Eps 7 Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.
"Di rumah hartawan itu kan?"
"Bukan."
Gadis itu menggelengkan kepala.
"Kok bukan?"
Tio Cie Hiong menatapnya tidak mengerti.
"Pertama kali kita bertemu..."
Ujar gadis itu memberitahukan dengan sikap malu-malu.
"Beberapa tahun lalu, ketika engkau mandi di sungai...."
"Itu adikmu,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Pada waktu itu aku telanjang bulat, karena mau mandi di sungai. Kebetulan adikmu muncul. sejak itu la h kami pun jadi teman. Bertemu kedua kalinya, aku pun telanjang bulat mandi di sungai."
"Kakak Hiong..."
Wajah gadis itu memerah.
"Kini aku ingin memberitahukan kepadamu"
"Engkau ingin memberitahukan apa kepadaku?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Sebetulnya... aku Ceng Im."
Gadis itu memberitahukan dengan suara rendah.
"Adik Ceng"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kok hari ini engkau bergurau denganku?"
"Kakak Hiong, engkau sangat lugu sehingga tidak mencurigai diriku."
Gadis itu menghela nafas.
"Ceng Im... Im Ceng adalah satu orang, hanya saja Ceng Im menyamar sebagai anak lelaki, sedangkan Im Ceng berpakaian wanita...."
"Adik Ceng, be... benarkah begitu?"
Tio cie Hiong terbelalak.
"Benar."
Gadis itu mengangguk.
"Aku tidak membohongimu."
"Engkau..."
Tio cie Hiong teringat kembali akan gerak-gerik Lim Ceng Im selama bersamanya kemudian mendadak ia tertawa terbahak-bahak.
"Memang benar, engkau adalah adik Im Kenapa aku begitu goblok...?"
"Kakak Hiong, maafkan aku ya"
Ucap Lim Ceng Im dengan kepala tertunduk.
"Adik Im"
Tio Cie Hiong menggenggam tangannya erat-erat.
"Engkau kok begitu nakal mempermainkan aku? Pantas kakek dan ayahmu mengatakan engkau keterlaluan, ternyata karena ini"
"Kakak Hiong, aku terus menyamar sebagai anak lelaki, karena aku ingin tahu bagaimana isi hatimu.-"
"Aku tahu. Aku tahu..."
Tio cie Hiong tertawa gembira.
"ohya"
Lim Ceng Im memandangnya sambil tersenyum.
"selanjutnya aku harus berdandan begini atau... tetap menyamar sebagai anak lelaki?"
"Itu..."
Tio Cie Hiong berpikir sejenak.
"Menurutku lebih baik engkau tetap menyamar sebagai pengemis dekil saja."
"Aku sih setuju, tapi...."
"Kenapa?"
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im memberitahukan dengan sungguh-sungguh.
"Kalau aku tetap menyamar sebagai pengemis dekil, tentu akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan lagi."
"Maksudmu?"
"Aku menyamar sebagai pengemis dekil bersamamu, apabila bertemu para anak gadis, mereka pasti jatuh hati kepadamu. seandainya aku berdandan seperti ini, tentu para anak gadis akan mundur teratur, jadi tidak akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan lagi. Ya, kan?"
"Benar."
Tio Cie Hiong tertawa, lalu mendadak memeluk Lim Ceng Im erat-erat.
"Kakak Hiong..."
Lim Ceng Im pun mendekap ke dadanya.
Tio Cie Hiong membelainya dengan penuh cinta kasih.
Bab 31 Markas cabang Kay Pang mulai diserang Yap In Nio berlari ke mana?
Ternyata menuju rumah penginapan.
la terus berlari sambil bergumam.
"Aku sudah menusuk Kakak Hiong Aku sudah menusuk Kakak Hiong Aaakh.... Kakak Hiong"
Air mata gadis itu terus berderai-derai dan wajahnya masih tampak pucat pias.
la merasa sakit hati sekali karena Tio Cie Hiong tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya.
Setelah menusuk Tio Cie Hiong, timbul pula rasa menyesal di dalam hatinya.
"Kakak Hiong, aku cinta kepadamu Tapi... aaakh Aku telah menusuknya Kakak Hiong...."
Yap In Nio sudah sampai di rumah penginapan. Pelayan tua menyambutnya dengan kening berkerut-kerut, namun menatapnya dengan lembut. (Bersambung ke Bagian 20)
Jilid 20
"Nona...."
"Paman tua...."
Tatapan pelayan tua itu membuat hati Yap In Nio makin sedih, dan langsung mendekap ke dadanya.
"Nak"
Pelayan tua membelainya.
"Apa yang telah terjadi, janganlah diingat tagi Anggaplah sebagai mimpi buruk saja"
"Paman tua...."
Yap In Nio terus menangis.
"Mari kuantar kau ke kamar"
Ujar pelayan tua lalu mengantar gadis itu ke kamar tempat ia berhubungan intim dengan Tio cie IHiong.
"Duduklah Nona"
Yap In Nio duduk sambil menangis terisak-isak. Pelayan tua juga duduk dan menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Paman tua, hidupku telah hancur."
Yap In Nio memberitahukan.
"Nak"
Pelayan tua tersenyum lembut.
"Tuturkanlah apa yang telah ter jadi atas dirimu"
"Aku...."
Yap In Nio menutur tentang Kejadian itu dan menambahkan.
"Kutusuk dia dengan belati...."
"Nak"
Pelayan tua menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau telah salah menusuk orang."
"Paman tua...."
Yap In Nio tertegun.
"Nak"
Pelayan tua memandangnya sambil menggeleng-gelengkan kepala lagi.
"Tahukah engkau siapa pemuda yang membawamu ke mari?"
"Aku sudah iupa namanya, kami berkenalan di kedai."
Yap In Nio memberitahukan.
"Memang-nya kenapa?"
"Dia bernama Ku Tek Cun."
Pelayan tua menghela nafas.
"Dia pemuda berhati jahat dan licik."
"Tapi dia sangat baik terhadapku, dialah yang menyuruh Kakak Hiong ke mari,"
Ujar Yap In Nio.
"Engkau datang bersama dia, kemudian dia pergi. Ya, kan?"
Pelayan tua menatapnya dalamdalam.
"Ya."
Yap In Nio mengangguk.
"Dia bilang mau pergi mencari Kakak Hiong, maka dia menyuruhku menunggu di dalam kamar. Malam harinya... muncul Kakak Hiong ke mari dan...."
"Kalian berhubungan intim?"
Pelayan tua mengerutkan kening.
"Ya."
Yap In Nio menundukkan kepala.
"Aku telah melihat pemuda itu datang di malam hari, lalu mengetuk pintu kamar ini.
"Dia Kakak Hiong."
Yap In Nio memberitahukan.
"Dia bukan Kakak Hiong yang engkau cintai itu, melainkan Ku Tek Cun,"
Ujar pelayan tua sambil menghela nafas.
"Paman tua salah lihat, pemuda itu adalah Kakak Hiong."
"Nak"
Pelayan tua tersenyum getir.
"Engkau telah terkena ilmu sesatnya, sehingga penglihatanmu terpengaruh."
"Bagaimana mungkin?"
Yap In Nio mengerutkan kening.
"Nak, usiaku sudah enam puluh lebih, tak mungkin aku akan membohongimu. Pemuda itu telah menggunakan ilmu sesat untuk mempengaruhi penglihatanmu."
Pelayan tua memberitahukan lagi.
"Paman tua, aku tidak percaya."
Yap In Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu memang benar."
Pelayan tua manggut-manggut.
"Nak. aku mengerti sedikit mengenai ilmu sesat."
"oh?"
Yap In Nio menatapnya heran.
"Begini saja"
Ujar pelayan tua dan melanjutkan.
"Malam itu engkau duduk di mana?"
"Duduk di pinggir ranjang."
"Kalau begitu, duduklah kau di pinggir ranjang"
"Paman tua...."
"Menurutlah, nanti engkau akan mengetahuinya"
Wajah pelayan tua tampak serius. Yap In Nio menurut, lalu duduk di pinggir ranjang. Pelayan itu menatapnya tajam, lama sekali barulah membuka mulut.
"Ketika engkau mendengar suara ketukan, engkau menyahut apa?"
"Aku bertanya siapa?"
"sahutan di luar?"
"Menyahut.... Tio cie Hiong"
"Di saat engkau mendengar suara sahutan itu, engkau pasti membayangkan Tio Cie Hiong, kan?"
"Ya."
Yap In Nio mengangguk dan memberitahukan.
"Aku segera membuka pintu kamar, memang Kakak Hiong berdiri di situ."
"Ketika dia menyahut dengan nama itu, engkau pun langsung membayangkan Kakak Hiong mu, otomatis engkau telah terkena ilmu sesatnya."
Pelayan tua menjelaskan.
"Maka ketika engkau membuka pintu kamar ini, yang engkau lihat adalah Kakak Hiong yang engkau cintai."
"Oh?"
Yap In Nio terbelalak.
"Nah, sekarang begini"
Pelayan tua memberi petunjuk.
"Pejamkan matamu, kemudian bayangkan kembali Kejadian malam itu, mulai dari suara ketukan pintu"
"Ya."
Yap In Nio mengangguk lalu memejamkan matanya, sekaligus membayangkan Kejadian malam itu.
Gadis itu seakan mendengar suara ketukan pintu.
la pun merasa bertanya dan kemudian membuka pintu kamar.
la melihat Tio Cie Hiong berdiri di situ sambil tersenyum-senyum.
"Kakak Hiong..."
Panggilnya tanpa sadar. setelah itu, ia pun melihat Tio Cie Hiong melangkah ke dalam kamar. Di saat itulah ia mendengar suara pelayan tua.
"Perhatikan wajahnya"
Yap In Nio segera memperhatikan wajah Tio Cie Hiong yang ada di dalam bayangannya. Mendadak ia melihat wajah itu berubah menjadi wajah Ku Tek Cun, lalu berubah menjadi wajah Tio Cie Hiong lagi.
"Haah?"
Serunya kaget.
"Perhatikan ucapan dan gerak-geriknya"
Suara pelayan tua.
"Apakah terdapat keganjilan?"
Yap In Nio menurut, berselang beberapa saat kemudian, wajahnya tampak berubah pucat.
"Cukup sekarang engkau boleh membuka mata,"
Ujar pelayan tua.
"Paman tua"
Panggil Yap in Nio setelah membuka matanya.
"Kini engkau sudah tahukan?"
Pelayan tua menatapnya sambil menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Apakah terdapat keganjilan?"
"Ya."
Yap In Nio mengangguk.
"Pertama kali aku bertemu kakak Hiong, dia memanggilku Adik In. Kami bertemu di markas pusat Kay Pang, dia pun memanggilku Adik In. Tapi Kakak Hiong yang itu...."
"Dia memanggilmu apa?"
"Dia hanya memanggil namaku saja."
"Nah, itu pun sudah berbeda."
"Dan juga..."
Wajah Yap In Nio makin pucat.
"Kakak Hiong selalu mengenakan pakaian putih, tetapi Kakak Hiong yang memasuki kamar ini mengenakan pakaian biru."
"Terdapat perbedaan lagi."
Ujar pelayan tua sambil menghela nafas.
"Kakak Hiong Kakak Hiong"
Jerit Yap in Nio mendadak.
"Aku... aku telah menusuknya Aku telah menusuknya Ku Tek Cun Aku bersumpah akan mencincangmu Ku Tek Cun.ini.."
"Nak"
Pelayan tua menatapnya iba.
"Malam itu aku ingin menolongmu, tapi... pemuda itu berkepandaian tinggi, aku pasti dibunuhnya. Lagi-pula ilmu sesatnya sudah tinggi, aku tak kuat melawannya, sedangkan aku masih punya empat cucu yang yatim piatu. Kalau aku mati, bagaimana dengan mereka? Karena itu, aku tidak berani menolongmu...."
Apa yang diucapkan pelayan tua, Yap In Nio sama sekali tidak mendengarnya karena ia terus bergumam.
"Kakak Hiong, maafkan aku Ku Tek Cun, aku pasti mencincangmu Ku Tek Cun, aku pasti mencincangmu"
Mendadak Yap In Nio berlari ke luar.
"Nona"
Pelayan tua ingin mencegahnya, tapi terlambat dan sayup,sayup ia mendengar suara tawa Yap In Nio terkekeh-kekeh.
sementara Yap In Nio terus berlari tiada arah tujuan, bahkan terus tertawa terkekeh-kekeh lalu menangis meraung-raung, akhirnya ia memasuki sebuah lembah yang banyak batu curam.
Pelayan tua rumah penginapan tak henti-hentinya menghela nafas, lalu meninggalkan kamar itu dengan kepala tertunduk.
sehingga nyaris menubruk seseorang yang di hadapannya.
"Maaf"
Ucapnya sambil mendongakkan kepala, dan seketika itu juga ia terbelalak.
"Lim Pangcu...."
Ternyata orang itu Lim Peng Hang, ketua Partai Pengemis, yang datang di rumah penginapan tersebut untuk menyelidiki Kejadian Yap In Nio dan siapa yang menyamar sebagai Tio cie Hiong.
"Lo sam"
Lim Peng Hang menatapnya.
"Beberapa hari yang lalu, apakah ada seorang gadis menginap di sini? "
"Ada."
Pelayan tua yang dipanggil Lo sam itu mengangguk.
"siapa yang membawanya ke mari?"
Tanya Lim Peng Hang lagi.
"Seorang pemuda."
"Engkau kenal pemuda itu?"
"Dia Ku Tek Cun"
"Ku Tek Cun?"
Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Lo sam, tentunya engkau tahu jelas mengenai Kejadian itu, bukan?"
"Ya."
Lo sam mengangguk.
"Tuturkanlah bagaimana Kejadian itu"
Ujar Lim Peng Hang bernada mendesaknya.
"Lim Pangcu...."
Lo sam menghela nafas, lalu menutur tentang Kejadian itu sambil menggelenggelengkan kepala.
"Oh?"
Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"sekarang berada di mana gadis itu?"
"Dia terus lari."
Lo sam memberitahukan dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Kelihatannya dia sudah tidak waras."
"Lo sam, terima kasih atas keteranganmu Sampai jumpa"
Ucap Lim Peng Hang lalu meninggalkan rumah penginapan itu. sesampainya di markas pusat, Lim Peng Hang langsung ke kamar Tio Cie Hiong. Dilihatnya putrinya sedang duduk di pinggir ranjang.
"Ayah"
Panggil Lim Ceng im.
"Sudah berhasilkah Ayah menyelidiki itu?"
"Aaakh..."
Lim Peng Hang menghela nafas.
"Ternyata biang keroknya adalah Ku Tek Cun"
"Apa?"
Tio Cie Hiong terbelalak.
"Ku Tek Cun?"
"Engkau kenal dia?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Kenal."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Dia putra almarhum Hong Lui Kiam Khek."
"cie Hiong"
Lim Peng Hang menatapnya.
"Engkau mempunyai dendam dengannya?"
"sama sekali tidak."
Tio cie Hiong menggelengkan kepala.
"Ku Tek Cun...."
Mendadak Lim Ceng im berseru.
"Aku ingat...."
"Ceng Im, engkau ingat apa?"
Tanya Lim Peng Hang sambil memandang putrinya dengan heran.
"Ayah, aku dan Kakak Hiong pernah bertemu dia."
Lim Ceng im memberitahukan sambil mengerutkan kening.
"Pada waktu itu, aku sudah berpesan kepada Kakak Hiong harus berhati-hati padanya."
"Kenapa engkau berpesan begitu?"
Lim Peng Hang makin heran.
"sebab gerak-geriknya sungguh mencurigakan, kelihatannya dia ingin menyerang Kakak Hiong secara mendadak, tetapi karena aku terus mengawasinya, maka dia tidak berani turun tangan."
"cie Hiong, kenapa dia begitu mendendam kepadamu?"
Tanya Lim Peng Hang dan tidak habis pikir.
"Paman, aku sendiri juga tidak tahu."
Tio cie Hiong menggelengkan kepala.
"Ayah"
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Kakak Hiong pernah tinggal di Hong Li Po, Phang Ling Hiang sangat baik terhadap Kakak Hiong, mungkin karena itu."
"Tidak mungkin."
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"sebab Hong Li Po telah musnah, dan Phang Ling Hiang yang dicintainya juga telah mati, bagaimana mungkin dia mendendamku karena itu?"
"Heran? sungguh mengherankan"
Gumam Lim Peng Hang.
"Kasihan Adik In...."
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Ku Tek Cun menodainya agar dia membunuhku. oh ya, Paman Adik In berada di mana sekarang?"
"Entahlah"
Lim Peng Hang menggelengkan kepala.
"Cie Hiong, bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?"
"Paman"
Tio cie Hiong mengangguk.
"sebetulnya lukaku tidak begitu parah, jadi tidak usah merepotkan Adik Im."
"Cie Hiong"
Lim Peng Hang tersenyum.
"Seharusnya engkau pura-pura luka parah"
"Kenapa?"
Tio Cie Hiong bingung.
"Agar... Ceng Im terus menemanimu,"
Sahut Lim Peng Hang sambil tertawa lalu meninggalkan kamar itu "Ayah"
Lim Ceng im menundukkan wajahnya dalam-dalam. sedangkan Tio Cie Hiong terus tertawa sambil menatapnya. Kemudian Lim Ceng im menegurnya.
"Kenapa engkau terus tertawa?"
"Adik Im, apa yang ayahmu katakan memang benar,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Aku harus berpura-pura terluka parah, agar engkau terus menerus menyuapi aku makan."
"Ciss"
Wajah Lim Ceng im memerah.
"Dasar tak tahu malu"
"Adik Im"
Tio Cie Hiong menatapnya lembut.
"Engkau sungguh baik terhadapku"
"Kakak Hiong, karena engkau sangat mencintaiku, maka aku pun harus mencintaimu dan baik terhadapmu...."
"juga harus menyuapi aku makan dan minum,"
Sambung Tio Cie Hiong sambil tertawa-tawa.
"ciss Dasar...."
Lim Ceng Im langsung mendekap di dada Tio cie Hiong.
"Ha ha ha"
Bu Lim sam Mo terus tertawa gelak setelah mendengar apa yang diceritakan Ku Tek Cun. Kemudian Tang Hai Lo Mo manggut-manggut seraya berkata.
"Ku Tek Cun, tidak percuma engkau menjadi murid kami. Engkau memang cerdik dan banyak akal. Gadis itu pasti terus berusaha membunuh Tio Cie Hiong."
"sayang"
Thian Mo menggeleng-gelengkan kemala.
"Tusukan belati itu tidak menghabiskan nyawa Tio Cie Hiong."
"Tapi Tio Cie Hiong telah terluka. Itu cukup memuaskan kita,"
Ujar Te Mo sambil tertawa.
"Kauwcu"
Ujar Dhalai Lhama jubah merah.
"Kapan kita akan menyerang markas pusat Kay Pang?"
"Kalian berempat sudah pulih?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Sudah, Kauwcu."
Sahut Dhalai Lhama jubah merah.
"Ngmmm"
Tang Hai Lo Mo manggut-mang-gut.
"Kalau begitu...."
"Guru"
Sela Ku Tek Cun.
"Percuma kita menyerang ke sana."
"Lho?"
Tang Hai Lo Mo heran.
"Kenapa percuma? Apakah engkau mempunyai rencana yang bagus?"
"Ya, Guru."
Ku Tek Cun mengangguk.
"Kalau kita menyerang ke sana, tentu para anggota kita juga akan berkorban. Maka alangkah baiknya biar mereka yang menyerang ke mari, karena di dalam istana ini telah dipasang berbagai macamjebakan. Kalau mereka menyerang ke mari, pasti akan mati semua, kita tidak perlu capekcapek menyerang ke sana"
"Benar."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Tapi... bagaimana mungkin mereka akan menyerang ke mari?"
"Hancurkan markas cabang Kay Pang, maka mereka pasti menyerang ke man"
Sahut Ku Tek Cun.
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa gembira.
"Benar. Kalau kita telah menghancurkan markas cabang mereka, tentu Bu Lim Ji Khie dan lainnya akan menyerang ke mari, dan mereka pasti akan mati semua di dalam jebakan."
"siauw Kauwcu (Ketua Muda) memang cerdik."
Puji Empat Dhalai Lhama.
"Kalau begitu, tugas menghancurkan markas cabang Kay Pang serahkan saja kepada kami"
"Baik"
Tang Hai Lo Mo mengangguk.
"Kalian berempat bawa seratus orang pergi menyerang markas cabang Kay Pang setelah markas cabang itu musnah, sam Gan sin Kay pasti mencakmencak. Ha ha ha"
"Kauwcu, kami berangkat"
Ujar Dhalai Lhama jubah merah sambil menjura, lalu pergi.
"Tek Cun"
Thian Mo menatapnya.
"Engkau masih harus belajar ilmu sesat pada Im Yang Hoatsu, dan juga harus terus berlatih Pak Kek sin Kang."
"Ya, Guru."
Ku Tek Cun mengangguk.
kemudian menuju ke kamar Im Yang Hoatsu sambil tersenyum-senyum.
Begitu memasuki kamar itu, ia terbelalak karena melihat Im Yang Hoatsu berdandan bagaikan gadis berusia dua puluhan, mengenakan pakaian tipis dan berbaring di tempat tidur.
"Jantung hatiku, ke marilah"
Ujar Im Yang Hoatsu sambil tersenyum manis.
"Oh, buah hatiku"
Sahut Ku Tek Cun dan mendekatinya dengan wajah berseri-seri.
"Hari ini engkau tampak cantik sekali."
"Oh, ya?"
Suara Im Yang Hoatsu mengalun lembut.
"Duduklah"
Ku Tek Cun duduk dipinggir ranjang. im Yang Hoatsu bangun sekaligus membelai-belai bahunya.
"Buah hatiku...."
Ku Tek Cun memeluknya.
"Aku tahu."
Im Yang Hoatsu tersenyum.
"Engkau ke mari menemuiku karena ingin menambah ilmu sesat lagi, kan?"
"Ya."
Ku Tek Cun mengangguk.
"Tentunya engkau tidak akan pelit mengajarku bukan?"
"Tentu."
Im Yang Hoatsu menggerayang tubuh Ku Tek Cun.
"Asal engkau mau bersenang-senang denganku, ilmu sesat apa pun pasti kuajarkan kepadamu."
"Terimakasih"
Ku Tek Cun juga mulai menggerayanginya, sehingga membuat Im Yang Hoatsu tertawa cekikikan.
"Hi h i Auuuh"
Nafas Im Yang Hoatsu mulai mendesah.
"Jantung hatiku, kalau hari ini engkau bisa memuaskan aku, akan kuhadiahkan sesuatu kepadamu."
"Hadiah apa?"
Tanya Ku-Tek Cun sambil mengecup pipinya.
"Sebuah kitab peninggalan guruku."
Im Yang Hoatsu memberitahukan.
"Kitab apa itu?"
Tanya Ku Tek Cun tertarik.
"Kitab Cih Hun Tay Hoat (Ilmu Pengendalian Pikiran),"
Jawab im Yang Hoatsu menjelaskan.
"Yaitu ilmu sesat yang sangat tinggi, kalau berhasil mempelajari ilmu tersebut, maka dapat mengendalikan pikiran orang lain, bahkan dapat membangkitkan mayat yang belum lewat tujuh hari."
"Oh? Kalau begitu, engkau sudah berhasil mempelajari ilmu sesat itu?"
Tanya Ku Tek Cun.
"Aku tidak berhasil."
Im Yang Hoatsu menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
Ku Tek Cun heran.
"Begitu aku mulai mempelajari ilmu itu, kepalaku menjadi pusing dan merasa seakan mau pecah, maka aku tidak berani mempelajarinya lagi. Tapi siapa tahu engkau berjodoh dengan ilmu sesat itu."
Ujar Im Yang Hoatsu memberitahukan "Kalau engkau berhasil, orang yang berkepandaian tinggi bagaimanapun, masih dapat kau kendalikan pikirannya.
Apa yang engkau perintahkan, orang itu pasti melakukannya."
"oh?"
Ku Tek Cun tampak girang sekali.
"Lalu apa gunanya membangkitkan mayat?"
"Engkau bisa perintah mayat untuk membunuh siapa pun, sebab mayat itu tidak akan mati."
Im Yang Hoatsu menjelaskan.
"Walau kepalanya hilang tersabet golok, tapi badan, tangan dan kakinya masih bisa berderak membunuh orang."
"Hebat sekali ilmu sesat itu"
Ku Tek Cun makin tertarik.
"Benarkah engkau akan menghadiahkan kitab itu kepada ku?.
"Benar. Asal hari ini engkau bersedia menemani aku bersenang-senang,"
Sahut Im Yang Hoatsu sungguh-sungguh.
"Baik,"
Ku Tek Cun manggut-manggut.
"Kalau begitu, mari kita mulai bersenang-senang"
Terdengarlah suara tawa cekikikan, yang disusul oleh suara desahan nafas.
Im Yang Hoatsu memang merasa puas sekali hari ini.
Karena itu, ia menepati janjiny a, yakni menghadiahkan kitab ilmu sesat itu kepada Ku Tek Cun.
setelah menerima kitab tersebut, Ku Tek Cun mulai mempelajarinya.
Akan tetapi, sesuai dengan apa yang dikatakan im Yang Hoatsu, begitu dia mulai mempelajari ilmu sesat itu, kepala langsung pusing dan merasa mau pecah pula.
Ku Tek Cun penasaran dan mencoba lagi, namun tetap begitu sehingga membuatnya tidak berani mempelajarinya lagi.
Kitab itu disimpannya dengan hati-hati sekali dan berharap suatu hari nanti ia akan berhasil mempelajarinya.
Betapa gusarnya Lim Peng Hang, ketua Kay Pang begitu menerima laporan-laporan dari beberapa pemimpin markas cabang Kay pang, bahwa markas-markas cabang Kay Pang telah dihancurkan sam Mo Kauw.
oleh karena itu, segeralah ia mengadakan perundingan dengan Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Tok Pie sin Wan, Gouw Han Tiong dan Tio cie Hiong.
"Hm"
Dengus sam Gan sin Kay.
"Kalau begitu, mari kita serbu markas mereka"
"Aku setuju,"
Sahut Tok Pie sin Wan, begitu pula yang lain. Akan tetapi, Tio Cie Hiong diam saja dengan kening berkerut-kerut seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Kakak Hiong"
Bisik Lim Ceng im.
"Engkau sedang memikirkan apa?"
"Masalah ini,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"cie Hiong"
Lim Peng Hang memandangnya seraya bertanya.
"Bagaimana menurutmu, kalau kita menyerbu markas sam Mo Kauw?"
"Paman"jawab Tio Cie Hiong serius.
"Menurut pendapatku, lebih baik jangan."
"Jangan?"
Lim Peng Hang tertegun.
"Apa alasanmu mengatakan demikian?"
"Paman, seharusnya sam Mo Kauw menyerbu ke mari, tapi mereka malah menyerbu ke markas cabang. itu pertanda mereka mempunyai suatu rencana tertentu,"
Ujar Tio Cie Hiong menjelaskan.
"Tujuan Bu Lim sam Mo justru menghendaki kita menyerbu ke markas mereka."
"Cie Hiong"
Sam Gan sin Kay menatapnya.
"Kenapa engkau berpendapat begitu?"
"Sebab kalau kita menyerbu ke sana, tentu kita semua akan mati sia-sia. inilah tujuan sam Mo Kauw, karena di markas pasti sudah dipasang berbagai jebakan,"
Jawab Tio Cie Hiong menjelaskan.
"Mereka tidak mau menyerbu ke mari, lantaran tidak menghendaki para anggotanya menjadi korban di sini. oleh karena itu, kita pun harus diam."
"Diam?"
Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Aku ketua Kay Pang, apakah harus diam membiarkan beberapa markas cabang itu hancur begitu saja? Engkau harus tahu, hampir seratus pengemis telah dibantai sam Mo Kauw"
"Paman, apakah pihak sam Mo Kauw tiada seorang pun yang mati?"
Tanya Tio Cie Hiong mendadak.
"Ada."
Lim Peng Hang mengangguk.
"Kurang lebih tiga puluh orang."
"Nah Pihak sam Mo Kauw juga ada yang mati, berarti penyerbuan mereka tidak menghasilkan kemenangan yang gemilang, sebab masih ada perlawanan dari markas cabang Kay Pang,"
Ujar Tio cie Hiong dan melanjutkan.
"Tapi apabila kita menyerbu ke markas sam Mo Kauw, yang akan kita hadapi adalah jebakanjebakan maut, sehingga kita akan mati sia-sia"
Di sana. Kita sudah tahu itu, kenapa masih mau ke sana mencari mati? Bukankah lebih baik kita menunggu dan melihat perkembangan selanjutnya?"
"Apa yang dikatakan cie Hiong memang masuk akal."
Kim siauw suseng manggut-manggut dan menambahkan.
"Pihak sam Mo Kauw menggunakan rencana, kita harus menggunakan taktik"
"Ngmm"
Sam Gansin Kay juga manggut-manggut.
"Lebih baik sisa anggota di markas cabang ditarik ke mari untuk memperkuat markas pusat ini."
"Ayah"
Ujar Lim Peng Hang sambil mengerutkan kening.
"Bukankah kaum rimba persilatan akan mentertawakan kita sebagai pengecut?"
"Peng Hang"
Sam Gan sin Kay menatapnya tajam.
"Kaum rimba persilatan mana yang berani mentertawakan kita? Engkau harus ingat, kini Kay Pang merupakan beriteng bagi rimba persilatan. Apabila Kay Pang roboh, rimba persilatan pasti dikuasai sam Mo Kauw."
"Benar."
Tui Hun Lojin mengangguk.
"Maka kita semua harus membela mati-matian markas pusat ini."
Mendadak berjalan ke dalam seorang pengemis peringkat kedua, yang kemudian memberi hormat dan melapor.
"Lapor pada Tetua dan Pangcu, beberapa ketua partai ingin bertemu."
"oh?"
Lim Peng Hang tercengang.
"Undang mereka masuk"
"Ya, Pangcu."
Pengemis itu segera pergi.
Berselang beberapa saat, tampak beberapa orang berjalan ke dalam.
Mereka adalah Hui Khong Taysu ketua partai siauw Lim, It Hian Tojin ketua partai Butong, Hui Liong sin Kiam ketua partai Hwa san dan wie Hian cinjin ketua partai Kun Lun.
para ketua partai itu memberi hormat pada Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Tok Pie Sin Wan dan Lim Peng Hang.
"Eeeh?"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Kalian ke mari ingin makan gratis di sini ya?"
"omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Sin Kay, kami telah menerima berita bahwa markas cabang Kay Pang telah diserbu, mungkin tidak lama lagi pihak Sam Mo Kauw akan menyerbu ke mari. oleh karena itu kami ke mari untuk bergabung melawan Sam Mo Kauw."
"Terimakasih"
Ucap Lim Peng Hang.
"Silakan duduk"
Para ketua itu duduk.
Hui Liong sin Kiam dan Wie Hian Cinjin terus memandang Tio Cie Hiong.
Kedua ketua itu telah mendengar tentang kehebatan Pek Ih Sin Hiap, namun timbul pula keraguan mereka karena Tio Cie Hiong masih begitu muda.
"Eeeh?"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Kalian meragukan kehebatan Pek Ih Sin Hiap ya?"
"Cianpwee, kami...."
Wajah Hui Liong Sin Kiam memerah, begitu pula Wie Hian Cinjin.
"Kami tidak menyangka Pek Ih Sin Hiap masih begitu muda."
"Muda tapi berisi, tidak seperti kalian yang telah menyerah pada Sam Mo Kauw,"
Sahut Sam Gan Sin Kay sambil tertawa gelak.
"Cianpwee"
Ujar Wie Hian cinjin dengan wajah agak memerah lantaran merasa malu.
"Kami menyerah bukan karena, takut mati, melainkan tidak menghendaki pertumpahan darah dan mengorbankan para murid, di samping itu, kami pun menunggu kesempatan...."
"Terimakasih atas kesediaan kalian bergabung dengan Kay Pang"
Ucap Sam Gan sin Kay.
"Se-hingga markas pusat Kay Pang ini bertambah kuat"
"Cianpwee, bagaimana kalau kita menyerbu ke markas Sam Mo Kauw?"
Tanya Hui Liong Sin Kiam, ketua partai Hwa san mendadak.
"Justru kami sedang merundingkan hal ini,"
Sahut Lim Peng Hang memberitahukan.
"Namun kami menunda penyerbuan ke sana."
"Kenapa?"
Hui Liong sin Kiam heran.
"sebab...."
Lim Peng Hang membeberkan apa yang dikatakan Tio cie Hiong tadi, sehingga membuat ketua partai Hwa san dan Kun Lun saling memandang.
"omitohud Daya pikir Pek Ih sin Hiap memang hebat. Kita memang harus menunggu sesuai dengan apa yang dikatakan Lim Pangcu,"
Ujar Hui Khong Taysu.
"omitohud...."
Sementara di dalam markas sam Mo Kauw, terdengar suara tawa gelak. yaitu suara tertawanya Bu Lim sam Mo.
"Beberapa markas cabang Kay Pang telah hancur, maka sam Gan sin Kay pasti mencak-mencak tidak karuan,"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Aku yakin tidak lama lagi mereka pasti akan menyerbu ke mari."
"Itu berarti kematian bagi mereka,"
Sahut Thian Mo sambil tertawa gelak.
"sam Mo Kauw yang akan berkuasa dalam rimba persilatan,"
Sambung Te Mo dan seketika juga terdengar tepuk sorak para anggota sam Mo Kauw dengan penuh semangat.
"Hidup sam Mo Kauw Hidup sam Mo Kauw"
Bagaimana keadaan Yap in Nio yang sudah tidak begitu waras?
Gadis yang bernasib malang itu terus berlari di lembah.
Pakaiannya sudah tersobek sana sini, bahkan kaki dan tangannya pun lecetlecet.
Sudah dua hari dua malam ia tidak makan, tapi perutnya tidak merasa lapar sama sekali.
Kadang-kadang ia tertawa melengking, kemudian menangis meraung-raung, sehingga mengejutkan burung-burung yang ada di dalam lembah itu.
Ketika ia sampai di sebuah tebing, mendadak kakinya tergelincir sehingga tubuhnya terperosok ke bawah dan masuk ke dalam sebuah lubang besar.
sungguh di luar dugaan, lubang itu ternyata sebuah terowongan.
Begitu keras badan Yap In Nio membentur dinding terowongan, tapi gadis itu tidak menjerit kesakitan, melainkan malah tertawa cekikikan.
"Hi hi hi Gelap sekali. Mungkin aku sudah berada di dalam neraka. Hi hi..."
Yap In Nio bangkit berdiri Terowongan itu agak gelap, namun gadis itu melangkah ke dalam juga sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Makin ke dalam terowongan itu makin besar, akhirnya Yap in Nio sampai di tempat yang cukup luas dan terang.
Ternyata ada sebuah mutiara menempel di dinding terowongan, dan mutiara itu memancarkan cahaya yang cukup terang.
Mendadak Yap In Nio terbelalak karena melihat seorang wanita berusia lima puluhan duduk di tengah-tengah goa.
Di hadapannya terdapat sebuah batu berbentuk segi empat.
Tampak sebuah kitab, dan beberapa tulisan terukir di atas batu itu.
"Hei, Bibi"
Seru Yap In Nio sambil tertawa geli.
"Kenapa Bibi duduk mematung di situ?"
Yap In Nlo mendekatinya.
Karena merasa iseng ia menepuk bahu wanita itu, dan seketika juga baju wanita itu hancur.
Yap in Nio terbelalak, kemudian menyentuh ujung pakaian wanita itu yang melebar di tanah.
"Eeeh?"
Mulut Yap In Nio ternganga lebar. Ternyata ujung pakaian itu pun langsung hancur. Bahkan yang lebih mengherankan, wanita itu tidak mempunyai kaki.
"Kok Bibi tidak punya kaki? Pantas tidak bisa berdiri"
Yap In Nio tertawa-tawa, lalu duduk di sisi wanita itu. Gadis tersebut sama sekali tidak tahu, bahwa wanita itu sudah mati, tapi tubuhnya masih utuh karena tidak membusuk.
"Kok ada tulisan di atas batu?"
Gumam Yap In Nio, kemudian sambil tertawa-tawa ia membacanya.
Aku bernama siang Kuan Giok Lan, adik perempuan seperguruan im sie HongJin (orang Gila Alam Baka).
Im sie HongJin meracuni guru dan mencuri Kitab Im sie Cin Keng (Kitab Pusaka Alam Baka).
Kitab Pusaka itu berisi Im sie Hong Kang (Tenaga sakti Abnormal Alam Baka) dan im sie Kiam Hoat (Ilmu Pedang Alam Baka).
Karena aku memergokinya mencuri Kitab Pusaka itu, maka aku ditangkap dan disekap di dalam goa ini, bahkan dia pun memotong kedua kakiku.
siapa yang berjodoh memasuki goa ini, harus menjadi muridku.
Perguruanku memiliki semacam Iweekang aneh, yakni mati dtngan tubuh tidak membusuk, juga tetap memiliki Iweekang.
Engkau harus memeluk tubuhku, agar iweekang yang masih kumiliki dapat kusalurkan ke tubuhmu.
Engkau pun harus tahu, siapa yang mempelajari Im sie Cin Keng, akan berubah menjadi orang gila.
Namun kalau sudah mencapai tingkat kesempurnaan, akan normal kembali.
Kitab Pusaka itu berada di tangan im sie Hong jin.
Akan tetapi, Im Sie HongJin sama sekali tidak tahu, ketika guru mendekati ajal karena keracunan, secara diam-diam guru memberiku sebuah Kitab Pusaka lain, yakni yang berada di atas batu ini.
Alangkah baiknya yang memasuki goa ini adalah seorang gadis yang kurang waras, jadi agak gampang mempelajari ilmu yang ada di dalam Kitab Pusaka ini.
ingat setelah berhasil mempelajari ilmu yang ada didalam Kitab Pusaka ini, engkau harus pergi mencari Im sie HongJin, kalau dia sudah mati, carilah muridnya atau turunannya, engkau harus membunuh mereka.
Yang Meninggalkan Pesan.
siang Kuan Giok Lan.
seusai membaca, Yap In Nio malah tertawa-tawa dan memandang tubuh wanita yang tak bergerak itu.
"Iiih Kenapa aku harus memelukmu? Engkau bukan Kakak Hiong...."
Bergumam sampai di sini, wajah Yap In Nio berubah murung.
"Aku telah bersalah terhadap Kakak Hiong, aku telah menusuknya, aku... aku tidak punya muka bertemu dia lagi. Itu.... KuTek CunAku harus mencincangnya Aku harus mencincangnya"
Yap In Nio tertawa seram dengan mata berapi-api, kemudian memandang tubuh yang kaku itu.
"Bibi yang baik, aku telah bersalah terhadap Kakak Hiong. Dia... dia akan memaafkan aku? Bibi, jawablah Jangan diam saja"
Yap in Nio terus mengoceh seakan mengajak sosok itu bercakapcakap.
"Bibi, ibuku telah meninggal, bibi...."
Yap In Nio menangis sedih, lalu mendadak ia memeluk sosok itu erat-erat, dan seketika badannya tampak tergetar-getar seperti kena strom.
"Hi hi"
Gadis itu tertawa geli.
"Bibi bercanda denganku...."
Berselang sesaat, Yap in Nio jatuh pingsan, sedangkan tubuh wanita itu telah hancur, hanya tersisa tulang belulang....
Bab 32 Di jadikan sandera Tampak tiga ekor kuda berlari tidak begitu kencang, terdengar pula suara tawa riang gembira.
Penunggangnya adalah seorang pemuda tampan dan dua orang gadis cantik jelita.
Ternyata mereka Toan wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng.
Toan wie Kie mengantar Gouw sian Eng pulang ke Tionggoan.
Karena adiknya memaksa untuk ikut, maka Toan Hong Ya mengijinkannya.
Mereka bertiga telah memasuki daerah Tionggoan, dan langsung menuju markas pusat Kay Pang.
Dalam perjalanan, mereka bertiga kelihatan gembira sekali, terutama Toan wie Kie yang begitu takjub dan terpesona akan keindahan panorama di Tionggoan.
"Kakak"
Seru Toan pit Lian.
"mari kita beristirahat sejenak di bawah pohon itu"
"Bagaimana, Adik sian Eng?"
Tanya Toan wie Kie pada gadis pujaan hatinya. Gouw sian Eng mengangguk. Mereka bertiga menghentikan kuda masing-masing dekat pohon itu, lalu meloncat turun.
"sungguh sejuk dan segar udara di daerah ini"
Ujar Toan wie Kie sambil duduk.
"Pemandangan pun indah sekali,"
Sambung Gouw sian Eng dan duduk di sisinya. sedangkan Toan pit Lian masih berdiri sambil menengok ke sana ke mari. Toan wie Kie menatapnya seraya bertanya.
"Adik, kenapa engkau tidak mau duduk?"
"Aku sedang melihat apakah ada kelinci liar di sekitar tempat ini. Kalau ada, aku ingin menangkap untuk dipanggang,"
Sahut Toan pit Lian.
"Kak Lian"
Gouw sian Eng menggelengkan kepala.
"Kenapa engkau begitu tega?"
"Itu bukan masalah tega tidaknya,"
Sahut Toan pit Lian sambil tersenyum.
"Kelinci liar memang boleh untuk dimakan. Apa kah engkau tidak pernah makan daging kelinci?"
"Tidak."
Gouw sian Eng menggelengkan kepala lagi.
"Terus terang, aku tidak tega. sebab kelinci termasuk binatang jinak."
"Engkau pernah makan ayam kan?"
Tanya Toan pit Lian.
"Tentu."
Gouw sian Eng mengangguk.
"Nah, itu berarti sama,"
Ujar Toan pit Lian sambil tertawa geli, kemudian mendadak keningnya berkerut.
"Terus terang, hingga saat ini aku masih merasa penasaran."
"Penasaran kenapa?"
Tanya Gouw sian Eng heran.
"Itu... Tio Cie Hiong,"
Sahut Toan pit Lian dengan wajah agak memerah.
"Adik"
Toan wie Kie menggeleng-geleng-kan kepala.
"Engkau masih teringat akan pemuda itu?"
"Ya."
Toan pit Lian mengangguk.
"Adik"
Toan wie Kie menghela nafas.
"Dia sudah berterus terang bahwa dia sudah punya kekasih, kenapa engkau masih...."
"Kak"
Toan pit Lian tampak tidak senang.
"Aku ingat dia sebagai teman baik dan sebagai seorang kakak. Apakah itu tidak boleh?"
"Tentu boleh."
Toan wie Kie tersenyum.
"Lalu kenapa engkau masih merasa penasaran?"
"Aku merasa penasaran karena belum berkenalan dengan kekasihnya. Kalau kekasihnya ternyata gadis baik, cantik dan lemah lembut, aku tidak penasaran lagi."
ToanPit Lian memberitahukan.
"oooh"
Toan wie Kie manggut-manggut.
"Kalau kita sudah sampai di markas pusat Kay Pang, dia pasti memperkenalkan kekasihnya. Nah, engkau boleh menilai kekasihnya itu."
"Kak Lian"
Sela Gouw sian Eng sambil tersenyum.
"Siapa tahu kali ini engkau akan bertemu pemuda tampan yang baik pula."
"Benar, Dik."
Toan wie Kie memandang Toan pit Lian sambil tersenyum.
"Ihhh"
Wajah Toan pit Lian kemerah-merahan.
"Memangnya aku sudah ingin menikah seperti kalian?"
"Engkau sudah dewasa, tentunya harus menikah,"
Ujar Toan wie Kie dan menambahkan.
"Apabila nanti engkau bertemu pemuda idaman hatimu, aku akan mewakili orang tua kita untuk melamarnya untukmu."
"Kak...."
Toan Pit Lian membanting-banting kaki.
"Jangan mengada-ada"
"Dik"
Toan wie Kie menatapnya lembut.
"Kalau engkau tidak membawa sian Eng ke Tayli, mungkin aku masih...."
"Nah"
Toan pit Lian tertawa.
"Engkau harus berterimakasih kepadaku"
"Karena itu...,"
Ujar Toan wie Kie sungguh-sungguh.
"Apabila engkau bertemu pemuda idaman hati, aku pasti akan membantumu."
"Kakak...."
Wajah Toan pit Lian memerah lagi karena tersipu, kemudian menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"ohya Adik sian Eng"
Tanya Toan wie Kie.
"Kira-kira berapa hari lagi kita akan sampai di markas pusat Kay Pang?"
"Kalau kita melakukan perjalanan siang malam, mungkin dua tiga hari kita akan sampai di sana."
Gouw sian Eng memberitahukan. Toan wie Kie manggut-manggut.
"Adik sian Eng, bagaimana kalau kita melakukan perjalanan siang malam?"
"Baik,"
Gouw sian Eng mengangguk.
"Kak"
Goda Toan pit Lian sambil tersenyum.
"Ingin cepat-cepat bertemu calon mertua ya"
"Kira-kira begitulah,"
Sahut Toan wie Kie dan tertawa pula.
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang"
Ajak Toan pit Lian. Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan. Di istana Thian Mo atau markas sam Mo Kauw, sedang berlangsung pembicaraan serius, namun wajah mereka tampak diliputi keheranan.
"Aku tidak habis pikir..."
Ujar Tang Hai Lo Mo sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa Kay Pang masih beium menyerbu ke mari?"
"Mungkin mereka sudah tahu akan rencana kita,"
Sahut Thian Mo.
"Kalau begitu, lebih baik kita menyerang ke sana."
Ujar Te Mo dan menambahkan dengan wajah gusar.
"Ketua Hwa san dan ketua Kun Lun telah bergabung dengan Kay Pang, kita harus menghabiskan mereka."
"Dua hari yang lalu, ketua GoBie, Khong Tong dan ketua swatsan juga ke markas pusat Kay Pang."
Ku Tek Cun memberitahukan.
"Ke-tiga ketua itu pun bergabung dengan Kay Pang."
"Bagus Bagus Kalau begitu, kita harus menghabiskan mereka semua"
Tang Hai Lo Mo tertawa seram.
"Padahal partai-partai itu telah takluk kepada kita, tapi secara diam-diam mereka malah bergabung dengan Kay Pang."
"Sudah waktunya kita menyerang mereka,"
Ujar Te Mo dan menambahkan.
"Aku dan Thian Mo menghadapi Pek Ih sin Hiap. Empat Dhalai Lhama menghadapi Bu Lim Ji Khie, Tang Hai Lo Mo menghabiskan para ketua itu, dan Tek cun menghabiskan para pengemis peringkat satu dan dua."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Kalau begitu, besok malam kita serang markas pusat Kay Pang"
"Guru"
Ujar Ku Tek Cun.
"Menurut pendapatku lebih baik kita bersabar beberapa waktu lagi."
"Sudah tidak bisa bersabar lagi"
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"Guru harus tahu, keadaan Kay Pang pun seperti kita. Aku yakin mereka pun sudah mulai tidak sabaran seperti guru. Apabila kita dapat mengendalikan emosi untuk bersabar, tidak lama lagi mereka pasti menyerbu ke mari."
"jadi kita harus bersabar berapa lama lagi?"
Tanya Thian Mo.
"cukup seminggu saja."
Ku Tek Cun tertawa.
"sebab para ketua pasti mendesak Kay Pang untuk menyerbu ke mari, agar partai mereka bebas dari tekanan kita."
"Ngmm"
Bu Lim sam Mo manggut-manggut. Pada waktu bersamaan, masuklah seorang berpakaian hitam, yang kemudian memberi hormat dan melapor.
"Lapor pada Kauwcu Ada tiga orang menuju ke markas Kay pang."
"siapa mereka?"
Tanya Ku Tek Cun.
"Mereka Toan pit Lian, Toan wie Kie dan Gouw sian Eng,"
Jawab orang berpakaian hitam menjelaskan.
"Toan wie Kie dan Toan pit Lian adalah putra-putri Toan Hong Ya di Tayli, sedangkan Gouw sian Eng adalah putri Gouw Han Tiong."
"oh?"
Ku Tek Cun tertawa gembira, kemudian berkata kepada guru-gurunya dengan wajah berseri.
"Guru, kesempatan kita sudah datang."
"Maksudmu?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Kita tangkap mereka untuk di jadikan sandera, lalu mengutus seseorang ke Kay Pang,"
Sahut Ku Tek Cun merendahkan suaranya.
"Ha ha ha"
Bu Lim sam Mo tertawa gelak.
"Guru, bagaimana ideku ini?, tanya Ku Tek Cun.
"Idemu tepat,"
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"jadi kita mengutus seseorang ke Kay Pang untuk mengundang Pek Ih sin Hiap ke mari."
"Ha ha ha"
Thian Mo tertawa terbahak-bahak.
"Kalau dia sudah ke mari, tidak bisa keluar dengan selamat lagi"
"Benar."
Te Mo juga tertawa.
"setelah itu, barulah kita sapu habis markas pusat Kay Pang."
"Kauwcu"
Sela Dhalai Lhama jubah merah.
"Mereka cukup kita tangkap. jangan dibunuh. sebab kami berempat kenal Toan Hong Ya, lagi pula paman guru kami pernah minta bantuan kepada beliau."
"Kalian berempat tidak usah khawatir"
Tang Hai Lo Mo tertawa lagi.
"Kita undang mereka bertiga ke mari, lalu kita pancing Pek Ih sin Hiap ke sini. Setelah kita membunuh Pek Ih sin Hiap. kita akan melepaskan mereka bertiga."
"Kalau begitu, kami berempat akan pergi mengundang mereka bertiga ke mari."
Ujar Dhalai Lhama jubah merah.
"seandainya mereka tidak mau?"
Tanya Ku Tek Cun.
"Mereka pasti mau,"
Sahut Dhalai Lhama singkat.
"Baik."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Kalian berempat boleh berangkat sekarang."
"Ya, Kauwcu"
Keempat Dhalai Lhama itu mengangguk. kemudian setelah memberi hormat, berangkatlah mereka berempat.
"Hua ha ha"
Bu Lim sam Mo tertawa terbahak-bahak.
"setelah Pek Ih sin Hiap mati didalam jebakan, berarti sudah saatnya kita menguasai rimba persilatan...."
Toan wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng memacu kuda masing-masing sambil tertawatawa dengan wajah cerah ceria.
Akan tetapi, mendadak muncul empat orang di hadapan mereka, sehingga mereka segera menghentikan kuda masing-masing.
Keempat orang itu ternyata Em-pat Dhalai Lhama Tibet.
"Maaf"
Ucap Dhalai Lhama jubah merah.
"Kami berempat telah mengganggu perjalanan Pangeran, putri dan Nona."
"oooh"
Toan wie Kie manggut-manggut.
"Ternyata kalian berempat Kapan kalian datang di Tionggoan?"
"sudah cukup lama,"
Sahut Dhalai Lhama jubah merah.
"pangeran, Putri dan Nona mau ke mana?"
"Kami mau ke markas pusat Kay Pang,"
Ujar Toan wie Kie sambil tersenyum dan memberitahukan.
"Nona Gouw ini calon isteriku."
"Kami mengucapkan selamat kepada Pangeran"
Ucap keempat Dhalai Lhama itu serentak sekaligus memberi hormat lagi.
"Terimakasih"
Ucap Toan wie Kie dan menambahkan.
"Kami harus melanjutkan perjalanan."
"Maaf, Pangeran"
Dhalai Lhama jubah kuning memberi hormat dan berkata.
"Kami mengundang Pangeran, putri dan Nona Gouw ke markas sam Mo Kauw."
"oh?"
Toan wie Kie mengerutkan kening.
"Kenapa kami harus ke sana?"
"Bu Lim sam Mo ingin bertatap muka dengan kalian."
Dhalai Lhama jubah kuning memberitahukan.
"Ada urusan apa Bu Lim sam Mo ingin bertatap muka dengan kami?"
Tanya Toan pit Lian heran.
"Kami tidak kenal Bu Lim sam Mo, lagi pula kami harus melanjutkan perjalanan."
"Bu Lim sam Mo ingin membicarakan sesuatu dengan kalian,"
Jawab Dhalai Lhama jubah merah.
"Kami harap Pangeran tidak akan menyulitkan kami"
"Seandainya kami tidak mau ke sana?"
Tanya Toan wie Kie sambil mengerutkan kening.
"Maaf"
Ucap Dhalai Lhama jubah merah.
"Kami kenal baik dengan Toan Hong Ya, tentunya kami tidak akan mencelakai Pangeran, putri dan Nona Gouw. Maka dalam hal kami harap Pangeran tidak akan menyulitkan kami"
Toan wie Kie dan adiknya saling memandang.
Mereka tahu apabila mereka tidak menurut, tentunya Dhalai Lhama itu akan menggunakan kekerasan.
Agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan, akhirnya Toan wie Kie mengangguk.
"Baiklah."
"Terimakasih, Pangeran"
Ucap keempat Dhalai Lhama itu serentak.
"Mari ikut kami"
Toan wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng mengikuti mereka ke markas sam Mo Kauw dengan penuh keheranan, kenapa Bu Lim sam Mo mengundang mereka ke sana?
Apa yang akan dibicarakan?
Bu Lim sam Mo menyambut kedatangan mereka bertiga dengan penuh keramahan, sebab Toan Wie Kie dan Toan pit Lian adalah Pangeran dan putri Raja Tayli, sedangkan Gouw sian Eng adalah calon isteri Toan wie Kie.
"Maaf"
Ucap Toan wie Kie dan bertanya.
"Ada urusan apa cianpwee bertiga mengundang kami ke mari?"
"Ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.
"Toan Hong Ya sangat terkenal, tentunya kami tidak akan mencelakai kalian, jadi kalian tidak usah khawatir"
"cianpwee"
Toan wie Kie mengerutkan kening.
"Kami masih harus melanjutkan perjalanan, cianpwee mau bicara apa, bicaralah setelah itu, kami mau mohon pamit."
"Pangeran"
Thian Mo menatapnya sambil tersenyum.
"Kami tahu Pangeran ingin buru-buru menemui calon mertua. Karena itu, kami pun tidak akan menghambat waktu Pangeran, cukup tiga hari kalian bertiga tinggal di sini."
"Cianpwee, itu berarti telah menghambat waktu kami,"
Sahut Toan wie Kie dan mengerutkan kening lagi.
"Hanya tiga hari."
Te Mo tertawa gelak.
"Itu tidak begitu lama."
"Cianpwee"
Ujar Toan pit Lian.
"secara tidak langsung cianpwee telah menahan kami, jelaskan apa tujuan cianpwee?"
"Terus terang,"
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"Tujuan kami mengundang kalian ke mari adalah agar Pek Ih sin Hiap ke mari juga. Kalau kalian tidak berada di sini, bagaimana mungkin Pek Ih sin Hiap akan ke mari?"
"oooh"
Toan wie Kie manggut-manggut.
"Kami bertiga di jadikan sandera di sini, begitu kan?"
"Kami terpaksa."
Tang Hai Lo Mo tertawa.
"Bu Lim sam Mo sangat terkenal di rimba persilatan Tionggoan, kenapa harus menggunakan cara yang tak terpuji?"
Ujar Toan pit Lian dan melanjutkan.
"Bukankah merendahkan nama Cianpwee bertiga"
"Tidak salah."
Thian Mo manggut-manggut.
"Tapi kalau kami tidak menggunakan cara ini, Pek Ih sin Hiap tidak akan ke mari."
"Cianpwee keliru,"
Sahut Toan pit Lian.
"Kalau Cianpwee mengundang Pek Ih Sin Hiap ke mari, aku yakin dia pasti memenuhi undangan cianpwee."
"Cianpwee"
Sela Toan wie Kie.
"Kami dari Tayli, tidak turut campur urusan persilatan Tionggoan. Maka aku harap. Cianpwee membiarkan kami melanjutkan perjalanan Apabila cianpwee menghendaki Pek Ih sin Hiap ke mari, aku pasti memberitahukan kepadanya."
"Terimakasih, Pangeran"
Tang Hai Lo Mo tertawa.
"Kini Pangeran, putri dan Nona Gouw sudah berada di sini, apa salahnya menginap beberapa malam di sini?"
Toan wie Kie tahu, apabila ia berkeras mereka bertiga mungkin akan celaka di tangan Bu Lim sam Mo. oleh karena itu, ia manggut-manggut.
"Baiklah. Tapi tiga hari kemudian, cianpwee harus memperbolehkan kami melanjutkan perjalanan"
"Tentu Tentu"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak lalu menyuruh seseorang mengantar mereka kesebuah kamar.
setelah memasuki kamar tersebut, orang itu pergi dan pintu kamar langsung tertutup kembali.
Toan wie Kie menengok ke sana ke mart.
Kamar itu cukup luas dan terdapat tiga buah ranjang.
"Ini merupakan kamar tahanan,"
Ujar Toan wie Kie dengan suara rendah.
"Kelihatannya Bu Lim sam Mo tidak akan mencelakai kita, hanya menyandera kita untuk memancing Tio Cie Hiong ke mari."
"Heran?"
Toan pit Lian menggeleng-gelengkan kepala.
"Padahal Bu Lim sam Mo sangat terkenal dan berkepandaian tinggi, kenapa harus memancing Tio cie Hiong ke mari dengan cara ini?"
"Aku yakin..."
Sahut Toan Wie Kie dengan kening berkerut.
"Di markas ini telah dipasang berbagai macam jebakan, maka kalau Tio Cie Hiong datang...."
"Dia pasti celaka kan?"
Wajah Toan Pit Lian berubah.
"Berarti kita yang mencelakainya."
"Adik"
Ujar Toan Wie Kie sungguh-sungguh.
"Tio Cie Hiong berkepandaian begitu tinggi, belum tentu dia akan celaka."
"Benar,"
Sela Gouw sian Eng sambil manggut-manggut.
"Guruku adalah bibinya. Dia pernah mempelajari tentang jebakan-jebakan pada bibinya, maka aku yakin dia dapat melewati jebakan-jebakan di markas sam Mo Kauw ini."
"syukurlah kalau begitu"
Ucap Toan Wie Kie.
"Aku tetap merasa heran,"
Ujar Toan Pit Lian sambil mengerutkan kening.
"Heran kenapa?"
Toan Wie Kie memandangnya.
"Padahal Bu Lim sam Mo boleh menantang langsung pada Tio Cie Hiong, tapi kenapa mereka tidak mau menantang langsung? Apakah mereka bertiga masih bukan tandingan Tio Cie Hiong?"
Sahut Toan pit Lian dan melanjutkan.
"Apakah kepandaian Tio Cie Hiong sudah begitu tinggi, sehingga nyali Bu Lim sam Mo menjadi ciut untuk menghadapi Tio Cie Hiong?" (Bersambung ke Bagian 21)
Jilid 21
"Di rimba persilatan Tionggoan terdapat It ceng Ji Khie dan Sam Mo,"
Ujar Toan Wie Kie dan menambahkan.
"Kepandaian It ceng paling tinggiJi Khie dan Sam Mo boleh dikatakan seimbang, sedangkan Tio cie Hiong...."
Toan Wie Kie menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan.
"Sungguh mengherankan, kenapa kepandaiannya bisa begitu tinggi?"
"Pada waktu itu..."
Ujar Gouw Sian Eng.
"Kakek dan ayahku pun tidak habis pikir tentang Kakak Hiong. Padahal Kakak Hiong tidak mau belajar itmu silat, tapi malah...."
"Kini berkepandaian begitu tinggi. Ya, kan?"
Sambung Toan Wie Kie sambil tersenyum.
"Ya."
Gouw Sian Eng mengangguk.
"Mungkin..."
Sela Toan Pit Lian.
"Itu sudah merupakan takdir, seperti kalian berdua...."
"Kalau begitu...."
Gouw Sian Eng tertawa kecil.
"Kak Lian juga akan ditakdirkan bertemu pemuda tampan yang baik dan berkepandaian tinggi."
"Mudah-mudahan"
Sahut Toan Pit Lian dan ikut tertawa iuga.
Wajah Lim Peng Hang ketua Kay Pang tampak serius sekali.
Begitu pula Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong, Tok Pie Sin Wan, Tio cie Hiong, Lim ceng Im dan para ketua tujuh partai.
Di hadapan mereka berdiri seseorang berpakaian hitam, yaitu utusan Sam Mo Kauwcu atau Bu Lim sam Mo.
"Jadi sam Mo Kauwcu mengutusmu ke mari?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Ya, Pangcu"
Orang berpakaian hitam mengangguk.
"Aku diutus ke mari untuk menyampaikan sesuatu kepada Pek Ih sin Hiap."
"Engkau ingin menyampaikan apa, beritahukanlah"
Ujar Tio Cie Hiong.
"sam Mo Kauwcu mengundang Pek Ih sin Hiap ke markas,"
Jawab orang berpakaian hitam memberitahukan.
"Dalam waktu tiga hari, Pek Ih sin Hiap harus sampai di sana."
"Hua ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Mau apa sam Mo undang Pek Ih sin Hiap ke sana?"
"Maaf, aku tidak tahu."
"seandainya Pek Ih sin Hiap tidak bersedia memenuhi undangan sam Mo?"
Tanya Kim siauw suseng.
"Toan wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng berada di sana, tentunya Pek Ih sin Hiap tidak akan berkeberatan ke sana,"
Sahut orang berpakaian hitam.
"Apa?"
Gouw Han Tiong terkejut bukan main.
"putriku berada di sana?"
"Ya."
Orang berpakaian hitam mengangguk.
"Kini dia calon isteri Pangeran Tayli, maka kalau Pek Ih sin Hiap tidak ke markas sam Mo Kauw, mereka pasti...."
"Pasti apa?"
Tanya Gouw Han Tiong karena orang berpakaian hitam tidak melanjutkan.
"Kalian ingin membunuhnya?"
"Itu tergantung pada Pek Ih sin Hiap."
Sahut orang berpakaian hitam sambil memandang Tio Cie Hiong.
"Beritahukan kepada Sam Mo Kauwcu, bahwa aku pasti memenuhi undangannya"
Ujar Tio Cie Hiong tenang.
"Kalau begitu, aku mau mohon diri,"
Ujar orang berpakaian hitam sambil memberi hormat lalu meninggalkan tempat itu.
"Cie Hiong"
Ujar Lim Peng Hang.
"Engkau akan ke sana?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"sesung-guhnya yang mereka inginkan adalah diriku, maka kalau aku ke sana, mereka pasti melepaskan Toan Wie Kie, Toan Pit Lian dan Adik sian Eng."
"Tapi...."
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Kami akan menyertaimu ke markas sam Mo Kauw,"
Ujar Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong serentak.
"Ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa.
"Apakah Bu Lim Ji Khie harus ketinggalan?"
"Masih ada aku,"
Sambung Tok Pie sin wan sambil tertawa.
"sudah lama aku tidak bertarung, kali ini aku harus bertarung sepuas-puasnya."
"omitohud Kami ketua tujuh partai juga ikut."
Ujar Hui Khong Taysu. sementara Lim Ceng Im hanya diam saja, namun terus memandang Tio Cie Hiong seakan menunggu pendapatnya .
"Terimakasih"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Tapi pendapatku, lebih baik aku pergi seorang diri"
"Mana boleh"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Cie Hiong"
Kim siauw suseng menatapnya.
"Kalau engkau pergi seorang diri, sangat membahayakan dirimu."
"omitohud Ada baiknya kami ikut,"
Sambung Hui Khong Taysu.
"cie Hiong"
Tambah Lim Peng Hang serius.
"Kay Pang berdiri di belakangmu, artinya kita menyerbu ke markas sam Mo Kauw."
"Maaf"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Kalau kita semua menyerbu ke sana, yang akan mati duluan Adik sian Eng, Toan wie Kie dan adiknya. Ini yang harus dipikirkan jangan bergerak menuruti emosi, haruslah dipikirkan dengan tenang. Karena itu, lebih baik aku pergi seorang diri."
Bu Lim Ji Khie dan lainnya langsung membungkam, sebab apa yang dikatakan Tio Cie Hiong memang masuk akal.
Namun kalau Tio Cie Hiong pergi ke markas sam Mo Kauw seorang diri, itu sangat membahayakannya.
"Cie Hiong"
Sam Gan sin Kay menatapnya dalam-dalam.
"Engkau pernah bilang bahwa di sana pasti dipasang berbagai macam jebakan, apakah engkau...."
"jangan khawatir, Kakek pengemis"
Tio Cie Hiong tersenyum sambil memberitahukan.
"Bibi-ku pernah menguraikan tentang berbagai macam jebakan, jadi aku sudah mengerti, tidak akan celaka dalam jebakan di markas sam Mo Kauw."
"Tapi... tapi...."
Lim Peng Hang terus menerus menggeleng-gelengkan kepala, dan tampak cemas sekali. Tentu. sebab Tio Cie Hiong boleh dikatakan calon menantunya.
"Tidak usah cemas, Paman"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Aku bisa menjaga diri"
"Cie Hiong, katakanlah engkau dapat melewati jebakan-jebakan itu, tapi bagaimana mungkin engkau menghadapi Empat Dhalai Lhama dan Bu Lim sam Mo?"
Ujar Kim siauw suseng.
"Apakah engkau sudah memikirkan itu?"
"Paman sastrawan, aku sudah memikirkan itu."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Tidak mungkin Empat Dhalai Lhama dan Bu Lim sam Mo akan mengeroyokku, karena Empat Dhalai Lhama bergerak sesuai dengan semacam formasi, jadi kalau ditambah Bu Lim sam Mo, mereka bertujuh jualah akan kacau balau, dan mungkin akan saling menyerang. Karena itu, mereka pasti tidak akan mengeroyokku."
"Kami tahu kepandaianmu jauh di atas Empat Dhalai Lhama,"
Ujar Sam Gan sin Kay.
"Tapi kalau menghadapi Bu Lim sam bertiga...."
"Kakek pengemis, bukankah selama ini Kakek pengemis selalu bilang, cuma aku yang dapat menghadapi Bu Lim sam Mo? Nah, kini sudah waktunya aku membuat perhitungan dengan Empat Dhalai Lhama dan Bu Lim sam Mo."
Bu Lim Ji Khie saling memandang, kemudian mereka manggut-manggut.
"Cie Hiong, engkau harus berhati-hati"
Pesan sam Gan sin Kay.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Sialan Betul-betul sialan"
Caci Kim siauw suseng mendadak dengan wajah penuh kegusaran.
"Memang Memang sialan"
Sam Gan sin Kay juga ikut mencaci dengan mata melotot-lotot.
"Kakek mencaci siapa?"
Tanya Lim Ceng Im.
"Paman sastrawan mencaci siapa?"
Tanya Tio Cie Hiong. Yang lain pun memandang Bu Lim Ji Khie dengan penuh keheranan.
"Kami mencaci Lam Hai sin ceng,"
Sahut Bu Lim Ji Khie serentak.
"Padri keparat itu entah hilang ke mana, sama sekali tidak berani memunculkan diri"
"Mungkin...,"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Lam Hai sin ceng sudah hidup tenang di suatu tempat, maka tidak mau mengotori tangannya lagi untuk mencampuri urusan persilatan."
"Hm"
Dengus sam Gan sin Kay.
"Dengan begitu dia kira dirinya bisa naik ke sorga. Padahal pintu neraka yang sudah terbuka untuk dirinya"
Tio Cie Hiong diam saja, sama sekali tidak berani memberitahukan tentang Lam Hai sin ceng.
"Cie Hiong, kapan engkau berangkat?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Besok pagi,"
Sahut Tio cie Hiong.
"Kakak Hiong"
Ujar Lim Ceng Im sambil menundukkan kepala.
"Aku ikut ya"
"Adik Im"
Tio cie Hiong tersenyum.
"Engkau tidak boleh ikut, sebab aku pergi menempuh bahaya, bukan pergi pesiar."
"Kakak Hiong...."
"Adik Im, jangan membantah"
Ujar Tio Cie Hiong dan memberitahukan.
"Apabila engkau ikut, aku pasti celaka."
"Kenapa?"
Tanya Lim Ceng Im heran.
"Aku harus terus melindungimu, sehingga membuat diriku tidak bisa berkonsentrasi, maka aku pasti celaka. Mengerti? Adik Im"
"Itu... itu...."
Lim Ceng Im mengerutkan kening.
"Cucuku"
Ujar sam Gan sin Kay.
",Apa yang dikatakan cie Hiong memang masuk akal, engkau harus mengerti."
"Ceng Im"
Sambung Lim Peng Hang.
"Kalau engkau ikut, jelas dia harus mencurahkan perhatiannya untukmu. Kalau perhatiannya terpecah, bagaimana akibatnya pasti engkau tahu, kan?"
"Ya."
Lim Ceng Im mengangguk.
"Aku... aku mengerti."
Bab 33 Terkurung di dalam ruang batu Pagi ini, Tio Cie Hiong berpamit pada semua orang, setelah itu barulah ia mendekati Lim Ceng Im yang telah membengkak matanya, karena menangis semalaman memikirkan Tio Cie Hiong yang akan berangkat ke markas sam Mo Kauw.
"Adik Im...."
Tio Cie Hiong menatapnya lembut.
"Engkau tidak usah cemas, aku pasti kembali dengan selamat Percayalah"
"Kakak Hiong...."
Air mata gadis itu tak terbendung lagi, langsung meleleh membasahi pipinya.
"Adik Im"
Tio Cie Hiong membelainya.
"Jangan menangis, tersenyumlah"
Bukannya tersenyum, Lim Ceng Im malah menangis tersedu-sedu, sehingga air matanya berderai-derai.
"Cucuku"
Sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak baik engkau mengantar Cie Hiong dengan air mata. Engkau harus yakin Cie Hiong pasti kembali dengan selamat"
"Kakek...."
Lim Ceng Im langsung mendekap di dada sam Gan sin Kay.
"Engkau harus tenang, itu merupakan dukungan bagi Cie Hiong"
Bisik sam Gan sin Kay. Mendadak Lim Ceng Im berhenti menangis, kemudian mendekati Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Kakak Hiong, doaku selalu menyertaimu,"
Ucapnya.
"Terimakasih, Adik Im"
Tio Cie Hiong membelainya.
Ternyata Lim Ceng Im telah mengambil keputusan, apabila Tio Cie Hiong mati di markas sam Mo Kauw, maka ia akan membunuh diri Dengan adanya keputusan tersebut, gadis itu menjadi tenang.
"cie Hiong"
Gouw Han Tiong menghampirinya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"sian Eng telah menyusahkanmu."
"Paman jangan berkata begitu"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Aku memang harus membuat perhitungan dengan mereka. Adik sian Eng tidak bersalah dalam hal ini. Mudah-mudahan mereka akan melepaskan adik sian Eng, Toan wie Kie dan adiknya setelah aku tiba di markas itu."
"cie Hiong...."
Tui Hun Lojin memegang bahunya.
"Aku yakin engkau pasti kembali dengan selamat."
"Terimakasih atas dukungan Kakek"
Ucap Tio Cie Hiong, lalu melangkah pergi.
semua orang mengantarnya sampai di luar markas pusat Kay Pang.
Tio Cie Hiong membalikkan badannya.
Ia menjura kepada semua orang, lalu memandang Lim Ceng Im sambil tersenyum lembut, setelah itu mendadak melesat pergi menggunakan ginkang.
"Kakak Hiong..."
Teriak Lim Ceng Im. Akan tetapi, Tio Cie Hiong sudah tidak kelihatan.
"Nak...."
Lim Peng Hang memegang bahu Lim Ceng Im.
"Jangan khawatir, dia pasti pulang dengan selamat"
"Ayah"
Lim Ceng Im langsung mendekap di dada Lim Peng Hang.
"Dia... dia seorang diri pergi menempuh bahaya, sebaliknya kita semua malah cuma berdiam diri."
"Nak"
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengajaknya ke dalam, dan yang lain pun mengikuti dari belakang.
Mereka semua duduk di ruang depan dengan mulut membungkam, sehingga suasana menjadi hening sekali.
"Ayah"
Ujar Lim Peng Hang kepada sam Gan sin Kay.
"Apakah kita semua diam saja?"
"Aaakh..."
Sam Gan sin Kay menghela nafas.
"Apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita harus berpikir tentang itu,"
Ujar Kim siauw Suseng.
"Kita semua tidak bisa duduk diam."
"Benar."
Tui Hun Lojin manggut-manggut.
"Ayah"
Ujar Lim Ceng Im mendadak.
"Aku punya usul, bolehkah aku mengemukakannya?"
"Nak, apa usulmu?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Begini...,"
Jawab Lim Ceng Im memberitahukan.
"Kita susul Kakak Hiong...."
"Itu...."
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukankah dia tadi telah berpesan? Kalau kita susul dia...."
"Usui Ceng Im bisa diterima,"
Ujar Kim siauw suseng mendadak.
"Aku setuju mengenai usulnya."
"Eh?"
Sam Gan sin Kay menatapnya.
"sastrawan sialan, engkau ingin membuat keruh urusan ini?"
"Aku justru ingin menjernihkannya,"
Sahut Kim siauw suseng dan melanjutkan dengan wajah serius.
"Aku tahu maksud Ceng Im, dia menghendaki kita menyusul cie Hiong bukan untuk menyerbu ke dalam markas sam Mo Kauw, melainkan menunggu di luar. ceng Im, maksudmu begitu, kan?"
"Betul."
Lim Ceng Im mengangguk.
"Nah"
Ujar Kim siauw suseng.
"Bukankah usul itu tepat?"
"Tidak salah."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Kalau begitu, mari kita berangkat ke markas sam Mo Kauw ujar Lim Peng Hang dan menambahkan.
"Aku akan memilih puluhan pengemis handal untuk ikut."
"Kupikir itu tidak perlu,"
Ujar Kim siauw suseng.
"sebab kita ke sana secara diam-diam, jadi jangan sampai pihak sam Mo Kauw mengetahui kehadiran kita di sana."
"Jadi cukup kita-kita saja?"
Tanya sam Gan sin Kay.
"Ya."
Kim siauw suseng mengangguk.
"Kita menunggu di luar markas sam Mo Kauw, siapa yang keluar dari markas itu, kita habiskan saja"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Memang harus begitu"
"omitohud"
Ucap Hui Khong Taysu.
"Kamu ketua tujuh partai juga ikut"
"Terima kasih"
Ucap Lim Peng Hang, kemudian memandang putrinya.
"Nak...."
"Ayah, biar bagaimana pun aku harus ikut,"
Sahut Lim ceng Im cepat.
"Kalau aku tidak diizin-kan ikut...."
"Engkau boleh ikut,"
Ujar sam Gan sin Kay, kemudian memandang semua orang.
"Mari kita berangkat sekarang"
Ooo)00000(ooo sementara itu, Tio Cie Hiong sudah tiba di depan istana Thian Mo atau markas sam Mo Kauw. Belasan orang berpakaian hitam segera menghampirinya, dan memberi hormat.
"Pek Ih sin Hiap dipersilakan masuk"
Ujar salah seorang dari mereka.
"Terimakasih"
Ucap Tio Cie Hiong, lalu melangkah ke dalam tanpa merasa gentar sedikit pun.
setelah melangkah ke dalam, Tio Cie Hiong melihat sebuah aula, dan beberapa orang duduk di situ.
Mereka adalah Bu Lim sam Mo, Empat Dhalai Lhama, Im Yang Hoatsu dan Ku Tek Cun.
Begitu melihat Ku Tek Cun, ia terbelalak seketika, sedangkan Ku Tek Cun tersenyum-senyum.
"Bu Lim sam Mo, aku sudah datang."
Ujar Tio Cie Hiong.
"Maka kuharap kalian melepaskan Gouw sian Eng, Toan wie Kie dan adiknya"
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.
"Selamat datang Pek Ih sin Hiap Kami sungguh kagum akan keberanianmU"
"Bu Lim sam Mo Cepat lepaskan mereka"
Tandas Tio cie Hiong.
"Itu gampang"
Thian Mo tertawa terbahak-bahak.
"Duduklah, mari kita bercakap-cakap dulu sebentar"
Tio Cie Hiong mengangguk. sungguh mengagumkan karena pemuda itu tampak begitu tenang.
"Pek Ih sin Hiap"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Terus terang, kami sangat kagum akan kepandaianmu. oleh karena itu, kami berminat mengangkat engkau sebagai wakil Kauwcu. Apakah engkau setuju?"
"Terimakasih atas penghargaan kalian, tapi...."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan "Engkau tidak setuju?"
Tanya Te Mo bernada tidak senang.
"seharusnya aku setuju, tapi kedua orang tuaku dan kakakku telah mati. itulah yang menyebabkan aku tidak bisa setuju."
"Apa hubungannya dengan penawaran kami?"
Tanya Tang Hai LoMo heran.
"Kedua orang tuaku mati di tangan kalian bertiga. Kakakku mati di tangan Empat Dhalai Lhama,Jadi bagaimana mungkin aku akan menerima penawaran itu?"
"siapa kedua orang tuamu?"
Tanya Thian Mo sambil mengerutkan kening.
"Hui Kiam Bu Tek dan sin Pian Bi jin,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil menatap tajam pada Bu Lim sam Mo.
"Itu karena Kotak Pusaka."
Tang Hai Lo Mo memberitahukan.
"Lagi pula siapa pun ingin merebut Kotak Pusaka itu, tentunya juga akan membunuh kedua orang tuamu. sebelum kami membunuh mereka, sekujur badan mereka telah terluka parah."
"Kalau kalian hanya menghendaki Kotak Pusaka itu, kenapa harus membunuh kedua orang tuaku?"
Tanya Tio cie Hiong dengan kening berkerut.
"Itu terpaksa,"
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"sebab kedua orang tuamu terus-menerus mempertahankan Kotak Pusaka itu."
"Kedua orang tuaku mati di tangan kalian, tentunya kalian pun tahu aku harus bagaimana, kan?"
Ujar Tio Cie Hiong dingin.
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.
"Engkau ingin menuntut balas?"
"Membuat perhitungan dengan kalian."
Sahut Tio Cie Hiong.
"Mari kita bertarung"
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa lagi.
"Bagus Bagus...."
Pada waktu bersamaan, mendadak tempat duduk Tio Cie Hiong merosot ke bawah.
Ternyata lantai di bawah tempat duduk itu telah terbuka, dan Tio Cie Hiong terlambat untuk meloncat ke atas.
Tak seberapa lama kemudian, barulah kaki Tio Cie Hiong menginjak dasar lubang.
la menengok ke sana ke mari, ternyata dirinya berada di sebuah ruangan kecil.
Tio cie Hiong berdiri diam.
Berselang sesaat, dinding ruang itu bergerak, lalu tampaklah sebuah pintu.
Tio Cie Hiong memandang ke dalam.
Dilihatnya sebuah ruangan yang tidak begitu gelap.
Perlahan-lahan Tio Cie Hiong mendekati pintu itu, lalu berdiri di situ dan memandang ke dalam lagi dengan penuh perhatian.
Lantai ruangan itu rata, dan dindingnya tampak biasa.
Tio Cie Hiong mengerahkan lweekangnya agar badannya jadi ringan, setelah itu barulah ia melangkah ke dalam ruang tersebut.
Begitu memasuki ruang itu, dinding yang merupakan pintu itu tertutup kembali.
Tio cie Hiong berdiri di tengah-tengah ruang itu, tetapi telah mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kangnya untuk melindungi dirinya.
Lama sekali Tio Cie Hiong berdiri di situ.
Ketika ia baru mau melangkah, mendadak lantai itu bergerak dan muncullah lima buah patung tembaga mengurungnya.
la menatap tajam pada kelima patung tembaga itu.
Di saat bersamaan kelimapatung tembaga itu bergerak menyerangnya.
Tio Cie Hiong segera berkelit, namun kelima patung tembaga itu tetap mengurungnya.
Ternyata lima patung tembaga itu bergerak sesuai dengan semacam formasi.
Tio Cie Hiong tahu, bahwa percuma ia balas menyerang, maka ia terus berkelit sambil memperhatikan kelima patung tersebut.
Berselang sesaat, ia melesat ke atas sekaligus menginjak kepala kelima patung tembaga.
sudah barang tentu patung-patung itu menjadi rusak tidak karuan, dan seketika kelima-limanya tak bergerak lagi.
Tio Cie Hiong tersenyum.
Di saat itu pula dinding di ruangan itu bergerak dan tampak sebuah pintu.
la mendekati pintu itu, lalu memandang ke dalam.
Ternyata ruangan di balik pintu berupa sebuah terowongan.
Tio Cie Hiong tidak berani sembarangan masuk.
melainkan terus memperhatikan terowongan itu Lantai terowongan itu berpetak-petak.
begitu pula dindingnya.
setelah memperhatikan terowongan itu, Tio Cie Hiong tahu bahwa ruangan itu merupakan sebuah jebakan maut.
Karena itu, ia tidak langsung masuk, melainkan terlebih dahulu memungut sebuah batu kecil lalu digelindingkannya di lantai terowongan.
Ternyata batu itu menimbulkan suara "Derrrrk".
Tiba-tiba lantai itu bergerak.
dan seketika dari empat penjuru meluncur ribuan anak panah.
Menyaksikan itu, Tio Cie Hiong menarik nafas dalam-dalam.
Apabila tadi langsung masuk.
walau berkepandaian tinggi, belum tentu ia dapat berkelit.
Jarak dari tempat ia berdiri sampai ujung terowongan itu, kira-kira sepuluh depa.
Karena bukan di tempat terbuka, maka sulit baginya menggunakan ginkang ke ujung terowongan.
Tio Cie Hiong terus berpikir, akhirnya menemukan jalan untuk mencapai ujung terowongan, yakni dengan cara melesat ke atas, sepasang tangannya menempel di langit-langit, lalu melesat lagi ke dinding dan sekaligus menendang dinding sehingga badannya melesat ke atas lagi, sepasang tangannya menekan langit-langit lagi, maka badannya melayang ke arah dinding, sepasang kakinya menendang dinding, akhirnya sampailah di ujung terowongan.
Akan tetapi, mendadak lantai yang diinjaknya bergerak, sehingga badannya terperosok ke bawah, kemudian lantai itu pun tertutup kembali.
Tio cie Hiong tidak bisa melihat apa-apa, sebab tempat itu gelap sekali.
setelah kakinya menginjak dasar, ia berdiri diam di tempat.
Ber-selang sesaat kemudian, ia mengibaskan lengan bajunya ke sana ke mari, tapi tidak terjadi apa pun, pertanda di ruang itu tidak terdapat jebakan.
Barulah ia melangkah mendekati dinding, sekaligus mengetuknya .
Ternyata dinding itu terbuat dari batu yang amat tebal, sehingga tidak mungkin dapat dihancurkan dengan Iweekang.
satu hal yang mengejutkannya, yakni di ruangan itu tiada udara.
Tio Cie Hiong bisa bertahan, beberapa hari dengan mengerahkan pan Yok Hian Thian sin Kang, tapi lewat dari itu tentunya ia tidak bisa bernafas.
Itu yang mencemaskannya.
Diperhatikannya seluruh ruangan itu, sama sekali tiada jalan ke luarnya.
Akhirnya ia duduk bersila di tengah-tengah ruang batu itu, lalu mengerahkan pan Yok Hian Thian sin Kang-nya.
Berselang beberapa saat kemudian, mendadak keningnya tampak berkerut.
Ternyata ia mendengar suara.
Kreeek "
Tak lama setelah itu, terlihat ada cahaya menerobos ke dalam. sungguh di luar dugaannya, karena muncul sebuah lubang di dinding.
"Pek Ih sin Hiap silakan masuk ke lubang ini"
Terdengar suara tetapi lirih.
Tio cie Hiong segera masuk.
seketika ia terbelalak.
karena di situ merupakan sebuah ruangan pula.
Tampak seorang berpakaian hitam berdiri di situ sambil tersenyum, lalu menjura pada Tio cie Hiong.
"Selamat bertemu, Pek Ih sin Hiap"
"Anda...."
Tio cie Hiong tercengang. orang itu tersenyum lagi, kemudian kakinya menekan lantai dan lubang itu tertutup kembali.
"Pek Ih sin Hiap jangan salah paham"
Ujar orang itu "Aku memang sengaja menjadi anggota sam Mo Kauw."
"oh? Nama Anda?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Namaku Lam Kiong Bie Liong."
Orang itu memberitahukan.
"Lam Kiong Bie Liong?"
Tio Cie Hiong agak tersentak, sebab keluarga Lam Kiong sangat terkenal dalam rimba persilatan, ahli senjata rahasia dan ahli membuat berbagai jebakan.
"Anda berasal dari keluarga Lam Kiong yang sangat terkenal itu?"
"Lam Kiong Hujin adalah ibuku."
Orang itu memberitahukan.
"oooh"
Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil menatapnya. orang itu masih muda dan tampan.
"Pek Ih sin Hiap...."
"Namaku Tio Cie Hiong."
"saudara Tio"
Lam Kiong Bie Liong memandangnya kagum.
"Engkau memang hebat, dapat melewati dua jebakan itu dengan selamat"
"Tapi aku tak berkutik di dalam ruang batu itu. Kalau saudara Lam Kong tidak menyelamatkan aku, mungkin aku akan mati di dalam."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu merupakan ruang batu yang mematikan, tapi Bu Lim sam Mo justru tidak tahu di ruang batu itu terdapat sebuah lubang rahasia,"
Ujar Lam Kiong Bie Liong sambil tertawa.
"Kok saudara Lam Kiong tahu?"
Tio Cie Hiong heran.
"Sebab yang membuat berbagai jebakan di sini pamanku."
Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.
"sebelum berangkat ke mari, pamanku telah meninggalkan selembar gambar mengenai berbagai jebakan di sini. Di samping itu, tanpa setahu Bu Lim sam Mo, pamanku juga membuat lubang dan pintu rahasia lain dijalan jebakan-jebakan tersebut."
"oooh"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"saudara Tio, di mana pamanmu?"
"Sudah mati di tangan Bu Lim Sam Mo, begitu pula para pekerja lain."
Lam Kiong Bie Liong memberitahukan sambil berkertak gigi.
"Bu Lim sam Mo membunuh pamanku dan para pekerja lain itu, agar rahasia jebakan-jebakan di sini tidak diketahui orang luar. Tapi Bu Lim sam Mo justru tidak menduga, kalau pamanku telah meninggalkan selembar gambar mengenai semua jebakan yang ada di sini."
"Karena itu, engkau masuk jadi anggota sam Mo Kauw?"
Tanya Tio cie Hiong.
"Ya."
Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"lbu mengutusku ke mari, baru beberapa bulan aku jadi anggota sam Mo Kauw."
"oh?"
Tio cie Hiong tercengang.
"sebelum-nya engkau berada di mana?"
"Di rumah."
Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.
"Pada waktu pamanku dibawa ke mari, aku sedang mempelajari semacam ilmu pedang. setelah berhasil, ibuku mengutusku ke mari untuk membunuh Bu Lim sam Mo. Tapi...."
"Kenapa?"
"Bagaimana mungkin aku mampu membunuh mereka? Kepandaian mereka begitu tinggi, tapi aku tidak putus asa, sebab aku sudah mendengar tentang dirimu dan yakin engkau akan ke mari. oleh karena itu, aku menunggumu dengan sabar."
"oooh"
Tio Cie Hione manggut-manggut.
"Terimakasih, saudara Lam Kiong"
"sama-sama"
Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"ohya, engkau tahu tentang Gouw sian Eng, Toan wie Kie dan adiknya disandera di sini?"
"Tahu."
"Engkau tahu mereka dikurung di mana?"
"Tahu."
Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"Mereka aman, maka aku tidak berusaha menolong mereka, sebab aku harus menunggumu. Lagipula kalau aku menolong mereka bertiga, mungkin akan menimbulkan hal lain."
"Benar."
Tio Cie Hiong manggut-manggut dan bertanya.
"ohya, engkau tahu Empat Dhalai Lhama dan Bu Lim sam Mo berada di mana?"
"Tahu."
Lam Kiong Bie Liong mengangguk lagi.
"Mereka berada di ruang rahasia."
"Ruang rahasia mana?"
Tanya Tio Cie Hiong. Lam Kiong Bie Liong memberitahukan, kemudian menambahkan pula.
"Aku akan merusak semua jebakan, jadi engkau gampang menemui mereka. Tapi Bu Lim sam Mo berkepandaian tinggi sekali, sedangkan Im Yang Hoatsu mahir ilmu sesat, maka engkau harus berhati-hati"
"Ya."
"Setelah merusak semua jebakan, aku akan membawa Nona Gouw, Toan wie Kie dan adiknya meninggalkan markas sam Mo Kauw ini."
"Terima kasih"
Ucap Tio Cie Hiong.
"sama-sama"
Sahut Lam Kiong Bie Liong sambil tersenyum.
"ohya, apabila pintu ruang ini terbuka, pertanda aku telah membawa pergi mereka bertiga, maka engkau boleh meninggalkan ruang ini menuju ruang rahasia yang kuberitahukan tadi."
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"saudara Tio, sampai jumpa"
Ucap Lam Kiong Bie Liong, kemudian tangannya menekan dinding, dan tak lama dinding itu terbuka. sebelum pergi ia berpesan lagi.
"Kalau pintu ini terbuka lagi nanti, engkau boleh keluar."
"Terimakasih, saudara Lam Kiong"
Ucap Tio Cie Hiong.
Lam Kiong Bie Liong masuk ke pintu itu, dan tak lama pintu itu tertutup kembali.
Tio Cie Hiong masih berdiri di situ, tetapi hatinya merasa lega karena bertemu Lam Kiong Bie Liong.
Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi?
sementara Gouw sian Eng, Toan wie Kie dan adiknya berjalan mondar-mandir di dalam kamar, mendadak mereka mendengar suara "Kreeek".
Lantai kamar itu terbuka sedikit.
Betapa terkejutnya mereka bertiga, apalagi muncul seorang berpakaian hitam dari lubang lantai itu.
Gouw sian Eng, Toan wie Kie dan adiknya sudah siap menyerang orang itu.
"sabar sabar"
Ujar orang itu.
"Tio Cie Hiong menyuruhku ke mari untuk membawa kalian pergi."
"oh?"
Toan wie Kie terbelalak.
"Tapi Anda...."
"Namaku Lam Kiong Bie Liong, cepatlah kalian ikut aku"
Ternyata orang itu Lam Kiong Bie Liong. Gouw sian Eng, Toan Wie Kie dan Toan pit Lian saling memandang, kemudian mereka mengangguk.
"Engkau bernama Lam Kiong Bie Liong?"
Tanya Toan pit Lian sambil menatapnya. Ketika dilihatnya orang itu masih muda dan tampan, seketika wajahnya berubah kemerah-merahan.
"Benar."
Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.
"Barusan aku yang memberitahukan. Ayo, mari ikut aku ke luar melalui lubang itu"
Lam Kiong Bie Liong segera meloncat ke dalam lubang itu, lalu Toan wie Kie, Gouw sian Eng dan Toan pit Lian mengikutinya.
setelah mereka meloncat ke dalamnya, lubang itu tertutup kembali.
Ternyata lubang itu merupakan sebuah terowongan panjang.
Lam Kiong Bie Liong terus melangkah, dan mereka bertiga terus mengikutinya dari belakang.
"Kakak Kie, Lam Kiong Bie Liong itu sangat tampan,"
Bisik Gouw sian Eng.
"Tadi wajah Kakak Lian kelihatan kemerah-merahan, mungkin tertarik padanya."
"Pemuda itu kelihatan baik dan tampan, tapi...."
Toan wie Kie mengerutkan kening.
"Entah dia sudah punya isteri apakah belum?"
"Kakak Kie, akupunya akal untuk bertanya kepadanya."
Bisik Gouw sian Eng.
"oh?"
Toan wie Kie tersenyum-senyum.
"saudara Lam Kiong"
Ujar Gouw sian Eng.
"Kenapa engkau mau menjadi anggota sam Mo Kauw?"
"Akan kuberitahukan nanti,"
Jawab Lam Kiong Bie Liong.
"ohya, saudara Lam Kiong"
Tanya Gouw sian Eng mendadak.
"Isterimujuga di sini?"
Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"Aku belum punya isteri."
"Setahuku, keluarga Lam Kiong sangat terkenal. Mungkin engkau sudah mempunyai tunangan atau kekasih,"
Ujar Gouw sian Eng sambil tersenyum.
"sama sekali tidak punya,"
Sahut Lam Kiong Bie Liong.
"ohya, kalau tidak salah, Nona Gouw adalah calon isteri Pangeran Toan ini, bukan?"
"Betul,"
Sahut Toan pit Lian.
"Dia calon isteri kakakku."
"Mereka berdua memang pasangan yang serasi."
Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"saudara Lam Kiong"
Ujar Toan wie Kie mendadak.
"Adikku ini belum punya kekasih lho"
"oh?"
Lam Kiong Bie Liong kelihatan girang sekali.
"Tadi aku mengira Tayli Kongcu sudah mempunyai suami atau kekasih, ternyata belum...."
"Soalnya dia belum ketemu pemuda idaman hatinya."
Gouw sian Eng memberitahukan.
"oh?"
Lam Kiong Bie Liong memandang Toan Pit Lian.
"Tayli Kongcu, kita... kita jadi teman ya"
"Jangan memanggilku Tayli Kongcu, panggil saja namaku"
Sahut Toan Pit Lian dengan wajah kemerah-merahan.
"Nama ku Toan pit Lian."
"Toan pit Lian"
Lam Kiong Bie Liong mang-gut-manggut.
"Nama yang indah sekali...."
"Adikku pun sangat cantik,"
Sambung Toan wie Kie sambil tertawa.
"Kak...."
Toan pit Lian melotot.
Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di ujung terowongan itu Lam Kiong Bie Liong menghentikan langkahnya, lalu mendekati dinding terowongan, dan tangannya menekan sesuatu.
"Bie Liong, apa yang kau lakukan?"
Tanya Toan pit Lian heran.
"setelah aku menekan tombol itu, semua jebakan di dalam markas sam Mo Kauw akan rusak."
Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.
"oooh"
Toan pit Lian manggut-manggut "saudara Lam Kiong, bagaimana Tio Cie Hiong?"
Tanya Toan wie Kie.
"Pintu rahasia ruang batu itu akan terbuka, dia akan keluar,"
Jawab Lam Kiong Bie Liong memberitahukan, kemudian kakinya menginjak sebuah batu kecil. Kreeek Dinding terowongan itu terbuka, lalu tampak cahaya menerobos ke dalam, dan Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"Mari kita keluar"
Ujarnya.
Bab 34 Pertarungan mati hidup sementara itu, Tio Cie Hiong terus menunggu dengan sabar, tiba-tiba pintu rahasia di dinding terbuka.
la segera melangkah ke luar, Ternyata dirinya berada di sebuah koridor.
Tio Cie Hiong memperhatikan dinding di koridor itu.
Dilihatnya sebuah tombol lalu ditekannya.
Kemudian dinding itu terbuka dan tampak beberapa orang berada di dalamnya.
Mereka adalah Empat Dhalai Lhama danBu Lim sam Mo.
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.
"Pek Ih sin Hiap, engkau memang hebat"
"Bu Lim sam Mo"
Bentak Tio Cie Hiong.
"Kini udah saatnya kita bertarung"
"Tidak salah"
Sahut Thian Mo.
"Tapi sebelumnya engkau harus menghadapi Empat Dhalai Lhama itu dulu"
"Baik"
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kalian berempat, majulah"
Empat Dhalai Lhama itu langsung mengurung Tio Cie Hiong dengan sepasang roda bergerigi di tangan.
"serang"
Seru Dhalai Lhama jubah merah.
seketika meluncur delapan roda bergerigi ke arah Tio cie Hiong.
Pemuda itu tertawa panjang sambil berkelit.
Empat Dhalai Lhama terus menyerang dengan senjata tersebut, bahkan sekali-sekali menyerang dengan pukulan.
Tio Cie Hiong tetap berkelit menggunakan Kiu Kiong san Tian Pou.
sedangkan Bu Lim sam Mo menyaksikan pertarungan itu dengan penuh perhatian.
Tak terasa pertarungan mereka sudah belasan jurus.
Empat Dhalai Lhama itu menyerang dengan jurus -jurus yang mematikan, dan bergerak sesuai dengan semacam formasi.
Ternyata mereka berempat terus berlatih setelah sembuh, karena mereka berempat pernah dikalahkan Tio Cie Hiong.
Mendadak Tio Cie Hiong membentak keras, lalu mulai mengeluarkan ilmu ciptaannya, yaitu Bit Ciat sin ci (Jari sakti Pemusnah Kepandaian), Man Thian sing sing (Bintang-Bintang Bertaburan Di Langit).
seketika semua senjata keempat Dhalai Lhama itu terpental.
Di saat bersamaan, Tio Cie Hiong pun menyerang mereka dengan jurus cian ci sao Te (Ribuan Jari Menyapu Bumi), Tampak jari tangan Tio Cie Hiong berkelebatan laksana kilat, bahkan memancarkan cahaya putih mengarah pada keempat Dhalai Lhama.
"Aakh..."
Terdengar suara jeritan. Keempat Dhalai Lhama roboh dengan mulut menyemburkan darah segar. Mereka ingin bangkit berdiri, tapi sudah tak bertenaga lagi.
"Aku mengampuni nyawa kalian, namun kepandaian kalian telah musnah"
Ujar Tio Cie Hiong dingin dan menambahkan.
"sebaiknya kalian berempat segera kembali ke Tibet"
Keempat Dhalai Lhama diam saja, sebab mereka sudah tidak mampu membuka mulut.
Ketika mereka berempat roboh, wajah Bu Lim sam Mo tampak berubah, karena tidak menyangka kalau Tio Cie Hiong berkepandaian begitu tinggi, hanya belasan jurus sudah merobohkan keempat lawannya.
"Bu Lim sam Mo"
Tio Cie Hiong menatap mereka bertiga dengan dingin.
"Kini giliran kalian"
"Baik. Tang Hai Lo Mo mengangguk.
"Tempat ini sangat sempit, mari kita bertarung di luar"
"Boleh"
Tio Cie Hiong mengangguk.
Mereka berempat lalu berjalan ke luar.
Lam Kiong Bie Liong, Gouw sian Eng, Toan wie Kie dan Toan pit Lian sudah berada di luar markas sam Mo Kauw Justru mereka terbelalak, karena melihat mayat-mayat anggota sam Mo Kauw berserakan di mana-mana.
Di saat mereka termangu-mangu, mendadak berkelebat beberapa sosok bayangan ke hadapan mereka.
Bayangan-bayangan itu ternyata Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Tok Pie sin Wan, Gouw Han Tiong dan Lim Ceng Im.
Kemudian menyusul pula para ketua tujuh partai dan Lim Peng Hang ketua Kay Pang.
"Ayah"
Seru Gouw sian Eng girang.
"Nak"
Betapa girangnya Gouw Han Tiong begitu melihat putrinya selamat.
"Nak...."
"Ayah"
Gouw sian Eng langsung mendekap di dada Gouw Han Tiong.
"Nak...."
Gouw Han Tiong membelainya.
"Anak muda Apakah engkau Toan wie Kie?"
Tanya Tui Hun Lojin sambil menatapnya tajam.
"Ya,"
Jawab Toan wie Kie sambil memberi hormat.
"Bagus Bagus...."
Tui Hun Lojin tertawa girang.
"Eeeh?"
Sam Gan sin Kay memandang Lam Kiong Bie Liong dengan heran.
"Engkau siapa? Kek berpakaian hitam?"
"Namaku Lam Kiong Bie Liong, cianpwee,"
Jawab pemuda itu sambil memberi hormat.
"Lam Kiong Bie Liong..."
Gumam sam Gan sin Kay.
"Apakah engkau putra Lam Kiong siu?"
"Ya, Cianpwee,"
Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Tidak disangka, engkau putra Lam Kiong siu"
"Cianpwee kenal ayahku?"
Tanya Lam Kiong Bie Liong heran.
"Kenal."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Tapi sudah belasan tahun kami tidak bertemu. Bagaimana kabar ayahmu? Baik-baik saja?"
"Cianpwee, ayahku sudah meninggal beberapa tahun lalu."
Lam Kiong Bie Liong memberitahukan dengan wajah murung.
"ohya, bagaimana kabar pamanmu?"
Tanya sam Gan sin Kay mendadak.
"Pamanku mati di tangan Bu Lim sam Mo...,"
Jawab Lam Kiong Bie Liong dan menutur tentang kejadian itu.
"oooh"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Ternyata begitu...."
"Bie Liong, di mana Cie Hiong?"
Tanya Lim Peng Hang yang mencemaskan calon menantunya.
"Dia masih berada di dalam markas Sam Mo Kauw, mungkin-sedang bertarung dengan Empat Dhalai Lhama dan Bu Lim sam Mo."
"Ayah"
Lim Peng Hang menatap sam Gan sin Kay seraya bertanya.
"Bagaimana kita kalau menyerbu ke dalam?"
"Itu...."
Sam Gan sin Kay mengerutkan kening.
"Kakek"
Tegur Lim Ceng Im.
"Kakek sama sekali tidak menaruh perhatian pada Kakak Hiong"
"Tapi jebakan-jebakan itu...."
"cianpwee"
Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.
"semua jebakan di markas ini telah kubikin rusak."
"Bagus"
Sam Gan sin Kay tertawa.
"Kalau begitu, mari kita menyerbu ke dalam"
"Tunggu"
Cegah Kim siauw suseng. Ternyata ia melihat beberapa sosok bayangan melayang turun.
"Tuh Mereka Bu Lim sam Mo dan cie Hiong."
Mereka sebera memandang ke sana. Tidak salah yang melayang turun itu memang Bu Lim sam Mo dan Tio cie Hiong, maka seberalah mereka mendekati.
"Ha ha ha"
Bu Lim sam Mo tertawa gelak.
"Bu Lim Ji Khie dan lainnya telah hadir semua, bagus Bagus"
"Ha ha ha"
Sam an sin Kay juga tertawa.
"Bu Lim sam Mo, para anggota kalian telah kami sikat habis"
"Hm"
Dengus Tang Hai Lo Mo.
"setelah kurobohkan Pek Ih sin Hiap. barulah giliran kalian"
"Huaha ha ha"
Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.
"Kalian bertiga mana mampu melawan Pek Ih sin Hiap? Aku yakin kalian bertiga pasti roboh di tangannya"
"Benar"
Sambung Kim siauw suseng sambil tertawa pula.
"Bu Lim sam Mo akan berubah menjadi Bu Lim sam Cut (Tiba Manusia Kecil Rimba Persilatan)."
"Kalian berdua berani menghina kami?"
Bentak Tang Hai Lo Mo.
"Ayoh, mari kita bertarung"
"Bu Lim sam Mo"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Urusan kita belum selesai, lebih baik kita mulai saja"
"Baik"
Tang Hai Lo Mo mengangguk.
Mereka bertiga lalu mengurung Tio Cie Hiong, setelah itu mulailah mereka mengerahkan Pak Kek sin Kang (Tenaga sakti Kutub Utara).
Bukan main terkejutnya Bu Lim Ji Khie dan lainnya, sebab mereka merasa ada hawa dingin sekali, membuat badan mereka menggigil seketika.
Maka cepatcepatlah mereka melangkah mundur belasan depa.
Tio Cie Hiong juga terkejut.
la segera mengerahkan Pan Yok Han Thian sin Kang, maka seketika juga badannya mengeluarkan hawa hangat.
Tentunya sangat mengejutkan Bu Lim sam Mo.
oleh karena itu mereka saling memandang, lalu mendadak menyerang serentak ke arah Tio Cie Hiong.
Lim Ceng Im ingin menjerit, namun Lim Peng Hang sebera berbisik di telinganya.
"Jangan menjerit Itu akan memecahkan perhatian cie Hiong"
Lim Ceng Im langsung diam, tapi wajahnya tampak memucat, sebab serangan Bu Lim sam Mo begitu dahsyat sekali.
Tio cie Hiong langsung berkelit dengan ilmu Langkah Kilat, walau berhasil berkelit tapi badannya menjadi agak dingin.
Ternyata Bu Lim sam Mo menyerangnya dengan Pak Kek sin ciang (Pukulan sakti Kutub Utara).
Ketika melihat Tio Cie Hiong berhasil berkelit, Bu Lim sam Mo langsung menyerang serentak lagi.
Tang Hai Lo Mo mengeluarkan jurus swat Hoa Phiauw Phiauw (Bunga salju Bertaburan), Thian Mo mengeluarkan jurus Han Thian soh swat (Musin Dingin Menyapu salju), sedangkan Te Mo mengeluarkan jurus Ling swat Teng Hai (salju Menutup Laut).
Betapa dahsyatnya ketiga jurus itu, sebab jurus-jurus itu adalah jurus-jurus yang amat lihay dariPek Kek sin ciang, bahkan mengandung hawa yang sangat dingin.
Bu Lim Ji Khie yang berdiri belasan depa masih merasa dingin, begitu pula yang lain.
Lim Ceng Im menyaksikan pertarungan itu dengan wajah pucat pias.
Lim Peng Hang memegang bahunya.
Ketua Kay Pang itu kelihatan tegang sekali.
Bu Lim Ji Khie menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mereka berdua berbisik-bisik.
"pengemis bau Kalau kita berdua yang diserang sam Mo, apa yang akan terjadi di atas diri kita?"
Tanya Kim siauw suseng.
"Langsung mati beku,"
Sahut sam Gan sin Kay.
"sungguh luar biasa ilmu peninggalan Pak Kek siang ong"
"Benar."
Kim siauw suseng manggut-mang-gut.
Blammm Mendadak terdengar suara benturan dahsyat.
Ketika diserang dengan jurus-jurus itu, Tio Cie Hiong tidak berkelit lagi, melainkan mengibaskan lengan bajunya sambil memutar badannya untuk menangkis ketiga serangan itu.
Bagaimana hasil benturan itu?
Bu Lim Sam Mo terdorong ke belakang selangkah, sedangkan Tio cie Hiong tetap berdiri di tempat.
Mendadak Tio cie Hiong bersiul panjang sambil menyerang Bu Lim sam Mo dengan Bit ciat sin ci (Jari sakti Pemusnah Kepandaian).
la mengeluarkan jurus Hong siau Yun Hang (Angin Berhembus Awan Bergerak), yakni ilmu ciptaannya yang mengandung Pan Yok Hian Thian sin Kang dan bergerak dengan Kiu Kiong san Tan Pou.
Dapat dibayangkan, betapa cepat dan dahsyatnya serangan itu.
Bu Lim sam Mo terkejut bukan main.
Mereka sama sekali tidak menyangka, hawa dingin pukulan mereka tidak dapat mempengaruhi badan Tio Cie Hiong, sebaliknya badan Tio Cie Hiong malah mengeluarkan hawa hangat yang dapat membuyarkan hawa dingin pukulan mereka.
serangan Tio Cie Hiong yang cepat dan dahsyat itu membuat Bu Lim sam Mo harus cepat-cepat meloncat mundur, namun pakaian mereka telah berlubang.
Wajah Bu Lim sam Mo memucat, sebab mereka tidak tahu Tio Cie Hiong mengeluarkan ilmu apa, juga tidak tahu lweekang apa yang dimilikinya.
Tio Cie Hiong berdiri tegak di tempat, dan menatap dingin pada Bu Lim sam Mo.
sedangkan yang menyaksikan kejadian itu, tampak terbelalak dengan mulut ternganga lebar.
"Ayah, apakah kakak Hiong telah berhasil melukai Bu Lim sam Mo?"
Tanya Lim Ceng Im dan mulai berlega hati, karena Tio Cie Hiong mampu balas menyerang Bu Lim sam Mo, bahkan membuat mereka bertiga harus meloncat mundur.
"cie Hiong belum berhasil melukai Bu Lim sam Mo,"
Jawab Lim Peng Hang.
"Kelihatannya kepandaian mereka seimbang."
"sastrawan sialan"
Bisik sam Gan sin Kay serius.
"Kalau kita berdua di serang cie Hiong, kita akan bagaimana?"
"Tentunya langsung roboh,"
Sahut Kim siauw suseng sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian cie Hiong begitu tinggi."
"Aaaakh..."
Sam Gan sin Kay menghela nafas.
"Kelihatannya sudah waktunya kita mengundurkan diri dari rimba persilatan."
"Kira-kira begitulah."
Kim siauw suseng juga menghela nafas.
"Aku yakin kepandaian Cie Hiong masih jauh di atas Lam Hai sin Ceng."
"Itu sudah jelas,"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Bu Lim sam Mo telah berhasil mempelajari ilmu peninggalan Pak Kek siang ong, maka sudah pasti kepandaian mereka bertiga di atas kita. Hanya Cie Hiong yang mampu menghadapi mereka bertiga...."
Ucapan sam Gan sin Kay terputus, karena Bu Lim sam Mo membentak keras sambil menyerang Tio Cie Hiong dengan jurus-jurus andalan, Tio Cie Hiong berkelit, menangkis dan sekaligus balas menyerang dengan jurus Man Thian sing sing (Bintang-Bintang Bertaburan Di Langit).
Tak terasa pertarungan mereka telah melewati belasan jurus.
Namun pertarungan itu semakin seru, sengit dan menegangkan hati yang menyaksikannya.
Bu Lim sam Mo menyerang dari kiri, kanan dan atas.
Tio Cie Hiong bersiul panjang sambil menangkis dan balas menyerang dengan jurus cian ci soh Te (Ribuan Jari Menyapu Bumi).
serangan itu membuat Bu Lim sam Mo termental ke belakang dua langkah.
Mereka bertiga saling memandang, sedangkan Tio cie Hiong berdiri tegak di tempat.
Berselang sesaat, perlahan-lahan Bu Lim Sam Mo mengeluarkan senjata masing-masing yaitu pedang lemas.
Namun begitu sampai di tangan mereka, pedang lemas itu berubah keras bagaikan baja.
"Ayah"
Lim Ceng im terkejut bukan main.
"Bu Lim sam Mo menggunakan senjata"
Serunya.
"Jangan cemas, Nak"
Ujar Lim Peng Hang dan berpesan.
"ingat, biar bagaimana pun engkau tidak boleh menjerit, sebab akan memecahkan perhatian dan konsentrasinya."
"Ya."
Lim Ceng im mengangguk.
"sastrawan sialan Bu Lim sam Mo sungguh tak tahu malu. Mereka bertiga mengeroyok Cie Hiong, bahkan kini menggunakan senjata,"
Ujar sam Gan sin Kay bernada gusar.
"Pengemis bau"
Sahut Kim siauw suseng.
"Jangan khawatir, cie Hiong juga memiliki senjata pusaka."
"Oooh"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"suling kumala...."
Tidak salah. Ketika melihat Bu Lim sim Mo mengeluarkan senjata, Tio Cie Hiong mengeluarkan suling kumalanya.
"Hiyaaat"
Pekik Bu Lim sam Mo keras sambil menyerang Tio Cie Hiong dengan pedang.
Pedang Bu Lim sam Mo berkelebat mengarah pada Tio Cie Hiong.
Lim Ceng Im nyaris menjerit begitu melihatnya.
Yang paling kagum adalah Toan wie Kie Toan pit Lian, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan para ketua tujuh partai.
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Tio Cie Hiong berkepandaian setinggi itu.
"Aaakh..."
Lam Kiong Bie Liong menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa engkau, saudara Lam Kiong?"
Tanya Toan wie Kie heran.
"Padahal aku telah berhasil mempelajari semacam ilmu pedang keluarga Lam Kiong. selama puluhan tahun, tiada seorang pun keluarga Lam Kiong dapat mempelajari ilmu pedang itu, hanya aku yang berhasil. Tapi...."
Lam Kiong Bie Liong menggeleng-gelengkan kepala lagi.
"setelah menyaksikan pertarungan itu, rasanya tiada artinya sama sekali ilmu pedangku."
"saudara Lam Kiong"
Toan wie Kie tersenyum.
"Jangan berkata begitu, aku pun sama seperti dirimu. Mungkin... Bu Lim Ji Khie juga berpikir demikian."
"Yang paling beruntung adalah Putri paman Lim, sebab Kakak Hiong sangat mencintainya."
Ujar Gouw sian Eng.
"Adik, sian Eng, semua itu telah merupakan takdir."
Toan wie Kie tersenyum lembut sambil memandangnya.
"Kita juga beruntung karena... telah saling mencintai untuk selama-lamanya. Ya, kan?" (Bersambung ke bagian 22)
Jilid 22
"Kakak Kie...."
Wajah Gouw Sian Eng memerah.
"oh ya, Adikku...."
Toan Wie Kie memandang Toan Pit Lian, lalu menoleh pada Lam Kiong Bie Liong seraya berkata.
"Saudara Lam Kiong, adikku itu terlampau dimanjakan, maka kadang-kadang sikapnya...."
"Kak Kenapa menyinggung diriku?"
Toan Pit Lian melotot.
"Ha ha"
Toan Wie Kie tertawa.
"Sesungguhnya...,"
Ujar Lam Kiong Bie Liong malu-malu.
"Saudara Toan, adikmu sangat lembut dan... cantik manis. Aku... aku terpukau melihatnya."
"Untung cuma terpukau,"
Sela Gouw Sian Eng sambil tersenyum.
"Belum mabuk kepayang...."
"Nona Gouw...."
Wajah Lam Kiong Bie Liong memerah, namun bergirang dalam hati, karena secara tidak langsung Gouw Sian Eng telah membantunya mencurahkan perasaannya pada Toan Pit Lian.
"Hi hi...."
Toan Pit Lian tertawa geli.
Sementara pertarungan tampak semakin tegang mencekam.
Sebab Bu Lim Sam Mo telah menyerang Tio cie Hiong, sedangkan Tio cie Hiong pun mengayunkan suling kumalanya.
Bu Lim Sam Mo menggunakan Pak Kek Kiam Hoat (Ilmu Pedang Kutub Utara), sedangkan cie Hiong menggunakan Glok SiauwBit ciat Kang Hoat (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian) yang diciptakannya sendiri.
Trang Trang Trang Terdengar suara benturan senjata.
Bunga api pun berpijar menyilaukan mata.
Mendadak Tio Cie Hiong bersiul panjang dan nyaring, kemudian menyerang Bu Lim sam Mo denganjurus Hai Lang Thau Thau (ombak Laut Menderu-deru).
Trang Trang Trang Terdengar lagi suara benturan senjata.
Bunga api pun berpijar ke manamana.
Pertarungan itu merupakan pertarungan antara mati dan hidup.
oleh karena itu siapa yang lengah, pasti roboh.
Lim Ceng Im menyaksikan pertarungan itu sambil menahan nafas, bahkan mengatupkan agar tidak menjerit tanpa sadar.
sedangkan Lim Peng Hang telah berkeringat dingin.
Begitu pula Bu Lim Ji Khie, Tui Hun, Lojin dan lainnya.
sementara pertarungan antara mati dan hidup itu terus berlangsung, tak terasa telah melewati puluhan jurus .
Mendadak Bu Lim sam Mo menyerang Tio cie Hiong bertubi-tubi dengan jurus-jurus andalan yang mematikan.
Tio Cie Hiong mengibaskan lengan kirinya.
Ternyata ia membendung seranganserangan lawan dengan lengan bajunya yang mengandung Pan Yok Hian Thian sin Kang, sehingga membuat pedang-pedang Bu Lim sam Mo tertahan sejenak.
Tio Cie Hiong tidak menyia-nyiakan kesempatan itu la langsung menyerang mereka denganjurus Hoan Thian coan Te (Membalikkan Langit Memutarkan Bumi) .
Tampak suling kumalanya berkelebatan ke sana ke mari.
Pada waktu bersamaan, Bu Lim sam Mo menyerang Tio Cie Hiong dengan Pak Kek sin ciang (Pukulan sakti Kutub Utara) yang mengandung hawa sangat dingin.
"Aaaakh..."Jerit Bu Lim sam Mo. Ternyata suling kumala Tio Cie Hiong telah berhasil memutuskan nadi Bu Lim sam Mo, sehingga membuat mereka roboh dan mulut mereka menyemburkan darah segar. Akan tetapi, Tio Cie Hiong pun terpukul oleh pukulan-pukulan yang dilancarkan Bu Lim sam Mo tadi. Namun ia tetap berdiri tegak di tempat, hanya saja wajahnya pucat pias. Cepat-cepat ia mengeluarkan dua butir obat, dan langsung ditelannya. Berselang sesaat, barulah ia berkata.
"Bu Lim sam Mo Walau kalian telah membunuh kedua orang tuaku, tapi aku tetap mengampuni nyawa kalian"
Tio Cie Hiong menatap mereka dengan dingin.
"Cepatlah kalian enyah dari sini, dan melewati sisa hidup kalian dengan tenang di tempat terpencil Kini kepandaian kalian bertiga telah musnah"
"Pek Ih sin Hiap"
Ujar Tang Hai Lo Mo lemah.
"Engkau jangan bergirang karena telah memusnahkan kepandaian kami Engkau pun telah terkena pukulan-pukulan kami, maka engkau tak akan bisa hidup lama"
"Aku tahu itu"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Tapi aku masih bisa mengobati diriku sendiri Nah, cepatlah kalian enyah"
Bu Lim sam Mo bangkit berdiri.
Mereka memandang Tio Cie Hiong dengan mata redup, kemudian dengan tertatih-tatih meninggalkan tempat itu.
Sesaat suasana di tempat itu menjadi hening.
Ketika Lim Ceng Im mau mendekati Tio Cie Hiong, tiba-tiba terdengar suara bentakan Lam Kiong Bie Liong.
"Mau kabur ke mana"
Lam Kiong Bie Liong langsung melesat pergi, Ternyata ia melihat sosok bayangan berkelebat.
la mengenali sosok bayangan itu, yang tidak lain Ku Tek Cun.
Toan wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng juga ikut melesat mengikuti Lam Kiong Bie Liong, begitu pula yang lain.
Tio Cie Hiong tidak tahu Lam Kiong Bie Liong mengejar siapa, namun ia pun melesat menyusul mereka.
Yang kabur itu memang Ku Tek Cun.
Ketika Bu Lim sam Mo bertarung dengan Tio Cie Hiong, ia bersembunyi di balik sebuah pohon.
setelah Bu Lim sam Mo roboh, segeralah ia kabur tapi terlihat oleh Lam Kiong Bie Liong.
Akhirnya Lam Kiong Bie Liong berhasil menyusul Ku Tek Cun.
Pemuda itu terpaksa berhenti, karena di hadapannya terdapat sebuah jurang yang ribuan kaki dalamnya.
"saudara Lam Kiong, kenapa engkau mengejarku?"
Tanya Ku Tek Cun dingin.
"Hm"
Dengus Lam Kiong Bie Liong.
"Engkau lebih jahat dari Bu Lim sam Mo Engkau ingin kabur? Tidak begitu gampang"
Ku Tek Cun menatap Lam Kiong Bie Liong dengan mata berapa api, lalu mendadak ia menyerangnya dengan pedang.
Lam Kiong Bie Liong berkelit sekaligus menghunus pedangnya.
Di saat bersamaan, muncullah Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang dan lainnya.
"Ku Tek Cun"
Bentak Lim Peng Hang.
"Apa hubunganmu dengan Bu Lim sam Mo?"
"Mereka guru-guruku"
Jawab Ku Tek Cun sambil tersenyum dingin.
"Kalian ingin mengeroyokku? "
"Itu akan mengotori tangan kami"
Sahut Lim Peng Hang.
"Kenapa engkau menodai Nona Yap. bahkan mempengaruhinya dengan ilmu sesat agar membunuh Tio Cie Hiong?"
"Ha ha ha Aku Ku Tek Cun. Aku memang ingin membunuh Tio Cie Hiong...."
"Ku Tek Cun"
Muncul Tio Cie Hiong sambit menatapnya tajam.
"Aku tiada permusuhan apa-apa denganmu, kenapa engkau begitu mendendam kepadaku?"
"Hm"
Dengus Ku Tek Cun.
"Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah membencimu"
"Kenapa?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Gara-gara engkau, Hong Lui Kiam Khek jadi tidak menyayangiku, bahkan Phang Ling Hiang juga bersikap dingin terhadapku Nah, karena itulah aku mendendam kepadamu"
"Ku Tek Cun"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak mempersalahkan itu, tapi... karena engkau menodai Yap In Nio dengan ilmu sesat, sehingga dia menuduhku?"
"Ha ha ha"
Ku Tek Cun tertawa gelak.
"Memang itu yang kuinginkan"
"Engkau terlampau jahat dan licik, maka aku terpaksa memusnahkan kepandaianmu"
Ujar Tio Cie Hiong.
"oh?"
Ku Tek Cun tertawa dingin.
"Mari kita bertarung satu lawan satu"
"Baik,"
Tio cie Hiong mengangguk.
"Lihat serangan"
Ku Tek Cun langsung menyerangnya dengan Pak Kek Kiam Hoat (Ilmu Pedang Kutub Utara).
"Ternyata engkau telah mempelajari ilmu pedang itu"
Ujar Tio Cie Hiong sambil berkelit, kemudian balas menyerang.
setelah beberapa jurus, Ku Tek cun sudah berada di bawah angin.
Tiba-tiba Ku Tek cun membentak dengan mata menyorot tajam.
Ternyata ia mengerahkan ilmu sesatnya.
"Tio Cie Hiong Engkau harus berlutut di hadapanku"
"Ku Tek Cun"
Sahut Tio Cie Hiong halus.
"Engkaulah yang harus berlutut"
Sungguh di luar dugaan, mendadak Ku Tek Cun menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tio cie Hiong. Tio Cie Hiong mengibaskan lengan bajunya, dan seketika Ku Tek cun terpental beberapa depa.
"Engkau... engkau...."
Ku Tek cun menu-dingnya dengan jangan bergemetar. Ilmu kepandaiannya pun telah musnah.
"Engkau memusnahkan kepandaianku?"
"Ku Tek Cun"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Aku telah mengampuni nyawamu Maka mulai sekarang engkau harus menjadi orang baik-baik"
"Ha ha ha"
Ku Tek Cun terus tertawa seperti orang gila.
"Ha ha ha Tio Cie Hiong, engkau akan merasakan pembalasanku kelak Aku akan mencincangmu, aku akan mencincangmu^ "cie Hiong"
Bisik Lim Peng Hang.
"Dia begitu jahat, daripada menjadi penyakit dikemudian hari, lebih baik...."
"Jangan"
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Aku pantang membunuh, Paman."
"Aaakh..."
Lim Peng Hang menghela nafas.
"Ku Tek Cun engkau boleh pergi sekarang"
Ujar Tio Cie Hiong sambil menatapnya.
"Ha ha ha Tio Cie Hiong Engkau akan merasakan pembalasanku kelak Ha ha ha...."
Mendadak badan Ku Tek Cun bergerak. ternyata ia meloncat ke dalam jurang yang menganga lebar. sayup,sayup masih terdengar suara tawanya.
"Aaakh..."
Tio Cie Hiong menarik nafas panjang.
"Aku tidak mau membunuhnya, tapi dia malah mencari mati sendiri..."
Usai berkata begitu, tiba-tiba Tio cie Hiong terkulai dengan wajah pucat pias, dan sekujur badannya menggigil kedinginan.
"Kakak Hiong..."
Jerit Lim Ceng Im sambil memeluknya.
"Haaah..."
La langsung melepaskan pelukannya, karena badan Tio Cie Hiong sedingin es.
sedangkan Tio Cie Hiong berusaha duduk bersila, lalu memejamkan matanya.
semua orang memandangnya dengan cemas, dan Lim Ceng Im sudah menangis terisak-isak.
"Dia juga terkena pukulan-pukulan sam Mo,"
Bisik sam Gan sin Kay sambil mengerutkan kening.
"Ya."
Kim siauw suseng mengangguk.
"Kelihatannya dia telah mengalami luka dalam yang cukup parah."
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio Cie Hiong membuka matanya lalu tersenyum kepada Lim Ceng Im.
"Adik Im...."
"Kakak Hiong...."
Air mata Lim Ceng Im sudah meleleh.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Ti... tidak apa-apa,"
Jawab Tio Cie Hiong dan tersenyum lagi.
sesungguhnya ia telah menderita luka dalam yang sangat parah.
Kalau ia tidak memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang dan pernah makan Kiu Yap Ling che, sudah mati dari tadi.
"Kakak Hiong...."
L^m Ceng Im terus menangis.
"Ceng Im"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Jangan terus menangis, kita harus segera kembali ke markas pusat"
"Kakek, aku akan menggendongnya,"
Ujar Lim Ceng Im dengan suara rendah.
"Jangan"
Sam Gan sin Kay menggelengkan kepala.
"Lebih baik kita membuat usungan."
"Betul."
Kim siauw suseng mengangguk.
Lam Kiong Bie Liong, Toan wie Kie, Toan pit Lian, Gouw sian Eng dan Lim Ceng Im sebera membuat sebuah usungan.
Tak lama mereka telah berhasil membuat sebuah usungan darurat, Lam Kiong Bie Liong dan Toan wie Kie menggotong Tio Cie Hiong, kemudian membaringkannya di usungan itu Lam Kiong Bie Liong dan Toan wie Kie ingin menggotong usungan tersebut, tapi Lim Peng Hang mencegah, lalu menyuruh beberapa pengemis peringkat kedua menggotong usungan itu Begitu sampai di markas pusat Kay Pang, Lim Ceng Im langsung memapah Tio Cie Hiong ke kamar.
Lam Kiong Bie Liong, Toan Wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng juga ikut ke kamar.
Dengan hati-hati sekali Lim Ceng Im membaringkan Tio Cie Hiong ke tempat tidur, sedangkan Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Adik Im, aku masih bisa berjalan...,"
Ujarnya dengan suara lemah.
"Kakak Hiong, engkau jangan banyak bicara, beristirahatlah"
Lim Ceng Im membelainya.
sejak melihat gadis itu, Toan pit Lian terus memperhatikannya.
Lim Ceng Im memang berwajah cantik, bahkan lemah lembut, maka Toan Pit Lian membatin.
Pantas Tio Cie Hiong begitu mencintainya Kini Tayli Kongcu itu tidak begitu memusingkan itu lagi, sebab ia sudah jatuh hati kepada Lam Kiong Bie Liong.
"saudara Lam Kiong, Ku Tek Cun mahir ilmu sesat, apakah dia belajar kepada Im Yang Hoatsu?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Benar."
Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"Di mana Im Yang Hoatsu itu?"
Tanya Tio Cie Hiong lagi.
"Dia sudah mati,"
Jawab Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.
"Aku yang membunuhnya."
"ooh"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"saudara Tio"
Toan wie Kie tersenyum.
"Apakah nona ini Lim Im Ceng?"
"saudara Kie"
Tio cie Hiong juga tersenyum.
"sesungguhnya dia Lim Ceng Im, pengemis dekil itu"
"Apa?"
Toan wie Kie terbelalak, begitu pula Toan pit Lian.
"Ketika kami berada di Tayli, aku pun tidak mengetahuinya."
Tio cie Hiong memberitahukan.
"oh?"
Toan wie Kie terbelalak.
"jadi...."
"setelah Yap In Nio menusukku dtngan belati, barulah dia berterus terang kepadaku."
Tio cie Hiong tersenyum.
"Im Ceng... Ceng Im"
Toan Pit Lian mendekatinya sambil tertawa kecil.
"Aku harus memanggilmu apa?"
"Im Ceng atau Ceng Im sama saja,"
Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum, lalu berbisik.
"Kakak Lian, Lam Kiong Bie Liong adalah pemuda yang baik dan sangat tampan pula. Engkau...."
"Hussh"
Wajah Toan pit Lian kemerah-merahan.
"Jangan menggodaku"
Sementara di luar di aula depan, berlangsung pula pembicaraan serius. Ternyata para ketua tujuh partai mengemukakan sesuatu.
"Mulai sekarang, rimba persilatan telah aman. Itu berkat Pek Ih sin Hiap. oleh karena itu, kami bersepakat mengangkat Pek Ih sin Hiap sebagai Bu Lim Beng cu (Ketua Rimba persilatan),"
Ujar Hui Khong Taysu.
"Bagaimana menurut Bu Lim Ji Khie?"
"Itu merupakan suatu penghormatan yang sangat tinggi bagi Pek Ih sin Hiap. Tapi menurut pendapatku dia pasti menolak. Lagi pula dia harus mengobati lukanya,"
Jawab sam Gan sin Kay dan menambahkan.
"Kini rimba persilatan telah aman, jadi kita semua harus bersyukur pada Thian (Tuhan)"
"omitohud"
Hui Khong Taysu manggut-manggut.
"Akupun yakin Pek Ih sin Hiap akan menolak. namun dalam hati kami, dia tetapi Bu Lim Beng cu."
"oleh karena itu...,"
Sambut It Hian Tojin "Kami pasti mematuhi apa perintahnya."
"seluju"
Sahut HuHiong sin Kiam ketua Hwa san, wie Hian cinjin ketua Kun Lun, Ceng sim suthay ketua GoBie. Beng Leng cinjin dan PekBie Lojin ketua swat san serentak.
"Ha ha ha"
Kim siauw suseng tertawa gelak.
"Bagaimana mungkin Pek Ih sin Hiap akan memberikan suatu perintah kepada kalian ketua-ketua partai? sudahlah semua itu tidak perlu, yang penting kini rimba persilatan telah aman."
"omitohud"
Hui Khong Taysu manggut-manggut.
"Maaf"
Sam Gan sin Kay bangkit berdiri "Aku harus ke dalam menjenguk Tio Cie Hiong"
Sam Gan sin Kay melangkah ke dalam.
Kim siauw suseng, Lim Peng Hang, Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong pun mengikutinya.
Tio Cie Hiong ingin bangun ketika melihat mereka masuk.
namun sam Gan sin Kay segera mencegahnya.
"Engkau tidak usah bangun, berbaring saja"
Tio cie Hiong mengangguk, Bu Lim Ji Khie dan lainnya menatap Tio Cie Hiong dengan penuh perhatian, kemudian Kim siauw suseng bertanya.
"cie Hiong, bagaimana luka dalammu?"
"Cukup parah,"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"seluruh isi perutku telah membeku, namun untung aku memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang dan pernah makan Kiu Yap Ling che, maka jantungku terlindung. Kalau tidak, aku pasti sudah mati."
"Haah?"
Lim Ceng Im terkejut bukan main.
"Kakak Hiong...."
"Karena itu, aku harus mengobati diriku sendiri"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Untuk itu aku membutuhkan waktu satu tahun, barulah aku pulih."
"cie Hiong"
Lim Peng Hang terperanjat.
"Kalau begitu, lukamu itu parah sekali."
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Aku terkena cukulan Pak Kek sin ciang gabungan Bu Lim sam Mo. Namun aku pun berhasil memusnahkan kepandaian mereka."
"cie Hiong"
Kim siauw suseng menatapnya lembut.
"Engkau telah menyelamatkan rimba persilatan. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi?"
"ohya"
Ujar sam Gan sin Kay sambil tersenyum.
"Para ketua tujuh partai berniat mengangkatmu sebagai Bu Lim Beng cu."
"Kakek pengemis, tolong wakili aku menolak itu"
Ujar Tio cie Hiong.
"Aku tidak mau diangkat menjadi Bu Lim Beng cu. setelah lukaku sembuh, aku... aku ingin hidup tenang dalam damai di suatu tempat terpencil bersama... Adik Im."
"Ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa.
"Tadi aku telah mewakilimu menolak itu"
"Terima kasih, Kakek pengemis "
"Ayoh Mari kita keluar dulur ujar sam Gan sin Kay.
"Biar Tio Cie Hiong beristirahat."
Semuanya langsung meninggalkan kamar itu, kecuali Lim Ceng Im. Gadis itu duduk di pinggir tempat tidur.
"Kakak Hiong, benarkah harus membutuhkan waktu satu tahun lukamu akan pulih?"
Tanya Lim Ceng Im lembut. Tio Cie Hiong mengangguk.
"Setiap hari aku harus makan obat dan menghimpun pan Yok Hian Thian sin Kang."
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im menatapnya dengan penuh cinta kasih dan mesra.
"syukur engkau tidak apa-apa."
"Adik Im."Tio Cie Hiong menghela nafas.
"setelah aku sembuh nanti, lebih baik kita tinggal di tempat yang sepi, jangan mencampuri urusan persilatan lagi. Kita nikmati hari-hari yang indah dan bahagia, bagaimana?"
"Aku setuju,"
Lim Ceng Im mengangguk.
"sudah jemu aku menyaksikan situasi rimba persilatan, saling membalas dendam dan bunuh-membunuh, tiada artinya sama sekali."
Tio cie Hiong tersenyum.
"Sejak berkecimpung dalam rimba persilatan, aku sama sekali tidak pernah membunuh orang, hanya memusnahkan kepandaian mereka Jadi sepasang tanganku tidak berlumuran darah...."
"Engkau berbudi luhur, kok. Mestinya engkau menjadi hweeshio"
Ujar Lim Ceng Im sambil tertawa kecil.
"Kalau akujadi hweeshio, engkau bagaimana? Lagipula aku harus punya turunan."
Tio Cie Hiong menggenggam tangannya.
"Adik Im, aku ingin punya anak belasan kelak"
"Apa?"
Lim Ceng Im terbelalak.
"Aku yang akan pusing mengurusinya."
"Jangan kuatir"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Akan kubantu mengurusi mereka"
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im menaruh kepalanya di dadanya.
"Kita... kita harus saling mencinta selama-lamanya, tidak boleh ribut ya?"
Tio Cie Hiong membelainya dengan lembut.
Apakah tubuh Ku Tek Cun akan hancur lebur di dasar jurang?
Benarkah dia akan mati?
Kepandaiannya telah musnah, sehingga membuatnya tak bertenaga, pasti dia akan mati di dasar jurang Akan tetapi, ternyata tidak.
Mungkin itu sudah merupakan takdir.
Ketika badannya meluncur ke bawah, sepasang tangannya masih meraih ke sana ke mari, bahkan masih berteriak-teriak.
"Tio cie Hiong Aku pasti akan membunuhmu Akan kucincang tubuhmu..."
Memang mengherankan.
Di antara mereka tiada dendam apa pun.
Tapi Ku Tek Cun begitu membenci dan mendendam Tio Cie Hiong.
sepertinya mereka dilahirkan untuk menjadi musuh.
Lantaran Tio Cie Hiong tidak mau membunuh orang, termasuk Ku Tek Cun itu, mungkin akan menanamkan bibit bencana untuk kemudian hari.
Badan Ku Tek Cun yang tengah meluncur akhirnya sempat tersangkut pada sebuah pohon yang tumbuh di tebing jurang.
Namun setelah dia tersangkut dia pun pingsan.
Entah berapa lama kemudian, barulah ia siuman.
Dan ketika mendapatkan dirinya menyangkut di pohon serta tidak mati, dia tertawa penuh kegembiraan.
"Ha ha ha Aku tidak mati Aku tidak mati Aku tidak mati Tio cie Hiong, aku akan mencincang tubuhmu. Ha ha ha"
Ku Tek Cun terus tertawa, seperti orang yang sudah agak tidak waras.
setelah puas tertawa, barulah ia mencoba turun dari pohon itu.
Ternyata di dinding jurang itu terdapat batu besar yang menonjol.
Ku Tek Cun menengok ke sana ke mari.
Dilihatnya ada sebuah goa.
la langsung mendekati mulut goa itu.
sambil tertawa-tawa lagi dia memasuki goa tersebut.
seketika matanya membelalak karena melihat goa itu ternyata sangat luas dan terang.
cahaya terang itu bukan dari matahari melainkan cahaya yang dipancarkan batu-batu di dinding goa.
"Ha ha ha Aku mendapat tempat tinggal yang indah."
Ku Tek Cun tertawa girang, sambil menengok kian kemari.
"Eh, kenapa ada orang duduk di situ?"
La melihat seseorang duduk dekat dinding goa. Di sisi orang itu terdapat batu yang mirip sebuah meja.
"Hei, Tua Bangka"
Seru Ku Tek Cun.
"Kenapa engkau duduk di situ? Aku datang ke mari, kita akan jadi teman. Ha ha"
Ku Tek cun mendekati orang itu. Dia tidak tahu kalau sosok itu ternyata mayat yang tak membusuk. setelah mendekat, ia melihat ada sebuah kitab di atas batu, bahkan terdapat pula ukiran-ukiran huruf.
"Ha ha"
Ku Tek Cun tertawa.
"Aku tidak buta huruf, aku bisa baca."
Ku Tek Cun membaca huruf-huruf itu yang berbunyi demikian.
"Aku adalah Im sie Hong Jin (orang Gila Alam Baka), siapa yang memasuki goa ini berarti berjodoh denganku, maka harus jadi muridku Engkau harus memelukku, sebab aku akan menyalurkan Iweekangku. Di atas batu itu adalah Im Sie Cing Keng (Kitab Pusaka Alam Baka). Kitab Pusaka itu berisi pelajaran Imsie Hong Kang (Tenaga sakti Abnormal Alam Baka), Hong Luan Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Kacau Balau) dan Hong Luan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Kacau Balau). Aku belum berhasil mempelajari ilmu-ilmu itu, sebab aku tidak tahan pusing siapa pun yang mempelajari Imsie Hong Kang, maka peredaran darahnya akan terbalik, membuat pusing kepala dan membuat orang yang mempelajarinya jadi gila. Nah, terserah engkau mau mempelajarinya atau tidak? Tertanda Im sie HongJin". setelah membaca, Ku Tek Cun langsung tertawa sambil menari-nari, persis seperti orang gila.
"Ha ha ha Aku harus mempelajarinya, aku harus mempelajarinya Ha ha setelah aku berhasil mempelajari semua ilmu itu, aku akan muncul lagi di rimba persilatan. Tio Cie Hiong, itu berarti hari kematian bagimu. Ha ha ha"
Memang kebetulan, kepandaian Ku Tek Cun telah musnah, karena salah satu nadi penting di tubuhnya telah diputuskan Tio cie Hiong.
sebetulnya ia sudah tidak bisa belajar ilmu silat lagi.
Akan tetapi, Im sie Hong Kang itu ternyata berbeda dari ilmu lweekang apa pun.
Karena akan membuat peredaran orang jadi terbalik.
Karena urat nadi penting Ku Tek Cun telah putus, menyebabkan dirinya lebih gampang mempelajari Im sie Hong Kang.
"Ha ha"
Ku Tek Cun masih terus tertawa. Namun mendadak ia teringat sesuatu dan langsung merogoh ke dalam bajunya. Kemudian dikeluarkannya sebuah kitab.
"Ha ha Aku pun harus mempelajari ilmu Cih Hua Tay.Hoat (Ilmu Pengendali Pikiran)."
Itu ternyata kitab Cih Hun Tay Hoat, pemberian Im Yang Hoatsu, ketika ia meninggalkan markas sam Mo Kauw.
Ke mana pun dibawanya kitab tersebut.
semua itu memang serba kebetulan.
setelah ia memiliki Im sie Hong Kang, tentu akan mempermudahkannya belajar cih Hun Tay Hoat itu.
Bab 35 Tiga jurus pengikat jodoh sebulan kemudian, para ketua tujuh partai ber-pamit pada Bu Lim Ji Khie dan Lim Peng Hang.
Namun tidak berpamit pada Tio Cie Hiong, karena pemuda itu sedang mengobati lukanya dan tidak boleh diganggu.
setelah para ketua tujuh partai pergi, beberapa hari kemudian, Tui Hun Lojin, Gouw Han Tiong, Toan wie Kie, Toan Pit Lian, Gouw sian Eng, dan Lam Kiong Bie Liong juga berpamit.
Mereka semua menuju ke Ekspedisi Harimau Terbang, yaitu tempat tinggal Gouw Han Tiong.
Begitu sampai di rumah, Gouw Han Tiong membubarkan ekspedisinya itu.
Para piauw-su memperoleh uang imbalan jasa yang cukup banyak.
Kini di markas pusat Kay Pang yang tinggal Bu Lim Ji Khie dan Tok Pie sin Wan.
Mereka bertiga bercakap-cakap di aula depan.
"Pengemis bau,"
Ujar Kim siauw suseng.
"Aku tak ingin terus makan dan tidur gratis di sini. Hanya saja... Cie Hiong masih belum sembuh. Kalau Cie Hiong sudah sembuh, aku pasti akan pergi."
"Ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"sastrawan sialan Kami tidak mengusir dirimu, Iho. seandainya kau masih merasa betah, boleh saja tinggal di sini selama-lamanya."
"Pengemis bau, itu akan menyiksa diriku,"
Sahut Kim siauw suseng sambil tertawa.
"Aku suka bebas dan pesiar, tidak mau terikat di sini."
"Benar,"
Sela Tok Pie sin wan.
"Akupun sama"
"Heran,"
Gumam sam Gan sin Kay.
"Kenapa kalian berdua bisa kentut bareng?"
"Eh? Pengemis baur Kim siauw suseng melotot.
"Engkau ingin menantang aku bertanding,"
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Begini saja, aku mengaku salah padamu."
"Eeeh?"
Kim siauw suseng terbelalak.
"Kenapa engkau bisa berubah jadi begitu sabar?"
"sastrawan sialan,"
Ujar sam Gan. sin Kay sambil menghela nafas.
"setelah menyaksikan pertarungan cie Hiong dengan sam Mo itu, aku pun sudah merasa enggan untuk membicarakan ilmu silat"
"Benar"
Kim Siauw Suseng manggut-manggut.
"Kalau begitu, setelah Cie Hiong sembuh, bagaimana kalau kita pergi pesiar saja?"
"setuju,"
Sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa gembira.
"Kita harus menikmati keindahan alam."
"Aku ikut"
Sela Tok Pie sin wan mendadak.
"Lutung Gila"
Kim siauw suseng tertawa geli.
"Engkau bukan anak kecil, kami mau pergi pesiar nanti, engkau mau ikut?"
"Tidak boleh, ya?"
Tok Pie sin wan tidak senang.
"Pokoknya aku ikut"
"Tidak boleh"
Tolak sam Gan sin Kay.
"Kalau tidak boleh, aku ngambek"
Ujar Tok Pie sin wan.
"Ha ha ha"
Kim siauw suseng tertawa.
"Kalau Lutung Gila ngambek, pasti mencakar ke sana ke mari dan berloncat-loncatan. Tontonan yang sangat menarik."
"Lutung Gila, ayolah Cepat ngambek"
Goda Sam Gan sin Kay.
"Jangan malu-malu Ha ha ha..."
Setelah tinggal di rumah Gouw Han Tiong beberapa hari, Lam Kiong Bie Liong pun berpamit pada Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong.
"Kok begitu cepat hendak pulang?"
Gouw Han Tiong ingin menahannya.
"Paman, aku sudah rindu sekali pada ibuku,"
Ujar Lam Kiong Bie Liong sambil melirik Toan pit Lian. Hal itu tak terlepas dari mata Gouw sian Eng.
"Kakak Lam Kiong, bolehkah kami ikut?"
Tanya Gouw sian Eng sambil tersenyum.
"Boleh, boleh,"
Jawab Lam Kiong Bie Liong cepat.
"Itu yang kuharapkan."
"Hi h i"
Gouw sian Eng dan Toan pit Lian tertawa geli.
"Saudara Lam Kiong"
Toan wie Kie tertawa.
"jawabanmu...."
Wajah Lam Kiong Bie Liong langsung kemerah-merahan.
"Aku memang ingin mengundang kalian ke rumahku."
"Meng undang kami atau mengundang Kakak Lian seorang?"
Tanya Gouw sian Eng sambil melirik Toan pit Lian.
"Adik Eng"
Wajah Toan pit Lian memerah karena malu.
"Engkau mulai nakal dan suka menggoda."
"Bilang saja engkau memang ingin ke rumah Kakak Lam Kiong"
Gouw sian Eng tertawa kecil.
"Tidak usah malu-malu"
"Eeh...."
Toan pit Lian segera menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Ngmm"
Gouw Han Tiong manggut-manggut.
"sian Eng, jangan lupa sampaikan salamku pada Lam Kiong hujin"
"Ya, Ayah."
Gouw sian Eng mengangguk.
Mereka berempat lalu berangkat dengan dua ekor kuda, Toan wie Kie bersama Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong bersama Toan pit Lian.
Mereka melakukan perjalanan dengan wajah cerah ceria, kadang-kadang bersenda gurau pula.
Dua hari kemudian, sampailah di rumah Lam Kiong hujin.
Para pelayan berhamburan keluar menyambut mereka.
"Tuan muda sudah pulang Tuan muda pulang"
Seru para pelayan dengan penuh kegembiraan.
"Bagaimana kalian, baik-baik saja?"
Tanya Lam Kiong Bie Liong ramah.
"Kami baik-baik saja, Tuan muda,"
Sahut para pelayan.
"Di mana ibuku?"
"Lo hujin (Nyonya tua) sudah menunggu di ruang dalam."
Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut, kemudian memperkenalkan Toan wie Kie, Toan Pit Lian, dan Gouw sian Eng.
Betapa terkejutnya para pelayan ketika mengetahui mereka berdua adalah Tayli Kongcu dan Tayli Thaycu.
Para pelayan itu ingin berlutut, tapi cepat dicegah Toan wie Kie sambil tersenyum.
"Kalian tidak usah berlutut"
"Terimakasih, Pangeran,"
Ucap para pelayan lalu memberi hormat.
"Mari kita ke dalam"
Ajak Lam Kiong Bie Liong, lalu berjalan masuk. Toan wie Kie, Toan pit Lian, dan Gouw sian Eng mengikutinya.
"Di ruang dalam yang indah dan luas itu, duduk seorang wanita berusia lima puluhan. Tangannya memegang sebuah tongkat berkepala naga. Wajahnya tampak lembut ramah. Wanita tersebut adalah Lam Kiong hujin.
"Ibu"
Lam Kiong Bie Liong langsung bersujud.
"Bangun, Nak"
Lam Kiong hujin memandangnya dengan penuh kasih sayang. sementara Toan Wie Kie, Toan pit Lian, dan Gouw sian Eng segera memberi hormat.
"Ibu"
Lam Kiong Bie Llong bangkit berdiri, kemudian memperkenalkan mereka pada ibunya.
Lam Kiong hujin manggut-manggut gembira.
Ternyata yang berkunjung kemari Pengeran dan putri Tayli, juga cucunya Tui Hun Lojin.
"selamat datang"
"Bibi,"
Ujar Toan wie Kie hormat.
"Kami kakak beradik bernama Toan wie Kie dan Toan Pit Lian, Bibi panggil nama kami saja"
"Baik, baik"
Lam Kiong hujin tersenyum lembut.
"Duduklah kalian"
Para pelayan langsung menyuguhkan minuman. Merck a tampak girang sekali karena melihat Toan pit Lian begitu baik pada majikan muda mereka.
"Ibu"
Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.
"Empat Dhalai Lhama dan Bu Lim sam Mo telah dimusnahkan kepandaian mereka."
"Ngmm"
Lam Kiong hujin manggut-manggut.
"Ibu sudah tahu itu. secara tidak langsung dendam pamanmu telah terbalas. oh ya, Nak. Engkau kenal Pek Ih sin Hiap?"
"Kami sudah jadi teman baik,"
Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"Kepandaiannya sungguh tinggi sekali"
"Kalau tidak. bagaimana mungkin dapat memusnahkan kepandaian Empat Dhalai Lhama Tibet dan Bu Lim sam Mo?"
Ujar Lam Kion hujin.
"Nak, engkau tahu, siapa orang tuanya?"
"Ibu, aku tidak tahu siapa orang tuanya."
Jawab Lam Kiong Bie Liong jujur.
"sebab aku tidak bertanya padanya."
"Bibi, aku tahu."
Sela Gouw sian Eng memberitahukan.
"Hui Kiam Bu Tek dan sin Pian Bijin adalah ayah bundanya."
"Apa?"
Lam Kiong hujin tampak terkejut.
"Mereka... mereka ayah dan ibunya?"
"Ya, Bibi."
Gouw sian Eng mengangguk.
"Namanya Tio Cie Hiong."
Lam Kong hujin menghela nafas.
"Kedua orang tuanya adalah teman baik mendiang suamiku. Belasan tahun lalu, Hui Kiam Bu Tek dan Sin PianBijin memperoleh Kotak Pusaka yang berisi ilmu silat peninggalan Pak Kek Siang ong, tapi kemudian dibunuh oleh Bu Lim Sam Mo. Kenapa Cie Hiong cuma memusnahkan kepandaian mereka? Seharusnya mereka dibunuh"
"Ibu"
Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"Saudara Tio itu tidak pernah membunuh orang, maka tidak mau membunuh Bu Lim Sam Mo, kecuali memusnahkan kepandaian mereka"
"Sifat itu persis seperti mendiang ayahnya."
Gumam Lara Kiong hujin sambil manggut-manggut kagum.
"Nak, engkau seharusnya memanggilnya adik, sebab mendiang ayahnya dan ayahmu telah saling mengangkat jadi saudara."
"oh?"
Lam Kiong Bie Liong tampak gembira.
"Mungkin adik Hiong belum tahu tentang ini."
"Dia pasti tidak tahu, engkau yang harus memberitahukan kalau bertemu,"
Pesan Lam Kiong hujin.
"ohya, di mana kakaknya yang bernama Tio Suan Suan?"
"Kakaknya telah mati di tangan Empat Dhalai Lhama,"
Jawab Gouw Sian Eng.
"Hahh h..."
Lam Kiong hujin menarik nafas panjang.
"Sungguh kasihan Suan Suan itu. ohya, kenapa Cie Hiong tidak kemari?"
"Dia teriuka parah, jadi tidak bisa kemari,"
Jawab Lam Kiong Bie Liong.
"Teriuka parah?"
Wajah Lam Kiong hujin tampak cemas.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Masih dalam pengobatan. Harus membutuhkan waktu satu tahun lukanya baru bisa sembuh."
Ujar Lam Kiong Bie Liong.
"Dia teriuka dalam?"
Tanya Lam Kiong hujin. Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"Adik Hiong terkena pukulan Pak Kek Sin ciang yang dilancarkanBu Lim sam Mo,"
Ujarnya.
"sungguh luar biasa, dia cuma terluka parah. Kalau orang lain, sudah pasti mati beku. oh ya, siapa guru cie Hiong?"
Lam Kiong Bie Liong menggeleng-geleng kepala.
"Bibi, dia tidak punya guru,"
Sela Gouw sian Eng memberitahukan. Lam Kiong hujin tertegun.
"Dia tidak punya guru, lalu dari mana belajar ilmu silat?"
"Kakak Hiong pernah bercerita padaku, bahwa seorang tua memberikannya sebuah kitab tipis. Maka dia belajar ilmu lweekang dari kitab tipis itu,"
Jawab Gouw sian Eng.
"Kitab tipis apa itu?"
Tanya Lam Kiong hujin ingin tahu.
"Pan Yok Hian Thian sin Kang"
"Pan Yok Hian Thian sin Kang.... Pan Yok Hian Thian sin Kang...,"
Gumam Lam Kiong hujin.
"Ibu tahu tentang lweekang itu?"
Tanya Lam Kiong Bie Liong karena melihat ibunya bergumam.
"Kakekmu pernah menceritakan tentang Pan Yok Hian Thian sin Kang, tapi ibu sudah lupa,"
Jawab Lam Kiong hujin.
"Ohya, Nak Kalau begitu kau harus mengantarkan obat untuk Cie Hiong."
"Bibi, aku pikir tidak usah,"
Ujar Gouw sian Eng.
"Kenapa?"
Tanya Lam Kiong hujin heran.
"Kakak Hiong mengerti ilmu pengobatan."
"Itu percuma"
Lam Kiong hujin menggeleng-geleng kepala.
"Terus terang, keluarga Lam Kiong punya semacam obat mujarab, mungkin dapat menyembuhkan lukanya itu."
"Bibi."
Gouw sian Eng tersenyum.
"sokBeng Yok ong adalah guru ilmu pengobatan kakak Hiong, lagipula kakak Hiong pernah makan Kiu Yap Ling Che."
"ooooh"
Lam Kiong hujin manggut-manggut.
"Kalau begitu, obat keluarga Lam Kiong sudah tiada artinya."
"Ibu, aku ingin memberitahukan...."
Lam Kiong Bie Liong tidak melanjutkan, melainkan menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Engkau ingin memberitahukan apa, Nak?"
Lam Kiong hujin tersenyum.
"Katakanlah Jangan malu-malu, engkau bukan anak kecil lagi."
"Ibu...,"
Lam Kiong Bie Liong mengangkat kepalanya, lalu melanjutkan dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Aku dan pit Lian telah... telah...."
"Telah saling mencinta, kan?"
Sahut Lam Kiong hujin lembut.
"Benar, Ibu"
Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"Engkau sudah dewasa, wajar kalau jatuh cinta,"
Ujar Lam Kiong hujin.
"Juga sudah waktunya engkau punya isteri. seandainya ayahmu masih hidup,..."
"Bibi setuju akan perjalinan cinta mereka?"
Tanya Toan wie Kie.
"Tentu setuju,"
Jawab Lam Kiong hujin manggut-manggut.
"Tapi...,"
"Kenapa?"
Tanya Toan wie Kie heran. Lam Kiong hujin memandang putranya.
"Beritahukanlah, Nak"
"Maaf"
Ucap Lam Kiong Bie Liong memberitahukan.
"Keluarga kami punya satu peraturan, yakni siapa yang akan menjadi menantu keluarga Lam Kiong, harus diuji kepandaiannya"
"oooh"
Toan wie Kie manggut-manggut.
"Jadi adikku harus bertanding dengan engkau?"
Tanyanya kemudian.
"Tidak"
Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"Pit Lian harus menyambut tiga jurus ilmu tongkat ibuku."
"Adikku boleh balas menyerang?"
Tanya Toan wie Kie.
"Boleh"
Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"Pit Lian"
Lam Kiong hujin memandangnya lembut.
"Ini adalah.peraturan keluarga Lam Kiong. Kaum persilatan Tionggoan sudah tahu akan peraturan tersebut, maka aku harus mengujimu."
"Bibi...,"
Toan pit Lian merasa tidak enak harus bertanding dengan Lam Kiong hujin.
"Pit Lian,"
Ujar Lam Kiong Bie Liong.
"Engkau jangan merasa tidak enak. ini memang suatu keharusan."
"Kakak Liong...,"
Toan pit Lian masih tampak ragu. Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"Jangan ragu, pit Liang"
"Kalau begitu, baiklah."
Akhirnya Toan pit Lian mengangguk.
"Bagus"
Lam Kiong hujin manggut-manggut gembira, kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke tengah-tengah ruang itu.
"Pit Lian, senjataku tongkat ini. Mana senjatamu?"
"Selendangku ini,"
Jawab Toan pit Lian.
"Ngmm"
Lam Kiong hujin manggut-manggut lagi.
"Aku mengujimu hanya tiga jurus. Dalam tiga jurus itu, engkau pun boleh balas menyerang."
"Ya, Bibi."
Toan pit Lian mengangguk.
"Engkau sudah siap?"
Tanya Lam Kiong hujin sambil mengangkat tongkatnya.
"Aku sudah siap. Bibi,"
Jawab Toan pit Lian.
"Hati-hati"
Seru Lam Kiong hujin dan langsung menyerangnya .Jurus yang dikeluarkan tampak sederhana, tapi menimbulkan suara menderu-deru.
Ujung tongkat itu mengarah pada kepala Toan pit Lian dengan jurus Ap san ciauw Hai (Menekan Gunung Mengaduk Laut).
Toan pit Lian meloncat mundur, bersamaan dengan itu mendadak Lam Kiong hujin maju dua langkah dan langsung menyapu badan Toan pit Lian dengan toyanya.
Toan pit Lian meloncat ke atas sambil memutarkan badannya.
Ketika melayang turun, ia menggerakkan selendangnya mengeluarkan jurus YunTlong caiHong (Pelangi Dalam Awan).
Bukan main indahnya gerakan itu, sehingga membuat Lam Kiong Bie Liong terpukau.
Ketika Toan pit Lian melayang turun dengan ringan, selendangnya pun meliuk-liuk lemas menyerang Lam Kiong hujin.
Lam Kiong hujin manggut-manggut, dengan wajah tampak gembira sekali.
Ternyata ia sangat kagum melihat gerakan Toan pit Lian.
Lam Kiong hujin melesat ke atas menghindari serangan itu, dan dengan cepat menyerang pula lewat jurus sin Liong seng Thian (Naga sakti Terbang Ke Langit) Dengan jurus kedua ini badan Toan pit Lian melayang turun.
sedangkan badan Lam Kiong hujin melesat ke atas, mengarahkan serangannya pada kepala Toan pit Lian.
Toan pit Lian tidak gugup, Cepat-cepat ia berjungkir balik ke belakang.
Pada saat bersamaan ia mengeluarkan jurus Giok Lisan Hoa (Gadis Cantik Menaburkan Bunga).
Ujung selendangnya bergerak gemulai mengarah pada tangan Lam Kiong hujin.
Terkejut juga Lam Kiong hujin mendapat serangan balasan itu segeralah ia mengeluarkan jurus Kiu Liong coh Cu (sembilan Naga Merebut Mutiara).
Mendadak toya Lam Kiong hujin berkelebat-kelebat menyerang Toan pit Lian.
putri Tayli ini memang terkejut akan serangan itu, namun ia tidak gugup sama sekali.
Lagipula Tio Cie Hiong pernah memberi petunjuk padanya mengenai ilmu selendangnya.
Di saat toya Lam Kiong hujin berkelebat-kelebat menyerangnya, ia cepat-cepat menangkis dengan jurus sian Li Hia Hoam (Bidadari Turun Dari Kahyangan).
Tiba-tiba selendangnya bergerak cepat tapi lemas, menggulung toya Lam Kiong hujin, membuat toya itu terkunci.
Lam Kiong hujin berdiri di tempat sambil tersenyum lembut, begitu pula Toan pit Lian.
"Maaf, Bibi"
Ucap Toan pit Lian.
"Bagus"
Lam Kiong hujin tertawa gembira.
"Aku tidak menyangka ilmu selendangmu begitu hebat. Engkau telah menyambut tiga jurus seranganku, maka engkau telah lulus uji."
"Pit Lian..."
Seru Lam Kiong Bie Liong girang.
Toan pit Lian cuma tersenyum, tapi diam-diam ia sangat berterima kasih pada Tio Cie Hiong yang telah memberi petunjuk padanya mengenai ilmu selendangnya.
Kalau tidak, mungkin sulit baginya untuk menyambut tiga jurus serangan tadi.
"Terima kasih atas kemurahan hati Bibi,"
Ujarnya kepada Lam Kiong hujin.
"Engkau harus tahu, ketiga jurus serangan itu merupakan jurus-jurus andalan ilmu toyaku."
Ujar Lam Kiong hujin memberitahukan.
"Engkau bisa menyambut serangan-serangan itu dan sekaligus balas menyerang, pertanda kepandaianmu sudah tinggi. Boleh kutahu, siapa gurumu?"
"Guruku adalah Ang Kinsian Li,"
Jawab Toanpit Lian.
"Guruku tidak pernah datang di Tionggoan."
"oooh"
Lam Kiong hujin manggut-manggut, lalu ujarnya sambil tersenyum lembut.
"Engkau harus tahu, setelah lolos uji, maka dirimu telah terikatjodoh dengan putraku."
"selamat, Kakak Lian"
Seru Gouw sian Eng girang.
"Selamat, Kakak Lam Kiong"
"Adik"
Toan Wie Kie tersenyum.
"saudara Lam Kiong, kuucapkan selamat pada kalian berdua."
"Terimakasih Terima kasih"
Ucap Lam Kiong Bie Liong dengan wajah cerah.
"Terimakasih..."
"ohya"
Lam Kiong hujin mengeluarkan sebuah giok. kemudian diberikanpada Toanpit Lian.
"Ini adalah giok pusaka keluarga Lam Kiong, kini kuberikan padamu sebagai tanda perjodohan kalian."
"Terimakasih, Bibi"
Ucap Toan pit Lian sambil menerima giok pusaka itu.
"Jadi kalian tinggal di sini beberapa hari, tentunya kalian mau berangkat ke Tayli. Ya, kan?"
Tanya Lam Kiong hujin lembut.
"Ya, Ibu."
Lam Kiong Bie Liong mengangguk.
"Pit Lian,"
Pesan Lam Kiong hujin.
"sampaikan salamku pada kedua orangtuamu. Apabila kalian berdua sudah bersepakat untuk melangsungkan pernikahan, barulah aku berangkat ke Tayli"
"Ya, Bibi"
Toan pit Lian manggut -manggut.
"Nah, kalian mengobrollah Aku mau ke kamar,"
Ujar Lam Kiong hujin lalu melangkah menuju ke kamarnya.
"Wie Kie, kepandaian ibumu tinggi sekali,"
Ujar Toan pit Lian kagum.
"Kepandaianmu juga tinggi"
Lam Kiong Bie Liong memandangnya kagum.
"Itu sungguh di luar dugaanku melihat engkau mampu balas menyerang."
"Terus terang,"
Ujar Toan pit Lian memberitahukan.
"Pek Ih sin Hiap pernah ke Tayli. Dia pernah memberi petunjuk padaku mengenai ilmu selendangku. Kalau tidak. mungkin aku tidak sanggup menyambut tiga jurus serangan ibumu."
"Oh?"
Lam Kiong Bie Liong tertawa gembira.
"Adik Hiong telah membantuku, aku harus berterima kasih padanya."
"Dia pun memberi petunjuk padaku mengenai ilmu kipasku,"
Sela Toan wie Kie.
"Cie Hiong memang luar biasa. Keksu kami dan guruku pernah bertanding dengan dia...."
"Guruku pun pernah memperlihatkan ilmu selendang pada Kakak Hiong, kemudian Kakak Hiong meniup suling."
Ujar Toan Pit Lian.
"Pada waktu itu, guruku juga ikut bergerak. terpengaruh oleh suara suling itu, akhirnya...,"
Toan wie Kie tertawa geli.
"Guruku dan guru adikku berpeluk-pelukan."
"Kenapa begitu?"
Tanya Lam Kiong Bie Liong keheranan.
"Sesungguhnya guruku dan guru adikku merupakan sepasang kekasih. Namun mereka berdua tidak pernah saling mengalah dalam hal ilmu silat, maka sering bertanding dan cekcok, sehingga membuat keduanya tidak terangkapjadi suami isteri. Akan tetapi, setelah mendengar suara suling itu, mereka pun tersadar akan kesalahan masing-masing. Dan...."
"Langsung berpeluk-pelukan. Begitu, kan?"
Sela Lam Kiong Bie Liong tersenyum.
"Aku sama sekali tidak tahu, Adik Hiong mahir meniup suling."
"Benar"
Toan wie Kie manggut-manggut.
"Aku justru masih merasa heran, dia mampu menyadarkan orang melalui suara sulingnya. Aku masih bingung, padahal dia sama seperti kita."
"Memang sama"
Sahut Lam Kiong Bie Liong sambil tersenyum.
"Tapi kecerdasan berbeda."
"Itu benar,"
Sela Gouw sian Eng.
"Ketika dia masih kecil, dia sudah mampu memberi petunjuk padaku mengenai ilmu pedang, sehingga sam Gan sin Kay, ayah dan kakekku menyebutnya sebagai anak sakti"
"oooh"
Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.
"Mungkin itu bakat alam."
"Memang bakat alam."
Toan wie Kie mengangguk.
"ohya, mari kita makan dulu"
Ajak Lam Kiong Bie Liong.
Mereka berempat lalu berjalan ke dalam.
Para pelayan langsung sibuk menyiapkan berbagai macam hidangan dan minuman.
Tak lama Lam Kiong hujin muncul sambil tersenyum lembut dan ramah.
Wanita itu tampak gembira sekali.
Tiga hari kemudian, Toan wie Kie, Toan pit Lian, dan Gouw sian Eng berpamit pada Lam Kiong hujin.
"Bibi, kami mohon pamit untuk pulang keTayli."
Ujar Toan wie Kie.
"Baiklah."
Lam Kiong hujin manggut-manggut.
"Apabila adikmu dan putraku sudah ada kesepakatan untuk melangsungkan pernikahan,-maka...,"
"Pasti ada yang mewakili kedua orang tua kami untuk kemari membicarakan hal tersebut,"
Sambut Toan wie Kie.
"Ngm"
Lam Kiong hujin tersenyum.
"Setelah itu, aku juga akan ke Tayli untuk melamar adikmu."
"Pasti kusampaikan pada kedua orangtua kami,"
Ujar Toan wie Kie.
"sampaikan salamku pada kedua orangtua-mu"
Pesan Lam Kiong hujin dan kemudian menoleh ke arah Gouw sian Eng.
"sian Eng, tentunya engkau pun ikut ke Tayli, bukan?"
"Ya, Bibi."
Gouw sian Eng mengangguk.
"Jangan lupa beritahukan pada ayahmu"
Pesan Lam Kiong hujin.
"Ya, Bibi."
Gouw sian Eng mengangguk lagi.
Setelah itu mereka berempat langsung berangkat ke rumah Gouw Han Tiong dengan menunggang kuda.
Dua hari kemudian sudah sampai, Gouw sian Eng memberitahukan pada ayahnya, bahwa ia hendak pergi ke Tayli.
"Ayah pasti mengizinkan."
Sahut Gouw Han Tiong sambil tersenyum. Mendadak Tui Hun Lojin berbisik-bisik pada Gouw Han Tiong.
"Ya"
Gouw Han Tiong manggut-manggut sambil tersenyum.
Hal itu sangat mengherankan Gouwsian Eng.
Begitu pula Toan wie Kie, sehingga memandang Gouw sian Eng dengan heran.
Gadis itu menggeleng kepala pertanda ia tidak tahu apa yang dibisikkan kakeknya.
"Wie Kie"
Gouw Han Tiong memandangnya.
"Ya, Paman."
Sahut Toan Wie Kie cepat.
"Terus terang, aku ingin menguji kepandaianmu,"
Ujar Gouw Han Tiong kepada Toan wie Kie sambil tertawa.
"Tentunya engkau tidak menolak. bukan?"
"Paman...,"
Toan wie Kie merasa tidak enak harus bertanding dengan calon mertuanya.."jangan ragu"
Desak Gouw Han Tiong.
"Ayah"
Gouw sian Eng tertawa kecil.
"Apa-kah keluarga kita punya kebiasaan aturan ini?"
"Tentu tidak."
Gouw Han Tiong tersenyum.
"Ayah hanya ingin menguji kepandaiannya. Boleh, kan?"
"Heran"
Gumam Gouw sian Eng.
"Beberapa hari lalu, Kakak Lian juga diuji oleh Lam Kiong hujin. Kini ayah ingin menguji Kakak Kie, jangan-jangan Ayah telah ketularan peraturan keluarga Lam Kiong"
"Keluarga Lam Kiong memang punya peraturan tersebut, namun ayah hanya sekedar ingin menguji saja,"
Ujar Gouw Han Tiong sambil tertawa.
"Wie Kie, ayolah"
"Kakak Kie, lawan saja ayahku"
Ujar Gouw sian Eng memberi semangat.
"Biar ayahku tahu rasa"
"Wuah"
Gouw Han Tiong tertawa gelak.
"Belum apa-apa sudah membelanya, apa lagi nanti setelah menjadi isterinya."
"Ayah...,"
Gouw sian Eng cemberut. sedangkan Lam Kiong Bie Liong dan Toan pit Lian tampak tersenyum-senyum. Ketika itu tampak Toan wie Kie pun menjura pada Gouw Han Tiong.
"Baiklah, Paman"
"Ngmm"
Gouw Han Tiong manggut-manggut, kemudian menghunus pedangnya.
"Senjatamu pasti berupa kipas"
"Benar, Paman."
Toan wie Kie mengangguk.
"Wie Kie Gouw Han Tiong memberitahukan. cukup tiga jurus saja dan engkau boleh balas menyerang"
"Baik, Paman."
Toan wie Kie mengangguk lagi dan bersiap.
"Hati-hati"
Ujar Gouw Han Tiong lalu langsung menyerang Toan wie Kie dengan Tui Hun Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pengejar Roh), mengeluarkan jurus Yun Tiong Touw Liong (Dalam Awan Menempur Naga).
Toan wie Kie berkelit ke samping, kemudian cepat balas menyerang dengan Bu ceng san Hoat (Ilmu Kipas Tanpa perasaan) jurus Hai Lang soh Ngai (ombak Menyapu Daratan) dikeluarkannya .
"Bagus"
Seru Gouw Han Tiong kagum, lalu menangkis serangan itu dengan jurus Heng soh san Hai (Melintang Menyapu Gunung Laut).
Bukan main dahsyatnya jurus tersebut.
Terdengar pedang Gouw Han Tiong mengeluarkan suara menderu-deru.
(Bersambung ke Bagian 23)
Jilid 23 Toan Wie Kie tidak gugup ketika diserang dengan jurus itu.
Langsung saja ia menangkis dengan jurus Sam Sing Tui Goat (Tiga Bintang Mengejar Bulan).
Badan Toan Wie Kie melesat ke atas dan mendadak kipasnya berkelebat mengarah kepala Gouw Han Tiong.
"Hebat"
Seru Gouw Han Tiong sambil tertawa dan berkelit.
"Ini adalah jurus ketiga, hati-hatilah"
Tiba-tiba pedang Gouw Han Tiong berkelebat-kelebat menciptakan puluhan bayangan.
Pedang mengarah pada Toan Wie Kie, dengan jurus Man Thian Kiam In (Bayangan Pedang Di Langit).
Betapa terkejutnya Toan Wie Kie ketika menyaksikan serangan.
Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan petunjuk dari Tio cie Hiong.
Seketika juga wajahnya berseri dan bersiul panjang sambil menangkis serangan itu dengan jurus ceng Hai Seng Poh (Laut Tenang Menimbulkan Gelombang) .
Badan Toan Wie Kie berputar-putar bagaikan gangsing.
Kipasnya pun ikut berputar menghalau bayangan-bayangan pedang Gouw Han Tiong, sehingga mematahkan jurus itu.
"Luar biasa"
Seru Gouw Han Tiong sambil meloncat mundur.
"Wie Kie, ilmu kipasmu sungguh, hebat Siapa gurumu?"
"Guruku adalah Sin San Lojin di Tayli"
Jawab Toan Wie Kie sambil menarik nafas lega.
"Jurus ketiga mu itu sungguh dahsyat, dapat menangkis seranganku dan sekaligus menyerang pula .Jurus itu dahsyat sekali"
Ujar Gouw Han Tiong memuji sambil tertawa.
"Paman"
Toan wie Kie memberitahukan jujur.
"sebetulnya Cie Hiong yang memberi petunjuk padaku mengenai jurus itu. Kalau tidak. mungkin aku tidak mampu menangkis serangan Paman"
"Oooh"
Gouw Han Tiong manggut-manggut.
"Dia yang menyempurnakan jurus tersebut?"
"Ya,"
Sahut Toan wie Kie.
"Cie Hiong memang luar biasa"
"Ha ha ha"
Tui Hun Lojin tertawa gelak.
"Jadi engkau dan cucuku telah saling mencinta. Tentu kalian belum mau menikah sekarang, karena masih ingin pesiar ke sana kemari. Apabila kalian sudah ada keputusan, haruslah ada orang kemari melamar cucuku."
"Itu sudah pasti, Kakek,"
Ujar Toan wie Kie.
"Ohya, Kakek Bolehkah aku ajak Adik sian Eng ke Tayli?"
"Boleh Boleh Kalau tidak salah, kalian berempat akan berangkat bersama. Itu memang baik sekali."
Tui Hun Lojin tertawa gembira.
"Ngmm Wie Kie, aku punya suatu urusan untukmu, anggaplah sebagai tanda pengikat perjodohan kalian"
Wajah Gouw sian Eng langsung kemerahmerahan mendengar hal itu. Tui Hun Lojin tersenyum, kemudian memberikan sesuatu pada Toan wie Kie, yang ternyata sebuah burung phoenix giok yang indah sekali.
"Terimakasih, Kakek"
Ucap Toan wie Kie sambil menerima benda itu dengan penuh kegirangan, lalu disimpan ke dalam bajunya.
"Kapan kalian akan berangkat ke Tayli?"
Tanya Gouw Han Tiong.
"Besok pagi,"
Jawab Toan wie Kie.
"Baiklah"
Gouw Han Tiong manggut-manggut.
"sampaikan salamku pada kedua orangtuamu"
"Ya, Paman"
Toan wie Kie mengangguk.
Toan wie Kie, Lam Kiong Bie Liong, Toan pit Lian, dan Gouw sian Eng berangkat ke Tayli dengan penuh kegembiraan.
Mereka menunggang kuda, Toan wie Kie bersama Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong bersama Toan pit Lian.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 7
Baca Juga: Rajawali Emas 8