Eps 14 Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.
Tanya Lie Man chiu sambil memandangnya.
"Apa yang terganjel dalam benakmu?"
"Aku sedang berpikir, kapan baru bisa membunuh Liu siauw Kun,"
Sahut Tan Li cu.
"Aku selalu merasa penasaran."
"Tui Beng Li"
Ujar Lie Man chiu.
"Jangan terus memikirkan itu Percayalah engkau pasti dapat membalas dendammu"
"Tapi..."
Tan Li cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana mungkin Liu Siauw Kun akan muncul lagi?"
"Ha ha ha"
Terdengar suara tawa.
"Dia tidak muncul, kami yang muncul."
Tan Li cu dan Cie Man chiu mengerutkan kening, karena di hadapan mereka telah berdiri belasan anggota Bu Tek Pay yang berkepandaian tinggi.
Mereka anggota handal dalam partai tersebut.
Maka Bu Lim sam Mo mengutus mereka untuk menangkap Tui Beng Li, Thian Cieng Kiam Khek dan memiliki Hong Hoang Leng.
"Bagus"
Sahut Lie Man chiu.
"Kalian memang ingin cari mati"
"Ha ha ha Kalianlah yang akan mati hari ini"
"Hm"
Dengus Lie Man Chiu dingin sambjl menghunus Thian Cieng Pokiam, sedangkan Tan Li Cu juga mengeluarkan Loan Kang Pokiam.
"Serang mereka"
Terdengar suara seruan, dan seketika tampak belasan senjata mengarah ke Tan Li cu dan Cie Man chiu.
Terjadilah pertarungan yang sangat seru.
Di saat bersamaan, tampak tiga sosok bayangan berkelebat ke tempat itu, yang tidak lain Tio Tay seng, Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa.
"Eeeh?"
Tio Tay seng terbelalak ketika melihat pedang yang di tangan Lie Man chiu.
"Itu pedang pusaka Thian Cieng Pokiam. Dia pasti murid Tayli Lo Ceng."
"Wanita itu adalah Tui Beng Li, murid nenek."
Ujar Tio Hong Hoa.
"Hoa ji"
Tio Tay seng tersenyum.
"Pemuda itu tampan sekali, bahkan berkepandaian tinggi. Bagaimana? Engkau tertarik kepadanya?"
"Ayah..."
Tio Hong Hoa cemberut. Gadis itu memang tertarik kepada Lie Man chiu.
"Hoa ji"
Ujar Tio Tay seng.
"Cepat bantu dia Gunakan Hong Hoang Pokiam"
"Ya, Ayah."
Tio Hong Hoa mengangguk sambil menghunus pedang pusakanya, lalu melesat ke sisi Lie Man chiu.
"Murid Tayli Lo Ceng, aku akan membantumu"
"Nona..."
Lie Man chiu terbelalak ketika melihat pedang yang di tangan gadis itu.
"Hong Hoang Pokiam"
"Ya."
Tio Hong Hoa mengangguk malu-malu.
"Aku adalah Thian Cieng Kiam Khek, pemilik Thian Cieng Pokiam."
Cie Man chiu cepat-cepat memperkenalkan diri. Sementara belasan anggota Bu Tek Pay terus berdiri di tempat, mereka tampak terkejut akan kemunculan Tio Hong Hoa.
"Lo Toa, engkau pergi membantu Tui Beng Li."
Ujar Tio Tay seng.
"Ya, Tocu,"
Tio Lo Toa segera melesat ke sisi Tan Li cu.
"Tui Beng Li, aku akan membantumu."
"Terimakasih"
Ucap Tan Li cu.
"Serang mereka"
Bentak salah seorang anggota Bu Tek Pay.
Kemudian terjadi lagi pertarungan sengit.
Tio Tay seng menyaksikan pertarungan itu dengan penuh perhatian.
Thian Cieng Kiam Hoat dan Hong Hoang Kim Hoat memang merupakan ilmu pedang yang mempunyai hubungan erat.
Kalau Thian Cieng Pokiam menyerang, Hong Hoang Pokiam pasti melindungi.
Betapa gembiranya Tio Tay seng menyaksikan itu, sebab putrinya dan pemuda itu merupakan pasangan yang serasi.
Tak seberapa lama kemudian, belasan anggota Bu Tek Pay itu terkapar tak bernyawa lagi.
"Terima kasih atas bantuan Nona"
Ucap Lie Man chiu sambil memberi hormat.
"Sama-sama,"
Sahut Tio Hong Hoa sekaligus balas memberi hormat, lalu mendekati Tan Li Cu sambil tersenyum.
"Engkau pasti Li Cu."
"Kok engkau mengenalku?"
Tanya Tan Li cu heran.
"Engkau murid It sim sin Ni."
Tio Hong Hoa memberitahukan.
"Tapi engkau tidak menduga, kalau gurumu itu nenekku, bukan?"
"oh?"
Tan Li cu terbelalak.
"Kalau begitu, engkau adalah..."
"Namaku Tio Hong Hoa,"
Sahut gadis itu lalu memperkenalkan.
"itu ayahku, dan yang itu pembantu setia ayahku."
Tan Li cu segera memberi hormat kepada Tio Tay seng dan Tio Lo Toa, begitu pula Lie Man chiu.
"Kok Nona tahu aku murid Tayli Lo Ceng?"
Tanya Cie Man chiu kemudian.
"Kami telah bertemu guru kalian di Gunung Hong Lay san"
Tio Hong Hoa memberitahukan.
"Oooh"
Lie Man chiu manggut-manggut.
"Hahaha"TioTay seng tertawa gembira.
"Anak muda, engkau bernama Lie Man chiu, kan?"
"Betul, cianpwee."
Pemuda itu mengangguk.
"Gurumu memberitahukan, bahwa Thian Cieng Pokiam telah diberikannya kepadamu. Aku pun telah memberikan Hong Hoang Pokiam kepada putriku,"
Ujar Tio Tay seng dan tertawa lagi.
"Thian Cieng Pokiam dan Hong Hoang Pokiam merupakan..."
"Ayah"
Potong Tio Hong Hoa dengan wajah memerah.
"Ha ha ha"
Tio Tay Seng tertawa terbahak-bahak.
"ohya, mari kita tinggalkan tempat ini"
Mereka berlima lalu melesat pergi.
Tak lama hari mulai gelap.
maka mereka terpaksa singgah di sebuah rumah petani, dan bermalam di rumah itu.
Tio Hong Hoa dan Lie Man chiu duduk di bawah sebuah pohon, Tan Li cu duduk seorang diri bersandar pada sebuah batu besar, sedangkan Tio Tay seng dan Tio LoToa duduk di dalam rumah itu sambil minum.
"LoToa, bagaimana menurutmu mengenai pemuda itu?"
Tanya Tio Tay seng mendadak.
"Kelihatannya dia memang pemuda baik, cocok dan serasi dengan Hoa ji,"
Jawab Tio Lo Toa sambil tersenyum.
"Mereka berdua saling tertarik."
"Lo Toa"
Tio Tay seng tertawa.
"Kok engkau tahu mereka saling tertarik?"
"Dari sorotan mata mereka sudah bisa ditebak. Mungkin tidak lama lagi mereka akan saling mencinta"
Tio Tay seng manggut-manggut.
"Kini legalah hatiku, karena Hoa ji telah bertemu dengan pemuda yang cocok dengannya."
"Tocu"
Tio Lo Toa tersenyum lagi.
"saat ini, mungkin mereka berdua sedang mencurahkan perasaan dan isi hati masing-masing."
"Bagus Bagus Ha ha ha..."
Tio Tay seng tertawa gembira.
"Itu yang kuharapkan"
Apa yang dikatakan Tio Lo Toa memang tidak salah, Lie Man chiu dan Tio Hong Hoa sedang mencurahkan perasaan masing-masing.
"Hong Hoa..."
Ujar Cie Man chiu dengan suara rendah.
"Sungguh tak disangka, kita bertemu di tempat itu."
"Apakah engkau merasa gembira bertemu denganku?"
"Gembira sekali. Bagaimana engkau?"
"juga gembira sekali."
"Hoang Hoa menurut guruku Thian Cieng Pokiam pasti berpapasan dengan Hong Hoang Pokiam, jadi kita pun...."
"Berjodoh, kan?"
"Benar"
Lie Man chiu mengangguk.
"Tapi..."
"Kenapa?"
Tio Hong Hoa menatapnya.
"Entah engkau menyukaiku apa tidak? sebab aku anak yatim piatu."
Ujar Lie Man chiu sambil menghela nafas panjang.
"Tidak menjadi masalah."
Tio Hong Hoa menundukkan kepala.
"Kakak Chiu, apakah engkau suka kepadaku?"
"Ketika melihat kemunculanmu, aku sudah merasa suka kepadamu,"
Jawab Lie Man chiu terus terang.
"Namun apakah engkau juga menyukaiku?"
Tio Hong Hoa mengangguk.
"Adik Hoa..."
Tanpa sadar Lie Man chiu menggenggam tangan gadis itu erat-erat.
"Kakak Chiu..."
Tio Hong Hoa juga menggenggam tangannya erat-erat. Kini mereka telah terkena panah asmara. Kemudian Tio Hong Hoa menaruh kepalanya di bahu Lie Man chiu.
"Adik Hoa"
Bisik Lie Man chiu sambil membelai rambutnya.
"Aku gembira sekali."
"Aku pun merasa begitu,"
Sahut Tio Hong Hoa dengan suara rendah, lalu bertanya.
"Kakak chiu, tahukah engkau tentang riwayat hidup Tan Li cu?"
"Tahu."
Lie Man chiu mengangguk.
"Kasihan dia, nasibnya sungguh malang. Rumah tangganya hancur karena perbuatan Liu siauw Kun."
"Benar."
Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.
"Gurumu yang membawanya ke gunung Hong Lay san."
"ohya"
Cie Man chiu memberitahukan.
"Kami pernah bertarung dengan Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun. sebetulnya Li Cu dapat membunuh Liu siauw Kun, tapi mereka menggunakan asap beracun."
"oh? Lalu bagaimana?"
"Untung segera muncul lelaki berusia empat puluhan menolong kami. Kalau tidak-kami pasti celaka."
"Siapa lelaki itu?"
"Dia tidak mau menyebut namanya, namun di bahunya terdapat seekor monyet bulu putih"
"Dia adikku, namanya Tio Cie Hiong."
"Apa?"
Lie Man chiu terbelalak.
"Bagaimana mungkin? sebab orang itu berusia empat puluhan."
"Kakak Chiu"
Tio Hong Hoa tersenyum.
"Dia memakai kedok kulit, maka tampak begitu."
"ooooh"
Lie Man chiu manggut-manggut.
"Eh? Kenapa engkau bilang dia adikmu? Aku jadi bingung."
"Dia bukan adik kandungku, melainkan anak almarhum pamanku.
"jawab Tio Hong Hoa, kemudian menutur tentang semua itu.
"Jadi Cie Hiong masih belum tahu tentang itu?"
Tanya Lie Man chiu.
"Dia belum tahu."
"Guruku pernah bilang, kepandaian cie Hiong tinggi sekali. Terus terang, aku tidak begitu percaya."
"Kakak Chiu"
Tio Hong Hoa tersenyum.
"Engkau harus percaya"
"Kenapa?"
"Maaf Kakak Chiu Bolehkah aku bertanya kepadamu?"
"Tanyalah"
Lie Man chiu tersenyum.
"Kenapa harus minta maaf? Aku jadi bingung."
"Aku khawatir engkau akan tersinggung oleh pertanyaanku, maka sebelumnya aku minta maaf"
"Adik Hoa, aku bukan pemuda yang cepat tersinggung, percayalah"
"Aku percaya."
Tio Hong Hoa tersenyum manis lalu bertanya "Apakah engkau mampu melawan Kwan Gwa Lak Kui?"
"Kalau satu lawan satu, aku masih bisa bertahan,"
Jawab Lie Man Chiu jujur dan melanjutkan.
"Tapi apabila mereka maju berenam, aku pasti mati."
"Nah, itu."
"Eh? Kenapa?"
"Aku dan Paman Lo Toa pernah bertarung dengan Kwan Gwa Lak Kui."
Tio Hong Hoa memberitahukan.
"Kalau lelaki yang punya monyet bulu putih itu tidak muncul menolong kami, tentu kami berdua sudah mati."
"Oh?"
Lie Man chiu terperanjat.
"Lelaki itu pasti bertarung mati-matian dengan Kwan Gwa Lak Kui."
"Tidak,"
Sahut Tio Hong Hoa.
"Ketika dia muncul, Kwan Gwa Lak Kui langsung menyerangnya ."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Lelaki itu cuma mengibaskan lengan bajunya, tapi dapat membuat Kwan Gwa Lak Kui terdorong mundur beberapa langkah. Kemudian lelaki itu segera menyambar sekaligus membawa kami pergi."
"oh?"
Lie Man chiu terbelalak.
"Begitu tinggi kepandaian lelaki itu?"
"Pada waktu itu, kami sama sekali tidak tahu bahwa lelaki itu Tio Cie Hiong. setelah kami pergi ke gunung Hong Lay san, kebetulan gurumu juga muncul, barulah kami tahu bahwa lelaki itu Tio Cie Hiong. Gurumu yang memberitahukan."
"Kalau begitu..."
Lie Man Chiu manggut-manggut.
"Tio Cie Hiong sungguh berkepandaian tinggi. Kalau bertemu dia, aku ingin mohon petunjuk."
"Sama."
Tio Hong Hoa tersenyum.
"Aku juga ingin minta kepadanya mengajarku semacam ilmu silat."
"Oh ya, aku merasa heran. Kenapa dia memakai kedok kulit?"
"Itu agar tidak menyusahkan pihak Kay Pang. Karena dua tahun lalu, pihak Kay pang menyiarkan berita bahwa Cie Hiong telah mati."
"Oooh"
Lie Man chiu mengangguk.
"Aku ingat sekarang. Guruku pun pernah memberitahukan padaku."
"Kakak Chiu, Li cu tampak murung sekali. Dia duduk seorang diri. Mari kita ke sana menghiburnya "
"Baik"
Mereka berdua mendekati Tan Li cu, lalu duduk di hadapannya, tapi Tan Li cu cuma tersenyum getir.
"Tui Beng Li"
Lie Man chiu menghela nafas panjang.
"Kejadian itu telah berlalu, jangan terus dipikirkan"
"Thian Cieng Kiam Khek. aku adalah seorang ibu. Bagaimana perasaan seorang ibu yang telah kehilangan suami dan anak?"
Ujar Tan Li cu dengan mata bersimbah air.
"Kalau mereka mati secara wajar, aku masih bisa menerima. Tapi mereka mati terbunuh, termasuk ayahku pula."
"Li Cu"
Tio Hong Hoa memegang tangannya.
"Kami pasti membantumu membunuh Liu siauw Kun."
"Terimakasih"
Ucap Tan Li cu.
"Tapi lebih baik aku membunuhnya dengan tanganku sendiri"
"ohya, Li Cu"
Tio Hong Hoa memberitahukan.
"Tentunya engkau tidak tahu, bahwa lelaki yang menolong kalian itu adalah... Tio Cie Hiong."
"Apa?"
Tan Li cu tersentak.
"Dia... dia Cie Hiong?"
"Ya."
"Kenapa dia..."
"Dia memakai kedok kulit, maka engkau tidak mengenalinya."
"Pantas..."
Tan Li cu manggut-manggut.
"Aku merasa kenal kepadanya. Ternyata dia Cie Hiong. syukurlah Kepandaiannya telah pulih, aku gembira sekali."
"Li Cu"
Lie Man chiu menatap iba kepadanya.
"Udara di sini dingin sekali, lebih baik engkau masuk"
"Tidak apa-apa,"
Sahut Tan Li cu.
"ohya, kalian berdua merupakan pasangan yang serasi, maka kalian harus saling mencinta"
"Li Cu..."
Wajah Tio Hong Hoa kemerah-merahan.
"Kami..."
"Aku tahu, kalian sudah saling mencurahkan perasaan. itu membuktikan bahwa kalian telah saling mencinta Jangan mengelak itu"
Ujar Tan Li cu sambil tersenyum, kemudian menghela nafas panjang.
"Aku tidak menyangka kalau nasibku sungguh malang."
Keesokan harinya.
Tan Li cu sudah tidak berada di tempat itu.
Ternyata ia telah pergi.
Tio Tay seng, Tio Lo Toa, Tio Hong Hoa dan Lie Man chiu terkejut bukan main.
Mereka berempat sama sekali tidak menyangka, kalau Tan Li cu akan pergi.
"Aaakh..."
Tio Tay seng menghela nafas panjang.
"sungguh kasihan dia"
"Ayah, kenapa dia pergi tanpa pamit?"
Tanya Tio Hong Hoa.
"Kalau dia berpamit kepada kita, tentu kita akan mencegahnya,"
Sahut Tio Tay seng dan menambahkan.
"Kelihatannya dia tidak mau mengganggu kalian berdua."
"Lho?"
Tio Hong Hoa heran.
"Kenapa?"
"Kalau dia masih berada di tengah-tengah kalian, tentu akan menimbulkan salah paham. Dia tidak menghendaki itu, maka pergi tanpa pamit,"
Jawab Tio Tay seng menjelaskan.
"Lagi pula dia juga merasa tiada artinya terus bersama kita."
"Dia..."
Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepala.
"Paman Bagaimana kalau aku pergi mencarinya?"
Tanya Cie Man chiu.
"Percuma."
Tio Tay seng tersenyum getir.
"Kalaupun engkau berhasil menyusulnya, dia pasti tidak akan kembali ke sini."
"Tapi..."
Lie Man chiu mengerutkan kening.
"Dia pergi seorang diri, itu sangat membahayakannya."
"Aku tahu."
Tio Tay seng manggut-manggut.
"Kita akan bersama-sama pergi cari dia."Ketika mereka baru mau berangkat, mendadak melayang turun seseorang. Tampak pula seekor monyet bulu putih duduk di bahunya. Dia adalah Tio Cie Hiong.
"Haaah Adik Cie Hiong..."
Seru Tio Hong Hoa terkejut girang.
"Kak"
Panggil Tio Cie Hiong, kemudian memberi hormat kepada Tio Tay seng dan Tio Lo Toa.
"Paman Paman Lo Toa"
"Nak"
Tio Tay seng tertawa gembira.
"Engkau sudah tahu tentang hubungan ini?"
"Ya, Paman."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Tayli Lo Ceng pergi ke markas pusat Kay Pang memberitahukan kepadaku."
"oooh"
Tio Tay seng manggut-manggut.
"Saudara Tio"
Lie Man chiu memberi hormat sambil tersenyum.
"Kita bertemu lagi"
"Saudara Lie, aku tidak menyangka kalau, engkau sudah bertemu paman dan kakakku."
Sahut Tio Cie Hiong sekaligus balas memberi hormat kepadanya.
"Guruku pergi ke markas pusat Kay Pang?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk. kemudian memberitahukan.
"Tayli Lo Ceng berpesan, bahwa kita semua harus pergi ke gunung Hong Lay san, beliau menunggu di sana."
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang"
Ajak Tio Tay seng.
"Eh?"
Tio Cie Hiong menengok ke sana ke mari.
"Di mana Li Cu? Kok tidak kelihatan?"
"Dia sudah pergi tanpa pamit."
Tio Hong Hoa memberitahukan dengan wajah muram.
"Apa?"
Tio Cie Hiong terperanjat.
"Itu akan membahayakan dirinya."
"Begini saja sekarang kita pergi ke gunung Hong Lay san dulu, setelah itu, barulah berusaha mencarinya."
Ujar Tio Tay seng.
"Kita tidak boleh melalaikan pesan Tayli Lo Ceng."
"Baiklah."
Tio Cie Hiong mengangguk. Mereka sudah tiba di Gunung Hong Lay san, dan Tio Cie Hiong langsung bersujud di hadapan It sim sin Ni.
"Nenek..."
Panggilnya dengan suara agak gemetar saking gembiranya.
"Cucuku"
It sim sin Ni tersenyum lembut sambil membelainya.
"Tidak disangka sama sekali, ternyata engkau cucuku"
"Nenek..."
Tio cie Hiong terisak-isak.
"Aku tidak sebatang kara lagi, sebab kini aku punya nenek. paman dan kakak."
"omitohud"
Tayli Lo Ceng tertawa gembira.
"Isak tangis yang mengharukan, sekaligus menggembirakan pula ."
"Tapi...,"
Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Tan Li cu tidak bersama paman, dia... entah ke mana?"
"Kasihan dia"
It sim sin Ni menghela nafas panjang.
"ohya, cucuku Bukalah kedok kulitmu, agar pamanmu dan lainnya dapat menyaksikan wajah aslimu"
"Ya, Nek."
Tio Cie Hiong mengangguk. lalu membuka kedok kulitnya.
"Haah...?"
Tio Hong Hoa berseru tak tertahan.
"Adik Cie Hiong, engkau sungguh tampan"
"Ha ha ha"
Tio Tay seng tertawa gembira.
"Aku tidak menyangka, keponakanku begitu tampan."
"omitohud"
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Dia memang tampan dan bagus hatinya."
"Saudara Tio"
Lie Man chiu menatapnya kagum.
"Engkau sangat tampan dan masih muda, namun kepandaianmu begitu tinggi."
"Saudara Lie, kepandaianku biasa-biasa saja,"
Sahut Tio Cie Hiong merendah.
"Engkau terlampau merendah."
Lie Man chiu tersenyum.
"ohya, aku..."
"Adik Cie Hiong, dia ingin mohon petunjuk kepadamu"
Sela Tio Hong Hoa memberitahukan.
"Itu..."
Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Omitohud"
Tayli Lo Ceng tersenyum lagi.
"Cie Hiong, berilah dia petunjuk Kalau tidak, dia pasti penasaran."
"Lo Ceng..."
Tio Cie Hiong ragu-ragu.
"Cucuku"
It sim sin Ni menatapnya lembut.
"Jangan ragu, berilah petunjuk kepada Man Chiu"
"Ya, Nek."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Ha ha ha"
Tio Tay seng tertawa gelak.
"Kalau begitu, mari kita ke halaman depan"
Mereka semua segera menuju halaman depan. setelah itu Tio Cie Hiong berkata kepada Cie Man chiu.
"Saudara Lie, tunjukkanlah ilmu pedangmu"
"Baik."
Lie Man chiu mengangguk sambil menghunus pedang pusaka Thian Cieng Pokiam, kemudian mulailah mempertunjukkan ilmu pedang Thian Cieng Kiam Hoat yang sangat hebat dan lihay itu.
Tio Cie Hiong terus memperhatikan sambil manggut-manggut, kelihatannya sangat kagum akan kehebatan ilmu pedang tersebut.
Berselang beberapa saat, barulah Lie Man chiu berhenti.
"Bagaimana ilmu pedangku itu, saudara Tio?"
Tanyanya.
"Sungguh hebat dan lihay,"
Sahut Tio Cie Hiong, lalu memandang Tio Hong Hoa seraya berkata.
"Kak. tunjukkanlah ilmu pedangmu"
Tio Hong Hoa tersenyum, kemudian mempertunjukkan ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat.
Bukan main indah dan hebatnya ilmu pedang tersebut.
Tio Cie Hiong terus memperhatikan sambil manggut-manggut.
sementara Tay-li Lo Ceng, it sim sin Ni dan Tio Tay seng juga memperhatikan gerak-gerik Tio Cie Hiong.
Mereka ingin tahu, bagaimana cara Tio Cie Hiong memberi petunjuk kepada Lie Man chiu dan Tio Hong Hoa.
Berselang beberapa saat, Tio Hong Hoa berhenti.
"Bagaimana ilmu pedangku, adik Cie Hiong?"
Tanyanya sambil tersenyum. ilmu pedang itu sungguh indah, hebat dan lihay,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil berjalan ke tengah-tengah halaman, lalu duduk bersila di situ dengan mata terpejamkan.
Tayli Lo Ceng, it sim sin Ni dan Tio Tay seng saling memandang dengan penuh rasa heran, mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan Tio Cie Hiong.
Sementara Tio Cie Hiong setelah duduk bersila, kemudian ia mengangkat tangan kanannya sekaligus digerak-gerakkan, menyusul tangan kirinya pun terangkat dan mulai bergerak.
Berselang sesaat, Tio Cie Hiong membuka matanya dan bangkit berdiri sambil tersenyum, la mendekati Lie Man chiu dan Tio Hong Hoa untuk meminjam pedang pusaka mereka.
setelah itu, ia kembali ke tengah-tengah halaman lagi.
Tangan kanannya memegang pedang pusaka Thian Cieng Pokiam, dan tangan kirinya memegang pedang pusaka Hong Hoang Pokiam.
Mendadak ia menggerakan Thian Cieng Pokiam, mulai memainkan Thian Cieng Kiam Hoat.
Di saat bersamaan.
Hong Hoang Pokiam yang di tangan kirinya juga mulai bergerak.
Itulah Hong Hoang Kiam Hoat.
"Omitohud"
Ucap Tayli Lo Ceng dengan mata terbelalak.
"Bukan main Dia mampu memainkan dua macam ilmu pedang sekaligus"
"Lo Ceng"
It sim sin Ni menghela nafas panjang.
"Sungguh di luar dugaan"
"Cie Hiong...,"
Gumam Tio Tay seng.
"Dia sungguh luar biasa Kalau kedua orang tuanya masih hidup, pasti girang sekali"
"Omitohud"
Tayli Lo Ceng menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau Cie Hiong berhati jahat, entah apa jadinya rimba persilatan"
"Lo Ceng"
It sim sin Ni tersenyum.
"Engkau mampu memainkan kedua macam ilmu pedang itu sekaligus?"
"Tidak."
Tayli Lo Ceng menggelengkan kepala.
"cie Hiong memang pendekar sakti di kolong langit."
Bagaimana Tio Lo Toa, Tio Hong Hoa dan Lie Man chiu menyaksikan itu? Mereka terbelalak dengan mulut ternganga lebar. Lie Man chiu menghela nafas panjang seraya berkata.
"Adik Hoa, adikmu itu sungguh luar biasa. Aku kagum sekali padanya."
"Akupun tidak menyangka kalau dia begitu hebat."
Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepala.
"Hanya sekali pandang, dia sudah menghafal semua jurus-jurus ilmu pedang kita."
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio Cie Hiong berhenti dan memandang Lie Man chiu seraya berkata.
"Ilmu pedang Thian Cieng Kiam Hoat harus bersatu dengan ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat. sebab kedua macam ilmu pedang itu punya hubungan erat, maka boleh disebut Cieng Hong Hap It Kiam Hoat (Ilmu Pedang Naga Phoenix Bersatu Padu). oleh karena itu, kalian berdua pun harus bersatu hati"
"Eh? Adik,.."
Wajah Tio Hong Hoa ke merah-merahan.
"Kak. aku berkata sesungguhnya, bukan menggoda kalian,"
Ujar Tio Cie Hiong sungguhsungguh.
"Nah, kalian perhatikan baik-baik. aku akan memberi petunjuk pada kalian"
Lie Man chiu dan Tio Hong Hoa segera memusatkan perhatian, sedangkan Tio Cie Hiong mulai memainkan kedua macam ilmu pedang itu. Berselang beberapa saat kemudian, Tio Cie Hiong berhenti.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah mengerti?"
Tanyanya.
"Belum,"
Sahut mereka berdua serentak.
"Kalau begitu, akan kuulangi lagi,"
Ujar Tio Cie Hiong lalu mengulanginya lagi. Cie Man chiu dan Tio Hong Hoa terus memperhatikan, sedangkan Tayli Lo Ceng, it Sim sin Ni dan Tio Tay seng manggut-manggut kagum.
"Aku tidak menyangka,"
Ujar it sim sin Ni.
"cucuku bisa merangkapkan kedua macam ilmu pedang itu."
"ibu, aku merasa heran."
Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa Cie Hiong begitu luar biasa dan istimewa?"
"omitohud"
Ucap Tayli Lo Ceng.
"Itu merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa. omitohud"
Tio cie Hiong sudah berhenti, lalu bertanya lagi kepada Lie Man chiu dan Tio Hong Hoa.
"Kalian sudah mengerti?"
"Ya."
Mereka berdua mengangguk.
"Kalau begitu..."
Tio cie Hiong melangkah ke pinggir.
"Cobalah kalian berlatih bersama"
Lie Man chiu dan Tio Hong Hoa mengangguk.
kemudian mereka berdua menuju ke tengahtengah halaman, dan mulai berlatih bersama.
Tio Cie Hiong memperhatikannya dengan seksama.
Apabila mereka melakukan kesalahan, ia segera memberi petunjuk.
"Bagaimana, saudara Tio?"
Tanya Cie Man Chiu seusai berlatih bersama Tio Hong Hoa.
"Sudah lumayan,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Kalian berdua masih harus terus berlatih."
"Ya."
Cie Man Chiu mengangguk.
"saudara Tio, terima kasih"
"Sama-sama."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Adik Cie Hiong"
Tanya Tio Hong Hoa mendadak.
"setetah kami menguasai Cieng Hong Hap It Kiam Hoat, bisakah kami mengalahkan Kwan Gwa Lak Kui?"
"Kalau kalian berdua melawan satu, sudah pasti menang,"
Jawab Tio Cie Hiong sungguhsungguh.
"Dua lawan dua akan seimbang, dua lawan tiga hanya bisa bertahan, dua lawan empat jelas kalah."
"Kalau begitu..."
Tio Hong Hoa tampak kecewa.
"Kakak"
Tio cie Hiong tersenyum.
"Kalian kalah dalam hal lweekang, maka kalau boleh kalian harus tukar-menukar ilmu lweekang."
"Lho? Kenapa?"
Tio Hong Hoa tercengang.
"Seharusnya Kiu Yang sin Kang dimiliki kaum lelaki, sedangkan Hud Bun Pan Yok sin Kang dimiliki kaum wanita."
"Benar."
Tayli Lo Ceng manggut-manggut.
"Karena itu, mulai hari ini kalian berdua harus saling mengajar ilmu lweekang itu"
"Ya, Guru."
"Ayah..."
Tio Hong Hoa memandang Tio Tay seng.
"Ayah mengijinkan,"
Sahut Tio Tay seng sambil tersenyum, kemudian memandang Tayli Lo Ceng.
"Lo Ceng, mungkin sudah saatnya..."
"omitohud"
Tayli Lo Ceng manggut-manggut, lalu memandang It sim sin Ni seraya berkata.
"Bagaimana menurut, sin Ni?"
"Kalau mereka berdua saling mencinta, apa salahnya kita menjodohkan mereka,"
Ujar it sim sin Ni sambil tersenyum.
"Omitohud"
Tayli Lo Ceng tertawa terbahak-bahak.
"Muridku, kemarilah"
Serunya.
"Ya, Guru."
Cie Man chiu segera mendekati Tayli Lo Ceng.
"Guru ingin bertanya, engkau harus jawab sejujurnya"
Ujar Tayli Lo Ceng serius.
"Ya, Guru."
Cie Man chiu mengangguk.
"Muridku, apakah engkau mencintai Tio Hong Hoa?"
Tanya Tayli Lo Ceng sambil menatapnya.
"Guru, aku memang mencintai Adik Hoa."
"Dengan sungguh-sungguh dan segenap hati?"
"Betul, Guru."
"Bagus Bagus Ha ha ha"
Tayli Lo Ceng tertawa gembira dan berkata kepada Tio Tay seng.
"Tio Tocu, kini giliranmu bertanya kepada putrimu."
"Baik."
Tio Tay seng mengangguk sambil berseru.
"Hoa ji"
"Ya, Ayah."
Tio Hong Hoa mendekati Tio Tay seng dengan wajah kemerah-merahan, karena tanya jawab Tayli Lo Ceng dengan Cie Man chiu telah didengarnya.
"Hoa ji"
Tio Tay seng menatapnya.
"Betulkah engkau mencintai Lie Man chiu dengan sungguhsungguh dan segenap hati?"
"Betul, Ayah."
Tio Hong Hoa mengangguk malu-malu.
"Bagus Bagus"
Tio Tay seng tertawa gembira.
"Berhubung kalian telah saling mencinta, maka ayah, Tayli Lo Ceng dan nenekmu akan menjodohkan kalian."
"Terimakasih Ayah, Nenek"
Ucap Tio Hong Hoa.
"Terimakasih Guru"
Ucap Lie Man chiu.
"omitohud Kalian memang telah kamijodohkan, namun masih harus menunggu."
Tayli Lo Ceng memberitahukan.
"Maka kalian berdua harus sabar."
"Ya, Guru."
Lie Man Chiu mengangguk. Pe-muda itu tahu apa yang dimaksudkan gurunya.
"Murid mengerti."
"omitohud"
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Selamat selamat"
Ucap Tio Cie Hiong menghampiri Tio Hong Hoa.
"Kak. aku memberi selamat padamu"
"Terima kasih, Adik Cie Hiong"
Tio Hong Hoa tersenyum.
"Saudara Lie"
Tio Cie Hiong menghampiri pemuda itu.
"Aku memberi selamat pada mu"
"Terima kasih, saudara Tio"
Ucap Lie Man Chiu.
"Terimakasih..."
"Nenek, Paman Kini urusan di sini telah beres, aku harus segera pergi cari Tan Li cu, kemudian ke markas pusat Kay Pang, setelah itu aku akan ke mari lagi."
Ujar Tio cie Hiong.
"Kalau bertemu dia, suruh dia pulang"
Pesan It sim sin Ni.
"Ya, Nek."
Tio cie Hiong mengangguk.
"cie Hiong"
Sela Tio Tay seng.
"Lebih baik engkau berangkat esok pagi saja."
"Ya, Paman."
Tio Cie Hiong mengangguk lagi.
Keesokan harinya, setelah berpamit barulah Tio Cie Hiong berangkat pergi mencari Tan Licu.
Bab 73 Kou Hun Bi jin (Wanita Cantik Pembetot sukma) Sementara itu, Bu Lim sam Mo tampak marah sekali, karena mereka telah menerima laporan tentang terbunuhnya belasan anggota Bu Tek Pay yang mereka utus itu.
Bahkan saking marahnya Tang Hai Lo Mo memukul meja.
"Aku harus bunuh mereka"
Geramnya dengan wajah merah padam.
"Tenang"
Ujar Thian Mo.
"Belum waktunya kita turun tangan. Kalau sudah waktunya, barulah kita turun tangan membunuh mereka."
"Kita masih harus bersabar,"
Sambung Te Mo.
"Kita sudah mulai mencurigai pihak Kay Pang, oleh karena itu..."
"Alangkah baiknya kita mengutus seseorang untuk menyamar sebagai anggota Kay Pang,"
Ujar Thian Mo.
"Apabila terbukti Kay Pang punya hubungan dengan Tui Beng Li, Thian Cieng Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng, kita harus membasmi mereka semua."
"Betul."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Aku akan mengutus seseorang menyamar sebagai anggota Kay Pang untuk membaurkan diri di sana. Ha ha ha"
"Ide yang bagus"
Kwan Gwa siang Koay tertawa.
"Apabila benar Kay Pang punya hu-bungan dengan mereka, kami pasti pergi membantai mereka"
"Lalu bagaimana dengan lelaki yang membawa monyet itu?"
Tanya Tiau Am Kui mendadak.
"Kalau perlu, kami bertiga akan turun tangan membunuhnya,"
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"Aku ingin tahu, berapa tinggi kepandaiannya."
"Hi hi hi"
Mendadak terdengar suara tawa cekikikan yang sangat nyaring sekali, dan tak lama berkelebat sosok bayangan ramping di tengah-tengah ruang itu.
"Haaah...?"
Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui terkejut bukan main. Air muka mereka pun berubah.
"Kou Hun Bijin"
"Apa?"
Bu Lim sam Mo juga terkejut.
"Wanita itu adalah Kou Hun Bijin?"
"Ya."
Kwan Gwa siang Koay mengangguk.
Wanita yang berkelebat ke dalam itu ternyata Kou Hun Bijin (Wanita Cantik Pembetot sukma).
Wanita itu memang cantik sekali, kelihatannya berusia empat puluhan.
Akan tetapi, sesungguhnya Kou Hun Bijin sudah berusia seratus lebih.
Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui kenal wanita itu, karena guru-guru mereka pernah tergila-gila padanya.
"Hei siang Koay dan Lak Kui Pantas kalian tidak berada di Kwan Gwa, tidak tahunya kalian hidup senang di sini"
"Selamat datang, Bijin"
Ucap Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui serentak.
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan sambil menatap Bu Lim sam Mo.
"Kenapa kalian tidak mempersilahkan aku duduk? Tidak senang aku ke mari?"
Bu Lim sam Mo diam karena terpukau oleh kecantikan Kou Hun Bijin. Ketika wanita itu tertawa cekikikan, pikiran mereka menjadi kacau balau.
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan lagi.
"Kenapa kalian bertiga diam saja?"
"Bijin, silakan duduk"
Ujar Bu Lim sam Mo serentak sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Terima kasih"
Ucap Kou Hun Bijin lalu duduk. sementara Liu siauw Kun terus memandangnya dengan mata tak berkedip. Kou Hun Bijin mengetahuinya, maka ia pun sengaja mengerling ke arahnya.
"Anak muda Kenapa engkau terus memandangku seperti macan melihat anak domba? Hi hi hi Engkau tertarik padaku ya?"
"Bijin..."
Liu Siauw Kun memang sangat tertarik kepadanya.
"Aku..."
"Pemuda ganteng, engkau murid siapa sih?"
Tanya Kou Hun Bijin dengan suara mengalun merdu.
"Guruku adalah Ang Bin sat sin dan Bu Lim Sam Mo."
Liu Siauw Kun memberitahukan.
"oooh"
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Ternyata engkau murid kesayangan mereka"
"Bijin"
Ucap Tang Hai LoMo.
"Maafkanlah murid kami yang tak tahu apa-apa itu"
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa merdu.
"Siapa bilang dia tidak tahu apa-apa? Menurutku, dia sudah berpengalaman lho"
"Bijin, maafkanlah dia"
Tang Hai LoMo menghela nafas panjang.
"Siauw Kun, cepatlah engkau minta maaf kepada Bijin"
"Ya, Guru,"
Sahut Liu Siauw Kun, kemudian tersenyum-senyum agar Kou Hun Bijin tertarik kepadanya.
"Bijin, aku minta maaf"
"Kuterima maafmu, sayang,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil mengedipkan matanya. Kedipan mata itu nyaris membuat Liu Siauw Kun pingsan seketika, karena begitu memukau.
"Bijin, angin apa yang membawamu ke mari?"
Tanya Siluman Kurus.
"Tentunya angin sorga."
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Aku dengar kalian sudah hidup senang di sini, maka aku buru-buru ke mari lantaran ingin hidup senang pula."
"Bijin"
Ujar Liu Siauw Kun mendadak.
"Di sini memang merupakan sorga..."
"Siauw Kun"
Bentak Tang Hai Lo Mo. Jangan kurang ajar"
"Eeeh Tang Hai Lo Mo, jangan begitu galak terhadapnya"
Ujar Kou Hun Bijin sambil mengerling ke arah Liu siauw Kun.
"Dia tidak kurang ajar, bahkan sangat menyenangkanku."
"Terima kasih, Bijin"
Ucap Liu siauw Kun dengan hati berbunga-bunga. Pemuda hidung belang itu mengira Kou Hun Bijin sungguh-sungguh tertarik kepadanya.
"Bijin"
Ujar Kwan Gwa siang Koay.
"Kedatanganmu merupakan kehormatan bagi kami, jadi kami pun harus memberitahukan..."
"Aku sudah tahu,"
Potong Kou Hun Bijin.
"Kalian berdua dan Lak Kui adalah Tetua Bu Tek Pay, kan?"
"Betul, Bijin."
Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui mengangguk.
"Bu Lim sam Mo adalah ketua."
"oh, sungguh menarik, sungguh menarik"
Kou Hun Bijin tertawa.
"Pantas kalian betah di sini"
"Bijin Maukah engkau bergabung dengan kami?"
Tanya siluman Kurus mendadak sambil tersenyum.
"Boleh juga,"
Sahut Kou Hun Bijin dan bertanya.
"Tapi apa kedudukanku di sini?"
"Pokoknya yang tertinggi,"
Sahut Bu Lim sam Mo girang, sebab apabila Kou Hun Bijin mau bergabung, tentunya Bu Tek Pay bertambah kuat.
"Jadi para anggota Bu Tek Pay dan termasuk kalian harus tunduk kepadaku?"
Tanya Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan.
"Tentu Tentu"
Bu Lim sam Mo mengangguk.
"Kalau begitu..."
Kou Hun Bijin berpikir sejenak. kemudian mengangguk.
"Baiklah"
"Terimakasih, Bijin"
Ucap Tang Hai Lo Mo.
"Lalu selanjutnya kami harus memanggil apa kepada Bijin?"
"Tetap panggil aku Bijin saja,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil tersenyum manis lalu bertanya.
"Tang Hai LoMo, bagaimana keadaan paman gurumu?"
"Bijin kenal paman guruku?"
Tang Hai Lo Mo tersentak.
"Betul."
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Dia tidak pernah menceritakan kepadamu tentang diriku?"
"Pernah berpesan..."
"Dia pesan apa?"
"Paman guruku berpesan, apabila bertemu Bijin harus menghormatinya."
"Hi hiHi"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Thian Gwa sin Mo paman gurumu itu memang romantis, pernah memijiti aku sampai tiga hari tiga malam."
"oh?"
Tang Hai Lo Mo menundukkan kepala.
"Hi hi Jangan merasa malu"
Kou Hun Bijin tertawa lagi.
"Guru siang Koay dan guru Lak Kui pun pernah mengipas aku tiga hari tiga malam. Aku cuma bilang udara sangat panas, mereka berdua langsung mengipas iku."
"Benar, Bijin."
Kwan Gwa siang Koay mengangguk.
"Guru kami pernah memberitahukan, bahkan juga berpesan kepada kami,"
Sambung Kwan Gwa Lak Kui.
"Bagus Bagus"
Kou Hun Bijin tertawa gembira.
"Ternyata mereka masih begitu baik kepadaku ohya, Tang Hai Lo Mo Bagaimana kabarnya paman gurumu?"
"Sudah meninggal."
Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.
"sungguh kasihan Guru siang Koay dan Lak Kui juga sudah meninggal, kini aku sungguh merana"
"Aku bersedia menemani Bijin,"
Ujar Liu siauw Kun mendadak.
"Anak muda Engkau boleh menjadi cucuku lho"
Kou Hun Bijin memberitahukan sambil tertawa, kemudian menambahkan.
"Lumayan juga kalau engkau bersedia menemaniku"
"Terimakasih, Bijin"
Liu siauw Kun girang bukang main. Bu Lim sam Mo, Ang Bin sat sin dan Kwan Gwa siang Koay Lak Kui hanya menggelenggelengkan kemala.
"Eeeeh?"
Mendadak Kou Hun Bijin mengerutkan kening.
"Bagaimana nih?"
"Ada apa, Bijin?"
Tanya Tang Hai Lo Mo heran.
"Sudah sekian lama aku duduk di sini, tapi kenapa tidak disajikan makanan dan disugguhkan minuman?"
Kou Hun Bijin melotot.
"Maaf, maaf"
Ucap Tang Hai Lo Mo.
"Kami belum tahu, Bijin suka makanan dan minuman apa?"
"Pokoknya makanan yang lezat dan arak istimewa,"
Sahut Kou Hun Bijin.
"ohya Di sini tidak ada pemain musik dan penari?"
"Ada, ada,"
Sahut Bu Lim sam Mo cepat. Kemudian Tang Hai Lo Mo berseru.
"Sajikan makanan yang lezat dan suguhkan arak istimewa setelah itu, suruh para pemain musik dan para penari ke mari"
"Ya."
Sahut beberapa anggota Bu Tek Pay lalu menyajikan makanan lezat dan arak istimewa.
"Mari kita makan"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring dan mulai makan.
Seusai makan, mereka bersulang sambil tertawa gembira.
setelah itu terdengarlah alunan musik, kemudian para penari mulai menari lemah gemulai.
Kou Hun Bijin bertambah cantik sesudah minum.
Wajahnya tampak bersemu merah.
Arak yang diminumnya sangat keras.
Kou Hun Bijin menghabiskan beberapa cangkir, sehingga membuatnya setengah mabuk.
"Hi hi H i"
Suara tawanya sungguh menggetarkan kalbu dan membetot sukma, membuat Liu siauw Kun terus memandangnya dengan mesra.
"Aku... aku juga ingin menari."
Kou Hun Bijin melangkah gemulai ke tengah-tengah ruangan, membaurkan diri dengan para penari, lalu mulai menari sambil tersenyum-senyum.
Bukan main indah dan gemulai tariannya.
Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun menonton dengan mulut ternganga lebar.
"Pantas..."
Gumam Tang Hai Lo Mo.
"Paman guruku begitu tergila-gila kepadanya"
"Begitu pula guru kami,"
Sambung Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui.
"Murid kita itu..."
Thian Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Kelihatannya dia sudah mabuk kepayang."
"Biarkan saja."
Te Mo tertawa.
"Kalau siauw Kun bisa menyenangkan Kou Hun Bijin, berarti menguntungkan kita."
"Benar."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut. Tapi...,"
Mendadak Thian Mo mengeluh.
"Aku mulai tidak tahan."
"Sama,"
Sahut Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui.
"Rasanya ingin mendekatinya."
"ohya, siang Koay"
Bisik Tang Hai Lo Mo.
"Kalian berdua sangat kuat, kenapa..."
"Tang Hai LoMo, hati-hati bicara Kou Hun Bijin tidak pernah berbuat yang bukan-bukan. Melainkan guru kami dan paman gurumu yang tergila-gila kepadanya. Dia dipuja bagaikan bidadari dari kahyangan. Kami... kami tidak berani berlaku kurang ajar terhadapnya, lagi pula kepandaiannya tinggi sekali."
"oooh"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut dan menambahkan.
"Kalau dia terus menari. kita bakal celaka..."
"Yang celaka duluan muridmu,"
Sela siluman Kurus.
"Lihatlah Murid mu sudah melangkah mendekatinya "
"Mungkin dia ingin ikut menari."
Sahut Tang Hai Lo Mo sambil menggeleng-gelengkan kepala. Memang benar apa yang dikatakan Tang Hai Lo Mo, Liu siauw Kun ingin menari bersama Kou Hun Bijin.
"Bijin, bolehkah aku menari bersamamu?"
Tanya Liu siauw Kun lembut sambit tersenyum menawan.
"Tentu boleh."
Kou Hun Bijin tersenyum manis.
"Ayolah, kita menari bersama"
"Terima kasih"
Ucap Liu siauw Kun lalu mulai menari bersama Kou Hun Bijin. Penari-penari lain segera mundur jadi penonton, sedangkan musik terus mengarun.
"Wuah, bukan main"
Ujar Tang Hai Lo Mo sambil menghela nafas.
"Mereka berdua kelihatan seperti sepasang kekasih."
"Aku tidak menyangka..."
Kwan Gwa Siang Koay menggeleng-gelengkan kepala.
"Siauw Kun begitu pandai menari."
"ohya"
Bisik Thian Mo.
"Bagaimana kalau kita minta bantuan Kou Hun Bijin untuk melenyapkan lelaki yang membawa monyet itu?"
"Ngmm"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Bagus,"
Katanya.
"Kami yakin Kou Hun Bijin dapat membunuh lelaki itu,"
Ujar Kwan Gwa siang Koay.
"Tapi ingat, kita harus bicara baik-baik dengan dia, jangan bernada memaksanya, sebab kalau memaksanya, kita pula yang akan celaka"
Tiau Am Kui mengingatkan. Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay manggut-manggut. sementara Liu siauw Kun terus menari bersama Kou Hun Bijin dengan wajah ceria, tampaknya gembira sekali.
"Anak muda, engkau pandai sekali menari,"
Puji Kou Hun Bijin.
"Bijin, aku bersedia terus menemanimu menari "sahut Liu siauw Kun sambil merangkulnya .
"oh, ya?"
Kou Hun Bijin tersenyum mesra.
"Sungguh senang hatiku"
"Aku pasti menyenangkanmu dalam hal apa pun,"
Bisik Liu siauw Kun.
"Pokoknya memuaskan."
"oh?"
Ucapan tersebut membuat Kou Hun Bijin gusar, tapi tetap tersenyum dan menari.
"Terima kasih"
Berselang beberapa saat, barulah mereka berhenti menari. Musik pun berhenti mengalun, kemudian kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Bu Lim sam Mo"
Ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa.
"Murid kalian sungguh menyenangkan"
"Oh, ya?"
Bu Lim sam Mo tertawa gembira.
"Bijin, mari kita bersulang lagi"
"Mari"
Sahut Kou Hun Bijin sambil mengangkat minumannya. Mereka semua bersulang sambil tertawa-tawa, kemudian Tang Hai Lo Mo memandangnya seraya menghela nafas panjang.
"Eh? Tang Hai Lo Mo"
Kou Hun Bijin tercengang.
"Kenapa mendadak engkau menghela nafas?"
"Bijin"
Tang Hai Lo Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Sebetulnya kami sedang menghadapi seorang musuh tangguh."
"Kalian sedang menghadapi seorang musuh tangguh?"
Kou Hun Bijin terbelalak.
"Siapa orang itu?"
"Kami tidak kenal dia, namun dibahunya terdapat seekor monyet berbulu putih."
Tang Hai Lo Mo memberitahukan.
"Eh? Kalian bergurau ya?"
Kou Hun Bijin tampak tidak senang.
"Kalian bilang tidak kenal orang itu, tapi kenapa bisa bermusuhan?"
"Dia selalu menentang Bu Tek Pay, bahkan..."
Tang Hai Lo Mo memandang Kwan Gwa Lak Kui.
"Bijin, kami berenam pernah menyerang orang itu."
TiauAm Kui memberitahukan.
"Ketika kami berada di markas cabang."
"oh? Bagaimana hasilnya setelah kalian menyerangnya?"
Tanya Kou Hun Bijin sambil menatap Tiau Am Kui.
"Dia cuma mengibaskan lengan bajunya, tapi membuat kami berenam termundur-mundur beberapa langkah."
Tiau Am Kui memberitahukan dengan kepala tertunduk.
"Apa?"
Mata Kou Hun Bijin terbeliak.
"Dia begitu lihay?"
"Ya."
Tiau Am Kui mengangguk.
"Kenapa kalian menyerangnya?"
Tanya Kou Hun Bijin sambil mengerutkan kening.
"Kalian bermusuhan dengan orang itu?"
"Pada waktu itu..."
Tiau Am Kui menjelaskan."
"Kami sedang bertarung dengan musuh-musuh Bu Tek Pay, mendadak muncul orang itu setelah membuat kami termundur-mundur, dia pun segera membawa pergi musuh-musuh Bu Tek Pay itu."
"oooh"
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Bagus Bagus sudah lama aku tidak bertemu orang berkepandaian tinggi, aku ingin bertanding dengan dia. ohya, dia berada di mana?"
"Kami tidak tahu,"
Sahut Kwan Gwa Lak Kui.
"Kalau begitu, aku akan mencarinya,"
Ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa.
"Aku akan membuatnya berlutut di hadapanku."
"Bijin"
Ujar Tiau Am Kui.
"orang itu berusia empat puluhan, di bahunya terdapat seekor monyet bulu putih."
Bagian 42
"Aku sudah ingat itu."
"Kapan Bijin akan pergi mencari orang itu?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Besok pagi,"
Sahut Kou Hun Bijin.
"ohya, di sini terdapat taman bunga? Aku paling suka duduk di taman bunga."
"Ada,"
Sahut Te Mo.
"Di halaman belakang terdapat sebuah taman bunga yang sangat indah."
"Bagus"
Kou Hun Bijin tertawa gembira.
"Sekarang aku ingin duduk beristirahat di sana."
Kou Hun Bijin bangkit berdiri. Liu Siauw Kun pun segera berdiri pula seraya berkata.
"Biar aku yang mengantar Bijin ke sana."
"Baik."
Kou Hun Bijin mengangguk.
"Mari ikut aku ke dalam"
Ajak Liu Siauw Kun sambil tersenyum. Kou Hun BUin manggut-manggut lalu mengikuti Liu Siauw Kun ke dalam menuju halaman belakang.
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.
"Kita berhasil memperalat Kou Hun Bijin untuk menghadapi orang itu, aku yakin Kou Hun Bijin dapat membunuhnya."
"Benar."
Thian Mo tertawa gembira.
"Bu Lim Sam Mo"
Tegur Kwan Gwa Siang Koay.
"Tidak baik mengatakan begitu, sebab Kou Hun Bijin teman baik guru kami."
"Maaf"
Ucap Tang Hai Lo Mo sambil tertawa.
"Aku telah salah omong, karena saking gembiranya."
"ohya"
Ujar Tiau Am Kui.
"Kalian harus memperingatkan Liu siauw Kun, agar dia tidak berlaku kurang ajar terhadap Kou Hun Bijin. sebab Kou Hun Bijin tingkatan tua."
"Tiau Am Kui "
Tang Hai Lo Mo tersenyum.
"Itu urusan mereka, kita tidak bisa campur."
"Benar,"
Sela Ang Bin sat sin.
"Kalian pun telah menyaksikannya, betapa gembiranya Kou Hun Bijin menari bersama Liu siauw Kun."
"Memang."
Tiau Am Kui mengangguk.
"Tapi usia Kou Hun Bijin sudah di atas seratus lho"
"Kalau mereka saling menyukai, biarkan saja"
Sahut Ang Bin sat sin sambil tertawa.
"Aku yakin Kou Hun Bijin sangat tertarik pada siauw Kun."
Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui saling memandang, kemudian mereka menggelenggelengkan kepala.
Benarkah Kou Hun Bijin sangat tertarik kepada Lui siauw Kun?
sesungguhnya tidak, sebaliknya malah merasa sebal.
sebab Kou Hun Bijin paling membenci kaum lelaki hidung belang, karena itu, ia ingin menggodanya.
Kou Hun Bijin bukan wanita jahat, namun ia memiliki daya tarik luar biasa, sehingga kaum lelaki yang melihatnya, pasti tergila-gila kepadanya.
Begitu pula Liu siauw Kun.
Ketika melihat Kou Hun Bijin, dia sudah tertarik, dan setelah menari bersama, mulai tergila-gila kepadanya.
Perlu diketahui, Liu siauw Kun memang pemuda pengganggu kaum wanita.
Sementara Kou Hun Bijin sudah duduk sambil menikmati keindahan bunga-bunga yang beraneka warna, sedangkan Liu siauw Kun yang berdiri di sisinya terus memandangnya dengan mata berbinar-binar.
"Bijin, bolehkah aku duduk di sisimu?"
Tanya Liu siauw Kun lembut sambil tersenyum manis.
"Tentu boleh,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa merdu.
"Duduklah"
"Terimakasih"
Liu siauw Kun segera duduk dengan wajah berseri-seri.
"ohya, kenapa engkau mau menemaniku duduk di sini?"
Tanya Kou Hun Bijin mendadak.
"Terus terang..."
Liu siauw Kun menjulurkan tangannya memegang lengan Kou Hun Bijin.
"Sejak melihatmu, aku..."
"Jatuh hati padaku?"
"Betul."
"Tapi engkau harus tahu,"
Ujar Kou Hun Bijin memberitahukan.
"Usiaku sudah seratus lebih lho"
"Aku tahu."
Liu siauw Kun tersenyum.
"Namun wajahmu sungguh cantik, aku..."
"Wuah"
Kou Hun Bijin tertawa.
"Engkau memang romantis sekali."
"Selain romantis, aku pun dapat menyenangkan kaum wanita."
"Oh?Jadi engkau sering menyenangkan kaum wanita?"
"Ya."
Liu siauw Kun mengangguk dengan bangga.
"Dan sekaligus memuaskan mereka pula."
"Bagus, bagus"
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Pantas engkau begitu berani terhadapku"
"Berani lantaran ingin memuaskan,"
Sahut Liu siauw Kun sambil tersenyum, kemudian tangannya mulai meraba-raba paha Kou Hun Bijin.
"Kok tanganmu sudah mulai usil?"
Sesungguhnya Kou Hun Bijin sudah gusar sekali, hanya saja tidak diperlihatkan pada wajahnya. 'Hm Dasar pemuda bajingan' cacinya dalam hati.
"Aku yakin, engkau pasti senang."
"Benar. Aku memang senang sekali."
Apabila di saat ini Kou Hun Bijin mengayunkan tangannya, Liu siauw Kun pasti mati. Namun Kou Hun Bijin tidak melakukannya, sebab ia tidak mau sembarangan membunuh orang.
"Bijin..."
Nafas Liu siauw Kun sudah mulai memburu, karena nafsu birahi telah terbangkit.
"Kenapa?"
"Aku..."
Liu siauw Kun mulai meraba-raba bagian dadanya, jari tangannya yang usil itu menyentuh-nyentuh payudara Kou Hun Bijin.
"Anak muda"
Wajah Kou Hun Bijin merah padam.
"Engkau jangan keterlaluan ingat, usiaku sudah di atas seratus..."
"Itu tidak jadi masalah,"
Sahut Liu siauw Kun dan mulai meremas-remas payudaranya.
"siauw Kun"
Panggil Kou Hun Bijin lembut.
"Engkau sudah tidak bisa tahan ya?"
"Ya, Bijin."
"Engkau jangan terburu nafsu, karena waktu kita masih banyak Kalau tahu kelakuanmu begini, guru-gurumu pasti marah besar."
"Jangan khawatir Bijin"
Liu siauw Kun semakin berani, tangannya mulai menyelonong ke selangkangan Kou Hun Bijin.
"Guru-guruku tidak akan marah."
"Siauw Kun"
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Engkau harus sabar, kalau tidak, aku tidak akan melayanimu."
"Bijin, aku... aku sudah tidak tahan."
"Aku tahu, namun biar bagaimana pun engkau harus sabar."
Kou Hun Bijin membelai rambulnya.
"Setelah aku mengalahkan lelaki yang membawa monyet itu, barulah kita bersenangsenang."
"Bijin, aku mau sekarang.
"Jari tangan Liu siauw Kun mulai main di selangkangan Kou Hun Bijin. Itu membuat kening Kou Hun Bijin berkerut-kerut, bahkan matanya membara, namun ia tetap berkata dengan lembut.
"siauw Kun, kalau engkau terus begini, aku tidak akan memperdulikanmu."
"Bijin..."
"Bersabarlah sayang"
Kou Hun Bijin mengecup pipinya.
"Tunggu waktu yang tepat, barulah kita bersenang-senang Pokoknya aku pasti melayanimu sepuas-puasnya, asal engkau jangan mati lemas saja."
"Ha ha"
Liu siauw Kun tertawa.
"Aku sudah berpengalaman, pokoknya engkau pasti merasa puas."
"Baiklah."
Kou Hun Bijin bangkit berdiri "Kalau sudah waktunya kita bersenang-senang, aku pasti menemuimu."
"Jangan bohong ya"
Liu siauw Kun berdiri, kemudian menciumnya dengan mesra.
"Aku sangat membutuhkanmu..."
Tan Li cu terus berjalan tanpa arah tujuan dengan hati duka.
Kenapa ia tidak mau bersama Tio Tay seng dan lainnya?
Ternyata ketika menyaksikan kegembiraan mereka, hatinya seperti tertusuktusuk duri.
Bukan karena iri, melainkan karena teringat akan nasibnya.
la tahu, apabila dirinya terus bersama mereka, tentunya akan merusak suasana.
oleh karena itu, ia mengambil keputusan untuk pergi tanpa pamit dengan mereka, la terus berjalan, akhirnya duduk beristirahat di bawah sebuah pohon untuk melepaskan lelah.
la termenung dengan mata memandang lurus ke depan.
Wajah suaminya terbayang di depan matanya, kemudian ayah dan anaknya.
Ketika terbayang akan kematian anaknya yang begitu mengenaskan, ia mulai menangis sedih.
Mendadak melayang turun sosok bayangan di hadapannya, namun Tan Li cu seakan tidak melihatnya.
siapa orang yang baru melayang turun itu?
Ternyata Kou Hun Bijin, yang telah meninggalkan markas Bu Tek Pny, tujuannya mencari lelaki yang membawa monyet bulu putih.
"Eh? Kenapa engkau menangis sedih seorang diri di sini? Siapa yang menghinamu?"
Tanya Kou Hun Bijin lembut, lalu duduk di sisinya. Tan Li cu diam saja, tapi air matanya terus berderai.
"Engkau masih muda dan cantik, kenapa harus begini?"
Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.
"Ditinggal kekasih ya?"
Tan Li cu menoleh perlahan-lahan. setelah melihat jelas wanita yang duduk di sisinya, ia tertegun karena tidak menyangka wanita itu begitu cantik.
"siapa Kakak?"
Tanyanya.
"Hi hi hi?"
Kou Hun Bijin tertawa.
"Tadi kukira engkau gagu, ternyata tidak. ohya, aku Kou Hun Bijin. Engkau panggil aku Bijin saja"
"Kou Hun Bijin?"
Tan Li cu terperangah.
"Ya."
Kou Hun Bijin mengangguk.
"Nah, bolehkah aku tahu siapa engkau?"
"Namaku Tan Li cu, julukanku Tui Beng Li."
"Wanita Pengejar Nyawa?"
Kou Hun Bijin tertegun.
"Engkau masih muda, kenapa mau jadi Wanita Pengejar Nyawa? Nyawa siapa yang engkau kejar?"
"Aaaakh..."
Tan Li cu menghela nafas panjang.
"Aku harus balas dendam, aku harus membunuhnya."
"Engkau harus membunuh siapa?"
"orang itu..."
Tan Li cu mulai menangis sedih lagi.
"Dia membunuh suamiku, kemudian membunuh ayahku dan... anakku yang belum berusia setahun. Dia... dia menghempas anakku sampai mati."
"Haaah...?"
Mulut Kou Hun Bijin ternganga lebar.
"Begitu kejam orang itu?"
"Selain kejam, dia juga sering memperkosa anak gadis dan isteri orang."
Tan Li cu memberitahukan.
"Apa?"
Mata Kou Hun Bijin langsung berapi-api.
"Aku paling benci kaum lelaki yang begitu macam. Beritahukan pada ku, siapa orang itu?"
"Aaakh..."
Tan Li Cu menghela nafas panjang.
"Percuma kuberitahukan, sebab sulit mencari dia."
"Beritahukan saja"
Desak Kou Hun Bijin.
"Dia berada di markas Bu Tek Pay."
"Apa? orang itu berada di markas Bu Tek Pay?"
"Ya."
"Namanya?"
"Liu siauw Kun."
"Ternyata pemuda bajingan itu Hi Hi Dia memang harus mampus"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Bijin..."
Tan Li cu menatapnya.
"Engkau kenal dia?"
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring lagi.
"Bukan cuma kenal, bahkan dia juga berani berlaku kurang ajar terhadapku. Terus terang, aku memang dari markas Bu Tek Pay"
"Hah?"
Tan Li cu terkejut bukan main.
"Jadi... engkau punya hubungan dengan pihak Bu Tek Pay?"
"Jangan takut"
Kou Hun Bijin tersenyum lembut.
"Aku tidak punya hubungan dengan partai Bu Tek Pay, hanya merupakan tamu terhormat di sana."
"Oooh"
Tan Li cu menarik nafas lega.
"Kalau begitu.."
Tanya Kou Hun Bijin.
"Sudah lama engkau kenal Liu siauw Kun?"
"Sudah lama aku kenal dia...,"
Jawab Tan Li cu menutur.
"Oooh"
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Ternyata begitu Engkau memang harus membunuhnya "
"Tapi dia tidak pernah meninggalkan markas itu."
Tan Li cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Jangan khawatir Aku bisa memancingnya keluar."
Ujar Kou Hun Bijin.
"Tapi harus menunggu urusanku selesai dulu"
"Engkau punya urusan apa?"
"Aku sedang mencari seseorang untuk bertanding."
"oooh"
Tan Li cu manggut-manggut, namun tidak bertanya siapa yang di cari Kou Hun Bijin.
"ohya"
Mendadak Kou Hun Bijin menatapnya dalam-dalam.
"Liu siauw Kun adalah murid Ang Bin sat sin dan Bu Lim sam Mo, kepandaiannya pasti tinggi. engkau mampu mengalahkannya? "
"Kukira mampu."
"Kalau begitu.."
Kou Hun Bijin berpikir sejenak lalu melanjutkan.
"Aku pun bisa memancingnya keluar, tapi..."
"Kenapa?"
"Engkau harus menunggu di mana?"
"ohya"
Tan Li cu teringat sesuatu.
"Tak jauh dari sini terdapat sebuah gubuk kosong, aku menunggu di gubuk kosong itu saja."
"Baiklah. Tapi engkau jangan ke mana-mana Aku pasti membawanya ke gubuk kosong itu."
"Ya."
Tan Li cu mengangguk. kemudian menatap ,Kou Hun Bijin dengan heran.
"Kenapa... engkau bersedia membantuku?"
"Karena kita sama-sama wanita,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.
"Tentunya wanita harus membantu wanita."
"Terimakasih, Bijin"
Ucap Tan Li cu setulus hati.
"ohya"
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Engkau pasti mengira aku berusia empat puluhan, bukan?"
"Ya. Kenapa?"
"Kalau kuberitahukan usiaku, engkau pasti tidak percaya."
"Sesungguhnya berapa usiamu?"
"Di atas seratus."
"Apa?"
Tan Li cu terbelalak.
"Engkau tidak membohong iku?"
"Nyatanya memang begitu. Kalau tidak, bagaimana mungkin Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui begitu menghormatiku? Itu dikarenakan aku kenal guru mereka."
"oh? Tapi..."
Tan Li cu terus menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Aku tidak bohong."
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Ketika aku sampai di markas Bu Tek Pay, Liu siauw Kun sudah mulai mengincarku. Bahkan kemudian dia berani begitu kurang ajar, meraba-raba diriku. Padahal sudah kukatakan usiaku sudah seratus lebih, namun dia masih tetap kurang ajar. Hm Dia memang cari mati"
"Itu tidak heran, Liu siauw Kun memang pemuda pengganggu kaum wanita. Lagi pula... lo cianpwee sangat cantik sekali."
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa geli.
"Aduh Jangan panggil aku lo cianpwee, cukup panggil aku Bijin saja"
"Baiklah."
Tan Li cu mengangguk.
"Kalau begitu, aku mau pergi dulu."
Kou Hun Bijin bangkit berdiri dan berpesan.
"Tunggulah di gubuk kosong itu jangan ke mana-mana"
"Ya."
Tan Li cu mengangguk pasti.
"Sampai jumpa nanti"
Ucap Kou Hun Bijin lalu melesat pergi.
Tan Li cu terbelalak menyaksikannya, karena ginkang Kou Hun Bijin tinggi sekali.
Bab 74 Pertandingan yang memberi kesan baik Telah beberapa hari lamanya Tio Cie Hiong terus mencari Tan Li cu, namun sia-sia karena tiada jejaknya sama sekali.
Hari ini udara sangat panas, Tio Cie Hiong berjalan di bawah terik matahari.
Kebetulan di pinggir jalan terdapat sebuah kedai teh.
Tio cie Hiong segera ke kedai teh itu untuk melepaskan dahaga.
Pelayan kedai itu langsung menyuguhkan secangkir teh.
Tapi Tio Cie Hiong berpesan secangkir lagi, untuk monyet bulu putih yang duduk di bahunya.
"Kauw heng, tentunya engkau sudah, haus. Di sini tiada arak. kita minum teh saja."
Monyet bulu putih manggut-manggut. Pelayan itu menaruh secangkir teh lagi ke atas meja. Tio Cie Hiong mengangkat cangkir itu lalu diberikan kepada monyet bulu putih.
"Kauw heng, mari kita minum"Ketika mereka sedang meneguk. tiba-tiba muncul pula seorang wanita yang sangat cantik ke dalam kedai itu, bahkan langsung menuju meja Tio Cie Hiong dan duduk di hadapannya. Padahal masih ada tempat lain yang kosong. Itu pertanda wanita itu memang sengaja duduk di hadapan Tio cie Hiong. Monyet bulu putih menatap wanita tersebut, tapi diam saja. Tio Cie Hiong mengambil cangkir yang di tangan monyet bulu putih, kemudian di taruh di atas meja. Walau ada wanita cantik duduk di hadapannya, sikap Tio Cie Hiong tetap biasa-biasa saja. Wanita cantik itu memandang tangan Tio Cie Hiong, lalu memandang wajahnya dan tersenyum. setelah itu, barulah memandang monyet bulu putih.
"Monyet cakap. kau tidak mau minum teh lagi?"
Tanya wanita cantik itu. Monyet bulu putih diam saja.
"Aku tidak menyangka..."
Gumam wanita cantik itu.
"Akan berhadapan dengan orang yang memakai kedok kulit."
Mendengar ucapan itu, Tio Cie Hiong hanya tersenyum. sedangkan monyet bulu putih bercuit beberapa kali.
"Hei Lelaki berkedok"
Ujar wanita cantik itu sambil tertawa kecil.
"Pasti engkau yang membuat Kwan Gwa Lak Kui tor mundur-mundur dengan kibasan lengan bajumu"
"Betul."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Dari mana engkau tahu?"
"Hi h Hi"
Wanita cantik itu tertawa nyaring lalu memperkenalkan dirinya.
"Aku Kou Hun Bijin, guru-guru Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui adalah teman baikku."
"Kou Hun Bijin?"
Tio Cie Hiong tertegun.
"Bclul."
Ternyata wanita cantik itu Kou Hun Bijin.
"Engkau memang cantik sekali,"
Ujar Tio Cie Hiong tersenyum dan menambahkan.
"suara tawamu dapat membetot sukma kaum lelaki."
"Tidak salah."
Kou Hun Bijin tertawa lagi.
"Apakah sukmamu terbetot oleh suara tawaku?"
"Sama sekali tidak. sebaliknya malah membuatku merinding."
"oh, ya?"
"Memang ya."
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Engkau teman baik guru-guru Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui, itu membuktikan engkau sudah tua sekali. Namun engkau awet muda, dan tampak baru berusia empat puluhan."
"Betul."
Kou Hun Bijin mengangguk.
"Engkau pakai kedok kulit sehingga tampak berusia empat puluhan, padahal engkau masih muda."
"Sungguh tajam matamu"
"Terimakasih atas pujianmu"
"Aku yakin, engkau bukan kebetulan ke mari, melainkan sengaja menemuiku. Ya kan?"
"Ya. Aku dengar engkau berkepandaian tinggi, maka sungguh menarik hatiku."
"sesungguhnya, kepandaianku tidak begitu tinggi."
Tio Cie Hiong menatapnya dan melanjutkan.
"Aku pun yakin, engkau bukan wanita jahat. Tapi... kenapa mau membaurkan diri dengan Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Bu Lim sam Mo?"
"Hi h H i"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Kek engkau begitu yakin aku bukan wanita jahat?"
"sebab Kauw heng diam saja."
Tio cie Hiong memberitahukan.
"Itu pertanda engkau bukan wanita jahat."
"oh, ya?"
Kou Hun Bijin menatap monyet bulu putih.
"Maksudmu monyet itu monyet sakti?"
"Kira-kira begitulah."
"Engkau panggil dia Kauw heng, lalu aku harus panggil dia apa?"
"Usianya sudah hampir tiga ratus, jadi engkau harus panggil dia apa?"
"Apa?"
Kou Hun Bijin terbelalak. kemudian tertawa geli.
"Aku tidak menyangka engkau juga pandai membual...."
Mendadak monyet bulu putih itu bercuit-cuit, tentunya membuat Kou Hun Bijin terheran-heran.
"Eh? Kenapa dia?"
"Dia bilang aku tidak membual."
"oh?"
Kou Hun Bijin terbelalak.
"Monyet itu mengerti bahasa manusia?"
"selain mengerti bahasa manusia, dia juga berkepandaian tinggi sekali."
Tio Cie Hiong memberitahukan dengan jujur.
"Kou Hun Bijin, aku berkata sesungguhnya Jangan kau anggap aku bohong"
"Baik,"
Kou Hun Bijin mengangguk.
"Aku percaya. ohya, engkau panggil aku Bijin saja"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Sebetulnya ada urusan apa Bijin menemuiku di sini?"
Tanyanya kemudian.
"Aku tertarik akan kepandaianmu. oleh karena itu, aku ingin menjajal kepandaianmu itu."
"Bijin"
Tio cie Hiong tersenyum.
"Bagaimana kalau aku mengaku kalah padamu? Jadi kita tidak perlu bertanding."
"Lho? Kenapa begitu?"
"Untuk apa kita harus bertanding?"
"Terus terang,"
Ujar Kou Hun Bijin sungguh-sungguh.
"Sudah puluhan tahun aku tidak bertemu orang yang berkepandaian tinggi, maka ketika aku mendengar engkau berkepandaian begitu tinggi, tanganku langsung gatal."
"Bijin"
Tio Cie Hiong menatapnya.
"Secara pribadi atau membela Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui untuk bertanding denganku?"
"Tentunya secara pribadi, jangan dikaitkan dengan mereka"
Sahut Kou Hun Bijin.
"Nah, bagaimana? Engkau bersedia bertanding denganku?"
"Yaah..."
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Untuk apa engkau terus mendesakku untuk bertanding?"
"Hanya ingin tahu bagaimana kepandaianmu. Nah, engkau tidak akan menolak. bukan?"
"Padahal usiamu sudah di atas seratus, tapi kenapa masih bersifat seperti anak kecil?"
"Engkau masih muda, namun malah bersifat seperti orang tua. Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa geli.
"ohya, bolehkah engkau perlihatkan wajah aslimu?"
"Boleh. Tapi... engkau harus memenuhi sebuah syaratku,"
Sahut Tio cie Hiong sungguh-sungguh "oh?"
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Apa syaratmu?"
"Urungkan niatmu untuk bertanding denganku"
Ternyata Tio cie Hiong mengajukan syarat tersebut.
"Aku ingin menyaksikan wajah aslimu, juga ingin bertanding denganmu pula."
Tegas Kou Hun Bijin.
"Kalau tidak. aku pasti penasaran sekali."
"Bijin..."
Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa engkau terus mendesakku?"
"Kalau tidak bertanding denganmu, aku pasti merasa penasaran selama-lamanya."
"Jadi engkau tidak akan puas kalau belum bertanding denganku?"
"Ya."
Kou Hun Bijin mengangguk dan menambahkan.
"Bahkan aku juga akan penasaran apabila tidak menyaksikan wajahmu yang di balik kedok kulit itu."
"Kenapa engkau menyulitkan diriku, Bijin?"
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Aku tahu, engkau pasti menjaga suatu rahasia, maka memakai kedok kulit itu, bukan?"
"Agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan."
"Oooh"
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Ayohlah, kita ke tempat yang sepi untuk bertanding"
Tio Cie Hiong berpikir lama sekali, akhirnya mengangguk pula.
"Baiklah."
"Bagus"
Kou Hun Bijin tertawa gembira.
"Bagus..."
Mereka sudah sampai di tempat yang amat sepi, bahkan berdiri berhadapan pula. Kou Hun Bijin terus menatapnya, kemudian tersenyum sambil berkata.
"Nah, lepaskanlah kedok kulit itu"
"Bijin..."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala, lalu perlahan-lahan melepaskan kedok kulitnya.
"Haah...?"
Mulut Kou Hun Bijin ternganga lebar dan matanya terbeliak.
"Aku tidak menyangka, engkau begitu tampan."
"Bijin, bolehkah aku pakai kembali kedok kulit ini?"
"Jangan dulu"
Kou Hun Bijin menggelengkan kepala.
"Aku lebih senang bertanding denganmu tanpa memakai kedok kulit itu."
"Bijin..."
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Usia mu sudah seratus lebih, tapi sifatmu...."
"Tapi wajahku masih tampak muda, maka sifatku juga seperti anak kecil."Kou Hun Bijin tertawa nyaring tak berhenti-henti. Tio Cie Hiong mengerutkan kening, tahu kalau Kou Hun Bijin sedang mengerahkan semacam ilmu untuk mempengaruhinya. Karena itu, ia segera mengerahkan ilmu Penakluk iblis. Kou Hun Bijin terus tertawa, kemudian ia mulai menari-nari di hadapan Tio Cie Hiong. Akan tetapi, Tio cie Hiong hanya tersenyum, tidak terpengaruh sama sekali. Berselang beberapa saat, Kou Hun Bijin berhenti menari lalu menatap Tio Cie Hiong dengan mata terbeliak lebar.
"Eeeh? Kenapa engkau tidak terpengaruh oleh suara tawa dan tarianku?"
Tanyanya heran.
"Sebab aku memiliki Ilmu Penakluk iblis."
Tio Cie Hiong memberitahukan dengan jujur.
"Apa?"
Kou Hun Bijin tertegun.
"Engkau masih sedemikian muda, tapi... memiliki ilmu itu?"
"Ya."
Tio cie Hiong mengangguk.
"Engkau memang hebat sekali"
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Nah, sekarang mari kita bertanding"
"Kita bertanding dengan tangan kosong saja Bagaimana?"
"Baik."
"Kauw heng, turunlah"
Ujar Tio Cie Hiong kepada monyet bulu putih, dan monyet itu segera meloncat turun.
"Nah, hati-hati"
Ujar Kou Hun Bijin.
"Aku akan mulai menyerangmu."
Tio Cie Hiong mengangguk sambil mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kang untuk melindungi diri Mendadak Kou Hun Bijin menyerangnya.
Tio Cie Hiong berkelit dengan ilmu Kiu Kiong san Tian Pou.
Kou Hun Bijin terkejut, karena Tio Cie Hiong telah menghilang dari hadapannya.
"Hebat"
Seru Kou Hun Bijin memujinya, lalu menyerang lagi ke belakang tanpa melihat.
"Aku tahu engkau menggunakan semacam ilmu langkah aneh, tapi engkau tidak bisa terus berkelit"
Memang benar apa yang dikatakan Kou Hun Bijin.
Ketika Tio Cie Hiong baru mau berkelit, Kou Hun Bijin sudah berputar-putar mengelilingi Tio Cie Hiong.
Apa boleh buat, Tio Cie Hiong tarpaksa menangkis dan sekaligus balas menyerang dengan ilmu Bit ciat sin ci.
"Hi hi Hi Hebat sekali"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring, namun merasa penasaran. oleh karena itu, ia mulai mengerahkan Giok Lin sin Kang (Tenaga sakti Gadis Murni).
"Hati-hati Kali ini aku tidak main-main lagi"Ketika mengerahkan Iweekang tersebut, wajah Kou Hun Bijin memancarkan cahaya putih. Tio Cie Hiong terkejut menyaksikannya. la tahu bahwa Kou Hun Bijin sedang mengerahkan iweekang tingkat tinggi, maka ia mengerahkan Kan Kun Taylo sin Kang. Tiba-tiba Kou Hun Bijin berseru keras, lalu menyerang Tio Cie Hiong. Betapa dahsyatnya serangan yang penuh mengandung Giok Li sin Kang. Karena itu, Tio Cie Hiong terpaksa menangkis dengan Kan Kun Taylo Ciang Hoat, menggunakan jurus Kan Kun Taylo Bu Pien (Alam semesta Tiada Batas).
"Haaah...?"
Kou Hun Bijin terkejut bukan main, karena mendadak lweekangnya berbalik menyerang dirinya sendiri seketika juga ia teringat akan pesan gurunya, Giok Lisin Kang memang tergolong Iweekang yang tanpa tanding di kolong langit.
Namun harus berhati-hati, jangan sampai membentur Kan Kun Taylo sin Kang, sebab Iweekang itu akan membalikkan Giok Li sin Kang menyerang diri sendiri Kalau terjadi itu, maka Giok Li sin Kang akan buyar dan wajahmu langsung berubah tua.
Gugup dan panik Kou Hun Bijin teringat akan pesan tersebut.
la ingin menarik kembali lweekangnya, tapi sudah terlambat.
Pada saat bersamaan, Tio Cie Hiong juga melihat wajah Kou Hun Bijin berubah agak keriput.
Tersadarlah ia akan iweekang yang dimiliki Kou Hun Bijin, ternyata Iweekang itu yang membuatnya awet muda.
Namun apabila Kou Hun Bijin terserang oleh lweekangnya sendiri, maka akan menyebabkannya jadi tua sesuai dengan usianya.
Timbullah rasa tidak tega dalam hati Tio Cie Hiong, sehingga ia cepat-cepat menarik kembali Kan Kun Taylo Sin Kang.
Seketika juga Kou Hun Bijin merasa lweekangnya menyerang lagi ke arah Tio Cie Hiong, ia tahu pemuda itu menarik kembali lweekangnya.
Daaar Terdengar suara yang amat keras.
Tio Cie Hiong terpental belasan depa jatuh duduk dengan mulut mengeluarkan darah.
Monyet bulu putih memekik marah, tapi ketika baru mau menyerang Kou Hun Bijin, Tio Cie Hiong berseru lemah.
"Kauw heng, jangan kurang ajar"
Monyet bulu putih itu langsung diam, kemudian melesat ke arah Tio Cie Hiong, sekaligus memegang tubuhnya seakan sedang memeriksanya.
Setelah itu, monyet bulu putih tersebut bercuit perlahan, sepertinya menarik nafas lega.
"Adik kecil"
Teriak Kou Hun Bijin sambil mendekatinya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku... aku tidak apa-apa."
Tio Cie Hiong tersenyum, lalu duduk bersila.
Kou Hun Bijin duduk di sisinya, matanya tampak basah, sedangkan monyet bulu putih itu terus melototinya.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio Cie Hiong membuka matanya, ketika melihat mata Kou Hun Bijin basah, ia tersenyum.
"Kakak tidak usah sedih, aku tidak apa-apa"
"Adik kecil..."
Kou Hun Bijin terisak-isak.
"Sungguh mulia hatimu, aku... aku terharu sekali."
"Kakak"
Tio Cie Hiong memandang wajahnya.
"Syukurlah wajahmu masih tetap cantik"
"Adik kecil..."
Mendadak Kou Hun Bijin menggenggam tangannya erat-erat.
"Engkau... engkau tidak terluka?"
"Tidak."
Tio cie Hiong tersenyum.
"Aku sama sekali tidak terluka."
"Adik kecil, Kauw heng, maafkanlah aku"
Ucap Kou Hun Bijin setulus hati. Monyet bulu putih itu bercuit beberapa kali sambil manggut-manggut, Tio Cie Hiong tersenyum lagi dan memberitahukan.
"Kauw heng telah memaafkanmu."
"Terima kasih, Kauw heng Tapi... engkau bersedia memaafkan aku?"
"Engkau tidak bersalah terhadapku, kenapa harus minta maaf?"
"Adik kecil, aku kagum sekali kepadamu. Sungguh mulia hatimu Aku pun merasa senang, karena engkau memanggil kakak kepadaku."
"Kakak. lweekangmu sungguh hebat"
"Ohya"
Kou Hun Bijin menatapnya dalam-dalam.
"Engkau memiliki Kan Kun Taylo sin Kang?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kok Kakak tahu?"
"Guruku pernah memberitahukan, apabila Giok Lisin Kang bertemu Kan Kun Taylo sin Kang, aku pasti celaka."
"Oooh"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Aku ingin menarik kembali Iweekangku itu, tapi sudah terlambat,"
Ujar Kou Hun Bijin.
"Tapi... kenapa mendadak engkau menarik kembali lweekangmu itu?"
"Karena aku melihat... wajahmu berubah agak keriput, maka aku tahu lweekang itu membuatmu awet muda. Kalau lweekangmu itu buyar, otomatis engkau akan berubah tua sekali. Aku... aku merasa tidak tega, sehingga cepat-cepat menarik kembali Kan Kun Taylo sin Kang."
"oooh"
Kou Hun Bijin menatapnya dengan terharu.
"Tapi... kenapa engkau sama sekali tidak terluka dalam?"
"Karena aku masih memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang yang melindungi diriku."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Bahkan aku juga sudah dua kali makan buah Kiu Yap Lie Che."
"Syukurlah"
Kou Hun Bijin tersenyum.
"oh-ya, adik kecil Kini maukah engkau memberitahukan namamu?"
"Namaku Tio Cie Hiong."
"Apa?"
Terbelalak Kou Hun Bijin.
"Aku pernah dengar tentang Tio Cie Hiong itu. Bukankah dua tahun lalu dia sudah mati? Kek engkau juga bernama Tio Cie Hiong?"
"Tio Cie Hiong adalah aku, aku adalah Tio Cie Hiong itu,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Lho?"
Kou Hun Bijin terheran-heran.
"Kok begitu?"
"Sebab..,"
Ujar Tlo Cie Hiong dan menutur tentang itu, kemudian menambahkan.
"Maka aku harap Kakak menjaga rahasia itu Kalau tidak. pihak Kay Pang pasti celaka."
"Jangan khawatir"
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Kita sudah jadi kakak adik, tentunya aku harus menjaga rahasia ini."
"Kalau begitu, aku sudah boleh pakai kedok kulit itu?"
"Boleh."
Kemudian Tio cie Hiong memakai kedok itu, monyet bulu putih segera meloncat ke atas bahunya.
"Jadi... kauw heng ini yang mengobatimu hingga sembuh?"
Tanya Kou Hun Bijin sambil memandang kagum monyet bulu putih.
"Benar."
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Kalau tidak ada Kauw heng ini, aku sudah cacat seumur hidup."
"Kauw heng"
Mendadak Kou Hun Bijin memberi hormat kepadanya.
"Terimalah hormatku"
Monyet bulu putih itu bercuit beberapa kali, kemudian balas memberi hormat kepada Kou Hun Bijin, sudah barang tentu Kou Hun Bijin tertawa geli karenanya.
"Hi hi hi Kauw heng, engkau sungguh lucu dan baik"
"Kakak"
Tio Cie Hiong menatapnya.
"Jangan membaurkan diri dengan mereka, itu tidak baik."
"MaksudmuBu Lim sam Mo, Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Km?"
"Ya."
"Adik kecil"
Kou Hun Bijin menghela nafas.
"Biar bagaimanapun, aku masih harus kembali ke markas Bu Tek Pay."
"Kenapa?"
Tio Cie Hiong menatapnya.
"Maukah kakak menjelaskan?"
"Tentu mau."
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Karena aku telah berjanji pada seorang wanita muda yang bernasib malang, akan kembali ke markas itu untuk memancing keluar seseorang."
"Siapa orang itu?"
"Dia masih muda, namun..."
Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia membunuh suami, ayah dan anak wanita itu."
"Apakah Liu siauw Kun?"
"Kok engkau tahu?"
"Wanita muda yang bernasib malang itu tentunya Tan Li Cu, bukan?"
"Lho?"
Kou Hun Bijin tercengang.
"Kok engkau tahu tentang itu?"
"Sebab aku kenal Tan Li Cu..."
Ujar Tio Cie Hiong dan menutur, kemudian menambahkan.
"Tan Li cu dan Thian Liong Kiam Khek terkena asap beracun, aku yang menolong mereka. sejak itu, Liu siauw Kun tidak pernah muncul."
"oooh"
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Liu siauw Kun itu sungguh kejam, aku merasa kasihan pada Tan Li Cu, maka berjanji akan membantunya untuk memancing Liu siauw Kun keluar."
"Kakak..."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Hatimu cukup baik, hanya saja...."
"Sifatku buruk. kan?"
Kou Hun Bijin tersenyum, lalu menghela nafas panjang sambil memandang jauh ke depan.
"Adik kecil, sesungguhnya aku sangat membenci kaum lelaki. Karena itu, aku sering membuat kaum lelaki tergila-gila kepadaku. setelah tergila-gila, mereka kutinggalkan, sehingga frustasi. Bahkan ada yang bunuh diri minum racun, gantung diri dan lain sebagainya."
"Kenapa Kakak melakukan itu?"
"Adik kecil, ketika aku berusia dua puluhan, aku pernah dikecewakan sekaligus hatiku disakiti oleh kekasihku sendiri."
"Kok begitu?"
"Yaahh"
Kou Hun Bijin menghela nafas panjang.
"Aku berasal dari keluarga miskin, begitu pula kekasihku itu. Tapi kemudian dia berkenalan dengan seorang gadis dari keluarga kaya raya."
"Bagaimana dia bisa berkenalan dengan gadis orang kaya itu?"
"Dia bekerja di rumah gadis orang kaya itu, kebetulan gadis itu melihat sekaligus jatuh hati kepadanya. oleh karena itu, orang tua gadis itu menikahkan mereka. Coba bayangkan, betapa kecewa dan sakitnya hatiku"
"Kak"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"sebetulnya Kakak tidak usah merasa kecewa maupun sakit hati, relakan saja dia menikah dengan gadis itu"
"Adik kecil, kekasihku itu..."
Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku... aku telah menyerahkan kesucianku kepadanya."
"Kak"
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.
"Itu salah Kakak, kenapa mau menyerahkan kesucian kepadanya?"
"Karena aku... aku mencintainya, dan dia juga sangat mencintaiku. Kemudian dia terus merayuku untuk berbuat, aku percaya dia akan bertanggung jawab, maka...."
"Setelah itu bagaimana?"
"Aku mau bunuh diri, tapi di saat itulah aku bertemu seorang biarawati tua. Beliau merasa iba kepadaku, maka menerimaku sebagai murid."
Kou Hun Bijin memberitahukan.
"Hampir dua puluh tahun aku belajar silat tingkat tinggi kepadanya. Pada suatu hari guruku memberiku tiga butir pil, dan aku disuruh memakannya. setelah aku makan pil itu, guruku mengajarku Giok Li sin Kang. Guruku mengatakan bahwa Giok Li sin Kang tergolong iweekang yang sulit dicari tandingannya dalam rimba persilatan. selain itu, aku pun akan awet muda karena telah makan pemberiannya itu juga pengaruh dari Giok Lisin Kang. Betapa gembiranya aku mendengar itu . Namun ketika guruku sakit, guruku berpesan agar aku berhati-hati, jangan sampai Giok Li sin Kang membentur Kang Kun Taylo sin Kang. sebab apabila terbentur, Giok Li sin Kang akan berbalik menyerang diriku. Kalau Giok Li sin Kangku buyar, aku akan berubah tua."
"ooooh"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Untung aku melihat perubahan wajahmu, dan sempat menarik kembali Kan Kun Taylo sin Kangku. Kalau tidak..."
"Aku sudah berubah menjadi nenek."
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Adik kecil, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepadamu"
"Itu tidak perlu, Kak."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"ohya, sebetulnya engkau mau ke mana?"
Tanya Kou Hun Bijin sambil memandangnya.
"Aku mencari Tan Li cu, kini aku sudah tahu tentang dirinya, jadi tidak usah mencarinya lagi"
"Lalu engkau mau ke mana sekarang?"
"Ke markas pusat Kay Pang."
"Kalau begitu, kita berpisah di sini, sebab aku harus segera kembali ke markas Bu Tek Pay."
"ohya"
Pesan Tio Cie Hiong.
"Setelah Tan Li cu membalas dendamnya, Kakak tolong suruh dia ke gunung Hong Lay san"
"Baik,"
"Kakak. sampai jumpa"
Ucap Tio Cie Hiong, lalu melesat pergi menuju markas pusat Kay Pang.
Kou Hun Bijin berdiri termangu di tempat, berselang sesaat barulah ia melesat ke arah markas Bu Tek Pay.
Tio Cie Hiong telah tiba di markas pusat Kay Pang.
Betapa gembiranya Lim Ceng im, dan langsung mendekap di dadanya.
sedangkan Tio cie Hiong membelai-belainya dengan penuh cinta kasih.
"Kakak Hiong...."
"Adik Im...."
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Yang satu mendekap. yang satu lagi membelai. Asyiiik"
"Kakek..."
Lim Ceng Im membanting-banting kaki.
"Kenapa Kakek selalu usil?"
"Lho siapa yang usil? Kalian berdua atau kami?"
Sahut sam Gan sin Kay dan tertawa lagi.
"Engkau mendekap di dada Cie Hiong, sedangkan cie Hiong membelaimu. Padahal kami semua berada di sini, namun kalian.... Nah, siapa yang usil?"
"Kakek sungguh keterlaluan"
Wajah Lim Ceng im memerah.
"Kakak Hiong, kita duduk ya"
Tio Cie Hiong mengangguk. seketika sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak lagi.
"Bukan main Begitu merdu dan lembut suaranya, bagaikan suara kicauan burung dipagi hari"
Katanya.
"Kakek"
Lim Ceng im melototinya, lalu duduk di sisi Tio Cie Hiong.
"cie Hiong"
Lim Peng Hang memandangnya seraya bertanya.
"Engkau sudah bertemu paman, kakakmu dan lainnya?"
"Sudah."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kami pun ke Gunung Hong Lay san, hanya saja Tan Li Cu tidak bersama kami."
"Kenapa?"
Lim Peng Hang heran.
"Paman dan kakak bertemu Tan Li cu yang bersama Thian Liong Kiam Khek. namun kemudian Tan Li cu pergi tanpa pamit."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Ternyata Tan Li cu tidak menghendaki timbulnya suatu salah paham, maka pergi tanpa pamit."
"oooh"
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"ohya, engkau tidak berhasil mencarinya?"
"cie Hiong pasti sudah bertemu Tan Li Cu,"
Sahut Kim siauw suseng.
"Kalau tidak, bagaimana mungkin dia kembali ke sini?"
"Sesungguhnya aku tidak bertemu Tan Li cu, tapi aku sudah tahu kabar beritanya,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Karena aku bertemu seorang wanita awet muda...."
"Wanita awet muda?"
Kim siauw suseng mengerutkan kening.
"siapa wanita itu?"
"Dia Kou Hun Bijin."
"Haaah?"
Mulut Kim siauw suseng ternganga lebar.
"Dia masih hidup?"
"Mungkinkah Cie Hiong bertemu rohnya?"
Sahut Sam Gan Sin Kay sambil tertawa, namun tampak terkejut juga.
"cie Hiong, engkau bercakap-cakap dengannya?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Bahkan kami pun bertanding."
"Apa?"
Kim siauw suseng terperanjat.
"Bagaimana hasil pertandingan itu?"
"Menimbulkan kesan baik."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Dia menganggapku sebagai adik, aku juga menganggapnya sebagai kakak."
"Gila"
Sam Gan sin Kay menggaruk-garuk kepala.
"Usianya sudah seratus lebih, engkau menganggapnya sebagai kakak?"
"Ya."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Tapi dia tampak baru berusia empat puluhan."
"Dia memiliki kecantikan yang membetot sukma, kan?"
Tanya Kim siauw suseng.
"Sukmamu tidak terbetot olehnya?"
"Tentu tidak."
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Sebab aku memiliki Ilmu Penakluk iblis."
"ooooh"
Kim siauw suseng manggut-manggut.
"Kakak Hiong"
Tanya Lim Ceng Im mendadak.
"Betulkah Kou Hun Bijin itu cantik sekali?"
"Betul."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kalau engkau tidak memiliki Ilmu Penakluk iblis, apakah sukmamu akan terbetot oleh kecantikannya? "
"Pertanyaan yang bagus dan tepat?"
Seru sam Gan sin Kay. Tio Cie Hiong tersenyum, lalu memandang Lim Ceng im seraya menjawab.
"Tentu tidak. sebab aku memiliki iman yang kuat, lagi pula cintaku hanya untukmu, Jadi hatiku tidak gampang tergoda."
"Yang benar?"
Lim Ceng Im tersenyum manis.
"ohya, Kou Hun Bijin lebih cantik atau aku yang lebih cantik?"
"Bagus"
Seru Sam Gan Sin Kay lagi sambil tertawa.
"Pertanyaan yang jitu sekali?"
"Adik Im"
Tio Cie Hiong tersenyum lembut.
"Suatu kecantikan harus disertai kebersihan jiwa. Kalau hanya cantik tapi berjiwa kotor dan berhati jahat, itu cuma merupakan suatu kedok seperti yang kupakai ini."
"Bagus Jawaban yang tepat"
Seru Sam Gan Sin Kay sambil tertawa lagi.
"Heran?"
Lim Ceng Im cemberut.
"Aku yang sedang berbicara dengan Kakak Hiong, namun Kakek yang berteriak-teriak tidak karuan"
"Ha ha ha"
Sam Gan Sin Kay terus tertawa.
"Sudah cukup belum engkau tertawa, Pengemis Bau"
Tegur Kim Siauw Suseng.
"Lho? Kenapa?"
Sam Gan Sin Kay melotot.
"Punya hak apa engkau menegurku?"
"Dasar Pengemis Bau"
Sahut Kim Siauw Suseng, kemudian bertanya kepada Tio Cie Hiong.
"Bagaimana perbandingan itu? Apakah Kou Hun Bijin terluka?"
"Tidak, hanya saja..."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia nyaris berubah tua."
"Lho? Kenapa?"
Kim Siauw Suseng tertegun.
"Karena..."
Tio Cie Hiong menutur tentang itu.
"Dia sangat terharu sehingga langsung memanggilku adik kecil."
"oooh"
Kim Siauw Suseng manggut-manggut.
"Cie Hiong, engkau memang berhati mulai. Tidak heran kalau dia terharu."
"Untung dia bertemu Cie Hiong, kalau bertemu orang lain..."
Sam Gan Sin Kay menggelenggelengkan kepala.
"Kini dia pasti sudah berubah tua."
"sastrawan sialan"
Ujar Tui Hun Lojin mendadak.
"Kou Hun Bijin awet muda, engkau pun awet muda, maka...."
"Mereka merupakan pasangan yang serasi,"
Sambung sam Gan sin Kay sambil tertawa gelak.
"Pengemis bau"
Tegur Kim siauw suseng.
"Jangan omong sembarangan, kalau Kou Hun Bijin mendengarnya, engkau pasti celaka."
"Dia tidak berada di sini, maka aku berani omong begitu."
Sam Gan sin Kay menyengir.
"Kalau dia berada di sini, aku akan berubah gagu."
"Aaakh..."
Kim siauw suseng menghela nafas panjang.
"sesungguhnya Kou Hun Bijin adalah kawan baik guruku, bahkan guruku sangat mencintainya. Tapi.... Kou Hun Bijin justru menolaknya, itu membuat guruku jadi frustasi."
"Dia memang suka menggoda kaum lelaki hidung belang, lagi pula memiliki daya tarik alami."
Sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.
"Lelaki mana yang melihatnya, pasti tergila-gila. Karena itu, dia dijuluki Kou Hun Bijin."
"Benar."
Kim siauw suseng mengangguk.
"Sekitar tujuh puluh lima tahun silam, rimba persilatan digegerkan oleh munculnya Kou Hun Bijin. Entah berapa banyak kaum pendekar yang tergila-gila kepadanya, termasuk guruku. setelah itu, barulah muncul Hong Hoang Leng. Namun, sejak itu Kou Hun Bijin entah menghilang ke mana, dan tiada kabar beritanya sama sekali. Justru sungguh di luar dugaan, kini dia muncul lagi."
"Mungkinkah dia punya hubungan dengan Bu Lim Sam Mo, Thian Gwa Siang Koay dan Lak Kui?"
Gumam sam Gan sin Kay.
"Kou Hun Bijin memang ke markas Bu Tek Pay."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Tapi itu bukan berarti dia punya hubungan dengan mereka, hanya saja kenal guru-guru mereka."
"oh?"
Sam Gan sin Kay menatapnya.
"Dia memberitahukan kepadamu?"
"Benar."
Tio cie Hiong mengangguk dan melanjutkan.
"sebelum bertemu denganku, dia sudah bertemu Tan Li cu."
"Dia menangkap Li Cu?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Tidak."
Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Sebaliknya Kou Hun Bijin malah bersimpati kepadanya, maka ingin membantunya."
"Bagaimana caranya membantu Tan Li Cu?"
Tanya sam Gan sin Kay.
"Dia akan memancing Liu siauw Kun keluar, sebab pemuda itu sangat kurang ajar juga terhadapnya,"
Jawab Tio Cie Hiong dan menambahkan.
"Kou Hun Bijin bukan wanita berhati jahat. Ketika berusia dua puluhan, dia ditinggal mentah-mentah oleh kekasihnya, sehingga frustasi dan nyaris membunuh diri Di saat itulah dia bertemu seorang biarawati tua, yang bersedia menerimanya sebagai murid. Karena pernah mengalami itu, maka dia sangat membenci kaum lelaki."
"Dia yang menceritakan riwayat hidupnya kepadamu?"
Tanya Kim siauw suseng agak tertegun.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Aku pun menceritakan tentang diriku, bahkan dia pun telah menyaksikan wajahku."
"Kakak Hiong..."
Lim Ceng im tersentak.
"Dia... dia tidak akan memberitahukan kepada Bu Lim sam Mo?"
"Tentu tidak."
Tio cie Hiong tersenyum.
"sebab kami sudah merupakan kakak adik. oh ya, aku juga memberitahukan kepadanya tentang dirimu. Apabila ada sempat, dia pasti menemuimu."
"Kalau aku bertemu dia, aku harus panggil dia apa?"
Tanya Lim Ceng im sambil tersenyum.
"Tidak mungkin panggil dia nenek. kan?"
"Panggil dia bibi saja"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Baik,"
Lim Ceng im mengangguk.
"ohya"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Thian Liong Kiam Khek Cie Man chiu dan Tio Hong Hoa sudah dijodohkan."
"Bagus, bagus"
Sam Gan sin Kay tertawa gembira.
"Itu merupakan kabar yang menggembirakan."
"Mereka berdua memang cocok dan serasi. Aku pun turut gembira,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Kakak Hiong, kapan aku bisa bertemu Kakak Hong Hoa?"
Tanya Lim Ceng im mendadak.
"Engkau pasti bertemu mereka kelak.
"jawab Tio Cie Hiong dan menambahkan.
"ohya, aku akan tinggal di sini beberapa hari, setelah itu akan pergi ke gunung Hong Lay san lagi untuk berunding."
"Kakak Hiong..."
Lim Ceng im menghela nafas.
"Cuma beberapa hari engkau tinggal di sini?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Adik im, aku harap engkau maklum dan mengerti"
Lim Ceng Im manggut-manggut, namun wajahnya tampak agak murung.
"Kakak Hiong...."
"cie Hiong"
Lim Peng Hang tersenyum.
"Temanilah Ceng im ke halaman belakang, kalian ngobrollah di sana saja"
"Wuah"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Ayah yang baik dan tahu perasaan anak Ha ha ha..."
"Memangnya seperti kakek yang selalu usil"
Sahut Lim Ceng im, kemudian menggandeng Tio cie Hiong ke belakang.
"Asyiiik Berdua di halaman belakang Ha ha ha..."
Sam Gan sin Kay terus tertawa gelak.
Bab 75 Mati secara mengenaskan Kou Hun Bijin telah tiba di markas Bu Tek Pay.
Bu Lim sam Mo, Thian Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin menyambutnya dengan penuh kegembiraan.
Terutama Liu siauw Kun, yang terus memandangnya dengan mesra.
"silakan duduk. Bijin"
Ucap Bu Lim sam Mo ramah.
"Terima kasih"
Kou Hun Bijin duduk sambil tersenyum-senyum. Beberapa anggota Bu Tek Pay langsung menyuguhkan minuman. Bu Lim sam Mo tertawa gelak.
"Ha ha ha Mari kita bersulang dulu"
Mereka bersulang sambil tertawa gembira, sementara Liu siauw Kun masih terus memandang Kou Hun Bijin dengan mesra.
Kou Hun Bijin tersenyum manis, sekaligus mengedipkan matanya.
Kedipan mata itu membuat hati Liu siauw Kun langsung berbunga-bunga.
"Bijin"
Tanya Kwan Gwa Siang Koay.
"Apakah Bijin telah bertemu lelaki berkepandaian tinggi itu?"
"Aku memang telah bertemu dia,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil manggut-manggut.
"Kepandaiannya memang tinggi sekali."
"Apakah Bijin kalah bertanding dengannya?"
Tanya Tiau Am Kui dengan suara agak rendah.
"omong kosong"
Bentak Kou Hun Bijin.
"Tiau Am Kui Engkau anggap aku tak berguna ya?"
"Maaf, Bijin Maaf...,"
Ucap Tiau Am Kui sambil menundukkan kepala.
"Aku yakin...,"
Ujar siluman Kurus.
"Bijin pasti berhasil melukainya."
"Benar. Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Walau dia berkepandaian tinggi, aku masih berhasil melukainya dengan Giok Lisin Kang."
"oh?"
Tang Hai Lo Mo terkejut. Jadi.... Bijin memiliki iweekang itu?"
"Apakah paman gurumu tidak memberitahukan?"
Tanya Kou Hun Bijin.
"Paman guruku memang tidak memberitahukan kepadaku, hanya saja..."
Tang Hai Lo Mo memberitahukan.
"Beliau memberiku Kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi, tapi tidak memberitahukan tentang Bijin memiliki Giok Li sin Kang."
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Engkau kira aku tidak tahu, kalian bertiga telah berhasil mempelajari ilmu itu? Hihihi Pada waktu itu, Thian Gwa sin Mo ingin memberikan kitab tersebut kepadaku, namun dengan syarat aku harus jadi istrinya. Aku menolak langsung, sejak itu Thian Gwa sin Mo hilang entah ke mana."
Bagian 43
"Paman guruku pulang ke Tang Hai."
Tang Hai Lo Mo memberitahukan.
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Karena frustasi, dia pulang ke Tang Hai."
"Bijin Setelah lelaki itu terluka, lalu bagaimana keadaannya?"
Tanya Siluman Kurus.
"Apa-kah Bijin membunuhnya?"
"Kami cuma bertanding,"
Sahut Kou Hun Bijin.
"Maka setelah dia teriuka, aku membiarkan dia pergi"
"Kenapa Bijin tidak membunuhnya?"
Tanya Tang Hai Lo Mo sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa?"
Wajah Kou Hun Bijin langsung berubah.
"Jadi engkau ingin memperalat diriku untuk membunuhnya?"
"Ti... tidak."
Tang Hai Lo Mo menundukkan kepala.
"Dia musuh besar Bu Tek Pay...."
"Tapi aku dan dia tidak punya dendam, maka kami cuma bertanding saja, tidak berniat saling membunuh Tahu?"
Bentak Kou Hun Bijin.
"Ya, ya..."
Tang Hai Lo Mo mengangguk.
"Nah"
Kou Hun Bijin bangkit berdiri.
"Aku mau ke taman bunga untuk beristirahat sejenak."
Kou Hun Bijin berjalan ke belakang, Liu siauw Kun segera mengikutinya. Bu Lim Sam Mo, Kwan Gwa Siang Koay, Lak Kui hanya menghela nafas.
"Sayang sekali"
Tang Hai Lo Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Kou Hun Bijin tidak membunuh lelaki itu"
"Tapi sudah melukainya,"
Sahut siluman Kurus.
"Maka aku yakin lelaki itu tidak begitu berani lagi menentang kita."
"Benar."
ThianMo manggut-manggut.
"Itu boleh dikatakan sebagai pelajaran bagai lelaki itu. Ha ha ha..."
"Biar bagaimanapun..."
Bisik Te Mo.
"Kita harus berupaya agar Kou Hun Bijin selalu membantu kita."
"Ngmm"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut, kemudian tertawa gelak. Sementara Kou Hun Bijin sudah sampai di taman bunga, lalu duduk sambil tersenyum-senyum.
"Bijin..."
Panggil Liu siauw Kun lembut.
"N g?"
Kou Hun Bijin mengerlingnya.
"Duduklah"
"Terimakasih"
Liu siauw Kun langsung duduk di sisinya, sekaligus menggenggam tangannya.
"urusan Bijin sudah beres, kan?"
"Ya, kenapa?"
"Apakah Bijin sudah lupa akan janji itu?"
"Janji apa?"
"Setelah urusan Bijin beres, bukankah Bijin akan...."
"Oh, itu"
Kou Hun Bijin tertawa.
"Hi hi Jadi engkau menagih janjiku itu ya?"
"Ya."
Liu siauw Kun mengangguk.
"Karena Bijin yang berjanji, maka aku pun boleh menagihnya."
"Betul, betul."
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Kalau begitu..."
Liu siauw Kun menatapnya dengan penuh gairah nafsu birahi.
"Mari kita ke kamar bersenang-senang"
"Kok engkau tidak bisa bersabar? Aku kan baru pulang, lagi pula..."
Kou Hun Bijin tersenyum memikat.
"Tidak baik kita bersenang-senang di markas Bu Tek Pay ini."
"Lho? Kenapa?"
"Kalau Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan lainnya tahu, mukamu mau ditaruh ke mana? Ya, kan?"
"Kalau begitu..."
"Aku punya rencana yang bagus."
"Rencana apa?"
"Kita bersenang-senang di tempat lain, jadi tiada seorang pun tahu. juga tidak akan terganggu oleh siapa pun."
"Benar."
Liu siauw Kun tertawa gembira.
"Oh, Bijin Engkau memang jantung hatiku."
"Oh, ya?"
Kou Hun Bijin tersenyum manis.
"Bijin..."
Liu siauw Kun menciumnya. Jari tangan pemuda itu pun mulai jail meraba-raba sepasang payudara Kou Hun Bijin yang sangat montok itu.
"Idiiih"
Kou Hun Bijin menggeserkan badannya seraya menegur.
"jangan begitu, kalau terlihat orang, bukankah akan membmtku malu?"
"Tiada seorang pun berani ke mari. Bijin tenang saja"
Sahut Liu siauw Kun dan meraba-raba lagi payudara Kou Hun Bijin.
"Siauw Kun"
Ujar Kou Hun Bijin lembut.
"Engkau harus sabar dikit, cara begini tidak mengasyikkan. Lebih baik tunggu nanti, pokoknya engkau akan melihat semuanya."
"Bijin, kita akan ke tempat mana?"
Kelihatan-nya Liu siauw Kun sudah tidak dapat berlahan lagi, karena nafsu birahinya terus bergejolak.
"Begini,"
Bisik Kou Hun Bijin.
"Engkau harus mencari alasan untuk meninggalkan markas ini di malam hari ini juga. selelah itu, engkau pergi dan tunggu aku di bawah pohon..."
"Pohon yang mana?"
"Pohon yang paling besar di luar markas, di situ juga terdapat sebuah batu besar. Engkau tahu kan?"
"Tahu."
Liu siauw Kun mengangguk.
"Lalu kapan Bijin menyusulku?"
"Besok pagi."
"Kenapa harus besok pagi? Bagaimana kalau malam, ini juga?"
"Kalau malam ini aku menyusulmu, tentu akan menimbulkan kecurigaan guru-gurumu."
"Baiklah. Malam ini aku akan meninggalkan markas ini. Tapi..."
Liu siauw Kun menatapnya mesra.
"Engkau tidak boleh membohongi aku Iho Besok pagi kau harus menyusulku"
"Pasti."
Kou Hun Bijin mengangguk.
"Aku pasti menyusulmu, sebab... aku sangat membutuhkanmu."
"Ha ha"
Liu siauw Kun tertawa gembira.
"Pokoknya aku akan memuaskanmu."
"Itu yang kuharapkan,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan, kemudian mendadak mengecup pipi pemuda itu.
"Bijin..."
Kecupan itu membuat Liu siauw Kun nyaris terlena. la memejamkan matanya seraya berkata.
"Kecuplah aku sekali lagi"
Kou Hun-Bijin tersenyum, lalu mengecup pipi Liu siauw Kun beberapa kali, sehingga Liu siauw Kun langsung memeluknya erat-erat.
Ketika hari sudah gelap.
Liu siauw Kun pergi ke ruang tengah untuk menemui Bu Lim sam Mo.
Kebetulan hanya ada Bu Lim sam Mo di situ.
"Guru..."
Liu siauw Kun berdiri di hadapan mereka.
"Ada apa?"
Tanya Tang Hai Lo Mo sambil menatapnya.
"ingin menyampaikan sesuatu?"
"Guru, aku... aku ingin pergi jalan-jalan,"
Ujar Liu siauw Kun dengan kepala tertunduk.
"Ha ha "
Thian Mo tertawa .
"Mau pergi bersenang-senang ya? "
"Guru..."
"Aku tahu, sudah sekian lama engkau tidak pergi ke mana-mana, maka malam ini engkau ingin pergi mencari hiburan di luar, bukan?"
Te Mo juga tertawa.
"Tidak apa-apa. Tapi... jangan sampai lupa pulang"
"Ya, Guru."
Liu siauw Kun mengangguk dengan wajah ceria.
"Siauw Kun"
Tang Hai Lo Mo menatapnya.
"Bukankah Kou Hun Bijin sangat baik terhadapmu, kenapa engkau tidak mau bersenang-senang dengannya di sini?"
"Guru, itu bagaimana mungkin?"
Liu siauw Kun menggelengkan kepala.
"Usia Kou Hun Bijin sudah di atas seratus, sedangkan usiaku..."
"Ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa.
"Tapi dia masih cantik dan montok. Kenapa engkau tidak mau?"
"Guru, itu tidak baik. sebab dia tamu agung di sini. Kalau aku berbuat begitu, tentu akan merusak rencana guru."
"Ngmm"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Baiklah. Engkau boleh pergi mencari hiburan di luar, namun jangan lupa pulang"
"Ya, Guru."
Liu siauw Kun mengangguk girang.
"Guru, aku pergi"
Liu siauw Kun meninggalkan markas Bu Tek Pay sesuai dengan janji maka ia menunggu di bawah pohon besar di depan markas.
Pagi harinya, Kou Hun Bijin duduk di taman bunga.
Tak seberapa lama muncullah Bu Lim sam Mo, mereka bertiga memandangnya sambil tersenyum-senyum.
"Sedang menghirup udara segar di sini, Bijin?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Ya."
Kou Hun Bijin mengangguk dan tersenyum.
"Sungguh indah bunga-bunga yang baru mekar itu oh ya, kok tidak kelihatan muridmu?"
"Dia pergi semalam,"
Jawab Thian Mo.
"Biasa anak muda, mencari hiburan di luar karena sudah lama dia tidak bersenang-senang."
"oh?"
Kou Hun Bijin menghela nafas.
"Kenapa dia tidak memberitahukan kepadaku?"
Bu Lim sam Mo saling memandang, kemudian Tang Hai Lo Mo bertanya sambil tertawa.
"Bijin, apakah engkau tertarik pada murid kami itu?"
"Dia memang ganteng dan romantis, aku memang tertarik padanya. Namun mengingat akan usiaku..."
"Ha ha Bijin, sebetulnya usia tidak jadi masalah,"
Ujar Tang Hai Lo Mo sungguh-sungguh .
"Yang penting ..."
"saling mencinta,"
Sela Thian Mo sambil tertawa.
"Ha ha ha..."
"Benar,"
Sambung Te Mo.
"Kalau sudah saling mencinta, usia tidak jadi masalah."
"Tidak mungkin...,"
Kou Hun Bijin menghela nafas.
"ohya, aku juga mau mohon pamit."
"Kok begitu cepat?"
Tang Hai Lo Mo berusaha menahannya.
"Tinggal di sini saja?"
"Yah"
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Aku ingin pergi jalan-jalan."
"Baiklah"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut dan berkata.
"Pintu markas ini selalu terbuka untukmu, Bijin."
"Terimakasih"
Ucap Kou Hun Bijin sambil tersenyum manis.
"Kita pasti berjumpa kembali."
Kou Hun Bijin melangkah pergi, Bu Lim sam Mo saling memandang dan menghela nafas pula.
"Apakah kalian tidak tertarik padanya?"
Tanya Tang Hai Lo Mo mendadak sambil menatap Thian Mo dan Te Mo.
"Ha ha"
Thian Mo tersenyum.
"Aku yakin engkau pasti tertarik padanya, hanya saja...."
"sama-sama,"
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"Namun kita tidak boleh berlaku kurang ajar, sebab dia mantan kekasih paman guruku. Lagi pula... kepandaiannya sangat tinggi, kalau dia marah danjadi musuh kita, repotlah kita."
"Benar."
Thian Mo manggut-manggut.
"ohya, mungkinkah dia pergi mencari Liu siauw Kun?"
"Mungkin juga,"
Sahut Tang Hai Lo Mo.
"Itu urusannya, kita tidak usah ikut campur."
"Kelihatannya murid kita itu telah mabuk kepayang, namun kenapa dia malah mencari wantta lain?"
Thian Mo heran.
"Mungkin Kou Hun Bijin tidak begitu meladeninya, maka dia pergi mencari wanita lain,"
Ujar Te Mo sambil tertawa.
"Kalau aku masih muda, tentunya aku akan mendekati Kou Hun Bijin. Ha ha ha..."
Liu siauw Kun terus menunggu di bawah pohon dengan sabar.
Pemuda itu yakin Kou Hun Bijin pasti ke tempat itu menemuinya.
Ketika terbayang wajahnya yang begitu cantik, serta sepasang payudara yang masih montok.
tersenyum-senyum.
"Hi hi hi"
Terdengar suara tawa cekikikan yang sangat, merdu.
"Bijin Bijin..."
Seru Liu siauw Kun girang.
"Kok begitu lama baru ke mari? setengah mati aku menunggu di sini Iho"
"Cuma setengah mati, tidak apa-apa,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil melayang ke hadapannya.
"Bagaimana? Apakah engkau kedinginan semalam di sini?"
"Tentu kedinginan."
"Jangan khawatir, sebentar lagi aku akan menghangatkanmu."
"Bijin..."
Liu siauw Kun memeluknya erat-erat, bahkan juga menciumnya dengan mesra.
"Engkau sungguh jantung hatiku"
"Oh, ya?"
Kou Hun Bijin membelainya.
"Ya."
Liu siauw Kun mengangguk.
"Bijin, kita bersenang-senang di mana?"
"Tentunya tidak di sini,"
Sahut Kou Hun Bijin sambil tersenyum.
"Aku tahu suatu tempat yang sangat sepi. Di situ pun terdapat sebuah gubuk kosong. Mari kita ke sana saja"
"Baik,"
Liu siauw Kun tidak bercuriga sama sekali, maka ketika Kou Hun Bijin melesat pergi, ia segera mengikutinya.
Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat itu.
Mereka bisa begitu cepat sampai karena menggunakan ginkang.
Liu siauw Kun gembira bukan main, lantaran tempat itu memang cocok untuk bersenang-senang.
"Kosongkah gubuk itu?"
Tanya Liu siauw Kun sambil menunjuk gubuk tersebut.
"Benar."
Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Kalau begitu, cepatlah kita ke dalam..."
Ucapan Liu siauw Kun terhenti, sebab ia melihat sosok bayangan melesat ke luar dari gubuk itu.
"Liu siauw Kun"
Terdengar suara bentakan pula. Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Liu siauw Kun, karena tidak menyangka Tan Li cu berada di situ.
"Li Cu..."
Wajahnya langsung berubah pucat pias.
"Kalian."
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Nah, kini sudah waktunya engkau bersenangsenang"
"Bijin..."
Liu siauw Kun terbelalak.
"Engkau... engkau menipuku ke mari?"
"Benar."
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Engkau begitu jahat, maka hari ini engkau harus mampus di tangan wanita itu."
"Engkau kenal dia?"
"Aku pernah bertemu dia, dan metelah mendengar penuturannya, aku pun cari akal untuk menipumu ke mari. Hi hi hi Bersiap-siaplah menyambut ajalmu"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Hm"
Dengus Liu siauw Kun.
"Kalau guru-guruku tahu...."
"Guru-gurumu tidak akan tahu. Kalaupun tahu, aku pun tidak takut,"
Sahut Kou Hun Bijin, lalu berkata kepada Tan Li cu.
"Nah, dia sudah berada di sini. Engkau boleh membunuhnya ."
"Terimakasih, Bijin"
Ucap Tan Li Cu, kemudian menatap Liu siauw Kun dengan mata berapi-api sambil menghunus pedang Loan Kang Pokiamnya.
"Liu siauw KUn Terimalah kematianmU"
Tan Li cu langsung menyerangnya. Guguplah Liu siauw Kun karena tidak membawa senjata.
"Curang"
Bentaknya.
"Engkau bersenjata, aku cuma bertangan kosong...."
"Li Cu, cepat serang dia Tidak usah banyak bicara dengan dia"
Seru Kou Hun Bijin.
Tan Li cu segera menyerang Liu siauw Kun lagi.
Pemuda itu terpaksa melawannya dengan tangan kosong, mengeluarkan Pak Kek sin ciang (Ilmu Pukulan sakti Kutub utara).
Akan tetapi, Liu siauw Kun kurang latihan, sehingga Ilmu Pukulan sakti itu berkurang kedahsyatannya.
Beberapa jurus kemudian, ia sudah mulai terdesak.
"Bagus"
Seru Kou Hun Bijin sambil tertawa.
"Li Cu, terus serang dia, gunakan jurus-jurus yang mematikan"
Mendadak Tan Li cu membentak keras, lalu menyerang Liu siauw Kun dengan jurus Lui Tian Toh san (Petir Kilat Merobohkan Gunung).
Tampak pedangnya berkelebatan bagaikan kilat menyambar ke arah Liu siauw Kun, bahkan terdengar suara yang menggelegar.
"Jurus yang hebat"
Seru Kou Hun Bijin kagum.
"Aaaakh..."Terdengar suara jeritan Liu siauw Kun, ternyata lengannya sudah kutung sebelah dan darahnya terus mengucur.
"Liu Siauw Kun, terimalah kematianmu"
Bentak Tan Li cu sekaligus menyerangnya mempergunakan jurus Lui Tian Liak Te (Petir Kilat Membelah Bumi), yang sangat dahsyat, lihay dan ganas.
Liu siauw Kun tak sempat menjerit lagi, sebab badannya telah terbelah dua.
sungguh mengerikan cara kematiannya sedangkan Kou Hun Bijin memandang mayat itu dengan sikap acuh tak acuh.
Setelah berhasil membunuh Liu siauw Kun, Tan Li cu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis terisak-isak.
"Ayah, suami dan anakku Aku... aku telah berhasil membalas dendam kalian,"
Ujar Tan Li Cu dengan air mata berderai-derai. Kemudian ia juga berlutut di hadapan Kou Hun Bijin.
"Terimakasih atas bantuan Bijin"
Ucap Tan Li cu.
"Bangunlah"
Kou Hun Bijin membangunkannya.
"Li Cu, kini Liu siauw Kun lelah mati, lalu apa rencanamu?"
"Aku... aku akan kembali ke Gunung Hong Lay san."
Tan Li cu memberitahukan.
"Aku mau menjadi biarawati."
"Itu terserah niatmu."
Kou Hun Bijin tersenyum.
"oh ya, aku sudah bertemu Tio Cie Hiong."
"Apa?"
Tan Li cu tersentak.
"Bijin kenal dia?"
"Aku tidak kenal dia, namun Bu Lim sam Mo memberitahukan kepadaku, bahwa di rimba persilatan telah muncul seorang lelaki yang berkepandaian sangat tinggi, lelaki itu membawa seekor monyet putih."
"Tempo hari Bijin bilang mau mencari seseorang, apakah lelaki itu?"
"Ya."
"Kok Bijin tahu kalau dia Tio Cie Hiong?"
"Li Cu"
Kou Hun Bijin tersenyum dan menutur tentang itu "Dia memang pemuda yang berhati mulia."
"Syukurlah Bijin dan dia saling menganggap sebagai kakak adik. ohya, dia sudah punya calon istri."
"Dia telah memberitahukan kepadaku, dan aku turut gembira mendengarnya."
"Bijin... mau kembali ke markas Bu Tek Pay?"
"Belurn dapat dipastikan, yang jelas aku akan ke markas pusat Kay Pang untuk memberitahukan kepada Cie Hiong tentang ini."
"Tapi..."
"Kenapa?"
"Bijin harus berhati-hati, jangan sampai terlihat oleh pihak Bu Tek Pay, sebab kalau kedatangan Bijin terlihat pihak Bu Tek Pay, akan menyusahkan Kay Pang."
"Aku tahu."
Kou Hun Bijin tersenyum, lalu melesat pergi seraya berseri.
"Sampai jumpa"
"Sampai jumpa, Bijin"
Sahut Tan Li Cu, kemudian melesat pergi menuju Hong Lay san.
Pada malam harinya, di markas pusat Kay Pang tampak Lim Ceng Im tidak bisa duduk diam di ruang tengah.
la berjalan mondar-mandir di situ dengan wajah murung.
Bu Lim Ji Khie, Lim Peng Hang, Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong saling memandang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Nak. Cie Hiong harus pergi ke Gunung Hong Lay San untuk berunding. Engkau tenang saja"
Ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas.
"Setelah berunding, dia pasti kembali."
Ternyata tadi pagi Tio Cie Hiong terangkat ke Gunung Hong Lay san.
Lim Ceng Im merasa berat berpisah dengannya, bahkan merengek-rengek ingin ikut, namun Tio Cie Hiong melarangnya.
setelah Tio Cie Hiong berangkat, gadis itu tampak murung.
"Cuma beberapa hari di sini, dia pergi lagi pagi ini. Aku..."
Mata Lim Ceng Im berkaca-kaca.
"Kenapa kami harus selalu berpisah? Apakah akan terus begini?"
"Tentu tidak,"
Sahut sam Gan sin Kay dan menambahkan.
"Percayalah, tidak lama lagi kalian berdua pasti selalu berdampingan"
"Aku justru khawatir akan terjadi sesuatu lagi pada kami."
Lim Ceng Im menghela nafas.
"Itu tidak akan terjadi."
Kim siauw suseng tersenyum.
"Yang penting engkau harus tenang dan sabar."
"Benar,"
Sambung Tui Hun Lojin.
"Ingat, takkan lari gunung dikejar"
"Tapi aku dan Kakak Hiong bukan gunung,"
Sahut Lim Ceng Im sambil menggeleng-gelengkan kepala "Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Setan tua, engkau sok mengucapkan pepatah, akhirnya...."
"Pengemis bau Wajah Tui Hun Lojin kemerah-merahan.
"Itu cuma kiasan, maksudku adalah... takkan lari kebahagiaan dikejar."
"Buktinya lari terus,"
Sahut Lim Ceng Im dan menghela nafas lagi.
"Aku jadi pusing."
"HihihiIHihihi..."
Mendadak terdengar suara tawa cekikikan.
"Kenapa pusing? Memikirkan cie Hiong ya?"
Tampak sosok bayangan berkelebat ke dalam, seorang wanita cantik berdiri di situ sambil tersenyum-senyum.
Begitu menyaksikan wanita cantik itu, seketika juga Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng IHang dan Gouw Han Tiong ternganga lebar mulut mereka.
"Idiiih"
Ternyata wanita cantik itu Kou Hun Bijin.
"Kenapa kalian jadi begitu?"
"Se... selamat datang, Bijin"
Ucap Sam Gan Sin Kay dengan hormat.
"Eeeh?"
Kou Hun Bijin menatapnya.
"Kok engkau bertambah dekil? Sudah punya cucu masih begitu dekil, dasar pengemis bau"
"Ha ha ha"
Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak "Bijin, dari kecil hingga besar, dari besar hingga tua aku memang bau. Maka engkau jangan dekat-dekat, nanti akan jadi bau pula."
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Pengemis bau, engkau memang usil dari dulu. Kini sudah jadi kakek juga masih tetap usil, dasar...."
"Ha ha ha..."
Sam Gan Sin Kay tetap tertawa gelak.
"Eeeh? Kok aku tidak dipersilahkan duduk? Tidak senang aku ke mari ya?"
Tanya Kou Hun Bijin sambil tersenyum-senyum.
"Silakan duduk, bibi"
Ucap Lim Ceng Im cepat.
"Gadis cantik"
Kou Hun Bijin memandangnya.
"Engkau pasti calon istri Tio Cie Hiong, bukan?"
"Betul, bibi."
Lim Ceng Im mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Ngmm"
Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Engkau dan dia memang merupakan pasangan yang serasi. ohya, kenapa engkau memanggilku bibi?"
"Kakak Hiong yang menyuruhku memanggil demikian, jadi aku menurut saja,"
Jawab Lim Ceng Im memberitahukan.
"Boleh juga engkau memanggilku bibi, tidak pantas memanggilku Bijin. Lagi pula Cie Hiong memanggilku kakak."
Ujar Kou Hun Bijin, lalu memandang Kim Siauw suseng yang duduk diam dari tadi.
"Engkau...."
"Dia Kim siauw suseng."
Sam Gan sin Kay memberitahukan sambil tertawa.
"Dia pun awet muda, lho"
"Kim siauw suseng...,"
Gumam Kou Hun Bijin sambil berpikir.
"oooh Aku ingat sekarang, engkau murid si Tampan suling Emas itu, bukan?"
"Betul, Bijin."
Kim siauw suseng mengangguk.
"Kim siauw suseng, bagaimana kabarnya gurumu itu?"
Tanya Kou Hun Bijin mendadak.
"Sudah lama guruku meninggal,"
Sahut Kim siauw suseng sambil menghela nafas panjang.
"oh?"
Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.
"Tak disangka dia juga sudah meninggal Dia... berupaya agar bisa awet muda seperti aku, namun gagal, muridnya malah awet muda"
"Bijin"
Tiba-tiba Kim Siauw suseng menatapnya tajam.
"Padahal guruku sangat mencintaimu, kenapa...."
"Maksudmu aku mempermainkannya?"
"Ya."
"Sesungguhnya aku tidak mempermainkannya, aku juga mencintainya. Tapi..."
Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak bisa menikah dengannya."
"Kenapa?"
Tanya Kim siauw suseng dengan kening berkerut.
"Cobalah pikir, kalau aku menikah dengannya, apa pula yang akan terjadi pada dirinya?"
Sahut Keu Hun Bijin.
"Maaf, Bijin Aku tidak tahu."
"Kini dia pasti sudah tua renta, sedangkan aku masih tetap muda. otomatis dia akan hidup tersiksa, bukan?"
"oooh"
Kim siauw suseng mengangguk.
"Kalau begitu, Bijin tidak mempermainkannya"
"Tidak salah."
Kou Hun Bijin menghela nafas.
"Pada waktu itu, aku sarankan padanya berusaha cari semacam buah aneh yang dapat membuat orang awet muda..."
"Guruku memang berhasil memperoleh buah aneh itu, tapi..."
Kim siauw suseng menggelenggelengkan kepala.
"Guruku terpagut ular yang sangat berbisa akhirnya mati. sebelum menghembuskan nafas penghabisan, beliau memberikan buah aneh itu kepadaku."
"Engkau yang makan buah aneh itu, maka jadi awet muda?"
Tanya Kou Hun Bijin.
"Ya."
Kim siauw suseng mengangguk.
"Guru yang menyuruhku makan. Kalau tidak. aku tidak berani makan."
"Kasihan gurumu"
Kou Hun Bijin menghela nafas.
"Gara-gara aku menyarankan begitu, dia mati dipagut ular berbisa"
"Bibi"
Lim Ceng Im menatapnya seraya bertanya.
"Bibi ke mari mencari Kakak Hiong?"
"Benar."
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Apakah dia berada di sini?"
"Dia sudah berangkat ke Hong Lay san,"
Sahut Lim Ceng Im dan bertanya.
"Bibi mau menyampaikan apa kepadanya?"
"Tentang Tan Li cu."
"Bagaimana kakak Li Cu?"
Tanya Lim Ceng Im cepat.
"Dia berhasil membunuh Liu siauw Kun?"
"Ya."
Kou Hun Bijin mengangguk.
"Dia telah berhasil membunuh pemuda jahat itu."
"Lalu Kakak Li Cu ke mana?"
"Ke Gunung Hong Lay san, cie Hiong pasti bertemu dia di sana. Nah, aku sudah menyampaikan itu. sekarang aku mau pamit"
"Bibi mau ke mana? Lebih baik menginap di sini saja"
Ujar Lim Ceng Im.
"Gadis cantik"
Kou Hun Bijin tersenyum.
"Aku tidak boleh menginap di sini Iho"
"Kenapa?"
Lim Ceng Im heran.
"Akan menyusahkan semua orang di sini,"
Sahut Kou Hun Bijin.
"Nah, sampai jumpa"
"Bibi..."
Seru Lim Ceng Im memanggilnya. Namun Kou Hun Bijin telah melesat pergi, namun sayup-sayup masih terdengar suara sahutannya.
"Ceng Im Cie Hiong pemuda baik, jujur dan setia, engkau pasti bahagia bersamanya...."
"Bibi...."
"Nak Dia sudah pergi, percuma engkau memanggilnya lagi,"
Ujar Lim Peng Hang, kemudian bergumam.
"Aku tidak menyangka, Kou Hun Bijin berhati begitu baik."
"Dia memang berhati baik, berhati baik,.."
Sahut Kim siauw suseng seperti bergumam.
"Celaka"
Seru sam Gan sin Kay mendadak.
"Kim siauw suseng jatuh hati kepadanya, sungguh celaka"
"Itu tidak celaka,"
Sahut Tui Hun Lojin.
"Kou Hun Bijin awet muda, Kim siauw suseng juga awet muda. Mereka berdua... sungguh merupakan pasangan yang serasi Ha ha ha"
"setan tua"
Kim siauw suseng melolot.
"Kalian jangan omong sembarangan Kalau Kou Hun Bijin dengar, kalian pasti celaka."
"sastrawan sialan"
Ujar sam Gan sin Kay sambil tertawa.
"Aku dan setan tua bersedia jadi perantara. Ha ha ha..."
"Pengemis bau Engkau..."
Wajah Kim siauw suseng memerah.
"Jangan bergurau yang bukanbukan"
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay dan Tui Hun Lojin terus tertawa, sedangkan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang sambil tersenyum-senyum.
Bab 76 Bu Tek Pay menyerang Kay Pang Sementara itu, Tio Cie Hiong telah tiba di Hong Lay san.
It sim sin Ni memberitahukannya, bahwa Tan Li Cu berhasil membunuh Liu siauw Kun atas bantuan Kou Hun Bijin.
Mendengar itu, Tio Cie Hiong manggut-manggut, kemudian memandang It sim sin Ni seraya bertanya.
"Nek, Li cu berada di mana sekarang?"
"Berada di ruang meditasi."
It Sim sin Ni memberitahukan.
"Kini dia telah resmi jadi biarawati, dan tidak mau bertemu siapa pun."
"Kalau begitu, aku tidak perlu menemuinya,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Aku tidak mau mengganggu ketenangannya."
"omitohud"
Ucap Tayli Lo Ceng.
"Aku tidak menyangka engkau bertemu Kou Hun Bijin, bahkan dia menganggapmu sebagai adik pula. Itu sungguh di luar dugaan"
"Lo Ceng kenal Kou Hun Bijin?"
Tanya Tio Cie Hiong.
"Kenal."
Tayli Lo Ceng mengangguk.
"Dia memang cantik sekali, dan juga awet muda, hanya saja tidak mau menikah."
"Lo Ceng tahu mengenai riwayat hidupnya?"
"Tidak tahu. Engkau tahu?"
"Dia telah menceritakan kepadaku..."
Tutur Tio Cie Hiong kemudian menambahkan.
"Kami pun telah bertanding. Dia memiliki Giok Li Sin Kang."
"Li Cu telah menceritakan itu omitohud"
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Engkau memang berhati bajik, Kalau tidak. kini Kou Hun Bijin pasti sudah berubah tua."
"Lo Ceng, pada waktu itu aku merasa tidak tega. Karena itu, aku segera menarik kembali Kan Kun Taylo sin Kang."
"Engkau juga terluka karenanya?"
Tayli Lo Ceng tersenyum lagi.
"Namun engkau masih memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang, bahkan juga dua kali makan buah Kiu Yap Ling che, maka engkau cuma menderita luka ringan saja."
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk. lalu memandang Tio Hong Hoa seraya bertanya.
"Bagaimana latihan Kakak. sudah ada kemajuan?"
"Maksudmu ilmu pedang Liong Hong Hap It Kiam Hoat?"
Tio Hong Hoa balik bertanya. Tio Cie Hiong mengangguk.
"Adik Cie Hiong"
Tio Hong Hoa tersenyum.
"Kami telah berhasil menguasai ilmu pedang itu."
"Bagus"
Tio Cie Hiong manggul-mangguL kemudian memandang Tio Tay seng seraya bertanya.
"Paman sudah punya suatu rencana?"
"Rencana untuk memberantas Bu Tek Pay?"
"Ya, Paman."
"Menurut paman...,"
Tio Tay seng berpikir sejenak lalu melanjutkan.
"Lebih baik kita tunggu perkembangannya lagi, sebab kita tidak boleh bertindak ceroboh, sebab itu akan merugikan kita semua."
"Ya, Paman."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan kembali ke markas pusat Kay Pang."
"Nak"
Tio Tay seng tersenyum.
"Engkau tinggal di sini dulu, lihat bagaimana perkembangan selanjutnya.Jadi engkau tidak usah ke sana ke mari."
"Tapi...."
"Paman tahu, engkau pasti merasa berat berpisah dengan Ceng Im. Maka engkau tinggal di sini beberapa hari, setelah itu barulah engkau kembali ke markas pusat Kay Pang."
"Baik, Paman."
Tio Cie Hiong menurut.
la justru tidak tahu sama sekali, akan terjadi sesuatu di markas pusat Kay Pang.
Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin duduk di ruang tengah dengan wajah serius, bahkan kening mereka tampak berkerut-kerut.
"Heran"
Gumam Tang Hai Lo Mo.
"Kenapa Siauw Kun belum pulang?"
"Mungkin Kou Hun Bijin telah bertemu dia, mereka lalu bersenang-senang sehingga membuat Siauw Kun lupa pulang,"
Sahut Thian Mo menduga.
"Mungkin dan tidak,"ujar Te Mo.
"Aku malah khawatir telah terjadi sesuatu atas dirinya."
"Itu yang dikuatirkan,"
Sela siluman Gemuk dan menambahkan.
"Karena Kou Hun Bijin tidak mungkin akan bersenang-senang dengan dia. Walau Kou Hun Bijin kelihatan genit, namun tidak pernah berbuat begitu."
"Benar,"
Sahut siluman Kurus.
"Kami tahu jelas tentang itu."
"Memang tidak salah,"
Sambung Kwan Gwa Lak Kui.
"Kami juga tahu jelas mengenai itu, Kou Hun Bijin tidak pernah berbuat begitu."
"Tapi...."
Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.
"Kenapa siauw Kun belum pulang? Benar-kah telah terjadi sesuatu alas dirinya?"
"Bagaimana kalau kita suruh beberapa orang untuk mencarinya?"
Usul Thian Mo.
"Boleh juga..."
Ucapan Tang Hai Lo Mo terputus, karena melihat salah seorang anggotanya masuk. Ternyata orang yang diutus menyamar sebagai pengemis untuk memata-matai Kay Pang pusat.
"Lapor pada Ketua...,"
Ujar orang itu sambil memberi hormat.
"Aku telah memperoleh informasi."
"Informasi apa?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Dua malam lalu, sai Pi Lo Kay mabuk sehingga aku berhasil memancingnya. Dia bilang pernah melihat lelaki yang membawa monyet berada di dalam markas pusat Kay Pang. Kelihatannya mereka merundingkan sesuatu."
"oh?"
Betapa gusarnya Tang Hai Lo Mo.
"Ternyata Kay Pang punya hubungan dengan lelaki itu Bagus, bagus Itu membuktikan pihak Kay Pang mulai menentang kita"
"Kalau begitu, kita bumi hanguskan saja markas pusat Kay Pang"
Ujar Thian Mo.
"Ng"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Kita memang harus memusnahkah markas pusat kay Pang"
"Benar."
Te Mo mengangguk. kemudian bertanya pada orang itu.
"Apakah masih ada informasi lain?"
"Ada."
Orang itu mengangguk sekaligus memberitahukan.
"Di belakang markas pusat itu terdapat sebuah pintu rahasia, kemungkinan besar mereka akan kabur melalui pintu rahasia itu"
"Bagus"
Te Mo tertawa.
"Karena engkau telah berjasa, maka akan kami naikkan kedudukanmu. sekarang engkau boleh pergi beristirahat dulu."
"Terima kasih, Ketua"
Ucap orang itu sambil memberi hormat lalu pergi.
"Bagaimana rencana kita sekarang?"
Tanya Tang Hai Lo Mo sambil memandang Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui.
"Kita serang saja markas pusat Kay Pang,"
Sahut Kwan Gwa siang Mo.
"Benar,"
Sela Kwan Gwa Lak Kui.
"Mari kita serang mereka sekarang, jangan sampai ada yang lolos"
"Ngmm"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggul.
"Kini di markas pusat Kay Pang cuma terdapat Bu Lim Ji Khie, Lim Peng IHang, Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong. Kita harus bunuh mereka semua, tapi Lim Ceng Im harus ditangkap hidup-hidup."
"Kalau begitu, biar kami yang pergi melaksanakan tugas ini,"
Ujar Kwan Gwa Siang Koay.
"Begini,"
Ujar Thian Mo serius.
"Kwan Gwa Lak Kui dan Ang Bin Sat Sin menyerang dari depan, sedangkan siang Koay menunggu di belakang markas, agar tiada seorang pun yang dapat meloloskan diri."
"Bagus, bagus"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.
"Nah, kapan kalian akan berangkat ke sana?"
"Sekarang,"
Sahut Kwan Gwa Siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat Sin serentak.
"Baik."
Tang Hai Lo Mo mengangguk^ "Bawa juga lima puluh orang yang berkepandaian tinggi, para anggota Kay Pang harus dibantai semua"
"Ya."
Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui mengangguk. lalu tertawa gelak.
"Ha ha ha..."
Salah seorang anggota Kay Pang melesat memasuki markas dengan wajah pucat pias, sudah barang tentu mengejutkan Bu Lim Ji Khie dan lainnya.
"Ada apa?"
Tanya Sam Gan Sin Kay.
"Celaka, Tetua"
Sahut anggota Kay Pang itu.
"Pihak Bu Tek Pay sedang menuju ke mari."
"Apa?"
Betapa terkejutnya Sam Gan sin Kay.
"Jangan-jangan mereka sudah tahu tentang Tio Cie Hiong?"
"Ayah, kita harus bagaimana?"
Tanya Lim Peng Hang cemas.
"Siapa saja yang menuju ke mari?"
Tanya sam Gan sin Kay kepada anggota Kay Pang itu.
"Kwan Gwa Lak Kui, Ang Bin sat sin dan puluhan anggota Bu Tek Pay,"
Sahut Anggota Kay Pang itu memberitahukan.
"Cepat sampaikan perintah ku kepada semua anggota yang berada di sini, jangan melawan, harus segera meninggalkan tempat ini"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Ya, Tetua."
Anggota Kay Pang itu sebera melesat ke luar.
"Ayah, kita harus bagaimana?"
Tanya Lim Peng Hang lagi karena sam Gan sin Kay tidak menjawabnya.
"Peng Hang"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Cepat suruh Ceng Im kabur melalui pintu belakang"
"Ada apa, Kakek?"
Tanya Lim Ceng Im yang baru muncul. Gadis itu merasa heran karena mereka tampak gugup.
"Ceng Im Pihak Bu Tek Pay menuju ke mari, engkau harus segera pergi melalui pintu belakang"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Lebih baik kita lawan saja, Kek,"
Ujar Lim Ceng Im.
"Yang ke mari adalah Kwan Gwa Lak Kui dan Ang Bin sat sin, jadi kita masih tidak kuat menghadapi mereka. Engkau harus segera pergi"
Bentak sam Gan sin Kay.
"Lalu bagaimana dengan Kakek. ayah dan lainnya?"
Tanya Lim Ceng Im cemas.
"Kami masih bisa meloloskan diri,"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Engkau tidak usah memikirkan kami"
"Nak Cepatlah engkau pergi Kalau terlambat, engkau akan celaka"
Desak Lim Peng Hang.
"Engkau harus langsung menuju ke Gunung Hong Lay san"
"Ya."
Lim Ceng Im berlari ke dalam, namun siapa pun tidak menyangka kalau Kwan Gwa siang Koay sudah menunggu di belakang markas.
"Pengemis bau, apakah kita harus melawan mereka sampai titik darah penghabisan?"
Tanya Kim siauw suseng.
"Aku pikir tidak perlu,"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Kita harus berusaha meloloskan diri"
"Pengemis bau"
Tegur Tui Hun Lojin.
"Kenapa engkau jadi pengecut?"
"Aku bukan pengecut, hanya tidak menghendaki kita mati sia-sia di sini,"
Ujar sam Gan sin Kay sungguh-sungguh.
"Kita semua harus pergi ke Gunung Hong Lay san, maka harus menggunakan Kiu Kiong san Tian Pou untuk meloloskan diri"
"Benar."
Kim siauw suseng manggut-manggut.
"Kita pun harus berpencar kemudian berkumpul di Gunung Hong Lay san."
"Baik."
Sam Gan sin Kay mengangguk.
"Kalau begitu, mari kita ke luar menyambut mereka"
Mereka sebera melesat ke luar. Di saat itu terdengarlah suara tawa yang terkekeh di luar, ternyata Kwan Gwa Lak Kui dan Ang Bin sat sin sudah sampai di situ "Ada urusan apa kalian ke mari?"
Tanya sam Gan sin Kay.
"Pengemis baur bentak Tiau Am Kui.
"Kau kira kami tidak tahu, kalian di sini punya hubungan dengan lelaki yang membawa monyet putih? Itu pertanda kalian mulai menentang kami, maka hari int kalian harus mampus semua"
"Ha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Kalian kira kami begitu gampang mampus di tangan kalian? Ha ha ha...."
"Mungkin kalian yang akan mamcus di sini"
Ujar Kim siauw suseng.
"Benar"
Sambung Tui Hun Lojin.
"Mereka pasti mati di sini"
"Apa?"
Bukan main gusarnya Kwan Gwa Lak Kui dan Ang Bin sat sin.
"Kalau begitu, sambutlah serangan kami"
Kwan Gwa Lak Kui dan Ang Bin sat sin mulai menyerang mereka.
seketika terjadilah pertarungan yang sangat seru.
Kwan Gwa Lak Kui menggunakan ilmu pukulan Ku Lu Ciang Hoat, Bu Lim Ji Khie dan lainnya menangkis dengan ilmu pukulan Kan Kun ciang Hoat, sekaligus berkelit dengan ilmu Kiu Kiong san Tian Pou.
Sementara Ang Bin sat sin hanya menonton, berselang beberapa saat kemudian mendadak ia melemparkan sesuatu ke bawah.
Daar Terdengar suara ledakan dan asap pun mengebul.
"Awas asap beracun"
Seru sam Gan sin Kay. Mereka cepat-cepat menutup pernafasan. Akan tetapi, di saat bersamaan Kwan Gwa Lak Kui juga melancarkan serangan dengan gencar sekali.
"Pergunakan Kiu Kiong san Tian Pou untuk meloloskan diri"
Seru sam Gan sin Kay lagi.
Sedangkan Ang Bin sat sin terus melemparkan bom asap beracun.
Bu Lim Ji Khie dan lainnya tidak bisa mengerahkan lweekang, karena sedang menahan nafas.
Maka, mereka terpukul oleh Kwan Gwa Lak Kui, sehingga mengalami luka yang cukup parah.
Oleh karena itu mereka segera menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou untuk meloloskan diri.
"Jangan sampai mereka lolos"
Teriak Tiau Am Kui.
Namun Bu Lim Ji Khie dan lainnya sudah tidak kelihatan.
Betapa gusarnya Kwan Gwa Lak Kui.
sudah barang tentu kegusarannya dilampiaskan kepada para anggota Kay Pang yang tidak cepatcepat kabur.
Sementara itu di Gunung Hong Lay san, tampak Tayli Lo Ceng sedang bersemedi, tiba-tiba padri tua meloncat bangun.
"Lo Ceng,"
It Sim sin Ni heran.
"Kenapa engkau?"
"Telah terjadi sesuatu,"
Sahut Tayli Lo Ceng.
"Karena mendadak aku tidak bisa bersemedi dengan tenang. omitohud...."
"Kira-kira apa yang terjadi?"
Tanya It sim sin Ni menatapnya.
"omitohud Aku tidak tahujelas,"
Sahut Tayli Lo Ceng.
"Kalau bukan di Tayli, pasti di markas pusat Kay Pang."
"Oh?"
It sim sin Ni mengerutkan kening.
"Kalau begitu, pasti di markas pusat Kay Pang."
"Omitohud"
Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Mudah-mudahan semuanya bisa selamat"
Malam harinya, tampak beberapa sosok bayangan berjalan sempoyongan menuju sebuah biara di Gunung Hong Lay san. Mereka adalah Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.
"siapa kalian?"
Bentak kedua murid It sim sin Ni, penjaga biara itu "Kami dari markas pusat Kay Pang,"
Sahut sam Gan sin Kay.
"Tolong beritahukan kepada Cie Hiong, bahwa markas Kay Pang telah diserang Bu Tek Pay"
"Baik,"
Salah seorang biarawati itu segera melesat pergi, dan tak lama kemudian ia sudah kembali bersama Tio Cie Hiong, Tio Tay seng, Tio Lo Toa, Tio Hong Hoa dan Lle Man chiu.
"Kakek pengemis"
Seru Tio cie Hiong.
"Cie Hiong..."
Sahut sam Gan sin Kay lalu terkulai.
"Kakek pengemis"
Tio cie Hiong segera memeriksanya, kemudian menarik nafas lega.
"Cepat papah mereka ke dalam biara"
Setelah berseru, Tio Cie Hiong memapah sam Gan sin Kay. Berselang sesaat, mereka sudah sampai di dalam biara.
"omitohud..."
Ucap Tayli Lo Ceng.
"Ternyata Bu Tek Pay menyerang Kay Pang...."
"Mereka terkena asap beracun dan pukulan beracun."
Tio Cie Hiong memberitahukan sambil mengeluarkan sebuah botol, lalu memberikan obat penawar racun kepada mereka.
Berselang beberapa saat kemudian setelah makan obat penawar racun itu, Bu Lim Ji Khie dan lainnya tampak membaik.
"Cie Hiong, di mana Ceng Im?"
Tanya Lim Peng Hang mendadak.
"Apa?"
Tio Cie Hiong tersentak.
"Adik Im juga ke mari?"
"Ya."
Lim Peng Hang mengangguk.
"Dia lebih dulu ke mari."
"Tapi...."
Wajah Tio Cie Hiong mulai cemas.
"Dia... dia belum sampai di sini."
"Ha ah?"
Lim Peng Hang terkejut.
"Mungkinkah dia kesasar?"
Tio Cie, Hiong mengerutkan kening.
"sebab dia tidak pernah ke mari."
"Mungkin."
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"omitohud Lebih baik kalian beristirahat dulu,"
Ujar Tayli Lo Ceng.
"Besok kalian pasti sembuh."
"Lo Ceng"
Tio Cie Hiong memandangnya.
"Ceng Im...."
"Tenang"
Sahut Tayli Lo Ceng, lalu berkata kepada muridnya.
"Man chiu, pergilah kau ke kaki gunung, cari Lim Ceng Im"
"Ya, Guru."
"Kakak Chiu, aku ikut"
Ujar Tio Hong Hoa. Lie Man chiu tidak berani langsung bilang boleh, melainkan memandang gurunya.
"Man chiu, dia boleh ikut,"
Tayli Lo Ceng manggut-manggut.
"Terima kasih, Guru"
"Terima kasih, Lo Ceng"
Lie Man chiu dan Tio Hong Hoa segera melesat pergi, sedangkan Tio Cic Hiong berdiri termangu-mangu.
"Nak"
TioTay Seng memegang bahunya.
"Engkau harus tenang"
"Ya, Paman."
Tio Cie Hiong mengangguk, namun bagaimana mungkin ia bisa tenang?
Setelah larut malam, barulah Lie Man chiu dan Tio Hong Hoa pulang.
Mereka berdua menggeleng-gelengkan kepala, pertanda tidak menemukan Lim Ceng Im.
"Aaakh..."
Tio Cie Hiong langsung menghela nafas.
"Kalau begitu, aku harus pergi cari dia."
"Sabar"
Cegah Tayli Lo Ceng.
"Tunggu beberapa hari, barulah engkau pergi cari dia "Tunggu beberapa hari?"
Tio Cie Hiong terbelalak.
"Mungkin ceng Im sudah jadi mayat"
"Tenang"
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Itu tidak akan terjadi."
"Tapi...."
Tio Cie Hiong berjalan mondar-mandir.
"Percayalah"
Tayli Lo Ceng tersenyum lagi.
"Ceng Im tidak akan terjadi apa-apa."
"Lo Ceng"
It sim sin Ni mengerutkan kening.
"Yakinkah itu?jangan main-main Iho"
"sin Ni"
Sahut Tayli Lo Ceng.
"Ini masalah serius, bagaimana mungkin aku main-main?"
"Kalau begitu..."
It sim sin Ni menatap Tio Cie Hiong.
"Cucuku, engkau tenanglah"
"Ya, Nek"
Tio cie Hiong mengangguk. Sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang tampak agak tenang, karena Tayli Lo Ceng mengatakan begitu.
"Heran?"
Gumam Tio Tay seng.
"Kenapa mendadak Bu Tek Pay menyerang markas pusat Kay Pang? Apakah Bu Lim sam Mo telah mengetahui tentang cie Hiong?"
"Hm"
Dengus sam Gan sin Kay.
"Aku yakin ada mata-mata dalam pihak Kay Pang."
"Benar."
Kim siauw Suseng mengangguk.
"Kalau tidak, bagaimana mungkin mendadak Bu Tek Pay menyerang kita?"
"Siapa mata-mata itu?"
Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Sudah pasti mata-mata itu membaurkan diri dengan para anggota kita,"
Sahut Sam Gan sin Kay.
"Kita memang kurang hati-hati, akhirnya jadi begini."
"Untung kita masih bisa meloloskan diri,"
Sela Tui Hun Lojin.
"Kalau mereka tidak menggunakan bom asap beracun, kita masih dapat melawan mereka,"
Ujar Kim siauw suseng.
"Eh?"
Tiba-tiba Gouw Han Tiong teringat sesuatu.
"Mungkinkah ada yang melihat Kou Hun Bijin ke markas, maka Bu Lim sam Mo mengutus Kwan Gwa Lak Kui, Ang Bin sat sin dan para anggota Bu Tek Pay menyerang kita?"
"Agak tipis kemungkinannya,"
Sahut Lim Peng Hang.
"Lebih mungkin mata-mata itu melihat Tio Cie Hiong memasuki markas."
"Itu memang mungkin."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut dan mendadak tersentak.
"Kalau ada mata-mata di markas pusat kita, tentunya tahu ada pintu rahasia di belakang markas."
"Celaka"
Seru Lim Peng Hang cemas.
"Kita tidak melihat Bu Lim sam Mo atau Kwan Gwa siang Koay. Jangan-jangan mereka menunggu di belakang markas? Jadi Ceng Im tertangkap mereka."
"Celaka"
Sam Gan sin Kay juga mulai cemas.
"Kalau Ceng Im tertangkap oleh mereka...."
"Omitohud"
Ucap Tayli Lo Ceng.
"Kalian semua tenang saja Percayalah"
"Lo Ceng, kalau Ceng Im ditangkap mereka, sudah barang tentu Cie Hiong yang akan celaka,"
Ujar Tui Hun Lojin.
"Tenang Pokoknya kalian tenang saja"
Sahut Tayli Lo Ceng.
"Tidak akan terjadi apa-apa atas diri Ceng Im, percayalah"
"Lo Ceng"
It sim sin Ni menatapnya tajam.
"sin Ni"
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Engkau tidak mempercayai apa yang kukatakan?"
"Baik."
It sim sin Ni mengangguk.
"Aku percaya Tapi... apabila terjadi sesuatu atas diri Ceng Im, bagaimana engkau?"
"omitohud"
Ucap Tayli Lo Ceng.
"Itu terserah sin Ni, aku bersedia diapakan juga."
"Bagus"
It sim sin Ni manggut-manggut.
"Lo Ceng, jangan lupa akan ucapanmu ini"
"Jangan khawatir Aku tidak akan lupa. omitohud...."
"Lo Ceng...."
Tio Cie Hiong tetap tidak bisa tenang.
"Bagaimana kalau aku pergi ke markas Bu Tek Pay?"
"cie Hiong"
Sahut Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh.
"Apabila engkau muncul di sana, engkau dan ceng Im pasti mati. Nah, terserah padamu, mau ke sana atau mau tunggu di sini."
"Lo Ceng..."
Ucapan Tayli Lo Ceng membuat Tio Cie Hiong serba salah.
"Cucuku"
Panggil It sim sin Ni.
"Biar bagaimana pun engkau harus tenang dan sabar Lo Ceng sudah mengatakan begitu, engkau harus percaya"
"cie Hiong"
Sambung Lim Peng Hang sambil tersenyum getir.
"Kita memang harus tenang dan sabar, bahkan engkau harus berpikir panjang.jangan sampai terulang kejadian dua tahun yang lampau."
"Paman...."
Mata Tio Cie Hiong mulai basah.
"Aku tidak habis pikir, kenapa masih ada cobaan ini? Kenapa...?"
"omitohud"
Ucap Tayli Lo Ceng.
"penderitaan justru merupakan awal dari suatu kebahagiaan...."
"Omong kosong"
Sahut sam Gan sin Kay mendadak.
"seandainya cucuku itu mati, apakah juga merupakan awal suatu kebahagiaan?"
"omitohud"
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Mati dan hidup memang sudah ditakdirkan. Kalau belum takdirnya mati, pasti akan muncul penolong. seandainya sudah takdirnya mati, selagi makan pun bisa mati mendadak."
"Lo Ceng, aku tidak mengerti akan itu,"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Yang kulihat hanya berdasarkan kenyataan."
"Kalau begitu, apakah kini cucumu telah mati?"
Tanya Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.
"Entahlah."
Sam Gan sin Kay menggelengkan kepala.
"Entah itu menandakan belum pasti, lalu kenapa engkau sudah menduga yang buruk atas diri cucumu?"
Tayli Lo Ceng menatapnya.
"Kalau cucuku tertangkap oleh Bu Lim sam Mo, apakah dia masih bisa hidup?"
Tanya sam Gan sin Kay.
"Itu kalau. Baik, aku pun menggunakan "kalau"
Cucumu tertangkap oleh Bu Lim sam Mo, dia pasti masih hidup,"
Sahut Tayli Lo Ceng.
"Aaakh..."
Sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku jadi bertambah pusing."
"Kalau begitu..."
Tayli Lo Ceng tersenyum.
"Jangan memusingkan itu, agar engkau bisa tenang omitohud...."
Sementara Tio Cie Hiong terus menghela nafas panjang, kemudian melangkah ke luar. Seberalah Tio Hong Hoa dan Lie Man chiu mengikutinya.
"Adik Cie Hiong"
Panggil Tio Hong Hoa.
"Engkau jangan terlampau cemas, aku yakin Ceng Im tidak akan terjadi apa-apa"
"Kak...."
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala, lalu menengadahkan kepalanya sambil memandang ke langit.
"Hingga saat ini aku tidak habis pikir, kenapa hidupku penuh cobaan? PadahaL.. aku tidak pernah berbuat dosa."
"saudara Tio"
"Lie Man chiu memegang bahunya seraya berkata.
"Biasanya orang baik justru banyak cobaan. Kalau iman tidak kuat dan hati tidak teguh, tentu akan berubah menjadi jahat."
"Kalau dipikir-pikir...,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil menghela nafas panjang.
"Lebih baik aku jadi orang jahat. sebab kalau waktu itu aku membunuh Bu Lim sam Mo, tentunya tidak akan muncul kejadian ini."
"Memang. Namun...."
Lie Man chiu menatapnya.
"Mungkin akan muncul kejadian lain ya lebih fatal dari ini."
"Aaakh..."
Tio Cie Hiong menghela nafas panjang lagi.
Di saat bersamaan, mendadak monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio Cie Hiong meloncat turun, lalu bercuit-cuit sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri "Kauw heng Engkau suruh aku tenang?"
Monyet bulu putih itu manggut-manggut.
"Maksudmu Ceng Im tidak akan terjadi apa-apa?"
Monyet bulu putih itu manggut-manggut lagi.
"Kauw heng, engkau memiliki panca indera keenam maka tahu tentang itu?"
Monyet bulu putih itu bercuit tiga kali, kemudian meloncat ke atas bahu Tio cie Hiong lagi.
"saudara Tio"
Lie Man chiu tersenyum.
"Guruku mengatakan begitu, monyet sakti ini pun menyatakan yang sama. oleh karena itu, engkau harus tenang dan percaya"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Mudah-mudahan begitu"
Bab 77 Muncul penolong Di dalam markas Bu Tek Pay tampak Bu Lim sam Mo tertawa gelak, mereka bertiga kelihatan gembira sekali.
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo terus tertawa, kemudian berkata.
"Walau Bu Lim Ji Khie dan lainnya dapat meloloskan diri, namun mereka telah terluka."
"Bahkan...,"
Sambung Thian Mo.
"siang Koay pun berhasil menangkap Lim Ceng Im. Kita siksa gadis itu agar dia memberitahukan kepada kita, Bu Lim Ji Khie dan lainnya bersembunyi di mana. Aku yakin gadis itu pasti tahu."
"Benar."
Te Mo manggut-manggut.
"Bawa tahanan itu ke mari"
Seru Tang Hai Lo Mo memberi perintah. Tak lama kemudian dua anggota Bu Tek Pay membawa Lim Ceng Im, yang mangan dan kakinya dirantai ke ruang tersebut. Bagian 44
"Hei"
Bentak Tang Hai Lo Mo.
"Engkau harus beritahukan kepada kami, Bu Lim Ji Khie dan lainnya bersembunyi di mana Kalau engkau tidak beritahukan, mukamu pasti kami rusak"
"Aku tidak tahu,"
Sahut Lim ceng Im.
"Engkau tidak mau beritahukan?"
Thian Mo melotot.
"Tidak takut kami akan merusak wajahmu yang cantik itu?"
"Hm"
Dengus Lim ceng Im dingin.
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.
"Jangan keras kepala, kalau engkau beritahukan, kami pasti melepaskanmu"
"Aku memang tidak tahu."
Lim ceng Im tetap tidak mau memberitahukan.
"Kalau aku tahu, sudah kuberitahukan. Siapa tidak mau bebas sih?"
"Ha ha"
Thian Mo tertawa.
"Gadis cantik, engkau cukup cerdik Tapi Jangan harap bisa membohongi kami"
"Kalian tidak percaya, aku mau bilang apa?"
Lim ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagus, bagus Aku ingin tahu berapa lama engkau akan keras kepala"
Ujar Tang Hai Lo Mo dan berseru.
"cepat siapkan sebatang besi panas"
"Ya,"
Sahut salah seorang anggota Bu Tek Pay. Berselang sesaat, ia sudah membawa sebatang besi yang membara.
"Nah Pikir baik-baik"
Ujar Tang Hai Lo Mo sekaligus mengancam.
"Apabila engkau tidak beritahukan, batang besi yang membara ini akan merusak wajahmu"
Lim Ceng Im diam saja, namun sudah ketakutan sekali dalam hati, wajahnya pun pucat pias.
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak sambil menghampirinya.
"Kutegaskan, apabila engkau tidak beritahukan, wajahmu pasti rusak"
"Aku... aku sungguh tidak tahu...."
"oh? Kalau begitu wajahmu pasti rusak"
Tang Hai Lo Mo tertawa terkekeh, lalu mengambil besi yang membara itu, sekaligus disodorkan ke wajah Lim Ceng Im.
"Jangan Jangan..."
Jerit gadis itu.
"Engkau harus beritahukan Cepaat"
Bentak Tang Hai Lo Mo.
"Aku... aku tidak tahu...."
Lim Ceng Im menggeleng kepala. Tampak air matanya telah meleleh.
"Hm"
Dengus Tang Hai Lo Mo dingin.
"Baik, aku terpaksa harus merusak wajahmu"
Tang Hai Lo Mo kelihatan tidak main-main. Besi yang membara itu semakin dekat ke wajah Lim Ceng Im.
"Jangan Jangan...
"jerit Lim Ceng Im ketakutan.
"Ha ha ha"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. Di saat bersamaan, terdengarlah suara bentakan nyaring yang menusuk telinga.
"Berhenti"
Tiba-tiba melayang turun seseorang, yang tidak lain Kou Hun Bijin. wanita itu menatap Tang Hai Lo Mo dengan dingin sekali.
"Bijin...."
Bu Lim sam Mo dan lainnya terkejut.
Mereka tidak menyangka Kou Hun Bijin akan muncul.
Sedangkan Lim Ceng Im diam saja, tidak berani berteriak minta tolong kepada Kou Hun Bijin, sebab gadis itu tetap menjaga rahasia.
"Hmm"
Dengus Kou Hun Bijin dingin, kemudian mendekati Lim Ceng Im, sekaligus memutuskan rantai yang mengikat kaki dan tangannya.
"Bijin...."
Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.
"Bu Lim sam Mo"
Bentak Kou Hun Bijin.
"Kalian sungguh pengecut, hanya berani terhadap gadis kecil Aku mau menolongnya, kalau kalian merasa tidak senang, boleh mengeroyokku"
"Bijin...."
Bu Lim sam Mo saling memandang, begitu pula Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui. siang Koay dan Lak Kui tampak serba salah, sedangkan Ang Bin sat sin diam saja.
"Bijin"
Ujar Tang Hai Lo Mo dengan kening berkerut.
"Sebetulnya aku tidak bermaksud merusak wajahnya, hanya menakutinya agar dia memberitahukan tempat persembunyian Bu Lim Ji Khie dan lainnya."
"Betulkah begitu?"
"Betul, Bijin."
"Kebetulan aku tahu mereka bersembunyi di mana, dan aku akan memberitahukan kepada kalian Tapi aku harus membawa pergi gadis ini, kalian tidak berkeberatan, kan?"
"Itu...."
Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening lagi.
"Kenapa Bijin ingin membawanya pergi?"
"Hi hi hi"
Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Tentunya kalian semua tahu, hingga saat ini aku belum punya murid...."
"oooh"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Ternyata Bijin ingin menerimanya sebagai murid"
"Tidak salah."
Kou Hun Bijin mengangguk. kemudian mendekati Tang Hai Lo Mo dan berbisik.
"Bu Lim Ji Khie dan lainnya bersembunyi di Gunung Hong Lay san, di sana terdapat sebuah biara."
"Bijin tidak membohong?"
Tang Hai Lo Mo kurang percaya.
"Apa?"
Kou Hun Bijin melotot.
"Engkau tidak mempercayaiku? Kurang ajar Baik, apabila aku bohong, engkau boleh ambil nyawaku"
"Kalau begitu, aku percaya."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Bijin boleh menerima gadis ini sebagai murid."
"Hi hi Hi"
Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Tang Hai Lo Mo, terima kasih atas kebaikanmu"
Mendadak Kou Hun Bijin menowel pipinya, setelah itu barulah mengajak Lim Ceng im pergi.
Tang Hai LoMo berdiri mematung di tempat, kemudian mengusap-usap pipinya dan dicium pula tangannya yang mengusap pipinya itu.
"Ha ha ha"
Kwan Gwa siang Koay tertawa.
"Masih tercium bau tangannya?"
"Haaah..."
Wajah Tang Hai Lo Mo memerah seketika.
"Aku...."
Baca Juga: Mutiara Hitam 4
Baca Juga: Jodoh Rajawali 3