Ceritasilat Novel Online

Kasih Diantara Remaja 6

Eps 6 Kasih Diantara Remaja - Kho Ping Hoo

Baca online Kasih Diantara Remaja - Kho Ping Hoo

Cersil Kasih Diantara Remaja - Kho Ping Hoo.

Sepasang mata gadis ini bersinar-sinar marah ketika ia berkata demikian. Gurunya tersenyum, mengangguk-angguk.

"Aku percaya kepadamu, muridku. Akan tetapi, pendirianmu itu takkan dapat menyelamatkan kau dari pada bahaya besar yang mengancammu kalau kau berdekatan dengan manusia macam dia. Lain kali, melihat bayangannya saja kau harus cepat-cepat pergi jauh-jauh dari padanya."

Bi Eng mengerutkan alisnya yang bagus.

"Sebaliknya, suhu. Sekarang teecu ingin sekali kembali ke sana, ke Lu-liang-san."

Ciu-ong Mo-kai kaget.

"Apa katamu? Mau apa kau ke sana?"

"Suhu, Sin-ko berada di sana, tidak tahu bagaimana nasibnya. Bagaimana teecu bisa meninggalkan dia? Teecu maklum bahwa suhu hendak menyelamatkan teecu. Akan tetapi sebaliknya, teecu takkan bisa hidup kalau Sin-ko tidak berada di dekatku. Suhu, teecu harus kembali ke sana."

Sepasang mata itu sekarang menjadi basah dan suaranya penuh permohonan.

"Bi Eng, apa kau gila? Di sana ada Hoa Hoa Cinjin, ada Tung-hai Siang-mo, ada Bhok-kongcu dan kaki tangannya yang banyak serta lihai. Ke sana sama artinya dengan memasuki guha harimau yang ganas."

"Teecu tidak takut! Untuk menolong Sin-ko, teecu rela mengorbankan selembar nyawa. Kalau... kalau suhu tidak berani, biar teecu pergi sendiri!"

Kata-katanya penuh semangat dan kakek pengemis itu tertawa masam.

"Bi Eng.... bocah bodoh. Kau masih terlalu hijau, tidak bisa membedakan antara takut dan bersiasat. Menghadapi lawan banyak yang lebih kuat dari pada kita, kita harus menggunakan siasat. Bukannya nekat saja mengandalkan keberanian, lalu roboh dan gagal. Kalau kita nekat dan roboh, apa kau kira kakakmu masih akan dapat ditolong?"

Bi Eng kaget dan sadar. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan memohon.

"Suhu, kau harus tolong Sin-ko. Teecu mohon petunjuk bagaimana kita harus menolongnya."

Ciu-ong Mo-kai Tang Pok tertawa.

"Tanpa kau mintapun, apa kau kira aku akan membiarkan saja dia dicelakai anjing-anjing penjilat penjajah itu? Bi Eng, setelah mendengarkan penuturan tadi, aku mendapat siasat yang baik sekali. Tak dapat disangkal pula, agaknya iblis muda Bhok Kian Teng itu jatuh hati kepadamu."

"Suhu....!"

Wajah Bi Eng menjadi merah sekali. Tang Pok tertawa.

"Apa anehnya! Setiap pria muda melihat kau tentu akan berhal demikian. Hanya memang ajaib sekali kalau iblis muda itu betul-betul jatuh cinta kepadamu dengan wajar, dengan murni. Tadinya kukira orang macam dia sudah mati perasaannya. Tidak bisa mengenal cinta murni lagi, hanya menjadi budak dari nafsu buruknya. Ini kebetulan sekali. Melihat sikapnya terhadapmu yang sudah-sudah, sekarang kau boleh kembali ke Lu-liang-san untuk melihat keadaan. Mungkin dengan adanya kau di sana, keselamatan Han Sin lebih terjamin. Sementara itu, secara diam-diam aku akan melindungimu dan mencari kesempatan baik untuk membawa kau dan kakakmu pergi dari sana."

Demikianlah, karena tahu bahwa diam-diam suhunya mengikuti perjalanannya dan melindunginya, dengan berani dan tenang Bi Eng lalu muncul di depan Bhok-kongcu mencari kakaknya.

Tentu saja ia kaget sekali dan cepat membantu membongkar batu-batu ketika diberi tahu bahwa Han Sin tertutup di dalam guha.

Ketika Bi Eng tiba di situ, pembongkaran batu-batu sebelah luar guha sudah selesai dan tubuh Pak-thian-tok Bhok-Hong sudah ditemukan dalam keadaan terluka hebat dan sudah dikirim ke kota raja untuk berobat dan beristirahat, maka gadis ini tidak tahu akan hal itu sama sekali.

Pada malam kedua, ketika dengan hati gelisah Bi Eng termangu-mangu di depan pondok memandang ke arah guha yang masih tertutup batu-batu, tiba-tiba dari samping melayang sebuah benda kecil yang ringan ke arah dirinya.

Gadis ini mengira ada senjata rahasia, maka cepat ia miringkan tubuh dan mengulur tangan menyambar.

Dengan gerakan indah ini ia dapat menangkap benda itu yang ternyata adalah segumpal kertas kecil saja.

Cepat ia membawa kertas itu ke bawah lampu yang tergantung di pinggir pondok setelah ia celingukan ke sana ke mari.

Akan tetapi tidak melihat bayangan orang.

Ia mengira bahwa tentu surat itu datang dari suhunya.

Ia membuka surat dan membaca, terheran ketika melihat tulisan tangan wanita yang halus.

Mendekati Bhok-kongcu lebih berbahaya dari pada maut.

Harus cepat-cepat menjauhkan diri.

Tunggu sampai pagi, aku berusaha mendapatkan kuda dan menjemputmu pergi dari sini.

Urusan kakakmu, aku tentu berusaha menolongnya.

Bersiaplah!

Thio Li Hoa Bi Eng terkejut dan terheran.

Pernah ia melihat gadis yang bernama Thio Li Hoa ini, malah ketika Han Sin muncul di Lu-liang-san, dia datang bersama Li Hoa sebagai seorang gadis yang amat baik kepadanya.

Sekarang gadis ini yang tadinya telah dirobohkan oleh Bhok-kongcu, tiba-tiba muncul hendak mengajak dia pergi dan berjanji hendak menolong Han Sin.

Diam-diam Bi Eng dapat menduga bahwa gadis yang cantik jelita itu tentulah jatuh cinta kepada kakaknya.

"Hemmm, karena cinta kepada Sin-ko, maka kau berusaha menolong aku dan kakakku. Akan tetapi dengan kepandaianmu, menghadapi Bhok-kongcu saja kau tidak berdaya, apalagi di sini banyak sekali kaki tangan Bhok-kongcu seperti Hoa Hoa Cinjin, Tung-hai Siang-mo dan lain-lain? Li Hoa, kau mimpi!"

Demikian kata hatinya sambil meremas hancur surat itu.

Betapapun juga, ia harus mendengarkan dulu apa yang hendak direncanakan oleh gadis she Thio itu dalam usahanya.

Aku akan menanti sampai pagi, siapa tahu dia betul akan dapat menolong Sin-ko, pikirnya.

Gurunya sendiri mengatakan bahwa Bhok-kongcu adalah seorang pemuda jahat sekali.

Sekarang Li Hoa bilang bahwa Bhok-kongcu lebih berbahaya dari pada maut.

Akan tetapi mengapa terhadap dia pemuda itu begitu baik dan halus?

Betulkah pemuda seramah dan sehalus itu akan mengganggunya?

Mukanya menjadi merah dengan sendirinya kalau ia teringat betapa suhunya dengan terus terang bilang bahwa Bhok-kongcu cinta kepadanya!

Apa itu cinta?

Dia tak pernah merasa, kecuali cinta kasihnya terhadap Han Sin.

Dia selalu terkenang kepada Han Sin dan selalu ingin berdekatan, merasa sunyi dan hampa kalau berjauhan.

Dan dia rela berkorban apapun juga, bahkan nyawanya, untuk kakaknya itu.

Bi Eng lalu teringat kepada Yan Bu.

Juga pemuda itu amat baik, amat ramah dan halus.

Dan pandang mata pemuda itu.....

eh, kok ada persamaannya dengan pandang mata Bhok-kongcu jika memandang kepadanya.

Bersinar-sinar, berseri-seri namun mengandung suatu kelembutan dalam sinar mata itu, sesuatu yang mengharap, memohon dan......

seperti mata orang minta dikasihani.

"Aku tidak tahu tentang cinta,"

Pikirnya kemudian, bingung dan tidak perduli lagi.

"Apakah Yan Bu dan Bhok-kongcu mencintaiku, masa bodoh. Aku suka kepada Yan Bu, akupun.... tidak bisa membenci Bhok-kongcu, akan tetapi cinta? Entahlah. Akan kutanyakan kepada Sin-ko tentang cinta ini kelak....."

Setelah malam berganti pagi, Bhok-kongcu dan orang-orangnya mulai lagi dengan pekerjaan membongkari batu-batu.

Seperti biasa pada setiap pagi, pemuda ini menemui Bi Eng untuk diajak sama-sama ke tempat pekerjaan.

Akan tetapi gadis ini masih belum keluar dari kamarnya.

Ketika ia mengetuk dan memanggil-manggil, Bi Eng menjawab dari dalam.

"Bhok-kongcu, harap kau berangkat lebih dulu. Nanti aku akan menyusul!"

"Kau kenapakah, nona? Apakah tidak enak badanmu? Ataukah kau terlalu lelah? Biar aku panggilkan Hoa Hoa Cinjin, agar kau diperiksa dan diberi obat....."

Bi Eng menarik napas panjang di dalam kamarnya.

Suara pemuda itu begitu halus, lemah lembut dan penuh perhatian, terdengar amat khawatir dan mencinta.

Betulkah dugaan Ciu-ong Mo-kai bahwa Bhok Kian Teng ini mencintainya?

Buru-buru ia menjawab.

"Tidak usah, Bhok-kongcu. Aku tidak apa-apa, hanya lelah sedikit dan malas bangun. Nanti kalau sudah enakan, tentu aku akan menyusul. Kau pergilah!"

Dari dalam kamar terdengar betapa pemuda itu masih belum mau pergi, agaknya ragu-ragu. Kemudian terdengar suaranya.

"Aku.... aku amat khawatir, jangan-jangan kau sakit. Aku ingin sekali melihatmu, nona Bi Eng. Kalau perlu akupun tidak pergi ke tempat pekerjaan. Ataukah aku panggil seorang pelayan untuk menemanimu dan melayanimu?"

"Tak usah...... tak usah, aku betul-betul tidak apa-apa."

Untuk melenyapkan kecurigaan orang Bi Eng lalu membuka pintu kamarnya.

Ia melihat pemuda itu seperti biasa, sudah berpakaian rapi dan bersih, wajahnya yang putih tampan itu nampak gelisah dengan sepasang mata penuh perhatian memandangnya.

"Aku tidak apa-apa, hanya ingin mengaso lebih lama. Kau berangkatlah dulu, nanti aku menyusul."

Bhok Kian Teng dengan penuh kasih sayang dalam pandang matanya menatap wajah gadis itu.

Rambut Bi Eng masih kusut, juga pakaiannya kusut karena memang belum berganti pakaian dan belum menyisir rambut.

Akan tetapi dalam pandang mata pemuda yang sudah jatuh hatinya itu, ia nampak makin jelita.

Melihat betapa sepasang pipi gadis itu kemerah-merahan dan segar, kekuatiran Kian Teng lenyap dan berserilah wajahnya.

"Ah, syukur kau tidak apa-apa, nona. Kalau kau merasa lelah tidurlah lagi. Tak usah kau membantu. Kalau sudah merasa enakan, dan kau ingin melihat, kau datang melihat-lihat saja orang bekerja, tak perlu kau mengeluarkan tenaga membantu mereka. Nah, aku pergi dulu."

Ia menjura dan mengundurkan diri.

Bi Eng bernapas lega.

Semua orang sudah pergi, leluasa baginya untuk menanti datangnya Li Hoa di situ.

Gadis ini sama sekali tidak mengira bahwa Bhok Kian Teng adalah seorang pemuda yang cerdik luar biasa.

Ketika melihat gadis yang dikasihinya itu muncul dalam keadaan sehat dan segar dengan pipi kemerahan, malah timbul kecurigaan di dalam hatinya.

Gadis ini amat rindu kepada kakaknya dan saking besar keinginan hatinya melihat sikap kakaknya tertolong dari dalam guha, setiap hari sampai ikut-ikut mendorong batu-batu dengan kedua tangan sendiri.

Kecuali kalau jatuh sakit, tak mungkin gadis itu mau menghentikan bantuannya.

Sekarang melihat keadaannya demikian segar dan sehat, kenapa berdiam saja di kamar dan mengajukan alasan tidak enak badan?

Akan tetapi di depan Bi Eng ia tidak menyatakan apa-apa, malah segera pergi dan meninggalkan gadis itu seorang diri di dalam pondok.

Belum lama Bi Eng berada seorang diri di dalam pondok yang telah menjadi sunyi itu, ia mendengar suara kaki kuda di depan pondok, disusul suara perlahan seorang wanita.

"Adik Bi Eng, lekas keluar!"

Ketika Bi Eng berlari keluar dari pondok kecil itu, ia melihat dua orang gadis cantik yang menunggang dua ekor kuda, seekor putih, seekor hitam.

Gadis yang seorang bukan lain adalah si cantik Li Hoa yang sudah pernah dilihatnya.

Akan tetapi gadis kedua belum pernah ia melihatnya.

Gadis kedua ini lebih muda dari pada Li Hoa, juga cantik dan matanya bersinar gagah.

"Bi Eng, dia ini adalah adikku, Thio Li Goat."

Gadis bernama Li Goat itu tersenyum manis kepada Bi Eng, lalu ia melompat turun dari kuda hitamnya dan berkata.

"Enci Bi Eng, kau pakailah kudaku. Biar aku membonceng enci Li Hoa."

Bi Eng ragu-ragu.

Hatinya tertarik melihat keramahan dua orang gadis cantik itu, akan tetapi karena dia tidak mengenal mereka, tentu saja dia tidak merasa yakin apakah dia harus ikut mereka.

Li Hoa maklum akan isi hati Bi Eng, maka dengan suara perlahan dia berkata cepat.

"Bi Eng, tak usah kau ragu-ragu. Kau berada dalam bahaya besar. Bhok-kongcu sengaja menahanmu untuk memaksa kakakmu menyerahkan kitab rahasia yang berada di dalam guha. Marilah kau ikut dengan kami dan nanti kita berunding bagaimana baiknya untuk menolong kakakmu."

Biarpun masih agak ragu-ragu, akan tetapi Bi Eng dapat merasa dalam hatinya bahwa dua orang ini tak mungkin termasuk orang-orang jahat.

Maka sudah dengan sendirinya, ia lalu meloncat naik ke atas punggung kuda hitam yang tangkas itu, sedangkan Li Goat juga meloncat ke atas punggung kuda Li Hoa, dengan sigap tubuhnya melayang dan tahu-tahu ia sudah membonceng di belakang encinya.

Melihat gerakan Li Goat yang ringan dan tangkas, diam-diam Bi Eng kagum dan maklum bahwa dua orang enci adik itu memiliki kepandaian silat yang tinggi.

"Mari kita pergi dari sini sebelum mereka mengetahui,"

Ajak Li Hoa.

"Kalau kita sudah berhasil lari, mereka takkan mampu mengejar kuda-kuda pilihan kita ini!"

Bi Eng menarik kendali kudanya dan kuda itu melesat ke depan mengejar kuda putih yang ditunggangi oleh Li Hoa dan Li Goat. Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan orang dibarengi bentakan.

"Nona Cia Bi Eng, jangan kau percaya bujukan mereka!"

Kuda hitam itu berjingkrak, mengangkat kedua kaki depan ke atas ketika Bi Eng yang terkejut menahan tali kendalinya.

Juga dua orang gadis itu kaget sekali.

Tadi secara diam-diam mereka telah mengintai dan melihat Bhok Kian Teng bersama pembantu-pembantunya sudah pergi ke guha, kenapa pemuda ini tahu-tahu muncul di situ?

Memang Bhok-kongcu orangnya cerdik.

Dia memang pergi ke guha, akan tetapi cepat kembali, secara diam-diam dan bersembunyi di dekat pondok mengintai hingga ia melihat segala yang terjadi di depan pondok.

"Orang she Bhok! Biarkan dia pergi! Dia apamukah maka kau berani menahan seorang gadis? Apa kau tidak malu?"

Bentak Li Hoa dengan marah.

"Dia tawananku dan kalian ini bocah-bocah nakal tak usah mencampuri urusanku!"

Jawab Bhok Kian Teng.

"Tawanan......?"

Bi Eng berseru kaget.

"Aku bukan tawanan! Bagaimana kau berani bilang demikian?"

"Nona yang baik, jangan kau mendengarkan bujukan mereka. Mereka itu dua orang gadis yang jahat, suka mengacau......."

"Kurang ajar kau! Kau kira kami boleh kau hina sembarangan? Awas senjata!"

Bentak Li Goat yang menggerakkan tangan kanannya dan dua buah benda yang berkilauan dengan cepat sekali menyambar ke arah tubuh Bhok-kongcu, mengarah dua jalan darah yang berbahaya.

Itulah senjata rahasia Lian-hoa-piauw (Piauw Bunga Teratai), yang selain indah bentuknya, menyerupai bunga dengan dironce merah, juga amat cepat sambarannya dan amat berbahaya.

Namun Bhok-kongcu adalah seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi.

Sambil mengeluarkan suara tawa mengejek, dengan mudah saja ia miringkan tubuh dan dua buah senjata rahasia itu menyambar lewat di atas punggungnya.

Sebelum Bi Eng sempat melarikan kudanya lagi, tiba-tiba Bhok-kongcu yang berada di depan kudanya itu menggerakkan tangan menarik kendali kuda.

Kuda hitam kesakitan dan merontah-rontah sehingga tak dapat ditahan lagi tubuh Bi Eng terlempar dari punggungnya.

Alangkah kaget dan marah hati Bi Eng ketika tahu-tahu ia telah diterima oleh kedua lengan tangan Bhok-kongcu, dipondong sehingga tidak terbanting jatuh.

Ia merontah-rontah dalam pelukan pemuda itu dan berteriak-teriak.

"Lepaskan aku! Lepaskan!"

Akan tetapi mana Bhok-kongcu mau melepaskannya? Malah pemuda ini lalu menotok jalan darah gadis itu sehingga membuat Bi Eng lemas tak berdaya lagi.

"Bi Eng, kau harus percaya kepadaku, harus! Jangan dengarkan obrolan orang lain."

Kemudian ia berseru kepada orang-orangnya dengan suara tinggi.

"Ji-wi lo-enghiong Tung-hai Siang-mo! Tolong tangkap dua orang gadis itu!"

Pada saat itu, mendadak terdengar suara keras.

"Bocah she Bhok, jangan kau kurang ajar terhadap muridku!"

Muncullah tubuh Ciu-ong Mo-kai dan dari mulutnya tersembur arak ke arah muka Bhok-kongcu.

Pemuda ini maklum akan kelihaian pengemis tua ini.

Maka ia lalu melempar tubuh Bi Eng ke bawah pohon sambil mengelak dari serangan semburan arak, tangannya mencabut keluar kipasnya.

la masih tersenyum mengejek melihat pengemis itu.

"Aha, kiranya Ciu-ong Mo-kai si pengemis kelaparan yang datang. Setelah menerima hajaran, kau masih belum kapok dan berani muncul lagi?"

Ciu-ong Mo-kai mengeluarkan seruan keras dan dengan marah menyerang dengan guci araknya, dihantamkan ke arah kepala Bhok-kongcu.

Pemuda ini cepat mengelak dan membalas dengan totokan maut yang dimainkan dengan kipasnya.

Sebentar saja dua orang jago tua dan muda ini saling gempur dengan hebatnya.

Bhok-kongcu boleh jadi seorang pemuda yang pada jaman itu jarang dicari tandingnya.

Sebagai putera tunggal dari Pak-thian-tok, tentu saja ia memiliki kepandaian yang tinggi juga, berkat kecerdikan otaknya ia telah banyak mempelajari ilmu-ilmu silat yang luar biasa.

Sayangnya dia adalah seorang pemuda mata keranjang yang terlalu suka menuruti nafsu hatinya sehingga dalam hal lweekang, tenaganya belum dapat dikatakan sempurna.

Sekarang ia menghadapi seorang tokoh besar seperti Ciu-ong Mo-kai, tentu saja biarpun dengan ilmu silatnya ia dapat melakukan perlawanan dan bahkan dapat membalas dengan serangan-serangan maut, namun perlahan-lahan ia terdesak oleh hawa pukulan-hawa pukulan yang amat kuat dari pengemis sakti itu.

la mencoba hendak mempergunakan senjata rahasianya yang beracun, akan tetapi Ciu-ong Mo-kai Tang Pok tidak memberi kesempatan kepadanya.

Sementara itu dua orang iblis laut timur, Tung-hai Siang-mo, setelah mendapat perintah Bhok-kongcu tanpa ragu-ragu lagi lalu melompat maju dan kuda putih yang ditunggangi oleh Li Hoa dan Li Goat kaget dan berdiri di atas kedua kaki belakang ketika sepasang iblis itu menghadang di depannya.

Sambil mempertahankan diri agar jangan jatuh dari atas kuda, Li Hoa membentak.

"Tung-hai Siang-lo-enghiong, apakah kalian berani kurang ajar kepada kami? Ayah akan menghukum kalian!"

Tentu saja Tung-hai Siang-mo sudah mendengar tentang kekuasaan Thio-taijin, ayah kedua orang gadis ini, akan tetapi merekapun tahu bahwa kedudukan Bhok-kongcu lebih tinggi dari pada ayah mereka.

Maka mendengar ancaman Li Hoa ini, Ji Kong Sek tersenyum.

"Heh-heh, nona berdua yang manis, mana kami berani kurang ajar terhadap puteri-puteri Thio-taijin? Kami hanya menerima tugas dan perintah Bhok-kongcu supaya kalian jangan lari pergi. Kalau ayah kalian marah, biarlah marah kepada kongcu. Heh-heh-heh!"

Li Hoa mengeluarkan seruan marah.

la tahu bahwa percuma saja menggunakan nama ayahnya untuk menggertak, dan iapun tahu pula bahwa kalau ayahnya tahu akan sepak-terjangnya di sini terhadap Bhok-kongcu dan orang-orangnya, ayahnya malah akan marah kepadanya!

Maka tanpa banyak cakap lagi gadis yang berani ini lalu memberi isyarat kepada adiknya.

"Li Goat serang!"

Seperti dua ekor singa betina, enci dan adik ini lalu melompat turun dan menerjang Tung-hai Siang-mo dengan pedang mereka.

Ji Kong Sek dan Ji Kak Touw tertawa mengejek.

Dengan girang mereka lalu melayani dua orang nona muda yang cantik-cantik ini, menghadapi permainan pedang mereka dengan tangan kosong saja.

Memang tingkat kepandaian sepasang iblis ini tentu saja jauh lebih tinggi, maka dengan enak dan mudah mereka dapat mempermainkan Li Hwa dan adiknya.

Di lain pihak, Bhok-kongcu yang lihai itu ternyata tidak kuat menghadapi amukan Ciu-ong Mo-kai yang hendak menolong muridnya.

Jago tua ini mengeluarkan ilmu silatnya Liap-hong-sin-hoat dan setelah dengan mati-matian mempertahankan diri, akhirnya Bhok-kongcu mulai terdesak dan permainan kipasnya kalang-kabut.

Pada jurus ketiga puluh, dengan seruan keras sekali Ciu-ong Mo-kai mengayun guci araknya ke arah Bhok-kongcu sambil membentak.

"Pangeran keji, mampuslah!"

Bhok-kongcu terkejut sekali melihat sambaran guci yang amat tidak tersangka-sangka dan cepat sekali ini.

la mengangkat kipas menangkis sambil menusukkan jari-jari tangan kirinya ke arah mata lawannya.

Akan tetapi mendadak dari mulut guci itu melesat keluar segumpal arak yang menyambar ke arah muka Bhok-kongcu!

Pemuda ini berusaha miringkan kepala, namun masih ada sebagian arak yang mengenai pipi dan matanya, sehingga terpaksa ia meramkan mata.

la merasa pipinya pedas sekali dan serangan jari-jari tangan kirinya tidak mengenai sasaran.

Adapun kipas di tangan kanannya bertemu dengan guci, mengeluarkan suara keras dan.......

senjata istimewa di tangannya itu patah-patah!

Otomatis Bhok-kongcu melompat mundur ke belakang dan gerakannya ini amat indah dan baik karena kalau tidak demikian, tentu ia telah tertimpa bencana oleh serangan susulan yang dilakukan oleh Tang Pok.

Pada saat itu, muncul Hoa Hoa Cinjin yang mengeluarkan suara marah.

"Tang Pok pengemis kelaparan! Pinto lawanmu, bukan orang-orang muda!"

Angin menyambar dahsyat ketika Hoa Hoa Cinjin menyerang.

Tosu ini tidak berlaku sungkan lagi.

Tangan kanannya menggerakkan pedangnya yang bersinar hijau, sedangkan tangan kiri dikepal dan menyerang pula dengan pukulan-pukulan jarak jauh.

"Tosu keparat! Siapa takut padamu?"

Ciu-ong Mo-kai Tang Pok yang maklum akan kelihaian Hoa Hoa Cinjin, segera melayani tosu ini dengan sungguh-sungguh.

Pedang hijau di tangan tosu itu sudah lihai, akan tetapi pukulan-pukulan tangan kirinya lebih berbahaya lagi.

Namun, dengan Ilmu Silat Liap-hong-sin-hoat, Tang Pok masih dapat membuat Hoa Hoa Cinjin yang lihai itu menghadapi tembok baja dan sukarlah baginya untuk mengalahkan pengemis sakti ini.

Menyaksikan bahwa kekuatan kedua fihak berimbang Bhok-kongcu menjadi penasaran dan tidak sabar lagi.

Li Hoa dan Li Goat kini sudah roboh tertawan oleh Tung-hai Siang-mo, akan tetapi dua orang kakek ini tentu saja tidak sudi membantu Hoa Hoa Cinjin, karena merekapun orang-orang berkedudukan tinggi sehingga memalukan mengeroyok lawan.

Maka setelah merobohkan Li Goat, dua orang tua inipun hanya berdiri sambil tertawa-tawa menonton.

Bhok-kongcu lalu minta bantuan mereka untuk mengantar Li Hoa, Li Goat, dan Bi Eng ke kota raja.

"Serahkan dua orang gadis Thio itu kepada ayah mereka dan ceritakan semua sepak-terjang mereka yang tidak semestinya, dan nona Cia ini harap ji-wi (kalian) bawa ke rumahku, biar mengaso di sana,"

Pesannya.

Tung-hai Siang-mo menjadi girang dengan tugas yang ringan ini, maka mereka segera membawa tiga orang nona muda itu pergi turun gunung.

Setelah membereskan tiga orang nona itu, Bhok-kongcu lalu maju membantu Hoa Hoa Cinjin.

Kipasnya sudah rusak, maka kini ia membantu dengan serangan-serangan senjata rahasia ke arah Ciu-ong Mo-kai.

Tentu saja serangan-serangan yang cukup dahsyat ini membuat Tang Pok menjadi kewalahan.

Kakek pengemis ini sudah merasa bingung melihat Bi Eng dibawa pergi Tung-hai Siang-mo, dan menghadapi desakan Hoa Hoa Cinjin saja sudah amat berat.

Sekarang ditambah lagi dengan serangan-serangan senjata rahasia berupa jarum-jarum halus beracun dari Bhok-kongcu, ia kaget dan cepat menyemburkan arak untuk melindungi dirinya.

la tahu bahwa senjata rahasia pemuda ini tak boleh dipandang ringan.

Sebagai putera tunggal Pak-thian-tok (Racun Utara), tentu saja senjata rahasia itu mengandung racun yang amat jahat.

Adapun Hoa Hoa Cinjin yang melihat keadaan lawannya terdesak, cepat memperhebat serangannya, malah iapun kini menggunakan jarum-jarum hijau diseling dengan pukulan-pukulan Cheng-tok-ciang!

"Curang....

curang....!"

Berkali-kali Ciu-ong Mo-kai Tang Pok berseru sambil membuang diri ke kanan kiri, namun percuma saja karena hujan serangan itu akhirnya membuat pundak kirinya terkena jarum hijau yang dilepas dari jarak dekat oleh Hoa Hoa Cinjin.

Tang Pok menggigit bibirnya menahan sakit.

Seluruh lengan kirinya menjadi lumpuh oleh racun jarum itu.

Cepat ia menotok jalan darah di leher kiri dan mengerahkan tenaga untuk menahan menjalarnya racun, ia memutar guci araknya dengan pukulan Ciu-san-cam-liong (Dewa Arak Membunuh Naga), jurus terakhir yang paling dahsyat dari Liap-hong Sin-hoat.

Guci arak itu berputar cepat sekali mengarah kepala Hoa Hoa Cinjin dan terus menyerang Bhok-kongcu yang berada agak jauh.

Dua orang ini kaget dan cepat meloncat mundur melihat dahsyatnya serangan guci arak ini dan diam-diam Hoa Hoa Cinjin kagum sekali melihat kakek pengemis yang sudah terluka oleh jarum hijaunya itu ternyata tidak roboh malah dapat melakukan serangan balasan demikian hebatnya.

"Mo-kai, kau hebat......!"

Tak terasa lagi ia memuji sambil melompat mundur.

Tang Pok hanya tertawa bergelak, lalu tubuhnya melesat jauh, lari dari situ.

Bhok-kongcu dengan gemasnya menghujankan senjata rahasia ke arah pengemis itu.

Akan tetapi jaraknya sudah terlalu jauh dan dengan sekali mengibaskan ujung lengan baju kanannya, semua jarum itu dapat diruntuhkan.

"Jangan-jangan dia nanti mengejar Tung-hai Siang-mo dan merampas muridnya,"

Kata Hoa Hoa Cinjin. Bhok-kongcu menggeleng kepalanya.

"Selain dia tidak berdaya menghadapi dua orang tua itu, juga mereka diantar oleh sepasukan pengawal bersenjata yang sudah dipilih. Tak usah khawatir, paling baik kita segera mengeluarkan pemuda she Cia itu."

Demikianlah, dengan bekerja siang malam, Bhok-kongcu akhirnya berhasil membongkar semua batu-batu yang menutup terowongan dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Bhok-kongcu dan Hoa Hoa Cinjin menyerbu ke dalam, akan tetapi mereka berdua tidak mendapatkan apa-apa, bahkan tidak melihat adanya Cia Han Sin yang sudah bersembunyi di dalam sumur!

Kita kembali kepada Han Sin.

Seperti telah kita ikuti bersama, pemuda ini telah menggembleng diri dalam terowongan, mempelajari ilmu silat tinggi Thian-po-cin-keng.

Tanpa ia sadari sendiri, ia telah mewarisi ilmu yang hebat dan berkat latihan-latihannya, kini hawa sinkang di dalam tubuhnya menjadi berlipat ganda kuatnya.

Setelah ia mendengar percakapan antara Bhok-kongcu dan Hoa Hoa Cinjin, dan mengerti bahwa Bhok-kongcu sebenarnya adalah Pangeran Mongol yang bercita-cita merampas kembali negara Tiongkok, jiwa patriotnya bergolak.

Ia melihat ancaman hebat mengancam tanah air dan bangsanya, yang tidak saja kini dicaplok oleh penjajah Mancu, malah terancam pula oleh orang-orang Mongol yang ingin menjajah kembali.

Akan tetapi saat itu, perhatiannya tertumpah pada nasib adiknya yang ia dengar telah terjatuh ke dalam tangan pangeran Mongol, Bhok-kongcu itu.

Maka dengan kemarahan ditahan-tahan, pemuda ini lalu berjalan keluar dari terowongan, tidak jadi melarikan diri!

"Awas kalian kalau adikku diganggu.....!"

Gerutunya.

Kesabaran manusia ada batasnya dan pemuda ini yang biasanya amat sabar, saking seringnya diganggu dan setelah mendapat gemblengan di dalam terowongan, dibangunkan semangatnya oleh Thai-lek-kwi Kui Lok, kini benar-benar menjadi marah.

Pada saat itu Bhok-kongcu dengan kecewa karena pekerjaan berat yang sudah dilakukan itu ternyata tidak mendatangkan hasil yang amat diharapkan, yaitu kitab rahasia yang ia rindukan, sedang mengatur orang-orangnya untuk mengangkuti harta pusaka yang banyak terdapat di dalam guha.

Pekerjaan ini dibantu oleh Thian-san Sam-sian, Tok-gan Sin-kai, dan lain-lain jagoannya.

Tung-hai Siang-mo sudah pergi mengantar tiga orang nona ke kota raja, sedang Hoa Hoa Cinjin sudah pergi melakukan pengejaran terhadap Cia Han Sin yang mereka sangka sudah kabur dari dalam guha.

DAPAT dibayangkan betapa kaget dan heran hati mereka ketika tiba-tiba mereka melihat Han Sin berjalan keluar dari dalam guha.

Wajah pemuda ini merah sekali, sepasang matanya yang luar biasa sinarnya itu menyapu semua orang, amat menyeramkan.

Pakaiannya kumal dan compang camping, rambutnya kusut tidak terpelihara.

Akan tetapi sekali melihatnya, Bhok-kongcu segera mengenalnya.

Pangeran muda ini amat terkejut dan heran, akan tetapi ia segera dapat menekan perasaannya dan dengan wajah tersenyum ia melangkah maju dan menyambut Han Sin dengan suara ramah.

"Ah, kiranya saudara Cia masih selamat. Syukur...., syukur......! Kami telah bersusah payah berusaha menolongmu, membongkar semua batu untuk sebulan lebih lamanya."

Akan tetapi Bhok-kongcu menghentikan langkahnya ketika melihat muka pemuda itu yang kelihatan mengancam dan marah.

"Di mana Bi Eng? Di mana adikku itu?"

Pertanyaan ini keluar dari mulut Han Sin dengan nada penuh ancaman dan sinar matanya berapi-api. Dengan muka masih tersenyum ramah Bhok-kongcu menjawab.

"Adikmu itu selamat dan berada di kota raja menanti kedatanganmu. Saudara Cia, apakah kau sudah mendapatkan kitab rahasia itu?"

Diam-diam Han Sin terkejut. Bagaimana pemuda pangeran ini bisa tahu tentang kitab? la menggeleng kepala.

"Takkan kukatakan kepadamu, atau kepada siapapun juga. Kau bohong tentang adikku. Kau telah menawannya. Ayoh lepaskan dia!"

Bhok-kongcu mendongkol sekali, akan tetapi masih dapat menahan kemarahannya. la tahu bahwa Han Sin memiliki keberanian dan kekerasan hati luar biasa, maka harus dihadapi dengan lemah-lembut.

"Saudaraku yang baik, seorang kuncu tak akan menjilat kembali ludah yang sudah dikeluarkannya. Kau sudah berjanji padaku........"

"Berjanji apa? Berjanji hendak membawamu ke tempat penyimpanan harta peninggalan pahlawan Lie Cu Seng. Bukankah aku sudah membawamu ke sini? Ayoh, jangan banyak cakap, lekas lepaskan adikku!"

Bhok-kongcu seorang cerdik. Melihat pemuda itu tidak mau bicara tentang kitab wasiat, ia menaruh curiga bahwa kitab itu tentu telah ditemukan Han Sin. Maka ia lalu berkata manis.

"Saudara Cia, adikmu selamat di kota raja. Mudah saja melepaskan dia supaya berkumpul lagi denganmu, akan tetapi kitab itu...... kau harus berikan dulu kepadaku sebagai penukaran diri adikmu. Bukankah ini adil?"

Kemarahan Han Sin meluap. Sepasang matanya seperti kilat menyambar ke arah wajah Bhok-kongcu, membuat kongcu itu surut dua langkah saking kagetnya.

"Aku tidak mau lagi masuk perangkapmu yang keji!'"

Seru Han Sin.

"Aku tidak sudi berjanji apa-apa, tidak sudi menukar apa-apa. Adikku tidak bersalah, mengapa kau tawan? Ayoh keluarkan!"

Dengan penuh kemarahan pemuda ini melangkah maju menghampiri Bhok-kongcu.

Tentu saja Bhok-kongcu tidak takut menghadapi Han Sin yang dianggapnya seorang pemuda yang hanya berani dan aneh, akan tetapi lemah.

Pada saat itu terdengar suara tertawa mengejek dan majulah tiga orang hwesio, menghadang Han Sin.

Mereka ini adalah Thian-san Sam-sian, yaitu Gi Ho Hosiang, Gi Hun Hosiang dan Gi Thai Hosiang.

Yang tertawa adalah Gi Hun Hosiang, yang sudah mencabut pedang dan tasbehnya.

"Ha-ha-ha, bocah she Cia. Apakah kau masih belum kapok dan minta disiksa lagi seperti dulu? Ingin pinceng mencokel keluar kedua matamu yang seperti mata iblis itu!"

Melihat tiga orang hwesio yang menaruh dendam kepada keluarga Cia itu sudah maju, Bhok-kongcu berkata.

"Jangan bunuh dia, tangkap saja!"

Adapun Han Sin ketika melihat tiga orang hwesio yang pernah menyiksanya ini, bangkit kemarahannya.

"Kalian ini setan-setan berwajah manusia berselimut pakaian pendeta. Kalian mencemarkan agama dan mengotorkan dunia!"

Serunya marah sambil maju terus, sama sekali tidak memperdulikan tiga orang itu.

Serentak tiga orang hwesio itu maju dan sesuai dengan perintah Bhok-kongcu, mereka tidak menggunakan senjata, melainkan menggunakan tangan kosong untuk mencengkeram Han Sin.

Yang maju lebih adalah Gi Hun Hosiang yang menggunakan tangan kiri menampar kepala dan tangan kanan mengcengkeram pundak.

Han Sin tidak perdulikan serangan itu, hanya menggerakkan tangan kiri mengibas ke depan dan.......

tubuh Gi Hun Hosiang terlempar sampai empat meter lebih, bergulingan dan mengaduh-aduh!

Gi Thai Hosiang dan Gi Ho Hosiang kaget dan marah sekali.

Serentak mereka maju mengirim serangan dahsyat.

Namun, dengan hanya satu kali menggerakkan kedua tangannya, kembali Han Sin membuat dua orang kepala gundul itu terpelanting dan tak dapat bangun lagi.

Ternyata Thian-san Sam-sian telah roboh dengan tulang-tulang pundak patah-patah dan menderita luka dalam yang sekaligus melenyapkan sebagian besar dari pada tenaga dan kepandaian mereka.

Biarpun Han Sin tidak membunuh mereka, namun selanjutnya tiga orang hwesio ini tidak dapat berbuat sewenang-wenang lagi karena mereka telah menjadi penderita-penderita cacat di sebelah dalam dadanya!

Semua orang melongo melihat kejadian ini.

Akan tetapi Tok-gan Sin-kai yang tidak kenal gelagat, masih tidak percaya dan menganggap hal itu bisa terjadi karena kesembronoan dan kebodohan Thian-san Sam-sian.

Tanpa menanti perintah lagi ia meloncat maju dan menyerang dengan tongkatnya.

Tok-gan Sin-kai adalah sute dari Coa-tung Sin-kai, ilmu tongkatnya berbahaya dan lihai sekali.

Tentu saja Han Sin mengenal pengemis mata satu ini.

Pernah dulu ia diberi hadiah Coa-kut-teng (Paku Tulang Ular) oleh pengemis ini sampai ia menderita luka di pundaknya dan terkena racun.

Ia tahu bahwa di ujung tongkat pengemis mata satu itu terdapat alat senjata rahasia paku itu.

"Tua bangka keji, apa kau hendak menggunakan lagi paku-paku busukmu?"

Katanya sambil tersenyum mengejek. Watak Han Sin benar-benar banyak berubah setelah ia "bertapa"

Selama empat puluh hari di dalam guha.

la kini menjadi jenaka, tidak pendiam lagi seperti dulu.

Welas asih terhadap sesama manusia memang sudah menjadi dasar wataknya, hanya sekarang ia tidak menurutkan perasaan ini secara membuta.

la bukan seorang yang bersemangat tahu lagi, ia bukan seorang pemuda yang berjiwa lemah.

Ia harus membasmi kejahatan!

Tok-gan Sin-kai yang memandang rendah pemuda ini, sudah melakukan gerakan pertama, tongkatnya menyambar dan menusuk ke arah ulu hati Han Sin.

Pemuda itu kelihatannya tidak mengelak sama sekali, malah menanti sampai ujung tongkat mengenai kulitnya.

Alangkah kagetnya hati Tok-gan Sin-kai ketika ia merasa ujung tongkatnya meleset ketika mengenai kulit dada pemuda itu, seakan-akan baja yang keras dan licin.

Sebelum ia menarik kembali tongkatnya, Han Sin sudah menyambar tongkat itu dan seperti mematahkan sebatang biting, ia patah-patahkan tongkat itu lalu menjumput tujuh buah paku yang tersembunyi di pucuk tongkat.

"Makanlah paku-pakumu!"

Katanya sambil melemparkan paku-paku itu ke arah pemiliknya.

Tok-gan Sin-kai kaget dan mencoba untuk mengelak, namun terlambat.

Ia merasa sakit pada kedua pundak, kedua siku, kedua lutut dan roboh terguling seketika itu juga.

Ternyata di antara tujuh batang paku, yang enam telah menancap di kedua pundak, kedua lengan dan kedua kaki membuat urat-uratnya di tempat itu putus dan selanjutnya, seperti halnya Thian-san Sam-sian, pengemis mata satu ini juga menjadi seorang tak berguna lagi, cacat selama hidupnya!

Gegerlah semua orang yang menyaksikan kejadian ini.

Bhok-kongcu hampir tak dapat mempercayai pandangan matanya sendiri.

Sekilat pikiran melintas dalam benaknya.

Tentu pemuda Min-san itu sudah menemukan kitab wasiat!

Akan tetapi mungkinkah hanya dalam puluhan hari saja sudah dapat mewarisi isi kitab dan memiliki kepandaian sehebat itu?

Wajahnya menjadi pucat ketika ia melihat Han Sin dengan langkah tegap menghampirinya dan mulut pemuda itu terus mendesak.

"Di mana Bi Eng? Lepaskan dia!"

Bhok-kongcu bukanlah pemuda yang nekat mengandalkan kepandaian sendiri. Dia lebih mengandalkan kecerdikannya. Melihat keadaan Han Sin, dia tidak mau berlaku sembrono, cepat ia memberi perintah.

"Tangkap dia!". Puluhan orang kaki tangannya yang tadinya bungkam dan tak bergerak saking herannya melihat pemuda aneh itu merobohkan tiga orang tokoh besar secara demikian mudah, kini mendengar perintah majikannya, serentak maju menyerang Han Sin. Pemuda ini makin mendongkol.

"Kalian semua bukan orang baik-baik!"

Tegurnya dan ketika kedua lengannya bergerak, orang-orang yang mengeroyok roboh bergelimpangan.

Betapapun marah hati Han Sin, pemuda ini masih tidak tega untuk membunuh orang, maka ia membatasi tenaganya dan hanya merobohkan para pengeroyoknya itu dengan mematahkan tulang-tulang mereka.

Keadaan menjadi ribut dan makin lama makin banyak orang roboh tumpang-tindih, membuat yang lain menjadi jerih dan ragu-ragu untuk maju.

Ketika akhirnya Han Sin terbebas dari pengeroyokan dan tak seorangpun berani maju, ia mendapatkan bahwa Bhok-kongcu sudah tidak berada di tempat itu lagi, kongcu yang cerdik itu ternyata telah kabur!

Han Sin tidak mau perdulikan, Bhok-kongcu, sebaliknya ia menyambar lengan seorang pengeroyok dan membentak.

"Ayoh katakan, di mana adanya nona Cia Bi Eng, adikku!"

Pandang matanya yang tajam luar biasa itu membuat, orang yang dipegangnya ketakutan setengah mati.

"Ampun, taihiap........ nona itu dibawa oleh Tung-hai Siang-mo ke kota raja......."

"Siapa yang menyuruh dan dibawa ke rumah siapa?"

"Bhok-kongcu yang memerintah dan....... tentu saja dibawa ke rumah Bbok kongcu......."

Han Sin melepaskan lengan orang, lalu pergi turun gunung tanpa banyak cakap lagi.

Tujuannya hanya satu, menolong adiknya di kota raja kemudian baru bersama adiknya melakukan perjuangan bersama para patriot bangsa lainnya, mengusir kaum penjajah yang hendak mencengkeram tanah air!

Dengan melakukan perjalanan cepat tak kenal lelah Han Sin turun dari puncak Lu-liang-san sebelah timur dan terus menuju ke timur, ke kota raja.

Ia merasa tubuhnya amat ringan dan kuat, jauh sekali bedanya dengan sebulan yang lalu.

Bukan main girangnya karena ia maklum bahwa kesemuanya ini adalah berkat ketekunannya mempelajari ilmu dari kitab Thian-po-cin-keng yang sudah ia bakar ketika ia hendak keluar dari dalam guha.

Kitab itu sudah dibakarnya karena ia maklum bahwa banyak sekali tokoh kang-ouw menghendaki kitab itu, maka untuk mencegah keributan lebih lanjut, ia membakar kitab itu sampai habis menjadi abu.

Ketika pemuda ini sedang melakukan perjalanan yang sukar melalui Pegunungan Tai-hang-san, di lereng gunung yang amat sunyi dan indah pemandangannya, tiba-tiba ia mendengar suara orang dari jauh.

Hatinya tertarik, apa lagi ketika mendengar suara-suara itu seperti dua orang tengah berselisih.

Segera ia mengerahkan ginkang dan berlari ke arah suara itu.

Makin dekat ia menjadi makin tertarik karena mengenal bahwa seorang di antara mereka adalah Hoa Hoa Cinjin!

Cepat ia menyelinap dan bersembunyi di belakang batu besar ketika sudah tiba dekat dan melihat benar-benar Hoa Hoa Cinjin sedang bercekcok dengan seorang kakek bertopi lebar yang bertubuh jangkung kurus.

Kakek ini membawa sebuah pikulan yang ditaruhnya di tanah, pakaiannya sederhana, wajahnya keren dan sepasang matanya bersinar-sinar.

Namun mulutnya selalu tersenyum dan dari mulutnya inilah nampak kesabaran dan kebaikan hatinya.

"Hoa Hoa Cinjin,"

Terdengar kakek bertopi itu berkata, suaranya mengandung kehalusan dan kesabaran.

"dahulu kau menewaskan suteku Koai-sin-jiu Bhok Kim, aku diam saja karena itu adalah urusan pribadi antara dia dan kau. Juga kau menyerang dan memukul murid keponakanku, Ang-jiu Toanio, inipun masih kusabarkan karena mungkin sekali dia yang menyerangmu lebih dulu. Dalam pertempuran, kalah menang bukan soal aneh dan sudah semestinya. Akan tetapi kau orang tua sampai menghina yang muda, menghina muridku Phang Yan Bu, malah mengucapkan kata-kata menantangku. Hemmm, tosu sombong, hal ini tidak bisa kudiamkan saja!"

Hoa Hoa Cinjin tertawa seram, melengking nyaring seperti suara setan. Kemudian ia berkata mengejek.

"Heh heh, tukang obat. Percuma saja kau berjuluk Yok-ong (Raja Obat). Ternyata kau tidak mampu mengobati perempuan galak itu dan sekarang karena penasaran kau mencariku. Ha ha ha! Kepandaianmu mengobati sudah kulihat, hanya kepandaianmu silat yang belum. Hendak pinto lihat apakah sama rendahnya dengan kepandaianmu tentang pengobatan!"

Setelah berkata demikian, Hoa Hoa Cinjin bersiap untuk melakukan penyerangan.

Kakek bertopi itu yang bukan lain adalah Yok-ong Phoa Kok Tee, guru Yan Bu dan merupakan seorang tokoh yang aneh dan jarang keluar di dunia kangouw, bersikap tetap sabar.

"Hoa Hoa Cinjin, memang aku sengaja hendak mencoba kepandaianmu. Orang keji macam kau ini kalau tidak dilenyapkan dari muka bumi, hanya akan menimbulkan bencana saja bagi orang baik-baik."

"Tukang obat sombong, kaulah yang akan mampus!"

Hoa Hoa Cinjin mengakhiri seruannya dengan sebuah serangan kilat.

Pukulannya mengeluarkan hawa menyambar dahsyat dan melihat warna lengannya itu yang bersemu hijau, tahulah Yok-ong Phoa Kok Tee bahwa lawannya itu telah mempergunakan Cheng-tok-ciang (Tangan Racun Hijau) yang amat berbahaya.

Namun ia tidak menjadi gentar karenanya.

Untuk menghadapi Cheng-tok-ciang lawan, ia lalu menggunakan ilmu totoknya yang paling lihai, yaitu yang disebut It-yang-ci.

Raja Obat ini sudah melatih diri dengan ilmu ini puluhan tahun lamanya.

Tidak saja totokan satu jari ini dapat dipergunakan untuk mengobati orang-orang terluka dalam, akan tetapi juga dapat dipergunakan dalam pertempuran sebagai ilmu yang dahsyat.

Hawa totokannya saja cukup untuk merobohkan orang, sehingga ilmu ini memang tepat untuk menghadapi Cheng-tok-ciang yang berbahaya.

Pertempuran berlangsung dengan hebat, keduanya mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian.

Diam-diam Hoa Hoa Cinjin kagum sekali melihat lawannya.

Baru kali ini ia menghadapi lawan yang amat tangguh, dan Ilmu Totok It-yang-ci yang sudah lama ia dengar itu, baru sekarang ia buktikan kelihaiannya.

Di lain pihak, Phoa Kok Tee juga amat kagum.

Pukulan-pukulan yang dilancarkan oleh Hoa Hoa Cinjin mengandung tenaga mukjizat yang sukar ia lawan.

Dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, baru ia dapat mengimbangi saikong itu.

Sementara itu, di tempat sembunyinya Han Sin menonton pertempuran.

Ingin ia muncul dan membantu kakek bertopi.

Ia maklum bahwa Hoa Hoa Cinjin jahat, akan tetapi ia tidak mengenal kakek bertopi, bagaimana ia bisa membantu?

Siapa tahu kakek bertopi itupun bukan manusia baik-baik?

Pada saat itu, pertempuran sudah mencapai puncaknya dan keduanya sudah mengeluarkan pukulan-pukulan maut yang kalau mengenai lawan tentu akan mendatangkan bencana hebat.

Melihat ini, Han Sin menjadi tidak tega juga.

la tidak dapat mendiamkan saja dua orang berkepandaian tinggi hendak saling bunuh.

Dari sambaran-sambaran angin pukulan kedua fihak, sebagai seorang ahli dia sudah tahu akan bahayanya pertempuran itu.

Maka ia lalu melangkah keluar dari tempat sembunyinya, langsung menghampiri tempat pertempuran dan membentang kedua lengan di tengah-tengah antara mereka.

"Hoa Hoa Cinjin, di mana-mana kau hendak membunuh orang? Bagus!"

Hoa Hoa Cinjin dan Phoa Kok Tee kaget setengah mati ketika tiba-tiba mereka merasa tubuh mereka terpental mundur, tertolak oleh tenaga dahsyat sekali namun tidak merupakan dorongan yang berbahaya, hanya bertenaga kuat.

Melihat bahwa yang datang adalah Han Sin, hampir Hoa Hoa Cinjin melompat dan menangkapnya.

Namun ia cerdik.

Menghadapi Phoa Kok Tee saja sukar baginya mencari kemenangan, apa lagi sekarang ada pemuda aneh.

Siapa tahu kalau-kalau pemuda aneh ini benar-benar telah memiliki kepandaian tinggi?

Tiba-tiba ia mendapat akal baik.

Sebagai tokoh kang-ouw tentu si tukang obat juga ingin mendengar tentang kitab rahasia Tat Mo Couwsu atau hendak mendapatkannya.

Maka ia lalu menegur.

"Kiranya Cia Han Sin! Kau telah menipu kami, setelah memasuki guha kau membawa lari kitab pusaka peninggalan Lie Cu Seng. Ayoh, kembalikan kitab itu!"

Han Sin tertawa.

"Kitab memang ada, akan tetapi bukan untuk manusia jahat. Sekarang sudah kubakar, kukirim kembali kepada mendiang Tat Mo Couwsu. Kau mau apa?"

Melihat sikap pemuda ini menantang, Hoa Hoa Cinjin tertegun juga. Ia melirik Phoa Kok Tee, menaksir-naksir apakah si Raja Obat itu akan membantu Han Sin kalau ia menyerang pemuda ini dan menawannya.

"Yok-ong, pemuda ini merampas kitab pusaka, mari kita tangkap dia. Kita bagi bersama kitab itu,"

Ia memancing. Yok-ong Phoa Kok Tee tersenyum mengejek.

"Tosu jahat, kau kira semua orang sejahat dan seserakah engkau? Tak sudi aku orang tua menghina orang muda."

Bukan main mendongkolnya hati Hoa Hoa Cinjin. Ia cemberut dan mengebutkan ujung lengan bajunya.

"Sudahlah, dasar kau tua bangka tak tahu diri. Biar lain kali kita lanjutkan pertempuran kita."

Ia lalu berkelebat dan pergi dari tempat itu.

Sementara itu, Phoa Kok Tee sudah amat tertarik ketika melihat munculnya pemuda ini.

Ia hanya menduga-duga karena iapun tidak bisa percaya begitu saja kalau pemuda ini tadi telah mengeluarkan ilmunya untuk memisah.

Masa sekali membentang lengan bisa membuat dia terhuyung ke belakang?

"Jadi kau bernama Cia Han Sin?

Kau putera mendiang Cia Sun?"

Han Sin bersikap waspada. Lagi-lagi orang mengenalnya, apakah juga hendak merampas kitab yang sudah dibakarnya? Ia menjura.

"Betul, locianpwe, aku bernama Cia Han Sin putera Cia Sun. Aku mendengar tadi kau orang tua menyebut bahwa Phang Yan Bu adalah muridmu. Dia seorang yang amat baik, sayang ibunya galak sekali......."

Yok-ong tertawa.

"Akupun mendengar namamu dari mereka."

Han Sin teringat akan peristiwa ketika anak dan ibu itu diserang Hoa Hoa Cinjin, maka ia segera bertanya.

"Bagaimana dengan keadaan nyonya tua itu? Apakah lukanya akibat pukulan Hoa Hoa Cinjin sudah sembuh?"

Yok-ong menggeleng kepala.

"Marilah kau ikut denganku. Ang-jiu Toanio tak tertolong lagi dan ia berpesan kalau aku bertemu denganmu, supaya membawamu kepadanya."

"Memanggil aku? Ada apakah?"

"Entah, urusan penting katanya. Mengenai adikmu. Ayoh lekas, atau kau tidak mau memenuhi permintaan orang yang sudah hampir mati?"

"Tentu saja aku mau!"

Cepat Han Sin menjawab, apa lagi karena urusan itu mengenai diri adiknya.

Ada urusan apakah?

Jangan-jangan Bi Eng tidak berada di kota raja, siapa tahu sudah berada bersama Yan Bu!

Phoa Kok Tee cepat meloncat dan lari setelah menyambar pikulannya.

Mula-mula ia berlari agak lambat karena takut pemuda itu tertinggal.

Akan tetapi, ia melihat Han Sin dengan mudah dapat mengimbangi kecepatannya, maka ia lalu menambah kecepatan.

Ketika menoleh dan melihat Han Sin masih berada di dekatnya, kakek ini mulai terheran-heran dan mengerahkan semua tenaga dan ginkangnya untuk berlari secepat terbang melalui jurang-jurang dan bukit.

Akan tetapi, ketika ia melirik, ia melihat pemuda itu dengan enaknya masih berada dekat di belakangnya.

Kagetlah Yok-ong dan mulai ia mengerti bahwa keturunan orang-orang gagah di Min-san ini ternyata memiliki ilmu yang tinggi!

Dua orang itu berlari cepat sekali menuruni Bukit Tai-hang-san di sebelah timur dan beberapa jam kemudian Phoa Kok Tee membawa Han Sin masuk ke dalam sebuah hutan kecil yang penuh bunga.

Di tengah hutan terdapat sebuah pondok bambu dan keadaan di situ amat indah.

Tanaman daun-daun obat dan bunga-bunga memenuhi tempat itu, burung-burung berkicau di udara dan keadaan yang sunyi dan menyenangkan ini benar-benar amat mengamankan hati.

Ketika mereka memasuki pintu pondok, Han Sin melihat Yan Bu duduk bertopang dagu, nampaknya sedih benar.

Pemuda ini mengangkat muka dan girang rnelihat gurunya datang bersama Han Sin.

Juga Han Sin girang dan segera menegurnya.

"Saudara yang baik, kau telah berlaku baik sekali kepadaku dan kepada adikku. Baru sekarang aku sempat bertemu dan bercakap denganmu. Terima kasih atas semua kebaikanmu dahulu."

Yan Bu terpaksa mengusir kemuraman wajahnya dan menjawab sederhana.

"Jangan berlaku sungkan, saudara Cia. Ibu ingin sekali bertemu dan bicara denganmu. Kau sudah mau datang ini saja menandakan kebaikan hatimu."

Phoa Kok Tee dan Yan Bu mengajak Han Sin memasuki sebuah kamar bersih di sebelah kiri dan di atas sebuah pembaringan kelihatan Ang-jiu Toanio berbaring.

Keadaannya payah dan lemah sekali, wajahnya kurus dan pucat.

Nyonya tua ini kehilangan kegarangannya dan sekarang dengan lemah ia menoleh, memandang kepada Han Sin yang datang bersama Yan Bu dan Phoa Kok Tee.

Untuk sesaat sepasang matanya bersinar seperti orang mau marah, akan tetapi hanya sedetik dan lenyap kembali sinar itu.

"Kau...... kau putera Cia Sun...."

Katanya perlahan. Han Sin memberi hormat dan tidak tahu harus bicara apa. Maka ia hanya berkata perlahan.

"Menyesal sekali toanio dilukai orang jahat tanpa dapat menolong, kuharap saja toanio segera sembuh kembali."

"Orang muda, sebelum aku mati.... aku hendak bertanya padamu. Siapakah gadis yang selalu kau sebut sebagai adikmu itu? Yang bernama Cia Bi Eng itu?"

Han Sin tertegun, bingung oleh pertanyaan itu.

"Apa maksudmu, toanio? Bi Eng adalah adik kandungku."

Ang-jiu Toanio menggeleng-geleng kepalanya, nampak tidak sabar.

"Bukan, sama sekali bukan. Dia bukan adikmu, juga bukan anakku...... Ahhhhh, apa yang terjadi dengan anakku....?"

Dan nyonya itu menangis!

Han Sin merasa jantungnya berdebar.

Ia mengerti bahwa diwaktu mudanya, nyonya ini mempunyai urusan dengan orang tuanya, buktinya dahulu uwak Lui disaat kematiannya memperingatkan kepadanya supaya berhati-hati terhadap orang yang bernama Ang-jiu Toanio!

"Toanio, apa maksudmu?

Bi Eng itu adikku......"

Jawabnya bingung.

"Katakan, apakah di dekat telinga adikmu itu ada tanda tahi lalat merah?"

Makin berdebar hati Han Sin.

Juga dulu uwak Lui menyebut-nyebut tentang gadis bertahi lalat merah dekat telinga dan gadis bertahi lalat di mata kaki kiri!

Ia masih ingat akan pesan semua itu baik-baik.

"Tidak toanio, tidak ada tanda itu pada diri Bi Eng."

Ang-jiu Toanio menarik napas panjang.

"Apa kataku, dia bukan anakku...."

"Tentu saja bukan, toanio. Dia adikku, anak ayah dan ibuku....."

"Bodoh! Kau tahu apa? Kau dengar baik-baik! Karena dulu tidak berhasil membalas dendam terhadap ayahmu, aku lalu menukarkan anakku dengan anak ayah ibumu. Celakanya, anakku itu kiranya sudah ditukar orang pula.... ah, celaka. Apa yang terjadi dengan anak perempuanku......?"

Han Sin menjadi pucat.

Jadi Bi Eng yang selama ini dianggap adiknya, orang satu-satunya di dunia ini yang dicintainya, sebenarnya bukan adik kandungnya?

"Kalau begitu, di mana adikku yang telah kauculik itu?"

Tanyanya agak ketus karena ia merasa akan perbuatan Ang-jiu Toanio yang dianggapnya keji itu.

"Dia telah dirampas seorang Mongol gundul yang memelihara harimau.... katanya hendak dijadikan mangsa harimau.......!"

"Kau keji......!"

Ang-jiu Toanio tersenyum lemah.

"Pembalasan terhadap ayahmu. Perbuatan yang keliru. Susiok telah menginsyafkanku. Banyak penderitaan kurasakan setelah itu, aku.... aku rindu kepadamu anakku. Ah, kenapa kulakukan hal gila itu? Kemana sekarang anakku.......?"

Han Sin merasa kasihan sekali, akan tetapi juga hatinya sendiri tak karuan rasanya.

Bi Eng bukan adiknya!

Bagaimana mungkin ini?

"Anak Cia Sun, adikmu itu, ada tahi lalat di kaki kirinya, dan anakku.....

anakku yang mungil.....

ada tanda merah di dekat telinga.

Ah, anakku....

anakku.....!"

Ang-jiu Toanio lalu menangis sedih dan tak dapat bicara lagi.

Tiba-tiba wajah Han Sin menjadi merah dan sepasang matanya yang bersinar tajam itu mengeluarkan cahaya kilat.

Ia melangkah maju dan berkata.

"Kalau begitu, kaulah orangnya yang membunuh ayah bundaku, kemudian menukarkan anakmu dengan adikku!"

Mendengar ucapan ini, wajah Yan Bu menjadi pucat, akan tetapi Ang-jiu Toanio yang menangis, sekarang mengangkat mukanya dan mendadak tertawa.

"Hi hi hi, sayang sekali bukan aku! Ketika malam itu aku datang ke kamarnya, dia dan isterinya sudah mati. Aku lalu menukarkan anak untuk memberikan pembalasan terakhir, tapi.... tapi..... ah, anakku......!"

Kembali nyonya ini menangis dan kini mukanya membayangkan warna kehijauan.

Yok-ong Phoa Kok Tee melangkah maju melihat ini, lalu ia memegang nadi tangan Ang-jiu Toanio yang kelihatan lemas, kemudian menggeleng kepalanya.

"Saudara Cia, harap kau suka keluar. Dia sudah terlalu lelah dan racun hijau makin menjalar, kasihanilah dia....."

Yan Bu menahan isak dan menubruk kaki ibunya.

Sebetulnya Han Sin masih ingin bertanya kepada nyonya itu siapa pembunuh ayah bundanya, akan tetapi melihat keadaan Ang-jiu Toanio, ia tidak tega mendesak lagi, lalu ia keluar dari kamar.

Ternyata Ang-jiu Toanio tidak dapat lama lagi bertahan.

Beberapa jam kemudian nyonya ini menarik napas terakhir dalam pelukan puteranya, Phang Yan Bu.

Ketika Yok-ong dan Yan Bu keluar dari kamar itu, ternyata Han Sin sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.

Pemuda ini sudah lama pergi dari situ, sebelum Ang-jiu Toanio meninggal.

Thio-ciangkun, perwira she Thio yang mendapat kedudukan tinggi dalam pemerintahan Mancu, marah-marah kepada dua orang puterinya.

Pembesar ini merasa malu sekali ketika menerima dua orang puterinya, Li Hoa dan Li Goat, yang diantar oleh Tung-hai Siang-mo sebagai utusan Bhok-kongcu.

Setelah Tung-hai Siang-mo pergi membawa Bi Eng untuk menahan gadis ini di gedung Bhok-kongcu, Thio-ciangkun lalu marah-marah kepada dua orang puterinya.

"Kalian ini benar-benar membikin malu orang tua!"

Bentak pembesar itu setelah puas memaki-maki.

"Ayahmu dikenal sebagai seorang petugas yang setia, sekarang kau rusak namaku dengan perbuatan-perbuatan yang tak tahu malu. Dengan menentang Bhok-kongcu dan membantu musuh, bukankah berarti kalian ini menjadi pembantu para pemberontak? Hemm, anak-anak macam apa kalian ini?"

Li Hoa dan Li Goat berdiri tegak di depan ayah mereka, sama sekali tidak takut.

Memang dua orang gadis ini semenjak kecil dimanja, maka mereka tidak takut biarpun ayah mereka marah besar.

Selain ini, memang mereka mempunyai pendirian sendiri dan kini dengan penuh semangat Li Hoa menjawab.

"Ayah, yang anak berdua tentang adalah orang-orang Mongol yang mengabdi kepada pemerintah penjajah. Yang anak berdua bela adalah orang-orang Han yang tertindas!"

Merah wajah pembesar itu dan ia membanting kakinya.

"Keparat, dengan lain kata kau hendak memaki ayahmu yang membantu pemerintah baru? Setan, memang aku membantu pemerintah baru, karena kuanggap pemerintah Mancu bijaksana. Kau tahu apa tentang pemerintahan? Ketika negara berada di tangan bangsa Han sendiri, keadaan kacau balau, pertahanan lemah dan rakyat sengsara. Lihat sekarang, perubahan terjadi dan kaisar yang bijaksana telah membangun pemerintahan yang kuat dan sanggup membikin makmur rakyat. Beras siapa yang kau makan setiap hari dan pakaian dari mana yang kalian pakai? Semua dari hasilku mengabdi kepada pemerintah baru. Dan sekarang kau mencela ayahmu?"

Li Hoa menjadi pucat mukanya, matanya berkilat ketika ia menghadapi ayahnya dan berkata keras.

"Ayah! Bagaimana seorang Han bisa bicara seperti ayah? Bagi aku, lebih baik miskin dari pada menjadi penjilat penjajah!"

"Enci Li Hoa berkata benar, ayah. Betapapun juga bangsa yang terjajah merupakan bangsa yang rendah dan terhina. Di samping enci Hoa, akupun rela mengorbankan nyawa untuk membela tanah air dari cengkeraman penjajah!"

Kata Li Goat, penuh semangat pula.

Kalau orang luar mendengarkan ucapan dua orang gadis ini, tentu mereka akan menjadi heran dan tak percaya.

Siapa bisa percaya ucapan-ucapan seperti itu keluar dari mulut dua orang puteri dari Thio-ciangkun yang terkenal sebagai pembasmi kaum pemberontak, sebagai pembesar setia dari pemerintah Mancu!

"Anak-anak setan.....!"

Thio-ciangkun membanting cawan araknya sampai hancur di atas lantai.

Kemarahannya memuncak dan sudah gatal-gatal tangannya untuk menampar kedua orang anaknya yang ia sayang itu.

Pada saat itu, tiba-tiba dari pintu dalam terdengar suara wanita bersajak halus merdu suaranya.

"Biarpun sangkar diselaput emas Sangkar tetap mengurung! Biarpun belenggu dihias mutiara Belenggu tetap mengikat Patahkan belenggu! Hancurkan sangkar! Biar darah rakyat bagai api membakar! Biarpun belenggu mutiara Biarpun sangkarnya emas Enyahkan segera! Kami ingin bebas!"

"Ibu.....!"

Li Hoa dan Li Goat menoleh memandang seorang nyonya setengah tua keluar dari pintu itu.

Nyonya ini adalah nyonya Thio yang cantik dan lemah lembut, berwajah agak pucat namun sepasang matanya memancarkan semangat berapi-api.

Thio-ciangkun yang tadinya marah-marah, menjadi reda.

Ia cemberut dan menjatuhkan dirinya duduk lagi di atas kursinya, lalu menarik napas panjang dan berkata perlahan.

"Hemm, selalu kau yang terlalu memanjakan mereka, yang menjadikan pikiran yang bukan-bukan dalam kepala mereka yang kecil dan tak berotak. Sekarang, sajak apalagi yang kau ucapkan tadi?"

Nyonya itu tersenyum dan dari senyum ini dapat dengan jelas dilihat betapa cantik manisnya ketika ia masih muda.

Ia mengambil tempat duduk di samping suaminya, memandang penuh kasih kepada kedua puterinya, lalu berkata kepada suaminya.

"SUAMIKU, ucapan anak-anak kita tadi memang benar belaka. Coba kautanyakan kepada burung-burung dalam sangkar. Biarpun kau mengurungnya dalam sangkar emas yang indah dan mahal, biarpun setiap hari kau memberinya makan minum secukupnya, biarpun setiap saat kau memuji-mujinya dengan muka manis seperti yang dilakukan setiap penjajah kepada rakyat jajahannya, tetap saja burung-burung di dalam sangkar itu ingin bebas merdeka. Demikian pula rakyat. Kemakmuran duniawi yang bagaimana hebatpun yang bisa didatangkan oleh kaum penjajah kepada bangsa terjajah, tetap saja tak dapat melenyapkan hasrat untuk merdeka. Apa sih enaknya dilolohi makanan lezat, diselimuti pakaian mahal, oleh bangsa lain yang menginjak-injak tanah air dan bangsa? Anak-anakmu lebih benar......."

Nyonya itu lalu bernapas panjang, nampaknya sedih sekali.

"Habis kau mau suruh aku bagaimana? Suruh aku menyerahkan kepalaku untuk dipenggal sebagai pemberontak? Apa kalian ibu dan anak sudah begitu ingin melihat aku mampus?"

Akhirnya Thio-ciangkun berkata penuh kejengkelan.

Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh isteri dan anak-anaknya.

la sudah bekerja keras, merebut pangkat, semua ini untuk menyenangkan anak-isterinya.

la tahu bahwa isterinya dahulu adalah puteri seorang patriot pengikut Lie Cu Seng dan tahu bahwa isterinya adalah seorang gadis pejuang.

Akan tetapi karena cinta, ia mengawininya juga dan ternyata sekarang isterinya itu menurunkan semangat kepatriotan itu kepada dua orang anaknya!

"Tidak, ayah.

Kami hanya ingin melihat ayah insyaf dan meninggalkan kedudukan ini, meninggalkan pemerintah penjajah,"

Kata Li Hoa dengan berani.

"Huh, bicara sih gampang. Ayoh masuk ke sana."

"Ayah ada satu hal lagi,"

Kata Li Hoa.

"Bhok-kongcu telah menawan seorang gadis bernama Cia Bi Eng dan sekarang dia dibawa oleh dua orang iblis tadi ke gedung Bhok-kongcu. Dia itu kawan baik kami, ayah. Penangkapan itupun bermaksud keji. Harap sudi menolongnya."

"Dia itu gadis pemberontak?"

Tanya Thio-ciangkun.

"Pemberontak atau bukan, melihat seorang gadis baik-baik dalam cengkeraman si keji Bhok, kau harus berusaha menolongnya,"

Kata nyonya Thio-ciangkun dengan suara tetap.

"Sudahlah, sudahlah akan kudayakan."

Percakapan ini ternyata telah menolong Bi Eng.

Karena terdesak oleh isterinya yang amat dicintainya dan yang selalu membela anak-anaknya, Thio-ciangkun lalu menemui seorang yang amat dihormatnya, seorang pangeran yang selalu menjadi tempat ia bermohon, seorang yang dianggapnya arif bijaksana dan karenanya membuat Thio-ciangkun rela menjadi abdi pemerintah Mancu.

Pangeran ini adalah putera kaisar dari seorang selir Bangsa Han.

Namanya juga nama Han dan berjuluk Pangeran Yong Tee.

Pangeran ini paling pandai menyesuaikan diri dengan Bangsa Han, malah tak sedikitpun ada tanda bahwa dia berdarah Mancu.

Wajahnya tampan, seorang ahli sastera dan nasehat-nasehatnya dalam pemerintahan banyak mendatangkan kemajuan dalam pekerjaan ayahnya, Kaisar dari Mancu.

Kesukaan Pangeran Yong Tee adalah berdandan sebagai seorang rakyat kecil dan melakukan perjalanan seorang diri, keluar masuk kampung dan mempelajari perikehidupan rakyat jelata.

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan yang diperlihatkan oleh Pangeran Yong Tee inilah yang menarik hati Thio-ciangkun, membuat perwira ini berkesan baik terhadap pemerintah Ceng yang dipimpin oleh orang-orang Mancu itu.

Ketika Pangeran Yong Tee mendengar permohonan Thio-ciangkun untuk menolong seorang gadis sahabat anak-anaknya yang ditawan oleh Bhok-kongcu, segera pangeran ini memenuhi permintaannya.

Dengan sepucuk surat pendek saja, para petugas di rumah gedung Bhok-kongcu tak berani membantah dan segera mengirim Bi Eng ke istana Pangeran Yong Tee!

"Kalau Bhok-kongcu pulang, tentu terjadi hal-hal tidak enak antara dia dan aku,"

Kata kemudian Thio-ciangkun kepada dua orang puterinya.

"Semua ini gara-gara kalian berdua. Maka lebih baik kalian pergi kepada suhu kalian, jangan berada kota raja untuk sementara waktu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak baik."

"Aku tidak mau pergi kepada suhu, ayah. Suhu juga hanya seorang kaki tangan Bhok-kongcu, tentu suhu akan marah kepada kami. Kami akan pergi dari kota raja dan akan membantu para patriot yang berusaha mengusir penjajah."

"Setan! Kau akan menjadi lawan ayahmu sendiri?"

"Bukan ayah yang kami lawan, melainkan penjajah!"

Dengan kata-kata ini, Li Hoa dan adiknya, Li Goat, lalu berpamit kepada ibu mereka dan pergi meninggalkan kota raja lagi.

Memang dua orang gadis ini jarang berada di kota raja.

Kembalinya mereka ke situ hanya karena terpaksa dan tak berdaya menghadapi Tung-hai Siang-mo yang mengawal mereka sebagai tahanan-tahanan.

Juga kalau dahulu dua orang gadis ini membantu ayah mereka, itu hanyalah ketika mereka masih muda dan semangat yang sejak kecil ditanam dalam hati mereka oleh Nyonya Thio, belum berkobar seperti sekarang setelah mereka banyak berhubungan dengan para patriot.

Kita kembali kepada Han Sin yang meninggalkan tempat kediaman Yok-ong Phoa Kok Tee.

Hatinya tidak karuan ketika mendengarkan pengakuan Ang-jiu Toanio.

Bi Eng bukan adiknya!

Hebat kenyataan ini, membuat hatinya berdebar dan perasaannya penuh diliputi kedukaan.

Adiknya sendiri mempunyai tahi lalat di mata kaki, sedangkan puteri Ang-jiu Toanio mempunyai tahi lalat di dekat telinga, tahi lalat merah.

Ah, di mana adanya adiknya yang sesungguhnya?

Di mana pula puteri Ang-jiu Toanio dan persoalan terbesar yang dihadapinya sekarang ialah siapa yang menukar anak Ang-jiu Toanio dengan anak yang sekarang menjadi Bi Eng?

Anak siapa?

Mengapa bisa berada bersama dia?

Siapa yang menukar anak Ang-jiu Toanio dengan anak yang sekarang menjadi Bi Eng, adiknya yang cantik manis, mungil lucu dan yang ia cinta dengan sepenuh hatinya itu?

Semua pertanyaan ini berputaran dalam otaknya ketika pemuda ini melanjutkan perjalanannya ke kota raja.

Betapapun juga, yang terpenting sekarang ialah bahwa dia harus menolong Bi Eng dari tangan Bhok-kongcu.

la harus tolong Bi Eng, tak perduli gadis itu adik kandungnya sendiri atau bukan!

Dia sayang Bi Eng, dia cinta gadis itu, orang satu-satunya di dunia yang dikasihinya.

Adik sendiri atau bukan, ia tetap mencinta Bi Eng.

Tiba-tiba jantungnya berdebar aneh.

Bagaimana kalau dia kelak mengetahui bahwa mereka bukan saudara kandung?

Bahwa mereka sebetulnya tidak ada sangkutan kekeluargaan apa-apa?

"Tak perlu kuberi tahu kepadanya, tak perlu,"

Demikian ia mengambil keputusan, khawatir kalau-kalau berita itu akan membuat Bi Eng berubah sikap kepadanya.

Karena ingin segera mencari Bi Eng di kota raja, dengan melakukan perjalanan cepat, Han Sin turun gunung dan terus menuju ke timur.

Beberapa hari kemudian ia telah tiba di sebelah barat tembok kota, di sebuah dusun kecil yang ramai.

Dari jauh ia mendengar suara ribut-ribut, tanda bahwa di dalam dusun itu terjadi pertempuran.

la mempercepat langkahnya dan segera ia melihat seorang tosu setengah tua yang bertubuh tinggi besar memimpin empat kawannya menghadapi dua orang tosu tua yang memimpin sepasukan serdadu Mancu.

Segera Han Sin mengenal bahwa lima orang tosu itu adalah tosu-tosu Cin-ling-pai, yang memimpin adalah Hee Tojin, seorang di antara Cin-ling Sam-eng, sedangkan empat orang kawannya adalah tosu-tosu Cin-ling-pai gelung tiga.

Adapun dua orang tosu tua yang memimpin sepasukan serdadu penjajah itu bukan lain adalah dua orang pentolan Cin-ling-pai sendiri, yaitu It Cin Cu dan Ji Cin Cu!

Tak jauh dari situ menggeletak dua mayat manusia yang ternyata adalah Hap Tojin dan Tee Tojin, dua orang di antara Cin-ling Sam-eng.

"Hee-sute apakah kau tidak mau menyerah? Apakah kau tetap hendak membangkang terhadap perintah suheng-suheng yang menjadi pengganti gurumu?"

Hee Tojin menjadi merah sekali mukanya, matanya melotot merah dan suaranya menggeledek ketika ia membantah, setelah menoleh ke arah dua orang mayat yang membujur di situ.

"Dua orang suhengku yang sudah gugur ini jauh lebih mulia dari pada kalian, dua orang pengkhianat tak tahu malu. Siapa sudi mengaku kalian sebagai pengganti suhu? Cih, mau bunuh boleh bunuh, siapa takut mampus?"

It Cin Cu biasanya paling suka kepada Hee Tojin, maka dengan suara sabar ia mencoba membujuk.

"Hee-sute, apa kau lupa akan hubungan kita sebagai saudara seperguruan? Insyaflah bahwa aku dan Ji-suhengmu ini telah mengambil keputusan setelah memikirkannya masak-masak. Pemerintah baru adalah bijaksana, dan demi keselamatan Cin-ling-pai, kau harus mengajak semua sute dan murid untuk membangun kembali Cin-ling-pai dan menaluk kepada pemerintah. Hee-sute, jangan membuat kami menjadi serba susah dan terpaksa turun tangan terhadapmu."

Hee Tojin mengangkat dada dan tongkat di tangannya tergetar.

"Apakah kalian lupa akan ajaran suhu? Seorang gagah, lebih baik mati berdiri dengan senjata di tangan dari pada hidup bertekuk lutut di depan penjajah! Lebih baik kalian yang cepat-cepat insyaf bahwa amat memalukan bagi seorang gagah untuk mengkhianati tanah air dan bangsa sendiri, amat rendah untuk membantu penjajah. It Cin Cu dan Ji Cin Cu, di mana jiwa satria kalian? Sudi menjadi anjing-anjing penjilat?"

It Cin Cu marah sekali.

"Setan bermulut busuk! Kaulah yang lupa akan ajaran-ajaran mendiang suhu! Bukankah setiap murid sudah bersumpah untuk menjunjung semua perintah ketua Cin-ling-pai? Setelah suhu meninggal, pinto yang menjadi penggantinya. Pinto yang menjadi ketua Cin-ling-pai. Apakah kau masih hendak membangkang?"

Berkata demikian, It Cin Cu mencabut pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Hee Tojin memandang ragu.

Dia memang seorang yang amat jujur dan setia, maka ucapan ini benar-benar meragukan hatinya.

Memang, menurut peraturan Cin-ling-pai, seorang murid harus pertama-tama mentaati perintah ketua, biarpun harus berkorban nyawa untuk perintah itu.

Setelah Giok Thian Cin Cu meninggal dunia, memang tak dapat disangkal pula bahwa It Cin Cu sebagai murid tertua yang menjadi penggantinya.

Apa yang harus ia perbuat?

Tiba-tiba dua orang di antara tosu-tosu gelung tiga itu sudah menjatuhkan diri berlutut di depan It Cin Cu dan berkata.

"Teecu berdua tidak berani membantah perintah ketua."

Menyaksikan semua ini, bukan main mendongkolnya hati Han Sin.

Pemuda ini teringat akan pesan terakhir dari Giok Thian Cin Cu.

Pesan itu selain menugaskan dia memimpin Cin-ling-pai, juga mewariskan ilmu pedang dan terutama sekali pesan agar supaya dia bisa menjaga jangan sampai Cin-ling-pai diselewengkan dan menjadi partai pengkhianat nusa bangsa!

Sekarang tiba saatnya.

Sudah terang-terangan It Cin Cu dan Ji Cin Cu menjadi anjing penjilat penjajah dan malah mencoba untuk membujuk sute-sutenya dan murid-murid Cin-ling-pai supaya menaluk kepada pemerintah Mancu.

Han Sin melompat keluar dari tempat sembunyinya dan berkata nyaring.

"It Cin Cu, kau benar-benar murid Cin-ling-pai yang murtad dan seorang rakyat yang berkhianat!"

Semua orang menengok dan tercengang ketika mengenal siapa yang bicara ini. Han Sin sebaliknya lalu menjura ke arah Hee Tojin dan berkata.

"Totiang patut dicontoh dan diberi hormat. Totiang benar-benar seorang gagah dan patriot yang sejati."

Ji Cin Cu dengan mulut tetap melengeh seperti dulu, menjadi marah sekali melihat Han Sin bersikap dan berkata demikian. la melangkah maju dan membentak.

"Eh, kau ini pengacau cilik, mau apa?"

Han Sin kini menghadapi dua orang tosu tua itu dan tersenyum mengejek.

"Mendiang Giok Thian Cin Cu memang berpemandangan tajam, agaknya beliau sudah menduga bahwa sepeninggal beliau, akan ada murid-murid murtad seperti kalian. Karena itu beliau mengangkat aku sebagai penggantinya untuk menyelamatkan Cin-ling-pai. Eh, para tosu Cin-ling-pai, aku Cia Han Sin menjadi pelindung Cin-ling-pai dan ahli waris Giok Thian Cin Cu. Inilah buktinya!"

Cepat tangannya bergerak dan tahu-tahu sebatang pedang yang tajam berkilau telah berada di tangannya.

"Im-yang-kiam......!"

Seru Hee Tojin dan bersama empat orang sutenya ia lalu berlutut.

"Menanti petunjuk pangcu (ketua)......."

"Kau telah mencuri Im-yang-kiam! Jangan bodoh, dia bohong. Dia mencuri pedang pusaka partai kita!"

Kata It Cin Cu marah. Ucapan ini kembali membuat Hee Tojin dan kawan-kawannya menjadi ragu-ragu.

"Pedang memang bisa dicuri, akan tetapi ilmu silat tidak. Lihat, bukankah ini ilmu silat Cin-ling-pai? Aku telah mewarisinya dari suhu Giok Thian Cin Cu."

Han Sin lalu menggerakkan pedangnya, dengan cepat berturut-turut ia mainkan ilmu Silat Im-yang-kun dan Cin-ling-kun.

Hee Tojin tentu saja mengenal ilmu silat ini dan ia memandang kagum, keraguannya melenyap.

Juga It Cin Cu dan Ji Cin Cu kaget setengah mati.

Bagaimana suhu mereka dapat menurunkan ilmu silat dan pedang pada pemuda itu?

Akan tetapi karena jelas bahwa pemuda ini hendak merusak tugas mereka, It Cin Cu lalu berseru.

"Kalau betul kau mewarisi ilmu dari suhu, coba kaukalahkan pinto!"

Berkata demikian, ia lalu menyerbu dengan pedang dan tongkatnya. Juga Ji Cin Cu yang melihat betapa gangguan pemuda ini membahayakan kedudukannya, lalu menyerang pula.

"Curang.....!"

Hee Tojin berseru.

"Masa dua orang tua bangka mengeroyok seorang bocah?"

Tentu saja Hee Tojin yang tidak tahu bahwa Han Sin sudah memiliki ilmu tinggi, merasa kuatir akan keselamatannya. Akan tetapi Han Sin berseru.

"It Cin Cu dan Ji Cin Cu, kalian benar-benar sudah buta. Kalau masih tidak percaya, lihat dengan gerakan-gerakan apa aku sekarang menghadapi kalian."

Setelah berkata demikian, tanpa bergerak dari tempatnya berdiri dia menggerakkan pedang Im-yang-kiam secara aneh dan tahu-tahu sinar pedang telah gemerlapan membentur dan menangkis serangan dua orang tosu itu.

Inilah ilmu pedang hebat yang ia warisi dari Giok Thian Cin Cu, yaitu Lo-hai Hui-kiam.

"Lo-hai Hui-kiam.....!"

It Cin Cu dan Ji Cin Cu berseru kaget.

Mereka hanya sedikit sekali tahu tentang ilmu pedang aneh ini, akan tetapi melihat gerakan dan sinar pedang itu, tahulah mereka dan hal ini benar-benar membuat keringat dingin mengucur dari jidat mereka.

Adapun Hee Tojin yang melihat gerakan ini dan mendengar bahwa pemuda itu malah mahir bermain, pedang Lo-hai Hui-kiam yang menjadi ilmu ciptaan mendiang Giok Thian Cin Cu, makin kagum dan yakin akan kebenaran pengakuan pemuda itu.

Melihat betapa para kaki tangan dua tosu itu, serdadu-serdadu Mancu maju hendak mengeroyok Han Sin, Hee Tojin lalu berseru nyaring dan bersama sute-sutenya lalu menyerbu maju menyerang para serdadu musuh!

Pertempuran antara Han Sin menghadapi dua orang tosu tua itu berjalan sebentar saja.

Dengan Lo-hai Hui-kiam, dua orang tosu itu tidak berdaya.

Sebelum mereka tahu bagaimana harus menghadapi ilmu pedang yang bersinar seperti halilintar menyambar-nyambar itu, keduanya sudah roboh dengan pundak terluka dan tak mampu bangun kembali.

Sementara itu, para serdadu Mancu itu mana kuat menghadapi Hee Tojin dan sute-sutenya, murid-murid tingkat dua dan tiga dari Cin-ling-pai?

Hampir berbareng dengan robohnya It Cin Cu, para serdadu itupun roboh seorang demi seorang dan akhirnya tak seorangpun tertinggal hidup.

Han Sin mengeraskan hati dan berdiri di pinggiran melihat bagaimana Hee Tojin dengan pedangnya sendiri membunuh It Cin Cu dan Ji Cin Cu.

Pemuda ini diam-diam menaruh kasihan dan tidak tega melihat pembunuhan, namun setelah hatinya berkeras dan semangat kepatriotannya bangkit, ia dapat membenarkan pembunuhan itu.

Memang, orang-orang berjiwa pengkhianat seperti dua orang tosu tertua dari Cin-ling-pai itu, sudah sepatutnya dibunuh, bahkan perlu sekali dilenyapkan dari muka bumi karena amat berbahaya bagi keselamatan nusa bangsa.

Hee Tojin bersama empat orang sutenya lalu serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan Han Sin.

Hee Tojin berkata.

"Kami berlima mengucapkan syukur bahwa mendiang suhu telah mengangkat taihiap sebagai ahli waris. Mulai saat ini, kami semua murid Cin-ling-pai taat kepada petunjuk taihiap."

Han Sin cepat melangkah maju dan mengangkat bangun lima orang tosu itu.

Hebatnya bagi para tosu itu, begitu pemuda ini menyentuh pundak mereka, otomatis mereka berdiri karena ada tenaga luar biasa yang memaksa mereka bangun kembali!

"Cu-wi totiang jangan berlaku sungkan terhadap orang sendiri.

Biarpun aku telah menjadi ahli waris suhu Giok Thian Cin Cu, tidak seharusnya cu-wi mengangkatku setinggi itu.

Tugas kita adalah sama, yakni mempertahankan nusa bangsa dan menolongnya dari cengkeraman penjajah.

Marilah kita berjuang bersama.

Karena sebetulnya aku hanya kebetulan menjadi murid suhu, tidak berhak aku untuk mengaku menjadi orang Cin-ling-pai.

Maka biarlah sekarang kuberikan pedang pusaka ini kepada Hee Tojin dan selanjutnya kuharap Hee Tojin suka menggantikan mendiang suhu untuk memimpin Cin-ling-pai.

Aku hanya berdiri di luar sebagai pengawas dan pembantu belaka.

Kembali tentang perjuangan, kuharap Hee Tojin suka mengumpulkan semua murid Cin-ling-pai dan memimpinnya untuk menentang pemerintahan Mancu.

Sebaliknya totiang jangan menentang secara terang-terangan karena fihak musuh amat kuat.

Berjuanglah dengan sembunyi-sembunyi, menyerang bagian-bagian yang terjaga lemah.

Lebih baik lagi kalau totiang dan kawan-kawan menggabungkan diri dengan para pejuang lain, di antaranya dapat kuperkenalkan Sin-yang Kai-pang yang dipimpin oleh pangcunya bernama Kui Kong yang amat patriotik.

Kurasa semua anak murid yang berada di bawah bimbingan Ciu-ong Mo-kai, pasti termasuk pejuang patriotik, dan boleh dijadikan kawan seperjuangan."

Hee Tojin menerima pedang dengan ucapan terima kasih.

Setelah memberi penjelasan itu, Han Sin lalu minta supaya para tosu itu mengubur jenasah It Cin Cu dan Ji Cin Cu secara baik-baik, juga kalau masih ada waktu mengubur pula jenasah para serdadu Mancu.

Kemudian ia sendiri lalu melanjutkan perjalanan, menuju ke kota raja.

Belum lama ia berjalan melalui jalan yang sunyi, di sebuah persimpangan tiga, dari sebelah kanan datang seorang pemuda yang tampan dan berpakaian sederhana.

Dari pakaiannya dapat diketahui bahwa pemuda itu adalah seorang sasterawan miskin.

Yang amat menarik perhatian Han Sin adalah mata yang bersinar lembut serta senyum yang amat ramah dan manis pada bibir pemuda itu.

Pemuda itupun memandang kepadanya dengan tertarik, dan pada saat mereka bersua, pemuda itu cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata ramah.

"Maafkan kelancanganku menegur saudara. Apakah saudara hendak pergi ke kota raja?"

Han Sin tersenyum dan balas memberi hormat.

"Sudah jamak kalau bertemu di jalan saling menegur. Memang tepat dugaanmu, aku hendak pergi ke kota raja. Tidak tahu loheng (saudara) hendak ke manakah?"

Pemuda itu tertawa dan makin sukalah hati Han Sin terhadapnya.

Dari suara ketawanya yang wajar dan tarikan wajah yang tampan dan terang itu dapat ia menduga bahwa pemuda ini seorang yang berwatak halus dan jujur.

"Ucapan kuno menyatakan betapa senangnya bertemu dengan sahabat lama, akan tetapi kiranya tidak kalah senangnya bertemu dengan seorang sahabat baru yang cocok! Saudara yang baik, kebetulan sekali aku sendiripun akan ke kota raja. Apakah kau keberatan kalau kita melakukan perjalanan bersama?"

Sebetulnya Han Sin ingin melakukan perjalanan secepatnya.

Jika bersama pemuda ini, tentu saja tak mungkin ia menggunakan ilmu lari cepat.

Akan tetapi, untuk menolakpun ia tidak dapat, melihat orang demikian ramah dan baik kepadanya.

la tersenyum dan menjawab.

"Tentu saja tidak keberatan, malah senang sekali bertemu dengan loheng."

"Bagus ini namanya sekali bertemu sudah cocok!"

Pemuda itu memegang tangan Han Sin yang merasa betapa telapak tangan pemuda ini halus.

"Saudara yang baik, aku she Yong bernama Tee, dua puluh empat tahun usiaku dan masih membujang."

Kata-katanya amat terbuka dan jujur, menyenangkan hati Han Sin.

"Siauwte bernama Han Sin she Cia, dalam hal usia, lebih muda tiga empat tahun dari padamu."

Yong Tee tertawa lagi dengan girangnya sehingga sinar mata yang ganjil ketika ia mendengar nama Han Sin menjadi tertutup dan tidak terlihat oleh Han Sin.

"Cia-lote, kau benar-benar menyenangkan. Melihat gerak-gerikmu, tentu kau pandai dalam hal kesusasteraan, dan dalam perjalanan ini aku banyak mengharapkan petunjuk darimu."

"Ah, Yong-loheng terlalu merendah. Aku hanya seorang gunung, mana ada kepandaian? Sedikit tulisan ceker ayam aku dapat, mana bisa dibandingan dengan kau orang kota? Akulah yang perlu banyak mendapat petunjukmu, Yong-loheng."

Gembiralah dua orang pemuda itu, bercakap-cakap sambil tertawa-tawa dan melanjutkan perjalanan perlahan-lahan.

Tiba-tiba tampak debu mengepul dari depan dan sepasukan serdadu berkuda terdiri dari tiga puluh orang lebih mendatangi cepat dari depan.

"Minggir! Minggir kalau tidak mau diinjak mampus!"

Teriak serdadu terdepan sambil mengayun cambuknya.

Han Sin sudah melompat ke pinggir, akan tetapi alangkah heran hatinya ketika ia melihat Yong Tee tidak minggir malahan berdiri di tengah jalan sambil bertolak pinggang dan kedua matanya melotot.

"Yong-loheng, kau nanti celaka.....!"

Kata Han Sin, siap hendak menolong jika sahabat barunya ini benar-benar akan diseruduk kuda.

Akan tetapi, tiba-tiba para penunggang kuda itu serentak menahan kendali kuda, membuat binatang-binatang tunggangan itu berdiri di kaki belakang dan meringkik-ringkik.

"Hai.....! Siapa berdiri di tengah jalan menghalang dan mengacaukan barisan?"

Bentak suara para serdadu di sebelah belakang.

Serdadu-serdadu di depan tentu saja mengenal siapa adanya yang bukan lain adalah pangeran Yong Tee yang suka melakukan perjalanan menyamar sebagai rakyat biasa.

Tentu saja mereka tidak berani menerjang putera junjungan mereka itu.

Yong Tee marah sekali dan membentak, sikapnya masih seperti seorang biasa.

"Begitukah sikapnya pasukan yang seharusnya menjaga keamanan? Seperti perampok-perampok ganas? Hemmm, ingin aku mendengar apa yang akan dikatakan Thio-ciangkun tentang anak buahnya ini!"

Seorang serdadu, agaknya pemimpin pasukan itu, buru-buru meloncat turun dari kudanya dan memberi hormat kepada Yong Tee.

la maklum akan watak pangeran ini dan ia tidak berani membuka rahasia pangeran ini di depan Han Sin, maka katanya.

"Kongcu yang mulia, harap sudi maafkan kami. Karena kami tergesa-gesa hendak menuju ke dusun di depan, menjalankan perintah Thio-ciangkun untuk menangkap tosu-tosu Cin-ling-pai yang memberontak, maka tadi kawan-kawan minta kongcu minggir. Harap maafkan dan tidak menyampaikan hal ini kepada ciangkun."

Yong Tee dengan senyum mengejek mengibaskan lengan bajunya yang lebar.

"Menjadi tentara harus ramah-ramah terhadap rakyat, jangan mengagulkan diri dan memperlakukan rakyat dengan kasar. Makin buruk sikap tentara terhadap rakyat, akan menjadi makin besarlah pemberontakan-pemberontakan. Segala kekuatan ada pada rakyat, dan negara baru boleh dikata kuat kalau rakyat seluruhnya mendukungnya dan mencintainya. Dan kalian sebagai alat negara harus menjadi pelopor agar rakyat menaruh cinta kepada negara. Awas, terhadap orang-orang yang kalian katakan memberontak tadipun jangan berlaku sewenang-wenang. Kalau memang betul mereka memberontak, harus ada buktinya dan setelah demikianpun jangan gampang-gampang membunuh orang. Tawan saja agar diperiksa oleh Thio-ciangkun sendiri."

Pemimpin pasukan itu memberi hormat.

Yong Tee lalu berjalan pergi menghampiri Han Sin dan mengajak pemuda ini melanjutkan perjalanan.

Setelah mereka lewat, barulah rombongan serdadu itu menaiki kuda masing-masing dan melanjutkan perjalanan.

Han Sin memandang kawan barunya dengan amat kagum.

"Yong-loheng! Tak kusangka kau sedemikian berpengaruh sampai puluhan orang serdadu tunduk kepadamu."

"Bukan, bukan aku yang berpengaruh, melainkan Thio-ciangkun. Aku kenal Thio-ciangkun yang amat adil dan berdisiplin. Tentu saja mereka takut kalau-kalau aku mengadukan mereka kepada Thio-ciangkun, maka mereka menjadi takut kepadaku. Ha ha, saudara Cia yang baik. Orang-orang macam mereka itu yang kasar-kasar sewaktu-waktu memang perlu mendapat petunjuk dan teguran keras."

Han Sin mengangguk.

"Kiranya selain pandai, kaupun mempunyai jiwa yang gagah, Yong-loheng."

"Ah, sudahlah Cia-lote. Kau membikin aku malu saja."

Dua orang itu berjalan perlahan sambil bercakap-cakap.

Makin lama makin akrab hubungan mereka dan makin tertarik hati Han Sin.

Belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda yang secocok ini dengan isi hatinya.

Baik dalam persoalan filsafat, maupun kesusasteraan, bahkan dalam hal pendirian orang-orang gagah, Yong Tee ternyata mempunyai pandangan yang amat cocok dengan dia sendiri.

Tidak heran apabila mereka sudah melakukan perjalanan sehari lamanya, hati Han Sin demikian tunduk dan tertarik sehingga ia girang bukan main ketika Yong Tee mengusulkan untuk bersumpah mengangkat saudara!

"Yong-loheng!

Apakah dengan setulusnya hati kau mengusulkan pengangkatan saudara dengan aku?

Kau tidak tahu siapa aku.

Aku adalah seorang pemuda miskin, yatim piatu, seorang dari gunung yang bodoh.

Jangan-jangan nanti kau ditertawai oleh orang-orang di kota kalau bersaudara dengan aku!"

Han Sin berkata karena dia memang benar-benar merasa kaget dan heran di samping kegembiraan hatinya. Yong Tee memegang pundaknya.

"Kau terlalu merendah. Kau seorang jantan, seorang budiman. Kau seorang kuncu! Kalau orang seperti kau tidak bisa disebut kuncu, tidak tahu lagi aku orang macam apa yang layak disebut kuncu. Justeru karena kau yatim piatu, maka lebih keras lagi keinginanku untuk menjadi saudaramu. Tentu saja kalau....... kalau kau sudi."

"Tentu saja aku suka! Mempunyai seorang giheng (kakak angkat) seperti kau......... ah, benar-benar anugerah langit!"

Demikianlah, dalam sebuah kelenteng tua, dua orang pemuda ini lalu mengangkat sumpah, menjadi saudara angkat yang saling setia.

Yong Tee menjadi saudara tua dan Han Sin menjadi saudara muda.

Han Sin yang masih kurang pengalaman dan amat mudah tertarik oleh sikap yang baik, sama sekali tak pernah mimpi bahwa orang yang ia jadikan saudara angkat ini adalah seorang pangeran, seorang Putera Kaisar Mancu yang sekarang bertahta!

Sama sekali tidak pernah menduga bahwa pangeran ini telah menolong Bi Eng dari tangan Bhok-kongcu dan bahwa pangeran ini telah tahu banyak sekali tentang dia dan sengaja mengangkat saudara untuk menariknya berdiri di pihak pemerintah Mancu!

"Adikku, setelah kita menjadi saudara, tentu kau tidak keberatan untuk mengatakan kepadaku apa keperluanmu datang ke kota raja dari tempat begitu jauh,"

Pangeran itu bertanya ketika mereka melanjutkan perjalanan.

"Aku akan mencari adikku Cia Bi Eng yang kabarnya tertawan oleh Bhok Kian Teng di kota raja,"

Kata Han Sin terus terang dengan wajah muram karena ia menjadi gelisah kembali setelah teringat akan Bi Eng.

"Bhok Kian Teng? Kau mau ke sana? Dia itu orang berbahaya, banyak sekali kawannya yang berilmu tinggi. Apa yang bisa kaulakukan terhadap Bhok Kian Teng?"

Tanya Yong Tee sambil memandang tajam. Han Sin mengepal tinju dengan gemas.

"Aku tidak takut. Kalau benar Bi Eng ia tawan dan ia tak mau membebaskan adikku, biarpun dia mempunyai banyak kaki tangan, aku tidak takut dan pasti aku akan dapat menangkap dia!"

"Ah, kiranya kau memiliki kepandaian silat tinggi pula, adikku. Bagus, aku makin kagum kepadamu. Akan tetapi, kau harus berhati-hati benar menghadapi mereka."

Melihat sikap Yong Tee yang agak takut-takut itu, Han Sin lalu berkata.

"Loheng, biarlah urusan ini aku sendiri yang membereskan. Katakan saja di mana kau tinggal di kota raja, setelah urusan selesai tentu aku akan pergi mencarimu."

"Jangan kau memandang aku begitu lemah, adikku. Biarpun aku tidak dapat menggunakan kepandaian silat untuk menghadapi mereka, namun aku bukan seorang pengecut. Kau boleh hadapi mereka dan aku akan menantimu di luar."

Karena tenggelam dalam pikiran masing-masing, kedua orang pemuda ini melanjutkan perjalanan memasuki kota tanpa banyak bercakap lagi.

Diam-diam Yong Tee menjadi geli seorang diri.

Bi Eng sudah aman berada di dalam gedungnya dan selama ini, hubungannya dengan nona memang sudah seperti kakak beradik saja.

Sekarang tiba saatnya untuk menguji pemuda she Cia ini yang menurut penyelidik-penyelidiknya adalah seorang pemuda aneh yang kelihatan lemah namun memiliki kepandaian tinggi.

Kalau betul demikian, tidak percuma dia mengangkat saudara dengan Han Sin!

BHOK-KONGCU mencak-mencak ketika kembali dari Lu-liang-san ke rumahnya di kota raja mendengar bahwa Bi Eng diminta oleh Pangeran Yong Tee.

Ia mendongkol sekali, akan tetapi apa yang dapat ia lakukan terhadap putera kaisar?

Biarpun Yong Tee hanya putera dari selir, namun tetap saja kedudukan pangeran itu jauh lebih tinggi dari padanya.

Maka ia hanya dapat menyimpan kemarahannya dan hal ini malah memperhebat nafsunya untuk menggulingkan pemerintah Mancu dan mengangkat diri sendiri menjadi kaisar dari pemerintah baru yang ia idam-idamkan, yaitu pemerintah Mongol, berdirinya kembali kerajaan Goan yang telah gugur.

Oleh karena itu ia segera mengutus orang-orangnya untuk memanggil para tokoh kang-ouw yang dahulu sudah berkumpul di Lu-liang-san, dan makin giat mengumpulkan pembantu-pembantu baru terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi dengan jalan mengobral harta bendanya yang cukup banyak.

Pada hari itu, di gedungnya sudah berkumpul banyak sekali orang kang-ouw.

Di antara mereka tentu saja hadir pula Hoa Hoa Cinjin, Tung-hai Siang-mo, malah hadir pula Coa-tung Sin-kai, ketua dari Coa-tung Kai-pang dari utara.

Dengan adanya mereka ini, para tokoh lain tidak berani lagi memperebutkan kedudukan orang terkuat, karena mereka tahu bahwa tingkat kepandaian Hoa Hoa Cinjin adalah amat tinggi dan di antara mereka yang boleh dibandingkan dengan dia hanyalah Tung-hai Siang-mo dan Coa-tung Sin-kai.

Di situ hadir pula Thio-ciangkun yang memberi laporan kepada Bhok-kongcu bahwa ketika pasukan yang ia kirim pergi ke dusun di mana dikabarkan orang-orang Cin-ling-pai mengadakan kerusuhan ternyata bahwa It Cin Cu dan Ji Cin Cu dan sepasukan pengiringnya telah tewas semua oleh orang-orang Cin-ling-pai.

Tentu saja berita ini membuat Bhok-kongcu menjadi makin mendongkol sekali.

"Orang-orang Cin-ling-pai memberontak,"

Katanya kepada semua kaki tangannya yang hadir di situ.

"Mulai sekarang kita harus berusaha untuk membasmi mereka, kalau tidak mereka akan merupakan gangguan besar. Setelah siauwte mengadakan perjalanan, ternyata banyak orang-orang selatan masih mempunyai sikap memberontak. Oleh karena itu, siauwte hendak merencanakan gerakan pembersihan dan cu-wi (tuan-tuan sekalian) masing-masing akan mendapat tugas memimpin pasukan untuk membasmi mereka itu. Semua perkumpulan dilarang, kecuali kalau ketua-ketuanya sudah menyatakan hendak membantu pemerintah kita. Yang membantah boleh terus dibunuh dan mulai sekarang, rakyat tidak diperkenankan lagi membawa senjata tajam. Siauwte akan minta kepada kaisar untuk mengeluarkan maklumat ini sehingga apa yang kita kerjakan adalah menurut peraturan yang sah dari junjungan kita."

Karena Bhok-kongcu hanya menjamu mereka dan membagi-bagikan hadiah serta tugas, diam-diam Tung-hai Siang-mo dan Coa-tung Sin-kai merasa kecewa.

Mengapa tidak disebut-sebut tentang pemilihan jago nomor satu yang akan mendapat kedudukan istimewa?

Akhirnya karena tidak sabar, Ji Kong Sek berkata.

"Bhok-kongcu, maafkan pertanyaanku ini. Aku hanya menagih janji, bukankah dahulu kongcu sendiri yang berjanji tentang pemilihan tokoh nomor satu untuk dipekerjakan di istana?"

Inilah yang dinanti-nanti oleh sebagian besar tamu di situ.

Biarpun tidak mempunyai harapan untuk merebut kedudukan jago nomor satu, sedikitnya mereka itu ingin sekali melihat perebutan kedudukan itu dan menyaksikan pertandingan silat yang menarik.

Bhok-kongcu menggeleng kepalanya.

"Hal itu menyesal sekali harus dibatalkan, ayah tidak menyetujui."

Hoa Hoa Cinjin melirik tak puas.

"Ah, jadi Bhok-ongya hendak bertugas kembali?"

Pertanyaan ini sama dengan sangkaan bahwa raja muda yang ditakuti itu hendak merampas sendiri kedudukan koksu, dan memang kalau raja muda itu maju, siapa yang sanggup melawan Pak-thian-tok Bhok Hong?

Mendengar ini, semua orang yang hadir bungkam, tidak berani lagi membuka suara dan semua mata memandang ke arah pintu yang menembus ke dalam, mencari-cari dan dengan pandang mata bertanya di mana gerangan Pak-thian-tok yang dikabarkan sakit itu.

Kini Bhok-kongcu tersenyum.

"Harap cu-wi jangan salah kira. Ayah sudah tua, sejak lama tidak mau perduli lagi urusan dunia, mana beliau mau bercapek lelah dengan segala macam pekerjaan? Bahkan sudah lama ayah telah pergi lagi merantau, entah ke mana karena itulah yang menjadi kesukaannya. Akan tetapi, karena ayah sudah melarangku untuk mengadakan pemilihan jago nomor satu di sini, terpaksa aku harus mentaati perintahnya. Ayoh cu-wi sekalian minum araknya. Hai, pelayan, lekas ambil arak wangi dan isi semua cawan sampai penuh!"

Pada saat itu, tiba-tiba dari luar terdengar suara orang.

"Bhok Kian Teng lekas kaubebaskan adikku, Cia Bi Eng!"

Suara ini nyaring sekali menusuk semua telinga orang yang hadir, bahkan mengatasi semua suara gaduh dari puluhan orang itu sehingga serentak mereka menengok.

Keadaan menjadi sunyi sekali sehingga langkah Han Sin yang tenang itu seakanakan terdengar nyata.

Memang Han Sin lah orangnya yang tadi berseru dari luar dan kini dengan tenang dan pandang mata tajam, pemuda ini memasuki ruangan ini, langsung menghampiri Bhok-kongcu.

Para tamu yang tak pernah bertemu dengan Han Sin bertanya-tanya heran.

Siapakah pemuda ini dan apa maunya datang dengan sikap seperti itu?

Akan tetapi Hoa Hoa Cinjin, Tung-hai Siang-mo dan tokoh-tokoh yang tadinya ikut membantu pembongkaran batu-batu di gua rahasia di Bukit lebih heran lagi kenapa pemuda itu begitu berani mengunjungi tempat ini?

Di samping keheranannya, juga mereka itu diam-diam girang sekali.

Bhok-kongcu mencari-cari pemuda ini, bukankah dia telah mendapatkan warisan kitab rahasia?

Dicari ke mana-mana tidak jumpa, eh sekarang tahu-tahu muncul atas kehendak sendiri!

Bhok-kongcu juga kaget sekali dan menjadi pucat.

Akan tetapi pemuda ini tidak kehilangan akal dan cepat dapat menenteramkan hatinya.

la berdiri dan tersenyum.

"Eh, kiranya saudara yang gagah Cia Han Sin yang datang berkunjung. Silakan duduk dan minum arak dengan kami."

"Bhok Kian Teng, tak perlu lagi kau berputar lidah. Aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu, lekas kaubebaskan Bi Eng!"

Kata Han Sin sambil melangkah terus maju dengan sikap mengancam.

Sementara itu, ketika mendengar bahwa pemuda ini yang bernama Cia Han Sin, pemuda yang telah membikin sutenya lumpuh, Coa-tung Sin-kai sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya.

Seperti diketahui, Tok-gan Sin-kai adalah sute dari Coa-tung Sin-kai dan dengan menggunakan paku-paku rahasianya sendiri, Han Sin telah merobohkan pengemis mata satu itu.

"Keparat kiranya kau anak pemberontak she Cia!"

Coa-tung Sin-kai meloncat dan sudah menghadang di depan Han Sin.

"Awas, lo-enghiong, bocah ini lihai sekali, dia telah mewarisi kitab pelajaran Tat Mo Couwsu!"

Kata Bhok-kongcu sambil duduk lagi. Pemuda bangsawan ini ternyata telah membakar hati ketua pengemis itu dengan kata-kata ini.

"Ha, ha, ha, memang tidak baik saling gempur untuk menguji kepandaian. Biarlah bocah ini menjadi semacam juru penguji!"

Kata Ji Kong Sek yang juga ingin sekali tahu sampai di mana kepandaian ketua Coa-tung Kai-pang yang tersohor ini.

Sementara itu, tanpa memperdulikan ucapan-ucapan orang lain.

Han Sin memandang kakek di depannya.

Kakek ini usianya sudah enam puluhan, tubuhnya jangkung kurus tangan kanannya memegang sebatang tongkat ular kering yang lidahnya menjulur keluar dan amat runcing.

Sikapnya lemah lembut dan agung, akan tetapi sepasang mata yang berminyak itu menandakan bahwa kakek ini masih belum terlepas dari pelukan nafsu duniawi.

"Tidak tahu siapa lo-enghiong dan kenapa mencampuri urusan pribadiku dengan Bhok Kian Teng?"

Tanya Han Sin, sabar.

Menuruti keinginan hatinya, tidak mau ia bertengkar dengan segala macam orang tanpa ada sebab-sebabnya.

Ketika sinar matanya bentrok dengan sinar mata Han Sin, diam-diam kakek ini kaget bukan main.

Belum pernah selama hidupnya ia bertemu pandang dengan orang yang memiliki sinar mata seperti ini.

Diam-diam ia kagum dan melihat sikap halus Han Sin, ia merasa tidak enak kalau bersikap terlalu kasar, apa lagi mengingat kedudukannya yang tinggi dan usianya yang jauh lebih tua.

"Orang muda, setelah kau tahu namaku, seharusnya kau cepat-cepat berlutut mohon maaf kepada Bhok-kongcu atas sikapmu yang tidak semestinya ini. Kau berada di kota raja, di dalam rumah Bhok kongcu, masa sikapmu seperti ini? Apa yang kauandalkan? Ketahuilah, aku adalah Coa-tung Sin-kai dan kau bocah cilik sesungguhnya bukan lawanku......"

Han Sin pernah diceritai oleh Li Hoa tentang gurunya maka tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan guru Li Hoa dan Li Goat, juga ketua Coa-tung Kai-pang dan suheng dari Tok-gan Sin-kai.

la tersenyum dan menjawab.

"Lo-enghiong, kalau kau masih mempunyai sedikit sifat gagah, tentu kau tidak membenarkan Bhok Kian Teng menawan adik perempuanku yang tidak berdosa. Aku datang bukan untuk berlaku kurang ajar, melainkan hendak minta dibebaskan adikku. Salahkah ini?"

"Hemmmmm, kau sombong. Agaknya kau memang berkepandaian dan kau sudah pula menghina suteku. Tak dapat tidak, kalau kau tidak mau berlutut minta ampun, tongkatku akan memaksamu."

"Silakan!"

Tantang Han Sin tenang-tenang saja. Coa-tung Sin-kai mulai marah, tapi ia masih ragu-ragu, malu untuk menyerang seorang muda yang tak bersenjata.

"Keluarkan senjatamu,"

Katanya.

"Aku bukan tukang pukul, bukan tukang bunuh orang, mengapa harus bersenjata? Untuk menjaga diri, Thian telah melengkapi anggauta tubuhku."

"Pemuda sombong, lihat serangan!"

Coa-tung Sin-kai tak sabar lagi, tongkatnya menyambar cepat ke arah jalan darah di pundak kiri Han Sin.

Pemuda ini maklum dari sambaran tongkat bahwa lawannya yang memiliki gerakan cepat dan tenaga dalam yang sempurna, maka ia tidak berani main-main, dengan sigap ia miringkan tubuhnya mengelak.

Benar saja, baru saja dielakkan serangan pertama, serangan ke dua, tiga dan selanjutnya susul-menyusul bagaikan hujan, sama sekali tidak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk balas menyerang.

Namun Han Sin tetap tenang, dengan Liap-hong-sin-hoat ia menghadapi semua serangan kakek itu dan selalu dapat menghindarkan setiap desakan.

"He, pernah apa kau dengan Ciu-ong Mo-kai?"

Teriak Coa-tung Sin-kai dengan heran.

Ketua perkumpulan pengemis dari utara ini pernah bertanding melawan Tang Pok yang juga menggunakan Liap-hong-sin-hoat maka ia segera mengenal ilmu silat yang tangguh ini, yang membuat ia bertanding dengan Ciu-ong Mo-kai sampai hampir sehari penuh tanpa dapat merebut kemenangan!

"Ciu-ong Mo-kai Tang Pok adalah suhuku,"

Jawab Han Sin masih tenang.

Mendengar jawaban ini Coa-tung Sin-kai lalu mendesak makin hebat.

Masa aku tak dapat merobohkan murid Tang Pok, pikirnya penasaran sekali.

Akan tetapi ia kecelik karena Liap-hong-sin-hoat yang dimainkan oleh pemuda ini benar-benar aneh dan luar biasa sekali.

Nampaknya pemuda itu hanya bergerak perlahan saja untuk menghadapi serangan-serangannya, namun setiap pukulannya yang akan mampir di tubuh pemuda itu seperti menyeleweng sendiri, seakan-akan kedua tangannya sudah tidak menuruti lagi kehendaknya!

Hal ini sebetulnya bukan karena kehebatan Liap-hong-sin-hoat, melainkan kehebatan hawa sinkang di tubuh Han Sin yang sudah demikian kuatnya sehingga sanggup menolak hawa pukulan kakek itu dan membuat semua pukulan meleset.

Han Sin mengerti orang yang sudah menjadi kaki tangan Bhok-kongcu bukanlah orang baik-baik.

Akan tetapi karena teringat bahwa lawannya ini adalah guru dari Li Hoa, ia merasa tidak enak juga untuk merobohkan atau melukainya.

Setelah berkali-kali mengelak dan menggunakan hawa pukulan untuk menangkis semua serangan lawan selama dua puluh jurus lebih, tiba-tiba Han Sin mengeluarkan suara bentakan keras sekali sambil mengerahkan khikang.

Coa-tung Sin-kai kaget dan terhuyung mundur.

Han Sin mendesak, tangannya bergerak dan di lain saat, tongkat ular itu sudah berhasil ia rampas.

Sekali tekuk tongkat itu mengeluarkan suara "pletakk!"

Dan patah menjadi tiga potong, lalu dilemparkannya ke atas tanah.

Bukan main kaget, heran, dan malunya Coa-tung Sin-kai.

Dia yang menjadi ketua Coa-tung Kai-pang, yang datang-datang hendak ikut pula memperebutkan jago silat nomor satu, dalam pertandingan dua puluh jurus lebih, malah boleh dibilang baru diserang satu jurus saja oleh seorang pemuda hijau, telah kalah mutlak!

Dengan muka merah seperti udang direbus ia lalu melangkah mundur, tidak ada muka lagi untuk mencoba menempur Han Sin.

Terdengar suara ketawa mengejek dan dua bayangan orang berkelebat cepat, tahu-tahu Tung-hai Siang-mo sudah berdiri di depan Han Sin.

Pemuda ini mengenal sepasang iblis itu dan kemarahannya memuncak.

Sebelum mereka bergerak, ia menegur lebih dulu.

"Aku datang hanya untuk minta dibebaskannya adikku, aku hanya berurusan dengan orang she Bhok, kenapa segala macam orang tua ikut campur?"

Hoa Hoa Cinjin tiba-tiba berkata dengan nada mengejek.

"Dua orang tua bangka dari utara inipun belum tentu bisa menangkan dia."

Mendengar ini, Ji Kong Sek dan Ji Kak Touw menjadi panas perutnya, Ji Kong Sek segera mengeluarkan suara ketawanya yang menyeramkan, lalu tanpa banyak cakap lagi ia menubruk maju dengan kedua tangan dipentang dengan jari-jari terbuka seperti seekor garuda menubruk.

Ji Kak Touw juga tidak mau tinggal diam, langsung menyerang bagian bawah tubuh Han Sin sambil menggereng seperti ringkik kuda.

Han Sin mendongkol sekali melihat sikap orang-orang tua ini.

Ia menggeser kakinya mundur dan melihat bahwa serangan mereka itu malah lebih berbahaya dari pada serangan Coa-tung Sin-kai tadi, ia lalu menggunakan Ilmu Silat Im-yang-kun untuk menghadapi dua orang iblis yang sifat serangannya berlawanan ini.

Hanya Im-yang-kun yang mengandung dua macam sifat dapat menghadapi daya serangan mereka.

Terdengar suara "plak-plak!"

Keras sekali ketika sepasang lengan tangan Han Sin menangkisi pukulan-pukulan kedua orang lawannya. Tung-hai Siangmo setelah menyerang beberapa jurus dan dapat ditangkis, saling pandang dengan heran.

"Bukankah itu Im-yang-kun dari Cin-ling-pai. Bocah, Giok Thian Cin Cu itu apamu?"

Bentak Ji Kak Touw.

"Giok Thian Cin Cu itu adalah suhuku pula,"

Jawab Han Sin tenang.

Semua orang terkejut mendengar ini.

Yang lebih kaget adalah Bhok Kian Teng karena ia tidak mengerti bagaimana bocah gunung itu ternyata adalah murid dari orang-orang pandai.

Pertempuran berjalan terus dan dengan hati gelisah Bhok-kongcu melihat bahwa juga Tung-hai Siang-mo tidak banyak berdaya.

Seperti mempermainkan anak-anak kecil, Han Sin berdiri tegak dan hanya kedua tangannya bergerak-gerak ke depan, namun dua orang iblis itu sama sekali tidak mampu mendekatinya.

"Cinjin, bocah ini berbahaya. Harap kau suka maju dan membantu untuk menangkapnya hidup atau mati,"

Kata Bhok-kongcu perlahan.

Namun ucapan yang perlahan ini masih dapat terdengar oleh Han Sin yang selalu memperhatikan agar kongcu itu tidak melarikan diri.

Pemuda ini mengeluarkan suara ketawa mengejek dan sekali berkelebat ia telah meninggalkan lawannya dan tahu-tahu ia telah berada di depan Bhok-kongcu.

"Orang she Bhok, aku datang untuk minta adikku, kenapa kau bermaksud membunuhku? Di mana Bi Eng?"

Bhok-kongcu menjawab dengan sebuah serangan kilat, menggunakan kipasnya.

Kipas ini tidak saja ia pergunakan untuk menyerang jalan darah maut di leher Han Sin, malah sekaligus dari ujung kipas keluar jarum-jarum beracun yang menyambar ke dada pemuda dari Min-san itu.

"Keji!"

Han Sin yang bermata jeli dapat melihat ini. Tangannya mengibas, jarum-jarum runtuh dan kipas itu dapat ia cengkeram.

"Krak-krak!"

Hancurlah kipas itu dilain saat kedua tangan Bhok-kongcu sudah dapat ia pegang dengan erat.

"Lepaskan adikku!"

Han Sin membentak lagi. Akan tetapi tiba-tiba dari arah belakangnya menyambar hawa pukulan dahsyat berturut-turut. la terpaksa melepaskan tangan Bhok-kongcu dan memutar tubuh sambil menangkis.

"Dukk!"

Tubuh Hoa Hoa Cinjin terpental, demikian pula Tung-hai Siang-mo yang tadi bersama-sama mengirim serangan dari belakang.

Hebat sekali tangkisan Han Sin tadi, sekaligus membuat tiga orang kakek itu terpental.

"Kalian memang orang-orang jahat, perlu dihajar!"

Timbul amarah dalam hati Han Sin dan pemuda ini lalu mainkan Ilmu Silat Lo-hai Hui-kiam yang dahsyat.

Kedua ujung jari telunjuknya menjadi pengganti pedang namun dua buah jari tangan ini malah lebih berbahaya lagi karena dapat menotok jalan darah dari jarak jauh.

Sebentar saja Hoa Hoa Cinjin dan Tunghai Siang-mo menjadi sangat repot menghadapi hujan totokan ini.

Coa-tung Sin-kai juga cepat melompat maju untuk membantu sehingga sesaat kemudian Han Sin sudah dikeroyok oleh empat orang tokoh besar yang amat disegani orang kang-ouw.

Memang amat mengherankan kalau dilihat.

Seorang pemuda yang masih amat muda belia, kini dikeroyok oleh empat orang tokoh yang biasanya merupakan jago-jago yang berkedudukan tinggi, bahkan yang dianggap merupakan calon-calon jago silat yang terpilih di kota raja!

Dan tetap saja mereka tak dapat berdaya banyak menghadapi Lo-hai Hui-kiam yang bukan dimainkan dengan pedang, melainkan dengan dua buah jari tangan!

Baru tiga puluh jurus saja, dua buah jari tangan yang bergerak-gerak cepat sehingga kelihatannya berubah menjadi puluhan banyaknya, serta yang amat berbahaya biarpun dipergunakan dari jauh, tak dapat ditahan oleh Tung-hai Siang-mo yang sudah roboh terguling karena totokan, sedangkan pada lain saat, Coa-tung Sin-kai juga terhuyung-huyung karena terserempet pundaknya oleh hawa totokan dari jari tangan kanan Han Sin!

Hanya Hoa Hoa Cinjin yang kosen itulah yang masih dapat melawan, biarpun kini hanya mempertahankan diri saja.

Dari sini dapat diukur bahwa di antara empat orang tokoh itu, Hoa Hoa Cinjin ternyata lebih kuat.

Bhok-kongcu gelisah sekali, mukanya pucat dan keringatnya mengucur.

Ia menyesal sekali mengapa ayahnya tidak berada di situ.

Untuk menghadapi pemuda aneh itu kiranya hanya ayahnya yang boleh diandalkan.

Diam-diam ia lalu memberi isyarat kepada para pengawalnya yang lari keluar dan tak lama kemudian, di luar istana itu terdengar derap kaki banyak orang.

Kiranya pengawal tadi memanggil pasukan dan kini di luar telah menjaga ratusan orang serdadu Ceng untuk menangkap Han Sin!

"Cia Han Sin, kalau kau tidak menyerah, ratusan anak panah akan menghancurkan tubuhmu!"

Tiba-tiba Bhok-kongcu berseru ketika pasukannya sudah berbaris masuk dengan anak panah terpasang pada busur setiap orang serdadu.

Hoa Hoa Cinjin melompat mundur dan ketika Han Sin menoleh, ia sudah ditodong oleh ratusan orang serdadu yang memegang busur dan anak panah.

Pemuda ini tertawa aneh, mengangkat dada menghadapi para serdadu sambil berkata pada Bhok-kongcu.

"Hidup bukan punyaku mati bukan milikku, aku takut apa? Hidup mati tidak penasaran, pokoknya aku berada di dalam kebenaran. Orang she Bhok, aku datang untuk minta kembali adikku. Kau tidak menuruti permintaanku yang pantas, malah hendak membunuhku. Bunuhlah, siapa takut?"

Bhok-kongcu memberi tanda dan para serdadu yang berada paling depan, segera melepas anak panah menyambar secepat kilat, mendatangkan suara mengaung mengerikan, ke arah tubuh Han Sin!

Pemuda ini tenang-tenang saja, kedua tangannya digerakkan ke kanan kiri sambil mengerahkan sinkang untuk mengebut dan menangkis.

Runtuhlah semua anak panah itu, kecuali sebatang yang menancap di ujung pundaknya dan keluarlah darah membasahi baju!

Betapapun hebat kepandaian Han Sin menghadapi hujan anak panah itu tetap saja ia terluka biarpun luka itu amat ringan.

Ia menjadi marah, diserbunya ke depan dan sekali tangan kakinya bergerak enam orang serdadu roboh!

Keadaan menjadi kalut sekali dan Han Sin sudah bersiap mengamuk mati-matian dalam gedung Pangeran Mongol yang menyebut diri Bhok-kongcu itu.

Pada saat itu terdengar bentakan dari luar, bentakan halus berpengaruh.

"Tahan semua senjata!"

Hebat sekali pengaruh bentakan ini.

Tidak hanya para serdadu itu serentak minggir dan berdiri tegak memberi hormat, malah Bhok-kongcu sendiri berikut kaki tangannya, Hoa Hoa Cinjin dan yang lain-lain, cepat membungkuk-bungkuk memberi hormat, kepada orang yang membentak tadi.

Han Sin menoleh dan kaget serta herannya bukan kepalang.

"Yong-giheng.......!"

Serunya, memandang dengan mata terbelalak. Orang itu memang Pangeran Yong Tee. Ia tersenyum kepada Han Sin, lalu tanpa menghiraukan yang lain ia menghadapi Bhok-kongcu dan berkata.

"Saudara Cia ini adalah..... saudara angkatku, kalau ada persoalan boleh diselesaikan secara damai, tidak boleh sekali-kali menggunakan kekerasan."

Han Sin melongo ketika melihat betapa Bhok-kongcu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut! "Mohon paduka sudi mengampunkan. Hamba sama sekali tidak tahu bahwa..... bahwa...... saudara Cia....."

"Bangunlah, cukup semua itu. Cuma saja lain kali, harap tidak melakukan pengeroyokan seperti yang baru terjadi tadi. Benar-benar amat memalukan. Hemmmm, kulihat tidak banyak gunanya orang-orangmu........"

Pangeran Yong Tee lalu menggandeng tangan Han Sin dan menariknya pergi dari situ.

"Adikku, mari kau ikut aku ke rumahku."

Sejak tadi Han Sin bengong terheran, sekarang ia ragu-ragu. Urusannya dengan Bhok-kongcu belum selesai, ia belum dapat menemukan Bi Eng.

"Tapi...... adikku Bi Eng........"

Bantahnya bingung.

"Serahkan urusan ini kepadaku, tentu beres. Marilah!"

Yong Tee mengajak.

Biarpun masih sangsi, Han Sin yang terpengaruh oleh kejadian aneh dan sikap kakak angkatnya yang nampaknya amat berpengaruh itu, tidak membantah dan mengikuti Yong Tee keluar dari gedung Bhok-kongcu.

Akan tetapi, ketika melihat ke mana saudara angkatnya yang aneh itu membawanya masuk yaitu ke sebuah gedung yang amat besar, seperti istana, jauh lebih mewah dan besar dari pada gedung tempat tinggal Bhok-kongcu, Han Sin menjadi pucat dan melepaskan pegangan Yong Tee sambil berkata.

"Gi-heng...... kau membawaku ke mana ini? Ke rumah siapa?"

Yong Tee tersenyum dan memegang lengan Han Sin lagi.

"Ke rumah siapa lagi kalau bukan ke rumahku? Ini rumah ibuku.

"Mari masuk ke dalam......."

Sementara itu, beberapa orang pelayan yang berada di luar sudah cepat menyambut kedatangan Yong Tee sambil memberi hormat secara khidmat sekali.

"Gi-heng...... kau........ kau siapakah......?"

Han Sin bertanya gugup, sama sekali belum menyangka bahwa saudara angkatnya adalah seorang pangeran!

Akan tetapi Yong Tee tidak menjawab, melainkan memberi perintah kepada orang-orangnya dengan ucapan.

"Lekas beritahu Cia siocia bahwa kakaknya, Cia-kongcu sudah datang!"

Tentu saja perintah yang cepat-cepat dilakukan oleh para pelayan ini membuat Han Sin kaget dan girang luar biasa sampai ia melupakan pertanyaannya tadi.

Dengan erat-erat ia genggam tangan Yong Tee, matanya berseri dan hampir ia berteriak-teriak saking girangnya.

"Gi-heng, jadi...... jadi adikku Bi Eng sudah berada di sini??"

Yong Tee mengangguk-angguk dengan senyum manis.

"Bukankah tadi aku sudah bilang bahwa urusan adikmu itu kauserahkan saja kepadaku tentu beres?"

Digandengnya lengan Han Sin, diajak memasuki rumah gedung besar itu.

Sampai terbelalak mata Han Sin memandangi dan mengagumi isi ruangan yang mereka masuki.

Semuanya serba indah.

Serba megah dan besar.

"Sin-ko........!"

Bi Eng berlari-lari dari dalam dan langsung menubruk dan memeluk leher Han Sin sambil menangis.

Han Sin kembali membuka matanya lebar-lebar melihat Bi Eng berpakaian amat indah.

Rambut adiknya yang hitam panjang itu digelung semodel dengan gelung Li Hoa.

Indah, cantik dan manis adiknya ini.

"Bi Eng......!"

Iapun memeluk dan pada saat itu hatinya berdebar tidak karuan.

Bi Eng ini bukan adik kandungnya!

"Sin-ko, syukur kau selamat.

Ah, betapa selama ini hatiku selalu gelisah dan berduka.

Ternyata Thian masih belum melupakan kita, Sin-ko.

Thian telah menurunkan seorang penolong, yaitu Pangeran Yong Tee yang bijaksana ini.

Mari kita menghaturkan terima kasih kepadanya."

Begitu mendengar ucapan ini, Han Sin menjadi makin pucat dan ia melepaskan pelukan adiknya, membalikkan tubuh memandang Yong Tee sambil berkata.

"Bi Eng! Apa katamu tali? Pangeran....... pangeran siapa..........?"

Bi Eng tersenyum di antara air matanya, air mata kegirangan.

la memegang tangan Han Sin dan dibimbingnya kakaknya untuk maju.

Lalu Bi Eng menjatuhkan diri berlutut, mengajak Han Sin juga berlutut.

Akan tetapi Han Sin tidak mau berlutut, hanya berdiri menatap wajah Yong Tee dengan pandang mata tajam.

"Cia-siocia, tak pernah aku mengijinkan orang berlutut kepadaku......."

Tegur Yong Tee.

"Akan tetapi kali ini harap diberi kekecualian,"

Jawab Bi Eng.

"Hamba berdua kakak beradik harus menghaturkan terima kasih kepada paduka yang mulia. Kalau tidak ada paduka, bagaimana kami kakak beradik dapat saling bertemu.......?"

"Nona Bi Eng, jangan banyak sungkan. Ketahuilah, kita adalah keluarga sendiri. Kakakmu Han Sin ini sekarang sudah menjadi adik angkatku, berarti kaupun adikku sendiri. Bangunlah."

Bi Eng berseru girang dan melompat bangun terus memeluk kakaknya.

"Sin-ko, betulkah itu? Kau menjadi saudara angkat...... Pangeran?"

"Hush, adik Bi Eng, mulai sekarang tidak ada pangeran-pangeranan, kau boleh menyebutku Yong-ko saja,"

Kata pangeran itu sambil tersenyum ramah.

Akan tetapi Han Sin kembali melepaskan pelukan Bi Eng, matanya sejak tadi tidak berkedip menatap wajah Yong Tee.

Melihat sikap kakaknya seperti orang marah ini, Bi Eng melangkah mundur dengan heran.

"Gi...... gi-heng...... jadi kau seorang pangeran Mancu? Kenapa kau tidak katakan hal ini sebelumnya? Kau...... kau telah menipuku!"

Kata Han Sin wajahnya pucat. Yong Tee menaikkan alis matanya dengan senyum membayang di bibir.

"Gite, kenapa kau bilang begitu? Pangeran atau bukan, bukankah aku seorang manusia juga? Bukan kehendakku dilahirkan sebagai seorang Pangeran Mancu, juga bukan kehendakmu dilahirkan sebagai seorang Han. Bagiku tiada perbedaan."

"Kau menipuku! Bagaimana mungkin aku bersaudara dengan seorang pangeran dari kerajaan yang menjajah tanah airku? Bagaimana mungkin aku bersaudara dengan....... musuh-musuhku?"

"Bukan musuhmu, adikku. Kami keturunan Aisin-gioro dari Mancu bukan musuh, juga bukan orang lain. Kami dan bangsa Han sebetulnya masih sebangsa, Bangsa Tiongkok yang besar. Kami bermaksud untuk membikin Tiongkok menjadi negara yang besar, megah dan makmur. Kami tidak memusuhi rakyat yang kami cinta. Adikku Cia Han Sin, semua orang menganggap kau sebagai putera pemberontak, sebaliknya aku pribadi amat kagum kepada kakek dan ayahmu yang sudah kudengar riwayatnya. Orang seperti kau inilah yang kami butuhkan untuk kami ajak bekerja sama guna kemakmuran bangsa. Bukan orang-orang berwatak penjilat berhati palsu seperti....... orang she Bhok dan lain-lain itu. Mari, adikku, terimalah uluran tanganku ini."

Akan tetapi Han Sin melangkah mundur, tidak mau menjabat tangan kakak angkatnya.

"Tidak! Ucapan seorang penjajah selalu manis, manis di mulut pahit di hati. Dengan ucapan manis menipu rakyat yang dijajahnya, menjanjikan kemakmuran bersama padahal maksudnya untuk kemakmuran rakyat dan golongan sendiri. Tidak!"

"Adik Han Sin, kau menyedihkan hatiku. Aku bermaksud baik akan tetapi kau menerima salah. Sekali lagi kujelaskan, kerajaan ayahku sama sekali tidak memusuhi rakyat, malah hendak membangun negara Tiongkok demi kemakmuran kehidupan rakyat."

"Bohong! Mataku telah buta! Aaahhh, mataku telah buta. Kau.... kau yang selama ini kukira seorang yang patriotik, kiranya malah Pangeran Mancu yang hendak kubasmi!"

Ia mengepal tinju dan memandang pangeran itu dengan mata penuh kebencian dan sikap mengancam. Pangeran Yong Tee tersenyum masam.

"Begitukah? Saudaraku yang baik, kalau memang sudah tak dapat kuyakinkan hatimu, dan kau tetap menganggap kakak angkatmu ini sebagai musuh dan penjahat besar, marilah, kau boleh bunuh aku."

"Memang sudah sepatutnya aku membunuh anak penjajah!"

Han Sin sudah menggerakkan tangan hendak memukul, akan tetapi melihat wajah pangeran itu dengan senyum tenang memandangnya, sinar mata yang selama ini ia kagumi dan ia cinta sebagai saudara angkat, membuat tangannya menjadi lemas kembali.

Pada saat itu, Bi Eng melompat dan memegang tangannya.

"Sin-ko, kau kenapakah? Jangan berlaku yang tidak-tidak. Kau harus tahu bahwa Pangeran... eh, Yong-ko ini berbeda dengan sembarang orang dan sama sekali tidak bisa dianggap musuh. Kalau bukan oleh pertolongannya yang mengambilku dari cengkeraman orang she Bhok itu, apa kaukira kita akan masih dapat bertemu? Sin-ko, jangan kau memusuhi dia ini, apa lagi setelah kau dan dia bersumpah mengangkat saudara. Sin-ko, aku tahu kau bukan membenci orangnya, melainkan membenci karena dia keluarga kaisar yang menjajah. Akan tetapi apakah karena itu kita harus lupa akan budi?"

Han Sin menoleh perlahan kepada adiknya dan Bi Eng terharu melihat betapa wajah kakaknya ini pucat sekali dan dari kedua matanya menitik dua butir air mata.

Belum pernah ia melihat kakaknya menitikkan air mata dan kenyataan ini menandakan betapa pada saat itu batin Han Sin tersiksa hebat.

"Bi Eng......,"

Suara Han Sin lemah dan serak.

"kau...... kau bergantilah pakaian, pakaianmu sendiri dan lekas kau menyusulku. Kutunggu di luar."

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat pemuda ini sudah melesat keluar dari ruangan istana itu.

"Adik Han Sin......!"

Yong Tee berseru memanggil namun Han Sin tidak perduli, menengokpun tidak.

Dengan isak tertahan Bi Eng lalu lari ke dalam kamarnya, menanggalkan pakaian indah pemberian Yong Tee, mengganti dengan pakaiannya sendiri, malah merobah bentuk gelungnya menjadi biasa kembali.

Setelah itu ia lalu berlari keluar.

Di ruang depan ia melihat Yong Tee masih berdiri seperti patung.

Ia cepat menjura dengan hormat dan berkata perlahan.

"Pangeran.....eh, Yong-ko. Ampunkanlah kakakku Han Sin, dan ampunkan aku. Aku..... aku selamanya takkan melupakan budimu."

Yong Tee hanya mengangguk-angguk dengan senyum pahit.

Dengan isak tertahan Bi Eng lalu berlari keluar di mana Han Sin sudah menantinya.

Tanpa banyak cakap lagi keduanya lalu berlari-lari pergi meninggalkan kota raja.

Yong Tee cepat dapat menenangkan hatinya.

Ia lalu bertepuk tangan tiga kali dan muncullah beberapa orang pengawal istana.

"Lekas kalian beritahu kepada para penjaga pintu gerbang supaya pemuda dan pemudi yang baru keluar dari sini, jangan diganggu kalau keluar dari pintu gerbang. Dan bawa dua ekor kuda terbagus dan kuat, bersama dua kantong uang emas ini berikan kepada Han Sin dan Bi Eng itu disertai salamku. Cepat!"

Setelah utusannya pergi, Yong Tee menjatuhkan diri di atas kursi dan duduk seperti patung sampai satu jam lebih lamanya.

Berkali-kali ia menarik napas dan sinar matanya menjadi suram-muram.

Han Si dan Bi Eng menjadi heran ketika di pintu gerbang sebelah barat mereka dihadang oleh pengawal-pengawal yang membawa dua ekor kuda.

Seorang komandan pengawal berkata dengan hormat.

"Kami diutus oleh Pangeran Yong Tee untuk memberikan dua ekor kuda dan dua kantong emas ini disertai salam beliau untuk kongcu dan siocia."

Bi Eng meramkan matanya untuk menahan keluarnya air mata, saking terharu menyaksikan kebaikan terakhir dari pangeran itu.

Namun Han Sin mengeraskan hatinya, dengan dagu mengeras ia menolak pemberian itu sambil berkata kepada si komandan.

"Kembalikan kuda dan uang itu kepada Pangeran Yong Tee, katakan kami sudah cukup menerima kebaikannya dan tidak mau mengganggu lagi."

Kemudian pemuda ini menarik tangan Bi Eng dan berlari cepat, keluar dari pintu gerbang kota raja.

Setelah berlari cepat sekali sambil menarik tangan Bi Eng sampai puluhan li jauhnya, akhirnya Han Sin berhenti karena adiknya menangis.

la melepaskan tangan Bi Eng, lalu memandang adiknya itu dengan penuh kasih sayang.

"Kau kenapa, Bi Eng?"

Bi Eng makin tersedu-sedu, mengusapi air mata yang membanjir turun di kedua pipinya.

"Sin-ko....., aku girang sekali dapat bertemu kembali dan berkumpul kembali dengan kau. Tapi..... tapi sikapmu terhadap Pangeran Yong Tee.... benar mengecewakan hatiku. Dia begitu baik, dia telah menolongku, malah.... malah kudengar tadi kau sudah mengangkat sumpah bersaudara dengan dia....."

Han Sin mengerutkan keningnya.

"Adik Bi Eng, kau tidak tahu betapa hatiku sendiri hancur menghadapi kenyataan ini. Aku suka kepada pribadi pangeran itu. Akan tetapi kau lihatlah kenyataan. Orang-orang seperti Bhok-kongcu, Hoa Hoa Cinjin dan para pengkhianat bangsa yang sudah kita jumpai, semua adalah anak buah pemerintah penjajah. Kau dan aku adalah keturunan patriot, kita harus melanjutkan jejak perjuangan nenek moyang, yang luhur dan jaya. Kita harus menggulung lengan baju bersama para pejuang rakyat lain menyelamatkan tanah air, menghancurkan penjajah dan antek-anteknya. Tentang Pangeran Yong Tee itu andaikata benar-benar dia itu berhati mulia, apakah kebaikan seorang saja akan melumpuhkan semangat perjuangan kita? Apakah kebaikan seorang Yong Tee dapat membersihkan kejahatan penjajah dan kaki tangannya yang menindas bangsa kita? Apakah karena kebaikan seorang Yong Tee, kau dan aku harus masuk pula menjadi sekutunya, menjadi pengkhianat bangsa?"

Bi Eng menjadi pucat ketika ia memandang kakaknya. Tanpa disadari lagi, kepalanya yang cantik itu menggeleng-geleng keras dan bibirnya yang pucat itu berkata.

"Tidak! Sekali lagi tidak! Tentu saja aku tidak sudi menjadi pengkhianat. Tapi....,tapi...., bagaimana aku akan tega memusuhi dia yang begitu baik?"

Dan gadis itu menangis lagi. Han Sin menaruh tangannya di pundak Bi Eng.

"Bukan hanya engkau, Eng-moi. Aku sendiripun kiranya takkan sampai hati untuk memusuhi Yong-giheng, seorang yang kuanggap amat baik dan malah sudah menjadi kakak angkatku. Eng-moi, marilah kita kembali dulu ke Min-san. Ketahuilah, selama ini aku sudah mempelajari ilmu silat. Setelah semua pengalaman pahit getir selama kita turun gunung, kita perlu beristirahat di Min-san, di sana kau boleh memperdalam ilmu silatmu, kemudian baru kita akan berusaha menghubungi dan menggabungkan diri dengan para patriot."

Bi Eng mengangkat mukanya memandang kakaknya.

"Aku sudah menduga bahwa akhirnya kau akan menjadi seorang ahli silat, Sin-ko. Marilah kalau kau menghendaki kita pulang ke Min-san."

Sambil berjalan cepat di sepanjang perjalanan Han Sin menceritakan pengalaman-pengalamannya.

Bi Eng merasa kagum sekali, akan tetapi juga amat berduka ketika mendengar tentang Siauw-ong, monyet peliharaan itu yang lenyap tanpa diketahui ke mana perginya.

Ia sampai mencucurkan air mata kalau mengingat Siauw-ong.

"Jangan bersedih, Eng-moi. Kelak aku akan membawamu turun gunung lagi dan kita cari Siauw-ong di Lu-liang-san. Kukira dia berada di dalam hutan di gunung itu."

Terhiburlah hati Bi Eng dan kedua orang muda ini melanjutkan perjalanannya.

Sikap Bi Eng terhadap Han Sin masih biasa, manja dan penuh cinta kasih seorang adik.

Sebaliknya, biarpun di luarnya Han Sin masih bersikap biasa pula, namun di dalam hatinya timbul bermacam-macam perasaan.

Gadis ini bukan adik kandungnya!

Seorang gadis anak orang lain, yang sama sekali tidak dikenalnya!

Sinar mata dalam pandangnya terhadap Bi Eng berubah, membuat jantungnya kadang-kadang berdetak aneh dan.cinta kasihnya terhadap Bi Eng juga mulai berubah.

Biarlah pikirnya, kelak akan kubongkar rahasia gadis ini, akan kucari siapa sebetulnya orang tuanya.

Dengan pikiran ini, Han Sin dapat menenteramkan hati dan bersikap biasa.

Pemandangan di sepanjang perjalanan nampak terang dan indah setelah kakak beradik ini berkumpul kembali, hati penuh rasa bahagia dan tenteram.

"KELIRU, adik Eng "..! Kembali kau tidak curahkan perhatianmu ke dalam gerakan ini."

Gadis cantik jelita itu berhenti bersilat, menarik napas panjang lalu duduk di atas bangku dalam taman bunga itu.

Kembali ia menarik napas panjang dan menggunakan sehelai saputangan sutera hijau menghapus peluh dari leher dan pipinya yang kemerah-merahan.

Bibirnya menjadi merah sekali karena pergerakan-pergerakan tadi, merah membasah, segar seperti buah masak.

Sayang mata yang jeli itu kini membayangkan rasa duka.

Si pemuda yang melatih ilmu silat, berdiri bengong.

Bagaikan terkena hikmat luar biasa, ia berdiri terpesona menatap wajah si gadis yang tertimpa sinar matahari pagi, wajah yang pada saat itu demikian elok dan jelita seperti wajah bidadari.

Si gadis menengok, bertemu pandang.

Cepat si pemuda menundukkan kepalanya.

"Eh, Sin-ko (kakak Sin)! Apa-apaan kau berdiri seperti patung di situ? Kau tentu kecewa, ya? Memang otakku bebal, gerakan Heng-pai Kwan-im (Memuja Kwan Im Dengan Tangan Miring) tadi bagiku amat sukar, Sin-ko."

Pemuda itu bukan lain adalah Cia Han Sin, sudah dapat menenteramkan hatinya. Ia mengangkat muka, memandang kepada Bi Eng tenang-tenang. Keningnya agak berkerut.

"Bi Eng, adikku. Sebetulnya tidak ada barang sukar di dunia ini. Tergantung seluruhnya dari pada besar kecilnya kemauan kita. Gerakan kaki dan tanganmu sudah tepat, pengaturan tenaga dan napas juga sudah cocok sebagaimana mestinya. Akan tetapi, sayang sekali perhatianmu kurang tercurah dalam gerakan itu. Ketahuilah, adikku. Seperti juga dalam mengerjakan sesuatu, di dalam ilmu silatpun harus dipergunakan pencurahan pikiran ditujukan bulat-bulat kepada gerakan yang dilakukan (konsentrasi). Karena hanya dengan konsentrasi ini, kita akan dapat melihat setiap perubahan gerakan lawan dan dapat mengatur perkembangan gerakan kita sendiri."

Bi Eng tertawa.

Gadis ini memang riang gembira sifatnya.

Biarpun tadi matanya membayangkan kedukaan, namun sekarang begitu giginya yang putih berderet rapi itu terlihat dalam ketawanya, lenyaplah segala awan mendung.

Cahaya matahari seakan-akan menjadi lebih gemilang.

Dengan lagak manja Bi Eng menyambar tangan Han Sin dan menariknya duduk di sampingnya, di atas bangku.

"Duduklah, Sin-ko, jadi enak kita mengobrol. Kau berdiri marah-marah seperti seorang guru yang galak terhadap muridnya yang tolol!"

Mau tidak mau Han Sin tertawa juga.

Kegembiraan Bi Eng selalu menjadi sinar dalam pondok mereka, menjadi cahaya terang dalam kesunyian di puncak Gunung Min-san, menjadi cahaya yang selalu bersinar-sinar di dalam lubuk hatinya!

"Eh, Sin-ko.

Kau ini sekarang seperti dewa saja.

Bagaimana kau bisa menyelami pikiranku?

Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku tidak mencurahkan seluruh perhatian dan pikiran ke dalam gerakan tadi padahal menurut kau sendiri, kaki tangan, tenaga dan napas yang kupergunakan sudah tepat!"

"Pandang matamu yang membuka rahasiamu, Eng-moi."

"Pandang mataku? Ada apanya sih yang aneh?"

Gadis itu menengok menatap wajah kakaknya. Muka mereka berdekatan, hati Han Sin kembali berdebar-debar aneh. Cepat-cepat ia memalingkan muka.

"Pandang matamu membayangkan sesuatu yang menyatakan bahwa di dalam pikiranmu kau mengkhawatirkan sesuatu, membuat kau gelisah dan tak dapat mencurahkan seluruh perhatian ke dalam pelajaran tadi. Ilmu Silat Thian-po Cin-keng yang terdiri dari tiga bagian kali tiga puluh enam jurus adalah ilmu silat yang gerakan-gerakannya selalu disesuaikan dengan batin. Karena itu tidak mudah dipelajari. Aku hanya ingin menurunkan tiga jurus saja kepadamu. Yang tiga ini, Heng-pai Kwan-im, Jip-hai-siu-to, dan Ci-po-thian-keng, biarpun hanya tiga macam, akan tetapi sekali kau dapat menguasainya dengan sempurna sukarlah kau dikalahkan orang. Akan tetapi...., sudahlah soal itu, aku hanya ingin tahu kenapa kau agaknya mengkhawatirkan dan menyusahkan sesuatu, adikku?"

Sinar kekaguman terpancar keluar dari pandang mata Bi Eng.

"Kau memang hebat, Sin-ko. Alangkah bangga hatiku mempunyai kakak seperti kau! Eh, dewa yang bijaksana, setelah kau ketahui keadaan pikiranku, tentu kau tahu pula akan isi hatiku!"

Han Sin menggeleng kepalanya.

"Mana aku bisa tahu apa yang terkandung dalam hatimu?"

Biarpun mulutnya berkata demikian, hati pemuda ini mengeluh.

"Aduhai Bi Eng, kaupun mana bisa tahu akan isi hatiku? Mana kau tahu bahwa kita ini bukan saudara kandung bukan sanak bukan kadang, dan mana kau tahu bahwa aku.... aku cinta padamu?"

Bi Eng mengerut. Bibirnya diruncingkan matanya mengerling, pura-pura marah.

"Kau tentu bisa menerka. Kalau kau tidak mau menerka, aku akan marah, Sin-ko!"

Han Sin tersenyum. Senang melihat kalau "adiknya"

Ini sudah mengambul dan bermanja seperti itu.

"Baiklah, akan kucoba. Eng-moi, bukankah selama kita berdiam lebih dari tiga bulan di atas gunung ini, hatimu selalu terkenang kepada tempat-tempat jauh di bawah sana? Bukankah hatimu selalu hendak mengajak aku turun gunung seperti dulu lagi? Itukah agaknya yang selalu mengganggumu dalam gerakan ilmu silat."

Aneh!

Tiba-tiba Bi Eng menubruk Han Sin, menyandarkan kepala dengan rambut yang hitam halus harum itu di atas dada kakaknya, dan menangis!

Akan tetapi keanehan sikap Bi Eng ini masih tidak seaneh sikap Han Sin bagi Bi Eng.

Gadis itu merasa betapa Han Sin mendekapnya, seakan-akan kakaknya itu hendak berusaha memasukkan kepalanya ke dalam dada kakaknya!

Erat-erat dan menggigil kedua tangan kakaknya itu memeluknya dan Bi Eng merasa betapa muka kakaknya dengan panas disembunyikan ke dalam rambutnya.

Tentu saja hal ini terasa aneh sekali bagi Bi Eng.

Gadis ini menggerakkan kepalanya, menoleh ke arah muka Han Sin yang tadi dibenamkan ke dalam rambut yang gemuk itu.

Seperti baru sadar dari mimpi, Han Sin mengeluarkan keluhan aneh, melepaskan pelukannya, melangkah mundur membuang muka tak berani menentang pandang mata Bi Eng.

Gadis itu melihat betapa wajah kakaknya pucat sekali dan betapa dua titik air mata membasahi pelupuk mata Han Sin.

Timbul kasihan di dalam hati Bi Eng, ia mengira bahwa kakaknya itu menangis dan bersikap seaneh itu karena tadi terharu melihatnya.

Ia melangkah maju dan memegang tangan kakaknya yang terasa dingin dan gemetar.

"Sin-ko, maafkan aku.... aku hanya membuat kau susah saja. Tidak, Sin-ko. Aku takkan rewel lagi. Aku takkan mengajak kau turun gunung selama kau belum menghendakinya. Aku akan belajar lebih rajin lagi. Sin-ko, jangan kau marah padaku, ya?"

Sikap manja kekanak-kanakan ini membuyarkan semua ketegangan di hati Han Sin. la kini dapat menatap wajah adiknya lagi, dan mukanya menjadi merah sekali.

"Eng-moi, tentu akan tiba saatnya kita turun gunung. Karena akupun ingin mencari Siauw-ong, monyet kita yang hilang tak karuan di mana adanya itu. Kukira dia tentu masih berada di sekitar Lu-liang-san, di sebuah hutan yang banyak monyetnya. Akan tetapi, selain rindu kepada Siauw-ong, aku tidak ingin mencari siapapun juga...."

Ia berhenti sebentar, kemudian dengan pandang mata penuh selidik dan tajam sekali sampai membuat Bi Eng berdenyut takut, ia bertanya.

"Mungkin kau ingin turun karena sudah rindu sekali kepada......kepada teman-temanmu.....?"

"Sin-ko, kau ini aneh benar! Siapa sih temanku di dunia ini selain kau sendiri dan Siauw-ong?"

Masih saja wajah Han Sin memperlihatkan sikap penuh selidik dan aneh.

"Apa.....apa kau tidak ingin bertemu dengan.... dengan Yong Tee? Bukankah dia sahabat baikmu?"

Bi Eng membelalakkan matanya.

Ia heran sekali melihat sikap Han Sin yang tidak sewajarnya dan tidak seperti biasanya ini, dan dia sebetulnya masih terlalu bodoh untuk dapat menduga apa sebabnya maka Han Sin berhal demikian.

Namun perasaan wanitanya yang halus seakan-akan mengerti bahwa Han Sin tak senang kalau dia bersahabat baik dengan pangeran itu, atau bahkan dengan orang-orang lain atau tepatnya dengan laki-laki lain!!

Cemburu!!

Tentu saja belum sampai pengertian Bi Eng untuk menyangka bahwa Han Sin cemburu seperti layaknya seorang pria mencemburukan wanita pilihannya!

"Sin-ko!

Kau ini bagaimana sih?

Yong Tee adalah kakak angkatmu, dengan sendirinya diapun menjadi kakak angkatku.

Dan sikapku terhadapnya tak lebih tak kurang hanya seperti seorang adik, demikianpun dia memperlakukan aku sebagai seorang adiknya!"

Akan tetapi jawaban ini masih belum mengubah sikap Han Sin yang aneh.

"Bagaimana hubunganmu dengan.... Yan Bu? Bukankah dia amat baik padamu dan kau memuji-mujinya?"

Bi Eng makin merasa heran.

Kakaknya hari ini benar-benar aneh!

"Dia memang orang baik, seorang gagah perkasa dan pernah menolongku.

Akan tetapi bagiku, hanya habis sampai di situ sajalah.

Tentu saja kalau dapat bertemu dengan dia sebagai seorang teman kita yang baik, kita akan menjadi girang.

Akan tetapi, aku tidak akan mencari-carinya....dan....

eh, Sin-ko, kau kenapakah?

Hari ini sikapmu kok luar biasa.

Tadi seperti guru galak, lalu baru saja ketika aku menangis kau seperti....

seperti...."

"Seperti apa.....?? Gadis itu berpikir keras, namun tak dapat memecahkan persoalan itu, hanya menggeleng kepala.

"Seperti entahlah, pendeknya aneh sekali! Dan sekarang, kau seperti hakim saja!"

Sikap aneh tadi lenyap dari muka Han Sin. Ia sudah dapat tersenyum lagi.

"Jangan marah, adikku yang baik. Aku tadi hanya main-main saja. Sssttt, dengar. Ada orang datang......!"

Pendengaran Bi Eng sudah amat tajam walaupun tidak setajam Han Sin.

Setelah mencurahkan perhatian, barulah ia dapat mendengar langkah kaki orang yang mendaki puncak itu.

Mereka terheran karena langkah kaki ini menunjukkan bahwa yang datang bukanlah seorang ahli silat, kalaupun ada kepandaiannya, namun kepandaian orang yang datang ini tidak berarti.

Han Sin dan Bi Eng sudah berlari keluar dari taman, kini berdiri menanti di depan rumah mereka, rumah peninggalan orang tua mereka.

Siapakah yang datang di tempat sunyi ini?

Langkah kaki yang kelelahan makin terdengar dekat.

Batu terakhir yang banyak mengelilingi puncak itu dipanjat orang dan muncullah kepala seorang pemuda tampan berpakaian sederhana.

"Dia....??"

Berubah wajah Han Sin ketika ia mengenal orang ini.

Wajah Bi Eng berseri, tapi hanya sebentar saja.

Ketika ia mengerling kepada Han Sin, segera ia mengerutkan kening.

Kakaknya nampak tak senang, bahkan kelihatan marah-marah.

Dengan tindakan cepat Han Sin menghampiri pemuda yang baru datang itu.

Bi Eng cepat menyusulnya.

"Mau apa kau datang ke sini? Muslihat busuk apakah yang akan kaulakukan? Pergi!"

Seru Han Sin marah.

Pemuda itu menarik napas panjang dan memandang dengan muka sedih.

Sejak tadi Bi Eng melihat bahwa orang yang datang ini diliputi kedukaan besar.

la merasa kasihan, lalu memegang lengan kakaknya dan berkata kepada orang itu.

"Yong-ko (kakak Yong), maafkan kalau kami tidak dapat menyambut sebagaimana mestinya. Ada keperluan apakah Yong-ko mendatangi tempat kami yang sunyi?"

Kembali orang itu yang bukan lain adalah Yong Tee, pangeran dari Kerajaan Mancu, menarik napas panjang.

"Terima kasih atas sikapmu yang baik, siauw-moi. Sayang sekali gi-te (adik angkat) nampaknya masih membenci aku, sehingga agaknya perjalananku yang amat jauh dan susah payah ini akan tersia-sia, harapanku akan musnah dalam hidupku akan hancur...."

Dan tiba-tiba pangeran yang biasanya amat cerdik, amat tenang dan dapat menguasai segala hal itu menjatuhkan diri di atas tanah dan......

menangis!

Bukan main terharunya hati Bi Eng.

Ingin ia menghiburnya, akan tetapi ia merasa tidak enak dan takut kepada Han Sin.

Adapun Han Sin yang menyaksikan sikap pangeran ini, heran sekali.

la sudah mengenal baik-baik watak Yong Tee, tahu bahwa kalau tidak ada hal yang amat hebat, tak mungkin pangeran itu akan memperlihatkan sikap seperti ini, demikian lemahnya.

Tergerak hatinya, tetapi, keangkuhannya mengekangnya.

Bagaimana ia bisa bersikap manis terhadap seorang pangeran dari kerajaan yang menjajah nusa bangsanya?

Untuk menutupi keharuan hatinya melihat bekas saudara angkat yang dahulu amat dipandang tinggi dan dikasihinya, Han Sin membentak.

"Seorang laki-laki boleh mengeluarkan peluh dan darah, pantang mengeluarkan air mata! Kau datang mau apakah? Harap segera terangkan, atau tinggalkan kita!"

Diam-diam rasa cemburu timbul lagi dalam dada Han Sin.

Harus ia akui bahwa pangeran ini amat tampan, halus tutur sapanya, baik budinya, dan mempunyai kepandaian yang amat luas.

Benar-benar seorang pemuda yang menjadi harapan tiap orang gadis, tentu saja termasuk Bi Eng!

Agaknya perasaan cemburu inilah yang mempertebal rasa bencinya terhadap pangeran Bangsa Mancu ini.

Mendengar ucapan Han Sin itu, pangeran Yong Tee memaksa tersenyum masam.

"Kau betul sekali, Cia-gite. Kau adalah jauh lebih gagah dari pada aku. Aku lemah sekali....... kali ini terpaksa kuakui betapa lemahnya aku...... Cia-te, aku datang untuk memohon pertolonganmu."

"Kau adalah seorang Pangeran Mancu, bagaimana bisa minta pertolonganku? Aku adalah musuh kerajaanmu, mengerti? Kedudukan kita menempatkan kita berhadapan sebagai musuh, tak mungkin menjajarkan kita sebagai teman atau saudara."

"Saudaraku, ucapanmu lagi-lagi tepat sekali. Akan tetapi kali ini, aku minta pertolonganmu karena urusan pribadi, sama sekali tidak menyangkut urusan politik dan negara....."

Melihat sikap Han Sin masih bersikeras, dan kasihan melihat sikap pangeran itu yang tak segan-segan merendahkan diri dan agaknya amat berduka, Bi Eng lalu berkata.

"Sin-ko selalu bersiap sedia menolong siapapun juga tanpa memilih bulu, asal saja pertolongan yang dibutuhkan tidak menyimpang dari pada kebenaran. Saudara Yong, katakanlah, apa gerangan yang menyusahkanmu?"

Yong Tee memandang kepada gadis itu dengan berterima kasih.

Kemudian ia bercerita tentang keadaan di kota raja yang sudah banyak mengalami perubahan semenjak Han Sin dan Bi Eng meninggalkannya.

Ringkasan cerita Pangeran Yong Tee adalah sebagai berikut.

Seperti telah diketahui, penyerbuan Bangsa Mancu ke daerah Tiongkok, mendapat bantuan pula dari bangsa-bangsa lain di utara, di antaranya yang paling berjasa adalah Bangsa Mongol.

Karena itulah nama besar Raja Muda Bhok Hong atau di dunia kang-ouw lebih terkenal dengan sebutan Pak-thian-tok (Racun Dunia Utara), yaitu seorang pangeran Bangsa Mongol, bersama puteranya yang bernama Bhok Kian Teng, lebih terkenal dengan sebutan Bhok-kongcu dan sebetulnya bernama Pangeran Galdan, amat terkenal dan merupakan orang-orang yang mempunyai pengaruh besar di Kerajaan Mancu.

Namun ternyata kemudian bahwa jalan politik Bangsa Mancu amat jauh bedanya dangan Bangsa Mongol.

Bangsa Mongol yang dulu pernah menjajah Tiongkok, merupakan penjajah yang kejam dan mementingkan bangsanya sendiri.

Sebaliknya, bangsa Mancu berusaha menyesuaikan diri, malah melakukan banyak kebaikan untuk rakyat jelata seperti membasmi korupsi, penyuapan, dan juga mereka ini malah menyesuaikan diri mengikuti perkembangan kebudayaan Han.

Hal ini amat mengecewakan Bangsa Mongol, di bawah pimpinan Pangeran Galdan atau Bhok-kongcu yang dibantu banyak orang pandai, juga mengandalkan nama besar dan kepandaian ayahnya, Pak-thian-tok Bhok Hong!

Apa lagi setelah pihak pemerintah Mancu muncul orang-orang seperti Pangeran Yong Tee yang selalu berusaha merintangi perbuatan sewenang-wenang dari orang-orang Mongol, pemberontakan orang Mongol tak dapat dicegah lagi!

Setelah berkali-kali mengalami perselisihan dengan pemerintahan Mancu, akhirnya Bhok-kongcu atau Pangeran Galdan membawa semua anak buah dan pembantunya, melarikan diri ke utara dan di sana dia menyusun kekuatan untuk memberontak kepada Kerajaan Mancu, untuk mengusir Bangsa Mancu dari daratan Tiongkok, bukan dengan maksud membebaskan rakyat dari pada penjajahan, malah sebaliknya, hendak melanjutkan penjajahan nenek moyangnya dahulu, yaitu Jenghis Khan yang maha besar!

"Banyak orang gagah dapat ia bujuk dan ikut pula memberontak, ikut lari ke utara,"

Demikianlah Pangeran Yong Tee melanjutkan ceritanya.

"Yang tidak mau ikut, banyak yang dibunuh, di antaranya Thio-ciangkun yang setia kepada kerajaan kami. Juga orang-orang yang ternama di kalangan kang-ouw banyak yang ikut terbujuk oleh Pangeran Galdan, malah di antaranya Hoa Hoa Cinjin ikut pula memberontak."

Pangeran itu lagi-lagi menarik napas pagjang, nampaknya berduka sekali.

"Yang lebih hebat lagi, puteri angkatnya, nona Hoa-ji....., ikut pula ke utara........"

Han Sin mengerutkan kening.

"Perduli apa dengan Hoa Hoa Cinjin? Dia manusia busuk!"

Akan tetapi Bi Eng yang lebih tajam pendengarannya dan lebih halus perasaannya, memotong.

"Sin-ko, yang disedihi Pangeran Yong bukanlah Hoa Hoa Cinjin, akan tetapi nona Hoa-ji itulah!"

Pangeran Yong Tee menarik napas panjang.

"Adik Bi Eng, memang tepat sekali ucapannya itu. Terus terang saja, aku...... aku sejak lama........ jatuh cinta kepada nona Hoa-ji, biarpun belum kulihat mukanya....... aku bodoh dan edan sekali, aku tergila-gila kepada seorang gadis yang selalu bersembunyi di balik kedoknya......"

Tadinya ia menunduk, sekarang ia mengangkat muka dan berkata.

"Demikianlah, gi-te. Aku sudah membuka rahasia hatiku yang tidak diketahui siapapun juga, bahkan ibukupun belum tahu akan rahasia hatiku ini. Aku putus asa...... aku sedih dan bingung sekali........"

Aneh dalam pandangan Bi Eng, tiba-tiba wajah Han Sin berseri, malah ia seperti melihat senyum kegembiraan membayang di balik bibir dan pandang mata kakaknya.

la mengenal benar setiap tarikan muka, setiap sinar mata atau senyum kakaknya ini.

Heran benar, mengapa kakaknya demikian gembira dan bahagia mendengar penuturan Pangeran Yong Tee?

Tentu saja nona ini tidak tahu apa yang terjadi di dalam hati Han Sin.

Memang tepat dugaannya, Han Sin merasa gembira dan berbahagia karena setan cemburu sekaligus terbang lenyap dari lubuk hatinya ketika Pangeran Yong Tee secara terus terang mengakui cintanya terhadap nona Hoa-ji, gadis bertopeng itu.

Kalau demikian, berarti pangeran yang tampan menarik ini tidak mencintai Bi Eng, hanya menyayangnya sebagai adik angkat belaka!

Maka lembutlah kata-katanya ketika ia bicara kepada pangeran itu.

"Pangeran, setelah mendengar ceritamu dan mengingat akan kebaikanmu yang dulu-dulu kepada aku dan adikku, biarlah aku sanggupi untuk mencari kekasihmu itu di utara. Akan kususul nona Hoa-ji, kulindungi dia dari pada bahaya, dan kalau mungkin akan kubawa dia pulang ke kota rajamu. Akan tetapi dengan syarat bahwa aku tidak mau mencampuri urusan pertempuran dan peperangan antara Bangsa Mancu dan Bangsa Mongol, karena itu bukan urusanku."

Bukan main girang hati Yong Tee. Dia tadiny"

Sudah putus asa, karena setelah kekasihnya itu berdiri di pihak musuh, tiada harapan pula baginya untuk melanjutkan cinta kasihnya.

Nona itu tentu akan terancam bahaya.

Untuk minta tolong orang lain, ia tentu saja harus membuka rahasia hatinya dan hal ini ia tidak inginkan.

Satu-satunya harapan baginya hanyalah pertolongan Han Sin yang ia ketahui kegagahannya.

Ia menjura.

"Gi-te, aku terharu, girang dan juga kecewa mendengar kesanggupanmu. Tentu saja aku terharu dan girang karena ternyata kau masih sudi menolongku dan terima kasih sebelumnya kuhaturkan. Akan tetapi aku kecewa karena ternyata kau sudah tidak mau mengakuiku sebagai saudara angkatmu lagi......"

"Hal itu sudah lewat, pangeran Harap jangan diulang lagi. Apakah kau mau memperingatkan aku bahwa kau mengusulkan pengangkatan saudara karena hendak menarikku ke pihak Mancu, pihak penjajah tanah airku? Tidak! Sebagai manusia secara perorangan kita memang saudara, namun sebagai bangsa, kita berlawan karena bangsamu menjajah bangsaku. Nah, selamat berpisah, pangeran. Aku dan adikku baru akan turun gunung beberapa hari lagi setelah selesai latihan-latihan kami. Mudah-mudahan saja akan dapat berhasil usahaku mencari nona Hoa-ji dan mengantarkannya kepadamu."

Menyaksikan kekerasan hati Han Sin, pangeran itu terpaksa pergi meninggalkan puncak itu dengan muka muram. Setelah tamu itu pergi tidak kelihatan lagi, Bi Eng mengomel.

"Sin-ko, kau benar-benar terlalu. Dahulu aku di istananya mendapat perlakuan baik sekali. Sekarang dia datang, secawan air teh saja kita tidak keluarkan untuknya."

"Bi Eng, rumah ini adalah peninggalan ayah....."

Ia ragu-ragu dan menelan kembali kata-kata "kita"

Di belakang kata-kata "ayah".

"Aku tidak ingin melihat arwah ayahku marah menyaksikan anaknya menjamu seorang pangeran penjajah."

Bi Eng tak berani membantah lagi.

Gadis inipun memang mempunyai watak keras dan patriotik, maka biarpun ia merasa menyesal bahwa mereka terpaksa memperlakukan Pangeran Mancu itu seperti seorang musuh, namun iapun tak dapat menyalahkan sikap Han Sin.

Selain ini, hatinya sudah penuh kegembiraan bahwa beberapa hari lagi Han Sin akan mengajak dia turun gunung!

Pergi ke dunia ramai, bertemu orang-orang, mencari Siauw-ong!

"Sin-ko, kapan kita berangkat?"

Dia sudah lupa akan hal-hal tadi, dan kini wajahnya berseri-seri. Han Sin juga tersenyum melihat kegembiraan ini.

"Kau harus berlatih dulu, setelah sempurna tiga jurus Thian-po Cinkeng itu, baru kita turun gunung."

Otomatis Bi Eng segera berlatih lagi, tanpa mengenal lelah dan bosan, dan Han Sin membantu adiknya.

Memang Han Sin ingin supaya sebelum turun gunung Bi Eng sudah memiliki tiga jurus pukulan ajaib ini sebagai bekal, karena hanya setelah tiga jurus ini dapat dimainkan dengan sempurna, Bi Eng akan dapat melindungi dirinya sendiri dengan baik.

Memang betul bahwa Bi Eng takkan mungkin terancam bahaya selama berada di sisinya, akan tetapi siapa tahu keadaan di dunia ramai?

Banyak sekali manusia jahat dan besar kemungkinan sewaktu-waktu dia sendiri takkan sempat melindungi keselamatan Bi Eng sehingga gadis ini harus memiliki jurus-jurus lihai yang akan menyelamatkan dirinya sendiri.

Tiga hari kemudian.

Malam terang bulan yang amat indah di puncak Min-san.

Bi Eng masih berlatih silat di taman.

Akhirnya Han Sin menyuruh ia berhenti.

"Hawa makin dingin, Eng-moi. Kau berhentilah, besok dilanjutkan lagi. Kau sudah maju banyak. Kalau begini terus, dua tiga hari lagi kita bisa turun gunung."

Bukan main girangnya hati Bi Eng. Ia mengaso duduk di atas bangku. Setelah berhenti bersilat, baru terasa olehnya betapa dinginnya. Ia lelah dan hawa dingin membuat ia mengantuk.

"Aku pergi tidur lebih dulu, Sin-ko. Besok bangun pagi-pagi dan berlatih lagi."

Han Sin mengangguk dan tersenyum.

Sampai lama ia memandang ke arah adiknya yang berjalan memasuki pondok mereka, tubuh langsing dengan rambut mengkilap tertimpa cahaya bulan.

Bukan main, pikirnya.

Dan dia bukan adik kandungku, bukan apa-apaku......

eh, bukan apa-apa?

Tidak, malah segala-segalanya!

Bi Eng milik satu-satunya di dunia ini.

Tanpa Bi Eng hidupnya akan hampa.

Han Sin termenung....

Bagaimana ia harus membuka semua rahasia itu?

Apa yang akan dilakukan Bi Eng bila gadis itu tahu akan rahasia ini?

Tak boleh, bantahnya.

Tak boleh aku membuka rahasia ini sebelum tahu betul siapa sebenarnya adik kandungnya yang sejati, sebelum ia tahu betul apa yang telah terjadi di saat kedua orang tuanya terbunuh.

Siapa pembunuh mereka dan penukaran-penukaran aneh apa yang terjadi atas diri bayi perempuan, adik kandungnya!

Tidak adanya Bi Eng di taman itu membuat ia serasa sunyi sekali.

Aneh, pikirnya.

Padahal Bi Eng berada di pondok itu, tidak jauh dari situ.

Begitu saja ia sudah merasa kesepian.

Apa lagi kalau Bi Eng pergi jauh meninggalkannya.

Bagaimana rasanya?

Tak berani ia membayangkannya.

Perlahan pemuda ini berdiri meninggalkan taman memasuki pondok, ke dalam kamarnya sendiri.

Agak jauh dari kamar Bi Eng.

Rumah itu cukup besar, banyak kamarnya dan ia sengaja memakai kamar yang berjauhan dengan kamar Bi Eng.

Tergoda oleh asmara, Han Sin takut akan dirinya sendiri!

Han Sin tak dapat tidur.

Sudah lama tiap malam sukar ia meramkan matanya.

Pikirannya selalu melayang, tentu saja penuh bayangan Bi Eng yang kadang-kadang membuat ia berduka, kadang-kadang membuat ia tersenyum-senyum dalam tidurnya.

Lampu belum dipadamkannya.

Tiba-tiba seluruh panca inderanya tegang.

Ada suara dari jendelanya.

Orang jahatkah?

Ataukah Pangeran Yong Tee.........?

Hatinya berdebar.

Bagaimanapun juga, pangeran itu adalah Pangeran Mancu.

Siapa tahu kalau-kalau kedatangannya tiga hari yang lalu hanya sebagai penyelidikan dan kini datang kaki tangannya yang hendak berlaku jahat?

Diam-diam ia tersenyum mengejek.

Dia tidak takut.

Biarlah penjahat itu masuk!

TANPA bangun dari ranjangnya, Han Sin melirik ke arah jendela.

la kagum juga karena tanpa mengeluarkan suara berisik, jendela itu dibuka orang dari luar.

Agaknya dengan tenaga dorongan yang disertai lweekang cukup tinggi.

Tiba-tiba ia membelalakkan matanya.

Sebuah lengan, terbungkus lengan baju sampai di bawah siku, kelihatan.

Lengan tangan yang halus putih kulitnya, runcing mungil jari-jari tangannya, lengan tangan wanita!

Tiba-tiba tangan itu lenyap dan daun jendela terbuka lebar, lalu disusul berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di dalam kamarnya telah berdiri seorang wanita!

Wanita yang amat aneh, pakaiannya sederhana dengan potongan yang asing baginya.

Pakaian itu membungkus tubuh dengan ketat, memperlihatkan bentuk tubuh yang amat indah.

Tubuh seorang gadis muda, seperti Bi Eng.

Akan tetapi muka dan kepala tertutup kain pembungkus yang terbuat dari pada sutera tebal, yang membungkus semua tubuh bagian atas, dari kepala, muka dan leher!

Hanya di bagian matanya saja tidak tertutup kain kepala itu, memperlihatkan sepasang mata yang luar biasa, bening seperti mata burung hong.

Kini sepasang mata itu menyambar ke arahnya.

Han Sin serentak bangkit dan duduk.

la maklum bahwa wanita ini, siapapun juga dia, bukanlah orang sembarangan.

Di pinggangnya tergantung sebatang pedang, di sebelah kiri tergantung sebuah kantong dan tampak gagang-gagang hui-to (golok terbang) tersembul dari kantong.

Di punggungnya tergantung sebuah gendewa berikut beberapa batang anak panah!

Lengkap benar persenjataannya, seperti panglima wanita hendak maju perang!

Dua pasang mata bertemu.

Han Sin terheran-heran dan bingung karena tidak tahu harus berkata apa.

Wanita ini memandang dengan tajam, seolah-olah pandang mata itu hendak menembus dada Han Sin.

Kemudian terdengar suaranya, halus merdu tapi ketus.

Kain penutup kepala dan muka di bagian bibirnya bergerak-gerak.

"Kau yang bernama Cia Han Sin putera Cia Sun?"

Han Sin tersenyum, lalu berdiri dan menjura. Lagi-lagi seorang pengenal mendiang ayahnya, pikirnya. Kalau bukan bekas kawan ayahnya tentulah musuh baru baginya.

"Betul, aku bernama Cia Han Sin dan mendiang ayahku Cia Sun. Kau siapakah dan apa keperluanmu datang malam-malam? Bicaramu seperti seorang Bangsa Hui....."

Tiba-tiba Han Sin teringat akan Balita, Puteri Hui yang katanya menjadi musuh ayahnya.

"Ada hubungan apa kau dengan Balita?"

"Sraaattt!"

Wanita itu mencabut pedangnya yang gemerlapan di bawah sinar lampu. Han Sin tetap tenang, malah kini ia duduk kembali ke atas pembaringannya.

"Cia Han Sin, sebelum kau mati di tanganku, ketahuilah lebih dahulu agar rohmu tidak penasaran. Aku bernama Tilana, aku puteri dari wanita yang kau sebut namanya tadi. Balita adalah ibuku dan kedatanganku ini bukan lain hendak membalaskan dendam ibuku, hendak mengambil nyawamu."

Han Sin tersenyum.

"Kau dan aku tak pernah saling bertemu, tidak pernah ada permusuhan apa-apa, kenapa kau datang-datang hendak membunuhku? Urusan lama antara ibumu dan ayahku sudah habis karena ayah sudah meninggal dunia, kenapa kau dan aku harus pula ikut-ikut melanjutkan permusuhan?"

Kemudian Han Sin teringat akan pesanan uwak Lui tentang orang yang bernama Balita itu, maka ia sengaja memancing.

"Pula, urusan hebat apa sih. yang membuat ibumu itu masih terus mendendam terhadap ayahku yang sudah meninggal?"

Melihat sikap tenang-tenang saja dari pemuda yang gagah dan tampan di depannya itu, gadis berkerudung menjadi tercengang juga.

Mana ada orang mau dibunuh bersikap tenang-tenang dan enak-enakan seperti ini, malah mengajaknya mengobrol?

"Ayahmu telah menghina ibuku!

Karena aku tidak dapat membalas kepada ayahmu, aku akan bunuh kau sebagai puteranya!

Ayahnya tukang menghina wanita anaknyapun takkan banyak bedanya!"

Suara wanita ini benar-benar halus merdu, biarpun ketus sekali, namun harus diakui oleh Han Sin bahwa suaranya amat merdu dan bicaranya dengan dialek Hui itu amat enak didengar, lucu pula.

"Aiihh...... aiihh....., kau menuduh sembarangan saja. Baik ayah maupun aku bukanlah sembarang laki-laki yang suka menghina wanita. Kau ini seorang wanita yang begini cantik jelita, kenapa berhati kejam, hendak membunuh orang? Sayang..........."

"Setan! Mulutmu saja sudah kurang ajar!"

"Lhoh! Kenapa kurang ajar?"

"Kau bilang aku cantik segala........."

"Eh, eh! Apakah memuji kecantikan berarti kurang ajar?"

"Melihat mukakupun belum, bagaimana kau bisa bilang cantik segala? Apa lagi kalau bukan karena kau hendak kurang ajar?"

"Waduh, waduh...... galak amat kau! Mudah saja menduga bahwa kau cantik jelita. Seorang gadis dengan bentuk tubuh seperti kau, dengan suara halus merdu, dengan sepasang mata seperti itu, bisa lain tentulah cantik jelita. Biarlah kita bertaruh. Kau buka kerudungmu itu, Kalau kau betul-betul cantik jelita, berarti kau kalah dan sudahlah, kau boleh pergi dari sini dengan damai, tak perlu kita bermusuhan. Sebaliknya, kalau dugaanku keliru, kalau kau bermuka buruk, biar aku menghaturkan maaf kepadamu dan boleh kaupukul mukaku tiga kali!"

"Keparat! Setan!!"

Wanita itu memaki, sepasang matanya berkilat-kilat.

"Siapa juga, terutama kalau dia laki-laki, yang berani membuka kerudungku, aku akan membunuhnya sampai tujuh kali!"

Mau tak mau Han Sin bergidik mendengar ini. Ucapan itu bukan main-main, apa lagi sepasang mata itu menyatakan betapa ucapan ini keluar dari hati, bukan gertak sambal belaka.

"Hemm, nona Tilana. Lebih baik kau pulang saja kepada ibumu dan katakan bahwa aku akan menghabisi permusuhan lama, asal saja bukan ibumu yang membunuh ayah bundaku. Aku masih harus menyelidiki akan hal ini."

"Manusia sombong, jangan banyak cakap. Keluarkan senjatamu!"

"Bukan aku yang ingin berkelahi, kau yang ingin berkelahi yang selalu membawa-bawa senjata memasuki kamar orang, dan......."

"Setan!"

Tilana, gadis berkerudung itu lalu menubruk sambil berseru.

"Lihat pedang!"

Han Sin dengan mudah dan tenang mengelak.

la melihat betapa gerakan gadis ini bukan main cepat dan kuatnya, bahkan setingkat lebih kuat dan lebih cepat dari pada Bi Eng sendiri!

Diam-diam ia merasa kagum dan merasa sayang kalau gadis selihai ini sampai tersesat.

Ia tidak tega melukainya.

Ayahnya dulu pernah bentrok dengan Balita, puteri Bangsa Hui.

Sekarang adalah kewajibannya untuk menghabiskan permusuhan itu dan sekali-kali ia tidak boleh melukai gadis puteri Balita ini.

Tilana menjadi penasaran sekali.

Di daerahnya, selain ibunya sendiri yang sudah hampir setingkat dengannya, tak ada orang lain mampu menghadapi serangan-serangan pedangnya.

Akan tetapi pemuda ini, pemuda yang terlalu lemah lembut, terlalu tampan, terlalu pandai bicara manis, yang tersenyum-senyum dan terlalu tenang ini, dengan tangan kosong menghadapi serangan-serangannya dan selalu dapat mengelak.

"Kau lihai....... kau galak.......!"

Han Sin sengaja menggoda.

Pemuda ini pada hakekatnya memang berwatak romantis, maka kini menghadapi gadis galak, otomatis timbullah watak nakalnya yang hendak menggodanya tanpa disertai maksud-maksud tidak sopan.

Ia sekarang malah duduk di atas bangku, membelakangi gadis itu dan tangannya merayap ke meja mencari kuweh kering yang lalu dimakannya.

Sama sekali ia tidak memperdulikan gadis itu yang hendak menyerangnya dari belakang.

Tilana gemas sekali.

"Mampus kau kali ini!"

Bentaknya sambil menusukkan pedangnya dari belakang.

Agak gemetar tangannya ketika melihat pemuda itu sama sekali tidak mengelak.

Ujung pedangnya hampir menyentuh punggung dan........

eh, tahu-tahu pemuda itu sudah "melayang"

Ke atas meja tanpa menggerakkan, kaki tangannya.

Tahu-tahu seperti dipindahkan oleh tangan tak terlihat, tubuhnya sudah berpindah, sudah duduk di atas meja.

Sebelah tangannya masih memegangi kuweh kering yang digigitnya.

Tilana menggigit bibir.

Bagaikan kilat pedangnya menyerampang, membabat pinggang pemuda itu.

Seperti tadi, tubuh pemuda itu hilang dan tahu-tahu sudah berada di atas pembaringan, kini rebah terlentang dengan mata dimeramkan!

Tilana menjadi pucat.

Belum pernah ia menyaksikan hal seperti ini.

Setankah pemuda ini?

Dalam kemarahannya, gadis ini yang menganggap gendewanya menjadi perintang, melepaskan gendewa dan anak panah, melemparkannya di atas meja.

Kemudian sambil mencekal gagang pedang erat-erat, ia menubruk maju dan menikam.

"Capppp.......!"

Pedangnya menusuk kasur sampai tembus!

Sebelum hilang kagetnya, gadis ini merasa tubuhnya lemas dan tanpa dapat dicegah lagi ia terguling ke atas pembaringan yang sudah kosong, jatuh terlentang.

la melihat pemuda itu sambil tersenyum sudah berdiri di pinggir pembaringan dan tangan kanan pemuda itu bergerak ke arah mukanya.

Tilana menjadi kaget setengah mati, tak terasa pula menjerit lirih penuh ketakutan.

"Jangan..... jangan ohh...... jangan.......!"

Han Sin menjadi gemas sekali. Dia dikira orang macam apakah? Gadis ini benar-benar keterlaluan, menyangka yang bukan-bukan kepadanya.

"Bodoh! Kau sangka aku orang macam apa? Aku hanya akan membuka kerudungmu, hendak kulihat macam apa muka orang yang galak dan suka salah sangka.....!"

Tangannya bergerak dan sekali renggut saja terbukalah kerudung yang menutupi muka gadis itu.

Han Sin ternganga, berdiri seperti patung.

Bukan main cantiknya muka gadis ini, jauh melampui semua dugaannya.

Mata yang tadi sudah nampak indah seperti mata burung hong itu kini nampak lebih hebat lagi.

Hidung yang mancung, bibir yang.....

ah, bukan main cantik dan manisnya.

Kulit muka yang sering kali tertutup itu halus sekali.

Rambutnya panjang menutupi kedua telinga yang terhias anting-anting besar dari emas murni.

Hanya sebentar ia melihat muka luar biasa cantiknya itu karena gadis itu segera bangun, duduk di atas pembaringan dan menutupi muka dengan kedua tangannya, menangis terisak-isak sedih sekali......!

Han Sin termangu-mangu.

"Ah....... kau maafkan aku, nona....... maafkan aku sebesar-besarnya. Kalau perlu, kaugamparlah mukaku. Aku...... aku bukan bermaksud jahat, sungguh mati aku hanya ingin melihat muka orang yang datang hendak membunuhku......"

Mata yang indah menarik itu kelihatan ketika kedua tangan diturunkan.

Mata yang penuh air mata, tapi malah nampak makin indah seakan-akan terhias butiran-butiran mutiara, kini memandang kepadanya dengan sinarnya yang sukar ia gambarkan.

"Kau....... kau betul-betul tidak...... tidak bermaksud menghinaku.....? Kau.... kau tidak bermaksud menghina.......?"

Tilana bertanya, suaranya gemetar, malah tanpa disadarinya ucapan ini dilakukan setengahnya dalam Bahasa Hui.

Baiknya Han Sin sudah, mempelajari bahasa ini, maka untuk menyenangkan hati gadis Hui itu, iapun menjawab ke dalam Bahasa Hui sambil tersenyum.

"Tentu saja tidak. Aku bukanlah laki-laki yang suka menghina kaum wanita....."

Terbelalak mata indah itu yang masih berlinang air mata, bibir yang mungil itu terbuka sedikit.

"Kau.... kau bisa berbahasa Hui.......?"

Han Sin mengangguk sambil tersenyum.

"Pernah aku mempelajarinya......."

Aneh sekali, gadis itu kini memandangnya penuh selidik, dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi sampai berkali-kali, kemudian berhenti pada mata Han Sin.

Dua pasang mata bertemu pandang.

Han Sin terheran-heran karena melihat pandang mata itu kini menjadi aneh, penuh kemesraan yang membuat ia bergidik.

Tiba-tiba, ia benar-benar merasa bulu tengkuknya berdiri ketika gadis itu dengan sedu-sedan menubruknya, memeluknya.

Ketika dengan bingung ia mencium bau semerbak harum yang amat aneh dari rambut gadis itu, barulah Han Sin tersadar dan cepat-cepat ia menolak pundak gadis itu perlahan-lahan.

Tilana lalu menjatuhkan diri berlutut, memeluk kedua kaki Han Sin, bahkan lalu mencium ujung kaki pemuda itu!

"No......

nona......, nona Tilana...."

Sukar sekali Han Sin mengeluarkan suara seakan-akan lehernya tercekik sesuatu.

"Apa....... apa artinya ini.......?"

Tilana mengangkat mukanya dalam keadaan berlutut ia memandang ke atas dengan muka berseri dan mata penuh cinta kasih!

"Kanda.......

kanda Cia Han Sin......

artinya......

artinya bahwa aku menyerahkan jiwa ragaku kepadamu.....

aku isterimu yang bodoh, yang buruk tapi yang setia kepadamu........!"

Kalau pada saat itu ada kilat menyambar kepalanya, belum tentu Han Sin akan menjadi begitu kaget seperti setelah mendengar kata-kata ini.

la mencelat ke tengah kamarnya tanpa disadarinya.

Kemudian ia menekan batinnya yang berdebar-debar tidak karuan, memaksa diri berlaku tenang.

Agaknya gadis cantik berotak miring yang memasuki kamarnya ini.

Han Sin memasang muka keren, lalu bersedakap sambil berkata.

"Nona Tilana, jangan kau main-main di sini. Kuanggap kata-katamu tadi main-main belaka. Sudahlah, kuminta kau keluar dari sini dan jangan mengganggu aku lagi!"

Heran sekali.

Tiba-tiba Tilana menjadi pucat bagaikan mayat.

Gadis ini berdiri dengan tubuh limbung.

Baca Juga: Mutiara Hitam 7

Baca Juga: Petualang Asmara 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert