Eps 9 Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Baca online Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Cersil Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung.
Ter-nyata, tinju yang menghantam dada telah didorong dengan serupa tenaga yang tidak kelihatan.
Begitu musuhnya roboh, Ouw Hui turut melompat ke bawah dan menjejak kepala si orang she Hong dengan kakinya.
Pada detik terakhir, dengan mengguling-kan badan, ia masih dapat menyelamatkan dirinya dan kemudian, melompat pula ke atas tembok.
Kali ini, Ouw Hui yang sudah mata merah, sungkan memberi kesempatan lagi kepada musuhnya.
Ia mengempos semangat dan menjejak kedua kakinya, sehingga tubuhnya ngapung ke atas beberapa kaki lebih tinggi dari pada Hong Jin Eng.
Mereka melayang turun dengan berbareng.
Kedua kaki Hong Jin Eng hinggap di atas tembok, tapi Ouw Hui sendiri menyemplak pundak musuhnya, seperti orang menunggang kuda.
Begitu ia menjepit dengan kedua lututnya, Hong Jin Eng merasa dadanya sesak.
Sekarang manusia kejam itu putus harapan.
Ia meramkan kedua matanya dan menunggu ke-binasaan.
"Bangsat!"
Bentak Ouw Hui.
"Hari ini kedosaan-mu sudah meluber."
Ia mengangkat tangan untuk menepuk batok kepala Hong Jin Eng. Tapi... sebelum tangannya turun, tiba-tiba saja ia merasakan kesiuran angin yang sangat tajam di punggungnya.
"Tahan!"
Bentak seorang dengan sua-ra merdu.
Ouw Hui terkejut, tanpa menengok satu tangannya mengebas ke belakang untuk menangkis serangan itu.
Gerakan orang itu ternyata gesit luar biasa.
Begitu tikamannya yang pertama tertangkis, dengan beruntun ia mengirim dua tikaman pula ke pundak Ouw Hui.
Karena sedang menunggang pun-dak musuh, Ouw Hui tak bisa memutar badan dan dengan terpaksa ia lalu melompat turun dari atas tembok.
Bagaikan bayangan orang itu menyusul dan terus mengirim serangan-serangan berantai.
"Wan Kouwnio!"
Bentak Ouw Hui.
"Mengapa kau selalu merintangi aku?"
Ternyata, orang yang mengenakan baju biru dan kepalanya dibungkus dengan kain hijau, bukan lain dari pada Wan Cie Ie.
Di bawah sinar rembulan, paras si nona kelihatan separuh gusar dan separuh geli dan ia membentak dengan suara merdu.
"Hari ini aku justru ingin meminta pengajaran Ouw Tayhiap mengenai ilmu Kong-chiu Jip-pek-to (Dengan tangan kosong ma-suk di rimba golok)."
Tunggu sampai di lain hari,"
Kata Ouw Hui sambil melompat untuk mengubar Hong Jin Eng.
Tapi bagaikan kera, si nona turut meloncat dan di lain saat, pisau belati sudah menyambar tenggo-rokan, sehingga, mau tak mau, Ouw Hui mesti berkelit.
Wan Cie Ie sungkan memberi kesempatan lagi dan terus mencecar dengan serangan-serangan hebat dan mereka lantas saja bertempur mati-mati-an.
Itulah satu pertempuran yang menarik luar biasa.
Cepat, gesit lawan gesit, apa yang dilihatnya hanya bayangan badan, tangan dan pisau yang ber-kelebat-kelebat bagaikan kilat.
Ciu Tiat Ciauw, Can Tiat Yo, kedua saudara Ong dan yang Iain-lain adalah ahli-ahli silat yang kenamaan.
Tapi biarpun begitu, mata mereka berkunang-kunang dan mereka menonton pertempuran itu dengan rasa kagum bukan main.
Mendadak, berbareng dengan bentakan Ouw Hui, tubuh mereka melayang kembali ke atas tembok, akan kemudian bersama-sama melompat turun ke luar tembok.
Pertempuran lantas saja dilang-sungkan dengan tidak kurang hebatnya.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa Hong Jin Eng yang panjang, nyaring dan menyeramkan.
"Saudara Ouw!"
Teriaknya.
"Aku tak bisa menemani kau lagi. Lain hari kita bertemu kembali."
Suara tertawa itu semakin lama jadi semakin jauh kedengarannya. Ouw Hui jadi gusar bukan main. Ia ingin mengubar, tapi Wan Cie Ie terus mencecarnya dengan pukulan-pukulan yang membinasakan.
"Wan Kouwnio!"
Bentaknya.
"Aku dan kau sama sekali tidak punya permusuhan...."
Belum habis perkataannya, pisau si nona sudah menyambar pundak kirinya.
Harus diketahui, bahwa dalam pertempuran mati-matian antara jago dan jago, siapa pun tak dapat memecah pemusatan perhatiannya.
Ilmu silat Ouw Hui hanya lebih unggul setengah tingkat dari pada si nona, tapi dengan bertangan kosong dan lawannya bersenjata pisau, keunggulan itu hilang dan kekuatan mereka jadi berimbang.
Maka itulah, dalam jengkelnya selagi ia berteriak dengan penuh kedongkolan, pisau Wan Cie Ie sudah mampir di pundak kirinya.
"Brt!"
Baju Ouw Hui robek tergores pisau.
Sebenarnya jika sedikit saja si nona menekan ke bawah, pundak itu tentu sudah berlubang.
Tapi di luar dugaan, pada detik terakhir, ia mengangkat sedikit tangannya, sehingga pisau yang menyambar bagaikan kilat itu, hanya menggores baju.
"Ah! Mengapa ia tidak menikam?"
Tanya Ouw Hui dalam hatinya. Si nona tertawa terpingkal-pingkal. Ia melon-tarkan pisaunya ke arah Ouw Hui dan berbareng membuka Joan-pian (pecut) yang terlibat di ping-gangnya.
"Ouw Toako, mari kita menjajal-jajal ke-pandaian dengan menggunakan senjata,"
Katanya. Baru saja Ouw Hui mau menyambuti pisau itu, mendadak terdengar teriakan Leng So.
"Ouw Toako, gunakanlah golok ini!"
Hampir berbareng si nona yang berdiri di atas tembok, melemparkan sebatang golok. Ternyata, nona Thia yang khawatirkan keselamatan Ouw Hui buru-buru mengambil senjatanya dan melompat ke atas tembok.
"Aduh! Manis benar adiknya!"
Kata Wan Cie Ie dengan suara mengejek.
Mendadak ia menyabetkan pecutnya ke tembok dan Leng So buru-buru melompat turun kembali ke dalam taman.
Begitu pecutnya tersangkut di atas tembok, dengan sekali meminjam tenaga, bagaikan seekor elang, tubuh Wan Cie Ie terbang melewati tembok itu.
Dan sebelum kakinya hinggap di tanah, ia sudah menyabet dengan pecutnya seraya berteriak.
"Moay-moay, sambutlah seranganku!"
Leng So berkelit, tapi Wan Cie Ie tidak berhenti sampai di situ dan dalam sekejap nona Thia sudah dikurung dengan bayangan pecut yang berkelebat-kelebat seperti kilat.
Ouw Hui mengetahui, bahwa Leng So bukan tandingan Cie Ie.
Sebenarnya, dengan menggunakan kesempatan itu, ia ingin sekali mengubar Hong Jin Eng.
Tapi, karena memikir keselamatan nona Thia, ia segera mengurungkan niatannya itu dan lalu melompat masuk pula ke dalam taman.
"Wan Kouwnio!"
Bentaknya seraya mengangkat golok.
"Jika kau ingin menjajal ilmu, marilah!"
"Aduh! Manisnya sang kakak!"
Seru nona Wan dengan suara mengejek dan terus menyapu Ouw Hui dengan pecutnya.
Dengan masing-masing menggunakan senjata yang biasa digunakannya, apa yang terlihat dalam gelanggang pertempuran berbeda dari pada tadi.
Kalau tadi mereka hanya mengutamakan kelin-cahan, tenaga Lweekang dan tipu-tipu rahasia yang luar biasa.
Ouw Hui sendiri segera menyerang dengan menggunakan Ouw-kee To-hoat.
Ilmu golok yang lihay itu mengandung kekerasan dalam ke-lembekan dan mengandung kelembekan dalam ke-kerasannya, bacokan
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com bacokannya dahsyat dan ce-pat, bagaikan geledek dan angin, sedang keteguhan-nya seolah-olah sebuah gunung.
Di lain pihak, ilmu Joan-pian dari si nona pun tak kurang hebatnya.
Pecut itu terputar-putar dan menyambar-nyambar, seakanakan seekor naga yang sedang bermain-main di tengah lautan besar.
Dalam tempo sekejap, mereka sudah bertempur puluhan jurus, dengan ditonton oleh para ahli silat sambil menahan napas.
Akan tetapi, walaupun di luarnya Wan Cie Ie seperti juga sedang bertempur mati-matian, Ouw Hui mengetahui, bahwa si nona tidak bertempur untuk mengadu jiwa.
Pada detik-detik yang ber-bahaya, si nona selalu menarik pulang pecutnya pada saat terakhir atau sengaja tidak meneruskan serangannya yang membinasakan.
Melihat begitu, ia jadi semakin heran dan mendongkol.
Sementara itu, melihat Ouw Hui sudah "diikat"
Oleh Wan Cie Ie, Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo yang tadi telah dirobohkan oleh pemuda itu, lantas saja timbul niatan curangnya.
Sesudah saling mem-beri isyarat dengan kedipan mata, mereka segera berdiri berpencaran untuk menunggu kesempatan guna membokong Ouw Hui dengan berbareng.
Sebagaimana diketahui, biarpun seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi selalu berwaspada, mata dan kupingnya tajam luar biasa dan raera-perhatikan segala apa yang terjadi di seputarnya.
Maka itu, gerak-gerik Ciu Tiat Ciauw dan adiknya tidak terlolos dari mata Ouw Hui dan Cie Ie.
"Celaka!"
Mengeluh Ouw Hui.
"Kalau mereka menyerang, meskipun aku masih dapat menyela-matkan diri, Thia Moaymoay bisa celaka."
La melirik adiknya yang tetap berdiri dengan paras muka tenang.
Dalam bingungnya, ia mengempos semangat dan lalu mengirim tiga bacokan beruntun dengan menggunakan pukulan yang terlihay dari Ouw-kee To-hoat.
Dengan gesit, Wan Cie Ie mengegos satu bacokan dan menangkis bacokan yang kedua.
Sesudah itu, tanpa menghiraukan bacokan ketiga yang menyambar pinggangnya, ia membentak keras sambil menyabet dengan pukulan Honghong-sam-tiam-tauw (Burung Hong tiga kali manggut) ke arah Ciu Tiat Ciauw, Can Tiat Yo dan Cin Nay Cie, yang jadi kaget bukan main sebab pukulan itu menyambar secara tidak diduga-duga.
Dengan serentak mereka melompat mundur, tapi Can Tiat Yo yang gerakan-nya agak terlambat sudah tergores ujung pecut, sehingga mukanya mengeluarkan darah.
Pada detik itu bacokan Ouw Hui yang ketiga menyambar terus dan ujung golok hanya terpisah setengah kaki dari pinggang si nona.
Melihat ke-anehan Wan Cie Ie yang mendadak mengambil pihaknya dan menghantam musuh dengan menggunakan seantero kepandaiannya Ouw Hui menahan gerakan goloknya yang mendadak berhenti di tengah jalan.
Harus diketahui, bahwa kepandaian itu adalah sepuluh kali lebih sukar dari pada mengirim bacokan yang hebat.
Sambil melirik dengan sepasang matanya yang sangat bagus, si nona berkata.
"Mengapa kau tidak menikam terus?"
Tiba-tiba Can Tiat Yo berteriak.
"Aduh! Manis-nya kakak dan adik!"
Paras muka Wan Cie Ie sekonyong-konyong berubah dan ia lalu melibat Joan-pian di pinggangnya. Ia menengok ke arah Ouw Hui seraya berkata.
"Ouw Toako, bolehkah kau memperkenal-kan enghiong-enghiong itu kepadaku?"
Untuk sejenak Ouw Hui mengawasi si nona karena merasa heran melihat caranya.
"Baiklah,"
Katanya.
"Yang ini adalah Ciangbunjin dari Pat-kek-kun Cin Nay Cie Toaya, yang itu Ciangbunjin Eng-jiauw-gan-heng-bun Ciu Tiat Ciauw Toaya...."
Ia terus memperkenalkan Ong Kiam Eng, Ong Kiam Kiat, Can Tiat Yo dan yang Iain-lain.
Ketika itu Ong Kiam Kiat sudah berhasil menyadarkan In Tiong Shiang yang lalu mencaci maki Hong Jin Eng sebagai manusia yang tak mengenal pribudi.
Paling belakang, Ouw Hui berkata.
"Nona ini adalah Wan Kouwnio."
Ia berdiam sejenak dan, seperti orang yang ingat apa-apa, ia menyambung perkataannya.
"Wan Kouwnio adalah Cong-ciang-bun (pemimpin umum) dari tiga partai, yaitu Siauw-lim Wie-to-bun, Pat-sian-kiam dari Kwisay, Kiuliong-pay dari Ek-kee-wan di propinsi Ouwlam."
Mendengar itu, semua orang berubah parasnya. Mereka tahu, bahwa Ouw Hui tak akan berdusta, tapi di dalam hati, mereka merasa sangsi. Wan Cie Ie tersenyum seraya berkata.
"Kau belum memberi keterangan selengkapnya. Aku juga telah menjadi Ciangbunjin dari partai Kun-lun-to dari Han-tan-koan, di propinsi Hopak, partai Thian-kong-kiam dari Ciang-kek-hu dan dari partai Lo-cia-kun di Po-teng-hu."
"Ah! Selamat, selamat!"
Kata Ouw Hui sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aku tak tahu, di sepan-jang jalan, nona juga sudah merebut kedudukan Ciangbunjin dari tiga partai."
"Terima kasih,"
Kata Wan Cie Ie.
"Dalam per-jalanan ke Pakkhia, aku sebenarnya berangan-angan untuk menjadi Congciangbun dari sepuluh partai. Hanya sayang, aku tak berhasil mengalahkan Ceng-hie Toojin dari Bu-tong-san di Ouwpak dan aku pun tak berani mengganggu Bu Sit Hweeshio dari Siauw-lim-sie di Holam. Maka itu, sungguh kebetulan di tempat ini berkumpul tiga orang Ciangbunjin. Eh, Tie Toaya, apakah Ciangbunjin Lui-tian-bun dari Saypak, Ma Loo-hu-cu sudah tiba di Pakkhia?"
Mendengar Wan Cie Ie menanyakan gurunya, si orang she Tie yang bernama Hong, segera men-jawab.
"Guruku belum pernah datang di wilayah Tionggoan. Segala urusan diserahkan saja kepada muridnya."
"Bagus!"
Kata si nona sambil tersenyum.
"Oleh karena kau adalah murid pertama, maka kedu-dukanmu adalah separuh Ciangbunjin. Nah! Malam ini aku ingin merebut kedudukan tiga setengah Ciangbunjin!"
Semua orang mendongkol bukan main. Seraya merangkap kedua tangannya, Cin Nay Cie tertawa terbahak-bahak.
"Ciangbunjin dari Siauwlim Wie-to-bun Ban Ho Seng Toako telah bersahabat de-nganku puluhan tahun lamanya. Bagaimana ia telah menyerahkan kedudukan Ciangbunjin kepada nona?"
"Ban Toaya sudah meninggal dunia,"
Jawabnya.
"Suteenya, yaitu Ban Ho Cin, tak bisa menangkan aku, sedang tiga muridnya lebih tolol lagi. Kita sudah mengadu kepandaian dengan menggunakan senjata, sehingga biarpun mereka tak sudi, mereka harus menyerahkan juga kedudukan Ciangbunjin kepadaku. Cin Loosu, lebih dulu aku ingin belajar kenal dengan ilmu pukulan Pat-kek-kun. Sesudah itu, barulah aku meminta pengajaran dari Ciu Loosu, Ong Loosu dan Tie Loosu. Aku sudah meng-ambil putusan untuk lebih dulu merebut kedudukan Ciangbunjin dari sepuluh partai dan kemudian, barulah aku menghadiri pertemuan antara para Ciangbunjin yang bakal diadakan."
Dengan berkata begitu, terang-terang si nona tidak memandang sebelah mata kepada Ciu Tiat Ciauw dan yang Iain-lain.
Mereka itu adalah orang-orang gagah yang namanya besar dalam Rimba Persilatan, sehingga biarpun mesti mati, mereka tentu tak akan mundur.
Sambil tersenyum Ciu Tiat Ciauw lantas saja berkata.
"Semenjak guru kami meninggal dunia, di antara muridmuridnya tak satu pun yang boleh dilihat orang. Dari sepuluh bagian kepandaian Sian-su (mendiang guru), tak satu bagian yang berhasil dipelajari kami. Bahwa Kouwnio sudi memberi pe-lajaran, adalah sangat menggirangkan. Tapi oleh karena kami semua adalah orang-orang tolol, kami hanya mengerti ilmu partai sendiri dan tak pernah belajar ilmu dari cabang lain."
"Tentu saja,"
Kata si nona.
"Jika aku tak mahir dalam ilmu Eng-jiauw-gan-heng-bun, cara bagai-mana aku berani menjadi Ciangbunjin dari partai tersebut. Untuk hal ini, Ciu Loosu boleh legakan hati."
Ciu Tiat Ciauw dan Can Tiat Yo jadi semakin gusar, sehingga paras mereka sebentar pucat dan sebentar merah.
Sedari ke luar dari rumah per-guruan, belum pernah ada orang berani memandang enteng mereka.
Sementara itu, Cin Nay Cie yang pintar sudah menghitunghitung segala kemungkinan.
Sesudah menyaksikan pertempuran antara Ouw Hui dan Cie Ie.
ia yakin, bahwa ilmu silat si nona kira-kira berimbang dengan pemuda itu.
Ia sendiri pernah dijatuhkan Ouw Hui, sehingga ia juga tentu tak bisa menangkan Cie Ie.
Dari sebab begitu, jalan yang paling baik ialah membiarkan nona Wan bertempur iebih dulu dengan Ciu Tiat Ciauw, Ong Kiam Eng dan yang Iain-lain dan kemudian, sesudah si nona lelah, barulah ia yang turun tangan.
Mengingat begitu, lantas saja ia berkata.
"Kepandaian Ciu Loosu dan Ong Loosu banyak lebih tinggi daripada-ku. Maka itu, biarlah aku yang maju paling bela-kang."
Wan Cie Ie tertawa geli.
"Biarpun tidak diakui olehmu, aku sudah tahu,"
Katanya.
"Sekarang paling dulu aku mau bertempur dengan yang paling lemah. Diluar tanahnya licin, mari kita main-main di dalam pendopo. Mari!"
Sambil menantang ia melompat masuk ke dalam pendopo dan memasang kuda-kuda dengan merapatkan kedua kakinya, sedang sepuluh jarinya yang dirapatkan dengan telapakan tangan menghadap ke atas, digunakan untuk melindungi kempungan.
Inilah kuda-kuda pukulan Hway-tiong-po-gwat (Mendukung rembulan di dada) dari partai Pat-kek-kun.
Cin Nay Cie terkesiap.
Sudah ditantang, ia tak bisa mundur.
"Ilmu silat dari partaiku tidak banyak tersiar dalam Rimba Persilatan,"
Pikirnya.
"Dari mana ia belajar?"
Tapi walaupun hatinya heran, paras mukanya tidak berubah.
"Baiklah,"
Katanya.
"Biarlah aku menyingkirkandulu kursi-meja, supaya tidak merintangi gerakan kita."
"Cin Loosu salah,"
Kata si nona.
"Ilmu silat dari partai kita yang terdiri dari empat puluh sembilan jalan mengutamakan kegesitan dan kelincahan, sehingga bisa bertempur di tempattempat yang paling sulit. Jika Loosu menghiraukan kursi-meja, apakah Loosu bisa menyuruh musuh menyingkirkan kursimeja, jika sedang berhadapan dengan musuh tu-len?"
Mendengar kata-kata itu yang diucapkan dengan nada seorang guru terhadap muridnya, paras muka Cin Nay Cie lantas saja berubah merah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia segera meloncat dan menghantam dengan pukulan Tui-san-sit (Men-dorong gunung).
Si nona menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia tidak berkelit, hanya maju setindak ke sebelah kiri dan karena dirintangi meja, Cin Nay Cie tak dapat memukul lagi.
Sesudah pukulan yang pertama meleset, dengan geregetan ia lalu mengirim tiga pukulan berantai dengan beruntun-runtun.
Gesit luar biasa, si nona mengegos tiga pukulan itu dan ke-mudian, pada akhir pukulan ketiga, ia lalu balas menyerang dengan tinju kanan dan tinju kiri dengan pukulan "keras"
Dan pukulan "lembek".
Itulah Song-tah-ke-bun (Dua tinju memukul pintu rahasia), pukulan keempat puluh empat dari Pat-kek-kun.
Cin Nay Cie tidak keburu menangkis lagi pukulan itu yang menyambar bagaikan kilat, sehingga ia terpaksa melompat ke belakang.
"Brak!"
Ia mem-bentur meja dan tiga cangkir teh jatuh hancur.
"Hati-hati!"
Kata Wan Cie Ie sambil tersenyum dan lalu mencecar lawannya dengan pukulan-pukul-an Pat-kek-kun. Dalam sekejap si tua sudah keteter, ia hanya mampu membela diri tanpa bisa balas menyerang.
"Eh, mengapa kau hanya menangkis dan tidak menyerang?"
Mengejek si nona.
"Perempuan hina!"
Teriak Cin Nay Cie dengan mata merah.
Dalam gusarnya, dengan nekat ia menyerang dengan pukulan Ceng-liong-cut-sui (naga hijau keluar dari air), tangan kirinya ditekuk bagaikan gaetan, sedang tinju kirinya digunakan untuk memukul.
Si nona berkelit dan membarengi dengan pukulan Sio-chiu-can-kun (Mengunci tangan menangkap tinju), lebih dulu ia menyikut dengan sikut kanan dan lalu menangkap pergelangan tangan kanan Cin Nay Cie dengan tangan kanannya sambil menggeser tubuhnya ke belakang si tua, akan ke-mudian menyengkeram jalan darah Kian-tin-hiat di pundak orang.
Dengan sekali menekan ke bawah dengan tangan kirinya, kepala Cin Nay Cie menunduk dan mulutnya menyentuh cangkir teh.
"Mi-numlah!"
Bentak si nona.
Ilmu yang digunakan oleh si nona, yaitu Hun-kin-co-kunchiu (Ilmu memecah urat mencopot tu-lang), adalah ilmu yang biasa saja dan dapat di-pelajari oleh siapa pun juga.
Akan tetapi, kelihayan-nya terletak pada kecepatannya yang luar biasa dan hebatnya Lweekangyang menyertainya.
Begitu pergelangan tangannya tereekal, Cin Nay Cie bergerak lagi.
"Perempuan hina!"
Ia mencaci bagaikan kalap. Mendengar cacian itu, Wan Cie Ie tersenyum tawar sambil membetot.
"Tuk!"
Lengan kanan si tua copot dari tempat sambungan di pundak! Sesudah menghajar adat, Wan Cie Ie melepaskan korbannya dan lalu duduk di kursi bundar.
"Bagaimana?"
Tanya-nya seraya tersenyum.
"Apa kau rela menyerahkan kedudukan Ciangbunjin kepadaku?"
Sambil menggigit gigi, Cin Nay Cie menahan sakit, sehingga keringat membasahi selebar muka-nya yang pucat pias.
Ia memutar badan dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, segera meninggalkan pendopo dengan tindakan lebar.
Melihat penderitaan kawannya, buru-buru Ong Kiam Eng memberi pertolongan.
Dengan satu tangan ia mencekal lengan Cin Nay Cie dan tangannya yang lain memegang leher orang.
Dengan sekali membetot dan mendorong, ia sudah memulihkan sambungan lengan itu ke tempatnya yang sediakala.
"Nona!"
Bentaknya.
"Pat-kek-kunmu memang lihay sekali. Sekarang aku ingin menjajal dengan ilmu Pat-kwaciang."
Sehabis berkata begitu, ia meloncat masuk ke pendopo.
Melihat tindakan orang yang mantap, Wan Cie Ie tahu, bahwa ia sedang menghadapi lawan berat.
Bahwa setiap orang yang mempelajari Yu-sin Pat-kwa-ciang, tindakannya sangat enteng, seolah-olah tidak menyentuh tanah.
Akan tetapi, tindakan Ong Kiam Eng justru mantap dan berat luar biasa.
Itulah suatu tanda, bahwa ia sudah mencapai tingkatan "dari berat sehingga enteng dan dari enteng sehingga berat"
Dan tingkatan itu hanya bisa dicapai dengan latihan puluhan tahun. Sebelum mereka berhadapan, tiba-tiba Ouw Hui mendului masuk ke pondopo dan mengambil secangkir teh yang lalu diminumnya.
"Orang itu lihay, hati-hati,"
Bisiknya. Wan Cie Ie menunduk.
"Beberapa kali aku telah merusak pekerjaanmu. Apa kau tidak gusar?"
Tanyanya dengan suara perlahan.
Ouw Hui tidak menjawab.
Jika ia mengatakan tidak gusar, memang juga si nona beberapa kali sudah menolong Hong Jin Eng dari tangannya.
Ia mau mengatakan gusar, tapi di dalam hati ia merasa tak tega.
Di lain pihak, peringatan Ouw Hui telah meng-girangkan sangat hati si nona.
Sebenarnya ia pun merasa ragu-ragu dalam menghadapi jago Pat-kwa-bun itu.
Tapi begitu mendengar perkataan Ouw Hui, semangatnya lantas saja terbangun dan ia ber-kata dengan suara perlahan.
"Kau tak usah kha-watir."
Dengan sekali menjejak kaki, ia sudah melompat ke atas kursi bundar dan berkata.
"Ong Loosu, ilmu silat Pat-kwa-bun mengutamakan ke-dudukan Pat-kwa. Marilah kita main-main di atas kursi ini."
"Baiklah!"
Kata Ong Kiam Eng sambil melompat ke atas kursi dan memasang kuda-kuda, satu tangan dilonjorkan ke depan dan satu tangan ditarik ke belakang.
"Ong Loosu,"
Kata pula si nona.
"Aku mendengar, Ongsie Hengtee (kakak beradik she Ong) dari Pat-kwa-bun mempunyai nama yang sama be-sarnya. Sebentar, sesudah Ong Loosu roboh apakah adikmu akan turun tangan?"
Ong Kiam Eng adalah seorang yang tenang sifatnya.
Akan tetapi, mendengar pertanyaan Wan Cie Ie, darahnya lantas saja meluap, karena dengan kata-kata itu, si nona sudah memastikan lebih dulu, bahwa ia bakal memperoleh kemenangan.
Tapi, sebelum ia sempat menjawab, Ong Kiam Kiat sudah mendului membentak.
"Perempuan sombong, jangan ngaco belo kau! Jika kau bisa melayani ka-kakku dalam seratus jurus, kami berdua tak akan menggunakan lagi Patkwa-ciang."
Harus diketahui, bahwa dalam Rimba Persilatan, kedua saudara Ong itu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi.
Ahli-ahli yang biasa tak akan bisa melayani mereka lebih dari sepuluh jurus.
Maka itu, dengan menyebut seratus jurus, Ong Kiam Kiat sama sekali tidak memandang rendah si nona.
Mendengar jawaban Kiam Kiat, Wan Cie Ie melirik dengan sorot mata memandang rendah.
"Sesudah aku menjatuhkan kakakmu, apakah kedudukan Ciangbunjin berarti sudah direbut oleh-ku?"
Tanyanya pula tanpa menghiraukan jawaban orang.
"Dan juga, sesudah kakakmu roboh, apa kau akan turun tangan atau tidak?"
"Sombong sungguh kau!"
Bentak Kiam Kiat dengan mendongkol.
"Sesudah menang, barulah kau boleh bicara."
"Tidak, sebelum bertempur aku mau tanya dulu seterangterangnya,"
Kata si nona. Kiam Eng yang sedari tadi belum membuka mulut, lantas saja menyelak.
"Siapa gurumu?"
Tanya-nya.
"Perlu apa kau tanya guruku?"
Wan Cie Ie balas menanya. Tiba-tiba biji matanya memain dan sambil tersenyum ia berkata puia.
"Ah, aku tahu! Ong Loosu rupanya sudah jadi gusar dan ia ingin turun-kan pukulan yang membinasakan. Maka itu, ia merasa perlu untuk tanya nama guruku. Ong Loosu, nama Suhu terlalu besar dan jika kuberitahukan, kau bisa mati lantaran kaget. Jangan takut. Ke-luarkanlah seantero kepandaianmu. Aku berjanji tak akan membawa-bawa guru. Orang kata, tak tahu, tak berdosa. Andaikata kau membinasakan aku, guruku tentu tak akan gusari kau."
Jawaban itu mengena jitu apa yang dipikir Ong Kiam Eng.
Memang juga, sesudah menyaksikan kepandaian Wan Cie Ie yang sangat luar biasa, ia menarik kesimpulan, bahwa guru si nona adalah seorang yang namanya sangat besar dalam Rimba Persilatan.
Ia sangat khawatir urusan berbuntut panjang, jika ia sampai melukai lawan yang muda belia itu.
"Saudara-saudara, kalian sudah mendengar jawaban Wan Kouwnio dan aku harap kalian suka menjadi saksi,"
Katanya seraya mengirim pukulan ke muka si nona.
Wan Cie Ie lantas saja melayani dengan menggunakan juga Pat-kwa-ciang dan serangan-serangan Kiam Eng yang pertama dengan mudah telah dipunahkannya.
Mereka bertempur di atas dua belas kursi batu bundar yang ditaruh di seputar sebuah meja bundar pula.
Semakin lama pertempuran jadi semakin cepat dan mereka melompat berputar-putar seperti main petak.
Sesudah bertempur beberapa lama, Ong Kiam Eng jadi mendongkol sekali.
"Perempuan ini sungguh licik dan sudah berhasil memancing aku untuk bertempur di atas kursi,"
Pikirnya.
"Tenaga pukulannya masih kalah jauh dari tenagaku, tapi dengan adanya rin-tangan meja, ia masih bisa bertahan."
Sesudah lewat lagi beberapa jurus, ia berkata pula dalam hati.
"Bocah ini memiliki macam-macam ilmu silat, sehingga aku tentu tak akan bisa merobohkannya dengan menggunakan lain ilmu silat."
Di lain saat, sambil membentak keras, ia mengubah cara ber-silatnya, tindakannya seolah-olah kacau dan ia mengirim pukulan-pukulan dari samping.
Ternyata, dalam kedongkolannya, ia mulai menyerang dengan ilmu Pat-tin Pat-kwa-ciang, yaitu ilmu simpanan dari mendiang ayahnya, Wie-tin Ho-sok Ong Wie Yang.
Harus diketahui, bahwa ilmu yang sangat lihay itu hanya diturunkan kepada ke-dua puteranya oleh Ong Wie Yang.
Murid-murid lainnya, seperti Siang Kiam Beng, belum pernah diajar ilmu tersebut.
Pat-tin Pat-kwa-ciang adalah Pat-kwa-ciang yang dirangkap dengan ilmu Pat-tin-touw, ialah barisan luar biasa gubahan Cukat Bu-houw di jaman Samkok.
Dengan dimasukkannya sendi-sendi Pat-tin-touw ke dalam ilmu silat, maka ilmu silat tersebut mengandung macam-macam perubahan yang aneh-aneh dan tidak dapat diduga oleh orangorang yang belum pernah mempelajarinya.
Jangankan mempelajari, sedangkan mende-ngar, Wan Cie le belum pernah mendengar nama Pat-tin Pat-kwa-ciang.
Maka itu tidaklah heran, jika baru saja beberapa gebrakan, ia sudah terdesak.
Ouw Hui yang terus memperhatikan jalan pertempuran di luar pendopo, jadi kaget bukan main.
Tapi ia tidak bisa membantu, sebab tadi si nona sudah membuka suara besar.
Ong Kiam Eng jadi girang dan terus mencecar lawannya dengan pu-kulan-pukulan hebat.
Tiba-tiba, pada saat yang sa-ngat berbahaya, nona Wan melompat ke atas meja seraya berkata.
"Berkelahi di atas kursi, kita tak bisa menggunakan seantero kepandaian. Mari kita main-main di atas meja. Ong Loosu, marilah, tapi awas, kau tak boleh menginjak hancur cangkir-cangktr dan piring buah. Siapa memecahkan cangkir, dia yang kalah."
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ong Kiam Eng turut meloncat ke atas meja.
Sekarang mereka bertempur dalam jarak dekat dan mau tak mau, si nona harus melawan kekerasan dengan kekerasan.
Tapi, jika dalam pukulan tangan, ia menderita ke-rugian, dalam gerakan kaki, ia memperoleh ke-untungan.
Mengapa?
Karena di atas meja terdapat dua belas cangkir teh dan empat piring buah, yang tak boleh pecah.
Memang, jika bertempur di atas tanah datar, Pat-tin Pat-kwa-ciang dahsyat bukan main.
Tapi, dengan adanya pembatasan itu, Ong Kiam Eng tak bisa mengeluarkan ilmunya sesuka hati.
Ia hampir tak berani bertindak, sebab khawatir memecahkan cangkir-cangkir itu.
Oleh karena itu, ia terpaksa berdiri tegak dan melayani si nona dengan pukulanpukulan tangan saja.
Di lain pihak, Wan Cie Ie yang gesit yang memiliki ilmu mengentengkan badan sangat tinggi, dapat bergerak dengan leluasa.
Bagaikan seekor kera, tubuhnya melesat ke sana-ke sini untuk tneng-egos pukulan-pukulan lawan atau mengirim serang-an-serangan.
Sesudah lewat beberapa jurus lagi, sambil mengempos semangat dengan geregetan Kiam Eng memukul dengan telapakan tangan kanannya.
Tiba-tiba, Wan Cie Ie menyontek sebuah cangkir dengan ujung kaki kirinya dan cangkir itu lantas saja menyambar ke muka lawan.
Dengan kaget Kiam Eng buru-buru menarik pulang tangannya dan berkelit.
Tapi, baru saja cangkir pertama lewat, tiga cangkir lainnya menyambar dengan saling susul.
la berhasil mengegos tiga cangkir itu, tapi yang keempat dan kelima mengenai tepat di kedua pundaknya.
Cangkir ketujuh dan kedelapan dipukul jatuh dengan tangannya, tapi tak urung mukanya basah sebab kecipratan air teh.
la gusar dan bingung, sehingga cangkir kesembilan dan kesepuluh mampir di dada-nya.
Semua orang kaget, terutama Ong Kiam Kiat yang tanpa merasa mengeluarkan seruan tertahan.
Sementara itu, cangkir kesebelas dan kedua belas sudah menyambar ke arah mata.
Bagaikan kalap, Kiam Eng segera menghantam kedua cangkir itu dengan tangannya.
Inilah saat yang ditunggu si nona.
Bagaikan kilat, badannya berkelebat dan tangan kanannya menangkap pergelangan tangan ka-nan lawan, sedang tangan kirinya menyengkeram jalanan darah Kie-tie-hiat di lengan orang.
Dengan sekal' Tendorong dan membetot, berbareng dengan terdengarnya teriakan kesakitan, sambungan lengan Kiam Eng copot dari tempat sambungannya.
Apa yang digunakan Wan Cie Ie adalah Hun-kin-co-kut-chiu yang biasa saja.
la sudah berhasil sebab gerakannya yang luar biasa cepat, sehingga seorang ahli seperti Ong Kiam Eng masih tak dapat menyelamatkan diri.
Melihat kakaknya dikalahkan, sambil memben-tak keras, Kiam Kiat melompat dan mengirim pu-kulan hebat dengan kedua tangannya.
Ouw Hui yang terus berwaspada segera turut meloncat dan mendorong, sehingga Kiam Kiat terhuyung ke be-lakang beberapa tindak.
"Ong-heng, jangan mengerubuti!"
Bentaknya.
"Menurut janji, pertandingan ini satu lawan satu."
Dengan paras muka pucat bagaikan kertas, Kiam Eng duduk di atas meja.
"Jika aku melepaskan dia sekarang, dengan saudaranya dia bisa menye-rang lagi dan bisa-bisa aku dirobohkan,"
Kata Wan Cie Ie dalam hatinya. Memikir begitu, tanpa sung-kan-sungkan lagi tangannya kembali bekerja dan sambungan lengan kiri Ong Kiam Eng kembali copot dari lempatnya.
"Bagaimana? Apa kamu rela menyerahkan Ciangbunjin Pat-kwa-bun kepadaku?"
Tanyanya. Kiam Eng tak menyahut. la meramkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan.
"Lepas ka-kakku!"
Bentak Kiam Kiat.
"Jika kau mau, ambillah kedudukan Ciangbunjin."
Si nona tersenyum dan lalu melompat turun dari atas meja, sedang Kiam Kiat sendiri lalu meng-gendong kakaknya dan meninggalkan gedung itu tanpa menengok lagi.
Sekarang tiba giliran Ciu Tiat Ciauw.
Sambil mengawasi Wan Cie Ie, ia berkata.
"Nona, kau benar-benar pintar. Siasat apa yang kau hendak gunakan untuk menghadapi aku, si orang she Ciu?"
Dengan berkata begitu, si tua seperti juga ingin mengatakan, bahwa kemenangan Wan Cie Ie telah didapat karena siasat dan bukan lantaran kepan-daian tinggi.
Si nona lantas saja naik darahnya.
Ia mengeluarkan suara di hidung dan menjawab.
"Masakah aku perlu menggunakan siasat untuk menghadapi ilmu silat tiada artinya dari Engjiauw-gan-heng-bun? Ciu Loosu, apa katnu bertiga maju berbareng atau satu lawan satu?"
"Wan Kouwnio, dengan berkata begitu kau memandang enteng semua ahli silat di kota Pak-khia,"
Kata Tiat Ciauw dengan suara tawar.
"Semenjak berusia tiga belas tahun, aku Ciu Tiat Ciauw selalu berkelahi seorang diri."
"Oh begitu?"
Mengejek si nona.
"Dengan lain perkataan, sebelum berusia tiga belas tahun, kau bukan seorang gagah dan biasa main keroyok."
"Aku baru belajar silat pada usia tiga belas tahun,"
Menerangkan si tua. Wan Cie Ie tertawa.
"Seorang gagah tulen Sudan jadi seorang gagah sedari masih bayi,"
Kata pula Wan Cie Ie.
"Dalam dunia terdapat manusia-ma-nusia, yang walaupun tinggi ilrnu silatnya, tetap rendah jiwanya. Ciu Loosu, harap kau jangan ma-rah. Aku bukan maksudkan kau."
Terhadap Ong Kiam Eng dan Ong Kiam Kiat, Wan Cie Ie masih mempunyai rasa menghormat.
Entah mengapa, ia sebal sungguh melihat muka Ciu Tiat Ciauw yang parasnya agungagungan dan oleh karenanya, ia terus mengejek tanpa sungkan-sung-kan lagi.
Si tua yang belum pernah dihina begitu rupa, tentu saja gusar bukan main, tapi, sebagai seorang yang tenang sifatnya, ia hanya mengeluarkan suara di hidung dan tak mau balas mencaci.
Mendadak terdengar teriakan Ong Tiat Gok.
"Budak cilik! Berlakulah sedikit sopan kalau bicara dengan Toasukoku."
Si nona tidak meladeni karena tahu dia seorang polos. Ia berpaling kepada Tiat Ciauw seraya berkata.
"Keluarkanlah!"
"Keluarkan apa?"
Menegas si tua.
"Tong-eng Tiat-gan-pay,"
Jawabnya. Mendengar kata-kata "Tong-eng Tiat-gan-pay" (Pay Elang tembaga Burung gan besi), walaupun tenang, Ciu Tiat Ciauw tak bisa mempertahankan ketenangannya lagi.
"Ah!"
Teriaknya dengan kaget.
"Bagaimana kau tahu urusan dalam partaiku?"
Ia mencopot sebuah kantong sulam yang digantung di pinggangnya dan lalu menaruhnya di atas meja.
"Tong-eng Tiat-gan-pay berada di sini,"
Katanya dengan suara menyeramkan.
"Ambil dulu jiwaku, baru kau boleh merampas pay itu."
"Coba keluarkan, aku mau lihat apa tulen atau palsu,"
Kata pula si nona.
Dengan tangan bergemetaran Tiat Ciauw mem-buka kantong itu dan mengeluarkan sebuah Kim-pay (papan yang terbuat dari pada emas) yang panjangnya empat cun dan lebarnya dua cun.
Di atas pay itu terukir seekor elang tembaga yang sedang membuka cakar dan seekor burung gan (semacam belibis) yang terbang miring.
Pay tersebut bukan lain dari pada semacam cap kekuasaan Ciang-bunjin dari partai Eng-jiauw-gan-heng-bun.
Semua murid partai memandang pay itu seperti juga Ciang-bunjin sendiri.
Harus diketahui, bahwa Eng-jiauw-gan-heng-bun adalah sebuah partai besar dan dalam beberapa turunan mempunyai Ciangbunjin yang berkepandaian sangat tinggi.
Tapi begitu sampai di jaman Ciu Tiat Ciauw, murid-murid Eng-jiauw-ganheng-bun yang terutama pada menekuk lutut ke-pada pemerintahan Boan dan menjadi kaki-tangan Kaisar Ceng.
Mereka hidup mewah dan ketulanui cara-cara kota Pakkhia yang hanya memburu ke-senangan, sehingga tidaklah heran, jika ilmu silat mereka berbeda jauh dengan para tetuanya di jaman yang lampau.
Belakangan, pada jaman Kaisar Keekeng, barulah dalam partai itu muncul beberapa orang benarbenar tinggi ilmunya dan sudah ber-hasil mengangkat naik nama harumnya Eng-jiauw-gan-heng-bun.
Tapi hal itu tiada sangkut pautnya dengan cerita ini.
Sesudah mengawasi pay itu beberapa lama, barulah Wan Cie le berkata.
"Dilihat luarnya, memang pay tulen. Tapi aku belum bisa memastikan."
Cara-cara si nona dalam mengejek dan meng-ganggu Ciu Tiat Ciauw mempunyai sebab tertentu.
Dalam melawan Ong Kiam Eng, biarpun pada akhir-nya ia memperoleh kemenangan, ia merasa sangat lelah dan Lweekangnya pun berkurang banyak.
Maka itu, ia sengaja mengeluarkan ejekanejekan, pertama untuk membangkitkan kegusaran si tua dan kedua untuk mengaso.
Ciu Tiat Ciauw adalah seorang yang berpengalaman luas dan ia lantas saja bisa menebak maksud Wan Cie le.
Maka itu, seraya mengebas tangannya ia membentak.
"Wan Kouwnio, sudahlah! Jika kau benar-benar berani memberi pelajaran padaku, marilah kita main-main di atas pendopo ini."
Ham-pir berbareng, ia mengenjot tubuh dan badannya lantas saja melesat ke atas.
Harus diketahui, bahwa partai Eng-jiauw-gan-heng-bun mengutamakan dua rupa kepandaian, yaitu Eng-jiauw Kin-na (Menangkan dan menyeng-keram dengan menggunakan tangan yang menyeru-pai cakar garuda) dan Gan-heng Gin
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com kang (Ilmu mengentengkan badan seperti seekor burung belibis yang sedang terbang).
Waktu melompat ke atas genteng, Ciu Tiat Ciauw telah mengambil keputus-an untuk membinasakan si nona dengan menggunakan kedua ilmu itu.
Menurut perhitungannya, dengan bertempur di atas atap yang tinggi, bukan saja Wan Cie le tak akan dapat menggunakan akal bulus.
tapi Ouw Hui pun tak akan bisa membantunya.
Orang yang sebenarnya disegani si tua, bukan Wan Cie le, tapi Ouw Hui yang selalu siap sedia untuk memberi bantuannya.
Tapi apa lacur, perhitungan Ciu Tiat Ciauw meleset jauh.
Mimpi pun ia tak pernah mimpi, bahwa Kin-na dan Gin-kang justru merupakan ilmu terlihay dari nona Wan.
Jika ia pernah menyaksikan pertempuran di puncak tiang layar perahu antara si nona dan Ya Kit, ia tentu tak akan mengajukan tantangan itu.
Melihat loncatan Ciu Tiat Ciauw, yang biarpun lincah dan gesit tapi masih kalah jauh dari pada Wan Cie le, Ouw Hui merasa lega.
Mereka saling melirik dan tersenyum.
Untuk membesarkan hati lawan, si nona sengaja tak mau memperlihatkan kepandaian-nya yang istimewa.
Dengan lompatan biasa, ia hing-gap di atas genteng.
"Sambutlah!"
Bentaknya seraya menyerang dengan sepuluh jarinya yang menye-rupai cakar garuda.
Dalam Rimba Persilatan terdapat tiga rupa Jiauw-hoat (ilmu yang menyerupai cakar atau kuku binatang), yaitu Liong-jiauw (Kuku naga), Houw-jiauw (Kuku harimau) dan Eng-jiauw (Cakar garuda).
Dengan Liong-jiauw, empat jari dirapatkan dan ditekuk ke dalam, sedang jempol dipentang dan juga ditekuk ke dalam.
Dengan Houw-jiauw, lima jari dipentang dan agak ditekuk ke dalam.
Dengan Eng-jiauw, empat jari dirapatkan, jempol dipentang, jari kedua dan ketiga agak ditekuk ke dalam.
Dalam tiga rupa Jiauw-hoat itu, Liongjiauwlah yang paling sukar dipelajari.
Melihat lawannya menyerang dengan ilmu silat Eng-jiauwgan-heng-bun, Ciu Tiat Ciauw jadi gi-rang.
"Jika kau menggunakan ilmu yang aneh-aneh, mungkin aku agak jeri, tapi kalau kau menggunakan ilmu Eng-jiauw-gan-heng-bun, seperti juga kau cari mampus sendiri,"
Katanya di dalam hati.
Memikir begitu, dengan hati girang ia segera menerjang Wan Cie le dengan pukulan-pukulan Eng-jiauw-gan-heng-bun yang paling hebat.
Semua orang mendongak dan menonton per-tandingan itu dengan hati berdebar-debar.
Antara pertandinganpertandingan yang sudah dilakukan pada malam itu, pertandingan inilah yang paling menarik hati.
Bagaikan dua ekor burung raksasa, tubuh mereka berkelebat-kelebat di atas genteng.
Sesudah bertempur beberapa lama, hampir ber-bareng dengan bentakan Wan Cie le, sambil ber-teriak keras Ciu Tiat Ciauw melayang jatuh ke bawah.
Karena gerakan mereka cepat luar biasa, di antara penonton hanya Ouw Hui dan Can Tiat Yo yang dapat melihat sebab-sebab dari jatuhnya Tiat Ciauw.
Ternyata, Wan Cie le kembali menggunakan Hun-kin co-kut-chiu dan mencopotkan tulang kedua betis lawannya dari sambungan di lutut.
Maka itu, kecuali Ouw Hui dan Can Tiat Yo, yang lainnya merasa heran sebab begitu jatuh, Ciu Tiat Ciauw tak bisa bangun lagi.
Mereka heran karena atap pendopo tidak seberapa tinggi dan si tua pun memiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat lihay, sehingga biarpun kalah, tak bisa jadi dia roboh untuk tak bangun lagi.
Ong Tiat Gok yang sangat mencintai Toasu-hengnya jadi kaget bukan main.
"Suko!"
Teriaknya sambil memburu dan membangunkannya. Tapi ten-tu saja sang kakak tak bisa berdiri tegak, begitu dibangunkan, begitu dia roboh kembali.
"Tolol!"
Can Tiat Yo mencaci Suteenya seraya lari menghampiri.
Ia adalah seorang tokoh terke-muka dalam Engjiauw-gan-heng-bun, tapi ia tak mengerti ilmu Ciap-kut (Menyambung tulang).
Maka itu, buru-buru ia mendukung kakak seperguruannya dan lalu memutar badan untuk meninggalkan taman itu.
"Ambil dulu Eng-gan-pay!"
Bentak Tiat Ciauw.
Can Tiat Yo tersadar, buru-buru ia kembali ke pendopo dan mengangsurkan tangannya untuk meng-ambil Kim-pay yang terletak di atas meja.
Tapi, pada sebelum menyentuh papan emas itu, mendadak ia merasakan kesiuran angin dan berbareng dengan berkelebatnya bayangan manusia, seorang lain su-dah mendului menjemput Kim-pay itu.
"Tak tahu malu!"
Bentak orang itu yang bukan lain dari pada Wan Cie Ie.
"Sesudah kalah, apa kau mau melanggar janji?"
Can Tiat Yo kaget bereampur gusar.
Ia tak tahu tindakan apa yang harus diambilnya.
Apa ia harus segera bertempur dengan Wan Cie Ie?
Apa ia harus lebih dulu mencari orang untuk memulihkan tulang suhengnya yang telah copot?
Selagi ia kebingungan, Ouw Hui menghampiri seraya berkata dengan suara ramah tamah.
"Tulang kedua betis Ciuheng telah copot dan jika tidak segera dipulihkan, aku khawatir urat-uratnya akan menjadi rusak."
Sehabis berkata begitu, tanpa menunggu jawaban, ia segera mencekal betis kiri Ciu Tiat Ciauw dengan kedua tangannya dan dengan sekali membetot dan mendorong, tulang itu pulih ke tempatnya.
Di lain saat, ia pun sudah memulihkan tulang betis kanan.
Sesudah itu, ia mengurut-urut jalanan darah di pinggang Ciu Tiat Ciauw, sehingga rasa sakitnya lantas saja berkurang banyak.
Sesudah menolong si tua, sambil tertawa Ouw Hui mengangsurkan tangannya ke arah Wan Cie Ie.
"Wan Kouwnio,"
Katanya.
"Tong-eng Tiat-gan-pay bukan barang mainan yang menarik hati. Menurut pendapatku, lebih baik kau membayarnya kepada Ciu Toako."
Mendengar kata-kata "bukan barang mainan yang menarik hati" , si nona tertawa dan lalu men-truh Kim-pay itu di telapakan tangan Ouw Hui.
Dengan kedua tangan dan dengan sikap meng-hormat, Ouw Hui mengangsurkan Tong-eng Tiat-gan-pay kepada Ciu Tiat Ciauw yang lalu men-jemputnya seraya berkata.
"Sebegitu lama aku si orang she Ciu masih mempunyai napas, satu hari aku tentu akan membalas kebaikan Jie-wie."
Sesudah melirik Wan Cie Ie dan Ouw Hui, dengan dipayang oleh Can Tiat Yo, ia segera meninggalkan gedung itu.
Waktu melirik si nona, sorot matanya penuh dengan rasa sakit hati, tapi selagi melirik Ouw Hui, sorot mata itu mengunjuk rasa terima kasih.
Wan Cie Ie tidak menghiraukannya dan sesudah menjebik, ia lalu berkata kepada Tie Hong.
"Tie Toaya, kau mempunyai kedudukan sebagai separuh Ciangbunjin. Bagaimana? Apa kau mau menjajal kepandaianku?"
Sesudah menyaksikan kelihayan si nona, Tie Hong ternyata cukup tahu diri. Sambil merangkap kedua tangannya, ia menjawab.
"Partaiku Lui-tian-bun berada di bawah pimpinan suhu. Seorang yang berkepandaian seperti aku, mana berani mengang-gap diri sebagai Ciangbunjin. Jika Kouwnio ingin memberi pelajaran, paling baik Kouwnio datang berkunjung ke Say-pak dan guruku pasti akan menerimanya dengan girang hati."
Wan Cie Ie tertawa dan tidak mendesak ter-lebih jauh. Di lain saat ia mengebas tangan kirinya seraya menanya.
"Siapa lagi yang ingin memberi pelajaran kepadaku?"
Tantangan itu tidak mendapat sambutan.
Dengan rasa mendongkol, malu dan heran, karena tak tahu dari mana datangnya si nona galak, In Tiong Shiang dan yang Iain-lain lalu memberi hormat kepada Ouw Hui dan meminta diri.
Dengan manis budi pemuda itu lalu mengantarkan semua tamunya sampai di pintu depan.
Ketika ia kembali di taman bunga, sekonyong-konyong terdengar menggelegarnya geledek.
Ia men-dongak dan melihat awan hitam yang berterbangan dan menutupi bulan.
"Jie-moay,"
Katanya seraya berpaling kepada Thia Leng So.
"Mari kita be-rangkat sekarang."
"Ke mana kalian mau pergi di tengah malam buta ini?"
Tanya Cie Ie.
"Sebentar lagi pasti akan turun hujan."
Baru saja ia berkata begitu, butiran-butiran hujan sudah mulai turun.
"Ditimpa hujan banyak lebih baik dari pada meneduh di bawah rumahnya satu penjahat besar,"
Kata Ouw Hui dengan suara gusar. Sehabis berkata begitu, tanpa memperdulikan Wan Cie Ie, ia lalu berjalan ke luar dengan diikuti oleh Leng So. Wan Cie Ie mengejar.
"Bangsat Hong Jin Eng memang lebih dari pantas dibunuh mati,"
Katanya.
"Aku menyesal belum bisa membacoknya beberapa kali dengan tanganku sendiri."
Ouw Hui menghentikan tindakannya dan sam-bil menengok, ia membentak.
"Huh! Tak malukah kau mengeluarkan perkataan itu?"
"Sakit hatiku terhadap Hong Jin Eng lebih hebat seratus kali dari pada kau!"
Kata si nona. Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula seraya mengertak gigi.
"Kau membenci dia baru beberapa bulan saja. Tapi aku! Aku sakit hati seumur hidup!"
Kata-kata yang belakangan itu diucapkannya dengan suara parau. Ouw Hui jadi heran tak kepalang.
"Kalau begitu, mengapa kau berulang kali sudah menolong jiwanya?"
Tanyanya.
"Sudah tiga kali,"
Kata si nona.
"Tak akan ke-empat kali."
"Benar, sudah tiga kali,"
Kata Ouw Hui.
"Tapi, aku sungguh tak mengerti."
Selagi mereka bicara, hujan sudah turun seperti dituangtuang sehingga pakaian mereka basah semua.
"Apakah kau ingin mendengar ceritaku yang panjang-lebar di bawah hujan?"
Tanya Cie Ie.
"Kau sendiri memang tak takut hujan, tapi apa kau kira badan wanita yang lemah juga seperti badanmu?"
"Baiklah,"
Kata Ouw Hui.
"Mari kita balik."
Mereka lalu masuk ke kamar buku dan kacung yang bertugas segera menyalakan lilin dan mem-bawa teh.
Kamar itu yang terawat baik, dengan perabotannya yang mahal dan pajangannya yang indah, menimbulkan suasana yang sangat menye-nangkan.
Di tembok sebelah timur terdapat sebuah rak buku dengan buku-bukunya yang berharga mahal, sedang dari tirai jendela di sebelah barat, ter-lihat bayangan pohon bambu, dari mana berkesiur masuk wanginya bunga Kuihoa.
Di tembok sebelah selatan tergantung sebuah lukisan dan sepasang tuilian dengan huruf-hurufnya yang sangat indah.
Tapi Ouw Hui yang sedang memikirkan kata-kata Wan Cie Ie yang aneh, tidak memperdulikan keindahan itu.
Untuk sementara, mereka duduk termenung-menung sambil mendengarkan jatuhnya hujan di daun bambu dan di atas genteng.
Semenjak kecil Ouw Hui berkelana di dunia Kangouw dan inilah untuk pertama kali ia duduk dalam sebuah kamar yang sangat indah, dengan dikawani oleh dua gadis cantik jelita.
Sesudah lewat beberapa lama, sambil meng-awasi tetesan hujan di luar jendela, Wan Cie Ie berkata dengan suara perlahan.
"Pada sembilan belas tahun berselang, pada malam itu, di propinsi Kwitang, kota Hud-san-tin, juga turun hujan. Seorang wanita muda, yang mendukung bayi perem-puan, berlari-lari di tengah jalan tanpa memper-dulikan hujan besar. la tak tahu harus menuju ke mana, ia telah didesak orang sampai di jalanan buntu. Orang-orang yang dicintainya telah dibunuh. Ia sendiri telah mendapat hinaan yang hebat, sehingga jika tak ingat bayi yang sedang didukungnya, ia tentu sudah membunuh diri dengan melompat ke dalam sungai."
"Wanita muda itu seorang she Wan, namanya Gin Hoa. Nama itu adalah nama seorang desa, karena ia memang seorang perempuan desa. Walau-pun mukanya agak kehitamhitaman, ia cantik sekali, sehingga pemuda-pemuda Hud-santin men-julukinya sebagai 'Hek-bo-tan' (bunga Bo-tan hi-tam). Keluarganya adalah keluarga nelayan. Setiap pagi, dari desa ia memikul ikan ke pasar ikan di Hud-san-tin."
"Pada suatu hari, seorang hartawan di Hud-san-tin, Hong Jin Eng namanya, mengadakan pesta. Ia membawa sepikul ikan ke gedung keluarga Hong untuk dijualnya. Orang kata, angin dan awan bisa muncul mendadak di langit, keberuntungan atau kecelakaan bisa datang tiba-tiba kepada manusia. Demikianlah, karena gara-gara mencari sesuap nasi, nona itu secara kebetulan telah dilihat Hong Jin Eng."
"Manusia she Hong sudah banyak istri dan selirnya. Tapi dia tak pernah merasa cukup. Tanpa ampun lagi, ia melanggar kehormatan si nona pen-jual ikan. Gin Hoa ketakutan setengah mati dan tanpa mengambil uang penjualan ikan, ia lari pulang."
"Di luar dugaan, karena perbuatan manusia kejam itu, Gin Hoa jadi hamil. Ayahnya tentu saja marah besar dan sesudah tahu duduknya persoalan, ia segera pergi ke gedung keluarga Hong untuk herurusan. Tapi dalam menghadapi seorang yang tidak berdaya, Hong Looya kembali memperlihat-kan kekejamannya. Ia perintah kaki tangannya menghajar orang tua itu dengan mengatakan, bah-wa si nelayan telah menuduh secara membabi buta. Dapatlah dibayangkan bagaimana besar kedukaan dan penasarannya orang tua itu. Ia sakit mereras dan beberapa bulan berselang, ia meninggal dunia dengan penuh penderitaan."
"Paman-paman Gin Hoa lalu menumplek segala kesalahan di atas kepala wanita yang malang itu. Ia dikatakan menjadi gara-gara dari kebinasaan ayahnya. Ia dilarang berkabung dan dilarang bersem-bahyang di depan peti mati ayahnya. Pamanpaman itu malahan mengancam akan memasukkannya ke dalam selongsong babi dan melemparkannya ke dalam sungai."
"Malam-malam Gin Hoa lari ke Hud-san-tin dan sesudah hidup menderita beberapa bulan, ia melahirkan satu bayi perempuan. Karena tiada lain jalan, ia terpaksa mengemis untuk melewati hari. Orang-orang yang tahu riwayat ibu dan anak itu, merasa kasihan dan banyak juga yang memberi uang, beras atau makanan. Mereka kasak-kusuk membicarakan kekejaman si orang she Hong, tapi sebab tidak bertenaga, tak satu pun yang berani tampil ke muka untuk menuntut keadilan."
"Pada waktu itu, di pasar ikan terdapat seorang pegawai yang mengenal Gin Hoa dan yang diam-diam semenjak lama sudah mencintainya. la lalu minta seorang sahabat untuk bicara dengan Gin Hoa. Jika nyonya itu setuju, ia ingin mengambilnya sebagai istri dan bersedia untuk mengakui anak itu sebagai anaknya sendiri. Gin Hoa jadi girang dan tak lama kemudian, mereka merayakan pernikahan mereka."
"Tapi lain bencana kembali datang. Kaki tangan si orang she Hong yang tahu hal itu, segera melaporkan kepada majikan mereka. Hong Looya jadi gusar karena menganggap si pegawai pasar ikan kurang ajar sekali, sudah berani mengambil wanita bekas korbannya sebagai istri. Ia segera memerintahkan belasan muridnya mengacau di pesta pernikahan. Tetamu yang sedang minum arak digebuk dan diusir, semua perabotan pengantin dihancur-kan, sedang pengantin lelaki diusir ke luar dan tidak diperbolehkan masuk lagi ke wilayah Hud-san-tin....M "
Brak!"
Ouw Hui menepuk meja sehingga api lilin bergoyang-goyang.
"Binatang! Sungguh jahat manusia she Hong itu!"
Teriaknya bagaikan kalap.
Wan Cie Ie menunduk dan kemudian meman-dang ke luar jendela, mengawasi sang hujan yang masih terus turun dengan derasnya.
Sesudah ter-menung-menung beberapa saat, ia menghela napas dan berkata pula.
"Sesudah meloloskan pakaian pengantin, sambil mendukung anaknya, Gin Hoa lalu melarikan diri dari Hud-san-tin. Malam itu turun hujan besar seperti malam ini. Ia jatuh bangun di jalanan yang licin, tapi dengan kuatkan hati, ia lari terus... lari terus.... Tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh yang menggeletak di pinggir jalan. Ia men-duga, bahwa orang itu adalah seorang pemabukan dan buru-buru ia menghampiri untuk membangun-kannya. Tapi begitu ia membungkuk, kagetnya seperti disambar halilintar. Orang itu yang berlumur-an darah dan sudah mati, adalah suaminya sendiri, si pegawai pasar ikan. Ia sudah dicegat dan di-binasakan oleh kaki tangan Hong Looya yang menunggu di luar Hud-san-tin."
"Kedukaan Gin Hoa pada waktu itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata lagi. Dengan meng-gunakan sisa tenaganya, ia menggali tanah dengan tangannya dan lalu mengubur sang suami yang ber-nasib malang itu. Ketika itu ia sudah nekat, hampir-hampir ia membuang diri ke dalam sungai. Hanyalah si bayi yang menangis karena kedinginan, yang sudah mengurungkan niatan nekatnya itu. Sesudah memikir bolakbalik, sambil menggigit bibir, ia ber-jalan lagi dengan memeluk erat-erat bayinya itu."
Mendengar sampai di situ, air mata Leng So mengalir turun di kedua pipinya.
"Wan Ciecie."
Katanya dengan suara terharu.
"Habis bagaimana?"
Wan Cie Ie menyusut air matanya dengan sapu tangan dan kemudian berkata sambil tersenyum.
"Kau memanggil aku Ciecie? Kalau begitu, sebagai adik, kau harus memberi obat pemunah!"
Muka Leng So yang tadinya pucat lantas saja berubah merah.
"Kau sudah tahu?"
Katanya dengan suara perlahan. la mengambil secangkir teh dan kemudian dari kukunya ia mementil sedikit bubuk warna kuning ke dalam air teh.
"Thia Moay-moay, hatimu cukup baik,"
Kata Cie Ie.
"Kau sudah menyediakan obat pemunah di kuku-mu dan ingin memberikannya tanpa diketahui aku."
Ia mengangkat cangkir itu dan lalu meminumnya.
"Racun yang digunakan bukan racun yang membinasakan,"
Menerangkan Leng So.
"Tanpa obat pemunah, Ciecie hanya akan mendapat sakit untuk beberapa bulan. Dengan memberi racun itu, aku hanya ingin mencegah pertolonganmu terhadap Hong Jin Eng."
Wan Cie Ie tertawa tawar.
"Siang-siang aku sudah tahu, bahwa aku kena racun,"
Katanya.
"Aku hanya tak tahu bagaimana kau melepaskannya. Sedan masuk ke sini, belum pernah kuminum atau makan apa pun juga."
"Selagi kau dan Ouw Toako bertempur di luar tembok, bukankah aku telah melemparkan seba-tang golok kepada Ouw Toako?"
Tanya Leng So.
"Di golok itu terdapat sedikit bubuk racun, sehingga pecut dan tanganmu juga terkena racun. Golok dan Joan-pian itu harus dicuci sampai bersih."
Mendengar keterangan itu, Cie Ie dan Ouw Hui saling mengawasi dengan perasaan kagum. Racun yang dilepaskan cara begitu, pasti tak akan dielak-kan oleh siapa pun juga.
"Kalau begitu,"
Kata Ouw Hui.
"Hong Jin Eng adalah... adalah..."
"Benar,"
Jawabnya.
"Gin Hoa adalah ibuku, Hong Jin Eng ayahku. Biarpun dia kejam luar biasa dan telah mencelakakan kami, ibu dan anak, guruku pernah mengatakan, bahwa 'tanpa ayah dan ibu, seorang manusia tentu tak akan jadi manusia.' Wak-tu aku berpamitan dengan Suhu untuk menjelajah ke wilayah Tionggoan, beliau memesan begini. 'Ayahmu telah melakukan banyak sekali kejahatan dan dia pasti akan mendapat nasib yang hebat. Kau boleh menolong jiwanya tiga kali untuk menunaikan tugas sebagai anak. Sesudah itu, kau boleh meng-ambil jalananmu dan dia mengambil jalanannya sendiri. Mulai waktu itu, kau dan dia sudah tiada sangkut pautnya lagi.' Ouw Toako, di Hud-san-tin, di kuil Pak-tee-bio, aku menolong dia untuk per-tama kali. Malam itu, di dalam bio rusak, aku kembali menolong jiwanya. Dan malam ini, aku menolongnya untuk ketiga kali. Di lain kali, jika aku bertemu dengannya, akulah yang akan turun tangan untuk membalas sakit hati ibu."
Sesudah berkata begitu, ia mengawasi ke luar jendela dengan paras muka pucat dan mata berkilat-kilat.
"Apakah ibumu masih hidup?"
Tanya Leng So.
"Dari Hud-san-tin ibu menuju ke utara sambil mengemis di sepanjang jalan,"
Kata Cie Ie.
"Tujuan-nya adalah menyingkirkan diri dari kota itu sejauh mungkin dan jangan bertemu muka lagi dengan Hong looya. Beberapa bulan ia berkeliaran di sepanjang jalan sampai akhirnya ia tiba di kota Lam-ciang, propinsi Kangsay. Di kota itu ia menjadi bujang di rumah seorang she Tong...."
"Ah!"
Ouw Hui memutus perkataannya.
"K-eluarga Tong di kota Lameiang? Apa keluarga itu masih terkena famili dengan Kam-lim-hui-cit-seng (Hujan besar memberkahi tujuh propinsi) Tong Tayhiap?"
Mendengar pertanyaan Ouw Hui, bibir si nona kelihatan bergemetar.
"Ibuku telah meninggal dunia di gedung... Tong Tayhiap,"
Jawabnya.
"Tiga hari sesudah ibu meninggal dunia, Suhu membawaku ke Huikiang dan delapan belas tahun kemudian, baru-lah aku memasuki lagi wilayah Tionggoan."
"Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama yang mulia dari gurumu?"
Tanya Ouw Hui.
"Kau mahir segala rupa ilmu dan gurumu pastilah seorang luar biasa pada jaman ini. Walaupun Biauw Tayhiap yang bergelar Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu, belum tentu mempunyai kepandaian yang begitu tinggi."
"Aku harap Toako sudi memaafkan,"
Jawab si nona.
"Aku tak berani memberitahukan she dan nama Suhu karena beliau belum mengijinkannya. Nama 'Cie Ie' juga bukan namaku yang asli. Di kemudian hari, Ouw Toako dan Thia Moay-moay tentu akan tahu namaku yang sebenarnya. Nama Biauw Tayhiap yang cemerlang juga telah didengar kami di Huikiang. Bu-tim Tootiang dari Ang-hoa-hwee pernah ingin datang ke Tiong-goan untuk menjajal kepandaian Biauw Tayhiap. Tapi Tio Poan San Samsiok...."
Berkata sampai di situ, ia berhenti sejenak dan melirik Ouw Hui sambil tersenyum.
karena dalam hal ini, Ouw Hui kembali berada di pihak menang.
(Sebagaimana diketahui, Ouw Hui mengangkat saudara dengan Tio Poan San, sedang Wan Cie Ie memanggil "paman"
Pada pendekar itu, sehingga kedudukan Ouw Hui lebih tinggi setingkat dari pada si nona). Sehabis tersenyum, ia lalu melanjutkan penuturannya.
"Tio Poan San (ia tidak menggunakan istilah "Samsiok"
Lagi) mengatakan, bahwa dalam hal ini tentu mesti ada latar belakang-nya.
Sepanjang keterangan, Biauw Tayhiap meng-gunakan gelaran itu bukan karena ingin menga-gulkan diri, tapi sebab ingin membalas sakit hati ayahnya.
Dengan gelaran itu, ia ingin memancing seorang ahli silat yang menyembunyikan diri di Liaotong.
Belakangan dalam kalangan Kang-ouw tersiar warta, bahwa Biauw Tayhiap sudah berhasil membalas sakit hati ayahnya dan bahwa di hadapan umum beberapa kali ia pernah mengumumkan, bahwa ia tak berani menggunakan gelaran itu lagi.
Gelaran Tah-pian Thian-hee Bu-tek-chiu sungguh memalukan', demikian ia katanya pernah mengata-kan 'Ilmu silat Tayhiap Ouw It To banyak lebih tinggi dari padaku'.
Mendengar disebutkannya nama "Ouw It To", jantung Ouw Hui lantas saja memukul keras.
"Apa benar Biauw Tayhiap pernah mengucapkan kata-kata itu?"
Menegasnya.
"Tentu saja aku tidak mendengar dengan ku-ping sendiri,"
Jawabnya.
"Ceritera itu dituturkan oleh Tio... Tio Poan San. Bu-tim Tootiang yang darahnya panas, lantas saja ingin mencari Ouw Tayhiap untuk menjajal kepandaian. Tapi belakangan, karena tak tahu di mana tempatnya, ia terpaksa mengurungkan niatannya, ia telah bertemu dengan-mu. Sekembalinya di Huikiang, ia memuji kau setinggi langit. Waktu itu aku masih kecil dan tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka. Kali ini, waktu siauwmoay mau berangkat ke timur, Bun Sie-ie (Bibi Bun) telah memerintahkan aku menunggang kuda putihnya. Ia memesan, bahwa jika aku bertemu dengan pemuda gagah she Ouw itu, biarlah aku menyerahkan kuda putih itu sebagai hadiah."
"Siapa itu Bun Sie-ie?"
Tanya Ouw Hui dengan heran.
"Ia belum pernah mengenalkan. Mengapa ia memberi hadiah yang begitu besar harganya?"
"Bun Sie-ie adalah seorang yang mempunyai nama besar dalam Rimba Persilatan,"
Jawabnya.
"Ia adalah isteri Pun-luichiu (si Tangan geledek) Bun Tay Lay Siesiok. Ia she Lok bernama Peng dan bergelar Wan-yo-to. Mendengar penuturan Tio Poan San tentang sepak terjangmu di Siang-kee-po dan tentang rasa kagummu terhadap kuda putih itu, ia lantas saja berkata. 'Samsiok, mengapa kau tidak menghadiahkan kuda itu kepadanya. Apa kau rasa Tio Samsiok bisa bersahabat dengan pemuda itu, aku tak bisa?'"
Sekarang Ouw Hui baru mengerti, mengapa pada hari itu, di rumah penginapan, Wan Cie le telah meninggalkan si putih dengan tulisan "kuda kembali kepada majikannya".
Ia merasa berterima kasih dan kagum bukan main terhadap nyonya gagah itu, yang tanpa mengenal dirinya dan hanya berdasarkan cerita orang, sudah menghadiahkan seekor kuda mustika yang tak dapat dibeli dengan laksaan tahil emas.
"Sesudah urusan di sini beres, aku ingin sekali pergi ke Huikiang untuk menemui Tio Samko dan Iain-lain Cianpwee,"
Katanya.
"Tak usah, mereka sendiri mau datang ke mari,"
Kata si nona. Ouw Hui girang tak kepalang, ia bangun berdiri sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Leng So yang mengenal adat kakaknya, lantas saja berkata.
"Tunggu, aku ambil arak."
La keluar dan memerintahkan si kacung mengambil tujuh-delapan gendul arak. Tanpa sungkan-sungkan lagi Ouw Hui lalu menenggak habis dua gendul arak.
"Kapan Tio Samko dan yang Iain-lain datang ke mari?"
Tanyanya. Paras muka Wan Cie Ie lantas saja berubah sungguhsungguh.
"Ouw Toako,"
Katanya.
"Empat hari lagi hari raya Tiongchiu dan had pembukaan perhimpunan para Ciangbunjin. Perhimpunan itu dipanggil oleh Hok Thayswee. la adalah seorang yang berkedudukan sangat tinggi, seorang Thay-cu Thay-po merangkap Peng-po Siang-sie yang meme-gang kekuasaan atas bala tentara. Tapi mengapa ia rela bergaul dengan orang-orang dari Kang-ouw?"
"Aku pun sudah memikir persoalan itu,"
Kata Ouw Hui.
"Menurut pendapatku, tujuannya yang terutama adalah mengumpulkan orang-orang gagah di seluruh negara supaya bisa dijadikan kaki tangan bangsa Boan. Tindakannya itu tidak berbeda dengan ujian untuk para sasterawan."
"Benar,"
Kata si nona.
"Dulu pada jaman ke-rajaan Tong, waktu kaisar Tong-thay-cong meng-adakan ujian ilmu surat, bagaikan kawanan ikan para sasterawan berduyun-duyun datang di kota raja. Menurut sejarah, kaisar itu pernah mengata-kan. 'Aha! Orang-orang pandai di seluruh negara sekarang sudah masuk ke dalam tanganku'. Dihim-punkannya pertemuan para Ciangbunjin memang bertujuan untuk mengumpulkan orang-orang gagah di seluruh Tiongkok. Akan tetapi, dalam pada itu bersembunyi juga lain latar belakang, yang dike-tahui oleh orang luar. Dulu, Hok Thayswee pernah dibekuk oleh Tio Poan San, Bun Siesiok, Bu-tim Tootiang dan yang Iain-lain, sehingga sakit hatinya masih didendam sampai sekarang. Apa kau pernah mendengar peristiwa itu?"
Ouw Hui jadi terlebih girang lagi dan dengan beruntun ia menghirup dua cawan arak.
"Bagus! Bagus!"
Teriaknya.
"Belum, aku belum pernah mendengar cerita itu. Bu-tim Tootiang, Bun Sie-ya dan yang Iain-lain sungguh luar biasa. Benar-benar mengagumkan!"
Wan Cie Ie tersenyum seraya berkata.
"Orang dulu minum arak sambil membaca kitab, tapi kau minum sambil membicarakan orang-orang gagah. Jika mendengar cerita sepak terjang Bun Sie-ya dan kawan-kawannya, biarpun kau bisa minum seribu cawan, pada akhirnya kau akan mabuk tiga hari dan tiga malam."
"Hayolah!"
Kata Ouw Hui seraya menghirup secawan arak.
"Hayolah ceritakan."
"Cerita itu sangat panjang, tak mungkin selesai dalam tempo pendek,"
Kata si nona.
"Ringkasnya adalah begini. Bun Siesiok dan para Cianpwee mengetahui, bahwa Hok Thayswee sangat disayang oleh Kaisar Kian-liong. Maka mereka sudah mem-bekuk Hok Kong An dan berhasil mendesak kaisar untuk mendirikan lagi kuil Siauw-lim-sie yang di-bakar dan berjanji akan tidak mencelakakan orang-orang gagah kawan-kawan Sie-ya yang tersebar di berbagai tempat. Sesudah kaisar memberi janji, barulah mereka melepaskan Hok Thayswee." (Menurut ceritera, Hok Kong An adalah puteranya Kaisar Kianliong). Ouw Hui menepuk kedua lututnya.
"Kalau begitu, Hok Kong An mengumpulkan orang-orang gagah untuk menyeterukan Bun Sie-ya dan kawan-kawannya,"
Katanya.
"Benar, kau sudah menebak jitu sebagian besar dari persoalan ini,"
Kata Wan Cie le.
"Hok Kong An sudah menduga, bahwa Bun Siesiokdan Iain-lain Cian-pwee akan datang berkunjung ke Pakkhia. Sesudah mendapat pelajaran getir pada sepuluh tahun berselang, ia insyaf, bahwa tentaranya yang berjumlah laksaan jiwa, sedikit pun tak berguna dalam menghadapi orang-orang gagah Rimba Persilatan."
Ouw Hui tertawa terbahak-bahaksambil mene-puk-nepuk tangan.
"Sekarang baru terang bagiku,"
Katanya.
"Kau merebut kedudukan Ciangbunjin untuk mematahkan semangat musuh."
"Guruku dan Bun Siesiok mempunyai perhu-hungan yang sangat erat,"
Menerangkan si nona.
Tapi kunjunganku ke Tionggoan adalah untuk urusan pribadi.
Lebih dulu aku datang di Hud-san-tin untuk melihat cecongor Hong Jin Eng.
Secara kebetulan, di kota itu aku sudah mendapat kesem-patan untuk menolong jiwanya dan mendengar juga berita tentang perhimpunan para Ciangbunjin.
Oleh karena urusanku masih belum selesai, tak dapat aku kembali ke Hui-kiang untuk menyampaikan warta.
Maka itu, tanpa perduli akan ditertawai Ouw Toako, dari selatan aku terus menguntit sampai di utara dan di sepanjang jalan, aku menggunakan setiap kesempatan untuk mengacau rencana Hok Kong An, supaya pembesar itu insyaf, bahwa cita-citanya tak gampang-gampang bisa terwujud."
Mendengar penuturan itu, dalam otak Ouw Hui berkelebat satu pendapat.
Mungkin sekali, sebab Tio Poan San memujinya terlalu tinggi, Wan Cie le jadi penasaran dan telah menjajal-jajal kepandaian-nya.
Mengingat begitu, sambil tersenyum ia berkata.
"Di samping itu, supaya Tio Poan San dan yang Iain-lain tahu, bahwa pemuda she Ouw itu belum tentu mempunyai kepandaian berarti."
Mendengar sindiran halus, Wan Cie le tertawa terpingkalpingkal.
"Dari Kwitang kita telah meng-adu ilmu sampai di Pakkhia dan belum pernah aku berada di atas angin,"
Katanya.
"Ouw Toako, apa kau tahu apa yang akan kukatakan jika aku bertemu lagi dengan Tio Poan San?"
Ouw Hui menggelengkan kepala.
"Tak tahu,"
Jawabnya. Si nona tersenyum.
"Aku akan bilang begini. 'Tio Samsiok, adik angkatmu benar-benar enghiong tulen!" ' Paras muka Ouw Hui lantas saja berubah merah. Ia tak menduga, bahwa si jelita yang saban-saban menyukarkannya, tiba-tiba memuji dirinya. Dalam perjalanan ribuan li, dari Kwitang sampai di Pakkhia, paras si nona selalu terbayangbayang di depan matanya. Tapi karena si nona telah menggagalkan usahanya untuk membinasakan Hong Jin Eng, maka dalam hatinya terdapat juga rasa men-dongkol. Tapi malam ini, sesudah tahu latar be-lakang dari sepak terjangnya Wan Cie le, semua ganjelan lantas saja hilang seperti tertiup angin. Demikianlah, dalam keadaan setengah mabuk karena pengaruh arak, ia juga setengah mabuk karena pengaruh kecantikan. Ketika itu, hujan sudah berhenti dan lilin pun sudah hampir terbakar habis. Sesudah menghirup lagi semangkok arak, Ouw Hui berkata.
"Wan Kouwnio, tadi kau mengatakan, bahwa kau masih mempunyai sedikit urusan pribadi yang belum dibereskan. Apakah aku bisa memberi bantuan?"
"Terima kasih,"
Jawabnya.
"Dalam hal itu, aku merasa tak perlu merepotkan kau."
Melihat paras Ouw Hui yang mengunjuk rasa kecewa, buru-buru ia menambahkan.
"Jika aku tak dapat menyelesai-kan sendiri, aku pasti akan meminta pertolonganmu dan Thia Moay-moay. Ouw Toako, empat hari lagi bakal dibuka pertemuan para Ciangbunjin. Bukan-kah menggembirakan sekali, jika kita bertiga mengacau balau pertemuan itu? Sam-eng Lo-Pakkhia. (Tiga jago mengacau Pakkhia). Sungguh bagus!"
Semangat Ouw Hui lantas saja terbangun.
"Bagus! Bagus!"
Teriaknya.
"Jika kita tak mampu mengacau pertemuan itu, guna apa Tio Samko, Bun Sie-ya dan Bun Sie-nay-nay bersahabat denganku, si bocah cilik?"
Sampai di situ, Leng So yang sedari tadi tak pernah membuka suara, lantas saja menyeletuk.
"Kurasa Song-eng Lo-Pakkhia (Dua jago mengacau Pakkhia) sudah lebih dari pada cukup. Perlu apa menyeret-nyeretku, seorang yang tak punya guna?"
Wan Cie le merangkul pundak Leng So dan berkata seraya tertawa.
"Thia Moay-moay, jangan kau berkata begitu. Kepandaianmu adalah sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada aku."
Leng So tidak menjawab, tapi lalu merogoh saku dan mengeluarkan Giok-Hiong.
"Wan Ciecie,"
Katanya.
"Salah mengerti antara kau dan Toakoku sudah menjadi beres, sehingga Giok-hong ini lebih baik dipegang olehmu. Jika tak begitu, mungkin sekali dua ekor Hong-hong semuanya diberikan kepada Toakoku."
Wan Cie le terkejut.
"Jika tak begitu, mungkin sekali dua ekor Hong-hong semuanya diberikan kepada Toakoku,"
Ia mengulangi dengan suara per-lahan.
Dalam mengatakan kata-katanya yang paling belakang, Leng So sebenarnya tak menggenggam maksud tertentu.
Secara jujur ia mengakui, bahwa baik dalam kecantikan maupun kepandaian, Wan Cie le termasuk golongan kelas satu.
Di sepanjang jalan, dari Ouw Hui ia telah mendengar banyak cerita mengenai nona itu dan sebelum bertemu muka, ia sudah merasa kagum.
Hanyalah karena sepak terjangnya Wan Cie le yang beberapa kali merintangi usaha Ouw Hui, maka dalam kekaguman itu, ia juga merasa sedikit mendongkol.
Tapi seka-rang, sesudah segala apa menjadi terang, ada apa lagi yang dapat menghalangi perhubungan mereka?
Tapi begitu mendengar Wan Cie le mengulangi perkataannya, ia lantas saja mendusin, bahwa kata-katanya yang barusan pada hakekatnya menggenggam dua artian.
Kata-kata "dua ekor Hong-hong diberikan kepada Toakoku,"
Seolah-olah berarti "dua orang wanita menikah dengan satu suami". Kedua pipi Leng So lantas saja bersemu dadu.
"Tidak... tidak... aku bukan maksudkan begitu,"
Katanya dengan gugup.
"Bukan dimaksudkan begitu?"
Menegas Cie le. Leng So tak dapat memberi penjelasan, ia jadi semakin kemalu-maluan, sehingga air matanya ham-pir-hampir mengalir ke luar.
"Thia Moay-moay,"
Kata nona Wan.
"Mengapa tadi kau tidak menaruh racun yang membinasakan di golokmu?"
Dengan air mata berlinang-linang, Leng So menjawab.
"Biarpun aku murid Tok-chiu Yo-ong, selama hidupku belum pernah aku mengambil jiwa manusia. Apakah aku boleh sembarangan mengambil jiwamu? Apa pula kau adalah kecintaan Toako. Setiap hari, kecuali pada waktu makan dan tidur, ia tak pernah melupakan kau. Bagaimana kubisa mencelakakan kau?"
Sehabis berkata begitu, air mata-nya mengalir turun di kedua pipinya.
Wan Cie Ie kaget.
Ia berdiri sambil melirik Ouw Hui yang kelihatan jengah sekali.
Perkataan Leng So telah membuka rahasia hatinya dan ia tak men-duga, bahwa sang adik akan mengatakan begitu.
Tapi biarpun hatinya jengah, sorot matanya mem-perlihatkan rasa cinta yang sangat besar.
Nona Wan menggigit bibir dan berkata dengan suara lemah lembut.
"Thia Moay-moay, legakanlah hatimu. Dua Hong-hong tak mungkin diberikan kepadanya!"
Mendadak ia mengebas dengan ta-ngannya, sehingga api lilin lantas saja padam.
Ham-pir berbareng ia melompat ke luar jendela dan menghilang di antara kegelapan.
Ouw Hui dan Leng So kaget bukan main.
Mereka melompat ke jendela, tapi yang terlihat ha-nyalah sinar rembuian laksana perak, sedang Wan Cie Ie sendir sudah tak kelihatan bayangbayang-nya lagi.
Mereka menjadi bingung, masing-masing coba menaksirkan maksud perkataan Wan Cie Ie yang mengatakan.
"Legakanlah hatimu. Dan Hong-hong tak mungkin diberikan kepadanya!"
Untuk sekian lama, dengan berendeng pundak mereka berdiri di depan jendela.
Sekonyong-ko-nyong di atas genteng terdengar bunyi tindakan manusia.
Ouw Hui menjadi girang, ia menduga, bahwa Wan Cie Ie sudah kembali lagi.
Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, di atas genteng terdengar suara seorang lelaki.
"OuwToaya, harap kau suka keluar untuk bicara sedikit denganku."
Ouw Hui lantas saja mengenali, bahwa suara itu adalah suara si orang she Liap yang menyayang pedangnya seperti juga menyayang jiwa sendiri.
"Liap-heng, turunlah,"
Kata Ouw Hui.
"Selain adikku di sini tidak terdapat orang lain."
Sedari pedangnya tidak dirusak Ouw Hui, si orang she Liap, seorang perwira dan bernama Wat, selalu merasa berterima kasih terhadap pemuda itu.
Karena melihat Ouw Hui berpihak kepada Wan Cie Ie, maka pada waktu si nona bertempur dengan Cin Nay Cie, Ong Kiam Eng dan Ciu Tiat Ciauw ia tidak mau mencampuri.
Kenyataan ini merupakan bukti, bahwa Liap Wat adalah seorang yang mempunyai pribudi.
Mendengar perkataan Ouw Hui, ia segera melompat turun seraya berkata.
"Ouw Toako, seorang sahabat lama telah memerintahkan Siauwtee datang ke mari untuk mengundang kau."
"Sahabat lama? Siapa?"
Tanyanya.
"Siauwtee telah mendapat pesanan untuk tidak membocorkan rahasia, harap Toako sudi memaaf-kan,"
Jawabnya.
"Begitu bertemu, Toako akan segera mendapat tahu."
Ouw Hui menengok kepada Leng So dan berkata.
"Jiemoay, kau tunggulah sebentaran di sini. Sebelum terang tanah, aku tentu sudah kembali."
Si nona mengambil goloknya.
"Apa Toako mau membekal senjata?"
Tanyanya. Melihat Liap Wat tidak membawa pedang, Ouw Hui segera menyahut.
"Tak usah. Untuk menemui sahabat lama, kurasa tak perlu membawa senjata."
Di depan pintu sudah menunggu sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda. Dengan dicat emas dan dengan tirai-tirai sutera, kereta itu sangat indah kelihatannya.
"Apa Hong Jin Eng yang coba-coba main gila lagi?"
Tanya Ouw Hui dalam hatinya.
"Jika bertemu, kedua tanganku sudah cukup untuk mem-binasakan dia."
Begitu lekas mereka duduk dalam kereta, si kusir lantas saja mencambuk kuda dan di tengah malam yang sunyi, suara kaki kuda kedengaran keras sekali di jalan raya Pakkhia yang ditutup dengan batu-batu hijau.
Menurut peraturan, di wak-tu malam orang tidak boleh mengendarai kereta di dalam kota itu.
Akan tetapi, begitu melihat dua tengloleng merah, tanpa surat, yang tergantung di depan kereta, serdadu-serdadu yang meronda lantas saja minggir dan membiarkannya.
Selang kira-kira setengah jam, kereta itu ber-henti di depan tembok yang putih.
Liap Wat melompat turun dan lalu mengajak tamunya masuk di sebuah pintu yang kecil.
Dengan melalui jalanan kecil yang ditutup dengan batu-batu sebesar telur itik, mereka menuju ke satu taman bunga.
Taman itu besar sekali dengan pohon-pohon bunga yang beraneka warna, pendopo-pendopo, gunung-gu nungan dan empangempang yang semuanya sangat indah dan terawat baik.
"Hong Jin Eng benar lihay,"
Kata Ouw Hui dalam hatinya.
"Taman ini belum tentu bisa dibeli dengan seratus atau dua ratus laksa tahil perak."
Tapi di lain saat, ia mendapat lain pikiran.
"Rasanya tak mungkin si orang she Hong. Biarpun jagoan, dia hanya menjagoi di Kwitang. Mana bisa dia memerintah seorang perwira seperti Liap Wat?"
Selagi memikir begitu, Liap Wat sudah mengajak ia membelok di satu gunung-gunungan dan sesudah melalui sebuah jembatan kayu, tibalah mereka di sebuah rangon di atas air.
Dalam rangon itu dipasang dua batang lilin, sedang di atas meja diatur sebuah poci teh, cangkir-cangkir dan beberapa ma-cam kue-kue.
"Sahabat Toako akan segera datang dan aku akan menunggu di luar kamar,"
Kata Liap Wat.
Sehabis berkata begitu, ia segera berjalan ke luar.
Dengan rasa kagum Ouw Hui mengawasi pe-rabotan dan perhiasan dalam rangon itu.
Gedung di luar pintu Soan-bu-bun sudah boleh dikatakan indah dan mewah, tapi dibandingkan dengan rangon ini, gedung itu masih kalah jauh.
Di samping kursi meja dan Iain-lain perabotan yang berharga mahal, di empat penjuru tembok digantung lukisan-lukisan dan tulisantulisan dari para pelukis dan penulis yang kenamaan, di antaranya terdapat tulisan "Swee-kiam" (Membicarakan hal pedang) gubahan Cong-cu, ditulis oleh Seng-cin-ong, putera Kaisar Kian-liong sendiri.
Selagi menikmati lukisan dan tulisan itu, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki dan hidung-nya mengandung bebauan yang sangat harum.
Ia memutar badan dan ia berhadapan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian warna hi-jau muda dan yang berdiri sambil tersenyum.
Wanita itu adalah Ma It Hong.
Sekarang ia sadar, bahwa ia berada dalam ge-dung Hok Kong An.
Ma It Hong memberi hormat dan berkata sambil tertawa.
"Saudara Ouw, takdinyana kita bertemu lagi di kota raja. Duduk, duduklah."
Ia menuang teh dan dari sebuah rantang mengeluarkan beberapa macam kue, yang lalu ditaruh di depan Ouw Hui dengan sikap hormat.
"Mendengar Saudara tiba di Pakkhia, hatiku seperti dibetot-betot dan ingin sekali berjumpa secepat mungkin, untuk menghatur-kan terima kasih atas budimu,"
Katanya.
Ouw Hui melirik dan melihat sekuntum bunga putih yang terselip di konde nyonya itu, sebagai semacam tanda berkabung untuk mendiang suami-nya (Cie Ceng).
Tapi dari pakaiannya yang mewah dan parasnya yang berseri-seri, ia rupanya sudah tak ingat lagi suaminya yang binasa secara begitu menyedihkan.
"Pada waktu itu, Siauwteelah yang terlalu mau mencampuri urusan orang,"
Kata Ouw Hui dengan suara tawar.
"Jika aku tahu, bahwa Hok Thayswee yang sudah mengirim orang untuk menyambut Cie Toaso, aku pasti tak akan menimbulkan banyak keributan."
Mendengar pemuda itu masih tetap mengguna-kan istilah "Cie Toaso", muka si nyonya lantas saja berubah merah.
"Biar bagaimanapun juga, budi saudara Ouw adalah sangat besar dan aku tetap merasa sangat berhutang budi,"
Katanya pula.
"Nai-ma (pengasuh), coba bawa Kong-cu-ya (panggilan yang digunakan untuk puteranya seorang pembesar ting-gi) ke mari."
Di pintu sebelah timur lantas saja terdengar suara mengiakan, disusul dengan masuknya dua orang wanita yang menuntun dua bocah cilik.
Begitu masuk, kedua anak itu segera mendekati Ma It Hong dan lalu menggelendot di pangkuan ibunya.
Kedua anak itu yang romannya bersamaan satu sama lain, mempunyai paras yang sangat menarik dan gerak-geriknya mungil.
"Apa kau tak kenali Ouw Siok-siok?"
Tanya sang ibu sambil tertawa.
"Ouw Siok-siok pernah memberi banyak bantuan kepada kita. Lekas berlutut!"
Kedua bocah itu lantas saja menekuk kedua lututnya seraya berkata.
"Ouw Siok-siok!"
Ouw Hui buru-buru membangunkan mereka.
"Hm! Hari ini kau memanggil Siok-siok (paman), tapi tak lama lagi, sesudah tahu kedudukanmu sebagai anggota keluarga kaisar, mana kau kenal seorang gelandangan seperti aku ini?"
Katanya di dalam hati.
"Saudara Ouw,"
Kata pula Ma It Hong.
"Aku ingin mengajukan suatu permintaan kepadamu. Apa kau sudi meluluskan?"
"Toaso,"
Kata Ouw Hui.
"Dulu, waktu Siauwtee dihajar oleh Siang Po Cin di Siang-kee-po, Toaso telah coba menolong dan budi itu aku tak dapat melupakan. Maka itulah, pada waktu kita berada di rumah batu, dengan mati-matian Siauwtee berusaha untuk memukul mundur penyerang-penyerangyang diduga perampok. Biarpun kejadian itu sangat menggelikan, tapi dalam hatiku, perbuatanku itu adalah usaha untuk membalas budi di tempo hari. Tadi, jika kutahu, bahwa orang yang memanggil adalah Toaso, aku tentu tak akan datang ke mari. Mulai dari sekarang, di antara kita terdapat per-bedaan antara mulia dan hina, sehingga oleh ka-renanya, kita sudah tak punya sangkut paut lagi."
Dengan berkata begitu, Ouw Hui menyatakan rasa tidak puasnya terhadap nyonya muda itu. Ma It Hong menghela napas dan berkata dengan suara perlahan.
"Saudara Ouw, walaupun Ma It Hong bukan orang baik, tapi aku sedikitnya bukan manusia yang kemaruk akan kekayaan dan kekuasa-an. Kau tentu mengerti apa artinya 'jatuh cinta pada pertemuan pertama'. Rupanya aku dan dia sudah mempunyai ikatan semenjak penitisan yang dulu....* Semakin lama perkataannya jadi semakin perlahan, sehingga hampir tak dapat ditangkap lagi. Mendengar kata-kata 'jatuh cinta pada pertemuan pertama', jantung Ouw Hui memukul keras, karena kata-kata itu mengena tepat pada hatinya. Sesaat itu juga, rasa mendongkolnya lantas ber-kurang banyak.
"Baiklah,"
Katanya.
"Bantuan apa yang Toaso ingin minta? Sebenarnya permintaan Toaso sangat mengherankan. Soal apa yang masih tak dapat di-urus oleh seorang seperti Hok Thayswee?"
"Aku ingin meminta pertolonganmu untuk kedua anak ini,"
Jawabnya.
"Aku harap kau suka menerima mereka sebagai muridmu dan ajarkan mereka sedikit ilmu silat."
Ouw Hui tertawa berkakakan.
"Kedua Kongcu adalah orang yang sangat mulia, perlu apa mereka belajar silat?"
Katanya.
"Tapi aku rasa, belajar silat banyak baiknya untuk menguatkan dan menyehatkan badan,"
Kata It Hong. Sesaat itu, di luar rangon tiba-tiba terdengar seruan seorang lelaki.
"Hong-moay! Kau masih be-lum tidur?"
Paras muka si nyonya agak berubah dan sambil menengok kepada Ouw Hui, ia menunjuk sebuah sekosol di dekat pintu.
Ouw Hui lantas saja melompat dan menyembunyikan diri di belakang sekosol itu.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tin-dakan sepatu dan seorang lelaki masuk ke dalam.
"Mengapa kau sendiri belum tidur?"
Tanya It Hong.
"Perlu apa kau datang ke mari?"
Orang itu mencekal tangan It Hong dan berkata seraya tersenyum.
"Hongsiang (kaisar) telah memanggil aku untuk merundingkan soal ketentaraan. Pembicaraan itu baru saja selesai. Apa kau jengkel karena aku datang terlalu malam?"
Ouw Hui segera mengetahui, bahwa orang itu bukan lain daripada Hok Kong An.
Hatinya lantas saja berdebar-debar, karena dengan berdiam di situ, ia tak bisa tak mendengar omongan pereintaan dari kedua orang itu.
Di samping itu, jika ketahuan, namanya pasti akan menjadi rusak.
Memikir begitu, ia segera mengasah otak untuk coba meloloskan diri.
Ia kaget bukan main karena mendadak Ma It Hong berkata.
"Kong-ko, aku ingin mempertemu-kan kau dengan satu orang. Sebenarnya kau sudah pernah bertemu dengan orang itu, hanya mungkin sekali kau sudah lupa."
Sehabis berkata begitu, ia berseru.
"Saudara Ouw! Mari menemui Hok Thay-swee."
Ouw Hui segera menghampiri dan memberi hormat. Hok Kong An kaget bukan main. la sama sekali tak pernah mimpi, bahwa di belakang sekosol ber-sembunyi seorang lelaki.
"Ini... ini..."
Katanya de-ngan suara terputus-putus.
"Saudara ini she Ouw bernama Hui,"
Kata It Hong sambil tertawa.
"Biarpun usianya muda, ke-pandaiannya sangat tinggi dan di antara busu-busu-mu, tak seorang pun yang dapat menandinginya. Pada waktu kau mengirim orang untuk menyambut aku, Saudara Ouw telah memberi banyak sekali pertolongan. Maka itu, aku telah mengundangnya untuk menghaturkan terima kasih dan kau harus memberi hadiah kepadanya."
Paras muka Hok Kong An pucat pias. Sesudah gundiknya memberi keterangan, barulah hatinya agak lega.
"Hm! Memang, memang harus menghaturkan terima kasih,"
Katanya. la mengebas ta-ngan kirinya ke arah Ouw Hui dan berkata pula.
"Kau pergi saja dulu. Beberapa hari lagi aku akan memanggil kau."
Suaranya sangat mendongkol dan jika tidak memandang muka Ma It Hong, ia tentu sudah mencaci sebab Ouw Hui dianggap sangat kurang ajar, pertama berani masuk ke gedungnya dan bersembunyi di belakang sekosol dan kedua, tidak memberi hormat dengan menekuk lutut.
Dengan menahan amarah, Ouw Hui berjalan ke luar.
"Benar sial, tengah malam buta dihina orang."
Katanya di dalam hati. Begitu bertemu dengan pemuda itu, Liap Wat yang menunggu di luar segera menanya dengan suara gemetar.
"Barusan Hok Thayswee masuk, apa ia bertemu dengan kau?"
"Ma Kouwnio telah memperkenalkannya ke-padaku dan minta supaya Hok Thayswee memberi hadiah kepadaku,"
Jawabnya.
"Bagus!"
Kata Liap Wat dengan suara girang.
"Sepatah kata saja dari Ma Kouwnio sudah cukup untuk mengangkat Toako. Di hari kemudian aku sendiri akan mengikut di belakang Toako dan kita bisa bergaul terlebih rapat. Aku sungguh-sungguh merasa girang."
Liap Wat menghargai Ouw Hui bukan saja karena ilmu silatnya yang sangat tinggi, tapi juga sebab wataknya yang mulia dan semua perkataannya itu diucapkan dengan setulus hati.
Mereka segera balik dengan menggunakan ja-lanan yang tadi.
Waktu tiba di satu empang teratai, sekonyong-konyong terdengar suara tindakan kaki yang ramai dan beberapa orang mengejar mereka.
"Ouw Toaya! berhenti dulu!"
Teriak satu antaranya.
Ouw Hui dan Liap Wat segera menghentikan tindakan dan memutar badan.
Yang menyusul ialah empat orang perwira dan orang yang berjalan paling dulu mencekal sebuah kotak sulam dalam tangannya.
"Ma Kouwnio mengirim sedikit hadiah untuk Ouw Toaya,"
Katanya.
"Harap Toaya suka menerimanya."
"Aku tak punya pahala apa pun juga,"
Kata Ouw Hui dengan suara mendongkol.
"Tak berani aku menerima hadiah itu."
"Inilah sekedar tanda mata dari Ma Kouwnio, harap Toaya jangan begitu sungkan,"
Kata pula perwira itu. Tapi Ouw Hui tetap menolak.
"Tolong beri-tahukan Ma Kouwnio, bahwa di dalam hati aku sudah menerima hadiahnya yang berharga itu,"
Katanya sambil memutar badan dan lalu berjalan pergi. Dengan paras muka bingung, si perwira lantas saja menyusul.
"Ouw Toaya,"
Katanya dengan suara gemetar.
"Jika kau tetap menolak, Ma Kouwnio tentu akan gusari aku. Liap Toako, kau... cobalah kau membujuk Ouw Toaya...."
Ouw Hui mengawasi orang itu dengan sorot mata memandang rendah.
"Dilihat dari gerakan-gerakannya, ia boleh dikatakan seorang ahli yang lumayan dalam Rimba Persilatan,"
Katanya di dalam hati.
"Hanya sayang, untuk nama dan pangkat, ia rela menjadi budaknya orang."
Sebab merasa tak tega melihat kawannya yang meringisringis, Liap Wat menyambuti kotak itu yang diangsurkan kepadanya.
Ia merasa kotak itu sangat berat dan menduga, bahwa di dalamnya berisi barang yang sangat berharga.
"Ouw Toako,"
Katanya sambil tertawa.
"Perkataan Saudara ini memang sebenar-benarnya. Jika sampai dimarahi Ma Kouwnio, hari depannya akan menjadi rusak. Kau te-rimalah saja, supaya ia bisa memberi laporan yang memuaskan."
Karena malu hati terhadap Liap Wat dan juga sebab mengingat, bahwa dengan barang berharga itu, ia bisa menolong orang-orang miskin, Ouw Hui segera menyambuti dan lalu membuka tutupnya.
Ternyata dalam kotak itu berisi semacam benda yang berbentuk persegi dan yang dibungkus dengan sutera merah, sedang keempat ujung sutera itu diikat menjadi dua ikatan.
"Barang apa ini?"
Tanya-nya sambil mengerutkan alis.
"Aku tak tahu,"
Jawab si perwira.
Dengan hati heran, Ouw Hui lalu membuka ikatan sutera itu.
Baru saja ia membuka satu ikatan, mendadak -sangat mendadak -berbareng dengan suara menjepret, tutup kotak menutup sendirinya dan menggencet erat-erat kedua pergelangan ta-ngan Ouw Hui!
Hampir berbareng, ia merasakan kesakitan yang hebat luar biasa, kesakitan yang meresap ke tulang-tulang.
Ia merasa pergelangan tangannya dikacip dengan kacip logam yang bertenaga sangat besar.
Ternyata, di dalam kotak itu, yang terbuat dari baja murni, terisi alat-alat rahasia, yang jika tersentuh, bisa menutup sendiri tutupan kotak.
Semakin lama, tutupan kotak menggencet semakin hebat dan buru-buru Ouw Hui mengerahkan Lweekang untuk melawan.
Sungguh untung, ia memiliki tenaga dalam yang boleh dikatakan sudah mencapai puncaknya kesempurnaan.
Kurang sedi-kit saja, tulang-tulang kedua pergelangan tangannya tentu sudah tergencet patah.
Untuk menjaga patahnya tulang, ia harus terus menerus memusa-tkan tenaga dalamnya di pergelangan tangan.
Sementara itu, begitu lekas Ouw Hui terjebak, keempat perwira itu, dua di depan dan dua di belakang, segera menghunus pisau dan menempel-kan ujungsenjata-senjata merekakedadadanpung-gung Ouw Hui.
Kagetnya Liap Wat bagaikan disambar hali-lintar.
Ia mengawasi dengan mata membelalak.
Sejcnak kemudian, barulah ia bisa berkata dengan .suara putus-putus.
"E... eh! Mengapa... mengapa begitu?"
"Hok Thayswee telah memerintahkan kami untuk membekuk penjahat Ouw Hui!"
Kata perwira yang menjadi pemimpin dengan suara nyaring.
"Tapi... tapi Ouw Toaya adalah tamu diundang Ma Kouwnio,"
Kata Liap Wat.
"Mengapa jadi begini?"
Perwira itu tertawa dingin.
"Liap Toako,"
Katanya.
"Kau tanyakan saja Hok Thayswee. Kami hanya menerima perintah."
"Ouw Toako, kau jangan takut,"
Kata Liap Wat dengan suara keras.
"Dalam hal ini pasti terselip salah mengerti. Aku akan segera menemui Ma Kouwnio dan ia pasti akan melepaskan kau."
"Jangan bergerak!"
Bentak perwira itu.
"Hok Thayswee telah mengeluarkan perintah rahasia, bahwa hal ini tak boleh dibocorkan kepada Ma Kouwnio. Kau punya berapa biji kepala?"
Liap Wat jadi bingung bukan main, dari kepala dan mukanya ke luar keringat dingin.
"Celaka! Kotak itu telah diserahkan olehku kepada Ouw Toako,"
Ia mengeluh.
"Seolaholah, akulah yang mencelakakan padanya. Tapi... tapi... bagaimana aku dapat melawan perintah Hok Thayswee?"
Perwira yang berdiri di belakang Ouw Hui menyodok dengan pisaunya, sehingga kulit punggung pemuda itu tergores dan mengeluarkan darah.
"Ja-lan!"
Bentaknya dengan angker.
Kotak itu adalah senjata rahasia Hok Kong An yang dibuat oleh seorang ahli mesin Barat.
Di dalam bungkusan sutera merah terdapat alat rahasia dan di kedua pinggir mulut kotak, yang juga dilapisi sutera, disembunyikan dua batang pisau.
Begitu lekas kotak itu tertutup, pisaunya lantas bekerja.
Dengan mulut ternganga dan mata membe-lalak, Liap Wat melihat darah yang mulai mengalir keluar dari pergelangan tangan Ouw Hui dan mata pisau semakin lama menggigit semakin dalam.
"Biar-pun Ouw Toako mempunyai kedosaan sebesar la-ngit, tak boleh ia dicelakakan dengan tipu yang sangat busuk ini,"
Pikirnya.
Semenjak bertemu, ia selalu mengagumi Ouw Hui dan sekarang, meng-ingat bahwa kecelakaan pemuda itu adalah lantaran gara-garanya, ia jadi nekat.
Sekonyong-konyong, bagaikan kilat tangan kirinya menyambar dan men-cekal kotak itu, sedang dua jari tangan kanannya dimasukkan ke dalam lubang kotak.
Sambil mengerahkan Lweekang, ia mengorek alat rahasia dalam kotak itu.
Secara kebetulan, jari-jarinya mengorek yang tepat dan mendadak, tutup kotak men-jeblak dan terbuka lebar, sehingga kedua pergelangan tangan Ouw Hui lantas saja bebas.
Pada detik itulah, perwira yang menjadi pemimpin menikam Liap Wat dengan pisaunya.
Ilmu silat Liap Wat sebenarnya lebih tinggi daripada pembesar militer itu, tapi dalam tekadnya untuk menolong Ouw Hui, ia sudah tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri, sehingga pisau itu amblas di dadanya dan sambil mengeluarkan teriakan "aduh!"
Ia roboh tanpa bernyawa lagi.
Di saat yang sependek itu, Ouw Hui menarik napas dan dada serta punggungnya mengkeret be-berapa dim.
Hampir berbareng, dengan sekali men-jejak kaki, badannya melesat ke atas.
Tiga batang pisau menikam dengan berbareng.
Dua pisau meleset, tapi pisau yang ketiga membuat goresan panjang di lutut kanannya.
Selagi tubuhnya masih berada di tengah udara, Ouw Hui sudah menendang dengan kedua kakinya.
Sesaat itu adalah saat mati hidup dan ia tak sungkan-sungkan lagi.
Dua tendangannya itu dengan jitu mengenakan sasarannya dan dua perwira roboh tanpa berkutik lagi.
Sebelum kedua kakinya hing-gap di tanah, perwira yang barusan membinasakan Liap Wat sudah mengirim tikaman ke kempungan Ouw Hui dengan pukulan Keng-ko-hian-touw (Keng Ko mempersembahkan gambar).
Ouw Hui yang sudah mata gelap, melompat sambil berteriak keras dan mengirim tendangan geledek ke dada orang.
"Duk!"
Badan perwira itu melayang dan jatuh di empang teratai.
Belasan tulang dadanya patah serentak dan menurut perhitungan, ia tak bisa hidup lagi.
Perwira yang keempat jadi ketakutan setengah mati.
Seraya berteriak, ia memutar badan dan terus kabur sekeraskerasnya.
Dengan beberapa lompat-an saja, Ouw Hui sudah menyusul.
Dengan tangan kiri mencengkeram pakaian orang, ia mengangkat tangan kanannya untuk menghantam kepala perwira itu.
Tapi sebelum tangannya turun, di bawah sinar rembulan, ia melihat paras muka orang itu yang ketakutan dan mohon diampuni.
Hatinya lan-tas saja lemas.
"Dia dan aku tak punya permusuhan dan dia hanya diperintah oleh Hok Kong An,"
Katanya di dalam hati.
"Perlu apa aku mengambil jiwanya?"
Ia segera menenteng tawanannya ke belakang gununggunungan dan membentak dengan suara perlahan.
"Mengapa Hok Kong An mau menangkap aku?"
"Aku... aku... tak tahu,"
Jawabnya.
"Di mana dia sekarang? tanyanya pula.
"Hok Thayswee... Hok Thayswee keluar dari... dari tempat Ma Kouwnio, memerintahkan kami... dan kemudian masuk lagi..."
Jawabnya. Ouw Hui segera menotok jalan darah gagunya seraya mengancam.
"Kau berdiam di sini untuk sementara waktu, besok pagi kau tentu akan dimer-dekakan. Kalau orang tanya, kau harus mengatakan, bahwa Liap Wat telah dibunuh olehku. Jika rahasia ini bocor dan keluarga Liap sampai jadi celaka, kau kabur ke mana pun juga, aku akan ambil kepalamu!"
Perwira itu yang tidak bisa bicara lagi itu, buru-buru manggutkan kepalanya.
Dengan »ikap menghorrnat Ouw Hui lain men-dukung mayat Liap Wat yang lalu ditaruhnya dalam sebuah gua di gunung-gunungan batu dan kemudian, ia berlutut empat kali sebagai penghormatan terakhir.
Sesudah menendang mayat kedua perwira ke dalam gerombolan rumput tinggi, ia lalu merobek ujung baju dan membalut luka di kedua pergelangan tangannya.
Luka di lutut hanya luka di kulit, tapi goresannya panjang sekali.
Sesudah itu, dengan darah bergolak, ia mengambil sebilah pisau dan lalu menuju ke rangon Ma It Hong dengan tindakan lebar.
Karena tahu, bahwa gedung Hok Kong An dijaga oleh banyak Sie-wie (pengawal), sedikit pun ia tak berani berlaku ceroboh.
Sebelum maju, ia selalu mengintip lebih dulu dari belakang pohon atau gunung-gunungan.
Baru saja tiba di dekat jembatan, di sebelah depan sekonyong-konyong muncul dua sinar tengloleng dan beberapa saat kemudian ia melihat bahwa orang yang mendatangi adalah Hok Kong An sendiri, yang diking oleh delapan Wie-su.
Untung juga, dalam taman itu terdapat banyak sekali perhiasan taman yang dapat digunakan sebagai tempat menyembunyikan diri.
Dengan cepat ia melompat ke belakang sebuah batu yang berbentuk seperti rebung.
"Kau pergi periksa penjahat she Ouw itu,"
Kata Hok Kong An kepada salah seorang pengawalnya.
"Tanyakan seterangterangnya, bagaimana ia bisa mengenal Ma Kouwnio dan ada hubungan apa antara mereka berdua. Tanyakan juga, perlu apa dia datang ke gedungku di tengah malam buta. Rahasia ini tidak boleh dibocorkan kepada Ma Kouwnio. Sesudah kau memeriksa lekas-lekas lapor kepadaku. Mengenai penjahat itu... hm... kau harus ambil jiwanya malam ini juga."
Seorang Wie-su lantas saja mengiyakan.
"Jika Ma Kouwnio tanya, katakan saja, aku sudah menghadiahkan tiga ribu tahil perak kepada-nya dan memerintahkan supaya dia pulang ke kam-pungnya sendiri,"
Kata pula Hok Kong An.
"Baik, baik,"
Jawab Wie-su itu.
Bukan main gusarnya Ouw Hui.
Sekarang baru ia tahu, bahwa sebab menduga gundiknya mempu-nyai hubungan rahasia dengan dirinya, tanpa menyelidiki lebih dulu, Hok Kong An sudah turunkan tangan jahat.
Ia marah bereampur duka, sebab mengingat Liap Wat yang sudah mesti mengor-bankan jiwa dengan cuma-cuma.
Jika mau, waktu itu juga ia bisa mengambil jiwa Hok Kong An.
Tapi, karena baru datang di kota raja dan belum tahu seluk beluknya hal dan juga karena mengingat, bahwa pembesar itu memegang kekuasaan sangat penting atas ketentaraan, maka ia tidak berani bertindak secara sembrono.
Ia bersembunyi terus di belakang batu itu dan sesudah Hok Kong An dan pengiringnya lewat, barulah ia menyusul Wie-su yang diperintah untuk memeriksa dirinya.
Wie-su itu yang berjalan sambil bersiul-siul, sedikit pun tidak merasa, bahwa dirinya sedang dikejar orang.
Tahu-tahu jalan darahnya sudah tertotok dan ia roboh tanpa berteriak.
Sesudah merobohkan pengawal itu, Ouw Hui lalu menguntit rombongan Hok Kong An dari sebelah kejauhan.
"Ada urusan apa Loo-tay-tay memanggil aku di tengah malam buta?"
Demikian ter-dengar suara Hok Kong An.
"Siapakah yang berada sama-sama Loo-tay-tay?" (Loo-tay-tay berarti nyo-nya besar).
"Hari ini Kongcu (Puteri) masuk ke keraton dan sekembalinya dari keraton, ia terus menemani Loo-tay-tay,"
Jawab seorang. Hok Kong An mengeluarkan suara "hm"
Dan tidak menanya lagi.
Sesudah melewati lorong-lorong yang indah buatannya, tibalah mereka di depan sebuah gedung yang dikurung dengan pohon-pohon bambu.
Hok Kong An lalu masuk ke gedung itu dan para pengawalnya menjaga di luar.
Dengan memutari pohon-pohon bambu, Ouw Hui pergi ke belakang gedung, dari mana ia melihat sinar api di jendela sebelah utara.
Indap-indap ia mendekati jendela itu dan lalu mengintip.
Dalam sebuah ruangan kelihatan duduk dua orang wanita yang beroman agung dan yang berusia kira-kira tiga puluh tahun.
Di dekat mereka terdapat seorang wanita tua yang berusia lima puluh tahun lebih dan di samping kiri wanita tua itu, berduduk dua wanita lain.
Kelima wanita tersebut semuanya mengenakan pakaian yang sangat indah dan perhiasan dengan batu-batu permata yang berharga mahal.
Begitu masuk, Hok Kong An lebih dulu mem-beri hormat kepada dua wanita yang berusia tiga puluhan dan kemudian barulah ia memberi hormat kepada si wanita tua dengan memanggil "ibu".
Dua wanita yang lain sudah bangun berdiri berbareng dengan masuknya ke dalam ruangan itu.
Siapa sebenarnya Hok Kong An?
Ayah pangeran itu, Po Heng namanya, adalah adik lelaki dan permaisuri Kian-liong.
Isteri Po Heng terkenal sebagai wanita Boan yang tereantik.
Waktu nyonya Po Heng masuk ke keraton, Kian-liong merasa tertarik.
Mereka mengadakan perhu-bungan rahasia dan mendapat seorang putera, yaitu Hok Kong An.
Dengan mendapat pengaruh dari kakak perempuannya, isterinya dan puteranya, Po Heng sangat disayang oleh Kian-liong yang be-lakangan mengangkatnya sebagai perdana menteri.
Dua puluh tiga tahun lamanya ia menjabat pangkat yang tinggi itu dan waktu cerita ini terjadi, ia sudah meninggal dunia.
Ia mempunyai empat orang putera.
Putera su-lung, Hok Leng An, menikah dengan seorang puteri Kian-liong dan diangkat sebagai To-lo Hu-ma.
Be-lakangan, karena membuat pahala dalam pepe-rangan di Huikiang, ia dianugerahi pangkat Hui-touw-tong (wakil pemimpin) dari Pasukan Bendera Putih.
Putera kedua, Hok Liong An, menikah dengan Puteri dan diangkat sebagai Ho-sek Hu-ma.
Berkat kepandaiannya, ia akhirnya diangkat menjadi Kong-po Siang-sie (menteri urusan pekerjaan umum).
Hok Kong An sendiri adalah putera ketiga.
Banyak orang merasa heran, mengapa sedang kedua kakaknya menikah dengan puteri kaisar, ia sendiri yang paling dicintai oleh Kianliong, tidak diambil sebagai menantu?
Tentu saja orang-orang itu tak tahu, bahwa Hok Kong An sebenarnya adalah putera kaisar itu sendiri.
Di ini waktu, ia menjabat pangkat Peng-po Siang-sie (menteri pertahanan), merangkap Thaycu Thaypo (pelindung putera mah-kota).
Putera keempat menjabat pangkat Houw-po Siang-sie dan belakangan diangkat sebagai raja muda.
Dengan demikian, pada jaman itu, seluruh keluarga Hok Kong An menduduki tempat yang sangat tinggi dan memegang peranan penting dalam pemerintahan (Houw-po Siang-sie = Menteri Keuangan).
Kedua wanita yang beroman agung, duduk di tengahtengah, adalah puteri-puteri kaisar yang menjadi 'nso (isteri kakak lelaki) Hok Kong An.
Ho-kee Kongcu adalah seorang wanita yang cerdas, pandai dan bisa mengambil hati, sehingga sangat dicintai Kian-liong, yang sering sekali memanggil-nya ke istana untuk diajak beromong-omong.
Wa-laupun kedua puteri itu sanak yang sangat dekat, akan tetapi secara resmi hubungan antara mereka dan Hok Kong An adalah hubungan antara raja dan menteri, maka menurut adat istiadat, pembesar itu harus memberi hormat terlebih dulu.
Dua wanita lainnya, yang satu Hailan-sie, isteri Hok Kong An sendiri, sedang yang lain isteri Hok Tiang An.
Sesudah duduk di kursi sebelah timur, Hok Kong An bertanya.
"Mengapa Jie-wie Kongcu dan ibu belum tidur?"
"Mendengar kau sudah punya anak, Jie-wie Kongcu merasa sangat girang dan ingin bertemu dengan mereka,"
Jawab sang ibu. Hok Kong An tersenyum sambil melirik isteri-nya.
"Wanita itu orang Han,"
Ia menerangkan.
"Dia belum paham akan adat istiadat, maka aku belum berani mengajaknya menemui Kongcu dan ibu."
"Wanita yang dipenuju Kong-loo-sam sudah pasti bukan wanita sembarangan,"
Kata Ho-kee Kongcu sembari tertawa.
"Kami bukan ingin menemui perempuan itu. Maksud kami ialah ingin melihat kedua puteramu. Pergilah panggil. Hu-hong pun ingin sekali melihat mereka." (Hu-hong = ayahanda Kaisar). Hok Kong An jadi girang sekali. Ia merasa pasti, bahwa Kian-liong akan senang melihat kedua puteranya yang cakap dan mungil. Ia segera menyuruh seorang budak untuk menyampaikan perintahnya kepada pengawal supaya kedua puteranya dibawa ke situ. Ho-kee Kongcu tertawa pula.
"Hari ini, waktu berada di keraton, Bu-houw mengatakan, bahwa Kong-loo-sam pandai sungguh menutup rahasia,"
Katanya.
"Selama beberapa tahun, kami semua kena dikelabui. Mengapa kau tidak lekas-lekas mengam-bil mereka? Awas! Hu-hong akan keset kulitmu."
"Soal kedua anak itu baru diketahui olehku pada bulan yang lalu,"
Menerangkan Hok Kong An.
Berkata sampai di situ, dua babu susu sudah datang membawa kedua puteranya.
Hok Kong An lantas saja memerintahkan mereka memberi hormat kepada kelima wanita itu.
Mereka ternyata sangat dengar kata dan meskipun matanya mengantuk, mereka lantas saja memberi hormat dengan berlutut di hadapan lima nyonya besar itu.
Melihat kedua bocah yang sangat cakap itu, mereka jadi girang sekali.
"Kong-loo-sam,"
Kata pula Ho-kee Kongcu.
"Muka mereka sangat mirip de-nganmu. Andaikata kau mau menyangkal, kau tak akan dapat menyangkal."
Sebenarnya Hai-lan-sie merasa agak mendong-kol, tapi sesudah melihat mungilnya kedua bocah itu, ia turut bergirang dan lalu memeluknya erat-erat.
Mereka semua sudah menyediakan hadiah yang lantas saja diberikan kepada kedua anak itu.
"Hm! Sedari kecil sudah pandai menjilat-jilat,"
Kata Ouw Hui di dalam hati.
"Kalau besar, mereka tak bisa jadi manusia baik."
Loo hu-jin menggapai seorang budak perempuan yang berdiri di belakang.
"Kau pergi kepada Ma Kouwnio dan beritahukan, bahwa malam ini mereka tidur di tempatku dan Ma Kouwnio tak usah tunggui mereka,"
Katanya. Budak itu lantas saja mengiakan dan berjalan ke luar untuk menjalankan perintah itu. Sesudah itu, Loo-hu-jin berpaling kepada seorang budak lain dan berkata pula.
"Kau bawa semangkok somthung (godokan yo-som) kepada Ma Kouwnio. Beritahukanlah, bahwa aku akan menjaga kedua anak itu baik-baik dan dia tak usah memikirkannya." (Loo-hu-jin = Nyonya tua, ibu Hok Kong An). Mendengar perkataan itu, tangan Hok Kong An yang sedang mencekal cangkir teh, jadi ber-gemetaran, sehingga air teh tumpah ke pakaiannya. Paras mukanya berubah pucat dan mulutnya ter-nganga. Budak itu segera menaruh mangkok som-thung ke dalam sebuah rantang yang dicat air emas dan lalu berjalan ke luar dari ruangan itu. Kedua Kongcu, Hai-lan-sie dan isteri Hok Tiang An saling melirik dan kemudian meninggal-kan ruangan itu. Kedua bocah itu menangis keras dan memanggil-manggil ibunya.
"Anak baik, jangan menangis,"
Kata Loo-hu-jin.
"Ikutlah Nainai (babu susu). Mereka akan memberikan kembang gula kepadamu."
La rriengebas tangannya supaya kedua babu susu itu membawa mereka ke luar $c*uctah itu, ia memberi lsyarat kepada semua budak yanji lantas saja mengundurkan diri, sehingga yang ber-ada dalam ruangan itu hanyalah si nenek dan Hok Kong An sendiri.
Untuk beberapa lama ruangan itu sunyi senyap.
Loo-hu-jin mengawasi puteranya, tapi Hok Kong An melengos.
Sesudah selang beberapa lama, Hok Kong An menghela napas panjang.
"Ibu, mengapa kau tidak bisa berlaku sedikit murah hati terhadapnya?"
Tanyanya.
"Apa perlu kau menanyakan itu?"
Sang ibu balas tanya.
"Dia seorang Han, hatinya sukar ditebak. Apalagi dia berasal dari kalangan piauw-hang. Dia pandai bersilat dan biasa menggunakan senjata. Dalam gedung ini terdapat dua Kongcu dan mereka tentu saja tidak 1)isa tinggal bersama-sama dengan perempuan semacam itu. Pada sepuluh tahun berselang, Hong-siang pernah berada dalam bahaya besar karena gara-gara seorang wanita asing. Apa kau lupa? Manakala perempuan yang seperti ular berbisa itu berdiam terus bersama-sama kami, kami semua tidak akan enak makan dan enak tidur lagi."
"Apa yang dikatakan ibu memang tak salah,"
Kata Hok Kong An.
"Anak pun sebenar-benarnya bukan sengaja menyambut dia datang ke mari. Anak hanya menyuruh orang menengoknya dan memberikan sedikit uang kepadanya. Di luar dugaan, dia telah melahirkan dua putera yang menjadi darah dagingku."
Sang ibu mengangguk seraya berkata.
"Usiamu sudah mendekati empat puluh tahun dan kau belum punya anak. Dilahirkannya anak itu tentu saja merupakan kejadian yang sangat menggirangkan. Kami akan memeliharanya dan mendidiknya baik-baik, supaya di hari kemudian mereka bisa mencapai kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, hati ibu^ nya pun bisa terhibur."
Hok Kong An menunduk dan untuk beberapa saat, ia tidak mengeluarkan sepatah kata.
"Tadinya anak ingin mengirim perempuan itu ke tempat yang jauh supaya dia tidak bisa bertemu muka lagi de-nganku dan dengan kedua anaknya,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Tak dinyana ibu...."
Paras muka nyonya tua itu lantas saja berubah gusar.
"Sungguh pereuma kau memegang pangkat tinggi, kalau soal ini saja masih belum dimengerti olehmu!"
Bentaknya dengan suara keras.
"Apa kau kira, sedang kedua puteranya berada di sini, dia rela menerima nasib dengan begitu saja? Ingatlah! Dia perempuan Kang-ouw yang bisa melakukan per-buatan apa pun jua!"
Mendengar perkataan ibunya, Hok Kong An hanya manggut-manggutkan kepalanya. Sesudah berdiam sejenak, nyonya tua itu ber-kata pula.
"Kau perintah orang menguburkannya dengan upacara besar itu sudah cukup untuk menyatakan kecintaanmu...."
Si anak kembali manggutkan kepala.
Bukan main kagetnya Ouw Hui yang men-dengarkan di luar jendela.
Semula ia tidak begitu mengerti pembicaraan antara ibu-anak itu dan sesudah mendengar kata-kata "menguburkannya dengan upacara besar", barulah ia terkesiap.
Sekarang ia tahu, bahwa nyonya tua yang kejam itu ingin merampas anaknya dengan membunuh ibunya.
Ia yakin, bahwa untuk menolong jiwa Ma It Hong, ia tidak boleh berayal lagi.
la segera meninggalkan gedung itu dan dengan menggunakan ilmu meng-entengkan badan, ia berlari-lari ke rangon di atas air.
Untung juga waktu itu sudah jauh malam dan di dalam taman tidak terdapat satu manusia pun, sedang pembunuhan yang terjadi tadi juga belum diketahui orang.
Sembari lari, Ouw Hui bimbang.
"Ma Kouwnio sangat mencintai Hok Kong An,"
Pikirnya.
"Apa dia pereaya keteranganku? Apa dia suka mengikut aku untuk melarikan diri? Hai! Ba-gaimana baiknya?"
Begitu tiba, ia lihat empat orang pengawal di luar rangon.
"Hm! Mereka sudah menyediakan orang untuk menjaga kaburnya Ma Kouwnio,"
Katanya di dalam hati.
Karena tak mau mengagetkan orang-orang itu, ia lalu pergi ke belakang rangon dengan mengambil jalan memutar.
Dengan sekali meng-enjot badan, ia sudah melompati empang dan kemudian, dengan indap-indap ia menghampiri jen-dela.
Mendadak, hatinya mencelos dan mengawasi ke dalam dari celah-celah jendela dengan mata membelalak.
Apa yang dilihatnya?
Ma It Hong rebah di atas lantai sambil memegang perut dan merintih, sedang paras mukanya pucat pasi!
Dalam ruangan itu tidak terdapat lain manusia.
"Celaka! Aku terlambat,"
Ia mengeluh sambil mendorong jendela dan melompat masuk.
Napas nyonya itu tersengalsengal, mukanya bersorot hijau dan kedua matanya merah, seperti mau mengeluar-kan darah.
Melihat Ouw Hui, ia berkata dengan suara terputus-putus.
"Perut... perutku sakit.... Saudara Ouw... kau...."
Suaranya semakin lemah dan sesudah mengatakan.
"kau", ia tak dapat bicara lagi.
"Kau makan apa tadi?"
Tanya Ouw Hui. It Hong tidak menjawab, hanya matanya mengawasi sebuah mangkok dengan lukisan bunga emas yang terletak di atas meja. Ouw Hui kenali, bahwa mangkok itu adalah mangkok somthung.
"Nenek itu sungguh jahat,"
Pikirnya.
"Sebelum mengirim somthung, lebih dulu ia memanggil kedua bocah itu. Rupanya ia khawatir Ma Kouwnio akan membagi makanan mahal itu kepada puteranya.... Ya, sekarang aku ingat. Waktu ibunya menyuruh budak membawa somthung itu, paras muka Hok Kong An berubah dan tangannya bergemetar, sehingga air teh tumpah di pakaiannya. Ia tentu sudah tahu, bahwa dalam somthung itu ditaruh racun. Tapi dia tidak coba mencegah atau menolong. Biarpun bu-kan dia yang meracuni, tapi did turut berdosa. Hm! Sungguh kejam!"
Sesudah mengumpulkan tenaga, Ma It Hong berkata pula dengan suara lemah.
"Kau... beri-tahukan Hok Kongcu... minta... panggil tabib...."
Ouw Hui tidak menjawab, tapi mendengar per-kataan si nyonya, ia segera ingat, bahwa orang satu-satunya yang dapat menolong adalah adik ang-katnya, Leng So.
Memikir begitu, ia segera mengambil kain alas kursi dan membungkus mangkok somthung itu yang lalu dimasukkan ke dalam sakunya.
Ia mendengar-kan sejenak dan sesudah melihat di luar rangon tidak terdengar sesuatu yang luar biasa, ia lalu memanggul tubuh It Hong dan melompat ke luar dari jendela.
Nyonya itu kaget dan berteriak dengan suara perlahan.
"Ouw...."
Ouw Hui menekap mulut It Hong dengan tangannya.
"Jangan ribut, aku mau bawa kau kepada tabib,"
Bisiknya.
"Anakku..."
Kata pula nyonya itu.
Ouw Hui tidak meladeni.
Dengan tergesa-gesa ia menggenjot tubuh dan raelompati empang yang memisahkan rangon itu dari taman bunga.
Tapi baru saja ia mau kabur, sudah terdengar suara tindakan dua oiang yang mengejar dari belakang.
"Siapa?"
Bentak saiah seorang itu.
Ouw Hui tidak menjawab dan terus lari dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Sesudah kabur puluhan tombak, tiba-tiba ia menghentikan tindakan dan begitu lekas kedua pengejarnya da-tang dekat, ia melompat tinggi saivj-i'i menendang dengan kedua kakinya yang tepal di jalan darah Sinlong-hiat, di punggung kedua orang itu.
Tanpa bersuara mereka terguling.
Dilihat dari pakaiannya, mereka adalah Wie-su yang menjaga di luar rangon.
Sesudah merubuhkan kedua pengawal itu, dengan cepat Ouw Hui mencari jalan ke luar.
Sekonyong-konyong dari beberapa sudut gedung, ter-dengar suara teriakan dan bentakan.
"Tangkap! Tangkap pembunuh!"
Untung juga, waktu baru datang, ia memper-hatikan jalanan, sehingga sekarangtanparagu-ragu, ia segera mengambil jalan semula yang menerus ke sebuah pintu kecil.
Setibanya di depan pintu, ia segera melompati tembok dan dengan girang ia mendapat kenyataan, bahwa kereta yang ditum-panginya tadi, masih menunggu di situ.
Buru-buru ia memasukkan Ma It Hong ke dalam kereta seraya berkata.
"Pulang!"
Mendengar suara ribut-ribut di dalam gedung dan melihat paras muka Ouw Hui yang luar biasa, si kusir membuka mulut menanyakan keterangan.
Tapi sebelum ia sempat bicara, tangan pemuda itu sudah melayang dan ia rubuh di tanah.
Sesaat itu, dari dalam gedung sudah muncul empat-lima Wie-su yang mengejar sambil berteriak-teriak.
Ouw Hui segera mencekal les dan menga-burkan kudanya sekeras-kerasnya.
Sesudah mengejar belasan tombak, pengejar-pengejar itu kembali ke gedung sembari berteriak-teriak.
"Kuda! Lekas siapkan kuda!"
Dengan hati berdebar-debar Ouw Hui terus membedal kuda.
Sesudah lari kira-kira satu lie, mendfidak terdengar teriakan-teriakan dan dua pu-luh lebih Wie-su yang menunggang kuda mengejar dari belakang.
Kuda-kuda itu adalah binatang pilihan, sehingga semakin lama mereka datang semakin dekat.
Ouw Hui jadi bingung.
"Aku berada di kota raja yang tidak boleh dipersamakan dengan kota-kota lain,"
Pikirnya.
"Dengan adanya suara ribut-ribut, tentara peronda kotabisasegera turut turun tangan dan aku sukar meloloskan diri lagi."
Ia menengok ke belakang dan lihat semua pe-ngejar itu membawa obor.
Ia melirik kepada Ma It Hong dan hatinya jadi semakin berkhawatir.
Tadi nyonya itu masih merintih, tapi sekarang suara rintihannya sudah tidak terdengar lagi.
"Ma Kouw-nio,"
Ia memanggil.
"Perutmu sakit?"
Ia memanggil beberapa kali, tapi It Hong tetap tidak menjawab.
Ia menengok lagi dan melihat pengejar-pengejar sudah datang terlebih dekat.
Tiba-tiba sebulir batu Hui-hong-sek menyambar punggungnya.
Dengan cepat ia menangkapnya dan balas menim-puk.
Sambil mengeluarkan teriakan keras, orang itu jatuh terguling.
Hasil itu menyadarkan Ouw Hui.
Jalan paling baik untuk mengundurkan musuh adalah meng-gunakan senjata rahasia, hanya sayang ia tidak mem-bekalnya.
Sesudah mendapat pelajaran pahit, para .Wie-su tidak berani menyerang lagi dengan senjata rahasia.
Ouw Hui jadi semakin bingung.
Perjalanan ke Soan-bu-bun masih jauh, sedang teriakan-teriakan orang-orang itu sudah pasti akan menarik perhatian serdadu peronda.
Dalam bingungnya ia ingat mangkok yang berada dalam sakunya.
Ia segera meremas mangkok itu -hanya pantat mangkok yang tidak dihancurkan -dan mencekal kepingan-kepingan persolen dalam tangannya.
Dengan sekali meng-ayun tangan kiri, lima Wie-su rubuh disambar ke-pingan mangkok pada jalan darahnya, sedang tiga Wie-su lainnya yang berkepandaian lebih tinggi, dapat menyampok "senjata rahasia"
Itu dengan go-lok mereka.
Beberapa orang lantas saja melompat turun dari tunggangannya untuk menolong kawan-kawannya yang rubuh, sedang yang lainnya tidak berani datang terlalu dekat lagi.
Ouw Hui bernapas lebih lega.
la girang ketika mendapat kenyataan, bahwa Ma It Hong masih bernapas dan kadangkadang mengeluarkan rintih-an perlahan.
Sementara itu, ia sudah hampir tiba di gedungnya.
Waktu tiba di jalan bereabang, ia mem-belokkan kereta ke jurusan barat, sedang gedungnya berada di sebelah timur.
Sesudah membelok lagi di sebuah tikungan, sambil mendukung It Hong, ia mencambuk kuda beberapa kali, sedang ia sendiri melompat ke atas sebuah rumah.
Kereta itu kabur terus ke arah barat dengan dikejar oleh para Wie-su.
Sesudah para pengejar pergi jauh, barulah Ouw Hui kembali ke gedungnya dengan mengambil jalan dari atas atap rumah-rumah penduduk.
Baru ia melompati tembok gedungnya, sudah terdengar suara Leng So.
"Toako, kau kembali! Kau dikejar orang?"
"Ma Kouwnio kena racun hebat, coba periksa,"
Kata sang kakak.
Sambil mendukung It Hong, Ouw Hui masuk ke ruangan tengah dan Leng so menyulut lilin.
Sambil menggelengkan kepala, si nona mengawasi muka nyonya itu yang bersorot abu-abu.
Ia memijit jari-jari tangan It Hong, ternyata da-gingnya tetap melesak, tidak membal ke atas lagi.
"Kena racun apa?"
Tanyanya. Dari dalam sakunya Ouw Hui mengeluarkan pantat mangkok.
"Kena racun yang ditaruh di dalam somthung,"
Jawabnya.
"Inilah pantat mangkok som-thung itu."
Leng So mencium pantat mangkok itu. Sebagai ahli urusan racun, ia lantas saja berkata dengan suara kaget.
"Hebat! Inilah racun Ho-teng-hong."
"Masih bisa ditolong?"
Tanya Ouw Hui. Sebelum menyahut, Leng so memegang dada It Hong.
"Kalau bukan orang kaya raya, tak nanti mempunyai racun yang mahal itu,"
Katanya.
"Benar,"
Kata Ouw Hui dengan suara gusar.
"Yang menaruh racun adalah nyonya Siang-kok (perdana menteri), ibunya Peng-po Siang-sie."
Leng So mengangguk, kedua matanya mengawasi It Hong dengan penuh perhatian.
Melihat paras muka adiknya yang tidak memperlihatkan sinar putus harapan, hati Ouw Hui agak lega.
Sesudah mengawasi beberapa saat, Leng So membuka kelopak mata It Hong.
Mendadak ia mengeluarkan seruan tertahan.
"Aha!"
Ouw Hui terkesiap.
"Mengapa?"
Tanyanya.
"Di samping Ho-teng-hong, terdapat juga Hoan-bok-pie,"
Jawabnya. Ouw Hui tidak berani menanya.
"Bisa ditolong atau tidak?"
Sambil mengawasi adiknya, ia bertanya.
"Bagaimana menolongnya?"
Alis si nona berkerut.
"Dengan adanya dua macam racun itu, kita jadi lebih berabe,"
Jawabnya. Ia masuk ke kamar dan mengambil dua butir yo-wan putih. Sambil memasukkan obat itu ke dalam mulut It Hong, ia berkata.
"Kita harus menaruhnya di dalam sebuah kamar yang sunyi, menusuk tiga belas jalanan darahnya dengan jarum emas dan kemudian memasukkan obat ke dalam tubuhnya dari jalan darah. Sebenarnya, dengan menggunakan jarum, kita dapat menolongnya dengan segera, akan tetapi, selama dua belas jam ia tidak boleh bergerak sedikit pun jua."
"Kita tidak dapat menggunakan jarum di sini, karena Wiesu Hok Kong An akan segera datang,"
Kata Ouw Hui.
"Kita harus cari sebuah rumah di kampung yang sepi."
"Kalau begitu kita harus berangkat sekarang juga,"
Kata Leng So.
"Dua butir yo-wan itu dapat mempertahankan jiwanya selama satu jam."
La menghela napas dan berkata pula.
"Walaupun ke-jam, pengetahuan tentang racun dari nyonya Siang-kok itu masih sangat rendah. Dengan mencampur dua macam racun dan menaruhnya di dalam somthung, tenaga racun itu menjadi lemah. Kalau bukan begitu, jiwa Ma Kouwnio tentu sudah melayang."
Cepat-cepat Ouw Hui berkemas.
"Pada jaman ini, siapakah yang dapat menandingi ilmunya Tok-chiu Yo-ong?"
Katanya. Leng So tersenyum. Selagi ia mau menjawab, tiba-tiba terdengar suara kaki kuda yang menda-tangi dari sebelah kejauhan. Ouw Hui menghunus golok dan berkata.
"Kita terpaksa mesti bertempur."
Ia bingungdan berkata pula.
"Semakin lama jumlah musuh tentu semakin banyak. Kalau bahaya terlalu besar, paling banyak aku bisa menolong Jiemoay. Bagaimana kita dapat menolong Ma Kouwnio?"
"Dalam kota raja, tak dapat kita menggunakan kekerasan,"
Kata si adik.
"Toako, coba kau menyusun kursi meja sampai merupakan sebuah ra-ngon tinggi."
Ouw Hui tak mengerti maksudnya, tapi karena tahu kepintarannya si adik, tanpa menanya lagi, ia lalu menyusun semua meja dan kursi yang berada dalam ruangan itu.
Sambil menuding satu pohon besar yang tum-buh di luar jendela, Leng so berkata.
"Bersama Ma Kouwnio, kau bersembunyi dalam pohon itu."
Ouw Hui segera memasukkan goloknya ke dalam sarung dan buru-buru mendukung Ma It Hong.
Dengan sekali mengenjot badan, ia hinggap di atas satu dahan dan lalu menyembunyikan nyonya itu di antara daun-daun yang rindang.
Sementara itu, dengan melompati tembok, be-berapa Wiesu sudah masuk ke dalam pekarangan gedung dan dengan membentak-bentak, ia mena-nyakan keterangan dari pengurus rumah.
Leng So meniup lilin dan dari sakunya ia mengeluarkan sebatang lilin lain yang lalu disulutnya dan ditancapkan di sebuah ciak-tay.
Sesudah menutup jendela dan pintu, barulah ia melompat naik ke pohon itu dan berdiri di samping kakaknya.
"Semuanya ada tujuh orang,"
Bisik Ouw Hui.
"Tenaga obat lebih dari cukup!"
Jawab si adik.
Sekarang Ouw Hui mengetahui, bahwa lilin yang dipasang oleh adiknya adalah lilin racun.
Para Wie-su itu sudah mulai menggeledah.
Di antara suara mereka, Ouw Hui kenali, bahwa salah seorang adalah In Tiong Shiang.
Karena jeri terhadap Ouw Hui dan juga sebab Wan Cie Ie masih berada dalam gedung itu, mereka tidak berani berlaku sembrono dan tidak berani menggeledah dengan berpencaran.
Sambil menyerahkan sebutir batu ke dalam tangan Ouw Hui, Leng So berbisik.
"Toako, ru-buhkan sebuah kursi dengan batu ini!"
"Bagus!"
Kata sang kakak sambil tertawa dan lalu menimpuk.
Batu itu mengena tepat pada kursi yang di tengahtengah dan dengan satu suara ge-debrukan, beberapa kursi meja yang berada di atas-nya terguling di lantai.
"Di sini! Di sini!"
Teriak para Wie-su.
Beramai-ramai mereka meluruk ke ruangan itu.
Tapi, kecuali kursi meja yang jatuh berhamburan, dalam ruangan itu tak terdapat bayangan manusia.
Mendadak mereka merasa puyeng dan tak ampun lagi ambruk di lantai.
Dengan cepat Leng So melompat masuk lagi ke dalam ruangan itu, meniup lilin yang lalu dimasuk-kan ke dalam sakunya.
"Ayo berangkat!"
Katanya seraya menggapai Ouw Hui.
Ouw Hui lantas saja mendukung Ma It Hong dan bersama adiknya, ia melompati tembok.
Belum jalan beberapa jauh, ia mengeluh, karena di sebelah depan terlihat barisan tentara yang sedang melang-kah melakukan penggeledahan dengan membawa obor dan tengloleng.
Buru-buru mereka membelok ke selatan, tapi belum setengah li, mereka sudah bertemu pula dengan sepasukan tentara yang meronda.
"Pembunuhan dalam gedung Hok Thayswee rupanya sudah diketahui,"
Kata Ouw Hui di dalam hati.
"Bagaimana baiknya? Tak mudah untuk meloloskan diri ke luar kota."
Sekonyongkonyong ia dengar suara ribut-ribut di belakangnya dan sepasukan tentara kelihatan mendatangi dari sebelah belakang.
Ouw Hui bingung, musuh mendatangi dari depan dan dari belakang.
Sambil memberi isyarat kepada Leng so, ia melompati tembok pe-karangan sebuah gedung, diturut oleh adiknya.
Mereka hinggap di atas rumput yang empuk dari sebuah taman.
Tiba-tiba mereka terkesiap, karena taman itu terangbenderang dan tak jauh dari tempat mereka berdiri, kelihatan berkumpul banyak orang.
Hampir berbareng, di luar tembok terdengar suara ramai, sebagai tanda, bahwa kedua pasukan tadi yang datang dari depan dan dari belakang, sudah bertemu satu sama lain, sehingga mereka tak akan dapat melarikan diri lagi dari jalanan itu.
Untung juga, Ouw Hui lihat sebuah gunung-gunungan yang teraling dengan pohon-po-hon bunga.
Dengan cepat ia melompat ke belakang gununggunungan itu untuk menyembunyikan diri.
Mendadak, sehelai sinar putih berkelebat dan sebatang golok menyambar dada.
Ouw Hui kaget bukan main, sedikit pun ia tidak menduga, bahwa di belakang gunung-gunungan itu bersembunyi musuh.
Mau tidak mau, ia melepaskan Ma It Hong yang menengkurap di punggungnya, tangan kirinya menyanggah sikut orang itu, tangan kanannya balas menyerang.
Orang itu pun tak kurang lihaynya.
Ia mengegos dan goloknya kembali menyambar, sedang tangan kirinya coba menangkap pergelangan tangan Ouw Hui dengan ilmu Kin-na Chiu-hoat.
Apa yang luar biasa, dia memakai topeng kain kuning dan menyerang tanpa bersuara.
"Bagus juga dia menutup mulut, pikir Ouw Hui.
"Sekali dia berteriak, tentara yang berada di luar tembok pasti akan segera meluruk."
Mereka lantas saja bertempur dengan hebat-nya.
Kepandaian orang itu tidak berada di sebelah bawah Cin Nay Cie dan dengan bersenjata, ia menarik banyak keuntungan atas Ouw Hui yang ber-kelahi dengan tangan kosong.
Pada jurus ke sem-bilan, barulah Ouw Hui berhasil menotok jalan darah Kiu-bwee-hiat, di dada orang itu.
Tapi dia ternyata gagah sekali.
Biarpun sudah kena ditotok, ia masih dapat menendang.
Sesudah Ouw Hui menotok jalan darah Tiong-touw-hiat, di tumit kakinya, barulah ia rubuh.
Sesudah musuh rubuh, Leng So menyentuh pundak kakaknya dan sambil menuding ke tempat yang banyak lampunya, ia berbisik.
"Toako, ke-lihatannya bakal ada pertunjukan wayang."
Ouw Hui mendongak dan melihat sebuah panggung wayang yang berdiri di dalam pekarangan yang luas, sedang di depan panggung berderet-deret kur-si yang sudah penuh dengan penonton, tapi pertunjukan belum dimulai.
Jaman itu adalah jaman Kaisar Kian-liong yang sangat makmur dan di kota raja, setiap kali pembesar negeri atau hartawan mengadakan pesta, mereka tentu memanggil wayang yang main sampai beberapa had, siang malam tiada putusnya.
Sambil mengangguk, Ouw Hui membungkuk dan mencopotkan kain kuning yang menutupi muka lawan yang sudah rubuh itu.
Remang-renang, ia lihat muka yang kasar dari seorang berusia kira-kira empat puluh tahun.
"Mungkin dia pencuri,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Kurasa bukan buaya kecil,"
Kata Leng So. Ouw Hui tertawa.
"Siapa tahu? Dalam kota raja, penjahat kecil pun bisa memiliki kepandaian tinggi,"
Katanya. Tapi di dalam hati, ia mengakui, bahwa dilihat dari kepandaiannya tak mungkin orang itu penjahat biasa.
"Apa tidak baik kita cari sebuah kamar yang terpencil dan sepi dalam gedung yang besar ini, untuk bersembunyi dua belas jam lamanya?"
Bisik si nona.
"Ya, itu memang jalan satu-satunya,"
Jawab sang kakak.
"Dengan berkumpulnya begitu banyak orang, kita pasti tak bisa keluar tanpa diketahui orang. Baru saja ia berkata begitu, tirai di atas panggung mendadak terbuka dan muncul seseorang yang mengenakan ma-kwa linen. Ia memberi hormat dan segera berkata dengan suara nyaring.
"Para Supeh, Susiok dan saudara-saudara seperguruan!"
Mendengar kata-kata pembukaan itu, Ouw Hui mengerti, bahwa panggung tersebut bukan panggung wayang. Orang itu melanjutkan pembicaraannya.
"Seka-rang fajar sudah menyingsing dan tiga hari lagi, kita akan menghadapi pertemuan besar antara para Ciangbunjin. Tapi sampai pada detik ini, See-gak Hoa-kun-bun belum mempunyai Ciangbunjin. Urusan ini tidak dapat ditunda-tunda lagi dan bagai-mana harus diselesaikannya, aku menyerahkan ke-pada para Cianpwee dari berbagai pay." (pay = partai) Seorang tua yang mengenakan ma-kwa hitam, yang duduk di bawah panggung, lantas saja bangun berdiri. Ia batukbatuk beberapa kali, dan lalu berkata.
"Hoa-kun Su-sip-pat, Gee-seng-heng-thian-hee. Sedari tiga abad yang lalu, See-gak Hoa-kun-bun terpecah menjadi lima partai, yaitu Partai Gee, Seng, Heng, Thian dan Hee. Semenjak tiga abad, memang kita tidak pernah mempunyai Cong ciang-bun (pemimpin besar). Kelima partai itu telah maju dengan makmurnya. Akan tetapi, semua saudara-saudara hanya memperhatikan partai masing-ma-sing. Setiap orang mengatakan.
"Aku dari Gee-ciepay (partai huruf Gee), aku dari Seng-cie-pay (partai huruf Seng) dan sebagainya. Mereka tidak ingat, bahwa di mata orang luar mereka semua dianggap sebagai anggota See-gak Hoa-kun-bun. Anggota partai kita sangat besar jumlahnya dan ilmu yang diturunkan oleh Loo-couw (kakek guru) juga bukan ilmu sembarangan, akan tetapi, kita tak bisa menandingi Siauw-lim, Bu-tong, Thay-kek, Pat-kwa dan Iain-lain partai. Mengapa? Karena kita terpecah-pecah dan karena perpecahan itu, kita jadi lemah. Ya! Apa mau dikata?"
La batuk-batuk beberapa kali, menghela napas dan kemudian berkata pula.
"Kalau bukan Hok Thayswee mengadakan pertemu-an para Ciangbunjin, entah sampai kapan See-gak Hoa-kun-bun baru punya Ciangbunjin. Untung juga terjadi kejadian begini, sehingga mau tak mau, kita mesti juga mengangkat seorang Ciong
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com ciang-bun.
Hari ini, aku si tua, ingin mengutarakan pendapatku.
Ciangbunjin yang akan dipilih oleh kita sekrang, bukan saja harus membikin terang muka See-gak Hoa-kun-bun dalam pertemuan itu, tapi juga harus membereskan urusan di dalam partai, supaya kelima cabang itu, kembali kepada asalnya yang semula, agar kita beramai-ramai, dengan bersatu padu, da-pat menonjolkan nama See Gak-kun-bun dalam Rimba Persilatan."
Pembicaraan orang tua itu disambut dengan sorak-sorai dan tepuk tangan oleh para hadirin.
Sekarang Ouw Hui baru mengerti maksud ber-kumpulnya orang-orang itu.
la memandang ke em-pat penjuru dengan niatan mencari tempat yang agak sepi untuk menyingkirkan diri.
Tapi semua jalanan berada di bawah sinar lampu dan dalam taman itu berkumpul kira-kira dua ratus orang, sehingga begitu keluar dari tempat bersembunyi, mereka pasti dilihat orang, Ouw Hui jadi bingung.
la hanya berdoa, supaya pemilihan Ciangbunjin itu bisa selesai secepat mungkin.
"Perkataan Coa Supeh merupakan nasehat yang sangat berharga,"
Kata orang yang berdiri di atas panggung.
"Sebagai pemimpin Gee-cie-pay, dengan memberanikan hati boanpwee mewakili para sau-dara separtai, memilih Ciangbunjin, maka kami semua dengan satu hati, akan menutut segala perintah Ciangbunjin tersebut. Apa yang dikatakan oleh pemimpin kita itu, tak akan dibantah oleh orang-orang Gee-cie-pay."
"Bagus!"
Teriak seorang dengan suara nyaring. Pemimpin Gee-cie-pay itu tersenyum dan berkata.
"Bagaimana pendapat Iain-lain pay?"
Salah seorang yang berada di bawah panggung bangun berdiri dan menjawab dengan suara nyaring.
"Kami dari Seng
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com cie-pay juga tak akan menentang segala perintahnya Ciangbunjin baru."
Dengan beruntun-runtun, beberapa orang bangun berdiri.
"Perintah dari Ciangbunjin kita akan diturut seanteronya oleh Heng-cie-pay."
"Hee-cie-pay adalah partai yang paling bungsu, kalau kakak jalan, adik tak bisa tidak menurut."
"Bagus!"
Kata orang yang berdiri di atas panggung.
"Semua golongan bersatu padu dan kita tidak bisa mengharapkan yang lebih baik daripada ini. Sekarang para tetua dari berbagai partai, para Supeh dan Susiok sudah berada di sini dan yang masih belum tiba hanyalah Kie Supeh dari Thian-cie-pay. Orang tua itu telah mengirim sepucuk surat yang memberitahukan, bahwa ia telah mengirimkan pu-teranya, yaitu Kie Suheng, untuk mewakilinya da-lam pertemuan kita ini. Tapi ditunggu sampai sekarang, Kie Suheng belum juga muncul. Kudengar Suheng ini agak luar biasa dan di antara kita, siapa pun juga belum pernah bertemu dengannya. Mungkin sekali ia sudah berada di sini dan menyem-bunyikan diri, entah di mana...."
Berkata sampai di situ, ia disambut dengan gelak tertawa.
"Apakah kau she Kie?"
Ouw Hui tanya pecun-dangnya. Orang itu mengangguk, ia kelihatan bingung ka-rena tak tahu siapa adanya Ouw Hui dan Leng So.
"Sesudah menunggu hampir semalam suntuk dan Kie Suheng belum juga datang, kita sekarang tidak dapat menunggu lebih lama lagi,"
Kata pula orang yang berdiri di atas panggung.
Di belakang hari, Kie Supeh tentu tak bisa marahi kita.
Kini aku memohon petunjuk para Cianpwee, Supeh, Susiok, cara bagaimana kita harus memilih Ciangbunjin."
Mendengar perkataan itu, semua orang yang sudah menunggu lama dengan tidak sabar, lantas saja jadi bersemangat dan mereka berlomba-lomba mengajukan usul.
"Adu ilmu silat!"
"Memang! Kalau bukan adu silat, mau adu apa?"
"Kita harus gunakan senjata tulen!"
Di antara teriakan-teriakan itu, si orang she Coa kembali bangun berdiri dan batuk-batuk bebe-rapa kali.
"Sebenarnya, dalam memilih Ciangbunjin, kita harus lebih mengutamakan pribudi daripada kepandaian silat,"
Katanya.
"Anak-anak muda sekarang, betapapun tinggi ilmu silatnya, tak akan dapat menandingi para Cianpwee yang pribudinya luhur dan dihormati orang."
Ia berdiam sejenak dan kedua matanya yang tajam menyapu para hadirin.
"Tapi kita sekarang tengah menghadapi keadaan luar biasa,"
Katanya pula.
"Pertemuan para Ciangbunjin yang bakal diadakan merupakan pertemuan para orang gagah dan secara wajar, mereka masing-masing akan mengeluarkan kepandaian. Andaikata See-gak Hoa-kunbun memilih seorang tua bangka yang luhur pribudinya, dalam pertemuan tersebut, belum tentu orang dapat menghargai pribudi tua bangka itu...."
Para hadirin tertawa berkakakan, sedang Leng so cekikikan sambil menutup mulutnya dengan sapu tangan. Sesudah gelak tertawa mereda, si tua berkata pula.
"Hoakun Su-sip-pat, Gee-seng-heng-thian-hee. Hanya sayang, selama beberapa ratus tahun, tak pernah ada seorang pun dapat memahami seluruh ilmu silat Hoa-kun-bun yang mempunyai em-pat puluh delapan jalan. Di hari ini, siapa yang memiliki kepandaian paling tinggi, dialah yang akan menjadi Ciangbunjin kita."
Pembicaraan si tua disambut dengan sorak sorai. Tiba-tiba pintu depan digedor keras. Semua orang terkejut.
"Apa Kie Suheng?"
Tanya seorang.
Beberapa orang lantas membuka pintu dan begitu pintu ter-buka, segera menerobos masuk sejumlah serdadu yang membawa obor dan tengloleng.
Dengan tangan kanan mencekal golok, tangan kiri Ouw Hui memegang tangan Leng So dan mereka saling mengawasi sambil tersenyum.
Dalam menghadapi bahaya, hati kedua orang muda itu lebih bersatu padu.
Tapi di lain saat, si nona menunduk dan paras mukanya berubah duka.
Perwira yang memimpin rombongan serdadu itu, segera menanyakan keterangan dari beberapa orang.
Begitu mengetahui, bahwa orang-orang itu berkumpul untuk memilih Ciangbunjin dari See-gak Hoa-kun-bun, sikapnya lantas saja berubah hormat, tapi dengan menggunakan obor dan tengloleng, ia dan tentaranya lantas saja menyuluhi muka setiap orang dan menyelidiki di seputar taman itu.
Ouw Hui dan Leng So siap sedia.
Jika tentara itu menyatroni sampai di belakang gunung-gunung-an, tiada lain jalan daripada menyerang.
Tiba-tiba, selagi sinar obor mendekati gunung-gunungan, orang yang berdiri di atas panggung sudah berkata pula.
"Siapa yang ilmu silatnya paling tinggi, dialah yang menjadi Ciangbunjin. Hal ini sudah didengar dan disetujui oleh kita semua. Maka itu, para Supeh, Susiok, Suheng-tee dan Sucimoay boleh segera naik ke sini untuk memperlihatkan kepandaian yang paling istimewa."
Undangan itu disusul dengan melompat naik seorang wanita muda yang mengenakan baju warna dadu.
"Ko In, murid Heng-cie-pay, meminta pelajar-an dari para Supeh, Susiok dan saudara-saudara,"
Katanya dengan suara merdu.
Melihat ilmu mengentengkan badan nona itu yang sangat bagus, ditambah dengan pakaiannya yang indah dan parasnya yang cantik, para hadirin menyambutnya dengan tepuk tangan dan sorakan.
Serdadu-serdadu yang tengah menghampiri, gunung-gunungan itu jadi kagum bukan main dan habislah kegembiraan mereka untuk melanjutkan penggele-dahan.
Baru habis si nona memperkenalkan diri, seorang pemuda sudah melompat ke atas.
"Thio Hok Liong, murid Gee-cie-pay, ingin meminta pelajaran dari Ko Suci,"
Katanya seraya memberi hormat.
"Thio Suheng tak usah berlaku sungkan,"
Kata nona Ko.
Ia menekuk sedikit betis kanan, melonjorkan betis kiri, melintangkan telapak tangan kanan dan membengkokkan tangan kiri.
Itulah pukulan per-tama dari Hoa-kun, Cut-sit Kwa-houw See-gak-toan (pukulan menunggang harimau).
Thio Hok Liong mengangkat lututnya dan mengirim pukulan dengan telapak tangannya dalam gerakan San-yang Teng-kie Kak-tok-hian (Kambing hinggap di dahan pohon, kakinya menggelantung).
Mereka lantas saja bertempur dengan hebatnya, dengan masing-ma-sing menggunakan ilmu silat Hoa-kun-bun.
Sesudah lewat kira-kira dua puluh jurus, bagaikan kilat, nona Ko menyerang dengan pukulan Hui-tauw Bong-goat Hong-tian-cie (Mernutar kepala melihat rem-bulan, burung Hong membuka sayap), kakinya melompat, tangannya menyambar, sehingga tak ampun lagi, Thio Hok Liong rubuh ke bawah panggung.
"Bagus!"
Teriak si perwira.
"Sungguh lihay nona itu."
Di lain saat, seorang lelaki yang bertubuh kasar sudah melompat ke atas panggung dan sehabis mengucapkan katakata merendahkan diri, mereka lantas saja bertempur.
Kali ini, Ko In-lah yang rubuh ke bawah, karena kakinya terpeleset.
"Sayang! Sayang sungguh!"
Seru si perwira.
Sesudah nona itu rubuh, ia tidak mempunyai kegem-biraan untuk menonton terus dan sambil mengajak anak buahnya, ia segera meninggalkan gedung itu, untuk menjalankan tugas di tempat lain.
Melihat rombongan serdadu sudah berlalu, hati Leng So jadi agak lega.
Tapi sesudah beberapa lama, hatinya jadi jengkel dan tidak sabar, karena pertem-puran berlangsung terus tak henti-hentinya, yang satu turun, yang lain naik dan begitu seterusnya.
Sampai kapan baru mereka berhasil memilih Ciang-bunjin?
Ia melirik Ouw Hui yang ternyata sedang memperhatikan jalan pertandingan dengan sepe-nuh perhatian.
Si nona heran dan berkata dalam hatinya.
"Biarpun kepandaian mereka tidak dapat dikatakan rendah, tapi mereka bukan ahli silat kelas satu. Mengapa Toako memperhatikan sampai ter-longong-longong?"
Ia menyentuh tangan kakaknya dan berbisik.
"Toako, sekarang sudah lewat lebih dari setengah jam. Kita harus berdaya untuk menolong Ma Kouwnio secepat mungkin. Kalau ter-lambat, mungkin jiwanya melayang."
Ouw Hui ha-nya menyahut dengan suara "hm", tapi matanya tetap mengawasi panggung.
Beberapa saat kemudian, salah seorang jatuh, disusul dengan naiknya seorang lain yang lantas saja mulai bertanding dengan orang yang menang.
Dalam pertandingan itu, meskipun mereka orang sekaum, akan tetapi yang bertempur adalah murid-murid dari partai yang berlainan.
Kalah menang mereka mengenakan langsung kepada nama partai masing-masing, sehingga dengan demikian, mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh.
Dilihat dari jalan pertandingan, pentolan-pentolan kelima partai Hoakun-bun belum ada yang muncul dan hal itu lebih-lebih menjengkelkan Leng So, karena tak dapat diramalkan lagi, sampai kapan pertandingan bisa selesai.
Melihat kakaknya memperhatikan pertempur-an itu seperti orang kehilangan semangat, si nona berkata dalam hatinya.
"Hm! Toako adalah seorang yang tergila-gila dengan ilmu silat. Begitu lihat orang pie-bu, ia melupakan segala apa."
Sambil menepuk pundak Ouw Hui, ia berkata dengan suara perlahan.
"Kita sudah tak mempunyai banyak tempo lagi. Paling benar kita coba keluar dari sini. Menurut pendapatku, sebagai orang-orang gagah dari Rimba Persilatan, belum tentu mereka mencelakakan kita dengan melaporkan kepada pembesar ne-geri."
Ouw Hui menggelengkan kepala.
"Urusan lain masih tidak apa, tapi dalam urusan yang mengenakan Hok Thayswee, mana bisa mereka tinggal diam saja?"
Katanya.
"Dengan mencelakakan kita, mereka mendapat kesempatan untuk memperoleh pahala.
"Kalau begitu, untung-untungan di sini saja kita niengobati Ma Kouwnio,"
Kata pula Leng So.
"Tapi celakanya, di siang hari, bersembunyinya kita di tempat ini pasti diketahui orang."
Waktu meng-ucapkan kata-kata itu, nadanya bingung sekali.
Dalam keadaan terdesak, nona Thia yang cerdas dan tenang jadi putus asa.
Tapi Ouw Hui hanya menyahut dengan "hm" , sedang kedua matanya tetap mengawasi kedua ang-gota Hoa-kun-bun yang sedang bertanding di atas panggung.
Leng So menghela napas.
"Jika sebenta Ma Kouwnio tidak dapat ditolong lagi, jangan kau salahkan aku,"
Bisiknya. Mendadak Ouw Hui berkata.
"Baiklah! Walau-pun aku belum bisa menangkap seluruhnya, biarlah kita menempuh bahaya dan mencoba-coba."
"Apa?"
Tanya si adik yang tidak mengerti mak-sud kakaknya.
"Aku ingin merebut kursi Ciangbunjin dari See-gak Hoakun-bun,"
Jawabnya.
"Jika, dengan berkah Tuhan, aku berhasil, mereka akan dengar semua perintahku."
Si nona jadi girang bukan main. Sambil menepuk-nepuk pundak kakaknya beberapa kali, ia berkata.
"Kau pasti berhasil! Pasti berhasil! Orang-orang itu bukan tandinganmu."
"Jie-moay, kau tak tahu kesukarannya,"
Kata Ouw Hui sambil tersenyum.
"Yang paling sukar adalah aku mesti berkelahi dengan menggunakan ilmu silat Hoa-kun-bun. Dalam tempo yang begitu pendek, mana aku bisa ingat semua pukulan-pukul-an? Menghadapi orang-orang yang berkepandaian rendah masih tak apa. Tapi kalau berhadapan dengan pentolan-pentolannya, topengku pasti akan terlucut karena aku belum biasa menggunakan ilmu silat itu. Celakanya, jika aku tidak diakui sebagai murid Hoa-kunbun, biarpun menang, mereka tentu tak sudi mengangkat aku sebagai Ciangbunjin."
Berkata sampai di situ, mau tak mau ia ingat Wan Cie Ie, yang paham dengan ilmu silat dari berbagai cabang dan partai persilatan.
Jika nona Wan yang maju, kemungkinan berhasil banyak lebih besar.
Mendadak terdengar teriakan "Aduh!"
Dan seorang terpelanting ke bawah panggung.
"Kurang ajar! Mengapa memukul begitu he-bat?"
Teriak seorang.
"Sesudah bertempur, mana ada berat enteng?"
Bentak seorang lain.
"Jika kau mempunyai kepan-daian, naiklah!"
Beberapa orang di bawah panggung lantas saja bertengkar dengan sengit.
"Jie-moay,"
Bisik Ouw Hui.
"Kalau temponya tiba dan aku belum dapat merebut Ciangbunjin, kau boleh segera mengobati Ma Kouwnio di sini."
"Baiklah,"
Kata si adik sambil tersenyum.
"Orang lain sudah berhasil menjadi Ciong-ciang-bun dari tiga belas partai. Masakah satu saja kau tak mampu merebutnya?"
Dengan "orang lain"
Si nona maksud-kan Wan Cie Ie.
Melihat kakaknya maju ke depan panggung dengan tindakan lebar, hati Leng So girang, kagum, bereampur duka.
Sebelum Ouw Hui keburu melompat ke atas panggung, seorang lain yang barusan bereekeok sudah mendahului.
"Kalau tunggu sampai salah satu ada yang kalah, aku kembali menyia-nyiakan tempo yang berharga dan keadaan Ma Kouwnio jadi seinakin berbahaya,"
Pikirnya. Memikir begitu, lantas saja ia mengenjot badan dan selagi tubuhnya masih berada di tengah udara, tangannya sudah menyam-bar punggung orang itu seraya berkata.
"Suheng tahan dulu. Biar aku yang mencoba lebih dulu."
Dalam cengkeramannya itu, Ouw Hui menggunakan ilmu Toakin-na Chiu-hoat dari keluarga Ouw.
Jempolnya menekan jalan darah Siok-ciat-hiat, sedang kelingkingnya menotok jalanan darah Sin-to-hiat, sehingga orang itu tak bisa bergerak lagi.
Berbareng dengan hinggapnya di atas panggung, tangannya mengebas dan tubuh orang itu melayang ke bawah dan jatuh duduk, tepat persis di sebuah kursi yang kosong.
Kepandaian yang luar biasa itu sudah mengejut-kan semua orang, sehingga beberapa antaranya dengan serentak bangun berdiri untuk bisa melihat-nya secara lebih tegas.
Tapi Ouw Hui mengenakan topeng kain kuning, sehingga para hadirin merasa kecewa.
Hanya dengan melihat taocangnya yang besar dan hitam jengat, mereka dapat menebak-nebak, bahwa jago yang lihay itu bukan seorang tua.
Pentolan-pentolan Hoakun-bun yang banyak pengalaman jadi semakin heran, karena hampir tak dapat dipereaya, bahwa seorang yang berusia muda bisa memiliki Lweekang yang begitu tinggi.
Sambil merangkap kedua tangannya, Ouw Hui berkata kepada orang yang berdiri di hadapannya.
"Murid Thian-ciepay, Thia Leng Ouw, ingin meminta pengajaran dari Suheng,"
Katanya. Mendengar perkataan "Thia Leng Ouw,"
Leng So tersenyum, tapi di lain saat, parasnya berubah duka.
"Kalau benar-benar aku mempunyai kakak kandung seperti dia, aku boleh tak usah merasakan banyak kedukaan seperti sekarang,"
Katanya di da-lam hati. Sebelum bergebrak, lawan Ouw Hui sudah merasa keder. la membalas hormat seraya berkata.
"Kepandaian siauwtee masih sangat cetek, maka siauwtee mohon Suheng menaruh belas kasihan."
"Bagus! Bagus!"
Kata Ouw Hui yang tanpa sung-kansungkan lagi karena ia perlu memburu tempo, lantas saja menyerang dengan pukulan Cut-sit Kwa-houw See-gak-toan.
Orang itu buru-buru meng-angkat lututnya dan menangkis dengan kedua te-Iapak tangan dalam gerakan Pek-wan Taotho Pay-thian-teng (Kera putih mencuri buah tho, menyembah Langit), yaitu semacam pukulan yang lebih mengutamakan pembelaan diri daripada penye-rangan.
Ouw Hui melompat dan menyerang pula dengan pukulan Gouw-ong Sit-kiam Pek-giok-coan (Gouw Ong mencoba pedang menebas giok).
Orang itu tetap tidak berani menyambut kekerasan dengan kekerasan.
Buru-buru ia melompat ke belakang untuk menyingkir dari serangan itu.
Ouw Hui sungkan mem-beri kesempatan lagi kepadanya.
Sambil melompat ia meninju dengan pukulan Siasin Lan-bun Ca-tiat-soan (Miringkan badan berdiri di pintu memasang tapal).
Orang itu coba menangkis, tapi dengan sekali mengerahkan Lweekang, Ouw Hui melontar-kannya ke bawah panggung.
Hampir berbareng, di bawah panggung ter-dengar bentakan keras dan orang yang pertama dilemparkan Ouw Hui, coba melompat naik.
"Bang-sat! Jangan kurang ajar kau!"
Cacinya.
Ouw Hui meloncat ke pinggir panggung dan menghantam dengan pukulan Kim-peog Tian Cie Teng-tiongcan (Garuda emas membuka sayap berdiri di tengah ruangan), sehingga orang itu lantas saja jatuh lagi ke bawah.
Karena mendongkol atas caciannya, Ouw Hui memukul dengan menggunakan tiga bagian tenaga dan orang itu ambruk di atas dua kursi yang jadi hancur berkeping-keping.
Sesudah rubuhnya dua orang itu, para hadirin lantas saja bicara bisik-bisik satu sama lain dan banyak sekali yang menanyakan murid-murid Thian-cie-pay tentang asal usulnya jago bertopeng itu yang mengaku sebagai murid partai tersebut.
Tapi tak seorang pun yang dapat memberi keterangan.
"Menurut penglihatanku, dia tidak begitu paham de-ngan ilmu silat partai kita,"
Kata seorang Cianpwee dari Gee-cie-pay.
"Kalau tidak salah, dia baru ber-guru pada tetua Thian-cie-pay sesudah memiliki ilmu silat dari partai lain. Sepuluh sembilan dia adalah murid baru dari Kie Loosam."
"Kalau benar begitu, itulah salahnya Kie Loosam sendiri,"
Menyambung seorang tua dari Seng-cie-pay.
"Bahwa seorang murid coba merebut ke-dudukan Ciangbunjin dengan menggunakan ilmu silat lain partai, sebenarnya sangat menurunkan derajat ilmu silat partai kita."
Orang yang dipanggil "Kie Loosam"
Adalah tetua dari Thiancie-pay.
Dalam kalangan See-gak Hoa-kun, dapat dikatakan ialah yang memiliki ke-pandaian palirq tinggi, hanya sayang, semenjak pu-luhan tahun hers.' -;;, kedua kakinya lumpuh.
Sekarang, walaupun ia sendiri tidak menghadiri per-temuan, tapi karena namanya sangat besar, orang-orang sekaum masih tetap mengindahkannya.
Melihat kelihayan Ouw Hui, sedang putera Kie Loosam belum juga datang, maka banyak orang menduga, bahwa orang yang bertopeng itu adalah murid Kie Loosam.
Mereka tentu saja tak pernah mimpi, bahwa Kie Siau Hong putera Kie Loo-sam sedang rebah di belakang gunung-gunungan akibat totokan Ouw Hui.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, Kie Loosam mempunyai satu cacad, yaitu adatnya yang agak sombong dan ia tidak meman-dang sebelah mata kepada saudara-saudara separ-tainya yang agak sombong dan ia menutup pintu dan sungkan menemui siapa pun jua, sedang seantero kepandaiannya ia turunkan kepada putera-nya.
Untuk menghadiri pertemuan memilih Ciangbunjin, See-gak Hoa-kun-bun, ia mengirim putera-nya itu, yang merasa pasti, bahwa kursi Ciangbunjin akan dapat direbutnya.
Meskipun ilmu silatnya sudah hampir menan-dingi ayahnya, sifat Kie Siauw Hong tidak sejujur orang tua itu.
Diam-diam ia bersembunyi di belakang gunung-gunungan dengan niat mempelajari dulu kepandaian orang lain dan kemudian barulah turun tangan.
Tidak dinyana, seperti diantar ma-laikat, Ouw Hui dan Leng So yang membawa Ma It Hong datang ke situ dan akhirnya ia rebah tanpa bisa berkutik lagi.
Tapi, walaupun tubuhnya tidak berdaya, ku-pingnya dapat mendengar setiap perkataan dari pembicaraan antara Ouw Hui dan Leng So.
Hatinya panas karena ia menduga, bahwa Ouw Hui adalah seorang pentolan dari lain partai yang sengaja datang untuk merubuhkannya guna merebut kedu-dukan Ciangbunjin.
Waktu ditotok, ia sama sekali belum mendapat kesempatan untuk mengeluarkan kepandaiannya.
Maka itu, ia jadi semakin gusar.
Sesudah mendengar rubuhnya beberapa orang, ia menganggap bahwa dalam See-gak Hoa-kun-bun, hanyalah ia seorang yang dapat menandingi Ouw Hui.
Memikir begitu, ia segera mengempos semangat untuk coba menjalankan aliran darah yang sena ditotok.
Akan tetapi, ilmu menotok Ouw Hui didapat dari leluhurnya dan sangat berbeda dengan ilmu yang dimiliki Siauw Hong.
Andaikata Siauw Hong mengerahkan Lweekang dengan pikiran tenang, belum tentu ia bisa membuka jalan darahnya.
Dengan kegusaran meluap-luap, ia mengempos semangat dengan menggunakan seantero tenaganya dan baru selang beberapa saat, hatinya mencelos karena napasnya tiba-tiba menyesak dan tak ampun lagi ia pingsan.
Kejadian yang serupa itu sudah lebih dulu di-alami ayahnya.
Dalam usahanya untuk mendapat kemajuan secepat mungkin, pada suatu hari, ketika sedang melatih Lweekang, Kie Loosam telah mem-buat kesalahan, sehingga "api"
Dalam tubuhnya telah "membakar"
Dirinya sendiri dan kakinya menjadi lumpuh.
Keadaan Siauw Hong pada saat itu adalah lebih berbahaya daripada apa yang telah dialami oleh ayahnya.
Sementara itu, dengan penuh perhatian, Leng So mengawasi jalan pertempuran di atas panggung.
Ia mendapat kenyataan, bahwa setiap pukulan yang dikeluarkan Ouw Hui adalah pukulan Hoa-kun-bun yang baru saja dipelajarinya.
"Toako sungguh ber-bakat,"
Ia memuji di dalam hati.
"Hoakun-bun adalah ilmu silat yang sulit, tapi dengan melihat sekelebatan saja, ia sudah dapat memahaminya."
Pada saat itulah, kupingnya tiba-tiba menang-kap suara "huh"
Dari orang yang sedang rebah di tanah.
Mendengar nada luar biasa, ia melirik dan lantas saja ia terkejut, karena mata orang itu ter-tutup, lidahnya melelet keluar, sedang bibirya mengeluarkan darah dan badannya bergemetaran seperti orang demam.
Sebagai seorang yang mahir dalam ilmu peng-obatan, si nona segera mengerti sebab musababnya.
Jika tidak lekas ditolong, Siauw Hong bisa jadi gila, atau paling sedikitnya, ilmu silatnya akan musnah sama sekali.
"Aku dan dia sama sekali tidak ada bermusuhan,"
Pikirnya.
"Adalah tidak benar, jika dalam usaha menolong satu manusia, lain manusia jadi celaka."
Buru-buru ia mengeluarkan jarum emas dan menusuk jalan darah Liam-coan, Thian-tou.
Kie-bun dan Thay-hun.
Selang beberapa saal, Siauw Hoong tersadar.
Melihat dirinya ditolong oleh si nona, ia berkata dengan suara perlahan.
"Banyak terima kasih untuk pertolongan nona."
Leng So buruburu menaruh jari tangannya di bibir untuk melarang ia bicara. Mendadak terdengar suara Ouw Hui.
"Peratur-an merebut kedudukan Ciangbunjin sudah ditetap-kan, tapi kalau bertanding secara begini, sampai kapan baru bisa selesai? Jika para Supeh, Susiok dan saudara-saudara masih ingin memberi pelajaran kepadaku, naiklah beramai-ramai, tiga empat orang juga boleh. Jika kalah, sedikit pun siauwtee tidak merasa menyesal."
Mendengar perkataan itu yang kedengarannya sombong sekali, orang-orang dari keempat partai jadi gusarbukan main.
Memangjuga jika satu lawan satu, tiada seorang pun yang berani naik lagi.
Se-sudah mendapat tantangan begitu, tanpa sungkan-sungkan lagi beberapa orang lantas melompat ke atas dan mengerubuti Ouw Hui.
Tapi sebenarnya Ouw Hui bukan sombong atau memandang rendah ilmu silat Hoa-kun-bun.
Ia menantang begitu karena terpaksa.
Sebagaimana di-ketahui, ia belum mahir dalam ilmu silat itu dan ia mengerti, bahwa jika bertanding satu lawan satu, lama-lama rahasianya akan terbuka.
Dalam pertem-puran beramai-ramai, ia dapat menggunakan tipu dan orang sukar melihat gerakangerakannya.
Di-samping itu, dengan melayani orang-orang itu terus-menerus, biarpun memiliki Lweekang yang sangat tinggi, lambat laun ia akan menjadi lelah.
Tapi apa yang paling penting ialah dilangsungkannya per-tempuran dalam tempo lama akan mengakibatkan celakanya Ma It Hong.
Dengan mengamuk seperti harimau edan, dalam sekejap ia sudah merubuhkan sejumlah orang.
Dalam pertempuran itu, murid-murid Thian-cie-pay tidak turut serta, karena mereka menganggap, bahwa Ouw Hui adalah murid Kie Loosam.
Dalam keempat partai lainnya, orang-orang muda semua sudah dirubuhkan, sedang pentolan-pentolan yang sudah berusia lanjut tidak berani sembarangan maju, sebabjika dijatuhkan, habislah nama besar mereka yang sudah dipertahankan selama banyak tahun.
Sekonyong-konyong si orang tua she Coa ba-ngun berdiri.
"Thia Suheng,"
Katanya.
"Ilmu silatmu memang sangat tinggi dan aku merasa sangat ka-gum. Akan tetapi menurut penglihatan mataku yang tua, pukulan-pukulanmu itu agak berbeda dan ilmu silat dari partai kami...."
Ouw Hui terkejut, sebab memang benar, mes-kipun ia menggunakan pukulan-pukulan See-gak Hoa-kun-bun, tapi setiap kali merubuhkan lawan, Lweekang yang digunakan adalah Lweekang ke-luarga Ouw.
See-gak Hoan-kun-bun adalah semacam ilmu silat Gwa-kee yang terkenal di seluruh Tiongkok.
Dalam tempo yang begitu pendek, bagaimana ia dapat memahami sampai di dasardasarnya?
Men-dengar perkataan si tua, ia terpaksa mengambil sikap kepala batu.
"Hoa-kun Su-sip-pat, Gee-sengheng-thia-hee,"
Katanya dengan suara nyaring.
"Kata-kata itu membuktikan, bahwa dalam mempelajari ilmu silat kita, sesudah berhasil, kepandaian setiap orang agak berbedabeda. Kalau bukan begitu, cara bagaimana kaum kita bisa terbagi dari lima buah partai? Dalam ilmu silat, memang tidak ada per-aturan yang pasti. Kepandaian Thian-cie-pay mungkin sedikit berbeda dari yang lain."
Dengan berkata begitu, ia bermaksud menarik orang-orang Thian-cie-pay untuk menyokongnya.
Benar saja, sesudah mendengar alasan Ouw Hui yang merupakan pujian untuk partai mereka, murid-murid Thian-cie-pay merasa senang sekali.
Si orang she Coa menggeleng-gelengkan kepala.
"Thia Suheng, apakah kau murid Kie Loo-sam?"
Tanyanya.
"Kedua mataku belum lamur. Meli-hat gerakan-gerakanmu, sepuluh sembilan kau bukan orang dari kaum kami."
"Coa Supeh, kau salah,"
Jawab Ouw Hui.
"Kalau kaum kita ingin turut merebut kedudukan tinggi dalam pertemuan para Ciangbunjin dan bertanding dengan partai-partai besar lainnya, seperti Siauw-lim, Bu-tong, Thay-kek, Pat-kwa dan sebagainya, maka kita harus mengeluarkan kepandaian yang istimewa, yang lain dari yang lain. Coa Supeh, jika kau menganggap kepandaian teecu masih rendah, kau merdeka untuk naik ke sini guna memberi petunjuk."
Orang tua itu kelihatan bersangsi.
"Bahwa kaum kita mempunyai seorang yang berkepandaian begitu tinggi seperti Thia Suheng, adalah kejadian yang sangat menggirangkan,"
Katanya.
"Terang-terang aku mengakui, bahwa kepandaianku masih tidak dapat menandingi kau. Tapi aku tetap bersangsi. Begini saja. Aku minta kau menjalankan pokok-pokok dari ilmu silat Hoa-kun-bun. Beberapa belas saudara kita yang lebih tua akan menjadi juru pemutus. Jika Lauwtee benar orang dari kaum kita, akulah yang akan paling dulu memilih kau sebagai Ciangbunjin."
Ouw Hui terkesiap.
Dalam pertempuran, dengan pukulanpukulan yang cepat, ia masih bisa mengelabui mata orang.
Tapi jika ia mesti menjalankan ilmu silat pokok dari Hoa-kunbun, to-pengnya pasti akan terlucut.
Ia berotak cerdas, tapi mendengar tuntutan si orang she Coa, ia bergetar.
Selagi ia mengasah otak untuk coba menolak-nya, tiba-tiba terdengar teriakan di belakang gu-nung-gunungan.
"Coa Supeh! Mengapa kau selalu menyukarkan Thian-cie-pay? Thia Suheng adalah murid ayahku yang paling utama dan ia sudah be-lajar enam belas tahun lamanya. Apa Coa Supeh anggap ia masih belum mampu menjalankan ilmu silat kaum kita?"
Semua orang menengok dan ternyata, bahwa orang yang berkata begitu dan yang sedang meng-hampiri panggung bukan lain daripada Kie Siauw Hong, seorang yang sering mewakili ayahnya dalam berbagai urusan dan pada umumnya sudah dianggap sebagai tetua Thian-cie-pay.
Begitu tiba di depan panggung, Siauw Hong mengenjot badan dan hinggap di atas papan dengan gerakan yang indah.
Sambil merangkap kedua ta-ngannya, ia berkata.
"Ayahku menutup pintu dan mengasingkan diri dan telah menurunkan semua kepandaiannya kepada Thia Suko. Enam belas ta-hun lamanya Thia Suko melatih diri dan kepan-daiannnya sepuluh kali lebih tinggi dari pada aku. Kalian sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan aku boleh tak usah bicara panjang-panjang."
Mendengar keterangan itu, kesangsian semua orang lantas saja lenyap.
Mereka tahu, bahwa Kie Loosam mempunyai adat aneh dan memang sangat mungkin, diam-diam ia mengajar seorang murid berbakat untuk dimajukan secara tidak diduga juga.
Mereka mengenal Kie Siauw Hong sebagai seorang yang tidak mau kalah terhadap siapa pun jua dan bahwa sekarang pemuda itu mengaku kalah lebih-lebih menghilangkan kesangsian orang.
Baru saja si orang she Coa mau membuka mulut, Kie Siauw Hong sudah mendahului dengan suara nyaring.
"Jika Coa Supeh ingin lihat ilmu silat Thian-cie-pay, biarlah aku yang mewakili Thia Su-heng."
Sebelum si tua keburu menjawab, ia sudah mulai bersilat.
Cut-sit Kwa-houw See-gak-toan, Kimpeng Tian-cie Teng-tiong-can...
sejurus demi sejurus...
kedua tangannya memperlihatkan dua belas macam Chiu-hoat (pukulan tangan), setiap ge-rakannya teguh mantap bagaikan gunung dan lincah gesit seperti sambaran elang atau larinya kelinci.
Para hadirin adalah anggota-anggota See-gak Hoakun-bun yang mengerti ilmu silat itu, akan tetapi, mereka semua mengawasi silat Kie Siauw Hong dengan rasa kagum.
Bahkan pentolan-pentolan yang sudah berusia lanjut manggut-manggutkan kepala-nya dan memberi pujian tinggi.
Begitu lekas Siauw Hong berhenti bersilat, tam-pik sorak gemuruh terdengar di seluruh lapangan.
Munculnya Siauw Hong sangat mengherankan hati Ouw Hui karena ia tak tahu dengan jalan apa Leng So sudah menaklukkan tokoh Thian-cie-pay itu, yang sudah menolong dirinya dari keadaan terjepit.
Sehabis Siauw Hong jalankan ilmu silatnya, ia juga memuji di dalam hati.
"See-gak Hoa-kun-bun benar hebat. Jika ia memperkuat ilmunya dengan tenaga Lweekang, ia bisa menjadi seorang ahli silat yang sungguh-sungguh lihay."
Tapi begitu selesai bersilat, napas Siauw Hong tersengalsengal dan badannya agak bergemetaran, seperti orangyang belum sembuh dari sakitnya atau baru saja mendapat luka berat dan keringat mem-basahi bajunya.
Itu semua bukan menunjukkan tan-da-tanda dari seorang yang berkepandaian tinggi.
Untung juga, kecuali Ouw Hui yang berdiri dekat.
para hadirin yang duduk di bawah panggung tidak lihat gejala itu.
Sesudah menentramkan semangatnya, Siauw Hong berkata pula.
"Jika di antara Supeh, Susiok dan saudara-saudara ada yang masih ingin menjajal kepandaian Suko, naiklah."
Sesudah mengulangi pertanyaan itu tiga kali, tiada seorang pun yang melompat ke atas. Murid-murid Thian-cie-pay lantas saja berso-rak-sorai dan berteriak-teriak.
"Kionghi (selamat) Thia Suko menjadi Ciangbunjin See-gak Hoa-kun-bun!"
Orang-orang dari empat partai lainnya lalu turut bersorak dan memberi selamat, sehingga de-ngan demikian, Ouw Hui terpilih sebagai pemimpin besar dari See-gak Hoa-kun-bun.
Kie Siauw Hong merangkap kedua tangannya dan berkata.
"Kionghi! Kionghi!"
Waktu membalas hormat, Ouw Hui mendapat kenyataan, bahwa pe-muda itu mengawasinya dengan sorot mata ber-gusar.
Tapi karena sedang memikirkan keselamatan Ma It Hong, tanpa menggubris itu semua, ia lantas saja berkata.
"Kie Sutee, coba kau minta disediakan sebuah kamar supaya kedua Sumoay bisa mengaso."
Siauw Hong mengangguk dan lalu melompat turun ke bawah.
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman Kho Ping
Baca Juga: Sejengkal Tanah Sepercik Darah 7