Ceritasilat Novel Online

Kesatria Baju Putih 8

Eps 8 Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.

Mereka melakukan perjalanan dengan santai, dalam perjalanan mereka berempat pun sering bersenda gurau dan bercanda ria, itu memang menambah keharmonisan juga memperdalam hubungan cinta kasih mereka.

"Kakak Kie"

Ujar Gouw sian Eng ketika mereka beristirahat di bawah sebuah pohon.

"Kita tidak berpamit pada Kakak Hiong."

"Kita sudah memberitahukan pada ayahmu, lagi pula Cie Hiong masih dalam masa pengobatan, maka tidak boleh diganggu,"

Sahut Toan wie Kie.

"Jadi tidak apa-apa kita tidak berpamit kepadanya."

"Kini...."

Lam Kiong Bie Liong menarik nafas dalam-dalam.

"KepandaianBu Lim sam Mo telah musnah, begitu pula Ku Tek Cun. Bahkan pemuda itu telah meloncat ke dalam jurang. Rasanya rimba persilatan telah aman. Tapi...."

"Kenapa Kakak Liong?"

Tanya Toan Pit Lian heran.

"Mungkinkah masih ada bencana lain dalam rimba persilatan?"

Sahut Lam Kiong Bie Liong.

"Kakak Lam Kiong, menurutku sudah tidak ada bencana lagi,"

Ujar Gouw sian Eng dan menambahkan.

"Nyali para penjahat telah ciut melihat kepandaian Kakak Hiong, begitu pula kaum golongan hitam."

"Ngmmm"

Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.

"Mudah-mudahan begitu"

Sementara Toan wie Kie diam saja, tapi keningnya tampak berkerut-kerut seakan sedang memikirkan sesuatu.

"Eh?"

Gouw sian Eng memandangnya heran.

"Kakak Kie, kenapa engkau? Apa yang sedang kaupikirkan?"

"Aku sedang memikirkan cie Hiong,"

Jawab Toan wie Kie sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Memangnya kenapa?"

Gouw sian Eng kebingungan.

"Dia terluka begitu parah, lagi pula isi perutnya membeku terkena pukulan pak Kek sin ciang. seandainya dia sembuh setahun kemudian, apakah akan mempengaruhi kepandaiannya?"

Sahut Toan wie Kie seakan bertanya.

"Dia mahir ilmu pengobatan, juga memiliki Iweekang yang begitu tinggi. Mungkin setelah sakitnya sembuh kelak. tentunya tidak akan mempengaruhi kepandaiannya,"

Ujar Gouw sian Eng.

"Apa yang dikatakan Adik Eng memang benar,"

Sela Toan pit Lian.

"Jadi tentang itu tidak perlu dicemaskan."

"Benar."

Toan wie Kie manggut-manggut.

"Ayoh, kita melanjutkan perjalanan"

Mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan menuju Tayli.

sepuluh hari kemudian, mereka telah memasuki daerah tersebut dan langsung menuju istana.

Betapa gembiranya Toan Hong Ya dan Sang Ratu.

Mereka menyambut Lam Kiong Bie Liong dengan penuh keramahan.

"Lam Kiong Bie Liong memberi hormat kepada Toan Hong Ya dan Hujin"

Ucap pemuda itu sambil mengunjuk hormat.

"Ha ha ha Kuterima hormatmu"

Toan Hong Ya tertawa gembira, karena sudah tahu putrinya menyukai Lam Kiong Bie Liong.

"Kalian duduklah"

Mereka berempat lalu duduk. Ternyata Toan Hong Ya dan Hujin men ambut mereka di aula dalam.

"Ayah"

Toan wie Kie memberitahukan.

"Telah terjadi pertarungan yang sangat dahsyat di rimba persilatan Tionggoan."

"Oh?"

Toan Hong Ya tertarik.

"Tuturkanlah tentang pertarungan dahsyat itu"

"Empat Dhalai Lhama Tibet dan Bu Lim sam Mo telah roboh di tangan seseorang, bahkan kepandaian mereka pun telah musnah."

Toan wie Kie memberitahukan lagi.

"Haah..."

Toan Hong Ya terkejut bukan main.

"siapa yang mampu merobohkan mereka?"

"Tio Cie Hiong,"

Jawab Toan wie Kie.

"oooh"

Toan Hong Ya manggut-manggut.

"Bukan main dia mampu merobohkan mereka Bagaimana kejadian itu?"

"Kami bertiga ditangkap Empat Dhalai Lhama, kemudian disekap di markas sam Mo Kauw ...,"

Tutur Toan wie Kie.

"Ngmm"

Toan Hong Ya menatap Lam Kiong Bie Liong sambil tersenyum "Jadi engkau yang menolong mereka bertiga?"

"Bukan menolong."

Jawab Lian Kiong Bie Liong jujur.

"Hanya membawa mereka pergi dari markas sam Mo Kauw, Toan Hong Ya."

"Terimakasih"

Ucap Toan Hong Ya, kemudian bertanya kepada Toan wie Kie.

"Bagaimana keadaan cie Hiong sekarang?"

"Masih dalam masa pengobatan, setahun kemudian dia akan sembuh."

Toan wie Kie memberitahukan.

"syukurlah"

Toan Hong Ya menarik nafas lega, lalu memandang Lam Kiong Bie Liong.

"Engkau berasal dari keluarga Lam Kiong yang sangat terkenal itu?"

"Ya, Hong Ya."

Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Setahuku, keluarga Lam Kiong di Tionggoan sangat terkenal akan senjata rahasianya. Apakah engkau mahir menggunakan senjata rahasia?"

Tanya Toan Hong Ya.

"Tidak begitu mahir,"

Jawab Lam Kiong Bie Liong merendah diri.

"ohya"

Toan Hong Ya memandangnya.

"Engkau mahir menggunakan senjata apa?"

"Pedang."

Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.

"Engkau mahir ilmu pedang apa?"

Tanya Toan Hong Ya tertarik, sebab raja Tayli itu memang gemar sekali akan ilmu silat.

"Thay Yang Kiam Hoat (Iimu Pedang surya)."

"Bagus, bagus"

Toan Hong Ya tertawa gembira.

"Kalian mengobrollah Aku mau beristirahat dulu."

Toan Hong Ya dan isterinya meninggalkan aula itu menuju ke kamar, sedangkan Toan wie Kie menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakak Kie...?"

Gouw sian Eng heran.

"Kenapa engkau menggeleng-gelengkan kepala?"

"Ayahku pasti akan menyuruh saudara Lam Kiong bertanding."

Toan wie Kie memberitahukan.

"saudara Toan"

Lam Kiong Bie Liong agak tersentak.

"Aku akan di suruh bertanding?"

"Ya."

Toan wie Kie mengangguk.

"Ayahku memang gemar sekali ilmu silat."

"Bertanding dengan siapa?"

Tanya Lam Kiong Bie Liong.

"Hian Teng Taysu,"

Jawab Toan pit Lian memberitahukan.

"Rahib itu Koksu di istana"

"oh?"

Lam Kiong Bie Liong mengerutkan kening.

"Adik Lian, haruskah aku bertanding dengan Hian Teng Taysu?"

"Memang harus.

"jawab Toan Pit Lian sungguh-sungguh.

"Bahkan... engkau pun tidak boleh kalah."

"Aku tahu."

Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.

"Kalau aku kalah, ayahmu pasti kecewa terhadapku, begitu pula engkau, bukan?"

"Ya."

Toan pit Lian mengangguk.

"Baiklah."

Lam Kiong Bie Liong tersenyum.

"Aku akan berusaha agar tidak kalah."

Pagi ini di aula depan istana Tayli tampak puluhan pengawal istana berbaris rapi di sisi kiri dan kanan.

Toan Hong Ya dan isterinya duduk di kursi kebesaran, sedangkan Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong duduk di sebelah kiri, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng duduk di sebelah kanan, Hian Teng Taysu berdiri di samping Toan Hong Ya.

"Lam Kiong Bie Liong"

Toan Hong Ya memandangnya sambil tersenyum.

"Ya, Hong Ya,"

Sahut pemuda itu sambil bangkit berdiri dan memberi hormat.

"Hari ini aku menyelenggarakan pertandingan persahabatan, yakni engkau harus bertanding dengan Hian Teng Taysu."

"Ya, Hong Ya."

Lam Klong Bie Liong mengangguk.

"Pertandingan ini menggunakan senjata."

Toan Hong Ya memberitahukan.

"Engkau menggunakan pedang, sedangkan Hian Teng Taysu menggunakan tasbih. Apakah engkau siap?"

"sudah siap. Hong Ya,"

Jawab Lam Kiong Bie Liong.

"Bagus, bagus"

Toan Hong Ya tertawa gembira dan menambahkan.

"Tapi cukup sepuluh jurus saja."

"Ya, Hong Ya."

Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Taysu"

Ujar Toan Hong Ya pada Koksunya. Kalian berdua bertanding cukup sepuluh jurus saja."

"Ya, Hong Ya."

Hian Teng Taysu manggut-manggut, lalu berjalan ke tengah-tengah aula.

Lam Kiong Bie Liong mengikutinya, kemudian mereka berdiri berhadapan di tengah-tengah aula.

Toan pit Lian memandang Lam Kiong Bie Liong dengan tegang, sebab apabila pemuda itu kalah, sudah barang tentu ia akan kehilangan muka.

Maka ia berharap Lam Kiong Bie Liong bisa bertahan sampai sepuluh jurus.

Kenapa Toan Hong Ya menyuruh mereka bertanding hanya sepuluh jurus?

Ternyata ia pun khawatir Lam Kiong Bie Liong akan kalah.

Kalau pemuda itu kalah, ia pun akan kehilangan muka karena pemuda itu boleh dikatakan sebagai calon menantunya.

"omitohud"

Ucap Hian Teng Taysu.

"Keluarga Lam Kiong sangat terkenal di Tionggoan, sungguh beruntung sekali kita bertemu di siniH "

Harap Taysu bermurah hati kepadaku"

Lam Kiong Bie Liong tersenyum sambil menghunus pedangnya.

"sama-sama,"

Ujar Hian Teng Taysu. Rahib itu pun mengambil tasbihnya yang bergantung di lehernya.

"Engkau sudah siap?"

"sudah."

Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Hati-hati"

Hian Teng Taysu menatapnya, kemudian berseru.

"Jurus pertama"

Hian Teng Taysu mulai menyerang Lam Kiong Bie Liong.

Pemuda itu segera berkelit maka terjadilah pertandingan yang sangat mendebarkan hati.

Yang paling tegang yakni Toan pit Lian.

Hal itu tidak terlepas dari mata Gouw sian Eng yang duduk di sisinya.

"Kakak Lian"

Bisiknya.

"Jangan tegang dan cemas Kelihatannya Kakak Lam Kiong masih bisa bertahan sampai sepuluh jurus tidak akan mengalami kekalahan, percayalah"

"Mudah-mudahan,"

Ucap Toan pit Lian tidak begitu yakin.

sementara pertandingan itu berlangsung semakin seru, ternyata mereka bertanding sudah sampai pada jurus ketujuh.

Pada jurus kedelapan, Hian Teng Taysu menyerang Lam Kiong Bie Liong dengan jurus Cit Coan Hok Yauw (Tujuh Putaran Menundukkan siluman).

Tasbih di tangan Hian Teng Taysu berputarputar cepat sehingga menimbulkan suara menderu-deru mengarah kepada pemuda itu.

Bu-kan main terkejutnya Lam Kiong Bie Liong menyaksikan serangan Koksu itu.

Lam Kiong Bie Liong tidak bisa berkelit lagi, maka terpaksa mengeluarkan Thay Yang Kiam Hoat, menggunakan jurus Jit Cut Tang Hong (surya Terbit Di ufuk Timur) untuk menangkis.

Mendadak pedang di tangan Lam Kiong Bie Liong memancarkan cahaya terang, dan berkelebat menangkis tasbih itu.

Trang Terdengar suara benturan, dan masing-masing terpental ke belakang tiga langkah.

Hian Teng Taysu menatap tajam Lam Kiong Bie Liong, namun terkejut dalam hati karena tidak menyangka kalau pemuda itu memiliki ilmu pedang yang begitu lihay dan dahsyat.

"Jurus kesembilan,"

Serunya sambil menyerang.

Kali ini Hian Teng Taysu mengeluarkan jurus andalannya soh Yun cai Coat (Menyapu Awan Memetik Bulan).

Tasbihnya berkelebatan mengarah kepala Lam Kiong Bie Liong.

Toan pit Lian menyaksikan pertandingan itu dengan hati berdebar-debar, bahkan menahan nafas.

Begitu pula Toan wie Kie dan Gouw sian Eng, mereka berdua pun berharap Lam Kiong Bie Liong mampu bertahan sampai jurus kesepuluh.

Ketika Hian Teng Taysu menyerang, Lam Kiong Bie Liong tidak berkelit, melainkan menangkis dengan jurus Jit Liak soh Te (Terik surya Membakar Bumi).

Pedang di tangan Lam Kiong Bie Liong memancarkan cahaya seperti cahaya surya, berkelebatan menangkis tasbih Hian Teng Taysu, maka Hian Teng Taysu bergerak cepat menarik tasbihnya.

"Jurus kesepuluh"

Serunya kemudian.

Tiba-tiba badan Hian Teng Taysu berputar-putar mengitari Lam Kiong Bie Liong, dan tasbih di tangannya juga ikut berputar, makin lama makin cepat, sekonyong-konyong dilepas-kannya .

sungguh luar biasa, tasbih itu terus berputar cepat mengarah ke kepala Lam Kiong Bie Liong.

Pada waktu bersamaan, Lam Kiong Bie Liong bersiul panjang, dan mendadak pedangnya berputar-putar memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.

itulah iurus Yang Kuang Poh Cioh (surya Memancarkan cahaya).

Mendadak Lam Kiong Bie Liong pun melepaskan pedangnya, sehingga dalam keadaan berputar pedang itu masuk ke tasbih si Koksu.

Kreeeeek Kreeeeek Terdengar suara benturan biji tasbih dengan pedang.

Ternyata tasbih dan pedang masih terus berputar, akhirnya menancap di langit-langit aula.

Tasbih itu merosok ke bawah, tapi disambut oleh Hian Teng Taysu.

sedangkan Lam Kiong Bie Liong melesat ke atas mengambil pedangnya.

"Terimakasih atas kemurahan hati Taysu"

Ucap Lam Kiong Bie Liong setelah turun.

"omitohud"

Hian Teng Taysu manggut-mang-gut.

"Ilmu pedang keluarga Lam Kiong memang hebat dan lihay"

"Tapi kalau dilanjutkan, aku pasti kalah,"

Ujar Lam Kiong Bie Liong merendah.

"Ha ha ha"

Hian Teng Taysu tertawa gembira.

"Bagus, bagus"

Lam Kiong Bie Liong tersenyum sambil memandang Toan Pit Lian.

Putri Tayli itu pun tersenyum mesra kepadanya dan tampak gembira sekali.

Ketika hari mulai menjelang senja, Toan Wic Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian sedang duduk santai di halaman istana sambil bercakap-cakap.

tiba-tiba terdengar suara tawa yang riang gembira.

"saudara Lam Kiong, aku tidak menyangka ilmu pedangmu begitu lihay,"

Ujar Toan Wie Kie kagum.

"Terus terang, kalau aku tidak mengeluarkan Thay Yang Kiam Hoat, a ku pasti tidak sanggup bertahan sampai sepuluh jurus."

Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.

"Bagaimana kalau pertandingan tadi berlanjut?"

Tangan Toan Pit Lian mendadak sambil tersenyum.

"Tentu sama-sama akan mengalami luka parah,"

Sahut Lam Kiong Bie Liong jujur.

"Jadi untung kami hanya bertanding sepuluh jurus."

"oh ya"

Sela Gouw sian Eng.

"Kakak Hiong juga pernah bertanding dengan Hian Teng Taysu."

"Tidak perlu dijelaskan, tentunya Adik Hiong yang menang,"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Benar. Tapi...."

Gouw. sian Eng tersenyum.

"Ketika Hian Teng Taysu terpental, Kakak Hiong pura-pura terhuyung-huyung ke belakang."

"Jelasnya Adik Hiong menjaga muka Koksu."

Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.

"Adik Hiong memang berjiwa besar...."

Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak-bahak dan suara tawa nyaring. Begitu mendengar suara tawa itu, wajah Toan pit Lian dan Toan wie Kie langsung berseri.

"Guru Guru..."

Seru mereka serentak. Tampak dua sosok bayangan melesat ke arah mereka. Dua sosok bayangan ternyata sin san Lojin dan Ang Kin siang Li.

"Guru...."

Toan pit Lian segera mendekatinya dan memberi hormat.

"Muridku...."

Ang Kin sian Li memandangnya sambil tersenyum lembut, kemudian menatap Lam Kiong Bie Liong dengan penuh perhatian.

"cianpwee"

Panggil Lam Kiong Bie Liong dan memberi hormat kepada mereka.

"Ngmm"

Ang Kin sian Li manggut-manggut.

"Apakah engkau Lam Kiong Bie Liong?"

"Betul, Cianpwee,"

Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Bagus, bagus,"

Ang Kin sian Li tersenyum.

"Engkau mampu menahan sepuluh jurus serangan Hian Teng Taysu, pertanda engkau berkepandaian tinggi...."

"Guru,"

Toan pit Lian mengerutkan kening, karena tahu akan maksud gurunya itu "Sudahlah...."

"Apa yang sudahlah?"

Tanya Ang Kin sian Li sambil memandang Toan Pit Lian.

"Guru bermaksud bertanding dengan Kakak Liong, kan?"

Toan pit Lian balik bertanya.

"Betul."

Ang Kin sian Li tersenyum.

"ibunya telah mengujimu tiga jurus, kenapa aku tidak boleh mengujinya tiga jurus juga?"

"Cianpwee...."

Lam Kiong Bie Liong menghela nafas.

"Siapa yang mau menjadi menantu keluarga Lam Kiong maka harus diuji kepandaiannya. Nah, siapa yang ingin menjadi suami muridku, juga harus kuuji tiga jurus."

Ang Kin sian Li tertawa.

"Itu baru adil, bukan?"

"Guru...."

Toan pit Lian cemberut.

sementara sin san Lojin juga sedang berbicara dengan Toan wie Kie, muridnya.

Ternyata mereka sedang berbicara mengenai Tio Cie Hiong.

Karena itu, Toan wie Kie menutur sejelasjelasnya.

"Bukan main pemuda itu,"

Sinsan Lojin menghela nafas.

"ohya, bagaimana lukanya?"

"setahun kemudian baru bisa sembuh."

Toan wie Kie memberitahukan.

"untung dia memiliki Iweekang yang tinggi dan pernah makan buah Kiu Yap Ling Che. Kalau tidak. dia pasti telah mati beku."

"Kini tentunya rimba persilatan Tionggoan sudah aman, dan memang baik sekali, jadi tidak ada pertumpahan darah lagi,"

Ujar sin san Lojin dan bersyukur dalam hati, lalu memandang Ang Kin sian Li.

"Eeeh? Kelihatannya mereka ingin bertanding"

"Guru, lebih baik cegah mereka"

Ujar Toan wie Kie.

"Bagaimana mungkin?"

Sin san Lojin menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau tahukan sifat Ang Kin sian Li?"

Sementara Ang Kin sian Li terus mendesak Lam Kiong Bie Liong, a^ar bertanding dengannya.

"Cianpwee...."

Lam Kiong Bie Liong serba salah.

"Kita bertanding tiga jurus saja. Ini peraturan."

Tegas Ang Kin sian Li.

"seperti peraturan yang berlaku di kelurga Lam Kiong."

"Guru"

Sela Toan pit Lian.

"setahuku, tidak ada peraturan itu...."

"Baru berlaku sekarang,"

Sahut Ang Kin sian Li sambil tertawa nyaring.

"Nah, Lam Kiong Bie Liong Mari kita bertanding tiga jurus"

"Baiklah, Cianpwee."

Lam Kiong Bie Liong terpaksa mengabulkan, sebab kalau tidak pasti akan menyinggung perasaan Ang Kin sian Li.

"Bagus"

Ang Kin sian Li tertawa gembira.

"Engkau sudah siap?"

"Ya."

Lam Kiong Bie Liong menghunus gedangnya.

"Hati-hati,"

Seru Ang Kin sian Li.

"jurus pertama"

Ang Kin sian Li menggerakkan selendangnya, dan seketika selendangnya meluncur cepat bagaikan gelombang menyerang Lam Kiong Bie Liong.

itulah jurus Giok Li san Hoa (Gadis Cantik Menabur Bunga) .

Lam Kiong Bie Liong terpaksa meloncat ke belakang, namun ujung selendang itu tetap mengejarnya.

oleh karena itu, ia terpaksa menangkis dengan jurus Jit Lia sauh Te (Terik surya Membakar Bumi), yakni salah satu jurus dari Ilmu Pedang surya.

Ang Kin sian Li terperanjat menyaksikan ilmu pedang itu la cepat-cepat menarik selendangnya sekaligus menyerang dengan jurus Yun Tiong cai Hong (Pelangi Dalam Awan).

Lam Kiong Bie Liong tidak berkelit, melainkan menangkis, dengan mengeluarkan jurus Jit Cut Tang Hong (surya Terbit Di Ufuk Timur).

"Bagus"

Seru Ang Kin sian Li memujinya.

"Hati-hati, ini jurus ketiga"

Ang Kin sian Li mengeluarkan jurus yang paling lihay, yaitu Pek Yun Kai Thian (Awan Putih Menutupi Langit).

Tampak selendangnya berputar-putar bagaikan angin puyuh menyerang Lam Kiong Bie Liong.

Bukan main terkejutnya Lam Kiong Bie Liong.

la bersiul panjang sekaligus menangkis dengan jurus Yang Kuang Poh Cioh (surya Memancarkan cahaya).

Pedang Lam Kiong Bie Liong juga berputar-putar dan memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.

selendang terus berputar lalu melilit pedang di tangan Lam Kiong Bie Liong, tetapi pedang itu masih terus berputar juga.

Ketika selendang melilit pedang itu, terciptalah pemandangan yang sangat indah.

sebab selendang Ang Kin sian Li berwarna merah muda, sedangkan gedang Lam Kiong Bie Liong memancarkan cahaya putih dan terus berputar dalam lilitan selendang, maka cahaya yang terpancar ke luar berubah menjadi kemerah-merahan.

sesaat kemudian, selendang dan pedang itu berhenti berputar.

Ang Kin sian Li menarik selendangnya, dan Lam Kiong Bie Liong pun menyarungkan pedangnya.

"Kepandaian cianpwee sungguh tinggi"

Ucap Lam Kiong Ble Liong sambil tersenyum.

"Kepandaianmu juga tinggi sekali"

Ang Kin sian Li tertawa gembira.

"Kalau selendangku tidak tahan bacok. mungkin sudah putus oleh pedangmu."

"Kalau cianpwee tidak mengendurkan lilitan, pedangku pasti sudah berpindah ke tangan Cianpwee,"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Bagus, bagus"

Ang Kin sian Li tertawa lagi.

"Engkau sangat sopan dan mau merendahkan diri Engkau memang pantas menjadi suami muridku."

"Guru...."

Wajah Toan pit Lian memerah.

"Kok terus menggodaku sih?"

"Lho?"

Ang Kin sian Li terbelalak.

"Aku bicara sesungguhnya, kenapa engkau malah bilang aku menggodamu?"

"Ha ha ha"

Sin san Lojin tertawa gelak.

"Murid kita sama-sama sudah mendapat jodoh, maka kita boleh berlega hati."

"Ayoh, kita ke dalam bercakap-cakap dengan Hong Ya"

Ajak Ang Kin sian Li.

"Baik,"

Sin san Lojin mengangguk. mereka berdua berjalan ke dalam istana. Toan wie Kie dan adiknya menggeleng-gelengkan kemala, sedangkan Lam Kiong Bie Liong menarik nafas.

"Adik Lian, kelandaian gurumu sungguh tinggi,"

Ujar Lam Kiong Bie Liong dan menambahkan.

"Kalau gurumu tidak mengendurkan lilitan selendangnya, sudah pasti pedangku akan terlepas."

"Kakak Liong"

Toan pit Lian tersenyum dan memberitahukan.

"sebetulnya engkau tidak kalah dengan guruku. Ketika Cie Hiong berada di sini, guruku pernah mempertunjukkan ilmu selendangnya. Tetapi begitu Cie Hiong meniup sulingnya mengiringi gerakan-gerakan guruku, sin san Lojin pun ikut bergerak. Nah, secara tidak langsung cie Hiong telah memberi petunjuk kepada mereka."

"Benar."

Sambung Toan wie Kie.

"Akupun menyaksikannya. Bahkan setelah itu, guruku dan guru adikku saling berpelukan."

"oooh"

Lam Kiong Bie Liong tertawa.

"Kalau begitu, setelah Adik Hiong sembuh nanti, aku pun ingin minta petunjuk kepadanya."

Bab 36 Thian Gwa sin Mo (Iblis sakti Luar Langit) Bagaimana nasib Bu Lim sam Mo setelah kepandaian mereka dimusnahkan Tio Cie Hiong, dan ke mana mereka bertiga?

Ternyata Tang Hai Lo Mo mengajak Thian Mo dan Te Mo ke istananya yang ada di sebuah pulau di Tang Hai (Laut Timur).

Belasan hari kemudian, mereka sudah sampai di istana itu.

Puluhan anak buah Tang Hai Lo Mo menyambut dengan hormat, tapi Tang Hai Lo Mo cuma manggut-manggut sambil berjalan ke dalam.

Thian Mo dan Te Mo mengikuti dari belakang.

setelah sampai di aula dalam, Tang Hai Lo Mo menarik nafas panjang.

"Aaakh..."

La menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak sangka nasib kita bertiga akan begini"

"Tio cie Hiong yang menyebabkan semua ini,"

Sahut Thian Mo "Kalau tidak ada dia, kita pasti sudah menguasai rimba persilatan,"

Sambung Te Mo.

"Aaaakh Kini apa yang harus kita perbuat lagi?"

"Paling juga melewati sisa hidup kita di sini,"

Ujar Thian Mo sambil menghela nafas.

"Belasan tahun lalu, kita berhasil memperoleh Kotak Pusaka, bahkan kemudian juga berhasil mempelajari ilmu silat peninggalan Pak Kek siang ong. Akan tetapi, justru muncul Tio Cie Hiong...."

Tang Hai Lo Mo menggeleng-gelengkan kemala.

"Aku masih merasa heran, sebetulnya Iweekang apa yang dimilikinya dan kenapa Pak Kek sin kang tak bisa membuatnya mati beku?"

Thian Mo mengerutkan kening.

"Tapi...,"

Ujar Te Mo setelah berpikir sejenak.

"Dia pun terkena pukulan kita, kemungkinan besar kepandaiannya pun akan musnah."

"Belum tentu."

Tang Hai Lo Mo menggelengkan kepala.

"sebab lweekangnya mengandung hawa hangat, yang akan melindungi jantung dan semua urat penting dalam tubuhnya. Karena itu, dia tidak akan mati dan kepandaiannya juga tidak akan musnah."

"Hm"

Dengus Thian Mo.

"Terus terang, aku dendam sekali kepadanya."

"Percuma."

Te Mo menggelengkan kepala.

"Kita sudah begini, bagaimana mungkin bisa menuntut balas?"

"Belasan tahun lalu, ketika aku ingin bergabung dengan kalian untuk merebut Kotak Pusaka itu, paman guruku telah mencegahnya, bahkan menasehatiku agar mengundurkan diri dari rimba persilatan."

"Apa?"

Thian Mo dan Te Mo terbelalak.

"Engkau masih punya paman guru?"

"Ya."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Apakah paman gurumu masih hidup?"

Tanya Thian Mo "Masih."

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Paman guruku terus bertapa di dalam goa, sama sekali tidak pernah meninggalkan goa itu."

"Kalau begitu..."

Te Mo memandang Tang Hai Lo Mo seraya bertanya.

"Berapa usia Paman gurumu sekarang?"

"Mungkin sudah seratus dua puluh tahun,"

Jawab Tang Hai Lo Mo.

"Haaah..."

Thian Mo dan Te Mo terperangah.

"siapa sebetulnya paman gurumu itu?"

"Thian Gwa sin Mo (iblis sakti Luar Langit)."

"Apa?"

Thian Mo dan Te Mo saling memandang seakan tidak percaya.

"Tujuh puluh tahun lampau, Thian Gwa sin Mo dikabarkan telah mati. Tapi kenapa...."

"Tujuh puluh tahun lampau, paman guruku pulang ke mari."

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"sejak itu beliau bertapa di dalam goa dan tidak pernah keluar. Maka kaum rimba persilatan mengiranya telah mati."

"oooh"

Thian Mo manggut-manggut.

"Kalau begitu, kepandaian paman gurumu itu pasti sudah mencapai kesempurnaan."

"Benar."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Bagaimana kalau kita mohon bantuan kepadanya?"

Tanya Te Mo mendadak.

"Bantuan apa?"

Tang Hai Lo Mo balik bertanya.

"Memulihkan kepandaian kita,"

Jawab TeMo dan melanjutkan.

"Aku yakin paman gurumu pasti mampu memulihkan kepandaian kita."

"Menurut aku pun begitu, tapi...."

Tang Hai Lo Mo menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa?"

Tanya Thian Mo.

"Tidak mungkin paman guruku bersedia membantu kita tentang itu"

Tang Hai Lo Mo menggeleng-gelengkan kepala lagi.

"sebab belasan tahun lampau, beliau telah menasehatiku agar mengundurkan diri dari rimba persilatan, namun aku tidak menurut. Kini bagaimana mungkin beliau akan memulihkan kepandaian kita?"

"Aaaakh..."

Te Mo menarik nafas panjang.

"Aku punya akal...,"

Ujar Thian Mo dengan wajah berseri.

"Apa akalmu itu?"

Tanya Tang Hai Lo Mo tertarik.

"Begini...,"

Thian Mo berbisik-bisik. Tampak Tang Hai Lo Mo dan Te Mo manggut-manggut dengan wajah berseri.

"Benar."

Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Memang harus begitu. sekarang mari kita ke goa itu menemui paman guruku"

Goa yang dimaksud itu cukup terang.

Tampak beberapa buah lampu minyak bergantung di dinding Goa itu.

seorang tua renta duduk bersila di tengah-tengah goa.

Rambutnya yang panjang menyentuh tanah telah putih semua, begitu pula jenggotnya.

Di depan goa itu tampak Bu Lim sam Mo sedang berlutut.

Walau sudah berjam-jam berlutut di situ, tapi mereka sama sekali tidak berani bersuara.

"Mau apa kalian bertiga berlutut di situ?"

Mendadak terdengar suara bergema ke luar.

"Paman guru..."

Sahut Tang Hai Lo Mo.

"Kalian masuklah"

"Terima kasih, Paman guru,"

Sahut Tang Hai Lo Mo. Mereka bertiga bangkit berdiri, lalu berjalan memasuki goa. sampai di dalam mereka bertiga lalu berlutut di hadapan Thian Gwa sin Mo.

"Kalian duduklah"

Ujar Thian Gwa sin Mo.

"Ya, Paman guru,"

Sahut Tang Hai Lo Mo hormat. Mereka bertiga lalu duduk bersila di hadapan orang tua renta itu.

"Kalian bertiga"

Thian Gwa sin Mo menggeleng-gelengkan kepala.

"Kepandaian kalian telah musnah, bukan?"

"Ya, Paman guru,"

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Itu karena kalian masih berambisi dalam rimba persilatan."

Thian Gwa sin Mo menghela nafas.

"setelah begini, kalian bertiga baru mau bertobat. Memang masih belum terlambat, maka alangkah baiknya kalian bertiga ikut aku bersemadi di dalam goa ini saja."

"Ya, Paman guru,"

Ujar Tang Hai Lo Mo sungguh-sungguh.

"setelah mengalami kejadian itu, kami pun menyesal sekali. Kami memang berniat untuk bertobat."

"Bagus, bagus usia kalian sudah delapan puluh lebih, maka harus hidup tenang di dalam goa ini."

Thian Gwa sin Mo tersenyum.

"ohya, siapa yang memusnahkan kepandaian kalian?"

"Pek Ih sin Hiap Tio Cie Hiong"

Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Kalian bertiga harus berterima kasih kepadanya,"

Ujar Thian Gwa sin Mo.

"Sebab dia masih mengampuni nyawa kalian?"

"Betul, Paman guru."

Tang Hai Lo Mo mang-gut-manggut dan menambahkan.

"oleh karena itu, kami bertiga datang ke mari untuk bertobat."

"Ngmm"

Thian Gwa sin Mo tersenyum.

"Memang kebetulan sekali, karena...."

"Kenapa, Paman guru?"

Tanya Tang Hai Lo Mo heran.

"Karena...,"

Thian Gwa sin Mo tersenyum lagi.

"Beberapa bulan lagi aku akan meninggalkan dunia fana ini."

"Paman guru...."

Tang Hai Lo Mo tertegun.

"Itu merupakan kebahagiaan bagiku. sudah sekian lama aku menunggu, akhirnya tiba juga saatsaat yang membahagiakan itu,"

Ujar Thian Gwa sin Mo dan melanjutkan.

"Tujuh puluh tahun lampau, sebelum bertemu seorang padri tua, aku merupakan iblis yang sering membunuh. setelah bertemu padri tua itu dan dia memberiku wejangan, maka tersadarlah aku dari segala kesalahan. sejak itulah aku bertapa di goa ini untuk menebus dosaku, dan beberapa bulan lagi dosaku telah tertebus. Karena itu, sudah waktunya aku meninggalkan dunia fana ini."

"Paman guru...."

Tang Hai Lo Mo ingin mengatakan sesuatu, namun dibatalkannya.

"Kalian bertiga harus bersungguh-sungguh bertobat. Kalau tidak, kalian bertiga akan mengalami ajal yang mengenaskan,"

Pesan Thian Gwa sin Mo.

"Ya, Paman guru."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Ya, Cianpwee."

Thian Mo dan Te Mo mengangguk.

"Nah, mulailah kalian bersemadi"

Ujar Thian Gwa sin Mo sambil tersenyum dengan penuh belas kasih.

Bu Lim sam Mo segera memejamkan mata, kemudian mulailah mereka bersemadi.

Namun mereka bertiga tidak mengosongkan pikiran, melainkan terus berpikir harus bagaimana bermohon kepada Thian Gwa sin Mo, agar bersedia membantu memulihkan kepandaian mereka.

Tiga bulan kemudian, di saat Bu Lim sam Mo sedang bersemadi dengan mata terpejam, mendadak Thian Gwa sin Mo memandang mereka sambil tersenyum.

"Kalian bertiga dengar baik-baik"

Ujarnya lembut.

"Kini sudah saatnya aku meninggalkan dunia fana ini."

"Paman guru...."

Tang Hai Lo Mo segera membuka matanya, begitu pula Thian Mo dan Te MO.

"Selama tiga bulan ini, aku telah melihat kalian bertiga bersungguh-sungguh bertobat, itu sangat menggembirakan."

Thian Gwa sin Mo tersenyum lagi.

"Hanya saja kondisi badan kalian sangat lemah, karena kepandaian kalian telah musnah."

"Betul, Paman guru."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Entah harus dengan cara bagaimana agar kepandaian kami bisa pulih seperti sedia kala."

"Karena kalian bertiga bersungguh-sungguh bertobat, maka sebelum aku meninggalkan dunia fana ini, aku akan membantu kalian."

"Terimakasih, Paman guru"

Ucap Tang Hai Lo Mo.

"Terimakasih, Cianpwee"

Ucap Thian Mo dan Te Mo serentak.

"Akan tetapi...."

Thian Gwa sin Mo memandang mereka.

"Apabila kalian meninggalkan goa ini untuk melakukan kejahatan di rimba persilatan, kalian bertiga pasti akan mengalami kematian yang mengenaskan. Camkanlah baik-baik kata-kataku ini"

"Ya."

Bu Lim sam Mo mengangguk.

"Tujuh puluh tahun lampau, padri tua itu juga memberiku sebuah kitab."

Thian Gwa sin Mo memberitahukan.

"Kitab itu kusimpan di dalam sebuah kotak di sudut kiri, kuberikan pada kalian."

"Terimakasih, Paman guru"

Ucap Tang Hai Lo Mo girang.

"Karena waktuku sudah tidak banyak lagi, maka setelah aku meninggalkan dunia fana ini, kalian bertiga boleh mempelajari kitab itu,"

Ujar Thian Gwa sin Mo dan menambahkan.

"Kitab itu kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi (Ilmu Menghimpun Dan Menyatukan Hawa Murni). setelah kalian mempelajari ilmu itu, urat kalian yang putus itu akan menyambung kembali, bahkan lwekang kalian akan bertambah tinggi."

"oh?"

Bukan main girangnya sam Mo itu.

"Akan tetapi, kalian bertiga harus ingat"

Pesan Thian Gwa sin Mo lagi.

"Janganlah kalian meninggalkan goa ini untuk melakukan kejahatan. Apabila kalian tidak mematuhi pesanku ini, kelak kalian bertiga pasti akan mengalami kematian yang mengenaskan."

"Kami pasti mematuhi pesan Paman guru,"

Ujar sam Mo.

"Bagus, bagus"

Thian Gwa sin Mo tersenyum.

"Kalian bertiga berlututlah sudah saatnya aku pergi menghadap Yang Mulia sang Budha."

Sam Mo berlutut. Thian Gwa sin Mo memejamkan matanya, dan wajahnya tampak bahagia, namun nafasnya makin perlahan dan lemah, akhirnya tidak bernafas lagi.

"Paman guru Paman guru...."

Panggil Tang Hai Lo Mo. Thian Gwa sin Mo diam. Ternyata nafasnya memang sudah berhenti. sam Mo saling memandang, kemudian Thian Mo bertanya.

"Benarkah Paman gurumu telah meninggal?"

"Benar."

Tang Hai Lo Mo mengangguk.

"Kalau begitu.."

Ujar Thian Mo.

"Mari kita kubur jasadnya. Apakah boleh?"

"Tentu saja boleh,"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

Mereka bertiga lalu mengubur jasad Thian Gwa sin Mo di dalam goa.

setelah itu, Tang Hai Lo Mo mengambil kotak yang di sudut, lalu dibukanya dengan hati-hati sekali.

Tidak salah, di dalam kotak itu terdapat sebuah kitab, yakni kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi.

Betapa girangnya Bu Lim sam Mo.

Mereka saling memandang sejenak.

lalu tertawa gelak.

"Ini sungguh tak disangka"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Kita malah memperoleh kitab pusaka"

"setelah kepandaian kita pulih, sudah barang tentu Iweekang kita pun bertambah tinggi. Pada waktu itu...."

Thian Mo tertawa gembira. Mereka bertiga telah melupakan pesan yang dicetuskan Thian Gwa sin Mo. Tang Hai Lo Mo membalik-balikkan kitab pusaka tersebut, lalu mendadak terbelalak.

"Ada apa?"

Tanya Thian Mo dan Te Mo heran.

"Lihatlah"

Sahut Tang Hai Lo Mo.

Thian Mo dan Te Mo segera melihat.

Teryata di halaman terakhir kitab itu terdapat tiga buah gambar manusia dengan tiga macam gerakan, dan di sisi gambar itu terdapat keterangan.

setelah membaca keterangan itu, mereka bertiga berseru girang.

"Hah? Hian Bun sam Ciang (Tiga Jurus Pukulan Maha sakti)"

"Ini memang tak terduga sama sekali,"

Ujar Tang Hai Lo Mo.

"Setelah kita berhasil mempelajari Ilmu Hian Bun Kui Goan Kang Khi dan tiga jurus pukulan itu, kita pun harus pergi mencari Tio Cie Hiong untuk membuat perhitungan) "Benar, benar"

Thian Mo manggut-manggut.

"Kita pun bisa menguasai rimba persilatan."

Bab 37 Berangkat ke Tibet sang waktu terus berlalu, luka dalam yang diderita Tio Cie Hiong pun makin membaik, sedangkan Lim Ceng Im terus menemaninya, sehingga membuat Tio Cie Hiong makin mencintainya, dan merasa gembira serta bahagia.

"Kakak Hiong...."

Lim Ceng Im menatapnya dengan penuh perhatian.

"Wajah mu mulai segar dan cerah, mungkin engkau sudah mulai pulih."

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk dan memberitahukan.

"Mungkin dua bulan lagi aku akan pulih seperti sedia kala."

"oh?"

Lim Ceng Im girang bukan main.

"Tapi...."

"Kenapa?"

Tio Cie Hiong menatapnya.

"Kenapa engkau masih harus terus bersemadi? Bukankah boleh jalan-jalan sejenak?"

Sahut Lim Ceng Im.

"Kalau aku tidak terus bersemadi menghimpun pan Yok Hian Thian sin Kang, lukaku tidak bisa cepat sembuh."

Tio cie Hiong memberitahukan "oooh"

Lim Ceng Im manggut-manggut, kemudian mendadak ia tersenyum, sehingga membuat Tio Cie Hiong terheran-heran.

"Eh?"

Tio Cie Hlong menatapnya.

"Kenapa engkau tersenyum?"

"Betah amat Lam Kiong Bie Liong dan Gouw sian Eng di Tayli sudah setengah tahun lebih mereka masih belum pulang,"

Ujar Lim Ceng Im.

"Tayli sangat aman, tenang dan damai, maka mereka betah tinggal di sana."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Lagipula masing-masing punya kekasih di sana, jelas mereka betah."

"Kakak Hiong"

Lim Ceng Im menatapnya lembut.

"setelah engkau sembuh, bagaimana kalau kita pesiar ke Tayli?"

"Boleh."

Tio cie Hiong mengangguk.

Tiba-tiba terdengar suara tawa.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im sebera menoleh ke pintu, tampak Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tbk Pie sin wan berjalan ke dalam sambil tersenyumsenyum.

"Cie Hiong Bagaimana keadaanmu? sudah mulai pulih?"

Tanya sam Gan sin Kay sambil memandangnya .

"Dua bulan lagi Kakak Hiong akan pulih seperti sedia kala,"

Sahut Lim Ceng Im memberitahukan.

"Eh?"

Sam Gan sin Kay tertawa.

"Aku bertanya kepada Cie Hiong, kenapa engkau yang menjawab?"

"Kakek...."

Lim Ceng Im langsung cemberut.

"Heran"

Gumam Kim siauw suseng.

"Lam Kiong Bie Liong dan Gouw sian Eng masih belum pulang, mereka begitu betah di Tayli?"

"Itu sudah tentu."

Tok Pie sin wan tertawa.

"Lam Kiong Bie Liong menemani Toan pit Lian, sedangkan Gouw sian Eng ditemani Toan wie Kie. Maka bagaimana mungkin mereka ingat akan pulang? Lagipula kemungkinan besar, mereka sudah bersiap-siap melangsungkan pernikahan."

"Benar."

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Tidak lama lagi, cucuku pun akan menikah dengan cie Hiong. Ha ha ha"

"Kakek...."

Lim Ceng Im membanting-banting kaki.

"Ayah Kakek tuh"

"Lho?"

Lim Peng Hang tersenyum.

"Memang benar kok. setelah Cie Hiong sembuh, engkau harus menikah dengannya karena sudah waktunya kalian melangsungkan pernikahan."

"Ayah...."

Wajah Lim Ceng Im memerah.

"Kalau begitu..."

Ujar Kim siauw suseng.

"Aku harus minum arak kebahagiaan dulu baru pergi."

"sama,"

Sambung Tok Gie sin Wan sambil tertawa.

"Begini ,"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"setelah aku menikah dengan Adik Im, kami ingin hidup di tempat terpencil yang tenang, tidak mau mencampuri urusan persilatan lagi."

"Ngmm"

Sam Gan sin Kay manggut-manggut. Namun Lim Peng Hang malah menggelenggelengkan kepala.

"Tapi...."

"Kenapa, Ayah?"

Tanya Lim Ceng Im.

"siapa yang akan menggantikan kedudukanku?"

Sahut Lim Peng Hang sambil menghela nafas.

"Ayah, dari tempo hari aku sudah bilang,"

Sahut Lim Ceng Im.

"Aku sama sekali tidak berminat menjadi Kay pang pa ngcu."

"Tapi...."

"Sudahlah"

Tandas sam Gan sin Kay.

"Kalau dia tidak rfiau, jangan dipaksa terus. sebab dia ingin hidup tenang bersama cie Hiong."

"Ayah"

Ujar Lim Ceng Im.

"Mana ada sih wanita yang menjadi Kay Pang Pangcu?"

"Ada,"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Dalam sejarah Kay Pang, pernah sekali wanita menjadi Pangcu."

"Kakek bohong"

Lim Ceng Im tidak percaya.

"Itu memang benar."

Sam Gan sin Kay mang-gut-manggut.

"Beberapa ratus tahun lampau, ketua Partai Pengemis adalah seorang wanita yang amat cerdik, dia adalah oey Yong, isteri pendekar besar Kwee Ceng."

"oh?"

Lim Ceng Im terbelalak.

"Karena itu...,"

Sambung Lim Peng Hang.

"Alangkah baiknya...."

"Ayah, lebih baik aku hidup tenang bersama Kakak Hiong saja. sebab Kakak Hiong tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan, maka aku pun harus begitu."

Tegas Lim Ceng Im.

"Baik."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Memang tidak bisa dipaksa dalam hal ini."

"Jadi...."

Kim sia uw suseng menatap Lim Ceng Im.

"Engkau dan cie Hiong sudah bersepakat, apabila dia pulih, kalian pasti melangsungkan pernikahan?"

"Ya."

Lim Ceng Im mengangguk malu-malu.

"Kalau begitu, setelah kalian menikah, barulah aku pergi,"

Ujar Kim sia uw suseng sambil tertawa.

"Akupun begitu,"

Tok Pie sin Wan menyambung kemudian tertawa gelak.

Kini Tio Cie Hiong sudah hampir pulih, tentu hatinya sangat gembira.

Akan tetapi, ada satu hal yang amat membingungkannya, karena sudah tiga hari Lim Ceng Im tidak muncul menemaninya.

oleh karena itu ketika Lim Peng Hang ke dalam kamarnya, ia langsung bertanya.

"Paman, Adik Im kok tidak kelihatan? Dia ke mana?"

"Dia pergi mengurusi sesuatu, yang mungkin membutuhkan waktu satu bulan,"

Jawab Lim Peng Hang memberitahukan.

"oh?"

Tio Cie Hiong tercengang.

"Kenapa dia tidak memberitahukan kepadaku? seharusnya dia...."

"Karena berangkat terburu-buru, maka dia tidak punya waktu untuk memberitahukan kepadamu."

Lim Peng Hang menepuk bahunya.

"ohya, kapan engkau bisa pulih seperti sedia kala?"

"Mungkin dua puluh hari lagi,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"syukurlah"

Ucap Lim Peng Hang.

"Kalau begitu, setelah engkaupulih, engkau boleh pergi menyusulnya."

"Ya."

Tio cie Hiong mengangguk.

Dua puluh hari kemudian, Tio Cie Hiong telah sembuh dari lukanya.

la telah pulih seperti sedia kala, maka ia berjalan ke luar.

sesampainya di aula depan, ia melihatBu Lim Ji Khie.

Lim Peng Hang dan Tok Pie sin Wan sedang membicarakan sesuatu dengan sangat serius.

Hal itu tampak dari air muka mereka.

"Kakek. Paman sastrawan, Paman"

Panggil Tio Cie Hiong.

"oh, Cie Hiong"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Duduklah"

Tio Cie Hiong lalu duduk dan merasa suasana agak mencekam. oleh karena itu ia bertanya lagi.

"Paman"

Tio Cie Hiong memandang Lim Peng Hang.

"Apakah telah terjadi sesuatu dalam markas pusat Kay Pang ini?"

"Tidak....

"jawab Lim Peng Hang sambil menghela nafas.

"Hanya saja...."

"Ada apa?"

Tanya Tio Cie Hiong dengan kening berkerut.

"Paman, beritahukanlah Apakah berkaitan dengan kepergian Adik Im?"

"Cie Hiong"

Sam Gan sin Kay menatapnya.

"Benarkah engkau telah pulih seperti sedia kala?"

"Benar."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kalau begitu, akan kututurkan,"

Ujar sam Gan sin Kay dengan wajah serius.

"Kira-kira dua puluh hari yang lalu, Ceng Im pergi belanja, tapi dia tidak pulang...."

"Kenapa?"

Tio Cie Hiong terkejut.

"Sehari kemudian, salah seorang pengemis peringkat ketiga datang melapor, bahwa ada dua Dhalai Lhama Tibet menitip sepucuk surat untukmu, dan kami pun membaca surat itu...."

Sam Gan sin Kay memberitahukan.

"Bagaimana isi surat itu?"

Tanya Tio Cie Hiong tegang.

"Ternyata surat dari Dhalai Lhama tua Tibet, memberitahukan bahwa Lim Ceng Im telah ditangkap. dan dibawa ke Tibet. Dhalai Lhama tua itu menghendakimu ke Tibet menemuinya. Kalau tidak...."

Sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Dhalai Lhama tua itu akan berbuat apa terhadap Adik Im?"

Tanya Tio Cie Hiong cemas.

"Dia akan memusnahkan kepandaian ceng Im,"

Sahut Lim Peng Hang sambil menarik nafas panjang.

"Kalau begitu..,"

Ujar Tio cie Hiong.

"Aku harus segera berangkat ke Tibet. ohya, apakah Dhalai Lhama tua itu memberi batas waktu?"

"Dia memberi waktu dua bulan, kalau engkau tidak ke sana, dia akan memusnahkan kepandaian ceng Im,"

Jawab sam Gan sin Kay.

"Aku harus berangkat sekarang."

Tio cie Hiong bangkit berdiri "Cie Hiong"

Kim siauw suseng menatapnya dalam-dalam.

"Kalau engkau belum pulih, lebih baik jangan berangkat sekarang. sebab kepandaian Dhalai Lhama tua itu tinggi sekali."

"Paman sastrawan, aku sudah pulih. Kalau tidak. aku pun tidak meninggalkan kamar."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Baiklah."

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"Engkau boleh berangkat sekarang."

"Aku akan menyiapkan seekor kuda jempolan untukmu."

Ujar Lim Peng Hang.

"Terimakasih, Paman"

Ucap Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"selama ini aku tidak pernah membunuh orang, tapi kalau Adik Im terjadi sesuatu, para Dhalai Lhama di Tibet pasti kuhabiskan semua"

"Cie Hiong ...."

Sam Gan sin Kay terkejut, sebab ia melihat sepasang mata Tio Cie Hiong memancarkan sinar berapi-api, pertanda ia akan melaksanakan apa yang telah diucapkannya . (Bersambung ke Bagian 24)

Jilid 24

"Aku tidak habis pikir dan tidak mengerti. Padahal aku tidak pernah mencari masalah, tidak pernah berbuat jahat, bahkan selalu mengampuni orang lain, namun kenapa orang lain malah menghendaki kematianku? Aaaakh..."

Gumam Tio cie Hiong sambil menarik nafas panjang.

"Lebih gampang menjadi orang jahat dari pada menjadi orang baik, sebab orang baik harus menghadapi berbagai macam percobaan."

Tio cie Hiong melakukan perjalanan siang malam menuju Tibet.

Kira-kira belasan hari kemudian, ia tetah memasuki daerah itu.

Tibet merupakan sebuah negeri kecil, namun cukup padat penduduknya.

Yang berkuasa di Tibet adalah kepala Dhalai Lhama bernama Pa-toho, yang sangat dihormati dan diagungkan rakyat.

Setelah tiba di Tibet, Tio cie Hiong langsung menuju sebuah biara yang sangat besar dan megah.

Para Dhalai Lhama di biara itu menyambut kedatangannya dengan hormat, sebab Tio cie Hiong berasal dari Tionggoan.

Ketika Tio cie Hiong memperkenalkan namanya, para Dhalai Lhama tampak terkejut, dan segera ke dalam untuk melapor.

Berselang beberapa saat, Tio cie Hiong dipersilahkan masuk ke ruang tamu.

Ketika ia baru saja duduk, muncullah seorang Dhalai Lhama tua.

"Selamat datang"

Ucap Dhalai Lhama tua itu.

"Aku kepala Dhalai Lhama di sini, namaku Patoho."

"Dhalai Lhama Patoho"

Tio Cie Hiong memberi hormat.

"Kedatanganku...."

"Aku tahu...."

Dhalai Lhama Patoho manggut-manggut, lalu mengibaskan tangannya agar para Dhalai Lhama yang berada di situ masuk ke dalam. setelah tinggal mereka berdua, barulah kepala Dhalai Lhama itu berkata.

"Maaf, aku yang ke Tionggoan...."

"Jadi engkau yang menangkap Lim Ceng Im?"

Tanya Tio Cie Hiong bernada gusar.

"Ya."

Dhalai Lhama tua mengangguk.

"sekali lagi aku mohon maaf atas tindakanku itu Aku terpaksa melakukannya demi kewibawaanku,"

Ujar Dhalai Lhama tua memberitahukan.

"Di mana Lim Ceng Im sekarang?"

Kening Tio Cie Hiong berkerut.

"Tenang"

Dhalai Lhama tua tersenyum, lalu bertepuk tangan tiga kali.

sesaat kemudian, tampak Lim Ceng Im berjalan ke luar.

Begitu melihat Tio Cie Hiong, ia langsung berlari ke arahnya, lalu mendekap di dadanya.

"Kakak Hiong...."

"Adik Im"

Tio Cie Hiong membelainya.

"Bagaimana para Dhalai Lhama di sini memperlakukanmu? "

"sangat sopan dan baik,"juwab Lim Ceng Im jujur.

"syukurlah"

Ucap Tio Cie Hiong, kemudian memandang Dhalai Lhama tua seraya berkata.

"Kalau tidak salah, engkau ingin membuat perhitungan denganku karena aku telah memusnahkan kepandaian empat Dhalai Lhama itu, bukan?"

"Aku paman guru mereka, maka kuharap engkau mengerti dan maklum adanya"

Sahut Dhalai Lhama tua Patoho.

"Jadi...."

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Tentunya aku harus bertanding denganmu"

Sahut Dhalai Lhama tua Patoho.

"Sebab menyangkut kewibawaanku"

"Oh?"

Tio Cie Hiong menatapnya tajam, kemudian memandang Lim Ceng Im dan bertanya.

"Adik Im, apakah engkau tidak menceritakan kepada Dhalai Lhama tua tentang sepak terjang keempat Dhalai Lhama itu di Tionggoan?"

"Sudah kuceritakan,"

Jawab Lim Ceng Im.

"Dhalai Lhama tua"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Dia telah menceritakan itu, kenapa engkau masih ingin menuntut balas kepadaku?"

"Kalau dia tidak menceritakan, bagaimana mungkin aku memperlakukannya begitu baik?"

Sahut Dhalai Lhama tua.

"Tapi biar bagaimana pun, aku tetap paman guru mereka...."

"Hmm"

Dengus Tio Cie Hiong.

"seharusnya engkau bersyukur, karena aku tidak membunuh mereka berempat."

"Maksudmu?"

Dhalai Lhama tua Patoho menatapnya heran.

"Mereka berempat membunuh kakak kandungku, tapi aku hanya memusnahkan kepandaian mereka, apakah aku masih kurang bijaksana?"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Apa?"

Dhalai Lhama tua terbelalak.

"Benarkah itu?"

"Benar, Dhalai Lhama tua."

Sahut Lim Ceng Im.

"Aku lupa memberitahukan."

"Aaakh..."

Dhalai Lhama tua menarik nafas panjang.

"Kalau begitu, aku mohon maaf kepada kalian Aku tak menyangka kalau mereka berempat begitu jahat...."

"Engkaulah yang bersalah,"

Tegas Tio Cie Hiong.

"Kok aku?"

Dhalai Lhama tua heran.

"sebab engkau yang mengutus mereka keTionggoan untuk membantu Bu Lim sam Mo. Kalau engkau tidak mengutus mereka ke sana, tentunya hal itu tidak akan terjadi,"

Sahut Tio cie Hiong.

"Aaakh..."

Dhalai Lhama tua menghela nafas.

"Aku terpaksa."

"Kenapa terpaksa?"

Tanya Tio Cie Hiong heran.

"Karena aku pernah berhutang budi kepada Thian Gwa sin Mo. Bu Lim sam Mo mengutus seseorang ke mari untuk minta bantuanku atas nama Thian Gwa sin Mo, sehingga aku terpaksa menyuruh keempat Dhalai Lhama itu ke Tionggoan untuk membantu Bu Lim sam Mo."

"Thian Gwa sin Mo?"

Tio Cie Hiong tercengang.

"siapa Thian Gwa sin Mo itu?"

"Dia paman guru Bu Lim sam Mo."

Dhalai Lhama tua memberitahukan.

"Kira-kira tujuh puluh tahun lampau, Thian Gwa sin Mo pernah menyelamatkan nyawaku. Akan tetapi setelah itu dia kehilangan jejak...."

"oooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"setelah kakak seperguruanku meninggal, aku mengambil alih kekuasaan di sini."

Tutur Dhalai Lhama tua sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Pada waktu itu, banyak Dhalai Lhama di sini menentang, sebab aku tergolong Dhalai Lhama jahat. Namun setelah aku berkuasa, sejak itu aku pun berubah...."

"Berubah baik, kan?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Betul."

Dhalai Lhama tua mengangguk.

"Aku bersungguh-sungguh memimpin para Dhalai Lhama di sini. Di samping itu, aku pun menjaga kesejahteraan rakyat. sejak itu para Dhalai Lhama di sini tidak menentangku lagi, sebaliknya malah sangat menghormatiku. Kemudian aku juga membangun sebuah biara yang amat besar. Namun karena kekurangan dana, maka aku minta bantuan Toan Hong Ya di Tayli."

"oooh,"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"ohya, di mana keempat Dhalai Lhama itu sekarang?"

"Beristirahat di ruang dalam,"

Jawab Dhalai Lhama tua dan menambahkan.

"Berdasarkan peraturan yang berlaku di sini, aku harus menghukum mereka."

"Tidak perlu dengan hukuman berat, sebab mereka telah kehilangan kepandaian,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Engkau sungguh berhati bajik"

Dhalai Lhama tua makin kagum terhadap Tio Cie Hiong.

"Urusan ini telah usai, maka kami mau mohon diri kembali ke Tionggoan,"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Ngmm"

Dhalai Lhama tua manggut-manggut.

"Kudengar engkau berkepandaian tinggi sekali, oleh karena itu...."

"Mau bertanding dengan aku, kan?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Kira-kira begitulah,"

Jawab Dhalai Lhama tua.

"Tentunya engkau tidak akan mengecewakan aku, kan?"

"Dhalai Lhama tua...."

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan.

"Pada-hal usiamu telah mencapai seratus tahun, kenapa masih...."

"Terus terang."

Dhalai Lhama tua tersenyum.

"Aku masih penasaran, bagaimana mungkin kepandaianmu begitu tinggi? Karena usiamu masih muda, maka aku ingin menguji kepandaianmu."

"Dhalai Lhama tua...."

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala lagi.

"Kita hanya bertanding tiga jurus saja. Engkau tidak akan menolak. kan?"

Dhalai Lhama tua menatapnya.

"Baiklah."

Tio Cie Hiong mengangguk.

Dhalai Lhama tua berjalan ke tengah-tengah ruang tamu.

Tio Cie Hiong mengikutinya, kemudian mereka berdiri berhadapan.

Betapa gembiranya Lim Ceng Im, sebab ia akan menyaksikan pertandingan yang seru.

"Hati-hati"

Seru Dhalai Lhama tua.

"Jurus pertama"

Dhalai Lhama tua mulai menyerang Tio Cie Hiong dengan pukulan. Tio Cie Hiong segera berkelit dengan Kiu Kiong san Tian Pou.

"Bagus"

Seru Dhalai Lhama tua.

"Ini jurus kedua, hati-hatilah"

Kali ini Dhalai Lhama tua menyerang Tio Cie Hiong dengan jurus yang sangat dahsyat dan lihay.

Badannya berputar-putar mengitari Tio Cie Hiong, sekaligus mengibaskan lengan jubahnya, yang menimbulkan suara yang menderu-deru.

itulah jurus andalan Thian suan Te Coan (Langit Bergoyang Bumi Berputar) .

Tio Cie Hiong tidak tinggal diam.

la pun berputar-putar dan mendadak mengibaskan lengan bajunya menangkis serangan itu.

Daaar Terdengar suara benturan dahsyat.

Tio cie Hiong tetap berdiri di tempat, tetapi Dhalai Lhama tua terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.

setelah berdiri tenang, barulah ia menatap Tio cie Hiong dengan mata terbelalak.

"sungguh hebat sekali"

Ujarnya lalu menghela nafas.

"Aku mengaku kalah."

"Kepandaian Dhalai Lhama tua sangat tinggi sekali, terima kasih atas kemurahan hatimu, Dhalai Lhama tua"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Engkau terlampau merendah."

Dhalai Lhama lua tertawa.

"Memang pantas engkau memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap. aku kagum dan salut kepadamu."

"Dhalai Lhama tua, kami mohon diri"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Baiklah."

Dhalai Lhama tua manggut-manggut.

"Terima kasih atas kunjunganmu, mudahmudahan engkau akan ke mari lagi kelak"

"Mudah-mudahan"

Sahut Tio Cie Hiong sekaligus memberi hormat, lalu mengajak Lim Ceng Im pergi.

Mereka berdua tidak tahu, bahwa di saat mereka berdua meninggalkan Tibet, di saat itu pula terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan dalam rimba persilatan Tionggoan....

Bab 38 Im sie Hong Mo (iblis Gila Alam Baka) Dengan penuh keheranan Hui Khong Taysu, ketua partai siauw Lim menghadap ketiga paman gurunya di ruang semedi.

Ternyata siauw Lim sam Tiang lo menyuruh seorang hweeshio kecil memanggilnya menghadap.

"Paman guru...."

Hui Khong Taysu memberi hormat.

"Duduklah"

Sahut Tiga Tetua siauw Lim.

"Paman guru memanggilku menghadap. ada apa gerangannya?"

Tanya Hui Khong Taysu.

"Hui Khong, beberapa hari ini kami bertiga tidak bisa bersemadi dengan tenang, maka kami berfirasat akan terjadi sesuatu."

"oh?"

Hui Khong Taysu terkejut.

"Kira-kira apa yang akan terjadi, Paman guru?"

"Aaaakh..."

Salah seorang Tetua menarik nafas panjang.

"omitohud Kejahatan memang sulit ditumpas. Tiap kali ditumpas, tetapi selalu tumbuh kembali seperti jamur."

"Maksud Paman guru?"

Hui Khong Taysu tersentak mendengar ucapan itu "Rimba persilatan akan dilanda banjir darah lagi,"

Sahut Tetua itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Akan muncul seorang iblis ganas menghancurkan tujuh partai besar rimba persilatan, termasuk Kay Pang."

"Paman guru...."

Hui Khong Taysu kurang percaya.

"iblis ganas itu muncul, berarti ajal kami telah tiba."

Tiga Tetua memberitahukan.

"omitohud Itu memang sudah merupakan takdir...."

"Benarkah itu, Paman guru?"

"Benar."Ji Tiang lo (Tetua Kedua) manggut-manggut.

"oleh karena itu, engkau harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang untuk memberitahukan kepada Bu Lim Ji Khie tentang firasat kami agar mereka bisa bersiap-siap."

"Ya, Paman guru."

Hui Khong Taysu mengangguk.

"setelah itu, engkau harus segera pulang"

Pesan Tiga Tetua itu.

"Ya, Paman guru."

Hui Khong Taysu mengangguk lagi.

setelah memberi hormat, Hui Khong Taysu berangkat ke markas pusat Kay Pang.

Beberapa hari kemudian, sampailah dia di markas pusat Kay Pang.

Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin Wan dan Lim Peng Hang menyambut kedatangan ketua siauw Lim itu dengan penuh keheranan.

"Ha ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Kepala gundul, angin apa yang membawamu ke mari?"

"Mungkin angin badai,"

Sahut Hui Khong Taysu dan memberitahukan.

"Paman guru yang mengutusku ke mari."

"oh?"

Sam Gan sin Kay mengerutkan kening.

"silakan duduk"

"Terimakasih"

Hui Khong Taysu duduk.

"Kepala gundul"

Sam Gan sin Kay menatapnya.

"Kenapa paman gurumu mengutusmu kc mari?"

"omitohud"

Ucap Hui Khong Taysu, kemudian menghela nafas panjang.

"Ketiga paman guruku berfirasat buruk...."

"Ketiga tua bangka itu berfirasat buruk apa?"

Tanya Kim siauw suseng.

"omitohud"

Hui Khong Taysu menengok kc sana ke mari.

"Kok tidak kelihatan Tio Cie Hiong? Ke mana dia?"

"Aaaakh..."

Lim Peng Hang menarik nafas.

"Dia sedang ke Tibet."

"oh?"

Hui Khong Taysu heran.

"Kenapa ke Tibet? Apakah telah terjadi sesuatu di sini?"

"Ya."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Dhalai Lhama tua Tibet...."

Lim Peng Hang memberitahukan tentang peristiwa yang menimpa Lim Ceng Im sampai kel^ergian Tlo cie Hiong ke Tibet. Hui Khong Taysu mendengarkan dengan mata terbelalak.

"omitohud"

Hui Khong Taysu menggeleng-gelengkan kepala.

"Mungkinkah itu merupakan firasat ketiga paman guruku?"

"Ketiga paman gurumu berfirasat apa?"

Tanya Lim Peng Hang tegang.

"Ketiga paman guruku memberitahukan, bahwa beberapa hari lalu mereka bertiga tidak bisa bersemadi dengan tenang, sehingga timbul suatu firasat...."

Hui Khong Taysu menghela nafas.

"Lanjutkan"

Ujar sam Gan sin Kay tidak sabaran.

"Ketiga paman guruku berfirasat, bahwa akan muncul seorang iblis ganas dalam rimba persilatan, maka rimba persilatan akan dilanda banjir darah lagi, iblis ganas itu muncul, berarti ajal ketiga paman guruku pun tiba."

Hui Khong Taysu memberitahukan.

"oh?"

Sam Gan sin Kay tersentak.

"Mungkinkah itu?"

"Kalau begitu...,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Tentunya tiada kaitannya dengan kepergian cie Hiong ke Tibet."

"Menurutkupun begitu,"

Sambung Kim siauw suseng.

"firasat ketiga paman guruku tidak pernah meleset, maka mengutusku ke mari memberitahukan, agar partai Kay Pang bersiap-siap."

Ujar Hui Khong Taysu.

"Heran"

Gumam sam Gan sin Kay sambil menggaruk-garuk kepala.

"Kepandaian Bu Lim sam Mo telah musnah, sedangkan Ku Tek Cun, murid mereka itu telah terjun kcjurang. Lalu... iblis ganas mana yang akan muncul?"

"Mungkin kali ini firasat ketiga Tetua siauw Lim akan meleset,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Menurut pendapatku, firasat ketiga Tetua siauw Lim tidak akan meleset,"

Sahut Tok Pie sin Wan.

"Maka ada baiknya kalau kita mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan."

"Ngmm"

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"omitohud"

Hui Khong Taysu bangkit berdiri.

"Aku mau mohon diri, karena ketiga paman guruku telah berpesan kepadaku harus segera pulang setelah memberitahukan tentang itu"

"Baiklah,"

Ucap sam Gan sin Kay dan berpesan.

"Tolong sampaikan salam kami kepada siauw Lim sam Tiang lo"

"omitohud,"

Hui Khong Taysu mengangguk, lalu melangkah pergi. Lim Peng Hang mengantarnya sampai di depan markas pusat, setelah itu, barulah kembali ke dalam.

"Harus kita tanggapi dengan serius firasat siauw Lim sam Tiang lo itu"

Ujar Kim siauw suseng dengan kening berkerut-kerut.

"Tapi...."

Sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Kira-kira siapa iblis ganas yang akan muncul itu?"

"Bagaimana mungkin kita tahu,"

Sahut Tok Pie sin wan.

"Haaah..."

Seru Lim Peng Hang kaget.

"Mungkinkah iblis ganas itu adalah...."

"siapa?"

Tanya sam Gan sin Kay cepat.

"Tio Cie Hiong,"

Jawab Lim Peng Hang dengan wajah pucat pias.

"Kok engkau jadi ngawur?"

Bentak sam Gan sin Kay.

"Bagaimana mungkin Tio Cie Hiong akan berubah menjadi iblis ganas?"

"Aku berani menjamin dengan kepalaku,"

Sela Kim siauw suseng.

"Kalau Tio Cie Hiong berubah menjadi iblis ganas, akan kupersembahkan kepalaku kepadanya."

"Peng Hang"

Sam Gan Sin Kay menatapnya tajam.

"Kenapa engkau berpikir begitu? Apa alasanmu?"

"ceng Im terjadi sesuatu, itu dapat membuat Cie Hiong berubah menjadi jahat,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Kalau benar begitu, tentunya Cie Hiong akan membantai kaum penjahat dan golongan hitam,"

Ujar sam Gan sin Kay dan melanjutkan.

"Tapi siauw Lim sam Tiang lo berfirasat, bahwa tujuh partai besar akan hancur, termasuk Kay Pang Jadi tidak mungkin Cie Hiong yang berubah menjadi iblis ganas."

"Ngmmm"

Kim siauw suseng manggut-mang-gut.

"Pasti orang lain, hanya saja kita tidak tahu siapa orangnya."

"Mudah-mudahan Cie Hiong cepat pulang"

Ujar Tok Sie sin Wan.

"Kita bisa berunding bersama."

"Yaah"

Lim Peng Hang menghela nafas.

"Tidak mungkin Cie Hiong dan Ceng Im akan begitu cepat pulang, sebab mereka pasti pesiar ke sana ke mari."

"Benar."

Sam Gan sin Kay manggut-manggut dan menambahkan.

"Sudahlah Kenapa kita harus memusingkan sesuatu yang belum terjadi? Yang penting kita harus bcrsiap-siap."

"Lim Pangcu"

Pesan Kim siauw suseng serius.

"Markas pusat ini harus dijaga ketat, kita tidak boleh lengah"

"Ya."

Lim Peng Hang mengangguk.

lalu menurunkan perintah kepada para pengemis peringkat menengah untuk memperketat penjagaan.

Pada suatu malam yang hening, terdengarlah suara doa di dalam biara Siauw Lim.

Pada saat bersamaan, mendadak terdengar suara tawa yang menyeramkan, sehingga suara doa itu berhenti.

"Ha ha ha Hehehe..."

Suara tawa yang menyeramkan itu terus bergema. Cap Pwee Lo Han (Delapan Belas Arhat) berhambur ke luar, kemudian disusul oleh Hui Khong Taysu dan siauw Lim sam Tiang io.

"He h e h e"

Suara tawa itu masih bergema, dan tiba-tiba melayang turun sosok bayangan.

"siapa engkau?"

Bentak Cap Pwee Lo Han. Kemudian dengan tangan memegang toya, Delapan Belas Arhat itu mengurung sosok yang baru melayang turun.

"Aku Im sie Hong Mo (iblis Gila Alam Baka)"

Sahut orang itu Dia berpakaian kumal dan rambutnya yang panjang awut-awutan, sehingga mukanya tidak tampak jelas karena tertutup oleh rambutnya.

"Mau apa engkau ke mari?"

Bentak Cap Pwee Lo Han.

"He he he"

Im sie Hong Mo tertawa terkekeh-kekeh.

"Malam ini siauw Lim harus musnah, aku akan membunuh kalian"

"Serang"

Seru kepala Cap Pwee Lo Han.

seketika tampak belasan toya berkelebatan menyerang Im sie Hong Mo.

Pada waktu bersamaan, terlihat pula sinar pedang berkelebat ke sana ke mari, disusul oleh suara jeritan yang menyayat hati.

"Aaaakh Aaaaakh Aaaakh..."

Cap Pwee Lo Han telah terkulai bermandi darah. Ternyata mereka telah mati dengan tubuh tak berbentuk, karena sekujur tubuh mereka tertusuk dan terbacok tidak karuan.

"omitohud"

Siauw Lim sam Tiang lo mendekati Im sie Hong Mo.

"Ha ha ha He he he"

Im sie Hong Mo tertawa seram.

"siauw Lim sam Tiang lo, ajat kalian telah tiba malam ini"

"omitohud"

Ucap siauw Lim sam Tiang lo sekaligus mengurung Im sie Hong Mo.

"He he he Kalian bertiga harus mati"

Teriak Im sie Hong Mo. Mendadak pedang di tangannya berderak begitu cepat menyerang siauw Lim sam Tiang lo.

"omitohud."

Siauw Lim sam Tianglo sebera menangkis dengan kibasan lengan jubah.

Breeet Lengan jubah siauw Lim sam Tianglo putus oleh sabetan pedang Im sie Hong Mo.

Bukan main terkejutnya siauw Lim sam Tianglo, begitu pula Hui Khong Taysu yang menyaksikannya .

"He he he He he he"Im sie Hong Mo terus tertawa terkekeh, kemudian mendadak menyerang lagi. sungguh aneh dan cepat gerakan pedangnya, bahkan tampak kacau tidak karuan. siauw Lim sam Tianglo menangkis dan balas menyerang. Delapan jurus kemudian, gerakan pedang Im sie Hong Mo makin kacau tidak karuan, sehingga membuat siauw Lim sam Tianglo kewalahan menghadapinya. Sekonyong-konyong Im sie Hong Mo membentak aneh, dan tampak pedangnya berkelebat ke sana ke mari. Gerakannya sangat cepat, aneh dan kacau balau tidak karuan, sehingga tidak dapat diikuti dengan pandangan mata. setelah itu, Im sie Hong Mo berdiri diam di tempat. siauw Lim sam Tianglojuga berdiri tegak, namun bagian pinggang mereka telah berlumuran darah. Berselang sesaat,robohlah tiga tetua siauw Lim itu.

"Haaah?"

Hui Khong Taysu terkejut dan wajahnya pucat pias.

"omitohud...."

Ternyata yang roboh bagian atas tubuh, bagian bawah dari pinggang sampai ke kaki tetap berdiri. Betapa mengenaskan kematian siauw Lim sam Tianglo itu, tubuh mereka terkutung jadi dua.

"He he he He he he...."

Im sie Hong Mo tertawa seram.

"Paman guru Paman guru...."

Mata Hui Khong Taysu telah basah.

"omitohud omitohud...."

"He he he"

Im sie Hong Mo tertawa ter-kekeh-kekeh.

"Apakah 'omitohud' dapat melindungimu, hweeshio tua?"

"Engkau iblis...."

Hui Khong Taysu melangkah maju.

"Jangan bergerak"

Bentak Im sie Hong Mo, dan mendadak sepasang matanya memancarkan cahaya hijau. Hut Khong Taysu langsung diam di tempat, bahkan tampak seakan kehilangan sukma.

"Hui Khong Taysu"

Im sie Hong Mo menatapnya.

"Ya,"

Sahut ketua siauw Lim itu.

"Mulai sekarang dan selanjutnya, engkau harus patuh kepada perintahku"

Ujar Im sie Hong Mo sepatah demi sepatah.

"Ya."

Hui Khong Taysu mengangguk.

"Ha ha ha He he he"

Im sie Hong Mo tertawa gelak.

"Engkau harus ikut aku"

Im sie Hong Mo melesat pergi, dan Hui Khong Taysu mengikutinya dari belakang.

sayup,sayup masih terdengar suara tawa seram Im sie Hong Mo.

Kejadian di Biara siauw Lim sangat menggemparkan, dan mengejutkan rimba persilatan.

Kaum persilatan mana yang tidak akan terkejut ketika mendengar siauw Lim sam Tianglo mati secara mengenaskan?

Lagipula Hui Khong Taysu hilang entah kc mana.

siapa Im sie Hong Mo, tiada seorang pun yang mengetahuinya.

Partai-partai lain pun mulai tercekam, terutama partai Butong.

Malam ini It Hian Tojin berbicara serius dengan lima muridnya, yakni Bu-tong Nao Hiap (Lima Pendekar Butong).

"Kalian berlima dengar baik-baik"

Ujar It Hian Tojin sambil memandang mereka.

"Kini partai siauw Lim boleh dikatakan telah musnah, mungkin tidak lama lagi akan giliran kita. oleh karena itu, apabila Im sie Hong Mo muncul, kalian berlima harus bersembunyi di ruang bawah tanah. Apa pun yang terjadi atas diriku, kalian berlima tidak boleh keluar."

"Guru...."

"Ingat Kalian berlima harus selamat agar partai Butong masih bisa berdiri kelak. Jangan sampai partai kita lenyap dari rimba persilatan."

Ujar It Hian Tojin sambil menghela nafas panjang.

"Kalau diriku terjadi sesuatu, kalian berlima harus segera ke markas pusat Kay Pang menemui Bu Lim Ji Khie"

"Ya, Guru."

"Im sie Hong Mo muncul mengganas, namun Pek Ih sin Hiap malah tenggelam entah ke mana?"

It Hian Tojin menggeleng-gelengkan kepala.

"Guru"

In Siauw Houw memberitahukan.

"Pek Ih Sin Hiap sedang pergi ke Tibet, dan hingga saat ini masih belum pulang."

"Di saat rimba persilatan dilanda banjir darah, dia malah tidak ada."

It Hian Tojin menghela nafas lagi.

"Mungkin Pek Ih sin Hiap sudah dalam perjalanan pulang,"

Ujar The Cok Peng.

"Itu cun sudah terlambat."

It Hian Tojin menggeleng-gelengkan kepala lagi.

"sungguh tak disangka, setelah Bu Lim sam Mo, Empat Dhalai Lhama dan Ku Tek Cun ditumpas oleh Pek Ih sin Hiap. kini malah muncul Im sie Hong Mo yang begitu ganas dan kejam...."

Sekonyong-konyong terdengarlah suara tawa menyeramkan di luar. seketika wajah It Hian Tojin berubah pucat pias.

"Im sie Hong Mo telah datang, cepatlah kalian berlima bersembunyi di ruang bawah tanah Cepat"

Ujar It Hian Tojin dengan suara gemetar.

"Guru...."

"Kalian tidak usah menghiraukan diriku, cepatlah kalian masuk ke dalam"

"Ya, Guru"

Butong Nao Hiap segera berlari ke dalam, sedangkan It Hian Tojin berhambur ke luar.

la melihat puluhan murid Butong telah terkapar menjadi mayat di halaman, sementara suara tawa seram itu masih terus bergema.

"iblis Cepat perlihatkan dirimu"

Bentak It Hian Tojin.

"He he he"

Mendadak muncul sosok bayangan, yang tidak lain Im sie Hong Mo.

"Im sie Hong Mo...."

"Diam"

Bentak Im sie Hong Mo sambil menatapnya dengan mata memancarkan cahaya hijau. It Hian Tojin langsung diam, seperti telah kehilangan sukma. Im sie Hong Mo tertawa seram lagi, kemudian membentak.

"It Hian Tojin"

"Mulai sekarang engkau harus patuh kepada perintahku"

"Ya"

"Mari ikut aku"

"Ya"

Im sie Hong Mo melesat pergi, dan It Hian Tojin segera melesat mengikutinya.

setelah partai Butong runtuh, menyusul partai Hwa san, Kun Lun, GoBie, Khong Tong dan partai swat san.

Bahkan Lam Kiong hujin, Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong pun hilang entah ke mana.

Kini hanya tersisa Kay Pang.

Penjagaan di markas pusat Kay Pang pun diperketat.

sedangkan Bu Lim Ji Khie, Tok Pie sin wan dan Lim Peng Hang telah bersiap dengan perasaan tercekam.

Mereka semua duduk di aula depan dengan kening berkerut-kerut.

Mendadak mereka mendengar suara seruan di luar, yang saling menyusul.

"Butong Ngo Hiap berkunjung Butong Ngo Hiap berkunjung...."

Berselang beberapa saat kemudian, muncullah Butong Ngo Hiap dengan wajah muram. Mereka berlima memberi hormat.

"Silakan duduk"

Ucap Lim Peng Hang.

"Terima kasih, Lim Pang cu"

Ucap Butong Ngo Hiap lalu duduk.

"Apakah sudah ada kabar berita tentang It Hian Tojin?"

Tanya sam Gan sin Kay sambil memandang mereka.

"Belum."

Butong Nao Hiap menggeleng-gelengkan kepala.

"Heran?"

Gumam Lim Peng Hang.

"Para ketua tujuh partai itu hilang ke mana? Kok tiada jejaknya sama sekali?"

"Kami yakin, mereka telah ditangkap oleh Im sie Hong Mo,"

Ujar In siauw Houw, salah seorang Butong Ngo Hiap.

"Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin juga telah hilang,"

Sambung Lie say Meng memberitahukan.

"Apa?"

Sam Gan sin Kay terbelalak.

"Mereka juga telah hilang?"

"Ya."

In siauw Houw mengangguk.

"Aku pun yakin, mereka pasti ditangkap oleh Im sie Hong Mo."

"Tujuh partai besar telah runtuh, Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin pun telah hilang. Kini... pasti giliran kita,"

Ujar Lim Peng Hang sambil mengerutkan kening.

"Tidak salah."

Kim siauw suseng manggut-manggut.

"Maka kita harus siap bertarung matimatian."

"Heran"

Sam Gan sin Kay menggeleng-ge-lengkan kepala.

"siapa sebetulnya Im sie Hong Mo itu? Kok kepandaiannya begitu tinggi?"

"Pengemis bau"

Kim Siauw Suseng tertawa.

"Siauw Lim Sam Tianglo mati di tangan Im sie Hong Mo, apakah kita juga akan menyusul?"

"Engkau takut mati ya, sastrawan sialan?"

Tanya sam Gan sin Kay menyindir.

"Takut mati sih tidak-hanya saja kemungkinan besar kita akan mati penasaran,"

Sahut Kim siauw suseng.

"Benar."

Tok Pie sin wan manggut-manggut.

"Karena kita akan mati tanpa tahu siapa Im sie Hong Mo itu"

"Aaaakh..."

Lim Peng Hang menghela nafas.

"Kenapa Cie Hiong dan ceng Im masih belum pulang?"

"Lebih baik mereka belum pulang,"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Kenapa?"

Lim Peng Hang heran.

"Agar mereka tidak usah menjadi korban di sini,"

Ujar sam Gan sin Kay.

"Tentunya kalian tahu, betapa tingginya kepandaian siauw Lim sam Tianglo, tapi mereka hanya dapat bertahan belasan jurus, kemudian mati secara mengenaskan."

"Pengemis bau"

Kim siauw suseng menatapnya.

"Menurutmu, Cie Hiong masih tidak mampu menghadapi Im sie Hong Mo?"

"Entahlah."

Sam Gan sin Kay menggelengkan kepala. Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara tawa yang menyeramkan, wajah Butong Nao Hiap langsung berubah.

"Im sie Hong Mo datang"

Seru mereka dengan suara bergemetar.

"Bagus"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Mari kita hadapi dia"

Mereka semua berhambur ke luar. Tampak seorang berdiri di halaman markas pusat Kay Pang dan puluhan mayat bergelimpangan di situ pula.

"Ha ha ha He he he"

Im sie Hong Mo tertawa.

"Akan kuhabiskan semua orang di sini He he he...."

"Im sie Hong Mo"

Sam Gan sin Kay menatapnya.

"Siapakah kau? Ada permusuhan apa engkau dengan Kay Pang?"

"He he he"

Im sie Hong Mo terus tertawa.

"Pokoknya aku harus menghabiskan nyawa kalian Di mana Tio Cie Hiong? Akan kucincang dia Akan kuhisap darahnya Di mana Tio Cie Hiong? Cepat suruh dia keluar"

"Dia tidak ada,"

Sahut urnPeng Hang.

"Engkau punya dendam dengannya?"

"Pokoknya kalian semua harus mati Tio Cie Hiong harus mati juga He he he...."

Im sie Hong Mo tertawa gila.

"siapa yang berada di sini, harus mati"

"Im sie Hong Mo"

Kim siauw suseng tertawa dingin.

"Belum tentu engkau dapat membunuh kami"

"Ha ha ha Kalian pasti mati"

Im sie Hong Mo mulai menghunus pedangnya.

"Akan kucincang kalian semua"

"Bagus"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Mari kita bertarung Engkau tidak perlu omong besar di sini"

Sam Gan sin Kay sudah memegang tongkat bambu, Kim siauw suseng menggenggam suling emasnya, Lim Peng Hang memegang tongkat bambu, sedangkan Tok Pie sin wan mengeluarkan goloknya.

"He he he He he he"

Mendadak pedang Im Sie Hong Mo bergerak menyerang mereka berempat.

Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie Sin Wan langsung menangkis dengan senjata masing-masing.

Akan tetapi, sekonyong-konyong Im Sie Hong Mo melesat ke atas, kemudian badannya berputar-putar bagaikan angin puyuh dan pedangnya berkelebatan ke sana ke mari.

Berrrt Pakaian Sam Gan Sin Kay dan Kim Siauw Suseng telah sobek tersabet pedang.

Mereka berdua segera meloncat ke belakang, begitu pula Lim Peng Hang dan Tok Pie Sin Wan.

Sungguh di luar dugaan, ternyata bahu kedua orang itu telah teriuka dan mengucurkan darah.

"Hati-hati"

Ujar Sam Gan Sin Kay.

"Ilmu pedang Im Sie Hong Mo sangat aneh dan lihay"

"He he he"

Im Sie Hong Mo tertawa.

"Kalian semua harus mati Pokoknya harus mati"

Mendadak ia menyerang lagi.

Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie Sin Wan terkejut bukan main, sebab gerakan pedang Im Sie Hong Mo cepat laksana kilat, bahkan kacau balau tapi lihay sekali.

Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie sin Wan terpaksa menangkis, maka terjadilah pertarungan hebat.

Belasan jurus kemudian, Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie Sin Wan mulai terdesak.

Im Sie Hong Mo tertawa seram, dan gerakan pedangnya juga bertambah aneh dan kacau balau.

"Serrt Berrrt Cess"

Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie Sin Wan sudah bermandi darah.

Sedangkan Im sie Hong Mo terus tertawa seram dan pedangnya pun terus bergerak laksana kilat.

Kelihatannya Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie sin wan akan mati di bawah pedang Im sie Hong Mo, sebab mereka berempat telah terluka.

Di saat nyawa mereka berempat berada di ujung pedang itu, mendadak terdengar suara tawa yang sangat nyaring dan melengking-lengking.

"Hi hi hi Hi hi hi"

Im sie Hong Mo tampak tertegun ketika mendengar suara tawa itu, sehingga ia berhenti menyerang.

seketika Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie sin wan meloncat ke belakang, sebab sekujur badan mereka telah berlumuran darah.

"Hi hi hi"

Suara tawa yang nyaring dan melengking-lengking itu masih bergema, disusul oleh suara yang penuh mengandung dendam.

"Aku pasti mencincangmu Aku pasti mencincangmu"

Tampak melayang turun sosok bayangan putih di hadapan Im sie Hong Mo. Wajahnya tidak tampak jelas, sebab tertutup oleh rambutnya yang panjang tergerai. Namun pakaiannya bersih sekali dan serba putih.

"He he he"

Im sie Hong Mo tertawa.

"Mau apa kau?"

"Aku harus mencincangmu Aku harus mencincangmu"

Sahut wanita berbaju putih, lalu mendadak menyerang Im sie Hong Mo dengan pedang Justru sungguh membingungkan, karena gerakan pedangnya juga kacau balau tidak karuan.

"He he he"

Im sie Hong Mo tertawa dan sambil menangkis.

Terjadilah pertarungan sengit, tapi mereka berdua bertarung sambil tertawa.

Gerakan pedang mereka sama cepat laksana kilat, bahkan juga kacau balau.

Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie sin wan menyaksikan pertarungan itu denga mata terbelalak.

Padahal mereka berempat telah terluka, namun pertarungan itu membuat mereka lupa akan lukanya.

"Hi hi hi"

Wanita berbaju putih tertawa nyaring dan melengking-lengking sambil menyerang Im sie Hong Mo.

"Aku harus mencincangmu Aku harus mencincangmu"

Sungguh mengherankan, Im sie Hong Mo kelihatan agak takut kepada wanita berbaju putih itu. la bertarung sambil mundur, bahkan kemudian melesat pergi. Namun wanita berbaju putih tidak membiarkannya.

"Engkau mau kabur ke mana? Aku pasti mencincangmu Aku pasti mencincangmu"

Serunya sambil mengejar. setelah mereka berdua melesat pergi, Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok Pie sin Wan sating memandang.

"Untung wanita berbaju putih itu segera datang. Kalau tidak..."

Sam Gan sin Kay menggelenggelengkan kemala.

"Pengemis bau"

Kim siauw suseng tertawa.

"Kelihatannya kita sudah harus pensiun."

"Ha ha ha"

Sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Benar. sudah waktunya kita pensiun dari rimba persilatan."

"Heran"

Gumam Tok Pie sin Wan.

"siapa Im sie Hong Mo dan siapa pula wanita berbaju putih itu?"

"Kita sama sekali tidak bisa melihat jelas wajah mereka."

Sam Gan sin Kay menggelenggelengkan kepala.

"Wajah mereka sama-sama tertutup rambut."

"Mari kita ke dalam berobat dulu"

Ujar Lim Peng Hang.

"Aduuuh"

Tok Pie sin Wan mengaduh-aduh kesakitan.

"Eh?"

Sam Gan sin Kay terbelalak.

"Kenapa baru sekarang engkau menjerit kesakitan?"

"Baru sekarang aku merasa sakit."

Sahut Tok Pie sin wan dengan wajah meringis.

"Aduuuh"

Kim siauw suseng juga menjerit kesakitan.

"Ha ha ha Kalian berdua...."

Mendadak sam Gan sin Kay juga menjerit kesakitan.

Mereka berempat lalu berjalan ke dalam.

setelah mengobati dan membalut luka-luka di tubuh masing-masing, barulah mereka duduk sambil menarik nafas lega.

"Kita semua masih beruntung,"

Ujar sam Gan sin Kay.

"Tapi kalau wanita berbaju putih itu tidak segera muncul, kita semua pasti sudah menjadi mayat."

"Benar."

Kim siauw suseng manggut-mang-gut.

"Im sie Hong Mo tertawa menyeramkan, sedangkan wanita berbaju putih tertawa nyaring dan melengking-lengking, kelihatannya mereka berdua...."

"Tidak waras, kan?"

Sambung Tok Pie sin Wan.

"Ya."

Kim siauw suseng manggut-manggut lagi.

"Kalau begitu iblis Gila Alam Baka memang tidak waras. Lalu wanita...."

"Pek Ih Hong Li (Wanita Gila Baju Putih)."

Sahut sam Gan sin Kay.

"Kita menamainya Pek Ih Hong Li saja."

"Julukan yang tepat bagi wanita itu"

Kim siauw suseng tertawa.

"Heran...."

"Memang mengherankan,"

Sambung sam Gan sin Kay.

"Gerakan pedang mereka hampir mirip. Mungkinkah mereka berdua kakak beradik seperguruan?"

"Mungkin."

Tok Pie sin wan mengangguk.

"Tapi... siapa guru mereka? Dalam rimba persilatan tidak pernah terdengar ada orang gila yang berkepandaian tinggi...."

"Lagi pula...."

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Pek Ih Hong Li itu terus berteriak begitu, kelihatannya mereka berdua saling mendendam."

"Benar."

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"Padahal kepandaian mereka boleh dikatakan seimbang, kenapa Im sie Hong Mo malah kabur?"

"Aaaakh..."

Kim siauw suseng menarik nafas panjang.

"Sebelumnya siauw Lim sam Tianglo telah berfirasat akan muncul seorang iblis ganas, bahkan tahu pula akan mati di tangannya."

"seharusnya mereka bertiga menyembunyikan diri,"

Ujar Tok Pie sin wan mendadak.

"Lutung gila siauw Lim sam Tianglo telah ditakdirkan harus mati di tangan Im sie Hong Mo. Karena itu, mereka bertiga tidak mau bersembunyi,"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Ha ha ha"

Mendadak Kim siauw Suseng tertawa geli.

"Lho?"

Sam Gan sin Kay menatapnya heran.

"sastrawan sialan, kenapa engkau tertawa geli? Baru lolos dari kematian sudah tertawa geli Dasar...."

"Kita panggil Tok Pie sin wan sebagai Lutung Gila, itu berarti dia masih mempunyai hubungan dengan Im sie Hong Mo dan Pek Ih Hong Li. Tapi... kepandaiannya justru...."

Kim siauw suseng tertawa geli.

"Benar."

Sam Gan sin Kay tertawa.

"Hmm"

Dengus Tok Pie sin wan.

"Kalian jangan mentertawakan diriku. Kalian berdua Bu Lim Ji Khie, tapi kini harus dipanggil Bu Lim Ji Kwei (Dua Kura-kura Rimba persilatan)"

"Eh? Lutung gila...."

Sam Gan sin Kay melotot.

"Sudahlah Jangan ribut"

Ujar Lim Peng Hang.

"Kita masih harus berjaga-jaga, karena kemungkinan besar Im sie Hong Mo masih akan muncul."

"Percuma kita berjaga-jaga"

Kim siauw suseng menggelengkan kepala.

"Kalau Im sie Hong Mo muncul lagi, paling... kita juga pasrah."

"Yaah..."

Sam Gan sin Kay menghela nafas.

"Tidak disangka Bu Lim Ji Khie akan pasrah dalam hal ini"

"Melawan juga percuma. Malah bisa-bisa kita akan mati seperti siauw Lim sam Tiang lo,"

Ujar Kim siauw suseng.

"Aaakh"

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kapan cie Hiong dan ceng Im pulang?"

"Pengemis bau Menurut pendapatmu, apakah Cie Hiong dapat menghadapi Im sie Hong Mo?"

Tanya Kim siauw suseng mendadak.

"Entahlah."

Sam Gan sin Kay menggelengkan kepala.

"Tapi mudah-mudahan cie Hiong dapat menghadapinya Kalau tidak...."

"Lebih baik dia dan ceng Im jangan pulang dulu,"

Sambung Lim Peng Hang.

"Cie Hiong dapat merobohkan Empat Dhalai Lhama dan Bu Lim sam Mo, bagaimana mungkin tidak dapat menghadapi Im sie Hong Mo?"

Ujar Tok Pie sin Wan.

"Aku yakin dia dapat menghadapi Im sie Hong Mo."

"Mudah-mudahan"

Sahut Bu Lim Ji Khie dan Lim Peng Hang.

Bab 39 Muh san Nao Kui (Lima setan Gunung Muh san) Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im memang sedang dalam perjalanan pulang.

Apa yang telah terjadi di rimba persilatan, mereka berdua sama sekali tidak mengetahuinya.

Mereka berdua menunggang seekor kuda, memupuk cinta kasih sambil menikmati keindahan alam yang mereka lewati.

"Kakak Hiong, setelah kita sampai di markas pusat Kay Pang, apa rencanamu?"

Tanya Lim Ceng Im sambil tersenyum lembut.

"Kita menikah, lalu hidup tenang dan bahagia di tempat terpencil,"

Jawab Tio cie Hiong.

"Benar."

Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Aku sudah jemu berkecimpung di rimba persilatan, maka alangkah baiknya kita hidup tenang dan bahagia di tempat terpencil, jadi kita tidak akan dipusingkan lagi oleh urusan rimba persilatan."

"Adik Im"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kalau kita punya anak kelak, apakah harus di ajari ilmu silat?"

"Itu memang harus,"

Ujar Lim Ceng Im.

"Kalau tidak. anak kita akan dihina orang."

"Kalau begitu, sudah barang tentu anak kita akan berkecimpung dalam rimba persilatan, kan?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Pasti. Tidak mungkin akan ikut kita hidup di tempat terpencil, sebab anak kita harus mencari pengalaman di luar."

Lim Ceng Im tersenyum.

"Eh?"

Tio Cie Hiong tertawa geli.

"Kita belum menikah, tapi sudah membicarakan anak. Apakah tidak terlampau awal?"

"Engkau yang memulai, aku cuma menyambung."

Lim Ceng Im cemberut.

"Ya, kan?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"ohya, engkau ingin anak lelaki atau anak perempuan?"

"Anak lelaki boleh, anak perempuan pun tidak jadi masalah,"

Sahut Lim Ceng Im sungguhsungguh .

"Bagus Memang harus begitu."

Tio Cie Hiong tersenyum dan menambahkan.

"Anak lelaki harus setampan aku, anak perempuan harus secantik engkau."

"Tentu."

Lim Ceng Im tertawa gembira.

"Kakak Hiong, kita pasti akan bertambah bahagia setelah dikaruniai anak."

"Benar. Tapi... kita juga harus baik-baik mendidik anak. agar tidak mencemarkan nama kita,"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Ng"

Lim Ceng Im mengangguk.

Begitulah mereka berdua melakukan perjalanan sambil bercakap-cakap.

Kadang-kadang mereka bersenda gurau, bahkan sering pula Tio Cie Hiong meniup sulingnya.

Hari ini mereka memasuki kota Pie Hong, dan begitu memasuki kota tersebut Tio Cie Hiong teringat sesuatu.

"Adik Im, aku ingin mengatakan sesuatu, engkau jangan salah sangka ya"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Katakanlah"

Lim Ceng Im tersenyum.

"Tidak mungkin aku akan salah sangka terhadapmu."

"Ini kota Pie Hong, maka..."

"Aku tahu."

Lim Ceng Im tersenyum lagi.

"Engkau ingin mengajakku berkunjung ke rumah hartawan Lie, bukan?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Itu tidak apa-apa,"

Ujar Lim Ceng Im sungguh-sungguh.

"Jadi akupun bisa berkenalan dengan Nona Lie. setelah kami bertemu, dia pun tidak usah terus merindukanmu."

"Memang begitulah maksudku."

Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil tersenyum lembut.

Betapa kaget dan gembiranya hartawan Lie, ia menyambut kedatangan mereka dengan penuh keramahan.

Namun di balik itu, wajahnya tampak murung sekali.

"Ha ha cie Hiong Aku tak menyangka engkau masih ingat kepadaku silakan duduk"

"Terimakasih, paman"

Tio Cie Hiong duduk. dan Lim Ceng Im duduk di sebelahnya.

"ohya, nona ini..."

Hartawan Lie memandang Lim Ceng Im dengan penuh perhatian.

"Dia bernama Lim Ceng Im, calon istriku."

Tio Cie Hiong memperkenalkan.

"ooooh"

Hartawan Lie manggut-manggut.

"sungguh cantik Nona Lim, kalian memang pasangan yang serasi."

"Paman Di mana bibi?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"Dia... dia sedang beristirahat di dalam kamar...,"

Jawab hartawan LieJustru di saat bersamaan muncullah nyonya Lie dengan air mata berderai-derai.

"cie Hiong syukurlah engkau datang siu sien pasti tertolong..."

Ujarnya.

"Apa?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Apa yang terjadi atas diri adik Siu Slen? Bibi, ceritakanlah"

"Nak..."

Nyonya Lie menangis terisak-isak.

"Begini..."

Hartawan Lie memberitahukan.

"sebulan lalu, kota ini diserbu para perampok, bahkan para perampok itu memperkosa para gadis. Betapa takutnya kami sekeluarga, mendadak muncul beberapa perampok di sini..."

"Kemudian bagaimana?"

Tanya Tio Cie Hiong tegang.

"Beberapa perampok itu menangkap siu sien..."

Lanjut hartawan Lie.

"Tiba-tiba muncul seorang pemuda, yang langsung menyerang perampok-perampok itu, bahkan membunuh mereka. setelah itu, pemuda tersebut melesat ke luar membunuh perampok-perampok yang lain."

"siapa pemuda itu?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Dia bernama Kam Pek Kiam,"

Jawab hartawan Lie dan memberitahukan.

"Pemuda itu kembali ke mari lagi, maka kami sangat ber-terimakasih kepadanya Justru sungguh di luar dugaan, dia dan siu sien saling memandang..."

"Mereka saling jatuh hati barangkali?"

Tlo cie Hiong tersenyum.

"Benar."

Hartawan Lie manggut-manggut.

"sebab siu sien berterus terang pada kami, karena itu kami pun bertanya pada Kami Pek Kian. Ternyata pemuda itu juga suka kepada siu sien. Tentunya sangat menggembirakan kami, sehingga kami pun menjodohkan mereka. Akan tetapi..."

"Terjadi sesuatu?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Ya."

Hartawan Lie mengangguk.

"Kemarin kepala perampok berjumlah lima orang datang ke mari..."

"Kam Pek Kian itu dirobohkan oleh kelima perampok?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"sebetulnya Kam Pek Kian tidak kalah, namun salah seorang kepala perampok itu mengeluarkan sesuatu, kemudian dilemparkannya ke-tanah dan mengebulkan asap. membuat Kam Pek Kian langsung pingsan. Kelima kepala perampok itu menangkapnya, bahkan juga menangkap siu sien."

Hartawan Lie memberitahukan dengan wajah murung.

"Cie Hiong, selamatkanlah mereka...."

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Ohya, apakah paman tahu di mana sarang perampokperampok itu?"

"Mereka menyebut diri mereka Muh san Ngo Kui,"

Ujar hartawan Cie.

"Kalau begitu, tempat tinggal mereka pasti berada di Gunung Muh san,"

Ujar Tio Cie Hiong dan bertanya.

"Paman tahu di mana Gunung Muh san itu?"

"Tahu."

Hartawan Cie mengangguk.

"Kira-kira lima puluh mil dari sini, harus melalui jalan ke utara."

"Kalau begitu kami berangkat sekarang,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Paman dan bibi tenang saja Kami pasti dapat menyelamatkan Adik siu sien dan Kam Pek Kian."

"Terima kasih, Cie Hiong"

Ucap Hartawan Lie.

"Nak"

Ucap Nyonya Cie dengan air mata bercucuran.

"Terimakasih..."

Tio Cie Hiong tersenyum, lalu mengajak Lim Ceng Im berangkat ke Gunung Muh san.

"Akan kuhabiskan para perampok itu"

"Adik Im, jangan sembarangan membunuh"

Pesan Tio Cie Hiong.

"Tapi..."

Lim Ceng Im mengerutkan kening.

"Aku akan memusnahkan kepandaian mereka, jadi engkau tidak usah berbuat dosa membunuh orang"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Ya, Kakak Hiong."

Urn ceng Im mengangguk.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im telah tiba di kaki Gunung Muh san.

setelah menambatkan kudanya di pohon, Tio Cie Hiong memungut sebatang bambu untuk Lim Ceng Im, lalu mengajak gadis itu mendaki ke atas.

"Kakak Hiong, kenapa tidak menggunakan ginkang Bukankah lebih cepat?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Kita belum tahu di mana sarang perampok-perampok itu,"

Jawab Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Kalau kita berjalan kaki, pasti muncul perampok menghadang kita, jadi kita bisa bertanya di mana sarang mereka"

"Betul, Kakak Hiong."

Lim Ceng Im manggut-manggut. Mereka terus mendaki melaluijalan setapak. Berselang beberapa saat kemudian, Tio cie Hiong berhenti mendadak.

"Kakak Hiong...?"

Lim Ceng Im heran.

"Adik Im"

Bisik Tio cie Hiong.

"Ada bebwrapa orang sedang mengintai kita di atas pohon."

"oh?"

Lim Ceng Im segera memandang ke atas mengarah ke pohon-pohon, namun tidak melihat apa-apa.

"Kok aku tidak melihat mereka?"

"Mereka bersembunyi di balik dedaunan yang lebat, maka engkau tidak melihat mereka,"

Sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Mereka akan memanah kita." (Bersambung ke bagian 25)

Jilid 25 Tio cie Hiong memungut beberapa batu kecil, kemudian mengajak Lim ceng Im mendaki lagi.

Tapi sekonyong-konyong...

Serrr Seeer Seeer Terdengar suara ser-seran kemudian, tampak puluhan panah meluncur cepat ke arah mereka.

Tio cie Hiong mengibaskan lengan bajunya, panah-panah itu terpental semua, kemudian ia mengayunkan tangannya.

"Aaaakh..."

Terdengar suara jeritan, lalu tampak beberapa sosok tubuh berjatuhan dari pohon.

Terdengar Tio cie Hiong menyambit mereka dengan batu kerikil.

Perlahan-lahan Tio cie Hiong menghampiri mereka.

Seketika juga mereka berlutut minta ampun.

"Tayhiap (Pendekar Besar), ampunilah kami"

"Aku akan mengampuni nyawa kalian"

Sahut Tio cie Hiong sambil mengibaskan lengan bajunya. Beberapa perampok itu menjerit-jerit lagi, ternyata Tio cie Hiong telah memusnahkan kepandaian mereka.

"Di mana pemimpin kalian?"

Tanya Lim ceng Im membentak.

"Mereka... mereka berada di puncak gunung...,"

Jawab salah seorang perampok.

"Mereka sedang berpesta."

"Kakak Hiong, mari kita ke puncak"

Ajak Lim ceng Im.

Tio Gouw Han Tiong mengangguk.

Mereka lalu melesat menggynakan ginkang.

Maka tak seberapa lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di puncak.

Tampak beberapa buah tenda di situ, dan puluhan orang sedang minum-minum sambil tertawa-tawa.

Tio Cie Hiong dan Lim ceng Im mendekati mereka.

Ketika melihat kemunculan mereka berdua, para perampok itu tertegun.

"siapa kalian?"

Bentak beberapa perampok.

"Kami ingin menemui pemimpin kalian"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Ha ha ha"

Salah seorang perampok tertawa gelak.

"saudara-saudara, kita sungguh beruntung Ada gadis cantik mengantar diri, kita..."

Plak Plak Terdengar suara tamparan.

Aduuuh Jerit perampok itu kesakitan.

Ternyata Lim Ceng Im bergerak cepat menampar muka perampok itu.

Perampok perampok lain tampak terkejut dan langsung menghunus pedang.

"serang mereka"

Teriak salah seorang perampok.

seketika para perampok itu menyerang Tio cie Hiong dan Lim ceng Im, tapi mendadak badan Tio Cie Hiong bergerak laksana kilat, dan seketika terdengarlah suara jeritan-jeritan.

Dalam waktu yang singkat sekali, para perampok itu telah roboh.

Kemudian muncul lima orang bertampang seram, yang ternyata Muh san Nao Kui (Lima setan Muh san).

"siapa kalian?"

Bentak Muh san Ngo Kui.

"sungguh berani kalian merobohkan para anak buah kami"

"Aku Pek Ih sin Hiap"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Haaah..."

Muh san Nao Kui terbelalak dan wajah mereka pun berubah pucat pias.

"Pek Ih sin Hiap?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Pek Ih sin Hiap. ampunilah kami Mulai sekarang kami tidak akan berani melakukan kejahatan lagi. Ampunilah kami"

"Aku akan mengampuni nyawa kalian, tapi kepandaian kalian harus kumusnahkan"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Jangan..Jangan..."

Muh san Nao Kui langsung menjatuhkan diri berlutut.

"Jangan memusnahkan kepandaian kami"

Tio Cie Hiong tersenyum, lalu mendadak tengannya bergerak menggunakan Bit Ciat sin Ci (Jari sakti Pemusnah Kepandaian) menyerang Muh san Ngo Kui.

"Aaakh..."

Jerit Muh san Nao Kui lalu terkapar.

"Kepandaian kalian telah musnah, maka mulai sekarang kalian harus menjadi orang baik-baik"

Ujar Tio Cie Hiong, lalu bersama Lim Ceng Im berjalan memasuki tenda. Mereka melihat seorang pemuda terikat kaki serta tangannya dengan rantai besi, dan seorang gadis diikat dengan tali.

"Adik siu sien"

Seru Tio Cie Hiong girang.

"Engkau... engkau Kakak Hiong?"

Cie siu sien terbelalak, seakan tidak percaya kepada penglihatannya .

"Benar, aku Tio Cie Hiong,"

Sahutnya dan berkata pada Lim Ceng Im.

"Adik Im, buka tali itu"

Lim Ceng Im mengangguk.

lalu membuka tali yang mengikat siu sien.

sedangkan Tio Cie Hiong mendekati pemuda tampan itu, yang ternyata Kam Bek Kian.

Tio Cie Hiong memegang rantai besi yang mengikat tangan dan kaki pemuda itu, kemudian menyentaknya sehingga putus.

"Haaah?"

Bukan main terkejutnya Kam Pek Kian, sehingga mulutnya ternganga lebar.

"Kakak Hiong"

Cie siu sien mendekatinya.

"Dia Kam Pek Kian."

"saudara Kam"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Anda... Anda pasti Tio Cie Hiong"

Seru Kam Pek Kian girang.

"Adik sien pernah menceritakan tentang dirimu.Jadi... Anda Pek Ih sin Hiap yang telah menggemparkan rimba persilatan."

"Itu hanya julukan kosong belaka,"

Sahut Tio Cie Hiong merendah.

"Terima kasih, saudara Tio"

Ucap Kam Pek Kian, lalu mendadak melesat ke luar.

Tak lama kemudian terdengarlah jeritan-jeritan yang menyayatkan hati.

Tio Cie Hiong mengerutkan kening, lalu melesat ke luar.

Betapa terkejutnya, karena melihat Muh san Nao Kui dan para perampok itu telah menjadi mayat.

sedangkan Kam Pek Kian duduk di bawah sebuah pohon sambil menangis tersedu-sedu, sehingga membuat Tio Cie Hiong terheran-heran.

Lim Ceng Im mendekati Tio Cie Hiong, dan Lie siu sien mendekati Kam Pek Kian sekaligus membelainya dengan penuh cinta kasih.

"Kakak Hiong, diakah yang membunuh semua perampok itu?"

Tanya Lim Ceng Im berbisik.

"Ng"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kenapa dia menangis setelah membunuh para perampok itu?"

Tanya Lim Ceng Im lagi dengan heran.

"Entahlah."

Tio cie Hiong menggelengkan kepala.

"Mari kita ke sana"

Mereka berdua mendekati Kam Pek Kian dan Cie siu sien, sementara Kam Pek Kian masih terus menangis.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im berdiri diam di hadapan mereka.

Lie siu sien memandang mereka berdua sambil menggeleng-gelengkan kepala, dan menghela nafas.

sesaat kemudian Kam Pek Kian berhenti menangis, lalu mendongakkan kepala memanda Tio Cie Hiong.

"saudara Tio Maaf..."

Ucapnya.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Tio Cie Hiong lembut, la tahu, bahwa batin Kam Pek Kian tertekan sesuatu.

"saudara Kam, kenapa engkau membunuh para perampok itu?"

Tanya Lim Ceng Im dan menambahkan.

"Padahal kepandaian mereka telah musnah."

"Aku... aku memang tidak bisa mengampuni para penjahat,"

Jawab Kam Pek Kian.

"Kalau aku bertemu penjahat, pasti kubunuh."

"saudara Kam, itu pasti ada sebab musababnya, bukan?"

Tio Cie Hiong menatapnya.

"Ya."

Kam Pek Kian mengangguk dan menutur.

"Ketika aku berusia sebelas tahun, terjadi malapetaka di keluargaku..."

"Malapetaka apa?"

Tanya Lim Ceng Im.

"orang tuaku sangat kaya dan berhati bajik, selalu menolong orang dan lain sebagainya,"

Jawab Kam Pek Kian dan melanjutkan penuturannya.

"Aku mempunyai tiga kakak perempuan. Pada suatu malam muncul belasan orang di rumahku. Mereka merampok dan membunuh kedua orang tuaku, bahkan kemudian memperkosa ketiga kakak perempuanku hingga mati. Aku menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala sendiri Ketika para perampok itu mau membunuhku, tiba-tiba muncul seorang tua menolongku, dan membunuh semua perampok itu. sejak saat itu aku berguru kepada orang tua tersebut."

"Aaaakh..."

Tio Cie Hiong menghela nafas.

"saudara Kam, engkau harus melupakan kejadian itu, agar tidak terus menghantui hatimu Kedua orang tuaku mati ditangan Bu Lim sam Mo, kakak perempuanku mati di tangan Empat Dhalai Lha-ma Tibet. Namun aku tidak membunuh mereka, hanya memusnahkan kepandaian mereka saja."

"saudara Tio"

Kam Pek Kian menatapnya.

"Engkau berhati bajik, aku kagum kepadamu."

"saudara Kam, engkau berasal dari mana?"

Tanya Tio cie Hiong, karena mendengar logatnya, agak lain.

"Aku berasal dari Kang Lam,"

Jawab Kam Pek Kian memberitahukan.

"Aku pergi mengunjungi famili, kebetulan menginap di Kota Pie Hong."

"Karena itu, engkau menyelamatkan Kakak siu sien, bukan?"

Lim Ceng Im tersenyum.

"Ya."

Kam Pek Kian mengangguk.

"setelah itu, kalian berdua pun saling mencinta,"

Ujar Lim Ceng Im dan menambahkan.

"orang tua Kakak siu sien telah memberitahukan kepada kami."

"Adik Ceng Im, engkau dan Kak Hiong...?"

Wajah Lie siu sien kemerah-merahan.

"Dia calon istriku."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Oooh"

Lie siu sien manggut.

"Kalian berdua memang pasangan yang serasi."

"Begitu pula kalian berdua,"

Sahut Lim Ceng lm.

"ohya, saudara Kam..."

Tio Cie Hiong teringat sesuatu.

"Bolehkah engkau memperlihatkan ilmu pedangmu? "

"Boleh."

Kam Pek Kian mengangguk. lalu bergerak mempergunakan pedang. Ia mempertunjukkan ilmu pedangnya, setelah itu bertanya.

"Bagaimana ilmu pedangku? saudara Tio, aku mohon petunjuk"

"Ilmu pedangmu cukup lihay,"jawab Tio Cie Hiong dan melanjutkan.

"Tapi kalau berhadapan dengan penjahat yang berkepandain tinggi, engkau pasti kewalahan menghadapinya. oleh karena itu..."

"Terimakasih, saudara Tio"

Ucap Kam Pek Kian cepat.

"sebab..."

Kam Pek Kian tersenyum.

"Aku tahu saudara Tio berniat mengajar aku semacam ilmu pedang, maka aku mengucapkan terima kasih kepadanya."

"Benar,"

Tio Cie Hiong manggut-manggul.

"Aku memang berniat begitu."

"Terimakasih, saudara Tio"

Ucap Kam Pek Kian dengan girang. Tio Cie Hiong mengambil pedang kemudian mempertunjukkan Toat Beng Kiam Hoat. Kam Pek Kian menyaksikannya dengan mulut terngaga.

"Nah"

Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan setelah berhenti mempertunjukkan ilmu pedang tersebut.

"Aku akan mengajarmu Toat Beng Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pencabut Nyawa) ini."

"saudara Tio..."

Kam Pek Kian terbelalak.

"Perhatikan baik-baik"

Tio Cie Hiong mulai mengajarnya ilmu pedang itu.

Kam Pek Kian mencurahkan perhatiannya.

setelah Tio Cie Hiong mengajarnya berulang kali, Kam Pek Kian dapat menguasai ilmu pedang tersebut, namun masih lamban gerakannya.

"saudara Kam"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Engkau harus terus berlatih agar bisa cepat"

"Ya."

Kam Pek Kian mengangguk.

"Ingat Kalau tidak terpaksa, janganlah engkau menggunakan ilmu pedang ini, sebab setiap jurusnya pasti mencabut nyawa orang"

Pesan Tio Cie Hiong.

"Ya."

Kam Pek Kian mengangguk lagi.

"sekarang mari kila kuburkan mayal-mayat itu"

Ujar Tio cie Hiong. Mereka lalu menggali sebuah lubang besar, dan menguhurkan mayat-mayat itu di dalamnya. setelah itu, Tio Cie Hiong berpamit.

"Kakak Hiong tidak mau ke rumah lagi?"

Tanya Lie siu sien.

"Kami masih harus melanjutkan perjalanan, sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu"

Jawab Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"ohya, kalian berdua harus pulang, sebab paman dan bibi sangat mencemaskan kalian."

"Ya."

Lie siu sien mengangguk.

"Kalau kalian sempat kelak. jangan lupa ke rumah kami"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"sampaijumpa dan semoga kalian berdua hidup bahagia"

"sama-sama,"

Sahut Kam Pek Kian sambit tersenyum. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im melesat pergij Lie siu sien dan Kam Pek Kian saling memandang, kemudian tersenyum mesra.

"Kakak Kian"

Ujar Cie siu sien dengan suara rendah.

"Kalau Kakak Hiong dan Adik Im tidak muncul, entah bagaimana nasib kita?"

"Adik sien"

Kam Pek Kian menghela nafas.

"Yang jelas kita telah berhutang budi kepada saudara Tio, entah kapan dan harus bagaimana kita membalas budi pertolongannya itu?"

Bab 40 Mayat-mayat hidup Ketika hari mulai sore, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im memasuki sebuah desa yang cukup besar.

Namun sungguh mengherankan, desa itu tampak sepi sekali.

Lim Ceng Im menengok ke sana ke mari sambil mengerutkan kening, kemudian bergumam.

"Desa ini cukup besar, tapi kenapa begitu sepi?"

"Adik Im"

Sahut Tio Cie Hiong serius.

"Pasti telah terjadi sesuatu di desa ini, maka lebih baik kita bertanya kepada salah seorang penduduk."

"Kakak Hiong"

Lim Ceng Im menunjuk ke sebuah rumah yang pintunya terbuka.

"Mari kita bertanya kepada penghuni rumah itu"

Tio Cie Hiong mengangguk.

Mereka berdua lalu berjalan ke rumah itu.

Walau pintu rumah itu terbuka, namun Tio cie Hiong dan Lim Ceng Im tidak berani lancang memasukinya.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im saling memandang, kemudian Tio Cie Hiong mengetuk pintu.

"siapa?"

Terdengar suara sahutan dari dalam.

"Maaf, kami kebetulan lewat di desa ini, maka mampir sebentar,"

Ujar Tio Cie Hiong. sesaat kemudian, muncullah seorang gadis berusia belasan yang terus menatap Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im dengan mata terbelalak.

"siapakah kalian?"

Tanyanya.

"Adik"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kami ingin bertanya, kenapa desa ini begitu sepi?"

"Karena...."

Ucapan gadis itu terputus, karena ada orang bertanya dari dalam.

"Bwee Ji (Anak Bwee), siapa yang di luar?"

"Ada tamu, Ayah,"

Sahut gadis itu.

"Undang mereka masuk"

Suara seruan dari dalam.

"Ya, Ayah."

Bwee Ji mengangguk.

"Kakak. masuklah"

"Terimakasih"

Ucap Tio Cie Hiong lalu melangkah kc dalam diikuti Lim Ceng Im dari belakang.

"silakan duduk"

Ucap Bwee Ji sopan. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im mengangguk. lalu duduk sambil memandang ke dalam, sedangkan Bwee Ji menyuguhkan dua cangkir teh.

"Kakak. silakan minum"

"Terimakasih"

Ucap Tio Cie Hiong dan bertanya.

"Adik, kenapa ayahmu?"

"Ayahku sakit,"

Jawab Bwee Ji dengan wajah murung.

"sejak malam itu, ayahku sakit..."

"Oooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Adik, kenapa tidak memanggil tabib ke mari memeriksanya? "

"Kami... kami tidak mempunyai uang,"

Gadis itu menundukkan kepala.

"Aku mengerti ilmu pengobatan, bolehkah aku memeriksa ayahmu?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Boleh, boleh."

Bwee Ji girang sekali.

"Mari ikut aku masuk"

Tio cie Hiong dan Lim Ceng Im mengikuti Bwee Ji ke dalam. Tampak seorang tua berbaring di ranjang kayu, wajahnya pucat pias dan nafasmu memburu.

"Paman"

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Aku akan memeriksa Paman sebentar, Paman tidak berkeberatan kan?^ "Terimakasih..."

Ucap orang tua itu. Tio Cie Hiong mulai memeriksa nadi orang tua itu, berselang sesaat ia manggut-manggut seraya berkata .

"Tidak apa-apa, Paman hanya mengalami ketakutan, sehingga membuat jantung Paman tergoncang."

"Aku... aku memang takut sekali,"

Ujar orang tua itu. Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian mengambil sebutir obat lalu dimasukkan ke mulut orang tua itu.

"telanlah obat itu"

Ujar Tio Cie Hiong. orang tua itu menelan obat tersebut. sesaat kemudian, nafasnya sudah norma kembali.

"Terimakasih"

Ucap orang tua itu sambil bangun duduk.

"ohya, sebetulnya siapa kalian?"

"Kami bernama Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Kebetulan kami lewat di sini, karena desa ini tampak sepi, niaka kami merasa heran."

"Aaaakh..."

Orang tua itu menghela nafas.

"seluruh penduduk desa ini di cekam ketakutan."

"Apa yang telah terjadi di desa ini?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Beberapa malam lalu..."

Tutur orang tua itu.

"Mendadak anjing-anjing di desa ini melolong menyeramkan, kemudian muncul beberapa sosok bayangan hitamn"

"Apa itu?"

Tanya Lim Ceng Im merinding.

"Mereka berjalan kaku. sekujur badan mereka berlumuran tanah, membengkak dan berbau busuk."

Ujar orang tua itu dengan wajah diliputi ketakutan.

"Apakah mereka mayat-mayat hidup?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil mengerutkan kening.

"Benar."

Orang tua itu mengangguk.

"Mayat-mayat hidup itu telah membunuh beberapa orang. Iiiih sungguh mengerikan"

"Apakah mayat-mayat itu muncul setiap malam?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Ya."

Orang tua itu menarik nafas.

"Malam itu aku pulang agak larut. Aku melihat maya-mayat itu sedang mengoyak-ngoyak tubuh orang, dan tak lama aku langsung jatuh pingsan."

"Heran"

Gumam Tio Cie Hiong.

"Bagaimana mungkin ada mayat bisa hidup kembali? sungguh tak masuk akal"

"Kakak Hiong, mari kita cepat pergi"

Ajak Lim Ceng Im ketakutan.

"Adik Im"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Aku harus membasmi mayat-mayat itu, agar tidak mengganas lagi di desa ini."

"Kakak Hiong..."

Lim Ceng Im terbelalak.

"Engkau... engkau ingin membasmi mayat-mayat hidup itu?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk pasti.

"Apakah engkau tidak takut?"

Tanya Lim Ceng Im sambil memandangnya.

"Adik Im"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Apanya yang ditakuti?"

"Tapi..."

Lim Ceng Im menundukkan kepala.

"Aku takut sekali."

"Kalau engkau takut, begitu mayat-mayat hidup itu muncul, engkau diam saja di dalam rumah ini"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Aku akan keluar menghadapi mereka."

"Kakak Hiong..."

"Adik Im"

Tio Cie Hiong tersenyum lagi.

"Apakah engkau tidak percaya kepada diriku?"

"Aku percaya, tapi mereka mayat-mayat hidup,.."

Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

"Lebih gampang menghadapi mayat hidup daripada manusia. sebab mayat hidup tidak bisa berpikir, sedangkan manusia dapat berpikir dan banyak akalnya,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Tapi... menyeramkan."

"Adik Im, siapa pun akan menjadi mayat. Begitu pula kita. Kalau kita sudah mati, bukankah akan menjadi mayat?"

"Iiiih"

Lim Ceng Im mengerutkan kening.

"Kakak Hiong, jangan omong begitu ah"

"Adik"

Tio cie Hiong menatap Bwee Ji seraya bertanya.

"Apakah engkau takut kepada mayat hidup itu?"

"Memang takut, tapi tidak begitu takut,"

Sahut Bwee Ji.

"Eeeeh?"

Lim Ceng Im melongo.

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan itu"

"Takut karena mayat-mayat itu bisa hidup dan membunuh orang, tidak begitu takut karena kita bisa lari,"

Jawab Bwee Ji menjelaskan.

"sedangkan mayat-mayat itu tidak bisa lari"

"Benar."

Tio Cie Hiong tersenyum sambil manggut-manggut.

"Kalau orang sudah ketakutan, bagaimana mungkin bisa lari lagi?"

Lim Ceng Im menggelenggelengkan kepala.

"Itu tergantung pada keberanian masing-masing, lagi pula kita harus tenang menghadapi segala sesuatu,"

Sahut Bwee Ji.

"Eh?"

Lim Ceng Im tertegun.

"Adik, berapa usiamu sekarang?"

"Tiga belas."

Bwee Ji memberitahukan.

"Ketika mayat-mayat hidup itu muncul, aku sering mengintip dari lubang jendela. Mayat-mayat hidup itu berjalan kaku. Kalau kita tidak mendekatinya, mereka tidak bisa mengejar kita karena mereka tidak bisa lari. Dari tadi ayah menyuruhku menutup pintu, tapi aku tidak menurutinya."

"Bwee Ji"

Bentak orang tua itu.

"Kenapa engkau makin bandel?"

"Ayah, kalau belum malam, mayat-mayat hidup itu tidak akan muncul. Kenapa harus tutup pintu sekarang? Lagi pula tanpa setahu ayah, aku sudah bikin sebuah pintu belakang. Apabila mayatmayat hidup itu ke mari, kita bisa kabur lewat pintu belakang."

"Oh?"

Qrang tua itu tersenyum.

"Bwee Ji, engkau memang cerdik"

Sementara hari sudah mulai gelap. Ketika Bwee Ji ingin menutup pintu, Tio Cie Hiong mencegahnya.

"Aku duduk di sini, pintu tidak usah ditutup,"

"Kakak tidak takut pada mayat-mayat hidup itu?"

Tanya Bwee Ji terbelalak.

"Tidak,"

Sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Bahkan aku ingin membasmi mereka."

"oh?"

Bwee Ji menatap Tlo Cie Hiong dalam-dalam.

"Kalau begitu... kakak pasti berkepandaian tinggi"

"Tidak begitu tinggi."

Tio Cie Hiong tersenyum lagi dan sangat menyukai gadis kecil itu.

Tak terasa malam sudah tiba.

Tio cie Hiong, Lim Ceng Im dan Bwee Ji berada di ruang depan, sedangkan orang tua itu berada di dalam dengan wajah pucat pias.

Berselang beberapa saat kemudian, terdengarlah suara lolong anjing yang menyeramkan.

"Kakak Mungkin mayat-mayat hidup itu sudah ke mari,"

Ujar Bwee Ji sambil mengintip ke luar melalui lubang jendela.

"Kakak Hiong..."

Lim Ceng Im ketakutan.

"Adik Im"

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kok nyalimu begitu kecil? Lihatlah adik itu Dia tidak ketakutan, melainkan malah terus mengintip ke luar."

"Dia masih kecil, maka belum mengenal rasa takut,"

Sahut Lim Ceng Im sambil cemberut, kemudian menarik nafas dalam-dalam.

"Nah, aku sudah tidak takut lagi."

"oh?"

Tio Cie Hiong tertawa.

"Tapi kenapa wajahmu tampak pucat?"

"Tuh"

Bwee Ji yang mengintip itu memberitahukan.

"Mayat-mayat hidup itu sudah muncul."

Tio Cie Hiong manggut-manggut, lalu berjalan ke luar dengan tenang.

sedangkan Lim Ceng Im juga melongok ke luar.

Begitu melihat mayat-mayat hidup itu, ia nyaris pingsan seketika.

Bwee Ji malah terus mengintip dengan penuh perhatian, ingin tahu bagaimana cara Tio Cie Hiong membasmi mayat-mayat itu.

Ketika mendekati mayat-mayat hidup itu, Tio Cie Hiong mengerahkan ilmu Penakluk iblis.

Maka tidak heran kalau mayat-mayat hidup itu langsung diam tak bergerak lagi.

Tio Cie Hiong memandang mayat-mayat hidup itu.

la tahu bahwa mayat-mayat itu dibangkitkan oleh semacam ilmu sesat.

Kemudian ia mengibaskan tangannya ke arah mayat-mayat hidup itu.

Ternyata ia telah mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kang.

seketika mayat-mayat hidup itu mengepulkan asap.

lalu roboh dan hanya tinggal tulang belulang.

Tio Cie Hiong kembali ke rumah itu.

Bwee Ji menyambutnya dengan penuh kekaguman.

"Kakak hebat sekali"

Ujarnya.

"Eng kau memang berani, dari tadi terus mengintip"

Seru Tio Cie Hiong tersenyum sambil memandangnya.

"Kek kakak tahu aku terus mengintip?"

Bwee Ji heran.

"Tentu tahu."

Sahut Lim Ceng Im sambil tertawa kecil. Kini gadis itu tidak merasa takut lagi.

"Kakak Hiong, kenapa mayat-mayat hidup itu diam saja ketika kau dekati?"

"Adik Im"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Apakah engkau lupa, bahwa aku belajar Ilmu Penakluk iblis?"

"oooh?"

Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Aku lupa. Kalau engkau bilang dari tadi, aku pasti tidak merasa takut."

"Sebetulnya mayat-mayat itu tidak hidup, melainkan dibangkitkan oleh semacam ilmu sesat."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Aku justru masih merasa heran, siapa yang memiliki ilmu sesat itu."

"Jadi masih akan muncul mayat-mayat yang dibangkitkan lagi?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Mungkin."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Tapi ilmu sesat itu hanya mamcu membangkitkan mayat baru, yang belum lewat tujuh hari. Lagi pula kekuatan ilmu sesat itu pun hanya mampu bertahan sepuluh hari. Lewat sepuluh hari, mayat-mayat itu akan roboh dengan sendirinya."

"oooh"

Urn Ceng Im manggut-manggut.

"Kakak..."

Mendadak Bwee Ji menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tio Cie Hiong.

"Eh? Kenapa engkau?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Kakak, aku ingin jadi muridmu,"

Sahut Bwee Ji.

"Bwee Ji"

Orang tua itu muncul sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Mereka berdua hanya kebetulan lewat, bagaimana mungkin akan menerimamu sebagai murid?"

"Kakak..."

Bwee Ji memandang Tio cie Hiong dengan penuh harap.

"Bwee Ji, bangunlah"

Ujar Tio cie Hiong.

"Aku tidak mau bangun..."

"Bwee Ji"

Orang tua itu melotot.

"Jangan bandel, cepatlah bangun, jangan bikin malu ayahmu"

"Ayah"

Bwee Ji bangun tetapi cemberut.

"Bwee Ji"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sung-guh.

"Aku masih muda, maka tidak boleh menerima murid Lagi pula kami hanya lewat di desa ini..."

"Kakak Hiong"

Lim Ceng Im berbisik-bisik di telinga Tio Cie Hiong. Pemuda itu manggutmanggut sambil tersenyum.

"Bwee Ji"

Tanya Tio cie Hiong kemudian.

"Apakah engkau bersungguh-sungguh ingin belajar ilmu silat?"

"Ya."

Bwee Ji mengangguk.

"Kalau begitu..."

Tio Cie Hiong teringat sesuatu.

"ohya, apakah engkau bisa membaca?"

"Bisa,"

Jawab Bwee Ji cepat dan memberitahukan.

"Almarhumah yang mengajar aku menulis dan membaca."

"Bagus, bagus"

Tio Cie Hiong tertawa gembira.

"Kalau begitu, cepatlah siapkan kertas dan pit"

"Ya."

Bwee Ji segera melaksanakannya.

Tio Cie Hiong mulai menggambar dan menulis.

Ternyata ia menurunkan semacam ilmu lweekang, ilmu pukulan dan ilmu pedang, ia menggambar cara melatih ilmu lweekang, gerakan tangan kosong dan ilmu gedang serta keterangan-keterangannya.

Ketika hari mulai pagi, barulah selesai lalu diberikan kepada Bwee Ji.

Gadis itu menerimanya, kemudian terus duduk termenung.

"Bwee Ji, engkau harus berlatih dengan sungguh-sungguh"

Pesan Tio Cie Hiong.

"setelah engkau hafal dan mengerti, engkau harus membakar kertas-kertas ini ingat, jangan diperlihatkan kepada orang lain"

"Ya."

Bwee Ji mengangguk.

"Terimakasih, kakak"

"Bwee Ji"

Tio Cie Hiong membelainya..

"Hari sudah pagi, kami mau berangkat. Karena ayahmu masih tidur, maka kami tidak berpamit kepadanya."

"Kakak..."

Mata Bwee Ji mulai basah.

"Kalau kakak sempat kelak. jangan lupa ke mari lagi"

"Ya."

Tio Cie Hiong membelainya lagi, lalu melangkah pergi bersama Lim Ceng Im.

"Kakak sampai jumpa"

Seru Bwee Ji dengan air mata berlinang-linang.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im meloncat ke atas punggung kuda.

setelah lambaikan tangannya ke arah Bwee Ji, Tio Cie Hiong lalu memacukan kudanya.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im tiba di sebuah kota yang cukup besar.

Mereka berdua singgah di sebuah kedai teh untuk melepaskan lelah.

setelah duduk.

Tio cie Hiong segera memesan teh dan makanan kepada pelayan.

"Kakak Hiong..."

Ujar Lim Ceng Im sambil tersenyum,.

"Kenapa malam itu aku begitu takut?"

"Itu berarti engkau sering mendengar cerita yang menyeramkan, maka timbul rasa takutmu,"

Jawab Tio Cie Hiong sambil memandangnya.

"Padahal engkau berkepandaian tinggi. sedangkan Bwee Ji yang tidak mengerti ilmu silat, malah tidak begitu takut"

"Gadis itu memang pemberani, lagipula sangat cerdik,"

Ujar Lim Ceng Im.

"Bahkan dia berbakat untuk belajar ilmu silat. Karena itu...."

"Eng kau menyuruhku menurunkan kepadanya ilmu Iweekang, ilmu pukulan dan ilmu pedang."

Tio cie Hiong tersenyum.

"Adik Im, aku yakin bahwa dia berhasil mempelajarinya."

"Akupun begitu."

Lim Ceng Im manggut-manggut.

Pada waktu bersamaan, tampak beberapa orang memasuki kedai itu.

Kelihatannya mereka kaum pesilatan, sebab mereka membawa pedang.

setelah duduk dan memesan teh serta makanan, salah seorang dari mereka menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"sungguh di luar dugaan, rimba persilatan dilanda banjir darah lagi..."

Ucapan orang itu menarik perhatian Tio cie Hiong dan Lim Ceng Im. Kebetulan orang-orang itu duduk di sebelah kiri mereka, maka mereka dapat mendengar percakapan orang itu dengan jelas.

"Setelah Pek Ih Sin Hiap berhasil mengalahkan Empat Dhalai Lhama dan Bu Lim Sam Mo, seharusnya rimba persilatan menjadi aman. Tapi..."

"Memang sudah aman, hanya saja belum lama ini telah muncul seorang iblis yang begitu ganas."

"Para murid tujuh partai besar dibunuh dengan cara begitu, Delapan belas Arhat siauw Lim mati dengan puluhan tusukan dan sabetan pedang..."

"Bahkan siauw Lim sam Tianglopun mati begitu mengenaskan, tubuh mereka bertiga terpotong dua."

"Yang mengherankan adalah para ketua tujuh partai besar, yang semuanya hilang entah ke mana."

"setelah iblis itu muncul, kaum golongan hitam dan sesat pun mulai mengganas. Namun untung muncul pula seorang wanita, yang selalu membunuh kaum golongan hitam dan sesat"

"Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong pun ikut hilang..."

"Begitupula Lam Kiong Hujin."

"Aaaakh, rimba persilatan makin kacau Ku-pikir lebih baik kita hidup di tempat sepi."

"Benar. Kalau kita masih berkecimpung dalam rimba persilatan, mungkin kita juga akan menjadi korban."

"Kini tujuh partai besar telah hancur, sedangkan Bu Lim Ji Khie, ketua Kay Pang dan Tok Wie sin wan juga telah terluka ..."

Mendengar sampai di sini, wajah Lim Ceng Im langsung berubah pucat. Tio Cie Hiong segera memberi isyarat kepadanya agar tenang.

"Justru kaum rimba persilatan tidak habis pikir, kenapa Pek Ih Sin Hiap tidak muncul membasmi iblis itu."

"Mungkin Pek Ih sin Hiap telah mengundurkan diri dari rimba persilatan."

"Kalau benar begitu, bagaimana mungkin Pek Ih sin Hiap membiarkan iblis itu terus mengganas?"

"Mungkin... Pek Ih sin Hiap belum sembuh dari sakitnya."

"Menurut pendapatku, setelah terluka oleh pukulan Bu Lim sam Mo, kepandaian Pek Ih sin Hiap musnah, maka kini dia tinggal di suatu tempat terpencil."

"Aaakh... Kini rimba persilatan telah berada di ambang kehancuran, siapa yang mampu menyelamatkan rimba persilatan lagi? siauw Lim sam Tiang lo dan Bu Lim Ji Khie masih tidak mampu melawan iblis itu, apa lagi orang lain? Nah, daripada kita terbunuh, bukankah lebih baik hidup tenang di tempat sepi?"

"Kami setuju. Tiada gunanya kita terus berkecimpung dalam rimba persilatan. sudah waktunya kita mengundurkan diri."

"Justru kaum rimba persilatan tidak habis pikir, sebetulnya siapa iblis itu. sebab kepandaiannya begitu tinggi...."

"Kakak Hiong"

Bisik Lim Ceng Im.

"Kita harus segera pulang ke markas pusat Kay Pang."

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk. kemudian bergumam.

"Apakah benar apa yang diceritakan mereka itu?"

"Aku yakin benar,"

Sahut Lim Ceng Im cemas.

"Kita harus segera pulang, entah bagaimana keadaan ayah dan kakek?"

"Baiklah."

Tio cie Hiong mengangguk lagi.

"Kita harus melakukan terjala nan siang malam...."

Bab 41 Diselimuti teka-teki Dua hari kemudian, Tio cie Hiong dan Lim ceng Im telah tiba di markas pusat Kay Pang.

Bet apa gembiranya para anggota Kay Pang ketika melihat mereka.

Para anggota Kay Pang langsung bersorak sorai sambil memukul-mukulkan tongkat bambu mereka ke tanah.

sedangkan Tio cie Hiong dan Lim ceng Im segera berlari ke dalam markas.

Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan Tok pie sin Wan berhambur ke luar menyambut mereka dengan wajah ceria.

"Ayah...."

Lim Ceng Im langsung mendekap di dada ketua Kay Pang.

"Nak"

Lim Peng Hang membelainya.

"Engkau tidak apa-apa, kan?"

"Aku baik-baik saja, Ayah,"

Sahut Lim Ceng Im dengan mata basah, kemudian memandang Bu Lim Ji Khie.

"Kakek Kakek sastrawan...."

"Ha ha ha"

Bu Lim Ji Khie tertawa.

"syukurlah kalian sudah pulang,Jadi kami tidak usah mencemaskan kalian lagi."

"Ayoh, kita duduk"

Ujar Tok Pie sin Wan. Mereka semua lalu duduk. suasana pun berubah semarak. Berselang sesaat, barulah sam Gan sin Kay membuka mulut.

"cie Hiong, bagaimana pengalamanmu di Tibet?"

"Ternyata Dhalai Lhama tua telah salah paham...."

Jawab Tio Cie Hiong dan menutur tentang itu.

"syukurlah urusan itu dapat diselesaikan dengan baik, tapi di rimba persilatan malah...."

"Telah muncul seorang iblis, kan?"

Sambung Lim Ceng Im.

"Kalian sudah tahu?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Dua hari lalu kami baru tahu. Ketika itu kami mampir di sebuah kedai teh...."

Lim Ceng Im memberitahukan.

"Aaakh..."

Kim siauw suseng menghela nafas panjang.

"Tujuh partai besar telah hancur, para ketuanya juga hilang entah ke mana sungguh membingungkan sekali"

"Kakek pengemis?"

Tanya Tio cie Hiong.

"Apakah iblis itu telah menyerang ke mari?"

"Ya."

Sam Gan sin Kay mengangguk.

"Kami semua terluka, dan banyak anggota yang mati"

"Tahukah Kakek siapa iblis itu?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Tidak tahu."

Sam Gan sin Kay menggelengkan kepala, kemudian menambahkan.

"Tapi dia menyebut dirinya Im sie Hong Mo."

"Apa?"

Tio Cie Hiong terkejut.

Ternyata ia masih ingat akan apa yang pernah diceritakan Lam Hai sin ceng mengenai Im sie Hong Jin (orang Gila Alam Baka), Lam Hai sianjin (orang suci Laut selatan), Pak Kek siang ong (Dewa Kutub utara) dan cian ciu Kwan Im (Kwan Im Lengan seribu).

oleh karena itu ia bergumam dengan kening berkerut.

"Im sie Hong Mo.... Im sie Hong Jin. Tapi tidak mungkin Im sie Hong Jin masih hidup, juga tidak mungkin Im sie Hong Mo muridnya."

"cie Hiong"

Sam Gan sin Kay menatapnya heran.

"Tahukah engkau tentang Im sie Hong MO?"

"Tidak tahu,"

Jawab Tio Cie Hiong dan memberitahukan.

"Tapi aku tahu sedikit tentang Im sie Hong Jin. Lam Hai sin ceng yang menceritakan kepadaku."

"Kakak Hiong, ceritakanlah tentang Im sie Hong Mo itu"

Desak Lim Ceng Im..

"Im sie Hong Jin...."

Tio Cie Hiong menutur berdasarkan apa yang didengarnya dari Lam Hai sin Ceng, kemudian menambahkan.

"Tapi Im sie Hong Mo itu tidak mungkin murid Im sie Hong jin, sebab Im sie Hong Mo tidak mungkin bisa hidup sampai dua ratus tahun...."

"Mungkinkah...,"

Ujar Kim sia uw suseng menduga.

"Ada seseorang menemukan kitab peninggalan Im sie Hong Jin, lalu mempelajari kitab itu dan menamakan dirinya Im sie Hong Mo?"

"Ngmmm"

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"Itu memang masuk akal, tapi siapa orang itu? Kenapa dia memusuhi tujuh partai besar dan kita? Dia pun berteriak-teriak ingin mencincang cie Hiong. Bukankah mengherankan sekali?"

"Oh?"

Tio cie Hiong mengerutkan kening.

"Kalau begitu, Im sie Hong Mo itu pasti kenal aku. Tapi... selama ini aku tidak mempunyai musuh, kenapa Im sie Hong Mo itu ingin mencincangku? "

"itulah yang membuat kami tidak habis pikir."

Tok Pie sin wan menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan.

"Pada waktu itu kami sudah terluka, dan nyawa kami semua sudah berada di ujung pedangnya. Tapi mendadak...."

"Terjadi lagi sesuatu?"

Tanya Tio cie Hiong.

"Benar."

Kim Siauw Suseng manggut-manggut dan menambahkan.

"Kalau tidak muncul Pek Ih Hong Li (Wanita Gila Baju Putih), kami semua pasti sudah mati."

"Pek Ih Hong Li?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"siapa dia?"

"Kami tidak melihat jelas wajahnya, sebab wajahnya tertutup rambutnya yang tergerai,"

Ujar sam Gan sin Kay.

"Kami memberijulukan itu kepadanya, karena dia kelihatan tidak waras. sebelum dia muncul, terdengar dulu suara tawanya yang nyaring dan melengking-lengking. Begitu muncul, dia langsung menyerang Im sie Hong Mo...."

"Yang mengherankan adalah kepandaian mereka...,"

Ujar Kim siauw suseng.

"sebab gerakan mereka agak mirip. maka kami menduga bahwa mereka kakak beradik seperguruan."

"oh?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Im sie Hong Mo muncul disertai tawa yang menyeramkan, sedangkan Pek Ih Hong Li muncul disertai tawa nyaring dan melengking-lengking. Ketika menyerang Im sie Hong Mo, dia berteriakteriak...,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Berteriak apa? "

Tanya Lim Ceng Im.

"Aku harus mencincangmu Aku harus mencincang mu"

Lim Peng Hang meniru suara Pek Ih Hong Li dan melanjutkan.

"Justru sungguh mengherankan, Im sie Hong Mo kelihatan agak takut kepadanya, itulah yang membuat kami tak habis pikir"

"Kalau begitu...,"

Ujar Tlo cie Hiong.

"Di antara mereka pasti pernah terjadi sesuatu, maka Im sie Hong Mo agak takut kepadanya."

"Ngmm"

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"Akupun berpikir begitu."

"Tapi...."

Kim siauw suseng menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau mereka memperoleh kitab peninggalan Im sie Hong Jin, lalu bagaimana cara mereka belajar bersama? Karena kelihatannya kepandaian mereka seimbang, lagi pula... gerakan mereka hanya mirip...."

"Berarti terdapat gerakan yang tak sama, bukan?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil mengerutkan kening.

"Ya."

Kim siauw suseng manggut-manggut.

"Itu lebih mengherankan lagi,"

Ujar Tio Cie Hiong sambil menghela nafas.

"Kalau mereka kakak beradik seperguruan atau bersama belajar kitab peninggalan Im sie Hong Jin, tentunya gerakan mereka tidak akan berbeda. Namun...."

"Itu... itu memang mengherankan."

Sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala lalu menggaruk-garuk.

"Aku pusing memikirkannya."

"Pengemis bau"

Ujar Kim siauw suseng.

"Kalau begitu, jangan dipikirkan lagi, nanti kepalamu bisa pecah"

"Dasar sastrawan sialan"

Caci sam Gan sin Kay.

"Ohya"

Tio Cie Hiong teringat sesuatu lalu bertanya.

"Bagaimana gerakan ilmu gedang mereka?"

"Wah"

Seru sam Gan sin Kay.

"Kacau balau dan tidak karuan."

"Apa?"

Terbelalak Tio Cie Hiong.

"Kacau balau dan tidak karuan? Ilmu pedang apa itu?"

"Memang kacau balau dan tidak karuan ilmu pedang mereka,"

Ujar Kim siauw suseng.

"Sulit diduga pedangnya bergerak ke mana. Pedangnya bergerak menyerang ke kiri, tahu-tahu malah menyerang ke kanan. Kalau kita menangkis ke kanan, pedang justru menyerang ke atas. singkatnya kita tidak bisa menduga gerakan pedangnya."

"Itu berarti ilmu pedang yang luar biasa tinggi,"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Mungkin sulit bagiku merobohkannya."

"Apakah itu ilmu pedang aliran sesat?"

Tanya Lim Ceng Im.

"Bukan,"jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Itu ilmu pedang tidak waras, jadi berlawanan dengan ilmu pedang aliran mana pun. Artinya orang tak waras baru bisa menggunakan ilmu pedang itu."

"oh?"

Lim Ceng Im mengerutkan kening.

"Kalau begitu...."

"Aku harus menghadapinya dengan ketenangan, kalau tidak, diriku akan celaka,"

Ujar Tio Cie Hiong lalu menambahkan.

"Apabila dia muncul, biar aku yang menghadapinya, yang lain... bersembunyi saja"

"cie Hiong"

Kim siauw suseng tertawa.

"Kami bukan kura-kura yang suka menyembunyikan kepala, jadi jangan harap kami akan bersembunyi"

"Ha ha ha"

Sam Gan sin Kay juga tertawa.

"Memang benar apa yang dikatakan sastrawan sialan itu, kami bukan kura-kura."

"Hi hi hi"

Lim Ceng Im tertawa geli.

"siapa yang bilang kalian kura-kura?"

"siapa ya?"

Sam Gan sin Kay menggaruk-garuk kepala, kemudian menunjuk Kim siauw suseng sambil tertawa gelak.

"Dia yang mengaku dirinya kura-kura."

"Dasar pengemis bau"

Caci Kim siauw suseng. Pada waktu bersamaan, di luar terdengar suara seruan saling menyusul dari para anggota Kay Pang.

"Lam Kiong Bie Liong berkunjung Lam Kiong Bie Liong berkunjung..."

"Cepat undang dia masuk"

Sahut Lim Peng Hang.

"Undang Lam Kiong Bie Cieng masuk Un-dang Lam Kiong Bie Cieng masuk...."

Berselang beberapa saat, tampak berjalan ke dalam seorang pemuda dengan wajah murung dan cemas. Dialah Lam Kiong Bie Cieng.

"Lam Kiong Bie Cieng memberi hormat kepada Bu Lim Ji Khie dan paman-paman"

Ucap pemuda itu sambil memberi hormat.

"silakan duduk"

Sahut Lim Peng Hang.

"Terima kasih, Paman"

Ucap Lam Kiong Bie Cieng, alu duduk sambil memandang Tio Cie Hiong.

"saudara Lam Kiong"

Panggil Tio Cie Hiong.

"Adik Hiong"

Lam Kiong Bie Cieng tersenyum.

"Engkau harus memanggilku kakak Iho"

"oh?"

Tio Cie Hiong tercengang.

"Engkau pasti belum tahu, bahwa ayahmu dan ayahku ternyata saudara angkat. Ibu yang memberitahukan kepadaku."

Lam Kiong Ble Cieng memberitahukan.

"oh?"

Tio Cie Hiong girang bukan main "Kakak Cieng...."

"Adik Hiong, apa yang telah terjadi?"

Tanya Lam Kiong Bie Cieng.

"siapa Im sie Hong Mo itu?"

"Aku pun sedang kebingungan."

Jawab Tio Cie Hiong.

"sebab aku dan adik Im baru pulang dari Tibet."

"Pulang dari Tibet? Kenapa kalian ke sana?"

Tanya Lam Kiong Bie Cieng.

"Karena...,"

Tutur Tio cie Hiong.

"Maka aku berangkat ke Tibet. Justru aku tidak tahu kejadiankejadian yang menimpa rimba persilatan. oh ya, Kakak Liong kapan pulang? Kek adik sian Eng tidak ikut?"

"Aku pulang duluan. Mereka akan menyusui nanti,"

Jawab Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.

"Beberapa hari lalu aku sudah pulang, tapi begitu sampai di rumah...."

"ibumu tidak ada, kan?"

Sambung Lim Peng Hang.

"Ya."

Lam Kiong Bie Liong mengangguk.

"Tahukah Paman di mana ibuku?"

"Aaakh..."

Lim Peng Hang menarik nafas panjang.

"selain ibumu, Tui Hun Lojin, Gouw Hantiong dan para ketua tujuh partai pun hilang entah ke mana."

"Kakak Liong. Apakah pelayan di rumah menceritakan tentang kejadian itu?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Mereka memang telah menceritakan."

Lam Kiong Bie Liong menghela nafas.

"Malam itu muncul Im sie Hong Mo, kemudian ibuku hilang begitu saja."

"Kalau begitu...."

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Aku yakin mereka semua pasti ditangkap Im sie Hong Mo."

"Mungkin begitu."

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"Hanya saja kita tidak tahu mereka disekap di mana."

"Adik Hiong, sebetulnya siapa Im sie Hong Mo itu?"

Tanya Lam Kiong Bie Liong.

"Kakak Liong"

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kami semua sama sekali tidak tahu siapa dia, namun yang jelas kepandaiannya sangat tinggi."

"Oh?"

Lam Kiong Bie Liong mengerutkan kening, kemudian menghela nafas panjang.

"Heran Rimba persilatan tidak pernah tenang, aman dan damai. setelah kepandaian Bu Lim sam Mo, Empat Dhalai Lhama dan Ku Tek Cun musnah, kita mengira rimba persilatan akan aman dan damai, tapi tidak tahunya malah muncul Im sie Hong Mo yang begitu ganas dan kejam Ini sungguh di luar dugaan"

Suasana di markas pusat Kay Pang memang agak tercekam, sebab sewaktu-waktu akan muncul Im sie Hong Mo.

oleh karena itu, Bu Lim Ji Khie dan lainnya dalam keadaan was-was.

setiap hari mereka pasti berkumpul di aula dalam, begitu pula hari ini.

Yang paling cemas adalah Lam Kiong Bie Cieng, sebab ibunya juga ikut hilang.

"Aaaakh..."

Lam Kiong Bie Cieng terus-menerus menghela nafas.

"Entah bagaimana keadaan ibuku?"

"Kakak Cieng"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Tenanglah Aku yakin ibumu tidak terjadi sesuatu."

"Adik Hiong"

Lam Kiong Bie Cieng menggeleng-gelengkan kemala.

"Di saat utusan Tay li mau ke mari, justru timbul kejadian ini"

"Utusan Tayli mau ke mari?"

Tanya Tio Cic Hiong.

"Ya."

Lam Kiong Bie Cieng mengangguk.

"Utusan itu mewakili Toan Hong Ya melamar Gouw sian Eng, maka Toan wie Kie juga datang."

"Celaka"

Seru sam Gan sin Kay.

"Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong malah hilang Bagaimana kalau utusan itu dan Toan wie Kie keburu datang?"

"Yaaah"

Sahut Kim Siauw suseng.

"Ceritakan saja apa adanya"

"ibuku pun akan dijemput ke Tayli, tapi...."

Lam Kiong Bie Cieng menggeleng-gelengkan kepala lagi.

"Kakak Liong"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Mudah-mudahan kita dapat mencari ibumu dan lainnya sebelum utusan Tayli datang"

"Adik Hiong...."

Lam Kiong Bie Liong tersenyum getir. Mendadak masuk seorang pengemis tua. setelah memberi hormat, pengemis tua itu berkata.

"Aku Kiu Ci Cui Kay (Pengemis Mabuk Jari sembilan) melapor kepada Pancu Tanpa sengaja aku telah melihat para ketua tujuh partai, Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin."

"Di mana mereka?"

Tanya Lim Peng Hang tegang, begitu pula yang lain, terutama Lam Kiong Bie Liong.

"Mereka berada di bekas markas sam Mo Kauw."

Kiu Ci Cui Kay memberitahukan.

"Apa yang mereka lakukan di sana?"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Tidak melakukan apa-apa, cuma berdiri dan berjalan seperti kehilangan sukma. Bahkan... mereka juga kelihatan tidak saling mengenal, lagi pula wajah mereka tampak bengis sekali. oleh karena itu, aku tidak berani menghampiri mereka, hanya mengintip dari balik pohon saja."

"Jadi mereka disekap di markas sam Mo Kauw...,"

Gumam Lim Peng Hang.

"ohya Kenapa engkau ke sana?"

"Aku minta dihukum, pangcu"

Jawab Kiu Ci Cui Kay.

"Karena engkau telah berjasa dalam hal ini, maka engkau tidak dihukum,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Terimakasih, Pangcu"

Ucap Kiu Ci Cui Kay dan memberitahukan.

"Hari itu aku teriampau banyak minum, sehingga mabuk berat. Aku melesat ke sana ke mari, akhirnya tak sadarkan diri. Ketika siuman, aku mendapatkan diriku berada di bawah sebuah pohon. Kemudian aku bangkit berdiri dan menengok kian ke mari. Aku terkejut ketika melihat sebuah bangunan megah, sebab bangunan itu bekas markas Sam Mo Kauw. Lebih terkejut lagi ketika aku melihat para ketua dan lainnya sedang berdiri di halaman, kelihatannya mereka seperti orang linglung, tapi wajah mereka tampak bengis sekali. oleh karena itu, aku cepat-cepat ke mari untuk melapor."

"Ngmm"

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Masih ada laporan lain?"

"Ada."

Kiu Ci Cui Kay mengangguk.

"Yakni mengenai Pek Ih Hong Li. Dia selalu membunuh kaum golongan hitam dan sesat."

"Baiklah."

Lim Peng Hang manggut-manggut lagi.

"Sekarang engkau boleh pergi istirahat."

"Terimakasih, Pangcu"

Kiu Ci Cui Kay memberi hormat kepada Lim Peng Hang, Bu Lim Ji Khie dan lainnya, lalu pergi sambil menarik nafas lega, karena ketua Kay Pang tidak menjatuhkan hukuman kepadanya.

"Jadi kini kita sudah tahu para ketua tujuh partai, Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin berada di mana. Lalu apa langkah kita?"

Tanya Lim Peng Hang kepada Bu Lim Ji Khie.

"Mari kita berunding bersama"

Ajak Sam Gan Sin Kay.

"Bagaimana kalau aku pergi menolong mereka?"

Tanya Lam Kiong Bie Liong.

"Kakak Cieng"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Jangan main-main dengan urusan ini, sebab akan membahayakan dirimu"

"Adik Hiong, ibuku...."

"Aku tahu, Kakak Cieng,"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Aku yakin Im sie Hong Mo memiliki ilmu sesat, sehingga mereka kehilangan kesadarannya. Tapi mungkin aku bisa menyadarkan mereka...."

"Adik Hiong, bagaimana cara engkau menyadarkan mereka?"

Tanya Lam Kiong Bie Cieng.

"Kakak Cieng"

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Aku memiliki Ilmu Penakluk iblis, jadi aku bisa menyadarkan mereka."

"Benar,"

Sela Lim Ceng Im.

"Aku telah menyaksikannya...."

Lim Ceng Im menutur tentang Tio Cie Hiong memusnahkan mayat-mayat yang dibangkitkan oleh ilmu sesat.

"Ngmmm"

Sam Gan sin Kay manggut-manggut.

"Lain apa rencanamu?"

"Kita harus sebera ke sana untuk menolong mereka,"

Ujar Tio Cie Hiong dan melanjutkan.

"Tapi hanya aku yang boleh mendekati mereka, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."

"Baik. Kalau begitu mari kita berangkat sekarang"

Ujar sam Gan sin Kay.

"Kita jangan membuang waktu"

"Apabila muncul Im sie Hong Mo di sana, aku yang menghadapinya."

Tio Cie Hiong mengingatkan.

"Kakek pengemis, Paman sastrawan dan lainnya harus berusaha menolong mereka"

"Ya."

Bu Lim Ji Khie mengangguk.

setelah berunding lagi sejenak.

barulah mereka berangkat dengan perasaan tegang dan tercekam.

Kini mereka telah sampai di tempat tujuan, tapi mereka hanya berdiri di tempat yang agak tinggi sambil memandang ke arah bangunan megah itu.

Tampak para ketua tujuh partai, Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin berjalan mondar-mandir di halaman bangunan, yaitu bangunan bekas markas sam Mo Kauw atau istana Thian Mo.

"Aku akan ke sana,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Apabila muncul Im Sie Hong Mo, aku akan memancingnya ke tempat lain."

"Kami mengerti,"

Sahut sam Gan sin Kay dan berpesan.

"Cie Hiong, hati-hatilah"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kakak Hiong"

Lim Ceng Im menatapnya.

"Hati-hati ya"

Tio Cie Hiong tersenyum sambil manggut-manggut.

"Adik Hiong"

Lam Kiong Bie Liong memegang bahunya.

"sebelumnya kuucapkan terima-kasih kepadamu"

"Jangan berkata begitu"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Ibumu juga boleh dikatakan bibiku."

"Adik Hiong, hati-hati"

Pesan Lam Kiong Bie Liong.

Tio Cie Hiong mengangguk.

lalu melesat pergi.

Bu Lim Ji Khie dan lainnya terus memperhatikan halaman bangunan itu.

Sementara Tio Cie Hiong telah melayang turun di halaman bangunan tersebut, bahkan telah mengeluarkan suling kumalanya.

Munculnya Tio Cie Hiong membuat para ketua tujuh partai, Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin menggeram, kelihatan ingin menyerang.

Tio Cie Hiong segera duduk bersila, kemudian mulai meniup suling kumalanya.

Ia mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kang dan Ilmu Penakluk iblis.

Para ketua tujuh partai, Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong dan Lam Kiong hujin tampak tertarik akan suara suling Tio Cie Hiong.

Mereka semua berdiri mematung di tempat, dan terus mendengarkan dengan air muka berubah tak menentu.

suara suling terus mengalun lembut menggetarkan hati dan pikiran.

sesaat kemudian mereka semua mulai menengok ke sana ke mari.

Wajah mereka yang semula tampak bengis, berubah perlahan-lahan.

Lewat beberapa saat, mereka kelihatan seakan tersentak dan saiing memandang.

"omitohud"

Ucap Hui Khong Taysu.

"omitohud...., (Bersambung ke Bagian 26)

Jilid 26

"Aaaakh..."

Yang lain pun mengeluarkan seruan, sepertinya baru tersadar dari mimpi buruk. Tio cie Hiong berhenti meniup sulingnya, kemudian memandang mereka satu persatu.

"Pek Ih Sin Hiap"

Panggil mereka serentak.

"Syukurlah"

Tio cie Hiong tersenyum sambil bangkit berdiri.

"Kalian semua telah bebas dari pengaruh ilmu sesat"

"omitohud Terima kasih...,"

Ucap Hui Khong Taysu.

"Bu Lim Ji Khie dan lainnya juga sudah ke mari. Mari kita temui mereka"

Tio cie Hiong mengajak mereka pergi menemui Bu Lim Ji Khie dan lainnya. Yang paling gembira adalah Lam Kiong Bie Liong. Pemuda itu langsung bersujud di hadapan ibunya.

"Ibu Ibu...."

"Nak"

Lam Kiong hujin membelainya seraya berkata.

"Bangunlah Engkau harus berterima-kasih kepada pemuda itu"

"Ibu...."

Lam Kiong Bie Liong bangkit berdiri sambil memberitahukan.

"Dia Tio cie Hiong."

"Oh?"

Lam Kiong hujin memandangnya dengan penuh kasih sayang.

"Nak...."

"Bibi..."

Panggil Tio cie Hiong dan memberi hormat.

"Mari kita tinggalkan tempat ini"

Seru Sam Gan Sin Kay lidak sabaran.

"Kita bicara di markas saja"

Mereka telah sampai di markas pusat Kay Pang. semuanya duduk di aula dalam sambil bercakap-cakap.

"Kepala gundul Tuturkanlah kejadian itu"

Ujar Kim siauw suseng.

"omitohud...."

Hui Khong Taysu menghela nafas.

"Kejadian itu sungguh mengerikan. Cap Pwee Lo Han mati dengan puluhan tusukan dan sabetan pedang, sedangkan ketiga paman guruku.... omitohud"

"siauw Lim sam Tianglo dapat bertahan berapa lama ketika bertarung dengan lm sie Hong Mo?"

Tanya sam Gan sin Kay.

"Tidak begitu lama."

Hui Khong Taysu memberitahukan.

"Gerakan pedang Im sie Hong Mo begitu cepat dan kacau balau, sehingga sulit diikuti dengan mata. Mendadak ketiga paman guruku berdiri diam di tempat, kemudian roboh. Namun tubuh bagian bawah dari pinggang sampai di kaki tetap berdiri di situ...."

"Tubuh ketiga Tetua itu terpotong dua?"

Tanya Lam Kiong Bie Liong dengan air muka berubah.

"omitohud...."

Mata Hui Khong Taysu tampak basah.

"omitohud..."

"Im sie Hong Mo memang kejam sekali,"

Ujar It Hian Tojin.

"Para murid Butong telah dibantai habis, hanya tersisa Butong Ngo Hiap."

"Aaaakh..."

Wie Hian Cinjin menghela nafas panjang.

"Kun Lun Pay kami telah musnah, sebab cuma tinggal aku seorang diri Aku... aku sungguh malu terhadap sucouw (Pendiri Partai Kun Lun)."

"sama,"

Sambung Ceng sinsuthay, ketua partai GoBie dan Beng Leng Hoatsu, ketua partai Khong Tong.

"Aaaakh..."

Keluh Pek Bie Lojin. ketua partai swat san sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Partai swat sanpun telah habis...."

"Aku masih tidak habis pikir, siapa sebenarnya Im sie Hong Mo itu?"

Ujar Tui Hun Lojin.

"Kepandaiannya begitu tinggi, ilmu sesatnya pun sangat luar biasa."

"Dia dapat mengendalikan pikiran kita."

Sela Lam Kiong hujin.

"ohya, suara suling itu kok bisa menyadarkan kita?"

"Itu suling kumala, boleh dikatakan tergolong benda pusaka."

Kim siauw suseng memberitahukan.

"sedangkan Cie Hiong mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kang dan Ilmu Penakluk iblis ketika meniup suling kumala itu, maka setelah kalian mendengar suara suling itu, sudah barang tentu punah pula pengaruh ilmu sesat dalam pikiran kalian, dan kalian tersentak sadar."

"ooooh"

Lam Kiong hujin dan lainnya manggut-manggut.

"lbu"

Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.

"Mungkin tidak lama lagi utusan Toan Hong Ya akan tiba di sini."

"oh, ya?"

Wajah Lam Kiong hujin berseri.

"Utusan itu dan Toan wie Kie akan melamar Gouw sian Eng, setelah itu kita semua akan berangkat ke Tayli,"

Ujar Lam Kiong Bie Liong sambil memandang Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong.

"Kalau begitu, kami berdua harus segera pulang,"

Sahut Tui Hun Lojin.

"Setan tua"

Ujar sam Gan sin Kay.

"Lebih baik kalian tunggu di sini Untuk sementara ini, kita semua tidak boleh berpencar ingat, sewaktu-waktu Im sie Hong Mo pasti akan muncul lagi"

"Tapi kalau utusan itu dan Toan wie Kie ke rumah?"

Tanya Gouw Han Tiong "Jangan khawatir"

Lim Peng Hang tersenyum.

"Akan kusuruh seseorang ke sana memberitahukan kepada pelayan di sana, bahwa kalian berdua menunggu di sini."

"Terimakasih, Lim Pangcu"

Ucap Gouw Han Tiong.

"lbu"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Kita pun menunggu di sini saja, sebab terlampau bahaya apabila kita berpencar."

"Ng"

Lam Kiong hujin mengangguk.

"Aaaakh..."

Hui Khong Taysu menghela nafas.

"Hingga saat ini aku tidak habis pikir,"

Katanya.

"Kepala gundul"

Kim siauw suseng tertawa.

"Apa yang menyebabkan engkau tak habis pikir?"

"Tujuh partai telah hancur, tapi... kenapa Kay Pang tidak diganggu Im sie Hong Mo itu?"

"siapa bilang tidak?"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Kami semua nyaris mati di tangannya."

"Tapi...."

It Hian Tojin menatapnya heran.

"Buktinya kalian semua masih hidup, Apakah dia tidak jadi membunuh kalian?"

"Yaah"

Sam Gan Sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau waktu itu tidak muncul Pek Ih Hong Li, kami semua pasti sudah mati."

"Apa?"

It Hian Tojin terbelalak.

"Pek Ih Hong Li? siapa dia?"

"seperti Im sie Hong Mo, tiada seorang pun tahu siapa dia,"

Sahut sam Gan sin Kay.

"sebab wajahnya tertutup rambutnya yang panjang. Na-mun gerakan pedangnya mirip Im sie Hong MO."

"oh?"

Hui Khong Taysu tercengang.

"Mungkinkah mereka kakak beradik seperguruan?"

"Kami pun menduga begitu,"

Sahut Kim siauw suseng.

"Masuk akal tapi tidak mungkin."

"Kenapa begitu?"

Hui Khong Taysu heran.

"Gerakan pedang mereka hanya mirip. masih terdapat perbedaan. itulah yang membingungkan,"

Ujar Kim siauw suseng.

"Heran..."

Gumam It Hian Tojin.

"sebetulnya siapa Im sie Hong Mo dan gurunya...?"

"Menurut cie Hiong, Im sie Hong Mo pasti ada hubungannya dengan im sie Hong Jin,"

Sahut sam Gan sin Kay.

"Im sie Hong Jin?"

It Hian Tojin terheran-heran.

"Siapa Im sie Hong Jin itu?"

"Omitohud Im sie Hong Jin yang hidup dua ratus tahun lampau itu?"

Tanya Hui Khong Taysu.

"Ya."

Sam Gan sin Kay mengangguk lalu bertanya.

"Taysu kepala gundul, tahukah engkau tentang Im sie Hong Jin itu?"

"Ketiga paman guruku pernah menceritakan, Tapi itu juga tidak begitu jelas,"jawab Hui Khong Taysu.

"Tapi... bagaimana mungkin Im sie Hong Jin masih hidup?"

"Mungkin seseorang memperoleh kitab pusaka ilmu silat peninggalannya, lalu muncul dengan julukan Im sie Hong Mo,"

Sahut Kim siauw suseng.

"omitohud...."

Hui Khong Taysu menghela nafas.

"Entah kapan rimba persilatan bisa tenang, aman dan damai? omitohud...."

Bab 42 Utusan Tayli sungguh mengherankan, walau sudah lewat belasan hari, namun Im sie Hong Mo tidak pernah muncul lagi di markas pusat Kay Pang. oleh karena itu semua orang Kay Pang merasa lega.

"Mungkinkah Im sie Hong Mo telah dibunuh oleh Pek Ih Hong Li?"

Gumam sam Gan sin Kay.

"Mungkin,"

Sahut Kim siauw suseng.

Baca Juga: Pendekar Buta 8

Baca Juga: Harta Karun Jenghis Khan 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert