Eps 11 Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Baca online Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Cersil Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung.
"Setelah memakai topi kebesaran, sedikit saja ekornya kotor, dia tak mau memakainya."
Mendengar kata-kata orang itu selalu mengandung arti sindiran yang dalam, makin menaruh perindahanlah Hi Tong. Dia memberi isyarat dengan mata kepada Wan Ci, supaya berhati-hati.
"Coba kulihat,"
Kata Wan Ci. Dan ketika orang aneh itu mengangsurkan, ia segera menyambutinya dan membuatnya main-main . Lalu ia menunjuk pada sebuah bukit yang berada ditempat jauh dan berkata.
"Kita lari kebukit itu. Kalau kau yang sampai lebih dulu, kau yang menang. Jika aku yang tiba dulu, aku yang menang."
"Bagus. Keledai yang tiba lebih dulu, berarti aku yang menang. Kuda yang sampai lebih dulu, kaulah yang menang,"
Sahut orang itu. Wan Ci minta Hi Tong pergi kebukit itu lebih dahulu, untuk menjadi jurinya.
"Ayo, kita mulai!"
Seru Wan Ci terus Cambuk kudanya menyongklang dengan pesatnya.
Sekira puluhan tombak jauhnya, ia menoleh kebelakang la lihat keledai itu berdingklangan jauh ketinggalan dibelakang.
Wan Ci tertawa gelak 2, makin memperkeras Congklang kudanya.
Tiba-tiba sebuah bayangan hitam berklebat disampingnya.
Begitu diawasinya, ternyata siorang aneh itu tengah berlarian dengan memanggul keledainya.
Larinya pesat seperti angin puyuh.
Saking kagetnya, hampir saja Wan Ci jatuh dari kudanya.
Ia Cambuk sang kuda keras-kerasnamun orang itu tetap seperti angin Cepatnya berada dimuka.
Tak berapa lama, ke 2nya sampailah kebukit.
Kesudahannya, keledai yang naik orang itu lebih dahulu datang dari orang yang naik kuda.
Tapi ketika hampir mendekati garis terakhir, tiba-tiba Wan Ci lemparkan buntut keledai itu jauh-jauh kebelakang, seraya berseru keras-keras.
"Kudalah yang tiba lebih dahulu!"
Baik orang itu, maupun Hi Tong sendiri menjadi heran.
Terang keledai yang datang lebih dulu mengapa Wan Ci mengatakan kudanya yang menang?
"Hai, nona besar, bukankah kita telah berjanji.
'keledai yang tiba lebih dulu, aku menang.
Kuda yang datang lebih dulu, kau menang'.
Bukankah begitu?"
Sembari menyingkap rambutnya yang terurai tertiup angin, Wan Ci menjawab.
"Benar!"
"Tidak perduli, keledai yang naik aku, atau aku yang naik keledai, pokoknya keledai itu sampai lebih dulu disini. Ketahuilah, dia memakai topi pembesar. Kalau keledai dungu menjadi pembesar, tentu boleh naik diatas kepala orang."
"Telah kita berjanji dimuka. keledai datang lebih dulu, kau menang. Kuda datang lebih dulu, aku menang, bukan?"
Tanya Wan Ci mengulangi.
"Benar!"
"Dan tidak kita' sebutkan, bahwa keledai yang tidak lengkap sampainya juga dianggap menang. Bukankah begitu?"
Orang itu mengurut jenggotnya.
"Sungguh pikiranku menjadi kacau. Apakah yang kau artikan dengan 'keledai tidak lengkap' itu?"
Wan Ci menunjuk buntut keledai yang dilemparkan jauh-jauh itu, katanya.
"Kudaku datang dengan lengkap. Sedang keledaimu kurang sedikit, ekornya masih ketinggalan dibelakang!"
Orang itu kesima, tapi segera ia tertawa gelak 2, katanya.
"Benar, benar! Kaulah yang menang. Akan kubawa kalian kepada ketiga telur busuk itu."
Habis itu buntut keledai dipungutnya, katanya kepada sang keledai.
"Keledai dungu, yangan karena kau telah memakai kopiah pembesar, lalu kau buang ekormu yang kotor itu! Ketahuilah bahwa orang tetap tak dapat melupakan kau!"
Lalu ia Cemplak keledainya dan kembali berkata.
"Keledai tolol, belum lama kau naik orang-tapi kembali orang menaiki kau lagi!"
Sekalipun keledai itu hanya beberapa puluh kati beratnya, tak lebih berat dari seekor anjing besar, tapi memanggul dan dapat berlari sedemikian pesatnya, terang bukan seorang ahli silat sembarangan.
Hi Tong buru-buru menjura dan katanya.
"Sumoayku ini nakal sekali, yangan loCianpwe ladeni ia. Harap loCianpwe memberi sedikit petunjuk saja, biar wan-pwe sendiri yang menCarinya. Wanpwe tak berani mengganggu pada loCianpwe".
"Aku kalah, mengapa ingkar?"
Orang itu tertawa. Begitu dia putar kepala keledainya, segera berseru pula.
"Ayo ikut aku!"
Melihat orang mau membawanya, Hi Tong girang sekali.
Tahu dia bahwa ketiga Sam Mo itu tangguh 2, kalau kesamplokan ditengah padang pasir tentu berbahaya.
Dengan ada orang Ui berjenggot ini, ia tenteram.
Demikianlah ketiganya berjalan dengan pelahan-lahan.
Ketika Hi Tong tanyakan she dan namanya, orang aneh itu hanya mernyawab seperti orang bersenda gurau saja.
Tapi setiap kata-katanya, selalu mengandung arti yang dalam.
Sampai Wan Ci sendiri pun terpaksa mengangguk.
Keledai pinCang itu lambat sekali jalannya.
Hampir setengah hari, baru dapat tiga 0 li.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara kelontangan.
Thian Hong dan Ciu Ki lari menghampiri.
Hi Tong memperkenalkannya kepada orang aneh itu.
Thian Hong buru-buru turun memberi hormat.
Tapi orang itu tak mau membalas, hanya tertawa.
"Isterimu sudah seharusnya beristirahat, mengapa kau ajak kemana 2?"
Thian Hong kemekmek, sebaliknya Ciu Ki merah padam mukanya, ia menCambuk kuda dan lari lebih dulu.
Orang Ui itu kenal baik sekali akan jalan 2 dan tempat 2 dlpadang sahara itu.
Petang harinya ia mengajak sekalian orang kesebuah dusun.
Ketika hampir dekat, banyak sekali sekali ajam dan anjing lari serabutan.
Itulah disebabkan ada sebuah pasukan besar dari tentara Ceng yang baru saja tiba disitu.
Penduduk suku Ui sama mengungsi dengan anak isterinya.
"Sebagian besar tentara musuh telah dibasmi, sisanya yang luka-luka pun sudah terkepung, mengapa masih ada lagi,"
Tanya Hi Tong dengan heran.
Tepat pada saat itu, disebelah muka ada 2puluhan orang Ui lari dikSjar oleh belasan serdadu Ceng.
Orang-orang itu adalah pengungsi 2.
Demi melihat si berewok, jakni sipenunggang keledai itu, mereka sangat girang.
Serunya.
"Nasrudin Affandi, tolonglah kami!"
Thian Hong tak mengerti apa maksud jeritan orang-orang itu, keCuali kata-kata "Nasrudin Affandi"
Itu. Dia duga, tentulah nama orang berjenggot itu.
"Ayo kita lari!"
Seru Affandi terus larikan keledainya ketengah gurun.
Pengungsi 2 itu mengikutinya, dan serdadu 2 Ceng itupun tetap mengejarnya.
Tak berapa lama, mereka sudah terpisah jauh dari dusun itu.
Selama itu, ada beberapa wanita Ui yang ketinggalan dan tertangkap oleh kawanan serdadu Ceng.
Melihat itu, Ciu Ki tak kuat menahan marahnya, memutar kudanya ia terus menyerang.
Seorang serdadu segera terpapas kutung kepalanya.
Kawan-kawan nya segera maju mengepung, tapi Thian Hong, Hi Tong dan Wan Ci keburu datang menolong.
Sekonyong-konyong Ciu Ki rasakan dadanya sesak, matanya berkunang-kunang.
Melihat orang simpan golok dan meng-urut 2 dada, ssorang serdadu Cepat-cepat maju menyerang.
Rasa muak makin menghebat, dan sekali muntah, ludah terCampur kotoran keluar dari mulut Ciu Ki tepat menyemprot kemuka siserdadu.
Selagi serdadu itu sibuk menghapus kotoran, Ciu Ki telah menabasnya hingga binasa.
Tapi karena menggunakan kekuatan, tubuhnya kelihatan sempoyongan.
Buru-buru Thian Hong menyanggapi dan menanyakannya.
Pada saat itu, Hi Tong dan Wan Ci pun telah dapat membunuh 2 tiga musuh.
Sisanya, lari ketakutan.
Tampak Affandi mengangkat wajan besinya, diputar 2 terus ditutupkan keatas kepala seorang serdadu seraya berseru.
"Dibawah wajan ini ada semangka busuk!"
Dan sekali Wan Ci menusuk, karena kepala tertutup, habislah nyawa serdadu itu.
Kembali Affandi mengangkat wajannya, dan kembali ditutupkannya kepada lain serdadu.
Wan Cipun lagi-lagi tinggal menusuk saja.
Entah orang Ui itu pakai ilmu apa, tapi sekali menutup; serdadu 2 itu tak berdaya menghindar.
Demikianlah, kerja sama antara Affandi dan Wan Ci itu, telah berhasil membasmi bersih belasan serdadu.
Bukan main girangnya Wan Ci.
"Paman berewok, wajanmu hebat benar!"
Katanya.
"Ya, pisau pemotong sajurmu, juga boleh,"
Sahut Affandi tertawa. Wan Ci melengak. Baru ia mengerti, kalau yang dikatakan "pisau pemotong sajor"
Itu adalah pokiamnya.
Thian Hong dapat menawan seorang serdadu dan mengompes keterangan.
Serdadu itu ketakutan setengah mati lalu menerangkan bahwa dia adalah Anggota pasukan balabantuan untuk Tiau Hwi.
Thian Hong suruh 2 orang pengungsi yang berbadan sehat, supaya lekas-lekas kekota Yarkand untuk memberitahukan hal itu kepada Bok To Lun, agar dapat ber-siap 2.
"Enyahlah!"
Bentak Thian Hong sembari mendupak serdadu itu hingga bergelundungan beberapa meter, terus melarikan diri.
Setelah itu, Thian Hong lalu menghampiri sang isteri untuk menanyakan keadaannya.
Ciu Ki kemerah-merahan mukanya, ia melengos tak mau menjawab.
"Kerbau betina akan melahirkan anak kerbau, kerbau jantan yang sedang makan rumput itu pasti senang sekali. Tapi ada beberapa keledai dungu yang makan nasi, sedikitpun tak mengerti,"
Kembali Affandi mengoCeh luCu. Tiba-tiba Thian Hong kegirangan, mukanya berseri-seri tertawa, tanyanya.
"LoCianpwe bagaimana bisa mengetahui?"
"Heran, sikerbau betina hendak melahirkan anak kerbau, kerbau jantan tak tahu, sebaliknya keledai bisa tahu,"
Tertawa Affandi.
OCehan yang luCu itu, membuat semua orang tertawa geli.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya lagi.
Menjelang petang hari, mereka mendirikan kemah.
Dalam pada itu, Thian Hong menanyakan lebih jelas kepada isterinya.
"Seekor kerbau dungu, masa bisa tahu?"
Ciu Ki menggoda.
"Kalau dia seorang anak lelaki, harus she Ciu. Ayah dan ibu tentu girang sekali. Ha, sekali-kali yangan sampai menurunkan sifat aneh seperti kau."
Thian Hong nasehati sang isteri supaya menjaga diri baik-baik . Keesokan harinya Affandi berkata kepada Thian Hong.
"Sekira tiga 0 li lagi, adalah rumah tinggalku. Ada seorang isteriku yang Cantik disana.................."
"Benarkah itu? Aku harus menemuinya. Bagaimana ia bisa menyukai seorang berewok seperti kau?"
Wan Ci memutus.
"Ha, ha, itulah rahasia!"
Affandi tertawa.
"Tak baik kalau isterimu berkuda ikut dalam perjalanan, lebih baik mengasoh dirumahku. Nanti kalau sudah dapat membekuk ketiga telur busuk itu, kita jemput dia,"
Kata pula Affandi kepada Thian Hong.
Thian Hong haturkan terima kasih.
Sedianya Ciu Ki tak mau, tapi mengingat ke 2 engkoh dan seorang adik lelakinya meninggal semua dan kini anak yang dikandungnya itu bakal memakai she keluarganya, terpaksa ia menurut.
Dimuka rumahnya, Affandi mengetuk 2 wajannya hingga kedengaran suara berkerontangan yang nyaring.
Pada lain saat, munCul ah seorang wanita kira-kira berumur tiga 0 tahun.
Rupanya benar-benar Cantik sekali, kulitannya putih dan halus.
Demi melihat Affandi, girangnya bukan kepalang.
Tapi mulutnya tak henti 2nya memaki.
"Ha, Berewok, kau ngelajap kemana? Mengapa baru sekarang ingat pulang, apa kau masih ingat padaku?"
"Sudahlah, yangan ribut 2. Apakah sekarang ini saja tidak pulang? Lekas sediakan makanan. Kaupunya pak Jenggot ini sudah lapar sekali!"
Sahut si berewok.
"Lihatlah, wajah yang sedemikian Cantik ini, masa belum kenyang bagimu?"
Sahut isteri Affandi.
"Benar. Wajahmu yang Cantik ini, adalah sajur majur. Tapi jika harus dimakan dengan roti, tentu lebih Cantik lagi."
Isteri Affandi menjiwir telinga suaminya, ia berkata.
"Tak kuijinkan kau pergi lagi!"
Terus wanita itu lari masuk, kemudian keluar lagi membawa macam 2 roti dan kuweh 2, buah semangka, madu dan daging kambing.
Tengah mereka sama makan, diluar terdengar suara hiruk-pikuk, dan masuklah sekawanan orang Ui.
Mereka saling berebutan melaporkan halnya masings kepada Affandi.
Dengan tertawa 2, Affandi melerai perCideraan mereka.
Dan orang-orang itu pergi dengan puas.
Baru saja mereka berlalu, kembali ada masuk 2 orang, seorang anak 2 dan seorang tukang pengangkut.
"Nasrudin, Oh-loya mengatakan, wajannya yang kau pinjam itu harus dikembalikan,"
Kata sianak. Affandi memandang Ciu Ki sekejap, lalu katanya seraya. tertawa.
"Bilanglah pada Oh-loya, wajannya, sedang mengandung, dan tak lama akan melahirkan anak. Sekarang tak boleh banyak sekali bergerak."
Anak itu melongo heran, tapi terus berlalu pergi.
"Mau apa kau Cari aku,"
Kini Affandi bertanya pada si tukang pengangkut.
"Tahun lalu aku makan seekor ajam disebuah hotel disini,"
Jawab orang itu.
"Selesai, makan kuminta sipengurus membuka rekening. Tapi orang itu menjawab lain kali saja, tak perlu terburu-buru. Kukira pengurus itu seorang baik-baik , kuhaturkan terima kasih padanya. Dua bulan kemudian kudatang akan membajar. Dia menghitung jari, dan mulutnya tak henti 2nya menyebut jumlah, seakan-akan rekening itu tak terhitung banyak sekalinya. 'Berapakah harga ajammu itu, bilanglah!' kuberseru. -Pengurus itu memberi isyarat dengan tangan, supaya aku yangan mengganggunya."
"Harga seekor ajam, taruh kata yang paling besar dan gemuk sendiri, paling banyak sekali hanya seratus uang tembaga!"
Isteri Affandi menyelak.
"Begitulah memang dugaanku,"
Kata si tukang pengangkut itu.
"Tapi ternyata setelah menghitung 2 hampir setengah hari, pengurus itu berseru. 'Duabelas tail perak' '."
"Astaga!"
Isteri Affandi menepuk tangan karena terkejut.
"Mengapa semahal itu? Duabelas tail perak dapat dibelikan beberapa ratus ekor ajam!"
"Memang telah kukatakan begitu kepada sipengurus hotel. Tapi apa jawabnya? Ia berkata. 'Tak salah barang sedikitpun. Coba kau hitung. Andaikata ajamku tak kau makan, dia tentu sudah bertelur. Dan telur 2 itu tentu akan menetas anak ajam. Kalau anak-ajam 2 itu besar, tentu akan bertelur lagi dan begitu seterusnya! Masih bermacam 2 kata-kata pengurus itu. 'Duabelas tail perak masih! murah!' katanya paling akhir.
"Sudah tentu aku tak sudi digorok begitu. Dia seret aku ketempat hartawan Oh-loya minta keadilan. Habis mendengar laporan sipengurus, Oh-loya minta supaya aku lekas-lekas membajar. Katanya. Kalau aku berani main ajal 2an, begitu telur 2 itu menetas, pasti lebih besar lagi jumlah utang yang aku harus bajar.
"Nasrudin, tolonglah kau adili urusan ini.........."
Baru ia berkata sampai disini, anak kecil suruhan Oh-loya tadi datang kembali, katanya.
"Oh-loya bilang mustahil wajannya bisa mengandung, dia tak perCaja dan minta supaya barang-itu lekas-lekas dikembalikan!"
Affandi menuju kedapur, ia mengambil sebuah wajan kecil dan diberikan pada sianak.
"Apa ini bukan anak wajan? Berikanlah ini pada Oh-loya!"
Katanya. Dengan setengah kurang perCaja, anak itu membawa pergi anak wajan itu.
"Malam ini mintalah Oh-loya adakan sidang terbuka,"
Kata Affandi kepada si tukang tadi.
"Kalau aku kalah, bukankah malah akan mengganti 24 tail perak?"
"Yangan kuatir, tak nanti kau kalah!"
Orang itu menghaturkan terima kasih dan minta diri. Tiba-tiba Affandi memandang keatas wuwungan rumah, mulutnya berkemak-kemik.
"Apa kau sudah kenyang?"
Tanya sang isteri. Affandi tak menghiraukan.
"Hampir setengah bulan tak pulang, sekali pulang yang disibuki urusan lain orang. Belum pesanan orang dikerjakan, terus bergegas-gegas mau pergi lagi,"
Isterinya mengomel. Lalu diambilnya tiga uang tembaga dan sebuah mangkok, diberikan pada Affandi, katanya.
"Belikan aku semangkok minyak, yangan bikin kapiran."
Affandi menurut. Dalam hati Wan Ci timbul rasa kagum dan heran akan jiwa Affandi yang suka menolong kesukaran orang.
"Aku ikut, paman berewok!"
Serunya. Dengan memegang mangkuk dan uang, Affandi menggrendeng sambil berjalan.
"Seekor induk ajam bertelur beberapa butir, menetas jadi beberapa ekor anak ajam. Anak ajam menjadi besar dan bertelur pula. Ah, bagaimana Cara menghitung harganya?"
Tiba diwarung, uang Affandi letakkan dia tas meja, dan mangkuk diangsurkan. Si penjual segera menuangkan minyak. Ternyata mangkuk itu tidak muat.
"Kak Nasrudin, sisa .minyak ini dituang dimana?"
Tanya sipenjual.
"Setelah bertelur, kembali. menetas anak.ajam lagi........."
Demikian Affandi menggumam sambil niembalik mangkuk tanpa pikir hingga minyak d.idalamnya tumpah.
"Tuangkan dilekukan bawah ini,"
Serunya sambil menunjuk kebawah mangkuk. Melihat itu Wan Ci tertawa keras, namun Affandi tak menghiraukan.
"Tuangkan disini!"
Katanya pula. Sipenjual segera menuangkan sisa minyak yang tinggal sedikit itu. Setiba dirumah, sang isteri heran.
"Hai, tiga uang tembaga masa hanya dapat minyak sebegini? Kita ada tetamu dan perlu menggoreng kuweh 2 yang banyak sekali,"
Tanya isterinya.
"Tidak hanya ini, disebelah sini masih ada,"
Kata Affandi sambil membalik mangkuknya.
Dan sisa minyak itu jadi tumpah lagi dan kosonglah isi mangkuk itu.
Isterinya mendongkol dan geli.
Buru' 2 dipesutnya badan suar minya yang ketumpahan minyak itu.
Tiba-tiba.
"Cup", Affandi mencium muka sang isteri.
"Carilah akal! Lekas gorengkan kuweh!"
Katanya.
"Minyaknya"
Tanya si isteri.
"Minyak? Bukankah aku barusan dari warung membeli semangkuk minyak?"
Tapi serta teringat akan kebodohannya tadi, Affandi tertawa ter-gelak 2. Begitu samber mangkuk, dia berlari-lari membeli lagi ke warung. Tak berapa lama, si tukang tadi munCul lagi, katanya.
"Paman Nasrudin, Oh-loya telah memanggil persidangan besar, harap kau lekas kesana."
"Aku masih ada, urusan, sebentar lagi,"
Sahut Affandi.
Orang itu gugup sekali, beberapa kali dia keluar masuk kedalam rumah Affandi, untuk mendesaknya.
Kini baru Affandi terpaksa menurut.
Thian Hong dan Kawan-kawan nya ikut pergi untuk menyaksikan sidang itu.
Dipusat kota sudah berkumpul 7 delapan ratus orang.
Di-tengah-tengah itu duduk seorang gemuk yang berpakaian jubah sutera kembang.
Mungkin itulah dia yang disebut Oh-loya.
Nampaknya mereka sudah lama menantikan Affandi.
"Affandi, orang itu mengatakan kau akan jadi pembelanya, mengapa baru sekarang kau datang?"
Tanya Oh-loya. Affandi memberi hormat lalu jawabnya.
"Maaf, karena ada urusan penting, aku sampai terlambat."
"Apa betul ada lain urusan yang lebih penting dari pengadilan ini?"
"Tentu. Coba pikirkan, besok pagi aku hendak tanam gandum. Tapi bibit gandum masih belum matang. Kubakar tiga taker gandum, lalu kumakan, maka kudatang terlambat,"
Kata Affandi dengan, berulang-ulang memberi hormat.
"NgaCo-belo!"
Seru Oh-loya dan sipengurus rumah penginapan itu.
"Gandum sudah dimakan, mana "bisa ditanam! Orang gila semacam kau, mengapa jadi pembela!"
Semua orang yang hadir disitupun tertawa. Namun Affandi hanya meng-urut 2 jenggotnya dan tersenyum. Setelah suara tertawa reda, berkatalah Affandi.
"Benar.
"benar! Lalu ajam yang sudah dimakan orang, dari mana bisa bertelur?!"
Riuh rendah tampik sorak para hadirin. Affandi dipanggul beramai 2 dan di-elu 2 orang banyak sekali. Akhirnya Oh-loya mengeluarkan putusan.
"Seekor ajam yang dimakan orang itu, Cukup dibajar 100 uang tembaga!"
Bukan main girangnya orang tadi. Sebongkok uang tembaga segera diserahkan kepada sipengurus hotel.
"Kelak aku tak' berani lagi makan ajammu!"
Serunya sambil tertawa.
Terpaksa sipengurus hotel mengambil uang itu, terus berlalu.
Semua penduduk yang hadir dalam sidang itu, mengiringkan dibelakangnya seraya memper-olok 2 dan memakinya.
Malah ada beberapa anak nakal melemparkan batu kepung gurig pengurus hotel itu.
"Sekarang wajanku yang kau pinjam itu melahirkan sebuah anak wajan elok", kata Oh-loya pula seraya menghampiri Affandi.
"Dan kapan dia melahirkan yang ke 2 kalinya?"
Tiba-tiba Affandi kerutkan dahinya, dan berkata dengan sedih.
"Wah, Oh-loya, maaf, wajanmu telah meninggal dunia!" .
"NgaCo, wajan bisa mati?"
Sentak Oh-loya "Mengapa tidak? Kalau dia bisa beranak, tentu bisa mati juga,"
Sahut Affandi dengan sabar.
"Penipu, kau mau mengelapkan wajanku!"
Kata Oh-loya.
"Baik, mari kita timbang", Affandi juga mulai berteriak. Teringat oleh Oh-loya, ia sendiri serakah dan mau menerima anak wajan. Hal itu, kalau sampai diketahui orang, alangkah malunya. Maka seperti "sigagu makan empedu,"
Atau orang yang tak dapat menyatakan penderitaannya, akhirnya Oh-loya melambaikan tangan, terus menyelinap pergi diantara orang banyak sekali.
Setelah dapat mengingusi sihartawan Oh-loya yang suka menindas simiskin itu.
Affandi girang bukan buatan.
Mendongak keatas dia tertawa ter-bahak 2.
Selagi begitu, kedengaran sebuah suara memanggilnya.
"Hai, Berewok, kau membikin onar apa disitu?"
Ketika Affandi berpaling, dia girang sekali, karena orang itu bukan lain adalah Thian-ti-koay-hiap Wan Su Siau.
Ke 2 orang aneh itu, yang satu tinggal disebelah selatan dan lainnya disebelah utara, adalah orang-orang gagah yang menjalankan peri-kebajikan, menolong yang lemah dan menindas yang jahat.
Ke 2nya mempunyai ilmu silat yang luar biasa, dan sama 2 saling mengindahkan.
Buru-buru Affandi memegang tangan Koayhiap, seraya tertawa.
"Ha, ha, kau siorang tua ini, Ayo, kepondokku untuk menengok isteriku".
"Apanya yang mengherankan pada isterimu, mengapa selalu kau buat buah tutur saja?"
Kata-kata Koayhiap tak dapat dilanjutkan karena keburu Thian Hong dan Hi Tong datang memberi hormat.
Ke 2 erang ini pernah melihat Tan Keh Lok main Catur dengan orang tua ini digereja Giok Hi To Wan dulu, maka tahulah mereka bahwa dia adalah Suhu dari TiongthoCu-nya.
"Sudahlah sudah, aku bukan Suhumu, mengapa kalian menjura 2 begitu? Dan dimana Keh Lok?"
"Tan-CongthoCu berangkat lebih dulu dari kita......... ai, Tan loyaCu dan Lothaythay juga datang!"
Seru Thian Hong.
lalu memberi hormat pada Thiansan Siang Eeng yang berada dibelakang Koayhiap.
Tapi ia segera menjadi kaget demi dilihatnya Kwan Bing Bwe menuntun kuda putih tunggangan Tan Keh Lok.
Tanpa sungkan 2 iapun menanyakannya.
"Kudapatkan kuda putih kepunyaan CongthoCumu ini Q sedang berlari-lari dipadang pasir. Kami bersusah payah mengejar baru dapat menangkapnya", sahut Kwan Bing Bwe.
"Ha, apa Tan-CongthoCu dalam bahaya?"
Tanya Thian Hong dengan kaget.
Lebih dulu rombongan orang-orang itu menuju kerumah Affandi, setelah selesai dahar segera mereka pergi pula dan Ciu Ki ditinggal disitu.
Melihat baru setengah hari suaminya datang dan segera akan pergi lagi, isteri Affandi menjerit 2 dan menangis seraya memegang jenggot sang suami.
Affandi menghiburinya, namun ia tetap me-ngiang 2.
"Kau minta jenggotku ini? Baiklah!"
Seru Affandi sambil tiba-tiba menCabut belasan utas jenggotnya, disesapkan ke-dalam tangan sang isteri terus melesat keluar.
Sambil menunggangi keledai pinCang yang besarnya tak melebihi seekor anjing besar kepunyaan Affandi itu, ke 2 kaki Affandi seperti jujul sampai ketanah.
Tampaknya keledai itu seperti berkaki enam.
"Hai, Berewok, apa yang kau tunggangi itu? KuCing atau tikus?"
Tanya Koayhiap dengan tertawa.
"Masakah ada tikus sebesar ini?"
Sahut Affandi.
"Mungkin tikus besar", seru Koayhiap. Demikianlah sambil berCanda, mereka menuju kesebelah r barat. Wan Ci yang naik kuda putih kepunyaan Lou Ping itu, dapat berjalan pesat dan berada disebelah depan. Sampai hari sudah sore, ternyata mereka baru berjalan tigapuluhan li, hal ini membuat mereka gelisah.
"LoCianpwe, CongthdCu kami mungkin dalam bahaya, kami terpaksa akan berjalan lebih dulu,"
Aehirnya Thian Hong berkata kepada Affandi, karena tak sabar melihat jalannya keledai yang menggeremet seperti semut itu.
"Baik, baik, sesampai dikota sebelah muka sana, akan kubeli seekor keledai yang berguna. Keledai bodoh ini tak berguna, tapi dia senantiasa menganggap dirinya jempol sendiri,"
Sahut Affandi. Tapi ternyata begitu keledai dike-prak, binatang itu terus lari menyusul Wan Ci. Tinggi keledai itu hanya separohnya kuda putih.
"Nona, seharian ini mengapa kau kelihatan bermuram durja saja?"
Tanyanya kepada Wan Ci.
Tiba-tiba teringat oleh Wan Ci, sekalipun orang ini luar biasa kata-katanya seperti orang sinting, tapi mengandung arti yang dalam.
Setiap ada orang Ui mendapat kesukaran, mereka tentu datang meminta pertolongan padanya.
Maka berkatalah nona itu.
"Paman Jenggot, terhadap orang yang tak kenal budi, kau akan bertindak bagaimana?"
"Akan kukerudungi dengan wajanku ini, dan kaulah yang menusuknya."
"Bukan begitu,"
Sahut Wan Ci sambil gelengkan kepalanya.
"Misalnya orang itu adalah orang............ orang yang paling akrab denganmu. Makin kau berlaku baik kepadanya, makin dia unjuk tingkah seperti keledai."
Affandi tertawa mengurut jenggotnya. Segera dia dapat menangkap maksud sinona itu, katanya.
"Setiap hari kumenunggang keledai, jadi tahulah aku akan watak keledai. Ja, memang ada Caranya, hanya saja tak boleh Cara itu sembarangan kuajarkan padamu."
Wan Ci tertawa riang, .lalu membujuk dengan lemah lembut.
"Paman Jenggot, apa sjaratnya agar kau mau mengajarkan?"
"Harus melalui perlombaan lagi, kalau kau menang baru kuajarkan."
"Baik, kita berlomba lari lagilah,"
Kata Wan Ci tertawa 2.
"Lain macam perlombaan saja, lomba lari sekali ini kau tentu kalah,"
Kata Affandi seraya mengeluarkan buntut keledainya.
"karena sekarang aku pasti tak dapat kau akali."
"Kalau tak perCaja, mari kita boleh Coba lagi,"
Wan Ci membandel.
"Baik, akan kulihat kaupunya ilmu apa lagi."
Affandi menunjuk pada sebuah desa yang berada disebelah muka, lalu katanya.
"Siapa yang menCapai dirumah pertama, dia yang menang!"
"Baik, Paman Jenggot, kau tentu kalah lagi!"
Seru sigadis.
Dan sekali kaki Wan Ci.
dikempitkan, kuda putih itu melesat kemuka seperti anak panah pesatnya.
Pada lain saat, Affandipun segera 1 memanggil keledainya, terus menyusul.
Kuda putih itu adalah seekor kuda sakti yang tak ada taranya.
Larinya benar-benar seperti kilat, maka sekalipun ilmu mengentengi tubuh dari Affandi itu sudah sempurna sekali, namun tetap tak dapat nienyusulnya.
Baru dia berlari setengah perjalanan.
kuda putih itu sudah sampai didusun itu.
"Ha, kembali aku diakali nona kecil itu. Kutahu kuda putih itu kuda sakti, tapi tak mengira kalau larinya sedemikian pesatnya,"
Kata Affandi dengan tertawa.
Thiansan Siang Eng terkesiap menyaksikan itu.
Memanggul seekor keledai, itu masih tak mengherankan.
Tapi bagaimana orang Ui itu seperti orang terbang larinya, sungguh membuat mereka tunduk.
Jika bukan kuda putih itu, pasti akan terkalahkan.
Tepat pada saat itu, kuda putih kedengaran bebenger keras serta kakinya depan melonjak 2 keatas.
Wan Ci Coba menahan lesnya, tapi tak kuat.
Dalam sekejap saja, kuda putih itu sudah menCongklang keluar dari desa itu.
Hal itu telah membuat Cemas semua orang yang segera sama mengejarnya.
Kuda putih itu menCongklang pesat kearah padang pasir.
Dia lari menuju kearah beberapa orang, dan tiba-tiba berhenti.
Wan Ci turun dan berbiCara dengan mereka.
Thian Hong cs yang menyusul dari belakang itu, tak dapat melihat jelas siapakah orang-orang itu.
Tapi segera kuda putih itu kelihatan lari balik, begitu dekat, barulah Thian Hong mengetahui bahwa penunggangnya sudah berganti dengan Lou Ping.
Dan malah dibelakangnya, tampak pula Bun Thay Lay, Jun Hwa, Ciang Cin dan Sim Hi.
Sementara yang paling belakang sendiri, ada seorang penunggang yang rambutnya sudah putih, menggendong pedang, dan sedang memimpin Wan Ci dan ber-Cakap 2 dengan asjiknya.
Kiranya, dia adalah Liok Hwi Ching.
Hi Tong buru-buru menghampiri Hwi Ching dan menjura.
"Susiok!"
Serunya terus menangis dengan sedihnya. Hwi Ching mengangkatnya bangun, ia, sendiripun menguCurkan air mata.
"Telah kudengar akan perihal suhumu, maka bergegas-gegas kususul kemari. Ditengah'jalan kubertemu dengan Bun-suya yang kebetulan pun akan menangkap bangsat itu............ sudahlah, kita tentu dapat membalaskan sakit hati suhumu!"
Menghibur Hwi Ching"
Dengan tak lampias.
Thian Hong dan lain-lainnya pun menghiburi, baru Hi Tong menjadi tenang.
Dengan adanya sekian banyak sekali jago-jago yang kosen itu, Ciauw Cong pasti tak dapat lolos.
Hanya yang menjadi pikiran mereka adalah keadaan Tan Keh Lok dan Ceng Tong yang masih belum diketahui itu.
Setiba didusun itu, mereka mengaso.
Affandi betul juga membeli lagi seekor keledai, selama itu diam-diam Wan Ci mengikutinya.
Affandi seperti tak menghiraukan, dibelinya seekor keledai yang 2 kali gemuknya dari keledainya yang lama, lalu keledai kerdil itu dijualnya.
"Kopiah pembesar telah menyilaukan keledai dungu ini, maka takkan kubiarkan dia memakainya lagi,"
Katanya sembari membanting kopiah milik Thio Ciauw Cong itu Setanah dan di-injak 2nya sampai rusak. Setelah Affandi membajar harganya, Wan Ci bantu menuntun keledai itu.
"Dulu kupelihara seekor keledai,"
Demikian Affandi ber Cerita.
"wataknya bengal tak mau tunduk pada orang. Kusuruh jalan, dia berdiri. Kalau kusuruh berdiri, dia berputar 2. Pada suatu hari, kusuruh dia menarik pedati kepeng gilingan yang letaknya tak jauh, tapi entah apa sebabnya, dia membangkang. Makin kupaksa, makin dia berkeras membelot, tidak maju malah mundur. Aku menjadi serba salah, mau meng-elus 2 atau menghajarnya. Coba kau terka, apa dayaku?"
Tanya Affandi. Tahu Wan Ci bahwa orang Ui itu tengah berCangkeriman dengan kata-kata kiasan. Maka ia mendengarinya dengan teliti, tak berani tertawa.
"Kau orang tua, tentu punya akal,"
Demikian jawabnya.
"Waduh, kalau nona besar pingin menjadi menantu, apa saja tentu mau melakukan. Dulu memanggil aku 'Paman Jenggot', kini panggil 'kau orang tua'."
Selebar muka Wan Ci menjadi merah jengah.
"Aku bertanya tentang keledaimu,"
Katanya kikuk.
"Baiklah. Kemudian kumenCari akal, dan berhasil ah! Kutarik keledai itu berputar kearah belakang. Penggilingan disebelah timur, kuhadapkan keledai itu kebarat, lalu kumaju menCambuknya. Keledai itu membangkang dan malah setindak demi setindak mundur, dan mundur hingga sampai ketempat penggilingan itu."
Wan Ci mendengarkan dengan asjiknya, mulutnya berkemak kemik.
"Kau suruh dia ketimur, dia senantiasa menuju kebarat .................. kalau begitu, suruhlah dia menuju kebarat."
"Bagus, memang begitu,"
Kata Affandi sembari unjuk jempolnya.
"Kemudian, aku mendapat akal baru."
"Bagaimana?"
Buru-buru Wan Ci bertanya.
"Kuikatkan sebuah lobak pada ujung peCut, dan kupasang disebelah mukanya. Karena ingin memakannya, keledai itu terus maju sampai berpuluh-puluh 2 li. Sampai ditempat yang kukehendaki, baru kuberikan lobak itu padanya."
Seketika itu tersedarlah Wan Ci. Ia tertawa.
"Terima kasih kau orang tua memberi pengajaran padaku."
"Sekarang t jarilah lobak pengumpan itu!"
Tertawa Affandi. Wan Ci merenung dalam hati.
"Apakah yang paling dikangeni oleh Ie suko itu? Tadi waktu ketemu Suhu, dia menangis sedih, kalau begitu, membunuh Ciauw Cong itu merupakan hal yang mutlak baginya. Aku harus menCari akal untuk itu."
"Ah, tapi Ciauw Cong sedemikian tangguhnya, mana aku bisa membunuhnya? Dan lagi, andaikata bisa, paling banyak sekali Suko tentu hanya menghaturkan terima kasih saja. Tak nanti dia seperti keledai yang mengejar lobak itu,"
Tiba-tiba hatinya membantah.
"Semasa kecil, pernah kulihat anak dari pelayanku ber-main-main boneka. Kumintanya, tapi sampai kumenangispun dia tak mau memberikan. Kata-kata paman Jenggot ini memang benar, makin kudekati, makin dia men-jauhi. Kalau begitu, biarlah aku bersikap dingin saja. Nanti kalau ia menganggap perlu padaku, tentu ia akan datang me-minta 2 sendiri padaku. Coba, keledai itu masih segan pergi ketempat penggilingan atau tidak?"
Dengan keputusan itu, sepanyang jalan Wan Ci kini bersikap dingin kepada Hi Tong.
Hal itu telah membuat Lou.
Ping dan Thian Hong heran.
Tapi sebaliknya Affandi ter-senyum 2 mengurut jenggotnya.
Perjalanan sehari itu, telah membawa rombongan mereka kegunung Pek-giok-nia.
Kuda putih itu nyata masih jeri dengan serigala.
Setiba dipersimpangan jalan masuk kedalam kota kuno, binatang itu berhenti.
Berulang-ulang Lou Ping roe-nepuk 2nya, tapi kuda itu tetap tak mau jalan.
"Kawanan serigala itu pernah masuk kemari, kita ikuti bekas kotorannya masuk kedalamnya,"
Kata Koayhiap.
Setelah berlika-liku sampai setengah harian, tiba-tiba kuda putih yang berada paling belakang sendiri, meringkik keras.
Dan seketika itu, terdengarlah suara tindakan kaki orang.
Pada sebuah tikungan, munCul ah empat orang.
Orang yang dimuka sendiri, adalah Hwe-Chiu-poan-koan Thio Ciauw Cong.
Segera Thian Hong bersuit, suruh Jun Hwa, Ciang Cin dan Sim Hi berpenCar, untuk menghadang dibelakang Ciauw Cong.
Sebaliknya demi melihat rombongan orang-orang gagah itu, bukan kepalang kagetnya Ciauw Cong.
Terutama, ketika melihat Liok Hwi Ching, Suhengnya, ikut serta, ia takut bagaikan melihat setan, wajannya pilas seketika dan keningnya mengalirkan keringat dingin.
Sementara itu dengan kim-tioknya, terus saja Hi Tong hendak meneryang, tapi dnyambret kebelakang oleh Koayhiap.
"Ketika bertemu padamu beberapa waktu yang lalu, kuanggap kau seorang jago lihai dari Bu Tong Pai, tak taliunya kalau bangsa bajingan, sehingga Suheng sendiri tegah kau membunuhnya. Rupanya kau ingin hidup senang sendiri!"
Dengan keren Thian-ti-koayhiap memaki.
Melihat bahwa dalam rombongan musuh itu, sekurang 2nya ada 5 orang yang kepandaiannya sama dengan dirinya, sedang ada lagi seorang yang diatas tingkatannya, gentarlah Ciauw Cong.
Tapi dia masih tak mau unjuk kejerian, katanya.
"Fihakku hanya 4 orang, kamu andalkan jumlah banyak sekali untuk merebut kemenangan. Aku Thio Ciauw Cong, sekalipun nanti binasa, takkan malu rasanya!"
Thian-ti-koayhiap murka, pikirnya.
"Kawannya yang tiga itu, juga tergolong keras-keras. Kalau mereka berempat maju mengerubuti, aku pasti tak dapat melayanni. Tapi ada Jenggot Panyang, tak apalah."
Maka katanya lantas.
"Hm, ketika aku berusia tiga 0 tahun, dapat aku melayani orang dengan berimbang. Tapi setelah lewat usia itu, tak pernah'aku bertanding satu lawan satu. Tantangan inipun tak terkeCuali berlaku untuk bangsa bebodoran semacam kau. Kau berempat boleh maju berbareng, aku bersama saudara Jenggot ini akan melayaninya. Asal kau berempat dapat melawan, tak usah menang, Cu-kup berimbang saja, akan kulepaskan kauorang. Nah, bagaimana?"
Ciauw Cong memandang tajam 2 pada Affandi.
Ia lihat orang Ui ini wajannya hitam, segompjok brewoknya menutupi hampir separoh mukanya dan kalau ketawa matanya berobah menjadi 2 larik sinar, nampaknya seperti orang biasa yang tak punya kepandaian apa-apa.
Maka berpikirlah ia.
"Orang she Wan ini berkepandaian jauh diatasku. Tapi masa masih ada orang lihai yang ke 2 lagi? Kalau salah seorang dari Kwantong Sam Mo itu mau membantuku, aku dapat melayani siorang she Wan. Sedang yang 2 orang lagi bisa meladeni orang Ui itu. Ah, bolehlah."
Memang Ciauw Cong tak ada pilihan lain, keCuali berbuat begitu. Maka berkatalah dia.
"Kalau begitu, baiklah diCoba. Harap Wan............ Wan-tayhiap berlaku murah."
"Tanganku tak1 mau disuruh berlaku murah!"
Jawab Koayhiap dengan bengis.
"Ayo Berewok, dimuka sekian banyak sekali sahabat 2 baru, yangan sampai kita membikin keCewa mereka,"
Serunya pada Affandi.
"Aku seorang dusun tua, melihat bangsa pembesar agak merasa jeri, kuatir mengeCewakan,"
Sahut Affandi, dan entah bagaimana dia bergerak, tahu-tahu sudah turun dari keledainya.
Melihat gerakannya itu, tiba-tiba teringatlah Ciauw Coug akan siorang aneh yang menyaru menjadi orang mati dikuburan tempo hari.
Serasa berCekatlah hatinya.
"Ayo, kamu berempat segera maju. Supaya ber-hati-hati, yangan pikirkan untuk lari, karena ditanganku, orang tak nanti bisa lolos,"
Seru Koayhiap. Haphaptai maju selangkah dan memberi hormat, katanya.
"Wan-tayhiap telah melepas budi menolong jiwa kami bertiga saudara. Sekali-kali kami tak mau berkelahi dengan kau orang tu,a. Apa lagi dengan orang she Thio itu, kamipun. baru berkenalan saja, sedikitpun tak ada hubungan apa-apa. Kami tak mau membantunya."
Kembali Haphaptai menjura, lalu undurkan diri berja jar dengan ke 2 saudaranya. Sikapnya hanya sebagai penonton belaka.
"Ah, mereka tak mau,"
Koayhiap kerutkan keningnya.
"Jadi hanya. kau seorang, bagaimana ini? Aku telah bersumpah dihadapan Cusouwya, sekali-kali tak mau bertempur melawan satu orang. Hai, berewok, terpaksa ku-akan minta kau saja yang main-main ."
Affandi mengambil wajan dibelakangnya, ia tertawa.
"Baik, baik.baik,"
Katanya.
Dan ucjapan itu ditutup dengan suara menderu dari wajan yang akan dikerudungkan diatas kepala Ciauw Cong, siapa buru-buru menghindar kesamping seraya mengawasi senjata aneh yang dipakai penyerangnya itu.
Benda itu hitam bundar, jeglong kedalam.
Bagian jeglongannya itu penuh dengan hangus hitam, mirip dengan wajan.
"Ha, kau tentu berpikir. apakah ini? Mengapa mirip wajan? -Nah, biar kuberitahukan, memang ini wajan. Kamu tentara Ceng, tanpa suatu alasan apa-apa mengaduk kedaerah Ui sini, hingga merusakkan tak sedikit wajan, dan menyebabkan kami orang Ui tak bisa makan nasi. Nah, sekarang wajan ini akan menghajar tentara Ceng itu!" />Berbareng dengan uCapan itu, kembali wajan melayang keatas kepala Ciauw Cong. Dengan gerak "sian-ho-liang-ki,"
Burung ho pentang sayap, Ciauw Cong megos sembari balas menyerang puifidak Affandi.
Cepat Affandi mendek sedikit, sembari tangannya kiri digosokkan kepantat wajan, terus diulapkan kemuka Ciauw Cong.
Sejak keluar dari perguruan, banyak sekali kali Ciauw Cong bertempur dengan musuh, tapi sebegitu jauh, dia belum pernah bertempur dengan orang yang begitu aneh biCaranya, aneh pula gerakannya.
Karena dengan tangan kanan menenteng wajan dan tangan kiri merabu angus wajan, orang Ui itu ber-gerak-gerak seperti orang sempoyongan, sedikicpun tak mirip dengan gerakan ilmu silat.
Namun sekalipurt begitu, setiap serangannya yang berbahaya selalu dapat dihindari dengan mudah oleh orang Ui tersebut.
Dari kagum, Ciauw Cong menjadi gusar.
Segera dia keluarkan ilmu silat Bu Kek Hian Kang Kun, sebuah ilmu silat yang paling dibuat andalan oleh kaum Bu Tong Pai.
Dengan ilmu pukulan itu, seluruh jalan darah ditubuhnya, tertutup semua, sehingga air hujanpun tak dapat menembus.
Tempat pertempuran itu sangat sempit, tanahnyapun dari batu-batu padas yang runCing 2, sedang ke 2 orang itu serangmenyerang dengan ganasnya.
"Ah, bangsat! Dengan kepandaian itu sebenarnya kau tergolong jago lihai yang jarang ada tandingannya dika-langan kangouw. Tapi sayang hatimu begitu jahat!"
Diam-diam Koayhiap menghela napas.
"Kiu-ya, pak Jenggot itu gunakan ilmu silat apa?"
Tanya Sim Hi pada Jun Hwa.
Jun Hwa menggelengkan kepala tanda tak tahu.
Juga Thiansan Siang Eng dan Liok Hwi Chingpun tak kenal termasuk golongan mana ilmu silat Affandi itu.
Tapi mereka sangat mengaguminya.
Pada.
lain saat, tiba-tiba kaki kiri Affandi terangkat naik, wajannya menyerang kemuka, sehingga karena tak dapat menghindar, Ciauw Cong menyusup dari bawah wajan.
Tapi diluar dugaan, tangan kiri Affandi diulurkan menjaga dibelakang pantat wajan.
Ketika hal itu diketahui oleh Ciauw Cong, ternyata sudah terlambat.
Tapi dia masih akan gunakan gerak "Cong-thian-bao"
Atau meriam menembak keudara, dengan menghantamkan tangan kirinya ke wajan.
"Aha, alat pemakan; nasi, yangan dirusakkan!"
Seru Affandi seraya angkat wajannya keatas.
Membarengi mana, tangannya merabu kemuka Ciauw Cong, hingga seketika itu muka Ciauw Cong mendapat Cap 5 jari angus.
Habis itu, ke 2nya saling lonCat terpenCar.
"Ayo, mari main-main lagi, 'kan belum tahu siapa yang kalah,"
Seru Affandi. Ciauw Cong tak mau bergerak. Hanya matanya mengawasi wajan Affandi.
"Ai, ja, kau tak bersenjata, tentu kau tak mau mengaku kalah,"
Kembali Affandi berseru, lalu ia berpaling pada Wan Ci.
"Nona, pinjamkanlah pisau pemotong sajurmu itu kepada si 'lobak' ini!"
Tadi sengaja Wan Ci menyaksikan dari dekat, ia tunggu begitu Affandi mengkerukup kepala Ciauw Cong, ia segera akan maju menabas.
Tapi orang Ui aneh itu telah menelanyangi maksudnya.
Sudah tentu mukanya merah.
Sementara, lain-lainnya pun menganggap Affandi itu suka omong ngelantur.
Misalnya, dia namakan Ciauw Cong sebagai "lobak."
Tapi mereka sama sekali tak kira, kalau katakata itu. terselip urusan seorang anak dara. Melihat Wan Ci menjublek, Affandi tempelkan mulutnya kedekat sinona, dan berbisik.
"Pinjamkanlah pisau sajurmu itu. padanya, aku masih dapat mengatasi!"
Wan Ci mengangguk segera serunya.
"Ini pedang, sambutilah!"
Sekali ulur sebelah tangan, jari Ciauw Cong telah menjepit tangkai pedang itu.
Sekonyong-konyong dia membalik badan, sekali tangannya mengibas, serumpun hu-yong-Ciam melayang kearah Jun Hwa, Thian Hong dan Sim Hi.
Tahu kelihaian jarum itu, ketiga orang tersebut buru-buru tengkurepkan tubuhnya.
Tapi berbareng itu, diatas kepala mereka terasa ada angin menyambar dan tahu-tahu Ciauw Cong sudah melesat lolos.
Dia lonCat kesamping Haphaptai, terus pegang lengan kanannya seraya menyentak.
"Lekas lari!"
Karena dipegang bagian jalan darahnya, seketika itu Haphaptai tak berdaya dan dapat diseretnya.
Tanpa berpikir panyang lagi, It Kui dan Kim Piauw lon-Cat mengikuti.
Dan bila Thian Hong bertiga dapat berdiri tegak lagi, Ciauw Cong berempat sudah menghilang diti-W kungan, tapi ternyata Thian-ti-koayhiap dan Affandi telah begitu murka sekali.
Sekali tubuh mereka bergerak, bagaikan 2 burung besar, mereka melayang lewat diatas kepala Thian Hong es.
Luar biasa sebatnya adalah gerakan Koayhiap, belum kakinya menginjak tanah, tangannya sudah dapat memegang tengkuk It Lui, dan tubuh yang gemuk itu segera terangkat naik.
Jago pertama dari Kwantong Liok Mo itu tidak mengetahui siapakah yang menCekik lehernya itu.
Yang diketahuinya hanya tubuhnya mendadak terasa terangkat.
Tanpa berdaya ia meronta 2.
Dalam kagetnya, ia buru-buru hantamkan tok-kak-tang-jin-nya kebelakang.
Hasilnya, malah lebih tiel"ka lagi.
Karena tiba-tiba dia berasa dilempar oleh suatu tenaga yang luar biasa dahsyatnya, Menyusul itu, terdengarlah suara jeritan ngeri, batok kepala It Lui p.eCah menumbuk batu Cadas.
Thian-ti-koayhiap tak mau berhenti sampai disitu dan terus mengejar.
Membiluk ditikungan, dihadapannya terbentang sebuah pertiga-jalan.
Tak tahu Ciauw Cong mengambil jalan yang mana, ia menunjuk kearah kiri seraya berseru.
"Berewok, kau kejar dari sini!"
Dan menunjuk kearah kanan, ia berseru pula pada Thian-san Siang Eng.
"Kalian ber 2 mengejar dari situ!"
Habis itu, ia sendiri lalu bergerak Cepat dnyalan yang tengah.
Tapi hanya sekejap saja keempat orang itu munCul balik lagi kesitu.
Ternyata semua sama keterangannya, ketika membiluk sebuah tikungan, kembali mereka, masing-masing menghadapi sebuah perempatan, sehingga sukar untuk melanjutkan pengejarannya.
Setelah memeriksa dengan teliti, berkatalah Thian Hong.
Pada kotoran serigala ini ada 2 buah tapak orang.
Mereka tentu menurutkan kotoran ini untuk masuk kesana."
Koayhiap membenarkan dan ajak mereka mengejar lagi.
Setelah ber-biluk 2 beberapa kali, akhirnya mereka sampai dimuka Pek-giok-nia.
Namun jejak Ciauw Cong bertiga tetap tak kelihatan.
Ramai 2 mereka memeriksa rumah 2 disitu.
Tak berselang"
Berapa lama, Thian Hong berhasil menemukan mulut gua yang menuju keperut gunung.
Thian-ti-koayhiap dan Tan Ceng Tik, yang satu berilmu tinggi dan yang lain beradat keras, terus saja lonCat keatas.
Liok Hwi Ching, Bun Thay Lay, Kwan Bing Bwe dan iain 2nya pun menyusul.
Yang ilmunya entengi tubuh masih kurang, ditarik dengan tali oleh Hwi Ching dan Kwan Bing Bwe.
Ketika yang terakhir tiba gilirannya.
Sim Hi, berkatalah Affandi deng-an tertawa.
"Adik Cilik, akan kuCoba bagaimana nyalimu!"
Sambil berkata, tangan orang Ui yang aneh itu lantas memegang punggung Sim Hi, terus dilemparkan keatas pada mulut gua.
"Sambutilah!"
Diatas, Bun Thay Lay segera menyambutinya.
Affandi lonCat menyusul.
Saat itu Koayhiap dan Ceng Tik tengah kerahkan tenaga untuk mendorong pintu batu.
Pintu itu menjeplak terbuka kesebelah dalam.
Ternyata pintu itu memang sengaja dibikin begitu, masuk mudah keluarnya susah.
Cukup dihadang beberapa orang saja, tak nanti orang yang sudah berada didalam, sekalipun sebuah pasukan besar, dapat keluar dari pintu batu itu.
Kiranya, ketika rajanya mendirikan istananya diperut gunung itu, untuk penjagaannya dibuatnya begitu banyak sekali jalanan 2, sehingga musuh pasti tersesat.
Tapi raja yang kejam itu tetap merasa kuatir, kalau 2 ada orang dalam yang memberontak, karenanya dibuatlah pintu batu yang bukannya menjeplak kesebelah dalam.
Itulah rahasia kegunaan pintu batu tersebut.
Dengan dipimpin Koayhiap yang berjalah disebelah depan, rombongan orang itu menyusup kedalam.
Thian Hong me motes kaki meja untuk dnyadikan obor.
Setiap orang diberinya sebuah.
Sampai dipaseban besar, senjata mereka telah tersedot jatuh, hingga mereka kaget.
Hanya Affandi yang bisa berlaku Cekatan, wajan buru-buru ditekamnya kenCang 2 hingga tak sampai jatuh pecah.
Karena perhatian hanya ditujukan pada Ciauw Cong, mereka tak menghiraukan kejadian tersebut.
Dengan gunakan tenaga, mereka memungut senjatanya lalu masuk kedalam mangan tidur.
Disebelah pembaringan, mereka melihat juga lobang ditanah itu, lobang mana pun segera dimasukinya.
Selama menyusur didalam lobang itu, mereka tak berani mengeluarkan suara apa-apa.
Tiba-tiba disebelah depan, tampak terang benderang.
Disanalah Telaga Warna itu.
Disitu kelihatan berdiri enam orang, sebelah telaga sana berdiri Tan Keh Lok, Ceng Tong dan Hiang Hiang.
Sedang disebelah sininya adalah Ciauw Cong, Kim Piauw dan Haphaptai.
Bukan kepalang girangnya rombongan Koayhiap itu.
"Siaoya, siaoya, kita beramai datang!"
Seru Sim Hi dengan girang.
Kiranya sesudah bertanding dengan Affandi tadi, tahulah Ciauw Cong bahwa kini dia berhadapan dengan seorang yang berkepandaian luar biasa.
Dia merasa tak ungkulan melayani, maka timbul ah akal busuknya.
Dengan mengandal jalanan disitu yang sangat menyesatkan itu, dia terus merat.
Pikirnya.
"Jalan lolos satu 2nya, adalah mengulangi kejadian dipenyeberangan sungai Hoangho ketika bertempur dengan orang-orang HONG HWA HWE itu. Itu waktu walaupun dirinya terluka berat, tapi dia berhasil menawan Bun Thay Lay sebagai barang tanggungan, sehingga sekalipun fihak musuh terdiri dari jago-jago lihai seperti Bu Tim, Liok Hwi Ching. Tio Pan San, Tan Keh Lok, Ciu Tiong Ing, ke 2 saudara Siang dan lain-lain-nya, tapi mereka telah dibikin tak berdaya dan terpaksa memberi lolos padanya. Untuk mengulangi hal itu, ia harus menCari Tan Keh Lok dan Ceng Tong sebagai jaminan. Dan ini ia akan melaku-kannya, sekalipun ke 2 orang itu berada diperut gunung yang penuh rahasia itu. Sekali Tan Keh Lok dapat diringkus, Cukup dengari memalangkan pedang kelehernya, ia pasti dapat berlalu dengan lenggang-kangkung. Tahu kalau seorang diri tak nanti dapat menundukkan Tan Keh Lok dengan Ceng Tong, karenanya ia mengajak ketiga Sam Mo. Tak diduganya sama sekali, kalau perbuatannya itu telah mengakibatkan tewasnya It Lui. Pada saat Ciauw Cong bertiga masuk, Keh Lok telah selesai berlatih ilmu pukulan dan akan menghimpiti ke 2 taCi beradik itu untuk diajak menCari jalan keluar dari tempat itu. SeCara kebetulan Ciauw Cong telah melihat lobang disamping pembaringan dan memasukinya. Maka munCulnya Ciauw Cong bertiga disitu telah membuat terkejut Tan Keh Lok; siapa buru-buru menarik Hiang Hiang dan Ceng Tong ketepi sebelah sana. Ciauw Cong dan Kim Piauw terus berpenCar mengejar dari 2 jurusan. Tapi Haphaptai segera menentang perbuatan Kim Piauw itu. Dengan mata mendelik, ia mendamperat kawannya. Belum kita tahu bagaimana nasib Lo Toa. kau sebaliknya akan berserikat dengan lain orang untuk menguber wanita. Ayo, kita lekas pergi Cari Lo Toa saja!"
Tapi rupanya Kim Piauw membantah.
Sedang ke 2 orang itu t jet jok sendiri, Koayhiap dan rombongannya munCul.
Per-tama 2 adalah orang-orang HONG HWA HWE itu yang segera mendapatkan sang CongihoCu.
Tapi tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kaki yang sangat ter-buru-buru kelihatannya.
Itulah Ceng Tik dan Kwan Bing Bwe yang mendahului maju.
"Ceng-ji, kau bagaimana? seru Kwan Bing Bwe.
"Suhu, Sukong, aku baik-baik saja. Tolong bunuhlah ke 2 penjahat ini,"
Sahut Ceng Tong dengan terharu seraya menunjuk pada Kiria Piauw dan Haphaptai.
Memang Ceng Tong sebenarnya tak bermusuhan dengan Ciauw Cong.
Yang1 dibencinya setengah mati, adalah Sam Mo yang terus menerus mengejarnya itu.
Lebih 2 kepada Kim Piauw yang kurangajar itu.
Ceng Tik pernah tempur ketiga Sam Mo, karena berkelahi "dengan tangan kosong, hampir-hampir ia sendiri mengalami kerugian.
Kini tanpa ajal lagi, ia lolos pedang terus menikam pundak Kim Piauw, siapa segera melawan dengan lak-houw-jahnya.
Sedang dilain fihak, Kwan Bing Bwe pun sudah bertempur dengan Haphaptai.
Orang-orang HONG HWA HWE lainnya segera menghunus senjatanya maju menghampiri dan mata terus mengawasi pada musuh besar, Ciauw Cong.
Hanya Koayhiap dan Hiang Hiang yang tak bersenjata.
Wan Ci meskipun sudah serahkan pokiamnya pada Ciauw Cong, tapi Suhunya (Hwi Ching) berikan lagi sebuah pedang pusaka.
Malah pedang itu pedang Leng-bik-kiam milik Ciauw Cong yang telah dirampasnya ketika pertempuran dibukit Pak-kao-nia di HangCiu tempo hari.
Hwi Ching sendiri tetap memakai pedangnya, pek-hong-kiam.
Sambil mengawasi jalannya pertempuran, ia tetap arahkan perhatiannya pada gerak-gerik Ciauw Cong.
Kim Piauw dan Haphaptai mati-matian mengadu jiwa untuk bertempur.
Tapi pada jurus ke 2puluh permainan samhun-kiam dari ke 2 suami "isteri itu kelihatan makin genCar, hingga ke 2 Sam Mo itu menjadi keripuhan sekali.
Kini mereka hanya dapat bertahan diri, tak dapat balas menyerang.
Tiba-tiba diantara kiblat pedang yang berkilat-kilat itu, Ceng Tik menggerung keras dan merangsang mati-matian.
Kim Piauw menjadi nekad hingga matanya merah seakan-akan berdarah.
Ceng Tik susuli lagi dengan tusukan kekaki lawan, siapa ketika Coba menghindar kesamping, telah menyusuli pula dengan sebuah tendangan.
"Blung"............... Kim Piauw terjungkal kedalam kolam, air mana segera berobah menjadi merah warnanya. Disanapun Haphaptai telah dilihat dengan sinar pedang Kwan Bing Bwe. Ketika sepasang suami isteri dari Thian-san itu mengaduk dipagoda Liok Hap Ta di Hangijiu tempo hari, kebetulan Thay Lay dan Hi Tong masih beristirahat karena sakit digunung Thian Bok San. Jadi mereka tak menyaksikan kepandaian Thian-san Siang Eng itu. Maka demi tampak oleh mereka, bagaimana seorang wanita yang sudah ubanan itu mempunyai ilmu pedang yang sedemikian lihainya, hingga lekas juga seorang pria gagah semacam Haphaptai itu akan kehilangan nyawanya, timbul ah rasa kagum mereka melihat itu. Hi Tong menjadi sibuk. Dia teringat bahwa orang Mongol itu sudah beberapa kali melepas budi padanya, maka Cepat-cepat ia memberi keterangan pada Susioknya (Hwi Ching), katanya.
"Susiok, dia bukan orang jahat, tolonglah dia!"
Hwi Ching mengangguk.
Justeru pada saat itu, Kwan Bing Bwe sedang melanCarkan serangan yang ganas.
Menusuk kaki, kesebelah kiri dan kanan tubuh, hingga kepala Haphaptai mandi keringat dan terus 2an mundur.
Dalam saat-saat yang berbahaya itu, tiba-tiba Hwi Ching melesat maju.
"trangng............"
Pek liong-kiam telah beradu dan menghadang tusukan Kwan Bing Bwe yang mematikan itu.
"Toaso, orang ini tidak jahat, ampunilah dia!"
Seru Hwi Ching.
Melihat Hwi Ching sudah membuka mulut, Kwan Bing Bwe tak mau menghilangkan muka orang dan terpaksa menyimpan pedangnya.
Hwi Ching berpaling dan dapatkan Haphaptai tersengal-sengal napasnya.
Karena keliwat banyak sekali gunakan tenaga, tubuh jago Mongol itu agak terhujung 2.
"Lekas haturkan terima kasih pada Kwan-tayhiap yang mengampuni jiwamu,"
Seru Hwi Ching padanya.
Diluar dugaan, Haphaptai itu seorang lelaki sejati.
Dia sangat menjunjung setia kawan.
Bahwa dari keenam Liok Mo hanya ia sendiri yang masih hidup, ia malu untuk hidup.
Golok diangkat dan segera berseru nyaring.
"Mengapa kuharus minta belas kasihannya!"
UCapan itu dibarengi dengan gerakan hendak merangsang maju lagi.
Tapi segera terdengar suara kerupjukan dari dalam kolam, dan munCul ah Kim Piauw yang pelan-pelan berenang ketepi.
Haphaptai Cepat-cepat lempar goloknya, untuk menolongi.
Ternyata Kim Piauw luka parah dan terminum; banyak sekali air.
Seolah 2 tak menghiraukan orang-orang disekitarnya, Haphaptai mengurut 2 dada saudaranya itu.
Tiba-tiba Ceng Tong memburu datang.
"Bangsat busuk!"
Damprat sigadis terus menikam.
Melihat itu, saking gugupnya Haphaptai menangkis dengan tangannya.
Ketika melihat pedang si nona hampir mengenai lengannya, tiba-tiba teringatlah Koayhiap akan jasa orang Mongol itu membantu menghalau kawanan serigala tempo hari.
Buru-buru dijumputnya sebuah batu kerikil lalu ditimpukkan.
Berbareng dengan suara mendering, tangan Ceng Tong tergetar kesemutan dan jatuhlah pedangnya.
Nona itu terkesiap tak habis mengerti.
"Bereskan dulu bangsat she Thio itu, ke 2 orang ini tak nanti bisa lolos,"
Seru Koayhiap.
Kini Ciauw Cong terkepung.
Dihadapannya adalah orang besi seperti Bun Thay Lay, Affandi, Tan Keh Lok, Liok Hwi Ching dan Thian-ti-koayhiap.
Harapan untuk lolos, seperti awan tertiup angin.
Dengan mengelah napas putus asa, ia terus akan nekad mengadu jiwa.
Tiba-tiba dari belakang Hwi Ching berkelebat keluar sebuah bayangan.
Muka orang ini putih meletak, matanya indah bening seperti sebuah lukisan.
Ia bukan lain ialah puteri Li Khik Siu dari Hangijiu, jakni Li Wan Ci.
Dengan menghunus pedang, nona itu meneryang dan memaki.
"Kau ini betul-betul bangsat busuk!"
Dan sebelum orang-orang dapat berbuat apa-apa, Wan Ci sudah lompat kemuka Ciauw Cong dan tiba-tiba berbisik.
"Kudatang menolongmu!"
Berbareng itu pedangnya menyambar 2. Ciauw Cong berkelit seraya bingung akan maksud sinona. Tiba-tiba Wan Ci pura-pura tergelinCir, terus sempoyongan maju lagi dan kembali berbisik.
"Lekas ringkus aku!"
Ciauw Cong seperti disedarkan. Begitu tangannya kanan menangkis, tangannya kiri sebat menangkap lengan sinona.
"Trang!"
Pedangnya ternyata terbabat kutung.
Untuk kekagetannya, dilihatnya pedang yang dipakai sinona itu ternyaja adalah pedang leng-bik-kiam miliknya!
Karuan bukan main tambah giranghja.
Tepat pada saat itu, Bun Thay Lay, Hi Tong, Jun Hwa dan Tan Ceng Tik berbareng maju hendak menolongi sinona.
Tapi Ciauw Cong dengan sebatnya telah merampas leng-bik-kiam, segera memutar dengan serunya.
Kim-tiok dan Siangkao senjata lawan terbabat kutung.
Sedang Bun Thay Lay dan Ceng Tik buru-buru menarik senjatanya, hingga, tak sampai terbabat.
Segera Ciauw Cong tandaskan leng-bik-kiam kepungan Wan Ci dan serunya menganCam.
"Setindak kamu maju, segera, kuhabisi nyawanya. Lekas berikan jalan padaku!"
Perubahan itu sungguh diluar dugaan orang-orang.
Pada detik 2 Ciauw Cong akan sudah dapat diringkus, tak terduga Wan Ci datang mengaduk.
Semua orang salah duga dan sesalkan nona itu yang dikiranya termaha jasa, tapi sebaliknya merusak renCana serta menjadi barang tanggungan si sangsat.
Wan Ci pura-pura menggelandot dibahu Ciauw Cong sehingga sepintas pandang, ia seperti kena ditutuk Ciauw Cong, lemas tak bertenaga.
Sebaliknya Ciauw Cong dapat angin.
Dilihatnya orang-orang sama melonyo, tak berani menyerang.
Hendak ia pikirkan jalan untuk lolos atau Wan Ci kembali berbisik pelan-pelan didekat telinganya.
"Kembali kedalam perut gunung lagi!"
Ciauw Cong anggap jalan itu yang terbaik, ia terus langkahkah kaki kedalam terowongan dibawah tanah. Koayhiap dan Ceng Tik seperti "semut dipanggang diatas wajan."
Bagaimana marahnya, yangan ditanya lagi.
Koayhiap memungut sebuah kerikil sedang Ceng Tik mengeluarkan tiga batang po-thi-Cu dan serentak ditimpukkan kebelakang Ciauw Cong.
Tapi jago Bu Tong Pai ini Cepat mendekkan badan, sembari Cepatkan langkahnya masuk kedalam terowongan.
"Aduh!"
Tiba-tiba kedengaran Wan Ci pura-pura menjerit. Hal ini membuat Hwi Ching sibuk bukan kepalang.
"Yangan mengejar, kita Cari lain jalan!"
Serunya.
Dia sungguh-sungguh berkuatir kalau Ciauw Cong menjadi hilap dan melukai murid kesayangannya itu.
Cepat semua orang masuk kedalam terowongan untuk mengikuti jejak Ciauw Cong.
Tinggal Ceng Tong seorang diri, sambil menyoren pedang mengawasi dengan mata melotot pada Kim Piauw.
Haphaptai asik membalut luka saudaranya, sedikitpun ia tak menghiraukan akan segala kejadian disekelilingnya tadi.
Kuatir Ceng Tong kena apa-apa, sampai dimulut terowongan Tan Keh Lok merandek, katanya kepada Hiang Hiang.
"Kita turut menunggu disini saja menemani Cicimu."
Hiang Hiang setuju dan ke 2nya balik menghampiri Ceng Tong.
Sementara itu dengan menyeret Wan Ci, Ciauw Cong lari dengan kenCangnya.
Sedang rombongan orang-orang tadi, hanya mengikuti dari belakang, tak berani terlalu merangsek.
Lorong terowongan itu penuh berliku-liku, sehingga tak dapat melepas senjata rahasia.
Habis menyusur lorong, segera akan tiba keluar, dan akan dapatlah Ciauw Cong melintasi pintu batu.
Ini berarti, loloslah sudah.
Koayhiap Cepat akan bertindak.
Tapi ketika baru saja ia akan melesat untuk menyerang belakang orang, tiba-tiba di-tempat yang gelap itu ia mendengar suara mengaum beberapa kali.
Tahu kalau musuh melepas senjata rahasia Koayhiap buru-buru menempel badan didinding terowongan seraya berseru.
"Hai, Berewok, wajanmu!"
Sebat sekali Affandi sudah melangkah maju dengan menghadangkan wajan .kemuka.
Segera terdengar suara ber-dering 2 dipantat wajan.
Itulah berpuluh-puluh 2 batang jarum hu-yong-Ciam yang dilepas Ciauw Cong.
"Haha, enak hidangan jarum emas goreng!"
Affandi berkaok 2.
Tapi kelambatan beberapa detik karena berhenti mengejar itu telah memberi kesempatan pada Ciauw Cong dan Wan Ci untuk menerobos kedalam pintu batu, yang terus ditutup sekuat-kuatnya.
Koayhiap dan Ceng Tik memburu untuk mendobrak pintu, tapi ternyata pintu yang menutup terowongan itu adalah bagian dalam, jadi sangat liCin sekali, tiada pegangannya barang sebuah pun.
Ke 2 jago tua itu adalah orang-orang yang berangasan, sudah tentu mulutnya tak henti 2nya memaki kalang kabut.
Sementara itu, setelah berada diluar pintu, Ciauw Cong segera memantek lubang tarikan pintu dengan lonjoran emas.
Habis itu ia mengelah napas lega, katanya.
"Terima kasih atas pertolongan Li-sioCia!"
"Ayahku dan Thio-susiok adalah sama 2 pembesar kerajaan yang sedang menjalankan tugas. Sudah selajaknya kumenolong,"
Sahut Wan Ci tertawa.
"Kuharap Li-Ciangkun dan Li-thaythay tak kurang suatu apa,"
Kata Ciauw Cong lalu menjalankan penghormatan seperti lajaknya kepada keluarga pembesar tinggi.
"Kau adalah Susiok (paman guru), tak pantas kumenerima kehormatan begitu. Sebaiknya kita Cari jalan lolos. Suhu tentu mengerti akan perbuatanku ini, kalau sampai kena ketangkap, aku pasti dibunuhnya."
"Kini mereka berjumlah besar. Kita harus lekas-lekas tinggalkan tempat ini, mengundang Kawan-kawan yang lihai, baru menangkap mereka lagi,"
Kata Ciauw Cong.
"Saat ini mereka tentu balik ke tepi kolam akan memutar untuk mengejar kemari. Thio-susiok, Carilah akal, lekas Didaerah padang pasir sini, tak mudahlah untuk meloloskan diri."
Memang ilmu silat Ciauw Cong itu tinggi, tapi dalam hai tipu siasat, dia kurang pandai.
Maka sesaat itu tampak ia mengerutkan keningnya, namun tak dapat segera menemukan akal.
Sebaliknya Wan Ci pura-pura Cemas, tengkurap pada sebuah batu dan menangis.
"Li-sioCia, yangan takut, kita tentu dapat lolos,"
Menghibur Ciauw Cong.
"Sekalipun andaikata kita bisa keluar dari kota tersesat ini, tapi dalam sehari 2 hari, mereka tentu sudah dapat menyusulnya. O, mak, uh, uh ............... mak!"
Dengan ditangisi begitu rupa, bukan main sibuknya Ciauw Cong. Berulang-ulang ia meng-gosok 2 kepelannya, tapi tetap tak berdaya. Tiba-tiba tangisan Wan Ci tadi berobah menjadi gelak tertawa, katanya.
"Sewaktu kecil apa kau tak pernah main godak?"
Sejak berumur 5 th.
ayah Ciauw Cong sudah meninggal dan ikut sang Suhu belajar silat.
Ma Cin dan Liok Hwi Ching jauh lebih tua beberapa tahun dari dia.
Oleh karena itulah, ia tak pernah mengeCap kesenangan permainan kanak-kanak.
Terpaksa dia gelengkan kepalanya.
"Jalanan 2 di Kota tersesat ini luar biasa ruwetnya. Kita t jari tempat bersembunyi, kira-kira bersembunyi tiga-empat hari Mereka tentu mengira kita sudah berlalu dari sini dan tentu akan pergi mengejar. Pada waktu itu, barulah kita keluar."
Ciauw Cong ulurkan jempol jarinya dan memuji.
"Ya, ja, Li-sioCia, kau betul Cerdik sekali!" -Tapi ia meran-dek dan katanya pula.
"Tapi kita tak bawa ransum, selama tiga-empat hari..............."
"Diatas punggung kuda itu ada ransum dan, air,"
Buru-buru Wan Ci menyanggapi kekuatiran Ciauw Cong dengan menunjuk kearah kudanya.
"Bagus, mari lekas sembunyi!"
Seru Ciauw Cong dengan girang. Begitulah ke 2nya terus lonCat turun dan dengan naik 2 ekor kuda, mereka berlari keluar. Tiba dipersimpangan jalan Wan Ci berkata.
"Coba lihatlah bekas kotoran serigala ini. Jalan keluar sebenarnya kearah kiri, tapi sebaiknya kita ambil jalanan yang disebelah kanan saja......"
Baru ia berkata, tiba-tiba ekor kudanya menjengat keatas, karena binatang itu mau buang kotoran.
Buru-buru Wan Ci ambil ransum dan kantong air dipunggung kuda, dan tuntun ke 2 ekor kuda itu untuk menghadap kejurusan kiri.
Begitu tangannya mengibas Cambuk, ke 2 binatang itu menCongklang dengan pesatnya kedepan.
"Mengapa?"
Tanya Ciauw Cong karena heran.
"Jika mereka menyusul kemari dani melihat tapak kuda serta kotoran yang masih segar ini menuju kearah kiri, tak dapat tidak, mereka tentu mengejar kesana,"
Sahut Wan Ci tertawa.
"Hai, siasat ini hebat benar!"
Ciauw Cong memuji kegirangan.
Ciauw Cong dan Wan Ci segera menyusup masuk.
Pada setiap tikungan, setiap pertigan, Wan Ci senantiasa meletakkan tiga buah kerikil ditempat yang agak tak menyolok.
Kerikil 2 itu ditumpuknya merupakan sebuah pertandaan rahasia.
Ciauw Cong anggap perbuatan Wan Ci itu bnyak sekali.
Kalau tidak, mereka pasti teranCam kesesatan jalan.
Kira-kira setengah harian kemudian, jalanan makin rumit dan berbahaya.
Entah sudah berapa banyak sekali tikungan dan pertigaan yang dilaluinya.
Mendekat petang, Wan Ci mengajak berhenti, untuk beristirahat dan menangsel perut.
"Tadi kuda yang seekor tak kita muati makanan dan air, sayang benar,"
Kata Ciauw Cong.
"Tak apalah, asal kita Cukup menghemat,"
Sahut Wan Ci lalu menarahkan kantong makanan dan minuman kedekat Ciauw Cong seraya berkata.
"Harap jaga baik-baik , inilah jiwa kita!"
Habis menguCap, sinona lalu menyingkir agak jauh untuk menCari tempat yang agak bersih dibuat tidur.
Tengah malam, Ciauw Cong lonCat bangun karena kaget mendengar Wan Ci menjerit.
Buru-buru dihampirinya, dan sinona tampak menuding kearah sana.
"Lekas, ada seekor serigala besar!"
Dengan menghunus pokiam, Ciauw Cong sebat memburu.
Tapi 2 buah tikungan sudah dia membiluk, namun tak ada jejak seekor serigalapun.
Takut tersesat, dia tak berani mengejar, dan balik ketempatnya tadi.
Tapi disitu, tak didapatinya Wan Ci.
"Li-sioCia!"
Serunya, nyaring 2.
Pada lain saat, ia begitu terkejut demi dilihatnya ditanah situ basah semua, sedang kantong air kelihatan numplek.
Buru-buru dipungutnya, dan didapatinya kantong itu hanya masih ketinggalan air sedikit sekali.
Suatu hal yang menCemaskan hatinya.
Tengah ia masgul, tiba-tiba Wan Ci munCul dari jalanan gunung disana, serunya.
"Disana tadi ada seekor serigala menobros kemari untuk merampas air!"
Sinona duduk numprah ditanah, mukanya muram seperti hendak menangis.
"Karena, kita tak punya air, tak dapat kita tinggal lama-lama disini. Besok kita harus nekad tinggalkan tempat ini,"
Kata Ciauw Cong.
"Biar aku sendiri Coba 2 menyelidiki, tunggulah kau disini,"
Kata Wan Ci kemudian seraya terus berbangkit.
"Sebaiknya kita pergi ber 2,"
Kata Ciauw Cong.
"Yangan! Kalau kesamplokan dengan mereka, apa kau kira masih bisa hidup? Kalau aku lain soal lagi,"
Bantah sinona. Ciauw Cong anggap omongan sinona benar. Maka dia terpaksa tinggal dan hanya pesan supaya sinona berhati-hati.
"Em, pinjamkan pokiammu padaku!"
Pinta Wan Ci.
Tanpa Curiga, Ciauw Cong serahkan leng-bik-kiam-nya.
Ketika itu bulan remang-remang, dengan menurutkan batu-batu kerikil pertandaannya, Wan Ci berjalan keluar.
Setiap kali tiba dipertiga jalan, ditumpuknya sebuah batu pertandaan baru, sedang batu yang lama, diurukinya dengan pasir.
Andaikata Ciauw Cong menyusul, dia pasti akan bingung, dan tak nanti mampu keluar dari situ.
Diam-diam nona nakal itu tertawa, karena ialah sendiri yang sebetulnya mengatakan ada.
serigala dan menumpahkan kantong air dan Ciauw Cong sudah sedemikian perCaja seperti "kerbau terCoCok hidungnya."
Sampai leng-bik-kiam pun diserahkannya kembali. Dekat fajar, ia sudah berada dnyalan yang benar. Diujung tikungan sana, ia dengar orang sedang memaki-maki.
"Lihat saja, masa aku tak dapat meremukkan tulangnya dan membeset kulitnya!"
Demikian terdengar seorang sedang mengomel.
"Ya, untuk meremuk tulang dan membeset kulit, juga harus dapat menCarinya sampai dapat,"
Kata seorang lagi dengan tertawa.
"Aduh!"
Tiba-tiba Wan Ci menjerit dan lalu pura-pura jatuh.
Yang munCul menolong dengan seketika, bukan lain adalah Thian-ti-koayhiap dan Affandi.
Ketika mendapatkan sinona masih bernapas dari tak terluka, legalah hati ke 2-nya.
Koayhiap segera memberi pertolongan.
Sebaliknya Affandi tertawa setengah menyomel.
"Nona yang nakal, kalau seandainya menjadi anakku perempuan, yangan panggil aku ajab. kalau, tidak kurangket dia."
Namun Wan Ci masih pura-pura tak ingat orang, melihat itu jengkel ah si Berewok.
"Kalau, ia benar-benar pingsan, kuCambuk 10 kali tentu ia masih belum ingat orang!"
Katanya. Untuk membuktikan anCamannya si Berewok segera menCambuknya sekali dan tepat pada pundak sinona. Hendak Koayhiap menCegahnya, tapi untuk keheranannya dilihatnya Wan Ci sudah membuka mata.
"Ai,"
Sigadis pura-pura menggerang.
"Huh, lihat, Cambukku lebih lihai dari ilmumu thui-kiong-hiat (mengurut jalan darah!"
Affandi mengejek Koayhiap.
"Jenggot Panyang ini benar-benar hebat,"
Diam-diam Koayhiap mengira kalau Affandi betul-betul punya ilmu Cambukan untuk menolong orang pingsan. Namun ia tak sempat menanyakan, terus bertanya kepada Wan Ci.
"Bagaimana, apa kau tidak terluka? Dimana sibangsat itu?"
"Ditawan olehnya tadi, bukan main takutku. Ketika kemaren malam ia tengah menggeros, aku diam-diam melarikan diri,"
Demikian Wan Ci mengarang penyahutan yang masuk diakal.
"Mana dia, antarkan aku kesana!"
Kata Koayhiap.
"Baik,"
Sahut Wan Ci terus akan bangkit. Tapi tubuhnya sempoyongan, hingga Koayhiap buru-buru menyanggapi, dan dipimpinnya.
"Kalian ber 2 pergilah, aku menunggu disini,"
Kata Affandi.
"Ha, pak Berewok mau ongkang 2. Baik, tanpa kau kitapun dapat menghadapinya,"
Kata Koayhiap.
Tak lama dari kepergian ke 2 orang itu, datanglah Liok Hwi Ching, Tan Ceng Tik, Tan( Keh Lok, Bun Thay Lay dan lain-lainnya.
Tak mau Affandi menCampuri pembiCaraan mereka yang uplek menCeritakan hasil penguberannya yang nihil itu.
Dia tetap tersenyum simpul saja.
Ciang Cin dan Sim Hi menggusur datang Kim Piauw dan Haphaptai dan duduk disebelah sana.
Tak lama kemudian munCul ah Koayhiap serta Wan Ci.
Hal mana membikin gembira hati semua orang.
Hwi Ching dan Lou Ping segera datang menghiburi sinona.
"Jenggot Panyang, Cerdik sekali kau, menghemat kaki. Ia tak kenal jalanan lagi. Bilak-biluk dan hampir-hampir tak dapat keluar,"
Seru Koayhiap.
Semua orang mengambil putusan, biar bagaimana tetap akan menCari sampai dapat si Ciauw Cong itu.
Tapi yang menjadi kesulitan, adalah jalanan 2 di Kota Sesat yang membingungkan itu.
Sekalipun Ceng Tong dan Thian Hong yang biasanya paling banyak sekali akal itu, saat itupun tak berdaya.
"Kalau saja kita punya 2 ekor serigala, tentu bereslah..............."
Usul Thian Hong itu, disambut dengan senyum oleh Affandi. Sudah tentu Thian Hong merasa tak enak dan buru-buru menghampiri siorang Ui itu untuk minta tolong. Katanya.
"Kita semua sudah tak berdaya, harap LoCianpwe suka memberi petunjuk."
Belum menjawab, Affandi sudah menuding kepada Hi Tong, katanya dengan tertawa.
"PemeCahannya ada padanya. Mengapa tak suruh dia?"
"Aku?"
Hi Tong melengak.
Affandi mengangguk, lalu mendongak keatas sambil tertawa panyang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia terus melang kah kepunggung keledainya, dan pergi tanpa menoleh pula.
Bermula Thian Hong kira kalau Affandi memper-olok 2, tapi setelah dipikirkan sejenak, segera dia mendapat pikiran terang.
Dalam kata-kata dan perbuatan Wan Ci selama ini nampak terselip "apa-apa".
Yangan-yangan soal Ciauw Cong itu ada ditangan sinona.
Dengan kesimpulan itu, Cepat ia mendapatkan Lou Ping dan membisikinya.
Lou Ping pun seorang wanita yang Cerdas, seketika iapun dapat menangkap hal itu.
Dengan mengambil semangkuk air dan sepiring dendeng kambing, dihampirinya Wan Ci.
"Li-moaymoay, kau memang hebat. Masa kau bisa terlolos dari tangan Ciauw Cong yang ganas itu?"
"Ya, waktu itu aku betul-betul Ceroboh. Aku lari sekenanya, asal bisa lolos saja, sehingga tak kukenal lagi jalanan 2nya. Syukur Tuhan melindungi diriku". Wan Ci, sinona Cedik itu, telah menduga bahwa Lou Ping tentu akan menanyakan jalan 2nya nanti, maka lebih dulu ia telah memberi keterangan begitu. Memang Lou Ping tadi sangsi apakah sinona itu sungguh-sungguh mengetahui akan tempat persembunyian Ciauw Cong. Tapi kini dengan sekali menyahut sinona telah "menghapus jejak", diam-diam ia geli melihat sinona yang begitu liCin itu. Katanya.
"Semua saudara-saudara kita sangat menginginkan sibangsat itu. Coba kau ingat 2 betul, tentu akan dapat mengenal, jalanan itu".
"Kalau saja pikiran tenang seperti biasa, tentu tak sampai begitu tolol tak ingat sedikitpun jua,"
Sahut sinona.
"Ayo, yangan ngambek nona manis,"
Kata Lou Ping lalu membisiki ketelinga sinona.
"Apa yang kaukandung dalam hatimu itu, tahulah aku. Asal kau mau membantu kita orang, kitapun tentu akan menyelesaikan urusanmu itu."
Selebar muka Wan Ci merah, sahutnya dengan suara lemah.
"Tak ada orang yang sayang padaku lagi, mengapa aku begitu bodoh melarikan diri dari orang she Thio itu. Kan lebih baik binasa ditangannya."
Melihat itu, Lou Ping kewalahan, lalu simpangkan pembiCaraannya.
"Adikku, kau rupanya letih, minum dan mengasolah dulu."
Setelah sinona mau menurut, Lou Ping segera mendapatkan Hi Tong dan berbiCara sejenak.
Wajah pemuda itu kelihatan sungkan dari apa yang dibiCarakan dengan Lou Ping, giginya dikatupkan kenCang 2 seperti orang berpikir keras.
Akhirnya ia menepuk pahanya, katanya.
"Baik untuk membalas budi Suhu, apapun aku menurut."
Sementara itu, Wan Ci hanya pejamkan mata untuk mengaso.
Ia tak hiraukan orang-orang itu, maka sekalipun Hi Tong maju menghampiri, tak sekali ia menggubris, kalau saja sianak muda itu tak membuka mulut.
"Li-sumoay, beberapa kali kau telah tolong jiwaku. Aku bukan seorang yang tak kenal budi. Kali ini kumohon kau suka membantu lagi,"
Kata Hi Tong. Habis berkata, pemuda itu menjura.
"Hai, Ie-suko, mengapa berbuat begitu? Kita kan orang sendiri, Cukup menyuruhnya, masa aku tak mau?"
Sahut Wan Ci. UCapan sinona itu terang mengandung ejekan, namun karena satu 2nya jalan harus minta bantuannya, Hi Tong terpaksa bersabar.
"Ciauw Cong sibangsat itu, telah membunuh Suhuku dengan tidak se-mata 2. Barang siapa yang dapat membantu untuk membalaskan sakit hatiku, disuruh jadi sapi atau kudanya, akupun rela."
Diluar dugaan, Wan Ci menjadi gusar, pikirnya.
"Ho, jadi kelak kalau kau memperisterikan aku, kau merasa seperti menjadi sapi dan kuda."
Karena pikiran itu, hatinya menjadi tawar dan menyahut.
"Dihadapan kita kan ada banyak sekali Enghiong dan Tayhiap. Disamping itu masih ada CongthoCu? mengapa tak kau minta bantuannya? Selama dalam perjalanan kau selalu menghindar, seolah-olah kalau melihat aku, kau bakal Celaka dan sibuk. Mana orang seperti aku begini, bisa membantu urusanmu? Kalau kau tidak menyingkir dari hadapanku, yangan sesalkan aku kalau nanti memaki kau dengan kata-kata yang kasar!"
Semua orang tadi masih duduk sembari berunding Cara untuk mengejar Ciauw Cong.
Tak mereka hiraukan apa yang dibit j arakan oleh Lou Ping, Wan Ci dan Hi Tong.
Tapi ketika dilihatnya Wan Ci ber-kata-kata dengan suara keras, mukanya merah padam, sementara Hi Tong tundukkan kepala ber-ingsut 2 menyingkir, mereka menjadi heran.
Juga Thian Hong dan Lou Ping ketika mendapatkan Hi Tong' ketemu batunya, mereka saling pandang dengan senyuman keCut.
Buru-buru Tan Keh Lok ditariknya kesamping dan diajaknya berunding dengan bisik-bisik.
"Sebaiknya kita minta Liok-loCianpwe untuk mengomonginya, tentu ia mau tunduk .................."
UCapan ketua HONG HWA HWE itu diputus dengan jeritan kaget dari Ciang Cin dan Sim Hi.
Keh Lok lekas berpaling dan dapatkan Kim Piauw dengan kalap sedang menubruk kearah Ceng Tong.
Cepat sekali ketua itu melesat untuk menarik lengan musuh itu, tapi tak keburu.
Juga Jun Hwa yang Coba menghadang, telah kena dijorokkan oleh Kim Piauw hingga terpental kebelakang.
"Bunuhlah aku!"
Seru Kim Piauw sembari meneryang.
Karena terkejut dan marah, Ceng Tong tusukkan pedangnya kedada orang.
Tapi ternyata Kim Piauw tak mau menghindar, malah terus menubruknya, hingga tak ampun lagi dadanya tertembus ujung pedang.
Tak sekali Ceng Tong mengira kalau orang itu berlaku begitu nekad.
Buru-buru diCabutnya pedang, darah munCrat mengenai pakaiannya.
Ketika orang-orang sama menghampiri, Kim Piauw sudah menggeletak.
Haphaptai sibuk menolong, tapi ternyata tak dapat tertolong lagi.
"Penasaran, matipun aku penasaran!"
Kim Piauw mengeluh.
"Lo-ji, kau minta apa?!"
Tanya Haphaptai.
"Kalau aku bisa mencium tangannya, matipun aku puas!"
Napas Kim Piauw ter-engah 2, matanya memandang Ceng Tong.
"Nona, dia. tengah dalam perjalanan ke dunia baka, kasihanilah............,"
Ujar Haphaptai.
Ceng Tong tak mau dengarkan habis uCapan Haphaptai, terus berlalu.
Wajahnya pilas karena menahan amarah.
Tan Keh Lok merasa kasihan, dan akan membujuk Ceng Tong, tapi nona itu makin menyingkir jauh-jauh.
Karena putus asa, Kim Piauw mengeluarkan elahan napas yang panyangi terus meninggal.
Dengan menahan air mata, Haphaptai lonCat bangun menuding kebelakang Ceng Tong dan memaki.
"Kau wanita yang kejam. Kau membunuhnya, aku tak menjalankan, karena ia memang jahat. Tapi untuk memenuhi permintaan orang yang sudah dekat ajalnya sebagai dia, mengapa kau keberatan?"
"Yangan ngaCo-belo saja, mengganggu ketenangan!"
Bentak Ciang Cin. Tapi Haphaptai tak ambil pusing, terus mendamprat. Ciang Cin hilang sabar, lalu akan menghantam, tapi diCegah Hi Tong. Dan pada saat itu, Hwi Ching tampil kemuka, serunya.
"Kaupunya Ciao Bun Ki samya itu, akulah yang membunuhnya. Tak ada sangkut pautnya dengan lain orang. Perserikatan Kwantong Liok Mo, kini hanya tinggal kau seorang. Kita mengetahui kau seorang jujur, sehingga segan mengganggu. Sekarang pergilah, kalau kelak kau akan menuntut balas, Carilah. aku."
Tanpa menjawab, Haphaptai memondong mayat Kim Piauw, terus berlalu. Hi Tong mengambil sebuah kantong air, sebuah kantong makanan dan seekor kuda.
"Hap-toako, aku dapat menghormati kau sebagai seorang laki 2. Kuda ini, harap kau suka terima,"
Kata Hi Tong. Haphaptai mengangguk, lalu letakkan mayat Kim Piauw diatas kuda. Hi Tong menuang semangkok air, diminumnya separoh, lalu diberikan pada Haphaptai dan katanya pula..
"Air mengganti arak, Sebagai tanda perpisahan."
Haphaptai meminumnya, Hi Tong mengeluarkan seruling emasnya.
Alat itu sekalipun kena terbabat Ciauw Cong, tapi masih dapat dibunyikan.
Hi'; Tong mulai meniup.
Mendengar Hi Tong meniup lagu "Padang rumput Mongolia,"
Tergeraklah hati Haphaptai.
Diapun meniup terompet tanduknya.
Ketika didalam perahu diatas sungai Hoangho dahulu, waktu Haphaptai meniup terompet tanduknya, diam-diam Hi Tong menCatat dalam hati.
Dengan lagunya tadi, Hi Tong hendak mengantar perpisahan untuk jago dari Mongol itu.
Begitu sunyi dan rawan irama lagu itu, sehingga orang-orang sama terpesona.
Malah Hiang Hiang yang berperasaan halus itu, telah menguCurkan air mata.
Lagu selesai, Haphaptai menyimpan terompetnya, tanpa berpaling lagi, ia terus menaiki kuda dan berlalu.
"Ke 2 orang itu adalah kaum lelaki sejati,"
Kata Lou Ping kepada Wan Ci sambil menunjuk kearah Hi Tong dan Haphaptai.
"Betul itu?"
Balas Wan Ci.
"Ya. Dan mengapa kau tak mau membantu kepentingannya?"
"Kalau aku dapat, tentu bersedia,"
Wan Ci mengelah napas.
"Moaymoay, yangan mengelabuhi. Kalau sampai Liok-pehhu. memaksamu, kau pasti kurang enak,"
Lou Ping tertawa.
"Yangan kata aku memang tak ingat jalanan itu, sekalipun bisa mengingatnya, kalau aku tak mau menunjuk-kan, habis mau diapakan? Sedari dulu, kaum wanita selalu berpegang pada dalil 'sam-Ciong-su-tek' (mengindahkan tiga perkara, menjalankan 4 hal). Dalam 'sam-Ciong' itu, tak ada disebut 'mengindahkan Suhu'."
Lou Ping tertawa, katanya.
"Ayah hanya mengajarku ilmu menggunakan golok dan menCuri barang. Ujar 2 Khong Hu Cu, sedikitpun tak kuketahui. Adik yang baik, Coba tuturkanlah, apa yang disebut 'sam-Ciong-su-tek' itu?"
"Su Tek atau 4 hal jakni. peribudi, lahirnyah, tutur bahasa dan keCakapan. Jelasnya, bagi kaum wanita yang pertama harus mengutamakan tingkah-laku peribudi. Setelah itu, memperhatikan perawatan jasmaninya, tutur kata dan urusan rumah tangga."
"Oh, begitu,"
Loui Ping tertawa.
"aku CoCok, hanya soal lahirnyah tadi, adalah pemberian alam. Kalau ayah bunda melahirkan aku bermuka jelek, apa dayaku? Dan apa itu 'sam-Ciong'? "
"Kau pura-pura bodoh, tak sudi aku mengatakan,"
Tiba-tiba Wan Ci mengambili dan melengos. Dengan tertawa, Lou Ping lalu mendapatkan Hwi Ching untuk memberitahukannya.
"Sam-Ciong"
Adalah tiga soal tata kesopanan, ialah.
kalau belum menikah, seorang wanita harus turut pada orang tuanya.
Setelah menikah, pada sang suami dan kalau suaminya meninggal harus ikut pada sang anak.
Inilah ajaran Khong Cu yang berlaku pada keluarga 2 kaum pembesar.
Bagi kaum kangouw seperti kita, tak memusingi hal itu,"
Menerangkan Hwi Ching.
"Memang demikianlah", Lou Ping tertawa "Turut pada ayah bunda,, itu sudah selajaknya. Tapi untuk menurut pada, suami, harus ditimbang dulu baik tidaknya. Suami meninggal, lalu mengikut anak, itu lebih luCu lagi. Andaikata anaknya masih kecil, apa juga mesti diturut?"
"Muridku itu memang aneh perangainya, kau kira apa ia sungguh-sungguh tak mau menunjukkan jalanan itu?"
Tanya Hwi Ching.
"Kutahu maksudnya. Karena belum menikah, ia hanya mau mendengar perintah ayahnya saja. Tapi Li-Ciangkun berada di. HangCiu yang begitu jauh dari sini. Taruh kata dia disini, belum tentu akan dapat, membantu kita. Kini hanya terbuka jalan yang ke 2 itu".
"Yang ke 2?"
Buru-buru Hwi Ching menyanggapi.
"Ia 'kan belum bersuami".
"Ai, itulah!"
Lou Ping tertawa.
"kita harus Carikan pasangan untuknya. Dengan perintah suaminya, ia pasti menurut disuruh menunjukkan jalan". Hwi Ching tersedar. Memang siang 2 urusan muridnya itu sudah diketahuinya. Sutitnya, Hi Tong, pun pantas dnyadikan jodohnya. Semula memang sudah ada niat itu dalam hati Hwi Ching. Soalnya hanya tunggu waktu yang baik, apabila, urusan sudah selesai. Rupanya hal itu tak boleh ditunda lama-lama.
"Oh, jadi yang dimaksud dengan 'sam-Ciong-su-tek' itu, adalah untuk urusan itu. Mengapa tak kau terangkan dengan singkat saja?"
Hwi Ching menyomel girang.
Ke 2nya berunding dengan Tan Keh Lok, lalu memanggil datang Hi Tong, dan ditetapkannya.
Thian-ti-koayhiap akan di minta menjadi wali dari fihak mempelai laki 2 sedang wali dari fihak perempuan adalah Thian-san Siang Eng ber 2.
"Liok-laoko, benar-benar kau kewalahan pada muridmu itu, sampai kita semua ini tak berdaya,"
Koayhiap tertawa tergelak 2 demi mendengar keputusan itu. Selesai bermupakat, lalu mereka menghampiri Wan Ci.
"Wan Ci, telah bertahun 2 aku berkumpul dengan kau sebagai Sunu dan murid. Hubungan kita sudah seperti ayah dan anak. Seorang gadis seperti kau berkelana diluaran, sungguh menjadi pikiranku saja,"
Demikian kata Hwi Ching.
"Ayahmu tak berada disini, terpaksa kugunakan hakku sebagai ayahmu untuk menCarikan 'tempat berteduh bagimu',"
Kata Hwi Ching pula. Wan Ci tundukkan kepala tak menyahut.
"Suko-mu, Hi Tong, sejak Suhunya dibinasakan orang, kini menjadi tanggunganku. Nanti setelah kamu ber 2 terangkap jodoh, tentu bisa saling merawati. Jadi biarlah aku dapat meletakkan bebanku,"
Kembali Hwi Thing mengomongi. Kesemuanya itu, sebenarnya sudah dalam hitungan Wan Ci, namun dimuka sekian banyak sekali orang, tak urung ia merah padam ke-malu 2an, jawabnya dengan suara pelahan;
"Terserah pada Suhu, aku tak berani mengambil putusan sendiri."
"Ah, kau masih pura-pura enggan?"
Tiba-tiba Ciang Cin me-nyelatuk.
"Ketika di Thian Bok San kita ubek-ubekan Cari padamu, kiranya kau bersembunyi di .................."
Ciang Cin tak dapat melanjutkan kata-katanya, karena mulutnya segera didekap Jun Hwa.
"Ayahmu pernah menahan Ie-sutit dikediamannya sampai sekian lama, tentunya ia sudah menjatuhkan pilihannya. Baik sekarang kita bikin penetapan dulu, kelak kita beritahu ayahmu, dia pasti girang,"
Kata Hwi Ching. Wan Ci tetap tundukkan kepala tak menyahut.
"Ya, sudahlah, Li-moaymoay setuju. Sipsute, kau mau kasih panjer apa?"
Segera Lou Ping menengahi.
Hi Tong merabah badannya, hanya uang perak yang ada.
Dia gelisah.
Ketika meneruskan merabah, tangannya menyinggung potongan seruling emas yang dipapas Ciauw-Cong.
Pikirnya, kalau bertemu dengan tukang mas, akan disambungnya lagi.
"Liok-susiok, Siaotit tak punya barang apa-apa. Tapi potongan seruling ini adalah dari bahan emas murni,"
Katanya kepada Hwi Ching.
"Bagus, pada hari bahagia kamu ber 2 nanti, ke 2 belah potongan seruling ini nanti disambung jadi satu,"
Ujar Hwi Ching tertawa. Semua orang gagah, segera memberi selamat pada Calon mempelai ber 2. Wan Ci tak mau menerima potongan seruling itu, tapi Lou Ping memaksanya.
"Dan kau mau serahkan apa?"
Tanya Lou Ping. Kegembiraan Wan Ci nampak pada wajahnya yang berseri 2, tertawalah ia.
"Aku tak punya apa-apa".
"Wan Ci, senjata rahasia kepunyaanmu itu bukankah dari emas juga?"
Sela Hwi Ching tertawa.
"Benar!"
Lou Ping bertepuk tangan, lalu menyamber senjata rahasia itu (hu-yong-Ciam) dan diserahkan 10 batang pada Hi Tong.
"Inilah benar-benar yang disebut 'jodoh yang aneh dari jarum dengan seruling',"
Seru Keh Lok.
Melihat semua gembira, Hiang Hiang menanyakan Tan Keh Lok, dan ketika diberitahukan, Hiang Hiang pun turut girang.
Segera ia melolos CinCin batu giok putih dari jarinya, ia memakaikannya kedalam jari Wan Ci, selaku tanda memberi selamat.
Juga Ceng Tong tak mau ketinggalan menghaturkan selamat.
Tapi dalam hatinya, nona Ui itu mengeluh.
"Andaikata kau tidak menyaru seorang lelaki, tentu keadaanku tidak sampai begini!"
Dalam suasana kegirangan itu, diam-diam Koayhiap dan Thian-san Siang Eng memperhatikan wajah Tan Keh Lok.
Tadi tegas diketahuinya bagaimana orang muda itu begitu Cemas dan buru-buru bertindak ketika Kim Piauw menyerbu kepada Ceng Tong.
Dan kini anak muda itu berada disamping ke 2 nona Ui sedang pasang omong dengan gembira.
Kalau ditilik dari situ, terang dia bukan sebangsa orang yang tak kenal budi, atau dapat baru, lantas buang yang lama.
Selesai bertukar panjer, semua orang menyingkir.
Setelah ber 2an dengan Calon isterinya, Hi Tong berkata.
"Li-su-moay, dimanakah sebenarnya bangsat itu?"
Wan Ci mendongkol sekali atas sikap tunangannya yang takmau tahu perasaan seorang gadis itu. Sekali membuka mulut, soal Ciauw Cong yang ditanyakan.
"Mana aku tahu,"
Sahutnya ketus. Hi Tong berpikir sejurus, tiba-tiba dia berkui (jongkok) dan manggutkan kepalanya ketanah sampai tiga kali, ia menangis.
"Dulu aku adalah seorang SiuCay yang miskin, beruntung Suhu telah menerima aku menjadi murid dan menurunkan ilmu silatnya. Belum aku dapat membalas budinya itu, beliau telah dibinasakan seCara hina oleh Thio Ciauw Cong. Li-sumoay, mohon kau sudi memberi bantuan."
Hal itu sungguh diluar dugaan Wan Ci, siapa buru-buru mengangkatnya bangun, lalu memberikan saputangan seraya berkata dengan lemah lembut.
"Bersihkanlah-airmataku, lekas, mari kuantar kesana."
Tepat dengan kata-kata itu, terdengarlah suara tepukan tangan dan Lou Ping lonCat keluar terus menyanyi.
"SiuCay kecil, bukan takut karena berwajah jelek, hanya takut kepada isterinya, sehingga buru-buru manggut 2kan kepala!"
Selebar muka Wan Ci merah padam saking malunya, dan terus berosot lari kedalam. Sebaliknya Hi Tong terlongong-longong.
"Lekas kejar sana!"
Seru Lou Ping.
Tanpa berajal, Hi Tong lantas mengejar.
Lou Ping berteriak 2 pula dan yang per-tama 2 datang adalah Bun Thay Lay, siapa juga ikut meneriaki orang-orang untuk diajak ikut kemana arah larinya Wan Ci.
Dilain pihak ketika Wan Ci tak nampak kembali, Ciauw Cong segera makan rangsum kering, pikirannya Cemas memikirkan jalan untuk lolos, dan bagaimana dia akan Cari kawan untuk menumpas gerombolan HONG HWA HWE nanti.
Pikirannya makin jauh melayang.
Wan Ci adalah puteri seorang Ciangkun, seorang gadis yang elok parasnya.
Sedang dirinya sampai pada saat itu masih tetap membuyang, kalau sampai dia dapat memperisterikannya, tentu akan lebih semaraklah hidupnya.
Berjasa dan mempunyai seorang isteri yang Cantik, lagi seorang puteri pembesar tinggi.
"Perjalanan ke HangCiu sangatlah jauhnya, selama itu kalau bisa berhasil mempedayainya, urusan belakang mudahlah."
Selagi dia asjik membuat renCananya itu, tiba-tiba didepannya berkelebat sebuah bayangan.
Bukan main girangnya Ciauw Cong ketika orang itu ternyata Wan Ci adanya, siapa nampak tertawa riang.
Buru-buru Ciauw Cong maju menyambutnya, tiba-tiba dari belakang sinona melesat maju seorang yang terus meneryangnya.
Dalam kagetnya, Ciauw Cong masih bisa menghindar mundur, tangannya kiri dikerjakan dalam gerak "menyingkap awan melihat matahari,"
Ia menebas kesamping.
Orang itu menyusup kebawah, seruling ditangan kanan dan 2 buah jari ditangan kirinya, berbareng menyerang dada.
Ketika dilihatnya sipenyerang itu adalah Kim-tiok siuCay Ie Hi Tong, murid dari mendiang Suhengnya, berCekatlah hati Ciauw Cong.
Namun ia tak tinggal diam, tangan kanan menangkis dengan "kabut putih melintang disungai,"
Tangan kiri berbareng menyerang kemuka.
Sewaktu Hi Tong berkelit, tahu-tahu punggungnya sudah dnyambak Ciauw Cong terus dilontarkan keatas gunung.
Terkejut sekali Wan Ci.
Tanpa hiraukan apa-apa lagi, ia terus akan meneryang Ciauw Cong.
Tapi berbareng dengan itu, dibelakangnya terasa ada angin menyambar, dan seseorang telah mendahuluinya lonCat menyanggapi tubuh Hi Tong, terus dibawanya mundur.
Sewaktu mengenali bayangan itu adalah Suhunya, sementara itu wajah Wan Ci sudah puCat lesi, hatinya memukul keras.
Dan pada lain saat, dalam sekejap saja, Ciauw Cong telah dipagari dengan belasan orang.
Kini insyaplah dia, bahwa saat-saat kematiannya sudah didepan mata.
Tiba-tiba ia memutar badan, tapi seCepat itu, 2 bayangan melesat dari samping untuk menCegat.
Yang seorang, adalah Thian-ti-koayhiap, dan satunya Tan Ceng Tik.
"Orang she Thio, kau masih mau apa lagi? Ayo, ikut kami!"
Hwi Ching berseru dari belakangnya.
Tahu kalau dirinya bakal tak dapat lolos, masih Ciauw Cong perdengarkan jengekan, ia membalik tubuh menyerah dan berjalan keluar.
Liok Hwi Ching, Tan Keh Lok, Bun Thay Lay, Hwe Ceng Tong dan lain-lain.
berjalan disebelah muka, sedang Thian-ti-koayhiap, Tan Ceng Tik, Kwan Bing Bwe dan lain-lain.nya dari sebelah belakang.
Jadi Ciauw Cong diapit di-tengah-tengah dan dibawanya keluar.
Bermula.
Ciauw Cong mengira kalau Wan Ci sudah kurang hati-hati sehingga kesamplokan dengan mereka.
Tapi ketika dilihatnya nona itu gembira dan ter-senyum 2 sambil omong-omong dengan Lou Ping, tahulah dia kalau sudah kena dijual.
Marahnya bukan kepalang.
Dan saking menahan hawa amarah itu, hampir-hampir dia pingsan.
Namun sedapat mungkin dikuatkan hatinya, sambil mengeretek gigi.
"Awas, kau, budak hina yang menjual diriku!"
Ia menyumpah.
Hampir petang, mereka sudah keluar dari Kota Sesat itu.
Tan Keh Lok menyerahkan bandringan 'tiam-hiat-Cu-soh' kepada Ciang Cin dan Sim Hi supaya mengikat orang tawanannya.
Tapi ketika Ciang Cin menyambuti tali bandringan itu, tiba-tiba Ciauw Cong menggerung terus memberosot maju menghampiri Wan Ci.
Sekali tangannya diulur, tangan sinona telah teringkus, leng-bik-kiam direbut berbareng dengan sekuat-kuat tenaganya ia menghantam punggung sinona.
Wan Ci Coba menghindar kesamping, tapi sudah tak keburu.
Lengannya kiri, kena kepelan Ciauw Cong yang dahsyat itu.
"Prakkk!"
Lengan itu patah dan pukulan ke 2 menyusul pula.
Kejadian itu berlangsung dalam waktu yang Cepat sekali, sehingga Hwi Ching tak keburu menolong, baik ketika leng-bik-kiam direbut maupun waktu lengan muridnya dihantam patah.
Tapi untuk penyerangan Ciauw Cong yang ke 2 itu, jago Bu Tong Pai itu sudah dapat bertindak dengan tepat, ia menghantam pelipis Ciauw Cong, mengarah jalan darah "thay-yang-hiat."
Ciauw Cong kibaskan sebelah tangannya.
"plak," 2 tangan saling beradu dan Dua-2nya mundur beberapa tindak. Sejak keluar dari perguruan, sudah lebih 2 tahun mereka tak pernah saling menguji kepandaian. Kini dengan sama 2 tergetar tangannya, masing-masing saling mengakui keunggulan lawan, efabanding ketika masih ditempat perguruan, jauh sekali bedanya. Wan Ci luka parah, ia menggeletak ditanah. Lou Ping buru-buru menolongnya, tapi karena tak tertahan sakitnya, nona itu pingsan. Koayhiap ambil sebutir pil, dimasukkan kemulut nona yang sial itu. Melihat perbuatan Ciauw Cong yang masih begitu kejam itu, semua orang gagah gusar dan rapat-rapat mengepungnya. Tahu kalau bakal binasa, Ciauw Cong mengambil keputusan hendak mati seCara gagah. Maka Dengan palangkan pokiam didada, dia berkata dengan jumawa.
"Kamu hendak maju berbareng atau satu persatu? Kurasa lebih baik maju berbareng saja '."
"Apa kepandaianmu, begitu sombong kau? Mari aku dulu yang melayani!"
Ceng Tik tak kuat hatinya.
"Tan-loyaCu, dengan diriku dia mempunyai permusuhan sebesar lautan, idinkan aku yang pertama maju,"
Bun Thay Lay meminta.
"Dia membinasakan Suhu seCara keji, meskipun kepandaianku Cetek, tapi biarlah aku yang lebih dulu. Bun-suko, kalau aku kewalahan, baru kaulah yang menyanggapi,"
Hi Tong tak mau mengalah. Begitu hebat rasa kebencian orang-orang itu pada Ciauw Cong, hingga mereka berebutan mau menghajarnya. Akhirnya Tan Keh Lok usulkan supaya diundi.
"Dia bukan lawanku, aku tak ikut berundi,"
Kata Koayhiap.
"Tapi kita ini bukan lawannya, maka aku, Suso, Kiu-te, Sip-te, Sipsute dan Sim Hi mengambil satu undian saja. Nanti kami berenam tempur dia,"
Kata Thian Hong. Ciauw Cong tak sabar lagi, katanya.
"Tan tangkeh, ketika di HangCiu kita telah berjanji hendak pi-bu. Kini apakah janji itu masih berlaku?"
Tan Keh Lok tahu kalau orang maukan dirinya lebih dulu. Maka jawabnya.
"Benar, karena di Pak-kao-nia tanganmu terluka, maka kita pertangguhkan janji itu sampai tiga bulan. Tepat kalau hal itu kita selesaikan hari ini."
"Nah, bagaimana kalau kutemani Tan-tangkeh lebih dulu, baru nanti lain-lain isaudara-saudara"
Kata Ciauw Cong.
Sudah beberapa, kali Ciauw Cong bertempur dengan Tan Keh Lok, tahu-kalau dirinya lebfiOCnggul setingkat.
Maka pikirnya, sekali dapat dia ringkus anak muda itu, tentu terbukalah jalan lolos atau kalau tak mungkin meringkus, akan dihabisinya jiwa lawannya itu.
Tan Keh Lok adalah ketua HONG HWA HWE kematiannya Cukup berharga dibajar dengan jiwanya sendiri.
Tapi pikiran Ciauw Cong itu dapat ditebak oleh Thian Hong.
"Untuk menangkap bangsat semacam dirimu, mengapa CongthoCu perlu kotorkan tangannya? Dan persaudaran HONG HWA HWE kita ini dianggap apa? Kiu-te, Sip-te, Sipsute, Ayo kita ringkus dia!"
Atas seruan Thian Hong itu, Jun Hwa, Ciang Cin, Hi Tong dan Sim Hi segera lonCat maju. Ciauw Cong tak gentar, malah ia tertawa lebar 2.
"Tadinya kukira meski HONG HWA HWE adalah gerombolan rahasia yang menentang undang 2, tapi mereka menjunjung peraturan kangouw. Tapi, huh, kiranya hanya kaum bebodoran belaka!"
Ejeknya.
"Chit-ko, kalau belum kalah atau menang dengan aku, rupanya matipun ia 'kan penasaran,"
Sela Keh Lok.
"Baiklah, orang she Thio, hendak kau tumplek seluruh kepandaianmu apa saja, yangan ngimpi kau bisa lolos. Nah, majuiah!"
Ciauw Cong tak sungkan lagi terus melolos leng-bik-kiam, ujarnya.
"Itulah bagus, mari keluarkan senjatamu!"
"Mengalahkan kau dengan senjata, apa dapat disebut seorang enghiong? Cukup kalau aku bertangan kosong saja!"
Balas Keh Lok. Ciauw Cong girang sekali, kesempatan itu tak mau dilewatkan begitu saja, katanya.
"Bagus, kalau dengan pedang tak dapat kukalahkan kau, aku segera bunuh diri, tak perlu kau orang turun tangan lagi. Tapi kalau menang, apa katamu?"
"Tentu saja lain-lain Cianpwe dan saudara-saudara yang ada disini yang menggantikan melayanimu. Kutahu, kau ingin benar jawabanku. 'Kalau menang, kau boleh berlalu'. Hahaha, sampai detik ini belum kau menginsyapi bahwa kejahatanmu itu sudah keliwat dari takerannya?"
Sahut Keh Lok.
"Mati dan hidup itu adalah takdir. Hina dan mulia sudah ada suratan nasib. Bagiku, orang she Thio, tak terlalu pandang berat soal kematian,"
Ciauw Cong menghardik.
"Didalam terowongan tanah dimarkas HangCiu Ciang-kun, Bunsuya dan aku telah menangkap dan kemudian mengampuni jiwamu. Di Pak-kao-nia dan dimarkas besar Ciangkun Tiau Hwi 2 kali sudah kami ampuni lagi jiwamu. Baru 2 ini, kembali kami tolong jiwamu dari sergapan kawanan serigala. Bukankah HONG HWA HWE Cukup melepas budi padamu. Tapi kau tetap tak merobah kejahatanmu. Nah, hari ini biar bagaimana juga, tak ada ampun lagi untukmu."
"Kau serang dulu, aku akan mengalah 4 kali tanpa membalas seranganmu,"
Kata Ciauw Cong.
"Baik!"
Seru Keh Lok seraya maju mengiring ke 2 kepelannya.
Cepat Ciauw Cong mendek kebawah menghindar, tanpa mau membalas.
Keh Lok menyapu dengan kaki.
Ketika Ciauw Cong lonCat keatas, Keh Lok; menyusuli dengan tendangan "Wan-yang-lian-hoan-thui,"
Iterus menyapu lagi.
Menurut gerakan ilmu silat pada umumnya, kalau musuh menghindar dengan lonCat keatas, kalau hendak menyusuli serangan, kebanyak sekalian tentu menyerang bagian tubuh, supaya lawan tak dapat menghindar lagi.
Tapi tidak demikian dengan gerakan Tan Keh Lok.
Dia menyusuli tendangan tadi, terang bakal menendang tempat kosong, karena tidak menurut peraturan ilmu silat.
Tapi anehnya jatuhnya Ciauw Cong dari lonCatannya keatas tadi, tepat dalam posisi arah tendangan Tan Keh Lok itu.
Itulah keajaiban dari "peh-hoa-jo-kun,"
Ilmu silat gerakan-salah dari seratus bunga.
Koayhiap yang berdiri disamping, puas sekali hatinya sewaktu melihat murid kesayangannya dapat menggunakan ilmu silat Ciptaannya dengan indah sekali.
Dia berpaling kearah Kwan Bing Bwe dan berkata.
"Bagaimana?"
"Luar biasa sekali!"
Ceng Tik menyanggapi.
Karena tak berdaya menghindari serangan lawan yang aneh itu, Ciauw Cong terpaksa mengirim sekali tusukan pokiam kedada orang.
Buru-buru Tan Keh Lok tarik kakinya sembari miringkan tubuh untuk berkelit.
"Bangsat tak punya malu. Katanya mengalah 4 kali, mengapa balas menyerang?"
Ciang Cin memakinya. Ciauw Cong tak ambil pusing, sekali leng-bik-kiam berkelebat, terdengarlah deru angin dari serangan pokiam kekanan-kiri lawan. Hwi Ching terkesiap, pikirnya.
"Ilmu pedangnya sudah menCapai kesempurnaan. Dalam usia sama, mungkin Suku dulu tak selihai dia!"
Jago tua ini tetap bersiaga dengan pedang ditangan.
Dia mengawasi gerakan Tan Keh Lok dengan seksama.
Begitu ketua HONG HWA HWE itu kesalahan tangan, dia akan turun tangan dengan lantas.
Tapi ternyata pertempuran makin lama makin seru.
Sesosok tubuh Tan Keh Lok seolah-olah merupakan sebuah bayangan yang berkelebatan diantara sinar pedang Ciauw Cong.
Betapa lihai ilmu pedang ju-hun-kiam Ciauw Cong, namun dalam beberapa saat itu, dia tak dapat segera menarik keuntungan.
Sementara itu Hi Tong dan Lou Ping memayang bangun Wan Ci, siapa pun sud^h sadar.
Hanya rasa nyeri dari lukanya itu, membuatnya meringis.
Tapi sesaat diketahuinya Hi Tong menunyangnya, terhiburlah hatinya.
"Nanti Liok-susiok tentu dapat menyambung tulang lenganmu. Kau tahankanlah!"
Menghibur Hi Tong. Wan Ci bersenyum dan kembali pejamkan mata.
"Ci, mengapa dia tak pakai senjata?"
Tanya Hiang Hiang sambil tarik tangan taCinya.
"Apakah dia pasti akan menang?"
"Tak perlu kuatir, disini masih banyak sekali Kawan-kawan lain,"
Sahut Ceng Tong.
Juga seluruh perhatian Sim Hi diCurahkan kepada bekas siaoyanya.
Hampir-hampir boCah ini tak dapat kendalikan napsunya untuk membantu.
Nona, katakanlah sebenarnya, apa KongCu tidak berbahaya?"
Tanyanya pada Ceng Tong.
Teringat akan kejadian dulu, Ceng Tong deliki mata dan melengos tak menghiraukan.
Sim Hi gugup, hendak dia minta maaf kepada Ceng Tong, namun berat rasa sang mata untuk tinggalkan KongCunya.
Sepasang mata Bun Thay Lay yang bundar tak terkesip memandang ujung leng-bik-kiam.
Siang-kao Jun Hwa yang terpapas kutung ujungnya, masih tetap dipegangnya, siap untuk memberi bantuan.
Lou Ping pun siapkan tiga batang hui-to, matanya tetap ditujukan kearah punggung Ciauw Cong.
Saat itu mataharj sudah Condong disebelah barat.
Sinarnya memanCarkan warna kuning dipermukaan pasir.
Kembali Wan Ci membuka mata, tiba-tiba ia menjerit pelan, tangannya menuding kesebelah timur.
Ketika Hi Tong memandangnya, ternyata disebelah muka terbentang suatu pemandangan yang luar biasa.
Sebuah rawa besar, airnya beriak ke-biru 2an.
Ditepi rawa itu berdiri sebuh pagoda putih, yang atap-nya berkredepan.
Itulah pemandangan sebuah kota.
Hi Tong tersentak bangun tapi dia segera teringat akan ,,fata morgana,"
Suatu pemandangan hajal yang sering terjadi dipadang pasir.
"Apakah kita sudah kembali di HangCiu?"
Tanya Wan Ci.
"Itu hanya Cakrawala disenja kala. Pejamkanlah matamu untuk mengaso,"
Sahut Hi Tong.
"Tidak, pagoda itu adalah pagoda Lui-nia-tha di HangCiu. Aku pernah diajak ayah kesana. Ayah, dimana ayahku?"
Berkata pula sigadis.
Bahwa Hi Tong setuju dengan soal perkawinan tadi, adalah karena terpaksa untuk membalaskan sakit hati sang Suhu.
Tapi kini serta dilihatnya bagaimana sinona dalam keadaan luka parah menggigau tak sadar, timbul ah rasa kasihannya.
"Kita akan kesana sekarang, kita nanti sama 2 menghadap ayahmu,"
Kata Hi Tong sambil menepuk bahu sinona pelahan-lahan.
"Kau ini siapa?"
Tiba-tiba Wan Ci tersenyum. Mata Wan Ci yang memandang dengan tak terkesip itu, membuat Hi Tong Cemas, buru-buru ia menyahut.
"Aku adalah Ie-sukomu. Malam ini kita bertunangan, kelak aku tentu menjagamu baik-baik ."
"Hatimu tak menyukai diriku, aku tahu. Lekas bawa aku kepada ayah, ajalku sudah dekat,"
Wan Ci menangis. Kemudian ia menunjuk ke 'fata morgana' tadi, dan berkata pula.
"Ah, itulah Se-ouw, disana ayahku menjabat Ciang-kun, ia ............ ia bernama ............ Li Khik Siu. Apa kau mengenalnya? "
Hi Tong mengeluh.
Teringat dia akan budi kebaikan sinona yang telah beberapa kali menolong jiwanya, tapi ia selalu bersikap tawar saja.
Apa jadinya kalau nona itu sampai meninggal.
Saking pepat hatinya, seketika dipeluknya nona itu, bisiknya.
"Aku sangat mengasihimu. Kau tak nanti meninggal."
Wan Ci mengelak napas.
"Lekas katakanlah. 'tak nanti aku meninggal'!"
Hi Tong mengulangi.
Tapi luka Wan Ci terasa sakit kembali, dan pingsanlah ia.
Pada saat itu, Ciauw Cong masih bertempur seru dengan Tan Keh Lok, hingga sampai ratusan jurus.
Bermula menghadapi "peh-hoa-jo kun"
Tan Keh Lok, Ciauw Cong tampak keripuhan.
Sekalipun dia bersenjata musuh tidak, tapi tak berani dia merangsek.
Sembari menangkis serangan lawan yang aneh itu, ia t jari lubang untuk menawannya hidup-hidup.
Sudah begitu, ia perhatikan bagaimana Hwi Ching, Lou Ping, Ceng Tong dan lain-lain sama siap dengan senjatanya masing-masing.
Maka lebih 2 makin rapat ia memainkan senjatanya, untuk menjaga kemungkinan dibokong.
Karena pikirannya harus memperhatikan kekanan kiri, ia tak dapat segera menyelesaikan pertempuran itu.
"Kalau terus 2an begini, payahlah! Dengan siasat bergantian orang, sekalipun tak sampai dapat membunuh aku, tapi aku tentu mati konyol keCapean", pikir Ciauw Cong. Dalam pada itu, ia mulai kenal baik akan gerak-gerakan "peh hwa jo kun". Hatinya mulai besar. Dan tiba-tiba ia robah permainannya dengan ilmu pedang "ju hun kiam". Setiap jurusnya, adalah menyerang, sehingga beberapa kali tampak Tan Keh Lok harus mundur. Pada lain saat, dengan gerak "sungai perak bergemerlapan", leng-bik-kiam membabat turun, bagaikan bunga api berhamburan dari udara, menabur tubuh Tan Keh Lok, siapa karena tak ungkulan menangkis, terpaksa lonCat keluar kalangan. Dari situ ia akan maju menyerang lagi, tapi. Jun Hwa dan Ciang Cin telah mendahului meneryang. Jurus "sungai perak bergemerlapan"
Tadi.
belum selesai, maka dengan berhamburan sinarnya leng-bik-kiam.
Jun Hwa dan Ciang Cin kena dilukai.
Bun Thay Lay menggerung keras terus akan maju, tapi Tan Keh Lok telah melesat dulu menghantam muka Ciauw Cong.
Kelihatannya pukulan itu tak bertenaga, tapi datangnya telak sekali, sehingga kemana Ciauw Cong akan menghindar atau menangkis, tetap tak keburu.
"Plak, plak!"
Merah padam selebar muka Ciauw Cong karena tamparan itu.
Dia mundur tiga tindak, matanya melotot gusar.
Juga semua orang sama heran mengapa dalam kekalahannya tadi, Keh Lok dapat menampar muka lawan.
Dan membarengi kesempatan itu, Jun Hwa dan Ciang Cin mundur keluar.
Lou Ping dan Sim Hi membalut luka mereka.
"Sipsute, tolong kau tiupan sebuah lagu", tiba-tiba Keh Lok berkata kepada Hi Tong. Hi Tong kaget dan malu, buru-buru diletakkannya Wan Ci, lalu menyembat serulingnya. Tanyanya.
"Lagu apa?"
"Meskipun Pa Ong itu gagah, tapi akhirnya dia binasa disungai Oh Kang. Nah, kau tiupkan lagu 'sip-bin-bay-hok' (pengepungan dari 10 penjuru),"
Sahut Keh Lok.
Hi Tong tak menerti maksud orang.
Tapi karena perintah pemimpinnya, dia segera meniup.
Nada suara seruling emas memang lebih nyaring dari seruling bambu.
Maka segera terdengarlah lagu yang menggambarkan suasana derap kaki beribu, serdadu berjalan.
Keh Lok rangkap ke 2 tangannya dan berseru.
"Majulah!" -Habis itw, tubuhnya berputar sekali, kakinya pura-pura menendang, seperti orang menari, Melihat bagian belakang tubuh musuh tak terjaga, Ciauw Cong tak mau berajal lagi, terus menusuknya. Karena terkejut, orang-orang sama menjerit. Sekonyong-konyong tubuh Tan Keh Lok berputar balik dan tahu-tahu tangan kirinya sudah menangkap ujung kunCirnya Ciauw Cong. Dan tepat dengan irama seruling Hi Tong, kunCir disentak kearah leng-bik-kiam. Segulung rambut hitam mengkilap, putuslah seketika. Dan sekali tangan kanan Tan Keh Lok menggaplok, kembali bahu Ciauw Cong termakan. Ciauw Cong betul-betul heran dan penasaran. Tiga kali dia diserang, tanpa dapat berdaya. Dan yang terutama membikin hatinya berCekat, entah ilmu silat apa yang digunakan lawan itu. Rambut terpotong, bahu digaplok, sungguh 'wan-ong' sekali. Namun Ciauw Cong seorang ahli silat yang tinggi ilmunya. Meski menderita, dia tak menjadi gugup. Mundur lagi beberapa langkah, dia tenangkan diri menunggu kedatangan musuh. Kembali sesuai dengan irama lagu, Tan Keh Lok ber-indap 2 maju. Gerakannya luar biasa.
"Lihat, itulah hasilnya dia belajar silat diperut gunung itu", seru Ceng Tong dengan girang kepada adiknya.
"Gerak geriknya bagus benar", Hiang Hiang bertepuk tangan. Kembali ke 2 jago itu terlibat dalam pertarungan lagi. Dengan leng-bik-kiam Ciauw Cong bikin penjagaan dengan rapat. Asal musuh mendesak dekat, dia segera lawan dengan hebat. Lawan melonggar, dia tak mau terus menyerang dan hanya bikin penjagaan saja.
"Wan-toako, kini baru aku takluk betul-betul padamu. Kalau muridmu saja sedemikian lihainya, aku yang menjadi saudaramu tentu terpaut jauh sekali dengan kau,"
Kata Ceng Tik pada Wan Su Siau.
Thian-ti-koay-hiap tak menyahut, karena diapun merasa heran sendiri.
Ilmu silat yang dimainkan Tan Keh Lok itu tidak saja bukan dari dia, tapipun belum pernah dilihatnya dikalangan persilatan.
Dahulu, karena patah hati, dia mengambil putusan akan mengabdikan hidupnya dalam ilmu silat.
Dia merantau menCari guru diseluruh negeri, dia berguru pada semua Cabang persilatan.
Dalam tempat persembunyiannya dipadang sahara, dia Ciptakan "peh hoa jo kun"
Yang merangkum semua ilmu silat dari berbagai aliran.
Jadi dia itu terhitung jago nomor wahid karena kaja dengan pengalaman.
Tapi ilmu yang dipertunjukkan Keh Lok itu, betul-betul ia kewalahan tak dapat mengetahui namanya.
"Bukan aku yang mengajarkan itu, sebab aku tak mengerti ilmu itu,"
Akhirnya Koayhiap menyahut beberapa saat kemudian.
Thian-san Siang Eng Cukup paham akan sifat Koayhiap yang tak pernah justa itu.
Maka ke 2nya pun merasa heran juga.
Irama seruling makin lama makin tajam dan riuh, seolah 2 menggambarkan sepasukan kuda yang meneryang kenCang 2.
Dan gerakan Tan Keh Lok pun makin linCah, makin lanCar.
Berselang 2 jurus kemudian, tubuh Ciauw Cong bermandikan keringat, pakaiannya basah kujup.
Tiba-tiba irama seruling meninggi, bagaikan bintang melunCur diatas udara, pecah dan berhamburan.
Pada saat irama membising, Ciauw Cong menjerit.
Lengan kanannya kena tertutuk, pokiamnya terlepas jatuh.
Tan Keh Lok menyusuli lagi 2 buah pukulan, tepat menghantam kepunggung lawan.
Berbareng itu, ia tertawa keras, lalu mundur.
Dua buah pukulan itu, dikerahkan dengan tenaga lwekang yang penuh, maka dahsyatnya bukan kepalang.
Ciauw Cong menundukkan kepala, tubuhnya sempoyongan seperti orang mabuk.
Ceng Cin me-maki-maki terus hendak membaCoknya dengan kampak, tapi diCegah Lou Ping.
Ciauw Cong masih kelihatan sempoyongan lagi beberapa tindak, dan akhirnya roboh.
Orang-orang sama bersorak kegirangan.
Thian Hong dan Sim Hi maju mengikatnya.
Ciauw Cong mandah saja, mukanya puCat seperti kertas.
Hi Tong letakkan seruling, terus menghampiri Wan Ci, siapa masih belum sadarkan diri.
Sudah tentu ia menjadi Cemas sekali.
"Suhu, Liok-loCianpwe, bagaimana kalau kita bawa penjahat ini?"
Tanya Keh Lok.
"Lempar saja untuk makanan serigala. Dia telah membinasakan Suhuku dengan kejam sekali, dan tadi kembali ............ kembali ............"
Sela Hi Tong terputus-putus.
"Ya, untuk makanan serigala, sekalian akan kita tengok bagaimana keadaan kawanan serigala itu,"
Kata Koayhiap. Semua orang tak membantah, untuk kejahatan Ciauw Cong, memang dia pantas menerima hukuman itu. Hwi Ching obati lengan Wan Ci seperlunya. Sedang Koayhiap memberikan sebiji pil.
"Yangan kuatir, tunanganmu tentu sembuh,"
Dia menghibur Hi Tong.
"Peluklah, ia tentu merasa terhibur,"
Bisik Lou Ping dengan tertawa.
Demikianlah rombongan orang-orang itu menuju ketempat pengasingan serigala.
Ditengah jalan.
Thian-ti-koayhiap tanyakan tentang ilmu silat muridnya tadi.
Keh Lok menCeritakan pengalamannya di istana perut gunung itu.
Thian-ti-koayhiap ikut girang dan puji keCerdasan sang murid.
Lima hari kemudian sampailah rombongan itu ketempat yang dituju, yaitu benteng pasir.
Melihat kebawah dari atas pagar dindingnya, tampak kawanan binatang itu tengah berebut menggeragoti bangkai kawannya sendiri, gegap gempita sama melolong.
Memberikan pemandangan yang' ngeri sekali.
Hiang Hiang tak tahan, lalu turun untuk ber-Cakap 2 dengan beberapa penjaga orang Ui.
Segera Hi Tong gusur Ciauw Cong ketepi dinding.
Sebelumnya, diam-diam dia mendoa dalam hati.
"Arwah Suhu dialam baka, sahabatmu dan TeCu hari ini telah dapat membalaskan sakit hatimu."
Habis itu, ia mengambil golok Thian Hong untuk memapas tali pengikat tangan Ciauw Cong.
Sekali tendang, Ciauw Cong terlempar kebawah.
Kawanan serigala sedang menderita kelaparan hebat,' maka begitu ada sesosok tubuh manusia melayang, mereka segera melonCat untuk menerkamnya!
Dua buah pukulan Tan Keh Lok, telah menyebabkan Ciauw Cong terluka berat.
Hanya karena ia seorang ahli lwekang yang lihai, maka setelah memelihara semangatnya selama lima hari dalam perjalanan, separoh bagian lukanya sudah sembuh.
Ketika ditendang jatuh kedalam kota serigala itu, dia sudah tak punya harapan hidup lagi.
Tapi memang sudah menja,di sifat manusia, jeri mati.
Sebelum mati berpantang ajal.
Dalam saat-saat kematian dia berusaha untuk merebut hidup.
Ketika, hampir dekat ketanah 7 atau delapan ekor serigala besar sudah lonCat meneryang.
Dengan sorotan mata yang ber-api 2, Ciauw Cong ulurkan ke 2 tangan untuk menCengkeram leher 2 ekor serigala, terus dipotes.
Sesaat itu, serigala 2 itu mundur.
Membarengi itu pelan-pelan dia.
mendekati dinding dan tempelkan punggungnya disitu.
Dengan memakai 2 ekor serigala yang sudah setengah mati itu, ia mainkan jurus ilmu 'siang-jui' (sepasang palu besi) dari Bu Tong Pai.
Anginnya sampai Menderu-deru , hingga dalam saat itu kawanan serigala tak berani mendekati.
Sekalipun benci akan perbuatan Ciauw Cong yang keliwat jahat, tapi dalam saat-saat menerima kematiannya itu, Tan Keh Lok, Lou Ping dan lain-lain.
tak tega melihatnya, dan sama turun.
Hwi Ching mengembeng air mata.
Rasa kasihan terCampur rasa benci.
Sementara itu Ciauw Cong sudah memainkan jurus ke 2 dari ilmu "siang-jui"
Itu, tibatiba dalam ingatan Hwi Ching terkilas kejadian pada tiga 0 tahun berselang...............
Pada masa itu Ciauw Cong masih kanak-kanak, Suhunya telah menerimanya sebagai murid.
Sehari 2 Liok Hwi Chinglah yang mengurus keperluannya.
Pernah ke 2nya diam-diam lari kebawah gunung untuk membeli gula 2.
Ketika itu Celana sutenya robek dan dialah yang menjahitkan.
Ilmu pukulan besi "bo-kim-Chui"
Itu, dia pulalah yang mengajarkannya.
Ciauw Cong ternyata berotak terang lagi giat belajar, hingga hubungan antara ke 2 Suheng dan Sute itu melebihi saudara putusan perut baiknya.
Adalah tak dinyana 2, karena temaha uang dan pangkat, Sutenya itu telah terperosok makin dalam...............
Kini menampak Sutenya sedang menghadapi bahaya maut, tanpa merasa ia kuCurkan air mata, pikirnya.
"Sekalipun dia itu keliwat busuk, tapi masih ingin kuinsyapkan pikirannya pada saat terakhir, supaya kesananya dia dapat berobah menjadi orang baik-baik ."
"Thio-sute, aku datang menolongmu!"
Tiba-tiba Hwi Ching berseru.
Dan sekali enjot, tubuhnya melesat turun.
Semua orang kaget.
Malah Bun Thay Lay yang berdiri disebelahnya, buru-buru akan menCegah, tapi tak keburu.
Belum kaki Hwi Ching tiba ditanah, pek-liong-kiam sudah berobah menjadi lingkaran sinar, sehingga kawanan serigala itu menyingkir memberi jalan.
"Sute, yangan kuatir,"
Seru Hwi Ching pula. Mata Ciauw Cong berCucuran darah, sekonyong-konyong serigala yang dipakai untuk senjata tadi dilempar, sekali mengenjot kaki, dia tubruk dan menyikap Hwi Ching malah.
"Kalau mati, biar kita mati bersama!"
Serimja kalap.
Sergapan Ciauw Cong itu sama sekali diluar dugaan Hwi Ching, siapa tak berdaya lagi dan peh-liong-kiamnya pun terlepas jatuh.
Sekuatanya dia Coba meronta, tapi tak berguna.
Melihat ada 2 orang bergulatan, kawanan serigala serentak menyerbunya.
Suheng dan Sute itu adalah ahli lwekang, ke 2nya sama mengerahkan tenaganya untuk membalikkan lawan keatas agar diterkam serigala lebih dulu.
Pantangan ahli lwekang ialah mengumbar nafsu amarah.
Tapi karena melihat "air susu telah dibalas dengan air tuba"
Atau kebaikan dibalas dengan kekejian, meluaplah amarah Hwi Ching. Dan sekali hawa amarah itu naik keatas kepala, tangan dan kakinya menjadi lemas. Dengan jepitan tangan dari ilmu "kin-na-hoat,"
Ciauw Cong telah melumpuhkan sang Suheng.
Dan seCepatnya dia balikkan tubuh Suhengnya.
keatas, untuk dnyadikan perisai.
Gemparlah suara seruan kaget dari rombongan orang-orang diatas.
Bun Thay Lay dan Hi Tong serentak terjun kebawah.
Bun Thay Lay putar goloknya untuk menghalau kawanan serigala.
Sedang Hi Tong yang memegang golok Thian Hong, terpaksa harus berjumpalitan dulu kakinya menginjak tanah, disebabkan tembok tadi keliwat tinggi sekali.
Dia inCar pundak Ciauw Cong lalu membaCok sekuat-kuatnya.
Ciauw Cong mengeluarkan jeritan seram, ke 2 lengannya yang menyikap Hwi Ching itupun menjadi kendor.
Dari atas segera diturunkan tali.
Hwi Ching, Hi Tong dan Bun Thay Lay dikereknya keatas.
Ketika mereka menengok kebawah, orang-orang itu sama menyaksikan pemandangan yang ngeri.
Kawanan serigala sedang berpesta pora dengan daging dan tulang belulang Hwe-Chiu-poan-koan Thio Ciauw Cong, murid ketiga dari Cabang Bu Tong Pai yang paling tangguh sendiri, dan kepala dari Gi-lim-kun kerajaan Ceng!
Saking ngerinya, semua orang sama kemekmek.
Kemudian mereka tinggalkan kota serigala itu untuk beristirahat.
"Liok-pepek, peh-liong-kiammu masih ketinggalan dibawah sana bukan? Sayang!"
Kata Lou Ping.
"Tak apalah. Sebulan lagi, kawanan binatang itu akan sudah mampus semua. Waktu itu tentu bisa mengambilnya,"
Kata Koayhiap.
Malamnya mereka memasang kemah.
Pada kesempatan itu, Tan Keh Lok tuturkan pertemuannya dengan Kian Liong pada Suhunya.
BerbiCara soal barang bukti yang diminta oleh raja itu, Koayhiap segera mengambil keluar sebuah bungkusan kain warna kuning, lalu diserahkan pada sang murid, katanya.
"Musim semi tahun ini ayah angkatmu mengutus ke 2 saudara Siang menyerahkan buntelan ini padaku. Katanya, didalamnya terdapat 2 buah benda berharga. Karena tak diterangkan benda apa, akupun tak pernah membukanya. Mungkin benda itu adalah yang dimaukan oleh raja tersebut."
"Tentu begitu. Karena sudah meninggalkan pesan, maka kini TeCu akan membukanya,"
Kata Keh Lok.
Ternyata buntelan kain kuning terdapat bungkusan lapis tiga dari kertas minyak, disitu terdapat sebuah kotak kecil warna merah.
Didalam kotak ada 2 pucuk sampul, yang saking tuanya, warnanya berobah kuning.
Sampul itu tak isannya.
Ketika surat dari salah sebuah sampul itu diambil, disitu terdapat 2 baris huruf yang berbunyi sbb..
Saudara Su Kwan jth.
Suruhlah orang membawa orok yang baru lahir tadi kemari untuk kulihatnya.
Tanda-tangan surat itu dari "YONG TT."
Hurufnya indah.
"Apa maksudnya surat ini? Mengapa Gihu-mu menganggapnya begitu penting?"
Tanya Koayhiap.
"Ini adalah buah tulisan baginda Yong Ceng,"
Sahut Keh Lok.
"Bagaimana kau tahu?"
Koayhiap melengak.
"Dirumah TeCu, banyak sekali sekali buku pemberian kaisar Kong Hi, Yong Ceng dan Kian Liong. Karenanya TeCu dapat mengenali tulisannya."
"Huruf tulisan Yong Ceng Cukup bagus, tapi mengapa rangkaian kalimatnya begitu kaku?"
Tanya Koayhiap.
"TeCu pernah membaca tulisannya dalam perintah 2 yang disimpan almarhum ayah. Ada yang berbunyi. 'Tahulah'. Kalau mengatakan orang yang tak disukai, beliau sering menulis begini. 'Orang ini bermuka kembang, hati-hati terhadapnya!"
Thian Ti Koayhiap tertawa gelak 2, katanya.
"Sekalipun surat ini Yong Ceng yang menulis, tapi kurasa tak ada apa-apanya yang penting."
"Sewaktu menulis surat ini beliau masih belum menjadi Hongte,"
Kata Keh Lok pula.
"Ha, lagi-lagi kau tahu halnya!"
"Ya, tanda tangan "Yong Ti"
Itu, adalah sebutan, istana ketika dia masih menjadi pwelek (pangeran). Dan lagi, kalau sudah menjadi raja, tak nanti dia membahasakan 'saudara' pada ayahku."
Koayhiap meng-angguk-angguk. Keh Lok meng-hitung 2 dengan jari. Merenung sebentar, lalu berkata.
"Semasa Yong Ceng belum menjadi kaisar, aku masih belum lahir. Ji-ko juga belum. Cici lahir baru saja. Tapi dalam surat itu disebut 'puteramu yang baru lahir', he..............."
Tiba-tiba dia. teringat akan uCapan Bun. Thay Lay ketika berada dalam terowongan dulu, serta sikap Kian Liong selama ini. Seketika dia lonCat bangun, katanya.
"Inilah bukti yang kuat."
"Apa?"
Tanya Koayhiap.
"Yong Ceng telah menukar toako-ku dengan seorang baji perempuan. Anak perempuan itu adalah ToaCi-ku yang dinikahkan dengan Siang Su Ciang haksu. Sebenarnya ia adalah puterinya Yong Ceng sendiri. Toako-ku sendiri, ialah yang kini menjadi kaisar."
"Kian Liong?"
Tanya Koayhiap dengan terkejut. Keh Lok mengangguk, kemudian mengeluarkan surat dari sampul yang ke 2. Nampak tulisannya, hatinya risau dan berCucuran air mata.
"Mengapa?"
Tanya Koayhiap.
"Inilah tulisan mendiang bundaku,"
Sahut Keh Lok dengan suara tak lampias. Dihapusnya air mata, dan memulailah ia membacanya.
"Kanda Kok yang budiman, dalam hidup sekarang ini, kita ber 2, tak dapat berjodoh. Itulah sudah suratan nasib. Tak dapat dilawan. Apa yang kupikirkan selalu jalah seorang ksatria sebagai engko terpaksa harus diusir dari perguruan hanya karena urusanku. Aku mempunyai tiga orang putera. Satu berada di istana, satu pergi kepadang sahara. Yang mengawani aku siang malam, puteraku ke 2, bodoh dan nakal, makan pikiran orang tua. Sam Koan, seorang anak yang Cerdas, tolong kau kirim pada seorang guru ternama. Meskipun hatiku selalu terkenang padanya, tapi aku merasa lega. Toa Koan, tak ketahui lagi tentang asal usul dirinya. Dia bersikap agung menjadi raja bangsa asing. Kanda Kok, dapatkah kau menginsafkannya. Lengan kiri anak itu ada tanda plek warna merah, itu Cukup menjadi bukti. Kesehatanku makin buruk, setiap malam aku bermimpi hari yang berbahagia semasa aku dan dikau masih kanaks bersama bermain-main . Ah, kasihanilah kita, Tuhan, agar dipenghidupan j.a.d., kita dapat menitis lagi menjadi suami isteri yang berbahagia. -Loh. Habis membaca, hati Tan Keh Lok memukul keras, tubuhnya gemetar mau roboh. Koayhiap menyanggapi dan mendudukkannya ditanah.
"Suhu, siapakah kanda. Kok itu?"
Tanyanya dengan gemetar.
"Dia adalah Gihu-mu sendiri, namanya aseli ialah Sim Ju. Kok. Waktu mudanya dia saling mencinta dengan bundamu. Tapi rupanya sudah menjadi kehendak Al ah, ke 2nya tak. dapat terangkap jodoh. Karena itulah maka, seumur hidup Gihu-mu "tak,, mau beristeri."
"Ketika "itu"
Mengapa dia disuruh membawa aku? Dati mengapa;'aku disuruh menganggapnya sebagai ayahku sendiri? Apakah.............................."
"Sekalipun aku adalah sahabat karib ayahmu, tapi soal dia diusir dari perguruan Siao Lim Si, tidak kuketahui jelas apa sebabnya. Katanya dia sudah melanggar peraturan gereja perguruan tersebut*. Berita itupun ada lain orang yang bilang, bukan dia. Tapi aku yang mengenal dari dekat, Cukup perCaja dia itu seorang lelaki perwira, tak nanti berbuat hal 2 yang nista,"
Menerangkan Koayhiap, siapa sesaat kemudian menepuk pula kakinya seraya berkata.
"Malah ketika itu pernah ku-undang sahabat 2 persilatan, untuk minta penjelasan pada Ciang-bun-jin Siao Lim Si. Hal ini menggemparkan dunia kangouw. Syukur Gihu-mu buru-buru menCegah dengan mengatakan dia sendirilah yang bersalah, barulah gerakan besar itu bubar. Namun sampai saat ini, aku tetap tak perCaja seorang sebagai dia dapat berbuat sesuatu hal yang tidak senonoh. Lain Cerita kalau memangnya Hweshio 2 Siao Lim Si itu mengadakan peraturan yang aneh, itu wal ahualam."
"Suhu, apakah hanya sebegitu saja yang kau ketahui perihal ayah angkatku?"
"Setelah diusir dari gereja perguruan, dia menyembunyikan diri sampai beberapa tahun. Tahu-tahu dia berganti nama IE BAN THING, mendirikan HONG HWA HWE dan menyelenggarakan usaha besar yang gilang gemilang,"
Menambahkan Koayhiap.
Yang dimaksud Tan Keh Lok dalam pertanyaan itu adalah kearah asal usul dirinya.
Tapi Koayhiap sudah menyimpangkan jawabannya kepada peristiwa akan menuntutkan penasaran Ie Ban Thing kepada gereja Siao Lim Si.
"Baik Gihu (ayah angkat) maupun ibu mengapa menghendaki supaya aku pergi dari rumah, adakah Suhu mengetahuinya?"
Tanya Keh Lok pula.
"Usahaku mengundang sahabat 2 kangouw guna menuntutkan penasaran ayah angkatmu, tapi karena pengakuan Gihumu itu, kepala kita seperti digujur air dingin dan akupun kehilangan muka. Karenanya, mulai saat itu tak mau aku mengurus lagi soal Gihu-mu itu. Dia datang kepadaku membawa kau, akupun terus mengajarkan ilmu silat, rasanya Cukuplah kewajibanku terhadapnya."
Kini tahulah Tan Keh Lok, sia-siasajalah dia bertanya itu. Pikirnya.
"Usaha membangun kerajaan Han, kunCinya terletak pada tabir yang menyelubungi Toako (Kian Liong). Sedikit saja terjadi keCerobohan, sia-sialah segala jerih payah selama ini, dan ini berarti ratusan juta saudara-saudara ditanah air tetap tenggelam dalam laut penderitaan. Lebih baik kupergi kegereja Siao Lim Si di Hokkian untuk menCari penjelasan tentang hal itu. Ja, mengapa Yong Ceng menukar baji? Mengapa Toako yang terang-terangan seorang Han, disuruh menduduki tahta kerajaan Ceng? Tentu digereja itu, akan kuperoleh beberapa keterangan". Keputusan itu Keh Lok utarakan pada Suhunya. Koayhiap setuju, hanya saja dia kuatirkan Hwe-shio 2 Siao Lim Si itu nanti tak mau mengatakan. Tapi Keh Lok menyatakan akan menCobanya dahulu. Keh Lok tak lupa menerangkan tentang ilmu silat yang dipelajarinya dari rerongkong 2 di stana Giok-nia. Oleh Koayhiap, dia disuruh mainkan lagi untuk diajak twi-Chiu (latihan berkelahi). Dari sang suhu, Keh Lok banyak sekali memperoleh penjelasan yang berguna. Begitu gembira suhu dan murid itu berlatih diluar kemah, dann tahu-tahu terdengarlah long long serigala dari tempat pengurungan, pertanda sang fajar sudah tiba. Sampai disitu barulah ke 2nya masuk kedalam kemah dan beristirahat.
"Ke 2 nona Ui itu Cantik dan baik perangainya. Sebenarnya kau ini suka yang mana?"
Tanya Koayhiap tiba-tiba.
"Hwe Gi Ping dari kerajaan Han berkata. 'Bangsa Tartar belum terbasmi, mengapa' mesti memikirkan urusan kawin?' TeCu pun sejalan dengan pikirannya itu", sahut Keh Lok.
"Suatu ambekan yang perwira sekali. Akan kukatakan pada Siang Eng, agar yangan dikatakan aku mendidik rusak murid 2ku", kata Koayhiap.
"Apakah Tan-loCianpwe ber 2 mengatakan aku tidak tidak baik?"
Tanya Keh Lok.
"Mereka menCelah kelakuanmu. dapat baru, buang yang lama. Ketemu adiknya, membuang sang taCi. Ha, ha!"
Koayhiap tertawa.
Sebaliknya Tan Keh Lok terCekat hatinya.
Dia ingat bagaimana sepasang suami isteri itu pergi tanpa pamit dan hanya tinggalkan delapan huruf ditanah pasir tempo hari.
Kiranya begitulah yang dimaksudkan.
Setelah mengaso sebentar, semua orang sama bangun.
Tan Keh Lok memberitahukan niatnya pergi kegereja Siao Lim Si pada sekalian saudaranya.
Dia ambil selamat berpisah pada Koayhiap, Thian-san Siang Eng dan ke 2 puteri Bok To Lun.
Hiang Hiang seperti tak tega berpisah.
Ia mengantar sampai 7 puluhan li jauhnya.
Juga Keh Lok sendiri merasa berat dalam hatinya.
Perpisahan kali ini, entah sampai kapan dapat berjumpa lagi.
Kalau nasib mujur, usaha berhasil, tentu dapat bertemu lagi.
Sebaliknya, kalau gagal, mungkin tulang rerongkongnya akan terkubur dibumi Tionggoan.
Bebarapa kali Ceng Tong nasehati adiknya supaya pulang, tapi ia tak mau.
"Ikutlah pulang Cicimu!"
Terpaksa Keh Lok keraskan hatinya.
"Tapi kau harus datang lagi!"
Seru Hiang Hiang. Tan Keh Lok mengangguk.
"10 tahun kau belum datang, 10 tahun kutetap menanti! Seumur hidup kau tidak datang, seumur hidup aku inenunggu kata Hiang Hiang. Melihat kesungguhan hati nona itu, hendak Keh Lok memberi tanda mata untuk kenanngan. Dirogoh kantongnya, dia menyentuh mustika giok pemberian Kian Liong, diambilnya keluar dan diberikan pada Hiang Hiang bisiknya.
"Jika kau pandang batu giok ini, sama seperti kau melihat padaku."
"Aku tentu akan berjumpa lagi padamu. Sekalipun diwaktu hendak meninggal, aku harus melihatmu dulu baru dapat mati meram", kata Hiang Hiang dengan berlinang-linangair mata.
"Mengapa bersedih? Begitu urusanku selesai, akan kuajak kau ke Pakkhia untuk pesiar ke Ban Li Tiang Shia (tembok besar),"
Kata Keh Lok.
"Katakmu itu sukar dipegang,"
Ujar Hiang Hiang.
"Kapan aku pernah membohongi kau?"
Sahut Keh Lok pasti.
Sampai disini baru Hiang Hiang mau berhenti.
Setelah bayangan Keh Lok tak nampak lagi, barulah ia pulang.
Rombongan HONG HWA HWE itu terpaksa tak dapat berjalan Cepat.
Karena Wan Ci, Jun Hwa dan Ciang Cin terluka.
Dengan dapat menuntut balas sakit hati Suhunya, legalah perasaan Hi Tong.
Terhadap Wan Ci dia berterima kasih dan kasihan.
Sepanyang perjalanan itu, dia merawatnya dengan mesra.
Beberapa hari kemudian, sampailah mereka ketempat kediaman Affandi.
Tapi siorang Ui yang aneh itu, sudah tak ada dirumah lagi.
Mendengar kebinasaan Ciauw Cong, Ciu Ki gembira sekali, karena sakit hati adiknya dapat terbalas.
Turut nasehat Keh Lok, Thian Hong lebih baik tunggu isterinya disitu.
Nanti kalau sudah bersalin, barulah menyusul ke Tiong-goan.
Tapi Ciu Ki tak mau.
Kesatu, dia kesepian, ke 2 ia akan ikut serta kegereja Siao Lim Si untuk menemui ayah bundanya disana.
Terpaksa orang-orang sama mengalah.
Thian Hong sewa sebuah kereta untuk isterinya dan Wan Ci.
Karena waktu itu sedang dalam musim dingin.
Mereka menempuh perjalanan yang berangin, sehingga hampir ganti musim Chun (semi) mereka baru tiba di Giok-bun-kwan.
Perjalanan kedaerah selatan (Hokkian) itu berlangsung lama benar.
Ciu Ki makin gerah, sebaliknya Wan Ci sudah hampir sembuh.
Kini ia dapat naik kuda sendiri.
Ia selalu berada disamping Lou Ping untuk mengobrol, sehingga lain-lainnya sama heran apa saja yang dibiCarakan ke 2nya itu, mengapa tak ada habisnya.
Tiba diperbatasan propinsi Hokkian, suasana alam penuh dengan bunga 2 yang tengah mekar.
Beberapa hari kemudian, mereka akan sudah masuk kekota Tek Hoa.
Diluar kota mereka lewat sebuah hutan lebat.
Tiba-tiba Ciang Cin berteriak, terus lari menuju sebuah pohon.
Disitu ternyata ada seorang lelaki yang tengah menggantung diri.
Buru-buru orang itu diseretnya turun, lalu diletakkan ditanah.
Hwi Ching meng-urut 2 dadanya, dan tak lama kemudian orang itu tersedar lalu menangis.
"Mengapa kau hendak bunuh diri?"
Tanya Sim Hi. Orang itu terus menangis tak mau menjawab. Dia kira-kira berumur 24 tahun, dari dandanannya agaknya ia orang pertukangan.
"Telah kutolong jiwamu, mengapa kau tak mau menjawab?"
Ciang Cin menjadi dongkol dan mendampratnya. Orang itu tersentak bangun, lalu berkata.
"Mengapa tak kau biarkan aku mati?"
"Kau kekurangan uang atau penasaran? Kami membantumu,"
Kata Jun Hwa.
"Bukan soal uang atau penasaran,"
Sahut orang itu, lalu kembali menangis.
Nampak oleh Lou Ping, orang itu memakai kain bersulam bunga teratai dilehernya.
Kain itu di katnya kenCang 2, seperti kuatir kalau dia mati, nanti diambil orang.
Diduga dia tentu terlibat urusan perempuan, maka ditanyainya.
"Apakah kekasihmu tak mau mengawini kau?"
Wajah orang itu nampak kaget, katanya.
"Ia memilih ke-matian, akupun tak ingin hidup."
"Mengapa ia akan memilih mati?"
Tanya Lou Ping pula.
"Aku bernama Ciu Sam, pekerjaanku tukang kayu. Tahun ini karena sudah tua, Pui-tayjin telah pensiun dan pu-lang kekampung halamannya. Melihat Gin Hong berparas Cantik, dia berkeras akan mengambilnya sebagai gundik yang kesebelas."
Sampai disini, kembali orang itu menangis keras. Ciang Cin tak jelas yang dikatakan, membentaknya lagi.
"BiCaramu tak keruan, sedikitpun aku tak mengerti. Apa itu Pui-tayjin dan Gin Hong?"
"Gin Hong adalah kekasihnya,"
Sela Lou Ping tertawa.
"Mana tempatnya Pui-tayjin itu? Gin Hong-mu sudah diambilnya atau belum?"
Tanya Ciang Cin.
"Gedung yang terbesar sendiri dikota Tek Hoa itu adalah rumah kediamannya. Tahun yang lalu aku pernah disuruh bikin betul rumahnya. Tapi sekarang dia ............ dia mau minta si Gin Hong .............................."
"Kau ini betul-betul orang tak berguna. Mengapa tak kau labrak orang she Pui itu?"
Kata Ciang Cin.
"Kalau saja dia punya kepandaian seperti Ciang-sipya, separoh saja, tentu jadi!"
Kata Lou Ping tertawa pula. Mendengar orang itu she Ciu, Ciu Ki taruh simpati, maka katanya.
"Antarkan kami pada orang she Pui itu!"
Ciu Sam jerih nampaknya.
"Bawalah kami kerumahmu dulu. Aku yang tanggung jawab, orang she Pui itu pasti tak berani minta Gin Hong-mu!"
Thian Hong ikut biCara.
Dengan masih agak kurang perCaja, Ciu Sam menurut.
Keluarga Gin Hong itu orang she Pao, berjualan taohu, rumahnya sebelah tetangga dengan Ciu Sam.
Waktu itu teng dan payang 2an menghias rumahnya, lazim seperti orang mantu.
Thian Hong suruh Ciu Sam memanggil ayah Gin Hong.
Wajah orang tua itu muram, tak mirip dengan orang yang sedang punya kerja mantu.
Pui-tayjin itu ternyata sudah berusia 70 tahun lebih.
Dulu O dia menjadi pembesar negeri di Anhui, maka pembesar 2 setempat sama jeri terhadapnya.
Gin Hong baru berumur 1delapan tahun.
Akan dnyadikan selir seorang tua yang sudah mendekati liang kubur, terang ia tak sudi.
Tapi karena takut pengaruhnya, terpaksa menurut.
Ciang Cin dan Ciu Ki terus akan pergi membunuh orang she Pui itu, tapi dilarang oleh Tan Keh Lok, siapa lalu su ruh Sim Hi mengambil seratus tail perak diberikan pada ayah Gin Hong dan Ciu Sam.
Mereka disuruh lekas-lekas mengemasi barang-barangnya dan tinggalkan tempat itu.
Ke 2nya sangat berterima kasih.
Ciu Ki sudah hamil 7 bulan lebih.
Thian Hong dan Lou Ping menjaganya hati-hati.
Minum arak sedikitpun tak boleh, selama ini Ciu Ki merasa sebal.
Apalagi ketika Tan Keh Lok melarangnya membunuh Pui-tayjin, ia makin sebal.
Sewaktu Thian Hong tak tahu, diam-diam ia menyelinap keluar.
Kota Tek Hoa tak seberapa besar, maka tak lamapun Ciu Ki sudah dapat menCari gedung orang she Pui itu.
Ditengah 2 ruangan, tampak para pelayan sibuk membawa hidangan yang lezat-lezat dan arak yang wangi.
Mencium bau arak.
selera Ciu Ki timbul hebat.
Nyonya Thian Hong ini memang polos wataknya.
Karena ingin minum arak, ia terus saja masuk.
Memang rumah Pui-tayjin tengah kebanjiran tetamu yang menghaturkan selamat.
Sekalipun Ciu Ki berpakaian sederhana, tapi karena sikapnya yang wajar dan berlagak itu, pelayan 2 bergegas-gegas menyilahkan duduk dan mengambilkan suguhan.
Ciu Ki pun tak mau sungkan 2, terus makan dan minum habis arak hidangannya.
Menjadi adat kebiasaan orang-orang selatan kalau mengadakan ho-su (pesta perkawinan) tentu mengadakan perjamuan sampai beberapa hari.
Sekalipun hanya mengambil selir, tapi karena Pui-tay-jin itu bekas pembesar tinggi, dia akan mengunjukkan keangkerannya membuka pesta perjamuan yang mewah.
Walaupun tak dapat sambung biCara dengan lain-lain tamu wanita, karena perbedaan bahasanya, namun Ciu Ki tak menghiraukan segala apa.
Arak datang, terus dikeringkan.
Betul-betul ia minum sampai puas.
Kira-kira 10 kali edaran arak, dengan ditunyang oleh ke 2 puteranya, Pui-tayjin berjalan keluar untuk memberi selamat datang dengan minum arak pada sekalian hadirin.
Melihat rambut Pui-tayjin sudah ubanan semua tapi masih inginkan "daun muda,"
Ciu Ki memaki dalam hati.
Ketika dekat dengan Tayjin tersebut, Ciu Ki melihat nyata pada pipi kiri Tayjin itu ada tai lalatnya besar.
Beberapa lembar rambut panyang tumbuh disitu.
Ciu Ki terkesiap, teringat ia akan kata-kata suaminya dahulu.
Thian Hong, atas pertanyaan mamah Ciu Ki, pernah mengatakan keluarganya satu rumah dibikin Celaka oleh seorang pembesar she Pui, yang pada pipi kirinya ada tahi lalat besar.
Yangan-yangan inilah dianya, Pui-tayjin, musuh besar suaminya!
Karena Thian Hong berasal dari Siao Hin, propinsi Ciatkang, maka tanpa tunggu 2 lagi, bertanyalah Ciu Ki.
"Pui-tayjin, apa Tayjin pernah pegang jabatan dikota Siao Hin?"
Dengar tekukan lidah Ciu Ki itu orang dari daerah utara, Pui-tayjin terkejut, katanya.
"Nyonya ini siapa? Apakah pernah melihat aku di Siao Hin?"
Dengan pertanyaannya itu, tanpa merasa dia sudah menyatakan kalau pernah memegang jabatan di Siao Hin.
Ciu Ki mengangguk.
Pui-tayjinpun tak Curiga, terus beralih kelain tetamu lagi.
Sebenarnya ingin sekali Ciu Ki memberesi orang she Pui pada saat itu, untuk membalaskan sakit hati suaminya.
Tapi begitu badan bergerak, ia rasakan dadanya sesak, kaki tangannya lemas.
Diam-diam ia memaki baji dalam kandungannya itu.
Setelah menegak tiga Cawan a,rak lagi, terus ia berjalan keluar.
Tinggal para tetamu wanita yang sama tertawa mengejek Ciu Ki yang dianggapnya seorang wanita kasar.
Tiba dirumah Ciu Sam, selang tak beberapa lama Thian Hong dan Lou Ping pun datang dari menCarinya.
Mereka girang nampak Ciu Ki sudah pulang.
Tapi demi membau arak pada mulutnya, Thian Hong akan mendampratnya.
Tapi Ciu Ki mendahului dengan menuturkan kejadian tadi.
Teringat akan kebinasaan ayah bunda dan saudara-saudaranya, Thian Hong menjadi beringas.
Namun dia tak mau gegabah, katanya.
"Akan kuselidiki dahulu, yangan sampai keliru membunuh orang". Beberapa waktu kemudian, dia sudah pulang dan berkata kepada Tan Keh Lok.
"CongthoCu, musuhku besar ada ditempat ini, kau idinkan aku menuntut balas bukan?"
"Chiet-ko, sakit hatimu itu harus dibalas. Dia sudah berumur 70 tahun lebih, kalau ditunda, mungkin dia keburu meninggal sendiri. Hanya saja kita tengah melakukan usaha besar, yangan sampai orang mengatakan kita orang kaum HONG HWA HWE yang turun tangan."
Sampai disitu, datanglah paman Pao tua bersama gadisnya dan Ciu Sam.
Mereka menghaturkan terima kasih dan mengatakan nanti 2 jam lagi, keluarga Pui akan kirim orang menjemput Gin Hong.
Karena sudah selesai berkemas, mereka hendak segera minggat.
"Untuk urusan ini, baik kita timpahkan pada mereka, karena mereka sudah tak berada ditempat ini,"
Tiba-tiba Wan Ci mendapat pikiran.
"Bagaimana Caranya?"
Tanya Hi Tong.
"Kau menyaru jadi mempelai perempuan!"
Sahut Wan Ci tertawa.
"Kan lebih tepat kau yang jadi mempelai perempuan dan dia mempelai laki 2,"
Lou Ping menggoda.
"Pui! Orang ber-sungguh-sungguh, kau seenaknya saja bergurau,"
Wan Ci merah mukanya.
"Ya, '"Ya, adik manis, kau katakanlah!"
Akhirnya Lou Ping membujuk.
"Biar dia menyaru jadi mempelai perempuan untuk naik tandu dan kita yang menjadi pengiringnya", menerangkan Wan Ci.
"Bagus! Begitu sepasang mempelai masuk kamar, kita serentak turun tangan. Orang tentu mengira mempelai perempuan yang membunuh, bukan orang HHH", Lou Ping bertepuk girang. Biasanya otak Thian Hong adalah "gudang siasat". Tapi kali ini, karena hatinya gelisah dia tak dapat menemukan akal. Maka dia menjadi kegirangan ketika mendeng'ar usul Wan Ci yang sempurna itu. Demikianlah alat 2 segera disediakan seperlunya. Bermula Hi Tong mendongkol dan tak mau disuruh menyaru begitu. Tapi karena usul itu dari Wan Ci, dia segan membangkang. Apalagi untuk menuntutkan sakit hati Chit-ko-nya. Pakaian dan kerudung muka mempelai perempuan dapat disiapkan, hanya sepasang kaki Hi Tong yang menjadi soal. Akhirnya diputuskan, kun (rok) ukuran lebih panyang sehingga dapat menutup sampai kebawah kaki. Menjelang petang, keluarga Pui mengirim tandu. Lou Ping dan Wan Ci memimpin si "nona mempelai"
Masuk kedalam tandu.
Mereka ikut mengiringkan dengan membawa senjata dalam baju masing-masing.
Berhadapan dengan bakal suami, nona mempelai harus menjura.
Inipun terpaksa Hi Tong lakukan.
Pui-loya atau Pui Ju Tek tertawa terkekeh-, ia memberikan 2 keping mas selaku hadiah dan Hi Tong tanpa sungkan 2 terus menerimanya.
Selesai perjamuan, aCara beralih pada menggoda kamar mempelai.
Orang-HONG HWA HWE ikut masuk kedalamnya.
Thian Hong tepat berdiri disamping Pui Ju Tek, tangannya sudah siap dimasukkan kedalam kantong senjata.
Tapi tepat pada saat akan turun tangan, tiba-tiba seorang pelayan munCul, katanya.
"Seng-Congpeng dan beberapa, tamu datang memberi selamat pada Tayjin."
"Bagaimana dia bisa berkunjung kekota ini?"
Tanya Ju Tek dengan girang sembari bertindak keluar.
Diruangan muka, duduklah seorang pembesar militer dengan .4 orang si-wi istana.
Muka Thian Hong berubah seketika, karena salah seorang si-wi itu dikenalnya sebagai Swi Tay Lim, itu jago pengawal istana yang pernah ditempurnya dipenyeberangan sungai.
Hoangho tempo hari.
Hendak dia peringatkan Kawan-kawan nya, tapi Bun Thay Lay telah mendahului .menggerung dan meneryang bukoan atau pembesar militer tadi.
Kiranya perwira itu ialah Seng Hong, pengikut Ciauw Cong ketika menggrebek ke Thiat-tan-Chung dahulu.
Dengan jasanya itu ia dinaikkan pangkatnya menjadi Congpeng kedaerah Hokkian.
Hari itu Swi Tay Lim berempat si-wi menerima titah rahasia untuk menerima Seng Hong.
Karena sewaktu sampai dikota Tek Hoa mendengar Pui-tayjin mengambil selir baru.
mereka berlima mampir memberi selamat.
Tak dinyana, disitu mereka kesomplokan dengan orang-orang HONG HWA HWE Karena tak sempat, Seng Hong menyembat kursi untuk menangkis serangan Bun Thay Lay, 'krakk' ...............
kaki kursi dari kayu puhun liu itu kutung menjadi 2.
Menampak hal itu, Seng Hong buru-buru menyusup kebawah meja, terus merosot lari keluar.
Orang-orang HONG HWA HWE Cepat melolos senjatanya untuk tempur keempat si-wi tersebut.
Bertempur tak berapa lama, keempat siwi itu kawalahan.
Tiba-tiba terdengar suitan keras dan mereka menyelinap diantara tetamu 2, terus Cemplak kudanya dan lolos.
Karena desak mendesak dengan tetamu 2, ketika Thay Lay cs.
berhasil memburu kemuka, kelima musuh itu sudah kabur' jauh.
Tapi sebagai gantinya, terdengarlah jeritan seram dan jerit tangis dari ruangan dalam.
Hi Tong yang masih mengenakan pakaian nona mempelai, dengan memutar kim-tiok, Lou Ping dan Wan Ci dikanan kiri, menobros dari dalam.
Tapi Pui Ju Tek sudah tak kelihatan bayangannya.
Situa yang Cerdik liCin itu, tahu gelagat jelek, siang'-sudah melenyapkan diri.
Kian-kemari Ciu Ki, Ciang Cin dan Sim Hi cs ubekkan menCarinya, tapi sia-siasaja.
"CongthoCu, mengapa Cakar alap-alap istana itu mendadak munCul kemari? Yangan-yangan ada apa-apa nanti,"
Kata Thian Hong.
"Ya, hal ini perlu diselidiki,"
Sahut Keh Lok.
"Pembalasan sakit hati, itu urusan kecil. Kita bereskan urusan itu dulu, baru kembali lakukan pembalasan lagi,"
Kata Thian Hong.
Keh Lok puji jiwa besar dari sang Chiet-ko itu.
Segera dipimpinnya rombongan itu untuk lakukan pengejaran.
Menurut keterangan orang, rombongan kaki tangan Ceng itu menuju kearah timur.
Kira-kira empat puluhan li menge-jar, mereka beristirahat disebuah rumah makan.
Pegawai rumah makan tersebut.
menerangkan, rombongan si-wi tadi belum lama lewat disitu.
"Kudaku ini pesat larinya, bisa menyusul mereka,"
Kata Bun Thay Lay.
"Ya, tapi mereka berjumlah lima, yangan sampai terpeCundang. Mereka tak nanti bisa lolos,"
Ujar Lou Ping.
Tahu kalau sang isteri, sejak dirinya tertawan musuh dulu, sangat menderita, kini memperhatikan sekali keselamatannya, tak mau Bun Thay Lay mengganggu ketenangan hati Lou Ping.
Terpaksa dia ikut dalam rombongan saja.
Setelah bermalam didusun Sianyu, keesokan harinya mereka tiba di Ciao Wi.
Menurut keterangan penduduk dusun tersebut., rombongan si-wi sudah berganti arah menuju keutara.
"Kebetulan, menuju keutara adalah tempat letaknya gereja Siao Lim Si. Sekali dayung kita menuju 2 tepian,"
Kata Tan Keh Lok.
Karena hari sudah gelap, mereka menuju kekota Hay Tien menCari hotel.
Liok Hwi Ching, Bun Thay Lay, Jim Hwa, Thian Hong dan Sim Hi berlima, berpenCaran menyirepi kabar ventang rombongan Si-wi tadi.
Bun Thay Lay tak berhasil menCari jejak musuh, hal ini membuatnya gelisah.
Hawa panas sekali, disana sini terdengar bunyi tonggeret.
Karena kegerahan, Bun Thay Lay membuka baju, dan berkipas 2.
Tak berapa lama, tampak sebuah warung arak.
Tiupan angin membawa bau arak yang wangi.
Bun Thay Lay menghampiri warung tersebut.
untuk minum arak.
Siapa duga, begitu masuk, ia tertegun.
Ternyata Swi Tay Lim dan Seng Hong dan ketiga si-wi tengan minum arak juga disitu.
Mereka kaget bukan kepalang, sampai terlongong 2 beberapa saat.
Tapi Bun Thay Lay tak ambil peduli, serunya.
"Hai, Tiam-keh (pengusaha warung) ambilkan arak!"
Pelayan Cepat menyediakan poCi dan gelas arak.
"Gelas sekecil ini apa guna? Ambilkan mangkuk yang besar!"
Hardik Bun Thay Lay, terus lempar sekeping perak diatas meja. Pelayan menjadi ketakutan dan buru-buru mengambil mangkuk besar dan menuangkann arak.
"Arak bagus!"
Memuji Bun Thay Lay ketika menegaknya.
"Ini sam-pek-Ciu keluaran sini, yang terkenal", menerangkan sipelayan.
"Untuk menyembelih seekor babi, perlu minum berapa mangkuk?"
Tannya Bun Thay Lay. Pelayan tak mengerti maksud kata-kata itu, namun dia tak berani tak menjawab.
"Tiga mangkuk!"
Sahutnya sembarangan.
"Bagus, sediakan 15 mangkuk dan penuhi isinya!"
Kata Bun Thay Lay sambil menCabut golok terus dibaCokkan pada meja.
Pelayan ketakutan setengah mati, segera ia sediakan pesanan itu.
Limabelas mangkuk berkilang 2 penuh dengan arak.
Seng Hong berempat berCekat dan gelisah.
Hendak mereka keluar, tapi tak berani karena Bun Thay Lay menghadang diambang pintu.
Seng Hong dan Swi Tay Lim kenal kelihaian Bun Thay Lay.
Melihat gelagat buruk, ke 2nya berangkat akan merat dari pintu belakang.
"Arak masih belum kuminum, mengapa ter-buru-buru?"
Tiba-tiba Bun Thay Lay berteriak seperti guntur suaranya. Lalu sebelah kakinya dinaikkan keatas dingklik, sekali angkat semangkuk arak ditegaknya habis.
"Betul-betul arak bagus!"
Serunya sambil menegak lagi mangkuk yang ke 2.
Pelayan buru-buru mengiriskan 2 kati daging kerbau lalu dihidangkan dalam piring.
Bun Thay Lay makan daging itu sambil menegak arak.
Dalam sekejap saja, 15 mangkuk arak dan 2 kati daging itu habis ludas.
Melihat itu, hati Seng Hong dan Swi Tay Lim bergonCang keras.
Tapi sementara itu, karena mengira orang pasti sudah mabuk, ketiga si-wi tadi segera serentak meneryang Bun Thay Lay.
Selama menghabisi daharannya tadi, tubuh Bun Thay Lay basah dengan keringat.
Ketika ketiga si-wi sudah dekat, dengan sebelah kaki ditendangnya sebuah meja hingga terpental.
Mangkuk dan piring diatasnya berhamburan pecah kelantai.
Tanpa melolos senjata, Bun Thay Lay sembat sebuah dingklik untuk disapukan pada penyerang 2nya.
Ketiga si-wi itupun bukan jago sembarangan, yang seorang putar tombak menghindar hantaman dingklik dengan membarengi menusuk.
Yang 2 lagi, satu memutar golok dan yang lainnya menusuk dengan ngo-bi-kong-jih (semacam lembing).
Dengan gagah Bun Thay Lay maju menyambutinya.
Pada lain saat, golok dari salah seorang si-wi itu tertanCap erat 2 pada dingklik hingga sukar diCabut.
Sekali tangan Bun Thay Lay berkelebat, muka si-wi itu hanCur, darah hidup membasahi pakaiannya.
Binasalah dia seketika itu juga.
Tepat pada saat itu, lembing dari si-wi yang lain menganCam iga Bun Thay Lay, siapa seCepat kilat menCabut golok musuh yang tertanCap pada dingklik tadi, terus ditang-kiskan kemuka.
Orang itu terkejut, tahu apa arti serangan itu, dengan Cepat-cepat dia lonCat kebelakang kawannya yang bersenjata tombak, siapa tengah memainkan gerak "tok-liong-jut-tong"
Atau naga berbisa keluar gua, menusuk perut Bun Thay Lay.
Bun Thay Lay Cepat pindahkan golok ketangan kiri, tanpa musuh sempat menarik serangannya, tahu-tahu tombaknya telah kena disawut Bun Thay Lay, terus dibetotnya.
Hendak si-wi itu menCoba menariknya tapi tenaga dahsyat dari Pan-lui-Chiu itu telah membuatnya terhuyung-huyung kemuka.
Bun Thay Lay sebaliknya lepaskan tombak musuh, sebagai gantinya dia angkat dingklik dihantamkan kedada untuk didorongnya kebelakang.
Begitu keras dorongan itu, hingga Cukup diulang sekali lagi si-wi tersebut.
mepet pada tembok.
Sekali lagi diteruskan mendorong lebih keras, tembok berhamburan gugur menguruk si-wi yang naas itu.
Guguran tembok merupakan debu tebal yang memenuhi ruangan rumah makan tersebut.
Habis menyelesaikan si-wi bersenjata tombak, Bun Thay Lay Cepat beralih akan menggempur si-wi satunya yang bersenjata ngo-bi-jih.
Tapi entah bagaimana, si-wi itu sudah kelihatan mendeprok ditanah tak bergerak.
Mukanya puCat seperti kertas, dan jantungnya sudah berhenti berdenyut.
Kiranya sewaktu nampak Bun Thay Lay dalam beberapa kejap saja sudah dapat membinasakan 2 orang kawannya, begitu hebat hati si-wi itu bergonCang, sehingga urat nadinya putus, dan mati mendadak.
Bun Thay Lay buru-buru menCari Seng Hong dan Swi Tay Lim, tapi tak ada, mungkin telah dapat lolos lagi.
Tamu 2 dalam rumah makan itu, siang 2 sudah menyingkir pergi.
Waktu itu sudah jam delapan malam.
Seng Hong dan Swi Tay Lim adalah 2 orang musuh besar.
Merekalah yang turut melakukan penangkapan di Thiat-tan-Chung.
Dalam pertempuran di Siauw-Ciu, kembali adalah Swi Tay Lim yang membaCoknya dengan golok yang bergigi gergaji.
Biar bagaimana, sakit hati itu harus dibalas.
Bun Thay Lay masuk kembali kedalam rumah makan.
Nyata dia belum terima, dan kembali menCarinya keseluruh rumah itu, tapi tak ketemu.
Ia lonCat keatas sebuah rumah yang punCaknya paling tinggi.
Disitu dia memandang keseluruh penjuru.
Betul juga, sajup 2 kelihatan ada 2 benda hitam bergerak pesat kesebelah utara.
Bukan main girangnya Bun Thay Lay, buru-buru dia lonCat turun, menyembat golok terus lari mengejar.
Mengejar beberapa li, tibalah ia pada sebuah ladang luas yang ditanami puhun rami yang sudah tumbuh tinggi.
Ke 2 orang buruan itu tiba-tiba menyelinap masuk kedalam kebun rami yang lebat itu, terus tak ada jejaknya lagi.
Bun Thay Lay tidak saja silatnya tinggi, pun nyalinya besar.
Tanpa banyak sekali pikir, dia meneryang masuk, sembari mem-bentak 2.
Keluar dari ujung kebon sana, ternyata adalah sebuah hutan lebat.
"Sudah sampai disini, masa kulepas mereka lari?"
Pikirnya, lalu berteriak keras-keras.
"Kamu lari keujung langit, aku akan tanya keterangan pada Giok-Hong-tay-te. Kau lari kedalam neraka aku akan menCarimu kedalam istana Giam Lo Ong!"
Tapi yang diCari tetap tak ada.
Tiba-tiba dia mendapat pikiran, dia enjot tubuhnya berlonCatan naik kepunCak sebuah puhun yang tinggi.
Jauh disebelah sana seperti ada sebuah desa, tapi anehnya rumah 2nya tinggi-tinggi sekali.
Ternyata ke 2 bayangan hitam tadi lari kesitu, ini takkan terlihat pada malam segelap itu, andai kata tubuh mereka tidak bergoyang 2 karena sedang lari.
Bun Thay Lay sesali dirinya yang telah berlaku bodoh karena hampir membiarkan mereka lolos.
Sebab sekali dia lonCat turun dan memburu kesana.
Dengan kelinCahannya ilmu mengentengi tubuh, sebentar saja sudah dapat dia menyusui, tepat pada saat ke 2 buronannya itu sudah masuk kedalam tembok rumah.
"Hai, mau lari kemana!"
Serunya terus memburunya.
Dibawah Cahaja bintang malam yang samar 2 itu, rumah itu atapnya berwarna hnyau dan temboknya kuning.
Kiranya adalah sebuah gereja raksasa.
Ia terkejut, ia memutar kedepan rumah berhala itu, papan dimuka gereja itu tertulis dengan empat huruf emas "Siao Lim Ko Sat"
Atau gereja kuno Siao Lim.
Teringat Bun Thay Lay ketika di BengCin dalam gereja Po Siang Si dia bertempur dengan Gian Pek Kian.
Apakah kali ini hal itu akan terulang lagi?
Sembari berpikir ia lihat pintu gereja ternyata tertutup rapat.
Apa boleh buat, terpaksa dia lonCat melalui tembok.
Sebelah dalam dari tembok itu, ternyata adalah sebuah halaman yang luas.
Namun tak nampak bayangan Seng Hong dan Swi Tay Lim berada disitu.
Heran ia.
Sepanyang pengetahuannya, Siao Lim Si adalah pusat dunia persilatan, masa bersengkongkol dengan pembesar Ceng sehingga mau menyembunyikan ke 2 orang buronannya itu?
Tengah dia berpikir 2, tiba-tiba pintu besar ruangan besar kedengaran berkretekan terbuka, dan berdirilah disitu seorang hweshio gemuk, tangannya memegang sebatang senjata Hong-pian-jan, semacam senjata kaum padri yang berbentuk sorok, panyangnya tak kurang dari enam kaki.
"Bangsa tikus mana yang begitu bernyali besar datang membuat gaduh disini?"
Serunya.
"TeCu mengejar 2 orang Cakar alap-alap hingga tak sengaja masuk kemari, harap Toasuhu maafkan,"
Sahut Bun Thay Lay dengan merangkap ke 2 tangannya.
"Kau mengerti silat, tentunya kau sudah mengetahui tempat apakah Siao Lim Si ini. Mengapa kau begitu tak tahu aturan, masuk membawa senjata?"
Seketika meluaplah hati Bun Thay Lay, tapi segera dia insyap akan kesalahannya-tadi, maka buru-buru dia rangkapkan tangan dan berkata.
"TeCu minta maaf."
Berbareng dengan uCapan itu, dia berputar, terus enjot tubuhnya keatas tembok, lalu lonCat keluar, ia duduk menanti dibawah sebuah pohon.
"Ke 2 bangsat itu pasti akan keluar juga akhirnya. Akan kutunggu mereka disini,"
Pikirnya. Belum berapa lama dia duduk disitu, sihweshio gemuk tadi lonCat keatas tembok dan berseru.
"Ha, mengapa kau masih belum pergi, apakah punya maksud menCuri kemari?"
Bun Thay Lay gusar sekali.
"Aku duduk sendiri disini, apa sang'kutannya dengan kau?!"
Sahutnya segera.
"Ha, mungkin kau makan hati-maCan dan empedu maCan tutul, maka kau berani membuat gaduh digereja Siao Lim Si ini. Baik kau lekas-lekas pergi."
Adat Bun Thay Lay memang kasar dan berangasan. Pada saat itu tak dapat terkendalikan lagi kemarahannya.
"Aku. justru takmau pergi, kau mau apa?"
Sahutnya.
Tanpa berkata lagi, hweshio gemuk itu memutar senjatanya seraya melayang turun.
Gelang baja yang dipasang diujung senjatanya yang berbentuk bulan sabit dan tajam itu, berkerontangan suaranya.
Orangnya berdiri diatas bumi, senjatanya terus menyorok kedada musuh.
Terkilas dalam pikiran Bun Thay Lay, bahwa dari tempat beribu li jauhnya CongthoCu Tan Keh Lok datang kesitu, karena semata 2 hendak mengunjungi gereja yang tersohor itu.
Kalau dengan turuti panasnya hati dia sungguh-sungguh melayani.
serangan hweshio tersebut, pasti akan merusak usaha CongthoCu yang dilakukan dengan jerih payan itu.
Dengan pertimbangan itu, dia gerakkan tubuhnya kesamping untuk berkelit, terus lonCat kebelakang dan lari.
Tapi disana, pada jarak beberapa tindak, seorang hweshio dengan sepasang golok ditangan, berputar 2 menyerangnya.
Tetap Bun Thay Lay tak meladeni, ia lonCat kesamping akan lolos.
"Buang senjatamu dan menjura enam kali pada Hud-ya, baru jiwamu diampuni,"
Ke 2 Hweshio galak itu serentak berseru.
Bun Thay Lay tak ambil pusing, tetap akan lari menuju kedalam hutan.
Sekonyong-konyong diatas kepalanya terasa ada samberan angin yang dahsyat.
Cepat-cepat dia berkelit kesamping, 'buk'............!
Sebatang tongkat menanCap kedalam tanah dengan telaknya, deburan tanah munCrat ke-mana 2, seram sekali.
Dihadapan sana tampak menghadang seorang hweshio yang bertubuh pendek kurus.
"Kedatangan TeCu kemari bukan dengan maksud jahat, harap biarkan TeCu pergi, besok aku berkunjung kemari untuk meminta maaf,"
Kembali Bun Thay Lay merangkap ke 2 belah tangannya.
"Waktu tengah malam berani menobros masuk kemari, tentunya kau punya kepandaian. Tunjukkan barang sejurus, baru nanti boleh berlalu,"
Sahut sihweshio pendek, siapa tanpa tunggu jawaban, terus menyapu dengan tongkatnya.
Bun Thay Lay pernah menyaksikan permainan thiat-Ciang (kayuh besi) dari Sipsamte Cio Su Kin.
Maka tahulah dia, hweshio pendek itu sedang menggunakan gerak "hang-mo-Ciang,"
Permainan tongkat penakluk iblis.
Meski perawakan pendek, hweshio itu bertenaga besar, sehingga serangan itu berbunyi menderu-deru .
Bun Thay Lay tetap tak mau bertempur.
Dengan kepala menunduk, dia memberosot kebawah tongkat.
"Bagus!"
Hweshio yang bersenjata sepasang golok tadi berseru seraya membarengi menyerang.
Hweshio yang pegang 'jan' tadi pun tak mau ketinggalan ikut menghantam.
Tiga jurus sudah Bun Thay Lay mengalah dengan Cara berkelit.
Selama itu tahulah dia bahwa kini tengah berhadapan dengan tiga orang jago lihai dari gereja Siao Lim Si.
Kalau terus bersikap mengalah, dikuatirkan sekali kurang hati-hati, dalam malam yang gelap itu ia.
akan menemui bahaya.
Kini ia mulai balas menyerang.
Tiga kali ia kirim serangan dengan santernya diantara empat buah senjata musuh.
"Omitohud!"
Tiba-tiba ketiga hweshio itu berseru, terus lonCat kesamping. Berkata si hweshio yang bersenjata tongkat.
"Kami adalah hweshio pemimpin dari Tan Mo Wan gereja Siao Lim Si. Dia -menunjuk kepada hweshio yang bersenjata golok -bergelar Gwan Hui. Dan dia -menunjuk si hweshio yang bersenjata 'jan' -Gwan Thong. Sedang aku adalah Gwan Siang. Siapakah nama tuan yang mulia?"
"Aku yang rendah orang she Bun nama Thay Lay."
"Ah, kiranya Pan-lui-Chiu Bun-suya, pantas begitu lihai. Malam 2 Bun-suya berkunjung kemari, apakah melakukan pesanan dari Ie Ban Thing lotangkeh?"
Tanya Gwan Siang.
"Bukan, hanya karena tengah mengejar musuh, Cayhe (aku yang rendah) telah kesalahan masuk kemari, mohon Toasu sudi memberi maaf."
Ketiga hweshio itu saling berunding bisik-bisik.
"Nama harum dari Bun-suya tersiar keseluruh ujung benua. SiaoCeng punya rejeki besar bisa jumpa, maka kini hendak mohon perigajaran,"
Kata Gwan Thong kemudian.
"Siao Lim Si adalah tempat suCi dari ilmu silat, Cayhe mana berani berlaku kurang ajar, biarlah Cayhe minta diri saja."
Penolakan karena sungkan itu. sudah diartikan lain oleh ketiga hweshio tersebut. Dikiranya karena pura-pura takut itu, Bun Thay Lay pasti ada "udang dibalik batu."
Seperti diketahui, pemimpin HONG HWA HWE Ie Ban Thing adalah murid Siao Lim Si yang diusir karena bersalah, bukan mustahil kalau kedatangan Bun Thay Lay kali ini.
akan menuntut balas guna pemimpinnya itu.
Ketiga hweshio itu bersamaan pendapat, setelah saling memberi isyarat dengan mata.
Gwan Thong kibaskan senjata 'jan', berbareng bunyi gelangan baja yang berkerontangan, dia maju menghantam Bun Thay Lay.
Bun Thay Lay memang berdarah jago berkelahi.
Dia pantang mundur dan terpaksa menangkis dengan goloknya.
j Paseban Tat Mo Wan adalah memang tempat latihan silat dari gereja Siao Lim Si.
Gwan Thong adalah salah seorang dari tiga Berangkai padri agung ruangan itu, sudah tentu ilmunya tinggi.
Senjata 'jan' itu dalam tangannya segera berobah menjadi sebuah lingkaran sinar yang hawanya saja sudah membikin kunCup nyali orang.
Pengaruh, arak sudah lenyap, kini tenaga Bun Thay Lay makin segar, golok dimainkan dengan seru sekali.
Melihat Gwan Thong kewalahan, Gwan Siang maju membantu.
Beberapa lama kemudian, Gwan Hui pun Ceburkan diri.
Kini Bun Thay Lay bertempur dengan tiga hweshio Siao Lim Si yang lihai.
Selagi asjik berkelahi, mata Bun Thay Lay tertumbuk pada bayangan 2 yang terbaring diatas tanah.
Diam-diam hatinya berCekat, karena bayangan yang berjumlah puluhan itu, adalah bayangan dari rombongan hweshio dari gereja itu yang sudah sama keluar mengelilingi tempat tersebut.
Karena berajal memikirkan hal tersebut, Gwan Siang dapat menghantam gigir golok Bun Thay Lay.
Saking kerasnya hantaman Gwan Siang, golok Bun Thay Lay berdering memunCratkan letikan api, dan terpental jatuh kearah hutan disebelah sana.
Tapi Bun Thay Lay bukan si Pan-lui-Chui (tangan geledek) kalau dia sudah terpeCundang dengan itu.
SeCepat kilat tangannya kanan menyawut senjata 'jan' yang tengah dilanCarkan oleh Gwan Thong serta terus ditariknya, selgga terlepas jatuh.
Untuk yangan sampai Gwan Thong sempat lonCat mundur, Bun Thay Lay membarengi mendupak lututnya.
Namun pada saat itu, tongkat Gwan Siang dan golok Gwan Hui berbareng datang.
Bun Thay Lay kiblatkan 'jan' itu menghantam serangan tongkat.
Benturan ke 2 senjata yang terbuat dari baja murni itu, mengeluarkan bunyi yang dahsyat.
Gwan Siang rasakan tangannya panas kesakitan dan mengeluarkan darah.
Tanpa terasa tongkatnya jatuh ketanah.
Kini Bun Thay Lay beralih menghantam Gwan Hui, siapa karena kesima sampai lupa untuk menjaga diri.
Dalam saat-saat yang tegang dimana ujung 'jan' sudah melayang dekat kemuka Gwan Hui, mendadak Bun Thay Lay rasakan diatas kepalanya ada senjata rahasia menyamber.
Hendak dia menyingkir tapi sudah terlambat, 'tringng'...........
tangannya tergetar, entah benda apa, 'jan' bergetar keras dan tangan dirasakan kesemutan.
Berbareng itu, 2 sosok manusia terjungkal jatuh dari atas sebuah puhun.
Buru-buru Bun Thay Lay simpan senjatanya dan lonCat menyingkir.
Waktu ia berpaling kebelakang, ia menampak Tan Keh Lok, Liok Hwi Ching dan lain-lainnya sudah berada disitu.
Bun Thay Lay girang sekali, karena ia kini tak usah kuatir lagi menghadapi rombongan hweshio Siao Lim Si yang besar jumlahnya itu.
Pada lain saat dari rombongan hweshio tampil ah seorang tua yang sudah putih yanggutnya, seraya tertawa.
"Bun-suya, bagus, kalian semua sudah datang."
Dengan berseru Ciu Ki menyusup maju dan benar seperti yang diduganya, orang tua itu adalah ayahnya, Thiat-tan Ciu Tiong Ing.
"Syukur tadi dia lontarkan thiat-tannya kearah senjataku Kalau tidak demikian, aku pasti membuat onar besar disini,"
Diam-diam Thay Lay berpikir.
Ketika memeriksa lagi senjata 'jan' itu, baru ketahuan ujung senjata yang terbuat dari baja itu sudah rompal separoh.
Diam-diam Bun, Thay Lay kagum pada Ciu Tiong Ing yang nyata tak bernama kosong.
Dan untuk kekagetannya, dekat situ, menggeletak Seng Hong dan Swi Tay Lim.
Kiranya ke 2 kaki tangan pemerintah Ceng itu lari bersembunyi kedalam gereja Siao Lim Si itu, tapi diusir.
Terpaksa inereka bersembunyi diatas puhun.
Disitu Swi Tay Lim sudah akan menyiapkan beberapa senjata rahasia.
Tapi perbuatan itu, kena digagalkan oleh Kian Hiong yang telah berhasil pakai pelor membidik jatuh mereka.
Ciu Tiong Ing perkenalkan rombongan HONG HWA HWE dengan hweshio 2 dari gereja tersebut.
Kiranya setelah berpisah dengan rombongan HONG HWA HWE, Ciu Tiong Ing ajak isteri dan ke 2 mtiridnya, Kian Hong dan Kian Kong menuju ke Hokkian untuk berkunjung kegereja Siao Lim Si.
Ternyata Suhunya sudah wafat.
Urusan gereja dipegang oleh Toasu-hengnya, Thian Hong Siansu.
Pertemuan antara ke 2 suheng dan sute yang sudah berpisah berpuluh tahun itu, sungguh membuat mereka terharu girang.
Begitulah karena masih kangen, Tiong Ing tinggal digereja, itu sampai beberapa bulan.
Malam itu dari hweshio penjaga didengarnya, ada seorang lihai masuk kegereja dan tengah bertempur dengan ketua dari Tat Mo Wan.
Buru-buru Tiong Ing ikut keluar dan dapatkan Bun Thay Lay yang membuat gaduh itu.
Setelah kesalahan paham itu dapat didamaikan, Bun Thay Lay segera minta maaf pada kam-si (hweshio pengurus gereja), Tay Hiong Taysu, dan mohon akan membawa pergi Seng Hong dan Swi Tay Lim.
"Ke 2 orang ini menCari perlindungan digereja ini. Gereja adalah tempat meneduh bagi yang sengsara, menyebar kebaikan diantara sesama manusia. Dengan memandang muka siaoCeng, harap Bun-siCu suka lepaskan mereka,"
Kata Tay Hiong.
Terpaksa Bun Thay Lay menurut.
Setelah ke 2 orang itu pergi, Tay Hiong undang Tan Keh Lok dan rombongannya masuk kedalam.
Diruangan dalam, Thian Hong Taysu, Ketua Siao Lim Si, sudah menyiapkan 1000 orang hweshio lebih untuk menyambutnya.
Setelah saling memperkenalkan diri, berkatalah Thian Hong kepada Liok Hwi Ching.
"Lama sudah kami mendengar nama besar dari Bian-li-Ciam Liok-suhu, maka sungguh beruntung sekali hari ini dapat berjumpa muka."
Hwi Ching menguCapkan beberapa kata-kata merendah.
Thian Hong ajak rombongan tetamunya keruangan dalam untuk minum teh dan menanyakan maksud kedatangannya.
Tan Keh Lok memandang kearah Ciu Tiong Ing, siapa kelihatan mengurut jenggotnya dan tertawa, katanya.
"Thian Hong suheng memang paling peramah. Tan-tangkeh ada keperluan apa saja, kita pasti akan mengusahakan se-dapat 2nya."
Tiba-tiba hati Tan Keh Lok menjadi tawar dan tiba-tiba dia berkui dihadapan Thian Hong, air matanya berCucuran. Thian Hong terkejut, buru-buru mengangkatnya bangun dan bertanya.
"Silakan Tan-CongthoCu mengatakan, tak usah pakai banyak sekali peradatan."
"Cayhe ada suatu permohonan yang lanCang. Turut aturan Bu-lim, biar bagaimana juga tentu tak dikabulkan. Hanya mengingat penderitaan ratusan juta rakyat, terpaksa Cayhe memberanikan diri untuk memohon,"
Kata Keh Lok.
"Silakan mengatakannya,"
Sahut Thian Hong Siansu.
"Ie Ban Thing loyaCu adalah gihu-ku.................."
Mendengar dibawanya nama Ie Ban Thing, wajah Thian Hong berobah, alisnya yang putih berjingkat, kepalanya seakan-' mengeluarkan hawa panas.
Tan Keh Lok, Liok Hwi Ching, Bun Thay Lay dan lain-lain.
yang berkepandaian tinggi, sama berCekat.
Heran mereka nampak hweshio yang sudah berusia delapan puluhan tahun itu, sedemikian hebat ilmu lwekangnya.
"Jadi kedatangan Tan-tangkeh dari ribuan li jauhnya itu, untuk kepentingan suhengku yang sengsara nasibnya itu?"
Ciu Tiong Ing menyela.
Tan Keh Lok lalu tuturkan hubungannya dengan Kian Liong' dengan jelas, kemudian memaparkan tentang renCananya besar untuk mengusir bangsa Boan dan membangunkan kerajaan Han.
Salah satu sjarat dari terlaksananya hal itu, ialah agar Thian Hong suka membeberkan sejujurnya tentang hubungan dirinya dengan Ie Ban Thing.
Lalu Keh Lok berkata dengan suara sember.
"Cayhe tak ketahui asal usul Cayhe yang sebenarnya, hal itu tak mengapa, yang Cayhe mohonkan adalah supaya Losiansu sudi mengingat nasib rakyat jelata............"
Thian Hong kemekmek, alisnya menjulur turun, sepasang matanya dipejamkan, merenung jauh.
Nampak hal itu, semua orang tak berani mengganggu.
Lewat beberapa lama kemudian, sepasang mata hweshio itu berkiCup sedikit.
Dua larik sinar tajam, menyorot keluar.
Tangannya mengambil sebuah martil kecil, lalu dipukulkan pelan-pelan keatas sebuah papan.
Seorang hweshio muda masuk dengan laku yang hormat.
"Bunyikan lonCeng, panggil berkumpul mereka!"
Kata Thian Hong Siansu. Hweshio muda itu undurkan diri, dan tak lama kemudian terdengarlah bunyi lonCeng dipukul ber-talu 2. Thian Hong Siansu dengan isyarat tangan, minta diri masuk kedalam.
"Ayah, apakah artinya berbuat begitu?"
Tanya Thian Hong pada sang mertua.
"Dia akan adakan sidang semua warga hweshio"
Sahut Ciu Tiong Ing.
"Untuk urusan Gihu CongthoCu, mengapa mereka begitu ber-sungguh-sungguh,"
Ciu Ki menyela.
Melihat anak perempuannya sedang mengandung, senanglah hati Tiong Ing.
Maka dia ganda tersenyum saja mendengar kelakuan Ciu Ki janng masih ke-kanak-kanakan itu.
Lewat beberapa lama kemudian, sidang hweshio sudah mengambil Keputusan.
Ti-gek-Ceng (hweshio tukang sambut tetamu) silakan rombongan HONG HWA HWE itu masuk kedalam ruangan suCi didalam.
Seribu lebih hweshio dengan pakaian upaCara, tegak berbaris dikanan kiri, Diatas pedupaan di ruangan suCi itu, asap hio wangi ber-kepul 2 memenuhi ruangan.
Duduk di-tengah-tengah adalah Thian Hong Siansu, disebelah kirinya adalah ketua dari Tat Mo Wan, Thian Keng Siansu.
Ciang-keng-kwat (ketua bagian penyimpan kitab-kitab) Tay Leng Taysu.
Sementara disebelah kanan, adalah hweshio pemimpin bagian tata tertib, Tay Tian Taysu, Kamsi (bagian pengawas gereja) Tay Hiong Taysu.
Tay Hiong yang mengundang masuk rombongan HONG HWA HWE tadi, dengan membongkokkan badan berkata.
"Menurut aturan gereja Siao Lim Si yang telah ditetapkan be-ratus 2 tahun lamanya, murid yang telah diusir karena melanggar peraturan, dilarang menguwarkan pada orang luar. Kini gereja ini telah mendapat kunjungan CongtoCu HONG HWA HWE Tan Keh Lok siCu, yang bermaksud hendak minta keterangan tentang peristiwa murid Siao Lim Si yang diusir itu, Sim Ju Kok. Hal ini menurut peraturan gereja, sebenarnya tak dapat dilaksanakan .............................."
Mendengar sampai disini, rombongan HONG HWA HWE menjadi girang. Kedengaran Tay Hiong melanjutkan kata-katanya pula.
"Tapi oleh karena kali ini menyangkut urusan besar, gereja kami terpaksa satu kali ini membuat pengeCualian. Silakan Tan CongthoCu menunjuk utusan untuk mengambil barkas (surat 2) yang tersimpan dalam bagian tata tertib."
Tan Keh Lok menghaturkan terima kasih dengan membongkok, kemudian ajak rombongan keluar.
Ti-khek-Ceng mempersilakan mereka mengaso di ruang tetamu.
Tan Keh Lok berSyukur dalam hati, dikiranya hal itu tadi mudah dikerjakan, tapi tibatiba munCul ah Ciu Tiong Ing ke ruangan itu dengan wajah yang menunjukkan duka dan Cemas.
Semua orang kaget, karena menduga pasti ada apa yang kurang baik.
"Ayah, apakah di ruangan sana terdapat alat 2 rahasia,"
Tanya Thian Hong.
"Thian Hong suheng mempersilakan Tan-CongthoCu menunjuk orang untuk mengambil barkas itu diruang Hukuman pelanggaran tata tertib tadi, itu berarti harus melalui 5 buah ruangan. Setiap ruangan dnyaga oleh seorang Taijsu yang berilmu tinggi. Untuk bisa melalui kelima ruangan itu, seperti menembus langit sukarnya!"
Mendengar itu, tahulah mereka apa yang tengah dihadapinya. Suatu pertempuran yang maha dahsyat dan berbahaya.
"Ciu-loyaCu boleh tak usah membantu siapa-apa, biarlah kami yang menCobanya!"
Kata Bun Thay Lay yang sudah salah memberi tafsiran. Ciu Tiong Ing meng-geleng 2kan kepala dan berkata.
"Sebab dari kesukaran yang saja katakan itu, karena harus satu orang yang masuk kedalam, sedang Taysu penjaga kelima ruangan itu, makin dalam makin tinggi kepandaiannya. Taruh kata berhasil melewati empat buah, orang tentu sudah keliwat kepayahan, sedang ruangan yang terakhir itu justru yang paling sukar dikalahkan."
Tan Keh Lok merenung sejenak, lalu berkata.
"Urusan ini menyangkut diriku peribadi, mungkin buddha menaruh kasihan padaku, tentu bisa berhasil juga."
Habis berkata, segera ditanggalkan jubah luarnya.
Biji 2 Catur dimasukkan kedalam saku, po kiam diselipkan di punggung, lalu ia minta Ciu Tiong Ing mengantarkan ke ruangan Biauw Hoat Tian, jakni ruang yang menuju ketempat ruang Tata Tertib (arsip) tadi.
"Tan-tangkeh, kalau dirasa "tak ungkulan, sekali-kali yangan Coba memaksa diri, agar yangan mendapat hal 2 yang tak di nginkan,"
Bisik Tiong Ing sewaktu sudah sampai dimulut pintu. Keh Lok anggukkan kepala mengiakan.
"Mudah 2an tak ada suatu halangan apa-apa!"
Seru Tiong Ing ketika Keh Lok sudah mendorong pintu dan melangkah masuk.
Didalam ruangan, Cahaja lilin terang benderang.
Seorang hweshio yang mengenakan jubah warna kuning duduk bersila diatas sebuah tikar.
Dia bukan lain adalah Tay Hiong Taysu, siapa buru-buru bangkit dan berkata dengan tertawa.
"Ah, kiranya Tan-CongthoCu sendiri yang akan memberi pelajaran, itulah bagus sekali, akan kumohon beberapa jurus pelajaran ilmu silat dengan tangan kosong."
"Silakan,"
Jawab Keh Lok seraya merangkap ke 2 tangannya.
Tangan kiri Tay Hiong Taysu tiba-tiba dibalikkan merupakan sebuah kepalan besar, tangan kanan disanggakan keatas, terus mulai bergerak menyerang.
Keh Lok kenal gerakan itu sebagai "siang-Chiu-keng-thian,"
Sepasang tangan menyanggah langit.
Tahulah dia, kalau orang tengah bersilat dalam ilmu silat Cui Kun, silat orang mabuk.
Pernah juga dia pelajari ilmu silat itu, tapi dia kuatir akan terulang lagi kejadian ketika dia bertempur dengan Ciu Tiong Ing di Thiat-tan-Chung dahulu.
Untuk melayani jago tua dari Siao.
Lim Pai itu, diai sudah Coba gunakan gerakan ilmu silat Siao Lim Si.
Dan ini, hampir-hampir dia terpeCundang.
Mengingat hal itu, tak berani dia berlaku ajal lagi.
Sekali ke 2 tangan ditepukkan, terus dipentangnya, sehingga sikapnya itu merupakan gerakan yang aneh, mirip orang membela diri, juga mirip orang menyerang.
Memang, sekali gebrak dia telah keluarkan sebuah gerakan istimewa dari "peh-hoa-jo-kun."
Karena tak menduga, hampir-hampir Tay Hiong taysu kena ..termakan."
Buru-buru dia gunakan gerakan "burung aneh menobros awan."
Dia jatuhkan diri ditanah, tangan dan kaki bergerak berbareng.
Aneh adalah gerakan kakinya, menendang kesana menyepak kemari, tangannyapun menghantam kemuka memukul kebelakang, tubuhnya terhuyung-huyung seperti orang mabuk.
Untunglah Keh Lok mengenal ilmu silat itu, jika tidak, pasti dia siang 2 sudah kena.
Demikianlah ke 2nya sama mengeluarkan ilmu silat yang aneh, yang jarang dikenal.
Meskipun Cui Kun itu hanya terdiri dari 1enam jurus, tapi setiap gerakannya sukar diduga.
Meskipun gerakannya tak teratur seperti orang mabuk, namun sebenarnya mengandung jurus-jurus serangan yang berbahaya, apalagi disertai dengan tenaga yang dahsyat.
Selagi pertempuran menCapai babak yang seru, tiba-tiba Tay Hiong lonCat keudara.
Sewaktu melayang kebawah kakinya bekerja, dengan gerak "kerbau besi meluku sawah"
Tangannya kanan menghantam kaki lawan. Keh Lok tarik mundur badannya. Tahu dia, karena selangannya tak berhasil, lawan pasti akan lonCat lagi keatas dalam gerakan "burung dara berputar diri,"
Hal ini dia telah membuat sebuah siasat.
Begitu kaki kiri Tay Hiong tiba ditanah, Keh Lok membarengi maju menggaet kaki, dan tangannya mendorong.
Sudah barang tentu, karena tak menduga, Tay Hiong tak keburu lonCat balik.
Dia terhampar jatuh kebelakang!
Keh Lok buru-buru lonCat kesamping dan menanti.
Tay Hiong berjumpalitan, baru setelah dapat duduk, mukanya tampak kemerah-merahan.
"Silakan masuk!"
Serunya sembari menunjuk kesebelah dalam.
"Maaf!"
Keh Lok merangkap tangan memberi hormat.
Disebelah dalam, ternyata ada sebuah ruangan besar.
Yang menjaga disitu, adalah kepala bagian Tata Tertib dan Hukuman, Tay Tian Taysu.
Melihat kedatangan Tan Keh Lok, Tay Tian segera memberi isyarat tangan, atas itu 2 orang hweshio muda datang membawakan sebuah tongkat besar.
Begitu menyambuti, Tay Tian terus menghantam kelantai.
Begitu dahsyat hantaman itu, sehingga tembok (missing page) itu kelihatan dengan jelas.
Ini mudah dihantam lagi.
"Seharusnya begitu, mengapa aku tolol?"
Pikir Keh Lok dengan kesima.
Dan justru begitu, Tay Leng kembali dapat menyambit padam 4 batang dupa.
Dan untuk ke 2 kalinya, hweshio itu menyusuli pula menyambit.
Tapi kali ini, Tan Keh Lok sudah tersedar serta Cepat-cepat menawurkan biji Caturnya untuk memapaki senjata rahasia lawan.
Tapi karena kesembilan lilin ditempatnya tadi sudah sama padam, dia kurang dapat melihat jelas melayangnya kelima biji 2 liam-Cu si hweshio itu.
Dua biji liam-Cu dapat dipukul jatuh dengan biji Catur, namun yang tiga, dapat lolos.
Kembali ada tiga batang dupa yang dnyaganya menjadi padam lagi.
Menurut perbandingan, kini Tay Leng sudah menang sembilan lilin dan 2 dupa.
Keadaan Tan Keh Lok menguatirkan, karena Tay Leng kini waspada sekali untuk menjaga kesembilan lilin biji 2 liam-Cu-nya.
Kalau ada luang, iapun mengirim serangan.
Begitulah pada beberapa saat kemudian, Tay Leng kembali menambah kemenangannya, dengan 14 buah dupa.
Keh Lok kerahkan seluruh kepandaiannya, namun hasilnya hanya dapat menimpuk pada 2 batang lilin lawan.
Tay Leng balas menimpuk dan berhasil pula menimpuk 1sembilan dupa.
Pada saat itu, dupa Keh Lok masih ketinggalan lebih kurang 20 batang, sedang fihak lawan lilin dan dupa masih memanCar dengan terangnya.
Dia gugup, pikimja.
"Apakah aku harus menelan kegagalan?"
Sekilas terlintaslah ingatannya kepada Cara Tio Pan San memainkan "hui-jan-gin-soh,"
Piauw yang berbentuk seperti burung seriti yang dapat membal pada sasarannya.
Kini dia memperoleh akal, segera tiga buah biji Catur ditimpukkart ketembok dekat tempat Tay Leng.
Melihat itu, diam-diam Tay Leng menertawakan lawannya, anak muda yang tetap menuruti hawa panas, karena kalah lalu melampiaskan kemarahannya menimpuk seCara membabi buta.
Tak dia kira kalau begitu biji 2 Catur itu mengenai tembok, lalu membal jatuh menimpuk padam 2 batang lilin.
Bukan kepalang takjubnya Tay Leng, tanpa merasa dia memuji.
Berhasil dengan Cara itu, Tan Keh Lok susuli lagi beruntun 2.
Tay Leng betul-betul tak berdaya menjaga lilinnya.
Beruntung dia tadi sudah menang beberapa puluh dupa.
Kini tak mau dia bersikap menjaga, Dua-2 tangannya dia gunakan untuk menimpuk dupa lawannya.
Sekonyong 2 penerangan situ padam, karena kesembilan lilin dari Tay Leng sudah ditimpuk padam.
Sekalipun begitu, dupa Tan Keh Lok hanya ketinggalan 7 batang, sedang kepunyaan Tay Leng masih tigapuluhan batang lebih.
Biar bagaimana, Keh Lok merasa pasti tak dapat menyusul kekalahannya.
Sedang dia masgul, tiba-tiba kedengaran Tay Leng berseru.
"Tan-tangkeh, am-gi kepunyaanku sudah habis. Kita berhenti dulu sebentar, untuk mengambil lagi dimeja sembahyangan!"
Merabah kantongnya, Tan Keh Lok dapatkan biji Caturnya hanya ketinggalan enam butir.
"Kau ambil ah dulu,"
Kembali Tay Leng mempersilakannya. Ketika Tan Keh Lok dapat merabah meja, tiba-tiba dia mendapat pikiran.
"Kali ini menyangkut urusan besar, terpaksa aku berlaku Curang."
Begitu tangan merabah, biji 2 senjata rahasia diatas meja itu semuanya dirangkum dan dimasukkan kedalani kantongnya.
"Satu, 2, tiga! Akan kumulai melepas senjata rahasia'"
Serunya dengan tertawa.
Buru-buru Tay Leng menghampiri meja, untuk yangan sampai kalah waktu, tapi untuk kekagetannya, tak sebutir am-gi yang ketinggalan diatas meja.
Sedang dia keheran-heranan, Tan Keh Lok sudah be-runtun 2 melepas thi-lian-Cu, po-ti-Cu dan lain-lain., sehingga dalam sekejap saja dupa 2 difihak Tay Leng padam semua, satupun tak ada yang hidup.
Karena tak memperoleh am-gi, Tay Leng hanya dapat mengawasi dengan terlongong-longong.
Setelah semua dupanya tertimpuk padam, dia tertawa keras-keras.
"Tan-tangkeh, kau sungguh liCin. Ini namanya adu keCerdikan bukan adu ilmu, sudahlah, kau menang, silakan masuk!"
"Menyesal, Thayhe sebenarnya kalah dengan Taysu. Untuk kepentingan usaha besar, terpaksa aku lakukan perbuatan yang busuk ini. Harap Taysu maafkan,"
Kata Keh Lok dengan serta mesra. Tay Leng itu perangainya baik, dia tak menaruh ganjelan apa-apa terhadap perbuatan orang muda itu. Katanya sambil tertawa.
"Dua ruangan dibelakang, dnyaga oleh ke 2 Su-siok-ku (paman guru). Kepandaian mereka jauh lebih tinggi dari aku. Harap kau berlaku hati-hati."
Keh Lok haturkan terima kasih, lalu masuk kedalam.
Ruangan keempat juga terang benderang.
Tapi ruangan itu lebih sempit dari ketiga ruangan yang terdahulu.
Di tengahnya, terdapat 2 buah kasuran bundar.
Duduk dikasur yang sebelah kiri, adalah kepala Tat Mo Wan, Thian Keng Siansu.
"Silaukan duduk!"
Demikian Thian Keng menyambut kedatangan Keh Lok.
Dengan penuh pertanyaan dalam hati, Keh Lok mengambil tempat duduk dikasuran kanan, ia pikir Thian Keng adalah Susioknya Tay Leng, pula adalah kepala dari Tat Mo Wan, sudah pasti betapa kelihaiannya.
Diam-diam anak muda itu mengeluh dalam hati, yangan-yangan dia bukan tandingannya.
Namun tetap dia mau menCobanya, melihat perkembangan keadaan nanti.
Thian Keng itu seorang yang bertubuh tinggi.
Sekalipun duduk, tingginya hampir menyamai dengan orang yang berdiri.
Ke 2 pipinya Cekung, tubuhnya kurus seperti tak berdaging.
Sikapnya membuat orang jeri.
"Kau telah dapat melewati tiga ruangan, ini Cukup membuktikan kau mempunyai ilmu yang tinggi. Meski Gihu-mu bukan termasuk murid sini lagi, tapi kaupun masih terhitung wan-pwe (golongan yang terbelakang) dari kaum kita. Karenanya tak dapat aku mengajakmu bertanding seCara sama 2. Beginilah, kalau kau bisa melayani aku sampai 10 jurus tak kalah, akan kulepaskan kau."
Tan Keh Lok bangkit memberi hormat, seraya berkata. ..Mohon Losiansu sudi memberi kemurahan."
"Hm, tergantung bagaimana peruntunganmu. Duduk dan sambutlah!"
Baru Keh Lok duduk, atau dia segera rasakan samberan angin, menekan dadanya.
Buru-buru Keh Lok gerakkan ke 2 tangannya untuk menangkis.
Ketika beradu dengan tangan Thian Keng, dia dapatkan tenaga Iwekang Hwesio tua ini tak terkatakan dahsyatnya.
Kalau dilawan dengan kekerasan, tak dapat tidak tentu akan terjungkel roboh.
Sebat sekali dia akan gunakan "hun-Chiu,"
Untuk memindah tekanan lawan kesamping. Tapi untuk kekagetannya, tenaga serangan Thian Keng itu tetap lurus menganCam.
"Hun-Ciu"
Tak berdaya menolaknya. Karena itu, terpaksa dia kerahkan seluruh Iwekangnya untuk menahan. Sekalipun serangan itu dapat ditahan, tapi tak urung tulang iga (lempeng) kirinya terasa sakit sekali.
"Baik. Kini terimalah serangan yang ke 2!"
Seru Thian Keng. Sekali ini tak berani Keh Lok mengadu kekerasan. Begitu serangan datang, tubuhnya diegoskan, lalu berbalik menghantam siku^lengan lawannya. Inilah salah sebuah jurus "peh-hoa-jo-kun"
Yang istimewa. Musuh pasti akan menarik serangannya. Tapi diluar dugaan, tangan kanan Thian Keng bergerak dalam "menyapu ribuan laskar,"
Sikunya dihantamkan menyambut serangkan lawan dan didorongnya.
Gerakan ini luar biasa sebatnya, belum kepelan Tan Keh Lok dijulurkan, tahu-tahu sudah diserang siku.
Buru-buru dia lonCat menghindar, lalu jatuh duduk kembali diatas kasurannya.
Melihat anak muda itu dapat bergerak deng'an linCah dan tangkas, Thian Keng angguk kepalanya, kemudian menarik tangannya, dia beralih menerkam.
Nampak lawan makin berbahaya serangannya, diam-diam Keh Lok mengeluh yangan-yangan tak dapat melayani 10 jurus serangan orang.
Tepat pada saat itu, kedengaran lonCeng gereja bertalu 2.
Kiranya hari sudah terang tanah.
Mendengar bunyi lonCeng itu, pikiran Keh Lok tiba-tiba tergerak.
Menuruti irama lonCeng itu, tangannya ber-gerak-gerak mengerang.
Thian Keng bersuara heran terus menangkis.
Kiranya gerakan yang digunakan oleh ketua HONG HWA HWE itu adalah ilmu silat yang dipelajarinya diperut gunung Giok-nia tempo hari.
Begitu aneh, namun sangat leluasa dia bergerak-gerak menurut irama lonCeng.
Thian Keng tumplek seluruh perhatian, ia keluarkan ilmu silat Siao Lim Si yang paling boleh dibuat andalan, jakni "Hang-liong-Cap-pwe-Ciang"
Atau 1delapan jurus ilmu pukulan penakluk naga. Ketika lonCeng berhenti berbunyi, tiba-tiba Keh Lok menarik serangannya dan berseru.
"Kita telah ber-main-main lebih dari 20 jurus."
"Bagus, bagus. Pukulanmu sungguh luar biasa. Silakan masuk,"
Kata Thian Keng.
Keh Lok berbangkit, tapi ketika hendak berjalan, dia terhujung 2.
Syukur dia dapat berpegang pada tembok.
Saat itu, matanya dirasakan berkunang 2.
Thian Keng menunyangnya agar duduk lagi, katanya.
"Pertama kau menyambuti serangan kesatu, hawa-dalam tertahan. Kau beristirahat sebentar untuk mengatur napas, tentu akan baik lagi."
Keh Lok meramkan mata duduk bersemedhi untuk memperbaiki jalannya napas.
Tak berapa lama, dadanya terasa lapang dan semangatnya pulih kembali.
Tapi didapatinya, ke 2 kepelan dan ke 2 lengannya sama melepuh, sakitnya tak terkata.
Diam-diam ia kagum atas kelihaian paderi dari Siao Lim Si itu.
"Dari mana kau pelajari ilmu silatmu tadi?"
Tanya Thian Keng. Dengan terus terang Keh Lok Ceritakan pengalamannya di gunung Giok-nia itu.
"Kalau kau masuk kedalam, gunakanlah ilmumu tadi. lengan tanganmu tentu tak sampai terluka. Baikkah menjaga diri,"
Kata Thian Keng.
"TeCu telah terluka, ruangan yang terakhir pasti tak dapat TeCu masuki. Mohon Losiansu sudi memberi petunjuk."
Kata Keh Lok.
"Kalau tidak bisa, baliklah,"
Sahut Thian Keng.
"Mereka selalu menasehati suruh balik. Tapi kaum ksatria sekali maju berpantang mundur. Biar matipun rela,"
Pikir Keh Lok. Begitulah setelah memberi hormat, dia lalu masuk kedalam. Tapi baru saja ia melangkah beberapa tindak, kedengaran Thian Keng berseru.
"Tunggu, jawablah pertanyaanku ini."
Tan Keh Lok merandek.
"Tadi kau telah melayani aku sampai 20 jurus, apakah jurus yang kugunakan tadi kau masih ingat semua?"
"TeeCu ingat", sahut Keh Lok.
"Kau pelajarilah sendiri itu semua, yangan kau ajarkan pada lain orang. Itu adalah pusaka berharga dari Siau Lim Si". Keh Lok terkesiap, dia dapat menginsyapi. Kiranya tadi Thian Keng telah mengajarinya sejurus ilmu pukulan yang jarang terdapat. Buru-buru dia berjongkok ditanah dan menghaturkan terima kasih.
"Kau tahu apa tidak, mengapa aku menurunkan ilmu tadi padamu?"
Ianya sipaderi pula.
"TeCu tak tahu."
"Tadi aku telah mendapat banyak sekali pengertian dari ilmu silatmu yang luar biasa itu. Untuk itu aku telah membalas ilmu pukulanku tadi. Selain dari itu, aku pun menunaikan tljanjiku pada 20 tahun berselang". Keh Lok memandang paderi itu dengan pandangan yang heran.
"Diantara pergaulan Suheng dan Sute semua aku paling akrab sendiri dengan Gihumu. Aku pernah menjanjikan akan mengajarnya ilmu 'Hang-liong-Cap-pwe-Ciang' itu padanya."
Keh Lok diam saja mendengarkan Cerita itu.
"Ketika itu kepandaian Gihu-mu masih belum sempurna, tapi dia sudah berniat turun gunung. Mendiang suhu menasehatinya supaya ditangguhkan sampai tiga tahun, lagi nanti sesudah dapat mempelajari ilmu 'Hang-liong-Cap-pwe-Ciang' itu. Tapi rupanya gihu-mu tak dapat bersabar. Dengan mengelah napas terpaksa suhu mengijinkan. Kuhantar dia sampai dipintu gereja, disitu kuberi janjiku, apabila aku sudah dapat mempelajari ilmu itu, kelak kalau kita berjumpa, akan kuajarkan padanya. Siapa nyana, karena gihu-mu menyalahi perataran gereja, kita tak dapat berjumpa lagi. Kini aku telah menurunkannya padamu, harap kau mempelajarinya baik-baik . Keh Lok menjura pula, lalu bertindak keluar. Ia rasakan tubuhnya lelah sekali. Lebih dulu ia sandarkan diri pada tembok untuk mengembalikan scmangatnya. Setelah itu, ia melangkah masuk kedalam ruangan belakang. Memasuki pintunya, ia terkejut bukan kepalang. Karena disitu merupakan sebuah ruangan bersemedhi yang sempit sekali. Ketua gereja Siao Liem Si, Thian Hong Siansu tengah duduk diatas pembaringan sedang bersemedhi. Belum-belum Keh Lok sudah tawar hatinya. Thian Keng begitu lihai, dan Thian Hong ini adalah ketua gereja atau orang pertama dari Siao Lim Si mana dia dapat menandinginya? Ruangan semedhi sedemikian sempitnya. Pertandingan yang dilakukan disitu pasti bukan adu silat atau adu senjata rahasia. Kebanyak sekalian tentu adu lwekang. Dalam hal itu, dia pasti kalah. Tengah dia bersangsi, tampak Thian Hong mengibaskan hudtim (kebut hweshio) seraya menyuruhnya duduk Keh Lok tak berani sembarangan, dengan laku yang hormat sekali dia mengambil tempat duduk disebelah ketua gereja itu. Di-tengah-tengah ke 2 orang itu ada sebuah meja kecil, diatasnya terdapat sebuah hio-louw yang ber-kepul 2 asapnya. Pada dinding disebelah muka, terdapat sebuah lukisan alam gunung Han-san, yang terdiri dari beberapa Coretan oaja. Setelah berdiam sejenak, berkatalah Thian Hong.
"Dahulu ada seseorang pandai sekali mengembala kambing, hingga menjadi kaja. Tapi orang itu kikir tabiatnya, tak mau menggunakan hartanya ........................"
Mendengar paderi besar itu berCerita, bukan main herannya Keh Lok. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Ada lagi seorang lain,"
Thian Hong melanjutkan.
"dia itu seorang liCin. Tahu kalau orang kaja tadi bodoh dan justeru hendak menCari isteri, maka orang buruk tadi menipunya, begini dia berkata. 'Aku tahu seorang gadis yang Cantik sekali, biar kuusahakan supaya dia menjadi isterimu'. -Gembala kaja tadi girang sekali, lalu memberinya sejumlah besar uang. Berselang setahun kemudian, kembali orang liCin itu munCul, katanya.
"Isterimu sudah melahirkan seorang putra untukmu!' -Gembala kaja itu sekalipun belum pernah melihat wajah isterinya. Namun mendengar 'isterinya' sudah melahirkan anak, dia makin senang dan memberi uang lagi pada si liCin itu. Berselang lama, si liCin datang lagi dan berkata. 'Aku membawa kabar buruk, puteramu meninggal!'. -Gembala itu bukan main sedihnya, dia menangis menggerung-gerung."
Tan Keh Lok dilahirkan dan diasuh dalam kalangan sastra, dia banyak sekali "makan"
Buku 2 pelajaran. Mendengar Cerita itu, segera diketahuinya bahwa paderi besar itu sedang memberi uraian tentang kitab "peh-ji-keng,"
Kitab pelajaran Buddha. Rupanya Thian Hong hendak mempengaruhi pikiran sianak muda dengan sari pelajaran Buddha.
"Sebenarnya memang begitulah urusan, tak lebih tak kurang hanya seperti isteri dan putera si gembala itu. Semua hanya hajal, semua 2 fana adanya. Nah, mengapa kau bersusah payah begitu rupa untuk mengejar keinginanmu, yang kalau berhasil hanya merasa gembira, sedang kalau gagal lalu merasa berduka?"
Tanya Thian Hong akhirnya.
"Dahulu juga ada sepasang suami isteri, punya tiga biji kue. Setelah masing-masing makan sebuah, untuk sisanya yang sebuah, ke 2nya berjanji, siapa yang mengajak biCara dulu, dia kalah dan tak boleh makan sisa kue itu,"
Keh Lok menimpali berCerita. Cerita Tan Keh Lok itupun diambil dari kitab 'peh-ji-keng', mendengar itu, Thian Hong mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Demikianlah ke 2 suami isteri itu tak saling biCara,"
Meneruskan Keh Lok.
"Tak lama kemudian, datanglah seorang penCuri. Semua harta benda dalam rumah itu diangkuti. Karena sudah terikat janji tak mengajak biCara, ke 2 suami isteri itu hanya mengawasi saja tanpa biCara. Melihat itu, sipenCuri makin berani. Dihadapan sang suami, dia Coba akan mengganggu si-isteri. Namun sisuami itu tetap tinggal diam tak ambil peduli. Saking tak tahan, menjeritlah isteri itu dengan gusarnya. PenCuri itu buru-buru lari! Sembari lari penCuri itu membawa barang Curiannya. Si suami bertepuk tangan sambil tertawa. 'Ha, kau kalah, kue itu menjadi bagianku!"
Walaupun Thian Hong sudah tahu akan Cerita itu, namun tak urung dia tersenyum mendengarnya.
"Karena urusan kecil, soal menikmati kesenangan, ia lupakan hinaan besar. Karena soal Citarasa perut, ia membiarkan penCuri mengangkut hartanya dan menghina sang isteri. Hud-keh (kaum Buddhist) ingin menyelamatkan umat, mengapa bisa berlaku begitu tegah dan bersikap mementingkan diri sendiri?"
Keh Lok memberikan kesimpulan yang tajam. Thian Hong mengolah napas.
"Semua perjalanan hidup tiada yang langgeng, semua ajaran agama tiada ke-aku-annya. Mengapa semua 2nya tak lanCar, itulah karena belum sadar. Kalau menuruti kehampaan hati, semuaanya kosong,"
Ujarnya. Tapi Keh Lok tak mau mundur, katanya.
"Rakyat sedang mengalami penderitaan. Sang Buddha pernah bersabda,. 'Berbuat kekerasan (menindas) itu termasuk kedosaan, mengapa tak menjauhkan diri dari sifat 2 itu'?"
Tahu Thian Hong bahwa anak muda itu tak kena diCegah niatnya akan menghilangkan beban penderitaan rahajat. Untuk itu, dia menaruh hormat. Katanya.
"Ambekan keras dari Tan-tangkeh itu, patut dipuji. Akan kutanyakan sebuah hal lagi, setelah itu terserah."
"Silakan Losiansu memberi petunjuk,"
Sahut Keh Lok.
"Dahulu ada seorang nenek 2, mengaso dibawah pohon. Sekonyong 2 munCul ah seekor beruang hendak memakannya. Si nenek lari mengitari pohon, beruang ulurkan Cakar kebalik pohon hendak menerkam, Mtlihat itu, si nenek Cepat-cepat menekan Cakar beruang pada batang pohon. Dan tak dapat berkutiklah beruang itu. Namun sinenekpun tak berani melepas tangannya.. Kemudian ada seorang lain lewat disitu, sinenek minta pertolongannya untuk membunuh binatang itu. Orang itu menurut, tapi begitu dia tempelkan tangannya keCakar beruang, sinenek Cepat-cepat menarik tangannya terus lari. Jadi kini, orang itu terpantek tak dapat melepaskan tekanannya, atau dia nanti pasti akan dimakan beruang."
Keh Lok dapat menangkap maksud kiasan Thian Hong itu, katanya.
"Menolong orang yang mendapat kesusahan, tak boleh menghiraukan apa-apa. Sekalipun dirinya berbalik mendapat Celaka, tak boleh menyesal."
Thian Hong kibaskan kebut pertapaannya (hud-tim), serunya.
"Silakan masuk!"
Cepat Keh Lok turun dari tempat persemedhian, lalu memberi hormat.
"TeCu berlaku kurang sopan, harap Losiansu memaafkan,"
Katanya.
Thian Hong hanya memanggut.
Segera Keh Lok masuk kedalam, masih didengarnya elahan napas dari Thian Hong Siansu.
Membiluk pada sebuah lorong panyang, aehirnya dia sampai ke sebuah ruangan besar.
Disitu terdapat 2 buah lilin besar yang menyala.
Disekeliling ruangan penuh, dengan lemari kitab.
Setiap lemari ditempel kertas kuning bertulisan.
Dia mengambil sebuah Ciktay (tempat lilin) untuk menyuluhi.
Ketika bertemu dengan lemari yang bertuliskan huruf "Thian", dia membuka pintunya.
Didalam lemari itu, terdapat tiga bungkusan warna kuning.
Salah sebuah disebelah kiri, tertulis dengan tiga huruf merah "Sim Ju Kok".
Melihat itu, tangan Keh Lok gemetar, beberapa ketes lilin menetes diatas pauwhok itu.
Setelah menenangkan hatinya, diambilnya pauwhok itu lalu dibukanya.
Didalamnya terdapat sebuah kaos kutang orang lelaki yang disulami bunga, dan sepotong kain dari pakaian orang perempuan yang terdapat titik 2 seperti noda darah.
Karena saking keliwat lama, warnanya berobah hitam.
Selain itu masih ada sebuah kipas dari kertas kuning.
Ketika kipas itu dikembangkan, tanpa merasa air mata Keh Lok berCucuran.
Kiranya diatas kipas itu terdapat tulisan tangan gihunya.
Dengan seksama dibacanya tulisan 2 itu.
"Murid Siao Lim Si dari angkatan ke-tiga 1 Sim Ju Kok; menghaturkan kesalahannya. TeeCu berasal dari keluarga tani, sejak kecil sangat melarat dan berkenalan dengan gadis kecil dari sebelah tetangga keluarga Chi. Bersama meningkatnya umur, kami ber 2 saling mencinta.....................-Membaca sampai disini, hati Keh Lok memukul keras, pikirnya.
"Apakah kesalahan Gihu itu ada hubungannya dengan ibuku?"
Dia lanjutkan lagi membaca.
"Diam-diam kami ber 2 mengikat janji. TeCu selain gadis Chi takkan, menikah, gadis Chi selain dengan teCu takkan kawin. Setelah ayahku meninggal, timbul ah paCeklik sampai beberapa tahun. Panenan gagal semua. TeCu terpaksa mengembara Cari makan. Berkat pertolongan Insu (guru berbudi), TeCu diterima menjadi murid. Kaos kutang sulaman ini, adalah pemberian dari gadis Cxx itu."
Keh Lok makin heran dan ketarik, ia meneruskan lagi.
"Belum TeCu menyelesaikan pelajaran dibawah asuhan mendiang Suhu, TeCu sudah buru-buru turun gunung, se-mata 2 karena selalu terkenang pada gadis itu, dan akan melangsungkan perjodohan. Sepulangnya dikampung, ternyata gadis itu telah dipaksa ayahnya dikawinkan dengan keluarga Tan, Menuruti hawa panas dan masgul, malam itu TeCu memasuki rumah keluarga Tan. Menggunakan ilmu kepandaian dan menuruti napsu menyatroni rumah penduduk, ini termasuk larangan kaum kita. Sejak itu, gadis Chi ikut suaminya pindah kegedung Tetok. Namun TeCu tetap terkenang padanya. Tiga tahun kemudian, TeCu kembali menengokinya. Malam itu kebetulan gadis Chi sedang melahirkan putera, ramainya bukan kepalang. Waktu itu TeCu Jia-nya melihat dari luar jendela. Empat hari kemudian, TeCu datang lagi. Wajah gadis Chi nampak gugup dan menCeritakan bahwa puteranya yang baru dilahirkan itu telah ditukar dengan seorang baji perempuan oleh SuhongCu (pangeran nomor 4) In T jeng. Belum habis pertemuan itu, diluar loteng munCul ah lf orang pengikut Jong Ti. Mereka adalah jago-jago lihai semua yang diutus oleh In Ceng untuk memperingatkan pada keluarga Tan, kalau urusan itu sampai teruwar, seluruh keluarganya akan dihukum mati. Karena kuatir kesamplokan, TeCu melarikan diri, tapi mereka mengejarnya. Dalam pertempuran itu, jidat TeCu terluka, tapi dapat mengalahkan mereka. Kembali kedalam loteng, TeCu pingsan. Gadis Chi merobek kain bernoda darah untuk membalut luka TeCu. TeCu menCuri dengar rahasia kerajaan, mengunjukkan ilmu silat Siao Lim Si, hingga membahayakan kedudukan kaum kita, ini merupakan kesalahan yang ke 2."
Sampai disini, Tan Keh Lok mengambil pakaian ibunyi, air matanya seperti membanjir. Selang tak berapa lama, dia membaca lagi.
"Sejak itu dalam 10 tahun, meskipun berada dikota Pakkhia, TeCu tetap ber-sungguh-sungguh meyakinkan ilmu silat. Tak berani lagi menjumpai gadis Chi. Setelah kaisar Yong Ceng mati dibunuh dan Kian Liong menggantikannya, TeCu meng-hitung 2 umur, tahulah kalau Kian Liong itu adalah puleni, kandung gadis Chi. Kuatir kalau Yong Ceng yangan-yangan sudah tinggalkan pesan supaya kirim pembunuh untuk membasmi bahaya dari mulut gadis Chi, maka malam itu TeCu kembali datang kerumah keluarga Tan, dan sembunyi dikamar gadis Chi. Malam itu, benar-benar datang 2 orang pembunuh, tapi dapat TeCu, basmi dan TeCu berhasil menemukan surat perintah tinggalan Yong Ceng. Dengan ini, TeCu lampirkan."
Keh Lok membalik lembar yang paling belakang, dan betul juga disitu terdapat sebuah sampul yang tertutup, diatasnya tertulis.
"Kalau aku mangkat, Tan Su Kwan dan isterinya masih hidup, lekaslah dibunuh."
Itulah tulisan tangan kaisar Yong Ceng, dibelakangnya terdapat sebuah Cap kecil berbunyi "bu-wi."
Teringat oleh Keh Lok akan penuturan menyang Gihunya, bahwa kaisar Yong Ceng memelihara serombongan pembunuh yang disebut "hiat-ti-Cu"
Atau pengsuCur darah. Mereka istimewa disuruh melakukan pembunuhan gelap. Setiap perintah bunuh dari Yong Ceng, tentu diberi tanda Cap "bu-wi."
"Pada masa itu kepandaian Gihu tentu sudah tinggi. Dua orang hiat-ti-Cu ternyata bukan tandingannya. Karena menolong' ibu, ayahpun turut tertolong. Mungkin Yong Ceng sudah memperhitungkan, selama dia masih hidup ayah dan ibuku tentu terpaksa tutup mulut. Maka dia pertangguhkan perintah bunuh itu sampai dia sudah meninggal,"
Pikir Keh Lok. Lalu mulailah dia melanjutkan membaca.
"Bupanya Kian Liong tak mengetahui urusan itu, maka dia tak mengirim pembunuh lagi. Tapi TeCu tetap berkuatir, dan tinggal dikamar gadis Chi itu, sampai setengah bulan. Selama itu kebetulan suaminya sibuk mengurus pekerjaan berhubung penobatan raja baru (Kian Liong), jadi dia jarang-pulang. TeCu memang harus menerima hukuman, karena agak lama bergaul dengan gadis Chi, dendam asmara mulai timbul pula, sehingga lupa akan larangan. Hasil dari hubungan itu, ialah puteranya yang nomor tiga. Ini adalah kesalahan TeCu yang ketiga."
Membaca sampai disini, mata Tan Keh Lok serasa berkunang 2.
Putera yang ketiga itu, siapa lagi kalau bukan dirinya?
Ah, kiranya Gihu-nya itu, sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri.
Dengan begini, kesemua hal 2 yang terjadi diwaktu lampau, misalnya.
mengapa ibunya menyuruhnya ikut pada gihu, mengapa surat tinggalan dari ibunya itu terbakar, mengapa tak lama setelah ibunya menutup mata Gihunya pun sangat mereras dan segera menyusul mati, mengapa surat tinggalan ibunya itu memuat kata-kata "dipaksa menikah dengan keluarga Tan,"
"hidup direnung kedukaan"
Dan sebagainya.
Kesemuanya itu kini menjadi jelas baginya.
Timbul serentak sesuatu perasaan dalam hati nuraninya, tak tahu dia mengatakan, berdukakah atau kasihankah?
Menyesal atau mengutuk?
Sejenak dia termenung, lalu menyeka air matanya dan meneruskan baca.
"Melanggar tiga pantangan itu, TeCu merasa tak tenteram, dan membawakan hal ihwal kesemuanya itu s kehadapan Insu, untuk memohon pengampunan."
Demikianlah tulisan Sim Ju Kok. Sedang 2 baris tulisan dibawahnya terang adalah sang Suhu yang memberikan keputusannya. Bunyinya jalah.
"Sim Ju Kok telah melanggar tiga macam pantangan, kalau dia sudah dapat menginsyapi dan kembali kejalan terang, sedangkan Buddha masih dapat mengampuni 10 macam kesalahan, masakah aku tidak? Tapi kalau masih membiarkan diri terlihat dalam urusan perCintaan yang terlarang dan tak dapat memutuskan perhubungan itu, segera akan dikeluarkan dari Cabang kita. Kuharap dia dapat melaksanakan baik-baik , sianCay, sianCay!"
Demikian tulisan yang singkat itu.
"Jadi gihu............... ah, ayahku selalu masih terkenang akan itu, sehingga tak dapat menCuCikan diri menjadi "hweshio dan akhirnya keluar dari Siao Lim Pai. Karena merasa bersalah, maka ketika Suhu (Thian-ti-koayhiap) akan mengundang sahabat sahabat 2 kangouw untuk meminta penjelasan kegereja Siao Lim, dia menolaknya", pikir Keh Lok. Baginya, kini telah jelas semua. Surat itu dibungkusnya pula, lalu ia berjalan keluar. Waktu itu sudah terang tanah. Pada pintu keluar dari ruangan itu, tampak sebuah patung Bi Lek Hud bersenyum simpul. Diam-diam pikiran Keh Lok melayang bagaimanakah perasaan ayahnya (Sim Ju Kok) ketika diusir keluar dari ruangan itu? Pada lima ruangan yang dimasukinya tadi, kini tak tampak seorangpun jua. Sekeluarnya dari ruang yang penghabisan tampaklah disana sudah, siap menyambut Ciu Tiong Ing, Liok Hwi Ching dan semua orang gagah dari HONG HWA HWE mereka sama girang nampak Keh Lok tak kurang suatu apa dan membawa sebuah bungkusan. Tapi untuk keheranan mereka, kini sikap Keh Lok1 sangat lesu, sepasang matanya benjul. Lalu Keh Lok menuturkan semua yang telah dialaminya.
"Urusan disini sudah beres, baik kita Cari ke 2 jahanam itu, untuk membalaskan sakit hati Chit-ko,"
Bun Thay Lay menyatakan pikirannya.
Semua orang setuju.
Ciu Tiong Ing lalu antar Keh Lok masuk untuk berpamitan pada Thian Hong dan Thian Keng.
Habis itu mereka siap berangkat.
Tapi sekeluarnya dari gereja itu, tiba-tiba wajah Ciu Ki tampak puCat, malah terhuyung-huyung mau jatuh.
Ayahnya buru-buru menyambuti dan menuntun kedalam.
Ternyata hal itu disebabkan karena kandungan Ciu Ki yang sudah menempuh perjalanan yang sedemikian jauh, apalagi ia main mabuk 2an dirumah keluarga Pui.
Untungnya beberapa hweshio digereja tersebut mengerti akan obat 2an.
Setelah diberinya obat, dinasehati supaya tinggal saja digereja itu sampai nanti sudah melahirkan.
Biasanya Ciu Ki itu adatnya bandel, tapi dalam keadaan begitu, terpaksa ia menurut.
Menurut permufakatan semua orang, Ciu Tiong Ing dengan isteri, bersama ke 2 muridnya dan Thian Hong supaya tinggal mengawani Ciu Ki.
Setelah melahirkan, boleh lantas menyusul kekota raja.
Karena gereja itu tempat suCi, Ciu Tiong Ing menyewa sebuah rumah yang tak jauh dari situ.
Sementara Liok Hwi Ching dan rombongan HONG HWA HWE pun segera berangkat.
Karena dulu menerbitkan onar, kini tak beranilah mereka masuk kedalam kota Tek Hoa.
Malamnya, Bun Thay Lay, Jun Hwa, Hi Tong dan Sim Hi dengan menyaru memasuki kota.
Baca Juga: Kesatria Baju Putih 13
Baca Juga: Tangan Geledek Kho Ping Hoo