Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Rase Terbang 8

Eps 8 Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung

Baca online Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung

Cersil Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung.

Tadi, melihat kepandaian Ouw Hui dalam merampas Luicin-tong si orang she Tie, hati kawanan perampok itu sudah kebat-kebit.

Tapi sekarang, mereka bersorak-sorai dan si orang she Liap jadi semakin bersemangat, sehingga serangannya sema-kin bertubi-tubi.

Ouw Hui menjadi bingung juga.

Pukulan-pukulan yang "dicangkoknya"

Dari si tua sudah hampir habis digunakan dan jika pertempuran itu ber-langsung terus secara begitu kedoknya akan segera terlucut.

Mendadak, otaknya yang cerdik mendapat sua-tu pikiran baik.

Ia mengangkat Lui-cin-tongnya dan sengaja memapaki pedang musuh.

Trang!

sebagian senjata itu terpapas pula.

"Bagus!"

Kata Ouw Hui.

"Benar-benar kau tak memberi muka kepada Tie Toaya. Dengan memutuskan senjata sahabat yang kesohor, kau sung-guh tak memandang orang!"

Si orang she Liap terkejut, karena ia merasa bahwa perkataan Ouw Hui ada benarnya juga.

Tapi, di lain saat, pedangnya kembali mengutungkan sebagian cangkul itu, sehingga yang masih dipegang Ouw Hui hanyalah sepotong besi pendek.

"Yang hanya bisa menggunakan Lui-cin-tong dan tak mam-pu menggunakan San-tian-tui, adalah tolol,"

Kata Ouw Hui dengan suara nyaring, sembari menikam dengan potongan besi itu yang digunakan sebagai pusut.

Mendengar Ouw Hui mengaku bisa menggunakan San-tiantui, si orang she Siang-koan menjadi kaget.

Akan tetapi, setelah melihat, bahwa serang-an-serangannya bukan berdasarkan Tui-hoat (ilmu silat pusut), lantas saja ia tertawa besar.

"Eh, ilmu San-tian-tui apakah itu yang kau gunakan?"

Ia ber-teriak.

"Ilmumu salah, ilmuku yang benar,"

Kata Ouw Hui sembari menikam berulang-ulang.

Sebenar-benarnya, dalam ilmu silat dengan senjata, ia hanya mahir menggunakan golok.

Serangan-serangannya dengan potongan besi itu hanyalah sandiwara belaka, sedang yang benar-benar lihay adalah tangan kirinya.

Sembari mengempos semangatnya, ia mendesak musuhnya dengan menggunakan ilmu silat tangan kosong dari keluarga Ouw, sehingga dalam sekejap, orang she Liap itu sudah terdesak dan terpaksa berkelahi sembari mundur.

Lewat bebe-rapa jurus lagi, sekonyong-konyong mereka mengeluarkan teriakan "ah!"

Dan meloncat mundur dengan berbareng.

Semua perampok terperanjat, karena pedang si orang she Liap sudah pindah ke tangan Ouw Hui!

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ouw Hui memungut sebuah batu besar dengan tangan kirinya dan mencekal pedang itu dengan tangan kanannya.

Sembari menandalkan ujung pedang di tanah ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi.

"Pedang ini tajam luar biasa,"

Katanya sembari mesem.

"Sekarang aku mau mencobanya dengan batu ini. Coba lihat, patah atau tidak?"

Pedang yang mana juga dalam dunia ini, tak bisa tak patah jika dihantam dengan batu sebesar itu.

Si orang she Liap, yang sayang kepada senjatanya seperti menyayangi jiwanya sendiri, lantas saja pu-cat mukanya.

"Tahan!"

Ia berseru.

"Sudahlah! Aku mengaku kalah!"

"Pedang ini bagus sekali,"

Kata Ouw Hui.

"Sekali dihantam belum tentu patah."

"Jika tuan ingin, ambillah,"

Kata orang she Liap itu sembari meringis.

"Tapi janganlah dirusak. Pe-dangku itu adalah pedang mustika."

Sampai disitu Ouw Hui sudah merasa cukup. Di luar dugaan semua orang, ia mengangkat senjata itu dengan kedua tangannya dan mengangsurkannya kepada si orang she Liap.

"Siauwtee telah berlaku kurang ajar sekali, harap kau suka memaafkan,"

Katanya.

Orang she Liap itu hampir-hampir tak pereaya kepada mata dan kupingnya sendiri.

Ia yakin, bahwa jika Ouw Hui membatalkan niatnya untuk merusak-kan pedang itu, ia tentu akan mengambilnya untuk dirinya sendiri.

Orang Rimba Persilatan manakah yang tak kepingin memiliki senjata mustika itu?

Ia berdiam sejenak, kelihatannya ia masih sangsi dan sesaat kemudian baru ia menerimanya dengan kedua tangan.

"Terima kasih! Terima kasih!"

Katanya dengan suara gemetar. Ouw Hui tahu, bahwa ia sekarang tak boleh menyianyiakan waktu. Ia meloncat ke punggung keledainya dan menyoja kepada kawanan perampok itu.

"Atas belas kasihan saudara-saudara, dengan jaian ini siauwtee menghaturkan terima kasih,"

Katanya sembari berpaling kepada Cie Ceng dan Ma It Hong seraya berseru.

"Hayo berangkat!"

Kedua suami isteri itu yang belum memperoleh kembali seantero semangat mereka, buru-buru mengeprak kuda masing-masing mengiringi kereta piauw, diikuti oleh Ouw Hui dan Leng So dari belakang.

Kawanan perampok itu kedengaran be-runding dengan suara perlahan, tapi mereka tidak mengejar.

Dengan cepat mereka sudah melalui belasan li dan hati mereka pun mulai menjadi lega.

Tiba-tiba Cie Ceng menahan kudanya dan berkata.

"Aku benar-benar sangat berterima kasih untuk perto-longan tuan. Akan tetapi kenapa tuan mengaku sebagai Supehku?"

Mendengar pertanyaan yang bernada menegur itu, Ouw Hui tersenyum dan menjawab.

"Aku hanya iseng-iseng mengatakan begitu. Harap saudara tak berkecil hati.

"Tuan memakai kumis palsu dan setiap orang dipanggil saudara kecil,"

Kata Cie Ceng.

"Menurut pendapatku, dengan begitu, tuan terlalu meman-dang rendah kepada semua manusia di kolong la-ngit."

Ouw Hui kaget. Bagaimana orang kasar itu bisa mengetahui rahasianya? "Mungkin isterinya yang telah dapat menemu-kan kelemahan penyamaranmu,"

Bisik Leng So.

Ouw Hui mengangguk sembari melirik Ma It Hong.

Apakah nyonya itu juga tahu, siapa ia sebenarnya?

Melihat sikap Ouw Hui, Cie Ceng jadi semakin mendongkol.

Sebagai orang yang mempunyai isteri cantik, ia selalu merasa cemburu.

Semenjak Ouw Hui menguntit dari belakang, ia sudah menganggap, bahwa pemuda itu mengandung niat kurang baik.

Sesudah tadi diperniainkan oleh kawanan perampok, ia menjadi nekat dan was-was, sehingga jalan pikirannya berbeda dengan orang sehat.

Baginya, kecuali keluarganya sendiri, semua manusia pada saat itu adalah musuh.

Maka itu, lantas saja ia membentak dengan suara keras.

"Tuan mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Jika kau ingin meng-ambil jiwa Cie Ceng, hayolah!"

Sehabis berkata begitu, ia membungkuk dan mencabut golok salah seorang pegawainya.

Sesudah itu, sembari melin-tangkan senjatanya, ia memandang Ouw Hui dengan mata berapi.

Ouw Hui yang tak dapat menebak jalan pikiran Cie Ceng, menjadi gugup.

Baru saja ia ingin mem-berikan penjelasan, tiba-tiba di sebelah belakang terdengar bunyi kaki seekor kuda, yang larinya cepat seperti terbang.

Dalam sekejap, kuda itu dan penunggangnya sudah lewat di pinggir kereta piauw.

Ouw Hui melirik dan ia lantas saja mengenali, bahwa dia itu adalah salah seorang dari enam belas perampok tadi.

"Hayo kita menyingkir,"

Leng So berbisik.

"Tak perlu kita mencampuri urusan orang lain dan coba-coba membereskan segala urusan penasaran."

Di luar dugaan, kata-kata "mencampuri urusan penasaran"

Sangat menusuk hati Cie Ceng. Dengan mata merah, ia mengeprak kudanya dan mengang-kat senjatanya.

"Suko!"

Teriak sang isteri.

"Lagi-lagi kau mem-perlihatkan kesembronoanmu!"

Cie Ceng terkejut dan menahan kudanya.

Melihat lagak orang kasar itu, Leng So mendongkol bukan main.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mengedut les keledainya dan menyabet keledai Ouw Hui dengan cambuknya, sehingga pada saat itu juga, kedua binatang itu kabur sekeras-kerasnya.

"Ma Kouwnio!"

Teriak Ouw Hui sembari mene-ngok ke belakang.

"Apakah kau masih ingat Siang-kee-po?"

Ma It Hong terperanjat dan paras mukanya lantas saja berubah merah.

"Siang-kee-po.... Siang-kee-po..."

Katanya dengan suara perlahan.

"Tentu saja aku ingat Siang-kee-po."

Di depan matanya lantas saja terbayang kejadian itu, belasan tahun yang lampau. tapi yang terbayang di depan matanya bukanlah bayangan Ouw Hui, hanya seorang lain yaitu si kongcu "mahal"

Yang cakap dan lemah lembut sifatnya. Sesudah melalui satu li lebih, Leng So meng-hentikan keledainya.

"Toako,"

Katanya.

"Kawanan perampok itu mengejar lagi."

Ouw Hui pun mengetahui hal ini. Ia sudah mendengar berderapnya kaki belasan ekor kuda.

"Jika sampai bertempur, kita yang berjumlah sedikit tentu tak dapat mengalahkan mereka,"

Kata Ouw Hui.

"Siapa sebenarnya mereka itu?"

"Menurut pendapatku, mereka bukan perampok biasa,"

Kata si nona.

"Dalam peristiwa ini tersembunyi banyak hal aneh,"

Kata Ouw Hui.

"Aku masih tak bisa menembus tabir rahasia yang menyelubunginya."

Di saat itu, angin meniup dari arah barat dan sayup-sayup mereka mendengar bunyi senjata ber-adu.

"Sudah tersusul!"

Kata Ouw Hui.

"Kurasa Ma Kouwnio tak akan diganggu,"

Kata Leng So.

"Orang she Cie itu pun agaknya tak akan dibinasakan. Tapi dia pasti akan merasakan siksa-an."

Alis Ouw Hui berkerut.

"Aku sungguh tak mengerti,"

Katanya.

Pada saat itu, lapat-lapat terdengar derap kaki kuda yang menuju ke arah barat laut.

Dengan kupingnya yang sangat tajam?

Ouw Hui mengetahui, bahwa orang-orang itu tidak mengambil jalan besar.

Di antara derap kaki kuda, ia juga mendengar jeritan seorang wanita.

Ouw Hui melarikan tunggangannya ke atas sebuah bukit kecil dan memandang ke arah itu.

Segera juga ia melihat, bahwa dua penjahat yang masing-masing mendukung seorang anak kecil, sedang mengaburkan tunggangan mereka, dikejar It Hong yang menjerit-jerit.

Karena jaraknya terlalu jauh, Ouw Hui tak bisa menangkap apa yang di-teriakan nyonya itu.

Sekonyong-konyong kedua penjahat itu meng-angkat senjata mereka dan membelokkan tunggangan mereka ke kiri dan ke kanan untuk ke-mudian kabur terus secara berpencar.

It Hong ter-tegun.

Kedua anak itu sama dicintainya dan sekarang ia tak tahu, ke mana ia harus mengejar.

Darah Ouw Hui lantas saja mendidih.

"Jahat betul kawanan bangsat itu!"

Ia menggerendeng. Ia berpaling ke arah Leng So dan berteriak.

"Jie-moay, mari!"

Ia mengetahui, bahwa karena jumlah musuh jauh lebih besar, tindakannya itu penuh dengan bahaya.

Akan tetapi, sebagai seorang ksatria tulen, mana bisa ia melihat kejadian itu dengan berpeluk tangan?

Tanpa berpikir panjang-panjang lagi, ia segera mengaburkan tunggangannya, diikuti oleh Leng So dari belakang.

Akan tetapi, karena jaraknya terlalu jauh dan keledainya pun kalah cepat dari tunggangan si penjahat, maka ia hanya dapat menemukan Ma It Hong yang sedang berdiri laksana patung.

Begitu besar kedukaan si nyonya, sehingga ia tak bisa menge-luarkan air mata dan hanya mengawasi ke arah depan dengan mata membelalak.

"Ma Kouwnio, jangan jengkel,"

Kata Ouw Hui dengan suara kasihan.

"Aku pasti akan membantu kau merampas kembali kedua anak itu."

Mendengar suara Ouw Hui, It Hong agaknya terkejut dan buru-buru ia menekuk sebelah lutut-nya untuk berlutut.

"Jangan begitu!"

Ouw Hui mencegah.

"Mana Cie-heng?"

"Selagi aku sendiri mengejar anakku, ia telah ditawan musuh,"

Jawabnya. Di saat itu, Leng So sudah tiba di situ. Ia mendekati Ouw Hui seraya berkata.

"Di sebelah utara ada musuh."

"Musuh?"

Ouw Hui menegas sambil menengok ke jurusan utara.

Benar saja, jauh-jauh sudah ke-lihatan debu mengepul dan dari bunyi kaki kuda yang dapat didengar, agaknya mereka berjumlah kira-kira delapan atau sembilan orang.

"Tunggangan musuh-musuh itu adalah kuda-kuda yang sangat bagus,"

Kata Ouw Hui.

"Jika kita melarikan diri, kita pasti akan tersusul. Jalan satu-satunya adalah mencari tempat bersembunyi."

Tapi di sekitar tempat itu sama sekali tak terdapat kemungkinan untuk menyembunyikan diri. Daerah itu adalah tanah datar yang tandus. Hanya di sebelah barat laut terdapat sebuah hutan kecil.

"Kita pergi ke situ saja,"

Kata Leng So sembari menuding dengan cambuknya. Ia berpaling kepada Ma It Hong dan berkata pula.

"Tungganglah kuda!"

"Terima kasih, nona,"

Kata It Hong sambil melompat ke atas punggung kuda.

"Kedua matamu benar tajam,"

Memuji si nona.

"Dalam bahaya, kau masih bisa mengenali, bahwa aku adalah seorang wanita yang menyamar sebagai pria."

Demikianlah dengan menggunakan dua ekor kuda, mereka bertiga lantas saja menuju ke hutan itu.

Baru saja melalui kurang lebih satu li, mereka telah dilihat oleh kawanan perampok.

Sembari ber-teriak-teriak, belasan penjahat yang berada di sebelah utara, lantas saja mengejar mereka.

Ouw Hui kaburkan tunggangannya dan masuk lebih dulu ke dalam hutan.

Ia mendapat kenyataan, bahwa di bagian belakang hutan itu terdapat enam tujuh rumah kecil.

Ia yakin, bahwa jika lari terus mereka tentu akan kecandak, sehingga jalan satu-satunya adalah coba menyembunyikan diri di salah satu rumah itu.

Dengan cepat Ouw Hui larikan kudanya ke arah kelompok rumah-rumah itu.

Ia mendapat kenyataan, bahwa di antara gubuk-gubuk itu terdapat satu rumah batu yang agak besar.

Ia menghampiri rumah batu itu dan mendorong pintunya yang lantas saja terbuka.

Dalam rumah itu terdapat satu nenek yang sedang rebah di pembaringan dalam keadaan sakit.

Melihat masuknya Ouw Hui, si nenek terkejut bu-kan main dan mengeluarkan teriakan lemah.

Sementara itu, Leng So mendapat kenyataan, bahwa gubuk-gubuk tersebut tidak berjendela, sehingga bukan tempat tinggalnya manusia.

Ia mem-buka pintunya salah satu gubuk yang ternyata terisi rumput.

Dalam gubuk yang satunya lagi, ia men-dapatkan tumpukan batu-batu.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Leng So merogoh saku dan meng-ambil bahan api yang lalu dinyalakan dan kemudian digunakan untuk menyulut gubuk-gubuk yang berada di situ.

Sesudah itu, ia menarik tangan Ma It Hong dan lalu masuk ke rumah batu.

Gubuk-gubuk tersebut terpisah tiga empat tom-bak dari rumah batu.

Tak usah dikatakan lagi, dengan terjadinya kebakaran, mereka yang berada dalam rumah batu akan merasakan hawa panas.

Akan tetapi, dengan demikian musuh jadi dapat ditahan untuk sementar waktu dan di samping itu, dengan musnahnya semua gubuk, kawanan perampok itu tak mempunyai tempat lagi untuk menyem-bunyikan diri dan akan lebih banyak menghadapi kesukaran dalam penyerangannya.

Melihat kepintarannya Leng So, tanpa merasa Ma It Hong memuji.

"Nona, kau sungguh pintar."

Hampir berbareng dengan terbakarnya gubuk-gubuk tersebut, kawanan perampok sudah masuk ke dalam hutan.

Melihat api yang berkobar-kobar, kuda-kuda mereka tak berani menerjang masuk dan mereka terpaksa mengurung kelompok rumah-ru-mah itu dari tempat yang agak jauh.

Sesudah berada dalam rumah batu dan sema-ngatnya terkumpul kembali, Ma It Hong lantas saja ingat kedua puteranya yang diculik oleh kawanan penjahat.

la adalah puteranya seorang Rimba Per-silatan kenamaan dan semenjak kecil telah meng-ikuti mendiang ayahnya berkelana di dunia Kang-ouw yang penuh marabahaya, sehingga hatinya ada banyak lebih kuat dari manusia biasa.

Akan tetapi, oleh karena adanya ikatan kecintaan antara ibu dan anak, pada ketika itu, tanpa merasa, ia mengu-curkan air mata.

Sambil menyusut air mata yang meleleh di kedua pipinya, ia berkata kepada Leng So dengan suara terharu.

"Adik, kau dan aku belum pernah mengenal satu sama lain. Tapi kenapa, dengan menempuh bahaya besar, kau sudah turun tangan untuk menolong diriku?"

Pertanyaan itu memang pantas diajukan.

Harus diketahui, bahwa semua penjahat terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi dan jumlahnya pun besar sekali.

Andaikata ayahnya, Pek-seng Sin-kun Ma Heng Kong, yang menghadapi kejadian itu, biar bagaimana gagah pun, sang ayah pasti tak akan dapat melawan musuh.

Tapi kedua orang itu, yang bukan sanak dan bukan kadang, dengan suka rela sudah menyerbu lautan api untuk menolong keluar-ganya.

Bukankah dengan berbuat begitu, mereka akan mengantarkan jiwa dengan cuma-cuma?

Ia mengetahui, bahwa nama "Sinkun Yoe-tek Gu Keng Tian"

Hanyalah nama samaran untuk meng-ejek kawanan perampok.

Ia juga mengetahui bahwa ayahnya telah mendapat pelajaran silat dari kakek-nya dan ayah itu sama sekali tak mempunyai saudara seperguruan.

Leng So mesem dan sambil menunjuk punggung Ouw Hui, ia menanya.

"Apa kau tak kenal dia? Dia sendiri mengenal kau."

Ketika itu, Ouw Hui sedang mengintip ke luar dari lubang jendela.

Mendengar perkataan Leng So, ia menengok dan tertawa.

Di lain saat, ia memutar badan sambil mengangkat tangannya dan menyam-bui sebatang piauw serta satu Chiucian (panah tangan) yang menyambar masuk dari lubang itu.

Ia nielemparkan kedua senjata rahasia itu di atas lantai dan berkata.

"Sungguh sayang kita tidak membawa senjata rahasia. Tapi sekarang kita bisa meminjam senjata musuh untuk menghantam mereka. Satu, dua, tiga, empat, lima... di sebelah situ, sebelah selatan, sama sekali terdapat sembilan orang."

Ia pergi ke lain jendela dan mengintip pula.

"Satu, dua, tiga... di sebelah utara ada tujuh orang,"

Katanya. 'Hanya sayang, musuh yang di sebelah timur dan barat tak dapat dilihat olehku."

Sehabis berkata begitu, ia memutar badan dan mengawasi ruangan itu.

Mendadak, ia melihat satu dapur batu di satu sudut dan otaknya yang cerdas lantas saja mendapat satu ingatan baik.

Ia meng-hampiri dapur itu dan mengangkat satu kuali besi yang terletak di atasnya.

Dengan tangan kanan mencekal kuping kuali dan tangan kiri memegang tutupan kuali, ia mengeluarkan badan di jendela, lalu menengok ke jurusan timur dan kemudian ke jurusan barat.

Dengan berbuat begitu, separuh badannya yang dicenderungkan ke luar, terbuka untuk serangan senjata rahasia, yang lantas saja menyambar-nyam-bar bagaikan hujan gerimis.

Tapi semua senjata rahasia tak mencapai maksudnya, karena adanya kuali dan tutupannya yang digunakan sebagai ta-meng oleh Ouw Hui.

Serentetan suara nyaring terdengar waktu senjata-senjata rahasia itu menancap di kedua tameng tersebut.

Sesaat kemudian, sembari tertawa terbahak-bahak, ia menarik pula badannya dari jendela itu.

Setelah diperiksa, ditutupan kuali menancap empat lima senjata rahasia, sedang di kuali itu sendiri terapat lima enam buah, yang terdiri dari Thie-lian-cie, panah tangan, pusut, paku dan sebagainya.

Sebagian kuali itu ternyata somplak karena terpukul batu Hui-hong-sek.

"Di depan, di belakang, di kiri dan kanan semuanya ada dua puluh satu orang,"

Kata Ouw Hui.

"Dua bocah itu dan Cie-heng tidak terdapat di antara mereka. Jika dihitung-hitung, dengan dua orang yang melayani Cie-heng dan dua orang pula yang menculik kedua anak itu, sama sekali kita sedang menghadap dua puluh lima musuh."

"Jika mereka itu hanya manusia-manusia yang berkepandaian biasa, kita boleh tak usah takut,"

Kata Leng So.

"Tapi...."

"Jie-moay,"

Kata Ouw Hui.

"Apakah kau tahu asal usulnya orang yang bersenjata Lui-cin-tong?"

"Menurut Suhu, yang menggunakan Lui-cin-tong kebanyakan adalah orang-orang Pek-kee-po di Saypak,"

Leng So menerangkan.

"Tapi coba, Toako, lihatlah yang menggunakan pedang. Ilmu pedangnya terang-terang Kiekee-kiam-hoat (ilmu pedang ke-luarga Kie) dari Ciat-kang timur. Hm! Yang satu dari Saypak, yang lain dari Ciat-kang timur. Toako, apakah kau memperhatikan lagu bicaranya?"

"Benar,"

Celetuk Ma It Hong.

"Ada yang bicara dengan lidah Kwitang. Ada yang dari Ouw Pak, dari Ouw-lam, malah ada juga yang berbicara dengan lagu Shoa-tang dan Shoa-say."

"Tak mungkin ada kawanan perampok yang beranggotakan jago-jago dari begitu banyak tempat, mau turun tangan untuk merampas sembilan ribu tahil perak saja,"

Kata Leng So.

Mendengar kata "hanya sembilan ribu tahil perak", muka Ma It Hong lantas menjadi merah.

Semenjak mula-mula dibentuk, memang belum per-nah Hui-ma Piauw-kiok mengantar piauw yang begitu kecil.

"Sekarang paling baik kita menyelidiki dulu tujuan musuh,"

Kata Ouw Hui.

"Kita harus tahu, apakah mereka mengincar aku dan adikku, atau Ma Kouwnio dan keluarganya."

Ketika baru bertemu, melihat jumlah musuh yang besar, ia menduga, bahwa mereka itu adalah orang-orang Tian Kui Long, tapi sesudah menyaksikan sepak terjang mereka yang hanya memusuhi keluarga Cie Ceng, ia menarik kesimpulan bahwa kawanan perampok itu tidak mempunyai sangkut paut dengan permusuhan antara Biauw Jin Hong dan Tian Kui Long.

"Sudan terang tujuan mereka adalah untuk memusuhi Huima Piauw-kiok,"

Kata It Hong.

"Toako, apakah aku boleh mengetahui shemu yang mulia? Maafkan aku, karena benarbenar aku tak dapat mengenali kau."

Ouw Hui tertawa dan menanggalkan kumis palsunya.

"Ma Kouwnio, apakah kau masih belum ingat?"

Tanyanya sembari tersenyum.

Ma It Hong mengawasi muka itu yang masih memperlihatkan sifat kekanak-kanakan.

Lama juga ia memandangnya.

Samar-samar ia merasa seperti pernah melihat muka itu, tapi entah di mana.

Ouw Hui tertawa^dan berkata.

"Siang Siauwya, aku mohon kau melepaskan A-hui. Jangan meng-aniaya lagi."

It Hong terkesiap. Kedua matanya dibelalak-kan, mulutnya terbuka, tapi ia tak dapat mengeluar-kan sepatah kata. Ouw Hui berkata lagi.

"A-hui sudah digantung terlalu lama, sesungguhnya aku tak tega. Pergilah kau, melepaskan ia dulu. Sesudah itu, boleh kau datang lagi ke sini."

Itulah permohonan Ma It Hong kepada Siang Po Cin!

Sebagaimana diketahui, bertahun-tahun sebelumnya, diwaktu Ouw Hui masih kecil, ia pernah digantung dan dihajar di Siang-kee-po.

Oleh karena merasa kasihan, It Hong telah mengajukan permohonan itu kepada Siang Po Cin, yang sudah tergila-gila kepadanya.

Meskipun ia tak memerlu-kan pertolongan itu, dan sudah dapat melepaskan diri, tapi budi dan kata-kata si nona masih diingat terus oleh Ouw Hui sehingga hari itu.

Besar sekali rasa terima kasihnya dan -walaupun sudah ber-selang sekian tahun -rasa terima kasih itu sedikit pun tak berkurang.

Untuk dua baris perkataan itu, sekarang Ouw Hui rela mempertaruhkan jiwanya guna membalas budi.

Dalam keadaan berbahaya, sebaliknya dari-pada gentar, ia bahkan merasa girang karena pada kesempatan ini, ia bisa berbuat apa-apa untuk seorang wanita yang telah mengasihinya ketika ia sedang menderita hebat.

Mendengar perkataan Ouw Hui, Ma It Hong menjadi sadar.

"A-hui!"

Ia berteriak.

"Aduh! A-hui!"

Iaberdiam sejenak dan kemudian berkata pula dengan suara lebih tenang.

"Ouw Hui, Ouw Toako, putera Tay-hiap Ouw It To!"

Ouw Hui tersenyum dan mengangguk-angguk. Mendengar nama ayahnya, ia kembali teringat akan kejadian-kejadian yang lampau dan hatinya menjadi sangat sedih.

"Ouw Toako,"

Kata pula Ma It Hong dengan terharu.

"Kau... kau... harus menolong kedua puteraku."

"Biar apa pun yang akan terjadi, siauwtee akan berusaha sekuat tenaga,"

Jawabnya dengan tegas. Ia berpaling seraya berkata.

"Inilah adik angkatku, Thia Leng So, Thia Kouwnio."

It Hong membungkuk dan sembari mengawasi gadis itu dengan rasa terima kasih, ia berkata.

"Thia Kouwnio..."

"Drr!"

Pintu terpukul dengan serupa barang berat, sehingga seluruh ruangan itu jadi tergetar.

Untung juga, pintu itu cukup tebal lagi teguh sehingga tidak sampai bobol.

Dengan mengintip dari lubang jendela, Ouw Hui mendapat kenyataan bahwa penggedoran itu telah dilakukan oleh empat penjahat.

Mereka sedang mengayun sebuah batu besar, yang diikatkan pada ujung tambang selaku menggunakan bandringan.

"Jika pintu ini terpukul pecah dan mereka sudah menerobos masuk, pihakku pasti akan diring-kus,"

Katanya di dalam hati.

Diam-diam ia menyiapkan sebatang bun-teng dan panah tangan dalam kedua tangannya.

Sesaat kemudian, empat penjahat itu kembali mengeprak kuda mereka dan menerjang sambil mengayunkan bandringan batu tersebut.

Ketika mereka sudah berada dalam jarak lima enam tombak, Ouw Hui mengayunkan kedua tangannya.

Tanpa bersuara, robohlah dua ekor kuda yang terdepan dengan serentak dan dua penunggangnya turut terguling.

Karena kecelakaan itu, dua kuda yang berada di belakang jadi tersangkut tali bandringan itu dan jatuh terjerunuk.

Masih untung, bahwa dua penunggang itu berkepandaian cukup tinggi, sehingga mereka keburu melompat dan tiba di atas tanah dengan selamat.

Sembari mengeluarkan teriakan kaget, dua orang itu segera memburu untuk memberi pertolongan kepada kawan mereka.

Mereka mendapat kenyataan, bahwa dua buah senjata rahasia menancap da-lam-dalam sampai di otak kedua binatang itu.

Semua perampok kaget bukan main dan mengawasi sembari mengulur lidah.

Senjata rahasia itu dilepaskan dengan Lweekang yang tak dapat diukur bagaimana kuatnya!

Mereka juga mengerti, bahwa yang melepaskan senjata itu, sudah berlaku sangat murah hati.

Jika paku dan panah tangan itu di-tujukan ke dada dua kawan mereka, kedua-duanya tentu sudah tewas.

Dengan sikap ketakutan, mereka buru-buru mundur puluhan tombak, sampai di luar jarak timpukan senjata rahasia.

Kasak-kusuk, dengan suara tertahan merundingkan tindakan selanjutnya.

Dengan timpukannya itu, selain sungkan mem-binasakan orang, Ouw Hui juga mempunyai perhi-tungan lain.

Memang benar, dengan mudah ia bisa mengambil jiwa tiga di antaranya atau keempat-em-patnya semua.

Tapi dengan berbuat begitu, ia akan menanam benih permusuhan besar yang tak mung-kin dibereskan lagi dengan jalan damai, sedang berapa besar kekuatan musuh, belum diketahui dengan jelas.

Di samping itu, ia juga ingat, bahwa kedua putera It Hong berada dalam tangan musuh, sedang nasib Cie Ceng pun belum terang.

Maka, menurut pendapatnya, jalan yang paling baik adalah membereskan persoalan ini secara damai.

Sesudah kawanan itu mundur, Ouw Hui segera memeriksa pintu tadi.

Ia mendapat kenyataan bahwa pintu itu sudah rengat dan pasti akan terbelah, jika terpukul dua tiga kali lagi.

"Ouw Toako, Thia Moay-moay, bagaimana sekarang?"

Tanya It Hong dengan khawatir. Alis Ouw Hui berkerut.

"Apakah di antara mereka, tak seorang juga kau kenal?"

Tanya Ouw Hui.

"Tidak,"

Jawabnya, sembari menggelengkan ke-pala.

"Jika mereka musuh mendiang ayahmu, menga-pa mereka agaknya menghormati ayahmu,"

Kata Ouw Hui.

"Jika benar, bahwa mereka hanya ingrn menyusahkan dirimu dengan merampas kedua anak-mu, apakah gunanya, sedang kau sama sekali tidak mengenal mereka. Lagi pula, selama ini mereka belum pernah mengeluarkan perkataan kurang ajar terhadapmu. Terhadap Cie Toako, memang mereka sangat tak mengenal aturan. Tapi, jika berkawan mereka hanya hendak menyeterukan Cie Toako, perlu apa mereka datang dengan berkawan begitu banyak?"

"Benar,"

Kata It Hong.

"Di antara mereka, yang mana pun bisa merobohkan Suko."

Ouw Hui mengangguk seraya berkata.

"Urusan ini memang sangat mengherankan. Tapi jangan khawatir. Menurut pendapatku, mereka sama sekali tak ingin mencelakakan orang. Juga terhadap Cie Toako, sikap mereka seperti hanya ingin berkela-kar."

Pada saat itu, Ma It Hong teringat kepada perkataan salah seorang penjahat tadi.

"Sekuntum bunga indah ditancap di tahi kerbau."

Mukanya lantas saja menjadi merah.

Sementara itu, Leng So sudah berkenalan dengan wanita penghuni rumah itu dan ia sudah menanak nasi.

Sehabis makan, mereka mengintip dari lubang jendela.

Agaknya kawanan penjahat itu sedang sibuk sekali, mereka mundarmandir ke sana sini, tapi karena teraling pohon-pohon, tak ketahuanlah apa yang sedang dibuat mereka.

Leng So dan Ouw Hui, kedua-duanya berotak cerdas, tapi sekali ini ketajaman otak mereka tak dapat menembuskan tabir rahasia itu.

"Apakah kejadian ini ada sangkut pautnya dengan hadiah yang diberikan kepada Toako?"

Tanya Leng So.

"Entahlah,"

Jawab Ouw Hui. Sesaat kemudian ia berkata pula.

"Daripada tetap berada dalam kabut ini, lebih baik kita keluar terang-terangan. Jika kedua peristiwa ini benar-benar mempunyai hu-bungan, kita bisa bertindak dengan mengimbangi keadaan."

"Baiklah,"

Kata si nona sembari mengangguk. Mereka menghampiri pintu yang lalu dibukanya. Begitu melihat pintu terbuka, kawanan penjahat itu segera maju mendekati dengan berpencar.

"Saudara-saudara!"

Teriak Ouw Hui dengan sua-ra nyaring.

"Jika kalian datang untuk mencari Ouw Hui, Ouw Hui dan adiknya, Thia Leng So, berada di sini. Jangan kalian menyeretnyeret orang yang tidak berdosa."

Hampir berbareng dengan per-kataannya, ia mematahkan huncweenya dan melo-coti semua alat penyamarannya, sedang Leng So pun segera melontarkan topinya, sehingga rambut-nya yang hitam segera terurai di pundaknya.

Semua penjahat terkesiap.

Sedikit pun mereka tidak menduga, bahwa orang yang berkepandaian begitu tinggi hanyalah seorang pemuda yang baru berusia kira-kira dua puluh tahun.

Mereka saling memandang dan untuk beberapa saat, mereka tak dapat mengucapkan sepatah kata.

Tiba-tiba salah seorang memajukan kudanya.

Orang itu, yang muka-nya putih dan tubuhnya tinggi, bukan lain dari pada si orang she Liap yang bersenjatakan pedang.

la mengangkat kedua tangannya untuk mem-beri hormat dan berkata.

"Budi tuan yang sudah memulangkan pedangku, tak bisa kulupakan,"

Kata-nya.

"Urusan hari ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan tuan berdua. Kalian boleh segera berangkat dan dengan jalan ini, aku memberi selamat jalan."

Sembari berkata begitu, ia meloncat turun dari tunggangannya dan menepuk pundak binatang itu, yang lantas lari dan berhenti di depan Ouw Hui.

Dengan demikian, penjahat itu bukan saja tidak merintangi keberangkatannya, tapi ma-lahan menghadiahkan juga seekor kuda yang sangat bagus.

Ouw Hui membalas hormatnya.

"Bagaimana dengan Ma Kouwnio?"

Tanyanya.

"Kedatangan kami ini adalah untuk mengun-dang Ma Kouwnio pergi ke Utara,"

Jawab orang she Liap itu.

"Kami bersumpah, untuk tidak meng-ganggu selembar saja rambut nyonya itu."

"Jika benar kalian bermaksud baik, kenapa mesti mengerahkan barisan yang begini kuat dan menakut-nakuti orang?"

Tanya Ouw Hui, bagaikan menegur. Ia memutarkan badannya dan berteriak.

"Ma Kouwnio! Kedatangan mereka adalah untuk mengundang kau. Apakah kau suka mengikut mereka?"

Ma It Hong segera menghampiri.

"Aku sama sekali tidak mengenal tuan-tuan,"

Katanya.

"Untuk apa kalian mengundang aku?"

"Tentu saja kami tak mengenal kau,"

Kata salah seorang penjahat sembari tertawa.

"Tapi ada yang mengenal kau."

"Mana anakku?"

Teriak It Hong.

"Kembalikan-lah anakku!"

"Ma Kouwnio tak usah khawatir,"

Kata si orang she Liap.

"Kedua puteramu tak kurang suatu apa. Dengan seantero tenaga kami, kami akan melin-dungi mereka. Mana berani kami mengganggu kedua kongcu (panggilan untuk putera orang ber-pangkat atau hartawan) yang tubuhnya berharga berlaksa tail emas?"

Leng So dan Ouw Hui jadi semakin heran.

Semakin lama kawanan penjahat itu menggunakan kata-kata yang semakin menghormat.

Cie Ceng hanyalah seorang piauwtauw miskin, sehingga tak pantas puteranya dipanggil "kongcu yang tubuhnya berharga berlaksa tahil emas."

Tapi muka Ma It Hong sekonyong-konyong menjadi merah.

"Tidak, aku tak mau pergi,"

Katanya.

"Lekas pulangkan kedua anakku!"

Sehabis berkata begitu, tanpa menunggu jawaban, ia memutarkan badannya dan bertindak kembali ke rumah batu itu. Melihat gerak-gerik nyonya itu yang luar biasa, Ouw Hui menjadi semakin curiga.

"Ma Kouwnio,"

Katanya dengan suara nyaring.

"Tak perduli apa yang akan terjadi, aku tak nanti akan berpeluk tangan saja."

"Walaupun berkepandaian tinggi, seorang diri tuan tak akan dapat melawan musuh yang berjumlah besar,"

Kata orang she Liap itu.

"Jumlah kami tak kurang dari dua puluh lima orang. Sebentar malam akan datang lagi bala bantuan."

Ouw Hui pereaya, bahwa jumlah yang disebut-kan orang itu, bukan gertakan belaka.

Tapi sebagai ksatria yang tidak pernah bekerja kepalang tang-gung, di dalam hatinya, sedikit pun tak terdapat niat untuk meninggalkan Ma It Hong.

"Tapi Jie-moay tak perlu berkorban jiwa secara cuma-cuma di ternpat ini,"

Katanya di dalam hati. Dengan berpikir begitu, ia berbisik.

"Jie-moay, naiklah ke atas kuda ini dan segeralah menerjang ke luar. Biarlah aku sendiri yang menolong Ma Kouwnio. Dengan begitu, aku bisa bergerak lebih leluasa."

Leng So mengerti maksud kakaknya, lantas saja ia berkata tegas-tegas.

"Dengan maksud apa orang mengangkat saudara? Apakah bahaya harus diha-dapi bersama-sama, atau masing-masing harus ber-lomba kabur?"

"Kau sama sekali belum pernah mengenal Ma Kouwnio,"

Kata Ouw Hui untuk membujuk.

"Perlu apa kau menghadapi bahaya untuknya? Bagiku memang lain."

Leng So menunduk dan berkata dengan per-lahan.

"Perlu apa aku menghadapi bahaya untuknya? Tapi, apakah kau dan aku juga belum pernah saling mengenal?"

Mendengar kata-kata itu, bukan main terharu-nya Ouw Hui.

Selama hidupnya, belum pernah ada manusia yang berlaku begitu baik terhadapnya, yang rela binasa bersama.

Tentu saja, Peng Sie-siok ada-lah seorang yang bisa berbuat begitu.

Tio Poan San juga bisa berkorban untuk kepentingannya.

(Sung-guh mengherankan, pada saat itu, dalam otaknya berkelebat satu ingatan, bahwa Biauw Jin Hong pun dapat berbuat begitu).

Akan tetapi, dengan be-berapa ksatria itu, ia belum pernah berada dalam kedudukan yang memerlukan pengorbanan orang lain.

Hari ini, di sampingnya terdapat seorang wa-nita muda, yang, tanpa bersangsi sedikit juga, rela mengorbankan jiwanya bersama-sama dengan diri-nya.

Sesudah menunggu beberapa lama tanpa ada tanda-tanda pihak Ouw Hui akan menurut, orang she Liap itu berkata pula.

"Kami beramai tak akan berani mengganggu Ma Kouwnio dan terhadap Jie-wie, kami pun tidak mempunyai maksud kurang baik. Kenapa kalian memaksa hendak menempat-kan diri di tempat berbahaya? Sepak terjang tuan yang sangat mulia, kami sangat hargai. Di hari kemudian, kita tentu mempunyai lain kesempatan untuk bertemu pula. Sekarang ini, paling baik kita berpisahan secara sahabat."

"Apakah kalian bersedia untuk melepaskan Ma Kouwnio?"

Tanya Ouw Hui. Orang she Liap itu menggelengkan kepala. Sebenarnya ia masih ingin membujuk, tapi kawan-ka-wannya sudah naik darah.

"Bocah ini benar-benar tak kenal mampus!"

Berteriak seorang.

"Liap Toa-ko! Tak perlu banyak bicara lagi dengan bocah itu!"

"Inilah yang dinamakan, ada sorga sungkan ke sorga, berbalik mengambil jalanan ke neraka,"

Meng-ejek yang lain.

"Bocah!"

Membentak penjahat yang ketiga.

"Be-rapa tinggi sih kepandaianmu?"

Tiba-tiba satu sinar putih menyambar ke arah Ouw Hui. Orang she Liap itu melompat tinggi dan menangkap senjata rahasia itu yang ternyata adalah sebatang pisau terbang.

"Atas kebaikan tuan, aku menghaturkan banyak terima kasih,"

Kata Ouw Hui.

"Mulai dari sekarang, kita sama-sama sudah tidak berhutang budi lagi."

Sehabis berkata begitu, sembari menarik tangan Leng So, ia masuk ke dalam rumah batu itu dengan tindakan cepat.

Mendadak, kupingnya yang sangat tajam menangkap suara menyambarnya sejumlah senjata ra-hasia.

Cepat bagaikan kilat, ia menutup pintu dan hampir berbareng, terdengar suara merotoknya senjata rahasia yang menancap di pintu itu.

Sembari bersorak sorai, kawanan penjahat lantas saja mendekati pintu.

Ouw Hui mengambil sejumlah senjata rahasia dari atas meja dan kemudian, dari lubang jendela ia menimpuk penjahat yang paling dekat dengan sebatang piauw.

Dia berteriak "aduh!"

Dan piauw itu menancap tepat pada pundaknya. Tapi ternyata penjahat itu berbadan kedot dan bernyali besar.

"Saudara-saudara!"

Ia berteriak.

"Apakah kita masih ada muka untuk pulang kembali, jika hari ini kita tak dapat membereskan satu bocah cilik?"

Kawan-kawannya mengiyakan dan dengan seren-tak, mereka mulai merangsek dari empat penjuru.

Sesaat kemudian, tembok di sebelah timur dan barat tergedor hebat.

Ternyata, karena di kedua bagian rumah itu tidak terdapat jendela, kawanan perampok tak khawatir lagi senjata rahasia dan mereka lalu menggunakan balok untuk coba merubuhkannya.

Ouw Hui yang menjaga di jendela berulang-ulang melepaskan senjata rahasia, sehingga kawanan penjahat yang mengepung di sebelah selatan dan utara pada mengundurkan diri, tapi penggedoran di tembok timur dan barat terus dilangsungkan dengan hebatnya.

Sementara itu, Leng So sudah mengeluarkan lilin Cit-sim Hay-tong dan membagi obat pemudah kepada Ouw Hui, Ma It Hong dan wanita penghuni rumah itu, dengan pesanan supaya, begitu lekas lilin dinyalakan, obat itu dimasukkan ke dalam hidung.

Ia bersiap untuk menyulut lilin, begitu musuh menerobos masuk.

Akan tetapi, ia pun mengetahui, bahwa lilin racun itu tak akan dapat merubuhkan semua musuh yang berjumlah besar.

Ia hanya melakukan apa yang masih dapat dilakukan untuk menjatuhkan musuh sebanyak mungkin.

Apakah dengan bantuan lilin itu mereka akan bisa menerjang ke luar, adalah hal yang ia sendiri tak dapat meramalkan.

Beberapa saat kemudian, dengan satu suara "brak!", tembok di sebelah barat telah berlubang!

Tapi tak seorang pun berani merangsak masuk lebih dulu, sebab mereka semua takuti kelihayan Ouw Hui.

Tembok digedor terus, semakin lama lubang-nya jadi semakin besar dan pada akhirnya, lubang itu tentu akan cukup besar untuk mereka menerobos masuk beramai-ramai.

Ouw Hui jadi bingung.

Otaknya diasah keras dan kedua matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan untuk mencari-cari alat yang bisa diguna-kan untuk menahan musuh.

"Ouw Toako!"

Mendadak terdengar teriakan Leng So.

"Barang ini dapat menolong kita!"

Ia berlutut dan kedua tangannya dimasukkan ke ba-wah pembaringan si nenek yang sedang sakit. Waktu ditarik pulang, kedua tangannya berlepotan kapur.

"Bagus!"

Berteriak Ouw Hui kegirangan.

la merobek jubah panjangnya dan sobekan kain itu lalu digunakan untuk membungkus kapur.

Cepat bagai-kan kilat, ia melompat ke luar dari lubang tembok, meramkan kedua matanya dan lalu menimpuk mu-suh dengan bungkusan kapur itu!

Di lain detik, ia sudah loncat balik ke dalam rumah.

Diserang cara begitu, kawanan perampok yang sedang merundingkan siasat untuk menerjang ma-suk, jadi gelagapan.

Bagaikan halimun kapur putih itu beterbangan di tengah udara dan menyambar masuk ke dalam mata kawanan penjahat itu yang lantas saja menjerit-jerit kesakitan.

Leng So bekerja sebat sekali, ia menyerahkan dua bungkusan kapur kepadanya.

"Bagus!"

Katanya sembari mengambil satu batu besar dari bawah dapur. Dengan tangan kirinya, ia mengangkat tinggi batu itu, lalu mengerahkan tenaga dan melompat ke atas.

"Brak!"

Atap rumah berlubang besar.

Di lain detik, ia sudah meloncat ke luar dari lubang itu dan menghantam kawanan penjahat dengan dua bungkusan kapur.

Hampir berbareng, di luar terdengar jeritan yang ramai.

Leng So bekerja sebat sekali.

Sejumlah bungkusan kapur sudah sedia dan Ouw Hui mengulangi serangannya terhadap musuh yang berada di sebelah selatan dan utara.

Sembari berteriak-teriak dan mencaci maki, kawanan penjahat itu mundur ke dalam hutan.

Enam tujuh orang rusak matanya dan untuk sementara, mereka tak berani mendekati lagi rumah batu itu.

Dengan demikian, kedua belah pihak bertahan di masingmasing tempatnya.

Kawanan penjahat tak berani mendekati rumah itu, sedang Ouw Hui ber-tiga pun tak ungkulan bisa meloloskan diri dari kepungan musuh yang berjumlah banyak lebih besar.

Sesudah mengalami bahaya bersama-sama, Ouw Hui dan Leng So jadi semakin rapat.

Mereka melewati tempo sembari beromong-omong dan ter-tawa-tawa.

Di lain pihak, Ma It Hong kelihatannya sangat berduka dan bingung.

Ia duduk terpekur dan tidak memperdulikan dua kawannya yang sedang omong-omong dengan gembira.

"Biarlah kita menunggu sampai malam, kalau-kalau dalam gelap gulita kita bisa meloloskan diri,"

Kata Ouw Hui.

"Jika malam ini kita tak bisa menerjang ke luar, hm... mungkin sekali kau harus menyerahkan jiwa kecilmu. Mengenai jiwa Sin-kun Yu-tek Gu Keng Tian.... huh-huh!"

Ia meraba bawah hidung dan berkata pula sembari tertawa.

"Jika aku tahu urusan ini tak ada sangkut-pautnya dengan orang she Ouw, aku tentu tak membuang kumisku yang begitu keren."

Leng So mesem.

"Toako,"

Katanya dengan suara perlahan.

"Jika sebentar kita gagal dalam usaha menerobos ke luar, siapakah yang akan ditolong olehmu, aku atau Ma Kouwnio?"

"Dua-duanya,"

Jawab Ouw Hui.

"Andaikata, kau hanya dapat menolong satu orang, sedang yang satunya lagi harus menerima kebinasaan, siapakah yang akan ditolong olehmu?"

Mendesak si nona. Sesudah memikir beberapa lama, Ouw Hui men-jawab.

"Aku menolong Ma Kouwnio dan kita mati bersama-sama."

Sekonyong-konyong si nona mengeluarkan seruan tertahan.

"Toako...!"

La mencekal tangan Ouw Hui erat-erat. Hati Ouw Hui berdebar-debar.

"Celaka!"

Katanya dengan suara di tenggorokan.

Mereka kaget karena kawanan penjahat be-ramai-ramai ke luar dari dalam hutan dengan tangan membawa kayu-kayu dan rumput kering yang ke-mudian dilemparkan ke seputar rumah itu.

Dilihat gelagatnya, mereka ingin menyerang dengan meng-gunakan api.

Sambil saling mencekal tangan, Ouw Hui dan Leng So saling mengawasi.

Dari sorot mata mereka, mereka tak mempunyai banyak harapan.

Sekonyong-konyong Ma It Hong menghampiri jendela.

"Hei!"

Ia berteriak.

"Siapa pemimpinmu? Aku mau bicara dengan dia."

Dari antara rombongan penjahat itu berjalan keluar seorang tua yang bertubuh kecil.

"Ma Kouw-nio,"

Katanya dengan sikap hormat.

"Jika kau mau bicara, bicaralah pada siauwjin (aku yang rendah)."

"Aku akan datang ke tempat kau, tapi kau tak boleh merintangi aku,"

Kata pula Ma It Hong.

"Siapa berani merintangi Ma Kouwnio?"

Kata si tua.

"Ouw Toako, Thia Moay-moay,"

Kata It Hong dengan suara perlahan.

"Aku mau bicara sedikit dengan dia dan akan segera balik kembali."

"Tak boleh!"

Kata Ouw Hui.

"Aku tak pereaya omongan segala kawanan perampok. Ma Kouwnio, kau tak boleh pergi! Kau akan seperti juga meng-antarkan did ke mulut harimau!"

"Aku mengambil keputusan ini karena melihat bahaya yang sangat besar,"

Kata Ma It Hong.

"Budi kalian berdua, sampai mati siauw-moay tak akan melupakannya."

Sebagai ksatria sejati, mana Ouw Hui mau mengerti? Melihat nyonya itu berkeras kepala dan tangannya sudah memegang palangan pintu, lantas saja ia berkata.

"Kalau begitu, biarlah aku pergi bersama-sama kau."

Muka It Hong bersemu dadu.

"Tak usah,"

Katanya.

Leng So yang sangat cerdik dan matanya mem-perlihatkan segala apa, jadi semakin bereuriga.

Ke-napa muka Ma It Hong berulang kali berubah merah?

Apakah antara mereka berdua terselip soal cinta?

Memikir sampai di situ, paras mukanya sen-diri berubah merah.

"Baiklah,"

Kata Ouw Hui.

"Kau boleh pergi sendiri, tapi lebih dulu biarlah aku menangkap satu niusuh sebagai tanggungan."

"Ouw toako,"

Kata It Hong tergugu.

"Tak usah...."

Belum habis ia bicara, dengan tangan kanan mencekal golok, Ouw Hui sudah membuka pintu dan melompat ke luar.

Kawanan penjahat lantas saja berteriak-teriak.

Bagaikan kilat Ouw Hui sudah menerjang rombongan penjahat itu.

Dua perampok memapaki ia dengan sabetan golok.

Ouw Hui menundukkan kepala dan melompat sembari coba menyengkeram pergelangan tangan satu musuh dengan tangan kiri-nya.

Tapi orang itu juga gesit luar biasa.

Ia membalik tangan dan membabat pula dengan goloknya, sehingga Ouw Hui terpaksa menangkis dengan sen-jatanya.

Karena kelambatan itu, tiga musuh lainnya sudah keburu menyerang, dua pian baja dan sebatang tombak menghantam dengan berbareng.

Sembari mengerahkan tenaga dalam dan mem-bentak keras, Ouw Hui menangkis dengan golok-nya.

Berbareng dengan suara "trang-trang-trang!" , dua pian terpental ke udara dan tombak itu kutung dua, tapi, sebab menggunakan tenaga terlalu besar, mata goloknya sendiri melengkung dan tak dapat digunakan lagi.

Melihat tenaga yang begitu hebat, kawanan penjahat jadi keder dan pada lompat menyingkir.

"Mari main-main dengan aku!"

Membentak si tua yang berbadan kecil sembari meloncat maju dengan tangan kosong. Ouw Hui kaget.

"Gerakan orang ini mantap, dia bukan lawan enteng,"

Pikirnya.

"Awas piauw!"

Ia berteriak sembari mengayun tangan kirinya.

Si tua berhenti menyerang, ia mengawasi dengan mata tajam, siap sedia untuk menyambut sen-jata rahasia Ouw Hui.

Di luar dugaan, Ouw Hui hanya menggertak.

Dengan sekali menjejak kaki kirinya, tubuhnya melesat ke atas dan melompati kepalanya dua penjahat.

Selagi badannya terbang di udara, tangannya menyengkeram nadi salah satu penjahat yang iantas diangkat dari tunggangannya dan hampir berbareng, ia sendiri sudah menyemplak punggung kuda itu.

Pada detik itu juga, Ouw Hui menendang perut kuda, yang dengan kesakitan Iantas saja kabur sekeras-kerasnya.

Kawanan perampok Iantas saja berteriak-teriak dan lalu mengejar, ada yang menunggang kuda, ada juga yang jalan kaki.

Baru kabur beberapa tombak, Ouw Hui merasakan sambaran angin tajam di be-lakangnya.

Buru-buru ia menunduk dan dua Tiat-tui (pusut besi) lewat di atas kepalanya.

Dari sambaran angin yang dahsyat, ia mengetahui, bahwa orang yang menimpuk mempunyai kepandaian tinggi.

Buru-buru ia memutar badan dan duduk di pelana dengan menghadapi pengejar-pengejarnya sembari memeluk tawanannya.

"Hayo! Lepaskan senjata rahasia! Makin banyak, makin baik!"

Ia berteriak.

Penjahat itu yang dicengkeram nadinya, tidak ber-daya lagi.

Ouw Hui tertawa terbahak-bahak dan menendang pula perut kuda yang Iantas kabur ter-lebih cepat.

Mendadak, baru saja lari belasan tombak, kuda itu rubuh terguling, karena pada waktu Ouw Hui memutar badan, sebatang pusut telah masuk ke dalam perutnya.

Dengan gerakan yang sangat indah, Ouw Hui melompat dan hinggap di atas tanah sembari terus memeluk tawanannya, dan kemudian, setindak demi setindak, ia masuk ke dalam rumah batu itu.

Karena takut mencelakakan kawan sendiri, gerombolan penjahat itu tak berani menerjang terus.

Demikianlah , dari bawah hidung dua puluh lebih jago-jago yang lihay, pemuda itu sudah ber-hasil membekuk satu penjahat dan kembali dengan tak kurang suatu apa.

Bukan main gusarnya kawanan perampok itu, tapi berbareng, mereka juga harus mengakui kelihayan Ouw Hui.

"Ouw Toako, bagus! Sungguh bagus!"

Memuji Ma It Hong, sembari bertindak ke luar dari rumah itu.

Melihat munculnya si nyonya cantik tanpa ber-senjata, semua penjahat Iantas saja turun dari tunggangannya dan membuka satu jalanan untuk nyonya tersebut.

It Hong berjalan terus dan baru menghentikan tindakannya ketika ia tiba di pinggir hutan yang terpisah kurang-lebih lima puluh tombak dan ru-mah batu itu.

Dengan hati berdebar-debar, Ouw Hui dan Leng So mengawasi dari jendela.

It Hong berdiri dengan membelakangi mereka dan bicara dengan si tua yang berbadan kecil.

"Toako,"

Kata Leng So.

"Kenapa dia pergi be-gitu jauh. Jika terjadi kejadian luar biasa, kita tak akan keburu untuk menolongnya."

"Hm!"

Menggerendeng Ouw Hui. Ia menge-tahui, bahwa jawaban untuk pertanyaan itu sudah dipunyai oleh adiknya. Benar saja, sesaat kemudian si nona berkata pula.

"Karena ia tak mau kita ikut mendengarkan pembicaraan mereka!"

"Hm!"

Ouw Hui menggerendeng lagi.

Ia yakin, bahwa dugaan adiknya adalah tepat.

Tapi, lantaran apa Ma It Hong bersikap begitu?

Pembicaraan antara Ma It Hong dan perampok itu tak dapat didengar, akan tetapi, gerak-gerik mereka dapat dilihat dari jendela.

"Toako,"

Kata Leng So.

"Kepala perampok itu bersikap sangat hormat terhadap Ma Kouwnio."

"Benar,"

Kata Ouw Hui.

"Dia berjiwa besar dan kelihatannya berkepandaian tinggi."

"Bukan berjiwa besar,"

Kata si nona sambil tertawa.

"Menurut penglihatanku, sikapnya seperti juga bujang terhadap majikan."

Ouw Hui pun sudah melihat kenyataan yang luar biasa itu, tapi ia sungkan mengatakannya ter-lebih dulu. Sesudah mengawasi beberapa saat lagi, si nona berkata pula.

"Ma Kouwnio menggeleng-gelengkan kepala. Ia tentu sedang menolak permintaan kepala perampok itu. Tapi kenapa..."

Ia tak meneruskan perkataannya, ia berpaling ke arah Ouw Hui dan kemudian, seperti orang jengah, ia melengos dan memandang pula ke luar jendela.

"Apa yang mau dikatakan olehmu?"

Tanya Ouw Hui.

"Kau kata. 'Tapi kenapa....' Kenapa kau tak bicara terus?"

"Aku tak tahu, apa boleh berterus terang atau tidak,"

Kata Leng So.

"Aku khawatir kau jadi gusar."

"Jie-moay,"

Kata Ouw Hui.

"Kau telah meng-ikuti aku sampai di sini dan kita berdua akan hidup atau mati bersamasama. Ada soal apakah yang tidak boleh dibicarakan di antara kita berdua? Jie-moay, aku sendiri tak pernah memikir untuk menyembunyikan apa-apa di hadapanmu."

"Baiklah,"

Kata Leng So sambil tertawa.

"Aku merasa heran, kenapa, sebaliknya dari bergusar, muka Ma Kouwnio berubah merah, seperti orang kemalu-maluan? Ini belum seberapa. Yang lebih rnengherankan lagi, kenapa mukamu sendiri berubah merah?"

Ouw Hui tak lantas menjawab. Selang beberapa saat, barulah ia berkata.

"Hatiku bereuriga karena mengingat suatu kejadian. Tapi sebelum mendapat bukti, tak dapat aku mengatakannya. Jie-moay, sau-daramu adalah laki-laki sejati. Mengenai diriku sendiri, tiada soal yang tak dapat dibicarakannya. Apa kau pereaya perkataanku ini?"

Melihat sikap dan paras Ouw Hui yang sung-guh-sungguh, hati si nona jadi girang sekali. Ia tersenyum seraya berkata.

"Kalau begitu, mukamu berubah merah karena urusan Ma Kouwnio. Toako, urusan orang lain tiada sangkut pautnya denganku. Asal kau putih-bersih, bagiku sudah lebih dari cukup."

"Waktu pertama kali bertemu Ma Kouwnio, aku baru berusia tiga belas atau empat belas tahun, masih bocah cilik,"

Kata Ouw Hui.

"Karena merasa kasihan, ia telah memintakan ampun untukku...."

La berhenti bicara dan mengawasi tepi langit sebelah barat, di mana sang matahari tengah menyelam. Sesaat kemudian, ia berkata pula dengan suara perlahan.

"Aku tak tahu, aku tak tahu apa tin-dakanku benar atau salah.... Tapi aku yakin, ia adalah seorang baik. Hatinya cukup mulia."

Tiba-tiba perampok yang menggeletak di be-lakang mereka mengeluarkan suara merintih.

Ouw Hui memutar badan dan lalu menghampirinya.

Ia menepuk jalanan darah Ciang-bunhiat dan meng-urut beberapa kali jalanan darah Thian-tie-hiat guna membuka jalanan darah perampok itu yang tadi ditotok.

"Karena terpaksa, aku sudah berbuat kedosaan terhadap tuan,"

Katanya.

"Aku mengharap tuan tidak menjadi gusar. Bisakah aku mendapat tahu, she dan nama tuan yang mulia?"

Perampok itu yang alisnya tebal dan matanya besar mengawasi Ouw Hui sambil melotot.

"Jangan rewel!"

Bentaknya.

"Karena kepandaiankurang, aku sudah dibekuk olehmu. Mau bunuh boleh lantas bunuh. Guna apa kau banyak bacot?"

Mendengar cacian, Ouw Hui berbalik rnengin-dahkannya. Sambil tertawa ia berkata.

"Dengan tuan aku belum pernah bertemu dan antara kita sama sekali tak ada permusuhan. Mana bisa aku mempunyai niatan kurang baik terhadapmu? Hari ini banyak terjadi kejadian luar biasa, yang sungguhsungguh tak dapat dimengerti olehku. Apakah Loo-heng (kakak) bisa memberi keterangan?"

"Apa kau kira aku, Ong Tiat Gok, manusia iendah?"

Bentaknya pula.

"Sudahlah! Lebih baik kau jangan banyak bicara lagi. Jangan harap kau bisa mengorek sepatah perkataan dari mulutku."

Thia Leng So meleletkan lidah. Ia tertawa seraya berkata.

"Aha! Kalau begitu aku sedang ber-hadapan dengan Ong Tiat Gok, Ong-ya. Maaf, maaf!"

"Fui!"

Tiat Gok meludah.

"Bocah cilik! Kau tahu apa?"

Leng So tak meladeni, tapi ia menoleh ke arah Ouw Hui dan berkata.

"Toako, orang ini adalah manusia tolol. Dia adalah dari partai Eng-jiauw Gan-heng-bun. Orang-orang yang lebih tua dari partainya, masih mempunyai hubungan rapat dengan siauw-moay. Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo selalu berlaku hormat terhadapku. Maka itu, siauw-moay mengharap Toako jangan menyusahkan dia."

Sambil berkata begitu, ia mengedipkan mata.

"Kau kenal Toasuheng dan Jiesuhengku?"

Tanya Ong Tiat Gok dengan suara heran dan dengan nada terlebih lunak.

"Kenapa tak kenal?"

Kata si nona.

"Eng-jiauw-kang (ilmu Kuku garuda) dan Gan-heng-to (ilmu silat golok Belibis terbang) kau belum mahir betul."

"Benar,"

Katanya sambil menunduk dengan si-kap kemalumaluan.

Eng-jiauw Gan-heng-bun adalah suatu partai besar di wilayah utara.

Ciu Tiat Ciauw, murid pertama dari partai itu, dan Can Tiat Yo, murid kedua, sudah lama mendapat nama besar dalam kalangan Kang-ouw.

Semasa masih hidup, guru Leng So senang sekali menceriterakan seluk beluk partai tersebut.

Maka itu, ia mengetahui, bahwa murid-murid partai itu banyak menggunakan "burung"

Sebagai namanya. (Gok, Ciauw dan Yo adalah nama-nama burung). Begitu mendengar nama Ong Tiat Gok dan melihat golok Gan-heng-to yang digunakannya, ia segera menebak dan tebakannya ternyata jitu sekali.

"Kenapa kedua Suhengmu tidak turut serta?"

Tanya pula Leng So.

"Apa kau tak bertemu dengan-nya?"

Sebenarnya si nona belum pernah mengenal Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo.

Menurut pikiran-nya, jika mereka berada dalam rombongan peram-pok, mereka tentu menjadi pemimpin karena memiliki ilmu silat yang tinggi.

Tapi si orang tua kurus dan beberapa pemimpin lainnya tiada satu yang menggunakan golok, sehingga bisa diduga, bahwa Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo tidak berada dalam kawanan ku.

Dan sekali lagi, dugaannya jitu.

"Ciu Suheng dan Can Suheng berada di Pak-khia,"

Jawabnya.

"Untuk urusan yang begini kecil tak perlu kami mengganggu mereka."

Dalam mem-beri jawaban itu, suaranya bernada bangga.

"Eh eh! Di Pakkhia?"

Kata Leng So dalam hatinya.

"Apa kawanan perampok itu datang dari Pakkhia? Hm! Coba aku memancing lagi."

Memikir begitu, dengan sikap acuh tak acuh, ia berkata pula.

"Pertemuan para Ciangbunjin akan segera dibuka. Dalam pertemuan itu, Eng-jiauw Gan-heng-bun tentu akan tampil kemuka dan akan memperlihat-kan keunggulannya kepada orang-orang gagah di kolong langit. Kau perlu lekas-lekas balik ke Pak-khia untuk menyaksikan keramaian yang luar biasa itu."

"Tentu,"

Jawabnya. Sesudah tugas ini selesai. kami semua akan segera pulang."

Ouw Hui dan Leng So terkejut.

Kenapa tugas?

"Para Ceecu (kepala perampok atau berandal) yang sudah menerima panggilan negara dan bekerja untuk Hongsiang (kaisar), dengan sesungguhnya telah melakukan suatu pekerjaan yang mengharum-kan nama leluhur,"

Kata Leng So. Kali ini tebakan si nona meleset. Mata Ong Tiat Gok mendelik dan ia mem-bentak.

"Apa? Panggilan negara? Apa kau kira kami semua kawanan bangsat?"

"Celaka!"

Leng So mengeluh dalam hatinya, tapi dengan cepat ia mesem seraya berkata.

"Bahwa kalian menyamar sebagai orang-orang dari jalanan hitam (perampok) kita semua sudah tahu sama tahu. Perlu apa kau bicara terangterangan?"

Biarpun si nona sudah berusaha untuk menutupi kesalahannya, akan tetapi si orang she Ong masih tetap bereuriga dan meskipun dipancing lagi berulang-ulang, ia sungkan bicara lagi.

"Jie-moay,"

Kata Ouw Hui mendadakan.

"Karena kau sahabat Ong-heng, aku merasa tak perlu menahannya terlebih lama. Ong-heng, sekarang kau boleh berlalu!"

Ong Tiat Gok bangun berdiri dan Ouw Hui segera membuka pintu sambil berkata.

"Sampai bertemu kembali."

Tapi karena menduga Ouw Hui menggenggam maksud kurang baik, ia tak berani bergerak. Ouw Hui tertawa seraya berkata.

"Siauwtee Ouw Hui dan saudara angkatku Thia Leng So mengirim hormat untuk Ciu dan Can Jie-wie Busu."

Sambil berkata begitu, ia mendorong badan Tiat Gok dan lalu menutup pintu.

Sekarang barulah Tiat Gok pereaya, bahwa pemuda itu melepaskan dirinya dengan setulus hati dan ia lantas saja lari ke arah hutan bagaikan terbang.

"Toako,"

Kata Leng So.

"Apa kau mengira aku benar-benar mengenal Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo? Kenapa kau melepaskan dia?"

"Aku sekarang mendapat kepastian, bahwa mereka tak akan berani mengganggu Ma Kouwnio,"

Jawabnya.

"Di samping itu, Ong Tiat Gok adalah seorang tolol yang tentu tak mempunyai kedudukan tinggi dalam kalangan perampok. Andaikata mere-ka ingin menangkap Ma Kouwnio, mereka pasti tak akan membatalkan keinginan itu karena kita menahan si tolol."

"Toako benar."

Kata si nona sambil mengang-guk.

Beberapa saat kemudian, dari lubang jendela benar saja mereka melihat kembalinya Ma It Hong yang diantar oleh kawanan perampok sampai di pinggir hutan.

Waktu It Hong masuk ke dalam rumah itu, Ouw Hui dan Leng So saling mengawasi, tapi tidak menanyakan suatu apa.

"Mereka semua memuji Ouw-heng sebagai seorang pemuda gagah yang berke-pandaian tinggi dan berpribudi luhur,"

Kata It Hong. Ouw Hui segera mengucapkan beberapa patah untuk merendahkan diri. Beberapa saat kemudian, barulah nyonya itu berkata pula.

"Saudara Ouw dan adik Thia, kalian boleh berangkat saja. Untuk urusan-ku... kalian sudah mengeluarkan banyak sekali tenaga."

"Sebelum kau terlepas dari bahaya, bagaimana kami dapat meninggalkannya?"

Kata Ouw Hui.

"Tidak,"

Membantah It Hong.

"Sama sekali aku tidak berada dalam bahaya. Mereka tak akan berani mengganggu aku."

Ouw Hui jadi serba salah.

Ia pereaya, bahwa Ma It Hong bicara sebenarnya, akan tetapi hatinya tetap merasa tak enak untuk meninggalkan nyonya itu seorang diri di antara kawanan serigala.

Ia melirik It Hong yang parasnya sebentar merah dan sebentar pucat.

Keadaan sunyi senyap, baik di dalam maupun di luar rumah.

Dalam keadaan bimbang, Ouw Hui segera menarik ujung baju Leng So dan mereka berdua lantas berjalan ke jendela.

"Jie-moay, bagaimana sekarang?"

Berbisik Ouw Hui.

"Terserah pada kau,"

Jawabnya.

"Aku merasa curiga mengenai satu urusan, akan tetapi tak dapat ditanyakan kepada Ma Kouwnio,"

Berbisik Ouw Hui.

"Sebaliknya, jika tidak berterus terang, soal ini tidak ada keberesannya."

"Coba aku menebak,"

Kata Leng So.

"Kau mengatakan, bahwa dulu ada seorang she Siang yang jatuh cinta kepadanya. Bukankah begitu?"

"Benar, kau sungguh pintar,"

Jawabnya.

"Aku memang menduga begitu. Aku menduga, bahwa kawanan perampok itu adalah suruhannya Siang Po Cin, sehingga mereka bersikap sangat hormat terhadap Ma Kouwnio, tapi bengis terhadap Cie Ceng."

"Dilihat gerak geriknya, Ma Kouwnio juga men-cintai orang she Siang itu,"

Kata Leng So. Ouw Hui mengangguk.

"Itulah sebabnya, kenapa aku merasa bimbang,"

Katanya.

Pembicaraan antara kedua orang muda itu di-lakukan hanya dengan menggerakkan bibir, sehing-ga meskipun Ma It Hong berada tak jauh, ia tak dapat mendengarnya.

Ketika itu, matahari sudah menyelam ke barat dan siang sudah berganti dengan malam.

Sekonyong-konyong di sebelah barat terdengar suara ributribut dan beberapa penunggang kuda kembali mendatangi dengan cepat sekali.

"Musuh kembali mendapat bala bantuan,"

Kata Leng So. Ouw Hui memasang kuping.

"Eh eh! Kenapa ada seorang yang berjalan kaki?"

Tanyanya.

Benar saja, beberapa saat kemudian terlihat seorang yang mendatangi sambil berlari-lari, dikejar oleh empat penunggang kuda.

Orang itu kelihatannya sengaja dipermainkan oleh para pengejarnya yang membentak-bentak tak hentinya, tapi menahan-nahan lari-nya kuda, sehingga jarak antara yang dikejar dan yang mengejar tetap kurang lebih dua tiga tombak.

Orang itu sudah lelah sekali, rambutnya awut-awut-an, sedang tindakannya limbung.

Setelah ia datang terlebih dekat, Ouw Hui segera mengenali.

"Cie Toako!"

Teriaknya.

"Ke-mari!"

Ia membuka pintu, tapi empat pengejar itu sudah mendahului dan mencegat jalan Cie Ceng.

Hampir berbareng, kawanan perampok yang berada di hutan meluruk ke luar.

Melihat begitu, Ouw Hui mengurungkan niatnya untuk membantu Cie Ceng, karena, jika ia menerjang ke luar, kawanan kecu bisa menerobos masuk ke dalam rumah.

Dengan perasaan menyesal, ia menyaksikan dikurungnya Cie Ceng oleh kawanan penjahat itu.

"Hei! Tak tahu malu kau!"

Berteriak Ouw Hui.

"Mengerubuti orang bukan perbuatan seorang gagah."

"Benar!"

Teriak salah seorang dari empat pengejar itu.

"Aku memang ingin bertempur satu lawan satu untuk menjajal kepandaian murid Sin-kun Bu-tek dan mencoba-coba Toapiauwtauw dari Hui-ma Piauwkiok."

Ouw Hui kaget, suara itu dikenal baik olehnya. Ia mengawasi dan mengeluarkan seruan tertahan.

"Siang Po Cin!"

"Aha! Benar-benar orang she Siang itu!"

Kata Leng So. Ia mendapat kenyataan, bahwa Siang Po Cin adalah seorang pria yang sepuluh kali lebih cakap dari pada Cie Ceng. Waktu melompat turun dari kuda, gerakannya pun gesit sekali.

"Nah, orang itu barulah pantas menjadi suami Ma Kouwnio,"

Katanya di dalam hati.

"Tak heran kawanan bangsat itu menyebutnyebut soal membela keadilan dan soal bunga yang ditancap di tahi kerbau."

Sebagai orang muda yang tak panjang pikiran, ia tak tahan untuk tidak berkata.

"Ma Kouwnio! Orang she Siang itu sudah datang!"

Tapi Ma It Hong hanya mengeluarkan suara "hm", seolaholah tak mengerti apa yang dikatakan Lcng So.

Waktu itu, karena kawanan penjahat membuat sebuah lingkaran di sekitar Cie Ceng, Ouw Hui dan Leng So tak dapat melihat apa yang terjadi.

"Toako, mari kita ke atas genteng,"

Kata Leng So.

"Baiklah,"

Jawabnya dan mereka lalu melompat ke atas, dari mana mereka bisa menyaksikan apa yang terjadi dalam lingkaran itu.

Ternyata, Cie Ceng dan Siang Po Cin sudah berhadapan dengan mata beringas.

Siang Po Cin bersenjata golok yang belakangnya tebal, sedang Cie Ceng bertangan kosong.

"Tak adil,"

Berbisik Leng So. Sebelum Ouw Hui menjawab, sudah terdengar bentakan Siang Po Cin.

"Cie Ceng! Aku akan ber-tempur dengan kau, satu lawan satu, lain orang tak usah membantu. Aku juga tak mau kau bertangan kosong. Kau boleh menggunakan golok dan biarlah aku melayaninya dengan tangan kosong."

Sambil berkata begitu, ia melontarkan golok yang dicekal-nya ke arah Cie Ceng. Cie Ceng menyambuti seraya membentak.

"Orang she Siang! Dulu, di Siang-kee-po, kau telah berlaku kurang ajar terhadap Sumoayku. Apa kau kira mata-ku buta? Dan sekarang, dengan maksud apa kau mengejar-ngejar dengan membawa kawanan bang-sat. Sudahlah! Tak perlu aku banyak bicara lagi. Siang Po Cin! Ambillah senjatamu!"

"Aku akan melawan kau dengan tangan kosong!"

Teriak Siang Po Cin.

"Toako sekalian! Wa-laupun aku terluka, kalian tidak boleh membantu."

Leng So berpaling kepada Ouw Hui dan berkata.

"Kenapa dia berteriak begitu keras? Rupanya dia ingin didengar oleh Ma Kouwnio."

Ouw Hui hanya menghela napas.

"Toako,"

Kata pula Leng So.

"Coba kau tebak. Pihak mana yang Ma Kouwnio ingin memperoleh kemenangan?"

"Tak tahu,"

Jawabnya, menggelengkan kepala.

"Yang satu suami sendiri, yang lain orang luar,"

Kata pula si nona.

"Mereka berdua akan segera berkelahi mati-hidup untuknya, tapi ia sendiri tidak memperdulikan dan bersembunyi di dalam rumah. Ouw Toako, menurut pendapatku, dalam hati kecil-nya, Ma Kouwnio mengharap supaya orang she Siang itu yang mendapat kemenangan."

Di dalam hati, Ouw Hui membenarkan per-kataan adiknya, tapi ia kembali menggelengkan kepala seraya berkata.

"Aku tak tahu."

Melthat lawannya tetap sungkan mengambil senjata, sambil mengebas golok, Cie Ceng berkata.

"Aku sudah berada dalam kepungan dan hari ini aku sudah tak memikir untuk hidup lagi."

Ia membacok dan mereka lantas saja mulai bertempur.

Dalam ilmu silat, semenjak dulu Siang Po Cin memang terlebih unggul dari pada Cie Ceng.

Sesudah terjadi peristiwa di Siang-kee-po, sesudah ibunya meninggal dunia, pemuda she Siang itu lalu belajar ilmu di bawah pimpinan kedua saudara Ong.

Berkat kerajinannya, ia telah memperoleh kemaju-an pesat dalam Pat-kwa-to dan Pat-kwa-ciang.

Di-lain pihak, Cie Ceng yang berkepandaian lebih 1 endah, juga lelah sekali karena dikejar-kejar.

Maka itu, belum bertempur lama, ia sudah jatuh di bawah angin.

Alis Ouw Hui berkerut.

"Orang she Siang itu licik sekali..."

Katanya dengan suara perlahan.

"Kau mau membantu?"

Tanya adiknya.

"Aku datang ke mari untuk menolong Ma Kouwnio,"

Jawabnya.

"Tapi... tapi... aku belum dapat menebak bagaimana pikirannya."

Leng So yang sekarang merasa sangat tak puas terhadap It Hong, lantas saja berkata.

"Ma Kouwnio tidak berada dalam bahaya. Belum tentu ia ber

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com terima kasih untuk bantuanmu. Lebih baik kita berangkat saja."

Sementara itu, keadaan Cie Ceng sudah ber-bahaya sekali, ilmu goloknya sudah kacau, ia hampir tak dapat bergerak lagi di bawah pengaruh Pat-kwa ciang.

"Jie-moay,"

Kata Ouw Hui mendadakan.

"Kau benar. Kita jangan mencampuri lagi urusan ini."

Ouw Hui segera melompat turun dan masuk ke dalam rumah.

"Ma Kouwnio,"

Katanya.

"Cie Toako sudah tak dapat mempertahankan diri lagi, orang she Siang itu mungkin akan turunkan tangan jahat."

Ma It Hong bengong, ia hanya menggerendeng hra . Ouw Hui gusar bukan main. Ia berpaling ke-pada Leng So seraya berkata.

"Jie-moay, mari kita berangkat!"

Ma It Hong kelihatan kaget, seperti orang baru tersadar dari tidurnya.

"Ha?"

Katanya.

"Kalian man pergi? Pergi ke mana?"

"Ma Kouwnio,"

Kata Ouw Hui dengan suara kaku.

"Dulu kau telah berusaha untuk menolong diriku dan aku merasa sangat berterima kasih. Akan tetapi, sikapmu terhadap Cie Toako...."

Belum habis perkataannya, di luar terdengar teriakan menyayat-kan hati, yaitu teriakan Cie Ceng, disusul dengan suara tertawanya Siang Po Cin.

"Bagus! Sungguh bagus ilmu Pat-kwa-ciang!"

Berteriak para peram-pok. Ma It Hong terkesiap.

"Suko!"

Teriaknya sambi! berlari-lari ke luar.

"Hra! Kecintaan membunuh suami! Sungguh cocok dengan keinginanmu!"

Kata Ouw Hui dengan suara mendongkol. Melihat kakaknya bergusar, Leng So coba mem-bujuk dengan berkata.

"Urusan begini memang tak dapat dicampuri oleh orang luar. Toako tak perlu marah."

"Jika dia tidak mencintai Sukonya, perlu apa dia menikah dengannya?"

Kata Ouw Hui.

"Mungkin dipaksa ayahnya,"

Kata si nona. Ouw Hui menggelengkan kepala.

"Tidak, bukan begitu,"

Katanya.

"Ayahnya telah meninggal dunia di Siang-kee-po, sehingga, andaikata mereka sudah ditunangkan, dia masih dapat memutuskan pertu-nangan itu. Lebih baik tak kawin dari pada terjadi kejadian yang menyedihkan ini."

Tiba-tiba di luar terdengar suara rintihan Cie Ceng.

"Cie Toako belum mati,"

Kata Ouw Hui dengan girang.

"Mari kita tengok padanya!"

Sambil berkata begitu, ia melompat ke luar dan menerobos pagar manusia.

Agak mengherankan, bahwa kawanan penjahat yang tadi masih bertempur dengan pe-muda itu, sekarang hanya memperhatikan Ma It Hong, Siang Po Cin dan Cie Ceng, dan sama sekali tidak menghiraukan kedatangannya.

Dengan rasa kasihan, Ouw Hui mengawasi Cie Ceng yang dadanya penuh darah dan napasnya lemah sekali.

Ma It Hong berdiri di samping sua-minya, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ouw Hui berlutut dan sambil menempelkan mulutnya di ku-ping Cie Ceng, ia berkata.

"Cie Toako, apakah kau mempunyai pesanan apa-apa? Aku berjanji akan mengerjakannya."

Cie Ceng mengawasi isterinya dan kemudian mengawasi pemuda itu. la mesem getir dan men-jawab.

"Tidak".

"Biarlah aku pergi mencari kedua puteramu dan akan memeliharanya sampai menjadi orang,"

Kata pula Ouw Hui.

Dengan Cie Ceng, Ouw Hui tak mempunyai hubungan apa pun.

Akan tetapi melihat keadaan yang sangat menyedihkan, jiwa ksatrianya terbangun dan rela memikul tanggungan berat.

Cie Ceng kembali mesem getir.

la menghela napas.

"Hai...."

La berdiam untuk mengumpulkan tenaga dan kemudian berkata pula dengan suara sangat lemah.

"Anak... anak.... Sebelum menikah sudah ada... bukan anakku...."

Sehabis berkata be-gitu, kedua matanya meram dan rohnya pulang ke alam baka.

Sekarang Ouw Hui mendusin.

Segala apa sudah jadi terang baginya.

Kedua anak itu adalah anak Siang Po Cin, sehingga tidaklah heran jika mereka berparas cakap dan berlainan dengan Cie Ceng yang bermuka jelek, demikian pikirnya.

Dengan rasa terharu ia bangun berdiri.

Men-dadak di sebelah kejauhan kembali terdengar suara kaki kuda dan tak lama kemudian mendatangi dua penunggang kuda yang masing-masing mendukurig seorang bocah, yaitu puteranya Ma It Hong.

Ma It Hong memandang jenazah suaminya dan kemudian mengawasi Siang Po Cin.

"Siang Siauw-ya,"

Katanya.

"Bukankah suamiku dibinasakan oleh-mu dengan tangan kosong?"

"Kau lihat saja sendiri,"

Sahut Siang Po Cin.

"Golok itu masih tereekal dalam tangannya. Sedikit pun aku tidak berlaku curang."

It Hong mengangguk dan seraya mengambil golok itu dari tangan Cie Ceng, ia berkata pula.

"Inilah Patkwa-to, golok turunan. Aku pernah melihatnya di Siang-keepo."

Siang Po Cin tersenyum.

"Ingatanmu kuat sekali,"

Ia memuji. Mata It Hong mengawasi ke tempat jauh.

"Ba-gaimana aku bisa melupakan kejadian itu?"

Katanya dengan suara perlahan.

"Seperti juga baru terjadi kemarin."

Leng So yang berdiri di samping Ouw Hui, mengawasi nyonya itu dengan sorot mata gusar, tapi sebisa-bisa ia menahan nafsu amarahnya. Sambil membolang-balingkan golok itu, It Hong memuji.

"Sungguh bagus golok ini!"

Perlahan-lahan ia mendekati Siang Po Cin yang tersenyum dan mengawasinya dengan sorot mata mencinta.

Ia meng-angkat kedua tangannya untuk menyambuti golok itu yang tengah diangsurkan.

Mendadak, mendadak saja, sinar putih berkele-bat dan...

bagaikan kilat, Pat-kwa-to menikam ping-gang Siang Po Cin!

Sambil berteriak kesakitan, ia menghantam dengan tangannya, sehingga It Hong mundur terhuyung beberapa tindak.

"Kau... kau..."

Katanya terputus-putus seraya menuding nyonya itu, tapi ia tak keburu bicara terus, karena di lain saat, ia sudah terjengkang dan rubuh di muka bumi.

Itulah kejadian yang sungguh-sungguh di luar dugaan!

Bahwa It Hong membalas sakit hati sua-minya adalah kejadian yang sangat dapat dimengc ti.

Yang mengherankan adalah perubahannya yang sedemikian mendadak.

Semula, sedikit pun nyonya itu tidak memperlihatkan kedukaan dan ia bicara secara tenang dengan Siang Po Cin.

Waktu semua orang mengutuknya sebagai perempuan kejam, mendadak ia melakukan suatu tindakan yang memulihkan penghargaan terhadapnya.

Selagi kawanan perampok tertegun karena ka-getnya, cepat-cepat Ouw Hui menarik tangan It Hong dan bersama Leng So, ia mundur masuk ke dalam rumah batu itu.

"Aku ingin menghaturkan maaf kepadamu, karena tadi aku sudah salah menduga,"

Kata Ouw Hui kepada It Hong.

"Kau ternyata adalah seorang isteri yang mulia."

Nyonya itu tak menjawab, ia duduk terpekur di pojokan rumah dengan mata mende-long.

Leng So yang sekarang sudah berubah pandangannya, coba memberi hiburan, tapi It Hong tetap tidak meladeni.

Ouw Hui memberi isyarat dengan kedipan mata dan bersama Leng So, ia segera pergi ke jendela.

"Sesudah Ma Kouwnio membinasakan musuh sua-minya, soal ini jadi semakin sulit dan semakin sukar dimengerti,"

Kata Ouw Hui.

Si nona mengangguk.

Ia juga merasa, bahwa persoalan jadi lebih berbelit.

Mungkin sekali, sesudah melihat jenazah suaminya, rasa kasihan Ma It Hong mendadak terbangun dan ia sudah membinasakan Siang Po Cin.

Tapi, jika benar kawanan perampok itu adalah orang-orangnya Siang Po Cin, kenapa mereka tidak lantas menyerang sesudah sang majikan dibinasakan?

Alis Ouw Hui berkerut dan otaknya bekerja keras.

"Jiemoay,"

Kata dia akhirnya.

"Aku merasa bingung sekali. Bukan tak bisa jadi, jika kita menc-ampuri terus urusan ini, sebaliknya dari kebaikan, kita mengundang bahaya untuk Ma Kouwnio. Jika kita menanyakan Ma Kouwnio, dia tentu tak akan mau membuka mulut. Sekarang begini saja. Aku akan coba menanya kepala perampok itu."

"Apa dia mau bicara?"

Tanya Leng So.

"Coba-coba,"

Jawabnya sambil membuka pintu dan lalu berjalan ke luar dengan tindakan perlahan Melihat Ouw Hui muncul seorang did tanpa mem-bekal senjata, kawanan perampok pun tidak ber gerak.

Dari jarak enam tujuh tombak, ia berkata dengan suara nyaring.

"Saudara-saudara! Aku mem punyai suatu rahasia yang ingin dirundingkan dengan kalian. Dapatkah aku bicara dengan saudara pemimpin?"

Sehabis berkata begitu, ia menepuk nepuk pakaiannya, sebagai tanda bahwa ia tidak membawa senjata.

"Kami semua adalah saudara-saudara, jika kau mau bicara, boleh bicara sekarang,"

Kata salah seorang yang bertubuh tinggi besar.

"Benar, saudara-saudara semua adalah orang-orang gagah yang kenamaan dan pemimpin saudara tentulah juga seorang yang berkepandaian sangat tinggi,"

Kata Ouw Hui.

"Akan tetapi, apakah beliau tak sudi mendengar sepatah dua patah dari aku yang rendah?"

Hampir berbareng, si orang tua yang berbadan kurus melompat ke luar dari rombongan perampok dan sambil mengebas tangan kanannya, ia berkata.

"Berkepandaian tinggi sih tidak. Aku merasa girang bisa bertemu dengan saudara, seorang gagah di kalangan orang-orang muda."

Ouw Hui segera memberi hormat dengan merangkap kedua tangannya.

"Loo-ya-cu (panggilan pada orang yang berusia tua),"

Katanya.

"Marilah kita pergi ke sana untuk bicara sedikit."

Tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan menuju ke lapangan terbuka.

Sesudah menyaksikan perbuatan Ma It Hong terhadap Siang Po Cin, hati si tua jadi kebat-kebit karena khawatir pemuda itu mengandung maksud kurang baik.

Tapi jika tidak mengikut, ia merasa rnalu.

Maka itu, dengan hati-hati sekali, ia segera membuntuti Ouw Hui dari belakang.

"Boanpwee she Ouw bernama Hui,"

Ia memper-kenalkan diri.

"Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama Loo-yacu yang mulia?"

Sebaliknya dari menjawab, si tua balas menanya.

"Omongan apakah ingin disampaikan oleh tuan?"

"Tak apa-apa,"

Kata Ouw Hui sambil tertawa.

"Aku ingin meminta pelajaran beberapa jurus dari Loo-ya-cu"

Paras muka orang tua itu lantas saja berubah.

"Bocah!"

Bentaknya dengan suara gusar.

"Sungguh beiani kau nienipu aku! Apakah hanya omongan yang yang ingin disampaikan kepadaku, olehmu?"

"Loo-ya-cu jangan marah,"

Kata Ouw Hui sambil tertawa.

"Aku hanya ingin bertaruh dengan main-main sedikit."

Sambil mengeluarkan suara di hidung, si tua memutar badan dan lalu berjalan pergi.

"Aku memang sudah duga, kau tak akan berani menyambutnya,"

Mengejek Ouw Hui.

"Aku tahu, meskipun aku berdiri dengan tak bergerak, kau tak akan dapat mengalahkan aku."

"Apa kau kata?"

Membentak orang tua itu. Ouw Hui tersenyum seraya berkata dengan suara tenang.

"Aku berdiri tegak di sini dan kedua kakiku tidak bergerak. Kau sendiri boleh meng-gunakan kaki dan tangan sesukamu. Coba Loo-ya-cu menebak. Siapa yang akan menang?"

Sesudah menyaksikan kepandaian Ouw Hui, jika harus bertempur seperti biasa satu melawan satu, si tua memang merasa agak keder.

Akan tetapi, sesudah mendengar tantangan pemuda itu yang secara temberang berjanji tak akan menggerakkan kedua kakinya, ia merasa pasti tidak akan mendapat kekalahan.

Harus diketahui, bahwa ia adalah Ciangbunjin dari Pat-kek-kun di Kay-hong-hu propinsi Holam.

Ia bukan saja berkepandaian tinggi, tapi juga terkenal sebagai seorang yang berhati-hati, sehingga ia sudah menjadi pemimpin rombongan.

"Baiklah, Saudara kecil,"

Katanya sambil tertawa.

"Jika kau ingin menjajal aku si tua, mau tak mau terpaksa aku mesti melayani juga. Tapi kita harus berjanji untuk tidak menggunakan senjata rahasia."

Ouw Hui tertawa.

"Kita menjajal ilmu untuk mengikat tali persahabatan,"

Katanya.

"Perlu apa menggunakan senjatarahasia?"

Si tua girang.

Menurut perhitungannya, andai-kata tak dapat melawan pemuda itu, paling banyak ia hanya harus mundur beberapa tindak.

Ia tentu tak akan sampai dirubuhkan, karena Ouw Hui sudah berjanji tak akan menggerakkan kedua kakinya.

"Baiklah,"

Katanya.

"Boanpwee dan Loo-ya-cu belum pernah mengenal satu sama lain,"

Kata pula Ouw Hui.

"Hari ini kita berselisih, karena urusan orang lain. Sebentar, jika boanpwee kalah, bersama adik angkat-ku, boanpwee akan segera berlalu dari tempat ini."

Si tua jadi semakin girang.

Jika Ouw Hui tetap melindungi Ma It Hong, urusan takgampangberes.

Memang benar pihaknya dapat menggunakan keke-rasan untuk merebut nyonya itu, akan tetapi, dalam pertempuran, orang-orang di pihaknya tentu bakal ada yang binasa dan besar kemungkinannya, Ma It Hong pun akan turut mendapat luka.

Maka itu, perkataan Ouw Hui justru cocok dengan pengharapannya.

"Benar,"

Jawabnya.

"Urusan ini memang juga tak dapat dicampuri oleh orang luar. Ma Kouwnio bernasib bagus, ia tengah menghadapi suatu kemuliaan dan kemewahan. Jika kau men-cintai padanya, kau haruslah turut merasa girang."

Ouw Hui menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Inilah yang tidak dimengerti olehku,"

Katanya.

"Andaikata, dalam pertaruhan ini Loo-ya-cu kalah, boanpwee ingin memohon supaya Loo-ya-cu sudi menjelaskan seluk beluk urusan ini."

Si tua agak terkejut, tapi ia segera menyahut.

"Baiklah. Aku menyetujui syaratmu itu."

Ouw Hui segera "menancap"

Kedua kakinya di atas bumi dan memasang kuda-kuda. Si tua meng-awasi kuda-kuda itu yang teguh bagaikan gunung Thaysan sehingga tanpa merasa hatinya jadi keder.

"Belum tentu aku bisa menang,"

Pikirnya. Ia tidak lantas menyerang.

"Saudara kecil,"

Katanya.

"Jika aku kalah, aku tentu akan mencpati janji dan akan menceriierakan seluk beluk urusan ini. Tapi, kau pun harus berjanji, tak akan memberitahukannya kepada orang lain."

"Kecuali satu, yaitu adik angkatku,"

Kata Ouw Hui.

"Tidak, kau tak boleh memberitahukan siapa-pun juga,"

Menolak si tua.

"Baiklah,"

Kata Ouw Hui.

"Belum tentu boan-pwee bisa menang."

"Sambutlah!"

Kata orang tua itu sambil meng-gerakkan kedua tangannya, telapakan tangan kiri memukul, tinju kanan dibengkokkan bagaikan gaet-an.

Ouw Hui segera menyambut serangan itu, dan ternyata, si tua memiliki Lweekang yang sangat tinggi.

"Loo-ya-cu, pukulanmu berat sekali,"

Kata-nya.

Begitu pertempuran dimulai, kawanan peram-pok segera meluruk, tapi karena melihat kedua orang itu bertempur dengan bibir tersungging senyuman, mereka tidak turun membantu dan hanya menonton di luar gelanggang.

Begitu bergebrak, si tua segera menyerang dengan pukulan-pukulan dahsyat dari Pat-kek-kun yang sudah mendapat nama besar semenjak tiga puluh tahun berselang.

Pukulan-pukulannya susul menyusul bagaikan hujan dan angin, sehingga ka-wan-kawannya merasa kagum sekali.

Di lain pihak, dalam babak pertama, Ouw Hui hanya membela diri.

Sambil mengempos semangat, dengan kedua kaki "berakar"

Di tanah, ia mempunahkan setiap pukulan lawan.

Sesudah bertempur beberapa lama, tiba-tiba terjadi suatu perubahan yang hanya dapat dirasakan oleh orang tua itu sendiri.

Ia merasa, bahwa kedua tangannya seolah-olah "ditempel"

Atau "disedot"

Semacam tenaga yang tidak kelihatan. Semakin Ouw Hui mengempos semangat, semakin hebat "sedotan"

Itu.

"Celaka!"

Ia mengeluh dan segera bergerak untuk melompat ke belakang supaya pertempuran itu berakhir seri.

Tapi, baru menarik tangan kanan Ouw Hui sudah menangkap tangan kanannya dan hampir berbareng, tangan kiri pemuda itu menepuk sikut kanannya.

Si tua mencelos hatinya dan mem-berontak, tapi tidak berhasil.

Keringat dingin mengucur dari dahinya, ia merasa pasti lengan kanannya akan terpukul patah.

Di luar dugaan, seko-nyong-konyong Ouw Hui meloncat ke pinggir dengan badan terhuyung.

"Loo-ya-cu,"

Katanya.

"Te-nagamu benar hebat, aku takluk."

Bukan main rasa berterima kasihnya si tua.

Bahwa Ouw Hui tidak menghantam lengannya, sudah merupakan suatu budi.

Tapi, budi yang lebih besar adalah, ia sudah berlagak terhuyung, sehingga seolah-olah pertempuran itu berakhir seri dan sudah menolong mukanya di hadapan orang-orang yang dipimpinnya.

Dengan demikian, nama besar-nya yang sudah dijaga seumur hidup, jadi tertolong.

Itulah suatu budi yang benar-benar sukar dibalas.

Buru-buru ia mencekal tangan Ouw Hui seraya berkata sambil tertawa.

"Saudara kecil, kau sungguh-sungguh seorang gagah yang mulia. Marilah kita omongomong di situ, supaya tidak terganggu."

Dengan bergandengan tangan, mereka masuk ke dalam hutan. Tiba-tiba si tua melompat naik ke satu pohon besar dan menggapai. Ouw Hui turut melompat dan mereka lalu duduk di batang pohon.

"Di tempat ini kita bisa bicara dengan leluasa,"

Kata orang tua itu. Ouw Hui menggangguk dan hatinya merasa sangat girang.

"Dari Ong Tiat Gok, aku mendapat tahu, bahwa tuan adalah seorang she Ouw bernama Hui,"

Kata si tua.

"Aku sendiri she Cin, bernama Nay Cie. Selama berkelana di kalangan Kangouw, aku sudah pernah menemui banyak juga orang-orang gagah. Akan tetapi, orang yang seperti tuan, yang berusia begitu muda dan berkepandaian begitu tinggi, baru sekarang aku pernah bertemu."

La berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi.

"Tuan adalah seorang yang berhati mulia dan berpemandangan jauh, sehingga aku berani mengatakan, bahwa dalam Rimba Persilatan jarang terdapat orang gagah seperti tuan. Tanpa malu-malu, aku, si tua, mengaku kalah ter-hadapmu."

Sesudah mengucapkan kata-kata merendahkan diri, Ouw Hui berkata.

"Cin-ya (Ya adalah panggilan untuk orang berpangkat atau orang yang berkedu-dukan tinggi), boanpwee ingin memohon sedikit petunjuk."

"Saudara kecil, janganlah kau menggunakan panggilan itu,"

Kata Cin Nay Cie dengan paras sungguh-sungguh.

"Begini saja. Karena aku berusia lebih tua dari padamu, biarlah aku memanggil sau dara kepadamu, sedang kau memanggil Cin Toako. Dengan menaruh belas kasihan, kau sudah menolong muka si tua bangka. Ajukanlah segala pertanyaan dan aku akan menjawab sebjsa-bisaku."

"Ah! Jangan Toako mengatakan begitu,"

Kata Ouw Hui dengan sikap jengah.

"Apa yang ingin ditanyakan olehku, adalah satu pukulan luar biasa yang tadi digunakan oleh Cin Toako. Barusan, sam-bil melenggakkan badan ke belakang, Toako telah mengirim satu pukulan luar biasa, yaitu lengan kiri disilangkan di atas lengan kanan. Pukulan itu yang mempunyai banyak perubahan aneh sudah membingungkan aku dan oleh karenanya, aku merasa sangat kagum dan kepingin tahu."

Perkataan Ouw Hui menyenangkan sangat hati Cin Nay Cie. Sesudah dikalahkan, ia harus menepati janji dan memberitahukan hal ihwal mengenai "pe-rampokan"

Itu.

Tapi di luar dugaan, sebaliknya dari menagih janji, pemuda itu sudah menanyakan suatu pukulan yang sangat dibanggakan olehnya dan yang merupakan salah satu pukulan rahasia dari Pat-kek-kun.

Ia tersenyum seraya berkata.

"Itulah suatu pukulan dari partai kami yang memang agak berguna dan dinamakan Song-tah-kie-bun (Dengan dua tin-ju memukul pintu)."

Secara terus terang ia segera menjelaskan lihaynya pukulan itu dan perubahan-perubahannya yang luar biasa. Ouw Hui mende

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com ngarkan dengan penuh perhatian dan mengajukan satu dua pertanyaan untuk mendapat keterangan lebih jelas.

Dalam Rimba Persilatan, setiap cabang yang sudah menjadi partai dan mempunyai banyak murid, sedikit banyak adalah cabang persilatan yang di-segani orang.

Pat-kek-kun juga pernah mengalami jaman makmurnya dan di suatu masa, nama be-sarnya tidak kalah dari partai-partai kenamaan lainnya, seperti Thay-kek, Pat-kwa dan sebagainya.

Pada waktu bertempur melawan Cin Nay Cie, Ouw Hui telah memperhatikan setiap pukulannya, sehingga ia bisa mengajukan pertanyaan-pertanya-an tepat.

Semula, Cin Nay Cie masih sungkan mem-buka rahasia terlalu banyak, tapi karena setiap pertanyaan Ouw Hui mengenakan jitu intisari Pat-kek-kun, maka pada akhirnya, ia tidak dapat menahan lagi hatinya dan lalu memberi keterangan sejelas-jelasnya.

Di samping itu, Ouw Hui juga menambah dengan pendapatnya sendiri dan komen-tarnya itu telah membuktikan bahwa ia sudah menyelami dasarnya ilmu silat Pat-kek-kun.

Satu jam sudah lewat, tapi mereka belum juga turun dari pohon.

Kawan-kawan Cin Nay Cie yang mengawasi dari sebelah kejauhan, tak tahu apa yang dibicarakan.

Mereka hanya melihat kedua orang itu bicara sambil tertawa-tawa dan menggerak-gerak-kan kaki-tangan, seperti orang sedang bersilat.

Sesudah lewat beberapa lama, mereka tidak memperhatikannya lagi.

Semakin beromong-omong, penghargaan Cin Nay Cie terhadap Ouw Hui jadi semakin tinggi.

"Saudara Ouw,"

Katanya.

"Pat-kek-kun adalah ca-bang persiratan yang sangat lihay. Hanya sayang, aku belum mencapai puncaknya, sehingga kena dirubuhkan olehmu."

"Cin Toako, jangan kau bicara begitu,"

Kata Ouw Hui.

"Dengan setulus hati, aku mengagumi ilmu silat Pat-kek-kun. Sekarang sudah sore dan tak pantas aku meminta pelajaran lebih banyak lagi. Di hari kemudian, jika datang di Pakkhia, aku tentu akan mengunjungi Toako untuk memohon lagi petunjuk-petunjukyang lebih jelas. Untuk sementara, kita berpisahan saja."

Sehabis berkata begitu, ia menyoja dan bergerak untuk melompat turun. Orang tua itu kaget dan berkata dalam hatinya.

"Sebelum bertempur, kita sudah berjanji, bahwa jika aku kalah, aku harus memberitahukan kepadanya hal ihwal perampokan ini. Tapi ia hanya menanya-kan soal-soal ilmu silat dan tidak menagih janjiku itu. Ah! Aku mengerti. Pemuda ini ingin memberi muka kepadaku. Tapi mana bisa aku melanggar janji?"

Memikir begitu, lantas saja ia berkata.

"Tung-gu dulu! Saudara Ouw, jika tidak berkelahi, kita tidak bersahabat. Sesuai dengan janjiku, biarlah sekarang aku memberitahukan seluk beluk peris-tiwa ini."

"Baiklah,"

Kata Ouw Hui.

"Sebenarnya, aku pun mengenal Siang Po Cin. Aku sungguh tidak mengerti, mengapa Ma Kouwnio mendadak membinasakan-nya."

Sehabis berkata begitu lantas saja ia menuturkan apa yang dulu dialaminya di Siang-kee-po. Kejujuran Ouw Hui yang telah bicara berterus terang, lagilagi mengagumkan Cin Nay Cie.

"Sau-dara Ouw,"

Katanya.

"Penuturanmu telah meng-ingatkan aku apa yang sering dikatakan orang, bahwa budi semangkok nasi, harus dibayar dengan seribu uang emas. Bahwa kau tidak melupakan budi Ma Kouwnio adalah suatu bukti, bahwa kau laki-laki sejati. Tadi kau mengatakan, bahwa kau tak mengerti, mengapa Ma Kouwnio begitu tega raem-binasakan Siang Po Cin, kecintaannya. Apa kau menduga, dua putera Ma It Hong itu adalah anak-nya Siang Po Cin?"

Ouw Hui mengagaruk-garuk kepalanya.

"Sebelum menutup mata, Cie Ceng telah mengatakan, bahwa dua anak itu bukan puteranya,"

Katanya. la adalah seorang pintar, tapi sekarang ia benar-benar bingung.

"Saudara kecil,"

Kata Cin Nay Cie.

"Waktu kau berada di Siang-kee-po, apakah kau pernah berte-mu dengan seorang kongcu agung?"

Ouw Hui terkesiap, seolah-olah orang baru tersadar dari pulasnya.

Waktu berada di Siang-kee-po, ia hanya memperhatikan Siang Po Cin yang duduk berduaan bersama Ma It Hong dan ber-omong-omong di bawah pohon.

Sebagai bocah yang baru berusia belasan tahun, ia sama sekali tidak memperhatikan lirikan-lirikan antara Ma It Hong dan si kongcu "mahal".

Sambil mengawaskan Cin Nay Cie, ia menanya.

"Apa Toako maksudkan si kongcu yang diiringi oleh Ong-sie Hengtee dari Pat-kwa-bun?"

"Benar,"

Si tua mengangguk.

"Waktu itu Hok Kongcu dilindungi oleh Ong-sie Hengtee."

Ouw Hui bengong dan alisnya berkerut. Ia coba mengingatingat kejadian yang dulu itu sambil ber-kata dengan suara perlahan.

"Hok Kongcu.... Hok Kongcu.... Hm! Orangnya cakap.... Ya! Memang mirip-mirip dengan kedua bocah itu...."

Cin Nay Cie menghela napas panjang seraya berkata.

"Di ini waktu Hok Kongcu adalah seorang pembesar tinggi yang diuruk dengan kemuliaan, kekuasaan dan kekayaan. Mengenai kekuasaan, be-liau hanya kalah setingkat dari Hongsiang (kaisar). Mengenai kekayaan, apa pun juga yang diinginkan olehnya, tentu diberikan oleh Hongsiang. Tapi, sesudah berusia setengah tua, masih terdapat suatu ganjalan yang tidak memuaskan hatinya. Ganjalan itu adalah. Beliau tidak mempunyai putera atau puteri."

"Apakah Hong Kongcu yang sekarang dikenal sebagai Hok Kong An?"

Tanya Ouw Hui.

"Benar,"

Jawabnya.

"Beliau adalah Hok Thay-swee yang pernah menjadi Touw-tong (panglima besar) dari bala tentara Boanciu, pernah menjadi Congtok propinsi Hunlam dan Kwiciu, Congtok propinci Sucoan dan sekarang menjabat pangkat Thaycu Thaypo (pembesar agung yang menilik putera mahkota) merangkap Pengpo Siangsie (Men-teri peperangan)."

"Hm! Sekarang aku mengerti,"

Kata Ouw Hui.

"Dua anak itu adalah puteranya Hok Thayswee dan ia telah memerintahkan kalian untuk menyambut-nya."

"Bukan begitu,"

Membantah Cin Nay Cie.

"Hok Thayswee masih belum mengetahui, bahwa ia mempunyai dua putera dan kami pun barusan saja mengetahuinya, sesudah diberitahukan oleh Ma Kouwnio."

Ouw Hui manggutkan kepala dan berkata da-lam hatinya.

"Tak heran barusan Ma Kouwnio merah mukanya. Guna kepentingan anaknya, dengan menahan malu, ia sudah membuka rahasia itu ke-pada orang luar."

"Hok Thayswee hanya memerintahkan kami untuk menilik keadaan Ma Kouwnio,"

Kata pula orang tua itu.

"Tapi dengan meraba-raba maksud beliau, kami mengambil putusan, paling benar mengajak Ma Kouwnio pulang ke Pakkhia. Sekarang, suaminya meninggal dunia dan ia tak mempunyai senderan lagi. Di kota raja, Ma Kouwnio bisa berkumpul dengan Hok Thaysweee dan kedua puteranya. Aku merasa, penghidupan itu adalah sepuluh kali lipat lebih baik daripada melakukan pekerjaan piauw-kiok. Saudara Ouw, aku memohon supaya kau sudi membantu kami dengan membujuk Ma Kouwnio."

Pikiran Ouw Hui kusut sekali.

Mendengar perkataan Cin Nay Cie, ia mengakui, bahwa itu adalah paling baik untuk Ma It Hong dan dua puteranya.

Tapi dalam hatinya ia merasa ada apa-apa yang kurang tepat, hanya ia belum bisa mengatakan, apa itu yang kurang tepat.

Sesudah memikir beberapa saat, ia menanya pula.

"Bagaimana dengan Siang Po Cin? Bagaimana ia bisa berada dalam rombongan kalian?"

"Siang Po Cin bekerja pada Hok Thayswee atas pujian Ongsie Hengtee,"

Menerangkan Cin Nay Cie.

"Karena ia mengenal Ma Kouwnio, maka ia turut datang ke mari."

Paras muka Ouw Hui lantas saja berubah.

"Ka-!au begitu, apakah ia membunuh Cie Toako atas perintah Hok Thayswee?"

Tanyanya. Si tua menggeleng-gelengkan kepala.

"Bukan, bukan begitu,"

Ia membantah.

"Hok Thayswee yang selalu teruruk dengan pekerjaan, mana tahu Ma Kouwnio sudah menikah dengan si orang she Cie? Beliau memerintahkan kami datang ke sini untuk rnenyelidiki, karena didorong dengan peringatan, dengan rasa cinta, yang dulu. Sekarang aku sudah menyuruh dua saudara untuk pergi ke kota raja guna melaporkan kejadian girang ini kepada Hok Thayswee yang sudah pasti akan merasa girang sekali."

Bagi Ouw Hui, segala apa sudah menjadi terang.

Pada hakekatnya, ia merasa, bahwa dalam urusan ini, ia tak dapat menyalahkan Hok Kong An atau Ma It Hong.

Tentu saja Siang Po Cin tidak pantas menurunkan tangan jahat terhadap Cie Ceng, tapi karena ia sudah membayar hutang dengan jiwanya sendiri, maka soal itu boleh tak usah dibicarakan lagi.

Ia hanya merasa sedih dan penasaran, karena mengingat nasib Cie Ceng yang sangat buruk.

Sebagai seorang jujur dan kasar, semenjak dulu ia sudah mengetahui, bahwa dua anak itu bukan anak-nya.

Tapi ia sudah menutup mulut dan baru membuka rahasia pada waktu hampir menarik napas yang penghabisan.

Makin dipikir Ouw Hui jadi makin kasihan, sehingga suaranya bergemetar ke-tika ia berkata.

"Cin Toako, urusan ini sudah terang semua. Aku memohon maaf, bahwa aku terlalu banyak mencampuri urusan orang lain."

Ia memberi hormat dan melompat turun ke bawah.

Cara melompat pemuda itu sudah mengejutkan sangat hati Cin Nay Cie.

Batang dan daun pohon sedikit pun tidak bergoyang dan kenyataan ini mem-buktikan, bahwa waktu melompat, Ouw Hui sama sekali tidak meminjam tenaga dari pohon itu.

Ke-pandaian itu adalah kepandaian yang tak bisa diukur bagaimana tingginya.

Cin Nay Cie mengakui, bahwa andaikata ia berlatih terus dalam sepuluh tahun, belum tentu ia bisa memiliki ilmu entengkan badan yang begitu tinggi.

Ia merasa heran, sungguh heran.

bagaimana seorang yang begitu muda sudah mem-punyai kepandaian yang sedemikian lihay.

Dengan rasa masgul, ia meloncat ke bawah dan ia melihat Ouw Hui sudah masuk ke rumah batu, Leng So yang sudah merasa bingung, girang sekali melihat kembalinya Ouw Hui.

Melihat paras kakaknya yang guram, si nona tak berani menanya apa-apa.

Tak lama kemudian, Ong Tiat Gok datang dengan membawa sebakul nasi, daging masak angsio dan tiga botol arak.

Ouw Hui lantas saja menuang arak itu, tapi sebelum ia meminumnya, Leng So sudah mengeluarkan sebatang jarum perak dan mencelupnya di dalam arak untuk menyelidiki, apa arak itu mengandung racun atau tidak.

"Sebegitu lama Ma Kouwnio masih berada di sini, mereka tak akan berani menaruh racun,"

Kata Ouw Hui.

Muka Ma It Hong lantas saja berubah merah.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ouw Hui terus minum air kata-kata itu sehingga tiga botol arak kosong semuanya.

Dalam keadaan mabuk, ia menengkurap di atas meja dan lalu tidur menggeros.

Waktu tersadar pada esokan paginya, pung-gungnya ditutup dengan jubah panjang.

Ia yakin, bahwa hal itu tentu dilakukan oleh adiknya.

Dengan penuh rasa berterima kasih dan kasih-an, ia mengawasi si nona yang sedang berdiri di depan jendela dengan beberapa lembar rambutnya berkibar-kibar ditiup angin pagi.

"Jie-moay!"

Ia memanggil.

"Hm,"

Sahutnya sambil memutar badan dan lalu menghampiri.

"Kau tak tidur?"

Tanya Ouw Hui seraya meman-dang muka adiknya yang lesu.

"Semalam aku lupa memberitahukan, bahwa dengan adanya Ma Kouwnio, kita tak usah khawatir gangguan mereka."

"Tengah malam tadi Ma Kouwnio telah ke luar dan sampai sekarang ia belum kembali,"

Kata si nona.

"Ia berjalan keluar dengan indap-indap, seperti khawatir kau tersadar, maka aku pun lantas pura-pura pulas."

Ouw Hui terkejut dan lalu membuka pintu.

Bersama Leng So ia segera pergi ke hutan, ke tempat berkumpulnya kawanan Cin Nay Cie.

Benar saja di situ sudah tidak terdapat seorang manusia.

Tertambat di satu pohon, mereka menemukan dua ekor kuda yang rupanya sengaja ditinggalkan untuk mereka berdua.

Tak jauh dari dua kuda itu, terdapat dua ku-buran baru, tanpa pertandaan apa-apa, sehingga mereka tak bisa menebak, mana kuburan Cie Ceng, mana kuburan Siang Po Cin.

Dengan hati duka, Ouw Hui memandang dua gundukan tanah itu.

"Yang satu suami, yang lain musuh besar, pembunuh suami,"

Katanya di dalam hati.

"Akan tetapi, di mata Ma Kouwnio, mereka berdua mungkin tak banyak bedanya. Mereka hanya merupakan dua manusia yang mencintai Ma Kouwnio, tapi tidak dicintai, dan mereka hanyalah orang-orang yang bernasib buruk, yang sudah mengorbankan jiwa untuk Ma Kouwnio."

Mengingat begitu, ia menghela napas ber-ulang-ulang. Sesudah itu, ia lalu menceritakan kepada Leng So segala pengalaman dan pembicaraan dengan Cin Nay Cie kemarin.

"Oh begitu?"

Kata Leng So.

"Cin Nay Cie di-kenal oleh mendiang guruku dan ia mempunyai gelaran mentereng, yaitu Pat-pi Lo-cia (Lo Ciayang bertangan delapan). Aku tak nyana, dia sekarang sudah menjadi anjingnya bangsa Boan. Ouw Toako, kita boleh tak usah mengenal dia lagi."

"Benar,"

Sahut sang kakak.

"Hm!"

Menggerendeng Leng So.

"Dengan isteri mencintai satu Thay-cu Thay-po Peng-po Siang-sie, memang lebih baik Cie Ceng mati siang-siang."

"Tak salah, lebih cepat mampus, memang lebih baik,"

Sahut Ouw Hui. Dengan berendeng, mereka lalu berlutut beberapa kali di hadapan dua kuburan itu.

"Cie Toako, Siang Kongcu,"

Kata Ouw Hui dengan suara parau.

Tak perduli apa semasa hidup, kalian telah mera-buang budi atau mendendam sakit hati terhadapku, sesudah kalian berpulang ke alam baka, budi dan sakit hati itu sudah lunas semuanya.

Mengenai Ma Kouwnio, ia sekarang sudah berenang dalam ke-mewahan dan kekayaan.

Aku hanya memberitahu-kan kalian, supaya kalian jangan ingat-ingat pada-nya."

Sehabis bersembahyang, sambil menuntun dua ekor kuda itu, Ouw Hui dan Leng So lalu mening-galkan hutan.

"Toako, ke mana kita sekarang per-gi?"

Tanya si nona.

"Paling dulu cari rumah penginapan,"

Jawabnya.

"Kau harus tidur sampai puas. Aku tak mau adikku sakit."

Mendengar kata-kata "adikku", bukan main senangnya Leng So.

Ia mengawasi sang kakak dan tertawa manis.

* Thia Leng So pulas nyenyak sekali, sampai lohor baru ia tersadar.

Sesudah mencuci muka, seorang diri ia ke luar dari rumah penginapan dengan mengatakan mau ke pasar untuk membeli barang.

Waktu kembali ia membawa dua bungkusan besar.

"Toako,"

Katanya sambil tertawa.

"Coba te-bak, barang apa yang dibeli olehku?"

Melihat pada bungkusan itu terdapat cap "Toko Pakaian Loo Kiu Hok", Ouw Hui menyahut.

"Apa kita menyamar lagi?"

Leng So lalu membuka dua bungkusan itu yang masingmasing berisi sestel pakaian, pakaian lelaki yang berwarna hijau muda dan pakaian perempuan, berwarna kuning muda.

Sesudah makan malam, si nona minta kakaknya mencoba pakaian baru itu yang ternyata agak terlalu panjang dan terlalu besar, sehingga ia lantas mengeluarkan gunting, benang dan jarum dan mulai mengecilkannya di bawah sinar lilin.

"Jie-moay,"

Kata Ouw Hui.

"Menurut pikiranku, paling baik kita sekarang pergi ke Pakkhia untuk melihat-lihat keramaian."

Leng So tertawa seraya berkata.

"Benar tidak dugaanku? Itulah sebabnya, aku sudah membeli dua stel pakaian baru, supaya orang jangan mentertawai pakaian gadis dusun yang jalan-jalan di kota raja."

"Jie-moay, kau benar pintar!"

Memuji sang kakak.

"Memang, kita, orang dusun, sekarang ingin menemui pentolan-pentolan di bawah kakinya Anak Allah (kaisar) dan menonton itu pertemuan para Ciangbunjin dari Hok Kongcu."

Kata-kata itu yang dikeluarkan dengan sikap acuh tak acuh, bernada angker sekali.

"Apa maksud Hok Kongcu dengan mengadakan pertemuan Ciangbunjin itu?"

Tanya si nona sambil terus menjahit.

"Bagaimana pendapatmu?"

"Terang bagaikan siang,"

Jawabnya.

"Dia tentu ingin menjaring orang-orang gagah di seluruh ne-geri untuk dijadikan kaki tangannya."

Leng So mesem, di dalam hati ia yakin, bahwa orang gagah yang tulen belum tentu sudi menghadiri pertemuan itu.

"Tapi kenapa orang gagah yang seperti kau tak mau menghadiri pertemuan itu?"

Tanyanya sambil tertawa.

"Aku belum termasuk orang gagah,"

Kata Ouw Hui. Ia berdiam sejenak dan berkata pula sambil menghela napas.

"Hm! Jika ayahku masih hidup, jika ia menyatroni dan mengacau pertemuan itu, hasilnya tentu menggembirakan sekali."

"Aku rasa, kepandaianmu sendiri sudah cukup tinggi untuk mengganggu Hok Kongcu,"

Kata si nona.

"Bukankah baik jika kau mengacau sedikit rencananya? Menurut taksiranku ada seorang sa-habat yang pasti akan pergi ke situ."

"Siapa?"

Tanya Ouw Hui.

"Kau jangan berlagak pilon!"

Kata sang adik. Ouw Hui memang sudah menebak siapa yang dimaksudkan Leng So, sehingga ia lantas saja berkata.

"Belum tentu dia datang."

Ia berdiam sejenak, seperti orang berpikir, dan berkata pula.

"Mengenai Wan Kouwnio, aku masih merasa sangsi, apa dia kawan atau lawan."

Leng so tertawa.

"Jika aku mempunyai lawan yang menghadiahkan Giok-hong-hong, aku rela bermusuhan dengan semua manusia di dunia ini,"

Katanya sambil tertawa. Baru saja Leng So mengucapkan perkataan itu, di luar jendela mendadak terdengar suara seorang wanita.

"Baiklah! Aku pun menghadiahkan kau seekor Hong-hong!"

"Srt!"

Serupa benda menyambar masuk dari kertas jendela.

Dengan cepat Ouw Hui menyambar garisan kayu dan menghantam benda itu yang lantas saja jatuh di meja, dan dengan berbareng, tangan kirinya mengebas api lilin yang segera padam dan ruangan itu jadi gelap gulita.

"Omong-omong dengan memadamkan lilin, sungguh bagus!"

Kata pula suara wanita itu. Mendengar suara itu yang menyerupai suara Wan Cie Ie, jantung Ouw Hui memukul keras.

"Wan Kouwnio!"

Ia memanggil.

Hampir berbareng, ia mendengar tindakan kaki yang sangat enteng yang menyingkir dari bawah jendela.

Ouw Hui menyulut lilin dan dari sinar pe-nerangan, ia melihat muka Leng So yang berubah pucat.

"Mari kita menyelidiki,"

Ia mengajak.

"Kau saja sendiri,"

Jawab si nona.

"Hm!"

Menggerendeng Ouw Hui, kakinya tidak bergerak. Ia mengambil benda yang barusan di-timpuk dari luar dan ternyata benda itu adalah satu batu kecil.

"Orang itu sangat luar biasa,"

Katanya di dalam hati.

"Bagaimana ia bisa mendengari di bawah jendela, tanpa diketahui olehku?"

Walaupun mengetahui, bahwa Leng So merasa sangat kurang senang, ia membuka jendela dan melongok keluar.

Di luar gelap gulita, sunyi senyap, tanpa seorang manusia.

Dengan hati masgul, ia menutup jendela dan mendekati adiknya.

"Sudah malam, baik Toako pergi tidur,"

Kata Leng So.

"Aku belum ngantuk,"

Jawabnya.

"Tapi aku merasa capai,"

Kata si nona.

"Besok pagi-pagi kita sudah mesti berangkat."

"Baiklah,"

Kata Ouw Hui yang lalu bertindak ke luar dan kembali di kamarnya.

Malam itu, ia tak bisa pulas.

Sambil gulak-gulik di atas bantal, rupa-rupa pikiran masuk ke dalam otaknya.

Ia ingat Wan Cie Ie, ia ingat Thia Leng So, ia ingat peristiwa Ma It Hong dan Cie Ceng.

Sampai jam empat pagi, baru-lah ia bisa pulas.

Besok paginya, dengan membawa pakaian Ouw Hui, Leng So mengetuk pintu kamar pemuda itu.

"Ouw Toako, lekas bangun!"

Ia memanggil.

"Ada barang baik untukmu."

Begitu pintu terbuka, si nona bertindak masuk, menaruh pakaian itu di atas meja dan lalu keluar lagi.

Ouw Hui segera menukar pakaian dan ternyata, bahwa pakaian baru itu, yang semula terlalu panjang dan longgar, sekarang pas persis di badannya.

Semalam, waktu kembali ke kamarnya, Leng So baru saja mulai menjahit, sehingga dapatlah ditaksir, bahwa semalaman suntuk si nona menger-jakan pakaiannya.

Dengan rasa berterima kasih, ia segera pergi ke kamar adiknya dan berkata sambil menyoja.

"Jie-moay, terima kasih banyak untuk ke-baikanmu."

"Terima kasih apa?"

Kata sang adik sambil ter-tawa.

"Lain orang menghadiahkan kau seekor kuda yang sangat bagus."

Ouw Hui terkejut.

"Kuda apa?"

Tanyanya.

Mereka lantas pergi ke pekarangan belakang dan benar saja, seekor kuda bulu putih tertambat di tambatan kuda.

Ouw Hui kaget bukan main, karena kuda itu adalah kuda yang dulu ditunggang Tio Poan San dan belakangan digunakan oleh Wan Cie Ie.

"Tadi pagi, baru saja aku bangun, pelayan hotel ribut-ribut dan mengatakan, bahwa pintu depan dibuka pencuri,"

Menerangkan Leng So.

"Sesudah diselidiki, tak ada kehilangan apa pun juga, tapi di pekarangan belakang tertambat kuda itu, yang tak diketahui kapan datangnya."

Sehabis berkata begitu, ia mengangsurkan satu bungkusan sutera ke-pada Ouw Hui dan di atas bungkusan itu tertulis.

"Dipersembahkan kepada Ouw Siangkong dan Thia Kouwnio" . Ouw Hui membukanya dan... matanya membe-lalak. Ia terperanjat, karena isinya adalah seekor Giok-hong (burung hong yang terbuat dari batu giok), yang tiada bedanya dengan Giok-hong yang pernah dihadiahkan kepadanya oleh Wan Cie Ie.

"Apa Giok-hongku jatuh? Apa dicuri olehnya?"

Ouw Hui menanya diri sendiri, sambil merogoh saku.

Tapi Giok-hong itu masih tetap berada dalam sakunya dan ketika dikeluarkan, ternyata kedua Giok-hong tiada bedanya, hanya yang satu mengha-dap ke kiri, yang lain menghadap ke kanan.

Dalam bungkusan itu terdapat sehelai kertas dengan tulisan.

"Kuda kembali pada majikannya, Hong dihadiahkan kepada pendekar wanita."

Lagi-lagi Ouw Hui terkejut.

"Kuda itu bukan milikku,"

Pikirnya.

"Kenapa dikatakan, kuda kembali pada majikannya? Apa dia ingin aku mengembalikannya kepada Tio Samko?"

Ia mengangsurkan kertas itu dan Giokhong kepada Leng So seraya berkata.

"Wan Kouwnio juga menghadiahkan seekor Giok-hong kepadamu."

"Aku bukan pendekar wanita,"

Kata si nona sesudah membaca tulisan itu.

"Giok-hong itu bukan untukku."

"Bukankah di atas bungkusan terang-terangan ditulis Thia Kouwnio'?"

Kata Ouw Hui.

"Dan semalam, ia pun telah berjanji untuk menghadiahkan Giok-hong kepadamu."

Leng So mengangguk seraya berkata.

"Jika kau mengatakan begitu, biarlah aku menerimanya. Wan Kouwnio begitu baik hati, tapi aku tak mempunyai apa-apa untuk membalasnya."

Sesudah itu, mereka meneruskan perjalanan ke arah utara. Di sepanjang jalan tak ada kejadian penting dan Wan Cie le pun tak pernah muncul lagi. Mereka berjalan tanpa menyebut

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com nyebut lagi halnya nona itu, tapi di dalam hati, mereka selalu mengingatnya.

Setiap kali mereka bicara di dalam kamar, Wan Cie le seolah-olah berada di luar jendela.

Setiap kali mereka berpapasan dengan penunggang kuda, hati mereka terkesiap, seperti juga penunggang kuda itu adalah Wan Cie le.

Perjalanan ke Pakkhia bukannya dekat.

Perjalanan itu harus ditempuh dengan melawan salju, hujan dan angin.

Semakin lama, Leng So kelihatan jadi semakin kurus, mungkin karena terlalu capai.

Akhir-akhirnya, sesudah menderita banyak ke-sengsaraan, mereka tiba juga di Pakkhia dan pada suatu hari, sambil merendengkan kuda, mereka masuk ke kota raja.

Selagi masuk di pintu kota, Ouw Hui melirik adiknya dan lapat-lapat, ia seperti melihat jatuhnya sebutir air mata Leng So di atas tanah.

Ia tidak melihat tegas, karena pada saat itu, si nona melengoskan mukanya.

Tiba-tiba saja Ouw Hui merasa sangat menyesal dan ia mengeluh dalam hatinya.

"Ah! Guna apa aku datang ke Pakkhia. Guna apa?"

Waktu itu adalah jaman Kaisar Kian-liong, ka-pan seluruh Tiongkok aman dan makmur dan kota Pakkhia menjadi pusat segala kemewahan dan ke-indahan.

Ouw Hui dan Thia Leng So masuk dari pintu Ceng-yang-bun.

Terlebih dulu mereka men-cari rumah penginapandan minta dua buah kamar.

Sesudah makan tengah had, mereka keluar jalan-jalan di jalanan raya yang ramai dan diapit dengan gedung-gedung besar dan indah.

Sesudah mondar-mandir tanpa tujuan lebih dari satu jam, Ouw Hui membeli kembang gula dan bebuahan dan memakannya bersama Leng So sem-bari berjalan.

Tiba-tiba mereka mendengar suara gembreng dan melihat berkerumunnya sejumlah orang di sebidang tanah lapang.

Setelah didekati, orang-orang itu ternyata sedang menonton pertunjukan seorang penjual silat.

Ouw Hui jadi tertarik.

"Jiemoay, mari kita lihat,"

Katanya. Mereka lalu mendesak maju dan melihat seorang lelaki yang bertubuh tinggi-besar berdiri di tengah gelanggang dengan tangan mencekal golok.

"Tuan-tuan, sekarang aku hendak bersilat dengan ilmu golok Su-bun To-hoat,"

Katanya sambil menyoja.

"Aku memohon tuan-tuan suka memberi pengajaran jika terdapat bagian-bagian yang kurang benar."

Sesudah memasang kuda-kuda, ia mulai bersilat dan memperlihatkan macam-macam pukul-an, seperti Tay-pengtian-cie (Garuda membuka sayap), Kim-kee-tok-lip (Ayam emas berdiri dengan satu kaki), Hway-tiong-po-goat (Mendukung bu-lan) See-Ceng-pay-Hud (See Ceng memberi hormat kepada Sang Budha) dan Iain-lain.

Pukulan-pu-kulan itu dapat dikatakan dijalankan menurut per-aturan, hanya gerakan kakinya "kosong" (tidak man-tap) dan sabetansabetan goloknya agak "melayang" (tidak bertenaga), sehingga pertunjukan itu tiada harganya untuk ditonton.

Ouw Hui merasa geli dan berkata dalam hatinya.

"Aku memang sudah lama mendengar, bahwa orang di kota raja kebanyakan hanya bisa omong besar, tapi tidak berisi."

Baru saja ia menarik tangan Leng So untuk meninggalkan tempat itu, dari antara orang banyak tiba-tiba terdengar suara tertawa dan cacian.

"Hei! ilmu golok apa yang dipertunjukkan olehmu? Ilmu golok kentut anjing?"

Si penjual silat tentu saja jadi gusar sekali. Dengan mata mendelik, ia membentak.

"Kurang ajar kau! Ilmu golokku adalah Su-bun To-hoat yang tulen. Apa ada bagian yang salah? Jika benar, aku ingin minta pengajaranmu."

Hampir berbareng, seorang pria yang bertubuh kekar dan mengenakan seragam bu-khoa (pem-besar militer) melompat masuk.

"Baiklah,"

Katanya.

"Aku bersedia untuk memberi pelajaran."

Sehabis berkata begitu, ia menghampiri si penjual silat dan mengambil goloknya.

Mendadak secara tak disengaja, ia melihat Ouw Hui.

Untuk sejenak, ia ter-tegun dan kemudian berteriak dengan suara girang.

"Ouw Toako! Kau datang di Pakkhia? Ha-ha-ha! Kau adalah ahli silat golok pada jaman ini. Cobalah jalankan sejurus dua jurus, supaya bocah ini bisa membuka matanya."

Begitu lekas orang itu masuk ke gelanggang, Ouw Hui dan Leng So sebenarnya sudah mengenali, bahwa ia adalah Ong Tiat Gok, seorang tokoh dari Eng-jiauw-gan-heng-bun.

Waktu mengejar Ma It Hong, ia nyamar sebagai perampok dan sekarang ia ternyata seorang bu-khoa.

Ouw Hui tahu, bahwa dia adalah seorang polos, bukan manusia licik.

Ia tersenyum seraya berkata.

"Kepandaianku tak ada artinya. Ong Toako, kau sajalah yang memper-lihatkan kemahiranmu."

Ong Tiat Gok jadi malu hati.

Ia tahu, bahwa kepandaian Ouw Hui banyak lebih tinggi dari pada-nya dan di hadapan pemuda itu, mana ia berani memperlihatkan kepandaiannya?

Maka itu, ia lan-tas saja melemparkan golok yang dicekalnya.

"Mari!"

Katanya sambil tertawa.

"Ouw Toako, nona ini she... she Thia. Ya. Thia Kouwnio, mari kita minum beberapa cawan. Dengan kalian datang sebagai tamu, aku mesti mengambil peranan tuan rumah."

Ia menarik tangan Ouw Hui dan lalu berjalan pergi.

Si penjual silat tentu saja tak berani cari urusan dengan seorang pembesar dan tanpa mengatakan suatu apa, ia lantas saja menjemput goloknya.

Sambil berjalan, Ong Tiat Gok berkata dengan suara gembira.

"Ouw Toako, orang kata tidak ber-kelahi, tidak jadi sahabat. Aku benar-benar kagum melihat ilmu silatmu. Biarlah besok aku memberi laporan kepada Hok Thay-swee. Ia tentu akan memberi jabatan penting kepadamu. Aha! Kalau sudah kejadian begitu, aku sendiri akan dipayungi olehmu...."

Tibatiba suaranya berubah perlahan.

"Ouw Toako,"

Katanya separuh berbisik.

"Kau tahu bagaimana keadaan Ma Kouwnio sekarang? Ber-sama kedua puteranya, ia sekarang berdiam dalam gedung Thayswee. Hidup beruntung dan mewah. Hok Thayswee tidak kekurangan apa pun jua. Ia hanya kekurangan anak. Mungkin sekali di satu hari Ma Kouwnio akan diangkat menjadi Thayswee Hu-jin. Ha-ha-ha! Jika Toako tahu, hari itu sudah pasti Toako tak akan bertempur dengan rombongan kami. Bukankah begitu?"

Sehabis berkata begitu, ia tertawa terbahak-bahak.

Ouw Hui hanya mengangguk, ia tak mengeluar-kan sepatah kata.

Ia menganggap, bahwa sesudah suaminya meninggal dunia, Ma It Hong memang merdeka untuk menikah lagi.

Akan tetapi, meng-ingat nasib Cie Ceng, hatinya jadi duka sekali.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah restoran besar, yang di depannya digantung merek "Kie Eng Lauw" (Loteng atau restoran tern-pat berkumpulnya orang-orang gagah).

Begitu melihat Ong Tiat Gok, pelayan buru-buru mengham-piri seraya berkata.

"Ong Tayjin, siang-siang kau sudah datang. Mau makan apa? Apa mau minum arak dulu?"

"Baiklah,"

Jawabnya.

"Hari ini aku mengundang dua orang sahabat yang berkedudukan tinggi. Kau harus membuat sayur-sayur yang paling lezat."

"Tak usah Tayjin memesan,"

Kata si pelayan sambil mengantar tetamunya ke sebuah meja dengan kursi yang indah.

Sambil minum arak, Ouw Hui menyapu seluruh ruangan dengan matanya.

Ia mendapat kenyataan, bahwa sebagian besar tamu berpakaian seragam militer atau orang-orang dari Rimba Persilatan.

Restoran itu ternyata adalah langganan orang-orang dunia persilatan.

Makanan di kota raja tentu saja berbeda dengan makanan di kota-kota lain.

Lebih-lebih karena Ong Tiat Gok ingin mempertahankan "muka", maka sa-yur-sayur yang dipesannya semua sayur kelas satu.

Sambil makan, Ouw Hui tak hentinya memuji le-zatnya makanan itu.

Sesudah mencegluk belasan cawan arak, tiba-tiba terdengar masuknya sejumlah orang di kamar sebelah dan tak lama kemudian, mereka mulai berjudi.

"Thian-ong-kiu, makan semuanya!"

Demikian terdengar teriakan seseorang. Ouw Hui terkejut karena suara itu kedengaran-nya tak asing lagi.

"Kawan lama!"

Kata Tiat Gok sambil tertawa.

"Cin Toako!"

Ia berteriak.

"Coba tebak, siapa yang lagi bersantap denganku?"

Ouw Hui lantas saja ingat, bahwa yang dipanggil "Cin Toako"

Mestinya Cin Nay Cie, Ciangbunjin dari Pat-kek-kun.

"Tak perduli!"

Teriak seorang di kamar sebelah.

"Tak perduli kau punya tamu babi atau tamu anjing. Keluarlah, mari ikut jajal-jajal peruntungan."

"Tak apa kau mencaci aku, tapi jangan kau mencaci seorang sahabat baik,"

Kata Tiat Gok seraya tertawa. Ia bangun berdiri dan berkata pula sambil menarik tangan Ouw Hui.

"Ouw Toako, mari kita lihat."

Begitu mereka menyingkap tirai dan bertindak masuk ke kamar sebelah, Cin Nay Cie menengok dan ia kaget tak kepalang.

"Aduh! Kau!"

Teriaknya dengan girang.

"Sungguh tak dinyana!"

Sambil mendorong kartu ( Kartu Paykiu terbuat dari tulang) ia bangun berdiri dan lalu memukul kepalanya beberapa kali.

"Maaf! Maaf! Benar-be-nar aku kurang ajar,"

Katanya seraya tertawa.

"Siapa nyana yang datang adalah Ouw Toako. Mari, mari! Kau jadi 'cong' (bandar)."

Ouw Hui mengawasi dan ternyata, di seputar meja paykiu berkumpul belasan orang dengan Cin Nay Cie sebagai "cong".

Antara mereka, kira-kira separuh terdiri dari orang-orang yang pernah menyerang rombongan Hui-ma Piauw-kiok dengan menyamar sebagai perampok.

Ia mengenali si orang she Tie yang bersenjata Lui-cin-tong, si orang she Siangkoan yang menggunakan San-tian-tui dan si orang she Liap yang bersenjata pedang.

Melihat kedatangannya, ruangan yang tadi ribut dengan mendadak berubah sunyi senyap.

Sambil menyoja keempat penjuru, Ouw Hui berkata.

"Terima kasih atas kebaikan tuan-tuan yang sudah sudi mengajak aku turut berjudi."

Sesudah saling mengucapkan kata-kata meren-dah, orang she Liap itu berkata.

"Ouw Toako, ayolah, kau jadi 'cong'. Apa kau bawa uang? Aku sedang mujur. Gunakanlah dulu uangku."

Sambil berkata begitu, ia mendorong tiga bungkusan uang ke arah Ouw Hui.

Ouw Hui adalah seorang yang pandai bergaul.

Biarpun ia tak punya rasa simpati terhadap orang-orang itu yang menjadi kaki tangan bangsa Boan, tapi karena melihat sikap mereka yang manis dan juga karena ia sendiri memang gemar berjudi, maka ia lantas saja berkata.

"Biar Cin Toako saja yang menjadi 'cong'. Siauwtee hanya mau coba-coba sedikit. Liap Toako, simpan dulu uangmu. Kalau uangku sudah habis, baru aku pinjam."

La menengok dan berkata pula.

"Jie-moay, apa kau mau turut?"

Si nona tertawa dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak, biar aku bantu kau mengangkut peraknya saja,"

Katanya.

Cin Nay Cie tidak berlaku sungkan lagi dan lalu mencuci kartu serta melempar biji-biji dadu.

Ouw Hui dan Ong Tiat Gok lantas saja turun ke ge-langgang.

Semula, karena datangnya seorang luar, beberapa bu-khoa agak kikuk, tapi sesudah beberapa lama, suasana jadi gembira kembali dan semua orang bisa berjudi dengan memusatkan seantero perhatiannya.

Ouw Hui main kecil, ada kalah, ada memang.

la berjudi tanpa perhatian, karena pikirannya sedang bekerja di jurusan lain.

"Hari ini adalah Pee-gwee Ceekauw (Bulan Delapan tanggal sembilan),"

Pikirnya.

"Lagi lima hari perayaan Tiongchiu. Pesta besar untuk menyambut pertemuan para Ciangbunjin yang dihimpunkan oleh Hok Kongcu, ke-banyakan akan diadakan pada harian Tiong-chiu. Mungkin sekali bangsat Hong Jin Eng, sebagai Ciangbunjin dan Ngo-houw-bun, akan datang ke sini. Tapi andaikata ia tak datang, aku masih bisa mencari tahu halnya dalam pertemuan itu. Orang-orang ini adalah pembantu-pembantu yang diper-caya oleh Hok Kongcu. Banyak sekali untungnya jika aku bergaul dengan mereka."

Sesudah meng-ambil keputusan itu, ia mulai main dengan gembira.

Selang beberapa lama, kartunya mulai dapat angin dan dalam sekejap, ia sudah menang kurang-lebih lima ratus tahil perak.

Selang satu jam lebih, siang mulai terganti dengan malam dan semakin lama orang main semakin besar.

Tiba-tiba di luar terdengar suara tindakan sepatu, tirai tersingkap dan tiga orang kelihatan berjalan masuk.

Melihat mereka, Ong Tiat Gok lantas saja bangun berdiri dan berkata dengan sikap menghormat.

"Aha! Toasuko, Jiesuko, kalian juga datang."

Semua orang yang berjudi turut menyambut dengan macammacam panggilan, ada yang memanggil "Ciu Toaya"

Dan "Can Jieya", ada pula yang menggunakan istilah "Ciu Tayjin"

Dan "Can Tayjin". Ouw Hui dan Leng So lantas saja bisa menebak siapa mereka itu.

"Mereka tentunya Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo dari Eng-jiauw-gan-heng-bun,"

Kata Ouw Hui dalam hatinya.

"Mereka memang mempunyai nama yang tidak kecil."

Ia mengawasi dan mendapat kenyataan, bahwa Ciu Tiat Ciauw bertubuh kurus-kecil, tingginya tidak lebih dari lima kaki, usianya baru kira-kira lima puluh tahun, tapi rambutnya sudah berwarna putih, sedang Can Tiat Yo, yang berusia sedikit lebih muda dari kakak seperguruannya, berbadan jangkung-kurus, tangan-nya mencekal pipa Pit-yan-hu, pada makwanya ter-gantung rantai emas dan gerak-geriknya seperti seorang bangsawan.

Melihat orang yang ketiga, Ouw Hui agak terkejut, karena ia mengenali, bahwa orang itu bukan lain dari pada In Tiong Shiang yang dulu pernah bertemu dengannya di Siang-kee-po.

Rambutnya orang itu sudah berwarna dauk dan ia kelihatannya banyak lebih tua.

Begitu masuk, mata In Tiong Shiang menyapu muka Ouw Hui, tapi ia tidak memperdulikan, karena menganggap pemuda itu sebagai seorang pemuda desa biasa.

Sebagai-mana diketahui, dalam pertemuan di Siang-kee-po, Ouw Hui baru berusia dua belas atau tiga belas tahun.

Cin Nay Ciauw buru-buru bangun berdiri seraya berkata.

"Ciu Toako, Can Jieko, aku mohon mem perkenalkan kalian dengan seorang sahabat. Inilah Ouw Toako yang mempunyai kepandaian tinggi. la baru saja datang di kota ini."

Ciu Tiat Ciauw dan adik seperguruannya hanya mengangguk sedikit.

Sebagai orang-orang ternama di kota raja, mereka tentu saja tidak memandang sebelah mata kepada Ouw Hui yang dianggapnya sebagai pemuda desa.

Sementara itu, Tiat Gok mengawasi Leng So dengan rasa heran, karena si nona sama sekali tidak menegur kedua saudara seperguruannya, sedang ia pernah mengaku mengenal mereka.

Ia tentu saja tak tahu, bahwa pada ketika itu, si nona bicara sembarangan saja untuk memancing dirinya.

Leng So sendiri hanya tersenyum sambil manggutmanggutkan kepalanya dan Tiat Gok tak berani menanya apaapa.

Sesudah menjadi "cong"

Dua kali lagi, Cin Na Cie menyerahkan kepada Ciu Tiat Ciauw. Dengan kedatangan tiga "musuh"

Baru, pertaruhan lantas saja berubah besar.

Ouw Hui semakin mujur.

Belum setengah jam ia sudah menang seribu tahil lebih Yang paling apes adalah Ciu Tiat Ciauw.

Baru jadi bandar, sebagian besar uangnya sudah amblas.

Sesudah menjadi "enng"

Sekali lagi dengan kekalahati yang lebih ht bat. ia mendorong kartu seraya berkata.

"Aku laci sial. Jietee, biarlah kau yang jadi bandar."

Kartu Can Tiat Yo sedang-sedang saja, tak mujur dan juga tak sial.

Ouw Hui terus dapat angin, dengan beruntun ia mengeduk kira-kira sembilan Ratus tahil lagi, sehingga di depannya penuh dengan Tumpukan perak.

"Anak desa lagi disayang oleh Malaikat uang."

Kata Tiat Yo sambil tertawa.

"Mari. Kau saja yang jadi bandar."

"Baiklah,"

Kata Ouw Hui yang lalu mencuci kartu.

Dadu dibuang dan kartu-kartu dibagi.

Ouw hui membuka kartunya yang ternyata dua kartu pertama delapan mata, sedang dua kartu yang kedua sepasang "Panteng" (nama kartu) dan ia "makan"

Dua orang.

Biarpun kalah, Ciu Tiat Ciauw tidak jadi mendongkol dan Can Tiat Yo pun menerima kekalahan dengan sikap tenang sambil tertawa-tawa dan guyon-guyon.

Orang yang uringuringan adalah In Tiong Shiang dan semakin ia marah-mai ah semakin besar kekalahannya.

Akhirnya, dengan mata melotot ia mendorong semua sisa uangnya yang berjumlah kira-kira dua ratus tahil.

Selelah kartu dibuka, ia keok lagi, tiga mata dimakan tiga mata, sembilan mata dimakan sembilan mata.

Muka In Tiong Shiang lantas saja berubah pucat.

Ia mengangkat tangan dan menggebrak meja, sehingga kartu, biji dadu dan uang pada meloncat ke atas.

'Kartu si anak desa ada setannya!"

Teriaknya,"Mana bisa begitu gila? Tiga mata makan tiga, sembilan makan sembilan. Biarpun mujur, tak mungkin mujur sampai begitu!"

"In Toako,"

Kata Cin Nay Cie.

"Jangan kau bicara sembarangan. Ouw Toako adalah seorang sahabat baik."

Semua orang mengawasi In Tiong Shiang dan kemudian memandang Ouw Hui.

Orang-orang yang pernah menyaksikan kelihayannya pemuda itu, semua menduga, bahwa ia tak akan tinggal diam tuduhan main curang yang bersembunyi dalam kata-kata In Tiong Shiang.

Mereka yakin, jika sampai bergebrak, si orang she In akan mendapat malu besar.

Tapi di luar dugaan, Ouw Hui tak jadi gusar.

"Menang-kalah adalah kejadian lumrah dalam pe-perangan,"

Katanya sambil tersenyum.

"Perlu apa In toako jadi panas perut?"

Tiba-tiba In Tiong Shiang bangun berdiri dan membuka tali ikatan pedangnya yang tergantung di pinggang.

Semua orang menduga ia mau turun tangan, tapi mereka tidak mencegah.

Harus dike-tahui, bahwa terjadinya perkelahian karena garagara judi adalah kejadian biasa di kota raja.

Tapi In Tiong Shiang bukan mau bertempur.

Sambil meletakkan pedangnya di atas meja, ia berkata.

"Pe-dangku ini paling sedikit berharga lima ratus tahil perak. Mari kita bertaruh lima ratus tahil sekali pukul!"

Pedang itu indah sekali dengan sarungnya yang tertahta emas dan batu-batu permata dan dapat ditaksir, bahwa harganya memang tak kecil.

"Baiklah,"

Kata Ouw Hui sambil tersenyum. Sambil mengambil kartu dan biji dadu, In Tiong Shiang berkata.

"Kali ini satu lawan satu, aku dan si anak desa. Lain orang tak boleh turut."

Ouw Hui segera mengambil lima ratus tahil dan mendorongnya ke depan.

"Lemparlah dadu,"

Katanya dengan suara tenang.

In Tiong Shiang memegang dua biji dadu dalam tangannya dan menggoyang-goyang beberapa kali.

Sesudah meniup keras, ia melontarkannya.

Sebuah dadu lima mata, yang sebuah lagi empat mata, jadi semuanya sembilan mata, yang mana berarti, bahwa ia berhak menarik empat kartu terlebih dulu.

Begitu melihat kartunya, paras mukanya lantas saja berseri-seri.

"Anak desa, kali ini kau tak bisa main gila lagi!"

Katanya seraya membuka tangan kirinya di mana terdapat dua kartu dengan sembilan mata dan setelah ia membuka telapakan tangan kanannya, ter-lihatlah sepasang Thian-pay.

Ouw Hui sendiri tidak membuka kartunya.

Dengan jari ia meraba-raba muka kartu dan kemudian, ia menaruh keempat kartu itu, dengan ditengkurep-kan, di atas meja, dua di depan dan dua di belakang.

"Anak desa!"

Bentak In Tiong Shiang.

"Balik kartumu!"

Karena merasa pasti menang, ia segera menyapu lima ratus tahil uang Ouw Hui ke ha-dapannya.

"Jangan terburu nafsu, lihat dulu kartu Ouw Toako,"

Kata Tiat Gok.

Ouw Hui tak mengeluarkan sepatah kata.

Ia melonjorkan tiga jarinya dan perlahan-lahan menepuk belakang keempat kartunya.

Sesudah itu, ia mendorong empat kartu itu yang lantas saja ber-campuran dengan kartu-kartu lain yang sudah di-buang.

"Kau menanglah!"

Katanya sambil tersenyum.

Bukan main girangnya In Tiong Shiang.

Tapi...

baru saja ia niat mengejek si anak desa, secara kebetulan matanya melihat meja dan semangatnya terbang!

Mukanya pucat dan ia mengawasi meja dengan mata membelalak.

Mengapa?

Di muka meja yang dicat merah terdapat peta dari empat kartu itu.

Dua kartu yang di depan adalah sepasang "Tiangsam" , sedang dua kartu di belakang, yang satu tiga mata, yang lain enam mata, sehingga jika dipersatukan terdapatlah kartu "Cie-cun-po".

Apa yang mengagumkan adalah peta kartu itu yang sangat nyata dan setiap matanya seolah-olah menonjol ke atas.

Bahwa dengan sekali menepuk Ouw Hui sudah dapat melakukan itu, merupakan bukti, bahwa ia memiliki Lweekang dan ilmu yang sukar ditaksir tingginya.

Para penjudi adalah ahli-ahli silat dan melihat kejadian itu, tanpa merasa mereka bersorak sorai.

Muka In Tiong Shiang jadi merah padam.

Dengan kasar, ia mendorong pedang dan perak ke depan Ouw Hui.

Cepat-cepat ia bangun dan lalu berjalan ke luar.

Sambil mencekal pedang, Ouw Hui memburu seraya berteriak.

"In Toako, aku tak bisa meng-gunakan pedang. Guna apa pedang ini?"

Seraya berkata begitu, ia mengangsurkan pedang tersebut kepada In Tiong Shiang. In Tiong Shiang tidak menyambuti. Ia meng-awasi dan berkata.

"Apakah aku boleh tahu nama tuan yang terhormat?"

Sebelum Ouw Hui sempat menjawab, Ong Tiat Gok sudah mendului.

"Sahabat ini she Ouw ber-nama Hui."

"Ouw Hui?.... Ouw Hui...."

In Tiong Shiang berkata seorang diri. Tiba-tiba ia seperti baru men-dusin dari tidurnya.

"Ah!"

Ia mengeluarkan seruan tertahan.

"Kita pernah bertemu di Shoatang, di Siang-kee-poo...."

"Benar,"

Kata Ouw Hui.

"Aku pernah bertemu muka dengan In-ya, hanya sayang barusan In-ya tidak mengenali."

Muka In Tiong Shiang jadi semakin pias. Ia menyambuti pedang itu yang kemudian lalu dilem-parkan ke atas meja.

"Tak heran! Tak heran!"

Katanya sambil menyingkap tirai dan lalu berjalan pergi dengan tindakan lebar.

Semua orang lantas saja ramai bicara, dan ada yang memuji kepandaian Ouw Hui, ada yang men-cela In Tiong Shiang yang dikatakan berjiwa kecil dan marah-marah karena kalah berjudi.

Perlahan-lahan Ciu Tiat Ciauw bangun berdiri dan sambil menunjuk tumpukan perak di depan Ouw Hui, ia menanya.

"Saudara Ouw, berapa jum-lah uangmu?"

"Empat-lima ribu tahil,"

Jawabnya. Sambil mengocok-ngocok dadu dalam tangan kirinya, tangan kanan Ciu Tiat Ciauw merogoh saku dan mengeluarkan sebuah amplop yang lalu diletak-kan di atas meja.

"Baiklah,"

Katanya.

"Kita berjudi satu kali lagi."

Di atas amplop itu tidak tertulis apa pun juga.

sehingga tak diketahui apa di dalamnya.

Semua orang menganggap, Ouw Hui akan menolak tan-tangan yang luar biasa itu.

Bagaimana jika di dalamnya hanya terisi selembar kertas putih?

Tapi di luar dugaan, tanpa memikir dan tanpa menanya, ia mendorong semua perak seraya berkata.

"Baiklah!"

Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo saling meng-awasi dengan perasaan kagum.

Di dalam hati, mereka memuji pemuda itu yang luar biasa dan tidak memandang harta dunia.

Ciu Tiat Ciauw segera menjemput dadu yang lalu dilemparkannya dan hasilnya tujuh mata, sehingga Ouw Hui paling dulu menarik kartu, sedang ia sendiri mendapat giliran yang ketiga.

Sesudah melirik kartunya dengan sikap acuh tak acuh, ia membaliknya dan menepuknya dua kali di atas meja.

Semua orang mengawasi dengan mata membelalak dan kemudian bersorak sorai.

Mengapa mereka bersorak?

Ternyata, empat kartu itu, dua di depan dan dua di belakang, telah melesak masuk di meja dan muka kartu rata dengan permukaan meja.

Andai-kata seorang tukang kayu memahat meja itu dan memasukkan kartu-kartu tersebut ke dalam lubang yang dipahatnya, dia pasti tak akan bisa melakukan secara begitu sempurna seperti yang dilakukan oleh Ciu Tiat Ciauw.

Nilai kartu itu tidak tinggi, yang di depan lima mata dan yang di belakang enam mata.

Ouw Hui lantas saja bangun berdiri.

"Ciu Toaya,"

Katanya seraya tertawa.

"Maaf, kali ini aku kembali menang!"

Berbareng dengan perkataannya, ia melemparkan kartu

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com kartunya ke atas. Di lain saat, empat kartu itu melayang turun ke atas meja dan jatuh dengan mengeluarkan suara "plakplak"

Dan...

lho!

Empat kartu itu pun melesak masuk di meja, muka kartu rata dengan permukaan meja, dua di depan dan dua di belakang!

Dengan menggunakan Eng-jiauw-lat (Tenaga kuku garuda) yang sudah dilatih puluhan tahun, Ciu Tiat Ciauw telah memperlihatkan kepandaiannya dengan menepuk kartu-kartu.

Kepandaian itu memang sudah hebat bukan main.

Tapi di luar dugaan, apa yang diperlihatkan Ouw Hui berlipat ganda lebih hebat.

Dengan melontarkannya ke atas, ia dapat melakukan apa yang dilakukan Ciu Tiat Ciauw dengan menepuk.

Itulah kepandaian yang sungguh belum pernah dimimpikan oleh setiap orang dan kekagetan mereka adalah sedemikian besar, sehing-ga mereka tak dapat bersorak lagi.

Dengan paras muka tenang Ciu Tiat Ciauw mendorong amplop itu kepada Ouw Hui seraya berkata.

"Hari ini kau benar-benar mujur."

Ternyata empat kartu pemuda itu bernilai "Pat-pat-koan"

Yang di depan delapan mata dan yang di belakang pun delapan mata. Ouw Hui tertawa dan mendorong balik amplop itu.

"Ciu Toaya,"

Katanya.

"Barusan kita hanya gu-yon-guyon dan tak boleh dianggap sebagai sung-guhan."

Alis Ciu Tiat Ciauw berkerut dan berkata dengan sikap keren.

"Saudara Ouw, jika kau menolak, kau seperti juga menghina aku, si orang she Ciu. Jika aku yang menang, aku pun tak akan sungkan-sungkan lagi. Apa yang dipertaruhkan olehku adalah sebuah rumah yang baru dibeli olehku di Soanbu-bun. Rumah itu tidak besar dan juga tidak kecil, tanahnya hanya seluas empat bauw."

Sambil berkata begitu, ia mencabut sehelai surat rumah dari dalam amplop itu.

Semua orang terkejut.

Mereka tak nyana, per-taruhan itu ada sedemikian besar.

Mereka tahu, bahwa sebuah gedung di daerah Soan-bu-bun paling sedikitnya berharga selaksa tahil perak.

Seraya mengangsurkan surat rumah itu kepada Ouw Hui, Ciu Tiat Ciauw berkata.

"Hari ini kau diikuti Malaikat harta. Sekarang kita berhenti saja. Kalau kau menolak rumah ini, artinya kau memandang rendah kepadaku."

Ouw Hui tertawa seraya berkata.

"Kalau begitu, baiklah aku menerima saja. Nanti, sesudah meng-ambil alih, aku akan mengundang saudara-saudara sekalian untuk berjudi lagi."

Semua orang lantas saja mengiyakan dengan hati gembira.

Ciu Tiat Ciauw segera menyoja dan bersama Can Tiat Yo, lalu meninggalkan rumah makan itu.

Tak lama kemudian, Ouw Hui dan Leng So pun meminta diri dan kembali ke rumah penginapan.

"Memang sudah nasibmu harus menjadi seorang kaya raya,"

Kata Leng So seraya tertawa geli.

"Biarpun ingin menolak, kau tak bisa menolaknya. Di Gie-tong-tin, kau telah meninggalkan rumah dan tanah. Siapa duga, baru saja datang di Pakkhia, kau kembali mendapat sebuah gedung."

"Orang she Ciu itu dapat dikatakan seorang gagah,"

Kata Ouw Hui.

"Kepandaian yang dipertun-jukkannya bukan kepandaian yang bisa dimiliki oleh sembarang orang. Aku tak nyana dalam kalangan pembesar negeri terdapat orang begitu."

"Bagaimana dengan gedung itu?"

Tanya Leng So.

"Mau ditinggali atau mau dijual?"

Ouw Hui tertawa terbahak-bahak.

"Mungkin sekali besok aku akan kalah habis-habisan,"

Kata-nya.

"Apa kau kira Malaikat harta bisa terus menerus mengikuti aku?"

Pada keesokan paginya, baru saja mereka sa-rapan, pelayan hotel sudah datang bersama seorang setengah tua.

"Ouw Toaya, tuan ini ingin menemui kau,"

Katanya. Ouw Hui tak kenal orang itu yang memakai kaca mata hitam, mengenakan thungsha dan makwa baru dan berkuku panjang. la memberi hormat dengan menekuk lutut kanannya.

"Ouw Toaya,"

Katanya.

"Ciu Tayjin menyuruh aku datang ke mari untuk menemui dan menanya Toaya, kapan Toaya mempunyai waktu untuk memeriksa gedung di Soan-bu-bun. Jika ada sesuatu yang kurang cocok, Toaya boleh memberitahukanku, supaya aku bisa panggil tukang untuk mengubahnya. Aku she Ong, pe-ngurus gedung itu."

Karena memang ingin lihat macamnya gedung itu, ia segera berpaling kepada Leng So dan berkata.

"Jie-moay, mari kita tengok."

Begitu tiba, Ouw Hui dan Leng So mengawasi dengan mulut ternganga.

Gedung itu ternyata sebuah gedung besar dan mewah, pintunya dicat merah, temboknya tinggi dan undakan tangga dibuat dari batu marmer hijau.

Mereka masuk di pintu tengah, ke ruangan depan, ruangan belakang, ruangan samping, terus sampai ke kamar-kamar samping yang terletak di kiri kanan.

Gedung itu bukan saja besar dan mewah, tapi semua perabotannya pun indah dan lengkap.

"Ouw Toaya, jika kau sudah setuju, pindahlah sekarang,"

Kata si orang she Ong.

"Can Toaya sudah memesan meja perjamuan untuk menjamu Toaya, malam ini. Ciu Toaya, Ong Tayjin dan yang Iain-lain pun akan datang ke sini untuk memberi selamat."

Ouw Hui tertawa terbahak-bahak.

"Aha! Mereka sudah mengatur sempurna sekali,"

Katanya.

"Kalau begitu, baiklah." 6i pengurus rumah segera membungkuk dan berlalu untuk mengurus segala keperluan.

"Toako,"

Kata Leng So.

"Menurut pendapatku, gedung ini berharga lebih dari dua laksa tahil perak. Aku merasa, bahwa dalam peristiwa ini bersem-bunyi apa-apa yang luar biasa."

"Benar,"

Kata sang kakak.

"Bagaimana penda-patmu?"

"Aku menduga ada seseorang yang diam-diam menyukai kau,"

Jawabnya sambil tersenyum.

"Maka itu, berulang-ulang ia memaksakan hadiah besar kepadamu."

Paras muka Ouw Hui berubah merah, karena ia merasa, bahwa "seseorang"

Itu dimaksudkan Wan Cie Ie. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Leng So tertawa geli.

"Toako, aku hanya guyon-guyon,"

Katanya.

"Aku tahu, kakakku adalah seorang jantan yang tidak memandang sebelah mata segala kekayaan dunia. Orang yang memberi hadiah sudah pasti bukan sahabatmu. Jika benar ia, bukankah lebih baik ia memberi sebuah Giok-hong-hong? Orang yang bersembunyi di belakang layar tentunya bukan manusia biasa."

"Hok Thayswee?"

Tanya Ouw Hui.

"Mungkin sekali,"

Jawabnya.

"Hok Thayswee berkedudukan tinggi, beruang dan banyak kaki ta-ngannya. Siapa yang bisa menandinginya? Di sam-ping itu, kau tak boleh melupakan Ma Kouwnio. Sesudah ia mendapat kedudukan tinggi dan hidup mewah, sepantasnya saja jika ia ingin memberi apa-apa kepadamu. Mereka tahu, kau adalah manusia jujur dan keras kepala yang pasti tak mau menerima harta terkejut. Maka itu, mereka mengatur siasat dan memerintahkan orang-orangnya menyerahkan hadiah itu di atas meja judi."

Ouw Hui mengangguk.

"Aku rasa tebakanmu tidak meleset,"

Katanya.

"Semalam jika benar Ciu Tiat Ciauw sengaja ingin menyerahkan gedung ini kepadaku, biarpun ia menang pada babak itu, ia tentu akan mengajak berjudi terus dan pada akhir-nya ia pasti bisa mendapat jalan untuk mencapai maksudnya."

"Bagaimana pikiranmu sekarang?"

Tanya si adik.

"Malam ini aku akan mengajak mereka berjudi lagi dan akan sengaja membuat diriku kalah untuk mengembalikan gedung ini,"

Jawabnya.

"Bagus!"

Kata si nona sambil tertawa geli.

"Ke-dua belah pihak bukan berebut menang, tapi be-rebut kalah. Sungguh menarik!"

Malam itu, Can Tiat Yo telah mengirim satu meja perjamuan yang terdiri dari sayur-sayur pilihan dan si pengurus she Ong lalu mengaturnya di ruang-jn tengah dan menyalakan lilin-lilin besar, sehingga ruangan itu terang benderang bagaikan siang.

Tamu pertama adalah Ong Tiat Gok.

Ia melihat-lihat seluruh gedung itu, dari depan sampai di belakang, dan mulutnya tak hentinya memuji Ouw Hui yang dikatakan sangat mujur dan berjiwa besar.

"Ong Tiat Gok adalah seorang jujur, polos dan sangat mungkin ia tak tahu rahasia yang bersembunyi di balik peristiwa ini,"

Kata Ouw Hui dalam natinya.

"Biarlah sebentar di atas meja judi aku menyerahkan gedung ini kepadanya. Aku mau lihat bagaimana lagak kedua Suhengnya."

Tak lama kemudian, tibalah Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo, disususl oleh si orang she Tie, si orang she Siangkoan dan si orang she Liap.

Selagi mereka beromong-omong, masuklah Cin Nay Cie sambil tertawa terbahak-bahak.

"Saudara Ouw, aku mem-bawa dua orang sahabat,"

Katanya.

"Coba lihat, apa kau kenal atau tidak?"

Ouw Hui mengawasi dan ternyata di belakang Cin Nay Cie mengikuti tiga orang, yang berjalan paling belakang adalah In Tiong Shiang.

Bahwa si orang she In yang kemarin berlalu dengan penuh kegusaran, datang berkunjung adalah kejadian di-luar dugaan.

Dua orang lainnya adalah kakek-kakek yang tindakannya gagah dan bersemangat.

Ouw Hui terkejut karena ia merasa sudah pernah bertemu dengan mereka dan mengenali, bahwa tindakan itu adalah tindakan-tindakan ahli Pat-kwa-bun.

Di lain saat, ia mendusin dan buru-buru ia menghampiri sambil memberi hormat.

"Aha! Aku tak nyana, bahwa yang datang adalah Jie-wie Cianpwee,"

Katanya.

"Semenjak berpisahan di Siang-kee-poo, Jie-wie kelihatannya semakin gagah."

Mereka itu memang bukan lain dari pada dua saudara Ong, Ong Kiam Eng dan Ong Kiam Kiat, dari Pat-kwabun.

Ouw Hui lantas saja mengundang para tamunya mulai bersantap dan mereka makan-minum dengan gembira sekali.

Sebagai jago-jago dalam Rimba Per-silatan apa yang diomongkan mereka adalah soal-soal Kang-ouw orang-orang gagah.

Antara lain, In Tiong Shiang menuturkan pengalamannya di Siang-kee-po, cara bagaimana, waktu ia dan sejumlah orang lain dikurung api di dalam gedung keluarga Siang, Ouw Huilah yang sudah menolong mereka dengan kecerdikan dan kegagahan.

Mendengar ce-rita yang menarik itu, semua orang memuji Ouw Hui tak habisnya.

Sesudah selesai bersantap, rembulan sudah naik tinggi dan memancarkan sinarnya yang gilang gemi-lang.

Hari itu ialah Peegwee Ceecap (tanggal sepuluh Bulan Delapan) dan hawa udara masih agak hangat.

Si pengurus rumah tangga lantas saja menyediakan satu meja buah-buahan di pendopo dalam taman bunga dan kemudian mengundang semua orang duduk beromong-omong di situ sambil memandang sang Dewi Malam.

"Sekarang kita minum teh dan sebentar boleh berjudi lagi,"

Kata Ouw Hui.

"Bagaimana pendapat saudara-saudara sekalian?"

Para tamu lantas saja mengiyakan dengan gembira.

Tapi baru saja mereka berduduk di pendopo itu, tiba-tiba terdengar suara pereekeokan antara pengurus rumah tangga dan seseorang.

Di lain saat si orang she Ong berteriak kesakitan, disusul dengan suara robohnya tubuh manusia.

Hampir berbareng, mendadak muncul seorang lelaki yang mukanya hitam dan tubuhnya tinggi besar dan menghampiri pendopo dengan tindakan lobar.

Begitu berhadapan, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menepuk meja, sehingga cangkir-cangkir teh dan piring-piring pada melompat dan jatuh hancurdi lantai.

Sesudah itu, sambil menuding Ciu Tiat Ciauw, ia berteriak.

"Ciu Toako, ini sa-lahmu! Aku menjual gedung ini kepadamu dengan harga dua laksa tahil. Harga itu harga separuh hadiah, karena aku memandang mukamu. Apa kau kira aku tak kenal uang? Sungguh tak dinyana, kau sudah menyerahkannya dengan begitu saja kepada orang lain. Benar-benar gila! Cobalah saudara-saudara pikir, apa ini bukan keterlaluan? Aku sungguh merasa penasaran."

"Jika kau merasa tak cukup, kau boleh bicara baik-baik,"

Kata Ciu Tiat Ciauw dengan suara tawar.

"Rumah ini adalah milik sahabatku. Perlu apa kau datang mengacau?"

Orang itu jadi semakin gusar dan lalu meng-angkat tangannya untuk menepuk meja lagi.

Dengan cepat Ciu Tiat Ciauw menangkap dan menyengkeram kedua pergelangan tangan orang kasar itu.

la bertubuh kurus kecil dan tingginya hanya sebatas pundak orang itu, tapi begitu ia menyengkeram, si tinggi besar tak bisa berkutik lagi.

Ia lalu menyeretnya ke luar pendopo dan bicara bisik-bisik.

Tapi orang itu kelihatannya tetap tak mau mengerti, sehingga ia jadi gusar dan men-dorongnya dengan keras.

Begitu didorong, orang itu terhuyung beberapa tindak dan menubruk satu pohon, sehingga patah beberapa cabangnya.

"Manusia semberono!"

Bentak Ciu Tiat Ciauw.

"Tunggu di luar! Kalau kau sudah bosan hidup, hayolah mengacau terus!"

Sambil mengusut-usut pundaknya yang sakit, si kasar lalu berjalan ke luar tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi. Can Tiat Yo tertawa terbahak-bahak.

"Manusia semberono itu benar-benar sudah menyapu kegem-biraan kita,"

Katanya.

"Toasuko, sebenarnya kau harus menghajar dia."

"Aku hanya mengingat, bahwa biarpun dia kasar, hatinya cukup baik,"

Kata sang kakak.

"Maka itu, aku sungkan meladeninya. Ouw Toako, kejadi-an ini sangat memalukan."

"Jika rumah ini dibeli terlalu murah, biarlah aku memberi sedikit tambahan kepadanya,"

Kata Ouw Hui.

"Ouw Toako, jangan kau berkata begitu,"

Kata Ciu Tiat Ciauw dengan terburu-buru.

"Urusan ini akan dibereskan olehku sendiri dan Toako tak usah buat pikiran. Manusia kasar itu memang sangat kurang ajar. Ia tak tahu, bahwa Toako adalah seorang jantan tulen. Aku yakin, ia sekarang sudah merasa sangat menyesal dan kuingin memanggilnya ke mari supaya ia bisa menghaturkan maaf. Dengan memandang mukaku dan Iain-lain saudara yang berada di sini, aku mengharap Toako bisa melupakan kejadian yang tak enak ini. Bagaimana? Apa Toako bisa menyetujui usulku ini?"

Ouw Hui tertawa seraya berkata.

"Ciu Toako, soal meminta maaf jangan disebut-sebut lagi. Jika ia sahabatmu, undanglah ke mari supaya kita bisa minum bersama-sama."

Ciu Tiat Ciauw lantas saja bangun berdiri.

"Ouw Toako adalah seorang enghiong dan kami semua merasa beruntung bisa mengikat tali persahabatan denganmu,"

Katanya pula.

"Untuk kekeliruannya manusia semberono itu, kami beramai ingin menghaturkan maaf. Kami tahu, bahwa Ouw Toako adalah seorang yang berjiwa besar dan tentu tak akan menaruh dendam lagi."

Cin Nay Cie dan Can Tiat Yo pun segera bangun berdiri dan berkata seraya menyoja.

"Ouw Toako, kami juga ingin menghaturkan terima kasih kepadamu." , Ouw Hui buru-buru bangun dan membalas hor-matnya kedua orang itu.

"Nah, biarlah sekarang aku memanggil orang kasar itu supaya dia bisa menghaturkan maaf,"

Kata Ciu Tiat Ciauw sambil berjalan pergi.

Ouw Hui dan Leng So saling mengawasi dengan perasaan bimbang.

Walaupun perbuatan orang itu melanggar kesopanan, tapi cara-cara dan perkataan Ciu Tiat Ciauw yang begitu manis dan bertele-tele sangat mencurigakan.

Ada apa yang bersembunyi di belakang kata-kata yang manis itu?

Selang beberapa saat dari luar terdengar suara tindakan dua orang dan Ciu Tiat Ciauw segera muncul sambil menuntun tangannya seorang.

"Ma-nusia semberono!"

Teriaknya sambil tertawa ter-bahak-bahak.

"Lekas kau mengangkat tiga cawan arak untuk Ouw Toako! Inilah yang dinamakan, tidak berkelahi tidak jadi sahabat. Ouw Toako Sudan meluluskan untuk memaafkan kau. Perkataan seorang laki-laki tak dapat dikejar oleh kuda yang paling cepat larinya. Hari ini kau mendapat peng-ampunan."

Tiba-tiba, seperti dipagut ular Ouw Hui bangun dan melompat ke luar pendopo, akan kemudian, dengan sekali menjejak kaki, ia sudah berada di belakang orang yang dituntun Ciu Tiat Ciauw dan mencegat jalanan mundurnya.

"Orang she Ciu!"

Bentaknya dengan paras muka merah padam.

"Permainan gila apakah yang sedang dijalankan olehmu? Jika aku tidak membunuh ma-nusia keji itu, pereuma saja Ouw Hui hidup di kolong langit!"

Siapakah orang yang dibawa Ciu Tiat Ciauw?

Dia bukan lain dari pada Hong Jin Eng, jagoan Hud-san-tin yang telah membinasakan keluarga Ciong A-sie!

Sesaat itu Ouw Hui mengerti.

Ia mengerti, bahwa Ciu Tiat Ciauw telah menyuruh seorang kaki tangannya yang dinamakan sebagai "si-semberono" , untuk mengacau dan kemudian men-jalankan siasat, sehingga ia berjanji untuk memaafkan orang yang bersalah kepadanya.

Sesaat itu juga, di depan matanya terbayang kebinasaan yang mengenaskan dari keluarga Ciong dan mengingat itu, kedua matanya seolah mengeluarkan api.

"Ouw Toako, sekarang baiklah aku berterus terang saja,"

Kata Ciu Tiat Ciauw.

"Rumah dan tanah di Gie-tong-tin adalah hadiah dari si semberono ini. Rumah ini dan segala perabotannya juga diberikan olehnya. Maka itu dapat dilihat, bahwa ia sungguh-sungguh ingin menghaturkan maaf kepadamu. Seorang laki-laki harus bisa mengambil dan juga bisa memberi. Perlu apa kita terus menaruh dendam karena pertikaian kecil pada masa yang lampau? Hong Lootoa, lekas memberi hormat kepada Ouw Toako!"

Melihat Hong Jin Eng mengangkat kedua tangannya, Ouw Hui segera membentak.

"Tahan!"

Ia berpaling kepada Thia Leng So seraya memanggil.

"Jie-moay, ke mari!"

Si nona buru-buru mengham-piri dan mereka lalu berdiri dengan berendeng pundak. Sesudah itu, barulah ia berkata dengan suara nyaring.

"Saudara-saudara, dengarlah sedikit perkataanku! Aku hanya bersahabat dengan orang-orang yang bersatu pikiran, dengan orang-orang yang dapat membedakan benar dan salah. Makan-minum dan berjudi bersama-sama tak menjadi ukur-an. Bukankah manusia-manusia rendah pun bisa makan-minum dan berjudi bersama-sama? Seorang laki-laki sejati mengutamakan ksatriaan. Jika ada orang ingin membeli aku, si orang she Ouw, dengan kekayaan dunia, orang itu sungguh memandang diriku sebagai manusia tidak berharga sepeser buta."

"Ouw Toako, kau salah mengerti,"

Kata Can Tiat Yo sambil tersenyum.

"Hong Lootoa memberi ha-diah yang tak berharga hanya untuk mengunjuk rasa hormatnya. Pemberian hadiah itu sama sekali tidak berarti ia memandang rendah kepadamu."

Ouw Hui menggoyangkan tangannya dan ber-kata pula.

"Manusia she Hong ini adalah jagoan yang sangat sewenangwenang di propinsi Kwitang. Hanya karena ingin merampas sebidang tanah yang sangat kecil, dia telah membunuh seluruh keluarga Ciong, besar dan kecil semuanya tak mendapat ampun. Dengan keluarga Ciong, Ouw Hui tak punya sangkutan famili atau persahabatan. Tapi sesudah aku mengambil keputusan untuk mencam-puri urusan ini, aku bersumpah untuk tidak hidup bersama-sama dengan buaya itu di kolong langit. Kalau sikapku ini menyinggung saudarasaudara, yah, apa boleh buat. Aku hanya mengharap kalian sudi memaafkan, Ciu Toako, terimalah surat rumah ini."

Ia merogoh saku dan lalu melontarkan amplop yang berisi surat rumah kepada Ciu Tiat Ciauw.

Amplop tersebut melayang perlahan-lahan ke de-pan Tiat Ciauw yang terpaksa menyambutinya.

Semula ia ingin melempar balik, tapi ia mengurungkan niatannya karena merasa Lweekangnya tidak cukup tinggi untuk menyontoh perbuatan Ouw Hui.

"Tempat ini adalah kota raja, yaitu tempat ke-diaman kaisar,"

Kata pula Ouw Hui.

"Aku tak tahu, manusia she Hong ini mempunyai berapa banyak kaki tangan dan sahabat. Tapi aku sudah mengambil ke putusan untuk mempertaruhkan jiwaku. Saudara-saudara! Mereka yang menganggap dirinya sebagai sahabat Ouw Hui, janganlah campur-cam-pur urusan ini. Mereka yang menjadi sahabat manusia she Hong itu, hayolah maju beramai-ramai!"

Sehabis berkata begitu, ia mamasang kuda-kuda, siap sedia untuk menyambar setiap serangan.

Ia insyaf, bahwa di kota raja terdapat banyak sekali ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi.

Bahwa Hong Jin Eng sudah berani muncul, tentulah juga dia sudah mempunyai senderan kuat.

Jangankan kaki tangan yang lain, sedangkan kedua saudara Ong, Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo saja sudah merupakan lawan yang sangat berat.

Tapi, sebagaimana telah dikatakan Ouw Hui, pada waktu itu ia sudah tidak memikir hidup.

Ciu Tiat Ciauw tertawa terbahak-bahak.

"Ouw Toako,"

Katanya.

"Jika kau tak sudi memberi muka, urusan ini tentu tak akan dapat didamaikan. Su-dahlah! Hong Lootoa, kau boleh pulang. Kami ingin berdiam terus di sini untuk minum arakdan berjudi."

Tapi Ouw Hui mana mau mengerti?

Sesudah mencari di mana-mana, baru sekarang ia bertemu dengan manusia kejam itu.

Mana bisa ia melepas-kannya dengan begitu saja?

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia lalu mengangkat kedua tangannya clan menerjang manusia she Hong itu.

Alis Ciu Tiat Ciauw berkerut.

"Inilah keter-laluan,"

Katanya seraya melompat dan membalik tangan kanannya untuk menyengkeram pergelang-an tangan Ouw Hui.

Sebelum menyerang, Ouw Hui sudah memperhatikan gerak-gerik setiap orang.

Melihat gerakan Ciu Tiat Ciauw, ia berkata dalam hatinya.

"Kamu berlagak manis-manis terhadapku, maka biarlah dalam gebrakan ini, aku tak turun tangan."

Memikir begitu, ia membiarkan pergelang-an tangannya dicekal si orang she Ciu. Di lain pihak, Ciu Tiat Ciauw jadi girang bukan main.

"Aku tak mengerti bagaimana Cin Nay Cie, Hong Lootoa dan yang Iain-lain memuji bocah ini setinggi langit,"

Pikirnya.

"Kalau aku tahu kepan-daiannya hanya sebegini, aku tentu tak sudi berlaku begitu sungkan terhadapnya."

Ia segera mengempos semangat dan coba menyeret Ouw Hui seraya ber-kata.

"Sudahlah! Jangan berkelahi."

Tapi si orang she Ciu lantas saja kaget tak kepalang.

Ia merasa pergelangan tangan pemuda itu keras bagaikan besi, sedang badannya seperti juga sebuah gunung yang melekat di tanah.

Muka-nya lantas saja berubah pucat karena malu.

Tibatiba saja, ia merasa semacam tenaga yang sangat dahsyat menerobos ke luar dari pergelangan tangan pemuda itu dan mendorongnya ke belakang.

Tanpa berdaya, ia melepaskan cekalan dan tubuhnya ter-huyung ke belakang beberapa tindak.

Harus diketahui, bahwa barusan Ciu Tiat Ciauw menyengkeram dengan menggunakan ilmu paling tinggi dari Eng-jiauw-gan-heng-bun.

Dengan begitu, dalam gebrakan tersebut, Ouw Hui sudah menjatuhkan seorang tokoh penting dari partai tersebut.

Dengan menggunakan kesempatan itu, cepat-cepat Hong Jin Eng memutar badan dan terus kabur.

Sambil membentak keras, Ouw Hui melompat dan mengirim satu pukulan yang ditangkis oleh musuhnya.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar teriakan Can Tiat Yo.

"Ouw Toako! Kita lagi enak-enak minum. Perlu apa kau merusak keakuran?"

Sambil berteriak begitu, ia juga turut melompat dan lima jarinya yang ditekuk bagaikan cakar garuda menyambar punggung Ouw Hui.

Di luar, ia kelihatannya hanya ingin menarik baju pemuda itu untuk mencegah pertempuran, tapi sebenarnya, dengan cengkeraman itu, ia turunkan tangan jahat.

Ouw Hui yang sedang menerjang musuhnya, seolah-olah tak tahu bakal dibokong, sehingga tanpa merasa, si orang she Liap berteriak.

"Ouw Toako, awas!"

Hampir berbareng dengan peringatan itu, lima jari Can Tiat Yo sudah mampir di punggung Ouw Hui!

Tapi, seperti juga kakaknya, si orang she Can kaget bukan main, karena lima jarinya seperti juga menyengkeram besi.

Melihat dua kawannya tak bisa merintangi pemuda itu, In Tiong Shiang lantas saja meloncat dan, tanpa pura-pura, ia lalu menghantam muka Ouw Hui.

Bagaikan kilat, Ouw Hui menunduk dan meng-egos ke samping, sedang tangan kirinya menyambar punggung musuh.

Sambil membentak, ia mengangkat dan melontarkan tubuh In Tiong Shiang yang lantas saja terbang ke arah Hong Jin Eng.

Dengan berbuat begitu, tujuan Ouw Hui adalah untuk mencegah maburnya manusia she Hong itu.

Jika Hong Jin Eng berkelit, kepala In Tiong Shiang pasti akan membentur sebuah gunung-gunungan.

Maka itu, menurut kepantasan, ia harus menyam-buti tubuh kawannya yang sedang melayang ke arahnya.

Dan jika ia menyambuti, Ouw Hui akan bisa menyandaknya.

Tapi sebagaimana diketahui, Hong Jin Eng adalah manusia kejam.

In Tiong Shiang turun ta-ngan untuk menolong jiwanya, tapi dia hanya ingat kepentingan sendiri.

Sebaliknya dari menyambuti tubuh si kawan, dengan cepat ia menendangnya untuk meminjam tenaga dan badannya lantas saja melesat ke atas tembok taman.

"Buk!"

Tubuh si orang she In membentur gunung-gunungan batu dan ia pingsan seketika itu juga.

Orang-orang yang berada di situ rata-rata mem-punyai kepandaian tinggi.

Melihat perbuatan Hong Jin Eng, bukan main rasa kecewa mereka.

Kedua saudara Ong sebenarnya sudah ingin membantu, tapi mereka lantas saja merasa muak dan meng-urungkan niatan mereka.

Melihat musuhnya melompat ke atas tembok, Ouw Hui jadi agak bingung.

Ia merasa, bahwa jika Hong Jin Eng bisa mabur ke luar, ia bakal mengha-dapi pekerjaan lebih berat, sebab di luar gedung itu tentulah juga sudah berkumpul kaki tangannya manusia she Hong itu.

Memikir begitu, sambil meng-empos semangat, ia menjejak kedua kakinya.

Dilain pihak, begitu kedua kakinya hinggap di atas tembok, Hong jin Eng merasa adanya seorang lain di sam-pingnya.

Begitu menengok, kagetnya bagaikan di-sambar petir, sebab orang itu bukan lain dari pada Ouw Hui.

Dengan cepat ia menyambut sebilah pisau belati dan lalu menikam pemuda itu.

Ouw Hui menendang pergelangan tangan mu-suh dan pisau itu terbang ke atas akan kemudian jatuh di luar tembok.

Tapi Hong Jin Eng pun bukan seorang lemah.

Begitu lekas pisaunya terpukul jatuh, ia segera menghantam dengan tinju kiri.

Sebaliknya dari berkelit atau menangkis, sambil mengempos semangat Ouw Hui memapaki tinju musuh dengan dadanya.

"Buk!"

Badan Hong Jin Eng ber-goyang-goyang dan terpelanting ke bawah.

Baca Juga: Sejengkal Tanah Sepercik Darah 4

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert