Ceritasilat Novel Online

Dendam Asmara 8

Eps 8 Dendam Asmara - Okt

Baca online Dendam Asmara - Okt

Cersil Dendam Asmara - Okt.

"Hanya begini harga sebuah jiwa°"

Kata Tiang Keng. Kedua orang itu melongo.

"Jiwa memang berharga."

Kata Tiang Keng lagi.

"Tapi kalian berdua seharusnya sadar bahwa di dunia bukan tak ada yang tak bisa diatasi. Kalian ini laki-laki. mengapa sekarang sikap kalian jadi begini?"

Tiat Jin melengak kemudian menunduk.

"Kami tahu."

Kata Tiat Jin.

"Tapi kami masih muda dan terpaksa kami menyayangi jiwa kami..."

"Umur Tuan hampir sama dengan umur kami berdua, jika Tuan mengalami hal yang kami alami, kami kuatir..."

Cio Peng menunduk dan batuk-batuk, ia tak meneruskan kata-katanya. Alis Tiang Keng rapat satu sama lain.

"Kita mendambakan hidup dan nama. jika tak bisa meraih keduanya, salah satu harus diraih. Dan nama baik kurasa lebih penting!"

Kata Tiang Keng.

Sesudah itu Tiang Keng ingat kedua pemuda itu dididik sejak masih kecil oleh In Hoan.

tak heran jika mereka ketularan adat gurunya.

Maka benar pepatah yang mengatakan .

Sifat manusia asalnya suci.

tapi jika tidak dididik dengan baik.

maka sifat itu bisa berubah.

Jadi tak semestinya mereka disalahkan.

Tiang Keng menghela nafas lalu menambahkan kata-katanya.

"Sebenarnya aku dan Nona Un tidak tahu di mana Un Jie Giok sekarang. Tapi katanya nanti malam ia akan menemui kami di kuil yang tadi malam. Jika kalian mau kalian boleh datang ke sana.."

"Sebenarnya melihat kelakuan mereka, sebaiknya mereka dibiarkan mati saja."

Kata Un Kin sambil tertawa. Tiang Keng batuk-batuk ia mau bicara tapi tak jadi. la lambaikan tangannya pada kedua orang itu.

"Apa kalian masih tak mau segera pergi?"

Ujarnya. Tiat Tat Jin dan Cio Peng mengawasi ke arah Un Kin. wajah mereka kelihatan penasaran dan benci sekali pada Un Kin. Keduanya lalu berpaling ke arah Tiang Keng dan memberi hormat.

"Gunung biru tak berobah. air selalu mengalir!"

Kata Tiat Jin.

"Sampai bertemu lagi!"

Mereka melompat dan pergi. Un Kin mengawasi kedua orang itu dengan sikap sebal.

"Sepatutnya mereka berdua dibunuh saja. itu lebih baik!"

Kata Un Kin.

"Semula sifat mereka baik. tapi lingkunganlah yang membuatnya berubah, lak ada orang yang ingin jadi penjahat. Alangkah lebih baiknya jika kita bisa mengubah sifat jahat mereka dibanding membunuhnya! Adik. Kin. sebagai manusia kita harus welas asih. Kumohon lain kali kau jangan berkata begitu lagi!"

Kata Tiang Keng.

Wajah Un Kin berubah merah ia menunduk, la angkuh, belum pernah ada orang yang berani menegurnya, namun ketika Tiang Keng memohon padanya dan menasihatinya, ia tak membantahnya.

Angin gunung meniup rambut si nona hingga jadi kusut.

Di lain saat ia merasakan ada tangan yang lembut meraba rambutnya yang hitam.

Hati si nona sedang kusut, namun sekarang ia merasa lebih lega sedikit.

Hatinya agak tenteram.

Lain halnya keadaan di kota Limau, sesudah kejadian yang mengerikan itu.

banyak hati penduduk Lim-an yang goncang dan bimbang.

Mereka juga sedang berpikir tentang pertemuan di Thian-bak-san yang waktunya semakin dekat saja....

Pertemuan di Thian-bak-san ini mirip besi sembrani yang bisa menarik perhatian orang banyak bagaikan sebuah tekateki yang diharap-harap akan segera terbuka tabirnya..Orang-orang telah banyak yang berdatangan ke kota Liman.

mereka datang dari berbagai penjuru dengan bermacammacam tujuan.

Ada yang hanya sekadar ingin menonton, tak sedikit yang ingin ambil bagian dalam pertandingan itu.

Tak heran kalau kota Lim-an saat itu jadi bertambah ramai saja.

Di samping orang yang hati-nya berdebar-debar tak sabar menunggu tibanya pertemuan, ada juga orang-orang yang bersenang-senang dengan nona-nona cantik di kota Lim-an.

Begitulah, pagi-pagi sekali bagaikan orang yang hendak pergi ke pasar, mereka keluar rumah atau penginapan, lalu berjalan secara rombongan.

Berdua-dua atau bertiga bahkan lebih, mereka berjalan menuju ke satu arah.

Mereka sekarang seperti sudah melupakan kejadian yang mengerikan itu.

Hari itu To-pie Sin-kiam In Kiam telah keluar dari kamar penginapanny a.

ia berjalan bersama puteranya dengan langkah agak berat menuju ke warung teh langganannya.

In Kiam mengawasi ke sekitarnya, alisnya berkerut, la ingin menghapus perasaan hatinya, la berjalan dengan diam seolah tak mendengar sapaan orang kepadanya.

Tiong Teng terpaksa harus mewakili ayahnya menjawab sapaan mereka.

Tak lama tampak seorang perempuan yang rambutnya kusut keluar dari sebuah gang.

Ia berbedak tapi bedak di pipinya itu telah pudar.

Tangan kanannya memegangi rambutnya dan tangan kirinya memegang ujung baju tangan kanannya.

Ia mengenakan sebuah bakiak bercat keemasan.

Ia berjalan cepat dan langsung masuk ke sebuah toko cita.

Tapi baru saja ia masuk tak lama ia sudah keluar lagi.

ia berjalan cepat sekali, la mengepit sekayu cita kembang di ketiaknya Sekarang tampak jelas pada wajahnya tersungging sebuah senyuman puas.

la masuk ke gang dan hilang di sana seperti ditelan bumi.

Menyaksikan kelakuan perempuan itu In Kiam menghela nafas.

"Jika kelak kita sudah kembali ke Bu-ouw,"

Kata sang ayah pada Tiong Teng.

Kau temui Kwee Kay Tay (Kepala Polisi) agar ia menertibkan cara hidup perempuan yang kita lihat tadi! "

Sambil ngintil di belakang ayahnya. Tiong Teng menjawab dengan sabar.

"'Baik, Ayah. akan kulakukan seperti perintahmu itu!"

"Semoga dia berhasil, paras elok yang digunakan secara sesat sangat ber-bahaya..

.** kata In Kiam lagi.

Tak lama mereka telah sampai di warung teh dan jongos menyambut kedatangan mereka.

Di situ orang sudah ramai dan suara mereka berisik sekali.

Saat duduk santai In Kiam berulang-ulang mendengar suara gaduh.

Lalu ia memanggil seorang pelayan yang segera menghampirinya.

"Kedengarannya ramai sekali, sedang apa mereka di belakang?"

Kata In Kiam pada pelayan.

"Maaf Tuan. suara berisik itu bukan dari warung kami."

Kata si pelayan tua. 'Tapi dari tetangga kami yang ada di belakang warung ini!"

"Oh ya! Tapi apa yang mereka kerjakan sepagi ini?"

Tanya In Kiam. Pelayan tua itu melihat ke sekitarnya, lalu berbisik pada In Kiam. '"Tuan. itu bengkel kayu pembuat peti mati...."

Jawab pelayan itu In Kiam kaget.

"Biasanya bengkel itu sepi tak ada pembeli.'* bisik si pelayan.

" 'Tapi akhir-akhir ini perusahaannya maju pesat karena banyak pesanan peti mati. Karena banyaknya pesanan maka mereka harus bekerja siang malam. Tak jauh dari situ ada bengkel kayu pembuat alat rumah tangga, tapi karena peti mati sedang laku mereka pun ikut membuat peti mati juga! Aku pernah bertanya.

"Apa peti mati mereka akan laku?"

Mereka menyahut dua tiga hari lagi pasti peti mati mereka akan laris sekali. Keterlaluan mereka itu. apa mereka berharap orang yang datang ke Lim-an ini supaya mati semua!"

"Hm!"

In Kiam mengeluarkan suara dari hidung, la memandang ke sekitarnya.

Saat jongos melihat mata In Kiam bersinar, ia jadi ketakutan Untung ada tamu baru hingga ia bisa segera meninggalkan tamu tua ini....

oo BAB 48.

IN KIAM MENGHADANG ROMBONGAN KELUARGA TONG DARI SIOK Suara para tukang kayu itu semakin riuh terdengar oleh In Kiam.

Karena gangguan suara berisik itu In Kiam jadi dongkol.

In Tiong Teng agak khawatir ayahnya naik darah, lalu ia ajak ayahnya bicara untuk mengalihkan perhatiannya.

Tapi tak lama ln Kiam sadar pada keadaan luar biasa itu.

Warung minum itu merangkap jadi rumah makan.

In Kiam pun sudah memesan beberapa macam masakan.

Tapi keadaan riuh membuat selera makannya hilang.

Ia kelihatan kurang gembira.

Saat In Kiam yang malas-malasan menjemput sumpit, tiba-tiba ia mendengar suara luar biasa.

In Kiam menoleh, ia lihat ada tiga orang tamu masuk ke dalam rumah makan.

Mereka berpakaian luar biasa, tubuh mereka ada yang gemuk dan pendek, ada juga yang jangkung dan kurus, ln Kiam sangat tertarik pada mereka.

Pakaian tamu-tamu itu seperti seragam, sama modelnya, sama juga bahannya.

Pakaian mereka berwarna dan berkilau terkena sinar matahari.

Pada pinggang mereka masing-masing tersandang sebilah pedang, sarung pedang mereka bertabur mutiara dan tampak indah sekali.

Mereka berjalan masuk dengan sikap angkuh.

Ini sangat menarik perhatian semua tamu yang ada di situ.

Jongos yang bicara dengan lu Kiam tadi agak jerih, tapi terpaksa ia harus menyambut ketiga tamu itu.

Jelas tiga tamu itu bukan saja aneh pakaiannya, tapi juga cara mereka bicara.

Kata-katanya sulit dimengerti.

Setelah pesanan makanan mereka siap.

tampak ketiganya makan dengan lahap sekali.

Sikap mereka acuh tak acuh.

tak menghiraukan tamu-tamu yang lain.

In Kiam sudah berpengalaman, telah banyak melakukan pengembaraan.

Bersama puteranya ia mengawasi ketiga tamu itu.

Bisakah ia menerka siapa mereka in.

Tiba-tiba salah seorang tamu itu berkata dengan nyaring.

Tapi kata-katanya sulit dimengerti hanya tertangkap sepotong-sepotong, ia menyebut ilmu silat yang lihay.

setan dan sebagainya.

Semua orang keheranan hanya In Kiam yang sedikit mengerti, lalu berkata pada puteranya.

"Mereka ini orangorang Hay-lam (Hai-nan). Mereka bilans mereka telah bertemu pemuda gagah, untung mereka tahu gelagat, jika tidak pasti pedang mereka sudah terbang entah ke mana. Kelihatan mereka ini lihay dan entah siapa pemuda yang gagah itu....."

Seorang temannya memperingatkan agar orang yang bicara tutup mulut karena banyak orang.

"Apa maksudnya Ayah''"

Tanya Tiong Teng ingin tahu.

"Dia bilang di tempat ini banyak mata dan telinga, ia minta agar kawannya tadi sedikit berhati-hati."

Kata In Kiam. Tiong Teng mengangguk. Tak lama orang yang ketiga ikut bicara, ia menyebut-nyebut nama Tiang Keng hingga In Kiam kaget dan gembira saat mendengar bahwa pemuda gagah itu To Tiang Keng.

"Anakku, pemuda yang mereka temui itu ternyata Tiang Keng."

Kata In Kiam pada puteranya.

"Entah di mana dia sekarang'.'"

Tak lama orang pertama bicara lagi.

tapi Tiong Teng tak mengerti.

Ia akan bertanya lagi pada ayahnya, tapi sang ayah malah bangun dari kursinya.

Setelah meletakkan uang perak di meja.

ia berkata pada puteranya.

"Mari kita pergi!"

Kata In Kiam.

Mereka berdua berjalan keluar dari rumah makan tersebut.

Sekalipun heran dan penasaran terpaksa Tiong Teng mengikuti ayahnya pergi.

In Kiam berjalan cepat.

Di jalan raya saat menemukan kereta lewat, mereka hentikan, lalu In Kiam dan Tiong Teng naik .kereta itu.

In Kiam meminta agar kusir segera menjalankan keretanya.

"Mau ke mana Tuan?"

Tanya si kusir heran. In Kiam menyelipkan uang perak ke tangan si kusir sambil berkata.

"Ke Thian-bak-san!"

Mendengar kata-kata ayahnya. Tiong Teng heran. Dia juga melihat wajah ayahnya muram.

"Apa kata ketiga orang itu?"

Kata Tiong Teng.

"Mengapa kelihatannya Ayah cemas?"

In Kiam menghela nafas panjang.

"Tiang Keng telah masuk ke dalam sarang harimau."

Jawab ayahnya.

"Siapa tahu ia dalam bahaya! Ayahnya baik. aku berhutang budi kepadany a. maka itu aku harus melindungi puteranya..."

Tiong Teng kaget dan heran, ia mengerutkan alisnya.

Kereta dilarikan dengan cepat, suara roda kereta serta derap kaki kuda tedengar sangat riuh.

Tiong Teng heran dan bingung, tapi ia tak mau bertanya pada ayahnya.

Karena kesal ia memandang keluar kereta lewat jendela.

Tiba-tiba Tiong Teng berkata penuh keheranan.

"Pada siang hari bolong begini, mengapa banyak orang yang biasa berjalan malam berkeliaran di tempat ini?"

Kata Tiong Teng. Ketika itu In Kiam menyaksikan orang-orang berpakaian serba hitam berjalan di tepi jalan, mulut mereka bungkam, tapi wajah mereka aneh sekali.

"Pasti mereka anggota sebuah partai persilatan."

Pikir In Kiam.

Karena kereta dilarikan dengan cepat rombongan orang berpakaian hitam itu sudah mereka lewati.

Ketika di perhatian di tengah rombongan orang berpakaian serba hitam itu.

tampak ada seorang yang rebah di atas sebuah gotongan.

Orang yang rebah itu kurus juga berpakaian hitam.

In Kiam memperhatikan orang yang rebah di atas gotongan, saat muka orang itu terlihat jelas oleh In Kiam.

jago tua itu kaget, tanpa merasa ia berseru.

"Kiauw Cian!"

In Kiam menyingkap tenda kereta dan melompat turun. Melihat ayahnya lompat dari kereta yang sedang berjalan Tiong Teng kaget.

"Tahan!"

Kata Tiong Teng pada kusir kereta.

Sebelum kereta berhenti dengan sempurna.

Tiong Teng pun sudah melompat turun menyusul ayahnya.

ln Kiam berlari cepat menyusul orang yang sedang menggotong Kiauw Cian.

saat sudah dekat ia jambret salah seorang dari orang berpakaian serba hitam itu.

"Hai. sahabat, kau mau apa?"

Tanya orang yang ditarik bajunya itu.

"Siapa sahabatmu?"

Bentak In Kiam dengan bengis.

Ia lihat Kiauw Cian yang ada di atas gotongan rebah tak berdaya, wajahnya pucat sedang tubuhnya diam saja.

Sekalipun orang yang ditarik oleh In Kiam ini bertubuh tinggi besar, namun ditarik secara mendadak ia kaget hingga jatuh terlentang.

Orang ini menjerit kaget, suaranya terdengar oleh kawan-kawannya.

Dalam sekejap rombongan ini berhenti, semua orang berpaling ke arah suara itu.

Mereka langsung mengawasi ke arah In Kiam yang mereka tak kenal.

Orang yang jatuh itu buru-buru bangun, karena kesal ia langsung menonjok ke arah In Kiam.

tapi saat tangannya menyerang, ia mendengar suara bentakan.

"Tikus! Beraninya kau!"

Bentak orang itu.

Tahu-tahu tubuh penyerang In Kiam itu merasakan dadanya kesemutan, ia langsung kaku karena sebuah totokan.

Itulah serangan In Tiong Teng untuk menyelamatkan ayahnya dari serangan lawan.

Tapi dalam sekejap Tiong Keng sudah langsung terkepung oleh orang-orang berpakaian serba hitam itu.

"Tiong Teng!"

Kata In Kiam.

"Kau lihat bagaimana keadaan Kiauw Cian Toa-ko!"

Sesudah itu In Kiam mengawasi pada semua pengepungma.

"Kalian murid siapa?"

Kata ln Kiam dengan suara nyaring.

Puluhan orang berpakaian hitam itu kaget, telinga mereka mendengung karena kerasnya teguran In Kiam itu.

Namun mereka tetap diam dan mengepung In Kiam dan Tiong Teng.

Dengan bengis In Kiam mengavv'asi orang-orang itu.

Ia tampak gagah.

Sekali pun ia sudah mundur dari Dunia Persilatan, namun ln Kiam tak lupa berlatih ilmu silat.

Melihat semua orang itu diam, In Kiam tertawa.

Tiba-tiba dari rombongan orang berpakaian serba hitam itu muncul seorang yang maju ke depan.

"Kalian murid siapa?"

Tanya In Kiam lagi.

"Apa kau tak kenal padaku?"

Tapi semua orang itu diam saja. hingga In Kiam berkata lagi.

"Bagaimana Kiauw Cian sampai terluka dan siapa yang melukainya?"

Tanya In Kiam.

"Ayo bicara atau hm!"

In Kiam diam sambil mengawasi dengan tajam.

Ia pikir ia bicara terlalu keras.

Kelihatan orang-orang itu tidak takut pada In Kiam.

Orang yang tadi maju berdiri tegak, kemudian ia rangkapkan kedua tangannya memberi hormat, lalu berkata dengan suara nyaring.

"Aku yang muda bernama Tong Gie."

Kata orang itu.

"She (marga) dan nama besar Loo-cian-pwee tak berani aku menyebutkannya. Tapi aku ingin bertanya apa hubungan Loocian-pwee dengan Kiauw Cian?"

Alis In Kiam berdiri.

"Dia menganggap aku sahabat ayahnya,"

Kata In Kiam.

"Maka aku pun menganggap dia keponakanku. Aku lihat dia terluka parah.."

Sebelum meneruskan kata-katanya ln Kiam melengak.

"Bagaimana kau tahu tentang diriku?"

Kata In Kiam.

"Nama ayah dan anak keluarga In sangat termasyur di Buouw."

Kata Tong Gie menjelaskan.

"Aku yang masih muda saat melihat Loo-cian-pwee berdua, langsung mengenalinya!"

"Hm!"

In Kiam memperdengarkan suara dari hidungnya.

"Kau murid siapa dan apa she dan namamu?"

Kata ln Kiam.

"Dasar orang tua..."' pikir Tong Gie.

"Aku baru menyebutkan namaku, dia sudah lupa lagi!"

Tapi Tong Gie dengan sikap hormat menjawab pertanyaan ln Kiam.

"Namaku Tong Gie. murid Keluarga Tong dari tanah Siok!"

Kata Tong Gie merendah. In Kiam sedikit kaget dan heran.

"Kau dari Keluarga Tong. jadi kau murid dari Tong Sain Hoan?"

Kata ln Kiam.

"Tapi seperti yang kuketahui antara Kiauw Cian dan pihak Keluarga Tong rasanya tidak ada masalah. Kenapa ia terluka di tangan kalian?"

Tong Gie menunduk ia berpikir sejenak.

"Kami tahu Loo-cian-pwee seorang yang mulia dan jujur, hingga menganggap orang lain pun seperti Loo-cian-pwee juga. Tapi aku yang muda mohon maaf. dalam hal Kiauw Cian rasanya Loo-cian-pwee kurang mengetahui tentang sifat dan kelakuannya di luaran....."

Kelihatan In Kiam kurang senang, tapi ia menahan sabar.

"Teruskan.."

Kata jago tua ini. Tong Gie diam sejenak lalu meneruskan kata-katanya.

"Jika bukan Loo-cian-pwee yang bertanya, aku tak akan bicara terus-terang."

Kata Tong Gie merendah.

"Karena Loocian-pwee yang bertanya, baiklah aku akan berterus terang.. Alis In Kiam bangun.

"Apa \ang terjadi sebenarnya?"

Tanya ln Kiam.

"Sebenarnya ia bukan terluka oleh kami."

Kata Tong Gie merendah.

"Coba Loo-cian-pwee periksa sendiri lukanya, apa mungkin aku bisa melukai dia dengan cara demikian?"

"Kalau begitu siapa yang melukainya?"

Tanya ln Kiam hilang sabarnya. Tong Gie menarik nafas sambil menengadah ke langit. Saat itu sudah tengah hari. sang surya sedang panas-panasnya.

"Orang itu bergelar Thay-yang Kun-cu!"

Kata Tong Gie. In Kiam tercengang mendengar nama itu disebutkan.

"Thay-yang Kun-cu!"

Kata In Kiam mengulang ucapan Tong Gie.

"Apa benar ada orang yang bergelar demikian?"

Ia belum pernah mendengar nama itu tak heran ia jadi tercengang bukan main.

"Dia masih muda dan luar biasa."

Kata Tong Gie.

"Hatinya mulia, sungguh tepat gelarnya itu karena tak ada orang Rimba Persilatan yang layak memakainya!"

"She apa dan siapa namanya?"

Kata In Kiam.

"Dia she To, namanya...."

Tapi sebelum kata-katanya selesai In Kiam sudah menyelak.

"Tiang Keng!"

Kata In Kiam.

"Benar sekali. Loo-cian-pwee."

Kata Tong Gie.

"Apa Loocian-pwee kenal dengan dia?"

To-pie Sin-kiam ln Kiam melengak. dia tertawa terbahakbahak, tampak ia girang bukan main.

"Thay-yang To Tiang Keng!"

Kata ln Kiam sambil tertawa. oo BAB 49. IN KIAM DAN TIONG TENG TIBA DI THIAN-BAKSAN Saat In Kiam sedang tertawa, terdengar Tiong Teng berteriak.

"Jarum Bu-eng Sin-ciam!"

Teriak ln Tiong Teng kaget.

Jin-gie Kiam-kek Tiong Teng orangnya teliti, setelah memeriksa luka Kiauw Cian ia menemukan jarum pada luka itu.

ketika itu jarum itu masih tertanam di tubuh Kiauw Cian.

maka ia cabut senjata rahasia itu.

Dengan demikian ia yakin bahwa itu senjata rahasia jarum Bu-eng Sin-ciam In Kiam kaget ia berpaling ke arah puteranya.

"Jadi Kiauw Cian terluka oleh jarum Bu-eng Sin-ciam?!"

Kata In Kiam.

"Benar. Ayah!"

Kata Tiong Teng. Tiba-tiba In Kiam melompat ke hadapan Tong Gie.

"Anak tak tahu diri kau berani mengelabuhi aku si orang tua!"

Kata ln Kiam. Tong Gie sedikit pun tak gentar, ia membusungkan dada dan maju.

"Apa yang kukatakan benar semuanya jika aku berbohong aku siap menerima dihukum!"

Kata Tong Gie.

"Tiang Keng putera sahabatku, aku kenal dia dan dia tak punya Bu-eng Sinciam. Terlalu berani jika kau mau membohongiku!"

Kata In Kiam.

"Kiauw Cian tertangkap oleh Tiang Keng. sedang luka yang diderita oleh Kiauw Cian. perbuatan seorang nona yang ada di sampingnya. Aku yang muda mana berani berbohong! Harap Loo-cian-pwee jangan menyalahkan aku!"

In Kiam diam.

"Aneh!"

Kata In Kiam. '"ada seorang nona di samping Tiang Keng? Siapa dia? Apa she dan siapa namanya? Bagaimana rupanya?"

Begitu In Kiam secara beruntun bertanya pada Tong Gie. Tong Gie memberi hormat.

"Nona itu she Un."

Kata Tong Gie. karena ia sahabat To Siauw-hiap. aku tak berani memperhatikan wajahnya, tapi sekelebatan aku tahu nona itu cantik sekali dan kepandaiannya lihay sekali."

In Kiam berpikir ia heran bukan kepalang.

"Coba kau ceritakan kejadiannya."

Kata ln Kiam.

Tong Gie tak menolak, ia mengisah kan semua yang ia ketahui, juga tentang kejahatan Kiauw Cian, yaitu sejak si Raja Copet datang ke Su-coan memsan senjata Bu-eng Sinciam.

sampai mereka diajak ke Thian-bak-san, dan menjalankan perintah Kiauw Cian.

Akhirnya, setelah mereka bertemu dengan Tiang Keng dan Nona Un.

baru rahasia Kiauw Cian itu terbuka.

ln Kiam kaget wajahnya merah padam, ia damprat Kiauw Cian habis-habisan.

"Dasar manusia celaka!"

Kata In Kiam gusar bukan main. Tiong Teng pun keheranan.

"Mengapa adik Tiang Keng bersama-sama dengan Nona Un?"

Kata Tiong Teng perlahan. Aganya dia ragu-ragu '"Sekarang dia di Thian-bak-san. Benarkah dia dalam bahaya? Ayah. lebih baik kita...."

"Benar, mari kita susul dia."

Kata In Kiam lalu mengawasi ke arah Kiauw Cian.

"Jika aku tak ada urusan, akan kuhajar dulu dia!"

Maka tanpa banyak bicara ia naik kereta akan ke Thianbak-san.

la tinggalkan rombongan Tong Gie.

Pada saat matahari sudah condong ke barat, kereta yang dinaikinya sampai di mulut gunung Thian-bak-san.

Karena ingat pada Tiang Keng.

mereka sesudah membayar ongkos kereta, mereka langsung naik ke atas gunung.

Mereka tak menghiraukan ada bahaya atau tidak, mereka terus saja mendaki dengan cepat.

Mereka harus melalui jalan yang sukar luar biasa, dan tak berpikir di bagian gunung mana sebenarnya Tiang Keng berada.

Matahari pun mulai terbenam tapi cahaya layung yang kemerah-merahan masih menampakan diri.

Di tempat itu sepi dan keadaan di sekitarnya sunyi senyap.

Jangankan suara orang suara binatang buaspun tak terdengar saat itu.

Tiba-tiba dalam kesunyian itu.

In Kiam dan Tiong Teng mendengar suara yang sangat perlahan.

Mereka mencoba mencari tahu dari mana suara itu.

"Apa kau sudah lapar, betapa gilanya aku. makanan sudah sedia tetapi tak kuberikan padamu...."

Kata suara itu halus.

Itu suara seorang perempuan.

Begitu suara itu berhenti, tiba-tiba muncul Un Kin yang cantik, pada tangan si nona menjinjing sebuah keranjang, la tersenyum manis, lalu membungkuk dan meletakkan keranjang itu di atas rumput yang hijau dan empuk, dan membuka tutup keranjang, ia mengeluarkan sehelai kain hijau yang dia beberkan di rumput.

Ketika itu Un Kin melihat ada bayangan jangkung mengikutinya.

Un Kin tak bangun juga tak menoleh.

"Makanan belum siap kau sudah datang!"

Kata si nona. Saat itu bayangan itu mengangkat tangannya menyerang si nona. Anginnya terasa berkesiur keras. Un Kin kaget.

"Ah tak mungkin dia bukan Tiang Keng!"

Pikir Un Kin. Buru-buru Un Kin bangun, tangannya ia gunakan untuk menangkis serangan itu. Ia membentak dengan nyaring.

"Siapa kau?"

Kata Un Kin. Sepasang tangan beradu keras, tapi keduanya tetap berdiri tegar. Un Kin mengawasi orang yang menyerangnya itu. Ternyata itu memang benar Tiang Keng.

"Hai siapa yang kau bilang menyebalkan?"

Kata Tiang Keng. Keduanya tertawa riang, demikian mereka bergurau.

"Kau mundur agak jauh. kalau tidak aku tak bisa menyiapkan makanan untukmu!"

Kata Un Kin. Dia mendorong tubuh Tiang Keng.

"Baik, baik aku mundur."

Kata Tiang Keng sambil tertawa.

"Nah, kalau begitu baru kau anak yang manis."

Kata Un Kin. Un Kin menoleh sambil tertawa manis. Tiang Keng mengawasi si nona ia perhatikan Un Kin yang sedang bekerja.

"Sudah siap belum?"

Tanya Tiang Keng selang sesaat.

"Sudah, tapi tunggu sebentar lagi."

Kata Un Kin.

"Wah aku sudah lapar nih."

Kata Tiang Keng.

"Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi..."

Un Kin kembali tertawa.

"Kalau begitu lekas kemari."

Kata si nona aleman. Tiang Keng menghampiri Un Kin yang sibuk menyiapkan makanan. Tak lama mereka sudah duduk berdampingan lalu mulai makan.

"Bagaimana, enak tidak"

Tanya si nona. Tiang Keng mengangkat tangan lalu ia belai-belai rambut si nona dengan lembut, ia merasa sangat senang.

"Eh. katakan enak tidak?"

Desak si nona. Tiang Keng tertawa.

"Bagi lagi aku sepotong, sepotong kecil mana cukup."

Kata Tiang Keng.

"Dasar setan kelaparan."

Kata Un Kin sambil tertawa manis. Ia mengambil sepotong daging ayam yang ia suapkan ke mulut Tiang Keng.

"Enaaak, sungguh enak!"

Kata Tiang Keng.

"Cuma..."

"Cuma apa?"

Tanya si nona.

"Aku kira kau besanan dengan garam, kalau tidak mana mungkin makanan ini asin!"

Kata Tiang Keng.

"Setan!"

Teriak Un Kin. lalu ia jejalkan kaki ayam ke mulut Tiang Keng.

"Aduh! Aduh!"

Kata Tiang Keng.

"Kenapa?"

Tanya si nona kaget.

"Asiiin!"

Teriak Tiang Keng menggoda.

Tiang Keng tertawa si nona pun ikut tertawa riang.

Kedua anak yatim itu tertawa dan begitu gembiranya mereka, tapi tiba-tiba keduanya diam.

mereka saling mengawasi .

Tiba-tiba mereka mendengar suara binatang malam berbunyi mereka jadi kaget.

"Cuaca semakin gelap..."

Kata si nona. Tiang Keng mengelah napas. Memang alam dengan cepat berubah menjadi gelap.

"Ya. kau lihat rembulan sudah muncul!"

Kata Tiang Keng. Un Kin menunduk.

"Aku tak tahu Un Jie Giok sudah pergi atau belum...."

Kata Un Kin perlahan "Mungkin belum...."

Jawab Tiang Keng.

"Karena sekarang belum bisa dikatakan sudah malam."

Diam-diam Un Kin menangis dan Tiang Keng hanya bisa mengawasinya saja.

Keduanya diam dan lenyaplah kegembiraan yang baru saja mereka rasakan.

Tadi mereka bergembira sejenak, namun kesulitan yang sedang mereka hadapi belum lenyap, bahkan barangkali bahaya sedang mengancam mereka.

Di suatu tempat mereka akan bertemu dengan musuh besanua.

mampukah mereka mengalahkannya.

Tiba-tiba Tiang Keng mengusap bahu si nona.

hingga Un Kin menengadah.

"Tiang Keng. bisakah kau menjawab pertanyaanku?"

Kata si nona.

"Katakan apa?"

"Kenapa suatu pertemuan harus selalu ada perpisahan yang segera datangnya?"

Kata si nona. Tiang Keng mengawasi wajah si nona dan dia berpikir keras. Un Kin menyeka air matanya lalu berkata perlahan.

"Jika besok di saat seperti ini kita bisa berkumpul kembali seperti ini. waktu itu akan kumasakkan daging ayam dan akan kukurangi kecapnya, supaya aku tidak dikatakan berbesan dengan garam..."

Ia memaksakan untuk tertawa manis. Tiang Keng diam saja.

"Ketika kau pura-pura menyerang ku. aku kira itu Pit Su."

Kata si nona. Tiang Keng tetap membisu dan diam saja.

"Pit Su itu lucu. hingga aku tak bisa tidak tertawa."

Kata si nona. Tiang Keng tak menyahut dia tetap diam saja. Un Kin mengawasi anak muda itu ia heran sekali.

"Kau tak senang bicara denganku"

Tanya si nona.

"apa kau tak bisa menyingkirkan kesulitanmu?"

Akhirnya Un Kin menangis karena sedih.

oo BAB 50.

UN JIE GIOK TAK MAU MELEPASKAN TOTOKAN PADA DUA MURID IN HOAN In Kiam dan Tiong Teng mencari di sekitar gunung.

Mereka berusaha terus sampai magrib, dan belum juga mereka menemukan Tiang Keng.

Tak lama rembulan mulai menampakkan diri.

Mereka semakin penasaran dan berkhawatir juga bingung sekali.

"Gunung begini luas tapi kita belum menemukan dia. Bagaimana kalau kita mencarinya secara terpencar. Kau ke sana aku ke sini. siapa yang lebih dahulu menemukan dia harus segera dibawa ke mari. Nanti sekalipun tak bertemu dengannya, jika rembulan sudah tinggi kita berkumpul lagi di sini!"

Kata In Kiam.

"Baik. Ayah."

Kata Tiong Teng.

"Tapi jika berpencar, bagaimana jika Ayah bertemu dengan musuh?"

Sang ayah mengerutkan alis.

"Tiong Teng. apa kau kira karena aku sudah tua jadi sudah tak berguna sama sekali?"

Kata sang ayah.

"Ya. baiklah. Ayah."

Kata sang putera.

"Sekarang kau ingat-ingat tempat ini. kau berangkat ke arah Barat, aku ke sebelah Timur!"

Kata In Kiam.

Tiong Teng kembali mengangguk mengiyakan.

Sesudah itu ln Kiam dengan tak menoleh lagi langsung berlari ke arah Timur.

Tiong Teng menghela nafas.

Ia mengawasi ke sekitarnya.

Tiong Teng berbeda dengan ayahnya, ia tak sabaran, dan langsung berjalan meninggalkan tempat itu.

Baru beberapa langkah ia sudah berpaling ke belakang, la sudah tak melihat ayahnya lagi.

Tiong Teng sekarang hanya mendengar suara angin malam.

Keadaan di sekitarnya sunyi.

Tiba-tiba Tiong Teng mendengar suara tawa yang terbawa angin malam, la heran lalu lari ke arah pepohonan dan melompat naik ke sebuah pohon untuk bersembuny i di balik dedaunan, la bersikap waspada dan karena tak ingin mengandalkan kepandaiannya saja.

la berharap orang yang tertawa itu pemuda yang sedang mereka cari.

Tak lama tampak dua orang sedang berjalan mendatangi.

Wajah mereka kumal.

Salah seorang malah terus-menerus mendumal dan menghela nafas.

Pakaian mereka berwarna kuning.

"'Mengapa harus bersusah hati terus."

Kata yang seorang.

"Itu percuma saja! Aku yakin Un Jie Giok akan membebaskan totokan kita. Ia tidak akan ingkar janji! Sebentar lagi lebih baik kita pergi ke kelenteng itu...."

"Seandainya ia membebaskan totokannya. belum tentu jiwa kita selamat."

Kata kawannya.

"Dosa telah membunuh guru sendiri, itu dosa tak berampun. Thian tak akan mengampuni kita, Tat Jin!"

"Pendapatmu salah."

Kata Tat Jin sambil tertawa dingin.

"Aku yakin tak salah. Coba kau ingat Tentang See Sie dan Hu Cee. Bukankah See Sie telah membunuh suaminya? Apakah ia tak berdosa besar? Tapi orang tidak menyalahkan perbuatannya, malah dia dipuji-puji oleh setiap orang. Dia dikatakan suci bersih! Mengapa bisa begitu, dan tahukah kau apa sebabnya?"

"Tetapi..."

Kata Cio Peng tak meneruskan kata-katanya. Mereka berhenti lalu duduk di bawah pohon tua di atas sebuah batu yang datar.

"Aku heran mengapa kau berpikir begitu."

Kata Tat Jin.

"Bukankah nama guru kita terkenal sangat jahat? Cukup asal kita bisa memberi alasan yang masuk akal. orang Rimba Persilatan akan menganggap kita membunuhnya demi keadilan dan perikemanusiaan. Mereka pasti akan memuji kita! Siapa yang akan menyalahkan kita"

"Tetapi...."

Cio Peng kembali bimbang. Ia awasi sahabatnya. Tiba-tiba ia tenawa.

"Kau benar! Ya, kau benar!"

Tat Jin tersenyum.

Hati mereka lega keduanya tertawa berderai.

Di atas pohon Tiong Teng jadi heran.

Matanya menyala.

Karena gusar hampir saja ia melompat turun karena sudah tak sabar.

Ia yakin saat itu ia bertemu dua orang murid durhaka, mereka membunuh guru mereka.

Ketika ia akan melompat ia melihat ada bayangan yang sedang mendatangi.

"Ah, apa itu Un Jie Giok yang datang"

Pikir Tiong Teng.

Terkaan Tiong Teng benar, memang itu bayangan Un Jie Giok.

Dengan cepat ia telah sampai ke tempat kedua orang itu.

Hati Tiong Teng berdebar-debar.

Begitu sampai Un Jie Giok tertawa dingin.

"Apa kalian sudah melaksanakan perintahku itu?"

Kata Un Jie Giok dingin.

"Sudah!"

Jawab Tat Jin dan Cio Peng hampir bersamaan.

"Bagus!"

Kata Un Jie Giok. Dengan tak menghiraukan kedua orang itu ia melompat lari ke sebuah tikungan.

"Loo-cian-pwee!"

Teriak Tat Jin memanggil nyonya tua itu. Jie Giok berpaling.

"Ada apa?"

Tanya Jie Giok.

"Bagaimana mengenai totokan Cit-ciat-tiong-cit atas diri kami...."

Kata Tat Jin cemas bukan main.

"Ini sudah hampir duabelas hari.. ."

Sambil tertawa dingin Jie Giok menjawab.

"Masih ada waktu 30 jam."

Katanya. Bukan main kagetnya kedua orang itu. Tat Jin berkata dengan lirih.

"Sesuai perintah Loo-cian-pwee. kami telah menaruh racun pada teh untuk guru kami. Kami juga melihat sendiri, guru kami meminumnya, maka kami mohon Loo-cian-pwee..."

"Kau taat pada perintahku, itu bagus!"

Kata Jie Giok.

"Tetapi aku ingin bertanya siapa yang menyuruh kalian meracuninya?"

"Tetapi, Loo-cian-pwee yang .."

Kata Cio Peng yang kaget dan gugup.

"Coba kalian pikirkan lagi."

Kata Un Jie Giok.

"Apa yang kukatakan tadi malam? Apa yang aku katakan dan apa yang kujanjikan pada kalian?"

Dengan tubuh gemetar Cio Peng menjawab.

"Tetapi..Tapi..."

Cio Peng tak bisa meneruskan katakatanya. Un Jie Giok tertawa.

"Bukankah aku hanya melemparkan obat itu ke tanah?"

Kata Un Jie Giok. Tat Jin mengangguk.

"Tapi Loo-cian-pwee juga berkata...."

"Aku bilang apa?"

Kata si nyonya.

"Kau bilang obat itu tanpa tanpa rasa, jika dicampur ke dalam air teh atau arak itu boleh saja. Lagi pula..."

Tat Jin ragu-ragu ia tak meneruskan kata-katanya.

"Kau berbakat dibanding anak-anak yang lain."

Kata Jie Giok.

"Ingatanmu juga kuat. Semua yang kukatakan, kau masih ingat dengan baik. Sekarang katakan, apa aku pernah menyuruh kau mencampur obat itu agar ln Hoan keracunan?"

Kedua pemuda itu saling mengawasi. Tiba-tiba keduanya berlutut di depan nyonya tua itu.

"Karena kami masih muda kurang periksa, kami harap Loo-cian-pwee menyelamatkan jiwa kami..."

Kedua pemuda itu memohon. Un Jie Giok tertawa dingin.

"Bukankah aku tak menyuruhmu meracuni gurumu?"

"Kau benar, kau tidak langsung memerintahkan kami. Loocian-pwee."

Kata Tat Jin sambil berlutut.

"Karena aku tak menyuruh kalian, lalu kapan aku berjanji akan membebaskan kalian dari totokan?"

Kata Jie Giok.

"Sekalipun tidak berjanji, akan tetapi..."

Kata Tiat Tat Jin. Tiba-tiba Jie Giok tertawa dingin dan lama. suaranya tajam dan tak sedap didengar. Mendengar pembicaraan itu Tiong Teng gemetar sendiri.

"Ilmu totok Cit-coat-tiong-ciu yang sudah ratusan tahun itu sudah hilang. Sedang yang mengerti ilmu itu hama tinggal seorang. Itu aku! Orang yang bisa membebaskannya juga hanya tinggal seorang. Tahukah kau siapa orang itu?"

Kedua pemuda itu kaget, tapi setelah berpikir sejenak mereka menjawab sekenanya.

"Cuma Loo-cian-pwee..."

Kata Tat Jin. Jie Giok tertawa lagi.

"Bukan. Kau salah, orang itu bukan aku."

Kata Jie Giok. Tat Jin kaget tanpa merasa ia bertanya.

"Lalu siapa?"

Setelah tertawa dingin nyonya itu berkata dengan suara perlahan.

"Orang itu In Hoan yang kalian racun!"

Kata Jie Giok. Kedua pemuda itu kaget tak terkecuali Tiong Teng yang sedang mendekam di atas pohon. Wajahnya demikian pucat.

"Loo-cian-pwee. tolong kami. kata Tat Jin meratap.

"Hai apa kau kira aku sedang membohongi kalian?"

Kata Jie Giok dengan suara dingin.

"Mana berani kami menuduh demikian."

Kata Tat Jin.

"Dulu saat kudapatkan kitab ilmu totok, itu terdiri dari dua jilid."

Kata Jie Giok.

"Kitab yang satu tentang teori dan cara menggunakan ilmu totok itu.

sedang yang lain mengenai memecahkan rahasia ilmu itu dan cara membuat obat pemunahnya.

Ketika itu aku..

Ia menengadah ke langit, sinar matanya tajam.

Kemudian dia melanjutkan kata-katanya.

"Tatkala itu. aku yakin sekali gurumu itu orang baik. maka aku tak curiga. Tak dikira..."

Sejenak ia berhenti bicara, wajahnya berubah dingin.

"Siapa tahu mukanya saja muka manusia, tapi hatinya hati binatang! Saat aku sedang semedi selama 61 hari untuk belajar ilmu totokan itu. dia mencuri barang-barang berharga milikku dan kitab yang se

Jilid lagi...."

Baru sekarang Tiong Teng tahu.

bagaimana hubungan Un Jie Giok dengan ln Hoan.

Dengan hati berdebar-debar tanpa merasa ia mandi keringat dingin.

Ia sadar, jika ia kepergok.

Terutama ia malu mencuri dengar pembicaraan orang....

Malam merayap semakin gelap dan larut, keadaan di sekitarnya gelap dan wajah Jie Giok pun tak jelas namun suaranya jelas sekali.

In Tiong Teng mengira, pikiran Jie Giok sedang terganggu oleh rasa cinta dan benci kepada I n Hoan.

Cio Peng dan Tat Jin masih berlutut di depan Un Jie Giok.

Mereka hanya bisa saling mengawasi dengan perasaan cemas bukan main Terdengar Jie Giok tenawa dingin, mirip suara burung hantu yang menyeramkan.

"In Hoan! In Hoan! Aku kira aku sudah cukup baik kepadamu! Kiranya di jalan yang gelap kau tak kesepian, karena tak lama lagi kedua muridmu yang sangat kau cintai akan segera menyusul.....*"

Sesudah itu ia kibaskan ujung bajunya, lalu berjalan ke balik gunung. Cio Peng melompat ia hendak menyerang perempuan iblis itu. tapi Tat Jin menarik sang kawan.

"Kau mau apa?"

Tanya Tat Jin.

"Apa kau sanggup mengalahkan hantu perempuan itu?"

Mata Cio Peng melotot dan berputar-putar.

"Sekalipun aku bukan lawannya, aku ingin mengadu jiwa dengannya!"

Kata Cio Peng.

"Buat apa...."

Tat Jin mendadak tertawa.

"Apa kita sudah tak punya harapan hidup lagi?"

Kata Tat Jin. Cio Peng melengak.

"Tak mustahil Tak mustahil..."

Kata Cio Peng. Tat Jin menyeka debu di lututnya, wajahnya cerah sekali.

"Coba kau renungkan baik-baik."

Kata Tat Jin.

"Bukan saja kita masih punya harapan hidup, bahkan kita bakal mendapat kebaikan...."

Cio Peng melengak.

Sedang Tiong Teng yang ada di atas pohon keheranan karena tak bisa menerka jalan pikiran kedua pemuda itu.

Tiat Tat Jin mengeluarkan jari tangannya, jempol dan jari tengah, ia mengadukan kedua jari itu hingga mengeluarkan suara cetrek dari tangannya itu.

"Jika kitab itu berisi cara membebaskan totokan. maka cukup jika kita pulang untuk mencari kitab itu!"

Kata Tat Jin.

"Maka kita akan tertolong!"

Mendengar hal itu Cio Peng kelihatan girang sekali.

"Kau benar, kau pandai dan cerdik, aku tak bisa melawan kecerdasanmu!"

Kata Cio Peng.

"Tetapi di mana kitab itu disimpan oleh Suhu?"

Tiat Tat Jin diam. ia kelihatan kurang puas oleh ucapan adik seperguruannya itu. Cio Peng heran melihat kakak seperguruannya itu. tapi ia segera mengerti.

"Suheng, maafkan aku."

Kata Cio Peng.

Tiong Teng di atas pohon merasa kurang senang pada kedua orang yang ia kira jahat itu oo BAB 51.

CIO PENG DAN TIAT TAT JIN AKHIRNYA TEWAS MENGENASKAN Tiat Tat Jin mengawasi adik seperguruannya itu.

ia bergumam dengan suara dingin.

"Seharusnya, kau tahu di mana Suhu menyimpan kitab itu!"

Kata Tat Jin.

"Kau salah karena kau kurang perhatian...."

Ketika kata-kata Tiat Tat Jin baru saja berhenti, tiba-tiba terdengar suara yang nadanya sangat dingin.

"Ya. kalian seharusnya tahu di mana aku menyimpan kitab itu!"

Kata suara yang sangat mereka kenal.

Bukan main terkejutnya Tiat Tat Jin dan Cio Peng ketika mendengar kata-kata itu.

Karena mereka tahu siapa orang yang berkata itu.

Berbeda dengan Tat Jin.

Cio Peng begitu mendengar suara itu.

langsung siap untuk kabur.

Sedang Tiat Tat Jin segera berlutut memberi hormat, namun tubuhnya sangat kemah karena ketakutan.

Tak lama kelihatan berkelebat sebuah bayangan disusul tawa dinginnya.

Tubuh orang itu melayang turun dari atas pohon besar dan jatuh tepat di hadapan Cio Peng yang hendak kabur.

"Hm! Jahanam, kau masih berpikir hendak kabur?"

Kata suara orang itu. Cio Peng mundur sebanyak tujuh langkah dari depan orang itu.

"Suhu!"

Ia memanggil.

Memang benar orang itu adalah In Hoan.

guru mereka.

Di atas pohon Tiong Teng melihat bayangan itu turun dengan gesit, orang itu mengenakan kopiah tinggi dan tubuh orang itu jangkung.

Selangkah demi selangkah imam itu mendekati Cio Peng yang masih gemetar karena takut.

"Dasar manusia goblok, mana mungkin kau bisa menghindari gurumu ini! Kau sangat jahat tetapi kau tidak berdaya, kau memang harus mampus!"

Kata In Hoan geram sekali. Sambil mendekam di tanah kepala Cio Peng berulang-ulang mengangguk ke arah In Hoan.

"Memang muridmu ini pantas mati!"

Kata Cio Peng. Mata ln Hoan yang bengis mengawasi muridnya yang murtad itu.

"Memang pada masa sekarang ini sudah lumrah orang yang kuat menelan yang lemah... Karena saat ini orang harus bergulat keras saling berebut untuk bisa hidup! Aku tidak menyalahkan kalian berdua, tetapi kalian semua tolol sekali! Kalian tak bisa membuat gurumu senang, lebih baik kalian mati saja semua!"

Kata In Hoan. Mendengar kata-kata In Hoan tersebut. Tiong Teng yang berada di atas pohon jadi ngeri. Dia tak mengira seorang guru bisa begitu sadis terhadap muridnya.

"Suhu...."

Cio Peng memohon.

"Seumur hidupku memang aku tak pernah berbuat baik."

Kata In Hoan.

"Hanya, gurumu ini saat berbuat jahat selalu menggunakan otaknya dengan baik. Itu sebabnya hingga sekarang ini gurumu selalu selamat. Orang-orang tak berdaya terhadap aku. Ketahui olehmu, berbuat jahat harus dibarengi dengan keberanian dan kepandaian, jika tidak maka kalian akan gagal. Kakakmu Tat Jin lumayan dibandingkan dengan kau. Cio Peng!"

Mendadak kaki In Hoan melayang ke arah Cio Peng dan sang murid ini tak sempat lagi menghindar dari serangan yang hebat itu.

Maka tak ampun lagi.

sambil menjerit keras tubuh Cio Peng pun terpental, lalu jatuh bergulingan.

Saat itu juga nyawanya melayang..

Tiat Tat Jin terus mendekam di tanah dengan ketakutan.

Ia tak berani mengawasi gurunya.

Sedang Tiong Teng yang ada di atas pohon kaget, tanpa terasa keringat dingin membasahi tubuhnya.

Setelah menendang Cio Peng.

ln Hoan berjalan ke arah muridnya yang lain.

Matanya mengawasi si murid dengan tajam luar biasa.

"Apa tadi kau sudah melihat contoh yang kuberikan?"

Tanya ln Hoan.

"Sudah. Suhu..."

Jawab Tat Jin.

"Jika kau sudah melihatnya, apa yang ada dalam pikiranmu sekarang"

Tanya In Hoan.

"Jika aku gagal mencarikan obat untuk Suhu."

Kata Tat Jin.

"Maka aku mohon Suhu bersedia menolong jiwaku.... Atau..."

In Hoan tertawa dingin.

"Hm! Kau mengira kau ini cerdik, sehingga kau bisa membohongi aku?"

Kata In Hoan. Tat Jin melengak. ia awasi gurunya.

"Tadi malam, saat kalian berdua pulang sudah kuperhatikan wajah kalian yang bingung dan cemas."

Kata In Hoan.

"Terlebih Cio Peng. sikapnya sangat tak wajar! Semua itu tak lepas dari pengawasanku. Saat aku pura-pura akan buang air kecil, sayup-sayup kudengar kau menyuruh Cio Peng menaruh racun di cawanku. Semua kuperhatikan. Tetapi ketika itu aku belum tahu, siapa yang menyuruh kalian meracuniku. Saat kalian meninggalkan aku sebentar, maka kuganti cawan minumku dengan yang baru. Ketika kalian kembali, air di cawan itu kuminum sehingga kalian mengira aku berhasil kalian racuni..."

Mendengar penuturan itu Tat Jin hanya menunduk. Dia kagum oleh kecerdikan gurunya "Pagi-pagi sekali."

In Hoan melanjutkan.

"'Kalian berdua lama berdiri di depan kamarku, tetapi kalian tak berani masuk untuk memeriksa, apakah aku benar-benar sudah mati atau belum. Kemudian kalian buru-buru pergi. Lalu aku mengikutimu sampai di sini. Saat kalian bicara dengan Un Jie Giok tadi. semua telah kudengar dengan jelas..."

Diam-diam Tiong Teng menghela nafas panjang.

"In Hoan ini sangat cerdik! Kecerdikannya itu sangat membantu kejahatan yang dilakukannya,"

Pikir Tiong Teng.

"Peran seperti dia harus segera disingkirkan! Kejahatannya melebihi seekor binatang, mana boleh dibiarkan terus..."

Oleh karena berpikir begitu Tiong Teng memutar otaknya mencari jalan untuk menyingkirkan imam jahat itu.

Tetapi, sebelum Tiong Teng bertindak, tiba-tiba ia mendengar suara bentakan nyaring dari balik gunung.

"in Hoan! Perbuatan kejimu itu bisa dianggap tak adil..."

Kata suara itu.

Begitu suara orang itu selesai, tubuh orang itu melayang turun.

Tangan orang itu terangkat dan terayun ke arah Tiat Tat Jin.

disusul oleh suara jeritan pemuda itu yang mengerikan.

Tubuh Tat Jin bergulingan dan berhenti dekat tubuh Cio Peng.

nafasnya langsung berhenti.

Kelihatan ln Hoan kaget bukan main.

ia mengenali suara dan orang yang baru muncul itu.

"Kedua muridmu itu sama jahatnya."

Kata Un Jie Giok yang muncul secara tiba-tiba.

"Jika yang seorang kau bunuh sedang yang lain kau biarkan hidup, itu kurang adil. Maka itu tadi aku telah mewakilimu membunuhnya!"

Wajah In Hoan beberapa kali berubah-ubah. sebentar merah sebentar pucat. Tiba-tiba ln Hoan tertawa perlahan.

"Bagus! Akupun berpikir demikian!"

Kata In Hoan sambi tersenyum pahit.

"Dua muridku itu murtad, tak layak mereka dibiarkan hidup!"

"Hm!"

Un Jie Giok mengeluarkan suara dari hidungnya. In Hoan tersenyum, wajahnya kini jadi semakin berseri-seri.

"Jie Giok."

Kata In Hoan dengan halus.

"Sudah lama kita tidak saling bertemu, tidak kusangka tenyata kau masih seperti dulu!"

Kemudian terdengar In Hoan menghela nafas panjang.

"Selama kita tak saling bertemu."

Kata In Hoan lagi.

"Aku selalu mengingat dan mengenangmu, tetapi sekarang aku telah menjadi tua...."

"Hm!"

Lagi-lagi Jie Giok mengeluarkan suara. In Hoan mengelus jenggotnya sambil menghela nafas perlahan.

"Ya. tak kukira, bulan dan tahun terus mendesak manusia. ."

Kata In Hoan lagi.

"Sang waktu pergi untuk tidak kembali... Setiap kali aku teringat semasa kita pernah hidup bersama bertahun-tahun lamanya, aku jadi berduka sekali.... Jie Giok. ingatkah kau saat kita duduk berdua memandangi sang rembulan di puncak gunung? Di sana. ketika itu kita minum arak bersama-sama. Saat itu kita pun saling mendoakan agar kita sama-sama panjang umur... Ah. tak hentinya aku memikirkan dirimu dan aku merasakan kiranya sang waktu sangat singkat. Memang benar pepatah mengatakan tidak ada pesta tanpa akhir. Itu yang dikatakan bahwa lebih baik tidak bertemu daripada harus bertemu. Bukan benar begitu. Jie Giok?"

Sambil berkata ln Hoan terus mengawasi wajah wanita jelek di depannya. Dia ingin tahu reaksi wanita jelek itu. Ia lihat Jie Giok sedang mengawasi ke arahnya dengan mata yang tajam dan bengis.

"Semua itu teringat lagi. tapi sayang itu sudah berlalu..."

Kata In Hoan Tiba-tiba Un Jie Giok tertawa dingin.

"Jika aku mendengar kata-katamu itu beberapa tahun yang lalu. aku memang agak khawatir... Tetapi kini hm! Hm!"

Kata Un Jie Giok.

"'Memang waktu telah berlalu, hanya keadaannya masih tetap sama! Dulu dan sekarang apa bedanya?"

Kata In Hoan. Un Jie Giok kembali tertawa dingin.

"Mungkin orang akan terperangkap oleh kata-katamu!'"

Kata Jie Giok.

"tapi sayang, kau mengatakannya hari ini. dan aku sudah bosan mendengarnya!"

Mendengar ucapan itu In Hoan melengak. Matanya jelalatan. tetapi ia memaksa untuk tertawa.

"'Jie Giok. aku tahu bagaimana persasaanmu saat ini."

Kata In Hoan.

"Aku kira kau salah mengerti tentang diriku, tetapi aku...."

"'Tutup mulutmu!"

Kata Jie Giok sengit. Jie Giok menundukkan kepalanya lalu menghela nafas panjang. Ketika ia angkat kepalanya, ia berkata lagi.

"Seperti katamu tadi. sang waktu sudah berlalu dan aku sudah terlalu tua.... ya sudah tua!""

Dia awasi In Hoan dengan tajam, mendadak dia tertawa nyaring. Sementara itu In Hoan coba bersabar.

"Jie Giok. kau belum tua.""

Kata ln Hoan "Cuma kau..."

Un Jie Giok kembali tertawa dingin.

"Jika seseorang menjadi tua dia akan mirip dengan siluman."

Kata Jie Giok. Tidak! Aku tak bisa kau akali lagi. Sampai saat ini kau masih menganggap dirimu pintar! Kau anggap kau lebih pintar dariku. Tetapi, sungguh kau tak sadar bahwa aku pandai melebihimu!"

Mendengar kata-kata itu In Hoan batuk sekali.

"Itu betul. Kepandaianmu memang melebihiku."

Kata ln Hoan. Pujian ini seolah-olah tak didengar oleh Un Jie Giik.

"Hm! Memang sudah kuduga, kedua muridmu yang tolol itu tidak akan berhasil meracunimu!"

Kata Un Jie Giok dingin.

"Aku juga sudah menduga bahwa kau akan datang menyusul mereka ke mari. Dan ternyata dugaanku itu benar sekali!"

Suara Jie Giok jelas ia sangat girang karena dugaannya tidak meleset.

"Dulu aku selalu jatuh ke dalam tanganmu, tetapi sekarang telah tiba giliranku."

Kata Un Jie Giok.

In Hoan menghela nafas lalu menunduk, tetapi matanya ia permainkan, la berpura-pura lunak, sebenarnya ia sedang berpikir keras.

Sikap ln Hoan ini tak lepas dari perhatian Un Jie Giok.

"Hm! ln Hoan. kau jangan berpikir yang bukan-bukan dan mencari jalan untuk lolos dariku!"

Kata Un Jie Giok keras.

"Kuperingatkan padamu, akhir-akhir ini aku tekun mempelajari ilmu meringankan tubuh. Jika kau kira aku bohong, boleh kau coba!"

Tiba-tiba perasaan In Hoan dingin.

"Ah dia bilang dia berlatih ilmu meringankan tubuh."

Pikir ln Hoan.

"Kalau begitu, ilmu silat yang lainnya agak ia abaikan. Jika sekarang kulawan dia dengan mati-matian, belum tentu aku kalah olehnya..."

Hati In Hoan tiba-tiba jadi tenang kembali. Un Jie Giok mengawasi In Hoan dengan tajam.

"Jangan coba melawanku."

Kata Jie Giok tajam.

"Soal ilmu silat aku rasa kau tak akan mampu mengalahkanku! Kau camkan saja. satu di antaranya. Mengenai ilmu silat tangan kosong Cit-keng-pit-kip saja. tak nanti kau bisa menghadapinya. Jika kau tak percaya boleh kau coba sekarang juga!"

In Hoan mendongak, kemudian ia menghela nafas panjang.

"Sudah lama aku berpikir ingin menemuimu."

Kata ln Hoan kemudian.

"Sekaipun hanya untuk sekali saja. Oleh sebab itu mana mungkin aku berniat pergi dari hadapanmu, apalagi akan melawanmu? Kau berpikir terlalu jauh. Jie Giok!"

Un Jie Giok tertawa lagi.

"Kau bilang aku berpikir terlampau jauh? Hm! Benarkah itu? Apa yang sedang kau pikirkan, pasti kau tahu jawabannya!"

Kata Un Jie Giok sengit.

"Yang sedang kupikirkan ialah tentang Dunia Persilatan yang kacau-balau."

Kata ln Hoan.

"Kita sudah berusia lanjut, aku pikir lebih baik kita cari sebuah tempat yang aman dan tenteram, di sana kita bisa hidup bahagia melewatkan hari tua kita..."

Kata-kata ln Hoan selain halus juga menarik hati.

Tiba-tiba Un Jie Giok menundukkan kepalanya.

Jie Giok solah-olah tertarik oleh rayuan si imam yang cerdik ini.

Mata In Hoan bersinar terang saat melihat Jie Giok menundukkan kepalanya, maka ia berulang-ulang tersenyum.

"Jie Giok. dengar olehmu."

Kata In Hoan lembut. ' "

Kau telah hidup menjagoi di Dunia Persilatan selama bertahuntahun, tetapi apa yang kau peroleh sekarang ini.

tak lain di dalam hatimu hanya ada aku!

Dan seperti juga di dalam hatiku, hanya ada kau......"

Suara In Hoan halus, tiba-tiba tangannya mengusap matanya yang berair karena tangis, ln Hoan sangat terpengaruh oleh kata-katanya sendiri hingga ia menundukkan kepalanya.

Jie Giok mendadak tertawa keras sekali.

"Di hatimu ada aku. di hatiku ada kau?"

Ujar Un Jie Giok nyaring.

"Sisa hidup kita.

"Dia berhenti sejenak.

"Dengarkan katakataku, bagiku aku sudah tak memikirkan lagi untuk hidup lebih lama lagi! Maukah kau mati bersamaku?"

Ln Hoan kaget mendengar pertanyaan itu. ia terpaksa tertawa.

"Mengapa kau berkata begitu. Jie Giok? Bukankah tubuhmu masih segar-bugar. Aku kira kau masih bisa hidup sepuluh tahun atau dua puluh tahun lagi.. ."

Kata In Hoan.

"Jadi kau tak mau menemaniku mati?"

Kata Un Jie Giok dingin.

"Tidak! Aku tak menyesalimu! Kau boleh berbuat tak selayaknya terhadapku, aku tak bisa membunuhmu.. Bagiku, aku hanya ingin kau melakukan sesuatu untukku sekali lagi...."

Suara Un Jie Giok keras, lama-lama berubah menjadi perlahan ia agaknya menyesal dan penasaran...

Saat itu segumpal awan hitam lewat menutupi sang Puteri Malam, hingga malam pun semakin larut saja...

oo BAB 52.

PENUTUP Di tempat lain masih di sekitar Thian-bak-san.

dua mudamudi Tiang Keng dan Un Kin sekarang hanya berduaan saja.

"Malam semakin larut...."

Kata Un Kin. Tiang Keng mengawasi ke sekitar tempat itu.

"Kuil tua itu sudah ada di depan kita. tetapi kita tak tahu apakah Un Jie Giok sudah ada di sana atau belum?"

Kata Tiang Keng.

"Dia bilang akan ke sana. pasti ia akan ke sana!"

Kata si nona meyakinkan.

Ia menarik tangan pemuda itu untuk diajak berjalan bersama-sama.

Mereka berjalan bergandengan hingga sampai di depan kuil dan mereka langsung masuk ke dalam kuil.

keadaan di sana masih seperti kemarin ketika mereka ada di situ.

Terlihat patung Buddha yang wajahnya lembut, tetapi hati kedua muda-mudi ini malah berdebar-debar Kemudian mereka saling mengawasi lalu mereka menunggu dan duduk berendeng, otak mereka bekerja keras.

Saat itu hati mereka jadi tak tenteram, mereka tak tahu mau bicara apa.

Tak lama terlihat cahaya api dan dua bayangan orang sedang mendatangi, tubuh keduanya langsing dan mereka berjalan dengan sangat hati-hati sekali.

"Oh kalian berdua pun sudah datang?"

Kata Tiang Keng dan Un Kin. Salah seorang dari nona itu tertawa. Dia adalah Siauw Tin. Dia meletakkan dua buah pelita di atas altar sembahyang. Tiba-tiba Siauw Keng berkata.

"Sejak tadi kami sudah menunggu, barangkali Couw-ko pun akan segera tiba!"

Kemudian kedua nona itu berdiri dekat tembok, mereka tak mau mengawasi ke arah Tiang Keng maupun Un Kin Tak heran sekalipun di pendopo itu ada empat orang karena tak ada yang bicara maka keadaan di situ tetap sunyi.

Mungkin hanya hati mereka yang berdebar-debar.....

Angin yang dingin bertiup ke dalam pendopo.

Daun-daun pepohonan pun tertiup angin yang kadang-kadang agak keras hingga daun-daun itu rontok dan berjatuhan ke tanah.

Tibatiba bersamaan dengan daun yangromtok berjatuhan dan masuk ke dalam pendopo.

melayang sebuah bayangan orang ikut masuk.

Empat orang yang ada di dalam pendopo semua menoleh ke arah orang itu.

Sesudah melihat tegas siapa orang itu.

mereka berteriak kaget.

"Kau. .!"' kata mereka hampir bersamaan. Orang itu tersenyum. Dia ternyata ln Hoan.

"Kalian tak menyangka, bukan?"

Kata ln Hoan sambil tertawa. Sambil menggendong tangan ln Hoan berjalan hilir-mudik. Tak lama ia langsung berhadapan dengan Tiang Keng dan berkata dengan sabar.

"Kuucapkan selamat padamu, karena hari ini sakit hati orang tuamu akan terbalas!"

La melangkah ke arah tembok. Tiang Keng heran, ia jadi curiga tetapi diam saja. Tidak berapa lama satu bayangan lain melompat masuk ke dalam pendopo. Siauw Tin dan Siauw Keng berseru.

"Couw-ko tiba!"

Hati Tiang Keng dan Un Kin bergolak, darah mereka mendidih.

"Ternyata kalian sudah datang lebih dulu!"

Kata Un Jie Giok dingin. Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi. Un Jie Giok tertawa meringis.

"Aku tahu perasaan kalian untuk membalaskan sakit hati orang tuamu, pasti kalian tak sabar!"

Kata Jie Giok.

"Benarkah begitu?"

"Karena dendam orang tua kami. maka kami tak bersedia hidup bersama dengan musuh kami!"

Kata Tiang Keng.

"Sebelum kami balas dendam, sehari pun kami tak bisa tidur tenang!"

Un Jie Giok tertawa dingin.

"Sekarang musuh besarmu itu ada di depanmu! Tetapi aku ingin bertanya, sudah berapa tinggi ilmu silatmu dan mampukah kau membalas dendam sekarang?"

Kata Un Jie Giok. Alis Tiang Keng berdiri.

"Hari ini aku dalang dengan tak menghiraukan jiwaku!"

Kata Tiang Keng dengan gagah. Kembali Un JieGiok tertawa dingin.

"Kau memang bersemangat!"

Kata Un Jie Giok.

"Ketahui olehmu, seumur hidupku aku belum pernah memberi kesempatan pada orang lain!"

Mendadak Jie Giok mengeluarkan dua batang bambu yang bersinar kuning keemasan dari sakunya. Kemudian ia berkata lagi dengan dingin.

"Ini dua buah bumbung jarum Ngo-in-hong-jit-touw-simciam1"

Kata Jie Giok "Dua bumbung ini yang satu berisi jarum itu dan yang satu lagi kosong!

Sekarang kau ambil salah satu bumbung ini.

jika kau berhasil mengambil yang berisi jarum, maka kau akan berhasil membalas dendam Sebaliknya jika bukan yang berisi jarum...hm!

Hai ln Hoan.

ambil kedua bumbung ini.

pesilakan dia mengambil salah satu bumbung ini untuk memilihnya!"

In Hoan kelihatan ragu-ragu.

matanya menunjukkan sinar tajam.

Perlahan-lahan ia menghampiri si nyonya tua untuk mengambil kedua bumbung bambu itu dari tangan si nyonya.

Sesudah itu dia berbalik dan berjalan dengan perlahan sekali, tapi tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dengan cepat, sambil berbalik kedua tangannya ia majukan dipakai menyerang ke arah si nyonya jelek!

Terdengar suara dari dua bumbung bambu itu.

alatnya bekerja.

Kemudian disusul suara tawa si imam yang tak sedap didengar, tetapi.....

Ternyata dari kedua bumbung itu tak ada jarum yang keluar.

Kiranya kedua bumbung itu kosong tak berisi jarum beracun!

Tak lama terdengar lagi suara tawa In Hoan disusul suara lawa Un Jie Giok.

nadanya mengejek.

In Hoan kaget, ia melompat mundur tiga langkah dan sepasang matanya mendelong....

Un Jie Giok tertawa lagi.

"Salah! Kembali kau salah selangkah, kau tertipu oleh akalku!"

Kata Un Jie Giok.

Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi, bukan main herannya mereka.

Setelah mengawasi ke arah Un Jie Giok.

mereka menoleh mengawasi ln Hoan.

Wajah ln Hoan berubah pucat bagaikan kertas putih.

"Seumur hidupmu belum pernah kau berbuat kebaikan!"

Kata Jie Giok dengan tajam ke arah In Hoan.

"Kemampuanmu hanya mengelabuhi orang saja. Sudah lama aku ingin menyingkirkanmu. tetapi selalu gagal. Hari ini sebenarnya aku akan membebaskan jiwamu, asal kau tak memperdayaiku lagi dan akan kuizinkan kau pulang masih bernyawa!"

Saat Un Jie Giok bicara selangkah demi selangkah ln Hoan mundur teratur.

Tetapi Jie Giok juga tak tinggal diam.

ia juga maju selangkah demi selangkah mengikutinya.

Tanpa terasa In Hoan telah didesak oleh Un Jie Giok.

Sambil melangkah maju kembali Jie Giok mengeluarkan dua buah bumbung bambu kuning.

Setelah In Hoan terdesak sampat di tembok, baru Jie Giok bicara.

"Jika dulu saat di puncak Sie-sin-hong di gunung Hong-san tak ada kau."

Kata Jie Giok.

"Suami-isteri itu tentu tak akan memilih jalan kematian! Begitupun anak Kin. jika bukan karena kau yang mengoceh yang bukan-bukan, dia tak akan....."

Mendadak Un Jie Giok berhenti bicara, la mengawasi ke arah Tiang Keng.

"Tiang Keng. ke mari kau!"

Kata Un Jie Giok nyaring.

Tiang Keng kaget tapi ia tetap melompat maju ke arah Jie Giok.

Tanpa menoleh Un Jie Giok menyerahkan kedua bumbung bambu itu kepada Tiang Keng.

Kemudian Un Jie Giok berkata nyaring.

"Kau ambil salah satu bumbung ini. imam ini juga musuh besarmu yang telah membunuh orang tuamu..."

Tiang Keng bersikap tenang saat ia menyambut salah satu bumbung itu. lalu bumbung itu ia kembalikan pada Jie Giok.

"Sakit hatiku memang luar biasa, tapi untuk membalas dendam itu aku tak perlu bantuan orang lain. aku malu menerimanya..."

Kata Tiang Keng. Sebelum Tiang Keng selesai bicara, tiba-tiba ln Hoan melompat naik ke tembok, ia melompat sejauh tiga tombak.

"Hm! Kau masih berpikir mau kabur?"

Bentak Jie Giok pada ln Hoan.

Mendadak tubuh Un Jie Giok berbalik dan sebelah tangannya terayun.

Dari sana lima sinar kuning melesat dengan cepat luar biasa ke arah In Hoan.

Menyusul sinar emas itu terdengar suara benda berat terjatuh ke lantai.

Kiranya Ban-biauw Cin-kun yang ilmu meringan kan tubuhnya mahir itu ternyata tak mampu menandingi kecepatan senjata rahasia milik Un Jie Giok hingga ia roboh tak berdaya...

Un Jie Giok tertawa sejenak.

Kelihatan dia puas sekali.

Kemudian suasana di pendopo itu sunyi.

Un Jie Giok berdiri diam.

Matanya yang sayu mengawasi tubuh In Hoan.

Kemudian dia berjalan perlahan, rambutnya terurai tak teratur karena sudah dua hari tak diurus.

Namun rambut itu melambai-lambai tertiup angin malam yang dingin.

Sinar pelita di atas altar sembahyang cahayanya redup dan bergoyang-goyang tertiup angin malam.

Detik-detik berlalu dalam keadaan sunyi.

Sampai tiba-tiba si nyonya membalikkan tubuhnya, ia awasi Tiang Keng dan Un Kin secara bergantian.

Kedua muda-mudi mengawasi dengan mata mendelong.

mungkin mereka terkejut menyaksikan kejadian di depan mata mereka tadi.

Kemudian Jie Giok berkata dingin.

"Kalian mau balas dendam, mengapa kalian diam saja?"

Dua bumbung bambu yang tadi tak diambil Tiang Keng oleh Jie Giok dilemparkan ke arah mereka berdua.

"Jika kalian mau menggunakan senjata itu. silakan kalian gunakan!"

Kata Jie Giok dingin.

Hawa udara sangat dingin saat In Tiong Teng harus kembali ke tempat yang dijanjikan ayahnya.

Ketika Tiong Teng sampai tempat itu sunyi.

Ayahnya belum kelihatan.

Tiong Teng jadi khawatir hingga ia tak tenang.

Tadi Tiong Teng melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya dan mendengar sesuatu yang belum pernah didengar.

Menurut Tiong Keng yang paling aneh adalah kata-kata Siu-jin Un Jie Giok "Aku hanya ingin kau melakukan suatu pekerjaan lagi.

Tunggu sampai aku mati.

kau harus berusaha menyampaikan pesanku.

Katakan bahwa Nio Tong Hong ayahnya dan Beng Jie Kong bukan ibunya!"

Kata Un Jie Giok ketika itu. Tiong Teng melihat In Hoan mengangguk, ln Hoan berjanji akan menyampaikan pesan itu.

"Sungguh Un Kin harus dikasihani."

Kata Jie Giok dengan suara mengharukan sekali.

"Dia tak akan menyangka bahwa musuhnya atau orang yang membunuh ayahnya adalah ibu kandungnya sendiri. Mana tega aku memberitahu dia. Aku tak bisa..."

Tiong Teng ingat kata-kata itu dengan baik. Tiong Teng jadi berpikir keras. Ia tak tahu duduk persoalannya, tapi ia sudah menerka beberapa bagian. Kembali terdengar Un Jie Giok bicara.

"Nio Tong Hong jahat padaku, sama jahatnya seperti kau padaku."

Kata Jie Giok pada ln Hoan "Dia membohongiku.

Dia bilang dia mencintaiku, tapi sebenarnya ia hanya mengakali ilmu silat dan hartaku belaka!

Kemudian aku dengar dia sudah beristeri.

maka aku tak mau memaafkannya.

Aku memutuskan akan membunuh mereka berdua.

Tetapi saat itu aku sedang hamil....

Oh.

Thian (Tuhan), mengapa aku bisa dipermainkan begitu...."

Tiong Teng masih ingat kata-kata Un Jie Giok ini. hingga ia jadi simpati kepadanya.

"Apa salah dia. Dengan demikian ia wanita yang perlu dikasihani."

Pikir Tiong Teng.

"Tetapi mengapa dia jadi semakin kejam?"

Dengan pikiran kacau Tiong Teng berjalan hilir-mudik di tempat itu la harap ayahnya akan segera datang.

Ia pikir mungkin saat itu Tiang Keng dan Un Kin sudah berada di kuil bersama Jie Giok dan ln Hoan.

Untung tak lama ln Kiam datang, Dia tak menemukan sesuatu.

"Ayah. mari kita ke Thian Sian Sie!" ' kata Tiong Teng. Sambil berjalan! iong Teng memberi keterangan singkat pada ayahnya Bukan pekerjaan mudah untuk menemukan kuil itu. tetapi sesudah berusaha dan makan waktu akhirnya mereka sampai juga di kuil itu. Mereka melihat sinar pelita dan dengan santai mereka masuk ke pekarangan kuil itu. Tiba-tiba mereka mendengar suara tangis. To-pie Sin-kiam In Kiam berlari cepat dengan ilmu Pat-poukan-siam. Begitu sampai di pendopo ia lihat To Tiang Keng dan Un Kin berdiri melongo. Dua pelayan berpakaian merah sedang menangis di lantai, di depan kedua pelayan itu rebah Ang-ie Nio-nio. si hantu wanita jelek. Mereka tak tahu kedatangan ln Kiam dan Tiong Teng. mereka juga tak lancang mengganggu. Di tempat yang sunyi dan suram itu terdengar sebuah suara. Dari tangan Un Jie Giok yang tiba-tiba menggelinding sebuah benda berwarna kuning ke dekat Tiong Teng. Segera Tiong Teng membungkuk untuk mengambil benda itu. ternyata itu bumbung tempat jarum rahasia yang terkenal itu. Ketika tutup bumbung itu dibuka, maka keluarlah lima batang jarum beracun itu. Tiong Teng sadar Un Jie Giok tak menggunakan senjata itu. jika ia menggunakannya pasti ada korbannya... Tiang Keng mengawasi tubuh Un Jie Giok. Tubuh musuhnya dan musuh Un Kin juga. pikir Tiang Keng. Musuh mereka sekarang telah jadi mayat, tapi aneh mereka kelihatan tak gembira. Malah hati mereka jadi kurang nyaman. Padahal mereka telah berhasil membalas dendam... Di kaki tembok rebah tubuh In Hoan yang jahat. Setelah sekian lama tiba-tiba tubuh imam itu bergerak. Kiranya dia hanya pingsan dan sekarang ia sadar, la merintih, mencoba mengangkat kepala nya. Kembali ia merintih.

"Kalian....akhirnya kalian berhasil balas dendam!"

Kata In Hoan.

"Bagus sekali. Imam itu tertawa dan Tiang Keng bersama Un Kin menoleh, la berusaha mengeraskan hati. Kembali In Hoan merintih.

"Apa kalian heran karena aku belum mati"

Tanya ln Hoan.

"Itu sebab.. aku masih punya rahasia yang belum kuceritakan pada kalian. Apa... apakah kalian ingin tahu?"

Tiang Keng tercekat. Tanpa diminta ln Hoan mulai bicara.

"Rahasia ini..."

Kata In Hoan.

"Rahasia tentang dirimu dan hidupmu.... Rahasia ini hanya aku yang tahu. Jika kalian ingin tahu ayo berusaha mengobatiku....."

Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi dan mereka raguragu.

"Hai imam jahat!"

Teriak Tiong Teng dengan tiba-tiba.

"Apa saat ajalpun kau hendak mencelakai orang lain?"

Tiong Teng melompat dan menendang imam itu. In Hoan tak berdaya ia menjerit keras sekali. Tubuhnya terpental dari mulutnya keluar darah segar, la mati seketika. Tiong Teng mengawasi tubuh ln Hoan ini.

"Biarlah sejak saat ini tak ada yang tahu rahasia yang bisa merusak keberuntungan orang lain itu!"

Gerutu Tiong Teng. ln Kiam heran menyaksikan tindakan puteranya itu.

"Apa katamu. Tiong Teng?"

Tanya sang ayah. Tiong Teng menghela nafas panjang.

"Aku mengatakan roh Paman To di alam baka akan tenang...."

Kata Tiong Teng.

ln Kiam heran tetapi tak lama air matanya mengalir dari pipinya.

Tiang Keng pun ikut menangis.

Un Kin melongo keheranan, la awasi Siauw Kin dan Siauw Keng.

keduanya juga sedang menangisi Un Jie Giok.

Un Kin pun akhirnya tak dapat menahan gejolak hatinya, ia pun ikut menangis.

"Aneh?"

Kata Tiong Teng.

"Mengapa kau juga menangis?"

Tetapi tangisan itu tangis suci murni sejernih mutiara...

Saat Tiang Keng menangis ia merasakan bahunya ada sang meraba dan sehelai sapu tangan telah disesapkan ke tangannya, maka ia bisa menepis air matanya.

Tatkala Tiang Keng menoleh sinar matanya beradu dengan sinar mata Un Kin yang jernih, ia sedang mengawasi dengan tajam.

Sedang sang fajar di luar sudah menampakkan cahayanya karena sang malam telah berganti dengan siang....

TAMAT

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

Baca Juga: Legenda Bulan Sabit 1

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 19

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert