Ceritasilat Novel Online

Kesatria Baju Putih 11

Eps 11 Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.

"Thian Mo, perlihatkan kepandaianmu kepada mereka"

"Ya."

Thian Mo mengangguk. lalu berjalan ke tengah-tengah ruangan.

"Kalian berlima boleh menyerangku dengan senjata apa pun."

Kelima Ninja saling memandang, kemudian mereka berteriak keras sambil menyerang Thian Mo dengan pukulan.

Thian Mo tidak berkelit, namun mendadak mengibaskan lengan jubahnya.

Seketika kelima Ninja terpental beberapa langkah.

Mereka terkejut, saling memandang dan mendadak menyerang Thian Mo dengan berbagai senjata rahasia.

Thian Mo tertawa panjang, lalu mengibaskan lengan jubahnya sekaligus menggulungnya.

semua senjata rahasia itu tergulung ke dalam lengan jubahnya.

Bukan main terkejutnya kelima Ninja itu.

Thian Mo lalu menggerakkan lengan jubahnya ke atas, maka semua senjata itu meluncur ke atas dan menancap di langit-langit ruangan.

Kelima Ninja itu terbelalak menyaksikannya, dan kini mereka berlima baru yakin akan kepandaian Bu Lim sam Mo.

Maka cepat-cepatlah mereka membungkukkan badannya memberi hormat kepada Thian Mo.

"Kami berlima takluk."

Ucap mereka.

"Ha ha ha"

Thian Mo tertawa sambil kembali ke tempat duduknya. Tang Hai Lo Mo menatap mereka seraya bertanya.

"Kalian kenal sepasang pendekar dari Jepang?"

"Sepasang pendekar dari Jepang?"

Kelima Ninja itu tampak terkejut.

"Seorang pemuda dan seorang gadis? Pemuda itu menggunakan pedang samurai, gadis itu menggunakan suling?"

"Ya,"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"Apakah mereka berdua kawan kalian?"

"Bukan. Mereka berdua musuh kami."

Salah seorang Ninja memberitahukan.

"Ternyata mereka sudah tiba di Tionggoan juga"

"siapa sebetulnya mereka itu?"

Tanya Te Mo.

"Mereka berdua kakak beradik, Yasuki Nichiba dan Michiko. Mereka memburu kami."

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Kalian berlima takut kepada mereka?"

"Kami justru ingin membunuh mereka,"

Sahut salah seorang Ninja.

"Maaf, apakah Ketua tahu mereka berada di mana? Kami akan ke sana membunuh mereka."

"Mereka pasti berada di markas pusat Kay Pang,"

Ujar Tang Hai Lo Mo dan menambahkan.

"Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantar kalian ke sana."

"Terima kasih"

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

"sekarang kalian boleh ke kamar untuk beristirahat dulu."

"Terima kasih"

"Kwee Tiong seng"

Seru Thian Mo.

"Ya, Ketua."

Kwee Tiong segera menghadap Bu Lim sam Mo lalu memberi hormat.

"Aku siap terima perintah."

"Antar kelima Ninja itu ke kamar"

Perintah Thian Mo.

"Ya, Ketua."

Kwee Tiong seng segera mengantar kelima Ninja itu ke kamar.

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Tio cie Hiong pasti berada di markas pusat Kay Pang, dan sepasang pendekar Jepang itu pun pasti berada di sana. suruh seseorang untuk mengantar kelima Ninja itu ke sana Tentunya Tio Cie Hiong akan turut campur, maka sudah barang tentu menanamkan permusuhan dengan guru kelima Ninja itu Ha ha ha"

"Benar."

Thian Mo dan Te Mo juga tertawa gelak.

Ketika hari mulai senja, Tio Cie Hiong mengajak Yasuki Nichiba dan Michiko ke halaman.

Mereka bertiga lalu duduk-duduk di bawah pohon sambil bercakap-cakap.

Beberapa anggota Kay Pang telah menyelidiki Ninja-ninja itu, tapi tidak menemukan jejak.

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Mungkinkah mereka belum tiba di Tionggoan?"

"Tidak mungkin. sebab mereka berangkat duluan,"

Sahut Yasuki Nichiba.

"Kalau begitu memang mengherankan."

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakak Tio, apakah calon isterimu sudah ada kabar beritanya?"

Tanya Michiko mendadak.

"Belum."

Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Tapi aku yakin, dia pasti masih hidup dan...."

Mendadak kening Tio Cie Hiong tampak berkerut-kerut. Yasuki Nichiba dan Michiko menatapnya dengan heran.

"Ada apa?"

Tanya mereka serentak.

"Aku mendengar suara di dalam tanah,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Entah apa itu?"

"Suara di dalam tanah?"

Yasuki Nichiba terkejut.

"Mungkin suara Ninja. Kita harus berhati-hati"

Mereka bertiga langsung bangkit berdiri.

Di saat bersamaan, mendadak dari dalam tanah muncul lima sosok bayangan.

Tidak salah.

Lima sosok itu memang Ninja.

Yasuki Nichiba membentak.

dan kelima Ninja itu menyahut.

Tio Cie Hiong tidak mengerti, sebab mereka menggunakan bahasa Jepang.

Michiko maju beberapa langkah sambil mengeluarkan sulingnya, sedangkan Tio Cie Hiong tetap berdiri di tempat.

Kelima Ninja mulai menghunus senjata ma-sing-masing, begitu pula Yasuki Nichiba.

"Hiyaaat"

Teriak kelima Ninja sambil menyerang Yasuki Nichiba dan Michiko Terjadilah pertarungan dahsyat di antara mereka, yang disertaipula dengan suara teriakanteriakan.

Berselang beberapa saat kemudian, Yasuki Nichiba dan Michiko tampak mulai keteter, sebab kelima Ninja bertarung dengan cara yang luar biasa, yaitu menelusup ke dalam tanah laiu muncul dan mendadak menyerang Yasuki Nichiba serta Michiko Bahkan kadang-kadang kalima Ninja itu melempar semacam bom asap.

lalu menghilang.

Tio Cie Hiong terus memperhatikan cara-cara kelima Ninja itu bertarung.

Ketika Yasuki Nichiba dan Michiko mulai di bawah angin, Tio Cie Hiong membentak keras.

"Berhenti"

Suara bentakannya sangat mengejutkan kelima Ninja, sehingga mereka langsung berhenti bertarung. Begitu pula Yasuki Nichiba dan Michiko "siapa kau?"

Bentak salah seorang Ninja dengan bahasa Han.

"engkau berani mencampuri urusan kami?"

"Aku boleh dikatakan majikan di tempat ini, maka aku berhak menyuruh kalian berhenti bertarung Kalian berlima penjahat dari Jepang, sedangkan di sini Tionggoan, maka aku berhak turut campur"

"Kami memang Ninja dari Jepang, tapi kini sudah bergabung dengan Bu Tek pay Kalau engkau turut campur, berarti akan menjadi musuh Bu Tek Pay"

Ujar salah seorang Ninja.

"Kalian tahu siapa ketua Bu Tek Pay itu?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"Kami tidak tahu, tapi kepandaian mereka tinggi sekali"

Sahut salah seorang Ninja.

"Mereka?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Berarti lebih dari satu orang, bukan?"

"Benar"

"Tiga orang?"

"Apakah mereka Bu Lim sam Mo?"

"Kami tidak tahu"

Bentak salah seorang Ninja.

"sudahlah Engkau tidak usah banyak bertanya dan jangan campur urusan ini ohya Apakah engkau Pek Ih sin Hiap?"

"Betul"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kebetulan sekali"

Kelima Ninja itu tertawa.

"Ketua Bu Tek Pay juga menyuruh kami membunuh mu"

Tio Cie Hiong tertawa dingin.

"Kalau begitu, cobalah kalian turun tangan membunuhku"

"Serang"

Teriak salah seroang Ninja dan langsung menyerang Tio Cie Hiong.

Kemudian yang lain juga ikut menyerang.

Tio Cie Hiong tertawa, dan tiba-tiba badannya bergerak lalu seketika juga lenyap dari hadapan mereka.

Kelima Ninja itu terkejut sekali, karena Tio cie Hiong sudah berdiri di belakang mereka.

"Hiyaaat"

Kelima Ninja itu mulai menyerang lagi.

Tio Cie Hiong mengibaskan lengan bajunya, seketika kelima Ninja itu terpental beberapa depa.

Bukan main terkejutnya kelima Ninja itu, mereka berlima saling memandang, kemudian mendadak melemparkan bom asap.

Tio Cie Hiong tetap berdiri di tempat, namun begitu asap bom itu sirna, kelima Ninja itu tak kelihatan lagi.

sesaat kemudian, kelima Ninja itu muncul dari dalam tanah dan langsung menyerang Tio Cie Hiong dengan berbagai macam senjata rahasia.

Akan tetapi, di saat bersamaan badan Tio Cie Hiong bergerak laksana kilat dengan gerakan Kiu Kiong san Tian Pou, sekaligus menyerang dengan ilmu Bit Ciat sin Ci (Jari sakti Pemusnah Kepandaian), menggunakan jurus Cian cisoh Te (Ribuan Jari Menyapu Bumi).

"Aaaakh Aaaakh"

Terdengar suara jeritan yang susul menyusul. Dalam waktu sekejap, kelima Ninja itu telah terkapar dengan mulut mengeluarkan darah, dan kepandaian mereka pun telah musnah.

"Terima kasih atas bantuanmu"

Ucap Yasuki Nichiba.

"sama-sama,"

Sahut Tio Cie Hiong dan memberitahukan.

"Kini kepandaian mereka telah musnah, maka tidak bisa melakukan kejahatan lagi."

Yasuki Nichiba terbelalak lalu mendekati kelima Ninja itu dan membentak dengan bahasa Jepang. Kelima Ninja Jepang itu diam saja, namun memandang Tio Cie Hiong dengan penuh dendam dan kebencian.

"Kakak Tio"

Michiko menatap Tio Cie Hiong dengan kagum.

"Kini baru terbuka mataku, kepandaianmu memang tinggi sekali. Guru kami juga masih bukan tandinganmu."

Tio Cie Hiong hanya tersenyum. Michiko menundukkan kepala, diam-diam merasa sayang, karena Tio Cie Hiong sudah mempunyai calon isteri, seandainya belum.... Akhirnya gadis Jepang itu menghela nafas.

"cie Hiong"

Yasuki Nichiba mendekatinya seraya berkata.

"Besok pagi kami akan bawa mereka kembali ke Jepang."

"Kakak...."

Michiko terkejut.

"Besok pagi kita akan kembali ke Jepang?"

"Ya."

Yasuki Nichiba mengangguk.

"Kakak, apakah tidak bisa menunggu beberapa hari lagi?"

Michiko merasa berat sekali berpisah dengan Tio cie Hiong.

"Adik"

Yasuki Nichiba tahu bagaimana perasaan adiknya, tapi Tio Cie Hiong sudah mempunyai calon isteri, maka tidak baik adiknya lama-lama di situ.

"Tugas kita telah usai, maka kita harus segera membawa mereka kembali ke Jepang."

"Kakak...."

Michiko menundukkan kepala.

"Adik Michiko"

Tio Cie Hiong memegang bahunya.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu terhadapku, dan aku merasa beruntung sekali. Tapi engkau harus tahu, bahwa aku sudah mempunyai calon isteri."

"Kakak Tio..."

Michiko menangis terisak-isak.

"Jangan menangis"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Kelak engkau pasti akan bertemu pemuda yang ideal, percayalah"

"Kakak Tio...."

Air mata Michiko mulai berderai.

"Besok pagi kita akan berpisah. Entah kapan kita akan bertemu kembali?"

Tampak dua ekor kuda berlari tidak begitu kencang di sebuah jalan sepi, dan terdengar pula suara tawa riang gembira.

Mereka ternyata dua pasang suami isteri, yaitu Lam Kiong Bie Liong, Toan Pit Lian, Toan wie Kie dan Gouw sian Eng.

"Kakak Kie Entah Kakak Hiong sudah menikah dengan Kakak Im belum?"

Tanya Gouw sian Eng sambil tersenyum.

"Entahlah. Mungkin belum, sebab aku yakin mereka sedang menunggu kedatangan kita,"

Sahut Toan wie Kie.

"Mereka berdua merupakan pasangan yang serasi."

"Kita berdua juga merupakan pasangan yang serasi, bukan?"

"Idiiih"

Tiba-tiba di hadapan mereka muncul belasan orang, maka segeralah mereka menghentikan kudanya.

"siapa kalian?"

Bentak Lam Kiong Bie Liong.

"Kenapa kalian menghadang perjalanan kami?"

"Ha ha ha"

Terdengar suara tawa yang keras.

"Aku Ang Bin sat sin, pelindung Bu Tek Pay"

"Ang Bin sat sin?"

Lam Kiong Bie Liong tertegun.

"Partai Tanpa Tanding?"

"Betul"

Ang Bin sat sin tertawa lagi.

"Kini rimba persilatan telah dikuasai oleh Bu Tek Pay"

"Omong kosong"

Bentak Lam Kiong Bie Liong.

"Hm"

Dengus Ang Bin sat sin.

"Untuk apa aku omong kosong, justru Ketua Bu Tek Pay mengutus kami membawa kalian ke markas"

Lam Kiong Bie Liong tertawa dingin.

"Jadi kalian ingin menangkap kami?"

"Tidak salah"

Sahut Ang Bin sat sin. Lam Kiong Bie Liong memandang Toan wie Kie, kemudian mereka semua meloncat turun daricunggung kuda.

"cianpwee"

Ujar Toan wie Kie sopan.

"Kita tidak bermusuhan, kenapa kalian ingin menangkap kami?"

"Itu perintah ketua Bu Tek Pay"

Sahut Ang Bin sat sin memberitahukan.

"Bu Lim Ji Khie, TUi Hun, Lojin, Lam Kiong Hujin, Gouw Han Tiong, Lim Ceng Im, ketua Kay Pang dan para ketua tujuh partai telah kami tangkap semua, jadi lebih baik kalian ikut kami secara baik-baik"

"Apa?"

Lam Kiong Bie Liong dan Gouw Sian Eng tidak percaya.

"Lam Kiong Bie Liong Gouw sian Eng orang tua kalian memang telah ditangkap. dan kini dikurung di markas Bu Tek Pay"

Ujar Ang Bin sat sin.

"omong kosong"

Bentak Lam Kiong Bie Liong.

"Kalau begitu, di mana Tio Cie Hiong?"

"Dia berada di markas pusat Kay Pang, tapi tidak tahu tentang itu setelah kami menangkap kalian, barulah kami akan menghadapi Tio Cie Hiong"

Ujar Ang Bin sat sin sungguh-sungguh .

"Hm"

Dengus Lam Kiong Bie Liong sambil menghunus gedangnya.

"Kau kira gampang menangkap kami?"

Mendadak Ang Bin sat sin melempar beberapa buah bom asap yang mengandung racun, dan seketika juga asap beracun itu mengebul.

Lam Kiong Bie Liong dan lainnya terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian terkulai pingsan.

"Ha ha ha"

Ang Bin sat sin tertawa dan lalu memberi perintah.

"Ikat mereka dan bawa ke markas"

"Ya."

Para anggota Bu Tek Pay segera mengikat Lam Kiong Bie Liong dan lainnya,lalu membawa mereka ke markas.

sedangkan Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun terus tertawa gelak.

suasana di ruang depan markas Bu Tek Pay hening sekali.

Ketika itu Bu Lim sam Mo duduk di situ dengan wajah tak sedap dipandang.

Di hadapan mereka tampak berdiri Lauw Liang Hauw, kepala regu bendera hitam Bu Tek Pay.

"Jadi Tio cie Hiong yang merobohkan kelima Ninja itu?"

Tanya Tang Hai Lo Mo dengan kening berkerut.

"Ya, Ketua,"

Jawab Lauw Liang Hauw dan menambahkan.

"Kelima Ninja itu telah dibawa ke Jepang pagi ini."

"Tio Cie Hiong"

Geram Tang Hai Lo Mo sambil berkertak gigi.

"suatu saat aku pasti akan memusnahkan kepandaianmu"

"Lo Mo"

Thian Mo tertawa.

"Kenapa harus memusingkan itu? Mereka Ninja-ninja dari Jepang, boleh dikatakan tiada hubungan apa-apa dengan kita."

"Memang Tapi...."

Tang Hai Lo Mo berkertak gigi lagi.

"Mereka berlima sudah bergabung dengan kita, berarti anggota kita pula. Tio Cie Hiong merobohkan mereka, itu merupakan suatu penghinaan bagi Bu Tek Pay"

"Tenang, Lo Mo"

Ujar Te Mo sambil tertawa.

"setelah Ang Bin sat sin menangkap Lam Kiong Bie Liong dan lainnya, barulah kita mencari akal untuk menghadapi Tio Cie Hiong."

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut. Pada saat bersamaan, muncullah Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun dengan wajah ceria.

"Lapor kepada Ketua"

Ujar Ang Bin sat sin sambil memberi hormat.

"Kami telah berhasil menangkap Lam Kiong Bie Liong dan lainnya."

"Bagus Bagus Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa terbahak-bahak.

"Apakah Ban Tok shia Cun sudah memberi minum mereka racun pelemah badan?"

"Sudah,"

Sahut Ang Bin sat sin dan menambahkan.

"Mereka juga telah dimasukkan ke dalam kurungan."

"Bagus"

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

"Kalian duduklah"

"Terima kasih, Ketua"

Ucap Ang Bin sat sin, lalu duduk di kursi. Begitu pula Liu siauw Kun.

"Kini mereka telah kita tangkap."

Ujar Thian Mo.

"Bagaimana akal kita menghadapi Tio Cie Hiong?"

"Aku pikir..."

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"Bu Tek Pay yang kita dirikan ini masih kurang kuat, maka kita harus mengundang beberapa tokoh tua dari golongan hitam untuk memperkuat partai kita ini."

"Lo Mo, kita harus mengundang siapa?"

Tanya Te Mo.

"Tokoh tua golongan hitam yang berkepandaian paling tinggi adalah Kwan Gwa siang Koay (sepasang siluman Luar Perbatasan)."

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Kedua siluman itu?"

Thian Mo dan Te Mo tampak terkejut.

"sudah puluhan tahun mereka berdua mengundurkan diri dari rimba persilatan, lagipula belum tentu mereka masih hidup,"

"Aku mau berangkat ke Kwan Gwa. Kalau kedua siluman itu masih hidup, aku akan mengundang mereka ke mari untuk diangkat menjadi wakil ketua. Bagaimana menurut kalian berdua?"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Itu memang ide yang bagus,"

Sahut Thian Mo.

"Tapi belum tentu kedua siluman itu mau memenuhi undanganmu."

"Aku yakin kedua siluman itu akan memenuhi undanganku."

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Kok engkau begitu yakin, Lo Mo?"

Te Mo heran "Mereka berdua pernah berhutang budi kepada Thian Gwa sin Mo, almarhum paman guruku, maka mereka pasti akan memenuhi undanganku."

Thian Mo dan Te Mo manggut-manggut.

"Kapan engkau akan berangkat ke Kwan Gwa, Lo Mo?"

"Besok pagi,"

Sahut Tang Hai Lo Mo dan melanjutkan.

"Dalam waktu satu bulan, aku pasti kembali."

"Lo Mo Kalau Kwan Gwa siang Koay bersedia diundang ke mari, Bu Tek Pay pasti jaya dalam rimba persilatan."

Ujar Thian Mo.

"itulah yang kuhendaki."

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Kalian berdua harus tahu, kedua siluman suka main perempuan, maka kalau kita sediakan perempuan cantik untuk mereka, tentu mereka akan merasa senang dan betah di sini."

"Tapi...."

Te Mo mengerutkan kening.

"Mereka sudah begitu tua, bagaimana mungkin masih bisa...."

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Mereka berdua justru makin tua makin kuat."

"oh?"

Thian Mo dan Te Mo tercengang.

"Kok begitu?"

"Sebab...."

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Mereka berdua memiliki ilmu Tok Im Ciang (Ilmu Pukulan Dingin Beracun), maka sejak muda mereka selalu berhubungan intim dengan kaum wanita untuk menyedot Im Khi (Hawa Negatif) kaum wanita. oleh karena itu, mereka berdua makin tua makin kuat."

Tian Mo, dan Te Mo manggut-manggut.

"Apa-kah Tok Im Ciang sama seperti Pak Kek sin Ciang yang kita miliki?"

"Tidak sama."

Tang Hai Lo Mo menjelaskan.

"Tok Im Ciang mengandung racun, siapa yang terkena pukulan kedua siluman itu, pasti mati dengan tubuh kehijau-hijauan. sedangkan Pak Kek sin ciang yang kita miliki, akan membuat orang mati beku."

"Apakah Tok Im Ciang lebih lihay dari Pak Kek sin ciang?"

Tanya Thian Mo ingin mengetahuinya .

"Kedua ilmu itu memiliki keistimewaan tersendiri, jadi sulit dibanding-bandingkan,"

Jawab Tang Hai Lo Mo.

"Nah, aku akan berangkat besok."

Bab 55 Tiada kemanusiaan Di suatu tempat yang sepi, tampak sebuah gubuk.

Di situ pula suara tawa gembira.

Ternyata seorang tua sedang bermain dengan seorang anak gadis kecil berusia setahunan.

siapa orang tua dan anak gadis kecil itu?

Mereka ternyata guru silat Tan dan Lim Ay Lan, putri Tan Li Cu yang telah kehilangan ayah.

"Ayoh cepat berjalan kemari"

Guru silat Tan sedang mengejar cucunya berjalan. Lim Ay Lan tertawa-tawa sambil berjalan tertatih-tatih ke hadapan guru silat Tan.

"Ha ha ha"

Guru silat Tan tertawa gembira.

"cucuku sudah bisa jalan sendiri Ha ha ha"

Guru silat Tan mundur lagi beberapa langkah, lalu memberi isyarat agar cucunya berjalan menghampirinya.

Anak gadis kecil itu berjalan tertatih-tatih lagi menghampiri guru silat Tan, tapi mendadak terjatuh.

"Eeeh Cucuku jatuh"

Seru guru silat Tan sambil tersenyum.

Tapi sungguh mengherankan, anak gadis kecil itu sama sekali tidak menangis, malah lalu bangkit berdiri dan mulai berjalan tertatih-tatih lagi ke hadapan guru silat Tan.

"Ha ha ha"

Guru silat Tan tertawa bangga.

"Cucuku memang hebat, walau terjatuh tapi tidak menangis Ha ha ha"

"Ayah"

Terdengar suara seruan, lalu tampak seorang wanita muda berdiri di depan pintu gubuk. Wanita muda itu Tan Li cu.

"Mau makan belum?"

"Belum,"

Sahut guru silat Tan sambil tertawa.

"Ayah sedang asyik mengajar Ay Lan berjalan, nanti saja baru makan."

"Ayah...."

Tan Li cu menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum, kemudian menghampiri mereka.

Lim Ay Lan langsung berjalan tertatih-tatih mendekati Tan Li cu.

segeralah Tan Li cu menggendongnya dan membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Nak. engkau masih kecil, tetapi sudah tidak mempunyai ayah,"

Gumam Tan Li cu dengan mata berkaca-kaca.

"Li Cu"

Guru silat Tan menghela nafas.

"Jangan menimbulkan kedukaan dalam hati"

"Ayah...."

Tan Li Cu terisak-isak.

"Nasibku . sungguh malang, begitu pula nasib adik In Nio."

"Yang harus kita kasihani adalah Ay Lan."

Mata guru silat Tan juga sudah basah.

"Ayah, kita sudah pindah di tempat ini secara diam-diam. Mungkin Liu siauw Kun tidak akan tahu."

"Ha ha ha"

Sekonyong-konyong terdengar suara tawa, lalu tampak melayang turun seseorang.

"siapa bilang aku tidak tahu? Ha ha ha..."

Begitu melihat orang itu, wajah guru silat Tan dan putrinya langsung memucat, karena orang itu ternyata Liu siauw Kun.

"Engkau...."

Sekujur badan Tan Li cu menggigil seperti kedinginan.

"He he he"

Liu siauw Kun tertawa terkekeh sambil menatap Tan Li cu dengan penuh gairah nafsu birahi.

"Kini engkau sudah menjadi janda, lebih baik ikut aku"

"Diam"

Bentak Tan Li cu.

"Binatang kau Cepatlah enyah dari sini"

"Enyah dari sini? Aku sudah ke mari, bagaimana mungkin akan enyah lagi?"

Liu Siauw Kun mulai mendekatinya. Tan Li cu melangkah ke belakang sambil menggendong anaknya.

"Berhenti"

Bentak guru silat Tan. Liu siauw Kun berhenti lalu perlahan-lahan membalikkan badannya, dan menatap guru silat Tan dengan dingin sekali.

"Aku masih memandang Li cu"

Ujarnya dingin pula.

"Kalau tidak-engkau sudah tergeletak menjadi mayat"

"Kurang ajar"

Bentak guru silat Tan lagi, kemudian mendadak menyerangnya.

"He h e he"

Liu siauw Kun tertawa terkekeh.

"Dengan kepandaianmu itu kau ingin menyerangku? Hm Dasar tak tahu diri"

Liu siauw Kun berkelit, sedangkan guru silat Tan terus menyerangnya sambil berseru.

"Li Cu Cepat kabur"

"He he he Kabur?"

Liu siauw Kun tertawa terkekeh lagi, dan sekonyong-konyong sepasang tangannya bergerak menyerang guru silat Tan.

"Aaaakh..."Jerit guru silat Tan. la terkapar seketika dan mulutnya menyemburkan darah segar.

"Li Cu, cepat... cepat ka... bur..."

"Ayah Ayah"

Teriak Tan Li Cu sambil mendekati guru silat Tan. Ternyata orang tua itu telah mati.

"Ayah...."

Tan Li cu menangis gerung-gerungan dan air matanya berlinang-linang, sedangkan Liu siauw Kun terus tertawa terkekeh-kekeh.

"Sudahlah"

Ujar Liu Siauw Kun kemudian sambil tersenyum.

"Kini ayahmu telah mati, lebih baik engkau ikut aku Aku jamin engkau pasti hidup senang...."

"Diam Binatang"

Bentak Tan Li cu dengan mata berapi-api.

"Akan kubunuh kau"

"Li Cu Dari dulu aku sudah jatuh cinta kepadamu, namun engkau malah mencintai Lim Hay Beng. Kemudian muncul Tio Cie Hiong memusnahkan kepandaianku, setelah itu engkau menikah dengan Lim Hay Beng. Betapa sakitnya hatiku, tapi kini kepandaianku telah pulih, bahkan bertambah tinggi sehingga dapat membunuh Lim Hay Beng He he he..."

"Engkau...."

Tan Li cu terus menatapnya dengan mata membara.

"Engkau memang binatang"

"Terserah engkau mau bilang apa"

Liu siauw Kun tertawa.

"Pokoknya hari ini aku harus bersenang-senang denganmu"

"Engkau...."

Tan Li cu melangkah mundur dengan wajah pucat.

"He he"

Liu siauw Kun tertawa sambil mendekatinya selangkah demi selangkah, dan tiba-tiba tangannya bergerak, lahu-tahu Lim Ay Lan sudah berpindah ke tangannya.

"Kembalikan anakku Kembalikan anakku"

Teriak Tan Li cu dan berusaha merebut Lim Ay Lan dari tangan Liu siauw Kun.

"He he"

Liu siauw Kun tertawa licik.

"Engkau harus diam di tempat Kalau tidak. putri kesayanganmu ini pasti kubunuh"

"Jangan jangan..."

Ujar Tan Li cu memohon.

"Kalau begitu...."

Liu Siauw Kun tertawa licik lagi.

"Engkau harus menuruti keinginanku"

"Apa keinginanmu?"

"Cepat buka bajumu Aku sudah tidak tahan lagi"

"Engkau...."

Sekujur tubuh Tan Li cu bergemetar.

"Hm"

Dengus Liu siauw Kun dingin.

"Kalau engkau tidak sebera membuka baju, anakmu ini pasti mampus"

Lim Ay Lan adalah anaknya yang melebihi segala-galanya, maka tentu Tan Li Cu bersedia mengorbankan dirinya demi anaknya itu.

Perlahan-lahan ia membuka bajunya.

seketika mata Liu siauw Kun melotot, karena melihat sepasang payudara Tan Li cu yang putih mulus dan montok.

Namun tidak disangkanya Lim Ay Lan yang di tangan Liu siauw Kun menggigit telinganya, sehingga membuat Liu siauw Kun menjerit kesakitan.

"Aduuuh"

Jeritnya dan langsung menghempaskan anak gadis kecil itu ke tanah.

"Buuuuk."

Lim Ay Lan yang baru berusia setahunan itu terhempas di tanah, sehingga sepasang matanya melotot dan mulutnya mengeluarkan darah segar.

"Nak Nak...."jerit Tan Li cu dan segera menggendong anaknya.

"Nak...."

Sungguh kasihan anak gadis kecil itu, ia telah mati dengan mata melotot.

"Anakku Anakku..."

Tan Li cu menangis meraung-raung.

"Kenapa engkau diam saja? Lagi bobok ya? oh Anakku...."

Tan Li Cu terkulai, pingsan.

Ketika melihat Tan Li Cu pingsan dengan tubuh telentang, Liu siauw Kun langsung menelan air liur.

la menghampirinya sambil tersenyum-senyum, lalu membungkukkan badannya sekaligus meremas-remas sepasang payudara Tan Li Cu yang montok itu.

Akan tetapi, mendadak ia merasa tangannya ngilu, ternyata tersambit oleh sebutir batu kerikil.

Betapa terkejutnya Liu siauw Kun.

la menengok ke sana ke mari, namun tidak melihat siapa pun, maka ia terheran-heran.

setelah itu, ia meremas-remas lagi payudara Tan Li Cu.

Plaaak "Aduuh"

Jerit Liu siauw Kun kesakitan, karena telah tersambit sebutir batu kerikil.

"siapa? Cepat perlihatkan dirimu Jangan cuma berani menyerang secara gelap"

Bentaknya.

"Engkau harus segera pergi Aku pantang membunuh, kalau tidak. nyawa mu pasti sudah melayang"

Terdengar suara sahutan.

"si...."

Plaak "Aduuuh"

Jerit Liu siauw Kun kesakitan dan dua buah giginya telah roniok.

Kini ia betul-betul terkejut dan tahu orang yang bersembunyi itu berkepandaian tinggi sekali, maka kalau ia tidak cepat-cepat kabur, mungkin nyawanya akan melayang.

setelah berpikir begitu, ia segera melesat pergi.

Tak lama kemudian, melayang turun seorang padri tua yang tidak lain Tayli Lo Ceng.

"omitohud Aku datang terlambat omito-hud Anak gadis yang masih begitu kecil pun dibunuh omitohud...."

Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang, lalu menutupkan baju Tan Li cu.

setelah itu, Tayli Lo Ceng menggali sebuah lubang, lalu mengubur mayat guru silat Tan dan mayat Lim Ay Lan.

"omitohud...."

Tayli Lo Ceng menghela nafas lagi, kemudian menggendong Tan Li cu yang masih dalam keadaan pingsan itu meninggalkan tempat tersebut.

Di dalam sebuah biara di gunung Hong Lay San, tampak seorang padri tua dan seorang biarawati tua duduk bersila dengan wajah serius.

"omitohud Biar bagaimana pun engkau harus menerimanya sebagai murid. Kalau tidak. wanita muda itu pasti jadi gila,"

Ujar padri tua, yang ternyata Tayli Lo Ceng.

"Kenapa engkau merepotkan aku?"

Ujar biarawati tua itu, yang tidak lain It Sim Sin Ni.

"Bukan merepotkan Melainkan dia memang berjodoh menjadi muridmu,"

Sahut Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.

"Yaaah"

It Sim Sin Ni menghela nafas.

"Puluhan tahun lampau...."

"Kenapa?"

Tayli Lo Ceng menatapnya.

"Aaaakh..."

It Sim Sin N Imenggeleng-gelengkan kepala.

"Aku telah melanggar ajaran Sang Budha, akhirnya...."

"Maukah engkau menuturkan tentang itu?"

Tanya Tayli Lo Ceng.

"Lo Ceng"

It Sim Sin Ni tersenyum getir.

"Itu telah berialu, jadi tidak periu dituturkan lagi."

"Kalau begitu, janganlah kau pikirkan"

"Aku tidak memikirkan, hanya mendadak teringat. Engkau mendesakku menerima wanita muda itu menjadi murid, sebetulnya apa tujuanmu?"

"Tiada tujuan apa pun. cuma... dia memang berjodoh menjadi muridmu."

"Kenapa engkau tidak mau menerimanya menjadi murid?"

"sin Ni"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Sesungguhnya aku sudah mempunyai murid, hanya belum waktunya ditampilkan di rimba persilatan."

It sim sin Ni terbelalak.

"Engkau sudah punya murid? Kenapa engkau merahasiakannya selama ini?"

"Bukan merahasiakan, melainkan tidak mau memberitahukan,"

Ujar Tayli Lo Ceng.

"Kini sudah saatnya aku memberitahukan, maka engkau harus menerima Tan Li cu sebagai murid."

"Karena engkau mempunyai murid, akupun harus menerimanya sebagai murid."

It sim sin Ni tersenyum.

"Mudah-mudahan muridku itu tidak akan menyaingi muridmu"

"Ha ha ha"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Itu tidak akan terjadi."

"Lo Ceng Ceritakan riwayat hidup Tan Li Cu"

Ujar It sim sin Ni.

"Kalau aku yang menceritakan, akan kurang jelas. Lebih baik dia yang menceritakan."

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Ohya"

It sim sin Ni mengerutkan kening.

"Kenapa engkau tidak mau menyadarkannya dengan Iweekangmu?"

"Sin Ni"

Tayli Lo Ceng menggeleng-geleng-ka n kepala.

"Kalau menyadarkannya di tengah jalan, aku pasti repot tidak karuan."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak bisa menghiburnya."

"Apakah aku bisa menghiburnya?"

"Engkau pasti bisa."

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"sebab kalian sesama wanita."

"Nasibnya memang malang...."

It sim sin Ni menghela nafas.

"Kehilangan suami, kehilangan ayah dan anak."

"Aku pantang membunuh. Kalau tidak. pemuda itu pasti sudah mati di tanganku,"

Ujar Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"Begitu pula Tio cie Hiong, karena dia tidak tega membunuh orang, akhirnya dia yang menderita."

"Pemuda itu seharusnya jadi rahib, tapi...."

"Dia ditakdirkan harus mempunyai isteri dan anak. maka tidak boleh menjadi rahib. Walau jalan hidupnya penuh percobaan, tapi dia pasti hidup tenang, damai dan bahagia di kemudian hari. omitohud"

"Lo Ceng"

Wajah It sim sin Ni berubah serius.

"Pikiran Tan Li Cu tergoncang karena mengalami pukulan batin yang begitu hebat. Aku ingin menyadarkannya, tetapi setelah dia sadar, aku khawatir...."

"Dia akan menjadi gila?"

"Ya."

"Engkau harus menyalurkan Kiu Yang sin Kangmu ke dalam tubuhnya, agar dia bisa tenang."

It sim sin Ni manggut-manggut.

"Apabila perlu, engkau juga harus menyalurkan Hud Bun Pan Yok sin Kang ke dalam tubuhnya."

"Tentu."

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Kita harus menolongnya, agar kelak dia bisa menuntut balas."

"Apa?"

It sim sin Ni terbelalak.

"Engkau tidak takut dosa mengatakan begitu?"

"sin Ni"

Tayli Lo Ceng menghela nafas.

"Kalau itu adalah dosa, aku bersedia memikulnya. Tapi engkau harus tahu, Liu siauw Kun berhati iblis. oleh karena itu, dia harus dibasmi melalui tangan Tan Li Cu. Kalau tidak. entah berapa banyak nyawa orang akan melayang di tangannya."

"Lo Ceng"

It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau kita tidak pantang membunuh, kita pula yang akan membasmi mereka."

"Muridku akan mewakiliku, muridmu akan mewakilimu,"

Ujar Tayli Lo Ceng dan menambahkan.

"Mereka harus membantu Tio Cie Hiong membasmi kaum iblis yang berkeliaran dalam rimba persilatan."

"Baik."

It sim sin Ni manggut-manggut.

"Aku pasti mencurahkan perhatianku untuk membimbing Tan Li Cu."

It sim sin Ni bangkit berdiri, lalu mendekati Tan Li Cu yang terbaring di tempat tidur dalam keadaan pingsan.

Kemudian ditempelkannya sebelah tangannya di dada Tan Li Cu, dan setelah itu mulailah ia menyalurkan Kiu Yang sin Kang ke dalam tubuh Tan Li Cu.

Berselang beberapa saat, Tan Li Cu membuka matanya perlahan-lahan, lalu mendadak meloncat bangun sambil berteriak-teriak.

"Ay Lan Anakku Anakku, di mana engkau? Anakku...."

"Tenang"

It sim sin N Imemegang bahunya.

"Biar bagaimana pun engkau harus tenang, tabahkanlah hatimu"

"Anakku Anakku...."

Tan Li cu menangis meraung-raung.

"oooh Anakku...."

"Li Cu, tenanglah"

Ujar It sim sin Ni lembut.

"Liu siauw Kun Aku akan membunuhmu Aku akan membunuhmu"

Teriak Tan Li cu dan tibatiba....

"uaaaakh"

Mulut Tan Li cu menyemburkan darah segar. Cepat-cepat It sim sin Ni memegang lengannya, sekaligus menyalurkan lweekangnya.

"omitohud"

Tayli Lo Ceng juga segera memegang bahu Tan Li cu, lalu menyalurkan lweekangnya.

seketika Tan Li cu berhenti memuntahkan darah.

Berselang sesaat, barulah It sim sin Ni dan Tayli Lo Ceng melepaskan tangan masing-masing.

"Li Cu, mulai saat ini engkau menjadi muridku. Aku pasti menurunkan ilmu tingkat tinggi kepadamu, agar engkau dapat menuntut balas terhadap Liu siauw Kun kelak."

"Guru...."

Tan Li cu langsung berlutut di hadapan It sim sin Ni.

"Terima kasih atas pertolongan Guru...."

"Li Cu"

It sim sin Ni tersenyum lembut.

"Lo Ceng itu yang menolongmu, dan membawamu ke mari."

"Terima kasih atas pertolongan Lo Ceng"

Ucap Tan Li cu sambil berlutut di hadapan Tayli Lo Ceng.

"omitohud Engkau harus belajar dengan sungguh-sungguh, agar bisa menuntut balas kelak omitohud Aku yang mengatakan demikian, biar aku yang memikul dosanya."

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Lo ceng...."

Tan Li cu terisak-isak.

"Bangunlah"

Ujar Tayli Lo Ceng lembut.

"Engkau masih perlu beristirahat."

"Ya, Lo Ceng."

Tan Li Cu mengangguk.

"Li Cu"

It sim sin Ni tersenyum.

"Berbaring-lah di tempat tidur saja"

"Ya, Guru."

Tan Li Cu lalu berbaring di tempat tidur, kemudian menangis sedih.

"Li Cu"

It sim sin Ni membelainya.

"Engkau harus tabah menghadapi kenyataan itu, dan jangan terlampau bersedih"

"Guru...."

Air mata Tan Li Cu berderai-derai.

It sim sin Ni dan Tayli Lo Ceng saling memandang.

Mereka tahu bahwa tidak mudah kesedihan itu sirna dari dalam hati Tan Li cu.

oleh karena itu.

It sim sin Ni dan Tayli Lo Ceng selalu menghiburnya.

Bab 56 Kwan Gwa siang Koay (sepasang siluman luar perbataan) Tang Hai Lo Mo sudah tiba di lembah Tengkorak di luar perbatasan.

Di mulut lembah itu berserakan lengkorak-tengkorak, maka lembah tersebut dinamai lembah Tengkorak.

siapa saja atau binatang apa pun yang memasuki lembah itu, pasti dibunuh.

siapa pembunuhnya?

Tidak lain sepasang siluman, yakni siluman Gemuk dan siluman Kurus.

Kedua siluman itu sangat ditakuti di luar perbatasan.

Para penduduk di sana harus menyediakan berbagai macam makanan dan minuman di mulut lembah itu beberapa hari sekali.

Kalau tidak.

pasti ada penduduk yang dibunuh.

Sementara Tang Hai Lo Mo terus berjalan memasuki lembah itu.

Berselang beberapa saat, mendadak terdengar suara bentakan keras.

"siapa begitu lancang memasuki lembah ini? Apakah mau cari mampus?"

Muncul dua orang tua berusia sembilan puluhan, yang satu tinggi kurus, sedangkan yang satu lagi gemuk pendek.

"siang Koay Apakah kalian tidak mengenalku lagi?"

Tanya Tang Hai Lo Mo sambil tertawa.

"Eh? Engkau.... Tang Hai Lo Mo?"

Tanya siluman Kurus.

"Benar."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Bukan main, kalian berdua masih sehat walafiat"

"Tentu."

Kedua siluman itu tertawa gelak.

"Hei Tang Hai Lo Mo, angin apa yang membawamu ke mari?"

"Angin yang akan menyenangkan kalian berdua,"

Sahut Tang Hai Lo Mo yang juga tertawa gelak.

"Tang Hai Lo Mo Bagaimana keadaan di rimba persilatan Tionggoan? Apakah engkau tergeser sampai ke mari?"

"Tentu tidak."

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Bahkan kami telah mendirikan Bu Tek Pay"

"Partai Tanpa Tanding?"

Siluman Kurus tertegun lalu tertawa terkekeh.

"Kau anggap dirimu sudah tiada tanding?"

"Terhadap yang lain memang begitu, tapi terhadap kalian berdua tidak begitu."

"Wuah"

Siluman Gemuk tertawa terbahak-bahak.

"sejak kapan engkau belajar menepuk pantat orang?"

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Tang Hai Lo Mo Bagaimana keadaan paman gurumu?"

Tanya siluman Kurus mendadak.

"Paman guruku telah meninggal."

"Kami turut berduka cita."

"Siang Koay Aku ke mari ingin berunding dengan kalian,"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Mau berunding apa?"

"Begini"

Tang Hai LoMo memandang mereka seraya memberitahukan.

"Kini Bu Lim sam Mo adalah ketua Bu Tek Pay yang telah menguasai rimba persilatan. Karena itu, aku ingin mengundang kalian berdua untuk hidup senang dalam Bu Tek Pay...."

"Bilang saja ingin minta bantuan kami"

Tandas siluman Gemuk.

"Karena engkau menghadapi musuh tangguh, kan?"

"Bukan."

Tang Hai LoMo menggelengkan kepala "Agar Bu Tek Pay bertambah kuat dan jaya maka kami sangat membutuhkan kehadiran kalian berdua."

"Engkau ingin mengangkat kami sebagai apa dalamBu tek Pay?"

Tanya siluman Kurus.

"Wakil ketua...."

"Kentut"

Bentak siluman Gemuk.

"Engkau, Thian Mo dan Te Mo adalah ketua, maka kalau kami sebagai wakil, sudah barang tentu dibawah perintah kalian. Itu tak usah ya"

"Kalau begitu, kalian berdua menghendaki kedudukan apa?"

"Tidak tertarik.".

"Kalian berdua harus tahu bahwa di Tiong-goan banyak wanita cantik lho Kami akan menyediakan untuk kalian."

Hati sepasang siluman mulai tertarik.

"sudah cukup lama kami tidak bersenang-senang dengan kaum wanita.."

"Pokoknya kami pasti menyediakan wanita-wanita cantik untuk kalian berdua. Sungguh"

"Tapi kedudukan sebagai wakil ketua, itu sangat merendahkan derajad kami,"

Ujar siluman Kurus.

"Tang Hai LoMo Bagaimana kalau kami diangkat sebagai tetua dalam Bu Tek Pay?"

Usul siluman Gemuk.

"Baik Baik"

Tang Hai LoMo mengangguk.

"Kedudukan itu memang sangat pantas untuk kalian berdua."

"Tapi ingat, Engkau harus menyediakan wanita cantik untuk kami"

Tegas siluman Kurus.

"Tentu."

Tang Hai Lo Mo mengangguk girang.

"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang"

"Baiklah."

Sepasang siluman itu tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha..."

Thian Mo, Te Mo, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun menyambut kedatangan mereka dengan penuh kegembiraan.

"Selamat datang siang Koay"

Ucap Thian Mo, Te Mo dan Ang Bin sat sin serentak.

"Ha ha ha"

Kedua siluman itu tertawa.

"Thian Mo, Te Mo Kalian berdua juga sudah menjadi ketua Bu Tek Pay, lalu apa kedudukan Ang Bin sat sin?"

"Kedudukannya sebagai pelindung,"

Sahut Thian Mo memberitahukan.

"Ngmm"

Siang Koay manggut-manggut.

"Bagus Bagus, kini kita berkumpul semua di sini. Ha ha ha..."

"Mari kita duduk siang Koay"

Ucap Tang Hai Lo Mo. Mereka semua duduk, kemudian Tang Hai Lo Mo mengumumkan dengan suara lantang.

"Mulai sekarang, siang Koay sebagai Tetua Bu Tek Pay"

"Kami mengucapkan selamat kepada siang Koay"

Seru Thian Mo, Te Mo dan Ang Bin sat sin serentak.

"Ha ha ha"

Kedua siluman itu tertawa gembira.

"Cepat sediakan makanan dan minuman"

Seru Tang Hai Lo Mo.

seketika para anggota Bu Tek Pay sibuk menyediakan berbagai macam makanan dan minuman.

setelah itu mendadak Thian Mo bertepuk tangan tiga kali, lalu muncullah para pemain musik dan penari yang terdiri dari kaum wanita cantik.

Para pemain musik langsung duduk.

lalu memainkan alat musik masing-masing dan terdengarlah suara musik yang sangat menyedapkan telinga.

Para penari pun mulai menari dengan lemah gemulai.

Kwan Gwa siang Koay memandang para penari dengan mata tak berkedip.

sehingga membuat Bu Lim sam Mo tersenyum-senyum.

"Mari kita bersulang"

Seru Tang Hai Lo Mo sambil tertawa gelak.

"Mari"

Sahut yang lain. Mereka bersulang sambil tertawa terbahak-bahak. Sementara musik terus mengalun merdu, dan para penari pun terus menari sambil melirik genit ke arah Kwan owa siang Koay.

"Hua ha hal"

Kwan Gwa siang Koay tertawa gembira sambil mengedip-ngedipkan mata ke arah para penari.

Entah berapa lama kemudian, Thian Mo bertepuk tangan dua kali.

seketika suara musik langsung berhenti, dan para pemainnya bangkit berdiri "Kalian boleh.

kembali ke tempat masingmasing"

Ujar Thian Mo.

"Eeeh?"

Kwan Gwa siang Koay, kelihatan tidak senang.

"Tenang"

Thian Mo tertawa.

"Mereka berdua sudah siap melayani kalian berdua Ha ha ha"

"oh?"

Kwan Gwa siang Koay saling memandang, kemudian mereka berdua, tertawa terkekehkekeh saking gembiranya.

"siang Koay"

Tang Hai LoMO memberitahukan.

"Kami sudah menangkapBu Lim Ji Khie, ketua Kay Pang, para ketua tujuh partai dan lain-lainnya."

"Bagus"

Siluman Kururs manggut-manggut.

"Kalau begitu Bu Tek Pay yang berkuasa di rimba persilatan."

"Tapi...."

Tang Hai Lo Mo menggeleng-gelengkan kepala "Kita punya seorang musuh tangguh."

"oh?"

Siang Koay mengerutkan kening.

"siapa dia? Apakah It Ceng?"

"It Ceng sudah mati di tangan kami,"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Orang itu masih muda, bernama, Tio Cie Hiong."

"Bagaimana kepandaiannya?"

Tanya siluman Kurus.

"Tinggi sekali, Kami..."

Tutur Tang Hai Lo Mo tentang mereka bertiga pernah dimusnahkan kepandaian mereka oleh Tio Cie Hiong dan lain sebagainya.

Kedua siluman itu mengerutkan kening-"Jadi kekasihnya juga telah kalian, tangkap?"

Tanya siluman Kurus.

"Ya."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Bagus Bagus"

Siluman Gemuk tertawa.

"Itu merupakan senjata kita untuk menghadapi Tio cie Hiong."

"suruh Tio Cie Hong menyerah Kalau tidak kekasihnya dan lain-lainnya akan kita bunuh."

Sahut siluman Gemuk.

"Benar."

Bu Lim sam Mo tertawa girang.

"Kenapa kami tidak berpikir sampai di situ?" (Bersambung ke Bagian 33)

Jilid 33

"Karena kalian sangat goblok,"

Ujar Siluman Gemuk.

"Kalau Tio cie Hiong menyerap perlukah kita membunuhnya?"

Tanya Tang Hai Lo Mo.

"Tidak perlu membunuhnya,"

Jawab siluman Kurus.

"Kita harus membuatnya mati tidak. hidup juga tidak."

"Ngmm"

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

"Dia pernah memusnahkan kepandaian kami, maka kami juga harus memusnahkan kepandaiannya."

"Seluruh urat di tubuhnya harus diputuskan, tulang punggungnya pun harus dipatahkan,"

Ujar Siluman Kurus. Jadi kepandaiannya tidak mungkin bisa pulih lagi."

"Betul."

Tang Hai Lo Mo tertawa, kemudian bertanya kepada Thian Mo dan Te Mo.

"Bagaimana menurut kalian?"

"Memang harus begitu, sebab terlalu enak baginya kalau kita bunuh. Dia harus hidup tersiksa. Ha ha ha"

Thian Mo dan Te Mo tertawa gelak.

"Ohya, Bagaimana keadaan para tawanan kita itu?"

Tanya Siluman Kurus.

"Dalam kondisi lemah."

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Sebab setiap hari mereka diberi minum racun pelemah tubuh."

"Bagus"

Siluman Kurus tertawa.

"Setelah Tio cie Hiong menyerah, kita tidak periu membunuh mereka."

"Punya ide bagus?"

Tanya Tang Hai Lo Mo.

"Tujuh partai besar itu sangat terkenal di Tionggoan. Kalau partai-partai itu di bawah kekuasaan Bu Tek Pay, maka Bu Tek Pay merupakan partai nomor satu dalam rimba persilatan. oleh karena itu, kita lepaskan saja mereka,"

Jawab siluman Kurus.

"Tapi bagaimana kalau mereka berontak kita?"

Sela Ang Bin sat sin.

"Kalau begitu, berarti mereka cari mati,"

Sahut siluman Gemuk dan menambahkan.

"sebelum kita lepaskan, mereka harus menyatakan tunduk kepada Bu Tek Pay. Apabila ada yang berani menentang setelah dilepaskan, maka harus dibunuh."

"Benar."

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut "Jadi Bu Tek Pay merupakan partai nomor satu dalam rimba persilatan, dan partai lain harus di bawah perintah Bu Tek Pay."

"Ha ha ha"

Thian Mo tertawa gelak.

"Itu merupakan sejarah baru dalam rimba persilatan Bu Tek Pay nomor satu dalam rimba persilatan"

"He he he Ha ha ha"

Kwan Gwa siang Koay, Tang Hai Lo Mo, Te Mo dan lainnya juga tertawa terbahak-bahak.

sehingga ruang itu menjadi riuh gemuruh.

sementara di dalam penjara bawah tanah, tampak Bu Lim Ji Khie dan lainnya duduk bersandar pada dinding.

Mereka semua kelihatan lemas dengan wajah muram.

"Tidak disangka sama sekali...."

Sam Gan sin Kay menghela nafas.

"Kita semua akan tertangkap dan dikurungnya di dalam penjara ini."

"Siapa pun tidak menduga kalau kepandaian Bu Lim sam Mo bisa pulih kembali bahkan bertambah tinggi."

Kim siauw suseng menggeleng-gelengkan kepala.

"It Ceng mati di tangan mereka...."

"Ini merupakan kesuraman bagi golongan putih. Bahkan Toan wie Kie dan Toan Pit Lian terbawa-bawa pula. Kalau Toan Hong Ya tahu, pasti marah-marah."

Ujar Lam Kiong Hujin.

"Ayah kami tidak akan marah."

Ujar Toan wie Kie melanjutkan.

"Yang kuherankan malah Cie Hiong, kenapa dia tidak muncul menolong kita?"

"Mungkin Kakak Hiong tidak tahu kalau kita ditangkap pleh Bu Lim Sam Mo,"

Wajah Lim Ceng Im tampak murung.

"Dia pasti cemas sekali."

"omitohud"

Hui Khong Taysu menghela nafas.

"setelah Imsie Hong Mo mati, muncul pula Bu Lim sam Mo...."

"Itulah kesalahan cie Hiong. Kalau tempo hari dia bunuh mereka, tentu tidak akan ada kejadian ini, dan rimba persilatan pun akan aman."

Ujar sam Gan sin Kay.

"Kakek jangan mempersalahkan Kakak Hiong Dia tidak tega membunuh ya bagaimana mungkin memaksakan diri?"

Sahut Lim Ceng Im.

"omitohud"

Hui Khong Taysu menghela nafas lagi.

"semua ini sudah merupakan takdir jadi jangan mempersalahkan cie Hiong."

"Aaaakh..."

Sam Gah sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Lam Hai sin ceng telah mati, Bu Lim Ji Khie setengah mati."

"Pengemis bau, Lam Hai sin ceng sungguh bahagia, sebaliknya kita yang sangat menderita. Dipermalukan oleh Bu Lim sam Mo, rasanya aku ingin bunuh diri"

"Benar."

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"Lam Hai sin Ceng mati secara terhormat, sedangkan kita...."

"Ayah"

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Biar bagaimana cun kita harus sabar. Aku yakin cie Hiong pasti muncul."

"Ha ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa.

"Kita telah dipermalukan dengan cara demikian, tentunya harus bersabar. Kalau kita mati sekarang, berarti sia-sia."

"Benar, pengemis bau,"

Sahut Kim siauw su-seng.

"Kita harus melihat bagaimana kematianBu Lim sam Mo. Karena itu, kita harus hidup,"

"Aku...."

Mata Lim Ceng Im mulai bersimbah air.

"Entah bagaimana keadaan Kakak Hiong dan entah ke mana dia mencariku."

"Tenang Kakak Im"

Gouw sian Eng memegang bahunya.

"Percayalah, dia pasti akan muncul menolong kita"

"Padahal...."

Air mata Lim Ceng Im mulai meleleh.

"Kami sudah mau menikah, tapi...."

"Tenang, Nak"

Lim Peng Hang memegang bahu Lim Ceng Im.

"sabarlah"

"setiap hari kita diberi minum racun hingga badan kita lemah tak bertenaga sama sekali, dan Iweekang tak bisa dihimpun."

Gumam Tui Hun Lojin sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau masih bisa menghimpun Iweekang, aku pasti melawan mereka"

"setan tua"

Tegur sam Gan sin Kay. Jangan cari mati secara sia-sia Kalau kita masih bernafas, berarti kita masih punya kesempatan untuk menuntut balas."

"Benar"

Kim siauw suseng manggut-manggut.

"Kita sudah bersabar sekian lama, kenapa tidak bisa bersabar lagi?"

"Kini yang dapat melawan mereka hanya Tio Cie Hiong. Kita semua tak berguna sama sekali."

Sela Tok Pie sin Wan.

"Walau demikian, paling tidak pun kita bisa membantu Cie Hiong, kan?"

Ujar Lam Kiong Hujin.

"Benar."

Gouw Han Tiong mengangguk.

"Nanti akan kubantai semua para anggota Bu Tek Pay"

"Ayah...."

Gouw sian Eng menghela nafas.

"Kami tidak tahu akan kejadian ini. Kalau tahu, kami pasti tidak akan kembali ke Tionggoan dulu."

"Adik sian Eng"

Toan wie Kie membelainya.

"Jangan menyesali apa pun, kita harus bersyukur karena telah bertemu kakek. ayah dan lainnya di sini"

"Benar."

Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.

"Yang penting kita belum mati, berarti kita masih mempunyai kesempatan untuk menuntut balas."

Mendadak pintu penjara itu terbuka, lalu tampak Liu siauw Kun berjalan masuk dengan dada terangkat.

"Perintah dari ketua Bu Tek Pay, kalian semua harus menghadapnya."

Ujarnya memberitahukan.

Bu Lim Ji Khie dan lainnya saling memandang, kemudian berjalan ke luar mengikuti Liu Tiauw Kun.

Begitu sampai di ruang depan, terkejutlah Bu Lim Ji Khie karena melihat Kwan Gwa siang Koay duduk di situ.

"Celaka!!"

Bisik sam Gan sin Kay pada Kim siauw suseng.

"sepasang siluman itu berada di sini"

"Heran"

Sahut Kim siauw suseng.

"Bagaimana mereka bisa berada di sini?"

"Pasti Bu Lim sam Mo yang mengundang mereka,"

Ujar sam Gan sin Kay dengan suara rendah. Kim siauw suseng manggut-manggut.

"Kini ditambah Kwan Gwa siang Koay, Cie Hiong agak sulit menghadapi mereka semua."

Bu Lim Ji Khie dan lainnya berdiri di tengah-tengah ruangan itu Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay menatap mereka sambil tertawa terbahak-bahak.

"Bu Lim Ji Khie Apa kabar?"

Tanya siluman Kurus mengejek.

"Kalian berdua baik-baik saja, bukan?"

"Tentu,"

Sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa.

"Kukira kalian berdua sudah mampus di lembah Tengkorak, tidak tahunya masih hidup dan berada di sini Ha ha..."

"Pengemis bau"

Siluman Gemuk tersenyum.

"Bagaimana rasanya di dalam penjara?"

"sungguh menyenangkan,"

Sahut sam Gan Sin Kay dan tertawa lagi.

"Karena bisa makan enak dan tidur nyenyak. Hei, siang Koay Kalian berdua menjadi apa di sini?"

"Kami berdua sebagai tetua Bu Tek Pay,"

Sahut siluman Kurus memberitahukan. Kim siauw suseng tertawa gelak.

"Kalau begitu, kalian berdua pasti hidup senang."

"Tentu."

Siluman Kurus tertawa terkekeh-kekeh.

"Kaum wanita di Tionggoan sungguh menyenangkan hati He he he"

"Kalau begitu, kuucapkan selamat kepada kalian berdua"

Sam Gan sin Kay tertawa.

"Terima kasih Terima kasih"

Sahut siluman Gemuk.

"Dengan adanya ucapanmu itu, maka kami akan mengampuni nyawa kalian."

"Wuah"

Kim Siauw Suseng tersenyum.

"Sungguh besar jiwa kalian Sungguh di luar dugaan sekali lagi kami ucapkan terima kasih"

"He he h e"

Kwan Gwa siang Koay tertawa terkekeh-kekeh.

"Bu Lim Ji Khie dan para ketua"

Seru Tang Hai Lo Mo lantang.

"Dengar baik-baik Tidak lama lagi kalian akan dibebaskan, tapi partai kalian di bawah perintah Bu Tek Pay Partai mana yang berani menentang Bu Tek Pay pasti kami basmi"

"Bu Tek Pay adalah partai nomor satu dalam rimba persilatan, maka partai lain harus mematuhi perintah Bu Tek Pay,"

Ujar Thian Mo.

"Partai mana dan siapa pun berani menentang, pasti kami bantai,"

Sambung Te Mo sambil tertawa.

"Kalian semua sudah dengar, kan?"

Siluman Kurus memandang mereka.

"Jadi kalian harus ingat apa yang dikatakan ketiga ketua Bu Tek Pay"

"Kami sudah mendengar,"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Tapi bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan?"

"Pengemis bau Tanyalah"

Siluman Kurus tertawa.

"Kenapa kalian bersedia membebaskan kami?"

Ternyata itulah yang ditanyakan sam Gan sin Kay.

"Ha ha ha"

Siluman Gemuk tertawa gelak.

"Pertanyaan yang bagus Pertanyaan yang bagus...."

"Pengemis bau Kami bersedia membebaskan kalian tentunya ada sebab-sebabnya,"

Sambung siluman Kurus.

"Apa sebabnya?"

Tanya Kim siauw suseng.

"sebab akan kami tukar Tio Cie Hiong dengan kalian,"

Sahut Tang Hai Lo Mo sambil tertawa gelak.

"Apabila dia menyerahkan diri maka kami akan membebaskan kalian semua."

"Tidak"

Teriak Lim Ceng Im.

"Eh? Gadis cantik siapa kau?"

Tanya siluman Kurus.

"Kenapa engkau berteriak-teriak?"

"Dia bernama Lim Ceng Im, putri kesayangan ketua Kay Pang."

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"oooh"

Siluman Kurus manggut-manggut, kemudian menatap Lim Ceng Im seraya berkata.

"Untung kami tidak selera terhadap anak gadis yang belum matang. Kalau kami berselera, kami pasti menyuruhmu melayani kami."

"Jangan menyahut, Nak"

Bisik Lim Peng Hang. Lim Ceng Im terpaksa diam. Padahal gadis itu sudah gusar sekali.

"siang Koay Bagaimana cara kalian akan membuat Tio Cie Hiong menyerah?"

Tanyanya sam Gan sin Kay sambil tertawa.

"Kami mempunyai akal,"

Sahut siluman Kurus.

"sampai waktunya kalian akan mengetahuinya. He he he..."

"Pokoknya pasti sangat memuaskan kalian semua,"

Sambung siluman Gemuk dan menambahkan.

"Jadi kalian semua boleh tenang, karena tidak lama lagi kalian semua akan bebas."

"Terima kasih"

Ucap sam Gan sin Kay dengan hati mendongkol.

"siauw Kun"

Tang Hai LoMo memberi perintah kepadanya.

"Bawa mereka ke penjara lagi"

"Ya, Guru"

Liu Siauw Kun segera membawa mereka kembali ke dalam penjara. Setelah pintu penjara itu ditutup, Lim Ceng Im menangis ter-isak-isak dengan air mata berderai-derai.

"Mereka akan menggunakan akal apa menghadapi Kakak Hiong?"

"Tenang saja, Nak"

Ujar Lim Peng Hang.

"Tentu cie Hiong tidak akan terjebak oleh akal busuk mereka."

"Menurutku...."

Kim siauw suseng menghela nafas.

"Tio Cie Hiong pasti menyerah kepada mereka."

"Kenapa?"

Tanya sam Gan sin Kay sambil mengerutkan kening.

"Karena dia pasti mementingkan kita. Mungkin...."

Kim siauw suseng menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan.

"Dia akan mengorbankan dirinya demi kita semua."

"Tidak Tidak..."

Jerit Lim Ceng Im.

"Tenanglah, Nak"

Lim Peng Hang memegang bahu gadis itu.

"Kita lihat saja bagaimana perkembangan selanjutnya."

"Aaaakh..."

TUi Hun Lojin menarik nafas panjang.

"Tidak disangka rimba persilatan akan dikuasai oleh kaum iblis"

"omitohud"

Ucap Hui Khong Taysu dan menambahkan.

"Itu pertanda kaum iblis akan musnah."

"Musnah kepalamu yang gundul"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Buktinya kita semua dikurung di sini. Bahkan mereka akan menggunakan akal busuk menghadapi Tio Cie Hiong. Engkau kepala gundul malah bilang yang tak masuk akal. Dasar kepala gundul"

"omitohud...."

Hui Khong Taysu menghela nafas.

"omitohud kepalamu gundul"

Sahut sam Gan sin Kay lagi.

"Kita semua boleh dikatakan telah kehilangan Iweekang, tapi engkau...."

"Pengemis bau"

Tegur Kim siauw suseng.

"sudahlah jangan terus berdebat dengan kepala gundul itu Kita harus memikirkan cie Hiong"

"seandainya mereka menyuruh Tio Cie Hiong bunuh diri, apakah dia akan menurut?"

Tanya Lam Kiong Hujin mendadak.

"Haaah..."

Bu Lim Ji Khie tersentak.

"Celaka"

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im mulai menangis lagi.

"Itu... itu...."

Wajah sam Gan sin Kay memucat, sebab ia tahujelas bagaimana sifat Tio Cie Hiong.

Apabila Bu Lim sam Mo menyuruh Tio Cie Hiong membunuh diri, ia yakin Tio Cie Hiong pasti menurut karena demi mereka semua.

"Pengemis bau"

Kim siauw suseng mengerutkan kening.

"Kita harus bagaimana agar cie Hiong tidak menyerah kepada mereka?"

"Tiada jalan lain kecuali...."

Sam Gan sin Kay menghela nafas.

"Kecuali kita semua bunuh diri lebih dulu."

"Benar."

Kim siauw suseng tertawa.

"Mari kita bunuh diri bersama, agar cie Hiong tidak menyerah kepada mereka"

"Gunakanlah akal sehat"

Sela Tui Hun Lojin.

"Kalau Toan wie Kie dan Toan pit Lian juga ikut bunuh diri, apa pula yang akan terjadi atas diri Toan Hong Ya? Dan juga kalau Lim Ceng Im mati, tentu Cie Hiong pun tidak akan hidup lagi, bukan?"

"Ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa.

"sastrawan sialan, kenapa pikiran kita menjadi tidak karuan?"

"Engkau yang memulai, aku cuma ikut-ikutan saja,"

Sahut Kim siauw suseng sambil tersenyum.

"sungguh tak disangka, Bu Lim Ji Khie yang sangat terkenal menjadi begini"

"Takdir Memang sudah merupakan takdir"

Sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Ada benarnya juga apa yang dikatakan Hui Khong kepala gundul itu."

"omitohud Mudah-mudahan ini merupakan takdir yang baik"

Ucap Hui Khong Taysu.

"Kepala gundul Apakah takdir ada yang baik dan ada yang buruk?"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Ya."

Hui Khong Taysu mengangguk.

"Itu tergantung dari perbuatan kita. Kalau kita tidak pernah berbuat dosa, tentu akan memperoleh takdir yang baik."

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"Kalau begitu, apa yang akan terjadi atas diri Cie Hiong, kita semua harus bersabar."

"Bagaimana kalau Kakak Hiong mati? Apakah aku juga harus bersabar?"

Tanya Lim Ceng Im mendadak.

"Itu... itu...."

Sam Gan sin Kay tergagap.

"Omitohud"

Ucap Hui Khong Taysu.

"Tio Cie Hiong tidak pernah membunuh orang, tentunya dia tidak akan mati. Karena Thian (Tuhan) pasti melindunginya."

Sementara itu, Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan lainnya sedang berunding serius, merundingkan bagaimana caranya menghadapi Tio Cie Hiong.

"siang Koay, kita harus menggunakan akal apa untuk menghadapi Tio Cie Hiong?"

Tanya Tang Hai Lo Mo.

"Kita utus seseorang ke markas pusat Kay Pang menemui Tio Cie Hiong,"

Sahut siluman Kurus.

"Memberitahukan kepadanya bahwa kita akan melepaskan Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya, tapi dia harus menyerah pada kita tanpa melawan. Apabila dia berani melawan, maka kita akan membunuh Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya. Nah sudah barang tentu dia tidak akan berani melawan, karena kekasihnya berada di tangan kita."

"Benar."

Tang Hai Lo Mo tertawa gembira.

"Kita suruh dia ke lembah seribu bunga, kita bawa Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya ke sana."

"setelah itu, kita memusnahkan kepandaiannya,"

Sambung Thian Mo sambil tertawa.

"Benar."

Te Mo manggut-manggut dan menambahkan.

"Jangan lupa kita harus mematahkan tulang punggungnya, agar dia hidup tersiksa selama-lamanya. Ha ha..."

"Kami berdua akan menjaga Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya,"

Ujar siluman Kurus.

"Apabila Tio Cie Hiong berani melawan, kami berdua pasti turun tangan membunuh mereka semua."

"Memang harus begitu,"

Sela siluman Gemuk sambil tertawa, kemudian bertanya setengah berbisik.

"Apakah sudah ada wanita cantik menunggu di dalam kamar kami?"

"sudah,"

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Apakah kalian berdua sudah mau bersenang-senang?"

"Kami perlu istirahat,"

Sahut siluman Kurus.

"Baiklah."

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

"siauw Kun, antar kedua Tetua ke kamar masingmasing "

"Ya, Guru."

Liu siauw Kun mengangguk. lalu mengantar Kwan Gwa siang Koay ke kamar.

"Dua buah kamar ini untuk Tetua."

Liu siauw Kun memberitahukan sambil tersenyum.

"Kalau wanita yang di dalam kurang memuaskan, akan diganti dengan wanita lain."

"Ha ha"

Kwan Gwa siang Koay tertawa, lalu memasuki kamar masing-masing dengan wajah berseri.

Liu siauw Kun segera kembali kc ruang depan untuk melapor kepada guru-gurunya, sedangkan Kwan Gwa siang Koay sudah tertawa gembira di dalam kamar masing-masing.

"He h e h e"

Siluman Kurus memandang wanita cantik yang duduk di pinggir ranjang.

"sayangku, sudah lamakah engkau menunggu?"

"Tua bangka"

Sahut wanita cantik itu sambil tersenyum genit.

"Engkau sudah tua renta, apakah masih kuat?"

"Ha ha"

Siluman Kurus tertawa.

"Pokoknya aku masih mampu membuatmu merem melek."

"Jangan cuma omong kosong, tapi buktikan"

Ujar wanita cantik itu sambil tertawa cekikikan.

"Aku akan melayanimu sampai beberapa ronde."

"oh?"

Siluman Kurus duduk di sisi wanita cantik itu "Percayalah Cukup satu ronde engkau sudah terengah-engah."

"oh, ya? Kalau begitu mari kita mulai, tua bangka"

"Tua tapi memuaskan lho"

Siluman Kurus tertawa sambil menggerayangi sekujur tubuh wanita cantik itu.

"Hi h H i"

Wanita cantik itu tertawa geli, lalu balas menggerayangi tubuh siluman Kurus. sesaat kemudian terdengarlah suara mendesis-desis dan rintihan yang tercetus dari mulut wanita cantik itu.

"Auuh Tua bangka Engkau memang hebat.... ouuuh Tapi aku masih kuat beberapa ronde lagi."

"Engkau juga hebat sekali. Aku... aku merasa puas sekali. Ha ha ha..."

Sementara di kamar sebelah juga terdengar suara yang sama.

Bu Lim Sam Mo memang pintar.

Mereka mencari wanita yang berpengalaman dalam bidang tersebut.

Tentunya Kwan Gwa siang Koay sangat puas sehingga mereka berdua betah tinggal di markas Bu Tek Pay.

Bab 57 Utusan Bu Tek Pay Tio Cie Hiong berjalan mondar-mandir di ruang depan markas pusat Kay Pang.

la sedang memikirkan Lim Ceng Im dan lain-Iainnya berada di mana.

setelah Yasuki Nichiba dan Michiko membawa kelima Ninja kembali keJepang, para anggota Kay Pang terus menerus mencari jejak Lim Ceng Im dan lain-Iainnya, tetapi, tiada hasilnya sama sekali.

Itu sungguh membingungkan dan mencemas Tio Cie Hiong.

Di saat bersamaan, muncul sai Pi Lo Kay dengan wajah serius.

"Cie Hiong..."

Panggilnya sambil mengerutkan kening.

"Ada apa, Lo Kay?"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Utusan Bu Tek Pay ke mari ingin bertemu. Apakah engkau bersedia menemui mereka?"

Sai Pi Lo Kay memberitahukan.

"Utusan Bu Tek Pay?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Ya."

Sai Pi Lo Kay mengangguk.

"Mereka bilang ada urusan penting yang harus disampaikan kepadamu."

"Baik,"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"undang mereka masuk"

Sai Pi Lo Kay segera ke luar. Berselang beberapa saat kemudian, pengemis tua itu sudah kembali bersama seorang pemuda dan seorang tua bermuka merah.

"Engkau...."

Tio Cie Hiong tersentak ketika melihat pemuda itu, karena pemuda itu Liu siauw Kun.

"selamat bertemu, Tio Cie Hiong"

Sahut Liu siauw Kun sambil tersenyum.

"Engkau tidak sangka, kan?"

"Jadi engkau utusan dari Bu Tek Pay?"

Tio Cie Hiong menatapnya tajam sekali.

"Benar."

Liu siauw Kun manggut-manggut.

"Ini Ang Bin sat sin, guruku. Ketua Bu Tek Pay mengutus kami ke mari untuk menyampaikan sesuatu kepadamu."

"Apa yang akan disampaikan kepadaku?"

"Mengenai Lim Ceng Im, Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya."

"Lim Ceng Im dan lain-lainnya berada di mana sekarang?"

"Berada di markas Bu Tek Pay."

Ang Bin sat sin memberitahukan.

"Keadaan mereka baik-baik saja, engkau tidak perlu mencemaskan mereka."

"Terima kasih"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Ketua Bu Tek Pay menghendaki agar engkau menyerahkan diri,"

Sahut Ang Bin sat sin.

"setelah itu, ketua Bu Tek Pay akan melepaskan Lim Ceng Im dan lain-lainnya."

"Bagaimana cara aku menyerahkan diri?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Engkau harus ke Lembah seribu Bunga."

Liu siauw Kun memberitahukan.

"Ketua Bu Tek Pay juga akan membawa Lim Ceng Im dan lain-lainnya ke sana."

"Jadi mereka akan ditukarkan dengan diriku?"

"Ha ha ha"

Ang Bin sat sin tertawa.

"Kira-kira begitulah."

"Karena engkau pernah memusnahkan kepandaian mereka, maka mereka pun ingin memusnahkan kepandaianmu."

Tambah Liu siauw Kun.

"Jadi ketua Bu Tek Pay adalah Bu Lim sam Mo?"

"Tidak salah. Ketiga ketua Bu Tek Pay memang Bu Lim sam Mo,"

Sahut Liu siauw Kun dan melanjutkan.

"juga guru-guruku."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kapan aku akan bertemu mereka di Lembah seribu Bunga?"

"Hari ketiga terhitung hari ini,"

Ujar Ang Bin sat sin.

"Kalau engkau tidak ke sana, Lim Ceng Im dan lain-lainnya pasti mati."

"Baik,"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Aku pasti ke sana."

"Kalau begitu, kami mohon diri,"

Ucap Ang Bin sat sin, lalu mengajak Liu siauw Kun pergi. sai Pi Lo Kay mengantar mereka sampai di luar, kemudian kembali ke ruang itu la melihat Tio cie Hiong duduk dengan kening berkerut-kerut.

"cie Hiong"

Panggilnya sambil duduk di hadapan Tio Cie Hiong.

"Bagaimana menurutmu, Lo Kay?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Memang serba salah."

SaiPi Lo Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Mereka menggunakan akal busuk."

"Kalau aku tidak menyerahkan diri kepada Bu Lim sam Mo, Lim Ceng Im dan lain-lainnya pasti mati,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"sebab Bu Lim sam Mo tidak akan mengeluarkan ancaman kosong."

"Benar."

Sai Pi Lo Kay manggut-manggut.

"TapiBu Lim sam Mo pasti memusnahkan kepandaianmu."

"Tidak jadi masalah,"

Ujar Tio cie Hiong sambil tersenyum.

"Sebab dari kecil aku memang tidak mau belajar ilmu silat, maka apabila kepandaianku dimusnahkan, berarti aku akan menjadi orang biasa. Tidak akan pusing lagi memikirkan urusan rimba persilatan."

"Tapi...."

"Lusa aku akan ke sana."

"Bagaimana kalau kami menyertaimu?"

"Tidak usah."

Tio cie Hiong menggelengkan kepala.

"Bu Lim sam Mo menghendaki diriku saja. Kalau kalian ikut, urusan malah akan menjadi runyam."

"Tapi...."

Kening sai Pi Lo Kay berkerut-kerut.

"Itu... itu...."

"Asal bisa menyelamatkan mereka semua, apa pun yang akan terjadi atas diriku sudah tidak jadi masalah lagi."

Tio cie Hiong tersenyum.

"Cie Hiong...."

Sai Pi Lo Kay menatapnya dengan wajah murung.

"Engkau memang pendekar sejati."

"Semua itu akan berlalu."

Tio Cie Hiong tersenyum lagi.

"Yang penting aku harus menyelamatkan mereka semua...."

Tanpa diketahui sai Pi Lo Kay dan para anggota Kay Pang, pagi-pagi sekali Tio Cie Hiong sudah berangkat ke Lembah seribu Bunga, dan sore harinya sudah tiba di tempat itu.

Tampak Bu Lim sam Mo dan lain-lainnya sudah berada di situ.

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Tio Cie Hiong, kita bertemu lagi Apa kabar?"

"Baik-baik saja,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil memandang Lim Ceng Im.

"sam Mo, bolehkah aku menemui Ceng Im?"

"Silakan silakan"

Sahut Thian Mo sambil tertawa. sebelum Tio cie Hiong mendekati Lim Ceng Im, gadis itu sudah berseru-seru dengan air mata bercucuran.

"Kakak Hiong Kakak Hiong...."

"Adik Im"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Akhirnya kita bertemu kembali. Aku... aku girang sekali."

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im langsung mendekap di dadanya.

"Kakak Hiong...."

"Adik Im"

Tio Cie Hiong membelainya lembut.

"Tenanglah Jangan mencemaskan diriku"

"Cie Hiong"

Lim Peng Hang mendekatinya.

"Mereka menyuruhmu menyerahkan diri?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Cie Hiong"

Sam Gan sin Kay juga mendekatinya, begitu pula yang lainnya, mereka mengerumuninya .

"Kakek pengemis"

Tio cie Hiong tersenyum.

"syukurlah semuanya baik-baik saja"

"cie Hiong...."

Kim siauw suseng menggeleng-gelengkan kemala.

"Bu Lim sam Mo akan memusnahkan kepandaianmu?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Engkau setuju?"

Tanya Tui Hun Lojin.

"Tentu."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Aku seorang diri bisa menyelamatkan belasan orang, itu memang berharga...."

"cie Hiong"

Bisik Toan wie Kie.

"Bagaimana kalau kita mengadakan perlawanan?"

"Percuma."

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Karena kalian semua telah terkena racun sehingga kalian kehilangan Iweekang. Lagi cula kedua orang tua renta itu berkepandaian tinggi sekali, kalian semua akan mati di tangannya."

"Mereka berdua adalah Kwan Gwa siang Koay."

Sam Gan sin Kay memberitahukan.

"Kepandaian mereka memang tinggi sekali."

"Cie Hiong...."

Kim siauw suseng menatapnya haru.

"Demi kami semua, engkau yang jadi korban."

"Paman sastrawan"

Tio Cie Hiong tersenyum dan kelihatan tenang sekali.

"Dari dulu aku memang tidak mau belajar ilmu silat, maka tidak menjadi masalah apabila Bu Lim sam Mo memusnahkan kepandaianku."

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im mulai menangis sedih.

"Adik Hiong"

Lam Kiong Bic Liong memegang bahunya, kemudian menghela nafas panjang.

"Aaaakh..."

"Jangan berduka"

Tio Cie Hiong tersenyum lagi.

"Yang penting kalian semua selamat. oh ya, saudara Kie setelah Bu Lim sam Mo melepaskan kalian semua, lebih baik kalian kembali ke Tayli"

"cie Hiong...."

Toan wie Kie menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakak Hiong...."

Gouw sian Eng menatapnya dengan rasa iba.

"Engkau... akan mengorbankan dirimu demi kami semua?"

"Jangan berkata begitu, Adik sian Eng"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Aku cuma akan menjadi orang biasa, dan itu lebih menyenangkan daripada memiliki kepandaian tinggi. selanjutnya aku tidak akan memusingkan urusan rimba persilatan lagi."

"Cukup Cukup, seru Tang Hai Lo Mo.

"Kini sudah waktunya kami memusnahkan kepa ndaianmu"

"Baik."

Tio Cie Hiong mengangguk lalu berjalan menghampiri Bu Lim sam Mo dan berkata.

"Aku harap kalian bertiga harus menepati janji. setelah memusnahkan kepandaianku, kalian haruslah melepaskan mereka"

"Jangan khawatir"

Tang Hai LoMo tertawa.

"Kami pasti menepati janji, bahkan juga akan melepaskanmu."

"Tapi..."

Sela Thian Mo dingin.

"Apabila engkau berani mengerahkan lweekang untuk melawan, Lim Ceng Im dan lain-lainnya pasti mati di tangan Kwan Gwa siang Koay. Maka engkau jangan coba-coba melawan"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Nah, lakukanlah"

Bu Lim sam Mo saling memandang, kemudian mendadak mereka bergerak menotok jalan darah Tio Cie Hiong, dan seketika juga Tio Cie Hiong terkulai lemas "Kakak Hiong..."

Teriak Lim Ceng Im dengan air mata berderai-derai.

"Tenang, Nak"

Lim Peng Hang memegang bahunya.

"Ha ha ha"

Bu Lim sam Mo tertawa gembira. Mereka bertiga lalu memukul Tio Cie Hiong dengan pak Kek sin ciang. Buuk Buuuk Buuuk "Aaaakh..."

Jerit Tio cie Hiong. Badannya terpental belasan depa dengan mulut menyemburkan darah segar.

"Kakak Hiong Kakak Hiong..."

Teriak Lim Ceng Im histeris.

"Kakak Hiong"

"He h e he"

BU Lim sam Mo tertawa terkekeh-kekeh, karena semua urat di tubuh Tio cie Hiong telah putus, dan Tio Cie Hiong terkapar pingsan.

"omitohud omitohud..."

Ucap Hui Khong Taysu sambil menundukkan kepala.

"Diam"

Bentak sam Gan sin Kay.

"itukah yang disebut takdir?"

"omitohud...."

Hui Khong Taysu menghela nafas panjang.

"Adik Hiong...."

Lam Kiong Bie Liong terisak-isak.

Begitu pula Gouw sian Eng, ia menangis sedih dengan air mata bercucuran.

sementara Bu Lim sam Mo mendekati Tio Cie Hiong yang terkapar pingsan itu, lalu mendadak mereka memukul tulang punggungnya.

Plak Plak Plaak "Kakak Hiong Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im langsung jatuh pingsan.

"Kejam sungguh kejam Aku akan mengadu nyawa dengan kalian"

Teriak Tok Pie sin Wan sambil berlari menghampiri Bu Lim sam Mo. sekonyong-konyong Kwan Gwa siang Koay mengayunkan tangan, dan seketika terdengarlah suara jeritan Tok Pie sin wan yang menyayat hati.

"Aaaakh..."

Tok Pie sin wan terkapar dan nyawanya pun sudah melayang.

"Jahanam"

Bentak sam Gan sin Kay.

"Pengemis bau"

Kim siauw suseng sebera memegang lengannya.

"Jangan membuang nyawa sia-sia"

"cie Hiong..."

Keluh sam Gan sin Kay dengan air mata meleleh.

"Habis Habislah sudah"

"He he he"

Bu Lim sam Mo tertawa terkekeh dan puas.

"Nah, kami melepaskan kalian semua termasuk Tio Cie Hiong Kalian boleh bawa dia pergi"

Lam Kiong Bie Liong dan Toan wie Kie segera mendekati Tio Cie Hiong.

Ketika menyaksikan keadaan pemuda itu, air mata mereka meleleh.

sementara Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koa dan lain-lainnya meninggalkan tempat itu sambil tertawa terbahak-bahak.

setelah mereka pergi, para ketua tujuh partai pun berpamit kepada Bu Lim Ji Khie.

"omttohud Kami mohon diri"

"Kalian cepat pergi Cepat pergi"

Bentak Sam Gan sin Kay.

"Cepaaat"

"omitohud...."

Hui Khong Tays u segera meninggalkan tempat itu, begitu pula ketua-ketua partai lain. Lim Ceng Im yang pingsan itu masih belum siuman. Lim Peng Hang menggendongnya dengan penuh kecemasan.

"Jangan disadarkan dulu"

Ujar Kim Siauw Suseng.

"Setelah sampai di markas, barulah kita menyadarkannya."

Lim Peng Hang mengangguk lalu bertanya.

"Bagaimana keadaan Tio Cie Hiong?"

"Mudah-mudahan masih hidup, sahut Kim siauw suseng dengan mata basah.

"Mudah-mudahan dia masih bisa hidup,"

Lam Kiong Bie Liong dan Toan wie Kie membaringkan Tio Cie Hiong ke tempat tidur dengan hati-hati sekali. Badan Tio Cie Hiong lemas seperti tak bertulang dan masih dalam keadaan pingsan.

"Mari kita menyadarkan Ceng Im"

Ujar sam Gan sin Kay, lalu memijit-mijit urat di leher gadis itu. Berselang beberapa saat kemudian, Lim Ceng Im mulai membuka mata dan kemudian berteriakteriak.

"Kakak Hiong Di mana Kakak Hiong? Di mana Kakak Hiong...?"

"Tenang, Nak Dia berada di kamarnya,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Aku mau pergi menengoknya"

Lim Ceng Im langsung berlari ke kamar Tio Cie Hiong.

Bu Lim Ji Khie dan Lim Peng Hang segera mengikutinya.

Tio Cie Hiong terbaring di tempat tidur dengan wajah pucat pias, sama sekali masih belum siuman, bahkan nafasnya lemah sekali.

"Kakak Hiong Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im menangis meraung-raung dengan air mata berderaiderai.

"Adik Ceng Im"

Toan pit Lian memegang bahunya.

"Tenang dan tabahlah Kakak Hiong masih hidup,"

"Pengemis bau Kita harus memberinya obat,"

Ujar Kim siauw suseng.

"Ya."

Sam Gan sin Kay mengangguk.

"Pakailah obat penyembuh luka dalam"

"Di mana obat itu?"

Tanya Kim siauw suseng.

"Di...."

Sam Gan sin Kay bertanya kepada Lim Peng Hang.

"Di mana obat itu?"

Lim Peng Hang cepat-cepat mengambil obat tersebut, lalu diberikan kepada putrinya.

"Beri dia minum obat ini"

Katanya.

"Ya."

Lim Ceng Im mengangguk dengan air mata berlinang-linang, kemudian memasukkan dua butir obat ke mulut Tio cie Hiong.

"sastrawan sialan"

Bisik sam Gan sin Kay.

"Cie Hiong tidak mengerahkan lweekangnya untuk melindungi diri, apakah dia... dia akan hidup?"

"Dia akan hidup,"

Sahut Kim siauw suseng.

"Bu Lim sam Mo tahu dia tidak mengerahkan Iweckang, maka mereka tidak menggunakan tenaga sepenuhnya untuk memukul Cie Hiong, hanya memutuskan semua urat di tubuhnya agar kepandaiannya musnah. Lagi pula.... Cie Hiong pernah makan buah Kiu Yap Ling cEh dan memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang, yang dapat melindungi dirinya."

"Tapi tulang punggungnya telah patah, itu...."

Sam Gan sin Kay menghela nafas panjang.

"Dia akan cacat seumur hidup dan tidak bisa pulih lagi kepandaiannya."

Kim siauw suseng menggeleng-gelengkan kemala.

"Itu tidak jadi masalah, yang penting dia masih hidup,"

Ujar Lim Peng Hang sungguh-sungguh.

"jadi Ceng Im bisa tenang."

"Aaakh..."

Sam Gan sin Kay menarik nafas.

"Kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena di dalam tubuh kita masih mengidap racun, sehingga kita tidak bisa menyadarkan cie Hiong dengan Iweekang."

"Kalau Cie Hiong sudah sadar, dia pasti akan memberitahukan tentang obat pemunah racun itu."

Ujar Kim siauw suseng.

"Mudah-mudahan dia cepat sadar"

Ucap Lim Peng Hang dan menambahkan.

"Yang kita sayangkan adalah kematian Tok Pie sin Wan, yang sia-sia..."

Dua hari kemudian barulah Tio Cie Hiong siuman dari pingsannya, namun sekujur badannya belum bisa bergerak. Walau demikian, Lim Ceng Im dan lainnya tampak berlega hati.

"Kakak Hiong..."

Panggil Lim Ceng Im dengan air mata bercucuran.

"Adik.... Adik Im Apakah aku tidak mati?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Kakak Hiong"

Lim Ceng Im terisak-isak.

"Engkau masih hidup, aku... aku girang sekali."

"syukurlah Kalian semua selamat"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Kakak Hiong, Tok Pie Sin wan...."

Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa dia? Apakah telah dibunuh oleh Kwan Gwa siang Koay?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Ya."

Lim Ceng Im mengangguk.

"Aaakh..."

Tio cie Hiong menghela nafas.

"Kenapa Kwan Gwa siang Koay membunuhnya?"

"Ketika melihat Bu Lim sam Mo menyiksamu, dia tidak tahan dan langsung menyerbu ke arah mereka. Namun Kwan Gwa siang Koay segera turun tangan membunuhnya."

"sungguh kejam Kwan Gwa siang Koay itu...."

"cie Hiong Jangan banyak bicara, lebih baik engkau beristirahat saja"

Sela sam Gan sin Kay.

"Tidak apa-apa, Kakek pengemis"

"cie Hiong...."

Kim siauw suseng menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kepandaian-mu telah musnah, bahkan...."

"Tulang punggungku juga sudah patah, kan?"

Tio Cie Hiong tersenyum getir.

"Aku pasti cacat seumur hidup,..."

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im membelainya.

"Walaupun engkau cacat, aku tetap mencintaimu"

"Benar, ceng Im tetap mencintaimu."

Sela Lim Peng Hang. Bu Lim Ji Khie dan lainnya juga ikut menghibur Tio Cie Hiong, betapa terharunya Tio Cie Hiong, sehingga matanya menjadi basah.

"Aaaakh..."

La menghela nafas panjang.

"Karena aku berkepandaian tinggi, akhirnya menjadi begini...."

"Kakak Hiong, jangan berkata begitu"

Lim Ceng Im terisak-isak lagi.

"Adik Im, bagaimana para ketua tujuh partai?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Mereka sudah pulang ke tempat masing-masing,"

Jawab Lim Ceng Im memberitahukan.

"Syukurlah"

Tio cie Hiong tampak terhibur.

Keadaan dirinya sudah begitu, namun masih memikirkan para ketua tujuh partai.

Hal itu membuat Bu Lim Ji Khie menggeleng-gelengkan kepala.

sejak Tio cie Hiong siuman dari pingsannya, Lim Ceng Im merawatnya dengan penuh perhatian.

walau sudah lewat beberapa hari, sekujur badan Tio cie Hiong tetap tidak bisa bergerak.

Bu Lim Ji Khie, TUi Hun Lojin, Lim Peng Hang dan Lam Kiong Hujin tahu bahwa badan Tio Cie Hiong selamanya tidak akan bisa bergerak.

Namun mereka tetap menghibur Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im, agar mereka berdua tidak putus asa.

Bab 58 Lenyap mendadak Pagi ini di markas pusat Kay Pang digemparkan oleh suara teriakan-teriakan Lim Ceng Im.

Bahkan gadis itu berlari ke sana ke mari.

"Kakak Hiong Kakak Hiong Kakak Hiong..."

Lim ceng Im terus berteriak bagaikan orang gila.

Tentunya kejadian itu sangat mengejutkan semua orang, Bu Lim Ji Khie, TUi Hun Lojin, Lam Kiong Hujin dan lainnya berhambur ke luar dari kamar menghampiri Lim Ceng Im dengan wajah pucat pias.

"Ceng Im Apa yang terjadi? Kenapa Cie Hiong?"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Kakak Hiong lenyap. Kakak Hiong lenyap."

Jawab Lim Ceng Im dengan air mata berderai.

"Bagaimana mungkin bisa lenyap?"

Kim siauw suseng bingung.

"Mari kita periksa kamarnya"

Mereka sebera memeriksa kamar Tio cie Hiong. Memang Tio cie Hiong tidak tampak berbaring di tempat tidur.

"Ceng Im Apa yang telah terjadi?"

Tanya Lim Peng Hang sambil mengerutkan kening.

"Aku memasuki kamar ini ingin menengok Kakak Hiong, tapi..."

Lim Ceng Im terisak-isak.

"Dia... dia sudah lenyap."

"Heran?"

Gumam Kim siauw suseng.

"Tidak mungkin dia bisa pergi begitu saja. Pasti...."

"Mungkinkah dia diculik?"

Tanya Tui Hun Lojin.

"Mungkin."

Sam Gan sin Kay manggut-mang-gut sambil mendekati tempat tidur itu.

Tiba-tiba ia terbelalak karena melihat secarik kertas di sisi dalam tempat tidur itu.

Cepat-cepat ia mengambil kertas tersebut lalu dibacanya dengan suara lantang.

"Kalian jangan cemas, aku yang membawa pergi Tio Cie Hiong, mudah-mudahan dia akan sembuh Kalian harus sabar menunggunya pulang, jangan panik maupun cemas. siarkan berita bahwa Tio Cie Hiong telah mati, dan ingat Jangan menentang Bu Tek Pay, sebab akan mencelakai diri sendiri Bersabarlah"

"Heran siapa yang membawa pergi Cie Hiong?"

Gumam Lim Peng Hang setelah mendengar itu.

"Yang jelas orang itu bermaksud baik,"

Sahut Kim siauw suseng. Jadi kita boleh berlega hati."

"Tapi..."

Lim Ceng Im terisak-isak.

"Keadaan kakak Hiong...."

"Nak. tenanglah"

Ujar Lim Peng Hang.

"Orang yang membawa pergi Cie Hiong itu bertujuan baik, dia ingin menolongnya."

"Kalau begilu..."

Air mata Lim Ceng Im berderai.

"Kenapa orang itu tidak mau menemui kita?"

"Engkau harus tahu, Nak"

Sahut Lim Peng Hang.

"Banyak orang aneh dalam rimba persilatan, mungkin dia tidak menghendaki kita tahu siapa dirinya."

"Ceng Im, Biar bagaimana pun, engkau harus tenang dan sabar Percayalah Tio Cie Hiong pasti muncul kelak dalam keadaan seperti sedia kala."

"Tapi kapan Kakak Hiong akan muncul?"

Lim Ceng Im tampak berduka sekali dan masih terisakisak.

"Lukanya begitu parah, tentu tidak akan begitu cepat sembuh,"

Ujar Kim siauw suseng.

"Mungkin satu dua tahun dia baru bisa sembuh. Mudah-mudahan kepandaiannya bisa pulih"

"Aaakh..."

Lim Ceng Im menghela nafas panjang, kelihatan mulai tenang.

"Ayoh Kita duduk di ruang depan saja"

Ajak sam Gan sin Kay. Mereka menuju ruang depan lalu duduk. Ber-selang beberapa saat kemudian, barulah sam Gan sin Kay membuka mulut.

"Kita harus menuruti pesan orang itu, yakni menyiarkan berita bahwa Tio Cie Hiong telah mati. Tentang Tio cie Hiong dibawa pergi oleh orang misterius itu, jangan sampai para anggota kita mengetahuinya."

"Ya."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Kitapun harus mengadakan suatu upacara, agar pihak Bu Tek Pay bertambah yakin, bahwa Tio Cie Hiong telah mati,"

Ujar Kim siauw suseng.

"Benar."

Tui Hun Lojin manggut-manggut.

"Ini adalah rahasia, kita semua harus menjaga mulut."

"seusai upacara itu..."

Sam Gan sin Kay memandang Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong.

"Kalian harus segera kembali ke Tayli, agar Toan Hong Ya bisa tenang."

"Tapi..."

Lam Kiong Bie Liong mengerutkan kening.

"Memang lebih baik kalian kembali ke Tayli,"

Ujar Kim siauw suseng sungguh-sungguh dan menambahkan.

"Lam Kiong hujinpun harus ikut."

"Itu..."

Lam Kiong hujin tampak ragu.

"Kalian harus tahu, kini rimba persilatan telah dikuasai Bu Tek Pay.Jadi lebih aman Lam Kiong hujin ke Tayli saja."

"Itu..."

Kening Lam Kiong hujin berkerut-kerut.

"Ibu"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Lebih baik ibu ikut ke Tayli, tidak baik hidup seorang diri di sini."

"Baiklah."

Lam Kiong hujin manggut-manggut.

"Nah"

Sam Gan sin Kay memandang Tui Hun Lojin.

"setan tua, bagaimana engkau? Masih mau tinggal di sini atau ikut ke Tayli?"

"Ha ha ha"

Tui Hun Lojin tertawa gelak.

"Tentu aku akan tinggal di sini hingga Cie Hiong muncul."

"Jadi kakek akan tetap di sini?"

Tanya Gouw sian Eng.

"Ya."

Tui Hun Lojin mengangguk pasti.

"Kalau begitu..."

Gouw sian Eng memandang Gouw Han Tiong.

"Ayah akan ikut ke Tayli?"

"Nak"

Gouw Han Tiong tersenyum.

"Ayah juga akan tetap tinggal di sini. engkau adalah isteri Toan wie Kie, tentu harus pulang ke Tayli."

"Ayah..."

Mata Gouw sian Eng mulai basah.

"Nak"

Gouw Han Tiong tersenyum lagi.

"Ayah akan aman di sini, percayalah"

"Adik sian Eng"

Ujar Toan wie Kie lembut.

"Jangan mendesak ayahmu, tidak mungkin ayahmu mau ikut ke Tayli"

"Aaakh..."

Keluh Gouw sian Eng.

"Kapan Ayah dan Kakek akan ke Tayli?"

"Kalau Cie Hiong sudah muncul, ayah dan kakekmu pasti ke Tayli memberitahu kalian,"

Sahut Gouw Han Tiong dan menambahkan.

"ingat, kalian jangan ke mari sebelum rimba persilatan di sini aman"

"Ya, Ayah."

Gouw sian Eng mengangguk. Mendadak muncul sai Pi Lo Kay. la memberi hormat kepada Lim Peng Hang, Bu Lim Ji Khie dan lainnya lalu melapor.

"Lapar pada ketua dan Tetua, Kiu ci Cui Kay telah mati...."

"Apa?"

Lim Peng Hang terkejut.

"Kapan dia mati?"

Sanpi Lo Kay memberitahukan. Lim Peng Hang memandang Lim Ceng Im seraya bertanya.

"Kenapa engkau tidak memberitahukan kepada ayah?"

"Ketika itu kita dikurung di markas Bu Tek Pay, maka kalau aku beritahukan, bukankah ayah akan bertambah berduka?"

Sahut Lim Ceng Im. Lim Peng Hang diam saja dengan wajah murung, sedangkan sai Pi Lo Kay memberitahukan lagi.

"Tio Cie Hiong pernah bertemu dengan sepasang pendekar dari Jepang, kemudian muncul beberapa Ninja dari Jepang..."

Tutur sai Pi Lo Kay tentang itu. Lim Peng Hang manggut-manggut, tidak berkomentar apa pun. setelah melapor, sai Pi Lo Kay segera pergi dan suasana di ruang itujadi hening sekali.

"Aku masih tidak habis pikir, sebenarnya siapa yang membawa pergi Tio Cie Hiong?"

Gumam Kim siauw suseng.

"Aku yakin orang itu pasti kenal Tio Cie Hiong."

"siapa orang itu tidak usah dipikirkan"

Tandas sam Gan sin Kay.

"Kita akan mengetahuinya kelak."

"Entah kapan Kakak Hiong akan muncul...?"

Lim Ceng Im terisak-isak.

"Kakak Hiong begitu baik hati, tapi kenapa...."-t "Nak"

Sahut Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang.

"orang yang baik hati, memang banyak percobaan. oleh karena itu, engkau harus tabah dan tenang. Percayalah Dia pasti kembali ke sini kelak."

"Kakak Hiong..."

Air mata Lim Ceng Im berderai-derai lagi.

sebetulnya siapa yang membawa pergi Tio Cie Hiong, dan benarkah orang itu bermaksud menolongnya?

seorang padri tua menggendong Tio Cie Hiong melesat ke puncak -Gunung Thian san.

Padri tua itu tidak lain Tayli Lo ceng.

Ternyata orang yang membawa pergi Tio Cie Hiong adalah padri tua itu.

Ketika hampir mencapai puncak Gunung Thian San, mendadak dari kejauhan tampak sosok bayangan putih berkelebat ke arahnya, dan terdengariah suara cuit-cuitan yang sangat nyaring.

"omitohud"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Monyet sakti itu sudah muncul"

Tak seberapa lama, muncullah monyet berbulu putih di hadapan Tayli Lo Ceng, dan menatapnya dengan tajam.

"Monyet sakti Majikanmu teriuka parah. Aku membawanya ke mari agar engkau mengobatinya ."

Monyet putih memandang Tio Cie Hiong yang masih di punggung Tayli Lo Ceng, kemudian bercuit-cuit lemah seakan mengeluh menyaksikan keadaan pemuda itu.

"Kauw heng..."

Panggil Tio Cie Hiong. Monyet berbulu putih itu bercuit-cuit lagi di hadapan Tayli Lo Ceng. Sikapnya membuat padri tua berpikir. Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Engkau menyuruhku menaruh Tio Cie Hiong ke bawah?"

Monyet putih mengangguk. Tayli Lo Ceng tersenyum lembut seraya berkata.

"Monyet sakti, engkau harus baik-baik merawat majikanmu ini Mudah-mudahan dia akan sembuh"

Monyet putih bercuit-cuit lagi, kemudian Tay-li Lo Ceng menaruh Tio Cie Hiong kebawah.

"Monyet sakti, kuserahkan Tio Cie Hiong kepadamu, rawatlah baik-baik"

Pesan Tayli Lo Ceng. Monyet putih manggut-manggut, lalu memegang tangan Tio Cie Hiong erat-erat.

"Kauw heng, engkau mau membawaku ke goa itu?"

Tanya Tio Cie Hiong. Monyet putih mengangguk sambil bercuit-cuit dan, Tio Cie Hiong cuma tersenyum getir.

"Lo Ceng-."

"Tenanglah Dua tahun kemudian engkau pasti akan bertemu kembali dengan Lim Ceng Im,"

Ujar Tayli Lo Ceng dan menambahkan.

"Aku yakin monyet sakti ini dapat mengobati sakitmu."

"Terima kasih, Lo Ceng"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Cie Hiong"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Kita akan berjumpa lagi kelak."

Tayli Lo Ceng melesat pergi, menuju Gunung Hong Lay san. Tio Cie Hiong memandang monyet putih, kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata dengan suara lemah.

"Kauw heng, sekujur badanku tidak bisa bergerak. bagaimana mungkin bisa ke goa itu?"

Monyet putih bercuit-cuit sambil mengangkat tangannya. Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Engkau ingin menarikku ke goa itu?"

Monyet putih mengangguk.

lalu menarik Tio Cie Hiong.

Bukan main, monyet itu mampu menarik Tio Cie Hiong, bahkan sangat cepat larinya.

Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di goa tersebut.

Monyet bulu putih membaringkan Tio Cie Hiong, lalu melesat pergi lagi.

Beberapa saat kemudian, monyet itu sudah kembali dengan membawa buah-buahan aneh.

Buah-buahan itu sebesar jempol jari, bentuknya bulat tapi dalamnya berisi cairan.

Monyet bulu putih memasukkan sebiji buah itu ke mulut Tio Cie Hiong.

Kemudian Tio Cie Hiong mengunyahnya dan cairan yang di dalam buah itu mengalir ke dalam tenggorokan.

Rasanya pahit sekali, sehingga kening Tio Cie Hiong berkerut-kerut.

Monyet putih bercuit-cuit kelihatan gembira, lalu menaruh sisa-sisa buah tersebut di atas batu.

Tak lama setelah cairan itu masuk ke dalam tenggorokannya, sekujur badan Tio Cie Hiong terasa panas.

Tiba-tiba monyet bulu putih menarik Tio Cie Hiong ke atas batu yang sangat dingin, dan Tio cie Hiong lalu telentang di situ.

Berselang sesaat, tubuh Tio Cie Hiong mulai menggigil.

Cepat-cepat monyet bulu putih memasukkan sebiji buah tersebut ke mulutnya lagi, lalu bercuit-cuit seakan memberilahukan kepada Tio Cie Hiong, bahwa ia sedang mengobatinya.

"Terima kasih, Kauw heng"

Ucap Tio Cie Hiong terharu. Tayli Lo Ceng. It Sim sin Ni dan Tan Li cu duduk berhadap-hadapan. sepasang mata Tan Li Cu agak membengkak sepertinya habis menangis.

"Lo Ceng"

It sim Sin NI menatapnya.

"Engkau yakin monyet sakti itu dapat mengobati Tio Cie Hiong?"

"Sin Ni"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Kalau aku tidak yakin, bagaimana mungkin aku membawanya ke sana?"

"Tapi..."

It Sim Sin NI menghela nafas.

"Monyet sakti itu adalah hewan...."

"Walau hewan, dia jauh lebih pintar daripada kita,"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"semua urat dalam tubuh Tio Cie Hiong telah putus, bahkan tulang punggungnya juga telah patah. Bagaimana mungkin cie Hiong akan sembuh?"

It Sim Sin Ni menggeleng-gelengkan kepala.

"Terus terang, aku berharap dia bisa sembuh dan tidak cacat seumur hidup, tapi tidak berharap kepandaiannya bisa pulih."

Ujar Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh.

"Lho? Kenapa?"

"Karena tulang punggungnya telah patah, jadi bagaimana mungkin kepandaiannya bisa pulih?"

It Sim Sin Ni manggut-manggut.

"Kalau pun sembuh, dia tetap cacat, kan?"

"Kira-kira begitulah."

Tayli Lo Ceng menghela nafas.

"Kecuali...."

"Kecuali apa?"

"Kecuali dia berjodoh makan buah Kiu Yap Ling che lagi."

Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"Tapi... itu tidak mungkin."

"Lo Ceng Kakak Hiong berhati bajik dan selalu berbuat kebaikan, maka aku percaya dia akan berjodoh makan buah Ling che lagi."

Seru Tan Li cu. (Bersambung ke bagian 34)

Jilid 34

"omitohud Mudah-mudahan masih ada pohon itu yang berbuah"

Sahut padri tua dan menambahkan.

"Apabila dia berjodoh makan buah Kiu Yap Ling che lagi, kepandaiannya pasti pulih."

"Lo ceng Jadi kini rimba persilatan telah dikuasai Bu Tek Pay yang dipimpin Bu Lim Sam Mo?"

Tanya It Sim Sin Ni.

"Ya."

Tayli Lo ceng mengangguk.

"Bahkan Kwan Gwa Siang Koay juga telah diangkat sebagai Tetua di sana."

"Apakah sepasang siluman itu masih hidup?"

It Sim Sin Ni tersentak.

"Kita masih hidup, tentunya mereka pun hidup."

Tayli Lo ceng tertawa.

"Memang cuma kita yang panjang umur?"

"Lo ceng Bagaimana kepandaian Kwan Gwa Siang Koay?"

Tanya Tan Li cu.

"Tinggi sekali,"

Jawab Tayli Lo ceng memberitahukan.

"Mereka berdua memiliki ilmu Tok Im ciang yang sangat beracun."

"Kalau begitu..."

Tan Li cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Siapa yang mampu melawan Bu Lim Sam Mo dan Kwan Gwa Siang Koay?"

"Makanya engkau harus tekun belajar Kiu Yang Sin Kang,"

Ujar Tayli Lo ceng sambil memandang It Sim Sin N i.

"Apakah engkau telah memberikannya Kim Yang Tan (Pil Emas Ya Mujarab)?"

"Tentu."

It Sim Sin Ni mengangguk.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin dia akan berhasil mempelajari Kiu Yang sin Kang?"

"Bagus"

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Kalau begitu, dua tahun lagi dia sudah boleh memuncul di rimba persilatan."

"Benar"

It sim sin Ni tersenyum.

"oh ya, kapan muridmu akan memuncul di rimba persilatan?"

"juga harus menunggu dua tahun lagi."

"Tapi..."

It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala.

"seandainya muridku bergabung dengan muridmu pun belum tentu mampu melawan Bu Lim sam Mo."

"Muridmu cuma melawan Liu siauw Kun, sedangkan kita terpaksa melawan Bu Lim sam Mo."

"Lalu siapa yang akan melawan Kwan Gwa siang Koay?"

"sin Ni"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Itu urusan nanti, jadi tidak perlu dibicarakan sekarang. Apabila kepandaian Tio Cie Hiong pulih, semuanya pasti akan beres."

"Tapi..."

It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala.

"Mungkinkah kepandaian Tio Cie Hiong akan pulih?"

"omitohud"

Ucap Tayli Lo Ceng.

"Mudah-mudahan"

Berita tentang kematian Tio Cie Hiong sungguh mendukakan para ketua tujuh partai dan kaum Bu Lim lainnya.

sebaliknya malah sangat menggembirakan golongan hitam.

Para ketua tujuh partai menghadiri upacara pemakaman, dan hadir pula kaum Bu Lim lainnya.

seusai upacara itu, para ketua tujuh partai menuju markas pusat Kay Pang, kemudian duduk di ruang depan.

"omitohud"

Wajah Hui Khong Taysu tampak murung sekali.

"Tak disangka Tio Cie Hiong akan mati...."

"Kepala gundul"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Mungkin itu merupakan takdir."

"omitohud...."

"Aku sama sekali tidak menyangka, Tio Cie Hiong..."

It Hian Tojin menghela nafas panjang.

"Yaah"

Kim siauw suseng menggeleng-gelengkan kepala.

"Memang sudah nasibnya"

"omitohud"

Hui Khong Taysu memandang sam Gan sin Kay.

"Jaga baik-baik Ceng Im, jangan sampai dia mengambil jalan pendek"

"Tentu."

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"ohya, apakah racun yang mengidap dalam tubuh kalian telah punah?"

"Belum."

Hui Khong Taysu menghela nafas.

"Mungkin selamanya kita akan kehilangan lweekang."

"sungguh keterlaluan Bu Lim sam Mo itu"

Ujar Hui Liong sin Kiam, ketua partai Hwa san.

"Mereka melepaskan kita, tapi tidak memberikan obat pemunah racun itu."

"Bukan hanya keterlaluan, bahkanBu Lim sam Mo pun kejam sekali."

Wie Hian cinjin menghela nafas.

"Mereka bilang hanya memusnahkan kepandaian Tio Cie Hiong, namun buktinya Tio cie Hiong telah mati."

Mereka bercakap-cakap dengan wajah murung, setelah itu para ketua tujuh partai berpamit.

Berselang beberapa saat, muncullah Lim ceng im, Lam Kiong Bie Liong, Toan wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng, yang semuanya tampak murung.

"Ayah"

Ujar Gouw sian Eng memberitahukan pada Gouw HanTiong.

"Kami sudah berunding, besok pagi akan berangkat ke Tayli."

"Baiklah."

Gouw Han Tiong manggut-manggut dan berpesan.

"Kalian harus hati-hati"

"Ya, Ayah."

"Mudah-mudahan tak ada gangguan dalam perjalanan,"

Ujar sam Gan sin Kay.

"Karena kalian kembali ke Tayli, sedangkan Bu Tek Pay telah menguasai rimba persilatan, tentunya tidak akan mengganggu kalian."

"Benar."

Kim siauw suseng manggut-manggut.

"Ayah..."

Bisik Gouw sian Eng.

"Apabila Kakak Hiong telah muncul kelak. tolong beritahukan kepada kami"

"Ng"

Gouw Han Tiong mengangguk.

"ingat, sebelum rimba persilatan Tionggoan aman, kalian jangan ke mari"

"Ya, Ayah."

Gouw sian Eng mengangguk.

"sampaikan salam kami kepada Toan Hong Ya dan hujin"

Pesan Gouw Han Tiong. Gouw sian Eng mengangguk lagi, kemudian mendekati Lim Ceng Im yang menangis terisak-isak.

"Kakak Im, jangan menangis Kakak Hiong pasti kembali kelak"

Ujar Gouw sian Eng menghiburnya .

"Adik Sian Eng"

Lim Ceng im menatapnya dengan air berlinang-linang.

"Kalian sungguh bahagia, tak pernah mengalami suatu apa pun. sebaliknya aku dan Kakak Hiong selalu mengalami percobaan-percobaan berat."

"Kakak Im"

Gouw sian Eng tersenyum.

"setelah Kakak Hiong kembali kelak, kalian pasti hidup bahagia."

"siapa tahu akan muncul percobaan berat lagi"

Lim Ceng im menghela nafas panjang.

"Tidak mungkin. sebab kali ini merupakan percobaan yang paling berat. Apabila Cie Hiong kembali, berarti sudah tidak ada percobaan lagi. Percayalah"

Sela Toan pit Lian. Lim Ceng Im mengangguk.

"Aaaakh Kakak Hiong...."

Kino markas Bu Tek Pay yang terletak di dalam goa sudah bukan merupakan tempat rahasia lagi.

Banyak golongan hitam bergabung dengan partai tersebut, sehingga membuat Bu Tek Pay semakin kuat.

Ketika mendengar berita tentang kematian Tio Cie Hiong, Bu Lim sam Mo, Ang Bin sat sin, Kwan Gwa siang Koay dan Liu siauw Run terus tertawa gembira.

"Ha ha ha Ha ha ha..."

Seusai tertawa, Tang Hai Lo Mo pun berkata.

"Tidak disangka Tio cie Hiong akan mati, seharusnya dia hidup tersiksa"

"Benar."

Thian Mo manggut-manggut.

"Kita bermaksud membuatnya cacat seumur hidup, tapi dia malah mati."

"Kini siapa yang mampu melawan kita? He he he"

Te Mo tertawa terkekeh.

"Bu Tek Pay telah berkuasa di rimba persilatan, ini merupakan sejarah baru."

"Ada baiknya juga Tio Cie Hiong mati, itulah contoh bagi kaumBu Lim yang berani menentang kita,"

Ujar siluman Kurus.

"Tidak salah,"

Sahut siluman Gemuk sambil tertawa gembira.

"ohya, menurutku alangkah baiknya kita undang ketua tujuh partai ke mari, termasuk Partai Pengemis."

"Untuk apa mengundang mereka ke mari?"

Tanya siluman Kurus.

"Bukankah tubuh mereka masih mengidap racun?"

Siluman Gemuk balik bertanya sambil memandang Bu Lim sam Mo.

"Betul."

Tang Hai LoMo mengangguk.

"Apakah engkau punya suatu ide?"

Siluman Gemuk mengangguk.

"setelah kita undang ke mari, mereka kita beri obat pemunah racun itu. Tapi mereka semua harus di bawah perintah Bu Tek Pay, Kalau mereka berani menentang, habiskan saja"

"Benar."

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Artinya Bu Tek Pay memperlihatkan kekuatan."

"Kalau tujuh partai besar berikut Kay Pang berada di bawah kekuasaan Bu Tek Pay, berarti Bu Tek Pay sebagai partai nomor satu dalam rimba persilatan, partai yang paling jaya masa kini dan selanjutnya,"

Ujar siluman Gemuk.

"Tentunya merupakan sejarah baru yang tak terlupakan di rimba persilatan."

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Baiklah. Kalau begitu kapan kita undang partai-partai itu?"

"sepuluh hari kemudian. sebab kita harus ada persiapan untuk menyelenggarakan berbagai acara."

Jawab siluman Gemuk.

"Acara apa?"

Tanya Thian Mo.

"Tari-tarian dan lain sebagainya. Menyenangkan, kan?"

Sahut Siluman Gemuk sambil tertawa terkekeh.

"siapa yang tertarik, boleh menjadi anggota Bu Tek Pay."

"Benar."

Siluman Kurus tertawa gembira.

"Ha ha ha..."

Bu Lim sam Mo dan lainnya juga ikut tertawa, sehingga terdengarlah suara yang riuh gemuruh.

sepuluh hari kemudian, tujuh partai besar berikut Kay Pang telah menerima kartu undangan dari Bu Tek Pay, bahwa pada tanggal lima belas, para ketua harus hadir di markas partai tersebut.

"Heran?"

Sam Gan sin Kay mengerutkan kening.

"Karena Bu Tek Pay mengundang semua ketua partai?"

"Tidak mungkinBu Tek Pay akan membunuh kita. Kupikir...,"

Ujar Kim siauw suseng.

"TentuBu Lim sam Mo ingin mengumumkan sesuatu."

"Apa yang akan mereka umumkan?"

Tanya Tul Hun Lojin.

"Mana tahu?"

Sahut Kim siauw suseng.

"Tapi tidak apa-apa, kita hadir saja Kalau tidak. kita semua malah akan celaka."

"Tidak disangka..."

LimPeng Hang menghela nafas panjang.

"Kay Pang dan tujuh partai besar akan menjadi begini."

"Hm"

Dengus sam Gan sin Kay.

"Kejayaan Bu Tek Pay tidak akan bertahan lama, percayalah Namun untuk sementara ini, kita harus bersabar hingga Tio Cie Hiong muncul."

"Pengemis bau"

Kim siauw suseng menatapnya.

"Apakah engkau yakin Tio Cie Hiong akan kembali tanpa cacat?"

"Terus terang, aku berfirasat, kepandaian Tio cie Hiong akan pulih seperti sedia kata."

Sahut sam Gan sin Kay.

"Pengemis bau"

Tui Hun Lojin memandangnya dengan mata tak berkedip.

"Bagaimana engkau bisa berfirasat begitu?"

"Entahlah."

Sam Gan sin Kay menggelengkan kepala.

"Tapi aku masih ingat akan pesan tertulis dari orang yang membawa pergi Tio Cie Hiong. Bukankah kita di suruh bersabar? Nah, orang itu pasti bisa menyembuhkan Tio Cie Hiong."

"Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya juga."

Tui Hun Lojin manggut-manggut.

"Hanya saja kita tidak bisa menduga siapa orang itu."

"Jadi Kakak Hiong pasti akan kembali?"

Tanya Lim Ceng Im agak tenang.

"Ya."

Sam Gan sin Kay mengangguk.

"Karena itu, engkau harus tabah, tenang dan sabar."

"Kakek Bolehkah aku ikut ke markas Bu Tek Pay?"

Tanya Lim Ceng Im lagi.

"Jangan"

Sam Gan sin Kay menggelengkan kepala.

"Engkau harus tetap di sini, tidak boleh ke mana-mana."

"Ya."

Lim Ceng Im mengangguk.

"Nak"

Lim Peng Hang memandang putrinya.

"Berjanjilah engkau tidak akan ke mana-mana"

"Ya. Ayah. Aku tidak akan ke mana-mana, ayah harus percaya"

Ujar Lim Ceng Im berjanji.

Lim Peng Hang manggut-manggut.

Pada tanggal lima belas, Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, para ketua tujuh partai dan kaum golongan hitam telah hadir di markas Bu Tek Pay.

Beberapa anggota Bu Tek Pay tampak sibuk menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Bu Lim Sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Ang Bin Sat Sin dan Liu Siauw Kun berjalan ke luar lalu duduk.

"Selamat datang Selamat datang"

Ucap Tang Hai Lo Mo sambil tertawa terbahak-bahak. Para hadirin diam saja, karena tidak tahu harus mengucapkan apa. Setelah usai tertawa, Tang Hai Lo Mo berkata lagi dengan suara lantang.

"Hari ini kami mengundang kalian semua ke mari, karena kami ingin memberitahukan sesuatu"

Lanjut Tang Hai Lo Mo dengan wajah berubah serius.

"Yaitu pada hari ini kami akan memberikan obat penawar racun"

Mendengar ucapan itu, Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya saling memandang, karena merupakan hal yang sungguh di luar dugaan.

"siauw Kun"

Ujar Tang IHai Lo Mo.

"Berilah mereka obat penawar racun"

"Ya, Guru,"

Sahut Liu Siauw Kun sambil memberi hormat, kemudian mulai membagi-bagikan obat penawar racun kepada Bu Lim Ji Khie dan lainnya.

Setelah mem-bagi-bagikan obat penawar racun, Liu Siauw Kun kembali duduk dengan sikap angkuh.

"Terima kasih, ketua Bu Tek Pay"

UcapBu Lim Ji Khie dan lain-lainnya.

"Ha ha ha"

Tang IHai Lo Mo tertawa gelakl "Setelah kalian makan obat itu, lweekang kalian akan pulih seperti semula."

"Terima kasih"

Ucap Sam Gan Sin Kay dan bertanya.

"Sebetulnya ada apa kalian mengundang kami ke mari?"

"sudah pasti ada sebabnya,"

Sahut Thian Mo.

"Dapatkah dijelaskan?"

Tanya Kim siauw su-seng.

"Kami mengundang kalian ke mari, karena kami ingin memberikan obat penawar racun untuk kalian, dan itu telah kami laksanakan."

Sahut Te Mo.

"Terima kasih"

Ucap Kim siauw suseng.

"Tentunya bukan khusus untuk itu, pasti masih ada urusan lain."

"Betul."

Tang Hai Lo MO manggut-manggut.

"Apa urusan itu?"

Tanya sam Gan sin Kay.

"HahahaHahaha"

Siluman Gemuk tertawa gelak.

"Mulai hari ini, Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya harus di bawah kekuasaan Bu Tek Pay."

"siapa yang berani menentang, pasti kami basmi"

Sambung siluman Kurus sambil tertawa dingin.

"Bagaimana? Kalian setuju?"

Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, kemudian mereka memandang para ketua tujuh partai sambil memberi isyarat. setelah itu, mereka menyahut serentak.

"setuju."

"Bagus Bagus"

Siluman Kurus tertawa.

"Kalian memang tahu diri. Kalau tidak. pasti kalian pasti musnah."

"Mulai hari ini Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya harus di bawah perintah Bu Tek Pay. Partai mana berani membangkang, pasti dibasmi."

Sambung siluman Gemuk. Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya gusar sekali dalam hati, namun mereka tetap bersabar.

"Kamipun sudah tahu...,"

Ujar Tang Hai Lo Mo sambil memandang Bu Lim Ji Khie.

"Lam Kiong hujin, Lam Kiong Bie Liong, Toan wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng telah berangkat ke Tayli. Karena itu, kami mengutus seseorang untuk menyusul mereka."

"Apa?"

Sam Gan sin Kay tersentak.

"Kalian mengutus seseorang untuk mencelakai mereka?"

"Tentu tidak,"

Sahut Tang Hai Lo Mo sambil tertawa.

"Kami mengutus seseorang untuk menyerahkan obat penawar racun kepada mereka. Kalau tidak, bagaimana mungkin Iweekang mereka bisa pulih?"

"oooh"

Sam Gan sin Kay menarik nafas lega.

"ohya"

Tang Hai Lo Mo menatap sam Gan sin Kay seraya berkata.

"semua markas besar Kay Pang harus diserahkan kepada Bu Tek Pay, dan para anggota Kay Pang di sana dipindahkan ke markas pusat saja"

"Apa?"

Sam Gan sin Kay terbelalak.

"Karena markas cabang Kay Pang akan kamijadikan markas cabang Bu Tek Pay. sin Kay, engkau tidak setuju?"

"Kami harus berunding sebentar,"

Sahut sam Gan sin Kay, lalu bertanya kepada Lim Peng Hang.

"Bagaimana? Engkau bersedia menyerahkan semua markas cabang Kay Pang kepada Bu Tek Pay?"

"Tidak apa-apa,"

Jawab Lim Peng Hang.

"Kita serahkan saja"

"Baiklah."

Sam Gan sin Kay memandang Tang Hai Lo Mo.

"Dalam waktu tiga hari, kami pasti mengosongkan semua markas cabang Kay Pang."

"Terima kasih atas pengertianmu"

Ucap Tang Hai Lo Mo sambil tertawa gembira.

"Ha ha ha Mulai hari ini, Bu Tek Pay sebagai partai nomor satu di rimba persilatan, sekaligus sebagai pemimpin rimba persilatan pula "

"HidupBu Tek Pay Hidup Bu Tek Pay Hidup Bu Tek Pay..."

Seru para anggota sambil bertepuktepuk tangan, sehingga ruangan itujadi riuh gemuruh.

"Ha ha ha He he he"

Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Ang Bin sat sin, dan Liu siauw Kun terus tertawa terbahak-bahak.

"Acara yang mengasyikkan akan sebera dimulai."

Ujar Tang Hai LoMo dengan suara lantang, kemudian bertepuk tangan tiga kali.

Kemudian muncullah para pemain musik dan para penari yang terdiri dari kaum wanita cantik.

setelah mereka memberi hormat, para pemain musik lalu duduk dan tak lama terdengarlah suara musik yang sungguh menggetarkan kalbu.

Para penari pun mulai menari lemah gemulai.

Bukan main Mereka mengenakan pakaian yang tembus pandang.

Apalagi ketika menggoyang-goyangkan pinggul, mereka tampak merangsang sekali.

Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tarian itu, sedangkan para anggota Bu Tek Pay bersorak sorai penuh kegembiraan.

"Mari kita bersulang demi kejayaan Bu Tek Pay"

Seru Tang Hai Lo Mo, talu tertawa terbahakbahak.

"Ha ha ha..."

Sementara Toan wie Kie, Toan pit Lian, Lam Kiong hujin, Lam Kiong Bie Liong dan Gouw sian Eng telah tiba diTayli dan langsung menuju istana.

Betapa gembiranya Toan Hong Ya, Hujin dan para pengawal istana.

Mereka memberi hormat kepada Toan Hong Ya dan Hujin Toan Hong Ya tertawa gembira.

"Ha ha Duduklah"

Ucapnya.

"ohya, kenapa Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong tidak ke mari?"

"Mereka masih tinggal di markas pusat Kay Pang."

Jawab Lam Kiong hujin.

"Eeeh?"

Toan Hong Ya memandang mereka.

"Wajah kalian tampak tidak begitu gembira, apakah telah terjadi sesuatu di Tionggoan?"

"Ya."

Lam Kiong hujin mengangguk.

"Golongan putih di rimba persilatan Tionggoan telah mengalami masa suram."

"oh?"

Toan Hong Ya mengerutkan kening.

"Bagaimana kabarnya Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im? Apakah mereka sudah melangsungkan pernikahan?"

"Belum."

Lam Kiong hujin menggelengkan kepala.

"Kenapa belum?"

Toan Hong Ya heran.

"Apakah ada halangan?"

"Benar, Ayah,"

Ujar Toan wie Kie sambil menghela nafas, lalu menutur tentang semua kejadian itu.

"Haaah...?"

Air muka Toan Hong Ya berubah.

"Cie Hiong... dia...."

"Kepandaiannya telah dimusnahkan."

Toan Wie Kie menggeleng-gelengkan kepala.

"Tapi seseorang telah membawanya pergi."

"siapa orang itu?"

Tanya Toan Hong Ya.

"Entahlah."

Toan wie Kie menggelengkan kepala.

"Namun orang itu bermaksud baik, mungkin akan berusaha menyembuhkannya."

"Aaakh..."

Toan Hong Ya menghela nafas panjang.

"Cie Hiong perlu kita hormati, sebab dia rela mengorbankan dirinya demi keselamatan kalian semua. Kalau tidak. entah bagaimana nasib kalian?"

"Dia benar-benar pendekar muda yang berhati mulia, namun nasibnya..."

Toan pit Lian menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa begitu banyak percobaan berat yang menimpa dirinya?"

"Tidak gampang menjadi orang baik, lebih gampang menjadi orang jahat,"

Sahut Toan Hong Ya sungguh-sungguh dan menambahkan.

"sebab orang baik pasti akan mengalami berbagai percobaan kalau hatinya tidak tabah dan kuat imannya, niscaya akan berubah jahat pula."

Bab 59 Hong Hoang To (Pulau Phoenix) Di Pak Hai (Laut Utara) terdapat sebuah pulau misterius.

Pulau itu dinamai pulau Phoenix karena masih banyak burung langka tersebut hidup di pulau itu.

Para nelayan yang tinggal di pesisir Laut Utara, sama sekali tidak berani mendekati Pulau Hong Hoang To, sebab pulau tersebut dianggap keramat, lagi pula sering diselimuti kabut tebal.

Pada pagi ini, tampak seorang gadis berusia dua puluhan sedang berlatih ilmu pedang di pulau tersebut.

Beberapa ekor burung Phoenix menyaksikannya sambil memekik girang.

Ketika gadis itu berhenti berlatih, terdengarlah suara orang memujinya.

"Bagus Bagus"

Kemudian muncul seorang tua berusia tujuh puluhan sambil mendekatinya dengan wajah berseri.

"Hoa Ji (Anak Hoa), ilmu pedang mu telah maju pesat."

"oh?"

Gadis itu tertawa gembira.

"Ayah, apakah ilmu pedangku ini dapat mengalahkan orang berkepandaian tinggi di Tionggoan?"

"Ha ha"

Orang tua itu tertawa gelak.

"Jangan terlampau berambisi Engkau tahu bahwa, banyak orang aneh berkepandaian tinggi di Tionggoan, sedangkan kepandaianmu masih cetek."

Gadis itu cemberut.

"Aku tidak berambisi, hanya ingin tahu saja. Boleh kan?"

"Tentu boleh."

Orang tua itu manggut-mang-gut dan melanjutkan.

"Kecuali engkau telah berhasil mempelajari Kiu Yang sin Kang, maka engkau pasti bisa mengalahkan orang berkepandaian tinggi di Tionggoan."

"Ayah, kapan aku akan berhasil mempelajari Kiu Yang sin Kang?"

"Itu tergantung dari ketekunanmu berlatih. Mungkin... masih harus dua tahun lagi."

"Kenapa begitu lama?"

"Paling cepat masih harus menunggu setahun lebih. Karena itu, mulai hari ini ayah akan memberimu Kim Yang Tan. pil tersebut dapat menambah lweekangmu."

"Terima kasih. Ayah"

Ucap gadis itu dan bertanya.

"ohya, kenapa Ayah tidak pernah ke Tionggoan?"

"Almarhum kakekmu melarangnya, maka ayah tidak boleh ke Tionggoan,"

Sahut orang tua itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa kakek mengeluarkan larangan itu?"

Tanya gadis itu heran. la bernama Tio Hong Hoa, ayahnya bernama Tio Tay seng, ibunya telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

"Hoa Ji..."

Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang.

"Itu rahasia kakekmu, engkau tidak usah mengetahuinya."

"Ayah..."

Tio Hong Hoa tampak tidak senang.

"Aku cucunya, kenapa tidak boleh tahu rahasianya? Lagipula kakek sudah almarhum..."

"Hoa Ji, kelak ayah pasti menceritakannya,"

Ujar Tio Tay seng sambil tersenyum lembut.

"Ayah, apakah Kiu Yang sin Kang merupakan ilmu yang tanpa tanding di rimba persilatan Tionggoan?"

Tanya Phang Ling Hiang Hong Hoa.

"Kiu Yang sin Kang berasal dari Kiu Yang cin Keng (Kitab Pusaka Kiu Yang). sebenarnya kitab pusaka itu milik siauw Lim Pay, tapi ratusan tahun silam, telah dicuri orang."

Tio Tay seng memberitahukan.

"Namun kemudian Tio Bu Kie yang memperoleh kitab pusaka tersebut, bahkan berhasil mempelajarinya ."

"Ayah, siapa Tio Bu Kie?"

"Ayah Tio Bu Kie adalah murid Tio sam Hong, ketua Butong Pay masa itu. Tio sam Hong berkepandaian sangat tinggi, bahkan kemudian berhasil menciptakan ilmu Thay Kek Kun (Ilmu Pukulan Taichi). sudah barang tentu nama Butong Pay terangkat tinggi, bahkan di atas nama siauw Lim Pay. Tapi akhirnya ayahnya membunuh diri karena menikah dengan putri Mo Kauw. Putri Mo Kauw itu pun membunuh diri sambil menggendong Tio Bu Kie yang masih kecil..."

"Ayah"

Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa kedua orang tua Tio Bu Kie bunuh diri?"

"Karena ibu Tio Bu Kie sering membunuh orang, maka para ketua enam partai besar menuntut terhadap Tio sam Hong. padahal sesungguhnya ayah Tio Bu Kie merupakan murid kesayangan ketua Butong Pay itu."

"Apakah Tio sam Hong yang mendesak ayah Tio Bu Kie membunuh diri?"

"sebenarnya tidak. melainkan ayah Tio Bu Kie yang mengambil keputusan itu, lantaran sangat mencintai istrinya. Kemudian ibu Tio Bu Kie pun membunuh diri sambil menggendong Tio Bu Kie. sungguh mengenaskan kematian kedua orang tua Tio Bu Kie."

"Apakah Tio Bu Kie menuntut balas setelah berkepandaian tinggi?"

"Tidak."

Tio Tay seng melanjutkan.

"sebab Tio Bu Kie tahu, ibunya yang bersalah. setelah berhasil mempelajari Kiu Yang sin Kang, maka Tio Bu Kie menyatukan Mo Kauw menjadi Beng Kauw untuk merobohkan dinasti Goan (Monggol)."

"Apakah Tio Bu Kie berhasil?"

"Berhasil."

Tio Tay seng manggut-manggut.

"Karena itu, berdirilah dinasti Beng."

"Tio Bu Kie adalah kaisar pertama dinasti Beng?"

"Bukan. sebab Tio Bu Kie tidak mau menjadi kaisar."

Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan.

Justru karena itu, terjadilah pergolakan dalam Beng Kauw, dan muncullah salah seorang anggota Beng Kauw bernama Cu Guan ciang.

Akhirnya dia yang berhasil menjadi kaisar pertama dinasti Beng, sebab dia menggunakan akal licik,"

"Lalu bagaimana?"

"Setelah menjadi kaisar, Cu Guan cian malah menurunkan perintah membantai para anggota Beng Kauw. Tio Bu Kie sebera membubarkan Beng Kauw. karena tidak menghendaki pertumpahan darah. Lagi pula rakyat hidup menderita di masa itu. Kalau terjadi peperangan, rakyatlah yang akan menjadi korban. Maka Tio Bu Kie tidak mau mengadakan perlawanan, malah membubarkan Beng Kauw."

"Sungguh berjiwa besar Tio Bu Kie, dia mementingkan rakyat tanpa memikirkan kepentingan sendiri."

"Benar Tapi..."

Tio Tay Seng menghela nafas.

"Setelah Beng Kauw dibubarkan. cu Guan Ciang malah menurunkan perintah menangkap Tio Bu Kie. Karena itu, Tio Bu Kie terpaksa kabur bersama istrinya."

"Tio Bu Kie dan istrinya kabur ke mana?"

"Ke sebuah pulau, namun tiada seorang pun tahu pulau apa itu."

"Ayah Mungkinkah mereka ke pulau ini?"

"Mungkin."

"Kalau begitu... mungkinkah kita keturunan Tio Bu Kie, sebab kita memiliki Kiu Yang Sin Kang."

"Ayah tidak begitu jelas, tapi... mungkin juga."

"Ayah..."

Tio Hong Hoa memandangnya dengan penuh harap.

"Ayah telah menceritakan tentang Tio Bu Kie, bagaimana kalau ayah ceritakan juga tentang kakek mengeluarkan larangan itu?"

"Hoa Ji..."

Tio Tay Seng mengerutkan kening.

"Bukan ayah tidak mau menceritakan, melainkan...".

"Kenapa?"

"Sebab apa yang pernah kakekmu ceritakan kepada ayah..."

Tio Tay Seng menghela nafas.

"Ayah tidak tahu benar atau tidak cerita kakekmu itu."

"Kalau begitu, Ayah ceritakan saja"

Tio Hong Hoa tersenyum.

"Mungkin aku bisa memberikan sedikit pendapat."

Tio Tay seng berpikir, lama sekali barulah mengangguk.

"Baiklah. Ayah akan menceritakannya. Kira-kira tujuh puluh lima tahun lalu, kakekmu pergi ke Tionggoan. Pada masa itu kaum golongan hitam merajalela di rimba persilatan Tionggoan. Karena itu, kakekmu mulai membunuh mereka, sekaligus meninggalkan Hong Hoang Leng (Tanda Perintah Poenix). Hal itu sangat mengejutkan kaum rimba persilatan Tionggoan, sebab dua ratus tahun lalu Hong Hoang Leng pernah muncul beberapa kali di rimba persilatan Tionggoan, khususnya membunuh kaum golongan hitam. Kakekmu ke Tionggoan dan membunuh kaum golongan hitam, setelah itu meninggalkan Hong Hoang Leng, tentunya sangat mengejutkan kaum golongan hitam. Akan tetapi, tiada seorang pun yang tahu siapa pemilik Hong Hoang Leng tersebut."

"setelah itu bagaimana?"

"Kebetulan kakekmu menolong seorang biarawati, kemudian mereka berdua saling mencinta, dan akhirnya biarawati itu melahirkan dua anak lelaki."

"Kalau begitu, biarawati itu nenek?"

"Betul."

Tio Tay seng mengangguk.

"Karena itu, biarawati kembali jadi wanita biasa. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, kakekmu membawa ayah dan pamanmu pulang ke Hong Hoang To."

"Lho? Kenapa?"

"Kata kakekmu, nenekmu menyeleweng dengan lelaki lain. Maka saking gusarnya kakekmu membawa ayah dan pamanmu pulang ke Hong Hoang To, dan nenekmu tidak tahu sama sekali."

"Ayah tahu siapa nenek?"

"Ayah tidak tahu nama nenekmu, tapi... nenekmu sangat cantik dan lembut, karena itu, ayah tidak begitu yakin nenekmu akan menyeleweng dengan lelaki lain. Namun kakekmu bilang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri."

"ohya, di mana paman?"

"Ketika pamanmu berusia dua puluhan, dia secara diam-diam meninggalkan pulau ini. Betapa gusarnya kakekmu sehingga ayah yang dihukum, sebab ketika kakekmu membawa ayah dan pamanmu pulang, kakekmu juga melarang kami ke Tionggoan. Siapa berani melanggar larangan itu pasti dihukum berat."

"Dengan cara apa kakek menghukum ayah?"

"Aaakh..."

Tio Tay Seng menghela nafas panjang.

"Kalau Tio Lo Toa tidak ikut berlutut bermohon kepada kakekmu, mungkin ayah sudah dibunuh."

"Kalau begitu, secara tidak langsung Paman Lo Toa telah menyelamatkan nyawa Ayah."

"Benar."

Toa Tay Seng mengangguk.

"Dia pembantu yang sangat setia, juga berkepandaian tinggi."

"Ayah, paman tidak pernah pulang?"

"Belasan tahun lalu setelah kakekmu meninggal, ayah pernah mengutus Tio Lo Toa ke Tionggoan menyelidiki pamanmu, ternyata pamanmu sudah mempunyai istri dan anak."

"Oh?"

"Lima tahun lalu, ayah mengutus Tio Lo Toa ke Tionggoan lagi."

Lanjut Tio Tay seng sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Paman dan bibimu telah mati di bunuh oleh Bu Lim sam Mo, anakanaknya entah hilang ke mana."

"Kenapa Bu Lim sam Mo membunuh paman dan bibi?"

"Dikarenakan sebuah kotak pusaka."

"Ayah Bolehkah aku tahu nama paman?"

"Pamanmu bernama Tio It seng, bibimu adalah sin Pian Bi jin-Lie Hui Hong,"

Jawab Tio Tay seng memberitahukan.

"Anak-anaknya bernama Tio suan suan dan Tio cie Hiong. Tio suan suan sudah mati."

"Bagaimana Tio cie Hiong?"

"Belum tahu jelas, tapi ayah telah mengutus Tio Lo Toa ke Tionggoan untuk menyelidikinya ."

"Kapan paman Lo Toa akanpulang?"

"Mungkin... hari ini."

"Ayah..."

Di saat Tio Hong Hoa baru mau bicara, mendadak muncul seorang tua berusia enam puluhan mendekati mereka.

"Tocu (Majikan pulau) "panggil orang tua itu, yang ternyata Tio Lo Toa yang baru pulang dari Tiong goan.

"Tio Lo Toa Bagaimana kabarnya Tio Cie Hiong?"

Sahut Tio Tay seng.

"Aaaakh..."

Tio Lo Toa menghela nafas.

"Dia... dia sudah mati."

"Apa?"

Betapa terkejutnya Tio Tay seng.

"Bagaimana dia mati?"

"Kepandaiannya dimusnahkan oleh Bu Lim sam Mo, bahkan tulang punggungnya juga dipatahkan. Akhirnya dia mati beberapa hari kemudian."

"Kenapa? Kenapa kepandaiannya bisa dimusnahkan oleh Bu Lim sam Mo?"

Tanya Tio Tay seng dengan kening berkerut-kerut.

"Demi Bu Lim Ji Khie, Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya. Maka dia mengorbankan dirinya...,"

Jawab Tio Lo Toa dan menutur tentang kejadian itu.

"Aaakh..."

Tio Tay seng menghela nafas panjang.

"sungguh malang nasib keponakanku..."

"Ayah"

Ujar Tio Hong Hoa dengan mata berapi-api.

"Aku akan berangkat ke Tionggoan untuk menuntut balas kepada Bu Lim sam Mo"

"Hoa Ji"

Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Dengan kepandaianmu sekarang, engkau masih bukan tandingan mereka."

"selain Bu Lim sam Mo, juga terdapat Kwan Gwa siang Koay."

Tio Lo Toa memberitahukan.

"Kini rimba persilatan Tionggoan telah dikuasai Bu Tek Pay yang dipimpin Bu Lim sam Mo."

"Ayah, biar bagaimana pun aku harus menuntut balas kepada Bu Lim sam Mo"

Tegas Tio Hong Hoa.

"sungguh kasihan Adik Cie Hiong"

"Hoa Ji"

Tio Tay seng menatapnya dalam-dalam.

"Kalau memang engkau bertekad, maka engkau harus lebih tekun belajar."

"Ya, Ayah."

Tio Hong Hoa mengangguk.

"Tocu tidak berniat ke Tionggoan?"

Tanya Tio Lo Toa mendadak.

"Aku tidak mau melanggar larangan almarhum ayahku, jadi aku tetap di pulau. Engkau bersama Hoa Jie saja ke Tionggoan kelak."

Jawab Tio Tay seng.

"Tapi jangan bertindak gegabah, harus dengan perhitungan."

"Tocu..."

Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

"Majikan tua telah meninggal, maka larangan itu tidak berlaku lagi."

"Biar bagaimana pun, aku harus mentaati larangan almarhum, tidak baik melanggarnya,"

Ujar Tio Tay seng sungguh-sungguh.

"Tocu..."

Tio Lo Toa menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayah"

Desak Tio Hong Hoa.

"Ayah ikut saja kelak"

"Hoa ji"

Tio Tay seng tersenyum getir.

"Ayah sudah tua, lagi pula dari dulu hingga kini sama sekali tidak berniat ke Tionggoan."

"Ayah"

Tio Hong Hoa tertawa kecil.

"Anggap saja pesiar di sana, bukankah Ayah senang akan panorama yang indah? Nah, di Tionggoan banyak panorama indah."

"Hoa ji"

Tio Tay seng menatapnya.

"Itu urusan kelak. tidak perlu dibicarakan sekarang. Yang penting, mulai sekarang engkau harus tekun mempelajari Kiu Yang sin Kang."

"Ya, Ayah."

Tio Hong Hoa mengangguk.

dan mulai hari itu gadis tersebut betul-betul belajar dengan tekun sekali.

sementara itu, di dalam goa yang di puncak Gunung Thiansan, monyet bulu putih merawat Tio Cie Hiong dengan penuh perhatian.

setiap hari monyet itu pasti memberinya buah yang mengandung cairan pahit, dan selama beberapa bulan, Tio Cie Hiong hanya makan buah tersebut.

Buah itu memang mujarab, maka kini sekujur badan Tio Cie Hiong sudah mulai bisa bergerak.

tapi masih belum bisa duduk.

"Kauw heng"

Tio Cie Hiong menatapnya terharu.

"Kebaikanmu melebihi manusia, aku sungguh berhutang budi kepadamu."

Monyet bulu putih bercuit-cuit dan sepasang tangannya digoyang-goyangkan, sepertinya memberitahukan kepada Tio Cie Hiong, jangan merasa berhutang budi kepadanya.

"Kauw heng, hatimu sungguh mulia"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Apabila aku bisa sembuh, aku pasti mengajakmu pergi bersama. Tentunya engkau akan merasa gembira, bukan?"

Monyet bulu putih bercuit-cuit lagi, kemudian bertepuk-tepuk tangan sambil berjingkrak-jingkrak kelihatan gembira sekali.

Di dalam sebuah goa di Gunung Thay san, tampak Tayli Lo Ceng duduk bersemedi bersama seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga, yang wajahnya sangat tampan.

Berselang beberapa saat kemudian, Tayli Lo Ceng membuka matanya dan tersenyum lembut sambil memandang pemuda itu.

Tak seberapa lama pemuda itu pun membuka matanya.

Ketika melihat Tayli Lo Ceng memandangnya, segeralah ia berlutut.

"Guru..."

"Duduk saja"

Tayli Lo Ceng tersenyum lembut.

"Tidak perlu berlutut."

"Ya, Guru."

Pemuda itu langsung duduk dan bertanya.

"sudah lama kah guru pulang?"

"Belum begitu lama."

Tayli Lo Ceng menatapnya dalam-dalam.

"Lweekangmu sudah bertambah maju, guru merasa gembira sekali, karena tidak sia-sia aku menggemblengmu."

"Terima kasih atas gemblengan guru."

Ucap pemuda itu dan bertanya.

"Guru baru pulang dari Hong Lay san?"

"Ya."

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Kini It sim sin Ni sudah mempunyai seorang murid perempuan bernama Tan Li Cu..."

Tayli Lo Ceng menutur tentang kejadian yang menimpa Tan Li Cu, dan pemuda itu mendengar dengan penuh perhatian.

"Guru, nasibnya sungguh malang"

Ujar pemuda itu sambil menghela nafas, kemudian menundukkan kepala seraya bertanya.

"Guru, sebetulnya siapa kedua orang tuaku?"

"Kini sudah waktunya guru memberitahukan."

Tayli Lo Ceng menatapnya.

"Engkau bernama Lie Man Chiu. Ayahmu adalah seorang pembesar yang tidak pernah korupsi, akan tetapi, kira-kira dua puluh tahun lalu, kedua orang tuamu dan kakakmu dibantai oleh beberapa penjahat. Kebetulan guru lewat di kota itu, maka masih sempat menolongmu"

"Aaakh..."

Keluh Lie Man chiu sambil menghela nafas panjang.

"setelah menolongmu...,"

Lanjut Tayli Lo Ceng.

"Guru terpaksa menitipkanmu di keluarga petani, dan lima tahun kemudian barulah guru membawamu ke mari."

"Terima kasih atas budi baik guru yang telah membesarkanku."

Ucap Lie Man chiu, lalu berlutut di hadapan Tayli Lo Ceng.

"Duduklah"

Tayli Lo Ceng tersenyum lembut.

"Sudah belasan tahun guru menggemblengmu, dan kini kepandaianmu sudah tinggi, maka setahun kemudian engkau boleh meninggalkan goa ini."

"Guru...."

"Guru perlu memberitahukan, kini rimba persilatan telah dikuasi Bu Tek Pay yang dipimpin Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay. Karena itu, setahun kemudian, engkau harus membantu Tio Cie Hiong."

"Guru, bolehkah aku tahu siapa Tio Cie Hiong?"

"Tio Cie Hiong adalah seorang pendekar yang berhati bajik..."

Tutur Tayli Lo Ceng.

"Guru, Tio Cie Hiong sungguh berjiwa besar, dia rela mengorbankan dirinya demi semua orang itu Aku kagum dan salut kepadanya, dan kelak aku pun harus jadi seorang pendekar seperti dia."

"Bagus Bagus"

Tayli Lo Ceng manggut-manggut..

"Tapi..."

Mendadak Lie Man chiu mengerutkan kening.

"Guru, apakah Cie Hiong akan sembuh?"

"Dia akan sembuh, tapi kepandaiannya bisa pulih atau tidak. guru tidak berani memastikannya ."

"Guru, bagaimana seandainya kepandaiannya tidak bisa pulih?"

"Berarti Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Keay akan tetap menguasai rimba persilatan."

"Guru..."

"Guru tahu engkau ingin mengatakan apa."

Tayli Lo Ceng tersenyum getir.

"Tentunya engkau menghendaki guru dan it sim sin Ni melawan Kwan Gwa siang Koay, sedangkan engkau dan Tan Li cu melawan Bu Lim sam Mo, bukan?"

"Ya, guru."

Lie Man chiu mengangguk.

"Jadi kita bisa membasmi mereka."

"Itu tidak mungkin..."

Tayli Lo Ceng meng-gelcng-gelengkan kemala.

"sebab kalian berdua belum mampu melawan Bu Lim sam Mo. Kalau kalian berdua menghadapi mereka bertiga, kalian berdualah yang akan celaka."

Lie Man chiu mengerutkan kening.

"Kalau begitu, Tio Cie Hiong...."

"Dia seorang diri mampu melawan Bu Lim sam Mo."

Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"sebab dia memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang dan Kan Ku Taylo sin Kang, hanya saja entah bisa pulih atau tidak kepandaiannya?"

"Guru Tio cie Hiong berada di mana sekarang?"

"Di puncak Gunung Thian san."

"Guru yang membawanya ke sana?"

"Betul."

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"Karena di sana terdapat seekor monyet berbulu putih yang sakti, dan cie Hiong boleh dikatakan majikan monyet sakti itu."

"Guru..."

Lie Man chiu memandang Tayli Lo Ceng dengan penuh keheranan.

"Bagaimana mungkin monyet itu dapat mengobati Cie Hiong?"

"Engkau harus tahu, monyet itu sudah berusia hampir tiga ratus tahun."

Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"Majikannya yang dulu adalah seorang sakti, sudah barang tentu dia pun menjadi sakti, bahkan tak mempan dibacok dengan senjata apa pun."

"Kalau begitu, monyet itu pun berkepandaian tinggi?"

"Tinggi sekali."

Tayli Lo Ceng tersenyum dan melanjutkan.

"Kemungkinan besar monyet itu mampu mengalahkan guru."

"Begitu lihaykah monyet itu?"

Lie Man Chiu terbelalak.

"Kalau tidak. bagaimana mungkin guru menyebutnya monyet sakti?"

Sahut Tayli Lo Ceng dan menambahkan.

"Monyet sakti itu pun sangat setia kawan, karena itu, guru yakin dia pasti berupaya menyembuhkan Cie Hiong."

Lie Man Chiu manggut-manggut.

"omitohud..."

Ucap Tayli Lie Man Chiu sambil menatapnya tajam.

"Pada dasarnya engkau memang berhati baik, namun masih diliputi hawa membunuh. setelah engkau berkecimpung dalam rimba persilatan, janganlah terlampau banyak membunuh orang"

"Guru Aku akan membunuh penjahat. Kalau tidak, para penjahat itu pasti terus melakukan kejahatan."

"omitohud omitohud..."

Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.

"Tekanlah hawa membunuhmu itu"

"Ya, guru."

Lie Man chiu mengangguk.

"omitohud..."

Tayli Lo Ceng manggut-manggut.

"omitohud..."

Bab 60 Gadis Jepang muncul di markas pusat Kay Pang Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Lim Ceng Im duduk di ruang depan markas pusat Kay Pang.

Kini Kay Pang sudah tiada kegiatan apa-apa, sebab di bawah perintah Bu Tek Pay, bahkan semua markas cabang pun telah dijadikan markas cabang partai Tanpa Tanding itu.

Begitu pula tujuh partai besar lainnya, semua di bawah perintah Bu Tek Pay, maka membuat kaum golongan hitam yang berjaya dalam rimba persilatan.

Mereka selalu berlaku sewenang-wenang, menyita harta benda orang dan memperkosa kaum wanita.

siapa yang berani melawan, pasti dibunuh tanpa ampun.

Para pedagang harus membayar pajak tinggi kepada Bu Tek Pay, sedangkan kaum hartawan diwajibkan membayar uang keamanan.

Yang paling menderita adalah rakyat jelata, walau anak gadis atau isteri mereka diperkosa, mereka pun harus diam.

Kalau tidak, pasti mati di ujung senjata.

"Aaaakh..."

Sam Gan sin Kay menghela nafas panjang.

"Tidak disangka rimba persilatan akanjadi begini macam"

"Pengemis bau, kita sebagai Bu Lim Ji Khie, tapi cuma bisa duduk diam. sungguh menyedihkan"

Ujar Kim siauw suseng sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Keadaan yang begini, entah kapan akan berakhir?"

"Kalau Cie Hiong sudah muncul, semuanya pasti berakhir,"

Sela Tui Hun Lojin.

"Itu merupakan harapan kita satusatunya,"

Sahut sam Gan sin Kay.

"sebab siapa yang dapat melawan Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay?"

"Ini adalah kesuraman golongan putih...."

Kim siauw suseng menghela nafas panjang.

"sudah setahun..."

Gumam Lim Ceng im dengan wajah murung.

"Entah bagaimana keadaan Kakak Hiong? Mungkinkah dia sudah sembuh?"

"Kita semua berharap dia sembuh dan pulih kepandaiannya. oleh karena itu kita harus tetap bersabar..."

Ucapan sam Gan sin Kay terputus, ternyata ia melihat sai Pi Lo Kay berlari masuk dengan wajah serius.

"Lapor pada Tetua dan Pangcu"

Ujar sai Pi Lo Kay.

"Gadis Jepang itu ke mari ingin bertemu cie Hiong."

"siapa gadis Jepang itu?"

Tanya Lim Peng Hang heran.

"Dia Michiko, aku kenal dia,"

Jawab sai Pi Lo Kay memberitahukan.

"Wajahnya tampak kusut dan murung, pasti ada suatu urusan."

"Kalau begitu, cepat suruh dia masuk"

Ujar Lim Peng Hang.

"Ya, Pangcu."

Sai Pi Lo Kay segera ke luar, dan tak lama ia sudah kembali bersama Michiko.

"Maaf Maaf"

Ucap gadis Jepang itu sambil menengok ke sana ke mari.

"Aku ke mari mau bertemu Kakak Tio."

"Maksudmu Tio Cie Hiong?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Ya."

Michiko mengangguk.

"Aku memanggilnya Kakak Tio."

"Mari kita ke ruang dalam"

Ajak Lim Peng Hang dan berpesan kepada sai Pi Lo Kay.

"Perketat penjagaan di luar, apabila ada anggota Bu Tek Pay ke mari, cepatlah melapor"

"Ya, Pangcu."

Sai Pi Lo Kay langsung pergi. sedangkan Lim Peng Hang dan lain-lainnya berjalan masuk. dan setelah duduk. ketua Kay Pang itu menatap Michiko dalam-dalam lalu bertanya.

"Ada urusan apa Nona Michiko ingin bertemu Tio Cie Hiong?"

"Aku cuma kenal Kakak Tio di Tionggoan ini, maka aku ke mari mencarinya."

Jawab Michiko jujur.

"sebab dia boleh dikatakan seperti kakakku sendiri"

Berkata sampai di sini, Michiko mulai terisak-isak dengan air mata bercucuran.

"Nona Michiko, apakah telah terjadi sesuatu atas dirimu di Jepang?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Ya."

Michiko mengangguk.

"Setahun lalu, aku dan kakakku membawa lima Ninja pulang ke Jepang. setelah itu, mereka berlima dihukum mati. Akan tetapi...."

"Kenapa?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Mendadak muncul ketua aliran Ninja. Dia membunuh guru dan kakakku, untung aku sempat kabur. Kalau tidak-aku pun pasti mati."

Michiko memberitahukan. Lim Peng Hang manggutmanggut.

"Jadi engkau kabur ke mari?"

"Ya."

Michiko mengangguk.

"Hanya Kakak Tio yang dapat melindung iku, karena aku yakin ketua aliran Ninja itu pasti akan mengejarku."

"Mengejar sampai di Tionggoan ini?"

Sam Gan sin Kay tersentak.

"Ya,"

Jawab Michiko "Setahun lalu, lima Ninja itu bergabung dengan Bu Tek Pay."

"Celaka"

Seru sam Gan sin Kay.

"Ini... ini...."

"Pengemis bau, kenapa engkau menjadi begitu pengecut?"

Tegur Kim siauw suseng sambil meng-geleng-gelengkan kepala.

"sastrawan sialan Aku bukan pengecut"

Sahut sam Gan sin Kay dengan kening berkerut-kerut.

"Yang kupikirkan adalah kita dan para anggota Kay Pang"

Kim siauw suseng manggut-manggut.

"Kalau begitu, kita harus mencari akal."

"Ada apa?"

Tanya Michiko.

"Nona Michiko, tentunya engkau belum tahu, bahwa kini Bu Tek Pay telah menguasai rimba persilatan Tionggoan, Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya berada di bawah perintahnya,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Kalau begitu, nanti setelah bertemu dengan Kakak Tio, aku akan segera pergi agar tidak merepotkan di sini,"

Ujar Michiko dan bertanya.

"Bolehkah aku bertemu Kakak Tio?"

"Nona Michiko"

Lim Ceng im menatapnya.

"Kami akan berupaya melindungimu, karena engkau menganggap Kakak Hiong sebagai kakakmu."

"Engkau pasti Nona Ceng im, calon isteri Kakak Tio."

Michiko memandangnya.

"Engkau cantik sekali, pantas Kakak Tio begitu mencintaimu"

"Aaakh..."

Lim Ceng im menghela nafas panjang.

"Nona Ceng Im"

Tanya Michiko cepat.

"Apa-kah telah terjadi sesuatu atas diri Kakak Tio?"

Lim Ceng Im mengangguk lalu memberitahukan.

"Dia terluka parah...."

Lim Ceng Im menutur secara jelas mengenai kejadian itu, dan Michiko mendengarkan dengan air mata berlinang-linang.

"Kakakku begitu baik, tapi mati di tangan ketua aliran Ninja. sedangkan Kakak Tio yang berhati bajik, malah mati di tangan Bu Lim sam Mo."

"Nona Michiko"

Ujar Lim Ceng im dengan suara rendah.

"Sebetulnya Kakak Hiong tidak mati, tapi...."

"oh?"

Michiko tercengang.

"Kalau begitu, Kakak Tio pasti bisa sembuh."

"itulah yang kita harapkan,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Tapi belum tentu kepandaiannya bisa pulih seperti sedia kala."

"Aaakh..."

Michiko menghela nafas panjang.

"Karena itu, kita semua harus bersabar untuk menunggu Cie Hiong pulang,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Mudah-mudahan dia bisa pulang dengan keadaan seperti dulu"

Michiko manggut-manggut, sementara sam Gan sin Kay terus mengerutkan kening, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.

"Nona Michiko Untuk sementara ini, engkau harus bersembunyi."

Ujarnya kemudian.

"Kenapa?"

Michiko heran.

"Kalau pihak Bu Tek Pay tahu engkau berada di sini, dan kami tidak menyerahkanmu kepada Bu Tek Pay. tentunya kita akan celaka semua,"

Sahut Sam Gan sin Kay sungguh-sungguh .

"Kalau begitu aku akan pergi,"

Ujar Michiko lalu bangkit berdiri "Kalau engkau pergi pasti celaka,"

Ujar sam Gan sin Kay dan menambahkan.

"Aku mempunyai akal."

"Pengemis bau Engkau punya akal apa? Beri-tahukanlah"

Tanya Kim siauw suseng.

"Begini...."

Sam Gan sin Kay merendahkan suaranya.

"Nona Michiko boleh pergi sekarang, lalu bersembunyi di luar markas Kay Pang ini. Malam harinya aku akan ke sana menjemput."

"Maksud cianpwee menjemputku ke mari lagi?"

Michiko agak bingung.

"Ya."

Sam Gan sin Kay mengangguk.

"Jadi para anggota Kay Pang melihat engkau pergi...."

"oooh"

Michiko manggut-manggut. Terima kasih, Cianpwee"

"Pengemis bau"

Kim Siauw Suseng tertawa.

"Aku tak menyangka kalau engkau begitu cerdik."

"Ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Tentunya aku lebih cerdik dari padamu."

"Kalau begitu, aku pergi sekarang"

Ujar Michiko sambil bangkit berdiri.

"Nona Michiko. Aku antar engkau ke depan."

Lim Ceng Im juga bangkit berdiri sambil tersenyum.

"Terima kasih"

Ucap Michiko.

"Mungkin usiaku lebih besar sedikit dari usiamu, jadi aku akan memanggilmu Adik Ceng Im, dan engkau memanggilku Kakak Michiko."

"Baik, Kak."

Lim Ceng Im mengantar gadis itu sampai di depan, kemudian berbisik.

"Di luar markas ini terdapat sebuah pohon besar, bersembunyilah di sana Begitu hari sudah malam, kakekku pasti pergi menjemputmu."

"Ya"

Michiko mengangguk.

"Terima kasih, adik Ceng Im"

Malam harinya, tampak sosok bayangan berkelebat meninggalkan markas pusat Kay Pang.

Berselang beberapa saat kemudian, sosok bayangan itu kembali memasuki markas pusat Kay Pang bersama sosok bayangan lain, yang ternyata sam Gan sin Kay dan Michiko "Bagaimana?"

Tanya Kim siauw suseng.

"Apa-kah tiada seorang pun melihat kalian?"

Sam Gan sin Kay mengangguk.

"Mari kita ke ruang bawah tanah"

Mereka semua menuju ke dalam. Lim Peng Hang menekan sebuah tombol rahasia, seketika muncul sebuah lubang di lantai.

"Mari kita masuk"

Ajak Lim Peng Hang lalu masuk ke lubang itu, dan yang lain pun mengikutinya . Ruang bawah tanah itu cukup luas dan bersih. setelah berada di dalam ruang itu, barulah Lim Peng Hang menghela nafas lega.

"Nona Michiko sementara bersembunyilah engkau di sini, nanti setelah aman engkau boleh keluar, tetapi harus menyamar sebagai pengemis."

"Terima kasih, Paman"

Ucap Michiko "Kakak Michiko Bagaimana kepandaian ketua aliran Ninja itu?"

Tanya Lim Ceng im.

"Kepandaiannya sangat tinggi. Aku justru masih merasa heran...."

Gadis Jepang itu mengerutkan kening.

"Padahal setahun lalu kepandaiannya belum begitu tinggi, namun kini sungguh tinggi dan lihay. Guru dan kakakku tak sanggup melawannya, akhirnya mati di tangannya."

"Engkau yakin ketua aliran Ninja itu akan ke mari?"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Aku yakin"

Michiko manggut-manggut.

"Sebab dia tahu aku kabur ke Tionggoan ini."

"Kalau begitu, ketua aliran Ninja itu pasti Bu Tek Pay. Karena kelima muridnya pernah bergabung dengan partai Tanpa Tandihg itu."

Ujar Lim Ceng im.

"Benar."

Kim siauw suseng mengangguk. HKe-mungkinan besar dalam beberapa hari ini, pihak Bu Tek Pay akan ke mari mencari Nona Michiko."

"Ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa.

"Karena itu, timbullah akalku ini, jadi Nona Michiko akan aman di dalam ruang bawah tanah."

"Hanya kitalah yang tahu ruang bawah tanah ini?"

Tanya Tui Hun Lojin mendadak.

"Apakah sai Pi Lo Kay tidak mengetahuinya?"

"Memang hanya kita yang tahu,"

Sahut sam Gan sin Kay.

"sai Pi Lo Kay pun tidak tahu."

Tui Hun Lojin manggut-manggut.

"Pengemis bau, aku tidak menyangka kalau engkau mempunyai akal yang sedemikian lihay."

"Ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Kini engkau sudah tahu, kan?"

"Benar Benar...."

Tui Hun Lojin juga tertawa.

"Nona Michiko Tenanglah engkau di sini, Ceng Im akan mengantar makanan dan minuman untukmu"

"Terima kasih, Paman"

Ucap Michiko terharu.

"Terima kasih...."

Ketua aliran Ninja sudah tiba di Tionggoan dan langsung menemui beberapa anggota Bu Tek Pay.

setelah tahu identitas ketua aliran Ninja, maka salah seorang anggota partai tersebut mengantarnya ke markas.

Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Keay, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun menyambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan.

"Ha ha ha Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Selamat datang, ketua Ninja"

"Selamat bertemu, ketua Bu Tek^ay"

Sahut ketua aliran Ninja, yang bernama Takara Yahatsu.

"Ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa lagi.

"sila-kan duduk, silakan duduk"

"Terima kasih"

Takara Yahatsu duduk seraya berkata.

"Murid-murid ku pernah bilang, bahwa mereka telah bergabung di sini, maka setelah tiba di Tionggoan, aku pun langsung ke mari."

"Benar-sahut Thian Mo.

"Murid-muridmu memang telah bergabung di sini, kemudian mereka berlima bertarung dengan Yasuki Nichiba dan Michiko sesungguhnya mereka dapat membunuh kedua lawan itu, tapi muncul Tio Cie Hiong...." (Bersambung ke Bagian 35)

Jilid 35

"Hmm"

Dengus Takara Yahatsu.

"Aku datang di Tionggoan, justru ingin membuat perhitungan dengan Tio cie Hiong. Selain itu, aku pun harus membunuh Michiko yang kabur ke Tionggoan ini."

"oh? Michiko juga sudah berada di Tionggoan?"

Tanya Te Mo.

"Ya."

Takara Yahatsu mengangguk.

"Mungkin Bu Tek Pay bisa membantuku mencari Michiko."

"Tentu."

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Kami pasti membantu dalam hal ini."

"Terima kasih"

Ucap Takara Yahatsu.

"Kalau begitu, aku pun mau bergabung di sini."

"Bagus Bagus"

Siluman Kurus tertawa.

"Kita bisa bekerja sama."

"Benar."

Takara Yahatsu memandangnya.

"Maaf, bolehkah aku tahu...."

"Mereka berdua adalah Kwan Gwa Siang Koay, kini sebagai Tetua Bu Tek Pay."

Tang Hai Lo Mo memperkenalkan. Takara Yahatsu manggut-manggut, kemudian bertanya.

"Tio cie Hiong berada di mana sekarang?"

"Dia telah kami musnahkan kepandaiannya, dan beberapa hari kemudian dia mati."

"Sayang sekali Padahal aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri."

Ujar Takara Yahatsu.

"Dia mati di tangan kami juga sama, bukan?"

Tanya Thian Mo sambil tertawa gelak.

"Betul."

Takara Yahatsu^ juga tertawa.

"ohya, apakah para anggota di sini tahu Michiko berada di mana?"

"Itu..."

Pikir Tang Hai Lo Mo.

"Dia pernah tinggal di markas pusat Kay Pang, mungkin dia berada di sana."

"Kalau begitu, aku akan ke sana."

"Engkau tidak perlu ke sana,"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Kami akan mengutus beberapa orang ke sana."

"Hm"

Dengus Tang Hai Lo Mo dingin.

"Kalau dia berada di sana, dan Kay Pang tidak menyerahkannya kepada kita, berarti Kay Pang akan musnah"

"Benar. Kalau benar Michiko berada di sana tapi Kay Pang tidak menyerahkan kepada kita, Bu Tek Pay pasti membantai habis Kay Pang"

Sahut siluman Gemuk.

"Terima kasih Terima kasih"

Ucap Takara Yahatsu sambil tertawa gembira.

"Aku tidak menyangka, baru tiba di Tionggoan sudah mempunyai kawan baik."

"sebab kita satu aliran, lagipula engkau sudah bergabung dengan kami."

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"oleh karena itu mulai hari ini engkau pun akan hidup senang di sini."

Sambung Thian Mo.

"Terima kasih Ha ha ha..."

Takara Yahatsu tertawa terbahak-bahak.

Bu Lim Ji Khie dan lainnya duduk di ruang depan markas pusat Kay Pang.

Kelihatannya mereka sedang membicarakan sesuatu yang cukup penting, karena tampak kening mereka berkerut-kerut.

"Aku yakin dalam satu dua hari ini, pihak Bu Tek Pay pasti ke mari. Kalau mereka mau menggeledah, kita biarkan saja Kita jangan menentang mereka, dan harus tetap bersabar."

"Memang harus begitu,"

Sahut Kim siauw su-seng dan melanjutkan.

"Apabila Cie Hiong pulang dan kepandaiannya telah pulih, aku pasti akan turun tangan membantaipara anggota Bu Tek Pay"

"Nafasku sudah mulai sesak karena menahan hawa kegusaran,"

Ujar Tui HUn Lojin.

"Kenapa, setan tua?"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Kita cuma bisa bersabar,"

Sahut Tui Hun Lojin sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"seandainya Cie Hiong tidak pulang...."

"Kakak Hiong pasti pulang. Kakak Hiong pasti pulang."

Sela Lim Ceng Im setengah berteriak.

"Jangan berteriak-teriak, Nak"

Tegur Lim Peng Hang.

"Kita masih harus berhati-hati...."

Mendadak sai Pi Lo Kay berjalan ke dalam, lalu memberi hormat sekaligus melapor.

"Utusan Bu Tek Pay ke mari."

"sambut mereka"

Sahut Lim Peng Hang.

"ya, Pangcu."

Sai Pi Lo Kay segera berjalan ke luar. Bu Lim Ji Khie dan lainnya saling memandang, dan air muka mereka tampak agak berubah.

"Ingat Kita semua harus tenang"

Pesan sam Gan sin Kay. Berselang sesaat, sai Pi Lo Kay sudah kembali bersama Ang Bin sat sin, Liu siauw Kun dan belasan anggota Bu Tek Pay.

"selamat datang, utusan ketua Bu Tek Pay"

Ucap Lim Peng Hang sambil bangkit berdiri, dan yang lain pun mengikutinya.

"Ha ha ha"

Ang Bin sat sin tertawa.

"Bagus Bagus Kalian memang tahu aturan"

"silakan duduk"

Ucap Lim Peng Hang.

"Terima kasih"

Sahut Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun serentak sambil duduk. sikap pemuda itu paling memuakkan.

"Ada perintah apa untuk kami?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Ketua Bu Tek Pay memberi perintah kepada kalian agar menyerahkan Michiko"

Sahut Ang Bin sat sin.

"Kalau tidak. hari ini Kay Pang pasti musnah"

Sambung Liu siauw Kun dengan dada terangkat sedikit.

"Apa?"

Lim Peng Hang pura-pura terheran-heran.

"Kami tidak mempunyai Michiko, apa itu Michiko? Kalau Mi biasa kami punya."

"Ha ha ha"

Ang Bin sat sin tertawa gelak.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 5

Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert