin Kay berhenti bersiul, Tio Cie Hiong pun berhenti bersiul.
Kim Siauw Suseng dan Sam Gan Sin Kay, keduanya memandang Tio Cie Hiong, yang kebetulan sedang membuka perlahan sepasang matanya.
Betapa terkejutnya Kim Siauw Suseng dan Sam Gan Sin Kay, karena mereka melihat mata Tio Cie Hiong menyorotkan sinar begitu tajam dan terang.
Kim Siauw Suseng dan Sam Gan Sin Kay saling memandang, lalu bangkit berdiri menghampiri Tio Cie Hiong yang masih duduk bersemadi.
"Kakek Pengemis, Paman!"
Panggil Tio Cie Hiong.
"Cie Hiong, engkau...."
Sam Gan Sin Kay menatapnya dengan mata terbelalak lebar.
"Bocah! Engkau sungguh luar biasa sekali!"
Ujar Kim Siauw Suseng.
"Cie Hiong, aku ingin memeriksa nadi dan peredaran darah dalam tubuhmu,"
Ujar Sam Gan Sin Kay.
"Memangnya kenapa, Kakek Pengemis?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Ingin mengetahui sesuatu,"
Sahut Sam Gan Sin Kay sambil menjulurkan tangannya untuk memegang pergelangan tangan Tio Cie Hiong, kemudian mengerahkan Iweekang ke dalam tubuh anak itu.
Maksud Sam Gan Sin Kay ingin memeriksa bagian dalam Tio Cie Hiong.
Akan tetapi, mendadak Sam Gan Sin Kay tampak tersentak, karena merasa ada hawa hangat dalam tubuh Tio Cie Hiong mendesak keluar Iweekangnya.
Pengemis sakti itu penasaran.
la mengerahkan Iweekangnya lagi, tetapi hawa hangat itu pun terus mendesaknya keluar.
Itu sungguh mencengangkan Sam Gan Sin Kay dan membuatnya semakin penasaran, sehingga ia menambah Iweekangnya lagi.
Tapi mendadak keningnya berkerut-kerut.
Ia cepat-cepat berhenti mengerahkan Iweekangnya dan sekaligus melepaskan tangan Tio Cie Hiong.
Ternyata ketika Sam Gan Sin Kay menambah Iweekangnya, seketika juga ia merasa Iweekangnya tersedot, maka cepat-cepat ia berhenti mengerahkan Iweekangnya.
"Pengemis bau! Ada apa?"
Taya Kim Siauw Suseng.
"Aku...."
Sam Gan Sin Kay menghela nafas.
"Aku pun tidak tahu. Itu... itu sungguh mengherankan, aku sama sekali tidak mengerti."
"Pengemis bau, apa gerangan yang terjadi?"
Tanya Kim Siauw Suseng penasaran. Ia mengira Sam Gan Sin Kay mempermainkannya.
"Sastrawan sialan! Cobalah engkau periksa sendiri..., agar engkau mengetahuinya!"
Sahut Sam Gan Sin Kay. Kim Siauw Suseng segera memegang tangan Tio Cie Hiong sambil mengerahkan Iweekangnya. Ia pun mengalami hal yang sama, karena itu ia cepat-cepat melepaskan tangan Tio Cie Hiong.
"Kenapa bisa begitu?"
Gumamnya.
"Anak ini memiliki Iweekang apa?"
"Sastrawan sialan!"
Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Dia pernah memberitahukan kepadaku, bahwa dia telah mempelajari semacam Iweekang dari sebuah kitab tipis."
"Iweekang apa itu?"
Tanya Kim Siauw Suseng.
"Dia sendiri pun tidak tahu,"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Pengemis bau, apa yang kau katakan memang tidak salah. Dia benar-benar anak sakti,"
Ujar Kim Siauw Suseng sambil memandang Tio Cie Hiong.
"Dia memang memiliki Iweekang yang begitu luar biasa, tapi dia masih belum bisa mengendalikan sebagaimana mestinya."
Sam Gan Sin Kay memberitahukan dengan kening berkerut.
"Sastrawan sialan, bisakah engkau memberi petunjuk kepadanya?"
Kim Siauw Suseng menggelengkan kepala, kemudian menghela nafas.
"Bagaimana engkau, pengemis bau?"
"Aaakh...!"
Sam Gan Sin Kay juga menghela nafas.
"Kita berdua adalah Bu Lim Ji Khie, tapi justru tidak mampu memberi petunjuk kepadanya. Rasanya nama Bu Lim Ji Khie harus dicoret dari rimba persilatan."
Kim Siauw Suseng menggeleng-gelengkan kepala.
"Ohya, engkau tahu siapa kedua orang tuanya?"
"Tidak tahu,"
Sahut Sam Gan Sin Kay dan menambahkan.
"Dia pernah bilang ingin mencari Ku Tok Lojin. Apakah engkau kenal Ku Tok Lojin?"
"Ku Tok Lojin...."
Kim Siauw Suseng berpikir sejenak, kemudian menjawab sambil memandang Tio Cie Hiong.
"Dulu aku pernah bertemu dengannya. Setahuku dia teman baik Tok Pie Sin Wan (Lutung Sakti Lengan Tunggal). Mungkin dia tahu Ku Tok Lojin berada di mana."
"Paman! Di mana Tok Pie Sin Wan?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa mendadak.
"Eh?"
Kim Siauw Suseng menatapnya.
"Pengemis bau, kenapa engkau tertawa? Apa yang lucu?"
"Paman! Di mana Tok Pie Sin Wan?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa mendadak.
"Eh?"
Kim Siauw Suseng menatapnya.
"Pengemis bau, kenapa engkau tertawa? Apa yang lucu?"
"Cie Hiong, engkau memanggilnya paman?"
Sam Gan Sin Kay memandangnya dan masih tertawa.
"Ya, memangnya kenapa?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Seharusnya engkau memanggilnya kakek."
Sam Gan Sin Kay memberitahukan. Tio Cie Hiong terbelalak.
"Dia masih begitu muda, kok aku harus memanggilnya kakek?"
"Dia masih muda?... Hua Ha Ha Ha"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Dia memang kelihatan muda, tapi usianya sudah delapan puluh lebih."
Tio Cie Hiong terperangah.
"Kenapa bisa begitu?"
"Ketika dia berusia empat puluhan, tanpa sengaja memakan semacam buah ajaib, sehingga membuat dirinya awet muda."
Sam Gan Sin Kay memberitahukan.
"Ooooh!"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Bocah!"
Kim Siauw Suseng tersenyum.
"Tidak apa-apa engkau memanggilku paman."
"Ya!"
Tio Cie Hiong mengangguk.
"paman, Tok Pie Sin Wan itu berada di mana? Aku mau pergi mencarinya."
"Dia berada di Goa Angin Puyuh, di gunung Cing San."
Kim Siauw Suseng memberitahukan.
"Dari sini engkau harus mengambil arah timur, beberapa hari kemudian engkau pasti tiba di gunung itu."
"Terimakasih, Paman!"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Cie Hiong!"
Sam Gan Sin Kay menatapnya.
"Jadi engkau meninggalkan Ekspedisi Harimau Terbang cuma ingin mencari Ku Tok Lojin?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Bocah!"
Mendadak Siauw Suseng menatapnya dalam-dalam.
"Maukah engkau menjadi muridku?"
"Huaha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Sialan Kau !!! ...Pengemis bau! Kenapa tiap aku bicara engkau selalu tertawa?"
Tanya Kim Siauw Suseng dengan kening berkerut.
"Aku pun pernah ingin mengangkatnya sebagai murid, tapi dia langsung menolak,"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Kenapa?"
Tanya Kim Siauw Suseng.
"Sebab dia tidak mau belajar ilmu silat."
Sam Gan Sin Kay memberitahukan.
"Bocah!"
Kim Siauw Suseng menatapnya heran.
"Betulkah engkau tidak mau belajar ilmu silat?"
"Betul, Paman."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Tapi engkau belajar Iweekang?!"
Ujar Kim Siauw Suseng.
"Itu untuk menyehatkan tubuh saja."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Sayang sekali!"
Gumam Kim Siauw Suseng.
"Seandainya engkau mau belajar ilmu silat, kelak engkau pasti menjadi seorang pendekar hebat."
"Benar-benar..."
Sam Gan Sin Kay manggut-mangut.
"Kakek Pengemis, Paman! Aku mau pamit untuk melanjutkan perjalanan,"
Ujar Tio Cie Hiong sambil bangkit berdiri, lalu berjalan pergi.
Sedangkan Sam Gan Sin Kay dan Kim Siauw Suseng hanya bisa saling memandang saja sambil menggelenggelengkan kepala.
Tio Cie Hiong terus melakukan perjalanan menuju arah timur.
Ketika hari mulai senja, ia duduk di bawah pohon, lalu mengeluarkan beberapa buah bakpao yang dibelinya di sebuah kota kecil.
Di saat ia baru mau makan, mendadak ia melihat seorang pengemis muda yang dekil sedang berjalan sambil menendang-nendang ini dan itu.
Begitu melihat pengemis muda yang dekil itu, Tio Cie Hiong langsung berseru sambil berlari menghampirinya.
"Adik Im! Adik Im...."
Pengemis muda yang dekil itu menolehkan kepalanya. Begitu melihat Tio Cie Hiong, ia pun terbelalak dengan mulut ternganga lebar.
"Kakak Hiong..."
Panggilnya.
"Adik Im!"
Tio Cie Hiong menggenggam tangannya erat-erat.
"Kakak Hiong!"
Pengemis muda yang dekil itu ternyata Lim Ceng Im. Ia memandang Tio Cie Hiong dengan mata tak berkedip.
"Engkau... engkau bertambah tampan."
"Engkau malah bertambah dekil dan bau,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tertawa-tawa.
"Adik Im, sungguh tak terduga kita akan bertemu di sini, hanya saja....."
"Kenapa?"
"Aku tidak telanjang mandi di sungai."
"Dasar....."
Wajah Lim Ceng Im langsung memerah, kemudian menundukkan kepala dalamdalam.
"Adik Im!"
Tio Cie Hiong menatapnya heran.
"Kenapa setiap kali bertemu denganku engkau pasti bersikap malu-malu?"
"Aku...."
"Adik Im! Mari kita duduk di bawah pohon saja!"
Ajak Tio Cie Hiong.
Lim Ceng Im mengangguk.
Mereka berdua lalu duduk di bawah pohon.
Tio Cie Hiong tampak gembira sekali bertemu lagi dengan Lim Ceng Im.
Ia mengeluarkan bakpaonya dan dibagikan kepadanya.
"Adik Im, mari kita makan bakpao dulu!"
"Terimakasih, Kakak Hiong!"
Lim Ceng Im menerima bakpao itu, kemudian memakannya sambil tersenyum-senyum.
"Adik Im, kok engkau berada di sini?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Aku tidak betah tinggal di rumah, maka aku keluar berjalan-jalan sejenak,"
Jawab Lim Ceng Im sambil meliriknya.
"Aku tak menduga sama sekali akan bertemu denganmu di sini."
"Kenapa engkau tidak betah tinggal di rumah?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Karena ayahku selalu menyuruhku belajar ilmu silat, sedangkan aku...."
Lim Ceng Im menundukkan kepala.
"Adik Im, engkau harus menuruti perkataan ayahmu, tidak baik sering berkeluyuran di luar."
Ujar Tio Cie Hiong sambil memandangnya.
"Eh? Kok kelihatannya engkau agak kurusan? Engkau sakit ya?"
"Tidak."
Lim Ceng Im menggelengkan kepala.
"Kakak Hiong, bagaimana keadaanmu selama ini?"
"Aku baik-baik saja,"
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Aku bekerja di Ekspedisi Harimau Terbang."
"Oooh!"
Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Pemimpin Ekspedisi itu Cit Pou Tui Hun-Gouw Han Tiong kan?"
"Benar."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kok engkau tahu?"
"Ekspedisi itu sangat terkenal, tentu saja aku tahu."
Tiba-tiba Lim Ceng Im menatapnya tajam.
"Ohya! Bukankah Gouw Han Tiong mempunyai seorang putri?"
"Betul. Namanya Gouw Sian Eng."
"Kalau tidak salah, dia merupakan anak gadis yang cantik sekali, bukan?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Dia memang cantik sekali, dan lemah lembut."
"Dia baik sekali terhadapmu?"
Tanya Lim Ceng Im dengan wajah agak berubah..
"Dia memang baik sekali terhadapku,"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Engkau pun sangat baik terhadapnya?"
Tanya Lim Ceng Im bernada agak tidak senang.
"Karena dia baik, aku pun baik terhadapnya."
"Kakak Hiong!"
Lim Ceng Im menatapnya tajam.
"Pernahkah engkau mandi telanjang di hadapannya?"
"Eeeh?"
Tio Cie Hiong terbelalak.
"Memangnya aku sudah gila?"
"Engkau kan hobby mandi telanjang...."
Mendadak wajah Lim Ceng Im berubah kemerahmerahan.
"Itu karena aku mandi di sungai, lagi pula engkau pun tidak sengaja memunculkan diri."
Ujar Tio Cie Hiong.
"Di Ekspedisi Harimau Terbang, aku mandi di dalam kamar mandi, tidak pernah mandi di sungai."
"Oooh!"
Lim Ceng Im manggut-manggut, kemudian bertanya dengan suara rendah.
"Engkau suka pada anak gadis itu?"
"Suka sekali."
Tio Cie Hiong mengangguk. Seketika juga wajah Lim Ceng Im berubah pucat.
"Ohya!"
Tio Cie Hiong mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya.
"Lihat apa ini?"
"Itu kantong pemberianku,"
Sahut Lim Ceng Im.
"Aku selalu menyimpannya baik-baik,"
Ujar Tio Cie Hiong, lalu memasukkan lagi kantong kain itu ke dalam bajunya.
"Kakak Hiong, apakah selama setahun ini, engkau sering memikirkan aku?"
Tanya Lim Ceng Im dengan suara rendah.
"Sering."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Aku pun sering memikirkanmu, bahkan siang malam...."
"Ha ha!"
Tio Cie Hiong tertawa mendadak.
"Pantas badanmu menjadi kurus, tidak tahunya garagara memikirkan aku siang malam!"
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im cemberut.
"Tuh! Cemberut lagi!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Adik Im, engkau lebih pantas menjadi anak gadis."
"Kenapa?"
"Engkau sering bersikap malu-malu dan suka cemberut, itulah ciri khas anak gadis."
"Tapi aku...."
"Aku tahu engkau anak lelaki seperti aku,"
Potong Tio Cie Hiong. Tapi engkau justru...."
"Anak lelaki juga boleh bersikap malu-malu dan cemberut, tidak ada salahnya kan?"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Memang tidak ada salahnya, namun itu sepertinya jadi sedikit aneh."
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Ohya, Kakak Hiong! Engkau mau ke mana?"
Tanya Lim Ceng Im mendadak mengalihkan percakapan.
"Aku mau pergi menemui Tok Pie Sin Wan,"
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Dia berada di Goa Angin Puyuh di gunung Cing San."
"Siapa yang memberitahukanmu tentang Tok Pie Sin Wan?"
"Kim Siauw Suseng."
"Apa?"
Lim Ceng Im terbelalak.
"Engkau bertemu Kim Siauw Suseng itu?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Di Ekspedisi Harimau Terbang, aku pun bertemu kakek pengemis sakti."
"Kakek pengemis sakti? Maksudmu Sam Gan Sin Kay?"
"Ya,"
Sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan.
"Di lembah itu aku pun bertemu kakek pengemis sakti. Kemudian aku menyaksikan pertandingan yang sangat seru sekali."
"Sam Gan Sin Kay bertanding dengan Kim Siauw Suseng?"
"Ya."
"Mereka pasti bertanding seri lagi."
"Benar, tapi Sam Gan Sin Kay berhasil melubangi lengan baju Kim Siauw Suseng dengan tongkat bambunya."
"Oh, ya?"
Lim Ceng Im tampak kurang percaya, sebab setahunya, Sam Gan Sin Kay dan Kim Siauw Suseng selalu bertanding seri, bagaimana mungkin kali ini Sam Gan Sin Kay bisa berhasil melubangi lengan baju Kim Siauw Suseng?
Namun ia tidak banyak bertanya lagi tentang itu, cuma menjelaskan.
"Kakak Hiong, Sam Gan Sin Kay dan Kim Siauw Suseng sangat tersohor dalam rimba persilatan, mereka berdua adalah Bu Lim Ji Khie."
Tio Cie Hiong mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Rimba persilatan masa kini terdapat It Ceng, Ji Khie dan Sam Mo."
Lanjut Lim Ceng Im memberitahukan.
"It Ceng adalah Lam Hai Sin Ceng (Padri Sakti Laut Selatan), Ji Khie adalah Sam Gan Sin Kay (Pengemis Sakti Mata Tiga) dan Kim Siauw Suseng (Sastrawan Suling Emas). Sam Mo (Tiga Iblis) adalah Tang Hai Lo Mo (Iblis Tua Laut Timur), Thian Mo (Iblis Langit) dan Te Mo (Iblis Neraka) yang sangat kejam."
"Siapa yang berkepandaian paling tinggi?"
Tanya Tio Cie Hiong mendadak.
"Selama puluhan tahun, Ji Khie dan Sam Mo tidak pernah bertanding lagi dengan Lam Hai Sin Ceng, sebab Lam Hai Sin Ceng selalu mengalah. Namun Ji Khie pernah bertanding dengan Sam Mo, kepandaian mereka boleh dikatakan seimbang."
"Kalau begitu, Lam Hai Sin Ceng berkepandaian paling tinggi?!"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Kenapa engkau mengatakan begitu?"
Lim Ceng Im heran.
"Sebab Lam Hai Sin Ceng mau mengalah dan bersabar, maka aku yakin Lam Hai Sin Ceng berkepandaian paling tinggi."
Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Adik Im!"
Tio Cie Hiong menatapnya seraya bertanya.
"Kenapa engkau mau jadi pengemis?"
"Aku memang pengemis,"
Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Sebab ayahku ketua Partai Pengemis!"
"Ayahmu ketua Kay Pang?"
Tio Cie Hiong terbelalak.
"Karena itu...."
Lim Ceng Im menghela nafas.
"Aku harus menjadi pengemis."
"Apakah tidak boleh berpakaian biasa?"
"Boleh. Tapi..... Lim Ceng Im menggelenggelengkan kepala.
"Belum waktunya aku berpakaian biasa."
"Kenapa?"
Tio Cie Hiong tercengang.
"Itu peraturan Kay Pang, maka aku harus menuruti peraturan itu,"
Sahut Lim Ceng Im, kemudian menatap Tio Cie Hiong dalam-dalam.
"Ohya, engkau... sering berduaan dengan anak gadis itu?"
"Maksudmu Gouw Sian Eng?"
"Ya."
"Tidak begitu sering, namun tiap malam hari, aku pasti mengajarinya ilmu sastra,"
Ujar Tio Cie Hiong jujur.
"Bahkan aku pun sering melihat dia berlatih."
"Wah! Asyik sekali dong!"
Wajah Lim Ceng Im tampak berubah.
"Asyik bagaimana?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Itu berarti kalian sering berduaan. Bukankah asyik sekali?"
Sahut Lim Ceng Im sambil mencibir.
"Ya, bisa dibilang begitu... lagi pula dia yang sering minta petunjuk padaku."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Anak gadis itu sering minta petunjuk kepadamu?"
Lim Ceng Im mengerutkan kening.
"Petunjuk mengenai apa?"
"Ilmu pukulan dan ilmu pedang!"
"Apa?"
Lim Ceng Im terbeliak.
"Katanya engkau tidak pernah belajar ilmu silat, tapi bisa memberi petunjuk padanya. Itu sungguh membingungkan!"
"Adik Im!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Terus terang, aku pernah belajar semacam Iweekang yang menyehatkan tubuh dari sebuah kitab tipis. Di dalam kitab tipis itu juga terdapat urai-uraian mengenai ilmu pukulan, pedang dan lain sebagainya."
Lim Ceng Im menatapnya dalam-dalam, kemudian tersenyum.
"Kakak Hiong, tentunya engkau juga tidak berkeberatan memberi petunjuk padaku kan?"
"Engkau anak ketua Kay Pang, bagaimana mungkin...."
"Engkau sering memberi petunjuk kepada gadis itu, kenapa tidak mau memberi petunjuk kepadaku?"
Tanya Lim Ceng Im tidak senang sambil cemberut.
"Eh?"
Tio Cie Hiong tertawa kecil.
"Engkau mulai cemberut lagi!"
"Kenapa engkau tidak mau memberi petunjuk kepadaku?"
"Ayahmu ketua Kay Pang, sudah pasti berkepandaian tinggi, maka aku mana berani memberi petunjuk kepadamu?"
"Kakak Hiong, pokoknya engkau harus memberi petunjuk kepadaku."
Desak Lim Ceng Im, kemudian ia mengambil sebatang ranting.
"Kakak Hiong, aku akan memperlihatkan Tah Kauw Kun Hoat (Ilmu Tongkat Pemukul Anjing). Ilmu tongkat itu sangat lihay dan hebat, merupakan ilmu tongkat andalan ayahku."
Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil tersenyum, sedangkan Lim Ceng Im sudah mulai memperlihatkan Tah Kauw Kun Hoat. Berselang beberapa saat, Lim Ceng Im berhenti lalu memandang Tio Cie Hiong.
"Bagaimana, Kakak Hiong?"
Tanyanya sambil tersenyum.
"Aku telah usai memperlihatkan tujuh belas jurus Tah Kauw Kun Hoat."
"Memang lihay sekali,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Tujuh belas jurus Tah Kauw Kun Hoat itu bersifat menyerang, tapi apabila bertarung dengan orang berkepandaian tinggi, engkau justru akan celaka."
"Oh? Apa sebabnya?"
"Sebab dalam jurus-jurus itu terdapat celah yang dapat diserang, dan engkau tidak bisa menangkis maupun berkelit, karena engkau terus menyerang,"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Oh, ya?"
Lim Ceng Im kurang percaya.
"Adik Im!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Jurus pertama yang kau perlihatkan itu terdapat celah bagi pihak lawan Bagian 6 untuk balas menyerang secara mendadak. Anggaplah aku lawanmu, engkau menyerangku dengan jurus pertama, aku bergerak dengan cara demikian...."
Tio Cie Hiong menggerakkan kaki dan tangannya.
"Nah! Bukankah kaki kananmu yang di depan terkunci oleh kaki kananku, sedangkan tanganmu yang kanan terkunci oleh tangan kiriku? Kalau aku menjulurkan sepasang tanganku, bukankah dadamu akan terpukul?"
"Haaah?"
Mendengar itu, Lim Ceng Im terkejut bukan main, sebab gerakan Tio Cie Hiong itu dapat memecahkan jurus pertama Tah Kauw Kun Hoatnya.
"Jurus kedua... jurus ketujuh belas...."
Tio Cie Hiong terus menjelaskan, sekaligus memperlihatkan gerakannya. Lim Ceng Im mendengarkan dan menyaksikan gerakan-gerakan itu dengan mata terbelalak.
"Kakak Hiong...,"
Ujarnya kemudian sambil menatapnya kagum.
"Engkau kok begitu luar biasa? Padahal selama puluhan tahun ini, tiada seorang pun yang mampu memecahkan Tah Kauw Kun Hoat. KUrasa engkau dapat memperbaiki jurus-jurus Tah Kauw Kun Hoatku."
"Adik Im!"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu merupakan ilmu tongkat andalan ayahmu, aku mana berani sembarangan memperbaikinya?"
"Itu urusan ayahku, ini urusanku,"
Sahut Lim Ceng Im.
"Kakak Hiong! Ayolah... Perbaiki jurusjurus Tah Kauw Kun Hoatku."
"Adik Im...."
Tio Cie Hiong memandangnya, lama sekali barulah ia mengangguk.
"Kakak Hiong, terimakasih!"
Ucap Lim Ceng Im dengan wajah berseri. Sedangkan Tio Cie Hiong mulai memberi petunjuk kepadanya dengan menambah beberapa gerakan dalam jurus-jurus Tah Kauw Kun Hoat.
"Adik Im!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kini Tah Kauw Kun Hoatmu sudah lebih lihay lagi."
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im menatapnya takjub.
"Kok engkau begitu luar biasa sih?"
Tio Cie Hiong tidak menyahut, melainkan cuma tersenyum-senyum. Berselang sesaat, barulah berkata sungguh-sungguh.
"Adik Im, janganlah engkau takabur karena ilmu tongkat bertambah lihay, sebab takabur akan membuatmu lupa daratan."
"Kakak Hiong, percayalah!"
Lim Ceng Im tertawa kecil.
"Aku tidak akan begitu."
"Syukurlah!"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Ohya, Kakak Hiong!"
Lim Ceng Im menatapnya dengan penuh harap.
"Bolehkah aku mengikutimu ke gunung Cing San?"
"Tidak boleh."
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
Lim Ceng Im cemberut.
"Tiada persetujuan dari ayahmu, engkau tidak boleh ikut aku ke gunung Cing San,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Itu tidak apa-apa. Ayahku tidak akan tahu."
"Justru ayahmu tidak tahu, maka engkau tidak boleh ikut."
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im membanting-bantingkan kaki. Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara dehem dari kejauhan di belakang mereka. Begitu mereka menoleh, tampak seorang pengemis telah berdiri di situ.
"Ayah...."
Wajah Lim Ceng Im langsung berubah.
"Bagus! Bagus!"
Sahut pengemis itu, yang tidak lain Lim Peng Hang, Si Tongkat Maut ketua Kay Pang.
"Engkau mau minggat ya?"
"Ayah, aku tidak minggat."
Ujar Lim Ceng Im dengan wajah memerah.
"Melainkan ingin ikut dia ke gunung Ciang San."
"Tidak boleh."
Lim Peng Hang menggelengkan kepala.
"Oooh!"
Tiba-tiba Tio Cie Hiong teringat akan pengemis itu.
"Ternyata Paman pengemis yang waktu itu ya, kebetulan sekali."
"Apa yang kebetulan?"
Tanya Lim Peng Hang heran.
"Aku sudah mempunyai uang, kita bagi dua saja, ya,"sahut Tio Cie Hiong.
"Jadi Paman tidak usah menahan lapar."
"Eeeh?"
Lim Peng Hang melotot.
"Engkau berani menghinaku?"
"Paman!"
Tio Cie Hiong tercengang.
"Bukankah dua tahun lalu Paman pernah minta uang kepadaku? Sekarang aku akan membagikan uangku kepada Paman, kok Paman malah berkata begitu?"
"Bagus! Bagus!"
Lim Peng Hang tertawa gelak.
"Mana uangmu?"
Tio Cie Hiong mengeluarkan uangnya, kemudian dibagikannya kepada Lim Peng Hang.
"Paman!"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Tolong bagikan juga kepada pengemis lain, agar mereka pun tidak kelaparan."
"Kalau begitu...."
Lim Peng Hang tersenyum.
"Uangmu harus dibagikan kepadaku lagi separuh, sebab aku harus mewakilimu membagikan kepada pengemis lain."
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Ayah kok begitu serakah?"
Tegur Lim Ceng Im.
"Siapa bilang ayah serakah?"
Lim Peng Hang melotot.
"Bukankah ayah harus membagikan lagi kepada pengemis lain?"
"Tapi dia masih harus melanjutkan perjalanan,dan membutuhkan uang,"
Sahut Lim Ceng Im.
"Adik Im!"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Itu tidak apa-apa, sebab sisa uang ini masih cukup untukku."
"Benar! Benar!"
Lim Peng Hang tertawa gelak, kemudian menarik Lim Ceng Im.
"Terima kasih ya, Mari kita pergi!"
Tanpa basa-basi lagi.
"Tidak mau!"
Lim Ceng Im tidak mau beranjak dari tempatnya.
"Adik Im!"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Tidak baik melawan orang tua, ikutlah ayahmu pulang!"
"Tapi... kita akan berpisah lagi."
Wajah Lim Ceng Im tampak murung.
"Kita akan berjumpa kembali kelak, percayalah..."
Sahut Tio Cie Hiong.
"Kakak Hiong...."
Mata Lim Ceng Im bersimbah air.
"Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa, Adik Im!"
Tio Cie Hiong memandangnya sambil tersenyum lembut.
Setelah Lim Ceng Im dan ketua Kay Pang itu lenyap dari pandangannya, barulah Tio Cie Hiong meninggalkan tempat itu melanjutkan perjalanannya ke gunung Cing San.
Begitu sampai di halaman markas, pusat Kay Pang.
Lim Ceng Im membanting-bantingkan kakinya, kemudian menggerutu.
"Ayah jahat! Setiap kali aku bertemu dia, ayah pasti menyuruhku pulang!"
"Nak!"
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau masih kecil, tunggulah beberapa tahun lagi, aku pasti melepaskanmu berkelana dalam rimba persilatan."
"Aku hanya mau ikut dia ke gunung Cing San, tapi ayah melarangku. Aku... benci ayah!"
"Nak!"
Lim Peng Hang menarik nafas.
"Ayah setuju engkau bergaul dengannya, tapi harus tunggu beberapa tahun lagi. Sekarang ini engkau harus giat belajar."
"Ayah!"
Mendadak sepasang mata Lim Ceng Im berbinar-binar.
"Kelak bolehkah aku selalu bersamanya?"
"Tentu boleh."
Lim Peng Hang mengangguk.
"Tapi sekarang engkau harus menyerahkan segenap perhatianmu belajar ilmu silat."
Wajah Lim Ceng Im berseri.
"Ohya! Apakah tujuh belas jurus Tah Kauw Kun Hoat yang kuajarkan kepadamu itu telah kau kuasai?"
Tanya Lim Peng Hang mendadak.
"Ayah!"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Aku sudah dapat menguasai semua jurus itu."
"Kalau begitu, coba perlihatkan pada ayah!"
Ujar Lim Peng Hang sambil menyerahkan tongkat bambunya kepada Lim Ceng Im.
Lim Ceng Im mengangguk.
Setelah menerima tongkat bambu itu, ia pun mulai bergerak, dan seketika tongkat bambu itu berkelebatan laksana kilat.
Lim Peng Hang menyaksikannya dengan mata terbeliak lebar, sebab Tah Kauw Kun Hoat yang diperlihatkan Lim Ceng Im agak berbeda, jauh lebih lihay dari Tah Kauw Kun Hoat yang diajarkannya.
"Ceng Im!"
Lim Peng Hang menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Tah Kauw Kun Hoat yang kau perlihatkan itu kok agak lain?"
"Bagaimana menurut Ayah?"
Tanya Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Bertambah lihay,"
Sahut Lim Peng Hang dan bertanya.
"Lo cianpwee mana yang menambahkan gerakan-gerakan itu?"
"Bukan lo cianpwee, melainkan siauw cianpwee,"
Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum geli.
"Maksudmu?"
Lim Peng Hang terheran-heran.
"Cianpwee kecil yang mana?"
"Itu... anak lelaki tuh!"
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Apa?"
Mulut Lim Peng Hang ternganga lebar.
"Dia... dia yang menambahkan gerakan-gerakan itu dalam jurus Tah Kauw Kun Hoat?"
"Ya."
Lim Ceng Im mengangguk.
"Memang dia. Aku sendiri pun tidak habis pikir, kenapa dia mampu menciptakan gerakan-gerakan untuk menyempurnakan Tah Kauw Kun Hoat itu."
"Ceng Im! Siapa dia?"
"Namanya Tio Cie Hiong."
"Dia... dia anak sakti yang dimaksudkan kakekmu!"
Ujar Lim Peng Hang sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Dia pula yang menyempurnakan Sam Ciat Kun Hoat!"
"Oh?"
Mendengar ucapan itu, Lim Ceng Im semakin kagum pada Tio Cie Hiong.
"Dia memang sangat luar biasa sekali. Dia tidak mau belajar ilmu silat, tapi justru mampu menciptakan gerakan-gerakan ilmu silat yang begitu lihay. Dia juga memberitahukan, bahwa dia pernah belajar semacam ilmu lweekang dari sebuah kitab tipis. Dalam kitab tipis itu juga terdapat berbagai uraian tentang pukulan, pedang dan lain sebagainya."
"Nak!"
Mendadak Lim Peng Hang tertawa.
"Kenapa Ayah tertawa?"
Lim Ceng Im heran.
"Kakekmu bilang...."
Lim Peng Hang menatapnya lagi dan tertawa lagi.
"Ayah kenapa sih?"
Lim Ceng Im cemberut.
"Misterius amat! Sebetulnya ada apa?"
"Kakekmu pernah bilang, dia akan menjodohkanmu dengan Tio Cie Hiong kelak."
Lim Peng Hang memberitahukan.
"Kakek jahat!"
Wajah Lim Ceng Im langsung memerah.
"Ooo... Jadi engkau tidak suka dijodohkan dengan Tio Cie Hiong? Baiklah! Ayah akan memberitahukan kepada kakekmu!"
"Ayah...."
Kalutlah Lim Ceng Im.
"Jangan begitu...."
"Maksudmu bersedia dijodohkan dengannya?"
Tanya Lim Peng Hang sambil tersenyum-senyum.
"Ayah...."
Lim Ceng Im langsung berlari ke dalam.
Lim Peng Hang, ketua Kay Pang itu tertawa gelak sambil memandang punggung Lim Ceng Im, lalu berjalan ke dalam dengan wajah berseri-seri.
Dua hari kemudian, Tio Cie Hiong telah tiba di sebuah desa kecil.
Dari desa kecil dia dapat melihat Gunung Cing San yang menjulang tinggi.
Dia bertanya kepada penduduk desa mengenai Suan Hong Tong (Gua Angin Puyuh) itu, agar tidak tersesat di Gunung Cing San.
"Apa?!"
Salah seorang penduduk desa yang berusia lanjut tampak terkejut.
"Anak muda, engkau mau ke Goa Angin Puyuh itu?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Aku ingin menemui seseorang di sana."
"Anak muda!"
Orang tua berusia lanjut itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Lebih baik engkau jangan ke sana!"
Dua hari kemudian, Tio Cie Hiong telah tiba di sebuah desa kecil.
Dari desa kecil dia dapat melihat Gunung Cing San yang menjulang tinggi.
Dia bertanya kepada penduduk desa mengenai Suan Hong Tong (Gua Angin Puyuh) itu, agar tidak tersesat di Gunung Cing San.
"Apa?!"
Salah seorang penduduk desa yang berusia lanjut tampak terkejut.
"Anak muda, engkau mau ke Goa Angin Puyuh itu?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Aku ingin menemui seseorang di sana."
"Anak muda!"
Orang tua berusia lanjut itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Lebih baik engkau jangan ke sana!"
"Kenapa, Paman tua?"
Tio Cie Hiong tercengang.
"Sebab ada siluman di dalam goa itu. Tiga hari sekali kami harus membawa puluhan ekor ayam ke sana. Kalau tidak, siluman itu pasti membunuh kami."
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Paman tua, beritahukan saja kepadaku di mana goa itu!"
"Anak muda...."
Orang tua berusia lanjut itu menggeleng-gelengkan kepala, tapi akhirnya memberitahukan juga berada di mana Goa Angin Puyuh itu.
"Terimakasih, Paman tua!"
Ucap Tio Cie Hiong, lalu melanjutkan perjalanannya ke goa tersebut. Setelah hari mulai malam, barulah Tio Cie Hiong sampai di depan goa itu. Tak lama kemudian terdengar suara desiran di dalam goa.
"Cianpwee, aku ingin bertemu...!!"
Seru Tio Cie Hiong.
"Siapa engkau anak muda? Mau apa engkau ke mari?"
Terdengar suara sahutan dari dalam goa.
"Namaku Tio Cie Hiong. Apakah cianpwee Tok Pie Sin Wan?"
Tanya Tio Cie Hiong.
Tiada suara sahutan, namun mendadak berkelebat sosok bayangan dari dalam goa.
Seorang tua berlengan satu, rambutnya awut-awutan berdiri di hadapan Tio Cie Hiong, dan menatapnya tajam.
"Siapa yang memberitahukan kepadamu bahwa aku Tok Pie Sin Wan?"
Tanya orang tua itu.
"Kim Siauw Suseng."
Jawab Tio Cie Hiong. Kening Tok Pie Sin Wan berkerut.
"Kenapa dia memberitahukan tentang diriku?"
"Sebab cianpwee teman baik Ku Tok Lojin. Aku ingin bertanya kepada cianpwee di manakah Ku Tok Lojin berada?"
"Ada hubungan apa engkau dengan Ku Tok Lojin?"
"Tiada hubungan apa-apa. Tapi..., Ku Tok Lojin tahu siapa kedua orang tuaku, maka aku harus bertanya kepadanya."
Tok Pie Sin Wan menatapnya, kemudian mengajak Tio Cie Hiong masuk ke goa.
"Mari ikut aku ke dalam!"
Tio Cie Hiong mengangguk, lalu mengikuti Tok Pie Sin Wan ke dalam goa.
Ruangan goa itu cukup terang karena ada beberapa buah lampu minyak bergantung di dinding goa.
Di sana tampak pula belasan ekor ayam di dalam kurungan.
"Duduklah!"
Ujar Tok Pie Sin Wan.
"Terimakasih!"
Ucap Tio Cie Hiong lalu duduk di hadapannya.
"Anak muda!"
Tok Pie Sin Wan menatapnya dalam-dalam.
"Jadi engkau tidak tahu siapa kedua orang tuamu?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Benarkah Ku Tok Lojin tahu siapa kedua orang tuamu?"
Tanya Tok Pie Sin Wan.
"Benar atau tidak, aku tidak tahu. Namun sebelum pamanku meninggal, dia berpesan kepadaku harus menemui Ku Tok Lojin, karena Ku Tok Lojin akan memberitahukan siapa kedua orang tuaku."
"Ooooh!"
Tok Pie Sin Wan manggut-manggut.
"Cianpwee, beritahukanlah padaku di mana Ku Tok Lojin berada?"
Ujar Tio Cie Hiong penuh harap.
"Kalau begitu, engkau harus ke Gunung Heng San Lembah Kesepian, sebab dia tinggal di sana."
Tok Pie Lojin memberitahukan.
"Aku sudah ke sana, tapi Ku Tok Lojin telah meninggalkan lembah itu."
Ujar Tio Cie Hiong.
"Maka aku ke mari bertanya kepada Cianpwee."
Tok Pie Sin Wan menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu, aku pun tidak tahu di mana dia berada."
"Bukankah Cianpwee teman baiknya?"
"Benar."
Tok Pie Sin Wan mengangguk.
"Maka aku tahu dia tinggal di lembah itu. Namun kalau dia telah meninggalkan lembah itu, aku pun tidak bisa tahu kemana dia pergi."
"Aaakh...!"
Keluh Tio Cie Hiong.
"Puluhan tahun lalu, kami memang merupakan teman akrab."
Tok Pie Sin Wan memberitahukan.
"Tapi sejak isterinya meninggalkannya, sifatnya berubah aneh dan Sering marah-marah, akhirnya kedua putrinya meninggalkannya. Sejak itulah dia hidup kesepian."
"Cianpwee, siapa kedua putrinya?"
"Lie Hui Hong dan Lie Mei Hong. Kemudian Lio Hui Hong menikah dengan Hui Kiam Bu Tek-Tio It Seng, namun Lie Mei Hong tiada kabar beritanya."
Ujar Tok Pie Sin Wan dan menambahkan.
"Sedangkan aku sudah hampir lima belas tahun tinggal di dalam goa ini. Aaaakh...!"
"Cianpwee!"
Tio Cie Hiong menatapnya heran.
"Kenapa cianpwee menarik nafas panjang?"
"Selama lima belas tahun, aku sama sekali tidak berani keluar pada siang hari."
"Kenapa?"
"Lima belas tahun lampau, aku telah salah mempelajari semacam ilmu Iweekang, sehingga membuat tubuhku tidak tahan akan sinar mata hari, rasanya seperti terbakar."
Tok Pie Sin Wan menghela nafas lagi.
"Dan juga dua tiga hari sekali aku pasti merasa dingin sekali, karena itu, aku sudah menghisap darah ayam, anjing dan kelinci agar tidak merasa dingin."
"Pantas penduduk di desa itu harus menyediakan ayam untuk cianpwee, ternyata begitu!"
Ujar Tio Cie Hiong dan menatapnya.
"Cianpwee, betulkah cianpwee akan membunuh mereka, kalau mereka tidak menyediakan ayam?"
"Tentu tidak."
Tok Pie Sin Wan menggelengkan kepala.
"Aku terpaksa mengancam mereka, agar mereka mau menyediakan ayam untukku."
Tio Cie Hiong menarik nafas lega.
"Anak muda! Apakah engkau murid Kim Siauw Suseng?"
Tanya Tok Pie Sin Wan mendadak.
"Bukan."
"Kalau begitu, engkau murid siapa?"
"Aku bukan murid siapa-siapa."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Aku tidak tertarik akan ilmu silat. Kalau aku sudah berhasil mencari Ku Tok Lojin dan tahu siapa kedua orang tuaku, aku malah akan tinggal di tempat yang sepi, Cianpwee, maaf! Aku mohon berpamit!"
Ujar Tio Cie Hiong sambil bangkit berdiri.
"Lebih baik engkau berangkat esok pagi saja. Sekarang hari sudah malam."
Ujar Tok Pie Sin Wan mengusulkan.
"Engkau boleh tinggal di dalam goa ini."
"Terimakasih, Cianpwee!"
Tio Cie Hiong duduk kembali.
"Anak muda, kalau engkau mau tidur sekarang, tidurlah di atas jerami itu agar engkau tidak kedinginan!"
Ujar Tok Pie Sin Wan.
"Terima kasih, Cianpwee!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Aku cukup duduk bersemadi di sini saja!"
"Duduk bersemadi?"
Tok Pie Sin Wan tampak tercengang.
"Engkau bisa tidur dalam keadaan bersemadi?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk, lalu memejamkan matanya dan mulai bersemadi.
Tok Pie Sin Wan memandangnya dengan mulut ternganga lebar.
Tak seberapa lama kemudian, Tio Cie Hiong kelihatan telah pulas dalam keadaan bersemadi.
Tok Pie Sin Wan terkejut bukan main, sebab Tio Cie Hiong bisa menarik nafasnya begitu dalam, dan menghembuskannya begitu lama.
Itu pertanda Tio Cie Hiong telah memiliki semacam Iweekang yang amat tinggi.
Itu sungguh di luar dugaan Tok Pie Sin Wan.
Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil bangkit berdiri.
"Cianpwee mau ke mana?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil membuka matanya.
"Hah...?"
Tok Pie Sin Wan tersentak, sebab tadi ia bangkit tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, tapi Tio Cie Hiong bisa mendengarnya walau dalam keadaan tidur. Itu sungguh mengejutkannya.
"Cianpwee mau pergi tidur ya?"
Tanya Tio Cie Hiong. Tok Pie Sin Wan tidak menjawab, namun malah balik bertanya sambil menatapnya dengan mata terbeliak lebar.
"Engkau bisa mendengar suaraku dalam keadaan tidur?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kenapa bisa begitu?"
Tanya Top pie sin wan heran "Entahlah"
Jawab Tio Cie Hiong sambil tersenyum kemudian matanya kembali menutup dan tertidur lagi. Esok harinya Ketika hari sudah terang, Tio Cie Hiong berpamit.
"Cianpwee, aku mohon diri!"
"Anak muda! Hati-hatilah engkau menjaga diri!"
Pesan Tok Pie Sin Wan.
"Ya, Cianpwee!"
Tio Cie Hiong mengangguk, kemudian meninggalkan goa itu.
Tok Pie Sin Wan tidak berani mengantar keluar, karena takut akan sinar matahari.
Setelah meninggalkan Goa Angin Puyuh, Tio Cie Hiong melanjutkan perjalanan tanpa arah tujuan.
Beberapa hari kemudian, ia memasuki sebuah rimba yang penuh pohon bambu.
Mendadak terdengar suara tawa yang sangat menyeramkan, maka Tio Cie Hiong segera berhenti.
Setelah suara tawa seram itu sirna, muncullah dua orang, yang masing-masing berwajah hitam dan putih.
"Bocah, kemarilah dan katakan siapa namamu?"
Tanya orang berwajah hitam.
"Namaku Tio Cie Hiong,"
Jawabnya dan bertanya.
"Siapa Cianpwee berdua?"
"Kami adalah Hek Pek Siang Koay,"
Sahut Siluman Putih sambil tertawa seram melengking.
"Kebetulan engkau ke mari, maka engkau harus menjadi pelayan kami."
"Maaf, Cianpwee!"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Aku tidak mau menjadi pelayan kalian."
"Harus mau!"
Bentak Hek Pek Siang Koay (Sepasang Siluman Hitam Putih) serentak.
"Maaf, Cianpwee...."
"Siluman Hitam, mari kita tangkap dia!"
Ujar Siluman Putih.
"Baik!"
Siluman Hitam menangguk.
Kedua siluman itu langsung menangkap Tio Cie Hiong.
Sepasang lengannya tercengkeram oleh kedua siluman itu.
Akan tetapi, mendadak Tio Cie Hiong meronta, sehingga terlepas dari cengkeraman mereka, lalu berlari kabur.
"He he he!"
Hek Pek Siang Koay tertawa terkekeh.
"Bocah, engkau mau lari ke mana?"
Kedua siluman itu melesat ke hadapan Tio Cie Hiong, maka Tio Cie Hiong terhadang.
"Bocah! Lebih baik engkau menjadi pelayan kami!"
Ujar Siluman Hitam.
"Kalau engkau melawan, kami pasti membunuhmu!"
Kedua siluman itu langsung menangkap Tio Cie Hiong.
Sepasang lengannya tercengkeram oleh kedua siluman itu.
Akan tetapi, mendadak Tio Cie Hiong meronta, sehingga terlepas dari cengkeraman mereka, lalu berlari kabur.
"He he he!"
Hek Pek Siang Koay tertawa terkekeh.
"Bocah, engkau mau lari ke mana?"
Kedua siluman itu melesat ke hadapan Tio Cie Hiong, maka Tio Cie Hiong terhadang.
"Bocah! Lebih baik engkau menjadi pelayan kami!"
Ujar Siluman Hitam.
"Kalau engkau melawan, kami pasti membunuhmu!"
"Cianpwee! Kita tidak bermusuhan, kenapa Cianpwee berniat membunuhKu?"
Tanya Tio Cie Hiong dengan kening berkerut.
"Itu kalau engkau tidak mau menjadi pelayan kami!"
Sahut Siluman Putih.
"Bocah, kami memang membutuhkan seorang pelayan, kebetulan engkau ke mari, maka engkau harus menjadi pelayan kami! Apabila engkau menolak, kami pasti membunuhmu"
"Cianpwee...."
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Engkau menolak?"
Bentak Siluman Hitam.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Siluman Putih! Dia tidak mau menurut, mari kita bunuh saja dia!"
Ujar Siluman Hitam.
"Ha ha ha!"
Siluman Putih tertawa.
"Itu sudah pasti!"
Tio Cie Hiong terkejut bukan main. Ia tidak tahu harus berbuat apa, sehingga berdiri mematung di tempat. Sedangkan Hek Pek Siang Koay telah mengayunkan tangan mereka. Buk! Buk! "Aaaakh...!"
Jerit Tio Cie Hiong. Dadanya telah terpukul dengan amat keras. Tio Cie Hiong terkapar dalam keadaan pingsan, sedangkan Hek Pek Siang Koay tertawa terkekeh-kekeh.
"Hek Pek Slang Koay!"
Mendadak terdengar bentakan nyaring.
"Kalian berdua begitu kejam, maka hari ini kalian berdua harus mampus!"
Hek Pek Siang Koay terkejut. Sekonyong-konyong melayang turun sosok bayangan putih, yang ternyata Pek ih Mo Li. Siluman Hitam tertawa terkekeh-kekeh.
"Ada wanita cantik datang!"
"Siluman Hitam, kita sungguh beruntung hari ini!"
Sahut Siluman Putih sambil menatap Pek Ih Mo Li.
"Dia begitu cantik, mari kita tangkap dia, lalu kita telanjangi agar kita bisa menyaksikan tubuhnya yang indah itu!"
"Hek Pek Siang Koay"
Bentak Pek ih Mo Li gusar.
"Ajal kalian hampir tiba, tapi kalian masih berani berbicara kurang ajar!"
Siluman Hitam tertawa melengking.
"Jangan galak-galak! Ohya, bagaimana kalau engkau menjadi pelayan kami?"
"Hek Pek Siang Koay!"
Mata Pek Ih Mo Li berapi-api.
"Kalian berdua bersiap-siaplah untuk mampus!"
Siluman Hitam mengerutkan kening.
"Siapa engkau? berani omong besar di hadapan kami?"
"Aku Pek Ih Mo Li!"
Sahutnya sepatah demi sepatah sambil menghunus pedangnya.
"Pek Ih Mo Li?"
Hek Pek Siang Koay saling memandang. Ternyata mereka berdua tidak pernah mendengar nama itu.
"He he he!"
Siluman Putih tertawa terkekeh.
"Siluman Hitam, mari kita bunuh dia!"
Siluman Hitam mengangguk, lalu dengan mendadak kedua siluman itu menyerang Pek Ih Mo Li.
Pek Ih Mo Li tertawa dingin sambil berkelit, kemudian menggerakkan pedangnya membentuk beberapa buah lingkaran mengarah ke Hek Pek Siang Koay.
Bukan main terkejutnya Hek Pek Siang Koay.
Secepat kilat mereka mengelak, sekaligus balas menyerang lagi.
Sekonyong-konyong Pek Ih Mo Li melesat ke atas, dan berjungkir balik sambil menggerakkan pedangnya membentuk puluhan lingkaran kecil.
"Aaaakh...!"
Jerit Hek Pek Siang Koay.
Ternyata bahu mereka telah terluka oleh pedang Pek Ih Mo Li sehingga mengucurkan darah.
Pek Ih Mo Li sudah melayang turun.
Ia memandang Hek Pek Siang Koay dengan wajah dingin.
"Satu jurus lagi kalian berdua pasti mati di ujung pedangku!"
Bentak Pek Ih Mo Li.
Hek Pek Siang Koay segera mengeluarkan senjata masing-masing.
Tadi mereka berdua terlampau meremehkan lawan, maka hanya cuma menggunakan sepasang tangan kosong saja.
Oleh karena itu, bahu mereka terluka oleh pedang Pek ih Mo Li.
Betapa gusarnya Hek Pek Siang Koay.
Setelah mengeluarkan senjata, mereka berdua langsung menyerang Pek Ih Mo Li.
Terjadilah pertempuran yang amat sengit dan dahsyat.
Tampak kedua senjata Hek Pek Siang Koay berkelebatan mengarah ke Pek Ih Mo Li.
Akan tetapi pedang Pek Ih Mo Li mulai membentuk lingkaran besar dan lingkaran kecil.
Beberapa jurus kemudian, terdengarlah suara jeritan Hek Pek Siang Koay yang menyayatkan hati.
"Aaaakh...! "Aaaakh...!"
Hek Pek Siang Koay terkapar dengan dada berlumuran darah.
Ternyata dada mereka telah tertembus pedang Pek Ih Mo Li, dan nyawa mereka pun melayang seketika.
Setelah membunuh Hek Pek Siang Koay, Pek Ih Mo Li mendekati Tio Cie Hiong yang dalam keadaan pingsan.
Pek Ih Mo Li tertegun.
Ia ingat pernah melihatnya di Ekspedisi Harimau Terbang.
Betapa terkejutnya Pek Ih Mo Li ketika menyaksikan wajahnya yang pucat pias.
Ia segera membuka bajunya.
Tampak bekas dua telapak tangan kehijau-hijauan di dadanya.
"Ngo Tok Ciang...."
Ia telah tahu, Siapa yang terkena pukulan Ngo Tok Ciang, dalam waktu beberapa jam kemudian pasti mati.
Itu sungguh membuat Pek Ih Mo Li kacau dan resah, sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara yang sangat halus.
"Omitohud!"
Pek Ih Mo Li terkejut bukan main dan segera menoleh. Dilihatnya seorang padri tua berwajah pengasih dan berjenggot sebatas dada berdiri di situ. Begitu melihat padri tua itu, Pek Ih Mo Li tersentak.
"Apakah aku berhadapan dengan Lam Hai Sin Ceng?"
"Omitohud! Engkau tentu Pek Ih Mo Li,"
Sahut padri tua. Memang tidak salah, padri tua itu adalah Bu Lim It Ceng.
"Sin Ceng, tolonglah anak itu!"
Ujar Pek Ih Mo Li memohon.
"Engkau kenal dia?"
Tanya Lam Hai Sin Ceng.
"Aku pernah melihatnya di Ekspedisi Harimau Terbang."
Pek Ih Mo Li memberitahukan.
"Dia anak baik, maka aku mohon Sin Ceng sudi menolongnya!"
"Omitohud!"
Lam Hai Sin Ceng mendekati Tio Cie Hiong yang masih dalam keadaan pingsan. Ketika melihat bekas sepasang telapak tangan di dada Tio Cie Hiong, kening padri tua berkerut.
"Ngo Tok Ciang!"
Lam Hai Sin Ceng membungkukkan badannya, lalu menjulurkan tangannya untuk menotok jalan darah di dada Tio Cie Hiong, agar racun tidak menjalar ke jantung.
Akan tetapi, ketika jari tangannya menyentuh dada Tio Cie Hiong, padri tua itu tampak tertegun.
"Sin Ceng! Bagaimana? Apakah dia masih bisa ditolong?"
Tanya Pek-Ih Mo Li tegang.
"Omitohud! Ini sungguh di luar dugaan dan luar biasa sekali."
Sahut Lam Hai Sin Ceng.
"Kenapa, Sin Ceng?"
Pek Ih Mo Li heran.
"Anak ini telah memiliki semacam Iweekang yang amat tinggi, maka jantungnya terlindung oleh Iweekang itu."
Lam Hai Sin Ceng memberitahukan.
"Tapi dia tetap harus diobati."
"Sin Ceng bisa mengobatinya?"
"Tidak bisa. Namun ada satu orang bisa mengobatinya."
"Siapa orang itu?"
"Sok Beng Yok Ong, Hanya dia yang bisa memusnahkan racun Ngo Tok itu."
"Yok Ong itu tinggal di mana?"
"Di kaki Gunung Wu San."
Lam Hai Sin Ceng memberitahukan.
"Lembah Persik, engkau harus segera membawa anak itu ke sana! Tapi...."
"Kenapa?"
"Sok Beng Yok Ong bersifat sangat aneh. Kalau dia tidak senang, jangan harap dia akan mengobati orang."
"Bolehkah aku bilang Sin Ceng yang menyuruhku ke sana?"
Tanya Pek Ih Mo Li mendadak.
"Tidak boleh."
Lam Hai Sin Ceng menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
Pek Ih Mo Li heran.
"Dia pasti tersinggung karena mengira engkau menggunakan namaku untuk menemukannya, maka urusan akan runyam karenanya."
"Kalau begitu...."
Pek Ih Mo Li mengerutkan kening.
"Apabila engkau bersungguh hati ingin menolong anak itu, tentunya Sok Beng Yok Ong pun akan mengobatinya. Percayalah!"
Ujar Lam Hai Sin Ceng sambil tersenyum. Pek Ih Mo Li mengangguk, lalu menggendong Tio Cie Hiong di punggungnya.
"Pek Ih Mo Li!"
Lam Hai Sin Ceng menatapnya dalam-dalam seraya berkata.
"Segala sesuatu memang telah merupakan takdir, maka aku harap engkau berhati-hati dalam tiga tahun ini, sebab menyangkut keselamatanmu."
Pek Ih Mo Li tersenyum.
"Terimakasih atas pesan Sin Ceng. Kalau itu telah merupakan takdir, berhati-hati pun akan terjadi."
"Omitohud!"
Ucap Lam Hai Sin Ceng, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Sin Ceng, sampai jumpa!"
Ucap Pek Ih Mo Li lalu melesat pergi.
"Pek Ih Mo Li, siapa gurumu?"
Tanya Lam Hai Sin Ceng dengan menggunakan Iweekang.
"Sin Ceng, guruku adalah Ciat Lun Sin Ni,"
Sahut Pek Ih Mo Li.
"Omitohud!"
Ucap Lam Hai Sin Ceng lagi. Padri tua itu berdiri termangu-mangu di tempat, bahkan kemudian juga menghela nafas dan bergumam.
"Ciat Lun Sin Ni, ternyata Pek Ih Mo Li adalah muridnya. Ciat Lun Sin Ni...."
Lembah itu penuh batu curam.
Namun sungguh mengherankan, di dalamnya terdapat sebuah bangunan yang sangat besar dan indah.
Para kaum Bu Lim mengetahui bahwa itu Thian Mo Kiong.
Selama puluhan tahun, tiada seorang kaum Bu Lim pun yang berani mendatangi lembah itu.
Sebab siapa yang masuk ke lembah itu, pasti tidak bisa keluar dengan selamat.
Di ruang tengah Istana Thian Mo Kiong, tampak tiga orang tua duduk bersila mengelilingi meja pendek.
Di atas meja pendek itu terdapat sebuah kotak putih yang bergemerlapan.
Sungguh indah kotak itu!
Siapa ketiga orang tua yang berwajah bengis dan kotak apa yang di atas meja pendek itu?
Ketiga orang tua itu adalah Bu Lim Sam Mo, sedangkan kotak putih yang bergemerlapan itu adalah Kotak Pusaka yang diperebutkan pada kaum Bu Lim.
"Telah belasan tahun kita bertanding untuk memperoleh Kotak Pusaka ini, Namun selama itu kita bertiga selalu bertanding seri,"
Ujar Tang Hai Lo Mo "Itu berarti kita telah membuang waktu dengan sia-sia!"
"Tang Hai Lo Mo!"
Sahut Thian Mo.
"Kita bertiga membunuh Hui Kiam Bu Tek dan isterinya, untuk memperoleh Kotak Pusaka ini. Tentunya kita bertiga harus bertanding pula, siapa yang menang, dialah yang berhak memperoleh Kotak Pusaka ini."
"Tidak salah"
Sambung Te Mo dengan suara parau.
"Kita harus terus bertanding hingga ada yang menang!"
Lembah itu penuh batu curam.
Namun sungguh mengherankan, di dalamnya terdapat sebuah bangunan yang sangat besar dan indah.
Para kaum Bu Lim mengetahui bahwa itu Thian Mo Kiong.
Selama puluhan tahun, tiada seorang kaum Bu Lim pun yang berani mendatangi lembah itu.
Sebab siapa yang masuk ke lembah itu, pasti tidak bisa keluar dengan selamat.
Di ruang tengah Istana Thian Mo Kiong, tampak tiga orang tua duduk bersila mengelilingi meja pendek.
Di atas meja pendek itu terdapat sebuah kotak putih yang bergemerlapan.
Sungguh indah kotak itu!
Siapa ketiga orang tua yang berwajah bengis dan kotak apa yang di atas meja pendek itu?
Ketiga orang tua itu adalah Bu Lim Sam Mo, sedangkan kotak putih yang bergemerlapan itu adalah Kotak Pusaka yang diperebutkan pada kaum Bu Lim.
"Telah belasan tahun kita bertanding untuk memperoleh Kotak Pusaka ini, Namun selama itu kita bertiga selalu bertanding seri,"
Ujar Tang Hai Lo Mo "Itu berarti kita telah membuang waktu dengan sia-sia!"
"Tang Hai Lo Mo!"
Sahut Thian Mo.
"Kita bertiga membunuh Hui Kiam Bu Tek dan isterinya, untuk memperoleh Kotak Pusaka ini. Tentunya kita bertiga harus bertanding pula, siapa yang menang, dialah yang berhak memperoleh Kotak Pusaka ini."
"Tidak salah"
Sambung Te Mo dengan suara parau.
"Kita harus terus bertanding hingga ada yang menang!"
"Kalau begitu, selamanya tiada seorang pun diantara kita yang akan memperoleh Kotak Pusaka ini"
Ujar Tang Hai Lo Mo sambil menggeleng-geleng kepala.
"Kenapa?"
Tanya Thian Mo dan Te Mo serentak.
"Karena kepandaian kita seimbang, maka selamanya kita bertiga pasti bertanding seri"
Jawab Tang Hai Lo Mo dan menambahkan.
"Kita bertiga beruntung telah memperoleh Kotak Pusaka peninggalan Pak Kek Siang Ong yang berisi kitab ilmu silatnya, tapi kita justru telah membuang-buang waktu belasan tahun."
"Ha ha ha!"
Thian Mo tertawa gelak.
"Pada waktu itu kita turun tangan duluan. Kalau tidak, It Ceng dan Ji Khie pasti menghalangi kita."
"It Ceng dan Ji Khie!"
Dengus Tang Hai Lo Mo dingin.
"Kita bertiga pasti dapat mengalahkan mereka."
"Benar."
Te Mo tertawa gelak.
"Tapi...."
Thian Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau kita terus bertanding dan selalu seri, siapa diantara kita yang akan mempelajari ilmu silat peninggalan Pak Kek Siang Ong?"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Itulah yang kupikirkan dalam beberapa hari ini."
"Tang Hai Lo Mo! Bagaimana menurut pendapatmu setelah berpikir sekian lama?"
Tanya Thian Mo.
"Kita bertiga disebut Bu Lim Sam Mo, karena kita memiliki sifat yang sama. Oleh karena itu, alangkah baiknya....."
Tang Hai Lo Mo tidak melanjutkan, melainkan memandang Thian Mo dan Te Mo.
"Engkau punya usul?"
Tanya Thian Mo dan Te Mo serentak.
"Ya."
Tang Hai Lo Mo mengangguk.
"Kalau usulmu saling menguntungkan, tentu kami setuju,"
Ujar Thian Mo sungguh-sungguh.
"Menurut pendapatku, alangkah baiknya kita bersatu mempelajari ilmu silat itu. Jadi kita tidak usah menyia-nyiakan waktu lagi."
Tang Hai Lo Mo menatap mereka tajam. Thian Mo dan Te Mo saling memandang. Kelihatannya mereka berdua sedang memikirkan usul tersebut. Setelah itu barulah mereka mengangguk.
"Usul itu memang tepat, maka kami setuju,"
Ujar Thian Mo.
"Bagus."
Tang Hai Lo Mo tertawa gembira.
"Setelah kita bertiga berhasil mempelajari ilmu silat itu, kita bertiga pun harus tetap bergabung."
"Betul."
Te Mo tertawa gelak.
"Pada waktu itu, Bu Lim Sam Mo sudah pasti diatas It Ceng dan Ji Khie."
"Tidak salah."
Te Mo tertawa terkekeh-kekeh.
"Kita pasti dapat menguasai rimba persilatan. Setelah kita merobohkan It Ceng dan Ji Khie, tujuh partai besar dalam rimba persilatan pun harus menuruti perintah kita. Partai mana yang berani membangkang, harus kita basmi."
"Itulah tujuanku, dan kini telah menjadi tujuan kita bersama."
Tang Hai Lo Mo tertawa keras, sehingga badannya bergoyang-goyang."Oleh karena itu, setelah berhasil mempelajari ilmu silat peninggalkan Pak Kek Siang Ong, kita harus mendirikan Sam Mo Kauw (Agama Tiga lblis).
Kita undang semua golongan hitam dan golongan sesat untuk bergabung, agar Sam Mo Kauw bertambah kuat.
Kalian berdua setuju?"
"Setuju"
Sahut Thian Mo dan Te Mo serentak sambil tertawa gembira.
"Nah! Sekarang mari kita buka Kotak Pusaka itu!"
Ujar Tang Hai Lo Mo. Thian Mo dan Te Mo segera mendekati Kotak Pusaka, tapi Tang Hai Lo Mo justru mencegah mereka.
"Jangan mendekati Kotak Pusaka itu!"
"Kenapa?"
Thian Mo dan Te Mo heran.
"Kita harus menjaga segala sesuatu!"
Tang Hai Lo Mo memberitahukan.
"Lebih baik kita buka dari jarak jauh"
"Betul."
Thian Mo dan Te Mo mengangguk. Mereka berdua segera melangkah ke belakang lalu duduk kembali.
"Kita menggunakan tenaga dalam membuka Kotak Pusaka itu, namun harus hati-hati,"
Pesan Tang Hai Lo Mo.
"Jangan sampai merusak kitab yang ada di dalamnya."
Thian Mo dan Te Mo manggut-manggut. Mereka bertiga lalu menghimpun Iweekang masingmasing.
"Mulai!"
Seru Tang Hai Lo Mo.
Seketika juga telapak tangan mereka di arahkan ke Kotak Pusaka yang berada di atas meja, dan terdengarlah suara pletak.
Kotak Pusaka itu terbuka, dan sama sekali tidak ada senjata rahasia yang menyambar keluar.
Bu Lim Sam Mo menarik nafas lega, lalu bangkit berdiri sambil memandang ke dalam Kotak Pusaka itu.
Ternyata, Kotak Pusaka itu berisi tiga buah kitab.
Mereka bertiga segera melangkah maju, kemudian mengambil kitab-kitab tersebut.
"Pak Kek Sin Kang !"
Seru Tang Hai Lo Mo lalu tertawa gelak.
"Pak Kek Ciang Hoat !"
Thian Mo memberitahukan dengan wajah berseri-seri.
"Pak Kek Kiam Hoat !"
Seru Te Mo lalu tertawa girang.
"Pertama-tama, kita bertiga harus mempelajari Pak Kek Sin Kang."
Ujar Tang Hai Lo Mo sungguh-sungguh.
"Setelah itu, barulah kita mempelajari ilmu pukulan dan ilmu pedang."
"Benar."
Thian Mo dan Te Mo manggut-manggut.
"Luar biasa!"
Seru Tang Hai Lo Mo setelah membaca sejenak kitab yang di tangannya.
"Pak Kek Sin Kang mengandung hawa dingin, bisa memukul mati orang sekali pukul sampai beku !".
"Ha ha ha!"
Thian Mo tertawa terbahak-bahak.
"Kita bertiga pasti dapat merobohkan It Ceng dan Ji Khie dengan ilmu Pak Kek Sin Kang."
"Benar."
Tang Hai Lo Mo dan Te Mo juga tertawa gelak.
Lam Hai Sin Ceng duduk bersila di atas sebuah batu besar.
Berselang beberapa saat, berkelebat dua sosok bayangan ke hadapannya.
Siapakah dua sosok bayangan itu?
Mereka ternyata Sam Gan Sin Kay dan Kim Siauw Suseng.
"Huaha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Hei! Padri keparat! Kenapa engkau mengundang kami berdua ke mari? Apakah engkau mau mengajak kami berunding?"
"Omitohud!"
Lam Hai Sin Ceng tersenyum.
"Pengemis tua, sifatmu masih belum berubah!"
"Sifatku memang begini, bagaimana mungkin berubah?"
Sahut Sam Gan Sin Kay dan tertawa gelak lagi.
"Padri tua! Ada urusan apa engkau mengundang kami berdua ke mari?"
Tanya Kim Siauw Suseng.
"Sastrawan awet muda!"
Sahut Lam Hai Sin Ceng.
"Tentunya ada sesuatu yang teramat penting."
"Padri tua!"
Kim Siauw Suseng menatapnya tajam.
"Bukankah engkau telah bersumpah tidak mau mencampuri urusan apa pun lagi? Kok sekarang malah bilang ada sesuatu yang teramat penting?"
"Omitohud!"
Lam Hai Sin Ceng menghela nafas.
"Kaum pertapa kalau tahu sesuatu yang menyangkut keselamatan umat manusia, namun tidak mau memberitahukan, itu adalah dosa!"
"Padri keparat! Apakah engkau mengetahui sesuatu yang menyangkut keselamatan rimba persilatan?"
Tanya Sam Gan Sin Kay sambil menatapnya.
"Omitohud! Itu hanya merupakan suatu firasat belaka."
Jawab Lam Hai Sin Ceng "Tapi.. sepertinya akan terjadi."
"Padri tua!"
Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.
"Engkau berfirasat apa?"
"Aku harap dalam tiga tahun ini kalian berdua harus memperdalam kepandaian masing-masing."
Jawab Lam Hai Sin Ceng. Sam Gan Sin Kay terbelalak.
"Apakah agar kita bertiga bisa bertanding?"
"Bukan."
Lam Hai Sin Ceng menggelengkan kepala "Aku menghendaki kalian berdua memperdalam kepandaian masing-masing, karena kemungkinan besar tiga tahun kemudian kalian berdua harus menghadapi Sam Mo."
"Apa?"
Sam Gan Sin Kay tampak terkejut.
"Tiga tahun kemudian aku dan Kim Siauw Suseng harus menghadapi Sam Mo?"
"Ya."
Lam Hai Sin Ceng mengangguk.
"Aku berfirasat, tiga atau empat tahun lagi Sam Mo akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan, jadi kalian berdua harus menghadapinya."
"Hei! Padri keparat!"
Sam Gan Sin Kay melotot.
"Kami berdua menghadapi Sam Mo, lalu engkau cuma menonton saja ?"
"Omitohud! Aku sudah tidak mau mencampuri urusan persilatan lagi."
Lam Hai Sin Ceng menghela nafas.
"Padri! Kenapa kami berdua harus memperdalam kepandaian kami?"
Tanya Kim Siauw Suseng mendadak.
"Karena...."
Lam Hai Sin Ceng menghela nafas lagi.
"Saat itu kalian berdua jika tidak memperdalam kepandaian kalian masing-masing, sudah pasti bukan lawan mereka."
Sam Gan Sin Kay dan Kim Siauw Suseng saling memandang, kemudian Sam Gan Sin Kay berkata.
"Sudah belasan tahun Sam Mo tiada kabar beritanya, belum tentu mereka bisa mengalahkan kita?"
"Karena mereka bertiga telah berhasil mempelajari ilmu silat yang ada di dalam Kotak Pusaka itu"
Ujar Lam Hai Sin Ceng.
"Kalau begitu...."
Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.
"Semua itu telah merupakan takdir, namun kalian berdua tetap harus berusaha memperdalam kepandaian yang kalian miliki, agar masih dapat bertahan bahkan harus pula mencari kesempatan untuk kabur. Kalau tidak, kalian berdua pasti akan mati di tangan mereka."
"Padri keparat!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Tidak apa aku mati ditangan mereka, asal tidak jadi seorang pengecut saja !"
Sindirnya "Omitohud!"
Lam Hai Sin Ceng tersenyum.
"Aku bukannya ingin jadi pengecut, melainkan percuma juga keberadaanku diantara kalian, sebab aku tidak bisa berbuat apa-apa. Namun berdasarkan firasat dan ramalan di saat kalian berdua dalam bahaya, pasti akan muncul dewa penolong."
"Muncul dewa penolong?"
Kim Siauw Suseng melongo.
"Tentunya penolong itu berkepandaian lebih tinggi dari Sam Mo!"
"Penolong itu masih mampu melawan Sam Mo."
Sahut Lam Hai Sin Ceng.
"Padri keparat!"
Sam Gan Sin Kay menatapnya.
"Engkau jangan ngawur! Dalam rimba persilatan sekarang ini, kepandaian siapa yang lebih tinggi dari kita bertiga?"
"Untuk sekarang ini memang tidak ada, tapi kelak akan muncul seseorang yang berkepandaian lebih tinggi dari kita."
Sahut Lam Hai Sin Ceng.
"Eeeh!"
Tiba-tiba Kim Siauw Suseng teringat sesuatu.
"Apakah dia?"
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut, keduanya saling menatap sambil tersenyum.
"Kalian berdua harus mencari suatu tempat yang sepi untuk memperdalam kepandaian kalian, jangan melalaikan itu!"
Pesan Lam Hai Sin Ceng, kemudian mendadak melesat pergi.
"Padri keparat!"
Seru Sam Gan Sin Kay. Namun Lam Hai Sin Ceng sudah tidak kelihatan lagi. Pengemis sakti itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu memandang Kim Siauw Suseng.
"Sastrawan sialan! Kita harus bagaimana?"
"Aku yakin firasat padri tua itu tidak akan meleset, maka alangkah baiknya kita mencari tempat yang sepi untuk memperdalam kepandaian kita."
"Sastrawan sialan!"
Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Bagaimana kalau kita ke markas pusat Kay Pang?"
"Bukankah akan merepotkan putramu?"
"Tidak menjadi masalah."
Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak.
"Aku berani menjamin engkau pasti akan betah di sana."
"Kalau begitu..."
Kim Siauw Suseng berpikir sejenak, kemudian mengangguk.
"Baiklah."
Bu Lim Ji Khie itu lalu melesat pergi menuju markas Kay Pang.
Selama puluhan tahun, mereka berdua bagaikan kucing dan anjing.
Kalau mereka bertemu pasti bertanding dan saling mencaci.
Akan tetapi, kali ini mereka berdua tampak begitu akrab.
Lim Peng Hang, si Tongkat Maut, ketua Kay Pang terbelalak menyambut kedatangan Sam Gan Sin Kay bersama Kim Siauw Suseng.
Biasanya mereka berdua pasti saling mencaci, namun kali ini keduanya malah muncul di markas Kay Pang sambil tertawatawa.
Hal itu tentunya sangat mencengangkan Lim Peng Hang.
"Ayah, Cianpwee!"
Panggil ketua Kay Pang.
"Lim Pangcu (Ketua Lim)!"
Kim Siauw Suseng tertawa gelak.
"Aku datang untuk makan dan tidur selama beberapa tahun. Apakah engkau tidak berkeberatan?"
"Tentu tidak,"
Sahut Lim Peng Hang sambil tersenyum.
"Sebaliknya aku malah merasa senang sekali."
"Bukankah engkau akan bersungut-sungut dalam hati?"
Ujar Kim Siauw Suseng sambil tertawa gelak.
"Sama sekali tidak, Cianpwee,"
Sahut Lim Peng Hang sungguh-sungguh.
"Bagus!"
Kim Siauw Suseng manggut-manggut.
"Silahkan duduk, Cianpwee!"
Ucap Lim Peng Hang.
"Peng Hang, cepat suruh seseorang menyediakan arak yang paling bagus!"
Ujar Sam Gan Sin Kay. Lim Peng Hang segera menyuruh seseorang untuk mengambil arak istimewa, lalu duduk dengan wajah penuh keheranan.
"Peng Hang!"
Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Engkau merasa heran kenapa aku pulang bersama Kim Siauw Suseng kan?"
"Ya, Ayah."
Lim Peng Hang mengangguk.
"Kami berdua telah menemui Lam Hai Sin Ceng..."
Ujar Sam Gan Sin Kay memberitahukan tentang itu. Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Sin Ceng itu berfirasat bahwa Sam Mo akan muncul dalam rimba persilatan kelak?"
Kim Siauw Suseng mengangguk.
"Oleh karena itu, aku dan ayahmu harus memperdalam kepandaian masing-masing."
"Pengemis bau, kapan kita akan mulai memperdalam kepandaian kita?"
Tanya Kim Siauw Suseng serius.
"Mulai besok."
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Bagaimana?"
"Baik."Kim Siauw Suseng mengangguk.
"Besok kita harus mulai...."
Bagian 7 Pek Ih Mo Li yang menggendong Tio Cie Hiong telah tiba di lembah Persik di Gunung Wu San.
"Yok Ong! Yok Ong!"
Serunya di depan gubuk Sok Beng Yok Ong, lalu menaruh Tio Cie Hiong yang masih dalam keadaan pingsan.
Pintu gubuk itu terbuka.
Tampak seorang tua berusia tujuh puluhan berjalan ke luar dengan wajah penuh kegusaran.
"Hei! Gadis tak tahu diri! Kenapa engkau berteriak-teriak di depan gubukku?"
Bentaknya.
"Aku ingin menemui Sok Beng Yok Ong,"
Sahut Pek Ih Mo Li.
"Akulah Sok Beng Yok Ong!"
Orang tua itu melirik Tio Cie Hiong yang tergeletak di tanah.
"Ayoh, cepat pergi! Jangan menggangguku!"
"Yok Ong, tolonglah dia!"
Pek Ih Mo Li menunjuk Tio Cie Hiong.
"Dia terkena pukulan Ngo Tok Ciang."
"Ada urusan apa denganku?"
Dengus Sok Beng Yok Ong.
"Ayoh, cepat bawa dia pergi!"
"Yok Ong, tolong obati dia! Kalau tidak, dia akan mati,"
Ujar Pek Ih Mo Li memohon.
"Apakah dia adikmu?"
"Bukan."
"Familimu?"
"Juga bukan."
"Kalau begitu...."
Sok Beng Yok Ong tertawa.
"Kenapa kau bawa dia ke mari! Jangan-Jangan dia kekasihmu!"
"Yok Ong!"
Wajah Pek Ih Mo Li langsung berubah dingin.
"Jangan omong sembarangan!"
"He he he!"
Sok Beng Yok Ong tertawa terkekeh.
"Kalau dia bukan kekasihmu, kenapa engkau mau capek-capek membawa ke mari?"
"Aku kasihan padanya, maka kubawa dia ke mari,"
Sahut Pek Ih Mo Li.
"Yok Ong, tolonglah dia!"
"Adik bukan, famili bukan dan kekasih pun bukan! Sudahlahl Biar dia mati saja! Lagi pula aku pun tidak punya waktu untuk menolongnya!"
Ujar Sok Beng Yok Ong sambil membalikkan badannya.
"Yok Ong!"
Bentak Pek Ih Mo Li sambil melesat ke hadapannya.
"Mau tidak menolongnya?"
"Tidak ada urusan denganku!"
Sahut Sok Beng Yok Ong sambil tersenyum dingin.
"Yok Ong, aku Pek Ih Mo Li. Kalau engkau tidak mau menolongnya...."
Pek Ih Mo Li mulai menghunus pedangnya.
"Yok Ong...."
Mendadak Pek Ih Mo Li menghela nafas, kemudian menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sok Beng Yok Ong."Aku mohon, tolonglah dia!"
"Pek Ih Mo Li, engkau tiada hubungan apa-apa dengannya, kenapa engkau mau berlutut di hadapanku bermohon agar aku bersedia menolongnya?"
Tanya Sok Beng Yok Ong.
"Yok Ong! Entah apa sebabnya aku merasa sangat kasihan kepadanya, dan merasa tidak tega menyaksikan kematiannya,"
Sahut Pek lh Mo Li dan melanjutkan.
"Yok Ong, tolonglah dia!"
"Baik!"
Sok Beng Yok Ong manggut-manggut.
"Tapi engkau harus memenuhi satu syaratku!"
"Apa syarat itu?"
Pek Ih Mo Li yang menggendong Tio Cie Hiong telah tiba di lembah Persik di Gunung Wu San.
"Yok Ong! Yok Ong!"
Serunya di depan gubuk Sok Beng Yok Ong, lalu menaruh Tio Cie Hiong yang masih dalam keadaan pingsan.
Pintu gubuk itu terbuka.
Tampak seorang tua berusia tujuh puluhan berjalan ke luar dengan wajah penuh kegusaran.
"Hei! Gadis tak tahu diri! Kenapa engkau berteriak-teriak di depan gubukku?"
Bentaknya.
"Aku ingin menemui Sok Beng Yok Ong,"
Sahut Pek Ih Mo Li.
"Akulah Sok Beng Yok Ong!"
Orang tua itu melirik Tio Cie Hiong yang tergeletak di tanah.
"Ayoh, cepat pergi! Jangan menggangguku!"
"Yok Ong, tolonglah dia!"
Pek Ih Mo Li menunjuk Tio Cie Hiong.
"Dia terkena pukulan Ngo Tok Ciang."
"Ada urusan apa denganku?"
Dengus Sok Beng Yok Ong.
"Ayoh, cepat bawa dia pergi!"
"Yok Ong, tolong obati dia! Kalau tidak, dia akan mati,"
Ujar Pek Ih Mo Li memohon.
"Apakah dia adikmu?"
"Bukan."
"Familimu?"
"Juga bukan."
"Kalau begitu...."
Sok Beng Yok Ong tertawa.
"Kenapa kau bawa dia ke mari! Jangan-Jangan dia kekasihmu!"
"Yok Ong!"
Wajah Pek Ih Mo Li langsung berubah dingin.
"Jangan omong sembarangan!"
"He he he!"
Sok Beng Yok Ong tertawa terkekeh.
"Kalau dia bukan kekasihmu, kenapa engkau mau capek-capek membawa ke mari?"
"Aku kasihan padanya, maka kubawa dia ke mari,"
Sahut Pek Ih Mo Li.
"Yok Ong, tolonglah dia!"
"Adik bukan, famili bukan dan kekasih pun bukan! Sudahlahl Biar dia mati saja! Lagi pula aku pun tidak punya waktu untuk menolongnya!"
Ujar Sok Beng Yok Ong sambil membalikkan badannya.
"Yok Ong!"
Bentak Pek Ih Mo Li sambil melesat ke hadapannya.
"Mau tidak menolongnya?"
"Tidak ada urusan denganku!"
Sahut Sok Beng Yok Ong sambil tersenyum dingin.
"Yok Ong, aku Pek Ih Mo Li. Kalau engkau tidak mau menolongnya...."
Pek Ih Mo Li mulai menghunus pedangnya.
"Yok Ong...."
Mendadak Pek Ih Mo Li menghela nafas, kemudian menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sok Beng Yok Ong."Aku mohon, tolonglah dia!"
"Pek Ih Mo Li, engkau tiada hubungan apa-apa dengannya, kenapa engkau mau berlutut di hadapanku bermohon agar aku bersedia menolongnya?"
Tanya Sok Beng Yok Ong.
"Yok Ong! Entah apa sebabnya aku merasa sangat kasihan kepadanya, dan merasa tidak tega menyaksikan kematiannya,"
Sahut Pek lh Mo Li dan melanjutkan.
"Yok Ong, tolonglah dia!"
"Baik!"
Sok Beng Yok Ong manggut-manggut.
"Tapi engkau harus memenuhi satu syaratku!"
"Apa syarat itu?"
"Engkau harus membenturkan kepalamu sembilan kali, barulah aku bersedia menolong anak itu!"
"Terima kasih, Yok Ong!"
Ucap Pek Ih Mo Li, kemudian membenturkan kepalanya ke tanah sembilan kali.
"Ha ha ha!"
Sok Beng Yok Ong tertawa gelak.
"Pek Ih Mo Li, bangunlah!"
Pek Ih Mo Li bangkit berdiri. Sok Beng Yok Ong manggut-manggut seraya berkata.
"Engkau bermohon dengan bersungguh hati, maka aku menolong anak itu dengan bersungguh-sungguh pula."
"Terimakasih, Yok Ong!"
"Tapi setelah sembuh, dia harus membantuku di sini selama dua tahun. Bagaimana?"
"Aku setuju, namun entah bagaimana dengan dia?"
Baca Juga: Asmara Berdarah 2
Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 7