Ceritasilat Novel Online

Pedang Dan Kitab Suci 8

Eps 8 Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung

Baca online Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung

Cersil Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung.

Sehari itu mereka tiba di kota Tongkwan.

Thian Hong dan Ciang Cin berpencaran menCari pertandaan tulisan dari Hi Tong, tapi tak ketemu.

Mereka duga, Hi Tong pasti belum datang.

Karena tak ingin merepotkan Kawan-kawan , rombongan Tan Keh Lok menginap di sebuah hotel.

Sampai tiga hari mereka menunggTi, tetap Hi Tong tak mun Cul.

Kembali Thian Hong dan Ciang Cin menCari keterangan, ketempat 2 pemberhentian perahu disepanjang sungai, tapi tetap tak ada orang yang pernah melihat kedatangan seorang SiuCay.

Pada hari keempat, mereka berunding.

Masing-masing merasa heran dan kuatir jangan-jangan Hi Tong menemui bahaya dalam perjalanan.

Cabang kaum persilatan yang berkedudukan ditempat 2 pemberhentian perahu dikota Tong-kwan itu jalah dari perkumpulan "Liong Bun Pang."

Dengan perkumpulan ini, HONG HWA HWE belum pernah berhubungan.

Kuatir Hi Tong bentrok dengan orang-orang Liong Bun Pang, Thian Hong memerlukan datang mengunjungi ketua partai tersebut, jakni Siangkwan Ie San.

Menerima karcis nama dari Thian Hong, segera ketua Liong Bun Pang itu mengetahui bahwa kini dia tengah kedatangan pemimpin nomor tujuh dari HONG HWA HWE, jalah yang dijuluki orang kangouw sebagai Bu Cu Kat.

Ter-gopoh 2 dia keluar menyambut dan menanyakan maksud kedatangan tetamunya itu.

"Lama sudah kita kagumi sepak terjang yang mulia dari perkumpulan saudara. Sayang karena saudara bergerak di daerah Kanglam, jadi selama itu kita tak saling berhubungan. Kalau kami jumpakan Sipsu-tangkeh naik perahu di Hoangho, pasti akan kami sambut dengan hormat. Baiklah, nant i akan segera kukirim orang untuk menanyakannya,"

Demikian Siangkwan Ie San.

Nyata dia buktikan ucapannya.

Dihadapan Thian Hong, dia lalu perintahkan delapan orang untuk menyelidiki kesepanjang tepian Hoangho.

Begitu dapat berjumpa dengan Hi Tong, mereka harus segera membawanya ke Tongkwan.

Ketua Liong Bun Pang berlaku lepas tangan, untuk itu Thian Hong haturkan terima kasihnya.

Tapi ketika tuan rumah memintanya menginap dirumahnya, terpaksa Thian Hong menolaknya.

Sorenya Siangkwan Ie San mengadakan kunjungan balasan.

Untuk menghindari perhatian hamba negeri, sengaja Tan Keh Lok tak mau menemuinya.

Malam nya, Siangkwan Ie San mengadakan perjamuan besar untuk menjamu Thian Hong.

Semua orang kalangan persilatan daerah itu, sama diundang juga.

Ternyata kaum persilatan dikota Tongkwan banyak sekali yang sudah kenal dengan Ciu Tiong Ing.

Mengetahui bahwa Thian Hong adalah anak menantu dari ketua persilatan daerah Se-pak yang kesohor itu, mereka makin menghormat.

Tapi diantara para undangan itu ada juga yang kasak-kusuk, Bu Cu Kat yang namanya begitu kesohor dikangouw itu, kiranya hanya seorang yang pendek kurus lagi lemah nampaknya.

Tapi demi memperhatikan sikap dan gerak-gerik Thian Hong yang keren itu, timbul ah perindahan mereka.

Keesokan harinya, kembali Siangkwan Ie San datang ke hotel.

Dia memberitahu bahwa orang-orang itu tak berhasil ber jumpa dengan Hi Tong.

Tetapi memperoleh juga sedikit pengunyukan.

Buru-buru Thian Hong meminta keterangan.

"Menurut keterangan saudara-saudara diperairan sungai, karena pemerintah mau mengirim rangsum berjumlah besar pada pasukannya yang ngeluruk perang kedaerah barat, maka di sungai penuh dengan perahu 2. Mungkin Ie-sip-suya terhalang perjalanannya."

Lega hati Thian Hong dibuatnya.

Tak lupa ia haturkan terima kasih atas bantuan ketua Liong Bun Pang itu.

Ma lamnya, lagi-lagi Siangkwan Ie San datang kehotel dengan membawa keterangan 2 penting.

Menurut laporan beberapa orang Liong Bun Pang, pada sepuluh hari jl.

diwarung arak 'Cui Sian Lauw' yang terletak dijalan BengCin, telah terjadi suatu peristiwa.

Seorang yang wajahnya seperti SiuCay telah berkelahi dengan orang, sehingga warung arak itu morat-marit keadaannya.

"Ha, itu tentu Sipsute kita. Lalu bagaimana?"

Tanya Thian Hong dengan kaget.

"Telah kukirim orang untuk Cari keterangan, tapi belum kembali. Jadi belum diketahui jelas,"

Sahut Siangkwan Ie San.

"Banyak sekali terima kasih atas perhatian saudara Siangkwan itu,"

Kata Thian Hong.

Lalu diperkenalkan kepada Tari Keh Lok, Bun Thay Lay, Lou Ping, Ciang Cin dan Ciu Ki.

Girang sekali sewaktu mengetahui bahwa ketua HONG HWA HWE ada datang juga.

Ke 2 ketua partai persilatan itu saling mengagumi.

"Ie-sipsute orangnya ber-hati-hati. Tentu tidak karena mabuk. Kalau sampai berkelahi tentu karena bertemu dengari musuhnya. Baik kita lekas ke BengCin saja", kata Keh Lok.

"Ya, malam ini juga kita kesana", sahut Bun Thay Lay.

"Kalau kalian akan ke Tong-kwan, aku sebagai tuan rumah, seharusnya mengantarkan,"

Kata Siangkwan Ie San.

Melihat kesungguhan orang, Keh Lok tak menolak.

Dengan membawa 2 orang pembantu, Siangkwan Ie San berkuda ikut ke BengCin.

Lagi-lagi Bun Thay Lay mendahului rombongannya.

Kuda putih tunggangannya itu telah meninggalkan Kawan-kawan nya sejauh ratusan li.

Tak lama kemudian dia tampak mendatangi balik.

"Telah kuCari keterangan di 'Cui Sian Lauw', memang benar terjadi hal itu. Lawan Sipsute adalah seorang hartawan, Sun-taysanyin, begitu panggilannya. Dan beberapa opas dari kantor kabupaten,"

Tutur Thay Lay.

"Aneh Sun-taysanyin sudah berusia enam0 tahun lebih. Orang nya baik, mengapa bisa berkelahi?"

Ujar Siangkwan Ie San.

"Lalu bagaimana?"

Tanya Keh Lok.

"Selanjutnya pemilik warung arak itu tak mengetahui jelas,"

Jawab Bun Thay Lay.

Tan Keh Lok ajak rombongan Cepat-cepat teruskan perja lanannya.

Kira-kira 2 jam kemudian, sampailah mereka ke BengCin.

Siangkwan Ie San langsung menCari pemilik Cui Sian Lauw.

Tersipu-sipupemilik warung arak itu menyambutnya, karena mengetahui Siangkwan Ie San adalah ketua Liong Bun Pang.

Namun keterangannya, tak ubah seperti yang diberikan pada Bun Thay Lay itu.

Hanya dia juga kasih tunyuk bekas 2 senjata pada langkan dan tembok, akibat perkelahian itu...............

Kini kita kembali pada Hi Tong.

Sewaktu jari Pek Kian akan mengenakan ke 2 mata Hi Tong, tiba-tiba Haphaptai tarik baju Pek Kian, terus disentakkan kebelakang se kuat 2nya, hingga sampai terjuntak mundur beberapa meter.

Pek Kian bukan seorang yang lemah.

Secepat-cepat kilat dia tebaskah tangannya kebelakang, plak !

Tangan kanan Haphaptai dirasakan sakit sekali, maka pegangannya Buru-buru dilepaskan.

Ke 2nya serentak mengambil sikap untuk bertempur, Sam Junpun segera siap dengan sat-Ciat-kun, dan berdiri disisi Suhengnya.

It Lui kaget.

Cepat-cepat dia loncat ketengah, sambil goyang kan senjatanya berseru.

"Kita adalah sahabat sendiri, jangan berCidera!"

"Kalau kau mau balas sakit hati, tunggulah sampai urusan kita selesai. Pergilah Cari sendiri, kitapun takkan membantu siapa-apa. Sekarang ini tak boleh kau berbuat sesukanya,"

Kata Haphaptai pada Pek Kian.

It Lui Cukup kenal watak yang terus terang dari Sutenya itu.

Sekali berkata, tak mudah berubah.

Meski dia tak setuju sikap Sutenya itu, tak mau dia unyuk dimuka lain orang demi menghindari Cemohan orang, kalau 2 dikatakan Kwan-tong Liok Mo itu tidak bersatu.

Maka diapun diam saja.

"Baik. Nanti pada suatu hari pasti akan kuperlihatkan sepasang biji matanya padamu!"

Kata Pek Kian kemudian.

"Nah, itu bagus. Selamat berjumpa lagi,"

Sahut Haphaptai.

Ketiga orang dari Kwantong Liok Mo itu segera membawa pergi Hi Tong dengan tangan terikat.

Pek Kian totok jalan darah penyedar dari muridnya.

Dia tak puas dengan kesudahan itu.

Diam-diam dia ajak Sute dan ke 2 muridnya menguntit.

Lohor It Lui cs.

sampai di BengCiu.

Mereka Cari rumah makan untuk tangsel perut.

Rumah makan itu gedungnya besar dan mewah sekali.

Empat huruf "Cui Sian Ciu Lauw,"

Warung arak dewa mabuk, menghias papan yang tergantung didepan.

Setelah pesan beberapa daharan, Hi Tong diajaknya makan bersama.

Baru saja menegak beberapa Cawan, tiba-tiba dari titian loteng terdengar derap kaki orang mendatangi.

Beberapa hamba polisi, tujuh delapan orang jumlahnya, muncul bersama seorang tua yang berpakaian luar biasa resiknya.

Orang tua itu memesan banyak sekali macam hidangan untuk men jamu orang-orang polisi itu.

"Sun-loya,"

Demikian orang-orang polisi itu memanggil siorang tua.

Luar biasa mereka menghormat dan merendah.

Mungkin orang tua itu adalah hartawan yang kenamaan dari kota itu.

Tak berapa lama, datang lagi 4 orang.

Kini wajah Haphaptai berobah.

Itulah rombongan Gian Pek Kian berempat.

Hi 'Tong pura-pura tak melihat.

Dengan tenang dia menikmati araknya.

"Lo Su, maksud kita masuk kedalam perbatasan, adalah untuk menCari balas buat Lo Sam. Tapi mengapa kau melindungi musuh. Kukuatir dialam baka, Lo Sam akan salahkan padamu,"

Kata It Lui kepada Haphaptai.

"Apanya yang kulindungi musuh. Dia seorang laki 2 sejati, aku kagum, serta tak idinkan orang bermain Curang. Kalau nantinya ternyata dia adalah musuh kita yang sebenarnya, akulah yang per-tama 2 akan membunuhnya,"

Haphaptai memberi kepastian.

"Dari sini ke HangCiu masih jauh sekali, mereka .........,"

Berkata sampai disini Kim Piauw jebikan bibir kearah rombongan Pek Kian.

"seperti Anjing, tetap membuntut saja. Biarkan saja dia menCukil matanya, mengurangi risiko penjagaan kita."

Namun orang Mongol itu tetap tak setuju.

Ketiganya mulai berbantahan.

Haphaptai terdesak sendirian, kalah suara.

Dia masih sungkan dengan It Lui, sang Toako.

Tak mau dia berbantahan lebih lama lagi.

Dia berbangkit dengan muka kemerah-merahan.

Tanpa memakan daharannya lagi, dia terus langkahkan kaki dan berlalu.

Kim Piauw Buru-buru akan menariknya, tapi sekali tangan Haphaptai mengibas, dia hampir sempoyongan.

Itulah kepandaian istimewa Haphaptai dalam ilmu bergumul Cara Mongol.

Sejak kecil dia gemar belajar permainan itu.

Cukup dengan gerakan tangan se-enaknya, tenaganya luar biasa kuat nya.

"Lo Ji, jangan hiraukan dia. Emangnya dia beradat kerbau. Kau jaga saja orang ini,"

Seru It Lui. Kim Piaw keluarkan sebuah badi 2, disembunyikan dibalik lengannya. Dia membisiki Hi Tong.

"Kalau kau berani lari, akan kuCincang tubuhmu!"

Hi Tong tak ambil pusing.

It Lui menghampiri kemeja Pek Kian, dan menegurnya.

Sepeninggal Haphaptai, Hi Tong merasa terancam bahaya.

Secepat-cepat kilat terkilas dalam pikirannya suatu akal.

Pada saat itu pelayan datang membawa semangkuk besar kuah ikan keluaran sungai Hoangho yang masih panas sekali.

Sambil minum seteguk, berkatalah Kim Piauw.

"Lo Toa, kuah ini sedap sekali, Ayo kita gasak!"

Hi Tong ulur senduknya, turut menyumput.

Tiba-tiba tangannya menyentuh pantat mangkuk, hingga mangkuk itu terbalik, tepat menyiram muka Kim Piauw.

Sudah barang tentu, hidung dan mata orang she Ku itu seperti tersiram air mendidih.

Sakitnya jangan ditanya.

Dia me-ngiang 2 kesakitan.

Tanpa tunggu sampai orang sudah baik lagi, Hi Tong balikkan meja.

Seluruh masakan dan mangkuk piring, tumpah menimpah tubuh Kim Piauw.

Karena matanya masih belum dapat melek, keruan saja Kim Piauw tak dapat menghindar.

Seluruh tubuhnya basah kujup disiram kuah panas.

It Lui dan Pek Kian Buru-buru menghampiri untuk memberi pertolongan.

Tapi kembali Hi Tong jumpalitkan sebuah meja lagi untuk menghalangi.

Telah diperhitungkan Hi Tong sekalipun dapat lolos, tak nanti bisa lari jauh, tentu tak urung akan tertangkap mereka lagi.

Jalan satu 2nya, dia harus dapat menCari tempat berlindung, sampai nanti datang pertolongan.

Tempat yang paling aman, jakni dalam rumah penyara negeri.

Keadaan rumah makan itu hiruk-pikuk tak keruan.

Tetamu yang bernyali kecil, siang 2 sudah ter-birit 2 panjang kan langkah seribu.

Hamba 2 polisi gunakan rujung besi untuk menghentikan kerusuhan itu.

Sekonyong-konyong Hi Tong melayang kemuka si Sun-loya itu.

"Plak", tangannya menampar mulut si Sun-loya. Hanya ribuan bintang berhamburan yang dilihat oleh Sun-loya, matanya berkunang-kunang, terus numprah jatuh dilantai. Hi Tong jambak jenggot Loya itu, lalu diangkat naik. Bukan main terkejutnya kawanan hamba negeri itu. Tersipu-sipumereka menyerbu untuk menolongnya. Hi Tong kempit Sun-loya, lalu lambaikan tangan kearah It Lui, serunya.

"Lo Toa, Lo Ji, lekas kemari, aku memperoleh hasil. Lekas gebah 'Cakar alap-alap' yang menyebalkan itu!"

Polisi mengerti kini. Kiranya kawanan perusuh itu hendak menCulik Sun-taysanyin.

"Bangsat yang bernyali besar!"

Demikian beberapa hamba negeri itu berseru, Cabut senjatanya masing-masing terus maju menyerang It Lui.

It Lui tak pandang sebelah mata pada kawanan polisi itu.

Tapi BengCin adalah kota besar.

Dalam sekejap saja pasukan pemerintah dapat didatangkan dengan serentak.

Hal itu sangatlah berbahaya.

It Lui mengupat CaCi Hi Tong dengan siasatnya yang licik itu.

Dia Cepat-cepat ajunkan kaki menendang roboh seorang polisi yang akan menyerang dengan goloknya.

Dia tarik Kim Piauw terus diajak lari.

"Kita adalah orang pemerintah, akan menangkap penya hat!"

Seru Pek Kian keras-keras.

Tapi dalam suasana sekacau itu, seruan itu tak kedengaran.

Pada lain saat, Sam Jun telah gerakkan sam-Ciat-kun-nya robohkan seorang polisi.

Lain-lain hambanegeri itu terus ber-suit 2 keras, memanggil bantuan.

Suara genderang dibunyikann dari tempat agak jauh.

Barangkali suatu pasukan besar tengah mendatangi.

"Phang-sute, lekas lari!"

Seru Pek Kian pada Sutenya.

Suhu dan murid berempat, lari turun loteng.

Kawanan hamba negeri tak dapat menahannya.

Hanya ssorang penga Cau yang dapat dibekuk dan terus dirantainya.

Atau lebih tegas memang sengaja menyerahkan diri, karena dia bukan lain jalah Hi Tong.

Diluar kota BengCin, Pek Kian berempat menCari tempat yang sunyi.

Panjang lebar Sam Jun memaki.

Hi Tong, karena merasa dipedayai mentah 2.

"Kurasa penyara dikota BengCin itu, tak seberapa ko kohnya. Nanti malam kita satroni kesana. Kita Culik bangsat itu, lalu kita siksa dia se-puas 2nya", Pek Kian nyatakan pikirannya. Sam Jun paling jeri terhadap pembesar negeri. Dengar akan didayak merampok penyara, dia ragu-ragu. Namun akan membantah Suhengnya, diapun sungkan. Jam tiga malam, dengan memakai kedok muka, mereka me nuju kedalam kota. Selama itu Sam Jun selalu berada dibelakang sendiri. Memang dia sengaja memperlambat ja lannya. Tahu juga Pek Kian kalau Sutenya itu mau karena terpaksa, diapun tak mau terlalu mendesaknya. Tatkala mendekati penyara, sekonyong-konyong ada sebuah bayangan berkelebat. Ternyata seseorang telah mendahului mereka. Gerakannya gesit sekali.

"Awas, waspadalah!"

Pek Kian peringatkan ke 2 murid nya. Setelah loncat keatas tembok per.jara dan berjalan masuk, tiba-tiba ada suara bisik-bisik dari arah belakang.

"Saudara Gian-kah itu?"

Pek Kian putar tubuh secepat-cepat nya. Kiranya itulah It Lui dan Kim Piauw yang mendatangi.

"Kita bersama datang untuk maksud yang sama, itulah bagus,"

Kembali It Lui berkata.

"Yangan biarkan dia enak 2. Kasih dia tahu rasanya orang disiksa,"

Ujar Kim Piauw. Memang pada tempatnya kalau orang she Ku ini begitu penasaran sekali, karena seluruh air niukanya melepuh tersiram kuah panas.

"Kita ber 2 yang melayani kawanan hamba negeri. Sdr. Gian berempat yang rampas anak keparat itu,"

Kata It Lui.

Pek Kian mengiakan, dan mereka berenam lalu bertindak masuk.

Balik pada Tan Keh Lok dan Siangkwan Ie San yang menanyakan keterangan pada pemilik rumah makan Cui Sian Ciu Lauw, ternyata orang itu tak dapat memberikan keterangan apa-apa lagi.

Dia hanya mengetahui sampai pada waktu Hi Tong diborgol dan dibawa pergi polisi.

Mendengar itu, Keh Lok malah lega.

Karena sekalipun mendapat hukuman mati, vonnis dari pemerintah, juga makan waktu yang lama.

Dia mengajak Ie San mengun jungi Sun-tay-sanyin.

Sun-taysanyin adalah hartawan yang paling kaja dari BengCiu.

Sawah, rumah 2 miliknya tak terhitung jumlahnya.

Dia kejam sekaker, memeras dan menjadi lintah pengisap darah rakyat.

Banyak sekali nian perbuatannya yang tak kenal perikemanusiaan itu.

Setelah tua, dia berganti siasat.

Dia banyak sekali menghamburkan uang supaya mendapat nama baik.

Karena kerojalannya itu, dia digelari orang "Sun tay-sanyin,"

Sun-taijin yang murah hati. Tapi didesanya, orang-orang tetap men julukinya sebagai "Sun-pok-bi"

Atau Sun sipemeras.

Mendapat' kunjungan dari Siangkwan Ie San bersama seorang Kongcu she.

Liok (nama samaran Tan Keh Lok), ber-debar 2 hati Sun-taysanyin itu.

Tapi Cepat-cepat dia ambil putusan.

Kalau ketua Liong Bun Pang itu butuh uang, dia akan memberinya, untuk menghindari bahaya gangguan.

Tapi ternyata.

bukan itu yang diminta Ie San.

Setelah berCakap 2 sebentar, dia tanyakan soal SuCay yang membuat gaduh di Cui Sian Ciu Lauw itu.

Sun "tay-sanyin"

Makin terkejut. Katanya tersipu-sipu.

"Orang yang sudah setua aku ini, sekali-kali tak berani me nyalahi orang. Kalau ada sahabat Kangouw yang membutuhkan apa-apa, tentu dengan sekuat-kuatnya akan kubantu,"

Ujar hartawan itu.

"SiuCay itu masih terhitung sanak jauh dari Siaote. Entah mengapa bisa berkelahi dengan Sun-loya?"

Tanya Ie San.

"Benar-benar aku sendiri tidak mengerti. Melihat sikap mereka, rupa 2nya aku akan diCuliknya,"

Kata orang she Sun itu. Lebih jauh dia menambahkan pula.

"Meskipun diluaran hengte ini ada sedikit nama, tapi beberapa tahun ini betul-betul payah. Panenan banyak sekali yang gagal, tapi ongkos-ongkos tetap besar. Makan nganggur, tanpa mendapat hasil. Sahabat 2 Kangouw mengira kalau aku ada uang, tapi hal yang sebenarnya bukan demikian keadaannya."

Mendengar orang terus 2an mengeluh soal uang, Tan Keh Lok kuatir orang menduga keliru maksud kedatangannya itu. Tentu dikira akan memeras.

"Ie-sipsute mana bisa berserikat dengan orang akan men Culiknya. Tentu ada sebab lainnya. Dan mengapa polisi BengCiu dapat menangkap Sipsute, apakah disini ada orang nya yang lihai?"

Diam-diam Tan Keh Lok menduga.

"Minta supaya Sun-loya membawa kita tengok SiuCay itu ke penyara,"

Katanya kepada Siangkwan Ie San.

"SiuCay itu malamnya telah dirampas orang dari penyara. Apakah ji-wi tidak mendengarnya,"

Buru-buru siorang she Sun berkata.

Makin heran Tan Keh Lok.

Dia memberi isyarat kepada Siangkwan Ie San untuk pamitan.

Diluar tampak banyak sekali kawanan polisi mondar mandir kian kemari.

Kesibukan itu menunyukkan bahwa keterangan orang she Sun itu tidak justa.

Siangkwan Ie San ajak tetamunya ketempat salah seorang thauwbak Liong Bun Pang yang tinggal dikota tersebut.

Seorang dikirimnya untuk menCari kabar.

Benar juga SiuCay perusuh itu malamnya dirampas orang dari penyara.

Malah kawanan perampas itu melukai beberapa penjaga penyara.

Keh Lok rundingkan peristiwa aneh itu dengan Thian Hong.

Tapi sampai sekian lama, mereka tak dapat menarik kesimpulan.

Sehabis makan malam, mereka menuju keru mah penyara.

Tiba-tiba Lou Ping berseru girang sembari me nunyuk kearah kaki tembok.

Melihat itu semua orang tampak gembira, keCuali Siangkwan Ie San dan Ciu Ki yang tak tahu sebabnya.

"Inilah tanda-tanda yang ditinggalkan Sipsute. Katanya, dia dikejar musuh, dan sekarang lari kearah barat,"

Menerangkan Thian Hong.

"Musuh? Tentulah pemuda yang menguntitnya itu", kata Ciang Cin.

"Kepandaian orang itu tak nempil dengan Sipsute, mengapa dia takut? Rasanya ada lain sebab", jawab Thian Hong.

"Ah, mari kita lekas-lekas susul dia", seru Bun Thay Lay. Berjalan sampai dipinggir kota, kembali tanda-tanda itu terdapat pada sebuah pohon. Hanya saja kini tulisannya kacau sekali, terang kalau dalam bahaya. Mereka perCepat-cepat jalan nya. Pada persilangan jalan yang menyurus kesebuah gunung, diketemukan lagi tanda-tanda itu. Terang kalau Hi Tong lari kearah gunung. Bun Thay Lay dan Ciang Cin terus keprak kudanya kearah gunung. Disepanjang jalan, banyak sekali sekali melihat tanda-tanda yang ditinggalkan Hi Tong. Tapi makin lama makin tak keruan tulisannya! Malah ada yang hanya sebuah guratan saja. Ciang Cin mengerang, makin Cepat-cepat mencongklang kudanya. Pada sebatang pohon, dia menCabut sebatang anak panah. Pada saat itu, Bun Thay Lay dan Thian Hong pun sudah tiba! Bagi ke 2nya yang sudah lama berkelana di kangouw, tahulah dengan segera, bahwa panah itu adalah senjata rahasia dari Gian-keh-kun di TinCiu, Ouwlam.

"Oh, jadi yang mengejar Sipsute itu adalah sibangsat Gian Pek Kian", kata Bun Thay Lay dengan gusarnya. Sesaat itu kembali Lou Ping dimana semak 2 menemukan beberapa batang anak panah. Sedang Ciu Ki tiba-tiba berteriak seraya menunyuk ketanah. Kiranya disitu terdapat CeCeran darah. Menuruti bekas darah tersebut, melintasi semak 2, tibalah mereka kesebuah gua. Gua itu kecil lagi sempit, hanya tiba Cukup unntuk dimasuki satu orang. Dipinggir gua sana-sini bertebaran ber-macam 2 senjata rahasia. Anak panah, piauw, hui-Hui dan lain-lain. Suatu pertanda bagaimana hebat Hi Tong dirabu musuh 2nya. Semua orang sama menguatirkan nasib anak muda itu. Thian Hong dan Bun Thay Lay anggap kesemuanya senjata rahasia itu banyak sekali terdapat dikalangan persilatan. Hanya satu yang agak aneh, jakni yang dinamakan "siao-kong-jah"

Semacam piauw kecil berbentuk seperti garpu.

Ahli silat yang menggunakan senjata rahasia itu, jarang ada.

Entah siapa orangnya.

Menilik macam senjata rahasia yang terdapat disitu, sekurang-kurangnyanya pengerojok Hi Tong itu ada lima orang.

Kembali bercerita tentang Hi Tong, sewaktu It Lui, Kim Piauw dengan rombongan Pek Kian memasuki halaman ruang penyara, mereka akan Cari seorang penjaga untuk ditanya keterangannya.

Tiba-tiba kaki Thian Po kesandung sesuatu benda, hampir-hampir dia jatuh.

Setelah diperiksanya, ternyata benda itu adalah tubuh seorang penjaga penyara yang dengan tangan dan kaki terikat, tengkurap dilantai.

Mulut nya disumbat kain, hingga tak dapat ber-kaok 2 keCuali matanya saja yang berjelilatan.

Jilid 26 K E T I K A kain penyumbat ditarik Pek Kian, ternyata kain itu adalah sehelai saputangan berkembang milik wanita.

"Lekas bilang dimana kamar SiuCay yang ditahan siang tadi,"

Pek Kian menghardik sipenjaga.

"Sedikit saja kau berteriak, tentu kubunuh!"

Penjaga itu gemetar saking takutnya.

"Di ......... disana ...... kamar ...... nomor ...... tiga ,"

Katanya terputus-putus. Sekali tangan Pek Kian diajun, penjaga yang malang na sibnya itu putuslah jiwanya.

"Cepat-cepat , mungkin kita kedahuluan orang,"

Seru It Lui. Setiba dikamar tutupan, benar diugra mereka mendengar gerinCing suara besi beradu. Kim Piauw nyalakan api. Seorang berpakaian hitam kelihatan sedang berjongkok disisi Hi Tong.

"Awas, ada orang kemari!"

Bisik Hi Tong kepada orang itu. Siorang berbaju hitam tak mempedulikan. Makin keras dia menempa.

"Siapa itu?"

Tegur It Lui ber-bisik-bisik.

Sipakaian hitam mendadak loncat balik, sebagai jawab an dia menikam dengan pedangnya.

Begitu tangkas gerakan nya, sehingga berbareng dengan sinar berkelebat, tahu-tahu ujung pedang sudah didepan mukanya.

It Lui adalah orang kesatu dari Kwantong Liok Mo.

Sekalipun badannya gemuk, gerakannya sangat gesit.

Senjata orang-orang an berkaki satu, diajun untuk menangkis.

Sesaat itu tergetarlah tangan sipakaian hitam, kesemutan dan sakit rasanya.

Mengetahui berhadapan dengan lawan yang besar tenaganya, dia tak berani menyerang.

Kini dia membaCok Thian Seng, begitu yang tersebut.

belakangan ini menghindar ke samping, orang itu terus menobros keluar.

"Yangan mengejar, ambil dia (Hi Tong) lebih penting,"

Seru Pek Kian. Karena berisik, seluruh penjaga rumah penyara sama bangun, ketika diketahui ada orang merampok orang tahanan, mereka menjadi kacau. It Lui menghadang dipintu, tenang 2 dia berseru.

"Lekas kerjakan, biar aku yang menahan mereka!"

Cepat-cepat Pek Kian dan Kim Piauw mengeluarkan gergaji.

Tak berapa lama borgolan kaki dan tangan Hi Tong terputus.

Pek Kian menotok jalan darah Hi Tong, lalu bersama Sam Jun menggotongnya keluar.

Kawanan penjaga semua dapat dihajar It Lui dengan senjata orang-orang an itu.

Mereka jeri, tak berani menyerang maju, hanya ber-teriak 2 saja.

Kim Piauw membuka jalan, Thian Po dan Thian Seng yang mengawal dibelakang.

Hi Tong dapat digotong keluar melalui tembok penyara.

Tapi diluar ternyata sudah siap menunggu sebuah pasukan besar dari tentara Ceng.

Segera mereka maju mengepung.

Kim Piauw, Pek Kian dan Sam Jun melawan kearah tiga jurusan.

Mereka segera dapat merobohkan beberapa orang.

Tapi karena ditilik oleh pembesarnya, kawanan serdadu itu tak berani mundur.

Selagi suasana begitu gaduh, tiba-tiba dari arah sudut tembok sana, loncat keluar sebuah bayangan hitam, siapa langsung menghampiri Hi Tong.

Thian Seng Coba menghadangnya, tapi sekali tangan orang itu mengibas, dada Thian Seng terasa sakit sekali.

Entah terkena benda apa, yang nyata, saking sakitnya, dia tak tahan lalu mendumprah jatuh.

Melihat Sutenya terluka, Thian Po kaget.

Belum hilang rasa kagetnya, tahu-tahu orang itu sudah menarik Hi Tong, dibawa pergi.

Pek Kian berlaku ajal.

Dua ujung tombak musuh hampir menusuk dadanya.

Cepat-cepat dia angkat kong-hwannya untuk menangkis.

Begitu tombak terdampar keatas, dia maju merapat, sekali konghwan ditangan satunya disabetkan, pundak penyerangnya itu remuk patah.

Darah segar menyembur dari mulutnya.

Kawannya ngeri, terus angkat kaki seribu.

Sewaktu Pek Kian berpaling, ternyata orang itu telah le nyap bersama Hi Tong.

Namun Hi Tong tak mau bergegas 2 lari.

Lebih dulu dia menggurat beberapa tulisan di tanah.

Pek Kian dapat memburunya.

Tapi segera disambut dengan baCokan pedang oleh orang itu.

Pek Kian tangkis kan konghwannya, tapi gerakan orang itu luar biasa sebat nya, tahu-tahu sudah ganti gerakan lain.

Bertempur 2 jurus, Hi Tong berhasil merampas seekor kuda dari seorang serdadu.

Sekali Cemplak, dia berseru keras dan menerjang Pek Kian.

Pek Kian Buru-buru menyingkir kepinggir.

Hi Tong segera samber tubuh orang yang menolongnya tadi keatas kudania.

lalu kaburkan diri kearah barat.

Itu waktu It Lui sudah loncat keluar tembok penyara.

Demi dilihatnya Hi Tong lolos, dia maki-maki Pek Kian dan ke 2 muridnya itu sebagai orang yang tak berguna.

"Lekas kejar!"

Serunya.

Sam Jun dan Thian Po dengan menunjang Thian Seng, mengikuti arah larinya Hi Tong.

Dibelakang, mereka dike jar kawanan polisi.

Tapi karena mereka sudah terlatih dalam sekejab saja, hamba negeri itu jauh ketinggalan dibelakang.

Pun saking jeri, polisi 2 itu tak berani mendekati, apalagi setelah ketinggalan jauh, mereka lalu kembali.

Selama melakukan pengejaran itu, dapatlah diketahui kepandaian masing-masing orang.

It Lui jauh muka.

Kim Piauw terpisah tak berapa jauh.

Tapi Pek Kian ketinggalan dibelakang.

Lebih 2 Sam Jun bertiga, jangan ditanya lagi.

Memang tak keCewa It Lui menjadi orang kesatu dari Kwan-tong Liok Mo.

Sekalipun dia itu hidup mewah, tapi sehari pun tak pernah melalaikan latihannya.

Malah makin hari makin sempurna.

Dalam hal keCepat-cepat an jalan, dia menye rupai kuda lari pesatnya.

Karena jalan disepanjang lereng gunung tak leluasa, apalagi membonCengkan orang, maka tak berapa lama, It Lui dapat menyusulnya.

Tahu dikejar musuh, Hi Tong memilih jalan yang ber-biluk 2.

Namun It Lui selalu dapat menyusulnya.

Karena gelap, tiba-tiba kuda Hi Tong terperosok kakinya kedalam sebuah liang.

Mendeklok dengan kepalanya tersentak kemuka, hingga seperti melempar penumpangnya kebawah.

Dengan berjumpalitan, Hi Tong dapat tanCap kakinya diatas tanah.

Orang tadi Coba tarik les kuda supaya berdiri lagi, tapi binatang itu tetap mendumprah ditanah.

Ternyata kakinya telah patah.

Cepat-cepat orang tadi loncat turun, lalu ajak Hi Tong menyelinap kedalam semak 2 pohon.

Tak jauh berjalan, mereka menampak sebuah gua kecil.

Kesitulah mereka bersembunyi.

"Li-sumoay, kali ini lagi-lagi kaulah yang menolong aku,"

Hi Tong mengelah napas.

Kiranya penolongnya itu ialah Li Wan Ci, orang yang selalu menguntit perjalanan Hi Tong, Sewaktu tak kelihatan Hi Tong berada dalam rombongan Tan Keh Lok, nona yang Cerdas itu, segera tahu bahwa Hi Tong tentu mengambil jalan disungai.

Menyusur sepanjang pantai, kebetulan ada rombongan perahu tentara yang angkut rangsum, maka dengan selamat tibalah ia dikota BengCin.

Wan Ci masih menyaru sebagai anak laki 2.

Dia mampir kesebuah rumah makan untuk Cari keterangan.

Sana sini ramai orang membicarakan peristiwa seorang SiuCay berkelahi dengan Sun-taysanyin.

Malamnya berkunjunglah ia kepenyara.

Penjaga bui yang diringkus itu, dialah yang me lakukannya.

Dapat menolong Hi Tong, adalah suatu kebahagiaan bagi Wan Ci.

Walaupun menghadapi bahaya, ia tak gentar.

Di suruhnya Hi Tong beristirahat, ia sendiri yang menjaga di mulut gua.

Seruling Hi Tong telah dirampas Kim Piauw.

Duduk diatas tanah, dia memandang bayangan Wan Ci.

Rasa terima kasih memenuhi rongga dadanya.

Saat itu angin dingin mengembus, tubuh Wan Ci agak menggigil, rupanya tak tahan hawa dingin.

Hi Tong lepas jubahnya, lalu dipakaikan ketubuh Wan Ci.

Sejak berkenalan dengan Sukonya itu, barulah pertama kali ini Wan Ci menampak sang Suko mengunjuk kan sedikit perhatian padanya.

Tanpa terasa ia berpaling dan un-juk senyumannya.

Sesaat itu tubuhnya dirasakan hangat.

Baru saja Wan Ci hendak mengucap sesuatu, tiba-tiba terdengar suara mendesing.

Sebatang anak panah melayang datang.

Wan Ci terbenam dalam kegirangan, lupa ia bahwa bahaya masih tetap menganCam.

Sebat sekali Hi Tong dorong tubuh sinona kesamping, dan dengan sebelah tangan yang lain dia sanggapi anak panah itu.

Karena didorong, Wan Ci jorok kedalam, hampir-hampir ia terbentur karang.

Tapi secepat-cepat itu juga tangan Hi Tong telah menariknya kembali.

Dalam kegelapan, tubuh Wan Ci telah tertarik nampel kedada sianak muda.

Wan Ci menjerit dengan suara tertahan.

Merah selebar mukanya.

Ia rasakan tubuhnya menjadi hangat, karena da rahnya tersirap.

"Sumoay, awas senjata gelap!"

Bisik Hi Tong. Berbareng itu, kembali ada sebuah hui-hong-Ciok (piauw batu berbentuk belalang) melayang masuk. Wan Ci berkelit sambil menyang gapinya.

"Bangsat, lekas keluar! Jangan sampai tuan besar turun tangan!"

Kedengaran orang berseru diluar gua.

Saat itu, beberapa bayangan mendekati mulut gua.

Hi Tong pungut anak panah tadi, terus disambitkan keluar.

Terdengar suara seseorang mengerang kesakitan.

Itulah Sam Jun yang menerima bagian.

Sekalipun sudah diketahui per sembunyiannya, tapi It Lui cs.

tak berani terus mendesak.

Musuh berada ditempat gelap, sedang mereka ditempat terang, mudah diCelakai.

Jalan satu 2nya, mereka menghu-jani mulut gua itu dengan berbagai senjata rahasia.

Hi Tong dan Wan Ci rapatkan diri kesisi dinding gua.

Tubuh mereka saling merapat satu sama lain.

Tak mau mereka tinggal diam, dipungutinya senjata-nyata rahasia yang dilempar musuhnya itu Apabila mereka berani memasuki mulut goa, pasti akan disambutnya dengan hangat.

Menempel pada tubuh Sukonya, walaupun tengah menghadapi bahaya, tapi Wan Ci rasakan saat-saat itulah yang dirasakan paling bahagia dalam hidupnya.

Didalam gua ha wanya lembab lagi kotor.

Diluar gua musuh siap menerkam nya.

Tapi bagi nona itu, kamar yang menyiarkan bau harum dalam gedung panglima, masih kalah bahagianya dengan ruang sempit gua itu.

Sebaliknya Hi Tong waktu itu tengah berpikir keras untuk Cari jalan lolos, tapi tak berhasil.

Tahu dia kalau Sumoay nya itu seorang nona yang Cerdas dan banyak sekali akal, maka katanya.

"Ah, bagaimana daya kita untuk lolos?"

"Pe*rlu apa sih mesti Cape 2. Mereka kan tak dapat me nyerbu masuk,"

Wan Ci tertawa.

"Kalau hari sudah terang tanah bagaimana?"

Hi Tong kelihatan kuatir. Mendengar Sukonya kelihatan gugup, tertawalah sinona.

"Baiklah, kupikirkan suatu daya ......... he, awas senjata rahasia!"

Hi Tong Cepat-cepat mundur tubuhnya.

Sebuah 'siao-kong-jah' menai Cap didekat kakinya.

Kim Piauw benci tujuh turunan kepada Hi Tong.

Setelah berturut-turut menimpuk 2 buah siao-kong-jah.

dia putar senjata lak-houw-jah-nia, untuk melindungi mukanya, lalu menyerbu kemulut gua.

Melihat musuh akan mengganas itu, Wan Ci kibaskan tiga batang jarum hu-yong-Ciam.

Jarum itu halus sekali, pula ditempat yang gelap.

Syukur kepandaian Kim Piauw Cukup tinggi, dan kepandaian menimpuk sinona masih belum sempurna, maka Cepat-cepat orang she Ku itu telusupan kepalanya kebelakang.

Dua batang mengenai tempat kosong, tapi yang sebatang menyusup pada rambutnya, sedikit mengenai kulit kepalanya.

Meskipun demikian, Cukup membuat Kim Piauw sakit meringis.

Teringat bahwa senjata jarum begituan keba nyakan mengandung raCun, dia ber-debar 2.

Buru-buru dia me nyingkir, lalu menCabutnya.

Karena darah pada jarum itu ternyata tidak berwarna hitam, legalah hatinya, karena terang jarum tak beraCun.

It Lui minta lihat jarum itu.

Sekali pandang, dia meng gerang 2 seperti kebakaran jenggot.

"Batok kepala dari Lo Sam itu, juga terdapat jarum macam ini. Jadi yang membinasakan dia teranglah bangsat ini juga!"

Demikian teriaknya murka.

Ketika Ciao Bun Ki binasa oleh jarum dari Hwi Hing, tulang rangkanya baru beberapa tahun kemudian diketemu kan dalam lembah gunung.

Pada tulang batok kepalanya terdapat beberapa batang jarum tersebut.

Itulah karena, sekalipun jarum 2 itu sebagian besar sudah diCabut keluar oleh Hwi Cing, tapi yang menyusup kedalam daging sukar diambil.

Kwantong Liok Mo menganggap sakit hati itu sebagai duri dalam daging.

Tapi Celakanya, yang dituduh membunuh adalah Hi Tong, baik pada Bun Ki dulu, maupun Kim Piauw yang dilukainya sekarang.

It Lui dan Kim Piauw mengumbar kemarahannya.

Mereka menyerang dengan hebat.

Namun karena jeri oleh senjata rahasia orang, tak berani mereka terlalu mendekati mulut gua.

"Mengapa kau hendak menyingkir dari aku? Apakah kau merasa sebal padaku?"

Demikian didalam gua Wan Ci me nanya Hi Tong dengan tertawa.

"Li-sumoay, mengapa kau mengucap begitu ? Nanti kalau sudah lolos dari bahaya ini, kita perCakapkan pula", kata Hi Tong. Wan Ci berdiam untuk sekian saat.

"Ya, waktu itu ten tunya kau akan tinggalkan pergi lagi,"

Katanya kemudian.

Hi Tong pun seorang manusia biasa.

Dia tergerak hatinya mendengar begitu mengharukan kata-kata sang Sumoay itu.

Tiba-tiba sebuah obor dilontarkan dari luar, Hi Tong kemekmek.

TarjBak olehnya bagaimana saju muka sinona yang berlinang 2 air mata itu.

"Wah, kita akan mati kesesakan napas,"

Katanya lalu.

Habis mengucap, ia maju menginyak obor.

Tapi senjata rahasia musuh lebat bagaikan hujan, terpaksa ia mundur lagi.

Tidak salah apa yang diduga oleh Wan Ci itu tadi.

Pek Kian San dan Thian Po lemparkan berbondong-bondong beberapa ikat rumput, kearah obor.

Asap bergulung-gulung memenuhi gua.

Hi Tiong dan Wan Ci ber 2, mulai batuk 2 terhimpit napasnya, obor padam, asap makin tebal.

Dalam keadaan itu, Wan Ci Segera mengambil keputusan.

"Yagalah mulut gua!"

Katanya seraya serahkan pedangnya kepada Hi Tong. Sedang ia sendiri lalu menyingkir kebelakangnya. Karena mendengar dibelakang ada suara pakaian dikibar 2kan, Hi Tong berpaling.

"He, jangan lihat kemari!"

Bentak Wan Cie.

Hati Hi Tong bergoncang hebat.

Diantara kepulan asap, dilihatnya Wan Ci sedang membuka pakaiannya.

Tapi tak sempat dia memikirkan, karena matanya tak putus-putusnya diganggu asap, hingga mengeluarkan air mata.

Sesaat kemudian, tampak Wan Ci menghampiri dan meminta kembali pedangnya.

"Pakailah ini!"

Serunya sambil lemparkan pakaian wanita itu, kepada sang suheng. Ingin Hi Tong menanya, tapi keburu dipegat oleh sinona.

"Ayo, lekas pakailah!"

Apa boleh buat, Hi Tong memakainya.

Setelah itu, sinona menyerahkan pula pedangnya.

Pada saat itu, asap menipis.

Tapi tiba-tiba kembali ada sebatang obor dilempar masuk.

Malah kali ini, lebih besar, sehingga mengeluarkan Cahaja terang.

"Kita terjang keluar berpencaran, sekali-kali jangan ikuti aku,"

Pesan Wan Ci, yang tanpa menunggu jawaban lagi, terus menobros keluar gua.

Hi Tong melengak, namun tak sempat ia mencegahnya......

Begituah hampir setengah harian Tari Keh Lok cs.

men-Cari 2 disekitar gua itu, mereka masih nampak adanya asap yang bergulung-gulung ke udara.

Mereka makin gelisah menyingkirkan nasib Hi Tong.

Saking gemasnya, Bun Thay Lay me remas 2 hanCur panah Pek Kian tadi.

"Sipsute Cukup Cerdas, kalau tidak ungkulan, tentu melarikan diri. Kita minta lagi bantuan Siangkwan-toako supaya mengirim beberapa orangnya lagi menCari kabar", kata Lou Ping. Siangkwan Ie San setuju, malah terus ajak pulang sekalian tetamunya itu. Setiba di BengCin, Siangkwan Ie San kerahkan semua orang-orang Liong Bun Pang. Asal ada orang asing, harus segera melapor. Selama itu, Bun Thay Lay yang paling kuatir sendiri Sam pai jauh malam, dia tak mau makan dan tidak tidur Thian Hong Coba memberi nasehat, tapi sia-sia. Itu waktu, Siangkwan Ie San masuk dengan meng-geleng 2 kan kepalanya.

"Tidak ada kabar apa-apa"

"Ah, masa dalam beberapa hari tak ada sesuatu yang men Curigakan?"

Tanya Thian Hong. Siangkwan Ie San Coba mengingat sejurus.

"Oh, ada seorang saudara kita yang melapor, bahwa digereja Po Siang Si disebelah barat kota, tiap hari ada orang ribut 2, mau membakar gereja itu, katanya. Tapi kurasa, hal itu tak ada sangkut pautnya dengan Sipsuya". Begitu juga pikiran semua orang. Hweshio dan kawanan pengungsi terbit CekCok, itulah hal yang biasa. Mereka tak dapat memikirkan daya apa-apa, keCuali mengambil putusan besok akan keluar dan menCari secara berpencaranya. Teringat akan besar pengorbanan Hi Tong kepada dirinya, Bun Thay Lay tak dapat memejamkan mata barang sesaat pun jua. Demi dilihatnya isterinya sudah tidur, dia terus bangun dan menyembat senjata, lalu loncat keluar dari jendela.

"Biar bagaimana akan kuCarinya lebih Cermat baru puas hatiku", pikirnya. Terus dia loncat keatas wuwungan. Keadaan diseputar itu sunyi senyap. Dengan gunakan ilmu berjalan Cepat-cepat , sekejap saja sudah dia berputar keempat penyuru dari kota BengCin. Tengah dia-masgul, tiba-tiba dili hatnya sebuah bayangan berkelebat lari kearah barat. Tim bul keCurigaannya, segera ia enjot tubuhnya menguntit. Dari tak berapa jauh, orang itu menepuk tangan. Dimuka sana jauh sekali, didengarnya balasan tepuk tangan. Bun Thay Lay tahu bahwa fihak sana besar jumlahnya, diam-diam ia menguntit dari sebelah belakang. Sampai diluar kota se belah barat, tanahnya lapang. Kuatir diketahui, Bun Thay Lay tak berani dekat 2. Kira-kira tujuh atau delapan li lagi, orang itu naik keatas karang dari sebuah bukit. DipunCak bukit itu, dari jauh tampak berdiri sebuah rumah. Tahu, sudah tempat yang pasti ditujunya, Bun 'Thay Lay berhenti dan sembunyi dalam sebuah semak 2. Ke tika ditegasinya, rumah itu ternyata sebuah gereja, dimana tiga huruf "Po Siang Si"

Tertulis dengan nyata. Bun Thay Lay mengeluh, karena sampai sekian lama dia buang 2 waktu.

"ternyata hanya mengikuti kawanan pengungsi dan Hweshio saja. Namun sudah terlanyur, tak apalah untuk melihat 2 kesana. Mungkin dapat membantu perCede raan mereka. Dia menghampiri kesamping gereja, dari situ terus loncat masuk, melalui jendela langsung menuju ke ruangan besar. Disitu didapatinya seorang Hweshio tengah berjongkok menghadap kearah patung. Nampaknya sedang menyampaikan doa. Tapi ketika Hweshio itu per-lahan 2 bangkit dan serentak berpaling, seketika serasa terbanglah semangat Bun Thay Lay. Kini balik kita tengok keadaan It Lui cs. yang sedang menunggu hasil pembakarannya pada gua tempat bersembunyi Hi Tong. Ketika mendadak dilihatnya ada seorang berjubah panjang dengan muka dibungkus lari keluar dari dalam gua, Buru-buru It Lui menghadangnya.

"Kim-tiok SinCai ada disini, beranikah kau mengejarku ?"

Seru orang yang berkedok itu.

Bagi It Lui, Kim Piauw dan Pek Kian, tujuan yang utama jalan hendak menangkap dan merobek-robek dada Hi Tong.

Tanpa hiraukan orang satunya yang masih berada dalam gua, mereka segera kejar simuka berkedok itu.

Ja kinlah mereka, itulah sianak muda tentunya.

Diantara ketiga orang itu, It Lui yang paling Cepat-cepat ilmu nya berlari.

Sekejab saja dia sudah berada dibelakang orang itu.

'Tok-ka-tang-jin' sekali diajunkan kemuka dalam gerak "tok-liong-jut-tong", naga berbisa keluar gua, dia hantam punggung orang itu.

Orang itu melejit kesamping sembari balas menggerakkan tangannya.

It Lui Buru-buru mundur, kuatir orang melepas jarum lagi yang lihai itu.

Orang itu bukan lain ialah Wan Ci adanya.

Dengan mengenakan jubah sianak muda, dia menobros keluar untuk memikat perhatian musuh 2nya.

Dengan begitu, dapatlah Hi Tong kesempatan untuk lari.

Sinona membekal tiga batang kim-Ciam.

Apabila musuh merangsek dekat, akan dihajar nya., Untuk senjata itu, ia boleh merasa berSyukur.

Karena It Lui sekalipun berkepandaian tinggi, tapi ditempat gelap seperti waktu itu, dia jeri juga akan jarum yang halus dan tanpa suara apa-apa itu.

Karenanya, dia mengejar agak jauh jaraknya.

Kejar punya kejar, sampailah mereka kekota BengCin.

Ketika itu sudah terang tanah, banyak sekali sudah orang-orang yang menuju kekota.

Nampak ada sebuah hotel yang sudah buka pintu, Buru-buru Wan Ci nyelonong masuk.

Seorang pelayan me nyambut, tapi belum dia keburu bertanya, Wan Ci telah mendahului memberikan sepotong perak, katanya.

"Lekas kasih aku sebuah kamar."

Perak itu ada tiga-empat tail beratnya, maka terkanCing lah mulut sipelayan, lalu menunyukkan Wan Ci sebuah kamar kosong.

"Nanti bila ada orang tagih hutang, bilang saja aku tak ada disini,"

Wan Ci memesan.

"Aku hanya akan tinggal semalam, uang kelebihannya untukmu."

"Yangan kuatir, aku tukang gebah penagih hutang,"

Sahut sipelayan. Baru saja pelayan itu keluar, It Lui cs menobros masuk.

"SiuCay yang masuk kesini tadi berada dimana, kita perlu ketemu,"

Tanyanya segera.

"SiuCay siapa?"

Balas tanya pelayan itu.

"Yang masuk kemari tadi,"

Menegas Pek Kian.

"Pagi ini belum ada orang masuk kehotel, mungkin kau orang tua, salah lihat,"

Berkeras sipelayan. Kim Piauw gusar, lalu akan menggaplok mulut pelayan tersebut., tapi Buru-buru diCegah It Lui dengan membisikinya.

"Semalam kita habis merampok penyara, tentunya masih menggoncang kan, jangan timbulkan urusan lagi."

"Baiklah. Kita akan periksa satu persatu kamar hotel ini, nanti akan kita tunyukkan padamu,"

Kata Pek Kian dengan mendongkol. ' "Aduh, lagakmu begitu garang, agaknya menyerupai sanak raja saja?"

Mengejek pelayan itu.

Mendengar ribut 2 itu, sipemilik hotel pun menghampiri.

Tapi Kim Piauw sudah tak kuat menahan sabar lagi.

Sekali dorong, dia segera menerjang kesebuah kamar.

Disitu dia tendang pintu kamar, hingga terpentang.

Seorang gemuk gendut berjingkrak bangun dari tempat tidurnya saking kaget.

Nampak bukan orang yang diCari; Kim Piauw ter jang lagi pintu kamar disebelahnya.

Masih kedengaran, bagaimana sigemuk itu mengumpat maki habis-habisan.

Tengah ramai 2 itu, tiba-tiba dari sebuah kamar diberanda timur, seorang nona yang Cantik, muncul keluar.

Pek Kian dan Kawan-kawan nya juga melihat sinona, mereka kagumi ke Cantikannya, tapi sedikitpun tak ada keCurigaan apa-apa terus melanjutkan penggeledahannya.

Dengan tertawa geli.

Wan Ci keluar hotel dalam bentuk aslinya, wanita.

Sampai dijalan besar, ada beberapa hamba negeri yang mendatangi.

Mereka mendapat penga 2n dari sipemilik hotel, untuk menangkap orang yang membuat rusuh 2 itu.

Sementara Hi Tong setelah melihat musuh 2nya yang tangguh pergi, terus keluar menyerang Sam Jun dan Thian Po serta Thian Sing.

Dengan mengeluarkan ilmunya pedang 'jwan-hun-kiam' dari Bu Tong Pai, dalam tiga empat ju rus saja, dia telah dapat menusuk lengan Thian Sing yang memang sudah terluka itu.

Thian Sing mundur beberapa langkah, lobang itu digunakan Hi Tong untuk menerjang keluar.

Sam Jun menyapu dengan 'sam-Ciat-kun'-nya, tapi Hi Tong dapat menghindari nya dengan meloncat keatas.

Tiba-tiba dia berteriak keras, men juruk jatuh kemuka.

Saking girangnya, Sam Jun dan Thian Po terus akan menubruknya.

Tapi sekonyong-konyong Hi Tong membalik badan lalu menawurkan segenggam pasir.

Mulut dan mata Sam Jun serta Thian Po, kena tertutup pasir itu.

Sam Jun Cu kup berpengalaman, segera dia menggelundung beberapa tindak jauhnya.

Tidak demikian dengan Thian Po.

Dia masih menyublek sambil meng-usak 2 matanya yang kelilipan dengan ke 2 tangannya.

Hi Tong baCok kaki kiri Thian Sing, terus memutar tu buhnya dan lari.

Kiranya pasir yang dilontarkan itu, adalah sisa pembakaran rumput yang dimasukkan kedalam gua oleh It Lui cs.

tadi.

Ketika Sam Jun mengusap bersih matanya, hanya ke 2 Sutit (keponakan murid) yang kedapatan masih disitu, yang satu mengerang, yang lain mengaduh.

Sedang Hi Tong sudah tak tampak bayangannya lagi.

Bukan main mendongkolnya Sam Jun.

Tapi dia tak dapat berbuat apa-apa, keCuali membebat luka ke 2 Sutitnya itu, serta menyuruh mereka mengasoh dulu kedalam gua, sedang ia sendiri lalu mengejamja.

Kira-kira berlari tujuh atau delapan li, bukan Hi Tong yang diketemukan, melainkan It Lui bertiga.

Malah kini Haphaptai yang dibencinya itu, ikut serta.

Selain itu, masih ada lagi seorang yang belum pernah dikenalnya.

Orang itu kira-kira berusia 40-an tahun, dipunggungnya menggemblok sebuah thiat-pi-peh (harpa besi).

Tindakannya gesit, pertanda seorang yang tinggi silatnya.

Pek Kian Cepat-cepat menanyakan sang Sute yang tampaknya kebingungan itu.

Dengan ke-malu 2an, dia tuturkan kejadian tadi.

Syukur It Lui cs.

pun tidak mendapat hasil apa-apa, jadi tidak dapat saling menjalankan.

Kiranya orang yang membawa thiat-pi-peh itu, adalah Sute dari Ciao Bun Ki, jakni Han Bun Tiong.

Di HangCiu dia telah dipale begitu rupa oleh orang-orang HONG HWA HWE, sampai tak tahu dia harus menangis atau tertawa.

Wi-tin-ho-siok Ong Hwi Yang minta dia supaya balik bekerja lagi pada Tin Wan piauw kiok, tapi dia menolaknya.

Malah dia anyurkan Hwi Yang supaya lekas-lekas tutup perusahaan piauwkioknya itu untuk mengaso kedesa.

Sejak bertempur dengan Thio Ciauw Cong dibukit Pak-kao-nia, ibarat orang mati kembali hidup lagi.

Hwi Yang-pun memikir hendak mengundurkan diri, maka dia terima baik usul.

Bun Tiong untuk tutup piauwkioknya dan melewatkan hari tuanya pulang kekampung halamannya.

Sepulangnya ke Lokyang, Bun Tiong berkehendak menutup rumah perguruannya, tak mau Campur urusan di kangouw lagi, seperti yang dinasehatkan oleh Tan Keh Lok.

Tapi dalam perjalanan pulang itu, ditengah jalan dia ber jumpa dengan Haphaptai.

Tak ada keinginannya untuk bertemu dengan sahabat 2nya lama dikalangan persilatan lagi, karenanya, dia tundukkan kepala pura-pura tak melihat.

Tapi thiat-pi-pehnya, sudah berbicara sendiri.

Cepat-cepat Haphaptai mengenalinya.

Ber 2 segera menCari sebuah hotel.

Disitu Bun Tiong Ceritakan tentang kebinasaan Suhengnya.

Baru Haphaptai insja.f.

bahwa Kim-tiok SiuCay dan H.H.H, itu bukan musuhnya.

Dia mendapat kesan baik terhadap Hi Tong, maka Buru-buru diajaknya Bun Tiong untuk menolong anak muda itu.

Sebenarnya tak hendak Bun Tiong Campur urusan itu lagi, tapi Haphaptai mendesaknya, bahwa kalau bukan dia yang menjelaskan, tentu It Lui dan Kim Piauw tak mau sudah.

Dan kalau sampai anak muda itu binasa, tentu orang HONG HWA HWE tak mau terima, akibatnya dia (Bun Tiong) sendiripwn akan terembet juga.

Baru saja ke 2nya memasuki kota BengCin, sebera me reka tampak It Lui bertiga bsr-gegas 2 keluar dari hotel sehabis menghajar hamba polisi.

Begitulah kelima orang itu telah menCari Sam Jun.

Kini kita tengok Hi Tong.

Walaupun dia sudah terlemas dari bahaya, tapi dia merasa Cemas akan keadaan Wan Ci yang dikejar oleh tiga orang yang lihai itu.

Dia Coba men Carinya ke-mana 2, tapi tak bersua.

Ingin dia masuk kikota, tapi teringat bahwa orang-orang negeri banyak sekali yang mengenalinya jadi terpaksa tunggu sampai malam sudah tiba.

Malamnya dia Cari sebuah hotel.

Tapi sepand'ang malam itu, tak dapat dia meramkan matanya.

Diam-diam dia menyum pahi dirinya, sebagai orang yang tak kenal budi.

Dua kali sudah, nona itu menolong jiwanya, tapi sampai saat itu bukan wajah sinona yang membayang i kalbunyi, melainkan gelak ketawa Lau Ping dengan sujen dipipinya yang manis itu selalu terkenang olehnya.

Dari jauh, terdengar kentong an dipalu tiga kali, tanda sudah tengah malam.

Selagi dia akan meramkan mata, tiba-tiba dikamar sebelah ada orang memetik pipeh.

Hi Tong seorang penggemar musik, Buru-buru dia duduk mendengari.

Pi-peh itu dibunyikan begitu pelan, perdengarkan lagu yang menyajat hati.

Lewat beberapa saat, kedengaran seorang wanita menyanyi.

(page cut) Nyanyian indah dengan suara yang merdu.

Hi Tong merasa heran, masa dalam hotel yang terpenCil itu, ada orang yang dapat menyanyi sedemikian indahnya.

Tiba-tiba dari kamar sebelah itu juga, kedengaran seorang lelaki batuk 2, lalu berkata dengan suara lemah.

"Sudahlah jangan menangis, tertawalah, nyanyilah lagi ......... hanya semalam ini saja, hendak kudengar banyak sekali-kali ......... beberapa lagumu lagi."

Dengar orang bicara dengan lidah Kanglam, dan suara nya terputus-putus, Hi Tong duga tentu orang itu tengah menderita sakit payah.

Siwanita kedengaran menelan ludah, tangannya lalu memetik snaar pi-peh, namun tak menyanyi.

"Setelah kumeninggal, baik kau kembali ke HangCiu lagi ......... mohon sama kiu-ya ......... supaya dia merawatmu,"

Demikian suara silelaki.

Siwanita tak menyahut.

Tiba-tiba malah kedengaran menyanyi.

Kali ini suaranya sember, sehingga Hi Tong tak dapat dengar jelas.

Hanya sehabis itu, wanita itu ter-isak 2 mengibakan hati.

Hi Tong menduga mereka tentulah suami isteri, suaminya tengah terserang penyakit berat sang isteri nyanyi untuk menghiburnya.

Dia teringat masih membawa kantong uang.

Ketika disuluhi dengan lilin, isinya uang emas semua.

Itulah Wan Ci yang memberinya.

Hi Tong timbul bermaksud akan menyerahkan beberapa biji uang emas tersebut.

untuk menolong mereka.

"Ah, aku dapat menolong orang, tapi siapakah yang dapat menolong diriku?"

Hi Tong mengelah napas sambil menuju kekamar sebelah dan mengetuk pintunya.

"Maaf, mengganggu kau orang tua, ja, aku tak nyanyi lagi,"

Sahut suara didalam.

"Harap bukai pintu, aku ada sedikit omongan,"

Kata Hi Tong. (Page cut) jangan mengembara lagi. Nah, selamat malam,"

Kata Hi Tong terus akan bertindak keluar.

"Siangkong (tuan muda), harap tunggu,"

Wanita itu tibas berseru. Hi Tong hentikan langkahnya.

"Mohon tanya nama siangkong yang mulia."

"Ah, uang yang tak berarti ini, tak perlu kau berterima kasih. Turut tekukan lidahmu, agaknya orang Kanglam. Mengapa bisa berada di TiongCiu sini?"

Wanita itu berpaling kepada silelaki. Nampak keadaannya makin payah, menangislah ia, katanya.

"Sebenarnya aku tak berani mengatakan. Tapi menilik dia tak ada harapan lagi, akupun tak ingin hidup juga. Setelah kututurkan, biarlah orang mengetahui boroknya bangsa pembesar."

"Yadi kau ber 2 ini juga menjadi korban pembesar negeri?"

Tanya Hi Tong.

"Dia orang she Ciao. Kami asal HangCiu, masih pernah saudara misan. Sejak kecil kami sudah ditundangkan Tahun yang lalu. dia ditangkap pembesar, dituduh membangkang dalam wajib dinas militer. Karena miskin, kami tak mampu memberi uang sogok, jadi dia terus ditahannya............"

Menutur sampai disini, wanita itu berCuCuran air mata. Sejurus kemudian, baru ia dapat melanjutkan pula.

"Aku lemah tak berdaya, terpaksa menjadi penyanyi. Orang biasa memanggil aku 'Giok-ju-ih'."

Kiranya wanita ini ialah Giok-ju-ih yang pernah diperalat oleh jago-jago HONG HWA HWE untuk menyebak kaisar Kian Liong itu.

Dahulu sewaktu ia dibawa orang-orang HONG HWA HWE untuk menyanyi dihadapan baginda Kian Liong ditelaga Se-ouw itu, Hi Tong tak ikut disitu.

Setelah mendapat luka dia beristirahat ke Thian Bok San.

Jadi soal pemilihan ratu keCantikan, siasat menyebak kaisar, sedikitpun dia tak mengetahuinya.

"Belakangan aku bertemu dengan seorang Liok-kongcu, disuruh bantu urusannya. Sebagai upah, dia berikan seribu tail perak padaku,"

Demikian Giok-jwih menutur pula.

"Betul-betul royal sekali dia", seru Hi Tong memutus pembi Caraan orang.

"Kubermaksud menghadap Ciangkun dalam tentara Ceng, akan menebusnya. Orang menasehati berbahaya kalau seorang wanita mengadakan perjalanan dengan membawa uang sedemikian banyak sekalinya. Tapi ternyata bukan bangsa begal penjamun yang kujumpahkan, melainkan kawanan hamba negeri. Tidak saja uangku dirampas habis, mereka bahkan akan menyerahkan diriku pada Tihu (residen) untuk di jadikan selir."

"Bangsat!"

Hi Tong gebrak meja saking gusarnya.

"Kawanan hamba negeri mana itu? Ayo, lekas bilang!"

"Ah, tak perlu kukatakan. Dimana 2 sama saja. Malamnya aku melarikan diri, sehingga jatuh kemari. Kebetulan, dia yang dipaksa diangkut untuk berperang kedaerah Hwe, karena kelaparan, juga melarikan diri. Kita beruntung dapat berkumpul. Tapi, ah, hanya untuk berpisah se-lama-lamanya lagi. Dia terlalu payah keadaanya akibat penyiksaan yang hebat..."

Hi Tong merasa kasihan, lalu bertanya kepada orang laki 2 itu apakah kekurangan ransum dari tentara Tiau Hui itu hebat sekali.

Tapi orang itu sudah tak dapat mendengar pertanyaannya hanya menuding kearah Giok-ji-ih, dia berkata tersengal-sengal .

"Aku......... aku akan pergi......... moay......... baikkah kau menjaga diri......... nyanyikanlah sebuah lagu lagi............".

"Baik, engko,"

Kata Giok-ji-ih dengan suara sember.

Di petiknya senar pipeh, namun tenggorokan rasanya terkan Cing.

Tampak kepala orang itu menteklok dan napasnyapun berhenti.

Giok-ju-ih letakkan pipehnya.

Kini ia tak menangis lagi.

Dari bawah bantal diambilnya sebuah bungkusan, lalu dibe rikannya kepada Hi Tong, katanya.

"Benda yang didalam ini, katanya amat berharga sekali, tapi akupun tak mengerti. Siangkong adalah seorang pelajar, harap suka meneri manya". Dengan heran Hi Tong menyambutinya. Menyusul Giok-ju-ih segera benturkan kepalanya ke ujung pembaringan. Hi Tong Coba i ieuCeg'alinya, tapi terlambat. Seorang wanita muda yang Cantik, kini pecah sebagai ratna. Hi Tong buka bungkusan itu, ternyata isinya tiga gulung lukisan. Buru-buru dia tulis sepuCuk surat, tinggalkan 2 buah uang emas, suruh sipengurus hotel mengurus majata itu, lalu berlalu dari situ. Tujuan Hi Tong jalah untuk menCari Wan Ci Masih mendenging berkumandang rasanya kata-kata yang tersimpul dalam nyanyian Giok-ju-ih tadi. (Page cut) Teringat dia betapa penyanyi yang Cantik itu, sekejab saja sudah kembali pada asalnya. segumpal tanah kuning. Lou Ping, Wan Ci dan lain-lain. wanita Cantik pun akan mengalami nasib serupa. Kelak mereka pun hanya merupakan kumpulan tengkorak dan tulang belulang. Memikir sampai disini, hati nya menjadi tawar akan kesenangan dunia. Pada sebuah pohon yang rindang daunnya, dia berhenti mengasoh. Karena beberapa hari kurang tidur, maka sekejab saja tertidurlah dia. Hampir pagi, baru dia tersadar. Kini semangatnya dirasakan pulih kembali. Dengan pelan-pelan dia lanjutkan perjala nannya lagi untuk mendaki ke atas sebuah bukit. Disana dia tiba pada sebuah gereja, jakni Po Siang Si. Masuk kedalam ruangan besar, diatas situ terdapat sebuah patung Budha dengan tangan terkulai dan kepala memandang kebawah. Seakan-akan merasa kasihan atas penderitaan insani dunia. Pada sekitar dindingnya, tampak lukisan dari sang Buddha sedang menolong burung 2 dan mengunjuk kan kasih sayang nya kepada binatang 2. Hati Hi Tong tergerak karenanya, lalu masuk kedalam ruangan belakang.

"Kisu (tuan) datang kemari, hendak mempunyai hajat apa?"

Tanya seorang Hweshio tua yang muncul menyambutnya.

"Cayhe hanya pesiar saja. Lama sudah keangkeran Po Sat disini, Cayhe ingin kunjungi. Apakah kiranya tak mengganggu?"

Sahut Hi Tong.

Dengan mengucap beberapa patah kata penerimaan, Hweshio silakan Hi Tong masuk kedalam kamar tamu.

Seorang Hweshio lain, segera menyuguhkan teh dan kuwih 2.

Saking lelahnya, sehabis dahar, Hi Tong tertidur.

Kira-kira 2 jam kemudian, dia terbangun.

Waktu itu sudah tengah hari.

Diruangan tengah kedengaran suara bokhi (alat tok-tok kaum paderi) ditabuh oleh para Hweshio yang tengah liam-keng atau bersembayang dan membaCa kitab.

Cepat-cepat dia berbangkit untuk melanjutkan perjalanannya menCari Wan Ci.

Lantas dia tertarik dengan bungkusan pemberian (Page cut) Bungkusan pertama, adalah tulisan dari penyair Auwyang Siu.

Bungkusan ke 2, 2 buah sajak dari Li Gi San.

Tapi setelah membuka bungkusan yang ketiga, agak terkejutlah dia.

Karena itulah lukisan kertas panjang dari Cerita bergambar delapan orang imam dari kerajaan Song.

Diatas ujung kertas, tertera stempel "koleksi barang 2 berharga dari Kian Liong."

Lukisan itu menCeritakan, kisah pengembaraan dari delapan tosu.

Salah seorang tosu karena mendengarkan lagu nyanyian disebuah Ciu-lauw, telah mendapat penerangan batin.

Ingin Hi Tong mengetahui nyanyian apakah yang membuka hati tosu, lalu dibukanya lembaran yang ke 2.

"Karena kau tak ada hati, biarlah kuberhenti."

Demikian lagu itu.

Tanpa merasa Hi Tong membaCanya keras-keras.

Dia terlongong-longong beberapa saat.

Berulang-ulang dia m ngulangi sjair itu.

Sampai akhirnya, terbukalah hatinya.

Sehari itu, dia tak mau makan dan minum.

Beberapa kali Hweshio menengokinya karena mengiranya ia sakit.

Selama berbaring ditempat tidurnya, dia rasakan angin seperti Menderu-deru , pepuhunan bagaikan lautan.

Hatinyapun bergontjangan tak tenteram.

Sampai jauh malam tak dapat dia tidur.

Apa yang telah dialaminya selama 2tiga tahun yang lalu, seperti ter-bayang 2 kembali.

mendapat gelar SiuCay, membunuh musuh, mengembara dikangouw, dan beberapa kali menempuh bahaya.

Dia merasa, selama itu hanya kekeCewaan dan penderitaan saja yang diperolehnya.

Ada sekilas kegem biraannya, ketika api asmara berkobar terhadap Lou Ping.

Namun karena sang pujaan itu tak mau meladeni, dia tak mau sudah.

"Ya, karena kau tak berhati, biarlah kuberhenti,"

Akhir 2nya Hi Tong berkata dalam hatinya.

Masih tak dapat tidur, dia duduk lagi dan nyalakan lilin.

Tiba-tiba dia melihat diatas meja terdapat sebuah kitab kuno memuat 24 Cerita pada jaman Thian Tiok (baheula).

Pada salah sebuah Cerita, Hi Tong membaCa bagaimana Dewa telah menganugerahi seorang bidadari yang Cantik kepada Buddha.

"Sesosok kulit terbungkus tulang 2, untuk apa bagiku?"

Sabda Buddha. MembaCa sampai disini, kepala Hi Tong berkunang-kunang tak ingat diri. Sampai lama dia baru tersedar lagi, pikirnya.

"Ah, memang tepat sabda Buddha, wanita Cantik hanyalah rangka tulang 2 yang terbungkus kulit. Mengapa hatiku terikat?"

Tanpa berpikir lama-lama, dia segera mendapatkan ketua Hweshio untuk minta digunduli rambutnya.

Sang Hweshio minta dia timbang masak 2 niatannya itu.

Tapi Hi Tong tetap ber keras.

Pada hari ke 2, diadakan sidang Hweshio.

Dihadapan patung Buddha, Tong diCukur rambutnya dan mengucap janji kesetiaannya.

Sejak itu dia mendapat gelar Gong Yan Hweshio.

Tiap hari dia rajin 2 liamkeng (membaCa kitab) dan menghafalkan pelajaran 2 Buddha.

Pada suatuJ pagi, tengah dia asjik liam-keng, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara orang ber-Cakap 2 dalam bahasa kangouw, katanya.

"Seluruh kota BengCin sudah kita Cari, tapi tak ada. Heran kemana dia sembunyi?"

Hi Tong terkejut. Suara itu telah dikenalnya.

"Taruh kata harus membongkar BengCin, kita tetap akan menCarinya;"

Kedengaran lain suara menggeram.

Hi Tong kertek giginya.

Tahu dia orang inginkan dirinya.

Ternyata orang-orang itu ialah It Lui dan Pek Kian cs.

Saat itu mereka berada dibelakang Hi Tong.

Hi Tong diam saja.

Kiranya Haphaptai sedang berbantah dengan Kim Piauw.

Haphaptai anggap lebih baik berangkat saja kedaerah Hwe untuk lakukan pembalasan pada Hwe Ceng Tong.

Tapi Kim Piauw membandel.

Biar bagaimana dia akan Cari Hi Tong dulu.

Kemudian Pek Kian tanya ketua gereja situ, apakah ada seorang SiuCay bermuka buruk yang datang.

Hweshio yang ditanya melengak.

Nampak hal itu, Pek Kian Curiga, terus menobros kedalam untuk menggeledah.

Benar juga disebuah kamar, dia ketemukan jubah hitam kepunya an Wan Ci yang dipakai Hi Tong.

Pek Kian dengan bengis tanyakan si Hweshio kepala.

"SiuCay itu sudah tak ada lagi. Kalian bakal tak dapat menemukan se-lama-lamanya,"

Jawab paderi itu.

Dengan mungkur Hi Tong tampak berbangkit.

Dengan mengetuk 2 bok-hi, dia masuk keruangan dalam.

Pek Kian timbul keCurigaannya.

Dia memberi isyarat kepada muridnya Thian Po, siapa segera mengikutinya masuk.

"He, hweshio, tunggu! Aku mau bicara,"

Tegur Thian Po.

Tapi Hi Tong tak menghiraukan, malah perCepat-cepat tindak annya.

Thian Po memburu, tangannya kiri akan menyam bret punggung Hi Tong.

Terpaksa Hi Tong berkelit, dia gunakan lengan jubahnya untuk menyampok muka penyerang nya.

Karena mukanya seperti dikeruduki, Thian Po Cepat-cepat mundur.

Namun segera ia rasakan pipinya sakit sekali sampai mendumprah kelantai.

Itulah karena dihantam bok-hi oleh Hi Tong.

"O-mi-to-hud! SianCay, SianCay (amin, amin)!"

Demikian dengan me-mukul 2 bok-hi, Hi Tong terus berjalan kebela kang.

Mendengar suara bok-hi makin jauh, sedang Thian Po tak kelihatan muncul, Pek Kian dorong sihweshio tadi ke samping, lalu beramai menobros masuk.

Disana didapatinya Thian Po duduk dilantai, sambil meng-usap 2 pipinya.

;,Apa-apaan kau duduk saja.

Mana Hweshio tadi?"

Tanya Pek Kian segera.

Thian Po tak dapat bicara.

Kepalanya basah dengan keringat.

Dia menuding kebelakang.

Sam Jun dan Kim Piauw memburu masuk.

Tapi disitu, selain hanya ada seorang tukang masak, tak ada lain orang lagi.

Pek Kian angkat bangun muridnya dan memeriksa lukanya.

Sebuah benyolan biru kehitam-hitaman terdapat dipipinya.

Luka itu Cukup berat.

"Hweshio itukah yang melukaimu?"

Tanya Pek Kian. Thian Po mengangguk.

"Bagaimana romannya?"

Thian Po membuka muiut, tapi tak dapat mengatakan.

Sebabnya, dia memang tak sempat mengawasi wajah sihweshio tadi.

Dilain fihak, It Lui terus menyeret masuk sihweshio kepala.

Lihat tangan dan kaki orang menjadi lemas tahulah It Lui hweshio itu tak bisa silat.

Bentaknya.

"Kemana larinya Hweshio tadi?"

Sihweshio kepala menerangkan, hweshio baru itu dari lain tempat, tak diketahui asal usulnya.

Karena berulang-ulang dita nyai tetap tak dapat memberi lain keterangan, It Lui lepaskan dia.

Pek Kian anCam mau bakar gereja itu, tapi Hweshio tetap pada keterangannya.

It Lui lalu ajak rombongan-nya berlalu.

"Gereja itu agak mencurigakan, nanti malam kita selidiki!"

Kata It Lui.

Seperginya dari situ, mereka menCari makanan didesa dekat situ.

Malamnya mereka datang menyelidiki gereja tersebut., tapi tak mendapat hasil apa-apa.

Hari ke 2, Haphaptai ulangi pernyataannya supaya lekas pergi kedaerah Hwe saja.

Namun Kim Piauw tetap berkeras.

"Kalau malam nanti tetap tak menemukan Hweshio bangsat itu, besok paginya kita berangkat kedaerah Hwe,"

Katanya.

Begitulah maka ketika malam 2 dalam perjalanan mereka kegereja tersebut.

Bun Thay Lay menampak beberapa ba jangan hitam, itulah It Lui dan Kawan-kawan nya.

Sedang apa yang membuat Bun Thay Lay kaget setengah mati ketika Hweshio itu bangkit dan berpaling, ialah karena muka si Hweshio luar biasa buruknya.

Ja; itulah Sipsute Kim-tiok SiuCay Ie Hi Tong yang sedang diCarinya.

Heran Bun Thay Lay dibuatnya.

Dia sembunyikan diri di sebuah sudut, untuk nantikan kejadian selanjutnya.

Ternyata setelah memberi hormat pada Buddha, Hi Tong menu ju kebelakang arCa terus tak muncul lagi.

Tiba-tiba pada saat itu, terdengar suara gedebukan keras.

Pintu ruangan besar didorong orang.

Tujuh atau delapan orang menobros masuk.

Hanya satu yang dikenal Bun Thay Lay, jakni Pek Kian.

Orang itulah yang menangkapnya di Thiat-tan-Hung dulu.

Juga di KengCiu dia telah menghinanya.

"Po Sat maha adil, kini menyuruh dia jatuh ketanganku!"

Diam-diam Bun Thay Lay menggeram.

Sewaktu masuk tadi, It Lui cs.

terang melihat ada ba jangan orang.

Tapi kini ternyata hanya lilin-lilin saja yang ber nyala terang, tanpa ada orangnya.

It Lui Coba angkat lonCeng gereja yang luar biasa besarnya.

Disitu pun takada apa-apanya.

Kim Piauw mendongkol dia maki-maki kalang kabut.

Habis memaki, dia hantamkan 'lak-houw-jat'-nya ketubuh patung.

"Dung" .........! terdengar suara benturan.

"Dalam patung ini ada sesuatu yang mencurigakan", seru It Lui sambil loncat menghampiri. Loncat keatas meja, diapun pakai 'tok-ka-tang-jin'-nya, menghantam pundak kiri patung itu. Tak terkira dahsyatnya hantaman itu, pecah tubuh patung itu. Sekonyong 2 sesosok tubuh melesat keluar dari lubang pundak patung itu. Itulah dianya, orang yang diCari. Tapi begitu kakinya menginyak meja, dia -Hi Tong -lalu loncat kebawah. Kedelapan orang rombongan It Lui, terus bersiap mengepung. Tapi Hi Tong ternyata tidak lari; hanya berlutut dimuka patung tadi. Sedikitpun tak hiraukan musuh 2nya. Dengan merangkap ke 2 tangannya, dia meng uCap doa.

"TeCu (murid) berdosa besar, telah menyebabkan penya-hat 2 dari lain golongan masuk kemari dan membikin rusak tubuh Buddha. Harap diberi ampun". Heran kedelapan orang itu mendengarnya. Pek Kian tak sabar lagi. Dia jambret lengan kanan Hi Tong, lalu membentak.

"Ha, membikin rusak setan apa, lekas jalan!"

Adalah ketika nampak kedatangan rombongan It Lui yang sama membekal senjata itut Hweshio 2 dalam gereja itu, sama menyembunyikan diri.

Hi Tong mandah saja dan ikut Pek Kian.

Thian Seng lari kemuka, membuka pintu ruangan besar.

Ketika pintu terbuka, tahu-tahu ada seorang tegak berdiri disitu.

Karena terkejut, orang-orang itu melangkah mundur.

Dia si penghadang itu -berpakaian warna kelabu, dengan memakai ikat pinggang.

Sepasang matanya bundar besar seperti mata harimau.

Sikapnya keren dan gagah.

Paling bergoncang adalah hati Pek Kian.

Karena sampai saat itu, dia masih belum tahu kalau Bun Thay Lay sudah dibebaskan.

"Kau ......... Pan-lui ........."

Tak dapat dia lampiaskan pertanyaannya, karena tangan Bun Thay Lay sudah menotok pergelangan tangannya, begitu sebat gerakan itu sehingga Pek Kian tak sempat menangkis atau berkelit.

Terpaksa dia kendorkan pegangannya.

Sebelum dia merasa apa-apa, Hi Tong sudah dijambret oleh Bun Thay Lay.

Pek Kian Cepat-cepat loncat kesamping.

Baru habis itu, dia rasakan pergelangannya sakit sekali.

It Lui dan lain-lainnya, belum kenai Bun Thay Lay.

Tapi demi melihat gerakan yang sedemikian sebatnya, mereka ter Cekat kaget.

It Lui anggap se-tidak 2nya Pek Kian adalah ahliwaris dari suatu Cabang persilatan.

Tak dia sangka, hanya sekali gebrak saja, orang sudah dapat merampas tawanan yang berada dalam tangannya.

Karena hal yang tak terduga itu, It Lui tak sempat menolongnya.

Tapi diapun terus bertindak Cepat-cepat .

Dengan menghunus senjata orang-orang an berkaki satu,"

Dia menghadang diambang pintu.

Perhitung annya, fihaknya berjumlah delapan orang, yang 5 adalah jago-jago Kangouw yang tergolong lihai.

Jadi sukarlah rasanya, musuh bisa mengalahkan.

Setelah menarik Hi Tong, Bun Thay Lay melesat keu jung kiri dari ruangan besar itu.

"Apakah kau terluka?"

Tanyanya kemudian.

"Tidak,"

Sahut Hi Tong.

"Bagus, kita ber 2 dapat melabrak mereka se-puas 2nya!"

Kata Thay Lay.

Hendak Hi Tong mengatakan sesuatu, tapi Thian Po dan Thian Seng dengan menghunus senjata, sudah menerjang maju.

Dari gerakannya, tahulah segera Bun Thay Lay, bahwa ke 2 penyerangnya ini adalah murid 2 Cabang Gian-keh-kun dari TinCiu.

Benci kepada sang suhu, Bun Thay Lay tumpahkan kemarahannya pada sang murid.

Sekali enjot tubuhnya; dia sudah melesat dibelakang ke 2 penyerangnya.

Ke 2 orang muda itu Cepat-cepat akan menarik kembali serang annya, tapi tengkuk mereka tahu-tahu sudah disambar tangan musuh.

Sam Jun berada paling dekat.

Dengan gerak "naga be raCun keluar dari gua,"

Dia sabetkan 'sam-Cat-kun'-nya kepunggung Bun Thay Lay.

Dengan masih menCengkeram ke 2 anak muda tadi, sebat sekali Bun Thay Lay berputar kebelakang.

Diangkatinya ke 2 orang muda itu, lalu dibolang-balingkan berputaran.

Dia menggerung keras, seperti guntur bergemuruh diudara.

Sam Jun seperti terbang semangatnya.

BergemerinCingan 'sam-Ciat-kun'-nya jatuh kelantai.

Sekali pula Bun Thay Lay menggerung keras, dengan sekuat-kuatnya dia benturkan kepala ke 2 anak muda itu satu sama lain.

Prukk!

Ke 2 batok kepala murid 2 Pek Kian itu hanCur berantakan.

Tak berhenti begitu saja, Bun Thay Lay lalu lemparkan tubuh ke 2 korbannya itu kearah rombongan musuh.

Karuan saja Kim Piauw cs loncat menghindar.

Hanya Pek Kian mengingat hubungan guru dan murid menyang gapi tubuh Thian Sing.

Kejadian itu berlangsung secara Cepat-cepat sekali, sehingga Kim Piauw menjadi kemekmek.

Dia tak pungut lagi sen jatanya, ataupun berusaha untuk lari.

Menyublek seperti patung saja.

Maju selangkah, Bun Thay Lay menggaplokkan sebelah tangannya pula.

Sam Jun berusaha menangkis.

Krekk.........

tulang lengannya patah.

Bun Thay Lay menyambret dada Sam Jun.

Tapi Sam Jun tidak mandah, dengan ilmu tendangan 'wan-yang-liang-goan-thui' atau ilmu tendangan sepasang kaki secara susul-menyusul, dia tendang dada mu suhnya.

Nyata Sam Jun tak kenal siapa Pan Lui Hiu, si Tangan Bledek itu.

Bagaikan kilat Cepatcepat nya tangan kanan Bun Thay Lay menyawut sebelah kaki Sam Jun terus diangkat keatas, hingga kini kepala Sam Jun terjungkir balik.

Kim Piauw dan Pek Kian Cepat-cepat akan menolongnya.

Tapi sekali lagi Bun Thay Lay menggerung, dia sabetkan tubuh Sam Jun pada batu marmer diruangan situ.

Sudah tentu hanCur batok kepala Sam Jun.

Gerakan Bun Thay Lay tadi hanya dalam beberapa kejab saja.

Karena mestinya tendangan Sam Jun tadi adalah 'lian-goan-thui', menendang berturut-turut dengan sepasang kaki.

Tapi siapa tahu.

baru sebelah kaki menendang, musuh sudah menyawut dan membantingnya dengan ganas.

Bun Thay Lay umbar kemarahannya, maka dalam sebentar waktu saja dia sudah binasakan tiga orang.

Kini dia diserang dari kanan-kiri oleh Kim Piauw dan Pek Kian.

Tahu dia, kalau ke 2 orang ini jauh lebih tangguh dari ketiga korbannya tadi.

Mundur kebelakang, dia angkat sebuah hiolouw (tempat dupa) dari marmer terus dilontarkan kepada Kim Piauw.

Hiolouw marmer itu tak kurang dari delapan0 kati beratnya, apalagi dilempar sekuat-kuatnya.

Sudah tentu, Kim Piauw tersipu 2 berkelit kesamping.

Celaka adalah It Lui.

Dari tadi dia ketutupan tubuh Kim Piauw, jadi tak tahu apa yang melayang .

Maka begitu Kim Piau menghindar, tahu-tahu hiolouw sudah didepan mata.

"Lo Toa; awas!"

Seru Haphaptai.

Karena tak sempat menyingkir, It Lui hantamkan 'tok-kak-tong-jin'-nya.

Berbareng dengan suara deburan yang dahsyat, hiolouw itu pecah berantakan.

Saat itu Pek Kian sudah bertempur dengan Bun Thay Lay.

Hi Tong tak mau tinggal diam.

Dia sembat gada pemukul bedug dan berdiri dibelakang Bun Thay Lay untuk melindunginya.

Muka It Lui dan Kim Piauw luka kena pe Cahan hiolouw tadi, karena itu Kim Piauw terus akan menyerang dengan 'lak-houw-jahnya.

Tapi gerakan Bun Thay Lay sebat sekali.

Menyerang muka Pek Kian, tiba-tiba dia melesat kesamping Haphaptai.

Memang sudah diperhitungkan Bun Thay Lay, masih ada 5 orang musuh yang tangguh.

Untuk merebut kemenangan, dia harus merobohkan lagi beberapa musuhnya.

Dilihatnya Haphaptai dan Han Bun Tiong berdiri agak jauh.

Maka dia melesat kesana dengan tiba-tiba, terus akan menghantam punggung Haphaptai.

Haphaptai mendekkan tubuh, kasih lewat serangan itu.

Lalu secepat-cepat kilat, dia ulur tangannya menangkap lengan orang.

Melihat gerakan orang Mongol itu gesit sekali, Bun Thay Lay turunkan tangannya tadi kesamping, menyerang leher orang.

Tapi lagi-lagi Haphaptai tundukkan kepalanya, ulur tangannya menangkap lengan penyerangnya.

Tahu Bun Thay Lay kalau setiap gerakan musuh itu adalah "kim-na-Hiu,"

Ilmu menangkap dengan tangan kosong. Tapi anehnya, gerakan itu berbeda dengan jurus-jurus ilmu "eng-jiao-kang,"

Cakar garuda.

Memang Haphaptai bermula mendapat pelajaran gumul dari bangsa Mongol.

Ilmu itu dia gabung dengan ilmu silat Thong-pi-kun.

Dua kali Haphaptai keluarkan ilmunya itu untuk menangkap lengan Bun Thay Lay.

Biasanya belum pernah dia gagal.

Maka saat itu, karena mengalami kegagalan, dia agak terkejut.

Dan ini menyebabkan dia ajal.

Tahu-tahu sebuah pukulan musuh menghantam pundaknya.

Juga tak kalah heran adalah Bun Thay Lay.

Tangan sakti yang menyebabkan dia memperoleh julukan Pan Lui Hiu -si Tangan Halilintar -itu, ternyata tak dapat merobohkan musuh itu.

Kiranya meskipun sudah ber-tahun 2 Haphaptai mengembara didaerah Liauwtang (Tiongkok timur-laut), Haphaptai tetap tak mau tinggalkan adat orang Mongol.

Dia selalu mengenakan baju kaos terbuat dari kulit kerbau.

Tapi Bun Thay Lay mengira kalau Haphaptai mempunyai ilmu istimewa.

Tak ia ketahui kalau lawan itu merasa sakit sampai keulu hati.

Tiba-tiba orang Mongol itu duduk ditanah, sepasang tangannya menyikap pinggang lawan.

Bun Thay Lay tarik tangannya, untuk ditamparkan kekening orang, siapa pun tak mau mandah saja.

Sambil egoskan kepala, tangannya menyikap pinggang orang terus diangkat keatas.

Itulah salah suatu jurus ilmu bergumul bangsa Mongol yang paling berbahaya.

Ketika Gengis Khan menaklukkan daerah barat sampai ke Eropah, tak pernah dia terkalahkan.

Dia taklukkan berpuluh negara besar dan kecil, hanCurkan beratus ribu tentara sekutu dari negara 2 di Eropah itu.

Begitu patah nyali serdadu 2 bangsa kulit putih itu, sehingga mereka sudah gemetar kalau mendengar kedatangan tentara Mongol Gengis Khan itu.

Memang kekuatan tentara Raja Diraja dari Mongol itu, terletak pada kesempurnaan organisasi mereka, ilmu memanah dan kepandaian naik kuda.

Selain itu, ilmu bergumulnya yang has juga sangat dimalui lawan.

Ilmu itu memang merupakan ilmu warisan orang Mongol turun temurun.

Haphaptai telah dapat mewarisi ilmu itu dengan sempurna.

Begitu lawan dapat diangkatnya, terus akan dibantingnya ketanah.

Tapi sekonyong-konyong tangannya dirasakan kesemutan, begitupun tubuhnya lemas tak bertenaga.

Saat itu, melihat Bun Thay Lay terancam bahaya, Hi Tong terus akan maju menolongnya.

Tapi segera ia nampak pemandangan yang aneh.

Bun Thay Lay melayang jatuh dengan mengempit Haphaptai, kiranya tadi dia telah totok jalan darah orang Mongol itu, tubuh siapa terus dia kempit.

"Suko, dia seorang sahabat!"

Hi Tong berseru dengan Cemas.

Tapi sudah terlanyur.

Karena saat itu, Haphaptai sudah dilempar kemuka.

Dengan kepala berada disebelah depan, tubuhnya melayang kearah lonCeng besar.

It Lui dan Kim Piauw yang berada dimuka pintu, pun sudah merasa tak sempat untuk menolongnya.

Mereka hanya mengawasi dengan kesima.

Mendengar teriakan Hi Tong tadi, Bun Thay Lay terkejut.

Segera dia enjot tubuh memburu kemuka.

Ternyata dia lebih Cepat-cepat dari melayang nya tubuh Haphaptai.

Dalam saat-saat yang berbahaya, dia keburu menyambar ujung sepatu Haphaptai, terus ditariknya kebelakang.

Tangannya kiri pun di kerjakan untuk menotok jalan darah penyedar dipundak orang, dan serunya.

"Ah, kiranya seorang sahabat, maaf !"

Tertolong dari maut, Haphaptai terlongong-longong. Juga It Lui dan Kim Piauw yang sudah akan memburu maju untuk menolong Sutenya itu, batal bergerak. It Lui pimpin Haphaptai kepinggir.

"Awas belakang!"

Tiba-tiba kedengaran Han Bun Tiong berseru.

Memang Bun Thay Lay rasakan ada angin menyambar dari belakang.

Secepat-cepat kilat dia berbalik sembari menyapu dengan kakinya.

Pembokongnya, ialah Gian Pek Kian, siapa dengan sepasang 'thiat-hwan' (gelang besi) loncat menghantam bebokong Bun Thay Lay.

Tapi karena gerakan lawan demikian sebatnya itu, dia tarik kembali serangannya, akan tetapi thiat-hwan ditangannya kanan sudah terlanyur menyorok kemuka.

Sambil menggerung Bun Thay Lay ulurkan tangannya untuk merebut.

Agaknya ke 2 orang itu merupakan seteru yang saling membenci.

Saat itu mereka akan mengadu jiwa betul-betul.

Ruangan yang diterangi dengan Cahaja lilin yang sinarnya samar 2, dengan arCa yang telah rompang sebelah lengannya itu, kini menyaksikan pertempuran mati-hidup dari 2 musuh kebujutan.

Hi Tong bersandar dipinggir patung.

It Lui, Kim Piauw, Haphaptai dan Bun Tiong berdiri dimuka pintu.

Didalam ruangan situ terhampar tiga tubuh yang kepalanya pecah.

Melihat It Lui dan ke 2 Sutenya hanya mengawasi dan tak mau membantunya, Pek Kian marah sekali.

Dia mainkan senjatanya luar biasa hebatnya.

Pek Kian adalah ahliwaris dari Cabang Gian-keh-kun.

Cabang itupun mempunyai ilmu silat istimewa.

Terutama dalam permainan 'thiat-hwan' itu, Pek Kian telah meyakin kan berpuluh tahun.

Hal mana pun diakui oleh Bun Thay Lay, betapa lihai permainan lawannya itu.

Karenanya, dia segera merobah permainan silatnya.

Kini rombongan It Lui itu segera menyaksikan bagaimana pada setiap serangannya, Bun Thay Lay tentu menggerung keras.

Suatu waktu menggerung dulu, baru menyerang.

Atau menyerang dulu lalu menggerung.

Malah ada juga yang menyerang berbareng menggerung.

Pokoknya, gerungan itu se-olah 2 merupakan pelengkap serangan kepada lawan.

Makin seru serangannya, makin dahsyat pula dia menggerung.

Pecahlah nyali musuh dibuatnya, siapa makin lama makin terdesak.

Jilid 27 KIRANYA ilmu itu adalah keistimewaan dari Bun Thay Lay, disebut "Pi-lik-Ciang", pukulan hali-lintar.

Baik pukulan maupun gerungannya, bagaikan deru angin dan halilintar menyamber.

Pek Kian tahu gelagat dia mengakui bukan tandingan lawannya.

Sepasang gelang-besi dirangkapnya menjadi satu, lalu mundur selangkah.

Tahu dia bahwa musuh tentu maju menyerangnya.

Dan dugaan ini tak meleset.

Ketika tangan musuh menyerang, dia segera kaCipkan sepasang thiat-hwannya dengan tipu "pek-yan-kiam-wi"

Seriti putih menggunting ekor.

Dengan gerakan ini ia menduga lengan Bun Thay Lay pasti terkaCip kutung.

Tak dia sangka kalau gerakan tangan orang she Bun itu, luar biasa sebatnya.

Sudah terlanyur diulur kemuka, Bun Thay Lay teruskan menotok dada lawan.

Pek Kian terkesiap.

Dia ketahui bagaimana hebat tenaga lawan.

Sekali kena di totok, pasti Celaka.

Buru-buru di pakai thiat-hwan kirinya untuk melindungi dadanya sedang thiat-hwan satunya dia hantamkan kepundak lawannya.

Bun Thay Lay menggerung keras.

Begitu dia katupkan kelima jarinya, segera dapat manangkap senjata musuh sambil menggeser diri kebelakang lawan.

Pek Kian terke jut, tahu-tahu thiat-hwan ditangan kanannya kembali kena dipegang musuh siapa terus menariknya kemuka.

Jadi ke 2 tangan Pek Kian seperti ditelikung kebelakang.

Kalau dia berkukuh pegangi thiat-hwannya, terang ke 2 tangannya akan patah.

Apa boleh buat, dia lepas tangan dan terus lon Cat kemuka tiga tindak, baru berbalik badan.

Kini sepasang thiat-hwan itu sudah berada ditangan Bun Thay Lay.

"Kembali padamu!"

Teriak Bun Thay Lay.

Sepasang thiat-hwan menyambar Pek Kian, kerasnya bukan buatan.

Pek Kian tak berani menyang gapi dan hanya Ce pat menghindar kesamping.

Berbareng dengan terdengarnya bunyi berkerontangan yang nyaring memekakkan telinga, sepasang thiat-hwan itu nanCap masuk kedalam lonCeng raksasa yang berada diruangan itu.

It Lui, Kim Piauw dan lain-lainnya sama berseru kagum.

Pada saat itu, tiba-tiba sepasang mata.

Pek Kian kelihatan membalik keatas.

Ke 2 lengannya lurus menyulur kemuka.

Tubuhnya kaku bagaikan majat; berloncatan maju kemuka.

Gerakannya tak ubah seperti majat hidup.

Itulah salah satu ilmu kepandaian dari Gian-keh-kun, yang dia gabung dengan ilmu hypnotis dari seorang ahli sihir TinCiu, bernama Cu Yu Kho.

Matanya ber-sinar 2 seperti kilat menatap musuh.

Ke 2 tangannya ber-gerak-gerak memukul, sedang kakinya yang kaku itu, berloncatan dengan linCahnya.

Ketika mata Bun Thay Lay bentrok dengan sinar mata lawan, dia rasakan hatinya berguncang keras.

Buru-buru dia me nyingkir, terus keluarkan pukulan "pi-lik-Ciang"nya.

Kembali orang menyaksikan pertempuran aneh dan menarik.

,;Pi-lik-Ciang"

Tempur "Kiang-si-kun,"

Ilmu silat majat hi dup, suatu ilmu silat yang jarang terdapat didunia persilatan.

Kira-kira sepuluh jurus kemudian, tiba-tiba Bun Thay Lay menggerung dan loncat kesamping.

Tampak sepasang mata Pek Kian seperti orang yang mabuk arak, ber-kilat 2 mengeluarkan sinar tajam.

Tapi pada lain saat, tiba-tiba dia mengeluarkan air mata.

Belum lenyap, keheranan orang, atau dia segera menguak keras.

Darah segar menyembur dari mulutnya.

Tubuhnya tegak kaku, tak ber-gerak-gerak lagi.

Meskipun It Lui cs.

adalah orang kangouw yang berpengalaman tapi tak urung tegak juga bulu roma mereka melihat keadaan Pek Kian saat itu.

Kini Bun Thay Lay pun tak mau lanjutkari penyerangannya lagi.

^Beruntung atau Celaka, adalah diri sendiri yang mem buatnya.

Nah, pergilah!"

Seru Hi Tong. Tapi mata Pek Kian tak terkesiap, terus memandang kemuka saja. Tetap ia berdiri kaku.

"Gian-toako, mari kita berlalu,"

Seru Bun Tiong.

Karena masih menyublek saja, Bun Tiong tarik tangan Pek Kian.

Tapi begitu ditarik, dia terjungkal roboh.

Ketika dirabah ternyata tubuhnya sudah dingin, jiwanya sudah melayang beberapa saat yang lalu.

Kiranya, dia telah mendapat pukulan ,,pi-lik-Ciang,"

Dipunggung dan didadanya. Bun Tiong mengelah napas, katanya sembari hormat pada Bun Thay Lay.

"Bukankah Su-tiangkeh dari HONG HWA HWE, Pan-lui-Hiu Bun-suya?"

Bun Thay Lay mengangguk.

"Aku adalah Han Bun Tiong."

Tahu kalau orang itu dari Tin Wan piauwkiok, kembali Bun Thay Lay hanya mengangguk.

Dulu yang menyergapnya di Thiat tan-Hung adalah Tong Siu Ho dari Tin Wan piauwkiok.

Tapi ketika tempur Thio Ciauw Cong di Pak-kao-nia, orang-orang piauwkiok itu berserikat dengan HONG HWA HWE Jadi bagi Bun Thay Lay.

Han Bun Tiong itu adalah lawan dan kawan.

Bun Tiong perkenalkan It Lui bertiga.

Mereka hanya saling anggukkan kepala, tak bicara apa-apa.

"Mereka bertiga dulunya salah paham terhadap HONG HWA HWE Sekarang telah kuberi penyelasan,"

Ujar Bun Tiong.

Tetapi Bun Thay Lay bersikap tawar.

Tahu bahwa orang masih penasaran kepada Tin Wan piauwkiok, Buru-buru Bun Tiong minta diri.

Setelah memberi hormat, dia terus putar tubuhnya berlalu.

Hanya Kim Piauw yang masih mendendam pada Hi Tong.

Tapi ketika lihat anak muda itu telah gunduli rambutnya masuk hweshio, apalagi melihat kelihaian Bun Thay Lay tadi, dia agak jeri.

Ketiga Kwantong Liok Mo itupun juga segera keluar dari ruangan tersebut.

Tiba-tiba Bun Thay Lay melihat dipunggung Kim Piauw terselip kim-tiok Hi Tong, Buru-buru dia maju selangkah seraya berseru.

"Ku-laoko, harap tinggalkan seruling saudaraku itu!"

Kim Piauw merandek dan berbalik tubuh, serunya dengan aseran.

"Baik, kalau dia mampu, supaya mengambilnya sendiri."

Kepandaian Kim Piauw memang tak boleh dibuat permainan.

Malang melintang didaerah Liauwtang, dia belum pernah ketemu tandingannya.

KeCuali pada Toakonya, It Lui, dia tak pandang mata pada semua orang.

Apalagi memang dia masih penasaran pada Hi Tong.

Dia kibaskan 'lak-houw-jah-nya, siap menyambut musuh.

Bun Thay Lay gusar, ia maju terus akan merangsang senjata orang.

Tiba-tiba Hi Tong melesat di-tengah-tengah, seraya berkata.

,Suko, siaote sudah suCikan diri, tak perlu dengan barang itu.

Biarkan dibawa pergi Ku-toako!"

Bun Thay Lay melengak. Dengan keluarkan suara hidung, dia menyingkir kesamping. Kim Piauw pun simpan senjata-nya, terus loncat keluar ruangan.

"Orang she Bun itu garang amat. Apa kau kira kita takut padamu! Biar kutunyukkan kelihaian kita agar matamu terbuka."

Berpikir demikian, It Lui sudah berada diluar ruangan.

Ditengah situ tegak berdiri patung besar.

Dimukanya ada lampu.

Pada ke 2 sampingnya, ada 4 patung Tay Kim Kong yang besar.

Ada yang tengah bersilat, ada yang pegang pa jung, ada yang memetik pi-peh dan ada yang pegang ular.

It Lui loncat keatas altar patung tersebut, dengan kerahkan tenaganya, dia goyang 2kan patung 2 malaekat itu.

"Ayo, kita lekas berlalu !"

Katanya kemudian.

Saat itu Bun Thay Lay dan Hi Tong mendengar diruangan luar ada suara berkretekan dengan gemuruh sekali.

Buru-buru mereka memburu keluar.

Tampaklah kelima patung itu seperti hidup lagi ber-gerak-gerak maju.

"Celaka!"

Seru JBun Thay Lay.

Untuk lari masuk keruangan dalam, terang tak keburu.

Cepat-cepat dia tarik tangan Hi Tong, sekali enjot, mereka loncat keluar pintu.

Baru saja kaki mereka akan mengin jak ketanah, atau segera terdengar suara yang dahsyat sekali dari benda yang roboh.

Ternyata kelima patung yang besar dan berat itu, roboh hanCur.

Bun Thay Lay marah sekali.

Hendak dia mengejar It Lui berempat.

Tapi diCegah Hi Tong.

"Suko, malam ini kau sudah membunuh 4 orang, Cukuplah!"

"Sipsute, mengapa kau menjadi hweshio,"

Tanya Bun Thay Lay dengan keheranan. Setelah merobohkan patung 2 itu, It Lui ajak saudara-saudara nya lari turun gunung. Tiba-tiba-Kim Piauw merabah ping-gangnya belakang.

"Astaga!"

Serunya dengan terkejut. Karena kim-tiok dari Hi Tong sudah lenyap.

"Ada apa?"

Tegur It Lui.

"Bangsat she Bun itu sudah Curi kim-tiok itu !"

Heran dan jeri orang-orang itu dibuatnya. Terang tadi Bun Thay Lay dan sianak muda terpisah jauh, masa masih bisa menggerayang i seruling dipunggung Kim Piauw.

"Lo Ji, sudahlah. Masih hanya' seruling yang diambilnya. Kalau tadi dia hajar punggungmu, mana kau masih bisa bernapas,"

Kata Haphaptai.

Begitulah berempat orang itu bersepakat akan pergi ke daerah Hwe untuk menCari balas pada Hwe Ceng Tong.

Hanya Bun Tong yang menolak.

Sampai dikota BengCiu, mereka berpisah.

Bun Tiong kembali ke Lokyang mengasingkan diri dari kangouw untuk hidup dalam ketenteraman.

Balik pada pertanyaan Bun Thay Lay tadi, Hi Tong me ngelah napas panjang , katanya.

"Suko, maukah kau maafkan diriku?"

"Kita seperti saudara sendiri, tentu kita dapat saling memaafkan."

"Kalau begitu legalah salah suatu hal yang mengganyel dalam hatiku."

Dibawah Cahaja rembulan, Bun Thay Lay dapat melihat tegas bagaimana Sipsutenya itu mengenakan jubah hweshio dan merangkapkan ke 2 tangannya.

Jauh bedanya dengan si Kim-tiok SiuCay yang berparas Cakap dan gagah dahulu.

Bun Thay Lay merasa iba.

"Sipsute, kita sudah berjanji akan sehidup semati. Silah kan kau katakan."

Sejak ke 2 orang tuanya meninggal diCelakai orang, Hi Tong berkelana dikangouw dan kemudian masuk dalam HONG HWA HWE, belum pernah ada orang yang begitu menyayang inya seperti Sukonya itu.

Hampir dia tergerak hatinya.

Tapi mengingat kini dia sudah suCikan diri, segala hubungan rasa harus ditiadakan.

Dia kuatkan perasaannya, katanya dengan tawar.

"Suko, harap kau pulang. Kelak belum tentu kita dapat berjumpa lagi. Kini namaku ialah Gong Yan, jangan sebut aku Sipsute lagi."

Habis berkata, dia putar tubuhnya terus masuk kedalam gereja.

Sampai beberapa saat Bun Thay Lay termangu-mangu.

Menilik sikapnya, sukar untuk menasehati Sipsute itu.

Ia ambil putusan pulang dan memberitahukan pada Congthocu dan Thian Hong.

Melihat ruangan dalam kalang-kabut, patung 2 berantakan, majat 2 bergelimpangan, Hi Tong bersujut dihadapan patung mohon ampun.

Tiba-tiba didengarnya ada suara berkelotekan, ketika dilihatnya, ternyata kimtioknya terletak dihadapannya.

Hi Tong terkejut dan Buru-buru berpaling kebelakang.

Astaga !

H Wan Ci, Malah kini ia mengenakan pakaian perempuan Cantik sekali nampaknya.

Hanya wajahnya kelihatan saju.

Hi Tong rangkapkan ke 2 tangannya dan menjura, tapi tak berkata apa-apa.

Melihat orang berhati begitu dingin, Wan Ci pun batal untuk berkata, ia numprah kelantai, dan menangis tersedu 2.

Setiba Thay Lay dihotel, Lou Ping ternyata sudah siap akan menyusul.

Ia sesali suaminya mengapa malam 2 keluar sendirian.

,"Aku berhasil jumpahkan Sipsute.

Dia sudah jadi Hweshio!"

Lou Ping terkesiap, tanpa terasa air matanya berCuCuran.

Bun Thay Lay mengajaknya lapor pada Tan Keh Lok dan lain-lain saudaranya.

Kepada mereka dituturkannya kejadian tadi.

Yang paling tak tahan adalah Ciang Cin.

Dia loncat berjingkrak.

Saat itu juga mereka ramai 2 menuju kege reja Po Siang Si.

Tapi tak ada barang seorang hweshio pun yang berada dalam gereja itu.

Mereka siang 2 sudah sembunyikan diri demi melihat rombongan HONG HWA HWE datang.

Lou Ping paling jeli penglihatannya.

Ia melihat diatas meja sembahjangan ada sepuCuk surat yang ternyata dari Hi Tong.

Buru-buru dibe rikannya kepada Keh Lok.

Surat itu berbunyi bahwa dia (Hi Tong) sudah suCikan diri dan kini mulai keluar mengembara Cari derma, entah kapan kembali.

Dia harap agar sekalian saudaranya terus berjoang dalam Cita 2nya yang luhur itu, tak usah hiraukan dirinya (Hi Tong).

Yang penting, kini Kwantong Liok Mo sedang menuju ke daerah Hwe menCari balas pada Hwe Ceng Tong supaya hati-hati.

Surat itu membuat terharu sekalian orang, lebih 2 Lou Ping.

"Huh, apa-apaan dia. Bakar saja gereja ini Coba dia bisa jadi hweshio apa tidak?"

Ciang Cin menggeram. Dan segera dia akan wujudkan perkataannya, tapi diCe gah Lou Ping.

"Kulihat Sipsute masih belum dapat bebaskan dirinya, ra sanya dia tak mungkin jadi hweshio,"

Kata Thian Hong.

"Mengapa?"

Tanya Bun Thay Lay.

"Pertama, dia masih ingat akan tujuan kita yang besar itu. Ke 2, dia mau pungut derma untuk memperbaiki kerusakan gereja ini. Dia orangnya berhati tinggi, tidak mau minta pertolongan orang. Jadi tentu gagal. Rasanya dia tentu gunakan Cara lama 'mengambil' harta benda hartawan jahat."

Orang-orang ketawa mendengar uraian Thian Hong itu.

"Ah, macam hweshio apa itu."

Kata Keh Lok dengan tertawa.

"Sampai diri Hiu-ih-wi-sam Hwe Ceng Tong dia masih pikirkan. Sukar rasanya dia menjadi orang suCi."

Semua orang sependapat dengan kata-kata Thian Hong ini.

"Kwantong Liok Mo Cukup lihai. Entah dia taruh permusuhan apa dengan Hiu-ih-wi-sam itu?"

Tanya Bun Thay Lay.

"Ketika nona Ceng Tong tempur Giam Se Ciang (salah seorang Anggota Liok Mo), kita sama menyaksikannya, bagaimana nona gagah itu telah merobohkan lawannya. Tapi andaikan Congthocu tidak keburu turun tangan, mungkin nona itu akan Celaka ditangan orang she Giam itu,"

Menerangkan Thian Hong.

"Ya, Liok Mo pertama, Thing It Lui itu luar biasa tena ganya dan lihai sekali,"

Kata Bun Thay Lay.

"Kalau begitu kita harus lekas-lekas berangkat kedaerah Hwe. Paling baik kita dapat susul mereka, setidaknya, kita dapat memperingatkan pada nona Ceng Tong. Setelah urusan kita beres, kita temui Sipsute lagi", usul Thian Hong. Semua orang setuju.

"Ingin aku akan mohon bantuan Siangkwan-toako untuk sesuatu hal", kata Keh Lok kepada Siangkwan Ie San.

"Silakan Tan-tangkeh mengatakan".

"Kumohon Siangkwan-toako suka memberi tiga 000 tail perak pada gereja ini, untuk beaja perbaikan. Kelak Siaote kembalikan uang itu."

Siangkwan Ie San sanggupi permintaan itu. Setelah itu, Tan Keh Lok ajak rombongannya balik kekota BengCin.

"Kwantong Liok Mo sudah berangkat. Baik kita minta seorang saudara dengan menaik kuda putih Suso, menyusul mereka. Karena dikuatirkan urusan menjadi runyam. Se dangnya Bok To Lun loenghiong sibuk menghadapi serangan pasukan Ceng, jangan-jangan nanti nona Ceng Tong kena di Celakai ketiga musuhnya itu,"

Kata Thian Hong. Tan Keh Lok membenarkan dan tampak berpikir.

"Biar aku yang pergi dulu,"

Ciang Cin ajukan diri.

"Adatmu gegabah, jangan-jangan membikin onar dijalan,"

Ujar Thian Hong.

"Tidak, aku berjanji."

Lou Ping mengerti maksud Thian Hong, katanya.

"Kau tidak mengerti bahasa Hwe, tidak leluasa. Kini disana sedang dalam suasana peperangan, bisa terbitkan keCurigaan orang."

Diantara mereka hanya Tan Keh Lok dan Sim Hi yang pernah tinggal sepuluh tahun didaerah Hwe.

Mereka menguasai bahasa Hwe.

Terang, tadi Lou Ping menunyuk pada Cong-thocu itu.

Tapi yang ditunyuk itu tetap diam saja.

"Siaoya, baik aku saja yang pergi,"

Tiba-tiba Sim Hi menyetuk.

"Lebih baik kau saja yang pergi, Congthocu. Kau mengerti bahasa Hwe, lagi berilmu tinggi. Kwantong Liok Mo belum mengenalmu. Disana apabila Tiau Hwi belum hentikan penyerangannya, kaupun dapat membantu pihak Bok To Lun loenghiong,"

Kata Thian Hong.

Tan Keh Lok terhening sampai beberapa saat, baru dia menyetujui.

Habis dahar dia Cemplak kuda putih Lou Ping, ambil selamat berpisah terus berangkat.

Yang menjadi pikiran Tan Keh Lok adalah diri Ceng Tong.

Dia kuatirkan nasib nona itu jika berhadapan dengan Kwantong Liok Mo.

Selama menempuh perjalanan digurun pasir itu dia selalu terbayang diri nona Hwe yang jelita itu.

Namun kalau ingat betapa mesra perhubungan sinona dengan "pemuda"

She Li itu, dia menjadi tawar.

Jangan-jangan hanya seperti orang menepuk dengan sebelah tangan atau tegasnya memikir orang yang tidak mau balas memikirkan dia.

Ingin dia melupakannya, namun tak dapat.

Kuda putih itu luar biasa Cepat-cepat nya.

Bukit 2 dan pohon 2 bagaikan terbang saja lalu disampingnya.

Sampai dia kuatir jangan-jangan kuda itu melanggar orang atau terperosok keda lam lubang.

Tapi ternyata binatang itu adalah seekor kuda sakti.

Begitu pesat larinya, tapi begitu aman dia menCari jalan.

Melihat itu legalah hati Keh Lok.

Lari setengah harian, lebih dari 400 li telah ditempuhnya.

Karena itu, Kwantong Liok Mo jauh ketinggalan dibela kang.

Malamnya dia menginap disebuah hotel.

Kini betul-betul dia merasa lega, karena tak nanti Kwantong Liok Mo akan dapat menyusulnya.

Besoknya dia tiba di SouwCiu.

Naik kepos tapal batas di Ka-ko-kwan, dia saksikan bagaimana angker dan megahnya Ban Li Tiang Shia (Tembok Panjang ) me-lingkar 2 diantara padang sahara.

Ketika melanjutkan perjalanannya lagi, tampak olehnya diluar perbatasan sana asap dan debu ber terbangan, sehingga Cahaja matahari tampak suram.

Tan Keh Lok tahan lesnya.

Dengan pe-lahan 2 dia kasih lari kudanya, sambil menikmati pemandangan alam didaerah Kwan Gwa (luar perbatasan) situ.

Tengah dia tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba pada seekor onta terdengar seseorang menyanyi.

"Siapa yang melalui Ka-ko-kwan, tentu tak putus-putusnya mengeluarkan air mata. Disebelah muka karang, disebelah belakang padang pasir."

Tan Keh Lok tersenyum.

Lesnya dikendorkan, terus men Congklang lagi.

Melalui Giok Bun, kemudian An-se dan gurun pasir makin menguning warnanya.

Tahulah dia, bahwa kini dia sudah mendekati tapal batas dari pegunungan karang.

Makin dekat, makin kelihatan bagaimana pegunungan itu punCaknya terbungkus mega yang tebal.

Disitu ada sebuah jalan jakni satu 2nya lalu-lintas antara propinsi Kam-siok dengan daerah Hwe di Sinkiang yang dikenal sebagai selat Sing Sing.

Selat itu ber-liku 2.

Ke 2 tepiannya batu-batu karang men-julang dengan runCingnya, se-olah 2 disisir dengan pisau.

Melalui selat itu, Keh Lok menginap disebuah pondok kecil.

Keesokannya, dia mulai menanyak pegunungan, Disitu ter nyata merupakan tanah datar yang luas.

Sunyi lelap keadaan nya, hanya ada dia seorang.

Dalam keadaan begitu, walaupun dia mempunyai kepandaian yang tinggi, tak urung merasa gentar juga.

Dalam kebesaran alam dihadapannya itu, dia rasakan betapa kecil dirinya itu.

Sampai dikota Hami, dia terpaksa jalan memutar, karena pe&jagaan disitu terhadap orang-orang yang baru datang, keras sekali.

Dia bermalam dipos benteng ke 2, kota Ji-poh.

Resoknya, pagi 2 sekali dia sudah bangun.

Hendak diCarinya seorang Hwe, agar dia bisa dibawa ketempat kediaman Ceng Tong.

Supaya jangan menimbulkan keCurigaan, dia ganti mengenakan pakaian orang Hwe.

Anehnya, selama melanjutkan perjalanannya itu, tak pernah dia berjumpa dengan seorang Hwe pun juga.

Kira nya, dusun mereka kini sudah rata dibakar tentara Ceng dibawah pimpinan panglima Tiau Hwi itu.

Jadi orang-orang Hwe itu tentu lari kedaerah padang pasir.

Keh Lok agak resah hatinya.

Digurun sahara yang luas bebas itu, tentu sukar untuk menCari tempat kediaman Ceng Tong.

Tiba-tiba dia alihkan arah jalannya.

Tidak melalui lautan pasir, tapi putar menujU kearah selatan.

Tiga hari kemudian, ramsumnya habis.

Syukur dia dapat menangkap seekor kambing.

Bolehlah, untuk penangsel perut.

Berjalan lagi sekira 2 hari, dia bertemu dengan beberapa penggembala.

Tapi ternyata mereka itu dari suku Kasak.

Mereka hanya dapat memberi keterangan, bahwa karena pasukan besar pemerintah.

Ceng datang, rakyat Hwe mengungsi kesebelah barat.

Kemana saja perginya, tak mereka ketahui jelas.

Karena tak berdaya menyumpai warga kelompok dari Bok To Lun, Keh Lok berganti menuju kebarat.

Tiap hari dia berjalan tujuh ratusan li.

Tapi sampai tiga hari, belum juga dia berhasil menemukan jejak mereka.

Hari itu hawa udara luar biasa panasnya.

Memang iklim didaerah situ panas dingin silih berganti.

Kalau tadinya air perbekalannya sudah akan membeku, kini menjadi Cair pula bahkan berobah makin panas.

Karena tak tahan, Keh Lok hendak menCari tempat beristirahat yang teduh.

Tapi disekeliling tempat situ, sejauh mata memandang, hanya bukit pasir yang tampak.

Dia menuju kebalik bukit dan mengaso.

Dari kantong airnya, dia minum tiga teguk, lalu kuda-nya pun diberinya serupa.

Dia harus hemat, kalau tidak mau mati kehausan.

Setelah mengaso sekian lama, kembali dia lanjutkan penyelayahannya.

Tak lama kiranya, segera mereka orang dan kuda -sudah tampak kepayahan.

Tiba-tiba kuda putih tampak dongakkan kepalanya dan meringkik dengan keras nya.

Habis itu, berputar diri terus mencongklang kearah selatan.

Tan Keh Lok antepkan kemana saja kuda luar biasa itu akan membawa dirinya.

Benar juga, pada lain saat ditengah bukit 2 gurun itu tampak tumbuh 2an rumput.

Makin kemuka, pasir makin berkurang, sebaliknya, rumput makin lebat.

Girang hati Keh Lok tak terkira.

Dia tahu kalau disebelah muka sana tentu terdapat sumber air.

Kuda makin pesat larinya.

Sesaat kemudian, terdengar bunyi air mengalir.

Sebuah anak sungat kecil terbentang dimuka.

Airnya jernih sekali.

Berhenti ditepinya, kuda itu tak mau terus julurkan mulutnya keair.

"Bagus, kiranya kau dapat menghormat tuanmu. Ayo, kita bersama-sama minum,"

Kata Keh Lok seraya menepuk kepala kuda itu.

Air itu ternyata sejuk sekali menyamankan perasaan.

Selain sejuk juga harum baunya.

Tentu berasal dari sumber yang bagus.

Kuda itu meringkik dan berjingkrak-jingkrak, rasanya diapun merasa nyaman dan segar.

Keh Lok CuCi muka dan kak;nya, begitu pula dia kasih mandi kuda itu.

Tiba-tiba tampak olehnya, ada beberapa kuntum bunga turut mengalir.

Tan Keh Lok girang, tentu dibagian udik sana, ada orangnya.

Cepat-cepat dia naiki kudanya lagi, menyusur kealiran sebelah atas.

Makin keudik, aliran anak sungai itu makin lebar dan besar.

Memang demikianlah keadaan sungai digurun pasir.

Mak'n kehulu makin mengeCil, karena air banyak sekali di sap pasir.

Pada ke 2 tepiannya, banyak sekali tumbuh pohon 2an.

Anak sungai berbiluk melingkari sebuah dataran tinggi, disitulah asalnya, sebuah air terjun yang berperCikan terCurah dari atas laksana mutiara bertebaran.

Kagum dan heran akan pemandangan itu, Keh Lok tuntun kudanya untuk mendaki keatas, akan menyaksikan sebelah atas dari air terjun itu.

Setelah menempuh jalan yang berliku 2, kembali dia kesima dengan pemandangan yang disaksikannya.

Sebuah telaga yang dikelilingi dengan pagar pohon siong.

Pada ujung sebelah selatannya, kembali terdapat sebuah air terjun yang muntahkan airnya kebawah dengan indahnya.

Sekeliling tepi telaga itu, penuh ditumbuhi bunga-bungaan bagaikan saling berkaCa kepermukaan air telaga.

Suatu panorama yang sukar dilukiskan keindahannya.

Jauh disebelah sana, adalah sebuah stepa (padang rum put) yang luas, dimana terdapat beberapa ratus ekor kambing tengah berkeliaran.

Diujung barat, tegak menjulang sebuah gunung yang punCaknya tertutup awan putih.

Tan Keh Lok kesima dengan pemandangan yang seperti terdapat dalam lukisan itu.

Suara burung berkiCau, desir air terjun gemerCik dan riak air telaga mengalun, merupakan sebuah komposisi musik alam yang merdu.

Tengah dia terlongong-longong mengawasi ketengah telaga, tiba-tiba ada sebuah lengan manusia yang putih metetak tersembul dari dalam air, disusul dengan sebuah kepala yang basah kujup.

Tapi demi melihat Tan Keh Lok, orang itu menjerit kaget terus silam lagi.

Itulah seorang wanita yang luar biasa Cantiknya.

Hati Keh Lok memukul keras.

Pikirnya.

"Apakah bangsa siluman atau jin itu memang ada?"

Dia siapkan tiga butir biji Catur, untuk menghadapi ke-mungkinan yang tak diharap.

Air telaga beriak kearah timur.

Tiba-tiba diatara serumpun bunga, kelihatan tersingkap, sebuah wajah muncul.

Sepasang matanya yang laksana bintang kejora itu, menatap kearah Tan Keh Lok.

Masih anak muda itu mengira, kalau kini dia sedang berhadapan dengan seorang jin.

Karena kalau manusia, mustahil begitu luar biasa Cantiknya.

"Kau siapa? Mau apa kemari?"

Tiba-tiba terdengar suara merdu sijelita. Bahasanya bahasa Ui. Jelas Keh Lok mendengarnya, tapi dia seperti orang yang tak mengerti bahasa orang, tetap diam terkesiap.

"Pergilah lekas, aku akan berpakaian!"

Kembali si Cantik bersuara. Merah selebar muka Keh Lok. Cepat-cepat setelah membalik tubuhnya, dia gunakan ilmu berjalan Cepat-cepat "pat-poh-kam-sian", menyelinap kedalam belukar.

"Ah, kiranya dia hanya seorang gadis Hwe. Ia sedang mandi, aku tak pantas berada disitu", katanya sendiri seraya duduk. Malu akan perbuatannya tadi, dia hendak segera berlalu. Tapi karena gugup tadi, dia lupa membawa kudanya kesitu. Dia bersuit keras, untuk memanggilnya. Kuda itu kedengaran bebenger menyawab, tapi tak mau menghampiri. Heran Keh Lok dibuatnya, karena tak biasa kuda itu membandel begitu. Selagi Tan Keh Lok tak tahu apa yang akan dilakukannya, tiba-tiba kedengaran siCantik menyanyi dengan suaranya yang merdu.

"Toako yang lalu ditempai ini tadi, kemarilah, Hendak kusampaikan beberapa patah perkataan padamu, Orang sedang mandi masa kau lancang melihat, D jawablah, ajo! Pantas tidak perbuatan itu?"

Nyanyian itu berlagu gembira, tentunya sipenyanyi itu ber nyanyi dengan tertawa.

Mendengar orang hanya memper-olok 2, dan karena kudanya masih tak mau datang, terpaksa Keh Lok menghampiri pelan-pelan ketepi telaga.

Maka tertampaklah seorang gadis yang mengenakan pakaian serba putih, kelihatan duduk dibawah sebuah pohon.

Tangannya tengah memegang sebuah sisir, menyisir ram butnya yang terurai diatas bahunya itu.

Dari mukanya yang masih tampak ditaburi dengan butir-butir air itu, menandakan ia baru habis mandi.

Nampak wajah yang aju itu, kembali hati Tan Keh Lok memukul keras, pikirnya.

"Masa didunia ada wanita yang sedemikian Cantiknya?"

Wajar saja "bidadari"

Itu duduk ditepi telaga.

Pakaian nya menyulur kearah air.

Seumur hidup haru pertama kali itu Keh Lok merasa kikuk betul-betul.

Gadis itu tersenyum, melambaikan tangannya agar anak muda itu menghampiri lebih dekat.

"Karena akan menCari air untuk pelepas dahaga, maka tanpa sengaja kudatang kemari. Sungguh tak kuduga telah mengganggu kesenangan nona tadi. Harap maafkan!"

Kata Keh Lok dalam bahasa Ui. Habis mengucap, dia menjura. Gadis itu tertawa girang, kembali menyanyi.

"Toako ini berasal dari mana? Berapa banyak sekalikah gurun dan bukit yang kaulalui? Apakah kau pengembala dipadang rumput? Atau pedagang yang menaik onta. Orang Hwe memang gemar berpantun kalau ber-Cakap 2. Walaupun ber-tahun 2 Tan Keh Lok tinggal didaerah gurun, tapi karena dia Curahkan perhatiannya untuk meyakinkan ilmu silat, jadi tak dapat dia belajar Cara mereka ber-Cakap 2 dengan bahasa pantun itu. Entah dari kelompok mana gadis itu, maka tak mau dia kasih tahu siapa sebenarnya dirinya itu.

"Aku dari sebelah timur, berdagang onta kedaerah pedalaman sana. Aku sedang menCari seseorang, sukakah nona menunyukkannya?"

Sahutnya kemudian. Melihat orang tak bisa berpantun, gadis itu tersenyum. Kini dia mulai bertanya dengan Cara biasa.

"Siapakah namamu?"

"Hamid!"

Sengaja Keh Lok memakai nama Islam itu, karena itu lazim dipakai oleh kaum lelaki dari suku Uigor.

"Bagus! Dan namaku Asihan!"

Juga nama yang disebut gadis itu, banyak sekali digunakan oleh kaum wanita Ui.

"Kau Cari siapa?"

Tanyanya pula.

"Bok To Lun loenghiong!"

"Kau kenal dia? Ada urusan apa dengannya?"

Tanya gadis itu agak terkejut.

"Ya, aku sudah kenal padanya!"

"Benarkah itu?"

"Mengapa tidak? Bahkan akupun sudah kenal pada pu teranya yang bernama Hwe A-in dan nona Hwe Ceng Tong!"

"Dimana kau pernah berjumpa dengan mereka?"

"Ketika mereka merampas pulang kitab SuCi di Kamsiok, kebetulan kita bertemu."

"Bagus, duduklah. Akan kuambilkan daharan untukmu,"

Ujar sigadis.

Dengan kaki telanjang , gadis itu lari kedalam semak 2 pohon.

Tak lama ia keluar dengan membawa sebuah semangka dan semangkuk arak dan susu kuda.

Tan Keh Lok menghaturkan terima kasih.

Arak itu enak sekali rasanya.

Juga semangka itu segar sekali.

"Bilanglah. sejujurnya, mengapa kau Cari Bok-loyaCu itu?"

Tanya gadis itu. Dari sebutan yang digunakan, tahulah Keh Lok bahwa gadis itu menghormat sekali pada Bok To Lun.

"Apakah nona sekaum dengan Bok-loenghiong?"

Gadis itu mengangguk.

"Karena dalam perebutan kitab itu, fihak Bok-loenghicng telah binasakan beberapa piauwsu, maka Kawan-kawan mereka akan menCari balas. Untuk anCaman itulah maka aku Buru-buru akan menemui Bok-loenghiong agar bisa mengadakan persiapan,"

Tutur Keh Lok. Gadis itu menaruh perhatian tampaknya, Cepat-cepat ia bertanya.

"Apakah mereka itu lihai? Banyak sekalikah jumlahnya?"

"Jumlahnya sih tak seberapa, tapi kabarnya mereka itu lihai sekali. Asal sudah tahu dan bersiap, rasanya tak perlu was-was!"

Kata Keh Lok.

"Ah, mari kuantar kesana. Tapi masih perjalanan beberapa hari lagi baru sampai,"

Kata gadis itu dengan lega. Sembari menyisir kunCirnya, kedengaran ia berkata pula.

"Kaki tangan bangsa Boan tanpa sebab telah menyerang bangsa kami. Semua orang lelaki sama berperang, tinggal aku dan CiCiku menggembala ternak disini. Karena hari amat panas, tadi kuberbenam ditelaga. Siapa kira, Kalau masih ada kau, seorang lelaki, bersembunyi sini!"

Mendengar sigadis berbicara secara bebas wajar, Tan Keh Lok makin termangu 2.

Sesaat kemudian, gadis itu meniup terompet tanduk.

Beberapa wanita Hwe yang menunggang kuda, lari mendatangi.

Gadis itu ber-kata-kata sebentar pada mereka.

Wanita 2 itu mengawasi kepada Keh Lok dengan herannya.

Gadis itu menuju keperkemahannya.

Dari situ ia mengambil bekal ransum kering dan menuntun keluar seekor kuda.

Kuda itu seluruhnya berbulu merah.

Seekor kuda yang tegap dan pasti hebat larinya.

Keh Lok pun lalu menghampiri kudanya.

Kiranya kuda itu ditambat pada sebatang puhun, makanya tadi tak mau dipanggil datang.

"Kudamu itu bagus amat, ajo, kita berangkat!"

Sambil berkata, gadis itu loncat kepunggung kudanya. Ia berlaku sebagai penunyuk jalan. Menyusur tepi sungai es, langsung menuju kearah selatan.

"Didaerah Tiongkok, apakah orang Han perlakukan kau baik-baik ?"

Tanya sigadis.

"Ada yang baik, ada yang jahat. Cuma umumnya banyak sekali yang baik", sahut Keh Lok. Hendak Keh Lok mengatakan bahwa dirinya itu sebetulnya orang Han. Tapi melihat sikap gadis yang tak menaruh Cu riga apa-apa, tak dapat dia membuka mulut. Dengan girang Keh Lok menyawab pertanyaan gadis perihal penghidupan orang Han. Ia tertarik mendengarnya..Menjelang petang hari, ke 2nya sampai dilereng sebuah gunung besar. Mendongak keatas, sekonyong 2 gadis itu ber tcreak keras. Ketika Tan Keh Lok juga memandang keatas, ternyata pada sebuah karang dilamping gunung itu kelihatan 2 tangkai bunga sebesar mangkuk. Bunga itu aneh bentuk nya. Kelopaknya berwarna biru ke-hijau 2an, penuh bertabur kan salju putih yang karena ditimpah sinar matahari terbenam, Cantik sekali kelihatannya! "Inilah bunga Swat-tiong-lian (terate salju) yang jarang terdapat. Coba bauilah harumnya yang sangat semerbak itu!"

Kata sigadis. Jarak karang dengan tanah kira-kira ada 2puluhan tombak, namun harum bunga itu terasa menusuk hidung. Gadis itu menyublek mengawasi saja, rupanya ia berat untuk me-ninggalkan.

"Inginkah kau akan bunga itu?"

Tanya Keh Lok. Gadis itu mengelah napas, katanya.

"Ah, kita jalan lagi saja. PerCumalah mengharapkan barang yang tak mungkin diCapai."

Tiba-tiba Keh Lok loncat turun dari tunggangannya, terus melompat keatas batu karang.

"He, apa-apaan kau ini!"

Seru sigadis dengan terkejut.

Keh Lok tumpahkan perhatiannya Cari jalan menanyak keatas.

Tak dia dengarkan seruan sigadis.

Thian-ti-koayhiap termasjhur sekali akan ilmunya mengen.engi tubuh.

Sedang Sim Hi saja yang hanya belajar sedikit "kulit"

Dari ilmu tersebut, telah berhasil mengoCok kawanan si-wi pertempuran ditelaga Se-Ouw tempo hari.

Tan Keh Lok adalah satu 2nya ahliwaris Thian-ti-koayhiap.

Sudah tentu berpuluh kali lebih lihai dari Sim Hi.

Dengan gunakan ilmu "pik-houw-kang" (CeCak merajap), sekejab saja dia sudah merajap belasan tombak, Tapi disebelah atas, bukit karang tertutup salju.

Beberapa kali sudah hampir dia terpeleset.

Kira-kira jarak satu tombak dari tempat bunga swat-lian itu, ada sebuah gundukan karang menonyol.

Risiko gagal dan jatuh tergelinCir, besar sekali.

Tiba-tiba dia mendapat akal.

Dikeluarkannya "Cu-soh,"

Ban dringan mutiaranya, dilontarkan untuk menggaet tonyolan itu.

Dengan tangan menarik tali bandringan, dia enjot tubuhnya keatas, tepat disebelah bunga itu.

Bunga itu ternyata menyiarkan bau yang luar biasa harum nya.

Dengan hati-hati sekali dipetiknya sepasang swat-lian itu.

Sewaktu turun, dia menggelinCir saja, ada kalanya kalau terlalu Cepat-cepat , dia tusukkan pedangnya kesalju untuk menahan.

Kira-kira sudah hampir tujuh tombak dari tanah, ia melambung bagaikan burung melayang , tahu-tahu orangnya sudah berdiri tegak dimuka kuda sigadis.

Serta-merta gadis itu segera ulurkan sepasang tangannya yang putih halus.

Saat itu, Keh Lok sempat memandang muka sijelita, dan tahu pula bahwa gadis itu menguCurkan air mata.

Heran anak muda itu melihatnya, namun dia tak mau bertanya dan terus naik kudanya.

Mereka berjalan lagi.

Diam-diam Keh Lok merasa heran mengapa, tanpa sadar, dia lakukan permintaan gadis itu.

Berpaling kearah batu karang tadi, dia menjadi bergidik sendiri.

Menjelang petang, mereka mengaso dibawah sebuah batu besar di tepi sungai es.

Sigadis nyalakan api, membakar daging kambing kering.

Selama makan, ke 2nya tetap tak ber-kata-kata.

Sambil mengawasi sianak muda, gadis itu mejinyingkir jauh kesana untuk menjalankan kewajibannya sembahyang .

Selang beberapa saat, ia berbangkit dan menghampiri sianak muda.

"Kau tidak takut tergelinCir tadi?"

"Yang kutakutkan bukan tergelinCir, tapi kalau sampai tidak bisa dapatkan bunga yang kau inginkan itu,"

Sahut Keh Lok.

Gadis itu tersenyum, Diambilnya setangkai swat-lian, laju diberikan kepada Keh Lok, siapa terpaksa tak dapat meno laknya.

Kata-kata yang halus dari sijelita, menggenggam suatu perintah yang tak dapat dibantah.

"Kalau sekalian saudara-saudara Hong Hwa Hwe tahu bagaimana aku, seorang Congthocu, menurut saja perintah seorang anak perempuan, entah bagaimana pandangan mereka,"

Pikir ketua Hong Hwa Hwe itu. Gadis itu menanyakan adakah sianak muda mengerti ilmu silat. Dengan merendah dijawabnya tidak bisa dan hanya karena andalkan keberaniannya saja.

"Dipadang rumput sini banyak sekali tumbuh beraneka bunga. Aku lebih suka tidak makan daging kambing asal makan kembang,"

Sinona berkata.

"Apa, makan bunga?"

Keh Lok heran.

"Ya, sejak kecil aku biasa memakannya. Bermula ayah dan kakak melarang, tapi kutetap memakannya sewaktu menggembala, akhirnya beliau membiarkan!"

Hendak Keh Lok mengatakan.

"Ah, makanya kau seCantik bunga."

Tapi mulutnya serasa terkanCing.

Duduk didamping sinona, ia merasakan bebauan yang harum.

Terang tadi nona itu habis mandi dan tak pakai minyak wangi apa-apa.

Sekalipun minyak wangi, rasanya tak ada yang begitu harumnya.

Keh Lok terbenam dalarri lamunan yang indah.

Tiba-tiba dia tersedar akan batas 2 perhubungan wanita dan pria, dia me nyingkir agak kesana.

"Mungkin karena suka makan bunga, tubuhku mengeluarkan bau harum. Tidakkah kau menyukainya?"

Ditanya begitu, merah padam selebar muka Keh Lok.

Seketika tak dapat dia menyawabnya.

Pikirnya, nona itu begitu wajar ke-kanak-kanakan, baik dan tak sungkan 2.

Maka diapun merobahkan sikapnya, tidak lagi likat 2, tapi ramah sekali.

Sejak tinggalkan rumah, Keh Lok hanya kenal dengan nama berbagai senjata.

Permainannya, hanya permainan ilmu silat.

Mendengar mulut sinona itu menCeritakan tentang segala sesuatu permainan kanak-kanak, terkenanglah pula dia akari masa kanak-kanaknya.

Suatu masa dari dunia yang penuh dengan tawa-gembira.

Malam hari, hawa terasa dingin.

Keh Lok kumpulkan rumput dan kulit kayu kering.

Dibuatnya api yang besar.

Dengan berselimutkan permadani ke 2 anak muda itu tidur.

Keesokan harinya, mereka lanjutkan perjalanannya.

Empat hari menempuh kearah barat, tibalah ia ketepi sungai Tarim.

Sorenya dari sebelah selatan gunung, muncul 2 serdadu berkuda suku Ui.

Nona itu berbicara dengan mereka, siapa setelah memberi hormat terus berlalu.

"Tentara Ceng sudah menduduki Aksu dan sekitarnya, Bok To Lun loenghiong sudah undurkan diri ke Yarkand. Kira-kira seperjalanan sepuluh hari lagi dari sini,"

Nona Ui itu memberi keterangan seraya menghampiri. Keh Lok gelisah atas kemenangan pasukan Ceng itu.

"Tentara Ceng berjumlah besar, terpaksa tentara kita mesti mundur kebarat. Agar pengiriman ransum musuh itu kurang lancar."

Sebenarnya masih saja ketua Hong Hwa Hwe itu kuatirkan nasib nona Ceng Tong.

Tapi kini dengan mundurnya seluruh pasukan Hwe kedaerah barat itu, dia lega.

Untuk sementara waktu, pasti pasukan Ceng tak dapat mengejarnya.

Begitu firman Kian Liong datang pertempuran tentu segera selesai.

Hwe Ceng Tong berada dijarak ribuan li dari daerah Tiongkok, dilindungi oleh seluruh tentaranya.

Rasanya sukar rombongan It Lui itu akan dapat menCarinya.

Diam-diam hati Keh Lok terhibur, maka mereka melanjutkan perjalanan dengan Cepat-cepat .

Suatu senya ketika matahari akan terbenam tiba-tiba terdengar bunyi berkeresek dari suatu semak belukar.

Menyusul, seekor anak rusa lompat keluar.

Gadis Ui itu berjingkrak karena terkejut, kemudian tertawa riang, serunya.

"Hola, seekor anak rusa!"

Anak rusa itu rupanya baru beberapa waktu dilahirkan.

Kecil dan mungil sekali.

Sambil berbunyi, binatang itu lompat masuk kedalam belukar lagi.

Gadis itu menguntitnya, tapi sekonyong-konyong ia lari kembali, katanya.

"Ada orang!"

Ketika Tan Keh Lok membuktikan sendiri, benar juga disana ada 5 orang serdadu Ceng.

Mereka sedang ramai 2 memotongi daging rusa.

Anak rusa tadi berputaran diseke liling induknya itu, sambil tak putus-putusnya mengembik-embik memilukan.

"Setan, rupanya kaupun minta dimakan!"

Salah seorang serdadu itu memaki.

Sambil mengeluarkan busur dan anak panah, dia membidik kearah sianak rusa.

Anak rusa itu seperti tak mengetahui akan bahaya yang menganCamnya.

Makin lama malah makin mendekati.

Gadis Ui menjerit dan loncat menghadang dimuka anak rusa itu.

"Yangan, jangan dipanah!"

Demikian teriaknya.

Bukan terhingga kagetnya serdadu itu.

Dia membuka ma tanya lebar 2, mengawasi insan yang dihadapinya itu.

Seorang gadis yang luar biasa Cantiknya.

Wajahnya yang gilang gemilang itu, menyebabkan mata siserdadu silau, hingga sampai mundur selangkah.

Keempat kawannya tadi pun serentak berdiri.

Berbareng itu, Keh Lok-pun sudah siap disisi sinona, siapa segera membawa anak rusa itu dan di-usap 2 kepalanya.

"Indukmu sudah dibinasakan manusia kejam! Ah, sungguh kasihan!"

Katanya sambil menCiumi anak rusa itu dengan mesranya.

Setelah itu, ia delikkan mata kepada serdadu 2 Ceng, lalu keluar dari semak 2 tersebut.

Tampak kelima serdadu itu saling berunding.

Tiba-tiba mereka berteriak keras, dan dengan menghunus golok, mereka mengejar.

Nona itupun mulai Cepat-cepat kan langkah nya.

Pikirnya, sekali dapat berada diatas pelana kudanya, tak nanti serdadu 2 itu mampu mengejarnya.

Tapi ternyata kelima serdadu itu adalah serdadu pilihan yang menjadi pengawal Ciangkun.

Tiau Hwi.

Salah seorang pat-Hong memberi aba 2.

Kelima serdadu itu berpen Caran untuk mengejar.

"Yangan kuatir, biar kubasmi mereka, untuk pemuas hatimu,"

Kata Keh Lok sambil pegangi tangan si nona.

Benar tadi ia telah saksikan kepandaian sianak muda yang luar biasa.

Tapi untuk berhadapan dengan 5 orang serdadu, gadis itu masih sangsi kalau pemuda itu bisa menang.

Namun dengan masih membawa anak rusa, nona itu mau juga berada disisi Tan Keh Lok.

"Lekas berikan binatang itu!"

Bentak seorang serdadu dalam bahasa Ui yang kaku dan lucu. Sinona memandang Keh Lok, siapa memberi senyuman, dan iapun balas bersenyum.

"Rampaslah lekas-lekas!"

Seru pat-Hong tadi dengan marah.

Keempat serdadu itu lempar senjatanya, terus menyerbu kemuka.

Biasanya kawanan serdadu itu paling gemar meng-ganggu wanita.

Tapi anehnya, menghadapi sinona, mereka seperti kena pengaruh tenaga gaib.

Tak berani mengarah sigadis, mereka serbu sipemuda.

Sigadis menjerit.

Tapi belum sirap jeritannya, tiba-tiba disusul dengan suara gedebukan yang keras.

Empat serdadu itu terpental jauh-jauh dan jatuh terhampar tak bisa bangun.

Kiranya mereka kena ditutuk Keh Lok.

Melihat gelagat jelek, si pat-Hong lari tunggang langgang.

"He, mari kembali dulu!"

Seru Keh Lok.

Cepat-cepat Cu-soh (rantai mutiara) melayang , dan leher si pat-Hong terkait, terus terhujung 2 kembali, karena ditarik Tan Keh Lok.

Gadis itu tertawa geli sambil bertepuk tangan.

Keh Lok tarik tangan sinona, diajak duduk disebuah batu besar.

"He, mengapa kamu kemari?"

Tanya Keh Lok kemudian pada tawanannya itu.

Karena lehernya terjerat, terpaksa si pat-Hong ikut merajap keatas batu.

Melihat keempat anak buahnya masih tak berkutik, dia insaf kalau kini sedang berhadapan dengan seorang yang lihai.

Maka Cepat-cepat jawabnya.

"Kita adalah anak buah Tiau Hwi Ciangkun yang bertugas mengurus ransum. Karena atasan suruh kami kemari, kitapun menurut saja".

"Yawab terus terang! Hendak kemana kamu sebenarnya! Ingat, kalau kau bohong, kamu berlima akan kubiarkan mati kehausan digurun sini!"

Mendengar itu, si pat-Hong bergemetar, sahutnya tersipu 2.

"Sungguh aku tak membohong. Pembesar utus kami berlima keselat Sing Sing untuk menyambut kedatangan seseorang". Karena pat-Hong agak sukar menggunakan bahasa Ui, Keh Lok ganti pakai bahasa Han untuk menanyakan siapa orang itu.

"Seorang Thongleng dari barisan Gi-lim-kun!"

Sahut si pat-Hong dengan bahasa Han pula.

"Siapa namanya? Mari berikan suratnya itu padaku!"

Pat-Hong kelihatan gelisah dan bersangsi.

"Kalau keberatan, biarlah. Kita akan lanjutkan perja lanan lagi", kata Keh Lok sambil berbangkit. Wajah pat-Hong itu berobah puCat kuatir ditinggal pergi. Buru-buru dikeluarkannya sepuCuk sampul. Demi mem baCa alamat diatas sampul itu, terperanyatlah Keh Lok. Tulisan itu ternyata berbunyi demikian.

"Dihaturkan kepada yang mulia Thio Ciauw Cong Thongleng-tay-jin."

"Toh sejak pertempuran dibukit Pak Kao Nia, dia diajak pulang oleh Suhengnya, Ma Cin, kegunung. Mengapa kini dia datang kembali kedaerah Hwe sini?"

Pikir Keh Lok.

Sampul terus dirobeknya.

Melihat itu si pat-Hong Buru-buru akan mencegahnya, tapi tak dihiraukan.

Surat itu menyata kan kegembiraan Tiau Hwi atas kedatangan Thio Ciauw Cong kedaerah Hwe karena mendapat firman kaisar.

Karena urusan ketentaraan tak dapat ditinggal, terpaksa tak dapat menyambutnya sendiri dan hanya mengutus orang bawahan nya saja.

"Mungkin firman yang dibawa Ciauw Cong itu, perintah untuk tarik mundur pasukan Ceng. Baik, tak kuhalanginya,"

Pikir Keh Lok. Surat diberikannya kembali, keempat serdadu itu ditiam lagi supaya sadar, dan diapun ajak sinona lanjutkan perjalanannya, lagi.

"Kau gagah sekali. Tentunya namamu kesohor, mengapa tak pernah kudengarnya?"

Tanya gadis itu. Keh Lok tersenyum, katanya.

"Anak rusa itu tentu lapar, berilah makan."

"Ya, ja, benar!"

Kata sinona.

Segera dari botol dituangnya susu kuda kedalam telapak tangannya, lalu disuruhnia sianak rusa mendi latnya.

Tangan sinona itu putih kemerah-merahan, bening laksana warna mutiara.

Begitulah enam hari sudah ke 2nya membuat perjalanan.

Pada hari ketujuh kira-kira baru berjalan sejam lamanya, tiba-tiba dari kejauhan tampak gulungan asap membubung tebal.

"Ah, mungkin ada taufan!"

Kata Keh Lok.

"Itu bukan mendung, tapi debu dari bawah,"

Kata sigadis.

"Mengapa sebanyak sekali itu?"

"Entahlah, mari kita lihat!"

Ke 2 kuda dilarikan kencang . Benarkah kiranya, itulah debu tebal yang membubung keatas. Dan berbareng itu, kedengaran juga genderang dipukul riuh sekali. Keh Lok ter kejut. Kuda ditahan Cepat-cepat .

"Pasukan tentara! Itu genderang perang dibunyikan!"

Seru Keh Lok.

"Baik kita menghindari, ke 2 fihak sedang siapkan pasukannya."

Kuda dilarikan kearah timur.

Tapi tak berapa lama, dilihat nya dari sebelah muka ada sepasukan berkuda mendatangi.

GemerinCing thiat-ka (baju besi) jelas terdengar.

Sebuah bendera besar tampak diantara kepulan debu.

Bendera itu bertuliskan sebuah huruf "Tiau."

Ketika dipenyeberangan sungai Hoangho, pernah Keh Lok terancam bahaya dengan 'thiat-ka-kun' (pasukan baju besi) itu.

Betapa lihainya, tak perlu dijelaskan lagi.

Buru-buru dia memberi isyarat, agar sinona memutar haluan keselatan lagi.

Syukur ke 2 ekor kuda itu bukan kuda sembarangan.

Se kejab saja mereka sudah jauh dari 'thiat-ka-kun' itu.

"Tentara Ceng ganas sekali. Entah tentara kita dapat melawannya tidak,"

Kata sinona.

Belum sempat Keh Lok menyawab, tiba-tiba dari sebelah muka kedengaran suara terompet.

Menyusul, tampak kelompok 2 serdadu berjalan.

Genderangpun makin gencar, se-olah 2 menggetarkan bumi.

Derap berpuluh ribu kaki kuda, memenuhi suasana padang dan gunung.

Lekas Keh Lok tarik sinona, terus dipindahkan keatas kudanya.

Dengan menghunus pedang untuk melindungi si juwita, berbisiklah anak muda itu.

"Yangan takut!"

Dekat dengan sinona Keh Lok rasakan dirinya me-layang-layangdibuai bau yang semerbak.

Sekalipun saat itu berada ditengah kepungan musuh, hatinya tak merasa gentar sedikitpun jua.

Dari' empat penyuru, yang tiga penuh dengan serdadu musuh.

Hanya tinggal penyuru barat yang kosong.

Kesanalah ke 2 orang muda itu keprak kudanya.

Belum lagi jauh mereka berjalan, kembali disebelah depan ada gerakan rombongan serdadu yang tengah menyusun barisan.

Jadi kini, empat penyuru tertutuplah.

Diam-diam ketua Hong Hwa Hwe itu mengeluh dalam hati.

Dilarikan kudanya menanyak sebuah tanyakan, untuk menCari lubang kalau 2 bisa meloloskan diri.

Tapi dia segera menjadi ter longong 2.

Empat penyuru terkepung rapat dengan pasukan Ceng yang ber-lapis 2 jumlahnya.

Pada ke 2 sayap barisan, adalah pasukan berkuda.

Jauh dimuka pasukan Ceng itu, tampak barisan suku Uigor dengan pakaian seragam yang ber-garis 2 itu.

Mereka pun merupakan formasi baru sedang mengatur pasukan dan belum mulai bertempur.

Keh Lok berada didaerah kedudukan pasukan Ceng.

Pe-mimpin pasukan Ceng, tampak hilir mudik memberi perintah, seluruh anak pasukan itu hening mendengari.

Rupanya beradanya Tan Keh Lok disitu, telah diketahui.

Enam serdadu menerima perintah untuk menanyainya.

"Ah, sial benar. Mengapa berada didalam barisan Ceng. Mungkin jiwaku melayang disini,"

Diam-diam Keh Lok mengeluh. Namun dia tak mau tunggu nasib. Dengan tangan kanan memutar Cu-soh (bandringan mutiara), dia peCut kudanya keras-kerasdan membentak.

"Lari!"

Bagaikan anak panah, kuda putih itu melesat lewat disisi keenam serdadu yang akan datang memeriksa, tapi belum sempat membuka mulutnya itu.

Girang bukan kepalang hati Keh Lok, sayang hanya sebentar.

Karena saat itu, kudanya berhenti.

Kiranya disebelah muka, barisan Thiat-ka-kun berbaris dengan rapat sekali.

Tak mungkin diterobos.

Dengan tabahkan hatinya, Tan Keh Lok putar kudanya, jalan memutar disamping barisan Thiat-ka-kun itu.

Ter nyata disitu, semua busur sudah siap terisi anak panah, tombak 2 sudah sama diaCungKan keatas.

Banyak sekalinya laksana pagar rapat yang tak terhitung jumlahnya.

Tan Keh Lok insyap, sekali mulut sipemimpin barisan memberi perintah, dia dan si nona akan berubah menjadi landak oleh anak panah.

Ja, betapa tinggi kepandaiannya, tak nanti dapat keluar dengan selamat.

Dihentikan lari kudanya lalu dijalankannya pe-lahan 2.

Matanya diarahkan kemuka, tak mau memandany barisan tentara Ceng.

Dengan tenang dan tetap, dia berjalan ke muka.

Betul-betul dia pertaruhkan jiwanya diujung rambut!

Saat itu matahari tengah Menjelang keluar.

Ke 2 orang muda itu menghadap matahari, berjalan kearah timur.

Je las bagaimana seluruh tubuh sigadis Ui itu, tertimpah sinar matahari.

Berpuluh-puluh 2 pasang mata dari serdadu dan opsir tentara Ceng memandangnya terpesona.

Hati mereka ber guncang keras menyaksikan pemandangan yang luar biasa itu.

Mereka merasa seperti melihat seorang bidadari turun mandi diliari pagi.

Kalau tadinya hawa membunuh memenuhi suasana barisan itu, kini mereka seperti kena sihir, termangu-mangu dan terpesona.

Malah lebih gila lagi, segera terdengar gemerinCing suara tombak dan anak panah dilempar ketanah, susul me nyusul satu demi satu.

Perwira 2 pun lupa mencegahnya.

Mereka hanya terus memandang ke 2 anak muda tersebut., yang makin lama makin jauh.

Saat itu jenderal Tiau Hwi keluar melakukan inspeksi.

Demi dilihatnya pemandangan aneh dari anak pasukannya itu, dia kaget sekali.

Cepat-cepat dia akan keluarkan perintah menyerbu, tapi tiba-tiba dari arah barisan musuh, terdengar genderang penghentian perang dibunyikan.

Sebetulnya jenderal itu masih sempat memandang ba jangan tubuh gadis serba putih itu.

Dia seor.ng militer, biasanya kasar.

Tapi entah apa sebabnya, hatinya terasa lemas, tak ada hasrat sedikitpun untuk mengganggu gadis itu.

Juga ketika berpaling kebelakang, dilihatnya para Cong peng, HuCiang (perwira 2 tinggi) dan pengawal yang me nyertainya, sama menyimpan senjatanya masing-masing.

"Tarik barisan pulang keperkemahan!"

Tiau Hwi memberi aba-aba.

Berpuluh-puluh 2 ribu serdadu, pasukan infanteri maupun pasukan berkuda, segera mundur berpuluh li disebelah belakang.

Mereka mendirikan perkemahan ditepi sungai Tarim.

Lolos dari bahaya besar, Tan Keh Lok mengelah napas panjang .

Seluruh tubuhnya basah mandi keringat.

Tapi un tuk keheranannya, nona itu tak berubah apa-apa wajahnya.

Seperti tak mengetahui bagaimana runCingnya suasana tadi.

Dengan tersenyum 2, gadis itu loncat turun dari kuda Keh Lok, terus Cemplak kuda merah tunggangannya sendiri tadi.

"Disebelah depan ada sepasukan berkuda datang menyam but. Demi melihat sigadis, mereka berseru girang dan loncat turun memberi hormat. Gadis itu berkata bebeberapa patah, dan serdadu bangsa Ui itu kelihatan menghampiri Tan Keh Lok, lalu memberi hormat.

"Hengte tentu lelah. Moga 2 Al ah memberkahimu,"

Demikian sambut mereka.

Ketika Tan Keh Lok sedang membalas hormat, gadis Ui tadi terus larikan kudanya masuk kedalam barisan Ui.

Ru panya ia mempunyai pengaruh besar dikalangan rakyat Uigor itu.

Kemana kuda merah tiba, tentu disitu terdengar sambutan gempar.

Tan Keh Lok dipersilakan mengaso disebuah kamar dalam kubu 2 barisan Ui.

Ketua Hong Hwa Hwe menerangkan kalau dia hendak berjumpa dengan kepala mereka, Bok To Lin.

"Kepala sedang melakukan peperiksaan tentara kita. Se lekasnya beliau pulang, tentu akan kami beritahukan,"

Kata seorang pemimpin serdadu berkuda tadi.

Karena sangat Cape, apalagi tadi telah mengalami gon tjangan hati, sebentar pula pulaslah sudah ketua Hong Hwa Hwe itu.

Berselang beberapa lama kemudian, perwira tadi muncul melapor bahwa kepala suku mereka, malam nanti baru pulang.

Dalam kesempatan itu, Keh Lok menanyakan siapakah gadis yang berpakaian serba putih, kawan perjalanannya tadi itu.

Tertawalah perwira itu menyahut.

"Selain dia, siapa lagi yang Cantik luar biasa? Nanti malam, kita akan adakan perjamuan besar. Hengte, kaupun harus datang. Tentu disitu kau bisa berjumpa dengan siutiang (kepala suku)". Keh Lok kurang puas oleh jawaban yang tak jelas itu, hatinya masgul. Namun dia sungkan untuk menanyakan lebih jauh. Malamnya, tampak kesibukan dalam kalangan orang-orang Ui itu. Mereka berhias diri dengan pakaian yang indah 2. Berbareng dengan nampaknya rembulan-sisir, genderang dan tetabuhan ramai dibunyikan. Perwira itu datang menyemput Tan Keh Lok. Disebuah tanah lapang, dinyalakan api unggun besar. Dari empat penyuru, pemuda-muda militer berbondong-bondong mengerumuni. Disitu sudah ada orang memanggang daging sapi dan kambing, menanak nasi dan memetik rebab. Begitu terompet dibunyikan, serombongan orang keluar dari kubu 2 besar. Ber jalan dimuka sendiri, adalah Bok To Lun. Puteranya, Hwe A-in, berdiri disampingnya. Tan Keh Lok hendak menantikan sampai upaCara selesai, baru akan menemui kepala suku itu. Maka dibalikkan ba junya keatas, untuk menutupi separoh mukanya. Bok To Lun kibaskan tangannya, dan orang-orang segera berlutut untuk sembahyang kepada Al ah. Tan Keh Lok ikut serta.

"Para pejoang yang sudah beristeri, harap mengalah se-dikit, menjaga diluar. Biarkan malam ini sdr 2mu yang muda-muda ber-senang 2,"

Seru Bok To Lun. Terompet kembali berbunyi. Tiga regu barisan berjalan keluar, lengkap dengan senjata dan kudanya. Hwe A-in loncat keatas kuda dan berseru kepada para pemudanya.

"Dengan berkah Al ah, semoga malam ini sdr 2 puas ber-senang 2!"

"Moga 2 Al ah melindungi juga kalian yang bertugas menjaga,"

Seru sekalian pejoang 2 muda itu.

Dengan menghunus golok besar, A-in pimpin ketiga regu itu keluar.

Diam-diam Keh Lok memuji kerapian disiplin ten tara itu.

Saat itu, suara tetabuhan berganti lagu, agak moderat.

Pintu kubu 2 terbuka, regu demi regu penari 2 yang terdiri dari muda-mudi, berjalan keluar.

Mereka mengenakan pakaian warna-warni dan memakai kopiah benang emas yang Cemerlang.

Dengan menyanyi sambil menari, mereka menghampiri api unggun.

Tiba-tiba hati Keh Lok tersentak, ketika terlihat 2 orang gadis -yang satu berpakaian warna kuning, dan yang lain warna putih -berjalan kesisi Bok To Lun.

Yang berpakaian putih, adalah sinona Cantik kawan perjalanannya itu.

Sipakaian kuning, kepalan ja berhias sebatang Hui-ih (bulu burung), adalah Hwe Ceng Tong.

Dalam beberapa bulan ini tak bertemu, kini tampaknya nona itu makin elok.

Ke 2nya duduk dike 2 sisi Bok To Lun.

"Apakah gadis itu adik perempuan Ceng Tong? Ah, ma kanya kurasa seperti sudah pernah mengenalnya. Kiranya lukisan pada vaas giok itu, dialah orangnya! Ternyata orang nya, lebih Cantik dari gambarnya,"

Tiba-tiba Keh Lok seperti disadarkan.

Memikir begitu, mukanya merah, hatinya terguncang .

Dia mengaku, sejak berjumpa dengan Ceng Tong, hatinya resah.

Bibit asmara mulai tumbuh.

Tapi mengingat betapa mesra perhubungan sinona dengan 'pemuda' Cakap murid Liok Hwi Hing itu, dia menyang ka nona itu sudah punya pasangan.

Dia berusaha keras untuk menindas perasaan as maranya itu.

Pada beberapa hari yang lalu., ketika berjumpa dengan seorang "bidadari,"

Imannya berguncang .

Dendam asmaranya kini berganti dialihkan kepada sinona serba putih itu.

Namun sesaat itu, menampak sepasang wanita Cantik itu, hatinya gojah tak keruan.

Sewaktu tetabuhan berhenti, maka berdirilah Bok To Lun.

Serunya keras.

"Dalam Qur'an ajat ke 2 fasal 1sembilan0, nabi Muhammad bersabda demikian.

"Untuk membela agamamu, berjoanglah melawan musuh 2mu." -Ajat 2 2 fasal tiga sembilan ber bunyi.

"Fihak yang diserang, direlakan membela. Al ah akan memberkahinya." -"Kita diserang musuh, Al ah tentu membantu kita."

Gemuruh sorak sorai semua orang Uigor itu.

"Saudara-saudara sekalian, Ayo sekarang ber-senang 2lah sepu asnya!"

Seru Bok To Lun pula.

Kembali suasana lapangan itu bergema dengan nyanyian dan gelak ketawa.

Dalam pada itu, hidangan pun mulai diedarkan.

Lezat juga kiranya masakan orang Ui itu.

Pera jaan berjalan makin gembira, gadis 2 sama menari dengan pemuda pilihannya.

Diasuh dalam keluarga yang keras dalam peraturan, belum pernah Tan Keh Lok menghadiri perajaan dan perja-muan dialam terbuka semacam itu.

Tanpa merasa, diapun mengumbar kegembiraannya.

Beberapa Cawan arak susu kuda membasahi kerongkongannya.

Mukanya mulai merah, hatinya lepas sekali.

Tiba-tiba musik berhenti, lalu berbunyi pula dengan gencar nya.

Pasangan 2 muda-mudi itu segera bubar.

Semua hadirin merasa heran, memandang kearah Bok To Uun dan rom bongannya.

Pun Tan Keh Lok ikut memandangnya.

Tampak sinona baju putih itu, bangkit dan berjalan turun.

Segera terdengar sana sini orang-orang sama berbisik.

Berkata perwira yang menyemput Tan Keh Lok tadi.

"Puteri kepala suku kita, Hiang Hiang KiongCu, juga pu nya pilihan. Ha, siapakah gerangan yang beruntung menjadi pasangannya?"

Jilid 28 KEHADIRAN puteri kesayangan Bok To Lun pada perajaan itu, sungguh diluar dugaan.

Apalagi iapun ikut serta meng unyukkan pemuda pilihannya.

Saking girang, rakyat Ui di situ sama terharu.

Mereka menantikan dengan penuh perhatian.

Juga Hwe Ceng Tong yang tak mengetahui adik-nya sudah punya pilihan, menjadi kaget dan girang..

Sebenarnya adik Ceng Tong, sigadis baju putih itu, bernama Asri.

Usianya baru 1delapan tahun.

Karena keCantikannya tak ada ke 2nya diempat penyuru, dan pula tubuhnya me nyiarkan bau harum, maka rakyat menyebutnya "Hiang Hiang KiongCu"

Atau Puteri Harum.

Pemuda-muda suku Ui taruh perindahan besar pada puteri itu.

Justeru karena itu, tak ada seorangpun yang berani me-numpahkan perasaannya.

Kalau saat itu, Hiang Hiang turun menari, itulah suatu peristiwa yang luar biasa.

Lemah gemulai Hiang Hiang KiongCu memutar beberapa kali, kemudian pelan-pelan mengitari kalangan itu.

Mulutnya me nyanyi pe-lahan 2.

"Siapa dia yang memetikkah swat-tiong-lian untukku, silakan tampil kemari! Siapa yang menolong ji va anak rusa-ku, kaulah aku tengah menanti."

Mendengar itu, telinga Keh Lok terasa me-ngiang 2.

Sesaat semangatnya terasa me-layang 2.

Sekonyong-konyong sebuah tangan yang lunak bagai beludru, menempel dibahunya.

Dan sesosok tubuh membungkuk, menarik tangannya.

Seperti boneka tak bernyawa, Tan Keh Lok menurut saja untuk berdiri.

Gegap gempita para hadirin bersorak-sorai.

Dengan me nyanyi nyaring, sekalian muda-mudi itu segera mengerumuni, menghaturkan selamat.

Walaupun dalam pernikahan, siorang tua yang berhak memutuskan, tapi orang Uigor agak longgar dalam memilih jodoh sendiri, kalau dibanding dengan adat istiadat, bangsa Han yang keliwat kolot malah.

Pesta malam itu menurut kebiasaan suku Uigor adalah pesta bebas.

Konon menurut dongeng, adalah tempat dimana muda-mudi boleh menumpahkan perasaannya.

Maka demi dilihatnya Hiang Hiang KiongCu menggandeng tangan Tan Keh Lok keluar, mereka segera merubungnya.

Masih Bok To Lun dan Hwe Ceng Tong mengira, pilihan Hiang Hiang itu adalah seorang pemuda Ui kebanyak sekalian.

Maklumlah, mereka belum sempat melihat roman Tan Keh Lok dengan jelas.

Hendak ke 2nya menghampiri menyam butnya, tapi tiba-tiba terdengar terompet berbunyi tiga kali.

Itulah tanda bahaya.

Karenanya, semua orang segera duduk kembali ditempat masing-masing.

Bok To Lun dan Ceng Tong batal menyambut, lalu duduk kembali ditempatnya semula.

Masih memegang tangan Tan Keh Lok, Hiang Hiang KiongCu mengajaknya duduk dibe lakang rombongan orang-orang itu.

Karena tubuh sinona agak merapat kedadanya, segera hidung Keh Lok membau bebauan yang semerbak.

Tak tahu dia bagaimana sebenarnya, sedang mengimpi atau sadar.

Suasana pesta itu berobah.

Semua orang menunggu dengan berdebar 2 apa yang akan terjadi.

Kaum mudanya sama menghunus goloknya, siap maju perang.

Sesaat kemudian, 2 penunggang kuda lari kehadapan Bok To Lun.

"Ciangkun Tiau Hwi dari tentara Ceng, mengirim utusan untuk menghadap,"

Demikian lapornya.

"Bawa mereka kemari,"

Sahut Bok To Lun.

Setelah berlalu, tak berapa lama, datang pula ke 2 pe-nunggang kuda itu.

Dibelakangnya mengikut 5 orang asing.

Hampir dekat, mereka turun dari kuda lalu berjalan masuk kedalam lapangan.

Kelima orang asing itu, adalah rombongan utusan fihak Ceng.

Siutusan sendiri bertubuh kekar, gerak annya gesit.

Sementara yang empat, adalah pengawalnya.

Perawakan mereka berempat itu sangat mengejutkan orang.

Rata-rata lebih 2 meter tingginya, tubuhnya kokoh berisi.

Betul-betul "raksasa"

Yang jarang terdapat. Entah dari mana Tiau Hwi mendapatkannya. Dihadapan Bok To Lun, utusan itu memberi hormat.

"Adakah kau ini kepala suku?"

Tanyanya dengan Cong-kak.

Tanpa sebab menyerang daerah Hwe, membunuh dan mem-bakar, semua itu menyebabkan kebencian yang meluap suku Ui terhadap bangsa Boan.

Maka dengan keCongkakan si utusan itu, beberapa pemuda Ui serentak menCabut goloknya.

Tapi utusan itu tak menghiraukan, katanya pula.

"Aku membawa titah dari Tiau-tayCiangkun, untuk menyampai kan surat permakluman perang. Kalau kau tahu selatan, menyerah, Tiau-tayCiangkun mau mengampuni jiwamu. Tapi kalau tidak, nanti dalam pertempuran, kalau orang-orang mu sampai habis binasa, jangan kau sesalkan!"

Utusan itu berbahasa. Uigor, maka semua orang Ui serentak berjingkrak. Bok To Lun Buru-buru lambaikan tangannya untuk menenangkan rakyatnya itu. Setelah suasana reda, baru dia berkata.

"Tanpa suatu alasan, fihakmu menyerang dan merampas harta benda kami. Al ah yang berada di atas, tentu akan menghukum perbuatan yang terkutuk itu. Berperang, kamipun siap. Kami takkan menyerah sampai titik darah yang penghabisan".

"Ya, kalau menghendaki perang, kltapun sedia. Kita takkan menyerah sampai titik darah yang penghabisan", orang-orang Ui sama aCungkan goloknya, mengulang pernyataan kepala suku. Ditimpa Cahaja rembulan, golok 2 itu tampak ber-kilat. Setiap orang bersikap keren sekali. Tahu mereka, bahwa pasukan Ceng berjumlah besar sekali. Kebanyak sekalian tentu tak bisa menang. Namun turun temurun orang Ui itu memeluk agama Islam, mereka Cinta pada kebebasan tak mau diperbudak. Siutusan jebikan bibirnya, katanya.

"Baik, biar lusa kau orang akan menjadi majat!"

Dan untuk mengunjuk kesungguhan kata-kata itu, siutusan itu meludah. Hal itu suatu penghinaan besar. Kontan tiga orang pemuda Ui loncat kemuka, serunya.

"Hari ini kita hormati dirimu sebagai utusan. Pulanglah! Tapi kalau lusa kita berjumpa dimedan perang, tak hendak kita berlaku sungkan 2 lagi". Utusan itu jebikan bibir. Keempat pengawal raksasa itu maju, terus mendorong kawanan pemuda itu, kemudian ber-baris melingkar untuk lindungi pemimpinnya.

"Pui, orang-orang semacam kamu yang tak berguna. Kali ini biar kamu lihat lihainya orang Boan!"

Seru si utusan dengan jumawa.

Habis itu dia menepuk tangan, memberi isyarat pada pengawalnya itu.

Salah seorang 'raksasa' itu memandang Celingukan.

Dili hatnya seekor onta tertambat pada sebuah pohon yang.

Menghampiri puhun itu, dia segera memeluk batang pohon itu.

"Terangkatlah!"

Serunya keras-kerasseraya menggoyang 2kannya.

Pohon yang tua itu, roboh terangkat keakarnya.

Semua orang sama terkejut.

Sungguh hebat kekuatan 'raksasa' itu.

Sekali tarik, tali pengikat onta itu putus, me nyusul sebelah kaki si raksasa mendupak bebokong si onta Biasanya onta adalah binatang yang lambat jalannya, tapi kali ini karena kesakitan, dia mencongklang seperti kuda pesatnya.

Ada kira-kira belasan tombak jauhnya, seorang raksasa yang lain tiba-tiba maju memburu.

Orang itu badannya besar, tapi gerakannya luar biasa tangkasnya.

Sekejab saja, dia sudah dapat menyusul terus menarik keempat kaki binatang itu, terus diangkat naik.

Dengan memanggul onta yang beratnya beratus kati, raksasa itu lari balik.

Diletakkan onta itu ke pinggir api unggun.

Dan dia tegak leher dengan angkuhnya.

"Hm,"

Raksasa ketiga perdengarkan suara dari hidung.

Begitu melangkah setindak, dia hantam kepala si onta dengan tinyunya yang besar.

Binatang yang besar itu, terhuyung-huyung terus roboh.

Menyusul raksasa yang keempat itu menangkap ke 2 kaki si onta, diangkat tinggi-tinggi, ber-putar 2 beberapa kali, dengan berseru keras terus dilontarkan sampai tujuh delapan tombak jauhnya.

Kiranya keempat raksasa itu adalah bersudara yang bernama Holun Toa Houw, Ho-lun Ji Houw, Ho-lun Sam Houw dan Holun Si Houw.

Asalnya dari Lingko-tha wilayah Liauw-tang.

Ayahnya seorang pemburu.

Sejak kecil keempat saudara itu ikut berburu harimau digunung Tiang-pek-san.

Tu buhnya tinggi besar, tenaganya luar biasa.

Sayang nya mereka itu agak tolol.

Makannya pun luar biasa juga.

Maka dengan berburu saja, tak Cukup dimakan.

Pada suatu hari Tiau Hwie berburu digunung Tiang-pek-san.

Melihat bagaimana luar biasanya keempat saudara itu, lalu diterimanya menjadi pengawal peribadi.

Kali ini, Tiau Hwi kirim mereka berempat menyertai utusannya untuk me-mamerkan "gertakan"

Pada fihak Ui, agar mereka jeri dan menakluk. Memang orang-orang Ui itu menjadi terkesiap demi menyaksi kan "pameran kekuatan"

Yang belum pernah dilihatnya. Na-mun mereka tak mau unyuk kelemahan. Beberapa orang kuat dari suku Ui serentak berdiri dan berseru.

"Seekor onta tak berdosa apa-apa, masa kau -bunuh. Apa kau tak ke-nal peri-kemanusiaan?"

Utusan itu tertawa dingin dan Cebikan bibir. Orang-orang Ui makin marah. Sana sini sama berisik. Suasana makin tegang. Rupanya orang-orang Ui itu akan menyerang. Melihat itu siutusan menjadi kuatir.

"Kamu banyak sekali, akan menindas yang lemah. Adakah itu pantas?"

Jengeknya segera.

Lekas-lekas Bok To Lun Cegah orang-orang nya, katanya.

Kau ada-lah seorang utusan, mengapa se-wenang 2 membunuh ternak kami?

Sungguh tak kenal adat.

Andaikata kau bukan seorang utusan, hm, tahu sendiri.

Nah, pergilah."

"Kau kira kami bangsa Boan takut segala macam an Caman? Kalau kau ada surat balasan, berikan saja padaku. Kupercaya, tak nanti ada seorang dari fihakmu yang berani menghadap Tiau-Ciangkun,"

Kata si utusan. Ucapan itu kembali menerbitkan kegaduhan orang-orang Ui, saking marahnya. Tiba-tiba nona Ceng Tong bangkit.

"Kau katakan fihak kami tiada yang berani menemui panglimamu itu. Hm, ngaCo! Setiap orang kami berani. Ja ngan kata yang lelaki, wanita pun berani!"

Si utusan melengak, tapi pada lain saat dia tertawa keras, serunya.

"Perempuan? Melihat barisan saja, kaum lemah itu tentu sudah kaku!"

"NgaCo! D jangan keliwat menghina. Kami segera kirim orang pergi bersama kau. Orang semacam itu, disini sampai ber-lebih. 2. Kau pilih sendiri yang mana orangnya, agar terbuka matamu bagaimana sikap seorang murid Nabi Muhammad itu!"

Pernyataan itu mendapat sambutan hangat dari semua orang. Kawanan muda mudi ber-teriak 2.

"Ayo, tunyuklah! Siapa saja tentu sedia pergi!"

"Baik!"

Sahut si utusan dengan gemas.

Hendak diCa'rinya seorang wanita yang terCantik yang paling lemah tubuhnya.

Biar nantinya menangis ketakutan, sehingga orang-orang Ui itu mendapat 'hidung-panjang '.

Matanya jelilatan mengitari rombongan muda mudi.

Tiba-tiba matanya berCahaja, lalu menghampiri Hiang Hiang KiongCu.

"Inilah dianya yang pergi!"

Katanya segera. Hiang Hiang Kiongiju memandang tajam kearah si utusan, sembari berbangkit dengan tenang, katanya.

"Untuk kepentingan sdr. 2 dari bangsaku, kemanapun aku tak jerih. Al ah tentu menyertai daku."

Si utusan terkesiap.

Gadis yang tadi kelihatannya lemah dan pemaluan, kini tegak berdiri dengan sikap yang agung gagah.

Tanpa merasa si utusan tundukkan kepala.

Diam-diam dia menyesel.

Melihat peristiwa itu, Bok To Lun dan Ceng Tong terke jut.

Mereka kuatirkan keselamatan puterinya itu.

Lebih 2 Ceng Tong yang sangat menyayang adiknya, sebab.

Hiang Hiang tak mengerti ilmu silat sama sekali.

Jika masuk ke dalam sarang macan, terang akan menghadapi bahaya.

"Dia adikku, biar aku yang mewakilinya!"

Kata Ceng Tong segera.

"Memang kutahu, lidah perempuan itu tak dapat diperCa ja. Bilang saja 'takut', habis perkara! Perang atau menak luk, biar kubawa saja surat-balasannya,"

Ejek si utusan.

"Kau keliwat kurang ajar! Kelak dalam pertempuran kalau kita berjumpa, jangan kau lari. Buktikan sendiri, wanita itu kaum yang lemah bukan!"

Ceng Tong mendam prat.

"Berhadapan dengan wanita Cantik seperti kau ini, sudah tentu tanganku berat mengangkat senjata!"

Demikian dengan keliCinan lidah si utusan, hanya makin meluapkan ke bencian orang-orang Ui itu saja.

"CiCi, lepaskan aku pergi, aku tak gentar,"

Meminta Hiang Hiang pada enCinya. Sembari berkata begitu, ia membungkuk untuk mengangkat bangun tangan Tan Keh Lok.

"Dialah yang akan menyer taiku!"

Katanya pula dengan bangga.

Demi melihat jelas Tan Keh Lok, tersiraplah darah di dada Ceng Tong.

Sampai beberapa saat, tak dapat "Ia berkata apa-apa.

Keh Lok bersenyum dan memberi isyarat supaya nona itu pura-pura jangan mengenalnya.

Kemudian dia berputar menghadapi utusan tadi, katanya.

"Kaum kita paling mengutamakan rasa setia kawan, maka akan kukawani nona ini menghadapi Tiau-Ciangkun-mu! Sebenarnya keempat penga walmu inipun tak punya guna apa-apa."

"Hee, onta dapat mengangkut ribuan kati, sedang orang hanya dapat mengangkat ratusan kati. Namun anehnya, orang yang pantas naik onta atau onta yang naik orang?"

Tertawa Hiang Hiang KiongCu. Semua orangpun sama riuh bergelak-tawa geli.

"Mereka menertawai apa?"

Tanya Tay Houw pada si utusan.

"Menertawai kalian berempat. Meskipun bertubuh tinggi besar, bertenaga kuat, tapi tak berguna apa-apa!"

Utusan itu menerangkan. Tay Houw menggeram karena gusarnya. Teriaknya nya-ring 2.

"Siapa yang berani bertanding dengan aku?"

"Dan apa kegunaanmu, he, orang muda,"

Kata si utusan pada Tan Keh Lok.

"Sepuluh orang macam kau, mungkin masih tak mampu tandingi kekuatan mereka seorang."

Keh Lok tahu apa yang harus dilakukan.

Kalau nyali rom-bongan utusan itu tidak dipatahkan, mungkin nanti diper kemahan jenderal Boan itu, Hiang Hiang KiongCu akan mengalami gangguan.

Maka dia maju kemuka.

"Aku adalah orang Ui yang paling tak punya guna sendiri. Tapi masih lebih berguna daripada bangsa Boan semacam kamu orang ini. Mari, suruhlah keempat 'tonggak bernya wa' itu maju,"

Tantangnya segera. Pada saat itu Bok To Lun pun sudah mengetahui kehadiran ketua Hong Hwa Hwe itu. Kaget terCampur girang, dia berseru kepada puterinya yang sulung.

"Ceng-ji, lihatlah siapa itu!"

Namun Ceng Tong tak kedengaran menyahut.

Ketika Bok To Lun berpaling, dilihatnya mata puterinya itu mengem beng air mata, bibirnya gemetar.

Teringat orang tua itu akan sesuatu.

Tiba-tiba liatinya berduka.

"Ke 2 gadis itu, adalah puteri yang sangat disayang inya. Mengapa justeru sama menCintai anak muda itu. Dan bagaimana dia bisa berkenalan dengan puterinya yang bungsu itu?"

Lama nian kepala suku itu tak dapat menCari pemeCa-han soal yang memusingkan itu.

Dan kini, tampak Keh Lok mau bertanding dengan keempat raksasa itu, makin gundahlah pikirannya.

Untuk pertama kali, rakyat Uigor dapat menyaksikan pemuda pilihan puteri kepala suku mereka.

Perawakannya nampak lemah, wajahnya seperti sebuah lukisan.

Berdiri disamping si utusan, dia hanya sampai pundak tingginya.

Apalagi dibanding dengan keempat raksasa itu, nyata benar bedanya seperti anak kecil dengan orang dewasa.

Orang Ui kagum akan keberanian anak muda itu, namun kuatir mereka, kalau dia bukan tandingan raksasa 2 itu.

Orang-orang Ui itu timbul sympathinya.

Ada beberapa orang kuat segera tampil kemuka mau mewakili Tan Keh Lok.

Tapi ditolaknya.

Kat*nya.

"Tak usah saudara-saudara Cape 2, biar aku yang menCobanya dulu!"

Tan Keh Lok keliwat memandang rendah sekawanan raksasa itu.

Ketika si utusan menerangkannya, keempat raksasa itu terus melangkah maju menerkam dengan bernapsu sekali.

Namun Keh Lok tampaknya tenang 2 saja.

Malah pada saat itu, si utusan Buru-buru mencegahnya.

"Karena anak muda itu berkeras maju, maka kalau sampai nanti terluka, jangan sesalkan orang. Dan lagi Caranya pi-bu (bertanding) harus satu lawan satu, lain orang tak boleh membantu,"

Kata si utusan pada Bok To Lun.

Kiranya si utusan itu keliwat yakin akan menang.

Untuk menjaga jangan sampai terjadi pengerojokan apabila sampai sianak muda tewas, utusan tersebut mengikat janji dulu.

Belum lagi Bok To Lun membuka mulut, Tan Keh Lok sudah mendahuluinya.

"Seorang lawan seorang kurang ramai. Suruhlah keempat 'tonggak berjiwa' itu maju serentak."

"Dan fihakmu keluar berapa orang?"

Tanya si utusan pula.

"Berapa orang? Sudah tentu hanya aku seorang saja!"

Sahut Keh Lok. Semua orang menjadi gelisah. Mereka anggap sianak muda itu hanya turuti darah panas saja.

"Hm, orang Ui betul lihai, ja? Tay Houw, kau maju dulu!"

Kata utusan itu. Tay Houw maju dengan segera.

"Kau mau secara kasaran atau bertanding secara habisan?"

Tanya si utusan.

"Apa maksudmu?"

Balas tanya Keh Lok.

"Kalau halusan, jakni. kau pukul sekali, dia pun balas pukul sekali. Orang tak diperbolehkan menangkis atau menghindar. Siapa yang roboh, dianggap kalah. Sedang yang dimaksud dengan secara kasaran jalah berkelahi secara bebas."

"Ah, kalau hanya memukul seorang, rasanya tak Cukup. Biar empat orang sekali, kupukulnya,"

Kata Tan Keh Lok.

"Kalau menilik sikapnya, terang dia bukan orang gila. Tentu dia punya siasat lain,"

Diam-diam kata si utusan dalam hatinya.

"Asal kau dapat menangkan seorang, mereka berempat tentu akan maju menyerang. Seorang saja rasanya kau tentu 'kenyang '. Jangan terburu napsu!"

Katanya kemudian. Keh Lok tertawa, sahutnya.

"Baiklah, secara bun atau bu (halusan atau kasaran) kuserahkan!"

"Bertanding kuat 2an saja. Bu bisa merusak perhubungan, baik bun saja."

Dibalik kata-katanya yang sungkan ini, sebenar nya utusan itu punya maksud tertentu.

Ditilik dari perawak annya, tentu sianak muda gesit sekali gerakannya.

Karena itu, dia memilih Cara bun atau halusan saja.

"Pakai Cara Bun, rasanya dia takkan lolos,"

Pikir si utusan.

Juga Tay Houw segera lolos bajunya bersiap.

Tubuhnya yang kokoh kekar itu, penuh dilingkari otot 2 yang kuat.

Laksana sebatang pohon besar.

Tinyunya sebesar mangkok, seberat palu besi.

Kalau seekor onta yang begitu besar telah tak kuat menerima pukulannya, bagaimana jadinya dengan seorang anak muda yang bertubuh lemah itu.

Bok To Lun dan Ceng Tong maju menghampiri lebih dekat.

Ceng Tong mencuri lihat wajah adiknya, siapa tam paknya tenang 2 saja memandang Keh Lok dengan sorot mata yang penuh kasih.

Sedikit pun nona itu tak kelihatan kuatir.

Ceng Tong mengelah napas, mengira kalau sang adik tak mengerti apa artinya bahaya yang bakal menganCam.

Tapi ketika Ceng Tong berpaling kearah Keh Lok, juga sianak muda itu tenang 2 saja nampaknya.

"Mari kita undi, siapa yang memukul dulu,"

Kedengaran si utusan berkata.

"Kau adalah tetamu, silakan suruh dia memukul dulu,"

Sahut Keh Lok. Ceng Tong kaget dan Buru-buru menumpangi.

"Yangan sungkan 2, baik diundi saja."

Ceng Tong tahu bahwa dengan kepandaian Keh Lok yang lihai itu, kalau secara bu-pi, pasti takkan kalah.

Tapi dengan Cara tukar menukar pukulan secara itu, dia kuatir kalau sianak muda tak sanggup menahannya.

Maka mau ia melihat, agar sianak muda itu yang menerima kesempatan dulu, mungkin bisa menang.

Tan Keh Lok bersenyum terima kasih kepada Ceng Tong.

Namun kakinya tetap melangkah maju seraya membusungkan dadanya.

"Pukul ah!"

Katanya. Saat itu si utusan minta supaya Ceng Tong datang ke padanya.

"Kita ber 2 akan mengawasi siapa-apa saja yang menggeser kaki atau menangkis, berkelit dan mundur, dialah yang kalah!"

Katanya. Ceng Tong maju menghampiri. Lewat disisi sianak muda ia bisik-bisik.

"Yangan lanjutkan pertandingan ini, kita Cari lain akal mengalahkan mereka!"

"Yangan kuatir!"

Sahut Tan Keh Lok berbisik pula.

Ceng Tong putus asa, terpaksa ia berdiri disisi si utusan menjadi wasit.

Kini Tan Keh Lok sudah berhadapan dengan Tay Houw.

Ke 2nya begitu dekat sekali, bisa saling memukul tanpa ajukan langkah.

Suasana hening tegang.

Seluruh mata diarahkan kepada ke 2 orang itu.

Berserulah si utusan dengan keras.

"Yago dari fihak Boan akan memukul lebih dulu setelah itu baru jago fihak Ui balas memukul. Kalau tidak kejadian apa-apa, fihak Boan boleh memukul lagi dan setelah itu, fihak Ui pun balas memukul lagi."

Ceng Tong anggap hal itu kurang adil, ia memperotes.

"Babak pertama fihakmu boleh memukul dulu. Tapi untuk babak ke 2, seharusnya fihak kita yang memukul dulu. Belum lagi si utusan menyahut, Keh Lok sudah mendahu luinya.

"Mereka adalah tetamu, kita harus mengalah."

T,Oho, kau betul-betul berhati jantan!"

Si utusan bersenyum puas. Kemudian dengan girang dia berseru nyaring memberi aba 2.

"Siap, fihak Boan boleh mulai melakukan pukulan pertama!"

Sebagai sambutan, segera terdengar deru mulut si Tay Houw mengeluarkan napas, berbareng tulang 2 berkereotan.

Dia sedang memusatkan seluruh kekuatannya.

Tiba-tiba dadanya disedot kedalam, dan tampaklah otot 2 lengan kanannya menjadi sebesar kelapa.

Keempat raksasa itu saudara sekandung.

Diwaktu melahirkan mereka, ibunya sangat menderita sekali.

Sehingga setelah yang keempat, Soe Houw lahir, ibu itu meninggal dunia karena kehabisan darah.

Karena miskin, ayahnya tak mampu Carikan pengasuh.

Kebetulan kedengaran ada seekor harimau mengaum-aum didalam hutan.

Kiranya itulah seekor induk harimau masuk kedalam lubang perangkap.

Dengan bantuan beberapa kawan, di katnya induk harimau itu yang juga baru melahirkan tiga ekor anak harimau.

Dia mendapat pikiran.

Anak harimau dibunuh, dan induknya dipelihara.

Tiap hari diberinya makan dengan binatang hasil pem buruannya, air susu induk harimau, diambil untuk diberikan kepada keempat puteranya.

itu.

Karena dibesarkan dengan susu harimau, anak 2 itu luar biasa kekuatannya.

Kalau ke luar berburu, tak pernah mereka membawa senjata.

Kalau ketemu binatang, Cukup dikejarnya terus dipuntir lehernya, dibantingnya pada batu hingga binasa.

Demikianlah keempat Houw (macan) itu.

Saat itu, kelihatan Tan Keh Lok tak bergeming.

Malah tubuhnya agak diajukan sedikit, katanya dengan tertawa.

"Silakan!"

Ada beberapa pemuda Ui, ketika melihat bagaimana dah sjat sikap Tay Houw, sudah lantas kuatir kalau 2 Tan Keh Lok akan remuk tulang 2nya.

Karenanya, mereka segera berbaris dibelakang anak muda itu, siap menyambut apabila sampai tersungkur kebelakang.

Bok To Lun dan Ceng Tong bersembahyang pada Al ah.

Tapi kebalikannya, Hiang Hiang Kiongiju, tampak tenang 2 saja.

Ia sudah taruh kepercayaan penuh pada sianak muda.

Kalau Keh Lok tampak tak jeri pasti tak berbahaya, demikian pikirnya.

Maka terdengarlah Tay Houw menggereng sekali, berbareng pukulannya dihantamkan sekuat-kuatnya kepada sianak muda.

Santer dan dahsyat bukan kepalang.

Semua orang mengeluarkan jeritan tertahan.

Mereka kira, dada Tan Keh Lok melesek kedalam.

Tak tahu mereka, kalau sebetulnya Tan Keh Lok sedang gunakan Iwekang didadanya, untuk menyedot napas.

Karena itu, pukulan tadi jatuh tanpa bersuara, se-olah 2 mengenai segumpal kapas.

Karena sebenarnya, tinyu itu belum kena pada sasarannya.

Kira-kira masih kurang setengah dim.

Ingin benar Tay Houw mendesakkan kepalannya kedada orang, namun bagaimana dia kerahkah tenaganya, tetap tak mampu.

Seakan-akan ada daya penolak yang hebat.

Saking he rannya, dia kesima sampai beberapa saat.

"Cukup?"

Tanya Keh Lok tertawa.

Muka Tay Houw merah padam.

Buru-buru dia tarik pulang kepalannya.

Kesudahan itu, membikin orang-orang tak habis me-ngerti.

Terang tadi pukulan Tay Houw mengenai, tapi mengapa seperti tak terjadi apa-apa.

Hanya Bok To Lun dan Ceng Tong yang mengetahuinya.

Kiranya lwekang Tan Keh Lok sudah mencapai kesem purnaannya.

Seluruh tulang 2 tubuhnya dapat digerakkan dalam keadaan yang bagaimanapun juga.

Dia telah dapat menguasai sari pokok pelajaran Thay Kek Kun.

Hal itu membangkitkan rasa kagum Bok To Lun dan puterinya.

Juga si utusan itupun kaget bukan kepalang.

Tan Keh Lok masih ter-senyum 2 kini tiba gilirannya.

Tanpa mengambil sikap, dia seenaknya saja menyulurkan jo tosannya.

"Bluk!"

Dia gunakan apa yang dinamakan ilmu pukulan berat.

Benar Tay Houw tak merasa sakit didadanya, tapi dia rasakan seperti ada tenaga dihsjat mendorongnya kebelakang.

Tahu dia, selangkah saja mundur, dia dianggap kalah.

Kuat 2 dia berusaha kerahkan tenaganya untuk menahan posisi kakinya, hingga seperti orang mendesak kemuka.

Tiba-tiba secepat-cepat melepas pukulannya tadi, secepat-cepat itu pula Tan Keh Lok tarik pulang tangannya.

Dalam keadaan begitu, sudah tentu Tay Houw menyorok kemuka.

Hendak dia menarik badannya, tapi tak kuasa.Ketika Tan Keh Lok miringkan tubuhnya berkelit, maka terdengarlah suara benda berat jatuh, disusul dengan debu tanah bertebaran.

Tubuh sirak-sasa Tay Houw meluncur jatuh kemuka.

Sesaat orang-orang sama terlongong-longong.

Tapi pada lain saat, segera terdengar tepuk tangan dan sorak sorai yang gemuruh.

Kalau Tan Keh Lok dapat memukul si raksasa jatuh Ce lentang, itu Cukup mengherankan orang.

Tapi kini, bukan jatuh Celentang melainkan jatuh tersungkur kemuka.

Hal itu tentu saja membuat gempar suasana penonton.

Si utusan Buru-buru angkat bangun Tay Houw, muka siapa sudah berlumuran darah dan mengeluh kesakitan.

Ternyata 2 buah giginya telah patah.

Melihat saudaranya terluka, Ji Houw, Sam Houw dan Su Houw menggerung dan serempak menyerbu Tan Keh Lok.

Juga Tay Houw, setelah berkurang sakitnya, turut menye rang lagi.

Hal itu membuat kaget orang-orang Ui.

Mereka sama maju membantu.

Keadaan menjadi gaduh.

Dalam kekalutan itu, tiba-tiba ada 2 sosok bayangan melesat loncat melalui kepala rombongan orang-orang itu.

Dan saat itu, orang-orang tak melihat dimana adanya Tan Keh Lok dan Ceng Tong.

Juga keempat raksasa itu, dengan lenyapnya sianak muda, tertegun ditempatnya itu.

"Mundur semua!"

Tiba-tiba terdengar seorang wanita memerintah. Orang-orang Cukup mengenal suara itu. Mereka taat.

"Telah kukatakan, kalian berempat boleh maju berbareng. Nah, marilah!"

Tan Keh Lok muncul kembali menghampiri keempat raksasa.

Yang pertama adalah Tay Houw yang segera menyerang kearah kepala orang.

Keh Lok gerakkan tubuhnya, melejit kebelakang lawan.

Dengan gerak "pi-jong-thui-gwat"

Tutup jendela mendorong rembulan, dia dorong punggung Tay Houw.

Tay Houw terhuyung-huyung hampir menubruk Ji Houw.

Su Houw gunakan sikutnya, menghantam pelipis Tan Keh Lok, Siapa telah menyelundup kebawah ketiak penyerangnya dan mengitiknya.

Su Houw kaget kepitkan ketiaknya, me-ronta 2 tertawa ter-bahak 2.

Tidak kira, sebesar raksasa itu orangnya, tapi penggeli tak tahan nyeri.

Semua orang tertawa melihat pertunyukan yang lucu itu.

"Hai, kili dia lagi!"

Seru Hiang Hiang KiongCu menjadi senang.

Tan Keh Lok menurut.

Kembali dia kitik 2 perut si raksasa, siapa karena geli sampai numprah berjongkok.

Sepasang tinyunya menghantam kesana kemari, namun secara mem babi buta saja.

"Awas, belakang!"

Tiba-tiba Ceng Tong berseru.

Memang sebelumnya pun Tan Keh Lok sudah merasa ada samberan pukulan dari belakang.

Sekali enjot, tubuhnya melambung keatas.

Sudah tentu pukulan Ji Houw mengenai angin.

Berbareng itu, Su Houw menyerang dengan kalap.

Jatuhnya tepat mengenai tinyu Ji Houw tadi.

Tangan ke 2nya sama bergetar.

Ke 2nya pun masing-masing loncat kebelakang, menggerung-gerung seperti orang kebakaran jenggot.

Dengan geram, mereka memutar badan, menyerbu lagi dengan kalap.

Tan Keh Lok gunakan "pat-kwa-yu-sim-Ciang,"

Ilmu berkelahi secara loncat sana sini.

Bagaikan kupu 2 diantara sela 2 kembang, Tan Keh Lok melejat-lejit dalam hujan pukulan delapan buah tinyu.

Tak sekali dia sampai tersentuh tubuhnya.

Beberapa kali orang-orang Ui itu menjadi kaget, apabila nampak tinyu si raksasa hampir mengenai sianak muda.

Tapi setiap kali itu, mereka keCele.

Gerak sianak muda liCin bagai belut.

Lama-lama orang-orang Ui itu percaya, tak nanti sianak muda kena pukulan.

Malah pada lain saat, terdengar suara "bret"

Yang pan jang dan nyaring. Kiranya baju Ji Houw tahu-tahu sudah robek. Kembali orang-orang sama riuh tertawa.

"Tahan, jangan berkelahi terus!"

Tiba-tiba si utusan berseru.

Tapi keempat raksasa itu sudah seperti kemasukan setan.

Tak mungkin mereka mau berhenti.

Tay Houw tiba-tiba bersuit keras, terus melambung.

Seperti burung elang yang buas, dia menerjang sianak muda.

Berbareng itu, Ji Houw, Sam Houw dan Su Houw menyergap dari belakang.

Hendak mereka hadang sianak muda andai kata dia mau lolos kebelakang.

Itulah Cara mereka kalau melakukan pemburuan.

Karena tak dapat mengalahkan sianak muda, mereka gunakan Cara itu.

Orang-orang Ui yang menyaksikan menjadi kaget.

Lebih 2 para wanitanya, belum-belum sudah sama menjerit.

Memang untuk menghindari terjangan Tay Houw, sedia nya Tan Keh Lok akan melejit kebelakang.

Tapi demi dari sinar api dilihatnya tiga sosok bayangan sedang mengulur tangan dari sebelah belakang, dia tak jadi.

Begitu tangan Tay Houw tiba, dia Cepat-cepat mendek kebawah.

Kemudian sebat luar biasa, tiba-tiba dia tangkap pinggang si raksasa terus di gentakkan kebelakang.

Dan secepat-cepat si raksasa menyungkel, secepat-cepat itu pula, tangan Tan Keh Lok menyawut kakinya lalu dilemparkan keras-keras.

"Bum!"

Demikian hebat suaranya, ketika tubuh yang tinggi besar itu, jatuh ketanah.

Celakanya, raksasa kesatu itu, jatuhnya sang kepala dibawah, kakinya diatas.

Dan jatuh nya pun tepat masuk kedalam sebuah lubang.

Kiranya lubang itu, adalah bekas lubang dari pohon yang yang diCabut se akar 2nya oleh Tay Houw tadi.

Karena pohon besar, lubangnya pun besar lagi dalam, kepala Tay Houw masuk sampai kebatas pinggang.

Sepasang kakinya diatas meronta 2.

Namun tak dapat dia keluar.

Su Houw, dengan menggerung keras, menerjang .

Tapi Tan Keh Lok kembali melejit seperti main godak.

Tiba-tiba dia berhenti lari, melihat itu, Su Houw Cepat-cepat kirim sebuah ten-dangan kearah dada.

Keh Lok megos kesamping, terus ber-gerak.

tangan kanan menyambret Celana, tangan kiri menerkam punggung.

Dengan meminyam tenaga tendangan tadi, dia ajunkan tubuh Su Houw keatas.

Seperti melayang diudara, Su Houw berontak-rontak diatas, mulutnya men-jerit 2, takutnya setengah mati.

"Bum!"

Aneh, dia merasa jatuh diatas benda yang lunak.

Ketika dengan Cepat-cepat dia bangun, ternyata tadi dia jatuh terduduk diatas bangkai onta tadi.

Memang Tan Keh Lok ingin orang merasakan apa yang diperbuatnya tadi.

Yang melempar onta, adalah Su Houw, dan kini dialah yang dilempar seperti onta itu.

Sebenarnya, ke-kuatan Keh Lok tak melebihi si raksasa.

Tapi mengapa dia dapat melempar si raksasa itu, ialah karena dia gunakan ilmu " 2 tail mengangkat ribuan kati."

Atau meminyam tenaga orang yang menyerangnya itu sendiri.

Sesaat Su Houw dilempar, Ji Houw dan Sam Houw me-nubruk maju berbareng.

Ji Houw gunakan kepalanya untuk menyeruduk.

Sekali kena, pasti roboh.

Demikian pikirnya.

Sementara, Sam Houw angkat ke 2 tangannya.

Maksudnya akan menabok kepala lawan.

Tan Keh Lok tinggal tenang.

Begitu ke 2 serangan datang, tiba-tiba dia enjot tubuhnya, melayang miring.

Karena baru pada jarak yang sangat dekat dia menghindar, karuan saja ke 2 raksasa itu tak keburu tarik pulang tangannya masing-masing.

Akibatnya, kepala Ji Houw menyeruduk perut Sam Houw, sedang sepasang tangan Sam Houw menghantam punggung Ji Houw.

Dua-2nya roboh.

Selagi mata ke 2nya masih berkunang-kunang, Tan Keh Lok loncat menghampiri.

Rambut ke 2 raksasa itu di kat satu sama lain, kemudian dia balik kesamping Hiang Hiang Kongcu.

Saking gelinya, sijelita sampai merasa kaku perutnya.

Juga orang-orang Ui sama ber-gelak 2.

Su Houw yang hanya dilempar keatas punggung onta, Cepat-cepat bangun untuk menolong Tay Houw dari dalam lubang.

Lucu adalah Ji Houw dan Sam Houw.

Tak tahu kalau rambutnya di kat, ke 2nya meronta 2 dan bergulung-gulung ditanah.

Buru-buru si utusan maju menolongnya.

Tapi karena meronta 2, rambut itu menjadi kencang ikatannya.

Sampai sekian lama baru si utusan dapat membukanya.

Keempat raksasa itu mengawasi orang muda lawannya itu, dengan melongo.

Tidak mereka mendongkol lagi, tapi merasa kagum.

Kiranya mereka berempat itu berhati polos dan jujur.

Toa Houw pertama-tama yang maju, seraya unyukkan jempol.

"Kau sungguh hebat, aku Toa Houw kagum padamu!"

Habis mengucap, dia berlutut memberi hormat.

Ketiga adiknya pun mengikuti perbuatannya.

Buru-buru Tan Keh Lok berlutut membalas hormat.

Dia puas akan sikap yang polos dari keempat raksasa itu.

Setelah bangun, Tan Keh Lok haturkan maaf.

Girang hati ke-empat orang itu.

Sekonyong-konyong, Su Houw lari memanggul bangkai onta.

Sementara Sam Houw menuntun 4 ekor kuda mereka kemuka Bok To Lun, katanya.

"Ontamu telah kumatikan, maaf. Empat kuda kami ini untuk penggantinya!"

Tapi Bok To Lun menolak penggantian itu.

"Ayo, kita pulang!"

Seru siutusan seperti semut diatas kuali panas. Dia Cemplak kudanya. Namun masih penasaran dan bertanya pula pada Hiang Hiang KiongCu.

"Apa kau berani pergi sungguh-sungguh?!"

"Baik, sekarang juga aku akan kemarkasmu", sahut Hiang Hiang terus minta ayahnya terimakan surat balasannya. Bok To Lun berajal. Menurut aturan, urusan ketentaraan ada tanggung jawab orang laki 2. Tapi karena utusan Boan itu sengaja membikin panas hati agar Hiang Hiang mau pergi, maka untuk menutupi muka bangsanya, Bok To Lun menggape Tan Keh Lok. Dengan digandeng tangannya, dia ajak sianak muda masuk kedalam perkemahannya. Sementara Ceng Tong dan Hiang Hiang mengikuti dari belakang.

"Tan-Congthocu, angin manakah yang meniup kau kema ri?"

Seru Bok To Lun seraya memeluk ketua Hong Hwa Hwe itu.

"Ketika akan ke Thian San, aku mendengar kabar penting, maka Buru-buru akan kusampaikan kemari. Ditengah ja lan kuberjumpa dengan ji-sioCia,"

Jawab Keh Lok. Mendengar sang ayah membahasakan "Congthocu"

Pada pemuda itu, Hiang Hiang KiongCu melongo.

"Ah, harap kau maafkan. Ada sesuatu hal yang belum ku-beritahukan padamu. Aku ini sebenarnya orang Han,"

Buru-buru Keh Lok menerangkan pada puteri Cantik itu.

"Ya, Tan-Cengthocu ini, adalah tuan penolong dari rakyat kita. Dialah yang bantu merampaskan pulang kitab suCi kita. Dialah yang menolong jiwa CiCimu. Dan dialah pula yang membakar ransum Tiau Hwi, sehingga kita dapat menahan serangan tentara Boan. Berbicara tentang kebaikannya, sungguh tak habis-habisnya,"

Menambahi Bok To Lun. Tan Keh Lok merendah untuk puji 2an itu.

"Ha, dengan tak mengatakan dirimu yang sebenarnya itu, kau tak mau tonyolkan budi kebaikanmu itu. Sudah tentu tak pantas kusesalkan kau,"

Hiang Hiang tertawa.

"Utusan fihak Boan itu keliwat sombong. Beruntung Cong-thocu dapat memberi pelajaran padanya. Oh, ja, bagaimana pendapatmu, Congthocu, tentang undangannya kepada Asri itu?"

Tanya Bok To Lun. Tan Keh Lok anggap itu urusan besar dari kaum Ui, tak pantas dia turut Campur. Hanya Cukup kalau dia bantu se kuat 2nya saja.

"Aku baru datang dari tempat jauh, sangat asing dengan keadaan disini. Kalau Bok-loeng-hiong anggap harus pergi, aku bersedia mengantarkannya. Kalau tidak, kita bisa Cari lain daya lagi."

Hiang Hiang KiongCu yang muda usia dan nampaknya sangat lemah lembut itu, ternyata bisa juga bersikap keras.

"Ayah, untuk kepentingan rakyat tiap hari kau dan CiCi memeras otak dan masih pula mengadu jiwa dimedan perang. Aku sesalkan diriku yang tak berguna ini, tak dapat membantu apa-apa. Kalau kini aku menjadi utusan, kiranya lebih dari pantas. Kalau tidak pergi, 'kan nanti kita ditertawai mereka!"

Kata Hiang Hiang.

"Moaymoay, aku kuatir fihak Boan akan menyulitkan di rimul"

Kata Ceng Tong.

..Tapi kau sendiri setiap hari keluar perang, tidakkah itu berbahaya?

Kalau aku satu kali saja menempuh bahaya, rasanya tak mengapalah.

Dia Cukup lihai, hatiku tenang pergi bersamanya.

CiCi, sedikitpun aku tak takut!"

Ujar Hiang Hiang. Melihat sang adik begitu mesra rasa kasihnya kepada Tan Keh Lok, gundahlah hati Ceng Tong.

"Baik, ayah, biarlah dia pergi,"

Katanya kemudian.

"Baik, Congthocu. Anakku tolong titip,"

Akhirnya Bok To Lun berkata.

Tan Keh Lok merah mukanya.

Sepasang mata yang laksana kaCa beningnya dari Hiang Hiang, bermain kearah Keh Lok.

Sebaliknya, Ceng Tong Buru-buru melengos.

Bok To Lun siapkan surat balasan.

Dalam surat itu hanya tertulis delapan buah kata-kata "menentang kelaliman, sedia berperang.

Al ah tentu membantu kita."

Tah Keh Lok setuju sekali dengan bunyi balasan itu. Ringkas tegas. Surat itu diserahkan pada Hiang Hiang. Bok To Lun menCium dahinya dan memberi doa.

"Moaymoay, semoga Al ah menyertaimu. Lekaslah kembali lagi,"

Kata Ceng Tong.

Keempat orang itu keluar lagi dari perkemahannya.

Bok To Lun perintahkan membuka perjamuan untuk utusan Boan beserta pengikutnya.

Sehabis itu, seorang serdadu membawakan kuda untuk Hiang Hiang KiongCu dan Tan Keh Lok.

Sesaat kemudian, dengan di ringi bunyi musik dan tepuk tangan riuh, maka bertolaklah si utusan dengan keempat pengawalnya.

Hiang Hiang dan Tan Keh Lok mengikut dari belakang.

Ceng Tong mengantarkan bayangan ketujuh orang itu dengan pandangan yang sukar dijajaki artinya.

"Ceng-ji, adikmu sungguh berani,"

Kata sang ayah.

Ceng Tong anggukkan kepala.

Tiba-tiba ia tutup mukanya dengan ke 2 tangan, lalu lari masuk kedalam perkemahan.

Melihat itu, diam-diam Bok To Lun menghela napas.

DiCeritakan setelah berjalan setengah malam, waktu fajar, sampailah Hiang Hiang dan Tan Keh Lok kemarkas Ceng.

Si utusan persilakan ke 2 anak muda itu beristirahat disebuah kemah karena dia akan menghadap pada Tiau-Ciangkun.

"SiaoCiang telah menyerahkan surat TayCiangkun pada kepala suku Ui. Mereka sangat biadab tidak mau menakluk. Malah kini mengirim orang untuk menyampaikan balasan,"

Kata si utusan ketika menghadap Tiau Hwi. Tiau Hwi perdengarkan suara dihidung.

"Hm, mereka belum insyap kematiannya!"

Segera dia perintah untuk mengadakan persidangan.

Be-gitu terompet dibunyikan, maka bersiaplah semua Cong-peng, huCiang, somCiang dan siupi menghadap Tiau Hwi.

Pertama diundang masuk pembesar pasukan Gi-lim-kun yang datang membawa firman baginda.

Kemudian dia titahkan seribu pasukan thiat-ka (baju besi) berbaris menjadi 2 larik.

Masing-masing siap dengan senjata lengkap.

Sehingga suasana dalam markas besar itu kelihatan garang sekali.

Setelah itu, baru disuruhnya utusan Ui menghadap.

Di ring oleh orang yang dikasihinya, Hiang Hiang KiongCu berjalan masuk diantara 2 lapisan pagar golok.

Ia tersenyum-senyum, tak takut.

Bahkan utusan fihak Ui adalah sepasang orang muda yang kemaren melalui barisannya, telah membuat heran semua anak buah tentara Ceng itu.

Langsung tiba dihadapan Tiau Hwi, Hiang Hiang KiongCu memberi hormat, lalu menyerahkan surat-balasan dari ayah nya..

Seorang pengawal maju menyambuti.

Tapi begitu dekat, hidungnya segera membaui bebauan yang luar biasa harumnya.

Cepat-cepat dia tundukkan kepala, tak berani meman-dang kemuka.

Ketika mengulurkan tangan akan menyam butinya, matanya segera menjadi pudar demi melihat kulit tangan yang bening laksana batu giok putih, dan jari 2 yang bagaikan bulu landak itu.

Hatinya berguncang keras, tanpa merasa, dia termangu-mangu seperti terpaku.

"Bawa kemari!"

Bentak Tiau Hwi dengan keras.

Seperti digujur air dingin, pengawal itu gelagapan, ham-pir 2 saja mau terpeleset jatuh.

Hiang Hiang segera kasih-kan surat itu kedalam tangan sipengawal, sembari unyuk senyuman.

Kembali orang itu ter-longong memandangnya.

Hiang Hiang menunyuk kearah Tiau Hwi, kemudian men-dorong pelahan-lahan pengawal itu.

Setelah itu, barulah si pengawal membawa surat kepada Ciangkunnya.

Melihat tingkah orangnya itu, Tiau Hwi marah sekali.

"Seret dia keluar, potong lehernya!"

Bentaknya keras-keras. Beberapa perwira maju menyeretnya keluar. Pada lain saat mereka masuk menghaturkan sebuah nampan yang terisi kepala sipengawal tadi.

"Pancang kepala itu diatas tiang!"

Perintah Tiau Hwi.

Hiang Hiang KiongCu anggap, karena dialah maka sipengawal dihukum mati.

Maka ketika perwira itu akan membawa keluar nampan, Buru-buru Hiang Hiang menyambutinya.

Dipandangnya kepala pengawal yang bernasib malang itu.

Beberapa butir air mata menetes turun diatasnya.

Suasana yang merawankan itu, mempengaruhi sidang itu.

Banyak sekali perwira 2 yang kesengsam.

"Asal kepalaku disiram air matanya, rasanya rela aku binasa,"

Pikir mereka.

Tiau Hwi makin gusar.

Akan dia damprat perwira 2 yang telah runtuh imannya itu.

Tapi Baru dia akan membuka mulut, tiba-tiba kedengaran si perwira yang menabas leher sipengawal itu, berseru keras-keras.

"Aku bersalah, keliru membunuh. Sudahlah jangan me-nangis!"

Kata-kata itu ditujukan untuk menghibur sijelita.

Malah tidak hanya kata-kata saja, karena pada saat itu, perwira tersebut.

Cabut goloknya untuk terus disabetkan kelehernya sendiri.

Seketika itu, dia roboh tak bernyawa.

Suasana makin gempar.

Hiang Hiang KiongCu makin bersedih.

"Ah, anak ini masih suka menangis, tak surup menjadi utusan,"

Kata Keh Lok dalam hati.

Lalu dielus-elusnya dan di hiburnya.

Sebagai panglima perang, Tiau Hwi berhati besi.

Tapi dia sendiri heran, mengapa diapun terharu mendengar tangis nona itu.

Lekas dia perintahkan supaya ke 2 korban itu dikubur baik-baik .

Ketika membaCa surat Bok To Lun yang berisi delapan buah kata-kata itu, dia perdengarkan suara hidung.

Katanya kemudian.

"Baik, lusa kita adakan pertempuran yang menentukan, Sekarang kamu ber 2 boleh pulang."

Tiba-tiba pembesar yang membawa, firman kaisar tadi menye lak.

"Tiau-taijin, yang dimaukan baginda mungkin anak perempuan ini!"

Kata-kata itu diuCapkan dengan pelahan sekali, tapi bagi telinga seorang yang mempunyai kepandaian tinggi, terdengar d jelas.

Perhatian Tan Keh Lok hanya ditumpahkan pada Hiang Hiang KiongCu.

Makanya sedari tadi, dia tak perhatikan semua orang yang hadir disitu.

Mendengar nada suara orang tadi, dia merasa seperti sudah kenal.

Cepat-cepat dia do ngakkan kepala.

Hatinya terkesiap.

Pembesar tersebut.

bukan lain adalah Thio Ciauw Cong.

Kebalikannya, Ciauw Cong pun segera mengenalinya.

Dia heran, mengapa pemimpin Hong Hwa Hwe itu mengenakan pakaian orang Ui.

Dua-2nya saling pandang.

Masing-' tak menyang ka kalau bakal berjumpa dalam keadaan seperti itu.

Tan Keh Lok Cepat-cepat tarik tangan Hiang Hiang untuk diajak keluar.

Tapi Ciauw Cong sudah mendahului berbangkit.

Belum lagi orangnya datang, angin pukulannya sudah menyambar.

Dengan tangan kiri memegang pinggang si nona, tangan kanan ketua Hong Hwa Hwe dikibaskan untuk menangkis, sedang kakinya tak berhenti melangkah keluar.

Ciauw Cong bergerak Cepat-cepat , sebat sekali dia sudah memburu keluar juga.

Terhadap Hiang Hiang KiongCu, semua perwira sama ke pinCut.

Terang tadi sang Ciangkun sudah suruh ke 2 utusan itu berlalu.

Mengapa kini pembesar Gi-lim-kun akan menghadangnya.

Dengan anggapan itu, tak seorangpun dari perwira 2 itu mau membantunya.

Sembari memegang si nona, Keh Lok Cepat-cepat kan langkah nya.

Ketika hanya tinggal 2 langkah dari tempat kudanya, tiba-tiba Ciauw Cong sudah berada dimuka situ.

"Tan-CongihoCu, beruntung kita berjumpa disini", kata nya sambil tertawa dingin. Keh Lok terkejut. Diam-diam dia siapkan enam buah biji Catur. Dengan timpukan "boan thian hoa-ih"

Hujan diCurahkan dari langit, dia lontarkan keenam biji Catur itu kearah kepala, dada dan kaki orang, masing-masing pada jalan darah.

"Akan kuhadang dia, lekas kau kaburkan kudamu dulu", Keh Lok bisik-bisik pada Hiang Hiang.

"Tidak. Tunggu sampai kau sudah robohkan dia, kita pergi bersama", sahut Kiongiju itu. Sudah tak sempat lagi Keh Lok hendak memberitahukan si nona bagaimana lihainya orang she Thio itu. Yang nyata saja, semua biji Catur tadi, satupun tak ada yang menge nainya. Cepat-cepat dia pandang sinona, terus dinaikkan keatas kuda. Segera Ciauw Cong menguber terus menghantam. Keh Lok tak mau terlibat dalam pertempuran. Sebat luar biasa, dia menyusup kebawah perut kuda putihnya. Ciauw Cong tarik pulang tenaga pukulannya. Dari memukul, dia berganti memegang badan kuda dan ajunkan kaki menendang lawan. Saat itu Keh Lok sedang berada dibawah perut kuda. Untuk berputar menangkis, terang tak leluasa. Sedang tendangan Ciauw Cong itu secepat-cepat kilat datangnya. Dia gugup, tapi justeru karena itu, timbul ah pikirannya dengan tiba-tiba. Cepat-cepat dia angkat perut kuda itu. Karena kaget, kuda itu menyepak kebelakang. Untuk menghindari, terpaksa Ciauw Cong loncat mundur. Kesempatan itu dipergunakan se-baik-baik nya oleh Tan Keh Lok, siapa terus loncat keatas kuda dan berseru pada Hiang Hiang.

"Lekas kabur!"

Hiang Hiang KiongCu menurut.

Juteru ia hendak keprak kudanya, tiba-tiba Ciauw Cong sudah melesat kearah sinona.

Keh Lok terkejut.

Dia enjot panyatan kuda, tubuhnya menCelat keatas.

Ketika itu justeru tepat pada saat Ciauw Cong juga enjot tubuhnya kemuka.

Ke 2nya kini akan berbenturan di udara.

Tahu Keh Lok bahwa kepandaiannya kalah dengan musuh.

Benturan itu, tentu merugikan dirinya, maka Cepat-cepat dia Cabut badi 2 pemberian Ceng Tong, terus ditusukkannya.

Tampak orang akan mengadu jiwa, Ciauw Cong tak mau melaja ni, dan hanya gunakan tangan kiri untuk menangkap lengan orang yang memegang badi 2 itu.

Dalam keadaan itulah ke 2nya kini sama-sama jatuh kebawah.

Ciauw Cong mengirim pukulan dengan tangan kanan.

Tapi dengan gunakan ilmi^ istimewa dari gurunya, yang disebut "balikkan lengan mengait rantai,"

Tan Keh Lok berhasil menangkap tangan kanan lawan.

Demikianlah ke 2nya seperti orang bergumul, saling menCengkeram, siapa lemah tentu termakan badi 2.

Juga saat itu Tiau Hwi telah perintah melakukan penang-kapan, dan kawanan perwira pun sudah keluar memburu Hanya keempat raksasa persaudaran Holun yang mempu nyai pikiran lain.

"Sewaktu kita kesana, mereka bersikap baik dan sungkan. Tapi kini mereka kemari, mengapa fihak kita tidak mau unyuk kesungkanan?"

Pikir mereka. Nyata meresap sekali rasa kagum keempat raksasa itu terhadap Tan'Keh Lok. Tanpa bersepakat dulu, mereka lari menghampiri.

"Ah, naasku tiba!"

Mengeluh Keh Lok. Dia kira, keempat orang itu pasti akan menangkapnya. Diluar dugaan, keempat raksasa itu menyikap Ciauw Cong.

"Pergilah lekas!"

Seru mereka.

Silat Ciauw Cong memang tinggi, ini tak perlu disangsikan.

Tapi' saat itu dia sedang adu tenaga dengan seorang jago sebagai Tan Keh Lok, jadi dia harus kerahkan seluruh lwekangnya.

Maka begitu direjeng oleh keempat raksasa, dia tak berdaya menangkis atau menghindar lagi.

Dan disikep dengan tenaga ribuan kati itu, betul-betul dia tak dapat berkutik lagi.

"Kalau detik ini kuhabisi jiwamu, bukan lakunya seorang taytianghu (gentlemen). Nah, kuampuni lagi sekali,"

Seru Keh Lok dengan loncat menyingkir, terus naik keatas kuda.

Ciauw Cong tak dapat berbuat apa-apa, keCuali mengawasi ke 2 orang muda itu dengan mata melotot.

Kuda ke 2 orang muda itu luar biasa pesatnya.

Sekejab saja, mereka telah melalui pos penjagaan.

Maka ketika pasukan Ceng yang dititahkan Tiau Hwi mengejar, mereka ber 2 sudah jauh.

Mengalami pertempuran tadi, nampaknya Keh Lok Cape sekali.

Maka tak berapa lama kemudian, dia merasa tak kuat lagi.

Melihat orang yang dikasihi dalam keadaan demikian Cape dan tangannyaj matang biru -Hiang Hiang iba hatinya.

"Mereka tak nanti dapat mengejar kita, baik kita beristirahat dulu,"

Katanya.

Keh Lok menurut.

Tapi begitu turun, saking kepayahan, dia segera roboh, napasnya memburu.

Hiang Hiang pakai susu kambing, untuk membasuh luka-luka ditangan sianak muda.

Begitulah setelah mengasoh sebentar, ke 2nya akan mene-ruskan perjalanannya lagi.

Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar derap kuda mencongklang datang.

Riuh gemuruh pekik para penunggangnya, yang diduga ada berpuluh orang.

Saking gugupnya, Hiang Hiang tak sempat menyimpan kantong susunya.

Loncat keatas kuda, terus mencongklang keras-keras.

Bersiar-siur deru anak panah menyambar, tapi dengan tangkasnya, Tan Keh Lok dapat menyang gapi dan menolak nya.

Karena perhatiannya ditumpahkan kearah serangan anak panah, agak terhambat Keh Lok melarikan kudanya.

Lama-lama diapun merasa Cape lagi.

Justeru pada saat itu, dari arah muka tampak debu mengepul.

Lagi-lagi muncul sebuah pasukan berkuda.

Keh Lok mengeluh.

Dia kempitkan ke 2 kakinya keras-keras, dan berlarilah kuda putih secepat-cepat anak panah.

Sekejab saja dia sudah dapat menyusul Hiang Hiang' KiongCu.

"Ikut aku menerobos!"

Serunya.

Kuda putih kembali melesat kemuka.

Ketika dekat dengan pasukan berkuda dimuka, ternyata mereka hanya terdiri dari tujuh atau delapan orang saja.

Diam-diam Tan Keh Lok girang dalam hatinya.

Dia tahan lesnya, menunggu sinona.

Setiba sinona disitu, rombongan berkuda dari arah muka itupun sudah mendekati.

Tan Keh Lok keluarkan bandringan mutiara, terus akan menerjang kemuka.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka, yang berjalan paling depan loncat turun dari kudanya dan berseru keras.

"Cong-ihoCu?!"

Dalam kepulan debu yang tebal, tampak orang itu bersen jata sepasang kampak. Sedang orangnya sendiri bertubuh kate dan bungkuk. Girang Tan Keh Lok tak terhingga.

"Ciang-sipko, lekas kemarilah!"

Belum habis suara uCa pah itu berkumandang, kembali terdengar suara anak panah pasukan Ceng yang mengejar tadi, Menderu-deru . Ciang Cin dengan tangkas loncat keatas kudanya.

"Ada pasukan musuh mengejar aku dari sebelah belakang, kau tolongi tahan mereka!"

Seru Tan Keh Lok.

Sambil mengia, si Bongkok keprak kudanya.

Baru dia sampai kedekat Congthocunya, kembali ada seorang penunggang kuda lari kemuka, terus mengamuk kedalam barisan Ceng.

Seperti lakunya banteng terluka, orang itu mengamuk dengan hebatnya.

Dia bukan lain ialah Kiu-beng-kim-pa-Cu Wi Jun Hwa.

Keheranan Tan Keh Lok makin menjadi .

Malah dilihatnya Bun Thay Lay, Lou Ping, Thian Hong dan isterinya, memburu datang.

"Congthocu, kau baik-baik sajakah?"

Tegur orang-orang Hong Hwa Hwe itu ketika lalu disisi ketuanya.

Tapi mereka tak berhenti, dan terus menerjang kedalam pasukan Ceng.

Pada lain saat, muncul ah Sim Hi.

Dia bergegas-gegas turun dari kudanya dan menjura kepada Tan Keh Lok.

"Saoya, kita sudah datang."

"Tapi mengapa Wi-kiuko pun kemari?"

Belum pertanyaan itu terjawab kembali ada seorang pe-nunggang kuda lari disisi Tan Keh Lok, terus menyerbu kearah pasukan Ceng.

Orang itu berpakaian warna kelabu, mukanya dikerudungi.

Yang menarik perhatian, kepalanya gundul, memegang sebatang kim-tiok.

"He, bukankah Sipsute?"

Tegur Tan Keh Lok.

"Kau baik-baik , Congthocu?"

Tanya orang itu dari kejauhan.

Pada saat hweshio itu yang ; bukan lain Hi Tong adanya, menyerbu datang, Bun Thay Lay dan Kawan-kawan nya sudah dapat memukul mundur pasukan perintis dari barisan Ceng.

Tapi sekonyong-konyong dari arah belakang, tampak debu mengepul.

Kembali sebuah pasukan musuh yang besar datang!

Buru-buru Bun Thay Lay dan Kawan-kawan nya balik ketempat ketuanya.

"Kearah mana kita harus lari?"

Tanya Bun Thay Lay.

Tahu Keh Lok bahwa puluhan ribu tentara berkuda musuh sedang mendatangi dengan dahsyatnya.

Dan tahu pula dia, bahwa induk pasukan tentara Ui berada disebelah barat.

Kalau diapun lari kebarat, dikuatirkan fihak Ui belum siap.

Tentu akan menderita kekalahan.

Karenanya, dia ambil putusan lari kesebelan selatan.

Kira-kira beberapa li jauhnya, musuh masih memburu.

Hal itu tak membikin Cemas mereka, karena yakin bahwa kuda tunggangannya itu semua adalah kuda yang baik.

Karenanya, makin lama jarak mereka pun makin jauh dengan penge jarnya.

Hanya saja, padang pasir adalah sebuah tempat yang lepas bebas, tak ada pepuhunannya, jadi mereka masih tetap dapat dilihat oleh musuh.

Diam-diam Tan Keh Lok menertawakan Tiau Hwi yang sudah kerahkan pasukannya untuk mengejar dia, suatu hal yang tak berarti.

Tapi sekilas dia teringat akan kata-kata Ciauw Cong kepada jenderal itu.

"Mungkin inilah wanita yang dikehendaki oleh baginda."

Tengah dia merenung begitu, tiba-tiba ada pula sepasukan musuh yang muncul dari sebelah selatan. Hal ini membikin terkejut rombongan Hong Hwa Hwe itu. Mereka hentikan kudanya.

"Cepat-cepat bikin lubang perlindungan. Malam baru kita boleh berjalan lagi,"

Kata Thian Hong.

Semua orang bekerja segera.

Ada yang pakai senjata, ada pula yang gunakan tangannya untuk membuat sebuah lubang.

Selesai itu, Lou Ping minta Hiang Hiang segera ber sembunyi lebih dulu.

Tapi.

karena Hiang Hiang tak mengerti bahasa Han, dia hanya tersenyum saja.

Saat itu hujan anak panah mulai turun.

Lou Ping Cepat-cepat memondong Hiang Hiang untuk diajak masuk kedalam lubang, baru kemudian orang-orang lain menyusulnya.

Segera Bun Thay Lay, Ciang Cin, Thian Hong dan Hi Tong menyambit kembali panah 2 musuh itu hingga beberapa perwira Ceng, segera roboh.

Kalau Bun Thay Lay, Thian Hong dan Hi Tong adalah ahli 2 melepas panah yang gapah, adalah tidak demikian dengan si Bongkok.

Beberapa kali anak panah dilepaskan, tapi satupun tak ada yang mengenai.

Karena jengkelnya, dia lempar busurnya, loncat keatas terus mengamuk dengan sepasang kampaknya.

Melihat itu Ciu Ki Buru-buru menyambret nya.

"Kau mau antar kematian?"

Lou Ping tersenyum puas.

Kini nyata Ciu Ki sudah bero bah.

Dapat ia melupakan permusuhannya lama dengan si Bongkok.

Diam-diam dia puji Thian Hong yang dapat mendidik isterinya itu.

Tapi saking gelinya, Lou Ping sampai tertawa.

"Bukankah perkataanku tadi benar?! tanya Ciu Ki melirik kearah Lou Ping.

"Ya, ja,"

Sahut Lou Ping dengan tertawa.

Jun Hwa pungut busur yang dilemparkan Cian Cin tadi, dan dilain saat dia berhasil merobohkan enam orang lagi.

Sim Hi bertepuk memujinya.

Selagi begitu, serombongan pasukan Ceng menyerbu kearah lubang persembunyian orang-orang Hong Hwa Hwe itu.

Sekali tangan Bun Thay Lay bergerak, pat-Hong (pemimpin) rombongan pasukan itu terjungkel roboh.

Melihat itu, anak buahnya sama ketakutan dan lari menyingkir.

Ja, memang pasukan pengejar itu, telah dapat tersapu mundur.

Tapi dari empat penyuru, tampak ribuan tentara berkuda yang rapat seperti pagar.

Dan sesaat kemudian, anak panah turun sebagai hujan lebat.

Dengan memutar kampak, Ciang Cin berusaha untuk menyingkirkan.

"Lubang ini Cukup dalam, Ayo kita gali pinggirnya,"

Seru Thian Hong.

Lapisan tanah dipadang pasir, yang atas adalah pasir.

Ta pi kalau sudah dikeruk kira-kira tujuh atau delapan meter, bisa terdapat tanahnya yang keras.

Tan Keh Lok, Lou Ping, Ciu Ki, Sim Thay dan Hiang Hiang serempak bekerja.

Tanah 2 itu, di jajar disekeliling lubang itu, diperuntukkan dinding penahan panah.

Kini legalah hati mereka, karena yakin panah musuh tak nanti dapat mengenainya.

Hanya tunggu setelah malam hari, mereka akan menerobos keluar.

Selama itu, 2 kali sudah kelompok 2 pasukan Ceng Coba mendekati tempat mereka, tapi dapat dihajar oleh Bun Thay Lay.

Loncat keatas, si Bongkok terus memutar kampaknya, di ikuti oleh Sim Hi.

Anak itu berhasil mengambil beberapa buah busur dan sebongkok besar anak panah dari majat 2 serdadu Ceng yang terhampar disekitar situ.

Pada saat itu, Tan Keh Lok baru sempat memperkenalkan Hiang Hiang KiongCu pada sekalian saudaranya.

Orang-orang sama kagum atas keCantikan yang tiada taranya dari adik Hwe Ceng Tong itu.

Sayang nya, gadis itu tak mengerti bahasa Han, jadi tak dapat diajak ber-Cakap 2.

Terutama Lou Ping lekas benar merasa suka.

Seketika itu juga, dia ajarkan bahasa Han pada sinona.

Ternyata Hiang Hiang itu berotak Cerdas, dalam waktu yang singkat ia telah dapat menguasai beberapa patah kata-kata bahasa Han.

Setelah mengaso Cukup lama, Keh Lok merasa segar kembali.

Diam-diam dia mengalem kelihaian Ciauw Cong, karena hanya sebentar saja saling dorong mengadu lwekang dengannya, ternyata dia merasa keCapean, sehingga rasanya tangan tak dapat digerakkan untuk menggunakan busur.

"Wi-kiuko, mengapa kaupun datang kemari?"

Tanyanya kemudian. Jun Hwa loncat turun kedalam lubang.

"Apakah semangatmu sudah baik kembali, Congthocu? Dapatkah kuberitahukan sekarang?"

Tanyanya.

Keh Lok mengiakan.

Maka lebih dulu Jun Hwa berseru keras-keraskepada orang-orang yang berada diatas, jakni.

Bun Thay Lay, Ciang Cin, Hi Tong dan Sim Hi, supaya tetap waspada akan serbuan musuh, setelah itu baru dia mulai menutur.

"Setelah kau tugaskan aku bersama Capji-te ke Pakkhia untuk mengawasi gerak gerik fihak kerajaan, ternyata di sana tak terjadi suatu apa. Pada hari ketiga, kita kebetulan melihat Ciauw Cong bersama Suhengnya, Ma Cin totiang berjalan lewat."

"Orang she Thio itu sudah kita serahkan kedalam pengurusan Suhengnya. Tapi mengapa dia bisa keluar lagi. Kira-nya dia pergi ke Pakkhia,"

Kata Tan Keh Lok.

"Apakah kau berjumpa dengan dia disini, Congthocu?"

Tanya Thian Hong.

"Tadi baru saja aku berhantam dengan dia. Memang lihai dia,"

Kata Keh Lok.

Jilid 29

"KITAPUN merasa heran juga,"

Meneruskan Jun Hwa.

"Dan sepanjang jalan ke 2 Sute dan Suheng itu seperti bertengkar nampaknya, hingga mereka tak melihat kita orang. Saat itu timbul dalam pikiranku. adakah Ma-totiang dan Sutenya itu hendak mengelabui kita orang? Kami pasang mata betul-betul dan tahu mereka masuk kedalam sebuah rumah yang pintunya diCat merah. Sampai malam kami tunggu, tetap mereka belum kelihatan keluar. Karena yakin ke 2nya tentu bermalam dirumah itu, maka kuajak Capji te berlalu dulu, dan malamnya kita selidiki kesana lagi."

"Sekira pukul 2 malam, kami masuk kedalam hotel itu,"

Demikian Jun Hwa lanjutkan Ceritanya.

"Kami Cukup tahu bagaimana lihai ke 2 orang itu. Sedang hanya Ciauw Cong seorang, kami ber 2 tak sanggup melawannya, apalagi ada suhengnya. Dari itu kami berlaku luar biasa hati-hati, sampai bernapaspun tak berani kami merajap dan berhenti diatas ruangan besar. Sampai beberapa lamanya, tiba-tiba terdengar suara seseorang. Buru-buru kami menghampiri dan mengintip dari sela 2 jendela. Kiranya bangsat itu tengah ber 2an dengan Ma-totiang. Ma-totiang sedang berbaring ditempat tidur, sedang bangsat itu berjalan mondar-mandir. Agaknya mereka sedang bertengkar keras. Kami tak berani lama-lama mengintip, dan hanya tempelkan telinga mendengari pembi Caraan mereka. Ternyata bangsat she Thio itu telah menipu Suhengnya. Dia bilang akan kekota raja dan akan mengurus uangnya dulu, baru nanti akan ikut sang Suheng kembali ke Ouwpak. Setiba di Pakkhia, beberapa hari kemudian, kaisar pun kembali kekotaraja."

Mendengar itu, tampak Tan Keh Lok mengelah napas.

"Menurut Ciauw Cong,"

Demikian Jun Hwa berkata pula.

"kaisar telah memberikan dia sebuah firman, agar dia pergi kedaerah Hwe mengurus suatu tugas penting."

"Apa itu?"

Sela Keh Lok.

"Tak diterangkannya jelas. Hanya seperti disuruh menCari seseorang,"

Jawab Jun Hwa. Kening Tan Keh Lok mengerut, ia melirik kearah Hiang Hiang KiongCu.

"Ma-totiang nampak gemas, dia menghendaki supaya Ciauw Cong minta lepas dari jabatannya dengan segera. Tapi bangsat itu memberi alasan, kaisar pasti akan gusar kalau dia berani membangkang firman itu. Begitulah perdebatan makin sengit. Saking gusarnya, Ma-totiang tak dapat menguasai dirinya lagi. Dia loncat dari pembaringan dan serunya lantang 2.

Baca Juga: Pedang Angin Berbisik Han Meng

Baca Juga: Kidung Senja Di Mataram 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert