Eps 5 Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Baca online Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Cersil Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung.
Ouw Hui menangkis dengan goloknya, sehingga cambuk si nona jadi terpental.
"Kenapa kau mengatakan aku membokong orang?"
Tanyanya sembari tertawa.
Berbareng dengan terpentalnya cambuk itu, Wan Cie le merasakan lengannya kesemutan.
Ia mengetahui, bahwa pemuda itu tak boleh dipandang enteng, tapi dalam kalapnya, ia mencaci lagi.
"Bang-sat! Kau menggunakan binatang beracun untuk mencelakakan tungganganku. Apakah itu bukan perbuatan bangsa buaya darat?"
"Aku tidak menyalahkan nona, jika nona men-jadi kalap,"
Kata Ouw Hui pula, sembari nyengir.
"Tapi, bagaimana nona mengetahui, bahwa Ouw Huilah yang sudah menurunkan tangan jahat?"
Wan Cie le kaget.
Sekarang ia mendapat ke-nyataan, bahwa dua penunggang kuda lain yang mengikuti di belakang Ouw Hui adalah kedua Sie-wie yang tadi mengawani Na Cin.
Tangan mereka diikat erat-erat dengan tambang dan kedua ujung tambang itu dipegang Ouw Hui.
Sekarang si nona mendusin, bahwa kedua Sie-wie itu sudah menjadi tawanan Ouw Hui dan oleh karena itu, ia sudah menebak latar belakangnya.
"Apakah buah pekerjaan kedua bangsat itu?"
Ia membentak. Ouw Hui tertawa.
"Cobalah nona tanya, nama dan gelaran mereka yang besar,"
Katanya.
"Kalau kau sudah tahu, hayo beritahukan pada-ku, jangan rewel,"
Kata Wan Cie Ie dengan aseran.
"Baiklah,"
Kata Ouw Hui sembari nyengir.
"Sekarang aku memperkenalkan kedua orang besar ini, kepada nona. Yang itu adalah Siauw-ciok-yong Tio Beng, sedang yang ini adalah Kim-sia-cu Cui Pek Seng."
Mendengar gelaran itu, si nona lantas saja mengetahui, bahwa Siauw-ciok-yong adalah orang yang melepaskan api kepadanya, sedang Kim-sia-cu adalah majikan dua ekor kutu berbisa itu.
Ternyata, mereka sudah melakukan pekerjaan itu, ketika si nona sedang bertempur dengan Na Cin.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Wan Cie Ie mengayun cambuknya.
"Terrrr... terrr..."
Enam kali cambuk kuda itu berbunyi beruntun, setiap orang dipersen tiga cambukan. Hampir berbareng, kepala dan muka kedua Sie-wie itu mengucurkan darah.
"Lekas keluarkan obat pemunah untuk kuda-ku!"
Bentak Wan Cie Ie dengan bengis.
"Jika ayal-ayalan, akan aku persen lagi dengan tiga cambukan. Sekali ini dengan cambuk ini."
La mengebaskan Joan-piannya di tengah udara dan kemudian menyabet jatuh sebatang cabang pohon liu.
Kim-sia-cu yang sudah ketakutan setengah mati, mengangkat kedua tangannya yang terikat dan berkata dengan suara gemetar.
"Bagaimana aku bisa...."
Belum habis perkataannya, Ouw Hui sudah mengayun goloknya dan tali yang mengikat pergelangan tangan Kim-sia-cu, jatuh di atas tanah.
Sabetan golok itu merupakan suatu pertunjukan untuk memperlihatkan ke-lihayannya sendiri.
Tenaga yang digunakan adalah sedemikian tepatnya, sehingga meskipun tambang pengikat itu tertebas putis, kulit Kim-sia-cu sama sekali tidak terluka.
Wan Cie Ie mengerti maksud Ouw Hui.
la hanya mengeluarkan suara di hidung sebagai ejek-an.
Buru-buru Kim-sia-cu mengeluarkan sebung-kus obat dari sakunya dan mengusapkan obat itu di luka si putih.
"Sesudah memakai obatku, jiwa bi-natang ini tidak terancam lagi,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Tapi, dalam tiga hari dia tidak boleh lari, supaya tulang dan otot-ototnya tidak mendapat luka."
"Buka ikatan Siauw-ciok-yong!"
Perintah si nona. Kim-sia-cu menjadi girang sekali.
"Biar dicambuk, masih untung kecuali Co-toako, tak ada orang lain yang turut menyaksikan,"
Katanya di dalam hati.
"Dia sendiri juga mendapat bagian, rasanya dia tak akan menguarkan kejadian ini di luaran."
Harus diketahui, bahwa orang-orang sebangsa sie-wie itu, tidak merasa terlalu berkeberatan jika mereka dihajar orang.
Yang paling mereka takuti adalah cerita-cerita di luaran yang bisa menurunkan keangkeran dan derajat mereka.
Maka itu, buru-buru Kim-sia-cu menghampiri kawannya dan membukakan tali yang mengikatnya.
Baru mereka mau mengangkat kaki, tiba-tiba si nona tertawa dingin.
"Kamu mau berangkat?"
Tanyanya.
"Hm! Kau kira dalam dunia ada urusan yang bisa berjalan begitu licin?"
Jantung kedua sie-wie itu memukul keras, mereka saling mengawasi dengan sorot mata ketakutan. Mereka menahan les dan tidak berani berjalan terus.
"Siauw-ciok-yong, lekas keluarkan semua alat pembakarmu!"
Perintah si nona.
"Kim-sia-cu, kau juga mengeluarkan semua kutu busukmu! Jika kau berani menyembunyikan, kuhajar lagi cecongormu!"
Sembari berkata begitu, ia mengebaskan joan-piannya berulang-ulang, sehingga menerbitkan serentetan suara nyaring di tengah udara.
Diancam begitu, mereka tak bisa berkutik lagi.
Dengan ogah-ogahan Siauw-ciok-yong mengeluarkan sebuah kotak besi, di mana ia menyimpan senjata rahasianya, sedang Kimsia-cu juga merogoh sakunya dan mengeluarkan #sebuahtkimbung bambu yang berisi kutu-kutu beracun.
Melihat bumbung yang mengilap itu karena sudah digunakan bertahun-tahun, Wan Cie-ie jadi ingat isinya, yaitu kutu-kutu berbulu yang sangat menakutkan dan beracun.
Tanpa merasa, bulu romanya berdiri semua.
"Bangsat!"
Bentak si nona.
"Kamu sudah berani membokong aku dengan senjata beracun benar-benar nyalimu besar. Sebenar-benarnya, hari ini kau mesti mampus. Tapi, untungmu masih bisa dikatakan bagus, karena nonamu mempunyai kebiasaan untuk hanya mengambil satu jiwa manusia dalam satu hari ...."
Co Beng dan Cui Pek-seng saling mengawasi, hati mereka menjadi lega sedikit. Sesudah berhenti sejenak, Wan Cie-ie berkata pula.
"Di antara kamu berdua, seorang mesti meninggalkan dunia ini. Siapa yang mesti mati dan siapa yang boleh hidup, sukar sekali aku memutuskannya. Begini saja, kamu saling menghantam dengan senjata rahasiamu. Siapa yang kena, dialah yang harus mati. Siapa yang bisa berkelit, nonamu mengampuni jiwanya. Peraturanku ini tak dapat diubah lagi. Tak guna kamu memohon-mohon. Satu, dua, tiga, hayo!"
Kedua sie-wie itu agak sangsi.
Mereka tak dapat menebak, apakah nona itu bicara sesungguhnya atau hanya ingin menakut-nakuti mereka.
Tapi, di lain detik, mereka samasama mempunyai pendapat begini, jika dia turun tangan lebih dulu, bukankah aku yang mampus?
Dua-dua sie-wie itu orangorang kejam dan begitu memikir demikian, mereka segera turun tangan.
Hampir berbareng mereka mengeluarkan teriakan yang menyayatkan hati.
Leher Siauw-ciok-yong sudah digigit sia-cu, sedang dada Kim-sia-cu sudah disambar bola api, kumis dan bajunya sudah terbakar.
Wan Cie-ie tertawa terpingkal-pingkal.
"Sudahlah!"
Katanya.
"Hitung-hitung seri saja. Sekarang kamu boleh menggelinding pergi dari sini!"
Bukan main girangnya mereka.
Tanpa menghiraukan sia-cu yang masih menggigit dan api yang masih berkobar-kobar, dengan serentak mereka mengeprak kuda yang lantas saja kabur sekeras-kerasnya.
Sesudah terpisah jauh dari kedua orang muda yang galak itu, barulah mereka saling menolong.
Untuk beberapa saat, Wan Cie-ie masih saja tertawa geli.
Mendadak ia merasakan punggungnya dingin sebab ditiup angin dan baru ia ingat, bahwa bajunya pecah.
Ia melirik Ouw Hui dan mendapat kenyataan, bahwa pemuda itu tengah mengawasi dirinya sembari bersenyum.
Ia jadi kemalu-maluan dan kedua pipinya lantas saja bersemu merah.
"Lihat apa kau?"
Ia membentak. Ouw Hui melengos.
"Tak lihat apa-apa,"
Sahutnya.
"Minggir! Aku mau menukar baju,"
Si nona memerintah.
"Di sini? Kau mau menukar baju di tengah jalan?"
Ouw Hui menanya sembari tertawa.
Wan Cie-ie mendongkol tereampur geli.
Karena jengah, ia jadi keterlepasan bicara.
Sembari melirik Ouw Hui dengan sorot mata uring-uringan, ia pergi ke gerombolan pohonpohon lalu mengenakan baju luar yang berwarna kuning.
Pakaian dalamnya masih basah, tapi ia tidak menghiraukannya.
Sesudah itu, ia menggulung baju ungu itu yang sudah terbakar dan melemparkannya ke tengah sungai.
Sambil mengawasi baju itu yang hanyut terbawa aliran air, Ouw Hui berkata.
"Nona, apakah sekarang kau bernama Wan Hong-san (Si Baju Kuning)?"
Cie-ie tak menjawab ia hanya mengeluarkan suara di hidung, Ouw Hui ternyata sudah bisa menebak, bahwa "Wan Cie-ie"
Bukan namanya yang asli. Mendadak si nona berteriak.
"Celaka! Aku digigit sia-cu!"
Ia mengulurkan tangannya dan mencakar-cakar punggungnya. Ouw Hui terkesiap.
"Apa benar?"
Tanyanya, sembari meloncat ke belakang si nona untuk memberikan bantuan.
Sekali ini, Ouw Hui yang pintar kena juga ditipu.
Selagi ia loncat, yaitu sedang badannya berada di tengah udara, sekonyong-konyong Cie-ie mendorong dengan kedua tangannya.
Itulah bokongan yang sungguh tidak diduga-duga.
Seketika itu juga, Ouw Hui terjungkal dan jatuh ke dalam lumpur di tepi sungai, tubuhnya ambles sebatas dada!
Wan Cie-ie bertepuk tangan dan tertawa bergelak-gelak.
"Ouw Hui kecil!"
Ia berteriak dari atas.
"Kau terkenal licin seperti setan, tapi sekarang, kena juga kau diakali nonamu!"
Ouw Hui tak tahu, apa ia mesti menangis atau tertawa.
Kebaikan hatinya merupakan ketololan besar.
Karena empuknya lumpur, tak dapat ia mengerahkan tenaga untuk melompat ke luar, sehingga jalan satu-satunya adalah berkutat naik ke atas setindak demi setindak.
Begitu tiba di gili-gili, sambil mementang kedua tangannya yang berlepotan lumpur, Ouw Hui menubruk sembari berteriak.
"Budak kecil ini mesti dihajar dengan kekerasan!"
Si nona terkejut, buru-buru ia meloncat dan melarikan diri.
Tapi di luar dugaannya, ilmu mengentengkan badan Ouw Hui tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya.
Ia lari berputar-putar, tapi selalu dicegat oleh pemuda itu yang mengancam akan memeluk dirinya sambil mementang kedua tangannya.
Ia juga tidak berani menyerang, karena begitu beradu tangan, ia tentu akan kecipratan lumpur.
Sesudah main petak beberapa lama, si nona menjadi uring-uringan dan segera menghentikan tindakannya.
"Kau berani meraba aku?!"
Ia membentak sembari memberengut.
Ouw Hui yang memang hanya ingin menakut-nakuti, lantas saja turut menghentikan tindakannya.
Sesaat itu, hidungnya mengendus wangi-wangian yang halus dan sedap, sehingga dengan terkejut ia meloncat mundur beberapa tindak.
"Nona,"
Katanya.
"Aku sudah begitu baik hati, tapi kenapa kau berlaku seperti seekor anjing yang menggigit Lu Tongpin?"
Cie-ie tertawa dan menjawab secara menyimpang.
"Eh, apakah kau mengetahui, bahwa dalam ilmu silat Pat-sian-kiam terdapat serupa pukulan yang dinamakan Lu-tong-pin-tuikauw (Dewa Lu Tong-pin mendorong anjing). Jika kau tak pereaya, tanyakan orang she Na itu."
"Ah, kau sungguh tak mempunyai liangsim (perasaan hati),"
Kata Ouw Hui.
"Kau membalas kebaikan dengan kejahatan."
"Fui!"
Bentak si nona.
"Kau berani menganggap dirimu terlalu mulia, sudah melepas budi besar kepadaku? Sekarang kutanya, Bagaimana kau bisa mengetahui, bahwa kedua siewie itu sudah membokong aku?"
Mendengar pertanyaan itu, Ouw Hui jadi gelagapan.
Memang benar, ketika kedua sie-wie itu meletakkan bahan api di punggung Cie-ie dan melepaskan sia-cu di cambuknya, Ouw Hui sudah melihat dengan terang sekali.
Tapi untuk mengganggu, ia sengaja menutup mulut.
Sesudah si nona berlalu, barulah ia membekuk kedua orang itu dan menyusul.
"Kenapa kau diam saja?"
Tanya Cie-ie.
"Bukankah benar dalam hal ini sedikit pun aku tak menerima budimu?"
Sehabis berkata begitu, ia mengeluarkan sapu tangan dan menutup hidungnya.
"Bau benar kau!"
Katanya.
"Lekas mandi! Sesudah badanmu dicuci bersih, aku akan menceritakan halnya Tio-sam ... si bocah Tio Poan-san."
Sebenarnya ia ingin mengatakan "Tio-samsiok" , tapi karena Ouw Hui mengakui Poan-san sebagai kakaknya, sehingga dengan begitu, kedudukannya jadi lebih tinggi setingkat daripada ia, maka ia sudah menggunakan perkataan "si bocah Tio Poan-san".
Ouw Hui menjadi girang sekali.
"Baik, baiklah,"
Katanya dengan cepat.
"Kau pergi jauh-jauh. Aku mandi cepat sekali."
"Cepat-cepat tak hilang baunya,"
Kata si nona sembari nyengir.
Ouw Hui tertawa dan dengan gerakan It-ho-ciong-thian (Burung Ho Menembus Langit) yang sangat indah, ia loncat mencebur ke dalam sungai.
Selagi Ouw Hui mandi, Cie-ie memeriksa luka si putih.
Obat Kim-sia-cu ternyata sangat mustajab, karena bengkaknya sudah reda dan kuda itu sudah tidak menjerit-jerit lagi.
Dengan hati lega, ia memandang ke arah sungai.
Ia melihat pakaian, sepatu dan kaus kaki Ouw Hui ditumpuk di pinggir sungai, sedang pemuda itu sendiri sedang berenang di suatu tempat yang jauhnya beberapa puluh tombak.
Mendadak, kenakalan si nona kumat kembali.
Ia membuka buntelan Ouw Hui dan mengeluarkan sepotong baju tua.
Sesudah itu, dengan berindap-indap ia menghampiri tumpukan pakaian di tepi sungai itu dan membungkus semuanya di dalam baju tua itu.
Kemudian, ia menunggangi kuda Ouw Hui dan sembari menuntun si putih, ia menjalankan kuda itu ke arah utara.
"Hei! Kenapa begitu lama?"
Ia sengaja berteriak.
"Aku mempunyai urusan penting, tak dapat menunggu kau lagi!"
Sehabis berkata begitu, ia mengeprak tunggangannya yang lantas saja lari keras. Lapat-lapat di sebelah jauh, ia dengar teriakan Ouw Hui.
"Nona Wan! Nona Wan! Aku menyerah kalah! Tinggalkan pakaianku!"
Semakin lama, suara itu jadi semakin jauh, agaknya Ouw Hui tak berani naik ke atas tanpa pakaian.
Di sepanjang jalan Wan Cie-ie tertawa terpingkal-pingkal, semakin ia ingat perbuatannya, semakin geli hatinya.
Ia sudah menghitung, bahwa sebagai kuncu (kesatria), pemuda itu tentu tidak berani mengejar tanpa berpakaian.
Sesudah berjalan belasan lie, ia lalu berhenti dan mengaso di sebuah rumah penginapan kecil.
"Aku mesti mengaso, sebab menurut kata Kim-sia-cu, si putih tak boleh lari untuk sementara waktu,"
Katanya pada diri sendiri.
Tapi, dalam hati kecilnya, ia mengharapkan agar #(dengan bermalam di rumah penginapan itu) Ouw Hui akan menyusul dan bereekeok lagi dengan ia.
Malam itu lewat tanpa Ouw Hui menampakkan mata hidungnya.
Pagi-pagi sekali Wan Cie-ie sudah meninggalkan rumah penginapan itu dan meneruskan perjalanannya.
Ia ingin sekali mengetahui, bagaimana pemuda itu mendapat pakaian guna menyusul ia.
Mengingat begitu, lagi-lagi ia tertawa geli.
Ia jalan perlahan-lahan, setiap hari hanya delapan puluh atau sembilan puluh lie, akan tetapi, orang yang diharap-harapkan belum juga muncul.
Satu hari, tibalah ia di Ya-kee-wan, sebelah utara Kota Siang-tam, tak jauh dari kota Tiang-see, ibu kota Provinsi Ouwlam.
Selagi mencari-cari rumah makan untuk menangsel perut, mendadak ia mendengar suara ramai-ramai di pelabuhan.
Ia mengawasi dan melihat sebuah perahu besar yang sedang berlabuh di tepi sungai, sedang di kepala perahu berdiri seorang tua yang lagi menyoja kepada orang-orang yang seperti sedang mengantarnya.
Dengan melirik, Wan Cie-ie sudah mengetahui, bahwa sebagian besar daripada pengantar itu adalah orang-orang Rimba Persilatan yang bertubuh kekar.
Dan apa yang agak luar biasa adalah, di belakang orang tua itu berdiri dua sie-wie dari Kerajaan Ceng.
Jantung si nona memukul lebih keras.
"Apakah lagi-lagi aku bertemu dengan seorang ciangbunjin yang mau berangkat ke kota raja untuk memenuhi undangan Hok-kongcu?"
Tanyanya pada diri sendiri.
Memikir begitu, ia segera menahan kudanya dan mengawasi orang tua itu secara lebih saksama.
Jenggot orang tua itu sudah putih, tapi mukanya bersinar merah dan pakaiannya indah sekali.
"Hiantee (adik) sekalian harap pulang saja,"
Katanya sembari menyoja.
Dilihat dari gerakan-gerakannya yang mantap, tak bisa salah lagi ia adalah seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi.
Orang-orang yang berada di daratan bersorak-sorai dan berteriak.
"Selamat jalan, Loosu! Kami mendoakan supaYaloosu mengangkat naik derajat Kiu-liong-pay (Partai Sembilan Naga) kita di kota raja."
Orang tua itu tertawa dan berkata.
"Tak berani aku mengharapkan itu. Aku hanya mengharap, supaya nama Kiuliong-pay tidak menjadi rusak dalam tanganku."
Kata-kata itu yang diucapkannya nyaring sekali, kedengarannya seperti kata-kata merendahkan diri, tapi sebenarnya mengandung kesombongan.
Perkataan orang tua itu disambut dengan merotoknya petasan yang dipasang di perahu dan di gili-gili.
Wan Cie-ie mengetahui, bahwa begitu lekas petasan itu terbakar habis, perahu itu akan segera meninggalkan pelabuhan.
Ia meloncat turun dari tunggangannya dan mengambil dua butir batu.
Sekali ia mengayun kedua tangannya dan dua batu itu menyambar rencengan petasan yang masing-masing kuranglebih dua tombak panjangnya.
Begitu terlanggar batu, rencengan petasan itu jatuh ke sungai dan terus padam.
Kejadian itu disambut dengan teriakan kaget oleh semua orang.
Padamnya petasan dianggap sebagai alamat yang sangat buruk.
Sejumlah orang telah melihat, bahwa petasan itu telah ditimpuk putus oleh seorang wanita yang mengenakan baju warna kuning.
Enam-tujuh orang lantas saja menghampiri dan mengurung Wan Cie-ie.
"Siapa kau?!"
Bentak seorang.
"Siapa suruh kau mengacau di sini?"
Teriak seorang lain.
"Eh, kau memutuskan petasan. Apa maksudnya?!"
Tanya seorang lain.
"Benar-benar kau pernah gegares nyali macan tutul,"
Kata orang yang satunya lagi.
"Berani betul kau main gila terhadap Ya-loosu dari Kiu-liong-pay."
Jika Wan Cie-ie bukan seorang gadis dan juga gadis cantik, siang-siang mereka tentu sudah memukul.
Ketika berhadapan dengan jago-jago Wie-to-bun dan Patsian-kiam, sedikit pun si nona tidak merasa keder, karena ia sudah mengenal baik ilmu silat kedua partai itu.
Tapi Kiuliong-pay (Partai Sembilan Naga), ia belum pernah mendengarnya.
Maka itu, sembari tertawa ia berkata.
"Sebenarnya aku menimpuk burung di atas air, tapi tak nyana, sudah kesalahan tangan. Aku sungguh merasa sangat menyesal."
Orang-orang lantas saja memberi berbagai pendapatnya.
Ada yang kata, mustahil si nona kesalahan tangan, sebab dua renceng petasan itu jatuh semuanya.
Ada yang menanya nama si nona dan maksud kedatangannya di Ya-kee-wan dan ada pula yang mengumpat caci.
"Berapa sih harganya dua renceng petasan?"
Kata Wan Cieie sembari tertawa.
"Pergi beli lagi!"
Sembari berkata begitu, ia mengeluarkan sepotong emas yang beratnya kira-kira lima tahil.
Harga emas itu adalah cukup untuk membeli seribu renceng petasan.
Melihat gerak-gerik nona itu yang sangat aneh, semua orang jadi merasa heran dan tak seorang pun yang berani menyambuti uang emas itu.
"Bukankah Tuan-tuan ini murid-murid Kiu-liong-pay?"
Tanya Wan Cie-ie sembari mesem.
"Bukankah Ya-loosu yang menjadi ciangbunjin dari Kiu-liong-pay? Dan bukankah Ya-loosu ingin pergi ke Pakkhia untuk menghadiri pertemuan para ciangbunjin yang dihimpunkan oleh Hok-kongcu?"
Mendengar pertanyaan itu, semua orang lantas saja mengangguk. Wan Cie-ie menggeleng-gelengkan kepala dan lalu berkata dengan suara menyesal.
"Sayang sungguh sayang! Petasan yang sedang dibakar mendadak bungkam, adalah serupa alamat yang sangat jelek. Paling benar Ya-loosu mengurungkan niatnya."
"Kenapa?"
Tanya seorang. Wan Cie-ie lantas saja menarik paras muka sungguhsungguh.
"Menurut penglihatanku, sinar muka Ya-loosu adalah sangat guram,"
Katanya.
"Di mukanya terdapat serupa uang hitam dan di kedua alisnya terlihat garis-garis pembunuhan. Aku berani mengatakan, bahwa jika Ya-loosu pergi juga ke kota raja, bukan saja nama Kiu-liong-pay akan berantakan tapi Ya-loosu sendiri bakal terancam jiwanya."
Paras muka semua orang lantas saja jadi berubah.
Ada yang meludah, ada yang memaki, dan ada pula yang berunding dengan suara perlahan karena hatinya sudah diguncangkan oleh perkataan si nona.
Wan Cie-ie berdiri dalam jarak yang tidak jauh dari perahu besar itu dan setiap perkataannya sudah didengar oleh Yaloosu.
Orang tua itu mengawasi si nona yang lemah lembut dan berbadan langsing kecil, seolah-olah bukan orang yang mengenal ilmu silat.
Akan tetapi, sesudah menyaksikan timpukannya yang luar biasa dan kuda putihnya yang sangat garang, Ya-loosu mengetahui, bahwa nona itu bukan sembarang orang.
Maka itu, ia segera menyoja seraya berkata.
"Bolehkah aku mengetahui she Nona yang mulia? Sudikah Nona naik ke perahu ini untuk berbicara lebih lanjut?"
"Aku she Wan,"
Jawabnya.
"Lebih baik Ya-loosu saja yang turun ke darat."
Menurut kepereayaan di Provinsi Ouwlam pada zaman itu, seseorang yang ingin berlayar dan sudah naik di perahu, tak boleh turun ke darat lagi sebelum perahu itu berlayar.
Jika kebiasaan itu dilanggar, orang itu akan mendapat akibat yang jelek, katanya.
Dari sebab itu, mendengar perkataan si nona, kedua alis Ya-loosu lantas saja berkerut, seperti juga ia sedang berpikir keras.
Harus diketahui, bahwa walaupun memiliki ilmu silat yang tinggi, sehingga ia bisa menjadi ciangbunjin dari suatu partai silat, orang tua itu sangat pereaya segala petang-petangan dan ketakhayulan.
Tadi, jatuhnya petasan ke dalam air sudah membikin hatinya jadi sangat tidak enak.
Kejadian itu disusul dengan perkataan si nona yang semakin lama jadi semakin tak enak kedengarannya.
Sesudah menimbang-nimbang beberapa saat, ia mengambil keputusan untuk tidak menghiraukan gadis jelita itu.
Ia berpaling kepada juragan perahu dan berkata.
"Hayolah berangkat!"
Anak buah perahu itu lantas saja mengangkat sauh dan beberapa antaranya segera mengangkat galah untuk menolak perahu.
"Perlahan!"
Seru Wan Cie-ie.
"Jika kau tak dengar nasihatku, belum seratus lie, perahu itu pasti sudah tenggelam dan seantero isinya bakal binasa!"
Paras muka Ya-loosu lantas saja berubah menyeramkan.
"Melihat usiamu yang masih begitu muda, aku sengaja sungkan meladeni,"
Katanya dengan suara keras.
"Jika kau terus ngaco belo, jangan menyesal, kalau aku tak berlaku sungkan-sungkan lagi."
Dengan sekali menggenjot badan, si nona sudah hinggap di atas perahu.
"Ya-loosu, jangan kau marah,"
Katanya sembari tertawa.
"Aku bicara dengan maksud baik sekali. Bolehkah aku mengetahui nama Loosu yang besar, supaya aku bisa meramalkan untuk kebaikanmu sendiri?"
Orang tua itu mengeluarkan suara di hidung dan membentak.
"Tak usah!"
"Baiklah,"
Kata Wan Cie-ie.
"Jika Loosu tak sudi memberitahukan namamu, biarlah aku meramalkan dengan memecah she Loosu saja. Loosu she Ya. Huruf ‘ya’ terdiri dari dua huruf ‘jit’ (hari) dan ‘put-jit’ (tidak hari), mempunyai arti, bahwa usia Loosu sudah tidak panjang lagi. Dalam perjalanan ini Loosu menggunakan perahu atau dengan perkataan lain, menggunakan jalan air. Jika huruf ‘ya’ ditambah dengan huruf ‘sui’ (air) dan huruf ‘co’ (rumput), maka dapatlah kita huruf ‘thong’ (pengembara). Barangkali Loosu pun mengenal syair zaman dulu yang berarti seperti berikut, ‘Thong-cu-heng-put
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com kwi’ (Si pengembara tak kembali lagi). Ini berarti, bahwa dalam perjalanan ini, Loosu tak akan bisa pulang ke kampung sendiri dan akan binasa di kampung orang."
Mendengar ramalan itu, bukan main gusarnya Ya-loosu. Tapi, karena perkataan si nona kedengarannya beralasan sekali, kegusaran itu jadi bereampur dengan kekhawatiran.
"Dusta!"
Ia membentak untuk menghibur hatinya sendiri.
"Namaku Kit dan ‘kit’ berarti ‘selamat’ atau ‘beruntung’. Apa lagi yang mau dikatakan olehmu?"
"Celaka!"
Berseru si nona.
"Untuk orang lain, huruf ‘kit’ memang baik sekali. Tapi bagi Loosu, huruf itu justru mengandung kecelakaan. Coba Loosu pikir, Loosu she Ya dan huruf ‘ya’ berarti ‘hoan’ (menukar). Apa artinya itu? Itu berarti bahwa keselamatan ditukar dengan kecelakaan!"
Ya Kit terkesiap dan tak mengeluarkan sepatah kata, sedang si nona nakal menyengir dengan perasaan puas. Sesaat kemudian, Wan Cie-ie berkata pula.
"Jika huruf ‘kit’ dipecah-pecah, maka dapatlah kita tiga huruf, yaitu ‘cap it kouw’ (sebelas mulut). Ya-loosu, ini lebih celaka lagi! Manusia biasa hanya mempunyai satu mulut, tapi kau mempunyai sebelas mulut. Jadi, kau kelebihan sepuluh mulut. Mulut apa itu? Mulut luka, mulut luka akibat bacokan golok atau pedang! Ah, Ya-loosu! Dilihat gelagatnya, dalam perjalananmu sekali ini ke kota raja, memang sudah nasibmu untuk mendapat sepuluh bacokan dan seperti si pengembara dalam syair kuno itu, jangankan badan, tulang-tulangmu juga tak akan bisa pulang ke kampung kelahiranmu!"
Semakin besar ketakhayulan seseorang, semakin takut dia mendengar perkataan-perkataan yang kurang baik.
Sesaat itu paras muka Ya Kit sudah berubah sangat menyeramkan dan sembari melirik si nona, ia berkata dengan suara dingin.
"Baiklah Nona, banyak terima kasih untuk perkataan
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com perkataanmu yang sangat berharga. Tapi, bisakah aku mengetahui siapa adanya gurumu dan siapa ayahmu?"
"Apakah kau juga ingin meramalkan nasibku?"
Tanya si nona sembari tertawa.
"Sebab apa kau ingin mengetahui asal usulku?"
Ya-loosu tertawa dingin dan berkata pula.
"Melihat usiamu yang masih begitu muda dan juga karena mengingat, bahwa kita sama sekali belum saling mengenal, maka sudah boleh dipastikan, kedatanganmu di sini adalah atas suruhan orang lain untuk mengganggu aku. Aku si orang she Ya tidak biasa berkelahi melawan segala bocah cilik dan juga, sebagai lelaki aku tak sudi bertempur dengan perempuan. Suruhlah orang yang berada di belakangmu, datang kemari. Kita coba-coba melihat, siapa yang kena sepuluh bacokan dan siapa yang tak bisa pulang ke kampung sendiri."
Sehabis berkata begitu, ia menuding Wan Cie-ie sembari berteriak.
"Siapakah manusia di belakangmu itu?"
"Orang di belakangku?"
Si nona menegas sembari tertawa dan menengok ke belakang.
Begitu menengok, hatinya terkesiap.
Ternyata, orang yang berdiri di daratan dan mengenakan pakaian petani, bukan lain daripada Ouw Hui!
Tapi sungguh pandai si nona mempertahankan diri.
Tanpa berubah parasnya, ia berkata sembari tertawa.
"Orang yang di belakangku? Aku melihat dia seperti bocah pengangon kerbau."
"Jangan berlagak pilon!"
Teriak Ya Kit dengan kegusaran yang meluap-luap.
"Yang kumaksudkan adalah manusia yang berdiri di belakangmu, yang menyuruh kau datang kemari. Jika laki-laki, jangan main sembunyi-sembunyi, suruh dia keluar! Keluar!"
Menurut dugaan Ya Kit, tak bisa salah lagi, kedatangan Wan Cie-ie adalah atas perintah salah seorang musuhnya untuk mengacau keberangkatannya ke kota raja.
"Ya-loosu,"
Kata pula Wan Cie-ie dengan paras sungguhsungguh.
"Orang kata, obat mustajab, pahit rasanya, nasihat jujur, tak enak didengarnya. Nasihatku itu keluar dari hati yang sejujurnya dan apakah kau sudi mendengar atau tidak, terserah kepadamu. Mengenai Kiu-liong-pay, jika kau tidak bisa pergi, aku bersedia untuk mewakilinya." * * * Hampir berbareng dengan meloncatnya Wan Cie-ie ke atas perahu, Ouw Hui sudah tiba di situ. Hari itu, ketika pakaiannya dicuri si nona, sedang ia sendiri mandi di sungai, tentu saja ia tak bisa mendarat dengan begitu saja. Sesudah malam, baru ia berani naik ke daratan dan mencuri seperangkat pakaian dari rumah seorang petani. Apa yang paling dipikirnya adalah kitab ilmu silat dan ilmu golok yang selalu disimpan dalam saku baju dalamnya dan baju itu sudah dibawa lari oleh si nona. Ia menduga, bahwa Wan Cie-ie memang ingin memiliki kitabnya itu, karena mulamula dia mencuri buntelan dan kemudian mencuri pakaiannya. Memikir begitu, dengan perasaan jengkel dan bingung, ia segera mengejar secepat mungkin. Tak berlama-lama, dari jauh ia sudah melihat si nona yang menjalankan kudanya perlahan-lahan. Sekarang ia menjadi sangsi. Menurut pantas, seorang pencuri tentu menyingkir selekas dan sejauh mungkin. Kenapa melarikan tunggangannya begitu perlahanlahan? Benar-benar Ouw Hui tak mengerti. Menurut pertimbangannya, jika menggunakan kekerasan, belum tentu ia bisa mengalahkan si nona. Maka itu, ia lalu menguntit secara diam-diam untuk menyelidiki gerak-geriknya dan melihat, apakah nona itu ada kawannya atau tidak. Tapi sesudah membuntuti dua hari, sama sekali Ouw Hui tidak dapat melihat gerak-gerik luar biasa dari nona itu. Hari itu, ketika tiba di Ya-kee-wan, ia mendapat kenyataan, bahwa Wan Cie-ie lagi-lagi ingin merebut kedudukan ciangbunjin.
"Ah, nona itu tentu sakit gila,"
Pikir Ouw Hui.
"Dia tentu dihinggapi penyakit gila ciangbunjin, atau dia mempunyai maksud lain yang lebih dalam."
Melihat Ya Kit dan Wan Cie-ie sudah hampir bertempur, diam-diam Ouw Hui menjadi girang.
Ia mengambil putusan menjalankan peranan si penangkap ikan yang mengantongi hasil permusuhan antara burung dan kerang.
Dengan perkataan lain, ia ingin berusaha untuk mengambil pulang kitabnya, selagi kedua orang itu bertempur.
Di saat itu, jika mau, dengan gampang ia bisa merebut kembali kuda si nona.
Akan tetapi, seperti lagu yang merdu tak akan dinyanyikan untuk kedua kalinya, begitu juga tipu yang lihai tak akan diulangi lagi.
Jika ia mengulangi siasat merebut kuda, ia khawatir ditertawakan si nona.
Maka itu dengan perlahan ia mendekati perahu, siap sedia untuk merampas buntelan si nona yang diikatkan di punggungnya.
* * * Sementara itu, mendengar perkataan Wan Cie-ie, paras muka Ya Kit jadi bersemu ungu, bahana gusarnya.
"Kalau begitu,"
Katanya dengan suara gemetar.
"kalau begitu, apakah Nona mau mengatakan, bahwa aku, Ya Kit, tak mempunyai kemampuan dan tak berhak lagi menjadi ciangbunjin dari Kiuliong-pay?"
"Bukan, bukan begitu."
Jawabnya sembari nyengir.
"Perjalanan Loosu sekali ini adalah perjalanan yang penuh bahayanya. Urusan jiwa tak boleh dibuat main-main. Maka itu, lebih baik Loosu menyerahkan kedudukan ciangbunjin kepadaku. Nasihat ini keluar dari hati yang suci dan hanyalah untukmu ...."
Baru saja ia berkata begitu, dari dalam perahu mendadak keluar dua orang lelaki yang masing-masing mencekal kiu-ciatpian (pian atau pecut yang mempunyai sembilan tekukan).
"Perempuan itu miring otaknya, tak usah Suhu meladeni ia,"
Kata lelaki yang setengah tua.
"Biar Teecu (murid) saja yang melemparkan dia ke daratan, supaya tak membikin kapiran saat yang baik untuk menjalankan perahu."
Sembari berkata begitu, ia mengulurkan tangan kirinya untuk mendorong pundak Wan Cie-ie.
"Payah! Ilmumu payah!"
Kata si nona sambil menyentil lengan orang itu. Begitu tersentil, lengan orang itu kesemutan dan tangannya turun pula dengan perlahan.
"Toasuko, gunakan senjata!"
Teriak kawannya.
Berbareng dengan suara kerontrangan, dua kiu-ciat-pian yang terbuat dari baja menyambar si nona.
Tapi karena memang bukan maksud mereka untuk mengambil jiwa orang, kedua senjata tidak menyambar ke bagian tubuh yang berbahaya.
Melihat senjata orang, Wan Cie-ie lantas saja menduga, bahwa nama Kiu-liong-pay sudah didapatkan karena orangorang partai itu terutama mahir dalam menggunakan kiu-ciatpian.
Di saat itu, kedua pian tersebut sudah hampir mengenai tubuhnya.
"Bagus!"
Katanya di dalam hati.
"Sekarang kau bertemu dengan kakek moyangmu."
Cepat bagaikan kilat, kedua tangannya menyambar dan menangkap dua ujung pian itu yang lantas saja dicantelkan satu pada yang lain.
Dalam melakukan gerakan tangannya itu tubuh si nona sama sekali tidak bergerak.
Kedua murid Ya Kit lantas membetot dengan berbareng dan betotan itu justru yang diinginkan oleh Wan Cie-ie, karena kedua kiu-ciat-pian itu lantas saja mencantel semakin keras.
Mereka bengong bahana kaget, lalu membetot pula dan sebaliknya dari terlepas, cantelan itu jadi semakin keras pula.
"Goblok! Minggir!"
Bentak Ya Kit, sembari mencengkeram jubah panjangnya dan dengan sekali mengentak, tujuh kancingnya copot semua.
Gerakan ini disusul dengan kibasan tangan kirinya dan jubah panjangnya sudah terlucut dari tubuhnya.
Demikianlah, dengan pakaian ringkas, ia berdiri di depan si nona dengan penuh keangkeran.
Semua muridnya yang berdiri di gili-gili lantas saja bersorak-sorai.
Wan Cie-ie menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata.
"Sebenarnya tak pantas kalian bersorak-sorai. Gerakan itu dinamakan Toh-pauw-siang-wie (Membuka Jubah Menyerahkan Kedudukan). Membuka jubah memang tak apa, tapi menyerahkan kedudukan adalah suatu alamat bahwa kedudukan ciangbunjin memang sudah ditakdirkan harus diserahkan kepadaku."
Ya Kit terkejut, ia lantas saja merasa, bahwa gerakannya tadi memang merupakan alamat yang kurang baik.
Ia meraba pinggangnya dan di lain saat, tangannya sudah mencekal sebuah kiu-ciat-pian yang mengilap.
Cara Ya Kit mengeluarkan senjatanya merupakan suatu keheranan, yakni kiu-ciat-pian baja itu sama sekali tidak mengeluarkan suara.
"Celaka!"
Si nona mengeluh.
"Orang ini tak boleh dibuat gegabah. Aku sendiri tak mampu menggunakan ilmu itu."
Tongkrongan Ya Kit benar-benar menyeramkan.
Dengan badannya yang tinggi besar ia mencekal kiu-ciat-piannya yang berukuran hebat, setiap tekukannya sebesar telur itik.
Waktu itu, karena sauh sudah diangkat, maka perahu jadi bergoyang-goyang tak hentinya.
Ya Kit mengayun senjatanya dan menyabet sauh itu yang lantas saja terpental dan nyemplung ke dalam air, sehingga perahu itu menjadi tetap kembali.
Itulah suatu pertunjukan kekuatan yang sangat hebat.
Jika tangan Ya Kit tidak mempunyai tenaga tujuh atau delapan ratus kati, ia tentu tidak bisa berbuat begitu.
Wan Cie-ie terkesiap.
"Tenaga orang itu sangat besar dan ilmunya tinggi,"
Pikirnya.
"Dia harus dijatuhkan dengan tipu, tak bisa dilawan dengan tenaga."
Melihat badan Ya Kit yang tinggi besar dan usianya yang agak lanjut, si nona berpendapat bahwa meskipun lweekangnya tinggi, gerak-gerik orang tua itu tentunya kurang gesit.
Berpikir begitu, ia segera mendapat suatu akal yang baik.
"Ya-loosu,"
Katanya.
"Aku adalah seorang wanita dan jika kita bertempur di kepala perahu, tak peduli menang atau kalah, pertempuran ini pasti akan berakibat kurang baik bagi perjalananmu. Maka itu, aku ingin mengusulkan supaya kita bertanding di tempat lain."
Ya Kit menyetujui usul itu, tapi ia juga sungkan turun ke darat.
"Ya-loosu,"
Kata pula si nona.
"Sekarang kita berjanji dulu, Jika aku menang, bukankah kau akan menyerahkan kedudukan ciangbunjin dari Kiu-liong-pay kepadaku? Apakah jika sampai kejadian begitu, murid-muridmu akan rela menerimanya?"
Ya Kit merasakan dadanya sesak bahana gusarnya.
"Tak rela, toh mesti rela juga!"
Bentak orang tua itu.
"Tapi, kalau kau yang kalah?"
"Aku akan berlutut di hadapanmu dan memanggil kau ayah,"
Jawab si nona sembari menyengir.
"Hanya aku memohon kau suka menyayang si anak angkat."
Sembari berkata begitu, ia meraba pinggangnya dan di lain saat, tangannya sudah mencekal pecut.
Sambil menggenjot badan, ia mengayun pecutnya yang lantas saja melibat tiang layar.
Dengan menarik pecut itu, badannya membubung ke atas dan begitu lekas lengan kirinya memeluk tiang layar, pecutnya sudah diayun lagi dan kembali melibat bagian lebih atas dari tiang itu.
Sekali lagi ia menarik pecutnya sembari mengempos semangat dan dengan gerakan It-ho-thiong-thian (Seekor Burung Ho Menembus Langit), badannya melesat ke atas dan ia hinggap persis di puncak tiang!
Itulah suatu ilmu mengentengkan badan yang sudah mencapai puncak kesempurnaan!
Tanpa merasa, semua penonton bersorak-sorai.
Ya Kit mengeluarkan suara di hidung dan melibatkan kiuciat-piannya di pinggangnya.
Begitu tangan kirinya mencengkeram tiang layar, badannya naik kira-kira dua kaki.
Sesudah tangan kiri itu, ia mengulurkan tangan kanannya yang kembali mencengkeram tiang dan tubuhnya naik lebih tinggi lagi.
Harus diketahui, bahwa tiang itu sebesar mangkuk nasi dan tak akan dapat dicekal dengan sebelah tangan.
Tapi, tenaga jeriji Ya Kit adalah sedemikian lihainya dan telapakan tangannya mengandung lweekang yang sangat dalam, sehingga, walaupun tiang tidak tereekal, bisa juga ia berbuat begitu.
Dengan cepat, tubuhnya menaik ke atas dan bagi seorang ahli, perbuatan itu merupakan suatu pertunjukan ilmu yang sangat dahsyat.
Di lain saat, Ya Kit sudah berada dalam jarak kira-kira setombak dari si nona.
Wan Cie-ie mengetahui, bahwa jika lawannya sudah naik ke atas, ia bisa jadi berabe.
Maka itu, selagi ia masih bisa menarik keuntungan dari kedudukannya yang lebih tinggi, ia segera mendului.
"Ya-loosu!"
Ia membentak.
"Pecutku mempunyai delapan belas tekukan, sembilan tekuk lebih banyak daripada pecutmu."
Berbareng dengan seruannya, ia mengayunkan senjatanya yang segera menyambar kepala Ya Kit.
Ya Kit yang kedua tangannya sedang mencengkeram tiang benar-benar berada dalam bahaya.
Jika ia berkelit badannya akan merosot ke bawah dan itu akan berarti, bahwa ia sudah kalah.
"Tak punya malu!"
Teriak salah seorang muridnya di darat.
"Tak adil!"
Seru orang kedua.
"Perempuan bangsat! Turun kau, jika berani!"
Orang ketiga mencaci.
Sesaat itu, Ya Kit sudah bergerak untuk membela diri.
Dengan lengan kiri ia memeluk tiang dan kiu-ciat-pian di tangan kanannya sudah menyambar ke atas untuk memapaki pecut si nona.
Wan Cie-ie mengetahui, bahwa jika kedua senjata lemas itu sampai kebentrok dan terlibat satu dengan yang lain, ia akan kalah tenaga dalam betot membetot.
Maka itu, pada detik terakhir, ia mengedut senjatanya untuk menghindari bentrokan.
Baru saja ia mau memecut pula, Ya Kit sudah memutar senjatanya bagaikan titiran untuk melindungi kepalanya, kemudian, sambil membentak keras, badannya "terbang"
Ke atas dan ...
ia sudah hinggap di palang tiang!
Tepuk tangan dan sorak-sorai yang gemuruh menyambut gerakan yang luar biasa indahnya itu.
Dalam pada itu, sebaliknya dari khawatir, hati Wan Cie-ie jadi terlebih mantap.
Dari gerakan kiu-ciat-pian Ya Kit, ia segera mengetahui, bahwa walaupun orang tua itu mempunyai tenaga yang sangat besar, ilmu silatnya tidak seberapa, sedikitnya masih belum dapat menandingi ilmu pecutnya.
Maka itu, dengan perasaan tenang, sambil memiringkan badannya ke kiri, Wan Cie-ie segera menyabet ke kanan.
Ya Kit yang sudah nangkring dengan selamat, juga lantas mengayun senjatanya sembari mesem.
Demikianlah, kedua lawan itu segera serang-menyerang di atas tiang yang tingginya tujuh atau delapan tombak.
Pertempuran itu, di samping memberikan pemandangan yang mengerikan, juga indah luar biasa.
Jumlah manusia yang berkumpul di tepi sungai semakin lama jadi semakin banyak, sedang di atas air, jumlah perahu juga jadi bertambah.
Ya Kit mengerti, bahwa dalam ilmu mengentengkan badan, kepandaiannya masih belum bisa menandingi lawannya.
Tapi, untung sekali, ia sekarang sudah berada di tempat yang sentosa.
Di lain pihak, Wan Cie-ie yang lincah bergerak-gerak dan mundur-maju tiada hentinya, sambil menghantam pulangpergi dengan pecutnya.
Dalam pertempuran itu, si nona mempunyai dua keuntungan, pertama, ia lebih gesit dan kedua, senjatanya banyak lebih panjang, kira-kira dua kali lebih panjang daripada kiu-ciat-pian lawannya.
Maka itu, sedang Ya Kit hanya bisa membela diri.
Wan Cie-ie menyerang kalang kabutan sesuka hatinya.
Sesudah bertempur tiga puluh jurus lebih, sambil berseru keras dan nyaring, si nona mengubah cara bersilatnya.
Dalam sekejap saja, pecutnya sudah berkelebat-kelebat bagaikan ular perak yang sedang menari-nari dan pukulan-pukulannya jadi lebih aneh lagi.
Diserang secara begitu, Ya Kit terpaksa memutarkan senjatanya secara lebih dahsyat untuk melindungi seluruh tubuhnya.
Harapan Ya Kit satu-satunya adalah berusaha untuk melibat pecut si nona dan kemudian membetotnya untuk merobohkan lawannya ke bawah tiang.
Di lain pihak, sesudah bertempur lama juga, Wan Cie-ie mengetahui, bahwa orang tua itu hanya memiliki tujuh-delapan macam pukulan yang diulangi lagi.
Dilihat sekelebatan, Wan Cie-ie memang berada di atas angin.
Tapi, keadaan yang sebenarnya bukan begitu.
Harus diketahui, bahwa cara si nona berkelahi meminta banyak tenaga dan kewaspadaan yang sepenuh-penuhnya.
Begitu dia lelah, ilmu pecutnya akan segera menjadi kalut dan sekali lengah, ia bisa terpeleset dan jatuh ke bawah.
Sebagai seorang tua yang berpengalaman, itulah yang ditunggu Ya Kit.
Ia mempertahankan diri untuk menunggu saatnya yang baik.
Wan Cie-ie tentu saja mengerti maksud Ya Kit.
Tapi karena garis pembelaan orang tua itu luar biasa rapatnya, ia tidak bisa berbuat banyak.
Jika pertempuran itu dilakukan di atas tanah datar, ia bisa menggunakan macam-macam cara, misalnya menghantam sambil berlompat tinggi, menyabet sembari menggulingkan badan, dan sebagainya.
Tapi, dengan berada di atas tiang, tentu saja ia tak bisa berbuat begitu.
Sesudah lewat lagi belasan jurus, napas si nona sudah mulai tersengal-sengal dan gerak-geriknya sudah tidak begitu gesit lagi.
Berselang beberapa jurus lagi, selagi ujung pecut si nona menyambar mukanya dengan gerakan yang tak begitu dahsyat, mendadak Ya Kit mengulurkan tangan kirinya untuk mencengkeram bola emas di ujung pecut lawan itu.
Dengan kaget, Wan Cie-ie mengedut senjatanya.
Tapi tak dinyana, sembari membentak keras, Ya Kit sudah menyabet dengan kiu-ciat-piannya.
Suatu bentrokan tak dapat dielakkan lagi dan di lain detik, kedua senjata lemas itu sudah saling melibat.
Dengan girang Ya Kit segera mengerahkan tenaga dalamnya dan membetot sekuat-kuatnya.
Wan Cie-ie mencelos hatinya karena ia merasakan lengannya terbetot keras.
Ia mengetahui, bahwa jika kekerasan dilawan dengan kekerasan, ia pasti kalah.
Dalam keadaan berbahaya itu, si nona yang galak tidak menjadi bingung.
Bagaikan kilat, ia mengambil keputusan untuk terjun ke dalam bahaya.
Ia mengempos semangatnya dan mengebaskan tangan kanannya yang mencekal pecut, sembari melepaskan senjata itu.
Pecut itu melesat dan berputar-putar bagaikan titiran melibat tiang layar dan ...
ternyata lutut Ya Kit serta lengan kanannya, juga sudah dilibat erat-erat ke tiang perahu dengan pecut Wan Cie-ie dan senjatanya sendiri!
Itulah benar-benar suatu kejadian yang tak diduga-duga!
Dalam kagetnya, buru-buru ia mengulurkan tangan kirinya untuk membuka libatan itu.
Tapi Wan Cie-ie sudah menubruk!
Dua jeriji tangan kiri si nona lantas saja menyambar untuk mengorek biji mata lawannya.
Buru-buru Ya Kit melepaskan pecut musuh yang baru saja ditangkap dengan tangan kirinya dan menyampuk serangan si nona.
Tapi, tak dinyana, serangan itu hanyalah gertakan belaka.
Begitu Ya Kit menyampuk, Wan Cie-ie menahan gerakan tangan kirinya dan pada saat yang sama, tangan kanannya menutuk jalan darah yan-goat-hiat musuh, di bawah ketiak.
Lengan kiri Ya Kit lantas saja menjadi kaku.
Ia sekarang tidak berdaya lagi, karena kedua lutut dan lengan kanannya dililit cambuk lawan.
Melihat bagaimana si nona sudah bisa merebut kemenangan pada saat yang sangat berbahaya, tanpa merasa Ouw Hui bersorak.
Tapi, sedang mulutnya masih belum tertutup, sekonyong-konyong sembilan buah kim-chie-piauw menyambar ke atas, ke arah pelbagai jalan darah si nona.
Bukan main kagetnya Wan Cie-ie.
Ketika itu, ia sedang berdiri di palang tiang layar, ia tak dapat meloncat maju atau mundur, tak bisa berkelit ke kiri atau ke kanan.
Pada saat terakhir, justru serangan itu sudah hampir mengenai tubuhnya, ia mendoyongkan badannya ke belakang dan sembilan piauw itu terbang lewat di atas tiang.
Semua orang yang tadi menahan napas, dengan serentak bersorak-sorai sembari bertepuk tangan.
Di atas tiang yang begitu tinggi, si nona memperlihatkan kepandaiannya selaku akrobat.
Kedua kakinya dicantelkan pada palang pintu tiang, tubuhnya telentang membujur di tengah udara!
Tapi si pembokong sungkan menyerah mentah-mentah.
Sekali lagi, ia melepaskan tiga buah kim-chie-piauw, sebuah menyambar ke badan si nona, yang dua melesat ke arah palang tiang layar.
Ouw Hui mengetahui, bahwa sekali ini, Wan Cie-ie tak akan dapat menolong diri lagi.
Dengan perasaan mendongkol terhadap si pembokong yang kejam, buru-buru ia melepaskan tiga batang piauw.
Berkat tenaga dalamnya yang sangat besar, meskipun Ouw Hui melepaskannya lebih belakang, tiga piauwnya bisa menyusul senjata penyerang gelap itu dan di lain saat, keenam piauw itu sudah kebentrok di tengah udara dan segera jatuh meluruk ke dalam air.
Wan Cie-ie mengerti, bahwa barusan jiwanya tergantung pada selembar rambut.
Jantungnya memukul keras dan keringat dingin mengucur di dahinya.
Baru saja ia ingin berbangkit, mendadak Ouw Hui berteriak sembari melompat ke atas perahu.
Berbareng dengan terdengarnya bunyi "bletok, kraak" , palang tiang layar yang dicantel kaki Wan Cieie, telah patah dan si nona bersama-sama dengan palang itu, melayang jatuh ke atas air.
Dengan kepala di bawah kaki di atas, Wan Cie-ie mengetahui, siapa yang membokong dan siapa yang sudah menolong padanya.
Tapi siapa yang sudah mematahkan tiang layar, ia tak dapat melihatnya.
Tapi ia tidak jatuh sendiri saja.
Tiang layar itu juga patah dan tubuh Ya Kit turut ambruk ke bawah.
Bagaimana bisa terjadi begitu?
Ternyata, sesudah lengan kirinya ditutuk, Ya Kit masih dapat menggunakan tangan kanannya.
Dengan sekali mengerahkan tenaga dalamnya, ia berhasil meloloskan tangan kanan itu, yang dililit cambuk lawannya.
Dengan girang, ia mengempos semangatnya dan mengumpulkan seluruh tenaganya di telapak tangan kanan itu yang lalu digunakan untuk menghantam palang tiang layar itu.
Palang itu menjadi patah dan si nona lantas saja jatuh ke bawah.
Pada saat itulah, sembari berteriak, Ouw Hui lompat ke atas perahu.
Ia mengerahkan tenaga dalamnya dan membentur tiang layar dengan punggungnya.
Tapi tiang yang besar itu hanya bergoyang-goyang beberapa kali.
Ouw Hui bingung.
Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan membentur pula sekuat-kuatnya.
Kali ini ia berhasil, tiang itu patah.
Sembari menahan napas, semua orang mengawasi kedua lawan itu yang tengah melayang jatuh.
Bahaya yang mengancam si nona belum habis sampai di situ.
Ia jatuh lebih dulu, disusul oleh tiang layar.
Jika tiang itu menimpa badannya, ia bisa binasa seketika.
Buru-buru Ouw Hui mengambil tambang penarik perahu yang terletak di kepala perahu.
"Sambut!"
Ia berteriak sembari melontarkan tambang itu kepada Wan Cie-ie.
Sedang badannya melayang di tengah udara, hati si nona bukan main bingungnya.
Benar ia bisa berenang dan tak akan mati di air, tapi ia merasa malu sekali jika mesti kecebur dan menjadi basah kuyup.
Demikianlah, ia segera menjambret tambang itu dengan girang.
Ouw Hui mengentak dan di lain saat, Wan Cie-ie sudah hinggap di atas perahu!
Hampir berbareng dengan turunnya di atas geladak, terdengar bunyi "jubyar"
Dan air sungai muncrat ke empat penjuru.
Itulah bunyi jatuhnya Ya Kit bersama-sama dengan tiang layar.
Sembari berteriak keras, murid-murid Kiu-liongpay terjun ke air untuk menolong guru mereka.
Di lain pihak, sembari tertawa manis Wan Cie-ie berkata.
"Ouw-toako, terima kasih banyak untuk pertolonganmu!"
Ouw Hui juga tertawa.
"Nona,"
Katanya.
"Aku she Ouw. Huruf ‘ouw’ terdiri dari tiga huruf ‘goat, sip, dan kouw’ (bulan, sepuluh, dan mulut). Bukankah itu berarti, bahwa setiap bulan aku bakal dibacok sepuluh kali?"
Si nona tertawa geli, ia sekarang mengetahui, bahwa pembicaraannya dengan Ya Kit sudah didengar pemuda itu.
"Masih untung,"
Katanya.
"Dalam namamu terdapat huruf ‘hui’ (tidak). Karena adanya huruf itu, segala bencana akan berubah menjadi keselamatan."
"Terima kasih, terima kasih banyak untuk kata-katamu yang berharga itu,"
Kata Ouw Hui sembari tertawa geli.
Pertemuan itu benar-benar menggirangkan hati Wan Cie-ie, terlebih pula karena pemuda itu sudah menolong jiwanya.
Maka itu, untuk memperbaiki perselisihan mereka, ia segera berkata pula.
"Huruf ‘hui’ dengan sendirinya berarti ‘bun-cayhui-jian’ (lemah lembut, indah sekali). Jika huruf ‘hui’ (tidak) ditambah huruf ‘co’ (rumput), kita memperoleh huruf ‘hui’ (harum). Sebagaimana kau tahu, pada sebuah syair kuno yang mempunyai bagian sebagai berikut, ‘Hong-hui-hui-sieboan-tong’ (keharuman yang semerbak memenuhi seluruh ruangan). Jika huruf ‘hui’ (merah). Kata orang, ‘Ie-hui-co-cie’ (bajunya merah ungu, warna ini di zaman dulu hanya boleh dipakai pembesar negeri)."
"Aduh!"
Kata Ouw Hui sembari meleletkan lidah.
"Kalau begitu, kau sekarang mengangkat aku menjadi seorang pembesar tinggi. Hebat!"
Demikianlah kedua orang muda itu bersenda gurau sembari tertawa-tawa, seolah-olah di situ tidak terdapat manusia lain.
Sementara itu, dengan suara ribut, Ya Kit sudah diangkat naik ke darat.
Ia tak bisa berenang dan sudah minum banyak sekali air.
Mungkin karena gusarnya, seketika itu ia pingsan dan mukanya pucat seperti kertas.
"Ah! Jika dia mati, urusan ini bisa menjadi besar,"
Pikir si nona, yang lantas saja berkata dengan suara perlahan.
"Ouw-toako, mari kita berangkat. Sudahlah, aku tak mau menjadi Ciangbunjin Kiu-liong-pay."
Ia melompat ke darat dan mengambil pecutnya yang masih melibat tiang layar.
Murid-murid Kiu-liong-pay rata-rata sudah naik darah.
Begitu si nona mendarat, enam-tujuh orang lantas menyerangnya dengan cambuk masing-masing.
Dengan sekali menyampuk, Wan Cie-ie sudah berhasil menangkis semua serangan itu.
Sembari meloncat ke luar dari gelanggang, si nona melirik Ya Kit yang rebah tanpa berkutik, entah mati, entah hidup.
Sementara itu, Ouw Hui sudah melompat ke atas punggung kudanya dan dengan menuntun si putih, ia berseru.
"Sudahlah! Ciangbunjin Kiu-liong-pay adalah kedudukan sial."
"Baiklah,"
Kata Wan Cie-ie sembari meloncat ke punggung si putih.
Murid-murid Kiu-liong-pay berteriak-teriak dan coba merintangi keberangkatan mereka.
Sesaat itu, dua orang yang bersenjata kiu-ciat-pian sudah menyabet kaki si putih.
Wan Cie-ie memutarkan badan dan memapaki serangan itu dengan cambuknya.
Begitu kebentrok, kedua pian itu sudah dilibat erat-erat oleh cambuk si nona, yang lantas saja mengedut les dan si putih sudah segera kabur.
Sesaat itu juga, kedua orang itu jatuh terguling dan terseret-seret.
Dalam kaget dan bingungnya, mereka tak ingat untuk melepaskan senjata mereka yang dililit pecut Wan Cie-ie.
Sesudah kudanya lari belasan tombak, dengan perasaan geli si nona menahan tunggangannya.
Kedua orang itu lantas bangun dengan penuh luka dan pakaian robek.
"Eh,"
Kata si nona sembari tertawa.
"Apakah pianmu senjata mestika? Kenapa kau tak mau melepaskannya?"
Tanpa menunggu jawaban, ia menendang perut si putih yang lantas saja kabur seperti terbang.
Kedua murid Kiu-liong-pay itu sadar dan buruburu melepaskan senjata mereka.
Sayup-sayup mereka mendengar suara tertawanya Wan Cie-ie yang lari berendeng dengan Ouw Hui.
Murid-murid Kiu-liong-pay hanya bisa mengawasi kaburnya kedua musuh itu tanpa bisa berbuat suatu apa.
Mereka bisa mencaci sepuas hati, tetapi apa gunanya.
Sementara itu, perlahan-lahan Ya Kit sadar dari pingsannya.
Semua muridnya lantas mengerumuninya dan menanyakan keselamatannya.
Sesudah lari jauh, baru Wan Cie-ie melemparkan kedua kiuciat-pian itu yang terbawa pecutnya.
Ia melirik Ouw Hui yang mengenakan pakaian petani, sehingga kelihatan tolol sekali.
Hatinya merasa geli tereampur berterima kasih, karena tanpa pertolongan pemuda itu, mungkin sekali ia sudah harus membuang jiwa di #Ek-kee-wan.
Sesudah berjalan beberapa jauh, Ouw Hui mendadak menegur.
"Nona, tahukah kau, berapa banyak jumlah cabang atau partai dalam Rimba Persilatan di kolong langit?"
"Tidak,"
Jawabnya sembari mesem.
"Dan kau? Apakah kau tahu?"
Ouw Hui menggelengkan kepalanya.
"Jika aku tahu, tak perlu aku menanya kepadamu,"
Sahutnya.
"Sekarang kau sudah merebut kedudukan ciangbunjin dari Wie-to-bun, Patsian-kiam, dan Kiu-liong-pay. Sampai kapan kau baru puas?"
Si nona tertawa geli.
"Biarpun aku sudah merobohkan Ya Kit, murid-muridnya masih belum takluk,"
Katanya.
"Maka itu, tak dapat dikatakan, bahwa aku sudah berhasil merebut kedudukan ciangbunjin dari Kiu-liong-pay. Mengenai partaipartai besar, seperti Thay-kek, Siauw-lim, Bu-tong, dan beberapa partai lain, aku tentu tak berani melanggarnya. Jika aku bisa merebut lagi ciangbun sepuluh partai kecil, rasanya cukuplah."
"Aduh!"
Kata Ouw Hui sembari tertawa.
"Ciong-ciangbun (pemimpin besar) dari tiga belas partai! Hebat benar kedengarannya!"
"Ouw-toako,"
Kata Wan Cie-ie.
"Kau memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Kenapa kau tak mau coba merebut beberapa kedudukan ciangbun? Di sepanjang jalan, kita bergilir, kau merebut yang satu, aku merampas yang lain. Setibanya di Pakkhia, dengan keren kita sama-sama bisa menghadiri pertemuan yang diselenggarakan Hok-kongcu, aku sebagai ciong-ciangbun dari tiga belas partai dan kau pun sebagai ciong-ciangbun dari tiga belas partai lainnya. Bukankah bagus sekali?"
Ouw Hui menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
"Tidak,"
Katanya.
"Aku tak mempunyai nyali sebesar kau dan juga tidak mempunyai kepandaian setinggi kepandaianmu. Bisa-bisa, bukannya berhasil, sebaliknya aku didupak masuk ke dalam sungai dengan pukulan Lu-tong-pin-tui-kauw (Lu Tong-pin mendupak anjing)."
Si nona tertawa terpingkal-pingkal.
"Ouw-toako,"
Katanya sembari menyoja.
"Siauwmoay (adik) meminta maaf."
"Ciong-ciangbun,"
Kata Ouw Hui sembari membalas memberi hormat.
"Aku yang rendah tak berani menerima kehormatan itu."
Melihat sikap dan tindak tanduk Ouw Hui yang simpatik, Wan Cie-ie jadi semakin senang.
"Tak heran, bahwa si bocah Tio Poan-san memuji kau,"
Katanya sembari mesem. Ouw Hui yang memang sangat ingin tahu tentang kakaknya, lantas saja menanya.
"Bagaimana dengan Tiotoako? Apa yang dikatakannya kepadamu?"
"Jika kau bisa mengejar aku, aku akan menceritakan,"
Jawab Wan Cie-ie sembari menendang perut si putih.
Ouw Hui mengerti, bahwa sebegitu lekas si putih kabur, ia tak akan dapat menyusul lagi.
Maka itu, baru saja si putih akan mementang kaki, ia sudah menggenjot badannya, yang lantas saja melesat dan hingga di punggung si putih, di belakang si nona.
Di lain saat, si putih sudah kabur keras, diikuti kuda Ouw Hui dari belakang.
Sembari mengaburkan kudanya, Wan Cie-ie merasakan mukanya panas.
Mulutnya sudah terbuka untuk bicara, tapi ia mengurungkan niatnya.
Tiba-tiba terdengar menggelegarnya guntur dan di kejauhan, awan hitam menutupi sebagian langit.
Si nona mengentak les untuk mempereepat lari kudanya.
Tak lama kemudian awan mendung sudah meluas dan hampir sampai di atas mereka.
Di sepanjang jalan tidak terdapat rumah penduduk, tapi jauh-jauh di suatu lembah, mereka melihat tembok yang berwarna kuning.
Wan Cie-ie mengaburkan tunggangannya secepat mungkin dan segera mendapat kenyataan, bahwa tembok itu adalah tembok kuil.
Di depan kuil itu digantungkan papan dengan tulisan, Siang Hui Sin-sie (Kuil Siang Hui).
Rumah berhala itu sudah banyak rusak, sudah ditelantarkan lama.
Ouw Hui melompat turun, ia membuka pintu kuil itu dan menuntun si putih masuk ke dalam.
Di saat itu, kilat berkelebat, dibarengi dengan gemuruh guntur yang menggelegar.
Meskipun berkepandaian tinggi, Wan Cie-ie terkesiap juga.
Dari ruangan depan, Ouw Hui masuk ke ruangan belakang, tapi ia tak menemukan seorang manusia jua.
Ia kembali ke ruangan depan seraya berkata.
"Ruangan belakang lebih bersih."
Sehabis berkata begitu, ia mengambil rumput kering yang terdapat di situ dan menyapu sebagian lantai di ruangan belakang itu.
Si nona tak mengeluarkan sepatah kata.
Tadi, mereka bersenda gurau sembari tertawa-tawa, tapi sesudah berdua menunggang seekor kuda, Wan Cie-ie kelihatan agak kikuk dan kemalu-maluan.
Sesudah lantai itu bersih, mereka lalu duduk berendeng dengan mulut tertutup rapat-rapat.
Beberapa saat kemudian, secara kebetulan mereka samasama menengok, sehingga dua pasang mata mereka jadi kebentrok.
Kedua-duanya melengos dengan perasaan jengah.
"Bagaimana dengan keadaan Tio-samko?"
Terdengar Ouw Hui memecahkan kesunyian.
"Baik!"
Jawabnya.
"Dia belum pernah tak baik."
"Di mana ia sekarang?"
Tanya Ouw Hui pula.
"Aku sungguh ingin menjumpainya."
"Pergi ke Huikiang,"
Kata si nona.
"Jika kau tak mati dan dia masih hidup, pasti bisa bertemu."
Ouw Hui tertawa.
"Apakah kau datang dari Huikiang?"
Ia menanya lagi. Wan Cie-ie menyengir.
"Benar,"
Sahutnya.
"Apakah romanku menunjukkan tanda-tanda penduduk Huikiang?"
"Tak tahu,"
Kata Ouw Hui.
"Aku hanya mengetahui, bahwa Huikiang adalah suatu daerah gurun pasir. Tak dinyana, di tempat yang tandus itu bisa muncul seorang gadis yang begini cantik!"
"Fui!"
Bentak Wan Cie-ie dengan wajah kemerah-merahan.
Baru saja perkataan itu keluar dari mulutnya, Ouw Hui sudah merasa menyesal.
Ia merasa, bahwa di suatu tempat yang begitu sunyi, tidak pantas ia mengeluarkan kata-kata yang agak kurang ajar.
Maka itu, ia segera beralih membicarakan soal lain.
"Mengapa Hok-kongcu menghimpunkan para ciangbunjin?"
Tanyanya.
"Bagaimana pendapatmu?"
Mendengar pertanyaan yang sungguh-sungguh itu tanpa mengandung nada bereanda, si nona melirik seraya menyahut.
"Dia sebangsa manusia mahal yang pekerjaannya sehari-hari hanya makan tidur. Mungkin sekali ia mengumpulkan para ahli silat untuk menghibur hatinya yang pepet, seperti orang mengadu jago atau jangkrik. Hanya, sungguh sayang, bahwa banyak sekali ahli-ahli silat yang sudah kena dipermainkannya."
Ouw Hui menepuk lututnya sendiri keras-keras.
"Benar perkataanmu!"
Ia berteriak.
"Aku sungguh merasa takluk. Baru sekarang aku mengetahui, bahwa sepak terjangmu sabansaban merebut kedudukan ciangbunjin, adalah untuk mengacau maksud manusia mahal itu."
Wan Cie-ie tertawa dengan perasaan senang sekali.
"Paling benar kita berdua bekerja sama untuk merebut sebanyak mungkin kedudukan ciangbunjin,"
Katanya.
"Dengan demikian, rencana Hok-kongcu akan menjadi kacau-balau dan gagal. Sesudah itu, kita pergi ke Pakkhia untuk mengacau sepuas hati kita, supaya manusia itu tak berani memandang rendah lagi ahli-ahli silat di kolong langit."
"Bagus!"
Seru Ouw Hui.
"Nona, kau maju di depan dan Ouw Hui, si kecil, akan memberi segala bantuan yang dia bisa."
"Jangan begitu sungkan,"
Kata si nona.
"Kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada aku."
Kedua orang muda itu terus bereakap-cakap dengan gembira.
Hujan sudah turun, bahkan semakin lama jadi semakin besar.
Di belakang kuil itu terdapat jurang yang bergemuruh karena turunnya air hujan.
Rumah berhala itu yang sudah lama tak pernah dibetulkan, bocor di sana-sini, sehingga kedua orang muda itu terpaksa mepet di suatu pojok.
Dengan cepat, siang sudah berganti malam.
Melihat, bahwa mereka tak mungkin meneruskan perjalanan, Ouw Hui segera pergi ke dapur dan mengambil kayu-kayu kering yang lalu dinyalakannya.
"Hujan tak mau berhenti,"
Katanya sembari tertawa.
"Apa boleh buat, kita mesti menginap di sini."
Wajah Wan Cie-ie lantas saja berubah merah dan di bawah sinar perapian, ia kelihatan lebih cantik lagi.
Dari Huikiang ia telah melalui perjalanan laksaan li dan tak jarang mesti tidur di alam terbuka.
Akan tetapi, bermalam di rumah berhala bersama seorang laki-laki, adalah suatu pengalaman yang belum pernah dialaminya.
Ouw Hui lalu mengambil jerami yang kebetulan terdapat di situ dan mengaturnya sebagian di atas meja sembahyang dan sebagian pula di lantai.
"Lu Tong-pin (salah satu dari delapan dewa) tidur di atas, si anjing yang kecebur di air tidur di bawah,"
Katanya sembari tertawa.
Sembari berkata begitu, ia merebahkan diri di atas jerami di lantai itu, membalikkan badan menghadapi tembok dan segera meremkan kedua matanya.
Diam-diam Wan Cie-ie memuji pemuda itu yang ternyata adalah seorang kesatria tulen.
"Anjing basah kuyup,"
Katanya.
"Sampai bertemu lagi besok pagi."
Ia melompat ke atas meja dan merebahkan diri juga.
Ouw Hui tak bisa lantas pulas, kupingnya mendengarkan bunyi hujan di atas genting.
Kira-kira tengah malam, selagi ia layap-layap, di kejauhan mendadak terdengar bunyi tindakan kuda.
Wan Cie-ie lantas saja bangun berduduk dan Ouw Hui segera berkata dengan suara perlahan.
"Lu Tong-pin. Ada orang!"
Tindakan kuda itu yang bereampur dengan bunyi roda-roda kereta, semakin lama jadi semakin dekat.
"Dari lohor, hujan turun terus-menerus,"
Pikir Ouw Hui.
"Siapakah orangnya, yang begitu kesusu?"
Beberapa saat kemudian, kuda dan kereta itu berhenti di depan kuil.
"Mereka akan masuk!"
Kata si nona sembari meloncat turun untuk kemudian duduk di samping Ouw Hui.
"Brak!"
Pintu terbuka. Kuda dan kereta itu agaknya dimasukkan ke ruangan depan dan di lain saat, dua tukang kereta masuk ke ruangan dalam.
"Di sini ada orang, kita di luar saja,"
Kata seorang antaranya setelah melihat Ouw Hui dan Cie-ie.
Mereka lalu keluar lagi ke ruangan depan yang sekarang sudah menjadi ramai sekali.
Dari suara pereakapan orang-orang itu, dapat ditaksir, bahwa yang berada di ruangan depan itu tidak kurang dari dua puluh orang.
Mereka membelah kayu, menyalakan api dan menanak nasi.
Mereka berbicara dalam dialek Kwitang.
Sesudah lewat berapa lama, suara mereka mulai menjadi reda.
"Tak usah menggelar tikar,"
Demikian terdengar suara seseorang.
"Sesudah makan, tak peduli hujan atau tidak, kita akan meneruskan perjalanan."
Mendengar suara itu, Ouw Hui terkejut, sedang wajah Wan Cie-ie, yang diterangi sinar perapian, juga agak berubah.
"Looyacu (bapak) terlalu berhati-hati,"
Kata seorang lain.
"Hujan-hujan begini ...."
Perkataan selanjutnya tak dapat didengar pula, karena sang hujan tiba-tiba menjadi sangat besar serta deras.
"Keadaan begini justru cocok untuk meneruskan perjalanan,"
Kata yang pertama.
"Kita tak boleh mengorbankan jiwa seluruh keluarga kita, karena temaah mengaso untuk beberapa jam. Jalan ini terlalu dekat dengan jalan raya dan kita harus menjaga, supaya kita tidak berpapasan dengan bangsat kecil itu."
Suara orang tersebut nyaring sekali, sehingga walaupun hujan turun seperti dituang-tuang, perkataannya bisa terdengar nyata.
Mendengar sampai di situ, Ouw Hui tak bersangsi-sangsi lagi.
Ia girang dan berkata dalam hatinya.
"Benar-benar dia seperti dituntun malaikat."
"Lu Tong-pin,"
Ia berbisik.
"Di luar terdapat seorang ciangbun. Biarlah, kali ini aku yang merebutnya."
Si nona tak menyahut, ia hanya menggerendeng.
Melihat wajah Wan Cie-ie yang tidak gembira, Ouw Hui merasa agak heran, tapi ia pun tak berkata suatu apa.
Sesudah meringkaskan pakaian, ia menyelipkan golok di pinggangnya dan berjalan ke luar.
Di sebelah timur, tujuh-delapan orang sedang duduk di atas lantai dan seorang antaranya bertubuh tinggi besar.
Dengan melihat bentuk tubuhnya saja, Ouw Hui sudah mengenali, bahwa ia itu adalah Lam-pa-thian Hong Jin-eng.
Sembari menyandar di toya emasnya, jago Hud-san-tin itu mendongak mengawasi langit, mungkin ia sedang memikirkan nasibnya.
Di sebelah barat, beberapa orang lagi menanak nasi dengan sebuah kuali besar.
Ouw Hui melompat dan dengan sekali menendang, kuali itu dibuatnya terpental jauh, nasinya tumpah #berarakan.
Semua orang terkejut, terutama Hong Jin-eng dan putranya yang lantas saja mengenali siapa yang datang itu.
Begitu melihat muka Hong Jin-eng yang putih montok, di depan mata Ouw Hui segera terbayang peristiwa mengenaskan di Pak-tee-bio itu.
"Hong-looya,"
Katanya dengan suara gemetar karena menahan nafsu.
"Di sini adalah Siang Hui-bio. Sungguh kebetulan, lagi-lagi kita bertemu di rumah berhala."
Sebagaimana diketahui, Sesudah membinasakan Ciong Asie serumah tangga, Hong Jin-eng segera memusnahkan harta bendanya dan terus kabur entah ke mana.
Dengan mengambil jalan kecil, siang-malam dia kabur terus-menerus.
Malam itu, jika tidak turun hujan besar, dia tentu tak akan bertemu Ouw Hui di rumah berhala tersebut.
Melihat Ouw Hui, jago Hud-san-tin itu lantas saja putus harapan, ia merasa jiwanya akan melayang di dalam Siang Hui-bio ini.
Tapi sebagai jago tulen, ia tetap bersikap tenang.
Perlahan-lahan ia berdiri, menggapai putranya dan berbicara bisik-bisik.
Agaknya ia sedang meninggalkan pesan terakhirnya.
Ouw Hui berdiri di tengah pintu, sembari melintangkan goloknya.
"Hong-looya, tak perlu kau memesan apa-apa juga,"
Katanya sembari tertawa.
"Kau sudah membasmi Ciong A-sie sekeluarga, aku pun akan membinasakan Hong-looya sekeluarga. Hong-looya sendiri akan mendapat giliran paling belakang, supaya tak usah memikirkan bagaimana akhirnya anakmu sendiri."
Perkataan itu adalah bagaikan air es yang disiramkan ke tulang punggung Hong Jin-eng.
Sedikit pun ia tak menduga, bahwa Ouw Hui yang masih begitu muda, bisa mempunyai pikiran yang begitu kejam.
Ia mengebaskan toyanya dan membentak.
"Jangan rewel! Seorang laki-laki, berani berbuat, berani menanggung akibatnya. Jika kau menginginkan jiwaku, ambillah!"
Ia meloncat dan menghantam kepala Ouw Hui, sedang tangan kirinya mengebas ke belakang, sebagai tanda supaya putranya lantas melarikan diri.
Tapi Hong It-hoa yang mengetahui, bahwa ayahnya bukan tandingan musuh, tak berkisar setindak pun juga.
Sebaliknya dari kabur, ia meloncat maju dengan golok terhunus, sembari berteriak.
"Hayo, kepung bangsat kecil ini!"
Semua pengikut itu adalah orang-orang kepereayaan Hong Jin-eng dan sebagian besar mengerti ilmu silat.
Hampir berbareng dengan teriakan It-hoa, delapan-sembilan orang sudah maju mengurung Ouw Hui.
Hong Jin-eng mengerutkan alisnya dengan perasaan mendeluh karena putranya tak mau menurut perintahnya.
Jika dengan tenaga orang banyak, ia ungkulan merobohkan Ouw Hui, ia tentu tak akan memusnahkan hartanya dan melarikan diri.
Tapi, kenyataan itu sudah tak dapat diubahnya pula.
Baginya hanya ada satu jalan, yaitu bertempur matimatian.
Tujuan satu-satunya adalah binasa bersama-sama dengan musuhnya.
Dengan adanya keputusan itu, hatinya berbalik mantap dan ia segera menyapu pinggang Ouw Hui dengan toyanya.
Di lain pihak, sebelum bergebrak, tiba-tiba Ouw Hui mendapat pikiran lain.
"Kedosaan manusia ini terlalu besar,"
Katanya di dalam hati.
"Jika dengan sekali membacok aku mengambil jiwanya, hukumannya terlalu enteng."
Memikir begitu, ia segera melemparkan goloknya ke atas dan dengan sikap memandang rendah, ia mengulurkan tangannya untuk menangkap toya musuh.
Bukan main gusarnya Hong Jin-eng, akan tetapi, karena mengetahui, bahwa musuhnya benarbenar lihai, ia tidak berani berlaku ceroboh dan buru-buru menarik pulang senjatanya.
Sesaat itu, mendadak terdengar suara "tak!"
Di wuwungan.
Ternyata, suara itu diterbitkan golok Ouw Hui, di saat menancapnya di balok wuwungan.
Pada detik itulah, sembari tertawa nyaring, Ouw Hui menyerbu sembari menggerakkan kedua tangannya bagaikan kilat.
Dalam sekejap, delapan-sembilan kaki tangan Hong Jin
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com eng sudah ditutuk jalan darahnya dan tak dapat bergerak lagi.
Dengan demikian, dalam gelanggang itu hanya ketinggalan tiga orang, yaitu Hong Jin-eng bersama putranya dan Ouw Hui sendiri.
Lam-pa-thian menggertak gigi, wajahnya pun pucat.
"Hoajie!"
Ia membentak.
"Kau masih belum mau melarikan diri ... Apakah benar-benar kau ingin memutuskan keturunan keluarga Hong?"
It-hoa merasa sangsi bereampur bingung, tak dapat ia mengambil keputusan apa yang harus dilakukannya.
Selagi ia bersangsi, Ouw Hui sudah meloncat ke belakangnya.
Hong Jin-eng terkesiap, sembari berteriak dan melompat, ia menghantam dengan toyanya.
Pada detik terakhir, Ouw Hui menunduk dan menerobos di bawah ketiak It-hoa, sambil mendorong pundak pemuda itu.
It-hoa menjadi limbung dan badannya terjengkang, memapaki toya ayahnya!
Sekali lagi semangat Hong Jin-eng terbang.
Masih untung, berkat latihannya selama puluhan tahun, ia keburu juga menahan toyanya yang hampir-hampir saja memakan jiwa putranya sendiri.
Melihat muka Lam-pa-thian yang pucat pias akibat kekagetan tadi, Ouw Hui segera mengambil keputusan untuk mengganggu manusia kejam itu dengan siasat tersebut.
Sebelum Hong It-hoa bisa berdiri tetap, ia menyambar lehernya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya lalu diangkat untuk menepuk batok kepala pemuda itu.
Sesudah menyaksikan, bagaimana Ouw Hui menghantam putus leher kura-kura batu di Pak-tee-bio, Hong Jin-eng mengetahui, bahwa sekali ditepuk, putranya tentu akan binasa.
Dengan sekuat tenaganya, ia membabat pinggang Ouw Hui dengan toyanya untuk memaksa pemuda itu menangkis senjatanya dan urung mencabut jiwa putranya.
Tapi Ouw Hui yang memang belum mau membinasakan musuhnya, sengaja memperlambat gerakan tangan kirinya.
Pada saat toya Hong Jin-eng hampir mengenai pinggangnya, secara luar biasa cepatnya, ia mengentak leher Hong It-hoa untuk memapaki toya emas itu!
Untuk ketiga kalinya Hong Jineng mengeluarkan keringat dingin.
Tapi kali itu pun, ia masih keburu mengubah gerakan toyanya yang lalu disabetkan ke kaki Ouw Hui.
"Bagus!"
Seru Ouw Hui sambil mendorong pundak It-hoa untuk menangkis.
Demikianlah, tubuh Hong It-hoa dijadikan semacam tameng yang dibulang-balingkan kian-kemari untuk menangkis setiap serangan Hong Jin-eng.
Jago Hud-san-tin itu merasakan dadanya seperti mau meledak, tapi ia tak berdaya.
Akhirakhirnya, ia jadi kewalahan.
Tapi setiap kali ia memperlambat gerakannya untuk menghentikan pertempuran, Ouw Hui mengangkat tangan untuk menghantam bagian badan It-hoa yang berbahaya, sehingga mau tak mau, ia terpaksa menyerang lagi untuk menolongnya, dan begitu lekas ia menyerang, Ouw Hui mengangkat tubuh It-hoa untuk menangkis.
Sesudah lewat beberapa gebrakan lagi, tiba-tiba Hong Jineng meloncat mundur sambil melemparkan toyanya yang jatuh bergedubrakan di atas lantai dan menghancurkan beberapa ubin.
Dengan wajah pucat seperti kertas, ia berdiri bagaikan patung tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Hong Jin-eng!"
Bentak Ouw Hui.
"Kau sayang anak, ya? Tapi bagaimana dengan anak orang lain?"
Tapi Hong Jin-eng pun bukan bangsa cecurut.
"Jangan rewel!"
Balasnya membentak.
"Aku, si orang she Hong, pernah menjagoi di Lenglam dan telah mendirikan partai Ngo-houwpay. Selama hidupku, memang aku sudah membunuh banyak sekali manusia. Anakku juga pernah mengambil jiwa tiga puluh atau empat puluh orang. Maka itu, jika hari ini kami ayah dan anak binasa dalam tanganmu, sedikit pun kami tidak merasa menyesal. Hayo! Lekas turun tangan! Mau tunggu sampai kapan lagi?"
"Kau saja bekerja sendiri!"
Bentak Ouw Hui.
"Guna apa menyusahkan tuan kecilmu?"
Hong Jin-eng tertawa terbahak-bahak.
Ia menjumput toyanya yang lalu dikemplangkan ke kepalanya.
Tapi, sebelum toya itu menghancurkan batok kepalanya, sekonyong-konyong berkelebat sesosok sinar putih dan ujung sebuah cambuk sudah melibat serta menahan toya itu.
Cambuk itu adalah cambuk Wan Cie-ie.
Si nona membetot, tapi ia tak dapat melepaskan toya itu yang dipegang keras-keras oleh Lam-pa-thian.
Dengan meminjam tenaga betotan, di lain saat tubuh Wan Cie-ie sudah melesat ke tengah udara dan hingga di dalam gelanggang pertempuran.
Begitu melihat si nona, Hong Jineng mengeluarkan seruan "ah!"
Dan paras mukanya berubah girang. Ouw Hui menengok dan karena tengokan itu, ia tak melihat perubahan paras Lam-pa-thian.
"Ouw-toako,"
Kata si nona sembari tertawa.
"Kita hanya merebut ciangbun, bukan merampas jiwa manusia."
"Nona, kau tak tahu, bahwa manusia ini besar sekali dosanya,"
Kata Ouw Hui dengan geregetan.
"Dia tak dapat dipersamakan dengan ciangbunjin lain!"
Wan Cie-ie menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jika Suhu mengetahui, bahwa aku merebut ciangbun, paling banyak ia tertawa,"
Katanya.
"Tapi jika aku membunuh orang, ia akan menjadi gusar sekali."
"Manusia ini akan dibunuh olehku,"
Kata Ouw Hui.
"Dengan Nona, hal ini tak ada sangkut pautnya."
"Salah!"
Bantah Wan Cie-ie.
"Urusan merebut ciangbun, asal mulanya datang dari aku. Orang ini adalah ciangbunjin dari Ngo-houw-pay. Maka itu, tak dapat aku mengatakan, tak ada sangkut pautnya dengan diriku."
"Nona,"
Kata Ouw Hui dengan suara jengkel.
"Dari Kwitang aku mengejar ia sampai di Ouwlam. Yang dikejar olehku adalah manusia itu. Biar bagaimanapun juga, ciangbun atau bukan ciangbun, hari ini aku mesti mengambil jiwanya."
"Ouw-toako,"
Kata Wan Cie-ie.
"Sekarang aku mau bicara sungguh-sungguh dan kuharap kau suka mendengarnya."
Ouw Hui manggut-manggutkan kepalanya dan si nona lalu berkata lagi.
"Bukankah kau tak tahu, siapa guruku?"
"Aku tak tahu,"
Jawabnya.
"Dilihat dari kepandaian Nona, gurumu tentulah juga seorang tayhiap (pendekar) dalam dunia Kang-ouw. Bisakah aku mengetahui she dan nama gurumu yang mulia?"
"Di belakang hari, kau tentu akan mengetahui she dan namanya,"
Kata pula Wan Cie-ie sembari tertawa.
"Sekarang aku hanya ingin memberitahukan kau, bahwa pada waktu mau berangkat dari Huikiang, guruku telah berkata begini, ‘Segala sepak terjangmu di daerah Tionggoan aku tak akan memedulikannya. Tapi jika kau membunuh orang, membunuh seorang saja, dengan segera aku akan mengambil jiwamu.’ Guruku adalah seorang yang bicara satu tentu satu, dua pasti dua, tak akan ia mengubah lagi perkataannya."
"Apakah manusia yang jahat kejam seperti ia juga tak boleh dibinasakan?"
Tanya Ouw Hui dengan suara penasaran.
"Benar!"
Jawab si nona.
"Waktu itu, aku juga telah mengatakan begitu kepada guruku. Tapi ia berkata begini, ‘Manusia jahat memang pantas dibunuh. Akan tetapi, kau masih begitu muda, bagaimana kau bisa membedakan siapa jahat dan siapa baik? Dalam dunia ini, ada manusia yang tertawa haha-hihi, tapi hatinya kejam seperti harimau, ada juga orang yang kelihatannya kejam, tapi hatinya sangat mulia. Sekali binasa, seorang manusia tak akan bisa hidup lagi. Maka itu, sekali kesalahan tangan, penyesalan akan dirasakan terus-menerus seumur hidup.’."
"Perkataanmu memang tidak salah,"
Kata Ouw Hui.
"Tapi sebagaimana kau tahu, manusia itu sudah mengakui, bahwa dia telah membinasakan orang yang tak dapat dihitung berapa jumlahnya. Bahwa di Hud-san-tin dia telah membinasakan rakyat yang tak berdosa, telah disaksikan dengan kedua mataku sendiri. Maka itu, dalam hal binatang she Hong itu, tak bisa aku bertindak salah."
"Ya,"
Kata Wan Cie-ie sambil menghela napas.
"Aku tak bisa berbuat lain karena adanya perintah Suhu. Ouw-toako, biarlah, dengan memandang mukaku, kau sudi mengampuninya."
Mendengar permohonan yang sangat itu, hati Ouw Hui jadi tergerak juga.
Akan tetapi, di lain saat, di depan matanya kembali terbayang pemandangan mengenaskan di saat kebinasaan keluarga Cong A-sie dan darahnya lantas saja mendidih.
"Nona Wan!"
Ia berteriak.
"Urusan di sini, anggaplah sebagai tak diketahui olehmu. Harap kau berjalan lebih dulu dan kita akan bertemu pula di Hengyang."
Wan Cie-ie memberengut dan parasnya lantas berubah gusar.
"Ouw-toako,"
Katanya dengan suara mendongkol.
"Seumur hidup, belum pernah aku memohon-mohon seperti sekarang. Tapi kau tetap menolak. Dengan kau, orang ini tak mempunyai ganjalan pribadi. Kau hanyalah memegang peranan sebagai orang luar yang turun tangan karena melihat ketidakadilan. Tapi dia sendiri sudah memusnahkan harta bendanya dan siang-malam kabur seperti dikejar setan. Dia sudah ketakutan setengah mati. Ouw-toako! Dalam dunia ini, seseorang tidak boleh menggencet sesamanya secara keterlaluan. Dalam urusan apa pun juga, kita haruslah berlaku sedikit longgar."
"Nona Wan!"
Seru Ouw Hui dengan suara nyaring.
"Apa pun yang bakal terjadi, aku mesti mampuskan manusia jahat ini. Aku akan meminta maaf kepadamu dan bersedia untuk menerima hukuman dari gurumu."
Sehabis berkata begitu, ia merangkap kedua tangannya dan menyoja sampai mengenai lantai.
"Brt!"
Pecut menyambar dan melibat golok Ouw Hui yang menancap di wuwungan. Sehabis membetot, si nona melontarkan golok itu di arah Ouw Hui.
"Ambillah,"
Katanya. Dengan rasa kagum, Ouw Hui menyambuti senjatanya.
"Ouw-toako,"
Kata Wan Cie-ie.
"Jika kau masih ingin membunuh mereka, robohkanlah aku terlebih dulu. Sesudah aku roboh, guruku tak akan marah kepadaku."
"Kalau begitu, kau tentu mempunyai maksud tertentu,"
Kata Ouw Hui dengan suara gusar.
"Apakah benar-benar gurumu berpendirian begitu kukuh?"
Si nona menghela napas dan berkata dengan suara lemah lembut.
"Ouw-toako, apakah benar-benar kau sungkan memberi muka kepadaku?"
Disinari cahaya perapian dan dengan kata-katanya yang halus merdu, Wan Cie-ie jadi kelihatan terlebih cantik lagi.
Tanpa merasa, hati Ouw Hui menjadi lumer.
Tapi kelumeran itu hanya untuk sedetik.
Ouw Hui adalah seorang yang sangat cerdas dan semakin keras permohonan si nona, semakin besar kecurigaannya.
Ia hampir dapat memastikan, bahwa hal ini mesti terselip hal-hal lain.
"Ouw Hui! Ouw Hui!"
Katanya di dalam hati.
"Jika kau kena dibikin mabuk dengan paras cantik dan menyampingkan segala peribudi manusia yang luhur, pereuma saja kau hidup di dalam dunia. Ayahmu Ouw It-to adalah seorang gagah dalam zamannya sendiri. Ouw Hui! Apa kau tak malu menjadi putra Liaotong-tayhiap Ouw It-to?"
Memikir begitu, paras muka Ouw Hui lantas saja berubah merah.
"Kalau begitu, maaflah,"
Katanya sembari menyerang dengan pukulan Toa-sam-pek, goloknya menyabet kepala si nona, tangan kirinya menimpuk ulu hati Hong Jin-eng dengan sepotong perak.
Tadi, ketika Ouw Hui mengawasi padanya dengan sorot mata mencinta, Wan Cie-ie merasa girang.
Tapi di luar dugaan, secara mendadak pemuda itu menyerang, bukan saja menyerang dirinya, tapi juga menimpuk Hong Jin-eng dengan senjata rahasia.
Ketika diserang, Wan Cie-ie berdiri sangat dekat dengan Ouw Hui, sehingga senjata cambuk yang lemas, sukar digunakan untuk menangkis sambaran golok.
Hampir berbareng, si nona mendengar kesiuran senjata rahasia berat ke arah Hong Jin-eng.
Pada detik yang sangat genting, satu ingatan berkelebat di otak si nona.
"Tak mungkin dia tega mencelakakan aku,"
Pikirnya. Memikir begitu, tanpa menghiraukan bacokan golok, ia menyabet senjata rahasia dengan pecutnya.
"Tak!"
Uang perak Ouw Hui jatuh di atas lantai.
Serangan Ouw Hui barusan itu adalah serangan yang sudah diperhitungkan dulu.
Ia mengetahui, bahwa ilmu silat Wan Cie-ie tidak berada di sebelah bawahnya.
Sekali bertempur, belum tentu ia akan memperoleh kemenangan.
Karena begitu, ia membuka serangan mendadak ke arah dua jurusan, yaitu goloknya menggertak Wan Cie-ie, sedang tangan kirinya menimpuk Hong Jin-eng dengan senjata rahasia.
Waktu itu, dalam sakunya hanya terdapat piauw yang terbuat dari uang tembaga.
Karena piauw itu tidak bisa membinasakan orang dengan sekali ditimpukkan, maka ia sudah menggunakan sepotong uang perak yang beratnya lima tahil untuk mengambil jiwa Lam-pa-thian.
Ia merasa, bahwa ia pasti akan berhasil, tapi di luar perhitungan, tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, Wan Cie-ie sudah menolong manusia kejam itu.
Ouw Hui menahan goloknya ketika mata golok itu hanya tinggal terpisah beberapa dim dari kulit kepala Wan Cie-ie.
"Apakah kau edan?"
Ia membentak.
"Karena terpaksa!"
Sahutnya sembari menyabet dengan cambuknya.
"Sambutlah,"
Katanya pula.
Ouw Hui menangkis sembari melirik Hong Jin-eng yang akan dihajarnya begitu ada kesempatannya.
Tapi, dengan cambuknya Wan Cie-ie tak memberi napas lagi kepada lawannya.
Kedua orang muda itu adalah lawan setimpal.
Dalam sekejap, mereka sudah bertarung hebat.
Lewat beberapa jurus, pecut si nona mendadak menyambar ke meja sembahyang dan menyabet jatuh sebatang lilin yang sedang menyala.
"Hm! Kau ingin memadamkan penerangan, supaya manusia she Hong itu bisa melarikan diri,"
Kata Ouw Hui di dalam hatinya.
Akan tetapi, meskipun mengetahui maksud orang, ia tak dapat mencegahnya.
Dengan hati panas, ia segera menyerang dengan Ouw-keeto-hoat, yaitu ilmu silat golok dari keluarga Ouw.
"Bagus!"
Seru si nona sembari meloncat mundur sesudah menangkis serangan itu.
Hampir berbareng dengan itu, pecutnya menggulung sebatang kayu bakar yang lalu dilemparkan ke arah Ouw Hui.
Sebagaimana diketahui, sebelum Ouw Hui keluar, rombongan Hong Jin-eng sedang memasak nasi di sebelah barat ruangan itu.
Sesudah kuali nasi ditendang Ouw Hui, kayu bakarnya kira-kira dua puluh batang, masih terus berkobar-kobar.
Dengan cepat, Wan Cie-ie mengulangi perbuatannya dan melontarkan potongan-potongan kayu bakar itu ke arah Ouw Hui, yang tidak berani menangkis dengan goloknya karena khawatir lelatu api muncrat ke muka dan pakaiannya.
Jalan satu-satunya adalah melompat ke sana sini untuk menyingkir dari sambaran api.
Di antara kegelapan, potongan-potongan kayu itu yang melayang dengan tetap menyala-nyala, memberikan pemandangan yang sangat indah.
Sementara itu, semua pengikut Hong Jin-eng, seperti murid-muridnya, tukang kereta, dan bujang-bujangnya, satu per satu sudah mengeloyor masuk ke ruangan belakang.
Orang yang masih berada di dekat gelanggang pertempuran hanyalah Hong Jin-eng dan putranya.
Selama bertempur, karena khawatir kedua manusia itu melarikan diri, Ouw Hui selalu berada di dekat pintu kuil.
Beberapa saat kemudian, semua potongan kayu itu sudah habis dilemparkan dan sebagian besar sudah padam di atas lantai, sehingga ruangan itu jadi semakin gelap.
"Ouw-toako,"
Kata Wan Cie-ie sembari tertawa.
"Hari ini, kebetulan kita sudah menjajal tenaga, marilah kita melihat siapa yang lebih unggul."
Sembari berkata begitu, ia memecut pundak Ouw Hui dengan suatu pukulan aneh.
Buru-buru pemuda itu menyampuk dengan senjatanya, tapi sabetan kedua, yang lebih aneh lagi, sudah menyusul.
Ouw Hui terkesiap dan untuk menolong diri ia terpaksa bergulingan di atas lantai.
"Jangan bingung,"
Kata si nona sembari nyengir.
"Aku tak akan melukai kau."
Perkataan itu sudah menyinggung rasa harga diri Ouw Hui.
"Apakah kau mengira, aku akan roboh dalam tanganmu?"
Katanya di dalam hati.
Dengan lantas ia mengubah cara bersilatnya dan mengeluarkan pukulan-pukulan simpanannya yang sangat dahsyat.
Sesaat itu, dalam ruangan tersebut hanya ketinggalan sepotong kayu yang masih menyala-nyala.
"Ouw-toako,"
Kata si nona.
"Ilmu memainkan cambuk ini sangat luar biasa, kau harus berhati-hati."
Sehabis berkata begitu, cambuknya menderu-deru dan benar saja, pukulanpukulannya dahsyat luar biasa.
"Bagus!"
Seru Ouw Hui sambil menutup seluruh tubuhnya dengan sinar golok.
Ia berniat mempelajari dulu ilmu pecut itu dan sesudah mengerti bagian-bagiannya yang terpenting, ia baru mau membalas menyerang.
Mendadak terdengar suara "tok!"
Lelatu api muncrat dan seantero ruangan lantas saja terbenam dalam gelap gulita.
Hujan turun semakin deras dan bunyinya yang merotok di atas genting bereampur dengan bunyi cambuk Wan Cie-ie.
Ouw Hui adalah seorang yang bernyali besar.
Tapi bertempur di dalam kegelapan dan dalam suasana yang begitu menyeramkan, jantungnya memukul keras.
Sekonyong-konyong, bagaikan arus listrik, suatu ingatan masuk ke dalam otaknya.
"Aha! Tak bisa salah lagi, tentulah dia adanya,"
Katanya di dalam hati.
"Di Pak-tee-bio, ketika orang she Hong itu mau membunuh diri, seorang wanita sudah menolong dengan timpukan pantek konde. Gerak-gerik wanita itu mirip benar dengan gerak-gerik Nona Wan."
Memikir begitu, kecurigaannya terhadap si nona jadi semakin besar.
Karena sesaat perhatiannya terpecah, pecut Wan Cie-ie sekonyong-konyong berhasil menggulung goloknya, yang hampir-hampir saja terlepas dari genggamannya.
Buru-buru Ouw Hui mengerahkan tenaga dalamnya dan membetot keras-keras.
Biar bagaimanapun juga, Wan Cie-ie adalah seorang wanita yang dalam mengadu tenaga, masih kalah setingkat dengan Ouw Hui.
Begitu dibetot, ia merasakan lengannya kesemutan, sehingga dengan cepat ia mengedut cambuknya untuk membuka libatan pada golok Ouw Hui.
Dalam gelap gulita, mereka bertempur dengan hanya mengandalkan ketajaman kuping.
Mereka berkelit, menangkis, dan menyerang dengan mendengarkan kesiuran-kesiuran angin dari senjata mereka.
"Celaka! Wan Cie-ie seorang saja aku belum mampu merobohkan,"
Pikirnya.
"Apalagi jika Hong Jin-eng dan anaknya turut turun tangan."
Pada saat itu, Ouw Hui menduga, bahwa Wan Cie-ie dan Hong Jin-eng sudah pasti berteman dan ia sekarang terjeblos ke dalam perangkap mereka.
Sesudah lewat beberapa jurus lagi, dengan geregetan Ouw Hui mengirimkan suatu bacokan yang cepat luar biasa.
Wan Cie-ie menolong diri dengan menjengkangkan tubuhnya, tapi meskipun terlolos dari bacokan, ia merasakan hawa dingin menyambar mukanya waktu golok itu lewat di ujung hidungnya!
Si nona terkesiap, sekarang ia mengetahui, bahwa Ouw Hui tak berlaku sungkan-sungkan lagi.
"Ouw-toako!"
Ia berseru sembari tertawa.
"Apakah kau marah?"
Ouw Hui tak menyahut, ia tengah memusatkan perhatiannya dan memasang kuping, untuk menjaga kalaukalau Hong Jin-eng mencoba kabur atau melepaskan senjata rahasia.
"Ouw-toako,"
Kata pula si nona.
"Kau tak meladeni? Aduh, sombongnya!"
Berbareng dengan perkataannya, ia menyabet kaki Ouw Hui.
Sabetan itu adalah sabetan luar biasa, tanpa suara, tanpa kesiuran angin, tahu-tahu sudah menyambar.
Karena tak keburu lagi, Ouw Hui membungkuk dan menangkis dengan goloknya.
Tapi di luar dugaan, dengan kedutan dan entakan aneh, tahu-tahu golok Ouw Hui sudah terlepas dari tangannya.
"Celaka!"
Ouw Hui mengeluh.
"Apakah aku mesti kehilangan jiwa di sini?"
Dalam keadaan terdesak, ia merangsek dan coba mencengkeram leher Wan Cie-ie dengan pukulan Eng-jiauw-kauw-chiu (Cengkeraman Kuku Garuda).
Pukulan itu sudah sering kali dilatihnya, tapi belum pernah digunakan dalam pertempuran.
Di lain pihak, si nona terkesiap ketika merasakan kesiuran hawa panas menyambar tenggorokannya.
Pada detik itu cambuknya baru saja menyabet dan tak mungkin ditarik pulang untuk menangkis cengkeraman Ouw Hui.
Maka itu, untuk menyelamatkan diri, Wan Cie-ie segera menjengkangkan tubuhnya dan melepaskan cambuknya yang lantas saja jatuh di atas lantai.
Sesudah berhasil dengan pukulan pertama itu, Ouw Hui menyusulkan Cin-po-lian-hoan (Majukan Kaki Secara Berantai).
Wan Cie-ie membalikkan tangannya dan menutuk jalan darah Ouw Hui, di pundak kanan.
Karena gelap, jerijinya meleset dan menyasar ke otot yang keras.
"Aduh!"
Ia berseru, jerijinya ketekuk.
Ouw Hui terkejut.
Ia mengetahui, bahwa jika tidak tertolong kegelapan, jalan darahnya tentu sudah kena ditutuk.
Sesudah mendapat pengalaman pahit, si nona segera mengubah cara bersilatnya.
Ia tak berani bertempur merapat lagi dan lari berputar-putar dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Dalam kegelapan, Ouw Hui pun tak mau terlalu mendesak dan hanya menyerang dan membela diri sekadarnya sambil memasang kuping untuk mengetahui tempat bersembunyinya Hong Jin-eng.
Tapi, sesudah memasang kuping beberapa lama, ia masih tak dapat mendengar suara napas Hong Jin-eng, karena kesiurankesiuran angin pukulan-pukulan Wan Cie-ie.
Berselang beberapa saat, Ouw Hui mendapat suatu pikiran baru.
Ia segera melompat-lompat dari timur ke barat, dari selatan ke utara, sesuai dengan kedudukan toa-su-sianghong-wie (kedudukan empat penjuru), sembari mengirimkan pukulan-pukulan dahsyat.
Jika kena, setiap pukulan itu dapat membinasakan atau sedikitnya melukai Hong Jin-eng.
Andai kata Lam-pa-thian bisa berkelit, kelitan itu sudah cukup untuk membikin Ouw Hui mengetahui tempat bersembunyinya.
Tapi, sungguh mengherankan.
Sesudah berputar-putar di seluruh ruangan, ia masih belum mendapatkan orang yang dicarinya.
"Apakah dia sudah kabur?"
Ia menanya dirinya sendiri.
"Celaka benar! Dia berkawan banyak, aku sendirian saja. Jika mereka datang menyerbu semua, bisa-bisa aku binasa di tempat ini. Seorang gagah harus bertindak dengan melihat keadaan. Biarlah hari ini aku menyingkir dulu untuk menunggu kesempatan yang lebih baik."
Memikir begitu, ia segera mendekati pintu. Mendadak berbareng dengan kesiuran angin dahsyat, dalam kegelapan lapat-lapat ia melihat sesosok bayangan tinggi besar menyambar ke arahnya.
"Bagus!"
Teriak Ouw Hui dengan girang sembari memapaki dengan kedua tinjunya. Pukulan itu hebat luar biasa dan sekali kena, Hong Jin-eng pasti akan binasa.
"Duk!"
Tinju Ouw Hui menghantam benda keras-keras dingin yang lantas saja hancur berhamburan di atas lantai. Ternyata, yang barusan menyambar ke jurusannya, adalah patung malaikat yang dipuja dalam kuil itu.
"Sungguh hebat pukulan itu!"
Seru Wan Cie-ie sembari tertawa.
Ouw Hui terkejut, suara si nona, yang bereampur dengan bergemerencingnya senjata, terdengar di luar pintu.
Ia mengetahui, bahwa Wan Cie-ie akan segera lari dengan membawa juga goloknya.
Di lain saat terdengar derap kaki kuda, yang disusul dengan teriakan nona itu.
"Hei, Lam-pa-thian! Kenapa kau kabur lebih dulu. Benar-benar kau tidak memandang kawan."
Di lain saat, di antara bunyi hujan, terdengar derap kaki kuda yang dikaburkan keras sekali.
"Sudahlah! Sudahlah!"
Keluh Ouw Hui di dalam hati.
Ia sudah dikalahkan, dikalahkan secara menyedihkan sekali.
Jika mau, ia masih bisa mengejar pengikut-pengikut Hong Jin-eng untuk melampiaskan marahnya.
Tapi, tentu saja ia sungkan melakukan perbuatan itu yang terlalu kejam.
Dari sakunya, ia mengeluarkan bahan api dan menyalakan kayu bakar yang sudah padam.
Sesudah mendapat penerangan, ia memandang seluruh ruangan itu.
Ternyata, patung Siang Hui yang dihantamnya, telah menjadi hancur lebur dan beras putih serta kayu bakar juga berhamburan di lantai.
Sang hujan masih turun terus dengan derasnya.
Dengan perasaan tak keruan, ia duduk di depan meja sembahyang sambil mengawasi perapian.
"Tak bisa salah lagi, Nona Wan dan Hong Jin-eng mempunyai hubungan rapat,"
Pikirnya.
"Dengan mempunyai sandaran yang begitu kuat dan kaki tangan yang begitu banyak, sebenarnya ia bisa melawan aku. Tapi kenapa ia memusnahkan harta bendanya dan melarikan diri? Barusan, jika mereka semua maju mengepung, aku tentu sudah celaka. Kenapa, sebaliknya dari berbuat begitu mereka kabur semuanya? Dilihat dari gerak-geriknya, pereobaan Hong Jineng untuk membunuh diri bukan tipu belaka. Dengan demikian, dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa bantuan Nona Wan diberikan tanpa diketahui lebih dulu oleh manusia itu."
Ia menghela napas berulang-ulang karena hatinya bimbang.
Di lain saat, ia ingat, bahwa dalam pertempuran dalam gelap gulita tadi, ia telah mengirim pukulan-pukulan hebat, seolah-olah si nona adalah musuh besarnya.
Mengingat begitu, pada bibirnya tersungging senyuman kecil.
"Tapi ... apakah benar-benar tadi aku sudah menurunkan pukulan-pukulan yang membinasakan?"
Ia menanya dirinya sendiri. Tadi, dalam sengitnya, seperti juga ia sudah menghantam tanpa sungkan-sungkan lagi. Tapi ... ia tak pernah menjatuhkan pukulan yang benar-benar membinasakan.
"Di waktu dia menubruk dan memukul dengan tangannya, kenapa aku tak menghajarnya dengan pukulan Coan-sim-tui (Pukulan Menembus Hati)?"
Tanyanya kepada dirinya sendiri.
"Sesudah aku membacok dengan pukulan Siang-ma-to (Bacokan di Atas Kuda) dan dia menunduk untuk berkelit, kenapa aku tidak menyusulkan pukulan Pa-ong-gie-ka (Couw Pa Ong Membuka Pakaian Perang)? Ah! Ouw Hui! Ouw Hui! Kau agaknya takut melukai ia!"
Jantungnya memukul keras dan kembali ia melamun.
"Hm!"
Katanya di dalam hati.
"Tadi di waktu cambuknya menghantam pundakku, secara mendadak ia menarik pulang senjatanya. Apakah ia sengaja berbuat begitu, atau, hanya karena kebetulan? Dan ... selain itu, waktu jerijinya menutuk ...."
Ia mengingat-ingat sesuatu pukulan si nona dan semakin diingat, hatinya jadi semakin berdebar.
"Tak salah! Tak salah lagi!"
Pikirnya.
"Dia memang sengaja sungkan mencelakakan aku. Apa ... apakah ...?"
Tak berani ia meneruskan pertanyaan itu.
Mendadak, ia merasa lapar.
Ia menengok ke arah kuali yang telah ditendangnya tadi.
Dalam kuali itu masih terdapat sedikit beras putih.
Ia segera berbangkit dan mengumpulkan sebagian beras yang berhamburan itu, ia mencucinya dengan air hujan dan segera menanaknya.
Tak lama kemudian, hidungnya mencium bau sedap dari nasi yang baru matang.
Ia menghela napas.
"Jika di saat ini, aku bisa bersantap bersama-sama dengan dia berendeng pundak ... ah!"
Ia melamun.
Ouw Hui adalah seorang manusia yang sadar, tak gampang-gampang ia menjadi mabuk.
Tapi paras Wan Cie-ie yang segar cantik, tertawanya yang menggiurkan, dan gerakgeriknya yang lincah tak dapat dihapus dari otaknya.
Seperti kehilangan ingatan, ia bengong terlongong-longong, sehingga ia tak mendusin, bahwa nasinya sudah mulai hangus.
Pada waktu itu, di luar kuil sekonyong-konyong terdengar tindakan kaki yang disusul dengan terbukanya pintu.
"Apakah dia kembali lagi?"
Pikir Ouw Hui, sembari melompat bangun.
Bukan!
Yang datang bukan si nona.
Disoroti sinar perapian, ia melihat masuknya dua orang.
Yang satu adalah seorang lelaki yang berusia kira-kira lima puluh tahun dan berbadan kurus kering.
Ouw Hui segera mengenali, bahwa orang itu bukan lain daripada Lauw Ho-cin yang pernah dijumpainya di Hong-yap-chung.
Yang lain adalah seorang wanita muda yang berusia dua puluh tahun lebih.
Sebelah tangan Lauw Ho-cin didukung dengan selembar kain hijau yang diikatkan pada lehernya, sedang wanita muda itu pun terpincang-pincang jalannya.
Sudah terang, mereka berdua telah terluka dan pakaian mereka yang basah kuyup sudah menambah penderitaan mereka.
Selagi Ouw Hui mau membuka mulut untuk memanggilnya, Lauw Ho-cin sudah berbicara dengan wanita itu.
"Coba periksa di belakang,"
Katanya.
"Baik,"
Jawab si wanita sembari mencabut golok dan berjalan ke ruangan belakang.
Sesudah berbangkis beberapa kali, Lauw Ho-cin duduk di atas lantai dan dilihat dari sikapnya, ia sedang berwaspada dan memasang kuping.
Ia melirik Ouw Hui beberapa kali, tapi ia tidak mengenalinya.
"Waktu itu aku berada di antara orang banyak dan berpakaian sebagai seorang dusun,"
Kata Ouw Hui di dalam hatinya.
"Tak heran, jika ia tidak mengenali aku."
Ia segera menghampiri kuali dan membuka tutupnya.
Ternyata, separuh nasi itu sudah menjadi hangus.
Sembari bersenyum, ia mengambil nasi dengan tangannya dan segera makan seperti macan kelaparan.
Melihat cara makannya, Lauw Ho-cin menarik napas lega.
Beberapa saat kemudian, si wanita muda keluar dari ruangan belakang dan mencekal sebatang kayu yang menyala-nyala.
"Tak ada apa-apa,"
Katanya.
Lauw Ho-cin membuang napas, ketegangan parasnya lantas saja mereda.
Dengan menyandar di meja sembahyang, ia meremkan kedua matanya untuk mengaso.
Air yang turun dari pakaiannya membasahi lantai dan air itu berwarna agak merah, seperti bereampur darah.
Si wanita, yang kelihatannya lelah sekali, menyandar di tubuh Lauw Ho-cin tanpa bergerak.
Dipandang dari cara-caranya, mereka berdua seperti suami istri, hanya usia mereka terpaut sangat jauh.
"Dalam Rimba Persilatan, ilmu silat Lauw Ho-cin sudah jarang tandingannya,"
Pikir Ouw Hui.
"Mengapa dia sudah kena dihajar sampai begitu rupa. Dari sini bisalah dilihat, bahwa di atas langit masih ada langit dan di atas manusia masih ada manusia. Tak dapat manusia berlaku sombong."
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar derap kaki kuda.
Hampir berbareng dengan itu Lauw Ho-cin meloncat bangun dan mencabut senjata dari pinggangnya.
Senjata itu adalah sebatang tombak pendek yang ada rantainya.
"Tiong-peng,"
Katanya kepada wanita itu.
"Lekas lari! Aku akan berdiam di sini untuk melawan kepadanya."
Sehabis berkata begitu, dari sakunya ia mengeluarkan sebuah bungkusan yang panjangnya kira-kira satu kaki dan memberikannya kepada wanita tersebut.
"Kirimlah ini kepadanya,"
Ia berbisik.
Wanita itu, seorang she Ong yang bernama Tiong-peng, memang benar istri Lauw Ho-cin, istri kedua sesudah yang pertama meninggal dunia.
Mendengar perkataan sang suami, mata Tiong-peng menjadi merah.
"Tidak,"
Katanya sembari menggelengkan kepala.
"Jika mesti mati, biarlah kita mati bersama-sama."
Paras muka Lauw Ho-cin lantas saja berubah gusar.
"Laksaan li kita melawan gelombang dan berkutat terus meskipun sudah terluka,"
Katanya.
"Guna apa itu semua? Jika maksud kita tidak terwujud, aku mati dengan mata melek. Pergilah! Aku akan melawan dia di sini."
Si istri merasa berat untuk meninggalkannya. Ia menangis tersedu-sedu dan berkata dengan suara terputus-putus.
"Looyacu, sesudah ... sesudah menjadi suami istri, aku tak dapat ... dapat merawat kau, sebagaimana mestinya. Dan ... dan kita harus ...."
Lauw Ho-cin membanting kaki.
"Sudahlah!"
Ia membentak.
"Jika kau bisa membereskan urusan besar ini, jasamu lebih besar daripada rawatan apa pun juga."
Ia mengebas dengan tangan kirinya dan memerintah dengan suara bingung.
"Pergi! Hayolah pergi!"
Melihat kecintaan kedua suami istri itu, hati Ouw Hui tak tega.
"Lauw Ho-cin adalah seorang baik-baik,"
Katanya di dalam hati.
"Siapakah yang menyeterukannya? Sesudah bertemu denganku, tak bisa aku tidak mencampurinya."
Beberapa saat kemudian, di luar kuil terdengar berhentinya tiga ekor kuda, dan dua berhenti di depan pintu, sedang seekor antaranya memutar pergi ke belakang.
"Sudahlah!"
Kata Lauw Ho-cin dengan suara gusar.
"Di depan dan di belakang sudah dicegat orang."
Dengan wajah bingung, Tiong-peng mengawasi ke seluruh ruangan.
Sesudah itu, ia menuntun tangan suaminya dan naik ke atas tempat patung.
Dengan sorot mata memohon, ia mengawasi Ouw Hui dan memberi isyarat dengan gerakan tangannya, supaya pemuda itu tidak membuka rahasia.
Sesudah itu, bersama sang suami, ia masuk ke dalam tempat patung itu dan menurunkan tirai sutranya yang berwarna kuning.
Beberapa saat kemudian, dua orang masuk ke dalam.
Dengan sikap acuh tak acuh, Ouw Hui terus makan nasinya.
Ketika kedua orang itu mendekati perapian, ia melirik.
Dalam usianya yang masih muda, Ouw Hui sudah pernah bertemu dengan banyak juga orang-orang Kang-ouw yang luar biasa, tapi, macam kedua orang itu, benar-benar mengejutkan.
Duadua mengenakan baju hujan dari kain minyak, muka mereka jelek luar biasa.
Alis turun, mata segitiga, sebelah besar dan sebelah kecil, hidung besar lebar dan mendongak ke atas menghiasi, atau lebih benar, memburukkan wajah mereka.
Mereka melirik Ouw Hui dan lantas masuk ke ruangan dalam.
Beberapa saat kemudian, mereka keluar lagi.
Sekonyong-konyong terdengar suatu suara aneh, disusul dengan melayang turunnya sesosok tubuh manusia dari atas genting.
Ternyata, ketika dua kawannya menggeledah di dalam, orang yang menjaga di belakang sudah meloncat naik ke atas genting untuk mengamat-amati.
"Ilmu mengentengkan badan orang itu cukup tinggi,"
Kata Ouw Hui di dalam hatinya.
Di lain saat, dengan sekali berkelebat, orang itu sudah masuk ke dalam ruangan depan.
Roman orang tersebut sangat mirip dengan dua yang lain, sehingga bisa diduga, bahwa mereka bersaudara.
Begitu mereka membuka baju hujan, sekali lagi Ouw Hui terkejut, karena mereka semua memakai pakaian berkabung dengan ikat kepala belacu putih.
"Toako,"
Kata yang baru masuk.
"Mereka berdua mendapat luka dan juga tidak mempunyai tunggangan. Menurut pantas, mereka tak bisa lari jauh. Di sekitar sini tidak terdapat rumah lain. Benar-benar mengherankan. Di mana mereka bersembunyi?"
"Mungkin di gua atau di gerombolan rumput,"
Jawab yang paling tua.
"Sekarang kita jangan takut lelah, marilah kita mencari di tempat lain. Luka mereka tidak berat, kita harus berhati-hati."
Mendengar begitu, seorang antara mereka lantas saja bertindak ke arah pintu. Tapi mendadak ia berhenti dan menengok kepada Ouw Hui sembari berkata.
"Eh, bocah! Apakah kau melihat seorang tua dan seorang wanita muda?"
Ouw Hui yang mulutnya penuh nasi, menggelenggelengkan kepalanya.
Sementara itu, orang yang dipanggil "toako" (kakak paling tua) menyapu seluruh ruangan dengan matanya yang tajam.
Melihat keadaan yang kacau-balau dan patung malaikat yang hancur berhamburan di lantai, ia jadi bereuriga dan segera menyelidiki lebih teliti.
Segera juga ia melihat, bahwa di atas lantai terdapat tapak-tapak kaki yang masih basah.
Sekali melirik, Ouw Hui mengetahui, bahwa orang itu sedang bereuriga.
"Tadi ada beberapa orang yang bertempur di sini,"
Katanya dengan cepat.
"Ada lelaki, ada perempuan, tua dan muda. Patung Siang Hui Nio-nio telah dilemparkan sampai hancur luluh. Sesudah itu, sebagian kabur, sebagian mengejar dan mereka semua menunggang kuda."
Dengan membawa beberapa potong kayu yang menyala, yang paling muda segera menyelidiki di pekarangan kuil.
Benar saja di situ terdapat tapak-tapak kaki kuda, sehingga keterangan Ouw Hui tidak perlu disangsikan lagi.
Ia kembali ke dalam dan menanya.
"Ke mana mereka pergi?"
"Ke jurusan utara,"
Jawab Ouw Hui.
"Aku bersembunyi di kolong meja, tidak berani mengawasi lama-lama ...."
Orang itu mengangguk dan mengeluarkan sepotong perak yang lantas dilemparkan kepada Ouw Hui.
"Ini untukmu,"
Katanya.
"Terima kasih, terima kasih,"
Kata Ouw Hui dengan wajah girang dan segera memungut potongan perak itu.
"Tiga setan ini mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi,"
Katanya di dalam hati.
"Jika mereka sampai bertempur dengan rombongan Hong Jin-eng, puas juga hatiku."
"Loo-toa (kakak paling tua), Loo-sam (saudara yang ketiga), mari kita berangkat!"
Kata seorang antaranya. Mereka memakai lagi baju hujan mereka dan segera berjalan ke luar.
"Racun itu hebat luar biasa,"
Kata seorang antaranya.
"Biar bagaimanapun juga, kita tak bisa membiarkan ia mendahului kita ...."
"Jika kita tidak keburu mencegat, paling benar buru-buru memberi warta,"
Kata yang lain.
"Hai!"
Kata pula yang pertama.
"Mana dia mau pereaya perkataan kita? Selain itu ...."
Perkataan selanjutnya sudah tak bisa ditangkap lagi oleh Ouw Hui karena tenggelam dalam bunyi hujan. Heran sekali hati Ouw Hui.
"Racun apa yang dimaksudkan?"
Ia menanya dirinya sendiri.
"Warta apa? Dan kepada siapa warta itu hendak disampaikan?"
Mendadak terdengar suara berkerotakan di tempat patung dan di lain saat, Lauw Ho-cin sudah turun dengan dipapah oleh istrinya.
Tempo Ouw Hui bertemu dengan orang itu di Hong-yap-chung, di waktu ia mengadu silat dengan Wan Cieie, gerak-geriknya gesit luar biasa.
Tapi sekarang, ia tak mampu turun dari tempat patung itu tanpa dibantu istrinya.
Begitu turun, Lauw Ho-cin segera memberi hormat kepada Ouw Hui seraya berkata.
"Terima kasih banyak untuk budi Siauwko (saudara kecil) yang sudah menolong jiwaku."
Buru-buru Ouw Hui membalas menghormat.
"Sungguh galak tiga orang itu,"
Katanya dengan sikap ketolol-tololan.
"Sekali membuka mulut, mereka memanggil aku ‘bocah’. Mana aku kesudian bicara terus terang?"
"Aku she Lauw,"
Orang tua itu memperkenalkan diri.
"Namaku Ho-cin. Inilah istriku. Bisakah aku mengetahui she dan nama Siauwko yang mulia?"
Ditanya begitu, Ouw Hui segera berkata dalam hatinya.
"Kau telah memberitahukan nama yang sejati, aku juga tidak boleh berdusta. Tapi namaku tidak mirip dengan nama seorang dusun. Biarlah aku mengubahnya sedikit."
Memikir begitu, lantas saja ia menjawab.
"Aku she Ouw, namaku Atoa."
Ia ingat, bahwa sebagai anak tunggal kedua orang tuanya, dengan menggunakan nama "A-toa" (putra yang sulung), ia tidak terlalu berdusta.
"Siauwko masih berusia muda,"
Kata Lauw Ho-cin pula.
"Di belakang hari, kau tentu bisa menjadi seorang hartawan ...."
Bicara sampai di situ, ia mengerutkan alisnya dan menggigit bibir, seperti sedang menahan sakit.
"Looyacu, kau kenapa?"
Tanya istrinya dengan suara bingung.
Sang suami tidak menyahut, ia hanya menggelenggelengkan kepala dan duduk menyandar di meja sembahyang dengan napas tersengal-sengal.
Si istri lalu turut duduk di atas lantai dan mengurut dada suaminya.
Melihat begitu, Ouw Hui merasa kurang enak untuk berdiam di situ lama-lama, maka, sesudah mengambil sepotong kayu yang menyala, ia lantas saja berkata.
"Looyacu, aku mau tidur di ruangan belakang."
Sehabis berkata begitu, ia lantas berlalu.
Dengan mata mendelong, ia mengawasi jerami di depan meja sembahyang.
Ia ingat, bahwa tadi Wan Cie-ie masih berbaring di atas jerami itu.
Tapi sekarang, si nona sudah pergi jauh dan apa yang ketinggalan, hanyalah kuil yang sunyi senyap dan Ouw Hui yang sebatang kara.
Lama ia berdiri bagaikan patung sambil memegang kayu bakar itu yang apinya jadi semakin kecil.
Sekonyong-konyong ia ingat akan suatu urusan penting.
"Celaka!"
Pikirnya.
"Kitab silatku telah dibawa kabur olehnya! Sampai sekarang aku masih bisa melayani ia. Tapi sesudah ia menghafal isi kitabku dan dapat memahami semua kepandaianku, sekali bergebrak saja ia bisa mampuskan aku!"
Dalam sekejap, lamunannya yang muluk sedap berubah menjadi perasaan takut.
Dengan uring-uringan ia melemparkan potongan kayu itu dan membanting dirinya di atas jerami.
Secara kebetulan, badannya jatuh di atas pauw-hoknya (buntelan pakaian).
Dalam gelap gulita, ia merasa buntelannya agak berubah, seperti juga lebih besar dari tadinya.
Ia meraba-raba dan mendapat kenyataan, bahwa isi pauw-hok itu sudah bertambah semacam benda yang agak keras.
Ia ingat, bahwa buntelan itu, tadi digunakannya sebagai bantal kepala.
Ketika ia keluar untuk menghajar Hong Jin-eng, buntelan itu masih tetap berada di tempatnya.
Tapi sekarang, pauw-hok tersebut ternyata sudah berpindah tempat.
Ouw Hui heran bukan main.
"Istri Lauw Ho-cin dan tiga saudara itu pernah datang di sini,"
Pikirnya.
"Apakah mereka yang menggerayangi buntelanku?"
Dengan rasa penasaran ia segera menyalakan api dan membuka buntelannya.
Dan begitu melihat, hampir-hampir ia tak pereaya pada kedua matanya sendiri.
Ternyata, isi buntelan itu bertambahkan seperangkat pakaian, sepasang sepatu, dan sepasang kaus kaki, yaitu miliknya sendiri yang telah dibawa lari oleh Wan Cie-ie.
Hatinya berdebar setelah ia mendapat kenyataan, bahwa pakaian itu sudah dicuci bersih.
Ia mengangkat pakaian itu untuk memeriksa terlebih jauh.
Dan ...
jantungnya memukul keras.
Di bawah pakaian itu terdapat kitab silatnya, beberapa potong emas dan sebuah hong-hong (burung hong) terbuat dari giok putih dan panjangnya kira-kira tiga dim!
Hong-hong itu indah luar biasa, terang sekali diukir oleh tangan yang pandai.
Lama sekali Ouw Hui bengong dengan mulut ternganga.
Kemudian ia membungkus pula buntelannya dan menggenggam hong-hong itu di dalam tangannya.
Ia berbaring di atas jerami itu dengan otak bekerja keras.
"Jika mau dikatakan ia berlaku manis terhadapku, kenapa ia sudah melindungi Hong Jin-eng secara begitu mati-matian?"
Tanyanya kepada diri sendiri.
"Jika dikatakan dia menyeterukan aku, kenapa dia memulangkan pakaianku yang sudah dicuci bersih, kitabku, dan juga menghadiahkan honghong yang begini indah kepadaku? Kenapa? Kenapa ...."
Ia gelisah dan tentu saja tak bisa tidur pulas.
Tiba-tiba sinar berkelebat di pintu ruangan belakang.
Ouw Hui melirik dan melihat, bahwa dengan dipapah oleh istrinya, Lauw Ho-cin sedang bertindak masuk dengan sebelah tangan mencekal sebatang kayu menyala.
"Lebih baik kita tidur di sini,"
Katanya sembari mendekati meja sembahyang, seperti juga ia ingin tidur di atas meja bekas tempat tidur Wan Cie-ie.
"Eh, Looyacu,"
Kata Ouw Hui terburu-buru.
"Kau sukar memanjat ke atas, lebih baik tidur di bawah, di sini. Ambil saja tempatku."
Berbareng dengan perkataannya, ia memanjat ke atas meja dan segera berbaring di situ.
"Siauwko sungguh berhati mulia,"
Puji Lauw Ho-cin. Berselang beberapa lama, tiba-tiba Ouw Hui mendengar suara Lauw Ho-cin berbisik.
"Tiong-peng, Siauwko ini sungguh baik hatinya. Kita harus bisa membalas budinya."
"Benar,"
Sahut si istri.
"Tanpa pertolongannya, kita tentu sudah menjadi mayat."
Lauw Ho-cin menghela napas panjang-panjang dan berkata pula.
"Barusan, sungguh berbahaya. Jika tadi Ciong-sie Samheng-tee (tiga saudara she Ciong) mengganggu dia, biar mesti mati, aku tentu akan menolongnya."
"Tentu saja,"
Kata si istri.
"Ia melindungi kita secara kesatria, kita pun harus membalasnya secara kesatria pula. Walaupun tidak mengerti ilmu silat, peribudi Siauwko ini melebihi banyak orang gagah di dunia Kang-ouw."
"Sst! Perlahan sedikit. Khawatir dia bangun."
Kata sang suami. Sehabis berkata begitu, ia memanggil.
"Siauwko! Siauwko!"
Ouw Hui tidak menyahut, ia pura-pura pulas.
"Ia pulas,"
Bisik Tiong-peng.
"Hm!"
Kata Lauw Ho-cin. Beberapa saat kemudian ia berkata pula.
"Tiong-peng, tadi di waktu aku memerintahkan kau kabur, kenapa kau membangkang?"
"Hai! Kau terluka berat, mana aku tega,"
Jawabnya.
"Kau sendiri tahu, bahwa surat ini luar biasa pentingnya,"
Kata sang suami.
"Jika tidak diserahkan ke dalam tangan Kimbian-hud Biauw-tayhiap, tak tahu berapa banyak orang gagah akan binasa ...."
Ouw Hui terkesiap mendengar kata-kata "Kim-bian-hud Biauw-tayhiap".
Hampir-hampir ia mengeluarkan seruan "ah".
Ia mengetahui, bahwa dengan mendiang ayahnya, Biauw Jinhong mempunyai semacam sangkutan yang luar biasa.
Menurut kata orang-orang Kang-ouw, ayahnya telah binasa dalam tangan Kim-bian-hud.
Akan tetapi, setiap kali ia menanya Peng Sie-siok, yaitu orang yang sudah merawatnya sedari bayi, paman itu selalu mengatakan, bahwa yang didengarnya itu semua tidak benar dan jika nanti ia (Ouw Hui) sudah besar, ia akan menceritakan hal itu seterang-terangnya.
Di waktu masih kecil, Ouw Hui pernah bertemu muka dengan Biauw Jin-hong di Siang-kee-po.
Apa yang diingatnya adalah seorang yang gagah budiman.
"Sst! Jangan keras-keras!"
Bisik Tiong-peng.
"Ini adalah rahasia besar."
"Benar,"
Kata suaminya.
"Kita mengetahui, bahwa kita berkorban untuk kepentingan orang-orang gagah dalam Rimba Persilatan. Tindakan kita adalah bebas dari maksudmaksud pribadi. Maka itu, Tuhan tentu akan memberkahi kita dan kita pasti akan berhasil."
Kata-kata itu diucapkan dengan suara yang angker dan sungguh-sungguh, sehingga Ouw Hui merasa terharu sekali.
"Jika untuk kepentingan para orang gagah, aku pasti akan membantu Lauw Ho-cin supaya surat itu bisa sampai di tangan Biauw Jin-hong,"
Kata Ouw Hui di dalam hatinya.
Sampai di situ, suami istri itu tidak bicara lagi.
Berselang beberapa lama, dalam keadaan layap-layap, tiba-tiba Ouw Hui mendengar derap kaki kuda yang mendatangi dari sebelah utara.
Ia terkejut dan menduga, bahwa Ciong-sie Sam-heng-tee datang kembali.
"Sekali ini Lauw Ho-cin tak akan bisa bersembunyi,"
Pikirnya.
"Paling benar aku mencegah mereka di tengah jalan. Andai kata aku tak bisa mengusir mereka, sedikit Lauw Ho-cin dan istrinya masih mempunyai kesempatan untuk melarikan diri."
Memikir begitu, perlahan-lahan ia meloncat turun dan begitu keluar dari pintu kuil, ia lari bagaikan terbang untuk memapaki Ciong-sie Sam-heng-tee.
Ketika itu, hujan sudah berhenti.
Lari belum berapa lama, jauh-jauh Ouw Hui sudah melihat tiga penunggang kuda yang mendatangi dengan cepat sekali.
Ia mengadang di tengah jalan dan begitu mereka tiba, ia membentak.
"Gunung ini dibuka olehku dan pohon-pohon ditanam olehku. Siapa juga yang mau lewat, harus membayar uang jalan!"
Orang yang berjalan paling dulu, tertawa terbahak-bahak.
"Aha! Dari mana bangsat kecil ini?"
Katanya sembari tertawa dan mengedut les, sehingga kudanya lantas saja menerjang Ouw Hui.
Cepat bagaikan kilat, sambil mengerahkan tenaga dalamnya, tangan kiri Ouw Hui menjambret les yang lalu dientaknya.
Hebat benar entakan itu!
Kuda itu terhuyung beberapa tindak dan roboh di tanah.
Masih untung penunggangnya keburu meloncat turun dan tiba dengan selamat di atas tanah.
Bukan main kagetnya ketiga saudara itu.
Yang dua lantas saja turun dari masingmasing kudanya dan mereka bertiga segera berdiri berjajar dengan mencekal senjata aneh bentuknya.
Fajar sudah menyingsing, tapi awan mendung masih menutupi seluruh langit sehingga keadaan masih agak gelap.
Ouw Hui mengawasi, tapi ia masih tak tahu, senjata apa yang dicekal mereka.
"Ciong-sie Heng-tee dari Ouwpak Utara merasa bersalah karena di waktu lewat di sini, mereka belum mengunjungi Tuan,"
Kata seorang antaranya.
"Bisakah kami mengetahui she dan nama Tuan yang mulia?"
Ketika baru bertemu, mereka sebenarnya memandang sebelah mata kepada Ouw Hui yang masih begitu muda.
Akan tetapi, dorongan tadi, yang hebat bukan main, dengan serentak sudah mengubah pandangan mereka.
Maka itu, pembicara barusan, yakni Ciong Tiauw-eng, sudah mengeluarkan kata-kata yang sangat hormat.
Mendengar perkataan itu, Ouw Hui yang selamanya berhati-hati lantas saja menjawab.
"Aku she Ouw. Bolehkah aku mendengar nama besar ketiga Tuan?"
Ciong Tiauw-eng bingung mendengar pertanyaan itu.
"Nama Ciong-sie Sam-hiong (Tiga Jago she Ciong) terkenal di seluruh negara,"
Katanya di dalam hati.
"Kenapa dia mesti menanya lagi? Dilihat begini, pengalamannya masih cetek sekali."
Memikir begitu, lantas saja ia berkata.
"Aku bernama Tiauw-eng. Yang itu adalah kakakku Tiauw-bun, yang ini adikku Tiauw-leng. Karena mempunyai urusan penting, kami mengharap, agar Ouw-toako sudi membuka jalan. Nanti di waktu kembali, kami tentu akan mengaturkan terima kasih kepada Ouw-toako yang sudah membuka gunung ini."
Sehabis berkata begitu, ia mengangkat kedua tangannya dan menyoja.
Harus diketahui, bahwa Ciong-sie Sam-heng-tee adalah orang-orang ternama dalam Rimba Persilatan.
Bahwa mereka sudah berlaku begitu sungkan terhadap seorang houw-pwee (orang muda), adalah kejadian yang luar biasa.
Perasaan segan sudah muncul karena mereka menyaksikan lihainya Ouw Hui di waktu ia mengentak kuda.
Selain itu, terdapat kemungkinan besar, bahwa pemuda itu datang bukan seorang diri, mungkin gurunya atau kawannya yang lihai berada di dekat tempat itu.
Ouw Hui segera membalas penghormatan itu dan berkata.
"Janganlah Loosu memakai begitu banyak peradatan. Apakah Samwie sedang mencari suami istri Lauw Ho-cin?"
Sesaat itu, cuaca sudah terang.
Ketiga saudara lantas saja mengenali, bahwa pemuda yang mencegat mereka, adalah si orang dusun yang tadi sedang makan nasi di rumah berhala.
Mereka mendongkol bukan main, sebab sudah kena dikelabui seorang bocah.
Di lain pihak, Ouw Hui pun sudah melihat nyata senjatasenjata ketiga saudara itu yang sangat aneh.
Senjata Ciong Tiauw-bun adalah kok-song-pang (tang-thung, tongkat yang biasa dibawa oleh hauw-lam, anak lelaki yang orang tuanya meninggal dunia), senjata Tiauw-eng ialah thie-pay (papan nama di meja abu, terbuat dari besi) yang panjangnya kirakira satu kaki dan yang di atasnya bertuliskan beberapa huruf, sedang yang paling aneh adalah senjata Tiauw-leng, yaitu ciauw-hun-hoan (bendera untuk memanggil roh yang biasa ditancap di meja sembahyang).
Di samping senjata mereka yang aneh, pakaian mereka pun tidak kurang anehnya.
Dengan mengenakan pakaian berkabung, ditambah pula dengan roman mereka yang jelek luar biasa, sebelum bertempur, musuh yang tanggung-tanggung tentu sudah ketakutan terlebih dulu.
Demikianlah, melihat senjata-senjata aneh itu, Ouw Hui berwaspada dengan memusatkan seluruh perhatiannya.
"Pernah apakah tuan dengan Lauw-loosu?"
Tanya Tiauweng.
"Dengan Lauw-loosu, aku tak mempunyai hubungan suatu apa,"
Jawab Ouw Hui.
"Dengan ia, hari ini aku baru bertemu untuk kedua kalinya. Hanya karena Samwie sudah mendesaknya secara keterlaluan, barulah aku memberanikan hati untuk memohonkan belas kasihan. Kata para pujangga, jika kita bisa memaafkan, maafkanlah, karena kita pun seringsering perlu mendapat maaf. Lauw-loosu suami istri sudah mendapat luka, maka itu aku minta Samwie suka berlaku sedikit murah hati."
Ciong Tiauw-bun mendengarkan pembicaraan itu dengan tidak sabar.
Ia khawatir, bahwa dengan menggunakan kesempatan tersebut, Lauw Ho-cin akan melarikan diri.
Sembari melirik saudaranya, perlahan-lahan ia berkisar untuk menghantam Ouw Hui dari jurusan samping.
"Ganjalan apa yang terdapat antara Samwie dan Lauwloosu, sama sekali aku tidak tahu,"
Kata Ouw Hui pula.
"Aku hanya mengetahui, bahwa sekarang ini Lauw-loosu mempunyai suatu tugas yang belum selesai. Apakah tak mungkin Samwie baru mencarinya, sesudah tugas itu selesai dikerjakannya?"
"Kami justru tak mau membiarkan ia menyelesaikan pekerjaan itu,"
Kata Tiauw-bun dengan gusar.
"Pendek saja, Kau mau minggir atau tidak?"
Mengingat pembicaraan antara Lauw Ho-cin dan istrinya, bahwa tugas itu adalah untuk kepentingan segenap orang gagah dalam Rimba Persilatan dan melihat roman Ciong-sie Sam-heng-tee yang begitu garang, lantas saja Ouw Hui mengambil keputusan untuk merintangi mereka dengan kekerasan.
Ia tertawa bergelak-gelak dan berkata dengan suara nyaring.
"Kau mau aku minggir? Boleh! Tapi serahkan dulu tiga ratus tahil perak!"
Bukan main gusarnya Tiauw-bun. Ia mengebaskan koksong-pangnya dan bergerak untuk menerjang.
"Toako, tahan!"
Kata Tiauw-eng sembari merogoh sakunya dan mengeluarkan empat potong perak.
"Empat potong perak ini lebih dari tiga ratus tahil,"
Katanya.
"Ambillah!"
"Jietee! Apa artinya ini?"
Teriak Tiauw-bun.
Ciong-sie Samhiong (Tiga Jago she Ciong) adalah orang-orang ternama yang disegani dalam kalangan Kang-ouw.
Ia sungguh penasaran melihat adiknya memperlihatkan kelemahan yang keterlaluan di hadapan seorang bocah.
Tapi Tiauw-eng mempunyai alasan lain.
Untuk mengejar Lauw Ho-cin, mereka harus bertindak secepat mungkin.
Meskipun ia yakin, bahwa dengan tiga melawan satu, pihaknya akan bisa merobohkan pemuda itu, akan tetapi, sedikit kelambatan saja, urusan besar itu bisa menjadi gagal.
Itulah sebabnya, mengapa, walaupun mendongkol bukan main, ia terpaksa mengalah.
Sikap Tiauw-eng benar-benar di luar dugaan Ouw Hui.
Tapi lantas saja ia menggelengkan kepala.
"Terima kasih, terima kasih!"
Katanya.
"Menurut Ciong Loosu, berat empat potong itu melebihi tiga ratus tahil. Tapi permintaanku adalah seratus tahil dari seorang, jadi tiga ratus tahil dari tiga orang. Lebih aku tak mau, kurang pun aku tak menerima. Begini saja, Marilah kita bersama-sama pergi ke kota, ke toko perak, untuk menimbangnya!"
Sampai di situ, habislah kesabaran Tiauw-eng yang terkenal sabar. Ia masukkan pula perak itu ke dalam sakunya dan berkata.
"Toako, Samtee, pergilah kalian jalan lebih dulu."
Ia berpaling kepada Ouw Hui seraya membentak.
"Hunuslah senjatamu!"
Ouw Hui mengetahui, bahwa ia sedang menghadapi lawan berat dan hatinya mendongkol karena goloknya telah direbut Wan Cie-ie.
Saat itu, Tiauw-bun dan Tiauw-leng sudah bergerak untuk kabur lewat di kedua sampingnya.
Tindakan apa harus diambilnya?
Mendadak ia maju dua tindak dan menghantam kepala kuda Tiauw-eng dengan tinjunya.
Pukulan itu adalah pukulan terhebat dari Ouw-kee Kun-hoat.
Begitu kena, hewan itu bergemetar tubuhnya dan roboh tanpa berkutik lagi.
Ciong-sie Sam-heng-tee jadi kesima bahana kagetnya.
Dengan menggunakan kesempatan itu, Ouw Hui membetot tali sepasang sanggurdi kuda itu yang lantas saja menjadi putus.
"Maaf! Maaf!"
Katanya.
"Karena tidak membawa senjata, terpaksa aku meminjam sanggurdi ini."
Berbareng dengan perkataannya, sebuah sanggurdi menyambar muka Tiauwbun, sedang yang satu lagi menghantam pundak Tiauw-leng.
Dengan demikian, mereka terpaksa meloncat mundur dan gagal menerobos.
Sebagaimana diketahui, dulu ketiga saudara itu bersenjata poan-koan-pit.
Tapi, sedari delapan tahun berselang, yaitu semenjak dirobohkan Biauw Jin-hong, karena malu, mereka tidak menggunakan lagi poan-koan-pit dan lalu melatih diri dengan senjata-senjata baru yang aneh.
Selama delapan tahun, mereka telah mendapat kemajuan pesat dan mereka ingin sekali menjajal pula kepandaian Kim-bian-hud.
Tapi tak dinyana, sebelum bertemu dengan Biauw Jin-hong, di daerah pegunungan itu, mereka sudah dibikin malu oleh seorang bocah yang belum hilang bau popoknya.
Serentak mereka menerjang dengan masing-masing senjatanya yang mengeluarkan kesiuran angin menderu-deru.
Ouw Hui pun segera memutar kedua sanggurdi itu, yang digunakannya sebagai liu-seng-tui (banderingan) untuk melayani ketiga lawannya.
Dengan cepat, mereka sudah bertempur kurang lebih tiga puluh jurus.
Begitu bergebrak, Ciong-sie Sam-hiong yang berpengalaman luas, coba menebak asal usul ilmu silat Ouw Hui.
Melihat sambaran sanggurdi di tangan kanan Ouw Hui, mereka segera menduga, bahwa pukulan itu yang mirip dengan Pek-hong-koan-jit (Bianglala Putih Menembus Matahari), adalah pukulan dari Thio-kee Tui-hoat (ilmu banderingan dari keluarga Thio) di Ceng-ciu, Provinsi Shoatang.
Menurut kebiasaan Thio-kee Tui-hoat, Sesudah Pek-hong-koan-jit, banderingan yang satunya lagi akan menyabet dari samping.
Sesaat itu, Kok-song-pang Ciong Tiauw-bun tengah menyontek dari bawah ke atas dan di bagian kepala Tiauw-bun terdapat suatu lowongan.
Dengan cepat Ouw Hui mengedut tali sanggurdi yang lalu menyambar kepala Tiauw-bun.
Ciong-sie Sam-hiong kaget berbareng heran.
"Silat apakah ini? Kenapa, sebaliknya dari menyabet dari samping, dia menghantam dari atas?"
Mereka menanya diri sendiri.
Melihat Tiauw-bun menangkis dengan toyanya, Ouw Hui segera menyapu Tiauw-leng dengan sanggurdi yang di tangan kanannya.
Ciong-sie Sam-heng-tee mengangguk-angguk.
Tak bisa salah lagi, itulah pukulan Yang-bie-touw-kie (Menggerakkan Alis Memuntahkan Hawa) dari Tie Sip Tui di Yanciu, Provinsi Siam-say.
Sesudah Yang-bie-touw-kie, kedua sanggurdi itu pasti akan menghantam dada.
Memikir begitu, mereka bertiga lantas saja melintangkan senjata mereka di depan dada, untuk menyambut kekerasan dengan kekerasan.
Tapi, di luar semua perhitungan, sebaliknya dari menyerang dada, Ouw Hui menyapu kaki mereka dengan kedua senjatanya.
Dengan kaget, Ciong-sie Sam-hiong melompat tinggi-tinggi.
"Eh-eh!"
Seru seorang antaranya.
"Kenapa Hoanthian-hok-tee (Membalikkan Langit dan Bumi)?"
Sembari melompat, Ciong Tiauw-leng menanya.
"Eh, masih pernah apakah kau dengan Liu-seng-kan-goat Tong-loosu dari Thaygoan-hu?"
Tong-loosu atau ahli silat she Tong dari Thaygoan-hu di Provinsi Shoasay adalah seorang ahli dalam menggunakan sepasang liu-seng-tui (liu-seng-tui berarti martil bintang sapu atau banderingan).
Oleh karena itu, ia mendapat julukan Liuseng-kan-goat (Bintang sapu mengejar bulan).
Dengan Ciongsie Sam-hiong, Tong-loosu mempunyai hubungan yang sangat rapat.
Pukulan Hoan-thian-hok-tee adalah salah satu pukulan yang paling lihai dari ahli silat tersebut dan yang sukar ditiru oleh orang lain.
Mendengar pertanyaan itu, sembari tertawa Ouw Hui menjawab.
"Tong-loosu adalah suteeku (adik seperguruan)."
"Fui! Jangan ngaco belo!"
Bentak Tiauw-leng dengan suara gusar.
Demikianlah, keheranan Ciong-sie Sam-heng-tee jadi semakin besar.
Sesudah berkelana di seluruh negeri, mereka mengenal semua ilmu liu-seng-tui yang terdapat dalam Rimba Persilatan.
Tapi cara Ouw Hui bersilat yang aneh, sudah membikin mereka bingung.
Dalam suatu pertempuran yang sungguh-sungguh, Ciongsie Sam-hiong sebenarnya bisa merobohkan Ouw Hui tanpa menampak banyak kesukaran.
Tapi, karena kebingungan mereka, ditambah dengan rasa jeri sebagai akibat dari pukulan terhadap tunggangan mereka, mereka jadi gentar dan kegentaran ini sudah digunakan sebaik-baiknya oleh Ouw Hui.
Sesudah lewat puluhan jurus, barulah ketiga saudara itu insaf, bahwa ilmu silat banderingan Ouw Hui tidak terlalu lihai.
Hati mereka jadi lebih mantap dan mereka menyerang dengan ilmu mereka yang sudah dilatih selama delapan tahun itu.
Thie-pay Ciong Tiauw-eng, yang terbuat dari besi, digunakan untuk menyerang dengan tenaga "keras".
Sekarang Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa empat huruf yang tertulis di atas pay itu adalah "It-kian-seng-cay" (Begitu bertemu begitu makmur).
Bendera ciauw-hun-hoan dari Ciong Tiauw-leng digunakan untuk melancarkan serangan tenaga "lembek".
Ouw Hui tak tahu, dari bahan apa bendera itu dibuat, bukan kain dan juga bukan kulit.
Setiap kali terpukul sanggurdi "kain"
Bendera itu dirasakan "lembek", tapi jika bendera itu lewat di dekat badannya, Ouw Hui merasakan kulitnya pedas sekali.
Kok-song-pang Ciong Tiauw-bun menyerang dengan tenaga yang sedang-sedang yaitu di antara tenaga "keras"
Dan tenaga "lembek".
Demikianlah ketiga senjata itu menyerang Ouw Hui dengan tiga macam tenaga yang bekerja sama.
Dalam sekejap, Ouw Hui sudah keteter.
Sesudah lewat lagi beberapa jurus, tiba-tiba ia meloncat ke luar dari gelanggang seraya berseru.
"Tahan! Sebenarnya dengan tulus hati aku ingin membujuk Samwie dan sama sekali tidak punya niat bermusuh. Tanpa senjata, aku tentu tak dapat melawan Samwie dan sekarang aku menyerah kalah saja."
Sembari berkata begitu, ia meloncat minggir ke tepi jalan.
Ciong-sie Sam-hiong mengetahui, bahwa dengan kata-kata itu Ouw Hui bermaksud membikin panas hati mereka.
Tapi karena adanya urusan penting dan mereka harus berangkat secepat mungkin, Ciong Tiauw-leng lantas saja berkata.
"Baiklah. Lain kali, dengan senjata yang biasa kau gunakan, kau boleh mencoba-coba lagi."
Berbareng dengan perkataannya, ia lantas menghampiri tunggangannya.
"Lain kali?"
Kata Ouw Hui sembari tertawa menyindir.
"Bagus! Lain kali saja. Tak dinyana, Ciong-sie Sam-heng-tee adalah manusia-manusia yang begitu saja."
"Apa kau kata?"
Bentak Ciong Tiauw-bun.
"Siapa menyuruh kau tidak membawa senjata?"
"Sebenarnya aku sudah mempunyai suatu cara yang adil,"
Kata Ouw Hui dengan tenang.
"Hanya, aku khawatir kalian tak berani."
Ciong-sie Sam-hiong tak dapat bersabar lagi.
"Hayo katakan!"
Mereka berseru hampir berbareng. Sebelum Ouw Hui keburu membuka mulut, Ciong Tiauweng sudah berkata pula.
"Kedua saudaraku akan melayani kau di sini, sedang aku mau berangkat lebih dulu."
Sehabis berkata begitu, ia menggenjot badannya terus melompat.
Hampir berbareng dengan itu, Ouw Hui yang terus berwaspada turut melompat ke atas sambil mementang kedua tangannya untuk menghalang-halangi musuh itu kabur.
Tiauw-eng yang tidak menduga, bahwa pemuda itu bisa bergerak begitu cepat, lantas saja menghantam dengan thiepaynya.
Tanpa berkelit, selagi badannya masih berada di tengah udara, tangan kanan Ouw Hui menyambar pergelangan tangan musuhnya, sehingga thie-pay itu hampirhampir kena direbut.
Dengan terkejut, Tiauw-bun dan Tiauw-leng menubruk dari kiri-kanan, tapi pemuda itu sudah meloncat ke belakang sembari mengeluarkan tertawa nyaring dan kemudian memotes sebatang cabang pohon siong yang lurus.
"Jika kalian mempunyai nyali,"
Ia menantang.
"mari menjajal-jajal ilmu golokku."
Meskipun senjatanya tidak sampai kena direbut, Tiauw-eng merasakan pergelangan tangannya sakit sekali, akibat cengkeraman Ouw Hui tadi.
"Pemuda ini benar-benar bukan sembarangan orang,"
Pikirnya.
"Jika aku sendiri mengejar Lauw Ho-cin dan membiarkan kedua saudaraku berdiam di situ, aku benar-benar merasa khawatir. Biarlah lebih dulu kita bertiga merobohkan dia dan kemudian baru mengejar lagi orang she Lauw itu."
Memikir begitu, lantas saja ia berkata.
"Kami bersedia melayani ilmu golok Tuan, hanya menyesal kami tidak membawa golok."
"Antara kita sama kita tidak ada permusuhan atau ganjalan,"
Kata Ouw Hui.
"Bahkan kita belum pernah saling mengenal. Maka itu, tak perlu kita bertempur mati-matian. Begini saja, kita berjanji, siapa yang tersentuh, dia yang kalah. Apakah Samwie setuju?"
"Setuju kami setuju,"
Sahut Tiauw-bun. Ouw Hui lalu memetik daun-daun yang menempel pada cabang itu, sehingga yang ketinggalan hanyalah sebatang dahan yang lurus dan bersih.
"Biarlah aku menggunakan cabang siong ini sebagai golok,"
Katanya.
"Samwie boleh menyerang dengan berbareng. Lebih dulu kita berjanji, bahwa setiap pukulan dari cabang ini harus dianggap sebagai bacokan golok. Apakah aku bisa mendapat janji Ciong-sie Sam-heng-tee?"
Mendengar kata-kata itu, darah Ciong-sie Sam-hiong jadi semakin meluap.
"Sebelum kau terlahir, nama Ciong-sie Samhiong yang selalu memegang janji, sudah dikenal di seluruh Kang-ouw,"
Kata Tiauw-bun dengan suara keras.
"Kalau begitu, sambutlah!"
Kata Ouw Hui sembari menebas dengan senjatanya.
Dalam sekejap, mereka sudah bertempur seru.
Ouw-kee To-hoat benar-benar lihai.
Dalam tangan Ouw Hui, cabang pohon yang kecil lurus itu menyambar-nyambar bagaikan kilat cepatnya, disertai dengan kesiuran-kesiuran angin yang dahsyat.
Dalam serangan-serangannya, senjata Ouw Hui tak pernah kebentrok dengan senjata musuh tapi setiap pukulannya ditujukan ke bagian badan musuh yang berbahaya.
Memang benar, walaupun kena terpukul, pukulan itu tidak membahayakan jiwa.
Akan tetapi, karena adanya perjanjian, Ciong-sie Sam-hiong harus menjaga supaya badan mereka tidak kena dicolek dengan cabang itu.
Tak lama kemudian, ketiga saudara itu sudah terdesak.
Dalam gusarnya, begitu melihat kesempatan, Tiauw-bun menyabet betis Ouw Hui dengan toyanya.
Dalam pertempuran Ciong-sie Sam-heng-tee selalu bekerja sama secara erat sekali.
Begitu lekas Ouw Hui melompat untuk berkelit dari toya musuh, ciauw-hun-hoan, senjata Ciong Tiauw-leng, sudah menyambar kepalanya, dan hampir berbareng, thie-pay Tiauw-eng menghantam pinggang kanannya.
Sekali ini, sebaliknya dari berkelit atau meloncat mundur, dengan berani Ouw Hui maju setindak dan secepat kilat ujung cabang siong itu menyambar pundak kiri Tiauw-bun.
Serangan itu bukan saja cepat, tapi juga hebat luar biasa.
Jika senjata Ouw Hui itu sebilah golok tajam, lengan Tiauwbun, sebatas pundak, tentu sudah terpisah dari tubuhnya.
Wajah Tiauw-bun lantas saja berubah pucat bagaikan kertas.
"Sudahlah! Sudahlah!"
Ia berseru sambil melemparkan kok-song-pangnya dan meloncat ke luar dari gelanggang.
Tiauw-eng dan Tiauw-leng terkejut bukan main.
Dengan serentak mereka lalu menyerang seperti harimau edan dengan pengharapan bisa merobohkan lawan, supaya pertandingan itu menjadi seri.
Tapi, baru saja belasan jurus, sebaliknya dari berhasil, mereka sendiri yang kena dirobohkan musuh, Tiauweng kena disabet lehernya, Tiauw-leng dibabat lututnya.
Muka kedua saudara itu jadi berwarna ungu, bahana malu dan gusar.
Dengan berbareng, mereka melemparkan senjata mereka.
"Uah!"
Tiauw-eng memuntahkan darah hidup dari mulutnya.
Melihat ketiga saudara itu memegang janji, Ouw Hui jadi menghargakan mereka.
Ia merasa syukur, bahwa barusan ia tidak menurunkan tangan jahat dan ia yakin, bahwa Tiauweng memuntahkan darah, bukan disebabkan luka, tapi karena kejengkelan yang melampaui batas.
Dengan perasaan menyesal, ia merangkap kedua tangannya untuk memberi hormat, tapi sebelum ia keburu membuka mulut, Tiauw-leng sudah mengeluarkan suara di hidung.
"Hm!"
Katanya.
"Tuan memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan aku merasa kagum. Hanya sayang, sungguh sayang, Tuan yang masih begitu muda, tidak mengambil jalan yang lurus!"
Ouw Hui terkesiap.
"Kenapa aku tidak mengambil jalan yang lurus?"
Tanyanya dengan tereengang.
"Samtee!"
Kata Tiauw-bun dengan suara gusar.
"Guna apa banyak-banyak bicara dengan dia?"
Sehabis berkata begitu, ia segera membantu Tiauw-eng naik ke punggung kuda dan mereka lalu berangkat tanpa menengok pula dan tanpa memungut senjata mereka yang dilemparkan di atas tanah.
Melihat cara-cara ketiga saudara itu, mau tak mau, Ouw Hui merasa kagum.
Ia berdiri seperti patung sambil mengawasi tiga senjata itu dan bangkai kuda yang menggeletak di atas tanah.
Berselang beberapa saat, baru ia kembali ke kuil itu dengan tindakan perlahan.
Setibanya di bio itu, ia mendapat kenyataan bahwa suami istri Lauw Ho-cin sudah berlalu.
Mengingat, bahwa barusan ia telah melakukan pekerjaan mulia, hatinya merasa terhibur.
"Di mana adanya Biauw Jin-hong?"
Tanyanya di dalam hati.
"Orang itu bergelar Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu. Berapa tinggikah ilmu silatnya?"
Mengingat, bahwa Kim-bian-hud mempunyai sangkut paut yang sangat rapat dengan mendiang ayahnya, ia ingin sekali menemui orang gagah itu.
Tapi di lain pihak, ia juga tak bisa melupakan Hong Jin-eng yang sudah bisa meloloskan diri dari cengkeramannya.
Jika ia gagal dalam usahanya membalaskan sakit hati keluarga Ciong A-sie, ia bukan laki-laki.
Pada saat itu, ia sangat ragu-ragu.
Apakah ia harus pergi menemui Biauw Jin-hong atau mengejar Hong Jineng?
Sembari menimbang-nimbang, ia berjalan kembali ke tempat, di mana barusan ia bertempur dengan Ciong-sie Samhiong.
Begitu tiba di situ, hatinya merasa heran oleh karena senjata ketiga saudara Ciong itu, yang tadi menggeletak di atas tanah, sekarang tak ketahuan ke mana perginya.
Yang masih terdapat di tempat itu hanyalah bangkai kuda itu.
"Fajar baru saja menyingsing dan belum ada manusia lain yang lewat di sini,"
Katanya di dalam hati.
"Apakah Ciong-sie Sam-hiong kembali lagi untuk mengambil pulang senjata mereka?"
Ouw Hui tak gampang mau menerima dengan begitu saja, jika menghadapi suatu teka-teki.
Semakin sulit, ia semakin penasaran.
Demikianlah ia terus menyelidiki keadaan di sekitar situ.
Berapa saat kemudian, matanya yang sangat tajam melihat sebuah tapak kaki berlumpur di cabang pohon besar yang terpisah kurang lebih tiga puluh tombak dari tempat pertempuran.
Tapak itu terdapat di cabang yang tingginya kira-kira tiga tombak dari muka bumi dan pasti tak akan dapat dilihat mata orang biasa.
Sesudah memeriksa secara lebih teliti, Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa tapak itu berukuran kecil dan masih agak basah, sehingga ia segera menarik kesimpulan, bahwa yang barusan berdiri di situ adalah seorang wanita.
Jantung Ouw Hui memukul keras.
"Apakah dia?"
Ia menanya dirinya sendiri dan ia segera melompat naik ke pohon itu. Benar saja, di cabang itu terdapat dua tapak sepatu wanita dan beberapa cabang kecil telah terinjak patah.
"Tak mungkin, tak mungkin Nona Wan,"
Pikir Ouw Hui.
"Orang yang mempunyai ilmu mengentengkan badan seperti ia, tak nanti menginjak cabang-cabang kecil itu sehingga patah. Tapi, siapa dia?"
Dengan penasaran ia manjat lebih tinggi lagi dan di sebatang cabang yang besar, ia kembali mendapatkan sepasang tapak kaki, agaknya ditinggalkan seorang laki-laki.
Sekarang ia tak sangsi lagi.
Kedua orang itu sudah pasti bukan lain daripada Lauw Ho-cin dan istrinya yang telah bersembunyi di pohon dan menonton ia bertempur.
Tapi berbareng dengan kesimpulan itu, pertanyaan-pertanyaan lain segera muncul dalam otak Ouw Hui.
Bagaimana, mereka, yang agaknya mendapat luka berat, bisa memanjat pohon yang tinggi itu?
Dan kenapa, sesudah Ciong-sie Sam-hiong berlalu, mereka tidak memanggilnya?
Di lain saat, ia mendapat suatu pikiran lain.
"Ah! Sikap mereka tak salah,"
Pikirnya.
"Mereka tadinya tidak tahu, bahwa aku paham ilmu silat dan tentu saja mereka bereuriga, di waktu mendapat kenyataan, bahwa aku dapat merobohkan Ciong-sie Samhiong. Dalam dunia Kang-ouw memang banyak gelombang dan badai, setiap orang harus berlaku sangat hati-hati. Dalam bereuriga, mereka tentu saja tidak berani muncul. Di samping itu, mereka juga mempunyai suatu tugas yang harus diselesaikan secepat mungkin."
Hati Ouw Hui menjadi lega dan ia segera meloncat turun.
Ia mendapat kenyataan, bahwa tapak-tapak kaki itu menuju ke arah timur laut dan oleh karena ingin menyelidiki lebih lanjut, ia segera mengikutinya.
Sesudah hujan dan jalan jadi berlumpur, Ouw Hui tidak mengalami banyak kesukaran dalam usahanya mengikuti jejak dua orang itu.
Sesudah mengejar kurang-lebih satu jam, tibalah ia di sebuah kota kecil.
Sampai di situ, jejak suami istri Lauw Ho-cin sukar dikenali lagi, karena tersamar dengan tapak-tapak orang lain.
"Sesudah semalaman tak makan, mereka tentu lebih dulu menangsel perut,"
Pikir Ouw Hui.
"Tapi mungkin juga, mereka hanya membeli bakpauw dan lantas meneruskan perjalanan. Jika demikian, tak akan gampang menyusul mereka."
Memikir begitu, ia lantas saja membeli sepotong baju hujan dan sebuah tudung lebar yang lalu dipakainya.
Dengan penyamaran itu, ia lalu menyelidiki di rumah-rumah makan.
Sesudah memerhatikan beberapa rumah makan, orangorang yang dicarinya belum juga kelihatan bayang-bayangnya.
Kota itu adalah sebuah kota kecil dan tak lama kemudian, ia sudah tiba di ujung pasar.
Selagi mau memutarkan badan untuk kembali guna menangsel perut, tiba-tiba kupingnya mendengar suara seorang wanita.
"Toako, tolong pinjam jarum dan benang,"
Kata wanita itu.
Hati Ouw Hui berdebar.
Suara itu adalah suara Ong Tiong-peng.
Dari bawah tudungnya yang lebar, Ouw Hui melirik dan mendapat kenyataan, bahwa suara itu keluar dari rumah seorang penduduk.
Ia mengetahui, bahwa kedua suami istri itu tidak berani menginap di dalam hotel, khawatir diketemukan musuh-musuhnya.
"Dilihat begini,"
Pikir Ouw Hui.
"selain Ciong-sie Sam-hiong, mereka masih mempunyai musuh-musuh lain. Biarlah, karena sudah telanjur, aku akan terus melindungi mereka sampai surat itu sudah diserahkan ke dalam tangan Biauw-tayhiap."
Memikir begitu, Ouw Hui segera mengambil kamar di sebuah hotel yang berdekatan, dari mana ia terus memerhatikan rumah yang ditumpangi suami istri Lauw Hocin.
Sampai magrib, Lauw Ho-cin dan istrinya belum juga muncul.
"Orang tua itu benar hati-hati,"
Pikir Ouw Hui.
"Mereka tentu ingin berangkat di waktu malam."
Benar saja, kira-kira tengah malam barulah kedua suami istri itu keluar dari rumah tersebut dan berlari-lari dengan kecepatan luar biasa, bukan seperti orang yang sedang terluka.
"Ah! Kalau begitu mereka berpura-pura,"
Kata Ouw Hui dalam hatinya.
"Pandai sungguh mereka bersandiwara, sehingga bukan saja Ciong-sie Sam-hiong, tapi aku pun sudah kena dikelabui."
Tanpa membuang tempo lagi, Ouw Hui segera menguntit.
Dari kejauhan, ia melihat Lauw Ho-cin mengempit sebuah bungkusan yang berbentuk agak panjang, entah bungkusan apa.
Ilmu mengentengkan badan Ouw Hui memang jauh lebih tinggi daripada suami istri Lauw Ho-cin, sehingga dengan mudah ia dapat menguntit terus tanpa diketahui mereka.
Sesudah berlari-lari kurang-lebih lima li, mereka berhenti di depan sebuah rumah kecil yang terpencil.
Lauw Ho-cin segera memberi isyarat dan istrinya lalu menyembunyikan diri di antara alang-alang yang tinggi.
Sesudah itu ia mendekati rumah tersebut dan berkata dengan suara nyaring.
"Apakah Kim-bian-hud Biauw-tayhiap ada di rumah? Seorang kawan dari tempat jauh datang berkunjung."
"Sahabat dari mana?"
Terdengar pertanyaan dari dalam.
"Maafkanlah aku Biauw Jin-hong tak dapat mengenalinya."
Suara itu tak keras, tapi terdengar tegas sekali.
"Aku she Ciong,"
Jawab Lauw Ho-cin.
"Atas perintah Kuikian-ciu Ciong-sie Heng-tee, aku datang mengantarkan surat untuk Biauw-tayhiap."
"Masuklah!"
Biauw Jin-hong mengundang.
Dalam rumah itu lantas saja kelihatan terang, disusul dengan dibukanya pintu.
Ouw Hui yang bersembunyi di atas sebuah pohon besar segera melihat, bahwa seorang yang berbadan jangkung kurus berdiri di tengah pintu, dengan tangan kanan mencekal ciak-tay (tancapan lilin yang biasanya dibuat dari kuningan).
Mendengar perkataan Lauw Ho-cin, Ouw Hui jadi bingung dan heran.
"Kenapa dia mengatakan surat itu dari Ciong-sie Sam-hiong, sedang Ciong-sie Sam-hiong sendiri coba merintangi disampaikannya surat tersebut?"
Ia menanya dirinya sendiri. Sementara itu, Lauw Ho-cin sudah merangkap kedua tangannya dan segera masuk ke dalam.
"Kenapa dua sahabat yang lain tidak turut masuk?"
Tanya Biauw Jin-hong.
Lauw Ho-cin tak mengerti maksud pertanyaan itu dan ia lantas saja memberi jawaban samar-samar.
Begitu lekas kedua orang itu masuk ke dalam, Ouw Hui segera meloncat turun dari atas pohon dan mengintip dari jendela.
Ia terkesiap mendengar pertanyaan Kim-bian-hud tentang.
"dua sahabat lain".
"Ah! Biauw-tayhiap benar-benar lihai,"
Katanya di dalam hati.
"Tindakan kakiku begitu enteng, tapi ia masih mendengar juga, bahwa yang berkunjung berjumlah tiga orang."
"Delapan tahun berselang, Ciong-sie Heng-tee telah menerima pelajaran dari Biauw-tayhiap dan mereka semua merasa kagum atas kepandaian Tayhiap,"
Demikian terdengar suara Lauw Ho-cin.
"Sekarang mereka sudah berlatih dengan tiga macam senjata baru dan minta aku terlebih dulu datang ke sini untuk memperlihatkan ketiga benda itu kepada Biauwtayhiap, supaya dalam pertempuran yang akan datang, Tayhiap tidak mendapat kesan, bahwa mereka hendak menarik keuntungan dari senjata mereka yang luar biasa."
Sehabis berkata begitu, ia membuka bungkusan yang dikempitnya dan mengeluarkan tiga buah senjata Ciong-sie Sam-heng-tee.
Dapat dimengerti, jika Ouw Hui jadi semakin heran.
Biauw Jin-hong hanya mengeluarkan suara di hidung dan melirik ketiga senjata itu yang diletakkan di atas meja.
Di lain saat, Lauw Ho-cin merogoh sakunya dan mengeluarkan sepucuk surat untuk diserahkan kepada Kimbian-hud dengan kedua tangan.
"Biarlah Biauw-tayhiap membaca surat ini,"
Katanya.
"Sekarang tugasku sudah selesai dan aku minta permisi berlalu."
Ia menyoja dan lantas mengundurkan diri.
"Perlahan sedikit,"
Kata Biauw Jin-hong.
"Sesudah membaca surat ini, aku ingin memesan beberapa perkataan kepada Saudara untuk disampaikan kepada Ciong-sie Samheng-tee."
Ia yakin, bahwa surat itu adalah surat tantangan dan ia segera merobek amplopnya.
Selagi Biauw Jin-hong membaca, Ouw Hui memerhatikan wajahnya yang sangat angker.
Ia mendapat kenyataan, bahwa dibanding dengan delapan tahun berselang ketika mereka bertemu muka di Siang-kee-po, Kim-bian-hud kelihatan banyak lebih tua dan pada mukanya terdapat garisgaris yang mencerminkan penderitaan selama itu.
Tapi, sekonyong-konyong, wajah yang berduka itu berubah menjadi merah padam, kedua alisnya berdiri dan dari kedua matanya keluar sinar berkilat-kilat.
Itulah keangkeran Tah-pian Thianhee Bu-tek-chiu yang wajar.
Ouw Hui menjadi keder dan ia mengangkat kaki untuk mengundurkan diri.
Mendadak, dengan kedua tangannya Biauw Jin-hong merobek surat itu.
Dan berbareng dengan itu, asap yang berwarna kuning mengembus ke atas dari robekan itu!
"Aduh!"
Teriak Kim-bian-hud sembari menekap muka dengan kedua tangannya.
Pada saat yang sama, Lauw Ho-cin meloncat mundur setombak lebih.
Semua kejadian itu sudah terjadi dalam sekejap mata.
Dan dalam sekejap itu, Ouw Hui sudah mengerti duduknya persoalan.
"Kalau begitu, si tua bangka sengaja membubuhkan racun pada surat itu untuk membutakan mata Biauw-tayhiap,"
Pikirnya dengan gusar.
"Bangsat! Jangan lari kau!"
Bentak Ouw Hui sembari menubruk orang she Lauw itu.
Dengan cepat Lauw Ho-cin menghunus goloknya dan segera membacok.
Ouw Hui berkelit sambil mengangsurkan tangannya untuk merebut senjata musuh.
Pada saat itu, suatu kesiuran angin yang sangat dahsyat menyambar punggungnya, sehingga mau tak mau, Ouw Hui terpaksa memutarkan badan untuk menyambut serangan tersebut dengan kedua tangannya.
Ia mengetahui, bahwa dalam gusarnya, serangan Biauw Jin-hong tentu hebat luar biasa.
Oleh karena itu, lantas saja ia menggunakan ilmu Lian-hoan-koat dari Thay-kek-kun, yang didapatnya dari Tio Poan-san, untuk memunahkan tenaga pukulan Kim-bian-hud.
Tapi, begitu lekas kedua tangannya kebentrok dengan tenaga pukulan Biauw Jin-hong, matanya berkunang-kunang dan dadanya sesak, sehingga ia terhuyung ke belakang beberapa tindak.
Ternyata, ia hanya dapat memunahkan sebagian dari tenaga Kim-bian-hud yang luar biasa itu.
"Biauw-tayhiap!"
Berseru Ouw Hui.
"Aku ingin membantu kau membekuk bangsat itu ...."
Sementara itu, Lauw Ho-cin sendiri sudah melarikan diri.
Kedua mata Biauw Jin-hong sakit bukan main, seperti juga ditusuk-tusuk ratusan jarum.
Begitu lekas tangannya kebentrok dengan tangan Ouw Hui, ia mengetahui bahwa lawannya bukan orang sembarangan.
Sesudah kedua matanya buta, ia merasa pasti hari itu jiwanya akan melayang.
Dalam bingungnya dan gusarnya, ia tak dapat menangkap perkataan Ouw Hui.
Melihat suami istri Lauw Ho-cin kabur ke jurusan barat, Ouw Hui segera memutarkan badan untuk mengejar.
Tapi baru saja ia melangkah, dari kejauhan tiba-tiba muncul tiga orang yang mengenakan pakaian berkabung dan mereka itu bukan Lain daripada Ciong-sie Sam-heng-tee.
Melihat penderitaan Kim-bian-hud, dalam hati Ouw Hui lantas saja timbul rasa kasihan.
Ia ingin mendekati untuk coba menolong, tapi khawatir dihantam.
"Biauw-tayhiap,"
Katanya dengan suara nyaring.
"Walaupun aku bukan sahabatmu, tapi aku tak akan mencelakakan kau. Apakah kau pereaya?"
Suara itu yang bernada memohon dan keluar dari hati setulusnya, segera meredakan kekalapan Biauw-tayhiap.
Meskipun kedua matanya tak dapat melihat wajah orang, hatinya yakin, bahwa pemuda yang mengeluarkan suara begitu, bukan seorang jahat.
Kata orang, enghiong mengenal enghiong.
Demikian juga, suara Ouw Hui itu adalah seolaholah kesiuran angin sejuk pada darah Biauw Jin-hong yang sedang mendidih.
"Baiklah,"
Katanya.
"Tolong cegat manusiamanusia jahat yang berada di luar pintu."
Dengan kata-kata itu, Kim-bian-hud sudah menerima Ouw Hui sebagai sahabatnya.
Di lain pihak, suara Biauw Jin-hong yang tulus jujur diterima Ouw Hui dengan rasa hangat.
Entah bagaimana, ia merasa, bahwa suara itu yang meresap dalam lubuk hatinya, adalah suara seorang kesatria besar, untuk siapa ia bersedia mengorbankan jiwanya jika perlu.
Dengan kupingnya yang terlatih, ia mengetahui bahwa Ciong-sie Sam-hiong masih berada dalam jarak kurang-lebih dua puluh tombak dari rumah itu.
Dengan cepat ia pergi ke dapur dan kembali lagi dengan membawa semangkuk air bersih.
"Cucilah dulu mata Cianpwee dengan air ini,"
Katanya sembari mengangsurkan mangkuk air itu.
Biarpun matanya sakit luar biasa, pikiran Kim-bian-hud tetap terang seperti biasa.
Ia mengetahui, bahwa dari depan dari jalan raya, mendatangi tiga orang, sedang dari belakang, empat orang sudah melompat naik ke atas genting.
Begitu menyambut mangkuk air itu, ia melompat ke dalam kamar dan keluar lagi dengan mendukung seorang nona cilik.
Sesudah itu, baru ia mencuci kedua matanya.
Tapi, racun itu ternyata luar biasa hebatnya, karena semakin dicuci, rasa sakit semakin menjadi-jadi.
Dalam keadaan setengah pulas dan setengah sadar, nona itu berkata.
"Thia-thia, apakah kau mau mengajak #Lan mainmain?"
"Hm! Lan-jie,"
Katanya dengan suara halus.
"Thia ingin mendukung kau, tidurlah dengan tenang."
"Apakah anjing hutan itu benar-benar tak makan si kambing putih?"
Tanya pula si nona.
"Tidak, tentu saja tidak,"
Jawab sang ayah.
"Pemburu keburu datang dan binatang itu lantas kabur."
Si nona menghela napas, ia bersenyum puas dan segera menyesapkan mukanya yang kecil di dada ayahnya yang lebar.
Mendengar tanya jawab antara ayah dan anak itu, Ouw Hui merasa sangat terharu.
Sesaat itu, Ciong-sie Sam-heng-tee sudah berada dalam jarak sepuluh tombak dari depan pintu.
Hampir berbareng dari atas genting, dua orang melompat turun di ruangan belakang.
Dengan cepat Ouw Hui mengunci pintu depan dan mengganjalnya dengan sebuah meja besar, supaya Ciong-sie Sam-hiong tak bisa lantas masuk, agar mereka jangan sampai diserang dari depan dan dari belakang.
Sesudah itu, dengan sekali mengebas, ia memadamkan api lilin.
Melihat padamnya penerangan, dua orang yang baru turun itu, tidak berani masuk ke dalam.
"Biarkan empat-empatnya masuk,"
Berbisik Biauw Jin-hong.
"Baiklah,"
Sahut Ouw Hui sembari menyalakan lagi lilin itu. Sementara itu, di luar pintu sudah terdengar seruan Ciong Tiauw-bun.
"Biauw-tayhiap! Tiauw-bun, Tiauw-eng, dan Tiauw-leng dari Ouwpak Utara ingin berjumpa dengan Biauwtayhiap untuk memberitahukan suatu urusan penting!"
Biauw Jin-hong tak menyahut, ia hanya menggerendeng.
Kedua musuh yang masuk dari ruangan belakang, merasa girang sekali di waktu melihat Kim-bian-hud tak bisa membuka matanya lagi.
Tapi mereka itu, yang masing-masing mencekal golok dan sam-ciat-kun, tidak berani lantas masuk ke dalam.
Orang yang memegang golok lantas menggapai ke atas dan berseru.
"Matanya sudah buta!"
Dua kawannya tertawa girang dan lantas saja meloncat turun juga.
Melihat gerakan mereka, Ouw Hui mengetahui, bahwa kepandaian mereka lebih tinggi dari kedua orang yang turun lebih dulu.
Dengan beberapa lompatan kilat, Ouw Hui sudah berada di belakang dua orang itu.
"Masuk!"
Ia membentak sambil mendorong.
Mendengar kesiuran angin yang tajam, kedua orang itu tidak berani menyambut kekerasan dengan kekerasan.
Mereka meloncat minggir dan masuk ke dalam kamar tetamu dengan melompat langkan.
Ouw Hui menarik napas dan sekali meniup, api lilin yang berada dalam jarak beberapa tombak, lantas saja menjadi padam.
Empat orang itu terkejut, tapi dengan serentak mereka lalu menyerang Kim-bian-hud dengan senjata masing-masing.
"Thia, suara apa itu?"
Tanya si nona cilik yang tadi mendusin karena riuhnya gemerencing senjata.
"Apakah anjing hutan itu datang lagi?"
"Bukan, bukan anjing hutan,"
Sahut sang ayah.
"Hanya empat cecurut kecil."
Pada detik itu, sebatang sam-ciat-kun menyambar kepala Biauw Jin-hong.
Dengan mendengarkan kesiuran angin, Kimbian-hud menangkap senjata itu, yang lalu dibetotnya.
Begitu dibetot, lengan orang itu kesemutan dan senjatanya terlepas.
Tanpa sungkan-sungkan lagi, dengan tangannya Biauw Jinhong menghantam pinggang orang itu, yang lantas saja roboh terguling dalam keadaan pingsan.
Tiga kawannya, yang dua mencekal golok dan yang satu memegang thie-pian (pecut besi), lantas saja menyerang tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Thia,"
Kata si nona cilik.
"Apakah cecurut bisa menggigit?"
"Bangsa cecurut hanya berani menggigit orang di tempat gelap,"
Jawab sang ayah.
"Tapi begitu melihat kucing, dia lantas kabur."
"Thia, suara apa itu?"
Tanya pula si nona.
"Apakah angin besar? Thia, apakah akan turun hujan?"
"Benar,"
Sahut Biauw Jin-hong.
"Sebentar bakal ada geluduk."
"Luikong Posat (Malaikat Geluduk) hanya menghantam orang jahat, bukan?"
Tanya lagi si gadis cilik.
"Tak salah,"
Jawabnya.
"Luikong Posat sangat mencintai anak yang baik."
Sembari bereakap-cakap dengan putrinya, dengan sebelah tangan Kim-bian-hud melayani ketiga musuhnya.
Seperti seekor kucing mempermainkan cecurut, dengan tenang ia memunahkan setiap serangan dan sebegitu jauh, ia masih belum menurunkan tangan yang membinasakan.
Sesudah bertempur beberapa lama, seorang antaranya yang bersenjata golok, timbul rasa takutnya, ia segera berteriak.
"Angin keras, hayo angkat kaki!"
Sehabis berteriak begitu, ia melompat ke luar pintu.
Ouw Hui yang sedari tadi menunggu di luar, segera menyapu dengan kakinya dan orang itu lantas saja terjungkal di atas lantai, sedang goloknya terlempar.
"Lan-jie,"
Kata Kim-bian-hud dengan suara halus.
"Dengarlah! Ini suara geluduk."
Berbareng dengan perkataannya, ia menghantam dengan tinjunya yang tepat mengenai musuh yang bersenjata thie-pian.
"Duk!"
Tubuh orang itu terbang melewati kepala Ouw Hui dan kemudian jatuh ngusruk di ruangan belakang.
Orang yang ketiga, yang menggunakan golok, ternyata berkepandaian lumayan.
Dua kali beruntun ia bisa mengelit tinju Biauw Jin-hong.
Sesudah mengirimkan dua pukulan itu, Biauw Jin-hong khawatir putrinya jadi ketakutan, Biauw Jinhong tidak menyerang lagi dan segera duduk di atas kursi.
Sekarang orang itu mengetahui, bahwa meskipun sudah buta, Biauw Jin-hong masih tetap lihai dan ia tak akan dapat melawannya.
Baca Juga: Walet Besi 2
Baca Juga: Rondo Kuning Membalas Dendam 2