Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Rase Terbang 6

Eps 6 Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung

Baca online Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung

Cersil Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung.

Ia juga tahu, bahwa orang yang menjaga di pintu juga lawan yang berat, sehingga ia seperti juga seekor kura-kura yang sudah masuk ke dalam kuali.

Mendadak ia membacok sekuat tenaganya dan selagi Biauw Jin-hong berkelit, ia melompat masuk ke dalam kamar tidur dan menyalakan bahan api yang lantas dilemparkannya ke dalam pembaringan.

Sesudah itu, ia meloncat ke luar dari jendela, naik ke atas genting.

Dalam sekejap api sudah berkobar-kobar dan asapnya menggolak naik ke atas.

Sementara itu, ketiga saudara Ciong yang berada di luar pintu, sudah mengetahui, bahwa di dalam rumah sedang berlangsung suatu pertempuran.

Sesudah menunggu beberapa lama, Ciong Tiauw-eng berseru.

"Biauw-tayhiap! Kami bertiga sebenarnya datang untuk meminta pengajaran lagi. Akan tetapi, kami tak nanti mengganggu di waktu kau sedang berada dalam bahaya. Biauw-tayhiap! Legakanlah hatimu."

Baru saja Tiauw-eng berkata begitu, asap yang mengebul sudah terlihat dari luar rumah.

"Kebakaran!"

Teriak Tiauw-bun.

"Bangsat itu sungguh jahat!"

Berseru Tiauw-leng.

"Toako! Mari kita memadamkan api!"

Ketiga saudara itu segera loncat ke atas genting untuk mencari air.

Ouw Hui mengetahui, bahwa ilmu silat Ciong-sie Sam-hiong tak dapat dibandingkan dengan kepandaian empat orang yang datang duluan.

Dengan kedua mata tak bisa melihat dan sebelah tangannya mendukung anak, Biauw Jin-hong pasti akan dapat dirobohkan.

Maka itu, lantas saja ia membentak.

"Manusia tak punya malu! Jangan masuk kau!"

Sementara itu, api berkobar-kobar semakin besar.

"Thia,"

Kata si nona.

"Panas betul!"

Dengan cepat Kim-bian-hud menggeser meja dan menendang pintu yang lantas saja jadi terpental. Ia menggapai ke atas genting seraya berkata.

"#Martian! Di sini saja kita bertempur."

Ia berkata begitu dengan suara perlahan karena khawatir mengagetkan putrinya.

Pada detik itu, tanpa merasa Biauw Jin-hong ingat kejadian itu, delapan tahun berselang.

Seperti sekarang, dulu pun dengan badan terluka, ia harus melayani Ciong-sie Sam-hiong dalam rumah yang sedang terbakar.

Perbedaannya adalah, pada waktu itu, yang menemani ia bukan seorang nona cilik, tapi seorang wanita cantik yang belakangan menjadi istrinya.

Tidak!

Dia tidak menemani terus, karena pada saat yang berbahaya, dia sudah kabur lebih dulu ....

Melihat api semakin menghebat dan menaksir, bahwa untuk akan dapat mempertahankan diri, Ouw Hui segera mengambil putusan untuk lebih dulu coba memadamkan api.

Ia berlari-lari ke dapur dan dengan girang ia melihat, bahwa di pinggir dapur berdiri berjejer tiga jambangan batu besar yang semuanya terisi air.

Ia memeluk sebuah antaranya dan dengan mengerahkan lweekangnya, dapat juga ia mengangkat jambangan itu yang beratnya lebih dari enam ratus kati.

Biarpun memiliki tenaga yang sangat besar, tak urung tindakannya agak sempoyongan.

Dengan mengeluarkan seantero tenaganya dan menahan napas, bisa juga ia berjalan sampai di dalam kamar tidur itu sambil memeluk jambangan yang lalu dilemparkannya ke tengah pembaringan.

Api itu lantas saja menjadi reda, tapi belum padam seluruhnya.

Buru-buru Ouw Hui pergi lagi ke dapur dan mengangkat pula sebuah jambangan.

Tapi baru saja ia melangkah pintu kamar, suatu kesiuran angin tajam menyambar punggungnya.

Ternyata, orang yang tadi dijatuhkannya, telah memungut goloknya dan membokong ia dari belakang.

Ketika itu, dengan kedua tangan memondong jambangan, Ouw Hui tak dapat berkelit atau menangkis lagi.

Pada detik yang sangat berbahaya, cepat bagaikan kilat, kaki Ouw Hui menendang ke belakang sembari manggut ke depan.

Itulah tendangan aneh yang pada berapa tahun berselang pernah digunakan oleh Giam Kie di Siang-kee-po, sehingga seorang ahli silat seperti Ma Heng-kong masih tak dapat memunahkannya.

Tendangan tersebut mengenai kempungan orang itu yang badannya lantas saja terbang melewati kepala Ouw Hui dan jatuh tepat di dalam jambangan!

Kejadian luar biasa itu telah terjadi oleh karena berbareng dengan tendangannya, Ouw Hui juga menggaet ke depan.

Begitu lekas tubuh orang itu tereebur, Ouw Hui mendorong dan melemparkan jambangan itu yang lantas saja terbelah dua dan airnya memadamkan sisa api yang masih ketinggalan.

Orang itu turut jatuh mengusruk dengan luka-luka dan pakaian basah kuyup.

Sesudah berhasil memadamkan kebakaran, Ouw Hui segera memutarkan badan untuk membantu Biauw Jin-hong.

Sekonyong-konyong ia mendengar suara bentakan-bentakan yang disusul dengan bunyi beradunya senjata.

Didengar dari suaranya, orang yang membentak bukan lain daripada Lauw Ho-cin.

"Bangsat!"

Ia berteriak.

"Aku sudah kena ditipu olehmu!"

"Dengan siapa dia bertempur?"

Tanya Ouw Hui dalam hatinya.

"Dia adalah orang yang berdosa paling besar dan paling baik aku lebih dulu membekuk dia."

Memikir begitu, Ouw Hui segera berlari-lari ke pekarangan belakang, ke arah suara itu.

Segera juga ia melihat, bahwa dengan tangan kosong, Lauw Ho-cin sedang bertempur dengan seorang lelaki yang bersenjata golok.

Dari gerakan-gerakannya, Ouw Hui mengenalinya sebagai penjahat yang tadi melepaskan api di kamar tidur.

Ouw Hui jadi semakin heran.

Terang-terang mereka berdua berkawan, tapi kenapa sekarang mereka berbalik bertempur hebat?

Ouw Hui tak sempat memikir panjang-panjang dan sekali menggenjot badan, ia menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran.

Cepat bagaikan kilat, dengan ilmu Toa-kin-nachiu, kedua tangannya berhasil menutuk jalan darah di punggung kedua orang itu yang lantas saja tak dapat bergerak lagi.

Bahwa dengan sekali bergebrak saja Ouw Hui sudah berhasil, adalah karena mereka berdua sedang memusatkan seantero perhatian mereka kepada pertempuran mereka yang sedang sengitnya.

Ouw Hui berdiam sejenak dan memasang kuping.

Ia girang, karena di depan rumah belum terjadi pertempuran, tapi ia tetap khawatir, jika Biauw Jin-hong mendapat celaka dalam tangan Ciong-sie Sam-hiong.

Maka itu, lantas saja ia menenteng tubuh Lauw Ho-cin dan orang itu, yang lalu dicemplungkan ke dalam sumur yang berada di dapur.

Untuk menjaga supaya kedua tawanan itu tidak kabur, ia mengangkat jambangan ketiga itu, yang lalu digunakan menutup mulut sumur.

Sesudah itu, dengan mengambil jalan memutar, ia berlari-lari ke pekarangan depan.

Sesaat itu, Ciong-sie Sam-hiong, yang masing-masing menggenggam sepasang poan-koan-pit, sudah berhadapan dengan Biauw Jin-hong, tapi mereka belum menyerang.

Ouw Hui mendekati seraya berkata.

"Biauw-tayhiap, serahkanlah putrimu kepadaku."

Walaupun sikapnya tenang, Kim-bian-hud sedang berduka.

Ia yakin, bahwa dengan mata tidak dapat melihat, andai kata ia berhasil memukul mundur Ciong-sie Sam-hiong malam itu, akhirnya ia akan binasa juga dalam tangan musuh-musuhnya.

Sebagai seorang kesatria, ia selalu memandang kematian sebagai soal yang remeh.

Akan tetapi, pada waktu itu, masih ada apa-apa yang diberatinya, yang membikin ia sungkan mati begitu cepat.

Yang dipikirkannya adalah Lan-jie, putrinya yang sebiji mata.

Barusan, dengan kupingnya yang sangat tajam, ia sudah mendengar segala sepak terjang Ouw Hui, yang sudah berhasil memadamkan kebakaran dan berhasil pula membekuk dua orang penjahat.

Ia merasa kagum akan peribudi dan kecerdikan pemuda itu.

Itulah sebabnya, mengapa begitu mendengar permintaan Ouw Hui, ia segera menanya.

"Saudara kecil, apakah aku boleh mendengar she dan namamu yang mulia?"

Ouw Hui yang masih belum mengetahui, apakah benar ayahnya telah binasa dalam tangan Biauw Jin-hong, merasa sangsi untuk memberitahukan namanya secara terus terang. Maka itu, lantas saja ia menyahut.

"Dalam perhubungan antara laki-laki dan laki-laki, yang penting adalah peribudi. Soal nama adalah soal kecil. Manakala Biauw-tayhiap memereayai aku, biarpun badanku hancur lebur, aku berjanji akan melindungi putrimu yang tereinta."

"Bagus!"

Kata Biauw Jin-hong.

"Biauw Jin-hong adalah seorang sebatang kara. Selama hidupnya, ia hanya mempunyai dua sahabat, yang satu adalah Liaotong-tayhiap Ouw It-to, sedang yang lain adalah kau sendiri, seorang saudara kecil yang entah siapa namanya."

Sembari berkata begitu ia menyerahkan putri tunggalnya kepada pemuda itu.

Bukan main girangnya Ouw Hui setelah mendengar perkataan Biauw Jin-hong yang mengatakan, bahwa ayahnya adalah sahabat kesatria itu.

Ia menyambuti si nona cilik yang berusia kira-kira tujuh tahun dan yang sedang pulas nyenyak, dengan mulut menyunggingkan senyuman.

Melihat Ouw Hui dan mendengar pembicaraannya dengan Kim-bian-hud, Ciong-sie Sam-hiong jadi tereengang.

Di lain saat, Biauw Jin-hong sudah merobek tangan bajunya yang lalu digunakan untuk membebat kedua matanya.

"Manusia tak mengenal malu!"

Ia membentak.

"Hayolah! Majulah dengan berbareng! Anakku sedang pulas, kamu jangan bicara keras-keras."

Ciong Tiauw-bun maju setindak dan berkata dengan suara gusar.

"Biauw-tayhiap! Dulu, muridku telah binasa dalam tanganmu dan kami bertiga telah datang untuk minta perhitungan. Belakangan kami mengetahui, bahwa murid itu adalah manusia jahat yang serakah, yang pantas sekali mendapat hukumannya. Dalam hal itu, kami sebenarnya harus mengaturkan banyak terima kasih kepadamu yang sudah membersihkan rumah tangga kami dari kutu busuk."

"Hm!"

Gerendeng Kim-bian-hud.

"Perlahan sedikit. Kupingku tidak tuli."

Tiauw-bun jadi semakin gusar dan lalu berkata pula.

"Waktu itu, meskipun kau terluka, kami ternyata masih bukan tandinganmu. Maka itu, sekarang kami datang berkunjung lagi untuk meminta pengajaran pula. Akan tetapi di tengah jalan kami mengetahui, bahwa sekomplotan manusia keji sedang memasang jaring untuk mencelakakan kau. Bahwa kami menyusul kemari untuk memberi tahu kau, supaya kau bisa berjaga-jaga. Sekarang, sedang kawanan manusia jahat itu sudah kabur semuanya, terserahlah kepada kau, apa kau sudi memberi pelajaran kepada kami? Apa perlunya kau menutup kedua matamu. Apakah kau menganggap kami bertiga begitu tak punya guna, sehingga bisa dirobohkan olehmu dengan mata tertutup?"

Biauw Jin-hong terkejut. Dari kata-kata itu ternyata Ciongsie Sam-hiong tak mempunyai sangkut paut dengan komplotan penjahat yang sudah membutakan kedua matanya.

"Kedua mataku buta,"

Katanya dengan suara menyeramkan.

"Astaga!"

Teriak mereka dengan serentak.

"Kalau begitu, kami sudah keliru menafsirkan sikap Biauw-tayhiap,"

Kata Ciong Tiauw-bun.

"Delapan tahun lamanya, kami bertiga melatih diri, tapi ternyata kami tak mendapat kemajuan suatu apa, sehingga soal meminta pengajaran boleh tak usah disebut-sebut lagi. Apakah Biauw-tayhiap mengenal seorang dari partai Wie-to-bun yang bernama Lauw Ho-cin? Di antara orang-orang yang tadi diusir, tak terdapat orang she Lauw itu. Menurut pengetahuan kami, dalam satu-dua hari ini, orang itu pasti akan berkunjung dengan suatu maksud yang tidak baik. Maka itu, sedang kedua matamu tak begitu sehat, jika bertemu dengan orang itu, sebaiknya Tayhiap berlaku hatihati."

"Ciong-toaya!"

Celetuk Ouw Hui.

"Apakah benar-benar kau tidak mengetahui ketika tadi Lauw Ho-cin menyebar racun?"

"Ah! Kau juga berada di sini?"

Kata Tiauw-bun.

"Aku ingin sekali mendapat kepastian, di pihak mana kau berdiri? Apakah kau kawan atau lawan? Jika kau seorang kawan, kenapa kau berbalik membantu Lauw Ho-cin, di waktu kami coba mencegatnya?"

"Dalam hal ini, aku sungguh merasa malu,"

Ouw Hui mengakui kekeliruannya.

"Persoalan ini mempunyai latar belakang yang sungguh membingungkan. Baik juga, manusia itu Lauw Ho-cin, sudah kena dibekuk olehku dan sekarang kukurung di dalam sumur. Marilah kita memeriksa dia untuk menyelidiki persoalan ini."

Sehabis berkata begitu, ia berpaling kepada Kim-bian-hud dan menanya.

"Biauw-tayhiap, apakah Ciong-sie Sam-hiong orang baik atau orang jahat?"

Ciong Tiauw-bun tertawa dingin dan berkata.

"Kami tak pernah melakukan pekerjaan kesatria dan juga belum pernah menolong sesama manusia. Mana bisa dihitung sebagai manusia baik?"

"Aku tahu, Ciong-sie Sam-hiong bukan sebangsa manusia rendah,"

Kata Kim-bian-hud dengan suara tetap.

Mendengar pujian itu, ketiga saudara Ciong merasa senang sekali.

Tanpa berkata suatu apa, Tiauw-bun dan Tiauw-leng lantas saja pergi ke belakang dan mengangkat jambangan besar yang menutupi mulut sumur.

"Naiklah!"

Mereka membentak. Sebaliknya dari jawaban, mereka mendengar suara ributribut di dalam sumur, seperti juga dua orang sedang berkelahi. Tiauw-bun segera menurunkan timba dan berseru.

"Peganglah timba ini! Aku akan menarik kamu ke atas."

Di lain saat, Tiauw-bun merasakan timba itu sudah dipegang orang dan dengan perlahan ia mengangkat dua orang yang basah kuyup.

Begitu kakinya hinggap di bumi, Lauw Ho-cin menghantam orang yang satu lagi itu dengan tinjunya.

Orang itu sudah payah sekali agaknya, sudah kenyang minum air dan mendapat gebukan di dalam sumur.

Melihat pukulan Lauw Ho

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com cin bisa mengambil jiwa orang itu, buru-buru Tiauw-bun menangkis.

"Jangan bergerak!"

Bentak Tiauw-leng sembari menekan kedua-dua punggung Lauw Ho-cin dan orang itu dengan poan-koan-pit.

"Sekali bergerak, jiwamu melayang!"

Demikian, masing-masing seorang kedua saudara Ciong itu menyeret dua tawanan itu masuk ke ruangan dalam.

Ketika itu, Ouw Hui sudah mengembalikan si nona cilik kepada ayahnya dan sebatang lilin sudah dinyalakan.

Oleh karena kamar putrinya sudah tak dapat digunakan lagi, Biauw Jinhong segera mendukung si nona ke kamarnya sendiri.

Ketika ia kembali ke ruangan depan, kedua saudara Ciong sudah masuk dengan menyeret dua tawanan tadi.

Biauw Jin-hong menghela napas seraya berkata.

"Sedari dua puluh tahun berselang aku sudah mendengar nama Wieto Song-ho. Dalam kalangan Kang-ouw, Ban-loosu dan Lauwloosu mempunyai nama yang cukup harum."

"Biauw-tayhiap,"

Kata Lauw Ho-cin.

"Aku sudah ditipu oleh manusia jahat dan aku sungguh-sungguh merasa menyesal. Apakah kedua matamu mendapat luka berat?"

Mendengar pertanyaan itu, Ciong-sie Sam-hiong mengeluarkan seruan kaget. Sekarang baru mereka mengetahui, bahwa rusaknya kedua mata Biauw Jin-hong baru saja terjadi.

"Apakah kau murid Tian Kui-long?"

Tanya Kim-bian-hud kepada orang yang tadi bertempur dengan Lauw Ho-cin.

"Ilmu silatmu cukup tinggi, sedikitnya kau sudah memahami tujuh bagian dari seluruh silat Thian-liong-bun."

Orang itu bergemetar sekujur badannya dan ia menekuk kedua lututnya sembari mengangguk-angguk.

"Biauwtayhiap,"

Katanya dengan suara memohon dikasihani.

"Aku yang rendah hanya menerima perintah orang. Aku mohon belas kasihan Loojinkee."

"Bangsat!"

Teriak Lauw Ho-cin sambil menuding wajahnya.

"Sungguh hebat kau menipu aku!"

Sembari berkata begitu, ia meloncat dan mengayun tangannya. Tiauw-eng buru-buru mengadang di tengah-tengah dan berkata.

"Sabar! Apa yang sekarang kita inginkan, adalah penjelasan tentang duduknya persoalan."

Lauw Ho-cin adalah seorang ternama dalam Rimba Persilatan.

Bahwa ia sudah kena diperdayai orang secara mentah-mentah sehingga berakibat celakanya seorang kesatria, sudah membikin ia menyesal tiada habisnya dan bahwa sebagai seorang kenamaan, ia sudah dicemplungkan ke dalam sumur, adalah kejadian yang sungguh-sungguh memalukan.

Maka itu, matanya berkunang-kunang dan ia jatuh terduduk di sebuah kursi.

"Sudahlah! Sudahlah!"

Katanya dengan suara sedih.

"Biauw-tayhiap! Aku tak tahu bagaimana aku harus menebus dosa."

"Selama hidupnya, manusia sukar terlolos dari tipu muslihat kawanan manusia keji,"

Kata Kim-bian-hud dengan suara tenang.

"Itulah kejadian yang lumrah dalam dunia ini. Loosu tentunya sudah ditipu olehnya, sehingga mau mengantarkan surat itu kepadaku."

Bukan main kagumnya Ouw Hui dan Ciong-sie Sam-hiong setelah mendengar perkataan Biauw-tayhiap yang bebas dari rasa dendam.

Harus diingat, bahwa pada ketika itu, kedua mata Kim-bian-hud sudah buta sama sekali.

Dalam keadaan yang sama, seorang kesatria tanggung-tanggung pasti tak akan bisa mengeluarkan perkataan begitu.

"Aku bermula mengenal manusia itu di Hong-yap-chung,"

Kata Lauw Ho-cin.

"Dia mengaku bernama Thio Hui-hiong dan menurut katanya, oleh karena pernah menanggung budi Bansutee, maka begitu mendengar berita tentang meninggalnya, buru-buru ia datang ke Hong-yap-chung untuk menyatakan turut berdukacita."

"Kalau begitu Ban Ho-seng Loosu sudah meninggal dunia?"

Tanya Kim-bian-hud.

"Benar,"

Jawabnya.

"Belakangan karena menganggap dia seorang baik, aku berjalan bersama-sama dengan dia ke daerah utara. Ketika berpapasan dengan Ciong-sie Sam-hengtee di tengah jalan, dia kelihatan ketakutan. Malam itu, aku tidur sekamar dengan ia. Tengah malam, ia berlagak mengigau dan antara lain dia mengatakan, bahwa jika surat itu tidak dapat disampaikan kepada alamatnya, sejumlah besar orang-orang gagah yang budiman akan melayang jiwanya. Mendengar begitu, lantas saja aku mengambil keputusan untuk mencampuri urusan itu. Besok paginya, aku menanyakan tentang igaunya. ‘Lauw-loosu,’ sahutnya. ‘Sesudah menyaksikan sikapmu terhadap sie-wie Kerajaan Ceng itu, aku tahu, bahwa kau adalah seorang gagah tulen dan tak usah aku menyembunyikan rahasia ini.’ Ia mengeluarkan sepucuk surat dan mengatakan, bahwa surat itu harus disampaikan kepada Biauw-tayhiap, supaya beliau bisa menolongnya. Jika tidak, banyak sekali orang gagah akan menjadi korban kaki tangan Kerajaan Ceng. Selanjutnya ia memberitahukan, bahwa Ciong-sie Sam-hiong, yang mempunyai ganjalan dengan Biauw-tayhiap, tentu akan coba merintangi disampaikannya surat itu. Dia mengaku tak sanggup melawan ketiga saudara Ciong dan meminta bantuanku. Mengingat maksudnya yang mulia, lantas saja aku menyanggupi. Di tengah jalan, aku telah bertempur dengan Ciong-sie Sam-hiong dan kena dikalahkan. Istriku membantu, tapi kami berdua masih tak bisa melawan ketiga saudara itu. Maka itu, dengan mendapat luka enteng, kami melarikan diri dengan membawa surat itu. Secara sangat kebetulan, di kuil Siang Hui, kami bertemu dengan saudara kecil itu. Dalam pertandingan di Hong-yap-chung, saudara kecil itu pernah menolong aku dan sesudah menyaksikan pertempuran di dalam kuil itu, aku tahu, bahwa ia mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Begitulah, kami segera berpura-pura terluka berat dan menjalankan siasat untuk memancing bantuannya. Benar-benar, ia kena ditipu. Aku menipu saudara kecil itu, tanpa mengetahui, bahwa aku sendiri pun sudah kena ditipu orang."

Sehabis berkata begitu, jenggotnya bergerak-gerak, napasnya tersengal-sengal dan dengan mata mendelik ia mengawasi Thio Hui-hiong. Ouw Hui mendengarkan cerita itu tanpa berkata suatu apa.

"Dia tak berdusta,"

Katanya di dalam hati.

"Kalau begitu, pertempuran dengan Wan Cie-ie sudah dilihatnya."

Mengingat Wan Cie-ie, hati Ouw Hui lantas saja berdebar.

"Tapi, Lauwloosu,"

Katanya.

"Perlu apa kau mengambil senjatanya Ciongsie Sam-hiong?"

"Kedatangan Ciong-sie Sam-hiong untuk membalas dendam, belum tentu diketahui oleh Biauw-tayhiap,"

Sahutnya.

"Maka itu, aku merasa perlu untuk memberitahukan kepadanya, supaya ia bisa berjaga-jaga. Bahwa aku sudah mengambil tiga senjata itu dan memperlihatkannya kepada Biauw-tayhiap, adalah untuk mendapat kepereayaannya. Mungkin kau juga kepingin tahu, kenapa aku sudah mengatakan, bahwa surat itu adalah kiriman Ciong-sie Samhiong. Saudara kecil perkataanku itu sebenarnya ditujukan kepada kau. Aku tahu, bahwa kau menguntit di belakangku dan aku khawatir kau akan segera menyerang. Dengan berkata begitu, kau tentu akan menjadi bingung dan dalam bingungmu, kau tentu tak akan lantas turun tangan. Aku menganggap, bahwa yang kukatakan itu tidak penting. Yang penting, adalah isi surat itu. Aku mengira, bahwa begitu membaca, Biauw-tayhiap tentu akan mengerti maksud surat tersebut yang memohon bantuannya untuk menolong jiwa orang-orang gagah dalam Rimba Persilatan. Tapi ... siapa ... nyana ... siapa ... nyana ...."

Sampai di situ dadanya menyesak, tak dapat ia bicara lagi.

"Secara kebetulan kami bertiga sudah dapat mendengar akal busuk orang she Thio itu,"

Kata Tiauw-bun.

"Belakangan kami mengetahui, bahwa dia kasak-kusuk dengan Lauw-loosu, untuk mencelakakan Biauw-tayhiap. Maka itu, kami lalu berusaha untuk mencegatnya, tanpa mengetahui bahwa urusan ini mempunyai latar belakang yang berbelit-belit. Biauw-tayhiap, bagaimana dengan matamu?"

Biauw Jin-hong tak menyahut. Sesaat kemudian dengan perlahan ia menggoyangkan sebelah tangannya yang lebar dan besar.

"Sudahlah,"

Katanya.

"Yang sudah tinggal sudah, tak guna dibicarakan lagi."

Dengan kedua matanya Ouw Hui menyapu seluruh ruangan itu untuk mencari surat yang beracun itu.

Segera juga ia melihat, bahwa dua robekan kertas tadi, masih menggeletak di pojok ruangan.

Ia tak berani datang terlalu dekat dan hanya memandangnya dari kejauhan.

Pada dua potong kertas itu hanya terdapat tiga baris huruf, setiap hurufnya sebesar biji engtho.

Sesudah memerhatikan beberapa saat, ia mendapat kenyataan, bahwa surat itu bertuliskan seperti berikut.

Saudara Jin-hong.

Putrimu cantik dan lemah lembut.

Tak cocok ia berada pada kau, manusia goblok yang hanya mengenal ilmu silat.

Maka itu, aku mengirim orang untuk menyambutnya supaya nona itu bisa dipelihara sebagaimana mestinya olehku.

Hormatku, Tian Kui-long Seperti diketahui, Kim-bian-hud mencintai putrinya lebih daripada jiwanya sendiri.

Sesudah membawa kabur istrinya, sekarang orang she Tian itu maui juga putrinya yang sebiji mata.

Mana mungkin, darahnya tak jadi meluap?

Bisa diduga, bahwa sesudah melakukan perbuatan berdosa, manusia itu tak enak makan dan tak enak tidur karena khawatir pembalasan.

Maka itu, ia sudah mengatur siasat itu, suatu siasat yang sangat busuk dan kejam.

Semakin lama, Lauw Ho-cin jadi semakin gusar dan menyesal.

"Orang she Thio!"

Ia berteriak dengan kalap.

"Sesudah mendapat perintah gurumu untuk mencelakakan Biauw-tayhiap, kenapa kau tidak mengantarkan sendiri surat itu dan sudah menyeret tanganku?"

"Aku ... takut ..."

Jawabnya dengan suara terputus-putus.

"Aku ... takut ... Biauw-tayhiap dapat mengenali, bahwa aku ... adalah murid Thian-liong-bun ...."

"Kau takut tak keburu lari, jika akal busukmu ketahuan, bukan?!"

Bentak Lauw Ho-cin.

"Binatang! Benar-benar binatang!"

Ia berpaling kepada Biauw Jin-hong dan berkata dengan suara gemetar.

"Biauw-tayhiap, bolehkah aku memohon kerelaanmu? Serahkanlah binatang itu kepadaku!"

"Lauw-loosu,"

Kata Kim-bian-hud dengan suara tenang.

"Guna apa kita meladeni kawanan manusia rendah. Thio Huihiong! Di dalam pekarangan dua kawanmu masih menggeletak dengan luka yang tidak enteng. Pergilah! Tolonglah mereka dan pergi dari sini! Kuharap kau suka memberitahukan suhu (guru) dan subomu ...."

Ia tak dapat meneruskan perkataannya dan berdiri bengong dengan mata mendelong.

(Subo berarti istri guru, istri Tian Kui-long, yaitu Lam-lan, bekas istrinya sendiri yang dibawa kabur oleh Tian Kui-long).

Beberapa saat kemudian, ia mengebaskan tangannya dan menambahkan.

"Sudahlah! Tak ada apa-apa lagi. Pergilah!"

Itulah suatu kejadian yang sungguh-sungguh di luar dugaan Thio Hui-hiong.

Sesudah membutakan kedua mata Kim-bian-hud, ia menganggap, bahwa jiwanya tak akan dapat ditolong lagi.

Tapi tak dinyana-nyana, Biauw Jin-hong sudah berlaku begitu murah hati dan tidak menghukumnya.

Bukan main rasa terima kasihnya dan ia manggutkan kepalanya berulang-ulang.

Dengan berempat, ia menyatroni rumah Biauw-tayhiap.

Begitu lekas kedua mata Kim-bian-hud buta, mereka bermaksud membinasakan kesatria itu dan kemudian membawa kabur putrinya.

Tapi, benar juga orang berujar, manusia berusaha, Allah berkuasa.

Di luar semua perhitungan, muncullah Ouw Hui, sehingga tipu busuk itu hanya berhasil sebagian.

Antara tiga kawannya, seorang, yaitu yang dilemparkan Ouw Hui dalam kamar tidur, lagi masih menggeletak dengan luka berat.

"Hm! Biauw Jin-hong berlagak murah hati dan pura-pura melepaskan tiga orang itu,"

Kata Lauw Ho-cin di dalam hatinya.

"Tak tahu, penganiayaan apa yang hendak dilakukannya terhadap diriku."

Harus diketahui, bahwa sebagai orang yang berpengalaman, ia sudah sering menyaksikan cara-cara orang Kang-ouw menghukum musuh-musuhnya itu disiksa pergi datang, sebelum dibinasakan.

Di lain saat, Thio Hui-hiong sudah membangunkan kedua suteenya dan segera berjalan ke luar dengan memapah mereka.

Tak lama kemudian, mereka sudah menghilang di tempat gelap, tapi benar-benar mengherankan, Biauw Jinhong tetap tidak bergerak.

"Biauw-tayhiap,"

Kata Lauw Ho-cin yang sudah tak bisa bersabar lagi.

"Sekarang kau sudah boleh membekuk mereka kembali. Mereka sangat licin, aku khawatir mereka benarbenar kabur."

"Untuk apa dibekuk lagi?"

Tanya Kim-bian-hud.

"Bukankah aku sudah mengampuni mereka?"

Ia berdiam sejenak.

"Mereka sama sekali tidak mengenal aku. Mereka hanya menjadi alat orang lain."

Rasa malu dan menyesal yang melampaui batas, mengaduk dalam dada Lauw Ho-cin. Mendadak ia meloncat bangun.

"Biauw-tayhiap!"

Katanya dengan suara nyaring.

"Selama hidup, belum pernah aku melakukan perbuatan yang berdosa. Hari ini, kedua mataku benar-benar tak berbiji, tak bisa mengenali seorang kesatria yang budiman dan penuh welas asih. Biauw-tayhiap! Karena gara-garaku, sungguh hebat penderitaanmu."

Berbareng dengan perkataannya, ia mementang dua jeriji tangan kirinya yang lalu disodokkan kedua matanya sendiri!

Ouw Hui coba menolong, tapi ia terlambat.

Ciong-sie Samhiong kesima dan kemudian meloncat bangun dengan serentak.

"Lauw-loosu,"

Kata Biauw-tayhiap dengan suara terharu.

"Kenapa kau berbuat begitu. Sedikit pun aku tidak menyalahkan kau."

Lauw Ho-cin tertawa terbahak-bahak dan berjalan ke luar dengan tindakan lebar.

Setibanya di luar rumah, ia memotes sebatang cabang pohon yang lalu digunakan sebagai tongkat penunjuk jalan.

Untuk beberapa lama, kelima orang itu yang masih berada di dalam rumah Biauw Jin-hong, tak mengeluarkan sepatah kata.

Mereka geregetan berbareng terharu.

Geregetan mengingat akal busuk Tian Kui-long dan terharu karena peristiwa itu berakibat hebat, yaitu butanya dua orang kesatria yang jarang ada tandingannya.

"Saudara kecil,"

Kim-bian-hud memecahkan kesunyian.

"Kau sudah berjanji untuk melindungi putriku. Kuharap kau jangan melupakan janjimu itu."

"Perkataan laki-laki tak akan ditarik kembali,"

Sahut Ouw Hui dengan suara nyaring.

"Hanya aku menyesal dengan cara Lauw-loosu. Dengan mempersakiti diri sendiri, liangsimnya memang terhibur. Tapi apa gunanya?"

"Benar,"

Kata Tiauw-eng sambil menghela napas.

"Tapi biar bagaimana juga, Lauw-loosu adalah seorang laki-laki sejati."

Lama juga mereka duduk diam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Akhirnya Ouw Hui yang memecahkan kesunyian dengan berkata.

"Biauw-tayhiap bagaimana dengan matamu? Coba cuci lagi dengan air."

"Tak usah,"

Jawab Biauw Jin-hong.

"Sakitnya luar biasa."

Sehabis berkata begitu, ia berbangkit dan berpaling kepada Ciong-sie Sam-hiong.

"Aku sungguh merasa malu, bahwa aku tak mempunyai apa-apa untuk menyambut Samwie yang dari tempat jauh sudah datang ke sini,"

Katanya sembari membungkuk.

"Aku ingin rebahan sebentar, harap Samwie sudi memaafkan."

"Silakan,"

Kata Tiauw-bun.

"Jangan Biauw-tayhiap berlaku sungkan."

Ia lalu memberi tanda kepada dua saudaranya yang lantas saja berpencar dan menjaga di pintu depan dan di pintu belakang.

Tiauw-bun sudah berbuat begitu karena khawatir kalau-kalau Tian Kui-long mengirim lagi kaki tangannya untuk menyerang.

Ouw Hui sendiri lalu mengambil ciak-tay dan mengikuti Biauw Jin-hong sampai di kamarnya.

Sesudah Kimbian-hud merebahkan diri, Ouw Hui segera mengambil selimut dan menyelimuti tubuh orang gagah itu.

Si nona cilik sendiri sedang pulas nyenyak, sama sekali ia tidak mengetahui, bahwa tadi, rumahnya dikacau orang dan kedua mata ayahnya sudah menjadi buta.

"Saudara kecil,"

Kata Kim-bian-hud.

"Di atas penglari terdapat sebuah kotak besi. Coba ambil!"

"Baiklah,"

Kata Ouw Hui sembari menggenjot badannya yang lantas saja melesat ke atas.

Dengan tangan kiri mencekal penglari, tangan kanannya meraba-raba.

Benar saja, di atas balok, ia mendapatkan sebuah kotak besi yang lalu diambilnya.

Begitu turun, ia meletakkan kotak itu di atas kasur, di dekat tangan Biauw Jin-hong.

Sebelum Kim-bian-hud bisa membuka mulut, sekonyong-konyong terdengar tindakan orang yang berlari-lari, disusul suara bentakan Ciong Tiauw-leng.

"Binatang! Kau datang lagi?"

Bentakan itu disusul pula bunyi beradunya senjata.

"Tahan!"

Demikian terdengar teriakan Thio Hui-hiong.

"Aku tak mempunyai maksud jahat. Aku datang untuk berbicara sedikit dengan Biauw-tayhiap."

"Biauw-tayhiap sudah tidur,"

Kata Tiauw-leng dengan perlahan.

"Kalau mau bicara, besok saja kau datang lagi."

"Tak usah,"

Kata Hui-hiong.

"Sekarang saja aku memberitahukan kepadamu.

"Aku sekarang mendapat kenyataan, bahwa Biauw-tayhiap adalah seorang kesatria budiman yang sangat mulia. Aku berdosa besar, tapi dengan sukarela beliau sudah mengampuni jiwaku dari kebinasaan. Maka itu, tak bisa tidak, aku mesti membuka rahasia ini. Racun yang digunakan untuk membutakan mata Biauwtayhiap adalah rumput Toan-chung-co (rumput memutuskan usus), yang telah dicuri oleh guruku dari tempat Tok-chiu Yoong (Raja Obat Tangan Beracun). Di sepanjang jalan, Siauwjin (aku yang rendah) memikirkan kecelakaan yang menimpa Biauw-tayhiap. Mungkin sekali, jika ada orang yang pergi kepada Tok-chiu Yo-ong dan memohon pertolongannya, kedua mata Biauw-tayhiap masih bisa ditolong. Sebenarnya, Siauwjin sendiri yang harus berusaha untuk mendapatkan obat itu. Akan tetapi, Siauwjin adalah seorang yang tidak ternama, sehingga sukar sekali bisa melakukan tugas yang seberat itu."

"Oh, begitu?"

Kata Tiauw-leng. Di lain saat, Thio Hui-hiong sudah memutarkan badan dan berjalan pergi. Mendengar itu, bukan main girangnya Ouw Hui. Ia berlarilari ke luar sembari berteriak.

"Di mana tempat tinggal Tokchiu Yo-ong?"

"Ia hidup menyembunyikan diri di pinggir Telaga Tongteng,"

Tiauw-eng menerangkan.

"Tapi ... tapi ...."

"Tapi kenapa?"

Tanya Ouw Hui.

"Meminta pertolongan orang aneh itu, bukannya gampang,"

Jawabnya dengan suara perlahan.

"Biar bagaimana juga, kita mesti mengundang dia datang ke sini,"

Kata Ouw Hui dengan bernafsu.

"Kita berikan apa saja yang dimintanya."

Tiauw-eng menggeleng-gelengkan kepala sembari menarik napas.

"Yang paling sukar, orang itu sama sekali tidak memerlukan sesuatu apa,"

Katanya.

"Jika tak bisa dengan jalan halus, kita boleh menggunakan jalan kasar,"

Kata pula Ouw Hui. Tiauw-eng berdiam sambil menunduk.

"Kita tidak boleh terlambat sedikit pun juga,"

Ouw Hui mendesak.

"Sekarang juga Siauwtee akan berangkat. Untuk sementara waktu, aku mengharap, supaya Samwie berdiam di sini dulu, untuk menjaga kalau manusia keji itu mengirim pula kaki tangannya."

Ia berlari-lari ke kamar Biauw Jin-hong dan berkata.

"Biauw-tayhiap! Aku mau pergi untuk mengundang tabib."

Kim-bian-hud menggelengkan kepala dan berkata dengan suara perlahan.

"Kau mau mencari Tok-chiu Yo-ong? Ah! Kau hanya membuang-buang tenaga secara pereuma. Tak usah, kau tak usah pergi!"

"Tidak!"

Kata Ouw Hui dengan suara tetap.

"Dalam dunia ini tak ada apa-apa yang tidak bisa dilakukan."

Tanpa menunggu jawaban, ia memutarkan badan dan berjalan keluar dari kamar Kim-bian-hud.

"Ciong-toaya,"

Ia berseru.

"Siapa nama Yo-ong itu? Jalan apa yang harus diambil untuk pergi ke tempat tinggalnya?"

"Sudahlah!"

Kata Ciong Tiauw-bun.

"Begini saja, aku mengawani kau untuk pergi bersama-sama! Tentang orang aneh itu, baik kita bicarakan perlahan-lahan di sepanjang jalan."

Demikianlah, tanpa berkata suatu apa lagi, kedua orang gagah itu lantas saja berlari-lari ke jurusan utara dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Di waktu pagi, mereka tiba di sebuah kota kecil dan segera membeli dua ekor kuda yang lalu dikaburkan sekeras-kerasnya.

Sesudah berjalan beberapa belas li, mereka tiba di jalan yang bereagak tiga.

Mereka agak bingung, tapi baik juga, di sebidang kebun sayur terdapat seorang petani tua yang sedang menggarap tanah.

Mereka lalu menanyakan jalan ke Thogoan dan begitu mendapat petunjuk, kedua tunggangan itu lalu dibedal pula.

Demikianlah, untuk menolong seorang kesatria, terusmenerus Tiauw-bun dan Ouw Hui membedal kuda.

Kecuali memberi rumput dan air kepada tunggangannya, mereka tak berani mengaso, bahkan tak berani masuk di rumah makan untuk menangsel perut.

Jika merasa lapar, mereka berhenti turun dari pelana.

Tak lama kemudian, mereka sudah melalui enam puluh li lebih.

Tiauw-bun dan Ouw Hui adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi dan bertubuh kuat.

Jika perlu, mereka bisa berjalan dua hari dua malam terus-menerus.

Tapi, sedang sang penunggang masih cukup kuat, adalah tunggangan mereka yang sudah kepayahan.

Sesudah lari lagi beberapa jauh, kedua hewan itu tersengal-sengal dan tindakan mereka jadi semakin limbung.

"Saudara kecil,"

Kata Tiauw-bun.

"Kurasa, kedua hewan ini mesti diberi ketika untuk mengaso juga."

"Baiklah,"

Kata Ouw Hui. Mengingat kuda, tanpa merasa ia jadi ingat kepada Si Putih, tunggangan Wan Cie-ie.

"Kalau aku menunggang kuda putih Nona Wan, sekarang mungkin aku sudah tiba di Telaga Tong-teng,"

Katanya di dalam hati.

Mengingat Wan Cie-ie, ia merogoh sakunya dan mengusap-usap giok-hong (burung hong dari giok), pemberian si nona.

Ia merasakan betapa hangatnya batu giok itu dan kehangatan itu terus menembus sampai di hatinya.

Mereka lalu duduk mengaso di pinggir jalan, di bawah pohon liu yang besar.

Tunggangan mereka makan rumput dan turut mengaso di tegalan.

Ciong Tiauw-bun duduk termenung tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Kedua alisnya berkerut dan mukanya kelihatan masygul.

Ouw Hui mengetahui, bahwa kejengkelan kawan itu, disebabkan oleh kekhawatiran, bahwa perjalanan mereka akan mengalami kegagalan.

"Ciong-toaya,"

Ia menegur.

"Orang apakah, sebenarnya Tok-chiu Yo-ong?"

Tiauw-bun tak menjawab, seolah-olah tak mendengar pertanyaan Ouw Hui. Lewat sejenak, ia kelihatan terkejut dan berbalik menanya.

"Apa kau kata?"

Ouw Hui mengerti apa yang barusan dipikirkan Ciong Tiauw-bun.

Ia tentu sedang memikirkan keadaan Biauw Jinhong.

Diam-diam Ouw Hui merasa kagum terhadap orang she Ciong itu, yang meskipun wajahnya menakutkan, mempunyai hati yang sangat mulia.

Dengan Biauw Jin-hong, sebenarnya ia mempunyai ganjalan yang tidak kecil.

Tapi sekarang, dengan melupakan segala sakit hatinya, tanpa mengenal lelah, ia rela melakukan suatu perjalanan yang mungkin penuh dengan bahaya.

Memikir begitu, Ouw Hui segera berkata.

"Ciong-toaya, setiap mengingat kesalahanku kemarin, aku jadi merasa sangat malu. Jika Boanpwee mengetahui, bahwa Samwie adalah kesatria-kesatria yang berbudi tinggi, biarpun mempunyai nyali yang bagaimana besar juga, Boanpwee tentu tak akan berani melanggar Samwie."

Tiauw-bun tertawa terbahak-bahak.

"Jangan rewel,"

Katanya sembari mengawasi Ouw Hui dengan sorot mata simpatik.

"Biauw-tayhiap adalah seorang kesatria besar pada zaman ini. Jika melihat ia menghadapi bahaya, kami tak menolong, kami bertiga sungguh bukan manusia lagi. Saudara kecil! Kalau dibanding-banding, peribudimu masih lebih luhur daripada kami. Walaupun tak pernah mengikat tali persahabatan dengan Biauw-tayhiap, kami sudah pernah bertemu satu kali. Tapi kau sendiri? Di masa yang lalu, belum pernah kau bertemu dengan beliau."

Ciong Tiauw-bun tidak mengetahui, bahwa beberapa tahun berselang, Ouw Hui sudah pernah melihat wajah Kim-bian-hud di Siang-kee-po.

Tapi dalam pertemuan itu, meskipun Ouw Hui tahu siapa sebenarnya Biauw Jin-hong, Biauw Jin-hong sendiri sama sekali tidak memerhatikannya, seorang bocah kurus kering.

Ciong Tiauw-bun lebih-lebih tidak mengetahui, bahwa delapan belas tahun berselang, ketika Ouw Hui baru saja berusia satu hari, Biauw Jin-hong pernah melihatnya di dalam sebuah rumah penginapan kecil di Kota Ciang-ciu, Provinsi Hopak.

Pertemuan itu masih diingat oleh Kim-bian-hud, tapi tentu saja tidak diketahui oleh Ouw Hui sendiri.

Dan Biauw Jin-hong sendiri tentu tidak pernah bermimpi, bahwa kesatria muda yang sedang berusaha untuk menolong dirinya, adalah bayi itu yang pernah dilihatnya delapan belas tahun berselang.

Ouw Hui menunduk, ia merasa agak jengah mendengar pujian kawannya itu.

Beberapa saat kemudian, Ciong Tiauwbun menanya pula.

"Eh, kau tanya apa tadi?"

"Aku menanyakan hal Tok-chiu Yo-ong,"

Jawab Ouw Hui.

"Dia itu, sebenarnya manusia bagaimana?"

"Secara terus terang, aku tak tahu,"

Sahut Tiauw-bun.

"Tak tahu?"

Ouw Hui menegas.

"Dalam kalangan Kang-ouw, aku mempunyai banyak sekali kawan,"

Kata Tiauw-bun.

"Tapi di antara mereka itu, tak satu pun mengetahui, orang apa sebenarnya Tok-chiu Yo-ong."

Ouw Hui jadi merasa masygul.

Tadinya ia menduga, bahwa Ciong Tiauw-bun mengetahui asal usul Si Raja Racun.

Jika bukan begitu, ia tentu sudah menanyakan terlebih jelas kepada Thio Hui-hiong.

Ciong Tiauw-bun seperti juga dapat membaca pikirannya, karena ia segera berkata.

"Kurasa, Thio Hui-hiong pun tak tahu."

"Oh,"

Kata Ouw Hui yang tak berkata suatu apa lagi.

"Orang hanya tahu, bahwa Tok-chiu Yo-ong bertempat tinggal di Pek-ma-sie (Kelenteng Kuda Putih), di pinggir Telaga Tong-teng,"

Tiauw-bun menerangkan.

"Pek-ma-sie?"

Ouw Hui menegas.

"Dia tinggal di kelenteng?"

"Bukan,"

Jawabnya.

"Pek-ma-sie adalah nama sebuah kota kecil."

"Mungkin sekali orang tidak mengenal ia, karena ia tak pernah keluar dari kelenteng itu,"

Ouw Hui menduga-duga. Tiauw-bun menggelengkan kepala seraya berkata.

"Salah! Banyak orang pernah bertemu dengan dia. Dan justru, karena itu tak ada yang mengetahui ia sebenarnya manusia bagaimana. Orang tak tahu, apakah ia gemuk atau kurus, cakap atau jelek, she Thio atau she Lie."

Ouw Hui jadi semakin tak mengerti.

"Ada yang mengatakan, bahwa Tok-chiu Yo-ong adalah seorang sastrawan yang berparas cakap sekali,"

Kata pula Tiauw-bun.

"Katanya, ia bertubuh jangkung dan gerakgeriknya seperti seorang siu-cay. Tapi ada juga yang bereerita, bahwa Tok-chiu Yo-ong berbadan katai gemuk, seperti tukang potong babi. Di lain pihak, sejumlah orang berani bersumpah, bahwa Si Raja Racun sebenarnya seorang hweeshio tua, tua sekali, dan usianya hampir seratus tahun."

Sesaat Tiauw-bun memandang Ouw Hui dan kemudian menyambung lagi perkataannya.

"Tapi perbedaan keterangan belum habis sampai di situ. Beberapa orang malah menyatakan, bahwa Tok-chiu Yo-ong adalah seorang wanita, wanita bungkuk!"

Benar-benar Ouw Hui "ubanan". Ia kepingin tertawa, tapi tertawanya tak bisa keluar.

"Orang itu bergelar Yo-ong atau Raja Obat,"

Kata pula Tiauw-bun.

"Kenapa ia dikatakan seorang wanita? Tapi yang mengatakan begitu, adalah seorang ternama dalam Rimba Persilatan yang pasti tak berdusta. Orang-orang lain, yang mengatakan Si Raja Obat sebagai seorang sastrawan, sebagai tukang potong babi atau hweeshio, rata-rata adalah orangorang gagah yang mulutnya boleh dipereaya. Pikirlah! Aneh, tidak?"

Di waktu berangkat dari rumah Biauw Jin-hong, Ouw Hui yakin seyakin-yakinnya, bahwa ia tak akan menghadapi banyak kesulitan.

Asal bisa bertemu dengan Tok-chiu Yo-ong, biar bagaimana juga, ia akan berusaha supaya Si Raja Obat bisa datang ke rumah Biauw Jin-hong untuk mengobati kedua mata kesatria itu.

Paling sialnya, ia akan membawa pulang obat pemunah racun.

Tapi sekarang, sesudah mendengar penuturan Tiauw-bun, sebagian besar pengharapannya lantas saja menjadi hilang.

Kepada siapa ia harus mencari keterangan?

Sesudah bengong beberapa saat, ia berkata.

"Agaknya orang itu pandai menyamar. Ia selalu keluar dengan penyamaran yang berubah-ubah, sehingga orang tak bisa mengenal rupanya yang sejati."

"Kawan-kawan dalam kalangan Kang-ouw juga beranggapan begitu,"

Kata Tiauw-bun.

"Mungkin sekali, garagara racunnya yang tiada bandingannya dalam dunia, ia mempunyai banyak sekali musuh dan terpaksa menyamar berganti-ganti supaya orang tak dapat mencarinya. Hanya satu hal aku tidak mengerti, ia bertempat tinggal di Pek-masie, satu tempat yang tidak terlalu sepi. Sebenarnya, tidak terlalu sukar untuk orang pergi menemuinya."

"Berapa banyak orang sudah binasa karena racunnya?"

Tanya Ouw Hui.

"Rasanya banyak sekali,"

Sahut Tiauw-bun.

"Hanya, menurut apa yang kudengar, orang-orang yang binasa dalam tangannya, semua memang pantas mendapat kebinasaan itu. Mereka semua terdiri atas penjahat-penjahat besar, jagoanjagoan yang sewenang-wenang terhadap rakyat atau hartawan-hartawan kejam. Belum pernah aku mendengar ia membinasakan orang-orang gagah yang baik-baik. Tapi karena namanya terlalu besar, di mana saja ada orang yang binasa akibat racun hebat, dialah yang dituduh. Misalnya dua orang yang masing-masing tempat tinggalnya terpisah jauh, satu dengan yang lain, satu di Inlam, satu di Liaotong, mati berbareng akibat racun, maka orang di Hunlam lantas saja mengatakan Tok-chiu Yo-ong datang ke Hunlam, sedang orang di Liaotong pun menyatakan, bahwa Si Tangan Beracun sudah menyatroni daerah Liaotong. Maka itu, kau lihat, seseorang yang namanya sudah terlalu besar, harus menerima segala akibat nama besar itu. Segala perbuatan jahat atau perbuatan baik semuanya ditumpahkan di atas kepalanya. Sudah lama aku tak pernah mendengar nama Tok-chiu Yo-ong disebut-sebut orang. Tak dinyana, kecelakaan yang menimpa diri Biauw-tayhiap juga bersangkut paut dengan dia. Hai! Jika racun itu benar adalah racun Yo-ong, aku khawatir ... aku khawatir ...."

Ia tak dapat meneruskan perkataannya, ia hanya menggelengkan kepala.

Mendengar penuturan itu, Ouw Hui jadi sangat berduka.

Ia berotak sangat cerdas, tapi sekali ini ia tak dapat memikirkan jalan yang sempurna.

Beberapa saat kemudian, Tiauw-bun berbangkit seraya berkata.

"Hayolah kita berangkat! Saudara kecil, sekarang aku ingin memesan suatu hal yang tak boleh diabaikan. Begitu tiba di daerah Pek-ma-sie, dalam jarak tiga puluh li dari tempat tinggal Yo-ong, kau tak boleh minum atau makan apa juga. Biar bagaimana haus, biar bagaimana lapar, seceguk air atau sebutir nasi tidak boleh masuk ke dalam mulutmu."

Melihat paras orang yang sungguh-sungguh, Ouw Hui lantas saja manggutkan kepalanya.

Sesaat itu, ia ingat bahwa ketika mereka mau berangkat dari rumah Biauw Jin-hong, wajah Tiauw-eng dan Tiauw-leng bukan saja menunjuk rasa khawatir tapi juga rasa takut.

Sekarang ia baru yakin, bahwa Tok-chiu Yo-ong benar-benar disegani orang dan perjalanan mereka adalah perjalanan yang penuh bahaya.

Saat itu ia baru merasa, bahwa sebagai seorang yang kurang pengalaman, ia sudah terlalu memandang enteng segala urusan.

Segera ia bangkit juga dan sembari menuntun kuda, ia berkata.

"Tujuan kita, hanya untuk mengundang ia mengobati Biauw-tayhiap atau meminta obatnya. Terhadap ia, sama sekali kita tak mempunyai maksud kurang baik. Paling banyak ia menolak dan kita pun tidak dapat memaksanya. Perlu apa ia mencelakakan jiwa kita?"

"Saudara kecil,"

Kata Tiauw-bun.

"Usiamu masih sangat muda dan kau belum mengerti cara-cara orang Kang-ouw. Kau kata, kau tidak mempunyai maksud jahat. Tapi, ia belum pernah mengenal kau. Bagaimana ia bisa pereaya, bahwa kau tidak mengandung maksud kurang baik? Lihatlah contoh yang baru saja terjadi. Lauw Ho-cin sedikit pun tidak mempunyai maksud jahat terhadap Biauw-tayhiap. Tapi akhirnya, di luar keinginannya sendiri, ia sudah menjadi gara-gara."

Ouw Hui tak berkata suatu apa, ia merasa perkataan Tiauw-bun sangat beralasan. Sesudah berdiam sejenak, Tiauw-bun berkata pula.

"Sebagaimana diketahui, Tok-chiu Yo-ong mempunyai banyak sekali musuh, antaranya terdapat orang-orang yang tiada sangkut pautnya dengan itu. Bagaimana ia bisa mengetahui, bahwa kau bukan murid atau sahabat dari musuhnya? Orang itu beradat aneh dan tangannya sangat beracun. Jika tak begitu, ia tentu tidak mendapat gelaran sebagai Tok-chiu Yo-ong."

"Benar,"

Kata Ouw Hui.

"Perkataan Ciong-toaya memang benar sekali."

"Saudara kecil,"

Kata Tiauw-bun.

"Kalau kau benar-benar menghargai aku dan tidak mencela kepandaianku yang sangat cetek, mulai dari sekarang, janganlah kau menggunakan istilah ‘toaya’ (tuan besar). Aku akan merasa syukur jika kau sudi menganggap diriku sebagai saudaramu."

"Ah!"

Kata Ouw Hui dengan paras muka bersemu merah.

"Kau adalah seorang gagah dari tingkatan lebih atas, sedang aku hanya seorang dari tingkatan bawah, cara ...."

"Fui! Saudara kecil!"

Tiauw-bun memotong perkataan Ouw Hui dengan suara keras.

"Untuk bicara sejujurnya, kami bertiga sangat mengagumi kau, sesudah kita bertempur. Tapi, sudahlah! Jika kau tidak menganggap aku sebagai sahabat, aku pun tak bisa berbuat suatu apa."

Ouw Hui adalah seorang yang beradat polos dan jujur. Melihat kesungguhan Tiauw-bun, lantas saja ia tertawa berkakakan dan berseru.

"Ciong-toako! Jika kau tidak menganggap aku sebagai anak kurang ajar, biarlah aku menurut segala keinginanmu!"

Tiauw-bun menjadi girang sekali dan segera melompat naik ke atas punggung kuda.

"Jika kedua binatang ini tidak ngadat di tengah jalan, di waktu magrib kita sudah akan tiba di daerah Pek-ma-sie,"

Katanya.

"Saudara kecil, jangan lupa pesanku. Jangankan dalam hal makan minum, sedang mengusap sumpit saja, kau harus berhati-hati. Saudara kecil, sungguh sayang jika kau, yang mempunyai kepandaian begitu tinggi, mesti binasa dengan badan berwarna hitam."

Ouw Hui insaf, bahwa dengan berkata begitu, Ciong Tiauwbun bukan hendak menakut-nakuti ia.

Ia yakin, bahwa sebagai seorang kenamaan dalam Rimba Persilatan, Tiauw-bun tidak bernyali kecil.

Bahwa ia sudah memesan secara begitu, adalah suatu bukti, bahwa Tok-chiu Yo-ong benar-benar tidak boleh dibuat gegabah.

Sesudah mengaso, tunggangan mereka menjadi segar lagi dan kembali bisa lari cukup keras.

Benar saja, di waktu magrib, mereka sudah tiba di Kota Pek-ma-sie.

Oleh karena sempitnya jalan dan khawatir menubruk orang yang berlalu lintas, mereka segera turun dan berjalan sambil menuntun kuda.

Ciong Tiauw-bun berjalan dengan kepala tegak, tak berani ia menengok ke kiri-kanan.

Tapi Ouw Hui bersikap tenang, ia mengawasi warung-warung dan toko-toko yang berjajar di kedua tepi jalan.

Ketika tiba di suatu tikungan ia melihat sebuah toko obat yang memasang merek "Cee-sietong Loo-tiam".

Sekonyong-konyong, ia menarik keluar golok bersama-sama sarungnya yang terselip di pinggangnya.

"Ciong-toako,"

Katanya.

"Mana poan-koan-pitmu? Berikanlah kepadaku."

Tiauw-bun terkesiap.

Apa Ouw Hui sudah gila?

Kenapa dia mengeluarkan senjata?

Tapi karena berada di daerah berbahaya, di mana tentu terdapat banyak sekali mata-mata Yo-ong, ia tak berani menanya dan segera mengeluarkan senjatanya yang lantas diserahkan kepada Ouw Hui.

"Hatihati!"

Ia berbisik.

"Jangan membikin gara-gara."

Ouw Hui manggut dan lantas saja berjalan masuk ke dalam toko obat itu. Ia mendekati meja tinggi yang biasa digunakan untuk menimbang obat, dan berkata.

"Tuan! Kami berdua ingin menemui chungcu (majikan) dari Yo-ong-chung. Karena merasa tak pantas membawa-bawa senjata pergi menjumpai beliau, kami mohon izin tuan untuk menitipkan senjata ini di sini. Sesudah menemui chungcu, kami akan mengambilnya kembali."

Muka si orang tua yang duduk di belakang meja, lantas saja menunjukkan perasaan heran.

"Kalian mau pergi ke Yoong-chung?"

Ia menegas.

Tanpa memedulikan, ia meluluskan atau tidak, buru-buru Ouw Hui meletakkan senjata-senjata itu di atas meja, mengangkat kedua tangannya dan segera berjalan keluar.

Setiba di luar kota yang sepi, Tiauw-bun mengacungkan jempolnya dan berkata.

"Saudara kecil! Siasatmu tadi sungguh luar biasa. Aku si orang she Ciong merasa kagum sekali."

"Ya,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa.

"Aku terpaksa berbuat begitu, karena tak ada jalan lain yang lebih baik."

Harus diketahui, bahwa Ouw Hui telah menduga, bahwa toko obat di dalam kota itu tentu mempunyai hubungan rapat dengan Tok

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com chiu Yo-ong, Si Raja Obat Tangan Beracun.

Tindakannya tadi, yang membuktikan, bahwa mereka tidak mengandung maksud kurang baik terhadap Yo-ong, tentu akan segera dilaporkan kepada orang aneh itu.

Dengan melepaskan senjata, bahaya yang sudah besar, akan menjadi lebih besar lagi.

Tapi, jika ditimbang-timbang dalam keseluruhannya, risiko itu ada harganya untuk diambil.

Dengan mengikuti jalan raya, mereka terus menuju ke utara.

Selagi mencari-cari penduduk di situ untuk menanyakan jalanan ke Yo-ong-chung, tiba-tiba mereka melihat satu tebing di atas gunung sebelah barat dan di atas tebing itu terdapat seorang tua yang sedang menggali rumput obat dengan pacul.

Setelah datang lebih dekat, mata Ouw Hui yang sangat tajam segera dapat melihat, bahwa penggali itu adalah seorang setengah tua yang bertubuh jangkung kurus dan mengenakan pakaian sastrawan.

Hati Ouw Hui berdebar.

"Apakah dia Tok-chiu Yo-ong?"

Ia menanya dirinya sendiri. Buru-buru ia menghampiri dan sesudah memberi hormat, ia berkata dengan suara nyaring.

"Aku mohon petunjuk Siangkong (tuan), jalan mana harus diambil untuk pergi ke Yo-ong-chung. Kami berdua ingin menemui chungcu untuk memohon pertolongan."

Orang itu tetap menunduk dan terus memacul.

Berapa kali Ouw Hui menanya tanpa diladeni, agaknya orang itu tuli.

Selagi Ouw Hui mau menanya lagi, Tiauw-bun memberi tanda dengan lirikan mata, sehingga pemuda itu mengurungkan niatnya dan bersama Tiauw-bun, ia berjalan pergi.

Sesudah berjalan kurang-lebih satu li, Ouw Hui berkata.

"Ciong-toako, kurasa orang itu adalah Yo-ong. Bagaimana pendapatmu?"

"Aku pun menduga begitu,"

Jawabnya.

"Tapi kita tak boleh bicara sembarangan, kecuali, kalau dia mengaku sendiri. Dalam kalangan Kang-ouw, sembarang menerka nama seseorang, merupakan pelanggaran besar. Sekarang, tak ada jalan lain daripada pergi ke Yo-ong-chung."

Sesudah menikung beberapa kali, tiba-tiba mereka melihat sebidang taman bunga yang terpisah beberapa puluh tombak dari pinggir jalan.

Di tengah-tengahnya terdapat seorang wanita dusun yang mengenakan pakaian hijau dan sedang merawat bunga sambil membungkuk.

Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa di belakang taman itu berdiri tiga rumah atap dan di sekitar tempat itu, tidak terdapat lagi rumah lain.

Ia maju menghampiri dan berkata sembari menyoja.

"Nona, tolong tanya, jalan mana yang harus diambil untuk pergi ke Yo-ong-chung?"

Nona itu mengangkat kepala dan memandang Ouw Hui dengan kedua matanya. Ouw Hui terkejut, karena kedua mata itu dengan biji mata yang hitam jengat, bersinar tajam luar biasa.

"Ah!"

Kata Ouw Hui dalam hatinya.

"Kenapa sinar matanya begitu luar biasa?"

Ouw Hui mengawasi sejenak dan mendapat kenyataan bahwa nona itu bukan seorang wanita yang berparas cantik.

Kulitnya kering kuning dan mukanya agak pucat, seperti kekurangan makan.

Rambutnya juga kekuning-kuningan dan tumbuhnya jarang, kedua pundaknya tinggi dan tubuhnya kurus, semua itu menunjukkan, bahwa nona itu adalah seorang gadis miskin dari daerah pedusunan.

Dilihat dari mukanya, ia kira-kira berusia enam belas atau tujuh belas tahun, tapi karena tubuhnya kurus kecil, kelihatannya seperti kanak-kanak yang baru berusia tiga belas atau empat belas tahun.

"Nona,"

Kata Ouw Hui pula.

"Numpang tanya, ke mana jalannya kalau mau pergi ke Yo-ong-chung, ke timur laut atau ke barat laut?"

"Tak tahu,"

Jawabnya dengan suara dingin dan ia segera menundukkan kepala.

Melihat sikap itu yang agak kasar, Tiauw-bun jadi mendongkol.

Akan tetapi, mengingat, bahwa tempat itu sangat berdekatan dengan Yo-ong-chung, sebisa-bisanya, ia menahan jengkelnya.

"Saudara kecil,"

Katanya.

"Hayolah kita berangkat! Yo-ong-chung adalah tempat terkenal di Pek-masie. Biar bagaimanapun juga, kita pasti akan dapat mencarinya."

Tapi Ouw Hui tidak sependapat dengan kawannya.

Melihat, bahwa hari sudah menjadi sore dan mereka mungkin menemui kejadian yang tidak enak jika sampai salah jalan di waktu malam, dengan sabar ia menanya pula.

"Nona, apakah ayah dan ibumu di rumah? Mereka tentu mengetahui jalan yang menuju ke Yo-ong-chung."

Gadis itu tetap tidak meladeni.

Ia terus mencabut rumput sembari menunduk.

Hati Ciong Tiauw-bun jadi semakin panas.

Dengan kedua lututnya, ia menjepit perut kuda yang lantas saja mulai bertindak ke depan.

Oleh karena sempitnya jalanan, kedua kaki kanan kuda itu menginjak jalan, tapi kedua kakinya yang sebelah kiri telah menginjak tanaman bunga.

Tiauw-bun tidak jahat, tapi ia beradat kasar.

Ditambah dengan rasa mendongkolnya dan keinginan untuk berangkat selekas mungkin, ia sama sekali tidak menghiraukan, bahwa tunggangannya menginjak tanaman kembang si nona.

Melihat sebaris tanaman itu akan segera terinjak hancur, buru-buru Ouw Hui menjambret les yang lalu ditariknya.

"Hati

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com hati!"

Katanya. Karena itu, tanaman bunga tersebut jadi terhindar dari kehancuran.

"Saudara kecil, hayolah!"

Kata Tiauw-bun.

"Guna apa berdiam lama-lama di sini?"

Sembari berkata begitu, ia mengeprak tunggangannya yang lantas saja lari dengan cepat.

Sebagai seorang yang semenjak kecil hidup dalam penderitaan, di dalam hati Ouw Hui terdapat rasa kasihan yang wajar terhadap orang-orang miskin.

Maka sebaliknya dari gusar, ia merasa kasihan kepada nona itu.

Ia merasa, bahwa tanaman bunga itu adalah mata pencarian keluarga si gadis.

Dengan adanya perasaan itu, perlahan-lahan ia menuntun kudanya, supaya hewan itu tidak menginjak tanaman.

Sesudah berada di luar kebun, baru ia melompat ke atas punggung kudanya.

Tiba-tiba gadis itu mengangkat kepala dan menanya.

"Untuk apa kau pergi ke Yo-ong-chung?"

Ouw Hui menahan les dan menjawab.

"Seorang sahabatku telah buta kedua matanya karena terkena racun. Kami sengaja datang kemari untuk memohon obat dari Yo-ong."

"Aku hanya pernah mendengar namanya, tapi belum pernah bertemu muka dengan orang tua itu,"

Kata si nona.

"Apakah kau kenal kepadanya!"

"Tidak,"

Jawab Ouw Hui sembari menggelengkan kepala. Perlahan-lahan si nona melempangkan badannya dan memandang Ouw Hui dengan matanya yang bersinar sangat tajam.

"Bagaimana kau tahu, bahwa ia akan suka memberi obat kepadamu?"

Tanya si nona. Wajah Ouw Hui lantas saja menjadi guram.

"Ya, aku hanya menduga begitu,"

Jawabnya sembari menghela napas. Di lain saat, ia mendapat suatu ingatan.

"Karena bertempat tinggal di sini, dia mungkin mengenal adat Yo-ong,"

Pikirnya. Memikir begitu, Ouw Hui lantas saja turun dari tunggangannya dan berkata sembari menyoja.

"Nona, itulah sebabnya, kenapa aku memohon petunjukmu."

Kata "petunjuk"

Ia mengandung dua maksud, yaitu minta keterangan tentang jalan ke Yo-ong-chung dan minta petunjuk tentang cara-cara untuk memohon obat.

Gadis itu tak menyahut.

Ia mengawasi Ouw Hui dari kepala sampai di kaki.

Berselang beberapa lama, tiba-tiba ia menuding dua tahang air seraya berkata.

"Pergi ke kolam air, isikan setengah tahang, bawa tahang itu ke selokan dan isi penuh dengan air. Sesudah itu, siramlah petakan ini!"

Ouw Hui terkesiap kata-kata itu sungguh di luar dugaannya, terlebih pula sebab perkataan si nona merupakan perintah seorang majikan terhadap kulinya.

Biarpun melarat, sedari kecil Ouw Hui belum pernah mengerjakan pekerjaan itu.

Sesudah memberi perintah, gadis tersebut lalu membungkuk dan terus mencabuti rumput lagi.

Sesudah hilang kagetnya, dalam hati Ouw Hui lantas saja timbul rasa kasihan.

"Dia begitu kurus kering, memang juga, mana kuat dia mengangkat tahang yang begitu besar,"

Pikirnya.

"Seorang laki-laki yang kuat memang harus menolong yang lemah. Biarlah, aku membantunya."

Ia menambat kudanya pada pohon liu dan segera melakukan apa yang diperintahkan si nona.

Sementara itu, sesudah melarikan kudanya beberapa puluh tombak dan Ouw Hui belum juga muncul, Ciong Tiauw-bun segera menengok ke belakang.

Ia heran melihat pemuda itu sedang menghampiri selokan sembari memikul sepasang tahang tahi.

"Saudara kecil, kau sedang mengerjakan apa?"

Ia berseru.

"Membantu nona itu melakukan sedikit pekerjaan,"

Sahut Ouw Hui dengan suara nyaring.

"Ciong-toako! Jalan saja duluan, sebentar aku menyusul."

Tiauw-bun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ia benarbenar pusing menghadapi seorang muda yang selagi menjalankan tugas begitu penting, masih sempat mencampuri urusan orang lain.

Tanpa berkata suatu apa, ia segera melarikan kudanya perlahan-lahan.

Sesudah mengisi kedua tahang itu dengan air selokan, Ouw Hui segera kembali dan menyiram tanaman kembang yang ditunjuk, dengan menggunakan gayung kayu.

Baru saja ia menyiram satu dua kali, si nona mendadak berkata.

"Salah! Terlalu kental. Kembangnya bisa lantas layu."

Ouw Hui mengawasi si nona dengan bengong, ia tak tahu harus berbuat bagaimana.

"Sekarang kau pergi lagi ke kolam, tuang isinya dan tinggalkan saja separuh,"

Perintah gadis itu.

"Sesudah itu, kau tambahkan lagi air selokan sampai penuh. Dengan campuran begitu, barulah sedang encernya."

Ouw Hui jadi agak mendelu, tapi ia menahan sabar dengan mengingat, bahwa jika ingin menolong, harus menolong sampai di akhirnya. Maka itu, lantas saja ia melakukan perintah si nona.

"Awas!"

Kata si nona selagi ia menyiram.

"Bunganya dan daunnya jangan sampai terkena air!"

"Baiklah,"

Sahut Ouw Hui.

Sembari menyiram pelan-pelan, ia memerhatikan bunga itu yang berwarna biru dan tua dan harum luar biasa, tapi ia tak tahu, bunga apakah itu.

Tak lama kemudian, isi kedua tahang itu sudah habis digunakan.

"Bagus,"

Kata si nona.

"Coba tolong sepikul lagi."

Ouw Hui berbangkit dan berkata dengan suara halus.

"Sahabatku sedang menunggu aku dan ia tentu merasa sangat tidak sabar. Begini saja, sepulangnya aku dari Yo-ongchung, aku akan mampir lagi di sini untuk membantu kau."

"Lebih baik kau berdiam di sini untuk menyiram bunga,"

Kata si nona.

"Karena melihat, bahwa kau seorang baik, baru aku meminta kau menyiram pohon-pohon itu."

Mendengar kata-kata yang aneh itu, Ouw Hui jadi semakin heran.

Sesudah telanjur terlambat, ia segera mengambil putusan untuk membantu terus.

Demikianlah ia memikul lagi dua tahang air kotoran dan dengan sabar ia menyiram, sehingga semua tanaman di kebun itu sudah disiramnya.

Sementara itu, matahari sudah turun di balik gunung, tapi sinarnya yang berwarna kuning emas masih menyoroti bungabunga biru itu, sehingga memberikan pemandangan yang indah luar biasa.

"Sungguh bagus bunga itu,"

Puji Ouw Hui berulang-ulang. Selagi si nona hendak bicara, mendadak kelihatan Ciong Tiauw-bun mendatangi dengan mengaburkan tunggangannya.

"Saudara kecil!"

Ia berteriak sesudah datang cukup dekat.

"Belum juga kau berangkat?"

"Ya,"

Balas Ouw Hui berteriak.

"Sekarang! Sekarang juga!"

Sehabis berkata begitu, ia mengawasi gadis dusun itu dengan sorot mata memohon. Wajah gadis itu lantas saja berubah keren.

"Kau membantu aku dengan maksud meminta petunjuk, bukan?"

Tanyanya. Ditanya begitu, Ouw Hui lantas saja berkata di dalam hatinya.

"Memang, memang aku membutuhkan petunjukmu. Tapi bantuanku yang diberikan barusan, adalah karena merasa kasihan. Sudahlah! Jika aku memohon sekarang, seperti juga aku menagih budi."

Memikir begitu, ia tertawa seraya berkata.

"Ah! Indah benar bunga-bunga itu, bukan?"

Ia lalu membuka tambatan kudanya dan meloncat ke punggungnya.

"Tahan!"

Kata si nona. Ouw Hui menengok dengan rasa tak sabar. Gadis itu membungkuk dan memetik dua kuntum bunga.

"Kau kata, bunga ini indah sekali,"

Katanya sembari melemparkan kedua bunga itu.

"Nih, kuberi dua tangkai."

"Terima kasih,"

Kata Ouw Hui yang lalu menyambuti dan memasukkan kedua-duanya ke dalam sakunya.

"Dia she Ciong, kau she apa?"

Tanya gadis dusun itu.

"She Ouw,"

Jawabnya. Si nona mengangguk dan berkata.

"Jika kalian mau ke Yoong-chung, lebih baik mengambil jalan ke timur laut."

Tadi, Ciong Tiauw-bun mengambil jalan ke barat laut.

Sesudah menunggu lama dan Ouw Hui tak muncul-muncul, ia menjadi jengkel dan segera kembali.

Tapi begitu mendengar perkataan si nona, kejengkelannya lantas saja menjadi hilang.

"Saudara kecil,"

Ia berbisik sembari tertawa.

"Baik juga ada kau, sehingga aku tak usah menyasar terlalu jauh."

Tapi sebaliknya, Ouw Hui sendiri merasa curiga.

"Jika rumah Yo-ong berada di sebelah timur laut, sebenarnya ia dapat menerangkannya secara tegas,"

Katanya di dalam hati.

"Kenapa ia menggunakan ‘lebih baik mengambil jalan ke utara timur’?"

Tapi, walaupun bereuriga, ia sungkan mendesak lebih jauh dan segera berangkat bersama Tiauw-bun dengan mengambil jalan yang ditunjuk si nona.

Baru saja berjalan enam-tujuh li, di hadapan mereka mengadang sebuah telaga yang sangat luas.

Jalan satusatunya yang terdapat di situ adalah sebuah jalan kecil yang menjurus ke sebelah barat.

"Kurang ajar perempuan itu!"

Tiauw-bun memaki.

"Kalau ia tak suka memberitahukan, kita juga tidak memaksa. Biarlah! Kalau lewat lagi di situ, kita hajar dia!"

Ouw Hui juga merasa heran. Setelah ia berbuat baik, kenapa wanita itu masih mempermainkannya? "Ciong-toako,"

Katanya.

"Kurasa wanita itu mempunyai hubungan dengan Yoong-chung."

"Apakah kau melihat tanda-tanda mencurigakan?"

Tanya Tiauw-bun.

"Kedua matanya bersemangat dan bersinar luar biasa,"

Sahutnya.

"Aku merasa, bahwa ia bukan seorang wanita dusun yang belum pernah melihat dunia."

"Benar,"

Kata Tiauw-bun.

"Lebih baik kau melemparkan dua tangkai kembang pemberiannya itu."

Ouw Hui merogoh sakunya dan mengeluarkan kedua bunga itu. Melihat warnanya yang sangat indah, tak tega ia membuangnya.

"Kembang yang begini indah belum tentu bisa mencelakakan orang,"

Pikirnya. Ia memasukkan lagi bungabunga itu ke dalam sakunya sambil melarikan tunggangannya ke jurusan barat.

"Hei! Hati-hati sedikit!"

Seru Tiauw-bun sembari menyusul dari belakang.

Ouw Hui mengiakan sambil mencambuki kudanya yang lantas saja kabur seperti terbang.

Waktu itu sudah magrib.

Sedari tiba di Pek-ma-sie, hati mereka selalu kebat-kebit.

Di siang hari masih mending, tapi di waktu siang sudah berganti malam, hati mereka semakin kedat-kedut.

Sesudah berjalan lagi beberapa lama, mereka mendapat kenyataan, bahwa semakin jauh, pohon-pohon dan rumput-rumput jadi semakin berkurang, sehingga akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang tanahnya gundul sama sekali.

Jantung Ouw Hui memukul keras dan sembari menahan les, ia berkata.

"Ciong-toako, coba lihat! Selembar rumput tak terdapat di tempat ini. Sungguh mengherankan!"

"Benar,"

Sahut Tiauw-bun.

"Andai kata semua tumbuhtumbuhan di sini dibabat manusia, sedikitnya masih kelihatan bekas-bekasnya. Aku khawatir ...."

Ia tidak meneruskan perkataannya, kedua matanya mengawasi Ouw Hui dengan sorot mata khawatir. Sesaat kemudian, ia berbisik.

"Tempat tinggal Yo-ong tentu berada dekat dari sini. Mungkin sekali, ialah yang menyebar racun, sehingga tak selembar rumput tumbuh di sini."

Ouw Hui mengangguk, ia menjadi lebih takut.

Tiba-tiba ia membuka buntelannya dan mengeluarkan beberapa helai kain yang lalu digunakan untuk membebat mulut kuda Tiauw-bun dan tunggangannya sendiri.

Tiauw-bun mengawasi dengan rasa kagum terhadap pemuda itu yang ternyata sangat hatihati.

Ia mengerti, bahwa Ouw Hui berbuat begitu karena khawatir, jika kedua hewan itu akan makan rumput beracun.

Dengan waspada, mereka lalu meneruskan perjalanan.

Tak lama kemudian, jauh-jauh mereka melihat sebuah bangunan atau sebuah rumah, yang bentuknya aneh sekali.

Rumah itu seperti juga sebuah kuburan besar, tanpa pintu dan tanpa jendela, sedang warnanya hitam mulus, sehingga kelihatannya menyeramkan sekali.

Dalam jarak beberapa tombak, itu dikitari pohon-pohon katai yang daunnya berwarna merah darah, seperti daun pohon hong di musim rontok.

Ciong Tiauw-bun adalah seorang jago yang sudah kenyang mengalami kejadian-kejadian menyeramkan di kalangan Kangouw.

Pakaian dan senjata Ciong-sie Sam-hiong sendiri sudah cukup menakutkan.

Akan tetapi, pada saat itu, Tiauw-bun yang bernyali besar tak urung mengeluarkan juga keringat dingin.

"Bagaimana pikiranmu?"

Ia berbisik.

"Kita memohon secara sopan santun,"

Jawab Ouw Hui.

"Dan melihat perkembangan selanjutnya."

Ia majukan kudanya sampai di dekat pohon-pohon merah itu. Kemudian ia melompat turun dan sembari mencekal les, ia berteriak.

"Ciong Tiauw-bun dari Ouwpak Utara dan Ouw Hui, seorang yang tingkatannya rendah dari Liaotong ingin menyampaikan hormat kepada Yo-ong."

Ia mengeluarkan suara itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Suaranya tidak seberapa keras, tapi "tajam"

Sekali, sehingga pasti akan dapat didengar oleh siapa juga yang berada di dalam rumah itu.

Rumah itu tetap sunyi senyap, tak terdengar suara apa pun juga dari dalamnya.

Ouw Hui berteriak lagi beberapa kali, tapi ia tetap tidak memperoleh jawaban.

Pemuda itu jadi agak mendongkol dan ia segera berteriak sekuat suaranya.

"Kimbian-hud Biauw-tayhiap terkena racun hebat! Racun itu telah dicuri dari rumah Cianpwee oleh seorang jahat. Maka itu, kami memohon Cianpwee sudi memberikan obat."

Tapi teriak itu pun berhasil nihil. Cuaca jadi semakin gelap.

"Ciong-toako, tindakan apa harus diambil?"

Bisik Ouw Hui.

"Apakah kita mesti pulang dengan tangan kosong dan membiarkan Biauw-tayhiap buta untuk selama-lamanya?"

Kata Tiauw-bun.

"Benar,"

Kata Ouw Hui dengan bersemangat.

"Biar mesti terjun ke dalam sarang naga atau ke gua harimau, kita harus berdaya upaya."

Sesaat itu, dalam hati mereka lantas saja timbul keinginan untuk menggunakan kekerasan.

Mereka menganggap, bahwa meskipun Yo-ong lihai dalam hal menggunakan racun, ilmu silatnya belum tentu terlalu tinggi.

Memikir begitu, sesudah melepaskan tunggangan mereka, Tiauw-bun dan Ouw Hui lalu mendekati pohon-pohon merah itu.

Ternyata, pohon-pohon tersebut sangat lebat cabang dan daunnya, sehingga tak dapat diterobos dengan begitu saja.

Tanpa berpikir panjang, Tiauw-bun segera bergerak untuk melompati pagar pohon itu.

Selagi badannya masih berada di tengah udara, tiba-tiba ia mengendus bau wangi.

Sesaat itu juga, kedua matanya gelap, kepalanya pusing dan ia roboh di antara pohon-pohon itu.

Ouw Hui terkejut bukan main dan segera melompat menyusul.

Seperti Tiauw-bun, ia juga mengendus bau wangi itu dan dadanya lantas saja dirasakan sesak.

Begitu kedua kakinya hinggap di bumi, buru-buru ia membangunkan Tiauw-bun memeriksa keadaannya.

Kedua mata Tiauw-bun tertutup rapat, tangan dan mukanya dingin, tapi ia masih bernapas.

Ouw Hui menjadi bingung tereampur duka.

"Ah,"

Ia mengeluh di dalam hati.

"Sedang obat untuk Biauw-tayhiap belum didapat, Ciong-toako juga sudah terkena racun. Aku sendiri pun sudah mengisap hawa beracun dan tinggal tunggu tempo saja."

Karena pikiran itu, ia menjadi nekat dan lalu mendekati rumah aneh itu.

"Yo-ong Cianpwee!"

Ia berteriak.

"Dengan tangan kosong, Boanpwee datang ke sini untuk memohon pertolongan. Sama sekali Boanpwee tidak mengandung maksud yang kurang baik. Jika Cianpwee tetap tak sudi menemui Boanpwee, Boanpwee terpaksa bertindak secara kurang ajar."

Sambil berteriak, ia meneliti keadaan bangunan itu.

Ia mendapat kenyataan, bahwa dari atas sampai di bawah, rumah tersebut berwarna hitam seluruhnya.

Seperti juga bukan terbuat dari bahan kayu.

Di samping itu, ia pun mendapat kenyataan, bahwa bangunan itu bersih luar biasa, tanpa sepotong kayu atau sebutir batu.

Untuk beberapa saat, ia berdiri bengong sembari mengasah otak.

Tak berani ia menyentuh dinding rumah itu, karena khawatir akan racun.

Sejenak kemudian, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sepotong perak yang lalu digunakan untuk mengetuk dinding itu.

Beberapa kali suara "tring"

Lantas terdengar dan sekarang ia mendapat kepastian, bahwa bangunan itu dibuat dari logam.

Ia lalu memasukkan perak itu ke dalam sakunya lagi.

Selagi berbuat begitu, ia menunduk dan seketika itu, serupa bau wangi yang sejuk menyambar kedua hidungnya.

Dan ...

hampir berbareng, dadanya lega dan otaknya menjadi lebih terang.

Dengan terkejut, ia menunduk lagi dan sekali lagi, ia mengendus wangi-wangian yang menyegarkan itu.

Ternyata bau wangi itu keluar dari dua kuntum bunga biru pemberian si gadis dusun.

"Ah!"

Kata Ouw Hui dalam hatinya.

"Kalau begitu, bunga ini mempunyai khasiat untuk menolak racun. Sekarang terbukti, bahwa gadis itu adalah seorang penolong."

Sembari berpikir begitu, Ouw Hui berlari-lari mengitari rumah aneh itu. Ia mendapat kenyataan, bahwa jangankan pintu dan jendela, sedang lubang kecil saja tidak terdapat di seluruh bangunan itu.

"Apakah benar-benar rumah ini tiada penghuninya?"

Tanyanya di dalam hati.

"Tanpa hawa udara, manusia tentu tak bisa berdiam lama-lama di dalamnya."

Oleh karena tidak bersenjata, tentu saja ia tidak berdaya terhadap bangunan yang terbuat dari logam itu.

Sesudah berpikir sejenak, ia segera mengeluarkan kedua bunga biru itu yang lalu ditempelkan pada lubang hidung Tiauw-bun.

Benar.

Benar saja, berselang beberapa saat, Tiauw-bun berbangkis dan mendusin.

Ouw Hui menjadi girang sekali dan lantas saja mengambil putusan untuk kembali kepada gadis dusun itu untuk memohon petunjuk lebih jelas.

Ia lalu menancapkan setangkai bunga biru di baju Tiauw-bun dan mencekal yang setangkai lagi, di dalam tangannya.

Sesudah itu, sambil mendukung Tiauw-bun, ia segera melompati pohon-pohon merah yang sangat beracun itu.

Baru saja kedua kakinya hinggap di atas tanah, dari dalam rumah itu mendadak terdengar bentakan.

"Hei!"

Suara itu yang sangat menyeramkan mengandung nada kegusaran. Ouw Hui memutarkan badan dan menghadapi rumah itu.

"Yo-ong Cianpwee!"

Ia berseru.

"Apakah Cianpwee sudi menerima kami?"

Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dan tetap tak mendapat jawaban, sesudah ia mengulangi seruannya beberapa kali. Tiba-tiba kesunyian sang malam dipecahkan suatu bunyi.

"bruk!" , seolah-olah serupa benda berat jatuh di tanah. Ouw Hui menengok ke arah bunyi itu dan dengan hati mencelos, ia mendapat kenyataan bahwa kedua tunggangan mereka sudah roboh terguling. Dengan sekali menggenjot badan, ia sudah mendekati kedua hewan itu, yang sudah putus napasnya dengan mulut mengeluarkan liur warna hitam, tapi pada badannya tidak terdapat tanda-tanda luka. Sampai di situ, habislah keberanian kedua orang gagah itu. Sesudah berdamai dengan suara perlahan, mereka mengambil putusan untuk kembali ke kebun si gadis dusun, untuk memohon pertolongan atau petunjuk-petunjuk. Sesudah terkena racun, kedua kaki Tiauw-bun agak lemas, sehingga mereka berjalan sembari sebentar-sebentar mengaso. Kira-kira jam dua, lewat tengah malam, baru mereka tiba di depan gubuk si gadis dusun. Di antara kesunyian sang malam, bunga-bunga biru yang sedang mekar di tengah kebun, menyiarkan bau yang harum luar biasa. Mengendus itu, dada Tiauw-bun menjadi lega dan semangatnya dengan segera pulih kembali. Sekonyong-konyong di jendela rumah gubuk itu muncul sinar penerangan.

"Brak!"

Pintu terbuka dan si nona kelihatan muncul.

"Jiewie, masuklah,"

Ia mengundang.

"Di kampung yang melarat, aku tak dapat menyuguhkan santapan yang pantas kepada tamu. Paling banyak, teh yang tawar dan nasi yang kasar."

Buru-buru Ouw Hui merangkap kedua tangannya dan berkata sembari membungkuk.

"Kami sungguh merasa malu, bahwa di tengah malam buta, kami terpaksa mengganggu Nona."

Si nona mesem dan segera bertindak ke samping, supaya kedua tetamunya bisa masuk.

Begitu masuk, Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa gubuk itu diperaboti secara sangat sederhana sekali, tiada bedanya seperti rumah orang miskin.

Tapi ada suatu hal yang aneh, yaitu, seluruh ruangan luar biasa bersihnya, seolah-olah tak ada sekelumit debunya.

Jantung Ouw Hui memukul semakin keras.

Kebersihan gubuk ini mirip dengan kebersihan rumah aneh yang dikitari pohon beracun itu.

"Ciong-ya, Ouw-ya, duduklah,"

Si nona mengundang sembari masuk.

Beberapa saat kemudian, ia membawa keluar dua mangkuk kosong, dua pasang sumpit, tiga piring sayur, semangkuk kuah, dan dua mangkuk besar nasi putih yang masih mengepul.

Tiga macam sayur itu adalah tahu-ca, rebung ca-taoge dan peheay-ca, sedang semangkuk kuah adalah sayur asin dimasak kuah.

Semua santapan adalah santapan orang ciacay, tapi baunya sangat sedap sehingga menimbulkan nafsu makan.

Sesudah melalui perjalanan jauh, tak usah dikatakan lagi, mereka berdua sudah merasa sangat lapar.

"Terima kasih,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa dan lalu mengambil mangkuk dan sumpit. Di lain saat, ia sudah makan dengan bernafsu sekali. Tapi Tiauw-bun tak berani bergerak, karena hatinya sangat bereuriga.

"Semua makanan itu tentunya sudah disiapkan olehnya terlebih dulu,"

Katanya di dalam hati.

"Dia tentu sudah memastikan, bahwa kita berdua akan kembali. Hati orang Kang-ouw sukar dijajaki. Aku harus berhati-hati, lebih baik lapar daripada mampus diracuni orang."

Karena curiganya, selagi si nona pergi ke dapur, ia melirik Ouw Hui dan berbisik.

"Saudara kecil, bukankah aku sudah memesan, supaya dalam jarak tiga puluh li dari rumah Yoong, kau tak boleh makan apa pun juga. Apakah kau lupa?"

Tapi Ouw Hui berpendapat lain.

Ia menganggap, bahwa jika si nona mengandung maksud kurang baik, dia tentu tidak akan menghadiahkan dua bunga itu.

Di samping itu, jika makanan yang sudah disediakan tidak dimakan, si nona tentu akan merasa tersinggung.

Selagi ia mau bicara, si gadis dusun sudah keburu keluar lagi dengan membawa sebuah penampan kayu di atas mana terdapat tahang kayu kecil yang penuh dengan nasi putih.

Ouw Hui bangkit seraya berkata.

"Terima kasih banyak untuk budi Nona yang sangat besar. Bisakah kami memberi hormat kepada ayah dan ibu Nona?"

"Kedua orang tuaku sudah meninggal dunia,"

Jawabnya.

"Aku hidup sebatang kara."

"Ah!"

Ouw Hui mengeluarkan seruan tertahan.

Tapi tanpa berkata suatu apa, ia lantas duduk pula dan terus makan lagi.

Semua makanan itu dibuat dari sayur-mayur segar dan rasanya memang lezat sekali.

Tanpa sangsi-sangsi, Ouw Hui makan segala apa yang disuguhkan dan untuk menyenangkan hati si nona, sembari makan, tak hentinya ia memuji santapan itu.

Dengan menghela napas perlahan, Tiauw-bun mengawasi Ouw Hui yang makan terus tanpa mengenal bahaya.

"Jika kau sungkan mendengar nasihatku, aku juga tak dapat berbuat apa-apa,"

Katanya di dalam hati.

"Biar bagaimana juga sama mati dirobohkan orang."

Untuk mencegah tersinggungnya perasaan si gadis dusun, ia berkata.

"Nona, harap kau suka memaafkan aku. Karena tadi terkena racun, perutku rasanya tak enak sekali. Aku tak ingin makan apa-apa."

Si nona lalu menuang secangkir teh dan sambil mengangsurkan cangkir itu kepada Tiauw-bun, ia berkata.

"Kalau begitu minum teh saja."

Tiauw-bun menyambut dan melirik air teh yang berwarna kehijau-hijauan.

Ia sebenarnya haus sekali, tapi, sesudah dicekal beberapa saat, ia menaruh cangkir itu di atas meja tanpa diminum.

Si gadis dusun bersikap tenang-tenang saja, sama sekali ia tidak menunjukkan perasaan jengkel.

Melihat Ouw Hui makan seperti macan kelaparan, si nona jadi merasa girang dan kegirangannya terlihat pada sorot matanya.

Ouw Hui adalah seorang yang cerdas luar biasa dan sorot mata si gadis dusun tidak terluput dari pengawasannya.

Ia makan sesudah memperhitungkan untung-ruginya.

Sesudah mengambil putusan untuk makan, jika santapan itu mengandung racun, makan sedikit atau makan banyak, akibatnya adalah sama.

Maka, ia lalu "membuka perut"

Sebesar-besarnya, menghabiskan empat mangkuk nasi dan menyikat semua santapan yang berada di atas meja.

Sesudah ia selesai makan, si gadis dusun lalu bergerak untuk membenahkan piring mangkuk kosong itu, tapi Ouw Hui mendahuluinya.

Ia menyusun semua perabot makan itu di atas penampan dan membawa semua itu ke dapur untuk kemudian dicucinya.

Sesudah bersih, ia memasukkan semua piring mangkuk tersebut ke dalam lemari, sedang si nona sendiri lalu menyapu sisa makanan yang berantakan di atas lantai.

Melihat, bahwa air dalam jambangan hanya tinggal sedikit, Ouw Hui lalu mengambil dua tahang dan pergi mengambil air di selokan kecil.

Sesudah mengisi air dalam jambangan itu, Ouw Hui kembali ke ruangan depan tadi.

Ia mendapat kenyataan, bahwa Tiauw-bun sudah pulas nyenyak dengan mendekam di atas meja.

"Maaf, Ouw-ya,"

Kata si nona.

"Dalam rumahku ini tidak ada kamar tamu. Ouw-ya hanya bisa mengaso dengan merebahkan diri di atas bangku panjang."

"Nona, banyak terima kasih untuk segala budimu,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa.

"Jangan kau berlaku begitu sungkan."

Gadis dusun itu tidak berkata apa-apa lagi dan segera masuk ke ruangan dalam sesudah merapatkan pintu yang tidak dikuncinya.

Diam-diam Ouw Hui mengagumi gadis itu yang walaupun hidup seorang diri di tempat yang begitu sepi, masih berani menerima dua orang laki-laki menumpang.

Perlahan-lahan ia mendorong pundak Tiauw-bun dan berbisik.

"Ciong-toako, pindahlah ke bangku panjang."

Di luar dugaan, begitu didorong, badan Tiauw-bun miring dan terguling di atas tanah.

Dengan kaget, Ouw Hui buru-buru membangunkannya.

Segera juga ia mendapat kenyataan, bahwa muka Tiauw-bun panas seperti api.

"Ciong-toako, kau kenapa?"

Tanyanya dengan perasaan bingung. Buru-buru ia mengambil pelita dan meneliti keadaan kawannya itu. Selebar muka Tiauw-bun berwarna merah, seperti mabuk arak, sedang mulutnya berbau arak.

"Eh-eh!"

Kata Ouw Hui dalam hatinya.

"Air teh saja ia tak berani minum. Kenapa bisa jadi mabuk arak?"

Sementara itu, dalam keadaan setengah sadar, Tiauw-bun mengoceh.

"Tidak! Aku tidak mabuk. Mari, mari! Mari kita minum tiga mangkuk lagi!"

Ouw Hui menduga, bahwa semua itu tentu juga perbuatan si gadis dusun yang mungkin tersinggung karena Tiauw-bun menolak makanan dan minumannya.

Ia khawatir tereampur heran dan ia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya.

Apakah ia harus membangunkan si nona untuk memohon pertolongan, ataukah membiarkan saja sampai Tiauw-bun sadar sendiri.

Di lain saat, ia mendapat pikiran lain.

"Ah!"

Pikirnya.

"Ciongtoako bukan mabuk sewajarnya. Ia tentu terkena racun."

Selagi hatinya sangat bimbang, di kejauhan mendadak terdengar jeritan sekawanan binatang liar yang sangat menyeramkan.

Dalam kesunyian sang malam, suara itu sudah membangunkan bulu romanya.

Didengar dari bunyinya jeritan itu adalah jeritan kawanan serigala.

Tapi, daerah di sekitar Telaga Tong-teng adalah tanah datar, sehingga meskipun ada juga seekor dua ekor serigala, rombongan yang besar jumlahnya tak mungkin terdapat di tanah datar itu.

Dengan hati berdebar Ouw Hui memasang kuping.

Semakin lama, pekikan-pekikan itu jadi semakin dekat, kadang-kadang tereampur dengan jeritan beberapa kambing hutan.

Selagi ia mau menengok lagi keadaan Tiauw-bun, tiba-tiba pintu ruangan dalam terbuka dan si nona menampakkan diri dengan mencekal ciaktay (tempat menancapkan lilin) dan dengan paras yang agak ketakutan.

"Itulah kawanan serigala,"

Katanya. Ouw Hui mengangguk. Ia mengawasi gadis itu dan sambil menunjuk Tiauw-bun, ia berkata.

"Nona ...."

Di lain saat, jeritan-jeritan itu, sudah terdengar semakin dekat.

Wajah Ouw Hui lantas saja berubah pucat.

Tiauw-bun sedang berada dalam keadaan pingsan, sedang sikap nona itu masih diragukannya, belum terang, apakah dia lawan atau kawan.

Apakah yang harus dilakukannya?

Selagi ia berada dalam kebingungan, di antara jeritan itu terdengar juga bunyi tindakan kuda yang tengah mendatangi dengan kecepatan luar biasa.

Buru-buru Ouw Hui membungkuk dan sesudah mendukung Tiauw-bun, ia melompat ke dapur untuk mencari golok.

Tapi karena gelap gulita, golok itu tak gampang dicarinya.

"Apakah kau dari keluarga Beng?"

Demikian terdengar bentakan si gadis dusun.

"Perlu apa kau datang di tengah malam buta?"

Mendengar bentakan itu yang sangat angker, hati Ouw Hui menjadi lebih lega.

Sedikitnya ia mengetahui, bahwa si penunggang kuda bukan kawan gadis dusun itu.

Dengan cepat ia menerobos ke luar dan masuk di pekarangan belakang.

Sesudah menjumput seraup batu-batu kecil, ia melompat ke atas sebuah pohon liu dan meletakkan tubuh Tiauw-bun di antara dua cabang besar.

Di bawah sinar bintang, ia melihat, bahwa seorang laki-laki yang mengenakan pakaian abu-abu sudah memajukan kudanya sampai di depan pintu.

Di belakangnya, sambil mengeluarkan geraman dan jeritan menyeramkan, datang belasan serigala itu, meluruk bagaikan kelaparan.

Dilihat sekelebatan seperti juga orang itu sedang dikejar binatangbinatang buas itu.

Tapi di lain saat, Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa orang itu menyeret seekor kambing putih yang terus menjerit-jerit di belakang kudanya.

Bukan main herannya Ouw Hui.

Apakah dia seorang pemburu yang mau menangkap serigala dengan menggunakan tunggangannya ke dalam kebun bunga.

Dengan dikejar oleh kawanan serigala itu, dari timur ia melarikan kudanya ke barat dan dari barat ke timur.

Dalam sekejap, seluruh tanaman bunga itu sudah terinjak hancur.

Orang itu sungguh pandai menunggang kuda, karena sesudah beberapa putaran, kawanan anjing itu masih belum bisa menerkam si kambing putih yang diseret di belakang kuda.

"Ah!"

Ouw Hui mendusin.

"Dilihat begini, orang itu agaknya memang sengaja mau merusak kebun bunga ini! Sekarang tak dapat aku berpeluk tangan."

Dengan sekali menggenjot badan, kedua kakinya sudah hinggap di atas atap rumah. Tapi, sebelum ia keburu berbuat apa-apa, mendadak terdengar suara teriakan.

"aduh!" , disusul dengan kaburnya si penunggang kuda ke arah utara. Kambing itu yang ketinggalan di tengah-tengah kebun, lantas saja diterkam, dirobek dan terus dimakan oleh kawanan serigala itu.

"Jahat benar orang itu,"

Pikir Ouw Hui sembari menimpukkan dua butir batu.

Dengan serentak, dua ekor anjing roboh terguling dengan kepala hancur.

Sekali lagi, Ouw Hui menyambit dengan dua butir batu.

Kali ini, batu yang digunakannya agak kecil, yang sebutir mengenai perut seekor serigala dan yang sebutir lagi menghajar pundak seekor serigala lain.

Meskipun tak sampai mati, kedua binatang itu lantas saja menjerit-jerit kesakitan.

Kawanan binatang buas itu agaknya mengerti, bahwa musuh mereka berada di atas atap rumah.

Mereka mendongak dan menggeram sambil mengawasi pemuda itu, dengan mata berapi.

Melihat kegalakan kawanan binatang itu, Ouw Hui bergidik.

Tanpa bersenjata ia merasa tak ungkulan melawan kawanan serigala itu.

Sekali lagi ia mengayun tangannya untuk menimpuk seekor serigala jantan yang paling besar.

Bagaikan kilat batu menyambar tenggorokan binatang itu yang lantas sudah terguling-guling dan terkaing-kaing, akan kemudian kabur sekeras-kerasnya.

Seekor serigala lain, yang perutnya sudah kenyang, lantas saja turut kabur, disusul oleh serigala ketiga, keempat, dan begitu seterusnya.

Dalam sekejap mereka sudah kabur jauh meninggalkan kebun bunga yang sudah hancur.

Ouw Hui segera melompat turun sembari berkata.

"Sungguh sayang!"

Ia merasa sayang, bahwa capai lelahnya si nona menanam dan merawat tanaman-tanaman yang begitu indah, telah dimusnahkan dalam sekejapan mata.

Ia menduga, bahwa si gadis dusun tentu bukan main gusarnya.

Tapi di luar dugaan, si nona sama sekali tidak menyebutnyebut kerusakan kebunnya dan berkata sembari tertawa.

"Ouw-toako, terima kasih banyak untuk bantuanmu."

"Aku sungguh merasa sangat malu,"

Jawab Ouw Hui.

"Aku sangat menyesal, bahwa aku tidak turun tangan terlebih siang. Jika tadi aku merobohkan si penunggang kuda sebelum dia masuk kebun, tanaman bunga itu tentu akan dapat diselamatkan."

Si nona bersenyum manis dan berkata dengan suara tenang.

"Andai kata tidak dirusak anjing hutan, beberapa hari lagi bunga-bunga itu tentu akan layu sendiri."

Ouw Hui terkejut, karena ia merasa, bahwa gadis dusun itu sudah mengeluarkan kata-kata aneh, yang seolah-olah merupakan ramalan.

"Sesudah menerima budi yang begitu besar, aku belum mengetahui she Nona yang mulia,"

Kata Ouw Hui dengan sikap menghormat. Wajah si nona lantas saja berubah angker.

"Aku she Thia,"

Jawabnya.

"Di hadapan orang lain, harap kau jangan menyebut-nyebut sheku itu."

Ia mengucapkan kata-kata itu dengan nada seolah-olah Ouw Hui adalah anggota keluarganya sendiri. Ouw Hui menjadi sangat girang dan ia maju setindak lagi.

"Tapi, apakah aku boleh mengetahui nama Nona?"

Tanyanya lagi.

"Kau sangat baik,"

Kata si nona.

"Sudah telanjur biarlah aku sekalian memberitahukan namaku kepadamu. Aku bernama Leng-so. Leng dari leng-kie dan So dari so-bun."

Walaupun tidak mengetahui, bahwa leng-kie dan so-bun adalah nama dua kitab obat, Ouw Hui merasa nama itu enak sekali didengarnya dan ia semakin yakin, bahwa gadis dusun itu bukan sembarang orang.

"Kalau begitu,"

Katanya sembari tertawa.

"Biarlah aku panggil kau Leng-kouwnio (Nona Leng)."

Si nona tertawa manis dan berkata.

"Kau sungguh ramah tamah."

Jantung Ouw Hui mendadak berdebar keras.

Gadis dusun itu bukan seorang gadis cantik.

Akan tetapi, lagu bicaranya dan tertawanya yang manis mempunyai serupa daya penarik yang luar biasa.

Selagi ingin menanyakan keadaan Tiauw-bun, si nona sudah mendahului.

"Keadaan Ciong-toakomu sama sekali tidak berbahaya. Besok pagi, ia akan sadar dari mabuk araknya. Sekarang aku ingin pergi menemui beberapa orang. Apakah kau mau turut?"

Sekali lagi Ouw Hui merasa heran.

Siapa yang ingin dijumpainya di tengah malam buta?

Ia tak berani menanyakannya.

Satu hal ia memastikan, tindakan si gadis dusun tentu mempunyai arti yang sangat penting.

"Aku ikut,"

Jawabnya tanpa berpikir panjang-panjang lagi.

"Baik,"

Kata si nona.

"Tapi sebelum kita berangkat, kau harus membuat dulu tiga perjanjian. Pertama, kau tak boleh bicara dengan orang lain ...."

"Akur,"

Kata Ouw Hui.

"Aku akan berlagak gagu."

"Tak usah,"

Kata Leng-so sembari tertawa.

"Dengan aku, tentu saja kau boleh bicara. Kedua, kau tak boleh bertempur, tak boleh melepaskan senjata rahasia atau menutuk jalan darah orang. Semua tak boleh. Ketiga, kau tidak boleh terpisah lebih dari tiga tindak dari sampingku."

Dengan merasa sangat girang, Ouw Hui lantas saja mengiakan. Ia yakin, bahwa si nona akan membawa dia kepada Tok-chiu Yo-ong.

"Apakah kita berangkat sekarang?"

Tanyanya.

"Kita harus membawa sedikit barang,"

Jawabnya sembari masuk ke dalam kamarnya. Lewat kira-kira seminuman teh, ia keluar lagi dengan memikul dua keranjang bambu yang tertutup, sehingga tak dapat diketahui apa isinya.

"Biarlah aku yang memikulnya,"

Kata Ouw Hui sembari mengambil pikulan itu yang segera dilintangkannya.

Segera juga ia mendapat kenyataan, bahwa kedua keranjang itu tak mudah dipikulnya, karena yang sebelah sangat berat, kira-kira seratus tujuh puluh kati beratnya, sedang yang lain sangat enteng.

Ia heran, tapi tak mengatakan suatu apa.

Sebelum berangkat, ia menengok ke arah Tiauw-bun yang sedang menggeros dengan mengeluarkan hawa arak dari mulut dan hidungnya.

Sesudah Leng-so mengunci pintu, mereka lalu berangkat dengan si nona berjalan di depan.

"Leng-kouwnio,"

Kata Ouw Hui.

"Bolehkah aku menanyakan suatu hal?"

"Boleh saja jika aku dapat menjawabnya,"

Sahut si nona.

"Jika kau tak bisa, dalam dunia ini tiada orang lain yang bisa menjawabnya,"

Kata Ouw Hui.

"Kau sendiri tahu, Ciongtoako tidak minum setetes air atau menelan sebutir nasi. Tapi, kenapa dia sampai jadi mabuk begitu rupa?"

Gadis dusun itu tertawa geli.

"Dia mabuk justru karena tak minum dan tak makan,"

Jawabnya.

"Ah! Inilah benar-benar suatu hal, yang aku tak mengerti,"

Kata pula Ouw Hui.

"Ciong-toako adalah seorang yang sudah kawakan dalam dunia Kang-ouw. Kui-kian-ciu Ciong-sie Sam

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com hiong di Ouwpak Utara adalah orang-orang yang terhitung mempunyai ilmu silat tinggi dalam Rimba Persilatan.

Di lain pihak, aku adalah seorang yang berkepandaian sangat cetek.

Tapi siapa nyana, sedang ia begitu berhati-hati, ia justru ...."

Ia tak bicara terus dan berhenti sampai di situ.

"Bicara saja terus terang,"

Kata si nona.

"Kau tentu ingin mengatakan, bahwa ia begitu berhati-hati, tapi tak urung dapat kurobohkan. Bukankah begitu? Apakah kau mengira, bahwa orang yang berhati-hati selamanya akan selamat? Justru orang seperti kau, yang sukar mendapat bahaya."

"Kenapa begitu?"

Tanya Ouw Hui.

"Disuruh memikul tahi, kau pikul, disuruh makan, kau lantas makan,"

Jawabnya sembari tertawa.

"Terhadap bocah yang begitu menurut, mana orang tega menurunkan tangan jahat?"

"Oh, kalau begitu, menjadi manusia harus mendengar kata,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa.

"Tapi caramu mencelakakan orang benar-benar luar biasa. Sehingga sekarang, aku masih belum bisa menebak, bagaimana kau melakukannya."

"Baiklah, kepadamu, aku rela membuka rahasia,"

Kata si nona.

"Apakah kau melihat kembang putih kecil, yang berada di ruangan tengah?"

Karena bunga itu tidak mencolok mata dan agaknya hanya perhiasan belaka, Ouw Hui tidak memerhatikannya.

Sekarang ia ingat bahwa di samping meja makan, terdapat sebuah meja kecil, di atas mana telah ditempatkan sebuah jambangan kembang, dengan sekuntum bunga putihnya.

"Bunga itu dinamakan Tek-ouw-hiang,"

Si nona menerangkan.

"Yang dapat memabukkan orang adalah baunya yang harum. Siapa juga yang mengendusnya, pasti akan roboh dengan tanda-tanda seperti orang mabuk arak. Dalam makanan dan air teh, aku sudah mencampurkan obat pemunahnya."

Mendengar keterangan itu, Ouw Hui menjadi kagum berbareng jeri.

Menurut kebiasaan, cara meracuni orang adalah mencampurkannya ke dalam minuman atau makanan.

Tapi cara si gadis dusun masih jauh lebih lihai sehingga seorang Kang-ouw kawakan seperti Ciong Tiauw-bun masih kena dirobohkan juga.

"Sebentar, begitu pulang, aku akan segera memberikan obat pemunahnya kepada kawanmu itu,"

Kata Leng-so.

"Tak usah kau khawatir."

Perkataan si nona sudah membikin Ouw Hui teringat suatu hal.

"Nona ini pandai menggunakan racun dan pandai pula menyembuhkan penyakit akibat racun,"

Pikirnya.

"Mungkin sekali, ia juga dapat menyembuhkan kedua mata Biauwtayhiap. Jika benar begitu, tak usah aku capai-capai pergi menemui Tok-chiu Yo-ong."

Memikir begitu, lantas saja ia menanya.

"Leng-kouwnio, bisakah kau mengobati penyakit akibat racun Toan-chung-co?"

"Sukar dikatakan,"

Sahutnya.

Mendengar jawaban itu, Ouw Hui tak berani mendesak lagi.

Sambil mengikuti di belakangnya, ia melihat bahwa tindakan si nona enteng luar biasa, tapi bukan karena menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Tak lama kemudian, mereka sudah melalui enam-tujuh li.

Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa mereka sedang menuju ke arah timur dan bukan ke jurusan Yo-ong-chung.

Mendadak, ia mengingat suatu hal dan lantas saja menanya.

"Leng-kouwnio, aku ingin mengajukan pertanyaan lain. Tadi, sebelum aku dan Ciong-toako berangkat ke Yo-ong-chung, kau telah mengatakan, ‘lebih baik jalan ke timur laut.’ Kau sudah menyesatkan kami, sehingga kami mesti berjalan memutar, yang lebih panjang kira-kira dua puluh li daripada semestinya. Kenapa kau sudah berbuat begitu? Sampai sekarang aku masih belum mengerti."

Si nona tertawa.

"Sudahlah! Janganlah menanya berbelitbelit,"

Katanya.

"Kau tentu ingin menanya, rumah Yo-ong terletak di barat daya, kenapa kita sekarang menuju ke timur? Bukankah itu yang kau ingin menanyakan?"

Muka Ouw Hui jadi bersemu merah.

"Benar, kau telah menebak tepat sekali,"

Katanya dengan suara perlahan.

"Kita tidak berjalan menuju ke Yo-ong-chung, karena kita memang bukan mau pergi ke Yo-ong-chung,"

Kata gadis dusun itu. Ouw Hui terkejut, karena pernyataan itu adalah di luar dugaannya.

"Ah!"

Ia mengeluarkan seruan tertahan.

"Apakah kau tahu, kenapa siang tadi aku meminta kau menyiram pohon-pohon bunga?"

Tanya Leng-so.

"Pertama, untuk mencoba-coba hatimu dan kedua, untuk memperlambat perjalananmu. Sesudah itu, aku sengaja menunjukkan jalan memutar yang lebih panjang kira-kira dua puluh li daripada semestinya. Dengan berbuat begitu, aku juga bermaksud untuk memperlambat perjalananmu, supaya kau tiba di Yoong-chung di waktu malam. Kenapa aku berbuat begitu? Kau harus mengetahui, bahwa pohon-pohon merah yang mengitari Yo-ong-chung kurang beracunnya di waktu malam, sehingga bisa dilawan dengan bunga biru yang kuberikan kepadamu."

Mendengar penjelasan itu, bukan main kagumnya Ouw Hui.

Ia sekarang merasa takluk dan berterima kasih kepada nona dusun itu yang ternyata sudah menolong ia dengan sesungguh hati.

Maka itu, tanpa menanya suatu apa lagi, ia segera mengikuti Leng-so berjalan ke arah timur.

Sesudah berjalan lagi lima enam li, mereka masuk ke dalam hutan yang lebat.

"Sudah tiba, tapi mereka belum datang,"

Kata Leng-so.

"Biarlah kita menunggu di sini. Tolong, letakkan keranjang ini di bawah pohon itu."

Sembari berkata begitu, Leng-so menunjuk sebuah pohon besar.

Ouw Hui lantas saja melakukan apa yang diminta.

Sesudah itu, si nona mendekati gerombolan rumput tinggi yang terpisah kira-kira sembilan tombak dari pohon besar tersebut.

"Tolong, bawalah kemari keranjang yang satunya lagi,"

Kata Leng-so sembari masuk ke dalam gerombolan.

Tanpa berkata suatu apa, Ouw Hui menenteng keranjang itu dan turut masuk ke dalam rumput-rumput tinggi tersebut.

Ia mendongak, mengawasi langit dan memandang sang bulan yang sudah tenggelam di barat.

Waktu sudah tengah malam, di dalam hutan yang sunyi hanya terdengar bunyi kutu-kutu kecil, diseling dengan suara burung-burung malam.

Beberapa saat kemudian, si nona memberikan sebutir pil kepada Ouw Hui sambil berbisik.

"Isaplah ini dalam mulutmu, jangan ditelan."

Tanpa ragu-ragu, Ouw Hui memasukkan pil itu yang rasanya sangat pahit, ke dalam mulutnya.

Dengan menahan napas, mereka menunggu.

Antara mereka berdua, adalah Ouw Hui yang tak mengetahui, apa atau siapa yang sedang ditunggu.

Ia mengingat, bahwa selama sehari dan semalam, pengalamannya sungguh luar biasa.

Dan dalam lamunannya, tiba-tiba ia teringat Wan Cie-ie.

"Ah. Di mana ia sekarang?"

Ia menghela napas.

"Jika sekarang yang berada di sampingku adalah dia, entah apa yang akan dikatakannya."

Memikir begitu, tanpa merasa ia merogoh saku dan mengusap-usap burung hong dari giok, pemberian nona Wan.

Sesudah menunggu kurang-lebih setengah jam, tiba-tiba Leng-so menarik ujung bajunya dan menuding ke suatu jurusan.

Ouw Hui memandang ke jurusan itu dan melihat sinar teng (lentera) di kejauhan.

Umumnya, api teng bersinar merah, tapi api itu hijau sinarnya.

Teng itu bergerak cepat luar biasa dan dalam sekejap, sudah berada dalam jarak belasan tombak.

Dari sinar api, Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa yang menenteng teng itu, adalah seorang wanita bungkuk dan jalannya terpincang-pincang diikuti seorang laki-laki di belakangnya.

Jantung Ouw Hui memukul keras.

Ia ingat keterangan Tiauw-bun, bahwa Tok-chiu Yo-ong adalah seorang perempuan yang berbadan bungkuk.

Ia melirik Leng-so tapi dalam kegelapan malam, tak dapat ia melihat muka si nona.

Apa yang dapat dilihatnya hanyalah sepasang matanya yang bersinar, sedang mengawasi kedua orang itu, dengan sifat tegang.

Pada detik itu, timbullah rasa kesatria dalam lubuk hati Ouw Hui.

"Jika Tok-chiu Yo-ong mengganggu Leng-kouwnio, walaupun mesti mati, aku tentu akan menolong,"

Katanya di dalam hati.

Kedua orang itu berjalan semakin dekat.

Ternyata, meskipun bereacat, wanita itu berparas cantik, tapi yang lakilaki beroman jelek dan sifatnya galak sekali.

Usia mereka kirakira sebaya, kurang-lebih empat puluh tahun.

Dengan pengalaman dan kepandaiannya yang tinggi, tak pernah Ouw Hui merasa keder, menghadapi jagoan yang bagaimana besar juga namanya.

Tapi, pada saat itu, dalam suasana menyeramkan, hatinya berdebar-debar.

Ia merasa, bahwa terhadap orang-orang aneh itu, ia tak bisa mengandal kepada ilmu silatnya saja.

Ketika hanya tinggal terpisah tujuh-delapan tombak dari tempat persembunyian Ouw Hui dan Leng-so, kedua orang itu mendadak membelok ke kiri dan berjalan lagi, belasan tombak, akan kemudian menghentikan tindakannya.

Yang laki-laki mendongak ke atas dan berseru dengan suara nyaring.

"Bok-yong-suheng! Menurut perjanjian. Kami berdua suami-istri sudah tiba di sini. Hayolah keluar!"

Teriakan itu tak mendapat jawaban.

"Bok-yong-suheng!"

Seru si wanita bungkuk dengan suara halus.

"Jika kau sungkan menampakkan diri, kami terpaksa akan berlaku kurang ajar terhadapmu."

Teriakan itu juga berhasil nihil. Ouw Hui merasa geli dan berkata di dalam hatinya.

"Inilah yang dinamakan balas-membalas. Tadi kau tak meladeni aku, sekarang kau yang tak digubris."

Sesaat kemudian, wanita itu merogoh sakunya dan mengeluarkan seikat rumput yang lalu dinyalakan di api teng.

Dalam sekejap, di sekitar situ sudah penuh dengan asap putih yang berbau wangi.

Mendengar perkataan "terpaksa berlaku kurang ajar", Ouw Hui mengetahui, bahwa asap itu tentulah asap beracun.

Ia juga mengerti, bahwa ia tidak mendapat gangguan karena khasiat pil pemberian si nona.

Ia melirik Leng-so yang kebetulan sedang memandang ke arahnya, dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

Besar sekali rasa terima kasih Ouw Hui.

Ia tersenyum dan manggut beberapa kali.

Semakin lama, asap itu jadi semakin tebal.

Sekonyong-konyong, dari dalam keranjang yang berada di bawah pohon, terdengar suara orang berbangkis.

Ouw Hui terkesiap, karena baru sekarang ia mengetahui, bahwa tadi ia telah memikul seorang manusia hidup.

Bahwa ia tidak mengenal soal-soal racun, adalah hal yang bisa dimengerti.

Akan tetapi, dengan kepandaiannya yang cukup tinggi, sungguh ia tak mengerti, mengapa ia sudah memikul manusia hidup, tanpa mengetahuinya.

Menurut pantas, manusia hidup harus bernapas dan pernapasan itu mesti didengarnya.

Sementara itu, orang yang berada di dalam keranjang, sudah berbangkis beberapa kali dan di lain saat tutup keranjang itu terbuka, disusul keluarnya seorang laki-laki sambil melompat.

Orang itu, yang mengenakan jubah panjang dan memakai ikat kepala sebagai sastrawan, ternyata bukan lain daripada si orang tua yang pernah diketemui Tiauw-bun dan Ouw Hui di atas gunung.

Begitu kedua kakinya menginjak bumi, ia mengawasi kedua suami istri itu dengan mata melotot dan membentak.

"Bagus! Kiang-sutee, Sie-sumoay. Bertahuntahun kita tak pernah bertemu dan kelihatannya, makin lama tanganmu jadi semakin kejam!"

Suami istri itu mengawasi si orang tua yang pakaiannya tak rapi dan ikat kepalanya miring ke samping.

"Kau mengatakan kami kejam?"

Kata yang laki-laki dengan suara dingin.

"Siapa yang tahu, kau bersembunyi di dalam keranjang? Bok-yongsuheng ...."

Baru saja ia berkata begitu, si orang tua mengendus-endus udara beberapa kali dengan wajah berubah dan buru-buru ia mengeluarkan sebutir pil yang lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.

Sementara itu, si wanita bungkuk sudah memadamkan rumput racunnya yang kemudian dimasukkan kembali ke dalam sakunya.

"Bok-yong-suheng!"

Katanya.

"Sudah tak keburu lagi! Sudah terlambat!"

Wajah orang tua itu menjadi pucat bagaikan mayat, ia duduk di tanah dan berselang beberapa saat, baru ia berkata.

"Baiklah, aku kalah. Mulai dari sekarang, aku tak akan membuntuti kamu lagi."

Laki-laki yang beroman jelek itu, segera mengeluarkan sebuah botol kecil yang berwarna merah. Ia mengacungkan botol itu seraya berkata.

"Inilah obat pemunah untuk Toanchung-co. Sutitmu (anak dari saudara seperguruan) telah dicelakakan dengan racunmu. Maka itu, kau juga harus memberikan obat pemunahnya."

"Dusta!"

Bentak si orang tua.

"Apakah kau maksudkan Siauw-tiat? Beberapa tahun aku tak pernah bertemu dengan ia. Jangan bicara sembarangan."

"Apakah kau menjanjikan kami datang ke sini hanya untuk mengatakan begitu?"

Tanya si wanita bungkuk dengan suara gusar. Ia berpaling kepada suaminya dan berkata pula.

"Tiatsan, hayolah kita berangkat!"

Ia memutarkan badan dan segera berjalan pergi. Tiat-san tak bergerak, ia kelihatan sangat bersangsi.

"Siauw-tiat ...."

Katanya. Wanita bungkuk itu menghentikan tindakannya dan menengok.

"Dia sangat membenci kita,"

Katanya.

"Dia agaknya lebih suka mati daripada mengampuni Siauw-tiat. Apakah kau masih belum bisa melihat kenyataan itu?"

Tiat-san masih juga belum mau berlalu. Ia mengawasi si orang tua dan berkata.

"Bok-yong-suheng, sudah dua puluh tahun kita saling mendendam. Apakah sekarang belum tiba waktunya untuk menghilangkan semua ganjalan itu? Siauwtee ingin mengajukan suatu usul, yaitu kita sekarang saling menukar obat dan mengakhiri segala permusuhan."

Ia mengucapkan perkataan itu dengan suara memohon, sehingga hati si orang tua terpengaruh juga.

"Sie-sumoay,"

Katanya.

"Siauw-tiat terkena racun apa?"

Si wanita bungkuk tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin.

"Bok-yong-suheng,"

Kata pula Tiat-san dengan suara mendongkol.

"Sampai di sini, tak usah kita berpura-pura lagi. Siauwtee memberi selamat, bahwa kau sudah menanam Citsim Hay-tong (Bunga Hay-tong Tujuh Hati) ...."

"Siapa menanam Cit-sim Hay-tong?"

Teriak si orang tua.

"Apakah Siauw-tiat terkena racun Cit-sim Hay-tong? Bukan aku! Tentu saja bukan aku!"

Teriaknya penuh dengan suara ketakutan, sedang wajahnya menjadi pucat sekali.

"Sudahlah, Bok-yong-suheng,"

Kata wanita itu.

"Tak usah kita membicarakan yang tak perlu. Aku hanya ingin menanya, untuk apa kau menjanjikan kami datang ke sini?"

"Tidak, sama sekali aku tak pernah minta kamu datang ke sini,"

Jawabnya sembari menggelengkan kepala.

"Aku sungguh tak mengerti. Kamu, yang sudah membawa aku kemari, berbalik mengatakan akulah yang meminta kamu datang ke sini."

Sesudah berkata begitu, dengan gusar ia menendang keranjang bambu itu yang lantas terpental beberapa tombak jauhnya.

"Apakah surat ini bukan ditulis olehmu?"

Tanya si wanita dengan suara mengejek.

"Bok-yong-suheng, mataku belum lamur. Aku cukup mengenal gaya tulisanmu."

Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sehelai kertas yang lalu diangsurkannya kepada orang tua itu.

Selagi si orang tua mau menyambuti, tiba-tiba saja ia mendapat suatu ingatan dan lalu mengebas dengan telapakan tangannya, sehingga kertas itu terpental dan melayang-layang di tengah udara.

Hampir berbareng dua jeriji tangan kirinya menyentil dan sebatang touw-kut-teng (paku penembus tulang) menyambar dan memaku kertas itu di batang pohon.

Hati Ouw Hui berdebar.

"Sungguh berbahaya berurusan dengan orang-orang begini,"

Pikirnya.

"Setiap detik kita harus berhati-hati. Si tua agaknya tak berani memegang kertas itu yang dikhawatirkan ada racunnya."

Si wanita bungkuk mengangkat tinggi-tinggi teng yang dipegangnya.

Di atas kertas itu terdapat dua baris huruf-huruf besar yang berarti seperti berikut.

Kiang dan Sie, kedua saudara.

Harap datang di Hek-houwlim (Hutan Harimau Hitam) sesudah jam tiga.

Ada urusan penting yang ingin didamaikan.

Huruf-huruf itu berbentuk tinggi kurus, mirip sekali dengan bentuk badan si orang tua.

"Ah!"

Ia mengeluarkan teriakan heran.

"Bok-yong-suheng, kenapa?"

Tanya si laki-laki jelek.

"Itu bukan tulisanku,"

Jawabnya. Kedua suami istri itu saling memandang dan pada bibir mereka tersungging senyum menyindir.

"Heran, sungguh heran!"

Kata si orang tua.

"Hurufhurufnya memang mirip dengan tulisanku."

Ia mengusap-usap jenggotnya dan mendadak berteriak dengan suara gusar.

"Binatang! Dengan maksud apa, kamu memasukkan aku ke dalam keranjang dan membawa aku kemari? Aku sudah bersumpah, bahwa selama hidupku, tak sudi aku melihat lagi cecongormu!"

"Sudahlah, jangan berpura-pura!"

Si wanita bungkuk balas membentak.

"Siauw-tiat terkena racun Cit-sim Hay-tong. Katakan saja, kau mau mengobati atau tidak?"

"Kau tahu pasti?"

Tanya si orang tua.

"Kau tahu pasti, Citsim ... Cit-sim Hay-tong?"

Ketika mengatakan "Cit-sim Haytong", suaranya bergemetar seperti ketakutan.

Perlahan-lahan Ouw Hui mengerti duduknya persoalan.

Ia menduga, bahwa seorang yang berkepandaian sangat tinggi memainkan peran dalam peristiwa ini.

Tapi siapakah orang itu?

Tanpa merasa ia melirik Leng-so.

Mungkinkah gadis kurus kering ini yang sudah mengerjakan semua itu?

Selagi Ouw Hui sangsi, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan.

"uuh!"

Yang menyeramkan dan aneh kedengarannya.

Ia berpaling dan mendapat kenyataan, bahwa suara tersebut dikeluarkan si orang tua dan kedua suami istri itu sembari mendorong kedua tangan mereka ke depan.

Dalam sekejap, kesunyian sang malam dipecahkan oleh suara.

"uuh, uuh, uuh"

Yang tiada henti-hentinya.

Mendadak, suara-suara itu berhenti, disusul berkelebatnya suatu sinar dingin dan padamnya api teng.

Ternyata, lilin teng itu telah dipadamkan dengan paku touw-kut-teng yang dilepaskan oleh si tua.

Di lain saat terdengar teriakan "aduh"

Dari si laki-laki bermuka jelek yang rupa-rupanya sudah dilukai dengan senjata rahasia si orang tua.

Ketika itu, dalam kegelapan, keadaan sungguh menyeramkan, seolah-olah setiap jengkal tanah dalam hutan Hek-houw-lim diliputi bahaya besar.

Tanpa merasa, darah kesatria Ouw Hui meluap-luap.

Ia mencekal tangan Leng-so yang lalu ditariknya ke belakang, sedang ia sendiri maju ke depan, siap sedia untuk mengorbankan jiwanya guna gadis itu.

Sesudah teriakan lelaki itu, keadaan kembali sunyi senyap.

Yang didengar Ouw Hui hanyalah bunyi kutu-kutu kecil dan suara "ku-ku"

Dari burung-burung malam.

Tiba-tiba, sebuah tangan kecil halus mencekal tangannya yang besar kasar.

Ia terkejut.

Tangan itu seolah-olah tangan seorang anak kecil yang sedang meminta perlindungan.

Barusan ia menduga, bahwa Leng-so memainkan peran dalam peristiwa ini.

Tapi sekarang ia merasa, bahwa si nona sendiri berada dalam ketakutan.

Di antara kesunyian itu, sekonyong-konyong muncul dua gulung asap, segulung putih dan segulung berwarna abu-abu, yang seperti dua ekor ular, menyambar ke depan dari kiri dan kanan.

Munculnya asap itu disusul dengan suara "fuh-fuhfuh", seperti orang meniup api.

Ouw Hui membuka kedua matanya lebar-lebar dan samar-samar, ia dapat melihat dua sinar api, di sebelah kiri dan kanan.

Di belakang sinar api yang satu adalah si orang tua, sedang di belakang sinar yang lain adalah si wanita bungkuk.

Mereka sedang membungkuk sembari meniup-niup titik api itu yang mengeluarkan asap.

Sekarang Ouw Hui mengerti, bahwa mereka tengah menggunakan asap serupa rumput beracun untuk saling merobohkan.

Semakin lama, sekitar tempat itu diliputi asap yang semakin tebal.

Ouw Hui mencekal erat-erat tangan Leng-so yang agak bergemetar.

Mendadak, dari sebuah pohon terdengar suara aneh.

Ouw Hui mendongak dan mengawasi.

Ternyata pohon itu adalah pohon, di mana kertas tadi terpaku dengan touwkut-teng.

Ia terkesiap karena kertas itu mengeluarkan sinar terang dan dengan pertolongan sinar itu terlihatlah beberapa baris huruf.

Si orang tua dan si wanita juga sudah melihat perubahan aneh pada kertas itu.

Mereka berhenti meniup api dan mengawasi.

Dalam kegelapan, huruf-huruf itu kelihatan tegas sekali dan terbaca seperti berikut.

Surat ini adalah untuk ketiga muridku, Bok-yong Keng-gak, Kiang Tiat-san, dan Sie Kiauw Dengan melupakan kecintaan saudara seperguruan, kamu saling mencelakakan.

Kejadian itu sangat mendukakan aku.

Maka itu, mulai dari sekarang, kamu harus segera memperbaiki segala kekeliruanmu dan menuntut penghidupan sesuai dengan keinginanku.

Segala sesuatu mengenai berpulangnya aku ke alam baka, kamu bisa mengetahui dari muridku Leng-so.

Pesan terakhir dari aku, si padri Bu-tin.

Si orang tua dan si wanita mengeluarkan seruan kaget.

"Apakah Suhu sudah wafat?"

Kata mereka serentak.

"Thiasumoay! Di mana kau?"

Dengan perlahan Leng-so meloloskan tangannya dari genggaman Ouw Hui dan mengeluarkan sebatang lilin yang lalu dinyalakannya dengan bahan api.

Sesudah itu, baru ia berjalan keluar dengan tindakan tenang.

Paras muka si orang tua, yang bernama Bok-yong Kenggak, dan si wanita bungkuk, yang bernama Sie Kiauw, lantas saja berubah.

"Sumoay!"

Mereka membentak.

"Mana Yo-pian (Kitab Malaikat Yo-ong)? Kaulah yang menyimpannya?"

"Bok-yong-suheng, Sie-suci,"

Kata Leng-so sembari tertawa dingin.

"Kamu sungguh tak mempunyai perasaan. Budi Suhu yang sudah mengajar dan memelihara kamu adalah sebesar gunung. Sebaliknya dari memerhatikan mati-hidup beliau, yang kamu ingat hanyalah peninggalan beliau. Kiang-suheng! Bagaimana pendapatmu?"

Mendengar pertanyaan Leng-so, Kiang Tiat-san yang rebah sedari tadi, mengangkat kepalanya dan berteriak dengan suara gusar.

"Lekas keluarkan Yo-ong Sin-pian! Siauw-tiat tentu kau yang melukai! Tak bisa salah lagi, segala kejadian sepanjang malam ini adalah kerjaanmu sendiri!"

Leng-so mengawasi saudara seperguruannya tanpa mengeluarkan sepatah kata.

"Suhu memilih kasih,"

Kata Bok-yong Keng-gak.

"Sudah pasti, ia menyerahkan kitab itu kepadamu!"

"Sumoay keluarkanlah kitab itu,"

Bujuk Sie Kiauw.

"Marilah kita beramai-ramai mempelajarinya."

Dengan kedua matanya yang sangat tajam, untuk beberapa lama Leng-so mengawasi ketiga orang itu.

"Benar,"

Akhirnya ia berkata.

"Memang benar, Suhu telah menghadiahkan Yo-ong Sin-pian kepadaku."

Ia merogoh sakunya dan berkata pula.

"Inilah surat wasiat Suhu. Bacalah."

Sembari berkata begitu, ia mengangsurkan selembar kertas kepada Sie Kiauw yang lalu bergerak untuk menyambutinya.

"Awas!"

Seru Kiang Tiat-san.

Sie Kiauw sadar, ia melompat mundur sambil menuding satu pohon.

Leng-so menghela napas dan mencabut sebatang tusuk konde perak dari rambutnya.

Ia menusuk kertas itu dan dengan sekali mengayun tangan, ia membuat pantek konde itu dengan kertasnya sudah terpaku di pohon yang ditunjuk Sie Kiauw.

Ouw Hui kagum melihat timpukan itu.

"Sungguh tak dinyana, gadis dusun yang kurus kering ini mempunyai kepandaian yang begitu tinggi,"

Katanya di dalam hati.

Ia mengawasi kertas yang terpaku di pohon itu dan dengan bantuan sinar lilin Leng-so, dapatlah ia membaca tulisan itu yang berarti seperti berikut.

Surat wasiat ini diberikan kepada muridku Leng-so.

Sesudah aku meninggal dunia, kau boleh segera memberitahukan kejadian itu kepada suheng dan sucimu.

Kau hanya boleh memperlihatkan Yo-ong Sin-pian kepada orang yang menunjukkan kecintaan seorang murid kepadaku, si padri tua.

Murid yang sama sekali tidak menunjukkan rasa duka dan rasa cinta, tak kuaku sebagai murid lagi, perhubungan antara aku dan dia sudah menjadi putus karenanya.

Inilah pesanku kepadamu.

Surat terakhir dari gurumu, si padri Bu-tin Sesudah membaca surat wasiat itu, Keng-gak, Tiat-san, dan Sie Kiauw saling mengawasi dengan mulut ternganga.

Tak dapat mereka membantah, bahwa kelakuan mereka barusan bukanlah kelakuan yang pantas dari seorang murid terhadap gurunya.

Sesudah mengetahui, bahwa sang guru meninggal dunia, sedikit pun mereka tak berduka dan sepatah pun mereka tak menanyakan hal meninggalnya guru itu.

Yang mereka ingat, hanyalah peninggalan sang guru.

Untuk beberapa saat, mereka seperti orang terkesima.

Tiba-tiba, sambil berteriak, mereka menerjang dengan serentak.

"Leng-kouwnio, awas!"

Seru Ouw Hui sembari melompat dari tempat sembunyinya.

Sesaat itu, kedua tangan Sie Kiauw sedang menyambar ke arah muka Leng-so.

Cepat bagaikan kilat, Ouw Hui menangkis dengan sebelah tangannya dan berbareng dengan bunyi "plak!"

Tubuh Sie Kiauw terpental dua tombak jauhnya.

Begitu berhasil, ia membalikkan tangannya dan menjambret pergelangan tangan Tiat-san, dan kemudian, dengan menggunakan Loan-hoan-koat dari Thay-kek-kun, ia mendorong dengan meminjam tenaga musuh.

Tubuh Tiat-san yang tinggi besar lantas saja terpental beberapa tombak dan ambruk di atas tanah.

Sekarang ia mendapat kenyataan, bahwa kedua suami istri itu yang lihai dalam menggunakan racun, tidak seberapa tinggi ilmu silatnya.

Buru-buru ia memutarkan badan untuk menghadapi Bok-yong Keng-gak.

Tapi, sebelum ia keburu bergerak, mendadak badan orang tua itu bergoyang-goyang dan kemudian roboh sendiri terguling di atas tanah tanpa bergerak lagi.

"Sumoay,"

Kata Sie Kiauw sembari meringis.

"Benar lihai kawanmu. Siapa dia?"

"Aku she Ouw, bernama Hui,"

Kata Ouw Hui dengan suara nyaring.

"Jika kamu suami istri merasa penasaran, carilah aku saja ...."

"Sudah! Jangan rewel!"

Bentak Leng-so sembari membanting kaki.

Ouw Hui terkejut dan tidak berkata suatu apa lagi.

Sementara itu, Kiang Tiat-san dan istrinya sudah berbangkit, dan setelah mengawasi Ouw Hui dengan sorot mata membenci, mereka segera berjalan pergi dengan tindakan cepat.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Leng-so meniup lilinnya yang lalu dimasukkan ke dalam sakunya.

"Leng-kouwnio,"

Kata Ouw Hui.

"Kenapa Bok-yang Suhengmu roboh?"

Si nona hanya menggerendeng.

"Huh!"

Ouw Hui menanya lagi, tapi tetap tak mendapat jawaban. Berselang beberapa saat, ia berkata dengan suara perlahan.

"Kenapa? Apakah kau merasa tak senang terhadapku?"

"Ah!"

Leng-so menghela napas.

"Semua pesanku, tak satu pun yang kau perhatikan."

Ouw Hui kaget. Ia baru ingat tiga janjinya kepada Leng-so dan yang semua sudah dilanggarnya. Ia berdiri terpaku dengan rasa jengah.

"Harap kau sudi memaafkan,"

Katanya dengan suara memohon.

"Karena melihat serangan ketiga orang itu yang sangat hebat, aku khawatir kau terluka dan dalam bingung, aku sudah melupakan semua pesanmu."

"Fui!"

Bentak si nona sembari tertawa.

"Kalau begitu, semua perbuatanmu itu adalah karena memikirkan aku. Pandai benar kau mencari-cari alasan! Kau sendiri yang bersalah, sekarang kau berbalik coba membebankan semua kesalahanmu di atas pundakku! Eh, Ouw-toako, kenapa kau memberitahukan namamu kepada mereka? Mereka pasti tak akan melupakan dendam ini dan tentu akan terus menyeterukan kau. Dalam pertarungan, mereka memang tak bisa menang. Tapi mereka akan berusaha untuk membokong kau dengan racun. Ouw-toako, mulai dari sekarang, kau harus berlaku sangat hati-hati."

Leng-so berkata begitu dengan suara lemah lembut dan penuh kekhawatiran akan keselamatan pemuda itu.

Bulu roma Ouw Hui bangun semua.

Tapi sebagai kesatria sejati, segera juga ia dapat menetapkan hatinya.

"Kenapa kau memberitahukan she dan namamu kepada mereka?"

Leng-so mendesak. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan tertawa oleh Ouw Hui.

"Sesudah kau merobohkan mereka, kau khawatir, jika mereka akan menumpahkan kegusaran mereka kepadaku bukan?"

Tanya si nona.

"Dan kau sengaja memikul semua itu di atas pundakmu sendiri. Ouw-toako, kenapa kau begitu baik terhadapku?"

Kata-kata yang terakhir ini diucapkannya dengan suara terharu, sehingga Ouw Hui merasa sangat terpengaruh oleh kehalusan dan budi pekerti si nona.

"Kau sendirilah yang terus memerhatikan keselamatanku,"

Katanya dengan perasaan berterima kasih.

"Berkat perlindunganmu, aku terlolos dari bahaya. Kita harus berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita. Maka itu, sudah semestinya jika aku memandang kau sebagai sahabatku."

Leng-so menjadi girang bukan main.

"Benarkah, kau menganggap aku sebagai sahabatmu?"

Tanyanya sembari tertawa.

"Kalau begitu, biarlah lebih dulu aku menolong selembar jiwamu."

"Apa?"

Ouw Hui menegas.

"Nyalakan dulu penerangan,"

Kata Leng-so.

"Mana teng itu?"

Ia membungkuk untuk mencari tengloleng yang dilemparkan Sie Kiauw, tetapi karena gelap, ia tak dapat menemukannya.

"Bukankah dalam sakumu masih ada sebatang lilin?"

Tanya Ouw Hui.

"Kau mau mati?"

Kata si nona sembari tertawa.

"Lilin itu dibuat dari Cit-sim Hay-tong ... Ah! Inilah dia."

Ternyata ia sudah berhasil mendapatkan teng itu yang lalu dinyalakannya.

Sesudah mendengar pembicaraan antara suami istri Kiang Tiat-san dan Bok-yong Keng-gak, Ouw Hui yakin, bahwa Citsim Hay-tong adalah semacam racun yang sangat hebat.

Sesaat itu, dengan pertolongan sinar tengloleng, ia mendapat kenyataan, bahwa Bok-yong Keng-gak menggeletak di atas tanah seperti mayat.

Mendadak seperti baru mendusin dari tidurnya, ia mengeluarkan seruan tertahan.

"Aha!"

Katanya.

"Sekarang baru aku mengerti! Jika aku tidak berlaku sembrono dan menerjang ke luar, Kiang Tiat-san dan istrinya tentu sudah dapat kau taklukkan."

Leng-so bersenyum seraya berkata.

"Tapi tindakanmu itu telah didorong oleh maksud yang sangat baik. Ouw-toako, biar bagaimanapun juga, aku merasa berutang budi terhadapmu."

Ouw Hui mengawasi si nona yang bertubuh kurus kering itu dengan perasaan kagum dan malu.

"Usianya masih lebih muda daripadaku, tapi otaknya penuh dengan tipu daya,"

Katanya di dalam hati.

"Aku yang biasa menganggap diri sendiri pintar, sungguh harus merasa malu."

Sekarang ia sudah mengerti latar belakang kejadian tadi.

Lilin Leng-so sangat beracun dan sesudah dinyalakan, hawa racun yang dikeluarkan lilin itu tidak berbau dan tidak berasap.

Maka itu, jangankan orang biasa, sedangkan Keng-gak dan suami istri Kiang Tiat-san, yaitu ahli-ahli dalam menggunakan racun, masih kena dikelabui.

Jika ia tidak berlaku sembrono, dalam tempo cepat, kedua suami istri itu tentu juga sudah roboh seperti Bok-yong Keng-gak.

Tapi, di lain saat, ia ingat, bahwa waktu itu Tiat-san dan istrinya sudah menyerang dengan pukulan-pukulan kilat yang sangat hebat.

Dari sebab itu, terdapat kemungkinan besar, bahwa Leng-so sudah lebih dulu celaka, sebelum mereka berdua roboh.

Thia Leng-so rupa-rupanya dapat membaca pikiran Ouw Hui.

"Ouw-toako,"

Katanya.

"Coba kau menutuk pundakku dengan jerijimu."

Ouw Hui tak mengerti maksud si nona, tapi ia segera menutuk pundak Leng-so perlahan dengan telunjuknya.

Begitu menyentuh pundak si nona, telunjuk itu dirasakannya panas seperti terbakar, sehingga dengan terkejut, Ouw Hui melompat mundur beberapa tindak.

Leng-so tertawa cekikikan.

"Lihatlah!"

Katanya.

"Kedua suami istri itu akan merasakan kepahitan yang sama, jika mereka menyentuh pakaianku."

"Benar hebat,"

Kata Ouw Hui sembari menggoyang-goyang telunjuknya yang pedas perih.

"Racun apa yang kau gunakan?"

"Bukan barang luar biasa, hanya Cek-kiat-hun (Tepung Kalajengking Merah),"

Kata Leng-so. Dengan pertolongan sinar api teng, Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa jerijinya sudah melepuh.

"Ah, baik juga tadi aku tidak menyentuh pakaiannya."

"Ouw-toako,"

Kata si nona.

"Aku bukan ingin menyakiti kau. Maksudku adalah supaya kau berhati-hati, jika di lain kali kau berpapasan dengan ketiga saudara seperguruanku. Dalam ilmu silat, kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada mereka. Tapi, lihatlah telapakan tanganmu."

Ouw Hui mengawasi telapak tangannya, tapi tak melihat suatu apa yang luar biasa.

"Coba lihat di dekat api teng,"

Kata Leng-so. Ouw Hui lantas saja jadi terkejut, karena mendapat kenyataan, bahwa pada telapakan tangannya terdapat sinar hitam.

"Apa ... apa mereka mempunyai Tok-see-ciang (Tangan Pasir Beracun)?"

Tanyanya.

"Apakah kau kira muridnya Tok-chiu Yo-ong tidak mempelajari Tok-see-ciang?"

Kata si nona.

"Ah!"

Ouw Hui mengeluarkan seruan tertahan.

"Kalau begitu Bu-tin Thaysu adalah Tok-chiu Yo-ong yang tulen. Tapi kenapa kalian saudara-saudara seperguruan jadi saling cakar?"

Si nona tak menjawab pertanyaan itu, ia hanya menghela napas.

Kemudian ia mencabut pantek kondenya dan paku touw-kut-teng yang menancap di pohon dan melipat dua lembar surat peninggalan gurunya yang lalu dimasukkan ke dalam sakunya.

Ketika itu, huruf-huruf yang bersinar terang pada surat pertama, sudah menghilang.

"Apakah surat itu ditulis olehmu?"

Tanya Ouw Hui.

"Benar,"

Sahut si nona.

"Di tempat Suhu terdapat sebuah kitab obat yang ditulis oleh Toasuheng, sehingga aku paham dengan gaya tulisannya. Hanya tiruanku agak kurang sempurna, aku berhasil meniru bentuknya, tapi tak dapat menyelami jiwanya. Tulisan Toasuheng yang tulen masih lebih indah dari tiruanku."

Ouw Hui adalah seorang yang tak paham ilmu surat, maka keterangan si nona mengenai ilmu menulis, tak dikomentari olehnya. Sesudah berdiam sejenak, Leng-so lalu berkata pula.

"Surat wasiat Suhu ditulis dengan menggunakan larutan tanah, sehingga untuk membacanya, surat itu harus dipanggang di api. Belakangan, aku memoles huruf-huruf surat itu dengan sumsum harimau sehingga bersinar terang di tempat gelap. Kau lihatlah!"

Sembari berkata begitu, ia memadamkan api lilin dan benar saja, pada kertas itu muncul sinar terang.

Begitu lekas lilin itu dinyalakan pula, sinar terang itu segera menghilang dan yang kelihatan hanyalah huruf-huruf tulisan Leng-so sendiri, yang ditulis di antara huruf-huruf surat wasiat Bu-tin Thaysu.

Dengan demikian, di atas selembar kertas itu terdapat dua rupa tulisan, dalam keadaan terang, terlihatlah tulisan Leng-so, sedang dalam kegelapan, yang terlihat adalah tulisan Bu-tin Thaysu.

Sesudah diterangkan, hal itu memang juga tidak mengherankan.

Akan tetapi, waktu tadi Bok-yong Keng-gak, Tiat-san, dan Sie Kiauw sedang bertempur, mereka kaget bukan main, ketika dengan mendadak mereka melihat surat wasiat gurunya di atas pohon.

Berbareng dengan itu, Sesudah menyalakan lilin beracun, Leng-so munculkan diri.

Bok-yong Keng-gak bertiga yang tengah menumpahkan perhatian mereka kepada persoalan kitab Yo-ong Sin-pian, sedikit pun tak menduga, bahwa sang sumoay sedang melepaskan racun dengan lilinnya.

Sesudah mengetahui latar belakang peristiwa tadi, Ouw Hui jadi girang sekali dan paras mukanya berseri-seri.

"Kenapa begitu kegirangan, sedang kau kena Tok-seeciang?"

Tanya Leng-so.

"Bukankah kau sudah berjanji akan menolong jiwaku,"

Jawab Ouw Hui.

"Dengan murid Yo-ong di sampingku, guna apa aku berkhawatir?"

Si nona tertawa dan mendadak ia meniup api lilin sehingga keadaan kembali berubah gelap gulita.

Sesudah itu, ia menghampiri keranjang bambu, di mana segera terdengar suara keresekan.

Ouw Hui tak tahu, ia sedang melakukan apa, tapi beberapa saat kemudian, ia kembali dan menyalakan lagi lilin teng.

Di bawah sinar lilin, Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa Leng-so sudah bertukar pakaian.

Sekarang ia mengenakan baju putih, celana biru.

"Di pakaianku ini tidak terdapat lagi tepung Cek-kiat-hun,"

Katanya sembari tertawa.

"Tak usah kau ketakutan lagi."

"Kau dapat memikirkan segala apa,"

Kata Ouw Hui sembari menghela napas.

"Usiaku lebih tua daripada kau, tapi aku tua, tua kejemur. Aku sudah bersyukur jika mempunyai sepersepuluh kecerdasanmu."

Leng-so mengawasi pemuda itu dan berkata dengan suara jengkel.

"Sesudah belajar menggunakan racun, apa yang setiap hari dipikiri olehku adalah bagaimana harus menyebarkan racun tanpa diketahui orang dan bagaimana harus melindungi diri sendiri. Coba kau pikir, apa enaknya orang hidup begitu? Mana aku bisa menyayangi kau yang hidup bebas di alam yang bebas pula."

Ia menghela napas panjang sebagai tanda dari kedukaan hatinya.

Sesaat kemudian, ia menarik tangan Ouw Hui dan menusuk setiap jeriji tangan itu dengan pantek konde peraknya.

Kemudian ia mengurut telapakan tangan Ouw Hui dengan menggunakan dua jempol tangan.

Di lain saat, dari lubang

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com lubang bekas tusukan pantek konde itu, keluar darah yang bersemu ungu.

Waktu jerijinya ditusuk, Ouw Hui sama sekali tidak merasa sakit dan beberapa saat kemudian, darah yang mengalir dari jarinya sudah tidak berwarna ungu lagi.

Sesaat itu, tubuh Bok-yong Keng-gak yang menggeletak di tanah tiba-tiba bergerak.

"Dia mendusin!"

Kata Ouw Hui.

"Tak mungkin!"

Kata si nona.

"Paling sedikit masih ada tiga jam lagi."

"Tadi, waktu aku memikulnya, sedikit pun dia tidak bergerak, sehingga aku tidak mengetahui, bahwa aku sedang memikul manusia hidup,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa.

"Benar-benar aku tolol."

Leng-so tersenyum simpul seraya berkata.

"Hm! Orang yang mengatakan dirinya tolol, biasanya justru seorang yang pintar sekali."

Ouw Hui tak menjawab, ia hanya tertawa. Sesaat kemudian, barulah ia berkata pula.

"Eh, tadi mereka telah menanyakan Yo-ong Sin-pian. Apakah Yo-ong Sin-pian kitab obat-obatan?"

"Benar,"

Jawab Leng-so.

"Kitab itu adalah hasil jerih payah guruku. Apakah kau ingin melihatnya?"

Ia merogoh saku dan mengeluarkan satu barang kecil yang dibungkus kain. Dalam bungkusan kain itu terdapat bungkusan kertas minyak dan setelah kertas minyak itu dibuka, barulah terlihat se

Jilid kitab warna kuning yang panjangnya enam dim dan lebarnya empat dim.

Dengan menggunakan pantek konde, si nona membuka lembaran-lembaran kitab yang tertulis penuh dengan hurufhuruf kecil.

Tak usah dikatakan lagi, bahwa setiap lembaran kertas itu sangat beracun dan orang tentu akan celaka jika berani sembarang membukanya dengan jeriji tangan.

Melihat kepereayaan Leng-so yang begitu besar terhadap dirinya, Ouw Hui jadi merasa senang sekali.

Sesudah membungkus rapi Yo-ong Sin-pian dan memasukkannya kembali ke dalam sakunya, si nona lalu mengeluarkan satu botol kecil dan menuang sedikit isinya, yaitu semacam bubuk warna ungu, yang lalu dipoleskan di jeriji-jeriji Ouw Hui yang tadi ditusuk dengan pantek konde.

Ia mengurut tulang-tulang jeriji itu beberapa kali dan bubuk itu lantas saja tersedot masuk dari lubang-lubang tusukan.

"Benar-benar lihai kau!"

Memuji Ouw Hui.

"Seumur hidupku, belum pernah aku menyaksikan tabib yang seperti kau."

"Kepandaianku sama sekali tak ada artinya,"

Si nona merendahkan diri.

"Jika kau menyaksikan kepandaian guruku, membelek dada dan perut serta menyambung tulang, barulah benar-benar kau akan merasa kagum."

"Benar,"

Kata Ouw Hui.

"Di samping mahir dalam menggunakan racun, gurumu tentu juga pandai mengobati penyakit. Jika tak begitu, ia tentu tak akan mendapat julukan Yo-ong (Raja Obat)."

"Jika Suhu masih hidup, ia tentu akan merasa girang mendengar perkataanmu itu,"

Kata si nona.

"Hanya sayang ... ia sekarang sudah tak ada lagi di dunia ini."

Kata-katanya yang terakhir dikeluarkan dengan suara duka dan kedua matanya kelihatan mengembang air.

"Sucimu tadi mengatakan, bahwa gurumu memilih kasih dan hanya menyayang murid yang paling kecil,"

Kata Ouw Hui.

"Aku rasa, perkataannya ada benarnya juga. Memang juga, hanya kau seorang yang sangat mencintai gurumu."

"Suhu mempunyai empat murid yang semuanya sudah diketemui olehmu pada malam ini,"

Kata Leng-so.

"Bok-yong Keng-gak adalah toasuheng, Kiang Tiat-san jiesuheng, sedang Sie Kiauw adalah samsuci. Sesudah mempunyai tiga murid, sebenarnya Suhu tak ingin menerima murid lagi. Akan tetapi, sesudah melihat, bahwa ketiga saudara seperguruanku itu bermusuhan keras dan karena khawatir, sesudah ia meninggal dunia, tak ada orang yang akan dapat menaklukkan mereka, maka dalam usianya yang sudah lanjut, ia mengambil aku sebagai muridnya yang keempat."

Sesudah berdiam sejenak, si nona berkata pula.

"Mereka bertiga sebenarnya bukan orang jahat. Hanya karena Samsuci menikah dengan Jiesuheng, maka Toasuheng jadi merasa sakit hati dan mereka jadi bermusuh, sehingga akhirnya tak dapat dibaikkan lagi."

Ouw Hui manggutkan kepalanya.

"Toasuhengmu juga mencintai samsucimu, bukan?"

Tanyanya.

"Urusan itu sudah terjadi lama sekali, sehingga aku pun tak tahu terang bagaimana sebenarnya,"

Menerangkan si nona.

"Aku hanya mengetahui, bahwa dulu Toasuko mempunyai istri. Karena menyukai Toasuko, Samsuci telah meracuni Suko, sehingga menjadi matinya."

Ouw Hui mengeluarkan seruan tertahan, bulu romanya bangun semua. Ia merasa bahwa seorang yang pandai menggunakan racun, jadi kejam hatinya dan sedikit-sedikit lantas saja menggunakan racun.

"Dalam gusarnya, Toasuko juga lantas meracuni Samsuci, sehingga Suci bereacat, ia menjadi bungkuk berbareng pincang,"

Kata Leng-so pula.

"Di lain pihak, Jiesuko yang mencintai Samsuci, tak menjadi kurang cintanya, karena bereacatnya Suci. Dengan demikian, mereka lalu menikah. Entah bagaimana, sesudah pernikahan itu, Toasuko ingat lagi kebaikan-kebaikan Samsuci di waktu dulu dan ia lalu mengganggu Suci. Suhu jadi sangat jengkel dan beberapa kali ia telah menasihati mereka, tapi tak ada hasilnya, malah permusuhan mereka makin lama jadi makin hebat. Jiesuko adalah seorang baik dan kecintaan terhadap istrinya tetap tidak berubah. Belakangan, mereka membuat Yo-ong-chung, yang dibuat dari besi, di tepi Telaga Tong-teng, sedang di sekitar rumah itu, mereka menanam Hiat-ay-lie (nama pohon merah yang sangat beracun). Semula rumah itu dan Hiat-aylie adalah untuk menjaga-jaga kedatangan Toasuheng. Tapi belakangan, karena musuh mereka jadi semakin banyak, maka Yo-ong-chung jadi berubah tempat bersembunyi Jiesuko dan Samsuci."

"Oh, kiranya begitu?"

Kata Ouw Hui, sambil manggutmanggutkan kepalanya.

"Tak heran jika dalam kalangan Kangouw terdapat banyak sekali cerita yang berbeda-beda mengenai Tok-chiu Yo-ong. Ada yang berkata, bahwa Tokchiu Yo-ong adalah seorang sastrawan, ada yang mengatakan, bahwa ia seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar, ada pula yang mengatakan, bahwa ia adalah seorang wanita bungkuk dan sebagainya."

"Kami sendiri juga tidak tahu siapa sebenarnya yang berhak mendapat julukan itu,"

Kata Leng-so.

"Satu hal yang sudah pasti adalah guruku tidak menyukai gelaran itu. Katanya, ‘Dipergunakannya racun olehku adalah untuk menolong orang. Tapi aku merasa malu dan tak dapat menerima gelaran Yoong (Raja Obat). Mengenai julukan Tok-chiu (Tangan Beracun), aku menolak sekeras-kerasnya. Apakah orang mengira, bahwa Bu-tin, si hweeshio tua, adalah manusia yang suka membunuh orang secara serampangan?’ Akan tetapi, oleh karena racun kami memang benar sangat lihai dan juga sebab ketiga saudara seperguruanku sering sekali menggunakan itu secara sembarangan, sehingga beberapa orang baik tak luput menjadi korban, maka dalam kalangan Kang-ouw, julukan Tok-chiu Yo-ong jadi sangat kesohor. Di samping itu, guruku juga melarang ketiga saudara seperguruanku memperkenalkan diri dan nama mereka di dunia luar. Itulah sebabnya kenapa dalam setiap peristiwa yang mempunyai sangkut paut dengan racun, orang lantas saja menuding kepada Tok-chiu Yo-ong. Ouw-toako, cobalah kau pikir, penasaran atau tidak?"

"Tapi kenapa gurumu tak mau menampakkan diri untuk membersihkan nama?"

Tanya Ouw Hui.

"Aah, sukar, hal itu sukar dilakukan,"

Kata si nona.

"Orang akan semakin salah mengerti atau tak mau mengerti ..."

Berkata sampai di situ, pengobatan tangan Ouw Hui sudah selesai. Si nona bangkit seraya berkata.

"Malam ini masih ada dua urusan yang harus dikerjakan. Pertama, kita harus mengambil obat untuk memunahkan racun Toan-chung-co dan kedua, mengobati Siauw-tiat, putra Jiesuko. Jika tidak ...."

Ia tersenyum dan tidak meneruskan perkataannya.

"Jika tidak dirintangi oleh kebandelanku, dua urusan itu akan jauh lebih gampang dibereskannya,"

Menyambungi Ouw Hui.

"Bukankah kau ingin mengatakan begitu?"

"Ya,"

Kata si nona.

"Baguslah jika kau tahu. Mari kita berangkat sekarang!"

"Apakah dia harus dimasukkan lagi ke dalam keranjang?"

Tanya Ouw Hui sembari menuding Bok-yong Keng-gak yang menggeletak di atas tanah.

"Benar, kau tolonglah,"

Jawabnya.

Ouw Hui segera mengangkat tubuh Keng-gak dan memasukkannya ke dalam keranjang bambu yang lalu dipanggul di punggungnya.

Leng-so berjalan ke jurusan selatan daya dan sesudah melalui kira-kira tiga li, tibalah mereka di depan sebuah rumah kecil.

"Ong-toasiok (paman Ong), hayolah!"

Berteriak si nona. Pintu terbuka, dan dari dalam ke luar seorang lelaki yang kulitnya hitam dan memikul satu pikulan.

"Hm! Lagi-lagi satu manusia aneh!"

Kata Ouw Hui dalam hatinya, tapi ia tak berani menanyakan siapa adanya orang itu.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mengikuti si nona dalam jarak tiga tindak, sedang Leng-so sendiri sekali dua kali menengok ke belakang sembari tertawa, sebagai tanda, bahwa ia sekarang merasa puas karena Ouw Hui mendengar kata.

Si lelaki yang kulitnya hitam juga mengikuti di belakang mereka tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Dari rumah Ong-toasiok, Leng-so membelok ke jurusan utara.

Kira-kira jam empat pagi, mereka tiba di depan Yo-ongchung.

Leng-so lalu mengeluarkan tiga ikat bunga biru dari dalam keranjang, seikat diberikan kepada Ouw Hui, seikat kepada si lelaki kulit hitam dan seikat lagi dipegangnya sendiri.

Sesudah mereka melompati Hiat-ay-lie, ia berteriak.

"Jiesuko! Samsuci! Apakah kamu mau membuka pintu atau tidak?"

Tiga kali ia menanya, tapi tak mendapat jawaban.

Sesudah menunggu beberapa saat lagi, Leng-so lalu manggutkan kepala kepada si lelaki kulit hitam.

Orang itu segera meletakkan pikulannya di atas tanah dan mengeluarkan alat-alat tukang besi, seperti hongshio (alat penyemprot angin), dapur kecil, besi hancuran, dan sebagainya.

Ia menyalakan api dan mulai menarik hongshio untuk melumerkan besi hancuran itu.

Sesudah besi itu menjadi lumer, ia lalu menyolder bagian-bagian yang renggang di atas rumah bundar itu.

Ouw Hui lantas saja mengetahui, bahwa ia sedang menutup pintu dan jendela dari rumah besi tersebut.

Rupanya, karena tak ungkulan melawan sumoay mereka yang sangat lihai, Kiang Tiat-san dan Sie Kiauw tak berani keluar untuk merintangi.

Setelah si tukang besi selesai dengan pekerjaannya, sehingga orang-orang yang berada di dalam rumah itu tak akan bisa keluar lagi, Leng-so menggapai Ouw Hui.

Sesudah melompati Hiat-ay-lie, dengan diikuti Ouw Hui, Leng-so berjalan ke jurusan barat laut sambil menghitung setiap tindakannya.

Sesudah berjalan puluhan tombak, ia membelok ke timur beberapa tindak pula.

"Di sinilah!"

Kata si nona sembari menyalakan lilin teng.

Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa di antara dua batu besar terdapat satu lubang yang besarnya kira-kira sama dengan mangkuk nasi dan yang atasnya ditedengi dengan satu batu.

"Inilah lubang untuk mereka bernapas,"

Berbisik Leng-so sambil mengeluarkan lilin racun yang lalu disulut dan ditaruh di mulut lubang.

Dibantu dengan tiupan angin, perlahan-lahan asap lilin itu masuk ke dalam.

Melihat tindakan Leng-so yang dianggapnya sangat kejam, Ouw Hui jadi bergidik dan berbareng merasa kasihan pada orang-orang yang terkurung dalam rumah besi itu.

Apakah ia harus mengawasi saja dengan berpeluk tangan?

Beberapa saat kemudian, si nona mengeluarkan satu kipas bundar yang berbentuk kecil dan lalu mulai mengipas lilin itu, sehingga semua asapnya masuk ke dalam lubang.

Ouw Hui tak dapat bersabar lagi dan ia berdiri seraya berkata.

"Lengkouwnio, apakah dengan suheng dan sucimu, kau mempunyai dendam yang tak dapat didamaikan lagi?"

"Tidak,"

Jawabnya dengan tawar.

"Apakah gurumu memberi perintah untuk kau membersihkan rumah tanggamu?"

Tanya pula Ouw Hui. (Membersihkan rumah tangga berarti menghukum murid atau anggota partai yang berdosa).

"Belum sampai begitu jauh,"

Sahutnya.

"Tapi ... tapi ...."

Kata Ouw Hui dengan suara terputusputus, karena ia tak tahu, bagaimana harus menerangkan isi hatinya. Leng-so mendongak dan menanya dengan suara dingin.

"Kenapa kau jadi begitu bingung?"

"Jika suko dan sucimu mempunyai kedosaan yang sangat besar, biarlah sekali ini kau memberikan kesempatan agar mereka bisa mengubah sifat mereka yang jelek dan menebus dosa,"

Kata Ouw Hui sesudah menetapkan hatinya yang berguncang.

"Ya,"

Kata si nona.

"Guruku pun pernah mengatakan begitu."

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula.

"Sayang sekali sekarang guruku sudah berada di alam baka. Jika ia masih hidup, ia tentu akan merasa cocok dengan segala pendapatmu."

Sedang mulutnya berkata begitu, tangannya terus mengipas api lilin itu. Ouw Hui menggaruk-garuk kepala. Ia menunjuk lilin dan berkata.

"Asap beracun itu ... asap beracun itu ... Bukankah asap itu membinasakan manusia?"

"Ah! Kalau begitu Ouw-toako yang berhati mulia sedang menduga-duga, bahwa aku mau mengambil jiwa manusia,"

Kata si nona sembari tersenyum simpul.

Paras muka Ouw Hui lantas saja berubah merah, karena sekali lagi ia sudah menunjukkan kekonyolannya.

Akan tetapi, walaupun masih berada dalam kegelapan, hatinya merasa lega sebab ia mengetahui, bahwa tindakan Leng-so itu bukan bertujuan untuk membinasakan orang.

Sementara itu, dengan kuku jerijinya, si nona menggores batang lilin.

"Ouw-toako,"

Katanya.

"Coba tolong menggantikan aku, tapi jagalah jangan sampai lilin ini menjadi padam. Kau boleh memadamkan lilin itu, jika apinya sudah membakar sampai di goresan."

Sesudah menyerahkan kipas itu kepada Ouw Hui, ia berdiri dan mengawasi keadaan di sekitarnya sembari memasang kuping.

Tanpa berkata suatu apa, Ouw Hui lantas saja mengerjakan apa yang diperintah.

Sesudah mendengarkan beberapa lama dan mendapat kenyataan, bahwa tidak ada apa-apa yang luar biasa, Leng-so segera duduk di atas satu batu besar, di dekat Ouw Hui.

"Orang yang telah menghancurkan kebunku, adalah Siauwtiat, putra Jiesuko,"

Menerangkan Leng-so.

"Ah!"

Ouw Hui mengeluarkan seruan kaget.

"Apakah dia juga berada dalam rumah itu?"

"Benar,"

Jawabnya sembari tertawa.

"Apa yang kita lakukan sekarang, adalah untuk menolong dia. Lebih dulu kita harus merobohkan Suko dan Suci, supaya mereka tidak merintangi pekerjaan kita."

Sekali lagi Ouw Hui mengeluarkan seruan "ah!".

"Oh, begitu?"

Katanya di dalam hati.

"Jiesuko dan Samsuci mempunyai satu musuh, seorang she Beng,"

Menerangkan si nona.

"Musuh itu sudah berada di tempat ini kira-kira setengah tahun, tapi dia masih belum mampu menerjang Yo-ong-chung, karena belum bisa memunahkan racun Hiat-ay-lie. Bunga biru yang ditanam olehku, adalah pemunah racun itu. Jiesuko dan Samsuci tidak mengetahuinya, sampai aku memberikan bunga itu kepada kau dan Ciong-ya. Tak usah dikatakan lagi, bahwa mereka jadi sangat terkejut ketika mengetahui, bahwa dengan membawa bunga biru itu, kalian tidak takut lagi kepada racun Hiat-ay-lie ...."

"Benar,"

Ouw Hui memotong perkataan Leng-so.

"Ketika aku dan Ciong-toako datang di sini, lapat-lapat aku mendengar suara teriakan kaget tereampur gusar dari dalam rumah itu."

Leng-so mengangguk lalu berkata pula.

"Racun Hiat-ay-lie sebenarnya tak dapat dipunahkan dengan obat apa pun juga. Akan tetapi, orang bisa menjadi kebal terhadap racun itu, jika ia sering makan buah dari pohon tersebut. Untung juga, meskipun besar bahayanya, tanda-tanda Hiat-ay-lie gampang sekali dikenali orang. Jika satu pohon itu tumbuh di satu tempat, maka di sekitar tempat itu, dalam jarak lingkaran beberapa puluh tombak, tak akan terdapat seekor semut atau sebatang rumput."

"Benar,"

Kata Ouw Hui.

"Tadinya aku merasa heran sekali, kenapa di sekitar Yo-ong-chung tidak terdapat tumbuhtumbuhan. Dua ekor kuda kami tidak terluput dari serangan racun. Jika kau tidak menghadiahkan bunga biru itu ...."

Berkata sampai di situ, ia bergidik karena mengingat pengalamannya pada malam itu bersama Ciong Tiauw-bun.

"Bunga itu adalah jenis baru yang baru saja berhasil ditanam,"

Menerangkan Leng-so.

"Aku merasa syukur kalian cukup menghargai dan tidak melemparkannya di tengah jalan."

"Bunga itu sangat indah,"

Kata Ouw Hui.

"Karena indah, maka kau tidak membuangnya, bukan?"

Kata Leng-so. Ouw Hui jadi tergugu, ia mendehem beberapa kali, tak tahu bagaimana harus menjawabnya.

"Jika bunga itu tidak indah, apakah aku akan terus menyimpannya dalam sakuku?"

Ia tanya dirinya sendiri.

"Apakah karena keindahannya, bunga itu sudah menolong jiwaku dan jiwa Ciong-toako?"

Selagi ia melamun, angin mendadak meniup keras dan memadamkan api lilin.

"Aduh!"

Berseru Ouw Hui sembari mengeluarkan bahan api dari sakunya.

"Sudahlah!"

Mencegah Leng-so.

"Kira-kira sudah cukup."

Mendengar suara si nona yang agak kurang senang, Ouw Hui jadi merasa jengah, karena segala apa yang diminta oleh Leng-so selalu berakhir dengan ketidakberesan, seolah-olah dia sengaja tak memerhatikannya.

"Maaf,"

Katanya.

"Entah kenapa, malam ini pikiranku kusut sekali."

Leng-so tidak menyahut.

"Tadi aku sedang berpikir dan tiba-tiba angin meniup,"

Kata pula Ouw Hui.

"Leng-kouwnio, apa yang dipikir olehku adalah begini, Waktu kau memberikan bunga biru itu, sedikit pun aku tak mengetahui, bahwa bunga itu adalah penolong jiwa. Akan tetapi, sebagai hadiah yang aku terima, aku berkewajiban menyimpannya baik-baik."

Perkataan Ouw Hui yang bernada memohon, hanya disambut dengan "hm!". Dalam gelap gulita, mereka duduk berhadapan. Lewat beberapa saat, Ouw Hui berkata pula.

"Semenjak kecil aku sudah tidak mempunyai ayah bunda. Jarang sekali orang memberikan apa-apa kepadaku."

"Ya,"

Kata Leng-so.

"Aku pun begitu. Tapi toh bisa menjadi besar."

Sehabis berkata begitu, ia menyalakan lilin teng dan lalu mengambil satu batu yang digunakan untuk menutup mulut lubang.

"Hayolah,"

Katanya. Ouw Hui lantas saja mengikuti, tanpa berani menanyakan apa pun juga. Ketika mereka tiba di depan Yo-ong-chung, si tukang besi sedang duduk di atas tanah, sambil merokok.

"Ong-toasiok, tolong buka itu,"

Kata Leng-so sembari menunjuk bagian rumah yang tadi disolder.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia lalu mengambil martil dan pahat dan mengerjakan apa yang diperintah.

Kira-kira sepenanakan nasi, semua solderan sudah selesai dipahat.

"Bukalah pintu!"

Perintah si nona.

Si tukang besi lalu mengetuk-ngetuk beberapa kali dan menyontek dengan martilnya.

Dengan suara berkerontangan, sepotong papan besi menjeblak ke bawah dan terbukalah satu pintu yang tingginya enam kaki dan lebarnya tiga kaki.

Si tukang besi ternyata paham benar akan alat-alat rumah tersebut.

Ia menarik serupa alat dan dari dalam lantas saja muncul satu tangga kecil yang terus naik sampai di pintu.

"Taruh semua bunga biru di luar,"

Kata Leng-so. Mereka segera melemparkan bunga-bunga itu di atas tanah. Selagi mau naik tangga, mendadak si nona mengendus-endus beberapa kali.

"Ouw-toako,"

Katanya.

"Pada badanmu masih ada bunga. Jangan dibawa masuk."

"Oh!"

Kata Ouw Hui sembari merogoh sakunya dan mengeluarkan satu bungkusan kain yang lalu dibuka.

"Hidungmu benar tajam,"

Katanya.

"Dalam bungkusan masih dapat diketahui olehmu."

Dalam bungkusan itu terdapat kitab ilmu silat dari keluarga Ouw dan beberapa rupa barang lain.

Bunga biru itu yang sudah layu lalu ditaruh olehnya di pinggir pintu.

Melihat caranya menyimpan bunga itu, Leng-so mengetahui, bahwa Ouw Hui benar-benar menghargai pemberiannya dan ia jadi merasa girang sekali.

Ia menengok dan berkata sembari tertawa.

"Kau tidak berdusta!"

Ouw Hui kaget.

"Untuk apa aku berdusta?"

Katanya di dalam hati. Sementara itu, sembari menuding ke dalam, si nona berkata pula.

"Orang-orang yang berada di dalam, tak bisa mempertahankan diri terhadap bunga biru itu, karena mereka biasa makan buah Hiat-ay-lie."

Sehabis berkata begitu, sambil menenteng tengloleng, ia lalu naik ke tangga, diikuti Ouw Hui dan si tukang besi.

Setibanya di kaki tangga, mereka berada di satu terowongan yang sangat sempit.

Sesudah membelok dua kali, mereka masuk ke dalam satu ruangan kecil yang dindingnya penuh dengan lukisan dan lian serta diperaboti dengan kursi meja yang terbuat dari bambu.

Ouw Hui terperanjat sebab sama sekali ia tidak menduga, bahwa Kiang Tiat-san yang macamnya begitu kasar mempunyai rumah yang diperaboti seperti rumah seorang sastrawan.

Leng-so terus berjalan ke belakang.

Di lain saat, mereka sudah tiba di bagian dapur dan apa yang terlihat di situ sangat mengejutkan Ouw Hui.

Kiang Tiat-san dan istrinya sudah menggeletak di atas lantai, entah sudah mati atau masih hidup.

Tapi kejadian itu tidak mengherankan, karena Ouw Hui sudah menduga, bahwa asap lilin Cit-sim Hay-tong bakal mengakibatkan begitu.

Apa yang mengherankan adalah direbusnya seorang lelaki muda dalam satu kuali besar!

Bagian atas badannya tidak memakai baju, sedang air yang memenuhi kuali tak hentinya mengebulkan uap.

Meskipun belum bergolak, air itu sudah pasti panas sekali.

Ouw Hui mempereepat tindakannya dan mengangkat kedua tangannya untuk mengeluarkan orang itu dari kuali.

"Jangan diganggu!"

Mencegah si nona.

"Coba lihat ... apa ia memakai pakaian."

Ouw Hui melongok ke dalam kuali dan menjawab.

"Dia memakai celana."

Muka Leng-so bersemu dadu dan sembari manggutkan kepala, ia menghampiri kuali itu.

"Coba tambah kayu bakar!"

Ia memerintah.

Ouw Hui terkesiap.

Ia mengawasi dan lantas saja mengenali, bahwa pemuda itu adalah orang yang sudah merusak kebun si nona.

Kedua matanya tertutup rapat, mulutnya terbuka dadanya turun-naik dengan perlahan.

Meskipun belum mati, sedikitnya ia sudah pingsan.

"Bukankah dia Siauw-tiat, putra mereka?"

Tanya Ouw Hui.

"Benar,"

Jawabnya.

"Suko dan Suci ingin mengeluarkan racun yang mengeram dalam badannya, dengan merebus dia. Tapi, tanpa bubuk bunga dari Cit-sim Hay-tong, dia tak akan menjadi sembuh."

Ouw Hui jadi lega dan tanpa ragu-ragu lagi, ia segera masukkan sepotong kayu bakar ke dalam dapur. Ia tak berani menambah terlalu banyak, karena khawatir Siauw-tiat tak bisa tahan.

"Tambah lagi beberapa potong, dia tak akan menjadi mati,"

Kata Leng-so sembari tertawa.

Ouw Hui tak membantah dan lalu memasukkan pula dua potong kayu ke dalam dapur.

Sesudah mencelup tangannya ke dalam air untuk mengetahui berapa panasnya, si nona lalu mengeluarkan satu botol kecil dari dalam sakunya.

Ia menuang sedikit bubuk berwarna kuning yang lalu dimasukkan ke dalam lubang hidung Kiang Tiat-san dan Sie Kiauw.

Lewat beberapa saat, mereka berbangkis dan membuka mata.

Sesaat itu, dengan menggunakan gayung, Leng-so menyendok air mendidih yang lalu dibuangnya dan kemudian menyendok air dingin yang lalu ditambahkan ke dalam kuali.

Melihat begitu, paras mukanya Kiang Tiat-san suami istri yang tadinya gusar lantas saja berubah girang.

Mereka mengetahui, bahwa si nona sedang menolong Siauw-tiat.

Mereka segera bangun dan berdiri mengawasi tanpa mengeluarkan sepatah kata, dengan perasaan bimbang.

Terang-terang, putra mereka sudah kena racunnya Leng-so, tapi sekarang sang sumoay berbalik memberi pertolongan.

Mereka yakin, bahwa guru mereka telah memilih kasih dan menurunkan lebih banyak pelajaran kepada si nona yang dalam semalaman saja, sudah merobohkan mereka beberapa kali.

Sementara itu, Leng-so terus bekerja.

Setiap kali air sudah mendidih, ia menyendok dengan menggunakan gayung dan membuangnya, akan kemudian menambahkan lagi dengan segayung air dingin.

Direbus cara begitu, racun yang mengeram dalam badan Siauw-tiat, terisap ke luar dengan perlahan.

Selang beberapa saat, tiba-tiba Leng-so berpaling kepada si tukang besi dan berkata.

"Ong-toasiok, hayolah turun tangan! Mau tunggu sampai kapan lagi?"

"Baiklah!"

Jawab si tukang besi sembari mengambil sepotong kayu bakar yang lalu dihantamkan ke kepala Kiang Tiat-san.

"Bikin apa kau?"

Membentak Tiat-san dengan gusar sekali, sembari mengambil sepotong kayu. Tapi, baru saja ia mau balas menyerang, istrinya sudah membentak.

"Tiat-san! Hari ini kita sangat perlu pertolongan Sumoay. Beberapa pukulan itu tak menjadi soal."

Tiat-san tereengang dan mengawasi istrinya dengan mata melotot.

"Baiklah!"

Kata ia akhirnya dengan suara gusar. Ia melemparkan kayu itu dan membiarkan dirinya dihajar oleh si tukang besi.

"Anjing!"

Caci si orang she Ong sembari menggebuk.

"Kau sudah merampas sawahku dan memaksa aku membuat rumah besi ini. Belum puas dengan itu, kau malahan sudah menggebuk aku, sehingga tiga tulang igaku menjadi patah dan harus rebah di ranjang setengah tahun lamanya. Anjing! Tak dinyana, kita bakal berpapasan hari ini."

Sembari memaki, tangannya terus menghantam Tiat-san.

Walaupun tak mengerti ilmu silat, pukulan si tukang besi hebat luar biasa, karena setiap hari ia berlatih dengan memukul besi.

Menggebuk belum berapa lama, potongan kayu itu sudah menjadi patah.

Tiat-san tetap tak menangkis atau berkelit.

Sambil mengertak gigi, ia menerima pukulan-pukulan itu.

Mendengar cacian itu, Ouw Hui mengetahui, bahwa kedua suami istri itu pernah menyakiti si tukang besi yang hari ini bisa juga melampiaskan sakit hatinya dengan pertolongan Leng-so.

Ia jadi girang dan mengawasi pertunjukan itu sambil bersenyum simpul.

Dalam tempo cepat, tiga potong kayu yang digunakan untuk menggebuk, sudah menjadi patah.

Muka dan kepala Tiat-san sudah babak belur dan mengeluarkan darah.

Biar bagaimanapun juga, si tukang besi adalah seorang baik.

Melihat begitu, ia tak tega untuk memukul lagi dan lalu melemparkan potongan kayu yang sedang dicekal olehnya.

"Thia-kouwnio,"

Katanya sembari menyoja.

"Hari ini kau sudah membantu aku untuk membalas sakit hati. Budi yang sangat besar itu tak dapat aku membalasnya."

"Ong-toasiok,"

Jawab si nona.

"Tak usah kau berlaku begitu sungkan."

Ia berpaling kepada Sie Kiauw dan berkata pula.

"Samsuci, pulangkanlah sawahnya Ong-toasiok. Dengan memandang muka Siauwmoay, aku harap kalian jangan mempersakiti ia lagi. Maukah kalian berjanji begitu?"

"Selama hidup, kami tak akan menginjak lagi wilayah Ouwlam,"

Jawab Sie Kiauw dengan suara mendongkol.

"Tapi kau tak dapat memaksa supaya kami melupakan kejadian di hari ini."

"Baiklah,"

Kata Leng-so.

"Ong-toasiok, kau pulanglah lebih dulu. Urusan di sini tak ada sangkut pautnya lagi dengan kau."

Dengan paras muka berseri-seri, si tukang besi memungut sepotong kayu yang sudah patah sebagai akibat gebukan tadi.

"Orang jahat itu telah menghajar aku hebat sekali,"

Katanya.

"Aku ingin menyimpan potongan kayu ini yang berlepotan darah, sebagai peringatan."

Sehabis berkata begitu, ia memberi hormat kepada Leng-so dan Ouw Hui dan lalu berjalan pergi.

Melihat paras mukanya si tukang besi yang kegirangan seperti anak kecil, jantung Ouw Hui memukul keras, karena ia ingat pengalamannya di Pak-tee-bio, di mana Ciong A-sie dan keluarganya telah dibinasakan secara mengenaskan sekali.

Kekejaman suami istri Kiang Tiat-san mungkin tak kalah dengan kebuasan Hong Jin Eng.

Mungkin sekali, begitu lekas Leng-so berlalu, mereka akan turunkan tangan jahat terhadap si tukang besi.

Memikir begitu, lantas saja ia mengejar dan berteriak.

"Ong-toasiok, tunggu dulu! Aku mau bicara."

Si tukang besi menghentikan tindakannya dan menengok ke belakang.

"Ong-toasiok,"

Kata Ouw Hui.

"Menurut aku, suami istri she Kiang itu bukan manusia baik-baik. Aku menasihati supaya kau buru-buru menjual sawahmu dan segera menyingkirkan diri. Jangan lama-lama berdiam di tempat ini. Aku khawatir, tangan mereka sangat beracun."

Si orang she Ong kelihatan terkejut. Ia merasa berat untuk meninggalkan kampung kelahirannya yang ia cinta.

"Tapi mereka toh sudah berjanji akan tidak menginjak lagi wilayah Ouwlam,"

Katanya.

"Omongan manusia semacam itu tak bisa dipereaya habis,"

Kata Ouw Hui. Si tukang besi kelihatan seperti orang baru mendusin dari tidurnya.

"Benar, kau benar!"

Katanya.

"Baiklah, aku akan menyingkir secepat mungkin!"

Sehabis berkata begitu, ia lalu bertindak keluar, tapi baru saja tiba di ambang pintu, ia memutarkan badan dan menanya.

"Kau she apa?"

"She Ouw,"

Jawab Ouw Hui.

"Ouw-ya, terima kasih dan sampai bertemu pula,"

Katanya dengan suara terharu.

"Selama hidupmu, perlakukanlah Thiakouwnio baik-baik."

Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 5

Baca Juga: Sejengkal Tanah Sepercik Darah 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert