Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Rase Terbang 7

Eps 7 Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung

Baca online Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung

Cersil Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung.

Sekarang giliran Ouw Hui yang merasa kaget.

"Apa kau kata?"

Tanyanya. Si orang she Ong tertawa berkakakan.

"Ouw-ya,"

Katanya.

"Aku, si tukang besi, bukan manusia yang terlalu tolol. Apakah kau kira aku tak dapat melihat? Thia-kouwnio adalah seorang gadis cilik yang sangat pintar, hatinya mulia dan kepandaiannya tak usah dibicarakan lagi. Sikapnya terhadapmu adalah sikap yang setulus hati. Ouw-ya, kau harus dengar kata terhadapnya!"

Sekali lagi ia tertawa berkakakan dan melangkah ke luar pintu. Tentu saja Ouw Hui mengerti, apa artinya perkataan itu. Ia merasa sangat jengah dan hanya berkata.

"Sampai ketemu lagi."

"Ouw-ya, sampai ketemu lagi,"

Kata si tukang besi sembari membereskan perabotnya yang lalu dipikul dan tanpa menengok lagi, sembari menyanyi-nyanyi, ia berangkat pulang ke rumahnya.

Ouw Hui menghela napas dan dengan tindakan perlahan, ia balik ke dapur.

Ketika itu, Siauw-tiat sudah sadar dari pingsannya dan sudah berdiri di atas lantai dengan badan dikerebongi dengan satu jubah panjang.

Terhadap Leng-so, keluarga Kiang mengiri dan membenci, tapi terhadap kepandaian si nona dalam menggunakan obat dan racun, mau tak mau, mereka merasa sangat kagum.

Mereka bertiga berdiri tegak dengan sikap dingin, tanpa mengeluarkan sepatah kata terima kasih.

Leng-so juga rupanya tidak memedulikan sikap yang dingin itu.

Di lain saat, ia merogoh saku dan mengeluarkan tiga ikat rumput obat kering yang berwarna putih.

Sambil meletakkan itu di atas meja, ia berkata.

"Begitu kau orang berlalu dari rumah ini, orang-orang dari keluarga Beng tentu akan mengejar dan coba mencegat kau orang. Ini adalah Tek-ouwhio yang dibuat dengan menggunakan Cit-sim Hay-tong dan aku rasa sudah cukup untuk mundurkan mereka. Tapi aku pesan, kau jangan mengambil jiwa manusia, supaya permusuhan tidak jadi semakin mendalam."

Paras muka Kiang Tiat-san lantas saja berubah berseri-seri.

"Thia-sumoay,"

Katanya.

"Banyak terima kasih untuk segala perhatianmu."

"Hm! Dia menolong putramu, kau tidak mengaturkan terima kasih,"

Kata Ouw Hui dalam hatinya.

"Sesudah ia membantu kau untuk mundurkan musuh, baru kau menyatakan terima kasih. Dari sini dapat dilihat, bahwa musuh itu adalah musuh yang sangat lihai. Siapakah orang she Beng itu?"

Sesudah suaminya mengaturkan terima kasih, dari sakunya Sie Kiauw mengeluarkan satu botol kecil yang lalu diserahkan kepada Leng-so.

"Inilah obat pemunah racun Toan-chung-co,"

Katanya.

"Sumoay sendiri tentu dapat membuatnya, hanya meminta tempo dan mungkin tak keburu untuk menolong orang."

Mendengar perkataan "obat pemunah racun Toan-chungco", Ouw Hui jadi girang sekali. Leng-so lalu membuka tutup botol dan mengendusnya dari jarak yang agak jauh.

"Terima kasih, Suci,"

Katanya sembari menutup botol itu yang kemudian diserahkan kepada Ouw Hui.

"Siauw-tiat!"

Kata pula si nona dengan suara angker.

"Kenapa kau memberikan Toan-chung-co kepada orang luar?"

Siauw-tiat terkesiap, karena ia tak mengerti, bagaimana Leng-so bisa mengetahui hal itu.

"Aku ... aku ...."

Jawabnya dengan tergugu.

"Sumoay,"

Kata Tiat-san.

"Siauw-tiat memang sudah berbuat kesalahan besar dan aku sudah hajar dia."

Sembari berkata begitu, ia menghampiri putranya dan membuka jubah panjangnya Siauw-tiat, yang badannya lalu diputar.

Ternyata, punggung Siauw-tiat penuh dengan bekas sabetan cambuk yang mengembang darah.

Tadi, Leng-so sendiri sebenarnya sudah melihat bekas cambuk itu, akan tetapi, karena perbuatan Siauw-tiat, yaitu memberikan racun kepada orang luar, merupakan satu kedosaan besar dalam kalangan Tokchiu Yo-ong, maka ia merasa berkewajiban untuk menegurnya.

Timbulnya dugaan, bahwa Toan-chung-co diberikan oleh Siauw-tiat, adalah karena melihat bekas sabetan itu.

Sesaat itu Leng-so ingat pula pesanan mendiang gurunya.

Kata guru itu.

"Jika kau sendiri yang meracuni orang, andai kata kau kesalahan meracuni orang baik, kau bisa lantas memberi pertolongan. Akan tetapi, jika racun itu diberikan kepada orang luar yang lalu menggunakannya untuk mencelakakan orang baik-baik, maka orang baik-baik itu tak akan bisa ditolong lagi. Kedosaan ini adalah sepuluh kali lipat lebih besar daripada meracuni orang dengan tangan sendiri."

Leng-so merasa pasti, bahwa larangan itu sudah sering diberitahukan kepada Siauw-tiat oleh kedua orang tuanya.

Kenapa dia masih melanggar juga?

Sebenarnya si nona ingin menanyakan lebih terang, tapi ia merasa malu hati, karena anak itu sudah dihajar keras oleh suko dan sucinya.

Maka itu, ia hanya berkata sembari membungkuk.

"Suko, Suci maafkan yang hari ini Siauwmoay telah berbuat banyak kesalahan terhadap kalian. Sampai ketemu lagi."

Kiang Tiat-san membalas hormat, tapi Sie Kiauw tak memedulikan dan hanya menggerendeng.

"Hm!"

Leng-so memberi tanda dengan isyarat mata kepada Ouw Hui dan mereka berdua lantas bertindak keluar. Baru saja mereka mau melangkah pintu, Kiang Tiat-san mengejar sembari berseru.

"Siauwsumoay!"

Leng-so menengok dan begitu melihat paras mukanya yang guram dan penuh kesangsian, ia sudah mengetahui, apa yang diinginkan oleh sang suko.

"Jiesuko, ada apa?"

Ia tanya sembari tertawa.

"Tiga Tek-ouw-hio itu memerlukan tiga orang yang lweekangnya sepantaran untuk mundurkan musuh,"

Jawab Tiat-san.

"Lweekang Siauw-tiat masih terlalu cetek, maka aku ingin memohon ...."

Ia tak dapat meneruskan perkataannya, mungkin karena merasa malu hati. Si nona mesem dan berkata sambil menuding keranjang bambu yang menggeletak di luar pintu.

"Toasuko berada dalam keranjang itu. Bubuk bunga Cit-sim Hay-tong yang ditinggalkan oleh Siauwmoay sudah cukup untuk memunahkan racun yang mengeram dalam tubuh Toasuko. Jiesuko, kenapa kau tak mau menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki perhubungan dengan Toasuko? Dengan menolong ia, kau juga akan mendapat bantuannya yang diperlukan."

Mendengar itu, bukan main girangnya Tiat-san.

Untuk banyak tahun, ia merasa jengkel sekali, sebab permusuhannya dengan Bok-yong Keng-gak semakin lama jadi semakin mendalam.

Ia sama sekali tak menduga, bahwa sumoay kecil itu sudah mengatur suatu siasat yang mempunyai dua kebaikan, yaitu mengundurkan musuh dan memperbaiki perhubungan dengan kakak seperguruannya.

Demikianlah, sesudah mengaturkan terima kasih berulang-ulang, ia segera mengambil keranjang bambu itu.

Sementara itu, Ouw Hui sudah memungut lagi bunga biru yang tadi ditaruh olehnya di pinggir pintu.

Leng-so melirik padanya dan kemudian, sembari mengulapkan tangan ke arah Tiat-san, ia berkata.

"Jiesuko, kepala dan mukamu mengeluarkan darah, tapi dengan begitu, hawa racun yang mengeram dalam badanmu juga turut keluar. Aku berharap, kau jangan menaruh dendam atas perbuatanku yang kurang ajar."

Lagi-lagi Tiat-san terkejut, seperti orang yang baru mendusin dari tidurnya.

"Sekarang baru aku mengetahui, bahwa perintahnya supaya si tukang besi menggebuk aku, di samping hukuman untuk kedosaanku, juga mengandung maksud yang baik,"

Pikirnya.

"Racun dalam badan Kiauwmoay belum hilang dan aku harus mengeluarkan sedikit darahnya."

Memikir begitu, ia merasa takluk terhadap kepintaran sang sumoay yang jauh lebih unggul daripada dirinya sendiri.

Dengan begitu, hilanglah juga segala keinginannya untuk merampas Yo-ong Sin-pian.

Waktu Leng-so dan Ouw Hui kembali di rumah gubuk, Ciong Tiauw-bun masih pulas nyenyak.

Mereka sudah bekerja berat, tak tidur semalam suntuk dan ketika itu, fajar sudah menyingsing.

Leng-so segera mengeluarkan obat untuk Tiauw-bun dan memberikannya kepada Ouw Hui.

Sesudah Tiauw-bun diberi obat, tanpa mengaso lagi, mereka lalu mengambil cangkul untuk menanam pula pohonpohon bunga biru yang belum rusak.

"Semula, waktu melihat kawanan anjing hutan itu, aku kira yang datang menyerang adalah orang-orang keluarga Beng,"

Kata si nona.

"Belakangan setelah melihat di leher orang itu tergantung seikat rumput obat, barulah aku mengetahui, bahwa dia itu adalah Siauwtiat."

"Bagaimana ia bisa kena racun Cit-sim Hay-tong?"

Tanya Ouw Hui.

"Dalam kegelapan aku tak bisa melihat tegas."

"Aku serang dia dengan paku touw-kut-teng,"

Jawab Lengso.

"Selain itu, pada paku tersebut diikatkan surat Toasuko yang dipalsukan olehku. Touw-kut-teng adalah senjata rahasia Toasuko yang tentu saja dikenali oleh Jiesuko. Itulah sebabnya, kenapa Jiesuko tidak bersangsi lagi."

"Tapi dari mana kau mendapatkan senjata rahasia toasukomu?"

Tanya pula Ouw Hui.

"Coba kau tebak-tebak,"

Kata si nona sembari tertawa. Ouw Hui berdiam sejenak dan kemudian berkata dengan suara nyaring.

"Ah! Sekarang aku tahu. Waktu itu, toasukomu sudah dibekuk dan dimasukkan ke dalam keranjang. Tentu saja, dengan mudah kau dapat mengambil senjata rahasianya."

"Benar,"

Kata Leng-so.

"Melihat bunga biru itu, Toasuko sudah bereuriga. Sesudah kau menanyakan jalanan, ia segera mengikuti dan akhirnya masuk ke dalam keranjang."

Selagi kedua orang muda itu bicara dengan gembira sembari tertawa-tawa, di belakang mereka mendadak terdengar suara orang menanya.

"Apa sih yang begitu menggelikan hati?"

Mereka menengok dan melihat Ciong Tiauw-bun sedang berdiri di depan gubuk dengan muka merah, seperti orang mabuk arak. Melihat kawan itu, Ouw Hui terkejut karena ia lantas saja ingat akan tugasnya.

"Leng-kouwnio,"

Katanya.

"Biauw-tayhiap mendapat luka berat dan kami harus segera berangkat. Bagaimana cara menggunakan obat pemunah itu?"

"Biauw-tayhiap mendapat luka di mata, yaitu di bagian yang paling halus dan paling lemah dari tubuh manusia,"

Kata Leng-so.

"Banyak-sedikitnya obat yang harus digunakan, mesti dipertimbangkan masak-masak. Apa kau tahu, berapa beratnya luka itu?"

Ouw Hui terperanjat, tak dapat ia menjawab pertanyaan itu.

Ia sekarang mengetahui, bahwa jalan satu-satunya adalah memohon pertolongan Leng-so, agar nona itu sudi datang ke rumah Biauw Jin-hong untuk memberi pertolongan.

Akan tetapi, karena baru saja mengenal gadis itu, ia merasa berat untuk membuka mulut.

Si nona dapat membaca apa yang dipikir Ouw Hui.

Ia bersenyum seraya berkata.

"Jika diminta, aku bersedia untuk pergi sama-sama kalian. Tapi lebih dulu, kau harus meluluskan satu permintaanku."

Ouw Hui kegirangan.

"Pasti, pasti aku meluluskan."

Katanya terburu-buru.

"Permintaan apa?"

Si nona tertawa geli.

"Sekarang belum ada,"

Katanya.

"Tapi begitu ada, aku akan segera mengajukan kepadamu. Aku hanya khawatir kau akan mungkir janji."

"Jika mungkir, aku bukan manusia lagi,"

Kata Ouw Hui.

"Baiklah,"

Kata Leng-so.

"Aku ingin membawa sedikit pakaian untuk tukaran dan kita boleh lantas berangkat."

Melihat tubuh Leng-so yang kurus, Ouw Hui jadi merasa kasihan.

"Leng-kouwnio,"

Katanya dengan suara perlahan.

"Semalam suntuk kau tak tidur. Apa tidak terlalu capai?"

Tapi Leng-so tak memberi jawaban dan dengan tindakan gesit, ia lalu masuk ke ruangan dalam.

Ciong Tiauw-bun yang tidur nyenyak seluruh malam, tak mengetahui, bahwa malam itu sudah terjadi banyak sekali kejadian aneh.

Waktu itu, Ouw Hui tidak bisa menuturkan sejelas-jelasnya.

Ia hanya memberitahukan, bahwa obat pemunah racun sudah didapat dan bahwa Thia Leng-so, satu ahli yang berkepandaian tinggi, sudah meluluskan untuk berkunjung ke rumah Biauw Jin-hong guna mengobati kedua mata kesatria itu.

Baru saja Tiauw-bun ingin menanya lebih terang, Leng-so sudah keluar dengan menggendong satu bungkusan kecil di punggungnya dan membawa satu pasu pohon bunga dengan kedua tangannya.

Daun pohon itu tiada beda seperti daun pohon hay-tong yang biasa, tapi daun bunganya berwarna biru tua dan pada setiap daun bunga terdapat tujuh titik merah.

"Apa ini Cit-sim Hay-tong yang kesohor?"

Tanya Ouw Hui. Leng-so mengangsurkan pasu itu kepadanya, sehingga Ouw Hui loncat mundur dengan terkesiap. Si nona tertawa bergelak-gelak dan berkata.

"Batang, daun, dan bunga pohon ini memang sangat beracun. Tapi jika tidak diolah, itu semua tak bisa mencelakakan manusia. Kalau kau tak makan dia, dia juga tak bisa membinasakan kau."

Ouw Hui juga tertawa.

"Apa kau anggap aku sebagai kerbau yang makan rumput?"

Katanya sembari menyambuti pasu bunga itu.

Sesudah Leng-so mengunci pintu, mereka bertiga lantas saja berangkat.

Waktu tiba di Pek-ma-sie, lebih dulu Ouw Hui pergi ke toko obat untuk mengambil pulang senjata mereka yang dititipkan.

Ciong Tiauw-bun sendiri segera pergi membeli tiga ekor kuda.

Mereka tak berani berayal dan lalu meneruskan perjalanan secepat mungkin.

Pek-ma-sie adalah satu kota kecil dan untuk mencari tiga ekor kuda sebenarnya sudah tak gampang.

Maka itu, kuda yang dibeli tentu saja bukan kuda jempolan.

Berjalan sampai malam, mereka hanya melalui kira-kira dua ratus li.

Apa mau, sedang seluruh jagat sudah menjadi gelap dan mereka sudah lelah bukan main, di sekitar itu tak terdapat rumah penduduk.

Apa boleh buat, mereka segera turun dari tunggangan untuk melewati malam itu di tengah-tengah satu hutan kecil.

Leng-so rupanya sudah tak dapat menahan capainya lagi.

Begitu turun dari kudanya, ia segera merebahkan diri dan beberapa saat kemudian, ia sudah menggeros.

Tiauw-bun lantas saja minta supaya Ouw Hui mengaso dengan mengatakan, bahwa malam itu ia yang akan bertugas sebagai penjaga.

Kira-kira tengah malam, lapat-lapat terdengar suara mengaumnya harimau.

Ouw Hui tersadar dari tidurnya, tapi suara harimau itu semakin lama jadi semakin jauh.

Sesudah mendusin, ia sukar pulas lagi.

"Ciong-toako,"

Katanya.

"Pergilah kau tidur. Aku sudah tak bisa pulas lagi. Biarlah aku yang menjaga."

Tak lama kemudian, ia mendengar suara menggerosnya Tiauw-bun dan Leng-so yang saling sahut. Sembari memeluk dengkul, ia duduk tepekur dan rupa-rupa ingatan masuk ke dalam otaknya.

"Ah, kali ini sebab mencampuri urusan orang lain, aku jadi terlambat beberapa hari,"

Katanya di dalam hati.

"Sekarang tak mungkin aku bisa menyusul lagi Hong Jin Eng. Apakah dia pergi ke Pakkhia untuk menghadiri pertemuan para ciangbunjin?"

Dengan hati pepet, ia memikir bolak-balik.

Perlahan-lahan ia merogoh saku dan mengeluarkan satu bungkusan yang lalu dibuka dan kemudian membungkus lagi, sesudah memasukkan bunga biru ke dalamnya.

Melihat bunga itu, ia lantas saja ingat perkataan si tukang besi.

Selagi melamun, mendadak ia dengar suara tertawanya Leng-so.

"Eh, ada mestika apa dalam bungkusan itu?"

Tanya si nona.

"Bolehkah aku lihat?"

Ouw Hui menengok dan ternyata, nona itu sudah duduk di atas rumput.

"Apa yang dianggap mestika olehku, sama sekali tidak berharga bagimu,"

Kata Ouw Hui sembari membuka lagi bungkusannya yang lalu diangsurkan kepada Leng-so.

"Inilah pisau bambu, pemberian Peng Sie-siok ketika aku masih kecil,"

Ia menerangkan.

"Inilah sepotong emas, hadiah Tio-samko, saudara angkatku. Aku sengaja menyimpan sepotong, sebagai peringatan. Dan ini adalah kitab ilmu silat dan ilmu golok, warisan leluhurku ..."

Waktu menunjuk burung hong yang terbuat dari batu pualam, ia agak tergugu dan berkata.

"Inilah barang permainan pemberian satu sahabat."

Di bawah sinar rembulan, hong pemberian Wan Cie-ie itu mengeluarkan sinar terang yang indah sekali. Mendengar suara Ouw Hui yang agak luar biasa, Leng-so dongak seraya berkata.

"Sahabat, satu nona, bukan?"

Paras muka Ouw Hui lantas saja berubah merah.

"Benar!"

Jawabnya.

"Ah, inilah mestika yang tak ternilai harganya!"

Kata pula si nona dengan suara menggoda.

Ia tertawa dan membungkus pula bungkusan itu yang lalu dipulangkan kepada Ouw Hui.

Pemuda itu menyambuti dengan perasaan yang sukar dilukiskan, ia tak tahu, apa ia harus bergirang atau berduka.

Besok paginya, mereka meneruskan perjalanan dan kirakira lohor, barulah tiba di depan rumah Biauw Jin-hong.

Mereka kaget karena di depan rumah tertambat tujuh ekor kuda yang kelihatannya garang sekali.

"Kalian tunggu di sini,"

Tiauw-bun berbisik.

"Aku pergi dulu untuk menyelidiki!"

Sehabis berkata begitu, ia pergi ke belakang rumah dengan mengambil jalan memutar.

Dari situ, ia mendengar suara bicara yang keras dari beberapa orang.

Perlahan-lahan ia menghampiri jendela dan mengintip ke dalam.

Ternyata, dengan kedua mata diikat kain, Biauw Jinhong sedang berdiri tegak di depannya, di mulut pintu ruangan tengah, berdiri beberapa orang lelaki yang romannya bengis dan masing-masing mencekal senjata.

Tiauw-bun kaget berbareng berkhawatir, karena Tiauw-eng dan Tiauw-leng yang bertugas melindungi Biauw Jin-hong, tak kelihatan mata hidungnya.

Apa mereka telah ditawan musuh?

"Biauw Jin-hong!"

Membentak salah seorang yang rupanya menjadi kepala dari lima orang itu.

"Kedua matamu sekarang sudah buta, hidup lebih lama dalam dunia hanya memperpanjang penderitaanmu. Dengarlah nasihatku! Lebih baik kau menggorok leher supaya tuan-tuan besarmu tak usah banyak berabe."

Biauw Jin-hong tak menjawab, ia hanya mengeluarkan suara "hm!"

Dari hidungnya.

"Biauw Jin-hong,"

Kata seorang lain dengan suara mengejek.

"Kau digelari sebagai Tah-pian Thian-hee Bu-tekchiu, sebagai seorang yang tiada tandingannya di kolong langit. Puluhan tahun kau malang melintang dengan leluasa dalam kalangan Kang-ouw. Tapi hari ini kau bertemu dengan kami. Jika kau bisa melihat gelagat dan berlutut beberapa kali di hadapan tuan-tuan besarmu, mungkin sekali kami akan merasa kasihan dan membiarkan kau hidup lagi beberapa tahun."

"Mana Tian Kui-long?"

Membentak Biauw-tayhiap dengan suara angker.

"Kenapa dia tidak berani menemui aku untuk bicara sendiri?"

Lelaki yang menjadi kepala rombongan tertawa terbahakbahak.

"Untuk membereskan satu manusia buta, apakah perlu Tian-toaya turun tangan sendiri?"

Tanya ia dengan suara temberang.

"Tian Kui-long tak berani datang?"

Tanya Biauw Jin-hong dengan suara tenang.

"Apa dia tak mempunyai nyali untuk membunuh aku?"

Pada sesaat itu, Tiauw-bun mendadak merasakan pundaknya ditepuk orang. Dengan terkejut ia menengok dan mendapat kenyataan, bahwa di belakangnya berdiri Ouw Hui bersama Leng-so.

"Ciong Jieko dan Samko berada di sana, kena dirobohkan oleh kawanan bangsat,"

Berbisik Ouw Hui sembari menuding ke arah barat.

"Pergilah Toako menolong mereka, sedang aku sendiri akan melindungi Biauw-tayhiap."

Karena mengetahui Ouw Hui berkepandaian tinggi dan juga sebab memikiri keselamatan kedua saudaranya, tanpa membantah lagi, Tiauw-bun segera berlari-lari ke jurusan barat sembari mengeluarkan poan-koan-pit.

Gerakan Tiauw-bun lantas saja diketahui oleh orang-orang yang berada di dalam rumah.

"Siapa di luar!"

Membentak seorang antaranya.

"Yang satu sinshe (tabib) yang satu lagi tukang potong!"

Sahut Ouw Hui sembari tertawa.

"Jangan main gila!"

Dia membentak dengan suara gusar.

"Apa itu sinshe dan tukang potong!?"

"Sinshe adalah untuk mengobati kedua mata Biauw-tayhiap sedang tukang potong adalah untuk menyembelih kawanan babi dan anjing!"

Jawab Ouw Hui. Dengan kegusaran yang meluap-luap, orang itu segera bergerak untuk melompat keluar, tapi lantas dicegah oleh pemimpin rombongan yang berkata dengan suara perlahan.

"Jangan kena ditipu dengan siasat Tiauw-houw-lie-san (memancing harimau keluar dari gunung). Tian-toaya hanya memerintah kita untuk membinasakan Biauw Jin-hong. Urusan lain tak usah kita campur-campur."

Orang itu menggerendeng, tapi tak berani membantah.

Memang juga, tujuan Ouw Hui adalah untuk memancing mereka keluar supaya ia sendiri yang menghadapi lima orang itu.

Walaupun mengetahui, bahwa Biauw Jin-hong mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, akan tetapi hatinya masih berkhawatir, karena kedua mata Biauw-tayhiap tak bisa melihat.

Ia merasa menyesal karena lima orang itu tak kena dipancing.

"Saudara kecil, kau sudah pulang?"

Tanya Biauw-tayhiap.

"Benar, aku sudah berhasil mengundang Tok-chiu Yo-ong datang ke sini,"

Jawabnya dengan suara nyaring.

"Matamu pasti akan sembuh. Tak usah kau berkhawatir lagi."

Tak usah dikatakan lagi, kata-kata "Tok-chiu Yo-ong"

Adalah untuk menggertak musuh.

Benar saja, kelima orang itu jadi terkejut dan menengok ke jurusan Ouw Hui.

Tapi apa yang dilihat adalah seorang muda yang berbadan kasar dan satu nona yang badannya kurus kering.

Hati mereka jadi lega, karena tak pereaya nona itu adalah Tok-chiu Yo-ong yang kesohor namanya.

"Saudara kecil, aku masih sanggup menghadapi kawanan anjing ini,"

Kata Kim-bian-hud dengan suara tenang.

"Pergilah bantu Ciong-sie Sam-hiong. Jumlah musuh tak kecil, mereka ingin membasmi kita dengan mengandalkan jumlahnya yang besar."

Sebelum Ouw Hui sempat menjawab, di belakangnya mendadak terdengar suara tindakan banyak orang.

"Dugaan Biauw-tayhiap tepat sekali,"

Kata seorang dengan suara nyaring.

"Memang juga kami ingin membasmi kau dengan mengandalkan jumlah orang yang banyak."

Begitu menengok, Ouw Hui terkesiap.

Belasan lelaki bersenjata sedang menghampiri dengan tindakan perlahan dan di belakang mereka terdapat belasan orang lain yang mencekal obor.

Apa yang paling mengejutkan adalah tertawannya Ciong-sie Sam-hiong yang sedang digusur dengan terikat kedua tangannya.

Sesaat kemudian, seorang lelaki yang berusia pertengahan dan pada pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang, maju ke depan.

Orang itu berparas cakap dan Ouw Hui lantas saja mengenali, bahwa dia itu bukan lain daripada Tian Kui-long yang ia pernah bertemu di Siang-kee-po pada beberapa tahun berselang.

Waktu itu Ouw Hui masih merupakan satu bocah cilik yang kurus kering, sehingga Tian Kui-long tentu saja tidak kenali itu.

Kim-bian-hud dongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Tian Kui-long!"

Ia membentak.

"Aku tahu, sebegitu lama kau belum mengambil jiwaku, sebegitu lama juga kau tak bisa enak tidur. Ha-ha-ha! Hari ini kau membawa banyak sekali orang!"

"Kami adalah rakyat baik-baik, mana berani kami mengambil jiwa manusia,"

Kata Kui-long dengan suara tenang.

"Aku datang ke sini hanya untuk mengundang Biauw-tayhiap untuk beristirahat beberapa hari di rumahku. Siapa kata, kami mempunyai niatan yang kurang baik?"

Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan nada seperti seorang yang menang perang.

Ia menganggap bahwa Biauw Jin-hong sudah masuk ke dalam jaring dan tak akan bisa meloloskan diri lagi.

Ciong-sie Sam-hiong yang namanya kesohor sudah kena ditawan, sedang Ouw Hui dan Leng-so yang berdiri di pintu dipandang sebelah mata olehnya.

Kegirangannya meluap-luap, ia merasa sudah memperoleh kemenangan total.

Sementara itu, Ouw Hui mengasah otak untuk mencari jalan keluar.

Ia mengerti, bahwa pihaknya berada dalam keadaan terjepit.

Jumlah musuh banyak lebih besar dan di antara mereka tentulah terdapat banyak jago-jago yang berkepandaian tinggi.

Di pihaknya, Ciong-sie Sam-hiong yang boleh diandali, sudah kena ditawan musuh.

Dengan mata tajam, ia mengawasi barisan musuh.

Di belakang Tian Kui-long berdiri dua wanita, seorang tua yang berbadan kurus kering dan seorang lelaki setengah tua yang mencekal sepasang tameng.

Mata kedua orang itu bersinar terang dan sudah bisa diduga, bahwa mereka bukan lawan enteng.

Di samping itu, terdapat pula tujuh-delapan orang lelaki yang mencekal dua rantai besi yang sangat panjang dan halus.

Semula, Ouw Hui tak mengetahui kegunaan rantai itu, tapi sesudah memikir sejenak, ia mendusin.

"Mereka tentu ingin melibat kaki Biauw-tayhiap,"

Katanya di dalam hati.

"Mereka tentu menganggap, karena sudah buta, Biauwtayhiap pasti akan roboh jika ditarik oleh tujuh-delapan orang."

Sembari berpikir begitu, ia mengawasi Tian Kui-long dan begitu melihat mukanya manusia itu, darahnya lantas saja mendidih.

"Bangsat!"

Ia mencaci dalam hatinya.

"Sesudah merampas istri orang, kau rupanya belum puas kalau belum membinasakan juga suaminya."

Tapi keadaan yang sebenarnya adalah, Tian Kui-long yang sangat busuk tak terluput dari penderitaan batin yang sangat hebat.

Semenjak membawa kabur Lam-lan, istri Biauw Jinhong, tak pernah ia enak makan dan enak tidur, karena ia tak dapat melupakan bahwa wanita yang dibawa lari itu adalah istri seorang ahli silat yang tiada tandingannya di kolong langit.

Setiap berkerisiknya rumput mengejutkan hatinya, sebab ia selalu berkata, bahwa suara itu adalah tanda, dari kedatangan Biauw Jin-hong.

Semula, Lam-lan memang tergila-gila dan menyerahkan seluruh kecintaannya terhadap Kui-long.

Tapi belakangan, setelah melihat lelaki itu ketakutan siang-malam, harga Tian Kui-long lantas saja merosot di matanya Lam-lan.

Dalam anggapan nyonya itu, yang selalu memandang rendah bekas suaminya, Biauw Jin-hong adalah seorang yang tak perlu ditakuti.

Di samping itu, Lam-lan juga berpendapat, bahwa jika mereka berdua sungguh-sungguh saling mencintai, kebinasaan bersama-sama di ujung pedang Kim-bian-hud tak merupakan soal besar yang mesti ditakuti sampai begitu.

Dengan demikian Lam-lan segera mendapat kenyataan, bahwa Tian Kui-long lebih menghargai jiwanya sendiri daripada kecintaannya seorang wanita yang sudah meninggalkan suaminya, yang meninggalkan juga putrinya dan yang sudah rela dicaci orang untuk mengikuti dia.

Karena selalu diliputi ketakutan, Kui-long tak dapat melayani lagi perempuan itu seperti biasanya.

Ia tak #h.>.a mengungkuli Lam-lan dengan tetabuhan khim, dengan main tiokie atau menyusun syair.

Mau tak mau, sebagian besar waktunya digunakan untuk main pedang atau berlatih lweekang guna menjaga kedatangan Kim-bian-hud.

Apa mau, wanita itu justru paling tak suka orang berlatih silat.

Tian Kui-long adalah seorang jahat yang berotak pintar.

Ia mengetahui, bahwa sebegitu lama Biauw Jin-hong masih hidup, segala rencananya akan berakhir dengan kegagalan.

Segala harta kekayaan yang diimpi-impikan olehnya akan hanya merupakan satu bayangan rembulan di muka air.

Sementara itu, Leng-so yang berdiri di samping Ouw Hui, terus mengawasi tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Seperti Ouw Hui, ia pun sedang menimbang-nimbang bagaimana harus merobohkan musuh.

Perlahan-lahan ia merogoh saku, mengeluarkan potongan lilin racunnya dan mengeluarkan juga bahan api.

Begitu lekas lilin disulut, dalam tempo cepat, semua orang pasti akan roboh pingsan.

Dengan mata tajam, ia mengawasi semua orang dan setelah melihat, bahwa mereka tidak memerhatikan, ia segera menyalakan bahan api dan menyulut lilin itu.

Bahwa di malam yang gelap seseorang menyalakan lilin, adalah kejadian yang tidak luar biasa.

Tapi, sebelum lilin tersulut, mendadak terdengar menyambarnya senjata rahasia yang mengenai tepat pada lilin itu yang lantas saja jadi kutung dua dan jatuh di lantai.

Leng-so terkejut dan menengok ke jurusan menyambarnya senjata rahasia itu.

Ia mendapat kenyataan, bahwa orang yang melepaskan senjata rahasia adalah satu nona kecil yang baru berusia kira-kira lima belas tahun.

"Jangan main gila kau!"

Membentak nona itu.

Mata semua orang sekarang ditujukan kepada Leng-so yang sudah mengetahui, bahwa senjata rahasia yang digunakan oleh nona itu adalah sebatang tiat-tui (pusut besi).

Ia merasa agak jengah dan berkata dengan suara tawar.

"Main gila apa?"

Ia merasa sangat tidak mengerti, bagaimana gadis cilik itu bisa mengetahui rahasianya, sehingga sekarang adalah sukar untuk ia turunkan tangan.

Tian Kui-long hanya melirik dan tidak menaruh perhatian terhadap kejadian itu.

"Biauw Toako,"

Katanya.

"Hayolah ikut kami!"

Hampir berbareng, satu gundalnya Tian Kui-long mendorong pundak Ouw Hui sembari membentak.

"Siapa kau? Minggir! Di sini bukan tontonan."

Dia menganggap, bahwa Leng-so dan Ouw Hui adalah tetangga Biauw Jin-hong yang datang menengoki. Ouw Hui sengaja berlagak tolol, ia lantas minggir tanpa mengeluarkan sepatah kata.

"Saudara kecil,"

Kata Kim-bian-hud.

"Pergilah menyingkir! Jangan pedulikan aku lagi. Jika kau bisa menolong Ciong-sie Sam-hiong, aku Biauw Jin-hong sudah merasa berterima kasih tak habisnya."

Mendengar kata-kata itu, ketiga saudara Ciong dan Ouw Hui merasa terharu sekali.

Mereka kagum akan kesatriaan Biauw-tayhiap yang dalam bahaya besar, masih ingat kepentingan orang lain, tanpa mengingat kepentingan sendiri.

Kui-long yang selalu berwaspada, lantas saja jadi terkejut.

Ia melirik Ouw Hui dan berkata dalam hatinya.

"Apakah bocah ini mempunyai kepandaian tinggi?"

Ia mengambil putusan untuk tidak menyia-nyiakan tempo lagi dan lantas membentak.

"Harap Biauw-tayhiap lantas berangkat!"

Berbareng dengan perkataan itu, lima gundalnya Tian Kuilong lantas menyerang Kim-bian-hud dengan senjatanya.

Ruangan itu sangat sempit dan diserang secara begitu, Biauw Jin-hong kelihatannya tak akan bisa meloloskan diri lagi.

Tapi di luar dugaan, dengan sekali mengebas dengan kedua tangannya, ia sudah berhasil meloloskan diri dari antara dua musuh dan semua senjata yang ditujukan kepadanya, jatuh di tempat kosong.

Di lain saat, Kim-bian-hud memutar badan dan dengan paras muka angker, ia berdiri di tengah-tengah pintu.

Dengan tangan kosong dan kedua mata diikat, Kim-bian-hud mencegat jalan keluar lima musuhnya.

Tadinya, Ouw Hui ingin lantas menerjang untuk membantu, akan tetapi, begitu melihat gerakan Biauw Jin-hong, ia segera mengetahui, bahwa meskipun belum tentu menang, Kim-bian-hud pasti tak akan bisa dirobohkan dengan mentah-mentah.

Di lain pihak, kelima musuhnya mendongkol bukan main.

Jika mereka berlima masih belum bisa merobohkan satu Biauw Jin-hong yang sudah buta matanya, sungguh-sungguh mereka tak ada muka untuk berkelana lagi di dunia Kang-ouw.

"Saudara kecil,"

Kata Kim-bian-hud.

"Jika sekarang kau tak mau lari mau tunggu sampai kapan lagi?"

"Biauw-tayhiap, jangan kau khawatir,"

Jawab Ouw Hui.

"Kalau baru kawanan anjing semacam itu, belum bisa mereka menghalang-halangi aku."

"Bagus!"

Kata Biauw Jin-hong.

"Saudara kecil, sungguh besar nyalimu."

Hampir berbareng dengan perkataannya itu, ia menerjang lima musuhnya.

Lima lawan itu juga bukan sembarang orang.

Melihat serangan Kim-bian-hud yang sangat dahsyat, mereka lantas loncat mundur dan main petak di sepanjang dinding, akan kemudian menyerang, jika ada kesempatan bagus.

Dalam sekejap kursi meja sudah jadi rusak dan penerangan menjadi padam.

Dua gundalnya Tian Kui-long lantas saja mendekati pintu dan mengangkat obor tinggi-tinggi.

Bagi Biauw Jin-hong, ada penerangan atau tidak adalah sama saja.

Tapi bagi lima orang itu, adanya penerangan merupakan satu keuntungan besar.

Sesudah bertempur beberapa saat, sembari membentak keras satu orang menikam kempungan Kim-bian-hud dengan tombaknya.

Biauw Jin-hong mementang kaki kanannya dan coba merampas tombak yang sedang menyambar itu.

Tapi tanpa diketahui olehnya, satu musuh yang berjongkok sedari tadi di sebelah tenggara, mendadak membabat dengan goloknya yang mengenai tepat pada dengkul Biauw Jin-hong.

Si pembokong itu adalah manusia yang sangat licik.

Ia mengetahui, bahwa Kim-bian-hud berkelahi dengan mengandalkan kupingnya.

Sambil menahan napas, ia segera berjongkok di satu sudut untuk menunggu kesempatan baik.

Waktu Biauw Jin-hong mementang kakinya di dekat dia, secara mendadak dia membacok, sehingga biarpun sangat lihai, Kim-bian-hud tak dapat mengelakkan lagi serangan itu.

Melihat Biauw-tayhiap terluka, semua kawannya Tian Kuilong lantas saja bersorak-sorak girang.

"Saudara kecil!"

Membentak Tiauw-eng.

"Lekas menolong! Jika terlambat, mungkin tak keburu lagi!"

Pada saat itu, pundak kiri Biauw Jin-hong kembali kena dibacok. Sampai di situ, Kim-bian-hud jadi keder juga.

"Tanpa bersenjata, aku sukar menoblos ke luar dari kepungan,"

Pikirnya.

Ouw Hui yang bermata sangat tajam, juga mengetahui, bahwa apa yang diperlukan oleh Biauw Jin-hong adalah senjata.

Jika ia memberikan goloknya kepada Biauw Jin-hong, ia sendiri bisa berbahaya, karena musuh yang berada di luar pintu berjumlah besar.

Untuk sejenak, ia bingung dan bimbang.

Tapi, sebab melihat keadaan mendesak, tanpa memikir panjang-panjang lagi, ia lantas saja berseru.

"Biauwtayhiap, sambutlah golok ini!"

Berbareng dengan seruannya, ia melontarkan golok itu dengan menggunakan lweekang.

Ia sudah menghitung pasti, bahwa dengan menggunakan lweekang yang dahsyat, hanya Biauw Jin-hong yang akan dapat menyambuti goloknya itu.

Jika di antara lima orang itu ada yang mau mencoba, tangannya sendiri yang akan tertebas kutung.

Pada saat itu, Biauw Jin-hong sendiri sedang memancing musuh yang tadi membokongnya.

Ia sengaja melonjorkan tangan kirinya ke jurusan tenggara.

Melihat kesempatan, orang itu kembali membacok.

Cepat bagaikan kilat, Kim-bianhud membalik tangannya dan di lain saat, ia sudah merebut golok musuh.

Pada detik itulah, ia mendengar sambaran goloknya Ouw Hui.

Ia segera memapaki belakang golok Ouw Hui dengan belakang golok yang dicekal olehnya.

Trang!

Lelatu api berhamburan dan golok Ouw Hui terpental balik keluar pintu!

"Saudara kecil!"

Berseru Biauw Jin-hong.

"Kau sendiri memerlukan senjata! Lihatlah! Lihat aku, si buta, membasmi kawanan bangsat ini!"

Dengan mencekal senjata, Kim-bianhud seakan-akan seekor harimau yang tumbuh sayap.

Goloknya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, sehingga lima musuhnya terpaksa main petak lagi sambil mepet-mepet di dinding ruangan itu.

Kelima musuh itu mengetahui, bahwa Biauw-kee Kiam-hoat (ilmu pedang keluarga Biauw) lihai bukan main.

Akan tetapi, seorang yang pandai menggunakan pedang, jarang sekali bisa menggunakan golok.

Maka itu, mereka menduga, bahwa walaupun sudah bersenjata, Kim-bian-hud tak akan bisa berbuat banyak, karena senjata yang digunakan olehnya bukan senjata yang biasa digunakan.

Maka itu, dengan hati lebih tabah, sembari membentak keras, mereka kembali mengurung terlebih rapat.

Mendadak, dari luar berkelebat satu sinar terang dan terbang masuk sebilah golok yang dilontarkan untuk orang yang tadi goloknya kena direbut oleh Biauw Jin-hong.

Begitu memperoleh senjata, dengan geregetan dia menyerang Kimbian-hud untuk menebus malu.

Sesaat itu, dengan kupingnya yang sangat tajam, Biauw Jin-hong mengetahui, bahwa dari depan menyambar golok dan dari samping kiri menyambar cambuk.

Ia tetap berdiri tegak, tidak berkelit dan juga tidak coba menangkis.

Pada waktu, kedua senjata itu hanya terpisah kira-kira setengah kaki dari badannya, bagaikan kecepatan arus listrik, Biauwtayhiap memutar badan sembari membacok tangan musuh yang mencekal cambuk.

Bacokan itu mengena jitu, sehingga tulang tangan musuh putus dan cambuknya terlempar jatuh di atas lantai.

Orang yang bersenjata golok kaget bukan main dan buru-buru loncat mundur, akan kemudian menggulingkan diri di lantai untuk menyingkir sejauh mungkin.

Melihat pukulan Kim-bian-hud, Ouw Hui terperanjat.

"Ah! Itulah pukulan Yo-cu-hoan-sin (Elang Memutar Badan),"

Katanya di dalam hati.

"Terang-terang, pukulan itu adalah pukulan dari Ouw-kee To-hoat (ilmu golok keluarga Ouw). Bagaimana Biauw-tayhiap bisa menggunakannya secara begitu bagus?"

Pemuda itu tentu saja tidak mengetahui, bahwa waktu dulu mendiang ayahnya, Ouw It-to, pie-bu (bertanding) dengan Biauw Jin-hong, kedua kesatria itu saling menghargai dan lalu saling menurunkan ilmu silat masing-masing.

Sebagai orang berkepandaian tinggi, setelah mendapat petunjuk langsung dari Ouw It-to, Biauw Jin-hong lantas saja dapat menyelami intisarinya Ouw-kee To-hoat, sehingga dapat dimengerti, jika pengetahuannya mengenai ilmu golok itu ada banyak lebih mendalam daripada pengetahuan Ouw Hui yang hanya menarik pelajaran dari kitab peninggalan mendiang ayahnya.

Demikianlah, dengan sekali gebrak saja, ia sudah berhasil merobohkan satu musuh yang tangguh.

Empat musuh lainnya tentu saja kaget dan menjadi keder.

"Awas!"

Berteriak satu antaranya.

"Si buta pandai menggunakan golok!"

Mendengar itu, Tian Kui-long lantas saja ingat peristiwa di tempo dulu, kapan Ouw It-to dan Biauw Jin-hong saling menurunkan ilmu.

"Dia menggunakan Ouw-kee To-hoat!"

Berteriak Kui-long.

"Semua orang harus berhati-hati!"

"Benar,"

Kata Kim-bian-hud.

"Hari ini kawanan tikus boleh berkenalan dengan lihainya Ouw-kee To-hoat."

Ia maju dua tindak dan memapas dengan goloknya dengan menggunakan pukulan Hway-tiong-po-goat (Memeluk Rembulan di Depan Dada).

Tapi pukulan itu hanyalah pukulan gertakan yang segera disusul dengan Geng-bun-po-bun-tiat-san (Bertindak Menghampiri Pintu dan Menutup Daun Pintu Besi), golok menyodok dan membabat dan kembali satu musuh roboh terguling, dengan pinggang tertebas golok.

"Benar, benar!"

Kata Ouw Hui dalam hatinya dengan kegirangan yang meluap-luap.

"Biauw-tayhiap memang benar menggunakan Ouw-kee To-hoat. Sekarang baru aku mengetahui, bahwa dua pukulan itu, yang satu gertakan dan yang lain serangan sesungguhnya, dapat digunakan secara begitu."

Sesudah mendapat angin, Biauw Jin-hong tak kasih hati pada sisa musuhnya dan terus menyerang dengan ilmu golok keluarga Ouw.

"See-ceng-pay-Hud (See Ceng Menyembah Sang Buddha)!"

Ia berteriak dan satu musuh terbacok pundaknya, sedang tombaknya terpapas kutung.

"Siang-po-cek-seng-to (Ilmu Golok Memetik Bintang)!"

Berteriak pula Biauw-tayhiap dan lagi-lagi goloknya berhasil mengutungkan kakinya satu musuh yang lantas saja roboh tak bisa bangun lagi. Tian Kui-long bingung.

"Cian-sutee!"

Ia berteriak.

"Keluar, lekas keluar!"

Ketika itu dalam ruangan tersebut hanya ketinggalan satu musuh yang dipanggil "Cian-sutee" (adik seperguruan she Cian) oleh Tian Kui-long.

Orang she Cian itu mengerti, bahwa meskipun ia mengirim bala bantuan ke ruangan tersebut, belum tentu Biauw Jin-hong bisa dirobohkan.

Maka itu, ia segera mengambil putusan untuk memancing Kim-bian-hud keluar dari ruangan tersebut untuk dibekuk dengan menggunakan rantai besi.

Tapi, dengan Biauw-tayhiap selalu mengadang di sekitar mulut pintu, orang she Cian itu tak gampang-gampang bisa meloloskan diri.

Biauw Jin-hong mengetahui, bahwa orang she Cian itu adalah orang yang sudah membokong dan melukai dengkulnya, sehingga dengan geregetan ia terus mengirim serangan-serangan hebat.

Dalam sekejap ia sudah mendesak musuhnya sampai di pojok ruangan, akan kemudian, dengan pukulan Coan-chiu-cong-to (Melonjorkan Tangan Menyembunyikan Golok), ia membacok.

Trang!

Golok musuh terbang ke tengah udara.

Tapi orang she Cian itu, lantas saja menggulingkan diri di atas lantai untuk coba menoblos ke luar dari bawah meja.

Tapi Biauw-tayhiap yang sudah mata merah, sungkan memberi kesempatan pada manusia licik itu.

Ia menjemput satu kursi yang lantas ditimpukkan ke orang itu.

Sesaat itu, ia justru sedang bergulingan keluar dari bawah meja.

Prak!

Kursi menyambar tepat pada dadanya.

Timpukan Biauw-tayhiap yang disertai lweekang, hebat bukan main.

Kursi hancur, tulang dada orang she Cian itu patah dan ia menggeletak tanpa bergerak lagi.

Begitulah, dengan seorang diri Biauw-tayhiap sudah merobohkan lima musuhnya yang sangat tangguh.

Dalam pada itu, ia mengetahui, bahwa walau bagaimanapun, orangorang itu hanya merupakan alat Tian Kui-long dan sama sekali tidak mempunyai permusuhan dengan dirinya sendiri.

Maka itu, menurunkan tangan, ia tidak berlaku kejam.

Ia membatasi diri, hanya melukai, tapi tidak mengambil jiwa musuhmusuhnya itu.

Sementara itu, tak usah dikatakan lagi, Tian Kui-long dan konco-konconya jadi kaget tak kepalang.

Sekarang baru mereka mengakui, bahwa gelaran Tah-pian Thian-hee Bu-tekchiu sungguh-sungguh bukan gelaran kosong.

Jika Biauw Jinhong bisa melihat, siang-siang mereka tentu sudah terpukul mundur.

Sesudah bisa menetapkan hatinya, Tian Kui-long yang busuk lantas saja tertawa dan berkata dengan suara nyaring.

"Biauw Toako! Semakin lama, ilmu silatmu jadi semakin tinggi. Siauwtee sungguh merasa kagum. Mari, mari! Siauwtee ingin menggunakan Kiam-hoat Thian-liong-pay untuk belajar kenal dengan Ouw-kee To-hoat."

Sembari berkata begitu, dengan lirikan mata, ia memberi isyarat kepada kaki tangannya yang mencekal rantai panjang. Mereka lantas maju ke depan dan yang lainnya lantas mundur ke belakang.

"Baiklah,"

Jawab Biauw Jin-hong dengan pendek.

Ia mengerti, bahwa tantangan Tian Kui-long mesti ada buntutnya yang berbahaya, meskipun begitu, sebagai seorang jago tulen, tak mau ia menolak tantangan itu.

Tapi, sebelum ia bergerak, Ouw Hui sudah mendahului.

"Tahan!"

Katanya sembari mengadang di depan pintu.

"Jika kau ingin belajar kenal dengan Ouw-kee To-hoat, tak perlu Biauw-tayhiap yang turun tangan sendiri. Aku sendiri sudah cukup untuk memberi satu-dua petunjuk kepadamu!"

Tadi, setelah melihat Ouw Hui melemparkan dan menyambuti golok, Kui-long sudah mengetahui, bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan.

Akan tetapi, biar bagaimana juga, ia sama sekali tak memandang sebelah mata pun kepada Ouw Hui yang masih berusia begitu muda.

Ia tertawa dingin dan menanya.

"Siapa kau? Sungguh besar nyalimu, berani mementang bacot di hadapan Tian-toaya."

"Aku adalah sahabat Biauw-tayhiap,"

Jawabnya.

"Sesudah menyaksikan Ouw-kee To-hoat, aku telah menghafalkan satudua pukulan dan sekarang justru aku ingin mencoba-coba. Hayolah!"

Muka Tian Kui-long menjadi merah padam, bahana gusarnya. Tapi, sebelum ia bisa membuka mulut lagi, Ouw Hui sudah membentak.

"Jagalah golokku!"

Berbareng dengan bentakannya, ia menyerang dengan pukulan Coan-chiu-congto, yaitu pukulan yang tadi digunakan Biauw-tayhiap terhadap "Cian-sutee".

Kui-long mengangkat pedangnya dan menangkis.

Trang!

Kedua senjata itu beradu keras.

Badan Kui

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com long bergoyang-goyang, sedang Ouw Hui sendiri mundur setindak.

Tian Kui-long adalah ciangbunjin (pemimpin) dari partai Thian-liong-bun.

Ilmu pedang Thian-liong Kiam-hoat sudah diyakinkannya kira-kira empat puluh tahun dan tenaga dalamnya jauh lebih kuat daripada Ouw Hui.

Maka itu, dalam peraduan lweekang, Ouw Hui kalah setingkat.

Akan tetapi, bahwa pemuda itu hanya terhuyung setindak dan paras mukanya sama sekali tidak berubah, adalah di luar dugaan Kui-long.

Melihat usia Ouw Hui yang masih begitu muda ia menduga, bahwa dalam bentrokan senjata tadi, golok Ouw Hui pasti akan terbang ke udara dan pemuda itu akan memuntahkan darah, atau sedikitnya, mendapat luka di dalam.

Dengan mengandalkan ketajaman kupingnya, Biauw Jinhong yang berdiri di belakang pintu, sudah mengetahui bagaimana kesudahan gebrakan tadi.

"Saudara kecil,"

Katanya.

"Kau sudah menggunakan Coan-chiu-cong-to dengan bagus sekali. Akan tetapi, kelihaian Ouw-kee To-hoat terletak pada pukulan-pukulannya yang sangat luar biasa dan bukan mengandalkan tenaga untuk melawan tenaga. Saudara kecil, kau minggirlah! Lihatlah, bagaimana aku si buta membereskan dia!"

Kata-kata Biauw-tayhiap itu bagaikan sinar terang yang tiba-tiba muncul di tempat gelap.

Ouw Hui lantas saja mengerti, bahwa dengan caranya, tenaga melawan tenaga, ia sebagai juga menggunakan kelemahannya sendiri untuk menyerang bagian musuh yang kuat.

Memikir begitu, lantas saja ia berseru.

"Sabar! Ouw-kee To-hoat yang tadi diperlihatkan oleh Biauw-tayhiap, baru saja dijajal satu pukulannya olehku. Masih ada beberapa puluh pukulan lain yang belum kucoba."

Ia memutarkan badan dan berkata kepada Tian Kui-long.

"Bagaimana? Apakah kau sudah merasakan lihainya Coan-chiu-cong-to?"

"Anak kurang ajar!"

Bentak Kui-long.

"Hayo minggir!"

"Jangan memandang rendah kepadaku,"

Kata Ouw Hui.

"Jika aku tak bisa mengalahkan kau dengan Ouw-kee To-hoat, aku bersedia untuk berlutut di hadapanmu. Tapi bagaimana jika kau yang keok?"

Tian Kui-long merasakan dadanya seperti mau meledak.

"Aku juga akan berlutut di hadapanmu!"

Ia berteriak.

"Tak usah,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa.

"Sudah cukup jika kau melepaskan Ciong-sie Sam-hiong. Ilmu silat ketiga saudara itu masih jauh lebih unggul daripada kau. Jika satu melawan satu, mana kau bisa menempil dibandingkan dengan mereka? Kemenanganmu selalu didapatkan dari pengeroyokan. Cis! Tak tahu malu!"

Ouw Hui sengaja berkata begitu untuk memancing marah Tian Kui-long dan membantu melampiaskan kegusaran Ciong-sie Sam-hiong.

Ketiga saudara itu yang terikat tangannya, merasa berterima kasih mendengar perkataan pemuda itu.

Sebenarnya Tian Kui-long adalah seorang yang dalam kelicikannya selalu berlaku hati-hati.

Tapi ejekan Ouw Hui sudah membikin ia tak bisa mempertahankan lagi ketenangannya.

"Hm! Jika kalah, kau ingin berlutut?"

Pikirnya, dengan hati panas.

"Hari ini, kau tak akan bisa terlolos dari pedangku."

Sebelum menyerang, ia maju tiga tindak sembari mengebaskan tangan kirinya dan mencekal pedangnya eraterat dalam tangan kanan.

Walaupun sedang gusar, ia tidak berlaku ceroboh dan begitu menyerang, ia segera mengeluarkan ilmu pedang Thian-liong-bun yang sangat lihai.

Melihat pemimpinnya sudah mulai bergebrak, semua kaki tangannya segera mundur sembari mengangkat obor mereka tinggi-tinggi guna menerangi gelanggang pertempuran.

"Hway-tiong-po-goat! Geng-bun-po-pit-bun-tiat-san!"

Seru Ouw Hui sembari membuka dua serangan, yang pertama adalah serangan gertakan, yang kedua baru serangan sungguh-sungguh.

Sebagaimana diketahui, dua pukulan itu telah digunakan tadi oleh Biauw Jin-hong.

Tian Kui-long berkelit dan balas menikam.

"Biauw-tayhiap!"

Seru Ouw Hui.

"Bagaimana pukulan yang berikutnya? Aku sudah tak kuat menghadapi dia!"

Waktu Ouw Hui berseru "Hway-tiong-po-goat"

Dan "Gengbun-po-pit-bun-tiat-san" , Kim-bian-hud sama sekali tak dapat mendengar apa juga yang luar biasa.

Ouw Hui tak membuat kesalahan, gerakannya adalah sesuai dengan kemestiannya.

Dilihat luarnya, Ouw-kee To-hoat hampir tiada bedanya dengan ilmu-ilmu golok lain.

Keistimewaannya terletak pada perubahannya yang aneh dan tak dapat diduga terlebih dulu.

Dalam Ouw-kee To-hoat, setiap serangan mengandung pembelaan diri dan dalam setiap gerakan membela diri tersembunyi serangan.

Sesaat itu, mendengar pertanyaan Ouw Hui, alis Biauwtayhiap berkerut.

"See-ceng-pay-Hud!"

Ia menjawab.

Ouw Hui lantas saja menyerang dengan pukulan See-cengpay-Hud.

Kui-long mengegos dan berbareng mengirim serangan balasan.

Sebelum ujung pedang itu mendekati pergelangan tangan Ouw Hui, Biauw Jin-hong sudah berteriak.

"Yo-cu-hoan-sin!"

Cepat bagaikan kilat, Ouw Hui membacok dengan gerakan Yo-cu-hoan-sin.

Kui-long meloncat mundur dengan hati mencelos, tapi tak urung, ujung bajunya kena dirobek juga oleh golok Ouw Hui.

Muka orang she Tian itu lantas saja berubah merah, karena malu dan keder.

Sembari mengempos semangatnya, ia segera mengirimkan tiga serangan berantai, yang cepat luar biasa.

"Aku mau melihat, apakah Biauw Jin-hong masih keburu memberikan petunjuk,"

Katanya di dalam hati.

"Celaka!"

Kim-bian-hud mengeluarkan seruan tertahan, karena ia tahu, bahwa tiga serangan itu dahsyat luar biasa. Tapi di lain detik, dengan hati lega, ia mendengar gelak tertawa Ouw Hui.

"Biauw-tayhiap,"

Kata pemuda itu.

"Aku sudah terlolos dari serangannya. Sekarang bagaimana aku harus balas menyerang?"

"Kwan-peng-hian-in,"

Jawab Kim-bian-hud.

"Baik!"

Kata Ouw Hui sembari menyerang dengan pukulan Kwan-peng-hian-in (Kwan Peng Mempersembahkan Cap Kebesaran).

Bacokan itu hebat sekali, tapi karena Biauw Jin-hong sudah memberitahukan lebih dulu, Tian Kui-long dapat menyingkir dengan mudah.

Tapi Ouw Hui tak berhenti sampai di situ, Kwan-peng-hian-in disusul dengan pukulan Ya-ca-tam-hay (Setan Jahat Menyelam ke Laut).

Selagi goloknya menyambar, Biauw Jin-hong pun berteriak.

"Ya-ca-tam-hay!"

Baru bergerak belasan jurus, Tian Kui-long sudah jadi repot dan berada di bawah angin.

Semua kawannya yang menyaksikan pertempuran itu menjadi khawatir.

Dengan geregetan, Kui-long mengubah cara bersilatnya, pedangnya menyambar-nyambar membabat dan menikam bagaikan kilat.

Ouw Hui lantas saja mengeluarkan seantero kepandaiannya untuk menghadapi kecepatan dengan kecepatan.

Sementara itu, Biauw Jin-hong tiada hentinya memberi komando dan setiap pukulan yang disebutnya tidak berbeda dengan pukulan yang dilakukan Ouw Hui.

Melihat begitu, mau tak mau para kaki tangan Tian Kui-long menjadi kagum tereampur heran.

Tapi sebenar-benarnya, kejadian itu tak begitu mengherankan seperti dianggap orang.

Harus diketahui, bahwa pada akhir Kerajaan Beng dan permulaan Dinasti Ceng, ilmu silat dari keluarga Ouw, Biauw, Hoan, dan Tian menjagoi di seluruh Tiong-kok.

Sebagai seorang pendekar besar pada zaman itu, Biauw Jin-hong mengenal berbagai macam ilmu pedang dan paham benar akan ilmu pedang Thian-liong-bun.

Dalam pertempuran antara Tian Kui-long dan Ouw Hui, walaupun matanya tak bisa melihat, tapi dengan mendengar kesiuran anginnya saja, ia sudah mengetahui, apa yang dilakukan oleh kedua belah pihak.

Sesaat itu, Ouw Hui sedang bertempur dengan menggunakan seluruh kepandaiannya dan dapat dibayangkan, bahwa gerakan-gerakannya cepat bagaikan kilat.

Dalam gerakan-gerakan yang secepat itu, tak mungkin lagi baginya untuk menunggu komando Biauw Jinhong.

Tapi kenapa komando Biauw Jin-hong selalu cocok dengan pukulan-pukulannya?

Sebagaimana diketahui, Ouw-kee To-hoat yang dipelajari Ouw Hui adalah sama dengan Ouw-kee To-hoat yang dipelajari Kim-bian-hud.

Sebagai ahli-ahli silat kelas utama pada zaman itu, jalan pikiran dan pendapat kedua orang tersebut juga tak berbeda.

Apa yang dipikirkan Ouw Hui, terpikir juga oleh Biauw Jin-hong.

Itulah sebabnya, mengapa mereka bisa mencapai suatu persesuaian yang total dan di mata orang banyak, kejadian itu mengherankan tak habisnya.

Makin lama, Tian Kui-long jadi semakin bingung.

"Apakah bocah ini murid Biauw Jin-hong?"

Ia menanya dirinya sendiri.

"Apakah Biauw Jin-hong hanya pura-pura buta dan bisa melihat dengan tegas lewat lapisan kain itu?"

Sedang hatinya semakin keder, serangan Ouw Hui jadi semakin cepat.

Ketika itu, Biauw Jin-hong sendiri sudah tak dapat membedakan serangan-serangan mereka dan ia sudah menghentikan komandonya.

Ia berdiam dan banyak pertanyaan muncul di dalam hatinya.

"Siapakah pemuda itu? Bagaimana ia bisa begini mahir dalam Ouw-kee To-hoat? Siapa gurunya?"

Jika kedua matanya bisa melihat, ia tentu lantas saja menduga, bahwa pemuda itu adalah ahli waris tulen dari Liaotong-tayhiap Ouw It-to!

Sementara itu, gelanggang pertempuran, semakin lama sudah jadi semakin luas, karena semua orang mundur semakin jauh, khawatir kesambar senjata.

Suatu ketika, selagi memutarkan badan, Ouw Hui melihat, bahwa Thia Leng-so sedang berdiri di dalam gelanggang dan mengawasi dirinya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

Entah bagaimana, pada detik itu, ia ingat perkataan si tukang besi dan tanpa merasa, ia menengok kepada si nona sembari bersenyum.

Mendadak, ia membentak sembari menyerang.

"Hwaytiong-po-goat sebenarnya satu serangan gertakan!"

Hampir berbareng, dengan satu suara trang!

pedang Tian Kui-long terlempar jatuh di lantai, sedang lengannya menyemburkan darah.

Ia terhuyung beberapa tindak dan mulutnya memuntahkan darah.

Kenapa bisa terjadi begitu?

Sebagaimana diketahui, Hway-tiong-po-goat memang juga adalah serangan gertakan yang selalu disusul dengan pukulan Geng-bun-po-pit-bun-tiat-san, yaitu pukulan yang sesungguhnya.

Kedua pukulan itu sudah digunakan satu kali oleh Biauw Jin-hong dan satu kali lagi oleh Ouw Hui sendiri, sehingga Tian Kui-long sudah mengenalnya.

Maka itu, begitu lekas ia mendengar bentakan "Hway-tiongpo-goat sebenarnya satu serangan gertakan" , secara otomatis ia segera bersiap untuk menyambut Geng-bun-po-pit-bun-tiatsan.

Tapi ia tidak mengetahui bahwa kelihaian Ouw-kee Tohoat justru terletak pada perubahannya yang tak diduga-duga.

Setiap pukulan gertakan bisa berubah menjadi pukulan sungguh-sungguh dan begitu juga sebaliknya.

Demikianlah, Hway-tiong-po-goat berubah menjadi pukulan sungguhsungguh dan golok Ouw Hui tepat mengenai pergelangan tangan Tian Kui-long.

Hampir berbareng dengan terlukanya musuh, tangan kiri Ouw Hui menyambar dan mampir telak pada orang she Tian itu.

"Ah! Kenapa kau begitu terburu nafsu?"

Tanya Ouw Hui dengan suara mengejek.

"Tadi aku belum selesai bicara. Sebetulnya aku ingin mengatakan begini, Hway-tiong-po-goat sebenarnya satu serangan gertakan, tapi bisa juga berubah menjadi serangan sungguhan. Rupanya kau merasa tak sabar untuk mendengar bagian terakhir dari omonganku itu!"

Tian Kui-long tak bisa meladeni lagi ejekan itu.

Kepalanya pusing, dadanya sesak, seperti juga mau memuntahkan darah lagi.

Ia mengetahui, bahwa sekali ini ia sudah menampak kegagalan dan mendapat malu besar.

Di samping itu, ia pun menduga, bahwa Biauw Jin-hong hanya berlagak buta.

Maka itulah, sembari mengerahkan lweekangnya untuk coba mempertahankan diri, ia menuding ke arah Ciong-sie Sam-hiong dan memberi isyarat dengan gerakan tangan, supaya ketiga saudara Ciong itu segera dilepaskan.

Sesudah itu, sambil mengebaskan tangan, ia memutarkan badan untuk mengangkat kaki.

Sesaat itu dadanya menyesak hebat dan "uwa!"

Ia memuntahkan darah lagi. Nona cilik yang tadi melepaskan pusut kepada Leng-so, menubruk dan berkata dengan suara duka.

"Ayah, marilah kita berangkat!"

Ia itu adalah putri Tian Kui-long yang didapatnya dari istri pertama.

Kui-long menghela napas dan memanggutmanggutkan kepalanya.

Sesudah pemimpinnya dirobohkan, walaupun berjumlah banyak, kaki tangan orang she Tian itu jadi kuncup nyalinya.

Biauw Jin-hong sendiri lalu masuk ke ruangan tadi dan melemparkan ke luar lima musuhnya yang terluka, yang lalu disambut oleh kawan-kawan mereka.

Sebelum rombongan musuh itu mengangkat kaki, mendadak terdengar seruan Leng-so.

"Nona kecil, ambil pulanglah tiat-tuimu!"

Ia mengayunkan tangannya dan pusut besi itu terbang ke arah putri Kui-long.

Tanpa menengok, dengan gerakan yang indah dan lincah nona cilik itu menyambuti pusutnya.

Tapi, baru tereekal, ia sudah melemparkan lagi pusut itu sembari melompat tinggi.

Ouw Hui tertawa bergelak-gelak.

"Cek-kiat-hun!"

Katanya.

Leng-so menengok dan juga tertawa.

Memang juga, sebagai pembalasan budi, ia telah memoles senjata rahasia itu dengan bubuk Cek-kiat-hun.

Dalam tempo sekejap, Tian Kui-long dan gundal-gundalnya sudah berlalu dari rumah Biauw Jin-hong dan keadaan kembali berubah sunyi.

"Biauw-tayhiap,"

Kata Ciong Tiauw-eng dengan suara nyaring.

"Kawanan penjahat sudah mabur dan mereka tentu tidak berani menyatroni lagi. Kami bertiga saudara merasa malu sekali, karena tak dapat melindungi kau. Kami hanya berharap supaya kedua matamu akan segera menjadi sembuh."

Ia berpaling kepada Ouw Hui dan berkata pula.

"Saudara kecil, kami merasa beruntung sekali, bahwa kita telah bisa mengikat tali persahabatan. Jika di lain kali, kau memerlukan tenaga kami, biarpun mesti mati, kami pasti akan membantu dengan sekuat tenaga."

Sehabis Tiauw-eng berkata begitu, mereka bertiga lantas saja memberi hormat, kemudian berlalu dengan tindakan cepat.

Ouw Hui mengetahui, bahwa sebab kena ditawan, mereka hilang muka dan merasa malu untuk berdiam lama-lama lagi.

Maka itu, ia tidak mencegah dan hanya balas memberi hormat.

Biauw Jin-hong yang tidak suka banyak bicara, juga hanya mengangkat kedua tangannya sebagai pernyataan terima kasih untuk budinya ketiga saudara itu.

Ia mengetahui, bahwa rombongan Tian Kui-long pergi ke jurusan utara, sedang Ciong-sie Sam-hiong berjalan ke arah selatan.

Sesaat kemudian, Leng-so tertawa seraya berkata.

"Kalian berdua memiliki ilmu silat yang luar biasa tinggi. Seumur hidup, belum pernah aku melihat kepandaian seperti itu. Biauw-tayhiap, marilah masuk. Aku ingin memeriksa kedua matamu."

Mereka lantas saja masuk ke dalam dan Ouw Hui lalu membereskan meja kursi yang kalang kabut serta menyalakan lampu.

Leng-so sendiri lalu membuka ikatan mata Biauw Jinhong dan mulai memeriksa mata itu dengan teliti.

Hati Ouw Hui berdebar-debar.

Kedua matanya mengawasi muka si nona untuk mencari tahu, apa mata Biauw-tayhiap masih bisa ditolong.

Tapi muka nona Thia hanya memperlihatkan paras sungguh-sungguh, sama sekali tidak menunjuk kejengkelan atau kegirangan, sehingga ia sukar meraba-raba.

Biauw Jin-hong adalah seorang yang bernyali besar.

Tapi pada saat itu, tak urung jantungnya memukul lebih keras.

Sesudah lewat beberapa lama, Leng-so masih terus memeriksa, tanpa mengeluarkan sepatah kata.

"Nona,"

Kata Kim-bian-hud sembari tertawa.

"Racun itu sudah lama sekali mengeram di mataku. Jika sukar ditolong, Nona boleh memberitahukan saja tanpa ragu-ragu."

"Tak sukar untuk menyembuhkan mata itu sehingga bersamaan mata orang biasa,"

Sahut si nona.

"Tapi Biauwtayhiap bukan orang biasa."

"Kenapa begitu?"

Tanya Ouw Hui dengan perasaan heran.

"Biauw-tayhiap adalah seorang yang bergelar Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu,"

Menerangkan si nona.

"Ia mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi dan kedua matanya tentu saja berbeda dengan mata kebanyakan orang. Selain itu, seorang yang memiliki lweekang tinggi, kedua matanya bersinar terang, bersemangat dan bersorot angker. Bukankah sayang sekali, jika aku tak dapat memulihkan sinar dan keangkeran mata itu?"

Biauw-tayhiap tertawa bergelak-gelak.

"Perkataanmu sangat luar biasa dan kepandaianmu tentu juga luar biasa pula,"

Katanya.

"Apakah aku boleh mendapat tahu, pernah apakah kau dengan It-tin Thaysu?"

Si nona kelihatan agak terperanjat dan segera menjawab.

"Kalau begitu, Biauw-tayhiap adalah sahabat dari mendiang guruku ...."

"Apakah It-tin Thaysu sudah berpulang ke alam baka?"

Tanya Kim-bian-hud dengan suara kaget.

"Benar,"

Jawabnya sembari mengangguk. Mendadak, Biauw Jin-hong berbangkit dan berkata.

"Tunggu dulu. Aku ingin bicara dengan Nona."

Melihat sikap orang yang luar biasa, Ouw Hui menjadi heran.

"Guru Thia Kouwnio bergelar Bu-tin,"

Katanya di dalam hati.

"Kenapa Biauw Tayhiap mengatakan It-tin?"

"Dulu antara gurumu dan aku telah terjadi satu sengketa kecil,"

Kata Biauw Jin Hong.

"Dalam hal itu, aku sudah berlaku kurang ajar dan melukai gurumu itu."

"Ah!"

Kata Leng So.

"Tangan kiri mendiang guruku hilang dua jerijinya. Apa jeriji itu diputuskan oleh Biauw Tayhiap?"

"Tak salah,"

Jawabnya.

"Tapi gurumu segera membalas secara kontan, sehingga dapat dikatakan tak ada yang kalah, tak ada yang menang. Maka itulah, waktu saudara kecil itu ingin pergi pada gurumu untuk meminta obat, aku sudah mencegah karena merasa bahwa usaha itu akan mendapat kegagalan. Aku tadinya menduga, bahwa kedatang-an nona di had ini adalah atas perintah gurumu yang ingin membalas kejahatan dengan kebaikan. Tapi tak dinyana, gurumu sebenarnya sudah meninggal dunia dan nona tentu tidak mengetahui adanya peristiwa itu."

"Tidak, aku tidak mengetahui,"

Kata Leng So. Biauw Jin Hong segera masuk ke dalam dan ke luar lagi dengan membawa satu kotak besi kecil yang lalu diangsurkan kepada Leng So.

"Inilah barang peninggalan mendiang gurumu. Bukalah! Nona akan segera mengenalnya!"

Kotak itu sudah karatan, sehingga bisa diduga, sudah disimpan lama sekali.

Leng So membuka tutupannya dan ternyata, di dalamnya terdapat tu-lang seekor ular kecil dan satu peles dengan tulisan.

Obat pemunah racun ular.

Si nona mengenali, bah-wa peles itu adalah milik gurunya, tapi ia tak dapat menebak, apa artinya tulang ular itu.

Biauw Jin Hong tertawa tawar seraya berkata.

"Karena bereekeok, gurumu dan aku segera bertem-pur. Pada esok harinya, ia memerintahkan satu orang untuk menyerahkan kotak itu kepadaku, dengan pesan begini. 'Jika kau mempunyai nyali, bukalah kotak ini. Jika kau tak berani, lemparkanlah kotak ini ke dalam sungai.' Tentu saja aku segera membukanya. Begitu terbuka, dari dalam kotak ke luar seekor ular kecil yang lantas menggigit be-lakang tanganku. Racun ular itu hebat luar biasa. Dengan kontan, tanganku kesemutan. Masih un-tung, gurumu mengirimkan juga obatnya. Sesudah makan obat itu, jiwaku ketolongan, tapi masih harus menderita kesakitan yang sangat hebat."

Sesudah memberi keterangan, Kim-bian-hud lantas saja tertawa terbahak-bahak.

Ouw Hui dan Leng So saling mengawasi sem-bari tertawa.

Mereka merasa geli dengan gerak-gcriknya Tok-chiu Yo-ong yang luar biasa itu.

"Sekarang aku sudah menerangkan apa yang harus diterangkan,"

Kata pula Biauw Jin Hong.

"Aku adalah seorang yang tak suka menarik keuntungan secara diam-diam. Dengan hati yang sangat mulia, nona sudah bersedia untuk menolong aku. Akan tetapi, sekarang aku mengetahui, bahwa kedatangan nona bukan atas perintah mendiang gurumu. Bahwa nona sudah sudi memberi pertolongan, dengan jalan ini aku menghaturkan banyak-banyak terirna kasih."

Sehabis berkata begitu, ia menyoja dan menghampiri pintu, seperti juga orang meng-antarkan berangkatnya satu tetamu.

Bukan main kagumnya Ouw Hui.

Sikap itu adalah sikap kesatria tulen.

Sungguh tak malu, Biauw Jin Hong bergelar "Tayhiap" (pendekar be-sar).

Tapi Thia Leng So sama sekali tidak bergerak.

"Biauw Tayhiap,"

Katanya dengan suara terharu.

"Guruku sudah tidak menggunakan lagi gelaran It-tin."

"Apa?"

Menegas Kim-bian-hud.

"Pada sebelum menjadi orang beribadat, guruku mempunyai adat yang sangat jelek,"

Kata si nona.

"Kejelekan itu sudah diketahui oleh Biauw Tayhiap. Sesudah memeluk agama, ia menggunakan nama Thaytin. Belakangan, setelah mendapat kemajuan dalam pelajaran kebatinan, ia merubah namanya menjadi It-tin. Jika pada waktu bertempur dengan Biauw Tayhiap, guruku masih menggunakan nama gelaran Tay-tin, di dalam kotak itu tentulah juga tidak terdapat peles obat."

Biauw Jin Hong mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata.

"Pada waktu menerima aku sebagai murid, Suhu menggunakan nama Wie-tin,"

Kata pula Leng so.

"Tiga tahun berselang, barulah ia merubah namanya menjadi Bu-tin. Biauw Tayhiap, dengan kata-kata-mu yang barusan, kau sungguh memandang guruku terlalu rendah."

Mendengar itu, Biauw Jin Hong mengeluarkan seruan "ah!"

Leng So mesem dan lalu meneruskan per-kataannya.

"Sebelum berpulang ke alam baka, guruku sudah memperoleh kesadaran. Ia sudah men-capai ketenangan yang wajar, bebas dari kegusaran (Bu-tin) dan bebas pula dari kegirangan (Buhie). Maka itu, sangat tak bisa jadi kalau Suhu masih menaruh dendam terhadap Biauw Tayhiap karena sengketa yang tak ada artinya itu."

Kim-bian-hud jadi girang bukan main. Ia menepuk dengkul sembari berseru.

"Aduh! Benar-benar aku sudah memandang terlalu rendah kepada sahabatku itu! Sesudah berpisah belasan tahun, ia telah memperoleh kemajuan yang sangat jauh, tak seperti Biauw Jin Hong yang masih di situ juga. Nona, kau she apa?"

"Aku she Thia,"

Jawabnya sembari mesem dan lalu mengeluarkan satu kotak kayu dari bungkusan-nya. Ia membuka kotak itu, mengambil satu pisau kecil dan sebatang jarum emas.

"Biauw Tayhiap,"

Kata si nona.

"Harap kau sudi mengendurkan semua otot-otot dan jalan darah."

"Baiklah,"

Jawabnya. Melihat Leng So menghampiri Kim-bian-hud dengan membawa pisau dan jarum, jantung Ouw Hui memukul keras.

"Biauw Tayhiap dan To-chiu Yo-ong mempunyai permusuhan,"

Pikirnya.

"Hati orang Kang-ouw sukar ditaksir. Jika ada orang yang mengatur siasat busuk dan meminjam tangan Thia Kouwnio untuk turun tangan jahat, bukankah untuk kedua kalinya aku Ouw Hui menjadi alat pembunuh orang? Dengan semua otot dan jalan darah diken-durkan, jika sekali totok saja, jiwa Biauw Tayhiap bisa melayang."

Selagi ia bimbang tiba-tiba Leng So menengok sambil mengangsurkan pisau kecil itu.

"Tolong pe-gang,"

Katanya. Sesaat itu, ia melihat paras muka Ouw Hui yang luar biasa. Sebagai orang yang sangat cerdas, lantassaja iadapatmenebakapayangdipikir oleh pemuda itu.

"Biauw Tayhiap sama sekali tidak berkhawatir, kenapa kau masih bereuriga?"

Tanya-nya sembari tertawa.

"Jika aku yang diobati olehmu, sedikit pun aku tidak merasa khawatir,"

Jawab Ouw Hui berterus terang.

"Ouw Toako,"

Kata si nona.

"Katakanlah, apa aku manusia baik atau manusia jahat?"

Ditanya begitu, Ouw Hui tergugu.

"Tentu saja kau seorang baik,"

Jawabnya.

Leng So merasa senang dan ia tertawa girang.

Dengan kulitnya yang berwarna kuning dan badan-nya yang kurus kering.

Thia Leng So tak bisa dikatakan satu wanita cantik.

Tapi tertawanya mempunyai daya penarik yang sangat luar biasa.

Tertawa itu yang wajar, bersih dan bebas dari segala ke-kotoran dunia, seakan-akan angin musim semi yang sejuk di atas bumi yang panas ini.

Begitu melihat tertawanya si nona, Ouw Hui merasakan dadanya lapang dan bebas dari setiap kekhawatiran.

"Apa benar-benar kau pereaya padaku?"

Tanya si nona. Mendadak, paras mukanya bersemu dadu, ia melengos dan tak berani mengawasi lagi kedua mata Ouw Hui. Ouw Hui jadi jengah sendiri. Ia mengangkat tangannya dan menggampar pipi sendiri.

"Biarlah aku hajar bocah yang kurang ajar ini!"

Katanya.

Tiba-tiba hatinya berdebar.

'Kenapa sesudah bicara, Leng So melengos dengan paras muka merah?' tanyanya dalam hati.

Memikir begitu, ia jadi ingat perkataan si tukang besi.

Sementara itu, dengan menggunakan jarum emas, si nona sudah menusuk jalan darah Yang-pek-hiat di atas mata Biauw Jin Hong, jalan darah Gan-beng-hiat di pinggir mata dan Sinkie-hiat di bawah mata.

Sesudah itu, ia membuat satu operasi kecil di bawah jalan darah Sin-kie hiat dan ke mudian menusuk lubang itu dengan jarum emas Begitu lekas si nona mengangkat jempolnya yanj menutupi pantat jarum, darah hitam lantas saj; mengalir ke luar.

Ternyata, jarum itu berlubang d« tengah-tengahnya.

Perlahan-lahan darah hitam yang mengalir ke luar, berubah ungu dan dari ungu berubah menjadi merah.

Sesudah selesai dengan mata yang satu, ia mengulangi pada mata yang lain.

Ouw Hui mengetahui, bahwa keluarnya darah yang berwarna merah adalah tanda, bahwa racun yang mengeram sudah ke luar semua.

"Bagus!"

Katanya dengan suara girang.

Leng So Kemudian memetik empat lembar dauri Cit-sim Hay-tong yang lalu dihancurkan dan han-curan itu ditempelkan pada kedua mata Biauw Jin Hong.

Begitu kena, otot-otot pada muka Kim-bian-hud bergerak dan kursi yang diduduki olehnya, berkisar sedikit.

"Biauw Tayhiap,"

Kata Leng So.

"Menurut Ouw Toako, kau mempunyai satu Cian-kim (gadis) yang sangat cantik. Di mana ia berada sekarang?"

"Oleh karena di sini tak aman, aku menitipkan dia di rumah tetangga,"

Jawabnya.

"Sekarang sudah selesai,"

Kata si nona sembari mengikat kedua mata Biauw Jin Hong yang di-bubuhkan hancuran daun obat dan dibalut dengan sobekan kain.

"Lewat tiga hari, rasa sakit akan hilang dan begitu lekas Biauw Tayhiap merasakan kegatalan luar biasa, bukalah ikatan ini dan kedua matamu akan sudah sembuh seluruhnya. Sekarang, pergilah mengaso. Ouw Toako! Mari kita menanak nasi."

Biauw Jin Hong berbangkit seraya berkata.

"Saudara kecil aku ingin mengajukan satu per-tanyaan. Pernah apakah Liaotong Tayhiap Ouw It To dengan kau? Peh-hu atau siok-hu? (Peh-hu berarti paman yang usianya lebih tua dari ayah, sedang Siok-hu berarti paman yang usianya lebih muda dari ayah)."

Harus diketahui, bahwa meskipun tak bisa meiihat, dengan menggunakan ketajaman kuping, Biauw Jin Hong mengetahui, bahwa kemahiran Ouw Hui dalam menggunakan Ouw-kee Tohoat, tak nanti dapat dilakukan oleh orang lain, kecuali ahli waris tulen dari keluarga Ouw.

Ouw It To mempunyai satu putera, tapi sepanjang pengetahuannya, putera itu sudah mati tenggelam di dalam sungai.

Maka itulah, ia menduga, bahwa Ouw Hui adalah ke-ponakan dari Liao-tong Tayhiap.

Ouw Hui tertawa sedih.

"Ouw It To bukan Peh-hu dan juga bukan Siok-huku,"

Jawabnya. Biauw Jin Hong merasa sangat heran, karena ia yakin, bahwa Ouw-kee To-hoat tak akan sem-barangan diturunkan kepada orang luar.

"Pernah apakah kau dengan Ouw It To, Ouw tayhiap?"

Ia tanya lagi. Ouw Hui merasa duka, tapi karena ia masih belum dapat membuka tabir rahasia yang menyc-lubungi hubungan mendiang ayahnya dan Biauw Jin Hong, maka ia tak mau lantas bicara sebenarnya.

"Ouw Tayhiap,"

Ia menegas.

"Mereka sudah meninggal dunia lama sekali. Mana aku mempunyai rejeki begitu besar untuk mengenalnya?"

Ouw Hui mengucapkan kata-kata itu dengan suara sedih.

'Jika aku bisa memanggil ayah dan ibu dan sekali saja mereka bisa menjawab panggilanku, aku sudah merasa sangat puas dan tidak menginginkan suatu apa lagi dalam dunia ini,' katanya di dalam hati.

Biauw Jin Hong berdiri bengong dan kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamar dengan tindakan perlahan.

Melihat paras muka Ouw Hui yang guram, dalam hati Leng So segera timbul satu keinginan untuk menggembirakannya.

"Ouw Toako,"

Katanya.

"Kau sudah capai sekali. Duduklah!"

"Aku tak capai,"

Jawabnya.

"Kau duduklah,"

Mendesak si nona.

"Aku mau bicara."

Ouw Hui tidak membantah lagi, tapi baru saja pantatnya menyentuh kursi, mendadak terdengar suara kedubrakan dan kursi itu berantakan jatuh di lantai menjadi beberapa potong.

Leng So menepuk-nepuk tangan dan berseru sembari tertawa.

"Aduh! Kerbau yang beratnya lima ratus kati, tak seberat badanmu!"

Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, ke-dua kaki Ouw Hui sangat teguh dan biarpun kursi itu berantakan secara mendadak, ia tak sampai turut jatuh terguling.

Tapi ia sungguh merasa heran dan tak mengerti, bagaimana bisa terjadi begitu.

Leng So tertawa dan lalu memberi keterangan.

"Daun Citsim Hay-tong yang ditempel di mata, mengakibatkan kesakitan yang sepuluh kali lebih hebat daripada luka biasa. Jika kau yang kena, mungkin kau akan berteriak setinggi langit."

Ouw Hui turut tertawa dan sekarang baru ia mengerti, bahwa untuk menahan sakit Biauw Jin Hong telah mengerahkan tenaga dalamnya yang mengakibatkan hancurnya kursi itu.

Sesudah itu, dengan gembira kedua orang muda tersebut menanak nasi dan memasak liga rupa sa-/ur, kemudian mengundang Biauw Jin Hong untuk makan bersama-sama.

"Apa aku boleh minum arak?"

Tanya Kim Biau Hud sesudah menghadapi meja makan.

"Boleh,"

Jawab Leng So.

"Sama sekali tak ada pantangan."

Biauw Jin Hong lalu mengambil tiga botol arak yang kemudian ditaruh di depan setiap orang.

"Tuanglah sendiri, jangan sungkan-sungkan,"

Katanya sembari menuang satu botol ke dalam mangkok yang lalu diteguk kering isinya.

Ouw Hui yang doyan arak, juga lantas meminum setengah mangkok.

Leng So sendiri tak minum arak, tapi ia menuang setengah botol ke dalam mangkok dan lalu menyiram Cit-sim Hay-tong dengan arak itu.

"Inilah rahasianya,"

Kata si nona.

"Jika kena air, pohon ini akan segera mati. Itulah sebabnya, sesudah berusaha belasan tahun, saudara-saudara seperguruanku masih belum bisa menanamnya."

Sem-bari berkata begitu, ia menuang sisa arak yang setengah botol !agi ke mangkok Biauw Jin Hong dan Ouw Hui.

Sekali lagi Biauw Tayhiap mengangkat mang-kok dan mencegluk isinya.

Dikawani oleh dua jago muda yang sudah menolong dirinya, hatinya gem-bira bukan main.

"Saudara Ouw,"

Katanya.

"Siapa vang ajarkan kau Ouw-kee To-hoat?"

"Tak ada yang ajar,"

Jawabnya.

"Aku mempe-lajari itu dari satu kitab ilmu silat."

"Hm,"

Menggerendeng Biauw Tayhiap sembari mengangguk.

"Belakangan aku bertemu dengan Tio Sam tong-kee dari Ang-hoa-hwee,"

Kata pula Ouw Hui "la telah menurunkan beberapa rahasia dari ilmu silat Thay-kek-kun kepadaku."

Biauw Jin Hong menepuk dengkul.

"Apakah Cian-ciu Jie-lay (Buddha Seribu Tangan) Tio Poan San, Tio Sam-tong-kee?"

Tanyanya.

"Benar,"

Sahutnya.

"Tak heran!"

Kata Kim-bian-hud.

"Kalau begitu, tak heran."

"Kenapa?"

Tanya Ouw Hui.

"Selama hidup, aku selalu mengagumi kekesa-triaannya Tan Cong-to-cu (pemimpin besar dari Ang-hoa-hwee, Tan Kee Lok),"

Jawabnya.

"Aku juga mengagumi semua orang gagah dalam Ang-hoa-hwee. Hanya sayang, mereka sekarang sudah menyembunyikan diri di Hui-kiang, sehingga aku masih belum mendapat kesempatan untuk menemui mereka. Hal ini adalah kejadian yang selalu dibuat menyesal olehku."

Mendengar penghargaan terhadap Ang-hoa-hwee, Ouw Hui jadi girang sekali.

Sekonyong-konyong, sesudah mencegluk arak, Biauw Tayhiap berbangkit dan mengambil sebatang golok yang terletak di atas meja teh.

"Saudara Ouw,"

Katanya dengan suara terharu.

"Dulu, aku pernah bertemu dengan seorang kesatria, she Ouw ber-nama It To. Ia telah menurunkan ilmu golok Ouw-kee To-hoat kepadaku. Hari ini, ilmu golok yang digunakan olehku untuk merubuhkan musuh dan ilmu golok yang digunakan olehmu untuk merubuhkan Tian Kui Long, adalah Ouw-kee To-hoat. Ha-ha! Sungguh indah, sungguh indah Ouw-kee To-hoat!"

Tiba-tiba ia dongak dan mengeluarkan satu teriakan yang panjang dan nyaring. Di lain saat, bagaikan seekor burung, tubuhnya "terbang"

Ke luar pintu dan begitu kedua kakinya hinggap di atas bumi, ia segera bersilat dengan Ouw-kee Tohoat.

Ouw Hui mengawasi dengan menumpahkan seluruh perhatiannya.

Ia mendapat kenyataan, bah-wa setiap gerakan Kim-bian-hud adalah sesuai dengan apa yang tereatat dalam kitab ilmu silat yang berada dalam tangannya.

Perbedaannya adalah, gerakan golok itu lebih ringkas dan lebih perlahan dari apa yang ia biasa lakukan.

Ia menganggap, bahwa Biauw Jin Hong sengaja memperlambat ge-rakannya supaya dapat dilihat olehnya secara lebih tegas.

Sesudah selesai bersilat, Kim-bian-hud berdiri tegak dan berkata.

"Saudara kecil, dengan kepan-daianmu yang sekarang, secara mudah kau akan dapat menjatuhkan Tian Kui Long. Akan tetapi, kau masih belum bisa menandingi aku."

"Tentu saja,"

Kata Ouw Hui.

"Tentu saja boan-pwee bukan tandingan Biauw Tayhiap."

"Bukan, bukan begitu yang dimaksudkan aku,"

Kata Biauw Jin Hong sembari menggeleng-geleng-kan kepala.

"Dulu, dengan menggunakan ilmu golok itu, empat hari lamanya Ouw tayhiap telah ber-tempur dengan aku, tanpa ada yang kalah atau menang. Dalam pertempuran itu, gerakan goloknya jauh lebih lambat daripada kau."

"Begitu?"

Menegas Ouw Hui dengan perasaan heran.

"Benar,"

Jawab Biauw Jin Hong.

"Daripada jadi tuan rumah yang menghina tamu lebih baik jadi tamu yang merubuhkan tuan rumah. 'Leng' (Muda) lebih baik daripada 'Loo' (Tua). 'Tit' (Perlahan) menang dari 'Kie' (Cepat) Cam, Kut, Kiauw, Cah, Ciu dan Kiat ada lebih baik daripada Tian, Mo, Kauw, Kan, Pek dan Tok."

Apa yang dikatakan oleh Biauw Tayhiap, seperti "daripada jadi tuan rumah yang menghina tamu lebih baik jadi tamu yang merubuhkan tuan rumah" , adalah istilah dari pukulanpukulan ilmu golok.

Dengan ujung golok menindih senjata musuh adalah 'Leng' (Muda).

Dengan mata golok di dekat gagang menangkis senjata musuh dinamakan 'Loo' (tua).

Menebas senjata musuh dengan gerakan perlahan adalah 'Tit' (Perlahan), sedang memapaki senjata musuh ialah 'Kie' (Cepat).

Cam, Kut, Kiauw dan Iain-lain adalah istilah dari macam-macam pu-kulan.

Sesudah itu, Biauw Jin Hong lalu duduk pula dan menyuap nasi dengan menggunakan sumpit.

"Sesudah kau dapat menyelami rahasia yang baru-san diberitahukan olehku, di kemudian hari kau pasti akan menjadi satu jago Rimba Persilatan,"

Katanya.

Ouw Hui mengangguk sembari mengangkat sum-pit untuk menyumpit sayur.

Ketika, karena otak sedang diasah, sumpitnya berhenti di tengah udara.

Leng So tertawa dan sembari menyentuh sumpit Ouw Hui dengan sumpitnya, ia berkata.

"Hayo. jangan bengong!"

Karena seluruh perhatiannya sedang ditumpah-kan ke arah To-koat (teori ilmu golok), tanpa merasa semua tenaga Ouw Hui berkumpul di lengan kanannya, dan begitu tersentuh sumpit si nona, secara otomatis sumpit Ouw Hui mengeluarkan tenaga menolak.

Tek!

kedua sumpit Leng So patah, jadi empat potong.

"Ah!"

Leng So mengeluarkan seruan tertahan.

"Memperlihatkan kepandaian?"

Tanyanya sejenak kemudian sembari tertawa.

"Maaf,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa juga.

"Karena sedang memikirkan keterangan Biauw Tayhiap, aku jadi sedikit linglung."

Ia mengangsurkan sumpitnya sendiri kepada si nona yang lalu menyambuti dan mulai bersantap. Ouw Hui kembali bengong dan mulutnya ber-kata-kata dengan suara perlahan.

"Leng menang dari Loo, Tit lebih baik daripada Kie, daripada jadi tuan rumah yang menghina tetamu...."

Tiba-tiba ia dongak dan mendapat kenyataan, bahwa Leng So sedang makan tanpa ragu-ragu dengan sumpit yang bekas digunakan olehnya.

Muka Ouw Hui lantas saja berubah merah.

Sebenarnya, sebelum menyerahkan sumpit yang bekas digunakan olehnya, ia harus membersihkannya terlebih dulu.

Tapi sekarang sudah terlambat.

Ia ingin meng-haturkan maaf, tapi mulutnya terkancing.

Ia tak tahu, harus berbuat bagaimana.

Akhirnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata, dengan perasaan je-ngah, ia pergi ke dapur dan mengambil sepasang sumpit baru.

Sesudah menyuap nasi, Ouw Hui mengang-surkan sumpit untuk menjepit peh-cay-ca.

Sesaat itu, sumpit Biauw Jin Hong, yang juga ingin menyumpit makanan itu, menyentuh sumpit Ouw Hui yang lantas saja jadi terpental.

"Inilah Kiat,"

Kata Kim-bian-hud.

"Benar,"

Kata Ouw Hui sembari turunkan kedua sumpitnya untuk menjepit peh-cay-ca itu.

Tapi Biauw Jin Hong terus menjaga dengan sumpitnya, sehingga, sesudah mencoba beberapa kali, sumpit Ouw Hui tak bisa turun ke bawah.

Bukan main herannya Ouw Hui.

"Walaupun kedua matanya tak bisa melihat, dalam pertem-puran dengan menggunakan golok, memang ia ma-sih bisa menangkap gerakan-gerakan pukulan dengan mendengar kesiuran angin,"

Katanya di dalam hati.

"Tapi sekarang, aku hanya menggunakan sepasang sumpit yang begini kecil dan yang gerakan-nya sama sekali tidak menerbitkan kesiuran angin. Bagaimana ia masih bisa mengetahui setiap gerakanku?"

Ia berusaha pula beberapa kali, tapi tetap tidak •berhasil, karena Biauw Jin Hong terus menjaga dengan rapatnya di atas piring peh-cay-ca, sambil menggoyang-goyang kedua sumpitnya.

Ouw Hui mengasah otaknya.

Mendadak ia mendusin.

Ia sa-dar, bahwa ilmu yang digunakan oleh Biauw Jin Hong adalah apa yang dinamakan Houw-hoat-cu-jin (Melawan musuh dengan gerakan yang bela-kangan).

Dalam usaha tadi, dengan rupa-rupa cara, sum-pit Ouw Hui menyambar dari atas ke bawah dan dalam gerakan itu, sumpit tersebut selalu terbentur dengan sumpit Biauw Jin Hong yang terus ber-goyang-goyang kian ke mari.

Biauw Jin Hong sendiri mengambil sikap menunggu.

Sesudah sumpitnya membentur sumpit Ouw Hui, barulah dengan meng-imbangi gerakan (pukulan) pemuda itu, ia meng-hantam dengan sumpitnya.

Itulah yang dinamakan 'tamu merubuhkan tuan rumah' atau 'dengan Tit (Perlahan) mengalahkan Kie (Cepat)'.

Ouw Hui adalah seorang yang sangat cerdas.

Begitu lekas membuka tabir rahasia, ia segera menukar siasat.

Jika tadi sumpitnya selalu menyambar dari atas ke bawah (ke piring peh-cay-ca), sekarang ia mengangkat sumpitnya dan menghentikan ge-rakannya di tengah udara.

Kemudian, sambil meng-awasi gerakan sumpit Biauw Jin Hong, ia turunkan sumpitnya sendiri sedikit demi sedikit, sampai sum-pit itu berada di atas sumpit Biauw Jin Hong yang terus bergoyanggoyang.

Mendadak, pada detik sum-pit Biauw Jin Hong bergoyang ke tempat yang paling jauh, ia turunkan sumpitnya, menjepit sepotong peh-cay yang lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.

Gerakan itu dilakukan dengan kecepatan yang sungguh luar biasa, kecepatan yang tak kalah dengan arus listrik.

Kim-bian-hud lantas saja tertawa berkakakan dan melemparkan kedua sumpitnya di atas meja.

Pada saat itulah, puteranya Liao-tong Tayhiap Ouw It To masuk ke dalam kalangan ahli-ahli silat kelas utama!

Mengingat bagaimana ia sudah meng-gunakan begitu banyak tempo dan tenaga yang tak perlu untuk merubuhkan Tian Kui Long, mau tak mau, Ouw Hui jadi merasa jengah sendiri.

Di lain pihak, Leng So turut merasa girang melihat ber-hasilnya pemuda itu dalam merebut peh-cay-ca yang "dilindungi"

Biauw Jin Hong.

"Had ini Ouw-kee To-hoat sudah mempunyai ahli waris yang tulen,"

Kata Kim-bian-hud.

"Ah, Ouw Toako, Ouw Toako!"

Kata-kata yang terakhir itu diucapkan olehnya dengan nada menyayatkan hati.

Leng So yang mengetahui, bahwa antara Biauw Jin Hong dan Ouw Hui terdapat satu persoalan yang tak mudah dibereskan, segera menyelak untuk menyimpangkan pokok pembicaraan.

"Biauw Tayhiap,"

Katanya.

"Sengketa apakah yang terjadi antara kau dan mendiang guruku? Bolehkah kau mencerita-kannya kepada kita?"

Biauw Jin Hong menghela napas.

"Sampai di ini hari, aku juga masih belum mengetahui terang,"

Jawabnya.

"Pada delapan belas tahun berselang, secara tak disengaja aku sudah melukai seorang sahabat baik. Karena pada senjata itu terdapat racun yang sangat lihay, maka jiwa sahabatku itu tak bisa ditolong lagi. Belakangan, aku mendugaduga, bahwa racun itu mempunyai sangkut paut dengan gurumu. Aku segera menanyakan gurumu yang dengan keras sudah menyangkal tuduhanku itu. Mungkin, karena tak bisa bicara dan juga sebab waktu itu hatiku sedang jengkel, aku sudah menge-luarkankan kata-kata keras, sehingga satu pertempuran tak dapat dielakkan lagi."

Ouw Hui tak mengeluarkan sepatah kata dan sesudah lewat beberapa saat, barulah ia menanya.

"Kalau begitu, bukankah sahabatmu itu telah binasa dalam tanganmu sendiri?"

"Benar,"

Jawab Kim-bian-hud.

"Bagaimana dengan isterinya sahabat itu?"

Ta-nya pula Ouw Hui.

"Bukankah kau juga mem-binasakan ia untuk membasmi sampai ke akar-akarnya?"

Dengan hati berdebar Leng So mengawasi Ouw Hui yang paras mukanya pucat dan tangannya men-cekal gagang golok.

Ia merasa, bahwa makan minum yang gembira itu akan segera berubah menjadi pertempuran.

Ia tak tahu, siapa yang salah, siapa yang benar, tapi di dalam hati, ia sudah mengambil keputusan.

"Jika mereka bertempur, aku akan mem-bantu dia,"

Pikirnya. Tak usah dikatakan lagi.

"dia"

Itu berarti Ouw Hui.

"Isterinya telah membunuh diri untuk mengikut sang suami,"

Kata Biauw Jin Hong dengan suara duka.

"Jadi... jiwa nyonya itu pun melayang karena gara-garamu, bukan?"

Tanya Ouw Hui.

"Benar!"

Jawabnya. Ouw Hui berbangkit, ia tertawa terbahak-ba-hak, tertawa yang sangat menyeramkan.

"She apa dan siapa nama sahabat itu?"

Tanyanya pula.

"Benar-benar kau ingin mengetahui?"

Menegas Kim-bianhud.

"Aku ingin mengetahui,"

Jawabnya.

"Baiklah,"

Kata Biauw Jin Hong.

"Ikutlah aku!"

Dengan tindakan lebar, ia berjalan ke ruangan dalam, diikut oleh Ouw Hui.

Buru-buru Leng So memondong paso Cit-sim Hay-tong dan mengikuti di belakang Ouw Hui.

Setibanya di depan satu kamar samping, Biauw Jin Hong mendorong pintu.

Dalam kamar itu ter-dapat satu meja yang ditutup dengan taplak putih dan di atas meja berdiri dua Lengpay (papan pe-mujaan).

di atas Leng-pay yang satu terdapat tulisan seperti berikut.

"Leng-wie (tempat pemujaan) dari saudara angkatku, Liao-tong Tayhiap Ouw-kong It To (Ouwkong berarti paduka she Ouw)" , sedang di Leng-pay yang satunya lagi terdapat tulisan.

"Leng-wie dari Gie-so (isteri dari saudara angkat) Ouw Hujin (Nyonya Ouw)" . Ouw Hui mengawasi kedua Leng-pay itu dengan kaki tangan dingin bagaikan es dan badan gemetar. Sudah lama ia menduga, bahwa kebinasa-an kedua orang tuanya mempunyai sangkut paut yang sangat rapat dengan Biauw Jin Hong. Akan tetapi, melihat kekesatriaan Kim-bian-hud, siang malam ia berdoa, supaya dugaannya itu tak benar adanya. Sekarang Biauw Jin Hong telah berterus terang dan dalam pengakuannya, ia telah mem-perlihatkan satu kedukaan yang tak ada batasnya. Ouw Hui berdiri terpaku, kepalanya pusing dan ia tak tahu, harus berbuat bagaimana. Perlahan-lahan Biauw Tayhiap memutar badan "Jlka kau Ingin membalaskan saklt hati Ouw Tayhla sekarang juga kau boleh turun tangan,* kata Biauw J Hong. Ouw Hui mengangkat goloknya, tetapi golok I terhenti dl tengan udara tak dapat ia menurunkan senatanya itu dan sembari menggendong tangan, ia berkata.

"Jika kau tak sudi memberitahukan hubunganmu dengan Ouw It Tayhiap, aku pun tak berani memaksa. Saudara kecil, kau sudah berjanji akan melihat-lihat anak perempuanku. Aku harap, janji itu tak dilupa-kan olehmu. Baiklah! Jika kau ingin membalaskan sakit hatinya Ouw Tayhiap, sekarang juga kau bolch turun tangan."

Ouw Hui mengangkat golok, tapi golok itu berhenti di tengah udara.

"Jika aku turunkan golok ini dengan gerakan 'Tamu merubuhkan tuan rumah' seperti yang diajarkan olehmu, kau tentu tak akan bisa berkelit lagi,' katanya di dalam hati.

"Dengan demikian, aku bisa membalas sakit hatinya ayah dan ibu."

Akan tetapi, sebelum menurunkan golok, ia mengawasi paras Biauw Jin Hong.

Paras kesatria.

itu, dengan segala keangkerannya, adalah tenang dan damai, bebas dari rasa menyesal dan bebas pula dari rasa takut.

Tangan Ouw Hui yang mencekal golok bergemetar.

Bagaimana...

bagaimana ia dapat menurunkan senjata itu di lehernya seorang kesatria seperti Kim-bian-hud?

Mendadak, mendadak saja, sembari memutar badan, Ouw Hui mengeluarkan teriakan keras dan terus kabur....

Leng So lalu mengejar dengan menggunakan ilmu entengkan badan.

Dalam sekejap, seperti orang kalap, Ouw Hui sudah melalui belasan li.

Sekonyong-konyong ia bergulingan di atas tanah dan menangis sekeras-kerasnya.

Leng So menge-tahui, bahwa dalam keadaan begitu, tak guna ia coba menghibur.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia duduk di tanah dan membiarkan Ouw Hui melampiaskan perasaan sedihnya.

Lama sekali pemuda itu menangis, ia baru berhenti sesudah air matanya kering.

Sesudah berhenti menangis, ia duduk bengong sekian lama dan sesudah kenyang bengongbengong, barulah ia berkata.

"Leng Kouwnio, yang membinasakan ayah dan ibuku adalah dia. Sakit hati ini aeNlah sangat besar, aku dan dia tak bisa berdiri bersamasama di kolong langit."

"Kalau begitu, kita sudah bertindak salah,"

Kata Leng So.

"Sebenarnya tak seharusnya kita meng-obati matanya."

"Tidak, kita tak salah dalam mengobati dia,"

Kata Ouw Hui.

"Sesudah kedua matanya sembuh, aku akan balik lagi untuk membalas sakit hati."

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula.

"Ha-nya ilmu silatnya terlalu tinggi. Untuk memperoleh kemenangan, aku harus berlatih terus."

"Sesudah ia menggunakan senjata beracun untuk membinasakan ayahmu, apa halangannya jika kita pun membalas dengan senjata beracun pula!"

Kata Leng So.

Mendengar perkataan itu, bukan main rasa terima kasihnya Ouw Hui.

Akan tetapi, sungguh heran, begitu mendengar si nona ingin mengambil jiwa Biauw Jin Hong dengan menggunakan racun, hatinya jadi kurang enak.

'Otak Leng Kouwnio sepuluh kali lebih cerdas daripada aku dan ilmu silatnya pun dapat dikatakan lumayan,' katanya di dalam hati.

'Tapi hari ketemu hari, ia terus ber-kawan dengan macammacam racun.

Biar bagai-manapun juga....' Ia tak dapat meneruskan jalan pikirannya.

Ia hanya merasa, bahwa mainmain dengan racun terus-menerus adalah tidak benar.

Sesudah kenyang menangis, sebagian besar kejengkelannya sudah dapat dilampiaskan.

Sesaat itu, fajar sudah menyingsing.

Tapi, baru saja ia ber-bangkit untuk meneruskan perjalanan, mendadak ia berseru.

"Celaka!"

Ternyata, waktu kabur dan rumah Biauw Jin Hong, ia sudah lupa untuk membawa bungkusan-nya.

Tentu saja ia bisa balik pula untuk mengambil-nya, tapi ia sangat sungkan bertemu muka lagi dengan Kim-bian-hud.

"Lain barang masih tak apa, tapi Giok-hong-hong (burungburungan Hong yang terbuat dari batu pualam, pemberian Wan Cie Ie) tidak boleh hilang,"

Kata Leng So sembari mesem. Muka Ouw Hui lantas saja berubah merah. Sesudah berpikir sejenak, ia berkata.

"Kau tunggu di sini sebentar, aku pergi untuk mengambil bung-kusan itu. Jika tak diambil, kita tak mempunyai uang untuk makan nginap."

"Aku mempunyai perak dan malahan mempunyai juga emas,"

Kata si nona sembari menge-luarkan dua potong emas dari sakunya.

"Barang yang paling penting dalam bungkusan itu adalah kitab ilmu silat warisan leluhurku,"

Kata Ouw Hui.

"Biar bagaimana juga, kitab itu tak boleh hilang."

Leng So merogoh saku dan mengeluarkan se

Jilid kitab.

"Apa ini?"

Tanyanya. Ouw Hui kaget bereampur girang, karena kitab itu memang benar adalah kitab yang dimaksudkan olehnya.

"Kau sungguh hati-hati dan ingat segala apa,"

Ia memuji.

"Hanya sayang Giok-hong-hong itu jatuh di tengah jalan,"

Kata Leng So.

"Hatiku sungguh merasa tak enak."

Melihat parasnya si nona yang sungguh-sung-guh Ouw Hui jadi bingung.

"Aku akan coba men-carinya,"

Katanya.

"Barangkali saja masih bisa di-dapatkan."

Ia memutar badan dan lantas berjalan pergi.

"Ih! Apa itu yang berkeredepan?"

Tiba-tiba Leng So berseru. Ia membungkuk dan memungut serupa benda dari rumput-rumput. Ternyata, benda itu bukan lain daripada Giokhong-hong.

"Kau sungguh satu Cukat perempuan atau Thio Liang kecil,"

Ia memuji.

"Aku menyerah kalah." (Cukat dimaksudkan Cukat Liang, seorang perdana menteri dari kerajaan Han, di jaman Samkok, sedang Thio Liang adalah salah satu menteri utama dari kaisar Lauw Pang, pendiri dari kerajaan Han. Baik Cukat Liang, maupun Thio Liang, dikenal sebagai orang-orang pandai pada jaman itu).

"Aduh! Girangnya!"

Mengejek Leng So.

"Nih. aku pulangkan!"

Sembari berkata begitu, ia menye-rahkan kitab dan Giok-hong-hong kepada Ouw Hui. Si nona berdiam sejenak dan tiba-tiba ia berkata.

"Ouw Toako, sampai ketemu lagi!"

Ouw Hui terkejut.

"Kau marah!"

Tanyanya.

"Kenapa mesti marah?"

Leng So balas menanya. Mendadak kedua matanya merah dan ia melengos ke lain jurusan.

"Ke mana... ke mana kau mau pergi?"

Tanya Ouw Hui dengan suara tak lampias.

"Tak tahu,"

Jawabnya.

"Kenapa tak tahu?"

Ouw Hui mendesak.

"Aku sudah tak mempunyai ayah dan bunda,"

Jawabnya.

"Guruku juga sudah meninggal dunia. Tak ada orang yang memberikan Giok-hong-hong atau Giok-kie-lin kepadaku.... Bagaimana... bagai-mana aku tahu, kemana aku mesti pergi?"

Berkata sampai disitu, Leng So tak dapat mempertahankan dirinya lagi dan air mata meleleh turun di kedua pipinya yang kurus.

Semenjak bertemu, Ouw Hui mengagumi Thia Leng So yang pintar luar biasa dan selalu dapat memecahkan setiap persoalan yang sulit-sulit.

Akan tetapi pada detik itu melihat badannya yang kurus bergemetar di antara tiupan sang angin pagi, tanpa merasa dalam hatinya timbul rasa kasihan.

"Leng Kouwnio,"

Katanya dengan suara halus.

"Ijinkanlah aku mengantarkan kau."

Dengan menggunakan ujung baju, Leng So menepis air matanya.

"Ke mana kau mau mengan-tarkannya?"

Katanya.

"Aku sendiri tak tahu, mau pergi ke mana. Terhadap kau, tugasku sudah selesai. Kau ingin aku mengobati mata Biauw Jin Hong dan aku sudah memenuhi keinginan itu."

Tiba-tiba Ouw Hui ingat suatu hal yang kiranya dapat menimbulkan kegembiraan si nona.

"Leng Kouwnio,"

Katanya.

"Tapi masih ada satu hal yang dilupakan olehmu."

"Apa?"

Tanya Leng so.

"Waktu aku memohon supaya kau mengobati mata Biauw Jin Hong, kau pernah mengatakan, bahwa kau sendiri ingin mengajukan serupa permin-taan kepadaku,"

Kata Ouw Hui.

"Permintaan apakah itu? sampai sekarang kau belum mengajukannya."

Biar bagaimana juga orang muda tetap orang muda, yang gampang jengkel dan gampang pula gembira. Mendengar perkataan Ouw Hui, Thia Leng So yang barusan masih bersedih hati, lantas saja tertawa geli.

"Benar, jika tidak diingatkan kau, aku sendiri sudah lupa,"

Katanya.

"Baiklah. Bukankah kau sudah berjanji akan meluluskan segala permintaanku?"

"Dalam batas-batas kemampuanku, aku akan melakukan apa pun juga yang diperintah olehmu,"

Jawab Ouw Hui. Leng So mengangsurkan tangannya seraya berkata.

"Bagus! Sekarang serahkanlah Giok-hong-hong itu kepadaku."

Ouw Hui terkejut, tapi karena ia adalah seorang yang selalu memegangjanji, makawalaupun dengan perasaan berat, ia segera mengangsurkan Giok-hong-hong itu kepada si nona.

Leng So tidak menyambuti.

Ia menatap wajah Ouw Hui seraya berkata.

"Guna apa barang begitu? Aku ingin kau menghancurkan Giok-hong-hong itu!"

Itulah satu keinginan yang benar-benar tak dapat diturut oleh Ouw Hui.

Ia mengawasi Leng So dan kemudian mengawasi Giok-hong-hong, tanpa mengetahui harus berbuat bagaimana.

Pada saat itu, wajah dan gerak-geriknya Wan Cie le terbayang pula di depan matanya.

Perlahan-lahan Leng So menghampiri dan meng-ambil Giok-hong-hong itu, yang kemudian lalu di-masukkan ke dalam saku Ouw Hui.

"Mulai dari sekarang,"

Katanya dengan suara halus.

"Janganlah sembarangan berjanji lagi. Kau harus mengetahui. bahwa dalam dunia ini terdapat banyak sekali pe-kerjaan yang tidak dapat dilakukan. Sudahlah! Mari kita berangkat."

Perasaan Ouw Hui pada waktu itu, sukar di-lukiskan.

Dengan terharu, ia segera memondong paso Cit-sim Hay-tong dan berjalan mengikuti di belakang si nona.

Kira-kira tengah had, mereka tiba di satu kota.

"Mari kita cari rumah makan untuk menangsal perut dan kemudian coba membeli dua tunggangan,"

Kata Ouw Hui.

Baru saja ia mengucapkan perkataan itu, seorang lelaki setengah tua yang mengenakan thung-sha (jubah panjang) dan baju sutera dan gerak-geriknya seperti satu saudagar, menghampiri dan memberi hormat.

"Apakah aku sedang berhadapan dengan Ouw-ya?"

Tanyanya. Ouw Hui tak kenal orang itu, tapi lantas saja ia membalas hormat seraya berkata.

"Aku yang rendah memang benar she Ouw. Bagaimana tuan bisa rae-ngetahui?"

Orang itu tertawa dan lalu menjawab dengan sikap hormat.

"Atas titahnya majikanku, sudah lama aku menunggu di sini. Marilah kita makan dulu seadanya."

Sehabis berkata begitu ia segera berjalan menuju ke satu restoran, diikuti oleh Ouw Hui dan Leng So.

Tanpa diperintah, beberapa pelayan segera mengeluarkan makanan dan arak.

Apa yang dikatakan "Seada-adanya", adalah makanan pilihan dari kelas satu.

Ouw Hui dan Leng So tentu saja merasa sangat heran, tapi karena orang itu tidak menyebut-nyebut lagi siapa majikannya, mereka pun merasa tak enak untuk segera menanyakan lagi.

Sehabis bersantap, orang itu berkata.

"Sekarang marilah Jie-wie mengaso di gedung yang sudah disediakan."

Di luar restoran sudah menunggu tiga ekor kuda, yang lalu ditunggang oleh mereka.

Sesudah melalui kurang lebih lima li, tibalah mereka di depan satu gedung besar yang sangat indah.

Di depan gedung itu sudah menunggu enam tujuh bujang yang menyambut mereka dengan sikap hormat sekali.

Si saudagar lantas saja mengundang kedua tamunya masuk ke ruangan tengah, di mana sudah disediakan satu meja teh penuh buah-buah dan kue-kue yang lezat rasanya.

Ouw Hui jadi semakin heran.

"Jika aku menanyakan sebabsebab perlakuan yang begini luar biasa dia tentu tak akan bicara terus-terang,"

Kata-nya di dalam hati.

"Biarlah aku menunggu bagaimana akhirnya permainan ini dan bertindak dengan mengimbangi keadaan."

Sehabis minum teh, si saudagar lantas saja berkata.

"Ouwya dan nona tentu tentu merasa capai. Mandilah tukarlah pakaian dulu."

"Didengar dari bicaranya, dia ternyata tidak mengenal Leng Kouwnio,"

Pikir Ouw Hui.

"Hm!"

Jika dia berani main gila di hadapan murid Tok-chiu Yo-ong, dia pasti akan mendapat hajaran keras."

Seorang pelayan segera mengantarkan Ouw Hui masuk ke ruangan dalam, sedang seorang pelayan lain mengantarkan Leng So.

Sesudah mandi, menukar pakaian dan mengaso sebentar, mereka berdua lalu kembali ke ruangan tengah.

Mereka saling mengawasi dengan perasaan geli, karena masing-masing sudah mengenakan pakaian baru.

"Ouw Toako,"

Kata Leng So sembari tertawa.

"Apakah hari ini hari perayaan Tahun Baru? Dan-dananmu ganteng benar."

Ouw Hui juga turut tertawa, karena mendapat kenyataan, bahwa si nona bukan saja memakai pakaian baru, tapi juga memakai bedak dan yancie (rouge).

"Aduh!"

Katanya.

"Kau kelihatannya seperti pengantin saja!"

Muka Leng so lantas saja berwarna dadu dan ia melengos tanpa meladeni ejekan orang.

Ouw Hui terkejut, sebab ia merasa sudah ber-bicara salah.

Ia melirik ke arah Leng So dan hatinya agak lega, karena paras si nona tidak menunjukkan kegusarannya.

Sementara itu, dalam ruangan tersebut sudah diatur meja perjamuan dengan makanan dan arak kelas satu.

Sesudah mengundang Ouw Hui dan Leng So minum tiga cawan si saudagar segera masuk ke dalam dan ke luar lagi dengan kedua tangan menyanggah satu penampan.

Di atas penampan itu terdapat sebuah bungkusan sutera merah yang ke-tika dibuka, ternyata berisikan se

Jilid buku yang disulam indah sekali dengan benang emas. Di atas kulit buku itu dituliskan perkataan seperti berikut.

"Dipersembahkan dengan segala kehormatan ke-pada Ouw Toaya, Ouw Hui" . Dengan kedua tangannya, dengan sikap meng-hormat luar biasa, saudagar itu mengangsurkan buku tersebut kepada Ouw Hui.

"Atas perintah majikanku, siauwjin (aku yang rendah) mempersembahkan segala apa yang tereatat dalam buku ini, kepada Ouw Toaya."

Katanya. Ouw Hui tak lantas menyambuti buku itu.

"Sia-pa majikan tuan?"

Tanyanya.

"Kenapa ia memberi hadiah yang begitu besar kepadaku?"

"Siauwjin telah dilarang memberitahukan nama beliau,"

Jawabnya.

"Dikemudian hati, Toaya sendiri tentu akan mengetahuinya."

Didorong keheranannya, Ouw Hui menyambuti buku itu dan segera membuka halaman itu terdapat tulisan seperti berikut.

"Sawah kelas satu, empat ratus lima belas bouw" . Di bawah tulisan itu terdapat penjelasan tentang kedudukan sawah itu, nama-nama penggarapnya, hasil setiap tahunnya dan sebagainya. Bukan main herannya Ouw Hui. Ia membuka halaman kedua yang bertuliskan seperti berikut.

"Sebuah gedung dari lima bagian dengan dua belas kamar loteng dan tujuh puluh tiga kamar bawah" . Di bawah itu, dengan huruf-huruf kecil, juga terdapat penjelasan mengenai kedudukan gedung itu, letak taman bunganya, ruangan-ruangannya, kamarkamarnya, dapurnya dan Iain-lain. Pada halaman-halaman yang lain terdapat daf-tar nama bujang-bujang, biaya sehari-hari, makanan yang diperlukan, kuda-kuda, kereta, perabot rumah tangga, pakaian dan sebagainya. Ouw Hui yang berotak cerdas sekarang benar-benar merasa bingung di dalam hatinya.

"Coba kau lihat,"

Katanya sembari menyerahkan buku itu kepada Leng So. Sesudah membaca isinya, si nona pun tak dapat menembus tabir rahasia yang meliputi keanehan itu.

"Selamat, selamat!"

Katanya sembari tertawa.

"Kau sekarang sudah menjadi hartawan besar."

"Sekarang siauwjin ingin mengantar-antarkan Ouw Toaya untuk memeriksa keadaan gedung ini,"

Kata si saudagar.

"Kau she apa?"

Tanya Ouw Hui.

"Siauwjin she Thio,"

Jawabnya.

"Untuk seinen-tara waktu, siauwjin mewakili Ouw Toaya untuk mengurus sawah-sawah dan gedung ini. Jika ada apa-apa yang kurang mencocoki keinginan Ouw Toaya, siauwjin harap Ouw Toaya suka lantas mem-beritahukannya. Surat-surat sawah dan rumah ber-ada di sini. Harap Ouw Toaya sudi menerimanya."

Sembari berkata begitu, ia mengangsurkan seikat surat-surat.

"Kau simpan saja dulu,"

Kata Ouw Hui.

"Kata orang. 'Tanpa berjasa, tidak menerima hadiah.' Ha-diah yang begini besar belum tentu aku dapat menerimanya."

"Ah! Ouw Toaya terlalu sungkan,"

Kata si saudagar.

"Majikanku pernah mengatakan, bahwa ia merasa malu, karena hadiah ini terlalu kecil."

Sedari kecil, Ouw Hui berkelana di kalangan Kang-ouw dan ia sudah kenyang menemui atau mendengar kejadian-kejadian aneh.

Akan tetapi, apa yang dialaminya sekarang adalah kejadian yang belum pernah dimimpikannya.

Dilihat gerak-geriknya, orang she Thio itu bu-kan seorang yang mengerti ilmu silat dan bicaranya pun bukan cara seorang Rimba Persilatan ber-bicara.

Ouw Hui merasa, bahwa sebagai seorang yang diperintah, belum tentu ia mengetahui latar belakang kejadian ini.

Sehabis bersantap, Ouw Hui dan Leng So segera ke kamar buku untuk mengaso.

Kamar itu, yang diperlengkapi dengan perabotan yang ber-harga mahal, penuh dengan lukisanlukisan, buku-buku dan alat-alat musik.

Tak lama kemudian seorang kacung datang mengantarkan teh dan sesudah meletakkan tehkoan dan cangkir di atas meja, ia segera mengundurkan diri.

Leng So tertawa geli seraya berkata.

"Ouw Wan-gwee (hartawan), tak dinyana di tempat ini kau menjadi seorang Loo-ya (panggilan untuk seorang berpangkat atau hartawan)."

Ouw Hui pun turut tertawa, tapi sesaat kemudian, ia mengerutkan alisnya.

"Leng Kouwnio,"

Katanya.

"Aku merasa pasti, bahwa orang yang mem-berikan hadiah ini mempunyai maksud kurang baik. Akan tetapi, aku tak dapat menebak siapa adanya orang itu. Siasat apa yang sedang diaturnya?"

"Apakah tak mungkin kerjaan Biauw Jin Hong?"

Tanya si nona. Ouw Hui menggelengkan kepalanya dan berkata.

"W upi.n aku dan dia mempunyai permu-suhan be.-.ir, tapi menurut pendapatku, ia adalah i.iki-laki tulen yang tak akan main bergelap-ge-lapan."

"Tapi kemungkinannya tetap masih ada,"

Kata Leng So.

"Apakah tak bisa jadi, hadiah ini diberikan >lehnya karena kau sudah membantu dia dalam nenghadapi bahaya-bahaya. Mungkin sekali ia ha-nva bermaksud untuk menghaturkan terima kasih Jan menghilangkan permusuhan."

"Mana bisa aku melupakan sakit hati orang jdku karena silau melihat harta?"

Kata Ouw Hui.

"Tidak, tidak?"

Biauw Jin Hong tak akan meman-dang aku begitu rendah."

Leng So meleletkan lidah.

"Kalau begitu, aku-lah yang sudah menaksir kau terlalu rendah."

Lama juga mereka berunding, tapi hasilnya nihil.

Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menginap semalam, guna menyelidiki hal itu lebih lanjut.

Malam itu, Ouw Hui tidur dalam kamar be-sarnya terletak di ruangan belakang, sedang Leng So mengambil kamar di atas loteng, di pinggir taman bunga.

Selama hidupnya, belum pernah Ouw Hui tidur dalam kamar yang begitu mewah, tapi sekarang, bukan saja kamar itu, tapi seluruh gedung itu juga sudah menjadi miliknya sendiri.

Kira-kira jam dua malam, sesudah berdandan rapi dan membekal golok, Ouw Hui ke luar lewat jendela dan melompat naik ke atas genteng.

la mendapat kenyataan, bahwa di bagian belakang gedung itu masih terdapat penerangan lilin.

Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, ia ber-larilari ke arah sinar api itu.

Sambil mencantelkan kedua kakinya di payon rumah, sehingga badannya menggelantung ke bawah, ia mengintip dari jendela.

Di dalam kamar itu terdapat si orang she Thio yang sedang menghadapi suiphoa (alat hitung Tionghoa) dan buku-buku, dengan dikawani oleh seorang tua.

Ternyata, apa yang sedang dikerjakannya adalah pem-bukuan mengenai sawah dan gedung itu dan apa yang dibicarakan dengan si orang tua adalah soal-soal yang bersangkut paut dengan tugasnya.

Sesudah mende-ngarkan beberapa lama, Ouw Hui belum juga men-dapatkan yang tengah dicarinya itu.

Baru saja ia ingin berlalu, ketika mendadak terdengar suara luar biasa, sehingga dengan cepat ia bersiap-siap sembari mencekal gagang goloknya.

Tapi yang datang hanyalah Leng So yang segera memberi isyarat dengan gerakan tangannya.

Ouw Hui menghampiri.

"Aku sudah menyelidiki seluruh gedung ini dari depan sampai di belakang, tapi belum juga bisa mendapat apa-apa yang mencurigakan,"

Kata si nona.

"Bagaimana dengan kau?"

Ouw Hui menggelengkan kepalanya dan mereka segera kembali ke masing-masing kamarnya.

Sampai pagi mereka terus berjaga-jaga, tapi semalam itu tak terjadi suatu apa yang luar biasa.

Pagi-pagi sekaii, seorang kacung sudah meng-antarkan somthung (kuwah yo-som) dan yan-o-pauw, kue-kue dan arak merah yang tua sekaii.

"Dengan mempunyai Leng Kouwnio sebagai kawan, enak juga hidup di sini,"

Kata Ouw Hui di dalam hatinya. Tapi di lain saat, ia mendapat pikiran lain.

"Orang she Hong itu yang sudah membinasa-kan seluruh keluarga Ciong A-sie, sampai sekarang masih hidup dengan selamat,"

Pikirnya.

"Jika aku tak bisa membalaskan sakit hati keluarga Ciong, mana aku punya muka untuk hidup terus dalam dunia ini?"

Mengingat begitu, darah kesatrianya lantas saja mendidih.

"Apakah kita lantas berangkat sekarang?"

Ta-nyanya kepada Leng So.

"Baiklah,"

Jawab si nona tanpa menegaskan mau pergi ke mana.

Mereka segera kembali ke masing-masing kamarnya dan mengenakan lagi pakaian yang lama.

Sesudah rapih berdandan, Ouw Hui segera menemui si orang she Thio dan berkata.

"Aku mem-punyai urusan penting dan harus berangkat sekarang juga."

Sehabis berkata begitu, ia segera berjalan pergi, diikuti Leng So. Orang she Thio itu terperanjat dan berkata dengan suara terputus-putus.

"Kenapa... kenapa... begitu cepat? Ouw.... Toaya.... Tunggu.... Siauwjin ambil sedikit ongkos."

Ia masuk dengan berlari-lari dan ke luar lagi dengan membawa penampan, tapi Ouw Hui maupun Leng So sudan tak kelihatan bayangannya lagi.

Dengan cepat Ouw Hui dan Leng So mene-ruskan perjalanan mereka ke arah utara.

Kira-kira tengah hari mereka tiba di sebuah kota dan sesudah mencari keterangan, barulah mereka mengetahui, bahwa semalam mereka menginap di kota Gie-tong-tin.

Ouw Hui segera membeli dua ekor kuda dan mereka meneruskan perjalanan itu dengan menunggang kuda, sambil membicarakan kejadian ke-marinnya yang luar biasa itu.

"Kita makan minum dan menginap dengan cuma-cuma dan sama sekali tidak terjadi apa-apa yang merugikan,"

Kata Leng So.

"Mungkin sekali, majikan rumah itu tak mengandung niatan jelek.

"Tapi aku justru mengharapkan datangnya ba-haya itu,"

Kata si nona sembari tertawa.

"Eh, Ouw Toaya! Sebenarnya, kemana kita akan pergi?"

"Aku ingin pergi ke Pakkhia,"

Jawabnya.

"Apa-kah tak baik jika kau mengikuti?"

"Baik sih baik,"

Kata Leng So sembari mesem.

"Hanya aku khawatir, jika kau akan menjadi tidak leluasa."

"Kenapa!"

Ouw Hui menegas.

"Ouw Toako,"

Kata Leng So.

"Bukankah kau ingin mencari nona yang menghadiahkan Giok-hong-hong itu kepadamu!"

"Bukan,"

Jawab Ouw Hui dengan paras sung-guh-sungguh.

"Aku ingin mengejar seorang musuh. Ilmu silat orang itu tidak seberapa tinggi, tapi ia tnempunyai banyak kaki tangan dan banyak akal busuknya. Leng Kouwnio, dalam hal ini aku sangat mengharapkan bantuanmu."

Ouw Hui lantas saja menuturkan segala keja-hatan Hong Jin Eng, bagaimana manusia itu sudah membasmi keluarga Ciong A-sie dan bagaimana dia sudah terlolos dari kejarannya.

Ketika menceritakan pengalamannya pada malam itu di bio rusak.

suara Ouw Hui agak tak lampis.

"Bukankah nona pemberi Giok-hong-hong itu juga berada di bio tersebut!"

Tanya Leng So secara mendadak.

Ouw Hui terkejut.

Si nona ternyata cerdas luar biasa dan tak dapat dikelabui.

Oleh karena yakin, bahwa segala sepak terjangnya adalah putih bersih, Ouw Hui segera bereerita tanpa tedeng aling-aling lagi.

Ia menceritakan segala apa, antaranya bantuan Wan Cie le kepada Hong Jin Eng.

"Wan Kouwnio adalah wanita yang sangat can-tik, bukan?"

Tanya Leng So. Muka Ouw Hui lantas saja berubah merah.

"Lumayan,"

Jawabnya.

"Bukankah ia jauh lebih cantik, jika diban-dingkan dengan aku, si wanita jelek?"

Tanya Leng So pula. Mendengar pertanyaan yang tak diduga-duga itu, Ouw Hui jadi termangu-mangu. Sesudah be-ngong sejenak, barulah ia berkata.

"Siapa mengata-kan, bahwa kau wanita jelek? Dia berusia beberapa tahun lebih tua daripada kau. Tentu saja, tubuhnya lebih tinggi dan besar."

Leng So tertawa.

"Ketika berusia empat tahun, aku pernah bereermin dengan menggunakan kaca ibu,"

Katanya.

"Ketika itu, Ciciku berkata. 'Muka jelek, tak perlu kau mengaca. Mengaca atau tidak, jelek tetap jelek.' Hm! Aku tak memperdulikan kata-katanya. Apakah bisa menebak kejadian selan-jutnya?"

"Asal kau jangan meracuni kakakmu,"

Kata Ouw Hui di dalam hatinya. Ia mengawasi si nona dan berkata.

"Mana aku tahu?"

Leng So, yang rupa-rupanya dapat menebak jalan pikiran Ouw Hui, segera berkata sembari bersenyum.

"Kau takut aku meracuni Cici? Waktu itu aku baru berusia empat tahun. Hm! Besoknya, semua cermin di rumahku hilang."

"Heran benar,"

Kata Ouw Hui.

"Tak heran,"

Kata si nona sembari tertawa.

"Aku membuang semua cermin itu ke dalam sumur."

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula.

"Tapi, sesudah itu, aku. mengerti, bahwa aku beroman jelek. Walaupun tak ada kaca, jelek tetap jelek. Permukaan air sumur masih merupakan sebuah kaca besar yang setiap waktu bisa mencerminkan rupaku yang jelek. Waktu itu, benar-benar aku ingin membuang diri ke dalam sumur!"

Sehabis berkata begitu, mendadak ia mencambuk tunggangannya yang lantas saja lari seperti terbang.

Ouw Hui menyusul dan sesudah melalui belasan li, barulah Leng So menahan larat kudanya.

Melihat kedua mata si nona yang bersemu merah, Ouw Hui mengetahui, bahwa Leng So sedang berduka dan ia tak berani mengawasi terlalu lama.

"Leng Kouwnio, tidak secantik Wan Kouwnio, tapi juga tak bisa dikatakan jelek,"

Katanya di dalam hati.

"Bagi ma-nusia, yang terutama adalah watak dan kedua barulah kecerdasan otak, sedang bagus atau jeleknya muka adalah pengasih Tuhan yang tak dapat di-ubah-ubah. Leng Kouwnio adalah seorang pintar, kenapa ia tak dapat melihat kenyataan ini?"

Melihat badan si nona yang kurus kering, ia jadi merasa sangat kasihan.

"Leng Kouwnio,"

Katanya dengan mendadak.

"Aku ingin mengajukan suatu permintaan, tapi aku tak tahu, apakah kau sudi meluluskannya atau tidak. Aku tak tahu, apakah aku mempunyai kehormatan yang begitu besar."

Leng So terkejut.

"Apa...?"

Tanyanya. Dari belakang, Ouw Hui dapat melihat, bahwa kedua daun kuping dan pinggir pipi si nona ber-warna merah.

"Kau dan aku sama-sama sudah tak mempunyai ayah bunda,"

Katanya.

"Aku ingin meng-angkat saudara dengan kau. Apakah kau setuju?"

Dalam sekejap paras si nona yang tadi berwarna merah berubah menjadi pucat. Ia tertawa terbahak-bahak seraya berkata.

"Bagus! Kenapa tak setuju? Aku sungguh merasa sangat beruntung mempunyai kakak seperti kau."

Ouw Hui merasa jengah karena ia merasa, bahwa suara si nona mengandung nada mengejek.

"Aku mengajukan usul itu dengan setulus hatiku,"

Katanya dengan suara perlahan.

"Siapa kata kau main-main?"

Kata Leng So sembari meloncat turun dari tunggangannya.

la segera mengambil beberapa ranting pohon yang kecil untuk digunakan sebagai hio dan lantas saja berlutut di pinggir jalan.

Melihat begitu, Ouw Hui pun segera turut berlutut.

Sesudah bersembahyang kepada Tuhan, mereka saling memberi hormat de-ngan berlutut.

"Menurut kata orang mengangkat saudara adalah Pat-pay-cie-kauw (perhubungan dari delapan kali berlutut), maka itu kita harus berlutut delapan kali,"

Kata Leng So.

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.... Hm! Aku yang men-jadi adik, harus berlutut dua kali lebih banyak."

Benar saja, ia segera menambahkan dua kali berlutut.

Sesudah menjalankan upacara mengangkat saudara, mereka sama-sama berbangkit.

Melihat per-kataan dan gerakgerik Leng So yang agak luar biasa, diam-diam Ouw Hui merasa kikuk.

"Mulai dari sekarang, aku memanggil kau Jiemoay (adik perempuan yang kedua),"

Katanya.

"Hm! Kau jadi Toako,"

Kata si nona.

"Tapi kenapa kita tidak mengucapkan sumpah, seperti senang susah bersama-sama?"

"Dalam mengangkat saudara, yang penting adalah kecintaan di dalam hati,"

Jawab Ouw Hui.

"Ber-sumpah atau tidak adalah sama saja."

"Oh begitu!"

Kata si nona sembari menyemplak tunggangannya yang lalu dilarikan dengan keras.

Sampai magrib mereka melangsungkan perjalanan itu tanpa mengucapkan suatu apa.

Malam itu, selagi mereka mencari rumah penginapan di suatu kota, mendadak muncul seorang pelayan hotel yang menghadang di depan kuda mereka.

"Apakah tuan OuwToaya?"

Tanyanya.

"Mari-lah menginap di rumah penginapan kami."

"Bagaimana kau tahu?"

Tanya Ouw Hui dengan perasaan heran.

"Siauwjin sudah menunggu di sini lama sekali,"

Jawabnya sembari tertawa.

Sehabis berkata begitu, ia segera mengantarkan Ouw Hui dan Leng So ke sebuah hotel yang besar dan mewah.

Dua kamar yang paling bagus, makanan dan minuman yang paling baik sudah disediakan untuk mereka, sedang semua pelayan melayani dua tamu itu dengan penuh perhatian.

Dengan perasaan heran, Ouw Hui menanya seorang pelayan, siapa yang sudah mengatur itu semua.

"Siapakah yang tak mengenal Ouw Toaya dari Gie-tong-tin!"

Kata pelayan itu sembari tertawa.

Keesokan paginya, pengurus hotel itu menolak pembayaran mereka sembari membongkok-bong-kok.

Ia memberitahukan, bahwa sudah ada lain orang yang membayarnya dan ia tak berani menerima uang Ouw Hui.

Dengan begitu, Ouw Hui hanya bisa memberi persen kepada beberapa pelayan.

Beruntun beberapa hari, mereka mendapat peng-alaman yang sama.

Pada hari keempatnya, sesudah berangkat dari sebuah rumah penginapan, Leng So berkata.

"Toako, sesudah memperhatikan beberapa hari, aku mendapat kenyataan, bahwa sama sekali kita tidak dikuntit orang. Kemungkinan satu-satu-nya ialah kita didahului seseorang yang mengatur segala apa dan melukiskan romanmu. Sekarang, menurut pendapatku, paling baik kita menyamar dan memperhatikan segala apa dari pinggir. Barang-kali saja dengan berbuat begitu, kita bisa mengorek rahasia ini."

"Bagus!"

Kata Ouw Hui dengan girang.

"Sia-satmu sungguh bagus."

Setiba mereka di sebuah pasar, mereka lalu membeli beberapa stel pakaian, sepatu dan topi dan kemudian berganti pakaian di luar kota yang sepi.

Dengan menggunakan rambutnya, Leng So mem-buat sebuah kumis palsu sehingga, sesudah memakai kumis, Ouw Hui kelihatan seperti seorang yang berusia kira-kira empat puluh tahun, sedang si nona sendiri, yang mengenakan jubah panjang dan topi, seperti juga seorang pemuda kurus.

Pe-nyamaran itu bagus sekali dan mereka saling rae-mandang sembari tertawa besar.

Selanjutnya di pasar, mereka menukarkan kuda mereka dengan keledai, sedang Ouw Hui sendiri membeli sebatang huncwee (pipa panjang).

Di waktu magrib, mereka tiba di kota Kong-sui.

Begitu masuk ke dalam kota, di tepi jalan sudah menunggu dua orang pelayan hotel yang matanya memperhatikan setiap orang yang berlalu lintas.

Ouw Hui merasa geli, karena mengetahui bahwa mereka sedang menunggunya.

Bersama Leng So, ia segera pergi ke sebuah rumah penginapan dan meminta kamar.

Melihat dandanan mereka yang sederhana, pengurus hotel tidak memandang sebelah mata dan memberikan kepada mereka dua kamar samping yang sempit.

Sesudah siang berganti malam, dua pelayan yang menunggu di pinggir jalan itu, pulang dengan uring-uringan dan memberi laporan kepada pengu-rus rumah penginapan, bahwa orang yang ditunggu tak kelihatan muncul.

Ouw Hui yang ingin mengorek keterangan, segera memanggil seorang antaranya untuk diajak bicara.

Baru saja ia coba memancing-mancing, ke-tika di luar mendadak terdengar tindakan kuda, disusul masuknya beberapa orang.

"Aha!"

Kata pelayan itu dengan girang.

"Ouw Toaya sudah datang!"

Ia segera tinggalkan Ouw Hui dan berlari-lari ke luar untuk menyambut "Ouw Toaya".

Karena kepingin tahu, Ouw Hui juga segera ke luar dari kamarnya dan pergi ke ruangan tengah.

Sementara itu, di antara suara ramai terdengar teriakan seorang pelayan.

"Bukan Ouw Toaya! Orang-orang dari piauwkiok!"

Hampir berbareng dengan itu, dari luar ma-suklah seorang pegawai piauwkiok yang membawa sebuah bendera piauwkiok.

Ouw Hui terkejut melihat bendera itu yang berlatar kuning dengan sulaman kuda terbang dari benang hitam.

Ia ingat, bahwa bendera itu adalah lambang Hui-ma Piauw-kiok, perusahaan Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong yang telah menemui ajalnya di Siang-kee-po.

Siapakah yang sekarang menge-palai piauwkiok itu?

Bendera itu sudah kumal dan pegawai yang mencekalnya juga seorang tua yang berbadan lemah, sehingga dapatlah ditarik kesim-pulan, bahwa selama beberapa tahun Hui-ma Piauwkiok tidak mendapat kemajuan apa-apa.

Sesaat kemudian, dari luar berjalan masuk lagi seorang lelaki yang bertubuh kekar dan berparas keren, sedang mukanya penuh jerawat.

Ouw Hui segera mengenali, bahwa ia itu adalah Cie Ceng, murid Ma Heng Kong.

Di belakang Cie Ceng ber-jalanlah seorang wanita muda yang menuntun dua anak laki-laki.

Wanita tersebut bukan lain daripada Ma It Hong, yang masih tetap cantik, hanya muka-nya kelihatan lesu dan mencerminkan penderitaan.

Kedua anak itu, yang baru berusia kira-kira empat tahun, tampak mungil sekali dan roman mereka sangat mirip satu dengan yang lain, sehingga mung?

kin sekali mereka adalah saudara kembar.

"Ibu, aku lapar,"

Kata yang satu.

"Sebentar,"

Kata sang ibu dengan suara per-lahan.

"Sesudah ayah mencuci muka, kita makan beramai-ramai."

"Kalau begitu mereka sudah menikah dan sudah mempunyai anak,"

Kata Ouw Hui di dalam hatinya.

Sebagaimana diketahui, di waktu Ouw Hui ditang-kap oleh Siang Lootay dan kemudian dihajar oleh Siang Po Cin.

Ma It Hong pernah berusaha untuk menolong dirinya.

Kejadian itu sering diingat oleh Ouw Hui dengan rasa terima kasih.

Jika bukan berada dalam penyamaran, ia tentu sudah menghampiri dan menegur kenalan lama itu.

Pada jaman itu, rumah-rumah penginapan bia-sanya tak berani berlaku sembarangan terhadap orang-orang piauwkiok.

Maka itu, walaupun kereta piauwyang dilindungi Hui-ma Piauw-kiok tak lebih dari sebuah dan pakaian para pegawainya pun butut sekali, pengurus hotel tetap melayani mereka dengan sikap hormat.

Begitu mendengar, bahwa kamar-kamar kelas satu sudah terisi semua, Cie Ceng mengerutkan kedua alisnya.

Baru saja ia mau membuka mulut, satu pegawai piauwkiok muncul dari ruangan belakang sembari berkata.

"Dua kamar besar yang meng-hadap ke selatan masih kosong. Kenapa kau kata sudah tak ada kamar kosong lagi?"

"Harap tuan sudi memaafkan,"

Kata si pengurus hotel sembari tertawa.

"Dua kamar itu sudah di-pesan orang, mungkin sekali akan digunakan malam ini."

Sebagai orang yang hidupnya tak begitu berun-tung, Cie Ceng gampang sekali naik darah.

Mendengar keterangan si pengurus hotel, ia segera mengangkat tangan dan paras mukanya berubah gusar.

Tapi, sebelum ia mengumbar nafsu, Ma It Hong sudah menarik ujung bajunya seraya berkata.

"Sudahlah! Kita hanya menginap semalam. Guna apa cerewetcerewet?"

Cie Ceng yang selalu mengindahkan isterinya, tak berani bergerak lebih jauh.

Sesudah mengawasi pengurus hotel itu dengan mata melotot, ia segera mengikut isterinya ke sebuah kamar yang letaknya di sebelah barat.

"Pembayaran mengantar piauw ini ada sangat kecil dan supaya tidak menjadi rugi, kita harus berlaku hemat,"

Kata Ma It Hong sembari menarik tangan kedua puteranya.

"Dengan mengambil kamar ini kita bisa menghemat sedikit."

"Perkataanmu memang benar,"

Kata Cie Ceng.

"Aku hanya merasa mendongkol melihat lagak an-jing-anjing itu yang sama sekali tidak memandang orang."

Harus diketahui, bahwa sesudah Ma Heng Kong binasa di Siang-kee-po, Cie Ceng dan Ma It Hong segera menikah dan mereka berdua mewarisi Hui-ma Piauw-kiok.

Akan tetapi, baik dalam hal ke-pandaian maupun mengenai nama, Cie Ceng masih kalah jauh dari gurunya.

Di samping itu, ia berwatak terus terang dan beradat berangasan, sehingga dalam tiga empat tahun, beberapa kali ia "membentur tembok".

Hanya berkat usaha isterinya, baru ba-haya-bahaya itu dapat diatasi.

Dengan begitu, usaha Hui-ma Piauw-kiok lantas saja jadi merosot dan mereka tak mendapat kepereayaan lagi untuk meng-antar piauw yang besar.

Kali ini, seorang saudagar ingin mengirimkan sejumlah perak ke kota Po-teng, di propinsi Titlee.

Karena jumlah uang itu hanya sembilan ribu tahil dan jika diserahkan kepada piauwkiok besar, ongkosnya terlalu mahal, maka tugas itu lalu diserahkan kepada Hui-ma Piauwkiok.

Sedari bermula, kedua suami isteri itu selalu mengantar piauw bersama-sama.

Kali ini, karena tidak mempunyai orang yang dapat dipereaya, maka It Hong mengambil keputusan untuk membawa juga dua puteranya.

Ia menganggap, bahwa jumlah uang yang begitu kecil tak akan menarik perhatian dan perjalanan itu bisa dilalui tanpa bahaya.

Sesudah mengawasi kereta piauw itu, Ouw Hui pergi ke kamar Leng So.

"Jie-moay,"

Katanya.

"Kedua suami isteri itu adalah kenalan lama."

Sehabis berkata begitu, dengan ringkas ia menuturkan peng-alamannya di Siang-kee-po.

"Biarlah besok saja kita menegur mereka di jalan yang sepi,"

Kata si nona. Ouw Hui tak menjawab, ia seperti sedang memikirkan apaapa.

"Jika kita menegur di jalan yang sepi, apakah kau khawatir mereka akan menerka kita peram-pok?"

Tanya Leng So sembari tertawa. Ouw Hui juga turut tertawa.

"Hm!"

Katanya.

"Piauw yang begitu kecil tak berharga untuk Ouw Toa-cee-cu (Cee-cu berarti kepala rampok) turun tangan sendiri. Bagaimana pendapat Thia Jie-cee-cu?"

Mendengar kakaknya berkelakar, Leng So tertawa geli. Sesaat kemudian, paras mukanya berubah sungguh-sungguh.

"Jika tak salah, mereka berdua kosong kantongnya,"

Katanya.

"Apakah tak baik kita memberikan mereka sedikit uang?"

Ouw Hui tertawa terbahak-bahak.

Ia memang mempunyai niatan begitu.

Apa yang tengah di-pikirannya, adalah cara bagaimana hadiah itu harus diberikan, supaya tak sampai menyinggung pera-saan suami isteri Cie Ceng.

Malam itu, sesudah bersantap, Ouw Hui segera beristirahat di kamarnya sendiri.

Kira-kira tengah malam, di atas genteng mendadak terdengar suara luar biasa.

Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, Ouw Hui mempunyai panca indera yang lebih tajam dari manusia biasa.

Meskipun sedang pulas, suara itu sudah cukup untuk menyadarkannya.

Dengan cepat ia bangun dan turun dari pembaringan.

Ia mengetahui, bahwa di atas genteng itu terdapat dua orang, yang sesudah bertepuk tangan dengan per-lahan, segera melompat turun ke bawah.

"Siapakah manusia yang bernyali begitu besar, seolah-olah di tempat ini tiada manusianya?"

Tanyanya kepada dirinya sendiri.

Dengan sebuah jarinya ia segera melubangkan kertas jendela dan mengintip ke luar.

Ia melihat, bahwa dua orang yang mengenakan jubah panjang tanpa bersenjata, sedang menuju ke pintu sebuah kamar yang menghadap ke selatan.

Begitu masuk, mereka segera menyalakan lampu.

"Ah, kalau begitu mereka bukan orang jahat,"

Kata Ouw Hui di dalam hatinya.

Tapi baru saja ia mau merebahkan diri di pem-baringan, mendadak terdengar bunyi diseretnya ka-sut.

Ternyata, yang menyeret kasut adalah pelayan hotel yang menghampiri pintu kamar dan berteriak.

"Siapa? Kenapa tengah malam buta tak masuk dari pintu luar dan turun seperti bangsat?"

Ia mendorong pintu itu dan kakinya melangkah ke dalam. Tiba-tiba terdengar teriakan.

"Aduh!"

Disusul terpentalnya tubuh pelayan itu yang jatuh ngusruk di luar kamar.

Dengan serentak semua tamu mendusin dari tidurnya.

Salah seorang dari dua tamu yang mengenakan jubah panjang itu, berdiri di tengah pintu.

"Atas perintah Kee Kong Ong Toace-cu, malam ini kami datang ke sini untuk merampas piauw,"

Ia berteriak.

"Yang kami cari adalah Cie Piauwtauw dari Huima Piauw-kiok. Orang lain yang tak ada sangkut pautnya lebih baik masuk ke kamar masing-masing dan tidur saja dengan tenang."

Mendengar perkataan itu, Cie Ceng dan Ma It Hong menjadi gusar berbareng khawatir.

Mereka merasa heran, bagaimana kedua penjahat itu bisa mempunyai nyali begitu besar untuk menghina orang di kota Kong-sui yang tidak kecil.

Kesombongan si penjahat adalah kejadian yang belum pernah di-alami oleh mereka.

"Aku, si orang she Cie, berada di sini,"

Kata Cie Ceng dengan suara nyaring.

"Siapakah sebenarnya Jie-wie?"

Orang itu tertawa bergelak-gelak.

"Serahkan sembilan ribu tahil perak itu dan benderamu kepada tuan besarmu,"

Katanya.

"Guna apa kau menanya-nanya namaku? Biarlah kita bertemu pula di sebelah depan."

Sehabis mengancam ia bertepuk tangan dua kali dan kemudian, bersama kawannya, ia melompat ke atas genteng.

Cie Ceng mengayun tangannya dan dua piauw bajanya menyambar ke atas.

Orang yang melompat belakangan menyambut piauw itu dengan tangannya dan kemudian balas menimpuk.

Berbareng dengan muncratnya lelatu api, kedua piauw itu rae-nancap di batu hijau yang terletak kira-kira satu kaki dari tempat berdirinya Cie Ceng.

Timpukan itu yang tepat dan bertenaga besar berada di atas kepandaian Cie Ceng.

Kedua penjahat itu lalu tertawa terbahak-ba-hak, menyusul mana terdengar derap kaki kuda yang dilarikan ke jurusan utara.

Sesudah mereka pergi jauh, barulah semua orang berani ke luar lagi dari kamar mereka dan berunding berkelompokkelompok.

Ada yang mengusulkan supaya pengurus hotel segera melaporkan kejadian ini kepada pembesar negeri, ada yang membujuk supaya Cie Ceng mengambil jalan lain dan sebagainya.

Cie Ceng sendiri tidak mengeluarkan sepatah kata.

Sesudah mencabut senjata rahasianya yang menancap di batu, ia segera kembali ke kamarnya.

Dengan suara perlahan ia segera berunding dengan isterinya.

Mereka yakin, bahwa kedua orang itu bukan penjahat sembarangan.

Tapi, jika benar mereka adalah orang-orang Kang-ouw yang kenamaan, kenapa mereka raau merampas piauw yang ber-jumlah begitu kecil?

Biarpun mengetahui, bahwa jalan di depan penuh bahaya, menurut kebiasaan, piauw yang sudah ke luar tak boleh berbalik pulang.

Jika mereka berbuat begitu, sama saja mereka gulung tikar.

"Sahabat-sahabat di Hekto (jalanan hitam, yaitu perampok) makin lama semakin tidak memandang orang,"

Kata Cie Ceng dengan suara mendongkol.

"Apakah kita tak boleh mencari sesuap nasi dengan melakukan pekerjaan begini? Sudahlah! Biar aku mengadu jiwa dengan mereka? Kedua anak kita...."

"Dengan kawanan Hekto, kita sama sekali tidak mempunyai permusuhan,"

Kata sang isteri dengan suara menghibur.

"Urusan ini hanyalah urusan uang. Aku merasa, mereka bukan maui jiwa kita. Tak apa jika kita membawa terus kedua anak ini."

Mulutnya berkata begitu, tapi hatinya sudah merasa sangat menyesal.

Memang tak pantas ia membawa-bawa dua anak itu berkelana dalam dunia Kang-ouw yang penuh bahaya.

Dengan mengintip di jendela, Ouw Hui dan Leng So sudah melihat dan mendengar segala apa.

Diam-diam mereka merasa heran, karena di sepanjang jalan, mereka telah menemui kejadian-kejadian luar biasa.

Sesudah menyamar, mereka sendiri berhasil meloloskan diri dari perhatian orang, tapi tak dinyana, mereka segera berpapasan dengan peristiwa aneh lain yang mengenai Hui-ma Piauw-kiok.

Besok paginya, orang-orang Hui-ma Piauw-kiok segera berangkat, dengan diikuti oleh Ouw Hui dan Leng So dari sebelah belakang.

Melihat gerak-gerik kedua orang itu yang terus menguntit di belakang, semakin lama Cie Ceng jadi semakin bereuriga.

Ia menduga, bahwa mereka itu adalah kawanan penjahat.

Beberapa kali, ia mene-ngok ke belakang dan mengawasi gerak-gerik mereka dengan sorot mata gusar, tapi Ouw Hui dan Leng So pura-pura tak melihatnya.

Di waktu rom-bongan piauw-hang mengaso sebentar untuk makan tengah hari, Ouw Hui dan Leng So pun segera turun dari tunggangannya untuk makan ransum kering, sembari beristirahat juga.

Di waktu magrib, mereka sudah tak jauh lagi dari Bu-sengkwan.

Tiba-tiba, berbareng dengan terdengarnya tindakan kuda, dari jauh muncul dua penunggang kuda yang mendatangi dengan kece-patan luar biasa.

Dalam sekejap saja mereka sudah melewati kereta piauw-hang dan setelah lewat di samping Ouw Hui dan Leng So, mereka menge-luarkan tertawa nyaring yang panjang.

Dilihat ro-mannya dan didengar suaranya, mereka adalah kedua orang yang semalam mengacau di rumah pe-nginapan.

"Sebentar, setelah mereka berbalik dan menge-jar dari belakang, mereka tentu akan segera turun tangan,"

Pikir Ouw Hui. Baru saja ia berpikir begitu, dari depan sekonyongkonyong mendatangi pula dua penunggang kuda, yang gerakgeriknya gesit sekali.

"Heran, sungguh heran!"

Kata Ouw Hui dalam hatinya.

Berjalan belum cukup satu li, untuk ketiga kalinya, dua penunggang kuda mendatangi pula dari sebelah depan, disusul lagi oleh dua penunggang kuda lain.

Melihat kejadian itu, Cie Ceng yang sudah nekat, berbalik tertawa.

"Sumoay,"

Katanya.

"Sepan-jang keterangan Suhu, jika penjahat kelas satu ingin merampas piauw kelas satu, barulah ia mengirim enam orang. Hari ini, kawanan perampok bukan mengirim enam, tapi delapan orang, seolah-olah yang mau dirampok bukan sembilan ribu tahil pe-rak, tapi sembilan ratus laksa atau sembilan ribu laksa tahil!"

Ma It Hong juga merasa heran dan semakin besar pula keheranannya, semakin besar pula ke-khawatirannya.

"Sebentar jika keadaan sudah memaksa, paling penting kita harus kabur dengan membawa dua anak ini,"

Katanya kepada sang suami.

"Sembilan ribu tahil tidak seberapa besar. Kita masih dapat menggantinya."

"Apakah nama baik Suhu boleh dirusak dengan begitu saja oleh kita yang tak punya guna?"

Tanya Cie Ceng dengan suara keras.

"Kau harus memikirkan keselamatan kedua anak ini,"

Kata It Hong dengan suara duka.

"Mulai dari sekarang, biarlah kita hidup melarat sebagai petani. Jangan kita meneruskan pekerjaan yang berbahaya ini."

Baru saja ia berkata begitu, tiba-tiba dari sebelah belakang terdengar gemuruh tindakan kuda.

It Hong menengok ke belakang dan melihat, bahwa di antara debu yang mengepul itu, delapan pe-nunggang kuda sedang mendatangi dengan kece-patan kilat.

Sesaat kemudian, sebatang anak panah yang mengeluarkan bunyi nyaring lewat di atas kepalanya.

Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, adalah bahwa dari sebelah depan kembali mendatangi delapan penunggang kuda lain.

"Dilihat gelagatnya, mungkin sekali mereka sebenarnya ingin mencari kita,"

Kata Ouw Hui.

"Tian Kui Long?"

Leng So menegas.

"Mungkin,"

Jawabnya.

"Bisa jadi penyamaran kita kurang sempurna dan sudah dikenali mereka."

Disaat itu, delapan orang yang berada di belakang dan delapan orang lagi yang berada di depan sudah menahan kuda mereka, sehingga rombongan Cie Ceng, Ouw Hui dan Leng So tergencet di tengah-tengah.

Cie Ceng meloncat turun dari tung-gangannya sembari menghunus golok.

Ia menyoja seraya berkata.

"Aku adalah Cie...."

Baru saja ia mengucapkan tiga perkataan itu, seorang tua dari barisan depan mendadak mengeprak kudanya yang lantas saja menerjang ke arah Cie Ceng.

Begitu berhadapan, tanpa mengeluarkan sepatah kata, si tua mengangkat senjatanya yang berbentuk aneh dan menghantam muka Cie Ceng.

Ouw Hui dan Leng So mengawasi dari pinggir dengan siap sedia.

Senjata orang tua itu berbentuk seperti cangkul, batangnya bengkok-bengkok ba-gaikan ular.

Ouw Hui belum pernah melihat senjata begitu, ia berpaling kepada Leng So dan menanya.

"Senjata apakah itu?"

Sebelum si nona menjawab, seorang perampok yang berdiri di belakang sudah mendahului dengan suara mengejek.

"Bocah tua! Biarlah aku yang mem-beritahukannya. Senjata itu diberi nama Lui-cin-tong (Pacul geledek)."

"Kepandaian si tua tidak seberapa,"

Kata Leng So dengan suara tawar.

"Lui-cin-tong tidak diguna-kan bersama-sama dengan San-tian-tui (Pusut kilat)."

Perampok yang tadi mengejek terkesiap dan tak berani membuka suara lagi. la melirik kepada Leng So dengan perasaan heran karena "bocah"

Kurus itu ternyata mengenal juga San-tian-tui.

Harus diketahui, bahwa orang tua itu adalah Suheng (kakak seperguruan yang lebih tua) perampok tersebut dan ia sendiri menggunakan sen-jata san-tian-tui.

Sesuai seperti yang dikatakan Leng So, guru mereka menggunakan San-tian-tui dan Lui-cin-tong dengan berbareng.

Kedua senjata itu, yang satu untuk menyerang, sedang yang lain untuk membela diri, lihay bukan main dan mempunyai banyak sekali perubahan yang tidak bisa diduga-duga.

akan tetapi, karena yang satu pendek dan yang lain panjang, sukar sekali orang bisa menggunakan kedua senjata itu dengan berbareng.

Sesudah be-lajar sekian banyak tahun, mereka berdua pun ha-nya bisa menggunakan salah satu antaranya saja.

Ketika itu, perampok tersebut masih menyembunyi-kan senjatanya di dalam tangan baju dan ia jadi terkejut bukan main ketika mendengar perkataan Leng So.

Tentu saja ia tidak mengetahui, bahwa guru bocah"

Itu adalah tok-chiu Yo-ong yang berpe-ngetahuan sangat luas.

Jika sedang bereakap-cakap dengan muridnya yang disayang, Bu-tin Thaysu sering menceritakan hal ikhwal berbagai cabang per-silatan di berbagai daerah.

Itulah sebabnya, menaapa sekali melihat, Leng So sudah mengetahui, bahwa senjata aneh itu adalah Lui-cin-tong yang harus digunakan bersamasama San-tian-tui.

Sementara itu, si kakek sudah menyerang dengan senjatanya yang menderu-deru, seolah-olah bunyi guntur.

Ilmu golok Cie Ceng juga tak lemah, tapi diserang secara begitu, dengan cepat ia jatuh di bawah angin.

Melihat begitu, kawanan perampok itu lantas mulai mengeluarkan kala-kata mengejek.

"Daripada Hui-ma Piauw-kiok lebih baik menggunakan nama Hui-kauw (Anjing terbang) Piauw-kiok,"

Kata seorang.

"Eh, anak tolol!"

Kata yang lain.

"Melindungi sembilan ribu tahil perak saja kau tak mampu. Lebih baik kau bunuh diri saja dengan menggebuk kepala dogolmu dengan sepotong tahu."

"Sin-kun Bu-tek (si Tinju malaikat yang tak ada tandingannya) Ma Loopiauwtauw mempunyai nama yang sangat besar,"

Kata perampok yang ketiga.

"Sungguh sayang nama guru-gurumu telah dirusak oleh kau, si bocah goblok!"

"Menurut penglihatanku, kepandaian isterinya lebih tinggi sepuluh kali daripada dia,"

Ejek penjahat ke empat.

Mendengar cacian-cacian itu, Ouw Hui merasa heran, karena kawanan penjahat itu, ternyata tahu hal ikhwal Cie Ceng seterang-terangnya.

Mereka bukan saja tahu nama dan gelar gurunya, tapi juga tahu berapajumlah uangpiauw dengan tepat.

Selain itu, sedang Cie Ceng disikat habishabisan, mereka sedikit pun tidak menyinggung nama baik Ma Heng Kong atau Ma It Hong.

Malahan, kata-kata mereka masih mengandung penghormatan terhadap Ma Loopiauwtauw dan puterinya.

Walaupun tak mengenal ilmu silat Lui-cin-tong, tapi dengan sekali melihat saja, Ouw Hui sudah mengetahui, bahwa orang tua itu mempunyai ke-pandaian yang cukup tinggi.

"Heran, sungguh he-ran,"

Pikirnya.

"Meskipun belum boleh dihitung sebagai ahli silat kelas satu, kakek itu sudah pasti bukan orang sembarangan. Dilihat dari gerak-gerik kawanan penjahat itu, tak bisa jadi mereka sengaja datang untuk merampas sembilan ribu tahil perak. Tapi, jika mau dikatakan, bahwa mereka adalah kaki tangan Tian Kui Long yang dikirim untuk mencegat aku, kenapa mereka merasa perlu untuk mengganggu Cie Ceng?"

Sementara itu, Ma It Hong memperhatikan jalan pertempuran itu dengan hati berdebar-debar.

Begitu bergebrak, ia mengetahui, bahwa suaminya bukan tandingan si tua.

Ia ingin memberi bantuan, tapi tiada gunanya, karena kawan si kakek tentu akan segera turun tangan dan kedua puteranya bisa diculik oleh kawanan penjahat itu.

Maka itulah, ia hanya bisa mengawasi dengan rasa khawatir ber-campur takut.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, tiba-tiba senjata Lui-cintong itu menyambar Cie Ceng dengan kecepatan luar biasa.

Trang!

dan golok Cie Ceng terbang ke tengah udara.

"Celaka!"

Ma It Hong berseru.

Melihat serangannya berhasil, orang tua itu membarengi dengan suatu tendangan ke lutut Cie Ceng, yang dengan cepat segera loncat menyingkir.

Sesaat itu, golok Cie Ceng tengah melayang turun.

Salah seorang perampok mengangkat pedangnya dan memapaki golok itu.

Sekali lagi terdengar suara trang!dan golok Cie Ceng menjadi dua potong!

Belum puas dengan pertunjukan itu, si perampok menyabet lagi dua kali dengan pedangnya dan dua potongan golok itu yang belum turun ke muka bumi, berubah jadi empat potong!

Penjahat itu ternyata bukan saja memiliki pedang mustika, tapi gerakan-nya pun cepat luar biasa.

Dengan serentak, kawan-k a wan nya bersorak-sorai.

Ouw Hui terkesiap.

Ia yakin, bahwa kawanan penjahat itu bukan semata-mata bertujuan merampas piauw, tapi ingin mempermainkan Cie Ceng.

Ia mengetahui, bahwa penjahat yang bersenjatakan pedang saja sudah lebih dari cukup untuk merubuhkan Cie Ceng dan Ma It Hong.

Kenapa mereka harus datang dengan enam belas orang?

Setiap orang itu, yang kelihatannya berkepandaian tinggi, seolah-olah kucing yang sedang mempermainkan tikus.

Cie Ceng yang sudah nekat segera menyerang mati-maiian, tanpa memperdulikan keselamatan-nya sendiri.

Tapi si tua yang berkepandaian lebih tinggi dan memiliki senjata yang lebih panjang, dengan nuidah dapat memunahkan seranganserangan iiu.

Sesudah bertempur lagi beberapa jurus, lutut Cie Ceng kena terpapas Lui-cin-tong musuhnya dan lanlas saja mengucurkan darah.

Sesaat kemudian, puudak kirinya terpacul dan selagi ia terhuyung, si tua menendang, sehingga tak ampun lagi ia ter-guling di atas tanah.

Dengan sebelah kaki menginjak tubuh lawan-nya yang sudah terlentang, si tua berkata sembari tertawa tawar.

"Aku tak menginginkan jiwamu. Cu-kup jika aku mengambil kedua biji matamu!"

Cie Ceng takut tereampur gusar, tapi ia sudah tak berdaya. Dadanya ditasanya sesak dan ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

"Sahabat!"

Ma It Hong berteriak.

"Jika kalian mau merampas piauw, ambillah! Dengan kalian, kami sama sekali tidak mempunyai permusuhan. Kenapa kalian berlaku begitu kejam?"

"Ma Kouwnio,"

Kata penjahat yang bersenjata pedang.

"Kau tak usah mencampuri urusan orang lain."

"Apa?"

Ma It Hong menegas.

"Urusan orang lain? Dia suamiku!"

"Kami justru berpendapat, bahwa dia tak pantas mempersakiti Ma Kouwnio yang cantik dan pintar,"

Kata si kakek.

"Penasaran itu tak bisa tidak diberes-kan."

Ouw Hui dan Leng So terpeianjat.

Semakin lama kejadian itu semakin sukar dimengerti.

Te-ranglah sudah, bahwa kawanan perampok itu mau mencampuri urusan rumah tangga orang.

Soal penasaran apakah yang perlu dibereskan oleh mereka?

Benar-benar gila!

Sementara itu, si tua sudah mengangkat sen-jatanya dan menghantam mata kanan Cie Ceng.

Ma It Hong berteriak sembari melompat untuk coba menolong suaminya, tapi ia segera dicegat oleh seorang penjahat yang bersenjata tombak.

"Ayah!"

Teriak dua anak itu yang lantas mem-buru ke arah ayah mereka.

Pada detik yang bagi Cie Ceng sangat berbahaya itu, mendadak terlihat berkelebatnya sebuah ba-yangan.

Si tua terkesiap, pergelangan tangannya kesemutan dan...

tahutahu, Lui-cin-tongnya sudah tak berada lagi dalam tangannya!

Dengan hati men-celos ia mengangkat kepalanya dan mendapat ke-nyataan, bahwa bayangan tadi, -yang bukan lain daripada Ouw Hui -sudah duduk pula di punggung keledainya, dan tangannya memegang Lui-cin-tong, senjata orang tua itu!

Itulah kejadian yang benar-benar di luar duga-an, sehingga semua perampok itu jadi kesima.

Mereka bengong tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Sesaat kemudian, sesudah dapat menetapkan hati, baru mereka berteriak-teriak sambil mendekati Ouw Hui dengan sikap mengancam.

"Sahabat!"

Bentak si tua yang senjatanya diram-pas.

"Siapa kau? Perlu apa kau mengganggu kami?"

"Aku hanya seorang yang biasa melakukan pe-kerjaan tanpa modal,"

Jawabnya.

"Aku sudah penuju kepada sembilan ribu tahil perak, kawalan Hui-ma Piauw-kiok ini. Tapi tak dinyana, di tengah jalan muncul enam belas Thia Kauw Kim yang ingin minta bagian. Coba kau pikir. Apakah hal itu tak mem-bikin aku jadi mendongkol?"

"Hm!"

Gerendeng si tua.

"Sahabat, janganlah berpura-pura. Beritahukanlah namamu dan mak-sudmu yang sebenarnya."

Sesudah terlolos dari lobang jarum, Cie Ceng memeluk kedua puteranya, sedang isterinya berdiri di sampingnya sembari mengawasi Ouw Hui tanpa berkejap.

Bukan main herannya Ma It Hong, karena semula ia menduga, bahwa Ouw Hui dan Leng So adalah konco-konco kawanan perampok itu.

Sementara itu, sesudah mengusap-usap kumis-nya dan menghisap huncweenya, Ouw Hui berkata dengan suara tenang.

"Baiklah, jika kau ingin aku bicara secara terus terang. Sin-kun Butek Ma Heng Kong adalah sutecku (adikseperguruan). Maka itu, sebagai paman, tak dapat tidak aku harus men-campuri urusan Sutitku."

Perkataan itu sangat mengejutkan hati Ma It Hong.

"Dari mana datangnya Supeh ini?"

Tanyanya di dalam hati.

"Selama hidupnya ayah belum pernah memberitahukan hal ini kepadaku. Di samping itu, orang ini masih jauh lebih muda daripada ayah. Mana bisa ia menjadi Supeh?"

Sementara itu, sebisa-bisanya, Leng So mena-han rasa geli di dalam hatinya.

Melihat lagak kakak-nya, hampir-hampir ia tertawa terpingkal-pingkal.

Tetapi di samping itu, ia juga merasa kagum, karena dalam menghadapi musuh-musuh tangguh, Ouw Hui masih bisa bersikap begitu tenang malah masih bisa membanyol.

Si tua mengeluarkan suara di hidung dan ber-kata.

"Benarkah tuan menjadi Suheng Ma Heng Kong? Tidak, tak mungkin! Usia tuan masih begitu muda. Kami pun belum pernah mendengar, bahwa Ma Loopiauwtauw mempunyai kakak seperguru-an."

"Dalam rumah tangga perguruanku, tingkatan tua atau muda dihitung dari mulainya masuk ber-guru dan bukan dari perbedaan usia,"

Ouw Hui menerangkan.

"Ma Heng Kong bukan seorangyang terlalu besar, sehingga sama sekali tak perlu aku meminjam atau menyalahgunakan namanya."

Harus diketahui, bahwa kebiasaan yang disebutkan Ouw Hui itu, adalah kebiasaan yang sering terjadi dalam suatu rumah perguruan atau cabang persilatan.

Maka itu, si tua lantas saja melirik Ma It Hong untuk menyelidiki sikap nyonya itu dan kemudian kembali menengok kepada Ouw Hui seraya berkata.

"Bolehkah aku mengetahui she dan nama tuan yang mulia!"

"Suteeku bernama Ma Heng Kong dan bergclar Sin-kun Butek (si Tinju malaikat yang tak ada tandingannya),"

Jawabnya dengan tenang.

"Aku ber-nama Gu Keng Tian (Kerbau Meluku Sawah) dan bergelar Sin-kun Yoe-tek (si Tinju malaikat yang ada tandingannya)."

Siapa pun mengetahui, bahwa jawaban itu adalah ejekan belaka.

Jika bukan sudah merasakan kelihayan pemuda itu dan senjatanya sudah di-rampas secara begitu luar biasa, siang-siang si tua sudah turun tangan.

Dengan adatnya yang bera-ngasan, begitu mendengar ejekan Ouw Hui, ia tak dapat bersabar lagi dan sembari membentak keras, ia segera menerjang.

Ouw Hui menggentak les keledainya untuk menyingkir dari serangan itu dan mengebaskan cangkul rampasannya.

Hampir berbareng dengan itu, si tua merasakan suatu benda diletakkan di dalam tangannya dan...

Iho!

Benda itu, ternyata bukan lain daripada senjatanya sendiri.

Bahwa ia sudah bisa mendapatkan kembali Lui-cin-tongnya adalah kejadian yang seharusnya menggirangkan.

Akan tetapi, bagi si tua, kejadian itu benar-benar sangat memalukan, dan ia kelihatan seperti kesima.

Sementara itu, kawan-kawannya yang meng-anggap bahwa ia sudah merampas kembali senjatanya dari tangan Ouw Hui, bersorak-sorai dengan serentak.

"Tie Toako! Kau benar-benar lihay sekali!"

Mereka memuji. Muka si tua menjadi hijau kekuning-kuningan, karena malu dan mendongkol, tapi ia tak berani mengumbar natsunya, sebab mengetahui, bahwa lawannya berkepandaian terlalu tinggi.

"Tuan,"

Kata-nya sembari menahan amarahnya.

"Katakanlah! apa-kah sebenarnya maksud kedatanganmu ini?"

"Bukan aku, tapi pihakmu yang harus memberi penjelasan lebih dulu,"

Kata Ouw Hui.

"Kedua Su-titku ini telah hidup rukun sebagai suami isteri. Mereka sama sekali tak punya sangkut paut dengan kamu semua. Tapi kenapa kamu justru ramai-ramai mencegat mereka di sini dan mengatakan, bahwa kamu ingin membereskan suatu ketidakadilan?"

"Tak berguna tuan mencampuri urusan orang lain,"

Kata si orang she Tie.

"Dengan tulus hati aku menasehatkan, supaya tuan menyingkir dari sini. Sebaiknya, kita masing-masing mengambil jalan sen did."

Mendengar perkataan itu, belasan penjahat lain menjadi tereengang. Mereka merasa heran, mengapa si tua -yang biasanya berangasan -bisa berlaku begitu sabar. Ouw Hui lantas saja tertawa besar.

"Bagus!"

Ia Krseru.

"Pendapatmu cocok sekali dengan pen--.. Si tua mundur tiga tindak untuk kemudian membentak.

"Sahabat! Jika kau tak mau mendengar nasehat baik, terpaksa aku harus meminta peng-ajaranmu."

Sehabis berkata begitu, ia mengangkat Lui-cin-tongnya dan memasang kuda-kuda.

"Tidak,"

Kata Ouw Hui.

"Berkelahi satu lawan satu kurang menarik, berkelahi dengan terlalu ba-nyak orang juga kurang sedap, karena kalang kabut. Begini saja. Aku, Gu Keng Tian, akan melawan tiga orang dari pihakmu."

Sehabis berkata begitu, dengan huncweenya ia menuding seorang penjahat yang bersenjata pedang dan Sutee si orang she Tie.

Yang bersenjata pedang itu, berparas cakap dan sombong sekali kelihatannya, ia lantas saja tertawa terbahak-bahak.

"Benar-benar kau temberang!"

Kata-nya. Si tua sendiri sudah merasa, bahwa dengan bertempur satu lawan satu, mungkin sekali ia akan dirubuhkan. Maka itu, mendengar tantangan Ouw Hui, ia menjadi girang sekali.

"Liap Hiantee, Siang-koan Sutee, dia sendiri yang mencari mampus dan ia tak boleh menyalahkan orang lain,"

Katanya.

"Marilah! Kita bertiga melayani dia main-main sedikit!"

Orang she Liap itu yang merasa sungkan untuk bertiga mengerubuti seorang, lantas saja berkata.

"Tie Toako, kau sendiri sudah lebih dari cukup untuk merobohkan bocah sombong itu. Begini saja. Biarlah kalian Suhengtee (kakak beradik seper-guruan, yaitu si orang she Tie dengan adik seperguruannya) yang turun tangan, agar kita bisa menyaksikan Iihaynya Lui-tan-kauw-co (Lui-cin-tong dan santian-tui)."

Kawan-kawannya lantas saja ber-tepuk tangan untuk menyatakan setuju. Tapi Ouw Hui menggeleng-gelengkan kepala-nya.

"Aku tak menyangka, bahwa orang muda ber-nyali begitu kecil,"

Katanya dengan nada mengejek.

"Tak berani maju dalam pertempuran besar. Sa-yang! Sungguh sayang!"

Alis si orang she Liap berkerut dan parasnya berubah gusar. la melompat turun dari tunggangan-nya dan berkata dengan suara perlahan.

"Tie Toako, harap kau suka mundur. Biarlah siauwtee yang menghajar manusia sombong itu."

"Boleh,"

Kata Ouw Hui sembari tertawa.

"Sedikit pun aku tak merasa keberatan, jika kau bisa menghajar Sin-kun Yoetek Gu Keng Tian. Akan tetapi, sebelum bertempur, kita harus membuat perjanjian. Jika aku, Gu Keng Tian kalah, aku tak akan rewel-rewel lagi. Kau mau membunuh diriku, boleh lantas membunuh. Tapi bagaimana jika kau, saudara kecil, yang kalah?"

"Jangan rewel!"

Orang she Liap itu membentak "Jika aku kalah, kau boleh berbuat sesukamu."

"Tak berani aku berlaku begitu,"

Kata Ouw Hui sambil menyengir.

"Aku hanya ingin memohon belas kasihanmu, agar kamu selanjutnya tidak menggang-gu lagi kedua Sutitku yang sudah hidup beruntung sebagai suami isteri. Tak usah kamu memperduli-kan, apakah ada perkara penasaran atau tidak."

Orang she Liap itu menjadi gemas sekali, dan ia tak dapat bersabar lagi. Sambil mengebaskan pedangnya, ia membentak.

"Ya, sudah! Aku setuju!"

Ouw Hui menyapu semua perampok dengan sepasang matanya yang tajam.

"Tahan!"

Katanya.

"Tunggu dulu, aku masih mau bicara sedikit. Sa-habat-sahabat! Apakah perkataan saudara kecil she Liap ini juga disetujui oleh kamu semua beramai-ramai? Jika dia kalah, apakah kamu setuju untuk tidak membereskan perkara penasaran yang tadi disebut-sebut pihakmu?"

Sampai di sini, Leng So tak bisa menekan lagi rasa gelinya.

Ia tertawa terpingkal-pingkal sembari menekap mulutnya sendiri dengan kedua-dua ta-ngannya.

Bagaimana ia tak jadi tertawa?

Ouw Hui yang pantas dipanggil "saudara kecil"

Sekarang memainkan peranan sebagai seorang tua dengan ku-misnya yang keren dan menggunakan istilah "saudara kecil"

Terhadap orang lain.

Cara-cara kawanan perampok itu juga tak kurang lucunya.

Mereka mengatakan, bahwa pernikahan antara Ma It Hong dan Cie Ceng adalah seperti "bunga indah yang ditancapkan di tahi kerbau"

Dan oleh karenanya, mereka mengangkat senjata untuk membereskan kejadian penasaran itu, seolah-olah Ma It Hong sudah dipaksa untuk menikah dengan Suhengnya.

Sekarang Ouw Hui menyelak.

Mereka melarang Ouw Hui mencampuri urusan orang lain, urusan "membereskan perkara penasaran ini" , dan dengan lagaknya yang lucu, Ouw Hui mengembalikan katakata mereka sendiri.

Kawanan perampok itu tahu, bahwa si orang she Liap bukan saja berkepandaian tinggi, tapi senjatanya pun sebatang pedang mustika yang bisa memutuskan segala jenis logam.

Maka itu, mereka sudah memastikan, bahwa dalam beberapa jurus saja, si kumis pendek akan dapat dirobohkannya.

"Hei, Kumis!"

Bentak seorang antaranya.

"Jika kau bisa mendapat kemenangan, tanpa mengusap pantat lagi kami akan segera berlalu dari tempat ini. Kami berjanji untuk mengurungkan niat kami, hen-dak membereskan urusan penasaran itu."

"Bagus!"

Teriak Ouw Hui.

"Aku pereaya, bahwa mulutmu adalah mulut manusia, bukannya mulut pantat! Bersiaplah!"

La mengebaskan huncweenya dan melompat turun dari keledainya.

Melihat ia mengebaskan hucwee itu, semua penjahat menduga, bahwa Ouw Hui akan meng-gunakannya sebagai senjata.

Tapi di luar dugaan, sesudah meloncat turun dari tunggangannya, ia memasukkan pipa itu ke dalam tangan bajunya.

Melihat begitu, belasan perampok itu lantas saja bersenyum mengejek.

"Ke luarkan senjatamu!"

Si orang she Liap mem-bentak.

"Kerbau yang meluku sawah, harus mengguna-kan luku,"

Kata Ouw Hui sembari menyengir.

"Tie Toa-cee-cu! Senjatamu agak mirip dengan luku. Bolehkah aku meminjamnya sebentar?"

Sembari berkata begitu, ia mengangsurkan tangannya ke arah si tua. Orang she Tie itu -yang sudah merasa jeri -buru-buru mundur dua tindak.

"Tidak!"

Ia mem-bentak.

"Tak nanti kau bisa menggunakan senjataku ini!"

Ouw Hui terus mengangsurkan tangannya dan berkata pula.

"Hayolah! Kau rugi apa, jika aku meminjamnya sebentar saja?"

Mendadak, mendadak saja ia melompat dan...

cangkul senjata orang tua itu sudah pindah ke dalam tangannya!

Kekagetan si tua tak terkira, bagaikan ia melihat dirinya disambar halilintar.

Ia meloncat setombak lebih, mukanya pucat pias lagi menyeram-kan, seperti muka setan.

Harus diketahui, bahwa ilmu merampas senjata dengan tangan kosong adalah ilmu luar biasa yang telah diciptakan dan disempurnakan leluhur Ouw Hui, yaitu Hui-thian Ho-lie (si Rase yang terbang di langit).

Dimasanya, selama ia mengabdi kepada Cwan-ong Lie Cu Seng, dengan mengandalkan ilmu itu, entah berapa banyak senjata musuh telah dapat dirampasnya.

Bahwa leluhur Ouw Hui itu mendapat gelar "Huithian Ho-lie", sehagian besar juga berkat ilmu yang istimewa itu.

Sedang Ouw Hui tengah merebut Lui-cin-tong itu, orang she Liap itu menikam dari belakang.

Dengan gesit Ouw Hui mengegos sembari mem-balas menyerang dengan senjatanya yang baru saja dirampasnya.

Si orang she Tie mengawasi dengan mulut ter-nganga dan mata terbelalak, karena ilmu silat yang digunakan Ouw Hui sedikit pun tidak berbeda dengan ilmu Lui-cin-tong-hoatnya.

Si orang she Siang-koan yaitu Sutee si tua, lebih besar lagi keheranannya.

Dengan kupingnya sendiri, ia mendengar pertanyaan Ouw Hui yang tidak mengetahui nama senjata Suhengnya.

>>Bagaimana ia sekarang bisa bersilat dengan Lui^ein-tong-hoat?

Mereka berdua^tentu saja tidak mengetahui latar belakangnya.^tPertama Ouw Hui adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan sudah dapat menyelami intisari ilmu silat.

Walaupun banyak pecahannya; pada hakekatnya, dasar berbagai ca-bang persilatan tidak berbeda banyak.

Kedua, Ouw Hui adalah seorang yang cerdas luar biasa.

Tadi, ia sudah menyaksikan pertempuran antara si orang she Tie dan Cie Ceng.

Sekali melihat saja, ia sudah bisa mencatat berbagai pukulan yang digunakan oleh si tua itu di dalam otaknya.

Meskipun gerakangerakannya mirip dengan pukulan-pukulan si orang she Tie, akan tetapi tenaga dan perubahan-per-ubahan yang terdapat dalam pukulan Ouw Hui berbeda sangat jauh dari pelbagai gerakan si orang tua.

Si orang tua she Liap tidak berani memandang enteng lagi dan kemudian menyerang dengan Tat-mo Kiam-hoat yang tulen.

Dalam pertempuran itu, Ouw Hui berada di pihak yang rugi, karena ia menggunakan senjata yang tak biasa digunakan olehnya dan ia bertempur dengan meniru ilmu silat si orang she Tie.

Maka itu, melihat serangan-serangan yang sangat lihay itu, ia menjadi agak gentar dan karenanya ia segera mengasah otak untuk men-cari jalan ke luar.

"Aku pereaya, bahwa enam belas orang ini adalah lawan berat semua,"

Pikirnya.

"Jika mereka beramai-ramai meluruk, biarpun aku dan Jie-moay bisa meloloskan diri, tapi Cie Ceng sekeluarga tentu akan mengalami celaka. Jalan satu-satunya adalah berdaya supaya mereka tak bisa turun tangan."

Selagi ia berpikir, pedang musuh mendadak menyambar ke arahnya secepat kilat.

Trang!

sebagian Lui-cin-tongnya sudah terpapas putus!

Baca Juga: Pendekar Bego 2

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 22

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert