Ceritasilat Novel Online

Pedang Dan Kitab Suci 10

Eps 10 Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung

Baca online Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung

Cersil Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung.

Tanpa pikir lagi, ketiga orang itu Cemplak kudanya terus mengejar jejak Thian-san Siang Eng.

Lewat beberapa menit kemudian, dari arah belakang terdengar suara harimau mengaum dan serigala melonglong.

Agaknya gelombang besar dari berjenis binatang yang lari berserakan.

It Lui menengok kebelakang, ternyata diantara kepulan debu dan pasir, berpuluh-puluh 2 harimau, be-ratus 2 onta liar, kambing dan kuda alasan tampak lari tumpang-siur.

Sedang di belakang sana tampak be-ribu 2 serigala memburu datang.

Disebelah depan rombongan binatang 2 itu ada seorang penunggang kuda.

Kudanya sungguh seekor kuda sakti.

Dia selalu berada dalam jarak berpuluh tombak dimuka barisan binatang tanpa teratur itu, se-olah 2 seorang penunjuk jalan.

Sekejab saja, penunggang kuda itu lewat disisi It Lui cs., tertampak bahwa orang itu berpakaian warna kelabu, tapi karena kotornya, warnanya berobah ke-kuning 2an.

Sepintas pandang, orang itu sudah tua.

Sayang mukanya tak kelihatan jelas.

"Kamu bertiga mau Cari mampus? Lekas menyingkir!"

Tiba-tiba orang itu berpaling kearah Sam Mo.

Melihat barisan besar dari binatang 2 yang menghampiri dengan gemuruh itu, kuda It Lui menjadi lemas, terus men deprok dan melempar tuannya ketanah.

It Lui Cepat lonCat bangun, dan pada saat itu belasan ekor harimau lari disisi nya.

Raja hutan itu hanya pikirkan lari, tak mereka hiraukan hidangan manusia.

"Mati aku!"

Teriak It Lui.

Mendengar itu, Kim Piauw dan Haphaptai putar balik kudanya.

untuk menolong.

Tapi Celaka, mereka harus me nyambut serbuan kawanan serigala.

It Lui tak mau menye rah mentah 2.

Dia putar senjata tangjinnya untuk melindungi diri.

Seekor serigala besar meneryang dengan nga ngakan mulut dan Calingnya yang tajam.

Tiba-tiba orang tua penunggang kuda tadi munCul, sekali ulur tangan kiri, batang leher It Lui terangkat naik.

"Lari kebarat!"

Serunya sambil lemparkan tubuh yang gemuk dari toako Sam Mo itu pada Haphaptai.

It Lui keluarkan ilmunya mengentengi tubuh dan berhasil menggamblok dibelakang Haphaptai.

SeCepat kuda diputar, ketiga orang itu terus keprak kudanya dengan pesat.

Sebagai penghuni lama digurun pasir, tahulah Thian-san Siang Eng betapa lihainya kawanan serigala buas itu.

Sekali keteryang, yangan harap bisa hidup.

Tak lama kemudian, benar juga disebelah depan ada 2 batang pohon besar.

Begitu dekat, Ceng Tik lonCat keatas dahan, kemudian Kwan Bing Bwe lontarkan Ceng Tong pada sang suami.

Mereka bertiga bersembunyi pada dahan yang paling tinggi.

Ketika kawanan serigala hampir datang, Kwan Bing Bwe peCut ke 2 kudanya.

Ke 2 kuda itu terus menCongklang kenCang, lari menyelamatkan diri.

Baru saja ketiga orang itu tenang duduknya, kawanan serigala itu sudah datang.

Berada dimuka barisan besar dari binatang 2 itu, adalah si orang tua penunggang kuda tadi.

"He, dia!"

Tiba-tiba Kwan Bing Bwe berteriak dengan kaget.

"Hm, benar dia,"

Sahut suaminya dengan suara dingin, sembari melirik kearah isterinya. Melihat wajah Kwan Bing Bwe mengunjuk kekuatiran dan gelisah, Ceng Tik mendongkol sekali.

"Mungkin kalau aku yang teranCam bahaya begitu, kau pasti tak begini gelisah!"

Sindirnya.

"Huh, dalam saat begini, kau masih pikir yang tidak 2? Lekas tolongi!"

Bentak Kwan Bing Bwe dengan gusar, seraya terus menggelantung turun.

Dengan mengeluarkan suara ejekan hidung, Ceng Tik pegangi tangan sang isteri.

Begitu penunggang kuda itu tiba, Ceng Tik Cepat-cepat menarik tengkuknya terus diangkat keatas pohon.

Karena tak menduga suatu apa, orang itu terangkat naik, sementara kudanya tetap menCongklang terus, di kuti oleh barisan harimau, kambing dan lain-lainnya.

Dengan berjumpalitan, orang tua tadi meronta 2 dari pegangan Ceng Tik, lalu berdiri pada sebuah dahan.

Demi melihat sepasang suami isteri itu, murkalah dia.

"Bagaimana, kau orang tuapun jerih pada serigala?"

Tanya Ceng Tik dingin.

"Siapa suruh kau ikut Campur,"

Orang tua itu menyahut dengan aseran.

"Hai! Yangan unjuk lagak. Suamiku tak bersalah me nolongi kau,"

Seru Kwan Bing Bwe. Dengar sang isteri membantu, Ceng Tik puas.

"Menolong aku? Huh, kamu ber 2 justeru merusak usahaku!"

Orang itu tertawa dingin.

"Kau di-kejar 2 kawanan serigala lapar sampai begitu kalang kabut, istirahatlah dahulu,"

Kata Ceng Tik.

"Hah! Aku, Wan Su Siau, takut kawanan binatang itu?!"

Orang tua itu makin penasaran.

Kiranya orang tua tersebut adalah Suhu dari Tan Keh Lok, jakni Thian-ti-koayhiap Wan Su Siau.

Sewaktu kanak-kanak, dia adalah kawan bermain dari Kwan Bing Bwe.

Bersama 2 berangkat besar, dan hubungan ke 2nya sangat mesra.

Tapi perangai orang she Wan itu aneh sekali.

Karena urusan kecil, mereka tak mau saling mengalah.

Wan Su Siau mengembara jauh, hingga belasan tahun tak pulang.

Mengira kalau Su Siau takkan kembali lagi untuk selama nya.

Kwan Bing Bwe lalu menikah dengan Ceng Tik.

Tak dinyana, tak berselang lama setelah perkawinan itu, Wan Su Siau tiba-tiba pulang kekampung.

Betapa hanCur hati ke 2 orang itu, sukar dilukiskan.

Mengetahui latar belakang hubungan sang isteri dengan Su Siau, Ceng Tik mendongkol sekali.

Beberapa kali dia tantang saingannya itu berkelahi, tapi dia selalu kalah.

Andai kata Su Siau tak memandang muka Kwan Bing Bwe, tentu Celakalah Ceng Tik.

Saking malu dan gusar, Ceng Tik ajak sang isteri pindah jauh kedaerah Hwe.

Tapi rupanya Wan Su Siau tak pernah melupakan gadia pujaannya itu.

Diapun pindah kegunung Thian San yang terletak tak jauh dari kediaman sepasang suami isteri itu.

Walaupun tak pernah mengunjungi, namun dekat dengan wanita pujaannya, tenteramlah rasa hatinya.

Itulah pengaruh asmara!

Tahu orang mengikutinya, bukan main marahnya Ceng Tik.

Meskipun untuk menCegah kerewelan, Kwan Bing Bwe sengaja menjaga yangan sampai bertemu dengan orang yang pernah dikasihinya itu, namun tak urung Ceng Tik senantiasa Cemburuan saja.

Karena itulah, berpuluh tahun perhubungan suami isteri itu selalu tidak akur, aCapkali bertengkar.

Sampai ketiganya sudah menjadi tua, masih saja ganjelan itu tak dapat dihilangkan.

Bahwa kali ini ia dapat menolong Wan Su Siau, sangatlah menggirangkan hati Ceng Tik.

"Kau orang tua, selalu angkuh terhadapku. Coba kali ini kau berhutang budi apa tidak padaku?"

Pikirnya. Sebaliknya Kwan Bing Bwe merasa heran, mengapa Su Siau mengatakan ia dan suaminya merusak usahanya. Tapi iapun Cukup kenal akan tabiat kawannya yang tak pernah suka membohong.

"Mengapa merusak usahamu?"

Ia meminta penjelasan.

"Kawanan serigala itu, kian lama jumlahnya bertambah banyak sekali. Kalau tidak dibasmi, bakal menjadi bahaya besar didaerah gurun pasir sini. Telah kusiapkan sebuah tempat dimana mereka nanti akan mati. Tapi sial, datang"-kalian merusak usahaku itu!"

"Dikatakan begitu, Ceng Tik kurang puas. Sedang wajah Kwan Bing Bwe pun kurang senang. Melihat itu Wan Su Siau buru-buru menghiburnya.

"Tapi Tan-toako dan kau memang bermaksud baik, dan untuk itu aku berterima kasih!"

"Apa yang kau siapkan itu?"

Tanya Ceng Tik. Sebaliknya dari menyahut pertanyaan, Wan Su Siau tiba-tiba berseru keras.

"Menolong orang, lebih perlu!"

Dan begitu lonCat turun dari atas puhun, Wan Su Siau terus menyerbu ketengah kawanan serigala.

Ternyata yang akan ditolong itu, jalah Kwantong Sam Mo bertiga, mereka waktu itu sudah diteryang oleh kawanan serigala.

Mereka bertiga berkelahi bahu membahu.

Ke 2 ekor kudanya, siang 2 sudah, menjadi makanan kawanan serigala lapar itu.

Belasan ekor serigala telah dapat dibunuh, namun kawanan serigala itu tak mau mundur, terus menyerarig makin rapat.

Sam Mo sudah menderita beberapa luka digigit atau diCakar.

Dalam saat-saat yang berbahaya itulah tiba-tiba Wan Su Siau munCui.

Sekali sepasang kepelannya diangkat, 2 ekor serigala yang berani mendekati, hanCur kepalanya.

Haphaptai dipegangnya terus dilemparkan keatas puhun sambil berseru.

"Sambutilah!"

Cepat-cepat Ceng Tik menyanggapinya.

Demikianlah , laksana orang melepas peluru, Thian-ti-koay-hiap melontarkan pula It Lui dan Kim Piauw, sedang Ceng Tik yang menyanggapi nya.

Dalam pada itu, kembali Koayhiap hantam mati 2 ekor serigala lagi sebagai senjata membuka jalan.

Setelah berada dibawah pohon, dia segera enjot kakinya melambung keatas.

Ketiga Sam Mo itu berSyukur berbareng kagum.

Bagaimana Koayhiap dapat membunuh kawanan serigala semudah orang membalikkan telapak tangan, bagaimana gerakannya yang linCah tapi bertenaga besar itu, sungguh seumur hidup baru sekali itu pernah mereka melihatnya.

Serta merta mereka menghaturkan terima kasih kepada Koayhiap.

Namun yang tersebut belakangan ini, tak banyak sekali mengaCuhkan.

Be-ratus 2 serigala yang kelaparan itu sementara itu telah mengerumuni pohon sambil mendongak keatas, riuh ramai binatang 2 itu mengaum 2.

Sementara disebelah sana, kawanan maCan tadi telah dikepung oleh ratusan serigala.

Hiruk-pikuk perkelahian terjadi, hebatnya bukan main.

Karena kalah jumlah, sekejap saja harimau 2 itu telah dirobek 2 oleh kawanan serigala, dan pada lain saat hanya tinggal tulang belulangnya saja.

Yang bersembunyi diatas pohon itu adalah jago-jago yang kenamaan dikalangan Kangouw, namun melihat pemandangan yang mengerikan itu, tak urung mereka merasa seram juga.

Ketika menyanggapi "dan meletakkan ketiga Sam Mo itu, Ceng Tik memandang mereka dengan bengis.

"Sukong, mereka bertiga bukan orang baik-baik "

Kata Ceng Tong.

"Oh, kalau begitu lempar saja untuk makanan serigala,"

Sahut Ceng Tik terus gerakkan sepasang tangan merangsang maju.

Tapi demi melihat bagaimana buas kawanan serigala itu memakan korbannya tadi, ia bersangsi, karena kasihan.

Dalam pada itu, kedengaran It Lui mengajak ke 2 sau daranya untuk pindah kelain pohon didekatnya.

"Ceng-ji, bagaimana?"

Tanya Kwan Bing Bwe.

Maksud nya apakah Ceng Tong maukan supaya Sam Mo itu dibunuh semua.

Tapi ternyata Ceng Tongpun tak tega hatinya.

Dan seketika teringat akan lelakonnya sendiri, ia mengelah napas panyang, air matanya berCucuran.

Kawanan serigala itu datangnya Cepat sekali, begitu pula perginya.

Tahu tak dapat memanjat keatas pohon, mereka, melonglong keras, lalu balik menuju kebarat lagi menge jar mangsa yang lain.

Kwan Bing Bwe suruh muridnya memberi hormat pada Thian-ti-koayhiap, siapa melihat wajah sinona puCat pasi, lalu mengambil 2 butir pil merah, katanya.

"Minumlah, ini swat-som-wan!"

Thian-san Siang Eng terkesiap. Swat-som-wan terbuat daripada ramuan som dan bahan 2 lainnya yang sukar diCari. Orang yang hampir mati, dapat disembuhkannya.

"Lekas haturkan terima kasih!"

Seru Kwan Bing Bwe.

Hendak Ceng Tong melakukan titah suhunya, tapi Thian-ti-koayhiap se-olah 2 tak mengaCuhkan, sekali melesat turun, tahu-tahu sudah merupakan sebuah titik hitam diantara pa dang pasir jauh disebelah sana.

Kwan Bing Bwe gendong sang murid turun, per-tama 2 suruh telan sebutir swat-som-wan dulu.

Seketika Ceng Tong rasakan sekujur badannya hangat dan segar sekali.

"Ha, sungguh rejekimu besar. Dengan ditolong obat dewa itu, pasti kau akan lekas sembuh,"

Kwan Bing Bwe tertawa.

"Tanpa itupun, ia akan sembuh juga,"

Menyelatuk Ceng Tik dengan Cemberut.

"Jadi kau suka melihat Cengji menderita sakit lebih lama?"

Tanya Bing Bwe.

"Bah, kalau aku, tak nanti sudi menerima obat itu!"

Ceng Tik tetap membantah.

Kwan Bing Bwe mendongkol.

Hendak ia menyemprotnya, tapi demi melihat pipi Ceng Tong basah dengan air mata, ia urungkan kata-katanya.

Ceng Tong terus didukung untuk di ajak berangkat kesebelah utara.

Sang suami mengikut di belakang, dengan menggerutu panyang pendek, entah apa yang dikatakannya.

Demikianlah mereka tiba di Giok-ong-kun, tempat kediaman Thian-san Siang Eng.

Setelah tidur lagi, Ceng Tong sudah separoh sembuh.

Kwan Bing Bwe segera menanyainya, mengapa dalam keadaan sakit ia pergi seorang diri.

Ceng Tong tuturkan semua kejadian.

Dari peperangan dengan pasukan Ceng, hingga bertemu dengan Sam Mo ditengah jalan.

Namun apa sebabnya ia lari dari rumah, sengaja tak disebutkannya.

Kwan Bing Bwe mendesaknya, hingga terpaksa Ceng Tong menCeritakan dengan berCucuran air mata.

"Dia......... dia baik sekali dengan adikku. Semasa aku pegang pimpinan tentara, ayah dan semua orang juga mencurigai aku berhati sirik."

Kwan Bing Bwe berjingkrak, ia menegas.

"Bukankah dia itu Tan-Cong-thoCu yang kau beri pedang pendek itu?"

Ceng Tong anggukkan kepala.

"Ha, dia seorang yang berhati palsu, pun adikmu seorang gadis yang tak kenal kehormatan. Dua-2nya, harus menerima kematiannya,"

Kwan Bing Bwe marah-marah.

"Yangan, Suhu, yangan ............"

Ratap Ceng Tong.

"Tidak, biar kubereskan penasaranmu itu,"

Seru Kwan Bing Bwe terus melesat keluar. Mendengar sang isteri ribut 2 itu, Ceng-Tik menjenguk kedalam. Hampir saja"

Dia bertubrukan dengan isterinya di ambang pintu.

"Mari ikut aku membunuh 2 orang yang bermoral rendah itu,"

Seru Bing Bwe.

Ceng Tong terhentak bangun.

Hendak ia tahan Suhunya guna diberi penjelasan, namun ia harus membatalkan niat nya, karena saat itu ia hanya mengenakan pakaian dalam saja.

Saking bingung, ia roboh dan pingsan.

Ketika tersedar, ternyata Suhu dan sukongnya sudah pergi jauh.

Ceng Tong Cukup menginsyapi betapa getas perangai ke 2 orang tua itu.

Bukan sekali 2 saja, tanpa bertanya dulu, mereka meneryang saja.

Apalagi kepandaian sepasang suami isteri itu hebat.

Tan Keh Lok seorang diri, pasti bukan tandingan mereka.

Bagaimanakah jadinya nanti, apabila sampai ke 2 orang muda itu dibunuh?

Memikir sampai disitu, tanpa menghiraukan badannya masih lemah, Ceng Tong terus Cemplak kudanya mengejar.

KeCuali dalam hal 2 yang menyangkut dengan Wan Su Siau, Ceng Tik selalu menurut kata-kata sang isteri dalam perkara apa saja.

Ditengah jalan dengan gemas Kwan Bing Bwe terangkan kepada suaminya, siapakah manusia yang harus tak boleh dibiarkan hidup itu.

"Pedang pusaka pemberianku itu, oleh Ceng Tong rela diserahkan padanya. Tapi begitu kenal sang adik, dia lupakan sang taCi. Orang begitu itu tak pantas dikasih hidup."

"Tapi mengapa adik si Ceng-ji itu juga begitu tak punya malu, merebut kekasih Cicinya hingga sang Cici sampai jadi sedemikian rupa?"

Sahut Ceng Tik. Pada hari ketiga, tiba-tiba dilihatnya ada 2 penunggang kuda lari mendatangi. Mata Kwan Bing Bwe ternyata sangat tajam, dan segera ia mengeluarkan seruan tertahan.

"Apa?"

Tanya suaminya.

"Itu dianya!"

"Siapa? Manusia yang tak berbudi itu?"

Ceng Tik menegas.

"Hm, mari kita papaki!"

Kata Bing Bwe. Dasar Ceng Tik memang berangasan, terus saja ia Cabut pedangnya. Isterinya buru-buru menCegah. Tunggu! Kuda tunggangan mereka luar biasa larinya.

"Sekali lolos kita tentu tak dapat mengejarnya. Lebih baik kita pura-pura tak tahu, malam nanti baru turun tangan."

Ceng Tik menurut. Ke 2nya terus jalankan kudanya kemuka. Tan Keh Lok ternyata sudah mengetahui dan diam-diam bergirang. Cepat ia keprak kudanya menghampiri, kemudian turun memberi hormat, katanya .

"Sungguh kebetulan Cianpwe ber 2 berada disini. Apakah Cianpwe berjumpah dengan nona Ceng Tong?"

"Huh, masih kau ber-pura-pura menanyakannya,"

Diam-diam Kwan Bing Bwe mendamprat dalam hati. Namun sang mulut terpaksa menyahut.

"Tidak! Ada apa?"

Pada saat itu ia menampak seorang gadis yang luar biasa Cantiknya, melarikan kudanya mendatangi. Itulah si Puteri Harum.

"Inilah Suhu dari Cicimu. Lekas beri hormat,"

Seru Tan Keh Lok pada nona itu. Hiang Hiang KiongCu Cepat lonCat turun dan member hormat pada Ceng Tik suami isteri.

"Sering Cici mengatakan padaku tentang Cianpwe ber 2. Apakah Cianpwe melihatnya?"

Tanyanya.

"Ah, tak heran kiranya kalau hatinya berobah. Ternyata nona itu jauh lebih Cantik dari Cicinya,"

Diam-diam Ceng Tik memuji.

"Ha, masih boCah sudah berhati jahat,"

Sebaliknya Kwan Bing Bwe diam-diam menCaCi. Mengira orang tak mengerti bahasanya, Hiang Hiang minta Tan Keh Lok ulangi pertanyaannya.

"Baik, kita bersama menCarinya,"

Sahut Kwan Bing Bwe. Disepanyang jalan, Kwan Bing Bwe tak putus-putusnya mengawasi wajah ke 2 orang muda yang rupawan itu yang tampaknya bersedih.

"Kalau merasa berbuat salah, sudah tentu gelisah, tapi mengapa mereka Cari Ceng-ji? Mungkin mereka akan membikin panas hati Ceng-ji supaya merana dan lekas mati,"

Pikir Kwan Bing Bwe. Dan karena menduga begitu, ia sengaja perlambat kuda nya, untuk Cari sang suami dibelakang, bisiknya.

"Nanti kau bunuh yang laki, aku yang perempuan."

Kembali Ceng Tik mengangguk.

Hampir gelap, mereka berkemah ditepi sebuah bukit pasir.

Habis dahar malam, mereka duduk berCakap 2.

Hiang Hiang nyalakan sebatang lilin dari gemuk kambing.

Menampak ke 2 anak muda itu sama bagusnya, diam-diam sepasang suami isteri dari Thiansan itu mengelah napas.

"Ah, mahluk yang begini rupawan, mengapa hatinya kejam?"

Demikian pikir mereka. Tiba-tiba Hiang Hiang tanyakan Cicinya kepada Tan Keh Lok, siapa untuk menghibur, mengatakan tentu tak sampai kena apa-apa, karena nona itu mempunyai kepandaian tinggi.

"Tapi Cici sedang dalam sakit, nanti lebih baik kita bawa ia pulang."

Kwan Bing Bwe anggap ke 2 anak muda itu tengah bersandiwara saja, maka ia merasa sebal.

"Tan-loyaCu, bagaimana kalau kita berempat ber-main-main sejenak?"

Tiba-tiba Hiang Hiang menegur Ceng Tik. Ceng Tik memandang sang isteri, siapa untuk menghilangkan keCurigaan siorang muda, terpaksa mengangguk setuju.

"Baiklah, mainan apa?"

Tanya Ceng Tik.

"Bagaimana kalau kamu ber 2 juga ikut?"

Tanya Hiang Hiang kepada Kwan Bing Bwe dan Tan Keh Lok.

Ke 2nya pun suka ikut.

Segera Hiang Hiang letakkan Cambuknya ditengah 2 keempat orang itu, lalu diuruk dengan pasir yang dibikin padat, terus ditaruhi sebatang lilin, katanya.

"Pasir ini selapis demi selapis harus disisip, siapa yang sampai membikin jatuh lilin itu, didenda. menyanyi, berCerita atau menari. Nah, kau dulu!"

Pisau diberikannya kepada Tan Ceng Tik, siapa tampak kikuk 2. Berpuluh tahun dia tak pernah main-main seperti kanak-kanak. Maka sambil memegangi pisau, ia masih ragu-ragu. Kwan Bing Bwe menjorokinya.

"Potonglah!"

Dengan tertawa lebar, Ceng Tik mulai menabas.

Setelah itu datang gilirannya Kwan Bing Bwe.

Kira-kira tiga giliran, pasir itu sudah menjadi semacam tiang kecil, hampir sebesar lilinnya.

Sedikit saja disentuh, lilin pasti jatuh.

Tan Keh Lok dengan hati-hati mengiris lagi tipis 2, kemudian Hiang Hiang.

Ketika itu lilin mulai ber-goyang 2, dan giliran jatuh pada Ceng Tik, tangan siapa agak bergemetaran.

"Yangan belit lho!"

Kwan Bing Bwe tertawa.

Hiang Hiang ikut geli dan suruh Ceng Tik menCukil sebutir pasir saja.

Ceng Tik menurut, tapi karena tangan gemetar, tiang pasir itu runtuh dan lilinpun jatuh, Ceng Tik berseru keras, sebaliknya Hiang Hiang ber-tepuk 2 tangan tertawa, juga Kwan Bing Bwe dan ,Tan Keh Lok.

"Tan-loyaCu, kau akan menyanyi atau menari?"

Tanya Hiang Hiang.

Wajah Ceng Tik kemerah-merahan, ia menolak keras-keras.

Sejak bersuami isteri, Kwan Bing Bwe selalu bertengkar atau sama 2 berlatih silat dengan suaminya.

Jarang mereka ber luang waktu untuk bersendau-gurau.

Maka kini melihat sikap sang suami itu, Kwan Bing Bwe geli, katanya.

"Huh, orang tua menipu anak kecil, pantas!"

"Ya, sudahlah. Aku akan menyanyi tentang.

"sipenjual kuda!"

Akhirnya kepaksa Ceng Tik mengalah. Dengan menggunakan suara kecil, menyanyilah Garuda jantan dari Thian-san itu .

"Aku dengan dikau, sepasang suami isteri muda seperti kanaka bermain", masih suka menangis......"

Menyanyi sampai disini, dia memandang kewajah isterinya.

Terkenanglah Kwan Bing Bwe, bagaimana bahagianya masa mereka menjadi pengantin baru.

Jika Wan Su Siau tidak tiba-tiba menyelak datang, ia yakin tentu dapat hidup rukun dengan sang suami.

Iapun mengakui, bagaimana selama itu ia selalu bersikap keras kepada sang suami, siapa sebaliknya tetap bersabar dan menyayanginya.

Bahwa aCapkali dia gusar menCembu ruinya, itu adalah karena mencintainya.

Tak dapat dipersalahkan.

Ialah sendiri yang masih terkenang akan sang kekasih lama (Wan Su Siauw), sehingga sering menumpahkan kemarahannya pada sang suami.

Pada saat itu, insyaplah ia akan kesalahannya.

Tanpa disadari, ia mengepal tangan Ceng Tik.

Saking terharu, Ceng Tik mengembeng air mata.

Kwan Bing Bwe hanya mengunjuk sedikit keCintaan, tapi ia sudah begitu terharu.

Ini membuktikan betapa besar kasih Cintanya kepada sang isteri, yang selama itu bersikap tawar saja.

Malah ketika itu, Kwan Bing Bwe memberi senyuman kepadanya.

Melihat sepasang suami isteri tua itu saling unjuk pera saannya, Keh Lok dan Hiang Hiang senang hatinya.

Kembali mereka lanjutkan permainannya.

Dan kali ini, Keh Lok kalah.

Dia menCeritakan dongeng Sam Pek -Ing Tay.

Thian-san Siang Eng ber 2 paham Cerita itu.

Tanpa merasa, mereka melamun .........

Sam Pek dan Ing Thay adalah sepasang kekasih yang tak beruntung menjadi suami isteri.

Sebaliknya mereka (Thian-san Siang Eng) bisa terang kap menjadi suami isteri hingga sampai begitu tua.

Sekalipun berpuluh tahun ikatan Cinta mereka terhalang oleh sesuatu, pada saat itu mereka sama menginsyapi kesalahannya masing-masing.

Ini sungguh sangat membahagiakan hati ke 2 suami isteri itu.

Hiang Hiang baru pertama itu mendengar kisah Sam Pek -Ing Thay.

Bermula ia menertawai Sam Pek mengapa begitu tolol tak dapat membedakan antara wanita dengan pria.

"Ah, akupun setolol Sam Pek tak dapat mengenal Wan Ci seorang gadis,"

Diam-diam Keh Lok gegetun dalam hatinya. Ia mengelah napas dalam 2. Permainan selanjutnya, kembali Tan Ceng Tik kalah. Tapi dia tak punya bahan nyanyian lagi.

"Baiklah, aku yang mewakili kau,"

Kata Kwan Bing Bwe.

"Akupun akan mendongeng."

Ia mendongeng tentang kisah perCintaan yang menyedih kan dari Ong Gui dan Kui Ing.

Malam mulai dingin.

Hiang Hiang mendempelkan tubuh nya pada Kwan Bing Bwe, siapapun senang untuk memeluk nya.

Maksud Kwan Bing Bwe dengan dongengannya itu, adalah untuk menyadarkan perbuatan ke 2 anak muda itu agar menginsyapi kesalahannya.

Jadi apa bila nanti sudah meninggal, tak penasaran.

Tapi baru saja berCerita sampai separoh, tiba-tiba ia membau bau yang harum sekali, bagaikan didekatnya ada tumbuh bunga.

Ketika ia menundukkan ke palanya, didapatinya Hiang Hiang sudah pulas dipangkuan nya.

Thian-san Siang Eng tak punya anak, sehingga ada ka lanya mereka itu merasa kesepian hidupnya.

Diam-diam Kwan Bing Bwe termenung, kalau saja ia dianugerahi seorang puteri yang sedemikian Cantiknya, wah, betapa senangnya!

Waktu itu, lilin sudah padam.

Hanya bintang-bintang dilangit, yang berkelap kelip.

Hiang Hiang mirip dengan seorang anak kecil yang tidur dipangkuan ibunya.

"Mari kita istirahat!"

Seru Ceng Tik.

"Ssst, yangan berisik!"

Bisik Kwan Bing Bwe sembari bangkit untuk mendukung Hiang Hiang kedalam kemah. Setelah dibaringkan, lalu diselimuti dengan permadani. Dalam mimpinya, Hiang Hiang menggigau.

"Mak, ambilkan susu kambing untuk rusa kecil itu. Yangan sampai ia kelaparan."

Kwan Bing Bwe terkesiap, sahutnya.

"Baik, tidurlah!"

Setelah mengundurkan diri, diam-diam Kwan Bing Bwe berpikir sendiri.

"Terang ia itu seorang anak yang tulus dan berhati baik. Mengapa dapat melakukan perbuatan merebut kekasih itu?"

Dalam pada itu, dilihatnya Tan Keh Lok tidur dilain kemah yang jauh jaraknya dengan kemah Hiang Hiang. Kwan Bing Bwe meng-angguk-angguk sendiri.

"Mereka tidak tidur dalam satu kemah?"

Bisik Ceng Tik. Kembali Kwan Bing Bwe hanya mengangguk saja.

"Dia belum tidur. Masih gulak-galik mengawasi badi 2 pemberian Ceng-ji. Kita tunggu sampai dia sudah pulas atau beber dulu kesalahannya supaya dia mengetahuinya?"

Tanya Ceng Tik pula. Kwan Bing Bwe kelihatan bersangsi.

"Bagaimana pendapatmu?"

Tanyanya. Sebenarnya hati Ceng Tik waktu itu penuh diliputi dengan kasih sayang. Sedikitpun tak berniat membunuh orang.

"Baik kita tunggu sampai dia sudah pulas baru turun tangan. Biar dia meninggal tanpa menderita kesakitan,"

Ka lanya. Ceng Tik pimpin tangan isterinya. Ke 2nya duduk saling bersandar, tanpa menguCap suatu apa. Tak lama kemudian. Tan Keh Lok masuk tidur.

"Biar kulihat dia sudah tidur apa belum,"

Kata Ceng Tik. Lagi-lagi Kwan Bing Bwe mengangguk. Tapi ternyata Ceng Tik ogah bangun. Hanya mulutnya bisik-bisik entah menyanyikan lagu apa.

"Siap?"

Tanya Kwan Bing Bwe.

"Ya!"

Namun ke 2nya tetap segan berbangkit, suatu tanda mereka itu masih ragu-ragu.

Yang sudah 2, Thian-san Siang Eng membunuh orang tanpa berkesip.

Orang-orang kangouw yang telah terbinasa ditangan mereka, entah berapa banyak sekalinya.

Tapi pada saat itu, mereka seperti berat hatinya.

Jilid 33 MALAM makin larut, hawa dingin serasa menggigit tulang.

Sepasang suami isteri tua itu saling berpelukan untuk melawan dingin.

Si steri susupkan kepalanya kedalam dada sang suami.

Sedang sisuami, meng-usap 2 kepala isterinya.

Tak berapa lama, mereka tertidur.

Dan dengan begitu maksud untuk membunuh ke 2 anak muda, lenyap dalam impiannya.

Keesokan harinya, ketika Keh Lok dan Hiang Hiang bangun, mereka tak dapatkan Tian-san Siang Eng disitu.

He ran mereka dibuatnya.

"Lihat, apa itu!"

Tiba-tiba Hiang Hiang berseru. Keh Lok berpaling kearah yang ditunjuk Hiang Hiang. Diatas sebidang pasir terdapat tulisan yang berbunyi.

"Kalau tidak memperbaiki kesalahan, tentu kami ambil jiwa kalian."

Tulisan itu besar 2.

Terang ditulis dengan pedang.

Keh Lok kerutkan alisnya untuk memeCahkan artinya.

Hiang Hiang tak mengerti huruf Han, maka ditanyakannya kepada Keh Lok.

Untuk menjaga yangan sampai nona itu bersedih hati, Keh Lok memberi keterangan lain.

"Mereka bilang ada mempunyai urusan penting, maka akan pergi lebih dulu."

Hiang Hiang mengelah napas, katanya.

"Ke 2 Suhu dari Ciciku itu sungguh baik sekali ............"

Dan belum lagi uCapannya itu selesai, tiba-tiba ia lonCat berbangkit, katanya dengan kaget.

"Dengarlah!"

Segera Keh Lok mendengar juga suara longlongan binatang yang seram sekali.

"Kawanan serigala, Ayo, kita lekas-lekas lari!"

Serunya Cepat.

Ke 2nya segera mengemasi tenda dan barang-barangnya, lalu Cemplak kudanya.

Tapi pada saat itu, kawanan serigala telah munCul.

Beruntung kuda mereka adalah kuda istimewa, dalam sekejaban saja dapatlah mereka meninggalkan kawanan serigala itu jauh dibelakang.

Kawanan serigala itu sangat lapar.

Segera mereka menge jar mati-matian.

Sekalipun sudah ketinggalan jauh, namun mereka tetap mengejar, dengan membaui jejak orang.

Kira-kira lari setengah harian, Keh Lok merasa sudah aman lalu berhenti untuk minum.

Tapi baru saja ia hendak membuat api untuk membakar daging, tiba-tiba kawanan serigala sudah munCul lagi.

Bergegas-gegas ke 2nya melarikan kudanya lagi.

Hampir petang, betul-betul kawanan serigala itu sudah tak kelihatan.

Mereka lalu memasang kemah untuk beristirahat.

Kira-kira tengah malam, selagi ke 2nya tengah enak 2 tidur, kuda putih itu meringkik 2 keras, dan kakinya menyepak 2, sehingga Keh Lok terbangun.

Kiranya kawanan serigala itu sudah mendatangi pula.

Hiang Hiang juga tersedar.

Tanpa, mengukuti tendanya lagi, dengan membawa kantong air dan makanan, ke 2nya terus naik kuda larikan diri.

Di-kejar 2 seCara begitu, mereka jauh mengarungi padang pasir yang luas, namun kemana saja, kawanan serigala itu tetap mengejar.

Keruan saja kuda mereka menjadi sangat kepayahan.

Kuda merah dari Hiang Hiang sudah tak kuat lagi dan roboh ketanah terus putus nyawanya.

Kini terpaksa kuda putih itu harus dimuati Tan Keh Lok dan Hiang Hiang.

Sudah tentu, larinyapun makin berkurang Cepat.

Pada hari keempat, mereka tak dapat meninggalkan kawanan serigala itu dalam jarak jauh.

"Ah, kalau saja bukan kuda sakti ini, lari sehari semalam saja, tentu sudah mati kepayahan. Dia dapat bertahan sampai tiga hari. Tapi kalau harus lari lagi untuk setengah hari saja, iapun tentu mati payah juga,"

Pikir Keh Lok.

Tak antara lama, disebelah depan tampak ada segerombolan pohon.

Kesitulah Keh Lok berhenti, perlu untuk memberi istirahat pada kudanya.

Bersama Hiang Hiang dia membuat dinding dari pasir yang ditumpuk tinggi.

Diatasnya ditaruhi dahan 2 dan daun 2 kering, lalu dibakarnya.

Jadi kini mereka ber 2 dengan seekor kudanya, berada ditengah 2 lingkaran api.

Pada lain saat, munCul ah kawanan serigala itu.

Binatang itu paling takut api.

Mereka hanya mondar-mandir disekeli ling luarnya, tak berani dekat 2.

"Nanti kalau kuda kita sudah Cukup kuat, kita mener-yang keluar,"

Kata Keh Lok.

"Apa kita dapat menobros keluar?"

Tanya Hiang Hiang.

Sebenarnya Keh Lok tak terlalu yakin, namun untuk menghiburnya, terpaksa dia menjawab dengan pasti.

Melihat bagaimana tubuh serigala 2 itu kurus kering karena kurang makan, Hiang Hiang merasa kasihan.

Mendengar itu, Tan Keh Lok hanya ganda tertawa, pikir nya.

"Saking berhati welas-asih, pikiran dara inipun luCu. Sedang kita bakal menjadi makanannya, masa masih merasa kasihan pada mereka.

"Kan lebih baik mengasihani diri sendiri." * Sebentar memandang kepada wajah Hiang Hiang yang merah dadu itu, kemudian mengawasi gigi dan Caring dari serigala 2 yang tampak runCing 2 panyang itu serta berkete san air liurnya, tergetarlah hati Tan Keh Lok. Perasaan Hiang Hiang tajam sekali. Tahu ia mengapa orang muda itu memandangnya dengan mata yang menyayang. Terang kalau kesempatan untuk lolos, kecil sekali. Diham pirinya sianak muda, kemudian dipegang tangannya.

"Didampingmu, tak ada yang kutakutkan. Kelak kalau binasa, kita ber 2 masih dapat berkumpul disorga loka,"

Demikian katanya. Keh Lok tempelkan tangan sinona kedadanya, pikirnya .

"Aku tak perCaja akan sorga loka. Kelak ia berada diatas, sebaliknya aku meringkuk dineraka. Dengan berpakaian serba putih, ia akan bersandar pada langkan emas dinir wana. Apabila ia mengenangkan aku, ia pasti akan mengu Curkan air mata. Butir-butir airmatanya tentu harum juga. Bila menetes jatuh diatas bunga, bunga itupun tentu akan lebih Cantik lagi.................."

Hiang Hiang menatap wajah Keh Lok, siapa nampak ber senyum.

Tapi wajahnya kelihatan bersedih dan mengelah napas.

Ketika Hiang Hiang hendak memejamkan mata, tiba-tiba dilihatnya diantara dahan 2 dan daun 2 itu sudah ada yang hampir terbakar habis.

Apinya pun hampir padam.

Tersentak bangun, ia terus menambah dahan pembakar lagi.

Justeru pada saat itu, tiga ekor serigala menobros masuk dari bagian yang padam apinya itu.

Keh Dok sebat sekali sudah menarik Hiang Hiang kebelakang.

Dalam pada itu, kuda putih tadi, sudah dapat menyepak keluar seekor serigala.

Sekali bergerak, Keh Lok berhasil memegang batang leher seekor serigala, terus dihantamkan kearah serigala lainnya.

Tapi binatang itu dapat menghindar, lalu meneryang pe nyerangnya.

Sedang ada 2 ekor lagi yang meneryang"

Masuk dari tempat tadi.

Dengan sekuat-kuatnya tenaga Keh Lok lontarkan serigala yang dipegang itu kearah mereka, hingga seketika binatang itu bergelundungan saling gigit.

Selagi begitu, Keh Lok menyembat sebatang dahan yang masih terbakar, hendak dipukulkan pada salah seekor serigala.

Tapi binatang itu dengan menyeringai buas, menerkam kearah tenggorokannya.

Sebat sekali, ketua HONG HWA HWE itu susupkan batang dahannya kedalam mulut sibinatang, terus sampai kedalam perut.

Karena kesakitan hebat, binatang itu lonCat keluar lingkaran, ber-kuik 2 ditanah.

Kawan-kawan nya bergelombang datang dan saling gigit.

Sekali membau darah, sekejab saja serigala yang sial itu, tinggal tulang saja.

Keh Lok tutup lagi lubang tadi dengan bahan bakar.

Ter nyata kayu bakar itu tinggal sedikit.

Keh Lok Coba akan berusaha menCari lagi.

Beruntung pohon-pohon berada dibelakang, hanya terpisah belasan tombak jauhnya.

Dengan menenteng kao-kiam-tun (pedang berperisai) dan memegang bandringan Cu-soh, dia suruh Hiang Hiang nyalakan api lebih besar.

"Hati-hatilah!"

Kata Hiang Hiang.

Dengan memutar bandringan, Tan Keh Lok menobros keluar.

Dia gunakan ilmunya mengentengi tubuh, lonCat ketempafi pohon.

SeCepat itu juga, kawanan serigala meneryang.

Yang pertama, 2 ekor telah remuk kepalanya terhantam bandringan.

Dan 2 tiga kali lonCat, Keh Lok sudah mendekati pohon.

Pepohonan disitu pendek-pendek, mudah dirangsang serigala.

Dengan kao-kiam-tun untuk melindungi diri, Tan Keh Lok gunakan sebelah tangannya untuk kumpulkan dahan 2 kering.

Berpuluh-puluh ekor serigala mengerumuninya.

Mereka meng anCam hebat.

Tapi setiap kali menerkam, Keh Lok dapat memukulnya mundur dengan kao-kiam-tun, perisai yang mempunyai sembilan ujung pedang bengkok.

Setelah dapat sebongkok besar, Keh Lok berjongkok untuk mengikat dengan Cusohnya.

Tiba-tiba seekor serigala yang buas lonCat menerkam.

Sekali putar kao-kiam-tun, binatang itu tertusuk mati.

Tapi karena pedang pada perisai itu bengkok seperti kait, binatang itu tertanCap tak bisa lepas.

Keh Lok buru-buru menariknya terus dilemparkan kepada kawanan serigala itu, yang terus ramai 2 memakannya.

Menggunakan kesempatan itu, dia berhasil kembali kedalam lingkaran berapi tadi.

Hiang Hiang menyambut dengan girang sekali sambil susupkan kepalanya kedada orang.

Untuk mendekap tubuh sinona, Tan Keh Lok lempar bongkokan kayu ketanah.

Sesaat kemudian, ketika ia mendongak, ia menjadi terkejut tak terkira.

Kiranya dalam lingkaran api itu ternyata"

Sudah bertambah dengan seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar.

Pakaian-nya Compang Campinfe tak keruan, tangannya menghunus pedang, badannya berlumuran darah.

Dengan-"tenang dan dingin orang itu menyandang Tan Keh Lok.

Dia bukan lain jalan seteru besarnya.

"Hwe-Chiu-poan-koan"

Thio Ciauw Cong! Pertemuan yang tak disangka 2 membuat ke 2nya hanya saling pandang, tanpa berkata suatu apa.

"Dia lari dari kawanan serigala. Mungkin karena melihat api kita ini, dia menobros kemari. Lihatlah, bagaimana payah rupanya itu,"

Kata Hiang Hiang.

Hiang Hiang menuang air dalam sebuah Cangkir, lalu diberikan pada Ciauw Cong, siapa terus menegaknya habis sekaligus.

Dengan lengan baju, dia pesut keringat dan noda darah diwajahnya.

Tiba-tiba Hiang Hiang menjerit kaget, demi teringat bahwa orang itu ialah pembesar utusan kaisar yang pernah bertempur dengan Tan Keh Lok ketika dimar kas besar jenderal Tiau Hwi dulu itu.

Kemudian pernah bertempur dengan Bun Thay Lay dalam lubang perangkap tempo hari.

Dengan terlongong-longong, nona Ui itu mengawasi Ciauw Cong.

"Mari, silakan kawan!"

Seru Keh Lok siap dengan kao-kiam-tun dan Cusohnya.

Ciauw Cong mengawasi dengan mata melotot.

Tiba-tiba dia terhujung jatuh kebelakang.

Kiranya setelah menolong Horta, ia hendak terus mengejar Tan Keh Lok.

Tapi ditengah jalan ia berpapasan dengan kawanan serigala.

Horta mati dimakan binatang 2 buas itu.

Dia sendiri berkat kepan daiannya yang lihai, berhasil lolos.

Sehari semalam penuh, dia larikan kudanya, sehingga tunggangannya roboh mati kepayahan.

Dengan menahan lapar dan dahaga, ia lari berjalan kaki sehari penuh.

Ketika menampak ada api, ia paksakan diri untuk menghampiri.

Siapa nyana disitu ia bertemu dengan ketua HONG HWA HWE Tapi saking kepayahan, tenaganya menjadi habis.

Tadinya karena hatinya keras, ia paksakan dirinya sekuat-kuatnya.

Tapi ternyata pada saat itu, betul-betul ia tak kuat lagi, terus roboh tak sadarkan diri.

Hendak Hiang Hiang maju menolongnya, tapi keburu ditarik oleh Tan Keh Lok.

"Orang itu berbahaya sekali, yangan kena diakali!"

Kata pemuda itu.

Setelah beberapa saat masih tak berkutik, barulah ke 2 nya menghampiri lebih dekat.

Hiang Hiang perCikkan air dingin pada keningnya, dan memberinya minum susu kambing.

Sesaat kemudian, Ciauw Cong bisa sadar.

Dia minum seCangkir lagi, lalu tidur pula.

Keh Lok diam-diam berSyukur, karena rupanya Al ah mengirim orang jahat itu jatuh kedalam tangannya.

Untuk menghabisi jiwanya, adalah mudah sekali.

Namun hati nuraninya mengatakan bahwa membunuh orang yang tak berdaya itu, bukan laku seorang kunCu (gentleman).

Apalagi kalau mengingat Hiang Hiang yang berhati welas-asih itu, pasti kurang senang bila nampak hal yang demikian itu.

Namun kalau mengampuninya, bila ia sudah Cukup bertenaga, di kuatirkan ia sendiri menderita kekalahan.

Berpaling kepada Hiang Hiang, dilihatnya sepasang mata nona itu mengembeng air mata.

Apa boleh buat, Keh Lok terpaksa mengampuni sekali lagi pada penjahat itu.

Dalam pada itu dia mengharap, agar penjahat itu mengingat keadaan disekelilingnya dapat diajak bahu membahu melawan kawanan serigala.

Lewat beberapa saat, Ciauw Cong bangun.

Hiang Hiang memberikan sepotong daging bakar dan membalut luka-lukanya bekas digigit serigala itu.

Bahwa manusia itu, bagaimanapun jahatnya, tentu masih ada setitik hati yang baik.

Demikian pula Ciauw Cong.

Ia malu dan menyesal, bahwa perbuatan nya jahat dahulu itu telah dibalas dengan kebaikan oleh ke 2 orang muda itu.

"Thio-toako, kini kita sama 2 dalam bahaya, permusuhan dahulu untuk sementara, biarlah kita sisihkan. Kita harus bekerja sama menCari jalan lolos,"

Kata Keh Lok. Benar, kalau kita bertengkar, tentu kawanan serigala yang girang,"

Sahut Ciauw Cong. Kembali dia mengaso untuk pulihkan tenaganya.

"Kelak kalau dapat lolos dari kawanan serigala ini, lebih dulu akan kuberesi Tan-kongCu itu, baru dapat kubawa siCantik itu. Untuk itu, baginda tentu akan menganugerahi hadiah yang besar,"

Diam-diam dia merenung.

Tidak demikian dalam pikiran!

Tan Keh Lok.

Waktu itu dia sedang menCari daya bagaimana bisa lolos dari bahaya kepungan serigala.

Teringat olehnya bagaimana tempo hari Ceng Tong telah membuat long-yan (asap kotoran serigala) untuk menyampaikan berita.

Begitulah dengan gunakan Cu-soh, dia berhasil menggaruk setumpuk kotoran serigala, lalu dibakarnya.

Segulung asap yang tebal, membubung ke udara.

"Taruh kata ada orang yang melihatnya, merekapun tak nanti berani menolong kemari. KeCuali ada ribuan pasukan besar, barulah kawanan serigala itu dapat diusir,"

Kata Ciauw Cong menggelengkan kepala.

Tahu juga bagaimana kecil harapan itu, namun masih juga Keh Lok menCobanya, daripada tidak ada daya sama sekali dan mati konyol.

Malamnya, mereka menambah bahan bakar lagi dan ber giliran tidurnya.

"Orang itu jahat sekali, kalau aku tidur, harap kau berhati-hati mengawasinya,"

Bisik Keh Lok pada Hiang Hiang, siapa kelihatan mengangguk.

Keh Lok taruh tumpukkan kayu itu ditengah 2 antara dia dengan Ciauw Cong.

Ini untuk menjaga, apabila dia se dang tidur, yangan sampai Ciauw Cong berbuat jahat.

Sampai tengah malam, kawanan serigala itu melolong makin riuh.

Ketiga orang itu kaget terbangun.

Ternyata ribuan serigala itu tengah mendongak keatas sambil meraung 2 dan melolong 2 menyeramkan sekali.

Sampaipun serigala yang sudah dijinakkan menjadi binatang pemburu masih juga kebiasaan itu diteruskan.

Keesokan harinya, kawanan serigala itu masih berkeliaran disekitar lingkaran api belum mau pergi.

Satu 2nya harapan dalam pikiran Keh Lok, mudah 2an ada kawanan onta liar yang menyasar kesitu, barulah serigala 2 itu mau tinggalkan tempat itu untuk mengejar mangsa baru itu.

Tiba-tiba dari kejauhan, kembali ada segelombang serigala mendatangi.

Ceiaka, kawanan mereka datang lagi,"

Keh Lok kerutkan jidatnya.

Diantara kepul debu, tiba-tiba ada tiga penunggang kuda lari mendatangi.

Dibelakangnya tampak be-ratus 2 serigala mengejarnya.

Ketika sudah dekat, kawanan serigala diseputar lingkaran itu, lari menyambutnya.

Kini ketiga orang itu terkepung dari 2 jurusan.

Ketiga orang itu ternyata sangat lihai.

Dengan memutar senjatanya, mereka melawan mati-matian.

"Lekas tolong mereka supaya kemari,"

Seru Hiang Hiang.

"Ayo, kita tolong mereka!"

Keh Lok ajak Ciauw Cong.

Dengan menghunus senjata, ke 2nya menuju kesana.

Dalam sekejab saja, terbukalah sebuah jalan darah dan masukilah ketiga penunggang kuda tadi kedalam lingkaran api.

Diatas salah seekor kuda itu, ada lagi seorang yang ke 2 tangannya terikat, tengkurep diatas pelananya.

Tubuhnya lemas tak berkutik.

Dilihat dari dandanannya, ia itu seorang nona bangsa Ui.

Ketiga penunggang kuda tadi, segera menurunkan nona itu.

"Cici Ceng Tong!"

Sekonyong-konyong Hiang Hiang menjerit kaget, terus lari menubruk tubuh nona itu.

Keh Lok pun tak kurang kagetnya.

Memang nona itu, adalah Ceng Tong.

Hiang Hiang mengangkat encinya itu, muka siapa kelihatan puCat pasi dan matanya tertutup.

Kiranya setelah Ceng Tong mengejar Suhu dan Sukong nya, ditengah jalan bersua dengan Sam Mo.

Karena masih lemah, dengan mudah ia dapat ditawannya.

Dalam perjalanan pulang, Ceng Tong sengaja menyesat ikan, sehingga mereka kesasar ditengah gurun raja.

Kebetulan mereka lihat asap long-yan, maka mereka menuju ke situ.

Tak tahu kalau disitu mereka hampir kehilangan ji wanya diserbu kawanan serigala, Syukur ketolongan oleh Tan Keh Lok dan Ciauw Cong.

"Yangan dekat kemari, kau mau apa?"

Bentak Kim Piauw sambil kibaskan lak-houw-jah sewaktu Keh Lok akan menghampiri Ceng Tong.

Pada saat itu, Ceng Tong telah siuman.

Demi dilihatnya Keh Lok dan adiknya berada disitu, ia terlongong-longong.

"Lekas suruh mereka lepaskan Cici,"

Hiang Hiang meratap pada Keh Lok.

"Kalian ini siapa? mengapa kalian tawan; sahabatku?"

Segera Keh Lok tegur Kim Piauw. Belum Kim Piauw menyahut, It Lui segera maju kemuka. Dia awasi ketiga orang itu dengan dingin. Katanya.

"Jiwi tadi telah mengulurkan pertolongan, lebih dulu disini aku haturkan terima kasih. Mohon tanya nama kalian yang mulia."

Belum Keh Lok menyahut, tiba-tiba Ciauw Cong telah mendahuluinya.

"Dia adalah ketua HONG HWA HWE, Tan Keh Lok!"

Seketika Sam Mo melengak.

"Dan mohon tanya tuan sendiri punya nama?"

Kembali It Lui bertanya.

"Aku yang rendah orang she Thio, nama Ciauw Cong,"

Jawab Ciauw Cong dengan temberang. Didahului oleh suara dihidung, It Lui berkata.

"Hm, kiranya Hwe-Chiu-poan-koan. Tak mengherankan kalau kalian ber 2 sedemikian lihainya."

Dia pun lalu perkenalkan diri mereka.

Diam-diam Tan Keh Lok mengeluh dalam hati.

Belum lagi bahaya serigala terhindar, kini tampil pula 4 orang lawan yang tangguh.

Dia mengambil putusan, lebih dulu hendak berusaha membebaskan Ceng Tong, baru nanti melihat keadaan nelanjutnya.

"Kuminta segala permusuhan antara kita ditangguhkan lebih dahulu. Kita sedang menghadapi kawanan serigala.

"Adakah saudara. 2 punya daya yang sempurna?"

Tanyanya kemudian. Pertanyaan itu membuat Sam Mo saling pandang, tanpa dapat menjawab.

"Kita mengharapkan saja petunjuk dari Tan-tangkeh,"

Akhirnya Haphaptai menjawab.

"Kalau kita bersatu, mungkin ada harapan lolos. Kalau tidak, tentu akan jadi makanan serigala,"

Kata Keh Lok.

It Lui dan Haphaptai mengangguk setuju, sebaliknya Kim Piauw mendongkol.

.,Karena itu, akan kumohon agar Ku-loheng ini suka lepaskan sahabatku itu lebih dulu, kemudian kita bersama-sama memikirkan daya lolos,"

Sambung pula Keh Lok. ,Kalau aku tetap tak melepaskannya, kau mau berbuat apa?"

Seru Kim Piauw.

"Aha, kalau begitu, diantara kita ber7 ini, kaulah yang akan pertama menjadi makanan serigala."

Keh Lok tertawa.

"NgaCo! Juseru akulah yang akan mengambil kau untuk makanan serigala itu,"

Bentak Kim Piauw sembari kibaskan lat-houw-jah.

"Oh, jadi biar bagaimana kau tetap tak mau lepaskan sahabatku itu? Baiklah. Andaikata aku tak mau berkelahi dan membiarkannya saja, dalam keadaan seperti ini belum tentu kita semua bisa hidup. Apalagi kalau sampai kita ber 2 berhantam, entah siapa yang kalah atau menang, tapi tentu Dua-2nya akan menderita. Dan pada waktu itu, kita ber 2 pasti akan jadi makanan serigala. Nah, sahabat Ku, Coba kau pikir masak 2!"

Mendengar kata-kata anCaman yang tenang itu, It Lui segera membisiki Kim Piauw supaya lepaskan dulu Ceng Tong, nanti baru berdaya lagi.

Tapi Kim Piauw, simata keranyang mana mau lepaskan nona Cantik yang di-idam 2kannya itu.

Dia menolak anjuran toakohja.

Dalam pada itu, It Lui telah menaksir kekuatan sendiri dengan kekuatan lawan.

"Dalam hal jumlah, kita sama. Tapi konon telah kesohor bahwa permainan pedang dari Hwe-Chiu-poan-koan itu ja rang terdapat tandingannya dikalangan persilatan. Tadi kusaksikan betapa lihai gerakan ketua HONG HWA HWE itu melawan serigala. Dan masih ada itu gadis, yang tentunya juga bukan jago sembarangan. Kalau terjadi pertempuran, terang kita kalah,"

Demikian pikir jago Kwantong itu.

Tak sedikitpun ia menyangka bahwa Ciauw Cong yang paling tangguh diantara mereka ber7 itu, ada difihak Kwantong Sam Mo.

Dan Hiang Hiang sedikitpun tak mengerti nol puntul ilmu silat.

Ketidak tahuan inilah yang menyebabkan It Lui jeri, lalu membisiki Kim Piauw.

"Loji, kau mau lepaskan apa tidak? Kalau sampai terjadi perkelahian, aku takkan membantumu!"

Tapi Kim Piauw bukan Kim Piauw simata keranyang, kalau dia begitu gampang 2 menyerah.

Tahu ia akan ke masjhuran nama Ciauw Cong, maka ia memilih untuk tantang Tan Keh Lok saja yang tampaknya bertubuh lemah itu.

"Aku sih tak berkeberatan, tapi "lak-houw-jah"

Kau inilah mungkin tak mau.

Maka kalau kau dapat menundukkannya.

tentu ia suka melepaskan nona itu.

Hanya kita ini kaum enghiong, sebaiknya harus berkelahi satu lawan satu, untuk menentukan siapa yang unggul."

Sebenarnya dalam keadaan waktu itu, Keh Lok enggan berkelahi. Karena terang yang untung, adalah kawanan serigala. Maka ia sedikit ragu-ragu, tak lantas menyahut.

"Yangan kuatir, aku takkan membantu siapa-apa,"

Kata Ciauw Cong tiba-tiba.

Kata-kata itu benar ditujukan pada Tan Keh Lok, tapi sebenarnya adalah sebagai anjuran halus pada Kim Piauw supaya yangan ragu-ragu membinasakan lawan.

Sudah tentu Kim Piauw ber-sorak diam hati, serunya segera dengan Congkak.

"Kalau kau jeri, yangan usil urusan lain orang lagi. Kalau berani, mari silakan, dengan tangan kosong atau pakai senjata, aku suka melayani. Tiga saudaraku angkat telah terbinasa ditangan orang HONG HWA HWE, maka kebetulan hari ini akan kutuntut pembalasan."

Diungkatnya soal kebinasaan ketiga saudaranya itu, adalah sengaja ditujukan pada It Lui dan!

Haphaptai.

Agar me reka suka membantu, karena ia berkelahi bukan untuk kepentingan sendiri tapi untuk menuntut balas.

Waktu Keh Lok menatap wajah Ceng Tong yang saat itu mengunjuk sorot mata kegusaran.

"Ke 2 taCi-adik ini sama 2 menaruh hati padaku. Biarlah aku membalas budi mereka. Kematianku malahan akan dapat menghindarkan aku dari kesulitan. Aku tak berani menjatuhkan pilihan kepada mereka, karena takut salah satu tentu akan hanCur hatinya."

Dengan pertimbangan itu, Tan Keh Lok segera berkata dengan suara tetap.

"Nona ini adalah sahabatku yang akrab. Sekalipun harus kubajar dengan jiwaku, tetap akan kuminta kau melepaskannya!"

Mata Ceng Tong berCahaja. Tahu ia bahwa orang muda itu masih belum padam perasaannya kepada dirinya.

"Akupun pertaruhkan jiwaku untuk nona ini!"

Sahut Kim Piauw.

"Bagus, kalian boleh berkelahi sampai ada yang mati salah satu!"

Seru Ciauw Cong dengan tertawa. Mendengar itu, tahulah Sam Mo bahwa orang she Thio itu mempunyai ganjelan dengan Tan Keh Lok.

"Begini sajalah. Kalau kita saling berhantam, entah kau atau aku yang terbunuh, tak memberi faedah pada siapapun juga. Lebih baik kita sama 2 menobros keluar. Siapa yang lebih banyak sekali membunuh serigala, dialah yang menang!"

Dengan usul itu, hendak Tan Keh Lok mengurangi anCa man serigala. Segera Haphaptai menyatakan setuju.

"Baik, kalau Tan-tangkeh yang menang, Ku-jiko ini akan menyerahkan nona itu padanya. Tapi kalau Ku-jiko bisa lebih dulu membunuh 10 ekor, Tan-tangkeh tak boleh berbantah lagi!"

Kembali Ciauw Cong unjuk keliCinan lidah nya.

Keh Lok dan Kim Piauw menjadi gusar dan menolak usul jahat itu.

Karena membunuh serigala, ke 2nya tak mempunyai harapan besar untuk menang.

Pada pikiran Tan Keh Lok, dengan bersenjatakan lak-houw-jah (garu pemburu harimau), tentunya Kim Piauw dapat membunuh banyak sekali serigala.

Sebaliknya Kim Piauwpun takut kalah dengan lawan.

"Kalau hendak bertempur, aku siap mengadu jiwa. Tapi kalau mengajak segala tetek bengek permainan anak 2, aku tak sedia menemani,"

Katanya.

"Aku yang rendah ini, walaupun baru pertama ini berkenalan dengan kalian bertiga, namun telah lama kudengar nama kalian yang kesohor. Sedang dengan Tan-tangkeh ini, betul tempo dulu pernah bentrok, tapi sekarang hal itu tak "perlu diungkat 2 lagi. Sebagai fihak netral, akan kuusulkan suatu Cara yang dapat mengakhiri persengketaan ke 2 belah fihak, tanpa merusakkan perhubungan masing-masing,"

Kata . Ciauw Cong pula. It Lui girang karena keterangan itu? buru-buru dia menyang gapi.

"Silakan Thio-toako mengatakan. Kita pasti menurut."

"Dalam keadaan dikepung kawanan serigala, kalau saling berhantam akibatnya sama 2 Celaka. Bukankah kata-katamu tadi begitu, Tan-tangkeh?"

Tan Keh Lok mengangguk.

"Dan kalau bertanding membunuh serigala, Ku-jiko ini merasa keberatan, menganggap bukan Cara menCari penye Jesaian yang baik. Nah, aku mengusulkan Cara begini. Kalian ber 2 dengan tangan kosong meneryang kearah kawanan serigala sana. Siapa bernyali tikus, boleh segera lari balik dan dianggap kalah!"

Mendengar itu, semua orang sama terCekat. Tahu mereka betapa kejam hati orang she Thio itu. Dengan tangan kosong menyerbu kedalam gerombolan serigala, siapa juga tentu akan binasa.

"Barang siapa yang naas termakan serigala, yang lainnya segera boleh kembali kesini dan dianggap menang!"

Melan jutkan pula Ciauw Cong.

"Kalau kami ber 2 binasa semua, lalu bagaimana?"

Tanya Keh Lok dengan kerutkan jidatnya.

"Demi pengabdianku kepada seorang gagah, akulah yang akan melepaskan nona ini,"

Cepat-cepat Haphaptai memberikan janjinya.

"Aku perCaja penuh pada saudara Hap. Dan nona inipun kalian semua tak boleh mengganggunya,"

Kata Keh Lok seraya, menunjuk pada Hiang Hiang.

"Biar Al ah yang menjadi saksi, aku Haphaptai, akan. melaksanakan permintaan Tan-tangkeh. Kalau sampai ber hianat, biarlah aku yang pertama-tama dimakan serigala!"

"Terima kasih, saudara Hap!"

Seru Keh Lok seraya rangkapkan ke 2 tangannya.

Sudah ketua HONG HWA HWE itu memperhitungkan segala kemungkinan.

Taruh kata tidak dikepung kawanan serigala, tapi menghadapi keempat musuh yang tangguh itu, rasanyapun sukar untuk hidup.

Dengan mengorbankan jiwanya untuk menolong ke 2 taCi beradik itu, matipun puaslah dia.

Soal usaha besar untuk membangun ahala Han biarlah terus diperjoangkan oleh saudara-saudaranya dalam HONG HWA HWE Maka Cepat-cepat ia lemparkan Cusohnya dan terus menggape pada Kim Piauw.

"Sahabat Ku, mari!"

Kim Piauw masih tetap memegangi Lak-houw-jahnya.

Rupanya ia masih ^ragu-ragu.

Sekalipun ia bukan orang yang takut mati, namun ketika disuruh dengan tangan kosong meneryang kedalam gerombolan serigala, hatinya merasa ngeri juga.

Untuk menjaiga yangan sampai usulnya tadi gagal, buru-buru Ciauw Cong membikin panas hati orang.

"Aha, bagaimana? Rupanya sahabat Ku jeri? Memang hal itu sangat ber bahaya?"

Tapi Kim Piauw tetap membisu.

Karena tak mengerti bahasanya, Hiang Hiang hanya mengawasi perubahan wajah orang-orang itu.

Tidak demikian dengan Ceng Tong.

Tahu kalau Tan Keh Lok bersedia korbankan jiwa untuknya, hati Ceng Tong seperti dibetot.

"Yangan! Biar aku saja yang binasa asal kau tidak kenapa-apa,"

Serunya.

Biasanya Ceng Tong mempunyai peribadi yang kuat.

Tak mau ia sembarangan mengeluarkan perasaan hatinya.

Namun dalam saat-saat antara mati dan hidup itu, tanpa merasa ia berseru melarang.

Tapi berbareng dengan itu, segera terdengar suara berkerontangan dari sebuah lak-houw-jah yang dibanting ketanah.

Itulah perbuatan Kim Piauw.

Dia begitu sirik akan rasa kasih yang diunjukkan Ceng Tong kepada sianak muda itu.

Mukanya merah seperti terbakar.

Dia memang beradat be langasan.

Sekali angot, apapun tak ditakutinya.

"Sekalipun nanti separoh tubuhku digeragoti serigala, tetap aku pantang balik lebih dulu dari dia. Ayo!"

Katanya segera.

Keh Lok memberi sebuah senyuman pada Ceng Tong dan Hiang Hiang, terus bersama Kim Piauw meneryang keluar.

Melihat itu, pingsanlah Ceng Tong seketika.

Sebaliknya Hiang Hiang hanya mengerlingkan sepasang biji matanya yang hitam bundar, tak tahu apa yang terjadi disekitarnya itu.

"Tahan!"

Tiba-tiba It Lui berteriak. Karena itu, ke 2 arang itupun merandek.

"Tan-tiangkeh, kau masih menyimpan badi-badi,"

Kata It Lui. Memang benar Keh Lok masih membawa badi-badi pemberian Ceng Tong. Dia memang kelupaan, Bukan mau main Curang.

"Maaf, aku kelupaan,"

Dia tertawa seraya mengambil badi-badi itu dan menghampiri Ceng Tong.

"Yangan berduka. Pandanglah badi-badi ini, berarti kau memandang aku,"

Katanya mesra. Pedang diserahkan pada Ceng Tong siapa kelihatan Cemas sekali sampai tak dapat mengatakan apa-apa. Tiba-tiba nona itu teringat sesuatu, bisiknya.

"Tundukkanlah kepalamu kemari!"

Segera Keh Lok seperti disedarkan. Cepat dia berpaling kepada Ciauw Cong, katanya.

"Thio-toako, tadi aku kelupaan masih membawa badi-badi. Sekarang kuminta kau menjadi saksi untuk memeriksa tubuh kami!"

Ciauw Cong segera menggeledah badan ke 2 orang itu.

"Ku-jiko, harap kau tinggalkan senjatamu rahasia itu!"

Kata Ciauw Cong ketika dapatkan Kim Piauw masih membawa senjata.

Dengan geram Kim Piauw keluarkan belasan batang garpu kecil terus dibanting ketanah.

Sikapnya tiba-tiba berobah, sepasang matanya seakan-akan semerah darah.

SeCepat kilat dia menghampiri Ceng Tong, terus memeluknya.

Sesaat dia akan mencium sinona, tiba-tiba punggungnya dirasakan diCengkeram orang, terus disentak kebelakang.

Selama masuk dalam perserikatan Kwantong Liok Mo Kim Piauw sering berlatih dengan semua saudaranya angkat.

Dia Cukup kenal siapa yang berbuat itu.

Dan memang itulali Haphaptai.

"Laoji, kau tahu malu apa tidak?"

Bentak Haphaptai dengan bengis.

Dibanting tadi, Kim Piauw agak pusing.

Dengan menggerung, ia lonCat keluar kearah gerombolan serigala.

Dengan enjot kakinya, Keh Lok gunakan kepandaiannya mengentengi tubuh.

Sekejab saja ia sudah susul berada didepan Kim Piauw.

Kawanan serigala yang tengah kelaparan itu, segera menyambut dalam gelombang besar.

Kim Piauw juga lihai.

Dengan ilmu silat Tiang-kun yang terdiri dari delapan1 jurus, ia merupakan tokoh silat yang dimalui.

Tahu ia bahwa pada saat itu ia tengah menghadapi maut, maka diCurahkan seluruh perhatiannya.

Dua ekor serigala lantas menyerang dari 2 jurusan.

Dia berkelit dan seCepat kilat tangan kanan telah dapat menCengkeram batang leher seekor serigala, sementara tangan kiri pun dapat menangkap ekor serigala yang lain terus diangkat keatas.

Dalam dunia persilatan memang ada ilmu yang disebut "teng-koay."

Kabarnya dahulu He Yap, seorang tokoh silat yang tangguh, ketika sedang menCari angin diluar, tiba-tiba didatangi musuh, yang mengepung dari empat jurusan lengkap dengan senjatanya.

He Yap tidak membawa senjata apa-apa, terpaksa dia gunakan bangku panyang (dingklik) untuk bertempur.

Dalam sekejab saja, musuh 2nya telah dapat disapu, ada yang binasa, luka dan melarikan diri.

Kepandaian itu turun temurun dan merupakan ilmu silat "teng-koay,"

Atau bangku panyang (dingklik). Pun Kim Piauw bermaksud gunakan serigala itu sebagai"

Dingklik. Dengan jalankan jurus dari ilmu silat "teng koay,"

Dia menghantam kesana sini.

Dan hasilnyapun mengagumkan, karena kawanan serigala itu tak berani dekat.

Dilain fihak, Tan Keh Lok gunakan lain macam kepandaian.

Sewaktu menurunkan ilmu silat "peh-hoa-jo-kun"

Yang diCiptakannya sendiri, maka lebih dulu Thian-ti-koay-hiap ajari muridnya itu segala macam ilmu silat dari berbagai Cabang persilatan.

Waktu itu Tan Keh Lok keluarkan ilmu pukulan "pat-kwa-yu-sim-Ciang,"

Yang linCah sambil lari kesana kemari.

Sebenarnya ilmu itu, adalah ilmu istimewa dari Wi-tin-ho-siok Ong Hwie Yang, itu kepala piauwsu dari Tin Wan piauwkiok.

Ketika bertanding lawan Ciauw Cong dibukit Pak-kao-nia, dengan ilmu itu, Ong Hwi Yang telah merangsang lawannya sedemikian rupa, hingga lawan hanya dapat membela diri, tak berdaya untuk membalas.

Ketika pertempuran di Thiat-tan-Chung tempo hari, Tan Keh Lokpun gunakan ilmu itu untuk melayani Ciu Tiong Ing.

Bermula kawanan serigala itu montang-manting dibuatnya.

Tapi karena serigala itu berjumlah besar, lagipula sangat lapar, maka kemana saja Keh Lok bergerak, kesitu-lah dia telah diserbu.

Karenanya, dia tak dapat bergerak dengan leluasa.

Buru-buru ia merogoh geretan api yang segera menyala, terus di-putar 2.

Sekalipun nyala api itu hanya kelak-kelik, namun kawanan binatang itu menjadi ketakutan dan mundur.

Mulutnya dingangakan, sikapnya seperti akan menerkam, tetapi hanya melolong 2 tak berani bergerak.

Setelah Keh Lok meneryang keluar, buru-buru Hiang Hiang menghampiri Cicinya dan bertanya.

"Ci, dia kemana?"

"Untuk menolong kita ber 2, dia rela korbankan diri,"

Sahut Ceng Tong seraya memesut air matanya. Bermula Hiang Hiang terperanjat, tapi segera ia tertawa.

"Kalau dia binasa, akupun tak mau hidup."

Mendengar uCapan sewajarnya dari adiknya itu, tergeraklah hati Ceng Tong.

Bahwa Hiang Hiang tanpa banyak sekali pikir dan tanpa mengunjuk perasaan apa-apa, terus mengatakan begitu, terang mencintai Tan Keh Lok seCara mendalam.

Dilain fihak, Ciauw Cong merasa girang ketika siasatnya berhasil.

Tapi dia telah menjadi terkejut sewaktu nampak Tan Keh Lok dapat mengenyah binatang 2 itu dengan kipas apinya.

Tapi lekas juga hatinya menjadi terhibur, karena beranggapan, api itu tak dapat bertahan lama.

Jadi hanya soal penundaan waktu saja.

Sedang perhatian It Lui dan Haphaptai hanya ada pada KimPiauw.

Bermula girang hati mereka, karena Kim Piauw telah unjuk kegagahan.

Saat itu, Kim Piauw hantamkan serigala yang dipakainya sebagai senjata tadi, kepada seekor serigala yang lompat menyerang.

Dua-2nya adalah serigala buas yang kelaparan, maka mereka lantas saling gigit, yang satu menggigit muka, yang satunya menggigit tengkuk.

Ke-Dua-2nya sama berlumuran darah.

Melihat darah, kawanan serigala itu tambah hilap.

Serentak mereka menyerang Kim Piauw.

Dan pada lain saat, 2 ekor serigala yang diCengkeram tangan kanan dan kiri Kim Piauw tadi, telah dibuat rebutan makan oleh Kawan-kawan nya.

Sekejab saja, serigala yang ditangan kiri, tinggal kepalanya.

Sedang yang ditarigan kanan, tinggal bebokong dan ekornya.

Kini Kim Piauw teranCam bahaya.

Hendak dia menCoba tangkap lain serigala lagi, tapi binatang 2 itu sudah pandai.

Setiap tangan Kim Piauw bergerak, mereka membuka mulut terus akan menggigit.

Terlambat sedikit saja, sebelah tangan Kim Piauw tentu sudah tergigit.

Dan berbareng itu, dari arah kanan ada 2 ekor serigala yang lompat meneryang.

Terhadap watak yang kejam dan suka paras Cantik dari Kim Piauw itu, sebenarnya Haphaptai tidak puas.

Tapi orang Mongol ini ada seorang laki 2 yang berambekan tinggi.

Berbareng menCabut jwan-pian dari pinggang, dia kedengaran berteriak.

"Lotoa, aku akan menolongnya!"

Belum sempat It Lui menjawab Ceng Tong sudah mendahului mengejek.

"Apakah Kwantong Liok Mo bukan laki 2? Tak punya kehormatan?"

Haphaptai merandek.

Juga keadaan ke 2 orang yang berada ditengah bahaya maut itupun telah berobah.

Nyala kipas api yang dibawa Tan Keh Lok hampir habis.

Buru-buru dirobeknya lengan bayunya untuk disulut.

Dalam pada itu, ia bergerak mendekati pohon.

Mendadak 2 ekor serigala yang buas, lonCat menerkam.

Dia Cepat mendek, terus menyusup kebawah, sembari patahkan sebuah Cabang pohon, terus berputar dan menghantam salah seekor penyerangnya itu.

Kepala serigala itu hanCur, otaknya berhamburan, terus diserbu oleh Kawan-kawan nya sendiri yang kelaparan itu.

Penyerangan terhadap ketua HONG HWA HWE itu, agak kendor.

Ini digunakan olehnya untuk memotes sebuah dahan kering, yang setelah dibakar terus diputar untuk mengusir serigala.

Dan begitu ada kesempatan, dia potes lagi ranting 2 kayu untuk bahan bakar.

Dengan begitu Keh Lok seperti membuat sebuah lingkaran api disekeliling dirinya.

Ceng Tong dan Hiang Hiang sangat gembira melihat dia dapat mengatasi bahaya.

Sebaliknya Kim Piauw agak laCur.

Ingin dia meniru Tan Keh Lok, tapi ia tak membawa geretan api.

Jalan satu 2nya, ia terpaksa tempur binatang 2 itu seCara mati-matian.

"Anggaplah Tan-tangkeh yang menang!"

Tiba-tiba Haphaptai berseru pada Ceng Tong, seraya memotong tali yang mengikat tangan sinona. Lalu katanya pula.

"Dan sekarang akan kutolong dia.!"

Dengan memutar jwan-pian jago Mongol itu meneryang keluar.

Baru beberapa tindak jauhnya, kawanan serigala bergelombang menyerbunya.

Malah pahanya 2 kali kena tergigit.

lapun dapat membunuh 2 ekor serigala besar, namun tetap tak dapat maju.

"Losu, kembalilah!"

It Lui Cemas memanggilnya.

Haphaptai kembali untuk mengambil sepotong dahan yang terbakar, terus akan meneryang lagi.

Tapi jaraknya sangat jauh dengan Kim Piauw, siapa waktu itu sudah dihampiri kawanan serigala pula.

"Tan-tangkeh, kau menang! Sahabatmu telah kami bebaskan. Berlakulah murah untuk menolong saudara kami itu!"

Demikian Haphaptai berteriak sekeras-kerasnya. Keh Lok kelihatan melirik dan tahu Ceng Tong betul sudah dilepaskan. Dia girang.

"Untuk menghadapi kawanan binatang buas ini, tambah seorang sahabat ada lebih baik,"

Pikirnya. Maka Cepat ia melemparkan sebatang dahan kayu terbakar pada Kim Piauw.

"Sambutlah!"

Serunya.

Ke 2 lengan dan kaki orang she Ku itu sudah berlumuran darah.

Begitu menyanggapi dahan api itu, terus diputarnya Kawanan serigala itu terpaksa mundur.

Dan Kim Piauw menuju ketempat Tan Keh Lok, siapa kembali lempari sebatang dahan api lagi.

Dengan memegang dahan api ditangan kanan kiri, Kim Piauw pulih keberaniannya.

"Kita bekal lagi sebongkok ranting!"

Seru Keh Lok.

Begitulah setelah ke 2nya membawa sebongkok ranting kayu, terus menuju ketempat lingkaran api tadi.

Dengan melolong riuh rendah, kawanan serigala itu memberi jalan pada mereka ber 2.

Begitu dekat, Hiang Hiang sudah lantas pentang ke 2 tangannya untuk menyambut Tan Keh Lok, siapapun sudah lonCat masuk.

"Tahan, biar dia yang masuk dulu!"

Cepat-cepat Ceng Tong menCegahnya.

Keh Lok sadar, ia merandek sebentar dan berpaling kebelakang untuk mempersilakan Kim Piauw masuk dulu.

Benar Keh Lok telah menolong jiwanya, namun dalam perjanjian tadi ada disebut siapa yang kembali masuk lebih dulu, dianggap kalah.

Dia kuatir orang she Ku itu main liCik.

Dengan mata ber-api 2, tiba-tiba Kim Piauw timpukkan dahan api kemuka Tan Keh Lok, dan menyusul tangannya mendorong punggung orang, maksudnya supaya terdorong masuk kedalam lingkaran tadi.

Tapi Keh Lok egoskan tubuhnya kesamping, dan tangan Kim Piauw lewat disisinya.

Namun orang she Ku itu tak berhenti sampai disitu.

Dahan api yang satunya, dilontarkan kemuka orang lagi, tapi ternyata luput karena Tan Keh Lok keburu tundukkah kepalanya kebawah.

Kim Piauw susuli sebuah jotosan.

Malah belum lagi jotosan itu tiba, jotosan yang ke 2 menyusul.

Inilah keistimewaan dari ilmu silat Tiang-kun, Cepat-sebat.

Melihat keliCikan orang, .Keh Lok gusar sekali.

Dengan tangan kanan ia akan tutuk pergelangan tangan orang, sedang tangan kirinya menganCam kemuka orang.

Itulah salah satu jurus dari ilmu silat "peh-hoa-jo-kun,"

Yang gunakan ujung jari seperti pedang.

Seumur hidup Kim Piauw belum pernah saksikan ilmu silat yang aneh semacam itu.

Untuk menghindari, terpaksa ia bergerak mundur, dan ini justeru tepat menginjak kepala seekor serigala.

Saking kesakitan, binatang itu meraung keras sekali.

Keh Lok masih gemas, ia rabu lawannya dengan jurus-jurus berbahaya dari "pek-hoa-jo-kun."

Menghantam, menabas, menotok dan menyodok.

It Lui dan orang-orang yang berada dalam lingkaran api itu, bukan main kaget dan herannya melihat gerak ilmu silat sianak muda yang luar biasa itu.

Sepasang jari tangan kiri ketua HONG HWA HWE itu menganCam jalan darah "thay-yang-hiat"

Pada pelipis Kim Piauw, siapa buru-buru menangkisnya dengan sebuah pukulan.

Dia pastikan, Tan Keh Lok tentu mundur menghindar.

Tapi ternyata tidak, hanya mengirim sebuah tendangan yang tepat mengenai paha Kim Piauw, siapa menjadi sempoyongan.

Dan dalam saat itu, tahu-tahu pukulannya tadi kena ditangkap lawan, terus akan ditariknya.

Kim Piauw kaget dan kerahkan tenaga untuk menarik, tapi baru saja dia menarik, musuh batal menarik dan berbalik mendorongnya.

Sudah tentu tak tertahan lagi, ia terjerumus kebelakang.

Kalau sampai jatuh, hebatlah akibatnya.

Dia tentu akan dibuat "pesta"

Oleh kawanan serigala. Maka semua orang sama berteriak kaget. Tapi Kim Piauw juga lihai. Dengan gerak "le-hi-ta-thing"

Atau ikan lele meletik lonCat keatas, tiba-tiba ia menCelat keatas seraya kasih kerja pukulannya kepada seekor serigala, dan dengan berjumpalitan, aehirnya dia berhasil jatuhkan kakinya ketanah.

Tan Keh Lok membarengi melesat kesampingnya, 2 kali jarinya menutuk, satu pada lutut dan satu pada pantat.

"Celaka! Celaka!"

Seru Kim Piauw yang walaupun tak dapat bertahan untuk berdiri, masih Coba akan tekankan ke 2 tangannya untuk lonCat lagi keudara.

Kawanan serigala datang mengerumuni lagi, tapi Keh Lok lebih Cepat.

Punggung Kim Piauw diCengkeram, terus diputarkan.

Tapi Kim Piauw betul-betul bandel.

Sekalipun separoh tubuhnya bagian bawah tidak dapat berkutik, masih dia Coba berlaku nekad.

Sepasang kepelannya maju berbareng, menjotos dada Tan Keh Lok, maksudnya hendak mati bersama 2.

"Bangsat keras kepala!"

Memaki Keh Lok, jari tangan kirinya kembali menutuk jalan darah "tiong-hu"

Dan "Soan-ki,"

Sehingga baru kepelan Kim Piauw melayang, lengannya dirasakan lemas dan teklok.

Dengan memutar tubuh Kim Piauw, Keh Lok lonCat menghindar dari terkaman serigala, terus akan melemparkan tubuh lawannya itu kearah serigala yang berada ditempat jauh.

"Yangan dibunuh!"

Ceng Tong berseru keras-keras. Kembali Tan Keh Lok disedarkan dari keburu napsunya.

"Ah, dengan membunuh penjahat ini, aku tetap teranCam, terutama mengikat permusuhan hebat pada Kwantong Liok Mo. Lebih baik kuampuni, dengan budi itu, mungkin kalau nanti bertempur dengan Ciauw Cong, mereka bertiga tentu berdiri difihak netral,"

Pikirnya.

Sebagai gantinya, orang she Ku itu dilemparkan kedalam lingkaran api, dengan ia sendiri terus menyusul masuk.

Haphaptai menyanggapi tubuh Kim Piauw.

Dengan begitu, pertandingan kali ini telah dimenangkan Keh Lok.

Segera pemuda ini hendak menghampiri Ceng Tong dan Hiang Hiang, tiba-tiba Ceng Tong berteriak.

"Awas, belakang!"

Keh Lok Cepat mendek kebawah, dan 2 ekor serigala besar melayang melalui kepalanya.

Kiranya, itulah 2 ekor serigala yang sudah kalap karena laparnya, terus meneryang masuk.

Yang seekor, langsung menerkam Hiang Hiang.

Syukur Keh Lok berlaku sebat, ia lonCat memburu dan menarik ekornya.

Serigala itu menggerung kesakitan, terus balik menyerang.

Disamping itu kawannya juga berbareng meneryang.

Tapi Keh Lok menghantam kena leher salah seekor, yang terus berguling ketanah.

"Sambutlah ini!"

Ceng Tong Tong lemparkan badi-badinya, barang mana begitu disanggapi oleh Tan Keh Lok terus ditusukkan kepada serigala yang meneryang tadi.

Serigala ini luar biasa besarnya, dan gesit sekali.

Dua kali Tan Keh Lok menusuk, 2 kali dapat dihindari.

Berbareng itu, kembali ada tiga ekor serigala yang menyerbu masuk.

Yang satu, dapat dibanting keluar oleh Haphaptai.

Yang satu lagi dibatas kutung oleh Ciauw Cong, sedang yang lainnya sedang dihajar oleh It Loei.

Buru-buru Haphaptai tambahkan bongkokan dahan 2 kayu yang dibawa Kiem Piauw tadi ketempat yang berlobang, barulah kawanan serigala itu menyingkir.

Saat itu Keh Lok pura-pura menyerang kesebelan kiri, ketika si serigala menghindar kekanan, Cepat sekali badi-badi ditarik dan ditikamkan kesebelah kanan.

Karena sukar menghindar, serigala itu pentang mulutnya menggigit ujung badi-badi.

Keh Lok mendorong kemuka sekuat-kuatnya, tapi sekalipun lidah serigala itu kepotong, dia tetap matikan menggigit ba-di-badi-badi.

Juga ketika Keh Lok menarik kebelakang, tetap mulut serigala itu tak mau melepasnya.

Sampai badan binatang itu terangkat naik, tetap binatang itu pantang lepaskan gigitannya.

Keh Lok agak gelisah, karena serigala yang seekor tadi.

menyerang lagi.

Buru-buru dia berkelit kesamping, mengangkat kaki dan mendupak keluar serigala itu dari lingkaran api.

Setelah itu, dia gunakan tangan kiri untuk menghantam mata serigala yang menggigit badi-badinya tadi.

Binatang itu mundur ke belakang dan Keh Lok rasakan tangannya longgar.

Sebuah pedang terCabut keluar.

Hawa dingin membikin orang-orang merasa bergidik.

Sinarnya memenCar jernih ke-hnyau 2an.

Dan yang tak kurang mengherankan, adalah serigala itu sendiri.

Hantaman Keh Lok telah meremukkan kepalanya, namun mulutnya masih menggigit sebatang badi-badi.

Pada hal terang badi-badi itu ada juga dalam tangan Tan Keh Lok.

Dari manakah badi-badi dimulut serigala itu?

Keh Lok maju selangkah, dengan tiga jari tangan kirinya, dia jepit badi-badi dimulut serigala, terus ditarik sekuat-kuatnya.

Dia adalah seorang ahli tutuk yang lwekangnya sangat lihai.

Namun mulut serigala yang.sudah putus nyawanya itu, tetap terkanCing seperti terpaku.

Saking gemasnya, Keh Lok tabas batang kepala binatang itu dengan pedang pendeknya yang mirip badi-badi itu.

Dan buah kepala itu tahu-tahu menggelinding jatuh semudah memotong sajur.

Heran dia dibuatnya atas ketajaman badi-badi itu Ketika diperiksa agak dekat, segera dia rasakan hawa dingin yang membikin bergidik bulu roma.

Ujung badi-badi itu ber-kilau 2 Cahajanya.

Bukan lagi badi-badi pemberian Ceng Tong dulu.

Hanya anehnya, tangkainya masih seperti tangkai badi-badi yang bermula.

Karena penasaran, dipungutnya badi-badi yang terselip dimulut serigala tadi.

Ternyata tengahnya kosong, mirip seperti sarung badi-badi.

Dimasukkannya badi-badi tadi kesarung itu, kiranya pas sekali.

Kiranya badi-badi itu adalah sebilah pokiam yang mempunyai 2 lapisan.

Sarungnya saja sudah merupakan senjata tajam yang hebat, siapa tahu, dalamnya masih terdapat sebuah pedang pusaka yang dapat dibuat memotong segala logam.

Ketika menyerahkan kepada anak muda itu, Ceng Tong mengatakan bahwa badi-badi atau pedang pendek itu, menurut sejarahnya, mengandung rahasia besar.

Namun selama itu, tiada seorang yang dapat menemukan.

Kalau tidak ada peristiwa serigala itu, tiada nanti rahasia itu terbongkar.

Memegang pusaka itu, bukan buatan kegirangan Keh Lok.

Dia menggape pada taCi-beradik itu, dan merundingkan Cara meloloskan diri.

Sengaja mereka berbahasa Ui, sehingga Ciauw Cong dan Sam Mo itu tak mengerti maksudnya.

Waktu itu It Lui telah dapat menghantam mati serigala musuhnya tadi.

Dengan belati, dipotongnya keempat paha binatang itu, lalu dipanggang.

"He, lekas buang, kalau kamu masih ingin hidup!"

Ceng Tong berseru tiba-tiba.

"Mengapa?"

Tanya It Lui.

"Kalau kawanan serigala itu membau daging bakar, mereka pesti tak tahan lagi!"

Kata sigadis.

It Lui insyap, Cepat ia membuang paha serigala panggang itu.

Sementara itu Kim Piauw telah ditutuk Ciauw Cong supaya jalan darahnya terbuka.

Luka-lukanya digigit serigala dibalut.

Perutnya terasa lapar sekali.

Ia memungut paha tadi, terus dimakannya mentah 2.

Hiang Hiang me-main-main kan pokiam itu.

Ia memuji kebagusan senjata itu.

Tanpa sengaja, dia membuka sarung badi-badi, dan nampak didalamnya terselip sebutir benda merah.

Di-goyang 2 dan dituangkan, tapi tak bisa keluar.

Ia mengambil tusuk konde untuk mengungkit, dan sebutir pil kecil menggelundung keluar.

Pil itu terbungkus lilin, oleh Hiang Hiang diberikan pada Keh Lok.

"Bagaimana kalau kita pecah lilin pembungkus ini?"

Tanya pemuda itu pada Ceng Tong.

Ceng Tong mengangguk.

Sekali pijit, lilin pembungkus itu pecah.

Didalamnya terdapat sepulung gulungan kertas kecil.

Kertas itu tipis seperti sayap yangkrik.

Karena usianya, warnanya ke-ku-ning 2an.

Diatasnya tertulis beberapa huruf Ui, sedang pinggirnya ada sebuah gambar peta yang memuat gunung, sungai, gurun dan lain-lain.

Ciauw Cong yang sedari tadi pasang mata, tahu bahwa peta itu tentu menyimpan rahasia.

Sengaja ia mondar-mandir untuk menambah kayu bakar, tapi sebenarnya ia hendak menCuri lihat.

Tapi karena bertuliskan huruf Ui, ia keCewa.

Keh Lok bisa tulisan Ui tapi kurang sempurna.

Sebagian besar huruf-huruf Ui dikertas itu, adalah huruf-huruf kuno, jadi ia banyak sekali yang tak mengerti.

Surat itu lalu diserahkan pada Ceng Tong, siapa setelah melihat dan merenungkan sampai Jama sekali, lalu menyimpan kedalam bayunya.

"Apa saja yang tertulis disitu?"

Tanya Keh Lok. Ceng Tong tak menyahut, hanya terus merenung.

"Cici tengah mengasah otak, yangan diganggu!"

Kata Hiang Hiang yang Cukup kenal perangai Cicinya itu.

Jari Ceng Tong tampak meng-gurat 2 dipasir, melukis sebuah bundaran.

Tapi terus dihapus dan menggambar lagi.

Setelah itu ia duduk bertopang dagu.

"Badanmu masih lemah, yangan banyak sekali berpikir", Keh Lok memperingatkan.

"Kalau belum ketemu jawabannya, biarlah lain kali saja. Yang penting kita harus Cari daya untuk lolos".

"Justeru daya itulah yang sedang kupikirkan. Kita harus menghindar dari kawanan serigala yang buas dan orang-orang yang berhati serigala itu", sahut Ceng Tong seraya menuding kearah Ciauw Cong. Demi mendengar kata-kata manusia serigala yang diuCapkan sang Cici itu, Hiang Hiang tertawa, karena baru sekali ini dia dengar istilah baru tersebut.

"Coba kau berdiri diatas punggung kuda. Pandanglah arah barat, apakah kau melihat ada sebuah gunung yang punCaknya putih?"

Kata Ceng Tong tiba-tiba dengan bisik-bisik. Tapi Keh Lok tak melihatnya. Dia tunggu dan men-Cari 2, sampai lama, tapi tetap tak ada. Dia memberi isyarat dengan gelengkan kepala pada Ceng Tong.

"Hm, kalau menurut peta ini, kota kuno itu tak jauh dari sini, tentunya punCak gunung kelihatan", Ceng Tong menggerutu.

"Kota kuno?"

Keh Lok lonCat turun dan bertanya.

"Waktu kecil pernah kudengar Cerita bahwa dipadang pasir ini terdapat sebuah kota kuno. Kota itu dahulunya indah dan kaja sekali. Pada suatu hari, terbit taufan dahsyat dipadang pasir luas ini bukit 2 pasir itu tertiup terbang dan menguruk kota itu. Selaksa lebih penduduk kota binasa semua", berCerita Ceng Tong, lalu berpaling pada adiknya.

"Moay-moay, rasanya kaulah yang paling paham akan Cerita itu, Cobalah kasih tahu padanya".

"Memang banyak sekali macam Cerita orang tentang itu, tapi tiada seorangpun yang pernah melihat sendiri,"

Demikian Hiang Hiang memulai.

"Bukan itu saja, karena banyak sekali sudah orang yang pergi menCarinya, tapi begitu menemukannya, sedikit sekali yang kembali dengan hidup. Kabarnya, disitu terdapat kumpulan besar harta berharga. Pada suatu ketika penduduk kota katanya berobah menjadi setan. Begitu Cinta mereka pada kotanya itu, hingga sampai binasa, tetap mereka tak mau meninggalkan. Ada beberapa orang yang karena tersesat, tanpa sengaja, masuk kedalam kota itu. Demi melihat sekian banyak sekali harta kekajaan, mereka terpesona berlutut menghaturkan terima kasih pada Al ah. Harta itu diangkut keatas onta, akan dibawa pulang. Tapi mondar-mandir ke-mana 2, mereka tak dapat keluar."

"Kenapa?"

Tanya Keh Lok.

"Katanya, roh 2 penjaga kota tak rela, dan menyesatkan mereka. Kalau harta itu ditinggal, mereka bisa keluar dengan mudah,"

Sahut Hiang Hiang.

"Ha, rasanya orang yang menemukan harta karun itu, sukar melepaskannya lagi,"

Kata Keh Lok.

"Benar, siapa yang tak ngiler melihat harta karun? Katanya, malah kalau orang berbalik meninggalkan beberapa tail perak disitu, sumur disitu akan memanCurkan air jer nih untuk mereka minum,"

Ceng Tong ikut menerangkan "Ah, setan 2 penjaga kota itu rupanya temaha harta,"

Keh Lok tertawa.

"Ada banyak sekali sekali penduduk suku kita, karena terlibat hutang yang tak bisa dibajar, lalu Coba 2 menCari tempat itu. Tapi sekali pergi, mereka tak kembali lagi. Ada suatu kali, serombongan saudagar telah menolong seorang yang hampir mati kehausan ditengah padang pasir. Orang itik mengatakan telah berhasil menemukan kota kuno itu, tapi dia tak dapat keluar dari situ. Dilihatnya dipadang pasir itu ada tapak kaki orang, mengira kalau itu jejak orang lain yang lewat disitu, ia menurutkan jejak itu. Tiada tahunya, jejak itu adalah bekas tapak kakinya sendiri. Mondar-mandir seCara begitu, habislah tenaganya, terus roboh. Rombongan saudagar kafilah itu minta dia supaya menunjukkan letak kota kuno itu, tapi dia menolak, dengan alasan, sekalipun nanti seluruh harta karun kota itu diberikan padanya, sedikitpun dia tak kepingin memasuki kota keramat itu lagi."

"Wah, benar-benar menakutkan,"

Kata Keh Lok.

"Masih ada yang lebih dari itu,"

Sambung Hiang Hiang "Ketika seorang diri orang itu, mengitari padang pasir itu, tiba-tiba seperti ada suara memanggil namanya.

Ketika dia menghampiri, suara itu hilang lenyap, dan begitulah dia tersesat ditengah padang sahara."

"Dengan sekonyong-konyong menemu harta karun besar, karena keliwat girang, mungkin orang menjadi berobah pikirannya. Apalagi jalanan dipadang pasir itu sukar diturut, jadi mudah tersesat,"

Kata Keh Lok.

"Tapi asal saja pikirannya dapat bebas dari godaan harta karun itu, dengan sendirinya tentu jernih dan bisa menCari jalan. Belum tentu kalau disebabkan gangguan setan."

"Peta dalam pedang pusaka itu menunjukkan ada jalan kearah kota kuno itu,"

Sela Ceng Tong.

"Kita tak berhasrat Cari harta karun. Kalau berani mengambil, roh penjaga disitu tentu membikin susah kita. Pedang pusaka ini jauh lebih berguna daripada peta itu. Karena dapat membaCok putus segala macam senjata musuh,"

Demikian Hiang Hiang tertawa, lalu menCabut tiga lembar rambut diletakkan pada mata pedang, katanya pula.

"Menurut ayah, pedang pusaka yang aseli dapat membikin putus rambut yang ditiupkan. Entah ini bisa atau tidak?"

Ketika ia tiup rambutnya itu, rambutnya itu putus menjadi enam potong.

Seperti tingkah anak 2, Hiang Hiang ber-tepuk 2 tangan kegirangan.

Juga Ceng Tong akan menCobanya.

Diambilnya saputangan untuk dilolos selembar suteranya, lalu dilempar keatas.

Sekali tabas, benang sutera itu putus.

Tanpa merasa, Ciauw Cong dan Sam Mo ikut berseru memuji.

Diam-diam Ciauw Cong mengeluh, pedang "leng-bik-kiam"

Kepunyaannya itu, sekalipun dapat menabas kutung lain senjata, tapi masih kalah dengan pedang pusaka ditangan ketua HONG HWA HWE, tentu saja Ciauw Cong dan Sam Mo sangat mengiri sekali.

"Sekalipun pokiam ini sakti, tapi tak dapat membasmi sekian banyak sekali kawanan serigala. Tak ada gunanya,"

Kata Keh Lok mengelah napas.

"Peta ini jelas melukiskan bahwa kota kuno itu didirikan disekeliling sebuah gunung yang punCaknya menjulang kelangit. Dan menurut peta, gunung itu terletak tak jauh dari sini, semestinya bisa terlihat. Heran, mengapa tidak tertampak?"

Kata Ceng Tong pula pelahan-lahan.

"Ah, tak perlu kau sibukkan. Taruh kata gunung itu diketemukan, apa gunanya?"

Ujar Hiang Hiang.

"Kita bisa loloskan diri kesana. Disitu ada rumah dan "bentengnya!"

Sahut Ceng Tong.

"Benar!","

Seru Keh Lok seraya lonCat berdiri diatas pelana kuda.

Ia memandang kearah barat, namun seperti tadi, tak melihat suatu apapun lagi.

Selama itu, Ciauw Cong dan Sam Mo terus mengawasi dengan heran.

Mereka berempat pun rundingkan Cara lolos dari situ, tapi tidak memberi hasil.

Ketika hari mulai malam, Hiang Hiang membagikan ransum kering pada semua orang.

Mereka bergiliran menjaga.

Pada saat itu, Hiang Hiang teringat akan anak rusa piaraannya dirumah, entah sudah diberi makan entah belum.

Ia mendongak keatas, pikirannya melayang jauh kerumah.

"Ci, lihatlah itu!"

Tiba-tiba Hiang Hiang berteriak seraya menimjuk kelangit.

Ketika Ceng Tong memandangnya, tampak ditengah udara ada sebuah titik hitam yang diam tak bergerak.

Ceng Tong tanyakan benda apakah itu pada sang adik.

"Itu adalah seekor burung alap-alap. Tadi kulihat burung itu terbang lewat disini, heran, mengapa bisa berhenti diatas udara?"

Ceng Tong mengira adiknya salah lihat tadi, tapi Hiang Hiang tetap berkukuh.

Jilid 34

"KALAU bukan burung, titik hitam itu lalu apa? Namun jika burung mengapa "hinggap"

Diatas udara. Heran!"

Keh Lok ikut biCara.

Selagi begitu, sekonyong-konyong titik hitam itu kelihatan bergerak, makin dekat makin besar.

Dan benarlah, benda itu adalah seekor burung alap-alap yang terbang disitu.

Melihat itu, Ke7 orang itu masing-masing punya anggapan sendiri 2.

"Sayang burung itu terlalu tinggi. Coba tidak, tentu akan kusabit dengan kim-Ciam (jarum emas), biar mata ketiga Sam Mo ini terbuka,"

Pikir Ciauw Cong.

Sebaliknya Sam Mo lagi Cemas, yangan-yangan burung itu piaraan Thian-san Siang Eng.

Kalau sepasang suami isteri itu datang kembali, Celakalah mereka bertiga.

Hiang Hiang KiongCu yang hatinya masih putih bersih seperti anak, ia mengiri betapa bahagianya burung itu terbang diudara bebas.

Tidak seperti ia dan keenam orang itu, sedang berkutet menghadapi kawanan serigala buas.

Tidak demikian dengan Tan Keh Lok dan Ceng Tong yang rupanya sama pikirannya.

Ke 2nya tengah memeCahkan, apa sebabnya burung itu tadi dapat hinggap diatas udara Angin malam berhembus, Hiang Hiang naikkan tangannya untuk memperbaiki rambutnya yang kusut tertiup angia itu.

Keh Lok mengawasi bagaimana tangan Hiang Hiang yang putih meletak itu bergerak diantara pakaiannya yang berwarna putih pula.

Tiba-tiba orang muda itu tersedar dan meneriaki Ceng Tong.

"Lihatlah tangan adikmu itu!"

"Asri, tanganmu bagus benar!"

Ceng Tong memuji dengan elahan napas.

"Ya, memang bagus,"

Keh Lok tertawa.

"tapi tidakkah kau memahami artinya? Karena tangannya putih, waktu bergoyang dimuka pakaiannya putih itu, sukar dilihat jelas."

Ceng Tong tidak menjawab, ia tidak paham apa yang dimaksudkan Keh Lok.

"Terangnya, burung tadi hinggap pada sebuah punCak gunung yang berwarna putih!"

Keh Lok akhirnya menjelaskan "Ah, benar, benar! Karena langit disebelah sana berwarna putih, jadi punCak itu sampai tak kelihatan."

Seru Ceng Tong.

"Ya. Karena burung itu hitam, jadi kelihatan jelas!"

Keh Lok menambahkan. Kini tahulah Hiang Hiang kemana tujuannya perCakapan ke 2 orang itu.

"Tapi bagaimana kita dapat menuju kekota itu?"

Tali janya. Ceng Tong tak menyahut, hanya dibebernya peta tadi.

"Kita harus bersabar sampai matahari Condong lagi disebelah barat, kalau betul ada sebuah punCak gunung, tentu ada bayangannya. Nah, baru kita pelajari lagi perjalanati kekota itu."

"Tapi sekali-kali kita yangan unjuk gerakan apa-apa, agar kawanan bangsat itu yangan sampai mencium bau,"

Kata Keh Lok.

"Benar, kita pura-pura rundingkan soal kawanan serigala itu."

Ceng Tong setuju.

Lalu pura-pura Keh Lok menyeret seekor bangkai serigala.

Ketiganya kelihatan sedang memeriksa.

Haripun mulai sore.

Benar juga, dipadang pasir situ tampak membujur sebuah ba yangan raksasa.

"Perjalanan kepunCak gunung itu, masih kira-kira 25 li", kata Ceng Tong seraya pura-pura membalik badan bangkai binatang itu. Sementara Tan Keh Lokpun pura-pura memeriksa Cakarnya yang tajam.

"Kalau kita punya seekor kuda lagi disamping kuda putih itu, mungkin kita bisa lolos kesana,"

Katanya bisik-bisik.

"Coba kau atur supaya mereka mau lepaskan kita bertiga,"

Kata Ceng Tong. Tan Keh Lok mengiakan, ia pura-pura membelek perut serigala ladi.

"Huh, apanya yang aneh pada bangkai itu? Tan-tangkeh, apakah kalian sedang rundingkan penguburannya?"

Ciauw Cong mengejek.

"Kami sedang rundingkan Cara meloloskan diri. Cobalah lihat, perut serigala ini kempes betul-betul,"

Sahut Keh Lok.

"Maka kita akan dnyadikan makanannya,"

Balas Ciauw Cong. Sam Mo tertawa geli.

"Begini kelaparan binatang ini sampai tubuhnya kurus kering. Terang mereka tak mau lepaskan setiap korban yang bisa dimakannya,"

Kata pula Keh Lok.

"Memang mereka sangat bertekun menanti. Setengah harian kau gunakan memeriksa bangkai binatang itu, kiranya telah mendapat jawaban "sepenting"

Itu!"

Ejek Ciauw Cong pula.

"Kukuatir, keCuali Cara ini, susah kita dapat lolos."

Sahut Keh Lok. Sam Mo serentak lonCat bangun, untuk mendengarkan dari dekat.

"Daya apakah yang Tan-tangkeh punyakan?"

Tanya Ciauw Cong.

"Kita bertahan disini sekarang, tapi begitu bahan bakar habis, bukankah akan habis juga jiwa kita?"

Kata Keh Lok tertawa. Ciauw Cong dan Sam Mo mengangguk.

"Sebagai orang kangouw, kita paling menjunjung keadilan dan kebenaran. Rela korbankan diri untuk menolong orang,"

Kata Keh Lok pula.

"Misalnya keadaan kita pada saat ini. Asal ada salah seorang yang berani menjual jiwa untuk menobros keluar, tentu kawanan serigala itu akan mengejarnya. Dengan begitu kita yang enam orang, tentu ada harapan tertolong."

"Tapi bagaimana nasib orang itu?"

Tanya Ciauw Cong.

"Kalau nasibnya baik, dia tentu keburu bertemu dengan rombongan penolong. Namun kalau tidak, kebinasaannyapun takkan sia-sia, karena dapat menolong lain orang. Bukankah itu jauh lebih berarti daripada mati konyol disini?!"

Ujar Keh Lok.

"Pendapatmu itu tepat sekali. Tapi siapa yang sudi melakukannya? Karena sembilan dari 10 bagian, dia tentu binasa,"

It Lui utarakan pikirannya.

"Nah, kita kepingin dengar pendapat Thing-toako yang lebih sempurna,"

Sahut Keh Lok. Atas itu, It Lui menjadi bungkam.

"Bagaimana kalau kita undi saja? Siapa yang terpilih harus berangkat,"

Tiba-tiba Haphaptai usul.

Ciauw Cong segera mendapat pikiran.

Dia setuju dengan usul itu.

Sedang maksud Keh Lok tadi, ia sendirilah yang akan melakukan usaha itu.

Dengan begitu dapatlah dia suatu jalan untuk lolos bersama-sama ke 2 Cici beradik itu.

Namun untuk tak menerbitkan keCurigaan orang, Keh Lok setuju juga, katanya.

"Kita berlima saja yang berundi. Ke 2 nona ini boleh tak usah."

"Kita toh manusia semua, mengapa ada perbedaan,"

Sahut Kim Piauw.

"Kita adalah orang laki 2, tidak dapat melindungi ke 2 nona itu saja, sudah malu rasanya. Mengapa kita harus mengharapkan tenaga mereka untuk menolong kita? Aku lebih suka binasa dimulut serigala, daripada hidup dan dipandang hina oleh sekalian sahabat kangouw,"

Kata Hap-haptai dengan tegas.

"Meski benar laki 2 dan perempuan itu berlainan jenis, tapi jiwa kita toh masing-masing hanya satu. Kalau diundi, semua harus diundi,"

It Lui tunyang pendapat Kim Piauw.

Jadi kini ada 2 pendapat.

Tan Keh Lok dan Haphaptai disatu fihak, It Lui dan Kim Piauw dilain fihak.

Sekalipun ke 2 orang yang belakangan itu bersatu pendapat, tapi pikiran ke 2nya berlainan.

Dengan tambah 2 orang lagi, tentu kans terpilihpun berkurang, demikian It Lui.

Tidak demikian dengan Kim Piauw.

Dia benci sekali pada Ceng Tong.

Kalau nona Cantik itu tak bisa jatuh ketangannya, biar dimakan serigala saja.

Karena suaranya berimbang, Ciauw Cong diminta menentukan keputusannya.

Ternyata siang 2 orang she Thio ini sudah punya akal.

Dia yakin, dirinya tentu tak bakal terpilih.

Pikirnya, nona yang satu (Hiang Hiang), dimaukan oleh baginda, mengapa ia sendiri tak mau yang lainnya (Ceng Tong)?

Setelah mengambil putusan, berkatalah ia dengan angkuh-nya.

"Taytianghu (laki 2 sejati) lebih utamakan nama kehormatan daripada jiwanya. Aku, Thio Ciauw Cong, adalah seorang laki 2, mengapa harus tawar menawar dengan wanita?"

It Lui dan Kim Piauw serentak bungkam.

"Baiklah, kita kasih murah pada ke 2 nona itu,"

Kata Kim Piauw.

"Ya biarlah. Dan sekarang kasih aku yang membuat undian itu,"

It Luipun menyetujuinya, seraya berjongkok memungut ranting kayu sebagai alat undi.

"Mungkin kepunyaanku ini lebih baik,"

Kata Ciauw Cong sambil mengeluarkan belasan uang tembaga. Setelah memilih 5 biji, sisanya dimasukkan lagi kedalam kantongnya, katanya.

"Inilah 4 buah Yong-Ceng-po (uang tembaga pemerintah kaisar Yong Ceng). Dan ini sebuah Sun-ti-po (dari pemerintah kaisar Sun Ti). Lihatlah, besar kecilnya sama semua bukan?"

It Lui memeriksa dan memang benar. Dia berkata.

"Baik, siapa yang mengambil Sun-ti-po, dialah yang terpilih."

"Tepat. Thing-toako, masukkanlah kedalam kantongmu,"

Seru Ciauw Cong. Setelah uang itu dimasukkan, maka Ciauw Cong lalu bertanya siapa yang harus mengambil lebih dulu. Dia mengawasi Kim Piauw dan menjadi geli ketika nampak tangannya gemetar.

"Ku-jiko, yangan takut. Mati-hidup itu sudah takdir Yang Kuasa. Mari aku dulu yang pilih,"

Kata Ciauw Cong dengan tertawa. Tanpa tunggu jawaban, Ciauw Cong segera masukkan tangannya kedalam kantong. Sekali tangan menjamah, tahulah ia akan tebal tipisnya mata uang itu.

"Sayang, sayang!"

Ia tertawa ketika membuka jarinya untuk diperlihatkan kepada semua orang.

Ternyata sebuah Yong-Ceng-po.

Sekalipun mata uang Yong-Ceng dan Sun-ti sama besar kecilnya, tapi Sun-ti-po lebih tua seratus tahun.

Karenanya agak tipis.

Memang tebal tipisnya mata uang itu, sukar dikenal oleh orang kebanyak sekalian, tapi tidak demikian dengan Ciauw Cong.

Dahulu ketika masih diperguruan, sebelum meyakinkan ilmu jarum hu-yong-Ciam, lebih dulu dia harus "berlatih pakai mata uang tembaga.

Jadi tangannya sudah keliwat paham menjamah uang tembaga.

Orang ke 2 yang mengambil, adalah Tan Keh Lok, siapapun dapat mengambil juga Yong-Ceng-po.

"Sekarang, Ku-jikolah!"

Kata Ciauw Cong. Mendadak Kim Piauw hunus lak-houw-jah, dikibaskan dan berkata.

"Sun-ti-po itu sengaja dibikin supaya kita bertiga yang mengambil, ha, akalan busuk!"

"Itu se-mata 2 mengandalkan peruntungan masing-masing, bagaimana dikatakan akal busuk?"

Menegas Ciauw Cong.

"Oho, mata uang itu milikmu, dan kau pulalah yang pertama mengambil. Siapa mau perCaja kalau kau tak main gila memberi tanda pada mata uang itu?"

Sahut Kim Piauw murka. Merah selebar muka Ciauw Cong karena geram.

"Baik, ambil ah uangmu, kita pilih lagi!"

Katanya kemudian.

"Tidak, kita masing-masing mengeluarkan sebuah mata uang. Jadi tak ada orang yang bisa menCelakakan lainnya,"

Bantah Kim Piauw.

"Baik! Kalau memang mati, biarlah! Seorang laki 2 mengapa begitu rewel!"

Ejek Ciauw Cong. Masing-masing kini mengeluarkan sebuah Yong-Ceng-po, hanya Tan Keh Lok yang kebetulan tak membawa uang. Maka katanya.

"Aku tak membawa uang, Thio-toako, pinjamilah uangmu itu. Aku tak kuatir kau main gila."

"Memang Tan-tangkeh berbeda dengan orang kebanyak sekalian. Nah, saudara-saudara, disini telah ada 4 buah Yong-Ceng-po. Untuk Sun-ti-po, pakailah ini saja. Ku-lbji, kau setuju apa tidak?"

Demikian Ciauw Cong membikin panas hati orang.

"Siapa sudi pakai Sun-ti-po! Bukankah kau punya Yong-Ceng-po dari tembaga putih? Yang empat lainnya, dari tembaga kuning. Nah siapa yang memilih tembaga putih, dialah yang terpilih!"

Seru Kim Piauw dengan marah. Sejenak merehung, tertawalah Ciauw Cong.

"Baiklah, nemua menurutkan kau seorang!. Memang kemungkinan besar, kaulah yang akan jadi santapan serigala nanti!"

Ojeknya. Sambil berkata, tangan Cauw Cong memnyat pelan-pelan tembaga putih itu sehingga agak lekuk. Setelah itu lalu diCampur dengan 4 uang tembaga biasa.

"Kalau pilihan tidak d jatuh padamu atau aku, kita ber 2 masih ada lain penyelesaian lagi!"

Kiem Piauw menantang.

"Dengan segala senang hati akan kupenuhi, sahabat!"

Sahut Ciauw Cong. Segera kelima buah mata uang Yong Ceng-po itu dimasukkan kedalam kantong Haphaptai, dan katanya.

"Kalian bertiga yang ambil dulu, baru aku dan akhirnya Tan-tangkeh. Jadi tidak ada mulut usil lagi yang menuduh aku main gila!"

Pada pikiran Ciauw Cong, dari sisanya yang 2 buah itu, tentu dia akan dapat mengambil yang tembaga kuning.

Dan dia telah memperhitungkan, bahwa Tan Keh Lok tak nanti mau rojokan siapa yang lebih dulu mengambilnya.

Ketiga Sam Mo menurut.

"Losu, ambil ah dulu!"

It Loei minta pada Haphaptai, siapa sebaliknya minta Toakonya itu yang ambil lebih dahulu.

"Dulu atau belakangan, serupa!"

Ciauw Cong menertawakan.

Melihat sikap orang she Thio yang tenang 2 saja menghadapi kematian, ketiga Sam Mo itu malu hati.

Segera Haphaptai ulurkan tangannya kedalam kantong.

Tiba-tiba kedengaran Ceng Tong berseru dalam bahasa Mongol.

"Yangan ambil yang lekuk!"

Haphaptai melengak dan memang pertama-tama tangannya menjamah sebuah mata uang yang agak lekuk.

Buru-buru dia Cari lainnya, terus diambilnya keluar.

Memang benar, itu yang dari tembaga merah, bukan yang putih.

Kiranya diantara sekian suku bangsa didaerah Hwe, ada juga sekelompok suku Mongol.

Juga ketika Ceng Tong pe-Cahkan barisan Tiau Hwi, ia mempunyai beberapa kompi anak orang Mongol.

Karenanya, bisa jugalah nona itu berbahasa Mongol.

Tadi dengan matanya yang lihai, dapat ia ketahui perbuatan Ciauw Cong untuk memnyat matauang, maka ia tak tega melihat Haphaptai sampai memilih keliru.

Diantara Sam Mo itu, orang"

Mongol itulah yang paling lurus hatinya.

Beberapa kali, ketika ditawan, Kiem Piauw hendak mengganggunya, namun setiap kali Haphaptai selalu menentang.

Dan kali ini juga orang Mongol itulah yang membukakan tali ikatannya.

Maka dengan peringatannya itu.

Ceng Tong bermaksud untuk membalas budi.

Giliran ke 2, jatuh pada Kiem Piauw.

Haphaptai gunakan bahasa rahasia kaum hek-to didaerah Liauwtang, untuk memperingatinya.

"Yangan pegang, lingkaran berputar!"

Artinya.

yangan ambil benda yang lekuk.

Kiem Piauw dan It Lui mengawasi Ciauw Cong dengan gusar.

Tapi ke 2nya berhasil dapat mengambil yang tembaga merah.

Baik Tan Keh Lok maupun Ciauw Cong, sama mengunjuk keheranan.

Bermula Ceng Tong pakai bahasa Mongol, kemudian Haphaptai gunakan kata-kata rahasia.

Sedikitpun mereka tak tahu artinya.

Tan Keh Lok memandang Ceng Tong.

"Yangan ambil uang yang lekuk!"

Hiang Hiang mendahului berseru dalam bahasa Ui.

"Yang tembaga putih sudah dipenCet lekuk oleh bangsat itu!"

Ceng Tong menjelaskan.

Diam-Keh Lok girang.

Karena justeru itulah yang dinantikannya.

Mereka bertiga memang akan angkat kaki dari situ.

Terang nanti, orang she Thio itu tentu mengambil yang tembaga (merah).

Dengan alasan undian itu, mereka tentu tak menghalangi kepergian mereka bertiga.

"Ha, kalau nanti kau berada didalam perut serigala, yangan sesalkan aku", sebaliknya Ciauw Cong berpikir demikian. Dan tangannyapun segera akan diulurkan kekantong Haphaptai. Pada saat itu Keh Lok perhatikan bagaimana sinar mata yang ber-apia dari Kim Piauw itu diarahkan kepada Ceng Tong.

"Ah, kalau mereka berkeras tak mau lepaskan Cici-beradik itu ikut padaku, Celakalah!"

Tiba-tiba dia berpikiran lain. Tangan Ciauw Cong sudah masuk kedalam kantong, waktu tiba-* Keh Lok meneriakinya.

"Ambil ah yang lekuk, dan tinggalkanlah yang rata untukku!"

Ciauw Cong terkejut, tanpa merasa, tangannya ditarik keluar iagi.

"Apa yang lekuk, apa yang rata itu?!"

Tanyanya berlagak pilon.

"Dalam kantong itu masih ketinggalan 2 buah mata uang. Sebuah telah kau pijet sampai lekuk. Aku maukan yang masih rata saja!"

Katanya sembari sebat sekali sang tangan masuk kedalam kantong Haphaptai dan mengambil keluar sebuah uang tembaga merah. Segera katanya pula dengan tertaw^.

"Aha, kau gali lubang untuk kematianmu sendiri. Sekarang yang tembaga putih itu, untukmulah!"

Wajah Ciauw Cong puCat lesi, seketika, diCabutlah pedangnya.

"Telah ditetapkan, aku dulu yang mengambil. Mengapa kau berani lanCang mendahuluiku?"

Teriaknya murka. UCapan itu ditutup dengan sebuah serangan dalam gerak "jun-hong-ho-liu,"

Angin Chun menghembus pohon liu, batang leher Keh Lok teranCam. Sambil tundukkan kepala, Keh Lok ulur 2 buah jari tangan kanannya untuk menutuk jalan darah "thian-ting-hiat"

Disebelah leher orang.

Ciauw Cong tak mau menghindar, begitu pedang ditarik balik terus dipapaskan kejari musuh.

Tapi ketua HONG HWA HWE itupun pantang menghindar.

Sebat sekali, tangan dibalik untuk tangkiskan pedang pendeknya keatas.

"trangng........."

Pedang Ciauw Cong telah terbabat kutung, membarengi itu Keh Lok terus jujukan ujung pokiamnya kemuka.

Belum lagi ujungnya tiba.

Ciauw Cong sudah rasakan tiupan hawa dingin menyampok mukanya.

Namun Hwe-Chiu-poan-koan itu lihai sekali.

Dalam kekalahan dia tetap berusaha merebut kemenangan.

Lima jari tangannya kiri maju menyukil sepasang mata lawan, hebatnya bukan terkira, Tan Keh Lok sedikit ajalkan tusukannya, karena gerakkan bahunya menyampok serangan musuh tadi.

Dan sedikit kelambatan ini sudah Cukup memberi kesempatan, pada Ciauw Cong untuk lonCat mundur tiga tindak.

Menyaksikan perkelahian yang berlangsung dalam gerakan yang serba Cepat itu, ketiga Sam Mo maupun Ceng Tong kesima dan kagum.

Keh Lok kembali merangsek maju.

Tapi Ciauw Cong telah mendahuluinya, ia lemparkan kutungan pedangnya yang tinggal separoh itu kepada Ceng Tong.

Dan ternyata tipu itu telah memberi hasil yang diharapkan.

Karena kuatir Ceng Tong yang masih lemah itu tak dapat menghindar, buru-buru Tan Keh Lok melesat kemuka sinona.

Sekali kibaskan tangan, kutungan pedang Ciauw Cong itu, kena kesampok jatuh ketanah.

Tapi ternyata serangan Ciauw Cong itu adalah gerak siasat yang disebut "suaranya dari sebelah timur, tapi yang diserang sebelah barat."

Setelah Keh Lok kena diakali untuk menolong Ceng Tong. Ciauw Cong melesat kesamping Hiang Hiang terus menangkap ke 2 tangan nona itu.

"Lekas keluar sana!"

Bentaknya sambil berpaling pada Keh Lok, siapa nampak kesima.

"Kalau kau tetap membangkang, nona ini segera akan kulempar pada serigala!"

AnCam Ciauw Cong.

AnCaman itu dibuktikan dengan mengangkat tubuh Hiang Hiang keatas.

Sekali ayun, nona itu pasti terlempar keluar.

Darah didada Keh Lok seakan-akan mendidih.

Seketika ia kemekmek, tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Lekas naiki kudamu menobros keluar!"

Ciauw Cong ulangi anCamannya.

Keh Lok Cukup kenal isi perut Ciauw Cong, Apa yang dikatakan tentu dikerjakan.

Apa boleh buat, kuda putih segera dituntun keluar.

Kembali tubuh Hiang Hiang diputar sekali oleh Ciauw Cong, seraya berkata.

"Akan kuhitung sampai tiga . Kalau kau tetap tak mau, akan kulempar tubuh nona ini. Nah, satu...... 2........."

Belum lagi hitungan ketiga diserukan, tahu-tahu 2 ekor kuda meneryang keluar.

Kiranya, selagi mata semua orang ditujukan pada Tan Keh Lok dan Ciauw Cong, Ceng Tong telah dapat menghampiri kuda, sembari memutar obor, terus mereka meneryang keluar.

Diantara jeritan kaget dari ketiga Sara Mo, Tan Keh Lok telah dapat menCengkeram batang leher dari 2 ekor serigala yang saat itu lagi meneryang masuk.

Sekali kaki Keh Lok menjepit perut kuda, binatang sakti itu bebenger keras lalu melonjak keatas.

Dan membarengi itu, 2 ekor serigala tadi, ditimpukkan pada Ciauw Cong.

Kesima dengan kesaktian kuda putih itu, ditambah pula ditimpuk 2 ekor serigala, Ciauw Cong lepaskan Hiang Hiang untuk menghindar kesamping.

Tan Keh Lok tak mau kasih hati.

Sepasang tang"annya saling susul-menyusul menawurkan biji Catur pada musuhnya itu.

Sedang bijis Catur itu masih me-layang 2, dia membongkok kebawah untuk sambar pinggang Hiang Hiang keatas kuda.

Dan ketika ujung kakinya menCongkel perut kuda, binatang itu kembali membubung keatas terus lonCat keluar dari lingkaran api itu.

Sementara itu Ciauw Cong kibaskan tangannya, seekor serigala terbalik jungkal, dan sembari bongkokkan badan, dia memburu maju.

Karena dalam keadaan gugup, biji Catur Keh Lok tadi tak ada sebuahpun yang mengenai, dan sebagaian dapat dibikin jatuh oleh Ciauw Cong.

Begitu dekat, tangan kiri Ciauw Cong segera membetot ekor kuda itu sekuat-kuatnya supaya tertarik balik kedalam lingkaran lagi.

Tapi ia menjadi kaget tidak kepalang bila ia sendiri rasakan seperti ditarik pergi sekeras-kerasnya, sehingga sempoyongan hampir terseret keluar.

Ini disebabkan, pertama kakinya belum menginjak betul ditanah.

Dan ke 2, ia salah taksir akan tenaga kekuatan kuda putih yang sakti luar biasa itu.

Ketika kakinya terangkat, segera Ciauw Cong malah mau meneruskan dengan berjumpalitan lonCat kepunggung kuda, untuk merampas Hiang Hiang kembali.

Tapi tiba-tiba dibelakang terasa ada angin mernyambar.

Itulah sabetan pedang dari Tan Keh Lok, yang yakin kali itu tentu berhasil.

Tapi tak disangkanya, jago Bu Tong Pai itu luar biasa uletnya.

Tatkala ujung pedang hampir mengenai, ia jejakkan pula kakinya keatas untuk berjumpalitan kebelakang.

Dan begitu melayang kebawah sebelah kakinya tepat menginjak diatas kepala seekor serigala.

Belum lagi binatang itu sempat meronta, kaki Ciauw Cong telah dienjot lagi, melayang kembali kedalam lingkaran api.

Lepas dari serangan jagoan Bu Tong Pai itu, Tan Keh Lok Cepat keprak kudanya untuk mengejar Ceng Tong yang sementara itu sudah jauh meneryang kedalam kepungan serigala dengan memutar obornya.

Sebelum dapat menyusul, tak sedikit kesibukan Keh Lok menghadapi serangan berpuluh-puluh 2 ekor serigala.

Tapi berkat kesaktian pedang pusaka yang luar biasa itu, semua serigala itu dapat disingkirkan.

Ada yang terpotong tenggorok-annya, kutung kakinya dan putus tubuhnya.

Keh Lok sampai heran sendiri, karena binatang 2 itu dapat dibunuhnya semudah orang membelah buah semangka dan mengiris sajuran.

Sekejab saja, ke 2nya dapat menobros keluar dari kepungan.

Namun kawanan serigala itu tak mau melepaskannya mentah 2 dan terus mengejarnya.

Tapi lari ke 2 ekor kuda itu lebih pesat, sebentar saja kawanan serigala itu sudah ketinggalan berpuluh-puluh 2 li dibelakang.

Memang, untuk menobros keluar dari kawanan serigala itu tidak sukar.

Hanya saja sukarlah kiranya untuk lolos betul-betul dari pengejaran binatang 2 yang menderita kelaparan itu.

Siang malam, mereka tak henti 2nya mengejar korbannya itu sehingga kalau tak dapat bertahan, orang tentu kepayahan dan akhirnya jatuh menjadi mangsa mereka.

Tan Keh Lok bertiga lari.} kesebelah barat.

Tapi didaerah situ, batu-batu pegunungan makin banyak sekali, jalanan makin berliku 2.

Memang untuk menCapai punCak gunung yang menjulang keatas itu, tak sedekat seperti pandangan sang mata.

Kira-kira tengah malam, baru tampak punCak itu dengan jelas menjulang dihadapan.

"Menurut peta, kota itu didirikan disekeliling gunung itu yang nampaknya hanya 10an li jauhnya!"

Ceng Tong mengeluh.

Mereka mengaso untuk memberi minum kudanya.

Keh Lok meng-elus 2 bulu suri kuda putih itu dengan rasa terima kasih yang tak terhingga.

Kalau tiada bantuan kuda yang sakti itu, taruh kata dia dapat lolos, tapi Hiang Hiang pasti akan terampas oleh bangsat she Thio itu.

Beberapa saat kemudian, ke 2 kuda itu tampak segar lagi, tapi dalam pada itu lolong serigala kembali terdengar.

"Mari!"

Seru Keh Lok seraya naik keatas kuda Ceng Tong.

Ceng Tong tahu maksud orang muda itu.

Ia segera pondong adiknya untuk bersama naik kuda putih tunggangan Keh Lok tadi.

Kembali mereka teruskan perjalanannya kearah barat.

Malam itu CuaCa terang.

Dewi malam penCarkan Cahajanya yang gilang gemilang.

PunCak gunung Pek-giok-nia itu tampak putih seperti salju.

"Ci, kukira dipunCak gunung tentu ditinggali oleh para dewa bukan?"

Kata Hiang Hiang sambil memandang kepunCak gunung. Sebelah tangan Ceng Tong memegang kendali, sedang lain tangannya merangkul adiknya.

"Coba saja kita lihat nanti, entah dewa entah dewi,"

Sahutnya dengan tertawa.

Tengah ber-Cakap 2 itu, bayangan dari gunung itu menimpali pada tubuh mereka.

Ketiganya mendongak, sama memandang dengan penuh kekaguman.

Sekalipun dekat nampaknya, namun untuk menCapai kekakinya saja bukan perjalanan yang mudah, karena disitu terdapat banyak sekali bukit 2 dan tanjakan yang Curam.

Keadaannya jauh berbeda dengan padang pasir yang luas bebas.

Disitu terdapat banyak sekali sekali jalanan 2 gunung yang sukar didaki.

Dan yang paling memusingkan, entah jalanan mana yang dapat menuju keatas.

punCaknya.

"Dengan adanya sekian bjtnyak jalanan ini, pantas kalau banyak sekali orang yang tersesat,"

Kata Keh Lok.

"Menurut peta ini,"

Kata Ceng Tong sembari membuka pula peta.

"jalanan kekota kuno itu adalah "kiri-tiga-kanan-2"."

"Apa artinya itu?"

Tanya Keh Lok.

"Disini tak diberi keterangan apa-apa,""

Sahut sigadis. Saat itu, suara lolong serigala makin riuh, seperti menjadi kalap.

"Hai, mengapa pinatang itu begitu Cepat larinya", Keh Lok terkejut. Sesaat lagi, alun lolong-serigala itu kedengaran menyedihkan, sehingga mereka bertiga terCekat hatinya.

"Mereka melolong sedemikian sedih, karena apa?"

Tanya Hiang Hiang.

"Ha, mungkin karena perutnya merintih,"

"tertawa Keh Lok.

"Sekarang tepat tengah malam, mereka berhenti karena akan melolong pada rembulan. Begitu lolong itu sirap, mereka tentu mengejar lagi. Ayo, kita lekas Cari jalan kedalam gunung,"

Menerangkan Ceng Tong. Disebelah kiri ini ada 5 buah jalanan. Kalau didalam peta tadi disebut "kiri tiga, kanan 2,"

Kita ambil saja jalanan yang nomor tiga ini,"

Kata Keh Lok.

"Kalau sampai jalanan itu buntu, mungkin kita tak sempat balik kemari,"

Kata Ceng Tong.

"Kalau begitu, kita bertiga mati bersama,"

Sahut Keh Lok.

"Ya, Cici, mari kita jalan."

Jalanan nomor tiga itu ternyata makin kemuka makin sempit.

Pada ke 2 tepinya, adalah batu-batu pegunungan yang ber-jajar 2 merupakan dinding.

Terang kalau dibuat oleh manusia.

Tak berapa lama, disebelah kanan kembali tertampak tiga buah jalanan.

"Kita ketolongan!"

Seru Ceng Tong kegirangan.

Mereka keprak kudanya untuk mengambil jurusan nomor 2.

Ternyata disitu merupakan jalanan yang jarang didatangi orang.

Ada sebagian tempat, penuh ditumbuhi rumput setinggi orang, ada pula sebagian yang seluruhnya tertutup pasir".

Untuk melalui itu, terpaksa mereka turun dan menuntun kudanya.

Kira-kira lima-enam li lagi, disebelah kiri kembali kelihatan tiga buah simpang jalan.

Tiba-tiba kedengaran Hiang Hiang menjerit keras.

Kiranya dimulut jalan itu, terdapat setumpuk tulang belulang.

Tan Keh Lok buru-buru memeriksanya dan dapatkan bahwa tulang belulang itu berasal dari seorang manusia dan seekor onta.

"Dia tentu tersesat tak dapat keluar dari sini,"

Katanya.

Kali ini mereka mengambil persimpangan nomor tiga .

Jalanan itu terbentang panyang.

Sedang hawapun terasa makin dingin.

Tiba-tiba ditepi jalan, kembali ada setumpuk tulang putih yang di-sela 2nya tampak berkilau 2.

Kiranya disitu terdapat banyak sekali batu mustika yang berharga.

"Orang itu beruntung mendapatkan banyak sekali sekali barang berharga, tapi Celakalah, dia tak dapat keluar,"

Kata Ceng Tong.

"Yang kita ambil adalah jalanan yang benar, tapi disana sini masih terdapat tulang rerangka. Apalagi pada jalanan yang keliru, tentu penuh berserakan tulang 2 semacam itu,"

Kata Keh Lok pula.

"Nanti kalau keluar, kita yangan membawa barang-barang berharga itu,"

Ujar Hiang Hiang.

"O, kau takut pada penunggunya bukan?"

Keh Lok menggoda.

Namun dia terpaksa mengiakan ketika Hiang Hiang memintanya lagi.

Setelah malam mereka berjalan dnyalan yang ber-liku 2 itu.

Menjelang fajar, ketiga orang dan ke 2 ekor kuda itu nampak kepayahan.

Ceng Tong mengajak mengaso.

Tapi Keh Lok usul, nanti saja kalau sudah ketemukan rumah.

Tak berapa lama, mereka tiba pada sebuah tanah lapang.

Sinar matahari pagi terang benderang kelihatannya.

Sebuah punCak gunung yang putih warnanya, menonjol kelangit.

Disebelah mukanya, penuh dengan deretan perumahan.

Se kalipun rumah 2 disitu kelihatan rusak karena tak terawat, namun bangunannya mewah dan besar.

Merupakan bekas kota yang dahulunya sangat indah megah.

Anehnya, dari situ tak kedengaran suatu suarapun.

Ja, sampai suara seekor burungpun tak ada.

Seumur hidup, baru pertama ini mereka melihat pemandangan yang sedemikian seramnya, hingga tanpa terasa, mereka tak berani bernapas keras-keras.

Setiba disitu, adalah Keh Lok yang pertama masuk kedalam kota.

Tempat itu kering, tiada tumbuh 2an yang hidup.

Alat perkakas dalam rumah itu, masih utuh, sekalipun entah sudah berapa lama usianya.

Mereka bertiga masuk kedalam sebuah rumah yang terdekat.

Dimana ruangannya Hiang Hiang melihat sepasang sepatu wanita bersulamkan bunga, yang nampaknya masih segar.

Karena ketarik, didekati dan disentuhnya, tapi bunga itu segera hanCur berobah menjadi abu.

Bukan main terkejutnya Hiang Hiang.

"Sekalipun hujan angin tak dapat merembes masuk kemari, tapi bahwa segala benda itu masih tetap utuh dalam usianya beribu tahun, sungguh ajaib sekali,"

Kata Keh Lok. Kini mereka menyusur disepanyang jalan. Ditepi jalan banyak sekali berserakan tulang belulang, golok, tombak dan lain-lain alat perang.

"Menurut yang kalian Ceritakan tadi, kota ini teruruk oleh badai pasir. Tapi menurut keadaannya, tidak begitu,"

Kata Keh Lok.

"Ya, benar. Tiada tampak bekas urukan pasir, tapi mirip dengan suasana sehabis perang besar. Seluruh penduduk dikota ini, habis terbinasa,"

Kata Ceng Tong.

"Pada sebelah luar dari kota ini, dibuat ratusan jalanan yang menyesatkan. Siapa saja mudah tersesat. Entah bagaimana musuh bisa masuk kemari,"

Bantah Hiang Hiang.

"Ah, tentu ada penghianatan,"

Sahut Ceng Tong. Masuk kedalam sebuah rumah, ia beber petanya diatas sebuah meja, akan diperiksanya lagi. Tapi begitu tersentuh, meja itu roboh hanCur karena sudah lapuk.

"Rumah 2 disini sudah lapuk semua. Kendati rumah batu. tapi dikuatirkan tentu akan roboh diteryang kawanan serigala itu,"

Kata Ceng Tong sambil pungut peta itu.

"Ini pusat kota, sekian banyak sekali tanda-tanda ini, kebanyak sekalian adalah tempat 2 penting. Bangunannya kebanyak sekalian pun kokoh 2. Lebih baik kita kesana,"

Katanya pula.

Dengan menurutkan petunjuk pada peta itu, mereka berjalan lagi Jalanan dalam kota kuno itu, juga ber-biluk 2, hampir merupakan dalam istana rahasia.

Sehingga tanpa peta, mereka pasti akan tersesat.

Kira-kira setengah jam, sampailah mereka ketengah kota.

sebagaimana diunjuk oleh pertandaan dalam peta.

Ketika diperhatikan, ketiganya mendelu putus asa.

Karena itu adalah kaki dari Giok-nia (punCak putih seperti batu giok warnanya).

Sekali-kali tiada istana apa-apa.

Dilihat dari dekat, punCak Giok-nia luar biasa bagusnya.

Seluruhnya tertutup salju putih dan bening Cahajanya.

Kalau ada orang menemu segumpal batu giok, seumur hidupnya pasti tak habis dimakan.

Tetapi siapa nyana, disitu terdapat gunung batu giok yang tak terhitung banyak sekalinya.

"Kawanan serigala! Adakah mereka juga punya peta? Heran!"

Tiba-tiba Hiang Hiang berteriak demi didengarnya lolong serigala dari kejauhan.

"Hidung mereka merupakan peta, karena mereka dapat membaui jejak kita,"

Menerangkan Keh Lok.

"Ha, tubuhmu mengeluarkan bau harum. Dengan itulah mereka dapat membaui untuk mengejar kita,"

Ceng Tong menggoda adiknya. Tiba-tiba tangannya menunjuk pada peta, katanya kepada Tan Keh Lok.

"Lihatlah ini! Terang sebuah punCak gunung, mengapa banyak sekali diCorat-Coret dengan sekian banyak sekali jalanan 2". Tan Keh Lokpun ikut memeriksa."

"Apakah punCak itu kosong dan boleh dimasuki?"

Tanyanya.

"Kalau tidak begitu, apa lagi......... Sekarang, bagaimana kita dapat memasukinya?"

Tanya Ceng Tong. Diperiksanya peta itu sekali lagi dengan Cermat, lalu dibacanya dalam bahasa Han.

"Kalau akan masuk kedalam keraton, boleh memanjat keatas punCak puhun, berseru tiga kali kepada dewa penunggu.

"Ay-liong-bing-pat-seng!"

"Huh, apa artinya itu?"

Kata Hiang Hiang.."Mungkin suatu tanda rahasia. Tapi mana disini ada puhun?"

Balas bertanya Ceng Tong. Sementara itu, lolong serigala makin dekat. Akhirnya berkatalah ia.

"Ayo, kita tak boleh berajal, lekas masuk kedalam rumah!"

Mereka bergegas-gegas lari kedalam sebuah rumah yang terdekat.

Baru saja kaki Keh Lok melangkah 2 tindak, tiba-tiba dilihatnya dibawah situ terdapat sebuah benda yang menonjol, buru-buru ia membongkok memeriksanya.

"Hola, ada sebuah puhun besar disini!"

Serunya.

"Benarlah, puhunnya sudah roboh, tinggal akarnya yang besar!"

Kata Hiang Hiang menghampiri.

"Panjatlah kepunCak puhun itu, berserulah dan keratin itu tentu terbuka............ Kalau begitu, keraton itu pasti berada didalam punCak gunung. Adakah kata-kata itu merupakan kunCi-pembuka, mungkinkah segala doa dan jampe itu ada?"

Tanya Ceng Tong.

Hiang Hiang memastikannya, karena ia paling perCaja akan adanya roh 2 dewa.

Sebaliknya Tan Keh Lok menerangkan, bahwa tentu didalam keraton itu ada orangnya, begitu mendengar tanda-rahasia itu, mereka tentu segera membukainya.

"Masa setelah berabad 2 lamanya, orang itu masih hidup,"

Bantah Hiang Hiang. Ia mendongak keatas untuk melihatnya. Tiba-tiba ia berseru.

"Mungkin pintu goa itu disini, lihatlah, diatas itu bukankah ada bekas tapak kaki orang?"

Keh Lok dan Ceng Tongpun segera dapat melihatnya.

Mereka girang.

Keh Lok membekal pedang pusakanya tadi, terus merajap keatas tembok untuk memeriksanya.

Beberapa tombak lagi, berhasil ah dia sampai ditempat bekas tapak kaki itu.

Ceng Tong dan Hiang Hiang bersorak kegirangan.

Keh Lok melambai tangannya, lalu mulai memeriksa dinding punCak itu.

Bekas 2 tanda pintu gua, tampak dengan jelas.

Hanya karena saking lamanya, gua itu terpendam pasir.

Sembari memegangi tonjolan pada dinding punCak, dia pakai pedang untuk membersihkan pasir 2 itu.

Pecahan batu-batu giok disebelah gua, diCukil dan dilemparkan kebawah.

Tak berapa lama, pekerjaan itu telah menghasilkan sebuah lubang yang Cukup dimasuki orang.

Segera Keh Lok masuk kedalam, diambilnya Cu-soh, lalu di-sambung 2 untuk diturunkan kebawah.

Pertama kali, Ceng Tong ikat adiknya yang terus diangkat naik oleh Tan Keh Lok.

Hampir tiba dimulut gua, mendadak Hiang Hiang menjerit keras.

Buru-buru Keh Lok sambar tubuhnya untuk diangkat naik.

"Yangan takut!"

Hibur sipemuda.

"Serigala!"

Kembali Hiang Hiang berteriak, wajahnya puCat.

Ketika Keh Lok melongok kebawah, dilihatnya Ceng Tong sudah bertempur dengan 7 ekor serigala.

Kuda putih meringkik nyaring, menCongklang ber-putar 2 ditengah ruangan rumah itu.

Tan Keh Lok menjemput beberapa butir batu giok, terus di-timpuk 2kan pada kawanan serigala itu.

Setelah binatang 2 itu lari, Cu-soh diturunkannya.

Ceng Tong masih kuatir tenaganya belum Cukup kuat untuk memanjat Cu-soh, maka pedang dipindah ketangan kiri, sedang dengan tangan kanan tali Cu-soh itu di katkannya pada pinggang.

"Tariklah!"

Serunya.

Sekali tarik, tubuh Ceng Tong melambung keatas.

Pada saat itu, 2 ekor serigala melonCat.

Cepat Ceng Tong ayun pedang, seekor serigala dapat ditusuk jatuh.

Tapi yang seekor lagi, telah berhasil menggigit sepatu Ceng Tong.

Lekas-lekas Ceng Tong meronta kuat 2, begitu serigala itu ikut terangkat naik, segera dibabatnya hingga kutung menjadi 2.

Namun separoh tubuh bagian muka dari binatang itu, masih tetap tak mau melepaskan gigitannya dan ikut terangkat naik.

Tan Keh Lok berusaha membuka gigitan serigala itu, tapi sia-sia.

"Terluka?"

Tanyanya.

"Untung tidak berat!"

Sahut Ceng Tong sembari meminjam pedang pusaka, lalu ditabaskan kemonCong serigala. Dua larik gigi tampak menjepit sepatunya, ada sedikit darah mengalir keluar.

"Ci, kakimu terluka!"

Seru Hiang Hiang sambil bantu membuka sepatu dan membalut lukanya.

Tan Keh Lok melengos.

Tak berani dia memandang kaki Ceng Tong yang telanyang itu.

Habis membalut, Hiang Hiang me-maki-maki kawanan serigala itu.

Tan Keh Lok dan Ceng Tong hanya ganda tertawa saja mendengarnya.

Dalam gua itu ternyata gelap gulita.

Ceng Tong mengambil geretan api untuk menyuluhi.

Ia melengak, karena tempat itu tingginya tidak kurang 7 atau delapan belas tombak dari tanah dibawah sana.

"Gua ini lama sekali tak kemasukan angin, hawanya tentu jahat, tak boleh buru-buru dimasuki."

Kata Ceng Tong.

Setelah lewat beberapa lama, Keh Lok menyatakan biar dia saja yang akan memasukinya lebih dulu.

Hendak Ceng Tong menCegahnya, tapi Keh Lok berkeras.

Segera Cu-soh di katkan pada sebuah batu, lalu ia melorot turun.

Sampai diujung Cu-soh, ternyata masih ada kira-kira 10 tombak untuk menCapai tanah.

Terpaksa ia lepaskan genggamannya, untuk melayang turun.

Tanah dibawah situ, Cukup keras.

Hendak ia gunakan geretan api untuk menyuluhi, tapi ternyata sudah habis.

Dia kaoki Ceng Tong supaya memberi geretan api.

Diantara Cahaja api itu, tampak olehnya bagaimana empat penjuru dinding tempat itu terbuat dari batu giok putih yang gemilang.

Disitu pun terdapat beberapa meja dan kursi.

Dirabanya meja itu, ternyata masih kokoh.

Ini disebabkan karena tertutup rapat, gua itu tak kemasukan hawa dari luar.

Dipotongnya sebuah kaki meja, dibakar untuk digunakan sebagai obor.

Setelah itu dia teriaki ke 2 Cici-beradik itu supaya turun.

Lebih dulu Ceng Tong suruh adiknya turun.

Ketika akan melunCur kebawah, Hiang Hiang meramkan mata dan tahu-tahu ia rasakan sepasang tangan yang kuat merajjgkul tubuhnya dan terus diletakkan ditanah.

Setelah itu, lalu Ceng Tong.

Ketika Keh Lok menyanggapi dan memeluk tubuh sigadis harum itu, merah padamlah selebar mukanya.

Pada saat itu, lolong serigala sudah hampir tak kedengaran lagi Pada keempat penjuru dinding batu giok itu, Keh Lok dapat melihat bayangannya sendiri didampingi oleh ke 2 nona yang Cantik jelita.

Hati pemuda ini diliputi 2 macam perasaan, bahagia dan Cemas.

Dengan membekal beberapa potong kaki kursi lagi, Keh Lok ajak ke 2 nona itu masuk kedalam sebuah lorong yang panyang.

Sampai diujung lorong, kelihatan ada setumpuk benda mengkilap seperti emas.

Kiranya itu adalah seprangkat pakaian perang yang terbuat dari emas.

Dibawahnya, ada seonggok tulang manusia.

"Semasa hidupnya, orang ini tentu seorang bangsawan yang berkedudukan tinggi,"

Kata Hiang Hiang. Ceng Tong lihat pada dada rerongkong orang itu, ada sebuah perisai-dada yang terukir lukisan onta terbang.

"Mungkin dia seorang raja atau putera raja. Menurut Cerita, pada jaman dahulu itu hanya raja 2lah yang berhak mengenakan ienCana "onta terbang","

Katanya.

"Ah, seperti orang Tionggoan dengan IenCana "liong"nya,"

Seia Keh Tok.

Dipinjamnya obor dari Hiang Hiang untuk menyuluhi kalau 2 ada pintu atau pesawat rahasianya.

Benar juga, diatas "kim-kah" (pakaian perang dari emas) itu ada sebatang kampak panyang, juga terbuat dari emas, yang tertanCap pada putaran sebuah pintu.

"Pintu!"

Seru Ceng Tong kegirangan.

Obor diberikan pada Ceng Tong, dan Keh Lok lalu Coba menCabut kampak itu.

Tapi ternyata kampak itu tertanCap mati pada daun pintu besi yang sudah karatan.

Sia-siasaja dia kerahkan seluruh tenaganya.

Lebih dulu dikoreknya karatan itu, lalu diCoba pula untuk menCabut kampak itu, namun masih lak berhasil.

"Kalau kampak emas ini benar senjatanya, nyata tenaga raja itu besar luar biasa sekali,"

Katanya.

Pintu batu itu, dikanan kirinya masih ada 4 buah gerendelnya, yang masing-masing di kat dengan rantai.

Rantai diangkat dan grendelnya ditarik, tapi tidak berkutik.

DiCobanya lagi mendorong daun pintu itu sekuat-kuatnya, dan akhirnya jerih payahnya itu berhasil.

Pintu itu berkerotakan, pelahan-lahan terbuka.

Kiranya pintu batu itu tebalnya diantara satu kaki, terbuat dari batu karang.

Dengan obor ditangan kanan dan pedang ditangan kiri, Keh Lok melangkah masuk.

Serentak dia dikagetkan oleh suara benda retak dibawah kakinya.

Itu ternyata seonggok tulang 2.

Obor disuluhkan kesegala sudut, nyata ia tengah berada disebuah lorong yang hanya tiba Cukup dilalui seorang saja.

Disekelilingnya, rerongkong tengkorak berserakan.

Ceng Tong pinjam obor dari pemuda itu untuk menyuluhi beiakang pintu.

"Lihat!"

"erunya tiba-tiba. Dibelakang daun pintu batu itu penuh guratan dan bekas baCokan goiok.

"Orang-orang ini memang dijebloskan disini oleh raja. Mereka rupanya menCoba akan keluar, tapi pintu batu dan dinding batu giok itu tak dapat ditembus,"

Kata Keh Lok.

"Sekalipun mereka punya berpuluh golok, tak nanti dapat membobol pintu semacam ini,"

Sahut Ceng Tong.

"Dan akhirnya satu demi satu mereka binasa."

"Sudah, sudahlah!"

Buru-buru Hiang Hiang menCegah karena tak tahan mendengari, rupanya ia menjadi ngeri.

"Tapi anehnya, mengapa raja itu tetap menunggu diluar pintu dan bersama-sama binasa dengan mereka?"

Ceng Tong ajukan persoalan, seraya mengeluarkan peta.

"Disini tertulis. Pada ujung lorong itu, dimukanya adalah istana."

Segera mereka terus berjalan, melalui onggok 2 tulang rerongkong dan setelah 2 kali membiluk, benar juga mereka sampai kesebuah ruangan besar.

Disitupun penuh dengan rerongkong manusia, senjatanya berserakan ditanah, seperti habis terjadi pertempuran besar.

"Ah, mengapa harus berkelahi, hidup damai dan senang bukankah lebih berbahagia?"

Kembali Hiang Hiang utarakan perasaannya.

Masuk kepaseban itu, tiba-tiba Tan Keh Lok rasakan pedangnya seperti dibetot oleh suatu tenaga yang kuat, hingga terlepas dan jatuh ketanah.

Juga pedang Ceng Tong seperti berontak dari sarungnya, terus memberosot jatuh.

Kaget mereka dibuatnya.

Ketika Ceng Tong membongkok kebawah untuk memungutnya, mendadak berpuluh-puluh 2 thi-lian-Cu (piauw yang berbentuk seperti biji teratai) keluar dari kantong berhamburan ketanah.

Makin terkejut ketiganya.

Keh Lok dan Ceng Tong adalah ahli silat, tanpa merasa, mereka lonCat mundur dan serentak bersiap.

Hiang Hiang dnyambretnya supaya berada dibelakang Tan Keh Lok.

Tapi sampai beberapa saat, keadaan masih sunyi saja.

"Kami bertiga melarikan diri dari kejaran serigala, sedikitpun tak mengandung maksud jelek. Apabila ada kesalahan, mohon dimaafkan,"

Seru Keh Lok dalam bahasa Ui. Tapi sampai sekian lamanya tiada jawaban apa-apa.

"Silakan tuan rumah suka nampakkan diri, agar kami bisa menghadap,"

Kembali Keh Lok berseru.

Dari arah belakang paseban terdengar suara gemuruh.

Bukan jawaban, melainkan kumandang.

Ceng Tong agak tenang, lalu menghampiri untuk memungut pedangnya.

Tapi ternyata senjata itu seperti melekat ditanah, sekalipun ditarik sekuat-kuatnya, begitu tangan agak kendor, tentu kembali jatuh tersedot ditanah lagi.

"Ha, gunung ini tanahnya mengandung magnit,"

Seru Keh Lok.

"Apa itu gunung magnit?!"

Tanya Ceng Tong.

"Semasa kecil pernah kudengar orang-orang yang pernah mengraungi lautan, diujung utara dunia ada sebuah gunung magnit dapat menyedot semua besi yang digantung diatas tentu menjurus keutara. Untuk pelajaran, digunakannya kompas, yang jarumnya selalu menjurus keselatan. Itulah karena adanya gunung magnit tersebut,"

Menerangkan Keh Tok.

"Jadi artinya, karena didasar tempat ini terdapat sebuah bukit magnit, maka senjata kita kena tersedot?"

Ceng Tong menegaskan.

Tan Keh Lok mengiakan dan mengambil pokiam dan sebuah kaki kursi.

Ke 2 benda itu digenggamnya.

Begitu genggaman itu dibuka, maka pokiam lalu melayang jatuh, sedang kaki kursi tetap tak bergerak.

"Lihatlah betapa besar tenaga penarik bukit magnit ini!"

"Lekas, kemarilah!"

Tiba-tiba kedengaran Ceng Tong berteriak.

Ketika Keh Lok menghampiri, dilihatnya Ceng Tong menunjuk pada sebuah rerongkong.

Pakaian dan dagingnya hanCur, tapi rerangkanya masih utuh, tangan kanannya memegang sebuah pedang yang berwarna putih, seperti sedang menusuk lain rerangka, yang rupanya akan dibunuhnya.

"Inilah sebilah giok-kiam (pedang pualam),"

Ceng Tong berteriak.

Keh Lok menCabutnya pelan-pelan , namun begitu tergoyang, rerangka itu segera menguruk jatuh menjadi tumpukan tulang.

Pedang dari batu giok (giok kiam) itu sangat tajam, tak kalah dengan pedang biasa.

Namun kalau diadu dengan logam, terang tentu rusak.

Sedang Tan Keh Lok tengah terbenam dalam keheranan, adalah Ceng Tong dan Hiang Hiang telah menemukan banyak sekali sekali macam 2 alat-senjata yang terbuat dari giok.

Hanya saclja bentuknya agak berlainan dengan senjata 2 yang biasa digunakan oleh orang-orang biasa.

Kembali Tan Keh Lok men-duga-akan kegunaan senjata 2 itu.

"Aku tahu!"

Sekonyong-konyong Ceng Tong berseru.

"Pemilik gunung ini entah karena apa, telah mengadakan penjagaan yang sedemikian rapihnya!"

"Apa?"

Lanya Keh Lok.

"Dengan andalkan kesaktian gunung magnit ini, musuh dapat tersedot senjatanya, setelah itu, orang sebawahannya diperintahkan pakai senjata dari giok untuk membunuhnya,"

Menerangkan Ceng Tong.

"Ya, lihatlah ini! Musuh 2 itu memakai thiat-kah, jadi tambah mudah kesedot, sampai untuk merajap bangun mereka, tak mampu,"

Kata Hiang Hiang. Kata-katanya ini diulangkannya kepada sang Cici. ketika Cici itu masih tak menyahut.

"Masih menjadi pikiranku, mengapa orang-orang yang memegang senjata giok itupun juga ikut mati disamping korbannya?"

Tanya Ceng Tong. Hiang Hiang tak dapat menyahut, juga tidak Tan Keh Lok. Sampai disitu, Ceng Tong mengajak memeriksa kebelakang.

"Yangan!"

Seru Hiang Hiang.

Ceng Tong bermula melengak, tapi akhirnya dia menghibur sang adik supaya yangan takut.

Dibelakang paseban besar itu, terdapat sebuah paseban yang agak kecil.

Suasana disitu lebih menyeramkan.

Berpuluh-puluh rerongkong memenuhi ruangan.

Kebanyak sekalian dalam sikap seperti orang berdiri.

Ada yang memegang senjata, ada yang tangan kosong.

"Yangan sampai menyentuh! Cara kematian mereka itu, mungkin terdapat sesuatu rahasia,"

Keh Lok memperingatkan.

"Dilihat sikapnya, mereka seperti saling berhantam dengan sengit!"

Kata Ceng Tong.

"Ya, memang begitulah kalau 2 jago yang sama tang-guhnya saling berhantam, tentu nekad mati bersama-sama. Tapi sekian banyak sekali orang berlaku seperti itu, sungguh sukar dimengerti,"

Jawab Keh Lok. Masuk kesebelah dalam lagi, mereka membiluk pada sebuah tikungan, dibukanya sebuah pintu. Tiba-tiba tampak sinar terang"

Benderang menyorot masuk dari tempat berpuluh-puluh 2 tombak tingginya.

Ternyata disitu merupakan sebuah ruangan batu, yang sengaja dibuat di-tengah-tengah gunung Gok-nia-san itu.

Sinar matahari itu tidak langsung menyorot kebawah, karena lobang 2 diatas ruangan itu, ada 2 buah lekukan, sehingga dari bawah, orang tak dapat langsung melihat pada langit diatasnya.

Dalam ruangan batu itu terdapat tempat tidur, meja.

kursi yang kesemuanya dibuat dari bahan batu giok dengan diukir luar biasa indahnya.

Diatas pembaringan itu, membujur sebuah rerongkong.

Pada salah satu ujung kamar itu, ada 2 buah rerongkong, satu besar, lainnya kecil.

Kepala rerongkong besar itu terbelah menjadi 2.

Sampai beberapa jurus Tan Keh Lok bertiga memandangnya.

Pada lain saat, obor segera ditiup padam, dan ke 2 anak perempuan itu diajaknya mengaso disitu sambil menikmati roti kering dan minum air.

"Kawanan serigala itu entah masih tetap menunggui kita diluar entah tidak. Tapi biar bagaimana, lebih baik kita berhemat dengan air dan makanan,"

Kata Ceng Tong.

Karena beberapa hari ini, mereka hampir tak dapat tidur pulas barang sejenak, maka pada saat itu, rasa kantuk menCengkeram mata, dan sebentar kemudian ketiganya jatuh pulas.

Kini balik menengok pada Ciauw Cong dan ketiga Sam Mo tadi.

Sekalipun hati mereka merasa sayang akan kaburnya ke 2 gadis Ui yang Cantik itu, namun sedikitnya mereka merasa Syukur karena pada saat itu diri mereka sudah terhindar dari kepungan kawanan serigala yang waktu itu semua sama lari mengejar pada Tan Keh Lok bertiga.

Untuk mengisi sang perut, diambilnya beberapa ekor serigala yang sudah binasa tadi, dibakar dan dimakannya.

Waktu itu bahan bakar sudah hampir habis.

Rupanya It Lui merasa ogah 2an untuk menCari dahan kayu.

Diambilnya kotoran serigala saja untuk dimasukkan kedalam api.

Dalam sekejap saja, membubunglah segumpal asap besar keudara.

Jilid 35 TENGAH memakan daging serigala itu, tiba-tiba dari arah timur kelihatan debu mengepul.

Mengira kalau itu kawanan serigala yang datang kembali, keempat orang itu tersipu-sipumenCari kudanya.

Kuda ternyata hanya 2 ekor, jalah yang dibawa oleh Sam Mo tadi.

Ketika Ciauw Cong menyambuti tali kendali dari salah seekor kuda, Haphaptaipun melesat tiba dan menjambret tali itu, bentaknya.

"Kau mau berbuat apa?"

Ingin Ciauw Cong ayunkan kepelannya, tapi batal karena dilihatnya It Lui dan Kiem Piauw menghampiri maju dengan membolang-balingkan senjatanya.

Ciauw Cong kini tak punya senjata lagi, karena pedangnya tadi sudah dibabat kutung oleh pokiam Tan Keh Lok.

Dalam saat-saat yang mendesak, timbul ah pikirannya, dia berseru.

"Hai, mengapa gugup, itu bukan serigala!"

Ketika Sam Mo berpaling, dan melonCatlah Ciauw Cong keatas pelana.

Sekali pandang, tahulah dia bahwa rombongan yang mendatangi itu bukan kawanan serigala melainkan kelompok besar dari Kambing-kambing.

Sebenarnya, tadi dia akan menipu ketiga Sam Mo itu, siapa tahu, kata-kata yang diuCapkan seCara sembarangan tadi, ternyata benar adanya.

Tanpa sangsi 2, dia keprak kudanya menuju arah gerombolan itu.

"Biar kulihatnya dulu!"

Serunya.

Kira-kira satu li jauhnya, seorang penunggang kuda mendatangi dengan kenCangnya.

Sekali tarik, penunggang itu dapat memberhentikan tunggangannya.

Diam-diam Ciauw Cong memuji akan kepandaian menunggang kuda dari orang tersebut.

yang ternyata seorang tua dengan pakaian warna kelabu.

Melihat Ciauw Cong berpakaian seperti pembesar militer Ceng, orang itu menegur dalam bahasa Han.

"Kawanan serigala itu menuju kemana?"

Ciauw Cong menunjuk kebarat.

Saat itu, rombongan kambing dan onta sudah mendatangi.

Dibelakangnya tampak seorang tua mukanya merah dan kepalanya pelontos serta seorang wanita tua.

Kambing-kambing itu sama mengembik ramai sekali.

Hendak Ciauw Cong menegur, tapi ketiga Sam Mo tadi sudah maju menghampiri sambil menuntun kudanya.

Demi melihat siorang tua, bergegas-gegas ketiga orang itu menjalankan penghormatan.

"Ha, kembali kita berjumpa, kiranya kau orang tua baik-baik sajakah?"

Sapa Sam Mo.

"Hm, tidak apa-apa,"

Sahut siorang tua pakaian kelabu itu, yang bukan lain adalah Thian-ti-koay-hiap Wan Su Siau.

Kiranya sehabis tinggalkan Tan Keh Lok dan Hiang Hiang, Thian-san Siang Eng buru-buru kembali menengok bagaimana nona itu sedang menderita sakit.

Dua hari dalam perjalanan, bertemulah ke 2 suami isteri itu dengan Thian-ti-koay-hiap.

Untuk tidak menyakiti hati sang isteri yang diCintainya itu, Tan Ceng Tik sengaja berlaku baik terhadap Thian-ti-koayhiap, bekas saingannya dalam perCintaan itu.

Sudah tentu Koayhiap merasa heran melihat perubahan sikap dari Ceng Tik itu, apalagi tampak juga Kwan Bing Bwee hanya tersenyum simpul saja.

"Wan-toako, untuk apakah kau giring onta dan Kambing-kambing ini?"

Tanya Ceng Tik.

"Kau telah bikin aku rudin", sahut Koayhiap dengan mata meiotot.

"Ha, apa?"

Tanya Ceng Tik.

"Tempo hari telah kubeli sejumlah besar onta dan kambing, agar kawanan serigala pengganggu itu dapat masuk perangkap. Tak tahunya.................."

"Kalau begitu, jadi kebaikan dari seorang tua seperti aku ini, telah merusakkan usahamu yang besar itu", Ceng Tik memotong pembiCaraan orang.

"Apa tidak begitu? Tapi apa dayaku? Terpaksa kukumpulkan uang lagi untuk membelinya!"

Sahut Koayhiap.

"Ha, Wan-toako telah rugi berapa, nanti aku yang menggantinya", kata Ceng Tik tertawa. Sejak sang isteri menunjukkan sikap mencinta, Ceng Tik telah robah sikap garangnnya seperti yang sudah 2. Dia bertekad akan merebut kasih sang isteri. Karena itulah maka dia bersikap luar biasa baiknya terhadap Koayhiap.

"Siapa kesudian terima uangmu!"

Sahut Koayhiap.

"Nah, kalau begitu, kita tebus dengan tenaga! Kita akan dengar perintahmu untuk bersama-sama Cari kawanan serigala itu, bagaimana?"

Mata Koayhiap melirik pada Kwan Bing Bwe, siapa kelihatan tersenyum sambil mengangguk.

"Baiklah!"

Akhirnya Koayhiap menerima.

Demikian mereka bertiga dengan menggiring rombongan onta dan kambing itu, berusaha untuk menCari jejak kawanan serigala.

Pada hari itu karena menampak ada long-yan (asap dari kotoran serigala), menduga kalau disitu kawanan serigala sedang mengepung orang, buru-buru mereka menghampiri.

Tidak tahunya, disitu mereka berjumpa dengan Ciauw Cong dan Sam Mo.

Ciauw Cong belum mengenal siapa ketiga orang tua yang luar biasa itu, tapi demi melihat sikap Sam Mo yang begitu menghormat sekali, tahulah dia bahwa mereka tentu bukan sembarang orang.

Setelah memeriksa sebentar tempat itu, berkatalah Thian-ti-koayhiap.

"Kita akan menangkap kawanan serigala, Ayo kamu ikut!"

Kaget sekali keempat orang itu, hingga sampai beberapa detik mereka tak dapat menguCap apa-apa.

Dalam hati mereka sama mengira kalau Koayhiap itu seorang tua yang sinting.

Sedang untuk menghindari serbuan kawanan binatang itu saja sudah susah setengah mati, apalagi untuk menang kapnya.

Karena pernah mendapat pertolongan dan tahu pula dengan mata kepala sendiri bagaimana lihai Thian-ti-koayhiap, ketiga Sam Mo itu tak berani banyak sekali rewel.

Tapi tidak demikian dengan Ciauw Cong, yang terus mengeluarkan suara dari hidung dan katanya.

"Aku masih ingin makan nasi untuk beberapa tahun lagi, maaf, tak dapat mengawani."

Habis berkata, dia terus memutar diri akan berlalu. Ceng Tik murka, terus akan menjambret pinggangnya sembari membentak.

"Jadi kau berani membangkang perintah Wan-tayhiap? Yangan ngimpi kau bisa bernapas lebih lama lagi?!"

Ciauw Cong kerahkan tenaga ketangan kanan, dengan gerak "membakar awan menarik rembulan"

Dia miring sedikit sembari tabas tangannya Ceng Tik.

Ketika hampir mengenai, tiba^ dilihatnya kelima jari Ceng Tik yang tertuju sinar matahari itu, kaku seperti Cakar garuda.

Bukan main terkejutnya, sukar ia bisa berlaku sebat untuk tarik kembali tangannya, terpaksa ia ganti menghantam lengan orang.

Luput menCengkeram, Ceng Tik segera robah tangannya menjadi pukulan.

Begitu ke 2 lengan saling beradu, ke 2nya sama terkejut dalam hati.

Dua-tiga mundur tiga tindak, masing-masing saling mengagumi tenaga sang lawan.

"Sahabat, silakan memberi tahu namamu?"

Tanya Ciauw Cong.

"Siapa sudi menjadi sahabat orang semacam kau!"

Memaki Ceng Tik.

"Pendek kata, kau turut apa tidak perintah Wan-tayhiap tadi?"

Dengan ujian tadi, tahulah Ciauw Cong bahwa kepandaian orang itu berimbang dengan dirinya. Tapi yang membuat dia heran, mengapa orang itu selalu menyebut siorang tua berpakaian kelabu "Wan-tayhiap"

Dengan begitu menghormat sekali.

Dia duga, orang tua berpakaian kelabu itu, tentu seorang istimewa.

Tapi siapakah gerangan Wan-tayhiap itu?

Beberapa saat, tak dapat dia menjawab.

Memang banyak sekali kali orang kangouw suka gunakan gertakan kosong, tapi rupanya tidak kali ini, karena kalau mereka berserekat, terang ia akan Celaka.

Akhirnya ia mengambil putusan.

"Aku yang rendah ini lebih dulu akan mohon tanya gelaran yang mulia dari Wan-tayhiap, apabila benar seorang Cianpwe, sudah tentu aku akan menurut,"

Katanya kemudian.

"Hahaha,"

Tertawa Koayhiap.

"jadi kau akan menguji seorang tua! Aku siorang tua ini biasanya senantiasa menguji orang, belum pernah diuji orang. Coba jawab. Tadi kau gunakan "ang-hu-tho-gwat" (membakar awan mendorong rembulan) kemudian berobah "swat-jung-lan-kwan", kalau aku dari sebelah kiri menyerang dalam gerak "sia-san-Cam-houw" (turun gunung bunuh harimau), dan dari sebelah kanan menotok jalan darahmu "sin-thing-hiat", kakiku kanan berbareng lututmu sebelah bawah, bagaimana kau akan menghadapinya?"

"Kakiku kugerakkan dalam "ban-kiong-shia-tiu" (pentang gendewa memanah meliwis), ke 2 tangan kugerakkan dalam ilmu "kin-na-hwat"

Untuk merangsang mukamu,"

Demikian jawab Ciauw Cong.

"Menjaga sambil menyerang itulah Caranya ahli dari Bu Tong Pai,"

Kata Wan Su Siauw. Ciauw Cong terkejut, pikirnya.

"Kukatakan sebuah gerakan untuk menjawab pertanyaannya, dan tahulah dia Cabang perguruanku, sungguh hebat!"

"Ketika di Ouwpak, pernah aku saling menguji dengan Ma Cin Totiang,"

Kata pula Wan Su Siauw. Hati Ciauw Tong tergetar, mukanya puCat seperti kertas mendengar nama Suhengnya disebut. Sementara itu terdengar Wan Su Siau telah menyambung.

"Tanganku kanan dengan pukulan Bian-Ciang punya "im-Chiu", kugunakan untuk menangkis seranganmu "kin-na"

Tadi. Kemudian siku kiri kuajukan untuk makan dadamu..............."

"Itulah gerakan "Ciu Chui" (siku) besi dari ilmu silat Tay-ang-kun,"

Potong Ciauw Cong.

"Benar,"

Sahut Wan Su Siauw.

"tapi "Ciu-Chui"

Itu adalah serangan kosong, begitu kau sedot dadamu kebelakang, segera pukulanku kiri kukirim kemukamu.

Itu waktu Ma Cin Totiang tak keburu berkelit untuk serangan ini.

Setelah kita saling tukar menukar pelajaran sampai sebulan lamanya, baru berpisahan."

Ciauw Cong berpikir keras, lewat beberapa saat lagi berkatalah ia.

"Kalau perubahan gerakanmu tadi Cepat, sudah tentu aku tak dapat menghindar. Tapi akan kugunakan gerak "wan-yang-thui"

Dan menyerang igamu kiri, hingga kau tak boleh tidak, tentu menarik balik seranganmu untuk menghindar."

Wan Su Siauw tertawa lebar-, katanya.

"Gerakanmu itu tepat sekali. Dalam Cabang Bu Tong Pai, mungkin kaulah orang nomor satu."

"Dan kulanjutkan pula untuk menolak jalan darah "hian-ki-hiat"

Didadamu!"

Sambung pula Ciauw Cong.

"Bagus! Yang dapat menyerang "lemas seperti kapas tapi dahsyat seperti sungai"

Itulah seorang ahli yang jempol. Kubergeser pada kuda 2

"kui-mui"

Menyerang kakimu,"

Seru Wan Su Siauw.

"Aku mundur ke-kuda 2

"song-wi", maju lagi ke-kuda 2

"gwan-ong", menotok jalan darah "thian-twan","

Balas Ciauw Cong. Mendengar ke 2 orang itu saling berdebat dengan kata-kata yang aneh, Kim Piauw dan Haphaptai bingung tak mengerti. Haphaptai kutik-lengan It Lui meminta penjelasan.

"Bukan kata-kata rahasia, melainkan ke-enam4 kedudukan dari kuda 2 ilmu silat dan bagian 2 jalan darah dari tubuh manusia,"

Menerangkan It Lui.

Dengan itu kini mengertilah ke 2 jago dari Kwantong tadi.

Memang ke 2 orang itu, Wan Su Siauw dan Ciauw Cong, tengah pi-bu dengan mulut.

Ada orang rundingkan soal barisan perang dengan gunakan kertas, tapi pi-bu (adu silat) dengan mulut, baru pertama kali dijumpainya.

"Aku maju kesebelah kanan "beng-ih", mengambil jalan darah "ki-bun","

Berkata pula Wan Su Siauw.

"Aku mundur ke "tiong-hu", menangkis dengan ilmu silat "hong gan Chiu","

Jawab Ciauw Cong.

"Maju ke "ki-Ce", menotok jalan darah "hoan-thiao", berbareng tangan kiri dirangsangkan pada jalan darah "jiok-gwan"."

Sampai disini, wajah Ciauw Cong ber-sungguh-sungguh beberapa jurus lagi, barulah ia berkata.

"Mundur ke "tin-su", lalu ke "hok-wi"

Terus ke "mo-Ce"."

"Huh, mengapa dia terus main mundur,"

Bisik Haphaptai.

It Lui memberi isyarat dengan tangan supaya Sutenya itu diam.

Ke 2 orang itu makin seru berdebat.

Kalau Wan Su Siauw tetap ke-tawa 2 dengan muka berseri-seri, adalah Ciauw Cong peluhnya ber-ketes 2 mengalir dari keningnya.

Ada kalanya untuk sejurus pukulan saja, dipikirnya sampai sekian lama baru dapat.

"Wah, kalau berkelahi sungguh-sungguh, mana dia bisa berpikir sampai sekian lama. Sedikit berajal saja, pasti akan tertutuk oleh musuh,"

Diam-diam Sam Mo itu berpikir. Setelah beberapa jurus berdebatan lagi, berkatalah Ciauw Cong.

"Maju ke "siao-ju", untuk pura-pura menjaga bagian perut."

"Salah, gerakanmu itu jelek, tentu kalah,"

Kata Wan Su Siauw sambil gelengkan kepala.

"Mohon pengajaran!"

Kata Ciauw Cong.

"Masuk ke "pun-wi", kaki menendang jalan darah "im-si"

Dan menutuk jalan darah ,"hwa-kay"

Didada. Kau pasti tertolong!"

"Memang dalam kata-kata, hal itu benar. Tapi dalam kedudukan kuda 2

"pun-wi,"

Dikuatirkan siku lenganmu takkan sampai untuk menghantam dadaku,"

Balas CiaUw Cong.

"Tidak perCaja, boleh Coba! Hati-hatilah!"

Seru Wan Su Siauw, terus layangkan kakinya kanan, menendang jalan darah "im-si-hiat", yaitu yang terletak tiga dim dibawah lutut kaki.

"Bagaimana kau bisa melukai aku.........?"

Seru Ciauw Cong dengan membalik tubuh menghindar. Namun belum sampai Ciauw Cong mengakhiri ejekannya, tangan Wan Su Siauw diulur untuk menutuk jalan darah "hwa-kay-hiat"

Didadanya. Berasa dada sakit, Ciauw Cong terus menerus batuk. Buru-buru dia tutuk dadanya sebelah kiri, untuk membuka jalan darah, barulah berhenti batuknya.

"Bagaimana?"

Tanya Wan Su Siauw.

Tadi semua orang hanya menyaksikan bagaimana orang she Wan itu hanya sedikit saja bergerak, dan jarinya telah dapat menutuk jalan darah musuh.

Ini membuktikan betapa sempurna kepand^iannya.

Hal itu tefah membuat semua orang berCekat.

Wajah Ciauw Cong masgul, tak berani dia bersikap membangkang lagi.

Katanya.

"Aku yang rendah akan menurut kata-kata Wan-tayhiap!"

"Kepandaianmu tadi, sebenarnya jarang terdapat dika-langan kangouw. Siapakah kau ini?"

Tanya Ceng Tik. ..Aku yang rendah adalah Thio Ciauw Cong, dan mohon tanya akan gelaran yang mulia dari sam-wi."

"Ah, kiranya Hwe-Chiu-poan-koan. Wan-toako, dia adalah Sute dari Ma Cin Totiang,"

Kata Ceng Tik. Wan Su Siauw anggukkan kepalanya.

"Hm, Suhengnya mungkin tak nempil dia. Ayo, kita berangkat,"

Katanya terus keprak kudanya kemuka.

Dalam rombongan onta dan kambing tadi terdapat juga beberapa ekor kuda.

Ciauw Cong dan Haphaptai memilih 2 ekor, terus gabungkan diri dalam rombongan pengikut Wan Su Siauw.

Lewat beberapa saat, bertanyalah Ciauw Cong pada Ceng Tik.

"LoyaCu, kawanan serigala berjum-lah besar, bagaimana akan menangkapnya?"

Pertanyaan semacam itupun ada pada ketiga Sam Mo, tapi telah keburu didahului oleh Ciauw Cong.

"Lihat saja nanti bagaimana Wan-tayhiap akan mengurus kawanan binatang itu. Kamu tak usah kuatir!"

Sahut Ceng Tik.

Ciauw Cong tak mau banyak sekali bertanya lagi.

Diapun tak mau dikatakan berhati kecil.

Sebenarnya Ceng Tik sendiripun belum tahu bagaimana nanti Wan Su Siauw akan menangkap kawanan serigala itu.

Dia hanya menyahut sekenanya saja.

Karena kalau mengingat bagaimana buas kawanan binatang itu, dalam hati kecilnya iapun agak jeri juga.

Kwan Bing Bwe tahu juga bahwa suaminya itu sengaja membual, menaikkan harga Thian-ti-koayhiap dimata orang lain, diam-diam iapun tertawa geli.

Lewat beberapa lama, Wan Su Siauw kelihatan keprak kudanya kembali dan berkata pada semua orang.

"Disini terdapat kotoran serigala yang masih segar, terang binatang itu belum lama lewat disini. Mungkin dalam 20 li lagi, kita dapat menemukannya. Nanti setelah 10 li, harap kalian semua tukar kuda yang segar!"

Ketika semua orang mengangguk, kembali Wan Su Siauw berkata.

"Kalau nanti bertemu kawanan binatang itu, aku dulu yang maju, kalian berenam, tiga dikiri, tiga dikanan, supaya menggiring kawanan onta dan kuda itu ketengah, tapi yangan sekali-kali binatang 2 itu terpenCar, agar kawanan serigala itu tidak ikut terpenCar."

It Lui orangnya paling Cermat, hendak dia tanyakan lebih jelas, tapi Wan Su Siauw sudah putar kudanya lari kemuka.

Apa boleh buat, keenam orang itupun mengikutinya.

Kira-kira delapan atau sembilan li lagi, kotoran serigala yang berserakan disepanyang jalan makin banyak sekali.

"Kawanan serigala itu berada disebelah depan. Mengapa mereka tak mau keluar mendengar ringkik kuda dan onta kita ini?"

Tanya Kwan Bing Bwe.

Ceng Tikpun merasa heran, Lagi beberapa li, jalanan berganti keadaannya.

Kini tampak deretan bukit mengelilingi sebuah gunung yang punCaknya putih seperti batu giok.

Bagi suami isteri Thian-san Siang Eng yang sudah lama menetap didaerah padang pasir, tahulah mereka akan dongeng disekitar gunung Giok-nia itu.

PunCaknya yang tertojoh sinar matahari, memberi pemandangan warna-warni yang indah sekali.

"Kawanan serigala itu masuk kedalam "bi-kiong" (istana sesat) ini. Yangan turut masuk, karena keluarnya sangat sukar. Ayo kita Cambuki binatang 2 kita itu!"

Kata Wan Su Siauw.

Dengan naik turunnya Cemeti 2 dari ke7 orang itu, hiruk pikuklah suara kuda dan onta.

Tak lama kemudian, benar juga ada seekor serigala lari keluar dari tengah gunung.

Wan Su Siauw mainkan Cambuknya diudara, dan membarengi dengan bunyi Cambuk yang menggeletar itu dia berteriak keras, terus larikan kudanya kearah selatan.

Thian-san Siang Eng, Ciauw Cong dan ketiga Sam Mo segera halau rombongan onta dan kuda itu mengikutinya.

Beberapa li kemudian, suara kawanan serigala yang mengejar terdengar riuh sekali dari sebelah belakang.

Ketika Ceng Tik berpaling, dilihatnya entah berapa puluh ekor serigala dengan mulut menganga, lari mengejar.

Dikepraknya kudanya untuk membarengi Ciauw Cong dan Sam Mo.

Tampak olehnya, bagai mana sekalipun sikap keempat orang itu berlaku setenang mungkin, namun wajah mereka putih puCat seperti kertas.

Sepasang mata dari Haphaptai seperti bersorot merah darah.

Dia menjerit dan berteriak kalang kabut untuk menghalau rombongan onta dan kuda itu.

Dia asalnya memang seorang pengembala, jadi mahirlah dia dalam pekerjaan itu.

Ada beberapa ekor onta dan kuda yang Coba merat, tapi dapat dipanggilnya lagi dengan aba 2 atau dengan Cemetinya.

"Hap-toako, bagus sekali pekerjaanmu!"

Kwan Bing Bwe memuji.

Sekalipun kawanan serigala itu luar biasa ganasnya, tapi kekuatan larinya tak seberapa.

Kira-kira 10an li jauhnya, mereka sudah jauh ketinggalan dibelakang.

Dan 10 li lagi, mereka tak kelihatan lagi bayangannya.

Pada saat itu Wan Su Siauw memerintahkan mengaso.

Buru-buru mereka minum dan makan.

Sedang Haphaptai masih berusaha mengumpulkan binatang 2nya.

"Ah, sungguh menyusahkan kau saja!"

Kata Wan Su Siauw dengan tertawa.

Pada saat kawanan serigala datang, rombongan Wan Su Siauw sudah mengaso Cukup.

Begitulah dengan kejar mengejar seCara begitu, mereka berlari sampai ratusan li kesebelah selatan.

Tiba-tiba dari arah muka ada 2 orang pemburu bangsa Ui menyambutnya.

"Wan-loyaCu, berhasilkah?"

Demikian tanya mereka.

"Lekas, lekaslah! Suruh mereka bersiap!"

Kata Wan Su Siauw.

Ke 2 pemburu itu berjalan lebih dahulu.

Melihat disitu sudah ada persiapan, legalah hati Anggota rombongan Wan Su Siauw itu.

Tak berapa lama lagi, tampak sebuah benteng pasir.

Benteng itu tingginya diantara 4 tombak, bentuknya bulat.

Ketika menghampiri dekat, ternyata pada dinding benteng itu terdapat sebuah pintu kecil.

Kesitulah lebih dulu Wan Su Siauw masuk, di kuti oleh rombongan onta dan kuda tadi.

Ketika rombongan binatang ini hampir masuk semua, kawanan serigalapun sudah tiba.

Thian-san Siang Eng dan Haphaptai ikut masuk, tapi begitu sampai diambang pintu, Ciauw Cong merandek.

Kendali kuda ditahannya, lalu dia lonCatkan kudanya keatas dinding dipinggir dan mengitarinya.

Perbuatan itu diturut juga oleh It Lui dan Kim Piauw.

Pada lain saat, berpuluh-puluh 2 ribu ekor serigala itu menyerbu masuk kedalam benteng pasir, untuk menerkam korban 2nya.

Ketika serigala yang paling akhir sudah ikut masuk, tiba-tiba terdengarlah bunyi terompet tanduk.

Dari parit pada 2 tepiannya, sekonyong-konyong beberapa ratus orang Ui tampak munCul.

Mereka masing-masing menggendong sekarung pasir terus dilemparkan kearah pintu benteng.

Sekejab pula, pintu itu tertutup rapat-rapat.

Melihat orang-orang Ui itu sama bertepuk tangan kegirangan, diam-diam Ciauw Cong bertanya pada diri sendiri, bagaimana dengan orang-orang tua yang luar biasa tadi.

Tapi ketika dilihatnya orang-orang Ui sama menuju dipunCak tembok benteng, Ciauw Cong turun dari kudanya terus lari menghampiri.

Ternyata disitu, orang-orang Ui itu tengah menarik Wan Su Siauw berempat dengan tali panyang.

Ketika dia melongok kebawah, terbanglah semangatnya.

Ternyata kota pasir, itu melingkar ratusan tombak panyangnya.

Dinding disekelilingnya, pada bagian dalam nampaknya liCin sekali, terbuat dari semen.

Kawanan serigala yang tengah berpesta pora dengan daging onta dan kuda itu, ramainya bukan buatan.

Pada saat itu Wan Su Siauw, Thian-san Siang Eng dan Haphaptai sudah terangkat naik dan sedang berdiri diatas dinding temboknya.

Haphaptai nampaknya girang sekali.

"Kawanan binatang itu berpuluh-puluh 2 tahun merupakan benCana didaerah Thian-san yang sukar di basmi. Kini Wan-toako telah berhasil mendirikan tiang keamanan untuk beberapa abad yang akan datang", kata Ceng Tik.

"Kita disini makan nasi dari saudara-saudara Ui hingga berpuluh tahun. Biarlah hal ini merupakan sedikit pernyataan terima kasih kita", sahut Wan Su Siauw. Selanjutnya iapun kemukakan juga bantuan keenam kawannya itu. Menurut perkiraan rakyat Uigor disitu, setengah bulan kemudian, serigala 2 itu pasti sudah mati kelaparan. Untuk rajakan kemenangan itu, mereka menyanyi dan me-nari 2. Ada beberapa wakilnya yang menghaturkann terima kasih kepada Thian-ti-koayhiap, siapa bersama Kawan-kawan nya dnyamu dengan hidangan daging kambing dan susu kuda. Berkata salah seorang wakil dari orang Ui itu.

"Kita disini mengepung kawanan serigala, sedang Chui-ih-wisam di Sungai Hitam sedang mengepung pasukan Ceng. Kalau urusan disini sudah beres, kita akan membantu pada nona Chui-ih". Tiba-tiba kata orang itu terputus demi matanya melihat bahwa Ciauw Cong mengenakan pakaian pembesar Ceng itu. Tapi ia tak berani menanyakannya, karena orang itu (Ciauw Cong) datang bersama Thian-ti-koay-hiap.

"Wan-toako, aku ada sedikit urusan yang harus kukatakan padamu. Harap kau yangan marah,"

Kata Ceng Tik.

"Ha, kini sesudah tua, kau rupanya belajar main sungkan 2,"

Sahut Koayhiap dengan tertawa.

"Muridmu itu, kelakuannya buruk sekali! Harus kau didik yang bengis!"

Ujar Ceng Tik.

"Apa? Kau maksudkan Keh Lok?"

Wan Su Siauw menegas dengan kagetnya.

"Ya!"

Lalu Ceng Tik menarik Koayhiap kesamping, bagaimana perhubungan antara Tan Keh Lok dan Ceng Tong yang kemudian beralih pada Hiang Hiang itu, dituturkannya.

"Keh Lok seorang yang mengenal budi, dia pasti takkan melakukan hal itu!"

Seru Koayhiap ragu-ragu.

"Kesemuanya itu kita saksikan dengan mata kepala sendiri!"

Buru-buru Kwan Bing Bwe menyanggapi. Wan Su Siauw melengak dan baru mau perCaja. Katanya dengan geram.

"Aku telah memberi kesanggupan pada gihunya (ayah angkat), untuk mengasuhnya. Kalau dia berkelakuan sedemikian rendahnya itu, pasti aku tak ada muka untuk kelak menemui Sim-toako dialam baka!"

Melihat sikap Koayhiap yang ber-sungguh-sungguh dan air matanya berlinang-linangkarena putus asa itu, hendak Kwan Bing Bwe menghiburnya, tapi Koayhiap keburu memberi pernyataan lagi, katanya.

"Kita nanti Cari ketiga orang itu untuk dipadu. Aku pasti takkan membiarkan dia berlaku begitu keji."

"Ya, kita berbiCara seCara hati terbuka yangan mendendam dihati. Sesuatu yang selalu didendam, tidak saja menCelakakan lain orang, pun menyiksa diri sendiri,"

Kata Kwan Bing Bwe.

Memang demikian pada hati sanubari Thian-ti-koayhiap.

Berpuluh-puluh 2 tahun dia selalu sesali dirinya mengapa dulu ketika masih muda, dia berlaku begitu Ceroboh sekali, sehingga dengan gadis yang dikasihinya itu, tidak bisa terangkap jodoh.

Sampai pada saat itu, sekalipun Kwan Bing Bwe itu sudah nenek 2 yang berambut putih, namun dalam mata Wan Su Siauw, ia tetap merupakan seorang gadis Cantik dalam masa remajanya.

Matanya memandang kemuka, merenung jauh sekali.

Dengan mengelah napas dalam 2, akhirnya berkatalah ia .

"Kalau hari ini kita masih bisa berjumpa, puaslah sudah hatiku. Biarlah -sisa hari tuaku ini dapat kulewatkan dengan bahagia."

Mata Kwan Bing Bwe jauh memandang keCakrawala, diujung padang pasir yang luas bebas itu, sambil berkata dengan suara tak lampias.

"Segala itu memang sudah takdir. Dulu memang sering aku berduka, tapi kini aku merasa berbahagia,"

Tangannya dnyambret pada sebuah kanCing baju Tan Ceng Tik yang kelihatannya sudah kendor, lalu katanya pula.

"Banyak sekali orang yang menginginkan kebahagiaan, mengimpikan sesuatu diatas awang 2 yang tak mungkin diCapai. Tidak sekali mereka menginsyapi, bahwa mustika kebahagiaan itu sebenarnya sudah berada disampingnya. Kini aku insyapkan sudah!"

Merah padam selebar muka Ceng Tik, tanpa merasa ia memandang dengan kasih mesra kepada sang isteri, siapa kelihatan maju menghampiri pada Wan Su Siauw, katanya .

"Kalau seorang telah menyiksa diri sendiri sampai Berpuluh-puluh tahun, andaikata dia merasa berdosa, akan sudah himpaslah dosanya itu. Apalagi memang dia itu sebenarnya tak berdosa. Aku merasa bahagia, kuharap yanganlah kau menyiksa dirimu lebih lama lagi!"

Tak berani Wan Su Siauw berpaling memandangnya. Sekonyong-konyong dia lonCat kekudanya.

"Ayo kita Cari mereka!"

Teriaknya.

Thian-san Siang Eng segera mengikutinya.

Kepergian ketiga jago yang kosen itu, membikin semangat Ciauw Cong timbul lagi.

Baginda Kian Liong mengutusnya untuk menCari Tan Keh Lok dan Hiang Hiang.

Kini ke 2 orang itu entah masih hidup atau sudah dimakan serigala, perlu diCari tahu untuk dilaporkan kepada baginda.

"Kalau orang she Tan itu sudah binasa, tak menjadi soal. Tapi apabila dia masih hidup, itulah repot. Karena ilmu silatnya terpaut tak seberapa dengan aku. Kalau Ceng Tong membantunya, pasti kalahlah aku. Lebih baik kuberserikat dengan ketiga Sam Mo ini,"

Pikirnya. Dan segera dia tarik lengan Kim Piauw untuk diajak menyingkir ketempat yang agak jauh dari situ.

"Ku-jiko, kau masih inginkan siCantik itu apa tidak?"

Demikian Ciauw Cong memanCing.

"Kau mau apa?"

Bentak Kim Piauw yang mengira orang mau. per-olok 2kan padanya.

"Aku mempunyai permusuhan dengan orang she Tan itu. Hendak kubunuh dia. Kalau kau suka membantu, siCantik itu bagianmulah!"

Kim Piauw bersangsi, katanya.

"Kukuatir............ mereka bertiga sudah dimakan serigala, dan Toako-pun tidak mau ikut."

"Kalau mereka sudah binasa, kaulah yang tidak punya peruntungan. Tentang Toako-mu, aku yang mengomongi."

Kim Piauw mengangguk. Hatinya bersangsi, apakah Toa-konya itu mau diajak, karena dia itu seorang yang tak gemar paras Cantik.

"Thing-toako, aku akan Cari dan membikin perhitungan pada orang she Tan itu,"

Kata Ciauw Cong sembari menghampiri It Lui.

"Kalau kau suka membantu, pedang pusaka itu akan. kuserahkan padamu!"

Tiada seorang kangouw yang tidak mengiler untuk memiliki pedang yang sakti itu.

Andaikata pemiliknya siorang she Tan itu sudah dimakan serigala, tentu pedangnya masih.

Karena, itu, serta merta dia setuju.

Ciauw Cong gembira.

Dan malah saat itu It Lui segera ajak Haphaptai pergi.

Itu waktu orang Mongol tersebut sedang pasang omong dengan beberapa orang Ui, mendengar sang Toako memanggil, ia segera menanyakan akan kemana.

"Cari ketua dari HONG HWA HWE itu. Kalau dia sudah binasa di makan serigala, kita kubur mayatnya, demi persahabatan,"

Sahut It Lui.

Sejak berkenalan dengan Ie Hi Tong dan Tan Keh Lok, Haphaptai merasa suka kepada orang-orang HONG HWA HWE Maka begitu Toakonya menguCap demikian, ia lantas menurut saja.

Begitulah mereka berempat segera larikan kudanya menuju kesebelah utara.

Kira-kira tengah malam, mereka berhenti mengaso.

Ciauw Cong dan Kim Piauw berkeras ingin jalan terus, terpaksa It Lui menurut.

Tak berselang berapa lama, rembulan bersinar dengan terangnya.

Tiba-tiba ditepi jalan tampak sebuah bayangan berkelebat, lalu menyusup kedalam sebuah kuburan.

Keempat orang itu Curiga, mereka turun dari kudanya dan menghampiri ketempat kuburan.

"Siapa?"

Tegur Ciauw Cong. Selang beberapa saat kemudian, seorang Ui yang memakai kopiah berkembang, nongol dari lobang kuburan itu, sambil tertawa Cekikikan, katanya.

"Aku adalah orang mati dalam kuburan ini!"

Dia berbiCara dalam bahasa Han, hingga membuat keempat orang itu berjingkrak kaget.

"Orang mati? Mengapa malam 2 keluar?"

Bentak Kiem Piauw.

"Cari angin!"

Sahut orang itu.

"Orang mati Cari angin?"

Kembali Kiem Piauw membentak dengan murka. Orang itu mengangguk dan menyahut.

"Ya, ja, kalian benar, aku salah omong. Maaf, maaf!"

Habis berkata, ia terus menyusup masuk lagi.

Haphaptai.

tertawa gelak 2, sebaliknya Kiem Piauw makin menjadi marah.

Ia segera turun dari tunggangannya hendak menyeret keluar orang itu.

Tapi biar ia sudah ulur tangannya kedalam liang kuburan itu dan berkutetan bagaimanapun, tetap tak dapat menyeret orang itu.

"Ku-jiko, yangan pedulikan dia, Ayo kita berangkat!"

Seru Ciauw Cong. Keempat orang itu putar kudanya akan berlalu, tiba-tiba tampak seekor keledai yang kurus kering tengah makan rumput dipinggir kuburan itu.

"Ransum kering membosenkan, daging keledai-bakar rasanya tentu lezat!"

Seru Kim Piauw kegirangan. Kembali dia turun dari kudanya, menuntun tali pengikat keledai itu. Tapi ia segera terkejut geli melihat binatang itu tak ada ekornya.

"Ha, siapa yang jail memotong ekor keledai ini?"

Katanya dengan tertawa.

Belum habis kata-kata itu diuCapkan, tiba-tiba terdengar suara angin membrebet dan dipunggung keledai itu sudah ada penunggangnya.

Diantara Cahaja rembulan, orang itu bukan lain si "orang mati"

Yang menyusup kedalam kuburan tadi.

Begitu tangkas gerakannya, dalam sekejab mata saja, orang itu sudah memberosot keluar dari kuburnya terus lonCat keatas keledai.

Ciauw Cong dan ketiga Sam Mo itu adalah jago-jago yang ada nama dalam kalangan persilatan.

Tapi tak urung mereka merasa terkejut melihat ketangkasan gerakan orang itu.

Tahu akan kelihaian orang, mereka tak berani berlaku sembarangan, dan buru-buru tarik kudanya mundur.

Orang itu tertawa gelak 2, diambilnya sebuah ekor keledai dari bayunya dan dikibaskannya 2 kali, lalu katanya.

"Ekor keledai ini banyak sekali debunya, jelek sekali kelihatannya, maka kupotong!"

Ciauw Cong perhatikan orang itu seperti orang kurang waras ingatannya, kata-katanya setengah ngaCo setengah genah. Entah dia itu orang dari golongan mana. Hendak Ciauw Cong"

Menguji kepandaian orang itu.

Maka begitu kudanya dilarikan kesamping keledai, ia segera ulurkan sebelah tangannya untuk menepok pundak orang.

Orang itu berkelit, namun tangan kiri Ciauw Cong sudah lantas merebut ekor keledainya.

Dan ketika diperiksanya, memang benar ekor itu kotor sekali.

Tapi lain saat ia rasakan kepalanya agak dingin.

Ketika tangannya merabah, ternyata topinya sudah hilang.

Ketika ia memandang kedepan, dilihatnya topinya sudah berada dalam tangan siorang aneh itu yang nampak sedang tertawa.

"Kau ini pembesar tentara Ceng yang hendak memukul kami bangsa Ui. Topimu ini bagus sekali, ada bulu burung dan ada bola kaCanya."

Bukan main kaget dan marahnya Ciauw Cong. Belasan tahun ia mengangkat diri dikangouw, jarang bertemu dengan tandingannya. Siapa kira didaerah gurun pasir ini, ia telah bertemu dengan "Wan-tayhiap"

Dan kali ini dengan seorang Ui yang aneh.

Terang kepandaian orang ini diatasnya.

Dengan gemas ekor keledai tadi ditimpukkannya kedepan.

Orang aneh itu sebat sekali telah menyanggapinya.

Dengan mengosok ke 2 belah tinjunya, segera Ciauw Cong lonCat turun dari kudanya seraya memaki.

"Kau siapa. Mari, mari, kita uji kepandaian!"

Tiba-tiba orang itu pasang kopiah Ciauw Cong keatas kepala keledainya sambil bertepuk tangan dan tertawa lebar.

"Keledai dungu memakai topi pembesar! Keledai dungu memakai topi pembesar!"

Sembari ke 2 kakinya menjepit perut keledai, binatang itu segera menCongklang dengan pesatnya.

Hendak Ciauw Cong mengejarnya, tapi keledai itu sudah lari seperti terbang.

Dengan geram Ciauw Cong memungut sebuah batu kecil terus ditimpukkan kepunggung orang.

Batu kecil itu nampaknya sudah hampir mengenai, namun orang Ui itu tetap tenang 2 saja.

Ciauw Cong girang, pikirnya pasti dapat menghajar punggung orang itu.

Tak terduga, segera terdengar suara "tingng!"

Yang nyaring. Batu itu seperti mengenai papan besi, men-dengung 2 tak henti 2nya. Sedang orang Ui itu lantas berkaok 2.

"Aduh, mati wajanku, Celaka, wajanku ini tentu melayang jiwanya!"

Keempat orang-itu saling berpandangan, sebaliknya orang Ui itu tetap lari terus.

"Dia entah setan dari mana!"

Berkata Ciauw Cong setelah berapa saat kemudian. Ketiga Sam Mo hanya geleng 2 kepala.

"Ayo kita jalan lagi. Tempat ini rupanya keramat!"

Kata Ciauw Cong. Setelah lari beberapa lama, kembali mereka berempat berhenti mengaso. Keesokan harinya, mereka tiba diluar "Kota Sesat"

Itu.

Karena tak mengetahui akan keadaan kota kuno yang berbahaya itu, mereka terus saja memasukinya.

Sekalipun mereka dapatkan jalanan disitu penuh dengan persimpangan dan tikungan, namun dengan mengikuti adanya kotoran serigala disepanyang jalan, dapatlah akhirnya mereka menCapai kekaki gunung Pek-giok-nia itu.

Ketika mendongak keatas, merekapun segera mengetahui akan lubang gua yang dibuka oleh Tan Keh Lok itu...............

Sementara itu, setelah tidur hampir setengah malam, Tan Keh Lok rasakan dirinya kembali segar.

Ceng Tong dan Hiang Hiang masih pulas diatas kursi yang terbuat dari batu giok putih.

Malah dalam keheningan malam ditempat yang sedemikian sunyinya itu, dengkur ke 2 taCi-beradik itu dapat kedengaran juga.

Seluruh ruangan itu, penuh dengan bebauan yang harum, jakni bebauan yang keluar dari tubuh Hiang Hiang KongCu.

Ber-macam 2 pikiran memenuhi kepala Tan Keh Lok.

adakah kawanan serigala itu masih menunggu diluar?

Apakah mereka bertiga bisa terhindar dari bahaya?

Seandainya bisa selamat, apakah kaisar itu masih mau menetapi janjinya?

Tengah ia ber-pikir 2 begitu, tiba-tiba didengarnya Hiang Hiang menggigau, berbiCara dengan riang sekali.

"Ah, mengapa anak ini sedemikian gembiranya? Kurasa ia sangat yakin-bahwa aku tentu dapat menyelamatkan jiwanya dan akan mencintainya seumur hidup. Ah, sebenarnya aku ini mencintai yang mana?"

Diam-diam Keh Lok berpikir.

"Ah, biar kulihat siapakah yang sungguh-sungguh Cinta padaku. Kalau aku binasa, Asri tentu ikut mati, sedang Ceng Tong tidak. Tapi hal itu bukan dikarenakan Asri lebih mencintai aku. Waktu aku akan pi-bu dengan keempat saudara Holun, Ceng Tonglah yang melarang, sedang Asri diam-diam saja. Juga ketika aku ketemu dengan Ciauw Cong, Asri hanya tertawa saja. Dia masih begitu bersifat ke-kanak-kanakkan. Hatinya murni hingga mencinta seCara membuta saja. Kalau aku jadi dengan Ceng Tong, Asri pasti akan mereres. Masa aku tak mau membalas Cintanya yang sedemikian tulusnya! itu,"

Pikirnya pula. Namun memikir sampai-disini, hatinya sedih.

"Dengan Asri aku telah menyatakan perasaan hati. Ia Cinta padaku, akupun menyintainya. Sedang pada Ceng Tong belum pernah kunyatakan suatu apa. Ceng Tong seorang nona gagah dan pandai, aku menaruh perindahan, bahkan agak jeri padanya. Apa yang ia perintahkan, tentu aku melakukannya. Tapi Asri, ja, nona itu? Kalau ia maukan aku mati, akupun rela mati untuknya. Ah, apa kalau begitu aku tak Cinta Ceng Tong? Ehm, entahlah. Ia seorang nona yang halus perasaannya dan pandai, serta Cinta juga padaku. Ia sampai tumpahkan darah dan hampir saja binasa, apakah itu bukan karena aku?"

Yang seorang pantas dihormati dan di ndahkan.

Yang lainnya pantas dikasihani dan dikasihi.

Sungguh suatu pilihan yang susah.

Justeru pada saat itu sinar rembulan menimpa pada wajah Ceng Tong.

Tampak jelas oleh Keh Lok bagaimana wajah yang aju dari nona itu begitu saju puCat.

"Sekalipun dengannya aku belum pernah menyatakan suatu apa, dan sekalipun perasaanku agak gonCang karena Cemburu dengan Li Wan Ci, tapi kedatanganku kedaerah yang ribuan li jauhnya-ini, bukankah karena masih mencintainya? Ia memberi sebatang pedang pendek, apakah hanya sebagai tanda terima ka&ihnya atas bantuanku merebut kitab suCi itu? Meskipun mulut kita tidak saling biCara, tapi kesemuanya itu bukankah melebihi seribu kata-kata?"

Pikirnya. Dan makin jauhlah pikirannya melayang.

"Menjelang usaha besar membangunkan kembali kerajaan Han, tentu akan menghadapi kesukaran 2 yang tak sedikit. KeCerdasan Ceng Tong dapat melebihi Chit-ko. Kalau sampai ada dia sebagai tangan kanan, alangkah baiknya............ ah, mungkinkah hati kecilku merasa jeri kalau mempunyai isteri yang lebih pandai?"

Sampai disini, ia terkejut sendiri. Tanpa merasa mulutnya berkata pelan-pelan .

"Tan Keh Lok, Tan Keh Lok! Mengapa kau tidak berlapang dada?"

Sesaat kemudian sorot rembulan beralih kewajah Hiang Hiang.

"Dengan didampingi Hiang Hiang, perasaanku selalu diliputi oleh kegembiraan saja!"

Demikianlah ketua HONG HWA HWE itu hampir setengah harian terbenam dalam lamunan, dan tahu-tahu haripun sudah terang tanah.

Tampak Hiang Hiang menguap bangun, seraya bersenyum pada Tan Keh Lok.

Wajahnya tak ubah seperti sekuntum bunga yang baru mekar dipagi hari.

Ketika ia hendak mulai duduk, tiba-tiba ia berteriak.

"Dengarlah!"

Jauh dilorong disebelah atas sana, terdengar tindakan kaki orang.

Aneh, masa ditempat yang sedemikian rahasia-nya itu, terdapat ora,ngnya.

Atau mungkinkah itu roh 2 halus penjaga istana kuno itu?

Jelas kedengaran, tindakan itu makin lama makin dekat.

Baik Keh Lok maupun Hiang Hiang, sama menguCurkan keringat dingin.

Malah Keh Lok terus mengutik lengan Ceng Tong supaya bangun, lalu diajaknya keluar.

Setiba dipaseban besar, Keh Lok memungut tiga batang giok kiam untuk diberikan pada ke 2 nona itu masing-masing sebatang, katanya dengan berbisik.

"Batu giok dapat mengusir bangsa setan!"

Saat itu tindakan kaki itu sudah tiba diluar paseban.

Tan Keh Lok bertiga segera bersembunyi ditempat yang gelap.

Diantara Cahaja api yang remang-remang, masuklah 4 orang.

Dua orang yang berjalan dimuka memegang obor, ternyata mereka adalah Ciauw Cong dan It Lui.

Ketika mereka melihat dipaseban itu terdapat banyak sekali rerongkong, mereka berempat hendak melihatnya.

"Begitu masuk, segera senjata mereka sama berkerontangan jatuh ketanah. Hanya "tok-kak-tong-jin"

Dari It Lui yang masih tergenggam dalam tangannya, tetapi 2belas buah piauw yang didalam kantongnya, semua sama melonCat keluar.

Tan Keh Lok tak mau sia-siakan kesempatan yang bagus itu, sedangnya keempat orang itu masih terlongong-longong kesima, dengan bentakan keras dia melesat keluar dari persembunyiannya, terus menghantam padam obor 2 ditangan ke 2 musuhnya itu.

Sehingga kini ruangan besar itu menjadi gelap gulita.

Dalam kagetnya Ciauw Cong gerakkan ke 2 tangannya untuk melindungi diri seraya lompat keluar.

Dengan Cepat Sam Mo itupun mengikutinya.

"Bluk......... aduh!"

Entah siapa dari keempat orang itu yang terbentur kepalanya kepada dinding batu, hingga menjerit kesakitan.

Pada lain saat ketika tindakan mereka sudah tak kedengaran lagi, tiba-tiba Ceng Tong berseru kaget.

"Celaka! Lekas ubar mereka!"

Tan Keh Lok seperti orang disadarkan, sebat sekali dia lari mengejar.

Tapi sebelum sampai diujung gang (lorong), terdengarlah suara berkretekan yang keras sekali dan tertutuplah pintu batu itu.

SeCepat kilat, Keh Lok menobros, tapi pintu batu itu berat dan tak ada pegangannya.

Biar bagaimana, tetap tak bergeming.

Terpaksa dia balik.

Diambilnya setangkai kayu dan dibakar untuk penyuluh.

Pada saat itu Ceng Tong dan Hiang Hiang mendatangi.

"Habislah riwajat kita!"

Kata Ceng Tong dengan wajah putus asa.

Dibelakang daun pintu batu itu banyak sekali bekas 2 baCokan senjata.

Disana sini pun terdapat bekas 2 bagaimana kalap ketika orang-orang yang kini sudah menjadi rerongkong itu, berusaha untuk mendobrak pintu maut itu.

"Ci, yangan takut!"

Hiang Hiang Coba menghiburnya.

"Kita binasa ditempat ini, memang tiada tersangka", kata Keh Lok seraya menjemput sebuah tengkorak dan dikatakannya.

"Loheng, kau dapat tiga sahabat baru lagi!"

Hiang Hiang tertawa riang. Sebaliknya Ceng Tong deliki mata kepada ke 2 orang itu.

"Ayo kita balik kekamar batu itu lagi supaya bisa menenangkan pikiran!"

Ajaknya kemudian.

Disitu Ceng Tong bersembahyang, lalu memeriksa lagi petanya.

Pada pikiran Keh Lok hanya ada 2 kemungkinan bisa tertolong.

Pertama ada pertolongan dari luar, ke 2, Ciauw Cong berbalik pikiran, datang lagi kesitu untuk menangkapnya.

Tapi rasanya kemungkinan 2 itu tipis.

Mengingat tempat itu sangat peliknya dan Ciauw Cong baru saja mendapat rasa kaget.

Kebanyak sekalian tentu tak berani datang lagi.

"Aku kepingin menyanyi!"

Tiba-tiba Hiang Hiang berkata.

"Nyanyilah!"

Sahut Keh Lok. Dengan duduk bersandar dikursi giok, Hiang Hiang menyanyi. Tapi Ceng Tong seolah 2 tak mau menghiraukan, menunyang kepala dengan ke 2 tangan, ia berpikir keras.

"Ci, mengasolah barang sebentar!"

Hiang Hiang berbangkit dari duduknya menghampiri pembaringan batu giok, katanya kepada rerongkong yang terbaring disitu.

"Maaf, berilah tempat sedikit untuk Ciciku!"

Ketika didorong, rerongkong itu berkerupukan kesudut tempat tidur.

"Ha, apa ini?"

Seru Hiang Hiang terkejut sambil menyjemput sebuah benda gulungan.

Buru-buru Keh Lok dan Ceng Tong menghampiri.

Ternyata gulungan itu sebuah buku dari kulit kambing yang saking manya, warnanya berobah hitam.

Syukur huruf-hurufnya masih dapat dibaca.

Karena huruf-huruf itu dalam bahasa Ui, Ceng Tong yang membacanya.

"Buah tulisan rerongkong itu ketika mau menutup mata. Ia bernama Mamir,"

Kata sigadis kemudian.

"Mamir?"

Tanya Keh Lok dengan heran.

"Itu berarti "Cantik sekali". Mungkin semasa hidupnya, ia seorang wanita Cantik,"

Menerangkan Hiang Hiang. Ceng Tong membolak-balik lembaran buku itu serta mempelajari petanya.

"Apakah peta itu me-nyebut 2 tentang jalanan rahasia?"

Tanya Keh Lok.

"Benar, tapi tak kuketahui letaknya."

Keh Lok mengelah napas. Tiba-tiba ia minta Hiang Hiang baca dan salin isi buku kulit kambing itu. Hiang Hiang segera memulai.

"Puluhan ribu penduduk kota ini binasa semua. Digunung keramat ini, pasukan penjaga dan pahlawan 2 Islam juga binasa. Ali menghadap kehadirat Tuhan. Mamir ikut serta. Kutulis semua kejadian itu dalam buku ini, agar kelak anak Cucu baginda sama mengetahui, entah kalah atau menang, kita pejoang 2 Islam tetap bertempur sampai akhir, pantang menyerah!"

"Ha, selain Cantik nona ini gagah juga,"

Ujar Keh Lok. Hiang Hiang melanjutkan.

"Raja yang jahat itu 40 tahun menindas kita. Dia paksa ratusan ribu rakyat untuk membuat istana keramat ini di-tengah-tengah gunung Sin-nia ini. Banyak sekali rakyat yang binasa dengan sengsara. Setelah raja gila itu meninggal, puteranya, Sanglapa, menggantikan. Raja baru ini makin ganas lagi. Barang siapa punya 10 ekor kambing, tiap tahun harus menyerahkan 4 ekor. Punya onta 5 ekor, yang 2 harus disetorkan. Kita rakyat makin melarat. Kambing dan onta kita habis diambil Sanglapa. Setiap keluarga yang punya anak laki 2 yang sehat, punya anak gadis yang Cantik, semua dimasukkan kedalam istana ini. Yang masuk, akan tidak keluar lagi se-lama-lamanya. Pahlawan 2 kita mana mandah dihina begitu? Selama 20 tahun, sudah 5 kali pasukan pejoang kita menyerang kota ini, tapi karena tak paham jalanannya, mereka tak dapat keluar. Dua kali mereka menyerang Sin-nia ini, entah gunakan siasat apa, Sanglapa telah dapat merampas semua senjata dan membasminya."

"Ya, karena dibawah paseban itu terdapat gunung magnit,"

Kata Keh Lok.

"Tahun ini aku berusia 1delapan tahun,"

Hiang Hiang lanjutkan bacaannya pula.

"ayah dan ibuku dibinasakan oleh orang-orangnya Sanglapa. Kakakku menjadi pemimpin dari suku Islam. Tahun ini aku bertemu dengan Ali, seorang gagah dari suku kita. Pernah dengan tangan kosong, dia dapat membunuh tiga ekor singa. Harimau, serigala dan kawanan garuda, jeri terhadapnya. Dia seorang yang boleh dibandingkan dengan 10, bahkan seratus orang. Tubuhnya Cakap, sinar matanya tenang, namun kegagahannya bagaikan angin badai ditengah padang pasir .................."

"Aha, nona itu terlalu berlebih-lebihan memuji kekasihnya,"

Keh Lok menyela.

"Mengapa? Masakah didunia tak ada orang semacam itu?"

Tanya Hiang Hiang, lalu ia meneruskan membaca .

"Ali berunding dengan kakakku untuk menyerang Kota Tersesat itu. Dia mendapat satu stel buku dengan tulisan huruf Han. Katanya, setelah setahun mempelajari, kini dia dapat mengerti ilmu silat. Sekalipun dengan tangan kosong, dia sanggup membunuh pahlawan 2 perang dari Sanglapa. Karenanya, dikumpulkannya lima puluh0 orang gagah, untuk diberi latihan selama setahun. Kini aku sudah menjadi kepunyaan Ali. Pertama kali kuberjumpa, aku adalah kepunyaannya. Sejak bertemu dengan aku, katanya, kali ini tentu akan menang. Sekalipun mereka kini sudah paham ilmu silat, tapi mereka masih belum mengetahui tentang jalanan 2 dikota. musuh itu, lebih-rahasia dari gunung keramat ini. 10 hari, Ali dan kakak berunding, namun tak berdaya. Setiap orang yang memasuki Kota Tersesat itu, tentu binasa.

"Kak, biarkan aku yang pergi", kataku kepada kakak. Tahu mereka apa yang kumaksudkan dengan kata-kata itu. Ali, seorang pahlawan gagah, tiba-tiba menguCurkan air mata. Dengan membawa 100 ekor kambing, delapan0 ekor kuda, aku mengembala diluar Kota Tersesat itu. Pada hari kedelapan, salah seorang ponggawa Sanglapa menangkap aku dan menyerahkannya kepada Sanglapa. Setelah tiga hari tiga malam aku menangis, baru aku menurut padanya. Dia sangat menyayang padaku. Apa permintaanku, tentu diturutinya."

Sampai disini, Keh Lok menyatakan kekagumannya kepada nona itu. Hiang Hiang membaca terus.

"Bermula raja Sanglapa tak mengijinkan aku keluar dari pintu ini. Tapi dia makin mencintaiku. Setiap hari pikiranku ada pada rahajatku. Kuterkenang akan kegembiraan mengembala dan menyanyi. Dan yang paling kurindukan adalah Aliku. Ketika mengetahui makin lama aku makin kurus, Sanglapa telah tanya padaku.

"Kuingin jalan 2 keluar", demikian sahutku. Seketika dia menjadi murka dan menampar mukaku. 7 hari aku tak mau biCara dengannya. Pada hari kedelapan, aku diajaknya keluar jalan 2 dikota. Setiap jalanan, kuingat ba"k 2. Sehingga walaupun mataku buta, masih dapat kukenalnya tidak sampai tersesat. Setengah tahun kemudian, kurasa kakak dan Ali tentu sudah tak sabar lagi menunggu. Tapi apa boleh buat, karena aku masih belum tahu akan rahasia dari gunung keramat itu. Sebulan kemudian, aku mengandung. Itulah anak Sanglapa. Dia girang sekali, sebaliknya setiap hari kumenangis karena benci. Kembali dia menanyakan apa permintaanku.

"Aku telah mengandung, tapi sedikitpun kau tak Cinta padaku", demikian sahutku. -"Apa? Aku tidak menyintaimu? Masa aku tak menuruti permintaanmu? Kau ingin mutiara dari dasar laut atau pualam biru dari daerah selatan?"

Tanya Sang lapa.

-"Kata orang, kau punya "Telaga Warna", orang Cantik yang mandi disitu, makin Cantik.

Sebaliknya orang yang buruk rupanya, makin buruk.

-Sanglapa puCat, suaranya gemetar dan tanyakan siapa yang memberitahukan.

Kujustainya, dan mengatakan kalau kumendapat impian dari penjaga situ.

Sebenarnya, aku sendiripun masih sangsi entah ada atau tiada telaga itu.

Hanya dayang 2 istana sama mengatakan begitu.

Selama itu, Sanglapa melarang orang pergi kesitu.

"Mandi sih boleh. Tapi barang siapa yang melihat telaga itu, harus dipotong lidahnya, agar tidak menguwarkan Cerita pada, lain orang. Ini, adalah peraturan dari kakek moyang kita", sahut Sanglapa. Beberapa kali dia minta agar aku urungkan saja keinginanku itu, namun aku tetap berkeras hingga akhirnya terpaksa dia membawaku kesana. Untuk pergi ke Telaga Warna itu, harus melalui jalanan di Sin-nia (gunung keramat). Kubawa sebilah badi-badi, niatku akan kubunuh dia ditelaga itu. Tapi ternyata senjata itu jatuh tersedot disitu. Dengan begitu, kuketahui adanya gunung magnit itu. Setelah mandi, entah apa aku tambah Cantik tidak, tapi nyatanya dia makin menyintaiku. Sekalipun begitu, lidahku tetap dipotong, supaya tak bisa memboCorkan rahasia itu. Jadi meskipun kuketahui rahasia itu, tapi tak dapat kuberitahukan pada kakak dan Ali.

"Siang malam kuberdoa pada Tuhan. Dan akhirnya Tuhan mengabulkan, Tuhan memberikan otok terang dan Cerdas. Kuingat, Sanglapa selalu membawa sebuah pedang pendek macam badi-badi. Pedang itu mempunyai rangka yang menyerupai pedang. Kuminta senjata itu, aku menggambar peta. dari Kota Tersesat ini. Peta itu kubungkus dalam lilin, kususupkan dalam rangka pedang bagian dalam. Setelah tiga bulan kumelahirkan, dia mengajakku berburu. Sewaktu ada kesempatan, kulempar pedang itu keluar kota ditelaga Thing-pok-ouw. Sepulangnya, kulepaskan beberapa ekor burung alap-alap yang kakinya kutulisi tiga buah huruf "Thing Pok Ouw"."

Saking asjiknya Ceng Tong melipat petanya untuk mendengari Cerita yang dibacakan oleh adiknya itu.."Ada beberapa ekoi< alap-alap yang kena dipanah oleh ponggawa Sanglapa.

Melihat huruf-huruf pada kaki burung itu, mereka tak mencurigai apa-apa, karena telaga itu Cukup dikenal oleh vakjat dipadang pasir.

KuperCaja, diantara sekian banyak sekali burung itu, tentu ada salah seekor yang dapat ditangkap oleh rakyat kita.

Kakak dan Ali tentu akan menyuruh orang untuk mengambil pedang itu didasar telaga, dan tahulah mereka akan rahasia Kota Tersesat ini.

Ah, tak kunyana, 4 hari 4 malam mereka menjelajahi dasar telaga itu, tak dapat menemukan suatu apa.

Mungkin ditemu oleh penangkap ikan disitu.

"Karena kakak dan Ali tak dapat menemukan apa-apa, rakyat tak dapat menunggu lebih lama lagi. Mereka lalu menyerang. Sebagian besar, mereka telah tersesat tak bisa keluar. Kakakku yang bertenaga besar itu, telah hilang lenyap dikota ajaib itu. Ali bersama beberapa pahlawannya, telah berhasil menangkap orangnya Sanglapa, terus dipaksanya untuk menunjukkan jalan. Dipaseban besar, senjata mereka tersedot jatuh, dan orang-orangnya Sanglapa menyerangnya dengan giok-kiam. Karena Ali telah melatih pahlawan 2 dengan ilmu silat, maka dengan tangan kosong, mereka telah dapat memberi perlawanan dan mati bersama musuh. Nampak ponggawanya binasa semua, sedang Ali terus mengejar, Sanglapa lari masuk kedalam ruanganku akan mengajak lari ke Telaga Warna.................."

"Ha, kalau begitu didalam sini masih ada sebuah Telaga Warna, disitu tentu ada jalanan keluar. Hiang-moay, teruskan baca!"

Seru Ceng Tong. Hiang Hiang tersenyum, ia meneruskan lagi.

"Ali menobros masuk, segera kami saling berpelukan. Dia meraju dengan kata-kata yang manis, tapi karena lidahku tidak ada lagi, tak dapat kumenjawab. Namun dia mengerti gerak mulutku. Tiba-tiba Sanglapa yang jahat itu mengampak dari belakang .................."

Membaca sampai disini, Hiang Hiang menjerit dan lemparkan buku itu ketempat tidur.

Wajahnya Cemas ketakutan.

Ceng Tong megusap 2 bahunya, buku diambilnya terus mengganti baca.

...............

Sanglapa yang jahat itu mengampak dari belakang, dan kepala Aliku terbelah menjadi 2, darahnya inenyiram tubuhku.

Sanglapa mengambil anaknya dari pembaringan, diserahkan padaku seraya mengajakku lekas-lekas keluar.

Tapi kuangkat baji itu tinggi-tinggi, terus kubanting ketanah dan matilah seketika itu.

Sanglapa kaget melihat aku banting mati anaknya sendiri, dengan murka dia akan menghantam dengan kampak emasnya.

Kuberikan leherku supaya ditabas, tapi dia me>Agelah napas, tidak jadi, terus lari keluar.

"Ali telah menghadap kehadirai -Tuhan, akupun akan menyusulnya. Pahlawan 2 kita berjumlah besar, orang-orangnya Sanglapa dapat dibasmi dan orang kejam itu tentu tidak dibiarkan hidup. Dia takkan menindas kaum Islam kita. Anaknya telah kubanting mati, tentu akan habislah keturunannya. Biarlah rakyat kita hidup tenang. Biarlah perawan 2 dapat menyanyi, didalam pelukan kekasihnya. Kakak, Ali dan aku meninggal, tapi kita telah dapat membasmi raja jahat itu. Istana musuh yang sedemikian kokohnya itu, akhirnya dapat kita bobol. Semoga Al ah melindungi rahajat kita."

Ceng Tong, Tan Keh Lok dan Hiang Hiang ter-menung 2 sampai sekian lama. Mereka kagum dan menaruh perindahan akan perjoangan suCi dari Mamir yang Cantik itu.

"Untuk menolong rahajat, rela ia meninggalkan kekasih dipotong lidahnya, dan membunuh anak kandungnya sendiri, demikian terharu, Hiang Hiang berlinang-linangair matanya. (missing page) DiCobanya untuk menggeser dan mendorong, tapi meja itu seperti terpaku pada tanah. Ceng Tong Cepat menyuluhi kaki meja dengan obor. Kiranya meja itu seluruhnya memang dari batu giok yang di-ukir merupakan kesatuan bagian dari lantai. Sudah tentu, tak terangkat. Setengah hari ketiga orang itu men-Cari 2, namun sia-sia. Malah perut mereka yang terasa lapar sekali. Hiang Hiang membagikan dendeng kambing dan ransum kering. Hari makin siang. Sinar matahari menimpah ke permukaan meja itu.

"Hai, kiranya meja itu diukir sedemikian bagusnya", seru Hiang Hiang tiba-tiba. Ketika diperiksa, ukir 2an itu melukiskan sekawanan Onta Terbang. Begitu halus ukiran"

Itu, hingga kalau tiada sinar matahari, sukar dilihatnya. Kepala onta itu. tak menempel pada badannya, masing-masing terpisah kira-kira belasan senti. Karena heran, Hiang"

Hiang me-mutar 2 meja itu.

Karena ternyata meja itu terdiri dari 2 belahan yang bisa digerakkan, gin Hiang Hiang melihat kepala onta itu tersambung dengan badannya, maka diputarnya.

Tapi begitu tepat tersambung, segera terdengar suara berkreotan dan di-tengah-tengah ranyang batu itu tampak sebuah lubang besar.

Mereka bertiga serentak berteriak karena terkejut dan girang.

Dengan menenteng obor, Tan Keh Lok masuk lebih dulu, lalu disusul ke 2 nona itu.

Kira-kira mebiluk lima buah tikungan, lagi 10an tombak dimuka, tiba-tiba tampak udara terbuka yang terang.

Sebuah tanah datar yang luas!

Tanah datar itu dikelilingi dengan barisan bukit, seperti sebuah piring.

Di tengah 2 itu, terdapat sebuah kolam yang airnya jernih laksana permata hnyau.

Ketiga orang itu makin heran.

"Asri, buku itu mengatakan, kalau orang Cantik mandi di telaga ini akan menjadi makin Cantik. Kau mandilah!"

Kata Ceng Tong tertawa.

"Cici yang lebih tua, mandilah dulu!"

Sahut Hiang Hiang dengan wajah kemerah-merahan.

"Ah, kalau aku yang mandi, tentu makin jelek nanti!"

"Ai, Coba kau timbang perkataannya itu. Cici menggoda aku, dan mengatakan dirinya tidak Cantik,"

Kata Hiang Hiang pada Tan Keh Lok. Keh Lok hanya tersenyum simpul.

"Asri, kau mau mandi apa tidak?"

Tanya sang enci pula.

Hiang Hiang gelengkan kepala.

Ceng Tong menghampiri kedekat kolam untuk mengambil air.

Airnya sejuk sekali.

Ceng Tong meminumnya seteguk, dan sekujur badannya terasa nyaman.

Keh Lok dan Hiang Hiang pun ikut minum, Mereka melepaskan lelah di tepi kolam.

Jilid 36

"KINI KITA harus Cari daya bagaimana bisa terhindar dari pengejaran keempat bangsat itu (Ciauw Cong dan kawan-kawan),"

Kata Ceng Tong.

"Bagaimana kalau kita kubur dulu rerongkong Mamir itu?"

Tanya Keh Lok.

"Bagus, dan sebaliknya Ali pun dikubur didampingnya,"

Seru Hiang Hiang.

Mereka kembali masuk ke ruangan batu tadi.

Ternyata rerongkong Ali hampir rusak.

Dibawah rerongkong itu terdapat segulung kertas dari kulit bambu.

Tali gulungan itu sudah lapuk, dan sampul kertas-kertasnya telah berantakan.

Tapi kertas bambu itu masih dapat dibaca, karena dicat hitam untuk menjaga dimakan anai-anai.

Tulisan pada kertas 2 itu dalam huruf-huruf Han.

Kalimat yang pertama berbunyi.

"Disebabkan utara ada ikan besar, namanya ikan khun."

Demikian bunyi tulisan, terpetik dari kitab Lam Hwa Keng karangan Huang Tse (Cong Cu).

Tan Keh Lok sejak kecil sudah paham akan karangan itu.

Dia, kira bakal mendapat sesuatu kunCi rahasia, kiranya hanya begitu.

Hal mana membuatnya putus asa.

"Apakah itu?"

Tanya Hiang Hiang yang tak mengerti huruf Han.

"Sebuah kitab kuno bangsa Han. Sekalipun kitab kuno dan sangat berharga sekali, tapi tak berguna untuk kita."

Dilemparnya bundelan kitab dari bambu itu ke tanah, ternyata dibagian tengahnya samping dari huruf-huruf itu, terdapat guratan 2 yang merupakan huruf Ui kuno.

Tan Keh Lok kembali memungutnya beberapa, justeru tepat pada bab ketiga dari kitab Huang Tse, jakni "Yang Seng Cu"

Dan "Pao Ting melepaskan kerbau."

Huruf-huruf Ui di sebelahnya itu ditanyakannya kepada Hiang Hiang.

"Rahasia menghanCurkan musuh, semua di kitab ini,"

Sahut Hiang Hiang membaca. Keh Lok melengak dan menanyakan artinya lebih lanjut.

"Bukankah dalam tulisan Mamir, ada disebut, bahwa Ali telah mendapatkan sebuah kitab orang Han dan dari situ dapat mempelajari Cara bertempur dengan tangan kotong, mungkinkah yang ini?"

Tanya Ceng Tong.

"Huang Tse mengajari orang supaya menjalankan kebaikan, jauh bedanya dengan pelajaran silat,"

Tertawa Keh Lok sambil lempar kitab itu lagi dan memungut beberapa tulang terus berjalan keluar. Ketiga orang itu menanam ke 2 rangka tulang itu di tepi Telaga Warna.

"Ayo kita keluar. Kuda putih itu seekor Cian-li-ma, entah bisa lolos dari mulut serigala atau tidak,"

Kata Keh Lok.

"Apakah isi tulisan dari kitab Huang Tse itu?"

Tiba-tiba Ceng Tong bertanya.

"Mengatakan tentang seseorang tukang jagal kerbau yang tangkas. Gerakan dari bahu dan lengan, maju mundurnya sang kaki dan lutut, suara dari sajatan pisaunya tepat merupakan noot dari sebuah lagu. Gerakannya tak ubah seperti orang menari,"

Sahut Tan Keh Lok.

"Wah, tentu bagus!"

Seru Hiang Hiang.

"Kalau berhadapan dengan musuh, bisa berlaku begitu, tentu juga hebat,"

Kata Ceng Tong.

Mendengar itu, Keh Lok terkesiap merenung.

Kitab Huang Tse, sejak dulu sudah dibacanya diluar kepala.

Tapi ketika nona yang belum pernah mengetahui sama sekali kitab itu mengemukakan pendapatnya, serasa hatinya menjadl terbuka.

Kata-kata yang indah dari kitab Huang Tse itu, seperti mengalir dalam ingatannya...................

"Gerakannya pelahan, sedikit saja pisau digerakkan, selesailah sudah, bagaikan tanah menutup bumi, tegak mengangkat pisau, memandang ke-empat penjuru, lenyaplah segala kesangsian. -Ah, kalau aku bisa berlaku demikian, tanpa melihat lagi, sedikit kugerakkan golok, pasti binasalah bangsat Ciauw Cong itu,"

Demikian pikirnya merenungkan isi kitab itu. Nampak perubahan wajah Tan Keh Lok yang bersemangat itu Ceng Tong dan Hiang Hiang menjadi heran. Beberapa saat dipandangnya sikap anak muda itu.

"Tunggulah aku sebentar!"

Tiba-tiba Keh Lok berseru seraya lari masuk kedalam paseban.

Sampai lama sekali, belum tampak dia keluar.

Ceng Tong ajak Hiang Hiang menyusul.

Di paseban situ, Tan Keh Lok tampak sedang menirukan gerakan tangan dan kaki dari rerangka.

Hiang Hiang Cemas karena mengira pemuda itu menjadi kurang waras.

Ia segera berseru memanggilnya.

Tapi Keh Lok tak menghiraukan, setelah menari-nari sebentar, dia kembali mengawasi dengan seksama pada sebuah rerangka lainnya.

"Yangan bikin takut orang, kemarilah!"

Seru Hiang Hiang.

Tan Keh Lok tetap tak mendengarnya.

Kembali ia menirukan sikap dan gerakan dari rerangka itu.

Ternyata setiap gerakan dari orang muda itu menimbulkan samberan angin keras.

Kini sedarlah Ceng Tong bahwa Tan Keh Lok sebenarnya sedang meyakinkan jurus dari semacam ilmu silat.

"Yangan kuatir, dia tak kena apa-apa. Ayo kita tunggu dia diluar,"

Kata Ceng Tong seraya tarik tangan adiknya. Ditepi kolam Telaga Warna, kembali Hiang Hiang tanyakan halnya Keh Lok itu kepada sang Cici.

"Mungkin setelah membaca kitab Huang Tse itu, dia mengerti sesuatu jurus ilmu silat yang hebat, maka dia lalu menirukan gerak sikap rerangka itu. Baik kita jangan ganggu padanya,"

Ceng Tong memberi penjelasan. Hiang Hiang dapat dikasih mengerti. Lewat beberapa saat, kembali ia bertanya.

"Ci, mengapa kau tak ikut meyakinkan?"

"Huruf-huruf Han dalam kitab itu artinya dalam sekali. Aku tak dapat mengerti. Lagi pula, ilmu yang diyakinkan itu juga dalam, akupun masih belum dapat mengikuti."

"Oh, kini aku mengertilah!"

Kata Hiang Hiang "Rerangka 2 itu semasa hidupnya mempunyai ilmu silat yang tinggi. Setelah senjatanya disedot jatuh, mereka bertempur dengan tangan kosong melawan anak buah Sanglapa."

"Benar,"

Sahut Ceng Tong.

"mereka bukan berkepandaian tinggi, tapi hanya menguasai beberapa jurus yang lihai, bila perlu, untuk mati bersama-sama dengan musuh."

"Ha, mereka orang-orang yang gagah berani......... tapi mengapa ia harus belajar ilmu itu, apakah iapun hendak mengajak mati bersama dengan musuh?"

"Bukan begitu,"

Jawab Ceng Tong.

"Orang yang tinggi ilmunya, tak nanti berlaku nekad begitu. Dia hanya sedang mempelajari sejurus 2 jurus yang luar biasa lihainya."

"Kalau begitu, legalah hatiku,"

Kata Hiang Hiang. Beberapa saat lagi, ia mengajak Cicinya.

"Ci, bagaimana kalau kita ber 2 mandi dikolam ini?"

"Ah, kau memang anak nakal. Kalau dia keluar, bagaimana kita?"

"Ya, sebenarnya aku kepingin sekali mandi."

Walaupun mulut mengatakan begitu, Hiang Hiang tak berani mandi, kuatir Tan Keh Lok keburu keluar.

Namun sampai sejam lebih, orang muda itu belum juga munCul.

Hiang Hiang lepaskan sepatu, kakinya dimasukkan kedalam air dan kepalanya direbahkan kepangkuan Ceng Tong memandang kelangit yang putih.

Tak berapa lama tertidurlah ia.

Kita menengok kini pada Li Wan Ci dan Hi Tong yang pergi menCari Ceng Tong.

Tahulah apa maksudnya Thian Hong untuk mengutus mereka ber 2 itu.

Dalam hati sianak muda itu, sekalipun dia merasa berterima kasih atas budi sinona yang telah menolong dan menyintainya itu, tapi selalu dia berusaha untuk menjauhkan diri.

Mengapa dia harus berlaku demikian?

Ya, mengapa?

Anehnya, ia sendiripun tak mengerti sebabnya.

Sepanyang perjalanan itu, Wan Ci selalu mengajaknya berCakap dan tertawa, namun dia selalu bersikap dingin.

Wan Ci masgul dan mendongkol.

Sewaktu pagi itu ia bangun, diam-diam ia bersembunyi dibalik sebuah bukit pasir.

Ingin ia mengetahui, apakah Hi Tong menjadi sibuk karenanya.

Tak dinyana, kalau anak muda itu tetap tak menghiraukan.

Setelah berkaok-kaok memanggil sinona tak kelihatan, dia terus melanjutkan perjalanannya dengan seorang diri.

Bukan main Cemasnya Wan Ci.

Tahulah ia kini, bahwa Sukonya itu tak mempunyai perasaan suatu apa kepadanya.

Sampai sekian lama ia menangis sedu sedan.

Puas menangis, baru ia menyusul.

"Ah, kau masih dibelakang. Kukira sudah berjalan dulu", kata Hi Tong dengan singkat. Terhadap orang yang berhati seperti batu itu, Wan Ci kewalahan betul-betul.

"Kalau dia sampai menghilangkan mukaku, pedang ini akan memberi penyelesaian dileherku,"

Diam-diam nona itu mengambil ketetapan.

Tengah hari, mereka berjumpa dengan seekor keledai yang kurus kecil.

Penunggagnya tengah mengantuk.

Orang itu tampaknya aneh.

Berpakaian Ui, dibelakang punggungnya menggemblok sebuah wajan baja yang besar, sedang tangannya kanan memegang sebuah ekor keledai.

Keledai itu sendiri ternyata tak ada ekornya.

Yang lebih aneh lagi, kepala keledai itu memakai sebuah topi pembesar gi-lim-kun, memakai mata perhiasan diujung atas dan ada bulu burungnya.

Sipenunggang itu kira-kira berumur 40 tahun lebih dan berewok.

Mukanya berseri-seri dan ter-tawa 2.

Sikapnya peramah.

Melihat topi keledai itu, kagetlah Hi Tong dan Wan Ci dibuatnya.

Itulah topi kebesaran yang dipakai oleh Ciauw Cong, sebagai pembesar dari barisan gi-lim-kun.

Tapi mengingat Ciauw Cong kini masih terkepung dimedan Sungai Hitam, Hi Tong mengira, mungkin topi kepunyaan pembesar gi-lim-kun yang lain.

Teringat bagaimana nama Ceng Tong itu dikenal oleh semua orang Ui, bertanyalah Hi Tong kepada orang aneh itu.

"Toa-siok (paman), maaf, adakah kau mengetahui Chui-ih-wi-sam berada dimana?"

Orang itu tertawa gelak 2.

"Mau apa kau Cari padanya?"

Balasnya menanya.

"Ada beberapa orang jahat hendak menCelakakan padanya. Kami akan memberitahukan agar ia dapat berjaga-jaga. Kalau kau melihatnya, maukah menyampaikan berita ini?"

"Baiklah! Ta,pi penjahat macam apa mereka itu?"

"Seorang yang bersenjata 'tok-kak-tong-jin', seorang lagi bersenjata 'lak-houw-jat' dan yang ke tiga seorang Mongol", sahut Wan Ci.

"Ya, mereka bertiga memang jahat, mereka pernah kepingin makan keledaiku ini, tapi sebaliknya mereka kehilangan topinya,"

Orang Ui yang aneh itu mengangguk-angguk. Hi Tong dan Wan Ci saling berpandangan. Kata Hi Tong.

"Siapakah kawannya lagi?"

"Ialah sipemakai topi pembesar ini. Tapi siapakah kalian ini?"

Tanya orang itu.

"Kami adalah sahabat dari Bok To Lun loenhiong. Dimanakah ketiga penjahat itu? jangan kasih mereka sampai bertemu dengan Chui-ih-wi-sam,"

Sahut Hi Tong.

"Kabarnya nona Ceng Tong itu lihai juga. Kalau mereka gagal makan keledaiku ini, tentu perutnya lapar. Dan kalau mereka sampai makan nona itu,'itulah hebat,"

Kata orang itu pula. Diam-diam Wan Ci timbul pikirannya. Tahu ia bahwa ketiga Sam Mo adalah orang-orang yang gagah tapi kosong otaknya.

"Aku akan berdaya untuk membereskan mereka, agar Suko-ku yang tak memandang sebelah mata padaku ini kenal akan kelihaianku,"

Demikian katanya dalam hati.

"Mereka dimana, tolong antar kami kesana, nanti kuberi sekeping perak,"

Katanya kemudian.

"Perak aku tak dojan. Tapi biarlah kutanyakan pada keledaiku, ini mau pergi atau tidak,"

Sahut orang aneh itu.

Mulutnya ditempelkan ketelinga keledai, Cuwat-Cuwit omong-omong sebentar, kemudian dia tempelkan telinga kemulut keledai, seperti mendengari dengan sungguh-sungguh seraya berulang-ulang mengangguk-angguk.

Melihat sikap orang yang aneh itu, diam-diam ke 2 anak muda itu menjadi geli.

Sementara itu tampak orang itu mengangkat alisnya dan berkata.

"Setelah memakai topi pembesar, rupanya keledaiku ini menjadi Congkak. Dia memandang rendah pada kuda tungganganmu, tak mau jalan bersama-sama, takut kehilangan muka, merendahkan harga dirinya."

Hi Tong melengak, pikirnya.

"Kelakuan orang ini aneh sekali, kata-katanya mengandung arti yang dalam. Dia memaki orang-orang yang tak kenal selatan. Adakah dia itu seorang luar biasa yang menyembunyikan diri?"

Sebaliknya Wan Ci yang melihat keledai itu kurus, lagi pinCang serta kotor, toh masih berlagak, tak tahan lagi ketawa lebar-lebar.

"Ha, kau tak percaya? Coba mari keledaiku ini kuadu dengan kudamu,"

Kata orang itu.

Kuda yang dinaiki Wan Ci dan Hi Tong itu, adalah pemberian dari Bok To Lun, jadi bukan sembarang kuda.

Mendengar orang mau adu lari dengan keledai yang kurus dan pinCang itu, segera Wan Ci menyanggupi.

"Baik, jika nanti kami yang menang, kau harus bawa kami kepada ketiga penjahat itu."

"Empat, bukan tiga. Tapi kalau kau kalah?"

Sahut orang itu.

"Terserah apa katamu!"

Sahut Wan Ci.

"Kau harus menCuCi keledai ini bersih 2, biar dia unjuk tampang."

"Baik, jadilah. Bagaimana Cara adunya?"

"Kau menghendaki Cara bagaimana, aku menurut!"

Melihat orang berbiCara dengan nada yang tetap seakan-akan merasa pasti akan menang, Wan Ci lalu berpikir, apakah betul-betul keledai pinCang itu kenCang larinya. Tapi dia segera ketawa.

"Apa yang kau pegang itu?"

"Buntut keledai,"

Sahut siorang aneh itu sambil mengangkat benda. itu.

Baca Juga: Manusia Aneh Dialas Pegunungan 5

Baca Juga: Pendekar Bunga Chin Yung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert