Ceritasilat Novel Online

Pedang Dan Kitab Suci 9

Eps 9 Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung

Baca online Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung

Cersil Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung.

"Bagaimanakah pertanggungan jawabku dihadapan sahabat 2 Hong Hwa Hwe nanti?" -Ciauw Cong men jawab. 'Terhadap gerombolan pemberontak semacam itu, mengapa Suheng mau berlaku sungkan 2?' -Mendadak terdengar 'Creng'. Karena kuduga Ma-totiang menCabut pokiamnya, maka Buru-buru kumengintipnya lagi. Memang benar, saat itu Ma-totiang tengah menyoren pedang, rnukanya tampak bengis sekali, dan memakinya. 'Kau masih ingat atau tidak, apapesan Suhu? Bukan saja kau murtad membelakangi titah Suhu, tapi pun menyual diri pada pemerintah Boan, menjadi kaki tangannya. Sungguh hina dina! Mari, kau adu jiwa dulu dengan aku!? -Itu waktu Cap-ji-te unyukkan jempolnya padaku, dia puji keperwiraan Ma totiang. Tampak Ciauw Cong mengalah. Dia mengelah napas, katanya. 'Kalau Suheng ingin begitu, baiklah, besok aku ikut Suheng ke Ouwpak'. -Lalu Ma-totiang simpan senjatanya, setelah mengucap beberapa kata-kata untuk menghibur hati Sutenya, dia kembali tidur. Bangsat she Thio itu tetap duduk disebuah kursi. Nyata air rnukanya bermuram durja. Tapi pada lain saat, mendadak berobah beringas, penuh dengan hawa membunuh. Begitulah sampai sekian lama, wajahnya selalu berubah, sebentar tenang sebentar beringas. Yang nyata, seluruh tubuhnya senantiasa gemetar. Kami ber 2 ambil putusan akan menunggu sampai dia sudah tidur, baru berlalu, agar jangan sampai ketahuan. -Tapi hampir sejam, tak hendak bangsat itu tidur. Beberapa kali dia berbangkit, tapi selalu duduk lagi. Hampir tak tahan kami menungguinya, namun kami tetap tak berani bergerak.

"Beberapa waktu kemudian, kelihatan sepasang alis bangsat itu tegak keatas, giginya dikatupkan keras-keras. 'Toa-suheng!' tiba-tiba dia kedengaran berkata pelan-pelan . -Tapi rupanya Ma-totiang sudah pulas tidur, karena kedengaran menggeros pelan-pelan . Ciauw Cong berbangkit dan ber-indap 2 menghampiri kearah pembaringan."

Baru saja Jun Hwa berCerita sampai disini, maka men jeritlah Hiang Hiang KiongCu.

Memang Cara Jun Hwa membawakan Ceritanya, penuh dengan ketegangan yang seram.

Sekalipun puteri Ui itu tak mengerti bahasa Han, tapi perasaannya luar biasa tajamnya.

Ia menubruk Tan Keh Lok, untuk menempelkan tubuhnya pada orang muda itu.

Setelah tenang, Jun Hwa akan melanjutkan lagi.

Tapi tiba-tiba dari sebelah atas, kedengaran Ciang Cin me-maki-maki.

"Kawanan Anjing, betul-betul licik!"

Keh Lok dan Thian Hong Cepat-cepat loncat keatas.; Tampak diempat penyuru, api menyala-nyala.

"Biar, digurun sini tak banyak sekali pepohonannya. Sebentar lagi, mereka tentu sudah kehabisan kayu bakar,"

Kata Thian Hong. Habis berkata begitu, dia ajak Congthocunya kembali kebawah dan minta Jun Hwa lanjutkan penuturannya.

"Melihat gerak geriknya, kami merasa Curiga. Tentu akan terjadi hal 2 yang luar biasa,"

Demikian Jun Hwa menyam-bung.

"Dan ternyata memang benarlah! Setiba didekat pembaringan, tiba-tiba dia menubruk kemuka dan secepat-cepat itu pula terus loncat kebelakang. 'Aduh', sesaat itu terdengar Ma-totiang mengeluarkan jeritan yang mengerikan sekali. Dia loncat dari pembaringan. Selebar rnukanya berlumuran darah. Yang paling mengerikan, ke 2 kelopak matanya ternyata sudah Complong. Sepasang biji matanya telah diCukil oleh sang Sute yang berhati serigala itu!"

Sampai disitu, tiba-tiba Keh Lok berjingkrak, tangannya meninyu dinding lubang, hingga pasir dan tanah gempal bertebaran.

"Kalau bangsat itu tidak diCincang , aku bersumpah tak mau jadi orang!"

Teriaknya dengan mengretek gigi.

Sekalipun Thian Hong yang sudah lebih dulu mendengarkan Cerita itu dari Jun Hwa, pun saat itu masih meluap ama rahnya.

Malah yang menCeritakan sendiri, Jun Hwa, saking gemasnya tanpa merasa telah me-remas 2 tangkai Siang-kao yang dipegangnya hingga berbunyi berkeretekan.

"Ma-totiang tak mengucap apa-apa, setindak demi setindak dia hampiri Ciauw Cong. Sikapnya menakutkan sekali."

Demikian Jun Hwa menyambung lagi.

"Dan sekonyong-konyong dia ajun sebelah kakinya, bluk ! Kasihan, bukan sang Sute yang kena, melainkan pembaringan yang terbuat dari batu itu rompal separoh. Siang 2 Ciauw Cong sudah loncat menghindar. Diapun nampak kaget akan ilmu tendangan sang Suheng yang sedemikian dahsyatnya itu. Buru-buru dia berusaha akan lolos dari pintu. Tapi ternyata Ma-totiang Cerdik. Lebih dulu, dia menghadang ditengah 2 pintu, dan memasang pendengarannya hingga Ciauw Cong mati kutu. 'Ha-ha!' tiba-tiba kedengaran dia tertawa keras. Menuruti arah suara tertawa itu, Ma-totiang menerjang dengan mengirim tendangannya yang lihai lagi. Tapi ternyata Ciauw Cong itu, benar-benar manusia serigala. Sengaja dia pikat supaya sang Suheng menendangnya. Dan sebelum itu, dia sudah tanCapkan pedang didepannya. Maka tak ampun lagi, kaki Totiang telah menendang mata pedang itu dan putuslah sebelah kakinya itu!"

Lou Ping menangis ter-isak 2, sementara Ciu Ki berkere tekan giginya dan berulang-ulang hantamkan goloknya kedinding lubang.

"Saat itu aku dan Capji-te tak kuat lagi mengawasi saja,"

Kembali Jun Hwa melanjutkan.

"Kami terobos jen dela terus menerjang bangsat itu. Memang kami bukan tandingannya, namun karena kami sangat kalap dan lagi kuatir kalau kita masih membawa beberapa kawan lagi, setelah beberapa jurus, dia terus kabur. Kami uber dia, tapi dia telah berhasil melukai Capji-te dengan jarum 'hu-yong-Ciam', Buru-buru kutuntunnya kedalam rumah. Bermula hendak kuberikan Totiang obat penCegah pendarahan. Tapi ternyata setelah meninggalkan pesan beberapa patah kata, beliau benturkan diri pada tembok hingga binasa!"

"Apa pesannya itu?"

Tanya Tan Keh Lok.

"Totiang berkata. 'Liok-sute dan Hi Tong, balaskanlah sakit hatiku ini!' -Itu waktu karena ada orang datang menanyakan, Buru-buru kubawa Capji-te pulang kerumah penginapan. Keesokan harinya, ketika kudatang kesana, mereka telah mengubur jenazah Totiang. Capji-te ternyata telah terkena 5 buah 'hu-yong-Ciam', Syukur jarum 2 itu dapat kukeluarkan dengan besi sembrani. Kini dia masih mengaso dirumah penginapan di Pakkhia.

"Turut kata Ciauw Cong, dia diutus kaisar kedaerah Hwe untuk mendapatkan seseorang, timbul ah dugaanku. jangan-jangan akan menCari Suhu dari Congthocu, Wan-Locianpwe? Karena aku teringat akan keteranganmu dulu, 2 macam benda penting yang menyang kut rahasia diri kaisar itu berada ditangan Wan-Locianpwe. Untuk itulah, Congthocu, aku segera bergegas-gegas menuju kemari. Setiba di Holam aku berkunjung pada ketua Liong Bun Pang, karena kudengar kau pernah menyumpai Siangkwan-toako itu. Disana kebetulan aku berjumpa dengan rombongan Bun-suko dan Ji-Hitko. Lalu kami pergi mendapatkan Ie-sipsute. Mendengar kebinasaan Suhunya, Ma-totiang, Ie-sipsute berduka sekali. Begitulah kami beramai segera menyusul kemari. Tak kuduga, kalau kita dapat berjumpa ditempat begini,"

Jun Hwa mengakhiri penuturannya.

"Bagaimana luka Capji-long itu?"

Keh Lok menegas.

"Lukarija Cukup berat, untungnya tidak sampai mengenai bagian yang berbahaya!"

Juga Tan Keh Lok lalu tuturkan pertarungannya dengan Ciauw Cong tadi. Saat itu, hawa malam makin terasa dingin. Orang-orang itu hampir tak tahan. Awan dilangit, tampak ber-lapis 2 saling merapat.

"Ah, salju akan turun!"

Tiba-tiba Hiang Hiang KiongCu berseru. Nampaknya ia merasa dingin, maka makin menempel rapat-rapat pada Tan Keh Lol?. Entah apa sebabnya, mendadak Ciu Ki timbul perasaan antipati terhadap nona Ui itu.

"Apa katanya?"

Tanyanya. Keh Lok agak heran, mengapa Ciu Ki bersikap garang kepada Hiang Hiang. Maka segera diterangkan apa maksud kata-kata sinona itu.

"Huh, darimana dia tahu!"

Kata isteri Thian Hong itu. Dan tak lama pula, dia berpaling memandang Keh Lok, katanya.

"Congthocu, katakanlah terus terang! Sebenarnya kau ini suka sama CiCi Ceng Tong, atau pada dia?"

Keh Lok melengak, tak bisa memberi jawaban sampai beberapa saat. Dia tak duga akan ditanya begitu. Buru-buru Thian Hong jawil ujung baju isterinya, agar jangan ungkat 2 soal itu.

"Kau berani larang aku? CiCi Hwe seorang yang berbudi. Aku tak rela orang mempermainkannya!"

Bentak Ciu Ki pada sang suami.

"Kapan aku mempermainkannya?"

Tanya Keh Lok didalam hati. Tapi dia Cukup ketahui perangai Ciu Ki yang polos itu, dan se-gala 2nya mau minta penyelasan dengan segera.

"Kepandaian nona Hwe tinggi, orangnya pun baik. Kita semua taruh perindahan tinggi padanya,"

Katanya kemudian.

"Habis, mengapa begitu lihat adiknya Cantik, kau lantas lupakan padanya?!"

Tanpa tedeng aling 2 lagi Ciu Ki menyem protnya. Merah padam selebar muka ketua Hong Hwa Hwe itu.

"Congthocu sama seperti kita orang, hanya baru bertemu muka sekali padanya dan belum lama mengenal. Jadi tak lebih dan tak kurang hanya sebagai kawan biasa,"

Lou Ping menengahi pembicaraan. Tapi sinyonya galak itu makin penasaran.

"CiCi Ping, mengapa kau bantu fihaknya? Sekalipun dia itu seorang Congthocu, pun aku akan minta penyelasan."

Selama itu, Hiang Hiang tampak mendengari kesemua pembicaraan dan sikap orang yang mengotot itu. Dalam keadaan itu, terpaksa Keh Lok memberi penyelasan.

"Ia siang 2 sudah mempunyai orang yang dipenujui. Taruh kata aku menaruh hati padanya, tidakkah itu akan sia-siasaja?"

Ciu Ki melengak.

"Benarkah itu?"

Tegasnya.

"Masa aku berjusta padamu,"

Sahut Keh Lok.

"Kalau begitu, lain halnya. Aku tadi salah paham, harap kau jangan taruh dihati."

Semua orang merasa suka dan puji akan sikap yang terus terang dari isteri Thian Hong itu.

Mau mengoreksi tapipun bersedia menerima koreksi.

Kalau tadinya dia memusuhi Hiang Hiang KiongCu, kini berbalik merasa suka dan segera menggandeng tangannya.

Ketika ia mendongak, tiba-tiba berseru girang.

"Omonganmu tadi benar, memang turun salju."

Mendengar itu, Keh Lok loncat berbangkit, serunya.

"Ayo, kita menyerbu.!"

Yang pertama menyambut seruan itu, adalah si Bongkok, siapa terus maju kemuka.

Pasukan Ceng segera menyam butnya dengan anak panah.

Jun Hwa dan Bun Thay Lay berada fdisebelah muka untuk menyapu hujan panah itu untuk memberi kesempatan agar saudara-saudaranya dapat menaikkan kudanya dari lubang.

Fihak musuh pun telah mengetahui gerak-gerik orang-orang Hong Hwa Hwe itu.

Dengan bersorak gemuruh, mereka merubung maju.

Orang-orang Hong Hwa Hwe pada saat itu sudah loncat keatas kudanya.

Jun Hwa keprak kudanya membuka jalan.

Tapi baru kira-kira tiga tombak jauhnya, tiba-tiba dia menjerit roboh.

Bun Thay Lay terkejut, terus keprak kudanya menghampiri.

Tapi kudanya pun segera roboh kena panah.

Beruntung dia dapat loncat kedekat Jun Hwa, siapa itu wak-tupun sudah bangkit.

"Kudaku tadi terpanah, tapi aku sendiri tak kena apa-apa", kata Jun Hwa. Berbareng itu, Ciang Cin dan Lou Ping pun telah datang. Sekali tarik, masing-masing menaikkan Thay Lay dan Jun Hwa keatas kudanya. Tapi pada saat itu, dari belakang terdengar Thian Hong berseru.

"Yangan bergerak, nanti kupondong!"

Lou Ping kaget, ia menoleh kebelakang, dilihatnya dian tara hujan salju itu, Thian Hong tengah memondong sang isteri keatas kuda.

Tampaknya nyonya itu terluka.

Hi Tong menjaga disampingnya dengan memutar kim-tiok.

Tak berselang berapa lama, kuda Sim Hi dan Ciang Cin pun roboh terpanah.

"Balik, balik!"

Seru Keh Lok.

Apa boleh buat, semua orang sama menyelusup kedalam lubang perlindungan lagi.

Secepat-cepat itu, Bun Thay Lay, Hi Tong dan Jun Hwa kerjakan busurnya untuk menghan Curkan pasukan musuh yang mengejar datang.

PerCobaan mereka untuk lolos, gagal.

Malah pundak Ciu Ki kena panah.

Empat ekor kuda, mati terpanah.

Tanpa kuda, rasanya sukar untuk melarikan diri ditengah padang pasir yang luas itu.

Hal mana Cukup di nsyapi oleh orang-orang Hong Hwa Hwe itu.

Mereka tampaknya Cemas.

Thian Hong segera Cabut panah dipundak isterinya.

Meskipun banyak sekali mengeluarkan darah, tapi untung tak berba haja.

Hiang Hiang KiongCu robek bajunya.

lalu balut luka itu dengan hati-hati.

"Ah, kalau sampai tidak ada bantuan, kita tentu binasa disini,"

Lou Ping mengelah napas.

"Rasanya kalau sampai begitu lama Congthocu dan pu terinya tidak kelihatan balik, Bok-loenghiong tentu akan kirim pasukan,"

Kata Thian Hong.

"Ya, aku percaya dia tentu sudah mengirim pasukan itu. Hanya tadi kita mengambil jalan kearah selatan, apalagi jaraknya sudah sedemikian jauh, mungkin seketika pasukan itu tak dapat mengetahuinya,"

Kata Keh Lok.

"Kalau begitu, jalan satu 2nya, kita harus mengutus orang untuk minta bantuan,"

Kata Thian Hong.

"Kasih aku yang pergi!"

Sim Hi berseru dengan serentak.

"Baiklah!"

Sahut Keh Lok setelah berpikir sejenak.

Sim Hi keluarkan kertas dan alat tulis.

Segera Keh Lok minta Hiang Hiang tulis surat minta bantuan.

Selagi begitu, diam-diam Thian Hong merajap keluar dari lubang.

Dia menyeret seorang majat serdadu Ceng, lalu dilucuti pakaiannya dan dipakaikan pada Sim Hi.

"Segera setelah kau dapat menobros keluar, pakaian ini harus kau lepas, agar tidak menerbitkan salah paham orang-orang Ui,"

Pesan Thian Hong.

"Dan naiklah kuda putih dari Su-naynay. Kita nanti akan adakan serangan lagi kejurusan timur, dan kau harus lekas-lekas lolos kejurusan barat,"

Kata Keh Lok.

Sambil ber-sorak 2, kembali orang-orang Hong Hwa Hwe itu menobros keluar.

Dan lagi-lagi pasukan Ceng menghujani panah.

Melihat musuh menumpahkan perhatiannya kesebelah timur, Sim Hi Cepat-cepat menuntun kuda putih.

Muda usianya, tapi anak itu banyak sekali akal.

Tak mau dia naik diatas pelana, hanya menggelantung dibawah perut kuda, dengan ke 2 kakinya di jepitkan kepada binatang itu.

Kuda putih itu segera melesat kearah barat.

Sebagian dari anak buah tentara Ceng Coba menghujani panah, tapi sia-sia.

Ber-tahun 2 lamanya, Keh Lok memperlakukan kacung itu sebagai saudaranya sendiri.

Demi melihat boCah yang masih berusia belasan tahun itu, menempuh bahaya untuk Cari bantuan, hatinya serasa terharu.

Setelah Sim Hi sudah jauh, barulah orang-orang itu balik lagi kedalam lubang persembunyiannya.

Bagaimana.

kuda putih telah selamat keluar dari kepungan musuh, telah membuat mereka terharu gembira.

Keh Lok minta Thian Hong dan Jun Hwa mengaplus Bun Thay Lay dan Hi Tong berjaga diatas.

Bun Thay Lay masih nampak bersemangat.

Turun kebawah, dia nyanyikan lagu rakyat tani didaerah Kanglam.

Sedang isterinya, menyambut pula dengan nyanyian.

Berkata Hiang Hiang KiongCu kepada Keh Lok.

"Kukira kamu orang Han tak pandai menyanyi. Tak kira kalau dapat menyanyi begitu bagus. Apa sih nyanyiannya itu?"

Demi mendengar penyelasan tentang arti nyanyian itu, Hiang Hiang bertepuk tangan memuji.

Diapun Coba menirukan nyanyian itu.

Saat itu, salju makin tebal dibumi.

Se jauh pemandangan mata, hanya selembar bumi yang diselimuti oleh salju putih.

Syukur karena didalam lubang banyak sekali orangnya, hawanya pun hangat.

Apalagi pasirnya kering, Cepat-cepat menghisap air.

Hampir dekat fajar rupanya musuh tak sabar lagi.

Mereka kembali mengadakan serbuan.

Bun Thay Lay cs.

kembali menyapu dengan anak panah.

Hasilnya, berpuluh-puluh 2 orang terhampar dan kemajuan mereka tertahan Tapi rupanya ada 2-tiga puluh orang yang nekad menghampiri kedekat lubang.

Bun Thay Lay dan Kawan-kawan nya loncat keatas untuk me nyambutnya.

Setelah dapat membunuh belasan orang, barulah sisanya sama mundur.

Kembali kedalam lubang, Keh Lok dapatkan Hiang Hiang sudah pulas.

Rambut dan pundaknya penuh dengan salju, sementara mukanya penuh dengan te tesan salju yang menCair.

"Ha, anak ini betul-betul tak menghiraukan apa-apa,"

Lou Ping tertawa. Sebaliknya Thian Hong menyatakan kesalnya, mengapa sampai begitu lama bala bantuan belum datang.

"Entah Sim Hi mendapat halangan tidak diperjalanai ,"

Kata Bun Thay Lay.

"Bukan itu yang kukuatirkan, melainkan lain sebab,"

Sahut Thian Hong.

"Apa itu? Mengapa kau tak berterus terang mengatakan?"

Sela Ciu Ki.

"Urusan ketentaraan fihak Ui, siapakah yang mengurus nya? Bok-loenghiong atau nona Hwe?"

Tanya Thian Hong pada Tan Keh Lok.

"Kurasa ke 2nya. Segala tindakan, Bok-loenghiong tentu mengajak berunding dengan puterinya itu,"

Jawab yang di tanya.

"Ah kalau nona Ceng Tong tak mau kirim bantuan, ja ngan harap kita dapat kembali ke Kanglam,"

Kata Thian Hong. Semua orang tahu arti ucapannya itu. Mereka merenung diam. Tapi tidak demikian dengan Ciu Ki, ia loncat bangun dan menegasi.

"Hitko, mengapa kau pandang CiCi Ceng Tong semacam begitu? Taruh kata dia irihati pada adik nya, tak nanti dia tega untuk tidak menolong orang yang dikasihinya!"

"Kalau wanita sudah Cemburu, segala apa mungkin dilakukan!"

Ujar Thian Hong.

Karuan Ciu Ki berjingkrak, ia ber-kaok 2 seperti orang kalap, sehingga membuat Hiang Hiang bangun.

Tapi nona itu tidak marah, melainkan mengawasinya dengan tersenyum.

Semua orang yang berada disitu, memang hanya sekali bertemu dengan Hwe Ceng Tong.

Sekalipun mereka mendapat kesan yang baik terhadap nona itu, tapi bagaimana peribadinya, mereka belum jelas.

Maka ketika mendengar ucapan Thian Hong tadi, merekapun menganggapnya benar.

Hanya Ciu Ki seorang, yang keras-kerasmenentang, karena tak percaya.

Kini kita tengok perjalanan Sim Hi.

Setelah berhasil lolos, dia segera tanggalkan pakaian serdadu Ceng yang dikenakan itu.

dan menurutkan petunjuk Tan Keh Lok, dia langsung menuju kekubu pasukan Ui.

Memang sebenarnya, Bok To Lun sudah akan mengirim pasukan untuk menCari puteri dan ketua Hong Hwa Hwe itu.

Tapi karena untuk mendapatkan jejak 2 orang digurun yang sedemikian luas itu, bukan suatu hal yang mudah, maka dia menjadi Cemas.

Maka begitu tampak Sim Hi datang mengantarkan surat, dia bukan main senangnya.

Bok To Lun segera perintah mempersiapkan pasukan.

Se-mentara Ceng Tong bertanya kepada Sim Hi berapakah d jumlah musuh yang mengepung Kawan-kawan nya itu.

"Rasanya empat lima ribu orang,"

Sahut Sim Hi.

Ceng Tong mengasah otak, dengan mondar-mandir dida lam kubunya itu.

Pada lain saat, kedengaran terompet dibu nyikan, tanda pasukannya sudah siap sedia.

Bok To Lun pun segera akan keluar untuk memimpinnya.

Tapi dengan menggigit bibirnya, Ceng Tong tiba-tiba mencegah.

"Ayah, jangan!"

Bok To Lun melengak dan berpaling. Dia kesima sampai sekian saat.

"Apa katamu?"

Tanyanya heran.

"Kita tak bisa menolongnya,"

Ujar sigadis. Muka Bok To Lun merah padam karena marah. Tapi sesaat kemudian, dia teringat akan keCerdasan puterinya itu, siapa tahu ia mempunyai alasan kuat.

"Mengapa?"

Tanyanya kemudian.

"Tiau Hwi bukan panglima sembarangan. Dia pandai gunakan tentaranya. Tak mungkin hanya karena akan menawan ke 2 utusan kita, dia sampai kerahkan sekian banyak sekali tentaranya. Tentu dia ada siasat lain."

"Taruhkata benar ada siasat, apakah kau biarkan saja adikmu dan Kawan-kawan dari Hong Hwa Hwe itu dibasmi oleh fihak Ceng?"

Debat sang ayah. Ceng Tong tundukkan kepadanya. Lama ia tak menyahut.

"Kalau kita pergi menolong, kukuatir, bukan saja akan sia-sia, pun malah akan mengorbankan be-ribu 2 jiwa tentara kita", akhir 2nya ia menerangkan. Bok To Lun tak kuasa menahan napsunya. Dia menepuk pahanya keras-keras.

"Yangan kata adikmu itu adalah darah daging keluarga kita sendiri. Sedang terhadap Tan-Congthocu dan sahabat 2 Hong Hwa Hwe itu saja, yang telah banyak sekali melepas budi pada kita, andaikata kita sampai berkorban jiwa, rasanya juga lebih dari pantas. Kau....... Kau..........."

Mengira sang puteri tidak tahu membalas budi, hati pemimpin Ui itu bergolak. Gusar dan sedih.

"Ayah, kau dengarlah dulu perkataanku. Bukan saja kita harus menolong mereka, tapi mungkinpun bisa memperoleh kemenangan besar", kata Ceng Tong.

"Anak baik, mengapa sejak tadi tak mengatakan begitu? Bagaimana Caranya, aku menurut saja,"

Bok To Lun girang sekali.

"Ayah, apa kau sungguh-sungguh menurut?"

"Tadi saking keburu napsu, aku kelepasan omong, jangan kau taruh dihati. Apa maksudmu, bilanglah!"

"Serahkan lengCi (panah tanda kuasa) padaku. Kali ini biar aku yang memimpin tentara kita,"

Kata Ceng Tong dengan tegas.

Bok To Lun lama bersangsi, tapi akhirnya dia menerima baik.

Dia serahkan lengki (bendera perang) dan lengCi (perintah) pada puterinya.

Dengan berlutut Ceng Tong menyambutinya.

Setelah ber sembahyang kepada Al ah, ia berkata pula.

"Nah, kau dan kokopun harus turut perintahku."

"Asal kau tolong mereka, dan pukul mundur musuh, apa saja perintahmu, aku sanggup melakukan,"

Sahut Bok To Lun.

"Bagus, ucapan itu menjadi janji,"

Kata sigadis akhirnya. Ia ajak ayahnya keluar. Diluar kubu, pasukannya sudah siap dalam 2 barisan. Berkatalah Bok To Lun keras-keras.

"Hari ini kita akan bertempur mati-matian dengan orang Boan. Kali ini pimpinan ketentaraan kuserahkan pada puteriku Ceng Tong!"

Anakbuah pasukan Ui mengaCungkan golok seraya berseru lantang 2.

"Semoga Al ah memberkahi Hui-ih-ui-sam. Semoga Al ah menuntun kita kearah kemenangan."

Tak terduga Ceng Tong segera kebaskan leng-ki dan berkata.

"Bagus, kini kamu boleh pulang beristirahat!"

Karena itu, semua pemimpin barisan memerintahkan anak buahnya bubar.

Bukan main meluapnya perasaan Bok To Lun, hingga dia tak dapat mengucap apa-apa.

Kembali kedalam buku, Sim Hi jatuhkan diri berlutut dihadapan Ceng Tong dan menangis.

"Kouwnio (nona), kalau kau tak mau kirim bantuan, Kongcuku tentu binasa,"

Ratap kacung itu.

"Bangunlah, aku toh tidak mengatakan tidak mau menolong,"

Kata sigadis.

"Rombongan Kongcu hanya berjumlah sembilan orang. Dianta ranya adalah adik nona sendiri yang tak mengerti ilmu silat. Ji-naynaypun terluka. Musuh berjumlah ribuan, sedikit saja bantuan terlambat datangnya, mereka tentu tentu "

Demikian tutur Sim Hi terputus-putus.

"Apakah barisan thiat-ka musuh juga ikut menyerang?"

Tanya sigadis.

"Itu waktu belum, tapi mungkin pada saat ini sudah. Mereka memakai baju besi, tak tembus dipanah, tentu Celakalah kita."

Makin teringat, makin ketakutan dan makin keraslah Sim Hi menangis. Ceng Tong kerutkan jidatnya. Ketika Bok To Lun hendak bicara, tiba-tiba puteranya, Ah In, menerobos masuk memberi laporan.

"Penjaga mengatakan, ada belasan serdadu musuh mengadakan pengintaian disebelah gunung."

"Bagus!"

Teriak Ceng Tong dengan girang.

"Koko, bawalah seratus serdadu, pergi kebelakang mereka dengan diam-diam."

"Mengapa hanya sepuluh0 orang?!"

Tanya Ah In.

"Aku minta supaya dapat menyergap beberapa orang di antaranya, jangan membinasakan mereka!"

Sahut sigadis. Hwe Ah In menerima titah, terus pergi.

"Kita perlu menolong Asri dan sahabat 2 Hong Hwa Hwe Mengapa mengurusi beberapa orang serdadu musuh,"

Tanya Bok To Lun.

"Ayah, bukankah kali ini kau sudah menyetujui aku yang memegang pimpinan?!"

Bok To Lun ingat hal itu, namun dia tak tega melihat Sim Hi menggerung-gerung tak mau berhenti itu.

Diam-diam dia kagum atas kesetiaan boCah itu.

Namun dia tak tahu harus berbuat bagaimana.

Tak berapa lama kemudian, Ah In masuk kembali dengan sepuluh tawanan serdadu Ceng.

"Tiga mati, 2 melarikan diri dan sisanya dapat kita tangkap hidup-hidup,"

Katanya.

"Bagus!"

Ceng Tong memuji.

Salah seorang dari tawanan serdadu itu, rupanya yang menjadi pemimpin, bukan lain adalah utusan yang pernah datang dulu itu.

Dia bangsa Boan, bernama Horta.

Sikapnya masih tetap sombong.

"Dulu sebagai utusan,"

Kata Bok To Lun seraya maju selangkah.

"kami perlakukan kau baik-baik . Tapi kini, puteriku sebagai utusan kami juga, mengapa kalian kepung tanpa sebab?"

"Huh, baik? Jadi dengan memborgol tanganku, kau anggap memperlakukan kami dengan baik?"

Kata Horta.

"Sebagai utusan, kau adalah tetamu yang terhormat. Tetapi dengan mengintai keadaan kami, kau adalah mata 2 jahat. Mengapa kau minta diperlakukan baik?!"

"Siapa bilang kami melakukan mata 2? Macam tentaramu yang hanya berjumlah sekian ini, mengapa perlu di-mata 2i? Aku datang untuk menyerahkan surat!"

Sahut Horta.

Segera Ceng Tong perintahkan untuk membuka ikatan Horta, siapa lalu menerimakan surat itu.

Surat itu ternyata dari Tiau Hwi yang mengatakan bahwa utusan dari fihak Ui kini telah terkepung dan segera akan tertangkap.

Maka diminta supaya Bok To Lun dan seluruh angkatan perangnya menakluk.

"Fui! Ada atau tidak surat ini, sama saja. Kau jangan Coba kelabui kami. Terang kalau Tiau Hwi suruh kau memata 2!, untuk menjaga kemungkinan bila kau sampai tertangkap, sengaja dia bikin surat ini. Kalau tertangkap, kau lantas bisa mengaku sebagai utusan. Coba kau jawab, kalau kau memang menjadi utusan, mengapa kau tidak datang secara terang-terangan seperti tempo hari itu?"

Semprot Bok To Lun. Ditelanjang i begitu, Horta tak dapat menyahut, hanya tertawa tawar.

"Gusur dia!"

Perintah Bok To Lun. Beberapa perwira Ui segera menggusurnya pergi.

"Ayah, kau menduga tepat. Hanya surat ini, memang mengandung maksud lain lagi,"

Kata Ceng Tong.

"Apa itu?"

Tanya sang ayah.

"Tiau Hwi kuatir kalau kita tak mengetahui tentang peristiwa itu, maka dia sengaja memberi kabar, agar kita kirim pasukan penolong."

"Ha, dia begitu baik, aku tak percaya!"

"Memang, kalau kita kirim pasukan, itu artinya kita masuk kedalam perangkapnya!"

Bok To Lun termenung.

"Ayah, bukankah kau masih ingat akan alat kita untuk menangkap serigala kuning? Alat itu mempunyai sebuah kait yang ditaruh sepotong daging. Sekali serigala menggigit daging itu, maka alat itu akan bergoncang , dan tertangkaplah binatang itu. Nah, Tiau Hwipun berkehendak menjadi kan kita seperti serigala. Daging umpannya, ialah adik Hiang Hiang. Ditempat seluas padang pasir itu, sangatlah berbahaya. Betapapun gagahnya orang-orang HONG HWA HWE, sukar kiranya menahan arus serangan empat-lima ribu pasukan berkuda. Itulah disebabkan Tiau Hwi sengaja tak mau mengadakan serangan sungguh-sungguh."

Bok To Lun anggukkan kepalanya tanda benar.

"Tadi sahabat kecil kita mengatakan, kalau pasukan thiat-kah musuh belum keluar. Coba ayah pikir, kemana saja mereka itu?"

Tanya pula Ceng Tong. Tanpa tunggu jawaban, nona itu segera berjongkok di tanah dan gunakan lengki, untuk membuat sebuah lingkaran.

"Ini daging pengumpan misalnya,"

Katanya dike 2 sisi lingkaran itu digariskan 2 buah garis.

"Dan ini, pasukan tHiat-kah-kun musuh, atau alat perangkapnya. Kalau kita menolong dari sini, ke 2 pasukan thiat-kah itu akan men jepit dari 2 arah. Coba pikirkan, apakah kita masih bias hidup?"

Bok To Lun kemekmek. Dia berpaling mengawasi Sim Hi.

"Sebenarnya aku menaruh keCurigaan, jangan-jangan mereka memang sengaja kasih lolos sahabat kecil itu. Kalau tidak, masa dia begitu gampang lolos dari kepungan yang kokoh itu? Dan kini setelah kita ketahui surat yang dibawa utusan tadi, kiranya dugaanku tadi tak perlu disangsikan lagi!"

Tiba-tiba Bok To Lun berjingkrak, serunya.

"Ceng-ji, du gaanmu itu memang tak salah. Tapi aku tak tegah dengan adikmu dan tak nanti biarkan sahabat 2 kita dari HONG HWA HWE itu terancam bahaya!"

Ceng Tong Cukup mengetahui betapa sang ayah itu sangat memanyakan adiknya, apalagi kini terikat kewajiban budi dengan orang-orang HONG HWA HWE Iapun memang sudah mempunyai ren Cana, lalu membisikkan beberapa patahkata kepada pengawal didekatnya.

Pengawal itu Cepat-cepat menuju kekubu dimana Horta ditawan.

Penjaga kubu itu diajak oleh sipengawal kesebuah tempat disebelah, katanya.

"Bangsat itu liCin sekali, maka Hui-ih-wi-sam titahkan kau supaya memindahkannya kede kat kubu besar dan dijaga keras supaya jangan sampai lari!"

Penjaga itu mengiakan.

Melihat dirinya dipindah, Horta tersenyum.

Diam-diam dia pikirkan daya untuk lolos.

Tiba-tiba dia mendengar Bok To Lun dan Ceng Tong yang berada dikubu besar disebelah situ, saling berCekCok keras.

Buru-buru dia pasang telinga mendengarkan.

"Kau katakan Tiau Hwi akan menyebak kita, dan ren Cananya itu telah kau ketahui. Nah, kalau begitu kita serang dari sebelah pinggir, agar mereka tak dapat saling membantu,"

Kedengaran Bok To Lun berkata.

"Mereka mempunyai empatpuluh ribu serdadu, sedang kita hanya berjumlah sedikit. Kalau bertempur secara masaal, kita tentu kalah,"

Jawab Ceng Tong.

"Ha, jadi maksudmu akan membiarkan adikmu dan beberapa sahabat itu mati konyol?!"

Seru Bok To Lun dengan gusarnya. Ceng Tong tak mau meladeni.

"Kalau mesti binasa, biarlah kita binasa semua!"

Kata pula Bok To Lun dengan sengit. Mendengar pembicaraan itu, diam-diam Horta berpikir.

"Lihai juga nona Ui itu, rencana Tiau Ciangkun dapat diketahui nya. Tapi mungkin karena tidak sabar, mereka tetap akan menerjang bahaya mengirim bala bantuan."

Dilain fihak, rupanya melihat Ceng Tong seperti tak mau mengirim bantuan, Sim Hi menjadi ketakutan. Buru-buru dia berlutut dan berkata dengan menangis.

"Kalau Kongcuku pernah berbuat kesalahan kepada nona, sukalah kau mengampuni. Kalau dia nanti sudah dibebaskan, tentu akan ku mintanya supaya menghaturkan maaf kepadamu. Kalau nona melepas budi pertolongan, Kongcu tentu takkan melupakan se-lama-lamanya."

Agaknya menyang ka boCah itu menduga jelek padanya, Ceng Tong kerutkan alis, dan membentaknya dengan gusar.

"Yangan omong tak keruan!"

Sim Hi loncat bangun saking terkejutnya.

"Begini busuk hati nona, baiklah, biar aku pergi dan mati bersama-sama dengan Kongcu."

Dengan masih sesenggukan, lalu anak itu Cemplak kuda nya terus dilarikan.

"Kalau kita tak kirim bantuan, sungguh kita malu hati terhadap boCah itu. Sekalipun mesti menerjang gunung golok, lautan api, kita tetap pergi. Mati untuk peri-keba jikan, adalah mati sahid!"

Demikian terdengar seru Bok To Lun pula makin sengit. ,,Ayah, pelan sedikit. Utusan orang Boan itu, berada di dekat sini,"

Ceng Tong menyabarkan ayahnya.

"Habis, bagaimana maksudmu?"

Tanya Bok To Lun dengan agak tenang. Ceng Tong berpikir sejenak.

"Baiklah, kita segera menyusulkan bala bantuan,"

Kata si gadis akhirnya.

Pengawal segera dititahkan memukul genderang.

Para pemimpin barisan, satu demi satu masuk kedalam kubu besar.

Horta sementara itu, pura-pura menggeros.

Ketika penjaga memanggilnya, dia pura-pura tak menyawab.

Pada lain saat, dia mendengar Ceng Tong mengeluarkan titah.

"Hiang Hiang KiongCu dan beberapa sahabat HONG HWA HWE dikepung musuh, kita harus menolong dengan segera. Tapi karetaa pasukan kita hanya sedikit, maka kalian harus hati-hati, jangan sampai kena terkepung. Begitu dapat menolongnya, harus Cepat-cepat kembali. Kita bagi pasukan kita menjadi 2, yang separoh menolong, yang separoh menunggu kira-kira pada jarak sepuluh li, untuk menyambutinya."

Para pemimpin barisan itu serempak mengiakan.

"Pasukan yang menolong, pun dipecah menjadi 2. Kompi kesatu, terdiri dari seribu orang, membawa bendera merah. Dibawah pimpinan sdr. Jasman. Pasukan ini, menye rang masuk dari sebelah utara. Kompi ke 2 dengan bendera putih, pun terdiri dari seribu orang, dipimpin oleh sdr. Utiali Khan, menyerang dari sebelah selatan. Aku bersama LoyaCu (Bok To Lun) masing-masing memimpin seribu serdadu, akan bertugas menyambutnya,"

Kedengaran Ceng Tong memberi perintah pula. Mendengar itu, rupanya Bok To Lun akan berkata sesuatu, tapi tidak jadi. Sementara itu, diam-diam Horta berpikir.

"Oh, kiranya tentara Ui hanya berjumlah empat ribu. Tiau-Ciangkun mengiranya ada 15 ribuan, maka dia begitu hati-hati mengatur pasukannya."

Memikir begitu, kembali kedengaran Ceng Tong berkata.

"Nah, sekarang sdr. 2 boleh kembali ketempat masing-masing. Sehabis makan, kita nanti berangkat!"

Setelah para pemimpin barisan berlalu, Bok To Lun me nanyakan, mengapa Ceng Tong hanya mengeluarkan begitu sedikit anak tentaranya.

"Kalau kita kerahkan semua empat ribu orang, tentu bakal tak ada yang menyambutnya, kan berabe nanti. Astaga! Jangan-jangan pembicaraan kita tadi didengar oleh utusan itu. Coba kulihat dia!"

Horta kaget, Buru-buru itu menggeros lagi. Tak lama kemudian, Ceng Tong masuk dan memakinya.

"Huh, dia tidur seperti babi saja!"

Untuk membuktikan, ditendangnya tubuh Horta. Horta menggulet dan menguap. Pelan-pelan dia membuka matanya. Ceng Tong kembali memberi sebuah tendangan, sambil bentaknya.

"Sudah tidur Cukup apa belum?"

Horta ionCat bangun.

"Aku sudah jatuh ketanganmu, kalau mau bunuh, bunuhlah. Tapi jangan terlalu menghina!"

Ucapan garang dari orang Boan yang licik itu, bukan karena dia tak takut mati.

Tapi disebabkan dia Cukup kenal akan watak orang Ui yang menaruh penghargaan terhadap bangsa ksatria.

Makin menunyukkan keberanian mati, tentu makin dianggap sebagai orang perwira.

Maka dia terus bersikap keras.

"Hm, kau masih berlagak gagah, ja?"

Kata Ceng Tong.

"Kalau benar kau ada kepandaian, mengapa sampai bisa tertangkap?"

"Kita berjumlah sedikit, terpaksa menyerah kepada orang-orang mu yang berjumlah banyak sekali. Wajar bukan? Tapi kalau satu lawan satu, kiranya diantara orang-orang mu itu tentu tak ada yang sanggup menandingi aku."

"Huh, jangan pentang mulut lebar. Tak usah jauh-jauh, kalau kau bisa menangkan aku, nanti kulepaskan,"

Kata Ceng Tong.

"Ucapan seorang kunCu (gentlemen), seperti larinya seekor kuda. Apa omongmu itu dapat diturut?"

Horta menegas.

"Tapi apa katamu kalau kau kalah?"

Balas bertanya Ceng Tong. Horta tak lekas memberi penyahutan, hanya merenung.

"Seorang nona yang sedemikian Cantiknya, masa bisa mela wan aku. Baiklah ku-uCapkan beberapa janji yang enak kedengarannya."

"Dipanggal batang leherku, atau dikubur hidup-hidupan, aku takkan penasaran,"

Katanya kemudian.

"Baik, mari kita keluar kesana untuk menetapkan siapa kalah dan siapa menang,"

Kata Ceng Tong terus melangkah keluar di kuti Horta.

Melihat tingkah puterinya itu, Bok To Lun kerutkan ji datnya.

Dia heran mengapa Ceng Tong berbuat hal yang aneh begitu.

Dalam ketegangan urusan ketentaraan sebagai saat itu, masa ia mau meladeni urusan tetek-bengek.

Namun dia tak keburu mencegah, dan terpaksa mengikut keluar.

Anak pasukan Ui sewaktu mendengar nona pemimpin mereka akan pi-bu (bertanding silat) dengan utusan Boan, sama berkerumun menyaksikan.

Saat itu salju turun dengan lebat dan anginpun menderu-deru .

Berdiri disebelah kiri, Ceng Tong siap dengan pedang, katanya.

"Kau mau pakai senjata apa?"

"Golok!"

Sahut Horta.

Atas isyarat Ceng Tong, seorang Ui membawakan beberapa batang golok.

Horta memilih sebatang yang paling berat.

Untuk menCobanya, dia membolang balingkan kian kemari, hingga mengeluarkan samberan angin yang keras.

"Kau adalah fihak tetamu, silakan menyerang dulu!"

Kata Ceng Tong.

Sekali melesat maju, tanpa sungkan 2 lagi, Horta mem baCok.

Belum sampai ditempat sasarannya, tiba-tiba merobah dengan menabas.

Ceng Tong gerakkan pedangnya menangkis.

Tapi tabasan Horta itu hanya serangan tipu, karena tiba-tiba ditariknya pulang sambil meloncat menyingkir.

Terang dia mau menunyukkan sikap mengalah.

Sebagai tetamu menghormat tuan rumah.

Laki 2 tak boleh menghina wanita.

Tapi disamping itu, dia memang harus menyingkir, karena kalah posisi.

"Tak usah main sungkan 2!"

Seru Ceng Tong. Menyusul nona itu gerakkan pedangnya dalam tipu "gunung salju tiba-tiba meletus,"

Dari samping menusuk paha kiri lawan.

Horta menghantamkan goloknya kearah batang pedang itu.

Tapi Ceng Tong Buru-buru menarik pulang pedangnya, sembari ber-putar 2.

Tahu-tahu ujung pedangnya menyambar punggung orang.

"Bagus!"

Puji Horta.

Tak hendak dia berputar diri, Cukup tangannya dikibaskan kebelakang, kembali goloknya akan menabas batang senjata sinona.

Horta adalah murid dari t j abang Tiang Pek Pai di Liauw-tang.

Gerakannya sebat, ilmunya golok lihai sekali.

Melihat kelihaian sinona bermain pedang, iapun tak berani ajal.

Seluruh kepandaiannya dikeluarkan, Demikianlah ke 2nya bertempur dengan hebat.

Sampai jurus ke-delapan0, belum nampak siapa yang lebih unggul.

Lewat tiga 0 jurus lagi, gerakan Ceng Tong kelihatan agak lambat.

Tangan kirinya beberapa kali dipakai menghapus keringatnya.

Dengan gerak "angin dan pasir menutup matahari,"

Ia memapas pundak kiri Horta. Horta, menangkis.

"trang", sesaat ke 2 senjata beradu, pedang Ceng Tong terlempar dari tangannya. Orang-orang Ui serempak berseru kaget. Tapi ke 2 orang itu masing-masing loncat tiga tindak kebelakang. Horta tegakkan goloknya, mukanya berseri-seri, Ceng Tong mengelah napas, ia berkata.

"Ah, ilmu golokmu benar-benar lihai. Janji telah kunCapkan, sekarang kau boleh bebas!"

Dan berpaling kepada pengawalnya, Ceng Tong perintahkan supaya kuda dari siutusan itu, dikembalikan.

Bergegas-gegas Horta memberi hormat terus akan Cemplak kudanya, tapi tiba-tiba Ceng Tong mencegahnya.

"Tunggu!"

Dengan sebelah kaki dipanyatkan pada pelana kuda, dan kaki yang satu masih menginyak tanah, Horta siap menunggu.

"Kalau sudah pulang, keadaan ketentaraan disini, jangan sekali kau katakan pada lain orang. Lebih dulu, berikanlah sumpahmu, baru nanti kulepaskan."

"Ah, apa gunanya sumpah? Biar kubikin senang hatinya,"

Pikir Horta, maka iapun berkata.

"Baik. Kalau sampai aku bocorkan keadaan tentaramu, biarlah langit dan bumi me numpasnya!"

"Kau pergilah dengan bebas!"

Seru Ceng Tong.

Dan Hortapun segera keprak kudanya.

Dari wajahnya yang merah padam, nampak Ceng Tong sangat payah.

Balik kedalam kubu, ia tengkurapkan kepala nya diatas meja, napasnya tersengal 2.

Melihat itu Bok To Lun Cepat-cepat menegurnya.

"Kau banyak sekali keluarkan tenaga hanya untuk mengalah pada bangsat itu. Supaya lain orang tak mengetahui, kau pura-pura menjadi ke payahan begini rupa. Mengapa? Supaya dia pulang melapor, supaya mereka ketahui bagaimana kita kirim bala bantuan dan supaya adikmu tidak dapat kita tolong?"

"Benar, memang sengaja kuberlaku kalah, memang se-ngaja supaya dia melapor, dan memang sengaja supaya musuh tahu bagaimana kita akan kirim bantuan. Tapi, pasukan apa yang kita nanti kirim......... tidak seperti itu."

Bicara sampai disini, Ceng Tong masih tersengal-sengal.

Kira nya kepandaian Horta itu, bukannya lemah.

Untuk menun dukkannya, bagi Ceng Tong memang mudah.

Tapi untuk ber-pura-pura kalah, dengan musuh betul-betul tak mengetahui, benar-benar bukan pekerjaan ringan.

Oleh karenanya, ia menjadi ke payahan begitu rupa.

"Benarkah kata-katamu itu?"

Menegas Bok To Lun.

"Oh, ayah, jadi kaupun menyang sikan diriku?"

Melihat puterinya berlinang-linangair mata itu, Bok To Lun tidak tegah.

"Baiklah, terserah padamu,"

Katanya kemudian.

Ceng Tong segera perintahkan pukul genderang.

Dan sekejab pula, para pemimpin barisan masuk.

Ceng Tong mengambil tempat duduk, di-apit 2 oleh ayah dan kokonya yang sama berdiri.

Diluar, s.alju makin lebat.

Kembali Bok To Lun terkenang akan puterinya yang kecil, yang kalau tidak kelaparan tentunya kedinginan.

"Pemimpin regu kesatu dari barisan Ang Ki, lekaslah berangkat dan siapkan bayhok (barisan pendam) disebelah timur dari tebat lumpur yang luas disebelah timur Gobi. Regu ke 2, ketiga, keempat, kelima dan keenam, lekas siapkan seluruh rakyat tani dan penggembala. Nanti didekat tebat lumpur itu harus begini,"

Ceng Tong keluarkan titah sambil memegang lengCi.

Dengan masing-masing membawa seribu anak buah, berangkatlah keenam pemimpin regu itu.

Sebaliknya, Bok To Lun tidak puas melihat sang puteri kerahkan sekian banyak sekali orang itu, hanya untuk mengerjakan pembangunan, bukan untuk menolong yang terkepung.

"Pemimpin 2 dari regu kesatu, ke 2, dan ketiga dari pasukan Pek Ki, kalian menuju kekota Yalkand dan pada ke 2 tepian sungai Hitam harus melakukan begini.........", seru Ceng Tong pula.

"Dan pemimpin regu pertama dari pasukan Hek Ki, serta pemimpin dari regu Kazak, kalian nanti harus berbuat begini diatas gunung ditepi Sungai Hitam. Dan pemimpin barisan Mongol, harap berpusat digu-nung Ingkiban, dan bertindak begini!"

Setelah para pemimpin regu 2 barisan itu berlalu, berkatalah Ceng Tong kepada ayahnya.

"Yah, kau menjadi pemimpin dari barisan Ang Ki yang menuju ketimur. Dan kau, koko, sebagai puCuk pimpinan dari pasukan Pek Ki, Hek Ki, Kazak dan Mongol yang menuju kearah barat tadi. Aku pegang pimpinan regu ke 2 dari pasukan Hek Ki yang akan memberikan komando. Ren Cana kita adalah begini...............". Baru hendak ia menjelaskan, tiba-tiba Bok To Lun-berjing krak, serunya.

"Dan siapa yang bertugas menolongnya?"

Ceng Tong tak mau meladeni pertanyaan ayahnya, ia terus mengeluarkan perintah lagi.

"Dan Regu ketiga dari pasukan Hek Ki, kalianlah yang harus menyerbu dari sebelah timur. Regu ke-4 dari Hek Ki, kalian menyerbu dari d jurusan barat. Kalau nanti berhadapan dengan tentara Ceng harus begini. Lebih dulu kalian harus bertukaran kuda dengan anak buah pasukan Ang Ki. Pilihlah kuda yang terbagus, jangan sampai ada seekorpun yang jelek". Ke 2 pemimpin regu itupun segera berlalu.

"Ha, kau telah kerahkan1 1tiga ribu tentara kita untuk pe kerjaan yang tidak berarti. Sedang yang ditugaskan untuk menolong, hanya 2 ribu orang. Itupun terdiri dari orang-orang tua dan anak 2. Apakah maksudmu?"

Lagi-lagi Bok To Lun me nyelatuk dengan sengit.

Kiranya, dalam ketenteraan orang Ui, pasukan Ang Ki (bendera merah) dan Pek Ki (bendera putih), adalah tentara pilihan.

Pasukan Hek Ki (bendera hitam), agak berkurang daya tempurnya.

Sedang regunya ke-tiga dan ke-4, terdiri dari orang-orang tua dan anak 2 yang belum dewasa.

Sudah tentu lemah.

Dan memang bisanya, mereka hanya ditugaskan sebagai penjaga dan urusan pengangkutan.

Jarang sekali disuruh maju kemedan pertempuran.

Rupanya Ah In, juga terpengaruh dengan kata-kata ayahnya tadi.

Biasanya dia paling menurut dan kagum pada adiknya itu, tapi saat itu, iapun menjadi sangsi.

"Rencanaku adalah ............", tapi belum lagi Ceng Tong sempat menjelaskan, menCetuslah kemarahan Bok To Lun.

"Aku tak percaya kata-katamu lagi!"

Demikian teriak orang tua itu dengan keras.

"Kutahu kau suka pada Tan-kongcu, tapi dia sebaliknya Cinta pada adikmu. Untuk itulah maka kau bermaksud membiarkan mereka mati. Ha, kejam sekali hatimu!"

Penuh sesak dada Ceng Tong menahan perasaan hatinya.

Tangan dan kakinya serasa menjadi dingin, hampir-hampir jatuh pingsan ia.

Memang kata-kata sang ayah itu agak keterlaluan.

Tanpa dipikir lebihjauh, terus dia mengeluarkan kata-kata yang begitu menusuk hati sang puteri.

Tapi pada lain saat, orang tua itupun jernih kembali pi kirannya.

Sesaat dia tampak bingung.

Habis itu, dia segera menghampiri kudanya.

"Biarlah aku binasa bersama Asri!"

Serunya tiba-tiba sambil me-mutar 2 goloknya diatas kuda, lalu sambungnya pula.

"Regu ke-tiga dan ke-4 dari Hek Ki, mari ikut aku!"

Saat itu, ke 2 regu barisan itu sudah selesai menukar kuda.

Mereka segera mengikut Bok To Lun.

Di-tengah-tengah hu jan salju dan deru angin, berangkatlah ke 2 regu itu.

Melihat wajah Ceng Tong puCat, Ah In merasa kasihan.

Dia menghiburnya.

"Moaymoay, ayah sedang kalut pikiran nya, sehingga tak tahu apa yang diuCapkan itu. Harap kau jangan taruh dihati."

Sampai sekian lama Ceng Tong termenung tak dapat memberi jawaban. Kemudian berkatalah ia.

"Koko, pimpinlah pasukan Ang Ki yang berada disebelah timur. Aku akan menyambut ayah."

"Tapi kau begitu lelah, baik mengaso dulu. Biar aku sa ja yang menyambutnya."

"Tidak, aku saja"

Seru Ceng Tong tetap.

Begitulah nona itu segera pimpin regu ke 2 dari Hek Ki.

Dengan begitu, yang masih tinggal diperkubuan orang Ui, hanyalah kira-kira tiga 00 orang.

Mereka adalah serdadu 2 yang terluka.

Limabelas ribu orang Ui, dikerahkan kemedan pertempuran pemua, Baik menengok pada Sim Hi, boCah itu larikan kudanya keras-kerasuntuk kembali pada rombongan Tan Keh Lok.

Meno bros dalam daerah pengepungan, ternyata tentara Ceng itu seperti membiarkan saja.

Hanya beberapa puluh anak panah yang dilepaskan, dan ini sudah tentu dapat dihindari Sim Hi.

Ketika dekat tiba ditempat rombongan, Ciang Cin segera menyambutnya dengan gembira.

"Sim Hi, kau sudah kembali?"

Teriak sibongkok itu.

Tapi boCah itu tak menyahut.

Begitu turun dari kuda, dia telah tuntun binatang itu masuk kedalam lubang perlindungan.

Ramai 2 orang-orang itu menanyakan, tapi Sim Hi segera numprah ditanah dan menangis keras-keras.

"Yangan nangis, sudahlah, bagaimana?!"

Tanya Ciu Ki.

"Ah, apa yang harus ditanyakan padanya. Hwe Ceng Tong tentu tak mau mengirim pasukan,"

Kata Thian Hong.

"Ya, aku sudah berlutut dihadapannya dan menjura ...... dengan sangat minta 2 ......... tapi sebaliknya, ia mendamprat aku ............"

Kata Sim Hi itu terputus-putus karena sesenggukan.

Dan habis itu, kembali dia menangis gerung 2.

Semua orang terpaku diam.

Melihat itu, Hiang Hiang KiongCu segera menanyakan pada Tan Keh Lok, tapi yang belakangan ini karena tidak menginginkan Hiang Hiang berduka, ia memberi penyelas an lain, katanya.

"Tadi dia sudah keluar, tapi sampai setengah hari, tak bisa menembus kepungan musuh."

Hiang Hiang menjadi kasihan, lalu diambilnya saputa ngannya diberikan pada Sim Hi, siapa terus menyambutinya.

Tapi ketika akan dipakainya untuk mengusap, tiba-tiba dia endus bebauan yang sangat harum.

Tak berani dia memakainya.

Buru-buru ia pakai lengan bajunya, mengusap air mata dan ingusnya.

Setelah itu, saputangan tadi dikembalikan pada yang punya.

"Kita terkepung tak dapat keluar, Suko, bagaimana pen dapatmu?"

Tanya Thian Hong kemudian pada Bun Thay Lay. Thay Lay heran mengapa "Khong Beng"

Itu tanya pen-dapat padanya, bukan pada Tan Keh Lok. Tapi setelah merenung sebentar, tahulah ia apa maksud Thian Hong itu. Sahutnya.

"Congthocu, kau bawalah nona ini naik kuda putih dan lekaslah menobros keluar!"

"Hanya kita ber 2?"

Menegas Keh Lok.

"Benar! Untuk keluar semua, terang tak mungkin. Kau mempunyai tugas besar. Selain saudara-saudara dari HONG HWA HWE memerlukan pimpinanmu, pun tugas membangunkan rakyat Han, terletak dipundakmu,"

Sahut Thay Lay.

"Asal kau dapat lolos, kita akan mati dengan meram,"

Ramai 2 Jun Hwa, Hi Tong dan Ciu Ki ikut berkata.

"Kalau sdr. 2 binasa, masakah aku saja yang hidup?"

Kata Keh Lok dengan bersemangat.

"Congthocu, keadaan sudah keliwat mendesak. Kalau kau tidak mau, maafkan, kita akan memaksamu,"

Kata Thian Hong.

Keh Lok merenung sejurus, laki mengiakan.

Kuda putih dituntunnya keluar.

Setelah memberi hormat pada sekalian orang, dia segera pondong Hiang Hiang keatas kuda.

Bahwa saat itu adalah saat mati atau hidup, tahulah semua orang.

Hati masing-masing penuh dengan perasaan terharu.

Malah Lou Ping, sudah kucurkan air mata.

Tapi sebaliknya, seperti tak menghiraukan apa-apa, Keh Lok terus keprak kudanya.

Masih orang-orang HONG HWA HWE itu menaruh kekuatiran, jangan-jangan Congthocu mereka tak berhasil menembus kepungan musuh.

Karenanya, mereka sama Cemas.

Untuk menghibur, berserulah Bun Thay Lay keras-keras.

"Kita disini, termasuk Congthocu dan nona Ui itu, berjumlah sepuluh orang. Kini sudah berhasil membunuh tujuh delapan puluh orang. Saudara-saudara, berapa lagi yang harus kita bunuh sebelum kita meninggal?"

"Paling sedikit harus sepuluh0 orang!"

Sahut Lou Ping.

"Ah, tentara Ceng itu keliwat jahat, kalau sudah membunuh tiga 00 orang, baru puaslah kita,"

Seru Ciu Ki.

"Baik, mari kita mulai menghitungnya,"

Kata Bun Thay Lay.

"Aku menghendaki lima puluh0!"

Tiba-tiba Ciang Cin turut mengeluarkan suara. Juga Jun Hwa yang tengah menjaga diatas, ikut berpaling dan berseru.

"Kini kita tinggal delapan orang. Harga dari seorang enghiong HONG HWA HWE, harus sama dengan sepuluh0 serdadu Ceng. Buktikanlah!"

Justeru saat itu, ada tiga orang serdadu musuh tengah merajap mendatangi. Jun Hwa Cepat-cepat pentang busurnya, dan berhamburlah tiga batang anak panah.

"Satu, 2, tiga! Bagus Kiuya, bagus!"

Seru Sim Hi meng hitungnya.

"Begitulah! Untuk membinasakan kita, bukanlah hal yang mudah, harus musuh tukar delapan00 d jiwa serdadu,"

Demikian Hi Tong ikut berkata dengan bersemangat.

"Wah, makin berat sjaratnya. Kalau sampai tidak sejumlah itu, bukankah kita akan mati tak rela?"

Kata Thian Hong "Kalau begitu, minta saja supaya Siang-ngoko dan liok-ko terlambat sedikit datangnya", tertawa Lou Ping.

Mendengar omongan itu semua orang tertawa geli.

Kira-nya Siang He Ci dan Siang Pek Ci itu mempunyai gelaran Hek Bu Siang dan Pek Bu Biang atau setan 2 gentajangan hitam dan putih.

Menurut Cerita, kalau orang mati, setan 2 itulah yang menawan nyawa.

Dalam menghadapi maut itu, kedelapan orang itu masih tetap gembira.

Sebenarnya Sim Hi merasa takut, tapi demi dilihatnya sekalian sama berCanda, iapun bersemangat, pi kirnya.

"Kongcu adalah seorang enghiong sejati. Tak boleh aku membikin malu padanya."

Ciang Bongkok ter-tawa 2 seperti orang gendeng. Dengan berjumpalitan dia berteriak.

"Ha, hari ini aku hendak bertamasja kesjorga. Biarlah kuCari pengiring delapan00 orang dulu!"

Tiba-tiba disebelah atas, Jun Hwa menegur dengan bengis.

"Siapa itu?!"

"Mengapa tak bulatkan saja jumlahnya menjadi sepuluh00?"

Sahut satu suara.

"Astaga! Kau, Congthocu, mengapa balik?!"

Tanya Jun Hwa dengan kaget. Loncat kedalam lubang, berkatalah Tan Keh Lok dengan tertawa.

"Setelah kuantarkan ia, sudah tentu aku harus kembali kemari. Bukankah dahulu waktu Lauw Pi, Kwan Kong dan Thio Hwi telah mengangkat sumpah akan mati pada hari, bulan dan tahun yang sama? Sayang mereka tak dapat laksanakan sumpah itu. Sebaliknya kita, sembilan persaudaran ini, akan dapat mewujudkan sumpah kita."

Melihat sang ketua berkeras begitu, semua orangpun tak dapat berbuat apa-apa. Karena perCuma saja akan membujuknya, maka merekapun berseru dengan girang.

"Bagus, kita akan mati pada hari, bulan dan tahun yang sama. Bahagialah kematian itu!"

"Sim Hi, saudara yang baik! Mulai sekarang jangan kau panggil aku Siaoya lagi. Kau adalah Capgo-te kita!"

Kata Keh Lok.

"Tepat sekali!"

Sahut sekalian orang. Sim Hi terharu sekali. Dia menangis tersedu-sedu. Salju dalam lubang itu menebal sampai beberapa dim. Sambil membuanginya keluar, jago HONG HWA HWE itu tetap ber Canda.

"Wah, kalau saat ini ada arak, betapakah bahagianya!"

Kata Thian Hong.

"He, kau mau menggoda aku, ja?"

Teriak Ciu Ki dengan mata melotot. Semua orang tertawa. Hi Tong tampak melonggong. Tiba-tiba dia berkata kepada Bun Thay Lay.

"Suko, aku mempunyai suatu urusan yang menyakiti hatimu. Tak dapat kubawa hal itu sampai meninggal!"

"Apa?"

Tanya Bun Thay Lay. Tanpa tedeng aling 2 lagi, Hi Tong segera tuturkan per buatannya yang kurang senonoh terhadap Lou Ping ketika lolos dari Thiat-tan-Hung dulu itu.

"Untuk menebus kesalahanku itu, aku masuk menjadi hweshio. Suko, sukalah kiranya kau memaafkan?"

Akhirnya ia bertanya. Tertawalah Bun Thay Lay keras-keras.

"Sipsute, kau kira aku tak ketahui hal itu? Bukankah aku tetap memperlakukan kau tanpa ada perubahan apa-apa? En somu tidak bilang apa-apa, tapi akupun dapat mengetahuinya sendiri. Bahwa orang muda itu sering menurutkan hatinya berbuat kesalahan, itu Cukup kumaklumi. Karenanya, siang 2 aku sudah memaafkan padamu, mengapa perlu kau minta maaf lagi?"

Demikian sahutnya. Mendengar hati yang jantan dari Pan Lui Hiu itu, kagumlah semua orang. Tapi sebaliknya, Hi Tong sendiri, merasa malu dan amat terharu.

"Sipsute, yang lalu biarlah lalu, tak usah kau diungkit-ungkit lagi. Tapi ada suatu hal yang membikin aku tak senang,"

Kata Lou Ping dengan tertawa. Hi Tong melengak, bertanya ia dengan berbisik.

"Apakah itu?"

"Kau adalah seorang hweshio, kalau pulang, tentu Ji Lay Hud akan menyambut ke Gembira Loka. Sebaliknya, kita berdelapan ini, akan ditahan ditempat Siang-ngoko dan liok-ko. Hal ini, bukankah menjalani sumpah persaudaran kita. senang sama-sama dirasakan, susah sama diderita!"

Ujar Lou Ping. Kembali menCetuslah gelak tertawa orang-orang itu. Hi Tong serentak menCopot jubah suCinya, katanya tertawa.

"Bahwa hari ini aku telah membunuh jiwa, adalah melanggar pantangan. Buddha yang maha murah, mulai saat ini TeCu akan lepaskan pertapaan, rela bersama-sama sekalian saudara dineraka, tak ingin menikmati kesenangan seorang diri di Gembira Loka!"

Semua orang bertepuk tangan memuji.

Tepat dengan tepukan itu, Jun Hwa dan Sim Hi berteriak.

Ramai 2 orang HONG HWA HWE itu naik keatas.

Dibawah sinar rembulan yang menaungi hujan salju, tampak seorang berpakaian putih menuntun seekor kuda putih tengah mendatangi.

Dia bagaikan dewa sedang melayang dimega putih.

Pertama, adalah Tan Keh Lok yang menjadi terperanyat.

Buru-buru dia lari menyambutnya.

"He, mengapa kau tinggalkan aku seorang diri?"

Tanya orang itu yang bukan lain adalah Hiang Hiang KiongCu.

"Aku ingin supaya kau pulang, karena aku bersama beberapa saudara ini tengah menunggui maut!"

Kata Keh Lok membanting kaki. Hiang Hiang KiongCu kucurkan air mata.

"Kalau kau binasa, apakah aku suka hidup lagi? Tidakkah kau mengetahui isi hatiku?"

Katanya saju. Tan Keh Lok tersentak.

"Baik, mari kita ber-sama-sama pulang!"

Katanya kemudian. Dan Hiang Hiang dituntunnya masuk kedalam lubang lagi.

"Lekas! Mereka akan menghujani panah!"

Seru Jun Hwa.

Jilid 30 SETIAP Hiang Hiang menyanyikan satu bait, Keh Lok lalu menterjemahkannya.

Memangnya ia seorang sastrawan, karenanya, dapatlah dia memilih kata-kata yang indah.

Sehingga nyanyian itu bagus sekali maksudnya.

Tentang arti daripada nyanyian Hiang Hiang itu, ada sebuah Cerita begini.

Dikerajaan Khuyan, raja mempunyai seorang puteri Cantik yang diberi nama Yohana.

Puteri ini sejak kecil, sudah mengikat janji dengan Tahir, putera perdana menteri.

Belakangan karena perdana menteri itu difitenah, dia Hwa.

UNTUNG ke 2 orang muda itu sudah berada didekat lubang, karena pada saat itu, tentara Ceng kembali meng hujani panah.

"CongthoCu, sebenarnya hendak kupersalahkan kau, tapi ternyata aku yang salah,"

Kata Ciu Ki.

"Tidak kunyana enci Ceng Tong sedemikian kejam hatinya, dan tak kuduga pula, adiknya begini mengasihimu! Yangan kata ia seCantik bidadari, sekalipun jelek bagai iblis, kalau hati budinya sedemikian tulusnya, tentu aku Cinta padanya,"

Ujar Ciu Ki. Tan Keh Lok tertawa. Ada sahabat, ada kekasih, sekalipun mati, puaslah.

"Oho makanya kau begitu menyintai Chit-ko, kiranya dia itu berhati baiklah!"

Lou Ping menggoda.

"Memang. Biarpun rupanya jelek, tapi hati budinya baik,"

Sahut Ciu Ki.

Dipuji sang isteri dihadapan orang banyak sekali Thian Hong puas hatinya.

Mengetahui keadaan semua orang sudah putus harapan, Hiang Hiang KiongCu menyatakan akan menyanyi untuk menghibur semua orang, Keh Lok segera bilang setuju, maka menyanyilah puteri Ui itu dengan suaranya yang merdu.

"Thiat-hun-kwan ditepi sungai Merak, pohon-pohon Mu pada ke 2 tepiannya menjulur kepermukaan air. Diatas punCak gunung nan tinggi, terdapat sebuah kuburan, ah, disitulah kuburan Tahir dan Yohana."

Dihukum mati oleh raja.

Selanjutnya raja melarang pu terinya menikah dengan Tahir.

Maksudnya, akan dinikahkan dengan ksatria hitam, putera dari dorna yang memfitenah ayah Tahir, dan yang kini dijadikan P.M.

baru.

Untuk men jauhkan hubungan dengan puterinya, Tahir dimasukkan kedalam peti dan dihanyutkan di Khong-jiok-ho atau sungai Merak.

Beruntung peti itu dapat ditemu oleh puteri dari raja negeri tetangga yang kebetulan sedang pesiar dengan perahu.

Oleh raja disitu, karena Tahir ternyata seorang pemuda yang gagah dan pintar, ia akan dipungut jadi mantu raja.

Selanjutnya akan dinobatkan menjadi raja untuk meng gantikannya.

Tapi ternyata Tahir menolak.

"Harta benda, tahta kerajaan ditambah pula dengan puterimu, masih tak nempil dengan ujung jari dari Yohana,"

Demikian kata Tahir.

Raja menjadi gusar, Tahir dipenjarakan.

Tapi untung, dia dapat melarikan diri dan kembali kedalam negeri asalnya.

Pada waktu itu, karena sangat merindukan sang kekasih, Yohana jatuh sakit.

Ayahnya membuat surat palsu dari Tahir untuk menghiburnya.

Dan betul juga, Yohana sembuh.

Tapi kembali ayahnya memaksanya untuk menikah dengan Hek Enghiong atau ksatria hitam.

Rakyat ternyata sangat mencintai puteri itu.

Mereka mengirim hadiah pemberian selamat, sebuah peti besar.

Dengan berlinang-linangair mata Yohana membukanya.

Ternyata isinya bukan lain adalah Tahir..............."

Menyanyi sampai bagian ini, Hiang Hiang terpaksa berhenti, karena Lou Ping dan Ciu Ki menyela bertepuk tangan. Kemudian ia melanjutkannya lagi.

"Hek Enghiong menobros masuk. Timbul ah pertarungan pedang antara Tahir dengan Hek Enghiong, dengan berakhir yang belakangan menemui ajalnya. Tapi Tahirpun ditangkap oleh raja dan dihukum jiret leher. Puteri Coba mintakan ampun, tapi raja yang sedang gusar itu, segera membunuh puterinya itu. Rakyat berpawai menggotong jenazah ke 2 pasangan setia itu, dengan me-nyanyi 2 sepanyang jalan."

Hiang Hiang menirukan nyanyian penguburan itu dengan nada yang mengharukan sekali.

Sekalipun Lou Ping dan Ciu Ki tak tahu maksudnya, namun mereka pun kuCurkan air mata saking terharu.

Suasana hening sesaat.

Tiba-tiba Jun Hwa tertawa keras dan berteriak.

"Kawan-kawan , lihatlah kemari!"

Ketika sudah diatas, semua orang sama melihat bagaimana enam-tujuh serdadu Ceng ber-kaok 2, tapi tak dapat bergerak.

Kiranya kawanan serdadu itu menyelinap hendak membokong.

Hal itu diketahui oleh Jun Hwa, namun dibiarkan dulu sampai dekat, baru akan dihajar.

Tapi setelah mereka mendengar suara nyanyian Hiang Hiang KiongCu, hati mereka tergonCang tak tenteram.

Mereka tengkurep untuk mendengarkannya.

Dalam hujan salju sedemikian itu, sekejap saja, badan mereka, telah terpendam salju.

Nyanyian selesai, mereka menCoba untuk bangkit, tapi ternyata sukar.

Karena hawa keliwat dingin, tak lama kemudian kawanan serdadu itu, mati kaku terbenam salju.

Juga rombongan orang 2 HONG HWA HWE itu hampir tak kuat menahan dingin.

Sim Hi mengambil sebongkok anak panah, lalu dibakar untuk pemanas badan.

Lou Ping mengawasi Hiang Hiang KiongCu dengan terkesima...............

Kembali pada kejadian sewaktu Ciauw Cong disekap oleh keempat raksasa persaudaran Ho Lun.

Andaikata Tiau Hwi tidak keluar, tentu masih belum dilepaskan.

Saking gusarnya, begitu lepas, Ciauw Cong segera menghantam Ji Houw.

Hampir siraksasa ke 2 itu pingsan, karena separoh giginya rompal.

Keempat saudara itu marah dan serentak menyerbu maju pula.

Tiau Hwi mendamprat nya, baru mereka mundur.

"Tiau-Ciangkun, baginda mengutus aku kemari untuk 2 perkara. Pertama untuk membawa gadis itu kekotaraja,"

Kata Ciauw Cong segera.

"Thio-tayjin belum pernah kemari, mengapa mengenal nya?"

Sahut Tiau Hwi.

"Orang Ui telah mengirim sepasang vaas giok selaku minta damai. Hok-thongleng perlihatkan benda itu padaku, maka kudapat mengenalnya,"

Tutur Ciauw Cong. Tiau Hwi mengelah napas.

"Orang laki 2 pengawalnya tadi, bukannya orang Ui. Dialah benggolan dari perkumpulan HONG HWA HWE"

Kata Ciauw Cong pula.

"Apa? Mengapa dia kemari?"

Tanya Tiau Hwi kaget.

"Baginda menyuruhnya ambil beberapa barang. Dan aku ditugaskan, begitu dia sudah ditengah perjalanan, supaya membunuhnya. Karena baginda kuatir barang itu betul-betul ada padanya. Kini ke 2 orang itu sudah lolos, sungguh sayang sekali,"

Ciauw Cong tepuk 2 pahanya dan mengelah napas.

"Ah, Thio-tayjin tak perlu gegetun. Untuk ke 2 utusan itu, telah kusiapkan jaringan. Akan kujadikan mereka ber 2 sebagai umpan, untuk menjaring "ikan besar". Kalau baginda menghendaki ke 2nya, itulah bagus, sekali tepuk 2 lalat,"

Kata Tiau Hwi dengan tertawa.

"He, bilanglah pada Tek-Ciangkun, tak boleh membunuh ke 2 utusan itu. Dan sekarang "thiat-kah-kun"

Boleh keluar, sembunyi dike 2 samping,"

Perintah Tiau Hwi pada seorang pengawalnya. Pengawal itu melakukan dengan segera.

"Karena ke 2 utusan itu orang 2 penting, fihak Ui tentu akan kirim balabantuan. Begitu mereka datang, pasukanku "thiat-kah-kun"

Akan menjepitnya begini!"

Kata Tiau Hwi sembari ke 2 tangannya menCakup ketengah.

"Masakan mereka masih bisa bernyawa?"

Katanya menambahkan dengan tertawa.

"Aha, Ciangkun pandai sekali menggunakan siasat. Maka tak heran kalau baginda menaruh keperCajaan besar pada Ciangkun. Untuk setiap tugas yang penting, tentu Ciangkun yang diserahi,"

Kata Ciauw Cong. Tiau Hwi gembira puas. Tertawalah dia dengan ter-kekeh 2.

"Selama ini, orang Ui memang liCin. Sengaja mereka main ulur waktu. Tapi kali ini, begitu induk kekuatannya hanCur, sisanya mudahlah."

"Untuk jasa besar itu, kedudukan raja muda, kiranya bukan barang yang mustahil bagi Ciangkun,"

Ciauw Cong memuji.

"Tayjin legakan hati saja. Aku tentu tak lupa akan jasa tayjin,"

Jawab Tiau Hwi.

Kembali Tiau Hwi titahkan orangnya supaya mengatur persiapan yang perlu.

Kali ini, dia kerahkan tigapuluh ribu tentara pilihan, sekali gebrak akan menghanCurkan induk pasukan Uigor.

Kini kita tinggalkan ke 2 pembesar Ceng yang tengah di mabuk hajal kemenangan besar itu, untuk menengok keadaan Tan Keh Lok dan Kawan-kawan nya.

Dengan melawan hawa yang menggigit tulang, mereka menjaga semalam suntuk.

Keesokan harinya, hawa kembali hangat, sekalipun salju masih turun.

Kata Thian Hong.

"Mari kita naik keatas, mungkin musuh akan menyerang lagi."

Selain Hiang Hiang, kesembilan orang gagah itu, siap dengan busurnya.

Udarapun makin terang.

Tapi ternyata pihak Ceng hanya melepas beberapa anak panah, dan tidak melakukan gerakan apa-apa.

Tiba-tiba teringatlah Thian Hong akan sesuatu.

Buru 2 dia tanya Sim Hi.

"Apa saja yang ditanyakan nona Ceng Tong padamu?"

"Ia bertanya, berapa jumlah musuh yang mengepung kita. Pula ditanyakan, apakah pasukan thiat-kah-kun musuh keluar tidak?"

"Bagus, kita ketolongan!"

Tiba-tiba Thian Hong berteriak kegirangan. Kawan-kawan nya memandangnya dengan heran.

"Ah, aku memang orang bodoh, kenapa menduga jelek pada nona Ceng Tong. Ia ternyata lebih Cerdik dari aku,"

Kata Thian Hong sendiri.

"Jelaskanlah!"

Bentak Ciu Ki karena mendongkol.

"Kalau pasukan thiat-kah menyerbu kemari, apakah kita bisa hidup?"

Tanya Thian Hong.

"Ya, aneh juga, kenapa musuh tidak menyerang?"

Jawab Ciu Ki.

"Sekalipun tidak usah thiat-kah-kun, kalau sekarang pasukan musuh yang berjumlah ribuan itu menyerbu, apakah kita kesembilan orang ini bisa bertahan?"

Kembali Thian Hong bertanya.

"Ya, benar. Mereka sengaja belum mau menyerang, agar fihak Ui kirim bantuan. Tapi nona Ceng Tong sudah dapat mencium bau, maka ia tak mau masuk perangkap"

Sela Keh Lok tiba-tiba.

"Dan kalau tak masuk perangkap, kita kan Celaka?"

Kata Ciang Cin.

"Tidak!"Ia tentu punya daya lain", sahut Keh Lok.

"Nah, memangnya aku tak perCaja CiCi Ceng Tong begitu jahat", Ciu Ki tertawa. Dengan lega hati, orang 2 itu masuk kembali kedalam lubang. Hanya Hi Tong dan Sim Hi yang masih menjaga diatas. Kini diCeritakan halnya Horta, utusan orang Boan itu, sudah tiba dan menghadap Tiau Hwi. Melawan janjinya pada Ceng Tong, dia tuturkan keadaan tentara Ui semua. Akhirnya, bagaimana dia kalahkan Ceng Tong, pun tak lupa ditonjolkan.

"Bagus, kali ini besar jasamu,"

Tiau Hwi memujinya. Namun Ciauw Cong ternyata berpandangan lain, tiba-tiba ia melangkah maju, terus memegang tangan kanan Horta, katanya.

"Selamat, Ho-tayjin!"

Seketika wajah Horta berobah meringis kesakitan.

Buru 2 dia tabaskan tangan kirinya pada tangan Ciauw Cong.

Ciauw Cong Cepat gentak tangan Horta kebelakang, maka terhuyung-huyunglah orang Boan itu sampai delapan tindak jauh nya.

Kalau dia terlambat pasang kuda 2, tentu ia sudah mencium tanah.

Horta terkejut berbareng gusar.

Sekali Cabut, ia siap dengan goloknya.

Namun ia tak berani bergerak sembarang an, dan mengawasi isyarat Tiau Hwi.

Juga Ciangkun ini tak kurang kagetnya.

Sedikitpun dia tak mengerti maksud Ciauw Cong.

Tiba-tiba Ciauw Cong menghampiri Horta dan serunya.

"Harap Ho-tayjin yangan marah!"

Kemudian berpaling kearah Siu Hwi, dia menerangkan.

"Tiau-Ciangkun, kukuatir laporan Ho-tayjin itu palsu!"

Horta bukan kepalang marahnya, teriaknya keras-keras.

"Aku sudah teken mati ikut pada Ciangkun. Kau ini orang ma Cam apa, berani omong tak keruan!"

"Memang aku tak berani menuduh Ho-tayjin melapor palsu. Yang kumaksudkan, orang Ui itu menyelomoti Tayjin dengan keterangan buatan,"

Kata Ciauw Cong.

"Bagaimana Thio-tayjin mengetahuinya?"

Tanya Tiau Hwi.

"Tadi Ho-tayjin mengatakan, dia dapat tundukkan Hwe Ceng Tong. Nona itu, benar aku belum pernah berhadapan. Tapi ia adalah murid dari "Thian-san Siang Eng", tentunya lihai. Dari keterangan sahabat kalangan piauwkiok, Giam Se Ciang, itu iblis no. enam dari Kwantong Liok Mo telah binasa ditangannya. Dengan orang she Giam, pernah aku bertemu di Pakkhia. Bukan hendak meremehkan, tapi kepandaian Giam Se Ciang itu ada lebih tinggi dari Ho-tayjin ini!"

"Oh, jadi Tayjin tadi telah menjajalnya!"

Kata Tiau Hwi.

"Sukalah Ciangkun memaafkan kelanCanganku tadi,"

Sahut Ciauw Cong.

"Meskipun kepandaianku Cetek, tapi masa tak dapat mengatasi anak perempuan semaCam dia? Taruh kata ia pura-pura kalah, masa aku tidak mengetahuinya,"

Teriak Horta marah-marah. Ciauw Cong tak mau meladeni. Tapi diam-diam dia berkata dalam hati.

"Memang orang semaCam kau Ini, mungkin kena dikelabuhi".

"Ia sengaja melepaskannya, apa maksudnya? Ha, tentu supaya aku mengetahui Cara ia mengatur bala bantuan. Hm, ia kirim 2 ribu pasukan penolong, dan 2 ribu tentara yang menyambutnya". Demikian Tiau Hwi berkata seorang diri. Dia berjalan kian kemari, memikirkan jawabannya. Tak lama kemudian, kedengaran dia berkata.

"Kalau itu benar suatu siasat, ia tentu tidak hanya kirim 2 ribu orang. Ia maukan aku nanti hanya sediakan tiga-empat ribu tentara untuk menyambutnya. Hal yang sebenarnya, ia akan kirim lima-enam ribu tentara, mungkin malah tujuh-delapan ribu, untuk meng hanCurkan pasukanku".

"Pandangan Tiau-Ciangkun luas sekali. Memangnya tentu begitu", kata Ciauw Cong.

"Tapi sekalipun mereka datang semua, paling banyak sekali hanya lima atau enambelas ribu orang. Dengan pasukan empatpuluh ribu serdaduku mudahlah kita menCari kemenangan."

Habis berkata begitu, Tiau Hwi suruh Horta perintahkan agar "thiat-kah-kun", juga dikeluarkan.

"Bahwa untuk merebut kemenangan, adalah sudah pasti. Cuma saja kuharap dalam kekaCauan nanti, yanganlah ke 2 orang yang dikehendaki baginda itu sampai binasa atau iolos. Baginda tentu akan murka sekali jika itu ter jadi", ujar Ciauw Cong.

"Lalu bagaimana pendapat Thio-tayjin?"

Tanya Tiau Hwi.

"Menurut pendapatku, lebih baik sekarang tangkap dulu orang 2 itu dan dibawa kemari. Tapi biarlah pasukan tetap pura-pura mengepung, agar orang 2 Ui mau datang,"

Kata Ciauw Cong.

"Baiklah, Tayjin boleh bawa lima puluh0 thiat-kah-kun kesana,"

Segera Tiau Hwi mengatur.

"Mereka hanya sembilan orang rasanya bawa sepuluh0 orang saja Cukuplah!"

Segera Tiau Hwi keluarkan lengCi, dan berangkatlah Ciauw Cong kesana.

Sampai didekat lubang, belasan anak panah segera me nyambutnya.

Tiga serdadu thiat-kah kena terpanah muka nya, terus terjungkal dari kudanya.

Ciauw Cong berteriak keras-keraspimpin penyerangan.

"He, thiat-kah-kun datang! Apa aku keliru menduga?"

Kata Thian Hong.

"Ya, bangsat Ciauw Cong yang memimpinnya!"

Tiba-tiba Jun Hwa berseru.

Teringat akan kematian ngenas dari Suhunya, mata Hi Tong ber-api 2.

Serentak lonCat keatas, dia terus serang Ciauw Cong dengan kim-tioknya.

Bukan main terperanjatnya Ciauw Cong.

Sampai sekian saat, dia termangu-mangu mengawasi sipenyerangnya, seorang hweshio bermuka jelek yang bergaja aliran Bu Tong Pai.

Menyusul, Jun Hwa ikut menyerang dengan sepasang siangkaonya.

Baru kini Ciauw Cong layani ke 2 anak muda itu.

Ditilik dari ilmu silat, Ciauw Cong jauh lebih kuat.

Namun disebabkan kenekadan ke 2 lawannya itu, lebih 2 Hi Tong yang bertekad bulat akan membalaskan sakit hati su hunya, maka pertempuran menjadi berimbang.

Saat itu, Berpuluh-puluh serdadu thiat-kah, sudah ikut menyerbu.

Keh Lok, Bun Thay Lay, Thian Hong, Ciang Cin, Lou Ping dan Sim Hi lonCat keluar menyambutnya.

Sepasang kampak si Bongkok Ciang Cin, meneryang dengan serunya, tapi pakaian baju dari pasukan thiat-kah itu tidak tertembuskan.

Malah hampir saja dia sendiri kena tertusuk tombak musuh.

Tidak banyak sekali berbeda, adalah Lou Ping, Sim Hi dan Thian Hong.

Betapa hebat mereka mengamuk, tapi seorangpun tak dapat melukai musuhnya.

Juga tabasan dari Bun Thay Lay, terpental balik.

Saking gemasnya, dia lempar senjatanya, terus menyerang dengan tangan kosong.

Seorang serdadu thiat-kah Coba menusuk dengan tombaknya, tapi kena ditarik oleh Bun Thay Lay, terus dibetotnya.

Begitu terampas, dia terus sodokkan ujung gagang tombak kemuka lawan.

Hebat!

Senjata itu berba lik makan tuan, menyusup masuk kedalam otak.

"Awas, belakang!"

Tiba-tiba Lou Ping menjerit.

Bun Thay Lay tidak gugup.

Memang dia berasa ada sam beran angin dari belakang.

SeCepat kilat, tangannya kiri dikaitkan kebelakang, dan tombak dari sipenyerang itu ter-kempit dalam ketiaknya.

Sedang sebelah tangannya lagi, menarik tombak yang masuk kedalam muka korbannya tadi, untuk kemudian berputar kebelakang terus melemparkan tombak itu kemuka sipenyerangnya yang baru itu.

Kembali sebuah pemandangan yang mengerikan!

Ujung tombak, masuk kedalam mulut, keluar dari tengkuk belakang.

Demikianlah kalau Pan-lui-Chui, sedang mengganas.

Kini dia gunakan sepasang tombak untuk mengamuk lagi.

Dalam sekejab saja, sudah ada sembilan orang serdadu thiat-kah yang termakan mukanya.

Tan Keh Lok tidak membekal senjata, keCuali 2 batang Cambuk kuda.

"Sim Hi, Ciang-sipte, ikutlah aku!"

Teriaknya.

Tapi ajakannya itu, disambut dengan tusukan tombak dari seorang serdadu thiat-kah.

Tan Keh Lok egoskan tubuh, menghindar.

Cambuk ditangan kiri disabetkan untuk meng gubat ke 2 kaki siserdadu.

Sekali tarik, terpelantinglah serdadu itu.

"Sim Hi bukalah topinya!"

Seru Keh Lok.

Topi dan pakaian serdadu itu terbuat daripada besi baja, dan berat sekali.

Maka begitu jatuh, sukarlah serdadu itu akan berbangkit.

Sim Hi sangat linCah.

Sekejab saja dia sudah loloskan topi baja siserdadu.

Dan sekali si bongkok mengajun kampaknya, hanCurlah kepalanya.

Demikianlah tiga serangkai itu, berkelahi dengan Caranya yang istimewa.

Tan Keh Lok yang mainkan Cambuk menggantol kaki, Sim Hi yang melolos topi dan si Bongkok yang menghabiskan jiwanya.

Juga Cara ini sangat berhasil.

Delapan atau sembilan serdadu dapat dibinasakan dalam sekejab.

Sisa dari kawanan serdadu thiat-kah itu, Copot nyalinya.

Diamuk oleh Bun Thay Lay dan dijirat Tan Keh Lok, mereka berteriak sembari mundur.

Adalah disaat itu Jun Hwa dan Hi Tong sudah kewalahan menghadapi permainan "jwan-hun-kiam"

Dari Ciauw Cong.

Buru 2 Thian Hong maju membantu.

Melihat anak buahnya lari semua Ciauw Cong perhebat desakan.

Begitu ketiga lawannya mundur, iapun lalu tinggalkan mereka.

Bun Thay Lay hendak mengejar, tapi disambut dengan hujan panah oleh pasukan Ceng.

"Lekas kemari!"

Tiba-tiba Lou Ping berteriak dengan kuatir terus lonCat masuk kedalam lubang.

Kawan-kawan nyapun segera mengikut.

Ternyata disitu Ciu Ki tengah mengadu jiwa dengan 4 orang serdadu.

Nampaknya sangat keripuhan sekali.

Ram butnya terurai, mukanya berlepotan darah dan lumpur.

Disaat Kawan-kawan nya bertempur dengan serdadu thiat-kah tadi, diam-diam keempat serdadu Ceng itu menyelinap masuk kedalam lubang.

Karena sempit, serdadu 2 tidak dapat menggunakan tombak, dan hanya pakai golok.

Gusarnya orang 2 HONG HWA HWE itu tak terkira.

Mereka berbareng menyerbu.

Lou Ping dapat menikam seorang, Jun Hwa seorang, sedang Bun Thay Lay dapat menerkam 2 orang.

Terus dibenturkan kepalanya satu sama lain, hingga peCah.

Thian Hong buru 2 menolong isterinya.

Ternyata Ciu Ki mendapat luka lagi 2 kali, ditangan dan pundaknya.

Hiang Hiang KiongCu robek pakaiannya buat balut luka itu.

"Tiau Hwi mengurung kita disini, supaya fihak Ui kirim bantuan. Ini tentu gara 2 Ciauw Cong, maka mereka akan menangkap kita,"

Kata Thian Hong.

"Tadi dia mundur tentu masih penasaran. Rasanya akan membawa anak buahnya datang lagi,"

Ujar Keh Lok.

"Mari kita gali lagi lubang perangkap, untuk tangkap bangsat itu,"

Usul Thian Hong.

Untuk membekuk Ciauw Cong, adalah menjadi idam 2an setiap Anggota HONG HWA HWE Menuruti petunjuk Thian Hong, mereka membuat sebuah lubang disebelah utara.

Diatasnya, bertutupkan salju setebal setengah meter, tapi didalamnya merupakan lubang.

Sedikitpun tak kelihatan.

"Kalau bangsat itu munCul lagi, CongthoCu harus me mikatnya supaya datang kemari,"

Pesan, Thian Hong.

Tepat pada waktu itu, Ciauw Cong benar-benar datang dengan sepasukan serdadu thiat-kah-kun lagi.

Karena bermula dia sudah omong besar pada Tiau Hwi hanya akan membawa seratus orang, maka apa boleh buat, kini dia hanya, kumpulkan lagi sisa anak buahnya itu, terdiri dari beberapa puluh orang saja.

Mereka kini memakai perisai.

Berturut-turut Jun Hwa lepaskan anak panah, semua kena ditahan perisai mereka.

Maka dengan tertentu, kini mereka dapat tiba, dimuka lubang.

Tiba-tiba Tan Keh Lok lonCat keluar, serunya pada Ciauw Cong.

"Mari kita putuskan, siapa yang kalah dan menang."

Melihat ketua HONG HWA HWE itu tak membekal senjata, Ciauw Cong lalu lempar senjatanya.

"Baik. Hari ini kita selesaikan benar-benar!"

Sahutnya. Demikianlah ke 2nya segera bertarung dengan tangan kosong. Tan Keh Lok keluarkan ilmu silatnya "peh-hoa-joh-kun."

Sedang Ciauw Cong gunakan ilmu silat tangan kosong dari Bu Tong Pai yang lihai, jakni "bu-kek-hian-kong-kun."

Bun Thay Lay, Thian Hong, Ciang Cin, Jun Hwa, Hi Tong dan Sim Hi berenam lonCat keluar.

Pertempuran segera peCah dengan hebat.

Tan Keh Lok terus main mundur-mundur.

Pelan tapi tentu, dia mendekati lubang dibawah salju.

Dua langkah lagi, Ciauw Cong pasti akan terperosok masuk.

Dalam saat yang genting itu, tiba-tiba ada seorang serdadu thiat-kah menyerbu.

Cepat menginjak diatas salju tadi, menjeritlah dia keras-kerasterus terperosok masuk.

Hanya je ritan seram yang terdengar.

Orang 2 menduga, tentulah itu Lou Ping yang tengah menghabiskan jiwa siserdadu.

Memang nyonya itulah yang siap menunggu dibawah.

Ciauw Cong terkesiap.

Sebaliknya kini Tan Keh Lok berlaku nekad.

Dia maju menubruk lawannya, menyikapnya keras-kerasuntuk didorong kedepan.

Tapi orang she Thio itu sudah pasang kuda 2, kokoh bagaikan terpaku ditanah.

Dia gunakan tenaganya berbalik mendorong.

Begitulah Dua-2nya, sama berkutetan.

Yang satu tak dapat lolos, sedang yang lain tak dapat mendorongnya.

Tiba-tiba ada 2 orang serdadu thiat-kah menusukkan tom baknya kepada Tan Keh Lok.

Thian Hong terkejut.

Cepat dia lonCat maju.

Dengan tongkat dia tolak ujung tombak, kemudian dia dorong Keh Lok dan Ciauw Cong yang saling gumul itu kedalam lubang.

Ketika ke 2 serdadu itu tusukkan lagi tombaknya, dia lalu menghindar dengan bergelundungan.

Jatuh kedalam lubang perangkap, ke 2 orang itu, Keh Lok dan Ciauw Cong, sama terlepas.

Lou Ping Cepat menghantam dengan goloknya, tapi dengan lihainya Ciauw Cong dapat merebut senjata itu.

Pikirnya, hendak dia hantam nyonya itu, tapi sebuah tendangan yang dilunCurkan dari belakang oleh Tan Keh Lok, membuatnya batal.

Kini dia berbalik menyerang Keh Lok, siapa sembari mengegos kesamping, lalu menotok jalan darah "im-si-hiat"

Dipaha lawan. Ciauw Cong Cepat tarik kakinya.

"Sret, sret, sret!"

Tiga kali beruntun Lou Ping lepaskan hui-to, golok terbang.

Karena sempitnya, orang tak dapat bergerak dengan leluasa.

Tapi dalam saat-saat berbahayanya itu, Ciauw Cong dengan gapah sekali dapat menghindari ketiga golok terbang itu.

"CongthoCu, sambutilah golok ini!"

Lou Ping berseru, sembari lempar golok pada Tan Keh Lok. Dengan gunakan ilmu golok "kim-kong-hok-houw-to-hwat,"

Keh Lok tempur Ciauw Cong yang bersenjatakan golok pendek bolehnya merebut dari Lou Ping tadi.

Memang kepandaian ketua HONG HWA HWE itu, beraneka ragam.

Dia dapat gunakan segala maCam senjata.

Tidak demikian dengan Ciauw Cong.

Dia ini hanya tumpahkan keyakinan nya pada ilmu pedang.

Maka dalam hal adu senjata, dia agak kurang leluasa.

Baru belasan jurus, beberapa kali Ciauw Cong hampir kena, andaikata dia tak pakai tangannya kiri untuk membantu dalam ilmu silat tangan kosong.

Sebaliknya, Lou Ping diam-diam menjadi girang.

Sepasang golok "Wan-yang-to"-nya itu belum pernah lolos dari tangannya.

Kini masing-masing dipakai oleh 2 jago.

Kalau dulu, ia anggap sepasang goloknya, satu panyang satu pendek, itu sama 2 lihai kegunaannya, sekarang baru tahulah ia, bahwa yang panyang itu ternyata lebih lihai dari yang pendek.

Ciu Ki siap dengan golok untuk melindungi Hiang Hiang KiongCu, yangan sampai Ciauw Cong nanti main gila.

Mendadak Ciauw Cong lemparkan golok pendek yang dipegangnya itu keatas, lalu serunya.

"Mari kulayani kau dengan tangan kosong!" -Habis itu, tangan kanan, tangan kiri, susul menyusul merabu diantara gemerlapnya golok Tan Keh Lok.

"Sambut golok ini!"

Seru Keh Lok sambil lemparkan kembali golok kepada Lou Ping. Berbareng itu, tangan kirinya menyerang dan menotok jalan darah "jiok-ti-hiat."

Gerakan dalam lubang sesempit itu, sangat terpanCang.

Yangan kata hendak lonCat kian kemari, atau maju mundur.

Maka ke 2 lawan itu, tumpahkan seluruh kepandaiannya.

Mereka tak berani berlaku ajal.

Justeru itu, dalam beberapa puluh jurus kemudian lantas dapat diketahui yang unggul dan yang kalah.

"Peh-hoa-joh-kun"

Dari Tan Keh Lok memang hebat.

Tapi tak urung masih kalah sempurna keyakinannya dengan Ciauw Cong, begitu pula kalah tenaga.

Dengan berlalunya sang waktu lebih lama, makin tampak dia tak dapat bertahan lebih lama.

Lou Ping Cemas.

Hendak ia turun tangan membantu, tapi sukar untuknya melihat kesempatan yang baik, karena asjik dan Cepatnya pertempuran itu.

Kini makin nyata.

Tan Keh Lok dibawah angin.

Tiba-tiba Ciauw Cong kirim sebuah tendangan.

Begitu lawan miring kekiri, dia susuli dengan tonjokan tangan kiri.

He batnya tonjokan itu bukan main, hingga menerbitkan sam beran angin keras.

Dalam keadaan yang gawat itu, tiba-tiba disebelah atas ada orang berseru.

"Awas thiat-tan!"

Ciauw Cong kaget, ia menarik balik tangannya dan buru 2 dekap kepalanya.

Benar juga, sebuah benda bundar melayang datang.

Ciauw Cong pernah rasakan betapa ngerinya thiat-tan itu, dia menjadi berCekat dan diam-diam berpikir.

"Mengapa situa itu datang? Dari sebelah atas, tentu hebat sekali timpukannya itu."

Dia telah ambil putusan, tak mau menyambuti atau menghindar. Sekali enjot, dia melesat tinggi keatas.

"Bum"...... demikian suara thiat-tan menghantam lubang. Dan menyusul itu, Thian Hong lonCat kedalam lubang. Kiranya sejak Ciu Tiong Ing bermenantukan Thian Hong, dia turunkan ilmunya thiat-tan pada sang menantu. Thian Hongpun mejakirikannya dengan sungguh-sungguh. Dan kali inilah untuk pertama kalinya dia menCoba kepandaian itu. Malah disertai meniru bentakan dari mertuanya. Benar timpukannya itu tak berhasil, namun sedikitnya dapat membikin kaget Ciauw Cong. Ciauw Cong menyusuli lagi dengan sebuah enjotan, terus lonCat keatas. Tapi baru kakinya menginjak tanah, sebuah samberan dan pukulan yang luar biasa dahsyatnya, menyerang. Belum pernah, dia bertemu dengan pukulan sehebat itu. Cepat dia angkat tangan kanan, dan berhasil menangkisnya, tapi dengan berbuat begitu, dia kembali harus lonCat lagi masuk kedalam lubang.

"Siapa dia? Kepandaiannya tidak dibawahku,"

Pikirnya dengan kerkejut. Baru kakinya menginjak dibawah, seseorang telah me nyusul dan membentaknya dengan suara menggeledek.

"Penghianat busuk, masih kenal aku tidak?"

Seorang yang bertubuh tinggi besar, sikapnya gagah perkasa, berdiri dihadapannya.

Itulah Pan-lui-Chiu Bun Thay Lay.

Jun Hwa, Ciang Cin, Hi Tong dan Sim Hi setelah dapat memukul bujar pasukan thiat-kah, lalu ikut melonCat masuk.

Kini, Bun Thay Lay berhadapan muka dengan musuhnya besar.

Disekelilingnya, adalah Tan Keh Lok dan Kawan-kawan nya.

Teringat akan sakit hatinya di Thiat-tan-Chung, dan pen-deritaannya selama ini, alis Bun Thay Lay terangkat naik, matanya ber-api 2, gerungannya makin dahsyat.

Sekali gerak, dia terus gunakan ilmunya istimewa "pi-lik-Ciang"

Atau pukulan geledek.

Ilmu pukulan itu Menderu-deru bagaikan kilat menyambar.

Hawanya sedemikian rupa seramnya.

Se-olah 2 ditempat sesempit itu, dia akan adu jiwa, mati atau hidup.

Pertempuran ini, jauh lebih dahsyat dari Tan Keh Lok tadi.

Baik Ciauw Cong, maupun Bun Thay Lay, sama 2 keluarkan ilmunya yang paling ganas sendiri.

Melihat sikap Bun Thay Lay yang sedemikian seramnya itu, Hiang Hiang menjadi ketakutan.

Keh Lok menghampiri dan memegang tangannya, sembari tertawa.

Hiang Hiang mengawasi sianak muda, seperti hendak menanyakan apakah Keh Lok berasa Cape.

Tapi Keh Lok gelengkan kepalanya.

Dengan lengan baju, Hiang Hiang usap peluh dan kotoran dimuka pemuda ini.

Tan Keh Lok siapkan tiga biji Catur.

Sewaktu Bun Thay Lay dalam bahaya, segera akan ditolongnya.

Menggenggam biji Catur, teringatlah Keh Lok akan permainan yang digemari itu, pikirnya.

"Sungguh seperti dalam posisi Catur yang ruwet. Ditengah, Bun-suko bertempur dengan Ciauw Cong. Diluarnya, kita mengepung. Tapi kitapun dikepung oleh pasukan Ceng. Dan diluar kepungan itu, nona Ceng Tong tengah berdaya untuk menobros masuk. Masih diluar lagi, induk pasukan Ceng menyusun kepungannya yang kuat pula. Dalam permainan ini, sekali salah jalan, habislah riwajatnya."

Orang 2 HONG HWA HWE itu Cukup paham, bahwa Bun Thay Lay akan menCari balas.

Karenanya mereka tak mau ikut turun tangan, hanya mengawasi dipinggir dan menjaga yangan sampai Ciauw Cong bisa lolos.

Mereka Cukup perCaja akan kelihaian Sukonya itu.

Sekalipun tak menang, tapi pasti tak nanti terkalahkan.

Demikianlah pertempuran itu berjalan dengan gigih sekali.

Laksana gelombang ombak dilaut mendampar batu karang.

Betapapun hebat sang ombak mendampar, batu itu tetap tangguh.

Demikian pertempuran itu.

Betapa hebat Bun Thay Lay menggempur, Ciauw Cong tetap tak bergeming seperti karang.

Entah bagaimana kesudahannya nanti.

Dalam pada itu, pasukan Ceng makin mengepung rapat-rapat.

Keh Lok mengerti, bahwa lebih dulu bangsat itu harus lekas dibereskan, baru nanti dapat mengalihkan perhatian untuk menahan musuh.

Teringat dia akan sebuah Corak permainan Catur.

Dalam keadaan terjepit, harus dapat bertahan dengan gigih sampai nanti bantuan datang.

Timbul ah pikirannya.

"Lain orang membantu, mungkin Suko kurang senang. Tapi kalau Suso yang turun tangan, dia tentu tak marah."

Cepat dia beri isyarat pada Lou Ping, siapa terus akan melepas huito. Tapi karena rapatnya mereka yang berkelahi itu, ia tak berani menimpuk, kuatir mengenai suaminya sendiri.

"CongthoCu, kau turun tanganlah. Aku tak bisa!"

Serunya.

Tiga buah biji Catur Keh Lok segera melayang menCari jalan darah.

Ciauw Cong keripuhan menghindar.

Dan kesempatan ini, digunakan Bun Thay Lay untuk menghantam sang lawan.

Pada saat pukulan itu akan mengenai sasaran nya, tiba-tiba disebelah atas terdengar suara sorakan riuh, derap kaki kuda dan gemerinCing pedang beradu.

"Tan-kongCu, Asri, kalian dimana?"

Sekonyong-konyong seorang lonCat kepinggir lubang sambil berseru. ^,Ayah, ayah, kita berada disini!"

Teriak Hiang"

Hiang.

"Balabantuan datang! Saudara-saudara mari kita naik, dan bunuh dulu bangsat ini,"

Seru Keh Lok segera.

Dan semua orang serentak menyerang Ciauw Cong.

Ciauw Cong tahu, biar bagaimana dia pasti tak dapat menangkis sekian banyak sekali senjata.

SeCepat kilat, dia mendapat akal.

Dengan ke 2 tangan, dia hantamkan kearah punggung Hiang Hiang.

Semua orang kaget dan Cemas.

Serempak mereka maju menolong.

Tapi ternyata serangan Ciauw Cong itu hanya sebuah tipu pukulan yang disebut.

"suaranya disebelah timur tapi yang dipukul sebelah barat."

Tiba-tiba dia tarik kembali pukulannya. Tangannya kanan menjumput segenggam pasir terus dilontarkan. Mata sekalian orang menjadi pudar, tahu-tahu Ciauw Cong lonCat keatas.

"Hmm!"

Tiba-tiba ia menggerung tertahan.

Betisnya kena ditimpuk thiat-tan oleh Thian Hong.

Tapi dengan kretek gigi, dia berhasil juga untuk lolos.

Rombongan orang HONG HWA HWE lonCat mengudaknya.

Disitu Bok To Lun tengah memutar golok menyerang musuh, di kuti oleh anak buahnya.

Pihak Ceng pun keprak kudanya menyambutnya.

Kesitulah Ciauw Cong menyusup, terus menghilang.

Bun Thay Lay dapat merampas sebatang tombak.

LonCat keatas kuda putih, dia maju menyerbu.

Tapi Lou.

Ping buru 2 menCegahnya.

Anak tentara Ui terlatih bagus.

Sekalipun daya tempur dari pasukan Hek Ki itu agak kurang.

Tapi karena mereka yakin, bahwa pertempuran kali ini untuk membela tanah airnya, maka mereka berkelahi dengan semangat me-nyala 2.

Nampak ayahnya datang, muka dan kumis siapa penuh dengan darah, buru 2 Hiang Hiang lari mendapatkannya terus susupkan kepalanya kedada sang ayah.

"Ayah!"

Panggil sigadis dengan terharu. Bok To Lun memeluknya, dan meng-usap 2 kepala sang anak.

"Anak, yangan takut. Ayah datang menolongmu!"

Kata orangtua itu.

Thian Hong berdiri keatas punggung kudanya, ia menengok keadaan diseluruh penjuru.

Tampak disebelah timur sana, debu mengepul tinggi ditanah bersalju debu bisa mengepul, suatu tanda disitu tentu bersembunyi pasukan musuh.

"Bok-loenghiong, mari lekas mundur keatas sebuah tanah tinggi disebelah barat,"

Seru Thian Hong segera.

Tahu Bok To Lun, bahwa Thian Hong itu Cerdas sekali.

Dulu merampas Quran, adalah dia yang merenCanakan.

Dari itu pemimpin suku Ui itu sangat memperCajainya.

Terus dia perintahkan pasukannya menuju kebarat.

Tentara Ceng mengejarnya.

Tiba-tiba disegelah barat sana, ada lagi sebuah rerotan pasukan berkuda yang datang menyerang, hingga pasukan Bok To Lun terkepung ditengah 2.

Bok To Lun dengan Bun Thay Lay keprak kudanya untuk menobros, tapi terpaksa kembali karena dihujani panah oleh musuh.

"Ah, ternyata Ceng-ji benar. Aku sendiri yang tolol meta nyalahkannya. Kini ia tentu menyesali aku,"

Pikir Bok To Lun.

Lekas-lekas Thian Hong ajak rombongannya naik keatas bukit pasir, dan mengadakan penjagaan sekuat-kuatnya sampai bala bantuan datang.

Rupanya mereka mendapat posisi yang baik sekali.

Beberapa kali, musuh dapat dipukul mundur.

Bok To Lun bagi 2kan ransum kering pada rombongan tamunya.

Tepat pada saat itu, mereka memang sudah kehabisan makanan.

Dan sehabis dahar, semangatnya menjadi segar lagi.

Kini balik kita menengok keadaan Ceng Tong yang membawa pasukannya.

Kira-kira belasan li dari tempat musuh, ia perintahkan berhenti.

Itu waktu tengah hari.

Para pemimpin barisan dan kurir berkuda sama memberi laporan.

"Selokan 2 ditepi tebat berlumpur telah siap digali,"

Lapor pemimpin Ang Ki atau pasukan bendera merah.

"Semua penduduk kota Yarkand sudah diungsikan. Tempat persembunyian sudah ditutup dengan kayu bakar dan minyak,"

Lapor pemimpin kompi kesatu dari Pek Ki.

"Dan semua sumur 2 didalam kota tersebut, telah dimasuki raCun,"

Kata pemimpin kompi 1tiga dari pasukan tersebut. Pemimpin pasukan Kazak dan Mongolpun melapor tentang pekerjaan mereka. Semuanya telah selesai menurut titah Ceng Tong.

"Bagus, saudara-saudara telah Cape semua. Sekarang kita bermarkas disebelah timur dari tebat lumpur itu,"

Kata Ceng Tong yang terus mengeluarkan lengCi.

"Dan kini pemimpin kompi II dari Ang Ki bawalah lima puluh0 orang untuk menjaga tepi selatan dari sungai Hitam. Usahakan yangan sampai tentara musuh dapat menyeberang. Paling sedikit, mereka menyerang dengan sepuluh ribu serdadu. Yangan lawan mati-matian, Cukup kalau dapat mengulur waktu. Kalau sampai ada seorangpun serdadu musuh yang dapat menyeberangi sungai, yangan kau menghadap aku lagi."

Pemimpin itu segera berlalu.

"Pemimpin kompi I dari Pek Ki, bawalah anak buahmu. Pikatlah supaya musuh mengejarmu kearah barat. Kau harus berpura-pura kalah, lari terus kegurun besar, makin jauh makin bagus,"

Atur Ceng Tong pula. Tapi Kipanya pemimpin itu wataknya suka menang, dia tak senang diperintah supaya kalah.

"Kita orang Ui hanya tahu menang. Aku tak biasa "kalah","

Serunya.

"Ini perintahku."

Disepanyang jalan, kau lemparkan empat ribu ekor kerbau dan sapi yang kau bawa itu, agar mereka terpikat dan merampasnya,"

Kata Ceng Tong.

"Mengapa ternak diserahkan musuh? Aku menolak!"

Mulut Ceng Tong dikatupkan kenCang 2, dengan keren ia menegaskan.

"Jadi kau membangkang?"

Pemimpin itu kibaskan goloknya, berseru keras.

"Perintahmu untuk menangkan peperangan, aku turut. Untuk suruh aku kalah, aku Tegas-tegas menolaknya."

"Akan kubawa kalian kearah kemenangan. Kau hanya pura-pura kalah dulu, baru nanti berbalik menyerang lagi,"

Ujar sigadis. Merah mata pemimpin kompi itu, karena beringas.

"Sedang ayahmu sendiripun tak dapat memperCajai kata-kata-mu, mengapa kau akan Coba menipu aku? Kau kira aku tak tahu isi hatimu?"

Teriaknya sengit.

"Tangkap dia!"

Seru Ceng Tong pada pengawal didekatnya, Empat orang pengawal segera meringkus hulubalang itu, siapa hanya tertawa tawar saja, tak mau melawan.

"Bahwa orang Ceng akan menyerang wilayah kita, harus-( lah kita bersatu padu dulu, baru dapat menCapai kemenangan. Nah, kau turut perintahku apa tidak?"

"Aku tetap tidak mau. Coba kau akan berbuat apa padaku?"

"Tabas kepalanya!"

Bentak Ceng Tong tegas.

Tadi hulubalang itu bersikap Congkak, karena mengira Ceng Tong pasti tak berani menghukumnya.

Maka demi didengar keputusan itu, mukanya lantas berobah puCat seperti kertas.

Pengawal itu Cepat 2 lakukan titah Ceng Tong, dan menggelindinglah kepala hulubalang yang membangkang itu.

Ceng Tong suruh pertunjukkan kepala itu kepada semua pemimpin barisan.

Dan merekapun menjadi patuh karena takut.

Oleh Ceng Tong segera wakil pemimpin kompi kesatu dari pasukan Pek Ki diangkat menjadi penggantinya.

Ditugaskan memikat musuh supaya( mengejarnya kearah gurun.

Kalau nanti ada pertandaan asap dari sebelah timur, harus lekas kembali dengan ambil jalan memutar.

Pemimpin baru itu segera berangkat.

Selesai memberi perintah, seorang diri Ceng Tong kaburkan kudanya keparat.

Tiba-tiba dia turun, terus berlutut.

Ke 2 belah pipinya basah dengan air mata.

Dengan suara lemah ia bersembahyang.

"O, Al ah Yang Maha Kuasa, hamba mohon berkah dituntun kearah kemenangan. Ayah, saudara, sampaipun ponggawa perang, tak memperCajai hamba lagi. Demi memelihara peraturan pasukan, terpaksa hamba membunuh orang.

"O, Al ah, limpahkanlah berkatMu, agar kami menang, agar ayah dan adik hamba kembali dengan tak kurang suatu apa. Kalau mereka ditakdirkan binasa, mohon hamba saja yang menggantikannya. Tak akan hamba bermohon apa-apa lagi, biarlah Tan-kongCu dan adik hamba saling berbaik. Kau karuniakan mahkota keCantikan pada Asri, tentu ber-lebih 2an pula kasihMu padanya. Kumohon kasihMu itu selalu dilimpahkan padanya". Habis mendoa, Ceng Tong lonCat keatas kuda. Memutar kembali kudanya, ia menCabut pedang seraya berteriak.

"Kompi kesatu dan ke 2 dari pasukan Hek Ki, ikutlah aku. Lain-lainnya kembali kepos masing-masing!"

Kita tengok lagi keadaan Bok To Lun dan rombongan Tan Keh Lok.

Lewat tengah hari, tiba-tiba di belakang barisan musuh timbul kekaCauan.

Sebuah pasukan meneryangnya datang dengan hebat.

Dibawah hujan salju, tampak pemim pin pasukan itu, seorang yang berpakaan warga kuning, dengan memutar golok panyang.

Sebatang bulu burung yang berwarna hijau kebiru 2an nampak ber-goyang 2 terCantum diatas kepalanya.

Itulah Chui-ih-wi-sam Hwe Ceng Tong yang gagah perkasa.

"Ayo, kita menyerbu, sdr. 2!"

Seru Thian Hong.

Bagaikan gelombang, pasukan Ui yang dipimpin oleh orang 2 gagah HONG HWA HWE menyerbu kebawah dari 2 jurusan.

Tentara Ceng tak kuasa menahannya.

Maka terbukalah jalan dimana keempat pasukan Ui -2 dari Bok To Lun dan 2 dari Ceng Tong -dapat bergabung.

Hiang Hiang KiongCu ajukan kudanya, kemudian saling berpelukan dengan sang enci.

Ceng Tong menarik tangan adiknya, seraya memberi perintah.

"Sdr. pemimpin kompi tiga dari Hek Ki, lekas bawa anak buahmu mundur kebarat, bergabung dengan kompi I dari Pek Ki. Turutlah perintahnya!"

Pemimpin itu Cepat melakukan perintah.

Kuda dari anak buah kompi itu semuanya pilihan.

Tampak dari jauh sebuah bendera kuning ber-kibar 2.

Itulah pasukan pilihan Wi Ki atau panji kuning dari tentara Ceng sudah mengejarnya.

"Bagus!"

Seru Ceng Tong ke girangan.

"Sdr. pemimpin kompi I pasukan Hek Ki, mundurlah ke kota Yarkand. Turut perintah kokoku. Kompi II Hek Ki, kau mundur ketepi selatan sungai Hitam. Disana sudah siap menyambut kompi II pasukan Ang Ki kita. Dengarlah perintahnya!"

Kembali ke 2 pemimpin kompi itu berangkat. Kini tampak pasukan Ceng dari Pek Ki (bendera putih) yang mengejarnya.

"Saudara-saudara, mari kita menyerbu ketimur!"

Seru Ceng Tong.

Tigaratus anak buah tentara Ui, mengawal nona pemimpin mereka, segera membuka jalan.

Bok To Lun, Hiang Hiang dan Tan Keh Lok berserta rombongannya bergabung dalam kompi 4 pasukan Hek Ki, terus ikut meneryang kearah timur.

Tiau Hwi Cepat titahkan ke 2 sayapnya -pasukan thiat-kah -menghadangnya.

Yang ini adalah pasukan pilihan dari Lam Ki (pasukan biru) mereka.

Pemimpin dan wakilnya sama bersenjatakan tombak berkait.

Pasukan Ui tadi segera tampak terCeCer.

Mereka bertempur sembari lari.

Sekejab saja, beberapa ratus tentara Ui terkepung, pasukan Thiat-kah itu bersuka ria membasminya.

Tiau Hwi girang sekali.

Menunjuk pada panji bulan sabit, disebelah Ceng Tong, dia berseru.

"Siapa dapat merampas panji bulan sabit itu, mendapat hadiah seribu tail perak!"

Be-rebut 2an anak buah .thiat-kah-kun merangsek maju.

Mereka mengejar kearah gurun raja.

Karena anak buah kompi 4 dari pasukan Hek Ki suku Uigor itu berkuda bagus 2, dalam beberapa waktu, thiat-kah-kun tak dapat mengejar.

Mereka mengejar sampai tiga-empatpuluh li.

Diantara beberapa anak buah kompi 4 Hek Ki itu, ada, yang terCeCer ketinggalan.

Mereka memberi perlawanan seru, tapi tak urung dapat dibunuh oleh thiatkah-kun.

Tapi setiap serdadu Ui yang dibunuh itu, kalau bukan orang tua tentu masih kanak-kanak.

Melihat itu, Tiau Hwi menjadi girang.

"Aha, pemimpin mereka itu tidak dikawal oleh barisan istimewa! Ayo, kejar terus!"

Serunya.

Lewat beberapa li lagi, keadaan pasukan Ui makin kaCau.

Yang tamnak, hanya panji bulan sabit ber-kibar 2 diatas sebuah bukit.

Kuda Tiau Hwi juga seekor kuda pilihan.

Dengan memutar golok besar, dia keprak mendahului untuk mengejarnya.

Tamoaklah rombongan Ceng Tong itu turun dari atas bukit.

Setiba, dipunCak bukit, Tiau Hwi segera bujar semangat nya, Disitu bukan pasukan panji bulan sabit yang didapati nya, melainkan suatu pasukan yang berbaris rapih dan angker.

Disitu yang berkibar, adalah panji Merah (Ang Ki).

"Sungguh Cerdik sekali orang Ui itu. Kiranya mereka sudah sediakan bay-hok disini!"

Pikir jenderal Ceng itu. Ketika ia memandang kesebelah utara, tampak sepasukan bendera putih (Pek Ki) tengah mendatangi.

"Lekas mundur, pasukan belakang menjadi pasukan di muka!"

Seru Tiau Hwi dengan gugup.

Begitu perintah dikeluarkan, pasukan Ceng menjadi kaCau.

Kini keadaan berbalik.

Tentara Ui bagaikan semut maju mengejar.

Benar semula tentara Ceng lebih besar jumlahnya dari pada fihak Ui, tapi oleh karena kini pasukan Tiau Hwi itu terpencil, kurang lebih hanya sepuluh ribu orang, maka mereka tak ungkulan melawan induk pasukan Ui yang berpusat ditempat itu.

Saat itu, ke 2 pasukan pilihan dari fihak Ui dari sebelah barat sudah mulai meneryang.

Jadi kini Tiau Hwi terkepung dari tiga jurusan, barat, selatan dan utara.

Hanya disebelah timur yang masih terdapat lubang.

Melihat itu Tiau Hwi Cepat perintahkan pasukannya meneryang kearah itu.

Dia sendiri pimpin penjagaan dibelakang.

Makin ketiga pasukan Ui itu mendekati, makin ributlah pasukan Ceng itu mundur kesebelah timur.

Di-tengah-tengah kepanikan itu, tiba-tiba ada seorang serdadu kuda maju kemuka Tiau Hwi dengan berteriak keras-keras.

"Tay-Ciangkun, Celaka, disebelah depan sana adalah lautan pasir dan tebat lumpur!"

Lautan pasir endap dari gurun Mongolia, adalah luas dan hebat.

Itu waktu sudah ada seribu serdadu thiat-kah yang tengah berkutetan didalam endapan.

Makin lama, mereka makin melesak kedalam.

Lautan pastt endap itu terjadi karena dulu sungai dari daerah padang pasir situ tak dapat mengalir kedalam laut.

Air itu merembes masuk dalam pasir, dan jadilah sebuah lautan pasir yang mengendap.

Luas "gurun lumpur"

Itu tak kurang dari sepuluh mil persegi.

Dimusim salju, permukaannya tertutup salju, sehingga tak kelihatan.

Disinilah Ceng Tong memusatkan bayhok.

Sudah tentu bagi seorang jenderal yang temaha kemenangan semaCam Tiau Hwi itu tak dapat mengetahuinya, Ketika Ceng Tong dan rombongannya mengawasi dari punCak bukit, mereka dapatkan bagaimana serdadu 2 Ceng yang melesak terbenam dalam pasir endap itu makin banyak sekali jumlahnya.

Ada juga tentara Ceng itu Coba menerobos keluar, tapi disekitar tempat itu penuh dipasangi dengan lubang 2 perangkap oleh fihak orang Uigor.

Begitulah anak buah thiat-kah-kun itu digenCet dari tiga jurusan.

Hasilnya, mereka saling injak diantara kawan sendiri.

Dan tanpa menginsafi, mereka banyak sekali yang lari ke jurusan daerah pasir endap.

Sekali injak, kakinya melesak sebatas lutut.

Makin bergerak, makin melesak kedalam.

Pinggang mereka mulai melesak, maka terdengarlah ribuan serdadu Ceng itu ber-teriak 2 dengan ngeri.

Dan ini justeru memperCepat melesaknya sang tubuh.

Tahu-tahu sudah sampai sebatas mulut, dan pada lain saat, berbareng dengan sirapnya teriakan, kepala mereka pun hilang ditelan pasir.

Paling belakang, masih ke 2 belah tangan mereka ber-gerak-gerak, tapi sekejab saja sudah lenyap; sama sekali.

Sepuluh ribu tentara Ui, dengan memegang perisai dan golok, mengawasinya disebelah luar dari lubang perangkap itu.

Sedang 2 pasukan pilihannya lanjutkan pembasmian nya lagi kepada sisa thiat-kah-kun yang belum keburu mendekati pasir endap.

Demikianlah dalam waktu yang tak lama, sepuluh ribu thiat-kah-kun didesak lari dan kelelap dalam lautan pasir endap.

Untunglah Tiau Hwi, itu jenderal besar dari pasukan Ceng, dengan dikawal oleh seratusan pengawalnya, berhasil lolos dari sebuah jalan kecil.

Melihat be-ribu 2 serdadu dan kuda, mati kelelap dalam lumpur pasir, Hiang Hiang menangis tersedu 2.

Ia palingkan kepalanya, karena tak tahan melihatnya.

Sebaliknya Bok To Lun sangat gembira, katanya pada Ceng Tong.

"Ceng-ji, tadi aku telah kesalahan omong, yangan kau taruh dihati. Memang perangaiku berangasan, ayah yang bersalah."

Ceng Tong menggigit bibir, tak menyahut. Tiba-tiba Sim Hi merajap datang, katanya dengan serta merta.

"Aku sikecil ini memang kurang ajar, sehingga tak mengetahui akan siasat nona yang lihai ini. Mohon nona tidak mendendam dihati."

Tapi sekali Ceng Tong peCut kudanya, ia tinggalkan kaCung itu yang masih berdiri kesima ditempatnya.

"Sudahlah,"

Ciang Cin tertawa.

"Tunggu nanti Cong-thoCu mintakan ampun untukmu!"

Begitulah si Bongkok menari-nari, dan tertawa lebar, katanya pula.

"Sungguh aku tak habis mengerti, mengapa ia tak menggiring seluruh tentara musuh kedalam laut pasir endap itu!"

"Kita sekarang menang jurnlah,"

Kata Thian Hong.

"mudahlah untuk melakukan itu. Tapi kalau belum-belum seluruh pasukan Ceng itu dimasukkan kemari, andai kata mereka nekad meneryang keluar, tentu kita tak dapat menahannya, bukan?"

"Betul. Tadi kita malah menduga jelek pada nona pandai itu,"

Sahut Ciang Cin. Saat itu tak terdengar lagi suara apa-apa dari serdadu musuh. Nyata mereka sudah hilang tenggelam semua.

"Semua pasukan menuju kebarat, berkumpul ditepi sebelah selatan Sungai Hitam,"

Ceng Tong kembali keluarkan perintah.

Dibawah pemimpin masing-masing, pasukan besar Ui itu mulai bergerak.

Selama dalam perjalanan, Bok To Lun dan Tan Keh Lok saling tanyakan keadaan masing-masing.

Berat nian hati kepala suku itu memikirkan ke 2 puterinya.

KeDua-2nya, adalah buah kesayangannya.

Kini ke 2nya nampaknya sama 2 jatuh hati pada pemuda Han itu.

Benar menurut peraturan agama Islam, seorang laki 2 boleh beristeri sampai 4 orang wanita.

Tapi orang muda itu bukan orang Islam.

Entah bagaimana nanti jadinya.

"Biar nanti dipikirkan lagi setelah musuh dapat dikalahkan. Ceng-ji Cerdas tangkas. Asri halus budi pekertinya. Ke 2nya saling menyayang. Ah, tentu dapat dipeCahkan soal itu."

Pikir orang tua itu. Petang hari, pasukan besar itu tiba ditempat yang ditu junya. Sekonyong-konyong ada seorang serdadu barisan berkuda bergegas-gegas menghadap Ceng Tong.

"Pasukan musuh menyerang kita dengan hebat. Pemimpin kompi 2 dari pasukan Ang Ki kita, sudah terbunuh. Pemimpin kompi 2 dari pasukan Hek Ki, luka parah, anak buah ke 2 kompi itu, teranCam kemusnaan,"

Demikian laporan nya.

"Suruh wakil 2 pemimpin ke 2 kompi itu mengambil alih pimpinan. Tidak boleh mundur barang setapakpun juga,"

Seru Ceng Tong. Serdadu berkuda itu Cepat berlalu.

"Kita kirim tidak bala bantuan kesana?"

Tanya Bok To Lun.

"Tidak!"

Sahut Ceng Tong dengan ringkas. Ia berpaling kesamping, dan memerintahkan pengawalnya.

"Suruh semua pasukan kita ini beristirahat. Awas, yangan membuat api unggun. Boleh makan ransum keringnya!"

Pasukan besar yang terdiri dari sepuluh ribu jiwa lebih itu, segera beristirahat. Jauh disana terdengar deru air Sungai Hitam. Kembali ada seorang pembawa warta, datang bergegas 2.

"Wakil pemimpin dari kompi 2 pasukan Hek Ki tadi sudah gugur pula. Anak buah kita tak dapat bertahan lagi!"

"Saudara pemimpin kompi tiga dari pasukan Ang Ki, pergilah bantu mereka. Pimpinan seluruh pasukan disana, kaulah yang pegang!"

Titah Ceng Tong. Dengan memutar senjatanya, hulubalang yang ditunjuk itu segera berangkat.

"Nona Ceng Tong, bolehkah aku turut menyerbu?"

Teriak Ciang Cin.

"Tadi kalian keliwat lelah, baik mengaso lagi sebentar."

Melihat sikap angker dari sinona sebagai komandan pasukan besar itu, Ciang Cin tak berani banyak sekali CingCong lagi.

Belum selang lama kompi tiga pasukan Ang Ki tadi berlalu, segera terdengar teriakan gemuruh.

Tentu mereka sudah terlibat dalam pertempuran dengan tentara Ceng.

Setelah semangat seluruh anak buahnya segar kembali, Ceng Tong kembali.

peCah barisannya.

Semua kompi dari pasukan Ang Ki, harus mempersiapkan bayhok dibelakang bukit sebelah timur.

Sedang barisan Pek Ki suku Kazak dan semua pasukan dari Mongolia, harus menyiapkan bayhok disebelah barat.

"Ayo kita maju lagi,"

Seru Ceng Tong sambil angkat pedangnya.

Makin kemuka, makin kedengaran dengan jelas, jerit teriak serdadu 2 yang tengah mengadu jiwa itu.

Apabila malam sudah tiba, tampak anak buah fihak Ui menjaga dengan mati-matian beberapa buah jembatan kayu dihulu sungai.

Tiba-tiba Ceng Tong perintahkan mereka mundur, dan ribuan tentara Ceng menobros melalui jembatan itu.

Setelah separoh lebih serdadu Ceng melalui jembatan, berserulah Ceng Tong keras-keras.

"Tarik papan jembatan!."

Berpuluh ribu tentara Ui itu, sama sembunyi dibawah tapian sungai.

Jembatan tadi bermula sudah dikendorkan, dan di katkan pada ratusan kuda dengan tali besar.

Sekali aba 2 keluar, maka ratusan ekor kuda itu lari kemuka dan terdengarlah bunyi keretekan yang keras.

Jembatan putus.

Beberapa puluh serdadu thiat-kah yang sedang berada di tengah jembatan itu, sama keCebur dalam sungai semua.

Dan nyatalah pasukan Ceng itu terputus 2.

Satu ditepi sini sebagaian ditepi sana.

Mereka hanya dapat saling pandang, tak dapat saling memberi bantuan apa-apa.

Ceng Tong kibaskan bendera perintahnya, dan keluarlah barisan bayhok meneryangnya.

Tapi tentara Ceng ternyata terlatih baik.

Sekalipun dalam kekaCauan, masih mereka patuh akan perintah pemimpinnya.

Segera mereka berkumpul dalam formasi yang teratur.

Kira-kira masih berapa ratus tindak dari musuh, tiba-tiba tentara Ui berhenti.

Sekali lagi Ceng Tong kibaskan benderanya.

Dan.

"bum, bum", sana sini kedengaran bunyi letusan menggelegar, disusul dengan kepulan asap hitam bergulung-gulung. Bumi yang dipijak oleh tentara Ceng itu, ternyata di pendami obat pasang. Maka dapat dibayangkan betapa kaget dan hebat keadaan mereka. Potongan kaki dan gumpalan daging berterbangan ke-mana 2. Suasana menjadi panik. Berbareng itu, pasukan Ui meng"hujani panah. Karena tak dapat maju, mereka mundur saling injak sendiri, dan keCebur kedalam sungai. Pakaian thiat-kah mereka, berat sekali. Sekali keCemplung air, terus ambles. Sisanya sudah tak keruan lagi keadaannya, dan dalam sebentar waktu saja dapat dibasmi oleh fihak Ui. Tepi sungai yang bertutupkan salju putih itu, penuh bertebaran majat serdadu. Pasukan Ceng disebelah tepian sana, ketakutan setengah mati. Mereka berbondong-bondong mundur kedalam kota Yarkand.

"Lintasi sungai, kejar terus!"

Perintah Ceng Tong. Dengan gunakan perahu 2, induk pasukan Ui lakukan pe ngejaran kekota Yarkand.

"Hebat sekali nona Ui itu mengatur tentara. Rasanya aku tak nempil seujung rambutpun dengannya,"

Kata Thian Hong.

Keh Lok diam-diam pun kagum.

Penduduk kota Yarkand siang 2 sudah diperintahkan mengungsi.

Yang jaga disitu adalah anak buah Hwe Ah In.

Dia pura-pura mengadakan perlawanan.

Habis itu, dia lalu mundur.

Tak lama, pasukan Ceng dari bendera Kuning yang dikaCip dan dibinasakan hampir separoh oleh tentara Ui tadi, pun tiba dari pengundurannya di Sungai Hitam.

Begitu pun ke 2 pasukan Ceng itu, kini bergabung.

Juga jenderal mereka, Tiau Hwi, tak lamapun datang dengan para pengawalnya.

Demi mendengar kekalahan yang* diderita oleh pasukannya di Sungai Hitam tadi, Tiau Hwi marah besar.

Justeru pada saat itu, seorang ponggawa datang melapor, bahwa beberapa ratus serdadu Ceng yang minum air sumur, telah sama mati seperti kena raCun.

Tiau Hwi titahkan sekelompok regu mengambil air diluar kota.

Habis itu, hendak ia mengaso.

Tapi segera dia menjadi kaget, demi nampak langit berwarna kemerah 2an.

Seluruh kota kelihatan terang benderang.

Seorang pengawal masuk bergegas 2, mengatakan bahwa empat penjuru kota Yarkand diamuk api.

Kiranya didaerah Hwe, banyak sekali menghasilkan tambang minyak.

Dibeberapa tempat, terdapat sumber minyak yang kaja.

Dalam perintahnya dulu, Ceng Tong suruh setiap penduduk supaya menyimpan minyak dirumah masing-masing, sebelum mereka mengungsi.

Maka dengan gunakan bayhok yang terdiri dari sedikit orang saja, dapatlah Ceng Tong melaksanakan renCananya, membakar tentara Ceng.

Dibawah lindungan pengawalnya, Tiau Hwi menobros.

Dalam kekalutan itu, pasukan pengawal peribadi tersebut, membuka jalan darah untuk menyelamatkan sang Ciangkun.

Mereka menuju kepintu barat.

Sepasukan besar serdadu thiat-kah memapaki, dan melapor bahwa orang Ui telah menutup pintu barat.

Sukar menobrosnya.

Tiau Hwi beralih tujuan kearah timur.

Api makin hebat.

Terbakar api baju thiat-kah itu menjadi panas.

Saking tak tahan serdadu 2 itu buang pakaian thiat-kahnya, untuk lari tunggang langgang.

Anak buah pasukan Ui yang berada dikota itu ber-sorak 2 riuh rendah.

Dalam kekalutan itu ada sebuah kelompok kecil dari beberapa serdadu Ceng, menghampiri Tiau Hwi.

"Mana TayCiangkun?"

Teriak mereka.

"Disihi!"

Sahut pengawal Tiau Hwi. Seorang segera tampil kemuka dengan tangkasnya. Itulah Horta.

"TayCiangkun, yang berada dipintu timur agak sedikit, kita teryang kesana,"

Katanya pada Tiau Hwi. Dalam keadaan sedemikian berbahaya itu, Tiau Hwi masih bisa berlaku tenang. Dengan sisa pasukannya yang luka-luka itu dia menuju kepintu kota sebelah timur.

Jilid 31 S E W A K T U fihak Ui menghujani panah, karena tak mengenakan thiat-kah, banyak sekalilah serdadu Ceng yang luka dan binasa.

Beberapa kali, mereka gagal untuk meloloskan diri.

Apipun makin mengganas.

Beribu-ribu mayat serdadu Ceng yang terbakar itu, mengeluarkan bau sangit dan busuk, membuat orang sama muak.

Dalam keadaan yang sangat genting itu, tiba-tiba Ciauw Cong munCul dengan sepasukan serdadu Ceng.

Begitulah karena diserang dari luar dan dalam akhirnya bobollah pasukan Ui.

yang menghadang dipintu timur itu.

Tiau Hwi dapat lolos dengan selamat.

"Sayang, sayang!"

Bok To Lun banting 2 kakinya.

"Saudara. pemimpin kompi 4 dari pasukan Ang Ki. Bantulah saudara. 2 kita dipintu timur itu. Pertahankan mati-matian,"

Titah Ceng Tong dari tempat yang tinggi.

Pemimpin itu Cepat membawa anak buahnya kesana.

Karena Tiau Hwi sudah lolos, maka sisa pasukan Ceng yang masih berada dalam kota itu, seperti kehilangan pimpinan.

Keempat pintu, dijaga rapat-rapat oleh fihak Ui.

Mereka ber serabutan lari sana sini, akhirnya terbakar binasa.

"Nyalakan "long-yan"!"

Perintah Ceng Tong.

"Long-yan"

Atau asap serigala biasa dipakai suku 2 bangsa digurun pasir untuk saling memberi kabar, jakni membakar segunduk besar kotoran serigala yang kering.

Maka sebentar saja, segulung asap raksasa membumbung keudara.

Asap dari bahan kotoran binatang itu, paling tebal.

Bisa terlihat pada jarak berpuluh li didaerah padang sahara situ.

"Ah, buat apa asap itu?"

Tanya Ciu Ki pada Thian Hong.

"Untuk menyampaikan berita pada orang yang berada di tempat jauh", sahut yang ditanya. Memang benar, tak bera lama kemudian, kira-kira 10an li dari sebelah barat, kelihatan membumbung asap besar.

"Itu dia, disana ada orang menyahuti pertandaan itu, dan menyampaikannya pada Kawan-kawan nya dilain tempat. Cepat sekali pertandaan itu, akan sudah tersiar beberapa ratus li jauhnya", kata Thian Hong. Ciu Ki meng-angguk-angguk kepala memujinya. Berturut-turut dalam tiga kali perang, fihak Ui telah dapat kemenangan besar. Lebih dari tiga 0 ribu anak buah tentara Ceng dapat dibinasakan. Beribu 2 anak buah tentara Ui itu saling berpelukan, karena girangnya. Disebelah luar kota Yarkand, mereka sama menyanyi dan menari. Ceng Tong suruh semua pemimpin kompi berkumpul.

"Kini saudara. 2 boleh mengaso di-tempat 2 menurut penetapan renCana kita. Malam nanti, perintahkan setiap anak buah kita, membakar 10 gunduk api unggun. Jarak setiap api unggun itu sedapat mungkin harus jauh!"

Kini kita tengok induk pasukan bendera kuning dari fihak Ceng, yang berada dibawah pimpinan Tek Ngo.

Mereka terus kejar kompi tiga dari Hek Ki pasukan Ui yang lari kebarat.

Tunggangan dari kompi pasukan Ui, semua kada pilihan yang dapat lari pesat.

Kini mereka sampai menyusup masuk ketengah padang pasir raja.

Karena mendapat perintah dari Tiau Hwi, harus terus mengejar dan membasmi pasukan Ui, maka Tek Ngo terus lakukan pengejaran.

Sampai 10an li lagi, sekonyong-konyong dari sebuah lamping jalan, munCul ah beberapa ratus ekor sapi dan kambing.

Melihat itu, serdadu 2 Ceng menjadi lupa daratan dan girang bukan kepalang.

Mereka berebutan menangkapinya.

Setelah berhenti untuk makan, mereka lanjutkan lagi pe ngejarannya.

Kompi tiga dari pasukan Hek Ki itu dapat bertemu dengan kompi I dari pasukan Pek Ki.

Ke 2nya terus sama 2 lari, tak mau tempur orang Ceng.

Petang hari, mereka sudah keCapaian.

Tiba-tiba kelihatan asap membumbung dari sebelah timur, maka berserulah pemimpin Hek Ki kompi I itu dengan girang.

"Chui-ih-ui-sam sudah mendapat kemenangan, mari kita balik kearah timur lagi!"

Kini adalah orang-orang Ceng yang menjadi heran, mengapa orang-orang Ui itu sekonyong-konyong balik.

Dan yang mengherankan lagi, saat itu orang-orang Ui putar lagi kudanya kebelakang, terus lari kebarat.

"Sampai keujung langitpun, kita tetap mengejarmu!"

Seru Tek Ngo.

Pasukan Ceng itu, adalah pasukan istimewa yang langsung dibawah perintah kaisar Boan.

Dalam Pat-ki-peng, delapan pasukan, pasukan panji kuning itu menduduki tempat pertama.

Karena ingin mendirikan pahala, Tek Ngo tak mau sudah.

Berturut-turut jatuhlah binatang kuda anak buahnya, saking lelahnya.

Pemimpin itu suruh serdadu 2 yang kehilangan tunggangannya, menggabung diri dalam pasukan darat.

Dan pengejaran tetap diperhebat.

Hampir setengah malam mengejar itu, beberapa pongga wa dibarisan muka datang melaporkan.

"TayCiangkun Tiau Hwi, berada disamping kanan."

To-thong Tek Ngo, buru-buru menyambut.

Tampak olehnya, ngenes sekali keadaan jenderal besar itu.

Itu waktu, dia hanya membawa kira-kira tiga ribu tentara saja.

Itupun dalam keadaan tak keruan macamnya.

Melihat kedatangan pasukan istimewa itu, semangat Tiau Hwi kembali terbangkit.

Pikirnya.

"Setelah memperoleh kemenangan, musuh pasti lengah. Pada kesempatan yang tak mereka duga ini, kalau kuhantam, pasti kekalahanku tadi dapat kutebus". Cepat berpikir demikian, Cepat pula dia perintahkan menuju ke Sungai Hitam lagi. Kira-kira 2-tiga puluh li berja lan, serdadu dimuka melapor, induk pasukan Ui berkemah disebelah depan. Tiau Hwi ajak Ciauw Cong, Horta dan beberapa orang naik kesebuah tanjakan tinggi untuk melihatnya. Tapi apa yang tertampak, mengejutkan hati mereka. Di sana, dibarisan bukit dan diseluruh daerah padang pasir itu, tampak ditaburi dengan api unggun. Jumlahnya terbilang ribuan tak dapat dihitung. Dan samar 2 kedengaran suara dan ringkik kuda yang yang berisik sekali. Tiau Hwi kemekmek.

"Kiranya orang Ui sembunyikan. selaksa tentaranya disini. Ah, makanya kita kena dikalahkan,"

Kata Horta.

Pada hal, sebenarnya itulah tipu siasat Ceng Tong yang lihai.

Lebih dulu dia merenCanakan siasat untuk rnemeCah musuh menjadi 4 pasukan.

Kemudian dengan pasukan yang besar jumlahnya nona itu berhasil musnakan keempat pasukan tersebut., satu demi satu.

Dan siasat Ceng Tong agar anak tentaranya membuat api unggun itu, sungguh menggemparkan jenderal Ceng tersebut.

"Lekas mundur kesebelah selatan, tak boleh terlalu beri-sik,"

Perintah Tiau Hwi segera. Anak tentara Ceng tak sempat makan, terus naiki kudanya masing-masing.

"Menurut keterangan penunjuk jalan, kalau keselatan tentu kita akan lewat dikaki gunung Ingkiban. Pada musim salju, jalanan disitu sukar dilalui,"

Kata Horta.

"Ya, tapi jumlah musuh sedemikian besarnya. Coba kau lihat disemua penjuru, adalah barisan mereka. Hu Tek Ciangkun membawa tentaranya melalui padang Gobi. Kalau kita hendak lolos, jalan satu 2nya hanya menuju kearah tenggara untuk menggabungkan diri dengan mereka (Hu Tek),"

Sahut Tiau Hwi.

"Ah, Ciangkun sungguh pandai mengurus ketentaraan,"

Puji Horta.

Tiau Hwi hanya menjengek.

Dalam keadaan terpeCun dang, kata-kata semacam itu, rasanya seakan-akan sindiran baginya.

Begitulah, pasukan besar dibawah pimpinan Tiau Hwi, segera berangkat.

Perjalanan makin lama makin sukar dan berbahaya.

Disebelah kiri Sungai Hitam.

Sedang disebelah kanan jalan, adalah gunung Ingkiban.

Pada malam hari, bulan dan bintang tak tampakkan diri.

Hanya dipunCak gunung, tampak Cahaja putih dari salju yang menutupinya.

"Siapa yang berani mengeluarkan sedikit suara saja, dihukum tabas,"

Tiau Hwi keluarkan perintah.

Anak buah tentara Ceng itu, berasal dari daerah Liauw-tang.

Tahu mereka kalau sedang melintasi jalanan gunung yang bertutupkan salju tebal.

Sedikit saja mereka mengeluarkan suara, bisa menimbulkan benCana salju longsor yang hebat.

Karenanya, mereka berlaku luar biasa hati-hati untuk turun dari kudanya dan berjalan kaki.

Jalanan makin menanjak dan sangat berbahaya.

Syukur, hari sudah mulai terang tanah.

Sehari semalam melakukan pengejaran, payahlah rasanya serdadu 2 itu, dan juga kuda tunggangannya.

Wajah mereka tampak lesu puCat.

Tiba-tiba dibarisan depan, terdengar orang berteriak, menyatakan tentara Ui menyerang dari sebelah muka.

Pasukan pilihan dari Tek Ngo segera maju menyambutnya.

Tampak beberapa ratus orang Ui yang menunggang kuda, menukik turun dari atas gunung.

Sewaktu hampir dekat, tiba-tiba mereka sama turun dari kudanya, terus memutar bina tangnya itu.

Mereka melolos badi 2 ditusukkan pada paha kuda.

Karena sakit, kuda itu menjadi beringas, terus kabur meneryang kearah pasukan Ceng.

Karena jalanan sempit, banyak sekalilah serdadu Ceng yang keteryang kuda itu, ber-sama 2 jatuh kedalam jurang.

Sudah begitu, orang-orang Ui itu Cepat mengambil sebuah jalan singkat, terus naik keatas gunung lagi.

Dari situ, mereka menggelundungkan batu-batu besar, sehingga sekejab saja, jalanan itu tertutup.

Tek Ngo perintahkan tentaranya mundur.

Tapi anak buahnya dibarisan belakang sama berteriak, jalanan dibelakang pun sudah ditutup oleh orang Ui.

Tak ada lain pilihan bagi Tek Ngo, selain meneryang kemuka.

DipunCak gunung Ingkiban kelihatan sang Bulan Sabit berkibar 2.

Dibawah panji 2 itu, ada belasan orang Ui tengah memimpin penyerangan.

"Teryang sekuat-kuatnya kesebelah selatan, tak perduli kita harus berkorban besar,"

Perintah Tiau Hwi.

Pasukan thiat-kah segera membersihkan jalan, dengan membuangi mayat serdadu 2 dan kuda, kedalam sungai.

Di antara bunyi genderang yang membisingkan telinga itu, mereka meneryang kemuka.

Yang menghadang, ternyata hanya beberapa puluh orang Ui.

Tapi karena jalanan keliwat sempit, sekalipun pasukan Ceng itu berjumlah besar, tapi tak dapatlah mereka berhasil membobolkan dengan seketika.

Dalam pada itu, barisan belakang dari tentara Ceng itu, terus menerus maju saja, sehingga kini jalanan itu penuh sesak dengan orang.

Mendadak orang-orang Ui yang menghadang tadi, mundur dan menghilang.

Dan sebagai gantinya, dibelakang sana tampak berjajar 2 Berpuluh-puluh meriam.

Melihat itu, terbanglah semangat serdadu 2 Ceng tersebut.

Dengan berteriak 2 ketakutan, mereka membalik badan terus lari.

Meriam 2 yang terbuat dari tanah itu, lantas muntahkan peluru.

Tapi sayangnya, meriam 2 itu hanya dapat dibidikkan sekali.

Untuk mengisikan obat pasang lagi, harus makan waktu sampai setengah harian.

Walaupun demikian, dapat juga meriam 2 itu membinasakan kira-kira 2ratus serdadu Ceng dan menghalau serbuan musuh.

Tiau Hwi seperti orang kebakaran jenggot.

Gelisah dan marah sekali.

Tiba-tiba dia mendengar suara berkesiur dan lehernya terasa dingin sekali.

Kiranya itulah segelundung salju yang kecil, menimpa diatas bayunya.

Ketika mendongak keatas gunung, ternyata salju yang menutupi pun-Caknya itu, pelahan-lahan mulai melongsor kebawah.

"TayCiangkun, Celakalah! Lekas mundur kebelakang!"

Seru Horta.

Tiau Hwi Cepat putar kudanya, terus lari kebelakang.

Keadaan anak buah pasukannya, menjadi kalut.

Mereka saling desak, sehingga banyak sekali yang keCemplung dalam sungai.

Sedang begitu, longsoran salju itu makin menderu keras.

Dan tak berapa lama kemudian, gumpalan salju berCampurkan batu-batu gunung menggelundung kebawah, bagaikan bumi peCah.

Suaranya jauh lebih dahsyat dari penyerangan ribuan pasukan berkuda.

Tiau Hwi tengkurapkan tubuhnya keatas pelana.

Horta dan Ciauw Cong mengawalnya dikanan kiri.

Setelah dapat melarikan diri sampai tiga li jauhnya, baru dia berani menoleh kebelakang.

Apa yang dilihatnyai membuat bulu romanya berdiri.

Jalanan digunung tadi, tertutup dengan salju setebal beberapa tombak.

Beberapa ribu pasukan istimewa dibawah pimpinan to-thong Tek Ngo tadi, semua terpendam hidup-hidup dibawahnya.

Melihat kemuka, jenderal itupun menjadi kesima lagi.

Disana, jalanan pun penuh tertutup salju, tak mungkin dilalui.

Banyak sekali sudah Tiau Hwi keluar dalam peperangan.

Selama itu, hanya kemenangan yang selalu diperolehnya.

Belum pernah dia dipeCundangi, apalagi kekalahan total seperti itu.

Empat laksa pasukan istimewa, dalam sehari 2 malam saja telah) dimusnakan musuh.

Dada jenderal itu berombak keras, dan tiba-tiba dia menangis menggerung-gerung.

"Ciangkun, kita ambil jalan keatas gunung saja,"

Kata Ciauw Cong.

Dipimpinnya tangan jenderal peCundang itu, untuk mendaki keatas.

Horta pun gunakan kepandaiannya berjalan Cepat, untuk mengikuti dan melindungi Ciangkun dari belakang.

Itu waktu Ceng Tong tengah berada disalah sebuah pun Cak gunung, untuk mengawasi jalannya pertempuran.

"Ada musuh lolos, Ayo, lekas hadang!"

Tiba-tiba ia berseru demi melihat Ciauw Cong membawa jenderal Ceng itu.

Yang dititah Ceng Tong untuk menjaga gunung Ingki-ban, adalah pasukan Mongol.

Maka beberapa serdadu Mongol segera menjalankan titah itu, terus menCegatnya.

Sewaktu sudah dekat dan mengetahui bahwa ketiga pelarian itu mengenakan pakaian pembesar Ceng, mereka girang sekali.

Hendak mereka tangkap hidup-hidupan.

Tiau Hwi mengeluh dalam hatinya.

Sudah menderita kekalahan hebat, masih ada kemungkinan besar ditawan musuh.

Sungguh suatu penghinaan yang belum pernah diala mi seumur hidupnya.

Ciauw Cong berlaku waspada, terus mendaki keatas.

Dengan sebelah tangan memondong Tiau Hwi, jago Bu Tong Pai itu masih linCah berjalan diatas gunung salju dengan gesitnya.

Sebaliknya, Horta, sekalipun hanya memba wa dirinya sendiri, masih tak dapat mengikuti Ciauw Cong.

Diam-diam dia sangat mengagumi orang she Thio itu.

Tiba-tiba dipunCak gunung, Berpuluh-puluh serdadu Mongol itupun segera menyergapnya.

Ciauw Cong Cepat kempit Tiau Hwi, sekali dia gerakkan kakinya dalam gerak "it-ho-jong-thian"

Atau burung ho menobros langit, tubuhnya melambung keatas.

Serdadu 2 Mongol itu menubruk angin, dan saling berbenturan sendiri.

Ada yang kepalanya benjol ada yang hidungnya pisek.

Tatkala mereka akan mengejar lagi, Ciauw Cong sudah lari kebawah.

Hendak Horta mengikutinya, tapi dia kurang Cepat, dan dapat ditubruk oleh seorang musuh.

Ke 2nya bergelundungan ketanah.

Beberapa kawannya maju membantu, meringkus orang Boan itu, terus diseret kehadapan Ceng Tong.

Pada saat itu, pemimpin 2 dari masing-masing kompi sudah berada diatas untuk melaporkan hasilnya.

Pasukan panji kuning dari tentara Ceng, keseluruhannya musna.

Hanya beberapa orang yang dapat lolos, antaranya Ciauw Cong yang menyelamatkan Tiau Hwi dan beberapa orang yang sangat tangkas.

Ceng Tong bersama rombongannya kembali kemarkasnya.

Markas besar Ceng telah dapat dipukul peCah, serdadu 2 yang tertawan, ransum dan alat 2 senjata yang terampas, tak terhitung banyak sekalinya.

Yang per-tama 2 dikerjakan, ialah membebaskan orang-orang Ui yang tertawan dalam markas besar tentara Ceng itu.

Diantaranya, adalah keempat persaudaran Ho Lun, itu manusia raksasa.

Menurut laporan serdadu 2 Ui, ketika mereka memasuki markas besar musuh, keempat raksasa itu kedapatan di kat kaki tangannya dan ditaruh di-tengah-tengah markas.

Tan Keh Lok menanyakan keterangan pada mereka berempat.

"Tiau-Ciangkun persilakan kamu membantu fihakmu. Kami akan d".hukum potong kepala. Pelaksanaannya tunggu kalau sudah dapat mengalahkan fihak Ui", Tay Houw memberi keterangan.

"Nah, kalau kalian ikut kami bagaimana?"

Tanya Keh Lok. Keempat saudara itu berlutut, menghaturkan terima kasih.

"Kalau KongCu suka terima kami, tentu saja kami akan setia. Apa saja yang KongCu perintahkan, pasti akan kami kerjakan,"

Kata mereka. Tan Keh Lok tersenyum, katanya kepada Ceng Tong.

"Bagaimana kalau kuminta keempat orang ini?"

"Boleh, KongCu ambil ah", sahut Ceng Tong. Keh Lok perintahkan Sim Hi, supaya keempat raksasa itu masing-masing diberi hadiah 5 tail emas, dan diajarkan peraturan dari perkumpulan. Dengan kegirangan, keempat raksasa itu mengikut S"m Hi. Pada saat itu, pemimpin kompi tiga Ang Ki yang disuruh ngejar Tiau Hwi dan sisa 2 rombongannya, bergegas-gegas datang. Dari mata 2 dibarisan depan, pemimpin itu mendapat laporan bahwa dipadang Gobi, ada kira-kira empat-lima ribu tentara Ceng tengah menuju kearah selatan. Mendengar itu, Ceng Tong serentak berbangkit. Ia pimpin pasukannya untuk menyambut kedatangan musuh itu. Kira-kira beberapa puluh li jauhnya, benar juga kelihatan panji musuh berkibar ditengah kepulan debu sedang mendatangi. Cepat Ceng Tong kibaskan lengkinya. Masih dalam hawa kemenangan, majulah 2 buah kompi dari pasukan Ang Ki menyerang kemuka. Kiranya, pasukan musuh itu adalah bala bantuan yang dipimpin oleh pembantu Tiau Hwi, HuCiangkun Hu Tek. Ketika bersua dan diberi keterangan oleh Tiau Hwi dan Ciauw Cong, bahwa pasukan Ceng telah menderita kekalahan besar, buru-buru HuCiangkun itu mundur kearah timur. Tapi gerak gerik mereka, tertangkap juga oleh mata 2 Ui, dan begitulah Ceng Tong buru-buru menCegatnya. Bahwa hawa panas dan perjalanan jauh dipadang pasir itu telah melemaskan anak buah tentara Ceng dan binatang 2 tunggangan mereka, itulah sudah dapat dipastikan. Apalagi, kini mereka kalah jumlah menghadapi induk pasukan fihak Ui. Tiau Hwi tak mau meladeni perang lagi. Di -perintahkan, supaya kereta-kereta dan kuda dijajar-jajar merupakan sebuah lingkaran. Didalam itulah, anak buah tentara Ceng itu, menjaga diri dengan busur dan anak panah. Beberapa kali, fihak Ui Coba meneryang, tapi setiap kali dapat dipukul mundur.

"Mereka bertahan dengan mati-matian. Kalau kita berkeras menggempur, tentu kita menderita kerugian besar. Kita menang jumlah, lebih baik kurung saja mereka"

Kata Ceng Tong.

"Benar", sahut Keh Lok sependapat. Ceng Tong perintahkan anak buahnya membuat lubang disekeliling pertahanan musuh. Disitulah mereka akan "me ngunCi"

Pasukan Teng yang penghabisan.

Hendak menyerah, atau rela mati kelaparan dan kehalusan, terserah pada mereka.

Orang Ui memukul berantakan pasukan Ceng yang dibawah pimpinan jenderal Tiau Hwi itu terjadi pada tahun Kian Liong yang ke 2tiga , bulan 10.

Dan pengepungan diatas, terjadi dari bulan 10 sampai bulan 1 tahun berikutnya.

Jadi 4 bulan lamanya.

Mengenai peristiwa itu para sasterawan di jaman kemudian menamakan kejadian tersebut dalam se jarah sebagai "Pengepungan di Sungai Hitam."

Dapat dibayangkan, betapa penderitaan anak buah tentara Ceng pada waktu itu.

Empat bulan terkurung ditengah 2 padang pasir, yang mati kehausan, kepanasan dan sakit, entah berapa banyak sekalinya.

Karena keganasan dan ketidak beCusan dari jenderal 2 baginda Kian Liong, akibatnya, Berpuluh-puluh ribu orang Ui kehilangan rumah, dan Berpuluh-puluh ribu serdadu Ceng tewas dimedan peperangan.

Malamnya, Bok To Lun bersama Hwe Ah In datang juga dengan beberapa ribu serdadu.

Demikianlah, setelah lubang selesai digali, maka mereka lalu membuat tanggulan didepan nya.

Tan Keh Lok dan suadara 2nya pun turut membantu.

Selama itu, Bun Thay Lay mengawasi gerak gerik difihak musuh.

Tampak olehnya, bagaimana disamping Tiau Hwi ada seseorang yang tengah memberi perintah, pada anak tentaranya.

Itulah Ciauw Cong.

Melihat itu, kembali kemarahan Bun Thay Lay timbul.

Dia minta sebatang busur dan anak panah kepada seorang serdadu Ui.

Maksudnya akan dipa nahnya.

"Ha, bangsat itu kiranya berada disana. Terlalu jauh dari sini, mungkin tak sampai", kata Thian Hong. Bun Thay Lay tetap menCobanya. Busur dipentangnya lebar 2, dan "krak!"

Putuslah batang busur yang terbuat dari besi itu.

Hebat nian tenaga ari Pan Lui Chiu itu!

Buru-buru dia ganti lain busur.

Sekali tangan dikibaskan, maka me-layang 2lah sebatang anak panah kearah Ciauw Cong, siapa menjadi kaget bukan terkira.

"Dalam jarak yang sedemikian jauhnya ini, mengapa mereka dapat melepas anak panah sampai disini?"

Pikir Ciauw Cong sembari menghindar kesamping. Sial adalah seorang pengawal yang berada disebelah belakang. Anak panah itu tepat menanCap didadanya.

"Suko, bagaimana kalau kita serbu dan bekuk bangsat itu,"

Kata Jun Hwa. Yangan!"

Buru-buru Thian Hong melarangnya.

"Yangan kita melanggar perintah nona Ceng Tong."

Bun Thay Lay, Jun Hwa dan lain-lainnya, sama menyetujui. Karenanya, mereka hanya dapat mengawasi bayangan orang yang sangat dibencinya itu dengan dada, sesak.

"Hm, ada waktunya nanti kau pasti jatuh ketangan kita. Akan kita hanCur leburkan tulang belulangmu,"

Demikian orang HONG HWA HWE itu sama menyumpahi.

Pada saat itu, terdengar para serdadu yang tengah meng gali lubang itu, sama menyanyikan lagu kemenangan.

Setelah itu, mereka menanam mayat Kawan-kawan mereka yang gugur.

Mayat 2 itu dibungkus dengan kain putih, tangannya dipegangi golok, dan ditegakkan dihadapkan kearah barat.

Setelah itu ditimbuni dengan tanah.

Melihat itu, Keh Lok merasa heran dan bertanya pada salah seorang serdadu Ui.

"Kami adalah umat Islam. Bila sudah meninggal, arwah kami pulang kerahmatul ah. Jenazah ditegakkan, dengan mata menghadap kearah barat, jakni kota suCi Mekkah,"

Sahut yang ditanya.

Selesai penguburan, Bok To Lun pimpin upaCara sem bahyangan besar, untuk menguCapkan terima kasih kepada Al ah yang telah memberikan mereka kemenangan.

Setelah itu, seluruh anak tentara Ui sama bergembira-ria dan me nyanyi 2.

Sepasukan demi sepasukan berbaris kehadapan Ceng Tong, untuk mengunjuk terima kasih dengan mengangkat pedang.

"Dengan dapat menghanCur-binasakan tentara Ceng itu, kitapun dapat menghimpaskan kemendongkolan hati,"

Kata Jun Hwa.

"Terang kalau kaisar sudah setuju berserikat dengan kita, mengapa tentaranya tak diperintahkan mundur? Mungkinkah kaisar itu sengaja akan menyingkirkan pasukan pilihan dari pemerintah Boan, supaya musna dipadang pasir?"

Thian Hong membuat dugaan.

"Aku tak memperCajai kaisar itu!"

Seru Thay Lay. Sementara itu, ikut pula Kawan-kawan nya memperbincangkan hal itu. Namun mereka tak dapat mengambil kesimpulan yang tepat.

"Nona Ceng Tong, adalah orang Ui. Tapi bagaimana dia paham ilmu perang dari pelajaran Sun Cu?"

Tanya Hi Tong.

"Sun-Cu berkata.

"Yang lebih dulu berada dimedan perang, harus tunggu supaya musuh pernahkan diri. Setelah itu, tetap menjaga sampai musuh menjadi lelah. Barang siapa pandai berperang, adalah seumpama, menyambut kedatangan orang, tapi tidak menyambut seorang itu.

"Nona Ceng Tong siapkan bayhok, menunggu musuh sampai lelah dan hilang sabar. Bukankah ini yang dinamakan "menyambut kedatangan orang tapi tidak menyambut orangnya? "Berkata pula Sun Cu.

"Musuh mengejar, kita harus melenyapkan diri, sedemikian rupa sehingga musuh terpen Car, dan kita bisa berkumpul lagi. Musuh terpeCah menjadi 10 rombongan kita hantam satu persatu. Dengan begitu kita berjumlah besar dan musuh sedikit. Dengan siasat ini, pasti kita bisa menangkan pertempuran? "Nona Ceng Tong telah memeCah musuh menjadi empat, sehingga ia menang jumlah untuk menggempurnya satu demi satu. Bukankah ia patuh akan ajaran Sun Cu itu?"

Menerangkan Hi Tong. Jun Hwa dan Kawan-kawan nya merasa kagum. Hi Tong melanjutkan keterangannya lagi.

"Lebih dulu dia ajukan pasukan Hek Ki yang terdiri dari orang-orang tua, untuk memikat musuh. Bukankah ini sejalan dengan prinsip.

"bisa, tapi pura-pura tidak bisa, berguna, tapi pura-pura tidak berguna?" -Kemudian ia perintahkan pasukan Pek Ki memikatnya ketengah gurun pasir, dan disanalah induk pasukannya siap memusnakan musuh. Inilah yang dikata dekat tapi kelihatannya jauh, jauh kelihatannya dekat"!"

Tan Keh Lok angguk kepala, katanya.

"Benar! Ia sengaja korbankan beberapa serdadu yang ketinggalan lari, dibinasakan musuh. Itulah siasat "memabukkan musuh dengan kemenangan". -Kota Yarkand digunakan untuk siasat "kuat tapi ditinggalkan". -Pemutusan jembatan di Sungai Hitam, adalah taktik "merebut kembali kemenangan, selagi musuh kaCau balau"!"

Mendengar segala analisa itu, rupa-rupanya Ciu Ki tak betah. Serunya.

"Untuk apa kalian tuangkan segala macam isi kitab-kitab itu? Aku tak mengerti satu apa!"

"Suhu dari Cici Ceng Tong, adalah Thian San Siang Eng, orang Han, Ilmu perang Sun Cu, mungkin mereka yang mengajarkannya,"

Lou Ping tertawa.

"Ilmu perang, semua orang bisa memahami. Kita mempunyai "Sun Cu peng-hoat" (ilmu militer ajaran Sun Cu), siapa tahu mereka juga punya "Ya-ya-peng-hoat" (ilmu militer kakek, Sun Cu arti lurusnya Cucu)?"

Demikian nyonyah Thian Hong itu. j Di-tengah-tengah perCakapan itu, tiba-tiba Thian Hong berkata kepada. Lou Ping.

"Suso, kulihat ada yang kurang beres pada diri nona Ceng Tong."

Lou Ping Cepat memandang kearah Ceng Tong.

Memang wajah nona pemimpin itu, tampak puCat.

Matanya berkilat-kilat, termangu-mangu.

Lou Ping menghampiri hendak mengajak biCara.

Ceng Tong buru-buru berbangkit menyambut.

Sekonyong-konyong tubuhnya gemetar, dan mulutnya menyembur keluar darah segar.

Dengan gugup, Lou Ping buru-buru bertanya.

"Kau kenapa, Cici Ceng?"

Ceng Tong tak menyahut.

Ia berusaha menenangkan diri.

Kembali mulutnya merasa anyir, dan kembali mulutnya muntahkan darah.

Hiang Hiang, Bok To Lun, Tan Keh Lok, Hwe Ah In dan Ciu Ki, Cepat turut menghampiri.

"Cici yangan muntah lagi!"

Hiang Hiang meratap dengan Cemas.

Roman Ceng Tong makin pilas, tubuhnya lemas.

Orang-orang menjadi bingung.

Lou Ping membawanya masuk kedalam kemah dan dibaringkan diatas permadani.

Bok To Lun sesalkan dirinya sendiri.

Betapa puterinya itu mengeluarkan seluruh tenaganya, berperang, pi-bu dengan Horta, menobros kepungan musuh dan memenangkan peperangan.

Namun itu, ia dan ponggawa-ponggawa mencurigainya.

Sudah pasti hal itu, me nyakiti hati puterinya itu.

Dan yang lebih hebat mungkin pe robahan sikap dari Tan Keh Lok yang dingin kepadanya, tapi berbaik dengan Hiang Hiang itu.

Pada saat itu, Ceng Tong sudah tidur, karenanya Bok To Lun tak dapat ber-Cakap 2 untuk menghiburnya.

Dengan mengelah napas, orang tua itu berjalan keluar.

Dia meronda keadaan anak buahnya.

Ternyata sana sini, anak tentaranya itu sama memuji 2 kelihaian ilmu perang dari Ceng Tong.

Pada sebuah tempat, dia dapatkan ratusan anak buahnya sama mengerumuni seorang kyai, mendengarkan Ceritanya.

Berkata kyai itu.

"Pada tahun ke 2 dari hijrahnya nabi Mohammad ke Medina, musuhnya datang menyerang. Musuh punya sembilanlima puluh serdadu, 100 ekor kuda, 700 ekor onta dan per lengkapannya lengkap. Nabi Mohammad hanya punya tiga 1tiga orang, 2 pasukan kuda, 7delapan ekor onta dan enam perangkat pakaian perang. Jadi musuh tiga kali lipat kekuatannya. Namun akhirnya Nabi Mohammad berhasil mengalahkannya."

"Tepat seperti kita kali ini, dengan jumlah sedikit dapat mengalahkan musuh yang banyak sekali,"

Seru seorang serdadu.

"Benar, nona Ceng Tong menurutkan ajaran Nabi, memimpin kita kearah kemenangan. Semoga Al ah member kahinya,"

Kata kyai itu.

"Dan ajat tiga dari Quran mengatakan. Diantara 2 pasukan yang bertempur, pasukan ini berperang untuk membela Agama, sedang pasukan sana orang kafir. Walaupun kalah dalam jumlah, Al ah akan membantu orang yang dikasihiNya."

Kawanan serdadu Ui itu berseru girang seraya mengeluarkan puji 2an.

"Moga 2 Al ah memberkahi Chui-ih-wi-sam, ia membawa kita kearah kemenangan!"

Karena memikiri puterinya, semalam itu Bok To Lun tak dapat tidur.

Keesokan harinya, sebelum terang tanah, dia sudah bergegas-gegas menuju perkemahan Ceng Tong.

Me nyingkap pintu kemah, dia menjadi kaget, karena perkemahan itu kosong.

Buru-buru dia bertanya pada penjaganya dan dapat jawaban.

"Kira-kira sejam yang lalu nona keluar!"

"Kemana?"

"Entahlah. Ia hanya tinggalkan sepucuk surat ini supaya diberikan pada Siutiang,"

Kata sipenjaga sambil mengeluar kan sebuah sampul. Buru-buru Bok To Lun menyambutinya terus dibaca.

"Ayah, urusan negara sudah selesai. Asal pengepungan tetap diperkeras, tak lama musuh tentu binasa. -Ceng-ji."

Sampai sekian saat, Bok To Lun terlongong-longong.

"Ia menuju kearah mana?"

Tanyanya kemudian.

Pengawal itu menunjuk kesebelah timur laut.

Bok To Lun segera Cemplak seekor kuda, terus dilarikan keras-keras.

Sekeliling gurun yang bebas luas itu, tak nampak ada titik bayangan orang.

Mengira kalau sang puteri sudah kembali, dia balik pulang.

Ditengah jalan, tampak Hiang Hiang, Tan Keh Lok, Thian Hong dan lain-lainnya menyusul.

Semuanya sangat Cemas memikiri nona Ui yang dirundung malang itu.

Ia menderita sakit dalam yang berat, kalau kini berjalan seorang diri, pasti penyakitnya akan tambah berat lagi.

Kembali kedalam kemah Bok To Lun segera kirim 4 regu serdadu, untuk mengejar keempat penjuru.

Hampir sore, tiga regu itu kembali dengan hampa.

Hanya regu yang menuju kearah timur laut, kembali dengan membawa seorang pemuda bangsa Han yang mengenakan baju hitam.

Melihat dia, Hi Tong melongo dan gugup.

Kiranya pemuda itu jalah Wan Ci.

Buru-buru dia menyambut dan menegur.

"Mengapa kau datang kemari?"

Wan Ci girang disamping terharu.

"Aku menCari kau, kebetulan bertemu mereka dan aku dibawa kemari,"

Sahut Wan Ci sambil menunjuk regu serdadu Ui tadi. Tiba-tiba iapun berseru.

"He, mengapa kau tak memakai jubah lagi?"

"Aku sudah tidak jadi hweshio,"

Sahut Hi Tong dengan tertawa. Saking Wan Ci senang, air matanya berlinang 2. Dalam pada itu, ketika sang Cici tak dapat diketemukan, Hiang Hiang menjadi gelisah, katanya kepada Tan Keh Lok.

"Sebetulnya Cici itu kemana?"

"Aku akan menCarinya sampai ketemu. Biar bagaimana akan kuminta supaya ia pulang,"

Sahut Keh Lok.

"Ehm, aku mau ikut!"

Kata gadis itu.

Keh Lok tak keberatan.

Hiang Hiang minta ijin pada ayahnya.

Sang ayah menjadi kelabakan.

Adanya Ceng Tong menghilang itu, disebabkan karena perhubungan sang adik dengan Tan Keh Lok.

Kalau ke 2nya pergi bersama, bukankah makin menambah keresahan hati Ceng Tong.

Tapi orang tua itu tak berdaya, terpaksa dia meluluskan.

"Sesukamulah, aku tak dapat terlalu mengurusi,"

Katanya kemudian.

Hiang Hiang melengak, dan menatap wajah sang ayah.

Sepasang mata dari orang tua itu kemerah-merahan, tanda dia sedang berduka.

Dengan penuh sayang, Hiang Hiang menarik tangan sang ayah.

Adalah Wan Ci tampak tak menghiraukan pada semua orang, ia hanya asjik ber-Cakap 2 dengan Hi Tong.

Melihat ia, Keh Lok girang hatinya, Dihampirinya Hiang Hiang, katanya.

"Orang yang dikasihi Cicimu telah datang kemari. Dia tentu dapat menyuruhnya pulang."

"He, mengapa selama ini Cici tak pernah mengomong padaku. Ah, Cici sungguh suka simpan rahasia sendiri,"

Kata Hiang Hiang sembari menghampiri Wan Ci dan mengawasi dengan seksama.

Bok To Lun pun kesima dan ikut juga menghampiri.

Wan Ci sudah pernah berjumpa dengan Bok To Lun, maka buru-buru ia memberi hormat.

Tapi demi melihat keCan tikan yang luar biasa dari Hiang Hiang, ia terpesona tak dapat menguCap apa-apa.

Tersenyum Hiang Hiang kepada Keh Lok, katanya.

"Tolong katakan pada Toako ini, kita merasa gembira dengan kedatangannya. Mintalah padanya supaya ikut menCari Cici."

Maka sesudah memberi hormat, berkatalah Keh Lok.

"Mengapa Li-toako juga datang kemari?"

Selebar muka Wan Ci menjadi merah. Dengan menahan rasa geli, ia memandang Hi Tong sambil bersenyum. Maksud-nya minta agar anak muda itu menjelaskan.

"CongthoCu, ia adalah murid dari Liok-supehku,"

Kata Hi Tong segera.

"Kutahu. Sudah beberapa kali kami saling berjumpa,"

Jawab Keh Lok terus menghadap Wan Ci lagi, katanya.

"Sungguh kebetulan sekali, hari ini Li-toako datang kemari."

"CongthoCu, kau ini bagaimana? Ia adalah sumoay-ku!"

Sela Hi Tong.

"Apa?"

Keh Lok kaget seperti orang disengat kala.

"Ya. Ia memang gemar mengenakan pakaian lelaki,"

Hi Tong menegaskan. Ketika Keh Lok mengawasi Wan Ci dengan tajam. Sepasang alis "pemuda"

Itu melengkung bagus, pipinya semu dadu.

Sedikitpun tak mirip dengan wajah orang laki 2.

Benar beberapa kali dirinya sudah berhadapan dengan nona itu, tapi karena hatinya diliputi purbasangka yang bukan 2 tentang perhubungannya dengan Ceng Tong, tak sekali juga dia mengawasinya dengan jelas.

Saat itu Tan Keh Lok termangu-mangu seperti orang yang kehilangan semangat.

Kepalanya ber-denyut 2, penuh sesak dengan pelbagai pikiran.

"Ah, kiranya dia ini seorang sioCia. Jadi segala purba sangkaku kepada Ceng Tong selama ini, tidak benar. Ia menyuruh aku bertanya pada Liok-loCianpwe, tapi aku tak melakukannya. Kepergiannya kali ini, bukankah disebabkan karena diriku? Adiknya begitu mencinta padaku. Ah, aku harus berbuat bagaimana?"

Melihat sikap Keh Lok tiba-tiba berobah seperti orang yang kehilangan semangat itu, orang-orang sama heran.

"Dan mana Cici Ceng Tong sekarang? Aku ada urusan penting sekali untuknya,"

Tiba-tiba Wan Ci memeCah kesunyian.

Tahu kalau Wan Ci seorang sioCia, Lou Ping segera menarik tangannya.

Sebagai seorang wanita yang sudah bersuami, tahulah ia bagaimana adanya perhubungan nona itu dengan Hi Tong.

Ini ditilik dari sikapnya kepada Hi Tong, dan bagaimana dengan tak menghiraukan jarak yang sedemikian jauh, nona itu datang juga menCari sipemuda.

Hi Tong ter-gila 2 pada dirinya, seorang yang sudah bersuami.

Kalau kini ada seorang nona yang Cantik rupawan serta menijintainya, bukankah akan dapat menggantikan kekosongan hati pemuda itu?

Tapi menilik sikapnya, Hi Tong agak dingin.

"Adik Ceng Tong entah kemana perginya. Kita sedang menCarinya. Apakah benar Moaymoay ada. urusan penting padanya?"

Tanya Lou Ping pada Wan Ci.

"Apakah ia pergi seorang diri?"

Tanya sigadis.

"Ehm, ja. Lebih 2 karena ia sedang dalam keadaan sakit,"

Kata Lou Ping.

"Kearah mana ia pergi itu?"

Menegas Wan Ci.

"Bermula, menurut keterangan pengawal, kearah timur laut. Selanjutnya, entah kemana."

"Ah, Celaka, Celaka!"

Seru Wan Ci sembari banting 2 kaki. Melihat itu, semua orang buru-buru menanyakan sebabnya.

"Kwantong Sam Mo akan menCari balas pada Chui-ih-wi-sam, mungkin kalian disini sudah mengetahui. Ditengah jalan, aku berpapasan dengan mereka dan telah memper mainkannya. Kini mereka sedang mengejar aku. Kalau Cici Ceng Tong menuju ketimur laut, pasti akan kesamplokan dengan mereka!"

Menerangkan Wan Ci.

Kiranya dalam perjalanan Wan Ci selama ini, ketika digereja Po Siang Si ia dapatkan Hi Tong menjadi hweshio, ia menangis tersedu-sedu terus lari keluar.

Hi Tong tetap bersikap dingin.

Setelah meninggalkan sepucuk surat kepada Tan Keh Lok cs, tanpa menghiraukan lagi kepada Wan Ci, Hi Tong terus pergi dari gereja untuk memungut derma.

Adat Wan Ci, memang aneh.

Makin Hi Tong bersikap dingin, makin ia ngotot.

Kembali kekota BengCin, ia menCari akal bagaimana agar pemuda itu merobah pendirian nya.

Tapi ternyata Hi Tong sudah pergi dari gereja, apa boleh buat, Wan Ci akan Cari rombongan HONG HWA HWE dulu baru nanti menjalankan siasatnya.

Pada setiap rumah penginapan, nona itu selalu menCari keterangan kalau 2 rombongan Tan Keh Lok menginap disitu.

Tapi kesemuanya itu sia-siasaja, karena rombongan HONG HWA HWE itu sudah pergi.

Sebaliknya, ia bertemu dengan Thing It Lui, Ku Kim Piauw dan Haphaptai disebuah hotel.

Malam itu ia berhasil menCari dengar pembiCaraan mereka, yang mengatakan akan pergi kedaerah Hwe untuk menCari balas pada Hwe Ceng Tong.

Wan Ci sangat ben-Ci kepada ketiga orang itu, sebab merekalah yang telah menganiaya Hi Tong.

Hendak ia memper-olok 2kannya mereka dulu.

Ia membeli sebungkus besar pah-tauw (semacam ramuan urus 2).

Lalu dimasaknya pah-tauw itu, setelah itu ia me ngunjungi rumah penginapannya It Lui bertiga.

Ketika di lihatnya It Lui bertiga keluar ber-jalan 2, ia segera masuk kedalam kamar mereka, dan mengisi porong arak mereka dengan air pah-tauw.

Kembali kedalam kamarnya, ketiga orang itu terus menenggak porong.

Benar rasanya agak aneh, tapi dikiranya barangkali tehnya yang berkwaliteit kasar, jadi tidak Curi ga apa-apa.

Sampai tengah malam, perut mereka terasa sakit seperti dipuntir.

Buru-buru mereka pergi kekakus.

Dan anehnya rasa sakit itu terus menerus memaksa mereka mengunjungi kamar no.

100 itu.

Yang satu datang, satunya pergi, silih berganti.

Tubuh mereka dirasakan lemas, karena terus 2an murus.

Sampai keesokan harinya, belum juga berhenti murusnya.

Sehingga betul-betul lemah lunglai mereka itu.

Sampai hendak keluar dijalan besarpun, rasanya tak kuat lagi.

It Lui suruh kuasa hotel datang untuk didamprat karena menyediakan barang makanan yang kurang bersih, hingga merusak perut mereka.

Sikuasa menjadi ketakutan dan buru-buru undang sinshe.

Tak tahu sinshe itu, kalau mereka "diCekoki"

Wan Ci, maka sinshe itu lalu membuka resep "perut masuk angin".

Resep itu dibelikan obat oleh sikuasa dan disuruhnya pelayan memasak.

Wan Ci mengintip dari pintu belakang hotel.

Bagaimana It Lui bertiga mondar-mandir bergiliran ke WC setengah malaman itu, hal mana telah membuatnya geli ter-pingkal 2.

Ketika pelayan yang memasak obat itu sedang keluar sebentar, kembali nona jail itu menyelinap masuk, membuka tutup poCi pemasak obat dan menaruhkan bubukan pah tauw kedalamnya.

Pada pikiran It Lui dan ke 2 kawannya itu, begitu minum obat, tentu akan sembuh.

Tapi siapa tahu, bukannya berhenti, sebaliknya malah mangsur 2 lagi lebih hebat.

Ketelanjur sudah membuat permainan, Wan Ci tak mau kepalang tanggung.

Tengah malam ia menCuri masuk kedalam sebuah rumah obat yang terdekat.

Pada setiap laCi obat ia mengambil sejemput obat, tak perduli ramuan jamu panas, dingin atau apa saja.

Kembali kesemuanya itu ia masukkan kedalam poCi pemasak obat untuk It Lui itu.

Keesokan harinya, kembali pelayan memanasi obat dan me nyuguhkannya kepada sisakit.

Begitu obat diminum, maka terjadilah "revolusi"

Hebat dalam perut.

Ketiga Kwantong Sam Mo itu seperti di-juwing 2 isi perutnya.

Badannya serasa digebuki, dibakar dan direndam es.

Masih untung, ketiga jago dari Kwantong itu mempunyai latihan ilmu silat yang teguh, sehingga mereka dapat bertahan, tidak sampai ketelanjur pulang rumah kakek mo yangnya.

It Lui banyak sekali makan asam garam.

Tahu dia tentu ada apa-apa yang kurang beres.

Dia Curiga yangan-yangan hotel itu sarang kaum "penjagal", dimana biasanya sipemilik menga niaja tetamu untuk merampas harta bendanya.

Dia larang ke 2 Sutenya, yangan minum obat itu lagi.

Dan benar juga, keadaan mereka menjadi baikan.

Kim Piauw segera menentang kong-jah, untuk membunuh sipemilik hotel.

It Lui buru-buru menCegahnya.

"Lao-ji, yangan gegabah. Tunggu lagi sampai sehari, sampai kekuatan kita sudah pulih. Siapa tahu, sipemilik piara ja goan. Kalau sekarang kita turun tangan, mungkin akan mengalami kerugian". Kim Piauw terpaksa bersabar. Sorenya, pelayan mengantar sepucuk surat, pada sampulnya tertulis.

"Diterimakan pada Kwantong Sam Ko". Buru-buru It Lui menanyakannya.

"Siapa yang meng-antarnya?"

"Seorang anak kecil, entah siapa yang menyuruhnya", sahut si pelayan. Membaca surat itu, It Lui seperti terbakar jenggotnya. Kim Piauw dan Haphaptai buru-buru menyambutinya. Surat itu ditulis rapih dan berbunyi sbb..

"Chui-ih-wi-siam, pahlawan Icaum wanita masa je rih padamu, tiga buah kantong rumput. Untuk sedikit pengajaran, kuberi Cekok pah-touw. Kalau masih belum kapok, lebih berat lagi hukumannya."

Tulisannya indah lajak digerakkan tangan wanita. Kim Piauw meremas 2 hanCur surat itu, serunya.

"Kurang ajar, justeru kita akan menCarinya, dia sudah berada disini kebetulan!"

Ketiga orang itu tak berani menginap terus disitu, lalu pindah kelain hotel.

Setelah mengaso 2 hari, kesehatannya pulih kembali.

Mereka segera menCari keseluruh tempat dalam kota BengCin, namun tak dapat berjumpa dengan Chui-ih-wi-sam.

Pada ketika itu, Wan Ci pun sudah dapat mengetahui bagaimana Jun Hwa memberi laporan pada rombongan HONG HWA HWE tentang kematian yang menyedihkan dari Ma Cin ditangan Ciauw Cong itu, dan bagaimana rombongan HONG HWA HWE itu mengundang lagi kepada Hi Tong untuk diajak ikut kedaerah Hwe.

Pikir Wan Ci"

Kalau toh Hi Tong sudah mengikut mereka, tak perlu kiranya ia meladeni rombongan It Lui itu lagi.

Begitulah ia lalu menyusul.

Sementara itu, karena tak berhasil mendapatkan Chui-ih-wi-sam, Kwantong Sam Mo berpendapat, tentunya nona itu sudah kembali kedaerah Hwe lagi.

Begitulah mereka siang malam menyusul kedaerah Hwe.

Diperbatasan Kamsiok, jejak mereka dapat dibau oleh Wan Ci.

Juga It Lui Curiga.

Hendak dia mengamat-amati nona itu dengan saksama, tapi sinona sudah keburu menghilang.

Besok paginya, habis dahar pagi, ketiga Sam Mo itu akan meneruskan perjalanannya.

Sekonyong-konyong dari luar menerobos masuk belasan orang.

Ada yang memikul pikulan, ada yang menenteng barang.

Kata mereka, mau mengantarkan barang-barang pesanan tuan Thing.

Ketika memeriksa, It Lui dapatkan orang-orang itu sama membawa sejumlah besar sajur majur, ajam dan itik, telur itik serta telur ajam.

Ada lagi seekor lembu yang telah disembelih dan seekor babi.

"Untuk apa barang-barang ini?"

Bentak It Lui. Orang yang memikul babi menyahut.

"Ada seorang tuan besar she Thing yang memesan kami membawa barang-barang ini!"

"Inilah tuan Thing!"

Menyahuti si pelayan. Karena itu serentak orang-orang meletakkan barang-barangnya, kemudian menunggu pembajarannya.

"NgaCo, siapa yang pesan sekian banyak sekali barang ini?"

Bentak Kim Piauw.

Suasana menjadi gaduh.

Orang-orang itu tak mau mengerti dengan jawaban Kim Piauw, siapa sebaliknya menjadi marah.

Selagi begitu, tiba-tiba dari arah luar, kedengaran berisik orang yang membawa masuk tiga buah peti mati.

Dan masih ada lagi seorang buCo (menteri kesehatan), yang bertugas untuk memeriksa orang mati.

Dia membawa kertas, gamping dan alat 2 periksa orang mati.

Katanya.

"Dimana orangnya yang mati itu?"

Kuasa hotel keluar, marah-marah dan mendampratnya.

"Kau lihat setan disiang hari barangkali! Perlu apa peti mati kau bawa kemari?"

"Bukankah dihotel ini ada orang yang meninggal?"

Balas bertanya sibuCo itu. Kuasa hotel Cepat-cepat ayun tangannya untuk menampar mulut sibuCo, siapa buru-buru menyingkir kesamping seraya berkata.

"Disini bukankah terang ada tiga orang yang mampus? Seorang she Thing, seorang she Ku dan seorang lagi orang Mongol she Hap?"

Rambut Kim Piauw tegak berdiri, saking marahnya.

Maju setindak, dia ayunkan tangannya kearah dahi sibuCo.

BuCo itu tidak dapat menahan gaplokan seorang ahli silat sebagai Kim Piauw.

Seketika itu separoh mukanya menjadi benjol, mulutnya mengeluarkan darah, tiga biji giginya rompal.

Ke palanya serasa berkunang 2 dan robohlah dia tak sadarkan diri.

Tepat pada saat itu, diluar terdengar suara bebunyian yang melagukan nyanyian kematian.

Seseorang masuk dengan membawa sepasang lian (panji).

Sekalipun dada It Lui dirasakan hampir meledak, namun tahu juga dia bahwa kesemuanya itu adalah perbuatan musuhnya.

Dengan tertawa keras-keras, dia buka lian itu.

Disebelah atas lian itu bertuliskan.

"Tiga ekor jaopao (kantong rumput), pulang keaherat."

Dibawahnya ada tulisan.

"Kwantong Liok Mo dari WiCwan."

Sedang disebelah atas lagi ada tulisan kecil berbunyi.

"It Lui, Kim Piauw, Haphaptai bertiga saudara meninggal."

Pada ujung bawah dipinggir lian itu tertulis sipengirimnya.

"Dari saudara-saudara yang berduka Cita. Ciao Bun Ki, Giam Se Kui dan Giam Se Ciang."

Ada lagi selarik tulisan dibawahnya, berbunyi.

"Banyak sekali membuat perbuatan tidak baik."

Haphaptai robek 2 lian itu, kemudian menCengkeram batang leher anak yang membawanya dan tanya dengan bengis.

"Siapa yang suruh kau antar ini?!"

Anak itu kesakitan, menangis seraya menjawab.

"Seorang KongCu muda memberi aku uang dan mengatakan dia mempunyai tiga orang kawan yang meninggal dihotel sini, maka suruh aku antarkan sepasang lian ini kemari."

Kini tahulah Haphaptai, bahwa ada orang sengaja main gila mempermainkan mereka.

Sekali ia gentak, anak itu ter lempar jatuh beberapa tindak lalu menangis menggerunggerung.

Juga ketika It Lui menanyakan orang-orang itu, mereka men jawab serupa, disuruh oleh seorang KongCu.

Segera It Lui menyembat senjatanya terus berseru keras.

"Lekas kejar dia!"

Bertiga mereka segera menobros keluar menCari kesegala peloksok. Tapi tak menemukan bayangan apa-apa karena siang 2 Wan Ci sudah berjalan jauh.

"Ayo, kita kejar terus. Kita) bekuk budak hina itu dan Cukur kelimis kepalanya, baru kita puas!"

Seru It Lui.

Masih ketiga orang itu menduga bahwa kesemuanya itu Ceng Tong yang melakukan.

Sedang orang-orang yang membawa peti mati, menggotong babi dan lembu itu menunggu sampai setengah hari, tapi tetap tak kelihatan It Lui kembali.

Dengan menyumpahi panyang pendek, terpaksa mereka membawa kembali barang-barangnya.

Dengan semangat yang ber-kobar 2, It Lui bertiga mati-matian memperCepat pengejarannya.

Hari itu sampailah mereka kekota KongCiu dan menginap dihotel "Se Lay."

Tengah malam, tiba-tiba dibelakang hotel terbit kebakaran.

Ketiganya buru-buru mendatangi.

Ternyata yang terbakar, hanyalah sebuah tumpukan rumput kering.

Agaknya ada orang yang sengaja membakarnya.

Sebagai seorang kangouw ulung, tersadarlah It Lui.

"Laoji, Laosu, lekas kembali kekamar!"

Serunya.

Betul juga dugaan It Lui.

Tiga buntalan mereka telah lenyap.

Sebagai gantinya disitu terdapat tiga rentetan kertas gin-Coa (kertas perak untuk orang mati.) It Lui Cepatcepat lonCat keatas rumah, tapi tampak bayangan apa-apa.

"Kalau berani, harus seCara terang-terangan. Yangan menggelap melakukan hal 2 yang liCik", Kim Piauw gebrak 2 meja sambil maki-maki.

"Kalau begini, besuk kita tak dapat membajar uang persewaan hotel", kata It Lui.

"Kalau tidak Cepat-cepat kita bekuk bangsat itu, sungguh bisa muntah darah kita nanti", kata Kim Piauw.

"Benar, Laoji, Laosu, kalian punya daya apa?"

Tanya It Lui.

Sam Mo itu berkepandaian tinggi, tapi tidak demikian dengan otaknya.

Hampir setengah harian mereka menCari akal, akhirnya baru dapat.

Caranya jakni, malam itu mereka saling bergilir menjaga.

Tahu It Lui bahwa Cara begitu itu, bukan Cara yang tepat.

Tapi diapun Cukup mengetahui.

"tiga orang tukang kulit, tak nanti dapat berobah menjadi seorang Cu Kat Liang."

Ja, apa boleh buat.

"Besok bagaimana kita bajar uang persewaan?"

Tanya Haphaptai.

"Kita sekarang "bekerja", atau besok pagi 2 kita lari saja?"

"Rasanya kita perlu banyak sekali uang, baik kukeluar menCari saja", kata Kim Piauw. Dia lonCat keatas wuwungan, mengawasi keseluruh pelosok. Dilihatnya sebuah gedung yang besar dan tinggi. Kesa nalah dia terus pergi untuk mengambil "bekal". Diatas atap salah sebuah kamar gedung itu, dia mendekam untuk mengintip kebawah. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara bergerompyangan. Sebuah genteng jatuh kebawah. Dan ada seorang berteriak keras-keras.

"Tangkap penCuri! Tangkap penCuri!"

Kim Piauw kaget, tapi mengandal pada ilmu silatnya, dia tak mau menghiraukan, malah terus lonCat kedalam.

Ter nyata dibawah situ, ada beberapa pelayan dan pekerja tengah berjudi.

Diatas meja terletak beberapa ratus uang tembaga.

Melihat ada orang munCul disitu, mereka segera berteriak 2 dengan ketakutan., Kim iPauw hendak pergi, tapi di luar suara orang kedengaran berisik dan obor 2pun sangat terangnya.

Belasan orang dengan membawa golok dan pentung, menghampiri.

Buru-buru Kim Piauw lolos dari jendela, terus lonCat keatas rumah.

Tapi tiba-tiba belakang kepalanya terasa disamber angin keras.

Cepat dia berputar menghantamkan senjatanya ke belakang.

"Prak", sebuah batu kecil yang melayang kearah nya, terpukul jatuh. Dan seCepat kilat, dia lonCat kearah dari mana benda itu dilepaskan, terus menusuk. Diantara Cahaja remang-remang tampak seorang berpakaian hitam berada disitu. Gerakannya sangat linCah. Sudah sekian hari, Kim Piauw dirongrong tanpa dapat menemukan orang nya. Kini dia betul-betul mau tumpahkan semua kemarahannya. Serangan yang pertama luput, ia segera susuli lagi tiga tusukan beruntun. Yang diarah adalah jalan 2 darah yang ber-bahaya. Permainan pedang dari orang itu Cukup hebat. Tapi serangan Kim Piauw dengan kongjah-nya itu, lebih hebat lagi, Lewat beberapa jurus, orang itu sampokkan pedangnya, terus lari. Kim Piauw Coba mengejar, tapi sekonyong-konyong orang itu membalikkan badan sembari kibaskan tangannya. Serentetan suara mendesing dan menganCam Kim Piauw, siapa buru-buru berjumpalitan dari atas wuwungan. Dengan demikian, terhindarlah dia dari serangan orang tersebut., yang ternyata Wan. Ci adanya. Sementara itu terdengar suara riuh bersik ketika Kim Piauw lonCat kebawah. Itulah orang-orang dalam rumah yang Coba hendak menangkap penjahat. Cepat Kim Piauw lonCat lagi keatas rumah hendak mengejar, tapi orang tadi sudah tak kelihatan bayangannya. Kembali kehotel dengan wajah yang penasaran dan tangan hampa, It Lui dan Haphaptai menanyainya. Kim Piauw tuturkan pertempurannya dengan orang yang tak dikenal tadi.

"Kalau tahu begitu, sebaiknya aku ikut pergi. Kita ber 2 rasanya tentu dapat membekuknya,"

Kata Haphaptai.

"Ah, sudahlah. Mari kita lekas-lekas angkat kaki saja, ja ngan tunggu sampai terang tanah,"

Usul It Lui.

Tengah mereka siap akan berangkat, tiba-tiba pintu terdengar diketok orang.

Ketiganya saling berpandangan.

Haphaptai membuka pintu.

Ternyata yang datang adalah kuasa hotel, dengan membawa tatakan lilin, katanya.

"Modal kami kecil, kalau hendak berangkat harap tuan 2 bajar dulu."

Kiranya, kuasa itu telah dibangunkan dari tidurnya oleh seorang yang tak dikenal, yang mengatakan bahwa ketiga orang itu tidak punya uang dan sengaja akan melarikan diri.

Ketika dia bangun, orang itu sudah lenyap.

Untuk membuktikan kebenarannya, dia datang juga kesitu dan ternyata memang betul It Lui bertiga ber-kemas 2 akan menggelojor pergi.

"Kita sedang keputusan uang, tolong kau pinjami dulu 100 tail perak,"

Kata Kim Piauw sembari lolos senjata dan memaksa kuasa itu untuk mengambil uang. Dengan muka asam, terpaksa kuasa itu akan berlalu. Tiba-tiba dari arah luar terdengar ramai 2 orang berteriak.

"Yangan kasih sipenjahat kabur!"

Ketika It Lui menjenguk kepintu besar, ternyata diluar tampak banyak sekali sekali teng dan obor. Orangnya berjumlah tak kurang dari ratusan.

"Tangkap penjahat!"

Demikian orang-orang itu berteriak.

It Lui geraki senjatanya dan ajak ke 2 kawannya naik keatas rumah.

Tapi Kim Piauw tidak lupa hantam putus kunCi meja uang, dan mengambil serangkum perak han Cur, terus ikut sang Toako.

Kawanan polisi desa itu, sudah tentu tak berani mengejar, apalagi memang tak dapat lonCat keatas rumah.

Maka dengan leluasa It Lui bertiga dapat melarikan diri.

Kira-kira S li jauhnya, mereka kendorkan larinya.

Bahwa tengah malam, kuasa hotel menagih rekening, sekian banyak sekali hamba polisi datang akan menangkap itu, tentu ada orang yang menggerakkannya.

Lawan berkelahi Kim Piauw itu, adalah seorang pemuda bangsa Han, bukan seorang gadis Ui, jadi terang kalau musuh mempunyai kawan yang membantunya, demikian dugaan ketiga Kwantong Sam Mo itu.

Oleh karenanya, mereka tak berani berlaku alpa.

Tiap malam mereka bergiliran menjaga.

Demikian pada hari itu, mereka sampai dikota Ka-ko-kwan.

It Lui peringatkan ke 2 saudaranya, bahwa kini mereka sudah memasuki daerah perbatasan musuh, harus hati-hati.

Malam itu, giliran Haphaptai yang jaga.

Dia agak merasa berdebar 2.

Tiba-tiba dibelakang rumah ada 2 batu kecil ditimpukkan ketanah.

Tahu dia kalau itu kebiasaan orang berjalan malam untuk menanyakan jalan.

Dengan pasang kuping betul-betul, pelan-pelan dibukanya daun jendela, terus menyelinap kebelakang untuk menangkap penyatron itu.

Tapi ditunggu 2 sampai sekian lama, tak ada sebuah bayanganpun-yang lonCat turun.

Sebaliknya, pada saat itu terdengar Kim Piauw menjerit nyaring-.

"Celaka, aku terjebak siasat musuh "panCing harimau, tinggalkan gunung,"

Pikir Haphaptai terus balik kekamarnya.

Disitu tampak Kim Piauw dan It Lui sembari pegangi lilin lari keluar kamar dengan napas memburu.

Haphaptai menerangi kedalam kamar dari jendela.

Apa yang tampak disitu, sangat membelalakkan matanya.

Ternyata lantai kamar, tempat tidur dan meja, semua penuh dengan ular dan katak, berseliweran kemana 2.

Di mulut jendela, ada 2 buah keranyang, yang tidak bisa tidak, tentu ditaruhkan oleh musuh yang tak kelihatan itu.

"Tentu ini ada akalnya budak hina itu, yang mengirimkan segala rupa binatang berbisa ini,"

It Lui memaki-maki.

Memang untuk melampiaskan kemangkalan hatinya karena Hi Tong yang tak mengaCuhkan dirinya, Wan Ci tuangkan isi perutnya pada Sam Mo tersebut.

Sepanyang perjalanan nya tak putus-putusnya ia menCari akal untuk menggoda ketiga orang itu.

Ular dan katak 2 itu, sengaja ia mengongkosi anak 2 untuk menCarinya.

Kwantong Sam Mo itu sedikitpun tak menyangka, bahwa mereka dipitenah terus menerus selama itu, karena seorang nona nakal yang ditolak Cintanya, tengah menghibur diri.

Tetapi mereka menduga, bahwa kesemuanya itu adalah perbuatan Chui-ih-wi-sam Hwe Ceng Tong.

Sejak itu, malam hari mereka tak berani keluar.

Juga tidak mau menginap dihotel, lebih suka nginap dirumah orang atau klenteng.

Juga difihak Wan Ci, ia merasa kalau terang-terangan bertempur, tentu tidak menang.

Ka-renanya, iapun hanya menggodanya seCara menggelap.

Demikianlah dengan Cara itu, keempat orang itu menuju kedaerah Hwe.

Selesai mendengar penuturan Wan Ci, tak putus-putusnya semua orang menekan perut karena geli.

Tapi disamping itu, merekapun menaruh kekuatiran akan keselamatan Ceng Tong.

"Tidak boleh ajal lagi, segera aku menyusulnya", kata Keh Lok.

"Ya, ketiga iblis itu bukan jago sembarangan, kalau ada beberapa orang yang pergi, lebih baik. CongthoCu boleh berangkat dulu, dan kemudian nona Li, tapi kalau seorang diri kurang baik, harap Ie-sipsute mengawaninya. Aku suami isteri, rombongan yang ketiga. Suko, Suso dan lain-lain saudara tetap disini mengawasi Thio Ciauw Cong", kata Thian Hong. Tan Keh Lok setuju, terus keprak kudanya, Hiang Hiang ikut dengan naik kuda bulu merah. Sesaat kemudian, Hi Tong dan Wan Ci menyusul. Paling belakang, Thian Hong bersama isterinya. Ketika Bun Thay Lay habis mengantar dan akan balik kekubunya, tiba-tiba diujung kubu kelihatan berkelebat sesosok bayangan.

"Siapa?"

Dia membentak.

Tapi bayang"an itu sudah jauh.

Gerakannya luar biasa sebatnya, berbeda dengan serdadu biasa.

Karena Curiga, Bun Thay Lay mengejar.

Diantara rombongan anak tentara Ui orang itu menyelinap terus menghilang.

Apa boleh buat, Bun Thay Lay terpaksa balik.

Tiba dikubu, sudah ada 2 orang serdadu Ui melapor pada Bok To Lun, bahwa Horta telah dibawa lari orang.

Empat orang penjaganya, dibunuh.

Bok To Lun terkejut, diajaknya Bun Thay Lay memeriksa.

Benar juga keempat penjaga tempat tawanan itu, terkapar dengan dada terbelah.

Lou Ping yang tajam penglihatannya segera menghampiri kesudut kubu dan menCabut sebilah badi 2 yang menanCap disitu.

Pada badi 2 itu, terikat seCarik kertas merah bertulisan.

Komandan Gi-lim-kun Thio Ciauw Cong, datang mengunjungi Tan-CongthoCu dari HONG HWA HWE dan Pan-lui-Ciu Bun Thay Lay."

Amarah Bun Thay Lay tak terkirakan.

Surat itu diremas 2 i anCur.

Ketika Jun Hwa minta akan melihatnya, surat itu sudah menjadi bubukan, berterbangan ditiup angin.

Melihat itu, Bok To Lun berCekat dan kagum, pikirnya.

"Tempo hari menyaksikan pertempuran Bu Tim totiang, kita sudah menganggapnya jago yang tiada tandingan dikolong langit. Tapi ternyata Bun-suya ini, juga sedemikian hebat nya."

"Bok-loenghiong, maaf, tugas mengurung tentara Ceng akan kuserahkan padamu. Kami akan menangkap bangsat she Thio itu,"

Kata Bun Thay Lay.

Bok To Lun tak bisa menjawab lain keCuali anggukkan kepala.

Begitulah Bun Thay Lay kemudian lalu ajak Jun Hwa, Ciang Cin, Lou Ping dan Sim Hi berkuda, untuk me nyusur jejak kaki kuda Ciauw Cong.

Kini kita tengok keadaan Ceng Tong.

Setelah mendapat kemenangan, hatinya malah merasa saju.

Malam itu, ia tengah merenungkan segala sesuatu yang telah lampau.

Tiba-tiba didengarnya, diluar kemah sana anak buah pasukan Ui tengah bersuka ria, menyanyi lagu perCintaan.

Kembali hatinya berdenyut keras.

Teringat bagaimana keras sikap ayah kandungnya sendiri kepadanya.

Ditambah pula orang yang dirindukan selama ini, ternyata kini me nyintai adiknya.

Ah, rasanya dunia ini hampa baginya!

Pelan-pelan ia berbangkit, menulis sepucuk surat untuk ayahnya.

Dengan membawa pedang dan senjata rahasia serta 2 ekor burung elang pemberian Suhunya, ia segera tuntun kudanya terus dikeprak kearah timur laut.

"Lebih baik kuikut Suhu, menurut jejak pengembaraan ke 2 orang tua itu dipadang pasir. Biarlah badanku ini terkubur ditengah gurun pasir,"

Demikian pikirnya.

Sebenarnya berat juga penyakit yang dideritanya, namun karena dia mempunyai dasar latihan silat yang kokoh, dapat juga ia paksakan diri untuk naik kuda.

Demikianlah 10 hari sudah, ia berjalan dipadang pasir.

Jarak dari Giok-ong-kun, tempat kediaman Thian-san Siang Eng, masih kira-kira seperjalanan empat limahari lagi.

Karena keliwat Cape, Ceng Tong memasang kemah ditepi sebuah bukit pasir.

Malam itu hendak ia mengaso disitu.

Jilid 3 2 KIRA-KIRA tengah malam, tiba-tiba didengarnya tapak kuda dari kejauhan.

Ada tiga orang penunggang kuda mendatangi.

Tiba dipinggir bukit itu, merekapun mengasoh.

Karena gelap, tak diketahui mereka akan kubu dari Ceng Tong.

Mereka hanya melihat dikanan kiri bukit itu tumbuh rumput, maka dibiarkan kudanya lepas, sementara mereka sendiri sama mengaso sambil ber-Cakap 2.

Mendengar mereka berbahasa Han, bermula Ceng Tong tak terlalu menghiraukan.

Tapi tiba-tiba didengarnya salah seorang dari mereka berkata.

"Bah, Chui-ih-wi-sam sungguh menyiksa kita sampai begini!"

Ceng Tong terkesiap dan buru-buru pasang telinga. Maka terdengar seorang berkata pula.

"Bangsat wanita itu, kalau sampai jatuh ketanganku, akan ku-patah 2kan tulang belulangnya, kubeset kulitnya. Kalau tidak, sungguh aku malu punya she Ku sampai 1delapan turunan."

Kiranya mereka itu adalah Kwantong Sam Mo, yang kini pun sudah sampai didaerah gurun pasir.

Tahu mereka kalau nona itu sedang memimpin kaumnya melawan pasukan Ceng, karenanya, bergegas-gegaslah mereka.

Tidak mereka sangka, bahwa nona itu pada saat itu, berada disebelahnya.

Ketika Tan Keh Lok datang kedaerah Hwe, Ceng Tong sangat sibuk dengan urusan ketentaraan.

Apalagi nona itu memang sengaja menjauhkan diri tak mau berCakap 2 dengan orang muda itu.

Oleh sebab itulah, maka urusan Kwantong Sam Mo menCari balas, tak sempat dibiCarakan oleh Tan Keh Lok.

Maka Ceng Tong menjadi heran mengapa ketiga orang itu datang memusuhinya.

Mengira kalau mereka adalah sisa panglima Tiau Hwi yang sempat melarikan diri, Ceng Tong terus mendengarinya lagi.

"Kepandaian Giam-liokte bukan sembarangan. Sungguh aku tak perCaja kalau dia sampai terbinasa dalam tangan seorang anak perempuan. Budak itu tentu gunakan akal busuk,"

Kedengaran salah seorang dari Sam Mo itu berkata.

"Ya, memang. Dari itu kuharap kalian, Lao-ji dan Lao-su, kali ini kita yangan gegabah,"

Sahut yang seorang.

Sampai disini, terbukalah ingatan Ceng Tong.

Kini ia te ngah berhadapan dengan persaudaran Kwantong Liok Mo.

Insyaplah ia, bahwa dalam daerah gurun pasir yang sedemikian luasnya itu, tambahan pula dirinya dalam keadaan sakit, tak mungkin untuknya akan bersembunyi.

Ia mengambil putusan, akan menghadapinya menurut gelagat.

"Air yang kita bekal, makin berkurang. Paling banyak sekali i anya Cukup untuk lima-enam hari. Andaikata dalam tu "juh-delapan hari lagi kita tak bersua dengan sumber air.

"bukankah kita akan mati kehausan,"

Kata seorang lagi.

"Ah, lebih baik kupanCing, lalu kuajak mereka ketempat Suhu,"

Pikir Ceng Tong tiba-tiba.

Keesokan harinya, barulah tampak perkemahan Ceng Tong itu oleh ketiga Sam Mo.

Heran juga mereka.

Ceng Tong sudah berganti mengenakan pakaian kain berkembang.

Pakaian warna kuning dan bulu burung pada ikat kepalanya, disimpan bersama pedangnya dalam bungkusan.

Setelah itu, ia keluar.

Melihat berhadapan dengan seorang anak perempuan bangsa Ui yang seorang diri berada di-tengah-tengah padang pasir itu, It Lui agak Curiga.

"Nona, apa kau punya air? Kasihlah kami sedikit,"

Katanya seraya merogoh sepotong perak. Ceng Tong gelengkan kepala, sebagai tanda ia tak mengerti bahasa Han. Haphaptai mengulangi dalam bahasa Mongol.

"Aku punya air, tapi tak dapat dibagi. Chui-ih-wi-sam ti tahkan aku mengirim surat penting. Kini aku harus Cepat-cepat pulang-. Naik kuda kalau kurang minum, tak bisa Cepat,"

Sahut Ceng Tong. Dan sambil berkata itu, ia naik keatas kuda. Haphaptai buru-buru menahannya.

"Chui-ih-wi-sam ada dimana?"

Tanyanya Cepat.

"Perlu apa kau tanyakan dia?"

Balas bertanya Ceng Tong.

"Oh, kami ini kawannya. Akan menemuinya untuk urusan penting,"

Sahut Haphaptai.

"Bohong!"

Kata Ceng Tong dengan jebikan bibir.

"Chui-ih-wi-sam berada di Giok-ong-kun, tapi kamu bertiga me nuju kearah tenggara. Yangan Coba membohongi aku!"

Terus saja ia gerakkan Cambuknya, memukul sang kuda Tapi Haphaptai tetap tak mau lepaskan pegangannya.

"Kami tak kenal jalanan, Ayo bawa kami kesana!"

Ka tanya. Iapun terus menghampiri kudanya, seraya berbisik pada ke 2 kawannya.

"Dia akan pergi ketempat budak hina itu."

Bahwa wajah Ceng Tong yang pilas dan keadaannya yang lemah itu, tak sampai menimbulkan keCurigaan Sam Mo itu, yang menganggapnya sebagai seorang anak perempuan Ui yang kebanyak sekalian.

Dan mengira kalau nona itu tak mengerti bahasa Han, maka mereka bertiga mengikutinya dari belakang sambil berunding kasak-kusuk.

Mereka bersepakat, begitu tiba di Giok-ong-kun, lebih dulu nona itu akan dibunuhnya baru kemudian akan menCari Chui-ih-wi-sam.

Diantara ketiga orang itu, Kim Piauw yang paling gila paras Cantik.

Sekalipun wajah Ceng Tong ke-puCat 2an, tapi tak mengurangi keCantikannya.

Maka diam-diam Kim Piauw timbul napsu jahatnya.

Juga Ceng Tong Cukup mengerti akan sikap orang.

Meskipun mereka tak dapat mengenali, namun gerak gerik mereka itu, lebih 2 orang she Ku itu, sangat mencurigakan.

Mungkin bahaya sudah menimpa, sebelum ia dapat membawa mereka ketempat suhunya.

Cepat dia bekerja.

Dirobeknya seCarik kain merah, lalu di katkan pada kaki salah seekor burung elang.

Setelah di berinya makan sepotong daging kambing burung itu dilepaskan keudara, terus melayang pergi.

"Kau melakukan apa itu?"

Tanya It Lui dengan Curiga. Ceng Tong hanya menggelengkan kepala. It Lui suruh Haphaptay menanyakan. Jawab Ceng Tong.

"Dimuka seperjalanan 7 delapan hari lagi, tak ada sumber air. Kamu bertiga hanya membekal air begitu sedikit, mana bisa Cukup. Burung tadi kulepas, supaya Cari minum sendiri."

Lalu burung elang yang seekor lagipun dilepaskannya.

"Berapa banyak sekali minumnya ke 2 ekor burung itu?"

Tanya Haphaptai.

"Pada waktu dahaga, setetes airpun dapat menolong jiwa orang. Beberapa hari lagi, tentu kau ketahui sendiri,"

Sahut Ceng Tong. Sebenai-nya perjalanan ke Giok-ong-kun hanya tinggal 4 hari. Tapi Ceng Tong sengaja mengatakannya lebih lama, agar orang yangan menCelakakan dirinya.

"Huh, didaerah kita Mongolia sekalipun ada gurun pasir, tapi tak nanti sampai 7 delapan hari orang tak dapat menemukan sumber air. Sungguh tempat ini seperti neraka saja,"

Haphaptai mengerutu.

Malam itu mereka bermalam di tengah gurun.

Sewaktu membuat api unggun, Ceng Tong memperhatikan bagaimana sorot mata Kim Piauw yang ber-api 2 itu tertuju padanya.

Ia berCekat.

Sewaktu masuk kekemahnya, terus ia keluarkan pedangnya, ia bersandar pada pintu kemah, tak berani terus tidur.

Sekira jam 2 malam, tiba-tiba didengarnya ada tindakan orang tengah menghampiri pelan-pelan .

Hatinya berdebar keras, keringat dingin menguCur.

"Beberapa laksa serdadu Ceng dapat kubasmi. Masakah aku harus binasa ditangan ketiga orang ini?"

Pikirnya.

Tiba-tiba ia rasakan angin dingin berkesiur masuk dari luar.

Kiranya tali pintu kemah telah dipotong oleh Kim Piauw, yang saat itu sudah masuk.

Terus saja orang she Ku itu maju akan mendekap mulut orang.

Pikirnya, seorang anak perempuan yang tampak payah keadaannya itu masa dapat melawannya.

Yang dikuatirkan, kalau nona itu menjerit, tentu akan ketahuan oleh ke 2 saudaranya.

Dan dia tentu akan dimarahi.

Tapi segera ia menubruk tempat kosong, sebab orang yang diarah sudah lenyap.

Dia merabah kekanan, tiba-tiba tengkuknya terasa dingin.

Sebuah mata pedang yang mengeluarkan hawa dingin tahu-tahu menempel ditengkuknya.

"Sedikit saja kau bergerak, kutabas batang lehermu!"

Bentak Ceng Tong dalam bahasa Han. Betul-betul Kim Piauw mati kutu.

"Tengkurap ketanah!"

Bentak sigadis. Kim Piauw menurut saja. Ceng Tong tempelkan ujung pedang pada punggung Kim Piauw, sedang ia sendiri duduk disebelahnya. Ke 2nya tak berani bergerak.

"Kalau telur busuk ini kubunuh, ke 2 kawannya itu tentu marah. Ah, lebih baik kutunggu bantuan Suhu saja,"

Pikir Ceng Tong. Lewat tengah malam, It Lui kebetulan bangun. Dia segera berjingkrak ketika tak menampak Kim Piauw disitu.

"Lao-ji, Lao-ji!"

Teriaknya. Mendengar itu, Ceng Tong perintahkan supaya Kim Piauw menyahuti panggilan Toakonya itu.

"Lao-toa, aku disini!"

Demikian Kim Piauw turut perintah sinona.

"Heh, adatmu suka paras Cantik, tak pernah berkurang. Sampai ditempat beginipun kau tak lupa kesenangan itu,"

It Lui memaki sembari tertawa. Keesokan harinya, setelah berulang 2 It Lui dan Haphaptai memanggil, barulah Ceng Tong lepaskan Kim Piauw.

"Lao-ji, kita sedang menCari balas, bukan plesiran,"

Haphaptai menggerutu.

Kim Piauw tak dapat menjawab.

Hanya giginya digigit keras-keras, karena gregeten.

Kalau diCeritakan kejadian semalam, ah, betapakah malunya.

Tapi dia tetap berpantang mundur.

Malam nanti, akan diulanginya lagi, dan kali ini dia akan lakukan pembalasan.

Malamnya, Kim Piauw sudah bersiap 2.

Dengan lak-houw-jah ditangan kanan, dan obor ditangan kiri, dia menghampiri perkemahan Ceng Tong.

Pikirnya, sekalipun budak itu bisa silat, tapi 2 tiga gebrak pasti dapat diringkus.

Segera Lak-houw-jah dikibas 2kan untuk melindungi mukanya ketika memasuki kemah sigadis.

Dia girang ketika nampak Ceng Tong meringkuk disudut dan sekali lonCat ia terus menerkamnya.

"Celaka!"

Demikian iaberteriak kaget ketika kakinya terasa terikat.

Hendak dia lonCat mundur, tapi sudah tak keburu.

Masih dia hendak membuka tali yang sengaja dipasang oleh Ceng Tong, tapi sekali sentak, nona itu telah membuat Kim Piauw terpelanting.

"Diam!"

Bentak Ceng Tong sambil lekatkan ujung pedang keperut Kim Piauw.

"Kalau harus bergadang seperti kemaren malam, sungguh aku tak kuat. Tapi kalau kuhabisi nyawa bangsat ini, ke 2 kawannya pun harus dibunuh!"

Pikir Ceng Tong.

Cepat ia suruh Kim Piauw supaya panggil kawannya.

Kim Piauw seorang kangouw yang berpengalaman juga.

Tahu dia apa yang dimaksud oleh sinona, maka ia membungkam saja tak mau menurut perintah sinona.

Ceng Tong gerakkan tangannya agak keras.

Ujung pe dangnya menembus pakaian dan menusuk daging Kim Piauw.

Kini baru Kim Piauw bertobat.

Perut adalah bagian yang paling ringkih, sekali tertusuk, kantong nasinya pasti bedah.

"Dia tentu tak mau datang!"

Akhirnya Kim Piauw me nyahut.

"Yangan banyak sekali omong, lekas panggil! Tapi awas, sedikit kau boCorkan, kontan kusuruh kau menghadap Giam Se Ciang."

Barulah kini Kim Piauw terperanjat sekali.

"Adakah budak ini Chui-ih-wi-sam sendiri?!"

Pikirnya. Tapi terpaksa dia harus berteriak.

"Lao-toa, kemarilah lekas!"

"Ketawalah!"

Perintah Ceng Tong. Kim Piauw meringis dan terpaksa tertawa seperti kuda mei"ingkik.

"Setan! Yang wajar!"

Bentak Ceng Tong.

Dan karena makin menyusupnya ujung pedang kedalam kulit perutnya, memaksa dia tertawa lebar 2, sekalipun lebih mirip dengan suara burung kukukbeluk ditengah malam.

It Lui dan Haphaptai memang sudah terbangun.

"Lao-ji, yangan keliwatan. Peliharalah tenagamu!"

Damprat It Lui.

Dia adalah ketua dari Kwantong Liok Mo.

Sikapnya keras, berdisiplin dan tingkahnya lebih prihatin.

Karenanya, kelima saudaranya yang lain sama mengindahkan.

Maka tak sudi ia datang memenuhi panggilan Kim Piauw itu.

Melihat itu, Ceng Tong suruh panggil "Lao-su,"

Adik keempat, jakni Haphaptai.

Haphaptai, orangnya polos, suka berterus terang.

Melihat tingkah Kim Piauw itu, sebenarnya ia kurang senang.

Tapi karena tunggal persaudaran, ia sungkan menasehati.

Maka atas panggilan Kim Piauw itu, ia pura-pura tak mendengar saja.

"Ah, kalau kelak aku dapat lolos, akan kuCinCang ketiga bangsat ini, untuk menebus penghinaan ini,"

Demikian Ceng Tong membatin.

Dengan tetap mengaCungkan pedangnya, Ceng Tong lalu meringkus Kim Piauw.

Setelah itu, ia bersandar kedinding kemah.

Namun ia tak berani tidur.

Besoknya, ia lihat Kim Piauw malah enak 2 menggeros, Ceng Tong memberi "sarapan"

Cambuk. Kim Piauw gelagapan, tahu-tahu dia rasakan dadanya dilekati ujung pedang, dan suara anCaman Ceng Tong.

"Awas, sedikit saja kau bersuara, dadamu robek!"

Cambukan Ceng Tong tadi mengenakan kepala, hingga Kim Piauw berlumuran darah menahan rasa sakit.

"Ah, kalau kubunuh ia saat ini, bahaya segera datang. Lebih baik kubiarkan dia hidup dulu. Rasanya nanti sore Suhu pasti sudah datang,"

Tiba-tiba Ceng Tong robah pikirannya. Lalu diambilnya saputangan untuk mengusap darah dikepala Kim Piauw, seraya bersenyum.

"Ah, kiranya kau memang ber-sungguh-sungguh!"

Kim Piauw menyengir, tak tahu apa yang dimaksud oleh ninona.

"Bangsa Uigor kami mempunyai adat kebiasaan. Dua malam sebelumnya, orang laki 2 yang belum dikenal tak boleh mendekati. Dan lagi, orang laki 2 itu harus berdarah dulu. Sekarang, selesailah, malam nanti kau boleh datang,"

Menerangkan Ceng Tong. Sebelum Kim Piauw dapat berkata apa-apa kembali Ceng Tong memesannya.

"Tapi yangan sekali-kali memberitahukan mereka!"

Kim Piauw masih bersangsi, tapi Ceng Tong telah membuka tali pengikatnya dan mendorongnya keluar kemah. Di sana sudah menunggu It Lui yang menjadi kaget melihat muka Kim Piauw bernoda darah.

"Lao-ji, kau kenapa? Apa yang terjadi dengan perempuan itu? Yangan sampai kau kena diselomoti orang,"

Te gurnya dengan Curiga.

Teringat bahwa sekalipun masih dalam sakit, nona itu masih bertenaga kuat untuk meringkusnya, menyimpan pedang dan dapat berbahasa Han serta mengetahui tentang kematian Giam Se Ciang, maka Kim Piauw segera ajak toakonya untuk membekuk nona itu.

Karena terang, nona itu bukan gadis Ui yang kebanyak sekalian.

Tapi sejak melepaskan Kim Piau tadi, Ceng Tongpun sudah bersiap.

Begitu It Lui dan Kim Piauw mendatangi, sebat sekali ia sudah lari kesisi kudanya.

Lebih dulu dia tusuk pecah kantong air dari Kim Piauw dan Haphaptai.

Sesudah itu, ia babat putus tali kantong air yang paling besar kepunyaan It Lui, untuk disanggapi dan terus lonCat keatas kudanya.

It Lui bertiga hanya terlongong-longong mengawasi bagaimana air manCur dari ke 2 kantong itu jatuh ketanah dan hilang dihisap pasir.

Dipadang pasir, 2 kantong air jauh lebih berharga dari segenggam mutiara.

Sudah tentu ketiga orang itu marah sekali.

Dengan menghunus senjata, mereka menyerbu maju.

Ceng Tong tengkurep dipunggung kuda.

Ia batuk 2 dan serunya.

"Kalau kalian berani datang, akan kutusuk lagi kantong ini!"

Ujung pedangnya segera dilekatkan pada kantong-air besar kepunyaan It Lui tadi. Kwantong Liok Mo merandek. Kembali Ceng Tong batuk dan berkata.

"Dengan baik-baik akan kubawa kamu kepada Chui-ih-wi-sam, tapi kamu ber balik akan menghina aku. Dari sini sampai ketempat sumber air, masih enam hari lagi. Kalau kamu akan menCelakakan aku, lebih dulu akan kupecah kantong air ini. Biarlah kita bersama-sama mati kehausan dipadang pasir sini!"

Ketiga Sam Mo itu saling berpandangan. Mereka gusar tapi tak berdaya. Adalah It Lui yang lebih dulu mendapat akal. Hendak dia pura-pura meluluskan, baru nanti membunuh nya. Maka segera dia menyahut.

"Ya, kami takkan menyusah kan padamu. Ayo, kita bersama-sama jalan lagi!"

"Baik, tapi kau bertiga didepan, aku dibelakangi"

Kata Ceng Tong.

Terpaksa Sam Mo itu berjalan dimuka, di kuti dari belakang oleh Ceng Tong.

Tengah hari, hawa panasnya bukan kepalang.

Keempat orang itu seperti pecah bibirnya.

Malah Ceng Tong berasa pening, matanya berkunang-kunang.

"Ah, apakah aku harus binasa disini?"

Keluhnya.

"He, aku minta minum!"

Seru Haphaptai.

"Taruh mangkukmu diatas tanah!"

Perintah Ceng Tong. Haphaptai menurut.

"Kamu bertiga harus mundur 100 tindak!"

Kembali Ceng Tong berseru. Kim Piauw agak berajal.

"Tidak mau mundur, tidak kuberi air!"

Ceng Tong me nganCam.

Dengan kemak-kemik memaki, ketiga orang itu terpaksa mundur.

Ceng Tong ajukan kudanya, dan menuangkan air kedalam mangkuk itu.

Setelah itu, ia keprak kudanya me nyingkir jauh.

Ketiga orang itu segera berebutan maju dan bergantian meminumnya, sampai setetespun tak ada sisanya lagi.

Mereka melanjutkan perjalanannya pula.

Lewat 2 jam, tiba-tiba ditepi jalan kelihatan tumbuh serumpun rumput hijau.

Mata It Lui bersinar terang.

"Didepan tentu ada air!"

Serunya.

Sebaliknya Ceng Tong terkejut.

Hendak ia menCari akal lagi, tapi kepalanya yang serasa pecah itu, rasanya tak dapat dibuat memikir.

Tiba-tiba diudara tampak setitik bayangan hitam, dan seekor burung melayang datang.

Girang Ceng Tong bukan kepalang.

Diulurkannya tangan kirinya, dan hinggaplah burung elang itu diatas pundaknya.

Pada kaki burung itu, terikat sepotong kain hitam, tanda bahwa tak lama lagi Suhunya akan datang.

It Lui Curiga dan menduga tentu ada sesuatu yang aneh.

Sekali tangannya mengibas, sebuah panah kecil segera melayang kearah pergelangan tangan sinona.

Maksudnya, sege ra setelah pedang sinona jatuh, dengan Cepat dia akan merebut kembali kantong airnya.

Tapi Ceng Tong ayun pedangnya untuk menyampok panah itu, sekali ayun Cambuknya ia menCongklang kudanya ke-muka.

Sam Mo itu mem-bentak 2 terus mengejarnya.

Kira-kira 10an li jauhnya, Ceng Tong rasanya kaki dan tangannya lemah lunglai, rasanya tak kuat bertahan lagi.

Sekali kudanya menyentak keatas, terpelantinglah nona gagah itu ketanah.

Melihat Ceng Tong roboh, giranglah Kim Piauw.

Cepat-cepat dia menghampiri.

Ceng Tong Coba paksakan diri untuk merajap keatas kuda, tapi kaki dan tangannya dirasakan lemas sekali, tak dapat digerakkan.

Dalam keadaan berbahaya, biasanya orang dapat memikir daya dengan tiba-tiba.

Demikianlah Ceng Tong.

Sebat ia kalungkan kantong air itu keatas leher burung elangnya, yang terus dilemparkan keatas udara diantar dengan suitan yang nyaring.

Thian-san Siang Eng, paling gemar memelihara burung elang.

Ditangkapnya anak burung yang masih kecil, dilatih untuk keperluan berburu dan menyampaikan berita.

Karena itulah, ke 2 jago suami isteri itu mendapat julukan "Thian San Siang Eng"

Atau sepasang elang dari Thian-san.

Burung elang Ceng Tong itu, adalah pemberian Suhunya yang sudah terlatih.

Begitu dengar suitan Ceng Tong, burung itu segera membubung keatas, terbang ketempat Thian-san Siang Eng.

Melihat "kantong nyawanya"

Dibawa terbang burung, bukan main sibuknya It Lui.

Dia terus keprak kudanya mengejar.

Juga Kim Piauw dan Haphaptai karena perCaja nona itu tak dapat melarikan diri, ikut mengejar elang itu.

Kim Piauw sudah gerakkan tangannya untuk melepas sebuah badi 2 kecil, atau tiba-tiba terdengar suara Cambuk menggeletar.

Tangannya terasa sakit dan badi 2 kecil itu terpukul kesamping.

Kiranya itulah Haphaptai yang memukul dengan Cambuknya.

"Lao-su, apa maksudmu?"

Tanya Kim Piauw dengan marah.

"Hm, kalau badi 2 itu sampai kena kantong air itu, bukankah kita akan Celaka "."

Kim Piauw mengakui kesalahannya, terus keprak kudanya lagi dengan lebih kenCang.

Ia adalah begal kuda dari Liau-tang yang kesohor.

Kepandaiannya naik kuda memang hebat sekali.

Sekejab saja ia sudah dapat menyusul It Lui.

Dengan membawa kantong air yang besar elang itu tak dapat terbang dengan Cepat.

Jarak dengan ketiga penge jarnya, tak seberapa jauh.

Tapi kira-kira 10an li lagi, burung itu makin Cepat.

Rasanya sukarlah untuk ketiga orang akan mengejarnya.

Tiba-tiba burung itu melayang turun lurus kebawah.

Dari sebuah tikungan, ada 2 penunggang kuda munCul.

Burung itu berputar 2 2 kali diudara, lalu hinggap dipundak salah seorang dari mereka.

Kwantong Sam Mo Cepat menghampiri.

Tampak oleh mereka, salah satu dari ke 2 penunggang kuda itu, seorang tua bermuka merah yang berkepala gundul.

Sedang yang satunya, seorang wanita tua yang berrambut putih.

"Mana Ceng Tong?"

Tanya siorang tua gundul itu dengan bengis.

It Lui bertiga melengak, tak tahu harus menjawab bagaimana.

Orang tua itu tampaknya gugup.

Kantong air diambil, dan burung itu dilontarkan lagi keatas udara, kemudian disiuli.

Burung itupun berkiCau satu kali, terus terbang.

Tanpa menghiraukan Sam Mo lagi, ke 2 orang tua aneh itu terus mengikuti burung itu.

It Lui tahu, bahwa ke 2 orang tua itu akan pergi menolong sinona.

Tapi karena mengira dirinya Cukup tangguh maka diajaknya ke 2 Sutenya untuk mengejar.

Ke 2 orang tua aneh itu, bukan lain adalah Thian-san Siang Eng, Suhu dari Hwe Ceng Tong.

Kira-kira 10 li jauhnya, burung itu kelihatan melayang turun, dan disitulah Ceng Tong masih terbaring ditanah.

Kwan Bing Bwe, siwanita tua, bergegas-gegas lonCat dari kudanya terus mendekap Ceng Tong.

Ceng Tong susupkan kepalanya kedada sang Subo (ibu guru) dan menangis.

"Siapa yang menCelakai kau,"

Tanya Kwan Bing Bwe dengan heran. Saat itu, Kwantong Sam Mo pun sudah tiba. Ceng Tong tak menjawab, hanya menuding kepada ketiga orang itu, lalu pingsan tak sadarkan diri.

"LothaoCu (orang tua), mengapa kau tidak lekas-lekas turun tangan?"

Seru Kwan Bing Bwe pada suaminya.

Sedang ia sendiri lantas membuka tutup kantong air, dan memberi minum pada Ceng Tong.

Demi mendengar seruan isterinya, Tan Ceng Tik, siorang tua gundul itu, segera putar kudanya dan menyerang pada Sam Mo.

Begitu dekat jaraknya, dia segera ulurkan lengan nya yang panyang itu untuk menCengkeram dada Haphaptai.

Haphaptai pandai juga ilmu gumul bangsa Mongol.

Sekali tangan dibalik, dia kiblatkan tangan penyerangnya.

Ceng Tik rasakan lengannya kesemutan.

"Ha, lihai juga orang ini,"

Pikirnya. Tapi jago Thian-san itu adatnya "suka menang."

Karena itulah, maka meskipun kepandaiannya tinggi, tapi sepasang suami isteri aneh itu lebih suka menyembunyikan diri dipadang pasir, daripada bergaul dengan Kawan-kawan nya kaum persilatan didaerah Tionggwan.

Perangainya makin tua makin menjadi, tepat seperti jahe, makin tua makin pedas.

Begitu terkamannya luput, tanpa memutar kudanya lebih dulu orang tua itu lonCat keatas menyusuli terkamannya yang ke 2.

Haphaptai gunakan tangan kiri buat menangkis, dan tangan kanan digunakan untuk balas menCengkeram dada lawan.

Tapi jago tua itu, tiba-tiba menahaskan tangannya, hingga seketika itu tubuh Haphaptai tergetar, roboh dari kudanya.

It Lui dan Kim Piauw kaget sekali.

Serentak mereka ber 2 maju menolong.

Tapi dengan mengagumkan sekali, Haphaptai berjumpalitan dan sudah berdiri diatas tanah.

Malah tangannya sudah siap dengan sebuah belati, terus meneryang maju.

Ceng Tik anCamkan tangannya kiri kemuka Kim Piauw, berbareng itu sebelah tangannya lagi, menangkap ujung kepala lak-houw-jak Kim Piauw, siapa segera rasakan tangannya tergetar.

Namun iapun seorang jago yang tangkas.

Tangan kirinya diayun, 2 buah badi 2 berbentuk garpu kecil menyambar muka Ceng Tik.

Sudah tentu jago tua itu tak mau ditelan mentah 2.

Cepat dia tundukkan kepala menghindar.

Tapi dengan berbuat begitu.

Kim Piauw mem punyai kesempatan untuk menarik lolos senjatanya yang diCengkeram lawan.

"Darimana ketiga orang asing ini? Kepandaiannya boleh juga, maka tak heranlah kalau muridku bisa teranCam."

Selagi Ceng Tik berpikir demikian, tibas dan belakang kepalanya terasa ada angin menyambar. Itulah It Lui menye rang dengan senjatanya yang aneh "tok-ka-tang-jin."

Ceng Tik mendek sembari menyapu kaki It Lui, siapapun buru-buru lonCat sembari hantamkan senjatanya kearah jalan darah "giok-Can-hiat"

Lawan. Tapi Ceng Tik menggerung sembari mundur selangkah, serunya.

"He, kau juga bisa menutuk!"

"Benar!"

Sahut It Lui seraya menyusul dengan tutukan kearah jalan darah "hun-bun-hiat"

Dipundak lawan.

"Tang-jin,"

Orang-orangan tembaga kepunyaan It Lui itu hanya berkaki satu, tapi mempunyai 2 tangan, yang saling merangkap.

Sehingga merupakan senjata runCing yang tepat sekali untuk menutup jalan darah lawan.

Disamping itu, karena senjata itu amat berat, maka dapat juga digunakan untuk menyapu dan menghantam.

Lebih dahsyat daripada senjata berat lainnya.

Lazimnya senjata untuk penutuk jalan darah adalah.

"poan-koan-pit".

"pit-hiat-kwat", tiam-hiat-kong-hwan. Kesemuanya adalah senjata 2 yang ringan dan mengandalkan ketangkasan sipemakai. Jadi "tok-ka-tang-jin"

Itu, memang luar biasa dan jarang terdapat didunia persilatan.

Bahwa dengan senjata berat It Lui gapah sekali untuk menCari jalan darah, telah menyebabkan jago Thian-san itu terkesiap.

Insyap berhadapan dengan lawan yang tangguh, iapun segera keluarkan seluruh kepandaiannya.

Dengan tangan kosong, dia layani dengan sungguh-sungguh ketiga lawannya itu.

Dilain fihak, Kwan Bing Bwe menjadi lega hatinya, ketika nampak Ceng Tong mulai tersedar.

Tapi ketika ia berpaling untuk mengawasi jalannya pertempuran, hatinya berdebar karena nampak sang suami rada keripuhan.

Pedang Ceng Tik masih diselipkan diatas pelana kudanya, tak sempat diambil.

Karena ketika ia lonCat keatas tadi, sang kuda kaget, terus menCongklang lari belasan li jauh nya.

Memang sudah menjadi watak Ceng Tik yang beradat tinggi itu, selalu "suka menang."

Tak mau dia mengambil senjatanya, Cukup dengan tangan kosong melayani tiga jago kangouw kenamaan itu.

Maka pada saat itu, pelan-pelan tampak dia keteter.

Sebat Kwan Bing Bwe bertindak.

Dengan gerak "menempuh badai menderu-deru ,"

Ia lonCat menusuk punggung It Lui, siapapun buru-buru berputar diri untuk menangkis dengan tangjinnya. Tapi belum lagi ujung pedangnya tiba, Kwan Bing Bwe sudah merobah gerakannya.

"sret, sret, sret........."

Tiga kali samberan pedang dari wanita gagah itu, telah membuat It Lui kuCurkan keringat dingin karena ngerinya.

Memang jago pertama dari persaudaran Kwantong Liok Mo itu, belum pernah mengunjungi daerah Se Pak.

Maka tak tahu akan kelihaian dari ilmu pedang "sam-hun-kiam"

Yang linCah tangkas itu.

Terpaksa dia menjaga diri dengan hati-hati sambil menunggu kesempatan menyerang.

Dalam hati ia heran dan kagum akan permainan pedang si wanita tua yang bertubuh kurus kecil itu.

Kwan Bing Bwe lanCarkan delapan kali serangan berantai, susul menyusul makin lihai.

Itulah salah satu jurus yang terhebat dari ilmu pedang "sam-hun-kiam"

Yang disebut "Mo Ong-pat-Cun-im-yauw-ti"

Atau delapan ekor kuda raja Mo Ong minum ditelaga.

Bahwa sekalipun sangat keripuhan It Lui masih dapat bertahan itu, telah membuat Kwan Bing Bwe heran dan kagum juga.

Diam-diam ia memuji akan kepandaian lawannya.

Kini dengan berkurang seorang musuh yang tangguh itu, Ceng Tik berada diatas angin.

Sepasang tangannya merabu dengan kerasnya, menCari jalan darah musuh yang berba haja.

Sekonyong-konyong dia membungkuk kebawah dan memungut sepasang badi 2 kecil yang dilemparkan Kim Piauw tadi.

Dengan memegang sepasang senjata, ia laksanakan harimau yang tumbuh sayap.

Dengan gerak serangan ilmu silat Ngo Bi Pai, dia makin menggenCar.

Belati dari Haphaptai juga termasuk senjata yang pendek.

Maka sesaat itu tampaklah jago Mongol itu berkelahi seCara rapat dengan jago Thian-san.

Kira-kira pada jurus yang ke-delapan, lengan kiri Haphaptai kena tertusuk badi 2.

Pa kaiannya robek, kulit lengannya pun melowek besar.

Melihat gelagat buruk, Kim Piauw tinggalkan Ceng Tik terus kearah Ceng Tong.

Bukan main kagetnya jago tua itu.

Cepat dia tinggalkan Haphaptai untuk lonCat menghadang Kim Piauw.

Malah belum orangnya tiba, badi 2nya telah melayang kepunggung Kim Piauw.

Hendak Kim Piauw menyanggapi, tapi badi 2 kecil milik nya itu, ditangan jago seperti Ceng Tik, telah berobah men jadi berbahaya.

Pesat dan dahsyat sekali larinya, sehingga meskipun Kim Piauw sudah dapat menjepit tangkainya, namun senjata itu tetap memberosot lepas, menyambar mu kanya.

Buru-buru Kim Piauw mendek kebawah, dan badi 2 itu melayang diatas kepalanya.

Baru saja dia hendak tegakkan diri, Ceng Tik sudah memburu datang.

Melihat bahwa Sukonya tentu tak kuat melawan, Haphaptai buru-buru maju membantu.

Tapi sekalipun dikerubuti 2 orang, jago tua itu tetap unnggul.

Sedang difihak sana, It Lui masih ripuh dirabuh Kwan Bing Bwe, hingga tak sempat untuk memberi bantuan.

Ceng Tong yang sementara itu sudah bisa duduk, merasa girang bahwa Suhu dan Sukongnya unggul.

Kelima orang itu bertempur dengan seru sekali.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar riuh ramai longlong binatang yang gemuruh sekali.

Suara itu nyaring sangat, kemudian ber-angsur 2 lenyap.

Suara yang menggambarkan ketakutan, kelaparan dan kebuasan.

"Suhu, dengarlah!"

Tiba-tiba Ceng Tong lonCat berseru.

Kwan Bing Bwe (suhu Ceng Tong) dan suaminya lonCat kesamping, memasang pendengarannya.

Sebaliknya ketiga Sam Mo itupun tersengal-sengal napasnya, tak berani menghampiri.

Pada saat itu, gelombang longlongan itu makin kedengaran nyata lagi.

Berbareng itu dari jauh tampak sekelompok ba yangan hitam mendatangi.

Wajah sepasang Thian-san Siang Eng berobah seketika.

Ceng Tik melesat untuk mengambil kuda.

Sedang Kwan Bing Bwe segera memondong muridnya (Ceng Tong) dibawa naik kuda.

Ceng Tik berdiri diatas kuda, memandang kesekelilingnya.

"Kau naik jugalah, Coba kemana kita akan menying kir!"

Katanya pada sang isteri.

Setelah meletakkan Ceng Tong diatas pelana, Kwan Bing Bwe pun ikut berdiri diatas kuda suaminya.

Ceng Tik naikkan sepasang tangannya keatas kepala.

Begitu enjot kaki-nya, Bing Bwe injak pundak sang suami untuk terus lonCat keatas tangannya.

Melihat gerak-gerik yang aneh dari suami isteri tua itu, ketiga Sam Mo saling pandang, tak habis mengerti.

"Apakah ke 2 orang tua itu akan keluarkan ilmu sihir?"

Tanya Kim Piauw. Namun baik It Lui maupun Haphaptai tak dapat menjawab, keCuali ber-jaga 2 dengan waspada.

"Disebelah utara sana, seperti ada 2 batang pohon besar", tiba-tiba Kwan Bing Bwe berseru.

"Ada atau tidak, kita harus Cepat kesana!"

Teriak suaminya.

Begitu lonCat kembali keatas kudanya sendiri, sepasang suami-isteri aneh itu terus peCut kudanya kearah utara.

Sam Mo itu ditinggalkan begitu saja.

Melihat kantong air kelupaan dibawa oleh ke 2 suami isteri tersebut., Haphaptai buru-buru memungutnya.

Pada saat itu.

suara longlong makin nyaring, menyeramkan sekali.

"Kawanan serigala!"

Sekonyong-konyong Kim Piauw berteriak, mukanya puCat seperti kertas.

Baca Juga: Kemelut Blambangan 7

Baca Juga: Raja Pedang Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert