Eps 1 Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.
Kesatria Baju Putih Pek In Sin Hiap Karya . Chin Yung
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/.
Bagian 01 PENDAHULUAN Rimba persilatan menjadi gempar, karena kemunculan sebuah kotak pusaka yang berisi kitab pelajaran ilmu silat tingkat tertinggi.
Konon kotak pusaka tersebut adalah peninggalan Pak Kek Siang Ong (Dewa Kutub Utara), yang berilmu sangat tinggi dua ratus tahun lampau.
Bagi siapa yang memperoleh kotak pusaka tersebut, dan mempelajari kitab ilmu silat yang di dalamnya, maka orang itu akan menjadi jago yang tanpa tanding dalam rimba persilatan.
Oleh karena itu, semua kaum rimba persilatan dari berbagai golongan ingin merebut kotak pusaka tersebut, termasuk tujuh partai besar rimba persilatan, yakni partai Siauw Lim, Bu Tong, Hwa San, Kun Lun, Go Bie, Khong Tong dan partai Swat San.
Kemunculan kotak pusaka tersebut justru membawa maut dan bencana bagi rimba persilatan, sebab kaum rimba persilatan saling membunuh demi memperoleh kotak pusaka itu, sehingga menimbulkan banjir darah dalam rimba persilatan.
Orang pertama yang mendapatkan kotak pusaka itu, tak lama kemudian mati dikeroyok, begitu pula orang kedua.
Kini yang mendapatkan kotak pusaka itu adalah Hui Kiam Bu Tek (Pedang Terbang Tanpa Tanding) Tio It Seng, istrinya adalah sin Pian Bijin (Wanita Cantik Cambuk Sakti) Lie Hui Hong.
o Malam yang gelap gulita, disertai hujan deras dan kilat pun terus menerus menyambar.
Tiba-tiba tampak sosok bayangan menerjang ke dalam sebuah rumah di kaki gunung, yang ternyata seorang lelaki berusia lima puluhan.
Rambut, wajah dan pakaiannya telah basah kuyup, bahkan pakaiannya bernoda darah.
"Hui Hong"
Seru lelaki itu, yang tangan kirinya membawa sebuah kotak kecil bergemerlapan, dan tangan kanannya menggenggam sebilah pedang.
"Kita harus cepat kabur"
"Apa yang telah terjadi, It seng?"
Tanya seorang wanita cantik dengan mata terbelalak-Mereka adalah suami istri.
Lelaki itu adalah Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng, sedangkan wanita itu adalah sin Pian Bi jin-Li Hui Hong.
Jangan banyak tanya"
Sahut Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng.
"Di mana anak-anak kita?"
"Lagi tidur"
Sin Pian Bi jin-Lie Hui Hong memberitahukan.
"Tio sam?"
Tanya Tio It seng.
"Tuan besar...."
Tampak seorang tua berusia enam puluhan berlari-lari menghampirinya.
"Tio sam, keadaan sudah mendesak sekali,"
Ujar Tio It seng.
"Engkau harus segera membawa putraku kabur ke arah barat, aku dan Hui Hong akan membawa Suan-Suan ke arah timur Kalau terjadi sesuatu atas diri kami, engkau harus baik-baik mengurusi putraku itu"
"It seng sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi?"
Tanya Lie Hui Hong dengan wajah cemas.
"Dikarenakan ini."
Tio It seng menunjuk kotak kecil yang dibawanya.
"Itu..."
Lie Hui Hong terbelalak-"Apakah itu kotak pusaka yang diperebutkan kaum persilatan?"
"Betul."
Tio It seng mengangguk-"Dari mana kau peroleh kotak pusaka itu?"
Tanya Lie Hui Hong dengan suara gemetar karena tegang-"Dalam perjalanan pulang dari Lembah Kesepian, aku melihat seseorang dikeroyok oleh para pesilat dari golongan hitam, bahkan tampak pula para pesilat dari tujuh partai besar.
Karena itu, aku turun tangan menolong orang itu, yang telah terluka parah-sebelum menghembuskan napas penghabisan, dia menyerahkan kotak pusaka ini kepadaku maka aku dikejar-kejar oleh para pesilat dari golongan hitam dan tujuh partai besar itu"
"Celaka"
Keluh Lie Hui Hong.
"Mereka pasti akan membunuh kita demi merebut kotak pusaka ini."
"Kita harus seaera kabur. Engkau menggendong Suan-Suan". Tio sam menggendong putra kita yang masih kecil itu kabur ke arah barat, kita melalui arah timur."
Kemudian Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng dan sin Pian Bi jin-Lie Hui Hong membawa putri mereka, yang berusia sembilan tahun kabur melalui arah timur, sedangkan Tio sam membawa putra mereka yang berusia tiga tahun kabur ke arah barat.
Akan tetapi, di tengah perjalanan Tio It seng dan Lie Hui Hong di hadang oleh para pesilat golongan hitam dan tujuh partai besar itu sehingga terjadilah pertarungan yang amat dahsyat.
Mayat bergelimpangan, sedangkan Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng dan sin Pian Bi jin telah terluka.
"omitohud omitohud-"
Hui Khong Taysu terus-menerus menyebut nama Sang Budha. Hweeshio tua itu adalah ketua partai siauw Lim.
"Bu Liang siu Hud"
It Hian Tejin, kedua partai Bu Tong juga menyebut sambil menggeleng-gelengkan kepala-Mendadak pada saat itu, berkelebatan tiga sosok bayangan hitam, dan diiringi suara tawa yang sangat menyeramkan.
Begitu melihat tiga sosok bayangan hitam itu, para ketua tujuh partai besaHerkejut bukan main, dan wajah mereka tampak pucat pias.
Ternyata yang baru muncul itu adalah Bu Lim sam Mo (Tiga iblis Rimba Persilatan, yakni Tang Hai Lo Mo (iblis Tua Laut Timur), Thian mo (iblis Kahyangan) dan Te mo (iblis Neraka).
Bu Lim sam Mo berkepandaian sangat tinggi, setingkat dengan Bu Lim It Ceng (satu Padri sakti Rimba Persilatan) dan Bu Lim ji Khie (Dua orang Aneh Rimba Persilatan).
Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng dan sin FianBi jin-Lie Hui Hong mati secara mengenaskan di tangan Tiga iblis itu, sedangkan putri mereka bernama Tio Suan-Suan tergelincir ke dalam jurang.
siapa pun tidak tahu, kotak pusaka itu jatuh ke tangan Tang Hai Lo Mo, Thian mo atau Te mo?
Dan juga tiada seorang pun yang tahu, ke mana putra Tia It seng yang masih kecil itu, sehingga hal-hal tersebut merupakan suatu teka teki di dalam rimba persilatan.
Bagian 1 Di dalam sebuah goa, tampak seorang tua berbaring di ranjang.
Badan orang itu kurus kering, rambutnya putih semua, dan terus-menerus batuk.
"Paman!"
Ujar seorang anak berusia sekitar tiga belas tahun.
"Apakah Paman mau makan obat lagi?"
"Ti... tidak usah, Nak."
Orang tua itu menatapnya sambil menarik nafas panjang.
"Aaaakh...!"
"Kenapa Paman setiap hari menarik nafas?"
Tanya anak itu heran.
"Paman... Paman sangat kasihan akan nasibmu, Nak,"
Sahut orang tua itu lemah.
"Memangnya kenapa?"
Anak itu tidak mengerti.
"Cie Hiong, seandainya sepuluh tahun lalu kedua orang tuamu tidak mati, engkau tidak usah ikut paman hidup menderita di dalam goa ini,"
Ujar orang tua sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Paman! Jadi sepuluh tahun lalu Cie Hiong punya ayah dan ibu?"
Tanya anak itu.
"Ng!"
Orang itu mengangguk.
"Tapi..."
"Kenapa, Paman?"
"Aaakh! Kedua orang tuamu telah mati..."
"Paman, kenapa kedua orang tua Cie Hiong bisa mati? Apakah karena sakit?"
"Bukan. Mereka berdua..."
"Kenapa kedua orang tua Cie Hiong? Paman, beritahukanlah!"
"Nak!"
Sepasang mata orang tua itu bersimbah air.
"Belum waktunya paman memberitahukan."
"Kapan Paman akan memberitahukan pada Cie Hiong?"
"Setelah kau memiliki ilmu silat tinggi."
"Paman!"
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Kenapa harus menungu sampai Cie Hiong memiliki ilmu silat tinggi? Padahal sesungguhnya, Cie Hiong sama sekali tidak berniat belajar ilmu silat."
"Kenapa?"
Orang tua itu menatapnya heran.
"Selama ini bukankah Paman ingin mengajar Cie Hiong ilmu silat, tapi Cie Hiong terus menolaknya. Cuma belajar membaca, menulis dan sastra saja."
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Paman selalu mengatakan, bahwa dalam rimba persilatan penuh kelicikan, keserakahan dan saling membunuh pula. Maka Cie Hiong tidak mau belajar ilmu silat, sebab Cie Hiong tidak mau jadi kaum rimba persilatan."
"Nak!"
Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Padahal Paman menghendaki agar engkau menjadi Bun Bu Coan Cai (Mahir Sastra dan ilmu Silat) kelak, namun engkau malah tidak mau belajar ilmu silat. Nak, dalam hal ini Paman sungguh kecewa."
"Paman jangan kecewa"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Cie Hiong tidak belajar ilmu silat, justru akan aman."
"Tapi...."
Orang tua itu tidak melanjutkan ucapannya, dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa Paman kalau bicara tidak mau terus terang?"
Tanya Cie Hiong heran.
"Apakah Paman menyimpan suatu rahasia?"
"Aaakh...."
Orang tua itu hanya menarik nafas panjang.
"Sudah lewat sepuluh tahun..."
Gumam Tio Sam dengan suara lemah.
"Semua kejadian itu bagaikan dalam mimpi."
"Kejadian apa, Paman?"
Tanya Tio Cie Hiong cepat.
"Tentang kedua orang tuamu, Nak."
Tio Sam menarik nafas panjang.
"Apa yang terjadi atas kedua orang tuaku?"
Tanya Tio Cie Hiong ingin mengetahuinya.
"Nak, kini belum waktunya engkau mengetahui tentang itu,"
Sahut Tio Sam.
"Oh ya! Engkau harus ingat..."
"Ingat apa, Paman?"
"Engkau punya seorang kakak perempuan, tapi... entah dia masih hidup atau telah mati."
"Apa?"
Tio Cie Hiong terbelalak.
"Cie Hiong punya seorang kakak perempuan? Dia berada di mana?"
"Paman tidak tahu, mungkin dia masih hidup tapi mungkin juga telah mati."
"Paman!"
Tio Cie Hiong menatap orang tua itu.
"Kenapa keluarga Cie Hiong bisa berantakan begitu? Sebetulnya apa yang telah terjadi sepuluh tahun lalu?"
"Nak!"
Tio Sam menatapnya dengan mata basah.
"Kelak engkau akan mengetahuinya..."
"Kenapa Paman selalu berkata begitu? Cie Hiong jadi bingung sekali."
Tio Cie Hiong menggarukgaruk kepala.
"Nak!"
Ujar Tio Sam sambil berbatuk-batuk.
"Biar bagaimanapun, engkau harus belajar ilmu silat tingkat tinggi."
"Heran? Kenapa Paman selalu mendesak Cie Hiong belajar ilmu silat tingkat tinggi? Cie Hiong sudah bilang, tidak mau belajar silat karena tidak mau jadi kaum rimba persilatan."
"Nak..."
Tio Sam terbatuk-batuk lagi.
"paman beristirahat saja! Cie Hiong mau menanak nasi dulu!"
Ujar Tio Cie Hiong sambil berjalan ke dalam.
Sedangkan Tio Sam cuma menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala, kemudian terbatuk-batuk lagi.
Tampak darah hitam mengalir ke luar dari mulutnya, sehingga membuat orang tua itu berkeluh lemah.
"Aaakh... Ajalku sudah dekat..."
Hari berikutnya, Tio Cie Hiong memasak obat, kemudian diberikan kepada Tio Sam, namun orang tua itu menolak.
"Percuma... percuma paman makan obat lagi."
"Memangnya kenapa?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil menaruh mangkok yang berisi obat di atas meja.
"Nak! Paman... paman sudah tidak tahan lagi..."
Tio Sam memberitahukan dengan wajah pucat pias, kemudian berubah kelabu.
"Maksud paman?"
Tio Cie Hiong dengan heran.
"Ajal paman telah... telah mendekat."
Sahut Tio Sam dengan mata bersimbah air.
"Tidak! Tidak...!"
Teriak Tio Cie Hiong dengan air mata bercucuran.
"paman pasti bisa sembuh, Paman pasti bisa sembuh!"
"Nak! Dengarkan baik-baik..."
Tio Sam terbatuk-batuk, lalu mulutnya mengeluarkan darah hitam.
"Sepuluh tahun lalu, paman terpukul oleh musuh hingga terluka dalam. paman terus bertahan hidup demi membesarkanmu..."
"paman..."
Air mata Tio Cie Hiong terus berderai.
"Kedua orang tuamu dan kakak perempuanmu, mereka... mereka..."
Tio Sam terbatuk-batuk lagi, darah hitam pun terus mengalir keluar dari mulutnya.
"paman makan obat dulu, jangan banyak bicara..."
"Nak! Dengarkan baik-baik! Waktu Paman tidak banyak lagi... Setelah paman mati, engkau harus berangkat ke Lembah Kesepian di Gunung Heng San..."
"Ya, paman."
Tio Cie Hiong mengangguk sambil menangis terisak-isak.
"Nak, engkau harus ingat! Biar bagaimana pun engkau harus belajar ilmu silat,"
Pesan Tio Sam.
"Dan juga harus sabar menghadapi segala sesuatu..."
Tio Cie Hiong mengangguk lagi.
"Paman, kenapa Cie Hiong harus berangkat ke Lembah Kesepian di Gunung Heng San?"
Tanyanya kemudian.
"Engkau... engkau harus mencari Ku Tok Lojin (Orang Tua Kesepian) di lembah itu..."
"Kenapa Cie Hiong harus mencari Ku Tok Lojin?"
"Sebab... sebab Ku Tok Lojin akan menceritakan tentang riwayat hidupmu. Beliau juga akan memberitahukan kepadamu, siapa kedua orang tuamu. Maka engkau harus datang ke Lembah Kesepian menemui beliau."
"Paman, siapa Ku Tok Lojin itu?"
"Setelah bertemu beliau, engkau akan mengetahuinya. Nak, Setelah paman mati, engkau harus baik-baik menjaga diri, dan selalu berlaku sabar..."
"Ya, Paman."
"Di kolong ranjang ini tersimpan beberapa ratus tael perak dan beberapa stel pakaian, itu... itu bekalmu."
Suara Tio Sam semakin melemah.
"Kasihan sekali engkau, Nak..."
"Paman..."
Tio Cie Hiong menangis terisak-isak.
"Cie Hiong pasti menuruti nasihat Paman, Cie Hiong pasti selalu berlaku sabar dan baik-baik menjaga diri."
"Engkau memang anak baik, tapi sayang sekali kedua orang tua dan kakak perempuanmu..."
"Paman makan obat dulu ya."
Desak Tio Cie Hiong. Tio Sam menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Tio Cie Hiong.
"Nak! Engkau... engkau harus belajar ilmu silat..."
"Ya."
Tio Cie Hiong terpaksa mengangguk, karena melihat keadaan orang tua itu sudah sekarat.
"Bagus! Bagus..."
Wajah Tio Sam tampak berseri.
"Nak, jagalah dirimu baik-baik..."
Mendadak kepala Tio Sam terkulai. Ternyata orang tua itu telah mati. Tio Cie Hiong merangkul mayat orang tua itu sambil menangis sedih.
"Paman! Kenapa Paman tinggalkan Cie Hiong...?"
Tio Cie Hiong berlutut di hadapan makam Tio Sam dengan air mata berlinang-linang. Tampak sebuah buntalan yang berisi pakaian dan uang perak bergantung di punggungnya.
"Paman! Hari ini Cie Hiong akan meninggalkao tempat ini, Cie Hiong berjanji akan selalu berlaku sabar dan menjaga diri baik-baik.
"Tapi...mohon Paman memaafkan Cie Hiong, sebab Cie Hiong tidak mau belajar ilmu silat. Cie Hiong pasti akan berangkat ke Lembah Kesepian di gunung Heng San untuk menemui Ku Tok Lojin, semoga Paman tenang di alam baka!"
Seusai berkata begitu, Tio Cie Hiong bangkit berdiri sambil memandang makam itu.
"Paman, Cie Hiong pasti datang lagi kelak,"
Ujar Tio Cie Hiong, lalu berjalan pergi.
Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, tibalah Tio Cie Hiong di sebuah rimba.
Ia berteduh di bawah potion rindang sambil beristirahat.
Berselang beberapa saat kemudian, ketika ia baru mau melanjutkan perjalanan, mendadak muncul seseorang yang bertampang seram di hadapannya.
"Bocah!"
Bentak orang itu.
"Buntalanmu itu berisi apa?"
"Berisi beberapa stel pakaian dan ratusan tael perak,"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Oh?"
Orang itu tertawa girang.
"Ha ha ha! Harus kau berikan buntalan itu kepadaku!"
"Lho? Kenapa?"
Tanya Tio Cie Hiong dengan heran.
"Kenapa? Ha ha ha!"
Orang itu tertawa lagi.
"Aku seorang perampok, maka engkau harus menyerahkan buntalan itu kepadaku!"
"Kalau kuserahkan buntalan itu kepadamu, bukankah aku tidak punya pakaian dan uang lagi? Lalu bagaimana aku...?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Itu urusanmu! Pokoknya harus kau serahkan buntalan itu kepadaku! Kalau tidak, kepalamu pasti terpisah dengan badanmu!"
Sahut perampok itu sambil mengayun-ayunkan golok yang ada di tangannya.
"Kau mau membunuhku?"
"Ya! Itu kalau engkau tak mau menyerahkan buntalanmu kepadaku!"
"Bagaimana kalau begini saja,"
Ujar Tio Cie Hiong mengusulkan.
"Aku akan memberikan separoh uang perakku, tapi pakaianku jangan kau ambil."
"Tidak bisa!"
Perampok itu menggelengkan kepala.
"Pokoknya harus kau serahkan buntalanmu itu kepadaku kalau tidak, engkau pasti mati di bawah golokku ini!"
"Kalau kuserahkan buntalan ini kepadamu, lalu aku bagaimana?"
Keluh Tio Cie Hiong.
"Jangan banyak bacot!"
Bentak perampok itu.
"Cepatlah kau serahkan, aku sudah tidak bisa bersabar lagi!"
"Kenapa engkau begitu serakah?"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku perampok, tentunya serakah! Kalau tidak, bagaimana mungkin aku jadi perampok? Ayo, cepat serahkan buntalan itu!"
Tio Cie Hiong tahu, apabila is tidak menyerahkan buntalannya kepada perampok itu, dirinya pasti akan mati. Oleh karena itu, ia terpaksa menyerahkan buntalannya kepada perampok itu.
"Ha ha ha!"
Perampok itu tertawa gelak sambil menerima buntalan tersebut, kemudian meleset pergi.
"Aku harus bagaimana?"
Keluh Tio Cie Hiong, yang berdiri mematung di tempat.
Karena kini ia tidak memiliki apa-apa lagi, bagaimana mungkin is berangkat ke gunung Heng San?
"Aaaakh!
Kenapa orang itu begitu serakah, sama sekali tidak sisakan beberapa tael perak untukku..."
Akhirnya Tio Cie Hiong tetap melanjutkan perjalanan.
Beberapa hari kemudian, ia telah tiba di tempat yang sangat indah.
Di tempat tersebut terdapat sebuah sungai yang airnya sangat jernih.
Tio Cie Hiong duduk beristirahat di tepi sungai.
Pakaiannya sudah kotor sekali.
Dalam beberapa hari ini, ia hanya mengisi perutnya dengan buah-buahan liar, yang dipetiknya dari dalam hutan.
Berselang beberapa saat, Tio Cie Hiong bangkit berdiri lalu membuka pakaiannya.
la mandi di sungai itu dan sekaligus mencuci pakaiannya yang telah kotor, setelah itu, ia menjemur pakaiannya di dahan pohon.
Tio Cie Hiang duduk beristirahat lagi di situ dalam keadaan telanjang bulat.
Tiba-tiba berkelebat sosok bayangan di belakang sebuah pohon, yang ternyata seorang pengemis kecil berusia sekitar dua belas tahun.
Setelah berada di belakang pohon, pengemis kecil mengintip ke arah Tio Cie Hiong yang sedang duduk termenung.
Pada waktu bersamaan, Tio Cie Hiong bangkit berdiri dan kebetulan sekali menghadap ke arah pengemis kecil.
"Auuuh!"
Jerit pengemis kecil tertahan sambil menutup kedua matanya. Suara jeritan pengemis itu sangat mengejutkan Tio Cie Hiong. Maka ia lalu memandang ke arah pohon itu seraya berseri.
"Siapa bersembunyi di balik pohon? Cepatlah keluar!"
Tak ada sahutan, Tio Cie Hiong penasaran lalu berjalan ke pohon itu dalam keadaan telanjang.
"Jangan dekati aku! Jangan dekati aku...."
Terdengar suara teriakan di balik pohon.
"Eeeh?"
Tio Cie Hiong terbelalak ketika melihat seorang pengemis kecil bersembunyi di balik pohon dengan wajah menghadap ke tempat lain, kelihatannya seakan merasa malu berhadapan de ngan Tio Cie Hiong yang telanjang bulat.
"Ternyata engkau seorang pengemis kecil!"
"Jangan dekati aku!"
Bentak pengemis kecil.
"Lho? Kenapa?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Engkau... engkau telanjang,"
Sahut pengemis kecil.
"Iiiih!"
"Kenapa ih? Engkau juga anak lelaki, kenapa harus merasa malu berhadapan dengan anak lelaki telanjang? Heran?"
Tio Cie Hiong tidak mengerti.
"Kenapa engkau telanjang?"
"Pakaianku sedang dijemur, jadi aku harus telanjang."
"Dasar tak tahu malu, sudah begitu besar masih suka telanjang!"
"Umurku baru tiga belas, belum begitu besar,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Lagi pula di sini tidak ada orang lain, maka aku mandi sekaligus mencuci pakaianku. Kenapa engkau bilang aku tak tahu malu?"
"Aku berada di sini, tapi engkau masih telanjang."
"Aku mana tahu engkau berada di situ? Kalaupun tahu, aku tetap akan mandi dan mencuci pakaianku. Kita sama-sama anak lelaki, kenapa aku harus merasa malu?"
"Huh! Dasar...."
Pengemis kecil tetap menghadap ke arah lain.
"Cepatlah engkau berpakaian, mungkin pakaianmu sudah kering, setelah itu barulah kita bercakap-cakap!"
Tio Cie Hiong tersenyum, lalu segera berjalan menghampiri pakaiannya, yang dijemur. Ternyata pakaian itu sudah kering, maka segera dipakainya.
"Aku sudah berpakaian, engkau tidak usah menghadap ke arah lain lagi!"
Seru Tio Cie Hiong memberitahukan. Pengemis kecil tampak menarik nafas lega, lalu perlahan-lahan membalikkan badannya. Setelah melihat Tio Cie Hiong berpakaian, barulah ia berjalan menghampirinya.
"Eh?"
Pengemis kecil memandangnya dengan mata terbeliak lebar.
"Kenapa engkau memandangku dengan begitu?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Aku...."
Pengemis kecil menundukkan kepala.
"Aku tak menyangka engkau begitu tampan ......"
"Oh, ya?"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Mukamu begitu dekil, lebih baik engkau mandi dulu!"
"Apa? Mandi?"
Pengemis kecil terkejut.
"Ya. Kenapa? Engkau takut air ya?"
Tio Cie Hiong tersenyum geli.
"Ataukah... engkau merasa malu harus telanjang di hadapanku?"
"Kau..."
Pengemis kecil menudingnya.
"Engkau jangan kurang ajar!"
"Aku kurang ajar?"
Tio Cie Hiong menggarukgaruk kepala, kemudian mendongakkan kepala menengok ke sana ke mari.
Mendadak wajahnya berseri, ternyata ia melihat sebuah pohon yang ada buahnya, sejenis buah jambu.
Segeralah ia berlari ke pohon itu.
Namun ia baru bersiap memanjat pohon itu, berserulah pengemis kecil.
"Mau apa engkau memanjat pohon itu?"
"Aku mau memetik buahnya,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Engkau tidak usah memanjat!"
Ujar pengemis kecil sambil memungut beberapa buah batu kecil, lalu disambitkannya ke arah pohon itu. Tak! Tak! Tak! Buah di pohon itu berjatuhan.
"Horeee!"
Teriak Tio Cie Hiong gembira sambil memungut buah-buah yang berserakan di tanah.
Kemudian ia duduk di bawah pohon sambil memakan buah-buah itu dengan lahap sekali.
Pengemis itu terbelalak menyaksikan cara makan Tio Cie Hiong, yang bagaikan harimau kelaparan.
"Eh? Kenapa engkau makan dengan cara begitu?"
Tanyanya sambil mendekati Tio Cie Hiong.
"Tahukah engkau? Sudah hampir dua hari perutku tidak diisi, maka aku... aku sudah lapar sekali."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Engkau tidak mempunyai uang untuk membeli makanan?"
Tanya pengemis kecil.
"Sebetulnya aku mempunyai ratusan tael perak dan beberapa stel pakaian, tapi telah dirampok oleh penjahat beberapa hari lalu,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Dalam beberapa hari ini engkau makan apa?"
"Makan buah-buahan hutan dan minum air gunung."
"Oh..."
Pengemis kecil menatapnya dalam-dalam.
"Engkau dari mana dan mau ke mana !"
"Dari tempat tinggalku menuju Gunung Heng San."
"Mau apa engkau ke sana?"
"Menemui seseorang."
"Siapa orang itu?"
"Ku Tok Lojin."
"Orang tua kesepian?"
"Benar."Tio Cie Hiong mengangguk.
"Engkau kenal Ku Tok Lojin?"
"Tidak."
Pengemis kecil menggeleng kepala.
"Oh ya, tahukah engkau masih berapa jauh dari sini ke Gunung Heng San?"
"Entahlah."
"Mungkin puluhan ribu mil. Bagaimana mungkin engkau bisa mencapai gunung itu?"
Pengemis kecil menarik nafas panjang.
"Biar bagaimana pun, aku harus sampai di tempat tujuan,"
Sahut Tio Cie Hiong yang tampak telah membulatkan tekadnya.
"Ei! Ngomong-ngomong engkau masih lapar?"
Tanya pengemis mendadak.
"Masih lapar sekali"
Sahut Tio Cie Hiong jujur.
"Kebetulan sekali,"
Ujar pengemis itu sambil tersenyum.
"Aku membawa makanan."
Pengemis kecil merogoh ke dalam bajunya. Dikeluarkannya sebuah bungkusan, lalu diberikannya kepada Tio Cie Hiong.
"Bungkusan apa ini?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil menerima bungkusan tersebut.
"Buka saja!"
Sahut pengemis itu. Tio Cie Hiong segera membuka bungkusan itu. Setelah itu matanya terbelalak, karena bungkusan itu ternyata berisi sepotong daging ayam dan nasi.
"Wuaaah!"
Serunya tak tertahan sambil menelan air ludah.
"Ini... ini untukku?"
"Makanlah!"
Pengemis itu tersenyum.
"Terima kasih!"
Ucap Tio Cie Hiong. Namun ketika baru mau makan, mendadak ia teringat sesuatu dan langsung bertanya.
"Ini makanan dari hasil curian?"
"Itu...."
Pengemis kecil menundukkan kepala.
"Kalau hasil curian, aku tidak mau makan, lebih baik kukembalikan kepadamu,"
Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Aku tidak sudi menyantap makanan curian."
"Aku beli,"
Sahut pengemis kecil singkat.
"Kalau begitu, aku baru mau makan,"
U,'ar Tio Cie Hiong lalu mulai bersantap dengan nikmat sekali. Pengemis kecil tersenyum geli menyaksikannya.
"Di mana kedua orang tuamu?"
Tanyanya kemudian.
"Aku sudah tidak mempunyai orang tua."
"Pernahkah engkau belajar ilmu silat?"
"Aku tidak berniat belajar ilmu silat."
Pengemis kecil itu menatapnya dalam-dalam seraya bertanya dengan sikap malu-malu.
"Bolehkah aku tahu namamu?"
"Namaku Tio Cie Hiong,"
Sahutnya lalu bertanya.
"Namamu?"
"Lim Ceng Im."
Pengemis kecil tersenyum.
"Oh ya! Cie Hong, maukah engkau jadi temanku?"
"Ha ha ha!"
Tio Cie Hiong tertawa.
"Eh?"
Lim Ceng Im terheran-heran.
"Kenapa engkau tertawa?"
"Di empat penjuru, semua adalah teman,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Kita bertemu di sini, itu berarti kita berjodoh menjadi teman. Lagi pula engkau pun telah melihat aku telanjang bulat, sedangkan aku telah menyantap makanan pemberianmu, maka kita adalah teman."
Wajah Lim Ceng Im kemerah-merahan karena Tio Cie Hiong mengatakannya telah melihat tentang itu.
"Aku... aku tidak sengaja melihatmu telanjang, untung aku tidak melihat dengan jelas..."
"Seandainya engkau melihat dengan jelas, itu pun tidak apa-apa."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Sebab kita sama-sama anak lelaki."
"Kau...."
Wajah Lim Ceng Im bertambah merah. Tiba-tiba is mendengar siulan, maka seketika juga air mukanya berubah.
"Cie Hiong, aku harus segera pergi."
"Engkau mau ke mana?"
"Pulang,"
Sahut Lim Ceng Im singkat.
"Oh ya, ini puluhan tael perak, untukmu sebagai bekal dalam perjalanan. Cie Hiong, kita akan bertemu lagi kelak."
"Terima kasih Ceng Im...!!!"
Teriak Tio Cie Hiong, sebab pengemis kecil telah menyelipkan sebuah kantong ke tangannya. Lim Ceng Im telah melesat pergi, tetapi sayup-sayup Tio Cie Hiong masih mendengar suara seruannya.
"Cie Hiong, kita pasti bertemu kelak, aku selalu ingat padamu..."
Tio Cie Hiong tersenyum, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu pengemis kecil yang begitu baik hati.
"Ceng Im! Aku pun selalu ingat padamu."
Gumamnya lalu meninggalkan tempat itu.
Tak seberapa lama kemudian, Tio Cie Hiong melihat seorang pengemis berusia lima puluhan berjalan terhuyung-huyung dengan sebatang tongkat bambu, lalu jatuh terkapar.
Cie Hiong terperanjat bukan main, lalu cepat-cepat mendekati pengemis itu, sekaligus membangunkannya.
"Paman sakit ya? Kenapa jatuh?"
Tanyanya.
"Aku... aku..."
Pengemis itu tampak lemas sekali.
"Paman kenapa?"
Tanya Tio Cie Hiong cemas.
"Aku... aku sudah hampir dua hari tidak makan, badanku lemas sekali."
Pengemis itu memberitahukan sambil menatap Tio Cie Hiong, dan mendadak sepasang matanya menyorot tajam sekali.
"Apa?"
Tio Cie Hiong merasa kasihan pada pengemis itu. la membuka kantong pemberian Lim Ceng Im yang berisi uang perak, lalu diam bilnya separuh untuk diberikan pada pengemis itu.
"Ini untuk paman pengemis beli makanan."
"Terima kasih!"
Ucap pengemis tua sambil memandang kantong itu.
"Tapi mana cukup cuma begitu?"
"Tidak cukup?"
Tio Cie Hiong terbelalak.
"Uang perak itu berjumlah dua puluh tael perak, kok masih tidak cukup?"
"Aku...."
Pengemis itu memberitahukan.
"Aku harus makan sebulan, maka....."
Tanpa banyak pikir lagi Tio Cie Hiong memberikan semua uang perak itu pada pengemis tua, lalu menyimpan kantongnya yang telah kosong itu ke dalam bajunya.
Kantong tersebut memang indah sekali, sebab bersulam seekor naga dan seekor burung Phoenix.
"Terima kasih, Nak!"
Ucap pengemis itu.
"Kenapa tidak sekalian kau berikan kantong itu kepadaku?"
"Maaf, paman pengemis!"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Sebetulnya uang perak ini pemberian seorang temanku, yang bernama Lim Ceng Im. Kami baru berkenalan, maka harus kusimpan baik-baik kantong ini, tidak bisa kuberikan pada paman pengemis."
"Ooooh!"
Pengemis tua manggut-manggut, lalu mendadak tangannya bergerak laksana kilat.
.Tahu-tahu uang perak ditangannya itu telah masuk ke dalam baju Tio Cie Hiong tanpa diketahui anak itu.
Ia lalu berjalan pergi sambil tertawa.
Tio Cie Hiong menggaruk-garuk kepala, kemudian melanjutkan perjalanannya.
Beberapa hari kemudian, Tio Cie Hiong telah memasuki sebuah dusun.
ia merasa ada benda agak dingin dalam bajunya.
Ia lalu merogohkan tangannya ke dalam bajunya, dan seketika terbelalaklah matanya.
Ada dua puluh tael perak di dalam bajunya.
Tio Cie Hiong menjadi tak habis pikir, sebab ia telah memberikan semua uang peraknya kepada pengemis tua, tapi kenapa di dalam bajunya masih ada dua puluh tael perak?
Namun ia juga merasa girang, karena dengan adanya dua puluh tael perak itu, ia tidak usah menahan lapar dalam perjalanannya.
Akan tetapi, dalam perjalanan Tio Cie Hiong membantu banyak pengemis yang kelaparan, sehingga di saat ia memasuki dusun itu, uangnya pun telah habis.
Dusun itu cukup ramai.
Banyak orang berdagang di pinggir jalan.
Karena lapar, akhirnya Tio Cie Hiong mendekati seorang pedagang bakpao.
"Paman, bolehkan aku membantu Paman untuk memperoleh sebuah bakpao?"
Tanyanya dengan penuh harap.
Beberapa hari kemudian, Tio Cie Hiong telah memasuki sebuah dusun.
ia merasa ada benda agak dingin dalam bajunya.
Ia lalu merogohkan tangannya ke dalam bajunya, dan seketika terbelalaklah matanya.
Ada dua puluh tael perak di dalam bajunya.
Tio Cie Hiong menjadi tak habis pikir, sebab ia telah memberikan semua uang peraknya kepada pengemis tua, tapi kenapa di dalam bajunya masih ada dua puluh tael perak?
Namun ia juga merasa girang, karena dengan adanya dua puluh tael perak itu, ia tidak usah menahan lapar dalam perjalanannya.
Akan tetapi, dalam perjalanan Tio Cie Hiong membantu banyak pengemis yang kelaparan, sehingga di saat ia memasuki dusun itu, uangnya pun telah habis.
Dusun itu cukup ramai.
Banyak orang berdagang di pinggir jalan.
Karena lapar, akhirnya Tio Cie Hiong mendekati seorang pedagang bakpao.
"Paman, bolehkan aku membantu Paman untuk memperoleh sebuah bakpao?"
Tanyanya dengan penuh harap.
"Aku tidak membutuhkan pembantu. Memangnya kenapa engkau minta sebuah bakpao?"
"Aku... aku sudah lapar sekali."
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Sudah seharian aku belum makan."
"Oh..."
Pedagang bakpao memandangnya, kemudian menarik nafas panjang seraya berkata.
"Kalau begitu, aku berikan kepadamu sebuah bakpao."
"Terima kasih, Paman! Tapi... aku ingin membantu Paman dulu, barulah menerima bakpao itu."
"Tidak usah!"
Pedagang bakpao tersenyum, lalu memberikan sebuah bakpao yang masih hangat kepada Tio Cie Hiong.
"Terima kasih, Paman!"
Tio Cie Hiong menerima bakpao itu lalu memakannya dengan lahap.
"Engkau mau mencari pekerjaan di dusun ini?"
Tanya pedagang bakpao itu mendadak.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kalau begitu...."
Pedagang bakpao menunjuk ke depan, ke arah sebuah rumah yang sangat besar.
"Itu adalah Puri Angin Halilintar, cobalah engkau ke sana, mungkin engkau akan diterima di sana."
"Oh..."
Tio Cie Hiong memandang ke sana.
"Terima kasih, Paman!"
Katanya.
Tio Cie Hiong segera menghampiri rumah besar itu, sesampainya di depan rumah besar itu, ia berdiri termangu, karena pintu rumah besar itu tertutup rapat.
Ia tidak berani berlaku lancang mengetuk pintu rumah besar tersebut, maka ia hanya berdiri di situ.
Berselang beberapa saat kemudian, mendadak pintu rumah besar itu terbuka, dan tampak seorang tua berjalan keluar.
Ketika melihat ada seorang anak lelaki berdiri di situ, orang tua itu kelihatan tercengang.
"Bocah!"
Orang tua itu mendekatinya.
"Kenapa engkau berdiri di situ?"
"Paman, aku...."
Tio Cie Hiong menundukkan kepala.
"Ooooh!"
Orang tua itu tersenyum sambil manggut-manggut.
"Engkau mau minta makan bukan?"
"Bukan, Paman. Aku... aku mau minta pekerjaan,"
Sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Oh?"
Orang tua itu menatapnya dengan penuh perhatian.
"Engkau dari mana?"
"Aku dari rumah."
"Di mana rumahmu?"
"Di tempat yang jauh sekali,"
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Aku tidak tahu nama tempat itu, kami cuma tinggal di dalam sebuah goa."
"Masih ada orang lain tinggal di dalam goa itu? Apakah dia orang tuamu?"
Tanya orang tua itu terbelalak.
"Dia bukan orang tuaku, aku memanggilnya paman."
Tio Cie Hiong menjelaskan.
"Tapi pamanlah yang telah membesarkan aku."
"Di mana kedua orang tuamu?"
"Menurut pamanku, kedua orang tuaku telah meninggal. Maka sebelum pamanku meninggal, aku di suruh pergi ke gunung Heng San."
"Ke gunung Heng San?"
Orang tua itu tampak melongo.
"Tahukah engkau, masih puluhan ribu mil dari sini ke gunung Heng San."
"Aku tahu. Tetapi biar bagaimana aku harus ke sana."
"Nak!"
Orang tua itu menatapnya dalam-dalam.
"Kenapa engkau harus ke sana?"
"Untuk menemui seseorang, itu adalah pesan dari almarhum pamanku."
"Lalu kenapa engkau ingin bekerja di sini?"
"Aku kehabisan uang, jadi aku harus bekerja untuk mendapatkan uang agar bisa melanjutkan perjalananku."
"Ngmmm!"
Orang tua itu manggut-manggut.
"Kalau begitu, baiklah. Engkau ikut aku ke dalam."
"Terima kasih, Paman!"
Betapa girangnya Tio Cie Hiong.
Orang tua itu mengajaknya ke dalam, namun tidak langsung memasuki rumah besar itu, melainkan menuju belakang melalui jalan samping.
Ternyata di belakang rumah itu terdapat halaman yang cukup luas, terdapat pula sebuah rumah di situ.
"Itu adalah tempat tinggal para pelayan."
Orang tua itu menunjuk rumah tersebut, kemudian mengajaknya ke dalam langsung menuju sebuah kamar. Orang tua itu membuka pintu kamar tersebut seraya berkata.
"Engkau tunggu di dalam kamar ini, aku akan pergi menemui Pocu (Majikan Puri)!"
"Terima kasih, Paman!"
Ucap Tio Cie Hiong. la masuk ke kamar itu, lalu duduk di kursi sambil menunggu. Berselang beberapa saat, orang tua itu telah kembali dengan wajah berseri.
"Pocu menerimamu bekerja di sini,"
Ujarnya sambil tertawa girang.
"Oh!"
Tio Cie Hiong girang sekali.
"Terima kasih, Paman."
"Oh ya, aku belum tahu namamu."
Ujar orang tua itu.
"Namaku Tio Cie Hiong, Paman."
"Cie Hiong, engkau harus tahu. Aku adalah kepala pengurus di sini."
Orang tua itu memberitahukan.
"Tempat ini disebut Hong Lui Po (Puri Angin Halilintar) yang cukup terkenal dalam rimba persilatan."
"Oh?"
Tio Cie Hiong terbelalak.
"Majikan Puri ini adalah Hong Lui Kiam Khek (Pendekar Pedang Angin Halilintar) Ku Tiok Beng. Putranya bernama Ku Tek Cun, bersifat angkuh dan mau menang sendiri. Kalau engkau bertemu dengannya harus mengalah dan bersabar agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."
Orang tua itu memberitahukan lagi.
"Ku Tek Cun mempunyai seorang adik seperguruan perempuan bernama Phang Ling Hiang, usianya baru sekitar lima belas tahun. Anak gadis itu berhati baik dan lemah lembut...."
Tio Cie Hiong mendengarkan dengan penuh perhatian, dan orang tua itu melanjutkan lagi.
"Tugasmu di sini hanya membersihkan halaman depan dan belakang. Itu harus dikerjakan setiap pagi dan sore. Ada satu hal yang harus kau ingat baik-baik, yakni engkau tidak boleh memasuki rumah majikan Puri. Jadi kalau mau ke halaman depan, engkau harus melalui jalan samping, makan dan lain sebagainya dilakukan di rumah ini, engkau harus ingat itu!"
"Ya, Paman."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Oh ya!"
Orang tua itu tersenyum.
"Engkau boleh memanggilku Paman Tan. Aku tinggal di rumah besar itu, tapi setiap hari pasti kemari."
"Ya, Paman Tan."
Tio Cie Hiong mengangguk lagi.
"Sekarang engkau boleh beristirahat. Mulai besok pagi dan sore, engkau sudah harus membersihkan halaman depan serta halaman belakang, jangan melalaikan tugasmu itu."
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
Paman Tan memandangnya sambil tersenyum lembut, lalu meninggalkan kamar itu.
Tio Cie Hiong menarik nafas lega, sebab kini ia telah mendapat pekerjaan, maka ia bisa mengumpulkan uang agar bisa melanjutkan perjalanannya menuju ke gunung Heng San menemui Ku Tok Lojin.
Sudah sepuluh hari Tio Cie Hiong bekerja di Hong Lui Po.
Dalam sepuluh hari itu, ia bekerja dengan rajin sekali, sehingga Paman Tan sangat menyayanginya, begitu pula para pelayan lain.
Dalam sepuluh hari itu, Tio Cie Hiong sama sekali tidak pernah memasuki rumah besar itu.
Ia hanya membersihkan halaman depan dan belakang, namun kadang-kadang ia pun menggunting daun-daun tumbuhan yang telah layu.
Pagi itu ketika Tio Cie Hiong sedang menyapu halaman depan, tiba-tiba muncul seorang pemuda dan seorang gadis.
Pemuda itu berwajah tampan tapi tampak angkuh sekali.
Dialah Ku Tek Cun, putra kesayangan Hong Lui Kiam Khek Ku Tiok Beng.
Sedangkan gadis itu adalah Phang Ling Hiang, adik seperguruan Ku Tek Cun.
"Hei!"
Bentak Ku Tek Cun ketika melihat Tio Cie Hiong menyapu di situ.
"Engkau pelayan baru ya?"
"Betul."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Aku Siauw Pocu di sini!"
Ku Tek Cun memberitahukan.
"Maka engkau harus memanggilku Tuan muda!"
"Ya, Tuan muda."
Tio Cie Hiong mengangguk lagi.
"Dia sumoiku, bernama Phang Ling Hiang. Engkau harus memanggilnya nona!"
Ujar Ku Tek Cun.
"Ya, Tuan muda."
"Tak usah memanggilku nona, cukup kau panggil Kakak Phang saja,"
Ujar Phang Ling Hiang sambil tersenyum lembut.
"Tidak bisa!"
Ku Tek Cun tampak tidak senang.
"Dia pelayan di sini, maka tidak sederajat memanggilmu Kakak Phang, harus memanggil nona!"
"Tapi...."
Phang Ling Hiang mengerutkan kening.
"Aku suhengmu, maka engkau harus menurut padaku."
Tegas Ku Tek Cun.
"Baiklah Tuan muda!"
Ujar Tio Cie Hiong cepat agar mereka berdua tidak jadi ribut.
"Aku pasti memanggilnya nona."
"Ngmm!"
Ku Tek Cun manggut-manggut, kemudian memungut dua batang ranting pohon.
Sebatang ranting itu diberikan kepada Phang Ling Hiang seraya berkata sambil tersenyum."Sumoi, kita baru belajar Hong Lui Kiam Hoat (ilmu Pedang Angin Halilintar), karena itu, kita harus terus-menerus berlatih."
"Ya, Suheng."
Phang Ling Hiang mengangguk.
"Hei!"
Bentak Ku Tek Cun kepada Tio Cie Hiong.
"Engkau boleh melanjutkan pekerjaanmu!"
"Ya,"
Sahut Tio Cie Hiong lalu mulai menyapu lagi.
Sedangkan Ku Tek Cun dan Phang Ling Hiang sudah mulai berlatih Hong Lui Kiam Hoat, dengan menggunakan ranting.
Setelah berlatih, beberapa saat kemudian, barulah mereka berhenti.
"Sumoi!"
Ku Tek Cun tersenyum.
"ilmu Pedang Angin Halilintar memang hebat sekali, pantas ayahku memperoleh julukan Hong Lui Kiam Khek (Pendekar Pedang Angin Halilintar)!"
"Tapi aku masih kurang mahir,"
Sahut Phang Ling Hiang jujur.
"Aku akan memberi petunjuk padamu,"
Ujar Ku Tek Cun dan menjelaskan.
"Hong Kui Kiam Hoat terdiri dari tiga belas jurus. Enam jurus akan menimbulkan suara seperti deruan angin, sedangkan tujuh jurus lainnya akan memancarkan cahaya, sekaligus mengeluarkan suara menggelegar bagaikan suara halilintar."
"Suheng!"
Phang Ling Hiang menggelenggelengkan kepala.
"Kita belum sampai ketingkat itu, hanya guru yang telah mencapainya."
"Untuk itu.. kita harus terus berlatih !"
Ujar Ku Tek Cun sungguh-sungguh, kemudian mulai berlatih lagi. Berselang sesaat, ia berhenti mendadak sambil memandang Tio Cie Hiong yang sedang menyapu.
"Hei! Engkau ke mari sebentar!"
"Ya, Tuan muda."
Tio Cie Hiong segera menghampirinya.
"Apa yang harus kukerjakan, Tuan muda?"
"Engkau bisa berloncat-loncatan?"
Tanya Ku Tek Cun mendadak. Tio Cie Hiong mengangguk.
"Bagus!"
Ku Tek Cun tertawa.
"Kalau begitu, engkau harus terus berloncat-loncatan di sini!"
Tio Cie Hiong mulai berloncat-loncatan di hadapan Ku Tek Cun, Phang Ling Hiang mengerutkan kening menyaksikannya.
"Suheng, kenapa engkau menyuruh dia berloncat-loncatan?"
"Aku akan berlatih Hong Lui Kiam Hoat"
Sahut Ku Tek Cun sambil tersenyum.
"Aku akan menyerangnya dalam keadaan berloncat-loncatan."
"Suheng!"
Phang Ling Hiang terbelalak.
"Itu mana boleh?"
"Kenapa tidak?"
Sahut Ku Tek Cun, lalu berkata pada Tio Cie Hiong.
"Sebelum aku menyuruhmu berhenti, engkau tidak boleh berhenti...! Mengerti...?"
"Ya, Tuan muda."
Tio Cie Hiong mengangguk dan terus berloncat-loncatan.
Ku Tek Cun tersenyum-senyum, kemudian mendadak menyerang Tio Cie Hiong dengan Hong Lui Kiam Hoat.
Itulah jurus Angin Berhembus Menyapu Pohon.
Plak!
Pinggang Tio Cie Hiong terpukul oleh ranting di tangan Ku Tek Cun.
"Aduh!"
Jeritnya kesakitan dengan wajah meringis, namun ia masih tetap berloncat-loncatan.
"Suheng!"
Seru Phang Ling Hiang.
"Sudahlah! Jangan menyerangnya sebagai latihan!"
"Engkau merasa kasihan padanya?"
Tanya Ku Tek Cun dengan wajah tidak senang, karena Phang Ling Hiang membela Tio Cie Hiong.
"Suheng...."
Phang Ling Hiang menarik nafas panjang.
"Hm!"
Dengus Ku Tek Cun dingin, lalu menyerang Tio Cie Hiong lagi dengan jurus Angin Menyapu Ombak Laut, seketika berkelebat ranting itu menyabet leher Tio Cie Hiong.
Plak!
Leher Tio Cie Hiong tersabet ranting.
"Aaaakh...!"
Jeritnya sambil berkertak gigi menahan sakit. Ia masih terus berloncat-loncatan namun tenaganya semakin lemah.
"Suheng!"
Wajah Phang Ling Hiang pucat pias.
"Kenapa engkau begitu tega menyiksanya?"
"Aku menyiksanya?"
Ku Tek Cun tersenyum dingin.
"Aku sedang berlatih, seharusnya dia berkelit!"
"Dia tidak mengerti ilmu silat, bagaimana mungkin berkelit?"
Mata Phang Ling Hiang tampak bersimbah air. Hatinya merasa iba sekali pada Tio Cie Hiong.
"Sudahlah Suheng, mari kita berlatih berdua saja!"
"Sumoi! Kalau aku berlatih denganmu, aku tidak bisa menyerangmu dengan bersungguhsungguh, maka lebih baik aku berlatih dengan pelayan ini."
Sahut Ku Tek Cun.
"Suheng...."
Air mata Phang Ling Hiang telah meleleh.
"Eh?"
Ku Tek Cun mengerutkan kening.
"Sumoy! Kenapa engkau menangis?"
"Aku...."
Phang Ling Hiang menundukkan kepala.
"Ooooh!"
Ku Tek Cun manggut-manggut dengan wajah bengis.
"Aku tahu, engkau pasti merasa kasihan padanya! Baik, aku akan serang dia lagi!"
"Jangan Suheng...!"
Seru Phang Ling Hiang.
Akan tetapi, Ku Tek Cun telah menggerakkan ranting itu untuk menyerang Tio Cie Hiong.
Kali ini ia mengeluarkan jurus Halilintar Memecahkan Bumi.
Itulah jurus yang sangat lihay dan ganas.
Tampak Ku Tek Cun melompat ke atas setinggi sedepa, dan seketika berkelebatlah ranting itu ke arah kepala Tio Cie Hiong.
Taaak!
Kepala Tio Cie Hiong terpukul.
"Aaaakh...!"
Jerit Tio Cie Hiong, yang langsung berhenti berloncat-loncatan karena merasa matanya gelap nyaris pingsan seketika. Tubuhnya terhuyunghuyung ke belakang beberapa langkah lalu terkulai.
"Haaah?"
Phang Ling Hiang terkejut bukan main, lalu cepat-cepat menghampirinya.
"Engkau tidak apa-apa?"
"Terima kasih, Nona! Aku...."
Wajah Tio Cie Hiong meringis menahan rasa sakit di kepalanya.
"Aku tidak apa-apa."
"Sumoi!"
Bentak Ku Tek Cun.
"Kenapa engkau harus mendekatinya?"
"Aku... aku takut dia mati,"
Sahut Phang Ling Hiang tersendat-sendat.
"Kalau dia mati, kubur saja! Kenapa engkau harus merasa takut?"
Ujar Ku Tek Cun.
"Berapa harga nyawanya?"
"Suheng...."
Phang Ling Hiang menggelenggclengkan kepala.
"Kenapa engkau begitu kejam?!"
"Tuan muda...!"
Mendadak muncul Paman Tan. Ternyata salah seorang pelayan menyaksikan kejadian itu, lalu segera melapor kepada Paman Tan.
"Apa yang engkau perbuat terhadap anak itu?"
Kemunculan Paman Tan cukup mengejutkan Ku Ten Cun, sebab ayahnya saja sangat menaruh hormat pada orang tua itu, apa lagi dirinya.
"Paman Tan!"
Sahut Ku Tek Cun sambil tersenyum.
"Aku sedang berlatih dengan pelayan baru itu."
"Jangan bohong!"
Paman Tan menatapnya dingin.
"Benar, Paman Tan,"
Sahut Tio Cie Hiong, yang tidak ingin memperpanjang urusan itu.
"Tuan muda mengajakku berlatih, kepandaiannya tinggi sekali."
Paman Tan memandang iba kepada Tio Cie Hiong, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ku Tek Cun dengan dingin.
"Tuan muda, aku harap engkau jangan macam-macam lagi terhadap Cie Hiong!"
"Tentu tidak, Paman Tan,"
Sahut Ku Tek Cun sambil tersenyum.
"Percayalah!"
"Hm!"
Dengus Paman Tan dingin, lalu memapah Tio Cie Hiong ke belakang melalui jalan samping.
Phang Ling Hiang memandang punggung Tio Cie Hiong sambil menarik nafas panjang, sedangkan Ku Tek Cun hanya tersenyum dingin.
Paman Tan membaringkan Tio Cie Hiong di tempat tidur lalu menggeleng-gelengkan kepala sambil memeriksa lehernya.
Leher anak itu tampak kebiru-biruan bekas tersabet ranting.
"Nak! Masih ada bagian lain yang terpukul?"
Tanya Paman Tan lembut.
"Ti... tidak."
Tio Cie Hiong tidak berani berterus terang.
"Jangan bohong, Nak!"
Ujar Paman Tan.
"Engkau harus memberitahukan kepadaku, agar aku bisa mengobatimu."
"Di pinggang dan di kepala."
Tio Cie Hiong terpaksa memberitahukan.
"Masih terasa sakit sekali di kepala."
Paman Tan segera memeriksa kepala Tio Cie Hiong ternyata kepalanya telah timbul sebuah benjolan sebesar telor ayam.
"Aaaakh!"
Paman Tan menarik nafas panjang.
"Sungguh kejam hati anak itu!"
Paman Tan pun segera memeriksa pinggang Tio Cie Hiong.
Tampak membengkak di situ.
Tak henti-hentinya orang tua itu menggeleng-geleng kan kepala, kemudian pergi mengambil arak gosok.
Setelah itu, dengan hati-hati sekali ia menggosok-gosok luka-luka Tio Cie Hiong dengan arak gosok tersebut.
"Terima kasih, Paman!"
Ucap Tio Cie Hiong, yang terharu atas kebaikan orang tua itu. Paman Tan menatapnya sambil tersenyum lembut.
"Aku kagum padamu, sebab engkau begitu sabar."
"Bukankah Paman Tan pernah berpesan padaku, harus mengalah dan berlaku sabar padanya? Aku menuruti pesan Paman"
Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan. Paman Tan manggut-manggut sambil tersenyum gembira.
"Bagus, engkau masih ingat akan pesanku. Oh ya, bagaimana kalau aku memberitahukan tentang kejadian ini pada majikan Puri?"
"Jangan!"
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala. Bagian 2
"Kenapa?"
Tanya Paman Tan, ingin mengetahui alasan Tio Cie Hiong.
"Apabila Paman Tan memberitahukan pada majikan Puri, maka Ku Tek Cun akan mendendam padaku, dan membenci Paman Tan. Otomatis akan menimbulkan masalah lain, sedangkan aku tidak menghendaki itu"
Jawab Tio Cie Hiong menjelaskan. Paman Tan manggut-manggut lagi dengan wajah berseri.
"Engkau memang anak baik, penuh pengertian, kesabaran dan mau mengalah. Bagus!"
"Terima kasih atas pujian Paman Tan. Aku pasti menuruti nasihat Paman,"
Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Nah!"
Paman Tan tersenyum.
"Kini engkau boleh beristirahat, dan nanti sore engkau tidak usah menyapu, esok pagi saja!"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
Anak itu beristirahat di tempat tidur, dan akhirnya menjadi pulas.
Ketika ia mendusin, hari sudah gelap.
Tio Cie Hiong berjalan ke luar, lalu duduk di bawah pohon di halaman.
Kebetulan bulan bersinar terang, sehingga membuat daun-daun mengkilap tertimpa sinar bulan itu.
Di saat Tio Cie Hiong sedang duduk termenung, sekonyong-konyong berkelebat sosok bayangan kehadapannya, yang ternyata Phang Ling Hiang.
"Nona...?"
Tio Cie Hiong terkejut akan kemunculan gadis itu.
"Engkau bernama Tio Cie Hiong kan?"
Phang Ling Hiang menatapnya sambil tersenyum lembut.
"Kok Nona tahu?"
Cie Hiong tercengang.
"Salah seorang pelayan memberitahukan kepadaku,"
Sahut Phang Ling Hiang.
"Engkau memang berhati baik. Meskipun suhengku telah bertindak keterlaluan terhadapmu, namun engkau masih tidak mau mengadu pada Paman Tan. Aku kagum padamu."
"Nona! Lebih baik urusan besar diperkecil, dan urusan kecil dihilangkan."
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Jadi tidak akan menimbulkan masalah lain."
"Engkau sungguh berkepandangan jauh!"
Phang Ling Hiang menatapnya kagum.
"Oh ya! Aku mohon sudilah engkau memaafkan suhengku!"
"Nona jangan khawatir, aku pasti memaafkannya. Lagi pula ia tidak bersalah karena hanya menggunakan diriku untuk melatih ilmu pedangnya, maka aku tak mempersalahkannya!"
"Cie Hiong, engkau sungguh berjiwa besar!"
Phang Ling Hiang menatapnya, kemudian menarik nafas panjang dan berkata.
"Alangkah baiknya kalau sifat Suhengku bisa menyerupai sifatmu.
"Itu bisa."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat baik. Namun karena terpengaruh oleh lingkungan dan terlampau dimanjakan, maka sifat baik itu akan sirna dengan sendirinya. Tapi apabila kita mau berpikir lebih seksama, dan selalu ingat pada Tuhan, sifat baik itu akan timbul kembali."
"Cie Hiong...."
Setelah mendengar ucapan itu, Phang Ling Hiang bertambah kagum padanya.
"Oh ya, berapa umurmu sekarang?"
"Tiga belas tahun."
"Umurmu baru tiga belas tahun, namun pemikiranmu telah begitu matang."
Phang Ling Hiang tersenyum.
"Umurku sudah lima belas tahun, tapi pikiranku masih tidak bisa menyamai pikiranmu. Apa lagi suhengku itu..."
"Oh ya!"
Tio Cie Hiong teringat sesuatu.
"Lebih baik Nona segera meninggalkan tempat ini, sebab jika Suheng Nona melihat, akulah yang bakal celaka."
"Engkau tidak usah khawatir! Kebetulan malam ini suhengku pergi."
Phang Ling Hiang memberitahukan.
"Tapi Nona seorang gadis, tidak baik lama-lama bercakap-cakap dengan lelaki, harap Nona tahu akan hal ini!"
Tio Cie Hiong mengingatkan.
"Baiklah! Selamat malam!"
Ucap Phang Ling Hiang, lalu melesat pergi.
Hari ini sudah genap satu bulan Tio Cie Hiong bekerja di Hong Lui Po.
Selama ini, Ku Tek Cun tetap memperlakukannya sewenang-wenang.
Namun Tio Cie Hiong selalu mengalah dan bersabar.
Walau kadang-kadang badannya babak belur oleh kepalan Ku Tek Cun, tetap saja Tio Cie Hiong bersabar dan sama sekali tidak membencinya.
Malam harinya, Paman Tan pergi menemui Tio Cie Hiong dengan wajah berseri-seri.
Ketika itu Tio Cie Hiong berbaring di tempat tidur.
Begitu melihat Paman Tan masuk ke kamarnya, ia segera bangun, tapi wajahnya tampak meringis.
"Nak...."
Paman Tan mengerut kening.
"Kenapa engkau?"
"Ti... tidak apa-apa,"
Jawab Tio Cie Hiong sambil berusaha tersenyum.
"Ku Tek Cun memukulmu lagi?"
Tanya Paman Tan sambil duduk di hadapannya.
"Ti... tidak."
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Nak!"
Paman Tan menarik nafas panjang.
"Aku tahu bahwa dia sering menyiksamu, namun engkau tetap bersabar dan mengalah. Itu pertanda engkau benar-benar anak baik."
"Paman Tan..."
Ujar Tio Cie Hiong dengan merendahkan suaranya.
"Aku harap Paman Tan jangan melapor kepada Pocu, sebab aku masih ingin kerja di sini!"
"Aku tahu... Aku tahu...."
Paman Tan manggut-manggut.
"Oh ya, aku mengantar gajimu sebanyak tiga puluh tael perak."
Betapa gembiranya Tio Cie Hiong.
"Paman Tan, tolong simpan uang perak itu! Kalau sudah terkumpul, aku harus melanjutkan perjalanan ke Gunung Heng San."
"Baiklah."
Paman Tan manggut, kemudian menatapnya dalam-dalam seraya berkata.
"Nak, aku ingin memberitahukan satu hal kepadamu."
"Tentang apa?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Sebelum aku memberitahukan hal itu, terlebih dahulu aku harus bertanya padamu,"
Ujar Paman Tan serius.
"Paman Tan mau bertanya apa, tanyalah!"
"Engkau bisa membaca?"
"Bisa."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Sejak kecil aku sudah belajar membaca, menulis dan belajar ilmu sastra."
"Bagus! Bagus!"
Paman Tan tampak girang sekali.
"Kalau begitu, akan kuberitahukan hal itu padamu! Kira-kira tiga puluh tahun lampau, ayah Hong Lui Kiam Khek mengutusku ke sebuah kota untuk menemui seseorang. Setelah menemui orang itu, aku segera pulang ke Hong Lui Po. Dalam perjalanan pulang, di tengah jalan secara tidak sengaja aku menolong seorang tua yang menderita sakit. Aku merawatnya beberapa hari sehingga orang tua itu tampak agak segar. Di saat itulah dia memberikan kepadaku sebuah kitab tipis, dan sekaligus berpesan bahwa aku harus berhati-hati menyimpan kitab tipis itu, jangan sampai diketahui siapa pun, sebab akan membahayakan diriku. Pada waktu itu aku langsung menolak, karena aku tidak berminat menyimpan kitab tipis itu apalagi harus menanggung resiko bahaya. Tapi orang tua itu terus mendesakku, katanya dia tidak bisa hidup lama. Oleh karena itu, aku terpaksa menerimanya. Orang tua itu pun berpesan lagi, apabila kelak aku bertemu seorang anak yang berhati baik, maka aku harus menyerahkan kitab tipis tersebut pada anak tersebut. Namun selama puluhan tahun, aku tidak pernah bertemu seorang anak pun yang betul-betul berhati baik, maka kitab tipis itupun tetap tersimpan."
"Paman Tan, sebetulnya kitab apa itu?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Kata orang tua itu, kitab tipis tersebut berisi pelajaran ilmu tenaga dalam"
Jawab Paman Tan memberitahukan.
"Paman Tan, berikan saja kitab tipis itu kepada Ku Tek Cun...."
"Apa?"
Kening Paman Tan berkerut-kerut.
"Dia berhati begitu kejam, bagaimana mungkin kuberikan kitab tipis itu padanya? bukankah kau sudah tahu pesan pemilik kitab ini sebelumnya, bahwa harus diberikan pada anak yang berhati baik seperti dirimu!"
Paman Tan memandang Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Paman Tan!"
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Aku tidak berniat belajar ilmu silat."
"Itu bukan pelajaran ilmu silat, melainkan ilmu Iweekang."
"Aku pun tidak mau belajar ilmu Iweekang."
"Nak!"
Paman Tan menepuk bahunya.
"Tidak ada salahnya engkau mempelajari ilmu Iweekang, sebab akan membuat badanmu sehat."
"Lagi pula akan membuat dirimu kuat ketika nanti menghadapi pukulan-pukulan Ku Tek Cun."
"Tapi...."
"Nak, janganlah engkau tolak!"
Potong Paman Tan.
"Paman Tan...."
Tio Cie Hiong berpikir lama sekali, akhirnya mengangguk.
"Terima kasih, Paman!"
Paman Tan tampak gembira sekali.
Ia segera pergi mengambil kitab tipis tersebut.
Sedangkan Tio Cie Hiong duduk termangu di tempat tidur.
Memang tidak ada salahnya mempelajari ilmu Iweekang, sebab akan katanya akan membuat badan sehat.
Pikirnya sambil tersenyum-senyum.
Berselang beberapa saat kemudian, Paman Tan telah kembali, lalu duduk di sisi Tio Cie Hiong.
"Inilah kitab tipis yang kukatakan tadi."
Katanya dengan berbisik agar tak terdengar orang lain sambil menyerahkan kitab tipis itu kepada Tio Cie Hiong.
"Terima kasih, Paman Tan!"
Ucap Tio Cie Hiong sambil menerima kitab tipis itu. Berselang beberapa saat kemudian, Paman Tan telah kembali, lalu duduk di sisi Tio Cie Hiong.
"Inilah kitab tipis yang kukatakan tadi."
Katanya dengan berbisik agar tak terdengar orang lain sambil menyerahkan kitab tipis itu kepada Tio Cie Hiong.
"Terima kasih, Paman Tan!"
Ucap Tio Cie Hiong sambil menerima kitab tipis itu. Tertulis di depannya 'Pan Yok Hian Thian Sin Kang' "Nak! Mulai sekarang engkau harus menghapal dulu isi kitab tipis ini !"
Ujar Paman Tan berpesan.
"Sebab kata orang tua itu, kitab tipis ini setelah orang yang kuberi kitab ini menghafal dan mempelajarinya, maka kitab tipis ini harus dibakar."
"Kenapa harus dibakar?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Entahlah..., tapi itulah pesan dari orang tua itu"
Jawab Paman Tan.
Tio Cie Hiong hanya bisa manggut-manggut saja mendengar penjelasan itu.
Sejak itulah Tio Cie Hiong mulai menghafal dan sekaligus mempelajari kitab tipis itu.
Sedangkan Ku Tek Cun tetap memperlakukannya dengan sewenang-wenang.
Sebaliknya Phang Ling Hiang sangat baik dan semakin bersimpati padanya.
Seminggu kemudian, Tio Cie Hiong telah berhasil menghafal Pan Yok Hian Thian Sin Kang itu, maka Paman Tan pun membakar kitab tipis tersebut.
Setiap malam Tio Cie Hiong selalu melatih ilmu Iweekang di tempat tidurnya, membuat tubuhnya semakin hari semakin sehat dan kuat.
Sebulan telah berlalu, kini Tio Cie Hiong sudah merasakan ada hawa hangat terus mengalir di seluruh tubuhnya, sehingga seluruh tubuhnya selalu terasa segar dan nyaman sekali.
Hal itu membuat ia semakin tekun mempelajari seluruh isi kitab tipis itu.
Suatu hari ketika Tio Cie Hiong sedang menyapu halaman depan, muncullah Ku Tek Cun bersama Phang Ling Hiang.
Begitu melihat Tio Cie Hiong, seperti biasanya Ku Tek Cun langsung tersenyum dingin.
"Hei!"
Bentaknya.
"Kemarilah kau!"
"Ya."
Sahut Tio Cie Hiong sambil mendekatinya.
"Apakah aku harus menemani Tuan muda berlatih lagi?"
"Bagus!"
Ku Tek Cun tertawa.
"Semakin hari kelihatannya kau semakin tahan berlatih denganku, untuk itu aku akan mengganti cara latihanku!"
"Jadi.. apakah aku harus berloncat-loncatan atau berlari-lari mengelilingi halaman ini atau bagaimana tuan muda?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Kali ini engkau cukup berdiri diam di tempat,"
Sahut Ku Tek Cun sambil tersenyum sinis.
"Suheng! Jangan memperlakukannya begitu! Kenapa suheng begitu tega sering menyiksanya?"
Ujar Phang Ling Hiang dengan wajah muram.
"Sumoi!"
Ku Tek Cun mengerutkan kening.
"Kenapa engkau selalu membelanya?"
"Aku tidak membelanya, melainkan tidak sampai hati menyaksikannya disiksa olehmu! Suheng, mari kita berlatih berdua saja!"
"Setelah berlatih dengannya, aku pasti akan berlatih denganmu,"
Sahut Ku Tek Cun sambil memungut sebatang ranting.
"Suheng..."
Phang Ling Hiang menarik nafas panjang.
"Sumoi! Diamlah kau!"
Ku Tek Cun menatap gadis itu dengan kening berkerut, kemudian mengarah pada Tio Cie Hiong seraya berkata.
"Hari ini aku tidak melatih ilmu pukulan, melainkan ilmu pedang."
Tio Cie Hiong cuma manggut-manggut. Ia berdiri diam di hadapan Ku Tek Cun, sedangkan Phang Ling Hiang memandangnya dengan iba.
"Hiyaaat!"
Teriak Ku Tek Cun sambil menggerakkan ranting yang dipegangnya, lalu menyerang Tio Cie Hiong dengan jurus Angin Halilintar menyapu Bumi.
Tampak ranting itu berkelebat ke arah pinggang Tio Cie Hiong.
Sedangkan Tio Cie Hiong tetap berdiri diam di tempat.
Plaaak!
Pinggang Tio Cie Hiong terpukul oleh ranting itu.
Sungguh di luar dugaan, ranting itu patah menjadi beberapa potong.
Itu membuat Ku Tek Cun tercengang.
Ia tentu saja mengira ranting itu sudah lapuk.
Phang Ling Hiang memandang dengan mata terbelalak.
"Hmm!"
Dengus Ku Tek Cun dingin, lalu memungut sebatang ranting yang lebih besar.
"Aku ingin tahu, apakah kepalamu kuat menahan ranting ini?"
"Jangan, Suheng!"
Seru Phang Ling Hiang.
"Kepalanya akan pecah terpukul oleh ranting itu!"
"Kenapa engkau kalut?"
Tanya Ku Tek Cun tidak senang.
"Kalau kepalanya pecah, bagaimana?"
Tanya Phang Ling Hiang dengan wajah pucat pasi.
"Aku yang bertanggungjawab, engkau diam saja!"
Sahut Ku Tek Cun. Ia menatap Tio Cie Hiong dingin. Akan tetapi ketika ia ingin menyerang Tio Cie Hiong, terdengarlah bentakan keras.
"Berhenti, Tuan muda!"
Tiba-tiba Paman Tan sudah muncul di situ.
"Oh, Paman Tan!"
Ku Tek Cun tersenyum.
"Aku sedang berlatih dengan Cie Hiong, dia kuat sekali."
"Hmm!"
Dengus Paman Tan dingin, lalu mengajak Tio Cie Hiong pergi.
Ku Tek Cun menatap punggung Tio Cie Hiong dengan penuh kebencian, sedangkan Phang Ling Hiang dalam hati mengucap syukur.
Sudah setahun Tio Cie Hiong bekerja di Hong Lui Po (Puri Angin Halilintar) selama itu ia selalu melatih Pan Yok Hian Thian Sin Kang, sehingga membuat dirinya tanpa sadar telah memiliki Iweekang yang tinggi.
Keberhasilan itu sungguh menggirangkan Paman Tan.
Maka sore ini ia pergi menemui Tio Cie Hiong yang baru usai menyapu.
Kebetulan Tio Cie Hiong sedang duduk di bawah pohon di halaman belakang.
Paman Tan mendekatinya dengan wajah berseri-seri.
"Nak! Kenapa engkau duduk melamun di situ?"
Tanyanya sambil duduk di sisinya.
"Oh, Paman Tan!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Aku tidak melamun, melainkan duduk beristirahat di sini."
"Nak!"
Paman Tan menatapnya dalam-dalam.
"Aku girang sekali."
"Memangnya kenapa?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Sebab..."
Paman Tan merendahkan suaranya.
"Engkau sepertinya telah berhasil mempelajari ilmu Iweekang itu, maka engkau tidak perlu takut lagi dipukul Ku Tek Cun."
"Itu berkat jasa Paman yang memberikan kitab tipis itu padaku. Kalau tidak, mungkin aku telah mati terpukul,"
Ujar Tio Cie Hiong dengan suara rendah pula.
"Nak... Sudah setahun engkau bekerja di Hong Lui Po ini, bagaimana kesanmu di sini?"
"Cukup baik"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Paman Tan, Nona Phang dan para pelayan lain sangat baik terhadapku, hanya saja Tuan muda itu..."
"Itu kesalahan ayahnya."
Paman Tan menarik nafas panjang.
"Terlampau memanjakannya, karena dia adalah putra satu-satunya, sehingga membuat sifatnya semakin memburuk. Namun... Pocu sama sekali tidak mengetahuinya."
"Paman Tan, kenapa selama ini aku tidak melihat Pocu?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Bukankah selama ini engkau tidak pernah memasuki rumah besar itu? Jadi bagaimana mungkin engkau akan melihat Pocu? Lagi pula Pocu sangat terkenal dalam rimba persilatan, tidak gampang menemuinya."
"O000h!"
Tio Cie Hiong manggut-manggut. Paman Tan bangkit berdiri.
"Aku mau masuk kedalam... Engkau beristirahatlah.. jangan terlampau lama diluar!"
Tio Cie Hiong hanya tersenyum, sedangkan Paman Tan berjalan perlahan menuju rumah besar itu.
Tio Cie Hiong masih tetap duduk di bawah pohon.
Tak lama kemudian hari mulai gelap.
Ia bangkit berdiri, tetapi ketika baru mau melangkah pergi, mendadak muncul Phang Ling Hiang.
Gadis itu memandangnya sambil tersenyum.
"Nona Phang..."
Tio Cie Hiong segera memberi hormat padanya.
"Cie Hiong!"
Phang Ling Hiang menggelengkan kepala.
"Engkau tidak usah memberi hormat padaku! Anggaplah aku kakakmu!"
"Aku hanya seorang pelayan rendah di sini, maka tidak pantas menganggap Nona sebagai kakakku."
"Engkau jangan terlampau merendahkan diri. Aku tahu engkau sejak kecil telah belajar ilmu sastra. Sebetulnya tidak pantas engkau bekerja sebagai pelayan di sini."
"Nona..."
"Oh ya!"
Phang Ling Hiang menatapnya.
"Suhengku sering bertindak sewenang-wenang terhadapmu, aku mohon sudilah engkau memaafkannya!"
"Itu sudah pasti."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Terus terang, aku khawatir sekali..."
Phang Ling Hiang menarik nafas panjang.
"Apa yang Nona khawatirkan?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Sifat buruk suhengku itu, aku... aku khawatir kelak dia akan menjadi penjahat."
Phang Ling Hiang memberitahukan dengan wajah murung.
"Nona tak usah khawatir kelak ia pasti berubah baik."
Hibur Tio Cie Hiong.
"Percayalah!"
"Mudah-mudahan begitu!"
Phang Ling Hiang menarik nafas lagi.
Di saat mereka berdua sedang bercakap-cakap, ada sepasang mata mengintip dengan berapiapi.
Ternyata tanpa mereka ketahui, Ku Tek Cun bersembunyi di balik sebuah pohon sambil memandang mereka dengan wajah penuh diliputi kebencian.
"Nona..."
Tio Cie Hiong menatapnya.
"Tidak baik Nona datang menemuiku, sebab kalau Tuan muda tahu, repotlah aku."
"Engkau jangan khawatir!"
Phang Ling Hiang tersenyum.
"Dia tidak ada di dalam puri, sebab guruku menyuruhnya pergi untuk menemui seseorang."
"Justru lebih tidak baik Nona datang di sini, sebab akan menimbulkan kecurigaan orang, sehingga akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."
Ujar Tio Cie Hiong sambil menggelenggelengkan kepala.
"Aku menganggapmu adik, kenapa harus takut akan kecurigaan orang lain."
"Itu pikiran Nona, namun orang lain tak akan berpikir begitu. Jadi alangkah baiknya Nona segera meninggalkan tempat ini."
"Baiklah!"
Phang Ling Hiang mengangguk lalu pergi.
Tio Cie Hiong menarik nafas lega, lalu masuk ke rumah dan langsung menuju kamarnya.
Ketika is sedang membersihkan kamarnya, sekonyong-konyong seorang pelayan menerobos ke dalam.
"Cie Hiong..."
Wajah pelayan itu tampak pucat pias.
"Ada apa?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Pocu (Majikan Puri) memanggilmu."
Pelayan itu memberitahukan.
"Oh?"
Tio Cie Hiong kebingungan. Ia sama sekali tidak menyangka Pocu akan memanggilnya.
"Ada urusan apa Pocu memanggilku?"
"Entahlah!"
Pelayan itu menggelengkan kepala.
"Kelihatannya... Pocu sedang marah besar."
"Pocu sedang marah besar?"
Tio Cie Hiong terperangah.
"Pocu marah pada siapa?"
"Cepatlah engkau ke sana!"
Sahut pelayan itu.
"Pocu berada di ruang depan."
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk, dan pelayan itu langsung angkat kaki dari tempat itu.
Dengan perasaan heran Tio Cie Hiong menuju rumah besar itu.
Selama setahun ini, ia sama sekali tidak pernah memasuki rumah tersebut, namun malam ini ia justru memasukinya.
Setelah berada di ruang depan yang amat besar dan indah itu, ia melihat seorang lelaki berusia lima puluhan duduk di atas kursi dengan wajah penuh kegusaran.
Lelaki itu Hong Lui Kiam Khek -Ku Tiok Beng, majikan Puri Angin Halilintar.
Tampak pula Ku Tek Cun dan Phang Ling Hiang duduk di sisi Ku Tiok Beng, Ku Tek Cun tersenyum dingin, sedangkan Phang Ling Hiang menundukkan kepala.
"Cie Hiong!"
Bentak Ku Tiok Beng sambil menudingnya.
"Kenapa engkau begitu berani berbuat kurang ajar di dalam Hong Lui Po?"
"Pocu..."
Tio Cie Hiong kebingungan.
"Aku tidak pernah berbuat kurang ajar di sini."
"Engkau masih berani menyangkal?"
Bentak Ku Tiok Beng mengguntur dengan wajah gusar.
"Pocu!"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Sudah setahun aku bekerja di sini, tapi selama ini aku tidak pernah berbuat kurang ajar."
Ku Tiok Beng melotot.
"Engkau sungguh berani, secara diam-diam berjanji pada Liang Hiang untuk bertemu di halaman belakang, bukankah itu perbuatan kurang ajar?"
"Itu..."
Tio Cie Hiong tertegun, kemudian memandang Phang Ling Hiang, yang tetap menundukkan kepala.
"Hm!"
Dengus Ku Tek Cun dingin.
"Mereka berdua tampak begitu mesra di bawah pohon. Kalau aku tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, tentu aku pun tidak akan percaya."
"Tuan muda..."
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Aku tidak memfitnahmu kan?"
Sahut Ku Tek Cun sambil tertawa dingin.
"Bukankah engkau bermesra-mesraan dengan sumoiku di bawah pohon?"
"Kami memang bercakap-cakap di bawah pohon, tapi kami tidak bermesra-mesraan seperti Tuan muda katakan itu,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Ayah, dia telah mengaku,"
Ujar Ku Tek Cun kepada Hong Lui Kiam Khek-Ku Tiok Beng.
"Cie Hiong!"
Ku Tiok Beng menudingnya.
"Engkau telah mengaku, maka aku harus menghukummu!"
"Pocu!"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Sebelum jelas persoalan itu, aku harap Pocu tidak sembarangan menghukumku!"
"Engkau berani berkata begitu padaku..!!!"
Ku Tiok Beng tampak bertambah gusar sehingga wajahnya berubah merah padam.
"Karena aku merasa tidak bersalah, maka aku berani mengatakan begitu,"
Sahut Tio Cie Hiong dan melanjutkan.
"Pocu sangat terkenal dalam rimba persilatan, tentunya tidak akan melakukan sesuatu yang menjadi bahan tertawaan kaum Bu Lim."
"Engkau..."
Bukan main gusarnya Ku Tiok Beng.
"Engkau..."
"Perlu Pocu ketahui!"
Tambah Tio Cie Hiong.
"Tuan muda terlampau dimanjakan, sehingga menjadi sombong, dan sifatnya menjadi buruk sekali. Kalau Pocu tidak memperhatikan hal itu, kelak nama Pocu pasti tercemar."
"Apa?"
Ku Tiok Beng melotot dan langsung meloncat ke hadapan Tio Cie Hiong.
"Engkau berani bersikap demikian kurang ajar terhadapku?"
"Aku tidak berani bersikap kurang ajar terhadap Pocu, hanya mengingatkan Pocu saja,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Aku sudah begitu baik menerimamu bekerja di sini, tapi engkau malah..."
Perlahan-lahan Ku Tiok Beng mengangkat sebelah tangannya.
Kelihatannya ia sudah siap memukul kepala Tio Cie Hiong.
Anak itu tetap berdiri tegak di tempat, bahkan sepasang matanya terus menatap tangan Ku Tiok Beng yang telah terangkat ke atas itu.
Di saat Ku Tiok Beng ingin memukul kepalanya, mendadak terdengar suara bentakan keras.
"Berhenti, Pocu!"
Muncul Paman Tan mendekati mereka dengan langkah tergopoh-gopoh, dan wajahnya tampak gusar sekali.
"Paman Tan..."
Ku Tiok Beng tertegun menyaksikannya, sebab selama puluhan tahun, ia tidak pernah melihat orang tua itu begitu gusar.
"Kalau Pocu ingin membunuh anak itu, lebih baik Pocu bunuh aku dulu!"
Ujar Paman Tan dengan suara gemetar.
"Kenapa...?"
Ku Tiok Beng mengerutkan kening.
"Aku tahu jelas persoalan itu, maka aku harus membela Cie Hiong!"
Sahut Paman Tan.
"Kalau Pocu berkeras ingin membunuhnya, aku pun pasti membunuh diri di hadapan Pocu!"
Ku Tiok Beng memandang orang tua itu.
Sejak ia masih kecil, Paman Tan sudah bekerja pada almarhum ayahnya dan sangat mengabdi pada keluarganya dan menjadi orang kepercayaan, maka biar bagaimana pun, ia tidak mungkin tidak harus menghormatinya.
"Aaaakh...!"
Ku Tiok Beng menarik nafas panjang.
"Sudahlah! Cepat bawa anak ini pergi, esok pagi dia harus meninggalkan Hong Lui Po!"
Paman Tan segera menarik Tio Cie Hiong pergi. Setelah berada di dalam kamar, barulah orang tua itu menarik nafas lega.
"Nak!"
Paman Tan menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau nyaris mati di tangan Pocu."
"Heran!"
Gumam Tio Cie Hiong. Padahal Pocu sangat terkenal dalam rimba persilatan, kenapa dia justru tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah?"
"Nak!"
Paman Tan tersenyum getir.
"Ku Tek Cun adalah putra kesayangannya, maka biar bagaimana pun Pocu tetap membelanya. Lagi pula Ku Tek Cun pandai bermuka-muka di hadapan Pocu, maka Pocu mempercayai omongannya."
"Kalau begitu..."
Tio Cie Hiong memandang orang tua itu.
"Aku tidak bisa tinggal di Hong Lui Po ini lagi."
"Ya."
Paman Tan manggut-manggut dengan wajah muram.
"Esok pagi engkau harus meninggalkan tempat ini."
"Paman Tan, kita... kita akan berpisah."
Mata Tio Cie Hiong mulai berkaca-kaca.
"Hidup memang begitu, engkau tidak perlu berduka, Nak."
Paman Tan membelai-belai rambutnya.
"Kalau aku masih hidup, kelak kita pasti akan berjumpa kembali."
"Paman Tan..."
"Nak! Esok pagi aku akan menyediakan lima ratus tael perak dan seekor kuda untukmu, agar engkau bisa lekas sampai di gunung Heng San."
"Terima kasih, Paman!"
Ucap Tio Cie Hiong dengan air mata meleleh.
"Aku entah harus bagaimana membalas budi kebaikan Paman?"
"Nak!"
Sahut Paman Tan sungguh-sungguh.
"Kalau engkau bisa menjadi orang baik selamanya, itu berarti engkau telah membalas kebaikanku."
"Paman Tan!"
Ujar Tio Cie Hiong berjanji.
"Aku pasti menjadi orang baik selamanya."
"Bagus!"
Orang tua itu manggut-manggut dan tersenyum puas, kemudian menambahkan.
"Tidak sia-sialah aku menyuruhmu belajar ilmu Iweekang. Aku yakin, kelak engkau pasti menjadi seorang pendekar yang selalu membela kebenaran. Kalau aku belum mati, pasti senang sekali mendengarnya."
"Paman Tan!"
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Aku sama sekali tidak berniat belajar ilmu silat, bagaimana mungkin aku akan menjadi seorang pendekar?"
"Apa yang akan terjadi kelak sulit diramalkan. Siapa tahu pada suatu saat nanti engkau justru menjadi orang Bu Lim. Ya, kan?"
Orang tua itu menatapnya dalam-dalam. Tio Cie Hiong diam saja. Sedangkan orang tua itu membelainya seraya berpesan.
"Nak! Janganlah engkau lupa melatih ilmu Iweekang itu!"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk, lalu berkata dengan mata bersimbah air.
"Setelah aku dewasa kelak, aku pasti datang menengok Paman."
"Mudah-mudahan pada waktu itu, engkau telah menjadi seorang pendekar gagah dan berhati bajik!"
Ucap orang tua itu dan terus menerus membelainya dengan penuh kasih sayang.
Tampak seekor kuda putih berlari kencang meninggalkan Hong Lui Po.
Penunggang kuda putih itu seorang anak remaja, yang tak lain Tio Cie Hiong.
Pagi ini ia telah meninggalkan Hong Lui Po.
Paman Tan dan para pelayan mengantarnya sampai di depan Puri Angin Halilintar tersebut.
Tidak tampak Ku Tek Cun maupun Phang Ling Hiang.
Ternyata Ku Tek Cun melarang adik seperguruannya itu mengantar Tio Cie Hiong.
Oleh karena itu, Phang Ling Hiang menangis sedih di dalam kamarnya.
Kuda putih itu terus berlari ke arah timur.
Sedangkan Tio Cie Hiong merasa berat sekali berpisah dengan Paman Tan.
Namun apa boleh buat, ia memang harus meninggalkan Hong Lui Po itu, sebab Ku Tiok Beng, majikan Puri itu telah mengusirnya dengan tuduhan berlaku kurang ajar terhadap Phang Ling Hiang.
Tio Cie Hiong tahu, itu ulah Ku Tek Cun.
Akan tetapi, ia sama sekali tidak membenci maupun mendendam pada pemuda tersebut.
Sebaliknya ia malah merasa kasihan padanya, karena dengan sifat buruknya itu, kelak pasti akan menimbulkan suatu bencana bagi dirinya sendiri, dan sekaligus akan mencemarkan nama baik Hong Lui Po.
Sebelum meninggalkan Hong Lui Po, Paman Tan memberi Tio Cie Hiong lima ratus tael perak.
Dengan adanya bekal itu, maka Tio Cie Hiong tidak usah khawatir akan kekurangan uang.
Namun Tio Cie Hiong adalah anak berhati bijak.
Dalam perjalanan menuju Gunung Heng San, ia sering menolong para pengemis dengan uangnya itu.
Sepuluh hari kemudian, ia sudah sampai di Gunung Heng San.
Ia bertanya kepada penduduk setempat di mana letaknya Lembah Kesepian.
Dengan menunggang kuda putih itu, Tio Cie Hiong terus mendaki.
Ketika hari mulai senja, ia melihat sebuah lembah yang amat indah.
Tio Cie Hiong yakin, itu pasti Lembah Kesepian.
Karena itu, ia segera memasuki lembah tersebut, sedangkan kudanya berjalan perlahan-lahan.
Tio Cie Hiong menengok ke sana ke mari dengan penuh perhatian maka beberapa saat kemudian, ia melihat sebuah taman bunga sangat indah, yang di dalamnya terdapat sebuah gubuk.
Bukan main girangnya Tio Cie Hiong.
Ia cepat-cepat menuju gubuk itu, dan setelah sampai di depannya, ia meloncat turun dari punggung kudanya.
Pintu gubuk itu tertutup rapat.
Tio Cie Hiong mengetuknya seraya berseru.
"Permisi! Apakah Ku Tok Lojin berada di dalam?"
Tiada sahutan, Tio Cie Hiong berseru lagi berulang kali, tapi tetap tiada sahutan. Karena itu, ia terpaksa mendorong pintu gubuk tersebut lalu melongok ke dalam, tetapi tak ada seorang pun di sana.
"Permisi!"
Serunya lagi sambil berjalan ke dalam.
Di dalam gubuk itu terdapat perabotan-perabotan yang sangat sederhana, tapi sudah kotor semua.
Di sana sini tampak sarang laba-laba, yang menandakan bahwa sudah lama gubuk itu, tak dihuni orang.
Tio Cie Hiong berdiri tertegun di dalamnya.
Ia telah bersusah payah datang di Lembah Kesepian itu, tapi tidak bertemu Ku Tok Lojin.
Benarkah ini gubuk Ku Tok Lojin?
Kalau benar, kenapa tidak ada orangnya?
Pikir Tio Cie Hiong.
Akhirnya ia bermalam di gubuk itu, kalau ia tidak bertemu Ku Tok Lojin berarti tidak tahu riwayat hidupnya, lalu harus ke mana mencari Ku Tok Lojin itu?
Tio Cie Hiong terus berpikir, kemudian tertidur pulas.
Pagi-pagi sekali Tio Cie Hiong sudah bangun, lalu berjalan-jalan sejenak di taman bunga.
Mendadak ia melihat seorang tua sedang berjalan sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara parau.
Pakaian orang tua itu penuh tambalan.
Giranglah Tio Cie Hiong melihat ada orang.
Ia segera berlari menghampiri orang tua itu seraya berseru.
"Paman! Paman..."
Orang tua itu terbelalak ketika melihat kemunculan Tio Cie Hiong,sebab tidak menyangka ada seorang anak lelaki berada di tempat itu.
"Bocah! Siapa engkau dan kenapa berada di sini?"
Tanyanya dengan penuh keheranan.
"Aku Cie Hiong,"
Jawabnya.
"Apakah Paman tahu siapa yang pernah tinggal di gubuk ini.
"Ku Tok Lojin."
Orang tua itu memberitahukan.
"Tahukah Paman dia ke mana?"
"Entahlah."
Orang tua itu menggelengkan kepala dan menambahkan.
"Setahuku, sudah lima tahun dia meninggalkan gubuk ini."
"Yaaah!"
Keluh Tio Cie Hiong.
"Aku bersusah payah datang kemari, tapi dia malah tak ada."
"Kenapa engkau mencarinya?"
Tanya orang tua itu heran.
"Ingin menanyakan sesuatu padanya, tapi dia tidak ada. Entah harus ke mana aku harus mencarinya?"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau tidak salah, Ku Tok Lojin itu seorang Bu Lim,"
Ujar orang tua itu memberitahukan.
"Kalau engkau ingin tahu ke mana dia pergi, bertanyalah kepada orang Bu Lim juga!"
"Terima kasih atas saran Paman!"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Oh ya! Kenapa Paman berada di sini?"
"Aku tinggal di kaki gunung ini. Beberapa hari sekali aku pasti datang di tempat ini untuk mencari kayu."
Orang tua itu memberitahukan sambil menatapnya.
"Bocah, pakaianmu indah sekali."
"Oh?"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Belum pernah cucuku berpakain seindah itu."
Orang tua tersebut menarik nafas panjang.
"Kami orang miskin, sama sekali tidak mampu membeli pakaian..."
"Paman!"
Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Di dalam buntalanku masih ada beberapa stel pakaian, akan kuberikan pada Paman."
"Apa?"
Orang tua itu kelihatan tak percaya.
"Engkau ingin memberikan pakaianmu padaku?"
"Benar."
Tio Cie Hiong mengangguk, lalu masuk ke gubuk. Tak lama ia sudah keluar lalu menghampiri orang tua itu.
"Paman, di dalam buntalanku ini, ada beberapa stel pakaian dan sepuluh tael perak, terimalah!"
"Apa? Ini..."
Mulut orang tua itu ternganga lebar sambil menerima buntalan.
"Te... terima kasih!"
"Sama-sama,"
Sahut Tio Cie Hiong, lalu mendekati kuda putihnya, dan sekaligus meloncat ke punggungnya.
Setelah Tio Cie Hiong memegang tali kendali kuda, meringkiklah kuda putih dan langsung berlari pergi.
Orang tua itu memegang buntalan tersebut dengan mulut masih ternganga lebar.
"Siapa anak lelaki itu? Kok hatinya begitu baik?"
Gumamnya kemudian.
Kini di dalam baju Tio Cie Hiong hanya tersisa beberapa tael perak.
Namun ia sama sekali tidak merasa cemas.
Kalau uangnya sudah habis, ia akan bekerja lagi.
Sementara kuda putih itu terus berlari, tapi tidak begitu kencang.
Tio Cie Hiong ke gunung Heng San dengan tujuan menemui Ku Tok Lojin untuk menanyakan riwayat hidup dirinya.
Akan tetapi, Ku Tok Lojin justru telah pergi beberapa tahun lalu, sehingga ia tetap tidak tahu siapa kedua orang tuanya.
Oleh karena itu, haruskah ia mengembara dalam rimba persilatan mencari Ku Tok Lojin?
Lalu ia harus menuju ke mana?
Itu sungguh memusingkan Tio Cie Hiong.
Akhirnya ia teringat akan daerah Kang Lam, yang sangat kesohor keindahan panoramanya.
Karena itu, ia lalu memacu kudanya ke arah selatan.
Dalam perjalan, Tio Cie Hiong sama sekali tidak lupa melatih Pan Yok Hian Thian Sin Kang, maka tanpa disadarinya, Iweekangnya menjadi semakin meningkat.
Ingatannya bertambah kuat, bahkan penglihatannya pun bertambah tajam.
Ketika masih berada di Hong Lui Po, ia sering melihat Ku Tek Cun dan Phang Ling Hiang berlatih ilmu pedang Hong Lui Kiam Hoat, dan kini semua gerakan ilmu pedang tersebut masih berada di dalam ingatannya.
Ada satu hal yang sangat mengherankan, yakni ia tidak pernah belajar ilmu silat, namun setelah menyaksikan ilmu pedang Hong Lui Kiam Hoat itu, ia pun tahu di mana letak keistimewaan ilmu pedang tersebut.
Kenapa bisa begitu?
Tidak lain disebabkan Kecerdasan otak dan Pan Yok Hian Thian Sin Kang yang ternyata adalah Ilmu Iweekang yang sangat langka di dunia ini.
Beberapa hari kemudian, Tio Cie Hiong sudah kehabisan uang lagi.
Apa boleh buat, ia terpaksa menjual kudanya kepada seseorang pedagang kuda di sebuah kota.
Padahal kuda putih itu berharga ratusan tael perak, namun pedagang kuda itu hanya membayarnya lima puluh tael perak.
Tio Cie Hiong menerimanya dengan girang, karena tidak tahu harga kuda putih itu.
Tio Cie Hiong melanjutkan perjalanannya menuju selatan.
Dasar ia berhati baik, lima puluh tael perak itu dibagi-bagikan kepada orang miskin, sehingga ia sendiri tak mempunyai uang sama sekali.
Oleh karena itu ia harus menahan lapar.
Hari ini Tio Cie Hiong telah tiba di suatu tempat yang penuh pohon-pohon rindang.
Ia berteduh di bawah sebuah pohon rindang untuk beristirahat sejenak.
Berselang beberapa saat kemudian ia bangkit berdiri dan meneruskan perjalanannya.
Betapa girangnya ketika ia melihat sebuah sungai, dan ia langsung berlari ke sungai itu.
Setibanya di tepi sungai, ia menengok ke sana ke mari.
Tak ada seorang pun berada di tempat itu, segeralah ia membuka pakaiannya, lalu terjun ke dalam sungai itu.
iapun mencuci pakaiannya lalu dijemur di atas rumput di tepi sungai.
Tio Cie Hiong tak berani naik ke atas, sebab ia dalam keadaan telanjang, maka terus berendam di sungai menunggu sampai pakaiannya kering.
Air sungai itu sangat dingin, maka membuatnya secara tidak langsung mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang.
Setelah mengerahkan Iweekang tersebut, tubuhnya langsung hangat, sehingga sangat menggirangkannya.
Entah berapa lama kemudian, mendadak Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
Ternyata ia mendengar suara langkah.
Namun ia tidak menoleh ke belakang, melainkan tetap berendam di dalam sungai.
Tampak seorang pengemis kecil dan dekil berjalan di situ.
Walau berjarak lima puluhan depa, Tio Cie Hiong sudah mendengar suara langkah itu.
Pengemis itu terus berjalan, tetapi tiba-tiba ia berhenti dengan mata terbelalak memandang ke sungai, karena ia melihat ada orang berendam di situ.
"Hei..."
Seru pengemis kecil.
"Siapa engkau, kenapa berendam di dalam sungai"
Perlahan-lahan Tio Cie Hiong menoleh.
Begitu melihat pengemis kecil, terbeliaklah ia seketika.
Ternyata pengemis kecil itu Lim Ceng Im, setahun lalu mereka pernah bertemu.
Pada waktu itu, Tio Cie Hiong juga sedang mandi di sungai dalam keadaan telanjang.
"Ceng Im...!"
Seru Tio Cie Hiong girang.
"Haaah? Engkau?"
Pengemis kecil tertegun lalu tertawa gembira sambil berlari ke tepi sungai.
"Cie Hiong! Cie Hiong..."
"Ceng Im!"
Saking girangnya Tio Cie Hiong lupa akan dirinya yang dalam keadaan telanjang bulat, ia naik ke atas.
"Auuuh!"
Jerit Lim Ceng Im. Ketika badan Tio Cie Hiong baru nongol separuh. Pengemis kecil itu langsung membalikkan badannya.
"Eeeh? Oh! Maaf!"
Tio Cie Hiong tersenyum karena baru ingat dirinya dalam keadaan telanjang.
"Cie Hiong, cepatlah engkau berpakaian!"
Seru Lim Ceng Im.
"Ya,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil naik ke atas dan cepat-cepat berpakaian.
"Aku sudah berpakaian."
Perlahan-lahan Lim Ceng Im membalikkan badannya. la menarik nafas lega ketika melihat Tio Cie Hiong sudah berpakaian. Namun kemudian ia terbelalak sambil menatapnya.
"Eeeh?"
Tio Cie Hiong terheran-heran.
"Kenapa engkau menatapku dengan cara begitu?"
"Cie Hiong!'sahut Lim Ceng Im dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Setahun lebih kita tidak bertemu, engkau tampak semakin tampan lho!"
"0.. ya?"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Sebaliknya engkau bertambah dekil."
"Engkau merasa jijik padaku?"
Tanya Lim Ceng Im cemberut.
"Engkau teman baikku, bagaimana mungkin aku merasa jijik padamu?"
Sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Benarkah?"
Lim Ceng Im tertawa gembira.
"Tentu saja benar."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Cie Hiong! Mari kita duduk di bawah pohon!"
Ajak Lim Ceng Im. Tio Cie Hiong mengangguk, lalu mereka berdua menghampiri sebuah pohon dan duduk di bawahnya.
"Ceng Im!"
Tio Cie Hiong memandangnya.
"Kenapa engkau masih berpakaian pengemis dan masih begitu dekil? Apakah engkau tidak pernah mandi sama sekali?"
"Aku memang pengemis, mana ada pengemis yang bersih sih?"
Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Oh ya, Cie Hiong!"
Bagaimana keadaanmu selama setahun ini?"
"Aku baik-baik saja."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Aku bekerja di Hong Lui Po. setelah itu barulah berangkat ke gunung Heng San."
"Oooh!"
Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Apakah engkau telah bertemu orang yang kau cari itu?"
"Aku sudah sampai di tempatnya, tapi dia tidak ada."
Tio Cie Hiong menarik nafas.
"Kata seseorang penduduk di sana, beberapa tahun lalu dia telah meninggalkan tempat itu. Aku tidak tahu harus ke mana lagi mencarinya."
"Sebetulnya siapa yang kau cari itu?"
Tanya Lim Ceng Im mendadak.
"Dia adalah Ku Tok Lojin."
"Ku Tok Lojin?"
Lim Ceng Im mengerutkan kening sambil berpikir, kemudian berkata.
"Aku tidak pernah mendengar tentang orang itu, akan kutanyakan pada ayah, mungkin ayah tahu itu."
"Terima kasih, Ceng Im!"
Ucap Tio Cie Hiong dan mendadak is tertawa geli.
"Eeeh?"
Lim Ceng Im tercengang.
"Kenapa engkau tertawa geli? Apa yang menggelikanmu?"
"Heran!"
Sahut Tio Cie Hiong dan masih tertawa geli.
"Setahun lalu engkau bertemu denganku dalam keadaan telanjang, kali ini pun begitu. Kita sungguh berjodoh sekali!"
"Jangan omong sembarangan!"
Lim Ceng Im cemberut.
"Nyatanya memang begitu,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tertawa.
"Jangan-jangan engkau memang senang melihat aku telanjang.
"Eh? Jangan kurang ajar!"
Lim Ceng Im cemberut lagi dengan wajah memerah.
"Heran!"
Gumam Tio Cie Hiong sambil menatapnya.
"Engkau lelaki, tapi kenapa suka cemberut seperti gadis? Ceng Im, lelaki tidak boleh cemberut Iho!"
"Siapa suruh engkau tidak tahu malu?"
"Aku tidak tahu malu?"
Tio Hui Hong menggaruk-garuk kepala.
"Aku tidak merasa itu."
"Kenapa engkau sering mandi telanjang di sungai"
"Karena pakaianku sudah kotor, harus dicuci. Kalau aku tidak telanjang, bagaimana pakaianku itu dicuci?"
"Engkau tidak punya pakaian lain?"
"Sebetulnya ada, tapi telah kuberikan pada orang,"
Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Bahkan uangku pun telah habis kubagi-bagikan pada orang miskin."
"Oh?"
Lim Ceng Im menatapnya penuh perhatian.
"Jadi sekarang engkau tidak punya uang?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Cie Hiong!"
Lim Ceng Im menundukkan kepala.
"Aku juga tidak punya uang, kalau aku punya, pasti kuberikan padamu."
"Terima kasih!"
Ucap Tio Cie Hiong, kemudian merogoh ke dalam bajunya mengeluarkan sesuatu.
"Lihatlah! Hingga saat ini aku masih menyimpannya, bahkan akan kusimpan selamalamanya."
Lim Ceng Im mendongakkan kepala melihat. Semula ia tampak tertegun tapi kemudian wajahnya berseri-seri.
"Itu... itu kantongku,"
Ujarnya gembira.
"Setahun yang lalu kuberikan kepadamu!"
"Benar."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kantong yang dulu berisi uang perak. Engkau begitu baik hati terhadapku, maka aku harus menyimpan kantong ini selama-lamanya."
"Ng!"
Lim Ceng Im manggut-manggut dengan mata berbinar-binar.
"Oh ya, apa rencanamu sekarang?"
"Aku tidak punya rencana, namun mungkin akan berusaha mencari Ku Tok Lojin."
"Mencarinya ke mana?"
"Mungkin aku harus mengembara dalam rimba persilatan, sebab kaum rimba persilatan pasti tahu Ku Tok Lojin berada di mana."
"Tapi...."
Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau tidak punya uang, bagaimana mungkin bisa mengembara dalam rimba persilatan?"
"Aku akan kerja lagi."
"Cie Hiong!"
Mendadak Lim Ceng Im menatapnya serius.
"Maukah engkau belajar ilmu silat? Aku akan carikan engkau seorang guru yang berkepandaian tinggi. Bagaimana?"
"Ceng Im!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Terima kasih atas maksud baikmu, namun aku tidak berniat belajar ilmu silat."
"Engkau ingin mengembara dalam rimba persilatan, seharusnya engkau belajar ilmu silat untuk menjaga diri."
"Itu tidak perlu."
Ujar Tio Cie Hiong.
"Kalau aku tidak berbuat salah, tak mungkin akan diganggu orang."
"Heran!"
Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa engkau tidak tertarik untuk belajar ilmu silat?"
"Orang yang belajar ilmu silat, pasti tak lebih dari bunuh membunuh. Oleh karena itu, aku tidak mau belajar ilmu silat."
"Engkau memang aneh."
Lim Ceng Im menari nafas.
"Oh ya, kalau tidak salah engkau sudah berusia empat belas tahun bukan?"
"Benar?"
Memangnya kenapa?"
"Kalau begitu, bagaimana kalau mulai sekarang aku memanggilmu Kakak Hiong?"
"Boleh."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Jadi aku pun harus memanggilmu Adik Im, bukan?"
"Ya."
Lim Ceng Im tersenyum. Di saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, mendadak terdengar suara siulan yang sangat nyaring.
"Aaaakh!"
Keluh Lim Ceng Im.
"Kakak Hiong, aku harus pergi."
"Adik Im!"
Tio Cie Hiong menatapnya heran.
"Setahun yang lalu, ketika engkau mendengar suara siulan langsung pergi. Kali ini pun begitu. Memangnya kenapa?"
"Itu suara siulan ayahku, maka aku harus segera pergi menemuinya."
Lim Ceng Im memberitahukan sambil bangkit berdiri.
"Adik Im!"
Tio Cie Hiong juga berdiri.
"Kapan kita akan berjumpa lagi?"
"Kelak kita pasti berjumpa kembali,"
Bukankah engkau bilang... kita berjodoh? Nah, kita pasti berjumpa kembali,"
Ujar Lim Ceng Im dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Kakak Hiong, sampai jumpa!"
Lim Ceng Im melesat pergi, sedangkan Tio Cie Hiong berdiri termangu-mangu di tempat.
Sementara Lim Ceng Im telah sampai di suatu tempat, tampak seorang pengemis berusia lima puluhan berdiri di situ.
Pengemis itu ayahnya yang bernama Lim Peng Hang.
"Ayah!"
Lim Ceng Im menghampiri pengemis itu dengan wajah tidak senang.
"Ayah sungguh keterlaluan!"
"Lho?"
Pengemis itu tertawa gelak.
"Kenapa ayah keterlaluan?"
"Ayah tidak boleh lihat orang senang. Aku baru bertemu dia, tapi ayah langsung memanggilku. Bukankah keterlaluan sekali?"
Sahut Lim Ceng Im cemberut.
"Bertemu dia? Siapa dia?"
Tanya pengemis itu sambil tersenyum.
"Ayah sudah tahu kok malah pura-pura bertanya?"
Wajah Lim Ceng Im kemarah-merahan.
"Maksudmu anak lelaki itu?"
"Ya."
"Nak!"
Lim Peng Hang menarik nafas panjang.
"Usiamu baru tiga belas, belum waktunya berkenalan dengan anak lelaki!"
"Memangnya kenapa?"
"Itu akan mengganggu pelajaran ilmu silatmu."
"Ayah!"
Lim Ceng Im menatapnya.
"Dia... dia anak baik, aku..."
"Engkau suka padanya?"
Lim Peng Hang terbelalak.
"Ya."
Lim Ceng Im mengangguk perlahan.
"Yaaaa... ampun!"
Lim Peng Hang menepuk keningnya sendiri.
"Engkau masih kecil, kok sudah suka pada anak lelaki? Itu... itu..."
"Ayah! Bolehkah aku pergi menemuinya?"
Tanya Lim Ceng Im mendadak.
"Boleh."
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Terima kasih, Ayah!"
Lim Ceng Im girang bukan main.
"Sekarang aku akan pergi menemuinya."
"Jangan sekarang! Harus tunggu engkau dewasa dulu!"
Ujar Lim Peng Hang.
"Apa?"
Lim Ceng Im terbelalak.
"Harus tunggu aku dewasa? Jadi kapan aku baru boleh pergi menemuinya?"
"Harus beberapa tahun lagi,"
Sahut Lim Peng Hang sungguh-sungguh.
"Ayah..."
Mata Lim Ceng Im bersimbah air.
"Nak! Belum waktunya engkau memikirkan lelaki. Engkau harus tekun belajar. Sebab kelak engkau harus menggantikan kedudukanku."
"Ayah, aku tidak mau jadi ketua partai pengemis,"
Sahut Lim Ceng Im.
"Setiap hari harus berpakaian rombeng, walau pun sudah bersih harus dikotor-kotorkan pula."
"Itu adalah peraturan partai Kay Pang, tapi setelah engkau dewasa, tentunya engkau boleh berpakaian indah."
Lim Peng Hang memberitahukan.
"Benarkah..?"
Wajah Lim Ceng Im berseri.
"Nak! Cepatlah engkau pulang ke markas pusat. Sebab kakekmu sedang menunggu di sana!"
"Kakek menungguku?"
Lim Ceng Im tersenyum gembira.
"Kakek mau mengajarku ilmu silat?"
"Ya."
Lim Peng Hang mengangguk.
"Ayoh, ikut ayah pulang!"
Lim Ceng Im mengangguk.
Mereka berdua lalu melesat pergi, namun pikiran pengemis kecil itu tetap menerawang membayangkan wajah Tio Cie Hiong yang tampan dan simpatik itu.
Kini Tio Cie Hiong telah sampai di Kota Po Teng.
Kota tersebut sangat ramai dan merupakan kota pusat perdagangan, maka tidak heran, kalau kaum pedagang dari berbagai kota mendatangi kota itu.
Karena Kota Po Teng sangat aman, bebas dari gangguan para perampok, sebab di Kota tersebut terdapat sebuah Ekspedisi Hui Houw (Harimau Terbang), yang amat terkenal dalam rimba persilatan.
Pemimpin ekspedisi itu adalah Cit Pou Tui Hun (Tujuh Langkah Pengejar Roh) Gouw Han Tiong.
Beberapa tahun yang lalu Tui Hun Lojin (Orang Tua Pengejar Roh), ayahnya telah cuci tangan, maka Cit Pou Tui.
Hun Gouw Han Tiong menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemimpin ekspedisi itu.
Bagian 3 Selama puluhan tahun, barang kawalan ekspedisi Hui Houw tak pernah dirampok, karena Tui Hun Lojin dan putranya berkepandaian sangat tinggi.
Lagi pula mereka berjiwa besar dan selalu membantu kaum Bu Lim yang kepepet uang.
Oleh karena itu, para perampok dari daerah mana pun tidak berani mengganggu barang kawalan ekspedisi itu.
Tio Cie Hiong berdiri di depan gedung ekspedisi tersebut.
Ternyata ia ingin melamar pekerjaan di situ.
Namun is tidak berani lancang memasuki halaman bangunan yang sangat besar itu.
Kebetulan salah seorang piauwsu melihatnya.
"Saudara kecil!"
Piauwsu itu menghampirinya.
"Kenapa engkau dari tadi berdiri di situ?"
"Aku... aku ingin mencari pekerjaan,"
Sahut Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Maksudmu ingin bekerja di sini?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Engkau tunggu sebentar, aku akan ke dalam untuk bertanya kepada pemimpin kami,"
Ujar piauwsu itu dan sekaligus berjalan ke dalam. Berselang beberapa saat kemudian, piauwsu itu sudah kembali.
"Saudara kecil, mari ikut aku ke dalam!"
Katanya sambil tersenyum.
"Terima kasih!"
Ucap Tio Cie Hiong dan mengikuti piauwsu itu ke dalam.
Begitu masuk ke dalam, Tio Cie Hiong terbelalak karena melihat halaman yang amat luas.
Setelah melewati halaman itu, Piauwsu tersebut mengajaknya memasuki bangunan besar itu.
Tampak seorang lelaki berusia lima puluhan duduk di ruang depan.
Lelaki itu adalah Cit Pou Tui Hun-Gouw Han Tiong, pemimpin Ekspedisi Harimau Terbang.
Di sisinya berdiri seorang anak perempuan berusia sekitar tiga belas tahun, yang wajahnya sungguh cantik sekali.
Piauwsu itu melapor pada Gouw Han Tiong, lalu meninggalkan ruang itu.
Sedangkan Gouw Han Tiong terus memandang Tio Cie Hiong yang berdiri di hadapannya.
Ternyata lelaki itu merasa heran, sebab sepasang mata Tio Cie Hiong bersinar begitu terang.
"Beritahukanlah namamu!"
Ujar Gouw Han Tiong.
"Namaku Tio Cie Hiong, Tuan."
"Engkau mau bekerja di sini?"
"Ya, Tuan."
"Tapi pekerjaan di sini berat sekali."
Gouw Han Tiong memberitahukan.
"Apakah engkau sanggup bekerja di sini?"
"Sanggup, Tuan,"
Jawab Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Bangunan ini sangat besar. Setiap pagi dan sore engkau harus membersihkan seluruh bangunan ini, juga termasuk halaman depan, tengah dan halaman belakang. Apakah engkau tidak merasa berat akan pekerjaan itu?"
"Aku tetap sanggup mengerjakannya, Tuan."
Gouw Han Tiong manggut-manggut.
"Baiklah. Kuterima engkau bekerja di sini."
"Terima kasih, Tuan!"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Cie Hiong!"
Gouw Han Tiong tersenyum.
"Engkau jangan memanggilku tuan, panggil saja paman!"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Paman."
"Sian Eng!"
Ujar Gouw Han Tiong pada anak gadis yang berdiri di sisinya.
"Ajak Cie Hiong ke dalam melihat kamarnya!"
"Ya, Ayah."
Gouw Sian Eng mengangguk, kemudian mengajak Tio Cie Hiong ke dalam.
Sungguh di luar dugaan, ternyata di dalam bangunan itu terdapat sebuah halaman amat indah, yang dihiasi dengan berbagai tumbuhan.
Setelah melewati halaman itu, Gouw Sian Eng mengajak Tio Cie Hiong memasuki sebuah bangunan lain.
"Ini kamarmu,"
Ujar Gouw Sian Eng sambil membuka pintu kamar itu.
"Lihatlah dulu! Kalau engkau merasa tidak cocok, aku akan menunjukkan kamar lain."
"Cocok,"
Sahut Tio Cie Hiong tanpa melongok ke dalam.
"Engkau belum melihat ke dalam, kok langsung mengatakan cocok?"
Gouw Sian Eng heran.
"Aku sudah merasa puas sekali dengan kamar ini,"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
Gouw Sian Eng terbelalak ketika melihat senyumannya, kemudian wajahnya tampak memerah dan segera menundukkan kepala.
Tio Cie Hiong tidak memperhatikan hal itu, karena ia telah melangkah ke dalam kamar.
"Ei!"
Seru Gouw Sian Eng.
"Di mana pakaianmu?"
"Pakaianku?"
Tio Cie Hiong tersenyum geli.
"Cuma yang kupakai ini."
Mulut Gouw Sian Eng ternganga lebar, lama sekali barulah berkata.
"Kalau begitu, akan kuambilkan pakaian untukmu."
"Terima kasih, Nona!"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Jangan memanggilku nona, namaku Sian Eng, panggil saja namaku!"
Ujar gadis itu.
"Tapi... aku pembantu disini, jadi mana boleh aku memanggil namamu?"
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Kalau engkau memanggilku nona, aku akan marah."
Gouw Sian Eng kelihatan sungguhsungguh.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Engkau tunggu sebentar!"
Gouw Sian Eng meninggalkan kamar itu, tetapi berselang sesaat ia sudah kembali dengan membawa sebuah buntalan.
"Ada beberapa stel pakaian, untukmu semua."
"Aku telah merepotkanmu, Nona... Eh, Sian Eng,"
Ucap Tio Cie Hiong. Gouw Sian Eng tersenyum.
"Hampir saja engkau lupa memanggil namaku."
"Aku..."
Tio Cie Hiong ingin mengatakan sesuatu, namun mendadak perutnya berbunyi.
"Kruuuk! Kruuuuk! "Eh?"
Gouw Sian Eng terheran-heran.
"Bunyi apa itu?"
"Perutku yang berbunyi."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Oooh!"
Gouw Sian Eng manggut-manggut, lalu berlari pergi, sedangkan Tio Cie Hiong menaruh buntalan itu ke dalam lemari.
Tak seberapa lama kemudian, Gouw Sian Eng muncul lagi dengan membawa sebuah bungkusan, cangkir dan sebuah teko yang berisi air teh.
"Bungkusan ini untukmu,"
Ujarnya sambil menaruh bungkusan itu dan teko berikut cangkir di atas meja.
"Terima kasih!"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Bungkusan apa itu?"
Tanyanya.
"Bukalah! Engkau akan mengetahuinya,"
Sahut Gouw Sian Eng sambil tersenyum lembut. Tio Cie Hiong membuka bungkusan itu. Ternyata bungkusan itu berisi nasi putih dan beberapa potong ayam panggang.
"Haaah?"
Tio Cie Hiong terbelalak dan perutnya langsung berbunyi lagi.
"Ini untukku?"
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk.
"Aku tahu, engkau pasti sudah lapar sekali. Kalau tidak, bagaimana mungkin perutmu berbunyi?"
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Makanlah!"
Ujar Gouw Sian Eng. Tio Cie Hiong langsung bersantap bagaikan macan kelaparan. Gouw Sian Eng tertawa geli menyaksikannya, lalu menuangkan secangkir air teh untuk Tio Cie Hiong.
"Sian Eng! Engkau sedemikian baik terhadapku, kalau ayahmu tahu, apakah engkau tidak dimarahinya?"
Tanya Tio Cie Hiong seusai bersantap.
"Tentu tidak,"
Jawab Gouw Sian Eng.
"Minumlah!"
Tio Cie Hiong meneguk air teh itu, kemudian memandangnya seraya berkata lagi.
"Padahal aku akan bekerja sebagai pembantu di sini, namun engkau sedemikian baik terhadapku. Aku khawatir... ayahmu akan tidak senang."
"Jangan khawatir ayahku tidak akan begitu."
Gouw Sian Eng memberitahukan.
"Sebab ayahku selalu berpesan, tidak boleh menghina orang lain dan harus berbuat baik pula."
"Kakekku pun selalu berpesan begitu kepadaku, jadi engkau tidak usah khawatir!"
"Engkau masih punya kakek?"
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk.
"Oh ya, di mana kedua orang tuamu?"
"Sudah lama meninggal. Aku pun tidak tahu siapa kedua orang tuaku,"
Ujar Tio Cie Hiong jujur.
"Kok begitu?"
Gouw Sian Eng heran.
"Aku dibesarkan paman. Sebelum meninggal is berpesan kepadaku harus pergi ke Gunung Heng San menemui Ku Tok Lojin."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Engkau sudah pergi ke sana?"
"Sudah, tapi tidak bertemu Ku Tok Lojin, sebab dia telah meninggalkan tempat tinggalnya itu."
"Kenapa pamanmu menyuruhmu pergi menemui orang itu?"
"Kata Paman, Ku Tok Lojin akan memberitahukan riwayatku. Tapi Ku Tok Lojin tidak berada di tempat, dan aku tidak tahu harus ke mana mencarinya."
"Jadi hingga kini engkau masih belum tahu siapa kedua orang tuamu?"
Tanya Gouw Sian Eng sambil memandangnya iba.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Cie Hiong! Sekarang engkau boleh beristirahat dulu, esok baru mulai kerja,"
Pesan Gouw Sian Eng.
"Terima kasih, Sian Eng!"
Ucap Tio Cie Hiong. Gouw Sian Eng tersenyum, lalu meninggalkan kamar itu. Tio Cie Hiong memandang punggungnya seraya bergumam.
"Sungguh baik hati anak gadis itu..."
Pagi-pagi buta Tio Cie Hiong sudah bangun.
Ia langsung menyapu halaman belakang, halaman tengah dan halaman depan.
Ketika is sedang menyapu di halaman depan, mendadak muncul Gouw Sian Eng, tangannya membawa dua buah bakpao.
"Cie Hiong!"
Panggilnya sambil tersenyum ceria.
"Oh, Sian Eng!"
Tio Cie Hiong berhenti menyapu.
"Selamat pagi!"
"Pagi!"
Sahut Gouw Sian Eng.
"Engkau pasti belum sarapan, bakpao ini untukmu."
"Terima kasih!"
Ucap Tio Cie Hiong sambil menerima bakpao itu.
"Ambillah dua-duanya! Kalau cuma satu, engkau tidak akan kenyang,"
Ujar Gouw Sian Eng.
"Kita seorang satu saja,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Baiklah!"
Gouw Sian Eng mengangguk. Mereka berdua lalu duduk di bawah sebuah pohon sambil makan bakpao. Kemudian Gouw Sian Eng bertanya.
"Kenapa begitu pagi engkau sudah bangun?"
"Aku harus menyapu, maka harus bangun pagi."
"Engkau memang raiin."
"Kerja harus rajin. Kalau tidak, aku pasti dipecat oleh ayahmu."
"Ayahku tidak akan sembarangan memecat orang. Engkau tidak usah mengkhawatirkan itu!"
"Karena itu, aku harus rajin bekerja."
"Oh iya...!"
Gouw Sian Eng tiba-tiba memandangnya.
"Pernahkah engkau belajar ilmu silat?"
"Tidak pernah."
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Kalau aku... sejak kecil sudah belajar ilmu silat, kakek yang mengajariku."
Gouw Sian Eng memberitahukan.
"Kok bukan ayahmu yang mengajarimu?"
"Ayahku sangat sibuk, maka tak ada waktu untuk mengajarku. Karena itu, kakek yang mengajarku. Lagi pula kepandaian kakek lebih tinggi dari pada kepandaian ayah."
"Cie Hiong! Apakah engkau berniat belajar ilmu silat? Kalau engkau berniat, akan kuminta kakek mengajarimu."
"Sian Eng!"
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Terus terang, aku sama sekali tidak berniat belajar ilmu silat."
"Kenapa?"
Gouw Sian Eng heran.
"Siapa yang memiliki ilmu silat, pasti akan bunuh membunuh dalam rimba persilatan. Karena itu, aku tidak mau belajar ilmu silat."
"Engkau keliru. Sebetulnya ilmu silat dipergunakan untuk menjaga diri, bukan untuk saling membunuh."
"Siapa yang memiliki ilmu silat, pasti mempunyai musuh. Maka akan terjadi pertarungan dan lain sebagainya. Sejak kecil aku belajar sastra, jadi tidak tertarik untuk belajar ilmu silat."
"Ooooh!"
Gouw Sian Eng manggut-manggut.
"Oh ya! Kenapa agak sepi di sini?"
Tanya Tio Cie Hiong mendadak.
"Para Piauwsu di sini telah berangkat mengantar barang ke kota lain, mungkin dua bulan kemudian mereka baru pulang, kini hanya tinggal beberapa Piauwsu di sini, maka kelihatan sepi."
"Oooh!"
Tio Cie Hiong manggut-manggut lagi.
"Cie Hiong, berapa usiamu?"
Tanya Gouw Sian Eng mendadak.
"Empat belas."
"Usiaku tiga belas, maka engkau lebih tua setahun dariku. Nah, bolehkah aku panggilmu Kakak Hiong?"
"Tentu boleh."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kalau begitu, aku pun harus memanggilmu Adik Eng, bukan?"
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk sambil tersenyum.
"Adik Eng, maaf ya!"
Tio Cie Hiong bangkit berdiri.
"Aku harus menyapu lagi."
"Kakak Hiong! Aku akan membantumu menyapu,"
Ujar Gouw Sian Eng sambil tertawa gembira.
"Boleh kan?"
"Tentu boleh."
Tio Cie Hiong mengangguk.
Gouw Sian Eng segera mengambil sebuah sapu, lalu membantu Tio Cie Hiong menyapu dengan wajah berseri-seri.
Pagi berikutnya ketika Tio Cie Hiong sedang menyapu di halaman depan, tampak Gouw Sian Eng muncul bersama seorang tua berjenggot panjang putih.
"Adik Eng!"
Seru Tio Cie Hiong girang.
"Selamat pagi!"
"Selamat pagi, kakak Hiong!"
Sahut Gouw Sian Eng sambil menarik orang tua itu ke hadapannya.
"Kakek, dia adalah kakak Hiong."
Orang tua itu menatap Tio Cie Hiong tajam, kemudian wajahnya tampak berseri-seri.
"Bakat yang bagus dan tulang yang kuat."
"Selamat pagi, Tuan besar!"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Apa?"
Orang tua itu tertawa gelak.
"Engkau memanggilku tuan besar?"
"Kakak Hiong!"
Sela Gouw Sian Eng.
"Engkau juga boleh memanggil kakek kepadanya."
"Betul! Betul!"
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Engkau memang boleh memanggil kakek kepadaku."
"Ya, kakek."
"Bagus! Bagus!"
Orang tua itu tertawa lagi. Orang tua itu tidak lain ialah Tui Hun Lojin sendiri.
"Oh ya, namamu?"
"Dia bernama Tio Cie Hiong,"
Sahut Gouw Sian Eng.
"Kakek bertanya padanya, kenapa engkau yang menjawab?"
Tui Hun Lojin menatap cucunya tajam.
"Aku..."
Wajah Gouw Sian Eng memerah.
"Waaah!"
Tui Hun Lojin tertawa gelak.
"Wajahmu memerah, merasa malu ya?"
"Kakek jahat! Kakek jahat!"
Gouw Sian Eng membanting-banting kaki.
"Cucuku!"
Sahut Tui Hun Lojin, yang masih tertawa.
"Engkau masih kecil lho! Jangan..."
"Kakek!"
Gouw Sian Eng segera menarik jenggot Tui Hun Lojin.
"Aduuuh!"
Jerit Tui Hun Lojin kesakitan.
"Cie Hiong, cucuku ini sangat nakal, maka engkau harus hati-hati."
"Dia tidak nakal, melainkan amat sayang pada kakek,"
Sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Eh?"
Tui Hun Lojin terbelalak.
"Belum apa-apa, engkau sudah membelanya?"
"Aku membela yang benar,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Sebab adik Eng memang benar menyayangi kakek."
Tui Hun Lojin manggut-manggut, kemudian wajahnya berubah serius seraya bertanya.
"Cie Hiong, engkau pernah belajar ilmu silat?"
"Tidak pernah."
"Maukah engkau menjadi muridku?"
"Maaf, kakek! Aku tidak mau belajar ilmu silat."
"Lho? Kenapa?"
Tui Hun Lojin menatapnya heran.
"Apa alasanmu tidak mau belajar ilmu silat?"
"Katanya..."
Sela Gouw Sian Eng.
"Siapa yang memiliki ilmu silat pasti saling membunuh, maka dia tidak mau belajar ilmu silat."
Tui Hun Lojin mengerutkan kening.
"Cie Hiong, benarkah engkau mengatakan begitu?"
"Ya, kakek!"
Tio Cie Hiong mengangguk dan menambahkan.
"Siapa yang memiliki ilmu silat tinggi, pasti mempunyai musuh sehingga akhirnya pasti saling membunuh. Karena itu, aku tidak mau belajar ilmu silat."
Tui Hun Lojin manggut-manggut sambil menatapnya.
Mendadak hatinya tersentak, ternyata is melihat sepasang mata Tio Cie Hiong memancarkan sinar yang amat terang, otomatis membuat orang tua itu terheran-heran.
"Cie Hiong, pernah engkau belajar ilmu Iweekang?"
"Tidak pernah,"
Sahut Tio Cie Hiong cepat. Ia terpaksa berdusta karena sesuai dengan pesan Paman Tan bahwa ia harus merahasiakan hal itu.
"Heran!"
Gumam Tui Hun Lojin.
"Sungguh mengherankan!"
"Kenapa kakek?"
Tanya Gouw Sian Eng heran.
"Tidak ada apa-apa,"
Sahut Tui Hun Lojin sambil tersenyum.
"Sian Eng, hari ini kakek akan mengajarmu Tui Hun Kiam Hoat."
"Terima kasih, kakek!"
Ucap Gouw Sian Eng girang.
Ia cepat-cepat mengambil dua batang ranting, salah sebatang ranting itu diberikan kepada kakeknya.
Tui Hun Lojin menerima ranting itu sambil tersenyum, lalu memandang Gouw Sian Eng tajam seraya berkata.
"Engkau harus memperhatikan dengan seksama, sebab Tui Hun Kiam Hoat sangat lihay, terdiri dari tujuh jurus, yang setiap jurusnya mempunyai tiga perubahan. Oleh karena itu, di saat kakek mengajarmu, haruslah diperhatikan dengan baik-baik."
"Ya, Kakek."
Gouw Sian Eng mengangguk.
"Kakek, aku melanjutkan pekerjaanku ya!"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Kakak Hiong!"
Sahut Gouw Sian Eng cepat.
"Engkau tidak usah menyapu sekarang, nonton saja aku belajar ilmu pedang."
"Tapi..."
"Sudahlah... Nanti aku akan membantumu menyapu."
"Baiklah kalau begitu...!"
Tio Cie Hiong berdiri di situ, sedangkan Tui Hun Lojin tersenyumsenyum.
"Sian Eng! Perhatikan baik-baik!"
Tui Hun Lojin mulai memainkan Tui Hun Kiam Hoat dengan perlahan.
Gouw Sian Eng memperhatikan baik-baik sedangkan Tio Cie Hiong hanya menonton saja.
Tui Hun Lojin terus mengulang memainkan ilmu pedang tersebut.
Semula bergerak lamban, namun kian lama kian bertambah cepat lalu berhenti.
"Bagaimana?"
Tanya Tui Hun Lojin pada Gouw Sian Eng.
"Engkau ingat semua jurus-jurus itu?"
"Kakek!"
Gouw Sian Eng menggelengkan kepala.
"Bagaimana mungkin aku bisa mengingat semua jurus itu? Lebih baik kakek ajarkan sejurus demi sejurus saja!"
"Baiklah."
Tui Hun Lojin mengangguk, kemudian mengajar cucunya sejurus demi sejurus.
Ketika Tui Hun Lojin memainkan jurus-jurus ilmu pedang, Tio Cie Hiong sudah ingat semua jurus itu dalam otaknya, itu tidak diketahui Tui Hun Lojin.
Apabila orang tua itu tahu, tentunya tidak akan percaya.
Bagaimana mungkin hanya sekali pandang bisa mengingat semua jurus ilmu pedang itu?
Sementara Gouw Sian Eng sudah mulai mengikuti gerakan Tui Hun Lojin sejurus demi sejurus.
Hampir setengah hari barulah gadis itu menghafal semuanya.
Ketika mulai berlatih, gerakannya masih tampak kaku.
"Sian Eng!"
Tui Hun Lojin tersenyum.
"Engkau harus berlatih dengan tekun, sebab ilmu pedang Tui Hun Kiam Hoat adalah ilmu andalan kakek dan ayahmu! ilmu pedang ini membuat kakek terkenal, begitu pula ayahmu."
"Ya, kek."
Gouw Sian Eng mengangguk dan terus berlatih.
Tui Hun Lojin menyaksikan latihan.cucunya dengan penuh perhatian.
Ia sekali-sekali memberi petunjuk apabila cucunya melakukan gerakan salah.
Tio Cie Hiong terus menonton, dan secara diam-diam membandingkan Hong Lui Kiam Hoat.
(llmu Pedang Angin Halilintar) dengan ilmu pedang tersebut.
Tanpa disadarinya ia bisa tahu, mana ilmu pedang yang lebih hebat diantara keduanya.
"Sian Eng, engkau berlatih sendiri saja, kakek mau ke dalam!"
Ujar Tui Hun Lojin, lalu meninggalkan halaman itu.
"Kakak Hiong, bagaimana gerakanku? Apakah sudah dapat menyamai gerakan kakekku?"
Tanya Gouw Sian Eng mendadak pada Tio Cie Hiong.
"Adik Eng!"
Jawab Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Gerakan rantingmu masih kaku sekali, lagi pula banyak kesalahan yang kau lakukan ketika badanmu bergerak. Maka lain kali engkau harus memperhatikan baik-baik gerakan kakekmu, pikiranmu harus dipusatkan untuk memperhatikan, dan disaat memperhatikan, engkau tidak boleh memikirkan hal lain. Sebab akan memecahkan perhatianmu, sehingga akan menyulitkanmu mempelajari ilmu pedang itu."
"Ya, kakak Hiong."
Gouw Sian Eng mengangguk.
"Aku pasti menuruti nasihatmu. Terimakasih!"
Seusai berkata demikian, Gouw Sian Eng mulai berlatih lagi.
Bahkan Tio Cie Hiong yang memberi petunjuk padanya.
Gadis itu tidak merasa heran, karena is menganggap Tio Cie Hiong jauh lebih pintar dari pada dirinya.
Sore ini ketika Tio Cie Hiong sedang menyapu di halaman depan, mendadak terdengarlah suara tawa yang amat keras.
"Ha ha ha! Gouw Han Tiong, mana ayahmu? Aku pengemis tua ingin menemuinya, cepat suruh dia keluar!"
"Paman pengemis! Silakan masuk!"
Suara sahutan Gouw Han Tiong dari dalam.
"Kalau ayahmu tidak keluar, aku tidak akan masuk."
"Ha ha ha!"
Terdengar kemudian suara Tui Hun Lojin balas tertawa.
"Pengemis busuk, aku ada disini menyambutmu, silakan masuk!"
"Terima kasih!"
Tampak sosok bayangan berkelebat ke dalam, sungguh cepat laksana kilat. Namun Tio Cie Hiong yang sedang menyapu itu dapat melihat jelas orang yang berkelebat itu, ternyata seorang pengemis tua.
"Ha ha ha!"
Tui Hun Lojin tertawa terbahak-bahak.
"Pengemis busuk, kok engkau belum mampus?"
"Ha ha ha!"
Pengemis tua itu juga tertawa gelak.
"Setan tua, engkau belum mengejar rohku, bagaimana mungkin aku akan mampus?"
"Ha ha! Silakan duduk, pengemis busuk!"
Ucap Tui Hun Lojin.
"Terima kasih!"
Pengemis tua itu duduk.
"Pengemis busuk, angin apa yang membawamu datang kemari?"
Tanya Tui Hun Lojin sambil memandangnya.
"Tentunya bukan angin lalu"
Sahut pengemis tua itu.
"Aku datang ingin menanyakan satu hal padamu."
"Tentang hal apa?"
Tui Hun Lojin heran. Begitu pula Cit Pou Tui Hun Gouw Han Tiong yang duduk disisi ayahnya.
"Sepuluh tahun yang lampau, rimba persilatan telah digemparkan oleh Sebuah Kotak Pusaka..., Kabarnya Hui Kiam Bu Tek (Pedang Terbang Tanpa Tanding) Tio It Seng memperoleh Kotak Pusaka itu, tapi ia kemuadian bersama istrinya mati dikeroyok oleh orang Bu LIm termasuk kaum golongan hitam dan Tujuh Partai Besar. Aku dengar engkau pun ambil bagian dalam pengeroyokan itu, apakah benar?"
"Itu tidak benar. Tapi aku memang berada di Pek Yun Nia (Tebing Awan Putih) itu."
"Setan tua!"
Pengemis tua menatapnya tajam.
"Benarkah engkau tidak ikut mengeroyok Hui Kiam Bu Tek-Tio It Seng dan Sin Pian Bijin-Lie Hui Hong?"
"Pengemis busuk!"
Tui Hun Lojin menarik nafas panjang.
"Engkau tidak percaya padaku?"
"Baik!"
Pengemis tua itu manggut-manggut.
"Aku percaya. Maukah engkau menuturkan tentang kejadian itu?"
"Baiklah..."
Tui Hun Lojin mengangguk sambil menghela napas panjang.
"Pada waktu itu, aku mendapat kabar bahwa Hui Kiam Bu Tek-Tio It Seng memperoleh Kotak Pusaka, sampai akhirnya kemudian ia dikejar-kejar kaum golongan hitam dan tujuh partai besar. Karena itu, aku segera berangkat ke Tebing Awan Putih. Aku tidak mengajak putraku, kebetulan dia sedang mengantar barang. Ketika aku tiba di Tebing Awan Putih, aku menyaksikan pertempuran yang kacau balau. Beberapa ketua partai dan para murid mereka menyerang kaum golongan hitam, namun kadangkadang juga menyerang Hui Kiam Bu Tek dan Sin Pian Bijin. Tampak pula seorang gadis kecil berdiri di pinggir tebing itu sambil menangis. Banyak kaum golongan hitam mati di ujung pedang Hui Kiam Bu Tek, tapi ia sama sekali tidak membunuh para murid tujuh partai besar. Mendadak muncul tiga sosok bayangan menyerang Hui Kiam Bu Tek dan Sin Pian Bijin. Itu sungguh di luar dugaanku, karena tiga sosok bayangan itu adalah Tang Hai Lo Mo (Iblis Tua Laut Timur), Thian Mo (Iblis Kahyangan) dan Te Mo (Iblis Neraka). Dapat kau tahu keahlian mereka bertiga, sekali mereka menyerang Hui Kiam Bu Tek dan Sin Pian Bijin, dua orang itu langsung terdesak dan hanya sebentar saja telah mati di tangan Bu Lim Sam Mo (Tiga Iblis Rimba Persilatan) itu, sedangkan gadis kecil itu tergelincir ke dalam jurang. Setelah itu, Bu Lim Sam Mo melesat pergi entah kemana..."
"Jadi benar Bu Lim Sam Mo muncul di Pek Yun Nia?"
Pengemis tua mengerutkan kening.
"Kalau begitu, mereka bertiga yang memperoleh Kotak Pusaka itu?"
"Mungkin. Sebab Kotak Pusaka itu tidak berada di badan Hui Kiam Bu Tek maupun Sin Pian Bijin."
Ujar Tui Hun Lojin dan menambahkan.
"Aku bersama ketua partai Siauw Lim dan ketua partai Bu Tong yang mengubur mayat mereka."
"Setan tua, hatimu cukup baik,"
Ujar pengemis tua sambil menarik nafas panjang.
"Aku tak menyangka, mereka suami istri mati begitu mengenaskan."
"Pengemis busuk, kenapa engkau ingin tahu kejadian itu?"
Tanya Tui Hun Lojin mendadak.
"Setan tua, tentunya engkau tahu, Hui Kiam Bu Tek-Tio It Seng adalah teman baik putraku."
Sahut pengemis tua memberitahukan.
"Pada waktu itu, kami pihak Kay Pang juga ke sana, tapi... sudah terlambat. Kami berusaha mencari gadis kecil itu, namun tidak ketemu. Oh ya, kalau tidak salah, mereka pun mempunyai seorang putra. Tahukan engkau ke mana putra mereka itu?"
"Tidak terlihat putra mereka berada di situ"
Sahut Tui Hun Lojin sambil menarik nafas panjang.
"Pengemis busuk, aku ke sana dengan tujuan ingin menolong mereka, tapi mendadak muncul Bu Lim Sam Mo..."
"Setan tua! Kenapa engkau ingin menolong mereka?"
Tanya pengemis tua heran.
Sebetulnya siapa pengemis tua ialah Sam Gan Sin Kay (Pengemis Sakti Mata Tiga), yaitu salah satu Bu Lim Ji Khie (Dua Orang Aneh Rimba Persilatan), juga seorang tetua partai pengemis.
Karena di tengahtengah keningnya terdapat sebuah benjolan kecil, maka iamemperoleh julukan Sam Gan Sin Kay.
"Belasan tahun yang lampau, Hui Kiam Bu Tek-Tio It Seng pernah menolong putraku."
Tui Hun Lojin memberitahukan.
"Pada waktu itu, putraku di serang Hek Pek Siang Koay (Sepasang Siluman Hitam Putih). Kalau Hui Kiam Bu Tek tidak muncul menolong putraku, tentunya putraku sudah mati di tangan Hek Pek Siang Koay."
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Pantas engkau ingin menolong Hui Kiam Bu Tek! Setan tua, ada satu hal yang sangat membingungkan aku."
"Hal apa?"
Tanya Tui Hun Lojin.
"Padahal Bu Lim Sam Mo tidak ada hubungan satu sama lain, kenapa mereka bertiga bisa muncul bersama di Tebing Awan Putih?"
"Aku pun tidak habis pikir tentang itu"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Kalau Kotak Pusaka itu jatuh di tangan mereka, bukankah kepandaian mereka akan bertambah tinggi?"
"Memang."
Sam Gan Sin Kay mengangguk.
"Tapi sudah belasan tahun tak ada kabar berita tentang mereka, mungkinkah mereka bertiga saling membunuh karena Kotak Pusaka itu?"
"Mudah-mudahan begitu!"
Ucap Tui Hun Lojin.
"Kalau tidak, mereka bertiga pasti akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan."
Sam Gan Sin Kay mengangguk.
"Ohya, setan tua! Aku juga ingin menyampaikan sesuatu kepadamu."
"Tentang apa?"
"Belum lama ini, dalam rimba persilatan telah muncul Pek Ih Mo Li (Iblis Wanita Baju Putih). Dia seorang gadis yang berkepandaian tinggi sekali. Khususnya membunuh kaum golongan hitam, tapi juga memusuhi tujuh partai besar, bahkan dia pun sering melukai para murid tujuh partai besar. Aku curiga, jangan-jangan Pek Ih Mo Li itu putri almarhum Hui Kiam Bu Tek."
Tui Hun Lojin mengerutkan kening.
"Tapi... anak gadis kecil itu tergelincir ke dalam jurang, bagaimana mungkin bisa hidup?"
"Setan tua! Mudah-mudahan Pek Ih Mo Li itu putri almarhum Hui Kiam Bu Tek!"
Ujar Sam Gan Sin Kay.
"Aku telah mengutus beberapa murid Kay Pang yang handal untuk menyelidikinya.
"Alangkah baiknya Pek Ih Mo Li itu putri almarhum Hui Kiam Bu Tek. Jadi Hui Kiam Bu Tek mempunyai keturunan."
"Tapi engkau harus berhati-hati! Mungkin Pek Ih Mo Li itu akan datang ke mari mencarimu."
"Itu tidak apa-apa. Sebaliknya aku malah merasa senang sekali."
Tui Hun Lojin tersenyum.
"Kalau dia datang aku ingin bertanya padanya, apakah dia putri almarhum Hui Kiam Bu Tek atau bukan ?"
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut. Pada waktu bersamaan, muncullah Gouw Sian Eng. Anak gadis itu memandang pengemis tua itu dengan mata terbelalak. Sam Gan Sin Kay tercengang.
"Siapa anak gadis kecil ini?"
"Paman Pengemis, ia putriku."
Gouw Han Tiong memberitahukan. Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Putrimu sudah begitu besar, kelihatannya secantik cucuku yang binal itu."
"Maksudmu putri Lim Peng Hang?"
Tanya Tui Hun Lojin.
"Benar!"
Sam Gan Sin Kay tertawa sambil memandang Gouw Sian Eng.
"Sian Eng!"
Ujar Gouw Han Tiong.
"Cepat beri salam pada kakek Pengemis!"
"Hormat Kakek Pengemis!"
Panggil Gouw Sian Eng sambil tersenyum, kemudian bertanya mendadak.
"Kakek Pengemis berkepandaian tinggi?"
"Kakek Pengemis berkepandaian tinggi sekali"
Sahut Gouw Han Tiong memberitahukan sambil tersenyum.
"Siapa yang lebih tinggi kepandaiannya, kakek atau kakek Pengemis?"
Tanya Gouw Sian Eng mendadak.
"Tentunya Kakek Pengemis."
Sahut Tui Hun Lojin sambil tertawa gelak.
"Kakek Pengemis adalah salah satu Bu Lim Ji Khie, bahkan juga tetua Partai Pengemis yang sangat terkenal itu."
"Kalau begitu..."
Gouw Sian Eng memandang Sam Gan Sin Kay.
"Aku ingin belajar pada Kakek Pengemis."
"Apa?"
Sam Gan Sin Kay tertegun, kemudian menggaruk-garukkan kepala.
"Itu..."
"Pengemis busuk!"
Tui Hun Lojin tertawa terbahak-bahak.
"Tentunya engkau tidak begitu pelit menurunkan sedikit kepandaianmu kepada cucuku kan?"
Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Apa boleh buat! Kalau aku tidak menurunkan sedikit kepandaianku pada cucumu, sudah pasti aku kau katakan pelit."
"Terima kasih, Kakek Pengemis!"
Ucap Gouw Sian Eng girang.
"Ohya!"
Sam Gan Sin Kay teringat sesuatu.
"Aku tadi melihat seorang anak lelaki menyapu di halaman, siapa anak lelaki itu?"
"Dia pembantu di sini."
Gouw Han Tiong memberitahukan.
"Namanya Cie Hiong,"
Sambung Gouw Sian Eng. Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Sian Eng, panggil dia ke mari."
"Ya, Kakek Pengemis."
Gouw Sian Eng segera berlari ke luar. Tak lama ia sudah kembali bersama Tio Cie Hiong, lalu menunjuk Sam Gan Sin Kay seraya berkata pada Tio Cie Hiong.
"Kakek Pengemis itu ingin menemuimu."
"Kakek Pengemis!"
Panggil Tio Cie Hiong.
"Ada urusan apa Kakek Pengemis memanggilku?"
Sam Gan Sin Kay tidak menyahut, melainkan terus menatap Tio Cie Hiong dengan penuh perhatian.
"Bukan main! Sungguh bukan main! Nak, siapa kedua orang tuamu?"
Tanyanya.
"Maaf Kakek Pengemis, aku tidak tahu kedua orang tuaku,"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Kok begitu?"
Sam Gan Sin Kay tertegun.
"Lalu siapa yang membesarkanmu?"
"Seorang tua yang kupanggil paman"
Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.
"Tapi paman itu sudah meninggal."
"Nak!"
Sam Gan Sin Kay menatapnya dalam-dalam.
"Maukah engkau belajar ilmu silat? Kalau engkau mau belajar ilmu silat, aku bersedia menjadi gurumu."
"Maaf, Kakek Pengemis! Aku tidak suka belajar ilmu silat."
Tolak Tio Cie Hiong.
"Ha ha ha!"
Tui Hun Lojin tertawa gelak.
"Eh? Setan tua, kenapa engkau tertawa?"
Sam Gan Sin Kay heran.
"Kalau ia mau belajar ilmu silat, sudah aku dulu jadi gurunya"
Jawab Tui Hun Lojin memberitahukan.
"Sayang sekali!"
Sam Gan Sin Kay menarik nafas panjang.
"Padahal anak itu berbakat sekali, bahkan memiliki tulang bagus."
"Benar."
Tui Hun Lojin manggut-manggut.
"Pengemis busuk! Perhatikanlah sepasang matanya!"
Sam Gan Sin Kay segera memperhatikan sepasang mata Tio Cie Hiong. Pengemis tua itu, tampak terperanjat setelah memperhatikan sepasang mata Tio Cie Hiong, kemudian bergumam.
"Bukan main! Sepasang matanya bersinar begitu terang! Heran, itu pertanda dia pernah belajar ilmu Iweekang."
Seusai bergumam, Sam Gan Sin Kay pun bertanya.
"Cie Hiong, pernahkah engkau belajar ilmu lweekang?"
"Tidak pernah,"
Sahut Tio Cie Hiong sesuai dengan pesan Paman Tan.
"Setan Tua!"
Sam Gan Sin Kay memandang Tui Hun Lojin.
"Bukankah itu sungguh mengherankan?"
"Benar."
Tui Hun Lojin manggut-manggut dan melanjutkan.
"Seandainya dia mau belajar ilmu silat, kelak pasti akan menjadi seorang pendekar besar."
"Yaah!"
Sam Gan Sin Kay menarik nafas panjang.
"Kita tidak berjodoh menjadi gurunya, entah siapa yang berjodoh menjadi gurunya?"
"Mungkinkah It Seng ?"
"Padri keparat itu? Huh!"
Dengus Sam Gan Sin Kay.
"Setahuku, dia tidak mau menerima murid."
"Pengemis busuk, sungguh sayang sekali kita tidak bisa menjadi guru anak ini."
Tui Hun Lojin menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakek pengemis, kapan aku akan diajari ilmu silat?"
Tanya Gouw Sian Eng mendadak. Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Esok pagi, aku pasti mengajarmu semacam ilmu pedang."
"Terima kasih, Kakek Pengemis!"
Ucap Gouw Sian Eng sambil tertawa gembira.
"Cie Hiong!"
Ujar Gouw Han Tiong.
"Engkau boleh melanjutkan pekerjaanmu."
"Ya, Paman."
Tio Cie Hiong mengangguk, lalu memberi hormat kepada mereka. Setelah itu barulah ia berjalan keluar.
"Kakak Hiong! Aku akan bantumu menyapu!"
Seru Gouw Sian Eng sambil menyusulnya.
"Huaha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Kelihatannya cucumu itu suka sekali pada anak lelaki itu."
"Mereka masih kecil, hanya saja mereka ada kecocokan,"
Sahut Tui Hun Lojin sambil tersenyum.
"Paman Pengemis, betulkah Paman Pengemis akan mengajar putriku semacam ilmu pedang?"
Tanya Gouw Han Tiong mendadak.
"Tentu saja... Aku tidak pernah bohong,"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Pengemis busuk! Engkau akan mengajar ilmu pedang apa pada cucuku?"
Tanya Tui Hun Lojin ingin mengetahuinya.
"Saat ini belum kupikirkan, tunggu esok pagi saja."
Jawab Sam Gan Sin Kay misterius.
"Pengemis busuk, janganlah engkau mengajar cucuku ilmu pedang cakar ayam, sebab akan mempermalukan dirimu sendiri!"
Ujar Tui Hun Lojin sungguh-sungguh.
"Jangan khawatir!"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Pokoknya akan kuajar cucumu ilmu pedang yang lihay, mungkin masih di atas tingkat Tui Hun Kiam Hoatmu."
"Kalau begitu..."
Tui Hun Lojin tertawa lebar.
"Aku mengucapkan terima kasih kepadamu."
"Kalau aku tidak merasa suka pada cucumu itu, belum tentu aku akan mengajarkan ilmu pedang."
Ujar Sam Gan Sin Kay sungguh-sungguh.
"Aku sering menggunakan tongkat bambu, jadi ilmu pedang itu akan kuturunkan pada cucumu."
"Paman Pengemis, sebelumnya kuucapkan terimakasih!"
Ujar Gouw Han Tiong sambil menjura memberi hormat pada Sam Gan Sin Kay. Sam Gan Sin Kay manggut-manggut, kemudian menarik nafas panjang seraya bergumam.
"Sayang sekali, anak lelaki itu tidak mau belajar ilmu silat! Aku tidak mempunyai murid, namun dia malah menolak menjadi muridku."
"Sama-sama!"
Tui Hun Lojin tersenyum.
"Ohya! Kalau Pek Ih Mo Li itu datang mencarimu, tanyakan kepadanya apakah dia putri almarhum Hui Kiam Bu Tek atau bukan?!"
Pesan Sam Gan Sin Kay pada Tui Hun Lojin.
"Itu sudah pasti."
Tui Hun Lojin manggut-manggut.
"Aku dengar, tujuh partai besar akan bergabung melawan Pek Ih Mo Li."
Sam Gan Sin Kay memberitahukan.
"Kalau dia putri almarhum Hui Kiam Bu Tek, aku harus turun tangan mendamaikan mereka."
"Benar."
Tui Hun Lojin mengangguk.
"Jangan sampai terjadi banjir darah yang tiada artinya. Sebab yang membunuh Hui Kiam Bu Tek dan istrinya adalah Bu Lim Sam Mo..."
"Tapi tujuh partai besar juga ikut mengeroyok mereka berdua kan?"
"Sulit dikatakan, sebab pada waktu itu pertempuran di Tebing Awan Putih tersebut sangat kacau."
"Setan tua, setahuku Hui Kiam Bu Tek mempunyai seorang putra. Tapi kok tiada kabar ceritanya tentang putra Hui Kiam Bu Tek itu?"
"Mungkinkah ada orang membawanya pergi"
Ujar Tui Hun Lojin menduga.
"Tapi... mungkin juga telah terbunuh."
"Aaakh...!"
Sam Gan Sin Kay menghela nafas.
"Padahal Hui Kiam Bu Tek merupakan pendekar yang selalu membela kebenaran, namun akhirnya malah mati bersama istrinya secara mengenaskan."
"Pengemis busuk, bagaimana menurutmu mengenai Bu Lim Sam Mo? Apakah mereka telah mati memperebutkan Kotak Pusaka itu, ataukah mereka bertiga sedang mempelajari ilmu silat yang ada di dalam Kotak Pusaka itu?"
Tanya Tui Hun Lojin mendadak.
"Mudah-mudahan saja mereka bertiga sudah mati!"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Tapi kalau mereka bertiga sedang mempelajari ilmu silat peninggalan Pak Kek Siang Ong itu, rimba persilatan bakal celaka."
"Benar."
Tui Hun Lojin manggut-manggut.
"Sebab sepertinya tiada seorang pun lagi yang mampu melawan mereka."
"Sudah belasan tahun tiada kabar berita tentang mereka bertiga, mungkin mereka bertiga telah mati,"
Ujar Gouw Han Tiong.
"Itu yang kita harapkan. Tapi kalau tidak, entah apa pula yang akan terjadi?"
Sam Gan Sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.
Esok paginya Ketika hari baru mulai terang, Tio Cie Hiong sudah menyapu di halaman tengah.
Di saat ia sedang menyapu, muncullah Gouw Sian Eng bersama Sam Gan Sin Kay.
"Kakak Hiong!"
Sahut Gouw Sian Eng.
"Adik Eng!"
Sahut Tio Cie Hiong, lalu memberi hormat pada Sam Gan Sin Kay.
"Selamat pagi, Kakek Pengemis!"
Sam Gan Sin Kay menatapnya sambil tersenyum lembut.
"Kok masih pagi sudah menyapu?"
"Kakek pengemis!"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Lebih baik menyapu pagi dari pada siang, sebab kalau menyapu siang, itu berarti aku malas, tidak mau bangun pagi."
Sam Gan Sin Kay tersenyum lagi.
"Kakak Hiong, jangan menyapu dulu!"
Ujar Gouw Sian Eng.
"Kakek pengemis akan mengajariku ilmu pedang, engkau lihat aku belajar ya.
"Tapi..."
"Engkau boleh melihat Sian Eng belajar, itu tidak apa-apa."
Ujar Sam Gan Sin Kay. Tio Cie Hiong mengangguk. Sedangkan Gouw Sian Eng bertanya pada pengemis sakti.
"Kakek Pengemis mau mengajariku ilmu pedang apa?"
"Toat Beng Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pencabut Nyawa)."
Jawab Sam Gan Sin Kay menjelaskan.
"Engkau harus tahu, bahwa ilmu pedang ini sangat lihay, mungkin lebih lihay dari pada ilmu pedang Tui Hun Liam Hoat (Ilmu Pedang Pengejar Roh), ilmu pedang andalan kakekmu itu."
Gouw Sian Eng girang bukan main.
"Kakek Pengemis, cepatlah ajari aku!"
"Tapi engkau harus belajar dengan tekun!"
Pesan Sam Gan Sin Kay.
"Jangan mempermalukan aku!"
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk.
"Ilmu pedang tersebut di namai Toat Beng (Pencabut Nyawa), karena setiap jurusnya pasti mematikan lawan. Kalau tidak terpaksa, janganlah engkau menggunakan ilmu pedang tersebut untuk menyerang orang!"
Sam Gan Sin Kay memberitahukan dengan wajah serius.
"Ya!"
Gouw Sian Eng mengangguk lagi.
"Toat Beng Kiam Hoat terdiri dari sembilan jurus."
Sam Gan Sin Kay menjelaskan.
"Jurus pertama adalah Pedang Menggetarkan Jagat, jurus kedua Ribuan Pedang Menyapu Ombak, jurus ketiga Bayangan Pedang Meretakkan Bumi, jurus keempat dan jurus terakhir paling lihay, yakni Laksaan Pedang Kembali Ke Asal."
Gouw Sian Eng mendengarkan dengan penuh perhatian.
Setelah itu Sam Gan Sin Kay mulai memainkan ilmu pedang tersebut.
Tampak pedang di tangannya berkelebatan, akhirnya badan Sam Gan Sin Kay tertutup oleh bayangan pedang itu, dan mendadak pengemis sakti itu membentak keras.
"Laksaan Pedang Kembali Ke Asal!"
Tampak sinar pedang berkelebatan, lalu tiba-tiba meluncur ke arah sebuah pohon yang di situ.
"Cesss!"
Pedangnya menembus pohon. Gouw Sian Eng terbelalak menyaksikan itu, kemudian bertepuk tangan seraya berseru.
"Kakek pengemis, sungguh hebat ilmu pedang itu!"
"Ha ha ha!"
Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Kalau tidak hebat, bagaimana mungkin akan kuturunkan kepadamu?"
"Terima kasih, Kakek Pengemis!"
Ucap Gouw Sian Eng.
"Nah, sekarang engkau harus memperhatikan baik-baik!"
Pesan Sam Gan Sin Kay.
"Akan kuajarkan sejurus demi sejurus."
Sam Gan Sin Kay mulai mengajar Gouw Sian Eng sejurus demi sejurus, dan Gouw Sian Eng belajar dengan sungguh-sungguh.
Sementara Tio Cie Hiong juga terus memperhatikan gerakan-gerakan pedang dan badan Sam Gan Sin Kay.
Beberapa hari kemudian, Gouw Sian Eng sudah dapat menguasai ilmu pedang tersebut, hanya saja gerakannya masih kaku dan sering pula melakukan gerakan yang salah.
Ketika hari mulai gelap, Gouw Sian Eng datang di kamar Tio Cie Hiong, lalu menariknya ke luar.
"Eh?"
Tio Cie Hiong tercengang.
"Adik Eng, engkau mau membawaku kemana?"
"Kakak Hiong, temani aku berlatih ilmu pedang!"
Sahut Gouw Sian Eng sambil tersenyum. Tio Cie Hiong juga tersenyum.
"Ku kira ada urusan apa, tidak tahunya engkau menghendaki aku menemanimu berlatih ilmu pedang!"
"Engkau tidak berkebaratan kan?"
"Tentu saja tidak."
Mereka berdua sudah sampai di halaman tengah. Tampak sebilah pedang di situ, tetapi Tio Cie Hiong malah mengambil sebatang ranting, kemudian diberikan pada Gouw Sian Eng.
"Adik Eng, lebih baik engkau berlatih dengan ranting saja. Kalau menggunakan pedang, itu akan membahayakan dirimu."
"Ya, kakak Hiong."
Gouw Sian Eng mengangguk sambil menerima ranting itu.
"Ohya, malam ini kebetulan bulan purnama, jadi halaman ini cukup terang benderang."
Di saat mereka sedang bercakap-cakap, mendadak muncul Sam Gan Sin Kay.
Tio Cie Hiong dan Gouw Sian Eng tidak mengetahuinya.
Sedangkan Pengemis Sakti Mata Tiga itu tahu kalau Gouw Sian Eng ingin berlatih ilmu pedang yang diajarkannya.
Ia ingin tahu bagaimana kemajuan anak gadis itu, maka ia bersembunyi di balik pohon untuk mengintip.
"Kakak Hiong, aku mulai ya!"
Ujar Gouw Sian Eng.
Tio Cie Hiong mengangguk.
Gouw Sian Eng mulai memainkan Toat Beng Kiam Hoat.
Tampak ranting ditangan gadis itu berkelebatan.
Tio Cie Hiong memperhatikan dengan seksama, sedangkan Sam Gan Sin Kay yang mengintip itu manggut-manggut puas, karena Gouw Sian Eng sudah ada kemajuan.
"Hiyaaat!"
Gouw Sian Eng berteriak keras, kemudian ranting itu meluncur ke arah sebuah pohon. Itulah jurus Laksaan Pedang Kembali Ke Asal. Taaak! ranting itu patah membentur batang pohon.
"Bagaimana Kakak Hiong?"
Tanya Gouw Sian Eng dengan wajah berseri.
"Apakah aku sudah ada kemajuan?"
"Memang ada"
Sahut Tio Cie Hiong, yang kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Namun masih banyak kesalahan yang kau lakukan."
Gouw Sian Eng tersenyum.
"Kalau begitu, Kakak Hiong harus memberi petunjuk padaku!"
Sam Gan Sin Kay yang mengintip itu terbelalak ketika mendengar apa yang dikatakan Tio Cie Hiong.
Sebab sedari tadi ia terus mengikuti semua gerakan Gouw Sian Eng, tiada kesalahan yang dilihatnya, tapi Tio Cie Hiong justru mengatakan ada.
Itu sungguh mengherankan Pengemis Sakti Mata Tiga.
Ia pun merasa geli, karena Gouw Sian Eng minta petunjuk pada anak lelaki itu.
Perlu diketahui, Pan Yok Hian Thian Sin Kang adalah ilmu Iweekang yang amat langka, lagi pula di dalam kitab tipis itu terdapat uraian-uraian mengenai pokok dasar pukulan, tendangan, gerakan pedang dan lain sebagainya.
Karena itu, secara tidak langsung Tio Cie Hiong yang otaknya encer dapat melihat letak kesalahan-kesalahan gerakan Gouw Sian Eng.
"Engkau telah melakukan sedikit kesalahan pada jurus Ribuan Pedang Menyapu Ombak."
Tio Cie Hiong memberitahu kan.
"Ketika Kakek Pengemis memainkan jurus itu, sabetan pedangnya agak turun naik. Tapi tadi gerakanmu tidak begitu, maka lain kali engkau harus belajar lebih bersungguh-sungguh!"
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk. Mulut Sam Gan Sin Kay ternganga lebar, sebab tadi ia sama sekali tidak memperhatikan tentang itu, tapi Tio Cie Hiong dapat melihat kesalahan yang dilakukan Gouw Sian Eng.
"Dan juga..."
Tambah Tio Cie Hiong.
"gerakan badanmu kurang cepat ketika mengeluarkan jurus Bayangan Pedang Meretakkan Bumi, sehingga menyebabkan gerakan pedangmu jadi lamban. Engkau harus tahu, jurus itu mengandalkan pada kecepatan untuk merobohkan lawan. Kalau gerakanmu lamban, sebaliknya malah akan terserang lawan, engkau harus ingat baik-baik itu, bukan hal itu sudah dijelaskan oleh kakek pengemis!"
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk, lalu terus mendengar dengan penuh perhatian.
"Gerakanmu sungguh menakjubkan ketika mengeluarkan jurus Laksaan Pedang Kembali Ke Asal, hanya saja..."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Apakah ada kesalahan yang kulakukan pada jurus terakhir itu?"
Tanya Gouw Sian Eng.
"Bukankah barusan engkau memuji gerakanku itu?"
"Tiada kesalahan yang engkau lakukan pada jurus itu, namun engkau telah melupakan satu hal."
"Hal apa?"
Tanya Gouw Sian Eng.
Sam Gan Sin Kay mendengarkan dengan penuh perhatian, sebab ia yakin gerakan Gouw Sian Eng sudah sempurna sekali pada jurus terakhir itu.
Tapi Tio Cie Hiong mengatakannya telah melupakan satu hal, maka Pengemis Sakti Mata Tiga ingin tahu hal apa yang telah dilupakan anak gadis itu.
"Sebelum meluncurkan ranting itu, engkau lupa menarik nafas untuk menghimpun tenagamu, maka ranting itu patah membentur batang pohon."
Tio Cie Hiong memberitahukan. Mendengar itu, Sam Gan Sin Kay terkejut bukan main. Ia sama sekali tidak mengetahui akan hal itu, tapi anak lelaki itu malah mengetahuinya.
"Kalau begitu..."
Gouw Sian Eng tersenyum.
"Aku akan mengulang dan melatih jurus Laksaan Pedang Kembali Ke Asal itu yaaa...."
Gouw Sian Eng mulai bergerak melatih jurus tersebut, kemudian berteriak sambil menghimpun Iweekangnya. Tampak ranting di tangannya meluncur ke arch sebuah pohon. Taaak! Ranting itu tidak patah.
"Nah!"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Kini engkau telah mahir menggunakan jurus itu, sebab ranting itu tidak patah, dan percayalah batang pohon itu pasti lecet oleh ujung ranting itu."
Sam Gan Sin Kay terbelalak, dan segera menengok ke arah batang pohong itu. Memang benar batang pohon itu telah lecet, membuat mulut Pengemis Sakti Mata Tiga ternganga lebar.
"Kakak Hiong, bagaimana menurutmu mengenai Toat Beng Kiam Hoat ini?"
Tanya Gouw Sian Eng mendadak.
"Mengenai apa?"
Tio Cie Hiong balik bertanya.
"Maksudku ilmu pedang itu terdapat kelemahan tidak?"
Sahut Gouw Sian Eng.
"Adik Eng!"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Aku tak pernah belajar ilmu silat apa pun, bagaimana mungkin aku mengetahuinya?"
"Aku yakin Kakak Hiong tahu, sebab Kakak Hiong sangat cerdas,"
Ujar Gouw Sian Eng mendesaknya.
"Beritahukanlah!"
"Terus terang saja, ilmu pedang itu memang terdapat kelemahan."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
Sam Gan Sin Kay tertegun, sebab ketika ia menggunakan ilmu pedangnya, selama itu tidak ada seorang pun mampu mengalahkannya.
Namun kini Tio Cie Hiong mengatakan bahwa ilmu pedang itu terdapat kelemahan, itu sungguh membuatnya penasaran sekali.
"Kakak Hiong, di mana letak kelemahan itu?"
Tanya Gouw Sian Eng.
"Sulit kujelaskan..."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Hiong!"
Gouw Sian Eng membanting-banting kaki.
"Kakak Hiong jahat, tidak mau menjelaskan padaku!"
"Adik Eng..."
"Jelaskanlah!"
Desak Gouw Sian Eng. Tio Cie Hiong mengerutkan kening, kemudian mengambil sebatang ranting dan diberikan kepada anak gadis itu.
"Adik Eng!"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Sebetulnya tidak baik aku mencela ilmu pedang ini, sebab Kalau Kakek Pengemis tahu, pasti akan tersinggung."
"Kakek Pengemis tidak berada di sini, engkau takut apa? Kalaupun Kakek Pengemis tahu, dia pasti kagum padamu."
Ujar Gouw Sian Eng sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu!"
Tio Cie Hiong berdiri di hadapan gadis cilik itu.
"Engkau boleh menyerangku dengan jurus-jurus ilmu pedang itu. Kalau aku menyuruhmu berhenti, engkau harus berhenti diam di tempat, jangan bergerak sama sekali."
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk. Sam Gan Sin Kay yang bersembunyi itu memandang dengan mata tak berkedip. Ia ingin tahu dengan cara bagaimana Tio Cie Hiong mengelak serangan-serangan Gouw Sian Eng.
"Kakak Hiong, bolehkan aku mulai menyerangmu?"
Tanya Gouw Sian Eng.
"Boleh."
Tio Cie Hiong mengangguk.
Gouw Sian Eng langsung menggerakkan ranting yang dipegangnya menyerang Tio Cie Hiong.
Anak gadis itu menyerang dengan sungguh-sungguh, sehingga membuat Sam Gan Sin Kay terkejut bukan main.
Jurus Pedang Menggetarkan Jagat dikeluarkan untuk menyerang Tio Cie Hiong, sedangkan anak lelaki itu masih berdiri diam di tempat.
Betapa terkejutnya Sam Gan Sin Kay, karena ujung ranting itu telah mengarah ke leher Tio Cie Hiong.
Ia ingin berteriak menyuruh Gouw Sian Eng berhenti, tapi begitu hendak bertindak ia tercengang melihat Cie Hiong bergerak.
Ternyata Tio Cie Hiong sudah memiringkan kepalanya, kemudian maju selangkah sambil menjulurkan tangannya yang kanan dan berseru.
"Berhenti!"
Gouw Sian Eng langsung berhenti diam di tempat, sehingga mereka berdua seperti patung.
Mendadak wajah Sam Gan Sin Kay berubah pucat pias, karena ia melihat jari tangan Tio Cie Hiong sudah mengarah ke dada Gouw Sian Eng.
"Adik Eng, perhatikanlah!"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Kakak Hiong..."
Gouw Sian Eng tertawa gembira.
"Engkau memang hebat sekali, begitu gampang mengelak seranganku. Rantingku berada di sisi lehermu, sedangkan jari tanganmu berada di dadaku. Itu berarti aku sudah tertotok olehmu."
"Nah! Engkau sudah melihat kelemahan jurus ini?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Belum."
Gouw Sian Eng menggelengkan kepala.
"Begini adik Eng... di saat engkau menyerang dengan jurus ini, tangan kananmu jangan kau angkat terlampau tinggi, dan ujung jari kakimu harus tetap menyentuh tanah."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Tanganmu yang menggenggam ranting, juga jangan terlampau diluruskan ke depan, harus ditekuk sedikit. Jadi apabila engkau bertemu lawan dia pasti memiringkan kepalanya, sekaligus menyerang dadamu. Persis seperti gerakanku ini."
Gouw Sian Eng memperhatikan posisi Tio Cie Hiong, kemudian manggut-manggut.
"Aku harus bagaimana mengelak tanganmu?"
Tanyanya.
"Tarik kaki depanmu, dan sabetkan rantingmu ke kiri, leherku pasti tersabet rantingmu itu."
Gouw Sian Eng mengangguk.
"Bagaimana kalau kita ulang lagi?"
"Baik."
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Engkau menyerangku dengan jurus itu, aku akan mengelak dan menyerangmu dengan cara yang sama, namun engkau harus mengelak sesuai yang kuberitahukan barusan!"
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk dan langsung menyerang Tio Cie Hiong dengan jurus tersebut.
Tio Cie Hiong memiringkan kepalanya, pada waktu bersamaan, Gouw Sian Eng menarik kakinya yang di depan, sekaligus menyabetkan rantingnya ke kiri.
Plak!
Leher Tio Cie Hiong tersabet ranting itu.
"Kakak Hiong..."
Seru Gouw Sian Eng kaget.
"Sakitkah lehermu?"
"Tidak apa-apa,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum. Sam Gan Sin Kay yang menyaksikan itu, nyaris jatuh pingsan seketika saking terkejutnya.
"Kakak Hiong! Aku sangat kagum padamu, berikan aku petunjuk lagi!"
Desak Gouw Sian Eng. Bagian 4 Tio Cie Hiong mengangguk dan mulai memberi petunjuk lagi kepada anak gadis itu. Sedangkan Sam Gan Sin Kay terus memperhatikan.
"Nah! Sekarang engkau sudah mengerti kan?"
Tio Cie Hiong memandang Gouw Sian Eng sambil tersenyum.
"Terimakasih atas semua petunjuk Kakak Hiong!"
Ucap Gouw Sian Eng dan menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Ohya! Beberapa hari lalu, aku mendapat sebatang bambu yang amat bagus di halaman belakang sana, maka kubikin sebatang seruling."
Ujar Tio Cie Hiong melanjutkan.
"Kebetulan malam ini bulan purnama, aku akan meniup suling untuk mengiringi jurus-jurus ilmu pedang itu."
"Bagus!"
Sorak Gouw Sian Eng sambil tertawa gembira. Tio Cie Hiong mengeluarkan sebatang suling dari dalam bajunya, lalu memandang anak gadis itu seraya berkata.
"Engkau boleh mulai berlatih, aku akan mengiringi dengan suara suling."
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk dan mulai menggerakkan ranting yang di tangannya.
Pada waktu bersamaan, terdengarlah alunan suara suling yang amat merdu.
Tak seberapa lama kemudian, Gouw Sian Eng kelihatan sudah terpengaruh oleh alunan suara suling.
Gerakannya akan bertambah cepat apabila suara suling itu bernada tinggi, akan berubah lamban apabila suara suling itu bernada rendah.
Sam Gan Sin Kay terpesona dan terpukau oleh gerakan Gouw Sian Eng, bahkan tangannya pun bergerak-gerak.
Berselang sesaat, Pengemis Sakti Mata Tiga kelihatan tersentak kaget, ternyata ia pun telah terpengaruh oleh suara suling itu.
Kenapa bisa begitu?
Tidak lain dikarenakan secara otomatis Tio Cie Hiong mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang untuk meniup suling bambunya.
Betapa terkejutnya Sam Gan Sin Kay, sehingga keringat dinginnya mengucur.
Padahal ia salah seorang Bu Lim Ji Khie yang amat tersohor dalam rimba persilatan, tapi justru masih terpengaruh oleh alunan suara suling bambu Tio Cie Hiong.
Tak seberapa lama kemudian, Tio Cie Hiong berhenti meniup sulingnya.
Gouw Sian Eng pun berhenti menggerakkan ranting di tangannya.
Anak gadis itu tampak terengah-engah.
"Kakak Hiong, engkau pandai sekali meniup suling. Sejak kapan engkau belajar meniup suling?"
"Sejak aku masih kecil, ya... usia lima tahun-an lah."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Adik Eng, sudah malam, engkau harus pergi tidur."
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk.
"Kakak Hiong, esok pagi kita bertemu lagi..."
Tio Cie Hiong tersenyum, sedangkan anak gadis itu berjalan pergi.
Setelah itu Tio Cie Hiong pun kembali ke kamarnya.
Sam Gan Sin Kay masih tetap berada di balik pohon.
Ia tidak habis pikir mengenai Tio Cie Hiong.
Walau sudah larut malam, Pengemis Sakti Mata Tiga masih tetap berdiri termangu-mangu di balik pohon.
Kemudian mendadak ia meloncat ke atas bangunan belakang.
Setelah itu, dengan hati-hati sekali ia membuka sedikit genteng di situ.
Ternyata ia ingin mengintip Tio Cie Hiong.
Sam Gan Sin Kay melihat Tio Cie Hiong duduk di atas ranjang dengan mata terpejam.
Di saat bersamaan, mendadak Tio Cie Hiong membuka sepasang matanya, lalu mendongakkan kepala memandang ke atas, tempat Sam Gan Sin Kay mengintip.
Sam Gan Sin Kay masih tetap berada di balik pohon.
Ia tidak habis pikir mengenai Tio Cie Hiong.
Walau sudah larut malam, Pengemis Sakti Mata Tiga masih tetap berdiri termangu-mangu di balik pohon.
Kemudian mendadak ia meloncat ke atas bangunan belakang.
Setelah itu, dengan hati-hati sekali ia membuka sedikit genteng di situ.
Ternyata ia ingin mengintip Tio Cie Hiong.
Sam Gan Sin Kay melihat Tio Cie Hiong duduk di atas ranjang dengan mata terpejam.
Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 9
Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 6