Ceritasilat Novel Online

Kesatria Baju Putih 10

Eps 10 Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.

"Guru"

Toan wie Kie berseru kaget.

"Guru"

Seru Toan pit lian. Yang datang sin san Lojin dan Ang Kin sian Li, mereka berdua memandang Tio Cie Hiong sambil tertawa gembira.

"Cianpwee"

Panggil Tio Cie Hiong dan langsung menjura hormat.

"Ha ha ha Cie Hiong, engkau sudah datang kemari berarti telah berhasil menumpas Im sie Hong Mo. Ya, kan?"

Tanya sin san Lojin. Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kalau begitu...,"

Ang Kinsian Li menatapnya kagum.

"Kepandaianmu pasti mengalami kemajuan pesat"

"Tidak juga,"

Ujar Tio Cie Hiong sambil menyunggingkan senyum.

"Cie Hiong"

Sin san Lojin manggut-manggut.

"Engkau benar-benar Pek Ih sin Hiap berkepandaian sangat tinggi. Namun selalu merendah. Aku kagum dan salut padamu."

"Cianpwee terlampau memujiku,"

Tukas Tio Cie Hiong tersenyum lagi.

"Padahal..."

"Cie Hiong"

Ang Kin sian Li menatapnya lagi seraya bertanya.

"Engkau membunuh Im sie Hong MO?"

Tio cie Hiong menggeleng kepala.

"Kakak Hiong melepaskannya"

Lim Ceng Im yang menyahut.

"Padahal Im Sie Hong Mo membunuh bibinya, namun kakak Hiong tidak mau membunuhnya."

"Hen?"

Sin san Lojin terbelalak mendengarnya.

"Dia begitu jahat, tapi Cie Hiong masih melepaskannya?"

Lim Ceng Im mengangguk.

"Tapi..."

"Aku memang melepaskannya, tapi mendadak muncul Pek Ih Hong Li...,"

Sambung Tio Cie Hiong.

"Pek Ih Hong Li yang membunuhnya dengan cara mencincang tubuhnya."

"Pek Ih Hong LI?"

Sin san Lojin tertegun mendengar nama itu.

"Ya"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Im sie Hong Mo memang pantas mati"

Ujar Ang Kin sian Li.

"Kelika kami berangkat pulang, di tengah jalan muncul Im sie Hong Mo...,"

"oh?"

Tio Cie Hiong tampak tertegun.

"Kakak Hiong tidak menceritakan padaku."

"Belum sempat aku menceritakannya"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Bagaimana kemudian?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Kalau di saat itu tidak muncul Pek Ih Hong Li, sudah pasti kami semua menjadi mayat"

Sahut sin san Lojin.

"oooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kelihatannya secara tidak sengaja dia menolong kami, mungkin dia sedang mengejar Im sie Hong Mo,"

Ujar Ang Kin sian Li.

"sebab Pek Ih Hong Li terus berteriak.

"Aku harus cincang engkau Aku harus cincang engkau", Pek Ih hong Li benar-benar berhasil mencincangnya ."

"Kalau begitu.."

Sambung Sin San Lojin.

"Kini rimba persilatan Tionggoan tentunya sudah aman dan tenang."

"Mudah-mudahan begitu,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"ohya"

Sin san Lojin tertawa.

"Kami dengar Tayli Lo Ceng datang kemari. Padri tua itu menemuimu?"

"Ya"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Bukan main"

Sin san Lojin menghela nafas.

"Padri tua itu adalah Tayli Lo Ceng yang amat sakti, tidak disangka beliau berseri datang menemuimu."

"Guru"

Toan wie Kie memberitahukan.

"Lo Ceng itu mengadu formasi, Iweekang dan ginkang dengan cie Hiong."

"Guru sudah tahu itu,"

Sin san Lojin manggut-manggut sambil memandang Tio Cie Hiong dengan kagum.

"Engkau memang hebat, dapat mengimbangi Lo Ceng itu"

"Kalau Lo Ceng itu tidak mengalah, aku pasti sudah dipecundanginya,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Cie Hiong...,"

Sin san Lojin menatapnya sambil manarik nafas dalam-dalam.

"Engkau memang memiliki sifat yang suka merendah, pantas Tayli Lo Ceng begitu kagum padamu."

"Cie Hiong"

Ang Kin sian Li^ tersenyum.

"Yang mengalah bukan Lo Ceng itu, melainkan engkau sendiri"

"Benar Benar"

Sin san Lojin manggut-manggut.

"Cianpwee...,"

Tio cie Hiong menggeleng-geleng kepala.

"ohya"

Sin san Lojin teringat sesuatu. la memandang Tio Cie Hiong seraya bertanya.

"Kapan engkau dan Ceng Im akan melangsungkan pernikahan?"

"Setelah kami pulang dari sini,"

Jawab Tio Cie Hiong lalu menambahkan.

"Kami undang Cianpwee berdua hadir."

"Ha ha ha"

Sin san Lojin tertawa.

"Kami berdua pasti hadir"

"Terima kasih, cianpwee"

Ucap Tio cie Hiong.

"Baiklah"

Sin san Lojin manggut-manggut.

"Kami berdua mau pergi dulu, sampai jumpa"

Sin san Lojin dan Ang Kin sian Li melesat pergi. Toan Wie Kie dan adiknya saling memandang. Mereka menyesal karena belum sempat hercakap-cakap dtngan sang guru.

"Adik Liong, kami pasti menghadiri pesta pernikahan kalian"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"setelah kalian kembali ke Tionggoan, kami semua pasti menyusul."

"Terima kasih, kakak Liong,"

Ucap Tio Cie Hiong.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im yang berada di Tayli tentu tidak mengetahui kalau saat itu Bu Lim sam Mo telah berhasil mempelajari Hian Bun sam Ciong.

setelah itu, mereka bertiga berangkat ke istana Te Mo yang berada di dalam goa.

Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin.

Betapa terkejutnya Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin ketika melihat Bu Lim sam Mo.

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Kalian tidak sangka kan? Kepandaian kami telah pulih"

"He h e h e"

Thian Mo tertawa terkekeh-kekeh.

"Lo Mo, mari kita tangkap mereka Bagaimana?"

"Baik"

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

Bu Lim sam Mo segera bergerak.

Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin berusaha melawan.

Akan tetapi, perlawanan mereka tak berarti sama sekali.

Dalam waktu sekejap mereka bertiga teiah tertangkap.

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Kita kurung mereka di dalam istana Te Mo"

"Bagus"

Te Mo tertawa terkekeh.

"setelah itu, kita pun harus membunuh Lam Hai sin ceng He he he..."

Bab 48 Kejadian yang mencemaskan Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im berpamit pada Toan Hong Ya, permaisuri dan lain-lainnya.

Berangkatlah mereka kembali ke Tionggoan dengan hati yang riang gembira.

Mereka melakukan perjalanan dengan tidak tergesa-gesa, bahkan sambil pesiar ke tempattempat yang indah.

"Kakak Hiong"

Lim Ceng Im memandangnya sambil tersenyum manis dan bertanya.

"setelah kita sampai, benarkah kita akan melangsungkan pernikahan?"

"Tentu,"

Jawab Tio Cie Hiong. Dibelainya rambut gadis itu. Mereka duduk di pinggir sebuah telaga. Panorama di sekitar tempat itu sungguh indah menakjubkan.

"Kakak Hiong, kita harus menunggu mereka hadir sebelum mengadakan pesta Bagaimana?"

"Itu memang lebih baik,"

"ohya"

Lim Ceng Im teringat sesuatu.

"Tayli Lo Ceng memberikanmu sebuah kantong kain, bolehkah aku melihat isinya?"

Tio Cie Hiong menggeleng kepala.

"Jangan, Adik Im"

"Kenapa?"

Lim Ceng Im cemberut. Tio Cie Hiong memandangnya sambil tersenyum lembut.

"Aku harus mentaati pesan Lo Ceng itu Jadi... aku harap engkau jangan menyuruhku melanggarnya, itu tidak baik."

"Baiklah"

"Adik Im,"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"setelah kita melangsungkan pernikahan, kita tinggal di Gunung Thian san saja. Bagaimana menurutmu?"

"Aku setuju saja. Tapi, bukankah engkau pernah bilang, aku tidak tahan dingin Bagaimana mungkin aku bisa tinggal di Gunung Thian san?"

"Adik Im, mulai sekarang aku akan mengajar engkau Pan Yok Hian Thian sin Kang, agar engkau dapat bertahan dingin kelak. juga guna memperdalam Iweekang mu."

"Terima kasih, Kakak Hiong,"

Sahut Lim Ceng Im merasa girang bukan main.

"Engkau harus tahu"

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Tidak gampang mempelajari ilmu tersebut. sebab, engkau harus sering duduk bersemadi"

"Itu tidak jadi masalah. Aku pasti dapat melakukannya."

"Bagus"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

Mulailah dia mengajarkan Pan Yok Hian Thian sin Kang.

Lim Ceng Im langsung duduk bersila, kemudian mulai mengatur pernafasannya sesuai dengan petunjuk Tio Cie Hiong.

Tak berapa lama kemudian gadis itu membuka matanya dan tersenyum.

"Kakak Hiong, setelah aku mengatur pernafasan berdasarkan petunjukmu, dadaku terasa lega sekali,"

Ujarnya dengan gembira.

"Bagus Jadi mulai sekarang, engkau harus sering bersemadi. Itu adalah pelajaran dasar Pan Yok Hian Thian sin Kang."

"Baik"

Mereka lalu melanjutkan perjalanan lagi dengan riang gembira. Ketika berada dijalan sepi, mendadak Tio cie Hiong menghentikan kudanya. Keningnya berkerut tajam. seperti ada sesuatu yang mencurigakan.

"Ada apa, Kakak Hiong?"

Tanya Lim Ceng Im dengan suara rendah.

"Aku mendengar suara di dalam hutan,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil memandang ke arah hutan di pinggir jalan.

"Mungkin suara binatang liar."

"Bukan Itu suara langkah orang dalam keadaan luka parah. Kini telah berhenti, berarti orang itu telah roboh"

"Kalau begitu, mari kita ke sana"

"Ng"

Tio Cie Hiong mengangguk lalu meloncat turun.

Lim Ceng Im mengikutinya.

Tio Cie Hiong menarik Lim Ceng Im ke dalam hutan.

Tak seberapa lama kemudian, mereka melihat seseorang berpakaian putih menelungkup di tanah.

Pakaian putih itu telah berubah merah oleh darah.

"Siapa orang itu?"

Bisik Lim Ceng Im. Tio cie Hiong tidak menyahut. Keningnya berkerut-kerut ketika mendekati orang itu.

"Haah..."

Lim Ceng Im menjerit tertahan.

"Pek Ih Hong Li..."

Sosok itu ternyata Yap In Nio. Pakaian putihnya telah berlumuran darah.

"Adik In...,"

Panggil Tio Cie Hiong sambil membalikkan badannya.

Wajah Pek Ih Hong Li pucat pias.

sementara mulutnya masih mengalirkan darah.

Tio Cie Hiong segera memeriksanya.

sesaat kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala dengan mata basah.

"Bagaimana keadaannya?"

Tanya Lim Ceng Im cemas.

"Tidak bisa ditolong lagi, seisi perutnya telah hancur. Dia dalam keadaan pingsan,"

Jawab Tio Cie Hiong dengan air mata meleleh.

"Kakak Hiong, cobalah sadarkan dia"

Tio Cie Hiong mengangguk.

lalu dipegangnya lengan pek Ih Hong Li, sekaligus menyalurkan Lweekangnya ke dalam tubuh gadis itu.

Tak lama kemudian Pek Ih Hong Li membuka matanya perlahan-lahan, lalu memandang Tio Cie Hiong dengan mata redup.

"Kakak Hiong...,"

Panggilnya lemah.

"Adik In"

Sahut Tio Cie Hiong agak terisak.

"siapa yang melukaimu?"

Pek Ih Hong Li tidak menyahut, melainkan berkata lemah.

"Kakak Hiong, aku..., aku bahagia.... Bahagia sekali bisa mati dalam pelukanmu. Kakak Hiong..., peluklah aku..."

Tio cie Hiong menoleh memandang Lim Ceng Im. Gadis itu menganggukkan kepala pertanda menyetujui. Maka Tio cie Hiong segera memeluk tubuh Pek Ih Hong Li.

"Terima kasih... Kakak Hiong... engkau dan Kakak Im memang... memang merupakan pasangan... yang serasi. Aku... aku ikut gembira...."

"Adik In, siapa yang melukaimu?"

"Kakak Hiong..., aku... aku berbahagia sekali... ternyata aku takut... engkau tidak mati. Aku... aku bersalah padamu... aku tusuk engkau dengan belati.... Ku Tek Cun... dia... dia yang menodai diriku... aku telah cincang dia...."

Suara Pek Ih Hong Li makin lemah.

"Adik In, siapa yang melukaimu, katakanlah"

Desak Tio Cie Hiong karena tahu waktu Pek Ih Hong Li sudah tidak banyak lagi.

"Kakak Hiong... aku.... aku bahagia mati dalam pelukanmu...."

"Periahan-lahan Pek Ih Hong Li memejamkan matanya.

"Adik In beritahukan siapa yang melukaimu"

Teriak Tio Cie Hiong.

"Sam... Sam..."

Mendadak kepala Pek Ih Hong Li terkulai dan nafasnya putus seketika.

"Adik In Adik In..."

Tio cie Hiong menangis terisak-isak.

"Adik In..."

Lim Ceng Im turut menangis pilur Sungguh malang nasib Yap In Nio. Masih begitu muda, mati secara mengenaskan. Begitu pikirnya.

"Adik In...,"

Air mata Tio Cie Hiong berderai-derai.

"Kakak Hiong...,"

Lim Ceng Im memegang bahunya.

"Dia tampak tenang karena mati dalam pelukanmu"

Tio Cie Hiong masih terisak-isak.

"Kakakku mati dalam pelukanku, kini Adik In...."

"Kakak Hiong, jangan teriampau berduka"

Ujar Lim Ceng Im dengan suara rendah.

"Mari kita kubur dia"

Tio Cie Hiong mengangguk. setelah mengubur Pek Ih Hong Li, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im berdiri di hadapan kuburan itu dengan air mata bercucuran.

"Kakak Hiong, mari kita pergi"

Bisik Lim Ceng Im.

"Aaaakh..."

Keluh Tio Cie Hiong.

"Kenapa sesama manusia harus saling membunuh? Kenapa begitu banyak penjahat dalam rimba persilatan?"

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im melanjutkan perjalanan lagi. Namun kini mereka tidak begitu gembira, karena masih ingat akan kematian Yap In Nio.

"Adik Im, aku yang bersalah...."

"Kenapa engkau berkata begitu?"

"Kalau aku tidak mengajarkan ilmu pedang padanya, belum tentu dia akan berkecimpung di rimba persilatan."

"Itu bukan salahmu, Kakak Hiong. seandainya dia tidak berkecimpung di rimba persilatan, mungkin kita dan lainnya telah mati di tangan Im sie Hong Mo. Ya, kan?"

"Aaaakh...,"

Keluh Tio Cie Hiong sambil bergumam.

"Mungkin itu sudah merupakan takdirnya."

"Begitulah...."

Lim Ceng Im mengangguk.

"Adik Im, aku teringat sesuatu...."

"Teringat apa?"

"Nanti kita mengambil arah barat, kita ke Gunung Pek In san"

"oooh Maksudmu kita mampir di Pek In Nia untuk menyembayangi makam kedua orang tuamu?"

"Ya"

"Itu memang harus"

Mereka berdua lalu mengambil arah barat menuju ke Gunung Pek In san.

Dua hari kemudian keduanya sudah tiba di Pek In Nia.

Tio Cie Hiong dan ceng Im berlutut di hadapan makam Hui Kiam Bu Tek dan sin Pian Bijin.

Cukup lama hal itu mereka lakukan.

Kemudian keduanya bangkit berdiri Mata Tio Cie Hiong tampak basah.

"Adik Im, setiap manusia memang harus mati. Tapi jangan mati penasaran. Alangkah baiknya kalau mati dalam usia tua...,"

Ujar Tio Cie Hiong sambil menghela nafas.

"Kita hidup di dunia ini tidak akan lama. Namun aku sering merasa heran dan tidak habis pikir, kenapa begitu banyak manusia tidak mau melakukan perbuatan baik selama hidupnya. Kenapa mereka lebih senang melakukan kejahatan?"

"Kakak Hiong"

Lim Ceng Im tersenyum getir.

"Kalau semua orang seperti dirimu, dunia pasti aman, tenang dan penuh kedamaian. Tapi... di mana ada kebaikan, di situ pasti ada kejahatan pula. Mungkin itu sudah merupakan kodrat alam"

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau bisa menerka siapa yang melukai Yap In Nio?"

Tanya Lim Ceng Im tiba-tiba.

"sebelum menarik nafas penghabisan, dia mengucapkan "sam" (Tiga), entah apa maksudnya?"

"Itu merupakan bilangan"

Ujar Lim Ceng Im dan menambahkan.

"Mungkinkah sam Mo (Tiga iblis)?"

"Maksudmu Bu Lim sam Mo?"

"Ah, mana mungkin?"

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kelandaian Bu Lim sam Mo telah kumusnahkan, bagaimana mungkin...?"

"Kakak Hiong, buktinya Ku Tek Cun itu Bukankah kepandaiannya bisa pulih dan bahkan bertambah tinggi. Karena itu..."

"Adik Im, sudah sekian lama tiada kabar beritanya mengenai Bu Lim sam Mo, jadi tidak mungkin yang membunuh Yap In Nio adalah Bu Lim sam Mo"

"sayang sekali...,"

Lim Ceng Im menghela nafas.

"Dia cuma menyebut kata "sam". Kalau dia bisa bertahan sesaat."

"Itu sudah tidak mungkin."

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"ohya, mari kita ke dasar jurang yang tak jauh dari sini"

"Mau apa ke sana?"

Tanya Lim Ceng Im dengan kening bcrkerenyit karena heran.

"Menemui Lam Hai sin ceng."

"Jadi selama ini Lam Hai Sin ceng berada di dasar jurang itu?"

Tanya Ceng Im kaget. Tio Cie Hiong mengangguk.

"Lam Hai sin Ceng mendampingi makam Ciat Lun sin Ni...,"

"Ciat Lun sin Ni?"

Gumam Lim Ceng Im.

"Apakah sin Ni itu mantan kekasih Lam Hai sin Ceng?"

"Dugaanmu tidak meleset, Adik Im,"

Jawab Tio Cie Hiong, lalu memberitahukan.

"sin Ni itu juga guru kakakku."

Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Baiklah, mari kita ke sana"

Mereka berdua sudah sampai di dasar jurang itu Lalu mencari ke sana ke mari, hingga akhirnya menemukan sebuah goa.

"Adik Im, mungkin goa ini,"

Ujar Tio Cie Hiong, kemudian berseru.

"Sin Ceng, cie Hiong dan ceng Im datang berkunjung"

Suara seruan Tio Cie Hiong berkumandang ke dalam goa, tapi tidak ada sahutan sama sekali.

"Kakak Hiong, kenapa tiada sahutan dari dalam? Mungkin bukan goa ini,"

Ujar Lim Ceng Im.

"Tapi di tempat ini tak ada goa lain lagi"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Heran, kenapa tiada sahutan?"

"Bagaimana kalau kita masuk saja?"

"Baiklah"

Keduanya melangkah memasuki goa itu. se-telah belasan langkah, akhirnya melihat seorang padri tua duduk bersila di sisi sebuah makam.

"Itu adalah Lam Hat sin ceng"

Bisik Tio Cie Hiong.

"oh?"

Lim Ceng Im mengerutkan kening.

"Kenapa dia diam saja?"

"Mari kita dekati"

Tio Cie Hiong mengajak Lim Ceng Im mendekati Lam Hai sin ceng yang duduk diam. setelah dekat, ia pun memberi hormat seraya berkata.

"sin Ceng, kami ke mari...."

"Kakak Hiong...."

Ceng Im terbelalak saat melihat wajah Lam Hai sin ceng pucat pias.

"Janganjangan...,"

Tio Cie Hiong segera memperhatikan wajah Lam Hai sin Ceng, seketika juga ia berseru tak tertahan.

"Ha a h? sin ceng telah meninggal...."

"Kakak Hiong, sebelah tangannya menjulur ke tanah"

Tio Cie Hiong memperhatikan tangan Lam Hai sin ceng. Ternyata di sisi jari tangannya terdapat tulisan, berbunyi "sam".

"sam?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Kakak Hiong, aku yakin Lam Hai sin ceng dibunuh orang yang bernama sam"

Ujar Lim Ceng Im. Kemudian gadis ini teringat.

"Bukankah Pek Ih Hong Li juga menyebut "sam"?"

"Aaakh...."

Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.

"Tak disangka sama sekali, dalam rimba persilatan telah muncul seorang pembunuh berkepandaian tinggi Tapi kita tidak tahu siapa orang itu, kini rimba persilatan pasti dilanda bencana lagi"

"sam...,"

Gumam urn Ceng Im.

"Lam Hai sin Ceng mati di tangannya, begitu pula Pek Ih Hong Li. Itu pertanda orang itu berkepandaian tinggi sekali, di atas kepandaian Im sie Hong Mo"

"Menurutku...,"

Tio cie Hiong menengok ke sana ke mari sambil berkata.

"Kepandaian orang itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Im sie Hong Mo"

"oh? Kenapa Kakak Hiong mengatakan begitu?"

"Karena Lam Haisin Ceng tak mampu mengadakan perlawanan, lihatlah goa ini juga di luar sana, tidak porak poranda."

Lim Ceng Im mengangguk-anggukkan kemala mengerti.

"Itu berarti Lam Hai sin Ceng tak mampu melawan orang itu Heran? siapa orang itu? sam artinya tiga, mungkinkah... tiga orang?"

"Kalau tiga orang, aku yakin mereka adalah Bu Lim sam Mo"

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku jadi pusing memikirkan kejadian ini."

"sudahlah, Kakak Hiong Jangan terus menerus memikirkannya Lebih baik kita kubur jasad Lam Hai sin ceng."

"Baiklah"

Mereka menggali sebuah lubang di sisi makam Ciat Lun sin Ni, lalu mengubur jasad Lam Hai sin ceng di situ.

Kemudian mereka berdua berlutut di hadapan kedua makam itu.

Namun mendadak Tio Cie Hiong meloncat bangun seraya berseru.

"Celaka"

"Ada apa, Kakak Hiong?"

Sentak Lim Ceng Im yang merasa kaget bukan main.

"Adik Im, kita harus segera kembali ke markas pusat Kay Pang Aku khawatir telah terjadi sesuatu di sana."

"Haah...?"

Wajah Lim Ceng Im langsung memucat.

"Kakak Hiong, mari kita berangkat..."

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im melakukan perjalanan siang malam.

Tujuh delapan hari kemudian, sampailah mereka di markas pusat Kay Pang.

Para anggota Kay Pang segera memberi hormat pada mereka dengan wajah muram.

"Apakah telah terjadi sesuatu di sini?"

Tanya Lim Ceng Im penasaran.

"Ya"

Jawab salah seorang pengemis peringkat lima.

"Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin wan dan ketua hilang entah ke mana"

"Apa?"

Wajah Lim Ceng Im berubah pucat pias.

"Apa yang telah terjadi?"

"Beberapa hari lalu, kami semua berada di sini,"

Tutur pengemis itu.

"Tiba-tiba kami mencium bau aneh, kemudian kami pun pingsan...."

"Lalu bagaimana?"

Tanya Lim Ceng Im tak sabaran.

"setelah kami siuman, kami segera berlari ke dalam markas. Tapi, Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin Wan dan ketua sudah tidak kami temukan."

"Aaaakh..."

Keluh Lim Ceng Im dengan mata basah.

"Kalian semua tidak tahu siapa yang datang ke sini?"

"Kami sudah pingsan, sehingga tidak mengetahui."

Pengemis itu menundukkan kepala dalamdaiam.

"Di mana Kiu Ci Cui Kay?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Ada di dalam markas,"

Sahut pengemis itu. Lim Ceng Im dan Tio cie Hiong langsung melesat ke sana. Begitu berada di dalam markas, muncullah Kiu Ci Cui Kay.

"Nona Im, Pek Ih sin Hiap"

Kiu Ci Cui Kay segera memberi hormat.

"Cui Kay"

Lim Ceng Im menatapnya.

"Engkau tahu kakek-ayah dan lainnya hilang ke mana?"

"Tidak tahu, Nona"

Kiu ci cui Kay menggeleng kepala.

"Engkau juga ikut pingsan saat itu?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Pada saat kejadian, aku tidak berada di markas ini,"

Jawab Kiu ci cui Kay.

"Karena ketua menugaskan aku ke markas cabang, aku baru pulang kemarin."

"Aaakh...,"

Lim Ceng Im menghela nafas lalu menghempaskan tubuh ke kursi.

"Siapa yang melakukan itu?"

Tio Cie Hiong duduk di sisinya.

"Tenanglah sebentar"

Ujarnya. Lim Ceng Im mulai terisak-isak.

"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, kakek dan ayah...."

"Aku telah memeriksa seluruh markas, sama sekali tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kelihatannya tidak terjadi pertarungan di sini,"

Ujar Kiu Ci Cui Kay memberitahukan.

"Yang datang itu pasti menggunakan semacam racun yang dapat membuat orang pingsan. Jadi Bu Lim Ji Khie, Paman Lim dan Tok Nie sin Wan pasti ditangkap."

"Aku tidak habis pikir...,"

Kiu Ci Cui Kay menggeleng-gclengkan kepala.

"Padahal Bu Lim Ji Khie memiliki Iwee kang yang sangat tinggi, tentunya tidak gampang terkena racun itu. sebelum pingsan, seharusnya mereka mengadakan perlawanan."

"Jangan-jangan ini juga perbuatan si sam itu"

Tukas Tio Cie Hiong dengan wajah berubah.

"siapa orang itu?"

Tanya Kiu Ci Cui Kay.

"Kamipun tidak tahu."

Tio Cie Hiong menggeleng kepala.

"Pek Ih Hong Li dan Lam Hai sin Ceng sudah mati."

"Apa?"

Kiu Ci Cui Kay terbelalak.

"siapa yang membunuh mereka?"

"Pek Ih Hong Li cuma sempat menyebut "sam", sedangkan Lam Hai sin ceng meninggalkan tulisan "sam"

Juga,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil mengerutkan kening.

"Maka aku menyimpulkan bahwa kejadian di sini bisa jadi berkaitan dengan si sam itu."

Kiu Ci Cui Kay manggut-manggut.

"Kakak Hiong, kita harus bagaimana?"

Tanya Lim Ceng Im dengan air mata meleleh.

"Tentunya kita harus berusaha cari mereka,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"sebetulnya aku telah mengutus puluhan pengemis untuk mencari jejak Bu Lim Ji Khie dan ketua. Tapi... sia-sia"

"Tiada jejak yang mereka tinggalkan?"

Tanya Tio Cie Hiong. Kiu Ci Cui Kay mengangguk.

"Mungkinkah yang disebut "sam"

Itu adalah semacam perkumpulan? "

"Tidak mungkin"

Tio Cie Hiong menggeleng kepala.

"sam mungkin merupakan nama atau berarti tiga orang"

"Tiga orang?"

Kiu ci Cui Kay terkejut.

"Tentunya bukan Bu Lim sam Mo, kan?"

"Aku justru menduga kalau mereka Bu Lim sam Mo,"

Ujar Lim Ceng Im.

"Tapi kepandaian Bu Lim sam Mo telah musnah, bagaimana mungkin?"

"Buktinya Ku Tek Cun itu Kepandaiannya lelah musnah, tapi setahun kemudian, kepandaian berkembang sangat tinggi dan menamai dirinya Im sie Hong Mo oleh karena itu, si sam tersebut kemungkinan besar adalah Bu Lim sam Mo"

"Kalau begitu...,"

Kiu Ci Cui Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Bu Lim Ji Khie dan ketua serta lainnya pasti akan celaka di tangan Bu Lim sam Mo."

"Itu belum tentu,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Kalau si sam ingin membunuh mereka, tentunya mereka sudahjadi mayat di markas ini."

"Benar"

Kiu Ci Cui Kay mengangguk.

"Berarti mereka ditangkap dan dikurung di suatu tempat"

"Tidak salah."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Besok kami akan pergi cari mereka, engkau tetap di markas ini saja"

"Baik kalau begitu."

"sebarkan para anggota kita untuk terus cari kakek dan ayahku"

Perintah Lim Ceng Im kepada Kiu ci cui Kay.

"Ya, Nona"

Kiu Ci Cui Kay mengundurkan diri dari situ Lim Ceng Im duduk tercenung dengan wajah murung. Tio Cie Hiong memegang bahunya seraya berkata.

"Adik Im, jangan terlampau memikirkan itu Besok kita pergi mencari mereka."

Lim Ceng Im menghela nafas.

"Bisakah kita menemukan mereka?"

"Mudah-mudahan"

Sahut Tio Cie Hiong.

"ohya, Kakak Hiong"

Lim Ceng Im teringat sesuatu.

"Tui Hun Lojin, Paman Gouw, dan Lam Kiong hujin juga belum sampai. Mungkin mereka juga sudah ditangkap"

"Bisa jadi begitu."

Tio Cie Hiong manggut-manggut dan bergumam.

"Benarkah Bu Lim sam Mo yang melakukan semua itu...?"

Bab 49 Ban Tok shia Cun (si sesat selaksa Racun) Di istana Te Mo yang terletak di dalam goa, terdengarlah suara tawa terbahak-bahak.

Yang tertawa itu ternyata Bu Lim sam Mo, mereka bertiga tampak gembira sekali.

"Ha ha ha Kita telah menangkap Tui Hun Lojin, Lam Kiong hujin, Gouw Han Tiong, Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin Wan dan para ketua tujuh partai besar Aku yakin rimba persilatan pasti sudah menjadi gempar sekali Ha ha ha"

"Ini memang menjadi suatu kejutan bagi rimba persilatan,"

Sahut Thian Mo sambil tertawa gelak.

"siapapun tidak akan menduga kita yang melakukan semua ini"

Sambung Te Mo sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Tapi ada satu kejadian yang sangat mengejutkan belum lama ini,"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Ku Tek Cun murid kita itu, sungguh di luar dugaan telah berhasil mempelajari ilmu silat peninggalan Im sie HongJin, maka menamai dirinya Im sie Hong Mo"

"sayang sekali dia roboh di tangan Tio Cie Hiong"

Thian Mo menggeleng-geleng kepala dan menambahkan.

"Bahkan kemudian dicincang-cin-cang oleh Pek Ih Hong Li."

"Tapi kita pun telah melukai Pek Ih Hong Li. Aku yakin wanita gila itu tidak bisa hidup,"

Ujar Te Mo.

"Itu sudah pasti"

Tang Hai Lo Mo tertawa terkekeh.

"seisi perutnya telah hancur oleh pukulan gabungan kita bertiga, bagaimana mungkin dia bisa hidup?"

"Aku justru merasa heran...,"

Ujar Thian Mo dengan kening berkejut.

"Beberapa bulan lalu, Ku Tek Cun berhasil melukai Tio Cie Hiong. Tapi kemudian Ku Tek Cun malah roboh di tangan pemuda itu. Ini suatu pertanda kepandaian Tio cie Hiong telah mengalami kemajuan pesat. Bagaimana dia memperdalam kepandaiannya itu?"

"Memang mengherankan"

Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.

"oleh karena itu, untuk sementara ini lebih baik kita bergerak secara gelap saja. Itu akan membuatnya pusing"

"Benar"

Thian Mo manggut-manggut.

"Pokoknya kita membuatnya tidak bisa tenang."

"Aku punya usul,"

Ujar Te Mo mendadak dengan wajah serius.

"Apa usulmu?"

"Bagaimana jika kita meracuni Lim Ceng Im kekasihnya itu?"

Ujar Te Mo.

"Bagus"

Tang Hai La Mo tertawa.

"Kalau kita berhasil meracuni Lim Ceog Im, tentu pikiran Tio Cie Hiong akan tercekam oleh rasa kekacauan, siapa tahu dia akanjadi gila karenanya"

"Benar"

Thian Mo tertawa gelak.

"Tapi-,"

Te Mo menggeleng-geleng kepala.

"Kita harus menyuruh siapa meracuni gadisitu?"

Tang Hai Lo Mo berpikir, lama sekali sebelum berseru denganpenuh kegirangan.

"Ban TOk shia Cun. (si sesat selaksa Racun)"

"oh? Dia?"

Te Mo terkejut.

"Memang dia"

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

"Dia ahli sekali dalam hal racun, maka memperoleh julukan Ban Tok shia Cun"

Thian Mo menggeleng-geleng kepala.

"Tapi bagaimana mungkin Si Sesat itu mau membantu kita?"

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Dia pasti mau"

"Kenapa?"

Tanya Thian Mo dan Te Mo.

"Sebab dia berhutang budi padaku. Hingga saat ini dia belum membalas budiku itu"

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Karena itu, aku yakin dia mau membantu kita"

"Kalau begitu, kita bertiga harus pergi menemuinya?"

Tanya Thian Mo.

"Cukup aku seorang diri saja."

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"Kalian berdua harus membuat perangkap di luar goa. Setetah itu kita pun harus menghimpun kekuatan baru untuk mendirikan Bu Tek Pay (Partai Tanpa Tanding)"

"Kita lihat saja nanti"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"Yang penting keberadaan kita harus dirahasiakan Karena kita harus membuat Tio Cie Hiong kebingungan, dia tidak akan mengira kita bertiga adalah ketua Bu Tek Pay itu"

"Ha ha ha"

Te Mo tertawa terbahak-bahak.

"Apabila Ban Tok Shia Cun berhasil meracuni Lim Ceng Im, Tio Cie Hiong pasti cemas setengah mati"

"Betul Ha ha ha"

Thian Mo juga tertawa gelak.

"Kalau Lam Kiong Bie Liong, Toan Wie Kie, Toan Pit Lian dan Gouw Sian Eng muncul di Tionggoan, kita pun harus segera tangkap mereka"

Ujar Tang Hai Lo Mo dan melanjutkan sambil tertawa.

"Tio Cie Hiong pernah memusnahkan kepandaian kita, maka kita harus membalasnya dengan cara membuatnya kehilangan gairah hidup"

"Benar Benar"

Thian Mo dan Te Mo manggut-manggut sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"He he he He he he he..." -ooo)00000(ooo-Di sebuah lembah yang sepi, tampak seorang tua sedang berjalan sambil bersenandung. orang tua itu sudah berusia delapan puluhan, tapi masih kelihatan gagah. Mendadak mata orang tua itu terbelalak. melihat di hadapannya berdiri seorang tua pula.

"Haaah...?"

"Ha ha ha Ban Tok shia Cun, engkau masih kenal aku?"

Tanya orang itu yang tak lain Tang Hai Lo Mo.

"Tang... Tang Hai Lo Mo?"

Ban Tok shia Cun terkejut bukan main.

"Engkau... engkau...?"

"Aku kemari menemuimu, engkau tidak berkeberatan, kan?"

"Tentu tidak"

"Aku ingin minta bantuanmu. Kuharap engkau takkan menolaknya"

Tang Hai Lo Mo menatapnya tajam.

"Apa yang dapat kubantu?"

Tanya Ban Tok shia Cun.

"Aku hanya ingin menyuruhmu melakukan sedikit pekerjaan"

Ujar Tang Hai Lo Mo menjelaskan maksudnya.

"Pekerjaan yang sangat gampang"

"Pekerjaan apa?"

"Meracuni seseorang"

"Meracuni seseorang?"

Ban Tok shia Cun menghela nafas.

"Lo Mo, sudah dua puluh tahun lebih aku mengundurkan diri dari rimba persilatan."

"Engkau tidak bersedia membantuku?"

Wajah Tang Hai Lo Mo langsung berubah. Ban Tok shia Cun menghela nafas lagi.

"Engkau pernah berhutang budi padaku, jadi engkau tidak mau membalas budiku itu?"

Tang Hai Lo Mo menatapnya dengan kening berkerut-kerut.

"Aaakh...."

Ban Tok shia Cun manggut-manggut.

"Baiklah siapa yang harus kuracuni?"

"Dia seorang gadis cantik, namanya Lim Ceng Im putri Lim Peng Hang ketua Kay Pang"

Ban Tok shia Cun tampak tersentak.

"Kalau begitu, gadis itu adalah cucu sam Can sin Kay?"

"Betul"

"Bagaimana mungkin aku...."

"Jangan khawatir"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Bu Lim Ji Khie telah kami tangkap Lam Hai sin ceng pun telah kami bunuh Ha ha ha"

"Apa?"

Ban Tok shia Cun terperanjat.

"Aku pernah dengar, engkau memiliki semacam racun aneh yang disebut Pek Jit Mi Hun Tok (Racun Pelenyap sukma seratus Ha n) Ya, kan?"

Tanya Tang Hai Lo Mo mendadak.

"Ya"

Ban Tok shia Cun mengangguk.

"Tapi aku tidak punya obat pemusnahnya"

"Itu tidak penting"

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Jadi engkau harus meracuni Lim Ceng Im dengan racun itu"

"Baiklah Tapi..."

"Kenapa?"

"Aku tidak mengenal gadis itu, bagaimana mungkin meracuninya?"

"Tidak sulit mengenali gadis cantik itu,"

Ujar Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Dalam waktu beberapa hari ini, dia bersama Pek lh sin Hiap akan tiba di kota Kiu Ling. Nah, racunilah gadis itu"

"Ya"

Ban Tok shia Cun mengangguk.

"Ban Tok shia Cun"

Mendadak Tang Hai Lo Mo menatapnya tajam dan mengancam.

"Apabila engkau tidak berhasil meracuni gadis itu, kepala mu berpisah dengan badanmu"

"Haaah...?"

Bart Tok shia Cun terkejut bukan main, ia tahu itu bukan sebuah ancaman kosong. Tang Hai Lo Mo telah kembali ke istana Te Mbi setelah duduk ia tertawa gelak.

"Aku telah bertemu Ban Tok shia Cun"

Ujarnya penuh rasa gembira sekali.

"Bagaimana?"

Tanya Thian Mo sambil memandangnya.

"Dia bersedia membantu kita untuk meracuni Lim Ceng Im?"

"Dia tak berani tolak,"

Sahut Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Aku suruh dia meracuni gadis itu dengan racun pek Jit Mi Hun Tok Ha ha ha..."

"Kalau dia berhasil meracuni Lim Ceng Im, Tio Cie Hiong pasti cemas sekali dan mungkin akan jadi gila karenanya."

Ujar Thian Mo sambil tertawa gembira, namun kemudian wajahnya tampak berubah.

"Tapi... Tio Cie Hiong mahir ilmu pengobatan, dia pasti dapat memusnahkan racun itu"

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Racun itu tiada obat pemusnahnya. Walau Tio Cie Hiong mahir ilmu pengobatan, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa."

"Bagus Bagus"

Ujar Te Mo dan tertawa Justru dia mahir ilmu pengobatan. Maka dia akan membuatnya putus asa Ha ha ha..."

Sementara itu, Tio Cie Hiong dan Lim, Ceng Im sudah sampai di kota Kiu Ling.

Mereka berdua berupaya mencarijejak Bu Lim Ji Khie dan lainnya, namun tiada berhasil.

Mereka mampir di sebuah kedai teh untuk melepaskan lelah dan dahaga.

Begitu duduk, pelayan segera menyuguhkan dua cangkir teh hangat.

"Terima kasih."

Ucap Tio Cie Hiong.

Ketika mereka berdua mengangkat cangkir itu, mata Tio Cie Hiong tampak terbelalak.

Mendadak dia melihat Bulong Ngo Hiap (Lima Pendekar Bulong) memasuki kedai itu.

Bulong Ngo Hiap agaknya juga melihat Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.

sebab mereka berlima segera menghampirinya.

"selamat bertemu Pek lh sin Hiap dan Nona Lim"

Ucap Butong Ngo Hiap sambil memberi hot mat.

"selamat bertemu"

Sahut Tio Cie Hiong, membalas hormat mereka.

"sungguh kebetulan kita bertemu di sini, silakan duduk"

Butong Ngo Hiap duduk. In siauw Houw menghela nafas panjang sambil memandang Tio Cie Hiong.

"Tahukah saudara Tio, belum lama ini telah terjadi sesuatu yang menggemparkan rimba persilatan?"

"Apakah tentang hilangnya Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin Wan dan ketua Kay Pang?"

Tio Cie Hiong balik bertanya.

"Apa?"

Butong Ngo Hiap terkejut.

"Mereka juga telah hilang?"

"Ya"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Aaakh"

In siauw Houw menggeleng-geleng kepala.

"Para ketua tujuh partai pun telah hilang lenyap tak ketahuan rimbanya"

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im terkejut mendengar kabar itu.

"Bahkan, kami pun mendengar desas-desus, bahwa Tui Hun Lojin, Lam Kiong hujin dan Gouw Han Tiong juga hilang dalam perjalanan pulang dari Tayli."

In siauw Houw memberitahukan.

"Apa?"

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im terbelalak.

"Kami berlima justru sedang mencari guru kami It Hian Tojin,"

Ujar In siauw Houw, kemudian menghela nafas.

"sudah belasan hari kami mencari tanpa hasil."

"Kalian tahu perbuatan siapa itu?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Tidak tahu"

Butong Ngo Hiap sama menggeleng.

"Ketika It Hian Tejin hilang, kalian berlima berada di mana?"

Tio Cie Hiong memandang mereka.

"Pada waktu itu...,"

Tutur In siauw Houw.

"Kami berlima sedang meronda, tiba-tiba kami mencium bau aneh, lalu pingsan. setelah siuman kami pun segera berlari ke dalam sam cing Koan (Tempat Tinggal Para Pendeta Taosme Di Gunung Butong), tapi guru kami sudah kehilangan jejak."

"Kejadian itu persis seperti yang di markas pusat Kay pang."

Gumam Tio Cie Hiong.

"Para anggota Kay Pang juga mencium bau aneh lalu pingsan. Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin Wan dan ketua Kay Pang pun hilang tanpa jejak."

"Pada waktu ilu saudara Tio dan Nona Lim berada di mana?"

Tanya In siauw Houw sambil memandang mereka.

"Kami dalam perjalanan pulang dari Tayli,"

Sahut Lim Ceng Im. In siauw Houw menghela nafas panjang.

"setelah Im sie Hong Mo mati, kami kira rimba persilatan akan aman dan tenang, ternyata malah bertambah kacau"

"saudara In, apakah belum lama ini dalam rimba persilatan telah muncul suatu partai atau perkumpulan baru yang misterius?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Hm... kami tak pernah mendengar itu."

In siauw Houw menggeleng kepala.

"Sungguh mengherankan"

Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Ohya, apakah kalian sudah tahu bahwa Pek Ih Hong Li sudah mati?"

"Apa?"

Sentak Butong Nao Hiap.

"Pek Ih Hong Li telah mati?"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"siapa yang membunuhnya?"

Tanya In siauw Houw.

"Tidak jelas Tapi Pek Ih Hong Li justru mati dalam pelukanku"

Tutur Tio Cie Hiong.

"Dia menyebut "sam"?"

Tanya In siauw Houw sambil mengerutkan kening. Tio Cie Hiong mengangguk lalu ujarnya perlahan.

"Lam Hai sin ceng juga telah mati. Dia meninggalkan sebuah kata "sam"

Juga"

"Apa? Lam Hai sin Ceng telah mati?"

Semakin terkejut Butong Ngo Hiap mendengar itu.

"juga dibunuh oleh si sam itu?"

Tanyanya. Tio cie Hiong manggut-manggut membenarkan. sekali dia menghela nafas dalam.

"sam..."

Gumam In siauw Houw.

"It Ceng, Ji Khie, sam Mo Mungkinkah mereka itu sam Mo?"

"Kami pun menduga begitu"

"Tapi...,"

In siauw Houw menggeleng-geleng kepala.

"Bukankah kepandaian Bu Lim sam Mo telah musnah? Bagaimana mungkin mereka yang melakukan itu?"

"Memang membingungkan,"

Ujar Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Baiklah"

Butong Ngo Hiap bangkit berdiri.

"Kami mohon diri. Kalau kami memperoleh kabar berita tentang Bu Lim Ji Khie dan lainnya, pastikan kami beritahukanpada kalian."

"Terima kasih,"

Ucap Tio Cie Hiong.

"sampai jumpa"

Butong Ngo Hiap lalu beranjak pergi dari kedai teh. Tio cie Hiong dan Lim Ceng fm saling memandang, kemudian menggeleng-geleng kepala.

"Para ketua tujuh partai telah hilang lenyap tanpa jejak,"

Ujar Lim Ceng fm sambil menghela nafas.

"Aku yakin, dalam rimba persilatan telah muncul suatu perkumpulan misterius. Perkumpulan tersebutlah yang menculik mereka dengan menggunakan racun, maka tiada perlawanan sama sekali"

"Kakak Hiong, mungkin pemimpin perkumpulan tersebut adalah sam Mo?"

"Mungkin"

"Kita harus hati-hati. sebab, pihak musuh bertindak secara diam-diam, sedangkan kita secara terang-terangan mencari jejak kakek. ayah dan lainnya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"ohya, hari sudah mulai malam. Kita bermalam di kota ini saja."

"Baiklah."

Lim Ceng Im manggut-manggut.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im duduk berhadapan di dalam kamar penginapan.

Kening mereka berkerut-kerut sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

Cukup lama keduanya saling membisu, hingga akhirnya Lim Ceng Im membuka mulut.

"Kakak Hiong, mungkinkah kakek, ayah dan lainnya telah dibunuh?"

"Tidak mungkin sebab mereka menculik dengan maksud tertentu. Jadi kalau mereka mau membunuh, tentunya kakek dan ayahmu telah menjadi mayat."

"Kalau begitu.. kakek ayah dan lainnya pasti dikurung di suatu tempat."

"Kira-kira begitulah."

"Kakak Hiong, kalau benar semua itu perbuatan Bu Lim sam Mo, berarti kepandaian mereka telah maju pesat. Pek Ih Hong Li dan Lam Hai sin ceng yang berkepandaian begitu tinggi saja terbunuh oleh mereka. Bisakah Kakak Hiong mengalahkan mereka?"

"Mudah-mudaha saja"

Tio Cie Hiong tersenyum getir.

"ohya, Adik Im, aku minta maaf padamu."

"Lho?"

Lim Ceng Im tercengang.

"Kenapa Kakak Hiong minta maaf padaku?"

Tio cie Hiong menggeleng-geleng kepala.

"seharusnya kita sudah melangsungkan pernikahan, tapi tertunda oleh kejadian ini. Aku, aku merasa tidak enak terhadapmu."

"Jangan berkata begitu, Kakak Hiong"

Lim Ceng Im tersenyum dengan penuh pengertian.

"Aku sama sekali tidak mempersalahkanmu. setelah urusan ini selesai tentu kita akan melangsungkan pernikahan."

Tio cie Hiong menggeleng-geleng kepala.

"Padahal, aku paling tidak suka banyak urusan, tapi justru berbagai macam urusan muncul menimpa diriku. Ini sungguh membuatku tidak habis pikir."

"Hidup memang begitu"

Gumam gadis itu "oleh karena itu, setelah menikah nanti, lebih baik kita hidup di puncak Gunung Thian san Jangan mencampuri urusan rimba persilatan lagi"

"Aku memang sudah jemu berkecimpung di dalam rimba persilatan"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Kini aku masih mencemaskan satu hal."

"Hal apa?"

"Lam Kiong Bie Liong, Toan pit Lian, Toan wie Kie dan Gouw sian Eng mungkin sudah berangkat. Aku khawatir terjadi sesuatu atas diri mereka."

"Mudah-mudahan mereka belum berangkat Kalau sudah berangkat, mungkin mereka akan mengalami kejadian seperti yang lain." (Bersambung ke Bagian 30)

Jilid 30

"itulah yang kucemaskan...."

Ucapan Tio cie Hiong terhenti, karena mendadak ada orang mengetuk pintu.

"Siapa?"

"Aku pelayan, mengantar teh ke mari"

"Masuklah"

Pintu terbuka. Tampak seorang pelayan masuk dengan membawa sebuah teko dan dua cangkir. Setelah menaruh ke atas meja, pelayan itu pun pergi.

"Kebetulan"

Lim ceng Im tersenyum.

"Aku memang sudah haus."

Tio cie Hiong tersenyum, ia menuang secangkir teh untuk gadis itu, lalu menuang lagi ke cangkirnya.

"Mari kita minum dulu"

Ajaknya. Mereka mulai meneguk teh itu. Lim ceng Im bahkan menambah lagi seraya berkata.

"Kalau sedang haus, teh biasa pun terasa wangi"

"Teh ini memang wangi sekali,"

Ujar Tio cie Hiong tersenyum. Mereka mulai mengobrol lagi. Tak lama kemudian, Lim ceng Im merasa matanya berat sekali.

"Kakak Hiong, aku sudah mengantuk."

"Tidurlah kalau begitu"

Lim ceng Im naik ke tempat tidur lalu berbaring.

Tio cie Hiong segera menarik selimut menutupi badannya.

setelah itu ia duduk bersila di lantai.

Bab 50 Terkena racun aneh Ketika hari mulai terang, Tio Cie Hiong membuka matanya.

Lalu dia bangkit berdiri Dipandanginya sejenak Lim Ceng Im.

Ternyata gadis itu masih pulas dengan badan menelungkup.

"Adik Im Adik Im..."

Panggil Tio Cie Hiong sambil tersenyum, sama sekali tidak menyangka kekasihnya itu begitu pulas.

Tio Cie Hiong memanggilnya berulang kali, tapi Lim Ceng Im tetap diam.

Hal itu tentu saja mengherankan hati Tio Cie Hiong.

segeralah ia mendekatinya, lalu menjulurkan tangan memegang bahu gadis itu.

Begitu tangannya menyentuh bahu Lim Ceng Im, tersentaklah Tio Cie Hiong karena bahunya dingin sekali.

Buru-buru dibalikkan badan Lim Ceng Im.

Tio Cie Hiong bertambah terkejut melihat wajah gadis itu pucat pias.

"Mungkinkah Adik Im sakit?"

Gumamnya lalu segera memeriksa nadi Lim Ceng Im.

Nadi gadis itu berdenyut biasa.

sama sekali tiada tanda-tanda terserang penyakit.

Hal ini membingungkan Tio cie Hiong.

Kemudian ia memeriksa pula pernafasannya.

Kening Cie Hiong berkerenyit dalam mendapati tak ada tanda-tanda sakit pada diri kekasihnya.

"Heran? Kenapa bisa begitu?"

Tio Cie Hiong terus mengerutkan kening dan coba memanggilnya lagi.

"Adik Im Adik Im..."

Lim Ceng Im tetap diam, membuat Tio Cie Hiong mulai cemas.

Mungkinkah Lim Ceng Im pingsan?

Pikirnya, lalu memegang Lim Ceng Im seraya mengerahkan Iweekangnya untuk disalurkan ke dalam tubuh gadis itu.

Akan tetapi, Lim Ceng Im tetap diam dengan wajah pucat pias dan sekujur badannya tetap dingin.

Tio Cie Hiong berjalan mondar-mandir dengan kening berkerut, seakan sedang berpikir keras.

Namun mendadak saja dia tercengang dengan wajah memucat.

sebab saat itu dia teringat apa yang pernah dikatakan sok Bcng Yok ong, bahwa di kolong langit ini terdapat racun aneh.

siapa yang terkena racun tersebut akan terus tidur selama seratus hari.

Namanya Pek Jit Mi Hun Tok (Racun Pelenyap sukma seratus Hari).

seratus hari kemudian akan siuman sejenak lalu mati dengan tubuh membusuk.

Racun itu hanya dapat dipunahkan dengan cin cu Ko (Buah Mutiara).

sok Beng Yok ong juga memberitahukan, ia sama sekali tidak tahu Buah Mutiara tersebut tumbuh di mana "Aaaakh"

Teriak Tio Cie Hiong.

"Adik Im Adik Im"

La merangkul tubuh kekasihnya erat-erat dengan air mata berderai. Namun menjadi tersentak mendadak karena teringat sesuatu.

"Teh Ini pasti teh yang diantar pelayan semalam?"

Tio Cie Hiong berhambur keluar. Kebetulan dia langsung bertemu pelayan tersebut.

"Selamat pagi, Tuan"

Sapa pelayan itu.

"Engkau, engkau..."

Tio cie Hiong menudingnya.

"Ada apa, Tuan?"

Tanya pelayan keheranan.

"Apa gerangan yang terjadi?"

"siapa yang menyuruhmu mengantarkan teh semalam?"

"Tidak ada yang suruh, itu memang sudah menjadi tugasku. Memangnya kenapa?"

"Aaakh... sudahlah"

Tio cie Hiong menggeleng-geleng kepala. Dia tahu pelayan itu tiada kaitannya dengan kejadian tersebut.

"ohya, di kota ini ada yang menyewakan kereta kuda?"

"Ada Tuan mau menyewa kereta kuda?"

"Ya"

Pelayan itu langsung pergi, namun tak lama kemudian telah kembali dengan nafas tersengalsengal.

"Tuan, kereta kuda sudah berada di depan. Berbicaralah langsung pada kusirnya saja"

"Terima kasih"

Ucap Tio Cie Hiong sambil mengeluarkan beberapa tail perak. diberikan pada pelayan itu "

Untuk membayar penginapan, sisanya untukmu"

Ujarnya.

"Terima kasih, Tuan"

Pelayan itu girang bukan main Tio Cie Hiong berlari ke kamar.

Digendongnya Lim Ceng Im keluar.

sesampainya di depan penginapan, langsung saja dibaringkan gadis itu di dalam kereta.

sedangkan ia pun duduk di sisinya.

"Tuan hendak ke mana?"

Tanya sang kusir.

"Ke markas pusat Kay Pang"

Sahut Tio Cie Hiong sambil memberitahukan jalan-jalan yang harus ditempuh.

"jalanan kita harus siang malam"

"Tapi ongkosnya?"

"Berapa?"

"Lima puluh tail perak?"

"Berangkat"

Seru Tio Cie Hiong.

"Aku bayar"

"Tapi...,"

Tio Cie Hiong nyaring gusar, namun dapat mengendalikan diri Kemudian ia menyerahkan lima puluh tail perak pada kusir itu.

"Terima kasih"

Ucap sang kusir lalu menyentak tali kekang kuda di tangannya.

seketika terdengarlah suara ringkikan kuda saat kereta mulai meluncur.

Dua hari kemudian sampailah mereka di wilayah markas pusat Kay Pang.

Tio Cie Hiong menyuruh kusir itu berhenti.

"Baik, Tuan"

Sahut kusir sambil menghela tali kudanya.

Tio Cie Hiong menggendong Lim Ceng Im, lalu melesat pergi menuju ke markas pusat Kay Pang.

Para anggota Kay Pang yang menyambutnya terbelalak kaget, tapi tiada seorang pun berani bertanya.

"Pek Ih sin Hiap"

Kiu ci Cui Kay menyambutnya dengan air muka berubah.

"Apa yang terjadi dengan Nona Im?"

"Dia terkena suatu racun,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil terus menggendong Lim Ceng Im ke dalam kamar. Kiu Ci Cui Kay mengikutinya dari belakang dengan wajah memucat.

"Nona Im terkena racun apa?"

Tanya Kiu Ci Cui Kay setelah Tio Cie Hiong membaringkan gadis itu ke tempat tidur.

"Pek Jit Mi Hun Tok."

"Racun Pelenyap sukma seratus Hari? Racun apa itu?"

"siapa yang terkena racun tersebut akan tidur seratus hari, setelah itu akan mati dengan tubuh membusuk."

"Hah Apakah ada obat pemusnahnya?"

"Boleh dikatakan tidak ada."

Kiu Ci Cui Kay tercengang mendengarnya. Dengan hati cemas dia memandangi Lim Ceng Im.

"Aku pikir markas ini sudah tidak aman. Apakah ada tempat lain yang lebih aman?"

Tanyanya kemudian. Kiu Ci Cui Kay berpikir sejenak. lalu mengangguk.

"Ada sebuah rumah kosong, aku sering ke sana. Tempat itu boleh dikatakan aman sekali."

"Baiklah, mari kita ke sana"

Ajak Tio Cie Hiong lalu menggendong tubuh Lim Ceng Im.

Rumah tersebut memang kosong, lagi pula tiada rumah lain di sekitarnya.

Di dalamnya terdapat sebuah ranjang kayu dan dua buah kursi.

Dengan hati-hati sekali Tio cie Hiong membaringkan Lim Ceng Im ke atas ranjang itu.

sedangkan gadis itu tetap diam, seperti dalam keadaan pulas.

wajahnya pucat pias dengan tubuh dingin sekali.

"Adik Im...,"

Tio Cie Hiong memandangnya dengan air mata bercucuran.

"selanjutnya harus bagaimana?"

Tanya Kiu Ci Cui Kay cemas. Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Aku mahir ilmu pengobatan, tapi tidak mampu mengobati Adik Im."

"Benarkah tiada obat pemunahnya?"

"Memang ada, tapi...,"

"Kenapa?"

"Hanya Buah Mutiara yang dapat memunahkan racun Pek Jit Mi Hun Tok. sedangkan aku tidak tahu Cin Cu Ko itu tumbuh di mana?"

"Kalau begitu, Nona Im tidak tertolong lagi?"

"Kira-kira begitulah"

Tio cie Hiong duduk di tepi ranjang kayu, lalu membelai rambut Lim Ceng Im dengan air mata berderai-derai.

"Adik Im, seratus hari kemudian kalau engkau mati, aku pun tidak akan hidup,"

Diam-diam Kiu ci Cui Kay menghela nafas, tidak tahu harus bagaimana menghiburnya.

"siapa yang meracuninya?"

Tanya Kiu Ci Cui Kay.

"Entahlah"

Tio Cie Hiong menggeleng kepala.

"Malam itu pelayan penginapan mengantarkan teh. Kami berdua minum, tapi tak lama Adik Im merasa mengantuk dan langsung tidur."

Kiu Ci Cui Kay menatapnya heran.

"Kenapa engkau tidak apa-apa?"

"Aku pernah makan buah Kiu Yap Ling che, yang membuat tubuhku kebal terhadap racun apa pun."

"Kalau begitu, buah Kiu Yap Ling che pasti dapat memunahkan racun itu."

"Benar Tapi,"

Tio Cie Hiong tersenyum getir.

"Lima ratus tahun hanya berbuah sekali Kiu Yap Ling che itu. Kalau tidak berjodoh, tidak bisa memperolehnya."

Kiu ci cui Kay menggeleng-geleng kepala. Tio cie Hiong mulai terisak-isak.

"Kenapa nasibmu jadi begini malang? Padahal kita berdua tidak pernah berbuat dosa, kenapa malah tertimpa musibah"

"Hidup memang penuh cobaan,"

Ujar Kiu Ci Cui Kay sambil menghela nafas panjang.

"Karena itu, engkau harus tabah dan menghadapi kejadian ini dengan tenang."

"Tabah dan tenang?"

Tio Cie Hiong tersenyum getir.

"Adik Im adalah segala-galanya bagiku. Kini dia terkena racun Bagaimana mungkin aku bisa tenang?"

Air mata Tio Cie Hiong berderai. Perlahan dibelai-belainya rambut Lim Ceng Im sambil terisakisak.

"Adik Im, apabila engkau mati nanti, aku pasti ikut mati. Adik Im, engkau dengar apa yang kukatakan? senyumlah"

"Jangan terlampau berduka Engkau tidak pernah berbuat dosa, maka aku yakin Thian (Tuhan) pasti melindungi kalian,"

Ujar Kiu Ci Cui Kay sungguh-sungguh.

"Hhh..."

Tio Cie Hiong menghela nafas sambil menggeleng-geleng kepala.

"Adik Im, kita belum melewati hari-hari yang indah dan bahagia. Kenapa seratus hari lagi engkau harus mati? Adik Im, agar engkau tidak kesepian di sana, aku pasti akan menyertaimu."

Selama tiga hari itu Tio Cie Hiong sama sekali tidak makan, minum dan tidur, sehingga wajahnya tampak pucat sekali.

la terus duduk di pinggir ranjang menemani Lim Ceng Im.

Kiu Ci Cui Kay duduk di kursi sambil memandangnya dengan iba.

"Adik Im sudah lewat tiga hari,"

Gumam Tio Cie Hiong menangis terisak-isak dengan air mata bercucuran.

"Kenapa engkau tidak bangun? Adik Im...."

Tio cie Hiong betul-betul berduka dan tampak putus asa pula. la terus membelai rambut Lim Ceng Im. Menangis dan menangis dia. Hati-nya sedih dan bingung.

"Adik Im Adik Im..."

Teriaknya serak.

"Bangunlah Kenapa engkau diam saja? Adik Im, bicaralah Engkau dengar suaraku?"

Kiu ci cui Kay terkejut.

Dia khawatir kalau Tio cie Hiong terlampau berduka, kemungkinan besar akan merusak hawa murninya.

Ini berbahaya sekali.

Kiu Ci Cui Kay mendekatinya, kemudian memegang bahu Tio Cie Hiong seraya berkata.

"Biar bagaimana pun, engkau harus tenang."

"Tenang? Adik Im sedang menunggu ajal, bagaimana mungkin aku bisa tenang?"

Sahut Tio Cie Hiong lalu mulai menangis lagi.

"Adik Im Adik Im Adik Im..."

"Jangan terlampau berduka, itu akan merusak hawa murni di dalam tubuh mu.Jangan putus asa"

Kiu Ci Cui Kay mengingatkannya.

"Jangan putus asa. Jangan terlampau berduka, jangan putus asa,"

Gumam Tio Cie Hiong.

Namun mendadak saja dia tersentak karena teringat suatu pesan dari Tayli Lo Ceng.

Apabila dirinya mengalami sesuatu yang membuatnya berduka sekali dan putus asa, maka ia harus me ngeluarkan isi kantong kain pemberian Tayli Lo Ceng dan membacanya.

Teringat akan itu, Tio cie Hiong segera mengeluarkan kantong kain pemberian Tayli Lo Ceng.

Isi kantong itu ternyata berupa secarik kertas.

segeralah Tio cie Hiong membacanya.

"Engkau harus segera berangkat ke Gunung Hong Lay san menemui It sim sin Ni (Biarawati sakti Hati satu). sin ni itu akan memberi petunjuk padamu. Cepatlah engkau berangkat ke sana, jangan membuang waktu Tayli Lo ceng"

Setelah membaca, Tio Cie Hiong pun memandang Kiu Ci Cui Kay. sedangkan pengemis itu sudah tampak kebingungan ketika menyaksikan tingkah laku Tio Cie Hiong.

"Aku harus berangkat ke Gunung Hong Lay san"

Ujar Tio Cie Hiong. Tolong jaga Ceng Im baikbaik"

Pesannya kemudian kepada pengemis itu. Kiu Ci Cui Kay mengangguk.

"Kapan engkau akan berangkat ke Gunung Hong Lay san?"

"Sekarang. Aku harus memburu waktu"

"Baik. Hati-hatilah"

"Kiu Ci Cui Kay"

Tio Cie Hiong menatapnya dalam-dalam.

"Jagalah Ceng Im baik-baik"

Kiu Ci Cui Kay mengangguk.

"Akan kujaga dia .Jangan khawatir"

Tio Cie Hiong langsung berangkat menggunakan ginkang.

Dia melakukan perjalanan siang malam tanpa beristirahat, bahkan juga tidak makan.

Kira-kira tujuh hari kemudian, Tio Cie Hiong sudah tiba di Gunung Hong Lay san.

Dia mengerahkan ginkang menuju ke puncak.

sesampainya di puncak.

la memang melihat sebuah biara tua.

Ketika ia hendak mengetuk pintu biara itu, mendadak pintu terbuka.

Tampak dua biarawati berusia enam puluhan berdiri di ambang pintu menatapnya.

"siapa engkau? Mau apa ke mari?"

Tanya salah seorang biarawati itu.

"Maaf, aku ingin bertemu It sim sin Ni,"

Ujar Tio Cie Hiong sambil memberi hormat.

"oh?"

Kedua biarawati itu tampak tertegun, kemudian memberitahukan.

"sudah lama guru kami menutup diri, lebih baik engkau pergi saja"

"Aku... aku punya urusan penting, tolong beritahukanpada sin ni"

Ujar Tio Cie Hiong memohon.

"Maaf, guru kami tidak mau diganggu"

"Biar bagaimanapun aku harus bertemu sin ni"

"Engkau ingin menggunakan kekerasan?"

"Aku... aku terpaksa"

"Kalau begitu, langkahi dulu mayat kami Masuklah jika kau mampu membunuh kami"

Tantang kedua wanita itu.

"Hh..."

Keluh Tio Cie Hiong. Mendadak ia teringat sesuatu dan cepat-cepat mengeluarkan kantong kain pemberian Tayli Lo Ceng.

"Tolong perlihatkan ini pada sin Ni setelah sin Ni melihat kantong kain ini dan tetap tidak mau menemuiku, aku akan pergi"

Tio Cie Hiong memberikan kantong kain itu pada salah seorang biarawati.

Kedua biarawati saling memandang, tak lama kemudian salah seorang menerima kantong kain tersebut, lalu masuk.

Yang satu lagi tetap berdiri menghadang di depan pintu.

sedangkan Tio cie Hiong berdiri termangu-mangu di depan biara.

Beberapa saat kemudian, biarawati yang masuk itu sudah kembali.

"Mari ikut kami ke dalam"

"Terima kasih"

Tio Cie Hiong mengikuti mereka ke dalam. Tak lama kemudian biarawati berhenti di depan pintu sebuah ruangan.

"Guru, tamu sudah kami ajak ke mari"

"Persilakan dia masuk"

Terdengar sahutan dari dalam, halus namun jelas sekali.

"Silakan masuk"

Perintah salah seorang biarawati pada Tio Cie Hiong.

"Terima kasih"

Tio Cie Hiong melangkah ke dalam. Dia melihat seorang biarawati tua duduk bersila di lantai. Cepat-cepatlah Tio cie Hiong bersujud.

"Duduklah"

Biarawati itu tersenyum lembut.

"Aku It sim sin Ni, siapa engkau, Anak muda?"

"Namaku Tio Cie Hiong"

"Bagaimana engkau bertemu Tayli Lo Ceng?"

"Kami bertemu di istana Tayli...,"

Tutur Tio Cie Hiong menjelaskan dengan singkat.

"Lo Ceng yang memberikan kantong kain ini padaku"

Lanjutnya.

"Dia masih ingat akan janjiku padanya."

It sim sin Ni tersenyum.

"Ketika memberikan kantong kain ini padanya, aku pun berjanji bahwa apabila aku melihat kantong kain ini lagi, maka aku harus memberi bantuan pada yang membawanya."

"Terima kasih, sin Ni"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Anak muda"

It sim sin Ni menatapnya tajam.

"Apa yang bisa kubantu?"

"sin ni, aku datang untuk memohon petunjukmu."

"Tentang apa?"

"Calon isteriku bernama Lim Ceng Im, terkena racun Pek Jit Mi Hun Tok. Aku harus ke mana mencari Cin cu Ko untuk memunahkan racun itu?"

"Dasar tua bangka"

It Sim Sin Ni menghela nafas panjang.

"Sungguh hebat dan jitu ramalannya Aku harus mengaku kalah padanya."

"sin Ni tahu Cin cu Ko itu tumbuh di mana?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Tahu"

It sim sin N Imanggut-manggut.

"Cin Cu Ko tumbuh di depan matamu"

"Terima kasih, sin Ni Terima kasih"

Ucap Tio Cie Hiong dengan suara bergemetar.

"Anak muda, tahukah engkau berapa usiaku?"

Tanya It sim sin Ni mendadak.

"Bukankah sudah seratus tahun lebih?"

Jawab Cie Hiong.

"Benar,"

Jawab It sim sin Ni tersenyum.

"Terus terang, Tayli Lo Ceng adalah teman baikku di masa muda."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Pek Lian"

Seru It sim sin Ni.

"Ya, Guru"

Sahut salah seorang biarawati yang di luar.

"Cepat seduhkan teh swat Lian (Teratai salju) untuk tamu"

Ujar It sim sin Ni.

"sudah hampir sepuluh hari tamu kita ini tidak tidur, tidak makan dan tidak minum. Kalau dia terus bertahan, pasti akan pingsan."

"Ya, Guru"

"Bagaimana sin Ni tahu?"

Gumam Tio Cie Hiong keheranan.

"Aku tahu itu dari wajahmu"

It sim sin Ni tersenyum dan melanjutkan.

"Engkau dapat mengimbangi kepandaian Tayli Lo Ceng, pertanda dirimu memiliki kepandaian yang sangat tinggi."

"Tidak juga, sin Ni," ^ahut Tio Cie Hiong merendah.

"Guru"

Terdengar suara di luar.

"Murid telah membawakan teh, bolehkah murid masuk?"

"Masuklah"

Sahut It sim sin Ni.

"Ya, Guru"

Biarawati itu masuk dengan membawa secangkir teh swat Lian. setelah menaruh ke hadapan Tio Cie Hiong, biarawati itu segera mengundurkan diri dari ruang gurunya.

"Anak muda, minumlah"

Ucap It sim sin "Terima kasih, sin Ni"

Tio Cie Hiong meneguk teh itu sungguh wangi rasanya. setelah masuk ke tenggorokannya, ia pun merasa segar.

"Tayli Lo Ceng tidak menceritakan tentang diriku?"

Tanya It sim sin Ni. Tio Cie Hiong menggeleng kepala.

"sin ni mengenai Cin cu Ko...,"

"Tenanglah"

It sim sin Ni tersenyum lembut.

"Aku kenal dia ketika usiaku baru sembilan tahun. saat itu usianya sebelas. Kami sangat cocok dan saling mengasihi. Aku memberitahukannya bahwa aku ingin jadi biarawati. Dia senang sekali karena dia pun ingin jadi rahib. setahun kemudian kami berpisah. Kira-kira lima belas tahun kemudian, kami berjumpa. saat itu aku sudah jadi biarawati, dan dia menjadi rahib. Betapa gembiranya saat itu. Namun setelah itu kami berpisah lagi. Dua puluh tahun kemudian, kami berjumpa kembali. Aku dan dia sama-sama sudah memiliki kepandaian tinggi. Namun kami tidak pernah memamerkan kepandaian, maka kaum rimba persilatan sama sekali tidak tahu tentang kami berdua. saat hendak berpisah, aku memberikannya kantong kain ini, dan berjanji apabila aku melihat kantong ini, harus memberi bantuan pada si pembawa. Terus terang, aku ingin menjajal ilmu ramalnya"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Ternyata ilmu ramalnya lebih tinggi dariku"

It sim sin Ni tersenyum.

"Aku harus mengaku kalah padanya."

"Maaf, bolehkah aku bertanya?"

"Tanyalah"

"Apakah sin Ni dan Lo Ceng, menjadi sepasang kekasih?"

It sim sin ni tersenyum lagi.

"Kami memang sepasang kekasih yang tak terpisahkan"

"Tapi...,"

"Tentunya engkau merasa heran kenapa aku mengatakan begitu, bukan?"

"Ya"

"Kami berdua saling mengasihi, menyayangi dan mencintai."

It sim sin ni menjelaskan.

"Tapi semua itu tidak ternoda oleh hawa nafsu birahi, artinya suci murni"

Tutur wanita itu. Lalu mulutnya tersenyum.

"Aku tahu engkau berhati Budha, tapi tidak berjodoh jadi rahib"

Lanjut It sim sin ni melanjutkan sambil menatap Tio Cie Hiong dengan penuh perhatian.

"Engkau ditakdirkan harus punya isteri dan anak. tapi harus pula mengalami berbagai macam percobaan."

"Sin Ni, selanjutnya aku masih harus mengalami percobaan?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak. It sim sin ni mengangguk.

"Engkau memang masih harus mengalami berbagai percobaan."

Tio cie Hiong menggeleng-geleng kepala.

"Padahal aku tidak pernah membunuh orang, bahkan selalu berbuat kebaikan. Kenapa harus mengalami berbagai percobaan?"

"Anak muda"

It sim sin ni tersenyum.

"Mau jadi orang baik, justru harus mengalami berbagai percobaan. Kalau engkau tidak bisa tabah dan tenang menghadapinya, niscaya akan berubah jahat. Apabila engkau tabah dan tenang menghadapi berbagai percobaan itu, engkau akan hidup bahagia kelak"

"Sin Ni"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Kenapa orang jahat tidak pernah mengalami percobaan?"

"Anak muda"

It Sim Sin N i tersenyum lagi.

"Orang jahat memang tidak akan mengalami percobaan, sebab mereka sudah jahat. Tapi mereka akan menerima ganjarannya, engkau mengerti?"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Sin Ni, artinya aku masih harus mengalami berbagai percobaan lagi?"

It Sim Sin N Imengangguk.

"ingat Engkau harus tabah dan tenang menghadapi percobaanpercobaan itu. Percayalah, engkau akan hidup tenang, damai, dan bahagia kelak"

"Terima kasih atas wejangan Sin Ni,"

Ucap Tio Cie Hiong sambil memberi hormat. It Sim Sin N Imanggut-manggut, kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil, diberikan pada Tio Cie Hiong.

"Botol ini berisi belasan butir Cin Cu Ko. Untuk calon isterimu cukup diberikan sebutir saja Sisanya engkau simpan baik-baik, sebab masih ada gunanya"

"Terima kasih, Sin Ni"

Tio Cie Hiong menerima botol itu dengan penuh kegirangan.

"Ohya, bagaimana wajah calon isterimu?"

Tanya It Sim Sin Ni mendadak.

"Pucat pias dan dingin sekujur badannya,"

Jawab Tio Cie Hiong.

"Kalau begitu...."

It sim Sin N i tersenyum.

"Seratus hari kemudian, calon isterimu tidak akan mati. Dia akan siuman, tapi musnah kepandaiannya dan wajahnya akan berubah buruk"

Tio cie Hiong terkejut mendengar penjelasan itu.

"Siapa yang terkena racun itu,"

It sim sin N Imenjelaskan.

"Apabila wajahnya memerah dan panas sekujur badannya, maka seratus hari kemudian dia pasti mati dengan tubuh membusuk. oleh karena itu, siapa yang terkena racun itu dengan tanda-tanda tersebut, engkau harus memberikannya dua butir."

"Ya, sin Ni."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"ingat Apabila engkau mengalami percobaan lagi, hadapilah dengan tabah dan tenang"

Pesan It sim sin Ni lagi.

"Ya, sin Ni."

"Sekarang engkau boleh pulang."

It sim sin Ni menatapnya lembut.

"Kalau ada jodoh, kita akan bertemu lagi kelak."

"Terima kasih, sin Ni,"

Ucap Tio cie Hiong lalu bersujud.

setelah itu dia meninggalkan biara di Gunung Hong Lay San.

Kiu Ci Cui Kay menyambut Tio Cie Hiong dengan penuh tanda tanya.

Dan melihat wajah Tio cie Hiong tampak berseri, pengemis itu berlega hati.

"Berhasil?"

Tanyanya.

"Ya"

Tio Cie Hiong mengangguk sambil mengeluarkan botol kecil pemberian It sim sin Ni.

Kemudian dengan hati-hati sekali dituangkan sebutir Cin cu Ko ke tangannya.

setelah itu, dimasukkannya ke dalam mulut Lim Ceng Im.

Tio cie Hiong duduk di pinggir ranjang dengan hati kebat-kebit, sedangkan Kiu ci cui Kay berdiri dengan perasaan tegang.

Beberapa saat kemudian, wajah Lim Ceng Im mulai berubah normal, begitu pula sekujur badannya, tidak begitu dingin lagi.

Tio cie Hiong menarik nafas lega dan terus duduk di pinggir ranjang.

Tak lama badan Lim Ceng Im tampak bergerak lalu matanya terbuka perlahan-lahan.

"Adik Im Adik Im...,"

Panggil Tio Cie Hiong.

"Kakak Hiong...,"

Lenguh Lim Ceng Im lemah. Tio Cie Hiong menggenggam tangan Lim Ceng Im dengan mata berkaca-kaca.

"syukurlah engkau sudah siuman"

Lim Ceng Im tampak tercengang, gadis itu mau bangun tapi cepat-cepat Tio Cie Hiong mencegahnya.

"Adik Im, beristirahat saja"

"Kakak Hiong, kenapa badanku tak bertenaga? Apa gerangan yang telah terjadi?"

Tio Cie Hiong pun menceritakan peristiwa yang baru mereka alami sejak dari rumah penginapan tempo hari. Lim Ceng Im terkejut bukan main.

"Aku... aku terkena racun Pek Jit Mi Hun Tok?"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kita harus berterima kasih pada Tayli Lo Ceng dan It sim sin Ni"

"Sungguh hebat dan jitu ramalan Tayli Lo Ceng"

Ujar Lim Ceng Im.

"Kalau waktu itu Tayli Lo Ceng tidak muncul dan memberikanmu kantong kain itu, aku pasti mati seratus hari kemudian."

"Mati sih tidak. tapi kepandaianmu akan musnah."

Tio Cie Hiong memberitahukan berdasarkan apa yang didengarnya dari It sim sin Ni.

"Kakak Hiong siapa kira-kira yang meracuni aku?"

"sudah pasti berkaitan dengan si sam itu,"

Ujar Tio Cie Hiong lalu menghela nafas panjang.

"It sim sin Ni bilang, aku memang harus mengalami berbagai percobaan. setelah itu, barulah bisa hidup tenang, damai dan bahagia"

"Itu yang disebut pahit duluan, manis belakangan"

Ujar Lim Ceng Im sambil tersenyum.

"Adik Im...,"

Tio Cie Hiong menatapnya dengan penuh kasih sayang.

"Aku, aku senang sekali, engkau sudah bisa senyum."

"Nona Im"

Kiu Ci Cui Kay menyela sambil tertawa.

"Ketika engkau tidak siuman, dia terus menangis dan menyatakan apabila seratus hari kemudian engkau mati, dia akan ikut mati."

Lim Ceng Im tersenyum.

"Kakak Hiong, benarkah itu?"

"Benar"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Engkau segala-galanya bagiku. Kalau engkau mati, apa gunanya aku hidup lagi?"

"Kakak Hiong...."

Betapa terharunya Lim Ceng Im, sehingga matanya jadi bersimbah air.

"Kakak Hiong, aku... aku terharu sekali"

Bab 51 Lenyap bagaikan asap Racun Pek Jit Mi Hun Tok yang di dalam tubuh Lim Ceng Im memang telah dipunahkan dengan cin cu Ke.

Namun badan gadis itu masih lemah.

Karena itu, Tio Cie Hiong melarangnya bangun dari ranjang.

"Adik Im"

Tio Cie Hiong membelainya.

"Engkau masih perlu beristirahat, sebab keadaan badanmu masih lemah."

"Kakak Hiong mahir ilmu pengobatan, belikan aku obat agar tubuhku cepat pulih seperti sedia kala."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Baiklah, aku akan pergi beli obat untukmu."

"Biar aku saja yang pergi beli,"

Usul Kiu Ci Cui Kay.

"Lebih baik aku saja,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Karena aku masih harus belanja keperluan-keperluan Adik Im."

"Terima kasih, Kakak Hiong,"

Ucap Lim Ceng Im sambil tersenyum manis.

"Kiu ci Cui Kay,"

Pesan Tio Cie Hiong.

"Tolong jaga Ceng Im"

Kiu Ci Cui Kay mengangguk.

"Baik, pergilah"

Tio cie Hiong sebera berangkat ke kota terdekat untuk membeli obat dan berbagai keperluan Lim Ceng Im.

Ketika hari mulai gelap.

ia pulang dengan membawa tiga bungkus obat dan berbagai macam keperluan Lim Ceng Im.

Namun sampai di depan rumah, kening Tio Cie Hiong berkerut, karena melihat pintu rumah itu terbuka lebar.

segeralah ia masuk.

sampai di dalam dia tersentak dengan wajah pucat.

Ternyata Kiu Ci Cui Kay terkapar di lantai sudah jadi mayat.

sementara Ceng Im tidak ada.

"Adik Im Adik Im..."

Teriak Tio Cie Hiong dan apa yang dibawanya terlepas dari tangannya.

"Adik Im Adik Im..."

Tiada sahutan.

Hanya terdengar suara hembusan angin dari luar rumah.

Tio Cie Hiong terus berteriak-teriak memanggil Lim Ceng Im, namun tetap tiada sahutan.

Wajah Tio Cie Hiong pucat pias bagaikan kertas.

Matanya bersimbah karena sedih dan kecewa.

Kemudian perlahan ia mendekati mayat Kiu Ci Cui Kay untuk memeriksanya.

Ternyata Kiu Ci Cui Kay mati terkena pukulan yang mengandung Iweekang dahsyat, sehingga perut dan isinya hancur berantakan.

Namun sungguh mengherankan, keadaan rumah tidak porak poranda.

Itu berarti Kiu Ci Cui Kay tak mampu melawan.

Yang mencemaskan Tio Cie Hiong adalah hilangnya Lim Ceng Im, sebab tidak meninggalkan jejak sama sekali.

Betapa bingung hatinya, bagaikan orang gila.

la melesat ke sana ke mari sambil berteriak-teriak memanggil Lim Ceng Im dan akhirnya jatuh duduk di tanah.

seketika juga ia teringat kepada It sim sin ni, mungkin sin ni tersebut bisa memberi petunjuk kepadanya.

Demikian pikir Tio cie Hiong, dan langsung berangkat ke Gunung Hong Lay san.

Beberapa hari kemudian, Tio Cie Hiong tiba di kaki Gunung Hong Lay san.

Ketika ia baru mengerahkan ginkangnya menuju puncak.

mendadak muncul kedua murid It sim sin ni.

"Guru menyuruh kami menyerahkan surat ini kepadamu."

Salah seorang dari kedua murid itu memberitahukan sambil menyerahkan sepucuk surat kepada Tio Cie Hiong.

setelah menyerahkan, kedua murid It sim sin Ni itu melesat ke puncak.

Tio Cie Hiong segera membaca surat itu yang berbunyi demikian.

"Harus tabah dan tenang menghadapi suatu percobaan, sebab jalan hidupmu memang harus mengalami berbagai percobaan setelah itu, barulah engkau bisa hidup tenang damai dan bahagia. Tertanda It sim sin Ni"

"Aaaakh...."

Tio Cie Hiong jatuh duduk.

"Baik-lah. Aku akan menghadapi percobaan ini dengan tabah dan tenang."

Gumamnya. seusai bergumam, Tio Cie Hiong lalu bersemadi. Entah berapa lama kemudian barulah ia membuka matanya, dan kini ia tampak lebih tenang.

"Adik Im"

Teriaknya keras-keras.

"Aku pasti mencarimu...."

Setelah berteriak demikian, ia melesat pergi meninggalkan Gunung Hong Lay san. -ooo)00000(ooo-"Ha ha ha Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa terbahak-bahak.

"Rasakan Tio Cie Hiong Walau engkau telah memunahkan racun Pek Jit Mi Hun Tok yang mengindap di dalam tubuh Lim Ceng Im, tapi kini engkau malah berpisah dengan gadis itu Ha ha ha"

"Dia pasti jadi gila karena memikirkan jantung hatinya itu,"

Ujar Thian Mo sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Dia mana tahu kekasihnya dikurung di sini He h e he...."

"Begitu pula yang lain,"

Sambung Te Mo sambil meneguk arak.

"Lo Mo, kini sudah banyak tokoh golongan hitam bergabung dengan kita, mungkin sudah waktunya Bu Tek Pay muncul di rimba persilatan."

"Benar."

Tang Hai Lo Mo tertawa gembira.

"siapa yang tidak mematuhi perintah Bu Tek Pay, harus dibunuh tanpa ampun"

"He he he"

Thian Mo tertawa terkekeh-kekeh lagi.

"Akhirnya rimba persilatan jatuh ke tangan kita siapa yang berani menentang Bu Tek Pny, harus dibasmi sampai ke akar-akarnya"

"Lo Mo"

Wajah Te Mo tampak serius.

"Aku punya suatu ide."

"Ide apa?"

Tanya Tang Hai Lo Mo.

"Kita tahu suku Miauw yang di pedalaman, kan? Mereka sangat membenci orang Tionggoan. oleh karena itu, kita mengutus beberapa orang untuk menyebarkan berita...,"

Jawab Te Mo dan menambahkan.

"Bahwa mereka melihat segerombolan orang Miauw membawa Lim Ceng Im ke daerah Miauw Nah, otomatis Tio Cie Hiong akan menyusul ke sana."

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gembira.

"Ide yang bagus Kalau Tio Cie Hiong sudah memasuki daerah Miauw, pasti sulit baginya untuk kembali ke Tionggoan lagi Ha ha ha..."

"orang-orang Miauw rata-rata mahir ilmu racun. Maka begitu memasuki daerah Miauw, Tio Cie Hiong harus menghadapi berbagai macam racun,"

Ujar Thian Mo.

"sebelum menemui kepala suku Miauw, dia pasti sudah mati keracunan."

"Menyinggung soal racun...."

Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.

"Justru sungguh mengherankan, kenapa pada waktu itu dia tidak terkena racun Pek Jit Mi Hun Tok? Padahal dia minum teh yang telah dicampuri racun itu."

"Mungkinkah dia kebal terhadap racun?"

Thian Mojuga mengerutkan kening.

"Kalau begitu, dia tidak akan mati keracunan di daerah Miauw."

"Itu tidak jadi masalah."

Te Mo tertawa.

"Kita kan tahu, kepala suku Miauw berkepandaian tinggi. Lagi pula belum tentu Tio Cie Hiong mampu melewati tiga rintangan itu."

"Benar."

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak dan menambahkan.

"Begitu Tio Cie Hiong berangkat ke daerah Miauw, Bu Tek Pay pasti muncul dalam rimba persilatan."

"Mungkin tidak lama lagi Lam Kiong Bie Liong dan lainnya akan memasuki Tionggoan? Bagaimana kalau kita culik mereka?"

Tanya Thian Mo.

"Itu memang harus He he he"

Tang Hai Lo Mo tertawa terkekeh-kekeh, kemudian mengerutkan kening.

"seandainya Tio Cie Hiong bisa selamat di daerah Miauw dan kembali ke Tionggoan, bagaimana tindakan kita?"

"Itu urusan nanti"

Sahut Thian Mo.

"Kini kita bertiga sudah memiliki kepandaian yang sangat tinggi, maka kita tidak usah takut kepadanya."

"Benar"

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

"Apabila perlu, kita akan berhadapan langsung dengannya."

"He he he"

Te Mo tertawa terkekeh.

"siapa yang mampu menahan pukulan gabungan kita? Kini dalam rimba persilatan sudah tiada It Ceng dan Ji Khie, yang ada hanya sam Mo."

"Tidak salah. Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Ha ha ha..."

Tio Cie Hiong sudah tiba di kota Kiu Ling.

la mampir di sebuah kedai teh dan duduk di tempat yang pernah dia duduki bersama Lim Ceng Im.

Pelayan segera menyuguhkan secangkir teh.

Kemudian Tio Cie Hiong menghirup teh itu sambil melamun.

Di sebelah kirinya duduk beberapa orang berpakaian ketat, yang kelihatannya kaum rimba persilatan.

"Rimba persilatan memang sudah kacau. Bu Lim Ji Khie, ketua Kay Pang dan para ketua tujuh partai hilang begitu saja."

"oleh karena itu, para penjahat mulai bermunculan."

Begitulah percakapan mereka, yang didengar Tio Cie Hiong.

Akan tetapi berita itu bukan merupakan berita aktual dalam rimba persilatan, sebab Tio Cie Hiong sudah tahu jelas tentang itu Hanya saja mendadak air mukanya tampak berubah, karena orang-orang itu menyinggung tentang seseorang gadis.

"Kasihan gadis cantik jelita itu, sepasang tangannya dirantai."

"siapa gadis itu?"

"Aku tidak kenal. Tapi dia terus berteriak-teriak memanggil seseorang."

"Memanggil siapa?"

"Kakak Hiong Kakak Hiong Gadis itu terus berteriak begitu."

"Engkau menyaksikannya dengan mata kepala sendiri?"

"Tentu. Kalau tidak. bagaimana mungkin aku menceritakannya? sebetulnya aku ingin menolongnya, tapi...."

"Kenapa?"

"Rasanya aku tidak mampu melawan mereka. Aaakh... Aku sungguh malu, hanya menyaksikan, tidak bisa berbuat apa-apa"

"siapa mereka yang membawa gadis itu?"

"Berdasarkan pakaian mereka, aku yakin mereka orang Miauw. Mungkin gadis itu akan dibawa ke daerah Miauw."

Sementara Tio Cie Hiong terus mendengarkan dengan penuh perhatian. la terkejut bercampur girang karena mengetahui jejak Lim Ceng Im.

"Engkau tidak malu menceritakan tentang itu? Melihat gadis Tionggoan ditangkap orang Miauw hanya diam saja Huh Dasar pengecut"

"Aku memang pengecut, sebab kepandaianku rendah sekali. Kalau kepandaianku setinggi Pek Ih sin Hiap. tentu sudah kuhabiskan orang-orang Miauw itu."

"Heran Kenapa mereka menculik gadis itu?"

"Bukankah kita tahu bahwa orang Miauw masih primitif . Lagi pula mereka mempercayai tahyul, maka kemungkinan besar gadis itu akan dijadikan tumbal untuk suatu upacara. sungguh kasihan gadis itu"

Mendengar sampai di situ, Tio Cie Hiong segera menaruh setael perak di atas meja lalu meninggalkan kedai teh itu. setelah Tio Cie Hiong pergi, beberapa orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Tio cie Hiong pasti segera berangkat ke daerah Miauw. Tugas kita menyebarkan berita ini telah kita laksanakan dengan baik. Ketua pasti gembira sekali."

"Kalau begitu, kita harus segera kembali ke markas untuk melapor. Kemungkinan kedudukan kita akan naik. Ha ha ha"

Tio Cie Hiong memang tidak tahu, bahwa sesungguhnya beberapa orang itu diutus oleh sam Mo untuk menyebarkan berita tersebut, agar Tio Cie Hiong mendengarnya dan segera berangkat ke daerah Miauw.

Kini istana Te Mo yang ada di dalam goa telah dijadikan markas Bu Tek Pay (Partai Tanpa Tanding).

Beberapa orang itu ternyata kaum golongan hitam yang bergabung dengan partai tersebut.

Mereka segera kembali ke markas dengan wajah berseri.

Ketika itu Sam Mo duduk di kursi, la memandang mereka dengan tajam.

"Lapor kepada Ketua, tugas itu telah kami laksanakan dengan baik sesuai dengan keinginan hati Ketua."

"Bagus Bagus Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Kalau begitu, Tio Cie Hiong pasti berangkat ke daerah Miauw."

"Ya, Ketua."

"Dia tidak mencurigai kalian?"

Tanya Thian Mo.

"Sama sekali tidak. Kami bercakap-cakap di sebelahnya, dan dia hanya mendengarkan tanpa bertanya. Lagi pula dia tidak mengenal kami, maka tidak akan mencurigai kami."

"Bagus"

Tang Hai LoMo manggut-manggut.

"Karena kalian telah melaksanakan tugas dengan baik, maka kalian berempat kuangkat menjadi kepala regu"

"Terima kasih, Ketua"

Ucap mereka berempat serentak.

"Tan Kok Yauw"

Seru Thian Mo.

"Ya"

Tan Kok Yauw maju selangkah sambil memberi hormat.

"Siap terima perintah"

"Mulai sekarang, engkau sebagai kepala regu bendera merah,"

Ujar Thian Mo.

"Terima kasih, Ketua"

Ucap Tan Kok Yauw dengan bergirang hati, latu mundur selangkah.

"Lie Kiat Houw"

Seru Te Mo "Ya"

Lie Kiat IHouw maju selangkah sambil memberi hormat.

"Siap terima perintah"

"Mulai sekarang, engkau kuangkat menjadi kepala regu bendera kuning,"

Ujar Te Mo sambil tertawa.

"Terima kasih, Ketua"

Ucap Lie Kiat Houw dengan wajah berseri.

"Kwee Tiong seng"

Seru Tang Hai Lo Mo.

"Ya"

Kwee Tiong seng maju selangkah dan memberi hormat.

"siap terima perintah"

"Mulai sekarang, engkau sebagai kepala regu bendera hijau."

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Terima kasih, Ketua"

Ucap Kwee Tiong seng.

"Lauw Liang Hauw"

Seru Thian Mo.

"Ya"

Lauw Liang Hauw maju selangkah sambil memberi hormat.

"siap terima perintah"

"Mulai sekarang, engkau kuangkat menjadi kepala regu bendera hitam"

Ujar Thian Mo sambil tertawa.

"Terima kasih, Ketua"

Ucap Lauw Liang Hauw.

"Puaskah kalian dengan pengangkatan ini?"

Tanya Tang Hai Lo Mo sambil menatap mereka satu persatu.

"Kami merasa puas,"

Sahut mereka berempat serentak.

"Terima kasih atas kebaikan Ketua Kami pasti setia kepada Bu Tek Pay."

"sekarang kalian boleh kembali ke tempat masing-masing,"

Ujar Tang Hai Lo Mo dan menambahkan.

"Juga boleh beristirahat."

"Terima kasih, Ketua"

Ucap mereka berempat sambil memberi hormat, lalu meninggalkan ruang itu.

"Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

"Bagaimana menurut kalian berdua, apakah Tio cie Hiong sudah berangkat ke daerah Miauw?"

"Pasti sudah,"

Sahut Thian Mo dan Te Mo.

"Lim Ceng Im adalah kekasihnya, maka begitu memperoleh berita itu, dia pasti berangkat."

"Alangkah baiknya kalau dia mati di daerah Miauw, jadi kita tidak perlu turun tangan,"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Mulai sekarang, Bu Tek Pay sudah muncul di rimba persilatan. siapa berani menentang, harus dibunuh tanpa ampun."

"Benar."

Thian Mo dan Te Mo manggut-manggut sambil tertawa gelak.

"Ha ha"

Memang benar Tio Cie Hiong sudah berangkat menuju daerah Miauw dengan menunggang kuda.

Karena kebetulan melewati kota An wie, maka ia mampir di rumah guru silat Tan.

Betapa girangnya guru silat Tan ketika melihat Tio Cie Hiong, karena tidak menyangka kalau pemuda itu akan mengunjunginya.

"cie Hiong cie Hiong"

Panggilnya dengan mata berkaca-kaca karena terharu atas kunjungannya . Tio cie Hiong memberi hormat.

"Silakan duduk"

Ucap guru silat Tan. Ketika Tio cie Hiong duduk, muncullah Tan Li cu. Begitu melihat Tio cie Hiong, wanita itu langsung mendekatinya lalu mendekap di dadanya sambil terisak-isak.

"Eh? Adik Li Cu?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Kenapa engkau menangis?"

Tanyanya.

"Kakak Hiong...."

Air mata Tan Li cu berderai.

"Aku gembira sekali. Aku...."

"Kalau gembira harus tertawa, jangan menangis"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Li Cu Duduklah"

Ujar guru silat Tan.

"Ya, Ayah."

Jawab Tan Li cu lalu duduk.

"ohya, Adik Li Cu"

Tio Cie Hiong menatapnya.

"Engkau sudah punya anak?"

"Ng"

Tan Li cu mengangguk.

"Anak perempuan."

"Namanya?"

"Lim Ay Lan."

"Nama yang indah"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"ohya, di mana Lim Hay Beng, suamimu?"

"Dia... dia...."

Tan Li Cu mulai terisak-isak lagi.

"Kenapa dia?"

Tlo Cie Hiong terkejut.

"Dia sudah mati,"

Sahut Tan Li cu dengan air mata bercucuran.

"Kapan dan bagaimana dia mati?"

Tanya Tio Cie Hiong dengan kening berkerut-kerut.

"Dua puluh hari yang lalu, dia mati dibunuh orang."

Tan Li cu memberitahukan sambil menangis sedih.

"siapa yang membunuhnya?"

"Liu siauw Kun."

"Liu siauw Kun?"

Tio Cie Hiong heran.

"siapa Liu siauw Kun itu?"

"Engkau yang mengalahkannya, bahkan juga memusnahkan kepandaiannya."

Tan Li cu memberitahukan.

"Pemuda hidung belang dan jahat itu. Apakah engkau sudah lupa?"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kepandaiannya telah kumusnahkan tapi kenapa masih membunuh Lim Hay Beng?"

"cie Hiong"

Guru silat Tan menggeleng-gelengkan kepala.

"Memang mengherankan, lagi pula kini kepandaiannya tinggi sekali."

"Kenapa bisa begitu?"

Tio cie Hiong tidak habis pikir.

"Kakak Hiong..."

Ujar Tan Li cu.

"Apabila engkau bertemu Liu siauw Kun, bunuhlah dia"

"Baik,"

Tio cie Hiong mengangguk.

"Terima kasih, Kakak Hiong"

Ucap Tan Li cu.

"cie Hiong"

Guru silat Tan memberitahukan.

"Ibu Yap In Nio telah meninggal."

"Adik In pergi mencarimu,"

Sambung Tan Li cu.

"Apakah engkau telah bertemu dengannya?"

"Dia...."

Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.

"Aaaaakh..."

"Kenapa dia?"

Tanya Tan Li cu dengan wajah berubah.

"Dia sudah mati."

Tio Cie Hiong menutur tentang kejadian yang menimpa Yap In Nio.

"Dia mati dalam pelukanku, namun nasibnya sungguh malang."

"Aaakh..."

Guru silat Tan dan putrinya menarik nafas.

"Sungguh di luar dugaan"

"ohya, Kakak Hiong"

Tan Li cu menatapnya.

"Apakah engkau sudah punya kekasih?"

"Sudah."

Tio cie Hiong mengangguk.

"Tapi...."

"Kenapa?"

"Namanya Lim Ceng Im...."

Tutur Tio Cie lliong dan melanjutkan.

"Karena itu, aku menuju daerah Miauw."

Tan Li cu menggeleng-gelengkan kemala.

"Aku tidak menyangka kalau engkau telah mengalami kejadian-kejadian itu."

"Cie Hiong"

Guru silat Tan memandangnya.

"Setiba di daerah Miauw engkau harus berhati-hati"

"Kenapa?"

"sebab orang-orang Miauw sangat membenci orang Tionggoan."

Guru silat Tan memberitahukan.

"Hal itu dikarenakan puluhan tahun lalu, segerombolan penjahat dari Tionggoan kabur ke daerah Miauw, dan mereka membantai penduduk di sana. Maka sejak saat itu orangorang Miauw sangat membenci orang Tionggoan."

"Oooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Aku pasti berhati-hati."

"Kakak Hiong..."

Tanya Tan Li cu sambil menundukkan kepala.

"Apakah engkau masih akan ke mari kelak?"

"Mudah-mudahan"

Sahut Tio Cie Hiong dan berpesan.

"ohya, Adik Li Cu Baik-baiklah mendidik putrimu. Engkau jangan mengajarnya ilmu silat, agar dia tidak berkecimpung di rimba persilatan kelak"

"Ya."

Tan Li cu mengangguk.

"setelah membunuh Lim Hay Beng, Liu siauw Kun lalu ke mana?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"sejak saat itu dia menghilang entah ke mana,"

Jawab Tan Li cu.

"Kalau begitu, engkau harus waspada,"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Aku khawatir dia akan muncul kembali."

"Benar,"

Guru silat Tan manggut-manggut.

"Karena itu, kami sudah siap pindah."

"Mau pindah ke mana?"

"Mungkin ke pinggir kota."

"Itu lebih baik,"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Ketika pindah, jangan sampai orang lain tahu"

"Ya."

Guru silat Tan manggut-manggut.

"Adik Li Cu"

Tio Cie Hiong bangkit berdiri.

"Aku mohon pamit"

"Kakak Hiong...."

Air mata Tan Li cu langsung meleleh.

"Kenapa cepat-cepat pergi?,"

"Aku harus memburu waktu, sebab Ceng Im dalam keadaan bahaya."

"Kakak Hiong...."

Tan Li cu terisak-isak.

"Kapan engkau akan mengunjungi kami lagi?"

"setelah urusanku beres, aku pasti ke mari."

"Jangan bohong ya, Kakak Hiong"

"Aku tidak bohong."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Paman, Adik Li Cu sampai jumpa"

Guru silat Tan dan putrinya mengantar Tio Cie Hiong sampai di luar rumah. setelah pemuda itu memacu kudanya, barulah mereka kembali masuk rumah.

"Aaaakh..."

Guru silat Tan menghela nafas.

"Tio Cie Hiong memang pemuda yang sangat baik, dia masih ingat kepada kita."

"Ayah...."

Air mata Tan Li cu berderai.

"Kini aku sudah menjadi janda. seandainya dia bersedia menerimaku, akupun rela menjadi pelayannya."

"Nak...."

Guru silat Tan menggeleng gelengkan kepala.

"Engkau harus ingat akan pesannya, didiklah Ay Lan baik-baik Jangan memikirkan yang bukan-bukan"

"Ya, Ayah."

Tan Li cu mengangguk sambil terisak-isak.

Bab 52 sesepuh suku Miauw yang ramah Tio Cie Hiong sudah mulai memasuki daerah Miauw.

la agak terbelalak ketika melihat pakaian orang Miauw yang sangat aneh.

Yang mengherankannya adalah sikap orang-orang Miauw.

Mereka memandangnya dengan penuh kebencian dan menyingkir jauh-jauh.

Mendadak ia mendengar suara teriakan-teriakan.

Ketika ia berpaling, tampak puluhan orang Miauw berlari-lari dengan wajah cemas.

Karena ingin tahu apa yang terjadi, maka Tio Cie Hiong mengikuti mereka ke tempat itu.

Puluhan orang Miauw berkerumun di situ dan terus berteriak-teriak.

tetapi Tio Cie Hiong sama sekali tidak mengerti, karena mereka menggunakan bahasa Miauw.

Tio Cie Hiong meloncat turun dari kudanya, lalu menghampiri mereka, tetapi seketika orangorang Miauw itu menyingkir.

Terlihat seorang wanita Miauw sedang menangisi anak gadis kecil yang tergeletak di situ, yang wajahnya pucat pias.

Tio Cie Hiong mendekati anak gadis kecil itu, yang ternyata sedang dalam keadaan pingsan.

Tanpa menghiraukan sorot mata orang-orang Miauw yang penuh kebencian, Tio Cie Hiong langsung memeriksa anak gadis kecil itu lalu mengerahkan lweekangnya sekaligus disalurkan ke tubuh si anak gadis.

Tak seberapa lama kemudian, anak gadis kecil tersebut siuman, lalu memeluk wanita Miauw itu erat-erat.

Tio Cie Hiong tersenyum, dan mengeluarkan sebutir obat lalu dimaksukkannya ke dalam mulut anak gadis kecil.

Wanita Miauw itu terus menatap Tio Cie Hiong, kemudian mengucapkan beberapa patah kata.

Namun Tio Cie Hiong sama sekali tidak mengerti.

Maka ia hanya manggut-manggut sambil tersenyum dan menghampiri kudanya.

Ketika itu tiba-tiba muncul beberapa pemuda Miauw dengan berbagai macam senjata tajam, lalu mengepung Tio Cie Hiong.

Wanita Miauw itu langsung berteriak-teriak.

sehingga membuat pemuda-pemuda Miauw itu menjadi ragu menyerang Tio Cie Hiong.

Tio Cie Hiong tersenyum sambil meloncat ke punggung kudanya, dan kuda itu lalu berjalan perlahan-lahan.

Baru beberapa langkah kudanya berjalan, tiba-tiba terdengar suara jeritan anak kecil.

Ketika Tio Cie Hiong menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara jeritan itu, tampak seorang anak kecil terjatuh dari pohon setinggi belasan depa.

Tanpa membuang waktu, Tio Cie Hiong langsung mengerahkan ginkangnya melesat ke sana.

orang-orang Miauw menyaksikannya dengan mulut ternganga, lalu ikut berlari-lari ke sana.

Tio Cie Hiong berhasil menyambar anak kecil itu, lalu melayang turun.

setelah itu, ditaruhnya anak kecil tersebut ke tanah lalu di-belai-belainya.

orang-orang Miauw terus memandangnya, dan di antaranya ada yang mulai berbisik-bisik.

Tio cie Hiong hanya tersenyum, sebab tatapan mereka sudah tidak lagi mengandung kebencian.

Kemudian Tio Cie Hiong berjalan menghampiri kudanya.

Di saat bersamaan muncullah seorang tua suku Miauw dan mendekatinya.

"Anak muda"

Panggil orang tua itu. Tio Cie Hiong tertegun dan girang, karena orang tua itu bisa berbahasa Han.

"Paman"

Serunya sambil menghampirinya.

"Apakah Paman mengerti bahasa Han?"

"Mengerti."

Orang tua itu tertawa.

"Terima kasih Anak muda, engkau telah dua kali menyelamatkan anak-anak Miauw"

"sama-sama, Paman."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Paman, bolehkah aku tahu siapa Paman?^ "Aku tergolong sesepuh suku Miauw,"

Jawab orang tua itu memberitahukan.

"Apakah engkau dari Tionggoan?"

"Betul, Paman."

"Namamu?"

"Tio Cie Hiong."

"Ada urusan apa engkau datang di daerah in^?"

"Aku mencari seorang gadis."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Karena ada orang melihat gadis itu ditangkap orang-orang Miauw, maka aku menyusul ke mari." (Bersambung ke bagian 31)

Jilid 31

"Apa?"

Sesepuh Miauw itu melongo.

"Orang-orang Miauw menangkap gadis Tionggoan?"

"Benar."

"Siapa yang menyaksikannya?"

"Kaum persilatan Tionggoan."

"Heran..."

Gumam sesepuh Miauw itu.

"Setahuku, orang-orang Miauw tidak pernah memasuki daerah Tionggoan."

"Tapi ada orang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri,"

Ujar Tio cie Hiong.

"Tidak mungkin."

Sesepuh Miauw itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Paman, bolehkah aku bertemu kepala suku Miauw?"

Tanya Tio cie Hiong mendadak.

"Mungkin kepala suku Miauw tahu tentang itu."

"Anak muda"

Sesepuh Miauw itu menghela nafas panjang.

"Tidak gampang menemui kepala suku Miauw."

"Kenapa?"

"Kalau orang dari Tionggoan ingin menemuinya, harus dapat melewati tiga rintangan."

"Tidak apa-apa. Aku akan mencobanya."

"Aku tahu bahwa engkau berkepandaian tinggi, tentu dapat melewati ketiga rintangan itu. Tapi akan membuang-buang waktu."

"Maksud Paman?"

"Ha ha ha"

Sesepuh Miauw itu tertawa.

"Aku sesepuh di sini, maka biar bagaimana pun kepala suku harus menghormatiku. Karena itu, aku boleh membawamu pergi menemuinya."

"Terima kasih, Paman"

Tio cie Hiong girang sekali.

"Terima kasih...."

Tempat tinggal kepala suku Miauw kelihatannya seram sekali, sebab di sana banyak terdapat tengkorak manusia.

Puluhan pengawal bersenjata lengkap berbaris di sana sambil menatap Tio Cie Hiong.

Mereka rata-rata memakai anting.

Kepala suku Miauw bangkit berdiri dari tempat duduknya menyambut kedatangan sesepuh itu, kemudian mereka bercakap-cakap dengan bahasa Miauw.

Kepala suku Miauw manggut-manggut, lalu memandang Tio Cie Hiong seraya berkata.

"silakan duduk"

Bukan main girangnya Tio Cie Hiong, karena kepala suku Miauw fasih berbahasa Han.

"Terima kasih"

Ucapnya sambil duduk.

"Anak muda"

Ujar kepala suku Miauw dengan kening berkerut.

"Kalau engkau tidak datang bersama sesepuh kami, aku pasti sudah menghukummu."

"oh?"

Tio Cie Hiong heran.

"Kenapa?"

"Karena kalian orang-orang Tionggoan telah memfitnah kami,"

Sahut kepala suku Miauw.

"Memfitnah?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Ya."

Kepala suku Miauw mengangguk.

"Aku tidak mengutus orang-orang Miauw ke Tionggoan untuk menculik anak gadis di sana, tapi engkau mengatakan orang-orang Miauw telah menculik anak gadis Tionggoan. Nah, bukankah itu fitnah?"

"Tapi ada orang yang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri"

"Hm"

Dengus kepala suku Miauw.

"Kalian orang-orang Tionggoan memang jahat dan licik, bisa saja orang itu memfitnah kami Engkau tidak menyelidiki dulu, tapi langsung ke mari Kalau bukannya engkau telah menyelamatkan dua nyawa anak kecil itu, engkau pasti kutangkap untuk dibakar hidup, hidup,"

"Heran..."

Gumam Tio Cie Hiong.

"Ketika dikedai teh itu, aku mendengar mereka bercakapcakap tentang orang-orang Miauw menangkap Ceng Im...."

"siapa yang dipanggil Ceng Im itu?"

"Dia calon isteriku."

"Pantas...."

Kepala suku Miauw manggut-manggut.

"Engkau menyusul sampai di sini Tapi itu tidak benar. Kami suku Miauw tidak pernah mengganggu orang-orang Tionggoan. sebaliknya malah orang-orang Tionggoan yang sering membunuh suku Miauw"

"Paman"

Tio Cie Kiong memandang sesepuh itu.

"Jadi benar orang-orang Miauw tidak pernah memasuki Tionggoan?"

"Anak muda"

Sesepuh Miauw itu tertawa.

"Aku berani menjamin dengan kepalaku."

"Kalau itu perbuatan orang-orang Miauw, engkau juga boleh membunuhku dan seluruh suku Miauw"

Ujar kepala suku Miauw dengan tegas.

"Aku percaya."

Tio Cie Hiong manggut-manggut dan menambahkan.

"Berarti orang-orang itu menghendaki aku ke mari, agar mati di daerah ini."

"Anak muda"

Sesepuh Miauw itu menatapnya.

"Menurutku juga begitu. Apakah engkau mempunyai musuh di Tionggoan?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kalau begitu, musuhmu itu bermaksud meminjam tangan kami untuk membunuhmu,"

Ujar sesepuh Miauw itu.

"Mungkin begitu."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kalau begitu, aku mohon maaf"

"Tidak apa-apa."

Kepala suku Miauw tertawa.

"Walau kami masih primitif, tapi tahu aturan."

"Baiklah."

Tio Cie Hiong bangkit berdiri.

"Aku mau mohon pamit"

Mendadak muncul seorang wanita Miauw, lalu melaporkan sesuatu kepada kepala suku Miauw itu.

Kepala Miauw tampak terkejut dan wajahnya berubah pucat pias, kemudian berlari ke dalam.

Tio Cie Hiong tercengang menyaksikannya, dan tidak tahu apa yang terjadi.

sesepuh Miauw itu menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Paman, apa yang terjadi?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"sungguh tidak kebetulan kita ke mari."

Sesepuh Miauw itu menggeleng-gelengkan kepala lagi.

"Kenapa?"

Tanya Tio Cie Hiong kebingungan.

"Putri kepala suku sudah sekarat"

Sesepuh Miauw itu menghela nafas panjang.

"Ayolah kita pergi"

"Putrinya sakit apa?"

"Terpagut ular yang sangat beracun. Kepala suku mahir berbagai macam racun, tapi tidak dapat memusnahkan racun ular itu."

Sesepuh Miauw itu memberitahukan.

"sudah tiga hari putrinya dalam keadaan pingsan. Kita harus segera pergi, sebab kalau putrinya mati, engkau yang akan celaka."

"Paman Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan. Bagaimana kalau Paman membawaku ke dalam untuk memeriksa putrinya?"

"Engkau mengerti ilmu pengobatan?"

"Benar."

"Mungkin percuma."

Sesepuh Miauw itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Kepala suku sangat mahir soal racun, tapi masih tidak dapat memusnahkan racun ular itu. sedangkan engkau masih muda, bagaimana mungkin...."

"Percayalah"

Desak Tio cie Hiong. Tutrinya sudah sekarat, kalau kita tidak segera ke dalam, mungkin tidak keburu menolongnya."

"Baiklah."

Sesepuh Miauw itu mengangguk.

"Mari ikut aku ke dalam"

Di dalam kamar, tampak seorang wanita Miauw sedang menangis sedih, dan kepala suku Miauw itu berjalan mondar-mandir dengan wajah murung.

sesepuh Miauw dan Tio Cie Hiong sudah masuk ke dalam, namun kepala suku Miauw sama sekali tidak menghiraukan mereka.

Tio cie Hiong mendekati anak gadis yang berbaring di ranjang.

Wajah gadis berusia empat belasan itu tampak pucat pias, dan nafasnya tampak lemah sekali, bahkan masih dalam keadaan pingsan.

Tanpa membuang waktu lagi, Tio Cie Hiong langsung memeriksa nadinya, dan setelah itu kening Tio Cie Hiong berkerut-kerut.

"Bagaimana?"

Bisik sesepuh Miauw yang berdiri di sisinya.

"Apakah masih bisa ditolong?"

"Mudah-mudahan"

Sahut Tio Cie Hiong.

La lalu menempelkan sebelah telapak tangannya di dada anak gadis itu.

Tio Cie Hiong mulai mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kang, kemudian disalurkan ke tubuh si anak gadis.

Berselang beberapa saat kemudian, diangkatnya tubuh anak gadis itu, lalu dibalikkan dan ditepuknya punggungnya.

"Uaaaakh Uaaaakh..."

Anak gadis itu memuntahkan darah kehijau-hijauan.

Apa yang dilakukan Tio Cie Hiong tentunya sangat mengejutkan kepala suku Miauw, bahkan kepala suku Miauw itu tampak gusar sekali, karena Tio Cie Hiong berani mengangkat tubuh putrinya.

Sesepuh Miauw segera berkata dengan bahasa Miauw, dan seketika kepala suku Miauw kelihatan tenang tapi juga tegang.

"Uaaaakh..."

Anak gadis itu mulai memuntahkan darah merah.

Tio Cie Hiong menarik nafas lega, lalu membaringkan anak gadis itu.

la mengeluarkan sebutir obat, talu dimasukkannya ke mulut anak gadis itu.

Berselang beberapa saat kemudian, badan anak gadis itu mulai bergerak, dan sepasang matanya terbuka perlahan-lahan.

Wanita Miauw itu segera memeluknya dengan wajah penuh kegirangan, dan kepala suku Miauw mendekati putrinya dan membelainya.

"Terima kasih, Anak muda"

Ucap sesepuh Miauw berbisik dengan wajah cerah.

Tio Cie Hiong hanya tersenyum.

seandainya ia tidak memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang untuk mendesak ke luar racun ular itu, anak gadis tersebut pasti tidak akan tertolong.

"Kakak yang menolongku?"

Tanya si anak gadis.

"Eh?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Apakah engkau bisa berbahasa Han?"

"Bisa."

Anak gadis itu bangun duduk.

"Terima kasih, Kak. Aku... aku telah berhutang budi kepadamu."

"Jangan berkata begitu, Adik kecil"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kakak tampan sekali,"

Ujar anak gadis itu sambil tertawa. Wajah Tio Cie Hiong agak kemerah-merahan.

"Engkau juga cantik sekali."

"Terima kasih atas pujian Kakak. aku... aku gembira sekali."

Anak gadis itu menundukkan kepala.

"Heran..."

Gumam sesepuh Miauw itu.

"Wajahnya tadi pucat pias, setelah memuntahkan darah dan menelan obat itu, dia... langsung siuman dan wajahnya begitu segar, bahkan kelihatan sudah pulih seperti sedia kala. Anak muda, engkau memang hebat sekali"

"Paman...."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kakak"

Anak gadis ilu mendekati Tio Cie Hiong, kemudian memeluknya erat-erat dan mendadak menciumnya.

"Eeeeh?"

Tio Cie Hiong tertegun dan wajahnya memerah.

"Adik kecil...."

"Ha ha ha"

Sesepuh Miauw tertawa gelak.

"Anak muda, itu adalah tanda terima kasih yang sedalam-dalamnya dari Putri Miauw Cok (Putri suku Miauw)"

"ooooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kenapa Kakak malu?"

Putri Miauw Cok tertawa geli.

"Kakak telah menyelamatkan nyawaku, maka aku harus berterima kasih kepadamu."

"Jangan berkata begitu, Adik kecil"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Anak muda"

Kepala suku Miauw menghampiri Tio Cie Hiong kemudian memegang bahunya erat-erat seraya berkata.

"Terima kasih Terima kasih"

"sama-sama,"

Sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Maaf, aku mau pamit"

"Jangan begitu cepat"

Cegah kepala suku Miauw.

"Aku harus mengadakan perjamuan."

"Tidak usah"

Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.

"Aku tidak membutuhkan perjamuan."

"Anak muda...."

Kepala suku Miauw tampak kecewa.

"Kakak Hiong"

Putri Miauw Cok cemberut.

"Engkau jangan pergi sekarang Kalau engkau pergi sekarang, aku akan pingsan lagi"

Tio Cie Hiong tertawa geli, kemudian memberitahukan.

"Adik kecil, aku harus sebera pulang ke Tionggoan, karena harus mencari calon isteriku."

"Kakak sudah punya calon isteri?"

"Benar,"

Jawab Tio Cie Hiong.

"Calon isteri Kakak pasti cantik sekali, bukan?"

"Masih kalah cantik bila dibandingkan denganmu."

Sahut Tio Cie Hiong menghiburnya.

"oh?"

Putri Miauw Cok itu tertawa gembira.

"Kakak jangan pulang dulu, tinggallah di sini beberapa hari"

"Adik kecil...."

Tio cie Hiong menggelengkan kepala.

"Anak muda"

Ujar sesepuh Miauw. Jangan mengecewakan putri Miauw Cok, sebab dia tidak pernah segembira ini"

"Paman, aku...."

"Terlambat beberapa hari pulang ke Tionggoan tidak apa apa,"

Ujar sesepuh Miauw dan menambahkan.

"Akan kami sediakan seekor kuda jempolan untukmu."

"Benar, benar,"

Sambung kepala suku Miauw.

"Baiklah, tapi... aku tidak menghendaki perjamuan."

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Dan... aku harus berangkat esok"

"Lusa saja, Kak"

Sahut Putri Miauw Cok.

"Adik kecil, aku tidak bisa lama-lama di sini."

Tio Cie Hiong memandangnya.

"Aku harus sebera kembali ke Tionggoan, kelak aku akan ke mari lagi."

"Ha ha ha"

Kepala suku Miauw tertawa gelak.

"Ayoh, kita duduk di luar saja"

Mereka berjalan ke luar. putri Miauw Cok berjalan di sisi Tio Cie Hiong sambil tersenyumsenyum. setelah mereka duduk-para pelayan sibuk menyuguhkan minuman dan berbagai macam makanan.

"Ha ha ha"

Kepala suku Miauw tertawa terbahak-bahak.

"Anak muda, kedatanganmu yang tak sengaja, justru menyelamatkan nyawa putriku. Entah harus bagaimana aku berterima kasih kepadamu."

"Jangan berkata begitu, yang penting mulai sekarang, suku Miauw jangan terlampau membenci orang Tionggoan,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"sebab tidak semua orang Tionggoan jahat."

"Benar."

Kepala suku Miauw manggut-manggut.

"Buktinya engkau, anak muda. Aku menyukaimu."

"Terima kasih"

Ucap Tio Cie Hiong dan menambahkan sambil memandang Putri Miauw Cok.

"Adik kecil, engkau harus berterima kasih kepada paman, sebab kalau paman tidak membawaku ke mari, engkau pasti tidak akan tertolong"

"Kakek"

Ucap Putri Miauw Cok.

"Terima kasih ya"

"Yang penting engkau tidak boleh nakal lagi,"

Sahut sesepuh Miauw sambil tertawa.

"ohya"

Tanya Tio cie Hiong mendadak.

"Apakah di sini tidak terdapat obat pemusnah racun ular itu?"

"Tidak ada,"

Jawab kepala suku Miauw memberitahukan.

"sebab ular beracun itu sudah langka, maka aku tidak tahu harus dengan obat apa memusnahkan racunnya."

"Aku akan memberitahukan tentang obat pemusnahnya. Tapi...."

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Entah di daerah Miauw ini terdapat daun obat itu apa tidak?"

"Daun obat apa?"

Tanya kepala suku Miauw. Tio Cie Hiong memberitahukan. Kepala suku Miauw berpikir sejenak. kemudian tersenyum.

"Ada."

"syukurlah"

"Kakak"

Ujar Putri Miauw Cok mendadak.

"Aku tahu bahwa engkau berkepandaian tinggi. Maukah engkau mempertunjukkannya?"

"Adik kecil...."

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayolah"

Desak Putri Miauw Cok.

"Aku suka ilmu silat, maka kalau engkau tidak mempertunjukkannya, aku pasti kecewa sampai beberapa tahun lho"

"Haaah...."

Tio Cie Hiong terbelalak.

"Ha ha ha"

Sesepuh dan kepala suku Miauw tertawa gelak.

"Ha ha ha"

"Kenapa tertawa?"

Putri Miauw Cok melotot.

"Aku berkata sesungguhnya, tidak bohong."

"Nan, Anak muda"

Sesepuh Miauw menatapnya.

"Engkau sudah mendengar, kan? Kalau engkau tidak mempertunjukkan kepandaianmu, dia akan kecewa sampai beberapa tahun. Apakah engkau tega?"

"Adik kecil...."

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kemala.

"Engkau ingin menyaksikan ilmu pedang atau ilmu pukulan?"

"Ilmu pedang,"

Sahut Putri Miauw Cok girang.

"Baiklah."

Tio Cie Hiong manggut-manggut, lalu mendadak memandang putri Miauw Cok itu dengan mata tak berkedip.

Tentunya sangat mengherankan sesepuh dan kepala suku Miauw.

Begitu pula Putri Miauw Cok itu, ia pun terbelalak sambil menatap Tio Cie Hiong, kemudian wajahnya kemerah-merahan.

Tio Cie Hiong terus memandang putri Miauw Cok itu, lama sekali barulah manggut-manggut sambil berjalan ke depan.

sesepuh dan kepala suku Miauw serta putrinya juga ikut ke depan.

Ternyata Tio Cie Hiong berjalan ke halaman, kemudian meminjam sebilah pedang pada salah seorang pengawal.

setelah itu, ia mendekati sebuah pohon yang berukuran cukup besar.

"Adik kecil saksikanlah ilmu pedangku"

Seru Tio Cie Hiong.

"Terima kasih, Kak"

Sahut Putri Miauw Cok dengan wajah berseri.

Mendadak badan Tio Cie Hiong bergerak laksana kilal, dan di saat bersamaan pedang yang ada di tangannya berkelebatan.

serrt Cass serrrt Ranting dan dahan pohon itu berjatuhan.

sesepuh dan kepala suku Miauw tercengang, sedangkan Putri Miauw Cok bersorak-sorai sambil bertepuk-tepuk tangan, karena saat itu hanya tampak sinar pedang berkelebatan, sama sekali tidak tampak badan Tio Cie Hiong.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio Cie Hiong berhenti, dan badannya melayang turun sambil tersenyum-senyum.

seketika suasana di tempat berubah menjadi hening, karena semua orang terbelalak dengan mulut ternganga lebar.

Ternyata pohon itu telah berubah menjadi sebuah patung.

Bahkan yang menakjubkan patung itu sangat menyerupai Putri Miauw Cok.

"Kakak Kakak"

Seru Putri Miauw Cok sambil bertepuk-tepuk tangan.

Para pengawal yang ada di situ pun turun bersorak-sorai, maka terdengarlah suara yang riuh gemuruh.

Tio Cie Hiong menghampiri Putri Miauw Cok.

sementara sesepuh dan kepala suku Miauw menatap Tio cie Hiong dengan mata tak berkedip.

"Adik kecil, bagaimana ilmu pedangku?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum lembut.

"Kakak"

Putri Miauw Cok memandangnya dengan mata berbinar-binar.

"sebetulnya engkau manusia atau dewa sih?"

"Aku manusia seperti engkau,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil membelainya.

"Kakak, bolehkah...."

Putri Miauw Cok menundukkan kepala.

"Engkau ingin belajar ilmu pedang, kan?"

"Betul,"

Sahut Putri Miauw Cok manggut-manggut.

"Bersediakah Kakak mengajarku ilmu pedang?"

"Baiklah."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Aku akan mempergunakan waktu yang ada untuk mengajarmu."

"Terima kasih, Kak"

Putri Miauw Cok langsung memeluk kemudian menciumnya.

"Eeeeh...."

Wajah Tio Cie Hiong langsung memerah.

"Ha ha ha"

Sesepuh dan kepala suku Miauw tertawa terbahak-bahak. kemudian kepala suku Miauw berbisik kepadanya.

"Kalau dia belum mempunyai calon isteri, aku pasti menjodohkan putriku kepadanya."

"sayang sekali"

Sesepuh Miauw menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia sudah mampunyai calon isteri"

"Kakak"

Ujar putri Miauw Cok mendadak.

"Bisakah engkau meloncat tinggi?"

"Meloncat tinggi?"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Maksudmu ginkang?"

"Ya."

Putri Miauw Cok mengangguk.

"Kakak. perlihatkanlah ginkang mu, aku ingin menyaksikannya "

"Baik."

Tio Cie Hiong mengangguk.

ternyata timbul pula sifat kekanak-kanakannya.

la berjalan ke tengah-tengah halaman, lalu menghimpun lweekangnya sekaligus melesat ke atas tujuh delapan depa.

Terbelalak mereka yang menyaksikannya, terutama Putri Miauw Kok, ia tertawa gembira sambil bertepuk-tepuk tangan.

"Kakak, keatas lagi"

Serunya. Mendadak Tio cie Hiong berjungkir balik dan badannya melesat ke atas tujuh delapan depa.

"Wuah"

Putri Miauw Cok berseru girang.

"Kakak, ke atas lagi"

Tio cie Hiong berjungkir balik lagi sehingga badannya melesat ke atas tujuh delapan depa.

sesepuh dan kepala suku Miauw menyaksikannya dengan mulut ternganga lebar.

sedangkan Putri Miauw Cok terus bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa gembira.

"Ke atas lagi, Kak"

Serunya.

Tio Cie Hiong berjungkir balik lagi melesat ke atas, setelah itu badannya mulai melayang turun perlahan-lahan dan lemah gemulai.

Di saat bersamaan, ia mengeluarkan suling kumala, dan kemudian terdengarlah alunan suara suling yang menyedapkan telinga.

"Bukan main"

Sesepuh Miauw menghela nafas karena kagum.

"Sungguh luar biasa"

Kepala suku Miauw menggeleng-gelengkan kepala.

"seandainya dia bersedia kawin dengan putriku...."

"Jangan berpikir yang bukan-bukan"

Tandas sesepuh Miauw.

"Dia masih harus pergi mencari calon isterinya"

"sayang sekali"

Kepala suku Miauw menarik nafas panjang.

"Kakak"

Seru Putri Miauw Cok.

"Tiupkan lagu percintaan"

Irama suling itu berubah. Putri Miauw Cok mendengarkan dengan wajah kemerah-merahan. Ternyata ia berkhayal sedang terbang bersama Tio Cie Hiong.

"Celaka"

Bisik kepala suku Miauw.

"Putriku telah jatuh cinta kepadanya."

"Kalau begitu, laksanakan adat kita"

Bisik sesepuh.

"Atur putrimu tidur tiga malam dengan dia"

"Itu...."

Kepala suku Miauw mengerutkan kening.

"Ingat"

Sesepuh itu tertawa.

"Apakah adat itu telah kau hapuskan?"

"Hapus sih tidak. tapi itu akan merendahkan nama putriku,"

Ujar kepala suku Miauw.

"Kalau begitu, janganlah berpikir yang bukan-bukan"

Ujar sesepuh itu sungguh-sungguh.

"Ya."

Kepala suku Miauw manggut-manggut. Ketika Tio Cie Hiong sudah melayang turun, putri Miauw Cok langsung berlari menghampirinya .

"Kakak hebat sekali Aku...."

Putri Miauw Cok menundukkan kepala.

"Adik kecil"

Tio Cie Hiong membelai rambutnya.

"Engkau masih kecil, jangan berpikir yang bukan-bukan sekarang aku akan mulai mengajarimu ilmu pedang."

"Terima kasih, Kak"

Putri Miauw Cok gembira sekali.

Tio Cie Hiong mulai mengajarnya ilmu pedang, sedangkan sesepuh dan kepala suku Miauw terus tertawa gembira, kemudian menyuruh para pelayan menyuguhkan minuman dan berbagai macam makanan untuk Tio Cie Hiong dan putrinya.

Bab 53 sepasang Pendekar dari Jepang Pagi ini Tio Cie Hiong berpamit kepada sesepuh, kepala suku Miauw dan putrinya.

Kepala suku Miauw menghela nafas panjang, karena merasa berat atas kepergian Tio Cie Hiong.

"Kapan engkau sempat, jangan melupakan daerah ini"

Pesan kepala suku Miauw.

"Pintu daerah ini selalu terbuka untukmu"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kakak...."

Putri Miauw Cok terisak-isak dan air matanya berlinang-linang.

"Kapan Kakak ke mari lagi?"

"Kalau urusanku sudah beres,, aku akan ke mari menengokmu."

Tio Cie Hiong membelainya.

"Engkau harus giat berlatih ilmu pedang yang kuajarkan itu"

"Ya, Kak."

"Dan...."

Tio Cie Hiong menatapnya dengan penuh kasih sayang.

"Engkau pun tidak boleh nakal"

Putri Miauw Cok mengangguk, lalu memandang Tio Cie Hiong dengan air mata bercucuran.

"Kalau Kakak sudah berhasil mencari calon isterimu, ajaklah dia ke mari ya Aku ingin berkenalan dengannya."

Katanya.

"Baiklah."

Tio cie Hiong tersenyum dan membelainya lagi, lalu memberi hormat kepada sesepuh dan kepala suku Miauw.

"sampai jumpa"

"selamat jalan"

Sahut sesepuh dan kepala suku Miauw serentak. Tio Cie Hiong meloncat ke punggung kudanya, lalu memandang putri Miauw Cok sejenak, dan setelah itu barulah memacu kudanya.

"Kakak"

Teriak Putri Miauw Cok. Tio Cie Hiong melambai-lambaikan tangannya, sedangkan Putri Miauw Cok masih berteriakteriak.

"Nak"

Kepala suku Miauw menghiburnya.

"Kelak dia pasti ke mari menengokmu, jangan berduka"

"Ayah, apakah dia akan ke mari lagi?"

Tanya Putri Miauw Cok terisak.

"Tentu."

Kepala suku Miauw membelainya, kemudian menatapnya seraya bertanya sungguhsungguh.

"Nak. apakah engkau mencintainya?"

"Aku memang mencintainya."

"Tapi dia sudah mempunyai calon isteri."

"Kalau dia belum mempunyai calon isteri, aku pasti akan menikah dengannya. Tapi dia sudah punya calon isteri, maka aku mencintainya seperti seorang adik mencintai kakak."

"syukurlah engkau bisa berpikir begitu."

Kepala suku Miauw berlega hati.

"Engkau memang anak baik, ingat Mulai sekarang engkau tidak boleh nakal lagi"

"Aku pasti menuruti kata-katanya,"

Ujar Putri Miauw Cok sungguh-sungguh.

"Mulai sekarang aku tidak akan nakal lagi."

"Bagus Bagus"

Kepala suku Miauw membelainya lagi sambil tertawa gembira.

sementara itu, Tio Cie Hiong terus memacu kudanya.

Dalam perjalanan pulang ke Tionggoan, ia terus berpikir.

siapa orang-orang yang bercerita bohong itu?

Kenapa mereka bercerita bohong agar dirinya berangkat ke daerah Miauw?

Tio cie Hiong terus berpikir, tapi tidak dapat memecahkan teka-teki itu.

sepuluh hari kemudian, ia telah berada di daerah Tionggoan.

Ketika memasuki sebuah rimba, sayup,sayup terdengar suara bentrokan senjata.

segeralah ia menghentikan kudanya, lalu melesat ke arah suara itu.

Kemudian ia berjungkir balik meloncat ke atas pohon dan berdiri di situ.

la melihat seorang pemuda dan seorang gadis berpakaian aneh sedang bertarung melawan belasan orang.

Pemuda itu bersenjata sebilah pedang panjang yang bergagang panjang pula, sedangkan si gadis bersenjata sebuah suling.

Kelihatannya mereka berdua bukan orang Tionggoan.

Walau dikeroyok belasan orang, pemuda dan gadis itu tampak tidak keteter, bahkan keduanya bertarung dengan santai.

Kagum juga Tio Cie Hiong menyaksikan kepandaian mereka.

Namun ilmu pedang pemuda itu agak aneh, bukan berasal dari aliran Tionggoan begitu pula gerakan-gerakan suling gadis itu.

Tio Cie Hiong terus memperhatikan, kemudian memandang orang berpakaian merah, yang berdiri di situ menyaksikan pertarungan.

Mendadak kening Tio Cie Hiong berkerut.

Ternyata ia teringat kepada orang tersebut, tidak lain adalah salah seorang yang bercerita bohong di kedai teh.

setelah mengenali orang itu, ia bersiul panjang sambil melayang turun ke arah mereka.

"Berhenti"

Bentaknya. Belasan orang yang sedang bertarung itu langsung berhenti, karena dikejutkan oleh suara siulan dan bentakan Tio Cie Hiong.

"Haah Pek Ih Sin Hiap"

Teriak belasan orang itu sambil mundur ke sisi orang berpakaian merah.

Sementara pemuda dan gadis itu memandang Tio Cie Hiong dengan penuh rasa heran.

Namun setelah melihat jelas, wajah gadis itu tampak kemerah-merahan.

"Adik"

Bisik pemuda itu entah dengan bahasa apa.

"Orang yang baru muncul itu berkepandaian tinggi sekali."

"Dan juga sangat tampan,"

Sahut gadis itu sambil tersenyum.

"Adik"

Pemuda itu menatapnya.

"Engkau tertarik padanya?"

"Ya."

Gadis itu mengangguk.

"Kenapa? Kakak tidak setuju kalau aku tertarik kepadanya?"

"Aku tidak melarang, tapi jangan lupa akan tujuan kita datang ke Tionggoan ini"

"Aku ingat,"

Sahut gadis itu dan terus memandang Tio Cie Hiong.

Sementara Tio Cie Hiong menghampiri orang berpakaian merah dengan tatapan dingin, lalu menudingnya sambil membentak^ "Siapa kau?

Kenapa engkau mengarang cerita bohong di kedai teh?"

"Pek Ih Sin Hiap Aku bernama Tan Kok Yauw, kepala regu bendera merah Bu Tek Pay Engkau memang mujur, tidak mati di daerah Miauw"

Sahut orang berpakaian merah.

"Bu Tek Pay?"

Tio Cie Hiong tertegun, karena saat ini baru mendengar nama partai tersebut.

"Ya."

Tan Kok Yauw mengangguk.

"siapa ketua Bu Tek Pay?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya tajam.

"Aku tidak tahu."

Tan Kok Yauw menggelengkan kepala dan menambahkan.

"Kami mengarang cerita bohong itu atas perintah ketua, bukan atas kemauan kami, harap engkau maklum"

"Hm"

Dengus Tio Cie Hiong dingin.

"Kenapa kalian mengeroyok dua orang itu?"

"Gerak-gerik mereka mencurigakan dan mereka tidak mau memberitahukan ketika kami tanya asal-usul mereka. oleh karena itu mereka kami tangkap,"

Sahut Tan Kok Yauw.

"Kalian berhak apa menangkap mereka?"

"Ha ha"

Tan Kok Yauw tertawa.

"Mulai saat ini, Bu Tek Pay yang berkuasa di rimba persilatan siapa berani menentang, harus dibunuh"

Tio Cie Hiong tertawa dingin.

"Aku justru ingin menentang Bu Tek Pay Cobalah kalian bunuh aku"

"Baik"

Tan Kok Yauw manggut-manggut dan mendadak berseru.

"Serang dia"

Belasan orang itu langsung mendekati Tio Cie Hiong. Namun begitu Tio Cie Hiong menatap mereka, seketika mereka mundur kembali.

"Hihihi"

Gadis itu tertawa geli.

"Ayoh"

Bentak Tan Kok Yauw.

"Cepat serang dia"

"Kami...."

Belasan orang itu menundukkan kepala. Tio cie Hiong tersenyum.

"Karena kalian masih belum melakukan suatu kesalahan di hadapanku, maka kalian kulepaskan cepatlah kalian enyah dari sini"

Katanya.

"Baik"

Tan Kok Yauw mengangguk.

"Beritahukan kepada ketua kalian, apabila Bu Tek Pay berani berbuat sewenang-wenang di rimba persilatan, aku pasti bertindak"

Pesan Tio Cie Hiong.

"Ya"

Tan Kok Yauw lalu mengajak para anak buahnya meninggalkan tempat itu.

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala, la melepaskan mereka karena tidak mau banyak urusan.

Namun ia tidak habis pikir, siapa ketua Bu Tek Pay itu?

Pemuda dan gadis berpakaian aneh itu mendekati Tio Cie Hiong, kemudian membungkukkan badannya dalam-dalam.

Tio Cie Hiong tercengang, dan cepat-cepat menjura.

Tanpa sengaja, ia pun membungkukkan badannya.

"Hi h H i"

Gadis itu tertawa geli.

"Maaf"

Tio Cie Hiong memandang mereka.

"sebetulnya siapa kalian berdua dan berasal dari mana?"

Tanyanya.

"Kami berdua kakak beradik.

"Namaku Yasuki Nichiba, adikku bernama Michiko, kami datang dari Jepang."

Jawab pemuda itu.

"Apa?"

Tio Cie Hiong terbelalak.

"Kalian berdua datang dari Jepang?"

"Ya"

Yasuki Nichiba mengangguk.

"Kenapa engkau begitu fasih berbahasa Han?"

Tanya Tio Cie Hiong keheranan.

"Karena sejak kecil kami berdua sudah belajar bahasa Han."

Yasuki Nichiba tersenyum.

"ohya, bolehkah kami tahu namamu?"

"Namaku Tio Cie Hiong."

"Tio Cie Hiong"

Sela Michiko mendadak.

"Engkau tampan sekali, aku tertarik padamu."

"Nona Michiko...."

Wajah Tio Cie Hiong langsung memerah. la tidak menyangka kalau gadis itu begitu blak-blakan.

"Iiih? Kok masih malu-malu? Hi hi"

Michiko tertawa geli.

"Kami gadis Jepang, selalu berterus terang."

Tlo Cie Hiong manggut-manggut.

"Tio Cie Hiong"

Yasuki Nichiba menatapnya dalam-dalam.

"Aku yakin, kepandaianmu pasti tinggi sekali. Buktinya penjahat-penjahat itu sangat takut kepadamu. Ketika melihat engkau muncul, wajah mereka langsung berubah pucat."

"saudara Yasuki, kepandaianku tidak begitu tinggi."

Ujar Tlo Cie Hiong merendah.

"Aku telah menyaksikan pertarungan kalian, ilmu pedangmu lihay sekali."

"Kakakku diJepang dijuluki si Pedang Kilat. Tentunya ilmu pedangnya sangat cepat dan lihay."

Ujar Michiko. Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Ohya, Nona Michiko dijuluki apa diJepang?"

"Dia dijuluki si Dewi suling."

Yasuki Nichiba memberitahukan.

"Banyak pemuda di Jepang berusaha merebut hatinya, tapi dia tidak pernah tertarik kepada mereka. Begitu sampai di Tionggoan ini, malah tertarik kepadamu. Ha ha"

"Benar."

Michiko mengangguk.

"Tlo Cie Hiong, aku memang sangat tertarik olehmu"

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memandang Yasuki Nichiba.

"Kenapa kalian bertarung dengan mereka?"

Tanyanya.

"Ketika kami berdua sedang duduk di sini, mereka muncul dan langsung menggoda adikku. Namun kami tetap bersabar karena tidak mau bermusuhan dengan kaum pesilat di Tionggoan. setelah itu mereka membentak-bentak bertanya asal-usul kami. Karena kami tidak mau beritahukan, mereka langsung menyerang kami. Bahkan mereka bilang, kami harus takluk kepada Bu Tek Pay Maka terpaksa kami layani. Apakah engkau kenal mereka?"

"Tidak."

Tio cie Hiong menggeleng kepala.

"Baru sekarang aku mendengar tentang Bu Tek Pay."

"Mereka berseru menyebut Pek Ih sin Hiap. apakah itu julukanmu?"

Tanya Yasuki Nichiba.

"Kesatria Baju Putih"

Michiko memandangnya dengan mata tak berkedip lalu tersenyum.

"Engkau memang berpakaian putih dan sangat tampan, tapi entah sakti atau tidak?"

Mendadak Michiko mengayunkan sulingnya menyerang Tio Cie Hiong.

Namun Tio Cie Hiong bergerak cepat dengan Kiu Kiong san Tian Pou.

Maka seketika Tio Cie Hiong menghilang dari hadapan gadisJepang itu "Eeeh?"

Michiko terperangah.

"Kok hilang?"

"Adik, dia berada di belakangmu."

Yasuki Nichiba memberitahukan. Michiko sebera mengayunkan gulingnya ke belakang menyerang Tio Cie Hiong namun Tio cie Hiong sudah tidak berada di situ, melainkan di depan gadis Jepang itu.

"Hebat Hebat"

Seru Yasuki Nichiba.

"sungguh cepat gerakanmu"

Tio Cie Hiong tersenyum. Michiko membalikkan badannya dan tampak cemberut seperti anak kecil.

"Engkau jahat Engkau jahat"

Mendadak Michiko menyerangnya lagi dengan sulingnya.

Kali ini Tio Cie Hiong tidak berkelit, melainkan tetap berdiri di tempat sambil tersenyum-senyum.

Michiko terkejut.

la ingin menarik serangannya, tetapi sudah terlambat.

sedangkan Yasuki Nichiba berteriak kaget.

TUk TUk TUk ujung suling itu menotok badan Tio Cie Hiong beberapa kali.

"Auuuh Jerit Michiko terkejut, sebab sulingnya sudah terlepas dari tangannya.

"Maaf"

Ucap Tio Cie Hiong, lalu memungut suling itu, untuk dikembalikan kepada gadis Jepang itu.

"Terima kasih"

Ucap Michiko sambil membungkukkan badannya.

"sama-sama."

Tio Cie Hiong juga membungkukkan badannya.

"Ha ha ha"

Yasuki Nichiba tertawa gelak.

"Rasakan Engkau terlampau nakal, sembarangan menyerang"

"Tio Cie Hiong"

Michiko menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Engkau memang hebat, aku semakin tertarik kepadamu."

"Maaf, Nona Michiko"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Tidak apa-apa."

Michiko tersenyum.

"Jangan kaupanggil aku nona, lebih baik panggil saja Adik Michiko"

"Baik, Adik Michiko"

"Jadi...."

Michiko tersenyum manis.

"Aku harus memanggilmu Kakak Tio."

"Ha ha ha"

Yasuki Nichiba tertawa gembira.

"Tidak disangka kami sudah punya kawan Terima kasih"

"Aku senang berkawan dengan kalian."

Tio Cie Hiong juga tertawa gembira.

"Lebih baik kita duduk-duduk di bawah pohon"

Ajak Yasuki Nichiba. Mereka lalu duduk di bawah sebuah pohon.

"Kenapa kalian datang di Tionggoan?"

Tanya Tio Cie Hiong kepada Yasuki Nichiba.

"Terus terang, kami sedang memburu beberapa penjahat yang kabur ke Tionggoan."

Yasuki Nichiba memberitahukan.

"Mereka berlima dari aliran Ninja diJepang, telah banyak melakukan kejahatan. Maka guru kami ingin membunuh mereka, tapi mereka cepat kabur dengan kapal layar ke Tionggoan. Karena itu, guru kami menugaskan kami untuk memburunya."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Bagaimana kepandaian mereka?"

"sangat tinggi,"

Jawab Michiko "Tapi biar bagaimana pun, kami harus menangkap mereka hidup atau mati."

"Aliran Ninja memiliki semacam ilmu yang istimewa,"

Sambung Yasuki Nichiba memberitahukan.

"Yaitu ilmu menelusup ke dalam tanah, bahkan bisa bergerak cepat di dalam tanah."

Tio Cie Hiong tertegun dan bertanya sungguh-sungguh.

"Apakah kalian mamcu mengalahkan mereka?"

"Belum tentu,"

Sahut Yasuki Nichiba.

"Tapi bagi kami para pendekar Jepang, lebih baik mati daripada menyerah."

"Bagus"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Itulah pendekar sejati"

"Guru kami pernah memberitahukan, bahwa di Tionggoan ini terdapat beberapa partai besar, yaitu partai siauw Lim, Butong, Kun Lun dan partai lainnya. Engkau berasal dari partai mana?"

"Aku tiada hubungan dengan partai-partai itu, sebab aku belajar ilmu silat dari sebuah kitab."

Yasuki Nichiba manggut-manggut dan melanjutkan.

"Guru kami juga memberitahukan, bahwa diTionggoan ini terdapat golongan hitam dan putih, juga terdapat pendekar pembela kebenaran. Engkau tentunya pendekar pembela kebenaran."

"Yaaah..."

Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.

"Kini rimba persilatan Tionggoan dilanda bencana. Para ketua tujuh partai telah ditangkap oleh seorang berkepandaian tinggi. Aku justru sedang mencari mereka."

"Kalau begitu...."

Yasuki Nichiba menggeleng-gelengkan kepala.

"Rimba persilatan di sini sama seperti rimba persilatan Jepang. Ketua aliran Ninja selalu menimbulkan bencana, karena itu, guru kami terpaksa bertindak."

"Bagaimana kepandaian ketua aliran Ninja?"

"Tinggi sekali. Guru kami memburunya, dan kami ditugaskan untuk memburu kelima Ninja yang kabur ke Tionggoan."

"ohya, kalian mau tinggal di mana?"

"Di penginapan."

"Aku sekarang sedang menuju markas pusat Kay Pang, bagaimana kalau kalian ikut aku ke sana?"

"Apakah tidak merepotkanmu?"

"Tentu tidak."

"Kay Pang itu partai apa?"

Tanya Michiko.

"Kay Pang adalah partai Pengemis. Para anggotanya harus berpakaian compang-camping."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Tetua dan ketua Kay Pang juga telah hilang."

"Kenapa bisa hilang?"

Michiko bingung.

"Apakah mereka punya ilmu menghilang?"

"Maksudku...."

Tio cie Hiong tersenyum, karena gadis Jepang itu salah tanggap.

"Maksudku mereka telah ditangkap orang."

"Oh?"

Yasuki Nichiba menatapnya.

"Apakah engkau punya hubungan dengan partai Pengemis?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?"

"Baiklah."

Yasuki Nichiba manggut-manggut.

"Michiko naik kuda, kita berdua berjalan kaki,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Nanti sampai di desa, barulah kita membeli dua ekor kuda lagi."

"Lebih baik kuda itu dituntun, sebab aku lebih senang berjalan kaki bersamamu,"

Ujar Michiko sambil menatapnya dengan mata berbinar-binar.

Diam-diam Tio Cie Hiong menghela nafas.

Gadis Jepang itu memang cantik sekali, tapi ia tidak akan tertarik kepadanya, sebab cintanya hanya untuk Lim Ceng Im.

Maka ia mengambil keputusan, harus berterus terang kepadanya.

Tio Cie Hiong sudah tiba di markas pusat Kay Pang.

Para anggota Kay Pang menyambutnya dengan penuh kegirangan.

Namun mereka juga merasa heran karena Tio Cie Hiong datang bersama dua orang asing.

"Aku perkenalkan Dua orang ini adalah Yasuki Nichiba dan Michiko dariJepang"

Seru Tio Cie Hiong.

"Selamat datang"

Seru para anggota Kay Pang serentak.

"Selamat bertemu kawan-kawan"

Sahut Yasuki Nichiba sambil tersenyum.

"Aku gembira sekali bertemu dengan kalian"

"Mari kita masuk"

Tio Cie Hiong mengajak mereka masuk. Tampak seorang pengemis tua berhambur ke luar menyambut kedatangan Tio Cie Hiong. la tertegun ketika melihat kedua orang asing itu.

"Pek Ih sin Hiap. siapakah mereka?"

Tanyanya.

"Mereka adalah Yasuki Nichiba dan Michiko."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Pendekar dari Jepang."

"Selamat datang"

Sai Pi Lo Kay (Pengemis Tua Hidung singa), anggota Kay Pang peringkat ketujuh itu segera menjura memberi hormat.

"Selamat bertemu"

Sahut Yasuki Nichiba dan Michiko serentak sambil membungkukkan badan.

"Silakan duduk"

Ucap sai Pi Lo Kay. Tio Cie Hiong, Yasuki Nichiba dan Michiko lalu duduk. Kemudian seorang pengemis segera menyuguhkan minuman.

"Lo Kay sementara ini mereka tinggal di sini, jadi mereka tamu kita."

Ujar Tio Cie Hiong.

"Ya."

Sai Pi Lo Kay mengangguk. kemudian wajahnya tampak murung.

"Kiu Ci Cui Kay telah mati."

"Aku tahu itu...."

Tio Cie Hiong menghela nafas, lalu menutur tentang kejadian itu.

"syukurlah engkau bisa kembali dengan selamat Padahal suku Miauw sangat membenci orang Tionggoan,"

Ujar sai Pi Lo Kay dan melanjutkan.

"Terus terang, kami belum memperoleh berita mengenai Bu Lim Ji Khie, Tok Pje sin wan dan ketua."

"Menurutku, Lim Ceng Im pasti diculik oleh penculik yang sama. Hanya saja kita tidak tahu apa tujuannya menculik mereka."

"Belum lama ini telah muncul Bu Tek Pay, siapa yang berani menentang, pasti dibunuh."

Ujar sai Pi Lo Kay.

"Aku telah bertemu dengan para anggota Bu Tek Pay..."

Tutur Tio Cie Hiong lalu bertanya.

"Lo Kay tahu siapa ketua Bu Tek Pay itu?"

"Tidak tahu."

Sai Pi Lo Kay menggelengkan kepala.

"Tapi kemungkinan besar ketua partai itu yang melakukan penculikan."

"Dugaan Lo Kay memang masuk akal."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Apakah Lo Kay tahu di mana markas Bu Tek Pay?"

"Tidak tahu."

Sai Pi Lo Kay menggelengkan kepala lagi.

"Aku akan menyuruh beberapa orang menyelidikinya."

"Oh ya Tugaskan juga beberapa orang untuk menyelidiki lima Ninja dari Jepang Mereka penjahat yang kabur ke Tionggoan."

Ujar Tio Cie Hiong.

"Ninja? Apa itu Ninja?"

Tanya sai Pi Lo Kay.

"Aliran yang sangat terkenal diJepang."

Yasuki Nichiba memberitahukan.

"Mereka berpakaian serba hitam dan kepalanya ditutup dengan kain hitam pula."

"Baiklah."

Sai Pi Lo Kay mengangguk.

"Aku akan menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki Ninja Jepang itu"

"Terima kasih"

Ucap Yasuki Nichiba.

"Kalian sangat baik terhadap kami."

"sama-sama,"

Sahut sai Pi Lo Kay sambil tersenyum.

Malam harinya, Tio Cie Hiong, Yasuki Nichiba dan Michiko duduk-duduk di halaman.

sesaat kemudian, Michiko mengeluarkan sulingnya, sekaligus meniupnya.

Tio Cie Hiong mendengarkan dengan penuh perhatian.

Michiko meniup sulingnya sambil menatap Tio Cie Hiong dengan mata berbinar, ternyata gadis Jepang itu meniup sebuah lagu percintaan Jepang .

Berselang beberapa saat, barulah Michiko berhenti meniup sulingnya lalu tersenyum pada Tio cie Hiong.

"Aku tidak menyangka kalau engkau mahir meniup suling. sungguh merdu dan sedap didengar"

Ujar Tio cie Hiong sambil tersenyum.

"Terima kasih atas pujianmu"

Ucap Michiko girang karena Tio Cie Hiong memujinya, sehingga hatinya berbunga-bunga.

"Apakah engkau bisa meniup suling?"

Tanya Yasuki Nichiba.

Tio Cie Hiong mengangguk, kemudian mengeluarkan suling kumalanya, dan mulailah ia meniup meniru irama suling Michiko tadi.

seketika gadis Jepang itu terbelalak.

sebab suara suling Tio cie Hiong lebih merdu dan lebih sedap didengar.

Begitu pula Yasuki Nichiba, sama sekali tidak menyangka kalau Tio Cie Hiong begitu mahir meniup suling.

Tak seberapa lama kemudian, Tio Cie Hiong berhenti meniup sulingnya.

"Jangan mentertawakan aku, karena aku masih kurang bisa meniup dengan irama itu"

Ujarnya kemudian sambil tersenyum.

"Kakak Tio...."

Michiko menatapnya dengan penuh rasa cinta.

"Engkau memang pemuda istimewa"

"Aku tidak memiliki keistimewaan apa pun."

Tio cie Hiong tersenyum.

"Senjataku adalah suling. Apakah senjatamu juga suling itu?"

Tanya Michiko "Boleh dikatakan begitu, sebab aku bisa menggunakan senjata apa pun,"

Sahut Tio Cie Hiong. Michiko semakin kagum.

"Aku tahu engkau berkepandaian tinggi Bersediakah engkau memberi petunjuk kepadaku? "

Tio cie Hiong tampak ragu.

"Berilah dia petunjuk"

Desak Yasuki Nichiba sambil tertawa.

"Kalau tidak, dia pasti kecewa."

Tio cie Hiong berpikir sejenak, kemudian berkata sungguh-sungguh.

"Kalau begitu, perlihatkaniah ilmu sulingmu"

"Baik,"

Michiko bangkit berdiri, lalu menggerakkan sulingnya.

Tio Cie Hiong terus memperhatikan gerakan-gerakan suling itu Gerakannya memang cukup hebat dan lihay, namun masih terdapat kekurangan.

Karena itu, Tio Cie Hiong mulai meniup suling kumalanya.

Michiko tampak tertegun ketika mendengar suara suling Tio cie Hiong.

la lalu menggerakgerakkan sulingnya mengikuti irama suara suling kumala Tio Cie Hiong, sehingga tampak indah sekali.

Yasuki Nichiba terbelalak menyaksikannya, sebab gerakan-gerakan suling Michiko berubah begitu lemas tapi lihay sekali.

Pemuda Jepang itu pun tahu, bahwa Tio cie Hiong sedang memberi petunjuk kepada adiknya melalui irama suara suling.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio cie Hiong berhenti, dan Michiko pun berhenti.

Gadis Jepang itu menghampiri Tio Cie Hiong dengan tatapan mesra, lalu membungkukkan badannya memberi hormat.

"Terima kasih"

Ucapnya lembut.

"sama-sama,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Ha ha ha"

Yasuki Nichiba tertawa gembira.

"Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi"

"Aku...."

Diam-diam Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Tio Cie Hiong"

Yasuki Nichiba memandangnya.

"Aku juga ingin mohon petunjuk."

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau tidak sudi memberi petunjuk kepadaku? Wah Aku jadi ngiri Engkau memberi petunjuk kepada adikku, tapi tidak mau memberi petunjuk kepadaku. Itu tidak bijaksana."

"Yasuki...."

"Berilah aku petunjuk"

Desak pemuda Jepang itu sambil berjalan ke tengah-tengah halaman, talu mempertunjukkan ilmu pedangnya. Tio Cie Hiong menyaksikannya dengan penuh perhatian.

"Bagaimana menurutmu mengenai ilmu pedang kakakku?"

Bisik gadisJepang itu sambil meliriknya.

"Lihay dan hebat. Tapi...."

"Kenapa?"

"Ada kekurangannya."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Gerakan pedangnya terlampau banyak memancing musuh, sedangkan kalau musuh terpancing, maka dia akan menggunakan pedang pendek yang di pinggangnya."

"Engkau kok tahu kakakku akan menggunakan pedang pendeknya itu?"

Tanya Michiko heran.

"Itu berkaitan dengan ilmu pedangnya."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku akan memperlihatkan gerakan sulingku, dan engkau harus perhatikan baik-baik"

"Ya."

Michiko mengangguk. Tio Cie Hiong mendekati Yasuki Nichiba. Begitu melihat Tio Cie Hiong mendekatinya, Yasuki Nichiba tersenyum.

"Awas seranganku Hiyaaat"

Serunya.

Yasuki Nichiba benar-benar menyerang Tio Cie Hiong.

Tio Cie Hiong tersenyum, sambil mengayunkan suling kumalanya untuk menangkis, lalu balas menyerang.

Yasuki Nichiba langsung mundur dua langkah, kemudian kembali maju menyerang lagi dengan gerak tipu.

Tio Cie Hiong sudah tahu, maka diam saja.

Ketika pedang Yasuki Nichiba mengarah ke pinggangnya, barulah ia menggerakkan suling kumalanya.

Di saat bersamaan mendadak tangan kiri Yasuki Nichiba mencabut pedang pendek yang terselip di pinggangnya, lalu digerakkan dengan cepat untuk menyerang Tio cie Hiong.

Akan tetapi, Tio Cie Hiong bergerak lebih cepat sehingga tampak suling kumalanya berkelebat, itulah jurus Cian In Giok siauw (Ribuan Bayangan suling Kumala).

"Trang Trang"

Serangan Yasuki Nichiba tertangkis, bahkan ujung suling kumala Tio Cie Hiong telah menyentuh dada Yasuki Nichiba.

Hal tersebut membuat pendekar Jepang berdiri mematung, sebab gurunya pernah bilang, siapa yang mampu mematahkan serangannya itu, berarti kepandaian orang itu telah mencapai tingkat yang sangat tinggi.

"Maaf"

Ucap Tio Cie Hiong sambil menurunkan suling kumalanya.

"Engkau memang hebat luar biasa"

Yasuki Nichiba menghela nafas.

"Ilmu pedangku tak berarti apa-apa bagimu."

"Jangan terlampau merendah, sesungguhnya ilmu pedang mu sangat hebat dan lihay. Hanya saja...."

Tio Cie Hiong tersenyum dan melanjutkan.

"Mungkin selama ini engkau tidak pernah menghadapi musuh tangguh, maka timbul pula rasa kesombonganmu."

"Benar."

Yasuki Nichiba mengangguk.

"Itu tidak baik."

Tio Cie Hiong menasehatinya.

"sebab kesombongan adalah musuh berat dalam diri kita, yang akan membuat diri kita jatuh."

"Ya."

Yasuki Nichiba mengangguk lagi.

"Aku pasti ingat akan nasihatmu, terima kasih"

"Kakak Tio...."

Michiko memandangnya dengan wajah berseri-seri.

"Engkau adalah pemuda idaman hatiku."

"Adik Michiko...."

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa, Kakak Tio?"

Tanya Michiko lembut.

"Apakah engkau tidak tertarik kepadaku?"

"sesungguhnya aku sangat tertarik kepadamu...,"

Jawab Tio Cie Hiong agar tidak menyinggung perasaan gadis Jepang itu.

"Tapi aku sudah mempunyai calon isterl."

Michiko tampak kecewa, kemudian tanyanya.

"siapa calon isterimu?"

"Dia bernama Lim Ceng Im, putri ketua Kay Pang ini."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Tapi...."

"Apakah dia juga diculik oleh penjahat itu?"

Tanya Michiko menduga.

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk dengan wajah murung.

"Aku terus menerus mencarinya."

"Kakak Tio...."

Michiko tersenyum.

"Karena dia tidak ada, bukankah kita boleh bersenangsenang? "

"Adik Michiko"

Tio cie Hiong tersenyum getir sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu tidak baik, lagipula aku tidak mau menyeleweng di belakangnya. Engkau gadis Jepang yang baik, maka harus bisa menjaga diri dan menjaga jarak terhadap kaum lelaki."

"Kakak Tio...."

Michiko menundukkan kepala dan matanya tampak basah.

"Adik"

Yasuki Nichiba memegang bahunya.

"Apa yang dia katakan memang benar, janganlah engkau merusak martabat gadis Jepang"

"Ya."

Michiko mengangguk perlahan.

"Adik Michiko"

Tio Cie Hiong tersenyum lembut.

"Percayalah, kelak engkau pasti bertemu lelaki idaman hatimu"

Gadis Jepang itu diam.

Hatinya berduka sekali dan nyaris menangis di hadapan Tio Cie Hiong.

Yasuki Nichiba menggeleng-gelengkan kepala.

Diam-diam ia pun merasa iba terhadap adiknya, namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Bab 54 Lima Ninja dari Jepang Wajah Bu Lim sam Mo tampak bengis sekali.

Mereka bertiga menatap Tan Kok Yauw dengan penuh kegusaran.

"Engkau memang gentong nasi"

Bentak Tang Hai Lo Mo.

"Masa tidak mamcu menundukkan dua orang Jepang itu Kalian telah mempermalukan Bu Tek Pay, maka kalian harus dihukum"

"Ampun, Ketua"

Ucap Tan Kok Yauw, kemudian memberitahukan.

"sesungguhnya kami dapat menundukkan mereka berdua, tapi...."

"Kenapa?"

Tanya Th ia n Mo marah.

"Karena mendadak muncul Pek Ih sin Hiap. maka kami segera meninggalkan tempat itu."

"Apa?"

Bu Lim sam Mo tampak tersentak.

"Muncul Pek Ih sin Hiap?"

"Ya."

Tan Kok Yauw mengangguk.

"Hmm"

Dengus Tang Hai Lo Mo.

"Dia memang mujur, tidak mati di daerah Miauw" (Bersambung ke Bagian 32)

Jilid 32

"Lo Mo"

Thian Mo sambil mengerutkan kening.

"Tio cie Hiong betul-betul merupakan duri dalam mata kita. Kalau kita tidak membunuhnya, dia pasti akan merintangi tujuan kita."

"Ha ha ha"

Te Mo tertawa gelak.

"Kita tidak perlu khawatir, sebab jantung hatinya telah berada di tangan kita. Kalau dia berani macam-macam, kita bunuh saja jantung hatinya itu."

"Guru Sebelum gadis itu dibunuh, berikan saja dulu kepadaku, biar aku bersenang-senang dengannya"

Ujar salah seorang pemuda yang berdiri di samping Te Mo.

"Engkau jangan cuma memikirkan itu, cobalah giat melatih ilmu-ilmu yang kami turunkan kepadamu"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"Ya, Guru."

Pemuda itu mengangguk.

Siapa pemuda itu?

Dia ternyata Liu Siauw Kun.

Ketika kepandaiannya dimusnahkan Tio cie Hiong, setengah tahun kemudian ayahnya meninggal.

Kebetulan pada waktu itu muncul seorang tokoh tua dari golongan hitam di kota An Wie, yaitu Ang Bin Sat Sin (Algojo Muka Merah).

Liu Siauw Kun mengundangnya ke rumah.

Undangan itu sangat menggembirakan Ang Bin Sat Sin, yang lalu tinggal di situ dengan hidup senang, bahkan menerima Liu Siauw Kun sebagai murid.

Setiap malam tokoh tua golongan hitam itu menyalurkan lweekangnya ke tubuh pemuda itu, agar urat yang putus pemuda itu tersambung kembali.

Memang di luar dugaan, ternyata Ang Bin sat sin adalah kawan Bu Lim sam Mo.

oleh karena itu, ia pun bergabung dengan Bu Lim sam Mo.

Akhirnya Liu siauw Kun juga diterima sebagai murid, dan sejak itu Bu Lim sam Mo mengajar Liu siauw Kun Hian Bun Kui Goan Kang Khi, maka urat Liu siauw Kun yang putus itu tersambung kembali.

Bu Lim sam Mo juga menurunkan ilmu-ilmu tingkat tinggi kepadanya.

setelah itu, Liu siauw Kun pergi membunuh Lim Hay Beng, suami Tan Li Cu.

"Tan Kok Yauw"

Bentak Tang Hai Lo Mo.

"sekarang engkau boleh kembali ke tempatmu"

"Terima kasih, Ketua"

Tan Kok Yauw segera meninggalkan ruang itu sambil menarik nafas lega. Pada saat bersamaan, muncul Lie Kiat Houw kepala regu bendera Kuning. Ia memberi hormat dan melapor.

"Lapor kepada Ketua, Lam Kiong Bie Liong, Toan pit Lian, Toan wie Kie dan Gouw sian Eng telah memasuki Tionggoan."

Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening, lalu memandang Thian Mo dan Te Mo.

"Bagaimana menurut kalian, kita harus mengambil tindakan apa?"

"Tangkap mereka"

Sahut Thian Mo dan Te Mo serentak.

"Ngmm"

Tang Hai LoMo manggut-manggut, lalu memberi perintah kepada Lie Kiat Houw.

"Kalian harus dapat menangkap mereka"

"Ketua"

Lie Kiat Houw menundukkan kepala.

"Kepandaian mereka masih di atas kami."

"Ang Bin sat sin, engkau dan Liu siauw Kun menyertai mereka untuk menangkap orang-orang itu"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Gunakan bom asap beracun agar mereka pingsan, jadi tidak perlu membuang-buang waktu"

"Ya,"

Sahut Ang Bin sat sin sambil memberi hormat, lalu mengajak Liu siauw Kun. setelah mereka berangkat, Tang Hai Lo Mo tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha setelah kita menangkap mereka, barulah cari akal untuk menghadapi Tio Cie Hiong"

"Lo Mo"

Ujar Thian Mo.

"Bukankah lebih baik kita langsung menghadapinya?"

"Kalau kita langsung menghadapinya, kita akan rugi,"

Sahut Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Sebab kepandaiannya sudah begitu tinggi, maka seandainya kita dapat mengalahkannya, diri kita pun tidak akan terluput dari luka."

"Benar."

Te Mo manggut-manggut.

"Maka kita harus menghadapinya dengan akal."

"Apa akal kita?"

Tanya Thian Mo.

"Nanti kita pikirkan bersama. Ha ha ha"

Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. Di saat bersamaan muncul pula Kwee Tiong seng, kepala regu bendera hijau.

"Lapor kepada Ketua"

Kwee Tiong seng memberi hormat.

"Ada lima Ninja dari Jepang ingin bertemu Ketua."

"Ninja dari Jepang?"

Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.

"Mau apa Ninja-ninja itu datang di Tionggoan?"

"Lo Mo Engkau tahu tentang Ninja itu?"

Tanya Thian Mo.

"Tahu."

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Ninja tergolong aliran sesat di Jepang, namun mereka berkepandaian tinggi dan memiliki semacam ilmu yang istimewa."

"Ilmu istimewa yang bagaimana?"

Tanya Te Mo tertarik.

"Ninja-ninja itu dapat menelusup ke dalam tanah, bahkan juga bisa menghilang dalam waktu sekejap."

Jawab Tang Hai Lo Mo.

"Tapi sungguh mengherankan, kenapa mereka muncul di Tionggoan dan ingin bertemu kita?"

"Bagaimana kalau kita suruh mereka menghadap kita?"

Tanya Thian Mo. Tang Hai LoMo manggut-manggut dan memberi perintah kepada KweeTiong seng.

"Undang mereka masuk"

"Ya, Ketua."

Kwee Tiong seng memberi hormat, lalu berjalan ke luar. sesaat kemudian ia sudah kembali bersama lima orang berpakaian hitam dan memakai tutup kepala yang juga berwarna hitam.

"Kami lima Ninja dari Jepang memberi hormat pada ketua Bu Tek Pay"

Ucap kelima Ninja itu serentak.

"Kami terima hormat kalian,"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"Terima kasih"

Ucap mereka berlima.

"Buka kain penutup kepala kalian"

Ujar Thian Mo.

"Maaf"

Sahut salah seorang dari mereka.

"Kami ke mari ingin bergabung, maka kami akan membuka kain penutup kepala kami setelah kami diterima."

Bu Lim sam Mo saling memandang, kemudian mereka bertiga manggut-manggut.

"Baik,"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Kalian kami terima."

"Terima kasih"

Ucap kelima Ninja itu, lalu masing-masing membuka kain penutup kepalanya. Ternyata kelima Ninja itu masih muda. Bu Lim Sam Mo menatap mereka dengan tajam sekali.

"Kenapa kalian mau bergabung dengan kami? tanya Thian Mo.

"sebab aliran kami di Jepang telah terdesak. maka guru kami menyuruh kami berangkat ke Tionggoan."

Salah seorang Ninja memberitahukan.

"Kenapa guru kalian tidak datang bersama kalian?"

Tanya Te Mo.

"Guru kami sedang berupaya menghindari seorang pendekar tua di Jepang, mungkin guru -kami akan memperdalam ilmunya di suatu tempat. Karena itu, kami segera berangkat ke Tionggoan,"

Jawab salah seorang Ninja.

"Cara bagaimana kalian tahu tentang Bu Tek Pay?"

Tanya Tang Hai Lo Mo.

"Kami berlima bertemu Kwee Tiong seng. Dia menanyakan asal-usul kami. Kami berterus terang, dia mengajak kami bergabung dengan Bu Tek Pay. Kami tertarik, maka dia bawa kami ke mari. Tapi...."

"Kenapa?"

"Dia bilang kepandaian kalian bertiga sangat tinggi, jadi...."

"Kalian ingin menyaksikan kepandaian kami"

Tanya Tang Hai Lo Mo sambil tertawa gelak.

"Ya."

Kelima Ninja itu mengangguk.

"Kalau tidak. bagaimana mungkin kami akan merasa takluk?"

"Baik."

Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

Baca Juga: Dewi Ular 3

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert