Eps 9 Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.
Dengan mata basah Tiong Lee Cin-jin merangkul dua orang gadis itu dan sejenak mereka bertiga tenggelam ke dalam keharuan den kesedihan mengingat akan keadaan mereka yang terpisah-pisah.
"Engkau...... adik atau kakakku......?"
Ang Hwa Sian-li kini saling berpelukan dan berciuman dengan Pek Hong Nio-cu.
"Siang In, engkau yang muda karena Moguhai lahir lebih dulu,"
Kata Tiong Lee Cin-jin. Mereka tenggelam ke dalam keharuan dan kesedihan, akan tetapi juga pada dasarnya merasa bahagia.
"Sekarang bagaimana setelah kami mengetahui rahasia ini, ayah?"
Tanya Pek Hong Nio-cu sambil memegangi tangan kanan Tiong Lee Cin-jin.
"Apakah kami harus membuka rahasia ini kepada ayah tiri kami?"
Sambung Ang Hwa Sian-li, memegangi tangan kiri ayahnya.
"Untuk menjawab itu, aku ingin bertanya dulu kepada kalian yang harus dijawab sejujurnya. Moguhai, apakah Raja Kin dan keluarga di istana menyayangmu?"
Pek Hong Nio-cu mengangguk.
"Mereke semua menyayang saya, ayah. Bahkan Raja amat menyayang saya."
"Bagus! Dan bagaimana dengan engkau, Siang In. Apakah Thio Ki dan Miyana menyayangmu?"
"Mereka amat sayang kepadaku, ayah."
"Nah, kalau begitu, biarkanlah keadaan seperti itu. Kalau kalian membuka rahasia ini, mungkin akan timbul akibat-akibat yang tidak enak dan tidak baik. Kalian dapat berhubungan seperti sahabat, dapat saling mengunjungi dan tentu saja kalau kalian saling mengunjungi, ibu kalian akan mengenal kalian sebagai saudara kembar. Agar kesamaan kalian tidak terlalu menyolok, tetaplah kalian berpakaian seperti ciri khas kalian sekarang. Rahasia ini hanya diketahui oleh ibu kalian masing-masing, dan oleh kita bertiga. Jangan ada orang lain yang mengetahuinya."
"Baik, ayah,"
Kata mereka berbareng.
"Dan jangan panggil ayah kepadaku. Panggil saja Paman Sie, karena namaku memang dahulu Sie Tiong Lee. Akan tetapi dalam hati aku tetap ayah kalian dan kelak aku ingin menurunkan beberapa ilmu lagi kepada kalian secara bergiliran. Sekarang, mari kita keluar dari hutan menemui Thian Liong. Dia tentu sudah menunggu kita."
Mereka semua bangkit berdiri.
"Eh, nanti dulu!"
Kata Ang Hwa Sian-li sambil tertawa cekikikan dan membuka buntalan pakaiannya mengeluarkan sepasang pakaian serba hijau persis seperti yang dipakainya karena memang yang diambilnya itu pakaian penggantinya.
"Nah, kau pakai ini, Pek Hong,"
Kata Ang Hwa Sian-li.
"Untuk apa, Ang Hwa?"
Tanya Pek Hong Nio-cu.
"Ha-ha, bagus sekali itu!"
Tiba-tiba Tiong Lee Cin-jin tertawa.
"Bagus sekali kalau aku memberimu nama baru, menggunakan nama julukan kalian. Moguhai kuberi nama Sie Pek Hong dan Thio Siang In kuberi nama Sie Ang Hwa!"
Ketiganya tertawa senang.
"Ang Hwa, untuk apa aku harus memakai pakaian yang sama denganmu? Bukankah ayah...... eh, Paman Sie tadi mengatakan agar kita memakai pakaian kita sendiri agar persamaan antara kita tidak sangat menyolok?"
"Aku ingin menggoda Thian Liong dan melihat apakah dia dapat mengenal kita,"
Kata Ang Hwa.
Pek Hong tertawa cekikikan dan iapun setuju, lalu dipakainya pakaian itu.
Gelung rambutnyapun diubah dan dengan bantuan Ang Hwa, sebentar saja di situ ada dua Ang Hwa Sian-li!
Tiong Lee Cin-jin hanya menggeleng geleng kepala sambil tersenyum.
Anak anaknya ini menjadi dua orang gadis yang cantik jelita, gagah perkasa, juga lincah jenaka.
Souw Thian Liong masih duduk melamun ketika mereka bertiga menghampiri dari belakang.
Mendengar langkah mereka, dia bangkit berdiri, memutar tubuh dan......
menjadi bengong karena di depannya berdiri dua orang Ang Hwa Sian-li.
Wajahnya persis, pakaiannya sama, bentuk rambutpun serupa, masing-masing memakai bunga mawar merah di rambutnya dan keduanya tersenyum manis kepadanya!
Dia menjadi bengong dan heran.
Tiong Lee Cin-jin tersenyum.
"Thian Liong, kami hanya ingin mengujimu, apakah engkau dapat mengenal yang mana Ang Hwa Sian-li yang aseli dan yang mana Pek Hong Nio-cu?"
Thian Liong tersenyum dan mnghampiri.
Tentu saja dia tahu karena dia masih ingat.
Yang mempunyai tahi lalat di pipi kiri adalah Ang Hwa Sian-li dan Pek Hong Nio-cu mempunyai tahi lalat di pipi kanan!
Akan tetapi dia tidak mau membuang kesukacitaan dalam hatinya karena dia mengenal rahasia perbedaan mereka, yaitu pada tahi lalat mereka.
Biarlah dia disangka tidak tahu.
Dia lalu menunjuk kepada Pek Hong Nio-cu dan berkata lantang.
"Engkaulah Ang Hwa Sian-li yang aseli! Benar, kan?"
Dua orang gadis itu tertawa girang akan tetapi tidak menjawab. Merekapun merasa senang karena tidak dapat menebak dan ingin menyimpan rahasia mereka.
"Thian Liong, sekarang saatnya kita berpisah. Aku harap engkau memperoleh banyak pelajaran tentang semua pengalamanmu yang lalu dan di masa mendatang akan berlaku hati-hati sekali karena di dunia ini lebih banyak terdapat orang sesat daripada yang benar. Mereka berdua ini akan pergi bersamaku, kembali ke utara. Selamat berpisah, Thian Liong."
Thian Liong memberi hormat kepada gurunya.
"Selamat jalan, suhu. Ang Hwa Sian-li dan Pek Hong Nio-cu, selamat jalan dan terima kasih atas bantuan dan semua kebaikan kalian selama ini kepadaku."
Dua orang gadis itu tersenyum manis.
"Selamat tinggal, Souw Thian Liong!"
Kata mereka, lalu mereka mengikuti Tiong Lee Cin-jin menuju ke utara.
Thian Liong memandang ke arah mereka pergi, sampai bayangan mereka menghilang di balik pohon-pohon.
Tiba tiba dia merasa kehilangan, merasa kesepian dan sedih!
Bayangan tiga raut wajah yang cantik jelita dan memiliki daya tarik khas masing-masing silih berganti muncul dalam ingatannya.
Han Bi Lan, Ang Hwa Sian-Ii, dan Pek Hong Nio-cu.
Dan kini mereka semua telah pergi meninggalkannya.
Betapa dia sayang kepada mereka.
Sekarang dia seorang diri, sebatang kara, kesepian.
"Huh! Cengeng!"
Dia menepuk dahi sendiri lalu melangkah pergi, senyumnya muncul kembali dan langkahnya tetap. TAMAT Diposting oleh . alysa
http.//indozone.net
/literatures/literature/1379 15 September 2013 jam 8.31am
Baca Juga: Si Tangan Sakti 4
Baca Juga: Pendekar Sakti 13