Eps 12 Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.
"Lim Pangcu,janganpura-pura tidak mengerti"
"Michiko..."
Lim Peng Hang pura-pura berpikir, kemudian manggut-manggut seraya berkata.
"Apakah yang kalian maksudkan gadis Jepang itu?"
"Benar"
Sahut Ang Bin sat sin.
"Nah, cepatlah kalian serahkan"
"Maaf"
Ucap Lim Peng Hang.
"Dua hari yang lalu gadis Jepang itu memang ke mari, tetapi pada hari itu juga dia pergi."
"Benarkah?"
Ang Bin sat sin tidak percaya.
"Benar."
Ujar Lim Peng Hang.
"Dia ke mari mencari Tio Cie Hiong. Katanya ketua aliran Ninja di Jepang telah membunuh guru dan kakaknya. Dia ingin berlindung di sini, namun kami beritahukan kepadanya, bahwa Tio Cie Hiong sudah mati. Karena itu, dia langsung pergi."
"Lim Pangcu"
Kening Ang Bin sat sin berkerut.
"jangan-jangan kalian menyembunyikannya "
"Ang Bin sat sin"
Sela sam Gan sin Kay sambil menatapnya.
"Mungkinkah kami akan mempertaruhkan ratusan nyawa hanya karena seorang gadis Jepang yang tiada hubungannya dengan kami?"
Ang Bin sat sin manggut-manggut.
"sam Gan sin Kay, ucapanmu masuk akal"
"Tapi kami tidak bisa percaya begitu saja"
Ujar Liu siauw Kun.
"Lalu apa maumu?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Kami berhak menggeledah"
Sahut Liu siauw Kun dingin.
"Kalau tidak berkeberatan apabila kami menggeledah seluruh kamar yang ada di sini, bukan?"
"Apakah kami berani menentang?"
Sahut Lim Peng Hang.
"Baik"
Liu siauw Kun tersenyum, lalu menurunkan perintah kepada belasan anggota Bu Tek Pay itu.
"Cepatlah kalian geledah"
"Ya."
Sahut mereka lalu mulai menggeledah ke sana ke mari. Berselang beberapa saat kemudian, para anggota Bu Tek Pay itu sudah kembali ke ruang depan dan melapor.
"Lapar kepada Pelindung dan Tuan muda Kami sudah menggeledah semua kamar, tetapi tidak tampak gadis Jepang itu."
Ang Bin sat sin manggut-manggut, kemudian memandang Lim Peng Hang seraya bertam "Gadis Jepang itu ke mana?"
"Maaf, kami tidak tahu,"
Jawab Lim Peng Hang.
"Kalau kalian mengetahuijejak gadis Jepang itu, harus melapor kepada Bu Tek Pay"
Pesan Ang Bin sat sin.
"sebab ketua aliran Ninja sudah berada di markas kami"
"Baik."
Lim Peng Hang mengangguk.
"Kalau begitu, kami mau kembali ke markas."
"Tunggu dulu, Guru"
Potong Liu siauw Kun, kemudian menunjuk beberapa anggota Bu Tek Pay, dan berkata.
"Kalian pergi bawa beberapa pengemis ke mari"
"Ya."
Mereka segera keluar, dan tak lama sudah kembali bersama beberapa pengemis berusia empat puluhan.
"Tahukah kalian kenapa aku menyuruh kalian ke mari?"
Tanya Liu siauw Kun kepada pengemispengemis itu.
"Maaf, kami tidak tahu,"
Sahut pengemis-pengemis itu.
"Apakah dua hari lalu kalian melihat seorang gadis Jepang ke mari?"
Tanya Liu siauw Kun sambil menatap mereka dengan tajam dan dingin sekali.
"Kami memang melihat,"
Sahut salah seorang pengemis.
"Tapi tak seberapa lama, kami pun melihat dia pergi."
Liu siauw Kun manggut-manggut.
"Nah, sekarang kalian boleh keluar"
"Ya."
Mereka sebera meninggalkan ruang itu sambil menghela nafas lega.
"Guru"
Ujar Liu siauw Kun kepada Ang Bin sat sin.
"sekarang aku baru percaya akan perkataan Lim Pangcu."
"Ha ha"
Ang Bin sat sin tertawa.
"Engkau memang cerdik Ayoh kita kembali ke markas"
"selamat jalan"
Ucap Lim Peng Hang.
"Ingat Apabila ada kabar berita tentang gadis Jepang itu, kalian harus melapor kepada Bu Tek Pay"
Pesan Ang Bin sat sin dengan tegas dan menambahkan.
"Kalau kalian lalai melaporkan Hm"
Setelah mendengus dingin, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun melangkah pergi meninggalkan markas pusat Kay Pang.
"Aaakh..."
Lim Peng Hang menghela nafas dalam-dalam.
"sungguh cerdik Liu siauw Kun"
"Ha ha"
Kim siauw suseng tertawa.
"Tapi pengemis bau jauh lebih cerdik, sebab telah memperhitungkan itu."
"Ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"sastrawan sialan, baru kali ini engkau memujiku Ha ha ha..."
"Pengemis bau Aku benar-benar kagum akan kecerdikanmu, bisa memperhitungkan sampai ke situ."
Ujar Tul Hun Lojin.
"Tapi ingat Michiko harus terus bersembunyi di dalam ruang bawah tanah, tidak boleh menyamar sebagai pengemis."
Ujar sam Gan sin Kay.
"Benar."
Kim Siauw Suseng manggut-manggut dan melanjutkan.
"Pokoknya kita semua harus tetap sabar menunggu kembalinya Tio Cie Hiong."
Sementara itu, Tio Cie Hiong yang dirawat oleh monyet berbulu putih sudah bisa menggerakkan badannya, bahkan bisa duduk.
Itu sungguh menggembirakan Tlo Cie Hiong.
Maka tidak heran kalau ia terus-menerus membelai monyet bulu, putih yang duduk di hadapannya.
"Kauw heng Kalau tidak ada engkau, entah bagaimana diriku? Aku yakin tubuh ku pasti cacat seumur hidup,"
Ujarnya. Monyet itu bercuit-cuit kelihatannya juga gembira sekali, kemudian mendadak menarik Tio Cie Hiong mengajak berdiri "Kauw heng...."
Tio Cie Hiong memandangnya.
"Engkau menyuruhku belajar berdiri?"
Monyet bulu putih manggut-manggut.
"Tapi...."
Tio Cie Hiong mengerutkan kening, lalu mengangguk.
"Baiklah Aku akan coba berdiri"
Perlahan-lahan Tio Cie Hiong bangkit berdiri, namun sepasang kakinya bergemetar, akhirnya terkulai.
Monyet bulu putih menarik tangannya lagi, dan mulutnya bercuit-cuit seakan menyuruh Tio Cie Hiong bangkit berdiri.
"Kauw heng...."
Kening Tio cie Hiong mengucurkan keringat.
Namun karena monyet berbulu putih terus menarik tangannya, maka ia mencoba bangkit berdiri lagi.
Tio Cie Hiong berhasil berdiri, namun sepasang kakinya terus gemetar.
la terus bertahan karena monyet bulu putih bertepuk-tepuk tangan, sepertinya memberi semangat kepadanya.
Berselang sesaat, Tio Cie Hiong terkulai dan nafasnya terengah-engah.
Monyet bulu putih segera memasukkan sebiji buah ke mulutnya.
setelah cairan buah itu masuk ke tenggorokannya, nafas Tio Cie Hiong kembali normal.
"Kauw heng, terima kasih"
Ucap Tio cie Hiong. Monyet bulu putih bercuit, kemudian terjadilah hal yang di luar dugaan, karena monyet itu menghapus keringat di kening Tio cie Hiong.
"Kauw heng...."
Tio cie Hiong tertegun. la menatap monyet itu seraya berkata.
"Engkau sungguh baik terhadapku, belum tentu ada manusia yang sebaik engkau."
Monyet bulu putih bercuit-cuit, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tio Cie Hiong.
"Kauw heng, kenapa engkau berlutut?"
Tio cie Hiong heran.
"Cepatlah berdiri, jangan begini"
Monyet bulu putih menunjuk ke arah makam, setelah itu bercuit-cuit lagi. Tio cie Hiong manggut-manggut mengerti.
"oooh Engkau menganggapku sebagai majikanmu, kan?"
Monyet bulu putih itu manggut-manggut.
"Kauw heng"
Tio Cie Hiong membelainya.
"Kita bersaudara, aku bukan majikanmu."
Monyet bulu putih berloncat-loncatan, kelihatannya gembira sekali, namun Tio Cie Hiong malah menghela nafas panjang.
seketika monyet putih berhenti, lalu menatap Tio Cie Hiong sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kauw heng, oleh seandainya kepandaianku tidak bisa pulih, sebetulnya tidak jadi masalah, tapi rimba persilatan...."
Bab 61 Thian Liong Hong Hoang Po Kiam (Pedang Pusaka Naga Khayangan dari Poenix) Tio Hong Hoa terus melatih Hong Hoang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix), menggunakan sebatang ranting, dan tampak ranting itu berkelebatan lebat ke sana ke mari.
Ketika ia sedang berlatih, Tio Tay seng menghampirinya dengan membawa sebilah pedang.
"Bagus Bagus"
Ujarnya sambil tertawa gembira setelah putrinya berhenti berlatih.
"Ilmu pedangmu maju pesat, ayah gembira sekali."
"Ayah"
Tio Hong Hoa segera menghampirinya. Ketika melihat pedang di tangan ayahnya, gadis itu terbelalak.
"Itu... itu Hong Hoang Po Kiam (Pedang Pusaka Phoenix). Kenapa ayah membawa pedang pusaka itu ke mari?"
"Hoaji, mulai sekarang engkau harus berlatih dengan pedang pusaka ini."
Sahut Tio Tay seng. Tio Hong Hoa tampak girang sekali.
"Ayah, apakah aku boleh menggunakan pedang pusaka itu untuk berlatih?"
"Kalau tidak boleh, bagaimana mungkin ayah membawa pedang pusaka ini ke mari?"
"Terima kasih, Ayah"
Ucap Tio Hong Hoa.
"Aku pasti bertambah tekun melatih Hong Hoang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Phoenix).
"Hoaji"
Tio Tay seng tersenyum.
"Ayah juga akan berikan pedang pusaka ini kepadamu."
Tio Hong Hoa kurang percaya.
"Benarkah itu?"
"Benar."
Tio Tay seng tersenyum dan memberitahukan.
"Ketika kakekmu pergi ke Tionggoan, pedang pusaka ini pun dibawanya."
"Jadi kalau aku ke Tionggoan, ayah pasti berikan pedang pusaka ini kepadaku? Ayah tidak bohong kan?"
"Bagaimana mungkin ayah membohong imu?"
Kemudian wajah Tio Tay seng berubah serius seraya berkata.
"sebetulnya pedang pusaka ini ada pasangannya, hanya saja ayah tidak tahu berada di mana pedang pusaka yang satu itu."
Hati Tio Hong Hoa tertarik.
"Apakah juga Hong Hoang Po Kiam?"
"Bukan. itu adalah Thian Liong Pokiam (Pedang pusaka Naga Kahyangan)."
Tio Tay seng menjelaskan.
"Apabila kedua pedang pusaka bertemu, kedua pemiliknya juga akan bersatu hati."
"Maksud Ayah?"
"Thian Liong Pokiam pasti berada di tangan seorang pemuda, maka...."
"Ayah"
Wajah Tio Hong Hoa kemerah-merahan.
"jangan bicara yang bukan-bukan ah"
"Ayah bicara sesungguhnya."
Tio Tay seng tersenyum.
"Engkau harus percaya itu."
"Tapi...."
Tio Hong Hoa mengerutkan kening.
"seandainya pemilik Thian Liong Pokiam seorang lelaki yang sudah berumur, lalu harus bagaimana?"
"Tidak mungkini sebab apabila pedang pusaka Phoenix muncul, belum tentu pedang pusaka Naga Kahyangan akan muncul. Kecuali pemiliknya seorang pemuda, maka Thian Liong Pokiam itu pasti muncul."
"Ayah"
Tio Hong Hoa tertawa geli.
"seperti-nya suatu cerita dongeng."
"Hoa ji"
Tio Tay seng tersenyum lembut.
"Eng-kau boleh percaya boleh tidak-lihat buktinya nanti"
"Tocu"
Tio Lo Toa menghampiri mereka. Ketika melihat Hong Hoang Pokiam, ia tampak terkejut.
"Apakah Hong Hoang Pokiam akan muncul dalam rimba persilatan Tionggoan?"
"Ya."
Tio Tay seng mengangguk dan menambahkan.
"Bahkan Hong Hoang Leng (Tanda Perintah Phoenix) juga akan muncul dalam rimba persilatan."
"Maksud Tocu?"
Tio Loa Toa tercengang.
"Beberapa bulan lagi engkau dan Hoa ji akan berangkat ke Tionggoan, jadi Hoa ji juga akan membawa Hong Hoang Leng."
Tio Tay seng memberitahukan.
"Tocu tidak mau ke Tionggoan bersama?"
Tio Tay seng menggelengkan kepala.
"Ayah"
Tio Hong Hoa tampak kecewa.
"Benarkah Ayah tidak mau ke Tionggoan? Memangnya kenapa?"
"Kalian berdua berangkat duluan, ayah akan menyusu,"
Sahut Tio Tay seng dan berpesan.
"Hoaji, engkau harus menuruti perkataan paman Lo Toa, jangan berlaku gegabah"
"Ya, Ayah."
Tio Hong Hoa mengangguk.
"Nah sekarang cobalah berlatih dengan pedang pusaka ini"
Tio Tay seng memberikan pedang pusaka tersebut kepada putrinya.
"Terima kasih, Ayah"
Ucap Tio Hong Hoa sambil menerima pedang pusaka itu dan mulai berlatih.
Di luar goa di Gunung Thay san, tampak Lie Man chiu sedang melatih Hud Bun Pan Yok Ciang Hoat.
sungguh hebat ilmu pukulan itu, terdengar suara menderu-deru merontokkan daun-daun pohon di sekitarnya.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Lie Man chiu berhenti, dan di saat bersamaan muncullah Tayli Lo Ceng sambil tersenyum-senyum, membawa sebilang pedang.
"Man chiu Engkau sudah menguasai ilmu pukulan itu dengan baik, maka kini engkau harus berlatih Thian Liong Kiam Hoat (Ilmu Pedang Naga Kahyangan),"
Ujar Tayli Lo Ceng.
"Ya, Guru."
Lie Man chiu mengangguk sambil memandang pedang yang di tangan padri tua itu.
"Guru, bukankah itu pedang pusaka Naga Khayangan?"
"Betul."
Tayli Lo Ceng manggut-manggut.
"ini memang Thian Liong Pokiam. Mulai hari ini engkau harus berlatih Thian Liong Kiam Hoat dengan pedang pusaka ini."
"Guru...."
Lie Man chiu girang bukan main.
"Kini sudah saatnya engkau berlatih dengan Thian Liong Pokiam."
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Thian Liong Pokiam harus menyatu dengan Hong Hoang Pokiam."
"Apa?"
Lie Man chiu tertegun.
"Maksud guru...?"
"Tidak lama lagi Hong Hoang Pokiam akan muncul dalam rimba persilatan, maka Thian Liong Pokiam pun harus muncul bersatu padu dengan Hong Hoang Pokiam itu."
"jadi... pasangan Thian Liong Pokiam adalah Hong Hoang Pokiam?"
"Benar. Bahkan pemiliknya juga harus bersatu hati."
"Apa?"
Lie Man Chiu heran.
"Guru, tolong jelaskan"
"Pemilik Hong Hoang Pokiam pasti seorang gadis yang cantik jelita, sedangkan engkau adalah pemilik Thian Liong Pokiam, maka engkau dan gadis itu harus bersatu hati."
"Guru...."
Wajah Lie Man Chiu kemerah-merahan.
"jadi guru ingin memberikan Thian Liong Pokiam kepadaku?"
"Benar."
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Karena pemilik Hong Hoang Pokiam adalah jodohmu."
"Guru...."
Kening Lie Man chiu berkerut.
"Bagaimana kalau pemilik Hong Hoang Pokiam itu seorang nenek?"
"omitohud Hahaha..."TayliLo Ceng tertawa.
"Tidak mungkin. Engkau harus percaya bahwa pemilik Hong Hoang Pokiam itu seorang gadis cantik,"
"oh?"
Lie Man chiu tampak girang.
"Kalau Thian Liong Kiam Hoat bersatu dengan Hong Hoang Kiam Hoat, maka merupakan ilmu pedang yang sangat dahsyat."
"Bisakah mengalahkan Bu Lim sam Mo?"
Tanya Lie Man chiu mendadak.
"Menurut guru...,"
Jawab Tayli Lo Ceng setelah berpikir sejenak.
"Masih bisa bertahan."
"Cuma bisa bertahan?"
"Engkau harus tahu."
Tayli Lo Ceng memberitahukan.
"Bu Lim sam Mo memiliki Pak Kek sin Kang, bahkan kini kepandaiannya bertambah tinggi, tentunya memiliki semacam lwee-kang yang sangat tinggi. Kalau tidak, bagaimana mungkin uratnya yang telah putus itu tersambung kembali?"
"Guru...."
Lie Man Chiu menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu, bagaimana cara membasmi Bu Lim sam dan Kwan Gwa siang Koay?"
"Kecuali...."
Tayli Lo Ceng menghela nafas.
"Kepandaian Tio cie Hiong bisa pulih seperti semula, barulah Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay dapat dibasmi."
"Guru Apakah kepandaian Tio cie Hiong akan pulih?"
Tanya Lie Man chiu.
"Mudah-mudahan Guru pun tidak berani memastikannya. Namun menurut guru, kepandaiannya akan pulih."
Sahut Tayli Lo Ceng.
"Kalau begitu...."
Wajah Lie Man Chiu tampak berseri.
"Kami pasti bertemu kelak dalam rimba persilatan. Aku ingin mohon petunjuk kepadanya."
"omitohud omitohud...."
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Itu memang baik sekali, mudah-mudahan kepandaiannya akan pulih"
Sementara itu, Tan Li cu yang berada di gunung Hong Lay san juga sedang berlatih ilmu pukulan dan ilmu pedang. It sim sin Ni menyaksikannya sambil manggut-manggut gembira.
"Bagus Bagus Kepandaianmu sudah maju pesat, begitu pula Iweekangmu."
Ujar It sim sin Ni seusai Tan Li cu berlatih.
"Guru Kapan aku boleh pergi mencari Liu siauw Kun?"
Tanya Tan Li Cu.
"Harus menunggu beberapa bulan lagi."
Jawab It sim sin Ni.
"Tapi engkau harus ingat Janganlah engkau ke markas Bu Tek Pay, sebab engkau akan celaka di tangan Bu Lim sam dan Kwan Gwa siang Koay"
"Apakah Guru tidak dapat mengalahkan mereka?"
Tanya Tan Li Cu mendadak.
"Kalau satu lawan satu, guru masih bisa menang, tapi apabila mereka maju serentak guru pasti kalah,"
Jawab It sim sin Ni jujur.
"Bagaimana kalau guru bergabung dengan Tayli Lo Ceng?"
"Mungkin akan seimbang melawan Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay. oleh karena itu, engkau harus memancing Liu siauw Kun keluar."
"Guru...."
Wajah Tan Li Cu tampak murung.
"Entah bagaimana keadaan cie Hiong?"
"Menurut guru, kepandaiannya agak sulit untuk pulih."
It sim sin Ni mengerutkan kening.
"Tapi memang cuma dia yang dapat menyelamatkan rimba persilatan."
"Kalau kepandaiannya tidak bisa pulih, bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan rimba persilatan?"
Tan Li cu menghela nafas.
"Mudah-mudahan kepandaiannya bisa pulih"
Ucap It Sim sin Ni dan menambahkan.
"Dia merupakan harapan kaum rimba persilatan golongan putih."
Bagaimana keadaan Tio Cie Hiong sekarang?
Apakah dia sudah sembuh?
Benarkah dia merupakan harapan kaum rimba persilatan golongan putih?
Monyet bulu putih terus merawat Tio Cie Hiong dengan penuh perhatian.
Dapat dibayangkan betapa terharunya Tio Cie Hiong.
Padahal monyet bulu putih tersebut hewan, namun mempunyai perasaan setia kawan.
Kini Tio Cie Hiong sudah bisa berjalan, hanya terbungkuk-bungkuk.
Hal itu membuat hatinya berduka sekali.
"Kauw heng..."
Ujar Tio Cie Hiong dengan mata bersimbah air.
"Keadaanku menjadi begini...."
Monyet bulu putih bercuit-cuitan kemudian memegang tangan Tio Cie Hiong seakan menghiburnya .
"Kauw heng, kalau keadaanku begini, bagaimana mungkin aku meninggalkan goa ini?"
Keluh Tio Cie Hiong. Monyet bulu putih bercuit-cuit lagi, lalu menepuk bahu Tio cie Hiong, sepertinya menyuruhnya bersabar.
"Aaakh..."
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Aku tidak tahu harus bagaimana"
Keesokan harinya, ketika Tio cie Hiong duduk bersandar di dinding goa, tiba-tiba monyet bulu putih melesat ke dalam sambil bercuit-cuit tak henti-hentinya, tangannya membawa sesuatu.
Begitu melihat apa yang dibawa monyet bulu putih, seketika juga Tio Cie Hiong terbelalak.
Ternyata monyet itu membawa buah Kiu Yap Ling che.
"Kauw heng...."
Mulut Tio Cie Hiong ternganga lebar.
"Itu buah Kiu Yap Ling che, engkau dapat dari mana?"
Monyet bulu putih bercuit-cuit, lalu memberikan buah tersebut kepada Tio Cie Hiong.
"Terima kasih, kauw heng"
Ucap Tio Cie Hiong dengan mata basah.
la menerima buah itu dengan tangan gemetar saking gembiranya, kemudian dimasukannya ke mulut.
Berselang beberapa saat, sekujur tubuhnya mulai hangat.
Kemudian segeralah ia duduk di atas batu dingin, dan mencoba menghimpun hawa murninya.
Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Ang Bin sat sin, Takara Yahatsu dan Liu siauw Kun duduk dengan wajah serius.
Kelihatannya mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting .
"Bagaimana mungkin Michiko bisa tiada jejaknya?"
Ujar ketua aliran Ninja dengan kening berkerut.
"Memang mengherankan,"
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"Tidak mungkin dia hilang begitu saja."
"Padahal para anggota kita telah mencarinya ke mana-mana, tapi...."
Thian Mo menggelenggelengkan kemala.
"Tiada kabar beritanya."
"Mungkinkah pihak Kay Pang menyembunyikannya?"
Tukas Te Mo.
"Tidak mungkin,"
Sahut Ang Bin sat sin.
"Kami sudah menggeledah di markas pusat Kay Pang, namun tidak menemukannya."
"Aku pun sudah bertanya kepada beberapa anggota Kay Pang..."
Sela Liu siauw Kun.
"Mereka bilang memang melihat Michiko ke sana, tapi kemudian pergi lagi."
"Mungkinkah beberapa anggota Kay Pang itu berdusta?"
Tukas siluman Kurus sambit meneguk minumannya.
"Begini..."
Usul siluman Gemuk.
"suruh beberapa orang pergi membawa anggota Kay Pang ke mari Kita siksa mereka agar mereka mengaku."
"Betul."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"ltulah ide yang tepat sekali Ha ha ha..."
"Ketua Biar aku dan Liu siauw Kun yang melaksanakan tugas ini"
Ujar Ang Bin sat sin.
"Baiklah."
Tang Hai LoMo mengangguk dan berpesan.
"Kalian berdua harus cepat pulang"
"Ya, Ketua."
Ang Bin sat sin memberi horr mat, lalu mengajak Liu siauw Kun pergi.
sementara Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay serta Takara Yahatsu terus makan dan minum sambil tertawa-tawa.
Setelah hari gelap.
barulah Ang Bin sat Sin dan Liu Siauw Kun pulang dengan membawa beberapa anggota Kay Pang.
"Ketua, kami telah berhasil membawa mereka ke mari."
Lapar Ang Bin sat sin.
"Bagus"
Tang Hai Lo Mo tertawa.
"Ha ha ha Ang Bin sat sin, Liu siauw Kun, kalian duduklah"
"Terima kasih, Ketua"
Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun lalu duduk. Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay menatap beberapa anggota Kay Pang itu dengan tajam.
"Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan, kalian harus jawab sejujurnya"
Ujar Tang Hai Lo Mo dingini "Kalau tidak...."
"Ketua Bu Tek Pay, silakan tanya, kami pasti menjawab dengan jujur,"
Sahut salah seorang anggota Kay Pang.
"Benarkah pihak Kay Pang tidak menyembunyikan Michiko?"
Tanya Tang Hai Lo Mo sambil menatap pengemis itu "Benar."
Pengemis itu mengangguk dan me-lanjutkan "Pada waktu itu, gadis Jepang itu memang datang di markas pusat Kay Pang mencari Tio Cie Hiong, tetapi setelah tahu Tio cie Hiong sudah mati, dia lalu pergi"
"Kalian tahu dia ke mana?"
Tanya Thian Mo.
"Tidak tahu,"
Sahut pengemis itu.
"Benarkah engkau tidak tahu?"
Thian Mo menatapnya dingini "Engkau jangan bohong, kini nyawamu berada di tangan kami lho"
"Kami tidak bohong."
"Apakah Michiko kembali lagi ke markas pusat Kay Pang?"
"Tidak. Kalau dia kembali lagi ke markas pusat Kay Pang, kami pasti melihatnya."
"sungguh?"
"Aku tidak berdusta."
Bu Lim sam Mo saling memandang, kemudian Te Mo bangkit berdiri lalu mendekati pengemis itu.
"Benarkah yang kau katakan?"
Tanya Te Mo yang berdiri di hadapan pengemis itu.
"Ya."
Pengemis itu mengangguk. Mendadak Te Mo mengayunkan tangannya memukul pengemis itu, dan seketika terdengarlah suara jeritan.
"Aaaakh..."
Pengemis itu terpental dan mulutnya mengeluarkan darah.
"Engkau masih tidak mau memberitahukan kepada kami?"
Bentak Te Mo sambil mendekatinya.
"Ayoh Cepat beritahukan"
"Gadis Jepang itu... memang tidak berada di markas...."
Mendadak pengemis itu menjerit lagi.
"Aaaakh"
Ternyata Te Mo telah memukulnya lagi, sehingga pengemis itu terkapar dan mulutnya terus mengeluarkan darah, kemudian nyawanya melayang.
"Ha ha ha"
Te Mo tertawa menyeramkan sambil menatap pengemis-pengemis lain.
"Kalian masih tidak mau memberitahukan dengan jujur?"
"Kami sudah memberitahukan dengan jujur. Kalau tidak percaya, silakan bunuh kami"
"Hm"
Dengus Te Mo.
"Itu akan mengotori tanganku, kalian boleh pergi sekarang"
Pengemis-pengemis itu memandang TeMo dengan penuh dendam, lalu melangkah pergi.
"Bawa pergi mayat itu"
Bentak Te Mo.
Pengemis-pengemis itu menggotong mayat tersebut, sedangkan Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun tertawa terbahak-bahak.
Betapa gusarnya sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang ketua Kay Pang, mereka terus memandang mayat pengemis yang ditaruh di lantai.
"Kita harus menyerbu ke markas Bu Tek Pay"
Teriak sam Gan sin Kay.
"Kita harus mengadu nyawa dengan mereka"
"Tenang"
Ujar Kim siauw suseng.
"Jangan emosi, urusan akan menjadi runyam."
"sastrawan sialan"
Bentak sam Gan sin Kay "Te Mo telah membunuh anggota Kay Pang yang tak bersalah, apakah kami masih harus diam?"
"Pengemis bau Pikir panjang"
Ujar Tui Hun Lojin dengan wajah merah padam. orang tua itu pun gusar sekali.
"Kita sudah bersabar sekian lama, kenapa tidak bisa bersabar beberapa bulan lagi?"
"Tapi...."
Sam Gan sin Kay menghela nafas.
"Aaaakh..."
"Ayah"
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Biar bagaimana pun, kita harus tetap bersabar Kita harus membalasnya kelak"
"Pokoknya kita harus menghabiskan mereka semua"
Sahut Kim siauw suseng sambil berkertak gigi.
"Mudah-mudahan kepandaian cie Hiong bisa pulih"
"ohya Kejadian ini jangan diberitahukan kepada Michiko, sebab kalau dia tahu, aku khawatir dia akan pergi dari sini."
Pesan sam Gan sin Kay.
"Kalau begitu, kita harus berpesan kepada Ceng Im."
Ujar Lim Peng Hang. Di saat bersamaan muncullah Lim Ceng Im.
"Haaah..."
Jerit gadis itu ketika melihat mayat tersebut.
"Ayah, apa yang terjadi?"
"Ceng Im, Te Mo yang membunuhnya,"
Sahut Lim Peng Hang.
"Kenapa Te Mo membunuhnya?"
Lim Ceng Im mengerutkan kening.
"Apakah karena urusan Kakak Michiko?"
"Ya."
Lim Peng Hang mengangguk sambil menghela nafas, kemudian berpesan.
"Engkau tidak boleh memberitahukan kepadanya. Kalau tahu, dia pasti akan pergi."
"Ya, Ayah."
Lim Ceng fm mengangguk dengan wajah murung.
"Entah bagaimana keadaan Kakak Hiong? Kenapa masih belum kembali?"
"Mungkin dia belum sembuh,"
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"sebab kalau dia sudah sembuh, pasti sudah ke mari."
"Kakak Hiong pasti sembuh Kakak Hiong pasti sembuh..."
Teriak Lim Ceng Im dengan mata basah.
"Nak. tenanglah Cie Hiong pasti sembuh, hanya masih membutuhkan waktu."
Ujar Lim Peng Hang.
Bab 62 Tui Beng Li (Wanita Pengejar Nyawa) Tampak belasan anggota Bu Tek Pay sedang makan dan minum di sebuah kedai.
Sekujur badan pemilik kedai itu tampak gemetar, sedangkan beberapa pelayan sibuk melayani mereka.
Memang tidak sulit mengenali para anggota Bu Tek Pay, karena di bagian baju depan mereka terdapat tulisan Bu Tek (Tanpa Tanding).
sementara pemilik kedai juga mengeluh dalam hati.
Hari ini ia pasti akan rugi besar lantaran kedatangan orang-orang itu, sebab biasanya mereka makan dan minum tanpa membayar.
Di saat belasan anggota Bu Tek Pay itu sedang berpesta pora, mendadak seorang wanita cantik berjalan ke dalam.
la mengenakan pakaian serba hitam dan wajah tampak dingin sekali.
setelah duduk.
wanita itu pun memesan makanan dan minuman kepada pelayan yang mengha mpirinya .
"sup sapi dan arak"
Pelayan itu manggut-manggut, dan tak lama ia sudah menyuguhkan pesanan wanita itu.
"Nyonya hati-hati Mereka adalah anggota Bu Tek Pay yang selalu mengganggu anak gadis dan isteri orang."
Bisiknya.
"Terima kasih"
Sahut wanita itu, lalu mulai bersantap. sementara belasan anggota Bu Tek Pay itu terus memandangnya sambil tertawa-tawa.
"Waduuh sungguh cantik wanita itu, pasti enak dipakai Ha ha ha"
Salah seorang dari mereka mencetuskan ucapan yang kurang ajar.
"Aku siap melayaninya beberapa ronde."
"Eh? Kami pun kepingin."
"Tapi wajahnya dingin sekali."
"Yang dingin justru enak. Ha ha ha..."
"Kawan-kawan, bagaimana kalau kita bawa dia ke tempat sepi, lalu kita bersenang-senang di sana?"
"setuju."
"Tapi jangan dengan cara paksa, harus dengan akal"
"Benar. Ha ha ha..."
Walau mereka berbicara berbisik-bisik, namun semua pembicaraan mereka tidak terlewat dari telinga wanita itu.
"Hmm"
Dengusnya sambil tersenyum dingin.
"Hari ini aku akan mulai membantai mereka"
Berselang sesaat, salah seorang dari mereka mendekati wanita itu sambil tertawa cengar-cengir.
"Nona, bolehkah aku duduk di sini?"
"Tentu boleh,"
Sahut wanita itu sambil tersenyum.
"Silakan duduk"
"Terima kasih"
Ucap anggota Bu Tek Pay itu dengan hati berbunga-bunga, karena wanita itu menyambutnya dengan lembut dan senyum pula.
"Apakah orang-orang itu kawan-kawanmu?"
Tanya wanita itu.
"Benar."
Anggota Bu Tek Pay itu mengangguk, kemudian berkata dengan dada terangkat.
"Kami anggota Bu Tek Pay yang sangat terkenal. Lihatlah baju kami terdapat tulisan Bu Tek siapa yang bertemu dengan kami, harus beri hormat."
"oh?"
Wanita itu tersenyum lagi.
"Kalau begitu, aku lupa memberi hormat kepada kalian."
"Tidak apa-apa,"
Sahut anggota Bu Tek Pay itu cepat sambil tertawa gembira.
"ohya, Nona dari mana?"
"Aku datang dari Kang Lam."
"Pantas...."
Anggota Bu Tek Pay itu manggut-manggut sambil memandangnya.
"Nona begitu cantik. setahuku kaum gadis di Kang Lam memang cantik manis."
"Terima kasih atas pujianmu"
"ohya, apakah Nona masih mau tambah makanan dan minuman?"
"Tidak usah, aku sudah kenyang."
"Nona sudah punya suami?"
"Pernah punya suami, tapi..."
Wajah wanita itu berubah murung.
"suami ku sudah meninggal, jadi kini aku janda."
"Kasihan"
Ucap anggota Bu Tek Pay itu dan menambahkan.
"Kalau begitu, Nona pasti kesepian"
"Ya."
Wanita itu menundukkan kepala.
"Aku memang kesepian sekali."
"Aku sangat simpati kepadamu. Bagaimana kalau aku dan kawan-kawanku menemanimu? Engkau setuju, kan?"
"Aku seorang janda, tidak mungkin kalian akan merasa senang menemaniku."
Wanita itu menghela nafas.
"Ha ha ha"
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gembira.
"Terus terang, kami senang sekali menemanimu. oh ya, sudah berapa lama suamimu meninggal?"
"Dua tahun lebih."
"Kalau begitu...."
Anggota Bu Tek Pay itu menatapnya sambit menelan air liur.
"selama dua tahun ini, engkau sama sekali tidak... itu... itu...."
"Aku tidak mengerti maksudmu, jelaskanlah"
"Maksudku engkau tidak tidur dengan lelaki?"
"oh, itu"
Wanita tersebut tersenyum malu-malu.
"Aku... aku wanita baik-baik, bagaimana mungkin sembarangan melakukan itu?"
"Benar Benar Ha ha ha...."
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa.
"ohya, bagaimana kalau kami menemanimu?"
"Menemani apa?"
"Menemani engkau tidur Jadi engkau tidak akan kesepian lagi."
"Mana boleh?"
Wanita itu menundukkan kepala.
"Kalian berjumlah belasan...."
"Jangan khawatir, pokoknya beres"
"Beres sih beres, namun aku mana bisa tahan?"
"itu bisa diatur. Bisa diatur...."
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa lagi, kemudian memandang kawan-kawannya sambil memberi isyarat. Tentunya isyarat itu sangat menggembirakan.
"Maaf, aku harus beritahukan dulu kepada kawan-kawanku"
"Silakan"
Sahut wanita itu sambil tersenyum. Anggota Bu Tek Pay itu mendekati kawankawannya, maka seketika itu juga mereka menghujaninya pertanyaan-pertanyaan.
"Bagaimana? Engkau berhasil membujuknya?"
"Dia mau ikut kita ke tempat lain?"
"Dia masih gadis atau sudah bersuami? Dia tersenyum-senyum, apakah dia tertarik kepada kita?"
"Kapan kita ke tempat sepi bersama dia?"
"Tenang"
Sahut anggota itu bangga.
"Begitu aku mendekatinya, kalian sudah lihat, kan? Dia langsung tersenyum kepadaku."
"Ingat Pokoknya semua harus menikmatinya Engkau jangan enak sendiri lho"
Ujar kawannya.
"Beres"
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa dan berbisik.
"Dia sudah janda..."
"Bagus Bagus Berarti dia sudah berpengalaman untuk melayani kita. Ha ha ha Karena janda, maka dia pasti kuat melayani kita semua."
"Benar Tapi kalian harus ingat, aku yang duluan lho setelah itu, barulah giliran kalian."
"Memang harus begitu. Ha ha ha..."
Sementara pemilik kedai dan beberapa pelayan tampak mengerutkan kening, bahkan mereka pun menggeleng-gelengkan kepala, karena tahu apa yang akan menimpa diri wanita itu.
Anggota Bu Tek Pay itu menghampirinya lagi sambil tersenyum-senyum, kemudian ujarnya dengan penuh gaya.
"Kawan-kawanku siap menyenangkanmu, maka engkau pasti senang Jangan ragu, percayalah kepada kami"
Wanita itu tertawa kecil.
"Aku tidak menyangka akan bertemu kalian yang sedemikian baik. Namun aku ingin bertanya...."
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Kita mau pergi ke mana?"
"Tak jauh dari sini ada sebuah rumah kosong, mari kita ke sana Kita akan bersenang-senang di sana."
"Terima kasih"
"Ayoh, kita ke sana"
"Baiklah."
Wanita itu bangkit berdiri dan berkata.
"Aku harus membayar...."
"Tidak usah"
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gelak.
"Kami selalu makan gratis di sini, maka engkau juga tidak usah membayar"
"Itu merugikan orang, lebih baik aku membayar,"
Ujar wanita itu sambil mengeluarkan uang peraknya.
Begitu melihat uang perak yang ada didalam kantong wanita itu, para anggota Bu Tek Pay langsung terbelalak.
Wanita itu tersenyum, lalu menaruh setael perak di atas meja seraya berseru.
"Pelayan"
"Ya"
Seorang pelayan segera menghampirinya.
"Mau pesan apa Nona?"
"setael perak ini untuk membayar semua, apakah cukup?"
Tanya wanita itu.
"Masih ada lebihnya."
Pelayan memberitahukan.
"Akan kukembalikan...."
"Lebihnya untukmu,"
Ujar wanita itu sambil melangkah pergi.
"Terima kasih Terima kasih"
Ucap pelayan itu, lalu menghela nafas panjang.
"Mari ikut kami"
Ujar anggota Bu Tek Pay dan menambahkan.
"Uang perakmu begitu banyak, apakah engkau tidak takut dirampok?"
"Kenapa aku harus takut?"
Sahut wanita itu sambil tertawa kecil.
"Bukankah aku sudah bersama kalian? siapa yang berani merampokku?"
"Betul Betul"
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gelak.
"Pokoknya kami akan melindungimu sekaligus menyenangkanmu."
"Terima kasih. Kalian sungguh baik terhadapku"
"Karena itu engkau pun harus baik-baik melayani kami. Engkau harus tahu, Bu Tek Pay berkuasa di mana-mana."
Wanita itu manggut-manggut.
"Kalau begitu, aku sungguh beruntung berkenalan dengan kalian."
"Tidak salah."
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa lagi. Kira-kira sepenanak nasi kemudian, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah kosong.
"Rumah inikah?"
Tanya wanita itu.
"Betul. Ha ha ha Kita akan bersenang-senang di dalam."
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gembira.
"Mari kita masuk"
Wanita itu mengangguk, lalu mengikuti mereka memasuki rumah kosong itu. Begitu sampai di dalam, anggota Bu Tek Pay itu menatapnya sambil menelan air liur, bahkan tampak penuh gairah nafsu birahi.
"Kita akan bersenang-senang di sini,"
Ujarnya sambil mengelus-elus pipi wanita itu.
"Iiih sudah tidak tahan ya?"
Tanya wanita itu sambil tertawa cekikikan.
"Aku memang sudah tidak tahan. Ayohlah kita mulai"
Anggota Bu Tek Pay itu tersenyumsenyum.
"Aku yang duluan bersenang-senang denganmu, setelah itu barulah giliran kawankawanku."
"Kalian berjumlah..."
Wanita itu menghitung.
"satu, dua, tiga, empat..., lima belas."
"Apakah engkau kuat melayani kami yang berjumlah lima belas orang?"
Tanya anggota Bu Tek Pay itu.
"Kenapa tidak? Lebih dari itu pun aku sanggup,"
Sahut wanita itu.
"Ha a a h...?"
Para anggota Bu Tek Pay terbelalak, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha..."
"Aku sudah siap melayani kalian"
Mendadak wajah wanita itu berubah dingin sekali. Anggota Bu Tek Pay itu gembira sekali.
"Kalau begitu, bukalah pakaianmu"
Wanita itu merogoh ke dalam bajunya, kemudian mengeluarkan sebilah pedang yang sangat lemas.
"Hmm"
Dengus wanita itu dingin sambil menatap mereka dengan bengis sekali.
"Hari ini kalian semua harus mati"
Anggota Bu Tek Pay tertegun.
"Engkau... engkau siapa?"
"Aku Tui Beng Li (Wanita Pengejar Nyawa)"
Sahut wanita itu memberitahukan.
"Maka kalian semua harus mati di tanganku"
"Jangan bergurau Lebih baik engkau layani kami..."
Ujar anggota Bu Tek Pay dengan kening berkerut. Mendadak Tui Beng Li menggerakkan pedangnya, seketika juga anggota Bu Tek Pay itu menjerit.
"Aaakh..."
Bajunya sudah berlumuran darah, ternyata dadanya tertembus pedang.
sebetulnya pedang itu sangat lemas, namun ketika Tui Beng Li mengerahkan lweekangnya, pedang itu berubah menjadi keras bukan main.
Perlu diketahui, pedang itu adalah Loan Rang Po Kiam (Pedang pusaka Baja Lemas) yang sangat tajam.
"Engkau... engkau...."
Anggota Bu Tek Pay terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya yang berlumuran darah, kemudian terkulai dan nyawanya pun melayang.
Kejadian itu sangat mengejutkan kawan-kawannya, maka mereka lalu serentak mencabut senjata masing-masing.
"serang"
Seru seseorang.
Tui Beng Li tertawa dingin sambil memutar-mutarkan pedangnya untuk menangkis, lalu mendadak membentak sambil balas menyerang.
Tampak pedangnya berkelebatan menyambar ke sana ke mari dan terdengar pula suara yang menggelegar.
"Aaakh..."
"Aaaakh..."
"Aaaakh Aaakh..."
Terdengarlah suara jeritan yang menyayat hati.
Ternyata belasan anggota Bu Tek Pay itu sudah terkapar berlumuran darah, bahkan nyawa mereka pun melayang.
siapa sebenarnya Tui Beng Li?
Dia ternyata Tan Li cu.
setelah berhasil mempelajari Kiu Yang sin Kang dan Li Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Petir Kilat), maka It sim sin Ni memperbolehkannya pergi mencari Liu siauw Kun untuk menuntut balas.
Tan Li cu tidak berani datang di markas Bu Tek Pay, sebab gurunya telah berpesan, jangan ke markas Bu Tek Pay mencari Liu siauw Kun, sebab di sana banyak jebakan dan Bu Lim sam Mo serta Kwan Gwa sian Koay berkepandaian sangat tinggi, lebih baik memancing Liu siauw Kun keluar.
Karena pesan tersebut, maka Tan Li cu tidak berani datang di markas Bu Tek Pay, namun ia membunuh anggota-anggota Bu Tek Pay untuk memancing Liu siauw Kun keluar.
Tan Li cu memandang mayat-mayat itu dengan dingin, lalu melesat pergi menuju kedai lagi.
la yakin, anggota-anggota Bu Tek Pay lain akan muncul lagi di kedai itu, maka ia kembali ke sana.
Pemilik kedai dan beberapa pelayan terbelalak melihat kemunculan Tan Li cu.
Salah seorang pelayan segera menyuguhkan secangkir teh.
"Nona tidak apa-apa?"
Tanya pelayan itu berbisik.
"Ke mana belasan anggota Bu Tek Pay itu?"
"Mereka sudah tidak bisa melakukan kejahatan lagi,"
Sahut Tan Li cu sambil tersenyum.
"Maksud Nona?"
Pelayan itu tercengang.
"sudah kukirim ke alam baka."
Tan Li cu memberitahukan, kemudian menghirup teh itu.
"Apa?"
Wajah pelayan itu berubah pucat.
"Nona... Nona telah membunuh mereka?"
"Ya."
Tan Li cu manggut-manggut.
"Celaka"
Pelayan itu tampak kalut.
"Nona harus segera pergi sebab akan muncul lagi anggotaanggota Bu Tek Pay."
"Aku ke mari lagi justru ingin menunggu kemunculan mereka,"
Sahut Tan Li Cu sambil tersenyum.
"Nona...."
Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu segera menghampiri pemilik kedai dan berbisik-bisik.
"Dia... dia telah membunuh belasan anggota Bu Tek Pay itu."
"oh?"
Pemilik kedai terbeliak.
"Kalau begitu, wanita itu pasti berkepandaian tinggi. oh ya, kenapa dia ke mari lagi?"
"Katanya ingin menunggu kemunculan anggota-anggota Bu Tek Pay yang lain,"
Sahut pelayan memberitahukan.
"Berarti dia ingin membunuh anggota-anggota Bu Tek Pay lagi."
Ujar pemilik kedai.
"Aku harus siap rugi besar hari ini."
"Kenapa?"
"Kalau mereka berkelahi di sini, bukankah kedaiku akan hancur? Tetapi tidak jadi masalah, sebab para anggota Bu Tek Pay selalu sewenang-wenang, dan sering memperkosa anak gadis serta isteri orang...."
Ucapan pemilik kedai itu terhenti mendadak. karena ia melihat beberapa anggota Bu Tek Pay memasuki kedai nya.
"Mereka datang..."
Bisik pelayan itu.
"Layani mereka dengan sikap tenang Mereka mau makan apa berikan saja, sebab ajal mereka sudah tiba"
Sahut pemilik kedai dengan suara rendah.
"Pelayan Pelayan"
Teriak salah seorang anggota Bu Tek Pay yang baru datang itu.
"Ya."
Pelayan itu berlari-lari menghampiri mereka.
"Tuan-tuan mau pesan apa?"
"Cepat hidangkan makanan-makanan yang lezat dan arak"
"Ya, ya."
Pelayan itu manggut-manggut. sesaat kemudian, meja itu telah penuh berbagai macam hidangan-hidangan lezat, dan arak yang wangi.
"Ha ha ha"
Anggota-anggota Bu Tek Pay itu tertawa gelak.
"Mari kita makan sekenyangkenyangnya "
Mereka mulai makan dan minum. Tiba-tiba salah seorang teringat sesuatu, lalu menengok ke sana ke mari.
"Eh? Ke mana kawan-kawan kita yang datang duluan."
"Heran? Kenapa mereka tidak kelihatan?jangan-jangan sudah pergi bersenang-senang dengan wanita.... Wah, ada wanita cantik di sini"
"Bukan main cantiknya wanita itu Ha ha ha Kita akan bersenang-senang dengannya Aku akan mengundangnya makan bersama"
Anggota Bu Tek Pay itu menghampiri Tan Li cu yang duduk dengan kepala tertunduk.
"Nona"
Perlahan-lahan Tan Li cu mendongakkan kepalanya, kemudian tersenyum manis.
"Engkau memanggilku?"
Tanyanya.
"Betul."
Anggota Bu Tek Pay itu terbelalak ketika menyaksikan senyuman yang sangat menawan itu.
"Nona sendirian?"
"Ya."
"Bagaimana kalau Nona makan bersama kami?"
"Itu.."
"Jangan malu-malu Nona, mari makan bersama, kami Ada bermacam-macam hidangan yang lezat-lezat."
"Tapi apakah aku tidak akan mengganggu kalian?"
"Tentu tidak."
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gembira.
"Mari makan bersama kami"
"Baiklah."
Tan Li cu mengikuti anggota Bu Tek Pay itu. Begitu wanita itu duduk, para anggota Bu Tek Pay yang lain memandangnya dengan penuh gairah.
"Mari kita bersulang"
Salah seorang menyodorkan minuman keras ke hadapannya.
"Ha ha ha..."
"Terima kasih"
Ucap Tan Li cu lalu meneguk minuman itu.
"Nona dari mana?"
"Aku dari Kang Lam."
"Apakah Nona sudah punya suami?"
"suamiku sudah mati, kini aku menjanda. Aaaakh..."
Tan Li cu menghela nafas.
"Aku datang di kota ini untuk mencari famili, tapi tidak ketemu."
"Kasihan"
Salah seorang terus menatap dadanya yang menonjol.
"sudah berapa lama engkau menjanda?"
"Dua tahun lebih."
"Apakah engkau tidak merasa kesepian?"
"Tentu. Tapi... tiada lelaki yang baik, jadi aku...."
"Kami semua lelaki baik. Karena engkau merasa kesepian, maka kami bersedia menemanimu."
"Oh, ya?"
"Ya, ya. Kami siap menemanimu"
"Kalian berlima, sedangkan aku cuma seorang diri...."
"Tidak menjadi masalah. Itu bisa diatur."
Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gelak.
"Ha ha ha Pokoknya kami akan memuaskanmu, aku jamin."
"Terus terang, aku sanggup melayani kalian berlima. Aku tidak omong kosong lho"
"oh?"
Kelima anggota Bu Tek Pay itu saling memandang.
"Benarkah itu?"
"sudah ada buktinya."
"Ada buktinya?"
"Aku telah bertemu kawan-kawan kalian berjumlah belasan, tetapi mereka semua tak berdaya melayaniku. Maka hingga saat ini mereka masih belum bisa bangun."
Bagian 36
"Oh, ya? Mereka berada di mana?"
"Mereka mengajakku bersenang-senang di sebuah rumah kosong."
Tan Li cu memberitahukan sambil tersenyum.
"cuma sekejap mereka sudah tak berdaya sama sekali. Sungguh mengecewakan"
"Ha ha ha"
Kelima anggota Bu Tek Pay itu tertawa terbahak-bahak.
"Mereka memang tak berguna, namun kami berlima kuat-kuat semua lho Pokoknya...."
"Tentunya kalian berlima juga akan mengecewakanku."
Tan Li cu menggelengkan kepala.
"Kami pasti dapat memuaskanmu Ayoh, mari kita ke rumah kosong itu"
Kelima anggota Bu Tek Pay bangkit berdiri.
"Ng"
Tan Li cu mengangguk sambil berdiri.
"Tapi kalian harus membayar hidangan-hidangan itu"
"Ha ha Kami makan di sini tidak pernah membayar."
"Kalau begitu, kalian bukan lelaki baik, aku tidak mau ikut kalian ke rumah kosong itu."
Kelima anggota Bu Tek Pay itu saling memandang, kemudian tertawa sekaligus mengeluarkan uang perak masing-masing.
"Kami akan membayar lebih dari itu,"
Ujar salah seorang Bu Tek Pay, lalu mengambil uang perak kawan-kawannya dan diserahkan kepada pemilik kedai.
"Kami membayar, tapi nanti kami ke mari lagi, engkau harus mengembalikan uang kami"
"Baik."
Pemilik kedai manggut-manggut dan membatin.
"Kalian tidak akan kembali lagi."
Kelima anggota Bu Tek Pay melangkah ke luar.
Tan Li cu mengikuti mereka dan menoleh ke belakang memberi isyarat kepada pemilik kedai.
Pemilik kedai mengangguk perlahan, kelihatannya tahu akan arti isyarat itu, bahwa Tan Li cu akan membunuh kelima anggota Bu Tek Pay.
Mereka sudah sampai di depan rumah kosong itu, namun Tan Li cu tidak masuk.
hanya berdiri di situ.
"Eh? Kenapa berdiri di situ? Mari kita masuk untuk bersenang-senang"
"Kalian masuklah Coba lihat kawan-kawan kalian sudah bangun atau belum?"
Sahut Tan Li Cu sambil tersenyum.
"Baik,"
Kelima anggota Bu Tek Pay melangkah ke dalam, namun mendadak berhambur ke luar lagi dengan wajah pucat pias.
"Mereka... mereka...."
"Mereka belum bangun, kan?"
Tanya Tan Li cu tersenyum.
"Siapa... siapa yang membunuh mereka?"
Kelima anggota Bu Tek Pay balik bertanya.
"Aku yang membunuh mereka,"
Sahut Tan Li cu dingin.
"Si... siapa kau?"
"Aku Tui Beng Li, namaku Tan Li cu."
"Wanita Pengejar Nyawa?"
"Betul."
Tan Li cu tertawa dingin.
"Hari ini kalian harus mati di tanganku"
Tan Li cu mengeluarkan Loan Rang Po Kiam, lalu mengerahkan Kiu Yang sin Rang. Kelima anggota Bu Tek Pay pun menghunus pedang masing-masing, kemudian mendadak menyerang Tan Li Cu.
"Kalian harus mati"
Bentak Tan Li cu sambil menangkis, lalu balas menyerang dengan jurus Lui Ming Tiah soh (Petir Menggelegar Kilat Menyambar).
Pedang pusaka baja lemasnya mengeluarkan suara menggelegar dan menyambar ke sana ke mari.
"Aaaakh..."
"Aaaakh... Aaaakh..."
Tampak empat anggota Bu Tek Pay terkulai berlumuran darah. Yang satu hanya terpotong sepasang telinganya sehingga darahnya mengucur.
"Engkau...."
Anggota Bu Tek Pay itu mundur-mundur dengan wajah pucat pias. la ketakutan sekali karena melihat kawan-kawannya telah mati.
"Aku sengaja melepaskanmu, agar engkau bisa melapor kepada ketua Bu Tek Pay bahwa aku sedang mengejar nyawa Liu siauw Kun"
Ujar Tan Li cu dingin lalu membentak.
"Ayoh, cepat enyah"
Anggota Bu Tek Pay itu kabur terbirit-birit, sedangkan Tan Li cu tertawa dingin, kemudian melesat pergi.
Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun mendengar laporanlaporan itu dengan kening berkerut-kerut.
"Tui Beng Li?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Dia memberitahukan namanya?"
"Namanya Tan Li cu,"
Sahut anggota Bu Tek Pay yang terpotong sepasang telinganya.
"Dia pun menyuruh aku melapor, bahwa dia sedang mengejar nyawa Tuan Muda."
"Oh?"
Tang Hai Lo Mo tampak gusar sekali, kemudian bertanya kepada Liu Siauw Kun.
"Engkau kenal wanita itu?"
"Kenal, Guru,"
Jawab Liu siauw KunjujUr.
"Dua tahun lalu...."
Liu siauw Kun menutur tentang kejadian ketika ia ingin memperkosa wanita itu, namun terdengar suara orang menegurnya.
"Kalau begitu...."
Tang Hai Lo Mo setelah berpikir sejenak.
"Dia pasti ditolong oleh orang yang berkepandaian tinggi."
"Siapa yang berkepandaian begitu tinggi?"
Gumam Thian Mo sambil mengerutkan kening.
"Hanya dalam satu jurus dia mampu membunuh empat orang dan menguntungkan sepasang telinganya...."
"Itu tidak mengherankan. Anggota-anggota kita itu berkepandaian rendah, maka wanita tersebut gampang membunuh mereka."
"Ang Bin sat sin Engkau dan Liu siauw Kun harus menangkap wanita itu"
"Tunggu"
Cegah siluman Kurus.
"Jangan menyuruh mereka berdua menangkap Tui Beng Li"
"Kenapa?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Kelihatannya Tui Beng Li sengaja memancing Liu siauw Kun keluar markas. Karena itu, jangan sampai dia terpancing"
Sahut siluman Kurus.
"Kalau begitu, kita harus membiarkannya membunuh para anggota kita?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya, setelah itu barulah kita mengambil tindakan,"
Sahut siluman Kurus.
"Benar."
Thian Mo manggut-manggut.
"Kita lihat saja perkembangan selanjutnya. Itu Cuma gangguan kecil, tidak perlu kita pusingkan"
"Menurutku...."
Kening TeMo berkerut.
"Kalau Tui Beng Li tidak yakin dirinya mampu membunuh Liu siauw Kuo, tentunya dia pun tidak akan berani menantang. Dia berani menantang, pertanda dia berkepandaian tinggi."
"Tidak salah. Tapi memang ada baiknya kita menunggu perkembangan selanjutnya."
Sahut Ang Bin sat sin.
"Baiklah."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
Sementara itu, pihak Kay Pang juga telah mendengar tentang kejadian tersebut, namun hanya tahu bahwa wanita itu adalah Tui Beng Li (Wanita Pengejar Nyawa), tidak tahu namanya.
"Heran"
Gumam sam Gan sin Kay.
"Siapa wanita itu, kenapa dia begitu berani membunuh para anggota Bu Tek Pay?"
"Aaakh..."
Kim siauw suseng menghela nafas panjang.
"Kita semua mirip kura-kura yang menyembunyikan kepala."
"Kita harus memikirkan ratusan nyawa. Apabila kita sembarangan bertindak akan mencelakai kita semua. Lagipula kita harus bersabar menunggu Tio Cie Hiong, bukan?"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Belum juga Cie Hiong muncul, malah muncul Tui Beng Li. Itu pertanda Bu Tek Pay sudah mendekati keruntuhan."
Ujar Tui Hun Lojin.
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Bu Lim sam Mo pasti terpukul oleh kejadian itu."
"Benar. Itu memang merupakan tamparan berat bagi Bu Tek Pay,"
Sahut Kim siauw suseng dan menambahkan.
"Apabila Cie Hiong sudah muncul, aku juga ingin membantai para anggota Bu Tek Pay."
"Tapi...."
Kening Lim Ceng Im berkerut.
"Kenapa Kakak Hiong masih belum pulang?"
"Tenanglah, Nak Mungkin tidak lama lagi dia akan pulang, engkau harus sabar"
Ujar Lim Peng Hang.
"Ya, Ayah."
Lim Ceng Im mengangguk.
"Ohya, Ceng Im"
Sam Gan sin Kay menatapnya seraya bertanya.
"Bagaimana gadis Jepang itu? Betahkah dia terus bersembunyi di ruang bawah tanah itu?"
"Kakek"
Lim Ceng Im menghela nafas.
"Tidak betah pun harus betah, sebab kalau dia keluar sekarang, sama juga mencari mati, bukan?"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Kasihan juga nasib gadis itu"
"Dia gadis yang baik, aku tahu dia sangat mencintai Kakak Hiong."
Ujar Lim Ceng Im memberitahukan.
"Tapi cintanya ditolak oleh Kakak Hiong. Dia tidak merasa sakit hati, sebaliknya malah makin kagum kepada Kakak Hiong yang sangat setia kepadaku. Dia bilang, sulit mencari pemuda seperti Kakak Hiong...."
"Ceng Im"
Kim siauw suseng menatapnya dalam-dalam.
"Tidakkah engkau merasa cemburu?"
"Kenapa aku harus merasa cemburu? Kakak Hiong sangat setia kepadaku. Kalau aku cemburu karena itu, bukankah aku berhati picik?"
"Benar."
Kim siauw suseng manggut-manggut.
"Walau begitu banyak anak gadis jatuh cinta kepada cie Hiong, tapi dia tidak tergoda sama sekali."
"Tentu."
Lim Peng Hang tertawa mendadak.
"sebab putriku pernah melihat dia telanjang mandi di sungai...."
"Ayah"
Wajah Lim Ceng Im langsung memerah.
"Kenapa berkata yang bukan-bukan?"
"Wuah? Ha ha ha"
Kim siauw suseng terbahak-bahak.
"sungguh luar biasa, belum apa-apa sudah melihat...."
"Kakek sastrawan"
Lim Ceng Im melotot.
"Waktu itu kami masih kecil, lagipula aku tidak sengaja melihatnya, dan dia pun tidak tahu kalau aku anak gadis."
"Ha ha ha"
Kim siauw suseng tertawa.
"Tidak sengaja tapi sudah melihat, kan? Maka... teringat terus."
"Iiih"
Lim Ceng Im membanting-banting kaki.
"Aku sedang pusing, malah digoda Kakek sastrawan sungguh keterlaluan"
"Ha ha ha"
Kim siauw suseng, saman sin Kay dan lainnya terus tertawa, akhirnya Lim Ceng Im berlari ke dalam....
Bab 63 Hong Hoang Leng (Tanda Perintah Phoenix) Di dalam sebuah kamar penginapan, tampak seorang tua dan seorang gadis duduk berhadapan dengan wajah serius.
Mereka adalah Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa.
Ternyata mereka telah meninggalkan Pulau Hong Hoang To, dan kini bermalam di sebuah penginapan.
"Hoa ji Kita tidak boleh bertindak sembarangan, juga tidak boleh datang di markas Bu Tek Pay,"
Ujar Tio Lo Toa sungguh-sungguh.
"Kalau begitu...."
Tio Hong Hoa mengerutkan kening.
"Apa rencana kita, Paman Lo Toa?"
Tio Lo Toa menyahut dengan suara rendah.
"Lebih baik kita turun tangan memusnahkan markas cabang Bu Tek Pay Itu pasti sangat mengejutkan Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay."
"Benar."
Tio Hong Hoa tertawa gembira.
"Kita juga harus bergerak secara misterius membuat bingung pihak Bu Tek Pay."
"Ha ha"
Tio Lo Toa tertawa gembira.
"Malam ini kita hancurkan salah satu markas cabang Bu Tek Pay, beberapa malam kemudian kita bertindak lagi."
"Setuju,"
Sahut Tio Hong Hoa.
"Kita tinggalkan sebuah Hong Hoang Leng, agar Bu Lim sam Mo tahu tentang Hong Hoang Leng dan pasti terkejut."
"Kita ke markas cabang itu tengah malam,"
Ujar Tio Lo Toa dan menambahkan.
"Alangkah baiknya kita menutup muka dengan kain, agar mereka tidak mengenali kita."
"Baik."
Tio Hong Hoa manggut-manggut.
Setelah tengah malam, tampak dua sosok bayangan melesat ke arah markas cabang Bu Tek Pay, Beberapa penjaga terkejut bukan main ketika melihat dua sosok bayangan melayang turun.
"Siapa kalian?"
Bentak mereka.
"Kami datang untuk menghabisi nyawa kalian"
Sahut Tio Hong Hoa sambil menggerakkan pedangnya.
"Aaaakh Aaakh..."
Beberapa penjaga itu roboh seketika berlumuran darah, dan putus pula nafas mereka.
"Hoa ji...."
Tio Lo Toa menggeleng-gelengkan kepala.
"Mereka sering membunuh orang dan memperkosa anak gadis serta isteri orang, maka mereka harus mati."
Sahut Tio Hong Hoa.
Tio Lo Toa menghela nafas.
Mereka lalu melangkah memasuki markas cabang Bu Tek Pay itu.
Mendadak muncul belasan orang bersenjata tajam, dan salah seorang menatap mereka dengan tajam.
"Siapa kalian? Mau cari mati di sini?"
Bentaknya.
"Kami ke mari bukan untuk cari mati, melainkan ingin membasmi kalian"
Sahut Tio Hong Hoa dingin.
"Apa?"
Orang itu tertegun.
"Siapa berani menentang Bu Tek Pay, harus mati Apakah kalian tidak tahu?"
"Tahu oleh karena itu, kami harus membasmi kalian"
Tio Hong Hoa tertawa dingin sekaligus menghunus Hong Hoang Po Kiam.
"Hm"
Dengus orang itu lalu memberi aba-aba.
"Serang dia"
Belasan anggota Bu Tek Pay langsung menyerang Tio Hong Hoa. Gadis itu tertawa nyaring, lalu menggerakkan pedangnya untuk menangkis.
"Trang Trang Trang"
Senjata para anggota Bu Tek Pay terkutung semua, sehingga membuat mereka tertegun.
"Kalian bersiap-siaplah untuk mati, karena kalian telah banyak melakukan kejahatan"
Bentak Tio Hong Hoa sambil menyerang. Badan gadis itu berputar-putar, Hong Hoan Po Kiampun berkelebatan. Ternyata ia mengeluarkan jurus Hong Hoang Coanshin (Burung Phoenix memutarkan badan).
"Aaaakh Aaaakh Aaaaakh..."
Jerit belasan anggota Bu Tek Pay itu.
Tubuh mereka berlumuran darah, kemudian roboh dan tak bernyawa lagi.
Pada waktu bersamaan, muncul lagi belasan orang, salah seorang diantaranya adalah pemimpin markas cabang itu.
"Siapa kalian?"
Bentaknya sambil memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu.
"Kalian berani membunuh anggota Bu Tek Pay?"
"Tentu berani"
Sahut Tio Hong Hoa.
"Bukankah aku telah membunuh mereka? Kenapa masih bertanya?"
"Serang dia"
Seru pemimpin markas cabang Bu Tek Pay itu.
Para anak buahnya langsung menyerang.
Tio Hong Hoa menangkis dan sekaligus balas menyerang dengan jurus Hong Hoang Seng Thian (Burung Phoenix Terbang Ke Langit).
Badan gadis itu melambung ke atas, dan pedang pusakanya berkelebatan.
seketika terdengarlah suara yang menyayat hati.
"Aaakh Aaakh..."
Belasan anggota Bu Tek Pay itu roboh mandi darah. Betapa terkejutnya pemimpin itu. seketika ia mengambil langkah seribu, tetapi, Tio Lo Toa sudah melesat ke hadapannya sekaligus mengayunkan tangannya.
"Aaakh..."
Jerit pemimpin itu lalu terkulai, dan nyawanya pun melayang.
"Hoa ji Mari kita memeriksa ke dalam, apakah masih ada anggota Bu Tek Pay yang tersisa apa tidak"
Ujar Tio Lo Toa. Tio Hong Hoa mengangguk. mereka berdua lalu berjalan ke dalam. Namun di dalam tidak terdapat anggota Bu Tek Pay, hanya ditemukan belasan wanita yang sedang menangis.
"Cepatlah kalian pulang sekarang sudah aman"
Ujar Tio Hong Hoa kepada mereka.
"Terima kasih, Lihiap (Pendekar Wanita)"
Ucap wanita-wanita itu, lalu segera meninggalkan markas cabang Bu Tek Pay.
"Hoaji Taruhlah sebuah Hong Hoang Leng di badan pemimpin itu"
Ujar Tio Lo Toa dan menambahkan.
"Kita harus segera pergi."
"Ya."
Tio Hong Hoa segera melempar sebuah Hong Hoang Leng ke atas badang pemimpin itu.
"Paman Lo Toa, mari kita pergi"
Tio Lo Toa mengangguk.
mereka berdua lalu melesat pergi.
Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di penginapan.
Setelah berada di dalam kamar, Tio Hong Hoa tertawa sambil duduk dan Tio Lo Toa duduk di hadapannya.
"Hong Hoang Leng sudah muncul dalam rimba persilatan, pertanda hari kematian para penjahat."
Ujar Tio Hong Hoa.
"Para anggota Bu Tek Pay memang kelewat jahat, mereka sering membunuh orang dan memperkosa pula"
Tio Lo Toa menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita memang harus membasmi mereka."
"Paman Lo Toa, bagaimana kalau Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay muncul?"
Tanya Tio Hong Hoa mendadak.
"Tidak mungkin. Bu Lim Sam Mo adalah ketua, sedangkan Kwan Gwa Siang Koay adalah Tetua, tentunya mereka tidak akan muncul. Mungkin mereka akan mengutus Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun menghadapi kita,"
Sahut Tio Lo Toa.
"Paman Lo Toa menghadapi Ang Bin sat sin, aku akan menghadapi Liu siauw Kun. setelah kita membunuh mereka, mungkin Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay akan muncul."
"Itu memang mungkin. Karena itu, kita harus berhati-hati."
Pesan Tio Lo Toa.
"Karena itu kita tidak mampu menghadapi mereka."
"Paman Lo Toa"
Tio Hong Hoa tersenyum.
"Itu urusan nanti, mungkin ayahku sudah datang di Tionggoan."
"Hoa ji,"
Tio Lo Toa menghela nafas.
"Ayahmu juga tak mampu menghadapi Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay. Kalau satu lawan satu, mungkin ayahmu masih kuat menghadapinya."
Tio Hong Hoa mengerutkan kening.
"Kalau begitu...."
"Lebih baik kita beristirahat dulu, Hoa-ji."
Tio Lo Toa tersenyum.
"Engkau tidur di tempat tidur, aku duduk di sini saja."
"Ohya Kita telah mendengar tentang Tui Beng Li yang membunuh para anggota Bu Tek Pay. Apakah Paman Lo Toa tahu kira-kira siapa wanita itu?"
"Tidak tahu."
Tio Lo Toa menggelengkan kepala.
"Tapi... yang jelas, wanita itu mempunyai dendam terhadap pihak Bu Tek Pay."
"Paman Lo Toa, alangkah baiknya kita bisa bertemu dia."
Ujar Tio Hong Hoa dan menambahkan.
"Jadi dia dan kita bergabung."
"Hoa ji Tidurlah"
"Ya."
Tio Hong Hoa mengangguk.
lalu membaringkan dirinya di atas tempat tidur, dan memejamkan matanya.
Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Ang Bin sat sin tampak terkejut ketika menerima berita tentang pembunuhan di markas cabang.
Kening Tang Hai Lo Mo terus berkerut, lama sekali barulah membuka mulut.
"Hong Hoang Leng pernah muncul kira-kira tujuh puluh lima tahun yang lampau. Tiada seorang pun tahu siapa pemilik Hong Hoang Leng itu, dan dari mana asalnya. Yang jelas pemilik Hong Hoang Leng sangat memusuhi kaum golongan hitam, membunuh kaum golongan hitam tanpa ampun. Tapi sudah sekian puluh tahun tidak muncul, kenapa kini Hong Hoang Leng itu muncul lagi, bahkan membunuh para anggota kita?"
"Memang mengherankan,"
Sahut Thian Mo dengan kening berkerut dan melanjutkan.
"Kita harus bersiap-siap. karena setelah muncul Tui Beng Li, kini muncul pula Hong Hoang Leng."
"Bahkan..."
Tambah Te Mo.
"Kelihatannya Tui Beng Li dan pemilik Hong Hoang Leng sehaluan, terbukti mereka sama-sama membunuh anggota-anggota kita."
"Tetua"
Tang Hai Lo Mo memandang Kwan Gwa siang Koay.
"Perlukah kka yang turun tangan?"
"Menurutku...."
Siluman Gemuk berpikir sejenak.
"Belum waktunya kita turun tangan. Namun kita harus menyuruh para anggota kita untuk menyelidiki tentang Hong Hoang Leng itu"
"Ya."
Tang Hai Lo Mo mengangguk.
"Kini ada orang tertentu mulai mengusik kita, maka setelah kita tahu siapa pemilik Hong Hoang Leng, kita harus turun tangan membunuhnya."
"Hm"
Dengus siluman Kurus.
"Kalau sudah tahu siapa dia, aku pasti menyuruhnya merasakan kelihayanku"
"Jadi...."
Thian Mo mengerutkan kening.
"Un-tuk sementara ini kita diam saja?"
"Ya."
Kwan Gwa siang Koay mengangguk.
"Kalau ada orang yang mencurigakan, harus dilaporkan kepada kita."
"Siauw Kun Perintahkan para anggota kita, agar menyelidiki Hong Hoang Leng itu siapa yang mencurigakan, harus segera lapor"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Ya."
Liu siauw Kun memberi hormat, lalu melangkah pergi.
"Oh ya, di mana Takara Yahatsu?"
Tanya Tang Hai Lo Mo mendadak sambil memandang Thian mo.
"Dia sedang melatih ilmu pedang di halaman belakang,"
Sahut Thian Mo memberitahukan.
"Heran"
Gumam Te Mo.
"Aku tidak habis pikir, gadis Jepang itu bersembunyi di mana?"
"Mungkinkah dia sudah mati?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Tidak mungkin Aku yakin pasti ada pihak tertentu menyembunyikannya,"
Sahut Te Mo.
"Tidak mungkin Kay Pang. Mungkin salah satu partai besar yang menyembunyikannya?"
Ujar Thian Mo.
"Itu juga tidak mungkin. Tujuh partai besar tidak mungkin berani mencari urusan dengan kita."
Sela siluman Gemuk.
"Kalau begitu gadis itu hilang ke mana?"
Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.
"Padahal anggota-anggota kita telah menyelidikinya, namun tidak menemukan jejaknya."
"Itu bukan urusan kita,"
Tandas Siluman Kurus.
"Jadi kita tidak perlu memikirkan itu, yang jadi masalah kita sekarang adalah Tui Beng Li dan munculnya Hong Hoang Leng itu."
"Benar."
Bu Lim Sam Mo manggut-manggut.
"Setelah Tio Cie Hiong mati, kini malah muncul Tui Beng Li dan Hong Hoang Leng. Hm Kita harus membunuh mereka"
"Apabila masih terjadi pembunuhan terhadap anggota-anggota kita, berarti sudah waktunya kita turun tangan. Sebab kalau tidak, kita pasti ditertawakan oleh Kay Pang dan tujuh partai besar."
Ujar Siluman Kurus.
"Benar."
Siluman Gemuk manggut-manggut.
"Kita harus segera memberantas mereka, agar tidak ditertawakan oleh Kay Pang dan tujuh partai besar."
Memang benar apa yang dikatakan Kwan Gwa Siang Koay, saat ini Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong sedang tertawa, namun wajah mereka pun tampak serius.
"Aku sama sekali tidak menduga, kalau Hong Hoang Leng itu bisa muncul lagi dalam rimba persilatan."
Sam Gan Sin Kay mengerutkan kening.
"Padahal sudah sekian puluh tahun tidak pernah muncul."
"Memang mengherankan,"
Sahut Kim Siauw Suseng.
"Tapi kemunculan Hong Hoang Leng justru membunuh para anggota Bu Tek Pay. Keli-hatannya pemilik Hong Hoang Leng mempunyai dendam dengan Bu Lim Sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay."
"Belum tentu,"
Sela Tui Hun Lojin sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Sebab pemilik Hong Hoang Leng khususnya memang membunuh kaum golongan hitam."
"Apakah Ayah tahu jelas tentang Hong Hoang Leng itu?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Tidak begitu jelas,"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Kira-kira tujuh puluh lima tahun silam, Hong Hoang Leng pernah muncul dan membunuh orang-orang golongan hitam. Namun beberapa tahun kemudian, Hong Hoang Leng hilang begitu saja. Tiada seorang pun tahu siapa pemilik Hong Hoang Leng itu. Guruku pun tidak tahu sama sekali."
"Pada waktu itu, kita masih kecil,"
Sela Kim siauw suseng.
"Tapi kini Hong Hoang Leng muncul lagi, bukankah sungguh mengherankan?"
"Kelihatannya pemilik Hong Hoang memusuhi Bu Tek Pay, sebab pemimpin markas cabang Bu Tek Pay telah dibunuh, para anggota di situ pun mati semua,"
Ujar Lim Peng Hang.
"Itu merupakan berita yang menggembirakan,"
Gouw Han Tiong tertawa.
"Dan merupakan pukulan kedua bagi Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay."
"Mungkin sudah waktunya Bu Tek Pay runtuh. setelah muncul Tui Beng Li, kini muncul lagi Hong Hoang Leng, dan tidak lama lagi akan muncul Cie Hiong. Bu Tek Pay pasti runtuh."
Ujar Tui Hun Lojin.
"Aku masih tidak habis pikir..."
Gumam sam Gan sin Kay.
"Karena kemuncullan Tui Beng Li dan Hong Hoang Leng, sepertinya menuntut balas terhadap Bu Lim sam Mo."
"Kalau begitu, mungkinkah Tui Beng Li dan pemilik Hong Hoang Leng mempunyai hubungan dengan Tio cie Hiong?"
Ujar Kim siauw suseng menduga.
"Tidak mungkin, sebab Tio cie Hiong baru berusia dua puluhan, sedangkan Hong Hoang Leng...."
Sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala dan menambahkan.
"Tapi wanita Pengejar Nyawa itu mungkin kenal Tio Cie Hiong, maka dia membunuh anggota-anggota Bu Tek Pay."
"Kenapa pemilik Hong Hoang Leng juga membunuh anggota-anggota Bu Tek Pay?"
Tanya Gouw Han Tiong.
"Para anggota Bu Tek Pay selalu membunuh orang dan memperkosa anak gadis. Mungkin karena itulah maka pemilik Hong Hoang Leng membunuh mereka."
Sahut Kim siauw suseng.
"Apakah Ayah tahu asal-usul pemilik Hong Hoang Leng?"
Tanya Lim Peng Hang mendadak.
"Aku sama sekali tidak tahu. Tapi... konon di laut Utara terdapat sebuah pulau misterius, yakni Pulau Hong Hoang To. Mungkin pemilik Hong Hoang Leng berasal dari pulau itu."
Sahut sam Gan sin Kay.
"Hong Hoang To?"
Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong terbelalak.
"Menurut cerita guruku..."
Ujar Kim siauw Suseng.
"Dua ratus tahun lalu Hong Hoang Leng pernah muncul di rimba persilatan, namun kemudian menghilang mendadak."
"Kemunculan Hong Hoang Leng pada masa itu juga membunuh kaum golongan hitam?"
Tanya Gouw Han Tiong.
"Ya."
Kim siauw suseng mengangguk.
"Tujuh puluh lima tahun lalu muncul kembali, setelah itu tidak pernah muncul lagi. Namun kini malah muncul, maka sungguh mengherankan."
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Yang jelas kini Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay pasti kebakaran jenggot saking gusarnya."
"Benar."
Kim Siauw Suseng juga tertawa.
"Ha ha Itu sangat menggembirakan Mungkin para ketua tujuh partai juga sudah mendengar tentang berita itu."
"Tentu."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut dan menambahkan.
"Kalau Cie Hiong sudah pulang, kita juga harus mulai bergerak."
"Kakek Kakak Hiong sudah pulang ya?"
Mun-cul Lim Ceng Im sambil menghampiri mereka.
"Cie Hiong belum pulang,"
Sahut Lim Peng Hang sambil menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, kenapa ayah dan kakek tampak begitu gembira?"
Lim Ceng Im heran.
"Padahal Kakak Hiong belum pulang...."
"Nak"
Lim Peng Hang menatapnya.
"Kini di rimba persilatan telah muncul Hong Hoang Leng. itulah yang menggembirakan kami."
"Hong Hoang Leng?"
Lim Ceng Im tercengang.
"Apa Hong Hoang Leng itu?"
"Hong Hoang Leng merupakan tanda kematian bagi kaum golongan hitam..."
Jawab Lim Peng Hang dan memberitahukan tentang kejadian di markas cabang Bu Tek Pay. Lim Ceng Im terbelalak.
"Kalau begitu, pemilik Hong Hoang Leng berada di pihak kita?"
"Bukan di pihak kita, tapi di pihak golongan putih,"
Ujar Lim Peng Hang.
"Itu pertanda sudah waktunya Bu Tek Pay runtuh."
"Kini muncul Tui Beng Li, dan disusul oleh Hong Hoang Leng. Namun...."
Lim Ceng Im menghela nafas panjang.
"Kenapa Kakak Hiong masih belum muncul?"
"Tenang, Nak"
Ujar Lim Peng Hang.
"Percayalah Tidak lama lagi Cie Hiong pasti pulang."
"Aaaakh..."
Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kemala.
"Entah bagaimana keadaan Kakak Hiong? Mudah-mudahan dia sudah sembuh Masalah kepandaiannya bisa pulih atau tidak. aku tidak begitu memikirkan. Yang penting dia sembuh dari tukanya, agar kami bisa berkumpul dan tidak terpisah lagi."
"Jangan khawatir Apa yang kau inginkan itu pasti terwujud, percayalah"
"Kakak Hiong, kapan engkau pulang?"
Gumam Lim Ceng Im dengan air mata meleleh.
"Aku sudah rindu sekali kepadamu...."
Berita tentang kemunculan Hong Hoang Leng juga telah sampai ke telinga It sim sin Ni.
Yang memberitahukan kepadanya adalah kedua biarawati, muridnya.
setelah mendengar tentang itu, It sim sin Ni lalu duduk bersila sambil melamun, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.
Di saat bersamaan Tayli Lo Ceng muncul, dan ketika melihat It sim sin Ni melamun, tercenganglah padri tua itu.
"sin Ni"
Tayli Lo Ceng duduk di hadapannya.
"Urusan apa yang membuatmu melamun?"
It sim sin Ni tidak menyahut.
"omitohud"
Tayli Lo Ceng menatapnya.
"oh-ya, di mana Tan Li cu?"
"Dia sudah turun gunung,"
Sahut It sim sin Ni singkat.
"Oh?"
Tayli Lo Ceng mengerutkan kening dan memberitahukan.
"Murid ku pun sudah turun gunung. sin Ni, apakah engkau sedang memikirkan murid bungsumu itu?"
It sim sin Ni menggelengkan kepala, kemudian menghela nafas panjang.
"Lo ceng, engkau mendengar tentang Hong Hoang Leng yang telah muncul dalam rimba persilatan?"
Tanyanya.
"Hong Hoang Leng?"
Tayli Lo Ceng tertegun.
"Aku belum mendengar, sebab aku langsung kemari dari Gunung Thay san"
"Hong Hoang Leng telah muncul lagi."
"Sin Ni"
Tayli Lo Ceng heran.
"Kenapa engkau memikirkan tentang Hong Hoang Leng?"
"Karena...."
It sim sin N Imenghela nafas.
"Hong Hoang Leng mempunyai hubungan dengan diriku."
"Apa?"
Tayli Lo Ceng tampak tertegun.
"Hong Hoang Leng itu mempunyai hubungan dengan dirimu?"
"Ya."
"Setahuku engkau tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Hong Hoang Leng itu Tujuh puluh lima tahun lalu, Hong Hoang Leng itu pernah muncul dalam rimba persilatan."
"Karena itu, aku mempunyai hubungan dengan Hong Hoang Leng itu."
It sim sin Ni menghela nafas lagi.
"Aaaakh... tujuh puluh lima tahun kemudian muncul kembali sungguh di luar dugaan"
"Sin Ni"
Tayli Lo Ceng menatapnya.
"Maukah engkau menutur tentang hubunganmu dengan Hong Hoang Leng itu?"
"Tujuh puluh lima tahun silam...."
It sim sin N Imulai menutur.
"suatu hari, aku terkepung kaum golongan hitam. Di saat diriku dalam bahaya, muncullah seorang lelaki berusia lima puluhan. wajahnya tampan, berwibawa dan gagah berani. Hanya dua jurus dia telah berhasil membunuh kaum golongan hitam yang mengepungku."
"Lalu kalian berkenalan?"
"Ya."
It sim sin Ni mengangguk dan melanjutkan.
"Setelah berkenalan, saling tertarik."
"Omitohud...."
Tayli Lo Ceng menghela nafas.
"Bukankah engkau biarawati?"
"Lo Ceng Belum lama ini aku pernah memberitahukanmu, bahwa dulu aku pernah melakukan suatu kesalahan."
"Ya. Engkau memang pernah memberitahukan, tapi engkau tidak bersedia menuturkannya."
"Benar."
It sim sin N Imanggut-manggut.
"Kini Hong Hoang Leng telah muncul lagi, maka aku harus menuturkannya."
"Setelah kalian berdua saling tertarik, lalu bagaimana?"
"Kami saling jatuh cinta."
It sim sin NI memberitahukan sambil mengenang.
"Karena itu, kami menikah dan dikaruniai dua anak lelaki."
"Omitohud Itu bukan kesalahanmu, melainkan merupakan takdir. setelah itu bagaimana?"
"Beberapa tahun kemudian, mendadak dia membawa kedua anakku meninggalkanku...."
It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa sebabnya dia membawa kedua anak itu meninggalkanmu?"
Tanya Tayli Lo Ceng dengan kening berkerut.
"Ternyata dia telah salah paham denganku."
It sim sin NI menghela nafas lalu melanjutkan.
"Pada waktu itu, kita berjumpa kembali, sehingga aku sering pergi menemuimu secara diamdiam. Ternyata dia mengetahuinya."
"Omitohud"
Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu yang menyebabkannya meninggalkanmu omitohud...."
"Hampir lima tahun aku mencarinya, tapi dia dan anak-anak hilang begitu saja."
It Sim Sin Ni menghela nafas lagi.
"Akhirnya aku menjadi putus asa dan kembali ke mari, dan sejak itu aku tidak pernah meninggalkan biara ini."
Tayli Lo Ceng manggut-manggut.
"sin Ni, bolehkah aku tahu namanya?"
"Dia bernama Tio Po Thian, pemilik Hong Hoang Leng."
It sim sin Ni memberitahukan "Kini muncul kembali Hong Hoang Leng itu...."
"Omitohud"
Ucap Tayli Lo Ceng.
"Maka engkau menduga dia muncul lagi? Kira-kira begitu dugaanmu, kan?"
"Ya."
It sim sin Ni mengangguk.
"Aaakh...."
Tayli Lo Ceng menghela nafas.
"Kalau dia adalah Tio Pe Thian, aku harus menjernihkan kesalahpahaman itu."
"Terima kasih, Lo Ceng Tapi itu telah berlalu."
It sim sin NI menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku menduga, kalau bukan dia, pasti anak-anakku."
"Ohya, bolehkah aku tahu nama anak-anakmu?"
"Mereka bernama Tio Tay Seng dan Tio It seng,"
Ujar It sim sin Ni dan menambahkan.
"Yang sulung mungkin sudah berusia tujuh puluhan, yang bungsu berusia sekitar enam puluh lima."
"Aku akan pergi mencari mereka, lalu membawa mereka ke mari menemuimu."
Ujar Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh.
"Terima kasih, Lo Ceng"
Ucap It sim sin Ni.
"Sin Ni, aku mohon diri sampaijumpa"
Tayli Lo Ceng melangkah pergi, sedangkan It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang.
Bab 64 Thian Liong Kiam Khek (Pendekar Pedang Naga Khayangan) Seorang pemuda tampan berjalan menuju kota Lam Teng.
Pada punggungnya tampak bergantung sebuah buntalan dan sebatang pedang.
siapa pemuda itu, ternyata Lie Man chiu, murid Tayli Lo Ceng.
Ketika Lie Man chiu berjalan perlahan sambil menikmati keindahan alam, mendadak ia berhenti dan keningnya tampak berkerut, karena sayup,sayup terdengar suara teriakan wanita minta tolong.
la melesat ke sebuah rimba di pinggir jalan, lalu naik ke sebuah pohon sekaligus memandang ke arah suara teriakan.
Tampak belasan orang sedang mengerumuni seorang wanita sambil tertawa-tawa.
Sementara wanita itu ketakutan, tiba-tiba salah seorang memeluknya dari belakang.
"Jangan melawan Baik-baiklah melayani kami"
Ujar orang itu sambil tertawa, kemudian mulai membuka baju wanita itu.
"Jangan jangan...."
Wanita itu meronta-ronta.
"Tolong Tolong..."
"Percuma engkau berteriak minta tolong Ha ha ha..."
Orang itu tertawa gelak dan mulai memegang payudara wanita itu.
"Ha ha ha"
Yang lain pun ikut tertawa, bahkan diantaranya mulai mendekati wanita itu, lalu menggerayangi sekujur tubuhnya.
"Tolong Tolong..."
Wanita itu terus menrjerit-jerit.
"Tolong..."
"Ha ha ha Percuma engkau berteriak Lebih baik engkau melayani kami...."
"Berhenti"
Terdengar suara bentakan yang mengguntur, kemudian melayang turun seseorang.
Belasan orang itu terkejut, lalu memandang orang yang baru melayang turun dari pohon, yang tidak lain Lie Man chiu.
la menatap mereka dengan dingin sekali.
"Siapa engkau?"
Bentak belasan orang itu.
"Aku Thian Liong Kiam Kheks sahut Lie Man chiu lalu membentak sengit.
"siapa kalian?"
"Lihatlah tulisan ini"
Sahut salah seorang dari mereka sambil menunjuk bajunya sendiri, dengan dada terangkat sedikit.
"Bu Tek"
Lie Man chiu membacanya.
"Oooh Ternyata kalian anggota Bu Tek Pay"
"Engkau sudah tahu, maka cepat-cepatlah enyah dari sini"
Bentak salah seorang anggota Bu Tek Pay "Kalau tidak...."
"Kalian mau turun tangan membunuhku, kan?"
Tanya Lie Man Chiu sambil tertawa dingin.
"Siauhiap. tolonglah aku"
Ujar wanita itu.
"Mereka... mereka ingin memperkosaku."
"Tenang Aku pasti menolongmu,"
Sahut Lie Man Chiu.
"Engkau mau menolong wanita itu?"
Tanya salah seorang anggota Bu Tek Pay dan menambahkan.
"Siapa berani menantang Bu Tek Pay pasti mampus"
"Siapa berani menentangku, juga harus mati"
Sahut Lie Man Chiu sambil menghunus pedang pusaka Naga Kahyangan yang bergantung di punggungnya.
"Hari ini kalian semua harus mati di tanganku"
"Kawan-kawan Mari kita serang dia"
Seru salah seorang anggota Bu Tek Pay dan langsung menyerang Lie Man chiu dengan golok.
kawan-kawannya pun ikut menyerang.
Lie Man chiu bersiul panjang.
Mendadak badannya melesat ke atas, lalu berjungkir balik ke bawah sekaligus menggerakkan pedangnya.
Ternyata ia balas menyerang dengan jurus Thian Liong Jip Hai (Naga Kahyangan Masuk Ke Laut).
Trang Trang Trang "Aaaakh Aaaakh Aaaakh..."
Terdengar suara benturan senjata dan suara jeritan yang menyayat hati.
Beberapa anggota Bu Tek Pay telah roboh tak bernyawa.
Lie Man chiu tidak diam sampai di situ.
la bersiul panjang lagi sambil menyerang mereka dengan jurus Thian Liong cioh Cu (Naga Khayangan Merebut Mutiara), pedang pusaka Naga Khayangan itu berkelebat ke sana ke mari.
"Aaakh Aaaakh Aaaakh..."
Terdengar lagi suara jeritan yang menyayat hati. Ternyata sisa anggota Bu Tek Pay terkapar bermandi darah dan nyawa mereka pun melayang.
"Hmm"
Dengus Lie Man chiu sambil memandang mayat-mayat itu, kemudian berkata kepada wanita tersebut.
"Cepatlah engkau pulang, sebarkan berita bahwa Thian Liong Kiam Khek membunuh mereka"
"Terima kasih, siauhiap"
Ucap wanita itu.
"Aku pasti menyebarkan berita tentang ini."
Lie Man chiu manggut-manggut lalu mendadak melesat pergi, dan wanita itu pun segera meninggalkan tempat tersebut.
Lie Man Chiu sudah memasuki kota Lam Teng, lalu singgah di sebuah kedai untuk mengisi perut.
la memesan sup sapi dan sepoci arak.
Pelayan segera menyuguhkannya, kemudian berbisik.
"Tuan bukan orang kota ini, kan?"
"Ya. Kenapa?"
"Apabila muncul anggota-anggota Bu Tek Pay, Tuan jangan memandang mereka."
Pesan pelayan itu.
"Lho?"
Lie Man chiu heran.
"Memangnya kenapa?"
"Aaakh"
Pelayan itu menghela nafas.
"Anggota-anggota Bu Tek Pay sangat kejam. Kalau tersinggung lantaran Tuan memandang, mereka pasti membunuh Tuan"
Lie Man chiu tersenyum.
"Terima kasih atas peringatanmu, tapi aku memang berharap kemunculan mereka."
"Haah?"
Wajah pelayan itu langsung memucat.
"Apakah Tuan teman Bu Tek Pay?"
"Bukan."
Lie Man chiu tersenyum lagi.
"Aku menunggu kemunculan mereka karena ingin membasmi mereka."
"Apa?"
Pelayan itu terbelalak.
"Tuan jangan bergurau, itu bahaya sekali lho"
"Sebelum memasuki kota ini, aku telah membunuh belasan anggota Bu Tek Pay yang mau memperkosa seorang wanita."
Lie Man chiu memberitahukan, lalu mulai bersantap. Pelayan itu meninggalkannya, lalu menghampiri majikannya yang duduk di tempat kas.
"Tuan besar, akan ada tontonan menarik,"
Bisiknya.
"Maksudmu?"
Tanya majikan itu.
"Pemuda itu...."
Pelayan tersebut menunjuk ke arah Lie Man chiu.
"Dia sedang menunggu kemunculan anggota-anggota Bu Tek Pay."
"Apa?"
Terkejut majikan itu "Dia teman Bu Tek Pay?"
"Bukan, dia malah ingin memberantas mereka."
Pelayan itu memberitahukan.
"Sebelum memasuki kota, dia telah membunuh belasan anggota Bu Tek Pay."
Wajah majikan itu berseri.
"Tapi kalau dia berkelahi di sini, kedai ini pasti hancur."
"Tidak jadi masalah."
Pelayan itu tersenyum.
"Aku bersedia dipotong gaji sampai setahun."
Majikan itu tertawa.
"Tidak jadi masalah kedaiku hancur, asal pemuda itu bisa membunuh mereka. Bahkan... aku akan menaikkan gajimu mulai bulan ini."
"Tidak usah Lebih baik potong gajiku"
"Malah akan kunaikkan gajimu."
Tiba-tiba wajah majikan itu berubah seraya berbisik.
"Tuh Mereka sudah datang."
"Bagus Bagus"
Pelayan itu tertawa gembira, lalu menghampiri Lie Man chiu dan berbisik.
"Anggota-anggota Bu Tek Pay sudah ke mari."
Lie Man chiu manggut-manggut.
"Tolong beritahukan kepada mereka, bahwa aku Thian Liong Kiam Khek"
"Ya."
Pelayan itu mengangguk. lalu menghampiri para anggota Bu Tek Pay itu sambil membungkuk-bungkukkan badannya.
"Tuan-tuan...."
"Cepat sediakan makanan yang lezat"
Sahut salah seorang anggota Bu Tek Pay dengan suara lantang.
"Tuan-tuan"
Bisik pelayan itu.
"Tahukah kalian siapa pemuda yang duduk di sudut itu?"
"Tidak tahu. siapa dia?"
"Dia Thian Liong Kiam Khek."
"Apa?"
Anggota Bu Tek Pay itu tampak terkejut, namun kemudian tertawa gelak.
"Bagus Bagus Kami memang sedang mencari dia, kebetulan dia berada di sini."
Pelayan itu segera meninggalkan mereka, kemudian mendekati majikannya.
"Tuan besar Tontonan yang menarik akan segera dimulai."
Bisiknya.
"Mudah-mudahan pemuda itu dapat membunuh mereka"
Sahut majikan itu dengan wajah tegang. Belasan anggota Bu Tek Pay menghampiri Lie Man Chiu, yang sedang meneguk arak.
"Hei"
Bentak salah seorang anggota Bu Tek Pay.
"Engkaukah Thian Liong Kiam Khek?"
Lie Man Chiu tidak menyahut, melainkan malah menyiram anggota Bu Tek Pay itu dengan arak sambil tertawa dingin.
"Jangan membentak-bentak, aku tidak senang"
"Engkau...."
Anggota Bu Tek Pay itu gusar bukan main.
"Mau bertarung ya?"
Lie Man chiu tertawa dingin lagi.
"Jangan di sini, ayoh kita bertarung di luar"
Lie Man chiu berjalan ke luar, belasan anggota Bu Tek Pay mengikutinya. Pelayan dan majikan kedai itu juga tidak mau ketinggalan, mereka berdua pun ikut keluar.
"Kedaiku tidakjadi hancur, sebab mereka akan bertarung di luar."
Bisik majikan itu dan menambahkan.
"Kalau pemuda itu dapat membunuh mereka semua, aku pasti memberikanmu lima tael perak."
"Terima kasih, Tuan besar"
Sahut si pelayan.
"Namun lima tael perak itu akan kugunakan untuk mentraktir pemuda itu."
Mereka berdua terus berbisik-bisik, sedangkan belasan anggota Bu Tek Pay itu sudah mengepung Lie Man chiu.
"Engkau yang membunuh kawan-kawan kami di rimba itu?"
Tanya salah seorang anggota Bu Tek Pay.
"Benar"
Lie Man Chiu mengangguk.
"Hm Kalau begitu, bersiap-siaplah engkau untuk mampus"
Bentak anggota Bu Tek Pay itu.
"Hari ini kalian yang harus mampus"
Sahut Lie Man Chiu dingin sambil menghunus Thian Liong Po Kiam.
"Serang"
Terdengar suara seruan, dan seketika juga tampak belasan senjata mengarah ke Lie Man chiu.
Lie Man chiu bersiul panjang, kemudian badannya melesat ke atas sekaligus berjungkir balik ke bawah sambil menangkis dan balas menyerang, itulah jurus Thian Liong Jip Hai (Naga Kha-yangan Masuk Ke Laut).
"Trang Trang Trang..."
Terdengar suara benturan senjata, yang disusul oleh suara jeritan yang menyayat hati.
"Aaaakh Aaaakh Aaaaaak..."
Tujuh orang telah terkapar dengan tubuh berlumuran darah.
"Satu, dua tiga... tujuh. sudah tujuh orang mati. Masih tersisa... enam orang."
Ujar si pelayan, yang sejak tadi mengintip pertarungan itu.
"Ha ha sungguh menyenangkan"
Majikan kedai tertawa.
"Jangan tertawa, Tuan besar Kalau kedengaran mereka, kita bisa celaka."
Bisik si pelayan.
"Kenapa engkau begitu goblok?"
Majikan itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Mereka juga pasti mati di bawah pedang pemuda itu. Bagaimana mungkin mereka mengurusi kita lagi?"
"Benar."
Pelayan itu ikut tertawa.
"Ha ha ha..."
Sementara Lie Man Chiu berdiri tegak di tempat sambil memandang anggota Bu Tek Pay yang masih hidup itu dengan dingin. Mereka saling memandang lalu mendadak berlari kabur.
"Kalian tidak akan bisa kabur"
Bentak Lie Man Chiu sambil bergerak. mengeluarkan jurus Thian Liong Pah Bwee (Naga Khayangan Mengibaskan Ekor).
"Aaaakh Aaaakh..."
Terdengar suara jeritan. Enam orang sisa anggota Bu Tek Pay itu roboh dengan tubuh berlumuran darah, dan nyawa mereka pun melayang seketika.
"Sudah beres."
Ujar pelayan itu.
"Mereka semua sudah menjadi mayat."
"Nanti kita harus bersulang atas kematian anggota-anggota Bu Tek Pay itu."
Sahut majikan kedai sambil tertawa gembira.
"Ha ha ha"
Setelah membunuh belasan anggota Bu Tek Pay Li Man Chiu kembali ke kedai. si pelayan cepatcepat menghampirinya, kemudian mengacungkan jempolnya ke hadapan Lie Man Chiu.
"Tuan sungguh hebat Hanya dua kali "Serrt", mereka semua mati"
Ujar si pelayan kagum.
"Oh ya, Tuan mau makan apa?"
"Aku sudah kenyang,"
Sahut Lie Man chiu sambil tersenyum.
"Aku mau membayar...."
"Tuan tidak usah membayar, pokoknya gratis"
"Kenapa gratis?"
"Karena Tuan telah membunuh mereka. Itu sungguh menggembirakan. Maka silakan Tuan makan lagi, tidak usah membayar"
"Terima kasih"
Ucap Lie Man chiu.
"Oh ya, di mana ada penginapan besar?"
Tanyanya.
"Penginapan An Lok."
Pelayan itu memberitahukan.
"Tak jauh dari sini, berada di sebelah kanan."
"Aku akan bermalam di penginapan itu. Kalau masih ada anggota Bu Tek Pay datang ke mari, tolong beritahukan kepada mereka bahwa aku berada di penginapan itu"
"Ya."
Pelayan itu mengangguk. Lie Man chiu mengeluarkan lima tael perak. lalu diberikan kepada pelayan itu.
"Uang perak ini untukmu."
"Eh? Tuan...."
Pelayan itu ingin menolak, tapi Lie Man chiu sudah melangkah pergi. oleh karena itu ia berdiri termangu-mangu di tempat.
"Kenapa engkau berdiri mematung di sini?"
Tanya majikannya sambil mendekatinya.
"Dia berikan aku lima tael perak dan berpesan...."
"Dia pesan apa?"
"Kalau masih ada anggota Bu Tek Pay ke mari, aku harus memberitahukan kepada mereka, bahwa dia berada dipenginapan An Lok."
"Bagus Ha ha"
Majikan kedai tertawa gembira.
"Mudah-mudahan masih ada anggota Bu Tek Pay muncul di sini"
Dapat dibayangkan betapa gusarnya Bu Lim sam Mo ketika menerima laporan tentang kejadian itu, bahkan Tang Hai Lo Mo memukul meja saking gusarnya.
"Kini muncul lagi Thian Liong Kiam Khek membunuh anggota-anggota kita. Sungguh menjengkelkan"
Kali ini Tang Hai Lo Mo tampak marah sekali.
"Ilmu pedangnya begitu hebat, siapa gurunya?"
Gumam Thian Mo. Te Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Tempo hari muncul Tui Beng Li, lalu muncul Hong Hoang Leng dan kini muncul pula Thian Liong Kiam Khek. Kelihatannya mereka sengaja menentang kita."
"Kini sudah waktunya kita turun tangan membunuh mereka,"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Sabar"
Sela siluman Kurus sambil mengerutkan kening.
"Mereka berkepandaian begitu tinggi, tentunya kepandaian guru-guru mereka jauh lebih tinggi. Karena itu, kita harus memperhatikan hai tersebut."
"Benar."
Siluman Gemuk manggut-manggut.
"Aku yakin mereka akan bergabung untuk melawan kita."
"Kalau begitu, kita harus segera membunuh mereka,"
Ujar Tang Hai Lo Mo yang masih diliputi kegusaran.
"Tenang"
Ujar siluman Kurus dan menambahkan.
"Jangan emosi Kita harus memikirkannya dengan kepala dingin. Kalau mereka dan guru-guru mereka bergabung, tentu membahayakan kita."
"Benar."
Siluman Gemuk mengangguk.
"sebab kekuatan inti Bu Tek Pay cuma terdiri dari kita beberapa orang saja, maka hal ini perlu kita pikirkan bersama."
"Tidak salah."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?"
"Begini..."
Sahut siluman Gemuk sungguh-sungguh.
"Kekuatan inti Bu Tek Pay harus ditambah."
"Benar. Tapi...."
Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.
"Kalian pernah mendengar Lak Kui (Enam setan) dari luar perbatasan?"
Tanya siluman Gemuk mendadak.
"Kwan Gwa Lak Kui?"
Bu Lim sam Mo terkejut.
"Ya."
Siluman Gemuk manggut-manggut.
"Mereka berkepandaian tinggi sekali. Lima puluh tahun lalu mereka pernah muncul di Tionggoan. Tapi kemudian tiada kabar beritanya lagi, mungkin mereka kembali ke Kwan Gwa,"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Benar. sejak saat itu mereka berenam tidak pernah memasuki daerah Tionggoan lagi."
Siluman Kurus memberitahukan.
"Kwan Gwa Lak Kui adalah teman baik kami, karena itu, kami akan pergi menemui mereka."
"Oh?"
Wajah Tang Hai Lo Mo tampak berseri.
"Maksud Tetua mengajak mereka ke mari untuk memperkuat Bu Tek Pay?"
"Benar. Kalau kami yang pergi mengajak mereka ke mari, mereka tentu tidak akan menolak."
Sahut siluman Kurus sambil tertawa.
"Setelah mereka ke mari, barulah kita menyusun rencana untuk menghadapi Tui Beng Li, Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek."
"Baik."
Bu Lim sam Mo mengangguk.
"Sebelum kami kembali bersama Kwan Gwa Lak Kui, janganlah kalian sembarangan bertindak"
Pesan siluman Kurus.
"Ya."
Bu Lim sam Mo mengangguk, kemudian Thian Mo bertanya.
"Kapan kalian berangkat?"
"Besok pagi,"
Sahut Kwan Gwa siang Koay pasti.
"Ingat, sebelum kami kembali, kalian jangan bertindak"
"Ya."
Bu Lim sam Mo mengangguk.
Keesokan harinya, Kwan Gwa siang Koay berangkat secara diam-diam.
Yang tahu keberangkatan mereka Bu Lim sam Mo, Ang Bin sat sin, Liu siauw Kun dan Takara Yahatsu, ketua aliran Ninja.
Di dalam markas pusat Kay Pang, terdengarlah suara tawa terbahak-bahak.
Ternyata suara tawa Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.
sedangkan Lim Ceng Im diam saja, tidak ikut tertawa.
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay terus tertawa hingga badannya bergoyang-goyang.
"Tak disangka sama sekali, kini muncul lagi Thian Liong Kiam Khek dan memberantas anggota-anggota Bu Tek Pay, Aku yakin Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay pasti marah besar kali ini."
"Benar."
Kim siauw suseng manggut-manggut.
"sebab Bu Tek Pay telah menyatakan, siapa berani menentang, pasti dibunuh. Namun mareka belum membunuh Tai Beng Li, pemilik Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek. sebaliknya mereka malah kehilangan banyak anggota."
"Ha ha"
Tai HUn Lojin tertawa.
"Itu merupakan pukulan ketiga bagi Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay."
"Heran"
Gumam Lim Peng Hang.
"siapa sebenarnya Thian Liong Kiam Khek itu? Kenapa dia juga memusuhi Bu Tek Pay?"
"Memang mengherankan,"
Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kemala.
"Kita sama sekali tidak tahu siapa mereka."
"Yang jelas mereka berada dipihak golongan putih,"
Sahut sam Gansin Kay dan menambahkan.
"Aku yakin mereka akan bergabung melawan Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay."
"Walaupun bergabung, mereka tetap tidak akan bisa melawan Bu Lim sam Mo dan Kan Gwa siang Koay."
Ujar Kim sia uw suseng.
"Tidak salah."
Sam Gan sin Kay tersenyum.
"Tapi jangan lupa satu hal lho"
"Hal apa?"
Tanya Kim siauw suseng heran.
"Mereka pasti mempunyai guru, dan tidak mungkin guru mereka diam saja, bukan?"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Aku tidak habis pikir, siapa guru-guru mereka?"
Kim siauw suseng menghela nafas.
"Pemilik Hong Hoang Leng pasti berasal dari Hong Hoang To, pulau yang misterius itu,"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Lalu guru Tui Beng Li dan guru Thian Liong Kiam Khek...."
"Sulit diduga siapa guru mereka."
Kim siauw suseng menggeleng-gelengkan kepala.
"Dalam rimba persilatan kini, siapa yang berkepandaian setingkat dengan Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay?"
Bagian 37
"Kita justru tidak tahu,"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Yang sangat terkenal adalah It ceng, Ji Khie dan sam Mo. It ceng telah mati, sedangkan Ji Khie tak berkutik. Lalu masih ada siapa yang berkepandaian setingkat dengan Sam Mo dan Siang Koay?"
"Apa-apaan nih"
Sela Lim ceng Im mendadak dengan wajah tidak senang.
"cuma memikirkan orang lain, sama sekali tidak mau memikirkan Kakak Hiong"
"Nak"
Ujar Lim Peng Hang menghiburnya.
"Tenanglah Tidak lama lagi Cie Hiong pasti kembali."
"Beberapa bulan lalu. Ayah mengatakan demikian. Sekarang juga mengatakan demikian Aku sudah bosan mendengarnya"
Sahut Lim ceng Im dengan wajah murung.
"ceng Im"
Sam Gan sin Kay menatapnya.
"Kami juga memikirkan Cie Hiong. Kalau dia sudah sembuh, dia pasti kembali. Kenapa engkau jadi bersungut-sungut terhadap kami?"
"Kakek...."
Mata Lim ceng Im mulai basah.
"Aku...."
"ceng Im, engkau harus tenang dan tetap sabar"
Ujar Kim Siauw Suseng lembut.
"Aku punya firasat, tidak lama lagi Cie Hiong pasti kembali. Percayalah"
"Kakak Hiong...."
Air mata Lim ceng Im mulai meleleh dan bergumam.
"Kenapa aku dan Kakak Hiong selalu berpisah? Kenapa...?"
"Nak"
Lim Peng IHang menghampirinya, kemudian membelainya seraya berkata.
"Sabarlah Cie Hiong pasti kembali."
"Tapi...."
Lim Ceng Im terisak-isak.
"Aku...."
Lim Ceng Im berlari ke dalam.
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang, lalu duduk kembali dengan wajah murung.
Mendadak masuk sai Pi Lo Kay.
Pengemis lua ilu memberi hormat lalu melapar dengan wajah serius.
"Salah seorang anggota kita melihat Kwan Gwa siang Koay pergi, maka segera memberitahukan padaku."
"Apa?"
Sam Gan sin Kay tertegun. Begitu pula yang lain.
"Kwan Gwa siang Koay pergi ke mana?"
"Entahlah."
Sai Pi Lo Kay menggelengkan kepala.
"Baiklah."
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Engkau boleh kembali ke tempatmu untuk beristirahat."
"Terima kasih, Pangcu"
Ucap sai Pi Lo Kay lalu meninggalkan ruang itu.
"Apa sebabnya Kwan Gwa siang Koay meninggalkan markas?"
Gumam sam Gan sin Kay sambil mengerutkan kening.
"Aku yakin, dia pasti kembali ke Kwan Gwa,"
Sahut Kim siauw suseng.
"Kenapa dia kembali ke Kwan Gwa?"
Tanya Tui Hun Lojin dengan kening berkerut-kerut.
"Mungkin...."
Kim siauw suseng berpikir sejenak.
"Untuk mencari bantuan"
"Mencari bantuan?"
Sam Gan sin Kay menatapnya.
"Maksudmu?"
"Untuk memperkuat Bu Tek Pay."
Kim siauw suseng menjelaskan.
"Mereka khawatir guru Tui Heng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pihak pulau Hong Hoang To akan bergabung melawan mereka. Maka Kwan Gwa siang Koay kembali ke Kwan Gwa untuk mencari bantuan."
"Masuk akal."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Entah siapa yang akan mereka undang?"
"Selain Kwan Gwa siang Koay, siapa yang berkepandaian tinggi di Kwan Gwa?"
Tanya Kim siauw suseng. Sam Gan sin Kay dan Tui Hun Lojin terus berpikir, kemudian mendadak Sam Gan sin Kay berseru kaget.
"Mungkinkah mereka yang akan diundang?"
"Siapa?"
Tanya Kim siauw suseng dan Tui Hun Lojin serentak.
"Kwan Gwa Lak Kui,"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Haaah..."
Kim siauw suseng dan Tui Hun Lojin tampak terkejut.
"Kwan Gwa Lak Kui (Enam setan Liar perbatasan)?"
"Kuduga mereka yang akan diundang,"
Sahut sam Gan sin Kay sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Tentunya kalian tahu bagaimana kepandaian Kwan Gwa Lak Kui?"
"Kepandaian mereka berenam setingkat dengan kepandaian Kwan Gwa siang Koay, bahkan sangat kejam."
Sahut Kim siauw suseng dan menambahkan.
"Kalau tidak salah, mereka pernah muncul di Tionggoan lima puluh tahun lalu. Kepandaian mereka memang tinggi sekali. Kalau mereka bergabung dengan Bu Lim sam Mo, siapa yang mampu melawan mereka?"
"Celaka"
Sam Gan sin Kay menghela nafas.
"Memang sudah celaka,"
Sahut Kim siauw suseng sambil tertawa.
"Ditambah celaka lagi, juga tidak menjadi masalah."
"Engkau yang tidak menjadi masalah"
Ujar Sam Gan Sin Kay sambil melotot.
"Dasar sastrawan sialan sama sekali tidak memikirkan Cie Hiong, bagaimana mungkin dia melawan Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui."
"Iya, ya?"
Kim siauw suseng mengerutkan kening.
"Itu... itu bagaimana?"
"Tenanglah"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Apakah kalian telah melupakan guru-guru Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek serta pihak pulau Hong Hoang To?"
"Benar."
Sam Gan sin Kay tertawa.
"Aku yakin mereka pasti akan bantu Cie Hiong. Mungkin mereka akan bergabung."
"Diam Jangan tertawa"
Bentak Kim siauw suseng.
"Lho? Kenapa?"
Sam Gan sin Kay heran.
"Kenapa marah-marah"
"Tadi ketika aku tertawa, engkau melotot. Maka kini engkau tertawa, aku harus marah-marah,"
Sahut Kim siauw suseng, tapi kemudian tertawa.
Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiongcuma saling memandang, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara itu, Tio Cie Hiong terus berlatih di atas batu dingin agar lweekangnya pulih.
setelah makan buah Kiu Yap Ling che, Tio Cie Hiong mulai menghimpun lweekangnya di atas batu dingin itu.
Ia terus menghimpun lweekangnya dengan penuh semangat, akhirnya berhasil sehingga merasa gembira sekali.
"Kauw heng"
Tio Cie Hiong memeluk monyet bulu putih itu erat-erat.
"Aku telah berhasil menghimpun Iweekangku, bahkan tulang punggungku telah bersambung kembali."
Monyet bulu putih bercuit-cuit, kelihatannya girang bukan main.
Tio Cie Hiong membelainya dengan penuh kasih sayang, karena ia betul-betul telah berhutang budi pada monyet itu "Kauw heng, mungkin dua tiga bulan lagi setelah kepandaianku pulih seperti sedia kala, aku akan meninggalkan goa ini."
Mendadak monyet bulu putih menatapnya tajam, kemudian bercuit-cuit lagi seakan memberitahukan sesuatu kepada Tio Cie Hiong.
"Oooh"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Eng kau menagih janjiku, kan?"
Monyet bulu putih manggutmanggut.
"Jangan khawatir, Kauw heng"
Tio Cie Hiong membelainya lagi.
"Aku pasti membawamu, sebaBengkau pun bisa bantu aku memberantas para penjahat."
Monyet itu bercuit-cuit, kemudian meloncal turun dari pelukan Tio Cie Hiong, dan menggerakkan sepasang tangannya.
"Ha ha ha"
Tio Cie Hiong tertawa gelak.
"Aku tahu, engkau juga memiliki kepandaian tinggi."
Sementara monyet bulu putih terus menggerakkan sepasang tangannya, lalu memukul ke arah sebuah batu yang berukuran cukup besar. Blaaammm Batu itu hancur lebur.
"Haaah?"
Tio Cie Hiong terbelalak.
la tidak menduga kalau monyet bulu putih itu memiliki Iweekang yang begitu dalam, gerakan-gerakan sepasang tangannya juga bukan main lihaynya.
Setelah memukul batu, monyet bulu putih membalikkan badannya sambil bercuit-cuit, dan tampak bangga sekali.
"Kauw heng"
Tio Cie Hiong bertepuk tangan.
"Engkau sungguh hebat Ayoh, perlihatkan lagi kepandaianmu"
Monyet bulu putih manggut-manggut.
lalu mulai ia bergerak.
Tio Cie Hiong terbelalak menyaksikannya, sebab ia tidak pernah melihat monyet bulu putih bergerak seperti itu.
Karena tertarik.
maka sudah barang tentu Tio Cic Hiong menyaksikannya dengan penuh perhatian.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah monyet bulu putih menghentikan gerakannya.
"Bukan main"
Seru Tio Cic Hiong kagum.
"Itu merupakan ilmu pukulan tingkat tinggi. Kauw heng, engkau sungguh luar biasa"
Monyet bulu putih bercuit-cuit melirik Tio Cie Hiong, kelihatan bangga sekali karena dipuji.
"Engkau menyuruhku meniru gerakan-gerakanmu itu?"
Tanya Tio Cie Hiong. Monyet bulu putih manggut-manggut.
"Baiklah."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Aku akan mencoba meniru gerakan-gerakanmu itu."
Tio Cie Hiong mulai bergerak.
dan monyet bulu putih terus memandang dengan penuh perhatian.
Kalau ada kekeliruan, monyet bulu putih pasti bercuit-cuit, lalu bergerak seakan memberi petunjuk.
Akhirnya Tio Cie Hiong berhasil mempelajari ilmu pukulan itu, dan monyet bulu putih berjingkrak-jingkrak saking girangnya.
"Kauw heng, ilmu pukulan apakah itu?"
Tanya Tio Cie Hiong. Monyet bulu putih diam saja, kemudian menggaruk-garuk kepala sambil memandang Tio Cie Hiong.
"Apakah engkau juga tidak tahu?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum. Monyet bulu pulih manggut-manggut.
"Kalau begitu...."
Tio Cie Hiong berpikir sejenak.
"Akan kunamai Kan Kun ciang Hoat (Ilmu Pukulan Alam semesta), sebab agak mirip Kan Kun Taylo ciang Hoat yang terdiri dari tiga jurus."
Monyet bulu putih bertepuk-tepuk tangan sambil bercuit-cuit, kelihatannya gembira sekali. Mungkin ilmu pukulan itu memang Kan Kun ciang Hoat.
"Kauw heng, aku masih harus melatih lwee-kangku. Kalau sudah pulih seperti sedia kala, kita akan meninggalkan goa ini."
Bab 65 Kwan Gwa Lak Kui (Enam Setan Liar Perbatasan) Kwan Gwa siang Koay telah kembali ke markas Bu Tek Pay bersama Kwan Gwa Lak Kui.
Tentunya sangat menggembirakan Bu Lim sam Mo, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun, begitu pula Takara Yahatsu yang masih tinggal di markas tersebut.
"Selamat datang, Lak Kui"
Ucap Tang Hai Lo Mo tertawa.
"Selamat bertemu"
Sahut Kwan Gwa Lak Kui serentak sambil tertawa.
Mereka berenam adalah Tok Gan Kui (setan Mata satu), Tiau Am Kui (setan Gantung Leher), Bu Ceng Kui (setan Tanpa Perasaan), ok sim Kui (setan Hati Jahat), Toa Thau Kui (setan Kepala Besar) dan ciak Bin Kui (setan Muka Hijau).
Wajah mereka seram sekali, maka tidak heran kalau dijuluki Enam setan.
"Silakan duduk"
Ucap Bu Lim sam Mo.
"Terimakasih"
Sahut Kwan Gwa Lak Kui lalu duduk. Seketika beberapa anggota Bu Tek Pay segera menyuguhkan berbagai macam hidangan dan minuman.
"Ha ha ha"
Kwan Gwa siang Koay tertawa gembira.
"Lak Kui, mari kita makan dan minum"
"Ha ha ha"
Tiau Am Kui tertawa gelak.
"Mari kita bersulang, setelah itu barulah kita makan"
"Mari"
Sahut Kwan Gwa siang Koay, Bu Lim sam Mo dan Ang Bin sat sin. Mereka bersulang, kemudian barulah bersantap sambil tertawa ria seusai bersantap. mereka bercakap-cakap.
"Siang Koay mengundang kami ke mari,"
Ujar Tiau Am Kui memberitahukan.
"Katanya kami berenam akan hidup senang di sini seperti mereka berdua, sebab kedudukan mereka di sini sebagai Tetua Bu Tek Pay. Karena itu, aku ingin bertanya, kenapa kami diundang ke mari?"
"Ha ha ha"
Siluman Kurus tertawa.
"Tentunya untuk hidup senang dan memperkuat Bu Tek Pay"
Tiau Am Kui manggut-manggut.
"Kalau begitu, apa kedudukan kami di sini?"
"Tentunya sebagai Tetua Bu Tek Pay."
Siluman Gemuk memberitahukan sambil tertawa.
"Bagaimana? Apakah kalian setuju?"
"Setuju."
Kwan Gwa Lak Kui mengangguk, kemudian Bu Ceng Kui bertanya dengan serius.
"Apakah Bu Tek Pay sedang menghadapi musuh tangguh?"
"Sebetulnya hanya bersiap-siap saja,"
Sahut Tang Hai Lo Mo dan melanjutkan.
"Belum lama ini telah muncul beberapa orang menentang Bu Tek Pay."
"Siapa mereka?"
Tanya Toa Thau Kui.
"Mereka Tui Beng Li, pemilik Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek."
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"Hong Hoang Leng?"
Kwan Gwa Lak Kui tampak agak terkejut.
"Jadi Hong Hoang Leng sudah muncul lagi?"
"Ya."
Tang Hai Lo Mo mengangguk.
"oleh karena itu, Bu Tek Pay harus bersiap-siap menghadapi guru-guru mereka."
"Siapa guru-guru Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek?"
Tanya Tok Gan Kui sambil meneguk araknya.
"Kami belum tahu,"
Jawab siluman Kurus.
"Tapi mereka berdua berkepandaian hingga, bahkan telah membunuh anggota-anggota kita."
"oh?"
Tok Gan Kui mengerutkan kening, lalu memandang Kwan Gwa siang Koay seraya bertanya.
"Kenapa kalian belum bunuh mereka?"
"Kami tidak tahu mereka bersembunyi di mana, maka sulit mencari mereka,"
Sahut siluman Kurus.
"Bagaimana menurut kalian?"
Tanya siluman Gemuk.
"Apakah kalian punya ide?"
"Anggota yang berkepandaian rendah, tentu sulit melawan mereka,"
Sahut Tiau Am Kui sambil mengerutkan kening.
"Karena itu, kita harus mengutus anggota yang berkepandaian tinggi untuk membunuh mereka."
"Benar."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut dan menambahkan.
"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memerintah anggota-anggota yang berkepandaian tinggi agar membunuh Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng."
Tiau Am Kui manggut-manggut.
"Kalau anggota-anggota itu masih tidak dapat membunuh mereka, barulah kita turun tangan."
"Benar."
Siluman Gemuk mengangguk.
"Nah, sekarang kita kesampingkan dulu urusan ini Mari kita menyaksikan tarian-tarian yang menarik"
Tang Hai Lo Mo segera bertepuk tangan tiga kali, tak lama muncullah para pemain musik dan penari yang cantik. seketika Kwan Gwa Lak Kui melotot saking terpesona.
"Ha ha ha"
Siluman gemuk tertawa terbahak-bahak.
"Kalian berenam boleh memilih para penari itu. Malam ini mereka pasti memuaskan kalian. Ha ha ha..."
"Bagus"
Kwan Gwa Lak Kui juga tertawa gelak.
"sungguh menyenangkan sungguh menyenangkan"
Kini kepandaian Tio Cie Hiong telah pulih seperti sedia kala. Karena gembiranya pemuda itu memeluk monyet bulu putih sambil berjingkrak-jingkrakan.
"Kauw heng Kepandaianku sudah pulih, hari ini kita akan meninggalkan goa Engkau gembira, kan?"
Monyet bulu putih manggut-manggut, lalu mendadak meloncat ke arah dinding yang berukir gambar dan tulisan.
"Kauw Heng..."
Tio Cie Hiong tercengang.
Monyet bulu putih bercuit-cuit, kemudian bergerak cepat memukul-mukul dinding goa.
Tak seberapa lama, gambar dan tulisan yang terukir di dinding goa telah berubah tak karuan.
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Kauw heng, engkau memang pintar sekali. Ayoh, kita pergi"
Monyet bulu putih diam saja, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu, lalu meloncat ke sudut untuk mengambil sesuatu.
setelah itu, ia kembali ke hadapan Tio Cie Hiong, sekaligus menyerahkan sesuatu.
Tio Cie Hiong menerimanya dan terbelalak, ternyata monyet itu memberikan sebuah kedok kulit yang sangat halus.
"Kauw heng Apakah engkau menyuruhku memakai kedok kulit ini?"
Monyet bulu putih manggut-manggut. Tio Cie Hiong tertawa gembira seraya berkata.
"Benar. Aku harus memakai kedok kulit ini, sebab Tayli Lo Ceng memberitahukan kepadaku, pihak Kay Pang telah menyiarkan berita, bahwa aku sudah mati. Aku memang harus memakai kedok kulit ini, agar tidak dikenali orang lain, bahkan aku pun ingin membuat kejutan di markas pusat Kay Pang. Adik Im pasti tidak mengenali aku. Ha ha ha..."
Sementara itu, di markas pusat Kay Pang sedang berlangsung pula pembicaraan serius, berkaitan dengan Kwan Gwa Lak Kui yang telah tiba di markas Bu Tek Pay "
Kini Bu Tek Pay bertambah kuat,"
Ujar Sam Gan Sin Kay sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"sebab Kwan Gwa Lak Kui telah berada di sana."
"Kalau begitu...."
Kim siauw suseng mengerutkan kening.
"Tui Beng Li, pemilik Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek dalam keadaan bahaya."
"Benar."
Tui Hun Lojin manggut-manggut.
"Pihak Bu Tek Pay pasti berupaya membunuh mereka."
"Tidak apa-apa,"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Aku yakin guru-guru mereka tidak akan tinggal diam."
"Tidak salah."
Kim siauw suseng manggut-manggut.
"Apabila pihak Bu Tek Pay mengutus orangorang berkepandaian tinggi untuk membunuh mereka, tentunya guru-guru mereka pun bertindak."
"Yang kusayangkan...."
Tui Hun Lojin menghela nafas.
"Yakni Cie Hiong belum pulang. Kalau dia sudah pulang, mungkin masih dapat mengatasi urusan tersebut."
"Benar."
Sam Gan sin Kay mengangguk.
"Oh ya, di mana Ceng Im?"
"Dia menemani Nona Michiko di ruang bawah tanah,"
Sahut Lim Peng Hang memberitahukan. Saat ini, Lim Ceng Im memang sedang menemani Michiko Mereka berdua berbicara dengan serius.
"Adik Ceng Im, sudah sekian lama aku bersembunyi di dalam ruang ini. Tapi... Kakak Cie Hiong masih belum kembali. Aku...."
Michiko menghela nafas panjang.
"Rasanya aku sudah tidak betah....".
"Kakak Michiko"
Lim Ceng Im menatapnya.
"iar bagaimana pun engkau harus sabar, mungkin tidak lama lagi Kakak Hiong akan kembali."
"Adik Ceng Im"
Michiko tersenyum getir.
"Dari tempo hari engkau mengatakan demikian, namun buktinya Kakak Cie Hiong masih belum kembali. Adik Ceng Im, engkau tidak rindu kepadanya?"
"Kakak Michiko, aku...."
Mata Lim Ceng Im mulai basah.
"Aku rindu sekali kepadanya."
"Aaakh..."
Michiko menggeleng-gelengkan kepala.
"setelah berhasil membunuh Takara Yahatsu ketua aliran Ninja itu, aku pun akan segera pulang keJepang."
"Kakak Michiko..."
"Adik Ceng Im"
Michiko menatapnya sambil tersenyum lembut.
"Engkau sungguh bahagia, punya calon suami yang begitu baik, setia dan sangat mencintaimu."
"Kakak Michiko Aku yakin engkau pasti akan bertemu pemuda yang seperti Kakak Hiong"
"Mudah-mudahan"
Sahut Michiko, kemudian melanjutkan.
"Adik Ceng Im, apabila dalam waktu dua bulan ini Kakak Cie Hiong masih belum kembali, aku akan pergi mencari Takara Yahatsu."
"Kakak Michiko"
Lim Ceng Im menggelengkan kepala.
"Engkau akan celaka kalau meninggalkan ruang bawah tanah ini. Engkau sudah menunggu sekian lama, kenapa tidak bisa bersabar lagi?"
"Adik Ceng Im"
Michiko menatapnya.
"Aku tahu, engkau pun sudah tidak sabar lagi, bukan?"
"Memang."
Lim Ceng Im mengangguk.
"Tapi tetap harus menunggu, sebab aku yakin Kakak Hiong pasti kembali."
"Aaakh..."
Michiko menghela nafas panjang.
"Di mana-mana sama, pasti ada orang baik dan orang jahat. Kalian semua adalah orang baik, sedangkan Takara Yahatsu dan pihak Bu Tek Pay adalah orang jahat...."
"Mereka berkuasa dan bersenang-senang, tetapi Kakak Hiong malah menderita."
Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.
"Sungguh kasihan Kakak Hiong"
"Adik Ceng Im"
Michiko memegang bahunya seraya berkata.
"Kalau Kakak Cie Hiong sudah pulang, kalian pasti tidak akan berpisah lagi, percayalah"
Mereka berdua saling menghibur, berselang beberapa saat, barulah Lim Ceng Im meninggalkan ruang bawah tanah menuju kamarnya.
Gadis itu duduk di pinggir tempat tidur sambil melamun, entah berapa lama kemudian, bergumam.
"Kakak Hiong, kapan engkau kembali? Ka-pan...."
Setelah bergumam, gadis itu membaringkan dirinya di tempat tidur, dan isak tangisnya pun meledak.
Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Lim Ceng Im duduk di ruang dalam markas pusat Kay Pang dengan wajah murung, sementara malam semakin larut.
"Aaakh..."
Sam Gan sin Kay menghela nafas panjang.
"seharusnya Cie Hiong sudah waktunya kembali, tapi kenapa dia masih belum muncul?"
"Mungkinkah dia belum sembuh, maka belum kembali?"
Sahut Kim siauw suseng sambil mengerutkan kening.
"Apakah orang yang membawa Cie Hiong pergi cuma menghibur kita?"
Sela Tui Hun Lojin.
"Padahal Cie Hiong akan cacat seumur hidup."
"Kalaupun cacat, dia harus kembali,"
Sahut Lim Peng Hang dan menambahkan.
"sebetulnya itu tidakjadi masalah, yahg penting dia hidup,..."
"Ayah"
Ujar Lim Ceng Im terisak-isak.
"Ketika dia dibawa pergi masih dalam keadaan luka parah, siapa yang akan merawatnya? Jangan-jangan...."
"Nah, engkau jangan menduga yang bukan-bukan"
Ujar Lim Peng Hang.
"Percayalah Tidak akan terjadi suatu apa pun atas dirinya"
"Ayah"
Air mata Lim Ceng Im mulai meleleh.
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. seandainya dia cacat, aku akan mengurusinya selama-lamanya...."
Disaat Lim Ceng Im mengucapkan demikian, mendadak berkelebat sosok bayangan ke dalam, tentunya sangat mengejutkan mereka.
"siapa?"
Bentak Bu Lim Ji Khie serentak.
Tampak seorang lelaki berusia empat puluhan berdiri di tengah-tengah ruang itu.
Dia berpakaian putih dan seekor monyet berbulu putih duduk di bahunya.
Walau Bu Lim Ji Khie membentak, lelaki itu diam saja, hanya memandang Lim Ceng Im.
Mendadak monyet bulu putih itu bercuit-cuit, dan lelaki tersebut manggut-manggut.
Bu Lim Ji Khie dan Tui Hun Lojin langsung bangkit berdiri, kemudian menatap lelaki itu dengan tajam.
"Siapakah kau? Kenapa masuk ke mari?"
Tanya Kim siauw suseng membentak.
"Ayoh Cepat jawab"
"Aku memang sengaja ke mari,"
Sahut lelaki itu dengan suara serak.
"Ada urusan apa engkau sengaja ke mari?"
Tanya Sam Gan Sin Kay dan terus menatap lelaki itu dengan penuh perhatian.
"Ingin menyampaikan sesuatu,"
Jawab lelaki itu lalu bertanya.
"Apakah Lim Ceng Im berada di sini?"
"Aku"
Sahut gadis itu.
"Paman ingin menyampaikan sesuatu kepadaku?"
"Ya."
Lelaki itu manggut-manggut.
"Mengenai Tio Cie Hiong."
"Kakak Hiong? Di mana dia? Bagaimana keadaannya? Apakah lukanya sudah sembuh?"
Tanya Lim Ceng Im bertubi-tubi.
"Dia... dia...."
Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa dia?"
Tanya Lim Ceng Im tegang dan wajahnya sudah memucat.
"Beritahukanlah Kenapa dia?"
"Dia... dia sudah mati."
"Haaah?"
Lim Ceng Im terhuyung-huyung, lalu terkulai pingsan. Lim Peng Hang meloncat ke arahnya secepat kilat, lalu mengangkatnya.
"Ceng Im Nak..."
Panggilnya. Perlahan-lahan Lim Ceng Im membuka matanya, kemudian menangis gerung-gerungan dengan air mata berderai-derai.
"Kapan... kapan Kakak Hiong mati?"
"Dua tahun yang lalu."
"Dia mati di mana?"
"Bukankah dia mati di sini?"
"Apa?"
Lim Ceng Im melongo dan berhenti menangis.
"Dia... dia mati di sini?"
"Ya."
Lelaki itu mengangguk. sedangkan monyet bulu putih yang duduk di bahunya berjingkrakjingkrak sambil bercuit-cuit. Kemudian lelaki itu menambahkan.
"Tapi kini dia sudah hidup kembali."
"Apa?"
Lim Ceng Im terbelalak.
"Kakak Hiong hidup kembali? Dia...."
"Engkaukah yang membawanya pergi dua la hun yang lalu?"
Tanya Lim Peng Hang mendadak "Ya."
Lelaki itu mengangguk.
"Kalau begitu, di mana dia sekarang?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Dia berada di...."
Ucapan lelaki itu terputus, karena monyet bulu putih bercuit-cuit.
la menunjuk Lim Ceng Im, kemudian menunjuk lelaki tersebut sambil cengar-cengir.
Sementara sam Gan sin Kay dan Kim siauw suseng saling memandang, lalu manggut-manggut dan tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa itu membuat yang lainnya tercengang.
Mereka memandang sam Gan sin Kay dan Kim siauw suseng dengan kening berkerut-kerut.
Kemudian Tui Hun Lojin pun turut tertawa gelak.
"Ha ha ha..."
"Eeeeh?"
Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong terheran-heran.
"Sudah cukup, Cie Hiong Engkau jangan mempermainkan Ceng Im lagi"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Kasihan dia"
"Kakak Hiong? Mana? Mana Kakak Hiong?"
Lim Ceng Im menengok ke sana ke mari. Monyet bulu putih bertepuk-tepuk tangan, sedangkan lelaki itu mengusap wajahnya sendiri.
"Aku di sini,"
Katanya.
"Haaah?"
Lim Ceng Im terkejut, karena mengenali suara itu. Kemudian ia memandang lelaki itu dan berseru.
"Kakak Hiong Kakak Hiong...."
"Adik Im"
Ternyata lelaki itu Tio Cie Hiong. Tadi ia memakai kedok kulit pemberian monyet bulu putih itu, maka wajahnya berubah menjadi wajah lelaki berusia empat puluhan.
"Kakak Hiong Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im langsung mendekap di dadanya dengan air mata berderai-derai.
"Kakak Hiong...."
Mendadak monyet bulu putih menjulurkan tangannya membelai rambut Lim Ceng Im, sud barang tentu membuat semua orang tertawa, tapi Lim Ceng Im tidak mengetahuinya, karena mengira Tio Cie Hiong yang membelainya.
"Kakak Hiong jahat Kakak Hiong jahat"
Tiba-tiba Lim Ceng Im memukul dada Tio Cie Hiong. Monyet bulu putih bercuit-cuit lagi, kemudian mendadak menjewer telinga Lim Ceng Im.
"Kauw Heng, jangan bergurau"
Tegur Tio Cie Hiong. Monyet bulu putih bercuit-cuit lagi, kemudian memandang Lim Ceng Im sambil menyengir.
"Mo... monyet"
Lim Ceng Im melotot.
"Ha ha ha"
Tio Cie Hieng tertawa dan membelainya.
"Adik Im, maafkanlah aku Tadi aku ingin membuat kejutan."
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im mendekap di dadanya lagi dan berbisik.
"Mulai sekarang kita tidak akan berpisah lagi."
"Cie Hiong"
Seru Sam Gan sin Kay sambil tertawa.
"Duduklah Kalau mau dekap-mendekap di dada, lebih baik nanti saja"
"Kakek pengemis...."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kakek konyol ah"
Wajah Lim Ceng Im kemerah-merahan.
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha..."
"Kauw heng, mari kuperkenalkan"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Gadis ini calon isteriku, yang itu adalah Sam Gan sin Kay, Kim Siauw Suseng, Tui Hun Lojin, Paman Gouw dan Paman Lim."
Monyet bulu putih terus manggut-manggut, sikapnya seperti tingkatan tua terhadap tingkatan muda.
"Dasar monyet tak tahu diri...."
Caci Sam Gan Sin Kay "Lagaknya...."
Mendadak monyet bulu putih melesat ke arahnya. Scketika terdengar suara Took, kemudian monyet itu kembali ke bahu Tio Cie Hiong.
"Ha a a h...?"
Sam Gan Sin Kay mengusap-usap pipinya dengan mulut ternganga lebar.
Ternyata monyet bulu putih telah menamparnya.
Yang membuatnya terkejut adalah gerakan monyet itu begitu cepat sehingga ia tidak sempat menangkis.
"Kauw heng"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. Monyet bulu putih menunjuk Sam Gan sin Kay sambil bcrcuit-cuit, lalu menunjuk dirinya sendiri.
"Kauw heng"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kakek pengemis itu tidak tahu...."
"Monyet si..."
Sebetulnya Sam Gan Sin Kay ingin menyebut monyet sialan, namun takut ditampar lagi.
"Cie Hiong Monyet itu bilang apa?"
"Dia bilang Kakek Pengemis berani kurang ajar terhadapnya,"
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Apa?"
Sam Gan sin Kay melotot.
"Monyet itu berani bilang aku kurang ajar?"
"Tahukah Kakek Pengemis berapa usia monyet ini?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Mana aku tahu?"
"Usia monyet bulu putih ini sudah hampir tiga ratus tahun."
"Apa?"
Sam Gan sin Kay terbelalak.
"Usianya sudah hampir tiga ratus tahun?"
"Benar."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Tapi aku memanggilnya kauw heng."
"Ha ha ha..."
Mendadak Kim siauw suseng tertawa terbahak-bahak hingga badannya bergoyanggoyang .
"Sastrawan sialan"
Sam Gan sin Kay terheran-heran.
"Kenapa engkau tertawa hingga badanmu bergoyang-goyang? Apa yang menggelikan?"
"Ha ha ha"
Kim siauw suseng masih tertawa.
"Baru kali ini aku menyaksikan orang ditampar monyet."
"Engkau...."
Sam Gan sin Kay melotot dan mendadak mengayunkan tangannya. Plaak Pipi Kim siauw suseng kena tampar.
"Pengemis bau"
Kim Siauw suseng mencak-mencak.
"Engkau sudah gila ya? Kenapa engkau menamparku? "
"Impas,"
Sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa.
"Monyet itu menamparku, aku menamparmu. Nah, impas kan?"
"Dasar pengemis bau"
Caci Kim siauw suseng. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im tersenyum-senyum. Monyet bulu putih pun bercuit-cuit.
"Kakak Hiong, mari kita duduk."
Ajak Lim Ceng Im. Tio Cie Hiong mengangguk lalu duduk. Lim Ceng Im duduk di sebelahnya dengan wajah terus berseri.
"Oh ya"
Tio Cie Hiong memandang Bu Lim Ji Khie seraya bertanya.
"Kenapa kalian bisa menebakku?"
"Ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa.
"Dari tanya jawab dan tatapan matamu terhadap Ceng Im. Tatapan matamu penuh mengandung cinta kasih, maka aku bisa menebak meskipun engkau memakai kedok kulit."
Tlo Cie Hiong manggut-manggut.
"Kakak Hiong siapa yang bawa engkau pergi dan siapa yang menyembuhkanmu?"
Tanya Lim Ceng Im.
"Tayli Lo Ceng yang membawaku ke puncak Gunung Thian san, dan kauw heng ini yang menyembuhkanku."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Selama ini kauw heng yang merawatku, dan memberiku makan semacam buah, kemudian memberikanku buah Kiu Yap Ling che. Kalau tidak, aku pasti cacat seumur hidup."
"oh?"
Lim Ceng Im memandang monyet bulu putih, lalu memberi hormat.
"Terimakasih, kauw heng"
Monyet bulu putih bercuit-cuit sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Hiong, kauw heng bilang apa?"
Tanya Lim Ceng Im.
"Dia bilang tidak usah berterima kasih,"
Sahut Tio Cie Hiong, kemudian bertanya kepada Bu Lim Ji Khie.
"Bagaimana keadaan rimba persilatan sekarang?"
"Aaakh..."
Sam Gan sin Kay menghela nafas.
"Telah dikuasai Bu Tek Pay, yang diketuai oleh Bu Lim sam Mo"
"oh?"
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Kini Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui juga berada di markas Bu Tek Pay,"
Ujar Kim siauw suseng memberitahukan.
"Mereka sebagai Tetua Bu Tek Pay."
"Bagaimana kepandaian Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui itu?"
Tanya Tio Cie Hiong, yang sama sekali tidak tahu tentang mereka.
"Kepandaian mereka tinggi sekali,"
Sahut sam Gan sin Kay dan menambahkan.
"setingkat dengan Bu Lim sam Mo."
"Kalau begitu...."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Partai Bu Tek Pay kuat sekali."
"Benar."
Kim siauw suseng manggut-manggut dan memberitahukan.
"Tapi belum lama ini telah muncul Tui Beng Li, Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek menentang Bu Tek Pay, dan sudah banyak anggota Bu Tek Pay yang mati di tangan mereka."
"oh?"
Tio Cie Hiong tertarik.
"Siapa mereka?"
"Tidak jelas,"
Sahut Kim siauw suseng.
"Yang paling misterius adalah Hong Hoang Leng."
"Hong Hoang Leng?"
Tio Cie Hiong semakin tertarik.
"Apakah Hong Hoang Leng itu?"
"Hong Hoang Leng merupakan tanda maut bagi kaum golongan hitam."
Sum Gan sin Kay memberitahukan.
"Kira-kira tujuh puluh lima tahun lalu. Hong Hoang Leng pernah muncul, sehingga membuat kaum golongan hitam kocar-kacir dan banyak yang mati terbunuh.
"Kali ini muncul lagi dan menentang Bu Tek Pay,"
Sambung Kim siauw suseng.
"sungguh mengherankan."
"Siapa pemilik Hong Hoang Leng itu?"
"Tiada seorang pun yang tahu. Konon di laut Puk Hai terdapat sebuah pulau misterius, yakni Pulau Hong Hoang To. Mungkin pemilik Hong Hoang Leng berasal dari pulau itu."
Sam Gan sin Kay memberitahukan lagi.
"salah satu markas cabang Bu Tek Pay telah diberantas oleh pemilik Hong Hoang Leng."
"Kalau begitu, aku akan berusaha menemui mereka,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Lalu mengajak mereka bergabung."
"Benar."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Kini engkau sudah kembali, berarti sudah waktunya memberantas Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui itu."
"Tapi jangan bertindak ceroboh, sebab mereka berkepandaian tinggi sekali"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Karena itu, kita harus memikirkan suatu cara untuk menghadapi mereka."
Jalan satu-satunya..."
Ujar Tui Hun Lojin.
"Harus mengajak Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng bergabung, barulah kita bisa memberantas Bu Tek Pay."
"Bu Lim sam Mo mengira aku sudah mati, maka aku harus memakai kedok kulit ini,"
Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Kalau sudah saatnya, barulah aku membuka kedok kulit ini di hadapan Bu Lim sam Mo."
"Benar."
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut. Kemudian Tio Cie Hiong memakai lagi kedok kulitnya.
"Kakak Hiong, Michiko berada di sini,"
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Apa?"
Tertegun Tio Cie Hiong.
"Dia berada di sini?"
"Ya."
Lim Ceng Im mengangguk.
"setengah tahun lebih dia bersembunyi di ruang bawah tanah, karena Takara Yahatsu ketua aliran Ninja mengejarnya sampai di Tionggoan ini."
"Adik Im, aku tidak paham.Jelaskanlah"
"Gurunya dan kakaknya telah dibunuh oleh ketua aliran Ninja, maka Michiko kabur ke Tionggoan."
Lim Ceng Im menjelaskan.
"Dia ke mari mencarimu."
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Ternyata begitu. jadi dia ingin membalas dendam terhadap Takara Yahatsu."
"Kepandaiannya masih di bawah ketua Takara Yahatsu, bagaimana mungkin dia bisa balas dendam? Lagi pula ketua aliran Ninja itu telah bergabung dengan Bu Tek Pay, maka kami menyembunyikannya di ruang bawah tanah."
"Adik Im, panggil dia ke mari"
"Ya."
Lim Ceng Im mengangguk, lalu pergi ke ruang bawah tanah.
"Cie Hiong, apakah kepandaianmu sudah pulih?"
Tanya sam Gan sin Kay mendadak sambil menatapnya.
"Pengemis bau"
Sahut Kim siauw suseng.
"Engkau memang goblok? Cie Hiong sudah makan buah Kiu Yap Ling che, maka sudah pasti kepandaiannya pulih seperti sedia kala Kalau tidak, bagaimana mungkin dia kembali?"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Kenapa kadang-kadang aku jadi goblok?"
Di saat bersamaan, Lim Ceng Im sudah kembali bersama Michiko Tio Cie Hiong yang memakai kedok kulit memandangnya. Timbullah rasa iba dalam hati karena gadisJepang itu begitu kurus.
"Adik Michiko"
Panggilnya.
"Engkau...?"
Gadis Jepang itu heran, sebab tidak mengenali siapa lelaki berusia empat puluhan itu.
"Kakak Michiko, dia Kakak Hiong."
Lim Ceng Im memberitahukan sambil tersenyum.
"Apa?"
Terbelalak Michiko.
"Bagaimana mungkin...."
Tio Cie Hiong segera melepaskan kedoknya. seketika Michiko berseru girang, dan hampir saja memeluknya.
"Kakak Cie Hiong Kakak Cie Hiong...."
Gadis itu mulai terisak-isak.
"Adik Michiko"
Tio Cie Hiong tersenyum sambil memegang bahunya.
"Jangan menangis, aku sudah tahu semuanya"
"Kakak Cie Hiong...."
Air mata Michiko berderai-derai. Monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio Cie Hiong langsung membelainya sambil bercuit-cuit, membuat Tio Cie Hiong nyaris tertawa geli.
"Adik Michiko, jangan berduka"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Engkau pasti dapat membalas dendam."
"Kakak Michiko, duduklah"
Ujar Lim Ceng Im. Michiko mengangguk lalu duduk dengan air mata berderai-derai, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im juga duduk.
"Adik Michiko, kepandaianmu masih di bawah kepandaian Takara Yahatsu. sudah barang tentu engkau belum bisa membalas dendam."
"Kakak Cie Hiong, aku harus bagaimana?"
"Aku akan mengajarmu Tujuh Jurus Giok siauw Bit Ciat Kang Hoat, ilmu ciptaanku. setelah berhasil menguasai ilmu tersebut, engkau pasti dapat membalas dendam."
Jawab Tio Cie Hiong.
"Terimakasih, Kakak Cie Hiong"
Ucap Michiko dengan girang.
"Terimakasih"
Tio Cie Hiong mulai mengajar Michiko Giok siauw Bit Ciat Kang Hoat.
Kenapa Tio Cie Hiong mengajarnya ilmu tersebut?
Karena Michiko menggunakan suling sebagai senjata.
Beberapa hari kemudian, gadis Jepang itu telah berhasil menguasai ilmu tersebut.
"Aku yakin kini engkau dapat mengalahkan Takara Yahatsu .Jadi engkau sudah holeh membalas dendam terhadap ketua aliran Ninja itu."
Ujar Tio Cie Hiong.
"Kalau begitu, aku akanpergi mencari Takara Yahatsu,"
Ujar Michiko "Tapi...."
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Dia sudah bergabung dengan Bu Tek Pay, sudah barang tentu pihak Bu Tek Pay akan membantunya."
"Benar."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Pihak Bu Tek Pay pasti membantu Takara Yahatsu."
"Kalau begitu, aku harus bagaimana?"
Wajah Michiko berubah muram.
"Begini..."
Ujar Tlo Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Engkau boleh muncul, tapi jangan membunuh anggota-anggota Bu Tek Pay Aku yakin anggota Bu Tek Pay akan melapor tentang kemunculanmu, karena itu, Takara Yahatsu akan muncul mencarimu. Nah, itu adalah kesempatanmu membalas dendam terhadapnya. Aku pun akan membantumu apabila pihak Bu Tek Pay membantunya."
"Kakak Hiong mau mengikuti Kakak Michiko?"
Tanya Lim Ceng Im.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Aku akan mengikutinya secara diam-diam."
"Kakak Hiong, aku ikut"
Ujar Lim ceng Im.
"Adik Im"
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Engkau tidak boleh ikut, sebab akan menimbulkan kecurigaan pihak Bu Tek Pay. setelah urusan Adik Michiko beres, aku pasti kembali dan akan berunding lagi di sini."
"Kakak Hiong...."
Mata Lim Ceng Im mulai basah.
"Kita... kita akan berpisah lagi?"
"Hanya sementara waktu."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kakak Cie Hiong...."
Michiko menghela nafas.
"Lebih baik engkau tidak usah ikut, kasihan Adik Ceng Im"
"Kalau aku tidak mengikutimu, mungkin engkau akan celaka,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Nak"
Ujar Lim Peng Hang.
"Biarkan Cie Hiong mengikuti Nona Michiko"
"Ayah...."
Air mata Lim Ceng Im meleleh.
"Baiklah."
"Terimakasih, Adik Ceng Im"
Ucap Michiko sambil memeluk gadis itu erat-erat.
"Engkau jangan khawatir, Kakak Cie Hiong pasti kembali ke sisimu."
Bab 66 Pertemuan yang mengharukan Malam ini Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa pergi memberantas para anggota Bu Tek Pay di markas cabang lain.
setelah berhasil mereka kembali ke penginapan.
Akan tetapi, mendadak Tio Lo Toa berhenti sambil mengerutkan kening.
"Kenapa, Paman Lo Toa berhenti?"
Tanya Tio Hong Hoa.
"Ada apa sih?"
"Hoa ji"
Tio Lo Toa memberitahukan.
"Dari tadi ada seseorang mengikuti kita, orang itu berkepandaian tinggi sekali."
"oh?"
Tio Hong Hoa tertegun.
"Omitohud? Ha ha ha..."
Mendadak melayang turun seorang padri tua ke hadapan mereka.
"sungguh tajam telingamu. Memang hebat orang-orang dari pulau Hong Hoang To"
Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa terkejut bukan main, sebab padri tua itu tahu mereka berdua dari pulau Hong Hoang To.
"siapa engkau, Padri tua?"
Tanya Tio Lo Toa.
"Aku Tayli Lo Ceng,"
Ternyata padri tua itu Tayli Lo Ceng. la menatap Tio Lo Toa seraya bertanya.
"Kalau tidak salah, engkau pasti Tio Tay seng dan-Tio It seng."
"Aku bukan Tio Tay seng maupun Tio It seng,"
Sahut Tio Lo Toa.
"Apa?"
Tayli Lo Ceng tertegun.
"Kalau begitu, engkau siapa?"
"Aku pelayan di Pulau Hong Hoang To."
Tio Lo Toa memberitahukan dan bertanya.
"Padri tua kenal majikanku?"
"Tidak, tapi tahu nama mereka,"
Sahut Tayli Lo Ceng sambil memandang Tio Hong Hoa.
"siapa gadis ini?"
"Padri tua, namaku Tio Hong Hoa."
Gadis itu memberitahukan.
"Tio Tay seng adalah ayahku."
"Omitohud Omitohud..."
Ucap Tayli Lo Ceng dengan wajah berseri.
"Sungguh di luar dugaan Omitohud...."
"Padri tua"
Tio Lo Toa menatapnya.
"Ada urusan apa engkau mengikuti .kami?"
"Karena kalian pemilik Hong Hoang Leng, maka aku mengikuti kalian."
Ujar Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.
"Kalian berdua harus ikut aku"
"Padri tua"
Tio Hong Hoa mengerutkan kening.
"Kenapa kami harus ikut engkau?"
"Padri tua ingin mengajak kami ke mana?"
Tanya Tio Lo Toa heran.
"Ke Gunung Hong Lay san menemui seseorang,"
Sahut Tayli Lo Ceng.
"Siapa orang itu?"
Tanya Tio Lo Toa dan semakin heran.
"Dia It sim sin ni,"
Tayli Lo Ceng memberitahukan.
"Kalian berdua harus ikut aku pergi menemuinya."
"Kenapa?"
Tio Hong Hoa bingung.
"Padri tua, bagaimana kalau kami tidak mau pergi menemuinya? "
"Berarti engkau akan menyesal seumur hidup,"
Sahut Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh.
"Padri tua"
Ujar Tio Lo Toa.
"Maukah engkau menjelaskan?"
"Setelah sampai disana dan bertemu It sim sin Ni, kalian pasti mengetahuinya. Lagi pula It sim sin Ni sangat mengharapkan kedatangan kalian, terutama gadis ini."
Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa saling memandang.
Mereka berdua yakin bahwa padri tua itu tidak berniat jahat, namun kenapa tidak mau menjelaskan sekarang?
"Kalian jangan ragu, aku berniat baik.
Omitohud..."
Ucap Tayli Lo Ceng.
"Ayolah, ikut aku ke Gunung Hong Lay san"
"Baiklah"
Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa mengangguk.
Mereka berdua lalu mengikuti Tayli Lo Ceng pergi ke Gunung Hong Lay san.
sepanjang jalan Tayli Lo Ceng diam saja.
Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa tidak habis berpikir, kenapa padri tua itu mengajak mereka pergi ke Gunung Hong Lay san menemui It sim sin Ni.
Tampak It sim sin Ni duduk bersila di ruang tengah.
Mendadak ia mendengar suara seruan di luar, yakni suara seruan Tayli Lo Ceng.
"sin Ni Aku telah membawa mereka ke mari"
"Siapa mereka?"
Sahut It sim sin Ni.
"Pemilik Hong Hoang Leng."
Tayli Lo Ceng memberitahukan.
"Haaah?"
It sim sin Ni terkejut dan girang.
"Lo Ceng, cepat ajak mereka ke mari Aku berada di ruang tengah."
Tak lama kemudian muncullah Tayli Lo Ceng bersama Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa. It sim sin Ni terus menatap Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa.
"sin Ni"
Tayli Lo Ceng memberitahukan sambil tertawa.
"Yang tua itu Tio Lo Toa, pelayan setia di pulau Hong Hoang To, sedangkan gadis cantik itu Tio Hong Hoa, putri Tio Tay seng."
"Haaah...?"
It sim sin Ni terbelalak.
"Lo Ceng, apakah engkau sudah memberitahukan tentang diriku?"
"Belum,"
Sahut Tayli Lo Ceng.
"sebab aku ingin membuat suatu kejutan."
"Lo Ceng"
It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa engkau seperti anak kecil?"
"Omitohud"
Tayli Lo Ceng tertawa.
"Alangkah bahagianya bisa menjadi anak kecil"
Sementara Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa terus saling memandang, tampaknya kebingungan.
"Maaf"
Ucap Tio Lo Toa dan bertanya.
"Kenapa sin Ni menyuruh Lo Ceng membawa kami ke mari?"
"Sebab aku mempunyai hubungan dengan gadis ini."
Sahut It sim sin Ni sambil memandang Tio Hong Hoa dengan penuh kasih sayang, kemudian air matanya bercucuran.
"Hong Hoa, tahukah engkau siapa aku?"
"Maaf sin Ni, aku tidak tahu"
Tio Hong Hoa menggelengkan kepala.
"Tahukah engkau siapa Tio Po Thian?"
Tanya It sim sin Ni mendadak. Tio Hong Hoa menggeleng kepala lagi.
"Hoa ji"
Tio Lo Toa memberitahukan.
"Tio Po Thian adalah kakekmu."
"oh?"
Tio Hong Hoa terbelalak.
"sin Ni kok tahu nama kakekku?"
"Aaaakh..."
It sim sin Ni menghela nafas panjang.
"Tentu aku tahu nama kakekmu, sebab kakekmu adalah suamiku."
"Apa?"
Tio Hong Hoa dan Tio Lo Toa terbelalak.
"Tio Tay seng dan Tio It seng adalah anak-anakku. Jadi engkau adalah cucuku."
It sim sin Ni memberitahukan dengan air mata berlinang-linang.
"Nenek...."
Tio Hong Hoa segera berlutut di hadapan It sim sin Ni.
"Nenek...."
"Bangunlah, Cucuku"
It sim sin Ni tersenyum lembut.
"Duduklah"
"Nenek...."
Tio Hong Hoa menangis terisak-isak saking gembiranya. la sama sekali tidak menyangka kalau neneknya masih hidup, bahkan kini bisa bertemu di biara ini.
"Hamba Tio Lo Toa memberi hormat kepada Nyonya besar"
Ucap Tio Lo Toa sambil memberi hormat.
"Duduklah"
Ujar It sim sin Ni.
"Terimakasih"
Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa duduk. sedangkan Tayli Lo Ceng masih tetap berdiri "sin Ni, bolehkah aku ikut duduk di sini?"
Tanya padri tua itu sambil tertawa-tawa.
"silakan duduk. Lo Ceng"
Sahut It sim sin Ni sambil tersenyum.
"Kenapa berlaku sungkan sungkan? "
"Terimakasih, sin Ni"
Ucap Tayli Lo Ceng.
"Omitohud...."
"Kuucapkan terimakasih kepadamu, Lo Ceng"
It sim sin Ni tersenyum lagi.
"sebab engkau telah membawa cucuku ke mari."
"Omitohud Omitohud...."
Tayli Lo Ceng juga tersenyum.
"Tidak usah mengucapkan terimakasih kepadaku, memang sudah takdirnya engkau harus bertemu cucumu."
"Hong Hoa"
It sim sin Ni menatapnya lembut.
"Tahukah engkau kenapa kakekmu meninggalkan nenek?"
"Ayah pernah memberitahukan, tapi ayah pun kurang jelas,"
Ujar Tio Hong Hoa dan melanjutkan.
"Kakek pernah bilang kepada ayah...."
"Oh ya Kakekmu sehat-sehat saja?"
"sudah lama kakek meninggal."
"Aaakh..."
It sim sin Ni menghela nafas panjang lalu bergumam.
"Po Thian, kenapa engkau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menjernihkan kesalahpahaman itu?"
"Jadi...."
Tio Hong Hoa tersentak.
"Kakek salah paham terhadap Nenek?"
"Ya."
It sim sin Ni menghela nafas.
"Dia mengira aku menyeleweng, padahal tidak sama sekali. Dia langsung meninggalkanku dengan membawa ayahmu dan pamanmu, yang masih kecil."
"Kenapa kakek mengira Nenek menyeleweng?"
Tanya Tio Hong Hoa.
"Maukah Nenek menjelaskan?"
"Ketika itu..."
Tutur It sim sin Ni.
"Kebetulan muncul Lo Ceng ini, maka Nenek sering pergi menemuinya...."
"Omitohud"
Ucap Tayli Lo Ceng.
"Nenekmu menemuiku hanya untuk membahas soal ajaran Budha, lagipula kami merupakan teman baik sejak kecil. Hubungan kami bagaikan hubungan saudara, ketika itu aku adalah rahib, nenekmu adalah biarawati."
"Kalau begitu, kenapa Nenek tidak menjelaskan kepada kakek?"
Tanya Tio Hong Hoa heran.
"Hanya tiga kali nenek pergi menemui Lo Ceng ini, namun tak diduga kakekmu mengikuti secara diam-diam."
It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala.
"Karena itu, timbullah salah paham tersebut. sesungguhnya nenek mau menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman, namun kakekmu telah membawa Tay seng dan It seng pergi entah ke mana."
"Kakek pulang ke Hong Hoang To."
"Nenek tidak tahu. Kalau tahu, nenek pasti menyusul ke pulau itu. Aaakh semua itu telah berlalu, namun nenek gembira sekali, hari ini bisa bertemu denganmu. Oh ya, ayahmu dan pamanmu baik-baik saja?"
"Ayah baik-baik saja. Tapi paman...."
"Kenapa pamanmu?"
"Apakah nenek belum tahu?"
"Beritahukanlah "
"Belasan tahun lalu, paman memperoleh sebuah kotak pusaka. Namun kemudian dibunuh oleh Bu Lim sam Mo."
Tio Hong Hoa memberitahukan berdasarkan apa yang didengarnya dari ayahnya.
"Aaakh..."
It sim sin Ni menghela nafas panjang.
"Nenek sama sekali tidak tahu tentang kejadian itu, sebab sudah puluhan tahun nenek tidak mencampuri urusan rimba persilatan. Lalu bagaimana anak-anaknya?"
"suan suan mati, putra paman hidup tapi...."
Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepala.
"Dua tahun lalu putra paman juga mati di tangan Bu Lim sam Mo."
"Aaaakh..."
It sim sin Ni menghela nafas lagi.
"Nenek tidak menyangka, kedua cucu itu telah mati...."
"Omitohud Nama putra pamanmu?"
Tanya Tayli Lo Ceng mendadak.
"Tio Cie Hiong."
"Hah? Apa? Tio Cie Hiong?"
Tayli Lo Ceng dan It sim sin Ni tertegun.
"Tio Cie Hiong putra Tio It seng?"
"Ya."
Tio Hong Hoa mengangguk.
"Omitohud Omitohud..."
Ucap Tayli Lo Ceng dan memberitahukan.
"Tio Cie Hiong belum mati."
"Apa?"
Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa terbelalak.
"Adik Cie Hiong belum mati?"
"Belum. Aku yang membawanya ke puncak Gunung Thian San,"
Sahut Tayli Lo Ceng dan menambahkan.
"Mudah-mudahan dia akan sembuh"
"syukurlah"
Tio Hong Hoa menarik nafas lega.
"Aku tidak menyangka sama sekali kalau Tio Cie Hiong ternyata cucuku. Padahal aku pernah bertemu dia satu kali..."
It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala.
"sin Ni"
Tanya Tayli Lo Ceng.
"Ketika bertemu dia, engkau tidak bertanya tentang identitasnya?"
"Mungkin tanya mungkin juga tidak. Karena pada waktu itu aku tidak begitu memperhatikannya,"
Jawab It sim sin Ni.
"Kalau aku tahu dia cucuku, aku pasti menemuinya ketika dia ke mari kedua kalinya."
"Lo Ceng?"
Tanya Tio Hong Hoa mendadak.
"Kira-kira kapan Adik Cie Hiong akan sembuh?"
"Mungkin tidak lama lagi."
"Kenapa Lo Ceng tidak ke puncak Gunung Thian san menemuinya?"
"Omitohud"
Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak boleh sembarangan ke sana, sebab puncak gunung itu dijaga oleh seekor kera sakti."
"Kalau begitu, Adik Cie Hiong...."
"Justru monyet sakti itu yang akan mengobatinya...."
Tayli Lo Ceng memberitahukan.
"Oooh"
Tio Hong Hoa manggut-manggut.
"sin Ni"
Ujar Tayli Lo Ceng mendadak.
"Engkau memiliki Kiu Yang sin Rang, apakah Kakek Hong Hoa yang mengajarmu?"
"Ya."
It sim sin Ni mengangguk.
"Memang dia yang mengajarku."
"Hong Hoang Leng..."
Gumam Tayli Lo Ceng "Pulau Hong Hoang To...."
"Lo Ceng?"
Tio Hong Hoa tercengang karena Tayli Lo Ceng bergumam begitu.
"Hong Hoa"
Tayli Lo Ceng memandangnya seraya bertanya "Hong Hoang Po Kiam berada padamu?"
Bagian 38
"Benar. Kenapa?"
"Omitohud Memang jodoh Ha ha ha...."
Tayli Lo ceng tertawa gembira.
"Itu memang jodoh."
"Lo ceng"
It Sim Sin Ni agak kebingungan.
"Apa maksudmu mengucapkan begitu? Jelaskan-lah Jangan membingungkan kami"
"Aku lelah memberikan Thian Liong Po Kiam kepada muridku. Pedang pusaka itu merupakan pasangan dengan Hong Hoang Po Kiam. Nah, bukankah itu jodoh?"
Sahut Tayli Lo ceng dan tertawa gembira lagi.
"Hong Hoa, mundku itu bernama Lie Man chiu. Dia pemuda tampan dan baik."
"Lo ceng...."
Wajah Tio Hong IHoa tampak kemerah-merahan.
"Eh?"
It Sim Sin Ni tersenyum.
"Lo ceng, engkau ingin menjodohkan muridmu dengan cucuku ini?"
"Mereka berdua memang berjodoh."
Ujar Tayli Lo ceng sungguh-sungguh.
"Tapi biar mereka bertemu dulu. Kalau mereka saling mencinta, barulah kita membicarakan perjodohan mereka. Ha ha..."
"Lo ceng ada-ada saja ah"
Tio Hong Hoa cemberut.
"cucuku"
It Sim Sin Ni tersenyum lembut.
"Lo ceng tidak mengada-ada. Kalau muridnya tidak tampan dan tidak baik, bagaimana mungkin dia berani berkata begitu di hadapan nenek?"
"Nenek...."
Wajah Tio Hong Hoa bertambah merah.
"Oh ya"
Itsimsin Ni menatapnya seraya bertanya.
"Ayahmu tidak akan menyusul kalian?"
"Entahlah."
Tio Hong Hoa menggelengkan kepala.
"Ketika kami mau berangkat, ayah bilang tidak mau ke Tionghoan."
"Omitohud"
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Percayalah Ayahmu pasti menyusul dalam waktu dekat ini."
"oh?"
Tio Hong Hoa tampak girang.
"Kalau aku bertemu ayah, pasti kuajak ayah ke mari menemui nenek."
"Nenek memang sudah rindu sekali kepadanya,"
Sahut It sim sin Ni sungguh-sungguh.
"Cucu, apabila engkau bertemu ayahmu, bawalah dia ke mari Tapi jangan bilang aku adalah ibunya, agar dia terkejut"
"Baiklah."
Tio Hong Hoa mengangguk sambil tersenyum.
"Memang merupakan kejutan."
"Benar."
It sim sin Ni tertawa.
"Nenek ingin membuat kejutan."
"Kalau begitu, aku dan Paman Lo Toa mau mohon pamit"
Ujar Tio Hong Hoa sambil bangkit berdiri "Kalian harus hati-hati"
Pesan Tayli Lo Ceng.
"Bu Lim sam Mo tidak akan melepaskan kalian begitu saja. sebab kalian telah menghancurkan markas-markas cabang Bu Tek Pay."
"Lo Ceng Kami pasti hati-hati,"
Ujar Tio Hong Hoa berjanji.
"Cucuku Apabila engkau bertemu Cie Hiong, ceritakanlah semua ini"
Pesan It sim sin Ni.
"Ya, Nenek"
Sahut Tio Hong Hoa.
"Nenek, Lo Ceng sampai jumpa"
"Lo Ceng, nyonya besar Hamba mohon diri"
Tio Lo Toa memberi hormat kepada mereka.
"Lo Toa, jaga Hong Hoa baik-baik"
Pesan It sim sin Ni.
"Ya, Nyonya besar."
Tio Lo Toa mengangguk.
"Hamba pasti menjaganya baik-baik."
Sementara itu, Michiko telah meninggalkan markas pusat Kay Pang, diikuti Tio Cie Hiong secara diam-diam.
Gadis Jepang itu berterima kasih sekali kepada Tio Cie Hiong, sebab Tio Cie Hiong memikirkan keselamatannya.
Michiko terus berjalan perlahan.
Ketika ia sampai di sebuah jalan yang agak sepi, tiba-tiba muncul beberapa orang menghadang di depannya.
Mereka ternyata anggota Bu Tek Pay.
"Eh? Engkau berasal dari mana? Kok dandananmu agak aneh?"
Tanya salah seorang anggota Bu Tek Pay itu.
"Kalian anggota Bu Tek Pay?"
Michiko balik bertanya dengan dingin.
"Betul Betul Ha ha ha Kita bertemu di tempat yang sepi ini, bagaimana kalau kita ber-senangsenang dulu?"
"Kalian jangan cari mati"
Sahut Michiko "
Lebih baik kalian segera pergi melapor, bahwa aku Michiko sedang mencari Takara Yahatsu"
"Apa?"
Mereka terbelalak.
"Eng kaukah Michiko yang dicari-cari itu?"
"Benar"
Michiko mengangguk.
"Cepatlah kalian beritahukan kepada Takara Yahatsu, bahwa aku menunggunya di sini"
"Baik Kami akan melapor"
Anggota-anggota Bu Tek Pay itu segera ke markas untuk melapor.
Begitu sampai di markas, mereka langsung melapor kepada Bu Lim sam Mo.
Mendengar laporan itu Bu Lim sam Mo sangat gembira, apalagi Takara Yahatsu.
"Takara Yahatsu"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Kini adalah kesempatanmu untuk membunuh Michiko."
"Benar."
Takara Yahatsu manggut-manggut sambil tertawa.
"Aku akan berangkat sekarang."
"Tunggu,"
Cegah Thian Mo sambil mengerutkan kening.
"Dia menghilang begitu lama, kini muncul mendadak dan menantangmu. Mungkinkah ada sesuatu di balik itu atau dia telah menyusun suatu jebakan untukmu?"
"Dia cuma seorang diri, tidak mungkin bisa menyusun suatu jebakan,"
Sahut Takara Yahatsu.
"Ngmm"
Thian Mo manggut-manggut.
"Bagaimana kalau kami menyuruh beberapa orang membantumu? "
Takara Yahatsu berpikir sejenak, kemudian menganguk.
"Baiklah."
Thian Mo segera menyuruh beberapa orang pergi bersama ketua aliran Ninja itu. setelah mereka pergi, mendadak muncul salah seorang anggota dan melapor.
"Ketua, pemilik Hong Hoang Leng telah memberantas markas cabang yang lain, dan semua anggota mati terbunuh."
"Apa?"
Tang Hai Lo Mo langsung memukul meja. Wajahnya tampak merah padam.
Baca Juga: Si Tangan Sakti 4
Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 4