Eps 2 Kidung Senja Di Mataram - Kho Ping Hoo
Baca online Kidung Senja Di Mataram - Kho Ping Hoo
Cersil Kidung Senja Di Mataram - Kho Ping Hoo.
Dia lalu bangkit dan agaknya hendak nekat, akan tetapi melihat ini, Joko Lawu yang merasa khawatir kalau sampai Aji menjadi bulan-bulan raksasa hitam itu, sudah mendahuluinya dan dia pun naik ke panggung menghadapi Ganjur.
Semua orang terbelalak keheranan, juga penuh kecemasan.
Apa lagi kakek petani yang dipondokinya.
Kalau tadi kakek ini merasa bangga, maka kebanggaannya hanya karena tamunya menjadi pasangan yang serasi dengan Madularas.
Kalau tamunya itu hendak melawan Ganjur, tentu saja dia merasa cemas bukan main.
Tamunya itu demikian tampan dan halus, bagaimana mungkin mampu menandingi Ganjur?
Sekali gebrakan saja akan patah-patah tulangnya dan remuk kepala dan dadanya!
Kepala dusun Muncang sekeluarga memandang heran dan tegang, bahkan Aji yang tidak jadi bangkit berdiri, memandang dengan penuh perhatian dan alisnya berkerut.
Namun Joko Lawu nampak bersikap tenang sekali ketika dia menghampiri Ganjur.
Dia membesarkan suaranya.
"Hei, Ganjur, apakah tantanganmu itu ditujukan kepada semua orang? Kalau aku menyambut tantanganmu, bolehkah?"
Ganjur mengamati Joko Lawu dari kepala sampai ke kaki, lalu dia menengadah dan tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, engkau"..? Ha-ha-ha, engkau ini remaja tampan. Memang pantas sekali kalau engkau berjoget, engkau tampan dan lembut. Lebih baik engkau ikut saja dengan aku ke Ponorogo di sana para warok akan memperebutkanmu! Engkau akan disanjung, disayang, dan hidup penuh kesenangan!"
Wajah Joko Lawu menjadi merah.
Dia pernah mendengar akan kebiasaan aneh para warok dan benggolan di Ponorogo yang suka sekali memelihara pemuda remaja yang tampan untuk dijadikan kekasih!
"Ganjur, jangan melantur!
Aku Joko Lawu menerima tantanganmu tadi, dengan taruhan bahwa kalau andika kalah, maka andika harus cepat minggat dari sini dan jangan lagi berani mengganggu wanita."
"Heh-heh-heh, kalau aku menang? Kau akan kubawa ke Ponorogo, kuhadiahkan kepada bapa guruku!"
"Kalau aku kalah, terserah. Mati pun akan kuhadapi!"
Kata Joko Lawu, lalu dia menghadap kepada rombongan penabuh gamelan, minta agar pertandingan itu diiringi gamelan!
Para penabuh gamelan yang tadinya takut kepada Ganjur, kini menjadi bersemangat karena ada orang yang berani menentang benggolan itu, dan seketika mereka semua berpihak kepada Joko Lawu.
Maka terdengarlah bunyi gamelan dengan gagahnya.
Ganjur kembali tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, engkau ini anak kecil berani berlagak. Pantasnya engkau hanya berjoget dan bertembang, dan menjadi kekasih orang-orang jantan!"
"Ganjur, tak perlu banyak cakap. Mulailah, atau aku yang akan mulai menyerangmu!"
Ganjur bertolak pinggang, kedua kakinya terpantang lebar dan dia masih menyeringai lebar.
"Engkau? Mau menyerangku? Ha-ha-ha, bocah bagus. Boleh kau serang aku. Mau pukul? Mau menempiling? Mau menendang? Silakan, bagian mana yang kau pilih. Dari depan? Dari belakang? Silakan, ha-ha-ha!"
Dia mengandalkan kekebalannya dan dia memandang rendah kepada perjaka remaja yang tentu tidak memiliki tenaga besar itu.
"Benarkah itu? Nah, seluruh orang yang hadir di sini menjadi saksi. Bukan aku yang berbuat curang, akan tetapi engkau yang menantang untuk dipukul."
"Heh-heh, bocah bagus. Kalau orang setampan engkau yang memijat, biar sampai semalam suntuk pun aku mau. Pukulanmu merupakan pijitan yang nikmat, heh-heh-heh!"
"Nah, kau terimalah pijitan ini!"
Kata Joko Lawu dan tangan kirinya menampar ke arah dada yang tebal dan lebar, penuh dengan otot menggembung itu.
Semua orang kecewa dan cemas melihat betapa pemuda tampan itu memukul dengan lemah sekali, dan memang pantas dikatakan seperti pijitan yang nyaman saja.
Pukulan yang keras sekalipun belum tentu mampu menembus benteng kekebalan Ganjur, apa lagi hanya tamparan yang lemah itu.
"Bukk!"
Tamparan telapak tangan kiri Joko Lawu menyambar ke arah dada yang bidang dan kokoh itu, dan nampaknya lemah dan tidak bertenaga, seperti sehelai daun yang jatuh menimpa batu karang saja.
Tangan itu pun membalik dan tubuh tinggi besar hitam itu sama sekali tidak tergoyang.
"Ha-ha-ha, tidak terasa sama sekali!"
Kata seorang kawan Ganjur di bawah panggung.
"Wuuttt"".!"
Dengan gerakan yang amat ringan Joko Lawu sudah mengelak ke samping sehingga terkaman Ganjur luput dan selagi tubuh Ganjur tersungkur oleh dorongan tenaga terkamannya sendiri, kaki Joko Lawu menyambar, tidak begitu keras nampaknya ujung kaki itu dua kali mencium belakang lutut kedua kaki Ganjur dan tak dapat dicegah lagi, tubuh tinggi besar itu tersungkur dan mencium papan panggung, menimbulkan suara berdebuk.
Ketika Ganjur merangkak bangun, Joko Lawu kembali mengejeknya, melihat betapa bibir yang hitam tebal itu berdarah, agaknya terlalu keras menghantam papan sehingga terluka robek.
Agaknya memang bibir itu belum dilatih kekebalan!
"Kepalaku belum hancur, Ganjur, sebaliknya mulutmu yang sombong itu yang nyaris hancur."
Kini wajah para penonton yang berpihak kepada Joko Lawu berubah menjadi cerah beseri.
Mereka telah salah sangka.
Mereka tlah cemas dengan percuma saja.
Pemuda yang nampak halus lembut seperti Arjuna itu, ternyata juga memiliki kedigdayaan seperi Arjuna pula!
Melihat perkelahian tadi, mereka semua teringat akan pertunjukan wayang di mana Arjuna bertanding melawan seorang raksasa!
"Jahanam, pecah dadamu!"
Bentaknya dan kakinya yang besar dan panjang itu tiba-tiba mencuat dan menendang ke arah dada Joko Lawu.
Memang tendangan itu hebat dan sekiranya mengenai dada orang, bukan mustahil beberapa batang tulang iga akan patah-patah!
Namun, dengan menggerakkan kaki kanan ke belakang satu langkah, tendangan itu menyambar lewat, hanya beberapa sentimeter di depan dada Joko Lawu dan sebelum kaki itu turun kembali, Joko Lawu sudah melangkah maju lagi dan sekali tangannya bergerak, dia telah mendorong tumit kaki yang menendang itu ke atas!
Tenaga tendangan Ganjur sudah kuat sekali, kakinya meluncur ke atas ketika tendangannya luput, kini tumitnya didorong dari bawah, tentu saja kakinya melayang makin kuat, membawa tubuhnya terjengkang dengan kerasnya dan kalau tadi dia tebanting menelungkup di atas panggung, kini dia terbanting menelentang dan kepalanya bagian belakang beradu dengan papan.
"Brakk! Dua batang papan panggung itu patah, dan Ganjur menyeringai kesakitan, matanya mendadak menjadi juling karena dia merasa bumi berpusing. Dia segera bangkit duduk, akan tetapi sejenak tidak mampu bangkit berdiri, hanya duduk dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan, seolah takut kalau kepala itu akan terbang meninggalkan badannya! Kini, pecahlah sorak sorai menyambut robohnya Ganjur untuk ke dua kalinya dan semua orang tidak ragu-ragu lagi. Jatuhnya Ganjur yang pertama tadi bukanlah suatu kebetulan belaka. Pemuda tampan yang bernama Joko Lawu itu memang hebat! Tentu saja para penonton itu tidak tahu, juga orang-orang kasar seperti Ganjur dan kawan-kawannya tidak tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang muda yang telah menerima gemblengan aji kesaktian, yang telah menguasai ilmu dan tenaga halus, bukan seperti Ganjur yang hanya mengandalkan ilmu dari tenaga kasar saja. Setelah peningnya menghilang, Ganjur bangkit berdiri. Kini dia tidak dapat banyak bicara lagi. Rasa malu membuat dia mata gelap, dibakar dihina dan dipermalukan di depan banyak orang dan melihat wajah orang-orang itu masih menyeringai tertawa, menertawakan dia, ingin rasanya dia mengamuk dan membunuh sebanyak mungkin orang! Dia lalu lolos senjatanya yang dianggap jimat ampuh, yaitu sehelai tali lawe yang tadinya dipakai sebagai kolor atau pengikat pinggang. Sebetulnya, celananya sudah ada pengikatnya sendiri dan tali kolor sebesar lengan itu hanya diikatkan di pinggang saja, sebagai hiasan dan juga sebagai penambah hati karena dia menganggap kolor itu ajimat yang membuatnya digdaya. Kini, dengan kolor di tangan sebagai senjata, berarti bahwa dia hendak berkelahi mati-matian! Melihat ini, ki lurah Muncang segera bangkit berdiri dan berseru dengan suara nyaring berwibawa.
"Tahan! Kisanak, andika sudah kalah, sudah dua kali roboh, sepatutnya andika mengakui kekalahan andika dalam pertandingan adu kepandaian ini. Penggunaan senjata ajimat itu sudah melanggar ketentuan pertandingan, karena pertandingan ini bukan suatu permusuhan!"
Kalau saja tidak ingat bahwa dia berada di daerah orang lain, tentu Ganjur akan mengamuk dan bahkan mungkin menyerang keluarga kepala dusun Muncang itu.
Kini dia menghadapi kepala dusun dan suaranya menggelegar.
"Bapak kepala dusun Muncang! Terus terang, aku mengakui kekalahan dalam pertandingan tangan kosong tadi karena aku kurang berhati-hati. Akan tetapi sekarang aku manantang Joko Lawu untuk bertanding menggunakan senjata! Kalau Joko Lawu merasa takut, biar dia menyembah satu kali kepadaku dan akupun tidak akan memaksanya. Kalau dia berani, maka pertandingan ini tidak menyalahi ketentuan. Pertandingan tantangan antara dua orang jantan menunjukkan sikap ksatria."
Sebelum kepala dusun itu melarang, Joko Lawu yang ingin menghajar orang muda raksasa hitam itu segera berkata halus.
"Paman kepala dusun Muncang, saya menerima tantangan Ganjur yang congkak ini. Kalau orang macam ini tidak dihajar, tentu dia tidak kapok dan selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Nah, Ganjur, dengarlah baik-baik. Bukan saja tantanganmu bertanding dengan senjata kuterima, juga kawan-kawanmu yang berada di bawah itu boleh naik semua untuk mengeroyok aku."
Biarpun tantangan itu terdengar sombong, namun kini semua orang percaya penuh akan kesanggupan Joko Lawu dan tidak ada yang memprotes.
Kini Ganjur sudah kehilangan taringnya.
Dia pun tahu bahwa lawannya tangguh, maka tanpa malu-malu lagi dia memberi isarat kepada kawan-kawannya yang berada di bawah panggung.
Di antara mereka terdapat dua orang warok muda yang merasa diri jagoan, dan mereka berdua itulah yang naik ke panggung sambil melolos kolor mereka.
Ganjur dan dua orang kawannya mengepung Joko Lawu dan mereka bergerak mengintari pemuda itu sambil memutar-mutar kolor dengan wajah bengis dan sikap mengancam.
Joko Lawu berdiri tegak dengan sikap tenang.
Dia tidak mengeluarkan senjata, dan tubuhnya tidak bergerak, hanya sepasang matanya yang bening tajam itu saja bergerak-gerak mengamati tiga orang lawannya.
Kalau Ganjur bertubuh tinggi besar berkulit hitam, seorang di antara kawanya itu gendut pendek dengan muka kasar seperti kulit salak karena penyakit gatal, dan orang ke dua bertubuh tinggi kurus dengan bekas luka melintang di pipi kanannya, membuat si codet ini nampak menyeramkan.
Ganjur masih teringat bahwa dia bukan berada di kandang sendiri, maka bentaknya.
"Bocah sombong, keluarkan senjatamu!"
Sebetulnya dengan tangan kosongpun Joko Lawu tidak gentar menghadapi pengeroyokan mereka dan yakin akan dapat mengalahkan para pengeroyok itu.
Akan tetapi melihat kolor yang kotor dan kumal itu, ia merasa jijik dan diapun melolos sabuk sutera merah yang panjangnya satu setengah meter.
Tentu saja semua orang memandang heran dan khawatir.
Bagaimana sehelai sabuk sutera seperti itu dapat dipergunakan sebagai senjata?
Senjata tiga orang warok muda itu adalah kolor, apa lagi tubuh manusia, kepala seekor kerbaupun akan remuk kalau sekali kena dihantam sabetan kolor seperti itu!
Akan tetapi sehelai sabuk sutera?
Si codet membesarkan hati sendiri dengan suara mengejek.
"Hei Joko Lawu, kami ingin membunuhmu, bukan mengajakmu berjoget tayuban! Kenapa engkau mengeluarkan selendang merah?"
Dua orang kawannya tertawa menyambut ejekan ini, akan tetapi tak seorangpun di antara penonton yang ikut tertawa. Tiba-tiba terdengar suara Banuaji lantang.
"Joko Lawu, aku akan beterima kasih sekali kalau andika suka menambah codet pada pipi kirinya agar tidak berat sebelah!"
Mendengar ini, Joko Lawu memandang kepada Aji dengan tersenyum.
Seniman muda itu seorang pemberani, biarpun hanya seorang seniman yang lemah.
Dia mengangguk lalu berkata kepada si codet yang masih menyeringai untuk mengejeknya.
"Heh, codet! Kau sudah dengar sendiri tadi? Hayo cepat kau lukai sendiri pipi kirimu!"
Mendengar ini, tentu saja si codet terbelalak memandang Joko Lawu.
"Apa kau gila".?"
Tiba-tiba nampak sinar merah berkelebat menyambar ke arah muka si codet dan terdengar bunyi ledakan kecil.
"Tarrr""..!"
"Aduhh""".!"
Si codet terhuyung ke belakang, tangan kiri meraba pipi kiri dan dia semakin tebelalak melihat tangan itu terkena darah.
Dia tadi hanya melihat sinar merah menyambar pipinya, lalu terdengar ledakan dan pipi kirinya terasa nyeri dan pedih.
Kiranya ujung selendang sutera itu telah melecut dan melukai pipinya.
Di pipi kiri itu terdapat luka memanjang dan melintang, mirip dengan codet di pipi kanan.
Meledak kini tepuk tangan para penonton.
Kagum bukan main mereka melihat betapa selendang sutera merah itu ternyata amatlah ampuhnya.
Ketika Joko Lawu mengerling ke arah Aji, dia melihat pemuda itu membungkuk kepadanya seolah menghaturkan terima kasih.
Akan tetapi pada saat itu, para penonton terbelalak dan menjadi cemas kembali karena tiga orang pengepung itu sudah menggerakan kolor masing-masing dan mereka menyerang dari tiga jurusan seperti kerbau-kerbau gila.
Tiga buah kolor itu menyambar-nyambar dahsyat, mengeluarkan suara berdesir dan bersutan.
Para penabuh gamelan mempercepat pemukulan gamelan sehingga terdengar gegap gempita.
Mereka menabuh gemelan dengan hati penuh ketegangan melihat betapa ganasnya tiga orang warok itu mengeroyok Joko Lawu.
Namun, semua ketegangan dan kecemasan itu sirna ketika mereka melihat betapa mudahnya Joko Lawu menghindarkan diri dari sambaran tiga buah kolor itu.
Dengan cekatan sekali, seperti orang menari-nari, tubuhnya berkelebatan dan menyusup di antara gulungan sinar putih keruh yang dibuat oleh tiga buah kolor itu.
Melihat ini, pemukul gendang menjadi gembira dan pukulannya penuh semangat, sedapat mungkin bunyi kendangnya disesuaikan dengan gerakan tiga orang itu, seperti kalau dia mengiringi pertarungan di panggung antara seorang ksatria yang dikeroyok oleh tiga orang raksasa yang kasar.
Demikian penuh semangat para pemukul gamelan itu sehingga para penonton seperti lupa bahwa yang mereka tonton adalah pertandingan yang sungguh-sungguh, bahwa tiga orang warok itu berusaha mati-matian untuk membunuh Joko Lawu.
Mereka merasa seperti nonton pertandingan wayang atau sandiwara saja!
Tiba-tiba pengeroyok yang bertubuh gendut pendek mengeluarkan bentakan nyaring dan dia menyerang dari belakang, kolornya menyambar ganas ke arah kepala Joko Lawu.
Melihat ini, tukang gendang mencoba untuk mengikuti gerak serangan itu dengan bunyi kendangnya.
"Ketopak-pak-pak-pak, tung-tung-tung-plak, dungg"""!"
Joko Lawu menarik tubuh atas ke belakang, membiarkan kolor itu lewat di depan mukanya dan secepat kilat selendang merah sutera di tangannya menyambar, menjadi sinar merah mencuat ke arah muka si gendut pendek.
Tepat ketika bunyi gendang terakhir "dungg""".!"
Itulah ujung selendang sutera merah mematuk dan mengenai hidung yang bengol dari si pendek gendut.
"Crottt"""!"
Dan si gendut itu terjengkang, kedua tangan sibuk mengusap mukanya, akan tetapi bukit hidung sudah ambrol sebagaian, remuk dipatuk ujung selendang merah dan bercucuran darah.
Pada saat itu, kolor di tangan si codet yang pipi kirinya masih berdarah itu menyambar pula, menghantam ke arah iga kiri Joko Lawu.
Pemuda ini menggerakkan selendang dan dua ujung selendangnya bergerak, yang satu menangkis kolor, yang kedua mencuat ke atas menyambar pelipis kanan si codet.
"Prettt"""!"
Dan si codet terpelanting, matanya menjadi juling dan kepalanya mendadak pening, pandang matanya menjadi kabur dan banyak bintang berjatuhan dari atas! "Wirrr""..!!"
Kolor si tinggi besar Ganjur juga menyambar dahsyat. Joko Lawu ter-paksa melempar tubuh ke bawah, telentang, akan tetapi begitu kolor itu menyambar luput, kakinya mencuat ke atas.
"Ngekkk!"
Perut Ganjur tercium ujung kaki Joko Lawu dan raksasa hitam inipun terjengkang, menekan perut yang tertendang karena mendadak perut itu terasa mulas dan melilit-lilit!
Agaknya usus buntunya yang kena tendangan Joko Lawu tadi.
Kini Joko Lawu tidak mau memberi kesempatan lagi kepada tiga orang pengeroyoknya yang masih belum sempat bangkit.
Selendang sutera merah di tangannya menyambar-nyambar, meledak-ledak dan melecut-lecut secara bertubi-tubi, seperti cambuk yang gerakannya amat cepat, menari-nari di atas tubuh tigapengeroyoknya.
Ujung selendang sutera merah itu mematuk-matuk, mencabik kain dan kulit, potongan kain berhamburan, darah muncrat dan tiga orang itu mengerang kesakitan, bergulingan dihujani sengatan ujung selendang sutera merah, tanpa dapat membalas, bahkan tidak sempat bangkit.
Suara gamelan bertalu-talu, ngungkung seperti gamelan pada pertempuran terakhir dalam lakon wayang, dan kaki Joko Lawu menendang tiga orang itu satu demi satu, terlempar turun dari atas panggung, menimpa kawan-kawan mereka sendiri.
Tepuk sorak menyambut kemenangan ini, diiringi cemoohan kepada Ganjur dan dua orang kawannya yang dipapah oleh kawan-kawan lain, melarikan diri meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi, pemuda yang kini menjadi pusat kekaguman itu meloncat turun dari atas panggung pula, menghilang di antara para penonton.
Terdengar orang-orang memanggil nama Joko Lawu, bahkan suara kepala dusun juga terdengar, dan orang mencari-cari, namun pemuda itu telah lenyap ditelan kegelapan malam.
Bahkan ketika kakek petani cepat lari pulang, dia mendapatkan pondoknya kosong, pemuda yang menjadi tamunya dan yang membuatnya bangga itu telah pergi, dan buntelan pakaiannyapun tidak ada.
Joko Lawu maklum bahwa setelah terjadi peritiwa di tempat pesta pernikahan itu, dia tidak mungkin dapat lebih lama tinggal di dusun Muncang.
Tanpa disengaja, dia telah melibatkan diri dalam keributan itu sehingga dia menjadi perhatian orang.
Padahal, dia sedang bertugas penting, yaitu mencari ayahnya dan dia dalam penyamaran.
Semua itu terjadi karena Aji, pikirnya.
Kalau saja Aji tidak berjoget dengan Madularas, tentu diapun tidak akan memperlihatkan diri.
Akan tetapi, pendapat ini dibantahnya sendiri.
Siapa yang akan dapat bertahan sabar menyaksikan kesombongan Ganjur dan kawan-kawannya.
Tidak, dia turun tangan karena tidak tahan melihat Ganjur menghina Madularas.
Akan tetapi akibatnya, dia tidak dapat beristirahat dan malam itu terpaksa dia harus melewatkan malam di sebuah gubuk, di tengah sawah yang sunyi, berkawan bintang-bintang di langit dan jangkrik-jangkrik di sawah.
Joko Lawu duduk di atas gubuk itu, memeluk kedua lututnya dan menyandarkan dagu di atas kedua lutut, termenung.
Wajah Aji terbayang.
Betapa tampan pemuda itu ketika berjoget tadi!
Dia menarik napas panjang.
Hemm, mengapa dia mengenang pemuda itu?
Dia dan ayahnya sudah mengambil keputusan untuk mencari jodoh seorang yang mampu mengalahkannya, putera atau murid tokoh yang mampu menandingi ayahnya.
Dan Aji?
Ahhh, hanya seorang pemuda seniman yang pandai meniup suling, menari da bernyanyi, akan tetapi lemah!
Dia mengusir bayangan Aji dan merebahkan diri tidur di dalam gubuk bambu yang reyot itu.
Karena lelah dan mengantuk, tak lama kemudian diapun tidur pulas.
Akan tetapi, Aji muncul kembali dalam tidurnya.
Dia bermimpi dan melihat Aji berjoget tayuban lagi, gagah dan indah jogetnya, akan tetapi yang menjadi pasangannya berjoget bukan Madularas.
Ledeknya adalah dia sendiri!
Dan betapa bahagianya ketika berjoget sebagai ledek melayani Aji itu!
Pada keesokkan harinya, Joko Lawu terbangun oleh kokok pertama ayam jantan dari dusun Muncang.
Gubuk sawah itu berada di luar dusun Muncang.
Dia bergegas meninggalkan gubuk sebelum ada petani yang meninggalkan dusun pergi ke sawah.
Dia memper-gunakan kepandaiannya berlari cepat menuju ke timur, menyongsong ufuk timur yang mulai terbakar merah oleh sinar matahari pagi.
Pagi yang cerah.
Sinar matahari mendahului sang surya, membakar langit di timur.
Fajar mulai menyingsing dan cahaya terang mulai mengusir kegelapan malam.
Burung-burung sudah sibuk di pohon-pohon, menyambut pagi dengan kicau mereka yang penuh kegembiraan, siap untuk memulai pekerjaan sehari itu mencari makan.
Ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, dan agaknya seluruh permukaan bumi, segala benda hidup, yang bergerak maupun yang tidak, menanti datangnya rahmat yang menghidupkan dengan penuh kebahagiaan.
Sinar matahari!
Sumber kehidupan!
Suasana yang cerah itu mempengaruhi hati Joko Lawu.
Biarpun perutnya sudah mulai bersaing dengan ayam jago namun hatinya ringan dan pikirannya jernih.
Tidak ada lagi bayangan Aji, agaknya sudah terpuaskan semalam dalam mimpi.
Diapun tidak ingat lagi akan peristiwa semalam.
Dia cepat pergi ke daerah Ponorogo untuk mencari ayahnya.
Sinar matahari mulai panas ketika Joko Lawu meninggalkan kaki Gunung Lawu dan tiba di daerah Magetan.
Ketika dia berjalan di bukit kecil yang penuh dengan hutan, dia mendengar teriakan-teriakan orang berkelahi.
Tentu saja dia tertarik sekali dan cepat dia memasuki hutan dari mana terdengar suara pertempuran itu, dia melihat seorang laki-laki berusia hampir lima puluh tahun, berpakaian seperti seorang petani, sedang dikeroyok oleh dua orang warok yang setengah tua pula.
Dua orang warok itu memiliki gerakan yang amat kuat dan cepat juga mereka mempergunakan kolor mereka.
Namun, orang yang dikeroyok itupun tangkas, dengan sebatang keris di tangan dia melakukan perlawanan mati-matian.
(Lanjut ke
Jilid 04) Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 Joko Lawu mengintai, tidak tahu apa yang harus yang dia lakukan.
Dia tidak mengenal mereka yang sedang berkelahi, tidak tahu apa masalahnya yang membuat mereka itu berkelahi.
Tidak enak berpihak pada salah satu pihak tanpa mengenal mereka dan tidak mengetahui pula siapa yang benar siapa yang salah.
Akan tetapi dia melihat betapa laki-laki petani yang dikeroyok itu sudah menderita luka-luka, walaupun tidak mengeluarkan darah, namun pukulan-pukulan kolor mendatangkan luka di sebelah dalam badan.
Luka-luka seperti itu lebih parah dibandingkan luka pada kulit yang berdarah.
Gerakannya sudah mulai mengendur dan beberapa hantaman kolor membuat dia roboh terpelanting.
"Keparat busuk, mata-mata Mataram yang jahat!"
Teriak seorang di antara dua warok yang mengeroyok itu.
"Sekarang kuantar engkau ke neraka jahanam!"
Bentak warok ke dua sambil memutar kolornya, siap untuk menghantam dan membunuh.
"Tahan"""!"
Teriak Joko Lawu dan ketika dua orang warok itu menengok, pemuda ini sudah meloncat di depan mereka.
Tadinya Joko Lawu bingung karena tidak tahu harus membantu pihak mana, akan tetapi begitu mendengar makian tadi, mendengar orang yang dikeroyok itu dituduh mata-mata Mataram, tentu saja mudah baginya untuk menentukan sikap.
Mata-mata Mataram itulah yang harus dibantu.
Ayahnya sendiripun panglima pasukan penyelidik!
Siapa tahu orang itu adalah anak buah ayahnya.
Teriakan Joko Lawu tadi mengejutkan kedua orang warok sehingga mereka menunda pemukulan dan melihat bahwa yang menahan mereka hanya seorang pemuda remaja yang amat tampan, kedua orang warok itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, adi Surosekti! Ternyata hadiah kemenangan itu datang sendiri! Bocah begus, wajahmu tampan kulitmu putih mulus gerak-gerikmu lembut".. hemmm".., sungguh beruntung sekali kami dapat bertemu denganmu. Tunggu sebentar, bocah bagus. Biar kami bunuh dulu mata-mata keparat ini!"
Warok tinggi besar yang mukanya berkulit kasar totoltotol seperti bersisik itu tertawa, kemudian dengan cepatnyamemutar tubuh dan menghantamkan kolornya ke arah kepala laki-laki yang sudah rebah tak berdaya di atas tanah.
"Wuuuttt""".. plakk!"
"Ehhhh??"
Warok yang kulit mukanya seperti kulit biawak itu meloncat ke belakang dengan kaget dan matanya melotot.
Warok itu terkejut dan juga heran melihat bahwa yang tadi menangkis kolornya menggunakan sehelai kain kemben (ikat pinggang) merah hanyalah seorang pemuda remaja yang tampan dan kelihatan lemah.
Betapa dia tidak akan kaget dan heran?
Kolornya merupakan senjata ampuhnya, apa lagi tadi dia menghantamkannya dengan pengerahan tenaga.
Batu pun akan remuk tertimpa kolornya itu.
Dan kini seorang pemuda remaja menggunakan kemben merah mempu membuat kolornya terpental!
Juga kawannya yang dipanggil Surosekti tadi terbelalak.
Akan tetapi, tangkisan yang dilakukan Joko Lawu itu membuat mereka marah sekali.
"Keparat, siapa engkau berani mencampuri urusan kami!"
Bentak Surosekti.
"Aku seorang kelana, namaku Joko Lawu dan aku tidak suka melihat kalian hendak membunuh orang yang sudah tidak dapat melawan begitu saja. Kalian sudah mengalahkan dia, cukuplah dan pergi kalian dari sini."
Dua orang warok itu saling pandang.
"Apakah andika seorang kawula Mataram? Kawan dari orang ini?"
Tanya warok pertama.
"Sudah kukatakan, aku seorang kelana dan bukan kawan orang ini."
"Adi Surosekti, tidak perlu banyak cakap lagi. Bocah bagus ini tidak ingin hidup senang dengan kita, bunuh saja sekalian!"
Kata warok itu dan dua orang itu segera menerjang, menyerang Joko Lawu dengan kolor mereka.
Akan tetapi Joko Lawu memang sudah siap siaga.
Diputarnya kemben merah di tangannya dan nampaklah gulungan sinar merah yang merupakan perisai dan membendung datangnya hujan serangan kedua kolor lawe itu.
Dara yang menyamar pria ini sudah menguasai tiga perempat ilmu-ilmu kependaian ayahnya, maka tentu saja tangguh dan gerakannya sudah matang, di samping ia mengusai pula tenaga sakti yang dibangkitkan dalam dirinya.
Gulungan sinar kemben merah itu bukan saja mampu menangkis semua serangan dua buah kolor, bahkan dari gulungan sinar itu mencuat ujung kemben dibarengi suara ledakan kecil seperti petir, menyambar ke arah ke dua orang pengeroyoknya secara mengejutkan sekali.
Lengan kanan Surosekti telah terkena sambaran sehingga terluka, dan kawannya juga tersentuh lehernya oleh ujung kemben sehingga tergores dan terasa panas pedih.
Kedua orang warok itu semakin kaget.
Mereka memeliki kulit tubuh yang sudah kebal, namun ujung kemben itu mampu menembus kekebalan mereka.
Tahulah mereka bahwa pemuda remaja ini tangguh sekali dan mereka juga takut kalau-kalau pemuda ini mempunyai kawan-kawan lagi.
Maka, setelah terbuka kesempatan, mereka berloncatan dan melarikan diri.
Joko Lawu tidak mengejar mereka, melainkan cepat berlutut di dekat tubuh orang yang telah menderita luka-luka berat itu.
Wajahnya pucat, napasnya tinggal satu-satu.
"Paman, benarkah paman mata-mata dari Mataram?"
Joko Lawu bertanya, khawatir sekali tidak keburu mendapatkan keterangan tentang ayahnya dari orang yang sudah sekarat itu. Orang itu membuka matanya.
"Andika"".andika".. siapa?"
Tanyanya dan pandang matanya penuh curiga.
"Paman, kenalkah paman kepada Ki Sinduwening? Dia ayahku, paman. Di manakah dia sekarang?"
Orang itu membelalakkan matanya dan biarpun napasnya terengah, jelas dia kelihatan marah.
"Pergilah! Ki Sinduwening tidak""
Mempunyai"".anak laki-laki. Anak tunggalnya seorang wanita""."
Girang sekali hati Joko Lawu mendengar ini. Ucapan itu saja membuktikan bahwa penyamarannya sebagai laki-laki telah berhasil baik.
"Paman, lihat baik-baik, aku adalah Mawarsih, puteri dan anak tunggal dari ayahku. Dia melaksanakan tugas dari Sang Prabu untuk memimpin pasukan penyelidikan ke daerah Ponorogo dan JawaTimur, dan aku sedang mencarinya. Di manakah dia, paman?"
Perlahan-lahan mata itu kehilangan kemarahannya dan bibir itu tersenyum, akan tetapi keadaannya semakin lemah.
"Pergilah ke Ponorogo""Ki Sinduwening"". ditawan""
Carilah kawan-kawan".. di warung Pak Jiyo""
Di sudut kota sebelah timur""."
Dia terbatuk dua kali dan terkulai lemas.
Mati.
Pada saat itu, terdengar suara banyak orang berlari ke tempat itu.
Joko Lawu melihat betapa dua orang warok tadi datang bersama belasan orang.
Dia tahu bahwa melawan mereka merupakan bahaya.
Pula, orang ini telah tewas dan tidak perlu dibela lagi, juga dia sudah mendapatkan keterangan tentang ayahnya yang amat mengejutkan hatinya.
Maka, tanpa membuang waktu lagi, diapun cepat meloncat pergi dari situ dan mengerahkan tenaganya, menggunakan aji kesaktian Tunggang Maruta yang membuat dia dapat lari secepat kijang.
Sebentar saja dia sudah jauh meninggalkan para pengejarnya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Ponorogo.
Ayahnya telah ditawan di Ponorogo!
Dia merasa heran sekali.
Bagaimana ayahnya demikian mudah ditawan?
Bukankah ayahnya membawa pasukan, dan ayahnya juga bukan orang lemah yang dapat ditangkap sedemikain mudahnya.
Ingin sekali dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan tentu saja dia harus menolong ayahnya, kalau benar ayahnya menjadi tawanana di Ponorogo.
Dan untuk mendapat keterangan yang jelas, dia harus menghubungi anak buah ayahnya, di warung Pak Jiyo!
Karena hatinya gelisah memikirkan ayahnya, Joko Lawu mempercepat perjalanannya.
Apakah benar keterangan orang yang ditolong Joko Lawu itu bahwa Ki Sinduwening telah ditawan oleh Adipati Ponorogo?
Seperti kita ketahui, KI Sinduwening diterima pengabdiannya oleh Sang Prabu Hanyokrowati, bahkan diangkat menjadi seorang senopati yang bertugas memimpin pasukan penyelidik, melakukan penyelidikan ke Jawa Timur.
Senopati Ki Sinduwening membawa pasukannya ke daerah Ponorogo yang merupakan kadipaten pertama di timur yang memperlihatkan sikap memberontak setelah Raja Mataram, pertama, yaitu Panembahan Senopati wafat (1601) dan kedudukannya diteruskan puteranya, Pangeran Mas Jolang atau Sang Prabu Hanyokrowati yang sekarang.
Ki Sinduwening menyebar pasukannya, dan memilih warung Pak Jiyo sebagai tempat pertemuan rahasia.
Pak Jiyo adalah seorang kawula Mataram yang sejak lama memang diberi tugas untuk menjadi mata-mata.
Melihat keadaan di Ponorogo yang tenteram dan damai, Ki Sinduwening mulai mengumpulkan keterangan.
Dia mendapatkan keterangan bahwa Adipati Ponorogo adalah seorang yang kuat dan pandai memerintah sehingga daerah Ponorogo dapat dibilang makmur dan tenteram.
Mulailah hati Ki Sinduwening menjadi bimbang.
Dia membayangkan bahwa kalau terjadi perang antara Ponorogo dan Mataram, berarti perang saudara yang akan menimbulkan banyak kekacauan, kehidupan rakyat menjadi terancam oleh penjahat-penjahat yang tentu akan bermunculan dan mengail di air keruh.
Perang, apa lagi perang saudara, merupakan malapetaka!
Dan bagaimanapun juga, orang-orang Ponorogo adalah bangsa sendiri, sama-sama orang Jawa dwipa!
Dia teringatpendirian Sang Prabu Panembahan Senopati yang hanya ingin mepersatukan seluruh kadipaten di Jawa dwipa, bukan untuk menjajah kadipaten-kadipaten itu.
Buktinya, setiap kadipaten diberi wewenang sendiri, pemerintahan sendiri.
Apa lagi sekarang ini, amatlah merugikan bangsa kalau sampai terjadi perang saudara.
Dia sudah mendengar betapa orang-orang berkulit putih mulai menguasai pantai Jawa dwipa, terutama sekali daerah Banten.
Kalau sekarang terjadi perang saudara, berarti kedudukan Mataram dan para kadipaten akan menjadi lemah, dan hal itu memudah-kan orang-orang kulit putih bangsa asing itu untuk memperkuat diri.
Dia mendengar betapa di daerah Banten mulai terjadi pergolakan menentang orang-orang Belanda dan bangsa asing kulit putih lainnya.
Dia mengumpulkan para pembantunya dan menyatakan keinginan hatinya untuk menemui Adipati Ponorogo.
"Aku sudah mengenal sang adipati. Akan kucoba untuk membujuk dia agar dia tidak memberontak, tidak memusuhi Mataram yang hakekatnya hanya ingin mempersatukan seluruh nusantara."
Para pembantunya banyak yang menentang keinginan ini.
"Harap kakang senopati ingat bahwa kita berada di daerah musuh. Kami khawatir kalau-kalau kakang senopati akan dianggap musuh dan mendapat perlakuan yang tidak baik di kadipaten."
Ki Sinduwening tersenyum.
"Kalau sampai terjadi sesuatu, andaikata sampai aku tewas sekalipun, aku tidak akan merasa penasaran. Ingat, aku tetap melaksanakan tugas yang diberikan kepadaku oleh Sang Prabu. Kalian semua tetap melakukan penyelidikan, akan kekuatan Ponorogo, dan kelemahan-kelemahannya. Aku sendiri akan pergi menghadap dan membujuk sang adipati. Kalau aku berhasil berarti tidak akan terjadi perang saudara dan malapetaka besar tidak akan menimpa rakyat. Untuk itu, aku bersedia mempertaruhkan nyawaku. Kalau aku berhasil tentu Sang Prabu akan merasa berbahagia sekali karena aku yakin bahwa Sang Prabu, seperti mendiang ramandanya, tidak suka pula untuk berperang melawan para adipati itu dan mengorbankan nyawa banyak perajurit dan rakyat."
Karena tidak dapat dibujuk, akhirnya para pembantu itu hanya menyetujui saja.
Ki Sinduwening lalu berdandan sepatutnya, dan pada pagi hari itu diapun mengunjungi kadipaten dan mohon menghadap Sang Adipati Ponorogo.
Kebetulan sekali pada saat itu, Sang Adipati sedang mengadakan pertemuan dengan para pongawanya, memperbincangkan niat Sang Adipati untuk mempertahankan Ponorogo sebagai daerah bebas yang tidak tunduk lagi kepada Mataram, dan membicarakan pula siasat pertahanan kalau-kalau Mataram akan melakukan penyerangan untuk menundukkan kembali Ponorogo seperti dahulu.
Walaupun selam ini Ponorogo dibebaskan sebagai kadipaten yang memiliki pemerintahan sendiri, namun tetap saja sang adipati dianggap sebagai bawahan Sang Prabu di Mataram, dapat dipanggil sewaktu-waktu dan pada waktu tertentu diharuskan pula untuk menghadap Sang Prabu.
Pendeknya, Ponorogo diharuskan mengakui kekuasaan Mataram dan hal ini menyinggung perasaan sang adipati sehingga ketika mendapatkan kesempatan, yaitu Prabu Panembahan Senopati meninggal dunia, dia tidak lagi mau menghadap ke kerajaan Mataram untuk menyerahkan bulu-bekti sebagai tanda seorang bawahan yang mengakui kekuasaan atasan!
Ketika perajurit pengawal melaporkan bahwa ada Ki Sinduwening dari Mataram mohon menghadap, Sang Adipati Ponorogo merasa heran, akan tetapi segera dia mengutus Senopati Gilingwesi untuk keluar menyambut Ki Sinduwening yang sudah dia kenal sebagai seorang bekas senopati Prabu Panembahan Senopati itu.
Dia sudah mendengar bahwa Ki Sinduwening telah mengundurkan diri, tidak lagi mengabdi kepada Mataram, maka dia telah mencoba untuk mengutus Ki Danusengoro, adik seperguruan Ki Sinduwening, untuk membujuk tokoh itu agar suka membantu Ponorogo.
Namun, seperti telah diceritakan di bagian depan, Ki Sinduwening menolak ajakan atau bujukan adik seperguruannya itu sehingga menimbulkan perkelahian.
Dan sekarang, Ki Sinduwening mohon menghadap!
Tentu saja Adipati Ponorogo merasa gembira sekali, mengira bahwa Ki Sinduwening berbalik pikir dan kini mau mengabdi dan membantu Ponorogo menegakkan kekuasaannya sendiri.
Sang Adipati Ponorogo menyambut dengan wajah cerah ketika Ki Sinduwening muncul diiringkan Senopati Gilingwesi, dan dengan ramah dia mempersilakan Ki Sindu wening duduk, bukan di bawah malainkan di atas sebuah kursi, seperti para pembantu utamanya.
Akan tetapi banyak di antara para ponggawa memandang dengan alis berkerut, terutama sekali Ki Danusengoro dan muridnya, Brantoko, yang juga hadir sebagai pembantu-pembantu utama dari sang adipati.
Setelah berbasa-basi saling memberi salam, Sang Adipati Ponorogo berkata dengan wajah cerah.
"Kakang Sinduwening, sungguh gembira sekali hati kami menyambut kunjungan andika ini. Kalau kunjungan andika ini berarti andika berniat untuk membantu kami, sungguh kegembiraan kami akan lengkap dan menjadi suatu kebahagiaan."
Ki Sinduwening membungkuk dengan sikap hormat.
"Terima kasih atas sambutan adimas adipati yang amat baik. Akan tetapi, sungguh bukan itu maksud kunjungan saya pada saat ini. Kunjungan saya ini terdorong oleh perasaan khawatir membayangkan terjadinya perang saudara yang hanya akan menyengsarakan rakyat jelata. Untuk itulah maka saya datang menghadap paduka, untuk mohon kepada paduka agar mengusahakan supaya tidak sampai terjadi perang."
Adipati Ponorogo mengerutkan alisnya.
"Kakang Sinduwening, apa maksud andika sebenarnya? Katakanlah terus terang!"
Suaranya sudah terdengar agak ketus.
Ki Sinduwening menarik napas panjang.
Dia harus berani menghadapi resikonya.
Memang dia maklum bahwa dia menempuh bahaya, akan tetapi demi cintanya kepada bangsa, dia harus mengingatkan adipati ini agar jangan melanjutkan sikapnya yang memusuhi Mataram, agar tidak sampai terjadi perang saudara.
"Adimas adipati, sebelumnya harap dimaklumikan kalau pendapat saya dianggap menyimpang. Yang saya khawatirkan hanyalah keselamatan rakyat, baik rakyat di sini, mau pun di Mataram atau di mana saja yang termasuk daerah nusawantara! Saya yakin bahwa paduka sudah mendengar akan gerakan orang-orang kulit putih di sepanjang pantai utara Jawa dwipa, terutama sekali di daerah Banten."
Adipati Ponorogo mengangguk-angguk acuh.
"Habis, mengapa? Apa hubungannya peristiwa itu dengan kunjunganmu hari ini?"
"Adimas adipati, kunjungan saya ini untuk mohon agar paduka tidak melanjutkan sikap bermusuhan dengan Mataram. Dalam keadaan seperti sekarang ini, di mana kita semua menghadapi ancaman orang-orang kulit putih yang mulai memperlihatkan kekuasaan di sepanjang pantai, kita semua seyogyanya bersatu padu agar kedudukan kita menjadi kuat. Kalau Ponorogo dan Mataram saling bermusuhan dan terjadi perang saudara, banyak sekali kerugian yang akan diderita oleh bangsa kita. Pertama, akan banyak jatuh korban di antara para perajurit dan rakyat, kedua akan terjadi banyak kekacauan karena tata-tertib terganggu dan penjaga keamanan tidak ada sehingga orang-orang jahat akan bermunculan, dan ketiga, kita semua akan menjadi lemah dan ini menguntungkan pihak asing yang ingin menguasai negara kita."
"Kakang Sinduwening!"
Adipati Ponorogo berseru dan mengelus jenggotnya.
"Kau maksudkan agar kami menakluk kepada Mataram? Begitukah?"
Suaranya meninggi dan mukanya sudah menjadi kemerahan, matanya mamancarkan sinar marah.
"Bukan menakluk, adimas adipati, melainkan tidak memberontak. Bukankah sejak mendiang Sang Prabu Panembahan Senopati, Ponorogo dan Mataram mempunyai hubungan yang amat dekat dan sama sekali tidak pernah bermusuhan? Saya yakin bahwa kalau paduka suka datang menghadap Sang Prabu Hanyokrowati di Mataram, beliau akan menyambut dengan senang hati dan akan melupakan semua sikap yang lalu. Kita perlu sekali bersatu untuk menghadapi ancaman dari luar sang adipati!"
Adipati Ponorogo mengelus jenggotnya, termenung sejenak.
Dia pun dapat membayangkan betapa beratnya melawan pasukan Mataram yang amat kuat itu, dan semua itu kiranya dapat dicegah kalau saja dia mau menghadap Raja Mataram untuk mohon maaf dan berbaik kembali.
Tentu saja hal itu akan menurunkan harga dirinya, akan tetapi"..
dia mulai bembang ragu.
"Maaf, Gusti Adipati!"
Tiba-tiba terdengar suara Ki Danusengoro lantang, mengejutkan semua orang. Senopati ini sudah memandang kepada Sinduwening dengan mata liar melotot penuh kemarahan.
"Hamba seluruh ponggawa mohon agar puduka jangan mendengarkan ocehan Ki Sinduwening ini! Seperti pernah hamba laporkan kepada paduka, di depan hamba sendiri dia menolak kerja sama dan menyatakan setia kepada Mataram! Semua kata-katanya tadi berbisa, racun yang dicelup madu, terdengar manis namun mencelakakan. Hamba yakin bahwa dia sengaja memancing agar kita semua menjadi lemah dan lengah sehingga pasukan Mataram akan dengan mudah menyerang dan menghancurkan pasukan kita. Tidak, Kanjeng gusti, orang ini palsu dan hamba yakin dia adalah mata-mata Mataram yang ditugaskan untuk melemahkan kedudukan kita!"
Semua ponggawa serentak menyatakan setuju dengan pendapat ini. Ki Sinduwening menjadi marah dan dia memandang kepada Ki Danusengoro, senyumnya mengejek.
"Danusengoro, aku mengenal isi hatimu yang busuk! Kalau aku mempunyai niat buruk terhadap Ponorogo, perlu apa aku datang menghadap sang adipati? Memang aku kawula Mataram dan setia kepada Mataram, akan tetapi aku tidak ingin memusuhi Ponorogo, bahkan menyayangkan kalau terjadi perang yang menyengsarakan rakyat! Orang macam engkau ini mana peduli akan nasib rakyat jelata!? Yang penting bagimu hanyalah mencari kedudukan dan kesenangan diri pribadi"""."
"Cukup!"
Bentak Ki Danusengoro sambil bangkit berdiri, lalu menghadap sang adipati.
"Gusti Adipati, orang Mataram ini dengan lancang sekali telah menghina hamba di depan paduka, berarti menghina paduka pula. Dia harus ditangkap agar tidak membuat laporan ke Mataram tentang keadaan kita di Ponorogo!"
Sang adipati mengangguk.
"Sinduwening, karena sikap dan kata-katamu, terpaksa kami akan menahanmu. Menyerahlah andika!"
Ki Sinduwening maklum bahwa usahanya telah gagal.
"Adimas Adipati, sungguh saya merasa menyesal sekali. Paduka lebih suka mendengar kata-kata yang hanya akan menjerumuskan paduka dan menyengsarakan seluruh rakyat di Ponorogo"".."
"Tutup mulutmu yang lancang, Sinduwening!"
Danusengoro membentak.
"Melawanlah agar kami dapat mencincang tubuhmu!"
Sinduwening tersenyum.
"Danusengoro, kalau saja kamu ini seorang jantan dan berani menantangku untuk bertanding secara ksatria, setiap saat tentu akan kulayani. Akan tetapi kamu hanyalah seorang pengecut besar yang curang. Aku tidak akan melawan dan sudah kuketahui sebelumnya akan bahayanya usahaku menyadarkan sang adipati. Adimas Adipati, saya sudah siap menjadi tawanan yang tidak mempunyai kesalahan apapun."
Tanpa melawan KI Sinduwening ditangkap dan dimasukkan ke dalam ruangan tempat tahanan yang kokoh, dijaga oleh pasukan keamanan.
Demikianlah keadaan di Sinduwening dan berita penangkapannya itu tentu saja didengar oleh para anak buahnya, yaitu pasukan penyelidik dfan mata-mata dari Mataram yang disebarnya.
Para anggota pasukan penyelidik itu mengadakan partemuan rahasia di warung Pak Jiyo dan mereka melanjutkan tugas mereka melakukan penyelidikan di Ponorogo, dan ada pula yang diam-diam meninggalkan Ponorogo untuk kembali ke Mataram dan melaporkan tentang penangkapan atas diri pemimpin mereka, yaitu Ki Sinduwening.
Ketika Sang Prabu Hanyokrowati mendengar akan penangkapan atas diri Ki Sinduwening, dia lalu mengutus Nurseta untuk menggantikan kedudukan senopati itu, memimpin pasukan penyelidik, dan dipesannya juga agar berusaha membebaskan Ki Sinduwening dari tahanan.Berangkatlah Nurseta dan diam-diam dia merasa girang karena mendapat kesempatan untuk mencari Mawarsih pula.
Dia mendengar dari anak buah yang disuruhnya melakukan penyelidikan bahwa Mawarsih tidak berada di dusun Sintren dan kemungkinan mencari ayahnya yang bertugas melakukan penyelidikan ke Ponorogo dan semua kadipaten di Jawa Timur.
Ki Sinduwening yang meringkuk dalam tahanan, diperlakukan dengan baik.
Dia meperoleh hidangan makanan dan minuman yang cukup, dan baru sehari semalam dalam tahanan, pada keesokan harinya pagi-pagi muncul Brantoko di depan jeruji besi depan kamar tahanannya.
"Paman Sinduwening""."
Kata pemuda itu sambil tersenyum-senyum ramah. Ki Sinduwening mengerutkan alisnya dan mengamati wajah pemuda itu penuh selidik.
"Mau apa engkau datang ke sini?"
Tanyanya tegas dan singkat karena tidfak suka kepada pemuda ini.
"Aku merasa menyesal sekali melihat paman ditawan di sini. Kenapa paman harus mengambil sikap bermusuhan dengan Sang Adipati? Kalau paman suka bekerja sama, tentu tidak akan ditawan, malah menjadi tamu agung."
"Cukup, pergilah. Aku tidak mau bicara denganmu tentang hal itu."
Kata Ki Sinduwening.
"Paman Sinduwening, aku bersungguh-sungguh, aku tidak suka melihat paman menjadi tawanan. Aku akan dapat menolongmu, membebaskanmu, paman""."
"Hemm, apa maksudmu?"
Ki Sinduwening memandang tajam penuh selidik, tidak mau percaya begitu saja ucapan pemuda itu.
"Paman, andaikata kau tidak melihat paman sebagai kakak seperguruan guruku, tentu akupun ingat bahwa paman adalah ayah diajeng Mawarsih yang kucinta sepenuh jiwa ragaku. Paman Sinduwening, berjanjilah paman bahwa paman menyetujui aku menjadi suami diajeng Mawarsih, dan aku akan membebaskan paman dari tempat ini."
Kerut merut di kening orang gagah itu makin mendalam.
Dia amat menyayang puterinya, lebih besar kesayangannya terhadap puterinya dari pada nyawanya sendiri.
Dan kini pemuda bejat ahlak ini membujuk dia untuk menukar keselamatannya dengan diri puterinya?
"Tidak!
Bedebah engkau, Brantoko.
Pergilah, sampai matipun aku tidak sudi mem-biarkan puteriku menjadi isteri seorang jahanam seperti engkau!"
Wajah Brantoko yang tampan itu menjadi marah sekali, lalu pucat dan merah kembali.
Kedua tangannya yang besar dan kokoh itu dikepal, seolah-olah dia hendak menerjang dan menyerang Ki Sinduwening yang berada di balik jeruji besi.
Akan tetapi, tentu saja dia tidak berani.
Dia mengamangkan tinju kanannya yang besar ka arah muka Ki Sinduwening.
"Baik, kalau begitu akan kuusahakan agar engkau disiksa dan dibunuh di sini! Dan aku akan tetap mendapatkan Mawarsih, baik secara atau secara kasar!"
"Keparat busuk, enyahlah!"
Bentak Ki Sinduwening dan matanya mencorong seperti mata harimau, membuat pemuda itu surut dan segera meninggalkan tempat itu.
Setelah dia ke luar, barulah para penjaga berdatangan lagi mendekati tempat tahanan itu.
Dia harus dapat menyelamatkan diri, walau hanya untuk mencegah pemuda jahat itu membuktikan ancamannya terhadap Mawarsih tadi.
Nurseta menunggang kudanya yang berbulu dawuk dan tinggi besar.
Pemuda ini memang gagah sekali.
Selain tampan dan lincah, juga wajahnya yang berkulit kuning itu selalu bersih, rambutnya selalu terpelihara rapi, pakaiannya juga rapi dan bersih.
Dia memang suka bersolek.
Di belakangnya terdapat selosin perajurit yang mengikutinya.
Sekali ini, dia dan perajuritnya tidak menggunakan pakaian seragam, melainkan pakaian biasa sehingga mereka seperti orang-orang muda yang sedang berpesir atau sedang hendak berburu binatang.
Seperti Nurseta, dua belas orang perajurit itupun menunggang kuda.
Rombongan itu sudah melewati puncak Gunung Lawu setelah kemarin Nurseta singgah di dusun Praban di mana ayahnya, Ki Demang Padansuta, menjadi demang di dusun itu.
Nurseta menceritakan kepada ayahnya bahwa ia bertugas mencari Ki Sinduwening di daerah Ponorogo dan dalam percakapan itu, Nurseta juga bercerita kepada ayah ibunya bahwa ia terpikat oleh Mawarsih, dan menyatakan keinginan hatinya untuk kelak memperisteri gadis itu.
Ketika rombongan itu tiba di tepi sebuah hutan, tiba-tiba Nurseta mendengar jerit tangis wanita.
Mendengar ini, cepat dia membelokkan kudanya memasuki hutan itu, diikuti oleh anak buahnya.
Kuda yang ditunggangi Nurseta lebih cepat larinya dan sebentar saja dia sudah tiba di tempat di mana terdengar tangis wanita itu.
Dan dia melihat dua orang laki-laki tinggi besar sedang memegangi seorang wanita cantik yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.
Mudah saja diduga apa yang akan dilakukan dua orang laki-laki yang tertawa-tawa itu, maka sekali melomat Nurseta sudah turun dari kudanya dan lari menghampiri mereka.
"Bedebah, lepaskan wanita itu!!"
Bentak Nurseta dengan geram.
Dua orang laki-laki tinggi besar itu menoleh dan ketika mereka melihat bahwa yang menegur mereka hanyalah seorang pemuda tampan, mereka mengeluarkan suara menggereng seperti harimau dan keduanya sudah menyerang maju dengan ganas.
Akan tetapi Nurseta sudah siap siaga sejak meloncat turun dari kudanya.
Dia mengelak dengan loncatan sigap, kemudian membalas dengan tamparan tangannya.
Dua orang laki-laki itu menagkis dan menyerang lagi, lebih dahsyat karena kini mereka sudah mencabut golok mereka yang tajam berkilauan.
Menghadapi serangan golok yang menyambar-nyambar mengeluarkan suara berdesing itu, Nurseta tidak menjadi gentar.
Dia masih mempergunakan kelincahan gerak tubuhnya, mengelak ke sana sini akan tetapi dia maklum bahwa dua orang lawannya itu bukan lawan yang lemah.
Maka, diapun mencabut pecut kuda yang sejak tadi terselip di pinggangnya.
Terdengarlah suara meledak-ledak ketika dia menggerakkan pecut kuda itu dan ujung pecut itu menyambar-nyambaSelain tingkat aji kesaktian Nurseta lebih tinggi dari pada kedua orang lawannya, juga senjata pecut itu jauh lebih panjang dibendingkan golok maka ujung pecut itu yang lebih cepat menghujankan serangan, menukik dan mematuk-matuk.
Pecut yang amat ringan itu tentu saja dapat digerakkan jauh lebih cepat pula dan orang itu segera menjadi sibuk melindungi muka mereka dari hujan lecutan.
Dan ujung pecut itu pun bagaikan ujung keris saja, setiap kali mematuk dan mengenai tubuh, tentu kulitnya pecah tercabik.
Tak lama kemudian, dua orang yang hanya mampu memutar golok melindungi muka tanpa mampu membalas itu sudah luka-luka berdarah bagian muka dan leher mereka dan merekapun melarikan diri ketakutan.
Nurseta tidak mengejar, melainkan menoleh ke arah wanita tadi sambil menyelipkan kembali pecutnya.
Dia melihat seorang wanita yang cantik sekali, dengan bentuk tubuh yang menggairahkan, dan diapun mengerti mengapa dua orang kasar tadi hendak menggangunya.
Wanita itu telampau cantik dan menarik untuk berjalan seorang diri di dalam hutan, dan memang tidak mudah bagi pria untuk membiarkannya tanpa menggangu.
Wanita itu adalah seorang wanita muda yang sudah matang, usianya sekitar dua puluh tujuh tahun.
Kulit tubuhnya putih kuning dan mulus, rambutnya yang hitam panjang itu berombak dan di dahinya terhias sinom rambut yang lembut dan awut-awutan.
Wajahnya bersih dan manis, dengan sepasang mata yang jeli dan kerlingnya memikat, hidungnya mancung dan bibirnya yang merah basah itu kadang nampak setengah terbuka dan menantang.
Kedua pipinya kemerahan tanpa alat dan selalu berseri.
Nurseta terpesona, akan tetapi juga merasa heran karena wajah yang manis ini tidak asing baginya.
Dia pasti sudah mengenalnya, akan tetapi entah di mana dan kapan.
Setelah saling pandang sejenak, wanita itu lalu berlari menghampiri Nurseta, langkahnya lembut dan lenggangnya memikat seperti langkah seorang penari yang pandai.
Setelah tiba di depan pemuda itu, iapun menjatuhkan diri bersimpuh dan dari atas begini Nurseta dapat melihat tonjolan bukit kembar di dada wanita itu yang bentuknya begus dan menggairahkan.
"Saya menghaturkan terima kasih, Raden. Kalau tidak ada paduka, entah bagaimana nasib saya. Saya berhutang budi, kehormatan dan nyawa kepada paduka, dan entah bagaimana saya akan mampu membalasnya."
Suaranya juga merdu merayu, seperti orang bertembang saja, dan tiba-tiba Nurseta teringat!
Suara itulah yang mengingatkannya, suara wanita yang dulu amat dikaguminya kalau sedang bertembang pada malam hari.
"Kanjeng ibu Mayaresmi"""! Bukankah andika ini kanjeng ibu Mayaresmi""?"
Wanita itu nampak terkejut, bangkit berdiri, memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak, lalu mundur tiga langkah dengan tangan kiri menyentuh dada, tangan kanan di depan mulut.
"Ehh""? Siapa""
Siapakah paduka"".?"
Nurseta tersenyum dan memberi hormat dengan membungkuk.
"Kanjeng ibu lupa kepada saya? Saya Nurseta, murid bapa guru Ki Ageng Jayagiri di lereng Merbabu!"
"Ahhh".., aku sekarang teringat. Andika adalah murid baru itu"., sungguh beruntung sekali aku dapat bertemu denganmu, Raden Nurseta""."
"Kanjeng Ibu, harap jangan menyebut raden kepadaku. Sebut saja Nurseta dan"""
"Dang engkaupun menyebut kanjeng ibu kepadaku! Sudah begitu tuakah aku maka andika menyebutku kanjeng ibu? Kukira usia kita tidak jauh berbeda, mungkin hanya berselisih satu dua tahun saja."
"Akan tetapi, andika adalah isteri bapa guruku, tentu saja kusebut kanjeng ibu."
"Siapa isteri bapa gurumu? Dahulu memang, akan tetapi sekarang bukan lagi. Sudah bertahun-tahun aku tidak lagi menjadi isteri Ki Ageng Jayagiri!"
Nurseta tersenyum.
Tentu saja dia tahu bahwa wanita ini meninggalkan gurunya beberapa tahun yang lalu.
Dia baru setahun menjadi murid Ki Ageng Jayagiri ketika Mayaresmi ini lari meninggalkan padepokan gurunya.
Ki Ageng Jayagiri menghadapi peristiwa itu dengan tenang saja, bahkan melarang para murid dan cantriknya yang hendak melakukan pengejaran dan pencarian.
Dan dari para cantrik dia pernah mendengar bahwa isteri gurunya yang amat cantik dan jauh lebih muda dari gurunya itu dahulunya adalah seorang ledek yang kemudian diperisteri Ki Ageng Jayagiri yang sudah lama menduda.
Dan wanita muda itu baru berusia dua puluh tahun ketika menjadi isteri Ki Ageng Jayagiri, kemudian melarikan diri setelah dua tahun menjadi isteri panembahan itu.
"Kalau demikian halnya, memang tidak semestinya aku menyebut kanjeng ibu kapada andika. Lalu sebutan apa yang harus kupakai?"
Nurseta mulai bertingkah genit karena kerling mata dan senyum wanita itupun memikat dan penuh daya tarik.
Sebagai seorang pemuda yang banyak pengalamannya dengan wanita, diapun tahu bahwa wanita yang satu ini mau dan mudah digoda!
Mayaresmi mengerling.
"Andika sudah tahu namaku, Raden. Sebut saja namaku."
"Mayaresmi""? Namamu memang indah sekali, seindah orangnya."
Nurseta mulai merayu dan memancing, hendak melihat sikap wanita itu. Bibir itu merekah manis dan manja.
"Ihh, Raden! Perempuan gunung macam aku ini, tidak ada harganya untuk dipuji seorang bangsawan muda seperti andika."
Pada saat itu, dua belas orang pengawal Nurseta tiba di situ, mengejutkan Mayaresmi.
"Mereka adalah pasukan pengawalku, jangan andika terkejut dan takut, Maya resmi."
Nurseta menghibur wanita yang lari mendekatinya dan memegang tangannya dengan sikap ketakutan tadi.
Dua belas orang perajurit pengawal itu hanya tersenyum melihat betapa pemimpin mereka berada di tempat itu bersama seorang wanita cantik.
Mereka semua telah mengenal baik watak Raden Nurseta yang tidak pernah mau melewatkan kesempatan dan melepaskan seorang wanita cantik yang dijumpainya bergitu saja.
"Apakah yang terjadi di sini, Raden?"
Seorang di antara mereka bertanya. Nurseta menggerakkan tangannya, menyuruh mereka menyingkir.
"Tidak ada apa-apa, semua aman. Dua orang penjahat mencoba untuk mengganggu wanita ini dan mereka telah kuusir pergi. Kalian tunggu saja di luar hutan."
Dua belas orang itu tersenyum, mengangguk dan merekapun melarikan kuda mereka ke luar hutan itu.
"Wah, andika mempunyai pasukan pengawal! Agaknya andika telah menjadi seorang perwira, Raden?"
Nurseta sedang menyamar karna dia memimpin pasukan penyelidik, akan tetapi terhadap wanita yang pernah menjadi isteri gurunya ini, tentu saja dia merasa tidak perlu merahasiakan keadaan dirinya.
Apalagi wanita ini telah menggerakkan hatinya dan diapun ingin memamerkan keadaannya untuk menaikkan harga dirinya.
"Semua ini berkat didikan bapa guru, Mayaresmi. Aku telah menjadi seorang senopati di Mataram. Sekarang ceritakanlah tentang dirimu. Mengapa engkau dahulu lari meninggalkan bapa guru, dan sekarang tinggal di mana dan bersama siapa?"
Dia berhenti sebentar, meragu, lalu melanjutkan.
"Apakah engkau sudah menikah lagi?"
Mayaresmi menggeleng kepala.
"Aku hidup menyendiri, Raden. Rumahku tidak jauh dari sini dan tidak enaklah bicara di sini. Mari singgah di pondokku, Raden, agar lebih leluasa kita bicara. Undangan ini disertai kerling mata memikat sehingga Nurseta yang sudah kegirangan mendengar bahwa wanita itu hidup menyendiri, tersenyum dan mengangguk, lalu dia menghampiri kudanya dan menuntun kudanya.
"Engkau naiklah ke punggung kudaku ini, Mayaresmi, biar aku menuntunnya."
"Ah, mana boleh begitu, Raden. Andika naiklah, biar aku berjalan kaki saja. Aku".. aku takut kalau menunggang kuda sendiri."
Senyum di wajah Nurseta melebar.
"Takut? Kalau begitu, biar kujaga dan kuboncengkan, Mayaresmi. Nah, naiklah, aku akan duduk di belakangmu!"
Dengan bantuan Nurseta yang melingkari pinggang yang ramping itu dengan lengannya yang kuat, Mayaresmi diangkat naik ke atas pungung kuda.
Sentuhan tangan di pinggang itu mesra sekali, dan mendatangkan getaran yang menggairahkan kedua pihak, terutama sekali Nurseta.
Pada saat itu, hatinya sudah jatuh bangun, bertekuk lutut kepada wanita yang pernah menjadi isteri gurunya itu.
Ketika dia meloncat ke atas pungung kuda di belakang Mayaresmi sehingga tubuh mereka berhimpitan,dan dia menjalankan kudanya, rambut panjang berombak itu tertiup angin menyapu hidungnya, Nurseta mencium keharuman melati yang sedap dan semangatnyapun melayangKetika kuda itu keluar dari hutan dan Nurseta melihat anak buahnya, dia berseru kepada mereka agar mengikutinya dari jarak jauh.
Rombongan anak buahnya hanya tersenyum dan merekapun mengikuti pemimpin mereka dari jarak yang cukup jauh sehingga Nurseta dengan leluasa membuat kudanya lari congklang dan lengan kirinya tak pernah melepaskan pelukannya dari pinggang yang ramping dan lunak hangat itu dengan dalih untuk menjaga agar Mayaresmi tidak sampai terjatuh!
Tentu saja Mayaresmi diam-diam merasa geli karena sebetulnya dalam hal menunggang kuda, ia tidak kalah mahirnya dibandingkan Nurseta!
Mayaresmi adalah puteri tunggal seorang warok gemblengan yang tinggal di daerah Pacitan, dekat laut kidul.
Warok ini bernama Wirobandot dan selain terkenal sakti, juga dia seorang yang tidak segan mempergunakan kekerasan untuk memaksakan keinginannya.
Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, ketika Ki Ageng Jaya giri yang ketika itu berusia lima puluh tiga tahun, kebetulan lewat di pantai laut kidul, dia dihadang oleh Warok Wirobandot dan anak buahnya, lalu dirampok.
Akan tetapi, Ki Ageng Jayagiri mengalahkan mereka semua, dan Wirobandot sendiri juga kalah.
Ki Ageng Jayagiri mengampuninya dan karena girang dan kagumnya warok itu mempersilakan pertapa Gunung Merbabu itu untuk singgah di rumahnya.
Ketika itu Mayaresmi berusia dua puluh tahun.
Wanita ini memang cantik manis, akan tetapi dalam pernikahannya, ia tidak beruntung.
Sudah dua kali ia menikah dengan pemuda-pemuda di daerah itu, akan tetapi pernikahannya selalu gagal dan ketika Ki Ageng Jayagiri singgah di situ!
Mayaresmi telah menjanda dua kali tanpa anak.
Selain cantik jelita juga Mayaresmi terkenal sebagai seorang ledek pilihan.
Tidak mengherankan kalau banyak pria tergila-gila kepadanya.
Akan tetapi, tidak ada pria yang berani kurang ajar atau memaksakan kehendak, karena tentu saja mereka takut kepada ayah wanita itu, yaitu warok Wirobandot.
Selain itu, juga Mayaresmi sendiri bukanlah wanita lemah, dan kalau hanya laki-laki biasa saja, betapa kuatpun, tidak akan mampu menandinginya.
Dalam pertemuannya itulah, Ki Ageng Jayagiri yang sudah belasan tahun menduda, terpikat hatinya dan bangkit nafsunya sehingga dia lupa diri.
Apa lagi ketika Mayaresmi mendengar betapa ayahnya dikalahkan oleh pertapa itu, ia merasa kagum sekali dan mempergunakan segala muslihat untuk memikat hati sang pertapa.
Mayaresmi ingin mendekati Ki Ageng Jayagiri bukan karena kejantanannya atau ketampanannya karena tentu saja pria itu sudah terlalu tua bagi Mayaresmi.
Akan tetapi Mayaresmi tertarik kepandian Ki Ageng Jayagiri, dan terutama sekali ia kagum bukan main karena ayahnya yang dianggap paling tangguh itu dikalahkannya.
Melihat betapa anaknya dan Ki Ageng Jayagiri kelihatan saling tertarik, Wirobandot tidak merasa keberatan bahkan girang sekali kalau dia dapat menarik orang sakti itu sebagai mantunya.
Maka, menikahlah Ki Ageng Jayagiri dengan Mayaresmi.
Wanita itu diboyong ke pertapaan di padepokan lereng Gunung Merbabu dan tinggal di sana sebagai isteri Ki Ageng Jayagiri.
Selama dua tahun, Mayaresni menimba ilmu kedigdayaan dari suaminya.
Akan tetapi di samping kesenangan bisa mempelajari ilmu-ilmu kesaktian, wanita muda inipun merasa tersika karena ia tidak mendapatkan kepuasan bersuamikan seorang yang jauh lebih tua darinya.
Untuk memuaskan nafsunya dengan murid atau cantrik, tentu saja ia tidak berani.
Maka, akhirnya nampaklah watak aslinya dan iapun melakukan hubungan gelap dengan seorang pria muda di dusun tetangga.
Ki Ageng Jayagiri menangkap basah kedua orang yang berjina itu.
Sebagai seorang yang sudah mampu menguasai amarahnya, Ki Ageng Jayagiri hanya menegur kedua orang itu dan sama sekali tidak membuka rahasia mereka sehingga tidak ada seorangpun murid atau cantrik yang mengetahuinya.
Dan Mayaresmi yang merasa malu sendiri akhirnya melarikan diri meninggalkan padepokan.
Ki Ageng Jayagiri juga tidak melakukan pengejaran, membiarkan Mayaresmi pergi dan memberi kebebasan kepada wanita muda itu.
Setelah bebas dari suaminya, Mayaresmi lalu menjadi seorang wanita petualang.
Ia memiliki ilmu kepandaian sehingga ia mampu malang-melintang seorang diri ke manapun ia suka.
Ia bahkan telah menyusup ke dalam kadipaten Ponorogo dan berkat kepandaiannya dan juga kecantikannya, ia dapat melampiaskan dorongan nafsu birahinya untuk mengadakan hubungan dengan pria manapun yang menarik hatinya!
Dalam petualangannya ini ia bertemu dengan Brantoko dan tentu saja keduanya saling tertarik dan di antara mereka terjalin hubungan yang akrab, bukan saja sebagai kekasih akan tetapi juga sebagai sekutu.
Brantoko bahkan menghadapkan Mayaresmi kepada sang adipati Ponorogo dan menjadi orang kepercayaan pula.
Demikian juga Warok Wirobandot, ayah wanita itu, mendapatkan kepercayaan untuk membantu kadipaten Ponorogo.
Pertemuan Mayaresmi dengan Nurseta bukanlah hal yang kebetulan saja, melainkan pertemuan yang sudah direncanakan.
Gangguan dua orangt tinggi besar terhadap Mayaresmi di dalam hutan itu merupakan siasatnya.
Mata-mata Ponorogo sudah mendengar bahwa Raden Nurseta merupakan orang ke dua setelah Ki Sinduwening yang diutus Raja Mataram untuk melakukan penyelidikan ke daerah Ponorogo, maka panglima muda ini perlu diperhatikan.
Siasat diatur dan Mayaresmi diberi tugas untuk memikat Nurseta untuk menjadi sekutu atau untuk dibunuh kalau membahayakan, setidaknya ditangkap dan ditawan seperti halnya Ki Sinduwening.
Demikianlah, dengan siasat yang amat cerdik, akhirnya Mayaresmi berhasil mengelabui Nurseta dan berhasil pula mengajak pemuda itu untuk berkunjung ke pondokannya yang berada di sebuah dusun kecil dan sepi.
Nurseta memberi isarat kepada para pengikutnya untuk menantinya di luar dusun agar tidak menarik perhatian, dan dia sendiri melanjutkan perjalanan berboncengan kuda dengan Mayaresmi memasuki dusun kecil menuju ke sebuah rumah mungil di sudut dusun.
Seorang wanita berusia enam puluhan tahun menyambut mereka dengan hormat dan ramah.
"Raden, ini Mbok Giyem, pembantuku yang menjaga rumah. Mbok Giyem, cepat masak air untuk Raden Nurseta. Dan apakah sudah ngliwet? Sembelih ayam dan masaklah yang enak untuk kami."
Wanita itu tersenyum sehingga nampak giginya yang ompong dan iapun masuk ke bagian belakang.
Nurseta mengamati rumah itu.
Kecil namun mungil dan isinya cukup leng-kap dan bersih.
Mereka segera duduk berhadapan di ruangan rumah yang dikelilingi pohon-pohon sehingga amat teduh itu.
"Nah, sekarang aku ingin mendengar ceritamu, Mayaresmi. Apa saja yang kau alami sejak meninggalkan padepokan bapa guru, dan bagaimana pula engkau berada di hutan itu dan diganggu dua orang tadi."
"Nanti dulu, Raden. Hari telah mulai gelap, sebaiknya kunyalakan dulu lampu penerangan". Mayaresmi menyalakan lampu penerangan dan barulah teringat oleh Nurseta betapa perjalanan tadi cukup jauh dan makan waktu setengah hari! Hari menjelang malam dan dia akan terpaksa melewatkan malam di dusun ini. Dia teringat akan anak buahnya.
"Ahh, tak terasa senja telah lewat. Di mana anak buahku akan melewatkan malam?"
Katanya sambil bangkit berdiri.
"Jangan khawatir, mereka dapat berpencar dan bermalam di rumah-rumah penduduk dusun ini. Aku tanggung mereka akan aman, Raden. Biar kusuruh Siman tetanggaku untuk memberi tahu kepada mereka, menyampaikan pesanmu."
Tanpa menanti jawaban, Mayaresmi menghampiri jendela samping dan berseru memanggil nama Siman.
Seorang pemuda remaja dusun muncul dan wanita itu menyuruh dia pergi ke luar dusun, menemui dua belas orang berkuda yang berada di sana, membawa pesan Raden Nurseta bahwa mereka dapat melewatkan malam di dusun ini, menumpang kepada rumah-rumah di dusun itu.
Siman menyanggupi dan diapun lari meninggalkan pondok itu.
Nurseta tersenyum.
"Mayaresmi, agaknya engkau berpengaruh juga di tempat ini."
"Ah, dusun sekecil ini, semua penduduknya rukun dan bergotong royong, Raden. Jangan khawatir, mereka adalah orang-orang sederhana dan akan merasa bangga menerima tamu orang-orang kota yang semua dianggap priyayi."
Mereka kembali duduk berhadapan dan di bawah sinar lampu yang kemerahan, wajah Mayaresmi nampak semakin cantik jelita dan menggairahkan.
Pandang mata dan senyum wanita itu jelas sekali mengundang dan manantang, membuat jantung Nurseta terasa tergetar dan berdebar.
Dia teringat betapa dahulu, ketika menjadi murid Ki Ageng Jayagiri dan bertemu dengan wanita ini, dia hanya menganggap bahwa bapa gurunya mempunyai isteri yang cantik muda.
Akan tetapi tidak pernah dia membayangkan yang bukan-bukan, apa lagi terpikat dan tertarik.
Hal itu adalah karena pertama kali dia menganggap wanita itu sebagai isteri bapa gurunya dan kedua terutama sekali karena sikap wanita itupun lugas dan wajar, sama sekali tidak memikat seperti saat ini.
Sekarang, wanita di depannya itu jelas menantang!
"Nah, sejak tadi aku sudah menanti untuk mendengar ceritamu,"
Nurseta berkata dan sinar matanya nampak lahap seperti hendak menelusuri seluruh tubuh wanita itu. Melihat ini, Mayaresmi tersenyum dan merasa girang, yakin bahwa umpannya mengenai sasaran.
"Apa yang harus kuceritakan, Raden? Aku meninggalkan Ki Ageng Jayagiri dan pulang ke rumah ayahku di Pacitan, membantu pekerjaan ayah dan menjadi petani dan nelayan di pesisir laut kidul.
"Nanti dulu, Mayaresmi, katakan dulu mengapa engkau meninggalkan padepokan bapa guru yang ketika itu menjadi suamimu."
Wajah wanita itu berubah menjadi merah dan senyumnya mengandung sikap malu.
"Ah, apa yang dapat kukatakan, Raden? Tentu andika sudah dapat membayangkan sendiri perasaan seorang wanita muda seperti aku yang menikah dengan seorang pria tua, pertapa lagi. Selama dua tahun kutahan-tahankan, namun akhirnya aku tidak dapat bertahan lagi. Kesepian menggerogoti hatiku maka hari itu kuputuskan untuk meninggalkan Ki Ageng Jayagiri dn pulang ke rumah orang tuaku sendiri."
Nurseta mengangguk-angguk, akan tetapi masih merasa penasaran.
"Maafkan pertanyaanku, Maya,"
Singkatan panggilan nama ini terasa lebih mesra, baik oleh pemanggilnya maupun yang dipanggil.
"Akan tetapi ketika engkau menjadi isteri bapa guru, engkau sudah tahu bahwa beliau adalah seorang pria tua. Kenapa waktu itu engkau yang masih muda mau saja diambil isteri olehnya?"
Mayaresmi nampak tersipu.
"Raden, kalau bukan kepadamu, tentu aku tidak mau berterus terang. Akan tetapi seperti kataku tadi, engkau telah menolongku,dan aku berhutang budi, kehormatan dan nyawa kepadamu. Apapun yang kau tanyakan akan kujawab, apapun yang kau kehendaki dari diriku, akan kutaati untuk sekedar membalas budimu yang setinggi langit, sebesar gunung dan seluas lautan. Ketahuilah bahwa ketika itu, Ki Ageng Jayagiri pernah mengalahkan ayahku yang jagoan. Ayah kagum sekali, demikian pula aku, karena belum pernah aku melihat ada yang akan mampu menandingi ayahku. Dan ketika aku bertemu dengan Ki Ageng Jayagiri, aku telah menjanda dua kali. Dua orang suamiku yang dahulu adalah pemuda-pemuda dusun yang brengsek. Nah, dalam keadaan seperti itu, ketika Ki Ageng Jayagiri meminangku, aku yang janda dan yang kagum kepadanya lalu menerimanya, demikian pula ayah. Baru setelah dua tahun hidup di Padepokan yang sunyi, di samping suamiku yang lebih senang bersamadhi dari pada mendekatiku, aku merasa tersiksa."
Nurseta kembali mengangguk-angguk dan merasa puas dengan jawaban itu.
"Lalu, setelah engkau meninggalkan padepokan, selama beberapa tahun ini engkau tidak menikah lagi?"
Mayaresmi menggeleng kepala.
"Tidak, Raden. Aku sudah jera karena selalu gagal. Pula, laki-laki manakah yang sudi kepada aku, seorang janda tiga kali ini? Perempuan dusun yang bodoh."
"Ah, jangan merendah seperti itu, Maya. Engkau masih muda, engkau cantik jelita, tidak kalah oleh puteri-puteri istana"""
"Ihhh, engkau ini hanya merayu, memuji kosong saja, Raden. Aku yakin bahwa biarpun mulutmu memuji, akan tetapi engkau akan merasa jijik berdekatan dengan perempuan seperti aku""."
"Jijik? Aku akan bangga dan berbahagia!"
Kata Nurseta dan di lain saat Mayaresmi telah berada dalam pelukannya.
Wanita itu bukan saja menyerah, bahkan membalas belaian Nurseta dan tak lama kemudian, keduanya sudah tenggelam ke dalam lautan nafsu yang menggelora.
Di luar dugaan Nurseta, Mayaresmi adalah seorang wanita yang jauh lebih pandai dan berpengalaman dari pada dia, dan kalau tadinya dia menganggap bahwa dia mampu menundukkan Mayaresmi, sebaliknya, tanpa disadarinya, dialah yang dijadikan semacam tanah liat yang dapat dibentuk bagaimanapun juga menurut kehendak hati Mayaresmi!
Dialah yang bertekuk lutut tanpa syarat, merasa betapa dia telah menemukan seorang wanita yang membahagiakan dirinya lahir batin.
Semalam suntuk mereka berenang di lautan nafsu, dan Nurseta sudah tergila-gila, membujuk wanita itu agar suka ikut dengan dia ke Mataram.
"Maya, aku cinta padamu. Setelah selesai tugasku di sini, aku akan membawamu ke Mataram di mana engkau akan hidup mulia dan berbahagia di sampingku. Aku akan menikahimu""."
Mayaresmi mencium pemuda itu dengan mesra.
"Raden, engkau adalah seorang senopati muda, kedudukanmu tinggi, engkau bangsawan yang mulia dan terhormat. Bagaimana engkau akan memperisteri aku seorang janda tiga kali yang tidak muda lagi? Engkau akan menjadi bahan tertawaan d sana, Raden."
"Hushh, jangan bicara seperti itu. Maya. Engkau belum tua, engkau cantik jelita, dan tentang engkau janda tiga kali, aku tidak peduli. Tidak akan ada yang berani menertawakan kita. Siapa berani tertawa, akan kurobek mulutnya."
"Biarpun demikian, Raden, aku"". terus terang saja, biarpun aku juga amat cinta padamu, biarpun aku merasa berbahagia dapat membalas budimu dengan penyerahan jiwa ragaku, akan tetapi aku tidak mau kalau andika boyong ke Mataram. Tidak sekarang, Raden."
"Kenapa, Mayaresmi? Bukankah di Mataram keadaannya lebih ramai, lebih besar dan engkau akan hidup serba kecukupan, kusediakan kereta dengan empat ekor kuda untukmu, pakaian serba indah, perhiasan emas intan, kehormatan."
"Raden Nurseta, bagaimanapun juga, andika hanyalah seorang senopati muda yang hidupnya selalu terancam bahaya. Dan Mataram hendak memusuhi Ponorogo, hendak memeranginya. Bagaimana aku dapat tinggal di kerajaan yang hendak menyengsarakan rakyat di daerahku? Sang Prabu di Mataram hanya bersenang-senang saja, mengorbankan perang yang akan membakar rakyat, menewaskan para perajuritnya, termasuk mungkin juga andika sendiri. Sedangkan Sang Prabu hanya bersenang-senang di sana, menanti datangnya berita kesenangan dan akan berpesta pora kalau menang, sebaliknya akan menghukum para senopatinya kalau kalah. Tidak, Raden, aku mau hidup di sampingmu selamanya, akan tetapi ada syaratnya."
"Apa syaratanya?"
"Andika harus tinggal di sini, di daerah Ponorogo."
"Tapi aku kawula Mataram, aku senopati muda Mataram, dan bahkan ayahku adalah seorang demang di dusun Praban!"
Wanita itu tersenyum dan merangkul.
"Tadi sudah kuceritakan semua itu, Raden. Akan tetapi apa halangannya? Andika bisa pindah ke sini, dan tentang kedudukan, kalau andika mau, tentu Sang Adipati Ponorogo akan dapat memberi kedudukan yang lebih tinggi padamu. Kalau andika menerima usul ini, aku akan berterima kasih sekali, Raden dan sebagai balas jasa, aku akan mengabdi selama hidupku kepadamu, dijadikan apapun aku terima. Aku tidak mengharapkan menjadi isteri pertama. Dijadikan selirpun sudah berterima kasih sekali karena aku hanya seorang janda. Akulah yang akan membantumu untuk mencapai kedudukan setingginya, dan aku pula yang akan membantu kalau andika ingin mempersunting seorang puteri menjadi isteri kelak."
Mendengar ini Nurseta termenung dan dia membayangkan wajah Mawarsih.
Bagaimana pandainya wanita ini menyenangkan hatinya, dia tak mungkin dapat melupakan Mawarsih, dara perkasa itu dan alangkah akan senangnya kalau Mawarsih, dapat menjadi isterinya kelak, dan di antara para selir-selirnya terdapat Mayaresmi!
Selagi dia bimbang ragu, Mayaresmi sudah memeluknya dan dengan bisikan-bisikan mesra ia merayu dan mulai membujuk pemuda itu.
"Coba saja andika ingat akan kedudukan ayhmu. Sudah betapa besar jasanya untuk Mataram, akan tetapi apa pangkatnya? Hanya demang! Gurumu sendiripun sejak mudanya telah berjuang untuk kepentingan Mataram, ikut pula membangun Mataram. Akan tetapi sekarang hanya menjadi pertapa miskin. Sekarang karena tenagamu masih diperlukan, andika dijadikan senopati muda. Kalau andika tidak tewas dalam pertempuran-pertempuran yang selalu dikobarkan Mataram, kelak pun andika akan dicampakan begitu saja, atau diberi kedudukan kecil sebagai lurah atau demang."
Demikian antara lain Mayaresmi mengilik pemuda itu.
Sebelum lewat malam, Nurseta yang sudah benar-benar jatuh menceritakan semua rahasianya.
Bahwa dia jatuh cinta kepada Mawarsih, dan betapa kini dia melakukan tugas untuk menjadi pemimpin pasukan penyelidik, menggantikan Ki Sinduwening yang menjadi tawanan di Ponorogo.
Dengan cerdik Mayaresmi menjanjikan akan membantu pemuda itu asal Nurseta suka menerima usulnya tadi, yaitu membantu Ponorogo dalam perjuangannya melawan Mataram yang hendak menundukannya.
"Andika dapat membuat laporan-laporan dari hasil penyeidikan itu, dan tentu saja dengan (Lanjut ke
Jilid 05) Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 sepengetahuan sang adipati Ponorogo melalui aku sehingga kami dapat mengatur kekuatan berlawanan dengan isi laporanmu.
Dengan adanya laporan itu, kami bahkan dapat menjebak dan menghancurkan setiap pasukan Mataram yang berani datang menyerbu.
Dan nanti dapat diatur agar andika yang membebaskan Ki Sinduwening sehingga bukan saja andika dianggap berjasa dan semakin dipercaya kerajaan Mataram, akan tetapi juga andika akan membuat gadis puteri Ki Sinduwening itu berterima kasih.
Aku akan membantu agar Mawarsih itu kelak menjadi isterimu, Raden."
Mayaresmi adalah puteri seorang warok yang bukan saja digdaya, akan tetapi juga mahir menggunakan ilmu hitam dan guna-guna, ilmu yang sudah pula dikuasainya.
Maka, dalam bujuk rayunya ini, ia pun mengerahkan aji guna-guna itu sehingga Nurseta yang jauh kalah pengalamannya itu benar-benar bertekuk lutut malam itu.
Apa lagi ketika dia mendengar Mayaresmi bersenandung di dekat telinganya.
Suara Mayaresmi amat merdunya dan memang wanita itu bekas ledek yang tentu saja mempunyai suara merdu, pandai menembang dan pandai pula menari.
Ketika pada keesokan harinya Nurseta bersama dua belas orang anak buahnya meninggalkan dusun itu untuk melanjutkan perjalanan dan melaksanakan tugasnya, telah terjadi perubahan besar di dalam hatinya yang tidak diketahui orang lain.
Dia telah mengatur siasat itu dengan Mayaresmi yang kini sudah tahu akan rahasia tempat pertemuan para penyelidik Mataram itu, ialah di warung Pak Jiyo di Ponorogo.
Dan Nurseta sudah tahu ke mana dia akan dapat mengadakan pertemuan dengan Mayaresmi kalau dia berada di Ponorogo.
Tidak ada godaan yang lebih kuat di antara segala godaan bagi hati seorang pria, dari pada seorang wanita!
Secara alami wanita memiliki daya tarik yang kuat sekali bagi pria dan sekali seorang pria sudah tertarik dan jatuh cinta, maka apa pun akan dikorbankan demi wanita yang dicintanya itu.
Betapa banyaknya bukti tercatat di dalam sejarah dari negara di bagian manapun di dunia ini, sejak ribuan tahun yang lalu sampai sekarang, betapa pria yang terkenal karena kejayaannya, kesaktiannya, kepandaiannya, pada suatu ketika bertekuk lutut tanpa syarat di depan kaki wanita yang dicintanya!
Betapa kuatnya kerling mata yang jeli itu memikat hati pria, melebihi belenggu baja yang paling kuat, dan betapa manis memabokkan mulut yang mungil itu kalau tersenyum manja.
Bibir merah muda merekah bagikan setangkai bunga mawar, memperlihatkan deretan gigi seperti mutiara, lidah yang segar kemerahan dan rongga mulut yang lebih merah lagi.
Pria yang biasanya mampu melawan musuh yang kokoh kuat, tegar menghadapi serangan senjata pedang atau tombak, begitu berhadapan dengan kerling mata dan senyum mulut seorang wanita yang menarik hatinya, akan luluh dan lemas bagaikan tanah liat.
Kenyataan ini sudah diketahui orang sejak ribuan tahun yang lalu.
Oleh karena itu, banyak sekali wanita yang cantik dan pandai dipergunakan oleh suatu golongan untuk meruntuhkan hati seorang tokoh yang berada di pihak lawan.
Raja-raja besar berjatuhan, senopati-senopati yang gagah perkasa beruntuhan, bahkan pertapa-pertapa sakti dan saleh tergelincir oleh wanita!
Tidaklah terlalu mengherankan kalau kini Raden Nurseta juga tergelincir.
Apa lagi dia hanya seorang pemuda yang memang mempunyai watak mata keranjang dan suka mengejar kesenangan dengan wanita cantik.
Pria yang jauh lebih kuat batinnya dibanding Nurseta sekalipun akan mudah jatuh oleh bujuk rayu Mayaresmi.
Sesungguhnya, kecantikan wanita, seperti kecantikan dan keharuman bunga, atau segala sesuatu yang nampak indah menyenangkan bagi kita, merupakan suatu anugerah dari Tuhan melalui panca indera kita.
Kita dapat menikmati hidup ini karena nafsu.
Nafsu adalah peserta kita sejak lahir dan merupakan anugerah karena dengan adanya nafsu maka hidup ini menjadi berarti.
Hati dan akal pikiran bekerja karena dorongan nafsu sehingga kita dapat mengadakan segala macam benda demi kenikmatan hidup di dunia ini.
Nafsu disertakan kita sebagai pembantu yang amat berguna, sebagai alat agar hidup kita di dunia ini menjadi suatu pengalaman yang membahagiakan.
Akan tetapi, nafsu pula yang menyeret kita ke dalam lembah kejahatan, kehinaan dan kehancuran, yang akhirnya menjerumuskan kita ke dalam lembah kesengsaraan.
Kita mudah sekali dihanyutkan nafsu, sehingga kalau nafsu ini pada hakekatnya menjadi hamba yang harus membantu kita, maka kalau dibiarkan nafsu akan merajalela dan dari hamba menjadi majikan!
Kita yang diperhamba dan kalau sudah begitu, maka celakalah kita!
Kalau sudah begitu, maka akan muncul perbuatan-perbuatan yang merugikan pada orang lain mau pun diri sendiri, perbuatan yang pada umumnya dinamakan kejahatan dan kemaksiatan.
Hal ini sudah pula diketahui manusia sejak ribuan tahun yang lalu.
Jadi, bukan pada kecantikan wanitalah letak bahayanya, melainkan pada diri sendiri.
Yang berbahaya adalah nafsu diri sendiri.
Karena kesadaran ini, maka timbul bermacam usaha manusia untuk menjauhi nafsu, untuk mengendalikan nafsu, dan sebagainya.
Orang melakukan tapa-brata, mengasingkan diri ke gunung-gunung, hidup di gua-gua yang sunyi, menjauhkan diri dari keramaian dunia dan dari pergaulan manusia, bahkan ada pula yang menyiksa diri, semua itu dimaksudkan untuk mengendalikan atau menundukkan, mengalahkan nafsunya sendiri.
Betapa sulit dan sukarnya!
Dan betapa jarang yang berhasil.
Mengapa sukar untuk dapat berhasil?
Karena hati dan akal pikiranpun sudah dicengkeram nafsu, sudah diliputi dan bergelimang nafsu itu sendiri.
Manusia tidak mungkin dapat hidup tanpa nafsu.
Memang kalau tidak ada rangsangan dari luar, nampaknya saja tertidur.
Akan tetapi, sekali menghadapi rangsangan dari luar, nafsu yang lama ditekan untuk tidak aktip itu akan menjadi berkobar lagi, bahkan lebih besar dari pada yang sudah-sudah, bagaikan api dalam sekam yang nampaknya saja sudah padam, akan tetapi begitu ada angin bertiup, apinya akan bernyala dan berkobar.
Melalui panca indera kita menikmati kehidupan ini,dan nafsulah yang mendatangkan kenikmatan itu.
Tidak akan ada suara merdu bagi telinga yang tidak mengandung nafsu.
Tidak ada ganda harum, rasa lezat dan sebagainya tanpa adanya nafsu.
Tidak akan ada kenikmatan hidup.
Namun, sekali nafsu yang menjadi majikan dan kita menjadi hambanya, kita dipaksa oleh nafsu untuk melakukan apa saja demi mengejar kenikmatan itu!
Kalau nafsu amat penting bagi hidup akan tetapi juga amat berbahaya, merupakan musuh utama yang menyeret kita ke dalam penyelewengan, lalu bagaimana?
Baru dapat dikatakan wajar dan sempurna kalau nafsu dalam diri manusia itu menduduki tempat semula ketika disertakan kepada manusia, yaitu sebagai alat!
Sebagai pembantu, demi kepentingan kehidupan di dunia ini.
Itu saja!
Dan cara apapun yang ditempuh manusia, selama cara itu merupakan hasil usaha hati akal pikiran, maka sukar dapat dicapai hasilnya, karena hati akal pikiran ini pun sudah bergelimang dengan nafsu.
Bagaimana mungkin nafsu dapat menertibkan diri sendiri?
Nafsu maunya hanya ingin menang, ingin menguasai, ingin menonjol, ingin senang dan untung sendiri, jadi, usaha hati akal pikiran yang begelimang nafsu itu, betapa halus dan berlika-liku sekalipun, tujuannya hanya satu, yaitu menang, untung dan senang!
Memang kadang-kadang nafsu bekerja teramat licik dan halus, dan demikian memang kepandaian setan, sehingga kita mudah tertipu.
Kita menolong orang lain agar mendapat pahala, baik di dunia atau di akhirat, berbeda dengan kita menolong orang lain karena digerakkan getaran perasaan iba.
Yang pertama itu bekerjanya nafsu, pertolongan itu hanya merupakan cara untuk mencapai tujuan, yaitu pahala atau artinya kesenangan.
Melakukan segala macam kebaikan agar kelak mendapat surga juga merupakan pekerjaan nafsu, karena kebaikan itu hanya dijadikan cara untuk mencapai tujuannya, yaitu surga atau kesenangan lagi!
Andaikata surga itu digambarkan tidak menyenangkan, tentu kebaikan tidak akan dilakukan!
Berbeda dengan melakukan sesuatu sebagai suatu kewajiban hidup dari seorang manusia yang sudah dibekali pengetahuan antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk.
Lalu, apa yang harus kita perbuat agar nafsu tidak menjadi majikan, melainkan tetap menjadi alat atau pembantu kita?
Jawabnya mungkin hanya.
Kita tidak berbuat apa-apa!
Karena apapun yang kita perbuat, itu masih merupakan pekerjaan nafsu pula.
Tidak berbuat apa-apa bukan berarti acuh, bukan berarti tidak perduli, melainkan tidak berbuat apa-apa agar Kekuasaan Tuhan yang berbuat, yang bekerja!
Kita menyerah saja, penuh kesabaran, keikhlasan, ketawakalan, dengan bekal iman kepada Tuhan Sang Maha Pencipta!
Nafsu adalah ciptaan Tuhan pula, maka hanya Sang Pencipta yang akan dapat mengatur sehingga nafsu akan kembali ke tempat semula sebagai abdi kita.
Malam sudah larut, mendekati tengah malam.
Malam yang gelap kerena selain belum waktunya bulan muncul, juga langit tertutup mendung tipis.
Hanya ada beberapa buah bintang yang sempat nampak sebelum tertutup awan yang lewat.
Kota kadipaten Ponorogo sudah sepi.
Orang lebih suka berada di dalam kamar rumahnya dari pada di luar rumah yang sepi, gelap dan dingin.
Warung wedang itu pun sudah sepi.
Pemiliknya, pak Jiyo yang agak bongkok dan berusia enam puluh tahunan itu sudah siap menutup warungnya ketika nampak bayangan orang memasuki warung.
Seorang pemuda tampan yang tidak dikenalnya.
Akan tetapi sebagai pemilik warung yang harus ramah terhadap setiap orang pembelanja, Pak Jiyo tidak jadi menutup gebyok warungnya dan mempersilakan tamunya duduk di lincak (bangku bambu) menghadapi meja panjang di mana terdapat bermacam makanan kering dan basah.
"Mau minum apa, den?"
Tanya Pak Jiyo.
Joko Lawu mengeluh dalam hatinya.
Betapa baikpun penyamarannya, sukar baginya untuk meninggalkan kesan bahwa dia bukan seorang priyayi.
Ke manapun dia pergi, selalu orang menyebutnya raden.
"Teh saja, paman. Jangan terlalu kental dan jangan terlalu manis,"
Jawabnya sambil menyandarkan punggungnya yang lelah ke sandaran bilik, dan matanya mengamati keadaan di warung itu.
Sebuah warung yang tidak besar, paling banyak hanya dapat menampung belasan orang tamu yang duduk berhimpitan di atas beberapa buah lincak menghadapi meja panjang penuh penganan.
Nampak ada dua buah pintu kamar dari bambu, akan tetapi di ujung kanan terdapat sebuah lorong menuju ke belakang, dan lorong tanpa daun pintu itu tertutup kain hitam yang butut.
Jawaban joko Lawu itu membuat si pemilik warung mengerutkan alisnya.
Memang jawaban yang ganjil dan belum pernah dia mendengar ada tamu minta teh yang tidak kental dan tidak manis.
Biasanya, setiap orang tamu sudah pasti memesan air teh yang kental dan manis!
Setelah disruputnya dua tiga teguk air teh panas yang dihidangkan tukang warung.
Joko Lawu melihat-lihat makanan yang tersedia di atas meja.
Tidak ada yang mengundang seleranya.
"Paman, apakah paman menjual nasi? Saya lapar dan ingin makan."
"Biasanya memang saya menjual nasi, den. Akan tetapi lauknya sudah habis, tinggal nasinya dan duduh jangan (kuwah masak sayuran)"""
"Itupun sudah cukup. Kulihat ada goreng ikan asin di sini."
Kata Joko Lawu.
Pak Jiyo menghidangkan nasi dengan kuwah sepiring, dan Joko Lawu makan dengan lahapnya karena memang perutnya lapar.
Sejak pagi tadi dia belum makan nasi.
Pak Jiyo duduk dan memperhatian tamunya itu.
Seorang pemuda, masih remaja, tampan dan halus.
"Raden, siapakah andika dan datang dari mana?"
"Aku bukan raden, paman. Namaku Joko Lawu dan aku tinggal di lereng Lawu. Aku datang ke Ponorogo ini untuk mencari seseorang. Dapatkah paman menolongku?"
Joko Lawu sudah selesai makan dan Pak Jiyo menyingkirkan piring dan membersihkan meja dengan kain lap.
"Siapa sih orang yang andika cari itu, nak?"
Tanyanya, tidak lagi menyebut raden.
"Namanya Ki Sinduwening, paman."
Kata Joko Lawu dan dia pun memandang ke luar warung, suaranya pun lirih.
Di luar warung itu sudah sepi sekali, akan tetapi mendengar disebut nama ini, Pak Jiyo kelihatan terkejut dan celingukan ke kanan kiri.
"Saya""".. saya tidak tahu, nak Joko. Tapi"". ada hubungan apakah dengan orang itu?"
Joko Lawu sudah mendapat keterangan dari anak buah ayahnya yang tewas itu dan dia pun percaya sepenuhnya kepada pemilik rumah minum ini.
"Bukankah paman yang bernama Pak Jiyo?"
"Benar aku sendiri orangnya."
Kata pula Pak Jiyo semakin heran.
"Paman, Ki Sinduwening adalah ayahku."
Mendengar ini, tiba-tiba saja sikap Pak Jiyo berubah. Wajahnya keruh dan dia nampak marah.
"Saya tidak tahu! Saya tidak mengenal orang yang andika sebutkan itu. Ki Sanak, harap suka meninggalkan warung ini karena malam sudah larut, saya hendak menutup warung, maaf."
Melihat sikap yang tidak ramah itu dan mendengar orang itu kini menyebutnya ki sanak dan seperti orang marah, Joko Lawu memandang heran.
Akan tetapi dia segera dapat menyadari kesalahannya.
Tentu saja, kalau tempat ini menjadi tempat pertemuan para penyelidik, anak buah ayahnya, tentu Pak Jiyo ini sudah mengenal ayahnya dan sudah tahu pula akan keadan ayahnya.
Tentu dia tahu bahwa ayahnya tidak mempunyai seorang putera, hanya mempunyai seorang anak perempuan.
Maka, ketika dia tadi mengaku sebagai putera Ki Sinduwening, tentu saja Pak Jiyo menjadi curiga kepadanya.
"Kalau begitu, mari kubantu menutupkan warungmu, paman."
Kemudian, sambil membantu menutupkan gebyok warung, dia berkata lirih.
"Paman tentu sudah mendengar bahwa Ki Sinduwening hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Mawarsih. Nah, akulah Mawarsih, paman Jiyo."
Kini dia menggunakan suaranya sendiri, suara wanita.
Pak Jiyo tidak menjawab, hanya matanya terbelalak mengamati Joko Lawu di bawah sinar lampu yang remang-remang itu.
Akan tetapi dia mempercepat menutupkan warungnya.
"Mari kita bicara di dalam."
Bisiknya setelah menutupkan daun pintu depan.
Tanpa bicara Joko Lawu mengikuti tuan rumah ke belakang melalui lorong yang ditutup kain hitam itu.
Ternyata Pak Jiyo tinggal seorang diri saja di rumah merangkap warung itu dan di ruangan sebelah dalam rumahnya dan cukup luas itu kosong.
Mereka kini duduk berhadapan terhalang meja dan sebuah lampu duduk menerangi muka mereka.
Sejenak Pak Jiyo mengamati wajah Joko Lawu dan setelah dia mendengar bahwa pemuda tampan di depannya ini adalah puteri Ki Sinduwening, barulah dia melihat jelas raut wajah seorang gadis cantik manis.
"Jadi andika inikah puteri Ki Sinduwening,"
Katanya.
"Saya sudah mendengar bahwa dia mempunyai seorang puteri bernama Mawarsih yang memiliki kedigdayaan seperti ayahnya. Akan tetapi sungguh tidak saya sangka, andika sebagai seorang gadis berani menyamar pria dan memasuki Ponorogo. Alangkah besar bahayanya!"
"Paman Jiyo, aku meninggalkan Mataram untuk mencari ayah karena aku tidak betah seorang diri di sana."
"Nanti dulu, nak,"
Kata Pak Jiyo sambil menatap wajah itu dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Katakan dulu bagaimana andika dapat mengetahui tempat ini."
"Aku hendak mencari ayah dan meninggalkan Mataram, menyamar sebagai pria untuk memudahkan perjalanan. Dalam perjalanan aku melihat seseorang dikeroyok oleh dua orang warok dan mendengar orang itu disebut mata-mata Mataram, aku lalu menolongnya. Dua orang warok itu melarikan diri akan tetapi orang itu terluka parah. Sebelum tewas dia memberitahu kepadaku bahwa ayahku ditawan di Ponorogo dan kalau aku ingin tahu tentang ayah, aku disuruh mencari warung Pak Jiyo di Ponorogo. Nah, itulah yang membawa aku berkunjung malam ini, paman."
Pak Jiyo mengangguk-angguk dan kini barulah dia tidak ragu-ragu lagi.
Dia tidak merasa heran bahwa seorang dara berani melakukan perjalanan berbahaya seperti itu, bahkan dia kagum karena memang dia sudah mendengar akan kegagahan Mawarsih.
"Berita itu memang benar, nak. Ayahmu. Ki Sinduwening, memang telah ditangkap oleh Adipati Ponorogo secara licik sekali. Ayahmu telah mengadakan pertemuan dan perundingan di sini dengan anak buahnya, dan ayahmu menyatakan hendak membujuk sang adipati agar tidak melakukan pemberontakan. Ayahmu tidak ingin melihat kejadian perang antara Ponorogo dan Mataram karena hal itu merupakan perang saudara yang hanya akan mendatangkan banyak korban di antara rakyat jelata. Kami semua sudah menyatakan kekhawatiran kami akan keselamatan ayahmu. Akan tetapi beliau memaksa dan akhirnya, terpaksa kami melepas beliau pergi seorang diri menghadap sang adipati. Dan akibatnya, bukan saja sang adipati tidak memenuhi permintaannya, tidak menyetujui nasihatnya, bahkan ayahmu ditangkap dan ditawan."
Joko Lawu mengerutkan alisnya.
"Dan paman sekalian yang menjadi anak buah ayah diam-diam saja, tidak melakukan usaha untuk membebaskan ayahku?"
Pak Jiyo menarik napas panjang.
"Kami semua tidaklah begitu pengecut untuk membiarkan saja ayahmu menjadi tawanan, akan tetapi juga kami bukan orang bodoh yang membunuh diri secara konyol. Kalau sang adipati tidak membunuh Ki Sinduwening, melainkan menawannya, hal itu dapat diartikan sebagai suatu umpan pancingan. Tentu sang adipati dan para senopatinya mengharapkan agar teman-teman ayahmu akan datang untuk mencoba membebaskannya, dan tentu telah dipasang perangkap sehingga kalau kami yang jumlahnya tidak banyak melakukan usaha itu, kami akan seperti sekelompok laron yang menyerbu api! Andaikata ada usaha melakukan percobaan menolongnya, hal itu hanya dapat dilakukan oleh satu dua orang saja yang menyelundup ke tempat tahanan. Akan tetapi di antara kami tidak ada yang memiliki kemampuan seperti itu. Haruslah dicari orang yang mempunyai aji kesaktian untuk mencoba membebaskan Ki Sinduwening."
"Aku akan melakukannya sendiri, paman!"
"Andika? Andika seorang wanita"". terlalu berbahaya, nak. Adipati Ponorogo memiliki banyak jagoan yang sakti mendraguna, dan tempat itu tentu dijaga ketat oleh pasukan yang besar jumlahnya."
"Aku tidak takut, paman. Untuk menyelamatkan ayah, aku siap untuk mempertaruh-kan nyawaku. Aku hanya ingin mendapat keterangan dari paman, keterangan yang jelas di mana ayahku ditawan, dan bagaimana pula keadaan tempat tawanan itu, bagaimana pula kekuatan penjagaannya."
"Ki Sinduwening ditawan dalam sebuah tempat tahanan di kadipaten, demikian keteranga yang diperoleh penyelidik kami yang dapat menghubungi seorang perajurit kadipaten. Hanya tawanan yang amat penting saja yang ditahan di dalam istana kadipaten, bukan di tempat tawanan biasa. Akan tetapi menurut keterangan itu, Ki Sinduwening diperlakukan dengan cukup baik, tidak disiksa karena pihak kadipaten masih mengharapkan agar Ki Sinduwening suka membantu Ponorogo."
Joko Lawu mengepal tinju.
"Tidak mungkin! Ayah tidak akan sudi mengkhianati Mataram! Dia seorang ksatria sejati yang siap mengorbankan nyawa demi negara dan bangsa. Sekarang aku hanya minta penggambaran tentang letak dan keadaan di kadipaten Ponorogo, paman."
Semalam suntuk mereka tidak tidur dan Joko Lawu mendapatkan gambaran yang jelas dari Pak Jiyo yang hafal benar akan keadaan istana di kadipaten, tahu pula di mana letak kamar tahanan itu dan tahu pula keadaan para penjaga yang bertugas di sana.
Semua itu dipelajari dan dicatat dalam hati oleh Joko Lawu yang sudah mengambil keputusan bulat untuk menolong ayahnya.
Dia tidak minta bantuan, juga tidak ingin dibantu karena kalau pembantunya kurang pandai, dia bukan membantu sebaiknya malah akan menjadi rintangan baginya.
Selain mempelajari keadaan istana kadipaten berikut tempat tahanan di mana ayahnya dikeram, Joko Lawu juga mendengar banyak dari Pak Jiyo tentang kadipaten Ponorogo yang memberontak.
Setelah mendengar cerita itu, baru Joko Lawu mengerti mengapa ayahnya berusaha keras untuk menaklukkan ponorogo dengan jalan damai, mencoba untuk membujuk Adipati Ponorogo agar tidak memberontak terhadap Mataram.
Pak Jiyo adalah seorang penyelidik kawakan dari Mataram dan mengetahui dengan jelas semua persoalan Mataram dan daerah-daerah yang memberontak.
Joko Lawu mendengar bahwa pemberontakan di Demak dan Ponorogo dipimpin oleh keluarga Sang Prabu sendiri.
Pemberontakan di Demak yang baru saja dapat ditundukkan oleh pasukan Mataram dipimpin oleh pangeran Puger.
Adapun pemberontakan di Ponorogo dipaimpin Adipati Ponorogo yang juga seorang pangeran, yaitu Pangeran Jayaraga.
Baik Pangeran Puger maupun Pangeran Jayaraga adalah saudara-saudara seayah dari Sang Prabu Hanyokrowati, seayah berlainan ibu karena mereka semua adalah putera mendiang Sang Prabu Panembahan Senopati.
Jelaslah persoalannya bahwa pemberontakan-pemberontakan itu didasari iri hati dan usaha meperebutkan kekuasaan, yaitu tahta kerajaan Mataram.
Ketika Sang Prabu Hanyokrowati, yaitu dahulunya Pangeran Raden Mas Jolang, oleh mendiang Sang Prabu Panembahan Senopati diangkat menjadi putera mahkota yang menggantikan kedudukannya, banyak pangeran yang merasa iri hati.
Biarpun mereka itu sudah diberi kedudukan adipati, mereka tidak merasa puas karena hanya menguasai daerah kecil saja.
Itulah sebabnya setelah ayah mereka wafat, para pangeran itu tidak mau mengakui kekuasaan saudara mereka, Sang Prabu Hanyokrowati dan melakukan pemberontakan.
Tentu saja senopati Ki Sinduwening yang sejak muda membela Mataram, merasa bersedih melihat adanya perebutan kekuasaan ini dan setelah dia diangkat menjadi pemimpin pasukan penyelidik, diapun berusaha untuk mengingatkan Pangeran Jayaraga yang telah menjadi Adipati Ponorogo agar tidak melanjutkan sikapnya yang memberontak.
Dia ingin mencegah terjadinya perang saudara yang hanya akan menyengsarakan rakyat jelata.
Akan tetapi akibatnya, karena Ki Sinduwening tidak mau dibujuk membantu Ponorogo, dia malah ditahan, walaupun dijadikan tahanan yang diperlakukan dengan baik.
Demikianlah, pada keesokkan harinya Joko Lawu bersiap-siap setelah ia mendengar suara keterangan Pak Jiyo.
Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menyusup ke istana di siang hari.
Hal itu akan berbahaya sekali dan kalau sampai ketahuan, akan gagallah usahanya membebaskan ayahnya.
Dia harus dapat sekali menyusup berhasil, karena kalau tidak tentu penjagaan akan diperketat dan akan sulitlah menolong ayahnya.
Setelah pagi hari itu Joko Lawu beristirahat karena semalam suntuk tidak tidur, pada waktu menjelang sore, lewat tengah hari, diapun meninggalkan warung Pak Jiyo dan pergi berjalanjalan untuk mengenal lebih baik keadaan kota Ponorogo.
Dia bersikap biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan dan tidak menarik perhatian, bahkan memilih jalan yang sepi.
Ketika dia tiba di dekat pintu gerbang kota sebelah selatan, dia melihat seorang pemuda berpakaian seperti seorang abdi, menuntun dua ekor kuda yang tinggi besar.
Biarpun dua ekor itu merupakan kuda pilihan, namun yang menarik perhatian Joko Lawu bukanlah dua ekor binatang itu, melainkan penuntunnya.
Tentu saja dia segera mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Aji!
Keponakan lurah dusun Muncang itu berada di Ponorogo dan menuntun dua ekor besar yang pasti milik seorang bangsawan!.
Agaknya tidak mungkin kalau dua ekor kuda besar itu milik Aji.
Pakaian pemuda itu menunjukkan bahwa dia seorang abdi, bukan seorang bangsawan.
Karena tertarik, Joko Lawu membayangi dari jauh.
Melihat Aji menuntun dua ekor kuda itu keluar pintu gerbang, diapun membayangi, keluar dari pintu gerbang selatan kota Ponorogo.
Kiranya pemuda itu membawa dua ekor kudanya ke lembah sungai selatan kota.
Ponorogo memang dikepung beberapa sungai yang datang dari pegunungan Wilis, Liman dan bukitbukit di barat.
Sungai-sungai yang cukup besar, apalagi kalau musim hujan, di antaranya adalah Kali Watu dan Kali Ngebel yang datang dari timur, dan Kali Tempuran yang datang dari barat, semua airnya bersatu dengan Kali Madiun yang datang dari selatan untuk mengalir terus ke utara dan akhirnya menjadi satu dengan Bengawan Solo.
Di daerah lembah sungai memang merupakan daerah subur, dan banyak terdapat rumput yang gemuk.
Aji membawa dua ekor kuda itu ke padang rumput dan melepas mereka di sana.
Dia sendiri lalu menggunakan sebuah arit untuk membabat rumput yang dimasukkannya ke dalam empat buak keranjang yang tadi dia bawa di atas punggung kuda.
Aji yang sedang asik menyabit rumput, mengangkat muka ketika mendengar langkah orang mendekat.
Di tempat yang amat sunyi itu, siapakah yang menghampiri dan mengganggu pekerjaannya?
Dua pasang sinar mata bertemu dan Aji terbelalak.
Tentu saja dia segera mengenal pemuda tampan yang membuat dia kagum bukan main dalam pesta pernikahan saudara misannya, yaitu anak lurah dusun Muncang.
Pemuda yang selain pandai menari dengan amat indahnya, juga memiliki kedigdayaan yang mengagumkan.
Otomatis dia menghentikan gerakan tangannya menyabit rumput, melongo saking heran dan kagetnya karena pertemuan ini sungguh tak pernah disangkanya.
"Ki sanak, engkau mempunyai dua ekor kuda yang bagus sekali."
Kata Joko Lawu untuk membuka percakapan, diam-diam merasa geli melihat pemuda yang pandai meniup suling, pandai beryanyi, bahkan pandai menari itu melongo seperti seorang yang kehilangan akal.
Aji bangkit berdiri, sudah dapat menguasai kekagetan dan ketegangan hatinya.
"Ah, kiranya andika, orang muda aneh yang sakti mandraguna itu, yang muncul di pesta paman lurah seperti seorang ksatria dalam dongeng saja. Siapa pula namamu, ki sanak? Kalau tidak salah, namamu Joko Lawu, bukan?"
Joko Lawu berlagak seolah-olah baru dia teringat.
"Ah, benar! Kiranya andika adalah pemuda yang pandai menari tayuban itu, andika"""
Eh, keponakan ki lurah Muncang, bukan? Namamu"".. ah, aku lupa lagi, kisanak."
"Panggil saja aku Aji."
"Oh, benar. Namamu Aji, engkau yang kejatuhan sampur, dipilih oleh ledek yang manis itu. Siapa pula namanya! Madu".. Madu""."
"Madularas. Akan tetapi, dibandingkan andika, aku kalah jauh, baik dalam kepandaian menari, dalam menarik hati Madularas, apa lagi dalam hal kepandaian berkelahi. Ki Sanak Joko Lawu, bagaimana tiba-tiba saja andika dapat muncul di sini? Tempat ini amat sepi"".."
"Pertanyaanku tadi belum habis dan belum sempat kau jawab. Engkau mempunyai dua ekor kuda yang bagus sekali. Milikmukah ini?"
Mendengar pertanyaan ini, Aji tertawa dan Joko Lawu memandang dengan jantung berdebar.
Alangkah tampan pemuda ini kalau tertawa.
Nampak lebih muda dan giginya yang berderet rapi dan putih terawat itu mendatangkan rasa suka di hatinya.
Juga tawanya amat menular.
Mau tidak mau diapun harus tersenyum karena sukarlah menahan diri untuk tidak ikut tertawa melihat dan mendengar pemuda itu tertawa.
Kiranya pemuda itu membawa dua ekor kudanya ke lembah sungai selatan kota.
Ponorogo memang dikepung beberapa sungai yang datang dari pegunungan Wilis, Liman dan bukitbukit di barat.
Sungai-sungai yang cukup besar, apalagi kalau musim hujan, di antaranya adalah Kali Watu dan Kali Ngebel yang datang dari timur, dan Kali Tempuran yang datang dari barat, semua airnya bersatu dengan Kali Madiun yang datang dari selatan untuk mengalir terus ke utara dan akhirnya menjadi satu dengan Bengawan Solo.
Di daerah lembah sungai memang merupakan daerah subur, dan banyak terdapat rumput yang gemuk.
Aji membawa dua ekor kuda itu ke padang rumput dan melepas mereka di sana.
"Heh-heh-heh, jangan mengejek, sobat. Orang seperti aku ini mempunyai dua ekor kuda seperti ini? Ha-ha-ha, ketahuailah, kawan, biar aku bekerja sampai tua, aku tidak akan mampu membeli seekor saja kuda seperti ini! Bahkan lebih lagi, harga dua ekor kuda ini jauh lebih tinggi dari pada harga diriku sebagai manusia."
Joko Lawu mengerutkan alisnya.
"Hemm, andika terlalu merendahkan diri, sobat. Bukankah andika keponakan lurah Muncang? Dan bagaimana pula harga diri seorang manusia kalah oleh dua ekor kuda?"
Joko Lawu tidak setuju sama sekali mendengar pemuda itu merendahkan diri sedemikian rupa.
Orang boleh rendah hati, bahkan sepatutnya manusia rendah hati, akan tetapi rendah diri?
Ini hanya kelakuan seorang penakut, seorang pengecut yang sudah tidak percaya lagi kepada dirinya sendiri.
Dan dia tidak melihat pemuda ini seorang manusia semacama itu.
Bukankah di medan pesta itu Aji memperlihatkan harga dirinya sebagai manusia?
Dia berani membela seorang ledek dari penghinaan orang kasar, walaupun dia tidak memiliki kedigdayaan apapun.
"Apa artinya keponakan seorang lurah? Hanya lurah, dan hanya keponakan. Di kadipaten ini, seorang lurah tidak ada artinya, apa lagi hanya keponakan lurah. Dan tentang harga diri, maksudku begini. Aku bekerja sebagai tukang memelihara kuda di kadipaten. Andika lihat kuda ini. Kuda tunggangan sang pangeran, sang adipati sendiri. Dan kalau sampai dua ekor kuda ini hilang atau mati selagi kurawat, mungkin saja aku akan dihukum mati. Nah, bukankah itu berarti harga diriku lebih rendah dari pada harga dua ekor kuda ini? Akan tetapi jangan khawatir, dua ekor kuda ini takkan hilang atau mati, aku merawatnya baik-baik dan dalam hal merawat kuda, aku boleh berbangga diri. Aku ahlinya!"
Hanya ada satu hal yang seketika amat menarik hati Joko Lawu dalam kata-kata yang agak panjang itu, yaitu bahwa Aji adalah seorang hamba kadipaten Ponorogo!
"Ah, kiranya andika seorang abdi kadipaten Ponorogo yang setia?
Akan tetapi bukankah belum lama ini aku melihat andika di Muncang?"
"Ketika itu, aku sudah menjadi abdi kadipaten. Karena seorang saudara misanku di Muncang, anak paman lurah, menikah, maka aku mohon ijin dan diberi ijin untuk cuti beberapa hari. Aku sudah hampir setahun bekerja sebagai perawat kuda di kadipaten ini."
Joko Lawu memperhitungkan dalam benaknya.
Kalau begitu, mungkin setelah pertemuan dengannya terakhir di lereng Lawu, Aji lalu ke Ponorogo dan bekerja di kadipaten.
Inilah kesempatan yang amat baik baginya!
Akan tetapi, dia tidak tahu bagaimana sikap dan pendirian Aji.
Kalau dia seorang abdi yang setia terhadap kadipaten Ponorogo, tentu tidak mungkin dapat dimanfaakan kedudukannya.
"Joko Lawu, kenapa andika termenung saja?"
Aji menegur ketika melihat pemuda tampan itu diam seperti patung mendengar keterangannya itu. Joko Lawu sadar dan tersenyum.
"Aku hanya tidak mengira sama sekali akan bertemu denganmu di sini dan andika menjadi abdi kadipaten. Bukankah bekerja di kadipaten sekarang ini amat berbahaya? Aku mendengar desas-desus di mana-mana bahwa akan terjadi perang saudara antara kadipaten dan kerajaan Mataram."
Aji tertawa.
"Aku tidak ingin berperang. Aku hanya perawat kuda, aku bukan perajurit."
"Tapi, tetap saja engkau akan terlibat dalam pertempuran. Tentu engkau akan membela kadipaten Ponorogo mati-matian dengan taruhan nyawamu, bukan?"
Aji terbelalak.
"Ah, siapa bilang? Aku bekerja untuk mencari sesuap nasi, bukan untuk mempertaruhkan nyawa."
"Akan tetapi, engkau tentu akan membela Ponorogo kalau terjadi perang!"
"Tidak, aku bukan perajurit."
"Kalau begitu engkau akan membela Mataram?"
Joko Lawu memancing.
"Juga tidak! Sang Adipati di Ponorogo juga seorang pangeran, masih saudara dari Sang Prabu Hanyokrowati di Mataram. Kalau terjadi perang saudara, mudah-mudahan tidak, aku akan bebas, tidak mau mencampuri. Pula, aku takut berkelahi dalam pertempuran. Mengerikan!"
Kembali Joko Lawu termenung. Sungguh sukar untuk mengambil keputusan. Keterangan Aji membuat dia ragu-ragu dan tidak tahu bagaimana pendirian pemuda ini sesungguhnya.
"Joko Lawu, ada apakah! Engkau termenung lagi."
Joko Lawu tersenyum.
"Sebetulnya, aku ingin sekali minta pertolongan darimu, akan tetapi aku tidak tahu apakah engkau mau menolongku ataukah tidak."
"Tentu saja aku mau. Andika seorang pemuda yang amat baik. Di Muncang, andika tidak saja telah menyelamatkan Madularas dari penghinaan, akan tetapi juga membikin terang muka pamanku, lurah Muncang. Nah, katakan saja, pertolongan apa yang dapat kuberikan kepadamu?"
"Aku ingin agar engkau suka menyelundupkan aku ke dalam kadipaten."
Berkata demikian, Joko Lawu mengamati wajah Aji dengan sinar mata penuh selidik untuk melihat bagamana tanggapan pemuda itu atas permintaannya.
Aji terbelalak dan alisnya berkerut, sinar matanya juga mengamati wajah Joko Lawu penuh selidik.
"Ehh? Apa maksudmu hendak menyelundup ke kadipaten? Kalau engkau hendak menculik puteri"".. memang puteri sang adipati cantik-cantik, akan tetapi""""
"Hushh, aku bukan penculik puteri, bukan mata keranjang!"
Joko Lawu cepat mencela. Aji tersenyum dan mengangguk.
"Aku tahu, ki sanak! Andika membuat Madularas tergila-gila, namun andika acuh saja. Mengagumkan!"
Joko Lawu tersenyum mengejek.
"Hemm, karena aku tahu bahwa andika dan Madularas saling mencinta, bagaimana aku berani mengganggunya?"
Aji terbelalak.
"Heiii, jangan sembarangan menuduh. Madularas, biarpun seorang ledek terkenal di Pacitan, tidak dapat disamakan dengan para ledek lainnya. Ia seorang gadis baik-baik dan kenapa andika menduga aku dan ia saling mencinta?"
"Hemm, sikapmu demikian manis ketika kalian menari."
"Wahh, kalau bicara tentang sikap manis dan keserasian, andika dan ia lebih cocok lagi, lebih bermanis-manis dan lebih masra."
"Kalau aku lain lagi. Aku tidak tergila-gila kepadanya."
"Akupun tidak."
Joko Lawu mengerutkan alisnya, mangkel hatinya kepada diri sendiri.
Kenapa pembicaraan menjadi nyeleweng lagi ke soal menari dengan Madularas?
Kenapa hatinya selalu terasa panas kalau membayangkan Aji berjoget dengan ledek muda yang jelita itu?
"Sudahlah, kau boleh yakin bahwa aku ingin memasuki kadipaten bukan untuk mencari puteri."
Sikap Aji serius lagi. Dia menunduk dan mengerutkan alisnya, seperti memeras otaknya. Tiba-tiba dia mengangkat muka dan berseru keras, mengejutkan Joko Lawu.
"Wah, celaka! Engkau tentu ingin membunuh sang pangeran adipati atau siapa di sana!"
"Ngawur lagi!"
Joko Lawu cemberut.
"Aku tidak ingin membunuh siapapun juga, bahkan ingin mencegah terjadinya pembunuhan. Aku ingin menyelamatkan seseorang dari sana."
Terpaksa dia harus berterus terang dan mendapat keputusan sekarang juga bagaimana sikap Aji, suka membantunya ataukah tidak.
Dia sudah terlanjur menyatakan keinginannya menyelundup ke kadipaten, suatu pekerjaan yang akan penuh bahaya dan juga amat sukar karena tentu tempat tahanan di kadipaten itu terjaga ketat.
Kalau dia dapat menyusup masuk dengan bantuan Aji, dia dapat bekerja dengan diam-diam dari dalam.
Mendengar ucapan Joko Lawu, Aji mengerutkan alisnya dan mengamati wajah yang tampan itu dengan penuh selidik.
"Mencegah pembunuhan? Menyelamatkan seseorang? Apa maksudmu?"
Joko Lawu merasa sudah terlanjur melangkah.
Mundur salah, hanya akan menimbulkan kecurigaan, kalau maju masih untung-untungan, akan tetapi dia merasa yakin bahwa Aji adalah seorang pemuda yang pandai dan tidak jahat.
Andaikata pemuda itu setia kepada Ponorogo sekalipun, orang seperti Aji tidak mungkin mau mencelakai orang lain.
"Aji, apakah engkau tahu bahwa di kadipaten terdapat sebuah tempat tahanan bagi tawanan yang penting?"
Aji mengangguk.
"Lalu kenapa?"
Dia mendesak.
"Dalam kamar tahanan itu terdapat seorang tawanan penting yang baru beberapa pekan ini ditawan. Kenalkah engkau dengan tawanan itu?"
Aji meraba dagunya yang tak berjenggot.
"Hemm, kulihat ada beberapa orang di sana. Siapa yang kau maksudkan?"
"Namanya Ki Sinduwening. Kenalkah engkau kapada orang itu?"
Aji mengangguk-angguk.
"Seorang tawanan penting dan istimewa. Aku mendengar bahwa dia lebih tepat dikatakan seorang tamu yang tidak boleh keluar dari tempat tahanan itu dari pada seorang tawanan. Demikian kabarnya yang kudengar dari para perajurit penjaga. Lalu kenapa?"
"Aku ingin menolong dan membebaskan orang itu."
Kata Joko Lawu dan kembali pandang matanya tajam penuh selidik. Aji memandang heran.
"Ehh? Kenapa? Apamukah Ki Sinduwening itu?"
"Nanti dulu. Tahukah engkau siapa Ki Sinduwening itu dan mengapa pula dia ditawan, Aji?"
Aji menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya.
"Aku pernah mendengar nama Ki Sinduwening sebagai seorang tokoh di Pegunungan Lawu, seorang tokoh yang terkenal sakti mandraguna dan yang mengasingkan diri di tempat sunyi di lereng Lawu."
Joko Lawu mengangguk. Tentu saja Aji telah mendengar tentang Ki Sinduwening dari Bayu, pikirnya.
"Benar sekali, akan tetapi di samping itu, dia adalah utusan Sang Prabu Hanyokrowati di Mataram."
"Utusan? Kenapa ditawan?"
"Itulah yang membuat hatiku penasaran. Dengar baik-baik, Aji. Aku yakin bahwa engkau adalah seorang yang memiliki rasa keadilan dalam hatimu dan aku percaya kepadamu. Ki Sinduwening dalah seorang senopati Mataram yang bertugas melakukan penyelidikan di Ponorogo karena sang prabu mendengar bahwa Ponorogo hendak memberontak. Ki Sinduwening adalah seorang gagah yang tidak ingin melihat terjadinya pertumpahan darah yang mengorbankan rakyat karena adanya perang saudara antara Pangeran Jayaraga yang menjadi adipati di Ponorogo dan Mataram. Maka, dengan nekat dia lalu menghadap Adipati Ponorogo untuk membujuk pangeran yang dikenalnya dengan baik itu agar menghentikan gerakannya memberontak terhadap Mataram. Akan tetapi, ternyata maksud baik Ki Sinduwening itu dibalas dengan cara yang amat curang. Dia ditangkap dan ditahan, walaupun diperlakukan dengan baik, tetap saja kebebasannya dirampas dan dia menjadi orang tawanan."
"Hemm, kenapa begitu? Apa maksudnya Gusti Adipati memperlakukannya seperti itu?"
"Karena Sang Adipati menginginkan agar Ki Sinduwening suka membantu Ponorogo memberontak kepada Mataram dengan janji-janji muluk. Akan tetapi, Ki Sinduwening adalah seorang ksatria yang tidak sudi menjual negara."
Aji mengangguk-angguk kagum.
"Bukan main! Akan tetapi, Joko, kenapa engkau ingin membebaskannya? Pekerjaan itu berbahaya sekali. Kalau ketahuan, engkau akan dikeroyok dan di sana terdapat banyak orang digdaya."
"Aku tidak takut! Aku siap mempertaruhkan nyawaku untuk menolong dan membebaskannya."
"Engkau sungguh gagah dan pemberani, akan tetapi juga nekat, Joko. Apamukah Ki Sinduwening itu sehingga engkau siap mempertaruhkan nyawamu untuk menolongnya?"
Betapapun hatinya untuk memperkenalkan diri sebagai Mawarsih, sebagai dara yang pernah berkenalan dengan Aji, diperkenalkan oleh Bayu.
Akan tetapi, Joko Lawu merasa belum waktunya membuka rahasia penyamarnnya.
"Aku adalah seorang keponakannya. Paman Sinduwening harus kuselamatkan dan kalau engkau suka menolongku, aku akan berterima kasih sekali."
Hening sejenak. Aji nampak berpikir-pikir, kemudian dia memandang wajah Joko Lawu.
"Ada dua hal yang membuat aku bertanya-tanya. Pertama, kenapa engkau percaya kepadaku, Joko? Aku adalah seorang asing bagimu, bagaimana kalau aku melaporkanmu kepada gusti adipati? Bagaimana kalau aku mengkhianatimu?"
"Andika bukan orang asing bagiku, Aji. Bukankah kita pernah saling berjumpa di Muncang? Aku percaya kepadamu dan biasanya, suara hatiku menyakinkan dan tidak pernah salah menilai orang."
"Terima kasih, Joko. Dan hal ke dua yang membuat aku bertanya-tanya adalah apa yang dapat kubantu? Aku hanya seorang tukang merawat kuda, tempatku di kandang kuda, di bagian belakang. Aku tidak mempunyai kedudukan apa-apa di kadipaten, hanya sebagai abdi yang paling bawah. Bagaimana mungkin aku dapat menolong engkau yang mempunyai niat melakukan pekerjaan yang demikian berbahaya dan penting?"
"Aku tidak minta banyak darimu, Aji. Cukuplah kalau engkau suka membawaku ke kadipaten, membantu aku agar aku dapat memasuki istana sang adipati. Setelah itu, aku akan bekerja sendiri, dan andaikata aku gagal, aku tidak akan melibatkan dirimu. Aji."
Aji mengangguk-angguk. Lalu dia menyerahkan aritnya kepada Joko Lawu dan berkata.
"Kalau begitu, cepat kau lanjutkan pekerjaanku menyabit rumput. Penuhi sampai empat keranjang ini, aku akan mengurus kuda-kudaku. Setelah cuaca gelap, kau ikut aku ke kadipaten sambil memikul keranjang rumput. Engkau menjadi langgananku mencarikan rumput untuk kuda-kuda di kadipaten."
Joko Lawu girang sekali.
Dia tahu sudah akan maksud Aji yang hendak membawanya memasuki kadipaten sebagai seorang penjual rumput untuk kuda-kuda di kadipaten.
Pikiran yang bagus sekali!
Dan diapun mengerahkan tenaganya, dengan cepatnya dia menyabit rumput dan memenuhi empat keranjang rumput.
Setelah senja lewat, Aji mengajak Joko Lawu untuk mengantarkan rumput yang dipikulnya ke kadipaten.
Benar saja para penjaga yang telah mengenal baik Aji perawat kuda, tidak menaruh curiga ketika melihat seorang pemuda lain memikul keranjang penuh rumput memasuki pintu gerbang dan langsung menuju ke kandang kuda di belakang melalui jalan samping dekat taman.
Malam hampir tiba, cuaca sudah remang-remang.
Memang sering kali terdapat penjual rumput diajak oleh Aji mengantar rumput ke kandang kuda maka kemunculan Joko Lawu sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan.
Bahkan tak seorangpun penjaga bertanya-tanya, dan mungkin juga tidak ada yang mengingatnya lagi.
Aji sudah mempersiapkan jawaban seandainya ada yang teringat dan menanyakan mengapa penjual rumput itu tidak nampak keluar lagi malam itu.
Dia akan menjawab bahwa penjual rumput itu adalah seorang kenalannya yang akan dimintai tolong untuk membantunya membersihkan kandang, maka ditahannya agar menginap di situ bersama dia.
Akan tetapi, sampai malam tiba, tidak ada seorangpun perajurit penjaga yang datang ke kandang, apa lagi bertanya.
Hal ini tentu saja melegakan hati Aji, terutama Joko Lawu yang sama sekali tidak menghendaki pemuda yang telah menolongnya itu akan terlibat dalan urusannya.
Andaikata dia gagal menolong ayahnya, tertawan atau tewas sekalipun, dia rela.
Akan tetapi kalau sampai Aji yang tidak tahu apa-apa tersangkut dan ikut menderita, dia akan merasa menyesal sekali.
Atas nasihat Aji, baru menjelang tengah malam Joko Lawu meninggalkan kuda di mana terdapat sebuah kamar yang menjadi tempat tinggal Aji, dan dia menyelinap dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Dari Aji dia mendapat tambahan keterangan yang lebih jelas tentang letak tempat tahanan, di mana adanya para penjaga malam, dan bila mana diadakan ronda malam.
Jalan mana yang paling aman untuk ditempuh ketika mendekati empat tahanan.
Semua ini memudahkan gerakan Joko Lawu dalam usahanya menyelamatkan ayahnya.
Sesuai dengan petunjuk Aji, tanpa banyak mengalami kesukaran, akhirnya Joko Lawu dapat berada di atas wuwungan kamar tahanan itu.
Seperti yang telah direncanakan sesuai dengan petunjuk Aji, dia mendekam di wuwungan sambil mengamati gerakan di bawah sana.
Ada belasan orang penjaga di luar tempat tahanan, ada yang sedang santai mengobrol, ada pula yang melenggut karena kantuk, ada yang merokok dan sebagainya.
Menjelang tengah malam itu, tepat seperti yang didengarkan dari keterangan Aji, nampak dua belas orang penjaga baru datang menggantikan penjaga yang sudah berjaga sejak sore tadi.
Untung dia tahu akan hal itu dan tidak tergesa bergerak, karena kalau hal itu terjadi, tentu akan ketahuan para penjaga baru sehingga dia harus menghadapi dua losin penjaga.
Setelah penggantian penjaga selesai, selosin perajurit yang diganti pergi meninggalkan tempat itu dan selosin yang baru mulai melakukan tugas mereka.
Empat orang diantara mereka berangkat melakukan perondaan sehingga di tempat itu tinggal delapan orang perajurit yang berjaga.
Inilah kesempatan yang dinanti nantinya.
Dia sudah mempersiapkan sekantung batu-batu kecil sebesar telur ayam.
Menyerang mereka dengan batu hanya akan menimbul-kan kegaduhan karena tidak mungkin merobohkan mereka dengan sambitan batu dengan serentak.
Lebih baik meninggalkan tempat penjagaan yang hanya diterangi sebuah lampu gantung.
Kedua tangan Joko Lawu bergerak menyambit-nyambitkan batu ke kanan kiri.
Dia mencoba untuk melihat reaksi mereka.
Terdengar suara gaduh di kanan kiri akibat sambitan batu.
"Ehh? Apa itu?"
"Mari kita lihat!"
Dua orang segera pergi ke kanan dan dua orang ke kiri.
Joko Lawu menyambit lagi ke sana sini dan empat orang sisanya berpencaran melakukan pencarian di sekitar tempat itu.
Tentu saja mereka tidak menemukan sesuatu dan mereka berkumpul lagi di depan pintu rumah tahanan.
"Heran, suara apa sih yang ribut-ribut tadi?"
"Seperti ada yang menyabiti dengan batu."
"Tapi tidak nampak seorangpun."
"Jangan-jangan setan"".."
"Ihhh! Jangan membikin takut saja?"
"Ini kan malam Jum"at?"
Orang tertua di antara mereka, yang menjadi kepala jaga, menggerakkan tangan kehilangan kesabarannya.
"Sudah, sudah, jangan ribut sendiri. Lebih baik sekarang periksa apakah tawanan yang kita jaga masih berada di dalam. Itu yang terpenting!"
Dia lalu mengambil sebuah kunci besar yang tergantung di paku dinding, lalu menggunakan kunci itu untuk membuka gembok yang dipasang di pintu tempat tahanan.
Itulah yang dicari Joko Lawu.
Sekarang dia tahu di mana kunci itu disimpan.
Sederhana saja.
Tergantung di paku yang menancap di dinding di sudut.
Dia memperhatikan cara penjaga itu membuka gembok dan daun pintu tempat tahanan.
Dua orang penjaga, dengan tombak di tangan, memasuki pintu itu.
Dia tidak melihat ayahnya, juga tidak mendengar suaranya.
Akan tetapi, dua orang penjaga itu tidak lama keluar lagi dengan wajah lega.
"Dia tidur, keadaan aman."
Kata si kepala jaga dan daun pintu tempat tahanan itu ditutup dan digembok lagi.
Dengan hati girang Joko Lawu melihat betapa kunci itu digantung lagi di tempat semula dan agaknya para penjaga sudah melupakan lagi peristiwa tadi.
Mereka mengobrol dengan santai.
Kurang lebih setengah jam, rombongan peronda pertama dari empat orang itu datang dan melapor kepada kepala jaga bahwa semua dalam keadaan aman.
Kedatangan empat orang peronda ini memancing percakapan tentang kegaduhan tadi dan kini mereka semua bertanya-tanya suara apakah tadi.
Joko Lawu tetap mengintai dengan sabar.
Dia tetap mencari kesempatan terbaik untuk turun tangan.
Empat orang di antara mereka mendapat giliran meronda.
Tengah malam sudah lama lewat.
Suasana semakin sunyi.
Hawa udara semakin dingin dan delapan orang yang ditinggal meronda itu nampak mengantuk.
Tibalah saat yang dinanti-nanti Joko Lawu.
Dia menyilangkan kedua lengan depan dada, menundukkan mukanya dan memejamkan mata.
Sebelum mulai dengan aji penyirepan Begananda, teringat olehnya akan pesan ayahnya ketika ia mempelajari aji ini, bahwa aji ini, seperti semua ilmu yang dipelajarinya, harus dipergunakan demi kebaikan, dan sama sekali pantang untuk dipergunakan sebagai cara untuk melakukan kejahatan.
Sekali ini, dia menggunakan Aji Sirep Begananda demi untuk menolong dan membebaskan ayahnya, maka dia mengerahkan seluruh tenaga batinnya dan seluruh dirinya dipusatkan kepada mantram yang dibisikkannya.
"Hong, niatingsung matak aji sirep Begananda, Aji patunggengan Sang Aji Saka. Aing sapa katiban, jin setan peri prayangan padha mati. Aja maneh pecaking janma manusa, Ora wani ambleg sek turune kaya mati, Ora pisan-pisan tangi yen aku durung lungo."
Tanah yang diambilnya dari kuburan dan yang telah dipersiapkannya dalam kantung bersama batu-batuan tadi, dia genggam dan dia lemparkan ke atas gardu penjagaan di mana delapan orang itu berada.
Tak lama kemudian, delapan orang yang terkena pengaruh Aji Sirep Begananda itu tak dapat menahan kantuk mereka dan mereka semua tertidur.
Nyenyak sekali.
Terdengar suara dengkur mereka saling sahutan.
Bayangan Joko Lawu berkelebat dan dia sudah mengambil kunci dari paku di dinding gardu penjagaan, melangkahi tubuh-tubuh para penjaga yang malang-melintang.
Dengan mudah dia membuka gembok dengan kunci, mendorong daun pintu dan memasuki rumah tahanan.
Dilihatnya ayahnya tidur di atas sebuah dipan, dalam sebuah kamar yang cukup bersih dan lengkap.
Memang benar, ayahnya diperlakukan sebagai seorang tamu, dan hatinya merasa lega.
Bagaimanapun juga, ayahnya menjadi seorang tawanan dan dia harus membebaskannya.
Dia mendorong daun pintu kamar tahanan itu.
Tidak terkunci, akan tetapi agak sukar dibuka seolah ada yang menahannya.
Dia manambah tenaga dan daun pintu itupun terbuka.
Dia meloncat masuk dan berlutut di dekat tempat tidur ayahnya.
Hatinya tegang, terharu dan juga girang.
Dijamahnya pundak ayahnya.
"Bapa"., bapa""
Bangunlah"..!"
Guncangan lembut di pundak itu menggugah Ki Sinduwening.
Dia membuka mata, menoleh dan bangkit duduk dengan mata terbelalak.
Sejenak dia terheran melihat seorang pemuda tampan kini duduk di tepi pembaringan, akan tetapi dia mengenal suara itu!
Dan kini setelah penglihatannya sama sekali terbebas dari kantuk, dia mengenal pula pandang mata dan senyum itu.
"Mawar"".!"
"Ssttt, bapa. Aku sekarang menjadi Joko Lawu, aku datang untuk membebaskanmu. Mari, bapa. Delapan orang penjaga itu sedang tidur oleh aji sirepku""."
Ki Sinduwening meloncat turun dan ketika dia memandang ke arah pintu kamar tahanannya yang terbuka, dia terbelalak.
"Celaka, Mawar! Engkau telah memandang rendah kekuatan di sini. Pintu itu akan memberitahu kepada senopati pasukan penjaga. Larilah, cepat kau lari sebelum terlambat. Aku di sini tidak apa-apa. Aku akan membantumu lari. Hayo cepat!"
Ki Sinduwening mendorong puterinya ke luar dari dalam kamar itu.
Joko Lawu terkejut dan merasa heran karena dia melihat betapa keadaannya aman dan dia bahkan sudah berhasil memasuki kamar ayahnya dan mengajaknya keluar!
Mereka meoncat keluar dan setelah tiba di luar rumah tahanan itu, (Lanjut ke
Jilid 06) Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 barulah Joko Lawu maklum mengapa ayahnya gelisah seperti itu.
Kiranya, di depan rumah itu telah datang puluhan orang prajurit pasukan penjaga!
Dia tidak tahu betapa pintu kamar tahanan ayahnya dipasang tali yang kecil namun kuat.
Tali ini direntang keluar dari rumah tahanan itu dan kalau pintu kamar itu dibuka paksa, maka tali itu akan menarik sebuah genta kecil yang dipasang di rumah senopati yang menjadi panglima pasukan penjaga di kadipaten itu!
Tentu saja ketika tadi Joko Lawu memaksa pintu kamar tahanan itu sampai terbuka, alat rahasia ini bekerja dan Senopati Surodigdo segera mengerahkan lima puluh orang prajuritnya yang dengan cepat telah tiba di depan rumah tahanan dan mengepungnya.
"Cepat lari!"
Ki Sinduwening berseru dan diapun sudah menerjang Senopati Surodigdo agar senopati yang tangguh itu tidak dapat menghalangi larinya Joko Lawu.
Karena diserang Ki Sinduwening, terpaksa Surodigdo melawannya dan kedua orang senopati yang digdaya ini sudah saling hantam dengan dahsyatnya.
Joko Lawu maklum bahwa dia gagal.
Kalau dia sampai tertawan pula, lenyaplah harapan untuk menolong ayahnya.
Maka, dengan berat hati diapun lalu mengamuk dan mencari jalan keluar.
Para perajurit itu merupakan lawan yang lunak, akan tetapi karena jumlah mereka banyak, diapun kewalahan dan akhirnya dia terpaksa meloncat jauh dan melarikan diri ke tempat gelap, dikejar oleh puluhan orang perajurit.
Sukar bagi Joko Lawu untuk dapat membebaskan diri karena ke manapun dia lari, dia dikejar dan dari mana-mana berdatangan perajurit penjaga keamanan.
Beberapa kali dia terkepung dan dikeroyok lagi.
Hanya berkat kelincahan gerakan tubuhnya saja dia tidak sampai terluka dan sudah banyak pengeroyok yang roboh oleh tamparan dan tendangannya.
Dia mulai terdesak dan hampir kehabisan tenaga.
Tiba-tiba nampak bayangan hitam berkelebat dan beberapa orang pengeroyok berpelantingan.
Bagaikan seekor burung garuda, bayangan hitam itu mengamuk, berkelebat ke sana-sini merobohkan banyak pengeroyok, membuat para perajurit Ponorogo menjadi gentar.
Joko Lawu melihat bahwa yang membantunya adalah seorang yang berpakaian serba hitam dan mukanya tertutup kain hitam pula.
Hanya sepasang matanya yang nampak, seperti mata harimau,mencorong di dalam kegelapan.
Gerakan orang itu tangkas bukan main dan tahulah Joko Lawu bahwa dia ditolong oleh seorang ksatria yang sakti mandraguna.
Karena banyaknya pengeroyok, baju penolong itu robek di sana-sini terkena tusukan tombak dan keris, bacokan pedang dan golok.
Akan tetapi tidak ada setetespun darah keluar.
Hal ini menunjukkan bahwa dia memiliki aji kekebalan yang hebat.
"Cepat lari, ke sini""..!"
Si kedok hitam berbisik ketika dia mendekati Joko Lawu yang juga mengamuk.
Joko Lawu melompat dan mengikuti larinya si kedok hitam.
Bukan lari ke arah kandang kuda seperti niatnya semula, melainkan lari ke taman kadipaten di sebelah kiri.
Para perajurit mengejar sambil berteriak-teriak karena kini musuh menjadi dua orang, sedangkan orang kedua yang berkedok itu bahkan lebih ganas dari pada orang pertama.
Joko Lawu dan penolongnya lari sambil kadang melawan para pengejar terdekat, dan dalam keadaan kacau melarikan diri itu, Joko Lawu tidak mengenal keadaan taman itu dalam kegelapan malam, hanya dapat mengikuti penolongnya, dengan hati tetap gelisah memikirkan ayahnya.
"Cepat ke sini, loncat keluar pagar tembok melalui pohon mangga itu!"
Kata orang berkedok, Joko Lawu maklum.
Dia lalu meloncat dan menyambar dahan pohon mangga, memanjat ke atas dan memang dari pohon itu, mudah baginya untuk meloncat ke atas pagar tembok, kemudian dari situ meloncat keluar.
Si kedok hitam meloncat di belakangnya dan tak lama kemudian, dengan si kedok hitam sebagai penunjuk jalan, mereka berlari-larian di antara rumah-rumah penduduk Ponorogo dan berhenti di dekat rumah Pak Jiyo.
"Terima kasih, ki sanak. Andika siapakah?"
Joko Lawu bertanya. Akan tetapi orang itu mengacuhkan pertanyaannya.
"Sebaiknya andika cepat bersembunyi. Aku harus pergi."
"Tapi"".. tapi"".. dia""
Ki Sinduwening""."
Kata Joko Lawu yang mengkhawatirkan ayahnya.
Terhadap si kedok inipun yang telah menolongnya, dia tidak berani membuka rahasia antara dia dan ayahnya, dan tidak berani mengaku ayah.
Dia belum mengenal siapa yang berada di balik kedok hitam itu.
"Ayahmu tidak akan diganggu. Nah, selamat tinggal!"
Dia pun berkelebat lenyap ditelan kegelapan malam.
Joko Lawu juga cepat menyelinap masuk ke dalam rumah Pak Jiyo karena dia mendengar suara orang menuju ke situ.
Di sebelah dalam rumah itu, Pak Jiyo menyambutnya dan cepat menyuruh dia bersembunyi ke dalam sebuah ruangan bawah tanah yang sengaja dibuat oleh mata-mata Mataram itu.
Ruangan ini sengaja digali seluas kamar biasa.
Di bawah dapur dan di atasnya terdapat tumpukan kayu dan jerami kering di mana tersembuyi sebuah lubang sebagai pintu kamar di bawah tanah.
Joko Lawu menyelinap masuk ke dalam terowongan yang segera ditutup lagi dengan kayu dan jerami kering oleh Pak Jiyo.
Beberapa menit kemudian, dua orang perajurit menggedor pintu.
Setelah Pak Jiyo terbongkok-bongkok membukakan pintu, dua orang perajurit itu menghardiknya.
"Pak Jiyo, apakah andika melihat seorang asing di sini?"
"Orang asing? Tidak, saya tidak melihatnya."
"Seorang pemuda tampan, dan seorang lagi berpakaian hitam dan berkedok kain hitam."
"Saya tidak melihat siapa pun, saya sudah sejak sore tadi tidur."
"Apakah ada tamu yang datang bermalam di warungmu?"
"Tidak ada,"
"Jangan bohong, ada yang melihat seorang laki-laki muda kemarin di warungmu."
"Ah, benar, memang ada seorang tamu. Akan tetapi dia sudah pergi lagi, tidak bermalam di sini."
Dua orang perajurit itu masih penasaran dan mereka melakukan penggeledahan.
Akan tetapi, Pak Jiyo adalah seorang mata-mata kawakan yang sudah banyak pengalaman.
Sejak Joko Lawu pergi, dia sudah menyingkirkan semua bekas dan jejak sehingga ketika dua orang perajurit itu melakukan pemeriksaan, mereka tidak menemukan apa pun dalam dua buah kamar di rumah itu.
Merekapun pergi dengan kecewa.
Setelah keadaan benar aman, barulah Pak Jiyo memasuki ruangan bawah tanah itu.
Dia mendapatkan Joko Lawu sedang duduk bersila dan wajahnya yang tertimpa sinar dian minyak kelapa yang kecil itu nampak muram dan penuh kegelisahan, Joko Lawu menceritakan semua pengalamannya.
"Untung ada si kedok hitam yang menolongku, paman Jiyo. Aku tidak tahu siapa dia. Apakah paman dapat menduga siapa si kedok hitam itu?"
Orang itu menggeleng kepala.
"Saya tidak dapat menduganya. Di antara para kawan anak buah ayahmu tidak ada yang mengunakan kedok hitam."
"Aku hanya mengkhawatirkan keadaan ayahku""."
"Harap jangan khawatir, nak. Saya yakin bahwa Pangeran Jayaraga, adipati Ponorogo, tidak akan menggangu ayahmu. Beliau amat mengharapkan bantuan ayahmu yang dikenalnya sebagai senopati yang pernah berjasa di masa pemerintahan Sang Prabu Panembahan Senopati."
Lalu apa yang harus kulakukan, paman? Kegagalan ini membuat aku menjadi sedih dan bingung. Aku harus membebaskan bapaku, harus!"
"Tenanglah, nak. Kita harus bersabar, menaati sampai keadaan tenang kembali. Sekarang ini, tentu saja mereka akan memperkuat penjagaan dan tidak akan mungkin mengulangi percobaan itu. Kita harus berhati-hati dan bersembunyilah dulu di sini sampai beberapa hari. Kalau keadaan sudah aman, saya akan memberitahu. Akan saya beritahukan kawan-kawan agar membantumu."
Karena tidak ada jalan lain yang lebih baik, terpaksa Joko Lawu menurut.
"Ada satu hal yang ingin kulakukan, paman, yaitu menghubungi Aji. Dia adalah perawat kuda yang bekerja di kadipaten Ponorogo. Dialah yang telah membantuku masuk ke dalam kadipaten sebagai penjual rumput. Dia sering membawa kuda kadipaten keluar masuk kota, ke lembah sungai untuk mencari rumput. Kalau saja dia suka membantu, kiranya dia akan mudah menyelidiki keadaan ayah."
"Kalau begitu, saya akan menyuruh seorang kawan untuk menghubunginya."
"Jangan, paman. Jangan!"
Seru Joko Lawu yang merasa khawatir sekali.
Kalau hal itu dilakukan, maka berarti keselamatan Aji terancam.
Andaikata ada yang tahu bahwa Aji si tukang kuda itu membantu orang yang menjadi mata-mata Mataram, akan celakalah pemuda itu.
Tentu akan dihukum, disiksa, mungkin dibunuh!
"Eh, kenapa?"
"Jangan hubungi dia. Jangan libatkan dia dalam urusan kita. Dia mau membantuku, karena kami pernah bertemu dan berkenalan. Dia seorang abdi kadipaten Ponorogo, mungkin sekali dia setia kepada Ponorogo. Akan celakalah kita kalau dia tahu tempat persembunyian ini. Biar nanti kalau keadaan sudah aman, aku sendiri yang akan mencarinya."
"Baiklah kalau begitu."
Kata Pak Jiyo dan sejak malam itu, terpaksa Joko Lawu tidak berani meninggalkan rumah itu, bahkan tidak berani memperlihatkan diri di dalam rumah.
Setiap saat dia siap untuk memasuki kamar bawah tanah kalau ada bahaya mengancam.
Sama sekali Joko Lawu tidak tahu bahwa memang ada bahaya besar mengancamnya.
Ayahnya memang tidak diapa-apakan.
Ki Sinduwening dihadapkan Adipati Ponorogo setelah peristiwa malam itu.
Ketika ditanya siapa pemuda tampan yang hendak membebas-kannya, KI Sinduwening menjawab dengan sikap tenang.
"Paduka maklum bahwa saya telah diangkat sebagai seorang senopati oleh Sang Prabu Hanyokrowati. Sebagai senopati tentu saja saya mempunyai anak buah dan melihat saya ditawan di sini, tentu ada anak buah yang berusaha untuk membebaskan saya."
"Paman, andika telah kami perlakukan dengan baik sebagai tamu, kenapa andika membantu pengacau itu dan menyerang Senopati Surodigdo, menghalangi Surodigdo untuk menangkapnya?"
"Kanjeng Pangeran, anak buah itu datang untuk menyelamatkan saya tanpa menghiraukan kaselamatan dirinya sendiri. Setelah dia ketahuan dan terancam bahaya, sebagai seorang senopati dan ksatria, bagaimana mungkin saya dapat tinggal diam saja tanpa menolongnya? Apa yang kami lakukan, dia sebagai anak buah saya dan saya sebagai atasannya adalah wajar saja. Kalau paduka hendak menghukum saya silakan!"
Adipati Ponorogo dapat menerima alasan itu dan diapun tidak menjatuhkan hukuman keoada Ki Sinduwening, bahkan tidak bertanya lagi.
Akan tetapi, dia bukan seorang bodoh dan setelah berunding dengan para pembantunya, Pangeran Jayaraga dan para senopatinya dapat menduga bahwa tentu orang berkedok yang membantu anak buah Ki Sinduwening sehingga dapat melarikan diri dan tidak tertangkap itu seorang mata-mata dari Mataram yang sudah berhasil menyelundup ke kadipaten dan sudah dikenal.
Oleh karena itu, maka agar dirinya tidak dikenal, dia menggunakan kedok hitam.
Akan tetapi siapakah yang patut dicurigai?
Abdi di kadipaten amat banyaknya, termasuk para senopati, perwira dan para perajurit pasukan pengawal dan penjaga.
Kemudian Mayaresmi, janda yang cantik jelita itu!
Dan wanita yang setia kepada Ponorogo ini melapor bahwa ia berhasil membujuk Nurseta yang kini menggantikan Ki Sinduwening menjadi pemimpin pasukan mata-mata di Ponorogo.
Bahkan ia menceritakan betapa di Ponorogo, para mata-mata dari Mataram itu mempunyai tempat pertemuan rahasia, yaitu di warung Pak Jiyo!
Terkejutlah Pangeran dan para pembantunya.
Siapa kira bahwa tempat sederhana, warung yang dikelola Pak Jiyo, orang tua yang dikenal oleh banyak orang itu, menjadi sarang para mata-mata yang amat berbahaya bagi Ponorogo.
Mereka lalu berunding dan mengatur siasat.
"Kalau begitu, tangkap Pak Jiyo dan seret ke sini, hancurkan warung itu dan ratakan dengan tanah!"
Pangeran Jayaraga berkata marah.
"Maaf, kanjeng pangeran!"
Kata Mayaresmi sambil menyembah.
"Hamba mohon agar dipetimbangkan masak-masak sebelum perintah itu dilaksanakan. Hamba kira keuntungannya sedikit kalau hanya menghancurkan warung Pak Jiyo, bahkan akhirnya kita menderita rugi. Hamba telah berhasil membujuk Nurseta dan kalau kita membiarkan dia bekerja sebagai pemimpin pasukan mata-mata kemudian melaporkan ke Mataram, dan kita menjadikan laporannya itu sebagai bahan mengatur siasat, tentu kita akan mampu mengalahkan Mataram yang dapat kita jebak dengan laporan Nurseta. Kita ubah keadaan pertahanan kita sedemikian rupa, dan dengan bantuan Nurseta, kita akan memperoleh kemenangan. Sebaliknya, kalau kita melakukan perintah paduka, Nurseta tentu akan terkejut dan tidak percaya lagi kepada hamba. Bahkan kita harus membantu dia agar dia berjasa kepada Mataram dan dipercaya, misalnya dengan membiarkan dia menolong Ki Sinduwening. Kalau dia dipercaya oleh Mataram, tentu semua laporannya tentang Ponorogo diterima dan dipercaya, dan penyerbuan Mataram ke Ponorogo akan sesuai dengan laporan itu."
Semua orang mengangguk-angguk dan kagum akan siasat yang direncanakan wanita cantik itu. Brantoko mengajukan usul.
Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 4
Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 8