Eps 9 Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.
"sebab hingga saat ini dia tidak pernah muncul."
"Itu hanya mungkin,"
Ujar Tok Pie sin wan.
"Menurut pendapatku, Im sie Hong Mo tidak mungkin telah dibunuh Pek Ih Hong Li, sebab kepandaian mereka berdua seimbang. Mungkin.... Im sie Hong Mo sedang menghindari Pek Ih Hong Li, maka dia tidak berani muncul."
"Ngmm"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Mungkin."
"Kakek bagaimana sih?"
Tegur Lim Ceng Im.
"Ini mungkin dan itu mungkin...."
"Cucuku yang pintar Menurutmu apa yang harus dipastikan?"
Sam Gan sin Kay menatap Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Yang jelas...."
Wajah Lim Ceng Im berseri.
"Kakak Hiong sudah berada di sini, maka Im sie Hong Mo tidak berani ke mari."
"Mungkin."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Mungkin lagi mungkin lagi"
Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.
"Adik Im"
Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sung-guh.
"Im sie Hong Mo tidak muncul bukan karena aku di sini, melainkan... dia sedang menunggu kesempatan."
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im heran.
"Kenapa dia harus menunggu kesempatan?"
"Sebab kini dia masih terhalang oleh Pek Ih Hong Li, maka dia belum mau muncul. Yang penting, kita semua harus hati-hati"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Masuk akal dan mungkin begitu,"
Sahut sam Gan sin Kay. Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara seruan di luar susul menyusul dan bergema.
"Utusan Tayli dan Toan wie Kie datang"
"Utusan Tayli dan Toan wie Kie datang...."
"Undang mereka masuk"
Sahut Lim Peng Hang.
"Undang mereka masuk...."
Suara seruan ini saling menyusul ke luar.
"Mari kita sambut mereka"
Ujar Lim Peng Hang.
Bu Lim Ji Khie dan lainnya segera beranjak ke pintu.
sesaat kemudian, muncullah utusan Tayli dan Toan wie Kie.
Utusan Tayli ternyata Hian Teng Taysu, Koksu istana Tayli, sin san Lojin dan Ang Kin sian Li.
"selamat datang selamat datang"
Ucap Lim Peng Hang sambil memberi hormat kepada mereka.
"selamat bertemu"
Sahut Hian Teng Taysu dan balas memberi hormat.
"Toan Hong Ya mengutus kami ke mari."
"silakan masuk"
Ucap Lim Peng Hang selaku tuan rumah.
"saudara Tio"
Toan wie Kie menepuk bahu Tio Cie Hiong.
"Nanti kita baru mengobrol."
"saudara Kie"
Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil tersenyum.
"silakan duduk"
Ucap Lim Peng Hang lagi. Kemudian mereka saling memperkenalkan diri, dan suasana pun menjadi semarak.
"Maaf"
Ucap Hian Teng Taysu.
"Kedatangan kami telah mengganggu markas pusat Kay Pang ini"
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Kepala gun.... eh Taysu...."
"Ha ha ha"
Hian Teng Taysu juga tertawa.
"Aku memang kepala gundul, engkau pengemis bau yang sangat terkenal."
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Kalau begitu, aku pun tidak perlu sungkan-sungkan lagi. Kepala gundul, kalian bertiga ke mari ingin melamar Gouw sian Eng, kan?"
"Betul, pengemis bau."
Hian Teng Taysu manggut-manggut.
"Kami mewakili Hong Ya untuk melamar Gouw sian Eng. Tui Hun Lojin dan Gouw tayhiap. apakah lamaran ini akan diterima dengan senang hati?"
"Tentu Tentu...."
Tui Hun Lojin tertawa gembira.
"setan tua"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Engkau boleh makan enak dan tidur nyenyak di istana Tayli lho"
"Pengemis bau"
Tui Hun Lojin tertawa lagi.
"Engkau boleh ikut."
"Benar, benar,"
Sela sin san Lojin.
"Kalau Bu Lim Ji Khie mau berkunjung ke Tayli, itu merupakan suatu kehormatan bagi kami."
"Ha ha ha"
Kim siauw suseng tertawa terbahak-bahak.
"Kalau begitu, kelak kami pasti ke sana."
"Kami sangat mengharapkan,"
Sahut sin san Lojin sungguh-sungguh.
"Terimakasih"
Ucap Kim siauw suseng.
"ohya"
Ujar Hian Teng Taysu memberitahukan.
"Lam Kiong Bie Liong, Hong Ya juga perintahkan kami untuk menjemput ibumu ke Tayli."
"Terimakasih, Koksu"
Ucap Lam Kiong Bie Liong.
"Apakah kehadiranku di sana tidak akan mengganggu ketenangan istana Tayli?"
Tanya Lam Kiong hujin sambil tersenyum.
"Tentu tidak,"
Sahut Hian Teng Taysu sambil tertawa.
"Malah akan menambah semarak suasana di istana Tayli."
"Terimakasih"
Ucap Lam Kiong hujin.
"Tentu tidak"
Sahut Hian Teng Taysu.
"ohya"
Ang Kin sian Li memberitahukan.
"Hong Ya juga mengundang Tui Hun Lojin dan Gouw tayhiap ke sana."
"Terimakasih"
Ucap Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong serentak.
"Hua ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Tuuuh setan tua, mulai saat ini engkau akan hidup senang, punya menantu pangeran Tayli Jangan jangan engkau akan melupakan kami yang di sini"
"Pengemis bau Bagaimana mungkin aku melupakan kalian?"
Sahut TUi Hun Lojin sambil tertawa.
"Ohya"
Hian Teng Taysu memberitahukan.
"Hong Ya dan Hujin mengundang Pek Ih sin Hiap ke sana."
"Terima kasih atas undangan Hong Ya dan Hujin"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Tapi aku tidak bisa memenuhi undangan itu."
"Kenapa?"
Hian Teng Taysu heran.
"Sebab aku sedang menghadapi suatu masalah."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"setelah masalah itu selesai, kami pasti berkunjung ke Tayli."
"Masalah apa?"
Tanya sin san Lojin dan Ang Kin sian Li serentak.
"Di rimba persilatan sini telah muncul seorang iblis, yang berjuluk Im sie Hong Mo. Kepandaiannya sangat tinggi, maka aku harus menghadapinya,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Im sie Hong Mo?"
Sin san Lojin, Ang Kin sian Li dan Hian Teng Taysu saling memandang.
"Im sie Hong Mo..."
Tutur Tlo Cie Hiong.
"Apa?"
Hian Teng Taysu terbelalak.
"Tujuh partai besar telah hancur?"
"Omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Memang benar. oleh karena itu, kami semua berkumpul di sini menunggu kemunculan Im sie Hong Mo itu."
"Pantas ketua-ketua partai berada di sini"
Hian Teng Taysu manggut-manggut menghela nafas.
"Sungguh di luar dugaan"
"Kalau begitu...,"
Ujar Sin San Lojin sungguh-sungguh.
"Agar tidak terjadi sesuatu, lebih baik kita berangkat besok."
"Tidak terlalu cepat?"
Tanya sam Gan sin Kay.
"Kami memang harus cepat kembali ke Tayli, itu perintah Hong Ya."
Sin san Lojin memberitahukan.
"Lagipula... kalau terjadi sesuatu, berat sekali tanggung jawab kami."
"Baiklah."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Kami tidak akan menahan kalian. Memang ada baiknya kaitan segera berangkat ke Tayli, mudah-mudahan Im Sie Hong Mo tidak muncul malam ini"
Malam hari, Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Lam Kiong Bie Liong dan Toan wie Kie ber-cakap-cakap di halaman, namun wajah Toan wie Kie tampak agak kecewa.
"sayang sekali"
Ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalian berdua tidak bisa ke Tayli"
"sesungguhnya kami memang ingin menghadiri pesta pernikahan kalian, tapi...."
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Bagaimana mungkin aku dan adik Im berangkat ke sana?"
"saudara Tio"
Toan wie Kie menatapnya.
"Benarkah Im sie Hong Mo itu berkepandaian tinggi sekali?"
"Benar."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian Im sie Hong Mo itu. Berdasarkan bukti kematian siauw Lim sam Tianglo, maka kita dapat membayangkan kepandaiannya."
"saudara Tio"
Toan Wie Kie mengerutkan kening.
"Engkau dapat menghadapinya?"
"Mudah-mudahan"
Sahut Tio cie Hiong.
"Aku tidak yakin dapat menghadapinya karena ilmu pedangnya sangat berbeda."
"Kenapa berbeda?"
Tanya Toan Wie Kie heran.
"Im sie Hong Mo adalah orang tak waras, maka ilmu pedangnya juga kacau balau tidak karuan, tapi lihay sekali. Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie sin Wan nyaris mati di tangannya. Kalau Pek In Hong Li tidak muncul di saat itu, mereka semua pasti sudah mati."
"saudara Tio"
Tanya Toan Wie Kie.
"Engkau tahu siapa Pek Ih Hong Li itu?"
"Aku sama sekali tidak tahu, lagi pula aku tidak bertemu dia dan Im sie Hong Mo, maka aku tidak tahu siapa mereka."
Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu, bukankah engkau boleh bergabung dengan Pek Ih Hong Li untuk membasmi Im sie Hong Mo?"
Ujar Toan Wie Kie seakan mengusulkan.
"Tidak mungkin."
Tio cie Hiong menggelengkan kepala lagi.
"Kenapa?"
Tanya Toan wie Kie.
"Pek Ih Hong Li juga tak waras, jadi bagaimana mungkin aku bergabung dengannya?"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Mereka berdua sama-sama tak waras, maka aku malah khawatir mereka berdua akan bergabung menghadapiku."
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im tersentak.
"Mungkinkah begitu?"
"Mungkin juga."
Tio Cle Hiong manggut-manggut.
"Karena orang tak waras akan lebih dekat dengan orang tak waras pula."
"Tapi...."
Lim Ceng Im mengerutkan kening.
"Kata kakek, Pek Ih Hong Li justru memusuhi Im sie Hong Mo. Karena itu, aku yakin Pek Ih Hong Li tidak akan bergabung dengan Im sie Hong Mo untuk menghadapi Kakak Hiong."
"Mudah-mudahan begitu"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum getir.
"Kapan rimba persilatan akan aman...?"
"Tapi sungguh mengherankan"
Sela Lam Kiong Bie Liong.
"Kenapa hingga saat ini Im sie Hong Mo belum muncul?"
"Dia sedang menunggu kesempatan. Aku yakin tidak lama lagi dia akan muncul di sini,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Kenapa engkau yakin begitu?"
Tanya Lam Kiong Bie Liong.
"Apabila Pek Ih Hong Li lengah, dia pasti muncul,"
Sahut Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Dia agak takut kepada Pek Ih Hong Li, maka sementara ini dia menghindar. setelah itu, barulah muncul."
"Adik Hiong"
Lam Kiong Bie Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak habis pikir, kenapa Im sie Hong Mo agak takut kepada Pek Ih Hong Li? Apakah mereka mempunyai suatu hubungan?"
"Mungkin."
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Kalau tidak, bagaimana mungkin Im sie Hong Mo agak takut kepada Pek Ih Hong Li?"
"Memang membingungkan."
Lam Kiong Bie Liong menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memandang Tio Cie Hiong seraya berkata.
"Adik Hiong, tentunya engkau tidak berkeberatan memberi petunjuk kepadaku mengenai ilmu pedang, bukan?"
"Kakak Liong...."
Sesungguhnya Tio Cie Hiong ingin menolak, namun merasa tidak enak.
"Kepandaianku. ..."
"Adik Hiong"
Ujar Lam Kiong Bie Liong sungguh-sungguh.
"Jangan merendah, aku akan memperlihatkan ilmu pedangku, di mana terdapat kekurangannya, aku harap engkau memberi petunjuk"
"Kakak Liong...."
Tio cie Hiong berpikir, lalu mengangguk seraya berkata. ."Baiklah. silakan Kakak Liong memperlihatkan ilmu pedangmu itu"
"Terima kasih, Adik Hiong"
Ucap Lam Kiong Bie Liong girang, lalu menghunuskan pedangnya dan berkata.
"Yang kuandalkan adalah Thay Yang Kiam Hoat (Ilmu Pedang surya)."
Usai berkata begitu, mulailah Lam Kiong Bie Liong menggerakkan pedangnya mempertunjukkan Thay Yang Kiam Hoat.
Tio Cie Hiong terus memperhatikan dengan cermat.
la manggut-manggut tapi kadang-kadang mengerutkan kening.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Lam Kiong Bie Liong berhenti lalu bertanya.
"Adik Hiong, bagaimana? Apakah ilmu pedang ku terdapat kekurangannya?"
"Kakak Liong,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"sesungguhnya ilmu pedang mu sangat hebat dan mengagumkan tergolong ilmu pedang tingkat tinggi. Tapi...."
"Kenapa?"
Tanya Lam Kiong Bie Liong cepat.
"Ada beberapa jurus yang masih terdapat kekurangannya,"
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Yaitu pada jurus ketujuh, kesembilan, dan ketiga belas. Apakah engkau sengaja tidak melanjutkan jurus-jurus itu?"
"Adik Hiong"
Lam Kiong Bie Liong menatapnya kagum.
"Sungguh tajam dan cermat penglihatanmu. Aku belajar ilmu pedang itu dari sebuah kitab, tapi tersobek sedikit, sehingga tidak dapat kupelajari dengan baik jurus-jurus itu."
"ooooh"
Tio Cie Hiong manggut-manggut dan mulai memberi petunjuk.
"Pada jurus ketujuh engkau harus melanjutkan dengan gerakan ini"
Lam Kiong Bie Liong segera mengikuti gerakan tersebut. Bukan main terkejut dan girangnya, karena jurus itu menjadi sempurna.
"Adik Hiong"
Ujarnya kemudian.
"Berbulan-bulan aku berpikir setengah mati untuk menyempurnakan jurus itu, namun tidak berhasil sama sekali. Engkau cuma sekali pandang sudah mampu menyempurnakan jurus itu. Aku... aku sungguh tidak mengerti."
Tio Cie Hiong hanya tersenyum, kemudian memberi petunjuk lagi, sehingga ilmu pedang tersebut bertambah hebat dan lihay.
Betapa girangnya Lam Kiong Bie Liong, dan dia memandang Tio Cie Hiong dengan mata terbelalak.
"Kakak Liong"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Terima kasih, Adik Hiong Aku merasa bangga sekali mempunyai adik...."
"Kakak Liong, jangan terus-menerus memujiku"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku jadi malu...."
Pagi ini, utusan Tayli dan Toan wie Kie berpamit. Begitu pula Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong Bie Liong, juga ikut berangkat ke Tayli.
"Setan tua"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Bukan kami tidak hadir, melainkan...."
"Aku tahu, kalau bukan terpaksa, aku pun tidak akan berangkat ke Tayli,"
Sahut Tui Hun Lojin, kemudian memegang bahu Tio Cie Hiong.
"Hati-hati terhadap Im sie Hong Mo"
"Ya, Kakek."
Tio cie Hiong mengangguk.
"saudara Tio"
Ujar Toan wie Kie berpesan.
"Apabila urusanmu telah selesai, jangan lupa berkunjung ke Tayli"
"Tentu."
Tio cie Hiong tersenyum.
"saudara Kie, sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu dan adik sian Eng"
"Pasti kusampaikan."
Toan wie Kie mengangguk.
"Adik Hiong"
Lam Kiong Bie Liong memegang bahu Tio cie Hiong erat-erat.
"setelah engkau mengalahkan Im sie Hong Mo, susullah kami"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
Kemudian berangkatlah mereka dengan naik kuda.
setelah itu Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin Wan, Tio Cie Hiong, Lim Peng Hang, Lim Ceng Im dan para ketua tujuh partai baru masuk.
Mereka duduk di aula dalam.
sam Gan sin Kay menarik nafas lega seraya berkata.
"Mereka lebih aman diTayli daripada di sini jadi kita tidak usah mengkhawatirkan mereka"
"sayangnya kita tidak bisa menghadiri pesta pernikahan itu."
Kim siauw suseng menggelenggelengkan kepala.
"Padahal aku ingin sekali pesiar ke Tayli."
"Kalau begitu, cepatlah susul mereka"
Ujar sam Gan sin Kay sambil tertawa.
"Masih keburu kok"
"Pengemis bau, jangan menyindir"
Sahut Kim siauw suseng.
"Aku bukan orang yang takut mati Iho"
"Aku tahu. Aku tahu...."
Sam Gan Sin Kay tertawa lagi, lalu memandang cucunya.
"Ceng Im, kalau tidak terganggu oleh kemunculan Im sie Hong Mo, engkau dan cie Hiong pun pasti telah melangsungkan pernikahan."
"Kakek...."
Wajah Lim Ceng Im memerah.
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak^ sementara itu, utusan Tayli terus melakukan perjalanan. Tampak Tui Hun Lojin sedang bercakap-cakap dengan Gouw Han Tiong.
"Terus terang, aku merasa tidak enak ikut ke Tayli...."
Tui Hun Lojin menghela nafas.
"sian Eng dan wie Kie akan melangsungkan pernikahan, tentunya ayah harus hadir, kenapa malah bilang tidak enak?"
Gouw Han Tiong heran.
"Aku merasa tidak enak terhadap yang berada di markas pusat Kay Pang. Karena mereka sedang menghadapi musuh tangguh, tapi kita malah berangkat ke Tayli."
"Kalaupun Ayah tetap berada di sana, juga tidak bisa membantu."
Ujar Gouw Han Tiong sungguh-sungguh.
"Bahkan aku akan merasa tidak enak terhadap Toan Hong Ya, kalau Ayah tidak hadir."
Tui Hun Lojin menghela nafas.
"Mudah-mudahan cie Hiong dapat mengalahkan Im sie Hong Mo"
Ucapan Tui Hun Lojin terhenti, karena mendadak mereka semua mendengar suara tawa yang menyeramkan.
"Celaka"
Seru Gouw Han Tiong dengan wajah pucat pias.
"Im sie Hong Mo"
"semua harus hati-hati"
Teriak Tui Hun Lojin.
"Itu suara tawa Im sie Hong Mo"
Mereka semua berhenti. Hian Teng Taysu, Sin San Lojin dan Ang Kin Sian Li saling memandang. sungguh tak disangka, di tempat ini mereka akan menghadapi Im sie Hong Mo.
"Hua ha ha He he he...."
Suara tawa yang menyeramkan itu terus bergema, dan tak lama muncullah seseorang berpakaian kumal, rambutnya yang panjang awut-awutan menutupi wajahnya. orang itu ternyata memang Im sie Hong Mo.
"omitohud"
Hian Teng Taysu menatapnya seraya berkata.
"Kami pihak Tayli tidak bermusuhan denganmu, harap engkau jangan mengganggu perjalanan kami yang akan kembali ke Tayli"
"He h e h e"
Im Sie Hong Mo masih terus tertawa.
"Pokoknya kalian semua harus mati Harus mati"
"Engkau. ingin menanam permusuhan dengan Tayli?"
Tanya sin san Lojin sambil mengerutkan kening.
"Tayli? Phui"
Im sie Hong Mo meludah.
"Aku Im sie Hong Mo, tidak akan takut kepada siapa pun Kalian semua harus mati He he he...."
Im sie Hong Mo mulai menghunuskan pedangnya, namun di saat bersamaan terdengarlah suara tawa nyaring yang melengking-lengking.
Im sie Hong Mo tampak tersentak lalu menengok ke sana ke mari.
sekonyong-konyong berkelebat sosok bayangan putih ke hadapan Im sie Hong Mo.
Bayangan itu ternyata Pek Ih Hong Li.
"Aku harus mencincangmu Aku harus mencincang mu"
Pek Ih Hong Li langsung menyerang Im sie Hong Mo.
Maka terjadilah pertarungan yang sangat seru.
Hian Teng Taysu dan lainnya menyaksikan pertarungan itu dengan mata terbelalak, sebab ilmu pedang Pek Ih Hong Li dan Im sie Hong Mo begitu hebat dan lihay, tapi kacau balau tidak karuan.
"He he he"
Im sie Hong Mo tertawa keras dan mendadak melesat pergi. Pek Ih Hong Li pun melesat mengejarnya. seketika juga suasana di tempat itu menjadi hening.
"omitohud"
Hian Teng Taysu menghela nafas.
"Kalau wanita berbaju putih itu tidak muncul, kita semua pasti mati di tangan Im sie Hong Mo."
"Wanita berbaju putih itu pasti Pek Ih Hong Li,"
Ujar Toan wie Kie sambil menarik nafas legg.
"Secara tidak langsung dia telah menolong kita semua."
"Benar."
Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.
"Wanita itu pasti Pek Ih Hong Li. Im sie Hong Mo tampak agak takut kepadanya."
"Ayoh, kita melanjutkan perjalanan"
Seru sin san Lojin.
Mereka segera melanjutkan perjalanan dengan hati tercekam, sebab khawatir kalau sewaktuwaktu Im sie Hong Mo muncul lagi.
Toan Hong Ya dan Hujin menyambut mereka dengan penuh kegembiraan, lalu beramah tamah dengan mereka di ruang khusus.
para dayang pun segera menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman.
"Ha ha ha"
Toan Hong Ya tertawa gembira.
"Terimakasih atas kedatangan kalian semua"
"Terimakasih atas keramahan Hong Ya dan Hujin"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Kami telah mempersiapkan segala keperluan pernikahan. Bagaimana kalau pesta pernikahan diselenggarakan esok?"
Tanya Toan Hong Ya.
"Kami setuju,"
Jawab Tui Hun Lojin.
"Lam Kiong Hujin"
Ujar Toan Hong Ya memberitahukan.
"pesta pernikahan Bie Liong dan Pit Lian juga diselenggarakan bersama. Bagaimana?"
"Itu memang baik sekali."
Lani Kiong hujin manggut-manggut.
"Baik"
Toan Hong Ya tertawa.
"Kita pastikan esok menyelenggarakan pesta pernikahan."
"Ya."
Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin mengangguk.
"ohya"
Toan Hong Ya mengerutkan kening.
"Kenapa Cie Hiong dan Ceng Im tidak datang?"
"Ayah"
Toan wie Kie memberitahukan.
"Cie Hiong harus menghadapi seorang musuh tangguh."
"Oh?"
Toan Hong Ya mengerutkan kening lagi.
"Siapa musuh tangguhnya itu?"
"Im sie Hong Mo,"
Jawab Toan wie Kie.
"Kepandaiannya sungguh tinggi. Dalam perjalanan pulang, kami bertemu Im sie Hong Mo itu"
"Oh, ya?"
Toan Hong Ya terkejut.
"Kalian bertarung dengan dia?"
"Omitohud"
Sahut Hian Teng Taysu.
"Kalau kami bertarung dengan Im sie Hong Mo, tentu kami semua sudah mati."
"Apakah dia begitu hebat?"
Toan Hong Ya kelihatan kurang percaya.
"Benar."
Tui Hun Lojin mengangguk lalu menutur kejadian itu "Kami disadarkan dengan suara suling. Kalau tidak, pikiran kami masih terpengaruh dan dikendalikan oleh ilmu hitam itu."
"Apakah Im sie Hong Mo juga mahir ilmu hitam?"
Tanya Toan Hong Ya terkejut.
"Ilmu hitamnya tinggi sekali,"
Jawab Lam Kiong hujin.
"Kami dan para ketua tujuh partai besar di Tionggoan tak sanggup melawan ilmu hitam yang dimiliki Im sie Hong Mo."
"Tapi Cie Hiong...."
Toan Hong Ya tercengang.
"Dia cuma meniup suling...."
"Cie Hiong memiliki Ilmu Penakluk iblis. Dia mengerahkan ilmu itu di saat meniup suling, sehingga membuat pikiran kami menjadi jernih."
"Ooooh"
Toan Hong Ya manggut-manggut, kemudian bertanya.
"Ohya, dapatkah dia menghadapi Im sie Hong Mo itu?" ^ "Entahlah."
Tui Hun Lojin menggelengkan kepala.
"Yang jelas Im sie Hong Mo kelihatan takut kepada Pek Ih Hong Li. Ketika Im sie Hong Mo muncul menghadang kami, tak lama Pek Ih Hong Lipun muncul. Kalau Pek Ih Hong Li tidak muncul di saat itu, kami semua pasti celaka."
"Bukan cuma celaka, tapi pasti mati,"
Sela Ang Kin sian Li.
"Sebab kepandaian Im sie Hong Mo memang lihay dan bukan main hebatnya."
"Kalau begitu...,"
Toan Hong Ya tampak cemas.
"Bagaimana Cie Hiong?"
"Mudah-mudahan dia sanggup menghadapinya"
Ucap Tui Hun Lojin dan menambahkan.
"Lagipula masih ada Pek Ih Hong Li yang terus menerus mengejar Im sie Hong Mo. Dengan begitu Im sie Hong Mo tiada kesempatan untuk bertarung dengan cie Hiong"
"Benar."
Lam Kiong hujin manggut-manggut.
"syukurlah kalau begitu"
Ucap Toan Hong Ya agak berlega hati.
Keesokan harinya, Toan Hong Ya menyelenggarakan pesta pernikahan putra putrinya.
selama tiga hari tiga malam, seluruh rakyat Tayli juga ikut berpesta pora dengan penuh kegembiraan dan semarak.
Akan tetapi, sementara itu pula di markas pusat Kay Pang justru tengah terjadi sesuatu.
Bab 43 Wajah rusak tidak mempengaruhi cinta Ketika hari mulai gelap.
tiba-tiba di markas pusat terdengar suara tawa yang menyeramkan.
Pemilik suara itu tak lain Im sie Hong Mo.
Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Bu Lim Ji Khie dan lainnya tampak berhambur keluar dengan perasaan tegang.
"cie Hiong, hati-hati"
Seru sam Gan sin Kay.
Tio Cie Hiong mengangguk.
Pemuda itu berdiri di tengah halaman dengan kening berkerutkerut.
Tak seberapa lama kemudian, muncullah Im sie Hong Mo di hadapannya sambil tertawa seram.
"He he he Bagus, bagus Kalian semua berkumpul di sini, aku harus membunuh kalian semua"
Ujar Im sie Hong Mo dengan suaranya yang parau. Tersentak Tio Cie Hiong ketika melihat Im sie Hong Mo. Walau wajahnya tertutup oleh rambut, Tio Cie Hiong merasa kenal padanya.
"Im sie Hong Mo Apa urusanmu datang ke mari...?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Ha ha ha... aku harus membunuhmu dan lainnya Malam ini ajal kalian telah tiba. Ha ha ha..."
"Kila tidak saling punya dendam, kenapa engkau ingin membunuh kami?"
Tio Cie Hiong menatapnya, ingin melihat lebih jelas siapa sosok lelaki di hadapannya itu.
"Pokoknya aku harus mencabut nyawamu, setelah itu barulah giliran mereka He he he"
Im sie Hong Mo mulai menghunus pedangnya.
"Harap semua minggir"
Seru Tio Cie Hiong, seraya mengeluarkan suling kumala.
Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin wan, dan lainnya segera mundur belasan depa.
Melihat Lim Ceng Im masih berdiri di situ, Lim Peng Hang cepat-cepat menariknya.
"Ayah...."
Wajah gadis itu mulai memucat.
"Tenang"
Bisik Lim Peng Hang.
"Tio Cie Hiong Malam ini engkau harus mampus"
Bentak Im sie Hong Mo sambil menyerang. Tio Cie Hiong cepat berkelit. Hatinya merasa heran, karena Im sie Hong Mo tahu namanya.
"siapa engkau?"
Tanyanya lagi.
"Aku adalah Im sie Hong Mo, aku harus mencabut nyawamu"
Sahut Im sie Hong Mo sambil terus menyerang.
Para peimbaca yang budiman tentunya tahu siapa Im sie Hong Mo itu.
Dia adalah Ku Tek Cun.
Tokoh yang telah berhasil mempelajari Kitab Im sie Cin Keng, peninggalan Im sie Hong Jin, serta kitab Cih Hun Tay Hoat pemberian Im Yang Hoatsu.
oleh karena itu, ia betul-betul jadi gila tapi masih ingat siapa-siapa yang harus dibunuhnya.
saat ini ia menyerang Tio Cie Hiong dengan Hong Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Kacau Balau).
Bagi orang yang normal, pasti tidak bisa mempelajari ilmu pedang tersebut.
Tio Cie Hiong pun segera mengeluarkan ilmu Giok siauw Bit Ciat Kang Hoat ciptaannya.
sementara kakinya bergerak berdasarkan ilmu Kiu Kiong san Tian Pou.
Akan tetapi, pedang di tangan Im sie Hong Mo seakan punya mata, di mana suling Tio Cie Hiong bergerak.
di situ pula pedang Im sie Hong Mo menangkis.
satu hal lagi yang sangat membingungkan, pada saat Tio Cie Hiong sudah berderak laksana kilat, Im sie Hong Mo dapat mengimbanginya, bahkan kelihatan seakan tahu ke mana lawannya akan bergerak.
Biasanya Tio Cie Hiong mampu melihat jelas gerakan-gerakan ilmu pedang lawan.
Namun kali ini ia justru tidak dapat melihat kelebatan-kelebatan pedang Im sie Hong Mo.
Hal itu tentu membuatnya terkejut bukan main.
Mendadak pemuda ini mengeluarkan bunyi siulan panjang.
Ternyata ia menyerang im sie Hong Mo dengan jurus Hoan Thian coan Te (Membalikkan Langit Memutarkan Bumi).
sebuah jurus yang sangat dahsyat.
Namun im sie Hong Mo tampak hanya ter-tawa-tawa.
la sama sekali tidak menangkis, melainkan balas menyerang.
Dan yang sangat mengherankan, serangannya yang kacau balau itu, mampu mematahkan serangan Tio Cie Hiong.
Cess Badan Tio Cie Hiong terpekik kaget.
Darah segar mengucur di tubuhnya ketika pedang lawan berhasil menusuknya.
"Kakak Hiong..."
Urn Ceng Im menjerit karena merasa cemas.
"Jangan menjerit, itu akan mengganggu perhatiannya"
Bisik UrnPeng Hang. Keringat dingin pun mulai mengucur karena merasa tegang menyaksikan pertarungan itu Wajah Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin wan, dan para ketua tujuh partai sudah pucat pias.
"Ha ha ha He he he"
Im sie Hong Mo terus tertawa seram.
"Engkau harus mampus Engkau harus mampus"
Pekiknya dengan penuh kegeraman.
Im sie Hong Mo terus menyerang Tio Cie Hiong.
sungguh mengagumkan, makin lama makin hebat ilmu pedang Im sie Hong Mo.
Mendadak Tio cie Hiong bersiul panjang lagi, lalu menyerang Im sie Hong Mo secepat kilat dengan jurus san pang Te Liat (Gunung Runtuh Bumi Retak).
TUk TUk TUk Ujung suling kumala berhasil menotok beberapa jalan darah penting di tubuh Im sie Hong Mo.
Akan tetapi, terbelalaklah Tio Cie Hiong melihat Im sie Hong Mo tidak roboh.
Lelaki seram itu malah tertawa terkekeh-kekeh lalu menyerang Tio cie Hiong bertubi-lubi.
Pedangnya berkelebatkelebat laksana kilat menusuk dan menyabet badan Tio Cie Hiong.
Cepat-cepat Tio Cie Hiong berkelit menggunakan Kiu Kiong san Tian Pou, namun pedang Im sie Hong Mo bergerak lebih cepat.
cess Breet Badan Tio cie Hiong tertusuk dan tersabet pedang Im sie Hong Mo lagi.
sekujur badannya berlumuran darah hingga pakaiannya yang putih itu berubah merah.
"Kakak Hiong Kakak Hiong..."
Lim Ceng Im menjerit dan menangis.
"Nak...,"
Wajah Lim Peng Hang sudah bertambah pucat karena tegang.
Begitu pula wajah Bu Lim Ji Khie dan lainnya.
Sementara Im Sie Hong Mo terus melancarkan serangan, sedangkan Tio Cie Hiong memang sudah mulai terdesak hebat, hingga hanya mampu menangkis saja.
Breet crass Badan Tio Cie Hiong pun tersabet pedang im sie Hong Mo.
"HahahaHehehe"Im sie Hong Mo tertawa seram sambil terus menyerang Tio cie Hiong.
"sert"
Wajah Tio Cie Hiong pun tersabet pedang.
Walau wajah dan sekujur badan telah terluka, Tio cie Hiong tidak menjerit sama sekali.
Dia tetap berusaha menangkis sambil mengerahkan pan Yok Hian Thian sin Kang untuk melindungi diri agar darah tidak terus mengucur.
Keadaan Tio Cie Hiong semakin gawat.
Sementara itu Bu Lim Ji Khie, Tok Jie sin wan, Lim Peng Hang, dan para ketua tujuh partai tampak sudah siap menyerang im sie Hong Mo.
Akan tetapi, di saat bersamaan terdengarlah suara tawa yang melengking nyaring.
Mendengar suara tawa itu, Im sie Hong Mo pun tampak tertegun.
Dihentikan serangannya terhadap Tio cie Hiong.
Pemuda itu pun terkulai.
"Kakak Hiong..."
Jerit Lim Ceng im. Tanpa menghiraukan apa pun ia langsung berlari mendekatinya.
"Kakak Hiong"
"Adik Im..."
Sahut Tio Cie Hiong lemah. Darah masih tampak mengalir dari wajahnya.
"Aku cincang engkau Aku cincang engkau"
Terdengar cula suara teriakan menyertai munculnya Pek Ih Hong Li.
"Engkau berani melukainya? Aku cincang tubuhmu"
Pek Ih Hong Li langsung melesat melancarkan serangan,-^embuat Im sie Hong Mo termundurmundur.
"Kucincang tubuhmu Kucincang tubuhmu..."
Teriak Pek Ih Hong Li, geram sekali. la menyerang Im sie Hong Mo dengan ganas dan dahsyat. Sementara Tio Cie Hiong memperhatikan Pek Ih Hong Li. Matanya terbelalak kaget melihat wanita itu.
"Adik In Adik In..."
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im juga kaget.
"Pek Ih Hong Li adalah Yap In Nio?"
"Ya"
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Im sie Hong Mo adalah Ku Tek Cun...."
Pek Ih Hong Li terus menyerang dengan ganas dan cepat sekali, membuat Im sie Hong Mo meloncat ke sana ke mari dan akhirnya melesat pergi.
"Mau kabur ke mana? Akan kubunuh kau"
Pek Ih Hong Li juga melesat mengejar Im sie Hong Mo.
"Adik In Nio..."
Tio Cie Hiong berseru keras, namun mendadak ia pingsan.
"Kakak Hiong Kakak Hiong..."
Jerit Lim Ceng Im sambil menangis.
Lim Peng Hang segera mendekati Tio Cie Hiong, lalu bersama Lim Ceng Im menggotongnya ke dalam.
Ketika siuman, Tio Cie Hiong sudah berada di tempat tidur.
Namun badan, tangan, dan kaki tak bisa digerakkan sama sekali.
sekujur tubuhnya telah dibalut, begitu pula mukanya sehingga dirinya menyerupai sosok mummi, yang tampak hanya sepasang matanya.
Di dekatnya terlihat Lim Ceng Im terisak-isak.
"Engkau sudah siuman?"
"Adik Im...."
Panggil Tio Cie Hiong sambil memandangnya.
"Kakak Hiong...."
Air mata Lim Ceng Im berderai-derai.
"Engkau yang membalut luka-lukaku?"
Lim Ceng Im menggeleng kepala.
"Ayah, kakek dan kakek sastrawan yang melakukan semua ini."
Tak lama kemudian muncul Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang, dan Tok Pie sin Wan.
"Syukurlah engkau sudah siuman"
"Aku...."
"Jangan banyak bicara, beristirahat saja"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Tidak apa-apa,"
Sahut Tio Cie, Hiong, dan kemudian menghela nafas panjang.
"Untung aku memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang dan pernah makan buah Kiu Yap Ling che. Kalau tidak, aku pasti sudah mati kehabisan darah."
"Aaakh...."
Lim Peng Hang menggeleng-geleng kepala.
"Luka-luka mu itu cukup parah, untung kami menyimpan obatmu."
"sungguh di luar dugaan,"
Gumam Tio Cie Hiong.
"Im sie Hong Mo ternyata Ku Tck Cun, dia tidak mati di dasar jurang Padahal kepandaiannya telah kumusnahkan, jadi bagaimana mungkin dia bisa seperti itu?"
"Kami pun tidak habis pikir,"
Timpal Kim-siauw suseng.
"Kalau Pek Ih Hong Li tidak muncul di saat itu...."
"Aku pasti sudah mati,"
Sambung Tio Cie Hiong.
"Itu pun diluar dugaan. Pek Ih Hong Li ternyata Yap In Nio. Hanya dalam waktu setahun lebih, kepandaian mereka kok jadi begitu hebat? Dua-duanya pun sudah jadi gila pula"
"Apakah mereka berdua sama-sama memperoleh kitab pusaka peninggalan Im sie Hong Jin?"
Gumam sam Gan sin Kay. Tidak dapat diduga tentang itu,"
Sahut Kim siauw suseng.
"Kecuali kita bertanya pada Yap In Nio"
"Dia sudah gila, bagaimana mungkin kita bisa menanyakannya?"
Ujar Tok Pie sin Wan.
"Heran Itu sungguh mengherankan"
Gumam Kim siauw suseng sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Paman, berapa tusukan dan sabetan di tubuhku?"
Tanya Tio Cie Hiong mendadak.
"Ada tiga puluh enam tusukan dan tiga puluh enam sabetan di tubuhmu."
Lim Peng Hang memberitahukan.
"Mukaku?"
Lim Peng Hang tampak ragu memberitahukan.
"Beritahukanlah"
Desak Tio cie Hiong.
"Tujuh tusukan dan tujuh sabetan."
Lim Peng Hang terpaksa memberitahukan.
"Aaakh..."
Keluh Tio Cie Hiong.
"Kalau begitu, wajahku... pasti rusak"
"Jangan memikirkan yang bukan-bukan, engkau beristirahat saja Ceng Im akan menemanimu di sini,"
Ujar sam Gan sin Kay.
Usai berkata begitu, Sam Gan sin Kay melangkah pergi diikuti Kim siauw suseng, Lim Peng Hang, dan Tok Pie sin wan dari belakang.
Kemudian mereka duduk di ruang dalam dengan mulut membungkam, hanya saling memandang sambil menghela nafas panjang.
"Kita harus terus menghibur Cie Hiong,"
Ujar sam Gan sin Kay.
"sebab wajahnya pasti rusak berat."
"Aku kuatir...."
Kim siauw suseng mengerutkan kening. sam Gan sin Kay menatapnya, kemudian bertanya.
"sastrawan sialan. Apa yang engkau kuatirkan?"
"Cucumu itu."
"Kenapa cucuku?"
"Wajah Cie Hiong telah rusak berat, pasti berubah menyeramkan. Maka aku kuatir cucumu terhadapnya...."
"Maksudmu cucuku akan berubah terhadapnya."
"Ya"
"sastrawan sialan, jangan menghina cucuku"
Sam Gan sin Kay tampak tidak senang.
"Cucuku bukan gadis semacam itu."
"Aku tahu, tapi...."
"Tidak ada tapi-tapian cucuku akan tetap mencintai Cie Hiong "
"Itu yang kuharapkan. Kalau tidak...
"^ "Aku yakin putriku tetap mencintai cie Hiong walau wajahnya telah rusak tidak karuan,"
Ujar Lim Peng Hang.
"sebab aku tahu jelas mengenai sifat putriku."
"syukurlah"
Ucap Kim siauw suseng.
"Kita pun harus terus menghibur Cie Hiong, agar kuat hatinya,"
Tambah Tok Pie sin Wan.
"Jangan sampai dia kehilangan gairah hidup hanya karena wajahnya rusak"
"Benar"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Yang penting adalah Ceng Im, dia harus mendampingi cie Hiong dan terus menghiburnya."
Seminggu kemudian Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang, dan Tok Pie sin Wan membuka balutan Cie Hiong.
selelah balutan itu dibuka, diam-diam mereka pun menghela nafas panjang saat melihat wajah pemuda itu.
Ternyata wajah Tio Cie Hiong memang telah rusak karuan, penuh bekas tusukan dan sabetan.
Begitu pula tangan, kaki dan sekujur badannya.
"Paman"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tahu, wajahku telah rusak tidak karuan...."
Lim Peng Hang tersenyum.
"Cepatlah engkau berpakaian, ceng Im akan ke mari menemanimu"
Tio Cie Hiong segera berpakaian, kemudian duduk melamun di pinggir tempat tidur.
"Tenang saja, Cie Hiong"
Lim Peng Hang menepuk bahunya. Kim siauw suseng menatapnya sambil tersenyum.
"Engkau tidak usah mengkhawatirkan apa pun, percayalah"
Ujarnya menghibur.
Tio Cie Hiong terdiam.
la tahu apa maksud perkataan mereka.
Namun kini ia tahu wajahnya telah rusak.
Bu Lim Ji Khie memandangnya sejenak.
lalu meninggalkan kamar itu.
Tok Pie sin Wan dan Lim Peng Hang juga ikut keluar.
Tak lama kemudian, tampak Lim Ceng Im berjalan ke dalam sambil memandang Tio Cie Hiong dengan iba.
"Kakak Hiong...,"
Panggilnya dengan air mata berderai.
"Adik Im...,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil menghela nafas panjang.
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im mendekap di dadanya dan menangis terisak-isak dengan air mata terus bercucuran.
"Adik Im, kini wajahku telah rusak, tentunya...."
"Kakak Hiong,"
Potong Lim ceng Im cepat.
"Walau wajahmu telah rusak, aku tetap mencintaimu. Percayalah"
"Adik Im"
Tio cie Hiong menggeleng-geleng-kan kemala.
"Aku... aku merasa malu terhadap diriku sendiri"
"Jangan begitu, Kakak Hiong"
Ujar Lim Ceng Im sungguh-sungguh.
"Wajahmu memang telah berubah menyeramkan, tapi cintaku terhadapmu takkan berubah selama-lamanya. Percayalah Kakak Hiong"
"Adik Im...,"
Dua baris air mata mengalir turun dari mata Tio Cie Hiong.
"Terima kasih, Adik Im"
"Kakak Hiong, mari kita ke depan"
Ajak Lim Ceng Im.
Tio cie Hiong mengangguk.
Mereka berdua lalu meninggalkan kamar itu.
Kebetulan Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin Wan, dan Lim Peng Hang duduk di ruang dalam.
Tio cie Hiong dan Lim Ceng Im menghampiri mereka lalu duduk.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Sudah baik semua luka luar, hanya meninggalkan bekas saja,"
Jawab Tio Cie Hiong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"cie Hiong"
Sam Gan sin Kay menatapnya seraya berkata.
"Engkau tetap tenang, jangan membayangkan yang bukan-bukan sebab... cucuku tetap mencintaimu."
"Betul"
Timpal Kim siauw suseng.
"Ceng Im sangat mencintaimu. Walau wajahmu telah rusak. tidak akan mempengaruhi cintanya terhadapmu,"
Ujar Tok Pie sin Wan meyakinkan. Lim Peng Hang tersenyum.
"Kami tidak menghibur, ceng Im telah mengatakan begitu pada kami."
"Benar, Kakak Hiong,"
Ujar Lim Ceng Im sambil menundukkan kepala.
"Ketika wajahku dekil tidak karuan, kau pun tetap baik padaku."
"Itu cuma dekil, tapi wajahku...,"
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im mendongakkan kepala memandangnya.
"Kalau Kakak Hiong tidak mempercayaiku, aku akan merusak wajahku"
"Jangan"
Tio Cie Hiong terkejut.
"Adik Im, engkau tidak boleh berbuat begitu."
"Tapi Kakak Hiong harus mempercayai, bahwa aku tetap mencintaimu"
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Aku mempercayaimu, Adik Im."
"Nah Harus begitu"
Lim Ceng Im tersenyum. Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang, dan Tok Pic sin wan juga tersenyum mendengar pembicaraan kedua muda-muda ini.
"Cie Hiong"
Sam Gan Sin Kay memandangnya.
"Engkau tidak dapat memecahkan ilmu pedang Im Sie Hong Mo itu?"
"Aku justru masih bingung, ilmu pedang itu sangat aneh"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sama sekali tidak dapat melihat Jelas gerakan-gerakan pedangnya."
"Engkau bisa mengingatnya kembali?"
Tanya Kim Siauw Suseng.
"Aku akan mencobanya"
Tio Cie Hiong memejamkan mata, ia berusaha mengingat gerakangerakan ilmu pedang Im Sie Hong Mo.
Tak lama kemudian, tangannya juga bergerak tapi berhenti lagi.
Setelah itu bergerak lagi, namun berselang sesaat ia pun berhenti sambil membuka matanya dan menghela nafas.
"Aku tidak bisa mengingat gerakan-gerakan ilmu pedang itu, terlampau kacau balau"
Ujarnya dengan kening berkerut.
"Aku masih tidak habis pikir, entah Iweekang apa yang dimilikinya."
"Memangnya kenapa?"
Tanya Lim Ceng Im.
"Makin lama bertarung, iwee kangnya makin dahsyat menyerangku"
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Kalau aku tidak memiliki Pan Yok Hian Thian Sin Kang, pasti sudah terluka dalam."
"Heran?"
Gumam Lim Peng Hang.
"Bagaimana Ku Tek Cun itu berkepandaian begitu tinggi dalam waktu satu tahun?"
"Padahal urat penting dalam tubuhnya telah kuputuskan, tapi...."
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Mungkinkah dia telah mempelajari semacam Iwee kang sesat?"
"Mungkin"
Kim Siauw Suseng manggut-manggut.
"Bukankah dia telah berubah jadi gila? "Nah, itu mungkin terpengaruh oleh Iwee kang sesat yang dimilikinya."
"Masuk akal"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Tapi..., Yap In Niopun telah gila. Berarti dia mempelajari Iwee kang yang sama. Bagaimana mungkin mereka mempelajari Iwee kang itu bersama?"
"Itu sungguh membingungkan"
Tok Pie sin Wan menggeleng-geleng kepala.
"Mungkin...,"
Ujar Lim Peng Hang setelah berpikir sejenak.
"Im sie Hong Jin punya saudara seperguruan.Jadi...."
"Lam Hai sin ceng tidak memberitahukan, bahwa Im sie Hong Jin punya saudara seperguruan,"
Tukas Tio cie Hiong.
"Kalau begitu..,"
Lim Peng Hang menggeleng-geleng kepala.
"Lebih baik tidak perlu membicarakan tentang itu, membuat kita bertambah pusing"
"Cie Hiong"
Kim siauw suseng memandangnya.
"Kini kita harus bagaimana?"
"Entahlah"
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Aku sungguh bingung, bagaimana kita kalau Im sie Hong Mo muncul lagi?"
"Kakak Hiong, sebaiknya kita bersembunyi,"
Usul Lim Ceng Im.
"Maksudku kita semua."
"Bisa bersembunyi untuk sementara waktu, tidak mungkin untuk selama-lamanya, oh ya, di mana para ketua?"
"Mereka sedang berunding di ruang depan."
Lim Peng Hang memberitahukan.
"Untuk sementara ini...,"
Ujar Kim siauw su-seng.
"Aku yakin Im sie Hong Mo tidak akan muncul di sini, sebab Pek Ih Hong Li pasti terus mengejarnya."
"Benar"
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Maka kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk memikirkan jalan keluarnya."
"Jalan keluar bagaimana?"
Tanya Tok Pie sin Wan.
"justru kita harus berpikir."
Sahut sam Gan sin Kay.
"Kita tidak bisa duduk diam saja."
Kim siauw suseng memandang Tio cie Hiong.
"Kecuali kalau dia dapat ciptakan semacam ilmu pedang untuk mengalahkan Im sie Hong Mo itu. Kalau tidak...."
"Terus terang,"
Ujar Tio Cie Hiong dengan wajah murung.
"Tentang itu aku tidak mampu, sebab aku tidak melihat jelas gerakan-gerakan pedang Im sie Hong Mo. Lagipula dia memiliki Iweekang yang aneh, semakin lama bertarung ilmu pedangnya pun makin hebat." (Bersambung ke Bagian 27)
Jilid 27
"Kalau begitu. Kita cuma berharap Pek Ih Hong Li dapat membunuhnya."
Ujar Tok Pie sin Wan.
"Hanya itu harapan kita,"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Ada jalan Ada jalan"
Seru Tio cie Hiong mendadak dengan wajah berseri tapijustru tampak menyeramkan.
"Jalan apa?"
Tanya mereka serentak.
"Aku harus segera berangkat Aku harus segera berangkat"
Sahut Tio cie Hiong.
"Kakak Hiong harus berangkat ke mana?"
Tanya Lim ceng Im heran.
"Aku harus segera berangkat ke Gunung Thian San"
Tio cie Hiong memberitahukan.
"Di dalam goa itu terdapat beberapa macam gerakan, pada waktu itu aku tidak mempelajarinya karena belum tertarik belajar ilmu silat. Lagipula keterangannya diukir dengan huruf-huruf Han kuno, aku tidak mengerti. Namun sekarang aku sudah mengerti, Thian Thi Siansu yang mengajarkan padaku."
"Kalau begitu, cepatlah engkau berangkat"
Ujar Sam Gan Sin Kay.
"Siapa tahu gerakan-gerakan itu dapat mengalahkan ilmu pedang Im Sie Hong Mo."
"Benar"
Sela Kim Siauw suseng.
"Manfaatkanlah kesempatan ini untuk berangkat"
Tio cie Hiong mengangguk.
"Kakak Hiong, aku ikut,"
Ujar Lim ceng Im. Tio Cie Hiong menggeleng kepala.
"Engkau tidak bisa ikut"
"Kenapa?"
"sebab puncak Gunung Thian san sangat dingin, dirimu tidak akan tahan"
"Kakak Hiong bisa tahan, kenapa aku tidak?"
"Aku memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang, yang membuatku mampu menahan dingin"
"Kakak Hiong...."
"Kalau aku berangkat ke Gunung Thian san...."
"Jangan khawatir"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Kami menjaga Ceng Im baik-baik. Kalau perlu, kami akan menyembunyikannya di suatu tempat yang aman."
"Terima kasih, Kakek pengemis,"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Cie Hiong, Ceng Im adalah cucuku. Tentunya aku pun bertanggung jawab atas keselamatannya, jadi tidak perlu gelisah."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Baik kalau begitu."
"Kakak Hiong...,"
Lim Ceng Im menatapnya dengan mata basah seraya bertanya.
"Kapan engkau berangkat?"
"sekarang"
"sekarang?"
Mata Lim Ceng Im membelalak.
"Ya"
"cie Hiong,"
Ujar Lim Peng Hang.
"Akan kusiapkan kuda jempolan, agar engkau cepat tiba di Gunung Thian san."
"Terima kasih, Paman. Tapi, lebih baik aku menggunakan ginkang saja"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Mungkin akan lebih cepat."
"Baiklah."
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Engkau boleh berangkat dengan tenang, jangan khawatirkan Ceng Im"
"Ya, Paman"
Tio Cie Hiong mengangguk.
Tio Cie Hiong telah berangkat ke Gunung Thian san.
Di tempat sepi ia menggunakan ginkang.
Malam harinya, ia cuma duduk bersamadi sejenak.
lalu melanjutkan lagi perjalanannya.
Kira-kira belasan hari kemudian, ia sudah tiba di kaki Gunung Thian.
segeralah ia mengerahkan ginkangnya melesat ke puncak gunung itu.
Begitu sampai di puncak.
la bersiul panjang lalu berteriak menggunakan Iwee kang.
"Kauw heng (saudara Monyet) Aku datang Kauw heng...."
Mendadak tampak sosok bayangan putih berkelebat-kelebat di permukaan saiju menuju ke arahnya, disertai suara cuit-cuitan yang amat nyaring.
"Kauw heng"
Betapa girangnya Tio Cie Hiong ketika melihat sosok bayangan itu yang tak lain monyet berbulu putih.
setelah dekat, monyet putih itu langsung meloncat merangkul Tio Cie Hiong erat-erat sambil mengeluarkan suara cuit-cuitan.
"Kauw heng..."
Tio Cie Hiong membelainya. Mendadak monyet putih itu memandangnya sambil menggaruk-garuk kepala, sepertinya merasa heran kenapa wajah Tio Cie Hiong berubah jadi begitu menyeramkan.
"Kauw heng...."
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Wajah dan sekujur badanku dilukai musuh,"
Ujarnya memberitahu. Monyet putih bercuit-cuitan, sambil meloncat turun, kemudian menarik tangan Tio Cie Hiong.
"Kauw heng, aku ke mari untuk belajar ilmu silat yang terukir di dinding goa. Engkau tidak berkeberatan, kan?"
Monyet putih manggut-manggut, dan langsung menarik Tio Cie Hiong ke goa tersebut.
Keadaan di dalam goa itu masih seperti dulu.
Tio Cie Hiong duduk sejenak di atas batu yang dingin, sedangkan monyet putih itu terus berloncat-loncatan, gembira sekali.
Tio Cie Hiong bangkit berdiri, lalu mendekati dinding yang berukir huruf-huruf Han kuno itu.
Dia lalu mulai membacanya.
Ini adalah Kan Kun Taylo sin Kang (Tenaga sakti Alam semesta).
Tenaga sakti ini bersifat menahan dan menggempur balik serangan Iwee kang orang lain.
Gerakan-gerakan yang diukir di dinding goa ini adalah cara melatih Kan Kun Taylo sin Kang.
Bagi siapa yang telah memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang dan pernah makan buah Kiu Yap Ling che, tidaklah sulit untuk belajar Kan Kun Taylo sin Kang dalam waktu beberapa bulan pasti berhasil.
Di dinding goa ini juga diukir tiga jurus pukulan dan tiga jurus pedang.
Walau cuma tiga jurus, tapi kehebatannya sangat luar biasa.
Tiga jurus pukulan ini hanya untuk menahan, dan sekaligus menggempur balik Iweekang pihak musuh.
Begitu pula tiga jurus ilmu pedang, dapat menahan ilmu pedang apapun yang dikolong langit, juga sekaligus menggempur balik ilmu pedang pihak musuh.
Ingat Kalau tidak dalam keadaan bahaya, janganlah mengerahkan Kan Kun Taylo sin Kang berikut jurus-jurus pukulan dan jurus-jurus pedang tersebut.
BuBeng sian sU setelah membaca huruf-huruf itu, dapat dibayangkan betapa girangnya Tio Cie Hiong.
Mulailah ia mempelajari Kan Kun Taylo sin Kang.
Bab 44 Pek Ih Hong Li (Wanita Gila Baju Putih) Beberapa hari kemudian setelah Tio Cie Hiong berangkat ke Gunung Thian san, ketika hari mulai gelap.
mendadak bergema suara tawa yang menyeramkan di markas pusat Kay Pang.
Begitu mendengar suara tawa seram itu, wajah Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin wan, Lim Peng Hang, dan para ketua tujuh partai langsung berubah pucat pias.
sebab, mereka mengenali suara tawa seram itu.
"Aaaakh...,"
Keluh Lim Peng Hnng.
"Kita harus bagaimana?"
"Cepat sembunyikan Ceng Im"
Ujar Sam Gan sin Kay. Akan tetapi, gadis itu justru malah keluar mendekati mereka. Wajahnya juga sudah pucat pias.
"Ayah Im sie Hong Mo...?"
"Ceng im, cepatlah bersembunyi ke dalam"
Perintah Lim Peng Hang dengan suara bergemetar.
"He he he Percuma bersembunyi, pokoknya malam ini kalian harus mampus"
Terdengar suara seruan im sie Hong Mo, ternyata ia telah berada di halaman.
"Pengemis bau"
Kim siauw suseng menatapnya sambil tersenyum.
"Kelihatannya ajal kita telah tiba malam ini."
"Kira-kira begitulah,"
Sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa.
"omitohud"
Hui Khong Taysu memandang mereka.
"Kalau memangnya sudah takdir, terimalah dengan hati terbuka"
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa lagi.
"Mari kita keluar untuk menerima takdir kita"
Sam Gan sin Kay berjalan keluar, Kim siauw suseng mengikutinya dari belakang, setelah itu barulah para ketua tujuh partai dan Tok Pee sin wan.
sedangkan Lim Peng Hang dan putrinya tetap berada dijalan.
Kening Lim Peng Hang terus berkerut.
"Ayah..."
Panggil Lim Ceng im dengan suara rendah.
"Nak Apabila mereka tidak sanggup membendung terjangan im sie Hong Mo, engkau harus segera kabur"
Pesan Lim Peng Hang. Lim Ceng Im mengangguk.
"Aku sudah tahu tempat yang aman untuk bersembunyi."
"Engkau di sini saja, Ayah mau keluar"
"Ya"
Sementara Bu Lim Ji Khie sudah sampai di luar. Mereka melihat Im sie Hong Mo berdiri dengan sinar mata kehijau-hijauan.
"Ku Tek Cun"
Bentak sam Gan sin Kay.
"Mau apa engkau ke mari?"
"Ku Tek Cun? Siapa dia?"
Tanya Im Sie Hong Mo sambil tertawa terkekeh.
"Aku Im Sie Hong Mo, bukan Ku Tek cun"
"Engkau Ku Tek Cun"
Sahut Kim siauw suseng.
"Ayahmu adalah Hong Lui Kiam Kheh-Ku Tiok Beng"
"Aku Im sie Hong Mo, aku tidak punya ayah He he he"
Im sie Hong Mo tertawa lagi, kemudian menghunus pedangnya.
"sastrawan sialan"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Kita harus berupaya menahannya sampai belasan jurus, agar ceng Im bisa kabur"
"Baik"
Kim siauw suseng mengangguk.
"He he he"
Im sie Hong Mo menatap mereka seraya membentak.
"Dalam tiga jurus kepala kalian pasti copot"
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Belum tentu, Im sie Hong Mo "
"Engkau tertawa? Bagus"
Mendadak sepasang mata menyorot cahaya hijau.
"Ayo, terus tertawalah"
"Hua ha ha Hua ha ha"
Sam Gan sin Kay betul-betul terus tertawa.
"Ha ha ha ha..."
"Pengemis baur bentak Kim siauw Suseng sambil memukul bahunya.
"Diam"
"Haaah..."
Sam Gan sin Kay tersentak. melihat Im sie Hong Mo menyerang mereka sambil tertawa seram dan membentak-bentak.
"Kalian harus mampus"
Sam Gan sin Kay menangkis dengan tongkat bambu, sedangkan Kim siauw suseng menangkis dengan suling emas dan.... Plaak Trang Terdengar suara benturan.
"He he he"
Im sie Hong Mo tertawa terkekeh-kekeh.
sam Gan sin Kay dan Kim siauw suseng terhuyung-huyung, pakaian mereka telah robek tersabet pedang Im sie Hong Mo.
Bukan main Hanya satu jurus Im sie Hong Mo telah berhasil membuat robek pakaian Bu Lim Ji Khie, itu membuktikan betapa tingginya kepandaian im sie Hong Mo itu.
"Pengemis bau"
Kim siauw suseng tersenyum getir.
"Kelihatannya ajal kita memang telah tiba"
"Takdir"
Sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa gelak.
"He h e he..."
Im sie Hong Mo tertawa terkekeh lagi.
"Ajal kalian semua memang telah tiba."
Mendadak berkumandang tawa nyaring yang melengking-lengking. Begitu mendengar tawa itu, Bu Lim Ji Khie langsung menarik nafas lega, sedangkan im sie Hong Mo tampak tertegun.
"Hi hi hi Hi hi hi Aku akan mencincang tubuhmu"
Sosok bayangan putih melayang turun di hadapan im sie Hong Mo. la adalah Pek Ih Hong Li. Begitu melayang turun, Pek Ih Hong Li langsung menyerang Im sie Hong Mo.
"Eeeeh..."
Im sie Hong Mo tampak kalang kabut menangkis serangan-serangan yang dilancarkan Pek Ih Hong Li.
"Aku harus mencincang Hiya...". Im sie Hong Mo bergerak karena terdesak. Dia tampaknya kurang berani balas menyerang terhadap Pek Ih Hong Li. Bahkan akhirnya melesat pergi.
"Mau kabur ke mana? Akan kubunuh kau..."
Pek Ih Hong Li melesat mengejarnya. Bu Lim Ji Khie dan lainnya saling memandang. Lim Ceng Im menghambur keluar.
"Ayah Im sie Hong Mo sudah pergi?"
Tanya gadis itu.
"Ya"
Lim Peng Hang mengangguk sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Pek Ih Hong Li muncul, membuat Im sie Hong Mo langsung kabur"
"Yap In Nio?"
"Ya"
"omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Kita semua belum ditakdirkan mati...."
"Kepala gundul"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Aku mulai mempercayai takdir."
"omitohud"
Hui Khong Taysu tersenyum.
"Ayo, mari kita ke dalam"
Ajak sam Gan sin Kay.
Ketika mereka baru mau masuk mendadak berkelebat sosok bayangan putih.
sosok berpakaian putih itu tak lain Pek Ih Hong Li.
Kemunculan Pek Ih Hong Li sangat mengherankan mereka.
semua memandangi wanita itu dengan kening berkerut.
"Eh?"
Sam Gan sin Kay tampak bingung.
"Mau apa dia balik ke mari?"
"Entahlah,"
Sahut Kim siauw suseng menggelengkan kepala. sementara Pek Ih Hong Li setelah melayang turun, lalu mendekati sebuah pohon dan duduk di situ.
"Ayah...,"
Bisik Lim Ceng Im.
"Kenapa dia duduk di bawah pohon?"
"Entahlah."
Lim Peng Hang menggeleng kepala.
"Mungkin... dia ingin beristirahat di sana."
"Ayolah Mari kita masuk"
Ajak sam Gan sin Kay dan berjalan ke dalam. Kim siauw suseng, Tok Pie sin wan, dan lainnya juga masuk kemudian, mereka duduk di ruang depan.
"Heran?"
Gumam Kim siauw suseng.
"Kenapa Pek Ih Hong Li datang lagi? Itu berarti dia tidak berhasil mengejar im sie Hong Mo"
"Mungkinkah..."
Ujar sam Gan sin Kay setelah berpikir sejenak.
"Dia duduk di bawah pohon dengan maksud ingin melindungi kita?"
"Benar"
Sahut Kim siauw suseng.
"Tapi...,"
Tok Pie sin wan menggeleng-gelengkan kepala.
"Pikirannya tidak waras, bagaimana mungkin...."
"Mungkin dia masih ingat kita, maka timbul suatu perasaan, sehingga membuatnya merasa harus melindungi kita,"
Tukas Kim siauw suseng.
"Mungkini..."
Sela sam Gan sin Kay.
"Di-karena kan im sie Hong Mo sering muncul di sini, maka dia menunggunya di sini."
"Masuk akal."
Ujar Kim siauw suseng.
"Walau dia sudah gila, tapi masih memiliki naluri."
"omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Kita masih dilindungi. Dengan adanya Pek Ih Hong Li di sana, Im sie Hong Mo pasti tidak berani muncul."
"Ngmm"
Sam oan sin Kay manggut-manggut, kemudian tertawa gelak dan berkata.
"Kita semua memang ditakdirkan mati. Buktinya Pek Ih Hong Li muncul melindungi kita."
"Ceng Im"
Lim Peng Hang menatap putrinya.
"Cobalah engkau mendekatinya, siapa tahu ia masih ingat padamu."
"Ya, Ayah"
Lim Ceng Im mengangguk.
"Tunggu"
Seru sam Gan sin Kay. Lim Ceng Im berhenti, gadis itu memandang kakeknya dengan penuh keheranan^.
"Kakek...."
"Ceng im, biar bagaimanapun engkau harus hati-hati,"
Pesan sam Gan Sin Kay sungguhsungguh.
"sebab ia sudah gila, jadi...."
"Kakek. aku tahu itu,"
Ujar Lim Ceng Im lalu berjalan keluar.
sesampainya di luar, dilihatnya Pek Ih Hong Li masih duduk diam di bawah pohon.
Lim Ceng Im mendekati lalu duduk di hadapannya.
Kehadiran Lim Ceng Im sama sekali tidak digubris Pek Ih Hong Li, tetap duduk diam sambil memandang kosong ke depan.
"Adik in"
Panggil Lim ceng im.
"Adik In..."
Pek Ih Hong Li memandang Lim Ceng im dengan mata tak berkedip. Karena takut, Lim Ceng im dan cepat-cepat menundukkan kepala.
"Kenapa engkau panggil Adik In...?"
Bentak Pek Ih Hong Li mendadak.
"siapa Adik In itu?"
"Yap In Nlo"
Sahut Lim Ceng Im.
"Engkau adalah Yap in Nlo"
"Yap In Nio Yap In Nio...?"
Gumam Pek Ih Hong Li.
"Nama yang indah, Yap In Nio Nama yang indah"
"Itu namamu"
"Aku tidak punya nama, aku bukan Yap In Nio Aku... lapar Lapar"
"Aku ambilkan makanan dan minuman, ya?"
"Cepat Cepaaat Aku sudah lapar sekali"
"Baik...Baik"
Lim Ceng Im cepat-cepat berlari ke dalam, membuat semua yang ada di dalam terkejut.
"Ceng Im Ada apa?"
Tanya Lim Peng Hang cemas.
"Dia... dia lapar,"
Sahut Lim Ceng Im memberitahukan.
"Aku akan ambilkan dia makanan dan minuman."
"oooh"
Lim Peng Hang menarik nafas lega. Bu Lim Ji Khie dan lainnya saling memandang, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"omitohud..."
Ucap Hui Khong Taysu.
Lim Ceng Im membawakan nasi, lauk pauk, dan air minum untuk Pek Ih Hong Li yang telah kelaparan itu.
Begitu ditaruh ke hadapannya, langsung saja Pek Ih Hong Li menyantapnya dengan lahap sekali.
Dalam waktu sekejap.
habislah nasi dan lauk pauk itu Airnya juga ditenggaknya habis.
"Gleek Gleeek Gleeek Aaaakh..."
Pek Ih Hong Li tertawa-tawa sambil memegang perutnya.
"Kenyang Kenyang sekali."
"In Nio"
Lim Ceng Im menatapnya sambil tersenyum, kemudian bertanya.
"Kenapa engkau duduk di sini?"
"Aku... aku harus duduk di sini."
"Kenapa?"
"Aku di sini, Ku Tek cun tidak berani ke mari. Kalian... kalian selamat"
"Engkau kenal Ku Tek cun?"
"Dia jahat Aku harus mencincang tubuhnya. Aku harus cincang dia..."
Mendadak Pek Ih Hong Li tersenyum dan berkata lembut.
"Ada seorang pemuda yang sangat baik sekali, dia... dia sayang padaku, aku suka dia."
"siapa dia?"
"Dia adalah pemuda itu"
"siapa pemuda itu?"
"Pemuda itu adalah dia"
Jawaban Pek Ih Hong Li membuat Lim Ceng Im melongo. Kemudian ia pun tertawa sendiri, karena yang dihadapinya orang tak waras.
"Engkau kenal dia?"
"Aku kenal."
Pek ih Hong Li tersenyum-senyum, seakan teringat sesuatu yang indah.
"Dia orang baik, dia sayang padaku...."
"Dia berada di mana sekarang?"
"Dia... dia telah mati"
"Kenapa dia mati?"
"Aku... aku...."
Mendadak Pek Ih Hong Li menangis.
"Aku... aku tusuk dia dengan belati, perutnya berdarah...."
"Kenapa engkau tusuk dia?"
Tanya Lim Ceng im lagi. Ternyata ia ingin menyadarkan Pek Ih Hong Li dengan menggali ingatannya.
"Dia... dia...."
Tiba-tiba sepasang mata Pek Ih Hong Li memancarkan sinar yang berapi-api penuh dendam.
"Bukan dia, tapi adalah Ku Tek Cun Aku harus cincang dia Harus cincang dia"
"siapa pemuda yang engkau tusuk itu?"
"Dia sangat baik dan sayang padaku."
Wajah Pek Ih Hong Li mulai berseri lagi.
"Dia... dia... aaaakh..."
"Engkau lupa namanya?"
"Namanya... namanya...."
Pek Ih Hong Li mengerutkan kening, lalu kembali menangis gerunggerungan.
"Dia... dia telah mati Aku... aku bersalah...."
"In Nio"
Lim Ceng im menatapnya dalam-dalam serada bertanya.
"Kepandaianmu sangat tinggi sekali, engkau berguru pada siapa?"
"Bibi"
"siapa bibi itu?"
"Dia... dia sudah berubah jadi tulang-"
"Dia yang mengajar engkau silat?"
"Bukan"
Pek Ih Hong Li tertawa.
"Ada tulisan di atas batu, aku harus memeluk dia. Aku menurut dan langsung memeluknya, tapi... hi hi hi Dia berubah jadi tulang."
"Kenapa dia bisa berubahjudi tulang?"
Tanya Lim Ceng Im merasa kebingungan.
"Kenapa, ya?"
Pek Ih Hong Li menggaruk-garuk kepala dan tersenyum.
"Setelah aku peluk dia, aku... aku jadi kuat sekali."
"oh?"
Lim Ceng Im bertambah bingung.
"Lalu siapa yang mengajar engkau ilmu silat?"
"Hi h Hi"
Pek Ih Hong Li tertawa gembira.
"Aku belajar sendiri, aku pintar, kan?"
"Engkau memang pintar"
Lim Ceng im tersenyum dan menatapnya iba.
"Dia juga pernah bilang aku adalah gadis pintar..."
Gumam Pek Ih Hong Li.
"Aku... aku gembira sekali"
"siapa dia?"
"Eh? Kenapa kau goblok sekali? Dia adalah pemuda yang baik itu. sudah kukatakan dari tadi, engkau masih terus bertanya. Dasar goblok"
"Ya Ya, aku memang goblok"
Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Engkau belajar silat dari mana?"
"Aku membaca sebuah kitab, aku belajar dari kitab itu"
"Di mana?"
"Di dalam goa Hi hi hil sekarang aku sudah bisa terbang...."
"Masih ada siapa di dalam goa itu?"
"Cuma ada bayanganku sendiri"
"Tidak ada orang lain?"
"Tidak ada"
"Engkau kenal Ku Tek cun?"
"Dia orang jahat Aku harus membunuhnya. Aku harus mencincang tubuhnya"
"Ilmu pedangnya mirip ilmu pedangmu? Apa-kah dia juga belajar di dalam goa itu?"
"Eeeeh?"
Pek Ih Hong Li menatapnya dengan bola mata berputar-pular.
"Engkau kok goblok amat? Jangan-jangan engkau sudah gila Tadi sudah kukatakan, di dalam goa cuma ada bayanganku sendiri, mana ada orang lain lagi, sih?"
"Tapi..."
Lim Ceng Im menggeleng-geleng kepala.
"Ku Tek Cun jahat Dia... dia adalah.,.."
Pek Ih Hong Li menggaruk-garuk kepala.
"Gurunya pasti adalah Im sie Hong Jin, aku harus membunuhnya. Aku harus membunuhnya, aku harus mencincang dia"
"Engkau kenal Im sie Hong Jin?"
"Wuaah"
Pek Ih Hong Li tertawa.
"Engkau betul-betul sudah gila, aku mana kenal dia? Bibi berpesan melalui tulisannya, aku harus cari keturunan im sie Hong Jin, karena Im sie Hong Jin pernah menganiayai bibi"
"oooh"
Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Kenapa engkau begitu dendam pada Ku Tek Cun?"
"Dia... dia menyamar jadi pemuda yang baik itu, dan aku... aku tidak tahu."
Pek Ih Hong Li menangis sedih.
"Aku tidur sama dia, aku... aku kira pemuda yang baik itu tidak mau bertanggung jawab. Maka aku... aku tusuk dia dengan belati, perutnya berdarah.... mati"
"Engkau ingat seseorang?"
Tanya Lim Ceng Im menyelidik.
"Dia bernama Tio Cie Hiong"
Tio Cie Hiong...?"
Pek Ih Hong Li menggumam.
"Tio Cie Hiong.... Hiong.... Kakak Hiong? Kakak Hiong Aaaakh.... Kakak Hiong Aku bersalah padamu, aku telah membunuhmu Kakak Hiong...."
Pek Ih Hong Li terus menangis sedih. Diam-diam Lim Ceng im menghela nafas panjang.
"Sudahlah, In Nio, jangan menangis Kakak Hiong tidak mati...."
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Hi h H i"
Pek Ih Hong Li tertawa melengking-lengking.
"Kakak Hiong sudah mati, aku... aku yang bunuh dia Kakak Hiong... Ku Tek Cun Aku harus cincang engkau Aku lumatkan tubuhmu..."
Mendadak Pek Ih Hong Li melesat pergi. Betapa terkejutnya Lim Ceng Im melihat hal itu.
"In Nio In Nio..."
Lim ceng Im berteriak-teriak memanggil gadis itu.
Tiada sahutan, Lim Ceng Im duduk termangu di situ.
Berselang sesaat tiba-tiba melayang turun sosok bayangan putih yang tiada lain Pek Ih Hong Li.
seketika itu juga Lim ceng Im menarik nafas lega.
"In Nio"
Pek Ih Hong Li tidak menggubrisnya. la menjatuhkan diri dan duduk di bawah pohon.
"Aku tidak boleh pergi. Aku tidak boleh pergi-Kalau aku pergi, Ku Tek cun akan ke mari, semua orang di sini pasti mati. Aku harus berjaga di sini"
"Berjaga di sini? Lim Ceng Im tidak habis pikir, kenapa Yap In Nio punya pikiran begitu.
"In Nio Kenapa engkau harus berjaga di sini?"
Tanya Lim Ceng Im ingin mengetahuinya.
"Aku pernah berada di sini, aku harus menjaga semua orang di sini. orang-orang di sini sangat baik terhadap Kakak Hiong, aku... aku harus menjaga di sini"
"In Nio"
Lim Ceng Im menatapnya iba. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, yakni yakin Tio cie Hiong dapat menyembuhkannya.
"jangan berisik"
Pek Ih Hong Li melotot.
"Kenapa?"
Tanya Lim Ceng Im heran.
"Aku sudah ngantuk, mau tidur"
Pek Ih Hong Li langsung menelentangkan badannya.
"Aku mau tidur."
"In Nio, tidur di dalam saja"
"Tidak."
"ln Nio...."
"Diam Jangan berisik"
Lim Ceng Im menghela nafas, lalu meninggalkannya, la berjalan ke dalam dengan kepala tertunduk, hatinya merasa kasihan terhadap Yap In Nio.
"Ceng Im"
Lim Peng Hang menatapnya.
"Ke-napa engkau?"
"Kasihan Yap In Nio"
Lim ceng Im menghela nafas.
"Dia betul-betul gila, tidak tahu siapa dirinya. Namun masih ingat sedikit masa lalunya."
"oh? Engkau bicara apa padanya?"
"Membicarakan ini dan itu."
"Ceng Im, duduk"
Seru sam Gan Sin Kay.
"Beritahukanlah apa yang engkau bicarakan padanya"
Lim Ceng Im duduk. kemudian menarik nafas.
"Dia tahu Ku Tek Cun yang menodai dirinya, maka dia begitu mendendam padanya"
"Dia memberitahukan siapa gurunya?"
Tanya Kim siauw suseng.
"Dia bilang bibi,"
Jawab Lim Ceng Im dan memberitahukan tentang itu berdasarkan apa yang didengarnya dari Pek Ih Hong Li.
"Kalau begitu...,"
Kim siauw suseng mengerutkan kening.
"Yang dia panggil bibi adalah wanita itu. Dia memeluknya kemudian wanita itu berubah jadi tulang...."
"sastrawan sialan"
Sam Gan sin Kay tertawa.
"Mungkin wanita itu memiliki suatu ilmu, maka ketika Yap in Nio memeluk maka Iwee kang yang dimilikinya semasa hidup tersalur ke dalam tubuh Yap In Nio"
"Benar"
Kim siauw suseng mengangguk.
"Begitu pula yang dialami Ku Tek Cun."
"Kalau begitu,"
Sela Tok Pie sin wan.
"Wanita itu dan im sie Hong Jin pasti punya hubungan erat. Bukankah ilmu pedang mereka hampir mirip?"
"Menurutku, wanita itu dan im sie Hong Jin adalah kakak beradik seperguruan,"
Duga sam Gan sin Kay.
"Kini kita sudah tahu itu, dan kita pun aman karena Pek Ih Hong Li menjaga di situ."
"Mudah-mudahan dia menjaga sampai Cie Hiong pulang"
Ucap Lim Peng Hang.
"ohya"
Lim Ceng im bangkit berdiri "Aku mau ke dalam mengambil tikar dan selimut untuk In Nio, dia tidur di bawah pohon itu"
"Kenapa engkau tidak menyuruhnya tidur di dalam saja?"
Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Aku sudah menyuruhnya, tapi tidak maur Lim Ceng im menggeleng-geleng kepala, lalu berjalan ke dalam. Berselang beberapa saat, ia sudah balik ke bawah pohon itu dengan membawa sehelai tikar dan selimut. Ternyata Pek Ih Hong Li sudah tidur. Namun ketika Lim Ceng Im mendekatinya, ia langsung meloncat bangun.
"Mau apa engkau?"
Bentaknya.
"Aku membawakan tikar dan selimut untukmu,"
Ujar Lim Ceng Im sambil tersenyum lembut.
"Tikar dan selimut?"
"Ya"
Lim Ceng Im menaruh tikar dan selimut itu, kemudian menatap Pek Ih Hong Li seraya berkata.
"Tikar untuk alas tidur, selimut untuk menutupi dirimu agar tidak dingin."
"Lucu Lucu sekali Hi h H i"
Pek Ih Hong Li tertawa geli.
"Aku sudah biasa tidur begini, kenapa engkau bawakan tikar dan selimut?"
"Kalau pakai tikar, pakaianmu tidak akan kotor."
Lim Ceng im memberitahukan.
"Pakai selimut tidak akan kedinginan."
"Oh? Terima kasih Terima kasih"
Ucap Pek Ih Hong Li, tersenyum lucu.
"Engkau gila, tapi baik hati"
"Oh, ya?"
Lim Ceng im tersenyum getir.
"Sudah, ya Jangan ke mari menggangguku lagi, aku mau tidur"
Pek Ih Hong Li langsung membaringkan dirinya ke atas tikar, kemudian menarik selimut untuk menutupi badannya.
"Hei Besok pagi bawakan makanan dan minuman, ya"
"Tentu"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Hei selamat malam"
Ucap Pek Ih Hong Li.
"Selamat malam"
Sahut Lim Ceng Im. Tidak disangkanya Yap In Nio yang telah gila itu masih bisa mengucapkan "selamat Malam"
Padanya.
la menggeleng-geleng kepala sambil meninggalkan tempat itu.
Pagi-pagi sekali Lim Ceng im membawakan makanan dan minuman berupa teh hangat untuk Pek Ih Hong Li.
Ternyata ia sudah bangun, duduk di atas tikar sambil memandang kosong ke depan.
"In Nio"
Panggil Lim Ceng Im-sambil menaruh makanan dan minuman ke hadapannya, lalu ia pun duduk.
"Hi h H i"
Pek Ih Hong Li tertawa "Aku punya pelayan. Aku punya pelayan sungguh menggembirakan"
"In Nio, selamat pagi"
Ucap Lim Ceng im.
"siapa bilang pagi? Sudah mau malam engkau bilang pagi"
Pek Ih Hong Li menggeleng-geleng kepala.
"Engkau betul-betul sudah gila"
"In Nio, makanlah"
Lim Ceng im menarik nafas.
"Hi hi hi Ada makanan lezat"
Pek Ih Hong Li tertawa gembira.
"Ayam, daging dan... wah Nikmat sekali ini"
Pek Ih Hong Li langsung bersantap seperti macan kelaparan, setelah itu ia pun tertawa-tawa seraya berseru.
"Aku kenyang Aku kenyang"
"Mau tambah lagi?"
"Eh?"
Pek Ih Hong Li menatapnya.
"Aku sudah bilang kenyang, kenapa engkau masih bertanya mau tambah lagi? Penyakit gilamu kumat lagi, ya?"
"In Nio...."
Lim Ceng Im menggeleng-geleng kepala.
"Sekarang sudah pagi, aku pun sudah makan kenyang... mandi Aku mau mandi. Di mana ada sungai, aku mau mandi"
"Mau mandi, ya?"
"Kok tanya lagi?"
"Mari ikut aku ke dalam, di sana ada kamar mandi Engkau boleh mandi sepuas-puasnya."
"Boleh berenang?"
"Tentu boleh."
"cihuii..."
Pek Ih Hong Li berseru kegirangan.
"Ayo, ikut aku"
Lim Ceng Im melangkah ke markas, Pek Ih Hong Li mengikutinya dari belakang. Begitu masuk-puluhan mata langsung memandang padanya. Pek Ih Hong Li tersenyumsenyum.
"selamat pagi"
Ucapnya sambil terus tersenyum lucu.
"Pagi"
Sahut Bu Lim Ji Khie dan lainnya. setelah Lim Ceng Im dan Pek Ih Hong Li masuk menuju ke kamar mandi, Bu Lim Ji Khie saling memandang lalu tertawa.
"Huaha ha ha sebetulnya yang sudah gila itu dia atau kita? Dia masih ingat mengucapkan "selamat pagi"
Pada kita lho"
"omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Walau dia sudah gila, namun masih memiliki jiwa kemanusiaan dan sopan santun."
"Ha ha ha"
Kim siauw suseng tertawa sambil memandang Tok Pie sin Wan.
"Lutung gila, dia lebih sopan dari padamu."
"Kita yang waras malah tidak tahu diri,"
Timpal Tok Pie sin Wan.
"Aku yakin, dia bisa sembuh,"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Belum tentu"
Kim siauw suseng menggeleng kepala.
"Kenapa?"
Sam Gan sin Kay mengerutkan kening.
"sastrawan sialan,jelaskanlah"
"sebab dia telah belajar semacam ilmu sesat, itu yang mempengaruhi pikirannya. Tapi... aku percaya Cie Hiong dapat menyembuhkannya,"
Sahut Kim siauw suseng menjelaskan.
"Kita tahu, Cie Hiong memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang dan mahir ilmu pengobatan."
"Betul"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Mudah-mudahan dia akan berjaga di sini sampai Cie Hiong pulang"
"Kasihan gadis itu kalau terus begitu...."
Kim siauw suseng menghela nafas panjang. sementara Lim Ceng Im dan Pek Ih Hong Li sudah sampai di depan kamar mandi. Lim Ceng Im menunjuk kamar mandi.
"In Nio, mandilah di dalam"
Pek Ih Hong Li masuk bahkan juga menutup pintu kamar mandi.
Tak lama terdengarlah siraman air, kemudian diiringi pula bunyi senandung.
Lim Ceng im menggeleng-geleng kepala.
la semakin kasihanpada Yap In Nio.
Berselang beberapa saat, pintu kamar mandi terbuka sedikit, Pek Ih Hong Li menjulurkan kepalanya.
"Hei Ada pakaian baru?"
Tanyanya.
"Ada"
Lim Ceng Im mengangguk dan bertanya.
"Engkau mau pakaian warna apa?"
"Putih"
"Baiklah, akan kuambilkan."
Lim Ceng Im melangkah pergi, sedangkan Pek Ih Hong Li menutup kembali pintu kamar. Tak lama kemudian, Lim Ceng im sudah datang lagi.
"In Nio"
Panggilnya perlahan. Pintu kamar mandi terbuka sedikit, Pek Ih Hong Li menjulurkan kepalanya.
"Mana pakaian baru?"
"Nih"
Lim Ceng Im memberikannya, sambil memandang ke dalam.
"Hi hi hi"
Pek Ih Hong Li tertawa geli.
"Engkau lihat apa? sama-sama punya kok masih melihat? Dasar gila"
Wajah Lim Ceng Im langsung memerah. Pek Ih Hong Li tertawa lagi, lalu menutup pintu kamar mandi. Tak lama pintu kamar mandi itu terbuka lagi, Pek Ih Hong Li keluar.
"Hei, orang gila Engkau baik sekali terhadapku, mudah-mudahan kelak hidup bahagia bersama suamimu"
Pek Ih Hong Li berjalan ke depan. Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin wan, Lim Peng Hang, danpara ketua tujuh partai memandang padanya.
"Kenapa kalian terus memandang aku?"
Pek Ih Hong Li tertawa.
"Aku cantik sekali, kan?"
"Omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Mulut menyebut omitohud, belum tentu hati bersih Huh Dasar kepala gundul"
Ujar Pek.iH Hong Li sambil berjalan pergi, Lim Ceng Im terus mengikutinya.
"Huaha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"kepala gundul, engkau tidak tersinggung, ya?"
"Omitohud"
Sahut Hui Khong Taysu.
"Apa yang dikatakan Pek Ih Hong Li memang benar. Banyak sekali hwecshio menyebut "
Omitohud", tapi belum tentu hatinya bersih. Aku mengakui itu."
Sementara Pek Ih Hong Li sudah duduk di bawah pohon, bersama Lim Ceng im yang duduk di sisinya.
"Hi h H i"
Pek Ih Hong Li tertawa cekikikan.
"Engkau memang sudah gila, kenapa terus mengikuti aku?"
"Aku senang bergaul denganmu,"
Jawab Lim Ceng im sambil tersenyum.
"Tapi aku tidak mau bergaul dengan orang gila"
Ujar Pek Ih Hong Li.
"engkau gila tapi baik, aku... aku senang sekali"
"Namaku Ceng im...."
"Hi hi hi"
Pek Ih Hong Li tertawa geli.
"orang gila tahu namanya, aku yang waras saja tidak tahu siapa diriku."
"Engkau adalah Yap In Nio,"
Ujar Lim Ceng Im.
"Aku bukan Yap In Nio, aku Pek Ih Hong Li"
Sambarnya dan mendadak wajahnya berubah bengis.
"Aku harus membunuh Im sie Hong Mo, aku harus cincang Ku Tek Cun Harus cincang Ku Tek Cun..."
Bab 45 Kepiluan yang memuncak Beberapa bulan kemudian, Tio Cie Hiong telah berhasil mempelajari Kan Kun Taylo sin Kang (Tenaga sakti Alam semesta).
Memang suatu kebetulan sekali, Tio Cie Hiong memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang, dan pernah makan buah Kiu Yap Ling che.
oleh karena itu, tidak sulit baginya mempelajari ilmu tersebut.
"Kauw heng"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Aku telah berhasil mempelajari Kan Kun Taylo sin Kan."
Monyet putih itu mencicit-cicit, seakan mengucapkan selamat pada Tio Cie Hiong, lalu berjungkir balik dan berloncat-loncat dengan gembira.
"Kauw heng Mulai hari ini aku akan mempelajari Kan Kun Taylo ciang Hoat (Umu Pukulan Alam semesta) dan Kan Kun Taylo Kiam Hoat (Ilmu Pedang Alam semesta)"
Monyet putih itu mencicit-cicit sambil manggut-manggut.
Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian memperhatikan gerakan-gerakan yang diukir pada dinding goa.
Hanya dua minggu Tio Cie Hiong telah berhasil menguasai Tiga Jurus Ilmu Pukulan Kan Kun Taylo ciang Hoat dan TigaJurus Ilmu Pedang Taylo Kan Kun Kiam Hoat.
Pagi ini Tio Cie Hiong tampak melamun di dalam goa, sedangkan monyet bulu putih itu terus memandangnya, kemudian bercuit-cuitan seakan bertanya pada Tio Cie Hiong kenapa melamun?
"Kauw heng"
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Wajahku telah rusak begini. Aku merasa malu berhadapan dengan Adik Im, sebab dia sangat cantik."
Mendadak monyet putih itu meloncat merangkul leher Tio Cie Hiong, lalu meraba-raba wajahnya yang rusak tidak karuan.
setelah itu, monyet bulu putih meloncat turun dan berjalan mondar-mandir, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tio Cie Hiong terheran-heran.
"Apa yang sedang engkau pikirkan?"
Tanyanya kemudian.
Monyet putih itu terus berjalan mondar mandir.
Tingkahnya seperti orang sedang menghadapi suatu masalah yang tak terpecahkan.
Mendadak monyet putih berloncat-loncat dan bercuit-cuitan, memperlihatkan kegembiraan.
"Kauw heng..."
Tio Cie Hiong tercengang melihat monyet. Tiba-tiba monyet bulu putih itu melesat pergi. Gerakannya yang secepat kilat itu membuat Tio Cie Hiong bertambah tercengang.
"Kauw heng..."
Monyet putih itu sudah tidak kelihatan.
Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala, lalu duduk bersandar di dinding goa sambil berpikir.
la mengambil keputusan apabila monyet putih kembali, segera akan meninggalkan goa itu.
Biar bagaimanapun, ia harus berpamit pada monyet putih .
Tio Cie Hiong terus menunggu, walau sudah lewat beberapa jam.
Namun monyet putih itu belum kembali.
Karena itu, ia bangkit berdiri saat yang bersamaan melesat ke dalam sosok bayangan putih disertai suara cuit-cuitan.
Ternyata monyet putih telah kembali.
Tangannya menggenggam beberapa kuntum bunga yang berbentuk aneh.
Monyet itu bercuit-cuitan sambil memberikan bunga pada Tio Cie Hiong.
Tio Cie Hiong menerima bunga-bunga itu dengan perasaan heran.
"Untuk apa engkau memberikan aku bunga-bunga ini? Apakah engkau tahu aku mau meninggalkan goa ini, hingga kau memberikan aku bunga-bunga ini?"
Tanyanya, belum mengerti. Monyet bulu putih menggeleng-gelengkan kepala sambil bercuit-cuitan, kemudian menunjuk bunga-bunga itu dan menunjuk wajah Tio Cie Hiong.
"Apa?"
Tio Cie Hiong tersentak.
"Bunga-bunga ini dapat menyembuhkan wajahku?"
Monyet bulu putih manggut-manggut dan bercuit-cuitan, bahkan juga bertepuk-tepuk tangan.
Tio Cie Hiong memperhatikan bunga-bunga yang di tangannya, lalu diciumnya.
Tidak berbau apapun, namun bunga-bunga itu sangat dingin.
sementara monyet bulu putih terus bercuit-cuitan, tangannya juga bergerak seakan menumbuk.
Menyaksikan tingkah monyet itu, Tio Cie Hiong mengerti akan maksudnya.
"Ooooh"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Engkau suruh aku menumbuk bunga-bunga ini, lalu dipoleskan pada wajah dan sekujur badanku?"
Monyet bulu putih mengangguk dan menunjuk sebuah batu yang mirip tumbukan di sudut kiri.
Tio Cie Hiong menoleh ke sana.
Monyet bulu putih pun menariknya ke sana.
Kemudian mendadak menyambar bunga-bunga yang di tangan Tio Cie Hiong, dan langsung ditaruh ke dalam batu itu.
Tio Cie Hiong tersenyum dan mulai menumbuk.
tak seberapa lama kemudian, bunga-bunga itu jadi halus dan mengeluarkan cairan yang agak berlendir.
"Kauw heng Benarkah bunga-bunga itu merupakan semacam obat yang dapat menyembuhkan wajahku?"
Tanya Tio Cie Hiong ragu.
Monyet putih manggut-manggut, karena itu Tio Cie Hiong pun membuka baju.
la mulai memolesi mukanya dengan cairan berlendir itu, kemudian dilanjutkan ke sekujur badan.
setelah itu, ia duduk bersila.
Tiga hari kemudian, Tio Cie Hiong coba melihat bekas tusukan dan sabetan di badannya.
Betapa kaget dan herannya dia ternyata bekas luka-luka itu telah lenyap.
Perlahan-lahan ia menjulurkan tangan ke wajahnya.
Dengan agak bergemetar tangannya meraba wajahnya.
Begitu tangannya menyentuh kulit wajah, ia pun terkejut girang, sebab wajahnya sudah berubah halus.
"Kauw heng"
Seru Tio cie Hiong dengan hati berdebar-debar.
"Apakah wajahku telah sembuh?"
Monyet bulu putih memandang wajahnya.
Kemudian bercuit-cuitan dan berloncat-loncatan dengan penuh kegembiraan.
setelah itu, monyet bulu putih melesat ke dalam.
Dan sebentar kemudian telah kembali.
Ternyata monyet bulu putih itu membawa sebuah lempengan tembaga yang mirip kaca, disodorkannya ke hadapan Tio Cie Hiong.
Tio Cie Hiong sebera memandang lempengan tembaga itu.
seketika ia berseru dengan girang sekali, karena wajahnya telah pulih seperti sediakala.
Bahkan karena saking girangnya dia langsung merangkul monyet putih.
"Kauw heng, terima kasih Terima kasih..."
Monyet bulu putih terus menerus mengelus wajah Tio Cie Hiong yang telah berubah halus sambil mulutnya tak henti-henti mencicit-cicit.
"Kauw heng, aku sungguh berhutang budi padamu"
Monyet putih menyengir. cengiran itu membuat Tio cie Hiong tertawa geli. Monyet bulu putih pun bercuit-cuitan lagi. Tio Cie Hiong memandangnya.
"Aku terpaksa berpamit, karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan."
Monyet bulu putih langsung diam, sepertinya merasa sedih. Tio Cie Hiong membelainya.
"setelah urusanku selesai, aku pasti datang lagi bersama Adik Im"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Aku akan tinggal di sini, tidak ingin pusing dengan urusan rimba persilatan lagi"
Monyet bulu putih bercuit-cuitan perlahan saat Tio Cie Hiong membelainya lagi.
"Kauw heng, selamat tinggal"
Tio Cie Hiong melepaskan monyet bulu putih ke bawah.
"Kauw heng, sampai jumpa"
Tio Cie Hiong melangkah. Tampak monyet bulu putih mengikutinya dari belakang dengan wajah murung. Ketika sampai di luar goa, Tio Cie Hiong memandang monyet bulu putih.
"Kauw heng, jangan bersedih Kelak kita akan berjumpa lagi, selamat tinggal"
Tio Cie Hiong melesat pergi, sedangkan monyet bulu putih bercuit-cuitan sedih.
Tio Cie Hiong terus mengerahkan ginkangnya.
Kini kepandaiannya bertambah tinggi, begitu pula Iwee kang dan ginkangnya.
la harus memburu waktu agar cepat sampai di markas pusat Kay Pang.
sama sekali tak diketahui bagaimana situasi di markas pusat Kay Pang, apakah Im sie Hong Mo masih muncul di sana atau tidak.
siang hari ini ketika memasuki sebuah lembah, mendadak ia terbelalak memandang lembah itu.
la teringat kalau lembah itu tempat tinggal seng Li Tong (Goa Wanita suci) berada.
segeralah ia melesat menuju sebuah goa.
la heran melihat pintu goa itu terbuka lebar.
Tio Cie Hiong mengerutkan kening kemudian melesat ke dalam.
la melihat formasi bunga bwee hancur berantakan.
Hal itu sungguh mengejutkannya.
Dengan sebera ia mengerahkan ginkang melewati kolam menuju ke tempat tinggal Pek sim seng Li, bibinya.
Begitu kakinya menginjak tempat itu, wajahnya pun berubah pucat pias, karena melihat tiga sosok mayat yang sudah mulai membusuk.
"Bibi Bibi..."
Jeritnya dengan air mata berderai-derai.
Ternyata salah satu sosok mayat itu adalah Pek sim seng Li, bibinya.
Tio Cie Hiong membungkukkan badan memperhatikan mayat bibinya.
Di sisi tangan bibinya terdapat sebaris tulisan.
Begitu membaca, darah Tio Cie Hiong mendidih.
"Im sie Hong Mo"
Bunyi tulisan itu, pertanda yang membunuh bibinya adalah Ku Tek Cun. Dua sosok mayat lain adalah siauw Loan dan siauw Ing, pelayan setia bibinya.
"Bibi Bibi..."
Jerit Tio Cie Hiong sambil menangis gerung-gerungan. Kini ia telah kehilangan bibi satu satunya.
"Im sie Hong Mo Kenapa engkau membunuh bibiku? Kenapa?"
Tio Cie Hiong terus menangis sedih, dan tak henti-hentinya ia menggumam penuh kegeraman.
"Ku Tek Cun Kenapa engkau membunuh bibiku? Kenapa engkau begitu tega? Kenapa engkau membunuh bibiku? Kenapa...?"
Tio Cie Hiong masih terus menangis dengan wajah pucat pias.
Kemudian dirasakan matanya berkunang-kunang dan gelap.
hingga akhirnya jatuh pingsan di sisi mayat Pek sim seng Li bibinya.
sementara itu, di dalam sebuah goa di laut Timur, terdengar suara tawa terbahak-bahak.
suara tertawa milik Bu Lim sam Mo.
"Ha ha ha Kini kita telah berhasil mempelajari Ilmu Hian Bun Kui Goan Kang Khi, urat kita yang cutus telah tersambung"
Ujar Tang Hai Lo Mo bergembira.
"Sehingga lweekang kita mengalami kemajuan pesat, begitu pula Pak Kek sin Kang kita Ha ha ha..."
"Lo Mo"
Thian Mo memandangnya.
"Ini memang di luar dugaan kita, jadi mulai hari ini kita akan mempelajari Tiga jurus Hian Bun sin ciang."
"Ya"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Setelah itu, kita akan kembali ke rimba persilatan, menuntut balas pada Tio Cie Hiong."
"Dia memusnahkan kepandaian kita,"
Ujar Te Mo dengan mata berapi-api.
"Maka kita harus mencabut nyawanya"
"Benar"
Tang Hai Lo Mo mengangguk.
"ohya, entah bagaimana Ku Tek Cun murid kita itu?"
"Akan kita cari dia nanti,"
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"setelah kita berhasil membunuh Tio Cie Hiong, berarti sudah waktunya kita menguasai rimba persilatan Ha ha ha"
"Tio Cie Hiong pasti tidak tahu kepandaian kita bertambah tinggi. Karena itu, lebih baik kita muncul di rimba persilatan secara diam-diam saja,"
Ujar Thian Mo.
"Kita akan membuat kejutan di rimba persilatan"
"Tidak salah"
Te Mo tertawa gelak.
"ohya, nanti kalian berdua bersamaku tinggal di istanaku saja"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Itu memang bagus, sebab istanamu berada di dalam sebuah goa yang sangat rahasia. siapa pun tidak tahu tentang goa itu"
"Lo Mo"
Ujar Te Mo seakan mengusulkan.
"Begitu muncul di rimba persilatan, pertama-tama kita harus berusaha mencari Lam Hai sin ceng. Kita harus membunuhnya"
"Benar Benar"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.
"setelah itu, kita tangkap para ketua tujuh partai. Kita pasti menggemparkan rimba persilatan. Ha ha ha"
"Lo Mo Perlukah membangun kembali sam Mo Kauw?"
Tanya Thian Mo.
"Kita akan bergerak secara gelap nanti. Kalau kita membangun kembali sam Mo Kauw, tentunya kaum persilatan akan mengetahui tentang diri kita"
Jawab Tang Hai Lo Mo.
"Maka lebih baik kita mendirikan.... Bu Tek Pay (Partai Tanpa Tanding) saja Bagaimana menurut kalian?"
"Setuju"
Sahut Thian Mo dan Te Mo serentak sambil tertawa gembira.
"Kaum rimba persilatan tidak akan tahu, siapa sebenarnya ketua Bu Tek Pay Ha ha ha"
"Kemunculan kita kelak, sudah pasti akan menguasai rimba persilatan."
Ujar Tang Hai Lo Mo sambil tertawa-tawa.
"Kita bertiga harus membuat sejarah baru di rimba persilatan. Nanti dalam rimba persilatan tidak akan terdengar lagi Bu Lim It Ceng dan Ji Khie, hanya ada Bu Tek Pay yang kita dirikan itu Aku ketua satu, Thian Mo ketua dua dan Te Mo ketua tiga Kalian berdua setuju?"
"Tentu setuju"
Sahut Thian Mo dan Te Mo serentak.
"Pokoknya kita bertiga harus bersatu selama-lamanya Ha ha ha..."
Di Tayli, Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong, dan Lam Kiong Hujin sudah berkali-kali berpamit pada Toan Hong Ya, namun Toan Hong Ya selalu menahan mereka.
"Tinggal di sini beberapa bulan, barulah kalian kembali ke Tionggoan"
Ujar Toan Hong "Tapi...,"
Tui Hun Lojin menghela nafas panjang.
"sudah sekian bulan kami tinggal di sini, lagi pula Cie Hiong belum ke mari. Aku khawatir...."
"Justru karena itu aku melarang kalian kembali ke Tiong goan, karena akan menambah beban cie Hiong."
"Benar juga."
Lam Kiong Hujin manggut-manggut.
"Daripada kita jadi bebannya, memang lebih baik tinggal di sini dulu."
"Kalau begitu...,"
Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukankah diri kita akan dicap sebagai orang yang tiada rasa setia kawan?"
"Tidak mungkin"
Sahu Toan Hong Ya sung-guh-sungguh.
"Begini saja, apabila dalam waktu dua tiga bulan mereka belum datang, kalian boleh kembali ke Tiong goan."
"Baiklah, Hong Ya."
Tui Hun Lojin mengangguk. Toan Hong Ya memandang ke arah Lam Kiong Hujin.
"Berhubung suasana di rimba persilatan Tiong goan masih belum aman, maka nanti putramu dan pit Lian tidak boleh ikut ke Tionggoan."
"Aku mengerti itu. Hong ya."
Lam Kiong Hujin manggut-manggut.
"Terima kasih,"
Ucap Toan Hong Ya.
"sama-sama"
Sahut Lam Kiong Hujin sambil tersenyum.
"Memang lebih aman putraku tinggal di sini dulu. setelah keadaan di rimba persilatan Tionggoan aman, barulah mereka ke Tionggoan."
"Benar"
Toan Hong Ya manggut-manggut.
"sebetuinya aku ingin mohon bantuan pada seseorang, tapi...."
"Maksud Hong Ya?"
Tanya Tui Hun Lo^in.
"Di Tayli ini terdapat seorang padri tua yang dipanggil Tayli Lo Ceng. Usia beliau sudah hampir seratus tiga puluh. Namun, beliau hidup menyendiri, sama sekali tidak mau mencampuri urusan apa pun. Karena itu, belum tentu aku bisa mengundangnya keluar."
"Hmm...?"
Tui Hun Lojin menggumam.
"Apakah padri tua itu berkepandaian tinggi?"
"Sulit diukur lagi kepandaiannya, mungkin sudah mencapai kesempurnaan,"
Jawab Toan Hong Ya memberitahukan.
"Tapi padri tua itu tidak pernah mempertunjukkan kepandaiannya. Aku yakin beliau mampu mengatasi Im sie Hong Mo"
"Tayli Lo Ceng (Padri Tua Tayli)...?"
Gumam Gouw Han Tiong. Kemudian dia bertanya.
"pernahkah padri tua itu mengunjungi Tionggoan?"
"Pernah"
Toan Hong Ya mengangguk.
"Bah-kan juga pernah ke Thian Tok (India), Persia, Nepal, dan Tibet"
"Heran"
Tui Hun Lojin mengerutkan kening.
"Aku tidak pernah mendengar nama Tayli Lo Ceng."
"Itu karena padri tua tidak pernah mempertunjukkan kepandaiannya, maka kaum rimba persilatan Tiong goan tidak mengetahuinya,"
Ujar Toan Hong Ya menjelaskan.
"Yang jelas kepandaiannya sudah tidak bisa diukur."
"Padri tua itu tidak punya murid?"
Tanya Lam Kiong Hujin. (Bersambung ke bagian 28)
Jilid 28
"Aku kurang jelas tentang itu."
Toan Hong Ya menggeleng kepala, kemudian memberitahukan.
"Beliau sangat dihormati dan diagungkan di sini, aku pun masih harus bersujud di hadapannya."
"Sayang sekali kami tidak bisa bertemu padri tua itu..."
Gumam Tui Hun Lojin. Sementara itu, tampak dua pasang suami isteri sedang bercakap-cakap di halaman, mereka adalah Lam Kiong Bie Liong, Toan Pit Lian, Toan Wie Kie, dan Gouw sian Eng.
"Heran"
Lam Kiong Bie Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudah sekian bulan, Adik Hiong dan ceng Im belum ke mari. Mungkinkah...."
"Maksudmu telah terjadi sesuatu atas diri cie Hiong?"
Tanya Toan Wie Kie.
"Ya."
Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"Itu membuatku cemas sekali"
"Belum tentu"
Ujar Toan Pit Lian.
"Kalau terjadi sesuatu atas dirinya, sudah pasti ada orang ke mari mengabarkan. Ya, kan?"
"Ng"
Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.
"Kakak Kie"
Gouw sian Eng menatapnya.
"Kenapa Hong Ya terus menahan kakek, ayah, dan Lam Kiong Hujin?"
"Adik sian Eng"
Toan Wie Kie tersenyum.
"Terus terang, ayahku bermaksud baik"
"Bermaksud baik?"
Gumam Gouw Sian Eng.
"Tentunya engkau tahu, betapa tingginya kepandaian Im Sie Hong Mo.Jadi kalau mereka kembali ke Tionggoan, tentu akan membahayakan bagi keselamatan. oleh karena itu, ayahku terus menahan mereka."
"OOOh"
"Apa jadinya kalau Adik Hiong tidak dapat mengalahkan Im sie Hong Mo?"
Lam Kiong Bie Liong mengerutkan kening.
"Percayalah"
Ujar Toan Pit Lian.
"cie Hiong berhati bajik, jadi dia pasti selamat."
Mendadak Lam Kiong Bie Liong tampak serius.
"Hian Teng Taysu, Sin san Lojin, Ang Kin sian Li, dan kita semua bukan lawan Im sie Hong Mo. Bagaimana seandainya dia ke mari?"
"Maksudmu Im sie Hong Mo datang ke Tayli ini?"
Toan Wie Kie menatapnya.
"Ya"
Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"seandainya dia ke mari, kita tidak perlu takut"
Toan Wie Kie tersenyum-senyum.
"Kakak Kie, kenapa engkau bilang begitu?"
Tanya Gouw sian Eng.
"sebab...,"
Toan Wie Kie memberitahukan.
"Di Tayli ini ada seorang padri tua yang berusia hampir seratus tiga puluh."
"Haaah...?"
Mulut Gouw sian Eng ternganga lebar.
"Be... begitu tua?"
"Walau sudah sangat tua, tapi padri itu masih tampak sehat,"
Ujar Toan Wie Kie.
"Karena padri tua itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali, sulit diukur berapa tinggi kepandaiannya."
"oh?"
Lam Kiong Bie Liong tertarik.
"Apabila padri tua itu bersedia membantu Adik Hiong...."
"Itu tidak mungkin."
Toan Wie Kie menggeleng kepala.
"Ayah pernah bermohon padanya, agar menerima aku dan Pit Lian sebagai murid, namun padri tua itu menolak."
"Kenapa?"
Tanya Gouw sian Eng heran.
"Beliau itu memang tidak mau menerima murid,"
Jawab Toan Wie Kie, memberitahukan sambil menghela nafas.
"Mungkin aku dan Pit Lian tidak berjodoh dengan padri tua itu."
"Kakak Kie, ayahmu adalah raja Tayli, kenapa padri tua itu berani menolak?"
Tanya Gouw sian Eng heran.
"Adik sian Eng"
Toan Wie Kie tersenyum.
"Engkau harus tahu, kedudukan Tayli Lo Ceng itu sangat tinggi, ayahku saja harus bersujud di hadapannya."
"oooh"
Gouw sian Eng manggut-manggut.
"Kalau begitu..."
Ujar Lam Kiong Bie Liong.
"Kepandaian padri tua itu pasti di atas Im sie Hong Mo."
"Aku yakin itu,"
Sahut Toan Wie Kie.
"Hm... pernahkah padri tua itu melancong ke Tionggoan?"
Tanya Gouw sian Eng.
"Pernah."
Toan Wie Kie mengangguk.
"Bahkan juga pernah ke India, Pers ia, Tibet, dan Nepal."
"Beliau berasal dari Tayli ini?"
Tanya Lam Kiong Bie Liong.
"Ya"
Toan Wie Kie mengangguk.
"Di mana tempat tinggal padri tua itu?"
"Tidak menentu."
Toan Wie Kie memberitahukan.
"Padri tua itu pun mahir meramal."
"oh?"
Lam Kiong Bie Liong tertarik.
"Kalian pernah diramalnya?"
"Tidak pernah"
Toan Wie Kie menggeleng kepala.
"Namun kalau ada apa-apa biasanya beliau akan muncul sendiri."
"Hebat sekali padri tua itu"
Ujar Gouw sian Eng kagum.
"Alangkah baiknya jika Kakak Hiong bisa bertemu padri tua itu"
"Kalau Cie Hiong berjodoh dengan padri tua itu, tentunya akan bertemu."
Toan Wie Kie tersenyum dan menambahkan.
"siapa tahu padri tua itu sudah berangkat keTionggoan membantu Cie Hiong"
"Mudah-mudahan begitu"
Ucap Lam Kiong Bie Liong.
Bab 46 Dicincang-cincang Di halaman markas pusat Kay Pang, masih tampak Pek Ih Hong Li duduk di bawah pohon.
Walau Lim Ceng Im terus menerus berupaya menyadarkan Pek Ih Hong Li dengan cara menggali ingatannya, tapi tidak berhasil sama sekali.
"In Nio, engkau sudah ingat siapa aku?"
Tanya Lim Ceng Im lembut.
"Engkau memang orang gila"
Sahut Pek Ih Hong Li sambil tertawa cekikikan.
"Kenapa aku harus ingat siapa engkau?"
"Engkau adalah Yap In Nio"
"Aku tidak kenal Yap In Nio, jadi aku bukan Yap In Nio, Jangan-jangan engkaulah yang Yap In Nio, karena sudah gila, maka engkau lupa siapa dirimu"
"In Nio...,"
Lim Ceng Im menggeleng-geleng kepala.
"TUh"
Pek Ih Hong Li tertawa nyaring.
"Penyakit gilamu kumat lagi. sungguh lucu sekali"
Lim Ceng Im menghela nafas panjang.
"Ei Gadis gila"
Bentak Pek Ih Hong Li.
"Tidak baik menghela nafas panjang, akan cepat tua lho."
Lim Ceng Im menggeleng-geleng kepala. Mendadak mulut Pek Ih Hong Li berhembus-hembus seakan kegerahan, kemudian berkata.
"Aku mau mandi Aku mau mandi"
"Mari ikut aku ke dalam"
Lim Ceng Im menggandengnya, membuat Pek Ih Hong Li tertawa geli.
"Hi hi hi Aku bukan anak kecil, tidak perlu digandeng."
"Anggaplah engkau masih kecil"
Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Dasar gadis gila"
Pek Ih Hong Li menggeleng-geleng kepala sambil mengikuti Lim Ceng Im ke dalam.
Di saat Pek Ih Hong Li sedang mandi, mendadak Lim Ceng Im mendengar suara tawa seram di luar.
seketika wajahnya berubah pucat.
"Im sie Hong Mo...?"
Braaak Pintu kamar mandi terbuka, Pek Ih Hong Li melesat keluar, ia sudah berpakaian.
Itu memang suara tawa Im sie Hong Mo.
Bu Lim Ji Khie, TOk Pie Sin Wan, Lim Peng Hang, dan para ketua tujuh partai langsung berhambur keluar.
"He he he He he he"
Im sie Hong Mo berdiri di halaman.
"Hari ini kalian semua harus mampus"
"Aku harus mencincang tubuhmu Aku harus cincang engkau"
Berkelebat sosok bayangan putih ke hadapan Im sie Hong Mo.
"Jangan kabur Aku akan mencincang tubuhmu..."
"Haah?"
Im sie Hong Mo tampak terkejut. Dia langsung melesat pergi sambil tertawa seram.
"Mau kabur ke mana? Akan kucincang tubuhmu Aku cincang engkau..."
Pek Ih Hong Li mengejarnya. Bu Lim Ji Khie dan lainnya saling memandang, Lim Ceng Im pun berhambur keluar.
"Ayah, di mana Yap In Nio?"
Tanyanya.
"Dia pergi mengejar Im sie Hong Mo"
"Mudah-mudahan Pek Ih Hong Li berhasil membunuh Im sie Hong Mo itu"
Ucap Tok Pie Sin Wan.
"Itu tidak mungkin"
Kim siauw suseng menghela nafas.
"Kepandaian mereka seimbang."
Ucapan Kim siauw suseng terhenti mendadak, ternyata ia melihat sosok bayangan putih berkelebat-kelebat laksana kilat.
"Pek Ih Hong Li kembali"
Serunya.
"Tidak disangka dia begitu cepat kembali"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Itu berarti dia tidak berhasil mengejar Im Sie Hong Mo"
Sosok bayangan putih itu melayang turun.
Terbrlalaklah mereka semua ketika melihat jelas sosok bayangan putih itu, terutama Lim Ceng Im.
sebab, sosok bayangan putih itu bukan Pek Ih Hong Li, melainkan Pek Ih Sin Hiap Tio Cie Hiong Mereka terbelalak menyaksikan wajah Tio Cie Hiong telah berubah mulus seperti dulu, tampan dan mempesonakan.
"Kakak Hiong Kakak Hiong..."
Lim Ceng Im berlari-lari mendekatinya.
"Adik Im"
Sahut Tio Cie Hiong girang.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im langsung mendekap di dadanya.
"Kakak Hiong...."
"Adik Im"
Tio Cie Hiong membelainya sambil tersenyum lembut.
"Hua ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Asyiiik saling peluk memeluk sehingga melupakan kami"
Lim Ceng Im segera melepaskan dekapannya, lalu memandang sam Gan sin Kay dengan mata melotot.
"Kakek usil ah"
Gadis itu cemberut.
"Aku usil atau engkau lupa akan keberadaan kami di sini?"
Sahut sam Gan sin Kay dan tertawa gelak lagi.
"Eeeh?"
Tio cie Hiong menengok ke sana ke mari.
"semua berkumpul di sini? Tahu aku akan pulang hari ini?"
"Tadi Im sie Hong Mo datang...."
"Ceng Im Mari bicara di dalam saja"
Seru Lim Peng Hang.
"Jangan menceritakan sepotongsepotong "
"Kakak Hiong Mari kita ke dalam"
Lim Ceng Im menggandengnya masuk. sam Gan sin Kay yang usil itu terus menggoda Lim Ceng Im lagi sambil berjalan ke dalam.
"Bergandengan tangan, persis seperti sepasang pengantin hendak masuk ke kamar"
"Kakek...."
Wajah Lim Ceng Im memerah, lalu membanting-banting kaki.
"Ayah, kakek tuh"
"Iho?"
Lim Peng Hang tersenyum.
"Kakekmu kenapa?"
"Kakek terus menerus menggoda aku, sebal deh"
Gerutu Lim Ceng Im, cemberut.
"Memang persis seperti sepasang pengantin,"
Ujar Kim siauw suseng sambil tertawa terkekehkekeh.
"Menuju ke kamar, hendak tidur"
"Kakek sastrawan"
Lim Ceng Im melotot.
"omitohud Ini merupakan berkah"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Harus disambut dengan rasa syukur"
"Taysu?"
Lim Ceng Im menoleh.
"Hweeshio boleh menggoda orang, ya?"
"Bukan menggoda, memang merupakan suatu berkah,"
Sahut Hui Khong Taysu sambil tersenyum lembut.
"Wajah cie Hiong telah pulih seperti sedia kala. omitohud..."
Mereka semua duduk di ruang depan. setelah duduk Tio cie Hiong menghela nafas panjang. Wajahnya tampak murung sekali.
"Pek sim seng Li, bibiku itu telah mati,"
Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Apa?"
Sam Gan sin Kay terkejut.
"Bibimu itu telah mati?"
"omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Pek sim seng Li telah terlepas dari segala penderitaan."
"Dasar kepala gundul"
Tukas sam Gan sin Kay.
"Kalau begitu, kenapa engkau tidak mati saja agar terlepas dari segala penderitaan?"
"Apabila ajalku telah tiba, pasti kusambut dengan tersenyum,"
Sahut Hui Khong Taysu.
"Kalau begitu, kenapa engkau mengucurkan air mata ketika siauw Lim sam Tiang li mati?"
Tanya Kim siauw suseng.
"Ketiga pamanku dibunuh secara mengenaskan, aku mengucurkan air mata karena kematian yang menyedihkan..."
Jawab Hui Khong Taysu.
"omitohud"
"Cie Hiong Dari mana kau tahu bibimu telah mati?"
Tanya Lim Peng Hang heran.
"Kebetulan aku melewati lembah itu...,"
Ujar Tio Cie Hiong menuturkan.
"Bibiku, siauw Loan dan siauw Ing mati dibunuh Im sie Hong Mo."
"Ha h?"
Terkejut semua orang mendengarnya.
"Omitohud..."
"Kepala gundul Kini engkau harus bilang apa?"
Tanya Sam Gan sin Kay mendadak.
"semoga Pek sim seng Li masuk ke sorga"
Jawab Hui Khong Taysu.
"Dasar kepala gundul"
Dengus sam Gan sin Kay.
"Tadi bilang Pek sim seng Li telah terlepas dari segala penderitaan, sekarang bilang semoga dia masuk ke sorga Kalau engkau mati, harus bilang apa?"
"semoga aku masuk neraka, agar bisa menolong arwah-arwah yang tersiksa di sana,"
Jawab Hui Khong Taysu.
"Kalau begitu, engkau harus menghadapi Im sie Hong Mo"
Sambar Kim siauw suseng.
"omitohud Kalau itu merupakan takdirku,"
Ujar Hui Khong Taysu sambil tersenyum.
"Putar sana putar sini, alasanmu"
Tukas Kim siauw suseng tampak kesal.
"Cie Hiong,"
Lim Peng Hang menatapnya.
"Engkau telah berhasil mempelajari apa yang diukir di dinding goa itu?"
"Telah berhasil."
Tio cie Hiong mengangguk.
"syukurlah"
Ucap Lim Peng Hang.
"Omitohud"
Ucap sam Gan sin Kay mendahului Hui Khong Taysu, membuat semua orang tertawa.
"Bagus Bagus"
Hui Khong Taysu tersenyum.
"siapa yang menyebut "
Omitohud"
Berarti berjodoh dengan sang Budha"
"oh, ya?"
Sam Gan sin Kay tertawa.
"Kakak Hiong, ilmu apa yang engkau pelajari di dalam goa itu?"
Tanya Lim Ceng Im.
"Kan Kun Taylo sin Kang,"
Jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Kan Kun Taylo ciang Hoat dan Kan Kun Taylo Kiam Hoat."
"Ilmu itu dapat mengalahkan Im sie Hong Mo?"
"Mudah-mudahan"
Ucap Tio Cie Hiong dan bertanya.
"ohya, tadi engkau bilang Im sie Hong Mo ke mari, lalu bagaimana?"
"Pek Ih Hong Li mengejarnya,"
Jawab Lim Ceng Im.
"cie Hiong"
Lim Peng Hang memberitahukan.
"setelah engkau berangkat ke Thian san, mendadak muncul Im sie Hong Mo. Untung muncul juga Pek Ih Hong Li yang membuat Im sie Hong Mo langsung kabur"
"oooh"
Tio Cie Hiong tampak le^a.
"Setelah itu bagaimana?"
"Justru sungguh mengherankan,"
Sahut Lim Peng Hang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Tak lama kemudian, Pek Ih Hong Li muncul lagi lalu duduk di bawah pohon."
"Mau apa dia duduk di bawah pohon?"
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Dia berjaga di situ. Aku berupaya menyadarkannya dengan cara menggali ingatannya."
"Dia berjaga di situ?"
Gumam Tio Cie Hiong.
"Kalau begitu, dia masih memiliki rasa setia kawan."
"Benar, Kakak Hiong"
"Adik Im, bagaimana hasilnya engkau berupaya menyadarkannya?"
"Sia-sia,"
Sahut Lim Ceng Im sambil menghela nafas.
"Dia sama sekali tidak ingat siapa dirinya, tapi masih ingat telah menusuk engkau dengan belati, bahkan mengira engkau telah mati."
"Kasihan dia"
Tio cie Hiong menggeleng-geleng kepala.
"Dia tahu siapa yang menodai dirinya, itulah sebabnya terus menerus mengejar Im sie Hong Mo"
"ohya Engkau bertanya padanya dari mana dia memperoleh kepandaian itu?"
"Dia memberitahukan padaku...."
Tutur Lim Ceng Im.
"Kalau begitu, yang dipanggilnya bibi itu pasti adik seperguruan Im sie Hong Jin,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Kami pun menduga begitu,"
Timpal Lim Peng Hang.
"ohya"
Tio Cie Hiong tampak sungguh-sung-guh.
"Aku akan coba mengobati Yap In Nio"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Aku pun berpikir begitu, sebetulnya dia gadis yang baik, Tapi...."
"Cie Hiong, biar bagaimanapun engkau harus hati-hati mendekatinya,"
Pesan Lim Peng Hang. Tio cie Hiong mengangguk.
"Memang lucu sekali."
Mendadak Lim Ceng Im tertawa geli.
"Dia malah bilang aku gila."
"oh?"
Tio cie Hiong menghela nafas dan bertanya.
"Dia terus berjaga di bawah pohon selama aku berada di Thian san?"
"Ya"
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Aku yang mengantarkan makanan dan minuman padanya, juga mengantarnya ke kamar mandi. Walau dia telah gila, namun masih ingat akan kesopanan dan rasa malu. Ketika mandi, dia menutup pintu kamar mandi, aku melongok ke dalam, dia langsung menegurnya."
"Ha ha ha"
Mendadak sam Gan sin Kay tertawa.
"Kenapa engkau melongok ke dalam? Mau lihat apa? sama-sama punya kok."
"Kakek...."
Wajah Lim Ceng Im langsung kemerah-merahan, tapi kemudian malah tertawa geli.
"Eh?"
Tercengang sam Gan sin Kay.
"Kenapa engkau tertawa geli?"
"Jangan-jangan Kakek pun sudah mulai gila sebab apa yang Kakek katakan barusan, juga merupakan kata katanya padaku."
"oh?"
Sam Gan sin Kay dan tertawa.
"Tidak salah Jangan-jangan aku juga sudah mulai gila"
"Pengemis bau"
Ujar Kim siauw suseng sambil tertawa.
"Dari dulu dirimu memang sudah gila."
"Kalau begitu, engkau pun pasti sudah sinting dari dulu. Ya, kan?"
Sahut Sam Gan Sin Kay.
"Kira-kira begitulah"
Kim siauw suseng tertawa lagi.
"Kalau tidak, bagaimana mungkin kita berdua disebut Bu Lim Ji Khie?"
"Betul Betul"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Kakak Hiong,"
Bisik Lim Ceng Im.
"Bagai-mana wajahmu bisa pulih seperti ini?"
"semua ini karena jasa monyet putih yang di Gunung Thian san."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Entah dari mana dia mengambil bunga-bunga aneh itu, kemudian dia menyuruhku menumbuknya untuk dipoleskan pada wajahku. Aku menurut dan inilah hasilnya."
Lim Ceng Im tertawa geli.
"Monyet itu mengerti bahasa orang ya?"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Cucuku"
Sam Gan sin Kay memberitahukan.
"Di sini pun ada lutung yang bisa mengerti bahasa orang."
Mendengar itu, Lim Ceng Im tertawa geli, ia tahu kakeknya menggoda Tok Pie sin wan.
"Pengemis bau"
Ujar Tok Pie sin wan melotot.
"Kalau kepandaianku tidak di bawah kepandaianmu, sudah aku gantung dirimu di pohon"
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Yang bergantung dipohon adalah lutung, monyet dan sejenisnya."
"Kakek pengemis"
Tio cie Hiong menyela kedua orang tua itu.
"Monyet bulu putih yang di Thian san tidak pernah bergantung dipohon."
"Ya... itu kan monyet putih"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Yang kumaksudkan adalah monyet bulu hitam yang mirip...."
"Pengemis bau"
Bentak Tok Pie sin wan.
"Omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Tidak baik bergurau dengan memperolok-olok. itu akan merusak suasana dan persahabatan. omitohud..."
"Eh?"
Sam Gan sin Kay mendelik.
"Kepala gundul, ini kan urusan dunia, kenapa engkau turut campur?"
"omitohud"
Sahut Hui Khong Taysu.
"omitohud..."
Setelah Tio Cie Hiong kembali, suasana di markas pusat Kay Pang berubah jadi tenang.
Yang paling gembira adalah Lim Ceng Im.
Di mana pun Tio Cie Hiong berada, gadis itu pasti berada di situ.
Pendek kata, Lim Ceng Im mendampinginya setiap saat.
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak, ternyata ia memergoki Lim Ceng Im berada dalam pelukan Tio Cie Hiong.
"Wah Bukan main mesranya..."
"Kakek"
Wajah Lim Ceng Im memerah.
"Kenapa Kakek begitu usil sih? Tidak boleh orang senang"
"Kakek justru ikut senang Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gembira.
"ohya. Kalau Im sie Hong Mo sudah dibasmi, kalian berdua lebih baik segera melangsungkan...."
Ucapan sam Gan sin Ka terhenti karena mendadak saja terdengar suara tawa bergema dari luar.
"Im sie Hong Mo..."
Seru Lim Ceng Im tak tertahan.
"Im sie Hong Mo sudah datang"
"Adik Im, jangan panik, tenanglah..."
Ujar Tio Cie Hiong seraya memegang bahu gadis itu.
"Cie Hiong, mari kita keluar"
Ajak sam Gan sin Kay.
"Ya"
Tio Cie Hiong mengangguk.
Mereka berdua melangkah keluar.
Lim Ceng Im mengikuti mereka dari belakang dengan hati kebat-kebit, karena khawatir Tio Cie Hiong tidak dapat mengalahkan Im sie Hong Mo.
sementara itu di luar masih terdengar suara tawa menyeramkan yang terus bergema.
Kim siauw suseng, Tok Pie sin wan, Lim Peng Hang, dan para ketua tujuh partai sudah berdiri di halaman.
Di saat sam Gan sin Kay, Tio Cie Hiong, dan Lim Ceng Im sampai di luar, tampak berkelebat sesosok bayangan, turun ke halaman.
so-sok bayangan itu tak lain Im sie Hong Mo.
"He he he"
Im sie Hong Mo terus tertawa menyeramkan "Hari ini kalian semua harus mati"
"Belum tentu"
Sahut Tio Cie Hiong.
Dia melangkah mendekatinya, sambil memberi isyarat pada yang lain agar mundur.
Bu Lim Ji Khie dan lainnya segera mundur.
Meskipun mereka tahu Tio Cie Hiong telah mempelajari Kan Kun Taylo sin Kang, namun tetap mengkhawatirkan.
"Hai... Kau Tio Cie Hiong"
Im sie Hong Mo menudingnya dengan mata memancarkan cahaya yang kehijau-hijauan.
"Hari ini engkau harus mati"
"Ku Tek Cun"
Tio Cie Hiong menatapnya dingin.
"Kenapa engkau membunuh Pek sim seng Li dan kedua pelayannya?"
"He he he Aku senang. Kalian juga semua harus mati hari ini"
"Ku Tek Cun...."
"Diam"
Bentak Im sie Hong Mo lalu melesat melakukan serangan cepat dengan pedang.
Tio Cie Hiong berkelit dengan melompat sambil mengeluarkan suling kumalanya, bahkan juga mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kang.
Im sie Hong Mo terus menyerang Tio Cie Hiong dengan "Ilmu Pedang Kacau Balau".
sementara pemuda itu terus melayaninya dengan "Ilmu suling Kumala Pemusnah Kepandaian"
Pertarungan sengit antara kedua tokoh berilmu tinggi ini berjalan seru. Lim Ceng Im menyaksikannya dengan hati berdebar-debar tegang. Tak berkedip matanya menyaksikan pertarungan itu.
"Pengemis bau,"
Bisik Kim siauw suseng.
"Apa-kah Tio Cie Hiong akan mampu mengatasinya? "
"Mudah-mudahan"
Sahut sam Gan sin Kay yang juga merasa tegang.
"Kalau Tio Cie Hiong tidak dapat mengatasinya, kita semua akan mati."
"Omitohud segala itu tergantung pada takdir,"
Ujar Hui Khong Taysu.
"Jadi kita harus tenang."
"Kelihatannya Cie Hiong belum mengeluarkan Kan Kun Taylo Kiam Hoat,"
Sela It Hian Tejin ketua partai Butong.
"Ng"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Tapi..., Im sie Hong Mo juga belum mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Mungkin karena itu, cie Hiong tidak mau mengeluarkan ilmu Kan Kun Taylo sin Kang."
"Bcnar"
Sahut Kim siauw suseng sambil terus memperhatikan.
"sebab itu merupakan penentuan antara kalah dan menang. Rupanya Cie Hiong harus berhati-hati."
"Apakah Kakak Hiong akan menang?"
Tanya Lim Ceng Im.
"Dia kelihatan begitu tenang. Agaknya sudah punya suatu perhitungan untuk menundukkan Im sie Hong Mo,"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Jadi engkau harus berusaha tenang, jangan menjerit karena bisa memecah perhatiannya"
Lim Ceng Im mengangguk, menuruti saran orang tua itu.
sementara pertarungan semakin seru.
Tak henti-hentinya Im sie Hong Mo menyerang Tio Cie Hiong, yang masih tetap menggunakan Ilmu Giok siauw Bit Ciat Kang Hoat ciptaannya.
"Hiaaa..."
Tiba-tiba Im sie Hong Mo memekik keras, kemudian mengeluarkan suara tawa menyeramkan sambil terus melakukan serangan gencar.
Ternyata lelaki bengis ini mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya.
Pedangnya berkelebat ke sana ke mari secara kacau balau dan tidak karuan.
Menyaksikan itu, wajah Lim Ceng Im mulai pucat, diliputi kecemasan yang hebat.
"Im sie Hong Mo mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Benar"
Kim siauw suseng mengangguk.
Tiba-tiba Tio Cie Hiong bersiul panjang sambil menggerakkan suling kumalanya dengan pengerahan ilmu Kan Kun Taylo sin Kang.
Tampak suling kumala itu berkelebatan cepat sekali.
Dan benturan keras terjadi ketika suling kumala itu dapat menangkis pedang Im sie Hong Mo.
Ternyata Tio Cie Hiong mengeluarkan jurus Kan Kun Taylo Bu Pien (Alam semesta Tiada Batas) .Jurus tersebut digunakan untuk bertahan dan memapak serangan lawan.
Ilmu ini sungguh hebat luar biasa.
sebab mampu menggempur balik serangan-serangan yang dilancarkan Im sie Hong Mo.
Perlu diketahui, Tio Cie Hiong memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang, suatu Iweekang yang mampu melindungi dirinya.
sementara Kan Kun Taylo sin Kang bersifat membendung dan menggempur balik Iweekang lawan.
Pengerahan Kan Kun Taylo Kiam Hoat, sebenarnya mengandung Kan Kun Taylo sin Kang.
sehingga setiap kali ditangkiskan, Im sie Hong Mo tampak tergempur mundur oleh Iweekangnya sendiri Ketika pertama kali Tio cie Hiong bentrok dengan tokoh gila ini, semakin bertarung Im sie Hong Mo semakin kuat, bertambah hebat dan dahsyat.
Akan tetapi, kali ini tidak terjadi.
setiap kali Im sie Hong Mo menyerang, selalu terpental beberapa langkah, bahkan kekuatannya makin lemah.
"Bukan main"
Seru sam Gan sin Kay berdecak kagum.
"sama sekali tidak menyangka Kan Kun Taylo sin Kang yang dimiliki Tio Cie Hiong begitu hebat Kali ini Im sie Hong Mo pasti tamat riwayatnya"
"Benar"
Kim siauw suseng manggut-manggut. Lim Ceng Im berlega hati. Begitu pula Lim Peng Hang, Tok Pie sin wan, dan para ketua tujuh partai.
"Omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"omi-tohud..."
Sementara gerakan Im sie Hong Mo mulai lamban, namun wajahnya bertambah seram.
Tiba-tiba ia memekik keras sekali, seraya mengerahkan Im sie Hong Kang sampai pada puncaknya.
Lalu menyerang Tio Cie Hiong bertubi-tubi dengan Hong Loan Kiam Hoat.
Dapat dibayangkan, betapa dahsyatnya serangan-serangan itu.
Tio Cie Hiong bersiul nyaring.
Tampak suling kumala di tangannya berkelebatan cepat sekali.
Dia terus menyambut serangan-serangan Im sie Hong Mo dengan jurus Kan Kun Taylo Hap It (segalagalanya Menyatu Di Alam semesta).
Trang Trang Trang...
Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga.
Tio cie Hiong berdiri tegak di tempat, sedangkan Im sie Hong Mo terpental sejauh dua depa.
Ternyata ia telah tergempur oleh Iwee kangnya sendiri Im sie Hong Mo menggeram, kemudian menyerang lagi dengan dahsyat.
Dengan cepat badan Tio Cie Hiong berputar-putar.
suling kumalanya pun berkelebatan ke sana ke mari menangkis pedang Im sie Hong Mo, dengan mengerahkan jurus Kan Kun Taylo Kwi Cong (segala-galanya Kembali Ke Alam semesta).
Trang Trang...
Pedang Im sie Hong Mo termental entah ke mana.
sementara tubuh lelaki itu terpental lima depa jauh sedangkan Tio Cie Hiong terdorong mundur beberapa langkah.
"Uakkkh..."
Im sie Hong Mo memuntahkan darah segar, lalu terkulai.
Kelihaiannya ia sudah tak bertenaga lagi.
Im sie Hong Mo tergempur oleh Iwee kangnya sendiri, sehingga membual peredaran darah kembali seperti biasa.
Hal itu telah membuat kepandaian yang dimilikinya lenyap seketika.
Tio cie Hiong mendekati selangkah demi selangkah sambil menatap penuh kewaspadaan.
"Ku Tek Cun"
Bentak Tio Cie Hiong.
"Eng-kau benar-benar biadab Bibiku sudah hidup mengasingkan diri, engkau masih datang dan membunuhnya Aku... aku harus membunuhmu sayang, aku tetap tidak mau membunuh orang Nah, kau boleh pergi sekarang"
Ku Tek Cun diam saja.
"Kakak Hiong..."
Seru Lim Ceng Im yang terkejut karena Tio Cie Hiong menyuruh Ku Tek Cun pergi.
"Adik Im"
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Janganlah engkau menyuruhku berbuat dosa"
"Tapi...."
"Kini kepandaiannya telah musnah lagi, sama sekali tidak bisa belajar ilmu silat. Dia telah tergempur oleh Iwee kangnya sendiri"
"Ceng Im"
Lim Peng Hang menepuk bahunya.
"Apa yang dikatakan cie Hiong memang benar, jangan suruh dia berbuat dosa"
Lim Ceng Im hanya mengangguk.
"Ku Tek Cun"
Tio Cie Hiong menatapnya dingin.
"Cepatlah engkau enyah dari sini"
Ku Tek Cun bangkit berdiri, ia memandang Tio Cie Hiong dengan penuh dendam, lalu melangkah pergi sempoyongan.
Tio Cie Hiong memandang punggungnya sambil menghela nafas.
Bu Lim Ji Khie dan lainnya sama terdiam menatap kepergian Ku Tek Cun.
setelah Ku Tek Cun berjalan belasan langkah, mendadak terdengar suara tawa nyaring yang melengking-lengking.
"Pek Ih Hong Li..."
Seru Lim Ceng Im tak tertahan.
"Yap In Nio?"
Sentak Tio Cie Hiong yang tertegun melihat sesosok bayangan berkelebat.
"Hi hi hi Hi hi hi..."
Sosok bayangan melayang turun di hadapan lm Sie Hong Mo atau Ku Tek cun.
"Adik In"
Seru Tio cie Hiong.
"Adik In..."
Pek Ih Hong Li tak memperdulikan seruan Tio Cie Hiong. Matanya menatap tajam Ku Tek Cun sambil tertawa cekikikan nyaring.
"Hi hi hi Aku harus cincang engkau Aku harus cincang engkau...."
Secepat kilat Pek Ih Hong Li mengibaskan pedangnya, hingga berkelebatan cepat ke arah tubuh Ku Tek Cun. Merencah dan membabat dengan bengis sekali.
"Aaakh..."
Ku Tek Cun mengeluarkanjeritan yang menyayat hati.
"Hi h Hi"
Pek Ih Hong Li terus tertawa melengking-lengking.
Ketika pedangnya berhenti bergerak, Ku Tek Cun pun telah mati dengan tubuh tidak utuh.
Pek Ih Hong Li betul-betul mencincangnya Lim Ceng Im membuang muka tidak berani melihat.
Tio Cie Hiong menggeleng-geleng kepala.
sementara Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin wan, dan Lim Peng Hang saling memandang, sedangkan para ketua tujuh partai membisu dengan mata terbelalak ngeri.
"omitohud..."
Suara Hui Khong TaysU.
"Yang jahat akhirnya mendapat ganjaran"
"Hi h H i"
Pek Ih Hong Li tertawa melengking, kemudian menangis meraung-raung.
"Kakak Hiong Kakak Hiong Aku telah bunuh Ku Tek Cun Kakak Hiong, maafkanlah aku karena menusukmu dengan belati Kakak Hiong..."
"Adik In inilah diriku, Kakak Hiongmu"
Ujar Tio Cie Hiong sambil mendekatinya.
"Apa?"
Sentak Pek Ih Hong Li dengan mata terbelalak kaget.
"Engkau adalah Kakak Hiong?"
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Akulah Kakak Hiong..."
"Bohong"
Bentak Pek Ih Hong Li.
"Kakak Hiong sudah mati, aku tusuk dia Kakak Hiong Kakak Hiong..."
Mendadak Pek Ih Hong Li melesat pergi sambil tertawa melengking-lengking. la sama sekali tidak mengenali Tio cie Hiong lagi.
"Hi hi hi Hi hi hi Aku telah cincang dia Aku telah cincang dia..,"
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Hiong, kenapa engkau tidak mengejarnya?"
Tanya Lim Ceng Im merasa iba kepada Yap In Nio.
"Percuma"
Tio Cie Hiong menggeleng kepala.
"Kita harus menunggu waktu yang tepat untuk melumpuhkannya. setelah itu, barulah aku coba mengobatinya."
"Kasihan dia"
Gumam Lim Ceng Im, menghela nafas.
sementara Lim Peng Hang telah memerintahkan beberapa anggota Kay Pang untuk mengubur mayat Ku Tek Cun yang hancur tidak karuan itu.
sesudah itu, mereka masuk ke markas dan duduk.
Tak henti-hentinya Bu Lim Ji Khie menarik nafas.
"Kalian berdua merasa kasihan pada Im sie Hong Mo?"
Tanya Tok Pie sin wan heran.
"Im sie Hong Mo memang pantas mati"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Kami menghela nafas karena merasa kasihan pada Yap In Nio."
"ooooh"
Tok Pie sin Wan manggut-manggut.
"omitohud"
Ucap Hul Khong Taysu.
"Im Sie Hong Mo telah dibasmi, kini dunia persilatan akan aman kembali."
"Benar,"
Sahut It Hian Tejin sambil memandang Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.
"Aku ingin bertanya, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"
"Aku sudah punya rencana,"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Kami berdua akan ke Tayli dulu, pulang dari sana melaksanakan rencana pernikahan kami...."
"Omitohud"
Hui Khong Tays u tersenyum lembut.
"Jangan lupa undang kami, pokoknya kami akan hadir."
"Terima kasih, Taysu,"
Ucap Tio Cie Hiong.
"ohya"
Sela It Hian Tejin.
"Kini im sie Hong Mo telah mati, kami pun tidak akan terus mengganggu di sini, kami mau mohon pamit"
"Hidung kerbau"
Sam Gan sin Kay tertawa.
"siapa yang bilang kalian mengganggu di sini?"
"Maaf, sin Kay"
It Hian Tejin menggeleng-gelengkan kepala.
"Omitohud Memang sudah waktunya kami mohon pamit"
Sambung Hui Khong Taysu sambil bangkit berdiri, begitu pula para ketua partai lain. Mereka memberi hormat, lalu meninggalkan markas pusat Kay Pang.
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gembira, kemudian memandang Tio Cie Hiong.
"Kenapa tidak segera melangsungkan pernikahan saja?"
"Karena kami telah berjanji pada Lam Kiong Bie Liong dan Toan wie Kic, bahwa kami akan mengunjungi mereka."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"oooh"
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Jadi kalian pun ingin mengundang mereka menghadiri pesta pernikahan kalian. Ya, kan?"
Tio Cie Hiong mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu...,"
Ujar Kim siauw suseng sambil tertawa.
"Aku masih harus makan tidur gratis di sini untuk menunggu mereka pulang."
"Aku pun begitu,"
Timpal Tok Pie sin wan.
"Lutung gila"
Kim siauw suseng melotot.
"Kenapa engkau ikut-ikutan?"
"sastrawan sialan"
Bentak Tok Pie sin wan.
"Tidak boleh, ya?"
"siapa bilang tidak boleh?"
Sahut Kim siauw suseng sambil tertawa.
"Engkau sudah terbiasa di sini, bagaimana mungkin kembali ke hutan dan bergantung dipohon lagi?"
"sastrawan sialan"
Tok Pie sin wan melotot.
"Engkau tidak pernah ditampar orang, ya?"
"ingin merasakannya,"
Sahut Kim siauw su-seng dan tertawa gelak.
"Baiklah,"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Terus terang, aku merasa senang sekali kalian masih bersedia tinggal di sini."
"Kapan kalian akan berangkat ke Tayli?"
Tanya Lim Peng Hang memandangi wajah Tio Cie Hiong.
"Besok pagi"
Jawab Tio cie Hiong.
"Mau menggunakan dua ekor kuda atau cukup seekor saja?"
Tanya Lim Peng Hang sungguhsungguh . Ketika Tio cie Hiong baru mau menjawab, sam Gan sin Kay sudah mendahuluinya menyahut.
"Tentu menggunakan seekor kuda, jadi mereka berdua bisa senggol-senggolan Iho"
"Kakek..."
Wajah Lim Ceng Im memerah.
"Konyol amat sih?"
"siapa yang konyol?"
Sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kakek bicara sesungguhnya."
"Pengemis bau"
Tegur Kim siauw suseng.
"Mereka berdua mau senggol-senggolan atau mau cubit-cubitan adalah urusan mereka berdua. Engkau sudah janganlah usil seperti itu... padahal engkau sudah berbau tanah dan api"
"Eh?"
Sam Gan sin Kay melotot.
"Kenapa engkau katakan tanah dan api? Katakan saja diriku berbau tanah"
"Pengemis bau"
Sahut Kim siauw suseng.
"Kalau matimu dikubur berarti berbau tanah, tapi kalau dibakar berarti berbau api"
"Benar juga"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"ohya"
Ujar Kim siauw suseng.
"setelah Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im melangsungkan pernikahan, aku akan meninggalkan markas miskin ini"
Sambung Tok Pie sin Wan.
"Dasar Lutung gila"
Kim siauw suseng.
"Ikut-ikutan terus"
Bab 47 Tayli Lo Ceng (Padri Tua Tayli) Tio cie Hiong dan Lim Ceng Im telah berangkat ke Tayli dengan seekor kuda jempolan.
Perjalanan yang sangat menyenangkan, mereka menuju ke Tayli dengan perasaan berbahagia.
sepanjang jalan mereka bercanda ria.
Dua minggu kemudian, mereka telah tiba di Tayli.
Betapa gembiranya Lam Kiong Bie Liong, Toan pit Lian, Toan wie Kic, Gouw sian Eng, serta Toan Hong Ya, dan permaisurinya, menyambut kedatangan mereka.
Toan Hong Ya langsung mengadakan perjamuan menyambut kedatangan kedua muda mudi itu.
suasana pun bertambah semarak.
Toan Hong Ya menghampiri Tio Cie Hiong.
"Jadi engkau telah berhasil menundukkan Im sie Hong Mo?"
Tanyanya.
"Ya"
Tio Cie Hiong mengangguk dan memberitahukan.
"Tapi beberapa bulan lalu, aku justru terluka berat oleh pedangnya. Kalau Pek Ih Hong Li tidak muncul saat itu, mungkin aku sudah mati."
"oh?"
Terbelalak Toan Hong Ya mendengarnya.
"Tapi bagaimana kejadiannya hingga kemudian engkau yang dapat menundukkannya?" ^ "Aku ke Thian san...,"
Tio Cie Hiong lalu menuturkan dengan singkat dan jelas.
"oooh"
Toan Hong Ya manggut-manggut.
"Kalau begitu, Ilmu Kan Kun Taylo cian hoat dan ilmu Kan Kun Taylo Kiam Hoat itu hebat sekali."
Tio Cie Hiong mengangguk.
lalu menjelaskan lagi.
Kan kun Taylo sin Kang bersifat membendung dan menggempur balik lweekang lawan, sedangkan ilmu pukulan dan ilmu pedang hanya menangkis serangan lawan.
Walau cuma menangkis, ilmu itu mampu menggempur balik seranganserangan lawan.
"Wuah"
Gumam Toan Hong Ya kagum.
"Bukan main itu Aku jadi ingin menyaksikannya"
Tio Cie Hiong menggeleng kepala.
"Tidak mungkin, Hong Ya."
"Kenapa?"
Tanya Toan Hong Ya, merasa heran.
"Sebab apabila aku bertarung lalu menangkis dengan Kan Kun Taylo Ciang Hoat atau Kiam Hoat, berarti harus mengerahkan Kan Kun Taylo sin Kang Jadi, sangat berbahaya bagi si penyerang."
"oooh"
Toan Hong Ya manggut-manggut.
"Apakah engkau yang membunuh Im sie Hong Mo itu?"
Tanya Lam Kiong Bie Liong menyerah.
"Tidak"
Tio cie Hiong menggeleng kepala.
"Walau dia telah membunuh Pek Sim seng Li, bibiku, tapi aku tetap melepaskannya."
"Apa?"
Gouw sian Eng terperanjat mendengar hal itu.
"Guru... guruku dibunuh Im sie Hong Mo?"
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Be-gitulah."
"Kalau begitu, kenapa kakak Hiong melepaskannya?"
Tanya Gouw sian Eng dengan air mata bercucuran.
"Aku tak pernah ingin membunuh orang,"juwab Tio cie Hiong menjelaskan.
"Aku tidak mau berbuat dosa, sebab siapa yang berbuat dosa, pasti akan mendapat ganjarannya atau suatu karma. Aku tidak menghendaki itu."
Toan Hong Ya dan permaisuri manggut-manggut mendengar itu, sedangkan Lam Kiong Bie Liong dan Toan Wie Kie saling memandang.
"Tapi...,"
Lanjut Tio cie Hiong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ketika lm sie Hong Mo sedang pergi dengan sempoyongan, tiba-tiba muncul Pek Ih Hong Li...."
"Lalu bagaimana?"
Tanya Gouw sian Eng, tampak penasaran sekali.
"Pek Ih Hong Li mencincangnya hingga tubuhnya hancur tidak karuan"
Jawab Tio Cie Hiong sambil menghela nafas.
"Ganjaran"
Gumam Lam Kiong Bie Liong.
"Itu ganjarannya, Adik Hiong. Engkau tidak membunuhnya, tapi orang lain yang melakukannya"
"Yaa... itu memang merupakan karmanya,"
Ujar Tio Cic Hiong.
"sebab dia pernah menodai Pek Ih Hong Li, maka Pek Ih Hong Li mencincangnya."
"Kalau begitu.."
Wajah Lam Kiong Bie Liong berseri.
"Rimba persilatan pasti akan aman, tenang dan damai."
"Para ketua tujuh partai juga telah pulang ke tempat masing-masing,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Syukurlah"
Ucap Toan wie Kie.
"ohya, saudara Tio, kapan engkau dan ceng Im akan melangsungkan pernikahan? "
"Setelah pulang nanti,"
Jawab Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Aku harap kalian hadir"
"Itu sudah pasti"
Sahut Toan wie Kie sambil tertawa.
"Eeeh?"
Tio Cie Hiong menengok ke sana ke mari.
"Aku tidak melihat Tui Hun Lojin, paman Gouw, dan Lam Kiong Hujin."
"Belasan hari lalu, ibuku dan Tui Hun Lojin serta Paman Gouw telah kembali ke Tionggoan. Kalian tidak bertemu mereka?"
Jawab Lam Kiong Bie Liong.
"Tidak"
Tio cie Hiong menggelengkan kepala.
"Mungkin mereka mengambil jalan lain,"
Tukas Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Maka kami tidak bertemu mereka"
"Ngmmm"
Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut. Mendadak seorang pengawal istana berlari tergopoh-gopoh ke dalam, ia memberi hormat dan melapor.
"Hong Ya Lo Ceng (Padri Tua) datang"
Toan Hong Ya terkejut girang.
"Mari kita sambut padri tua itu"
Toan Hong Ya dan permaisurinya bergegas melangkah ke luar. Yang lain mengikuti dari belakang.
"Mengherankan... kenapa mendadak padri tua itu kemari?"
Gumam Toan Wie Kie.
"Mungkin ada sesuatu yang penting."
Jawab Tio cie Hiong dengan suara rendah.
"Akupun berpikir begitu,"
Sambung Lam Kiong Bie Liong.
"Bukankah engkau pernah bilang, padri tua itu juga mahir meramal?"
"Ya"
Toan Wie Kie mengangguk.
"Mungkin beliau telah meramalkan sesuatu, hingga memerlukan datang ke istana...."
Begitu sampai di luar, mereka melihat seorang lelaki tua telah berdiri.Jenggotnya putih, memanjang sampai dada.
Wajahnya bersih dan berwibawa dengan kepala botak mengkilap.
Toan Hong Ya dan permaisuri langsung bersujud.
Yang lain pun ikut bersujud di hadapan Tayli Lo Ceng itu.
"Omitohud"
Ucap padri tua itu sambil tersenyum.
"Bangunlah kalian semua"
"Terima kasih, Lo Ceng,"
Ujar Toan Hong Ya lalu segera bangkit berdiri Begitu pula yang lain. Tayli Lo Ceng tertawa, kemudian menatap wajah Tio Cie Hiong sambil manggut-manggut.
"Bagus Bagus"
Tio Cie Hiong terheran-heran, kenapa Tayli Lo Ceng memandangnya sambil berkata begitu.
"Lo Ceng mari kita masuk"
Ujar Toan Hong Ya, mempersilahkan lelaki tua berjenggot "
Omitohud"
Tayli Lo Ceng manggut-manggut. Mereka semua menuju ke ruang dalam. setelah duduk, Tayli Lo Ceng tertawa sambil memandang lagi Tio Cie Hiong.
"Kakak Hiong,"
Bisik Lim Ceng Im.
"Kenapa padri tua itu terus memandangmu?"
"Entahlah"
Tio cie Hiong menggeleng kepala.
"Kedatangan Lo Ceng ke mari merupakan kehormatan bagiku,"
Ujar Toan Hong Ya penuh hormat.
"Apakah Lo Ceng ingin memberitahukan sesuatu yang penting?"
"omitohud"
Sahut Tayli Lo Ceng sambil tertawa.
"Tiada suatu yang penting. Aku datang hanya ingin bertemu pemuda itu"
Seketika juga Tio cie Hiong tersentak karena lelaki tua itu menunjuk dirinya.
"Terima kasih, Lo Ceng,"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Aku mohon petunjuk. Lo Ceng."
"Bagus Bagus"
Tayli Lo Ceng manggut-manggut.
"Engkau berbudi luhur. Di dalam hatimu terdapat Budha. Tapi engkau tidak berjodoh jadi rahib, sebab engkau ditakdirkan harus punya isteri dan anak. omitohud"
"Terima kasih atas petunjuk Lo Ceng,"
Ucap Tio Cie Hiong sambil menunduk hormat.
"Engkau berkepandaian tinggi, tapi selalu merendah. Kau memang seorang pendekar sejati, tidak heran dirimu memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap"
Ujar Tayli Lo Ceng, menatap Tio Cie Hiong.
"sejak berkecimpung di dalam rimba persilatan, hingga saat ini engkau tidak pernah membunuh orang, walau kedua orang tuamu, kakakmu dan bibimu dibunuh orang Itu pertanda engkau memiliki belas kasihan terhadap sesama. Hanya engkau yang dapat menyelamatkan rimba persilatan, ingatlah, apapun yang akan terjadi kelak, hadapilah dengan tabah dan tenang."
Tio cie Hiong mengangguk.
"Terima kasih, Lo Ceng"
"sekarang mari kita duduk di lantai"
Tayli Lo Ceng bangkit dari duduknya, lalu duduk di lantai. Tio cie Hiong segera duduk di lantai, begitu pula yang lain, termasuk Toan Hong Ya dan permaisurinya.
"Duduklah di hadapanku"
Ujar Tayli Lo Ceng pada Tio cie Hiong, karena pemuda itu duduk di sisinya. Tio cie Hiong segera bergeser duduk di hadapan Tayli Lo Ceng, sedangkan Lim Ceng lm duduk di sisi Tio cie Hiong.
"Ngmm"
Tayli Lo Ceng manggut-manggut, kemudian mengeluarkan selembar gambar, dan dipaparkan di lantai.
Memandang gambar itu kening Tio Cie Hiong langsung berkerut.
Tayli Lo Ceng tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Dibukanya kotak itu, ternyata berisi biji-biji tasbih.
"Mari kita main formasi"
Ujar Tayli Lo Ceng sambil menunjuk gambar yang memiliki banyak titik dan bergaris-garis itu.
"Lo ceng...,"
"Jangan merendah diri Aku tahu engkau mahir berbagai formasi,"
Ujar Tayli Lo Ceng sambil menaruh lima biji tasbih di atas gambar.
"Nah, kini giliranmu menaruh satu biji tasbih"
"Ya, Lo Ceng."
Tio cie Hiong mengangguk.
"Diambilnya satu biji tasbih dari dalam kotak, lalu ditaruh di tengah-tengah kelima biji tasbih yang lain.
"Bagus"
Tayli Lo Ceng tertawa. Padri tua itu menggeserkan dua biji tasbihnya, kemudian menambah tiga biji lagi. Tio Cie Hiong mengerutkan kening, memandang biji-biji tasbih di atas gambar itu.
"Lo Ceng sungguh mahir formasi Ngo Heng dan Pat Kwa,"
Ujar Tio Cie Hiong sambil menggeserkan biji tasbihnya ke arah kiri Lim Ceng Im yang menyaksikan itu mulai berkunang-kunang pada matanya.
Begitu pula Toan Hong Ya dan lainnya.
Mereka tahu, Tayli Lo Ceng sedang menyusun suatu formasi.
Dan tugas Tio Cie Hiong untuk memecahkan formasi tersebut.
"Engkau pun mahir sekali,"
Puji Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.
sesudah itu menambah lagi satu biji tasbih, jadi semuanya milik Lo Ceng berjumlah sembilan biji di atas gambar itu.
Tio cie Hiong berpikir sejenak, kemudian menggeserkan biji tasbihnya ke atas.
Cepat-cepat Tayli Lo Ceng menggeserkan dua biji tasbih ke atas pula.
Tio cie Hiong tersenyum, ia mengangkat biji tasbihnya, dan meletaknya ke kiri.
Kelika Tayli Lo Ceng hendak menggeser biji tasbihnya, mendadak Tio cie Hiong menggeserkan biji tasbih ke kanan.
Tayli Lo Ceng tampak berpikir keras, setelah itu menggeserkan tiga biji tasbihnya ke kanan.
Tio Cie Hiong tersenyum lagi.
Biji tasbihnya digeser ke bawah menerobos biji-biji tasbih Tayli Lo Ceng, akhirnya keluar dari gambar itu.
"Omitohud"
Ucap Tayli Lo Ceng sambil tertawa.
"Engkau memang hebat, mampu memecahkan formasi biji tasbihku. Ha ha ha..."
"Kalau Lo Ceng tidak mengalah, biji tasbihku itu pasti tidak keluar dari kepungan biji-biji tasbih Lo ceng"
"Aduuuh"
Jerit Lama Kiong Bie Liong dan Toan wie Kie serentak.
"Pusing sekali"
Ternyata mereka terlampau mencurahkan perhatiannya pada biji-biji tasbih yang dimainkan oleh kedua orang itu Hal itu tampaknya membuat mereka berdua jadi pusing.
Mereka sama memandang kagum kepada Tio Cie Hiong.
"Ha ha ha"TayliLo Ceng tertawa.
"Belum berhadapan langsung dengan formasi ini, kalian sudah pusing tujuh keliling"
Wajah Lam Kiong Bie Liong dan Toan wie Kie memerah, mereka merasa malu sekali. Jangan merasa malu"
Ujar Tayli Lo Ceng.
"Jarang ada kaum rimba persilatan yang mampu memecahkan formasiku ini."
"Lo Ceng, apakah Cie Hiong berhasil memecahkan formasi itu?"
Tanya Toan wie Kie.
"Justru dia telah memecahkan formasi ini,"
Sahut Tayli Lo Ceng sambil tertawa.
"Dia cerdas dan memang mahir berbagai macam formasi."
Toan Wie Kie manggut-manggut. sementara Tayli Lo Ceng menoleh ke arah Tio Cie Hiong.
"Pek Ih sin Hiap"
Tayli Lo Ceng menatap dalam-dalam.
"Aku ingin menguji Iwee kangmu, engkau tidak berkeberatan kan?"
"Lo ceng..."
"Jangan tolak"
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Kita sama-sama duduk bersila di lantai sambit mengerahkan Iwee kang. Badan siapa yang melambung ke atas lebih tinggi berarti unggul"
Tio Cie Hiong tampak menjadi serba salah. Namun Lo Ceng terus mendesaknya.
"Ha ha ha"TayliLo Ceng tertawa.
"Jangan merendah, aku tahu engkau memiliki Iwee kang yang sangat tinggi."
Tio Cie Hiong akhirnya mengangguk juga.
"Baiklah..."
Tio Cie Hiong dan Tayli Lo Ceng bergeser mundur, kemudian saling memandang sambil mengerahkan Iwee kang.
Beberapa saat kemudian, badan Tayli Lo Ceng mulai melambung ke atas, begitu pula badan Tio cie Hiong.
semua yang menyaksikan jadi terbelalak dengan mulut ternganga lebar.
Mereka tahu Iwee kang kedua orang itu sudah pada tingkat tinggi sekali.
Tubuh keduanya terus melambung, hingga menyentuh langit-langit di ruang itu.
Maka tidak tahu siapa yang lebih unggul.
setelah itu, keduanya sama melayang turun dan tetap dalam posisi bersilat.
"omitohud"
Tayli Lo Ceng manggut-manggut setelah duduk di lantai.
"Iwee kang mu sungguh tinggi."
Pujinya kepada Tio Cie Hiong.
"Lo Ceng yang unggul"
Sahut Tio Cie Hiong merendah. Tayli Lo Ceng tertawa.
"sekarang mari kita mengadu cukulan"
"Lo Ceng...,"
Tio Cie Hiong terkejut bukan main mendengar tantangan itu.
"Caranya gampang"
Tayli Lo Ceng memberitahukan.
"Aku akan mengibaskan lengan jubahku kc arahmu, engkau boleh menangkis dengan lengan bajumu"
"Tapi...,"
Tio Cie Hiong tampak ragu.
"Jangan ragu"
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Bersiap-siaplah"
Tayli Lo Ceng mulai mengerahkan Iweekang-nya. Begitu pula Tio Cie Hiong, ia mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kang dan Kan Kun Taylo sin Kang.
"Hati-hati"
Ujar Tayli Lo Ceng sambil mengibaskan lengan jubahnya ke arah Tio Cie Hiong.
Tio cie Hiong tak bergeming hal itu cukup mengejutkan Tayli Lo Ceng.
karena tidak menyangka Tio Cie Hiong diam saja.
Namun mendadak Tayli Lo Ceng tampak kaget, dan cepat-cepat menarik kembali Iwee kangnya.
"Omitohud"
Tayli Lo Ceng menatapnya dengan mata terbelalak.
"Ternyata engkau memiliki Kan Kun Taylo sin Kang, juga memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang pelindung diri Luar biasa sekali"
"Lo Ceng tahu tentang Kan Kun Taylo sin Kang?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Tahu"
Tayli Lo Ceng mengangguk.
"Kan Kun Taylo sin Kang dapat membendung dan sekaligus menggempur balik Iwee kang lawan, karena itu, aku segera menarik kembali Iweekangku tadi Kalau tidak, aku pasti celaka Ha ha ha"
"Lo Ceng terlalu merendah..."
Ujar Tio Cte Hiong sambil tersenyum.
"sungguh di luar dugaan, engkau berhasil memiliki ilmu peninggalan Bu Beng siansu. Dirimu memang berjodoh dengan siansu itu"
"Lo Ceng tahu tentang Bu seng siansu?"
Tio cie Hiong terkejut.
"Ha ha ha Aku pernah dengar dari guruku"
Ujar Tayli Lo Ceng sambil tertawa.
"Tiga ratus tahun silam, Tio sam Hong menciptakan Ilmu Pukulan Thai Kek (Taichi) yang membuat nama partai Butong melambung tinggi menyamai partai siauw Lim. Pada masa itu muncul pula BEngkauw. Ketua BEngkauw mempelajari Ilmu Kan Kun Taylo Ih. Akan tetapi, akhirnya malah menderita lumpuh karena tersesat oleh ilmu tersebut. sebetulnya Ilmu Kan Kun Taylo Ih itu berasal dari Persia. setelah itu memang berdatangan orang-orang Persia. Mereka membawa seng Hwee Leng (Tanda suci Agama). Ternyata BEngkauw juga berasal dari Persia. Jadi orang-orang Persia itu ingin mengambil alih kekuasaan BEngkauw diTionggoan. salah seorang Persia tidak setuju. secara diamdiam dia mencuri sebuah kitab, yaitu kitab Kan Kun Taylo Ih cin Keng, lalu kabur ke gunung Thian san. sejak itu tiada kabar beritanya lagi. Yang berhasil mempelajari ilmu Kan Kun Taylo Ih adalah Tio Kauwcu atau Tio Bu Ki..." (Bersambung ke Bagian 29)
Jilid 29
"Lo ceng kok tahu begitu jelas tentang itu?"
Tanya Tio cie Hiong merasa heran.
"Sebab guruku masih ada hubungannya dengan Tio Bu Kie,"
Jawab Tayli Lo ceng melanjutkan.
"Tiga ratus tahun silam, Biara Siauw Lim kehilangan beberapa buah kitab pusaka, yakni Kiu Yang cin Keng, Pan Yok Hian Thian cin Keng, Hian Bun Kui Goan Kang Khi cin Keng dan Hud Bun Pan Yok cin Keng. Guruku memperoleh kitab Hud Bun Pan Yok cin Keng. Sehingga aku pun memiliki Iwee kang Hud Bun Pan Yok Sin Kang."
"Oooh"
Tio cie Hiong manggut-manggut.
"Siapa yang memperoleh Kiu Yang cin Keng dan Hian Bun Kui Goan Kang Khi cin Keng?"
"Tio Bu Ki diperoleh Kui Yang cin Keng, maka memiliki Kiu Yang Sin Kang yang sangat dahsyat Tapi kitab Kiu Yang cin Keng itu entah disimpan di mana. Sedangkan Hian Bun Kui Goan Kang Khu Keng jatuh ke tangan seorang rahib sakti."
"Lo ceng, bagaimana kekuatan Hian Bun Kui Goan Kang Khi itu?"
Tanya Tio cie Hiong.
"Sebanding dengan Pan Yok Hian Thian Sin Kang dan Hun Bun Pan Yok sin Kang yang kumiliki."
Tayli Lo ceng memberitahukan.
"Tapi, hingga kini masih belum muncul ilmu Hian Bun Kui Goan Kang Khi itu Kalau orang jahat yang memiliki ilmu itu, tentu akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan. omitohud..."
"Jadi... Bu Beng siansu itu orang Persia?"
Tayli Lo ceng mengangguk dan tersenyum.
"Ketika aku mengibaskan lengan jubahku menyerang dengan Hud Bun Pan Yok sin Kang, aku merasa ada gempuran balik, sehingga aku tahu engkau memiliki Kan Kun Taylo sin Kang yang berasal dari Persia. Ilmu tersebut memang sangat istimewa, dapat membendung dan menggempur balik lweekang lawan. engkau memang beruntung berhasil mempelajari ilmu itu, sebab tidak gampang mempelajarinya. Itu pun karena engkau memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang, bahkan pernah juga makan buah Kiu Yap Ling ceh. Kalau tidak. engkau pasti tersesat oleh ilmu itu."
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Lo Ceng, mungkinkah ilmu Hian Bun Kui Goan Kang Khi dan Kiu Yang sin Kang akan muncul dalam rimba persilatan?"
Tanyanya kemudian.
"omitohud"
Sahut Tayli Cie Hiong.
"semua itu sudah merupakan takdir, walau aku mahir meramal, tapi juga tidak berani terlampau membuka tabir takdir."
"Bagaimana menurut Lo Ceng mengenai rimba persilatan Tionggoan? Apakah selanjutnya akan aman dan damai?"
"Kini Im sie Hong Mo telah mati, seharusnya rimba persilatan Tionggoan sudah aman, tenang dan damai. Akan tetapi, kejahatan tidak akan sirna dalam dunia...."
Tayli Lo Ceng menghela nafas, kemudian mengeluarkan sebuah kantong kain bersulam Naga dan Phonix. Diserahkannya pada Tio Cie Hiong seraya berpesan.
"ingat baik-baik Apa-bila engkau mengalami sesuatu yang membuatmu merasa duka sekali dan putus asa, bukalah kantong kain ini dan baca suara yang di dalamnya Janganlah engkau buka sebelum mengalami hal itu"
Tio Cie Hiong mengangguk sambil menerima kantong kain itu, sekaligus disimpannya ke dalam baju.
"Terima kasih, Lo Ceng"
"omitohud Ha ha ha"TayliLo Ceng tertawa.
"Kita memang ada persamaan. sejak aku menguasai kemampuan cukup, aku pun tidak pernah membunuh orang. Hanya aku ditakdirkan harus menjadi rahib, sedangkan engkau ditakdirkan harus punya istri dan anak. Kita berjodoh, maka aku datang ke mari menemui dirimu. Mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi"
Tayli Lo Ceng bangkit berdiri Tio Cie Hiong dan lainnya juga ikut berdiri Kemudian Tayli Lo Ceng berkata pada Toan Hong Ya.
"Kalau waktu itu Pek Ih sin Hiap tidak ke mari,. Toan Hong Ya hujin dan seisi istana ini pasti mati semua. secara tidak langsung pit Lian yang menyelamatkan kalian semua, maka dia punya suami yang baik Ha ha ha..."
Tayli Lo Ceng berjalan keluar.
semua mata yang melihat terbelalak heran dan takjub.
Kali ini kaki orang tua itu sama sekali tidak menyentuh lantai, pertanda ginkangnya sudah tinggi sekali.
Tio Cie Hiong kagum sekali.
Buru-buru ia pun mengerahkan ginkangnya berjalan seperti Tayli Lo Ceng.
"Ha ha ha"
Tayli Lo Ceng tertawa.
"Engkau memang hebat Ketika aku seusia mu, kepandaianku masih rendah..."
"Lo Ceng membuat aku merasa malu."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Hahaha"TayliLo Ceng tampak gembira sekali.
"setelah kita sampai di luar, mari kita mengadu ginkang"
"Baik"
Tio Cie Hiong mengangguk, ia tidak menolak karena ingin tahu bagaimana tingginya ginkang padri tua itu.
sampai di luar, Tayli Lo Ceng segera menghimpun lwekangnya.
seketika badannya melambung ke atas.
Tio Cie Hiong tersenyum, menyaksikannya.
segera dia menghimpun lwekangnya, maka badannya melesat ke atas.
"Bagus"
Ujar Tayli Lo Ceng sambil tertawa, lalu mengibaskan lengan jubahnya kc bawah, sehingga membuat badannya melambung ke alas lagi.
Tio Cie Hiong menarik nafas sambil berjungkir balik, seketika badannya melesat, ke atas menyusul Tayli Lo Ceng.
"Luar biasa"
Tayli Lo Ceng manggut-manggut lalu mengibaskan lengan jubahnya.
sambil melambungkan tubuhnya ke atas.
Tio cie Hiong berjungkir balik ke atas menyusulnya.
Maka saat itu keduanya berada pada belasan depa di atas tanah.
Bukan main kagumnya Toan Hong Ya dan lainnya menyaksikan kejadian itu Tanpa berkedip mereka memperhatikan kedua tokoh berilmu tinggi yang sedang mempertunjukkan kepandaian mereka masing-masing.
"Ha ha ha"Tayli Lo Ceng tertawa, kemudian mengibaskan lengan jubahnya. Kali ini badannya tidak melambung ke atas, melainkan melesat pergi sambil berseru.
"Pek Ih sin Hiap. kita akan berjumpa lagi kelak Thian Thay siansu adalah teman baikku..."
"Lo Ceng Lo Ceng..."
Panggil Tio cie Hiong, tak mengira orang tua itu akan pergi.
"sampaijumpa"
Sahut Tayli Lo Ceng.
Tak lama padri tua itu pun tak terlihat lagi.
sedangkan tubuh Tio Cie Hiong mulai melayang turun.
saat itu pula timbul sifat kekanakkanakannya.
la mengeluarkan suling kumalanya, lalu menarik nafas dalam-dalam agar tubuhnya yang begitu cepat melayang ke bawah.
setelah itu, ia pun mulai meniupnya.
Toan Hong Ya dan sang permaisuri memandang dengan mulut ternganga lebar.
Sebab saat itu, Tio Cie Hiong lebih mirip seorang Dewa yang tengah turun dari khayangan, ketimbang sebagai seorang pemuda berpakain putih.
"Bukan main..."
Seru Lam Kiong Bie Liong seraya menggeleng-geleng kagum.
"Kakak Hiong..."
Lim Ceng Im yang sangat kagum memandangnya dengan mata berbinar.
sesaat kemudian sepasang kaki Tio Cie Hiong menyentuh tanah.
Toan Hong Ya segera menghampirinya, lalu menepuk-nepuk bahunya sambil tertawa gembira.
"Ha ha ha Cie Hiong, engkau memang luar biasa"
Ujar Toan Hong Ya.
"Maaf, Hong Ya"
Tio Cie Hiong merasa malu.
"Aku... bukan bermaksud memamerkan kepandaian, melainkan..."
"Aku tahu Aku tahu..."
Toan Hong Ya tersenyum.
"Ketika engkau melayang turun, aku melihat jelas kepolosan dan sifat kekanak-kanakanmu, itu memang wajar."
"Aku...,"
Tio Cie Hiong menundukkan kepala.
"Ha ha"
Toan Hong Ya tertawa.
"Kalian mengobrollah di sini, kami ke dalam."
Toan Hong Ya dan permaisurinya berjalan masuk ke istana. sementara Lam Kiong Bie Liong terus menatap Tio Cie Hiong dengan mata tak berkedip.
"Eh, kakak Liong..."
Tio Cie Hiong tercengang karena Lam Kiong Bie Liong menatapnya dengan cara begitu.
"Kenapa...?"
"Adik Hiong, aku sedang berpikir...,"
"Pikirkan apa?"
"Kalau aku bisa memperoleh seperempat kepandaianmu, aku... aku sudah merasa puas sekali."
Tio Cie Hiong tersenyum mendengar apa yang dikatakan Lam Kiong Bie Liong.
Namun mendadak saja terdengar suara tawa terbahak-bahak.
Bersama dengan itu berkelebat sesosok tubuh melayang turun menuju tempat itu.
Baca Juga: Istana Pulau Es 12
Baca Juga: Dewi Ular 1