Ceritasilat Novel Online

Kemelut Blambangan 7

Eps 7 Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo.

"Begini, Anakmas Bagus. Sesungguhnya semenjak saya bertemu dengan Andika, saya telah mempunyai keinginan untuk menjodohkan puteri saya dengan Andika. Akan tetapi keinginan itu saya simpan saja karena saya belum mengetahui perasaan hati anak saya. Akan tetapi sekarang saya yakin bahwa Ratna Manohara mengagumi dan mencinta Andika, terutama semenjak andika menolongnya tempo hari. Oleh karena itu, sekarang saya ingin menyampaikan niat hati saya itu secara terus terang kepada Andika, yaitu kalau sekiranya Andika sudi, saya ingin agar Ratna Manohara dapat bersuwita (menghambakan diri) menjadi isteri Andika. Bagaimana pendapat Andika anakmas Bagus Sajiwo?"

Sejak Ki Sarwaguna mengucapkan kalimat pertama, Bagus Sajiwo sudah mengetahui akan niat Ketua Driya Pawitra itu.

Dia lalu menjawab dengan tenang namun sungguh-sungguh, setelah sebelumnya mempertimbangkan bahwa tidak baik kalau dia menolak begitu saja secara keras, juga tidak baik kalau dia membawa nama Joko Darmono dalam urusan ini.

Dia sendiri masih ragu apakah dia benar mencinta Ratna Manohara dan menginginkan gadis itu menjadi isterinya.

"Paman Sarwaguna, maafkan saya kalau saya tidak dapat mengambil keputusan mengenai hal ini. Keputusan mengenai perjodohan saya, sepenuhnya berada di tangan Ayah Ibu saya. Saya tidak berani melancangi mereka dalam hal ini, Paman."

Ki Sarwaguna tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Saya mengerti sepenuhnya, Anakmas. Memang demikianlah sikap seorang pemuda bijaksana yang berbakti kepada oang tuanya. Baiklah, Anakmas. Saya akan segera pergi berkunjung ke dusun Bayeman di Lereng Gunung Kawi dan menghadap orang tua Andika untuk mengajukan permohonan dan membicarakan perjodohan ini."

Bagus Sajiwo terkejut.

Tak disangkanya Ki Sarwaguna akan sedemikian nekatnya.

Biasanya, pihak pria yang mengajukan pinangan, maka tadi dia memakai alasan bahwa urusan pejodohannya berada di tangan orang tuanya.

Siapa kira kini Ki Sarwaguna akan mengunjungi orang tuanya membicarakan urusan perjodohan, seolah-olah pihak wanita yang datang meminang atau yang mengusulkan perjodohan itu!

Jantungnya berdebar.

Bagaimana kalau ayah ibunya menyetuji?

Ah, tiak mungkin.

Ayah ibunya adalah orang-orang bijaksana, tidak mungkin memutuskan begitu saja tentang perjodohan anaknya.

Tentu mereka akan bertanya dulu kepadanya.

Berpikir demikian, hatinya tenang kembali dan dia berkata.

"Kalau begitu kehendak Paman, silakan."

"Andika hendak kemana, anakmas?"

"Saya akan pergi ke Pasuruan, Paman. Setelah mendengar banyak tentang persekutuan di Blambangan dan kemungkinan besar mereka akan menyerang Pasuruan, maka sebaiknya kalau saya pergi ke sana. Siapa tahu, tenagaku dipergunakan di sana untuk membela Mataram."

Ki Sarwaguna mengangguk-angguk.

"Saya kira itu tepat skali, Anakmas Bagus Sajiwo. Mudah-mudahan saja Andika berhasil. Kami sendiri memang serba salah. Bagaimanapun juga, kami adalah kawula Blambangan karena sejak kecil tinggal di daerah Blambangan. Karena itu, kami tidak ingin terlibat dalam perang antara Blambangan dan Mataram walaupun kami mengakui bahwa Blambangan yang memulainya. Kami hanya menentang yang tidak benar dan jahat terhadap kami, dari mana pun datangnya. Kami tidak ingin terlibat dalam pertikaian antara kadipaten."

"Saya mengerti, Paman dan saya pribadi tidak menyalahkan pendirian Paman itu."

Sebelum pergi, Ki Sarwaguna dan Ratna Manohara menjamu Bagus Sajiwo sebagai ucapan selamat berpisah.

Mereka makan bersama dan Bagus Sajiwo melihat betapa wajah gadis itu agak muram dan ia yang biasanya memang sudah pendiam itu kini menjadi semakin pendiam.

Hanya sinar matanya saja yang bagi bagus sajiwo penuh pernyataan yang menggantikan kata-kata tak terucapkan.

Dia merasa dan tahu bahwa gadis itu memang mencintanya.

Ketika Bagus Sajiwo meninggalkan perkampungan itu, Ratna Manohara mengantarnya sampai keluar dari perakampungan.

Ki Sarwaguna sengaja tidak ikut mengantar sejauh itu, agaknya memang memberi kesempatan kepada puterinya untuk dapat bicara berdua dengan Bagus Sajiwo dalam kesempatan itu.

Setelah agak jauh meninggalkan perkampungan baru Perguruan Driya pawitra, Bagus Sajiwo berhenti melangkah dan memandang Ratna Manohara yang tadi berjalan di sampingnya.

"Nimas Ratna, kukira sudah cukup jauh engkau mengantarku. Kita berpisah di sini saja. Pulanglah dan aku akan melanjutkan perjalananku."

Katanya lembut.

Dia melihat betapa wajah gadis itu cantik sekali.

Kedua pipinya kemerahan, bibirnya membentuk senyum namun mengharukan karena mengandung kesedihan, Sepasang matanya basah sehingga bola matanya tampak berkilauan.

Suaranya terdengar menggetar lirih penuh perasaan.

"Selamat jalan, Kakangmas Bagus Sajiwo. Selama hidupku aku tidak akan melupakan budimu yang besar berlimpah kepadaku. Aku akan selalu berdoa semoga aku kelak mendapat kesempatan untuk membalas budimu itu."

Bagus Sajiwo merasa terharu sekali.

Dia dapat merasakan getaran kasih sayang dari gadis itu.

Keharuan membuat dia menjulurkan kedua tangan dan memegang kedua tangan gadis itu.

Jari-jari tangan mereka saling genggam.

"Nimas Ratna Manohara, aku pun tidak akan melupakan kebaikanmu, kebaikan Ayahmu. aku akan selalu mengenangmu sebagai seorang gadis yang cantik jelita, gagah perkasa, baik budi, dan sebagai seorang sahabat yang teramat baik. Nah, selamat tinggal dan semoga kita akan dapat saling berjumpa lagi, Nimas Ratna."

Kini dua tetes air mata jatuh ke atas kedua pipi kemerahan itu. Bibir itu tersenyum manis. Ucapan Bagus Sajiwo itu seolah merupakan boreh (param) yang menyejukkan hatinya.

"Selamat jalan, Kakangmas Bagus, dan selamat berjuang. Semoga Yang Maha Kuasa selalu melimpahkan berkatNya kepadamu."

Mereka saling melepaskan tangan dan Bagus Sajiwo lalu menggunakan kepandaiannya untuk berlari cepat.

Tubuhnya berkelebat seperti bayangan meninggalkan gadis yang masih berdiri di situ memandang ke arah dia pergi, sampai beberapa lama walaupun bayangan Bagus Sajiwo sudah tidak tampak lagi.

"Ratna....!"

Gadis itu terkejut, memutar tubuhnya dan melihat ayahnya berdiri di depannya, ia cepat menghapus beberapa butir air mata yang membasahi pipinya.

"Ah, Kanjeng Rama.... Kakangmas Bagus telah pergi...."

Ki Sarwaguna tersenyum dan melangkah maju menghampiri puterinya. Diletakkannya kedua tangannya di atas pundak Ratna Manohara.

"Ratna, engkau mencinta anakmas Bagus Sajiwo, bukan?"

Ratna Manohara menundukkan mukanya, tersenyum malu.

Biarpun ia amat dekat dengan ayahnya dan agak manja kepada ayah yang meangkap tugas seorang ibu ini, namun ia malu untuk mengaku bahwa ia mencinta seorang pemuda!

Akan tetapi, sikap menunduk dan tersenyum malu-malu ini sudah cukup bagi Ki Sarwaguna untuk mengetahui bahwa dugaannya sejak semula tidak keliru.

"Jangan khawatir, Anakku. Aku akan segera pergi mengunjungi Ki Tejomanik di dusun Bayeman lereng Gunung Kawi untuk membicarakan urusan perjodohanmu dengan Anakmas Bagus Sajiwo."

"Jangan, Kanjeng Rama....!"

Ratna Manohara memandang Ayahnya dengan mata tebelalak.

Ki Sarwaguna mengira bahwa puterinya merasa malu kalau ayahnya harus mengunjungi orang tua Bagus Sajiwo membicarakan perjodohan karena hal itu seolah-olah pihak wanita yang meminang pihak pria!

Dia tersenyum gembira.

"Tidak mengapa, Anakku. Bahkan Anakmas Bagus Sajiwo sendiri yang mengusulkan kepadaku kalau ingin bicara soal perjodohan, harus berurusan dengan orang tuanya. Kalau engkau dan Anakmas Bagus Sajiwo sudah saling mencinta, aku yakin Ki Tejomanik dan isterinya tidak akan keberatan dan akan menerima dengan gembira."

"Tidak, Kanjeng Rama, tidak! Jangan lakukan itu....!"

Kata Ratna Manohara, menggeleng kepala kuat-kuat dan wajahnya berubah pucat.

"Eh? Engkau mengapa, Ratna?"

Ayahnya bertanya kaget dan memegang pundak anaknya.

"Mengapa aku tidak boleh melakukan hal yang baik itu?"

Melihat puterinya mulai menangis, dengan alis berkerut dan hati khawatir Ki Sarwaguna mendesaknya.

"Katakanlah, Anakku, mengapa engkau menangis? Engkau selalu berterus terang kepada Ramamu, bukan? Katakanlah, kalau ada masalah, kita pecahkan bersama."

".... ada.... ada sebabnya, Kanjeng Rama....!"

"Apa sebabnya? Siapa yang menyebabkannya?"

".... dia.... Joko Darmono....!"

"Joko Darmono? Bocah kuarangajar yang hampir membunuh engkau dan Anakmas Bagus Sajiwo itu? mengapa dia yang menyebabkannya? Apa yang dilakukannya? Katakan, apa dia mengancammu? Atau.... apa.... apa engkau.... jatuh cinta kepada pemuda jahat itu?"

Ratna Manohara menggeleng kepalanya kuat-kuat dan tangisnya semakin mengguguk. Ketika ayahnya merangkulnya, ia menyandarkan mukanya di dada ayahnya.

"Sudahlah, tenangkan hatimu, Ratna. Bukan di sini untuk membicarakannya. Mari kita pulang dan kita bicara dalam rumah. Akan tetapi hentikan tangismu dan keringkan air matamu agar jangan ada murid Driya Pawitra yang mengetahui bahwa engkau menangis."

Ratna Manohara dihibur ayahnya dan akhirnya ia mampu menenangkan hatinya dan dituntun ayahnya yang menggandengnya pulang ke perkampungan.

Setelah mereka memasuki rumah, mereka lalu duduk di ruangan dalam yang tertutup, duduk di atas kursi berhadapan.

Wajah Ratna Manohara masih pucat.

Ia tidak ingin ayahnya membicarakan perjodohan antara ia dan Bagus Sajiwo.

Hal ini akan membawa akibat berlarut-larut.

Niken Darmini pasti akan merasa sakit hati dan gadis yang berhati keras itu tentu akan selalu memusuhi ia dan Bagus Sajiwo, dan hidupnya tidak akan tenteram lagi.

Ia tidak mau mencapai kehidupan bahagia di atas penderitaan orang lain, apalagi orang lain itu Niken Darmini, seorang sahabat baiknya.

Akan tetapi, ayahnya tentu tidak akan mau membatalkan niatnya menjodohkan ia dengan Bagus Sajiwo kalau ia tidak mempunyai alasan yang kuat untuk menolaknya.

Dan satu-satunya alasan adalah membuka rahasia Niken Darmini yang menyamar menjadi Joko Darmono!

"Nah, ceritakanlah, Ratna.

Ada apa dengan Joko Darmono dan mengapa dia membuat engkau tidak ingin aku membicarakan perjodohanmu dengan Anakmas Bagus Sajiwo?"

"Karena ia amat mencintai Kakangmas Bagus sejak lama sebelum mereka datang ke sini dan ia berkata akan membunuh gadis yang berani merebut kakangmas Bagus Sajiwo darinya...."

"Gila! Bagaimana mugkin pria sama pria...."

"Bukan, Kanjeng Rama, Joko Darmono bukan seorang laki-laki, melainkan seorang gadis cantik dan sakti bernama Niken Darmini yang menyamar sebagai seorang pria. Ia murid tunggal mendiang Nini Kuntigarba."

"Ahhhh....!"

Ki Sarwaguna terbelalak dan sejenak dia terdiam, tak mampu bicara. Kemudian dia menghela napas berulang-ulang.

"Dan kukira tadinya.... kukira engkau tertarik kepada Joko Darmono dan di antara kalian ada hubungan cinta...."

"Demikian pula Kakangmas Bagus Sajiwo. Dia tidak tahu bahwa sahabatnya itu seorang wanita. Dia mengira bahwa Joko Darmono mncintaku sehingga ketika Joko Darmono menyerang saya dan Kakangmas Bagus, dia mengira bahwa Joko cemburu! Memang ia cemburu, akan tetapi Niken Darmini yang cemburu, mengira saya merebut Kakangmas Bagus darinya, bukan Joko Darmono yang cemburu seperti yang dikira Kakangmas Bagus."

"Wah.... wah.... dan aku mati-matian berusaha agar engkau tidak mencinta Joko Darmono, melainkan mencinta Bagus Sajiwo! Duh gusti, apa yang telah aku lakukan?"

Ratna Manohara cepat mengangkat mukanya dan menatap wajah ayahnya dengan penuh selidik.

"Apa yang Paduka lakukan, Kanjeng Rama?"

".... aku.... telah membuat Niken Darmini menjadi hancur hatinya, bahkan membencimu, membnci Anakmas Bagus Sajiwo.... ah, mengapa begini jadinya....?"

Orang tua itu seolah bicara kepada diri sendiri, wajahnya membayangkan penyesalan mendalam.

"Katakanlah, apa yang telah Kanjeng Rama lakukan? Tentu ada hubungannya dengan peristiwa penculikan diri saya. Saya sudah merasakan ketidak wajaran dalam peristiwa itu. Dua orang penculik itu tidak mengganggu saya, tidak mau memperlihatkan muka, dan ternyata yang dikatakan bahwa mereka mempunyai banyak teman pun tidak pernah muncul. Mereka meninggalkan saya begitu saja! Dan penculikan itu sendiri, kalau tidak dibantu orang dalam, bagaimana mungkin dapat mereka lakukan tanpa diketahui seorang pun? Katakan, Kanjeng Rama, apa yang telah Paduka lakukan?"

Setelah berulang kali menghela napas panjang, Ki Sarwaguna berkata dengan nada menyesal.

"Ratna, mengapa engkau tidak memberitahu padaku bahwa Joko Darmono itu seorang wanita? Kalau engkau memberitahu, tentu tidak akan terjadi peristiwa ini...."

"Kanjeng Rama, Niken Darmini minta kepada saya agar merahasiakan penyamarannya, dan saya sudah berjanji akan memenuhi permintaannya itu. Bahkan kepada Kakangmas Bagus juga saya tidak memberitahu. Akan tetapi, apakah yang telah Paduka lakukan?"

"Ah, aku menyesal sekali! Kukira bahwa engkau jatuh cinta kepada Joko Darmono dan sejak semula aku tidak begitu suka kepada pemuda itu walaupun dia juga membela perguruan kita. Ada sesuatu yang aneh dan tidak wajar pada dirinya, yang membuat aku merasa tidak suka. Sebaliknya, sejak pertemuan pertama, aku sudah ingin sekali agar engkau dapat berjodoh dengan Anakmas Bagus Sajiwo. Maka, melihat engkau begitu akrab dengan Joko Darmono, aku merasa tidak suka, lalu kuatur sehingga terjadi peristiwa itu. Engkau diculik, yang menolong Bagus Sajiwo, dan Joko Darmono melihat kalian berdua. Maksudku agar jangan terjadi hubungan cinta antara engkau dan Joko Darmono, dan agar engkau mengalihkan cintamu kepada Bagus Sajiwo yang menyelamatkanmu. Ah, aku menyesal sekali...."

Wajah Ratna Manohara menjadi pucat, lalu berubah merah, matanya mencorong akan tetapi lalu air mata mulai mnetes ke atas pipinya.

"Jadi.... jadi Kanjeng Rama sengaja menculik saya, lalu menyuruh Kakangmas Bagus Sajiwo untuk menolong saya, dan Kanjeng Rama menyuruh Joko Darmono menusul agar melihat kami berdua! Begitukah? Kanjeng Rama merencanakan itu semua?"

Baru sekali ini selama hidupnya Ratna Manohara bicara keras terhadap ayahnya. Suaranya mengandung ketidak-percayaan, keheranan, kekagetan dan juga penyesalan dan kemarahan.

"Semua itu kulakukan demi menyenangkanmu, demi kebahagiaanmu, Ratna...."

Kata Ki Sarwaguna lemas. (Lanjut ke

Jilid 21) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21

"Demi saya, ataukah demi kesenangan Paduka sendiri? Andaikata Joko Darmono itu benar seorang pemuda dan saya benar mencintainya, Kanjeng Rama hendak merenggut cinta itu dan memaksa saya mencinta Kakangmas Bagus Sajiwo! Berarti Paduka melakukan segala cara, yang tidak baik sekalipun, demi memenuhi keinginan dan kesenangan hati Paduka sendiri! Ah, sungguh saya menyesal sekali! Sungguh memalukan sekali! Kanjeng Rama bahkan menculik anaknya sendiri....!"

Pada saat itu, dari pintu sebelah belakang muncul dua orang laki-laki, yang seorang berusia sekitar empat puluh delapan tahun, yang kedua berusia sekitar empat puluh enam tahun.

"Ratna Manohara, kami berdualah yang telah melakukan penculikan itu."

Kata orang pertama yang bertubuh tinggi kurus. Ratna cepat bangkit berdiri dan menoleh, memandang kepada dua orang itu.

"Paman Sarwaluhung dan Paman Sarwajati!"

Serunya, kedua alisnya berkerut.

"Memang mereka yang melakukan penculikan, akan tetapi aku yang menyuruh mereka. Akulah yang bertanggung jawab, Ratna."

Kata Ki Sarwaguna.

"Ah, memalukan! Memalukan sekali!"

Ratna Manohara terisak dan lari menuju ke kamarnya. Ketika Ki Sarwaguna hendak mengejar, dua orang adik seperguruannya itu menghadang.

"Kakang Sarwaguna, biarkan ia menangis, biarkan ia seorang diri sampai ia tenang kembali, baru dapat diajak bicara."

Kata Ki Sarwaluhung.

"Benar, Kakang Sarwaguna. Dalam keadaan masih marah dan kaget, akan sukar mengajaknya bicara baik-baik."

Kata pula Ki Sarwajati.

Dua orang itu adalah adik seperguruan Ki Sarwaguna yang berusia lima puluh tahun.

Sebetulnya Perguruan Driya Pawitra dipimpin oleh empat orang murid itu, ialah Ki Sarwaguna sebagai yang tertua, lalu Ki Sarwatama yang ternyata menyeleweng dan membantu Blambangan,kemudian Ki Sarwaluhung dan Ki Sarwajati.

Dua orang tokoh Driya Pawitra ini selama beberapa tahun meninggalkan Driya Pawitra untuk merantau dan hidup sebagai pendekar perantau.

Mereka berdua tidak beristeri.

Yang membantu Ki Sarwaguna hanya Ki Sarwatama, adik seperguruan yang berusia empat puluh sembilan tahun.

Ki Sarwaluhung dan Ki Sarwajati mendengar akan Perkampungan Driya Pawitra yang diserbu kemudian dibakar orang Blambangan.

Mereka berdua segera mencari dan dapat menemukan perkampungan Driya Pawitra yang baru.

Ketika mereka bertemu dengan Ki Sarwaguna, saudara seperguruan tua ini mengajak mereka berunding tapa diketahui semua orang dan minta bantuan kedua orang adik seperguruan itu untuk melaksanakan rencananya "memisahkan"

Ratna Manohara dari Joko Darmono dan "mendekatkan"

Puterinya itu dengan Bagus Sajiwo.

Setelah puterinya berlari keluar sambil menangis dan kedua orang adik seperguruannya membujuknya agar dia tidak mengejar puterinya, Ki Sarwaguna lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi dan termenung dengan wajah muram.

"Kakang Sarwaguna, sebelumnya kami berdua sudah mengingatkanmu bahwa cara yang tidak benar itu tidak nungkin mendatangkan hasil yang baik. Sekarang kenyataannya begini, biarlah ini kita anggap sebagai pelajaran agar kelak kita tidak mengulang kesalahan yang sama."

Kata Ki Sarwajati. Ki Sarwaguna menghela napas panjang.

"Ah, kalau saja aku tahu bahwa Joko Darmono itu adalah Niken Darmini, yang kuanggap sebagai penghalang perjodohan antara anakku dan Bagus Sajiwo, tidak mungkin aku menggunakan cara seperti itu!"

"Semua sudah terjadi, Kakang Sarwaguna. Penyesalan saja tidak ada arti dan gunanya. Yang terpenting sekarang, kita usahakan agar Ratna Manohara dapat memaklumi niat baikmu dan dapat memaafkanmu. Ia seorang anak yang baik dan berbakti, kiranya tidak akan sulit baginya untuk melupakan semua itu dan memaafkan Ayahnya."

Kata Ki Sarwaluhung. Kembali Ki Sarwaguna menghela napas panjang penuh penyesalan.

"Aahh.... memang Ratna benar. Aku sama sekali tidak mementingkan perasaan dan kebahagiannya, hanya mementingkan keinginanku sendiri, mementingkan kesenanganku sendiri. Aku telah membuat anakku sendiri merasa malu, membuat Niken Darmini mendendam dan memusuhi Ratna, mengacaukan kehidupan tiga orang muda itu."

"Sudahlah, Kakang, tidak perlu menyiksa batin sendiri dengan segala penyesalan tak berguna itu. Sebaiknya berusaha untuk memperbaiki kesalahan dan pertama-tama, temui Ratna dan ajak bicara dengan tenang, akui kesalahanmu yang terjadi karena kesalahan paham, mengira bahwa Niken Darmini itu seorang pria."

Ki Sarwaluhung membujuk.

Akhirnya Ki Sarwaguna merasa tenang dan dengan hati-hati pada sore hari itu dia mengetuk daun pintu kamar puterinya.

Sejak pertemuan siang tadi, Ratna mengunci diri dalam kamarnya dan tidak pernah keluar.

Tidak ada jawaban.

beberapa kali Ki Sarwaguna mengetuk, akan tetapi tidak mendapat jawaban.

Padahal biasanya, begitu mendengar suara ayahnya, tentu gadis itu bergegas keluar.

Ki Sarwaguna mulai merasa curiga dan dia mendorong daun pintu.

Ternyata dengan mudah dapat terbuka dan dia tebelalak.

Kamar anaknya telah kosong!

"Ratna....!"

Ki Sarwaguna berseru dan melompat ke dalam, memeriksa dan segera mendapat kenyataan bahwa beberapa potong pakaian puterinya tidak berada dalam kamar itu, juga pedangnya tidak berada di dinding di mana biasanya senjata itu tergantung.

Jelas bahwa Ratna Manohara telah pergi dari perkampungan itu tanpa memberitahu kepadanya.

Puterinya telah minggat, meninggalkannya, mungkin karena marah dan kecewa.

Ki Sarwaluhung dan Ki Sarwajati ikut merasa menyesal mendengar bahwa keponakan mereka itu pergi tanpa pamit.

Mereka berdua menghibur kakak mereka dan berjanji akan mencari gadis itu dalam pengembaraan mereka.

"Terima kasih."

Kata Ki Sarwaguna.

"Kalau seorang diantara kalian bertemu dengannya, sampaikan penyesalan dan permintaan maafku dan bujuk ia agar kembali ke sini. Aku sendiri akan coba untuk mencarinya ke Pasuruan."

"Ke Pasuruan? Mengapa ke Pasuruan, Kakang Sarwaguna?"

Tanya Ki Sarwagati.

"Karena Bagus Sajiwo juga pergi ke Pasuruan. Bahkan kukira Joko.... eh, Niken Darmini juga pergi ke sana. Mereka adalah orang-orang gagah yang telah dimusuhi Blambangan, tentu mereka akan membantu Mataram menghadapi ancaman penyerbuan Blambangan. Kukira Ratna juga mencari mereka ke Pasuruan."

"Baiklah, Kakang Sarwaguna, kita berpencar mencari ke tiga jurusan. Akan tetapi, bagaimana pendapatmu tentang perang yang mungkin terjadi antara Blambangan dan Mataram, Kakang?"

Tanya Sarwaluhung. Ki Sarwaguna mengerutkan alisnya.

"Kalau pendapatmu bagaimana, Adi Sarwajati?"

"Hemm, aku tidak tahu, Kakang. Memang tidak semestinya kita mencampuri, akan tetapi mengingat apa yang telah dilakukan orang Blambangan terhadap perguruan kita...."

Kata Ki Sarwajati ragu.

"Adi Sarwoluhung dan Adi Sarwajati, kita adalah penerus-penerus pimpinan Driya Pawitra yang setia kepada para pendahulu kita. Kalian berdua sudah tahu akan sikap dan pendirian Driya Pawitra. Kita dididik untuk menjadi orang-orang yang berjuang mempertahankan kebenaran dan keadilan, membela mereka yang benar namun tertindas, dan menentang mereka yang kuat namun jahat dan penindas sesamanya. Driya Pawitra tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan yang saling berperang karena dalam perang antara ribuan orang itu sukar ditentukan siapa benar siapa bersalah. Yang berperang pun sama sekali tidak mempedulikan tentang salah benar karena mereka hanya menerima perintah yang menjadi tugas perajurit. Pendeknya, kita tidak perlu mencampuri urusan perang antara daerah atau kadipaten manapun juga. Kita membela yang benar menentang yang bersalah, tanpa mengingat dia itu warga daerah mana."

"Setuju sekali!"

Jawab dua orang Adik seperguruan itu serempak.

Demikianlah, pada keesokan harinya, tiga orang bersaudara seperguruan itu lalu berangkat meninggalkan perkampungan baru Driya Pawitra dan berpencar, setelah Ki Sarwaguna meninggalkan pesan kepada para muridnya agar kalau terjadi serbuan gerombolan orang Blambangan yang mempunyai banyak orang sakti, mereka jangan melawan dan menyelamatkan diri pergi dari situ.

Blambangan dan sekutunya telah membuat persiapan besar-besaran.

Adipati Santa Guna Alit yang dalam persekutuan dengan Bali, Madura dan daerah-daerah kecil lainnya, juga diam-diam didukung Kumpeni yang tidak berani terang-terangan membantu Blambangan, diwakili oleh Satyabrata, telah mengangkat Bhagawan Kalasrenggi sebagai kuasa dan wakilnya.

Tentu saja yang memperkuat persekutuan itu terutama sekali adalah dari Bali.

Raja Dewa Agung dari Gelgel membantu dengan pasukan pilihan dipimpin oleh Panji Buleleng dan Macan Kuning, dua orang senopati Gelgel yang terkenal sakti mandraguna.

Perwira-perwiranya yang terkenal di antaranya adalah Ki Tabanan dan Ki Pacung.

Mereka bercampur dengan pasukan yang dipimpin Tejakasmala dan pasukan Bali itu berjumlah tidak kurang dari dua laksa orang.

Juga pasukan dari Madura yang dipimpin Ki Randujapang sebanyak lebih dari tiga ribu orang sudah siap.

Bersama pasukan Blambangan sendiri dan pasukan daerah-daerah yang lebih kecil seperti Panarukan, Blitar bagian timur dan lain-lain, maka seluruh pasukan berjumlah tidak kurang dari lima laksa orang.

Sesuai dengan rencana yang telah disepakati bersama, mereka hendak menyerbu Pasuruan yang dianggap sebagai pintu dengan wilayah kekuasaan Mataram, atau daerah yang mendukung Mataram.

Kadipaten Pasuruan memang dikenal sebagai kadipaten yang telah ditaklukkan dan kini mendukung Mataram dengan setia.

Akan tetapi sebelum menyerbu Pasuruan, persekutuan yang biarpun dihimpun di Blambangan yang dipimpin Bhagawan Kalasrenggi akan tetapi sesungguhnya berada di bawah pengaruh Bali yang pasukannya dipimpin Tejakasmala yang lebih sakti, telah bersepakat untuk lebih dulu memperkokoh diri dengan menarik bantuan dari daerah-daerah kecil.

Juga mereka mendatangi perguruan-perguruan untuk menarik bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian dan kesaktian.

Banyak yang dapat terbujuk dan membantu dengan suka rela, ada pula yang membantu karena ditaklukkan dan dipaksa.

Akan tetapi ada pula yang gagal seperti halnya Perguruan Bromo Dadali, Perguruan Driya Pawitra, dan beberapa orang tokoh sakti lainnya.

Bahkan Bhagawan Kalasrenggi yang cerdik dan licik itu telah berhasil menyebar mata-mata ke dalam kota Kadipaten Pasuruan dan sekitarnya.

Hal ini mudah dilakukan karena Pasuruan merupakan kota yang terbuka untuk umum.

Dari keterangan para telik sandi (mata-mata) ini, Blambangan dapat mengukur kekuatan pertahanan Pasuruan.

Setelah mengadakan perundingan untuk mengatur siasat penyerbuan, maka persekutuan di Blambangan itu mengambil keputusan untuk menyerbu pada hari yang telah diperhitungkan oleh para ahli peramal.

Demikianlah, pada Hari Minggu Pon, Bulan Kartika dan Wuku Kurantil, pasukan dari Blambangan mulai menyerbu Pasuruan.

Karena sudah mengetahui bahwa pasukan Pasuruan yang menjaga pertahanan hanya ada kurang lebih lima ribu orang, maka Blambangan juga hanya mengirim sekitar selaksa orang perajurit untuk menggempur Pasuruan.

Perang campuh terjadi dan disepanjang jalan menuju kota Kadipaten Pasuruan, pasukan Blambangan menghadapi perlawanan gigih.

Namun karena jumlah mereka jauh lebih besar dan mereka dipimpin oleh para senopati Bali, Madura, dan Blambangan, dibantu pula oleh orang-orang sakti, maka pasukan gabungan dari Blambangan dapat maju dengan cepat.

Pihak Pasuruan melakukan perlawanan sekuat tenaga.

Namun tetap saja mereka tidak mampu membendung banyak sekali perajurit gabungan yang datang bagaikan air bah.

Mereka bertahan dengan nekat, namun karena kalah kuat dan jumlah pasukan yang bertahan hanya sekitar setengahnya pasukan penyerbu, akhirnya setelah bertempur mati-matian sehingga banyak korban di kedua pihak, sisa pasukan Pasuruan mundur dan memperkuat benteng kota Kadipaten Pasuruan.

Pada saat pasukan Pasuruan mundur dan kini kota Pasuruan menjadi benteng terakhir, Parmadi dan Muryani datang dari Perguruan Bromo Dadali di Gunung Muria.

Suami isteri ini melihat kota Pasuruan sudah dikepung musuh dan mereka harus menerobos kepungan musuh.

Para perajurit gabungan Blambangan cepat menghadang dan mencoba untuk menghalangi dan menangkap suami isteri yang menunggang kuda dan hendak memasuki pintu gerbang kota Kadipaten Pasuruan.

Parmadi dan Muryani mengamuk dan masih untung bagi mereka bahwa pengepungan itu baru saja terjadi sehingga belum teratur rapi.

Orang-orang sakti mandraguna yang memimpin penyerbuan itu masih belum muncul sehingga akhirnya, setelah terpaksa meninggalkan kuda mereka, suami isteri itu berhasil masuk pintu gerbang yang dibuka sedikit oleh para penjaga atas perintah para senopati yang mengenal suami isteri itu.

Para senopati Pasuruan menyambut kedatangan suami isteri yang mereka kenal sebagai pendekar-pendekar yang sakti mandraguna itu dengan gembira.

Mereka merasa mendapatkan bantuan yang dapat diandalkan.

Akan tetapi, ketika Adipati Pasuruan dan para senopati dan jagabaya mengadakan persidangan kilat untuk mengatur siasat pertahanan terhadap serbuan Blambangan, Parmadi menyatakan kekhawatirannya.

"Saya melihat pengepungan amat ketat. Pasukan musuh yang mengepung berlapis-lapis dan jumlah mereka amat banyak."

"Kami tahu akan hal itu. Semenjak mereka menyerbu daerah Pasuruan dan kami menyambut mereka, kami sudah tahu bahwa jumlah perajurit mereka amat banyak, mungkin dua kali lebih banyak daripada jumlah perajurit kita. Karena itulah kita terpaksa mundur ke dalam kota dan menutup pintu gerbang, melakukan penjagaan kuat dari dalam untuk mencegah mereka memasuki dan menyerbu dalam kota. Kita dapat melakukan pertahanan lebih kuat di sini daripada di tempat terbuka di mana-mana para perajurit kita harus bertempur satu lawan dua orang musuh."

Kata Senopati Aryo yang sudah berusia enam puluh tahun.

"Keadaan ini sungguh buruk sekali."

Kata Muryani yang biarpun ia seorang wanita namun dihormati para senopati dan perwira yang tahu akan kegagahan dan kemampuannya.

"Seandainya kita kuat bertahan terhadap serangan dari luar, akhirnya kami tidak mungkin dapat bertahan terhadap serangan dari dalam!"

"Hemm, apa yang Andika maksudkan dengan serangan dari dalam, Mas Ajeng Muryani?"

Tanya seorang senopati lain.

"Kalau hanya serangan dari para telik sandi dan pengkhianat yang menjadi antek musuh, hal itu masih mudah kita tanggulangi. Akan tetapi sampai berapa lama kita dapat bertahan dalam kepungan ini? Kalau ransum kita habis dan bahaya kelaparan menyerang kita, kita menjadi lemah dan akhirnya kalah."

Mendengar ini, semua orang terdiam dan mengerutkan alis, menyadari kebenaran kekhawatiran wanita sakti itu. Parmadi lalu berkata dengan sikap hormat kepada sang Adipati Pasuruan.

"Maaf, Kanjeng Adipati, kalau menurut pendapat hamba, semestinya sejak lama kita minta bantuan pasukan dari Mataram untuk memperkuat pertahanan di sini."

Sang Adipati menghela napas panjang.

"Seharusnya begitu. Hal ini baru kami sadari sekarang. Tadinya kami terlalu memandang rendah gerakan Kadipaten Blambangan yang memberontak. Kekuatan Blambangan tidaklah berapa besar. Akan tetapi, ternyata mereka dibantu pasukan yang amat kuat dan banyak dari Bali dan Madura. Juga mereka mempunyai senjata api. Akan tetapi ketika pasukan kita terpaksa ditarik mundur ke dalam kota, kami sudah mengirim utusan untuk memberi laporan dan mohon bantuan dari Gusti Sultan di Mataram."

"Semestinya utusanitu sudah kembali bersama bala bantuan,"

Kata Senopati Aryo.

"Akan tetapi mengapa belum juga kembali dan tidak ada kabar dari Mataram."

"Hemm, saya tahu bahwa banyak orang yang tangguh dan berbahaya membantu Blambangan dan mereka disebar dimana-mana. Siapa tahu utusan itu mereka hadang sehingga tidak dapat mengirim laporan dan minta bantuan?"

Kata Muryani.

"Wah, itu mungkin juga!"

Seru Sang Adipati.

"Celakalah kalau terjadi begitu!"

Kembali semua orang dicekam kegelisahan membayangkan kemungkinan ini. Parmadi lalu berkata.

"Hamba kira lebih baik kalau sekarang kita kirim lagi beberapa orang utusan untuk menyusulkan pelaporan dan permohonan bala bantuan, kalau-kalau utusan pertama menemui kegagalan."

"Akan tetapi, Anakmas Parmadi, bagaimana mungkin menyelundupkan utusan keluar dari kepungan yang demikian ketat? Utusan itu pasti akan tertangkap dan usaha kita itu akan sia-sia saja."

Kata seorang senopati tua lain.

"Benar itu! Bagaimana utusan baru dapat diselundupkan keluar kepungan?"

Sang Adipati menyambung.

"Begini, Kanjeng Adipati. Biarlah hamba bersama isteri hamba yang menjadi utusan. Kami berdua akan menyusup keluar dari kepungan dan langsung menuju ke kota raja Mataram untuk mohon bantuan."

Para senopati menangguk-angguk menyetujui, akan tetapi sang Adipati menggeleng kepala kuat-kuat dan menggoyang tangan kanannya.

"Tidak, hal itu tidak tepat! Andika berdua dibutuhkan di sini untuk memperkuat pertahanan kita! Harus diatur agar orang-orang lain saja yang menjadi utusan! Kalian berdua harus memperkuat pertahanan!"

"Akan tetapi bagaimana caranya.... ?"

Semua orang bertanya-tanya dengan bingung.

"Saya mengetahui cara itu!"

Tiba-tiba Muryani berkata lantang.

"Sekarang sudah senja, sebentar lagi malam tiba dan malam ini tidak ada bulan. Dalam kegelapan malam ini kita dapat menyelundupkan beberapa orang utusan untuk keluar. Saya dan suami saya, dibantu beberapa orang yang memiliki keberanian dan memiliki kedigdayaan, akan keluar di malam gelap dan mengamuk, membuat keributan, menyerang musuh yang berada di luar. Nah, dalam keributan itu para utusan diselundupkan keluar benteng dan mengingat bahwa pihak musuh terdiri dari orang-orang Blambangan, Bali, dan Madura, maka hal ini akan memudahkan para utusan untuk membaur di antara mereka tanpa dicurigai atau diketahui. Para utusan dipilih mereka yang pandai menyamar sebagai orang Bali atau Madura. bagaimana pendapat Andika sekalian?"

"Plakk!"

Sang Adipati menepuk meja di depannya dan wajahnya berseri.

"Wah, bagus sekali siasat itu! Kakang Senopati Aryo, cepat laksanakan siasat Mas Ajeng Muryani itu!"

Para senopati dan jagabaya yang hadir juga merasa kagum dan mereka lalu mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan penyelundupan para utusan itu.

Pertama-tama, mereka memilih dua orang yang penah lama tinggal di Madura sehingga dapat menyamar sebagai orang Madura dengan baik, dan dua orang yang dapat menyamar sebagai orang Bali dengan baik.

Mereka termasuk perajurit-perajurit setengah tua yang setia dan memiliki kecerdikan dan kedigdayaan.

Malam hari itu, tepat seperti dikatakan Muryani tadi, langit tidak dihias bulan.

Dan agaknya alam membantu usaha itu karena bintang-bintang terhalang mendung hitam sehingga malam itu gelap gulita.

Dalam keadaan gelap seperti itu, tentu saja pasukan Blambangan tidak melakukan serangan, bahkan mereka agak mundur, menjauhi dinding kota untuk menjaga agar tidak mendapat serangan gelap yang mendadak.

Akan tetapi, biarpun agak mundur, mereka tetap melakukan pengepungan ketat sehingga biarpun orang dapat keluar dari pintu gerbang, dia tidak akan mampu keluar dari kepungan itu.

Setelah semua dipersiapkan, Parmadi dan Muryani, diikuti lima orang senopati yang memiliki aji kanuragan yang cukup tangguh, keluar dari pintu gerbang.

Mereka bertujuh langsung lari ke depan dan ketika bertemu dengan perajurit-perajurit musuh yang berjaga di lapisan terdepan, mereka lalu mengamuk.

Tentu saja keadaan menjadi gempar.

Para perajurit musuh menyalakan obor dan tujuh orang itu segera dikeroyok.

Mereka mengamuk dan sebentar saja belasan orang peajurit musuh roboh terkena pukulan atau hantaman senjata tujuh orang itu.

Ketika para senopati Blambangan mulai berdatangan terdengarlah kentungan dari dalam benteng Pasuruan.

Itulah isarat bahwa empat orang utusan yang diselundupkan sudah keluar dan dengan mudah, dalam keadaan kacau itu mereka berempat dapat membaur dan pura-pura hendak ikut mengeroyok tujuh orang pengacau itu.

Mendengar ini, Parmadi membentak nyaring.

Para pengeroyok berpelantingan dan bentakan itu pun merupakan isarat bagi Muryani dan lima orang senopati untuk berlari kembali ke pintu gapura yang segera ditutup kembali setelah tujuh orang itu menyelinap masuk.

Siasat itu berhasil dengan baik dan hanya ada seorang senopati yang terluka ketika terjadi pengeroyokan, luka ringan di pundaknya karena terkena bacokan golok para pengeroyok.

Siasat yang dilaksanakan atas usul Muryani dan Parmadi ini memang baik dan cerdik.

Akan tetapi pihak Blambangan mempunyai banyak tokoh yang tidak kalah cerdiknya.

Peristiwa malam itu membuat Tejakasmala dan Satyabrata menjadi curiga.

"Tidak mungkin orang-orang seperti Parmadi dan Muryani hanya keluar dari benteng sekadar mengamuk dan membuat kekacauan saja. Tentu ada maksud tertentu di balik perbuatan mereka itu."

Kata Satyabrata kepada Tejakasmala, didengarkan oleh Bhagawan Kalasrenggi.

"Dugaan itu benar sekali, raden Satyabrata,"

Kata tejakasmala yang menghormati wakil Kumpeni Belanda ini karena dia sudah merasakan kesaktian orang setengah bule ini.

"Saya pun merasa curiga, tentu itu merupakan siasat, mungkin untuk memancing perhatian kita."

"Benar, Adi Tejakasmala. Aku mempunyai dugaan bahwa mungkin mereka menggunakan waktu terjadi keributan itu untuk menyelundupkan orang-orang keluar dari benteng dan menyusup di antara para perajurit kita. Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang bertugas mencari bala bantuan dari Mataram."

"Wah, kalau begitu gawat sekali! Kita harus mencegah mereka pergi mencari bantuan ke Mataram. Kita harus dapat menguasai Pasuruan sebelum bala tentara Mataram datang menyerang."

Kata Bhagawan Kalasrenggi.

"Jangan khawatir, Paman Bhagawan. Saya akan menyuruh dua orang pembantu saya, Cakrasakti dan Candrabaya untuk membawa seregu perajurit Bali pilihan untuk melakukan pengejaran dan membinasakan para utusan yang diselundupkan itu. Demikianlah, malam itu juga, dua orang senopati Bali itu membawa dua losin perajurit Bali untuk melakukan pengejaran dan pencarian terhadap orang-orang yang diselundupkan keluar. Akhirnya, pada keesokan harinya, mereka dapat menemukan empat orang utusan Kadipaten Pasuruan itu. Empat orang itu melawan ketika hendak ditangkap dan akhirnya mereka berempat tewas dikeroyok dua losin perajurit Bali yang dipimpin oleh Cakrasakti dan Candrabaya. Sang Adipati Pasuruan dan para pembantunya sama sekali tidak tahu bahwa utusannya yang kedua kali ini pun gagal dan terbunuh. Mereka hanya menanti sambil mempertahankan benteng kota Kadipaten Pasuruan dari serbuan yang setiap hari dilakukan musuh. Akan tetapi setiap hari mereka kehilangan banyak perajurit, apalagi ketika pihak musuh mulai mempergunakan meriam sumbangan Kumpeni Belanda. Semua itu ditambah lagi dengan ransum yang mulai menipis dan semangat para perajurit menurun. Rakyat penduduk kota kadipaten itu juga mulai gelisah dan ketakutan sehingga suasana di kota itu mulai gempar dan panic. Parmadi dan Muryani berusaha untuk membangkitkan semangat para perajurit dengan contoh perlawanan mereka yang gigih. Pada suatu malam yang sunyi setelah siang tadi mereka mempertahankan kota dari serbuan msuh, para perajurit Pasuruan beristirahat. Hanya mereka yang mendapat giliran jaga saja yang tidak tidur. Suasana sunyi dan malam itu bulan sepotong muncul seolah melayang diantara awan tipis sepotong-sepotong. Makin larut, malam itu semakin sunyi dan udaranya amat dingin. Sekitar seratus orang perajurit yang mendapat giliran tugas berjaga pada malam itu berjalan hilir mudik melakukan penjagaan di sekitar benteng merasakan kedinginan itu. Juga malam yang sunyi itu terasa lain daripada malam yang lain. Mungkin karena banyaknya orang yang tewas dan terluka dalam pertempuran selama beberapa hari ini mendatangkan suasana yang menyeramkan. Ditambah lagi bau amis darah yang banyak tertumpah membasahi bumi. Burung-burung malam yang terbang lewat mengeluarkan bunyi seolah meratapi mereka yang tewas. Kutu-kutu walang atogo, segala macam jangkerik, belalang dan lain-lain agaknya merasa ngeri menyaksikan kekejaman manusia yang saling bantai, saling bunuh tanpa alasan pribadi, hanya sekadar menaati perintah atasan. Seolah merasa ngeri dan takut, semua serangga yang biasanya setiap malam berdendang ria itu, kini diam sehingga suasana menjadi sunyi, sunyi yang mencekam dan menimbulkan perasaan ngeri dalam hati para penjaga. Angin malam berhembus perlahan, semilir membangkitkan bulu di lengan dan tengkuk.

"Kulik! Kulik! Uhu.... uhu.... uhuuu....!"

Kelepak yang terdengar menunjukkan bahwa ada beberapa ekor burung malam terbang lalu smbil mengeluarkan suaranya yang menambah keseraman suasana.

Tiba-tiba datang angin bertiup kuat.

Angin yang tadinya hanya semilir lembut, tiba-tiba menjadi kuat dan berpusing.

Udara yang tadinya diterangi bulan sepotong tiba-tiba menjdi gelap dan ada awan atau asap hitam bergulung-gulung melayang ke dalam benteng.

Kemudian, tiba-tiba terdengar kelepak banyak kelelawar dengan suaranya yang bercicit nyaring.

Mereka yang berjaga di atas tembok benteng dan di gardu-gardu tempat penjagaan, terkejut karena tiba-tiba ratusan kelelawar menyambar-nyambar ke arah mereka sambil bercuitan nyaring!

Pada saat itu, di bagian bawah, para perajurit jaga juga terkejut dan merasa ngeri karena ada ratusan ekor ular menyerbu ke dalam benteng.

Binatang-binatang itu mendesis-desis dan tercium bau amis!

Dari sinar lampu-lampu gantung, dapat dilihat ular-ular itu sehingga para perajurit terkejut dan berlompatan.

Dalam keadaan panik itu, terdengar suara auman singa yang menggetarkan seluruh benteng.

Dua bayangan manusia berkelebat dari dalam.

Mereka adalah Parmadi dan Muryani yang sudah mendengar akan penyerangan aneh yang membuat para perajurit yang bertugas jaga menjadi panik ketakutan itu.

Begitu keluar dari istana kadipaten di mana mereka mondok memenuhi permintaan Sang Adipati, suami isteri itu segera mengerti bahwa ada orang-orang ahli sihir mengadakan serangan melalui ilmu hitam ke arah para perajurit yang sedang bertugas jaga.

Hal ini berbahaya sekali, maka keduanya segera berlompatan dan berlari cepat menuju ke pintu gerbang.

Begitu tiba di situ dan melihat ratusan kelelawar beterbangan menyambar-nyambar dan ratusan ekor ular mendesis-desis membuat para perajurit ketakutan, dan melihat pula awan gelap menyelimuti tempat itu disertai angin lesus (angin berpusing) dan mendengar auman singa, Parmadi cepat berkata kepada isterinya.

"Diajeng, usir kelelawar dan ular-ular itu. Aku akan mengusir awan, angin, dan suara itu!"

Muryani mengangguk dan tubuhnya berkelebat cepat ketika ia mengerahkan Aji Kluwung Sakti.

Bagaikan seekor burung garuda ia menyambar-nyambar, didahului gulungan sinar pedangnya, mengamuk dan membacoki ular-ular yang menyerang dari bawah, juga kelelawar-kelelawar yang menyambar-nyambar dari atas.

Parmadi naik ke atas menara yang dibangun di atas tembok benteng.

Para perajurit yang tadinya berjaga di situ sudah lari turun semua sehingga menara itu kosong.

Dari tempat yang tinggi itu dia melihat jauh ke depan dan di dekat perkemahan pihak musuh dia melihat empat orang sedang duduk bersila dan dari empat orang itulah datangnya serangan sihir yang dahsyat itu.

Memang penyerangan itu sengaja dilakukan sebagai siasat Blambangan untuk mengacaukan para penjaga benteng Pasuruan.

Kalau para perajurit yang menjaga benteng sudah kacau dan panik, malam itu juga mereka akan menyerbu!

Yang mengirim ratusan ular itu adalah Ki Kaladhama dan pencipta kelelawar jadi-jadian itu adalah Ki Kalajana, dua orang murid Bhagawan Kalasrenggi.

Bhagawan Kalasrenggi sendiri menyerang dengan ilmu sihirnya yang menyebabkan awan gelap dan angin lesus, sedangkan suara auman singa yang menggetarkan jantung itu adalah Aji Singabairawa yang dikeluarkan Tejakasmala.

Tiba-tiba terdengar suara seruling yang melengking-lengking, suara lembut namun mengandung getaran yang dapat menembus hawa sihir yang dahsyat kaena tenaga empat orang disatukan untuk menyerang.

Begitu terdengar alunan suara seriling yang melengking-lengking, serangan sihir itu semakin menghebat!

Agaknya empat orang itu yang merasa ada kekuatan hebat menentang, memperkuat serangan mereka.

Awan gelap semakin melebar dan menekan, angin lesus bergemuruh, dan auman singa itu semakin menggelegar.

Namun, makin lama suara seruling semakin nyaring dan perlahan-lahan awan hitam membuyar, angin lesus menyurut dan auman singa melemah.

Juga ratusan kelelawar dan ular yang sudah dibuat kocar-kacir oleh amukan Muryani, kini surut.

Yang terkena sambaran pedang lenyap menghilang dan kini sisanya melarikan diri.

Tak lama kemudian suasana malam menjadi sunyi kembali dan dari atas menara, Parmadi melihat empat bayangan itu lenyap di antara perkemahan musuh.

"Sudah selesai, Kakangmas?"

Muryani yang menusul ke atas menara bertanya.

"Puji sukur kepada Gusti Allah, semua telah dapat diatasi, Diajeng. Mari kita beritahu para perajurit jaga agar mereka tenang kembali dan tidak takut."

Keduanya turun dari menara dan ternyata di bawah sudah berkumpul Senopati Aryo dan para senopati Pasuruan lainnya.

Ketika tadi mereka mendengar laporan tentang serangan aneh itu, mereka berdatangan dan sempat mendengar suara suling yang menolak pengaruh sihir itu, juga melihat betapa Muryani mengusir ratusan kelelawar dan ular jadi-jadian.

"Ah, untung ada Anakmas Parmadi dan Mas Ajeng Muryani yang telah dapat menolak serangan itu!"

Kata Senopati Aryo memuji. Juga para senopati memandang kagum suami isteri itu.

"Paman Senopati, penyerangan itu dapat menjadi tanda bahwa mereka tentu akan melakukan serangan besar-besaran dan lebih dulu mereka hendak menimbulkan rasa takut kepada para perajurit. Keadaan sudah berbahaya sekali. Kita menunggu bala bantuan belum juga datang, sedangkan ransum sudah menipis dan semangat para perajurit mnurun, terbukti tadi ketika terjadi serangan sihir mereka semua menjadi panik dan lari meninggalkan penjagaan mereka."

"Hemm, keadaannya memang demikian, Anakmas Parmadi. Karena itu, mulai malam ini penjagaan harus diperketat dan para perwira tidak boleh lengah. Harus secara bergilir melakukan pengawasan terhadap pasukan yang bertugas jaga."

Kata Senopati Aryo.

"Kami tahu bahwa pihak musuh mempunyai banyak ahli sihir dan orang-orang yang sakti mandraguna dan pandai mempergunakan ilmu hitam. Kalau saja para pendekar sakti yang setia Mataram dapat berkumpul di sini, pasti kita dapat menanggulangi kekuatan musuh."

Kata Muryani yang teringat akan tokoh-tokoh yang dikenalnya dengan baik seperti Ki Tejomanik berdua Retno Susilo, Bagus Sajiwo, Lindu Aji berdua Sulastri, dan masih banyak lagi.

"Sebetulnya di sini terdapat seorang yang sakti mandraguna yang dapat memperkuat daya pertahanan kita."

Kata Senopati Aryo.

"Siapa dia, Paman Senopati?"

Tanya Parmadi.

"Siapa lagi kalau bukan Raden Wangsakartika...."

"Ah, dia....?"

Parmadi dan Muryani berseru lirih dan kecewa.

Mereka berdua mengenal siapa yang dimaksudkan Senopati Aryo.

Sejak kurang lebih setahun yang lalu, Raden Wangsakartika dibuang oleh Kerajaan Mataram karena laki-laki ini membuat banyak keonaran di Mataram.

Dia dikenal sebagai seorang laki-laki yang menjadi hamba nafsu-nafsunya, bergaul dengan orang-orang sesat, mengejar kesenangan dengan berjudi, melacur, dan suka mabuk-mabukan.

Juga dia suka mencari keonaran dan kerana dia memang sakti mandraguna, tidak ada yang berani menentangnya.

Memang dia belum dapat dibilang seorang penjahat, akan tetapi wataknya sungguh buruk dan suka mencari perkara.

Kalau sudah mabuk pun dia amat sukar diatur, mengambil milik siapa saja kalau dia membutuhkan sesuatu.

hanya karena dia putera mendiang Pangeran Pringgalaya yang sudah banyak jasanya kepada Mataram, maka dia tidak dihukum oleh Sultan Agung, hanya dibuang atau diasingkan ke Pasuruan dengan harapan dia akan mengubah wataknya yang buruk.

Akan tetapi di Pasuruan dia masih tetap menjadi seorang pemabukan, penjudi, gila perempuan dan bergaul dengan orang-orang yang sesat dan tidak karuan.

Tentu saja Parmadi dan Muryani tidak suka berkenalan dengan orang seperi itu, walaupun Raden Wangsakartika itu putera mendiang Pangeran Pringgalaya yang terkenal gagah perkasa dan berjasa besar bagi Mataram.

Ketika pasukan Blambangan dan sekutunya mengepung Kadipaten Pasuruan, Raden Wangsakartika juga tidak memperlihatkan diri.

Dia tidak peduli dan tetap bersenang-senang, berjudi, mabuk-mabukan dan pelesir.

Apa yang dikhawatirkan Parmadi dan Muryani akhirnya terjadi.

Pada suatu hari, saat fajar menyingsing, pasukan gabungan Blambangan menyerbu.

Biarpun Senopati Aryo sudah siap siaga dan pasukannya melakukan perlawanan mati-matian, namun karena jumlah perajurit Blambangan jauh lebih besar, ditambah lagi semangat para perajurit Pasuruan yang menanti-nanti bala bantuan yang belum datang juga itu menjadi menurun dan lemah, maka setelah pertempuran yang hebat, akhirnya benteng itu dapat dibobol dan pasukan Blambangan menyerbu masuk kota kadipaten!

Parmadi dan Muryani tadinya mempertahankan benteng.

Akan tetapi pihak musuh terlampau kuat sehingga akhirnya suami isteri ini mengerahkan tenaga mereka untuk melindungi Sang Adipati sekeluarga yang melarikan diri mengungsi lewat bagian belakang kota kadipaten.

Juga bersama rombongan Sang Adipati, sisa pasukan mundur dan keluar dari Kadipaten Pasuruan, bersama sebagian besar rakyat yang lari megungsi berbondong-bondong.

Para perajurit Blambangan dengan sekutu mereka dari bali dan Madura, mabuk kemenangan.

Mereka menjarah rayah (merampok) kota Kadipaten Pasuruan, membunuh dan memperkosa wanita, kekejaman yang selalu dilakukan oleh mereka yang menang perang.

Orang yang berlari paling akhir adalah Parmadi dan Muryani setelah mereka berdua berhasil mengawal Sang Adipati keluar dari kota.

Mereka masih sempat melihat kekejaman yang terjadi di kota Kadipaten Pasuruan.

Tentu saja hati mereka terasa sakit dan sedih, akan tetapi mereka yang hanya berdua tidak mungkin dapat melawan ribuan orang perajurit gabungan Blambangan yang berpesta pora mabuk kemenangan itu.

Pasukan Blambangan tidak melakukan pengejaran.

Mereka lebih mementingkan penyusunan kekuatan di Pasuruan karena musuh utama mereka adalah Pasukan Mataram yang tentu akan datang melakukan pembalasan.

Adipati Pasuruan bersama pasukannya yang masih bersisa kurang lebih empat ribu orang, sebagian ada yang melarikan diri meninggalkan induk pasukannya, juga diikuti banyak penduduk Pauruan yang melarikan diri, tiba di Wonokitri, sebuah perbukitan.

Senopati Aryo memerintahkan pasukan membuat perkemahan darurat di tempat itu.

Dari para perajurit bagian penyelidik Sang Adipati mendapat keterangan bahwa setelah berhasil meloloskan diri dari kota Pasuruan yang telah diserbu dan diduduki pasukan Blambangan, ada beberapa orang perajurit yang bergegas menunggang kuda menuju ke Mataram untuk melaporkan keadaan dan minta bantuan.

Maka diharapkan bala bantuan akan segera datang.

Pada suatu hari Parmadi dan Muryani berjalan-jalan di tempat daerah perbukitan Wonokitri yang dijadikan tempat perkemahan darrat, untuk meneliti kalau-kalau ada puhak musuh yang menyusup dan membikin kacau.

hati mereka trenyuh (sedih terharu) melihat penduduk yang ikut lari mengungsi membawa keluarga dan anak-anak yang masih kecil, dalam keadaan sengsara karena yang dapat mereka bawa hanyalah benda-benda milik mereka yang kecil, dan sedikit pakaian.

Wajah mereka sedih dan seperti kehilangan harapan.

Tiba-tiba, di bawah sebatang pohon Randu dekat serumpun bambu, mereka melihat seorang laki-laki sedang duduk bersandar batang pohon randu.

Kedua lengannya memeluk lutut dan mukanya disembunyikan di antara kedua lutut yang diangkat dan pundaknya bergoyang-goyang.

Laki-laki itu menangis!

Menangis tanpa suara.

suami isteri itu merasa heran.

Laki-laki itu bukan perajurit, dan melihat pakaiannya yang cukup bagus, tentu dia bukan seorang peduduk yang miskin.

Tubuhnya tinggi besar, sebagian rambutnya sudah berwarna putih.

Lengan yang merangkul kedua pundak itu pun besar berotot dan lehernya serta pundaknya kekar.

Parmadi dan Muryani saling pandang.

Parmadi mengangkat pundak dan karena merasa tidak enak untuk menganggu orang yang tidak mereka kenal dan tidak pula mereka ketahui mengapa ada laki-laki yang tampak gagah itu menangis seorang diri di situ, mereka berdua hendak pergi meninggalkannya.

Akan tetapi baru belasan langkah mereka berjalan pergi, tiba-tiba di belakang mereka terdengar suara teriakan melengking yang menggetarkan jantung.

"Terkutuk....! Orang-orang Balmbangan terkutuk....!!"

Parmadi dan Muryani memutar tubuh dan mereka melihat orang tadi kini telah bangkit berdiri.

Mereka segera mengenal bahwa orang itu adalah Raden Wangsakartika yang walaupun tidak mereka kenal namun pernah mereka lihat.

Laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu berdiri tegak dan wajahnya yang gagah berkumis lebat itu menyeramkan sekali.

Matanya merah melotot memandang ke arah pohon randu di depannya.

"Keparat, jahanam terkutuk kamu!"

Tiba-tiba orang itu berteriak lantang dan tangan kanannya menymabr ke depan. memukul ke arah batang pohon randu yang besarnya sepelukan orang.

"Wess.... kraaakkkk....!"

Pohon randu yang tinggi dan besar itu patah dan tumbang, menimbulkan suara berisik!

Aneh, setelah merobohkan pohon.

Raden Wangsakartika menjatuhkan diri di atas tanah lalu menangis lagi dengan sedihnya.

Kini dengan suara yang mengeluh penuh kesedihan, penasaran dan kemarahan.

Parmadi dan Muryani merasa iba.

Parmadi lalu memberi isarat kepada isterinya dan mereka lalu menghampiri laki-laki yang masih menangis itu.

mereka berdiri dalam jarak dua tombak akan tetapi tidak mau mengganggu orang yang sedang menangis itu.

Agaknya Raden Wangsakartika, masih belum kehilangan kepekaannya, karena dia merasakan kehadiran suami isteri itu lalu tiba-tiba dia menghentikan tangisnya dan ketika melihat mereka dia lalu bangkit betdiri, gerakannya gesit.

"Mau apa kalian? pergi, jangan ganggu aku!"

Setelah berkata demikian, orang tinggi besar itu mendorongkan tangan kanannya ke arah suami isteri itu.

Dia tidak bermaksud membunuh, akan tetapi karena dorongan tangannya mengandung hawa sakti yang amat kuat, maka orang biasa yang terkena angin dorongan ini tentu akan terlempar dan terjengkang!

Melihat orang itu mendorong dan ada angin dorongan yang kuat, Parmadi dan Muryani mengerahkan tenaga dan angin dorongan itu lewat saja, sedikit pun tidak membuat mereka bergoyang, seperti angin melewati dua bongkah batu karang yang kokoh.

Raden Wangsakartika terbelalak, lalu mengerutkan alisnya.

"Hemm, siapakah Andika berdua?"

"Raden Wangsakartika, saya bernama Parmadi dan ini Nyi Muryani, Isteri saya."

"Hemm. jadi Andika yang berjuluk Si Seruling Gading? Percuma saja nama Andika yang tersohor. Ternyata tidak mampu membela Pasuruan dari serangan para jahanam Blambangan!"

Katanya dengan suara mengandung penasaran dan kemarahan. Parmadi tidak menjadi marah, bahkan tersenyum. Dia sudah mendengar bahwa orang ini memiliki watak yang butuk dan kasar.

"Raden Wangsakartika, pihak Blambangan memiliki pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan pasukan Pasuruan dan mereka pun dipimpin banyak orang yang sakti mandraguna. Kami semua telah melawan mati-matian untuk mempertahankan Pasuruan, namun kami kalah kuat sehingga Pasuruan diserbu dan diduduki musuh. Akan tetapi, kalau kami semua mati-matian membela Pasuruan, mengapa Andika yang memiliki kepandaian sama sekali tidak membantu melawan musuh? Mengapa kini Andika hanya menangisi kekalahan Pasuruan? Apa gunanya keluh kesah dan tangisan Andika? Bukan randu alas itu yang seharusnya Andika robohkan, melainkan orang-orang Blambangan."

Raden Wangsakartika mengerutkan alisnya.

"Huh, kalian tidak tahu bisanya hanya mencela! Aku tidak takut mati dan aku berani mengorbankan diri untuk membela Mataram dan Pasuruan. Akan tetapi Andika tahu siapa aku? Aku ini orang buangan! Orang yang tidak berguna dan sudah diusir dari Mataram, tidak dipercaya lagi dan tinggal di Pasuruan sebagai orang buangan! Aku sudah dianggap orang rendah, orang kotor, penjahat tidak ada gunanya. Aku tidak berhak lagi untuk membela Mataram!"

Kata-katanya mengandung keprihatinan yang mendalam.

Permadi merasa iba.

Orang ini sebetulnya bukan orang jahat.

Mungkin agak lemah terhadap tekanan nafsunya sendiri.

juga mungkin saja sebagai putera pangeran, dahlu ketika kecil terlalu dimanja sehingga apa pun yang dikehendakinya harus terlaksana.

setelah dibuang oleh Kerajaan mataram, mungkin dia menjadi putus asa dan nekat, setengah sengaja melanjutkan kehidupannya yang hanya bersenang-senang untuk menutupi kekecewaannya yang mendalam.

"Raden Wangsakartika, sudah lama kami mendengar akan nama besar mendiang Pangeran Pringgalaya sebagai seorang priyagung (bangsawan agung) yang gagah perkasa dan setia kepada Mataram. Mungkin karena Andika terlalu mengejar kesenangan dunia, maka Andika mendatangkan kemarahan kepada Gusti Sultan dan menerima hukuman. Akan tetapi, saya kira sekarang ini saatnya bagi Andika untuk mencuci bersih nama dan kehormatan keluarga ayahanda Andika yang ternoda oleh perbuatan Andika yang lalu. Kalau Andika sekarang diam saja, bukankah hal itu akan menambah buruk dan mencoreng nama besar dan kehormatan mendiang ayahanda Andika? Marilah, Raden Wangsakartika, marilah kita bersama para pendekar membela Kerajaan Mataram dan menentang Blambangan bersama sekutunya yang angkara murka."

Biarpun ucapan Parmadi itu tajam, namun diucapkan dengan suara lembut dan agaknya baru sekarang Raden Wangsakartika mendengar ucapan seperti itu.

Dia mengerutkan alisnya, berpikir dan wajahnya perlahan-lahan mulai berseri, kedua matanya bersinar dan dia pun mengangguk.

"andika benar! Biarlah kalau perlu aku mengorbankan nyawa yang tak berharga ini untuk membersihkan nama dam kehormatan keluarga mendiang Kanjeng Rama!"

"Tidak perlu mengorbankan nyawa, Raden karena kita dapat saling bantu dan siapa bilang kalau nyawa Andika tidak berharga? Nyawa adalah milik Gusti Allah dan sudah sempurna sejak semula. Mari kita menghadap kanjeng Adipati Pasuruan."

Raden Wangsakartika tidak membantah dan mereka lalu menghadap Sang Adipati yang tentu saja menerima janji bantuan Raden Wangsakartika dengan gembira.

Beberapa hari kemudian datanglah bala bantuan dari Mataram!

Gegap gempita daerah Wonokitri itu dengan datangnya pasukan besar dari Mataram yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Silarong sebagai senopatinya, dan Gandek Padurekso diberi kekuasaan oleh Sang Sultan untuk menjadi pengawas.

Pangeran Silarong dibantu oleh beberapa orang senopati tua, yaitu Senopati Suroantani dan Tumenggung Alap-alap yang keduanya sudah berusia lebih dari enam puluh tahun.

Setelah disambut dengan gembira dan hormat oleh Sang Adipati Pasuruan dan para senopati, Pangeran Silarong mengadakan rapat pertemuan dengan para senopati dan perwira.

Hadir pula Raden Wangsakartika yang masih keponakan Pangeran Silarong.

Pangeran ini merasa gembira melihat keponakan yang tadinya hanya mengumbar nafsu dan tidak mempedulikan urusan Negara, kini mau membantu Mataram.

Dalam pertemuan itu baru diketahui bahwa dua kali utusan Pasuruan yang dikirim ke Mataram itu tidak sampai ke tempat tujuan dan terbunuh oleh orang-orang Blambangan di tengah perjalanan.

Ketika mereka merencanakan penyerbuan balasan ke Pasuruan untuk merebut kembali kota kadipaten itu, tiba-tiba Raden Wangsakartika menghadap Pangeran Silarong dan berkata dengan suara lantang dan tegas, namun seperti menjadi kebiasaannya, tidak pakai basa-basi.

"Paman Pangeran, aku minta perkenan Paman untuk memasukiPasuruan. Aku mempunyai hutang kepada Pasuruan, yaitu ketika Pasuruan diserbu para jahanam Blambangan, aku diam saja tidak ikut membela. Sekarang, aku hendak membayar hutangku, aku akan memasuki Pasuruan dan membikin kacau di sana. Aku tidak menjanjikan sesuatu, akan tetapi aku akan membawa hadiah untuk Andika semua."

Pangeran Silarong mengerutkan alisnya.

Dia mengenal keponakan ini sebagai seorang yang hidupnya tidak teratur, keluyuran dengan orang-orang jahat, tukang judi, mabuk-mabukan, pelesir dengan para wanita jalang.

Dia khawatir kalau dia membari persetujuan, Raden Wangsakartika malah akan membikin kacau rencana penyerbuan pasukannya ke Pasuruan.

"Hemm, Wangsa, Andika hanya seorang diri, bagaimana mungkin akan mampu menghadapi sekian banyaknya perajurit dengan para senopati mereka? Aku khawatir usahamu itu bukan saja akan mendatangkan malapetaka bagi dirimu, akan tetapi juga akan mengacaukan rencana penyerbuan kita."

"Tidak, Paman. Andaikata aku gagal dan terbunuh sekalipun, aku tidak akan membuka rahasia pasukan Mataram kepada musuh."

Bantah Raden Wangsakartika dengan suara mantap membayangkan kenekatan.

"Maaf, Paman. Pangeran, saya kira niat Raden Wangsakartika itu ada benarnya. Sebelum penyerbuan besar dilakukan, ada baiknya kalau terjadi kekacauan di sebelah dalam agar penjagaan dan pertahanan mereka menjadi lemah. Saya dan isteri saya akan menemani Raden Wangsakartika menyusup ke dalam kota Kadipaten Pasuruan."

Pangeran Silarong sudah mengenal Parmadi dan Muryani, juga sudah mendengar akan kesaktian suami isteri ini, maka dia pun mulai menaruh perhatian.

"Hemm, kalau Andika bertiga yang maju, memang lebih baik. Aan tetapi, kota Pasuruan kini telah menjadi benteng pasukan Blambangan, tentu dijaga amat ketat. Bagaimana mungkin andika bertiga dapat memasuki kota ini tanpa ketahuan perajurit penjaga?"

"Gusti Pangeran,"

Kata Senopati Aryo.

"Hal itu mudah diatur. Anakmas Parmadi telah minta nasihat kami dan ada sebuah jalan setapak yang dapat membawa mereka bertiga memasuki Pasuruan tanpa diketahui."

"Bagus, kalau begitu, Ananda Wangsa, dan kalian Anakmas Parmadi berdua, kami setuju kalau Andika bertiga hendak masuk kesana, membikin kacau dan sekalian menyelidiki keadaan pertahanan mereka."

Demikianlah, setelah mendapat persetujuan, malam itu juga tiga bayangan orang, yaitu Raden Wangsakartika, Parmadi dan Muryani menyusup ke dalam kota Kadipaten Pasuruan melalui rawa-rawa dan dapat masuk tanpa ketahuan para perajurit jaga yang sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ada orang yang dapat memasuki kota melalui jalan yang amat sukar dan berbahaya itu.

Pasukan Blambangan yang menyerbu dan menduduki Pasuruan hanya merupakan sebagian saja dari seluruh pasukan gabungan di Blambangan.

Memang, pada waktu penyerbuan, pasukan yang jumlahnya hanya belasan ribu orang itu sudah lebih dari dua kali lipat jumlah pasukan Pasuruan.

Namun dalam penyerbuan itu, pasukan yang terutama terdiri dari pasukan Bali yang dipimpin Panji Buleleng dan Macan Kuning, dua orang senopati yang memimpin pasukan yang dikirim Raja Dewa Agung dari Gelgel, diperkuat pula oleh Bhagawan Kalasrenggi, Kaladhama, Kalajana, bahkan Tejakasmala juga ikut memperkuat karena mereka mengkhawatirkan kalau-kalau Pasuruan sudah diperkuat tokoh-tokoh sakti pembela Mataram.

Setelah Pasuruan berhasil diduduki, empat orang tokoh sakti ini kembali ke Blambangan.

Pertahanan kota Pasuruan diserahkan kepada Panji Buleleng dan Macan Kuning dibantu oleh beberapa orang tokoh persekutuan Blambangan, antara lain Ki Sarwatama adik seperguruan Ki Sarwaguna, Ketua Driya Pawitra, Kyai Ngurah Pacung, senopati dari Klungkung, Bali, pembantu Made Sukasada, Randujapang, tokoh Madura, Kyai Kasmalapati tokoh Blambangan bersama muridnya Dartoko, dan beberapa orang tokoh lain.

Persekutuan Blambangan itu tidak mengerahkan atau memusatkan seluruh pasukan mereka di Pasuruan karena mereka khawatir kalau-kalau pihak musuh, yaitu Mataram akan menyerang Blambangan lewat jalan lain.

Mereka lebih mementingkan penjagaan dan pertahanan di Blambangan, dan hanya akan menggunakan sebagian, paling banyak separuh kekuatan pasukan mereka untuk melakukan serangan sampai ke Mataram.

Panji Buleleng dibantu Macan Kuning yang memimpin pasukan yang menduduki Pasuruan, berbesar hati karena mereka diperlengkapi dengan sepuluh buah meriam dan seratus buah senapan sumbangan dari Kumpeni Belanda melalui Satyabrata.

Raden Wangsakartika sudah mengatur siasat bersama Parmadi dan Muryani sebelum mereka menyelinap ke dalam benteng Pasuruan.

Maka, setelah berhasil menyelinap ke dalam benteng Pasuruan, mereka langsung saja menuju sasaran, yaitu tiga buah gudang terisi ransum tumpukan padi dan lain-lain.

Ketika merebut Pasuruan, pasukan Blambangan merampas hasil sawah ladang rakyat di dusun-dusun dan mengangkut padi-padian itu dimasukkan ke dalam tiga gudang ransum.

Yang bertugas menyelidiki keadaan pertahanan benteng Pasuruan adalah Parmadi.

Maka ketika dia menyelinap ke sebuah di antara gudang-gudang itu, dan melihat seorang perajurit yang membawa tombak lewat seorang diri, dia menyergapnya dan membuatnya tidak berdaya dan tidak mampu berteriak.

Parmadi lalu menghardik dengan bisikan, mengancam orang itu agar menceritakan kekuatan yang menjaga Pasuruan.

Dengan menekan punggung perajurit itu, Parmadi membuat orang itu menggeliat kesakitan dan terpaksa mengaku dan menceritakan tentang kekuatan pasukan yang berada di situ.

Parmadi memaksanya menceritakan tentang letak sepuluh buah meriam dan pasukan mana yang diperlengkapi senjata api.

Juga siapa para senopati dan tokoh sakti yang memperkuat pertahanan di situ.

Karena tidak kuat menahan nyeri ketika Parmadi menekan pundaknya, perajurit itu menceritakan semua yang ditanyakan Parmadi.

Setelah mendapat keterangan secara terperinci, Parmadi lalu menepuk tengkuk orang itu yang roboh pingsan berat.

Parmadi lalu mempersiapkan segala ssuatu untuk membakar gudang ransum yang menjadi bagiannya.

Dia menumpuk jerami kering di seputar gudang, akan tetapi dia bersembunyi, menanti sampai isterinya dan Raden Wangsakartika lebih dulu membakar dua gudang yang lain.

Raden Wangsakartika merasa tidak puas kalau hanya membakar gudang ransum.

Dia harus melakukan sesuatu yang menggemparkan dan membawa kejutan bagi pamannya, Pangeran Silarong dan Adipati Pasuruan.

Biar mereka semua tahu bahwa dia bukan seorang yang tidak ada gunanya, bahwa dia tidak percuma menjadi putera mendiang Pangeran Pringgalaya yang sakti dan gagah perkasa.

Seperti juga suami isteri Parmadi dan Muryani, sebagai seorang penghuni kota Pasuruan tentu saja Raden Wangsakartika juga mengenal betul keadaan dan lika-liku kota itu.

Ketika menyelinap dari rumah ke rumah dan tiba di dekat gudang ransum yang menjadi bagiannya seperi telah direncanakan bersama Parmadi dan Muryani, Raden Wangsakartika tiba di dekat gudang pertama yang terbesar.

Dia melihat dua orang perajurit Bali duduk di depan gudang.

Melihat dua orang perajurit ini, timbul suatu gagasan dalam pikirannya.

Yang membuat pasukan Blambangan menjadi kuat adalah karena dukungan orang Bali, pikirnya.

Mereka harus diberi hajaran keras!

Dia menyusup dekat dan dari tempat gelap dia berseru perlahan kepada dua orang penjaga itu.

"Sssttt.... Andika berdua ke sinilah, penting ....!"

Katanya dalam bahasa Bali yang fasih.

Raden Wangsakartika memang memiliki bakat dalam hal berkata.

Dia pandai menggunakan bahasa Bali, Madura, dan logat daerah lain.

Kalau dia berbahasa Bali, semua orang tentu akan mengira dia orang Bali aseli.

Dua orang prajurit itu merasa heran akan tetapi mereka lalu menghampiri tempat gelap itu sambil membawa tombak mereka.

Begitu mereka tiba di depannya, sinar pedang di tangan Raden Wangsakartika berkelebat dan seorang perajuri roboh dan tewas.

Sebelum perajurit kedua sempat bergerak atau berteriak, Raden Wangsakartika sedah menerkamnya dan lengan kirinya yang kuat sudah melingkari leher, mengempit dan mencekik.

"Cepat katakan di mana adanya pimpinan kalian!"

Dengan suara parau karena lehernya dijepit lengan yang kuat itu, perajurit kedua menjawab ketakutan.

"Di.... di.... istana kadipaten.... sayap kanan...."

"Siapa pemimpinmu?"

Bentak pula Raden Wangsakartika. Perajurit itu hendak menggertak dan menakut-nakuti.

"Mereka adalah dua orang senopati sakti mandraguna, Panji Buleleng dan Macan Kuning!"

Raden Wangsakartika mengerahkan tenaga pada lengannya yang menghimpit leher perajurit Bali itu.

"Krekk....!"

Batang leher itu patah dan orangnya tewas seketika.

Raden Wangsakartika menyeret mayat dua orang itu dan menyembunyikan mereka di bawah semak-semak yang tumbuh di belakang gudang.

Dia tidak mempedulikan lagi gudang itu.

Urusan kecil membakar gudang, pikirnya.

Dia memilih urusan yang lebih besar lagi dan cepat tubuhnya bergerak menuju ke istana kadipaten, setelah dia mengenakan pakaian perajurit tinggi besar yang dibunuhnya.

Malam itu, para pimpinan pasukan Blambangan yang berhasil menduduki Pasuruan masih dalam keadaan pesta kemenangan, Panji Buleleng dan Macan Kuning, yang menjadi pimpinan tertinggi pasukan yang kini menduduki Pasuruan, menempati istana kadipaten bagian kanan yang paling luas dan mewah.

Setelah beberapa hari mereka berdua itu bersenang-senang dengan para perwira kainnya, malam itu mereka berdua duduk di ruangan dalam, berbincang-bincang.

"Kakang Panji,"

Kata Macan Kuning yang bertubuh sedang dan kokoh, kulitnya putih kekuningan. (Lanjut ke

Jilid 22) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22

"Bagaimana rencana gerakan kita selanjutnya? Apa yang harus kita lakukan setelah kita berhasil menduduki Pasuruan?"

"Adi Macan Kuning,"

Kata Panji Buleleng yang bertubuh tinggi kurus dan kumisnya tebal.

"Tugas kita sekarang hanya menjaga benteng Pasuruan yang menjadi benteng terdepan persekutuan Blambangan untuk menyerang Mataram. Kita hanya tinggal menanti perintah selanjutnya dari para pimpinan di Blambangan."

"Apakah rencana selanjutnya dari para pimpinan Kakang?"

"Aku belum tahu benar, akan tetapi kukira sekarang sedang seluruh daerah Jawa Timur dan menyusun kekuatan. Setelah itu baru akan diadakan gerakan penyerangan ke Mataram, pemberangkatan bala tentara tentu dipusatkan di Pasuruan ini."

Selagi mereka bercakap-cakap, tiba-tiba mereka mendengar suara gaduh di luar ruangan itu, suara beradunya senjata berdentingan disusul teriakan dan berdebuknya tubuh orang-orang yang roboh.

Dua orang senopati Bali itu adalah panglima-panglima yang berpengalaman.

Panji Buleleng sudah berusia hampir enam puluh tahun sedangkan Macan Kuning juga sudah berusia lima puluh tahun lebih.

Mendengar suara gaduh itu, keduanya lalu berlompatan keluar sambil hunus keris mereka yang panjang.

Setelah tiba di ruangan itu agak gelap karena hanya sebuah lampu penerangan yang msij bernyala.

Tiga buah lampu penerangan lain telah padam sehingga cuaca di situ remang-remang.

Namun mereka berdua dapat melihat betapa lima orang perajurit yang menjaga di bagian itu telah roboh malang melintang tak bergerak lagi.

Akan tetapi ada seorang perajurit yang bertubuh tinggi besar memegang tombak berdiri di sudut.

"Hei! apa yang terjadi di sini?"

Bentak Macan kuning kepada perajuritnya itu.

".... kami diserang.... musuh...."

Raden Wangsakartika berkata dan bersikap seperti orang gugup dan ketakutan.

Mendengar ini, dua orang senopati itu terkejut dan mereka segera melihat ke sekeliling sambil memegang keris, siap menghadapi serangan gelap.

Mereka berdua sama sekali tidak mengira bahwa yang berada di depan mereka justeru adalah musuh yang telah membunuh lima orang anak buah mereka itu.

Karena Raden Wangsakartika memakai pakaian perajurit Bali dan bicaranya juga dalam bahasa Bali yang sempurna, dua orang senopati itu sama sekali tidak curiga.

"Wuuuttt....!"

Tombak panjang itu meluncur cpat menghunjam ke arah dada Macan Kuning. senopati ini sama sekali tidak pernah mengira akan diserang oleh "perajurit bali"

Itu dari dekat. Maka sama sekali dia tidak dapat mengelak atau menangkis dan tahu-tahu dadanya sudah ditembus tombak yang ditusukkan dengan tenaga dahsyat itu.

"Heiii....!"

Panji buleleng berseru kaget melihat rekannya roboh dan tewas seketika dengan tombak masih menembus dadanya. Akan tetapi Raden Wangsakartika sudah mencabut pedangnya dan menyerangnya dengan hebat.

"Cring.... tranggg....!!"

Bunga api berpijar ketika dua kali keris di tangan Panji Buleleng menangkis mata pedang yang menghunjam ke arah tubuhnya itu.

Kemudian dia pun balas menyerang sehingga terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian di ruangan remang-remang itu.

Panji Buleleng adalah seorang senopati Gelgel di Bali yang digdaya, akan tetapi sekali ini dia bertanding melawan putera mendiang Pangeran Pringgalaya dari Mataram yang sakti mandraguna.

Pula, hatinya sudah gentar melihat lima orang perajurit dan rekannya, Macan Kuning, tewas di tangan lawannya ini.

Ditambah lagi senjata Raden Wangsakartika jauh lebih panjang, besar dan berat daripada kerisnya.

Juga tenaga lawan amat kuat sehingga setiap kali kerisnya bertemu pedang, dia merasa betapa lengannya tergetar dan terpental.

Karena maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya, Panji Buleleng berteriak nyaring.

"Tolooonnngggg....!"

Akan tetapi tiba-tiba pada saat itu terdengar pula teriakan-teriakan dari luar istana kadipaten. Teriakan banyak orang yang menggema sampai ke dalam istana.

"Tolooonnnggg....! Tolooonnnggg....! Kebakaran.... kebakaran....!"

Teriakan ini sambung menyambung dan terdengar suara gaduh seperti banyak orang berlarian dan berteriak-teriak.

Juga di dalam istana menjadi geger dan agaknya para penghuni istana berhamburan keluar sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa di bagian kanan istana terjadi perkelahian mati-matian.

Panji Buleleng menjadi panik dan maklum bahwa tidak ada gunanya lagi berteriak karena kegaduhan di luar istana akan menyelimuti suara teriakannya.

Dia semakin terdesak, akan tetapi Panji Buleleng adalah seorang yang sudah banyak pengalaman berkelahi.

Dia cepat menjatuhkan diri ketika pedang di tangan lawan menyambar dengan bacokan.

Tubuhnya lalu bergulingan dan tangan kirinya menyambar sebuah kursi.

Sambil melompat bangun, dia melemparkan kursi itu dengan pengerahan tenaga ke arah kepala lawan yang mengejarnya.

Melihat benda hitam melayang ke arahnya dan dia tidak tahu benda apa itu karena keadaannya agak gelap, Raden Wangsakartika membacokkan pedangnya ke arah benda hitam yang seolah-olah seekor harimau menerkamnya.

"Singg.... crakkkk!"

Kursi itu patah dan runtuh.

Akan tetapi pada saat itu, Panji Buleleng yang sudah merenggut lepas sehelai tirai pintu yang lebar, sudah melemparkan tirai itu ke arah lawan yang baru saja menangkis kursi.

"Wuuuttt....!"

Raden Wangsakartika gelagapan ketika tiba-tiba ada kain menimpa dan menutup kepalanya.

Dia menggerakkan lengan kiri untuk menangkap dan menyingkirkan kain tirai itu.

Pada saat itu, Panji Buleleng sudah menubruk maju dan menikamkan kerisnya ke arah lawan yang tubuh atasnya masih tertutup tirai.

"Cappp....!"

Keris menembus kulit daging dan berhenti terhalang tulang pangkal lengan jiri Raden Wangsakartika.

"Aduhh....!"

Raden Wangsakartika roboh terjengkang.

hal ini merupakan siasatnya.

Memang tadi secara kebetulan pangkal lengan kirinya menyelamatkannya dan dapat menggantikan dadanya tertusuk keris.

Luka itu sebetulnya tidak akan merobohkannya.

Akan tetapi dia tahu bahwa keadaannya yang tertutup kain itu berbahaya sekali, maka sengaja dia mengaduh dan menjatuhkan diri ke belakang seolah terjengkang.

Ketika terjengkang inilah dia sempat menyingkap kain yang menutupi kepalanya dan pada saat itu, Panji Buleleng dengan girang menubruk untuk mengirim tusukan terakhir.

Akan tetapi pedang di tangan Raden Wangsakartika lebih dulu menyambar bagaikan kilat, tepat menebas leher Panji Buleleng sehingga tubuh senopati itu jatuh menimpa tubuh Raden Wangsakartika dengan leher putus dan kepalanya menggelinding ke atas lantai!

Dengan muka, tangan dan pakaian berlepotan darah lawan, Raden Wangsakartika melompat berdiri dan tersenyum puas.

Rasa nyeri di pangkal lengan kirinya tidak dia rasakan.

Dia lalu memenggal leher Macan Kuning, kemudian menggunakan kain tirai untuk membungkus dua buah kepala itu dan membawanya keluar istana, mengambil jalan samping yang sepi.

Ketika tiba di luar, dia melihat kobaran api di dua tempat.

maklumlah dia bahwa Parmadi dan Muryani telah melaksanakan tugas mereka dengan baik dan baru teringat dia bahwa dia pun bertugas membakar gudang pertama.

Akan tetapi sekarang tidak ada kesempatan lagi.

Kota telah penuh perajurit, sebagian berusaha memadamkan kebakaran, sebagian lagi sibuk mencari-cari musuh yang melakukan pembakaran.

Dia tidak peduli.

Apa yang dilakukannya jauh lebih berarti daripada sekadar membakar gudang ransum pertama, pikirnya.

Maka dia pun cepat menyelinap di antara para perajurit yang panik.

Tidak ada yang mencurigainya karena dia pun berpakaian perajurit Bali dan perhatian semua orang lebih tertarik ke arah kebakaran-kebakaran itu.

Ketika dia tiba di dekat tembok kota bagian selatan yang menembus ke daerah rawa yang menjadi tempat mereka tadi menyusup ke Pasuruan, dia mlihat orang-orang bertempur di bawah sinar beberapa buah obor yang diacungkan ke atas oleh perajurit-perajurit Blambangan.

ketika dia mendekat, Raden Wangsakartika terkejut karena yang bertanding adalah Parmadi dan Muryani, dikeroyok oleh tiga orang yang gerakannya berbahaya dibantu pula oleh belasan orng perajurit.

Parmadi dan Muryani telah berhasil membakar gudang ransum kedua dan ketiga.

Sia-sia mereka menunggu-nunggu terbakarnya gudang ransum pertama dan mereka sangsi.

Jangan-jangan Raden Wangsakartika telah gagal melaksanakan tugas bagiannya.

Karena terlalu lama menanti, akhirnya Muryani membakar gudang ransum dan melihat kebakaran itu, Parmadi juga membakar gudang yang menjadi bagiannya.

Setelah membakar gudang yang menimbulkan kegemparan, keduanya lalu melarikan diri ke arah bagian selatan kota untuk keluar dari sana.

Akan tetapi, Muryani terlihat oleh sepasukan perajurit Blambangan yang segera mengepung dan mengeroyoknya.

Muryani mengamuk dan merobohkan enam orang perajurit.

akan tetapi, segera muncul Ki Randupajang, tokoh Madura yang tinggi besar dan brewok.

Laki-laki berusia lima puluh tahun lebih ini memang diperbantukan dalam merebut dan menjaga Pasuruan.

Selain Ki Randujapang, juga muncul Kyai Kasmalapati yang berusia enam puluh lima tahun, datuk Blambangan yang sakti itu, bersama-sama muridnya, yaitu Dartoko berusia dua puluh lima tahun yang berwajah tampan namun wataknya sombomg dan jahat.

Begitu tiga orang sakti ini muncul dan menyerang, Muryani menghadapi pengeroyokan mereka dengan pedangnya yang diputar cepat sehingga membentuk gulungan sinar berkeredepan tertimpa sinat obor yang dibawa para perajurit.

Namun, tiga orang itu adalah tokoh-tokoh yang sakti dan kuat, maka mulailah Muryani terdesak dan ia tidak melihat jalan keluar karena dirinya sudah terkepung.

Jalan satu-satunya hanyalah mengamuk dan memperyahankan diri sampai saat terakhir.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara mendengung-dengung.

Muryani merasa girang sekali karena itu adalah suara seruling gading yang dimainkan suaminya.

Benar saja, kepungan itu mengendur karena Parmadi sudah menerjang masuk dan senjatanya yang ampuh, suling gadingnya, berubah menjadi sinar keemasan.

Semua senjata para perajurit yang bertemu sinar suling atau sinar pedang, tentu terpental.

Akan tetapi tiga orang itu tetap menyerang mereka dan para perajurit mengepung agar suami isteri itu tidak dapat melarikan diri.

Sedangkan beberapa orang perajurit cepat membunyikan kentungan untuk memanggil bala bantuan.

Parmadi dan Muryani maklum bahwa keadaan mereka berbahaya sekali.

Kalau sampai pasukan yang besar jumlahnya datang mengepung, akan sulitlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri keluar dari Kadipaten Pasuruan.

Akan tetapi selagi mereka berusaha mati-matian untuk memecahkan kepungan, tiba-tiba muncul Raden Wangsakartika.

Melihat suami isteri itu dikeroyok, Raden Wangsakartika lalu menerjang dengan pedangnya dan gerakannya amat ganas.

Tidak seperti Parmadi dan Muryani yang hanya merobohkan para perajurit dengan melukai mereka tanpa membunuh, sepak terjang Raden Wangsakartika nggegirisi (mengerikan).

Darah muncrat-muncrat dari perut yang tertembus pedangnya, leher yang terpenggal atau pundak, kaki tangan terbabat putus!

Sepak terjang Raden Wangsakartika ini membuat para pengeroyok menjadi gentar sehingga kepungan mengendor dan kesempatan ini dipergunakan oleh tiga orang sakti itu untuk meloloskan diri melalui tembok dan tiba di daerah rawa, Para perajurit hanya berani mengejar keluar dinding, tak berani memasuki daerah rawa yang gelap dan berbahaya.

Pangeran Silarong menyambut kembalinya Raden Wangsakartika, Parmadi dan Muryani dengan gembira.

Dia memuji jasa mereka bertiga, terutama Raden Wangsakartika yang membawa "oleh-oleh"

Untuknya berupa dua buah kepala milik pimpinan pasukan Bali.

Pangeran Silarong lalu memerintahkan perajurit untuk memasang dua buah kepala itu di atas galah dan ditancapkan di depan pintu benteng Pasuruan untuk membikin gentar hati para perajurit musuh.

Juga Pangeran Silarong girang mendapatkan keterangan yang jelas dari Parmadi tentang keadaan dan kekuatan pertahanan dalam benteng itu.

Pengetahuan tentang kekuatan pertahanan musuh, terutama sekali tentang letak meriam-meriam itu amatlah penting karena dengan demikian Pasukan Mataram dapat menyusun siasat penyerangan agar terhindar dari ancaman peluru-peluru meriam dan dapat memperoleh kemenangan tanpa menderita terlalu banyak korban.

Sementara itu, peristiwa pembakaran dua gudang ransum dan terbunuhnya beberapa perajurit, terutama sekali matinya dua orang pimpinan yang kepalanya hilang, menggegerkan para perajurit di kota Kadipaten Pasuruan.

Apalagi ketika pada keesokan harinya, dua buah kepala pemimpin mereka itu dipasang di atas galah dan ditancapkan di depan pintu gerbang benteng mereka, para perajurit menjadi gentar sekali.

Para perwira pembantu dua pemimpin yang tewas itu segera mengirim laporan dan minta bantuan ke Blambangan.

Pangeran Silarong mengajak para perwira, termasuk Parmadi, Muryani, dan Raden Wangsakartika sebagai pembela sukarelawan.

Mereka semua dapat menduga bahwa peristiwa malam itu tentu menggemparkan dan membuat gentar hati pasukan musuh dan menurunkan semangat mereka.

Oleh karena itu, Pangeran Silarong segera mengatur barisan dan memerintahkan penyerbuan pada keesokan harinya agar jangan memberi kesempatan musuh memperkuat diri dengan bantuan yang datang dari Blambangan.

Para senopati Mataram yang sudah berpengalaman menghadapi gempuran musuh yang mengandalkan meriam dan senapan, ketika mereka beberapa kali menyerbu Batavia, kini menggunakan siasat penyerbuan lewat sayap kanan dan kiri, tidak langsung dari depan yang dapat menjadi sasaran lunak peluru-peluru meriam dan mendekati benteng dari kanan kiri, maju sambil berlindung di balik pohon-pohon dan batu-batu, juga rumah-rumah penduduk yang sudah kosong ditinggalkan para penghuninya yang lari mengungsi.

Mereka membentuk Pasukan Sapit Urang, menyerbu dari kanan kiri dan setengah bagian pasukan menyerbu lewat belakang, yaitu lewat daerah rawa, dipimpin oleh pemandu-pemandu jalan yang sudah hafal akan keadaan daerah yang sukar dan berbahaya itu.

Pertempuran dimulai.

Pasukan Blambangan melawan dengan seluruh kekuatannya.

Sebagian besar perajurit dari Bali pimpinan Senopati Tabanan dan Pacung yang menggantikan Panji Buleleng dan Macan Kuning yang telah tewas, dibekali aji kanuragan yang cukup tangguh, bahkan banyak diantara mereka, terutama para perwira dan senopati dari Bali itu memiliki aji kekebalan, tidak dapat dilukai serangan senjata tajam biasa.

Dengan perlawanan mati-matian terjadilah pertempuran yang amat hebat.

banjir darah terjadi ketika pasukan campuran Blambangan yang mempertahankan kota Pasuruan itu menerjang keluar menyambut musuh, setelah peluru-peluru meriam dan senapan mereka tidak dapat menahan desakan pasukan Mataram.

Perang campuh yang amat hebat sehingga korban di kedua pihak roboh dan mayat-mayat berserakan.

Darah mereka membasahi bumi.

Teriakan-teriakan kemarahan bercampur aduk dengan jerit-jerit kematian.

Ki Randujapang, datuk Madura yang sakti itu, mengamuk dan merobohkan banyak perajurit Mataram dengan senjatanya sepasang kapak yang besar danberat.

sepasang kapaknya sudah berlepotan darah, demikian pula pakaiannya.

Akan tetapi tiba-tiba ketika kapak kanannya menyambar ke arah kepala seorang perajurit, ada sebatang pedang berkelebat menangkis.

"Tranggg....!"

Bunga api berhamburan ketika kapak ditangkis pedang.

ki randujapang terkejut karena dia merasa betapa lengan kanannya tergetar hebat.

Ketika melihat siapa yang menangkis kapaknya dengan pedang, dia marahsekali dan sepasang kapaknya menyambar-nyambar dahsyat ke arah Muryani.

Wanita perkasa ini menggerakkan tubuhnya yang ringan dan dapat bergerak cepat seperti seekor burung kepinis, pedangnya berubah menjadi gulungan sinar putih berkilauan dan ia balas menyerang dengan dahsyat pula, Terjadilah perkelahian yang amat seru.

para perajurit kedua pihak tidak berani membantu karena tingkat kepandaian mereka masih terlampau rendah sehingga membantu berarti membiarkan diri terancam maut.

Dartoko juga mengamuk dengan pedang di tangan kanan dan keris di tangan kiri.

Banyak perajurit Mataram yang roboh disambar kedua batang senjatanya itu.

Akan tetapi tiba-tiba muncul Raden Wangsakartika menghadapinya dan kedua orang ini pun bertanding seru dan mati-matian.

Juga dua orang jagoan ini bertanding tanpa ada yang membantu karena para perajurit juga tidak berani mendekati mereka yang amat tangguh ini.

Sementara itu, guru Dartoko, Kyai Kasmalapati yang terkenal sebagai seorang datuk Blambangan walaupun sudah tua dan tubuhnya bongkok, namun sepak terjangnya menggiriskan.

Banyak perajurit Mataram roboh oleh tongkat bambu kuningnya, yang dipegang tangan kanan, atau oleh tasbihnya yang dipegang tangan kiri, atau gerengannya yang menggetarkan jantung.

Tiba-tiba kakek itu dihadapi Parmadi dengan senjata Suling Gading yang ampuh.

Kakek itu sudah tahu akan kesaktian si Seruling Gading maka dia merasa gentar sekali.

Namun dia memaksa diri untuk melawan sambil terkadang menyelinap di antara para perajurit.

Sementara itu, pasukan Blambangan didesak terus sehingga mundur memasuki kota dan terjadilah pertempuran yang kacau balau di dalam kota.

Melihat pasukannya terdesak mundur, Kyai Kasmalapati menyelinap ke dalam rombongan pasukan sehingga Parmadi kehilangan lawan dan tiba-tiba tampak asap hitam mengepul tebal dan menyebar ke seluruh kota!

Inilah aji sihir yang datang dari kuasa kegelapan, dikerahkan oleh Kyai Kasmalapati yang memang ahli dalam ilmu sihir pengaruh daya iblis.

Tentu saja panik dan banyak di antara mereka yang roboh diserang pasukan Blambangan yang tidak dipengaruhi asap hitam.

Tiba-tiba terdengar bunyi seruling melengking-lengking.

itulah suara suling yang ditiup Parmadi dan bagaikan ada angin yang kuat bertiup, asap hitam itu membuyar dan diterbangkan pergi.

Setelah terbebas dari asap hitam, pasukan Mataram mendapatkan kembali semangat mereka dan banyak perajurit musuh yang bergelimpangan.

Akan tetapi Kyai Kasmalapati, Dartoko, dan Ki Randujapang telah pergi.

Orang-orang yang curang dan pengecut ini melarikan diri begitu keadaan tidak menguntungkan bahkan membahayakan keselamatan diri mereka.

Bukan hanya mereka, juga ada beberapa orang senopati Gelgel yang melarikan diri meninggalkan pasukan, keluar dari kota mencari selamat.

Setelah Ki Tabanan dan Ki Pacung, dua orang senopati Gelgel Bali tewas, pasukan lalu menjadi kocar-kacir tidak ada yang memimpin lagi.

Banyak yang tewas dan sisanya melarikan diri cerai berai.

Kota Kadipaten Pasuruan dapat dirampas kembali oleh Pasukan Mataram dan sang Adipati Pasuruan menempati kembali istana kadipaten yang sudah kehilangan banyak barang berharga, dirampok oleh pihak musuh dan penjahat-penjahat yang menggunakan kesempatan untuk mencuri barang-barang berharga.

Pasukan Mataram lalu memperkuat perbentengan di Pasuruan.

Pangeran Silarong tidak berani melanjutkan gerakan pasukannya sebelum menerima petunjuk dan perintah dari Sultan Agung.

Penyerangan ke daerah Blambangan, bukan merupakan tugas ringan.

Blambangan yang bersekutu dengan Bali dan Madura, juga didukung daerah-daerah Jawa timur, memiliki pula banyak orang sakti, amat kuat dan perlu perhitungan masak sebelum Mataram berani melakukan penyerangan besar-besaran.

Apalagi mereka tahu bahwa diam-diam, Kumpeni Belanda mendukung Blambangan sebagai siasat mereka untuk mengadu domba.

Menurut para penyelidik, beberapa buah kapal besar Kumpeni Belanda sudah tampak mondar-mandir disekitar pantai Blambangan!

Untuk sementara perang selesai dengan direbutnya kembali Pasuruan.

Kedua pihak menyusun kekuatan, melakukan persiapan untuk perang selanjutnya.

Wanita itu berpakaian sederhana, seperti pakaian wanita petani biasa.

Akan tetapi kalau ada orang bertemu dengannya dan melihat wajah yang cantik jelita itu, tubuh yang langsing padat, dan kulit yang halus dan putih mulus, tentu akan menduga bahwa wanita dusun itu pasti bukan seorang wanita dusun biasa, melainkan seorang wanita bangsawan!

Ia adalah Nyi Maya Dewi!

Orang yang dulu mengenalnya, kalau melihat ia sekarang, tentu akan merasa terheran-heran.

Terjadi perubahan besar pada diri wanita ini, baik keadaan lahir maupun batinnya.

Sekitar lima tahun yang lalu Maya Dewi adalah seorang wanita yang kecantikannya merangsang, sikapnya genit, lincah dan matanya menyinarkan kecabulan, juga kekejaman yang lar biasa.

Pakaiannya selalu indah dengan hiasan emas permata yang serba mewah.

Lima tahun yang lalu, dalam usia tiga puluh dua tahun, ia masih tampak seperti seorang wanita seusia dua puluh tahun.

Baik wajah, mata, mulut, bentuk tubuh, sikap dan gerak geriknya ketika itu menggairahkan hati setiap orang pria sehingga banyak sekali yang tergila-gila kepadanya.

Sekarang, dalam usianya yang tiga puluh tujuh tahun, Maya Dewi memang masih tampak cantik jelita seolah usianya belum lewat dua puluh lima tahun.

Awet mudanya ini berkat dahulu minum jamu langka Suket Sungsang, kemudian secara kebetulan sekali ia makan separuh dari Jamur Dwipa Suddhi.

Tubuhnya masih langsing dan padat berisi berkat sejak kecil ia mempelajari ilmu kanuragan.

Akan tetapi terjadi perubahan yang mencolok sekali dalam diri wanita ini.

Hanya kecantikannya saja yang masih sama, walaupun dulu kecantikannya menggairahkan dan sekarang kecantikannya anggun membuat orang merasa segan dan hormat.

Matanya yang terkadang mencorong itu tajam namun teduh, penuh kesabaran dan pengertian.

Berbeda sama sekali dengan sinar matanya yang dulu selalu menyinarkan kekerasan dan terkadang membayangkan gejolak nafsu dan selalu menantang.

Mulutnya dulu kalau tersenyum tampak genit memikat dan terkadang penuh ejekan, akan tetapi sekarang senyumnya tulus dan jujur.

Suaranya yang dulu lantang galak, terkadang manja dan merayu, kini suaranya tenang lembut.

Sikap yang dulu lincah dan genit, kini pendiam dan penuh sopan santun.

Pakaiannya yang dulu gemerlapan mewah, kini sederhana sekali tanpa ada perhiasan sepotongpun.

Akan tetapi sinar mata yang dalam dan tenang itu, terkadang menjadi sayu diliputi kepedihan hati.

Pengalamannya selama ia mengubah jalan hidupnya penuh kepahitan, terkadang membuat ia bingung dan hampir putus asa.

Dulu, ketika ia masih menjadi tokoh sesat, setidaknya masih mempunyai sahabat.

Dulu ia musuh para pendekar dan sahabat para golongan sesat.

Akan tetapi sekarang?

Bertemu dengan para pendekar, ia dimaki dan dihina, tidak dipercaya dan dimusuhi karena dianggap tetap sesat dan semua kebaikannya dianggap palsu dan pura-pura!

Bertemu dengan golongan sesat, ia dicemoohkan dan diejek habis-habisan.

Dari kanan kiri ia tetap saja dihina.

Ia merasa terbuang, tidak ada teman, seorang diri di dunia ini dan dimusuhi semua orang!

Kalau sudah begitu, ia merasa kesepian, kehilangan, dan teringat kepada Bagus Sajiwo.

Betapa ia amat merindukan Bagus Sajiwo!

Rindu akan tatapan sinar matanya yang penuh pengertian, penuh kasih dan selalu membangkitkan semangat hidup dan pengharapan.

Rindu akan senyum pemuda itu, yang menyejukkan hatinya, mendatangkan rasa tenteram dan tenang.

Terutama sekali suaranya, begitu lembut, apalagi kalau suara itu mengucapkan kata-kata yang menyegarkan hati akal pikiran, yang mendatangkan kesadaran dan pengertian sehingga meresap dan menyejukkan jiwa.

Segala macam perasaan dan kesan yang terbaik memenuhi hatinya kalau ia teringat kepada Bagus Sajiwo.

Dalam pribadi Bagus Sajiwo ia menemukan kasih sayang murni seorang guru, orang tua, saudara, sahabat yang amat setia dan yang selalu membimbingnya tanpa pamrih untuk dirinya sendiri, tanpa mengharapkan imbalan jasa.

Setelah setahun lebih berpisah dari Bagus Sajiwo, hidup dalam kesepian dan penuh perenungan, barulah ia mulai mengerti akan kasih sayang murni dari pemuda itu kepadanya.

Selama ini ia telah salah sangka, salah memahami kasih sayang Bagus Sajiwo.

Kasih sayang Bagus Sajiwo kepadanya sama sekali tidak mengandung berahi!

Dan salahnya sendiri kalau ia membalasnya dengan cinta asmara dan menganggap pemuda itu sebagai suaminya, mengharapkan untuk hidup berdampingan selamanya sebagai suami isteri!

Sekarang ia maklum bahwa perasaan cintanya kepada Bagus Sajiwo itu muncul karena sejak gadis remaja, biarpun ia telah dicinta oleh banyak sekali pria, namun cinta semua pria itu hanyalah cinta nafsu berahi belaka.Semua laki-laki itu hanya mencinta keindahan tubuhnya, kecantikannya!

Maka, begitu bertemu Bagus Sajiwo ia merasakan suatu kasih sayang yang lain sama sekali, dan kehausannya akan cinta sejati membuat ia mengiara bahwa Bagus Sajiwo mencintanya sebagai seorang calon suami mencinta calon isterinya!

Ia terjebak dalam harapannya sendiri.

Sekarang ia mengerti bahwa Bagus Sajiwo dapat menjadi segalanya, kecuali menjadi suaminya.

Ia menyadari bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

Usianya sekarang sudah tiga puluh tujuh tahun sedangkan usia Bagus Sajiwo baru sekitar dua puluh satu tahun!

Maya Dewi melangkah perlahan dan menghela napas.

Kesadaran itu telah menghilangkan nafsu berahi dari kasih sayangnya terhadap Bagus Sajiwo.

Kasih sayangnya kini terasa bahkan lebih halus, kerinduannya terhadap anak muda itu bukan lagi kerinduan jasmani, melainkan kerinduan rohani.

Seperti seorang kakak merindukan adiknya, seperti seorang ibu merindukan anaknya, seperti seorang sahabat merindukan sahabatnya.

Ia menghela napas lagi.

"Bagus...."

Ia mengeluh lirih, keluhan yang keluar dari dalam lubuh hatinya.

Maya Dewi tadinya melakukan perjalanan menuju Pasuruan.

Ia mendengar bahwa Pasuruan telah diduduki Pasukan Blambangan akan tetapi kini baru saja direbut kembali oleh Pasukan Mataram.

Pasti Bagus Sajiwo berada di sana, pikirnya.

Ia sudah mengambil keputusan untuk membela dan membantu Mataram menghadapi Kumpeni Belanda.

Sebetulnya, ia bukanlah kawula Mataram.

Mendiang ayahnya, Resi Kalayitmo, berasal dari Parahiyangan, lalu pindah ke Banten dan ia dilahirkan di Banten.

Kalau ia kini mengambil keputusan untuk membantu Mataram, hal itu adalah untuk menebus semua dosanya terhadap Mataram.

Ia pernah membantu Kumpeni Belanda memusuhi Mataram.

Kini ia menyadari kesalahannya, sadar betapa jahatnya Kumpeni Belanda terhadap bangsanya, bangsa di seluruh Nusa Jawa.

Ia yang pernah menjadi tokoh telik sandi (mata-mata) Belanda maklum bahwa Kumpeni Belanda selalu mempergunakan siasat mengadu domba antara kadipaten dan penguasa-penguasa daerah.

Kalau tidak berhasil menggunakan kekerasan, Kumpeni menggunakan siasat halus dan licik, pura-pura membantu Mataram.

Siasat ini dipergunakan agar mereka yang saling perang sendiri itu menjadi lemah sehingga akhirnya mudah bagi Kumpeni untuk menundukkan mereka yang telah menjadi lemah dan cerai berai karena perang saudara.

Ia telah berhutang banyak kepada Mataram, telah melakukan banyak kejahatan yang merugikan Mataram.

Oleh karena itu, ia kini bertekad untuk membantu dan membela Mataram untuk menebus dosa-dosanya.

Dengan pikiran ini, ia pergi ke Pasuruan, untuk menawarkan bantuannya sebagai sukarelawan, bergabung dengan para pendekar.

Hanya Bagus Sajiwo yang diharapkannya akan ia temukan di Pasuruan.

Tanpa adanya Bagus Sajiwo, besar bahayanya ia tidak akan diterima para pembesar Mataram yang tentu mencurigai dan tidak sudi menerima bantuannya.

Kalau ada Bagus Sajiwo, pemuda itu tentu mau membela dan menjadi penanggung jawabnya.

Akan tetapi jauh di luar Kadipaten pasuruan, di jalan umum yang sepi, ia berhenti berjalan ketika melihat tubuh lima orang malang melintang di atas jalan dalam keadaan mandi darah!

cepat ia menghampiri dan setelah memeriksa, ternyata empat dari mereka telah tewas dan yang seorang hanya pingsan.

luka di pundaknya mengeluarkan banyak darah akan tetapi tidak terlalu berbahaya.

agaknya yang menyerang mereka mengira dia juga tewas maka ditinggalkannya.

padahal orang itu hanya pingsan.

Maya Dewi cepat menolong dan menyadarkannya.

Setelah sadar orang itu mengeluh dan bangkit duduk, memandang kepada Maya Dewi dengan heran dan juga takut.

"Jangan takut, Kisanak. Aku bukan musuh."

Maya Dewi menenangkan sambil membalut pundak orang itu dengan kain yang dirobek dari baju orang itu sendiri.

"Ceritakan apa yang telah terjadi di sini dan siapa yang membunuh dan melukai kalian."

"Kami berlima adalah perajurit Mataram. Induk pasukan kami berada di Benteng Pasuruan. Kami bertugas memeriksa keadaan sekeliling dan kami agak terlalu jauh meninggalkan kota Kadipaten Pasuruan. di tengah perjalanan itu kami melihat seorang wanita duduk di atas kuda dengan kedua tangan kaki terikat. Agaknya ia menjadi tawanan seorang laki-laki yang kami kenal sebagai seorang senopati Blambangan karena dia pernah ikut menyerbu ketika pasukan Blambangan dulu menyerang dan menduduki Pasuruan. Kami melakukan pengejaran sampai di sini dan laki-laki muda itu berhenti lalu menyerang kami. Ternyata dia sakti mandraguna sehingga kami berlima dalam waktu singkat roboh. Empat orang rekan saya tewas dan entah mengapa saya masih hidup, agaknya dia mengira sata tewas pula."

"Hemm, tahukah Andika siapa laki-laki itu dan siapa pula yang ditawan?"

Orang itu menunjuk ke arah timur.

"Ke sana."

"Hemm. aku akan mengejarnya. Andika carilah bantuan di dusun terdekat untuk mengurus mayat kawan-kawan Andika ini."

Setelah berkata demikian, Maya Dewi lalu berlari cepatmelkukan pengejaran ke arah timur.

Siapakah gadis yang ditawan dan siapa pula penawannya seperti yang diseritakan perajurit Pasuruan itu?

Gadis itu adalah Niken Darmini dan penawannya adalah Tejakasmala!

Sepeti kita ketahui, Niken Darmini yang menyamar menjadi pemuda bernama Joko Darmono dengan marah, penuh cemburu dan keencian, meninggalkan Bagus Sajiwo dan Ratna Manohara setelah ia tidak berhasil membunuh kedua orang itu.

Ia melarikan diri dengan hati terasa nyeri karena cemburu dan kebencian.

Sejak pertama kali bertemu Bagus Sajiwo yang mengenalnya sebagai Joko Darmono, Niken Darmini telah jatuh cinta kepada Bagus Sajiwo.

Ia bertekad untuk menjadi isteri pemuda itu dan pada suatu saat yang baik ia akan membuka rahasianya bahwa ia seorang wanita.

Dari sikap Bagus Sajiwo yang amat baik itu ia pun yakin bahwa Bagus Sajiwo pasti akan menerima dan membalas cintanya kalau diketahuinya bahwa ia seorang gadis jelita!

Ketika ia bertemu Ratna Manohara yang tentu saja mengenalnya sebagai seorang gadis, ia minta agar gadis puteri Ketua Driya Pawitra itu menyimpan rahasianya dan terus terang ia katakan bahwa ia mencinta Bagus Sajiwo dan akan membunuh wanita yang berani merebut pemuda itu darinya.

Lalu, pada pagi hari itu, ketika ia masih tidur, Ki Sarwaguna mengetuk daun pintu kamarnya dan minta tolong agar ia membantu mencari Ratna Manohara yang menurut ayah gadis iru lenyap sejak semalam.

Ketika ia bertanya di mana adanya Bagus Sajiwo, Ki Sarwaguna juga mengatakan bahwa pemuda itu tidak tampak pula, hilang seperti halnya Ratna Manohara.

Ia lalu membantu Ki Sarwaguna mencari, dan ditugaskan mencari ke arah bukit di mana terdapat banyak gua.

Dan pada pagi hari itu, ia melihat Ratna Manohara dan Bagus Sajiwo keluar dari dalam sebuah gua sambil bergandengan dan berangkulan, dan pakaian Ratna Manohara tidak karuan!

Tidak sukar diduga apa yang mereka lakukan semalam dalam gua itu!

Tentu saja ia menjadi marah bukan main, hampir gila karena cemburu.

Ia merasa yakin bahwa Ratna Manohara dan Bagus Sajiwo, semalam berada di dalam gua itu, berhubungan gelap, berjina!

Maka diserangnya Ratna Manohara, akan tetapi serangannya gagal oleh Bagus Sajiwo.

Karena merasa tidak mungkin dapat mengalahkan Bagus Sajiwo, ia lalu melarikan diri membawa kemarahan, cemburu, dan kebencian.

Semakin dipikir dan dibayangkan, semakin panas hatinya.

demikian besar perasaan benci mencengkeram hatinya sehingga yang ia inginkan hanya membunuh Bagus Sajiwo dan Ratna Manohara!

Niken Darmini melepaskan pakaian pria dan ia sudah berganti pakaian wanita, tidak ingin menyamar lagi.

Hatinya merasa semakin sedih kalau ia ingat betapa ia sudah membantu Driya Pawitra, bahkan gurunya sendiri, Nini Kuntigarba, tewas dalam pertempuran membela Driya Pawitra.

Akan tetapi apa yang ia dapatkan dengan pembelaan dan pengorbanan itu?

Kekasih hatinya, pujaannya telah direbut Ratna Manohara!

Pada suatu pagi, ketika ia melangkahkan kaki dalam keadaan melamun dan masih tenggelam ke dalam kesedihan, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda berlari mendatangi dari arah belakangnya.

Ketika penunggang kuda tiba dekat dan ia menoleh untuk memandang siapa penunggang kuda itu, matanya terbelalak dan kulit mukanya seketika merubah merah.

Ia segera mengenal Tejakasmala, pemuda berpakaian Bali yang pernah ikut menyerbu Driya Pawitra dan pemuda inilah yang telah membunuh gurunya, Nini Kuntigarba!

"Jahanam keparat, jangan lari!"

Bentaknya dan ia cepat melompat dan mengejar.

Penunggang kuda itu memang Tejakasmala.

Pemuda dari Bali yang mewakili Kerajaan Klungkung di Bali untuk membantu Blambangan itu ikut merasa kecewa mendengar bahwa Pasuruan telah direbut kembali oleh Pasukan Mataram.

Persekutuan itu lalu meningkatkan kegiatan para telik sandi untuk menyelidiki keadaan daerah dan menggalang persatuan yang lebih kokoh untuk mengulang serangan mereka yang lebih kuat dan besar.

Tejakasmala tidak mau ketinggalan.

Dia lalu seringkali mengadakan penyelidikan sendiri dan pagi hari itu dia sedang melakukan perjalanan, menyelidiki daerah di sekitar luar Kadipaten Pasuruan.

Maka, ketika ada wanita berteriak memakinya, dia terkejut dan menahan kudanya lalu menoleh.

"Syuuuuttt....!"

Sinar kemerahan meluncur dan menyambar ke arah tubuhnya.

Tejakasmala terkejut bukan main.

Cepat dia mengelak dengan melompat dari atas pelana kudanya.

Namun ujung sabuk merah yang digerakkan Niken Darmini untuk menerjangnya itu masih mengenai ujung bahunya sehingga bajunya terobek dan kulit pundaknya terkelupas sedikit.

Dia berjungkir balik dan ketika tiba di atas tanah dia berdiri berhadapan dengan seorang gadis cantik yang tidak dikenalnya.

"Eh, gilakah engkau? Tiada hujan tiada angin, tanpa sebab tiba-tiba menyerangku? Apa kesalahanku maka engkau menyerangku seperti orang gila?"

Tejakasmala menegur marah.

Karena tidak ingin kehilangan kudanya, dia menghampiri kudanya, menenangkannya dan melepas kendali dari mulut kuda agar binatang yang sudah lelah dan lapar itu dapat makan rumput hijau di tepi jalan.

"Kamu yang gila!"

Niken Darmini membentak dan tangan kanannya mencabut sebatang keris dari ikat pinggang. Sabuk merah yang tadi ia pergunakan untuk menyerang berada di tangan kirinya.

"kamu telah membunuh Guruku dan hari ini aku akan mencabut nyawamu agar dapat menghadap roh Guruku di alam baka!"

Kini Tejakasmala dapat memandang wajah gadis itu penuh perhatian dan dia pun teringat!

Dia pernah melihat gadis ini!

Ketika Adipati Santa Guna Alit di Blambangan mengadakan pertemuan yang pertama, gadis ini juga hadir.

Bahkan gadis ini dan seorang gadis lain, yaitu Ratna Manohara dari Driya Pawitra menolak untuk bekerja sama dengan Blambangan menentang Mataram.

Gadis ini adalah utusan yang datang dalam rapat itu mewakili gurunya, Nini Kuntigarba!

Dan belum terlalu lama ini, sebelum Pasukan Blambangan menyerbu Pasuruan dia bersama rombongan dari Blambangan menyerang Driya Pawitra dan dalam perkelahian itu dia telah terluka oleh Nini Kuntigarba, akan tetapi nenek itu pun roboh tewas!

"Ah, aku ingat sekarang!

Andika adalah murid Nini Kuntigarba dan ketika terjadi pertempuran, Nini Kuntigarba membantu Driya Pawitra dan tewas.

Akan tetapi, ia tewas dalam pertempuran yang dapat menimpa siapa saja yang melibatkan diri dalam perang.

Aku sendiri pun terluka olehnya.

Gurumu tak mempunyai permusuhan pribadi dengan aku, kita berempur karena membela pihak masing-masing.

Aku tidak membunuhnya.

Perang yang menyebabkan ia tewas.

Di antara kita tidak ada permusuhan apa-apa!"

"Tak perlu banyak cakap lagi! Bersiaplah untuk mati di tanganku!"

Bentak Niken Darmini.

"Nanti dulu, aku Tejakasmala dari Bali dwipa tidak ingin bermusuhan dengan seorang wanita!"

"Huh, kita pernah bertanding di Perguruan Driya Pawitra, sudah lama kita menjadi musuh!"

"Ahh? Aku tidak ingat lagi.... seingatku yang bertanding denganku adalah seorang pemuda yang kemudian dibantu Nini Kuntigarba.... eh, Andikalah pemuda itu?"

"Tidak keliru! Akulah Niken Darmini yang dulu menyamar sebagai Joko Darmono!"

Ia lalu menggerakkan sabuk merahnya yang meledak di udara seperti sebuah cambuk.

"Nanti dulu, Niken Darmini! Kalau engkau sekarang ini bertindak sebagai seorang pembela Mataram, maka engkau adalah musuhku. Akan tetapi kalau engkau tidak membela Mataram, aku tidak ingin bermusuhan denganmu!"

Niken Darmini membentak.

"Tutup mulutmu dan sambut seranganku ini!"

Ia lalu menerjang dengan sambaran sabuk merahnya dari atas.

Ujung sabuk itu menyambar seperti kilat ke arah kepala Tejakasmala, disusul keris yang meluncur ke arah dada pemuda itu.

Dahsyat bukan main serangan ini, serangan kilat yang kalau mengenai sasaran pasti mendatangkan maut.

Akan tetapi kini Tejakasmala telah siap.

Pemuda ini adalah murid utama Bhagawan Ekabrata, pendeta pertapa di Gunung Agung Bali yang amat sakti mandraguna.

Maka tingkat kepandaian Tejakasmala ini sudah tinggi sekali.

Biarpun Nuken Darmini sudah mewarisi semua aji kanuragan yang dikuasai mendiang Nini Kuntigarba dan telah diajarkan kepadanya, namun dibandingkan tingkat kepandaian Tejakasmala, ia masih kalah tinggi.

Pemuda ini tingkat kepandaiannya sudah tingg sekali, maka dia tidak pernah membawa senjata.

Kaki tangannya sudah merupakan empat batang senjata yang ampuh, belum lagi aji kesaktian yang dahsyat seperti Aji Pukulan Condromowo yang kalau dipergunakan tangannya berubah merah membara dan mendatangkan angin pukulan yang amat panas.

Aji Bayutantra yang mendatangkan angin pukulan bagaikan badai menyambar.

Dengan pengerahan tenaga sakti dalam suaranya dia mampu merobohkan lawan yang kurang kuat tenaga dalamnya dengan Aji Singabairawa yang membuat gerangannya seperi auman singa yang dapat melumpuhkan lawan.

Selain itu, dia juga dapat mempergunakan sihir dengan membuat dirinya berubah menjadi Nagakala.

Pendeknya, Tejakasmala merupakan lawan yang amat tangguh bagi Niken Darmini.

Gadis itu pun sudah maklum akan kesaktian lawan yang pernah menjatuhkannya dan bahkan hampir membunuhnya kalau saja tidak muncul gurunya yang menangkis pukulan pemuda itu.

Akan tetpi ketika itu Niken Darmini berada dalam kemarahan besar, bukan saja mengingat akan kematian gurunya, melainkan terutama karena marah kepada Bagus Sajiwo dan Ratna Manohara.

Kemarahan ini mendatangkan keberanian dan kenekatan.

Maka iapun menyerang Tejakasmala, menggunakan senjata sabuk dan keris, menyerang dengan pengerahan tenaga sekuatnya karena ia bertekad untuk membunuh atau terbunuh.

"Haiiiiittttt....!"

Niken Darmini menyerang lagi ketika tadi serangannya yang beruntun dapat dielakkan oleh Tejakasmala.

Sabuknya menyambar dan dengan penyaluran tenaga sakti, sabuk dari kain sutera lemas itu berubah manjadi kaku seperti sebatang tongkat dan menusuk ke arah mata lawan.

Tejakasmala menghindarkan diri dengan menggeser kaki ke kiri.

Akan tetapi Niken membentak dan tiba-tiba sabuknya menjadi lemas kembali dan kini menyambar ke arah leher pemuda itu.

Kalau terkena tentu sabuk itu akan menjerat leher dan mencekik!

Namun Tejakasmala cepat melompat ke belakang sehingga sambaran sabuk itu luput.

Niken melompat ke depan, kerisnya menusuk lambung.

"Aahhh!"

Tejakasmala mengibaskan tabgannya menangkis.

"Cringgg....!"

Seperti dua batang baja bertemu ketika tangan itu menepis keris dari samping.

Kemudian, kaki kanan tejakasmala mencuat, mejadi tendangan dari samping mengarah pinggang dara perkasa itu.

Niken menghindar cepat sambil mengebutkan sabuknya untuk membelit kaki.

Akan tetapi Tejakasmala cepat menarik kembali kakinya dan kini tangan kirinya meluncur cepat menotok ke arah pundak lawan.

Niken menangkis totokan itu dengan kerisnya dan kembali keris bertemu tangan yangdemikian kuatnya sehingga Niken merasa tangannya tergetar.

Mereka serang menyerang dengan seru.

Niken Darmini mengamuk dan serangannya dilakukan untuk membunuh lawan.

Sebaliknya, Tejakasmala menyerang dengan tenaga terkendali karena dia tidak ingin membunuh gadis itu.

Jauh lebih baik mencoba untuk membujuk Niken Darmini agar mau menjadi sekutu daripada mejadi lawan.

Sayang pula kalau dibunuh.

gadis ini cantik jelita dan cukup sakti.

Dia ingin mengalahkannya tanpa membunuh.

Akan baik kiranya kalau dia mampu menawannya, membawa ke Balmbangan dan disana akan dicarikan cara untuk membujuk Niken Darmini agar mau membantu Blambangan menentang Mataram.

Karena tidak ingin membunuh inilah maka perkelahian itu berlangsung cukup lama.

Tak mudah bagi Tejakasmala untuk mengalahkan gadis ini tanpa melukai berat atau bahkan membunuhnya.

Hebatnya, gadis itu benar-benar nekat dan agaknya tidak mempedulikan keselamatan sendiri.

Akhirnya, Tejakasmala menemukan akal untuk dapat menangkap gadis itu tanpa membunuh atau melukai dengan parah.

kalau dia melukai dengan parah, tentu sukar membujuknya untuk bekerja sama.

Ketika sabuk merah itu sekali lagi meluncur ke arah lehernya, Tejakasmala sengaja bergerak lamban sehingga ujung sabuk itu berhasil membelit lehernya!

Niken girang dan cepat ia mengerahkan tenaga untuk memperkuat belitannya agar mencekik leher lawan.

Akan tetapi Tejakasmala malah melangkah maju mendekatjan tubuhnya.

Niken Darmini menyambutnya dengan tusukan keris ke arah dada lawan.

Inilah yang dinanti-nanti Tejakasmala.

Cepat tangan kirinya menangkap lengan tangan kanannya menyambar kearah pundak.

Niken mengeluh dan pada saat itu, Tejakasmala mengeluarkan pekik Singabairawa.

tubuh Niken menjadi lemas dan dengan mudah Tejakasmala menangkapnya dan mengikat kedua pergelangan tangannya ke belakang tubuhnya, menggunakan sabuk merah yang terbuat dari sutera amat kuat.

"Nah, Niken Darmini, engkau sudah kalah dan engkau harus menurut semua kehendakku."

"Keparat! Bunuh saja aku! Aku tidak takut mati, lebih baik mati daripada menurut kehendakmu!"

Bentak Niken Darmini, akan tetapi hanya suaranya saja yang kuat karena tubuhnya lemas dan tidak berdaya.

"Ha-ha-ha! Mau tidak mau engkau harus menuruti kehendakku. Engkau tidak dapat menolak!"

Setelah berkata demikian, dia menghampiri kudanya, memasang kendali.

Ketika pemuda itu menghampiri kuda, Niken berusaha untuk melarikan diri namun ia nyaris terguling karena kedua kakinya lemas.

Tekanan pada pundaknya membuat ia lemas.

Tejakasmala menghampirinya dan tiba-tiba dia mengangkat tubuh Niken ke atas, didudukkannya di atas pelana kuda itu!

"Heii, mau apa engkau!"

Niken Darmini membentak.

Akan tetapi Tejakasmala hanya tersenyum lalu mengikat kedua kaki gadis itu, melalui bawah perut kuda.

Tejakasmala lalu menuntun kuda itu setelah tersenyum kepada niken Darmini.

Niken adalah seorang gadis perkasa yang sudah bisa menunggang kuda.

Maka biarpun kedua tangannya terikat ke belakang, ia dapat duduk tegak di atas pelana kuda.

"Tejakasmala jahanam keparat, apa yang hendak kau lakukan? Ke mana aku akan kau bawa pergi?"

"Aku akan membawamu ke Kadipaten Blambangan."

"Aku tidak sudi! Lepaskan aku atau bunuh aku!"

"Ha-ha-ha, engkau lupa, Niken Darmini. Engkau kalah dan menjadi tawananku, terserah kepadaku apakah engkau hendak kubawa ke Blambangan, kulepaskan atau kubunuh. Akan tetapi aku memilih untuk membawamu pergi ke Blambangan. Dan engkau tidak dapat menolak karena engkau sudah kalah dan menjadi tawananku."

Pemuda itu tertawa dan melanjutkan perjalanannya menuntun kuda yang ditunggangi gadis itu.

Niken Darmini adalah seorang gadis yang cerdik.

Tadinya ia merasa khawatir kalau-kalau Tejakasmala akan berbuat keji dan cabul pada dirinya.

Hal ini membuatnya takut dan ngeri.

Jauh lebih baik dibunuh daripada diperkosa!

Akan tetapi melihat sikap dan kata-kata pemuda sakti dari Bali itu, mulai timbul harapannya bahwa ia tidak akan mengalami nasib mengerikan itu.

Pemuda itu bersikap kurang ajar, bahkan membiarkan ia naik kuda dan pemuda itu berjalan kaki sambil menuntun kuda.

Kalau memang dia berniat kotor, tentu langsung saja ia diperkosa dan dihina.

Ia pun mulai mengubah sikap dan tidak lagi mencaci maki seperti tadi.

Tiba-tiba terdengar derap kaki beberapa ekor kuda dan muncul lima orang perajurit Mataram.

Mereka adalah lima di antara para perajurit yang melakukan perondaan di sekitar benteng Pasuruan untuk menyelidiki gerak-gerik musuh dan melakukan pembersihan kalau perlu.

"Berhenti dulu!"

Teriak mereka dari belakang, mengejar Tejakasmala yang menuntun kuda yang diduduki Niken Darmini.

Ketika lima orang perajurit itu sudah berhadapan dengan Tejakasmala, mereka terkejut dan mengenal pemuda itu sebagai seorang di antara pimpinan pasukan Blambangan yang pernah menyerbu dan menduduki Pasuruan.

Maka tanpa banyak cakap lagi, mereka berloncatan turun dari punggung kuda dan mengepung Tejakasmala yang sudah menjauhi kuda yang diduduki Niken Darmini sehingga yang dikepung hanya dia seorang.

Tejakasmala tersenyum mengejek melihat lima orang perajurit Mataram yang mengepungnya itu.

"Meneyerahlah menjadi tawanan kami atau akan kami bunuh!"

Teriak seorang perajurit.

"Ha-ha, kalian berlima datang antar nyawa!"

Kata Tejakasmala.

Lima orang perajurit itu menyerang dengan pedang mereka, akan tetapi tubuh Tejakasmala bergerak cepat, berkelebatan dan lima orang perajurit itu hanya mampu mengeluarkan satu kali teriakan lalu roboh.

Melihat lima orang lawannya roboh tewas, Tejakasmala tertawa, lalu dia mengambil seekor kuda terbaik dan ditungganginya sambil menuntun kendali kuda yang ditunggangi Niken Darmini.

Dia sama sekali tidak mengira bahwa seorang di antara lima orang perajurit itu belum tewas, hanya pingsan dan terluka pundaknya saja.

Tadi dia menggunakan jari-jari tangannya untuk menampar dan mencengkeram.

Empat orang terkena cengkeraman atau tamparan di bagian kepala sehingga tewas seketika.

Akan tetapi yang seorang lagi meleset dan pundaknya yang teluka.

Karena orang itu pun roboh seketika pingsan, Tejakasmala mengira semua lawan itu tewas dan dia melanjutkan pejalanannya.

Melihat Tejakasmala merobohkan lima orang perajurit tadi, Niken Darmini memandang dan merasa kagum.

Pemuda itu memang benar-benar sakti dan gagah.

Bahkan wajahnya pun tampan, tubuhnya tegap dan sikapnya pun tidak kasar, membayangkan bahwa dia seorang pemuda bersusila.

Tidak kalah tampan atau gagahnya dibandingkan Bagus Sajiwo.

Akan tetapi bedanya, kalau Tejakasmala dalam sikap dan gayanya mengandung kecongkakan dan kekerasan, sebaliknya Bagus Sajiwo seutuhnya membayangkan kesabaran dan kelembutan yang mendatangkan perasaan damai tenteram di hatinya selama ini.

"Tejakasmala, ke manakah engkau hendak membawaku?"

Tiba-tiba Niken Darmini bertanya setelah beberapa lamanya mereka menunggang kuda berdampingan dan kendali kuda Niken Darmini dipegang pemuda itu.

Pemuda yang tadinya seperti melamun itu menoleh dan tersenyum.

Dia tidak mengira gadis itu dapat bicara baik-baik, tanpa mengandung makian dan kemarahan.

"Aku adalah seorang yang dipercaya menjadi utusan kerajaan Klungkung untuk memimpin pasukan dan membantu Blambangan menghadapi Mataram. Karena engkau membela musuh Blambangan, maka engkau kutawan dan akan kuhadapkan kepada Sang Adipati Blambangan yang akan memberi keputusan mengenai dirimu."

Mendengar jawaban itu, Niken Darmini termenung. Setelah beberapa lamanya, ia bertanya, kini suaranya mengandung penasaran.

"Tejakasmala, aku menyerangmu karena engkau telah membunuh guruku! Mengapa engkau membunuh guruku?"

"Mengapa aku membunuh gurumu? Aku tidak membunuh gurumu. Gurumu tewas dalam sebuah pertempuran. Dalam pertempuran antara kadipaten tidak ada siapa membunuh siapa. Adanya hanya pertempuran yang mengakibatkan luka atau kematian. Semua peristiwa yang terjadi tidak terlepas dari rangkaian karma, Niken Darmini. Ada akibat tentu ada sebabnya. Si sebab juga merupakan akibat dari sebab sebelumnya. Si akibat juga akan menjadi sebab yang menelurkan akibat lain. Mengapa gurumu membantu Driya Pawitra? Mengapa Driya Pawitra tidak mau bekerja sama dengan Blambangan? Mengapa aku berada di sini membantu Blambangan? Semua pertanyaan itu pasti ada jawabannya atau sebab dan alasannya. Kalau ditelusuri terus, pertanyaan terakhir mungkin begini . Mengapa aku dihidupkan di dunia ini? Yang jelas, aku hanya melaksanakan tugasku sebagai utusan raja di Klungkung untuk membantu Blambangan."

Mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan nada serius itu, Niken Darmini termenung.

Memang, tidak dapat disangkal kebenaran kata-kata Tejakasmala pemuda Bali ini.

Segala peristiwa dapat dipertanyakan.

mengapa Blambangan memusuhi Mataram dan sebagainya.

Dan semua pertanyaan itu tentu mendapat jawaban dengan alasan masing-masing yang diyakini benar oleh yang menjawab.

Siapa yang benar?

Kalau kedua pihak yang saling bertentangan merasa diri sendiri benar, maka siapa sebetulnya yang benar?

Apakah kebenaran itu?

"Hemm....

antara Blambangan dan Mataram, siapakah yang benar dan siapa pula yang salah?"

Pertanyaan yang terucapkan ini merupakan gema dari suara hatinya sehingga terdengar oleh Tejakasmala yang merasa bahwa pertanyaan itu diajukan kepadanya.

Tertegun juga Tejakasmala mendengar pertanyaan ini.

Bagi dia yang bertugas membantu Blambangan, tentu saja Blambangan yang benar dan Mataram yang salah.

Akan tetapi bagi orang-orang Mataram dan mereka yang membela Mataram, tentu saja Mataram yang benar dan Blambangan yang salah.

"Menurut pendapatku, keduanya itu benar karena masing-masing tentu membenarkan diri sendiri. Akan tetapi di samping benar, mereka juga salah karena mereka saling menyalahkan."

Mendengar jawaban itu, Niken Darmini menjadi bingung, akan tetapi ucapan pemuda itu pun tidak dapat dibantah.

Biarpun demikian, tetap saja jawaban itu belum memberi penjelasan kepadanya tentang apa itu kebenaran.

Tiba-tiba ia teringat kepada Bagus Sajiwo.

Kalau Bagus berada di situ, mungkin sekali Bagus akan mampu menjawab dan memeberi penjelasan seperti biasa.

Akan tetapi ia benci Bagus!

Kalau dulu, ketika ia masih menyamar sebagai Joko Darmono, ia cinta setengah mati kepada Bagus Sajiwo, kini ia berbalik merasa benci setengah mati kepada pemuda itu!

Cinta benci, cinta benci...., beginilah sifat perasaan yang dikemudikan nafsu.

Cinta nafsu sama saja dengan ulah nafsu yang lain, mementingkan diri sendiri, mencari kesenangan diri sendiri.

Cinta nafsu selalu menuntut imbalan segala macam keinginan untuk menyenangkan diri sendiri.

Ingin memiliki yang dicinta, ingin menguasai, ingin memperoleh kesenangan, kenikmatan, kepuasan dari yang dicinta.

Karena itu, begitu yang dicinta itu tidak memberi kesenangan, bahkan mendatangkan kekecewaan, cinta berubah menjadi benci!

Cinta Sejati adalah Cinta Illahi, adanya hanya memberi dan memberi, tanpa pamrih bagi dirinya sendiri, tanpa keinginan memperoleh imbalan atau balasan.

Rela, ikhlas, sabar, mengalah karena merasa bahwa dirinya hanya merupakan alat penyalur Cinta Illahi.

Mampukah kita mencinta seperti itu?

Tanpa adanya penguasaan nafsu atas cinta kita?

Manusia tidak dapat terbebas dari nafsu yang memang menjadi peserta kita, sehingga tidak ada manusia yang sempurna kebersihannya.

Manusia condong mengandung dosa, condong dikuasai nafsu-nafsunya.

Hanya Kekuasaan Gusti Allah yang mampu menyingkirkan kekuasaan nafsu atas rohani dan jasmani manusia.

Akan tetapi kalau kita menyadari akan hal ini dan dapat melihat jelas betapa kotornya cinta yang kita agung-agungkan itu, setidaknya hal itu akan dapat mengurangi pengaruh nafsu atas diri kita.

membuat kita merasa demikian lemah dan bodoh sehingga kita mau bertekuk lutut berserah diri kepada Gusti Allah, mohon pengampunan dan bimbingannya.

"Tejakasmala, engkau hendak menyerahkan aku kepada Adipati Blambangan agar aku dihukum mati? aku tidak takut mati, aku hanya ingin tahu apa yang menjadi kehendakmu."

"Tidak, Niken Darmini, kukira tidak! Yang sudah pasti, sang Adipati Blambangan, kami semua, akan senang sekali kalau engkau mau bekerja sama membantu Blambangan menghadapi Mataram. Bagaimanapun juga, engkau adalah kawula Blambangan sehingga sudah sepatutnya kalau engkau membela Blambangan."

Hening sejenak.

Ucapan pemuda itu menjadi bahan petimbangan dalam hati Niken Darmini.

Sebetulnya, ia tidak peduli akan permusuhan antara Blambangan dan Mataram.

Ia tidak ingin membantu salah satu pihak.

Akan tetapi ia telah bermusuhan dengan orang-orang pendukung Blambangan karena ia membela perguruan Driya Pawitra.

Ini pun karena ia terbawa oleh Bagus Sajiwo.

Dahulu, demi Bagus Sajiwo ia mau berbuat apa saja, kalau perlu ia siap pula diajak membantu Mataram.

Akan tetapi sekarang, setelah ia merasa "dikhianati"

Bagus Sajiwo yang bermain gila dengan Ratna Manohara, ia mendapat kesempatan melampiaskan kebenciannya terhadap Bagus Sajiwo dengan memusuhi Mataram dan membantu Blambangan!

"Bagaimana mungkin kalian menginginkan aku membantu Blambangan kalau sekarang aku kalian anggap musuh?"

"Kami tidak menganggap engkau sebagai musuh, Niken. Engkau hanya terlibat membantu Driya Pawitra, belum membantu Mataram dan belum memusuhi Blambangan secara pribadi."

"Huh, kalau bukan dianggap musuh, mengapa aku diikat seperti ini?"

Tejakasmala cepat menghentikan kudanya, melompat turun dan menghampiri gadis yang duduk di atas kuda dengan kaki tangan terbelenggu itu.

"Niken, kalau tadi aku membelenggumu, karena engkau bersikap memusuhi aku dan menyerangku. Sungguh mati, aku sama sekali tidak bermusuhan dengan gurumu dan tidak berniat membunuh gurumu. Kami terlibat pertempuran dan ia terluka dan tewas. Di antara kita sebetulnya tidak ada permusuhan. Apakah sekarang engkau tidak lagi memusuhi aku dan mau menghadap Adipati Blambangan secara sukarela? Aku yang menanggung bahwa engkau tidak akan dimusuhi. Kalau engkau bersedia, aku akan membuka belenggumu."

"Baiklah, sekarang aku melihat bahwa engkau dengan sengaja membunuh guruku. menang atau kalah, selamat atau tewas dam pertempuran merupakan hal yang wajar."

Dengan wajah berseri Tejakasmala lalu membuka ikatan kedua tangan dan kaki gadis itu.

Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan berkuda menuju ke kota Kadipaten Blambangan.

Niken Darmini yang merasa sakit hati dan menaruh dendam kebencian kepada Ratna Manohara dan Bagus Sajiwo, mengambil keputusan untuk membantu Blambangan memusihi Mataram sebagai pelampiasan dendamnya.

Benar seperti telah dijanjikan Tejakasmala, ketika mereka tiba di istana Kadipaten Bambangan dan Adipati Santa Guna Alit mendengar laporan Tejakasmala bahwa Niken Darmini bersedia membantu Blambangan menghadapi Mataram, gadis itu diterima dengan ramah dan gembira oleh Sang Adipati dan para tokoh dan sekutunya.

Terutama sekali Dhirasani, saudara kembar tertua putera Sang Adipati yang memang telah jatuh hati kepada Niken Darmini sejak pertemuan pertama kali.

Dia merasa girang sekali bertemu kembali dengan Niken Darmini, apalagi sekarang gadis yang membuatnya tergila-gila sejak semula itu telah mau bekerja sama dan membantu Blambangan menghadapi Mataram.

Dhirasani bersikap baik sekali, ramah, manis budi, penuh perhatian terhadap Niken Darmini sehingga gadis ini tidak merasa canggung dan mulai merasa suka sekali berada di istana Kadipaten Blambangan.

Apalagi sikap sang Adipati Santa Guna Alit dan isterinya juga ramah, seolah orang tua itu setuju dengan pilihan hati putera kembarnya yang tertua itu.

(Lanjut ke

Jilid 23) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 Niken Darmini adalah seorang gadis yang sejak kecil dipelihara dan dididik Nini Kuntigarba, seorang datuk wanita yang berwatak aneh dan keras.

Biarpun ia telah mewarisi aji kesaktian yang cukup tinggi, namun Niken Darmini adalah seorang gadis biasa, seorang wanita yang tiada bedanya dengan wanita pada umumnya.

Gadis dewasa yang sudah sewajarnya mulai tertarik kepada pria.

Ada beberapa kelemahan umum terdapat pula pada diri Niken Darmini sebagai seorang gadis dewasa.

Pertama, ia lebih condong mengikuti perasaannya daripada penalaran pikirannya sehingga ia mudah saja mengambil keputusan membantu Blambangan karena perasaannya terpengaruh bujukan Tejakasmala kemudian diperkuat oleh sikap Sang Adupati Blambangan yang baik kepadanya, terutama sekali sikap Dhirasani.

Ke dua, ia memiliki kelemahan seperti pada wanita umumnya, yaitu suka akan rayuan yang memujinya, mudah terpikat sikap laki-laki yang ramah dan menghargainya, ingin melihat bahwa ia disayang dan dicinta, ingin diperhatikan dan dimanja, ingin melihat bahwa ia disayang dan dicinta, ingin diperhatikan dan dimanja.

Wajah tampan memiliki daya tarik baginya, namun yang lebih kuat menarik hatinya adalah sikap yang baik, ramah, menyayang dan mengalah dari pria.

Dan Dhirasani yang tergila-gila kepadanya memenuhi semua daya tarik ini.

Tidaklah mengherankan kalau Niken Darmini mudah jatuh hati kepada Dhirasani dan melupakan pria-pria yang pernah menarik hatinya seperti Bagus Sajiwo dan yang terakhir Tejakasmala.

Apalagi Bagus Sajiwo sudah membuat ia kecewa, cemburu, dan benci.

Tejakasmala memang seorang pemuda yang menarik pula, akan tetapi sikapnya angkuh dan tidak pandai merayu seperti Dhirasani.

Dhirasani lebih unggul kalau dibandingkan dengan yang lain.

Pemuda ini, biarpun tidak sesakti Tejakasmala atau Bagus Sajiwo, namun juga bukan pemuda sembarangan.

Dia masih adik seperguruan Tejakasmala, murid Bhagawan Ekabrata di Gunung Agung, Bali.

Selain wajahnya tampan dan masih muda, juga Dhiarasani adalah putera Adipati Blambangan, seorang pangeran yang kelak akan menggantikan ayahnya menjadi adipati!

Kaya raya dan dihormati semua orang.

Hubungan antara Niken Darmini dan Dhirasani menjadi semakin akrab.

Kalau tadinya Niken Darmini masih bingung setiap kali bertemu Dhirasanu yang memang serupa benar dengan kakaknya, namun setelah berada di istana Kadipaten Blambangan selama kurang lebih satu bulan saja ia sudah dapat membedakan antara dua orang saudara kembar itu.

Sinar mata dan senyum mereka yang membedakan.

Dhirasani berwatak gembira, mudah tersenyum cerah dan sinar matanya jenaka.

Sebaliknya Dhirasanu sang adik kembar, wataknya pendiam dan pandang matanya serius.

Hanya dalam keadaan gembira sekali maka dia serupa benar dengan kakaknya karena senyum dan sinar mata mereka pada waktu demikian tak dapt dibedakan.

Maya Dewi merasa heran ketika ia melakukan pengejaran sampai memasuki daerah Blambangan ia mendengar keterangan dari orang-orang di perjalanan akan keadaan gadis yang menurut perajurit tadi diculik seorang pemuda.

Mula-mula mereka memang melihat seorang gadis terikat di atas punggung seekor kuda yang didudukinya, dituntun seorang pemuda yang juga menunggang kuda.

akan tetapi setelah ia mengejar terus, ia mendengar keterangan lain dari orang-orang yang melihat gadis dan pemuda itu.

Menurut mereka, gadis itu menunggang kuda dan sama sekali tidak dibelenggu, melainkan berdampingan dengan seorang pemuda tampan yang juga menunggang kuda.

bahkan tampaknya mereka akrab.

Mendengar keterangan ini, Maya Dewi menghentikan niatnya untuk melakukan pengejaran dan pencarian terhadap gadis yang diculik orang seperti yang ia dengar dari perajurit yang terluka di tepi jalan itu.

Ia tidak tahu siapa gadis itu, siapa pula penculiknya dan apa urusan yang terjadi di antara mereka.

Ia melakukan pengejaran hanya karena mendengar ada gadis diculik orang, dengan niat untuk menolong gadis itu.

Akan tetapi keterangan terakhir yang ia dapatkan mengatakan bahwa gadis dan pemuda itu telah bergaul akrab, tidak ada tanda sama sekali bahwa gadis itu diculik atau dibawa dengan paksa.

Ia akan mendapat malu sendiri kalau nanti dapat menyusul mereka dan melihat bahwa tidak ada apa-apa di antara mereka!

Akan tetapi karena ia sudah berada di daerah Blambangan, ia teringat akan berita yang didengarnya dalam perjalanannya.

Ia mendengar bahwa pasukan Blambangan telah menyerbu dan menduduki Pasuruan.

Akan tetapi tak lama kemudian pasukan Mataram telah berhasil merebutnya kembali.

Ia mendengar pula bahwa Blambangan diperkuat oleh bantuan dari pasukan Bali dan Madura.

Dan yang membuat ia tak senang adalah ketika ia mendengar bahwa Blambangan juga dibantu oleh Kumpeni Belanda yang memberi banyak senjata api.

Ia harus membantu Mataram, demi menebus kesalahannya yang sudah bertumpuk-tumpuk terhadap Mataram di masa lalu.

Ia akan menyelidiki pihak Belanda yang berada di Blambangan, mencegah mereka memberi bantuan selanjutnya.

Setelah mengambil keputusan dengan cara itu ia akan membantu Mataram.

Maya Dewi lalu pergi menuju pantai Blambangan dan ia pun berjalan menyusuri pantai karena ia tahu bahwa biasanya, untuk membantu suatu daerah yang menentang Mataram, pihak Kumpeni Belanda tentu menggunakan kapal sehingga dengan leluasa mereka dapat mendatangi daerah itu tanpa banyak gangguan seperti kalau melakukan perjalanan darat.

Juga mereka mengandalkan keampuhan kapal mereka yang diperlengkapi dengan meriam-meriam, dan awak kapal dipersenjatai senjata-senjata api.

Setelah berhari-hari ia melakukan perjalanan menyusuri pantai dan bertemu dengan nelayan yang tinggal di dusun-dusun pantai, ia mendapat petunjuk di mana adanya kapal-kapal Belanda yang tampak dari pantai.

Karena pantai itu penuh dengan batu karang, maka kapal tidak berani mendekat pantai dan awak kapal yang ingin ke pantai menggunakan perahu-perahu kecil.

Setelah mendapat keterangan itu, Maya Dewi cepat menuju ke pantai yang dimaksudkan nelayan itu.

Pada suatu pagi yang cerah, ketika matahari mulai melukis jalur kemerahan di atas permukaan laut yang airnya tenang, Maya Dewi tiba di pantai dari mana tampak sebuah kapal Belanda berlabuh agak jauh dari pantai.

Pantai itu sunyi saja, tak tampak seorang pun manusia.

Juga tidak ada perahu nelayan seperti di pantai-pantai lain.

Biasanya, para nelayan memang merasa takut kalau ada kapal Belanda.

Mereka takut dicurigai dan para serdadu Belanda itu kalau merasa curiga lalu main tangkap, siksa, bahkan bunuh!

Tiba-tiba Maya Dewi melihat sebuah perahu kecil meluncur ke arah pantai.

Agaknya perahu itu datang dari kapal dan perahu itu didayung dua orang.

Di tengah perahu tampak duduk dua orang lagi.

Maya Dewi menyelinap dan bersembunyi di balik batu besar yang terdapat di tepi pantai.

Setelah perahu itu tiba dekat pantai, dari tempat ia mengintai.

Maya Dewi dapat melihat jelas bahwa dua orang yang mendayung itu adalah anak buah kapal dan yang seorang lagi seorang opsir.

Akan tetapi yang seorang lagi berpakaian jubah longgar, bukan serdadu.

Mereka berempat adalah orang-orang kulit putih dan Maya Dewi yang sudah hafal akan pakaian para anggauta pasukan Kumpeni Belanda mengenal bahwa yang tiga orang adalah seorang perwira dan dua orang perajurit Kumpeni Belanda yang bertugas menjadi anak buah kapal.

Setelah perahu itu mendarat, ia merasa heran bukan main melihat bahwa perwira Belanda itu memegang sebuah pistol yang ditodongkan ke arah orang kulit putih berpakaian jubah longgar itu.

Agaknya orang itu ditawan!

Kalau yang ditodong adalah seorang Jawa, ia tidak akan merasa heran.

Akan tetepi kini yang ditodong adalah seorang Belanda, sedangkan penodongnya seorang perwira Belanda pula!

Maya Dewi memandang penuh perhatian kepada orang yang ditodong itu.

Dia seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun.

Rambutnya kelabu dan Maya Dewi sejak dahulu memang tidak pernah mengerti apakah kelabu itu memang warna rambutnya ataukah rambut hitam bercampur uban.

Kulit muka laki-laki itu merah dan berseri tanda sehat dan anehnya, sikapnya begitu santai dan tenang, sama sekali tidak tampak takut menghadapi moncong senjata api yang ditodongkan ke arahnya sejakmereka berada di perahu tadi.

Sepasang mata yang kebiruan itu bersinar terang, mulutnya mengandung senyum penuh kesabaran.

Wajah yang tampan.

Tubuhnya tinggi agak kurus dan pakaiannya agak kusut.

Setelah perahu menempel di pantai, perwira Belanda itu bangkit dan menghardik tawanannya dalam bahasa Belanda yang tidak dimengerti artinya oleh Maya Dewi.

Akan tetapi melihat orang itu bangkit lalu melangkah keluar dari perahu dalam keadaan tetap ditodong, ia dapat menduga bahwa hardikan itu adalah perintah agar orang itu keluar dari perahu.

Dua orang perajurit yang mendayung perahu tetap berada di perahu, memandang ke arah perwira dan tawanannya itu sambil tersenyum mengejek.

Mereka lalu mengeluarkan rokok dengan santai.

Sementara itu, si perwira menggunakan ujung senjata apinya untuk mendorong tawanannya agar maju lebih jauh dari air.

Tanpa mereka ketahui, mereka kini mendekati batu besar di balik mana Maya Dewi mengintai.

Perwira dan tawanannya itu berhenti melangkah dan mereka lalu bicara dalam bahasa Belnda.

Maya Dwi tidak mengerti, akan tetapi dari suara dan sikap mereka saja ia tahu bahwa opsir yang membentak-bentak itu marah-marah, sedangkan tawanannya itu bicara dengan tenang dan sabar.

Tiba-tiba perwira itu membentak dan tawanannya menghela napas, mengangkat kedua pundaknya lalu berbalik membelakangi opsir itu, menjatuhkan diri berdiri di atas pasir, menengadah dan membentangkan kedua lengan ke atas, lalu berkata-kata dalam bahasa Belanda.

Maya Dewi dapat merasakan getaran penuh perasaan terkandung dalam suara orang itu dan biarpun ia tidak mengerti artinya, ia dapat menduga bahwa orang itu agaknya sedang berdoa!

Tiba-tiba Maya Dewi menggerakkan tangan kanan yang sejak tadi sudah menggenggam sebuah batu karena memang ia sudah berniat untuk menolong orang yang ditodong sungguhpun ia tidak tahu urusannya.

Begitu melihat perwira Belanda itu mengangkat pistolnya dan siap menembak orang itu dari belakang, Maya Dewi menyambitkan batu itu ke arah tangan yang memegang pistol itu.

"Syuuuutttt.... darrr!"

Pistol itu meledak ke arah atas sebelum terlepas dari tangan pemegangnya dan perwira Belanda itu menyumpah-nyumpah dalam bahasa Belanda sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah dengan tangan kiri.

Maya Dewi yang ingin melindungi laki-laki Belanda yang hendak dibunuh tadi sudah melompat keluar dari balik batu besar.

Sementara itu, dua orang perajurit yang berada di perahu kecil, melihat peristiwa itu terkejut dan marah sekali.

Mereka tidak membawa senjata api, akan tetapi di pinggang mereka tergantung pdang.

Mereka cepat keluar dari perahu, mencabut pedang dan lari menghampiri perwira yang masih kesakitan itu.

Perwira itu memberi perintah dalam bahasa Belanda dan dua orang serdadu itu lalu lari menghampiri Maya Dewi dan langsung saja menyerang dengan pedang mereka.

Tawanan yang berdoa tadi berteriak-teriak.

agaknya melarang, namun dua orang serdadu itu tidak peduli dan sudah menyerang kalang kabut, pedang mereka menyambar-nyambar ke arah tubuh Maya Dewi.

Akan tetapi Maya Dewi yang memang merasa tidak suka kepada bangsa Belanda karena ia tahu benar betapa liciknya Kumpeni Belanda mengadu domba bangsa pribumi dan berambisi besar untuk menguasai seluruh nusa, menyambut dengan gerakan cepat.

Tubuhnya berkelebatan seperti berubah menjadi bayang-bayang dan tahu-tahu dua orang perajurit itu berteriak dan roboh dengan pangkal lengan berdarah-darah, terluka oleh pedang-pedang mereka sendiri yang telah berpindah ke tangan Maya Dewi!

Perwira itu terkejut dan marah sekali.

Dia lari ke arah pistolnya yang tadi terlempar ke atas tanah.

Maksudnya untuk mengambil senjata api itu.

Akan tetapi bayangan Maya Dewi berkelebat mendahuluinya, lalu menyambar pistol itu dan membuangnya jauh sekali ke tengah lautan!

Perwira Belanda itu menjadi semakin marah.

Agaknya saking marahnya dia melupakan tangan kanannya yang terluka karena sambaran batu yang dilemparkan Maya Dewi tadi.

Dia mencabut pedangnya lalu menyerang dengan ganas.

Perwira ini bertubuh tinggi besar dan tentu memiliki tenaga besar.

Akan tetapi, gerakan perwira itu bagi Maya Dewi terlalu lamban sehingga dengan mudah ia mengelak ke kiri lalu tangannya membuat gerakan membacok ke arah pundak kanan lawan.

"Wuuuttt.... krekkk!"

Perwira itu berseru kesakitan dan tubuhnya terhuyung dan roboh dekat robohnya dua orang anak buahnya, mengerang dan tidak mampu bangkit kembali.

Maya Dewi yang masih memegang pedang rampasan dengan tangan kirinya menghampiri mereka.

Tiga orang Belanda itu adalah msuh Mataram dan ia juga mempunyai dendam pribadi dengan Kumpeni Belanda.

Maka timbul niatnya untuk membunuhnya saja tiga orang ini sebagai bukti pembelaannya kepada Mataram.

"Nona, harap jangan bunuh mereka! Jangan melakuan dosa yang demikian besar. semoga Tuhan mengampunimu!"

Maya Dewi terkejut dan membatalkan niatnya.

Ia membuang pedang itu dan menoleh kepada orang Belanda yang tadi hendak dibunuh perwira itu.

Orang itu tersenyum kepadanya, bangkit berdiri lalu menghampirinya, lalu mengangkat tangan kanan ke atas.

"Sukur engkau tidak melanjutkan niatmu membunuh mereka, Nona. Semoga Tuhan memberkatimu!"

Setelah berkata demikian, dia cepat menghampiri tiga orang itu, berjongkok memeriksa mereka dan....

dengan ramah dan lembut orang itu lalu memberi pertolongan kepada mereka bertiga.

Ia menurunkan sebuah tas gendong dari punggungnya lalu mengeluarkan alat-alat pengobatan sepeerti sebotol bubuk putih, kapas, kain pembalut dan lain-lain.

kemudian, tanpa berkata apa pun dia merawat mereka yang terluka, mencuci luka dengan cairan dari botol, lalu memberi obat bubuk dan membalutnya dengan kapas dan kain pembalut putih.

Bukan hanya Maya dewi yang memandang dengan bengong, bahkan tiga orang itu pun tampak terheran-heran.

"Vader (bapak, sebutan pendeta), mengapa engkau begini baik kepada kami? Kami hendak membunuhmu dan engkau...."

Kata perwira itu.

"Sssttt, Boeder (Saudara), jangan banyak bicara dan bergerak. Lukamu cukup parah. Engkau cepat kembalilah ke kapal dan beristirahatlah."

Kata laki-laki itu dengan senyum ramah.

"Akan tetapi, Vader Van Huisen.... (Bapak Van Huisen), kalau engkau kelak melapor kepada atasan, kami bertiga tentu akan celaka...."

Kata pula perwira itu. Pendeta Van Huisen itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Tidak, jangan khawatir. Aku akan melaksanakan tugasku seperti biasa dan melupakan semua peristiwa tadi."

"Akan tetapi, bagaimana kami harus menerangkan tenang keadaan kami yang terluka ini?"

Perwira itu berkata pula dengan wajah agak pucat dan tampak gelisah.

"Ceritakan sesukamu, Kopral."

"Kami akan bercerita bahwa kami dihadang bajak laut...."

"Terserah kalian, aku tidak akan mencampuri lagi."

"Bapak benar-benar tidak akan bercerita akan niat buruk kami tadi? Bapak.... benar-benar melupakannya dan memaafkan kami?"

"Sudahlah, tuhan menampuni segala kesalahan manusia asalkan manusia percaya dan bertaubat. Tuhan memberkati kalian!"

Pendeta itu mengangkat ytangan ke atas memberkati dan tiga orang itu denganterhuyung-huyung kembali ke perahu, lalu mendayung perahu menuju kapal.

Maya Dewi melihat itu semua dan tentu saja ia tidak mengerti percakapan mereka tadi.

Ia masih terheran-heran.

Bagaimana mungkin orang yang tadi nyaris dibunuh dengan kejam, sekarang malah berbalik merawat pembunuh itu dengan sikap demikian lembut penuh kasih sayang?

Biarpun ia tidak mengerti percakapan mereka, namun dari suara dan sikap wajahnya ia dapat melihat bahwa orang yang tadi nyaris dibunuh itu sama sekali tidak marah, apalai sakit hati atau membenci!

Setelah perhu kecil itu menjauh, pria Belanda itu menoleh dan menghadapi Maya Dewi.

Dia memberi hormat dengan membungkuk dan merangkap kedua tangan depan dada.

"Nona, puji Tuhan bahwa engkau tadi tidak jadi membunuh mereka! baik sekali bahwa Nona telah dapat memaafkan mereka."

Kata orang itu sambil tersenyum lembut. Maya Dewi semakin heran. Ia dulu pernah bertemu banyak perwira Kumpeni Belanda yang mampu berbahasa pribumi semahir ini. Hampir tidak kentara lidah asingnya.

"Saya memaafkan mereka? Tuan, saya tidak mempunyai urusan apa pun dengan mereka. Sebaliknya engkaulah yang tadi nyaris dibunuh! Saya masih merasa heran dan tidak mengerti, mengapa engkau yang tadi akan dibunuh secara kejam, berbalik bersikap baik dan merawat mereka? Apa yang telah terjadi? Mengapa mereka hendak membunuhmu dan siapa engkau ini?"

Orang itu tersenyum mendenar pertanyaan yang bertubi-tubi itu.

"Nona, sebaiknya kita bicara di tempat lain saja. Kalau mereka datang bersama banyak kawan mereka dan mendapatkan Nona masih berada di sini, akan berbahaya sekali bagimu."

"Saya tidak takut, Tuan!"

"Bukan soal takut atau tidak, Nona. Akan tetapi mengapa menentang bahaya dan menghadapi perkelahian bunuh membunuh kalau hal itu dapat dihindari? Marilah, Nona, kita menyingkir dan nanti akan saya ceritakan semua kepadamu."

Maya Dewi menurut dan mengikuti pria Belanda itu menjauhi pantai, mendaki sebuah bukit karang. setelah agak menjauh, dia mengajak Maya Dewi duduk di atas batu, berhadapan.

"Nona, kasih karunia Tuhan telah menyelamatkan saya dari maut melaluimu. Puji sukur kepada Tuhan yang Maha Kasih, dan terima kasih kepadamu, Nona. Sebelum saya bercerita, bolehkah kita berkenalan? Nama saya David, David Van Huisen."

Dia menjulurkan tangan kepada Maya Dewi. Wanita ini sudah mengetahui kebiasaan untuk berjabat tangan, maka iapun menyambut uluran tangan itu dan mereka berjabatan.

"Nama saya Maya Dewi, Tuan. Mendengar nama Tuan, saya teringat pernah mengenal seorang perwira Kumpeni Belanda yang bernama Kapten Willem Van Huisen, dahulu tinggal di Cirebon."

"Ah, Nona mengenalnya? Kapten Willem Van Huisen adalah Kakak saya, Nona Maya Dewi. saya tahu, Nona tentu seorang di antara para pendekar yang saya dengar banyak terdapat di antara bangsa Pribumi."

Dia berhenti sejenak dan menatap tajam wajah Maya Dewi.

"Akan tetapi mengapa Nona menolong saya, seorang Belanda? Yang saya tahu, biasanya para pendekar memusuhi orang Belanda."

"Tuan keliru menilai para satria Jawa. Para satria membela bangsa dan negera apabila terjadi perang antar bangsa. Akan tetapi di luar perang, kami membela siapa saja yang lemah tertindas dan menentang siapa saja yang jahat sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan dan kekuatan. Saya tadi melihat tiga orang itu hendak membunuh Tuan secara kejam, maka saya anggap mereka jahat dan saya turun tangan membelamu. Nah, sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi antara Tuan dan mereka?"

"Saya adik kandung kapten Willem Van Huisen, akan tetapi saya bukan anggauta pasukan Kumpeni Belanda, Nona. Saya adalah seorang pendeta."

"Seorang pendeta?"

Maya Dewi mengamati pakaian orangitu.

"Pendeta apa, Tuan David Van Huisen?"

Dukar menyebut nama itu selengkapnya.

"Kalau sulit, sebut saja nama saya David, Nona Maya Dewi. Saya adalah pendeta agama Kristen."

"Ah, pendeta yang memimpin orang-orang Belanda bernyanyi dalam kuil atau masjid....? Saya pernah melihatnya di Batavia."

"Bukan, Nona. Kuil itu tempat orang beragama Hindu, dan Masjid tempat sembahyang orang beragama Islam. Rumah kebaktian orang Kristen disebut Gereja. Bukan hanya bernyanyi memuji Nama Tuhan dan berdoa, melainkan juga mendengarkan firman Tuhan yang dikotbahkan para pendeta. Pendeknya, tempat beribadat, Nona."

"Hemm, begitukah? Alu, apa hubunganmu dengan orang-orang tadi, Tuan?"

Dengan sikap ramah dan lembut, suaranya halus penuh kesabaran, pendeta David Van Huisen lalu bercerita, didengarkan penuh perhatian oleh Maya Dewi yang merasa tertarik sekali karena apa yang didengarnya itu sama sekali diluar persangkaannya.

Sejak muda, David Van Huisen telah menjadi seorang Penyebar Injil atau yang umumnya disebut Pendeta Kristen.

Dia bertugas menyampaikan berita keselamatan Injil sampai ke daerah-daerah terpencil, bahkan seringkali memasuki daerah-daerah di mana peradaban manusia masih amat terbelakang.

Sudah seringkali dia menghadapi ancaman maut yang mengerikan, namun berkat imannya yang teguh dan penyerahan dirinya yang total terhadap tugas sebagai seorang hamba Allah yang taat, dia selalu dapat terhindar dari marabahaya.

Dia adalah seorang pendeta yang benar-benar menghayati tugas sucinya, maka melihat banyak kenyataan timpang dilakukan oleh pemerintah bangsanya, dia sering kali memprotes dan menentang kebijaksanaan Kumpeni Belanda sehingga dia dianggap sebagai seorang pemberontak oleh pemerintah!

Dia tidak setuju terhadap politik V.O.C bentukan Kerajaan Belanda yang berambisi mencaplok Pulau Jawa dengan berbagai cara yang licik.

Bukan saja Belanda menggunakan kakuatan pasukan bersenjata api untuk memaksakan ambisinya, juga Belanda menggunakan perdagangan, bahkan membius rakyat jelata dengan candu.

Yang lebih dari itu, David Van Huisen marah sekali melihat betapa Belanda mempergunakan agama sebagai siasat politiknya untuk menundukkan dan melemahkan semangat perlawanan rakyat Jawa.

Agama Kristen adalah agama yang berintikan Kasih, dan para pendeta yang diperalat politik Belanda menanamkan sikap sabar mengalah dan tidak menggunakan kekerasan kepada rakyat, sehingga melemahkan semangat mempertahankan tanah air yang akan dikuasai Belanda!

Sikapnya ini membuat dia dibenci, bukan hanya oleh para pembesar Kumpeni, bahkan juga oleh banyak pendeta Kristen yang diperalat politik Belanda.

David Van Huisen bahkan berentangan dengan kakaknya, Willem Van Huisen yang menjadi Kapten pasukan Kumpeni Belanda.

Dia berjuang sendiri tanpa teman.

Dia menyebarkan berita keselamatan yang suci tanpa pamrih, baik untuk diri sendiri maupun untuk politik pemerintah bangsanya.

Tugasnya yang diemban dan dilaksanakan murni, sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan dalam firman-firmanNya, yaitu mengajak menuasia untuk beriman kepada Tuhan, bertaubat dari dosa-dosanya dan mohon pengampunan dari Tuhan, kemudian melaksanakan semua kebajikan seperti yang diajarkannya sesuai dengan petunjuk firman dalam Kitab Injil dari agamanya.

"Demikianlah, Nona Maya. saya dikucilkan, bahkan dimusihi. Beberapa hari yang lalu, saya menumpang sebuah kapal Kumpeni Belanda yang berlayar dari Batavia menuju Blambangan. Saya tahu bahwa Kumpeni kembali melakukan siasat licik mengadu domba, membantu Blambangan yang hendak memberontak terhadap Mataram. Saya tidak mencampuri dan saya hanya ingin melaksanakan tugas saya, menyampaikan berita keselamatan di antara mereka yang tinggal di dusun-dusun pasisiran selatan yang masih menyembah berhala, menyembah kuburan, pohon-pohon besar, batu-batu dan gua-gua. Ketika berada di atas kapal, saya melihat dua orang Pribumi menjadi tawanan Kumpeni. Mereka adalah orang-orang yang membela Mataram dan mungkin menjadi mata-mata Mataram untuk menyelidiki hubungan antara Kumpeni dan Blambangan. Mereka tertangkap dan terancam keselamatan mereka. Saya tidak suka melihat kejadian ini dan diam-diam saya melepaskan mereka malam tadi dan mereka melompat ke laut melarikan diri. Akan tetapi perbuatanku itu ketahuan oleh Pendeta Johan yang menganggap saya sebagai saingannya."

"Saingan? Dan dia juga Pendeta Kristen?"

Pendeta David menghela napas panjang.

"Semoga Tuhan mengampuni kita semua! Karena sikap saya yang tidak menyetujui agama dipergunakan untuk kepentingan politik membuat saya dianggap saingan dan dimusuhi sebagian para pendeta, termasuk pendeta Johan, walaupun banyak pula yang diam-diam menyetujui pendapat saya. Nah, kiranya perbuatanku membebaskan tawanan dua orang Pribumi itulahyang mengakibatkan usaha pembunuhan atas diri saya tadi."

"Akan tetapi, mengapa begitu, Tuan? Dan mengapa kalau mereka hendak membunuhmu, dibawa dulu ke pantai?"

"Bukan begitu, Nona. Saya memang harus mendarat dan saya turun dari kapal, menggunakan perahu tadi diantar seorang perwira dan dua orang perajurit yang mendayung perahu. Baru setelah dekat pantai perwira itu memberitahu bahwa saya akan dia bunuh memenuhi perintah Pendeta Johan."

"Ah, betapa jahatnya....!"

Pendeta David menggelengkan kepala dan menghela napas panjang.

"Tidak, Nona. Dia tidak menganggap perbuatannya itu jahat. Dia menganggap itu merupakan tugasnya demi kepentingan Kerajaan Belanda karena dia menganggap saya seorang pengkhianat yang harus dibunuh. Tentu saja perbuatannya itu melanggar hukum dan kalau saya laporkan kepada atasan, dia dan tiga orang tadi akan mendapat hukuman berat. Akan tetapi saya tidak akan melaporkan mereka, nona Maya. Tidak, saya hanya berdoa semoga Tuhan mengampuni mereka."

Hening sejenak, Maya Dewi termenung.

dahulu, ketika ia masih menjalani kehidupan sesat, ia menganggap bangsa Belanda amat baik, manis budi dan royal dalam memeberi hadiah.

Kemudian ia mulai melihat kepalsuan Belanda ketika mayor Yakues hendak memaksa ia menjadi isterinya.

Setelah ia mengembalikan dinar emas tanda sebagai mata-mata Kumpeni dan ia meninggalkan Batavia, ia mulai menyesal akan semua kesesatannya yang tidak mendatangkan kebahagiaan melainkan lebih banyak mendatangkan kekecewaan dan kedukaan dalam hatinya.

Kemudian ia bertemu Bagus Sajiwo dan hidupnya mengalami perubahan total seperti sekarang ini, Ia terbimbing dan mengenal Gusti Allah, sadar betul akan baik atau buruk sehingga kini ia menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda daripada dahulu, seperti bumi dan langit.

Barulah terbuka kesadarannya bahwa Kumpeni Belanda itu jahat dan licik, pandai membujuk dan mempergunakan orang-orang Pribumi untuk memusuhi bangsa dan menjual tanah air sendiri.

Ia menganggap bahwa semua orang Belanda jahat belaka.

Akan tetapi sekarang, ia bertemu seorang Belanda yang mengaku sebagai pendeta dan yang memiliki watak dan budi amat halus, mengingatkan ia kepada watak dan budi Bagus Sajiwo!

Mendengar akan perasaan benci licik dan kejam dari pendeta Johan dan para opsir Belanda bukan hal yang aneh bagi Maya Dewi, akan tetapi melihat sikap Pendeta David yang begitu sabar dan lembut, hal ini sungguh di luar dugaannya.

"Tuan David, selama ini saya bertemu dengan banyak orang Kumpeni Belanda dan saya anggap mereka itu licik dan jahat! Mereka ingin mengadu domba antara penguasa-penguasa daerah dengan Kerajaan Mataram agar rakyat Pribumi menjadi lemah. Mereka ingin menguasai tanah air kami. Akan tetapi sikap Tuan berbeda dengan mereka."

"Nona Maya Dewi. Yang jahat itu adalah politik Kerajaan Belanda. Politik itu memang kotor dan orang-orang Belanda yang mejadi alat pemerintah Belanda hanya melaksanakan tugas mereka masing-masing. Saya pribadi menentang politik seperti itu karena berlawanan dengan agama saya. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa bangsa Belanda itu jahat semua. Seperti juga terdapat dalam bangsa apapun di dunia ini, manusia dari bangsa itu tentu ada yang baik dan ada yang jahat. Tidak adil kalau melihat beberapa orang berwatak jahat lalu kita menganggap bahwa bangsa orang itu jahat, atau melihat beberapa orang berwatak baik lalu menganggap bahwa bangsa orang itu baik! Saya yakin bahwa bangsa Belanda juga demikian, di antara orang-orangnya banyak yang baik, akan tetapi banyak pula yang jahat. Dan saya kira semua bangsa di dunia ini pun demikian keadaannya. Karena itulah maka saya menghambakan diri kepada Tuhan untuk menyampaikan berita keselamatan bagi manusia berdosa."

Maya Dewi mengangguk-angguk. Setelah bergaul dekat dengan Bagus Sajiwo ia dapat mengerti apa yang tersirat dalam semua ucapan pendeta itu.

"Tuan, saya masih merasa heran melihat sikap Tuan tadi. Mereka itu nyaris membunuhmu, akan tetapi mengapa engkau sebaliknya malah merawat luka mereka dan bersikap ramah dan baik terhadap mereka yang bertindak jahat terhadapmu?"

"Nona Maya, inti agama saya adalah Kasih, bukan hanya Kasih terhadap sesama kita yang baik saja, bahkan Kasih terhadap mereka yang memusuhi kita. Seluruh hidup saya telah saya serahkan kepada Tuhan. Roh Kudus, Roh Tuhan sendiri membimbing saya, sehingga saya mengasihi siapa saja, termasuk tiga orang tadi. Kasih ini hidup, Nona Maya, tak pernah mati, dan tidak direncanakan, tidak dibuat oleh hati akal pikiran."

"Jadi Tuan tidak membenci mereka, tidak menaruh dendam?"

"Dendam kebencian itu, nafsu keakuan yang datang dari setan. Kalau ada Roh Kudus dari Tuhan dalam hati, maka kebencian tidak akan dapat mempengaruhi kita."

"Tidak ada manusia sempurna, semua manusia berdosa, termasuk kita, Nona Maya. Tuhan tidak akan mengampuni dosa-dosa kita kalau kita tidak mengampuni kesalahan orang lain kepada kita."

"Wah, kalau begitu tidak ada bedanya pelajaran dalam agama Kristen Tuan dengan agama-agama lain. saya pernah bertemu dan mendengar wejangan dari para pendeta yang beragama Islam, Buddha, Hindu, dan mereka pun mengajarkan kebaikan!"

Pendeta David menangguk-angguk.

"Tidak ada Agama yang mengajarkan agar manusia melakukan kejahatan. Agama mengakui adanya Kekuasaan Yang Maha Tinggi, mengakui adanya Tuhan Yang Maha Baik dan percaya bahwa ajaran dalam agama mereka datang dari Tuhan tentu saja juga mengandung pelajaran agar manusia menaati kehendak Tuhan yaitu menuju kebaikan. Puji Tuhan Yang Maha Sempurna dan Maha Kasih!"

"Akan tetapi, saya melihat kenyataan betapa banyak orang beragama melakukan kejahatan yang sebetulnya bertentangan dengan pelajaran agamanya. Iri, dengki, benci, dendam, penindasan, perang, permusuhan, terjadi di mana-mana!"

Pendeta itu tersenyum.

"Manusia tidak akan mampu melawan nafsu-nafsunya sendiri, Nona Maya. Setan merupaka penggoda yang amat kuat. Hanya kekuasaan Tuhan yang mampu menolong manusia terbebas dari cengkeraman Kuasa Kegelapan. Seorang pemeluk agama apa pun yang masih melakukan perbuatan menyimpang dari kebenaran, berarti dia belum menghayati pelajaran agamanya. Pelajaran itu hanya merupakan pelajaran belaka, tidak merasuk dalam hati sanubari. Hanya bimbingan Roh Suci dari Tuhan yang akan mempu melepaskan manusia dari pengaruh nafsu setan. Adalah tugas para pemuka agama, para pendeta agama, para pendeta agama masing-masing untuk mengingatkan para umatnya agar menaati pelajaran agama masing-masing yang berasal dari Tuhan."

"Akan tetapi saya mendengar banyak orang beragama saling menyalahkan, saling memburukkan agama lain."

"Itupun hanya ulah manusia, Nona. Agama Kristen melarang kami untuk menghakimi dan menjelek-jelekkan agama lain. Agama adalah Imna. Iman kepercayaan tidak dapat diganggu gugat. Setiap orang berhak untuk mempertahankan kepercayaan masing-masing, namun juga berkewajiban untuk menaati pelajaran agamanya.

"Jadi menurut Tuan, seharusnya bagaimanakah orang beragama itu?"

Tanya Maya Dewi yang semakin tertarik karena biarpun ucapannya berbeda, namun inti ucapan pendeta ini tidak ada bedanya dengan apa yang sering ia dengar dari Bagus Sajiwo.

"Sehatusnya menaati perintah Tuhan yang tersurat dalam kitab agama masing-masing tanpa kecuali, menyerah dengan sepenuh jiwa raga sehingga manusia memperoleh tuntunanNya. Dengan singkat dapat dikatakan . Jadilah umat beragama yang baik, agama apapun juga yang dianutnya."

"Wah, banyak terima kasih, Tuan David. Percakapan ini amat penting dan mengandung banyak manfaat bagi saya."

Kata Maya Dewi dengan wajah berseri.

"Mari kita berterima kasih kepada Tuhan, Nona Maya, atas kasih karuniaNya yang sudah mempertemukan kita. Dari Dia saja datangnya segala berkat dan bimbingan. Haleluya!"

"Apa artinya itu, Tuan?"

"Berarti Puji Tuhan."

"Saya pernah mendengar seorang sahabat saya mengatakan bahwa untuk mengucapkan puji sukur kepada Tuhan, harus berucap begini . Alhamdulillaahi Robbil "Aalamiin!"

Pendeta David tersenyum mengangguk-angguk. Sebelum ke Jawa, dia sudah lama bertugas di Timur tengah dan dia mengerti arti ucapan dalam bahasa itu.

"Sama saja, Nona Maya. Intinya adalah memuliakan Tuhan, bersukur atas berkatNya dan beriman kepadaNya. Nah, kiranya cukup Nona. Saya akan melanjutkan perjalanan tugas saya."

"Tuan David, engkau hendak pergi ke mana?"

"Ke mana saja Tuhan membimbing saya, Nona Maya. Saya bertugas untuk menyampaikan Berita Keselamatan agar manusia percaya kepada Tuhan, meninggalkan semua ketahyulan, menjauhkan diri dari Kekuasaan Setan yang mempengaruhi hidupnya, bertaubat dan memperoleh pengampuanNya."

"Engkau tidak takut akan bahaya yang mungkin menimpa dirimu, Tuan?"

"Imanuel (Tuhan beserta kita), kehendak Tuhan terjadilah, saya hanya berserah diri kepadaNya dan apa pun yang terjadi dengan diri saya, enak tidak enak baik atau buruk menurut penilaian pikiran, akan saya terima dengan rasa sukur dan bahagia karena semua itu tentu menurut kehendakNya."

"Ah, semua kata-katamu itu akan selalu saya ingat, Tuan. Selamat jalan!"

"Selamat berpisah, Nona maya. Semoga Tuhan Yang Maha Kasih akan selalu memberkatimu dan semoga Roh Tuhan Yang Kudus akan selalu membimbingmu, amin."

"Amin!"

Pendeta David menjulurkan tangan dan Maya Dewi menyambutnya.

Mereka bersalaman, lalu Pendeta David melangkah pergi, diikuti pandang mata Maya Dewi.

Entah bagaimana, ia seolah melihat Bagus Sajiwo yang melangkah pergi itu dan perasaan rindu memenuhi hatinya.

Peristiwa direbutnya Pasuruan oleh Blambangan dan kemudian Kadipaten pasuruan direbut kembali oleh pasukan Mataram membuat Sang Sultan Agung menjadi marah.

Melihat bahwa Blambangan tidak dapat diajak bersatu menghadapi Kumpeni Belanda, bahkan Blambangan dengn bantuan Bali dan Madura, juga didukung Kumpeni Belanda malah memusihi Mataram, Sultan Agung mengambil keputusan untuk melakukan serangan besar-besaran dan menundukkan Blambangan.

Atas perintah Sultan Agung, Mataram lalu menyusun barisan yang amat kuta dan mengerahkan semua senopatinya yang berpengalaman untuk bersiap-siap menggempur Blambangan.

Semua senopati Mataram siap, di antara mereka yang terkenal adalah Semopati Suroantani, Pangeran Silarong, Gandek Padurekso, Senopati Aryo, Ki Mertoloyo, Tumenggung Wiroguno, Kyai Juru Kiting, dan masih banyak lagi para perwira.

Selain para senopati dan perwira, kebetulan sekali berturut-turut dalam beberapa hari berdatanganlah para pendekar, para satria yang setia kepada Mataram yang memang diundang oleh Sang Sultan Agung untuk membantu pasukan yang akan menaklukkan Blambangan.

Para satria yang berturut-turut datang ke Pasuruan, di antaranya adalah Ki Tejomanik atau Sutejo bersama isterinya Retno Susilo, Lindu Aji dan Sulastri, Parmadi dan Muryani, Ki Cangak Awu dan Pusposari.

Tentu saja pertemuan diantara empat pasang suami isteri pendekar ini gembira sekali dan mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing selama berpisah.

Pangeran Silarong menyambut para satria itu dengan penuh penghormatan.

Para pendekar itu diminta membantu dalam menghadapi para pimpinan Blambangan nanti, Para satria itu, terutama sekali Ki Tejomanik dan Nyi Retno Susilo mengharapkan kedatangan Bagus Sajiwo, akan tetapi pemuda itu tidak kunjung muncul.

Sementara itu di pihak Blambangan juga diadakan persiapan untuk menyusun kekuatan karena mereka dapat menduga bahwa tentu Mataram tidak akan behenti sampai dapat merampas kembali Pasuruan saja.

Balatentara Mataram tentu akan datang membalas dengan serangan besar-besaran.

Tadinya, pimpinan seluruh pasukan gabungan di Blambangan oleh Adipati Santa Guna Alit di Blambangan diserahkan kepada Bhagawan Kalasrenggi.

Akan tetapi, kini pimpinan itu diperkuat, menjadi pimpinan gabungan terdiri dari Bhagawan Kalasrenggi sebagai wakil Kadipaen Blambangan, Tejakasmala sebagai wakil Kerajaan di Bali, dan Raden Satyabrata sebagai wakil dari Kumpeni Belanda.

Dua orang itu dipilih karena semua orang mengetahui bahwa dua orang muda itu masih lebih sakti dibandingkan Bhagawan Kalasrenggi!

Tiga orang ini dibantu Arya Bratadewa dan Ni Candra Dewi dua orang tokoh Banten yang menjadi anak buah Kumpeni Belanda, Resi Sapujagad pertapa dari Merapi, Bhagawan Dewakaton pertapa Gunung Bromo, Kaladhama dan Kalajana yang disebut Dwi Kala murid-murid Bhagawan Kalasrenggi, Raden Dhirasani dan Raden Dhirasanu putera kembar Sang Adipati Blambangan dan kini Raden Dhirasani dibantu oleh Niken Darmini yang menjadi tunangannya, Cakrasakti dan Candrabaya dua orang senopati dari Bali, Ki Dartoko dan gurunya, Kyai Kasmalapati adik seperguruan Bhagawan Kalasrenggi, Made Sukasada dan Kyai Ngurah Pacung dari Bali yang memimpin dua laksa orang perajurit dari Bali untuk membantu Blambangan, dan Ki Randujapang tokoh Madura yang membawa tiga ribu orang pasukan.

Blambangan benar-benar kini mengerahkan segenap kekuatan gabungan untuk menghdapi Mataram!.

Baca Juga: Naga Beracun 9

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert