Eps 10 Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Baca online Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Cersil Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung.
Heran sungguh, waktu hinggap di tanah, ia terhuyung, sehingga hampir-hampir jatuh terguling.
Ouw Hui segera maju sampai ke pinggir pang-gung dan seraya menyoja, ia berkata.
"Para Supeh, Susiok dan saudarasaudara tentu sudah sangat letih dan sekarang kita bubar saja untuk mengaso. Sebentar malam kita berunding supaya nama See-gak Hoa-kun-bun bisa diangkat naik dalam pertemuan para Ciangbunjin."
Apa yang dikatakannya keluar dari hati yang jujur.
Ia merasa sangat berterima kasih kepada partai itu, karena tanpa adanya pe-milihan Ciangbunjin Hoa-kun-bun, bukan saja jiwa Ma It Hong sukar dapat ditolong, tapi jiwanya sendiri bersama Leng So pun bisa melayang.
Begitu mendengar perkataan Ouw Hui, semua orang lantas saja bangun berdiri dan bubar sambil beromong-omong dengan kawan-kawan sendiri ten-tang kelihayan Ouw Hui, keanehan Kie Loosam, kepandaian Kie Siauw Hong dan sebagainya.
Mereka semua merasa puas dan bergirang.
Beberapa Cianpwee menghampiri Ouw Hui untuk diajak omong-omong, tapi pemuda itu buru-buru meng-angkat kedua tangannya dan lalu mengikuti Kie Siauw Hong masuk ke dalam gedung.
Gedung itu adalah miliknya seorang Boan yang menjadi anggota Hoa-kun-bun.
Tak usah dikatakan lagi, tuan rumah berlaku sangat hormat kepada Ciangbunjin baru itu.
Ouw Hui tetap mengenakan topengnya dan sesudah berada dalam sebuah kamar bersama Siauw Hong, Leng So dan It Hong, barulah ia mencopotkan kain kuning itu.
"Kie Toako, ba-nyak terima kasih atas bantuanmu,"
Katanya seraya menyoja.
"Sesudah urusan beres, aku akan segera menyerahkan kedudukan Ciangbunjin ini kepada-mu."
Siauw Hong tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan suara di hidung.
Dengan penuh kekhawatiran, Ouw Hui segera menengok Ma It Hong.
Paras muka nyonya itu yang sudah pingsan, berbaring hitam dan napasnya lemah sekali.
Buru-buru Leng So merebahkannya di atas pembaringan dan lalu mengeluarkan sejumlah ja-rum emas dan tanpa membuka pakaian It Hong.
lalu menancapkannya di tiga belas jalanan darah.
Setiap buntut jarum dibungkus dengan kapas dan si nona melakukan tugasnya dengan paras te-nang, sehingga Ouw Hui bernapas lebih lega.
Selang kira-kira seminuman teh, darah hitam mulai mengalir keluar dari buntut jarum dan meresap di kapas itu.
Ternyata, jarum-jarum itu ber-lubang di tengah-tengahnya dan darah mengandung racun keluar dari lubang itu.
Paras muka Leng So kelihatan girang dan sam-bil tersenyum ia mengeluarkan beberapa butir yo-wan biru dari peles obat.
Sambil menyerahkan pel itu kepada Siauw Hong, ia berkata.
"Kie Toako, pergilah kau mengaso dalam kamarmu. Sesudah menelan sepuluh butir yo-san, semua racun yang mengeram dalam tubuhmu akan hilang."
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Siauw Hong menyam-buti pel itu dan lalu berjalan ke luar.
Sekarang baru Ouw Hui mengerti, bahwa si adik telah menggunakan racun untuk memaksa pemuda itu.
Ia tertawa dan berkata.
"Dengan menggunakan racun, kau sudah berbuat kebaikan untuk sesama manusia. Dalam hal ini, mungkin sekali kau malah lebih menang dari pada gurumu."
Leng So hanya tersenyum.
Sebagaimana diketa hui, ia sebenarnya bukan semata-mata menggunakan racun, tapi sudah menaklukkannya dengan mem-buang budi kepada pemuda itu waktu dia sedang menghadapi bahaya.
Sesudah itu, barulah ia menggunakan sedikit obat yang menimbulkan rasa gatal, tapi tidak berbahaya.
Yowan yang barusan diberikannya kepada Siauw Hong juga bukan obat pe-munah racun, tapi hanya pel untuk menyegarkan badan.
Tapi Siauw Hong sendiri menduga, bahwa rasa gatal itu adalah akibat racun yangsangat hebat dan oleh karenanya, ia tidak berani membantah segala perintah si nona.
Sambil tersenyum, Leng So berkata dalam hati-nya.
"Aku sudah bersumpah kepada Suhu, bahwa selama hidup, aku tak akan menggunakan racun untuk mencelakakan manusia, supaya orang tahu, bahwa biarpun Tok-chiu Yo-ong lihay luar biasa, ia belum pernah melakukan perbuatan berdosa."
Dengan menggunakan jepitan, Leng So lalu menukar kapas yang sudah berwarna hitam.
"Toa-koko,"
Bisiknya.
"Kau sudah letih sekali, menga-solah. Biar aku saja yang mengobati Ma Kouwnio. Legakanlah hatimu."
Ouw Hui memang sudah cape sekali dan tanpa sungkansungkan, ia segera merebahkan diri di atas dipan.
"Ciang-bun Loo-suhu, aku harap kau suka niemperhatikan sedikit pesananku,"
Kata Leng So.
"Selama dua belas jam, Ma Kouwnio tidak boleh diganggu dan ia pun tidak boleh bicara. Jika hawa di dalam tubuhnya buyar, maka racun tidak akan hisa keluar seanteronya. Kalau sedikit saja keting-galan dalam badannya, semua ilmu silat yang di-milikinya akan musnah seluruhnya."
"Ciangbunjin dari See-gak Hoa-kun-bun yang bernama Thia Leng Ouw menerima baik perintah Thay-siang Ciangbunjin Thia Leng So,"
Kata sang kakak sembari tertawa.
"Semua perintah akan di-perhatikan betul dan tidak akan dilanggar." (Thay-siang berarti maha). Si nona tertawa geli.
"Apa benar aku menjadi Thay-siang Ciangbunjin?"
Tanyanya.
"Bagaimana dengan nona.... Ia tidak meneruskan perkataannya dan segera membungkuk untuk melihat keadaan Ma It Hong. Selang beberapa saat, Leng So menengok. Ouw Hui belum pulas, ia mengawasi jendela dengan mata mendelong.
"Toakoko, kau lagi pikir apa?"
Tanyanya.
"Aku sedang memikirkan pertemuan besok dengan orangorang Hoa-kun-bun,"
Jawabnya.
"Begitu melihat wajahku, mereka tentu akan curiga. Usiaku yang masih terlalu muda tidak cocok untuk menjadi suheng Kie Siauw Hong. Alasan apa yang harus diberikan olehku? Untung juga, Ma Kouwnio hanya memerlukan tempo dua belas jam. Hatiku merasa sangat tidak enak, tapi karena terpaksa, paling baik... paling baik...."
"Paling baik kabur dengan melompat tembok,"
Kata Leng So sambil tertawa.
"Benar!"
Kata sang kakak seraya tersenyum.
"Kita masuk dengan melompati tembok dan keluar pun dengan melompati tembok."
Si nona mengawasi muka Ouw Hui dan seperti orang yang sudah mengambil serupa keputusan, ia berkata.
"Begitu sajalah."
"Apa?"
Menegas Ouw Hui.
"Kita pernah menyamar dan sekarang biar kita menyamar lagi,"
Jawabnya.
"Aku akan memasang jenggot (janggut) pada dagumu dan memberi sedikit warna pada jenggot itu. Aku tanggung usiamu akan kelihatan lebih tua dua puluh tahun. Dengan memegang peranan sebagai kakak seperguruan Kie Siauw Hong, kau harus berusia kira-kira empat puluh tahun."
Ouw Hui jadi girang bukan main.
"Bagus!"
Kata-nya.
"Yang dibuat jengkel olehku adalah soal ini. Sesudah bermusuhan dengan Hok Kong An, sukar sekali aku dapat menghadiri pertemuan para Ciang-bunjin. Jie-moay, jika kau dapat mengubah paras mukaku sampai begitu rupa, sehingga orang tak akan dapat mengenalinya lagi wajahku yang asli, maka sebagai Ciangbunjin See-gak Hoa-kun-bun, dapatlah aku turut serta dalam pertemuan yang ramai itu."
"Perlu apa Toako menghadiri pertemuan itu?"
Tanya si adik.
"Asal kita bisa mempertahankan diri di tempat ini sampai besok, sampai Ma Kouwnio terlolos dari bahaya, kita sudah harus merasa puas. Perlu apa Toako menempuh bahaya?"
Tapi Ouw Hui yang semangatnya sedang meluap-luap lantas saja bertanya.
"Jie-moay, jawab pertanyaanku. Apakah sesudah mengenakan alat penyamaran, orang masih bisa kenali aku atau tidak?"
"Apa sukarnya menyamar sebagai seorang yang lebih tua?"
Si adik balas tanya.
"Yang sulit adalah gerak-gerik dan cara bicara. Cara-caranya orang tua bereda dengan orang muda. Dalam hal ini, Toako harus dapat menyesuaikan diri."
"Kakakmu akan berusaha sedapat mungkin,"
Kata Ouw Hui.
"Kita hanya perlu mengabui mereka untuk sementara waktu."
"Baiklah, mari kita coba-coba,"
Kata Leng So.
"Toako, jika kau ingin juga menyaksikan pertemuan para Ciangbunjin, bolehlah dan aku akan mengikut dengan menyamar sebagai seorang nenek."
Ouw Hui menepuk-nepuk tangan.
"Bagus! Bagus, Jie-moay, aku senang rnendengar perkataan-mu,"
Katanya.
"Memang juga kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang begitu baik."
"Sst! Perlahan sedikit,"
Kata si adik sambil menaruh jari tangan di mulutnya. Ma It Hong kelihatan bergerak sedikit, untung juga ia tidak tersadar.
"Aku benar gila,"
Kata Ouw Hui dengan suara menyesal.
Leng So lantas saja mengeluarkan bungkusan alat-alat menjahit dan mengambil gunting yang lalu digunakan untuk menggunting secekal rambutnya.
Sesudah itu ia mengeluarkan semacam obat bubuk, menaruhnya ke dalam semangkok air teh dan lalu merendam rambutnya di dalam air itu.
"Kau menga-solah sebentar,"
Katanya.
"Sesudah rambutku betubah kaku seperti jenggot, aku akan panggil kau"
Ouw Hui segera meramkan kedua matanya.
Mengingat kepintaran matanya.
Mengingat kepin-taran adik angkatnya, hatinya girang bereampur syukur.
Karena terlalu capai, tak lama kemudian ia pulas, tapi sesudah mengalami banyak ketegangan di siang hari, dalam pulasnya ia mendapat ruparupa impian.
Ia mimpi Ma It Hong mati dalam keadaan mengenaskan, ia mimpi menyatroni Iagi gedung Hok Kong An untuk membalas sakit hati, mimpi ditangkap oleh para Wiesu....
Tiba-tiba ia dengar suara orang memanggil di kupingnya.
"Toako, kau mimpi apa?"
Ia melompat bangun dan Leng So berdiri di depannya sambil tersenyum.
"Jie-moay, pergi mengaso, biar aku yang mengawasi Ma Kouwnio,"
Katanya dengan suara kasihan.
"Sebelum memasang alat penyamaran di muka-mu, hatiku belum enak,"
Kata si adik yang lalu mengambil rambutnya dari dalam mangkok, selcni-bar demi selembar, dan memasangnya di bawah dagu Ouw Hui dengan menggunakan semacam lem.
Pekerjaan itu meminta tempo dan kesabaran.
Ber selang kirakira satu jam, sesudah sinar matahari masuk dari jendela, barulah ia selesai.
Ouw Hui segera menghampiri kaca dan begitu lihat mukanya, ia tertawa.
Bahkan ia sendiri masih tak bisa mengenali Iagi wajahnya yang berjenggot dan paras mukanya yang kelihatan terlebih angker.
"Jie-moay, aku senang sekali melihat mukaku ini,"
Katanya.
"Di kemudian hari aku tentu akan memelihara jenggot."
Sesudah tak tidur semalam suntuk, Leng So tak tahan Iagi.
Ia menungkurup di meja dan lantas saja pulas.
Dengan rasa terharu, Ouw Hui mengambil seli-mut dan menyelimuti tubuh adiknya yang kemudian dipondong dan direbahkan di atas dipan.
Kemudian, sesudah memakai Iagi topeng kain kuning, ia pergi ke kamar Kie Siauw Hong.
"Kie-heng, kau sudah bangun?"
Ia memanggil.
"Siapa? Ada urusan apa?"
Tanya Siauw Hong. Ouw Hui mendorong pintu dan bertindak masuk. Siauw Hong kaget dan buru-buru bangun berdiri.
"Kie-heng, kedatanganku ini adalah untuk meng-haturkan maaf,"
Kata Ouw Hui. Siauw Hong tidak menjawab, tapi pada kedua matanya terlihat sorot penasaran dan kegusaran. Sambil mengawasi pemuda itu, Ouw Hui ber-kata pula.
"Ada suatu hal yang ingin kuterangkan kepadamu. Siauwtee sebenarnya tidak berniat untuk merebut Ciangbunjin dari Seegak Hoa-kun-bun. Hanyalah karena terjadinya suatu kejadian luar biasa dan sebab tak ada lain jalan Iagi, maka mau tak mau, siauwtee sudah terpaksa merusak urusan Kie-heng."
Sesudah berkata begitu, terang-terangan ia menceriterakan halnya Ma It Hong dan segala pengalamannya, dari kepala sampai di bun-tut.
Hanya suatu hal yang disembunyikannya, yaitu nama Hok Kong An.
la tidak memberitahukan, siapa yang meracuni Ma It Hong dan siapa yang mau menangkap mereka.
Mendengar penuturan Ouw Hui, perlahan-la-han paras muka Siauw Hong berubah sabar.
Be-berapa kali ia mengeluarkan suara "hm", tapi tidak mengatakan suatu apa.
Sehabis menutur, dengan suara sungguh-sung-guh Ouw Hui berkata.
"Kie-heng, perkataan seorang laki-laki berat bagaikan gunung. Jika dalam tempo sepuluh hari, aku belum menyerahkan ke-dudukan Ciangbunjin kepadamu, biarlah aku binasa di bawah senjata tajam dan sesudah binasa, biarlah aku dicaci oleh orang-orang gagah dalam kalangan Kangouw."
Dalam Rimba Persilatan, soal mati dianggap sebagai soal remah.
Akan tetapi, dicaci oleh orang-orang gagah adalah kejadian yang dipandang paling memalukan.
Mendengar sumpah Ouw Hui yang sangat berat itu, Siauw Hong lantas saja berkata.
"Kedudukan Ciangbunjin itu tak usah kau yang menyerahkannya. Aku tahu, kepandaianmu sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada aku. Tapi kau bukan orang partai kami dan kau tak dapat menjadi Ciangbunjin."
"Benar,"
Kata Ouw Hui.
"Sesudah pertemuan para Ciangbunjin berakhir, aku akan mengakui segala apa dan akan meminta maaf di hadapan para tetua dari partaimu. Kemudian kalian dapat memilih pula seorang Ciangbunjin dengan jalan pie-bu (adu silat). Apa kau setuju dengan rencanaku itu?"
Mendengar itu, Siauw Hong senang.
Ia meng-anggap, bahwa dalam Hoa-kun-bun, tiada seorang-pun yang dapat menandingi kepandaiannya.
Merebut Ciangbunjin dalam sebuah pertandingan terbuka, banyak lebih terhormat dari pada menerimanya sebagai hadiah.
Ia segera mengangguk dan berkata.
"Aku setuju. Tapi Thia Toako...."
Ouw Hui tertawa dan memutuskan perkataan orang.
"Aku she Ouw. Orang yang she Thia adalah adik angkatku."
Seraya berkata begitu, ia membuka topengnya. Melihat jenggot yang hitam-kasar dan paras muka yang angker, Siauw Hong merasa kagum.
"Ouw Toako, beberapa Cianpwee dari kaum kami sangat sukar diajak bicara,"
Katanya.
"Kalau nanti kau mengakui kesalahanmu, aku khawatir bakal timbul gelombang hebat. Walaupun benar kau memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi, tenaga satu orang sukar bisa melawan tenaga banyak orang. Dalam urusan besar, orang-orang See-gak Hoa-kun-bun selamanya bersatu padu."
Ouw Hui tertawa.
"Hal itu sudah dipikir oleh-ku,"
Katanya.
"Dalam pertemuan para Ciangbunjin, aku akan berusaha sedapat mungkin untuk merebut kedudukan tertinggi, supaya dengan pahala aku dapat menebus dosa."
Siauw Hong manggut-manggutkan kepalanya dan kemudian menghela napas.
"Sungguh sayang, karena mengeramnya racun hebat dalam tubuhku, aku tak berani menggunakan terlalu banyak tenaga,"
Katanya dengan suara menyesal.
"Kalau tidak begitu, aku dapat menjalankan ilmu silat Hoa-kun-bun untuk diperlihatkan kepada Ouw Toako, supaya dalam pertempuran nanti, rahasia Toako tak sampai terbuka."
Ouw Hui tertawa terbahak-bahak. la bangun berdiri dan menyoja sambil membungkuk.
"Kie-heng, aku mewakili Giemoay untuk menghaturkan maaf kepadamu,"
Katanya. Siauw Hong membalas hormat dengan perasaan mendongkol.
"Kurang ajar! Aku kena racun, bukan lelucon,"
Katanya di dalam hati. Dalam kemendongkolannya, parasnya lantas saja berubah.
"Kie-heng, boleh aku lihat lukamu?"
Tanya Ouw Hui. Pemuda itu segera menggulung tangan bajunya dan pada lengannya terdapat bengkak sebesar telur itik yang berwarna hitam, sedang di bagian yang terluka mengembang darah hitam.
"Dalam menggunakan obat, Jie-moay sungguh-sungguh jarang tandingan,"
Kata Ouw Hui dalam hatinya.
"Jika aku mendapat luka begitu, aku pun tak akan enak makan dan enak tidur."
La tersenyum dan bertanya pula.
"Bagaimana dirasakan olehmu?"
"Baal, bebas dari rasa sakit,"
Jawabnya.
Sekarang Ouw Hui baru tahu, bahwa adiknya telah menggunakan obat yang menimbulkan rasa baal.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia men-cekal lengan Siauw Hong dan mengisap luka itu.
Siauw Hong kaget tak kepalang.
"Hei! Apa kau mau mati?"
Teriaknya. Ia coba memberontak, tapi cekalan Ouw Hui keras bagaikan jepitan besi. Sesudah mengisap beberapa kali dan mem-buang ludah, Ouw Hui tertawa bekakakan.
"Kie-heng jangan takut, racun itu racun palsu,"
Katanya.
"Apa?"
Menegas Siauw Hong.
"Dengan Kie-heng, adikku sama sekali tidak mempunyai ganjelan,"
Jawabnya.
"Tak nanti ia men-celakakan manusia dengan sembarangan. Ia hanya menggunakan obat baal. Lihatlah, aku mengisap tanpa takut-takut. Legakanlah hatimu."
Pemuda itu kaget bereampur girang. Tapi dalam kegirangan itu masih terdapat kesangsian. Sambil mengawasi Ouw Hui, ia berkata.
"Ouw-heng... kau... kau bicara begitu... apakah kau khawatir aku tidak akan menurut perintahmu?"
"Di dalam pergaulan, seorang lelaki berpegang kepada kepereayaan,"
Jawabnya dengan suara sung-guh-sungguh.
"Sesudah mendapat kenyataan, bahwa Kie-heng adalah seorang yang mempunyai pri-budi luhur, aku merasa tak pantas jika membiarkan kau khawatir lebih lama lagi."
Bukan main girangnya Siauw Hong. Sambil menepuk meja, ia berkata.
"Ouw-heng, mulai detik ini, kau adalah sahabatku. Andaikata kau berdosa terhadap kaisar, sedikit pun aku tak akan ragu-ragu untuk memberi bantuan."
"Terima kasih,"
Kata Ouw Hui.
"Orang yang dilanggar olehku, biarpun bukan kaisar, mempunyai kekuasan yang tidak banyak bedanya dari pada kaisar sendiri. Kie-heng, dalam silatmu semalam terdapat satu pukulan yang tidak begitu dimengerti olehku. Kau memutar tubuh, mengangkat lutut, memukul dengan telapak tangan dan kemudian melompat maju. Waktu melompat, sedang badanmu berada di tengah udara, mengapa arah gerakanmu berubah sedikit?"
Pukulan yang dimaksudkan Ouw Hui adalah Ya-ma Hui-siang Coan-tek-heng (Kuda liar pulang ke kampung halaman), serupa pukulan yang sangat sulit.
Mendengar pertanyaan Ouw Hui, Siauw Hong terkesiap.
la tak nyana, sahabat baru itu mempunyai mata yang begitu tajam.
Memang juga, waktu melompat, tiba-tiba ia ingat racun yang mengeram dalam tubuhnya dan dalam jengkelnya, perhatian-nya terpecah dan gerakannya agak berubah.
"Ouwheng, aku merasa takluk akan ketajaman matamu,"
Katanya dengan suara kagum.
"Memang benar pukulan itu tidak begitu tepat dijalankannya."
Sehabis berkata begitu, ia lantas saja mengulangi Ya-ma Hui-siang Coan-tek-heng. Ouw Hui manggut-manggutkan kepala.
"Begitu baru benar,"
Katanya.
"Kalau semalam Kie-heng berhadapan dengan musuh, kesalahanmu itu dapat berakibat jelek."
Sesudah tahu, bahwa dirinya tidak kena racun, semangat Kie Siauw Hong terbangun dan ia segera jalankan, dari bermula sampai di akhirnya, dua belas rupa pukulan See-gak Hoa-kun-bun.
Ouw Hui memperhatihan dengan seksama dan biarpun dalam tempo cepat ia tak dapat ingat semua pukulanpukulan itu, tapi sebagai seorang ahli, ia segera dapat menangkap intisari dari ilmu silat itu.
"Ilmu silat partaimu sangat dalam dan jika dipelajari serta diselidiki lebih lanjut, kemungkinan-kemungkinan-nya tak ada batasnya,"
Katanya.
"Menurut pen-dapatku, jika seseorang bisa menyelami sampai ke dasar-dasarnya satu saja dari dua belas rupa ilmu pukulan itu, ia sudah bisa menjagoi dalam Rimba Persilatan."
Mendengar pujian itu, senang sekali hati Kie Siauw Hong.
"Benar,"
Katanya.
"Dalam kaum kami terdapat kata-kata yang berbunyi begini. 'Hoa-kun Su-sip-pat, Gee-seng-heng-thianhee.' Empat pu-luh delapan pukulan itu terbagi seperti berikut. Delapan belas pukulan bagian pertama, dua belas pukulan bagian atas dan delapan belas pukulan bagian menggunakan senjata. Dalam See-gak Hoa-kun-bun, hanya beberapa orang saja yang paham akan empat puluh delapan rupa pukulan itu."
Semakin berunding tentang ilmu silat, dengan disertai latihan, mereka merasa semakin cocok dan tanpa merasa, mereka sudah beromong-omong sampai tengah hari.
Beberapa kali tuan rumah memerintahkan pelayan pergi mengundang Ouw Hui untuk bersantap, akan tetapi, karena melihat kedua tetamu itu sedang beromong-omong sambil berlatih silat, pelayan tersebut tidak berani membuka mulut.
Selagi Kie Siauw Hong menyapu dengan kakinya sambil melompat tinggi, tiba-tiba terdengar seruan.
"Sungguh indah Hong-coan Pek-lek Siang-Kie-thian (Angin memutar, geledek menyambar naik sampai di sembilan lapisan langit) itu!"
Ouw Hui menengok dan melihat, bahwa orang yang memuji adalah si kakek she Coa.
Buru-buru ia merangkap kedua tangannya dan lalu menggapai sambil ter-tawa.
Orang tua she Coa itu, yang bernama Wie, mempunyai kedudukan tinggi dalam See-gak Hoa-kun-bun.
Melihat Ouw Hui sudah melepaskan to-pengnya, dengan sorot mata tajam ia mengawasi muka pemuda itu yang penuh jenggot kasar dan kelihatannya angker sekali.
"Aku ingin melaporkan kepada Ciangbun, bahwa Hok Thayswee telah mengirim surat,"
Katanya. Ouw Hui terkejut, tapi dengan paras tidak berubah, ia menanya.
"Surat apa?"
"Surat itu dialamatkan kepadaku dan menanya-kan soal pemilihan Ciangbunjin kita,"
Menerangkan Coa Wie.
"Di dalam surat dilampirkan empat lembar undangan dengan permintaan, supaya pada harian Tiong-chiu, Ciangbunjin kita menghadiri Thian-hee Ciangbunjin Tayhwee dengan mengajak tiga orang murid."
Ouw Hui lega hatinya.
Semula ia menduga rahasianya bocor dan Hok Kong An menulis surat untuk membekuk dirinya.
Ia adalah seorang yang hati-hati dan lalu mengambil surat itu dari tangan Coa Wie dan membacanya beberapa kali.
"Kalau begitu, biarlah Coa Supeh dan Kie Sutee yang mengikuti aku,"
Katanya.
"Bersama Sumoayku, kita berempat menghadiri pertemuan para Ciangbunjin itu."
Coa Wie dan Kie Siauw Hong girang sekali.
Mereka menghaturkan terima kasih berulang-ulang untuk kehormatan yang diberikannya.
Sesudah mereka selesai bicara, seorang pelayan yang menunggu di pinggiran, segera mendekati dan berkata.
"Thiaya, Coa-ya dan Kie-ya diundang untuk bersantap."
Ouw Hui manggutkan kepalanya, tapi baru saja ia hendak memanggil Leng So, tiba-tiba terdengar suara si adik.
"Toako, coba ke mari!"
"Jie-wie pergi duluan, aku akan menyusul,"
Kata Ouw Hui yang buru-buru pergi ke kamar Leng So, karena mendengar nada suara kebingungan dari adiknya. Begitu menyingkap tirai, ia dengar suara Ma It Hong.
"Mana anakku? Mana.... Aku ingin bertemu dengan mereka...."
Alis Leng So berkerut.
"Sedari tadi ia menyebut-nyebut kedua puteranya,"
Bisiknya.
"Ia bisa celaka."
"Kedua anak itu berada dalam tangan perem-puan kejam,"
Kata Ouw Hui.
"Untuk merebutnya, kita tidak boleh bertindak secara ceroboh."
"Ma Kouwnio tidak sabaran,"
Kata pula Leng So.
"Jika ia berteriak-teriak, racun yang masih mengeram dalam tubuhnya dapat mengambil jiwa-nya...."
Ouw Hui berpikir sejenak dan kemudian berkata.
"Coba aku membujuk dia."
"Menurut penglihatan, Ma Kouwnio was-was dan ia sukar dapat disadarkan dengan bujukan,"
Kata si adik.
"Jika ia bersedih, racun tidak bisa keluar seanteronya dari badannya dan obatku tak akan bisa masuk ke semua bagian tubuhnya."
Ouw Hui bingung bukan main, ia tak dapat lihat jalan yang baik. Selang beberapa saat, ia berkata.
"Jalan satu-satunya adalah menyatroni lagi gedung Hok Kong An dan coba merebut kedua anak itu dengan kekerasan. Tapi paling cepat kita harus menunggu sampai malam ini."
Leng So terkesiap.
"Menyatroni lagi gedung Hok Kong An?"
Ia menegaskan.
"Apa kau mau cari mati?"
Sang kakak tertawa getir.
Ia bukan tidak tahu, bahwa sesudah terjadi peristiwa semalam, gedung itu pasti dijaga luar biasa keras.
Menerjang masuk ke gedung itu dapat dikatakan suatu kemustahilan Kalau ia mempunyai sejumlah kawan yang berke pandaian tinggi, mungkin juga masih bisa berhasil.
Tapi sekarang, ia hanya seorang diri dan ditambah dengan adiknya serta Kie Siauw Hong, paling ba-nyak hanya tiga orang, yang sudah pasti tidak akan bisa berhasil.
Untuk beberapa lama, ia menundukkan kepala dan mengasah otak.
Sementara itu, Ma It Hong terus menerus memanggil-manggil puteranya.
Ia mengerutkan alis dan berkata dengan suara kha-watir.
"Jie-moay, bagaimana baiknya?"
"Jika ia terus berada dalam keadaan begini, tiga had lagi racun yang masih mengeram dalam tubuh-nya akan mengamuk,"
Jawabnya.
"Seorang manusia hanya bisa berusaha sedapat mungkin. Manakala kita gagal menolong jiwanya... ya! apa mau dikata? Itulah sudah nasib, kita harus menunduk terhadap takdir."
"Mari kita bersantap dulu, sebentar baru kita berdamai lagi,"
Kata Ouw Hui. Sesudah makan, Leng So memberikan obat pula kepada It Hong. Sekarang nyonya itu memanggil-manggil Hok Kong An.
"Kong-ko.... Kong-ko... mengapa kau tidak meladeni aku? Kamu membawa anakku... di mana adanya mereka? Ayo... bawa ke mari...."
Ouw Hui gusar bereampur duka, sehingga paras mukanya merah padam. Leng So menarik tangan kakaknya dan mengajaknya ke sebuah kamar yang kecil.
"Toako,"
Katanya dengan paras muka sung-guh-sungguh.
"Apakah aku pernah bicara main-main denganmu?"
Ouw Hui heran dan sambil mengawasi adiknya, ia menggelengkan kepala.
"Tidak, belum pernah,"
Jawabnya.
"Baiklah,"
Kata si adik.
"Sekarang aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu. Dengarlah! Jika kau pergi ke gedung Hok Kong An untuk merebut kedua anaknya Ma Kouwnio, maka kau harus mengundang lain tabib dan aku sendiri akan segera berangkat pulang ke Selatan."
Ouw Hui terkejut, tapi belum sempat ia bicara, adiknya sudah meninggalkan kamar itu.
Ia mengerti, bahwa si nona mengeluarkan ancaman karena kha-watir ia menyatroni gedung Hok Kong An dan mengantarkan jiwa.
Akan tetapi, apa yang sudah terjadi menyentuh jiwa ksatrianya.
Di depan mata-nya kembali terbayang kejadian pada dahulu hari, di Siang-kee-po, pada waktu Ma It Hong berusaha untuk menolong dirinya yang sedang digantung dan dipukuli.
Ada budi tidak dibalas, bukan perbuatan laki-laki sejati.
Ia sebenarnya sudah mengambil keputusan untuk menempuh bahaya, akan tetapi, tiba-tiba Leng So mengeluarkan ancaman itu.
Jika ia menyatroni gedung Hok Kong An dan si adik benarbenar meninggalkannya, jiwa Ma It Hong tetap sukar ditolong.
Dengan pikiran kusut dan hati bersangsi, ia berjalan keluar sambil menundukkan kepala.
Ia berjalan terus tanpa juntrungan.
Tanpa merasa, kedua kakinya membawanya ke dekat gedung Hok Kong An.
Ia mendapat kenyataan, bahwa setiap lima sampai sepuluh tindak, dijaga oleh dua orang, Wiesu yang bersenjata lengkap.
Penjagaan adalah sedemikian keras, sehingga, jangankan masuk, sedangkan mendekati saja gedung itu orang bisa di-tangkap.
Ouw Hui tidak berani berdiam iama-lama di situ.
Dengan pikiran bingung, ia berjalan terus dan sesudah membelok di dua tikungan, ia bertemu dengan sebuah ciu-lauw (restoran berloteng).
Ia masuk dan minta makanan kecil serta arak untuk menghibur hatinya yang berduka.
Baru saja men-ceguk beberapa gelas, tiba-tiba ia dengar suara orang bicara di ruangan sebelah.
"Ong Toako, cu-kuplah, kita tidak boleh minum terlalu banyak,"
Kata seorang.
"Sebentar kita harus bertugas dan jika muka merah lantaran arak, kita bisa mendapat celaan."
Seorang lain tertawa terbahak-bahak seraya berkata.
"Baiklah. Kita minum lagi tiga cawan dan sesudah itu, kita boleh lantas makan nasi."
Ouw Hui segera mengenali, bahwa orang itu adalah Ong Tiat Gok.
"Hm... dalam dunia ini memang sering terjadi kejadian kebetulan,"
Katanya di dalam hati.
"Tak dinyana, aku bisa bertemu de-ngannya di tempat ini."
"Ong Toako,"
Kata pula orang yang pertama.
"Kau mengatakan, bahwa kau kenal Ouw Hui. Ma-nusia bagaimana sih dia?"
Mendengar orang menyebut namanya, Ouw Hui terkejut dan lalu memasang kuping terlebih terang. Tiat Gok menghela napas panjang dan berkata dengan suara perlahan.
"Ouw Hui benar-benar seorang luar biasa. Dalam usia yang masih begitu muda, dia bukan saja memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tapi juga sangat pandai bergaul, se hingga tidaklah salah jika dikatakan, bahwa ia adalah seorang gagah. Tapi mengapa dia bermusuhan dengan Hok Thayswee dan semalam dia masuk ke gedung Thayswee untuk melakukan pembunuhan?"
Kawannya tertawa.
"Ong Toako, andaikata sesudah makan kita bertemu dengan Ouw Hui dan berhasil membekuknya, kita pasti mendapat hadiah yang berharga,"
Katanya. Ong Tiat Gok tertawa bekakakan.
"Ha-ha-ha! Enak sungguh kau menggoyang lidah!?"
Katanya dengan suara menjengeki.
"Orang yang berkepan-daian seperti Thio Hek, dua puluh Thio Hek masih belum tentu dapat menangkapnya."
Thio Hek mendongkol.
"Dan kau?"
Tanyanya.
"Berapa banyak Ong Tiat Gok baru bisa membekuknya?"
"Aku lebih-lebih lagi, empat puluh Ong Tiat Gok tak usah harap bisa menyentuh tubuhnya."
Jawabnya.
"Apa dia memiliki tiga kepala enam tangan, sehingga kau jadi begitu jeri?"
Tanya Thio Hek sambil tertawa dingin. Mendengar pembicaraan itu, tiba-tiba saja Ouw Hui mendapat serupa ingatan dan tanpa memikir panjang-panjang lagi, ia segera pergi ke ruangan sebelah.
"Ong Toako!"
Serunya.
"Sungguh kebetulan, kau pun berada di sini, bersama-sama Thio Toako. Siauw Jie? Siauw Jie! Bawa makanan dan arakku ke mari."
Melihat masuknya Ouw Hui, Tiat Giok dan Thio Hek terkesiap. Mereka tak kenal orang yang berjenggot itu, tapi samar-samar Tiat Gok merasa, bahwa suara si jenggot tidak asing lagi bagi kuping-nya.
"Di Kie Eng Lauw aku pernah bertemu dengan Ciu Tiat Ciauw Toako dan Can Tiat Yo Jieko, sedang kita berdua pernah makan-minum bersama-sama,"
Kata Ouw Hui.
Ong Tiat Gok mengangguk dan terus mengasah otak, tapi tak dapat ia menebak siapa adanya orang itu.
Didengar dari perkataannya, orang itu menge-nal baik kedua kakak seperguruannya dan ia sendiri.
Tapi mengapa ia tak ingat siapa orang itu?
Sementara itu, pelayan rumah makan sudah memindahkan makanan dan arak Ouw Hui ke ruangan itu.
"Sudah lama aku tidak makan-minum dengan Ong Toako dan Thio Toako, biarlah hari ini aku yang menjadi tuan rumah,"
Kata Ouw Hui seraya melemparkan sepotong perak yang beratnya sepuluh tahil ke atas meja dan berkata pula seraya menengok kepada pelayan restoran.
"Kau pegang uang itu. Bawa kemari sayur-sayur yang paling lezat dan arak yang paling baik."
Melihat keroyalan tamu itu, si pelayan jadi girang dan sambil manggut-manggut berulang-ulang, ia berjalan ke luar untuk memenuhi pesanan itu.
Tak lama kemudian, di atas meja sudah diatur makanan dan arak yang sedap-wangi.
Ouw Hui beromong-omong sambil tertawa-tawa.
I a menyebut-nyebut Cin Nay Cie, In Tiong Shiang, Ong Kiam Eng, Ong Kiam Kiat dan sebagainya, seperti juga ia bersahabat baik dengan orang-orang itu, sebentar ia bicara tentang ilmu silat, sebentar tentang judi.
Ong Tiat Gok jengkel dan bingung.
Si jenggot bicara seperti seorang sahabat lama dan jika ia menanyakan namanya, ia melanggar adat istiadat.
Tapi jika tidak menanya, sungguh-sungguh ia tak ingat siapa adanya orang itu.
Di lain pihak, Thio Hek menganggap, bahwa Ouw Hui adalah sahabat Tiat Gok dan melihat keroyalan serta cara-cara yang terbuka dari sahabat baru itu, ia jadi gembira dan turut bicara secara bebas.
Sesudah makan-minum beberapa lama, Ong Tiat Gok tak dapat menahan sabar lagi.
Dengan suara terputus-putus, ia segera berkata.
"Toako... harap... harap kau suka maafkan aku... aku benar-benar seorang... edan...!"
Ia menabok mukanya yang bersemu merah dan berkata pula.
"Aku tak ingat she dan nama Toako... aku minta dimaafkan... aku benar-benar gila...!"
Ouw Hui tertawa.
"Orang yang mempunyai ba-nyak pekerjaan, memang sangat pelupaan,"
Kata-nya.
"Bukankah semalam Toako turut bersantap dalam rumahku? Hanya sayang, Pay-kiu tidak di-teruskan."
Bukan main kagetnya Tiat Gok.
"Kau...! kau...!"
Serunya dengan suara tertawan.
"Siauwtee memang Ouw Hui!"
Jawabnya seraya tersenyum.
Tiat Gok dan Thio Hek serentak melompat bangun, mereka mengawasi dengan mata membe-lalak, tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata.
Ke-jadian semalam sudah menggemparkan seluruh kota raja dan malam-malam telah diadakan razia besar-besaran.
Hampir setiap penduduk — apa pula Wie-su — sudah tahu, bahwa dengan seorang diri Ouw Hui telah menyatroni gedung Hok Kong An untuk coba membunuh pembesar itu.
"Mengapa kalian begitu kaget?"
Kata Ouw Hui sambil tersenyum.
"Siauwtee hanya memakai jenggot."
"Sst! Perlahan!"
Bisik Tiat Gok.
"Ouw Toako, semua orang sedang coba cari kau. Kau sungguh bernyali besar. Bagaimana kau masih berani datang ke sini untuk makan-minum?"
"Takut apa?"
Ouw Hui balas menanya.
"Ong Toako saja masih tidak dapat mengenali aku. Apa lagi orang lain?"
"Di kota Pakkhia kau tidak boleh menaruh kaki lagi,"
Kata Tiat Gok dengan suara khawatir.
"Le-kaslah berlalu."
"Terima kasih atas perhatian Ong Toako ter-hadap keselamatanku,"
Kata Ouw Hui yang diam-diam memuji kebaikan hatinya orang she Ong itu. Tapi paras muka Thio Hek lantas saja berubah. la menundukkan kepala dan tidak turut bicara.
"Hari ini di pintu-pintu kota diadakan pemeriksaan yang sangat keras,"
Kata Tiat Gok.
"Kalau mau keluar kota, kau harus sangat berhati-hati. Paling baik biarlah aku dan Thio Toako yang mengantarkan kau. Mana Thia Kouwnio?"
Ouw Hui menggelcngkan kepalanya.
"Untuk sementara aku tidak akan keluar dari kota ini ka-rena masih ada perhitungan yang belum dibereskan dengan Hok Thayswee,"
Katanya dengan tenang. Paras muka Thio Hek semakin berubah.
"Ouw Toako,"
Kata Tiat Gok.
"Kepandaianku kalah jauh dengan kepandaianmu, tapi sekarang aku ingin mengutarakan isi hatiku. Hok Thayswee mempunyai kekuasaan besar dan kau pasti tak akan dapat melawannya. Aku makan nasinya dan menurut pantas, tak dapat aku mengambil pihakmu. Hari ini, dengan menempuh bahaya, aku bersedia untuk mengantarkan kau keluar kota. Dengarlah nasihatku dan lekaslah singkirkan diri."
"Tak bisa, Ong Toako, tak bisa aku berlalu sekarang,"
Kata Ouw Hui.
"Apakah kau tahu, sebab apa aku jadi bermusuhan dengan Hok Thayswee?"
"Tak tahu, aku justru ingin menanyakan,"
Jawab-nya.
Ouw Hui lantas saja menuturkan dari kepala sampai di buntut -cara bagaimana pada belasan tahun yang lalu, Hok Kong An telah bertemu dengan Ma It Hong di Siang-kee-po, cara bagaimana mereka mendapat dua orang putera dan cara bagaimana Ma It Hong telah diracuni oleh ibu Hok Kong An, sedang kedua puteranya dirampas oleh nyonya itu.
Akhirnya, ia memberitahukan, bahwa ia telah mengambil putusan pasti untuk merampas pulang kedua anak itu untuk dikembalikan kepada Ma It Hong.
Semakin mendengar cerita itu, semakin panas hati Ong Tiat Gok.
Sehabis Ouw Hui menutur ia menumbuk meja seraya berkata.
"Aku tak nyana, manusia bisa berlaku begitu kejam, Ouw Toako, kau benar-benar seorang gagah yang harus dikagumi orang. Tapi gedung Hok Thayswee dijaga sangat keras oleh banyak sekali orang pandai, sehingga kau tak usah harap bisa berhasil. Jalan satu-satunya adalah menunggu sampai keadaan mereda dan sesudah penjagaan kendor, barulah kau boleh coba-coba menyatroni lagi gedung itu."
"Tapi aku mempunyai serupa rencana,"
Kata Ouw Hui.
"Aku ingin meminjam seragam Thio Toako dan masuk ke gedung itu dengan menyamar sebagai Wie-su. Untuk bisa masuk, aku ingin memohon pertolongan Ong Toako."
Paras muka Thio Hek lantas saja berubah gusar, sedang tangannya meraba gagang golok.
Tapi Ouw Hui tetap bersikap tenang.
Dengan tangan kiri ia mengangkat cawan arak dan menceguk separuh isinya, sedang tangan kanannya mengangkat sumpit untuk menyumpit sayur.
Mendadak, mendadak saja, tangan kirinya diayunkan dan arak menyambar muka Thio Hek, yang, sambil mengeluarkan seruah ter-tahan, segera mengusap muka.
Hampir berbareng, sumpit Ouw Hui menyambar dadanya dan menotok jalanan darah Sin-cong dan Tiong-teng-hiat.
Sesaat itu juga, Thio Hek tidak berdaya dan badannya rubuh di kursi.
Mendengar seruan Thio Hek, pelayan restoran masuk ke kamar makan.
"Tuan ini mabuk, aku harus cari rumah penginapan supaya ia dapat mengaso,"
Kata Ouw Hui.
"Lima rumah dari sini terdapat rumah penginapan An Wan,"
Kata si pelayan.
"Biar aku yang menggendong."
Ouw Hui jadi girang dan memberi sepotong perak kepadanya.
Si pelayan segera menggendong Thio Hek ke rumah penginapan itu, dengan diikuti Ouw Hui dan Ong Tiat Gok.
Ouw Hui minta sebuah kamar yang paling baik dan sesudah mengunci pin-tu, ia kembali menotok tiga jalanan darah Thio Hek, sehingga dalam tempo dua belas jam, ia tak akan bisa berkutik.
Ong Tiat Gok bingung bukan main, ia merasa seolah-olah disiram dengan setahang air dingin.
Sepak terjang dan keberanian Ouw Hui dalam menolong sesama manusia, mengagumkan sangat hati-nya.
Tapi, mengingat bahayanya pekerjaan itu, bulu romanya berdiri semua.
Dengan tenang Ouw Hui membuka pakaian luarnya dan seragam Thio Hek, akan kemudian, sesudah memakaikan pakaiannya di tubuhnya Wie-su itu, ia berdiri mengenakan seragam tersebut.
Untung juga besar badannya tidak berbeda dengan besar badan Thio Hek.
"Aku bertugas pada Sin-sie (antara jam tiga dan lima sore),"
Menerangkan Tiat Gok.
"Temponya sudah hampir sampai."
"Ong Toako, aku minta kau melaporkan, bahwa Thio Toako sakit dan tidak dapat bertugas,"
Kata Ouw Hui.
"Aku menunggu di sini dan sebentar kira-kira tengah malam, aku minta kau datang untuk mengajak aku masuk ke gedung Hok Thayswee."
Tiat Gok mengawasi pemuda itu dengan mata mendelong.
Ia tak dapat segera mengambil ke-putusan.
Ia mengerti, bahwa sepatah kata yang diucapkannya dapat mengubah seluruh penghi-dupannya, bahkan bersangkut paut dengan soal mati-hidupnya.
Jika ia mau jadi seorang gagah, seorang ksatria sejati, maka ia harus mencoret setiap impian untuk memperoleh pangkat dan harta.
Jika ia ingin tetap menjadi pengikut Hok Thayswee yang setia, ia harus melaporkan kejadian itu.
Ouw Hui mengerti apa yang dipikir Tiat Gok.
"Ong Toako,"
Katanya.
"Urusan ini memang sangat sulit dan kau tak usah mengambil keputusan sekarang juga."
Ong Tiat Gok manggut-manggutkan kepalanya dan lalu meninggalkan rumah penginapan itu.
Ouw Hui segera merebahkan dirinya di atas pembaringan untuk mengaso.
Ia tahu, bahwa ia sekarang sedang berjudi dan taruhannya adalah jiwanya sendiri.
Dengan penuh kesangsian, ia merenungkan ke-mungkinankemungkinan.
Mungkin sekali sebentar tengah malam, Ong Tiat Gok akan datang seorang diri dan mengajaknya masuk ke dalam gedung Hok Kong An.
Akan tetapi, jika begitu, ia menempatkan dirinya dalam kedudukan yang sangat berbahaya.
Dengan dia dan Ma It Hong, Tiat Gok tidak mempunyai hubungan rapat.
Apakah ia sudi memper-taruhkan jiwanya untuk kepentingan dua orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri?
Kemungkinan itu kecil, apa pula jika di-ingat, bahwa ia sudah bekerja lama di bawah Hok Kong An dan pada umumnya, manusia sangat ke-maruk akan pangkat dan harta.
Jika Tiat Gok ingin mendapat pahala, maka sebentar malam, hotel itu tentu akan dikurung dan ia bakal membuang jiwa.
Ouw Hui mengerti, bahwa bagi Ong Tiat Gok tidak ada jalan sama tengah.
Jika ia tidak melaporkan, Thio Hek tentu bakal melaporkan soal itu.
Bagi Tiat Gok hanya terbuka dua jalan.
Mem-bantu Ouw Hui demi keadilan atau bersetia kepada Hok Kong An.
Ya!
Ia memang sedang memegang beberapa lembar kartu Pay-kiu.
Kalau kalah ia harus mem-bayar dengan jiwanya.
Menang kalahnya tergantung atas keputusan Ong Tiat Gok.
Ia yakin, Tiat Gok bukan seorang jahat, tapi bahaya benar-benar ter-lalu besar, sedang dari dirinya, Tiat Gok sedikit pun tidak dapat mengharap balasan apa-apa.
Tapi sebagai orang yang bernyali luar biasa besar, Ouw Hui segera juga dapat menenteramkan hatinya dan tak lama kemudian, ia pulas.
Sesudah pulas beberapa lama, dalam keadaan setengah sadar, ia dengar suara ribut-ribut.
Dengan cepat ia melompat bangun.
"Benar, aku ingin cari seorang perwira yang memakai tanda Hian,"
De-mikian terdengar suara seseorang.
"Kalau tidak salah, ia di sini. Sekarang ada perintah penting untuknya. Coba kau tengok."
Mendengar suara itu bukan suara Ong Tiat Gok, Ouw Hui terkesiap.
"Huh-huh! Sekali ini aku kalah,"
Katanya di dalam hati dan sambil mencekal golok, ia melongok ke luar jendela.
Di luar gelap gulita dan sunyi senyap.
Dengan cepat ia melompat ke atas genteng dan memasang kuping.
Karena Tiat Gok tidak datang sendiri, ia lantas saja menduga, bahwa orang she Tiat itu sudah mengkhianati dirinya.
Tapi ia merasa heran, mengapa rumah penginapan itu tidak dikurung musuh.
Biar bagaimanapun jua, hatinya merasa agak lega.
Sementara itu, ia lihat seorang pelayan sudah menghampiri kamarnya dengan tangan mencekal ciak-tay.
"Kun-ya (tuan perwira), ada orang cari kau,"
Katanya sambil mengetuk pintu. Buru-buru Ouw Hui melompat masuk lagi ke kamarnya dengan ambil jalan dari jendela.
"Siapa? Masuklah,"
Katanya. Si pelayan lantas saja membuka pintu, ber-tindak masuk dan menaruh ciak-tay di atas meja.
"Apa Kun-ya itu belum tersadar?"
Tanyanya.
"Kalau belum sadar, apa perlu kubuat semangkok obat untuk menyadarkannya?"
"Tak usah!"
Kata Ouw Hui, matanya melirik si perwira yang berdiri di belakang pelayan itu. Perwira itu berusia kira-kira empat puluh tahun dan paras mukanya tenang luar biasa.
"Lihay sungguh orang ini!"
Kata Ouw Hui di dalam hati.
"Ia berani masuk ke dalam kamarku seorang diri dan parasnya sedikit pun tidak berubah. Apa dia mempunyai kepandaian luar biasa dan tidak memandang aku sebelah mata?"
"Apa Toako Thio Toako?"
Tanya Wie-su itu.
"Kita belum pernah bertemu. Aku she Jim, namaku Thong Bu dari Pasukan Keempat."
"Oh, Jim Toako, aku merasa beruntung hari ini bisa berkenalan dengan Toako,"
Kata Ouw Hui.
"Memang karena dalam pasukan terdapat banyak sekali orang, kita belum mendapat kesempatan untuk berkenalan."
"Benar,"
Kata Thong Bu.
"Atasanku telah memerintahkan aku membawa sepucuk surat perintah untuk Thio Toako."
Sambil berkata begitu, dari sakunya ia mengeluarkan sebuah amplop.
Ouw Hui menyambuti amplop itu yang dicap dengan empat huruf merah "Peng-po Ceng-tong" (Departemen Peperangan) di sudut kiri atas.
Di tengah-tengah amplop itu terdapat tulisan yang berbunyi.
"Untuk Thio Hek, Pasukan Ketiga, di rumah penginapan An Wan."
Sesudah mendapat pengalaman getir di gedung Hok Kong An, di mana kedua tangannya dijepit dengan perkakas rahasia, kali ini Ouw Hui berlaku lebih hatihati.
Lebih dulu ia memijit amplop itu dan sesudah mendapat ke-nyataan, bahwa di dalamnya tidak disembunyikan alat rahasia, ia segera merobeknya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya.
Dengan per-tolongan sinar lilin, ia segera membaca tulisan di kertas itu.
Tiba-tiba jantungnya memukul lebih ke-ras dan hatinya penuh kesangsian.
Mengapa?
Karena di atas kertas itu tidak ada tulisannya dan hanya terdapat sebuah lukisan tiauw-sie-kwie (setan dari orang yang mati di gantung) yang sedang meng-gapai-gapai seorang manusia, supaya dia turut naik ke tiang penggantungan.
Menurut ketahayulan pada jaman itu jika seseorang mati digantung maka roh-nya akan menjadi setan yang akan menggunakan segala daya upaya untuk membujuk seorang manusia lain menggantung diri guna menggantikannya sebagai setan.
Sesudah mempunyai pengganti, baru-lah setan yang pertama bisa dilahirkan lagi ke dalam dunia sebagai manusia.
Sesudah berpikir sejenak, Ouw Hui bertanya.
"Jim Toako apa malam ini kau yang bertugas dalam gedung Hok Thayswee?"
"Benar,"
Jawabnya.
"Siauwteesekarang mau pergi ke situ."
Ia memutar badan dan segera bertindak ke luar.
"Tunggu dulu. Aku minta tanya, siapa yang menyuruh Toako menyampaikan surat perintah ini kepadaku?"
Tanya Ouw Hui.
"Lim Twie-thio,"
Jawabnya.
(Twie-thio = Ke-pala Pasukan).
Sekarang Ouw Hui dapat menebak latar be-lakang lukisan itu.
Rupanya, karena tidak dapat mengambil keputusan sendiri Ong Tiat Gok telah berdamai dengan Toasukonya, yaitu Ciu Tiat Ciauw.
Mungkin sekali, karena mengingat budi Ouw Hui yang sudah memulihkan tulangnya yang copot dan memulangkan Tong-eng Tiat-gan-pay, maka Ciu Tiat Ciauw sudah mengatur serupa akal yang sangat sagus.
Dengan akal itu, Ong Tiat Gok boleh tak usah menempuh bahaya dan tugas mengajak Ouw Hui masuk ke dalam gedung Hok Kong An digantikan oleh satu setan pengganti.
Dengan demi-kian tak perduli Ouw Hui berhasil atau gagal.
Su-teenya tak akan kerembet-rembet.
Di atas kertas itu, ia tidak menulis huruf apa pun jua, sehingga andaikata rahasia bocor, ia tak akan terseret.
Ia memasukkan amplop tersebut ke dalam segabung surat lainnya yang harus diserahkan kepada pe-mimpin Pasukan Keempat dan sebelum sampai di tangan Lim Twiethio, surat-surat itu lebih dulu diantar ke satu dan lain tangan, sehingga sukar sekali orang dapat mengusut, dari mana datangnya surat perintah itu.
Di lain pihak, begitu melihat cap "Peng-po Ceng-tong" , Lim Twie-thio tidak berani berlaku ayal dan segera memerintahkan sebawahan-nya untuk menyampaikannya kepada alamatnya.
Tiat Ciauw tahu bahwa yang menjaga gedung Hok Thayswee pada malam itu adalah Wie-su Pasukan Keempat, sehingga siapa pun juga yang diperintah Lim Twie-thio, Ouw Hui pasti akan dapat mengikutinya.
Itulah tebakan Ouw Hui yang cukup jitu, mes-kipun tidak tepat seluruhnya.
Diam-diam ia tertawa dalam hatinya dan menganggap Ciu Tiat Ciauw sebagai manusia yang amat licin.
Sebagai seorang yang sudah berdiam di kota raja selama puluhan tahun, orang tua itu mempunyai pengalaman luas dan cara bekerjanya lain daripada yang lain, Ouw Hui yakin, bahwa Tiat Ciauw berusaha untuk mem-bantunya dengan setulus hati dan untuk itu semua, ia merasa sangat berterima kasih.
Demikianlah, melihat Jim Thong Bu memutar badan, buruburu ia berkata.
"Atas perintah atasan, malam ini aku harus bantu menjaga gedung Hok Thayswee."
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula dengan suara mendongkol.
"Gila sungguh! Malam ini sebenarnya giliran aku mengaso. Mengapa malam-malam aku dipanggil juga?"
Jim Thong Bu tertawa.
"Gedung Hok Thayswee disatroni pembunuh, sehingga sudah sejamaknya kalau kita bekerja lebih keras,"
Katanya.
"Untuk pekerjaan itu kita pasti akan mendapat hadiah yang setimpal."
Ouw Hui turut tertawa.
"Jim Toako, aku baru saja dapat uang,"
Katanya.
"Mari kita makan minum sekadarnya. Aku jadi tuan rumah. Jim Toako, apa kesukaanmu yang terutama? Suka judi? Arak?"
Perwira itu tertawa berkakakkan.
"Semua suka, semua aku suka,"
Jawabnya sambil menyeringai. Sambil menepuk pundak Jim Thong Bu secara hangat, Ouw Hui berkata;
"Jim-heng kita berdua sangat cocok. Sayang baru sekarang kita bertemu muka. Siauw Jie! Ambil arak?"
Perwira itu kelihatan sangsi.
"Malam ini aku bertugas,"
Katanya.
"Jika Twie-thio tahu aku minum arak, mungkin ia akan menegur."
"Kita hanya minum tiga cawan, mana dia tahu?"
Bisik Ouw Hui. Di lain saat, pelayan sudah datang dengan mem-bawa arak dan sepiring daging sapi asin. Sesudah minum tiga cawan, Ouw Hui melemparkan sepo-tong perak ke atas meja seraya berkata.
"Ambil lebihnya!"
Melihat persenan yang besar itu, si pelayan girang bukan main, tapi sebelum ia keburu meng-haturkan terima kasih, Jim Thong Bu sudah men-dului mengambil perak itu.
"Thio Toako, tanganmu terlalu terbuka,"
Katanya.
"Apa kita yang bekerja pada Hok Thayswee, mesti merogoh saku untuk beberapa cawan arak saja? Hayo berangkat!"
Dengan tangan kirinya ia menarik Ouw Hui, sedang tangan kanannya memasukkan potongan perak itu ke dalam sakunya sendiri!
Si pelayan mengawasi dengan mata mendelik, tapi tak berani mengeluarkan sepatah kata.
Ouw Hui tertawa.
Melihat kerakusan orang itu, ia merasa girang karena terhadap orang semacam itu, ia dapat menjalankan peranan terlebih mudah.
Dengan bergandengan tangan mereka berjalan ke-luar dari rumah penginapan.
Baru belasan tombak, kuping Ouw Hui yang sangat tajam mendadak men-dengar suara kresekan di atas genteng.
Ia tahu suara itu suara kaki manusia.
"Jim Toako, tunggu dulu di sini,"
Katanya.
"Aku kelupaan membawa serupa barang. Tunggulah sebentar. Ia memutar badan dan kembali ke kamarnya. Dalam kegelapan, samar-samar ia lihat berkelebatnya badan manusia yang kurus kecil keluar jendela. Dengan gerakan yang gesit luar biasa. Dilihat dari potongan badan dan gerakannya orang itu seperti juga Ciu Tiat Ciauw.
"Perlu apa dia menyatroni kamarku?"
Tanya Ouw Hui di dalam hati. Ia menyingkap kelambu dan meraba hidung Thio Hek. Benar saja Thio Hek sudah tidak bernyawa lagi! Ia binasa karena to-tokan, Ouw Hui bergidik dan berkata dalam batinnya.
"Orang itu licin, pintar dan kejam. Memang, jika Thio Hek tidak disingkirkan rahasia pasti akan bocor. Hanya aku tidak menduga, baru aku melangkah pintu, dia sudah berani turun tangan."
Biar bagaimanapun juga, sekarang hatinya jadi lebih lega, karena ia yakin bahwa dengan setulus hati Ciu Tiat Ciauw ingin membantu sahabatnya.
Ia segera membalikkan tubuh Thio Hek supaya meng-hadap ke dalam dan sesudah menyelimutinya, ia keluar lagi dari kamarnya dan menghampiri Jim Thong Bu.
"Jim Toako, maaf kau mesti menunggu lama,"
Katanya.
"Hayolah."
"Thio Toako, dengan kawan sendiri jangan kau berlaku begitu sungkan."
Kata Thong Bu.
Dengan berendeng pundak, mereka segera menuju ke ge-dung Hok Kong An.
Depan gedung dijaga belasan Wie-su yang ber-senjata lengkap.
Begitu mereka mendekati pintu, pemimpin pasukan membentak.
"Wie-tin...!"
".... Su-hay!"
Menyambungi, Thong Bu. Pemimpin itu mengangguk.
"Malam ini kita harus menjaga hati-hati sekali,"
Katanya.
"Tentu,"
Kata Thong Bu.
"Twie-thio,"
Kata Ouw Hui.
"Apa malam ini penjahat bakal menyatroni lagi?"
Pemimpin itu tertawa.
"Mungkin kalau dia sudah makan nyali hari-mau,"
Jawabnya. Ouw Hui tertawa terbahak-bahak dan lalu ma-suk ke dalam. Setibanya di pintu tengah, wakil pemimpin pasukan yang menjaga di situ membentak dengan suara perlahan.
"Wietin...."
".... Coat-shia!"
Menyambungi Jim Thong Bu.
"Jim Thong Bu, siapa orang itu?"
Tanya Wie-su itu.
"Aku tidak kenal."
"Thio Toako, dari Pasukan Ketiga,"
Jawabnya.
"Hm... jenggotnya sangat keren,"
Kata si wakil pemimpin.
Sambil tersenyum mereka berjalan terus mem-belok ke kiri dan sesudah melewati dua pintu sam-ping, mereka tiba di taman bunga.
Pintu taman dijaga oleh seorang wakil pemimpin yang menegur dengan kata-kata "Wie-tin"
Juga.
".... Cian-chiu,"
Jawab Thong Bu.
Diam-diam Ouw Hui merasa syukur, bahwa ia datang bersama-sama Jim Thong Bu, sebab kalau bukan begitu, ia pasti tak akan bisa masuk ke gedung yang dijaga sedemikian keras dengan menggunakan kata-kata rahasia yang berbeda-beda.
Begitu masuk di dalam taman Ouw Hui segera mengenali jalan-jalan yang pernah dilaluinya.
Untuk menenteramkan hati It Hong dan Leng So, ia segera mengambil keputusan untuk bekerja selekas mungkin, dan dengan tindakan cepat, ia menuju ke gedung ibu Hok Kong An.
"Thio Toako, mau ke mana kau?"
Tanya Thong Bu dengan perasaan heran.
"Aku mendapat perintah untuk melindungi Tayhujin,"
Jawabnya.
"Oh begitu?"
Kata Thong Bu. Sesaat itu dua Wie-su menghampii i.
"Siapa kau?"
Tanya salah seorang.
"Jim Thong Bu dari Pasukan Keempat."
"Thio Hek dari Pasukan Ketiga."
Ouw Hui memperkenalkan diri. Wie-su itu mengeluarkan seruan terlalian clan meraba gagang golok.
"Apa? Siapa namamu!"
Bentaknya. Ouw Hui terkejut. Ia mengerti, bahwa pengawal itu mengenal Thio Hek dan rahasianya sudah terbuka. Ia maju setindak dan berbisik.
"Namaku Ouw Hui."
Wie-su itu kaget tak kepalang, ia mengawasi dengan mata membelalak.
Sebelum ia sempat ber-gerak, jalan darahnya sudah ditotok Ouw Hui yang dengan sekali menggerakkan sikutnya, sudah meru-buhkan pula Wie-su yang satunya lagi.
Jim Thong Bu menggigil bahna kaget dan takut.
"Kau... kau..."
Katanya dengan suara terputus-putus.
"Laki-laki tidak menukar she atau mengubah nama,"
Kata Ouw Hui dengan suara dingin.
"Aku adalah Ouw Hui."
Sambil berkata begitu, ia menyeret tubuh kedua Wie-su itu ke dalam gerom-bolan pohon-pohon bunga. Sementara itu, sesudah dapat menenteramkan hatinya, Thong Bu menghunus golok.
"Semua orang sudah lihat, bahwa kaulah yang mengajak aku ke sini,"
Kata Ouw Hui.
"Perlu apa kau ribut-ribut? Paling selamat kau menutup mulut."
Thong Bu menggigil, rasa kaget dan takutnya semakin menjadi-jadi.
"Kalau kau masih kepingin hidup ikutlah aku!"
Bisik Ouw Hui.
Dalam kebingungan yang sangat hebat, Jim Thong Bu tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Melihat lihaynya Ouw Hui, ia mengerti, bahwa jika melawan, jiwa bisa melayang.
Kedatangan Ouw Hui pasti mengandung mak-sud kurang baik, sehingga ia yang sudah mengajak pemuda itu masuk ke gedung Hok Kong An, pasti kerembet.
Dalam ketakutannya itu, bagaikan seorang Hnglung, ia segera mengikuti Ouw Hui.
Dengan cepat Ouw Hui menghampiri pintu depan gedung Nyonya Siangkok yang ternyata dijaga oleh tujuh-delapan Wie-su.
Ia bersangsi, ka-rena jika ia menggunakan kekerasan, belum tentu ia dapat merubuhkan mereka dalam tempo lekas.
Mendadak ia mendapat serupa ingatan dan sambil mengajak Jim Thong Bu, ia segera pergi ke samping gedung.
Tiba-tiba ia berteriak.
"Jim Thong Bu! Perlu apa kau datang ke sini? Mau memberontak?"
Thong Bu terkesiap.
"Aku... aku..."
Katanya terputus-putus.
"Tahan! Hei! Jangan bergerak kau!"
Teriak pula Ouw Hui.
Mendengar teriakan itu, karuan saja tujuh-delapan pengawal yang menjaga di pintu dengan lantas meiuruk ke belakang.
Ouw Hui mengangkat tubuh Jim Thong Bu dan melemparkannya ke jendela dan lantas saja menjadi hancur.
"Tangkap! Lekas tang-kap!"
Teriaknya. Bagaikan kawanan harimau, para Wie-su menu-bruk dan membekuk si orang she Jim.
"Jangan mengagetkan Tayhujin,"
Kata Ouw Hui seraya melompat ke dalam kamar dari jendela yang berlubang.
"Ada apa?"
Tanya ibu Hok Kong An sambil memeluk kedua puteranya Ma It Hong yang sudah menangis keras dan sudah memanggil-manggil ibu-nya.
"Ada pembunuh!"
Jawab Ouw Hui.
"Siauwjin sengaja datang untuk melindungi Tayhujin dan kedua Kongcu. Di sini penuh bahaya kalau perlu segera menyingkir ke tempat yang lebih selamat."
Nyonya itu kaget bukan main, tapi sebagai seorang yang berpengalaman, dia lantas saja ber-curiga.
"Siapa kau? Di mana adanya pembunuh itu?"
Tanyanya.
Ouw Hui mengerti, bahwa dia tak dapat meng-hilangkan tempo.
Mengingat kekejaman nyonya tua itu, darahnya agak meluap dan sambil melompat, ia mengayun telapak tangannya.
Nyonya besar itu adalah isteri seorang perdana menteri dan kecintaan kaisar, sedang ketiga puteranya semua berpangkat tinggi dan dua orang menantunya adalah puteri kaisar.
Selama hidupnya, ia selalu diliputi kekuasaan dan kemewahaan dan belum pernah ia menerima hinaan yang begitu besar.
Di lain pihak, karena hatinya mendongkol, waktu menggaplok Ouw Hui sudah menggunakan seba-gian tenaganya, sehingga begitu kena, pipi nyonya itu lantas saja bengkak dan dua giginya rontok.
Dalam kegusaran yang melampaui batas, hampir-hampir si nyonya pingsan.
"Mari ikut aku untuk menemui ibumu,"
Kata Ouw Hui sambil membungkuk dan memeluk kedua bocah itu dengan lengan kirinya.
Pada saat itu, dua orang Wie-su sudah masuk ke dalam kamar.
Ouw Hui mengerti bahwa tanpa menggunakan siasat, tak gampang-gampang ia dapat ke luar dari gedung itu.
Sambil mencengkeram baju Tayhujin, ia membentak.
"Tayhujin berada dalam tanganku. Majulah! Mari kita mampus ber-sama-sama."
Seraya berkata begitu, ia melompat keluar dengan menenteng nyonya tua itu.
Dengan mata membelalak, para Wie-su meng-awasi Ouw Hui menerjang ke luar sambil men-dukung kedua puteranya Ma It Hong dan menyeret tangan Tayhujin.
Pengawalpengawal dari Iain-lain bagian gedung mulai memburu ke situ.
Mereka mengurung dari sebelah kejauhan dan meskipun kedua tangan Ouw Hui tidak dapat memberi per-lawanan karena yang satu mendukung dua bocah itu dan yang lain mencekal Tayhujin mereka masih belum berani turun tangan.
Ouw Hui bingung bukan main.
la mengerti, bahwa semakin lama jumlah Wie-su yang mengepung akan jadi semakin besar dan keadaannya semakin berbahaya.
Setindak demi setindak ia maju terus sambil mengasah otak.
la tahu bahwa sekali ini ia harus mempertaruhkan jiwanya.
Mendadak, baru saja ia mengambil putusan nekat menerjang mati-matian, di sebelah kiri ter-lihat mengepulnya asap dan berkobarnya api sedang di antara suara ribut terdengar teriakan.
"Awas! Penjahat coba membunuh Kongcu! Penjahat mem-bakar gedung Kongcu!"
Ouw Hui kaget.
Ia kenali bahwa suara itu suara Ciu Tiat Ciauw.
Kongcu adalah puteri kandung kaisar Kian-liong dan jika sang puteri binasa dalam tangan penjahat, seantero Wiesu dalam gedung Hok Kong An akan mendapat hukuman mati.
Maka itu, teriakan Ciu Tiat Ciauw sudah mengejutkan sangat hatinya semua orang.
"Kalian semua pergi padamkan api dan lindungi Kongcu biar aku sendiri yang menolong Tayhujin,"
Demikian terdengar pula teriakan Ciu Tiat Ciauw.
Dalam kalangan pengawal Hok Kong An, Ciu Tiat Ciauw mempunyai kedudukan tinggi dan disayang oleh menteri itu, sehingga ia sangat disegani oleh kawan-kawannya.
Maka itu, begitu mendengar perintahnya, para Wie-su lantas saja meninggalkan Ouw Hui dan memburu ke tempat kebakaran.
Ouw Hui mengerti, bahwa Ciu Tiat Ciauw telah menggunakan tipu "memancing harimau keluar gu-nung"
Untuk menolong dirinya dan ia merasa sangat berterima kasih.
Di lain saat, Tiaut Ciauw sudah membacok sambil berteriak keras.
Ouw Hui ber-kelit seraya mendorong Tay Hujin yang jatuh teng-kurep di tanah.
Tiat Ciauw buru-buru membangunkan dan menggendong nyonya tua itu yang lalu dibawa pulang ke gedungnya.
Ouw Hui sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik dan segera kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
"Jumlah penjahat tidak sedikit!"
Demikian terdengar pula teriakan Tiat Ciauw.
"Semua orang tetap pada tempat penjagaannya. Lindungi Hok Thayswee dan Jie-wie Kuncu! Jangan kena diakali dengan tipu memancing harimau keluar dari gu-nung,"
Mendengar teriakan itu, semua wie-su tidak berani sembarangan mengejar.
Sambil mendukung kedua bocah, Ouw Hui lari ke belakang taman.
Dengan cepat ia sudah tiba di tembok pekarangan dan dengan sekali mengenjot tubuh, kedua kakinya hinggap di atas tembok.
Tiba-tiba ia mengeluh sebab di sebelah timur dan barat dijaga oleh sejumlah besar Wie-su!
Buru-buru ia melompat turun dan melewati sebidang tanah la-pang secepat-cepatnya, akan kemudian masuk ke sebuah lorong.
Pada saat itulah terdengar teriakan orang.
"Tangkap! Tangkap pembunuh!"
Diiring dengan teriakan-teriakan, sejumlah Wie-su mengejar dari belakang.
Setibanya di ujung lorong, Ouw Hui mera-belok ke sebuah jalan raya dan mendadak hatinya girang karena di pinggir jalan kelihatan berhenti sebuah kereta keledai.
Cepat-cepat ia melompat naik ke dalam kereta sambil berkata pada si kusir.
"Lekas! Hayo lekas! Aku akan memberi hadiah besar."
Di tempat duduk kusir duduk dua orang dan begitu mendengar perkataan Ouw Hui, orang yang duduk di sebelah kanan, yang tubuhnya kurus, lan-tas saja mengedut les dan keledai lantas saja lari.
Begitu duduk di dalam kereta, Ouw Hui meng-endus bebauan yang tak enak.
Setelah memper-hatikan ia mendapat kenyataan bahwa bebauan itu keluar dari beberapa tahang kotoran manusia.
Ia kini mengerti bahwa kereta itu adalah kereta yang biasa mengumpulkan kotoran manusia dari rumah-rumah penduduk untuk dijadikan pupuk.
Semen-tara itu suara teriakan semakin hebat kedengaran-nya.
Ia menengok dan melihat pengejar-pengejar-nya sudah datang sangat dekat.
Tiba-tiba ia mendapat pikiran baik.
Ia meng-angkat sebuah tahang dan sambil mengerahkan Lweekang, melemparkannya ke belakang.
Dua Wie-su yang paling depan rubuh terjengkang dengan tubuh penuh kotoran, sedang kawankawannya lantas saja berhenti mengejarnya.
Mereka itu adalah orang-orang pilihan yang bernyali besar, tapi menghadapi kotoran manusia, mereka jadi keder juga.
Kereta terus dilarikan secepatnya tapi tak lama kemudian di sebelah belakang kembali terdengar teriakan dan sejumlah Wie-su sudah mengejar pula.
Hok Kong An adalah seorang Peng-po Siang-sie (menteri pertahanan) yang berkuasa angkatan pe-rang seluruh kerajaan Ceng.
Dapat dimengerti, bahwa pengawal-pengawal pribadinya bukan sembarang orang dan dipilih dari orang-orang ternama dalam Rimba Persilatan, sehingga pengacauan Ouw Hui selama dua malam berturut-turut dianggap mereka sebagai suatu hinaan besar yang sangat memalukan.
Maka itu, seusainya menolong kedua kawan yang rubuh, mereka segera mengejar pula dengan kegusaran meluap-luap.
Ouw Hui mulai bingung lagi.
"Jika mereka masih mengejar, aku tentu tidak boleh pulang,"
Katanya di dalam hati.
"Ma Kouwnio masih belum sembuh dan setan-setan itu tak boleh tahu tempat bersembunyinya. Tapi kalau tidak pulang, ke mana aku harus pergi?"
Sementara itu, para Wie-su sudah hampir dekat dan hanya karena takut dihantam dengan tahang kotoran, mereka belum berani ter-lalu mendesak.
Mereka rupanya tahu, bahwa dengan membuntuti dari kejauhan, Ouw Hui pasti tidak akan bisa keluar dari kota Pakkhia.
Beberapa saat kemudian, kereta itu tiba di sebuah jalan yang bereagak tiga dan di tengah-tengah jalan itu berhenti sebuah kereta keledai lain.
Begitu lekas kereta yang diduduki Ouw Hui ber-dempetan dengan kereta itu, si kusir menggapai seraya berkata.
"Pindah!"
Ia melompat ke kereta itu, diturut oleh Ouw Hui yang mendukung putera-nya Ma It Hong.
Sebagaimana diketahui, di kereta pertama ter-dapat dua orang kusir.
Begitu lekas kusir pertama dan Ouw Hui berpindah ke kereta lain, kusir kedua segera mengedut les dan mengaburkan kereta itu ke jurusan barat, sedang kereta yang ditumpangi Ouw Hui dilarikan ke arah timur.
Dilain pihak, setibanya di jalan bereagak, para Wie-su jadi bingung sebab dua kereta yang bentuk dan warnanya bersamaan lari ke dua jurusan.
Mereka tak tahu kereta yang mana memuat orang yang sedang dikejar.
Sesudah berdamai sebentar, rom-bongan dipecah dua yang masing-masing mengejar ke barat dan ke timur.
Mendengar suara dan pula cara melompatnya si kusir kurus, bukan main girangnya Ouw Hui, sebab ia segera mengenali, bahwa kusir itu bukan lain daripada adiknya sendiri.
"Aduh Jie-moay! Sungguh aku tak duga!"
Katanya dengan suara kagum. Leng So hanya mengeluarkan suara di hidung.
"Bagaimana keadaan Ma Kouwnio?"
"Tak tahu!"
Jawab si adik. Ouw Hui tahu si adik sedang mendongkol.
"Jie-moay, aku mengaku salah dan kuharap kau sudi memaafkan,"
Katanya dengan suara yang halus.
"Aku tak akan menarik pulang perkataanku,"
Kata si nona.
"Aku tetap tak akan mengobati pada-nya. Apa kau kira omonganku bukan perkataan manusia?"
Selagi Leng So berkata begitu kembali kereta tiba di jalan bereagak dan di tengah jalan terdapat sebuah kereta yang lain.
Kali ini si nona tidak menukar kereta.
Dengan sekali berseru dan meng-ulapkan tangan, kedua kereta itu berpencaran dengan berbareng, yang satu ke selatan yang lain ke utara.
Waktu menyusul sampai di jalan bereagak itu, para Wie-su itu jadi lebih kaget dan gusar.
Mereka tak dapat berbuat lain daripada memecah lagi rom-bongan untuk mengejar kedua kereta itu.
Semenjak Pakkhia menjadi ibukota negara pada jaman Kerajaan Goan, jalan-jalan dalam kota itu dibuat dalam bentuk garis-garis papan catur, yaitu membujur dari selatan sampai ke utara dan melintang dari timur ke barat.
Dari sebab itulah, kereta yang ditumpangi Ouw Hui dan Leng So lagi-lagi bertemu dengan jalan bereagak dan di tengah-tengah jalan terdapat pula kereta lain yang ben-tuknya sama.
Kejadian itu berulangkali.
Kalau para pengejar sudah datang dekat sebab khawatir di-kenali, Leng So tidak menukar kereta hanya memerintahkan supaya kedua kereta itu berpencaran dengan berbareng dan lari ke dua jurusan.
Tapi kalau pengejarpengejar masih agak jauh mereka pindah kereta supaya dapat lari terlebih cepat dengan keledai yang masih segar.
Demikianlah setiap kali bertemu dengan jalan bereabang, jumlah pengejar berkurang separuh sehingga pada akhirnya, mereka hanya dikejar oleh lima enam Wie-su yang sudah cape lelah dan napasnya tersengal-sengal.
"Jie-moay, sungguh lihay tipumu ini,"
Memuji Ouw Hui.
"Jika kau tidak menggunakan kereta pengumpul kotoran, kereta itu bisa dicurigai oleh tentara peronda."
"Biar dicurigai,"
Kata si adik dengan suara di-ngin.
"Kau tidak menyayang jiwa dan memang pan-tas kalau kau mati dalam tangan tentara negeri."
"Aku memang pantas mati,"
Kata Ouw Hui sambil tersenyum.
"Hanya jika aku mati, bakal ada seorang nona yang bersedih hati."
"Hmmm,"
Leng So mengeluarkan suara di hidung.
"Kau tak dengar omonganku dan kalau kau sampai mengantarkan jiwa, siapa pun boleh tak usah bersedih... kecuali nona Wan yang cantik manis. Tapi mengapa ia sekarang tidak menolong kau?"
"la tidak tahu, bahwa aku sudah begitu tolol untuk menyatroni gedung Hok Thayswee,"
Kata sang kakak.
"Di kolong langit hanya ada seorang gadis yang tahu ketololanku dan hanya ia yang dapat menolong jiwaku pada saat yang berbahaya."
Mendengar pujian itu, Leng So merasa sangat senang, tapi paras mukanya masih tetap dingin dan ia hanya mengeluarkan suara di hidung.
"Karena dulu Ma Kouwnio pernah menolong kau, maka kau tidak dapat melupakan budinya dan bertekad untuk membalas budi itu, bukankah begitu?"
Tanya si nona.
"Mengenai budi, mana Ma Kouwnio dapat di-rendengkan dengan adikku?"
Kata Ouw Hui. Di tengah gelap Leng So tersenyum, tetapi suaranya masih tetap kaku.
"Huh! Karena masih memerlukan bantuanku untuk mengobati Ma Kouwnio, kau sudah mengeluarkan perkataan ma-nis-manis,"
Katanya.
"Sesudah kau tidak perlu lagi dengan tenagaku, segala omonganku pasti lebih-lebih tidak digubris lagi olehmu."
"Jika aku bicara tidak setulus hati, biarlah aku mati dengan jalan yang tidak baik."
Ouw Hui ber-sumpah.
"Kalau benar ya sudah, perlu apa kau ber-sumpah,"
Kata si nona dengan suara terlebih lunak. Sesudah melewati sebuah jalan bereagak lagi, Wie-su yang mengejar hanya ketinggalan dua orang.
"Jie-moay,"
Kata Ouw Hui sambil tertawa.
"Coba kau tahan larinya keledai sebentar, aku ingin mem-perlihatkan sebuah pertunjukan."
Leng So menarik les dan keledai itu lantas saja menghentikan tindakannya.
Di lain saat, kedua pengejar sudah hampir menyusul dan waktu mereka hanya terpisah beberapa tombak dari kereta, mendadak Ouw Hui mengangkat sebuah tahang kosong yang lalu di-lontarkan dan masuk tepat di kepala salah seorang Wie-su.
Kawannya mengeluarkan teriakan kaget dan memutar badan, akan kemudian lari lintang pukang.
Melihat pertunjukan yang lucu itu, Leng So tertawa geli dan sisa kedongkolannya lantas saja hilang seperti disapu angin.
Tak lama kemudian kereta sudah tiba di depan gedung di mana mereka menginap.
Leng So segera menyerahkan les kepada si kusir dan menghadiah-kan beberapa tahil perak.
Sesudah itu, dengan masing-masing mendukung seorang bocah, mereka4 masuk dengan melompati tembok.
Siapa pun tak pernah mimpi, bahwa dua orang itu baru saja mengacau di rumah menteri pertahanan.
Melihat kedua puteranya, bukan main girang-nya Ma It Hong memeluk kedua bocah itu erat-erat dan air matanya mengucur deras.
Kedua bocah itu pun balas memeluk ibu mereka dengan penuh ke-cintaan.
Leng So terharu dan berbisik.
"Toako sekarang aku tidak menyalahkan kau lagi. Memang kita harus merampas pulang kedua bocah itu, supaya ibu dan anak dapat berkumpul kembali."
"Tapi hatiku tetap merasa kurang enak, sebab aku sudah tidak dengar perkataanmu,"
Kata sang kakak. Leng So menjebik dan berkata sambil tertawa.
"Huh! Toako memang pandai bicara. Waktu kita pertama bertemu, kau sudah tak dengar omonganku. Aku minta kau jangan berpisah dari sampingku dan jangan turun tangan tapi semua permintaanku tidak digubris olehmu."
Sesudah bertemu dengan kedua puteranya, Ma It Hong sembuh dengan cepat sekali.
Setelah Leng So "menciam" (menusuk dengan jarum emas) lagi beberapa kali dan memberi beberapa macam obat, racun yang mengeram dalam tubuhnya telah dapat dikeluarkan seanteronya.
Sesudah ingatannya kem-bali, ia menanyakan sebab musabab mengapa mereka berada dalam gedung itu dan mengapa Hok Kong An tak pernah datang menyambanginya, tapi baik Ouw Hui maupun Leng So sungkan memberi keterangan.
Sedang beberapa had tibalah harian Tiong-chiu.
Pada hari itu dengan mengajak Leng So, Coa-wie dan Kie Siauw Hong, Ouw Hui pergi ke gedung Hok Kong An guna menghadiri pertemuan para Ciangbunjin.
Penyamaran Ouw Hui pada hari itu agak ber-lainan dari biasanya.
Ia mencukur sebagian jeng-gotnya dan mengenakan pakaian sulam yang sangat indah sedang tangan kirinya mencekal pipa pit-yan-hu dan tangan kanannya memegang kipas berwarna emas, sehingga orang yang tak tahu pasti akan menduga, bahwa ia adalah seorang hartawan besar.
Leng So sendiri menyamar sebagai seorang wanita setengah tua dengan badan agak bongkok dan muka kisut-kisut.
Setibanya di depan gedung Siang-kok-hu, mereka mendapat kenyataan, bahwa semua Sie-wie sudah ditarik mundur dan di depan pintu berdiri delapan orang yang bertugas sebagai penyambut tetamu.
Ouw Hui segera menyerahkan surat undangan.
Melihat pakaiannya yang mewah dan mengetahui, bahwa tamu itu adalah Ciangbunjin dari Hoa-kun-bun, dengan sikap hormat lantas saja mengantarkan mereka ke sebuah meja di sebelah timur, di mana sudah duduk empat tetamu lain.
Mereka segera berkenalan dan tetamu yang datang lebih dulu itu adalah orang-orang Kauw-kun Tay-seng-bun (par-tai ilmu silat kera).
Pemimpin partai itu seorang tua yang kepalanya lancip, mulutnya monyong dagunya merah dan lengannya sangat panjang sehingga menyerupai seekor kera.
Melihat begitu, Leng So merasa geli di dalam hatinya.
Dalam ruangan yang luas itu, sudah berkumpul banyak orang dan tamu-tamu yang baru datang masuk dengan berturut-turut.
Mereka dilayani oleh perwira-perwira di bawah perintah Hok Kong An.
Dengan matanya yang sangat tajam Ouw Hui menyapu seluruh ruangan.
Tiba-tiba ia lihat masuk-nya Ciu Tiat Ciauw dan Ong Tiat Gok yang mengenakan pakaian perwira dan dilihat dari topinya mereka baru mendapat kenaikan pangkat.
Waktu lewat di samping meja Ouw Hui, mereka tidak mengenali pemuda itu.
Dua orang perwira menyambut mereka dan berkata sambil tertawa.
"Selamat Ciu Toako, selamat Ong Toako! Semalam kalian telah membuat jasa yang sangat besar."
Ong Tiat Gok tertawa lebar.
"Jasa apa? Hanya kebetulan saja,"
Katanya dengan merendahkan diri. Seorang perwira lain menghampiri seraya berkata.
"Yang satu menjadi Thong-peng yang lain menjadi Hu-ciang. Sungguh hebat! Di antara pah-lawan-pahlawan Hok Thayswee, kalianlah yang naik pangkat paling cepat."
"Peng Toako, jangan kau guyon-guyon,"
Kata Ciu Tiat Ciauw dengan suara tawar.
"Kami berdua mendapat hadiah tanpa berjasa. Mana bisa kami dibandingkan dengan Peng Toako yang sudah mem-buat pahala besar di medan perang?"
Perwira itu merasa agak jengah dan ia segera berkata pula dengan paras sungguh-sungguh.
"Ciu Toako telah menolong Siang-kok Hujin sedang Ong Toako melindungi Kongcu. Bansweeya sendiri yang sudah memberi pangkat kepada kalian. Mana dapat siauwtee berendeng dengan Jie-wie Toako?"
Dengan beruntun-runtun kedua saudara itu mendapat pemberian selamat dari para perwira.
Dapat dimengerti jika tamu-tamu jadi merasa heran dan mereka lalu mencari keterangan dari beberapa orang yang lantas saja menceritakan peristiwa yang terjadi semalam di gedung Hok Thayswee, ditambah dengan bumbu yang sedap.
Cerita itu juga didengar Ouw Hui dan kawan-kawannya.
Ternyata, dengan perhitungan lihay dan tin-dakan tepat, bukan saja Ciu Tiat Ciauw sudah dapat mengelakkan mara bahaya, tapi juga sudah menarik keuntungan besar untuk dia dan saudara angkatnya.
Dengan dia sendiri "menolong"
Siangkok Hujin dan Ong Tiat Gok "melindungi"
Kongcu, di mata Kaisar Kian-liong, mereka berdua telah berjasa sangat besar, lebih besar dari pada pahala orang yang menang peang.
Mereka bukan saja telah mendapat kenaikan pangkat tiga tingkat, tapi juga sudah mem-peroleh hadiah emas-perakmutiara dari Siangkok Hujin, Kongcu dan Hok Kong An sendiri.
Untuk kepentingan sendiri, para Wie-su meniup-niup kejadian semalam dengan mengatakan, bahwa penjahat yang menyatroni berjumlah ratusan orang dan bahwa, hanya sesudah bertempur mati-matian, barulah mereka berhasil memukul mundur kawanan pengacau itu.
Meskipun merasa mendong-kol karena hilangnya kedua putera itu, tapi mengingat pengalamannya waktu ditawan oleh orang-orang Anghoa-hwee pada sepuluh tahun berselang, Hok Kong An diamdiam bersyukur, bahwa kali ini kawanan penyerang dapat dimundurkan dan ia terlepas dari bahaya.
Maka itulah, ia sudah ber-laku royal dan memberi persenan besar kepada para pengawalnya.
Melihat cara-cara orang-orang itu, Ouw Hui dan Leng So merasa geli dan saling melirik sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, puluhan meja perjamuan sudah penuh dengan tetamu.
Diam-diam Ouw Hui menghitung.
Semua ada enam puluh dua meja, setiap meja delapan orang, jumlah tetamu empat ratus sembilan puluh enam dan jika setiap partai mengirim empat orang wakil, maka jumlah Ciang-bunjin yang hadir dalam ruangan itu ada seratus dua puluh empat.
Sekarang baru ia tahu, bahwa di seluruh Tiongkok terdapat begitu banyak partai alau cabang persilatan.
Di samping mejameja yang sudah penuh, juga terdapat meja-meja yang hanya diduduki oleh empat orang dan yang masih kosong.
Tanpa merasa, ia ingat Wan Cie Ie.
"Dia sudah merebut dua belas kedudukan Ciangbun dan meja-meja yang kosong rupanya disediakan untuk orang-orang dari partai-partai yang sudah digebah kabur olehnya,"
Katanya di dalam hati.
"Tapi di mana adanya dia sekarang?"
Melihat kakaknya termenung dengan sorot mata penuh rasa cinta, Leng So yang sangat cerdas segera dapat menebak, bahwa Ouw Hui sedang memikir-kan Wan Cie Ie.
la menghela napas dan hatinya sedih.
Tiba-tiba otot-otot pipi Ouw Hui bergerak, paras mukanya berubah dan sinar matanya seolah-olah mengeluarkan api.
Si nona segera memandang ke jurusan yang sedang diawasi kakaknya dan ia lantas saja mengetahui sebab musabab perubahan itu.
Di sebelah barat, pada meja keempat, duduk seorang lelaki yang badannya tinggi besar dan tangannya mencekal dua Tiat-tan dan orang itu bukan lain dari pada Hong Jin Eng, Ciangbunjin Ngo-houwbun.
Buru-buru Leng So menarik tangan baju kakaknya yang lantas saja tersadar dan cepat-cepat melengos ke lain jurusan.
Sementara itu, tamu-tamu yang berniat datang rupanya sudah tiba semua, karena dari luar sudah tidak muncul tamutamu baru.
Ouw Hui memper-hatikan ruangan yang luas itu.
Di tengah-tengah tergantung sehelai kain sulam dengan tulisan.
"Dengan ilmu silat mengikat persahabatan, orangorang gagah menjadi tuan rumah."
Di bawah kain sulam itu berjejer empat buah kursi indah dengan alas kulit harimau, tapi semua kursi masih kosong dan rupanya disediakan untuk orang-orang yang ber-pangkat tinggi.
"Mengapa ia belum juga datang?"
Bisik Leng So. Ouw Hui mengerti, bahwa "ia"
Dimaksudkan Wan Cie Ie, tapi ia berlagak pilon.
"Siapa?"
Tanya-nya. Si adik tidak menjawab langsung, tapi berka'a pada dirinya sendiri.
"Sebagai Cong-ciang-bun dua belas partai, dia tak bisa tak datang."
Beberapa saat kemudian, seorang perwira tim.'-katan kedua bangun berdiri dan berseru dengan suara nyaring.
"Harap keempat Tay-ciangbunjin (Ciangbunjin besar) masuk ke dalam ruangan per-temuan!"
Seruan itu disambut oleh Iain-lain Wie-su.
"Harap keempat Tay-ciangbunjin masuk ke dalam ruangan pertemuan!"
Semua jago kaget bereampur heran.
Semua orang yang berkumpul di situ, di samping murid-murid berbagai partai dan para petugas pihak tuan rumah, adalah Ciangbunjin, atau pemimpin, partai-partai persilatan.
Mengapa orang sudah mengguna-kan istilah "besar"?
Apa ada Ciangbunjin "besar"
Dan Ciangbunjin "kecil"?
Seluruh ruangan jadi sunyi senyap dan mata semua orang mengawasi pintu samping di sebelah timur, dari mana muncul dua orang perwira ting-katan ketiga yang mendahului masuknya emp; t orang ke dalam ruangan itu.
Setibanya di bawah kain sulaman itu, dengan sikap sangat hormat, mereka mempersilakan keempat orang tersebut duduk di kursi yang dialas dengan kulit harimau.
Antara keempat tetamu itu, yang berjalan paling dulu adalah seorang pendeta tua yang alisnya putih dan tangannya mencekal sebatang Sian-thung dari kayu Yang-bok yang berwarna kuning.
Dilihat dari paras mukanya yang welas asih, pendeta tua itu paling sedikitnya sudah berusia sembilan puluh ta-hun.
Yang kedua adalah seorang Toojin yang kirakira berusia tujuh puluh tahun, dengan muka mu-ram berwarna hitam dan mata separuh tertutup separuh terbuka.
Kedua orang itu — yang satu Hweeshio dan yang lain Toojin — sangat berbeda satu sama lain.
Si hweeshio tua bertubuh tinggi besar dan berparas angker, sehingga sekelebatan saja, orang segera tahu, bahwa ia seorang beribadat yang berilmu tinggi.
Tapi si Toojin tiada bedanya seperti imam biasa yang sering memperdayai orang dengan menjual surat jimat atau obrolan lain.
Tapi rru ngapa dia termasuk salah seorang dari empat Ciangbunjin "besar"?
Yang ketiga adalah seorang tua berusia enam puluh tahun lebih yang kelihatan-nya bersemangat sekali, dengan sepasang matanya yang berkilatkiiat dan kedua Tay-yang-hiat yang menonjol ke atas, suatu tanda, bahwa ia memiliki Lweekang yang sangat tinggi.
Begitu masuk, sambil tersenyum-senyum, ia manggut-manggut dan di an-tara seratus lebih Ciangbunjin itu, tak kurang dari sembilan puluh yang mengenalnya.
Mereka meng-gunakan panggilan "Tong Toako"
Atau "Tong Tayhiap"
Dan hanya beberapa pentolan yang sudah berusia lanjut menggunakan istilah "Kam Lim-heng". Ouw Hui agak terkejut.
"Ah! Orang itu tentu bukan lain dari pada Kam-lim-hui-cit-seng Tong Pay Tong Tayhiap!"
Katanya di dalam hati.
"Ibu Wan Kouwnio telah ditolong olehnya dan ia dikenal sebagai seorang pendekar yang berpribudi tinggi. Sungguh tak dinyana hari ini ia kena ditarik oleh Hok Kong An."
Tong Pay tidak lantas duduk, tapi menghampiri dan memberi salam kepada sejumlah Ciangbunjin yang dikenalnya.
Sikapnya yang ramah tamah menimbulkan rasa hormat dalam hati setiap orang.
Waktu tiba di meja Ouw Hui, sambil menarik tangan Ciangbunjin dari Tay-seng Kauw-kun-bun, ia berkata.
"Kera tua! Kau juga datang? Mengapa tuan rumah tidak menyuguhkan sepiring buah tho ke-padamu?"
Orang itu membungkuk secara hormat sekali dan berkata seraya tertawa.
"Tong Tayhiap, sudah tujuh tahun aku tidak pernah'mengunjungi kau untuk menanya keselamatanmu. Semakin lama ku-lihat Tayhiap semakin gagah."
Tong Pay tertawa.
"Bagaimana dengan anak cucu kera dalam guha Sui-liam-tong gunung Hoa-ko-san?"
Tanyanya sambil menepuk pundak orang.
"Dengan bersandar kepada Tong Tayhiap, mereka semua baik-baik saja."
Jawabnya. Tong Pay tertawa terbahak-bahak. Ia berpaling kepada Kie Siauw Hong dan bertanya.
"Apa Kie Loosam tidak datang?"
Pemuda itu buru-buru memberi hormat seraya menjawab.
"Ayah tidak datang. Siang-malam ayah selalu ingat Tong Tayhiap dan sering mengatakan, bahwa sesudah menelan Jinsom Yang-eng-wan pemberian Tayhiap, kesehatannya mendapat ba-nyak kemajuan."
"Apa kau menginap di gedung In Pweecu?"
Tanya pula Tong Pay.
"Baiklah, besok aku akan memberi beberapa pel lagi untuk ayahmu."
Kie Siauw Hong membungkuk lagi dan meng-haturkan terima kasih berulang-ulang. Sesudah manggut-manggutkan kepalanya kepada Ouw Hui. Leng So dan Coa Wie, Tong Pay segera pergi ke lain meja.
"Tong Tayhiap bergelar Kam-lim-hui-cit-seng, tapi sebenarbenarnya, pengaruhnya melampaui tu-juh propinsi,"
Kata Ciangbunjin Kauw-kun-bun dengan suara kagum.
"Tahun itu, piauw seharga de-lapan belas laksa tahil perakyang dilindungi olehku telah hilang di jalan Kamliang. Karena gusar dan jengkel, hampir-hampir aku mencemplungkan diri ke dalam sumur. Kalau bukan Tong Tayhiap yang turun tangan dengan menggunakan jalan lembek dan keras, sehingga ia sampai mengangkat senjata, mina mau Ciu-coan Sam-houw memulangkan piauw tersebut?" (Tiga harimau dari Ciu-coan) Secara bernafsu dan dengan rasa berterima kasih yang sangat besar, ia segera menuturkan segala kejadian-nya. Sebagai seorang yang menanggung budi besar, setiap ada kesempatan, ia selalu menceritakan per-tolongan Tong Pay kepadanya. Orang yang keempat mengenakan seragam per-wira dengan topi tingkat keempat. Ia masuk dengan tindakan mantap dan sikap angker, sehingga seke-lebatan saja, orang akan lantas bisa lihat, bahwa ia adalah pentolan dalam Rimba Persilatan. Ia berusia kurang lebih lima puluh tahun, mukanya persegi, kupingnya lebar, kedua matanya bersinar tajam dan dengan sikap luar biasa tenang, ia duduk di kursi keempat.
"Ah! Dia juga seorang yang sangat lihay,"
Kata Ouw Hui dalam hatinya.
Waktu baru tiba di gedung itu, pemuda itu tidak memandang sebelah mata kepada Ciangbun Tayhwee yang dihimpunkan oleh Hok Kong An.
Tapi begitu melihat keempat Ciang-bunjin itu, hatinya lantas saja keder.
"long Tayhiap dan perwira itu saja belum tentu dapat dijatuhkan olehku,"
Pikirnya.
"Si hweeshio dan Toojin yang duduk 1i kursi yang lebih tinggi, sudah tentu memiliki kepandaian yang lebih lihay. Hari ini aku harus berhati-hati dan rahasiaku tidak boleh bocor."
Memikir begitu, ia tidak berani menengok ke sana-sini lagi, karena khawaiir dikenali oleh kaki tangan Hok Kong An dan lalu meraup kwacie yang lalu dimakannya perlahan-lahan.
Sesudah bersalaman dengan orang-orang yang dikenalnya, Tong Pay Tayhiap barulah duduk di kursinya.
Begitu ia duduk, orang-orang yang ting-katannya lebih muda dengan beruntunruntun menghampiri dan memberi hormat dengan ber-lutut.
Tong Pay adalah seorang hartawan yang ta-ngannya sangat terbuka.
Dalam kunjungannya ke pertemuan itu, muridmuridnya membawa banyak angpauw (bungkusan merah berisi uang).
Kepada setiap orang muda yang baru memberi hormat kepadanya dengan berlutut, ia menghadiahkan lima tahil perak sebagai tanda mata untuk perkenalan itu.
Selang beberapa lama barulah pemberian-pem-berian hormat kepada Tong Tayhiap selesai.
Sesaat kemudian, seorang perwira tingkat kedua berteriak.
"Tuang arak!"
Semua pelayan yang bertugas di berbagai meja lantas saja menuang arak. Sambil mengangkat cawan tinggitinggi, perwira itu berkata dengan suara nyaring.
"Para Ciangbun dan Busu dari berbagai partai! Hok Thayswee menyam-but dengan gembira kedatangan kalian di ibu kata. Sekarang terlebih dulu siauwtee menghaturkan selamat datang kepada kalian dengan secawan arak ini. Sebentar, Hok Thayswee sendiri akan meng-angkat cawan dengan kalian."
Sehabis berkata be-gitu, ia menceguk cawannya, diikuti oleh para ha-dirin. Sehabis minum, perwira itu berkata pula.
"Hari ini, yang hadir dalam ruangan ini adalah orang-orang gagah dari Rimba Persilatan --suatu kejadian yang langka dalam sejarah persilatan. Apa yang paling menggirangkan Hok Thayswee ialah beliau berhasil mengundang juga empat Ciangbunjin besar. Dengan menggunakan kesempatan ini, siauw-tee ingin memperkenalkan keempat Ciangbunjin besar itu kepada kalian."
La menunjuk Hweeshio yang alisnya putih dan melanjutkan perkataannya.
"Yang itu adalah Taytie Siansu, Hong-thio kelen-teng Siauw-lim-sie di gunung Siongsan, propinsi Holam. Selama lebih dari seribu tahun, Siauw-lim-sie selalu dianggap sebagai sumber dari ilmu silat. Hari ini, dalam pertemuan para Ciangbunjin di kolong langit, sudah sepantasnya saja jika Tay-tie Siansu menduduki kursi pertama."
Para hadirin lantas saja bersorak-sorai sambil menepuknepuk tangan.
Siauw-lim-sie mempunyai sangat banyak cabang, sehingga dapat dikatakan, bahwa ilmu silat dari sedikitnya sepertiga orang-orang yang hadir di situ masih bersangkut paut dengan kelenteng itu.
Maka itu, dapat dimengerti jika pertemuan dengan pemimpin Siauw-lim-sie sudah menggirangkan sangat banyak orang-orang gagah itu.
Sambil menunjuk Toojin yang duduk di kursi kedua, perwira itu berkata pula.
"Di samping Siauw-lim-pay adalah Bu-tongpay yang namanya sangat cemerlang. Yang itu adalah Buceng-cu Tootiang. ketua kuil Giok-hie-kiong di gunung Butong-san."
Bu-tong-pay adalah leluhur dari ilmu silat Lweekang (ilmu silat "dalam") yang terkenal di seluruh Tiongkok.
Akan tetapi, mendengar, bahwa Toojin yang mukanya mesum itu adalah Ciangbunjin Bu-tong-pay, semua orang merasa heran.
Apa yang mereka tahu, ialah semenjak sepuluh tahun berselang, sedari Ciangbunjin Ma Giok meninggal dunia dan Thio Ciauw Tong, seorang pen-tolan Bu-tong, binasa di Huikiang, Bu-tongpay belum mempunyai Ciangbunjin lagi.
Nama Bu-ceng-cu yang barusan diperkenalkan, belum dikenal dalam kalangan Rimba Persilatan.
Sementara itu, perwira tersebut sudah menunjuk Tong Pay dan melanjutkan perkataannya.
"Yang itu adalah Kam-lim-huicit-seng Tong Tayhiap, Ciangbunjin dari partai Sam-cay-kiam. Nama Tong Tayhiap yang menggetarkan seluruh Rimba Persilatan, kurang boleh tak usah diperkenalkan lagi."
Katakata itu disambut dengan sorak-sorai gegap gempita, yang berbeda jauh dengan sambutan yang diberikan kepada Buceng-cu atau bahkan kepada Tay-tie Siansu sendiri.
Sesudah tampik sorak mereda, perwira itu lalu berkata lagi sambil menunjuk orang yang keempat.
"Yang itu adalah orang gagah dari Boan-ciu, Hay Lan Pit Tayjin, Sam-leng atau pemimpin tangsi Yauw-kie-eng dari pasukan Bendera Kuning dan Ciangbunjin dari partai Hek-liong-bun di propinsi Liaotong."
Waktu diperkenalkan, karena pangkatnya lebih rendah dari pada perwira yang memperkenalkannya, maka Hay Lan Pit bangun dari tempat duduk-nya dan berdiri tegak.
"Hek-liong-bun? Partai apa itu?"
Bisik seorang tua yang duduk di dekat meja Ouw Hui.
"Nama itu tidak dikenal dalam Rimba Persilatan. Hrn! Dia diangkat menjadi Ciangbunjin besar, sebab dia seorang Boan-ciu. Memang, kalau semua Ciangbunjin terdiri dari bangsa Han, muka Hok Thayswee tidak begitu terang. Menurut penglihatanku, Hay Tayjin itu paling banyak mempunyai tenaga besar. Mana dia dapat berendeng dengan jagojago bangsa Han?"
"Pendapat Susiok tepat sekali,"
Kata seorang pemuda.
Mendengar itu, Ouw Hui tertawa dalam hati-nya.
Sesudah melihat sikap dan gerak-gerik orang Boan itu, ia mengerti, bahwa pemimpin Hek-liong-bun tersebut bukan sembarang orang.
Sesudah diperkenalkan, keempat Ciangbunjin besar itu segera bangun berdiri untuk memberi hormat kepada para hadirin dengan secawan arak dan kemudian masing-masing mengucapkan kata-kata merendahkan diri.
Tay-tie Siansu bicara dengan sikap agung, sesuai dengan kedudukannya yang sangat tinggi.
Tong Pay yang pandai berpidato, telah mengucapkan kata-kata yang membangkitkan gelak tertawa.
Bu-ceng-cu dan Hay Lan Pit yang tidak biasa bicara dihadapan orang banyak, hanya mengucapkan sepatah dua patah dengan suara ter-putus-putus.
Bu-ceng-cu bicara dalam dialek Ouw-pak yang tidak dimengerti oleh banyak orang.
"Mengapa suara imam itu tidak cukup ber-tenaga?"
Tanya Ouw Hui di dalam hati dengan perasaan heran.
"Bagaimana dia bisa menjadi Ciang-bunjin dari Bu-tong-pay? Mungkin sekali ia dicintai oleh para anggota partai, sehingga walaupun ilmu silatnya tidak tinggi, ia diangkat menjadi Ciang-bunjin."
Sesudah beres perkenalan, perjamuan segera dimulai.
Perjamuan seorang menteri besar seperti Hok Thayswee tentu saja berlainan dengan perjamuan biasa.
Jangankan santapannya, sedangkan araknya saja, yaitu arak Cong-boan Ang-tin-siauw, sudah merupakan minuman yang langka.
Ouw Hui tidak berlaku sungkan-sungkan dan dengan ber-untun ia sudah minum kurang lebih dua puluh cawan.
Leng So mengawasi kakaknya sambil ter-senyum-senyum dan kadangkadang melirik Hong Jin Eng, untuk melihat apa manusia busuk itu masih berada di tempatnya.
Sesudah dikeluarkan tujuh-delapan macam sa-yur, tiba-tiba terdengar teriakan.
"Hok Thayswee tiba!"
Semua perwira, petugas dan pelayan dengan serentak berdiri tegak, diikuti oleh semua tetamu. Sesaat kemudian, dari luar terdengar suara sepatu dan beberapa orang masuk ke dalam.
"Memberi hormat kepada Hok Thayswee!"
Te-riak semua perwira sambil membungkuk dan menekuk satu lututnya. Hok Kong An mengebas tangannya seraya ber-kata.
"Sudah! Bangunlah!"
"Terima kasih, Hok Thayswee!"
Teriak pula para perwira itu. Melihat tata tertib yang angker dan rapih itu, Ouw Hui merasa kagum.
"Hok Kong An benar-benar bukan sembarang orang,"
Pikirnya.
"Tak heran jika saban kali keluar berperang, ia selalu mem-peroleh kemenangan."
Melihat paras muka pembesar itu yang berseri-seri, Ouw Hui berkata pula di dalam hatinya.
"Manusia tak punya isi perut! Dua anaknya hilang, tapi dia tidak memperdulikan."
Hok Kong An segera memerintahkan orang menuang arak.
"Para Busu,"
Katanya sambil meng-angkat cawan.
"Dengan jalan ini aku memberi selamat datang kepada kalian. Keringkan cawan!"
Ia menceguk isi cawan diikuti oleh para hadirin, kecuali Ouw Hui yang hanya menempelkan pinggir cawan di bibirnya. Pemuda itu sungkan minum bersama-sama Thayswee yang sangat kejam itu.
"Pertemuan para Ciangbunjin telah diketahui juga oleh Bansweeya (kaisar),"
Kata pula pembesar itu.
"Barusan Hongsiang (kaisar) telah memanggil aku dan menghadiahkan dua puluh empat buah cangkir yang harus dibagikan kepada dua puluh empat Ciangbunjin."
Ia mengangkat tangannya dan beberapa orang lantas saja menghampiri dengan membawa tiga kotak sulam.
Seorang perwira segera menggelar sehelai taplak sutera sulam di atas meja dan dari dalam kotak, ia mengeluarkan cangkir-cangkir yang lalu ditaruh di atas meja itu.
Ternyata, dalam kotak pertama terisi delapan buah cangkir giok, dalam kotak kedua delapan cangkir emas, sedang dalam kotak ketiga delapan cangkir perak.
Tiga rupa cangkir itu diatur jadi tiga baris di atas meja.
Dengan sinarnya yang gilang-gemilang, semua cangkir diukir dengan gambar-gambar yang indah luar biasa.
Dengan rasa kagum, semua orang mengawasi cangkir-cangkir itu, karya seniman-seniman pilihan dari istana kaisar.
"Cangkir giok dengan ukiran gambar naga di-beri nama Giok-liong-pwee,"
Kata pula Hok Kong An sesudah semua cangkir diatur beres.
"Cangkir giok itu adalah yang paling berharga. Yang emas, dengan ukiran burung hong, diberi nama Kim-hong-pwee, sedang cangkir perak, dengan ukiran ikan gabus meletik, adalah Gin-lee-pwee."
Mendengar keterangan itu, semua orang jadi merasa kurang enak.
Dalam ruangan tersebut ter-dapat seratus lebih Ciangbunjin, sedang jumlah cangkir hanya dua puluh empat buah.
Siapa yang akan mendapat cangkir-cangkir itu?
Di samping itu, cangkir-cangkir tersebut juga berbeda-beda.
Cangkir giok tentu saja banyak lebih berharga daripada cangkir perak.
Siapa yang akan memperoleh cangkir giok dan siapa yang akan memperoleh perak?
Sementara itu, Hok Kong An sudah mengambil empat buah cangkir giok dan ia sendiri lalu menye-rahkannya kepada empat Ciangbunjin besar.
"Kalian adalah pemimpin-pemimpin Rimba Persilatan dan setiap orang mendapat sebuah cangkir giok,"
Katanya. Tay-tie Siansu dan ketiga Ciangbunjin lain-nya lantas saja menerima hadiah itu sambil meng-haturkan terima kasih.
"Sekarang masih ada dua puluh cangkir,"
Kata pula Hok Kong An.
"Aku ingin meminta supaya kalian memperlihatkan kepandaian dan empat orang yang ilmu silatnya paling tinggi akan dihadiahkan dengan empat buah cangkir giok. Mereka berempat akan mempunyai kedudukan yang berendeng dengan Ciangbunjin dari Siauw-lim, Bu-tong, Sam-cay-kiam dan Hek-liong-bun, sehingga dengan demikian, kedelapan Ciangbunjin itu dapat dinama-kan sebagai Giok-liong Pat-bun (Delapan partai yang mendapat cangkir Giok-liong-pwee). Kedelapan partai tersebut akan dikenal sebagai partai-partai terbesar dan terkuat dalam Rimba Persilatan. Sesudah itu, berdasarkan kepandaian yang dimiliki-nya, delapan Ciangbunjin akan menerima cangkir emas dan mereka akan dikenal sebagai Kim-hong Pat-bun. Paling akhir, delapan orang lain, yang akan menjadi Gin-lee Pat-bun, akan menerima cangkir perak. Sesudah ada penetapan tingkatan, maka di be-lakang hari dalam Rimba Persilatan boleh tidak usah terjadi pula sengketa-sengketa yang tidak di-ingini. Dalam pertemuan ini, aku mengangkat Tay-tie Siansu, Bu-ceng-cu, Tong Tayhiap dan Hay Som-leng sebagai juru pemimpin (juri) yang akan menetapkan tinggi rendah ilmu silat setiap orang. Apakah kalian setuju?"
Keterangan Hok Kong An itu disambut dengan rasa terkejut oleh sejumlah Ciangbunjin yang mempunyai pemandangan luas.
Cara menteri besar itu tiada bedanya seperti mengadu domba orang-orang gagah dalam Rimba Persilatan.
Tapi di hadapan Hok Kong An, siapa yang berani mengeluarkan pendapat lain?
Maka itu, biarpun di dalam hati sangat tidak setuju, mereka terpaksa ikut menepuk-nepuk tangan.
Sementara itu, begitu mendengar penjelasan Hok Kong An, Ouw Hui segera ingat keterangan Wan Cie Ie mengenai maksud tujuan pembesar itu dalam menghimpunkan pertemuan para Ciangbunjin.
"Semula aku menduga, bahwa dengan mengumpulkan orang-orang gagah di kolong langit, ia ber-maksud untuk menggunakan mereka guna kepentingannya sendiri."
Katanya di dalam hati.
"Tapi dilihat begini, ia mengandung maksud yang sangat jahat. Ia ingin mengadu domba para ahli silat supaya mereka saling bunuh dalam perebutan nama ko-song, agar mereka tidak mempunyai tenaga lagi untuk menentang pemerintahan Boan-ceng."
Memikir sampai di situ, ia lihat Leng So mencelup jari tangannya ke dalam cangkir teh dan menulis huruf "jie" (dua) serta "tho" (buah tho), di atas meja.
Sesudah menulis, si nona lalu menghapus kedua huruf itu dengan tangannya.
Ouw Hui manggut-manggutkan kepalanya.
"jie-moay sungguh pintar,"
Pikirnya.
"Ia sudah dapat menebak siasat busuk dari Hok Kong An yang menyerupai dengan tipu An Eng yang sudah mem-bunuh tiga orang gagah dengan menggunakan dua buah tho."
Dengan rasa duka, ia menyapu seluruh ruangan dengan matanya.
Ia mendapat kenyataan, bahwa sebagian besar jago-jago muda kelihatan bergembira sekali dan siap sedia untuk segera turun ke dalam gelanggang, tapi di antara para Ciang-bunjin yang berusia lebih tua banyak yang berparas lesu dan masgul, karena seperti juga Ouw Hui dan Leng So, mereka sudah melihat bencana yang te-ngah dihadapi oleh Rimba Persilatan.
Sementara itu, semua orang segera merunding-kan keterangan Hok Thayswee, sehingga ruangan itu jadi ramai sekali dengan suara manusia.
"Ong Loo-ya-cu,"
Demikian terdengar suara seorang yang duduk di dekat meja Ouw Hui.
"Ilmu silat Sin-kun-bun lihay bukan main dan Loo-ya-cu pasti akan dapat mengantongi sebuah cangkir Giok-liong."
"Cangkir Giok-liong aku tidak berani harap-kan,"
Kata orang yang dipanggil "Ong Loo-ya-cu"
Dengan suara merendahkan diri.
"Aku sudah merasa beruntung jika dapat mem-perlihatkan cangkir emas kepada anak-anakku."
Seorang lain tertawa dan berkata dengan suara perlahan.
"Aku hanya khawatir, dia masih tak mam-pu merebut cangkir perak."
Mendengar ejekan itu, si orang she Ong jadi gusar bukan main dan mengawasi orang yang meng-ejeknya dengan mata melotot.
Demikianlah, di setiap meja jago-jago itu ramai bicara, bisik-bisik atau tertawa-tawa.
Tiba-tiba seorang perwira yang berdiri di sam-ping Hok Kong An, menepuk tangannya tiga kali dan berseru.
"Tuantuan harap tenang sebentar, Hok Thayswee ingin bicara lagi."
Suara ramai itu perlahan-lahan mereda, tapi karena orangorang itu tidak biasa dengan disiplin milker, maka untuk sementara, masih terdengar suara orang bicara.
Sesudah lewat beberapa saat, barulah ruangan itu menjadi sunyi.
"Sekarang aku mengundang tuan-tuan bersan-tap dan sesudah makan minum, barulah kalian mem-perlihatkan kepandaian,"
Kata Hok Kong An.
"Mengenai peraturan pie-bu (adu silat), sebentar Ang Teetok akan memberi penjelasan."
Seorang perwira Boan yang berdiri di samping pembesar itu, lantas saja berkata.
"Hayolah! Kalian boleh makan dan minum sepuas hati. Sehabis per-jamuan, aku akan memberi penjelasan. Hayolah! Sekarang aku memberi hormat kepada kalian dengan secawan arak."
Sambil berkata begitu, ia menuang arak ke sebuah cawan besar dan lalu men-ceguk kering isinya. Sebagian besar jago-jago yang hadir di situ adalah "gentong-gentong"
Arak, tapi karena sedang menghadapi pertempuran, mereka tidak berani mi-num terlalu banyak.
Sesudah perjamuan selesai, perwira yang tadi kembali menepuk tangan tiga kali.
Sejumlah pe-layan segera menaruh delapan kursi Thay-su-ie di ruangan tengah, delapan kursi di ruangan samping sebelah timur dan delapan kursi pula di ruangan samping sebelah barat.
Pada kursi-kursi di ruangan tengah ditaruh alas dengan sulaman benang emas, pada kursi di ruangan timur ditaruh alas sutera merah, sedang pada kursi di ruangan barat ditaruh alas sutera hijau.
Sesudah itu, tiga orang Wie-su masing-masing membawa Giok-liong-pwee, Kim
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com hong-pwee dan Gin-lee-pwee yang lalu ditaruh di atas meja teh di ruangan tengah, ruangan timur dan ruangan barat.
Sesudah cangkir-cangkir diatur beres, An Tee-tok segera berkata dengan suara nyaring.
"Had ini kita mengikat persahabatan dengan ilmu silat dan begitu lekas salah satu pihak kena dicolet, per-tandingan harus segera dihentikan. Siapa pun jua tidak boleh mendendam sakit hati. Dalam pertan-dingan, sebaiknya jangan sampai melukai lawan. Akan tetapi, sebagaimana kalian tahu, di dalam setiap pertempuran selalu terdapat kemungkinan kesalahan tangan. Maka itu, Hok Thayswee telah menetapkan, bahwa orang yang mendapat luka en-teng akan diberi uang obat sebanyak lima puluh tahil perak, yang luka berat diberi tiga ratus tahil perak, sedang kalau sampai ada yang meninggal dunia, keluaganya akan mendapat seribu tahil perak. Orang yang karena salah tangan, sudah melukai atau membinasakan lawannya, tidak akan dituntut."
Semua orang terkejut. Penjelasan itu terang-te-rangan menganjurkan supaya jago-jago itu bertem-pur mati-matian. Sesudah berdiam sejenak, perwira itu berkata pula.
"Kami mengundang empat Ciangbunjin besar mengambil tempat duduknya."
Empat orang Wie-su lantas saja menghampiri dan mempersilahkan Taytie Siansu, Bu-ceng-cu, Tong Pay dan Hay Lan Pit maju ke tengah-tengah ruangan untuk duduk di empat kursi Thay-su-ie.
Sesudah mereka berduduk, masih ada empat kursi kosong, dua di sebelah kiri dan dua lagi di sebelah kanan.
Perwira itu tersenyum dan berkata pula dengan suara nyaring.
"Para Ciangbunjin sekarang boleh memperhhatkan kepandaiannya di hadapan Hok Thayswee. Mereka yang menganggap kepandaiannya cukup tinggi untuk memiliki cangkir Gin-lee-pwee boleh duduk di kursi di ruangan barat, sedang mereka yang menganggap kepandaiannya cukup tinggi untuk memperoleh Kim-hong-pwee, boleh duduk di kursi di ruangan timur. Dan mereka yang merasa dapat berendeng dengan empat Ciangbunjin besar, boleh duduk di kursi di ruangan tengah, bersama-sama keempat Ciangbunjin besar itu. Sesudah dua puluh Ciangbunjin menduduki dua puluh kursi itu, siapa yang merasa tidak puas boleh menantang orang yang menduduki kursi. Yang kalah mundur, yang menang duduk di kursi itu. Per-tandingan baru dihentikan sampai tidak ada orang yang menantang lagi. Bagaimana pendapat tuantuan?"
Pertanyaan itu disambut dengan teriakan "setuju!"
Oleh jago-jago muda yang berdarah panas dan yang menganggap, bahwa peraturan itu sesuai dengan kebiasaan pie-bu, siapa kuat siapa menang.
Di lain pihak, orang-orang yang tidak setuju dengan cara mengadu domba itu, tentu saja tidak berani membuka suara.
Waktu itu, Hok Kong An sendiri duduk di sebelah kursi Thay-su-ie yang ditaruh di sebelah kiri ruangan itu, dengan diapit oleh delapan Wie-su pilihan, antaranya Ciu Tiat Ciauw dan Ong Kiam Eng.
Leng So menyentuh tangan kakaknya dengan jerijinya sambil monyongkan mulutnya ke atas.
Ouw Hui dongak dan lihat sejumlah Busu berdiri berjejer di atas genteng dengan senjata terhunus, sedang di luar ruangan itu pun dikurung dengan sepasukan tentara pilihan.
Pada saat itu, penjagaan di gedung Peng-po Siang-sie mungkin lebih hebat daripada di istana kaisar sendiri.
"Aku sudah merasa puas, bahwa hari ini aku bertemu dengan Hong Jin Eng,"
Kata Ouw Hui di dalam hati.
"Yang paling penting, rahasiaku tidak boleh bocor. Sebentar aku akan coba merebut sebuah cangkir perak supaya tidak menyia-nyiakan harapan Saudara Kie. Tapi sebaiknya aku turun belakangan, supaya tidak menarik terlalu banyak perhatian."
Di luar dugaan, niatan Ouw Hui untuk maju belakangan, juga dipunyai oleh jago-jago lainnya.
Ouw Hui berniat begitu karena khawatir rahasianya bocor, tapi jago-jago yang lain menggenggam niatan itu, sebab ingin menarik keuntungan.
Mereka ingin menunggu sampai orang lain letih dalam pertandingan-pertandingan pendahuluan.
Maka itulah, sesudah perwira itu mengundang beberapa kali, tak seorang yang maju untuk menduduki dua puluh kursi itu.
Mengenai ilmu silat terdapat sebuah pepatah yang tepat sekali, yaitu.
"Bun-bu-tee-it, Bu-bu-tee-jie" (Ilmu surat tidak ada nomor satu, Ilmu silat tidak ada nomor dua). Kata-kata itu berarti, bahwa seorang sasterawan tidak pernah menganggap, bahwa karangannya atau syairnya adalah nomor satu di dalam dunia, sedang seorang ahli silat -kecuali beberapa gelintir pentolan yang sudah mengundur-kan diri dari pergaulan -biasanya sungkan duduk di bawah orang. Harus diingat, bahwa tokoh-tokoh yang hadir dalam pertemuan itu adalah Ciangbunjin, atau pe-mimpin, dari sebuah partai atau cabang persilatan. Maka itu, walaupun ada sejumlah orang merasa tawar dalam hatinya, tapi mereka juga tidak mau menjatuhkan nama partai sendiri. Semua orang mengerti, bahwa sekali salah tangan, ratusan atau ribuan muridnya tak akan bisa mengangkat kepala lagi dalam dunia Kang-ouw dan kedudukannya sebagai Ciangbunjin juga sukar dapat dipertahankan lagi. Pada saat itu, berdasarkan kebiasaan dalam Rimba Persilatan, dalam alam pikiran semua orang terdapat sebuah kesimpulan yang bersamaan, yaitu. Kalau mau turun, yang dituju adalah cangkir Giok-liongpwee. Cangkir emas dan cangkir perak, yang berarti kedudukan kedua dan ketiga, sama sekali tidak diperhatikan orang. Maka itu, semua mata ditujukan kepada ruangan tengah, sedang ruangan timur dan barat sama sekali tidak dilirik orang. Sesudah lewat beberapa saat, sambil tertawa mengejek, perwira itu berkata.
"Mengapa tuan-tuan berlaku begitu sungkan? Apa kalian ingin maju paling belakang, sesudah semua orang kecapaian? Jika benar begitu sikap itu tidaklah sesuai dengan sikapnya seorang gagah."
Benar saja sesudah diejek, dua orang segera maju dengan berbareng dan duduk di dua kursi yang kosong.
Yang satu bertubuh tinggi besar seperti pagoda dan waktu ia duduk, kursi Thay-su-ie yang kekar kuat mengeluarkan suara "kretekkretek".
Yang satunya lagi berbadan sedang-sedang saja dan di bawah dagunya tumbuh jenggot yang berwarna kuning.
"Lao-hia,"
Katanya seraya tertawa.
"Kita menghadapi banyak sekali jago-jago dan cangkir Giok-liong belum tentu dapat direbut oleh kita. Maka itu, jangan kau merusakkan kursi itu."
Si raksasa tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan suara di hidung. Seorang perwira yang memakai topi tingkatan keempat lantas saja maju ke depan dan berteriak sambil menunjuk si raksasa.
"Tuan-tuan! Yang itu adalah Ciangbunjin dari partai Jie-long-kun, Oey Hie Kiat Oey Loosu."
Kemudian ia menunjuk si jenggot kuning dan berkata pula.
"Yang itu ialah Auwyang Kong Ceng, Auwyang Loosu, Ciangbunjin Yan-ceng-kun."
Seorang tua yang duduk di dekat meja Ouw Hui lantas saja berbisik.
"Aha! Cian-lie Tok-heng-hiap Auwyang Kong Ceng juga ingin merebut cangkir!" (Pendekar yang berjalan sendirian dalam perjalan-an ribuan li). Mendengar itu, Ouw Hui agak terkejut. Gelar Cian-lie Tokheng-hiap telah ditempelkan pada namanya oleh Auwyang Kong Ceng sendiri, seorang perampok tanpa kawan yang namanya tidak begitu harum dalam kalangan Rimba Persilatan, tapi harus diakui, ia memang mempunyai kepandaian tinggi. Sesudah kedua orang itu, maju pula seorang imam, yaitu See-leng Toojin, Ciangbunjin dari Kun-lun-to. Ia sama sekali tidak membawa senjata dan duduk di kursi Thay-su-ie sambil tersenyum. Semua orang merasa heran, karena sebagai pemimpin Kun-lun-to, ia tidak membekal golok. Seluruh ruangan berubah sunyi senyap dengan semua mata ditujukan kepada kursi terakhir yang masih kosong.
"Masih ada sebuah Giok-liong-pwee,"
Kata pula perwira itu.
"Apa tidak ada yang mau?"
Pertanyaan itu disambut dengan teriakan seorang.
"Baiklah! Tinggalkan cangkir itu untuk aku, si setan arak!"
Hampir berbareng, seorang pria yang bertubuh jangkung kurus bertindak ke luar dengan tindakan sempoyongan, dengan satu tangan men-cekal poci arak dan lain tangan memegang cawan.
Begitu tiba di tengah-tengah ruangan, ia membuat dua putaran seperti orang mabuk arak dan kemudian, ia terjengkang ke belakang dan jatuh duduk di kursi Thay-su-ie yang terakhir.
Gerakan yang sangat lincah dan enteng itu memperlihatkan kepandaian yang tinggi, sehingga tanpa merasa bebe-rapa hadirin berseru.
"Bagus!"
Orang itu adalah Ciangbunjin dari partai Cui-pat-sian, namanya Bun Cui Ong, bergelar Cian-pwee Kie-su (Tuan dari ribuan cawan arak).
"Aku menghaturkan selamat kepada keempat Loosu,"
Kata An Teetok.
"Sekarang, siapa yang menganggap kepandaiannya melebihi keempat Loosu itu, boleh tampil ke muka dan mengajukan tantangan. Jika tidak ada yang menantang, maka Jie-Iong-kun, Yan-Ceng-kun, Kun-lun-to dan Cui-pat-sian akan termasuk dalam Giok-liong Pat-bun."
Hampir berbareng, dari sebelah timur keluar seorang yang berjalan dengan tindakan lebar.
"Siauwjin bernama Ciu Liong,"
Ia memperkenalkan diri.
"Aku ingin meminta pengajaran dari Cian-lie Tok-heng-hiap Auwyang Loosu."
Orang itu ber-tubuh kate dengan otot-otot yang menonjol keluar, sehingga bentuk badannya menyerupai seekor ker-bau.
Ouw Hui tidak banyak mengenal orang-orang Rimba Persilatan, tapi baik juga, si kakek yang duduk di dekat mejanya mempunyai pengalaman luas dan ialah yang tanpa diminta selalu mencerita-kan asal usul setiap orang yang tampil ke muka.
"Dia itu adalah Ciangbunjin dari Lo-cia-kun dan Cong-piauw-tauw Liong-hin Piauw-kiok di Tay-tong-hu, propinsi Shoasay,"
Bisik si kakek kepada ka-wannya.
"Kudengar Auwyang Kong Ceng pernah merebut piauw yang dilindungi olehnya, sehingga ia menaruh dendam. Menurut pendapatku, ia turun ke gelanggang bukan untuk merebut cangkir Giok-liong."
"Ya, dalam Rimba Persilatan memang banyak tersembunyi dendam sakit hati,"
Kata Ouw Hui dalam hatinya.
"Seperti aku, kedatanganku di sini terutama untuk menyelidiki tempat bersembunyi-nya Hong Jin Eng."
Mengingat begitu, tanpa merasa ia melirik orang she Hong itu yang sedang meng-usapusap Tiat-tannya dengan paras muka tenang.
Sesudah dua malam berturut-turut terjadi keribut-an, Hong Jin Eng menganggap musuhnya sudah kabur ke lain tempat.
Mimpi pun ia tak pernah mimpi, bahwa Ouw Hui justru berada dalam ruang-an itu.
Sementara itu, sambil tertawa haha-hihi, Auwyang Kong Ceng sudah bangun dari kursinya seraya berkata.
"Ciu Congpiauw-tauw, selamat bertemu! Bagaimana dengan perusahaanmu? Aku pereaya kau telah mendapat banyak keuntungan."
Mendengar ejekan itu, darah Ciu Liong meluap.
Pada tahun yang lalu, karena perampokan yang dilakukan oleh Auwyang Kong Ceng, ia mesti mengganti piauw yang berharga lima laksa tahil perak, sehingga simpanan yang dikumpul olehnya selama puluhan tahun, habis seluruhnya.
Maka itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia segera menyerang secara nekat.
Dalam sekejap, mereka sudah mulai bertempur matimatian.
Ciu Liong bertenaga besar dan kedua kakinya mantap, sedang Auwyang Kong Ceng gesit gerakan-gerakannya.
Dalam per-tandingan itu, dengan mengandalkan tenaga dan latihannya, Ciu Liong tidak menghiraukan pukulan musuh dan walaupun dadanya sudah tertinju tiga kali beruntun, ia seperti juga tidak merasakan pukulan itu.
Tiba-tiba sambil membentak keras, ia menghantam dengan pukulan Genghong-tah.
Auwyang Kong Ceng berkelit seraya menendang dan tendangan itu mengena tepat di lutut musuhnya yang lantas saja rubuh terguling.
Tapi, sesudah bergulingan beberapa kali, Cong-piauw-tauw yang kedot itu sudah lantas bangun berdiri lagi.
Sesudah bertanding kira-kira lima puluh jurus, belasan pukulan sudah mampir di tubuh Ciu Liong.
Beberapa saat kemudian, waktu tidak berwaspada, tinju musuh mengenai tepat di hidungnya, yang lantas saja mengucurkan darah.
"Ciu Loosu,"
Kata Auwyang Kong Ceng dengan suara mengejek.
"Aku hanya merampas piauwmu dan bukan merebut is-terimu atau membunuh ayahmu. Sudahlah! Kita menyudahi saja permusuhan ini."
Ciu Liong yang sudah jadi kalap, terus mener-jang bagaikan harimau edan.
Dengan mengandal-kan ilmu ringan badan, Auwyang Kong Ceng kelit serangan membabi buta itu sambil mengejek.
Selang beberapa jurus lagi, kempungan Ciu Liong kena ditendang, tapi sebaliknya daripada menyerah, sambil memegang kempungan dengan tangan kiri, ia melompat dan mengirim tinju dengan seantero tenaganya.
Diserang secara begitu men-dadak, Auwyang Kong Ceng yang sedang tergirang-girang melihat musuhnya sudah hampir rubuh, tidak keburu berkelit lagi.
"Buk!"
Tinju Ciu Liong mengena tepat di dadanya, sehingga beberapa tulang-nya patah!
Tubuh perampok itu bergoyang-goyang dan mulutnya menyemburkan darah.
Ia mengerti, bahwa musuhnya yang mendendam sakit hati hebat, pasti akan menyerang pula.
Maka itu, sambil meringisringis, ia mundur seraya berkata.
"Kau... kau menang...."
Tapi Ciu Liong tidak mau mengerti dan terus lompat mengejar. Untung juga Tong Pay keburu mencegah.
"Ciu Loosu, kau sudah memperoleh kemenangan dan tidak boleh turun tangan lagi. Duduklah di sini."
Ciu Liong tidak berani membantah dan seraya merangkap kedua tangannya, ia berkata.
"Siauwjin tidak berani merebut Giok-liong-pwee!"
Ia memutar badan dan kembali pada tempat duduknya yang tadi.
Para hadirin yang mengenai asal usul Auwyang Kong Ceng merasa girang melihat robohnya perampok jahat itu.
Dengan paras muka pucat karena sakit dan malu, orang she Auwyang itu tidak berani meninggalkan gedung Hok Kong An.
Ia tahu, bahwa ia mempunyai terlalu banyak musuh dan dalam keadaan terluka berat, begitu keluar dari gedung itu, musuhmusuhnya pasti akan mengikutinya untuk membalas sakit hati.
Maka itu, dengan tidak memperdulikan ejekan-ejekan, ia mengeluarkan obat luka dan menelannya dengan secawan arak, akan kemudian duduk di salah sebuah kursi, tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Diam-diam Ouw Hui memuji kepintaran Ciu Liong.
Dengan kepandaiannya yang tidak seberapa tinggi, memang ia tak usah harap bisa memperoleh cangkir giok itu.
Dengan mengundurkan diri secara suka rela, meskipun tidak dapat berdiri sebagai anggota Giok-liong Pat-bun, nama Lo-cia-kun sudah naik tinggi.
"Jika Ciu Loosu tidak ingin turut merebut cangkir giok, kami mempersilahkan lain sahabat maju ke mari,"
Kata Tong Pay.
Hampir berbareng dengan undangan itu, dua orang yang satu dari kiri dan yang lain dari kanan, dengan berbareng maju ke depan.
Jarak antara mereka dan kursi Thay-su-ie kira-kira bersamaan dan siapa yang lebih cepat, dialah yang akan tiba lebih dulu.
Apa mau, kedua orang itu maju dengan kecepatan bersamaan dan begitu tiba di depan kursi, pundak mereka beradu keras, sehingga ke-dua-duanya terpental.
Pada detik itulah, sekonyong-konyong seorang lain melompat tinggi dan bagaikan seekor elang, tubuhnya melayang jatuh di atas kursi!
Itulah suatu ilmu mengentengkan badan yang sa-ngat tinggi, sehingga para hadirin serentak ber-sorak-sorai.
Kedua orang yang berbenturan itu segera meng-awasi orang yang merebut kursi.
Tiba-tiba mereka berseru dengan berbareng.
"Ah! Kau!"
Begitu ber-teriak, begitu mereka menerjang.
Tanpa bergerak dari kursi, orang itu menendang dengan kaki kirinya dan penyerang yang di sebelah kiri lantas saja jatuh terpelanting.
Hampir berbareng, tangan kanannya menyambar leher baju penyerang yang di sebelah kanan dan lalu menyentaknya, sehingga orang itu pun rubuh di lantai.
Para hadirin bersorak-sorai.
Mereka tak duga orang itu begitu lihay.
An Teetok yang tidak mengenal orang itu lantas saja menghampiri seraya bertanya.
"Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang mulia serta partai mana yang dipimpin tuan?"
Tapi sebelum orang itu keburu menjawab, kedua orang yang barusan rubuh sudah melompat bangun dan lalu menyerang pula sambil mencaci dengan perkataan-perkataan kotor.
Dari cacian itu, ternyata waktu berada dalam perjalanan, mereka berdua telah dipermainkan oleh orang yang duduk di kursi.
Tapi ilmu silat orang yang duduk di kursi banyak lebih unggul daripada kedua lawannya dan dengan mudah, ia kembali berhasil merubuhkan mereka.
"Cee Loojie!"
Teriak orang yang di sebelah kiri.
"Urusan kita ditunda saja sampai di lain hari. Hari ini, kita harus lebih dulu membereskan bangsat ini."
"Benar!"
Kata orang yang di sebelah kanan sambil mencabut sebilah pisau dari pinggangnya. Si kakek yang duduk di dekat meja Ouw Hui, menghela napas dan berkata.
"Semenjak Hoan-kang-houw (Belibis membalik sungai) meninggal dunia, murid-murid Ap-heng-bun (Partai gerakan bebek) benar-benar tidak berharga."
Karena sangat kepingin tahu, Ouw Hui lantas saja bangun dari kursinya dan menghampiri kakek itu. Sambil mengangkat kedua tangannya, ia berkata.
"Aku mohon menanya, apakah kedua orang itu murid-murid dari Ap-heng-bun?"
Si tua tertawa seraya berkata.
"Kalau tidak salah, kita belum pernah bertemu muka. Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?"
Sebelum Ouw Hui menjawab, Coa Wie yang sudah bangun berdiri, lantas mendului.
"Biarlah aku yang memperkenalkan kalian. Yang ini adalah Ciangbunjin yang baru dari partai kami, Thia Leng Ouw, Thia Loosu. Loosu ini ialah Ciangbunjin Sianthian-kun. Kwee Giok Tong, Kwee Loosu."
Si kakek mengenal Coa Wie dan juga tahu, bahwa Hoakun-bun adalah salah sebuah partai yang besar di Tiongkok Utara.
Maka itu, ia lantas saja bangun berdiri dan mengundang Ouw Hui untuk duduk bersama-sama.
Sian-thian-kun adalah sebuah partai yang sudah berusia tua dan didirikan pada jaman kerajaan Tong.
Dulu, partai itu mempunyai nama yang sangat cemerlang.
Hanya sayang, setiap pemimpin partai tidak mau menurunkan seantero kepandaiannya kepada murid-muridnya dan selalu menyimpan satu dua pukulan untuk menjaga diri.
Maka itulah, sesudah melalui jangka waktu berabad-abad, ilmu silat Sian-thian-kun tidak lagi menonjol ke depan.
Pada waktu itu, yaitu jaman kerajaan Ceng, partai Siang-thian-kun hanya sebuah partai kecil yang tidak begitu dipandang orang.
Kwee Giok Tong cukup tahu diri.
Ia mengerti, bahwa kepandaiannya tidak cukup untuk turut merebut cangkir dan ia duduk di situ hanya untuk menikmati makanan dan minuman Hok Kong An yang luar biasa.
Mendengar pertanyaan Ouw Hui, ia lantas saja berkata.
"Ilmu silat Ap-heng-kun agak aneh. Kuda-kudanya kate, kuat di bagian kaki dan terutama lihay dalam ilmu berenang. Pada waktu Hoan-kang-houw masih hidup, partai itu menjagoi di wilayah Ho-tauw. Ia meninggal dunia dengan meninggalkan dua orang murid. Yang mencekal pisau adalah Cee Pek Cin, sedang yang memegang pusut bernama Tan Ko Po. Semenjak sepuluh tahun, mereka ber-dua berebut kedudukan Ciangbunjin dan sampai sekarang belum ada keberesannya. Dan sekarang, muka mereka cukup tebal untuk datang ke mari bersama-sama."
Ouw Hui tersenyum.
Dalam Rimba Persilatan memang banyak terjadi kejadian yang aneh-aneh.
Sementara itu, dengan masing-masing mencekal senjata pendek, Cee Pek Cin dan Tan Ko Po menyerang dari kiri dan kanan.
Tanpa berkisar dari kursinya, orang itu membentak.
"Bocah goblok! Di Lan-ciu aku sudah memperingati supaya kamu ja-ngan datang ke mari. Tapi kamu tetap tidak meladeni."
Semua mata lantas saja ditujukan kepada orang aneh itu, yang berusia kira-kira lima puluh tahun, memakai tutup mata hitam dan mengisap sebatang pipa, sedang di atas bibirnya terdapat kumis warna kuning seperti kumis tikus.
Apa yang luar biasa adalah cara berkelahinya.
Dengan sembarangan, ia menggerakkan kaki tangannya, tapi pukulan-pu-kulannya itu yang agaknya tidak bertenaga, selalu berhasil merubuhkan kedua lawannya.
"Kwee Loosu, siapa Cianpwee itu?"
Tanya Ouw Hui. Kwee Giok Tong mengerutkan alisnya dan berkata.
"Dia... dia...."
Paras mukanya berubah merah, karena ia tak tahu siapa adanya orang aneh itu.
"Bocah kurang ajar!"
Bentak pula si tutup mata hitam.
"Kalau bukan memandang muka Hoan-kang-houw, aku pasti tak sudi campur-campur lagi urusanmu. Hoan-kang-houw adalah seorang gagah yang patut dihormati. Aku tak nyana, murid-muridnya sebangsa manusia rendah yang rakus. Eh! Kamu mau pulang atau tidak?"
"Suhu pasti tidak mempunyai sahabat bau seperti kau!"
Bentak Tan Ko Po.
"Aku berguru lima enam tahun, tapi belum pernah lihat muka bang-kotanmu!"
"Anak celaka!"
Caci si tutup mata.
"Hoan-kang-houw kawan mainku, kawan main lumpur dan menangkap kutu. Kau tahu?"
Tiba-tiba tangan kirinya menyambar dan "Plok!"
Mengena tepat di kuping Tan Ko Po. Sesaat itu, Cee Pek Cin menubruk dari sebelah kanan. Si tua mengangkat kakinya yang kena jitu di muka Pek Cin.
"Sesudah gurumu meninggal, biar aku yang menghajar kau!"
Bentaknya.
Melihat pertunjukan yang lucu itu, semua orang tertawa geli.
Tapi Cee Pek Cin dan Tan Ko Po benar-benar manusia tolol.
Mereka sedikit pun tak bisa lihat, bahwa kepandaian mereka masih kalah terlalu jauh dari si tutup mata.
"Bocah, kau dengarlah!"
Bentak si tua lagi.
"Hok Thayswee mengundang kamu datang di sini, apa kau kira dia mempunyai maksud baik? Hm! Dia mau mengadu domba kamu semua! Huh! Huh! untuk mendapat cangkir yang tidak cukup untuk memuat kencing, kamu saling geragot dan saling bunuh!"
Mendengar perkataan itu, semua orang kaget bukan main. Ouw Hui manggut-manggutkan ke-palanya dengan perasaan kagum akan ketabahan orang tua itu. Sekarang An Teetok tidak dapat menahan sa-bar lagi.
"Siapa kau?"
Bentaknya.
"Kau mau mengacau di sini?"
Karena masih memandang muka para orang gagah, sedapat-dapat ia menahan ama-rah dan tidak lantas turun tangan. Si tutup mata tertawa dan berkata dengan suara tenang.
"Aku sedang mengajar cucu-cucuku dan tidak ada sangkut pautnya dengan kau."
Sehabis berkata begitu, bagaikan kilat pipanya berkelebat.
Hampir berbareng pisau dan pusut yang dicekal Cee Pek Cin dan Tan Ko Po jatuh di lantai.
Sesudah menyelipkan pipanya di pinggang, tangan kanannya menyambar ke kuping kiri Cee Pek Cin, sedang tangan kirinya menyambar ke kuping kanan Tan Ko Po.
Ia bangun dan bertindak ke luar sambil menje-wer kuping kedua pemuda itu.
Heran sungguh, tanpa mengeluarkan sepatah kata, dengan meringis seperti orang kesakitan, mereka mengikuti.
Ternyata, sedang jempol dan telunjuk orang tua itu menjewer kuping, tiga jerijinya menekan jalan da-rah Kiang-kan-hiat dan Hong-hu-hiat yang terletak di belakang otak, sehingga kaki tangan kedua pemuda itu menjadi lemas dan tidak dapat melawan lagi.
Ouw Hui dan Leng So menyaksikan perbuatan si tua dengan rasa kagum dan menghormat.
"Binatang!"
Caci An Teetok.
"Apa kau mau cari mampus...?"
Kata-kata itu terhenti di tengah jalan, karena serupa benda bundar mendadak menyambar ke dalam mulutnya dan terus turun di tenggo-rokannya.
Meskipun hidungnya mengendus bebau-an daging dan lidahnya merasakan rasa daging, seperti juga benda yang masuk ke dalam perutnya adalah sebuah bakso, tapi ia tidak dapat mene-tapkan apakah benar, benda bundar itu bakso ada-nya.
Di samping itu, ia juga tak tahu siapa yang sudah menimpuknya.
Maka itu, dengan paras muka pucat, ia berdiri bengong seperti patung.
Tong Pay yang duduk di belakang An Teetok tidak dapat melihat kejadian itu.
"Dalam dunia Kang-ouw memang terdapat banyak sekali orang-orang gagah yang hidup mengasingkan diri,"
Kata-nya sesudah orang aneh itu berlalu.
"Karena Cianpwee yang tadi sungkan bergaul dengan manusia biasa, maka kita pun tidak dapat berbuat apa-apa. Sekarang Loosu manakah yang ingin mengisi kursi yang kosong ini?"
"Aku!"
Demikian terdengar satu suara.
Orang heran, sebab ada suara, tiada orangnya.
Beberapa saat kemudian, dari antara orang banyak barulah muncul seorang kate yang tinggi tubuhnya hanya tiga kaki lima enam dim, sedang mukanya yang berjenggot kelihatan angker sekali.
Melihat si kate, beberapa jago muda tidak tahan untuk tidak ter-tawa.
Tibatiba orang kate itu menengok dan meng-awasi dengan sorot mata angker, sehingga orang-orang yang tertawa lantas saja bungkam.
Si kate berhenti di depan kursi Oey Hie Kiat dan mengawasi raksasa itu dari kepala sampai di kaki dan dari kaki sampai di kepala lagi.
Melihat lagak orang yang aneh, Hie Kiat menegur.
"Eh, lihat apa kau? Apa kau mau menjajal kepandaian denganku?"
Orang kate itu tidak menjawab, ia hanya menge-luarkan suara di hidung sambil berjalan ke belakang kursi.
Karena khawatir dibokong, Hie Kiat memutar tubuhnya dan si kate kembali ke depan kursi, sedang matanya terus mengawasi muka orang.
"Loosu itu adalah Cong Hiong, Cong Loosu, Ciangbunjin dari Tee-tong-kun di propinsi Siam-say,"
Kata An Teetok. Sebab diawasi secara begitu, darah Hie Kiat lantas saja meluap dan ia bangun berdiri.
"Cong Loosu!"
Bentaknya.
"Aku ingin meminta pelajaran dari ilmu silat Tee-tong-kun."
Di luar dugaan, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Cong Hiong menotol lantai dengan kakinya dan badannya lantas saja melesat ke kursi yang kosong. Oey Hie Kiat tertawa terbahak-bahak seraya berkata.
"Jika kau tidak ingin bertempur denganku, baiklah!"
Sehabis berkata begitu, ia duduk lagi di kursinya. Tapi sungguh aneh, begitu lekas si raksasa duduk, si kate bangun dan berdiri pula di depan kursi Oey Hie Kiat sambil menatap wajah orang.
"Eh, lihat apa kau!"
Bentak Hie Kiat dengan suara gusar.
"Tadi, waktu minum arak, mengapa kau mengawasi aku sambil tertawa-tawa?"
Tanya Cong Hiong.
"Kau mentertawai badanku kate, bukan?"
"Badanmu kate, ada sangkut paut apakah denganku?"
Kata si raksasa seraya menyengir. Cong Hiong jadi gusar.
"Binatang! Kau menarik keuntungan secara tidak halal atas diriku!"
Teriak-nya.
"Menarik keuntungan tidak halal?"
Menegas Hie Kiat dengan heran.
"Kau mengatakan, bahwa katenya badanku tiada sangkut pautnya denganmu,"
Jawabnya.
"Huh -huh. Aku bertubuh kate memang hanya bersangkut paut dengan ayahku. Dan dengan mengatakan begitu, bukankah kau sengaja mengejek ayahku?"
Mendengar perkataan itu, semua orang tertawa besar -Hok Kong An menyemburkan teh yang baru masuk ke dalam mulutnya.
Thia Leng So meneng-kurep di meja sambil memegang perut, sedang Ouw Hui sedapat mungkin menahan tertawa, sebab kha-watir jenggot palsunya jatuh.
Hie Kiat pun tertawa geli.
"Tidak berani, tidak berani aku mengejek ayah Cong Loosu,"
Katanya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, Cong Hiong segera meninju kempungan orang.
Meskipun bertubuh tinggi besar, Oey Hie Kiat ternyata cukup gesit dan dengan sekali menekan lengan kursi, tubuhnya sudah melesat ke samping.
Hampir ber-bareng terdengar suara gedubrakan dan kursi Thay-su-ie itu hancur jadi puluhan potong!
Gelak tertawa terhenti serentak.
Semua orang kaget, karena mereka tak duga, Cong Hiong yang berbadan kate kecil mempunyai tenaga yang sedemikian hebat.
Begitu tinjunya melesat, Cong Hiong segera bergulingan di lantai dan menyerang bagian bawah dengan menggunakan ilmu silat Tee-tong-kun.
Dengan beruntun-runtun.
Oey Hie Kiat membela diri dengan tendangan Sauw-tong-tui.
Tui-pokwa-houw-sit.
Tiauw-cian-po dan Iain-lain, tapi ia masih tetap kewalahan.
Ilmu silat Jie-long-kun menguta-makan pukulan tangan dan tidak begitu memper-hatikan ilmu menendang.
Jika bertemu dengan la-wan biasa, dengan menggunakan Jielong-tan-san-ciang, Kay-ma-sam-kun dan Iain-lain pukulan, ditambah lagi dengan tenaganya yang sangat besar, dengan mudah ia dapat merubuhkan lawan itu.
Apa celaka, ia sekarang bertemu dengan si kate yang menyerang dengan bergulingan.
Ilmu menendang vang dimilikinya adalah untuk menendang tubuh atau kepala musuh.
Maka itu, dalam menghadapi Cong Hiong, bukan saja tinjunya tidak berguna, tapi kakinya pun selalu menendang ke tempat kosong.
Untuk membela diri, jalan satu-satunya ialah melompat kian ke mari.
Sesudah bertempur puluhan jurus, Hie Kiat sudah kena beberapa tendangan dan sesaat ke-mudian, kedua kaki Cong Hiong mengena tepat di kedua lututnya, sehingga, tanpa ampun lagi, ia ru-buh di atas lantai.
Dengan girang, si kate lalu menubruk.
Tapi di luar dugaan, biarpun sudah rubuh, Hie Kiat masih keburu mengirim tinju dengan sekuat tenaga.
"Buk!"
Cong Hiong terpental setombak lebih!
Tapi begitu jatuh, begitu ia bangun dan terus menerjang pula.
Sambil berlutut, Hie Kiat melayani musuhnya dan dalam kedudukan begitu, ia dapat melawan si kate yang menyerang dengan bergulingan.
Mereka berdua adalah bangsa kedot yang tahan sakit dan biarpun keduanya sudah kena pukulan-pukulan hebat, pergulatan masih dilangsungkan terus.
Sesudah Iewat sekian jurus lagi, sekonyong-konyong Cong Hiong menghatam dada Hie Kiat dengan kedua tinjunya.
Hie Kiat mengegos sambil menjambret leher si kate dan dengan sekali mem-balik tubuh, ia menindih badan lawan dengan ba-dannya yang seperti raksasa.
Si kate coba mem-berontak sekuat tenaga, tapi tidak bergeming, karena Hie Kiat yang sudah berada di atas angin, terus menindih dan memeluknya secara mati-matian.
Beberapa saat kemudian, paras muka Cong Hiong berubah pucat dan tenaga memberontaknya semakin lemah.
Melihat perkelahian peluk banting itu yang tidak miripmiripnya dengan pertandingan antar dua Ciangbunjin, para hadirin menggeleng-gelengkan kepala.
Mendadak, dari antara orang banyak melompat ke luar seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan yang, segera menghantam punggung Oey Hie Kiat.
"Mundur!"
Bentak An Teetok.
"Tidak boleh mengerubuti!"
Tapi orang itu tidak meladeni dan tinjunya mengena tepat di punggung si raksasa yang dalam kesakitannya terpaksa melepaskan cekalannya.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan baik, Cong Hiong memberontak dengan seantero tenaganya dan melompat bangun.
Tiba-tiba seorang lelaki lain kembali melompat ke luar dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia meninju lelaki yang bertubuh tinggi besar itu.
Ter-nyata mereka itu adalah murid kepala Cong Hiong dan putera Oey Hie Kiat.
Di lain saat, dalam ge-langgang berlangsung perkelahian antara dua pasang musuh dan para tamu membantu keramaian itu dengan bersorak-sorai dan menepuk-nepuk tangan.
Dengan demikian, apa yang tertampak lebih banyak menyerupai tontonan wayang daripada pie-bu antara pentolan-pentolan Rimba Persilatan.
Sesudah mendapat pengalaman getir, Cong Hiong tidak berani berlaku sembrono lagi dan ia berkelahi dengan hatihati, sehingga pertempuran antara si kate dan si raksasa jadi berimbang.
Di lain pihak, putera Oey Hie Kiat yang belum berpeng-alaman sudah terjungkal beberapa kali dan kemudian, dalam gusarnya, ia mencabut sebilah golok pendek yang disembunyikan di kaos kaki.
Murid Cong Hiong kaget dan sebab tidak membekal senjata, buru-buru ia menjambret kursi Thay-su-ie yang kosong, yang lalu digunakan untuk menangkis sen-jata musuh.
Semakin lama pie-bu itu jadi semakin kacau dan merosot martabatnya.
"Pie-bu apa ini? Semua mundur!"
Teriak An Teetok. Tapi keempat orang itu yang sedang meluap darahnya, tidak menggubris. Sekonyong-konyong Hay Lan Pit bangun ber-diri dan membentak.
"Eh! Apa kamu tak dengar perkataan An Teetok?"
Sesaat itu, putera Oey Hie Kiat tengah mem-bacok musuhnya yang dengan sekali berkelit, dapat menyelamatkan diri.
Pada detik golok membacok tempat kosong, tangan Hay Lan Pit menyambardan mencengkeram dada puteranya Hie Kiat yang lalu dilontarkan keluar gelanggang.
Hampir berbareng, tangannya yang lain menjambret murid Cong Hiong yang juga lantas dilemparkan sampai di cimhee.
Semua orang terkejut.
Di lain saat, kedua tangan Hay Lan Pit sudah mencekal Hie Kiat dan Cong Hiong yang segera dilemparkan dengan berbareng.
Apa yang lucu adalah keempat orang itu jatuh di satu tempat dengan bersusun tindih.
Begitu jatuh, begilu mereka saling gcbuk lagi dan perkelahian baru berhenti sesudah mereka dipisahkan oleh beberapa Wie-su.
Kepandaian yang diperlihatkan Hay Lan Pit mengejutkan semua orang.
Biarpun Cong Hiong dan Oey Hie Kiat bukan ahli-ahli silat kelas utama, tapi mereka adalah jago-jago yang mempunyai nama dalam Rimba Persilatan.
Bahwa mereka telah dilontarkan secara begitu rupa oleh perwira Boan itu, adalah kejadian di luar dugaan semua orang.
Sesudah menghentikan perkelahian itu, Hay Lan Pit segera mendekati An Teetok dan bicara dalam bahasa Boan.
"Kepandaian Hay Tayjin benar-benar tinggi dan tidak dapat disusul oleh kami semua,"
Memuji Tong Pay sesudah perwira itu kembali ke tempat duduk-nya.
Terhadap pujian itu, Hay Lan Pit segera mengeluarkan kata-kata merendahkan diri.
Sesaat ke-mudian seorang pelayan keluar dengan nicmbawa sebuah kursi Thay-su-ie untuk ditukar dengan kursi yang hancur.
Sementara itu, sesudah menyaksikan kepandaian Hay Lan Pit, See-leng Toojin, Ciangbunjin dari Kun-lun-to merasa tidak enak dalam hatinya, ka-rena diam-diam ia mengakui, bahwa ilmu silatnya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan perwira Boan itu.
Tapi Bun Cui Ong, Ciangbunjin Cui-pat-sian, tetap tenang-tenang saja dengan kadang-ka-dang menceguk cawan arak.
Sesudah ketenangan pulih, An Teetok berkata pula sesudah batuk-batuk beberapa kali.
"Hok Thayswee mengundang kalian datang ke mari adalah untuk menetapkan kepandaian masing-masing. Maka itu, aku mengharap, bahwa kejadian barusan yang sangat memalukan tidak terulang lagi. Di sini masih terdapat dua kursi kosong yang kuharap akan diisi oleh orang-orang gagah yang benar-benar mempunyai kepandaian tinggi."
"Hei! Jangan mengejek kau! Apa kau kira aku bukan orang gagah tulen?"
Mengomel Cong Hiong dengan suara gusar.
Tapi semua orang tidak memperdulikan lagi omelan si kate, karena mata mereka sudah di-tujukan kepada dua kursi Thaysu-ie yang sekarang sudah terisi.
Ternyata, di satu kursi sudah duduk seorang pendetayangmengenakanjubah pertapaan warna putih dan yang diperkenalkan oleh An Teetok sebagai Hachi Taysu dari Mongolia, sedang di kursi yang satunya lagi duduk dua orang yang muka dan dandanannya tidak berbeda satu sama lain.
Alis mereka turun, mata mereka seperti mata ayam jantan yang sedang berkelahi dengan biji mata yang terletak dekat dengan batang hidung dan dengan sekelebatan saja, orang lantas menduga, bahwa mereka adalah saudara kembar.
Sambil tersenyum-senyum, An Teetok berkata.
"Dua orang gagah yang duduk di kursi itu adalah kedua Ciangbunjin dari Song-cu-bun di propinsi Kwiciu, yaitu Nie Put Toa dan Nie Put Siauw, Nie Loosu." (Nie Put Toa = Nie Tidak Besar. Nie Put Siauw = Nie Tidak Kecil). Melihat dua saudara itu yang seakan-akan pi-nang dibelah dua, semua orang jadi merasa gembira dan mereka saling menduga-duga, bahkan ada yang berlaruh, yang mana kakak, yang mana adik. Bukan saja para tamu, malah Hok Kong An sendiri meng-awasi kedua orang itu sambil tersenyum. Selagi orang ramai bicara, tiba-tiba satu ba-yangan berkelebat dan seorang wanila berdiri di tengah gelanggang. Nona itu yang berusia kira-kira dua puluh tahun dan mengenakan baju kuning dengan kun hijau, berparas sangat cantik.
"San Hui Hong, San Kouwnio, Ciangbunjin dari Ngo-ouwbun di Hong-yang-hu!"
Seru An Teetok. Melihat turunnya seorang wanita cantik, para hadirin jadi lcbih bersemangat.
"Murid-murid Ngo-ouw-bun biasanya mencari nafkah dalam dunia Kang-ouw dengan menjual silat dan obat-obatan,"
Menerangkan Kwee Giok Tong kepada Ouw Hui.
"Menurut kebiasaan partai itu yang menjadi Ciangbunjin harus seorang wanita. Meskipun mempunyai kepandaian tinggi, seorang pria tidak dapat memimpin Ngo-ouw-bun. Tapi apa nona yang berusia begitu muda mempunyai kepandaian tinggi?"
Di lain saat, San Hui Hong sudah berada di hadapan kedua saudara Nie dan sambil menolak pinggang, ia menegur.
"Bolehkah aku mendapat tahu, di antara kalian berdua, siapa kakak dan siapa adik?"
Kedua orang itu tidak menjawab, mereka hanya menggelengkan kepala. Nona San tersenyum dan berkata pula.
"Walau-pun kalian saudara kembar, tapi dalam persau-daraan kembar, ada yang terlahir lebih dulu. ada vang belakangan."
Kedua saudara kembar itu tetap menggeleng-gelengkan kepala.
"Ah! Aku sungguh tak mengerti sikapmu,"
Kata pula si nona. Sambil menunjuk kepada orang yang duduk di sebelah kiri, ia berkata lagi.
"Apa kau yang lcbih tua?' Orang itu menggelengkan kepala. Hui Hong menunjuk yang di sebelah kanan dan menanya pula.
"Kalau begitu, kaulah yang lebih tua, bukan?"
Dia pun menggoyang-goyangkan kepala. Hui Hong mengerutkan alisnya.
"Loosu, sikapmu sungguh mengherankan,"
Katanya dengan suara mendongkol.
"Kita, orang-orang Rimba Persilatan biasanya tidak pernah berdusta."
"Apa kau kata?"
Bentak yang duduk di sebelah kanan.
"Siapa berdusta? Aku bukan kakaknya dan dia pun bukan kakakku."
"Apakah kalian bukan saudara satu sama lain?"
Tanya si nona.
Dengan berbareng, lagi-lagi mereka meng-gelenggelengkan kepala.
Semua orang heran bukan main.
Dilihat dari rupa dan pakaian, terang-terangan mereka adalah saudara kembar.
Tapi mengapa mereka bersikap begini aneh?
San Hui Hong mengeluarkan suara di hidung.
"Dengan menggelengkan kepala, kalian sudah berdusta,"
Katanya.
"Kalau orang mengatakan, bahwa kalian bukan saudara kembar, biarpun dipotong kepala, aku tak akan pereaya. Hayolah! Yang mana Nie Put Toa Loosu."
"Aku Nie Put Toa,"
Jawab yang di sebelah kiri.
"Bagus,"
Kata si nona.
"Siapa yang terlahir lebih dulu, apa kau, apa dia?"
Nie Put Toa mengerutkan alisnya.
"Nona, mengapa kau begitu rewel?"
Tanyanya dengan suara mendongkol.
"Kau bukan ingin mengikat famili dengan kami berdua saudara, perlu apa kau begitu melit?"
Hui Hong menepuk-nepuk tangan dan tertawa geli.
"Aha! Sekarang kau sudah mengaku, bahwa kalian berdua adalah saudara,"
K;'anya.
"Benar, memang benar kami bersaudara, tapi bukan saudara kembar,"
Kata Nie Put Siauw.
"Aku tidak percaya,"
Kata Hui Hong.
"Terserah,"
Kata Nie Put Toa. Tapi si nona masih saja tidak merasa puas.
"Persaudaraan kembar sedikit pun tiada jeleknya. Mengapa kau terus menyangkalnya?"
Katanya. Kedua saudara itu berdiam sejenak dan kemu-dian Nie Put Siauw berkata.
"Kalau kau sangat ingin tahu hal ihwalnya kami, kami pun bersedia untuk memberitahukannya. Tapi kami mempunyai serupa peraturan. Siapa saja yang sudah mendengar rahasia kelahiran kami, dia harus menerima tiga pukulan dari aku dan saudaraku. Jika dia tidak mau dipukul, boleh juga ditukar dengan berlutut tiga kali di hadapan kami berdua."
Karena didorong dengan rasa heran yang sangat besar, si nona jadi nekat dan berkata seraya meng-angguk.
"Baiklah, kalian beritahukanlah kepadaku,"
Katanya. Kedua saudara itu bangun berdiri dengan ge-rakan yang sangat bersamaan.
"Aha! Lihatlah!"seru Hui Hong.
"Setan pun tidak pereaya, bahwa kalian bukan saudara kembar."
Sekonyong-konyong kedua saudara itu menge-luarkan tangan mereka dari dalam tangan baju dan dengan serentak terlihat berkelebat-kelebatnya si-nar emas.
Ternyata, dua puluh jari mereka disarung-kan dengan bidal-bidal emas yang panjang tajam dan dapat digunakan sebagai senjata untuk men-cengkeram musuh.
Mendadak, tangan mereka menyambar ke arah Hui Hong yang jadi kaget bukan main dan buru-buru melompat ke samping.
"Bikin apa kau?"
Membentak si nona.
Semenjak dilahirkan, kedua saudara itu belum pernah berpisahan dan dalam ilmu silat, mereka dapat bekerjasama seerat-eratnya, yang satu mem-bantu yang lain dalam pembelaan diri dan serangan-serangan yang sudah dilalih selama bertahun-tahun.
Maka itu, tidaklah heran, dalam sekejap San Hui Hong sudah jaluh di bawah angin.
la hanya dapat membela diri, tanpa mainpu membuat serangan membalas.
Para penonton lantas saja mulai berteriak-teriak.
"Tidak adil! Tak malu! Dua lelaki mengerubuti satu perempuan!"
Teriak seorang.
"Si nona tangan kosong. kau berdua mengguna-kan senjata. Ah! Lebih-Iebih tak tahu malu,"
Seru yang lain.
"Saudara kecil! Bantulah nona itu. Mungkin ia akan sangat berterima kasih kepadamu. Ha-ha-ha!"
Teriak orang ketiga.
Tiba-tiba, sambil mengeluarkan seruan tertahan, kedua saudara itu melompat keluar dari gelanggang dan mereka mengawasi ke arah Hok Kong An, dengan sorot mata girang dan kagum.
Semua orang lantas saja menengok ke jurusan yang diawasi mereka.
Ternyata, dengan paras muka berseriseri, Menteri Pertahanan itu sedang bicara bisik-bisik dengan dua bocah yang dicekal dengan kedua ta-ngannya.
Tak bisa salah lagi, kedua bocah itu, yang mukanya tampan dan mirip satu sama lainnya, ada-lah saudara kembar.
Dengan demikian dalam ruang-an itu terdapat dua pasang saudara kembar, yang sepasang tampan, yang lain jelek.
Melihat begitu, kecuali dua orang, para tamu jadi merasa gembira sekali.
Dua orang yang tidak lurut bergembira -bahkan kaget dan berkhawatir -adalah Ouw Hui dan Leng So yang segera mengenali, bahwa kedua bocah itu bukan lain daripada putera-puteranya Ma It Hong!
Mereka mengerti, bahwa dengan direbut pulangnya kedua anak itu, rahasia mereka sudah menjadi bocor.
Dengan lirikan mata Leng So memberi isyarai kepada kakaknya, supaya mereka segera meng-angkat kaki.
Ouw Hui manggut-manggutkan kepala sambil berkata dalam hatinya.
"Jika rahasia sudah bocor, musuh tentu sudah siap sedia. Jalan satu-satunya ialah bertindak dengan mengimbangi selatan."
Sementara itu, Nie Put Toa dan Nie Put Siauw mengawasi kedua bocah tersebut dengan mata ter-longong-longong. Nona San tertawa seraya berkata.
"Kedua bocah itu manis sekali. Apa kalian mau mengambil mereka sebagai murid?"
Pertanyaan itu kena betul di hati mereka.
Dalam Rimba Persilatan, murid memilih guru, tapi gurupun memilih murid untuk mengang-kat naik derajat rumah perguruan atau partai.
Dalam kalangan Song-cu-bun, untuk mendapat hasil yang sebaik-baiknya, ilmu silat partai tersebut harus digunakan oleh dua orang yang dengan bekerja sama seerat-eratnya.
Memang benar, seorang guru Song-cu-bun dapat memilih dua murid bukan sau-dara dan kemudian melatih mereka bersama-sama.
Tapi sebaiknya jika bisa didapat dua saudara, apa-lagi dua saudara kembar yang jalan pikirannya ham-pir bersamaan, supaya dalam pertempuran kerja sama itu dapat tereapai sebaik-baiknya.
Maka itu-lah, semenjak dulu, partai Song-cu-bun selalu men-cari dua saudara kembar untuk dijadikan murid yang akan mewarisi dan memimpin partai tersebut.
De-mikianlah begitu melihat kedua putera Hok Kong An, yang berparas tampan dan menunjuk bakat luar biasa, Nie Put Toa dan Nie Put Siauw jadi seperti orang kesima dan sesaat itu juga, mereka segera mengambil keputusan untuk merebut kedua bocah itu guna dijadikan murid.
Di lain pihak, sambil tersenyum-senyum, Hok Kong An berbisik di kuping kedua puteranya.
"Li-hatlah kedua Suhu itu. Mereka pun saudara kembar. Lihatlah, muka mereka sangat bersamaan satu sama lain. Apa kau bisa menebak, yang mana kakak, yang mana adik?"
Sesudah berhasil merebut pulang kedua puteranya, Hok Kong An girang bukan main dan melihat kedua saudara Nie itu, dalam gembiranya, ia segera memerintahkan seorang Wie-su untuk mengajak kedua puteranya datang ke ruangan perjamuan, supaya mereka pun dapat menyaksikari macamnya kedua saudara Nie.
Mendengar pertanyaan sang ayah, sesudah mengawasi beberapa saat, kedua anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sekonyong-konyong, sambil membentak keras, kedua saudara Nie itu menerjang ke arah Hok Kong An dari kiri dan kanan.
Hok Kong An terkesiap, sedang dua Wie-su yang berdiri di sampingnya segera melompat untuk menyambut musuh.
Tapi ge-rakan kedua saudara itu aneh dan cepat luar biasa.
Selagi lari menerjang, Nie Put Toa yang di sebelah kiri mendadak membelok ke sebelah kanan, sedang Nie Put Siauw yang di sebelah kanan membelok ke kiri.
Dengan membelok begitu, kedua Wie-su yang coba menyambutnya jadi ketinggalan di belakang dan mereka terus menerjang Hok Kong An.
Begitu berhadapan, dengan berbareng mereka menendang kaki kursi, sehingga menteri itu lantas saja jatuh terguling bersama-sama kursinya.
Dalam sekejap keadaan jadi kacau.
Para Wie-su kaget dan gugup -ada yang coba mencegat musuh, ada yang menubruk untuk membangunkan majikan mereka dan ada pula yang berdiri di depan Hok Kong An, siap sedia untuk menyambut lain serangan.
Dalam keadaan yang kacau itu, cepat bagaikan kilat, kedua saudaraNiemasing-masingmemondongsatubocah dan lalu melompat untuk melarikan diri.
Keadaan dalam ruangan itu jadi semakin kacau balau.
Dengan beruntun terdengar suara gedubrak-an dan empat Wie-su yang coba mencegat telah ditendang rubuh oleh kedua saudara itu, yang sam-bil mendukung kedua bocah itu, berlarilari ke arah pintu.
Mendadak, dua bayangan berkelebat dan dua orang mengejar secepat kilat.
Mereka itu bukan lain daripada Hay Lan Pit dan Tong Pay.
Begitu menyusul, Hay Lan Pit menepuk leher Nie Put Siauw, sedang Tong Pay membabat pinggang Nie Put Toa dengan pukulan Bian-ciang yang mengandung te-naga "keras"
Dan "lembek".
Mendengar sambaran angin dahsyat, kedua saudara itu segera menangkis.
Berbareng dengan suara "buk!" , badan Nie Put Siauw bergoyang-goyang, dukungannya terlepas dan sesudah terhuyung beberapa tindak, ia muntahkan darah.
Nie Put Toa pun mengalami nasib yang hampir bersamaan dan putera Hok Kong An terlepas dari pelukannya.
Sesaat itu, Ong Kiam Eng dan Ciu Tiat Ciauw sudah menerjang dan merebut pulang kedua bocah itu.
Sesudah menenteramkan hatinya, dengan ke-gusaran meluap-luap Hok Kong An berteriak.
"Bi-natang! Nyalimu sungguh besar. Bekuk mereka!"
Hay Lan Pit dan Tong Pay melompat dengan berbareng dan menyerang dengan ilmu Kin-na-chiu.
Kedua saudara itu yang sudah mendapat luka di dalam, tak dapat melawan lagi.
Sesudah berhasil membekuk kedua orang itu, Hay Lan Pit dan Tong Pay segera memutar badan untuk menyeret tawanan itu ke hadapan Hok Kong An.
Pada detik itulah, dari atas payon rumah mendadak melayang turun dua orang.
Begitu lekas kaki mereka hinggap di lantai, lilin-lilin bergoyang-goyang dan semua orang bangun bulu romanya, seakan-akan mereka bertemu setan memedi di tengah hutan belukar.
Mengapa?
Karena macamnya kedua orang itu, tiada bedanya seperti setan.
Mereka bertubuh jang-kung dan kurus luar biasa, dengan alis yang turun ke bawah dan muka kurus panjang, seolah-olah macamnya setan Bu-siang-kwie yang biasa men-cabut nyawa manusia.
Apa yang lebih mengheran
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com kan lagi, muka dan potongan badan mereka tiada bedanya satu sama lain, sehingga dapat ditarik ke-simpulan, bahwa mereka berdua juga saudara kem-bar.
Dengan gerakan secepat arus kilat, yang satu menyerang Hay Lan Pit, yang lain menghantam Tong Pay.
Begitu empat lengan kebentrok, tubuh Hay Lan Pit dan Tong Pay bergoyang-goyang.
Sesaat itu, keadaan yang barusan kalut berubah dengan mendadak dan ruangan itu menjadi sunyi senyap, karena semua mata ditujukan kepada dua orang aneh itu.
Tiba-tiba, kesunyian dipecahkan dengan teriak-an Bun Cui Ong yang tajam dan menakutkan.
"Hek-bu-siang...! Pek-bu-siang...?"
Dengan lengan mereka terus menempel dengan lengan Hay Lan Pit dan Tong Pay, kedua orang itu mengawasi Bun Cui Ong dengan mata setajam kilat.
"Kedosaanmu sudah luber, apa hari ini kau masih mengharap bisa melarikan diri?"
Kata orang yang di sebelah kiri dengan suara dingin.
Mendadak, dengan berbareng mereka mendorong keras, sehingga Hay Lan Pit dan Tong Pay terhuyung ke belakang beberapa tindak dan cekalannya terhadap kedua saudara Nie jadi terlepas.
Tong Pay dan Hay Lan Pit ingin menyerang pula, tapi kedua orang itu sudah menghadang di depan kedua saudara Nie dan orang yang berdiri di sebelah kanan berkata dengan suara nyaring.
"Kami berdua sebenarnya tidak mempunyai sangkutan apa pun jua dengan kedua saudara ini, tapi mengingat sama-sama anak kembar, kami turun tangan untuk menolong mereka."
Hampir berbareng, orang yang berdiri di sebelah kiri mengangkat kedua tangannya seraya ber-seru.
"Kakak beradik Siang Hek Cie dan Siang Pek Cie dari Ang-hoa-hwee memberi hormat kepada orang-orang gagah di kolong langit."
Hay Lan Pit dan Tong Pay sebenarnya ingin menyerang pula, tapi begitu lekas mendengar dua nama itu, mereka terkesiap dan lantas mengurung-kan niatnya.
Dilain saat, dengan sekali menotol lantai dengan kaki mereka, kedua saudara itu sudah melompat ke genteng sambil memondong Nie Put Toa dan Nie Put Siauw.
Kaburnya mereka disusul dengan beberapa jeritan kesakitan di atap gedung dan semua orang tahu, bahwa jeritan itu keluar dari mulutnya para Wiesu yang telah dirubuhkan oleh kedua jago Ang-hoa-hwee itu.
Beberapa saat kemudian, Hay Lan Pit dan Tong Pay merasa telapak tangan mereka gatal-gatal sakit dan begitu melihat, mereka mengeluarkan seruan tertahan, karena telapak tangan mereka sudah ber-warna ungu hitam.
Dengan segera mereka ingat, bahwa pukulan Hek-see-ciang (Pukulan pasir hitam) dari See-coan Song-hiap (Dua pendekar dari Sec-coan barat) bukan main lihaynya.
Nama Hek-bu-siang dan Pek-bu-siang sudah didengar mereka selama puluhan tahun, tapi baru sekarang mereka bertemu muka.
Dalam mengadakan pertemuan para Ciang-bunjin, salah satu tujuan Hok Kong An adalah untuk menghadapi orangorang gagah dari Ang-hoa-hwee.
Tapi di luar dugaan, Siangsie Heng-tee sudah keluar masuk selama pertemuan masih dilangsungkan, seperti juga gedung Hok Kong An tidak ada manusianya.
Maka itu, dapatlah dibayang-kan rasa gusar dan kecewanya pembesar itu.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, dengan mata melotot ia mengawasi orang-orang yang duduk di kursi Thay-su-ie.
Tay-tie Siansu tetap duduk sambil menunduk dengan sikap tenang, Bu-ceng-cu juga tidak bergerak, sedang Bun Cui Ong berdiri tegak dengan mata mengawasi ke tempat jauh.
Dari parasnya yang pucat pias, dapat dilihat bahwa ia sedang berada dalam ketakutan yang sangat hebat.
Semua kejadian itu sudah disaksikan Ouw Hui dengan rasa syukur dan girang.
Nama "Ang-hoa-hwee"
Sudah membuat jantungnya memukul lebih keras dan dengan rasa kagum, ia melihat cara bagaimana kedua saudara Siang itu malang melintang sesuka hati dalam ruangan pertemuan, sehingga tanpa merasa, ia berkata dengan suara perlahan.
"Itulah baru orang gagah!"
San Hui Hong menonton peristiwa itu dengan berdiri di pinggiran.
Sesudah kedua saudara Siang berlalu, dengan rasa heran ia mengawasi Bun Cui Ong yang masih berdiri seperti orang kesima.
Ia merasa geli dan lalu mendekati.
"Kau duduklah,"
Katanya sambil tertawa dan mendorong orang she Boan itu.
"Setan Bu-siang-kwie sudah kabur jauh!"
Sungguh tak dinyana, begitu tersentuh, begitu tu-buh Bun Cui Ong rubuh di lantai, tanpa bergerak lagi.
Nona San terkesiap dan buru-buru berjongkok untuk menyelidiki.
Dan hatinya mencelos, karena Bun Cui Ong ternyata sudah putus jiwa!
"Mati!
Dia mati lantaran kaget!"
Teriaknya. Karuan saja keadaan lantas berubah kalut dan semua orang bangun dari tempat duduknya untuk melihat "orang gagah"
Itu.
"Kwee Cianpwee, apakah Bun Cui Ong seorang jahat?"
Tanya Ouw Hui.
"Jahat, sangat jahat,"
Jawabnya.
"Menipu, merampok, memperkosa wanita baik-baik dan Iain-lain perbuatan terkutuk. Sebenarnya tak pantas aku bicara jelek tentang orang yang sudah meninggal dunia. Tapi bukti kejahatannya sudah terlalu ba-nyak dan sedari dulu, aku memang sudah merasa, bahwa ia tak akan mati dengan baik-baik. Hanya tidak dinyana, dia mampus karena ketakutan. Ha-ha-ha!"
"Mungkin sekali kedua saudara Siang itu sudah mencari dia dalam tempo lama,"
Menyelak seorang lain.
"Ya,"
Kata si kakek.
"Hampir boleh dipastikan orang she Bun itu dulu pernah dihajar oleh Siang-sie Heng-tee dan diampuni sesudah dia bersumpah. Dan hari ini mereka bertemu lagi."
Selagi mereka beromong-omong, sekonyong-konyong berjalan ke luar seorang tua yang pada pinggangnya tergantung sebuah kantong tembakau yang berwarna hitam.
Ia menghampiri jenazah Bun Cui Ong dan berkata sambil menangis.
"Bun Jie-tee, tidak dinyana hari ini kau binasa dalam tangannya sebangsa tikus."
Mendengar See-coan Song-hiap dinamakan sebagai "sebangsa tikus", Ouw Hui mendongkol dan berbisik.
"Kwee Cianpwee, siapa orang itu?"
"Dia she Siangkoan bernama Tiat Seng, Ciang-bunjin partai Hian-cie-bun di Kay-hong-hu,"
Jawab si kakek.
"Dia memberi gelar Yan-hee Sanjin ke-pada dirinya sendiri dan bersama Bun Cui Ong, mereka menggunakan gelar Yan-ciu Jie-sian (Dua dewa, tembakau dan arak)!"
Ouw Hui mengawasi orang itu yang pakaiannya kotor dan pinggangnya terselip sebatang pipa pan-jang (huncwee) yang aneh buatannya dengan kepala pipa sebesar mangkok.
"Dewa apa?"
Kata Ouw Hui sambil tertawa.
"Lebih tepat jika dinamakan Setan tembakau."
Sesudah menangis beberapa lama sambil memeluk jenazah Bun Cui Ong, Siangkoan Tiat Seng bangun berdiri dan mengawasi San Hui Hong dengan mata melotot.
"Mengapa kau binasakan Bun Jie-tee?"
Bentaknya. Si nona jadi gelagapan.
"Eh-eh! Mengapa kau kata begitu? Terang-terangan dia mati karena ke-takutan."
"Omong kosong!"
Teriak si tua.
"Mana bisa orang segar bugar mati lantaran ketakutan. Huh-huh! Tak salah lagi, kaulah yang sudah turunkan tangan jahat terhadap adikku."
Sebab musabab mengapa Siangkoan Tiat Seng sudah menuduh membuta tuli adalah karena jika sampai tersiar warta, bahwa Bun Cui Ong binasa lantaran ketakutan, partai Cui-pat-sian tidak dapat mengangkat kepala lagi dalam Rimba Persilatan.
Di lain pihak, jika seseorang binasa dalam tangan la-wan, kejadian itu sama sekali tidak menurunkan derajat partainya.
Hui Hong yang belum mempunyai banyak pengalaman, tidak mengerti latar belakang fit-nahan itu dan dalam gusarnya, ia berteriak.
"Aku dan dia sama sekali tidak mempunyai permusuhan apa pun jua. Ribuan mata dalam ruangan ini menjadi saksi, bahwa adikmu mati lantaran kaget atau ketakutan."
Baru habis si nona membela diri, Hachi Tay-su yang sedari tadi duduk di kursi Thay-su-ie tanpa mengeluarkan sepatah kata, tiba-tiba menyelak.
"Tidak, nona itu memang tidak turunkan tangan jahat terhadap adikmu. Aku telah menyaksikan dengan mata sendiri. Begitu lekas kedua setan itu datang, aku dengar Bun-ya berteriak. 'Hek-bu-siang! Pekbu-siang!" ' la bicara dengan suara luar biasa nyaring dan waktu mengucapkan perkataan 'Hek-bu-siang, Pek-bu-siang', suaranya seolah-olah menggetarkan selu-ruh ruangan. Semua orang tertegun dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Hachi yang tidak mengerti mengapa mereka tertawa, lantas saja berteriak.
"Apa aku bicara salah? Roman kedua setan Busiang itu sangat menakutkan dan tidak heran jika ada orang mati karena kaget. Kalian tidak boleh menyalahkan nona itu."
"Nah! Dengarlah apa yang dikatakan oleh Tay-su itu,"
Kata San Hui Hong.
"Dia mati sebab kaget dan sedikit pun tiada sangkut pautnya dengan aku."
Sementara itu, Siangkoan Tiat Seng sudah men-cabut sebatang huncwee (pipa panjang) dari ping-gangnya, memasukkan tembakau di kepala pipa dan kemudian menyulutnya.
Ia mengisapnya beberapa kali dan mendadak, mengepulkan asap tembakau ke arah nona San.
"Perempuan hina!"
Bentaknya.
"Terang-terang kau yang membunuh orang. Tapi kau masih tetap coba menyangkal."
Si nona buru-buru melompat mundur, tapi hi-dungnya sudah mengendus sedikit asap dan kepala-nya lantas saja pusing. Mendengar cacian "perempuan hina", ia tak dapat menahan sabar lagi.
"Setan tua!"
Bentaknya.
"Apa kau kira aku takut padamu? Kau menuduh aku yang membunuh dia. Baiklah. Aku akan mengambil juga jiwamu."
Seraya berkata begitu, sambil mengirim pukulan gertakan dengan tangan kirinya, ia menendang pinggang Siangkoan Tiat Seng.
"Tua bangka!"
Teriak Hachi Hweeshio.
"Jangan kau menuduh membuta tuli! Bun-ya mati karena kedua setan itu...."
Mendengar pendeta itu, yang pada hakekat-nya seorang jujur dan polos, tak hentinya menggunakan istilah "setan"
Untuk See-coan Song-hiap, Ouw Hui jadi mendongkol dan ingin sekali mendapat kesempatan untuk memberi sedikit ajaran kepadanya.
Tiba-tiba, selagi Ouw Hui mengasah otak, dari sebelah barat ruangan itu muncul seorang saste-rawan muda yang langsung menuju ke arah Han-chi.
la berusia kira-kira dua puluh lima tahun, badannya kurus kecil, dandanannya rapi dan ta-ngan kanannya mencekal kipas.
Begitu berha-dapan dengan si pendeta, ia lantas saja berkata.
"Toaweeshio, kau sudah membuat kesalahan da-lam menggunakan satu perkataan dan kuharap kau suka mengubahnya."
"Salah apa?"
Tanyanya.
"Kedua orang tadi bukan 'setan', tapi dua sau-dara Siang yang dikenal sebagai See-coan Song-hiap,"
Jawabnya.
"Walaupun berwajah aneh, mereka berkepandaian tinggi dan berhati mulia, sehingga mereka sangat dihormati orang dalam dunia Kang-ouw."
Ouw Hui girang bukan main dan dalam hatinya lantas saja timbul ingatan untuk berkenalan dengan pemuda itu.
"Bukankah Bun-ya memanggil mereka sebagai 'Hek-busiang dan Pek-bu-siang'? tanya Hachi.
"Dan Hek-bu-siang serta Pek-bu-siang bukan lain dari-pada setan-setan jahat."
"Tidak, bukan begitu,"
Membantah pemuda itu.
"Mereka she Siang dan dalam nama mereka ter-dapat huruf 'hek' dan huruf 'pek'. Maka itu, secara guyon-guyon beberapa Cianpwee telah memanggil mereka sebagai Hek-bu-siang dan Pek-busiang. Sepanjang tahuku, kecuali beberapa Cianpwee yang jumlahnya sangat terbatas, orang lain tak berani menggunakan julukan itu untuk alamatnya See-coan Songhiap."
Selagi mereka saling sahut, Siangkoan Tiat Seng dan San Hui Hong sudah mulai bertempur.
Tadi, waktu melawan kedua saudara Nie, San Hui Hong agak keteter karena ilmu silat Song-cu-bun berdasarkan kerja sama antara dua orang memang lihay luar biasa.
Tapi sekarang, dengan satu melawan satu, ia dapat melayani Siangkoan Tiat Seng dengan sempurna.
Di lain pihak, huncwee Siangkoan Tiat Seng terbuat daripada baja dan biasa digunakan sebagai senjata untuk menotok tiga puluh enam jalan darah.
Tapi sebab gerakan Hui Hong sangat gesit, maka untuk sementara waktu, pipa panjang itu masih belum dapat menemui sasarannya.
Sambil bertempur, Tiat Seng kadang-kadang menghisap pipanya dan menyemburkan asap tembakau dari mulutnya.
Perlahan-lahan kepala pipa menjadi sangat panas dan berubah merah, sehingga lantas saja merupakan senjata yang sangat berbahaya.
Sebelum tersentuh pipa, Hui Hong sudah merasakan hawa panas dan dalam kebingungan, silatnya mulai kalut.
Sesudah lewat beberapa jurus lagi, mendadak asap yang disemburkan Siangkoan Tiat Seng menyambar muka si nona dan di lain saat, badannya bergoyang-go-yang, akan kemudian rubuh di lantai.
Ternyata, dalam tembakau pipa tereampur bie-yo (obat lupa) dan Siangkoan Tiat Seng dapat menghisapnya tanpa kurang suatu apa, karena ia sudah biasa dan juga sebab di dalam mulut dan hidungnya sudah terdapat obat pemunah.
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 12
Baca Juga: Beruang Salju 3