Ceritasilat Novel Online

Kesatria Baju Putih 13

Eps 13 Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.

"Tenang"

Ujar Kwan Gwa Siang Koay.

"Setelah urusan Takara Yahatsu beres, barulah kita rundingkan tentang ini."

"Benar."

Tiau Am Kui manggut-manggut.

"sementara ini kita jangan emosi."

"Baiklah."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Kita rundingkan nanti saja."

Bab 67 Ketua Aliran Ninja menemui ajalnya Michiko duduk di bawah pohon menunggu kemunculan Takara Yahatsu.

sementara hari sudah mulai gelap.

namun ia tetap duduk di situ.

Berselang beberapa saat kemudian, ia mendengar suara langkah ke arahnya.

segeralah ia bangkit berdiri sambil mengeluarkan sulingnya.

Begitu menoleh, sepasang matanya langsung membara karena melihat orang yang ditunggunya.

"Ha ha ha"

Takara Yahatsu tertawa gelak, kemudian membentak dengan bahasa Jepang. Michiko menyahut dengan bahasa Jepang. Beberapa anggota Bu Tek Pay cuma saling memandang, karena tidak mengerti.

"Hiyaaaat"

Takara Yahatsu mulai menyerang.

Gadis Jepang itu menangkis dan balas menyerang, sehingga terjadilah pertarungan sengit dan seru.

Beberapa anggota Bu Tek Pay segera mengambil posisi mengurung Michiko, siap membantu Takara Yahatsu.

Pertarungan Michiko dengan Takara Yahatsu makin sengit.

Ketua aliran Ninja itu menggunakan pedang panjang, bahkan kadang-kadang juga menyerang Michiko dengan senjata rahasia.

Kalau Michiko tidak mendapat petunjuk dari Tio Cie Hiong, mungkin saat ini ia telah terkapar menjadi mayat.

Semakin lama bertarung, Takara Yahatsu semakin terkejut, karena tidak menyangka kalau kepandaian Michiko telah bertambah tinggi.

Mendadak ia membentak, kemudian menghilang.

Michiko tidak terkejut, karena tahu ketua aliran Ninja menggunakan ilmu istimewa, yakni ilmu menelusup ke dalam tanah.

oleh karena itu, ia berdiri diam di tempat.

Sekonyong-konyong Takara Yahatsu muncul di belakangnya sekaligus menyerang.

Namun Michiko tidak gugup.

la langsung meloncat ke depan menghindari serangan ilu.

Takara Yahatsu juga meloncat ke depan sambil menyerang, namun mendadak Michiko memutar tubuh sekaligus balas menyerang dengan sulingnya.

Betapa dahsyatnya serangan itu, karena Michiko mengeluarkan jurus Hoan Thian Coan Te (Membalikkan Langit Memutarkan Bumi).

Ternyata ia mulai menggunakan ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Hoat, ciptaan Tio Cie Hiong.

Tuuuk Dada Takara Yahatsu terpukul suling Michiko.

Betapa gusarnya ketua aliran Ninja itu.

la membentak keras sambil menyerang dengan dahsyat.

Michiko berkelit ke samping, lalu mendadak balas menyerangnya dengan jurus Hai Lang ThauThau (ombak Laut Menderu-deru).

Plaak Punggung Takara Yahatsu terpukul.

"uaaaakh..."

Mulut ketua aliran Ninja menyembur darah segar. Kelihatannya ia telah terluka parah.

"Hiyaaat"

Teriak Michiko nyaring sambil menyerang dengan jurus san Pang Te Liat (Gunung Runtuh Bumi Retak). Plaaak Punggung Takara Yahatsu terpukul lagi.

"uaaakh..."

Ketua aliran Ninja itu terus memuntahkan darah segar.

"uaakh uaaaakh..."

Kemudian tubuhnya terkulai, namun matanya terus memandang Michiko.

Tampaknya ia tidak percaya terhadap apa yang terjadi, meskipun saat ini tenaga telah habis karena kepandaiannya telah musnah.

Selangkah demi selangkah Michiko mendekatinya sambil tertawa dingin, lalu mendadak mengayunkan sulingnya ke arah kepala Takara Yahatsu.

Plaaak....

"Aaaaakh..."jerit ketua aliran ninja. Ternyata kepalanya pecah dan nyawanya pun melayang seketika. Beberapa anggota Bu Tek Pay menggigil ketakutan menyaksikan kejadian itu.

"Cepatlah kalian enyah."

Bentak Michiko kepada mereka.

Para anggota Bu Tek Pay itu langsung kabur terbirit-birit.

setelah mereka pergi, tampak sosok bayangan putih melayang turun di tempat itu.

Sosok bayangan itu ternyata Tio Cie Hiong.

la memakai kedok, dan tampak monyet berbulu putih duduk di bahunya.

"Adik Michiko..."

Tio Cie Hiong memandang mayat Takara Yahatsu sambil menggelenggelengkan kepala.

"Kakak Cie Hiong, aku terpaksa membunuhnya."

Michiko terisak-isak.

"sebab dia telah membunuh guru dan kakakku."

"Yaaah"

Tio Cie Hiong menghela nafas, kemudian berkata kepada monyet bulu putih.

"Kauw heng, galilah sebuah lubang untuk mengubur mayat itu"

Monyet bulucutih bercuit dan langsung meloncat turun lalu menggali lubang dengan sepasang tangannya. setelah itu, diseretnya mayat Takara Yahatsu ke dalam lubang itu, kemudian diurugnya.

"Terimakasih, kauw heng"

Ucap Tio Cie Hiong. Monyet bulu putih bercuit-cuit sambil membersihkan sepasang tangan dan kakinya, setelah itu barulah meloncat ke bahu Tio Cie Hiong.

"Adik Michiko, kini Takara Yahatsu telah mati apa rencanamu selanjutnya?"

Tanya Tio Cie Hiong lembut.

"Aku akan pulang ke Jepang,"

Jawab Michiko dengan air mata berderai.

"Kapan?"

"Sekarang?"

"Apa?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"sekarang?"

"Ya."

Michiko mengangguk.

"Engkau tidak perlu mengantarku sampai dipelabuhan, lebih baik engkau segera kembali ke markas pusat Kay Pang, agar Adik Ceng Im tidak mencemaskanmu"

"Jadi engkau tidak kembali ke markas pusat Kay Pang lagi?"

"Tidak."

Michiko menggelengkan kepala.

"Adik Ceng Im sangat mencintaimu, maka aku tidak mau menimbulkan kesalahpahaman. Kakak Cie Hiong, sampai jumpa"

"Adik Michiko..."

Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Kakak Cie Hiong, selamanya aku tidak akan lupa kepadamu. selamat tinggal"

Ucap Michiko terisak-isak.

lalu melangkah pergi.

Tio Cie Hiong memandang punggung gadis Jepang itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

setelah itu, ia pun melesat pergi menuju markas pusat Kay Pang.

Beberapa anggota Bu Tek Pay yang kabur terbirit-birit tadi telah tiba di markas.

Mereka melapor kepada Bu Lim sam Mo dengan nafas terengah-engah.

"Ketua, Takara Yahatsu telah mati...."

"Siapa yang membunuhnya?"

Tanya Tang Hai Lo Mo terkejut.

"Gadis Jepang itu."

"Michiko?"

"Ya."

"Kalian boleh pergi,"

Ujar Tang Hai Lo Mo, kemudian bergumam dengan kening berkerut.

"Heran Bagaimana mungkin gadis Jepang itu mampu membunuh Takara Yahatsu?"

"Perlukah kita menyuruh beberapa orang yang berkepandaian tinggi pergi membunuh gadis Jepang itu?"

Tanya Thian Mo.

"Tidak perlu,"

Sahut siluman Kurus.

"Michiko pasti telah pulang ke Jepang. Lagipula itu urusan pribadi mereka berdua. Kini Takara Yahatsu sudah mati, berarti tiada urusan dengan kita lagi."

"Betul."

TeMo manggut-manggut.

"Yang harus kita pikirkan adalah Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng."

"Para Tetua Kita harus bertindak bagaimana terhadap mereka?"

Tanya Tang Hai Lo Mo pada Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui.

"Menurutku...,"

Sahut TiauAm Kui.

"Kita lihat lagi perkembangan selanjutnya, setelah itu barulah kita bertindak"

"Baiklah."

Bu Lim sam Mo mengangguk.

"Sekarang mari kita bersenang-senang"

Ajak Kwan Gwa siang Koay.

"suruh para penari ke mari Ha ha ha..."

Sementara itu, Tio Cie Hiong telah tiba di markas pusat Kay Pang.

Lim Ceng Im langsung mendekap di dadanya, dan Tio Cie Hiong membelainya dengan penuh cinta kasih.

sedangkan monyet bulu putih bercuit-cuit, sepertinya turut bergembira.

"Cie Hiong"

Ujar Lim Peng Hang lembut.

"Duduklah"

"Ha ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Bagaimana mungkin dia bisa duduk? Ceng Im masih mendekap di dadanya...."

"Kakek"

Lim Ceng Im cemberut.

"Heran, tidak boleh orang senang ya?"

"Kenapa engkau mendekap di dada Cie Hiong di hadapan kami? kalau mau berdekap dekapan hendaknya di kamar Itu lebih asyik."

"Kakek...."

Wajah Lim Ceng Im memerah.

"Adik Im"

Bisik Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Mari kita duduk"

Mereka berdua lalu duduk. Kim siauw suseng memandangnya seraya bertanya.

"Bagaimana urusan gadis Jepang itu? Apakah sudah beres?"

"Sudah."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Michiko telah membunuh Takara Yahatsu."

Mendadak monyet bulu putih itu bercuit-cuit sambil memperlihatkan sepasang tangannya.

"Eh? Kenapa monyet itu?"

Tanya sam Gan sin Kay heran.

"Dia mau minta apa?"

"Dia memberitahukan, bahwa dia yang mengubur mayat Takara Yahatsu,"juwab Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Oooh"

Sam Gan sin Kay manggut-manggut sambil tersenyum.

"Kauw heng, engkau memang baik sekali."

Monyet bulu putih bercuit-cuit sambil bertepuk-tepuk tangan. Kelihatannya ia merasa gembira sekali karena mendapat pujian.

"Aaaakh..."

Mendadak Kim siauw suseng mengeluarkan suara keluhan sambil menggelenggelengkan kepala.

"Eh? sastrawan sialan"

Sam Gan sin Kay menatapnya heran.

"Kenapa engkau mengeluh?"

"Aku teringat kepada Tok Pie sin wan,"

Sahut Kim siauw suseng sambil menghela nafas.

"Kalau tidak mati, kini dia punya saudara."

"Benar."

Sam Gan sin Kay juga menghela nafas panjang.

"Tok Pie sin wan memang mirip kauw heng."

"Cie Hiong Kenapa Michiko tidak ikut ke mari?"

"Dia langsung ke pelabuhan."

"Kakak Hiong, apakah dia langsung pulang ke Jepang? Kenapa tidak mau ke mari?"

Tanya Lim Ceng Im bernada kecewa.

"Adik Im"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Dia tidak mau menimbulkan kesalahpahaman di sini, maka langsung pergi.

"Kesalahpahaman tentang apa?"

Lim Ceng Im merasa heran.

"Dasar gadis bodoh"

Ujar sam Gan sin Kay dan menambahkan.

"Dia khawatir engkau akan cemburu."

"Cemburu?"

Lim Ceng Im terbelalak.

"Bagai-mana mungkin aku cemburu terhadapnya?"

"Kalau dia sering-sering mendekati Cie Hiong, engkau tidak akan cemburu?"

Tanya sam Gan sin Kay sambil memandangnya.

"Kakek"

Lim Ceng Im tersenyum.

"Dalam hati Kakak Hiong cuma terdapat aku seorang, jadi... akupun tidak akan merasa cemburu terhadap Michiko."

"Yah, ampun"

Sam Gan sin Kay menepuk keningnya sendiri.

"Di hadapan sedemikian banyak orang, engkau berani berkata begitu?"

"Kenapa tidak?"

Sahut Lim Ceng Im tersenyum lagi, kemudian memandang Tio Cie Hiong seraya bertanya.

"Kakak Hiong, dalam hatimu cuma terdapat aku seorang, kan?"

"Benar, Adik Im"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kami mau dikemanakan?"

Sela Tui Hun Lojin mendadak.

"Kita semua berada di luar hati Cie Hiong."

"Ha ha ha"

Bu Lim Ji Khie tertawa gelak. Monyet bulu putih pun ikut bercuit-cuit, bahkan berjingkrak-jingkrak di atas bahu Tio Cie Hiong.

"Dasar monyet...."

Caci sam Gan sin Kay dan seketika ia tersentak.

"Maaf, kauw heng engkau adalah monyet sakti."

"Takut ditampar, ya?"

Ejek Kim siauw suseng sambil tertawa.

"Eeeh?"

Sam Gan sin Kay melotot.

"Perlukah aku menamparmu lagi seperti tempo hari?"

"Aku pasti membalas,"

Sahut Kim siauw suseng tegas.

"Nan, boleh coba"

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka, kemudian berkata kepada Tio Cie Hiong.

"Kini urusan Michiko telah beres, lalu apa rencanamu selanjutnya?"

"Aku harus mengawasi gerak-gerik pihak Bu Tek Pay. juga harus menemui Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Kakak Hiong mau pergi lagi?"

Tanya Lim Ceng Im dengan air muka berubah.

"Adik Im, aku tidak bisa berdiam diri di sini,"

Jawab Tio Cie Hiong memberi pengertian.

"Dan aku pun tetap memakai kedok. agar pihak Bu Tek Pay tidak mengenaliku. Jadi tidak akan menimbulkan urusan di sini."

"Tapi...."

Lim Ceng Im menundukkan kepala.

"Adik Im Kekuatan kita di sini masih terbatas, maka aku harus menemui Tui Hun Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng, agar mereka bergabung dengan kita. Kalau tidak. sulit bagi kita untuk memberantas Bu Tek Pay."

"Kakak Hiong...."

Mata Lim Ceng Im mulai basah.

"Nak"

Ujar Lim Peng Hang.

"Apa yang dikatakan Cie Hiong memang benar, karena itu, engkau tidak boleh melarangnya pergi."

"Ayah...."

Air mata Lim Ceng Im mulai meleleh.

"Begini..."

Ujar Tio Cie Hiong setelah teringat akan sesuatu.

"Kelak Kay Pang pasti akan bertarung dengan pihak Bu Tek Pay. oleh karena itu, aku harus menurunkan semacam ilmu silat."

"Maksudmu menurunkan ilmu silat kepada kami?"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Betul."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"sebab kelak mungkin Kakek pengemis dan lainnya akan berhadapan dengan Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui. Maka...."

"Tidak jadi masalah,"

Sahut Kim siauw suseng dan bertanya. ."Ilmu silat apa itu?"

"Kan Kun Ciang Hoat."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Ilmu pukulan tersebut sangat aneh dan dahsyat. Kalau digunakan bertarung melawan Kwan Gwa siang Koay atau Lak Kui, mungkin tidak akan kalah."

"Cie Hiong"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Engkau belajar dari mana ilmu pukulan itu?"

Tio Cie Hiong menunjuk monyet bulu putih yang duduk di bahunya.

"Oh?"

Terbelalak Bu Lim Ji Khie.

"Kauw heng"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Perlihatkan ilmu pukulan itu"

Monyet bulu putih itu manggut-manggut, lalu meloncat turun dan mulailah bergerak.

Seketika Bu Lim Ji Khie, Tui Hun LejinrLim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Lim Ceng Im terbelalak menyaksikan gerakan-gerakannya.

Mereka sama sekali tidak bisa mengikutinya.

Berselang beberapa saat, barulah monyet itu berhenti lalu bercuit-cuit seakan menyuruh mereka meniru gerakan-gerakannya tadi.

"Cie Hiong, kauw heng bilang apa?"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Dia menyuruh kalian meniru gerakan-gerakannya."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Bagaimana mungkin...."

Sam Gan Sin Kay menggeleng-gelengkan kemala.

"Mata ku silau menyaksikan gerakan-gerakan itu Kauw heng sungguh hebat."

"Itu adalah Kan Kun ciang Hoat."

Ujar Tio Cie Hiong.

Kemudian ia pun mempertunjukkan ilmu pukulan itu secara lamban.

Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin.

Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Lim Ceng Im terus memperhatikannya.

Tio Cie Hiong mengulang dan mengulang lagi ilmu pukulan tersebut, setelah itu, barulah berhenti seraya bertanya.

"Bagaimana? sudah bisakah kalian mengikuti gerakan-gerakanku?"

Bu Lim Ji Khie dan lainnya mengangguk.

kemudian mulai berlatih bersama.

Tio Cie Hiong menyaksikan mereka dengan penuh perhatian, sekaligus memberi petunjuk.

Beberapa hari kemudian, barulah mereka dapat menguasai ilmu pukulan itu, namun masih agak lamban gerakannya.

Ketika mereka sedang berlatih di halaman belakang, mendadak monyet bulu putih yang di bahu Tio Cie Hiong bercuit-cuit.

"Kauw heng, engkau ingin mempertunjukkan sesuatu?"

Tanya Tio Cie Hiong dengan heran. Monyet bulucutih manggut-manggut. Tio Cie Hiong cun mengangguk dan sebera menyuruh mereka berhenti berlatih.

"Berhenti dulu Kauw heng ingin mempertunjukkan sesuatu."

"Kauw heng ingin mempertunjukkan apa?"

Tanya sam Gan sin Kay dan merasa heran.

"Mungkin kauw heng ingin mempertunjukkan semacam ilmu lagi,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Bagus Bagus"

Sam Gan sin Kay tertawa gembira.

Monyet bulu putih meloncat ke tengah-tengah halaman, lalu bercuit-cuit dan mulai bergerak.

Tio Cie Hiong terbelalak menyaksikan gerakan-gerakan itu, sebab tampak kacau balau.

Bu Lim Ji Khie dan lainnya menjadi pusing ketika menyaksikan gerakan-gerakan monyet itu, bahkan mata mereka menjadi berkunang-kunang.

sementara Tio Cie Hiong terus memperhatikan gerakan monyet bulu putih dengan cermat.

Namun sesaat kemudian monyet itu berhenti.

"Ulangi sekali lagi, kauw heng"

Ujar Tio Cie Hiong.

Monyet bulucutih manggut-manggut, lalu mulai bergerak lagi.

Tio Cie Hiong sebera memusatkan perhatiannya untuk menyaksikan semua gerakan monyet itu.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah monyet bulu putih berhenti, lalu bercuit-cuit sambil memandang Tio Cie Hiong.

"Terimakasih, kauw heng"

Ucap Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Aku sudah hafal semua gerakan itu."

"Apa?"

Bu Lim Ji Khie terbelalak.

"Engkau sudah hafal semua gerakan itu?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk. kemudian mulai bergerak.

"Tampak bayangannya berkelebat ke sana ke mari, begitu pula sepasung tangannya.

"Aduuuh Pusing"

Keluh Bu Lim Ji Khie, begitu pula yang lain. Berselang beberapa saat, barulah Tio Cie Hiong berhenti. Monyet bulu putih bertepuk-tepuk tangan, kelihatannya gembira sekali.

"Bukan main"

Tui Hun Lojin menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu... entah ilmu pukulan apa?"

"Memang lihay sekali ilmu pukulan ini, bahkan sangat aneh,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Aku pun tidak menyangka, kalau kauw heng memiliki ilmu pukulan yang sedemikian lihay dan aneh."

"Namai saja Ilmu Pukulan Monyet sakti"

Ujar sam Gan sin Kay. Mendadak monyet bulu putih bercuit-cuit dan manggut-manggut, kelihatannya setuju.

"Ha ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Kauw heng, engkau setuju ilmu pukulan itu kunamai Ilmu Pukulan Monyet sakti?"

Monyet bulu putih manggut-manggut lagi. seketika sam Gan sin Kay tertawa gelak lagi.

"Bagus? Itu adalah Ilmu Pukulan Monyet sakti. Aku harus belajar"

"Benar."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kini akan kuajarkan kepada kalian semua. Nah, perhatikan baik-baik"

Tio Cie Hiong mulai bergerak lagi, namun kali ini ia bergerak lamban, agar gerakannya bisa dilihat dengan jelas.

setelah itu, Bu Lim Ji Khie dan lainnya mulai menirukan gerakan-gerakan itu.

Apabila terdapat kesalahan, Tio Cie Hiong pasti memberikan petunjuk.

"Adik Im Aku pernah mengajarmu Pan Yok Hian Thian sin Kang, tapi kenapa Iweekangmu masih belum bertambah maju?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Aku...."

Lim Ceng Im menundukkan kepala.

"Dia jarang melatih."

Lim Peng Hang memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik Im, kenapa engkau tidak berlatih ilmu lweekang itu?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Cie Hiong"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Dia mana punya waktu untuk berlatih lweekang itu?"

"Kenapa tidak punya waktu?"

Tio Cie Hiong merasa heran.

"Sebab waktunya dihabiskan untuk memikirkanmu."

Sam Gan sin Kay memberitahukan.

"Jadi bagaimana mungkin dia bisa berlatih?"

"Oooh"

Tio Cie Hiong tersenyum lalu memegang bahu gadis itu seraya berkata lembut.

"Adik Im, mulai sekarang engkau harus giat berlatih Pan Yok Hian Thian sin Kang"

"Ya, Kakak Hiong."

Lim Ceng Im mengangguk.

Seminggu kemudian, barulah Bu Lim Ji Khie dan lainnya berhasil menguasai Ilmu Pukulan Monyet sakti.

oleh karena itu Tio Cie Hiong merasa gembira sekali.

Malam ini, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im duduk berdampingan di halaman belakang, menikmati keindahan malam purnama.

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im menatapnya mesra.

"Entah bagaimana keadaan Adik sian Eng di Tayli? Apakah dia sudah mempunyai anak?"

"Mungkin sudah,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Adik Im, setelah urusan dengan Bu Tek Pay beres, bagaimana kalau kita pergi ke Tayli menengok mereka?"

"Baik."

Lim Ceng Im mengangguk.

"Kemudian kita ajak mereka ke Tionggoan."

"Kenapa kita harus mengajak mereka ke Tionggoan?"

"Apakah Kakak Hiong lupa?"

"Lupa apa?"

"Kita harus melangsungkan pernikahan, tentunya mereka harus hadir, kan?"

"Oooh"

Tio Cie Hiong manggut dan memegang tangan Lim Ceng Im erat-erat.

"Benar, kita harus melangsungkan pernikahan."

"Kakak Hiong, setelah kita menikah, apakah kita akan tinggal di puncak Gunung Thian san?"

"Begini...."

Tio Cie Hiong menatapnya lembut.

"Soal itu terserah padamu saja. Yang jelas kita tidak usah mencampuri urusan rimba persilatan lagi."

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im tersenyum.

"Aku menurut kepadamu saja."

"Setelah kita menikah nanti, barulah kita rundingkan kembali,"

Ujar Tio Cie Hiong dan melanjutkan.

"Adik Im, besok pagi aku akan pergi."

"Kakak Hiong...."

Wajah Lim Ceng Im langsung berubah murung.

"Kenapa engkau tega meninggalkanku? "

"Sebetulnya aku tidak tega, tapi aku harus mencari Tun Hun Li, Thian Liong Kiam Khek danpemilik Hong Hoang Leng. Bahkan aku pun harus mengawasi gerak-gerik pihak Bu Tek Pay. Maka harap engkau maklum dan mengerti"

"Aku bisa maklum dan mengerti, namun...."

Air mata gadis itu mulai meleleh.

"Kita akan berpisah lagi."

"Aku pergi tidak akan lama, sebab harus kembali untuk berunding."

Tio Cie Hiong membelainya.

"Adik Im, engkau tidak usah cemas...."

"Kakak Hiong"

Lim Ceng Im mulai terisak-isak. lalu mendekap di dada Tio Cie Hiong.

"Kakak Hiong...."

"HahahaHahaha"

Mendadak muncul Bu Lim Ji Khie. Mereka berdua memandang Lim Ceng Im sambil tertawa gelak.

"Dekap-dekapan lagi ya"

Ujar sam Gan sin Kay.

"Kakek"

Lim Ceng Im langsung melepaskan dekapannya, lalu menatap sam Gan sin Kay dengan mata melotot.

"Heran, kenapa Kakek selalu usil sih? Tidak boleh orang senang ya?"

"Tentu boleh,"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Tapi barusan engkau menangis terisak-isak, kenapa sih?"

"Kakak Hiong...."

"Dia nakal atau kurang ajar terhadapmu?"

"Dia... dia...."

Lim Ceng Im mulai terisak-isak lagi.

"Dia...."

"Eh?"

Sam Gan sin Kay terbelalak.

"Kenapa dia? Apakah dia menghinamu? Baik, kakek akan menghajarnya."

"Jangan Kakek"

Cegah Lim Ceng Im.

"Dia tidak menghinaku, melainkan akan pergi esok."

"Kakek sudah mendengar."

Sam Gan sin Kay tertawa.

"Bagaimana mungkin kakek bisa menghajarnya?"

"Kakekmu yang akan dihajar Kakak Hiong-mu,"

Sela Kim siauw suseng sambil tertawa.

"Aku sedang sedih, Kakek dan Kakek sastrawan malah terus tertawa. sungguh keterlaluan"

"siapa yang keterlaluan, Nak?"

Mendadak muncul Lim Peng Hang bersama Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong.

"Yaaah..."

Lim Ceng Im menghela nafas panjang.

"Kenapa berkumpul di sini semua?"

"Ha ha? Tui Hun Lojin tertawa.

"Mengganggu kalian berdua, kan?"

Lim Ceng Im diam, namun mulutnya cemberut. Lim Peng Hang tersenyum sambil mendekatinya, sekaligus membelainya.

"Nak, kenapa matamu basah?"

Tanya Lim Peng Hang lembut.

"Kakak Hiong akan pergi esok. maka hatiku sedih...."

Lim Ceng Im mulai terisak.

"Oooh"

Lim Peng Hang manggut-manggut. Kemudian berkata kepada Tio Cie Hiong dengan sungguh-sungguh.

"Cie Hiong, engkau boleh pergi mencari Tui Hun Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng, tapi jangan terlampau lama, sebab akan mencemaskan ceng Im"

"Ya, Paman."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Dalam waktu satu bulan aku pasti kembali."

"Satu bulan?"

Lim Ceng Im menggelengkan kepala.

"Kenapa begitu lama? Apakah tidak bisa lebih cepat?"

"Adik Im Kalau bisa, aku akan kembali selekasnya."

Ujar Tio Cie Hiong berjanji.

"Oh ya, engkau jangan lupa berlatih Pan Yok Hian Thian sin Kang"

"Ng"

Lim Ceng Im mengangguk, lalu memandangnya dengan air mata meleleh.

"Kakak Hiong, engkau akan berangkat esok pagi?"

"Ya,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil memegang bahu Lim Ceng Im.

"Engkau harus tenang, jangan memikirkan yang bukan-bukan"

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im memeluknya.

Kali ini sam Gan sin Kay tidak menggoda gadis itu lagi, sebab ia tahu hati cucunya sedang sedih karena akan ditinggal Tio Cie Hiong.

Bab 68 Thian Liong Kiam Khek membantu Tui Beng Li Setelah melepaskan dahaga di kedai teh, Tui Beng Li-Tan Li Cu lalu meninggalkan kedai itu.

Namun tiba-tiba keningnya berkerut lalu ia menghentikan langkahnya.

Ternyata ia mendengar suara langkah mendekatinya.

Tak lama muncullah belasan orang, yang semuanya ternyata anggota Bu Tek Pay.

"Tui Beng Li"

Bentak salah seorang, yang ternyata pemimpin mereka.

"Hari ini engkau harus mampus"

"Aku yang mampus atau kalian yang harus mati?"

Sahut Tan Li Cu sambil tertawa dingin.

"Engkau telah banyak membunuh kawan-kawan kami, maka aku tidak akan mengampunimu"

"Engkau kira aku akan mengampuni kalian?"

Tan Li Cu menatap mereka dengan tajam.

"Hm Kenapa Liu siauw Kun tidak berani muncul melawanku?"

"Ha ha ha"

Orang itu tertawa gelak.

"Tuan muda tidak perlu turun tangan, sebab kami juga cukup,"

"Hmm"

Dengus Tan Li Cu dingin.

"Jadi kalian ingin membunuhku?"

"Benar Ha ha ha"

Pemimpin itu tertawa gelak.

"Tui Beng Li, ajalmu telah tiba hari ini"

"Kalian yang akan mati hari ini"

Tan Li Cu mengeluarkan pedang Loan Kang Pokiamnya. Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara seruan yang mengguntur, kemudian melayang turun seseorang.

"Tui Beng Li, aku akan membantumu menghabiskan mereka"

Seorang pemuda berdiri di sisi Tan Li cu.

"Terimakasih, Thian Liong Kiam Khek"

Ucap Tan Li cu. sungguh di luar dugaan, pemuda itu ternyata Lie Man chiu, murid Tayli Lo Ceng.

"Bagus Bagus Ha ha ha."

Pemimpin itu tertawa.

"Kalian berdua harus mampus"

"Hm"

Dengus Thian Liong Kiam KheksLie Man chiu, lalu berkata kepada Tan Li cu sambil tersenyum.

"Tui Beng Li, mereka berjumlah empat belas orang. Lihatlah siapa di antara kita yang lebih banyak membunuh mereka"

"Baik."

Tan Li cu mengangguk.

"Serang mereka"

Bentak pemimpin itu.

Seketika belasan anggota Bu Tek Pay itu langsung menyerang Tan Li cu dan Lie Man Chiu.

Tan Li Cu tertawa dingin, sedangkan Lie Man chiu bersiul panjang sambil menggerakkan Thian Liong Po Kiamnya.

la menangkis sekaligus balas menyerang dengan jurus Thian Liong Pah Bwe (Naga Khayangan Mengibaskan Ekor).

Badannya bergerak dan pedang pusakanya pun berkelebatan secepat kilat.

Sementara Tan Li cu pun sudah mulai balas menyerang.

la mengeluarkan jurus Lui Ming Tian soh (Petir Menggelegar Kilat Menyambar) .

"Aaaakh Aaaaakh..."

Terdengarlah suara jeritan.

"Bagus"

Seru Lie Man chiu.

"Engkau telah membunuh tiga orang."

"Engkau pun telah membunuh tiga orang, jadi kita seri. Ayoh, kita serang lagi mereka"

Sahut Tan Li Cu dan langsung menggerakkan pedang pusakanya.

Lie Man chiu tidak mau ketinggalan.

la pun segera menggerakkan pedang pusakanya.

Tan Li Cu mengeluarkan jurus Lui Tian Liam Te (Petir Kilat Membelah Bumi), sedangkan Lie Man Chiu mengeluarkan jurus Thian Liong Cioh Cu (Naga Khayangan Merebut Mutiara).

"Aaaakh Aaaakh Aaaakh..."

Terdengar lagi suara jeritan.

"Tui Beng Li, aku telah membunuh tiga orang"

Seru Lie Man Chiu sambil tertawa.

"Sama,"

Sahut Tan Li Cu.

"Akupun telah membunuh tiga orang. Kini cuma tersisa dua orang, bagaimana seorang satu?"

"Baik."

Lie Man Chiu menyerang pemimpin itu.

Tan Li cu menyerang yang lain.

Terdengarlah suara jeritan, dan dampak pemimpin itu terhuyung-huyung.

sepasang tangannya menutupi sepasang telinganya yang telah berlumuran darah.

orang yang diserang Tan Li cu telah terkapar tak bernyawa.

Ketika melihat pemimpin itu belum mati, Tan Li Cu tampak tercengang, namun kemudian tertawa.

"Thian Liong Kiam Khek Engkau ingin melepaskan orang itu agar melapor kepada ketuanya?"

"Benar."

Lie Man Chiu manggut-manggut.

"Tapi dia telah kupotong sepasang telinganya. Ha ha ha..."

"Bagus"

Tan Li Cu tersenyum, lalu menatap dingin pemimpin itu.

"Engkau boleh kembali ke markas untuk melapor Beritahukan juga kepada Liu siauw Kun, bahwa aku menunggunya"

"Ya Ya...."

Pemimpin itu segera kabur.

"Ha ha ha"

Lie Man chiu tertawa, kemudian memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu sambil menghela nafas panjang.

"Akh, aku berhati kejam, namun mereka telah banyak melakukan kejahatan"

"Benar."

Tan Li cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Tui Beng Li, mari kita pergi"

Ajak Lie Man chiu.

"oh ya, bagaimana kalau kita mengisi perut dulu? "

"Baik."

Tan Li cu mengangguk. Lie Man chiu dan Tan Li cu memasuki sebuah kedai. Pelayan kedai segera menghampiri mereka sambil tersenyum-senyum.

"silakan duduk silakan duduk"

Lie Man chiu dan Tan Li cu lalu duduk "Tui Beng Li, engkau mau makan apa?"

Tanya Lie Man chiu.

"Sup sapi saja,"

Sahut Tan Li cu.

"Pelayan, tolong ambilkan satu poci arak dan dua mangkok sup sapi"

Pesan Lie Man Chiu.

"Ya, Tuan."

Pelayan itu segera pergi. Tak lama ia sudah kembali dengan membawa satu poci arak, dua mangkok sup sapi dan dua buah cangkir.

"silakan makan, Tuan dan Nona"

"Terimakasih"

Ucap Lie Man chiu. la lalu menuang arak ke dalam kedua cangkir itu.

"Tui Beng Li, mari kita bersulang"

"Mari"

Sahut Tan Li Cu sambil mengangkat minuman keras itu, lalu meneguknya. setelah itu ia bertanya.

"Bolehkan aku tahu namamu?"

"Namaku Lie Man Chiu. Namamu?"

"Tan Li Cu. oh ya, siapa gurumu?"

"Tayli Lo Ceng."

"Apa?"

Tan Li Cu terbelalak.

"Gurumu Tayli Lo Ceng?"

"Ya."

Lie Man Chiu mengangguk dan tercengang.

"Engkau kenal guruku?"

"Kenal."

Tan Li Cu memberitahukan.

"Gurumu pernah menyelamatkan diriku, bahkan juga membawaku ke Gunung Hong Lay san."

"jadi,..."

Lie Man Chiu gembira sekali.

"Engkau murid It sim sin Ni?"

"Benar."

Tan Li cu manggut-manggut sambil tersenyum.

"Tidak disangka kita bertemu di tempat ini, bahkan engkau sempat pula membantuku membunuh para anggota Bu Tek Pay"

"Oh ya"

Lie Man Chiu menatapnya seraya bertanya.

"Siapa Liu siauw Kun? Kenapa engkau kelihatan begitu dendam kepadanya?"

"Dia murid Bu Lim sam Mo. Dia... dia...."

Wajah Tan Li Cu berubah murung dan matanya berkaca-kaca.

"Dia membunuh suami, ayah dan anakku yang belum berusia setahun."

"Apa?"

Sepasang mata Lie Man Chiu langsung berapi-api.

"Begitu kejam orang itu? Karena dia membunuh suami, ayah dan anakmu?"

"Karena...."

Tutur Tan Li Cu diawali dari Pang-gung Cari Jodoh dan lain sebagainya.

"Karena itu, dia sangat sakit hati dan dendam kepadaku."

"Oooh"

Lie Man Chiu manggut-manggut.

"sejak itu engkau kenal Tio Cie Hiong?"

"Ya."

Tan Li Cu mengangguk.

"Cie Hiong adalah pemuda yang sangat baik, tapi...."

"Dia mengorbankan dirinya demi menolong Kay Pang, tujuh partai besar dan lainnya. Guruku telah memberitahukan tentang itu. Aku kagum dan salut padanya, namun entah dia sembuh atau belum?"

"Sebetulnya aku ingin ko markas pusat Kay Pang menanyakan tentang Cie Hiong, tapi khawatir akan mencelakai pihak Kay Pang."

"Benar. Sebab kini Kay Pang masih di bawah perintah Bu Tek Pay, maka kalau engkau ke sana, Kay Pang pasti akan celaka. Menurutku, apabila Tio Cie Hiong sudah sembuh dan kepandaiannya pulih, dia pasti muncul di rimba persilatan. Tidak sulit bagi dia mencarinya."

"Ya."

"Guruku telah berpesan bahwa aku harus membantunya."

"Guruku pun berpesan begitu."

"Oh? Kalau begitu, kita harus mencari informasi tentang dirinya.Jadi mulai sekarang kita bergabung untuk memberantas para anggota Bu Tek Pay."

"Baik."

Sementara itu, pemimpin yang dipotong telinganya telah tiba di markas. la langsung menghadap Bu Lim Sam Mo untuk melapor tentang kejadian itu.

"Apa?"

Seketika juga Tang Hai Lo Mo melotot setelah menerima laporan tersebut.

"Thian Liong Kiam Khek membantu Tui Beng Li membunuh para anak buahmu?"

"Ya."

Pemimpin itu mengangguk dan menambahkan.

"Tui Beng Lipun bilang, dia menunggu Tuan muda."

"Bagus Bagus"

Tang Hai LoMo gusar sekali.

"Sekarang engkau boleh pergi mengobati telingamu."

"Terimakasih, Ketua"

Ucap pemimpin itu dan segera pergi.

"Thian Liong Kiam Khek... Tui Beng Li"

Gumam Tang Hai Lo Mo sambil berkertak gigi.

"Aku harus mencincang kalian"

"Ketua"

Usul Ang Bin sat sin.

"Biar aku dan Liu siauw Kun pergi menangkap mereka"

"Baik,"

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Lebih baik kalian gunakan bom asap beracun"

"Ya, Ketua"

Ang Bin sat sin mengangguk. kemudian memandang Liu siauw Kun seraya berkata.

"Mari kita berangkat"

"Ya, Guru,"

Sahut Liu siauw Kun, lalu memberi hormat kepada Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui. Setelah itu, barulah mereka pergi. Tang Hai Lo Mo memandang punggung mereka sambil manggut-manggut.

"Mereka berdua pasti dapat menangkap Thian Liong Kiam Khek dan Tui Beng Li. sebab mereka akan menggunakan bom asap beracun."

Ujarnya.

"Benar."

Thian Mo dan Te Mo manggut-manggut.

"Tang Hai Lo Mo masih ada berapa markas cabang kita?"

Tanya Tiau Am Kui mendadak.

"Cuma tinggal satu,"

Jawab Tang Hai Lo Mo.

"Kenapa?"

"Aku yakin pemilik Hong Hoang Leng akan ke sana,"

Jawab Tiau Am Kui.

"oleh karena itu, alangkah baiknya kami berenam ke sana untuk menangkap pemilik Hong Hoang Leng itu."

"Benar,"

Sambung Toa Thau Kui.

"Pemilik Hong Hoang Leng pasti ke sana, maka kami berenam harus mendahuluinya ke sana."

"Ngmmm"

Siluman Kurus manggut-manggut.

"Ide yang bagus Setelah berhasil kita tangkap. mereka harus kita bakar hidup, hidup,"

"Kalau begitu..,"

Tiau Am Kui berpikir sejenak.

"Kami berangkat sekarang, suruh salah seorang anggota menunjuk jalan"

"Ya."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

kemudian menyuruh seseorang mengantar Lak Kui ke markas cabang itu.

Seusai bersantap.

Lie Man Chiu dan Tan Li Cu meninggalkan kedai itu.

Mereka berjalan sambil bercakap-cakap.

Tak seberapa lama kemudian, hari pun mulai gelap.

"Tui Beng Li, bagaimana kalau kita bermalam di penginapan?"

Tanya Lie Man Chiu.

"Baik."

Tan Li Cu mengangguk. Mereka berdua lalu menuju sebuah penginapan. Pelayan penginapan itu segera membawa mereka ke sebuah kamar.

"Ini adalah kamar yang paling besar dan bersih. Kalian cocok?"

Tanya sipelayan.

"Cocok,"

Sahut Lie Man Chiu setelah melongok ke dalam kamar itu.

"Tuan mau pesan minuman apa?"

"Arak saja."

"Tidak pesan makanan?"

"Kami masih kenyang,"

Sahut Lie Man Chiu sambil melangkah memasuki kamar.

Tan Li Cu mengikutinya dari belakang, kemudian mereka duduk berhadapan.

Pelayan itu muncul dengan membawa sepoci arak dan dua buah cangkir.

Kemudian, setelah menaruh arak dan cangkir itu di atas meja, ia lalu pergi.

"Nanti engkau tidur di ranjang,"

Ujar Lie Man chiu dan menambahkan.

"Aku akan tidur di kursi."

"Terima kasih"

Ucap Tan Li cu.

"Oh y a, engkau mau minum?"

"Aku tidak berani minum lagi,"

Sahut Tan Li cu sambil tersenyum.

"Takut mabuk."

Lie Man chiu tersenyum, lalu minum sendiri.

"Apa nama ilmu pedangmu, yang sungguh hebat dan lihay sekali itu?"

"Lul Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Petir Kilat)."

Tan Li cu memberitahukan.

"Oh ya, ilmu pedangmu? "

"Thian Liong Kiam Hoat (Ilmu Pedang Naga Khayangan), pedangku Thian Liong Po kiam. Pedang mu?"

"Loan Kang Pokiam."

"Oooh"

Lie Man chiu manggut-manggut.

"Pantas begitu lemas, hingga bisa dijadikan sebagai ikat pinggang"

"Ya."

Tan Li cu mengangguk. Mendadak ia teringat sesuatu yang bertanya.

"Tahukah engkau bahwa Cie Hiong sudah mempunyai calon isteri?"

"Aku belum tahu. siapa calon isterinya?"

"Lim Ceng Im, putri kesayangan ketua Kay pang."

"Oooh"

"Thian Liong Kiam Khek"

Tan Li cu menatapnya seraya bertanya.

"Apakah engkau sudah mempunyai calon isteri?"

"Belum."

Lie Man Chiu tersenyum.

"Tapi guruku pernah bilang...."

"Gurumu pernah bilang apa?"

"Guruku bilang, pasangan Thian Liong Pokiam adalah Hong Hoang Pokiam. Maka aku berjodoh dengan pemilik Hong Hoang Pokiam"

"oh, ya?"

Tan Li Cu tersenyum.

"Bagaimana kalau pemilik Hong Hoang Pokiam itu seorang nenek?"

"Kata guruku, tidak mungkin. Pemilik Hong Hoang Pokiam adalah gadis yang cantik jelita."

Lie Man Chiu memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Namun aku kurang percaya."

"Mungkin itu yang disebut perjodohan Liong Hong."

Ujar Tan Li Cu sungguh-sungguh.

"Memang masuk akal, Thian Liong Kiam Khek. se-moga engkau cepat-cepat bertemu pemilik Hong Hoang Pokiam yang cantik jelita itu"

"Terimakasih"

Ucap Lie Man Chiu.

"Oh ya Kalau engkau berhasil membunuh Liu siauw Kun, apa rencanamu selanjutnya?"

"Tidak mempunyai rencana apa pun."

"Tidak mau menikah lagi?"

"Mungkin tidak."

Sahut Tan Li Cu sambil menghela nafas panjang.

"Aku mau menjadi biarawati dan tetap tinggal di Gunung Hong Lay san."

"Tapi engkau masih muda Iho"

"Memang, namun aku tidak bisa melupakan suami dan anakku itu. Lagi pula hatiku telah dingin."

"Nasib"

Lie Man chiu menggeleng-gelengkan kepala.

"Padahal engkau sangat cantik dan lemah lembut, tapi justru mengalami kejadian itu. Sung-guh kasihan anakmu"

"Ya."

Mata Tan Li cu basah.

"Ketika dia mati dihempas oleh Liu Siauw Kun, aku melihat sepasang matanya melotot ke arah Liu Siauw Kun. Aaakh, anakku"

"Maaf Aku telah menimbulkan kesedihanmu"

"Setiap malam aku pasti menangis sendiri, teringat akan anakku. Usianya belum setahun, tapi harus mati secara mengenaskan."

Tan Li Cu mulai terisak-isak.

"Itu membuatku nyaris menjadi gila, tapi untung guruku dan gurumu terus menghiburku."

"Tui Beng Li, jangan sedih"

Ujar Lie Man Chiu.

"Aku pasti membantumu membunuh Liu siauw Kun."

"Terimakasih"

Ucap Tan Li Cu dengan air mata bercucuran.

"Sudah malam, silakan tidur"

"Ya."

Tan Li Cu membaringkan dirinya di tempat tidur, sedangkan Lie Man Chiu tetap duduk di kursi, kemudian memejamkan matanya.

Sebaliknya Tan Li Cu yang berbaring di ranjang, sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.

Ternyata ia terus terbayang akan anaknya yang sudah tiada, sehingga air matanya meleleh.

Keesokan harinya, Tan Li Cu dan Lie Man Chiu berjalan pcriahan-lahan meninggalkan penginapan itu.

Kepala Tan Li Cu tertunduk seakan sedang memikirkan sesuatu.

"Tui Beng Li, apa yang kaupikirkan?"

Tanya Lie Man Chiu dan diam-diam menghela nafas panjang.

"Aaakh..."

Tan Li cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Masih terbayang kematian anakku yang mengenaskan."

"Itu sudah berlalu, jangan terus kau bayangkan"

Ujar Lie Man Chiu.

"Aku pasti membantumu membunuh Liu siauw Kun."

"Thian Liong Kiam Khek Engkau tidak tahu...,"

Ujar Tan Li cu memberitahukan.

"Ketika itu, anakku sedang belajar jalan bersama ayahku. Anakku tertawa-tawa, namun itu merupakan tawanya yang terakhir."

"Tui Beng Li...."

Lie Man chiu menggeleng-gelengkan kepala.

"Setiap kali melihat anak kecil sebesar anakku, aku pasti menangis."

Ujar Tan Li cu dan kemudian menggeram.

"Liusiauw Kun, engkau pasti kucincang"

"Ha ha ha"

Mendadak terdengar suara tawa.

"Siapa ingin mencincangku?"

Kemudian melayang turun dua orang, yaitu Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun. Begitu melihat pemuda itu, seketika juga mata Tan Li Cu menjadi membara.

"Bagus Bagus Akhirnya engkau muncul juga"

Ujar Tan Li Cu penuh dendam.

"Hari ini engkau pasti kucincang"

"Ha ha ha"

Liu siauw Kun tertawa gelak sambil memandangnya.

"Li Cu, engkau masih masih letap cantik sudah sekian lama engkau menjanda, tentunya engkau kesepian sekali Lebih baik engkau ikut aku untuk hidup senang"

"Diam,"

Bentak Tan Li Cu sambil mengeluarkan Loan Kang Pokiamnya.

"Oooh"

Lie Man Chiu manggut-manggut sambil menatap pemuda itu.

"Ternyata engkaulah Liu siauw Kun"

"Benar"

Sahut Liu siauw Kun.

"siapa engkau? Kenapa engkau bersama Li Cu?"

"Aku Thian Liong Kiam Khek"

Ujar Lie Man chiu sepatah demi sepatah dengan dingin sekali.

"Ha ha ha"

Ang Bin sat sin tertawa gelak.

"Bagus Aku ke mari memang ingin menangkap kalian"

"Hmm"

Dengus Lie Man chiu dingin.

"Kalian berdua mampu menangkap kami?"

"Tentu"

Ang Bin sat sin tertawa lagi.

"Thian Liong Kiam Khek, lebih baik engkau menyerah"

"oh?"

Lie Man chiu menatapnya dingin sambil menghunus Thian Liong Pokiamnya.

"Katakan siapa engkau?"

"Aku Ang Bin sat sin"

Sahutnya sekaligus menghunus pedangnya, lalu berkata kepada Liu siauw Kun.

"Hadapi Tui Beng Li Aku menghadapi yang ini."

"Ya, Guru."

Liu siauw Kun mengangguk.

"Lihat serangan"

Bentak Tan Li cu sambil menyerang Liu siauw Kun.

"Ha ha ha"

Liu siauw Kun tertawa sambil berkelit.

"Galak amat sudahlah, lebih baik kita bersenang-senang sudah sekian lama engkau menjanda, tentunya sangat kesepian...."

"Jahanam"

Caci Tan Li Cu sambil menyerangnya lagi.

Sementara Lie Man chiu sudah bertarung dengan Ang Bin sat sin.

Bukan main serunya pertarungan mereka, sebab keduanya mengeluarkan ilmu pedang andalan masing-masing.

Lie Man Chiu mengeluarkan Thian Liong Kiam Hoat (Ilmu Pedang Naga Kahyangan), sedangkan Ang Bin sat sin mengeluarkan sin Eng Kiam Hoat (Ilmu Pedang Elang sakti).

Setelah bertarung puluhan jurus, Ang Bin sat sin tampak agak keteter.

Begitu pula Liu siauw Kun yang bertarung dengan Tan Li cu.

Padahal Liu siauw Kun telah mengeluarkan Pak Kek Kiam Hoat (Ilmu Pedang Kutub Utara), namun pemuda itu kurang latihan dan sering main perempuan, maka lweekangnya mengalami kemerosotan.

Tan Li Cu terus menyerang dengan jurus-jurus yang mematikan, membuat Liu siauw Kun terdesak.

"Engkau harus mampus"

Bentak Tan Li Cu dan sekaligus menyerangnya denganjurus Lui Tian Toh san (Petir Kilat Merobohkan Gunung). Liu siauw Kun berusaha berkelit, tapi bahunya tersabet juga oleh Loan Kang Pokiam.

"Aaakh..."

Jerit Liu siauw Kun dan terhuyung-huyung ke belakang. Bagian 39

"Engkau harus mampus hari ini"

Bentak Tan Li cu sambil mendekatinya.

Ang Bin sat sin yang menyaksikan kejadian itu terkejut bukan main.

la menangkis serangan Lie Man chiu, sekaligus merogoh ke dalam bajunya.

Ternyata ia mengambil dua buah bom asap beracun, lalu dilemparkannya ke tanah.

Bom itu meledak dan mengeluarkan asap beracun.

Betapa terkejutnya Lie Man chiu dan Tan Li cu.

Mereka cepat-cepat menutup pernafasan, tapi terlambat.

Mereka terkulai dan pingsan seketika.

Ang Bin Sat Sin tertawa gelak.

Liu Siauw Kun segera membalut luka di bahunya, kemudian ia juga tertawa gembira.

"Guru Biar aku bersenang-senang dulu dengan wanita itu"

Ujar Liu Siauw Kun.

"Dia telah melukai bahuku, maka dia harus membayar mahal."

"Ha ha Boleh saja engkau bersenang-senang dengan dia."

Sahut Ang Bin Sat Sin.

"Dia sudah tak berdaya sama sekali."

Tiba-tiba terdengar suara siulan panjang yang memekakkan telinga.

Sudah barang tentu suara siulan itu sangat mengejutkan mereka.

Tak lama kemudian tampak melayang turun seseorang berusia empat puluhan, dan seekor monyet bulu putih duduk di bahunya.

Dialah Tio Cie Hiong yang memakai kedok kulit.

"Siapa engkau?"

Bentak Ang Bin Sat Sin.

"Hmm"

Dengus Tio Cie Hiong.

"cepatlah kalian enyah dari sini"

Ang Bin sat sin tertawa dingin, kemudian mendadak menyerangnya dengan pedang.

Tio Cie Hiong mengibaskan lengan bajunya, dan seketika Ang Bin sat sin terpental beberapa depa.

Kalau tidak mencemaskan keadaan Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek, Tio Cie Hiong pasti sudah turun tangan memusnahkan kepandaian Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun.

Sedangkan monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio Cie Hiong sudah siap menyerang mereka, hanya menunggu perintah Tio Cie Hiong saja.

Akan tetapi, Tio Cie Hiong tidak memberi perintah kepada monyet bulu putih menyerang mereka, melainkan mendadak menyambar Tul Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek.

lalu melesat pergi.

"Aaakh..."

Ang Bin sat sin menarik nafas lega.

"Sungguh tinggi kepandaian orang itu, kita berdua bukan lawannya."

"Kenapa dia tidak menyerang kita?"

Tanya .Liu siauw Kun heran.

"Dia mencemaskan Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khok yang terkena asap beracun. Kalau tidak. kita pasti celaka. Ayoh Kita harus segera pulang"

Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun melesat pergi.

Mereka berdua tidak habis pikir siapa sebenarnya lelaki itu.

Tio Cie Hiong menaruh Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek di bawah sebuah pohon.

Setelah melihat jelas wajah Tui Beng Li, la nyaris menjerit kaget karena tidak menyangka wanita itu adalah Tan Li cu.

Segeralah ia memeriksa mereka, dan setelah itu ia berlega hati, sebab mereka berdua hanya terkena racun pelemas badan yang membuat mereka pingsan.

Tio Cie Hiong memasukkan pil pemunah racun ke dalam mulut mereka, berselang beberapa saat kemudian, mereka berdua siuman.

"Eeeh?"

Lie Man chiu tercengang melihat Tio Cie Hiong.

"Ke mana Ang Bin Sat sin dan Liu siauw Kun?"

"Mereka sudah pergi. Aku yang membawa kalian ke mari,"

Sahut Tio Cie Hiong dengan suara serak.

"Terima kasih, Tayhiap (Pendekar Besar)"

Ucap Lie Man chiu. Tio Cie Hiong hanya tersenyum. sementara Tan Li cu terus menatap Tio Cie Hiong dengan mata tak berkedip. karena ia mengenali bentuk badannya.

"Siapa Tayhiap?"

Tanya Tan Li cu mendadak.

"Kelak kalian akan mengetahuinya,"

Sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Aku telah memunahkan racun di tubuh kalian, maka kini kalian telah pulih."

"Terima kasih, Tayhiap"

Ucap Tan Li cu.

"Kalau Tayhiap tidak muncul menolong kami, kami pasti sudah celaka."

"Apakah kalian sepasang kekasih?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Bukan,"

Sahut Lie Man chiu cepat, sekaligus memperkenalkan diri "Namaku Lie Man Chiu, murid Tayli lo Ceng. Dia bernama Tan Li cu, murid It sim sin Ni."

"Apa?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Tayhiap kenal guruku dan gurunya?"

Tanya Lie Man chiu heran.

"Kenal."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Aku pernah bertemu It sim sin Ni, tapi...."

"Kapan Tayhiap bertemu guruku?"

Tanya Tan Li cu.

"Kalau tidak salah, sudah dua tiga tahun yang lalu. Namun aku tidak melihatmu di sana."

"Dua tahun lalu, Tayli Lo Ceng membawaku ke sana menjadi murid It sim sin Ni."

Tan Li Cu memberitahukan.

"Ya itu setelah Liu siauw Kun membunuh ayah dan anakku."

"Apa?"

Tio Cie Hiong terkejut sekali.

"Liu siauw Kun...."

"Tayhiap"

Lie Man chiu menatapnya heran.

"Kenapa Tayhiap begitu terkejut mendengar Liu siauw Kun membunuh ayah dan anak Tui Beng Li?"

"Karena aku tidak menyangka kalau Liu siauw Kun begitu kejam. Aaakh..."

Tio Cie Hiong menghela nafas panjang, kemudian berpesan.

"selanjut-nya kalian harus berhati-hati"

"Ya."

Lie Man chiu mengangguk.

"Oh ya"

Tio Cie Hiong mengeluarkan dua butir pil, lalu diberikan kepada mereka seraya berkata.

"Kalau kalian makan pil anti racun ini, selama tiga bulan kalian akan kebal terhadap racun apapun."

"Terima kasih"

Ucap Lie Man chiu dan Tan Li cu. Mereka menerima pil itu, lalu dimasukkan ke mulut.

"Menurutku, lebih baik kalian ke markas pusat Kay Pang secara diam-diam."

Ujar Tio Cie Hiong mengusulkan "Temuilah Bu Lim Ji Khie"

"Sebetulnya kami mau ke sana menanyakan tentang Tio Cie Hiong, tapi khawatir akan menyusahkan pihak Kay Pang."

Lie Man chiu memberitahukan.

"Maka kami tidak jadi kelana."

"Kalian boleh ke sana secara diam-diam,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Maka tidak akan menyusahkan Kay Pang."

"Akan kami pikirkan itu,"

Sahut Lie Man chiu.

"Baiklah."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"sampai jumpa"

Tio Cie Hiong lalu melesat pergi. Lie Man chiu memanggilnya, namun Tio Cie Hiong sudah tidak kelihatan.

"Bukan main tingginya ginkang orang itu"

Lie Man chiu menggeleng-gelengkan kepala. Tan Li cu diam saja, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.

"Tui Beng Li, apa yang engkau pikirkan?"

Tanya Lie Man chiu.

"Wajah dan suara lain, tapi bentuk badannya..."

Gumam Tan Li cu.

"Persis seperti Tio Cie Hiong."

"Apa?"

Lie Man chiu terbelalak.

"Maksudnya orang itu mirip Tio Cie Hiong?"

"Bentuk badannya, tapi tidak mungkin...."

"Mcmang tidak mungkin. Tio Cie Hiong masih muda, sedangkan orang itu berusia empat puluhan."

Ujar Lie Man Chiu sambil memandangnya.

"Oh ya, bagaimana menurutmu?"

"Tentang apa?"

"Dia mengusulkan agar kita ke markas pusat Kay Pang secara diam-diam, apakah engkau mau ke sana?"

"Aku khawatir, kalau pihak Bu Tek Pay tahu, mereka pasti mencelakai pihak Kay Pang. Maka untuk sementara ini kita jangan ke sana, lebih baik kita lihat dulu bagaimana perkembangan selanjutnya."

"Baiklah."

Lie Man chiu manggut-manggut dan bergumam.

"Aku yakin kepandaian orang itu pasti tinggi sekali."

Sementara itu, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun juga telah tiba di markas, dan langsung melapor tentang kejadian itu.

"Apa?"

Tang Hai Lo Mo tertegun. Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek ditolong oleh orang tak dikenal itu?"

"Ya."

Ang Bin sat sin mengangguk.

"Kepandaian orang itu tinggi sekali. Ketika kuserang, dia cuma mengibaskan lengan bajunya membuat diriku terhuyung-huyung beberapa depa dan nafasku terasa sesak."

"oh?"

Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.

"Kalau begitu, kenapa orang itu tidak menyerang kalian?"

"Mungkin dia melihat Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek terkapar pingsan, karena mendadak dia menyambar mereka dan melesat pergi."

Ang Bin sat sin memberitahukan.

"Di bahu orang itu duduk seekor monyet bulu putih."

"oh?"

Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening lagi.

"siapa orang itu?"

"Mungkingkah dia adalah guru Tui Beng Li atau Thian Liong Kiam Khek?"

Tanya Thian Mo.

"Tidak mungkin."

Ang Bin Sat sin menggelengkan kepala.

"sebab usia orang itu kelihatan baru empat puluhan."

"Kini...,"

Ujar Te Mo gusar.

"Bertambah satu lawan tangguh lagi, maka kita harus bersiap-siap."

"Hm"

Dengus Tang Hai Lo Mo.

"Mereka pasti tidak berani menyerbu ke mari, karena di sini banyak jebakan."

"Kalau pun mereka menyerbu ke mari, kita tidak perlu takut"

Ujar siluman Kurus sambil tertawa.

"Kami berdua akan membunuh mereka."

"Oh ya."

Tang Hai Lo Mo teringat sesuatu.

"Entah bagaimana Lak Kui yang di markas cabang?"

"Kalau pemilik Hong Hoang Leng muncul, mereka berenam pasti dapat membekuknya,"

Sahut siluman Gemuk sambil tertawa.

"Ha ha ha..."

Bab 69 Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa terluka Di dalam sebuah kamar penginapan, tampak Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa duduk berhadapan sambil bercakap-cakap. Wajah gadis itu cerah ceria.

"Paman Lo Toa, aku sama sekali tak menyangka kalau nenekku masih hidup,"

Ujar Tio Hong Hoa sambil tersenyum.

"Kalau ayahku tahu, pasti gembira sekali."

"Hoa ji"

Tio Lo Toa tertawa.

"Tahukah engkau berapa usia nenekmu sekarang?"

"Tentunya sudah di atas seratus, tapi masih begitu sehat dan gagah,"

Sahut Tio Hong Hoa dan menambahkan.

"Kini kita baru tahu jelas, ternyata kakekku telah salah paham terhadapnya."

"Yaah"

Tio Lo Toa menggeleng-gelengkan kepala.

"sayang sekali kakekmu telah tiada, begitu pula pamanmu."

"oh ya Entah bagaimana keadaan Adik Cie Hiong? Apakah dia sudah sembuh?"

"Kalau sudah sembuh, dia pasti muncul dalam rimba persilatan."

"Paman Lo Toa"

Ujar Tio Hong Hoa merendahkan suaranya.

"Kini markas cabang Bu Tek Pay cuma tinggal satu. Bagaimana kalau malam ini kita pergi memberantas para anggota yang di situ?"

"Hoa ji"

Tio Lo Toa menghela nafas.

"Kita sudah membunuh banyak anggota Bu Tek Pay, menurut aku...."

"Mereka begitu jahat, maka harus dibunuh,"

Potong Tio Hong Hoa dan mendesaknya.

"Paman Lo Toa, malam ini kita pergi memberantas mereka ya"

Tio Lo Toa berpikir lama sekali, akhirnya mengangguk.

"Baiklah."

Setelah larut malam, berangkatlah mereka menuju markas cabang Bu Tek Pay itu.

Keduanya sama sekali tidak tahu bahwa Kwan Gwa Lak Kui sudah menunggu mereka di sana.

Begitu sampai di markas cabang itu, Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa terheran-heran, karena tiada seorang penjaga pun di depan markas cabang tersebut.

"Kok sepi?"

Ujar Tio Lo Toa.

"Mungkin para anggota Bu Tek Pay disini sedang bersenang-senang di dalam,"

Sahut Tio Hong Hoa.

"Paman Lo Toa, mari kita masuk saja"

Tio Lo Toa mengangguk, lalu mereka berdua melesat ke halaman. sungguh mengherankan, di halaman itu pun sepi, tidak tampak seorang penjaga pun di sana.

"Hoa ji"

Bisik Tio Lo Toa.

"Kelihatannya agak kurang beres, mari kita pergi"

"Sudah terlambat Ha ha ha..."

Terdengar suara tawa dan mendadak berkelebat beberapa sosok bayangan ke hadapan mereka. Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa terkejut bukan main, maka gadis itu segera menghunus Hong Hoang Pokiamnya.

"siapa kalian?"

Bentak Tio Lo Toa.

"Ha ha ha Kami Kwan Gwa Lak Kui sudah sekian lama kami menunggu kedatangan kalian Karena ternyata kalian pemilik Hong Hoang Leng, maka malam ini kalian berdua harus mampus"

"Kwan Gwa Lak Kui?"

Tio Lo Toa tersentak dan berkeluh dalam hati.

"Benar"

Sahut Tiau Am Kui.

"Tentu kalian pernah mendengar kami Nah, bersiap-siaplah untuk mati"

Kwan Gwa Lak Kui segera mengepung Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa.

"Hoa ji Hati-hati, mereka berenam memiliki kepandaian ang sangat tinggi"

Tio Hong Hoa mengangguk.

"Serang"

Seru Tiauw Am Kui mendadak.

Mereka berenam langsung menyerang Tlo Lo Toa dan Tio Hong Hoa dengan tangan kosong.

Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa cepat-cepat berkelit, lalu balas menyerang.

Maka terjadilah pertarungan sengit dan seru.

Kwan Gwa Lak Kui mengeluarkan Ku Lu Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Tengkorak).

Mereka melatih ilmu tersebut dari tengkorak manusia, maka ketika mengeluarkan ilmu tersebut, telapak tangan mereka berubah putih.

Tio Hong Hoa mengeluarkan Hong Hoang Kiam Hoat, sekaligus mengerahkan Kiu Yang sin Kang.

sedangkan Tio Lo Toa menggunakan Teng san ciang Hoat (Ilmu Pukulan Merobohkan Gunung), yang mengandung Kiu Yang sin Kang.

Kwan Gwa Lak Kui memiliki Pek Kut Cuang Sim Kang (Lwee Kang Tulang Putih Penembus Hati), yang sangat ganas, siapa yang terpukul, hati dan jantungnya pasti hancur.

Setelah pukulan jurus kemudian, Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa mulai terdesak dan mendadak terdengar suara jeritan Tio Hong Hoa, ternyata dadanya telah terpukul, membuatnya terhuyunghuyung beberapa langkah ke belakang dengan wajah pucat-pias.

Tio Lo Toa terkejut sekali.

sudah barang tentu perhatiannya menjadi pecah, sehingga sebuah pukulan"

Mendarat di dadanya.

"Duuuk"

"Aaaakh"

Ia menjerit dan memuntahkan darah segar.

"Ha ha ha"

Kwan Gwa Lak-Kui tertawa gelak.

"Malam ini kalian berdtia harus mampus"

Mereka berenam mendekati Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa yang telah terluka dalam. Akan tetapi sekonyong-konyong melayang turun sosok bayangan dari terdengar suara bentakan mengguntur.

"Berhenti"

Yang melayang turun di hadapan Tlo Lo Toa dan Tio Hong Hoa, itu ternyata Tio Cie Hiong.

"Siapa engkau?"

Bentak Tiauw Am Kui.

"Hm"

Dengus Tio Cie Hiong.

"Serang dia"

Seru Tiauw Am Kui. Mereka berenam langsung menyerang Tio Cie Hiong dengan Ku Lu ciang Hoat. Tio Cie Hiong tidak berkelit, melainkan menangkis pukulan-pukulan itu dengan kibasan lengan bajunya.

"Daaar"

Terdengar suara benturan dahsyat.

Badan Tio Cie Hiong bergoyang-goyang, sedangkan Kwan Gwa Lak Kui terdorong mundur beberapa langkah.

Di saat bersamaan, mendadak Tio Cie Hiong menyambar Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa, sekaligus melesat pergi menggunakan ginkang.

"Kita kejar dia"

Seru Bu Ceng Kui.

"Tidak usah"

Sahut Tiauw Am Kui sambil menggelengkan kepala.

"Ginkang orang itu tinggi sekali, kita tidak akan dapat menyusulnya."

"Kepandaian orang itu sungguh tinggi sekali. Kibasan lengan bajunya dapat menangkis pukulanpukulan kita,"

Ujar Toa Thau Kui.

"Entah siapa dia?"

"Lebih baik kita pulang sekarang,"

Ujar Tiauw Am Kui.

"Kita rundingkan dengan Bu Lim sam Mo."

Mereka berenam langsung melesat pergi menggunakan ginkang.

Dalam perjalanan pulang ke markas, Kwan Gwa Lak Kui terus berpikir siapa orang itu....

Tio Cie Hiong sudah sampai di sebuah gubuk kosong di dalam rimba.

Dengan hati-hati sekali ia menaruh Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa ke bawah, lalu memeriksa mereka dengan cermat sekali.

Sementara Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa masih dalam keadaan pingsan, setelah memeriksa mereka, Tio Cie Hiong pun menarik nafas lega.

Mereka berdua memang terluka cukup parah, namun karena terlindung oleh Kiu Yang sin Kang, maka pukulan itu tidak sampai merusak jantung mereka.

Tio Cie Hiong memasukkan sebutir pil ke mulut mereka.

Berselang beberapa saat kemudian, mereka siuman lalu mengeluarkan suara keluhan.

"Duduklah bersila dan kerahkan lweekang kalian agar kalian cepat sembuh"

Ujar Tio Cie Hiong.

Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa menurut.

Mereka segera duduk bersila dan memejamkan mata sambil mengerahkan Kiu Yang sin Kang.

Kira-kira satu jam kemudian, barulah mereka membuka mata dan memandang Tio Cie Hiong.

"Terimakasih atas pertolongan, Tayhiap"

Ucap mereka serentak.

"Tidak usah mengucapkan terima kasih"

Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum dan berkata.

"Kwan Gwa Lak Kui berkepandaian tinggi sekali, kenapa kalian masih ke sana menempuh bahaya?"

"Kami...."

Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa tergagap.

"Kami sama sekali tidak tahu bahwa Lak Kui berada di sana."

"Oooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kalian memang telah sembuh, namun kondisi kalian masih lemah. oleh karena itu, kalian masih perlu beristirahat satu atau dua hari."

"Ya."

Tio Lo Toa mengangguk.

"Oh ya, bolehkah kami tahu nama besar Tahyiap?"

"Kalian akan mengetahuinya kelak."

Karena Tio Cie Hiong menyahut demikian, Tio Lo Toa tidak bertanya lagi, karena tahu bahwa penolong itu tidak mau menyebut namanya.

"Nona...."

"Namaku Tio Hong Hoa,"

Ujar gadis itu cepat.

"Tayhiap panggil namaku saja"

"Nona Hong Hoa, lebih baik engkau beristirahat"

Tio Cie Hiong menatapnya.

"Sebab badanmu masih lemah."

"Tidak apa-apa"

Sahut Tio Hong Hoa sambil tersenyum.

"Kepandaian Tayhiap sungguh tinggi sekali, Tayhiap hanya mengibaskan lengan baju tapi mampu, membuat Lak Kui terdorong mundur"

"Itu merupakan kepandaian biasa."

"Tayhiap terlampau merendahkan diri."

Tio Lo Toa tertawa.

"Kenapa Tayhiap bisa begitu kebetulan menolong kami?"

"Memang kebetulan"

Tio Cie Hiong memberitahukan..

"Ketika aku melewati markas cabang Bu Tek Pay itu, aku mendengar suara pertarungan, maka aku masuk sekaligus menolong, kalian."

"Oooh".Tio Lo Toa manggut-manggut.

"Kami memang tidak tahu, bahwa Kwan Gwa Lak Kui berada di situ. Kalau tahu, tentunya kami tidak akan ke sana."

"Sebetulnya aku yang bersalah,"

Ujar Tio Hong Hoa "Aku yang mendesak Paman Lo Toa pergi memberantas para anggota Bu Tek Pay itu. untung Tayhiap segera menolong kami. Kalau tidak. entah bagaimana nasib kami."

"Kalian memiliki semacam lweekang pelindung jantung, kalau tidak mungkin aku juga tidak bisa menyelamatkan kalian"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Kalau tidak salah, kalian pemilik Hong Hoang Leng, kan?"

"Aaaakh..."

Tio Lo Toa menghela nafas panjang"

"Kami telah mempermalukan Hong Hoang Leng.."

"Sebetulnya tidak."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Karena mereka berenam. Kalau satu lawan satu, kalian pasti tidak akan kalah."

"Ya."

Tio Lo Toa mengangguk.

"Oh ya, setelah kalian pulih. lebih baik kalian ke markas pusat Kay Pang saja"

Usul Tio Cie Hiong.

"Temuilah. Bu Lim Khie, namun kalian ke sana harus secara diam-diam jangan sampai diketahui pihak Bu Tek Pay." .

"Kenapa kami harus kesana?"

Tanya Tio Hong Hoa.

"Setelah sampai di sana, kalian pasti tahu."

"Heran"

Gumam Tio Hong Hoa tidak mengerti.

"Kenapa Tayhiap selalu mengatakan demikian?,"

"Hoa ji."

Tegur Lio Lo Toa "Jangan kurang ajar."

Tio Hong Hoa cemberut.

"Aku tidak kurang ajar, hanya merasa heran."

"Untuk sementara ini...."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku masih harus menjaga suatu rahasia, harap kalian maklum"

"Kami maklum."

Sahut Tio Lo Toa.

"Itu...."

Tio Hong Hoa menunjuk monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio Cie Hiong.

"Bulu monyet itu seperti saiju, sungguh bersih dan bagus sekali."

Monyet bulu putih bercuit-cuit, kelihatannya gembira sekali karena gadis itu memujinya.

"Nona Hong Hoa"

Tio Cie Hiong memberitahukan sambil tersenyum.

"Monyet ini bisa menari Iho"

"Oh, ya?"

Tio Hong Hoa tertarik dan berkata.

"Tayhiap. bolehkah Tayhiap menyuruh monyet itu menari sebentar?"

"Tentu boleh."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kauw heng, turunlah"

Monyet bulu putih meloncat turun, sedangkan Tio Cie Hiong mengeluarkan suling kumalanya.

"Kauw heng, aku meniup suling, engkau menari ya"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

Monyet bulu putih manggut-manggut.

Kemudian Tio Cie Hiong pun mulai meniup suling kumalanya.

Betapa merdu dan sedap didengar suara suling itu, membuat Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa melongo.

Mereka tidak menyangka kalau penolong itu begitu mahir meniup suling.

setelah suara suling itu mengalun, monyet bulu putih mulai menari-nari lemah gemulai, sehingga membuat Tio Hong Hoa tertawa geli.

Berselang sesaat, mendadak irama suling berubah menjadi cepat, dan nadanya meninggi, dan seketika monyet bulu putih bergerak laksana kilat, berkelebatan ke sana ke mari.

Menyaksikan itu, Tio Lo Toa terkejut bukan main, sebab monyet bulu putih sedang mempertunjukkan semacam ilmu silat.

sedangkan Tio Hong Hoa menyaksikannya dengan mulut ternganga lebar.

Beberapa saat kemudian, barulah Tio Cie Hiong berhenti meniup sulingnya, dan monyet bulu putih pun berhenti bergerak, lalu meloncat ke atas bahu Tio Cie Hiong.

"Bagus Hebat sekali"

Seru Tio Hong Hoa sambil bertepuk-tepuk tangan.

Monyet bulu putih bercuit-cuitan, sedangkan Tio Lo Toa diam saja, ia tahu saat ini berhadapan dengan orang yang berkepandaian sangat tinggi, maka tidak berani bicara sembarangan.

"Sebentar lagi hari akan pagi, aku akan pergi beli sedikit makanan kering untuk kalian,"

Ujar Tio Cie Hiong dan berpesan.

"Kalian harus tetap di sini, jangan pergi ke mana-mana"

"Ya, Tayhiap."

Tio Lo Toa mengangguk.

"Tayhiap. bolehkah aku ikut?"

Tanya Tio Hong Hoa mendadak.

"Tidak boleh. Lebih baik engkau beristirahat di sini."

Jawab Tio Cie Hiong.

"Tayhiap .."

"Hoa "ji tegur Tio Lo Toa dengan kening berkerut.

"jangan bandel, turutilah perkataan Tayhiap"

"Paman Lo Toa"

Tio Hong Hoa menundukkan kepala "Baiklah."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku pergi sebentar, kalian tunggu disini, jangan pergi ke mana-mana"

Tio Cie Hiong melesat pergi menggunakan ginkangnya. Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa saling memandang, kemudian Tio Lo Toa menghela nafas panjang seraya berkata.

"Kepandaian orang itu masih diatas ayahmu, entah siapa dia..."

Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun duduk dengan wajah serius, kelihatannya mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.

"Ini merupakan masalah penting yang harus kita perhatikan."

Ujar Tang Hai Lo Mo dengan kening berkerut.

"sebab kemunculan orang itu pasti merupakan halangan bagi kita."

"Benar."

Thian Mo manggut-manggut.

"Dia telah menolong Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek, bahkan kini menolong pemilik Hong Hoang Leng...."

"Kepandaiannya tinggi sekali,"

Sela Tiauw Am Kui memberitahukan.

"Dia cuma mengibaskan lengan bajunya, tapi dapat membuat kami berenam terdorong mundur beberapa langkah. Dapat dibayangkan, betapa tinggi lweekangnya."

"Heran..."

Gumam siluman Gemuk sambil mengerutkan kening.

"siapa orang itu? setahuku di Tionggoan ini tidak ada orang yang berkepandaian setinggi itu."

"It Ceng sudah mati, Ji Khie tak berkutik dan Tio Cie Hiong sudah mati. Lalu... siapa orang itu?"

Sahut Tang Hai Lo Mo dengan kening berkerut-kerut.

"Lagi pula orang itu membawa seekor monyet bulu putih. Padahal selama puluhan tahun ini, sama sekali tidak pernah mendengar nama orang tersebut."

"Dia baru berusia empat puluhan, namun kepandaiannya memang luar biasa."

Bu Ceng Kui menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau bertarung, belum tentu kami berenam mampu mengalahkannya ."

"oh?"

Siluman Kurus tersentak.

"Kalau kami berdua yang menghadapinya, apakah kami akan menang?"

Tanyanya.

"Sulit dikatakan."

Tiauw Am Kui menggeleng-gelengkan kepala.

"Sebab kami cuma merasakan kibasan lengan bajunya, belum bertarung dengan dia, jadi kami belum tahu jelas berapa tinggi kepandaiannya."

"Kalau begitu...."

Kwan Gwa siang Keay menatapnya.

"Kenapa kalian mengatakan kalian berenam belum tentu mampu mengalahkannya?"

"Sebab kibasan lengan bajunya saja membuat kami merasa berkunang-kunang. Lagi pula dia mampu pergi begitu saja dengan membawa kedua orang yang terluka itu."

Ujar Tiauw Am Kui.

"Itu pertanda dia berkepandaian tinggi sekali."

"Ngmmm"

Siluman Kurus manggut-manggut.

"Kalian berhasil melukai kedua orang itu dengan pukulan Ku Lu ciang Hoat?"

"Benar."

Tiauw Am Kui mengangguk.

"Kalau begitu..."

Siluman Kurus tertawa.

"Mereka berdua pasti sudah terluka dalam."

"Tidak salah."

Sahut ok sim Kui.

"Tapi belum tentu bisa membuat mereka mati."

"Kenapa?"

Tanya siluman Kurus.

"Sebab mereka memiliki semacam lweekang yang dapat melindungi jantung, maka jantung mereka tidak akan hancur terkena pukulan kami."

Ok sim Kui memberitahukan.

"Lagi pula kami menyerang mereka cuma menggunakan tujuh bagian lweekang Pek Kut Cuan sim Kang."

"Oooh"

Siluman Kurus manggut-manggut "Tidak apa-apa, anggaplah sebagai pelajaran bagi mereka"

"Terus terang..."

Ujar Tang Hai Lo Mo serius.

"Aku tidak begitu memusingkan Tui Beng Li, Thiang Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng. Yang kupikirkan adalah orang yang punya monyet bulu putih itu. Kalau dia menentang Bu Tek Pay, kita akan kewalahan menghadapinya ."

"Benar."

Thian Mo dan Te Mo manggut-manggut.

"Hmm"

Dengus Kwan Gwa siang Keay dingin.

"Kami berdua akan menghadapinya dengan Tek Im Ciang, biar dia tahu rasa"

"Oh ya"

Tang Hai Lo Mo teringat sesuatu, lalu memandang Ang Bin sat sin seraya bertanya.

"Bagaimana Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya?"

"Hingga saat ini Kay Pang tiada kegiatan apa-apa,"

Jawab Ang Bin sat sin memberitahukan.

"Tujuh partai besar sudah menutup pintu perguruan masing-masing, sama sekali tidak berani bergerak dalam rimba persilatan."

"Bagus Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Jadi kini perhatian kita harus dipusatkan pada orang yang punya monyet bulu putih itu. Apabila dia berani menentang kita, kita harus berupaya membunuhnya"

"Benar."

Kwan Gwa siang Keay manggut-manggut.

"Perintahkan kepada para anggota, apabila melihat orang itu, harus segera melapor kepada kita"

"Baik."

Bu lim sam Mo mengangguk dan berkata.

"Mulai sekarang, kita juga harus berhati-hati terhadap orang itu."

Setelah membeli makanan kering, Tio cie Hlong lalu memasuki sebuah kedai teh.

Akan tetapi, ia tidak mendapat tempat duduk karena kedai teh itu telah penuh sesak.

la berdiri sambil menengok ke sana ke mari, tiba-tiba seorang tua berusia tujuh puluhan melambaikan tangannya seraya berkata.

"Mari duduk di sini"

"Terima kasih"

Sahut Tio Cie Hiong, kemudian duduk di hadapan orang tua tersebut.

"Mau makan apa?"

Tanya orang tua itu ramah.

"Aku cuma mau minum teh."

Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian seorang pelayan menyuguhkan teh kepadanya.

"Engkau membawa monyet, apakah engkau penjual atraksi keliling?"

Tanya orang tua itu.

"Bukan."

Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.

"Monyet bulu putih ini kawan baikku, maka aku selalu membawanya ke mana-mana."

"Oooh"

Orang tua itu manggut-manggut.

"Kalau begitu, apakah engkau pengembara?"

"Kira-kira begitulah."

"jadi engkau telah mengembara ke sana ke mari?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk dan bertanya.

"Paman juga pengembara?"

"Bukan."

Orang tua itu menggelengkan kepala.

"sebetuinya boleh dikatakan aku baru datang di Tionggoan."

"oh?"

Tio Cie Hiong tercengang.

"bukan orang Tionggoan?"

"Aku lahir di Tionggoan, tapi...."

Orang tua itu memberitahukan.

"pindah ke sebuah pulau ketika masih kecil."

"Pulau apa?"

"Rahasia."

Orang tua itu tersenyum dan menambahkan.

"seperti engkau yang punya rahasia."

"Aku punya rahasia?"

"Ya."

Orang tua itu menatapnya.

"Bukankah engkau memakai kedok kulit? Nah, engkau punya rahasia, kan?"

"Sungguh tajam mata Paman"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku memang memakai kedok kulit, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."

"Menghindari musuh? "

"Menghindari sih tidak. hanya tidak mau banyak urusan."

Tio Cie Hiong menatapnya.

"Kelihatannya Paman berkepandaian tinggi sekali, apakah Paman diundang oleh pihak Bu Tek Pay?"

"Tidak."

Orang tua itu menatap Tio Cie Hiong.

"Aku tahu, engkau juga memiliki kepandaian tinggi. sorot matamu begitu tajam dan bersih, karena itu aku tahu engkau bukan orang jahat."

"Paman pun bukan orang jahat."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Bagaimana engkau bisa tahu aku bukan orang jahat?"

Tanya orang tua itu sambil tertawa.

"Kalau Paman orang jahat, monyetku ini pasti mengetahuinya. Dia diam saja, pertanda Paman bukan orang jahat."

"oh?"

Orang tua itu tertawa lagi.

"Kalau begitu, monyetmu itu monyet sakti?"

"Cukup sakti."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"juga memiliki naluri yang tajam, maka bisa membedakan orang baik dan orang jahat."

"Ha ha ha"

Orang tua itu tertawa gelak.

"Luar biasa"

"Oh ya"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"Ada urusan apa Paman datang di Tionggoan?"

"Karena engkau bukan orang jahat, maka aku harus memberitahukan,"

Sahut orang tua itu.

"Mudah-mudahan engkau bisa membantuku"

"Apa yang bisa kubantu?"

Tanya Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Terus terang, aku datang di Tionggoan untuk mencari putriku, yang datang duluan bersama pembantuku."

Orang tua itu memberitahukan.

"Tapi aku tidak tahu mereka berada di mana sekarang?"

"Paman, bolehkah aku tahu nama mereka?"

"Mereka bernama Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa."

"Apa?"

Tio Cie Hiong tersentak.

"Jadi Nona Tio Hong Hoa adalah putri Paman?"

"Ya."

Orang tua itu mengangguk dan terbelalak.

"engkau kenal putriku?"

"Kenal...."Ketika Tio Cie Hiong baru mau memberitahukan, mendadak muncul belasan anggota Bu Tek Pay menghampiri mereka. Kemunculan belasan anggota Bu Tek Pay membuat tamu-tamu lain yang sedang minum di situ lari ketakutan, namun Tio Cie Hiong dan orang tua itu masih duduk tenang di tempat.

"Mau apa mereka ke mari?"

Tanya orang tua itu heran.

"Mungkin mau cari gara-gara denganku,"

Sahut Tio Cie Hiong lalu berkata kepada monyet bulu putih yang duduk di bahunya.

"Kauw heng, aku sedang bercakap-cakap dengan Paman ini, jadi tidak mau diganggu, maka beresilah mereka Namun engkau jangan membunuh, cukup memusnahkan kepandaian mereka saja"

Monyet bulu putih itu bercuit dan mengangguk. lalu melesat pergi sambil menampar beberapa anggota Bu Tek Pay itu.

"Monyet sialan"

Caci mereka sekaligus mengejar monyet bulu pulih yang berloncat-loncatan ke luar.

"Monyetmu itu bisa berkelahi?"

Tanya orang tua itu heran.

"Bisa."

Tio Cie Hiong mengangguk sambil tersenyum.

"Engkau tidak perlu bantu monyet itu?"

Orang tua itu mengerutkan kening, kelihatannya tidak percaya kalau monyet bulu putih tersebut mampu melawan belasan anggota Bu Tek Pay.

"Tidak perlu."

Tio Cie Hiong tersenyum. Di saat bersamaan monyet bulu putih telah kembali dan meloncat ke atas bahu Tio Cie Hiong.

"Bagaimana Kauw heng, engkau sudah membereskan mereka?"

Monyet bulu putih bercuit tiga kali sampai manggut-manggut, sedangkan orang tua itu terbelalak.

"Be... begitu cepat?"

Orang tua itu terperangah, kemudian bangkit berdiri sekaligus memandang ke depan. la melihat belasan anggota Bu Tek Pay berusaha bangun sambil merintih-rintih, dan mulut mereka mengeluarkan darah.

"Haaah..."

Orang tua itu kembali ke tempat duduk. terus menatap monyet bulu putih dengan mata terbeliak lebar.

"Paman sudah melupakan pokok pembicaraan kita?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Bukan main Sungguh bukan main"

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh ya, engkau kenal putriku?"

"Kenal. Mari ikut aku menemui mereka"

"Baik"

Mereka lalu meninggalkan kedai itu.

Begitu sampai di luar, Tio Cie Hiong mengerahkan ginkangnya.

orang tua itu juga mengerahkan ginkangnya untuk mengikuti Tio Cie Hiong.

Bukan main terkejutnya orang tua itu, karena tidak menyangka kalau ginkang Tio Cie Hiong begitu tinggi.

Padahal ia telah mengerahkan tenaga sepenuhnya, namun tetap berada di belakang Tio Cie Hiong.

Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah memasuki sebuah rimba.

Tak lama tampaklah sebuah gubuk, dan dua orang duduk di halamannya.

Mereka tidak lain Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa, yang sedang menunggu Tio Cie Hiong pulang.

Tio Cie Hiong dan orang tua itu melesat menghampiri mereka.

Betapa terkejutnya Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa, tapi ketika melihat siapa yang muncul, Tio Hong Hoa langsung berseru girang.

"Ayah"

Gadis itu segera mendekap di dada orang tua itu.

"Nak"

Orang tua itu membelainya. Ternyata dia Tio Tay seng.

"Tocu (Majikan Pulau)"

Panggil Tio Lo Toa sambil memberi hormat. Tio Tay seng manggut-manggut, kemudian memandang Tio Cie Hiong sambil tertawa gembira.

"Terimakasih Terimakasih...."

"Sama-sama,"

Jawab Tio Cie Hiong laiu menaruh sebuah bungkusan.

"Kini paman sudah bertemu mereka, maka aku mohon diri"

"Eeeh...?"

Tio Tay seng ingin menahannya, namun Tio Cie Hiong telah melesat pergi.

"Sampai jumpa"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Aaaakh..."

Tio Tay seng menghela nafas.

"Kenapa dia begitu cepat pergi? Padahal aku masih ingin mengobrol dengannya"

"Ayah bertemu dia di mana?"

Tanya Tio Hong Hoa.

"Di sebuah kedai...,"

Jawab Tio Tay Seng memberitahukan dan menambahkan.

"Sungguh luar biasa monyet bulu putih...."

"Apa?"

Tio Hong Hoa terbelalak.

"Monyet itu mampu merobohkan belasan anggota Bu Tek Pay?"

"Benar."

Tio Tay seng mengangguk.

"Kalau tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, mungkin ayah juga tidak percaya."

"Monyet bulu putih memang berkepandaian tinggi, apalagi Tayhiap itu"

Sela Tio Lo Toa.

"Oh ya"

Tio Tay seng memandang mereka.

"Kek kalian bisa bersama pemuda itu?"

"Eh? Ayah sudah pikun ya?"

Tio Hong Hoa "

Menatapnya heran.

"Tayhiap itu sudah berusia empat puluhan, kenapa ayah katakan dia pemuda?"

"Ha ha ha"

Tio Tay seng tertawa.

"Kalian masih tidak tahu...."

"Kenapa?"

Tio Hong Hoa kebingungan.

"Dia memakai kedok kulit."

Tio Tay seng memberitahukan.

"Kalau tidak melihat tangannya, aku pun tidak akan tahu bahwa dia memakai kedok kulit."

"Ayah tidak salah lihat?"

Tio Hong Hoa tidak percaya.

"Ketika ayah bercakap-cakap dengan dia, tanpa sengaja ayah melihat tangannya begitu halus,"

Sahut Tio Tay seng.

"Karena itu, ayah tahu bahwa dia memakai kedok kulit. Lagi pula dia juga mengaku...."

"Ayah Kira-kira berapa usianya?"

"Mungkin baru dua puluhan."

"Apa?"

Tio Hong Hoa melongo.

"Tidak mungkin."

"Kenapa engkau mengatakan tidak mungkin?"

Tio Tay seng menatapnya.

"Sebab kepandaiannya tinggi sekali. Maka aku tidak percaya kalau usianya baru dua puluhan."

"Kalian pernah menyaksikan kepandaiannya?"

"Ya."

Tio Hong Hoa mengangguk dan memberitahukan.

"Dia yang menolong kami, kalau tidak. kami berdua pasti sudah mati."

"Apa?"

Tio Tay seng terkejut bukan main.

"Kalian bertemu musuh tangguh?"

"Tocu"

Jawab Tio Lo Toa dan menutur.

"Kami bertarung dengan Kwan Gwa Lak Kui...."

"Hah?"

Wajah Tio Tay seng berubah.

"Kwan Gwa Lak Kui berkepandaian tinggi sekali, kenapa kalian lawan?"

"Kami pergi ke markas cabang Bu Tek Pay, tidak tahunya Kwan Gwa Lak Kui sudah menunggu disana,"

Ujar Tio Hong Hoa dan melanjutkan.

"Aku dan Paman Lo Toa terkena pukulan, untung muncul tayhiap itu menolong kami."

"Apakah mereka bertarung mati-matian?"

Tanya Tio Tay seng.

"Tidak"jawab Tio Hong Hoa.

"Begitu tayhiap itu muncul di hadapan kami, Lak Kui langsung menyerangnya. Tapi tayhiap itu lalu mengibaskan lengan bajunya, sehingga membuat Lak Kui itu terdorong mundur beberapa langkah."

"Haaah?"

Mulut Tio Tay seng ternganga lebar.

"Engkau tidak salah lihat?"

"Tocu"

Sela Tio Lo Toa.

"Kami tidak salah lihat. setelah Lak Kui terdorong mundur, tayhiap itu langsung menyambar kami. Di saat itulah kami pingsan, dan ketika siuman, kami sudah berada di dalam gubuk itu. Ternyata tayhiap itu telah mengobati kami."

"Heran"

Gumam Tio Tay Seng.

"Sebetulnya siapa pemuda itu? Kepandaiannya kok begitu tinggi?"

Tio Hong Hoa tercengang.

"Ayah tidak menanyakan namanya?"

"Tidak. Kalian?"

Tio Tay Seng menatap mereka dengan heran.

"Kalian tidak tahu namanya?"

"Aku sudah bertanya kepadanya, tapi dia jawab kami tentu mengetahuinya kelak."

Tio Hong Hoa memberitahukan.

"Aku tidak mengerti, kenapa dia menjawab begitu."

"Dia pasti merahasiakan sesuatu. Tapi itu tidak jadi masalah, sebab dia bukan orang jahat, lagi pula ayah yakin kelak kita akan mengetahuinya."

"Oh ya"

Tio Hong Hoa teringat sesuatu.

"Ayah, kita harus segera pergi ke Gunung Hong Lay san"

"Pergi ke Gunung Hong Lay San?"

Tio Tay Seng tercengang.

"Kenapa harus pergi ke sana?"

"Menemui It Sim Sin Ni."

"Siapa It Sim Sin Ni itu?"

"It Sim Sin Ni adalah..."

Tio Lo Toa baru mau memberitahukan, tapi keburu diputuskan oleh Tio Hong Hoa.

"It Sim Sin Ni adalah pemilik biara di puncak Gunung Hong Lay San. Dia berpesan kepadaku, apabila bertemu ayah, harus bawa ayah ke sana menemuinya."

"Hoa ji"

Tio Tay Seng menatapnya dalam-dalam.

"Kenapa engkau bersikap misterius?"

"Kalau sudah bertemu It sim sin Ni, ayah pasti tahu."

"Baiklah. Mari kita berangkat sekarang"

Ujar Tio Tay seng. la yakin putrinya tidak main-main. It sim sin Ni sedang duduk bersemadi di dalam sebuah ruangan, salah seorang muridnya masuk untuk melapor.

"Guru, Hong Hoa datang bersama seorang lelaki."

"oh?"

It sim sin Ni tercengang.

"Cepat suruh mereka masuk"

"Ya, Guru."

Murid itu segera keluar. Tak lama muncullah Tio Lo Toa, Tio Tay seng dan Tio Hong Hoa. Begitu melihat It sim sin Ni, mata Tio Tay seng terbelalak, kemudian bersimbah air.

"Ibu...."

Tio Tay seng langsung bersujud di hadapan It sim sin Ni.

"Ibu...."

"Nak"

It sim sin Ni tersenyum lembut dan membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Engkau sudah besar...."

Ucapan itu sungguh menggelikan, sebab Tio Tay seng sudah berusia tujuh puluhan, namun It sim sin Ni malah mengatakannya "Sudah Besar".

Bukankah itu merupakan ucapan yang menggelikan?

Tapi memang harus maklum, sebab sudah hampir tujuh puluh tahun It sim sin Ni berpisah dengan putranya itu "Ibu...."

"Duduklah, Nak"

"Nenek"

Tio Hong Hoa mendekap di pangkuannya dengan sikap manja.

"Aku membawa ayah kemari menemui nenek."

"Terimakasih, cucuku"

Ucap It sim sin Ni sambil membelainya.

"Duduklah"

Tio Tay seng dan Tio Hong Hoa lalu duduk. sedangkan Tio Lo Toa berada di ruang depan.

"Ibu, ayah...."

"Aku sudah tahu dari Hong Hoa, bahwa ayahmu telah meninggal."

"Itseng dan putrinya...."

"Hong Hoa pun telah menceritakan kepada ibu."

It sim sin Ni menghela nafas panjang.

"Sungguh kasihan adikmu dan putrinya itu...."

"Ibu"

Tio Tay seng menatapnya.

"Benarkah ibu dulu menyeleweng."

"Nak"

It sim sin Ni tersenyum getir.

"Engkau percaya ibu menyeleweng dengan lelaki lain?"

"Ayah yang memberitahukan begitu, tapi aku tidak begitu percaya. Ibu, maukah ibu menceritakan tentang itu, agar aku tidak terus merasa penasaran?"

"Ibu sudah menceritakan kepada Hong Hoa. Apakah dia tidak menceritakan kepadamu?"

Tanya It sim sin Ni.

"Tidak."

Tio Tay seng menggelengkan kepala.

"Nenek"

Ujar Tio Hong Hoa.

"Aku buru-buru membawa ayah ke mari, jadi tidak ada waktu untuk menceritakannya."

"Oooh"

It sim sin Ni manggut-manggut, lalu menutur lagi tentang kejadian kesalah pahaman itu.

"Aaakh..."

Tio Tay seng menghela nafas setelah mendengar penuturan itu.

"Ayah terlampau emosi, akhirnya harus hidup merana di pulau Hong Hoang To"

"Oh ya"

It sim sin Ni menatap mereka.

"Bagaimana kalian bertemu?"

"Aku bertemu seseorang, lalu dia mengajakku pergi menemui Hoa ji."

Tio Tay seng memberitahukan.

"Orang itu juga yang menolong kami,"

Sambung Tio Hong Hoa dan menutur tentang kejadian itu.

"Kalau orang itu tidak muncul di saat itu, mungkin aku dan Paman Lo Toa sudah mati."

"Apa?"

Wajah It sim sin Ni berubah.

"Kalian berdua bertarung dengan Kwan Gwa Lak Kui?"

"Ya."

Tio Hong Hoa mengangguk.

"Kepandaian Kwan Gwa Lak Kui tinggi sekali, tapi kepandaian orang itu jauh lebih tinggi. Dia hanya mengibaskan lengan bajunya, Kwan Gwa Lak Kui terdorong mundur beberapa langkah."

"Oh?"

It sim sin Ni terbelalak.

"Siapa orang itu?"

Tio Hong Hoa dan Tio Tay seng menggelengkan kepala, tentunya sangat mencengangkan It sim sin Ni.

"Kalian tidak tahu namanya?"

"Dia tidak mau beritahukan,"

Sahut Tio Hong Hoa.

"Tapi dia bilang, kami akan mengetahuinya kelak."

"Heran?"

It sim sin Ni tidak habis berpikir.

"siapa orang itu?"

"Ibu, dia memakai kedok kulit maka tampak seperti berusia empat puluhan."

Tio Tay seng memberitahukan.

"padahal dia masih muda...."

"Omitohud Ha ha ha"

Terdengar suara yang sangat nyaring bergema ke dalam ruang itu.

"Sin Ni, boleh aku masuk?"

"Lo Ceng, silakan masuk"

Sahut It sin Ni.

"Terima kasih, sin Ni"

Tak lama tampak sosok bayangan berkelebat ke dalam, yang ternyata Tayli Lo Ceng.

"Ha ha ha Aku turut gembira karena kalian ibu dan anak telah berjumpa Omitohud"

"Tay seng"

It sim sin Ni memberitahukan.

"Dia adalah Tayli Lo Ceng."

"Lo Ceng, terimalah hormatku"

Ucap Tio Tay seng sambil memberi hormat.

"Omitohud Engkau tidak usah banyak peradatan Ha ha ha"

Tayli Lo Ceng tertawa gembira.

"Syukurlah kini kalian ibu dan anak sudah berjumpa"

"Lo Ceng"

Ujar It sim sin Ni.

"Cucuku dan Lo Toa itu bertarung dengan Lak Kui."

"Oh?"

Tayli Lo Ceng tampak terkejut sekali.

"Omitohud Bagaimana mereka bertarung dengan Kwan Gwa Lak Kui?"

"Mereka berdua pergi ke markas cabang Bu Tek Pay...."

It sim sin Ni memberitahukan berdasarkan penuturan Tio Hong Hoa.

"Untung muncul orang itu menolong mereka. Kalau tidak...."

"Orang itu memakai kedok kulit dan seekor monyet bulu putih duduk di bahunya."

Tio Tay seng memberitahukan.

"Monyet itu sungguh sakti, mampu merobohkan belasan anggota Bu Tek Pay."

"Omitohud Ha ha ha..."

Tayli Lo Ceng tertawa gembira.

"Ha ha ha"

"Lo Ceng"

It sim sin Ni tercengang.

"Kenapa engkau terus tertawa? Apa yang menggembirakan?"

"Orang itu pasti Tio Cie Hiong,"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Apa?"

It sim sin Ni tertegun.

"orang itu cucuku?"

"Benar"

Tayli Lo Ceng mengangguk.

"Dia sudah sembuh dan pulih kepandaiannya. Omitohud...."

"Aku tahu bahwa dia seorang pemuda, tapi tidak menyangka kalau dia Tio Cie Hiong."

Ujar Tio Tay seng dan tertawa gembira.

"Dia memanggilku paman. Memang tidak salah, aku pamannya. Ha ha ha..."

"Dia... dia Adik Cie Hiong? Kepandaiannya begitu tinggi?"

Tio Hong Hoa terbelalak.

"Tapi kenapa dia memakai kedok kulit?"

"Untuk mengelabui pihak Bu Tek Pay, agar tidak menyusahkan Kay Pang."

Sahut Tayli Lo Ceng menjelaskan.

"Sebab pihak Kay Pang telah menyiarkan berita bahwa Cie Hiong telah mati dua tahun lalu."

"Oooh"

Tio Hong Hoa manggut-manggut.

"Tentunya kalian tidak tahu, bahwa yang mengobati Cie Hiong justru monyet bulu putih itu."

Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"Apa?"

Tio Tay seng terbelalak.

"Monyet itu yang mengobati Cie Hiong? Bagaimana mungkin?"

"Memang benar monyet itu yang mengobatinya."

Ujar Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.

"Tahukah kalian, berapa usia monyet itu?"

Tio Tay seng menggelengkan kepala.

"Ha ha"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Usia monyet itu sudah hampir tiga ratus Iho"

"oh?"

Tio Tay seng tertegun.

"usianya hampir tiga ratus?"

"Benar."

Tayli Lo Ceng mengangguk.

"Maka merupakan monyet sakti."

"Pantas monyet itu mampu merobohkan belasan anggota Bu Tek Pay..."

Gumam Tio Tay Hong.

"Ternyata monyet sakti"

"Oh ya"

Mendadak Tayli Lo Ceng menatap Tio Tay seng.

"Tio tocu, pedang pusaka Hong Hoang Pokiam berada padamu?"

"Ya."

Tio Tay seng mengangguk.

"Tapi telah kuberikan kepada putriku ini."

"Omitohud Ha ha ha"TayliLo Ceng tertawa gembira sambil memandang Tio Hong Hoa dengan penuh perhatian.

"Bagus, bagus Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi."

"Maaf"

Ucap Tio Tay seng dan bertanya.

"Bolehkah aku tahu maksud ucapan Lo Ceng?"

"Ha ha ha"Tayli Lo Ceng tertawa lagi.

"Aku memiliki pedang pusaka Thian Liong Pokiam, juga telah kuberikan kepada muridku."

"Apa?"

Tio Tay seng tersentak.

"Thian Liong Pokiam?"

"Betul."

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Kini sudah saatnya kedua pedang pusaka itu bersatu padu. Ha ha..."

"Maksud Lo ceng?"

"Putrimu berjodoh dengan muridku, maka mereka berdua harus menjadi suami isteri."

"Lo Ceng...."

Wajah Tio Hong Hoa langsung memerah.

"Tapi...."

Tio Tay seng mengerutkan kening.

"Aku belum pernah melihat murid Lo Ceng itu."

"Jangan khawatir"

Sahut Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh.

"Muridku tampan sekali, lagi pula merupakan pemuda yang baik."

"Putriku juga amat cantik, bahkan lemah lembut,"

Ujar Tio Tay seng.

"Lo Ceng boleh menilainya sendiri"

"Benar."

Tayli Lo Ceng manggut.

"Muridku juga alim, kalem dan penurut."

"Putriku merupakan gadis periang, lincah dan pandai memasak lho"

Tio Tay seng memberitahukan..

"Eeeeeh?"

It sim sin Ni tertawa geli.

"Kalian berdua sedang mempromosikan sesuatu atau membicarakan perjodohan? Aku neneknya, kenapa dilewatkan begitu saja"

"Ha ha"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Saking gembiranya aku jadi lupa."

"Maaf, Ibu"

Ucap Tio Tay seng dan bertanya.

"Bagaimana menurut Ibu tentang ini?"

"Terserah Hong Hoa saja,"

Sahut It sim sin Ni penuh pengertian.

"Kita hanya merestui, tidak bisa memaksanya harus menikah dengan siapa."

"Benar."

Tio Tay seng mengangguk, kemudian berkata kepada Tayli Lo Ceng.

"Maaf, Lo Ceng. Tentang ini kuserahkan kepada Hoa ji saja."

"Ngmmm"

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Baiklah. urusan ini kita serahkan kepada mereka berdua saja."

"Oh ya"

Tio Hong Hoa teringat sesuatu.

"Adik Cie Hiong berpesan agar kami ke markas pusat Kay Pang. Kenapa dia berpesan begitu?"

"Pasti ada tujuan tertentu."

Sahut Tio Tay seng.

"Kalau begitu, kita berangkat ke markas kay pang"

"Tapi dia pun bilang, harus secara diam-diam jangan sampai diketahui oleh pihak Bu Tek Pay."

"Oooh"

Tio Tay seng manggut-manggut.

"Itu agar tidak menyusahkan Pihak Kay Pang."

"Tay seng"

Tanya It sim sin Ni.

"Kapan kalian akan berangkat ke sana?"

"Besok pagi."

Tio Tay seng menatapnya.

"Ibu tidak mau pergi bersama?"

"Ibu sudah tidak mau mencampuri urusan persilatan. Kalian berangkat saja besok pagi"

Ujar It sim sin Ni dan berpesan.

"Kalian harus hati-hati, sebab Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Kay dan Lak Kui berkepandaian sangat tinggi"

"Ya"

Tio Tay seng mengangguk.

Bab 70 Ditangkap Bagaimana keadaan Lam Kiong Bie Liong, Toan pit Lian, Toan wie Kie dan Gouw sian Eng di Tayli?

Apakah mereka sudah mempunyai anak?

Ternyata mereka belum mempunyai anak.

Mungkin mereka menggunakan sistem menjaga, agar tidak begitu cepat mempunyai anak.

Pagi ini, mereka berempat duduk di halaman istana.

Kening Lam Kiong Bie Liong berkerut-kerut seakan sedang memikirkan sesuatu.

"Suamiku"

Toan pit Lian memegang bahunya.

"Apa yang kaupikirkan?"

"Aku sedang memikirkan Cie Hiong,"

Jawab Lam Kiong Bie Liong.

"Sudah dua tahun lebih, entah dia sudah sembuh belum?"

"Mungkin sudah sembuh,"

Ujar Toan pit Lian.

"Tapi...."

Lam Kiong Bie Liong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa tiada kabar beritanya?"

"Aku khawatir...,"

Sela Toan wie Kie.

"Ke-pandaiannya tidak bisa pulih atau... dia telah cacat."

"Aaakh..."

Gouw sian ^ng menghela nafas panjang.

"Dia berkorban demi kita semua, tapi sebaliknya kita malah enak-enak di sini"

"Isteriku"

Toan wie Kie menatapnya lembut.

"Kita harus bagaimana?"

"Kita berangkat ke Tionggoan,"

Sahut Lam Kiong Bie Liong.

"Kalau sudah tahu keadaannya, barulah aku bisa berlega hati."

"Tidak mungkin."

Toan pit Lian menggelengkan kepala.

"Sebab ayah pasti tidak akan mengijinkan."

Bagian 40

"Benar."

Toan Wie Kie manggut-manggut.

"Ti-dak mungkin ayah mengijinkan kita ke Tionggoan."

"Tapi..."

Ujar Lam Kiong Bie Liong dengan suara rendah.

"Bukankah kita bisa berangkat secara diam-diam?"

"Suamiku"

Toan Pit Lian menghela nafas panjang.

"Kalau tahu, ayah pasti marah besar."

"Biar aku yang bertanggung jawab"

Ujar Lam Kiong Bie Liong, sepertinya telah mengambil keputusan.

"Itu...."

Toan Pit Lian tampak ragu.

"Adik"

Toan Wie Kie menatapnya.

"Kita ke Tionggoan cuma ingin tahu bagaimana keadaan Cie Hiong, setelah itu kita langsung pulang."

"Baiklah."

Toan Pit Lian mengangguk.

"Kalau begitu, kapan kita berangkat?"

"Lebih baik besok pagi-pagi saja."

Sahut Lam Kiong Bie Liong.

"Kita jangan menunggang kuda. Setelah kita memasuki daerah Tionggoan, barulah kita membeli dua ekor kuda untuk melanjutkan perjalanan kita menuju markas pusat Kay Pang."

"Ngmm"

Toan Wie Kie manggut-manggut.

Pada waktu bersamaan, muncut seorang dayang memberitahukan kepada mereka, bahwa Toan Hong Ya memanggil mereka.

Mereka berempat saling memandang, lalu berjalan ke dalam istana menuju ruang dalam.

Toan Hong Ya dan isterinya duduk di situ.

Toan Wie Kie, Gouw Sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian segera memberi hormat.

"Duduklah"

Ujar Toan Hong Ya sambil tersenyum.

"Ayah"

Tanya Toan Wie Kie sambil menarik nafas dalam-dalam.

"Ada urusan apa Ayah memanggil kami?"

"Sudah berapa lama kalian menikah?"

Toan Hong Ya balik bertanya sambil memandang mereka.

"Sudah dua tahun lebih,"

Sahut Toan wie Kie tercengang.

"Memangnya kenapa?"

"Kenapa kalian masih belum mempunyai anak?"

Toan Hong Ya menggeleng-gelengkan kepala.

"Padahal kami sudah ingin sekali menggendong cucu, namun kalian masih belum mempunyai anak."

"Apakah kalian menjaga agar tidak cepat-cepat mempunyai anak?"

Tanya Toan Hong Ya hujin mendadak.

"Kami...."

Wajah Toan wie Kie agak memerah.

"Kami memang menjaga."

"Lho? Kenapa?"

Toan Hong Ya menghela nafas.

"Kenapa kalian tidak ingin cepat-cepat mempunyai anak?"

"Kami... kami...."

Toan wie Kie agak tergagap. kemudian melanjutkan.

"Ayah, kami masih memikirkan Cie Hiong...."

"Oooh"

Toan Hong Ya manggut-manggut.

"Ayah tahu perasaan kalian. Terus terang, ayah juga sering memikirkannya. sudah dua tahun lebih, namun tiada kabar beritanya."

"Ayah"

Tanya Toan wie Kie mendadak.

"Bolehkah kami pergi ke Tionggoan...."

"Tidak boleh."

Potong Toan Hong Ya cepat.

"Sebab akan membahayakan diri kalian. Kalau Cie Hiong sudah sembuh, pasti ada kabar beritanya."

"Ayah...."

"Pokoknya kalian jangan pergi ke Tionggoan"

Tegas Toan Hong Ya.

"Jangan mencari penyakit"

"Ya, Ayah."

Toan wie Kie menundukkan kepala.

"Oh ya"

Toan Hong Ya tersenyum lagi.

"Kalian harus cepat-cepat mempunyai anak, ayah dan ibu kalian sudah ingin sekali menggendong cucu."

Betapa terkejutnya Toan Hong Ya dan isterinya ketika menerima laporan dari salah seorang, bahwa Toan wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan pit Lian tidak berada di kamar.

"Celaka"

Wajah Toan Hong Ya langsung berubah.

"Mereka pasti pergi ke Tionggoan, ini... ini...."

"Hong Ya"

Sang permaisuri cemas bukan main.

"Kita harus bagaimana?"

"Aaaakh..."

Toan Hong Ya menghela nafas sambil berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Di saat bersamaan muncul Lam Kiong Hujin.

"Ada apa, Hong Ya?"

Tanya Lam Kiong Hujin heran.

"Celaka"

Sahut Toan Hong Ya.

"Apa yang celaka?"

Lam Kiong Hujin tersentak.

"Mereka... mereka...."

Toan Hong Ya menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan.

"Mereka sudah berangkat ke Tionggoan?"

"Apa?"

Air muka Lam Kiong Hujin berubah.

"Mereka sudah berangkat ke Tionggoan?"

"Ya."

Toan Hong Ya mengangguk.

"Kita... kita harus bagaimana?"

"Bagaimana kalau aku pergi menyusul mereka?"

Tanya Lam Kiong Hujin seakan mengusulkan.

"Itu akan membahayakanmu, Lam Kiong Hujin."

Toan Hong Ya menggelengkan kepala.

"Mari kita pikirkan bersama harus bagaimana?"

"Tiada jalan lain kecuali aku pergi menyusul mereka,"

Ujar Lam Kiong Hujin sungguh-sungguh .

"Kita harus tenang"

Seta sang permaisuri.

"Mungkin pihak Bu Tek Pay tidak akan mencelakai mereka, sebab pihak Bu Tek tahu, bahwa Cie Hiong telah mati...."

"Kalau pihak Bu Tek Pay menangkap mereka untuk dijadikan sandera, bukankah itu akan membahayakan mereka semua?"

Ujar Toan Hong Ya dengan kening berkerut-kerut.

"Lalu kita harus bagaimana?"

Sang permaisuri juga berjalan mondar-mandir, kelihatannya cemas sekali. Pada waktu bersamaan, mendadak muncul sin san Lojin dan Ang Kin sian Li, guru Toan Wie Kie dan guru Toan Pit Lian "Hong Ya"

Tanya sin San Lojin.

"seorang dayang memberitahukan, bahwa Toan Wie Kie dan lainnya sudah berangkai ke Tionggoan. Benarkah itu?"

"Benar."

Toan Hong Ya mengangguk.

"Kebetulan kalian ke mari, coba pikir kita harus bagaimana?"

"Hong Ya"

Ujar Ang Kin Sian Li.

"Kami baru sampai di sini, jadi tidak tahu jelas masalahnya. Bolehkah Hong Ya menjelaskannya?"

Toan Hong Ya memberitahukan.

"Kemarin mereka bilang masih terus memikirkan Cie Hiong. Aku telah melarang mereka untuk pergi ke Tionggoan. Tapi pagi ini mereka justru berangkat ke sana."

"Kalau begitu, alangkah baiknya kami pergi menyusul mereka,"

Ujar sin san Lojin.

"Baiklah."

Toan Hong Ya mengangguk.

"Kalian bertiga harus segera pergi menyusul mereka. Kalau tersusul, ajaklah mereka pulang seandai-nya tidak tersusul, kalian harus mencari mereka di Tionggoan"

"Ya,"

Sahut mereka bertiga serentak.

"Oh ya"

Toan Hong Ya memberitahukan.

"Mereka bilang mau ke markas pusat Kay Pang, jadi kalian harus ke sana setelah bertemu mereka, ajaklah mereka pulang"

"Ya, Hong Ya."Mereka bertiga memberi hormat, lalu berangkat dengan menunggang kuda jempolan. Sementara itu, Toan wie Kie dan lainnya terus mengerahkan ginkang, bahkan mengambil jalan pintas. Ketika sampai di sebuah desa, mereka membeli dua ekor kuda, lalu melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda.setelah memasuki daerah Tionggoan, mendadak mereka mendengar suara derap kuda di belakang. Mereka segera menoleh. Betapa terkejutnya setelah mereka melihat sin san Lojin, Ang Kin sian Li dan Lam Kiong Hujin.

"Celaka"

Seru Lam Kiong Bie Liong.

"Ibuku dan guru kalian telah menyusul. Kita harus bagaimana?"

"Tidak apa-apa,"

Sahut Toan wie Kie sambil tersenyum.

"Mari kita tunggu mereka"

Mereka menghentikan kuda masing-masing. Tak lama sin san Lojin, Ang Kin sian Li dan Lam Kiong Hujin pun menghentikan kuda masing-masing di sisi mereka.

"Ibu"

Panggil Lam Kiong Bie Liong.

"Guru"

Panggil Toan wie Kie dan adiknya serentak.

"Bie Liong...."

Lam Kiong Hujin menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalian sungguh ceroboh"

Tegur sin san Lojin sambil menghela nafas.

"Kenapa kalian pergi secara diam-diam?"

"Guru"

Toan wie Kie tersenyum.

"Bagaimana mungkin aku harus terang-terangan? Ayah telah melarang kami...."

"Hong Ya melarang kalian pergi ke Tionggoan itu demi kebaikan kalian,"

Ujar sin san Lojin.

"Namun kalian...."

"Ayoh, kita pulang"

Tegas Ang Kin sian Li.

"Jangan mencari penyakit di Tionggoan"

"Guru Kami tidak mencari penyakit, melainkan hanya ingin mencari informasi tentang Cie Hiong,"

Sahut Toan pit Lian sambil tersenyum.

"Pokoknya kalian harus ikut kami pulang, jangan membuat Hong Ya cemas"

Ujar sin san Lojin.

"Guru Kita sudah sampai di Tionggoan, maka apa salahnya kalau kita ke markas pusat Kay Pang...."

"Bagaimana kalau pihak Bu Tek Pay tahu?"

Tanya sin san Lojin.

"Kita bilang saja sedang pesiar di Tionggoan, maka sekalian mampir ke markas pusat Kay Pang,"

Jawab Toan wie Kie.

"Kita tidak bermusuhan dengan pihak Bu Tek Pay, tentunya mereka tidak akan mencelakai kita."

"Bagaimana seandainya mereka menangkap kita?"

Tanya Ang Kin sian Li mendadak.

"Kita tidak dapat melawan mereka Iho"

"Mereka tidak akan menangkap kita, paling juga cuma menahan kita."

Sahut Toan pit Lian.

"Yang penting kita jangan membocorkan rahasia tentang Cie Hiong, maka kita pasti aman."

"Bagaimana menurut kalian?"

Tanya Ang Kin sian Li kepada sin san Lojin dan Lam Kiong Hujin.

"Memang sudah tanggung, lebih baik kita ke markas pusat Kay Pang saja."

Jawab Lam Kiong Hujin.

"Baiklah."

Sin san Lojin dan Ang Kin sian Li mengangguk.

"Tapi agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak Bu Tek Pay, kita harus bersikap sewajar mungkin"

"Ya."

Toan wie Kie dan lainnya mengangguk dengan wajah berseri.

"Kita harus melakukan perjalanan dengan santai, agar pihak Bu Tek Pay tidak akan mencurigai kita"

Ujar Lam Kiong Hujin.

"Apabila mereka menahan kita, kita tidak boleh membuka rahasia tentang Cie Hiong, ingat baik-baik itu"

Yang mendengar langsung manggut-manggut, setelah itu barulah mereka melanjutkan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang dengan santai.

Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun duduk di ruang tengah sambil minum.

"Sungguh mengherankan"

Ujar Tang Hai LoMo mendadak.

"Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang tiada jejaknya, entah mereka bersembunyi di mana?"

"Ha ha"

Tiau Am Kui tertawa gelak.

"Aku yakin pemilik Hong Hoang Leng sedang mengobati luka dalamnya."

"Benar."

Bu Ceng Kui manggut-manggut.

"Tapi...."

"Kenapa?"

Tanya siluman Kurus.

"Orang yang menolong mereka pasti bisa menyembuhkan mereka."

Sahut Bu Ceng Kui.

"Sebab orang itu memiliki lweekang yang sangat tinggi."

"Sudahlah."

Tandas siluman Gemuk.

"Tidak perlu dibicarakan. Apabila mereka muncul lagi, barulah kita mencari akal untuk tangkap mereka."

"Benar."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Ayoh kita bersulang"Ketika mereka baru mau bersulang, mendadak muncul seorang anggota Bu Tek Pay. orang itu buru-buru memberi hormat lalu melapar.

"Ketua, ada beberapa orang, yang kelihatannya sedang menuju markas pusat Kay Pang."

"oh?"

Kening Tang Hai Lo Mo langsung berkerut.

"Siapa mereka?"

"Mereka sin san Lojin, Ang Kin sian Li, Lam Kiong Hujin, Toan wie Kie, Toan pit Lian, Lam Kiong Bie Liong dan Gouw sian Eng."

"Mereka tampak terburu-buru menuju markas pusat Kay Pang?"

Tanya Thian Mo.

"Tidak terburu-buru, melainkan kelihatan santai sekali."

"oh?"

Te Mo mengerutkan kening.

"Kenapa mereka memasuki Tionggoan lagi? Apakah ada sesuatu penting dengan Kay Pang?"

"Mungkin tidak,"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"sebab mereka tidak terburu-buru. Mungkin mereka sedang pesiar."

"Kalau begitu..."

Thian Mo manggut-manggut.

"Kita biarkan saja Sebab mereka tidak menentang kita...."

"Menurutku, lebih baik mereka kita tahan."

Sela siluman Kurus dan menambahkan.

"Mungkin ada gunanya kelak."

"Tapi kita tidak bermusuhan dengan mereka. Maka apabila kita menahan mereka, tentu akan menimbulkan suatu kesalahpahaman,"

Sahut Tang Hai Lo Mo melanjutkan.

"Toan Hong Ya pasti tidak senang."

"Tidak jadi masalah."

Siluman Kurus tertawa.

"Mereka kita tahan, tetapi kita perlakukan sebagai tamu."

"Baiklah."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"siapa yang pergi mengundang mereka ke mari?"

"Biar kami berdua saja,"

Sahut Kwan Gwa siang Koay.

"Mereka pasti tidak berani melawan. Ha ha ha..."

Toan wie Kie dan lainnya terus melanjutkan perjalanan dengan santai, agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak Bu Tek Pay.

Di saat mereka memasuki sebuah rimba, sekonyong-konyong dua sosok bayangan berkelebat ke hadapan mereka sudah barang tentu mereka terperanjat dan menghentikan kudanya.

Ternyata dua sosok bayangan itu adalah Kwan Gwa siang Koay.

"Ha ha ha"

Mereka berdua tertawa gelak.

"selamat bertemu"

Ucapnya.

"siapa kalian?"

Tanya sin san Lojin sambil mengerutkan kening.

"Kenapa kalian menghadang perjalanan kami?"

"Kami berdua adalah Kwan Gwa siang Koay Kami juga tahu siapa kalian"

Sahut siluman Kurus sambil tertawa.

"Haaah..."

Sin san Lojin terkejut bukan main.

"Ada urusan apa kalian menghadang kami di sini?"

"Terus terang kedatangan kami untuk mengundang kalian ke markas Bu Tek Pay dan kami harap kalian tidak akan merasa berkeberatan"

Sahut siluman Gemuk. Sin san Lojin dan lainnya saling memandang, kemudian Ang Kin sian Li bertanya kepada Kwan Gwa siang Koay.

"Ada urusan apa kalian mengundang kami ke markas Bu Tek Pay? Padahal kami tidak mempunyai hubungan dengan partai itu"

"Ang Kin sian Li, kami mengundang kalian secara baik-baik, maka kami harap kalian jangan menolak"

Tegas siluman Gemuk.

"Cianpwee"

Ujar Toan wie Kie.

"Selama ini Tayli tidak bermusuhan dengan pihak luar perbatasan, tetapi kenapa Cianpwee mempersulit kami?"

"Ha ha ha"

Siluman Kurus tertawa.

"Kami tidak mempersulit kalian, melainkan mengundang kalian ke markas saja."

"Baiklah."

Toan wie Kie mengangguk.

"Karena cianpwee mengundang kami secara baik-baik, maka kami tidak bisa menolak."

"Bagus Bagus"

Kwan Gwa siang Koay tertawa gelak.

"Kalau begitu, mari ikut kami"

Toan Wie Kie dan lainnya saling memandang, lalu memacu kuda masing-masing mengikuti Kwan Gwa siang Koay dengan perasaan tercekam.

Mereka tahu, bahwa pihak Bu Tek Pay akan menahan mereka, tapi dengan dalih mengundang ke markas.

Mereka tidak berani melawan, sebab tahu bahwa Kwan Gwa siang Koay berkepandaian tinggi sekali.

Karena itu terpaksa menurut dari pada celaka.

Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa Lak Kui dan lainnya menyambut mereka sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha silakan duduk"

Ucap Tang Hai Lo Mo. Setelah mereka duduk. beberapa anggota Bu Tek Pay segera menyuguhkan makanan dan minuman.

"Terimakasih atas kedatangan kalian"

Thian Mo tertawa.

"Ayoh, kita bersulang"

Mereka mulai bersulang, setelah itu barulah sin san Lojin membuka mulut sambil memandang Bu Lim sam Mo.

"Sebetulnya ada urusan apa kami diundang ke mari?"

"Tidak ada urusan apa-apa,"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"sekedar mempererat hubungan saja."

"Terimakasih"

Ucap sin san Lojin.

"Oh ya"

Siluman Kurus menatapnya seraya bertanya.

"Kenapa kalian datang di Tionggoan?"

"Kami cuma pesiar dan sekalian berkunjung di markas pusat Kay Pang,"

Sahut Toan wie Kie tenang.

"setelah itu, kami juga akan ke rumah Lam Kiong Hujin."

"Oooh"

Siluman Kurus manggut-manggut.

"Tentunya kalian kenal Tio Cie Hiong, kan?"

"Kami memang kenal dia, tapi...."

Toan wie Kie menghela nafas panjang.

"Kenapa?"

Tanya siluman Kurus seakan menyelidik.

"Bu Lim sam Mo sudah tahu, tapi kenapa Cianpwee masih bertanya kepada kami?"

Toan Wie Kie menggeleng-gelengkan kepala.

"Dua tahun lalu, Tio Cie Hiong terluka parah, kemudian meninggal."

"Oh ya"

Tang Hai Lo Mo menatapnya tajam.

"Kalian kenal Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng?"

"Kami sama sekali tidak pernah mendengar nama itu,"

Sahut Toan wie Kie tercengang.

"Kami baru tiba di Tionggoan."

"Belum lama ini...."

Thian Mo memberitahukan.

"Mereka telah muncul dalam rimba persilatan. Bahkan mereka berani menentang kami, maka kami kira kalian mempunyai hubungan dengan mereka."

"Kami tidak kenal mereka."

Tegas Toan wie Kie.

"Lagi pula kami sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan."

"Oooh"

Bu Lim sam Mo manggut-manggut.

"Oh ya?"

Tanya Tiau Am Kui mendadak sambil menatapnya tajam.

"Kalian kenal seseorang berusia empat puluhan yang berkepandaian tinggi?"

"Siapa dia?"

Toan wie Kie balik bertanya dengan penuh keheranan.

"Dia ke mana-mana pasti didampingi seekor monyet."

Tiau Am Kui memberitahukan.

"Oh?"

Toan Wie Kie tertawa.

"Mungkin dia tukang sulap keliling, dan mempertunjukkan beberapa atraksi dengan monyet itu."

Tiau Am Kui diam seketika, karena Toan Wie Kie tidak memperlihatkan ekspresi wajah yang luar biasa. Hal itu membuktikan bahwa mereka tidak kenal orang tersebut.

"Berhubung kalian datang dari Tayli, maka kami harap kalian sudi menginap beberapa malam di sini. Tentunya kalian tidak akan menolak, bukan?"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Kami memang tidak ada urusan penting di Tionggoan, cuma ingin pesiar saja,"

Sahut Toan Wie Kie sambil tersenyum, sungguh hebat silat lidahnya.

"Karena Cia npwee bermaksud baik, maka kami tidak akan menolak."

"Bagus Bagus Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Secara tidak langsung hubungan kita akan bertambah erat"

"Terimakasih, Cianpwee"

Ucap Toan Wie Kie sambil tertawa gembira, sebab Bu Lim sam Mo dan lainnya tidak menaruh curiga kepada mereka.

Tentang ditahannya sin san Lojin, Ang Kin sian Li, Lam Kiong Hujin dan lainnya telah diketahui oleh pihak Kay Pang.

oleh karena itu, sai Pi Lo Kay segera melapar kepada Lim Peng Hang, ketua Kay Pang.

"Apa?"

Betapa terkejutnya Lim Peng Hang mendengar laparan itu.

"Bu Tek Pay menahan mereka?"

"Ya."

Sai Pi Lo Kay mengangguk dan menambahkan.

"Tapi mereka aman, diperlakukan sebagai tamu."

"Kalau begitu...."

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Kenapa Bu Lim Sam Mo menahan mereka?"

"Entahlah."

Sai Pi Lo Kay menggelengkan kepala.

"Baiklah."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"kini engkau boleh pergi, namun kalau ada apaapa, harus segera melapar"

"Ya, Pangcu."

Sai Pi Lo Kay memberi hormat, lalu melangkah pergi.

"Heran...,"

Gumam Lim Peng Hang.

"Kenapa Bu Lim sam Mo menahan mereka? Apa tujuan mereka?"

"Mereka pasti mempunyai tujuan tertentu,"

Sahut sam Gan sin Kay serius.

"Yang penting mereka tidak membocorkan tentang Tio Cie Hiong, jadi mereka tetap aman."

"Tapi kalau membocorkan itu, mereka pasti dijadikan sandera."

Sambung Kim siauw suseng.

"Aku yakin mereka tidak akan membocorkan itu,"

Sela Tui Hun Lojin.

"Sebab mereka tidak begitu bodoh."

"Benar."

Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.

"Lagi pula mereka tidak mempunyai hubungan dengan Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng. Karena itu, Bu Lim sam Mo pasti tidak akan mencelakai mereka."

"Aku sungguh tidak habis pikir...."

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Kenapa mereka datang di Tionggoan lagi?"

"Tentu mereka ingin tahu bagaimana kabarnya Cie Hiong,"

Sahut Kim siauw suseng dan menambahkan.

"Sebab mereka kawan baiknya. Mungkin sudah dua tahun lebih tiada kabar berita tentang Cie Hiong, maka mereka ke mari."

"Aaaakh..."

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Kenapa mereka tidak berpikir panjang?"

"Bukan tidak berpikir panjang, melainkan rasa solidaritas yang mendorong mereka ke mari."

Ujar Kim Siauw Suseng.

"Kita harus memaklumi mereka."

"Tapi otomatis akan mencelakai mereka."

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Menurutku Bu Lim sam Mo sama sekali tidak berniat mencelakai mereka."

Ujar Gouw Han Tiong.

"Kalau begitu, kenapa Bu Lim sam Mo menahan mereka?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Bu Lim sam Mo menahan mereka, karena ingin tahu apakah mereka mempunyai hubungan dengan Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek, pemilik Hong Hoang Leng dan Cie Hiong yang menyamar itu. Kalau sudah tahu bahwa mereka tidak mempunyai hubungan, tentu Bu Lim sam Mo akan melepaskan mereka. Tapi...."

Gouw Han Tiong mengerutkan kening.

"Apabila Bu Lim sam Mo tahu bahwa orang yang membawa monyet itu adalah Cie Hiong, maka Cie Hiong yang bakal celaka."

"Benar."

Sam Gan sin Kay manggut-mang-gut.

"Untung Bu Lim sam Mo belum tahu tentang itu. Kalau tahu, Bu Lim sam Mo pasti akan menggunakan mereka untuk mengancam Cie Hiong."

"Kalau begitu harus bagaimana?"

Lim Ceng Im yang diam dari tadi mulai cemas.

"Perlukah aku pergi mencari Kakak Hiong?"

"Kalau engkau meninggalkan markas pusat ini, pasti akan ditangkap."

Sahut Lim Peng Hang.

"Cie Hiong pasti celaka di tanganmu."

"Ayah...."

Air mata Lim Ceng Im mulai meleleh.

"Ceng Im"

Tegas sam Gan sin Kay.

"Ini urusan serius, jangan kau anggap main-main"

"Dan juga..."

Tambah Kim siauw suseng.

"Janganlah engkau mencoba-coba pergi mencari Cie Hiong. Kalau engkau berbuat begitu, sama juga membunuh Cie Hiong. Tahu?"

"Ya."

Lim Ceng Im mengangguk.

"Engkau harus tenang dan sabar, Cie Hiong pasti kembali"

Ujar Lim Peng Hang.

"Kalau engkau tidak bisa tenang dan sabar, semua urusan pasti akan jadi runyam."

"Ya."

Lim Ceng Im mengangguk lagi.

"Aku pasti menurut perkataan Ayah."

"Nah, begitu Nak"

Lim Peng Hang tersenyum lembut.

Beberapa hari kemudian ketika hari sudah larut malam, mendadak tampak sosok bayangan melesat memasuki markas pusat Kay Pang.

Kemunculan sosok bayangan itu sangat menggembirakan Bu Lim Ji Khie, dan lainnya yang ketika itu sedang duduk-duduk di ruang tengah.

"Kakak Hiong Kakak Hiong..."

Seru Lim Ceng Im dan langsung mendekap di dadanya.

"Adik Im"

Tio Cie Hiong tersenyum sambil membelainya.

"Cie Hiong, duduklah"

Ujar sam Gan Sin Kay. Kali ini ia tidak menggoda Lim Ceng Im yang mendekap di dada Tio Cie Hiong.

"Kakek...."

Lim Ceng Im membanting-banting kaki.

"Aku sedang mendekap di dadanya, tapi kakek malah menyuruhnya duduk sebal"

"Eeeh?"

Sam Gan sin Kay tertegun, kemudian tertawa gelak seraya berkata.

"Ayoh Terus mendekaplah di situ. Tidak apa-apa Anggap saja semua yang di sini ini patung"

"Ceng Im"

Tegur Lim Peng Hang.

"Sudah cukup apa belum engkau mendekap di dada Cie Hiong?"

"Ayah"

Lim Ceng Im cemberut.

"Heran Kelihatannya Ayah dan kakek tidak boleh melihat orang senang. Aku ingin mencurahkan rasa rinduku kepada Kakak Hiong, tapi...."

"Adik Im"

Tio Cie Hiong menatapnya lembut.

"Mari kita duduk"

"Ya, Kakak Hiong."

Lim Ceng Im mengangguk.

"Wuaduh"

Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Segitu nurutnya. Bahkan suaranya begitu mesra Ha ha ha..."

"Kenapa kakek usil amat sih?"

Lim Ceng Im melotot, lalu duduk di sisi Tio Cie Hiong dengan wajah cerah ceria.

"Paman"

Tanya Tio Cie Hiong kepada Lim Peng Hang.

"Apakah Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek sudah ke mari?"

"Mereka belum ke mari,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Apakah engkau sudah bertemu mereka?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun menggunakan bom asap beracun. Aku yang menolong sekaligus suruh mereka ke mari, tapi kenapa mereka belum sampai di sini?"

"Oh?"

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Apakah terjadi sesuatu lagi atas diri mereka?"

"Tidak mungkin."

Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.

"Cie Hiong"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Engkau kenal mereka?"

"Aku kenal Tui Beng Li, tapi tidak kenal Thian Liong Kiam Khek,"

Jawab Tio Cie Hiong.

"Aku kenal gurunya."

"Kakak Hiong, siapa Tui Beng Li itu?"

"Dia adalah Tan Li Cu,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil menghela nafas.

"Liu siauw Kun membunuh suaminya, kemudian membunuh ayah dan anaknya yang belum berusia setahun. sungguh kejam Liu siauw Kun itu"

"Jadi...."

Lim Ceng Im terbelalak.

"Tui Beng Li adalah kakak Li Cu? Kenapa kepandaiannya bisa begitu tinggi?"

"Dua tahun lalu, Tayli Lo Ceng menolongnya lalu membawanya ke Gunung Hong Lay san menemui It sim sin Ni."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Sejak itu dia jadi murid It sim sin Ni."

"Oooh"

Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Oh ya, Kakak Hiong kenal guru Thian Liong Kiam Khek?"

"Kenal. Gurunya adalah Tayli Lo Ceng."

"Pantas kepandaiannya begitu tinggi"

Sam Gan sin Kay manggut-manggut dan bertanya.

"Engkau bertemu pemilik Hong Hoang Leng?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk dan melanjutkan.

"Bahkan aku menolong mereka. Malam itu ketika aku melewati markas cabang Bu Tek Pay, aku mendengar suara pertarungan, oleh karena itu, aku langsung melesat memasuki markas itu...."

"Lalu bagaimana?"

Tanya Kim siauw suseng tertarik.

"Aku melihat seorang tua dan seorang gadis sedang bertarung melawan Kwan Gwa Lak Kui. Mereka berdua sudah terluka, maka aku segera turun tangan menolong mereka."

"Kakak Hiong bertarung dengan Kwan Gwa Lak Kui?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Bagaimana kepandaian mereka?"

"Kepandaian mereka tinggi sekali. Untung di saat itu mereka menyerangku tidak dengan segenap Iweekang. Kalau mereka menyerangku dengan segenap Iweekang, repot juga aku menghadapi mereka."

Tio Cie Hiong memberitahukan secara jujur.

"Pada saat itu, aku segera mengibaskan lengan bajuku, sehingga membuat mereka terdorong mundur beberapa langkah. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk menyambar mereka dan langsung kubawa pergi, kemudian kuobati. Ternyata mereka bernama Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa."

"Oh?"

Lim Ceng Im tertawa.

"Mereka satu marga denganmu."

"Benar."

Tio Cie Hiong tersenyum dan melanjutkan.

"Keesokan harinya, aku pergi membeli sedikit makanan kering, kemudian masuk di sebuah kedai teh.Justru sungguh di luar dugaan...."

"Terjadi sesuatu?"

Tanya Lim Ceng Im cepat.

"Tidak terjadi apa-apa, namun aku bertemu seorang tua berusia tujuh puluhan,"

Jawab Tio Cie Hiong.

"Kelihatannya orang tua itu berkepandaian tinggi, dan ramah sekali. Aku diajaknya duduk bersama dan bercakap-cakap. Ternyata orang tua itu datang dari sebuah pulau. Akan tetapi, ketika kami sedang asyik bercakap-cakap. mendadak muncul belasan anggota Bu Tek Pay...."

"Kakak Hiong dan orang tua itu bertempur dengan mereka?"

"Tidak."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku menyuruh kauw heng memberesi mereka."

Monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio Cie Hiong langsung bercuit-cuit dan manggutmanggut.

"Dalam waktu sekejap. kauw heng sudah berhasil merobohkan mereka"

Lanjut Tio Cie Hiong sambil membelai monyet bulu putih yang duduk di bahunya.

"Setelah itu, aku dan orang tua itu mulai bercakap-cakap lagi. Ternyata dia datang di Tionggoan untuk mencari puterinya yang berangkat ke Tionggoan bersama pembantunya. Tio Lo Toa itu adalah pembantu setianya. Seketika juga kuajak orang tua itu pergi menemui mereka berdua. sungguh tak disangka, orang tua itu majikan pulau Hong Hoang To."

"Oh?"

Bu Lim Ji Khie terbelalak.

"Orang tua itu pun tahu bahwa aku memakai kedok kulit."

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"setelah mereka bertemu, aku langsung pergi."

"Bagus"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Kemunculan Tocu Hong Hoang To itu secara tidak langsung akan membantu kita."

"Heran?"

Gumam Kim siauw suseng.

"Kenapa mereka datang di Tionggoan untuk memusuhi Bu Tek Pay?"

Sam Gan sin Kay mengerutkan kening.

"Mungkin mereka mempunyai dendam terhadap Bu Lim sam Mo."

"Memang mungkin."

Tui Hun Lojin manggut-manggut, kemudian memandang Tio Cie Hiong seraya bertanya.

"Cie Hiong, engkau tahu telah terjadi sesuatu?"

"Tentang sin san Lojin dan lainnya yang ditangkap Bu Lim sam Mo?"

Tio Cie Hiong balik bertanya.

"Ya."

Tui Hun Lojin manggut-manggut.

"Aku sudah tahu tentang itu, namun untuk sementara ini hal itu masih tidak menjadi masalah. sebab Bu Lim sam Mo tidak akan mencelakai mereka."

Ujar Tio Cie Hiong.

"Untungnya mereka belum tahu tentang diriku, kalau tahu...."

"Bu Lim sam Mo pasti akan menggunakan mereka untuk memaksamu menyerahkan diri seperti kejadian dua tahun yang lalu,"

Ujar Lim Ceng Im.

"Kakak Hiong harus hati-hati"

"Ya."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Oh ya, aku harus pergi lagi esok pagi."

"Apa?"

Wajah Lim Ceng Im langsung berubah.

"Kakak Hiong baru kembali malam ini, esok pagi akan pergi lagi?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Aku harus pergi mencari Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng."

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im menghela nafas panjang.

"Kenapa engkau harus pergi mencari mereka?"

"Kalau mereka tidak ke mari, pasti dalam keadaan bahaya,"

Sahut Tio Cie Hiong sungguhsungguh.

"Maka aku harus pergi mencari sekaligus menyuruh mereka ke mari. Kalau tidak, aku khawatir mereka akan ditangkap oleh Bu Lim sam Mo."

"Tapi...."

Lim Ceng Im menundukkan kepala.

"Bukankah Kakak Hiong baru kembali?"

"Adik Im"

Tio Cie Hiong tersenyum sambil memegang tangan gadis itu erat-erat.

"Waktu kita masih banyak. yaitu sampai di akhir hayat nanti. Tapi apabila mereka ditangkap oleh Bu Lim sam Mo, mereka pasti mati, lalu bagaimana perasaan kita?"

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im mendongakkan kepala dan menatapnya dengan air mata bercucuran.

"Hatimu sungguh mulia, selalu memikirkan orang lain tanpa memikirkan diri sendiri"

"Adik Im"

Tio Cie Hiong membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Setelah urusan ini beres, aku tidak akan meninggalkanmu setapak pun."

"Tidak mungkin."

Sam Gan sin Kay tertawa.

"Bagaimana kalau engkau mau buang air besar atau air kecil? Haruskah engkau menarik Ceng Im mendampingimu juga?"

"Eh? Kakek pengemis...."

Wajah Tio Cie Hiong agak kemerah-merahan.

"Maksudku tidak akan meninggalkan Adik Ceng Im lagi."

"Itu baru benar."

Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Kakak Hiong, aku lebih senang kalau engkau tidak meninggalkanku setapak pun. Kalau engkau buang air besar atau air kecil, aku ikut saja,"

Ujar Lim Ceng Im sambil tersenyum-senyum, lalu memandang sam Gan sin Kay.

"Mau apa?"

"Haaah...?"

Sam Gan sin Kay terbelalak.

"Yah, ampun"

"Ha ha ha"

Kim siauw suseng dan lainnya tertawa gelak. pada saat bersamaan, mendadak kening Tio Cie Hiong berkerut-kerut. sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im tercengang.

"Kenapa engkau?"

"Aku sedang memikirkan kepandaian Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui itu. Mereka berkepandaian tinggi sekali. Kakek pengemis dan lainnya walau sudah berhasil menguasai Kan Kun ciang Hoat serta ilmu pukulan Monyet sakti, namun belum tentu mampu mengalahkan mereka. Kalau bisa terus bertahan...."

Tio Cie Hiong berpikir sejenak, lalu melanjutkan.

"Kauw heng pasti bisa membantu, tapi Kan Kun ciang Hoat dan ilmu pukulan Monyet sakti belum tentu bisa bertahan, sebab kedua macam ilmu itu bersifat menangkis dan menyerang. Iweekang kurang tinggi, pasti akan celaka itu...."

Lim Ceng Im, Bu Lim Ji Khie dan lainnya diam saja. Mereka sama sekali tidak berani mengganggu Tio Cie Hiong yang sedang berpikir.

"Kalau harus bertahan terus...."

Tio Cie Hiong bergumam lagi sambil berpikir, kemudian mendadak berseru girang.

"Betul, harus menggunakan ilmu itu"

"Ilmu apa, Kakak Hiong?"

"Kiu Kiong san Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat) Ilmu tersebut dapat menghindari seranganserangan lawan, sekaligus menyerang pula."

"Benar."

Lim Ceng Im tertawa gembira.

"Oh ya, Adik Im Aku pernah mengajarkan ilmu tersebut kepadamu, tentunya engkau telah mahir, kan?"

Tio Cie Hiong memandangnya.

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im menundukkan kepala.

"Aku...."

"Belum begitu mahir?"

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau malas berlatih. Mulai sekarang engkau harus giat berlatih"

"Ya, Kakak Hiong."

Lim Ceng Im mengangguk.

Mulai malam itu, Tio Cie Hiong mengajar mereka Kiu Kiong san Tian Pou.

Yang paling gembira adalah Lim Ceng Im, sebab Tio Cie Hiong tidak segera pergi.

Bab 71 Pembicaraan serius di markas pusat Kay Pang Tampak Tayli Lo Ceng sedang duduk dengan wajah serius.

sedangkan It sim sin Ni terus memandangnya dengan mata tak berkedip dan keningnya berkerut-kerut, lama sekali barulah It sim sin Ni membuka mulut.

"Lo Ceng, bagaimana rencanamu?"

"Omitohud"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Aku sama sekali tidak menyangka kalau Bu Lim sam Mo akan menahan Toan wie Kie dan lainnya."

"Laporan muridku pasti tidak salah."

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Kenapa Toan wie Kie dan lainnya datang di Tionggoan? Mereka sama sekali tidak berpikir panjang"

"Mungkin mereka ingin tahu bagaimana keadaan Cie Hiong,"

Ujar It sim sin Ni sambil menghela nafas.

"Mereka tidak bisa sabar, akhirnya menimbulkan masalah."

Tayli Lo Ceng menggelenggelengkan kepala.

"Untung mereka masih belum tahu tentang Cie Hiong. Kalau tahu..."

"Cie Hiong akan celaka."

Tayli Lo Ceng menghela nafas lagi.

"Kita juga telah bersalah, karena membiarkan Tio Tay seng, Tio Lo Toa, dan Tio Hong Hoa pergi. Mereka seharusnya tinggal di sini."

"Mereka ingin mencari Cie Hiong, maka bagaimana mungkin kita tahan?"

It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagaimana kalau mereka ditangkap oleh pihak Bu Tek Pay? Bukankah mereka akan celaka?"

"Kenapa waktu itu engkau tidak mencegah agar mereka tidak pergi?"

"Mereka anak cucumu, aku tidak berhak mencegahnya."

"Lalu sekarang kita harus bagaimana?"

"Aku harus mencari jalan keluarnya."

Tayli Lo Ceng memejamkan matanya. sesaat kemudian barulah ia membuka matanya seraya berkata.

"Aku harus pergi ke markas Bu Tek Pay menemui Bu Lim sam Mo dan lainnya, agar mereka melepaskan Toan wie Kie..."

"Apa?"

It sim sin Ni terbelalak.

"Engkau akan pergi ke markas Bu Tek Pay?"

"Ya."

Tayli Lo Ceng mengangguk.

"Aku yakin, Bu Lim sam Mo pasti akan melepaskan mereka, apabila aku ke sana."

"Lo Ceng..."

It sim sin Ni menatapnya.

"Bagaimana kalau Bu Lim sam Mo dan Thian Kwan Gwa siang Koay serta Lak Kui mengeroyokmu?"

"Ha ha ha"Tayli Lo Ceng tertawa.

"Aku terpaksa melawan. Namun aku yakin tidak akan terjadi hal itu."

"Lo Ceng..."

It sim sin Ni menghela nafas panjang.

"Aku telah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan. Kalau tidak. aku pasti mengikutimu ke markas Bu Tek Pay."

"Terimakasih, sin Ni"

Ucap Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.

"Baiklah. Aku harus pergi, sampai jumpa"

Salah seorang anggota Bu Tek Pay yang menjaga di luar markas segera masuk untuk melapor kepada Bu Lim sam Mo, bahwa Tayli Lo Ceng berkunjung.

"Cepat undang beliau masuk"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"Tayli Lo Ceng?"

Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui tampak terkejut.

"Kenapa padri tua itu ke mari?"

"Tentu ada hubungan dengan orang-orang yang kita tahan di sini."

Sahut Thian Mo.

"Benar."

Te Mo manggut-manggut dan mengerutkan kening.

"Lalu kita harus bagaimana?"

"Kita lihat saja bagaimana sikap padri tua itu"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"Ingat Kita tidak boleh bertindak sembarangan"

Ujar siluman Kurus dan menambahkan.

"Sebab padri tua itu kenal almarhum guru kami."

"Lo Ceng itu pun kenal almarhum guru kami."

Lak Kui memberitahukan.

"Omitohud..."

Tayli Lo Ceng sudah berjalan ke dalam sambil tertawa.

"Maaf, kedatanganku telah menganggu kalian semua"

"Selamat datang, Lo Ceng"

Ucap Bu Lim sam Mo sambil bangkit berdiri, begitu pula Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui.

"Selamat bertemu"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Silakan duduk, Lo Ceng"

Ucap Tang Hai Lo Mo.

"Terimakasih"

Tayli Lo Ceng duduk.

"Maaf Ada urusan apa Lo Ceng ke mari?"

Tanya Thian Mo.

"Omitohud"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Aku yakin kalian sudah tahu apa tujuanku ke mari, bukan?"

"Tentunya berkaitan denganpara tamu kami yang datang dari Tayli."

Tang Hai LoMo tertawa.

"Betul."

Tayli Lo Ceng juga tertawa.

"Oleh karena itu, aku ke mari untuk menengok mereka."

"Mereka baik-baik saja,"

Ujar Kwan Gwa siang Koay dan menambahkan.

"Kami memperlakukan mereka sebagai tamu terhormat."

"Terimakasih"

"Ang Bin sat sin"

Perintah Tang Hai Lo Mo.

"Cepat undang para tamu kita itu ke mari"

"Ya, Ketua."

Ang Bin sat sin memberi hormat, kemudian berjalan ke dalam. Berselang beberapa saat, Ang Bin sat sin sudah kembali ke situ bersama Toan wie Kie dan lainnya.

"Lo Ceng..."

Toan wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan pit Lian langsung bersujud dihadapan padri tua itu. sin san Lojin, Ang Kin sianii dan Lam Kiong hujin juga segera memberi hormat.

"Omitohud Kalian bangunlah"

Tayli Lo Ceng Icrsenyum. Toan wie Kie dan lainnya bangkit berdiri, sedangkan Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Ha ha ha Kami tidak bohong kan, Lo Ceng? Mereka baik-baik saja."

"Terimakasih"

Ucap Tayli Lo Ceng.

"omi-tohud..."

"Lo Ceng"

Ucap Kwan Gwa siang Koay.

"Kami tahu tujuan Lo Ceng dan tidak akan menghalangi."

"Terimakasih"

"Tapi..."

Kwan Gwa siang Koay tertawa.

"Kami harap Lo Ceng sudi mengabulkan satu permintaan kami"

"Omitohud Apa permintaan kalian?"

"Lo Ceng boleh membawa mereka pergi, namun harus menyuruh mereka segera kembali ke Tayli."

Ujar Kwan Gwa siang Koay sungguh-sungguh.

"Dan juga selanjutnya Lo Ceng jangan mencampuri urusan kami."

"Omitohud. Aku memang tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan, hanya saja karena aku Tayli Lo Ceng, maka terpaksa harus mencampuri urusan Tayli."

"Kami mengerti."

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

"Kami tidak akan menghalangi Lo ceng."

"Terimakasih"

Ucap Tayli Lo Ceng.

"Kami mohon pamit"

"Silakan Lo Ceng"

Sahut Kwan Gwa siang Koay.

"Ayoh, kita pergi"

Ajak Tayli Lo Ceng sambil melangkah pergi.

Toan wie Kie dan lainnya segera mengikutinya setelah berada di luar goa, barulah Tayli Lo Ceng menarik nafas lega, kemudian memandang mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Lain kali kalian harus berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, jangan ceroboh lagi"

"Ya, Lo Ceng."

Toan wie Kie mengangguk.

"Sebetulnya kami..."

"Aku tahu apa tujuan kalian ke Tionggoan. Nah, katakan saja Dia sudah sembuh dan kepandaiannya juga sudah pulih."

"Oh?"

Toan wie Kie dan lainnya girang bukan main.

"Lo Ceng, kapan kami bisa bertemu dia?"

"Sekarang kalian harus kembali ke Tayli, jadi kalian tunggu saja di sana"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Ya, Lo Ceng."

Toan Wie Kie dan lainnya tidak berani membantah.

"Kami akan kembali ke Tayli sekarang juga."

"Omitohud Cepatlah kalian berangkat"

"Ya, Lo Ceng."

Toan wie Kie mengangguk. Tiba-tiba tampak beberapa anggota Bu Tek Pay menuntun empat ekor kuda kehadapan mereka, lalu memberi hormat dan berkata.

"Ini adalah kuda-kuda kalian."

"Terimakasih"

Ucap Toan Wie Kie girang. Mereka langsung meloncat ke atas punggung kuda, kemudian meninggalkan tempat itu.

"Omitohud"

Tayli Lo Ceng juga melesat pergi. sedangkan beberapa anggota Bu Tek Pay itu segera masuk untuk melapar kepada Bu Lim sam Mo.

"Aku tidak menyangka..."

Siluman Kurus menggeleng-gelengkan kepala.

"Tayli Lo Ceng masih hidup,"

"Kalau padri tua itu turut campur urusan kita...,"

Sambung siluman Gemuk.

"Repot juga kita."

"Kita telah melepaskan mereka, maka Tayli Lo Ceng pasti tidak akan mencampuri urusan kita,"

Ujar Tang Hai Lo Mo. la telah menerima laporan dari anggota Bu Tek Pay yang membawa kuda untuk Toan wie Kie.

"Kini mereka sudah berangkat ke Tayli, berarti kita mengurangi satu lawan tangguh"

"Ha ha ha"

Kwan Gwa Siang Koay tertawa gelak.

"Untung tempo hari kita menahan mereka, maka muncul Tayli Lo Ceng..."

"Kalau tidak. kita tidak tahu bahwa padri tua itu masih hidup,"

Sahut Lak Kui sambil tertawa.

"Kini..."

Ujar Thian Mo mendadak.

"Yang menjadi masalah adalah lelaki yang membawa monyet itu. Kita harus mencari akal untuk melenyapkannya."

"Betul."

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

"Bahkan kita juga harus mengutus beberapa orang yang berkepandaian tinggi untuk menangkap Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng itu"

Malam ini, Lim Ceng Im duduk di ruang tengah markas cusat Kay Pang dengan wajah agak murung, sedangkan yang lain tampak serius.

"Kakak Hiong..."

Lim Ceng Im menatapnya dengan mata basah.

"Engkau akan pergi esok pagi?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Aku harus pergi mencari mereka."

"Nak"

Ujar Lim Peng Hang.

"Engkau jangan mencegahnya, sebab itu penting sekali"

"Aku tahu, Ayah."

Lim Ceng Im menundukkan kepala.

"Tapi bukankah aku akan berpisah lagi dengan Kakak Hiong?"

"Adik Im"

Tio Cie Hiong menatapnya lembut.

"Setelah bertemu mereka, aku pasti kembali, jadi aku pergi tidak lama."

"Aaakh..."

Lim Ceng Im menghela nafas panjang.

"Ini merupakan takdir atau nasib yang mempermainkan kita, maka kita harus selalu berpisah. Aku sungguh tidak mengerti"

"Ceng Im"

Ujar sam Gan sin Kay menasehatinya.

"Engkau harus tenang dan sabar percayalah. Engkau pasti hidup bahagia di sisi Cie Hiong."

"Tapi..."Ketika Lim Ceng Im baru mau mengatakan sesuatu, namun mendadak sosok bayangan berkelebat di hadapan mereka. Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya mereka.

"Omitohud Ha ha ha..."

Sosok bayangan itu ternyata Tayli Lo Ceng.

"Lo Ceng"

Seru Tio Cie Hiong girang.

"Haaah?"

Bu Lim Ji Khie dan lainnya tersentak.

"Tayli Lo Ceng..."

"Omitohud"

Tayli Lo Ceng memandang Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Kepandaianmu telah pulih, syukurlah"

"Kauw heng yang merawat ku. Kalau tidak. aku pasti cacat seumur hidup."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Monyet sakti"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Engkau sungguh hebat"

Monyet bulu putih bercuit-cuit, kemudian manggut-manggut.

"Selamat datang, Lo Ceng"

Ucap Bu LimJi Khie dan lainnya serentak.

"Silakan duduk"

"Terimakasih"

Sahut Tayli Lo Ceng sambil duduk dan memandang Tio Cie Hiong lagi.

"Bagus engkau memakai kedok kulit, jadi pihak Bu Tek Pay tidak mengenalimu"

"Apakah Lo Ceng sudah tahu tentang Toan wie Kie..."

Tanya Tio Cie Hiong.

"Ha ha ha"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Aku justru dari markas Bu Tek Pay. Bu Lim sam Mo telah membebaskan mereka."

Tio Cie Hiong menarik nafas lega.

"Di mana mereka sekarang?"

"Sudah kembali ke Tayli,"

Sahut Tayli Lo Ceng dan memberitahukan.

"Oh ya, pihak Hong Hoang To sudah ke Hong Lay san menemui It sim sin Ni. Kebetulan aku juga ke sana."

"Jadi mereka tinggal di Hong Lay san?"

"Mereka telah meninggalkan Hong Lay san, ingin mencarimu."

Tayli Lo Ceng menggelenggelengkan kepala.

"Tetapi kenapa mereka belum sampai di sini? Mungkin telah terjadi sesuatu?"

"Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek juga belum sampai di sini, aku justru sedang menunggu mereka,"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Ternyata Lie Man chiu adalah murid Lo Ceng."

"Apakah engkau sudah bertemu dia?"

"Ya, dia bersama Tui Beng Li."

Tayli Lo Ceng manggut-manggut, kemudian wajahnya tampak serius.

"Cie Hiong, aku ke mari membawa kabar gembira untukmu."

"Kabar apa?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Engkau telah menolong Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa, bahkan juga bertemu seorang tua di kedai, bukan?"

"Ya, Lo Ceng."

"Orang tua itu bernama Tio Tay seng, majikan pulau Hong Hoang To."

"Oh?"

"Mereka bermarga Tio, engkau juga bermarga Tio. Namun engkau tidak akan menyangka, bahwa mereka mempunyai hubungan famili denganmu."

"Apa?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Mereka familiku? Bagaimana mungkin?"

"Cie Hiong"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Tio Tay seng, majikan pulau Hong Hoang To adalah pamanmu. Tio Hong Hoa adalah kakakmu lho"

"Lo Ceng..."

Tio Cie Hiong terbelalak, begitu pula yang lain.

"Lo Ceng tidak bohong?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Omitohud"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Untuk apa aku membohongi Cie Hiong?"

"Maaf, Lo Ceng"

Ucap Lim Ceng Im sambil menundukkan kepala.

"Lo Ceng..."

Tio Cie Hiong tercengang.

"Padahal aku sudah bertemu Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa, tetapi kenapa mereka tidak memberitahukan tentang itu?"

"Karena mereka tidak mengenalmu, lagi pula engkau tidak menyebut namamu."

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Ada satu hal lagi yang engkau tidak akan menduganya."

"Hal apa?"

"It sim sin Ni adalah nenekmu."

"Hah? Apa?"

Mulut Tio Cie Hiong ternganga lebar.

"Bagaimana mungkin?"

"Memang benar It sim sin Ni adalah nenekmu,"

Ujar Tayli Lo Ceng kemudian menutur tentang semua kejadian lampau itu. Tio Cie Hiong manggut-manggut dan girang buka main.

"Sungguh di luar dugaan"

Katanya.

"Cie Hiong, engkau harus pergi mencari Tui Beng Li, Tio Tay seng dan muridku, setelah itu, kalian semua harus pergi ke Gunung Hong Lay san"

Pesan Tayli Lo Ceng.

"Lo Ceng, kenapa mereka harus pergi ke sana? Bukankah lebih baik ke mari saja?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Ha ha ha"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Aku tahu engkau merasa berat berpisah dengan jantung hatimu ini, bukan?"

"Lo Ceng..."

Wajah Lim Ceng Im langsung memerah.

"Gadis kecil"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Kalian cuma berpisah untuk sementara waktu saja. Tidak lama Cie Hiong pasti kembali."

"Lo Ceng, bolehkah aku ikut Kakak Hiong?"

Tanya Lim Ceng Im mendadak.

"Kalau engkau ikut dia, sama juga ingin mencelakainya,"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Engkau tidak boleh meninggalkan markas pusat Kay Pang ini, sebab kalau engkau meninggalkan tempat ini, akan menimbulkan kecurigaan pihak Bu Tek Pay."

"Kalau begitu, sebaiknya mereka yang ke mari,"

Ujar Lim Ceng Im penuh harap.

"Apabila itu baik, tentu aku tidak akan menyuruh mereka ke Gunung Hong Lay san,"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Engkau harus tahu, bahwa pihak Bu Tek Pay tahu tempat ini, namun tidak tahu tentang Gunung Hong Lay san. Demi keamanan mereka, maka mereka harus tinggal di sana."

"Kakak Hiong juga harus tinggal di sana?"

Mata Lim Ceng Im mulai basah.

"Tentu tidak."

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"setelah usai berunding di sana, jantung hatimu itu pasti kembali ke sini."

"Itu pasti lama sekali."

Tukas Lim Ceng Im dan nyaris menangis terisak-isak.

"Adik Im"

Tio Cie Hiong menatapnya lembut.

"Aku akan berusaha secepat mungkin kembali ke sini."

"Kakak Hiong..."

Air mata Lim Ceng Im mulai meleleh.

"Gadis kecil"

Tayli Lo Ceng menatapnya tajam.

"Engkau harus ingat, jangan meninggalkan tempat ini"

"Ya, Lo Ceng."

Lim Ceng Im mengangguk.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu, namun kalian memang harus berpisah untuk sementara waktu. Setelah urusan ini selesai, kalian pasti tidak akan berpisah lagi. selamanya pasti saling mendampingi, asal jangan merasa bosan saja,"

Ujar Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.

"Lo Ceng Aku dan Kakak Hiong pasti akan hidup saling mencinta selama-lamanya,"

Ujar Lim Ceng Im dan menambahkan.

"Kami tidak akan bertengkar, aku selalu menurut kepadanya."

"Bagus Bagus"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Menjadi suami isteri memang harus begitu, kalau mau bertengkar atau ribut, lebih baik jangan menjadi suami istri."

"Lo Ceng, kapal yang berlayar di laut yang luas pun kadang-kadang masih bisa bertabrakan. Apa lagi suami istri yang tinggal satu rumah, sewaktu-waktu pasti bisa tabrakan pula,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Omitohud Itu memang benar."

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Kapal yang berlayar di laut bisa bertabrakan, karena pengemudinya kurang berhati-hati. Kalau pengemudinya berhati-hati, tentu tidak akan terjadi tabrakan. Begitu pula suami istri yang tinggal satu rumah, apabila mereka mau saling mengalah dan sabar, serta rasa cinta mereka tidak luntur, sudah barang tentu tidak akan terjadi suatu tabrakan. Kalian harus ingat itu"

Bagian 41

"Ya, Lo ceng."

Tio cie Hiong dan Lim ceng Im mengangguk.

"Baiklah."

Tayli Lo ceng bangkit berdiri.

"cie Hiong, aku tunggu engkau di Gunung Hong Lay San. Sampai jumpa"

Tayli Lo ceng melesat pergi. Tio cie Hiong dan Lim ceng Im saling memandang, sedangkan Bu Lim Ji Khie menghela nafas panjang.

"cie Hiong"

Ucap Sam Gan Sin Kay kemudian.

"Aku memberi selamat kepadamu"

"Terimakasih, Kakek pengemis"

Sahut Tio cie Hiong.

"Ha ha ha"

Kim Siauw Suseng tertawa gembira.

"Sungguh tak disangka, cie Hiong masih mempunyai nenek, paman dan kakak"

"Ha ha ha"

Tui Hun Lojin juga tertawa.

"Malam ini kita harus bersulang sampai pagi"

"Benar."

Sela Gouw Han Tiong.

"Sebab cie Hiong akan pergi esok pagi."

"Kakak Hiong tidak boleh bersulang di sini."

Ujar Lim ceng Im mendadak.

"Dia harus menemaniku di halaman belakang sampai pagi, dan kami tidak mau diganggu."

"Ha ha ha"

Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Baiklah. Malam ini aku tidak akan menganggu kalian. cepatlah kalian ke halaman belakang"

Tio cie Hiong dan Lim ceng Im menuju halaman belakang, kemudian berdua duduk berdampingan di bawah sebuah pohon.

Ketika hari mulai terang, Tio cie Hiong ber-pamit lalu pergi.

Seketika juga Lim ceng Im menangis terisak-isak.

Betapa gembiranya Toan Hong Ya dan isterinya, ketika menerima laporan bahwa Toan Wie Kie dan lainnya sudah pulang.

Tak lama muncullah mereka menghadap Toan Hong Ya di ruang tengah, maka hati Toan Hong Ya dan istrinya jadi lega.

"Duduklah"

Ucap Toan Hong Ya. Mereka segera duduk. Toan Hong Ya memandang Toan Wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian.

"seharusnya ayah menghukum kalian, tapi... sudahlah"

Ujar Toan Hong Ya dan menambahkan.

"Lain kali kalian jangan berbuat begitu lagi, sebab mencemaskan ayah dan ibu kalian"

"Ya, Ayah."

Sahut mereka berempat serentak.

"Kenapa bisa begitu lama kalian baru pulang?"

Tanya Toan Hong Ya sambil memandang sin san Lojin, Ang Kin sianli dan Lam Kiong hujin.

"Kami menyusul mereka sampai di Tionggoan."

Jawab sin san Lojin memberitahukan.

"Kemudian muncul Kwan Gwa siang Koay..."

"oh?"

Toan Hong Ya mengerutkan kening.

"Lalu bagaimana?"

"Mereka berdua menangkap kami dengan alasan mengundang kami ke markas Bu Tek Pay,"

Sahut sin san Lojin melanjutkan.

"Kami ditahan di sana beberapa hari."

"setelah itu bagaimana?"

"Mendadak muncul Tayli Lo Ceng, maka Bu Lim sam Mo membebaskan kami."

Ang Kin sianli memberitahukan.

"oh syukurlah"

Ucap Toan Hong Ya, kemudian bertanya.

"Bagaimana? Kalian sudah memperoleh kabar tentang cie Hiong?"

"Tayli Lo Ceng memberitahukan, bahwa kepandaian cie Hiong telah pulih,"

Jawab sin san Lojin.

"Namun kami belum bertemu dia, karena Tayli Lo Ceng menyuruh agar kami segera kembali."

"Kami disuruh menunggu di Tayli saja,"

Sambung Ang Kin sianli.

"Kalau begitu..."

Toan Hong Ya manggut-manggut dengan wajah ceria.

"Kepandaian Cie Hiong pasti sudah pulih. Kalau tidak. bagaimana mungkin Lo Ceng itu mengatakan begitu?"

"Kami juga yakin akan apa yang dikatakan Tayli Lo Ceng, karena itu kami segera pulang."

Ujar sin san Lojin dan menambahkan.

"Lo Ceng itu memang berwibawa sekali. Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui tampak segan serta hormat kepadanya."

"Untung sekali"

Toan Hong Ya menghela nafas lega.

"Kalian tidak tahu tentang Cie Hiong. Kalau tahu, Cie Hiong pasti celaka di tangan kalian."

"Kenapa?"

Tanya Toan Wie Kie heran.

"Pikirlah"

Sahut Toan Hong Ya. Toan Wie Kie berpikir, setelah itu mendadak wajahnya berubah pucat lalu berkata.

"Benar, Ayah. Kalau kami tahu tentang Cie Hiong, Bu Lim sam Mo pasti menggunakan kami untuk mengancam Cie Hiong. syukurlah kami sudah pulang..."

"Aaak..."

Toan Pit Lian menghela nafas.

"Ketika mau ke Tionggoan, kami sama sekali tidak memikirkan hal itu. Kami... kami betul-betul bersalah."

"Untung Lo Ceng bertindak tepat pergi membebaskan kalian. Kalau tidak..."

Toan Hong Ya menggeleng-gelengkan kepala.

"secara tidak langsung kalian akan mencelakai cie Hiong, kejadian dua tahun lalu pasti terulang kembali."

"Ayah, maafkanlah kami"

Ucap Toan wie Kie dan Toan pit Lian serentak.

"Kami memang tidak berpikir panjang ."

"Ayah telah memaafkan kalian,"

Sahut Toan Hong Ya sambil tertawa.

"Nah, mulai sekarang kalian harus menunggu kedatangan cie Hiong dengan sabar Dan yang terpenting, ayah dan ibu kalian sudah ingin sekali menggendong cucu, janganlah kalian mengecewakan kami Ha ha ha..."

Bab 72 Berjodoh pasti ketemu Lie Man chiu dan Tan Li cu berjalan perlahan di tempat sepi sambil bercakap-cakap. dan sesekali Tan Li cu menghela nafas panjang.

"Tui Beng Li, kenapa engkau?"

Baca Juga: Petualang Asmara 5

Baca Juga: Asmara Berdarah 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert