Eps 19 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
"Barang sebaik ini, mana mungkin aku mau menukarnya begitu saja?"
"Betul! Hamba akan mengusirnya sekarang juga!"
Sahut tentara itu.
"Seleranya benar-benar tinggi! Laki-laki macam apa yang ingin dijadikan bahan penukaran? Apa bagusnya orang laki-laki? perhitungannya dalam berdagang boleh juga!"
Kata Siau Po.
"Orang itu hanya mengaco saja!"
Sahut si tentara.
"Masa dia mengatakan bahwa satunya adalah seorang lhama dan satunya lagi malah seorang pangeran! Bahkan dia mengatakan bahwa kedua orang itu adalah saudara angkat Tou Tong tayjin!"
Siau Po mengeluarkan seruan terkejut Dalam hati dia berpikir -Rupanya pangeran Kaerltan dan si lhama Shang Cie sudah berhasil diringkus oleh Hong kaucu! -Kemudian dia berkata dengan keras.
"Apa lagi selama lhama dan pangeran, untuk apa aku memiliki kedua orang itu? Kau keluar dan bilang pada orang itu, meskipun dia membawa selaksa laki-Iaki ke sini, aku tetap tidak akan menukarnya dengan kedua wanita ini!"
Si tentara mengiakan dan mengundurkan diri.
Siau Po melirik kepada Cin Ju.
Dalam hati dia berpikir --Tadinya dia mengatakan aku orang jahat, Setelah aku melepaskan beberapa istriku, serta membiarkan mereka menikah dengan gundik masing-masing, dia baru mengatakan bahwa aku orang baik!
Huh!
Untuk jadi orang baik, perlu modal yang besar juga!
Biar bagaimana, aku telah mengangkat tali persaudaraan dengan Shang Cie dan pangeran Kaerltan.
Kalau aku tidak menebus mereka, keduanya pasti akan dibunuh oleh Hong kaucu!
Untuk apa aku menahan Hong hujin?
Meskipun dia sangat cantik tapi tidak mungkin dia sudi sehidup semati ataupun melewati hari tua bersamaku Emaknya, apa sih yang dibilang "Mementingkan perempuan daripada pcrsahabatan"?
Bukan lakiIaki gagah dan entah apa lagi!
Karena membawa pikiran seperti itu, dia segera berseru.
"Tunggu dulu!"
Si tentara yang baru sampai di ambang pintu segera menghentikan langkah kakinya.
"Baik!"
Sahutnya.
"Kau bilang pada orang itu, suruh Hong kaucu mengantarkan kedua laki-laki itu ke mari, maka aku akan mengembalikan Hong hujin, Nyonya ini sangat rupawan, bahkan lebih dari Si She atau pun You kui kui (Dua wanita cantik yang sudah terkenal sekali sejak jaman dulu kala), BoIeh dibilang dia adalah harta serta permata yang langka, bahkan tiada duanya, Kalau baru ditukar dengan dua laki-laki saja, harganya masih terlalu murah. sedangkan perempuan yang satunya lagi, memang rada jelek, tapi biar bagaimana pun tidak boleh dilepaskan!"
Kata Siau Po. Tentara itu mengiakan sekali lagi lalu berjalan keluar Sejak tadi Hong hujin diam saja, sekarang tiba-tiba dia tersenyum.
"Ciam Cai tayjin benar-benar pandai memuji!"
Katanya.
"Nyonya, kecantikanmu memang tiada tara, untuk apa kau berlaku sungkan? Kita ini, kalau jadi orang baik, harus setulus hati, Memberikan pelayanan dalam berdagang pun harus yang memuaskan, barang diantarkan dulu, uangnya belakangan! Mana orang! Cepat buka borgol ini!"
Kata Siau Po.
Dia menyambut anak kunci yang disodorkan seorang penjaga dan membukanya sendiri, Setelah itu dia sendiri pula yang mengantarkan Hong hujin ke depan ruangan.
Sesampainya di aula besar, dia melihat tentara yang diberinya perintah tadi sedang berbicara dengan Liok Ko Hian.
"Tuan Liok, harap kau antarkan Hujin selamat sampai ditujuan Hujin, hamba mendoakan keselamatan Semoga banyak rejeki dan Hujin serta kaucu dapat hidup panjang umur, usianya seperti usia langit!"
Kata Siau Po. Hong hujin tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku doakan semoga Ciam Cai tayjin segera naik pangkat lagi, mendapat banyak rejeki serta kelak mendapat istri yang cantik-cantik!"
Siau Po menarik nafas panjang.
"Kalau sekedar naik pangkat atau banyak rejeki, itu sih mudah! Tapi kalau mendapatkan istri yang cantik-cantik, itulah yang sulit!"
Kemudian dia berseru.
"Bunyikan irama, antar tamu dan sediakan tandu!"
Irama musik pun mengalun Dia mengantarkan tamunya sekali lagi sampai ke pintu gerbang dan memperhatikan Hong hujin yang naik ke atas tandu.
Tandu yang membawa Hong hujin sudah berlalu Siau Po baru saja membalikkan tubuhnya untuk berjalan masuk, tahu-tahu di depan pintu gerbang berhenti lagi sebuah tandu lainnya, Ternyata yang datang kali ini walikota wilayah Yang-ciu.
Siau Po melihat satu persatu wanita cantik yang dimilikinya pergi meninggalkannya, perasaannya sedang, kesal, Dengan suara tanpa bergairah sedikit pun dia bertanya.
"Untuk apa kau datang ke sini?"
Walikota Gouw Cie Yong membungkuk sedikit untuk memberi hormat.
"Ada rahasia militer yang ingin hamba sampaikan kepada tayjin!"
Sahutnya.
Mendengar kata-kata "rahasia militer", Siau Po baru mengijinkan orang itu masuk.
--Kalau bukan rahasia militer, aku akan memukul pantatmu!
-katanya dalam hati.
Begitu masuk ke dalam ruang baca, Siau Po langsung duduk di atas sebuah kursi, dia sama sekali tidak mempersilahkan Gouw Cie Yong duduk.
"Rahasia militer apa?"
Tanyanya.
"Harap tayjin menggebah para penjaga di sekitar!"
Kata Gouw Cie Yong.
Siau Po mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar Cong Peng yang menjaga di ruangan itu mengundurkan diri.
perintahnya segera dilaksanakan Gouw Cie Yong berjalan ke depan tiga langkah lalu berkata dengan suara rendah.
"Tayjin, urusan ini menyangkut sesuatu yang besar sekali, Apabila Tayjin melaporkan kepada atasan kita, berarti sebuah jasa yang tidak terkirakan Dengan demikian hamba pun akan kecipratan rejeki. Karena itulah, setelah direnungkan sekian lama, hamba mengambil keputusan untuk mengatakannya kepada Bu Tai tayjin ataupun Hoan Tai tayjin terlebih dahulu,.,."
Siau Po mengerutkan keningnya.
"Urusan apa yang tampaknya begitu penting?"
Tanyanya.
"Begini, Tayjin Rejeki Sri Baginda sangat besar, rejeki Tayjin juga besar sekali, itulah yang membuat hamba berhasil mendapat informasi ini."
Sahut Gouw Cie Yong. Siau Po mendengus dingin.
"Rejekimu juga besar!"
Katanya.
"Tidak! Tidak! Hamba mendapat anugerah dari Sri Baginda, juga mendapat dukungan dari Tayjin Setiap hari, baik siang ataupun malam, hamba terus berpikir bagaimana harus membalas budi ini. Kemarin, ketika hamba menemani Tayjin menikmati keindahan bunga obat di luar kuil Tan Ci Si, hamba telah mendengar ucapan-ucapan yang dilontarkan Tayjin. Hamba merasa kagum sekali terhadap pengetahuan Tayjin yang luas, Dalam hati hamba sungguh berharap dapat melakukan pekerjaan bagi Tayjin atau setiap hari mendampingi Tayjin sehingga dapat memperoleh petunjuk yang berharga dari Tayjin."
"Bagus sekali!"
Kata Siau Po.
"Aku lihat sebaiknya kau tidak usah menjadi walikota lagi, lebih baik jadi... jadi... hm!"
"Terima kasih atas budi Tayjin yang setinggi gunung!"
Sahut Gouw Cie Yong cepat, wajahnya tampak berseri-seri.
"Lebih baik kau... menjadi penjaga pintu kamarku... atau menjadi pengusung tandu, Setiap hari aku keluar pintu, kau kan bisa melihat aku! Ha ha ha ha ha!"
Gouw Cie Yong marah sekali, wajahnya berubah hebat Meskipun demikian, dia berusaha untuk tertawa.
"Tidak ada yang lebih bagus lagi! Menjadi penjaga pintu kamar Tayjin tentu lebih baik daripada menjadi walikota kota Yang-ciu. Biasanya hamba mengutus beberapa orang untuk mencari berita di luaran, seandainya ada orang yang berniat buruk terhadap sri baginda atau menghasut menteri-menteri setia, hamba akan segera mengetahuinya perbuatan hina seperti menyebar hasutan dan bujukan yang merugikan negara, hamba paling benci. Terhadap orang semacam ini, hamba selalu mengambil tindakan keras!"
Siau Po berdehem satu kali, Dalam hati dia berpikir, orang yang satu ini dengan pintar mengalihkan pembicaraan tentang penjaga pintu serta pengusung tandu, Pasti dia berhasil mendapatkan jabatannya sekarang dari kepandaiannya berbicara dan menahan kemarahan dalam hati.
"Seandainya yang menyebarkan hasutan itu orang-orang desa atau begundal kelas teri, kita juga tidak perlu mengkhawatirkannya. Yang kita takuti justru orang yang berpendidikan Orang semacam ini biasanya menggunakan pantun, syair, atau legenda jaman dulu untuk mengibaratkan serta menyindir kerajaan yang sekarang, Kalau orang biasa yang membacanya, mereka pasti tidak mengerti maksud yang terkandung di dalamnya!"
Kata Gouw Cie Yong pula.
"Kalau orang yang membacanya tidak mengerti tentu tidak ada perlunya dikhawatirkan!"
Ujar Siau Po.
"Betul, betul! Meskipun demikian, kita harus menjaga kemungkinan segelintir orang yang bisa memahaminya. Pokok kata, buku atau kitab yang mengandung syair serta legenda semacam ini jangan sekali-sekali dibiarkan beredar di luaran!"
Sahut Gouw Cie Yong sambil mengeluarkan se
Jilid buku dari dalam sakunya. Dengan kedua tangannya, dia menyodorkan buku itu ke hadapan Siau Po.
"Harap Tayjin periksa sendiri! Kemarin hamba mendapatkan buku ini!"
Kalau yang dikeluarkannya dari saku setumpuk uang kertas, wajah Siau Po pasti berseri-seri segera, Namun melihat yang disodorkannya hanya sebuah buku, Siau Po langsung kecewa, Apalagi mengetahui bahwa buku itu mengandung syair-syair yang rumit, kepalanya semakin pusing, Berkali-kali dia bersin dan tangannya juga tidak diulurkan untuk menyambut buku itu.
Tampangnya seakan tidak perduli, malah dia mendongakkan wajahnya tinggi-tinggi.
Perasaan Gouw Cie Yong tertekan sekali.
Tangannya yang menggenggam buku itu pedahan-lahan ditarik kembali.
"Kemarin, ketika kita sedang menikmati hidangan arak, ada seorang perempuan yang menyarukan sebuah lagu baru, Lagu ini menceritakan kehidupan seorang gadis desa dari kota Yang-ciu. Tayjin yang mendengarnya seperti tidak senang sedikit pun. Karena itu, hamba menyelidiki siapa pencipta lagu tersebut Dengan demikian hamba bisa memintanya mengubah syair lagu itu. Ternyata, setelah hamba periksa syairnya dengan teliti, di dalamnya terdapat banyak kata-kata yang bernada pemberontakan."
Katanya menjelaskan "BetuI?"
Tanya Siau Po dengan nada kemalas-malasan. Gouw Cie Yong membalikkan halaman buku di tangannya dan menunjuk salah satu halamannya serta berkata kembali.
"Harap Tayjin lihat! Di sini ada sebuah lagu yang judulnya "
Hong Bu menyalakan meriam ". Kalau kita teliti, isinya merupakan cerita kaisar dari jaman sebelumnya, yakni Cu Goan Ciang yang sedang mempersiapkan meriam untuk menyerang musuhnya."
Katanya pula. Mendengar keterangannya, Siau Po agak tertarik juga.
"Apakah mantan kaisar Cu Goan Ciang itu juga pernah menggunakan meriam?"
"lya, iya! sekarang Sri Baginda dari kerajaan Ceng kita yang besar mendapat rejeki dari Thian untuk menguasai negeri kita, Tapi manusia she Cai ini justru membuat syair tentang Cu Goan Cian yang menyalakan meriam, Bukankah ini berarti dia menggugah hati rakyat untuk mengenang kembali kerajaan yang lama?"
Ujar Gouw Cie Yong.
"Memuji-muji Cu Goan Ciang saja sudah tidak patut, orang ini malah menulis bait terakhir yang menyatakan "
Aku mendatangi bukit yang membisu, sebuah meriam duduk dengan megah di sana, sungguh pemandangan yang membuat hati terharu, Tanpa dapat menahan kepedihan, air mata pun menetes ".
Kerajaan Ceng kita yang besar mendapat berkah dari Thian sehingga berhasil mengusir Kerajaan Beng yang lama dan hal ini membuat rakyat terhindar dari penderitaan serta bersorak-sorai menyambutnya, Mengapa, melihat sebuah meriam peninggalan Cu Goan Ciang saja, orang ini harus terharu bahkan sampai menangis karenanya?"
"Di mana meriam itu sekarang? Apakah masih bisa dinyalakan?"
Tanya Siau Po.
"Sri Baginda paling suka meriam-meriam."
"Menurut syair dalam buku ini meriam itu terletak di Cin Ciu!"
Sahut Gouw Cie Yong. Siau Po langsung memalingkan wajahnya.
"Kalau meriam itu tidak ada di kota Yang-ciu, untuk apa kau bicara panjang lebar tentangnya?"
Bentaknya dengan nada mendongkol "Kau kan walikota kota Yang-ciu, bukan walikota kota Cin Ciu, Kelak kalau kau sudah menjadi walikota kota Cin Ciu, kita baru memeriksa meriam itu!"
Gouw Cie Yong terkejut setengah mati, Cin Ciu lebih kecil dari kota Yang-ciu.
Kalau suruh dia menjadi walikota kota Cin Ciu, bukankah berarti dia turun pangkat.
Karena itu dia tidak berani mengungkit urusan ini Iagi.
Dimasukkannya buku itu ke dalam saku dan dia mengeluarkan dua
Jilid kitab lainnya.
"Tayjin, dalam buku Cai Cin Heng tadi terdapat kalimat-kalimat yang tidak pantas dibaca, tapi Tayjin berjiwa lapang sehingga tidak ingin menarik panjang urusan ini, Namun kedua buku ini jauh berbeda. Tayjin sama sekali tidak boleh tidak memperdulikannya!"
"Budak mana pula yang mengarangnya?"
Tanya Siau Po tanpa semangat.
"Yang satu merupakan cerita karangan Cai I Kuang, judulnya "Negara-negara yang sejahtera"
Isinya memuji kerajaan-kerajaan lama dan menghina Kerajaan Ceng, Yang satunya berisi puisi karangan Ku Yan Bu, kata-katanya terlebih-lebih kurang ajar dan tidak pantas dibaca oleh khalayak ramai."
Sahut Gouw Cie Yong.
Siau Po terkejut setengah mati.
Dalam hati dia berkata.
--Ku Yan Bu merupakan teman seperjuangan membunuh kura-kura dengan guruku, Tan Kin Lam.
Bagaimana buku puisinya bisa terjatuh ke tangan si penjilat ini?
Entah di dalam buku itu ada menyebut nama Tian Te hwee atau tidak?
-Dengan membawa pikiran itu, dia bertanya.
"Apa saja yang tertulis di dalamnya?"
Gouw Cie Yong senang melihat si pembesar cilik tertarik perhatiannya, Dia segera membacakan puisi itu satu per satu.
Tapi karena bahasa yang digunakannya terlalu dalam, Siau Po tidak mengerti Gouw Cie Yong terpaksa menjelaskannya, isinya kurang lebih mengenangkan jaman kerajaan Beng yang rakyatnya hidup makmur serta damai, juga ada membanggakan beberapa orang menteri yang pandai serta terkenal di jaman lampau.
Setelah selesai, Gouw Cie Yong juga membacakan cerita yang dikarang Cai I Kuang dalam bukunya, Nadanya memang hampir sama, tapi Ku Yan Bu mengungkapkannya dengan kata-kata yang lebih berani serta gamblang.
Siau Po yang mendengarnya sampai merasa jenuh.
"Sudah! Sudah! Membosankan!"
Katanya.
"Tayjin harap simak puisi yang satu ini! Di dalamnya terang-terangan menyindir tentara-tentara Kerajaan Ceng kita yang besar, katanya mereka dengan sewenangwenang memperkosa gadis-gadis Yang-ciu dan merampas harta rakyat dengan kejam... Bukankah ini merupakan penghinaan bagi kerajaan Ceng kita?"
Ujar Gouw Cie Yong pula.
"Oh, begitu rupanya.,., Bagus sekali! Tentara-tentara Kerajaan Ceng memperkosa gadis-gadis yang cantik dan membunuh banyak rakyat yang lemah? Kalau bukan karena hal ini, Sri Baginda tentu tidak akan membebaskan Yang-ciu dari pembayaran pajak selama tiga tahun, dan pada janda yang menjadi korban kebuasan seks juga tidak akan mendapat ganti rugi. Hm! Tampaknya kalimat-kalimat yang ditulis Ku Yan Bu ini cukup jujur juga!"
Kata Siau Po.
Gouw Cie Yong tercekat hatinya, Dia berpikir -Kau si budak cilik memang tidak mengerti tinggi dan rendahnya suatu masalah.
Untung saja kau yang mengucapkan kata-kata ini, kalau orang lain yang mengatakannya lalu aku laporkan kepada atasanku, apakah kau kira kau dapat mempertahankan batok kepalamu itu?
Gouw Cie Yong membacakan beberapa puisi lagi.
Semakin Iama hati Siau Po semakin berdebar-debar, Dia mengakui Ku Yan Bu dan Cai I Kuang itu memang terlalu berani.
Karenanya dia berkata "Baiklah!
Di mana Ku Yan Bu sekarang?"
"Hamba... hamba telah mengurung Ku Yan Bu, Cai I Kuang, dan seorang lagi yang she Lu dipenjara gedung walikota..."
"Apakah kau sudah memeriksa ketiganya? Apa yang mereka katakan?"
Tanya Siau Po puIa.
"Hamba memang mengajukan beberapa buah pertanyaan, tapi ketiga orang itu tidak sudi berbicara sepatah kata pun!"
Sahut Gouw Cie Yong.
"Benarkah mereka tidak mengatakan apa-apa?"
Tanya Siau Po menegaskan.
"Ti... dak! Tapi dalam saku Cai I Kuang, kami menemukan segulungan kertas!"
"Apakah isinya juga berupa syair atau puisi?"
Tanya Siau Po.
"Bukan! isinya merupakan surat yang ditulis oleh Gouw Liok Ki!"
Siau Po terkejut setengah mati.
"Hah? Gouw Liok Ki dari Kuangtung? Apakah dia juga bisa menulis syair atau puisi?" tanyanya pura-pura.
"Tidak! isinya justru menerangkan diri Gouw Liok Ki yang ingin memberontak Surat ini merupakan bukti nyata, dia tidak menyangkalnya lagi, Tadi hamba mengatakan ada rahasia militer yang ingin hamba sampaikan sebetulnya urusan inilah yang hamba maksudkan."
Sahut Gouw Cie Yong. Siau Po hanya berdehem, dalam hati dia justru berteriak. --Celaka!"
Tayjin, kalau orang yang berpendidikan membuat syair atau puisi untuk menghasut rakyat, kita tidak begitu merasa khawatir, karena tidak banyak orang yang bisa mengerti.
Tapi kalau seperti Gouw Liok Ki yang merupakan seorang pejabat negeri ingin mengadakan pemberontakan dia bisa menghubungi banyak orang.
Kalau Sri Baginda tidak cepat-cepat mencegahnya, urusan ini bisa gawat!"
Kata Gouw Cie Yong pula.
"Apa saja yang ditulis dalam suratnya?"
Tanya Siau Po kemudian Gouw Cie Yong melihat perubahan wajah si bocah yang tidak menentu.
Tampaknya urusan yang diungkitnya berhasil menggugah pikiran si pembesar ini, Dia pun semakin berani.
Dijelaskannya secara terperinci apa yang tertulis dalam surat Gouw Liok Ki.
Siau Po pun mendengarkan dengan teliti.
"Rasanya isi surat itu tidak menyatakan adanya pemberontakan?"
Katanya kemudian.
"Harap Tayjin ketahui, Gouw Liok Ki ini pintar sekali, Dia menulis surat dengan katakata kiasan, Dengan demikian, kalau bukan orang yang benar-benar teliti, tentu tidak akan mengetahuinya." --Celaka! Kalau surat itu sampai jatuh ke tangan si raja cilik, dia justru orang pintar sekali, Sekali lihat saja, tentu mengerti maksud yang terkandung di dalamnya. Biar bagaimana aku harus berusaha mencegahnya. -Pikir Siau Po dalam hati. Karena itulah dia segera berkata. Bagian 74
"Bagus! Untung kau sampaikan urusan ini kepadaku! Sri Baginda sering mengatakan bahwa aku seorang panglima yang beruntung, Ternyata ucapan seorang kaisar tidak pernah salah!"
Dia pun menepuk-nepuk bahu Gouw Cie Yong beberapa kali. Mendapat perlakuan sedemikian rupa, hati Gouw Cie Yong pun berbunga-bunga.
"Hamba setia terhadap Kerajaan Ceng, Hamba sudah berpikir, apabila hamba dapat mengikuti Tayjin selamanya, tentu banyak keuntungan yang dapat hamba peroleh!"
Ujar Gouw Cie Yong.
Siau Po memaki dalam hati.
-Banyak keuntungan yang dapat engkau peroleh?
Benar!
Pertama-tama aku akan berusaha memenggal batok kepalamu!
--Tapi dengan tersenyum ramah dia bertanya lagi.
"Apakah urusan ini diketahui oleh orang lainnya?"
"Tidak! Begitu hamba berhasil mendapat informasi ini, hamba segera menangkap ketiga orang itu lalu datang ke mari memberikan laporan kepada Tayjin, Tidak ada seorang lain pun yang mengetahui rahasia ini!"
Sahut Gouw Cie Yong.
"Bagus! Kita yang membuat jasa besar, jangan sampai orang lain yang menikmati hasilnya!"
Kata Siau Po.
"Sekarang, sebaiknya buku-buku yang kau dapatkan itu, tinggalkan saja di sini. Kemudian kau kembali ke gedung walikota dan secara diamdiam membawa ketiga tahanan itu ke mari! Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan agar lebih jelas lagi. Setelah itu, aku akan mempersiapkan tentara-tentara berkuda untuk mengiringi kita kembali ke kota raja. Dalam urusan kali ini, kau telah berjasa besar, Setidaknya aku juga bisa mendapat bagiannya!"
Siau Po pun tertawa terbahakbahak seakan hatinya senang sekali.
Gouw Cie Yong menjura beberapa kali serta mengucapkan terima kasih, Kemudian dia memohon diri dari hadapan Siau Po untuk melaksanakan perintahnya, Namun sebelumnya dia mengeluarkan buku-buku yang berhasil didapatkannya lalu diletakkan di atas meja.
Siau Po sendiri kembali ke ruangan dalam, dia menyuruh salah seorang bawahannya untuk memanggilkan Li Liat Sek dan yang lainnya untuk diajak berunding.
Tiba-tiba Song Ji mendekati dan berlutut di hadapannya, Dengan nada meratap gadis itu berkata.
"Siangkong, ada suatu urusan yang ingin aku mohonkan kepadamu."
Siau Po merasa heran sekali, cepat-cepat dia menarik tangan gadis itu dan membimbingnya bangun. Dia tetap menggenggam tangan Song Ji ketika berkata.
"Song Ji ku yang baik, kau adalah jantung hatiku, Kalau ada urusan apa-apa, katakan saja! Aku pasti akan mengabulkannya."
Dia melihat air mata gadis itu mengalir dengan deras. Siau Po menggunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap air mata yang berderai di pipi gadis itu.
"Siangkong, urusan ini sebetulnya sulit sekali, aku terpaksa memohon kepadamu!"
Kata Song Ji. Lengan kiri Siau Po segera merangkul pinggangnya.
"Urusan yang semakin sulit, aku justru semakin ingin mengabulkannya bagimu, Kau tidak perlu khawatir Song Ji yang semakin lama semakin kusayang, katakanlah, ada apa?"
Tanyanya. Di wajah Song Ji yang tadinya pucat terlihat merona merah.
"Siangkong, a... ku ingin membunuh pejabat tadi... harap kau jangan marah..."
Katanya.
Dalam hati Siau Po berpikir.
--Urusan ini tentu kita berdua sama-sama setuju, tapi kau malah memohon kepadaku, rasanya kok kebetulan sekali?
-"Memangnya, apa kesalahan pejabat itu terhadapmu?"
Tanyanya dengan rasa ingin tahu.
"Dia tidak melakukan kesalahan apa-apa terhadapku, tapi Gouw Cie Yong ini merupakan musuh keluarga kami. Tuan-tuan dari keluarga Cuang, boleh dibilang semuanya mati karena dicelakai olehnya."
Sahut Song Ji dengan nada bergetar.
Siau Po tiba-tiba tersadar Tempo hari dia melihat banyak papan sembahyang yang bertuliskan nama-nama almarhum janda-janda keluarga Cuang, rupanya biang keladi bencana itu bukan lain daripada Gouw Cie Yong.
"Apakah kau tidak salah mengenali orang?"
Tanyanya. Kembali air mata Song Ji berderai dengan keras.
"Tidak... mungkin! Hari itu dia membawa sejumlah petugas ke rumah keluarga Cuan untuk menangkapi tuan-tuan kami, Meskipun usiaku masih kecil sekali, tapi melihat tampangnya yang garang dan jahat, sampai kapanpun aku tidak akan melupakannya!"
Sahut gadis itu.
--Aku harus bersikap seakan-akan urusan sulit sekali, dengan demikian dia baru merasa berterima kasih kepadaku.
-pikir Siau Po dalam hati.
Dia langsung mengerutkan keningnya, merenung sekian lama.
"Orang itu merupakan pembesar kerajaan Ceng dan walikota kota Yang-ciu pula, Kalau kau ingin membunuhnya... kemungkinan... kemungkinan...."
Song Ji menjadi panik.
"Sejak semula aku sadar akan menyulitkan diri siangkong,"
Kata Song Ji sambil menangis tersedu-sedu.
Tapi...
Sam nay nay dari keluarga Cuang dan nyonya-nyonya yang lainnya, mereka setiap hari berlutut dan menyembah di hadapan arwah suami masing-masing serta bersumpah akan membalaskan sakit hati yang sedalam lautan ini!"
Siau Po menepuk pahanya keras-keras.
"Baik! Song Jiku yang baik yang memohon kepadaku, biarpun aku harus membunuh raja, atau meminta aku membunuh diri, aku akan menurut, apalagi baru membunuh seorang pejabat rendah! Tapi... kau harus mengijinkan aku mencium bibirmu!"
Katanya. Wajah Song Ji berubah merah padam.
"Perlakuan siangkong terhadapku sungguh baik sekali.... Sejak semula... diriku... ini memang sudah... menjadi milikmu..."
Selesai berkata dia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, kemudian dia memalingkan wajahnya.
Siau Po melihat gadis itu demikian menurut kepadanya, hatinya menjadi lemah seketika, dia tidak sampai hati mengolok-olok Song Ji sekarang ini.
Sambil tertawa, dia berkata.
"Baik! Kalau pekerjaan kita yang besar ini sudah selesai, kau harus mengijinkan aku mencium bibirmu!"
Sekali lagi wajah Song Ji menjadi merah, perlahan-lahan dia menganggukkan kepalanya.
"Kalau aku mengijinkan kau membunuhnya sekarang, pasti hatimu terasa kurang puas. Lebih baik aku membiarkan kau membawanya ke rumah keluarga Cuang, di sana kau paksa dia berlutut di hadapan papan jenazah tuan-tuanmu itu, lalu biar Sam nay nay sekalian yang memenggal kepalanya, bagaimana?"
Kata Siau Po.
Song Ji merasa usul itu memang bagus sekali, tapi dia khawatir apa yang dikatakan Siau Po tidak akan menjadi kenyataan Dia tiak dapat percaya sepenuhnya, matanya menatap Siau Po dengan pandangan menyelidik.
"Siangkong, kau tidak membohongi aku, kan?"
Tanyanya.
"Mengapa aku harus membohongimu? Pejabat busuk ini adalah musuh besarmu, otomatis dia menjadi musuh besarku juga, Biarpun dia bersedia memberikan setumpuk harta di hadapanku, aku juga tidak sudi menerimanya, Asal Song Ji selalu bersikap baik terhadapku, itu sudah melebihi segalanya di dunia ini!"
Sahut Siau Po dengan nada sungguh-sungguh.
Song Ji terharu sekali, Dia menghambur ke dalam dekapan Siau Po dan menangis tersedu-sedu.
Siau Po merangkul pinggangnya yang kecil dan lembut, hatinya bahagia sekali.
--Kekasih yang begini tulus, meskipun ada delapan atau sepuluh, pasti tidak akan merasa terlalu banyak, Si pembesar anjing Gouw Cie Yong kenapa tidak membunuh ayahnya A Ko sekalian?
Kalau hal itu terjadi, A Ko tentu akan memohon kepadaku seperti Song Ji, dan aku bisa memeluknya seperti ini.
Bukankah menyenangkan sekali?
--Pikirnya, Tapi sebuah ingatan terlintas kembali dalam benaknya, --Ayah A Ko kalau bukan Lie Ci Seng, pasti Gouw Sam Kui, mana mungkin bisa dicelakai atau dibunuh oleh Gouw Cie Yong?
Terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan, Siau Po tahu Lie Liat Sek dan yang lainnya sudah datang.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan urusan ini, serahkan saja kepadaku, Sekarang aku ingin mengadakan perundingan, kau jaga di luar, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam dan jangan sampai ada orang yang mencuri dengar pembicaraan kami."
Katanya kepada Song Ji.
"Baik, Aku tidak pernah mencuri dengar pembicaraanmu."
Sahut Song Ji.
Dia menarik tangan kanan Siau Po dan menciumnya sekilas lalu menghambur keluar dari ruangan tersebut.
Lie Liat Sek beserta anggota Thian Te hwee lainnya masuk ke dalam ruangan dan mengambil tempat duduk masing-masing.
"Saudara kalian, tadi malam aku mendapat informasi yang penting sekali, tapi karena waktunya terlalu mendesak, aku tidak sempat memberi kabar kepada kalian, Dengan tergesa-gesa aku pergi ke Li Cun Wan, untung saja, peruntunganku tidak buruk, Meskipun terjadi sedikit keonaran, namun akhirnya aku berhasil menolong Ku Yan Bu dan Gouw Toako...."
Anggota Thian Te hwee lainnya menjadi heran.
Hiocu mereka yang satu ini selalu mengambil tindakan seenaknya, Kalau hanya berpelesir ke rumah pelacuran saja, mereka masih bisa memakluminya, tapi di sana justru terjadi keributan dan akhirnya para tentara disuruh menggotong sebuah tempat tidur yang di dalamnya terdapat tujuh orang perempuan sekarang mereka baru mengetahui bahwa semua ini ternyata demi menolong jiwa Ku Yan Bun dan Gouw Liok Kie.
Urusan yang demikian aneh, tentu saja tidak terduga oleh siapapun, Karena itu mereka segera menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya.
"Ketika kita berada di Kun Beng, saudara sekalian telah menyamar sebagai petugas Gouw Sam Kui dan minum arak serta berkelahi di rumah pelesiran, Aku merasa akal ini boleh juga, karena itu tadi malam aku menirunya kembali"
Para anggota Thian Te hwee lainnya langsung menganggukkan kepalanya berkalikali.
-Begitu rupanya, Kata mereka dalam hati.
Siau Po sadar, kalau dia terlalu banyak bicara, rahasianya malah bisa terbongkar Karena itu dia segera berkata.
"Urusan yang terjadi di dalamnya tidak perlu kita bicarakan secara mendetail, yang penting intinya saja."
Dia mengulurkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan surat yang ditulis oleh Gouw Liok Kie.
Cian Lao Pan menyambutnya lalu dibeberkan di atas meja, Dengan demikian semua orang bisa melihatnya, Tampak disampul surat tertulis.
"Di tujukan kepada saudara I Kuang di tempat" , Di-baliknya tertera nama "Soat Tiong Tiat Kay" (Pengemis besi dibalik salju), semuanya tahu bahwa Soat Tiong Tiat Kay adalah julukan Gouw Liok Kie. Tapi siapa tuan I Kuang, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Pendidikan yang pernah diterima anggota Thian Te hwee sebetulnya terbatas sekali Mereka maklum bahwa isi surat itu pasti menunjukkan Gouw Sam Kui yang akan mengadakan pemberontakan Tapi banyak kalimat-kalimat yang terdiri dari pepatahpepatah jaman dahulu yang harus dikiaskan lagi artinya, itulah yang tidak mereka mengerti Karena itu mereka pun saling memandang dan menunggu Siau Po yang menjelaskannya. Siau Po tertawa.
"Dalam perut Siautee ini dipenuhi dengan bakpao serta mie ikan dari Yang-ciu, tapi air tinta justru tidak pernah dicicipi (Maksudnya dia tidak pernah bersekolah). sedangkan dalam perut saudara sekalian, pasti lebih banyak arak dari pada air tinta pula, Karena itu, sebentar lagi tuan Ku Yan Bu akan hadir di sini, biar beliau saja yang menjelaskannya."
Ketika dia sedang berbicara, seorang cong peng masuk ke dalam dan membungkuk memberi hormat, Dia mengatakan bahwa di luar ada seorang Ihama dan seorang pangeran yang datang berkunjung.
Siau Po segera meminta beberapa orang anggota Thian Te hwee untuk menyamar sebagai petugas kerajaan dan menemaninya keluar, Dia khawatir kedua abang angkatnya tiba-tiba berpaling muka dan melakukan hal yang tidak diinginkan sementara itu, dia juga memerintahkan seorang anak buahnya untuk memanggil A Ki.
Tidak disangka-sangka, begitu bertemu, sikap pangeran Kaerltan mau pun si lhama Shang Cie justru akrab sekali, mereka memuji kesetia kawanan Siau Po yang tinggi, apalagi setelah melihat A Ki berjalan keluar tanpa kurang suatu apapun, hati pangeran Kaerltan semakin berbunga-bunga.
Pada saat itu, A Ki sudah berganti pakaian dan berdandan dengan rapi.
Siau Po tertawa.
"Untung saja ilmu silat kedua kakakku ini tingginya tidak terkatakan sehingga berhasil membunuh para siluman itu. Kalau tidak, jiwa adikmu ini pasti tidak dapat dipertahankan lagi, Manusia-manusia siluman itu ilmunya tinggi, jumlahnya juga banyak, tapi kakak berdua bisa mengalahkan mereka sampai lari terbirit-birit meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit, sungguh mengagumkan. Mari kita masuk ke dalam untuk meminum beberapa cawan arak guna merayakan kembalinya kakak berdua."
Sudah terang pangeran Kaerltan dan Shang Cie diringkus oleh orang-orangnya Hong kaucu dari Sin Liong Kau, untung saja Siau Po bersedia membebaskan Hong hujin untuk ditukarkan dengan mereka berdua.
Tapi sekarang Siau Po justru mengatakan bahwa merekalah yang mengalahkan manusia-manusia siluman itu sehingga lari terkocar-kacir, hal ini tentu saja membuat terang wajah pangeran Kaerltan dan Shang Cie.
Wajah si lhama agak merah, di samping jengah, dia juga berterima kasih sekali kepada Siau Po.
sedangkan pangeran Kaerltan tentu saja dipuji sedemikian tinggi di hadapan kekasih hatinya.
Si pembesar cilik menyerukan orangnya agar menyediakan meja hidangan, dalam sekejap mata semuanya sudah tersedia, Siau Po berdiri dan menyulang kepada kedua kakak angkatnya, mulutnya yang manis terus memuji-muji mereka sehingga akhirnya Shang Cie pun melupakan peristiwa memalukan di mana dirinya sampai kena diringkus oleh orang-orang Sin Liong kau.
Tapi ketika Siau Po mengatakan bahwa ilmu silatnya terhitung nomor satu di dunia, berkali-kali ia mengibaskan tangannya, karena dalam hati kecilnya dia menyadari bahwa apabila hendak dibandingkan dengan Hong kaucu dari Sin Liong Kau, ilmunya masih terpaut jauh sekali.
Setelah meneguk secawan arak, Shang Cie dan pangeran Kaerltan segera memohon diri.
"Kakak berdua, sebaiknya kalian berdua menulis sepucuk surat yang menyatakan akan berpihak pada kami, surat ini akan kupersembahkan kepada Sri Baginda, Kelak apabila Shang Cie toako menjadi Buddha Hidup dan jika menjadi "
Semuanya sempurna" (Cen ke erl hao), siauwtee juga akan mendampingi Sri Baginda memukul tambur!"
Kata Siau Po. Sembari mengedipkan matanya, dia berkata lagi dengan suara rendah.
"Seandainya Gouw Sam Kui benar-benar memberontak dan kakak berdua memberikan bantuan kepada si raja cilik, urusan kita pasti akan menjadi kenyataan, bukan?"
Kedua orang itu senang sekali, mereka bilang bahwa apa yang dikatakan Siau Po memang ada benarnya, Siau Po segera mengajak keduanya menuju ruang baca.
"Karena ilmu surat kakakmu ini kurang sempurna, sebaiknya adik yang menuliskan saja surat pernyataan ini."
Kata pangeran Kaerltan. Siau Po tertawa.
"Namaku sendiri, hanya huruf "Siau"
Nya saja yang bisa kutulis dengan terpaksa, tapi huruf "Po"
Nya sampai sekian Iama masih belum sanggup dikuasai apalagi menulis surat pernyataan? Lebih baik kita panggil juru tulis saja!"
Sahutnya.
"Urusan ini sangat penting, tidak boleh diketahui oleh seorang pun!"
Kata Shang Cie.
"TuIis seadanya saja. Yang penting kita bukan akan mengikuti ujian negara, Sri Baginda pasti tidak mementingkan apakah tulisan kita indah atau jeIek. Yang penting isinya dapat dimengerti. Jari tangannya sudah terputus setiap ruasnya, tapi ternyata masih bisa menulis. Diambilnya sehelai kertas dan ditulisnya sehelai surat pernyataan, kemudian dia juga mewakili pangeran Kaerltan menulis surat pernyataannya, kemudian meminta pangeran itu mencap jari jempolnya di bawah surat tersebut."
Sekali lagi ketiga orang itu bersumpah untuk menghadapi kesulitan bersama-sama dan menikmati kesenangan bersama pula, Untuk selamanya tidak ada seorangpun yang boleh melupakan tali persaudaraan di antara mereka.
Setelah selesai, Siau Po memerintahkan anak buahnya untuk membawakan tiga nampan uang emas yang dibagikannya masing-masing kepada pangeran Kaerltan, Shang Cie serta A Ki.
Lalu dia juga menyuruh orang menyiapkan tandu, Dia sendiri yang mengantarkan mereka sampai ke depan pintu gerbang.
Ketika kembali ke dalam ruangan, salah seorang anak buahnya melaporkan bahwa Gouw Cie Yong yang sudah membawa para tahanan datang.
Siau Po menyuruh Gouw Cie Yong menunggunya di ruangan sebelah timur, dia sendiri yang membawa ketiga tahanan tersebut ke dalam ruangan.
Dibukanya borgol yang membelenggu tangan mereka, kemudian memerintahkan para petugas dan tentara jntuk mengundurkan diri, Dengan demikian di dalam ruangan hanya tertinggal dia dan para anggota Thian Te hwee lainnya, Siau Po menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.
Setelah itu dia menjura kepada ketiga orang tahanan itu.
"Hiocu bagian Ceng Bok Tong dari perkumpulan Thian Te hwee Wi Siau Po berserta beberapa saudara lainnya mengunjuk hormat kepada Ku Kunsu, Cai Sian Cing serta tuan Lu!"
Katanya.
Tempo hari, Cai I Kuang menerima surat rahasia dari Gouw Liok Ki, saking gembiranya, dia mengajak Lu Liu Liang bersama-sama ke Yang-ciu untuk menemui Ku Yan Bu dengan maksud mengajaknya berunding.
Tidak disangka-sangka, dalam waktu yang bersamaan, Gouw Cie Yong sedang menyelidiki syair yang dibuat orang itu dan akhirnya membawa sejumlah siwi untuk melakukan penangkapan.
Karena Cai I Kuang dan Lu Liu Liang sedang di sana, mereka ikut terbawa sekalian.
Begitu diadakan pemeriksaan dan penggeledahan di dalam saku Cai I Kuang pun ditemukan surat rahasia dari Gouw Liok Ki, sehingga urusannya menjadi panjang.
Ketiga orang itu merasa benci dan menyesal Kalau hanya diri mereka saja yang tertangkap, tapi surat yang berhasil disita itu menyangkut urusan negara yang penting sekali Apabila rahasia itu sampai bocor, masalahnya bisa gawat!
Tapi sekarang mereka justru menghadapi peristiwa yang aneh!
Ciam Cai tayjin dari kerajaan Ceng ternyata merupakan seorang hiocu bagian Ceng Bok Tong dari perkumpulan Thian Te hwee.
Rasa gembira dan terkejut membaur dalam hati ketiganya, mereka seakan berada dalam alam mimpi.
Tempo hari, ketika diadakan pertemuan besar membunuh kura-kura, Siau Po tidak memperlihatkan wajahnya, Tapi Ci Thian Coan, Lie Liat Sek, Hian Ceng tojin dan yang lainnya sempat berkenalan dengan Ku Yan Bu.
Liang bertiga pernah mendapat pertolongan dari Tan Kin Lam ketika menemui bahaya di atas perahu dulu, begitu mengetahui bahwa anak muda yang mengaku sebagai hiocu Thian Te hwee ini merupakan murid Tan Kim Lam, hilanglah kecurigaan dalam hati mereka.
Perasaan gembira langsung menyelimuti suasana dalam ruangan itu.
Cai I Kuang menjelaskan kata sandi berupa pepatah yang ditulis oleh Gouw Liok Kie dalam suratnya, dengan demikian para anggota Thian Te hwee baru mengerti diam-diam mereka merasa betapa bahayanya bila surat itu sampai terjatuh ke tangan lawan.
Lu Liu Liang menarik nafas panjang.
"Beberapa tahun yang lalu, saya bersama tiga orang rekan, salah satunya bernama Oey Li Ciu, Oey heng, pernah mendapat pertolongan dari suhu anda. sekarang kami kembali terjerumus dalam bahaya, ternyata andalan yang menolong kami. Memang benar apabila orang mengatakan bahwa "
Yang paling tidak berguna itu kaum pelajar ", Aih, budi besar kalian guru dan murid, terlebih-lebih tidak bisa dibalas lagi"
Katanya.
"Kita semua kan orang sendiri, mengapa tuan Lu demikian sungkan?"
Sahut Siau Po.
"Para tentara Yang-ciu tiba-tiba mendobrak pintu dan menyerbu masuk, saat itu aku sudah merasa bahwa keadaannya tidak beres,"
Kata Cai I Kuang.
"Aku bermaksud mencari kesempatan untuk merobek surat dari Gouw heng, tapi terlambat, perbuatanku kepergok oleh salah seorang petugas, malah tanganku ditelikung ke belakang dan langsung diborgol Surat itu pun disita, Aku sudah bertekad, apabila sampai dipaksa berbicara, aku akan mengatakan bahwa orang yang berjuluk "
Soat Tiong Tiat Kay"
Yang namanya tercantum di bawah surat adalah Gouw Sam Kui. Toh selembar nyawa tuaku ini tidak dapat dipertahankan lagi, biar bagaimana aku harus melindungi saudara Gouw Liok Kie."
Para anggota Thian Te hwee tertawa terbahak-bahak, mereka mengatakan bahwa siasat itu sebetulnya bagus sekali.
"ltu sih karena keadaan yang terdesak saja, julukan "Soat Tiong Tiat Kay"
Telah menggetarkan dunia persilatan, hampir setiap orang mengetahuinya, Apabila petugas itu mencocokkan tulisan dalam surat itu dengan tulisan saudara Gouw Liok Kie, rahasia ini pasti terbongkar."
Kata Cai I Kuang pula.
"Dua kali sudah kami hampir membocorkan rahasia saudara Gouw,"
Kata Ku Yan Bu.
"Dan dua kali pula sempat tertolong, ini membuktikan bahwa usia bangsa Tat Cu di negara kita pasti tidak panjang, Usaha saudara Gouw pasti akan berhasil. Tapi, biar bagaimana sejak sekarang kita harus menutup muIut, belum tentu untuk ketiga kalinya nanti, kita akan seberuntung ini!"
Para anggota Thian Te hwee setuju dengan pemikiran itu.
"Wi hiocu, bagaimana tanggapanmu dalam urusan ini?"
Tanya Ku Yan Bu pada Wi Siau Po.
"Sulit sekali mendapat kesempatan untuk bertemu dengan tuan-tuan bertiga, ada baiknya kalian menginap di sini beberapa malam, Kita minum arak bersama, kemudian aku akan memanggil pembesar anjing itu untuk menyaksikan dari samping, biar dia terkejut setengah mati. Tapi kalau nyali orang ini terlalu besar, dan kita tidak bisa membuatnya ciut, kita penggal saja kepalanya!"
Sahut Siau Po.
"Perbuatan itu memang bisa melampiaskan kedongkolan dalam hati kita, tapi pelaksanaannya tidak mudah, Gouw Cie Yong adalah seorang pejabat dari kerajaan Ceng, apabila Wi hiocu ingin membunuhnya, setidaknya harus ada kesalahan besar yang telah dilakukannya."
Kata Ku Yan Bu sambil tersenyum.
Siau Po merenung sesaat "Ada!
Harap tuan Cai menulis sepucuk surat, surat itu ditulis oleh Gouw Sam Kui dan ditujukan kepada pembesar anjing ini, pembesar anjing ini pernah membual, katanya kalau dihitung-hitung, dia masih ada tali persaudaraan dengan Gouw Sam Kui.
Kalau rasanya sulit menulis surat itu, tiru saja surat yang ditulis Gouw toako, hanya namanya saja yang diganti siapapun yang bersekongkol dengan Gouw Sam Kui, apabila aku memenggal kepalanya, si raja cilik pasti tidak keberatan."
Katanya. Para anggota Thian Te hwee memuji kecerdikan hiocu mereka, Ku Yan Bu tertawa.
"Akal Wi hiocu ini bagus sekali Boleh dikatakan "
Sekali bidik dua burung ", selain bisa menimpakan kesalahan terhadap Gouw Cie Yong, Gouw Sam Kui pun akan terbawabawa, I Kuang heng, harap kau sudi menggerakkan penamu!"
Katanya. Cai I Kuang tertawa gembira.
"Tidak disangka hari ini kita bisa memajukan nama si pengkhianat besar."
Ujarnya.
Siau Po sendiri tidak pernah sekolah, dia mengira menulis sepucuk surat itu pasti sulit sekali, karenanya dia mengusulkan untuk meniru saja suratnya Gouw Liok Kie.
padahal Cai I Kuang, Ku Yan Bu dan Lu Liu Liang adalah orang sekolahan, kepintaran mereka dalam hal tulis dan membaca, tidak ubahnya dengan kepandaian Siau Po melempar dadu.
Tapi Cai I Kuang dan yang lainnya juga tidak mengatakan apa-apa, mereka setuju dengan usul Siau Po.
Cai I Kuang segera mengambil sebatang pit dan tinta.
"Tahukah Wi hiocu siapa nama panggilan Gouw Cie Yong yang lain?
panggilan kecil misalnya?
Kita ingin mengaitkan hubungan orang ini dengan Gouw Sam Kui, apabila si pengkhianat itu menyebutnya dengan nama lain, orang pasti akan tambah percaya kalau surat Gouw Sam Kui ini memang ditujukan kepadanya."
Kata Cai I Kuang.
"Kho toako, coba kau keluar dan tanya kepadanya."
Perintah Siau Po. Kho Gan Ciau mengiakan, sejenak saja dia sudah kembali Iagi.
"Nama kecil pembesar anjing itu, Sien Yang, Dia bertanya mengapa aku ingin mengetahui nama kecilnya, Aku bilang Ciam Cai tayjin ingin menulis surat ke kotaraja agar sebelumnya Sri Baginda tahu jasa-jasa yang telah dibangun olehnya, Dia kegirangan setengah mati dan cepat-cepat menyebut nama kecilnya."
Katanya.
Para hadirin tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Kho Gan Ciau.
Sekejap saja Cai I Kuang sudah selesai menyalin surat itu, dia membeberkannya di atas meja lalu berpaling kepada kedua rekannya.
"Ku heng, Lu heng, bagaimana pendapat kalian?"
Ku Yan Bu dan Liu Lu Liang sama-sama melihat.
"Bagus, bagus!"
Puji mereka serempak. Cai I Kuang segera menjelaskan isi suratnya.
"Garis besarnya kurang lebih sama, tapi ada beberapa pepatah yang kuubah, secara halus dikatakan Gouw Sam Kui berambisi menjadi raja dan apabila berhasil, Gouw Cie Yong akan diberikan pangkat besar."
"Bagus! Memang si telor busuk Gouw Sam Kui itu hanya pura-pura menggunakan nama kerajaan Beng untuk memberontak, apabila perbuatannya sampai berhasil, pasti dia akan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja, Tetapi kita mengumpamakan dia sebagai Cu Goan Ciang, bukankah derajatnya jadi terlalu tinggi?"
Kata Siau Po.
"Lho, surat inikan dia yang menulisnya sendiri, jadi bukan kita yang mengatakannya terlalu tinggi, dia sendiri yang mengangkat dirinya terlalu tinggi!"
Sahut Cai I Kuang. Siau Po menepuk pahanya keras-keras.
"Betul! Aku sampai lupa bahwa surat ini ditulis oleh Gouw Sam Kui sendiri!"
Serunya.
"Lalu, nama siapa yang tercantum di bawahnya?"
"Asal orang membaca surat ini, pasti mereka langsung menduga Gouw Sam Kuilah yang menulisnya. Tentu saja kita tidak boleh mencantumkan nama Peng Si-ong, semakin tidak jelas nama pengirimnya, orang semakin percaya, Kita cantumkan saja nama "
Seseorang yang berpandangan jauh dari barat"."
Kata Ku Yan Bu. Semuanya merasa pikiran Ku Yan Bu memang bagus sekali.
"Kami tidak boleh berdiam di sini terlalu lama, Sedikit kesalahan saja, rusaklah rencana kita, sebaiknya kami memohon diri sekarang juga."
Kata Cai I Kuang.
Yang lainnya juga mempunyai pemikiran yang sama.
Siau Po juga tidak menahan mereka lama-lama, dia masuk ke dalam dan mengambil uang sebanyak tiga ribu tail.
Kepada masing-masing orang itu, dia memberikan seribu tail lalu memerintahkan Ci Thian Coan dan Kho Gan Ciau mengantarkan mereka keluar lewat pintu belakang.
Hati Siau Po agak lega setelah kepergian ketiga orang itu, baru saja dia berpikir untuk santai sejenak, seorang petugas kembali masuk dan melaporkan kedatangan Gubernur Yang-ciu serta Jenderal besar yang, memimpin pasukan perang.
Siau Po terkejut setengah hati, -Mungkinkah rahasia tentang Cai I Kuang mereka telah bocor?
--tapi dia berusaha untuk menenangkan hatinya dan mempersilahkan mereka masuk, sebelumnya para anggota Thian Te hwee disuruh mengundurkan diri.
Kedua orang itu segera menghadap dan memberi hormat kepadanya.
"Tayjin, gawat!"
Kata Ma Yu sambil mengeluarkan sepucuk surat dari dalam sakunya.
"Ada apa?"
Tanya Siau Po dengan hati berdebar-debar.
"Di sini ada firman dari Sri Baginda yang meminta tayjin agar segera kembali ke kotaraja. Kata-nya Gouw Sam Kui sudah memulai pemberontakan."
Sahut Mu Tian Yan. Hati Siau Po menjadi lapang seketika, wajahnya tampak berseri-seri.
"Aku kira ada apa, ternyata si telor busuk itu benar-benar memberontak!"
Mok Tian Yan dan Ma Yu bingung melihat sikapnya, Gouw Sam Kui melakukan pemberontakan kenapa pembesar cilik ini malah kelihatannya senang?"
Kalian tidak perlu cemas, Sri Baginda sangat cerdik, sejak semula beliau sudah mengadakan persiapan untuk menghadapi masalah ini. Tapi... ada satu masalah di sini yang justru membuat aku bingung."
Kata Siau Po.
"Apa itu?"
Tanya Mok Tian Yan. "Apakah kalian baru mengetahui pemberontakan Gouw Sam Kui dari firman kaisar yang kalian terima?"
Tanya Siau Po.
"Betul, Begitu menerima firman tersebut, kami langsung menuju kemari."
Sahut Ma Yu.
"Tapi, mengapa walikota Yang-ciu, Gouw Cie Yong bisa mengetahuinya terlebih dahulu?"
Kata Siau Po. Mok Tian Yan dan Ma Yu saling lirik sejenak, tampaknya mereka terkejut sekali.
"Apa yang dikatakan Gouw Cie Yong terhadap tayjin?"
Tanya Ma Yu.
"Barusan dia menghadap aku. Katanya ada urusan penting sekali, Dia mengatakan bahwa ada seorang penguasa di daerah barat yang akan mengadakan pemberontakan, dia harap aku cepat sadar diri dan berpihak kepada orang itu."
Sahut Siau Po.
"Kurang ajar! Rupanya dia membujuk Tayjin agar ikut memberontak. Memang benar! Siapa lagi penguasa di daerah barat kalau bukan Gouw Sam Kui!"
Kata Mok Tian Yan.
"ltu dia! Bahkan dia menunjukkan sepucuk surat yang tidak aku mengerti!"
Kata Siau Po pula.
"Apakah surat itu masih ada di tangan tayjin sekarang?"
Tanya Ma Yu.
"Tentu saja! Barusan kami toh sedang membicarakan surat itu ketika kalian berdua tiba-tiba menyampaikan kepada anak buahku bahwa kalian ingin bertemu!"
Siau Po segera mengeluarkan surat yang dipalsukan oleh Cai I Kuang dan diserahkannya kepada Ma Yu.
Kedua orang itu membacanya dengan teliti "Surat ini ditujukan kepada keponakan jauhnya yang bernama Sien Yang, apakah itu nama kecil Gouw Cie Yong?"
Tanya Ma Yu.
"Begitulah menurut Gouw Cie Yong?"
Sahut Siau Po.
"Surat ini terang mengajak Gouw Cie Yong bekerja sama melakukan pemberontakan terhadap raja kita. Orang ini harus ditangkap, Kalau sampai dibiarkan, dia bisa mempengaruhi pembesar lainnya."
Kata Mok Tian Yan.
"Betul! itulah sebabnya aku menahannya di ruangan timur dan pura-pura akan memikirkan dulu usulnya, Kebetulan kalian berdua datang, Nah, kira-kira tindakan apa yang harus kita ambil sekarang?"
Tanya Siau Po yang cerdik.
"Tidak usah diragukan lagi bahwa surat ini tentu dibuat oleh Gouw Sam Kui. Kita tidak perlu banyak bicara lagi, Tolong tayjin perintahkan anak buahmu untuk meringkusnya, Besok tayjin harus kembali ke kota raja. Harap tayjin bawa saja orang itu dan seret ke hadapan Sri Baginda, Kalau dia melawan, bunuh saja! Kami berdua akan menjadi saksi bahwa dia adalah kaki tangan pemberontak Gouw Sam Kui. Kami bersedia menuliskan sepucuk surat sebagai pernyataannya!"
Kata Ma Yu.
"Bagus!"
Sahut Siau Po.
"Nanti di hadapan Sri Baginda aku akan memuji-muji kesetiaan kalian sehingga kita sama-sama mendapat keuntungan besar!"
Siau Po segera memerintahkan anak buahnya untuk meringkus Gouw Cie Yong.
Tentu saja para anggota Thian Te hwee yang menyamar sebagai tentara kerajaan Ceng yang melakukannya, Meskipun Gouw Cie Yong merasa penasaran dan berteriakteriak dengan kalap bahwa dia tidak bersalah tapi nasi sudah menjadi bubur.
Setelah Ma Yu dan Mok Tian Yang mengundurkan diri, Siau Po meminta salah satu saudaranya dari Thian Te hwee untuk mengantarkan uang sebanyak selaksa tail kepada ibunya, Orang itu tidak boleh mengatakan apa-apa.
Kalau ditanya, dia hanya boleh mengatakan bahwa dia mendapat titipan dari Siau Po.
Hati Siau Po agak lega sekarang.
Setidaknya ibunya tidak akan begitu sengsara lagi dengan uang pemberiannya.
Keesokan harinya mereka mulai melakukan perjalanan.
Song Ji dan Siau Po beserta para saudara dari Thian Te hwee menjaga Gouw Cie Yong baik-baik.
sedangkan si permaisuri palsu, Mao Tung Cu dijaga ketat oleh sejumlah serdadu, sepanjang perjalanan Gouw Cie Yong masih memaki-maki dengan penasaran.
Kadang-kadang saking tidak tahannya mereka mendengar makian orang itu, salah seorang saudara dari Thian Te hweepun menotok urat gagunya.
Ketika sampai di Siang Ho, Siau Po memerintahkan Thio Yong dan rekan-rekannya untuk mengantarkan si permaisuri palsu berjalan terlebih dahulu ke kota raja, Dia mengatakan ada sedikit urusan yang harus diselesaikannya di sekitar tempat itu.
Tentu saja dia tidak mengatakan bahwa dia ingin membawa Gouw Cie Yong ke rumah keluarga Cuang agar para janda di sana dapat membalaskan sakit hatinya.
Malam harinya, Siau Po, Song Ji dan rombongan Thian Te hwee sampai di sebuah desa, Karena perut mereka sudah lapar sekali, mereka segera mencari sebuah rumah makan atau kedai arak.
Untung saja tidak jauh dari pintu desa mereka berhasil menemukannya.
Mereka pun segera masuk ke dalam Di belakang terdengar suara derap kaki kuda yang ramai, Ternyata datang pula serombongan tentara, Entah dari resimen mana, Siau Po tidak memperdulikannya, mereka mencari tempat duduk yang strategis.
Serombongan tentara baru saja duduk, Dari luar desa terdengar langkah kaki kuda sayup-sayup, kemudian rombongan berhenti di kedai itu.
Beberapa orang turun dan masuk ke dalam kedai itu, Yang terdepan dua orang yang bertubuh kekar, sedangkan lainnya seorang yang dengan tampang penyakitan.
Tubuhnya pendek lagi kurus, Kedua pipinya cekung ke dalam, sementara tulang di sekitar keningnya menonjol dengan jelas, wajahnya berwarna kekuning-kuningan.
Pucat seperti tak ada darahnya sedikit pun.
Bahkan samar-samar wajahnya tampak murung dan tegang.
Baru berjalan beberapa langkah suara batuknya terdengar tak henti-henti.
Di belakangnya mengikuti seorang kakek dan seorang nenek, Kalau dilihat dari tampang keduanya, mereka sudah berumur di atas delapan puluhan.
Kakek itu juga bertubuh kurus akan tetapi dia tampak masih bersemangat jenggotnya yang putih dan panjang melambai-lambai di depan dada, wajahnya kemerah-merahan.
Sedangkan si nenek bertubuh lebih tinggi daripada si kakek, pinggangnya lurus dan tubuhnya pun tegap, sepasang matanya bersinar-sinar, Di belakangnya berjalan sepasang wanita berusia dua puluh tahun ke atas.
Kalau dilihat dari keadaan mereka semua, si laki-laki yang bertampang penyakitan itu berpakaian paling mentereng, tampaknya keturunan hartawan Dua laki-laki dan dua wanita itu adalah pembantunya.
sedangkan si kakek dan si nenek, menggunakan jubah berwarna hijau, bahannya dari kain kasar akan tetapi bersih sekali Sulit diterka asalusul mereka.
"Mama Tio, tuangkan semangkok air panas biar Siau Ya meminum obatnya!"
Kata si nenek.
Seorang wanita pelayannya segera menyiapkan, dari dalam keranjang ia mengeluarkan, sebuah mangkok dan sebuah kendi yang kemungkinan berisi air panas, ia menuangkan ke dalam mangkok itu sehingga penuh, kemudian meletakkannya di hadapan si laki-laki yang penyakitan itu.
Dan si nenek mengeluarkan sebotol obat dari dalam sakunya, Dibukanya tutup botol dan mengambil sebutir pil berwarna merah, lalu diserahkannya pada laki-laki yang penyakitan itu pula.
Si laki-laki yang sakit itu membuka muIutnya dan menyodorkan mangkok yang berisi air panas untuk meminumnya.
Laki-laki yang penyakitan itu tampaknya sangat sulit untuk mengatur pernapasan, hingga terbatuk-batuk beberapa kali.
Si kakek dan si nenek memperhatikan laki-laki yang penyakitan itu dengan wajah menyiratkan kekhawatiran, juga penuh perhatian Ketika pernapasannya agak mulai lancar dan batuk-batuknya mulai berhenti, si kakek dan si nenek barulah menarik napas lega.
Si laki-laki penyakitan mengerutkan keningnya.
"Ayah, Ibu. Mengapa kalian selalu melihat aku terus-menerus? Aku toh belum mati."
Ujarnya dengan suara perlahan. Si kakek mendengus satu kali, kemudian ia memalingkan wajahnya, Si nenek tertawa dan ber-kata.
"Untuk apa bicara mati atau hidup, anakku pastilah hidupnya panjang sampai ratusan tahun."
Dalam hati Siau Po berkata.
-Budak itu sekali pun minum obat dari dewa umurnya tidak akan dapat panjang lagi Rupanya si kakek dan si nenek ini adalah ayah dan ibunya, Dan si setan penyakitan itu sejak kecil kelihatannya sudah dimanja, Sehingga tampaknya tidak mempunyai adat, ia keras dan sombong, Baru saja dilihat ayah dan ibunya saja ia terus ngambek.
Terdengar si nenek berkata pula.
"Mama Tio, Mama Sun. Cepat, kalian panaskan sop Jin Som, Siau-yamu itu. Setelah itu siapkan nasi dan sayur."
Katanya sambil menoleh kepada kedua pelayan.
Kedua pelayan itu segera menyiapkan apa yang diperintahkan itu.
Masing-masing segera menenteng sebuah keranjang, lalu berjalan ke belakang ruangan.
Kepala rombongan tentara menghampiri pemilik kedai arak, untuk menanyakan perjalanan menuju Peking.
"Loya sekalian, pada hari ini kita menempuh perjalanan sejauh tiga puluh lie lagi, Dan kita akan menginap semalam di kota ujung sana, Besok pagi kau berjalan pula dan sore harinya akan sampai di kota Peking,"
Jawab si pemilik rumah makan itu.
"Kita tak ingin menginap di mana-mana. Kami akan menempuh perjalanan hari ini juga, Lao Pan. Mulai hari ini aku jamin usahamu semakin besar, sebaiknya kau siapkan alat-alat yang bagus-bagus dan sayur-mayur yang segar-segar pula, Agar sampai pada waktunya kau tidak merasa kerepotan,"
Kata si kepala tentara itu. Si pemilik kedai itu tertawa.
"Loya hanya memuji saja, kedai ini selamanya tidak pernah ramai belum pernah seramai ini. Dalam satu bulan paling hanya beberapa hari kedai ini kedatangan para tamu, Semua ini juga karena perhatian dari Loya sekalian mana mungkin ada tamu yang datang setiap hari ke mari?"
Katanya merendah. Kepala tentara itu tertawa mendengarnya.
"Lao Pan, mari aku beritahukan kepadamu, Gouw Sam Kui memberontak, dia sudah menyerang sampai ke Kui Lan. Kami ini berangkat ke kota raja untuk melaporkan kegiatan tentara kerajaan, Kalau toh itu sampai terjadi, paling tidak lama, sekitar tujuh tahun urusan ini baru dapat selesai, Para tentara atau para pengungsi pastilah setiap hari akan lewat ke tempat ini, dengan demikian bukankah rejeki akan datang juga kepadamu."
Si pemilik kedai makan itu mengucapkan terima kasih berulang-ulang pada kepala tentara itu, dalam hatinya ia justru mengeluh.
-Kalian para tentara mana mungkin dapat diajak berdagang, minum makan seenaknya saja, Yang terbaik saja paling-paling memberikan uang tip hanya beberapa sen saja.
Dan yang jahat malah memukuli orang sampai mati, makan kenyang langsung saja jalan, jangan kata tiga, lima, atau tujuh tahun, cukup satu tahun saja warung kita mungkin harus gulung tikar alias bangkrut -Wi Siau Po dan Li Liat Sek mendengar kalau Gouw Sam Kui sudah menyerang sampai ke Lui Lan, mereka terkejut sekali, Dalam hati mereka berkata.
-Tidak disangka-sangka kejadian itu begitu cepat terjadi Cian Lao Pan berkata dengan suara rendah.
"Bagaimana kalau aku menanyakan tentang masalah ini?"
Tanyanya. Wi Siau Po menganggukkan kepalanya, Cian Lao Pan berjalan ke hadapan para tentara itu, wajahnya sengaja dibuatnya berseri-seri. Sambil menghormat ia berkata.
"Tadi kami mendengar kata-kata dari Ciang Kun Taijin ini, bahwa Gouw Sam Kui telah menyerang sampai Kui Lan, sedangkan keluarga hamba tinggal di Tiong Sa. Hamba sangat mengkhawatirkan mereka, dan entah bagaimana keadaan di sana, apakah di daerah Tiong Sa pun telah dikuasai Gouw Sam Kui?"
Tanyanya. Kepala tentara itu, mendengar orang itu menyebut dirinya Ciang Kun Tay Jin, hatinya gembira sekali, ia lalu berkata.
"Kalau keadaan di Tiang Sa, aku benar-benar merasa tidak tahu, Gouw Sam Kui telah memerintahkan beberapa anak buahnya yang terdidik untuk menyerang ke Kui Lan dari Kui Cou. Kalau daerah Guan Ciu pasti berbahaya sekali, di sana keadaannya kacau sekali, Tiga orang bawahan Gouw Sam Kui berpencaran masuk dari timur, sedangkan yang lainnya menyerang daerah Kui Lan, Kalau tidak salah tentara di sana telah dibantai, dan mereka yang selamat lari kocar-kacir penduduk daerah sana sebagian besar telah mengungsi ke daerah lain."
Katanya. Ciang Lao Pan menunjukkan wajah muram.
"Wah, gawat sekali! Tapi setidaknya tentara Kerajaan Ceng, sangat lihay-lihay dan mereka belum tentu meraih kemenangan bukan?"
Katanya.
"Sebenarnya semua orang juga berkata demikian, tapi setelah penyerangan di Kuan Cu, kenyataannya pasukan Gouw Sam Kui benar-benar sulit untuk ditandingi. Untuk itu bagaimana kelanjutannya aku sendiri merasa sulit untuk mengatakannya."
Jawab si kepala tentara, Ciang Lau Pan sekali lagi menjura hormat dan berucap terima kasih, ia kembali ke tempat duduknya.
Dalam hati rombongan Thian Te hwee berpikir.
-Jangan sampai Gouw Sam Kui yang jahat itu berhasil menjadi raja, akan hancur jadinya -Ada lagi yang berpikir lain.
--Paling bagus Gouw Sam Kui dapat berhasil menyerang sampai ke Peking, dengan demikian rajanya akan terserang juga dan bangsa Tat Ciu akan hancur Tentara-tentara itu makan dengan cepat, setelah itu mereka berdiri yang seterusnya berkata.
"Laou Pan, aku telah mengabarkan berita baik kepadamu, karena itu makan kami ini sudah seharusnya kalian yang membayarnya!"
Pemilik kedai itu terpaksa mengembangkan senyuman dan berkata.
"Benar.... Benar.... Benar, Harap para Tayjin sekalian berhati-hati dalam perjalanan!"
Katanya. Si kepala tentara itu tertawa.
"Hati-hati! Wah, kalau kita harus hati-hati, lebih baik kita duduk lagi dan makan sekali lagi di sini sampai sore,"
Jawabnya.
Wajah si pemilik kedai makan itu, langsung berubah muram ia tertawa getir Tawa yang dipaksakan.
Kepala tentara itu berjalan sampai ke depan pintu, ia melewati si kakek dan si nenek serta si laki-laki yang penyakitan itu, Kemudian secara tiba-tiba tangan kiri si lakilaki penyakitan itu menghalangi jalannya dan menyengkeram dada si kepala tentara.
"Laporan apa yang akan kau bawa ke kota raja, Coba aku lihat!"
Bentaknya dengan keras.
Si kepala tentara itu sebenarnya bertubuh kekar dan tegap, akan tetapi setelah dicengkram oleh laki-laki yang penyakitan itu kakinya langsung terjatuh ke depan dan berlutut, ia marah sekali.
"Enaknya apa yang kau lakukan,"
Bentaknya.
Wajahnya merah padam ia berusaha untuk melepaskan cengkraman itu, akan tetapi ia tidak dapat bergerak sedikit pun.
Tangan kanan si laki-laki yang penyakitan itu terulur ke depan, ia merobek baju bagian dada si kepala tentara, Maka terjatuhlah sepucuk amplop besar.
Dengan perlahan-Iahan tangan kirinya didorong ke depan, Si kepala tentara itu jatuh, bahkan dua buah meja bergulingan tertabrak tubuhnya.
Maka setelah itu terdengarlah suara ribut-ribut Mangkok dan cawan berjatuhan di atas lantai, Para tentara segera berteriak-teriak.
"Pemberontak-pemberontak!"
Setelah itu mereka mengeluarkan senjata masing-masing dan menyerang pada si laki-laki yang penyakitan itu.
Kedua pelayan si laki-laki yang penyakitan itu segera bergerak ke depan, Kaki mereka menendang dan tangannya menghantam, Maka dalam sekejap mata saja para tentara telah jatuh rebah di atas lantai warung makan itu.
Si laki-laki penyakitan itu merobek amplop tersebut dan ia mengeluarkan sepucuk surat dari dalamnya, Si kepala tentara tampak terkejut hingga terasa ia melayang, Dengan suara bergetar ia berkata.
"ltu adalah surat laporan untuk Sri Baginda, Kau.... Kau telah berani merobeknya, apakah ini bukan disebut pemberontakan?"
Teriaknya penuh kemarahan. Si laki-laki penyakitan melihat sekilas surat tersebut kemudian ia berkata.
"Hem.... Para tentara di Hui Lam meminta bala bantuan kerajaan Tat Cu untuk menggempur Peng Sie ong, Biar pun selaksa tentara dikirim bukankah. Huk.... Huk.... Huk.... Bukankah tetap akan disapu bersih oleh Peng Sie ong?"
Sambil berkata ia meremas surat itu, dan ia melepasnya, Ternyata surat itu telah menjadi sobekan kertas-kertas kecil, dan beterbangan ke mana-mana.
Anggota Thian Te hwee melihat tenaga orang itu yang sedemikian besar, sehingga mereka berubah karena tampak ragu.
Dalam masing-masing bergumam.
-Kalau dilihat dari nada bicaranya, kayaknya orang ini orang bawahan Gouw Sam Kui juga Kepala tentara itu berusaha untuk bangun sambil menghunus goloknya.
"Kau telah merobek surat wasiat itu, Biar bagaimana pun aku akan mempertahankannya untuk apa aku hidup, lebih baik aku mengadu jiwa denganmu!"
Katanya keras dengan mata menatap tajam si lelaki bertampang penyakitan.
Ia lalu mengangkat goloknya tinggi-tinggi melakukan serangan Si lelaki penyakitan itu duduk dengan tenang, Hanya dengan tangan kananya ia Iadeni kepala tentara yang kalap itu.
Dengan perlahan-lahan ia mendorong perut lawannya, seakan meminta pada kepala tentara itu agar tidak mengganggunya.
Kepala tentara yang didorong itu jatuh ke atas tanah dengan keadaan duduk, Tubuhnya tak mampu bergerak lagi, Mulutnya ternganga lebar dengan nafas tersengalsengal, seakan tidak memiliki tenaga sama sekali.
Sementara itu para tentara lainnya yang telah dipukul oleh kedua pelayannya tadi, berusaha bangkit berdiri Mereka berdiri dikejauhan sambil mengeluarkan gumaman antara sesamanya, tapi tidak ada yang berani maju untuk menolong sang kepala tentara.
Seorang wanita pelayannya membawa sebuah mangkok yang masih mengepulkan asap.
Perlahan-lahan ia menaruhnya di depan si laki-laki penyakitan itu.
"Siau Ya. harap diminum sop Jin Som ini!"
Ujar si pelayan wanita.
Terhadap kejadian baru saja yang begitu menegangkan si kakek dan si nenek seakan tidak melihatnya sama sekali.
Keduanya tak memperhatikan anak mereka dengan penuh kekhawatiran.
Ci Tian Coan berkata dengan suara rendah.
"Beberapa orang ini tampaknya ganas-ganas, lebih baik kita semua meninggalkan tempat ini!"
Cian Lao Pan segera menghampiri si pemilik kedai makan dan membayar makan mereka.
setelah itu, mereka bersama-sama berjalan ke luar.
Tampak si nenek meniupkan obat itu dengan perlahan-Iahan dan menyodorkannya dengan perlahanIahan pula, Wi Siau Po berjalan keluar dari desa tersebut, setelah jauh barulah mereka membicarakan laki-laki penyakitan dan kedua orang tuanya.
"Pakaian mereka biasa-biasa saja, akan tetapi tenaga mereka benar-benar besar dan kuat. Tampaknya mereka mempunyai ilmu yang cukup tinggi, benar-benar sulit untuk ditemui pada jaman sekarang ini."
Kata Ci Tian Coan.
"Si laki-laki penyakitan tadi sangat sakti, ia hanya mendorong tubuh si kepala tentara itu dengan perlahan-lahan, akan tetapi si kepala tentara itu seperti orang yang tidak mempunyai tenaga sekali setelah mendapatkan dorongan itu, Sungguh benar-benar sulit mencari orang seperti itu!"
Kata Hian Ceng Taujin.
"Hong Yan Tee, kalau kau yang menjadi kepala tentara itu apa yang akan kau lakukan?"
Tanyanya.
"Kalau aku jadi dia, jangan mendekati si laki-laki penyakitan kurang dari jarak tiga depa."
Jawabnya.
Para anggota Thian Te hwee berpikir, apa yang dikatakannya memang benar walaupun untuk menghindar ataupun menangkis setidaknya dalam jarak tiga depa baru ia dapat melakukannya, Kalau orang jauh sedikit setidaknya ia masih ada waktu untuk menghindari diri.
Tiba-tiba Ci Tian Coan berkata.
"Kalau aku, aku akan menangkap pergelangan tangannya...."
Kata-kata itu tidak diselesaikannya, ia malah menggelengkan kepalanya, Hal ini karena ia mengetahui tenaga dalam si laki-laki penyakitan yang begitu luar biasa, seandainya ia menangkap pergelangan tangan itu tangannya sendiri yang kemungkinan akan dipelintir.
Para anggota Thian Te hwee tahu kalau orang-orang itu adalah kawan sekongkolannya Gouw Sam Kui.
Akan tetapi ia melihat orang itu melakukan kejahatan ternyata tidak ada seorang pun yang mencegahnya.
Orang-orang itu tahu kalau yang dipukul itu bangsa Tat Cu, tapi mereka seperti tidak mau tahu.
Sebagai jiwa seorang pendekar seharusnya mereka tidak tinggal diam saja, Maka itu mereka merasa malu sekali, setelah berbincang-bincang sejenak mereka tidak ada yang melanjutkan pembicaraan itu lagi.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan sejauh beberapa Iie.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kaki kuda, Dua ekor kuda melaju dengan cepat ke arah mereka.
Pada saat itu mereka telah mencapai jalan setapak yang menuju ke rumah keluarga Cuan, jalanan itu sangat kecil tidak cukup dilalui dengan dua ekor kuda sekaligus.
Para anggota Thian Te hwee menanggapinya dengan keenggan-engganan, meskipun derap kaki kuda itu telah mendekat sekali, kecuali Han Cie Tiong dan Song Ji yang menepikan kuda mereka sedangkan yang lainnya diam saja.
Dalam sekejap dua ekor kuda itu telah sampai di belakang mereka, Para anggota Thian Te hwee segera memalingkan kepala, Ternyata orang yang menunggang kuda laki-laki yang penyakitan dan kedua pelayannya, Salah satu pembantunya berteriak.
"Siau Ya, kami meminta pada kalian berhenti sebentar! Ada beberapa hal yang akan ia tanyakan."
Ucapannya itu meskipun terdengar sopan tapi seakan-akan mengandung kesan kalau ia tidak menghargai orang Iain.
Para anggota Thian Te hwee yang mendengar ucapan itu menjadi kesal Cian Kun Jin, membentak dengan suara keras.
"Kami sedang ada urusan, tidak ada waktu menunggu! Lagi pula kita tidak saling mengenal dan apa yang akan kalian tanyakan?"
"lni toh perintah dari Siau Ya keluarga kami, sebaiknya saudara sekalian menunggu sebentar jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,"
Sahut si pelayan dengan nada seakan mengancam.
"Apakah kalian termasuk bawahannya Gouw Sam Kui?"
Tanyanya.
"Heh! Memangnya siapa majikan kami, sehingga ia sudi menjadi bawahannya Peng Si-ong,"
Kata si pelayan.
Para anggota Thian Te hwe berpikir, orang itu tidak mengatakan Gouw Sam Kui, tapi menyebut Peng Si-ong, berarti ada hubungannya dengan si pengkhianat itu.
Tepat pada saat itu pula terdengar suara derak roda-roda pedati mendekati mereka, Sebuah kereta besar, muncul dari tepian jalan, si pelayan berkata.
"Majikan, kami sudah sampai!"
Serunya sambil membalikkan kuda menyambut kedatangan kereta besar itu.
Pada saat itu para anggota Thian Te hwee terpaksa menghentikan kuda tunggangan mereka, Hal ini mereka lakukan karena mereka mengetahui tingginya ilmu si laki-laki penyakitan itu.
Kereta besar itu pun telah sampai, seorang pelayan turun dari kuda dan menyingkapkan tirai kereta.
Tampak si laki-laki penyakitan itu duduk di tengah-tengah, Dan dikedua sisinya duduk pula si kakek dan si nenek.
Si laki-laki penyakitan itu melihat dengan jelas ke arah anggota Thian Te hwee.
"Mengapa kalian menotok jalan darah orang ini?"
Tanyanya sambil menuju ke arah Goau Tie Yong, kemudian ia bertanya Iagi.
"Siapa kalian dan kemana tujuan kalian?"
Suaranya melengking tajam berkesan sombong sekali. Sian Ceng Toujin yang menjawab pertanyaan.
"Siapakah nama dirimu.,.? Kami toh tidak saling mengenal, mengapa kalian ingin ikut campur urusan kami..?"
Si laki-laki penyakitan itu mendengus.
"Kau masih tidak pantas menanyakan siapa namaku, Aku baru saja mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, apakah kau tidak mendengarnya.,.? Mengapa kau tidak mau menjawab pertanyaanku itu."
Sian Ceng Taojin menjadi marah.
"Kalau aku tidak pantas menanyakan siapa namamu, kau pun tidak pantas menanyakan urusan kami. Gouw Sam Kui telah memberontak dan telah membuat keonaran, ia seorang penghianat besar, sedangkan kau malah menyebutnya Peng Siong, dengan bangga. Kau pastilah kawannya. Aku melihat penyakit Tuan sangat parah sekali, sebaiknya Tuan pulang saja ke rumah dan mempersiapkan penguburannya, agar tidak sampai terlambat nanti, Dalam perjalanan seperti ini kalau sampai masuk angin itu lebih berbahaya lagi."
Para anggota Thian Te hwee tertawa mendengar kata-kata kawannya, namun tibatiba sebuah bayangan berkelebat dan terdengar suara "Plok"
Ternyata pipi kiri Sian Ceng Taojin telah ada yang menampar dengan keras.
Tubuhnya limbung lalu terguling dari kudanya.
Kejadiannya begitu cepat, Setelah ia terjatuh di tanah, para anggota Thian Te hwee baru dapat melihat dengan jelas kalau orang yang telah melakukannya adalah kakek yang berada di dalam kereta itu.
Gerakannya benar-benar cepat, Setelah memukul Tian Ceng Taoujin kakinya menutul ke atas tanah dan kembali ke dalam kereta, seakan tidak ada sesuatu pun yang telah terjadi.
Para anggota Thian Te hwee menjadi kalap, Serempak mereka menerjang kereta besar, Si laki-laki penyakitan mencengkram punggung pelayannya, perlahan-lahan ia mengangkatnya, Dalam sekejap mata mereka telah berganti posisi, si pelayan duduk dalam kereta dan ia sendiri duduk di depan sebagai seorang kusir.
Tepat pada saat itu, kedua tangan Ciau Lo Pan meluncur ke atas, sedangkan si lakilaki penyakitan itu hanya mengangkat sedikit tangan kirinya dan menangkis tangan orang itu, ternyata tidak terdengar suara sedikit pun.
Mendapat serangan itu Cian Lo Pan merasakan tenaga yang dahsyat telah menyerangnya, ia tidak dapat mempertahankan diri, tubuhnya terjatuh ke belakang, Baru saja ia ingin berdiri dengan mantap ternyata kedua lututnya seperti tidak bertenaga, malah ia jatuh terjerembab dalam posisi berlutut.
Bagian 75 Untung saja ia bertumpu pada kedua tangannya dan mencelat bangun sehingga tidak sampai ia berlutut di hadapan musuh.
Sementara itu Ong Cie Ong telah menerjang dan sekali lagi tangannya menangkis serangan itu serta menghantam ke depan, Hong Cie Tiong tidak mau mengadu kekerasan dengannya.
Tiba-tiba gerakan tangannya berubah ia ingin mencengkram dada laki-laki penyakitan itu.
Terdengar suara dari si laki-laki penyakitan itu mengeluh satu kali seakan telah merasakan ilmu lawannya.
Akan tetapi tangannya telah meluncur dan menahan tangan Hong Cie Tiang dan ingin mencengkram Iehernya.
Hong Cie Tiong sendiri memilih mundur daripada tangannya harus menjadi korban, ia berlompat ke belakang dengan posisi berdiri tegap.
Sementara itu Ceng Lau Pan dan Kau Cin Cau saling menyerang dengan kedua pelayan laki-laki.
Tiba-tiba kedua pelayan itu bergerak ke belakang sambil ia berteriak.
"Biar Siau-ya saja yang akan melayani kalian."
Sejak semula anggota Thian Te hwee tidak dapat melawan pelayan itu.
Melihat kedua pelayan itu telah mengundurkan diri, tentu saja hati mereka gembira, Dia terus saja membalikkan tubuhnya dan langsung menyerang si laki-laki penyakitan itu, Tibatiba terdengar suara kuda yang meringkik linggi lalu perlahan-lahan terkulai di tanah, Rupa-rupanya Hong Cie Tiong mencelat ke atas kuda tunggangan si laki-laki penyakitan Akan tetapi ia menggunakan tenaganya yang tinggi maka tulang punggung kuda itu menjadi retak.
Si laki-laki penyakitan itu terkejut sekali, dalam sesaat ia menjadi gugup, kemudian terdengar terbatuk-batuk, Si nenek dan si kakek segera menerjang keluar.
Gerakan mereka tidak terlalu cepat, tetapi keduanya berhasil meninggalkan kereta dengan mengangkat anaknya terlebih dahulu sebelum kuda dan kereta itu jatuh.
Anaknya terkulai mati terkena injakan kaki lawannya.
Ceng Lao Pan dan Ci Tian Pan menyerang ke arah kakek dan si nenek, si nenek yang mengibas-ngibas tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menunjuk ke arah si laki-laki penyakitan itu, sambil tertawa.
"Kalian ke sana saja temani anakku bermain-main."
Dengan kata lain ia ingin lawan yang menyerangnya melawan anaknya saja agar anaknya itu dapat menggunakan ilmunya untuk memukul orang sehingga nantinya menjadi senang.
Sementara itu pukulan Cen Coan telah hampir sampai ke kepala si kakek, Ketika melihat usianya yang begitu lanjut, hatinya menjadi khawatir pukulannya akan mengakibatkan orang itu menderita, walaupun ia menyadari ilmu si kakek tua itu tinggi.
Karena berpikir demikian ia berkata, memberitahukan orang yang akan diserangnya itu.
"Lihat pukulan.,.!"
Teriaknya.
Tenaga yang digunakannya hanya tiga bagian saja, semenjak kesalahan tangan memukul mati Pek haniil, lalu terjadi keributan dengan Bok Hong Hu, ia menjadi berhatihati.
Si kakek mengangkat tangannya dan ia telah berhasil menangkap tinju orang yang menyerangnya.
Tubuh si kakek ini kecil kurus akan tetapi telapak tangannya justru besar sekali, Setelah berhasil menangkap tangan orang itu ia lalu berkata.
"Pergilah kau main-main ke sana!"
Meskipun umur Ci Kuan Cian jauh lebih muda dari si kakek ini, tapi ia juga telah terhitung seorang kakek, Ucapan orang tua itu seperti ucapan yang ditujukan untuk anak kecil, Ci Kuan Cian menjadi mangkel, tangan kanannya segera mengerahkan tenaga dalam, maksudnya agar si kakek melepaskan tangan kirinya.
Si kakek menggeser sedikit tubuhnya dan merenggangkan cekalan tangannya, Dengan demikian tubuh orang yang telah menyerangnya menjadi salah arah dan terjerembab.
Pada saat itu Cin Kuan Cuan justru sedang menghantam ke depan.
Dengan demikian ia menjadi kehilangan keseimbangan, sementara si kakek tidak memberikan kesempatan pada lawannya untuk berusaha bangun, Si kakek sudah menerjang ke depan dan mendorong tangannya.
sehingga tubuh lawan yang tak dapat berdiri menjadi berputar, seperti sebuah gangsing.
Pada saat itu si laki-laki penyakitan sedang menghadapi anggota Thian Te hwee yang lainnya, Meskipun dikeroyok beberapa orang dan dalam keadaan terdesak ia masih sempat bertepuk tangan sambil bersorak.
"Menyenangkan sekali.,.! Menyenangkan sekali!"
Teriaknya.
Setelah itu ia telah berhasil menyusup di antara lawannya, dan menghampiri Cin Cian Kuan, Cin Cuan Kuan yang tadinya berputar ke arah kanan sekarang berubah arah menjadi ke kiri.
Si laki-laki penyakitan itu tertawa terbahak-bahak.
"Ayah, sungguh lucu sekali Cepat kau putar lagi ia ke mari!"
Cin Can Kuan menjadi bulan-bulanan berputar ke kiri dan ke kanan.
Sian Ceng Taojin mengerahkan tenaganya.
Akan tetapi si laki-laki penyakitan hanya mendorong tangannya sedikit saja, lagi-lagi tubuh Sian Ceng Taojin ikut berputar, Bahkan si kakek tua memutar tiga orang anggota Thian Te hwee yang lainnya, sehingga semuanya menjadi berputar-putar seperti gangsing, Hanya Hoang Cie Kong seorang yang masih dapat bertahan, akan tetapi ia terpaksa mundur tiga langkah dan kedua tangannya direntangkan untuk melindungi dirinya.
Lima orang anggota Thian Te hwee terus saja berputaran tidak henti-hentinya.
Meskipun mereka telah berusaha untuk mempererat angkat kaki, agar berhenti namun sia-sia saja, Asal mereka akan berhenti laki-laki yang penyakitan itu memutar lagi dengan kencang, dengan demikian mereka tidak dapat berhenti dan terus saja berputar pemandangan seperti ini tidak berbeda dengan anak kecil yang sedang memutar uang logam di atas meja, lima uang logam berputar dengan kencangnya.
Yang akan berhenti atau yang akan jatuh diputarnya kembali oleh anak kecil itu agar putarannya menjadi kencang atau cepat kembali.
Wi Siau Po melihat pemandangan itu dengan mata mendelik dan mulut terbuka, rasa terkejutnya jangan ditanyakan lagi, Song Ji berdiri di depannya, kedua tangannya direntangkan ke kiri dan kanan untuk merintangi lawan-lawannya.
Wi Siau Po berkata dengan suara rendah.
"Lebih baik kita melarikan diri saja!"
"Cepat kau lari ke keluarga Cuan!"
Kata Song Ji.
"Benar, sesampainya di keluarga Cuan kita tidak perlu takut lagi, kita dapat meminta bantuan disana!"
Wi Siau Po segera memutar tubuhnya dan lari, sedangkan Song Ji menarik tubuh Goau Si Yong dan mengikuti dari belakang, Si laki-laki yang penyakitan itu nampaknya senang sekali melihat pemandangan itu.
sedangkan si kakek dan si nenek melihatnya dengan tersenyum simpul sementara itu keempat pelayannya bertepuk tangan sambil bersorak, seakan memberikan semangat pada majikannya tersebut.
Si laki-laki penyakitan itu melihat Hoang Ci Kong tidak ikut berputar, ia langsung menghampirinya.
Tangan kanannya terangkat ke atas sedangkan tangan kirinya menotok ke arah pinggang, Hong Ci Kong tetap tenang ia lalu mundur dua langkah sambil menggeser sedikit pundaknya.
Akan tetapi ia tidak berani menyerang kembali, si laki-laki penyakitan itu marah sekali.
"Kau orang jahat, mengapa tidak ikut berputar ?!"
Tanyanya.
Tangan kanannya segera mendorong, Hong Ci Kong sekali lagi mundur Tidak disangka-sangka pundaknya ada yang menghantam dengan tenaga yang sangat besar Si nenek ikut turun tangan, Tentu saja gerakan tubuhnya menjadi limbung, Sambil tertawa terbahak-bahak si laki-laki penyakitan itu segera memutar tubuh Hong Ci Kong, dengan demikian ia pun mengalami apa yang dialami kawan-kawannya.
Gouw Cie Yong melihat si laki-laki penyakitan itu bermusuhan dengan lawannya, tiba-tiba saja timbul harapannya untuk melarikan diri, ia segera melangkah dengan tertatih-tatih lalu pura-pura terkulai dan lemas, Song Ji berusaha untuk menyeretnya, akan tetapi karena tubuhnya jauh lebih kecil ia mendapat kesulitan sementara itu Wi Siau Po menjadi panik, ia takut Gouw Cie Yong akan membuka mulut dan menceritakannya kepada lawan, maka ia mengulurkan tangan kirinya untuk menarik rambut orang itu sehingga mulutnya terbuka lebar.
Wi Siau Po lalu mengeluarkan pisau belatinya yang sangat tajam dari dalam sepatunya dan menebaskan kearah Gouw Cie Yong, seketika lidah orang itu puntung tersambar belati, Karena kesakitan ia tidak sadarkan diri.
Song Ji mengira Wi Siau Po telah membunuh orang pengkhianat itu ia berteriak sekeras-kerasnya.
"Siangkong cepat lari Cepat lari!"
Keduanya pun berlari secepat kilat.
Keduanya berlari sedangkan dari arah belakang sudah terdengar suara langkah kaki kuda menderu-deru.
Ternyata ada orang menunggang kuda yang mengejar mereka, Siau Po ke arah bebatuan di sebelah kirinya, Keduanya segera meninggalkan jalan kecil dan beralih ke jalan yang ditunjuk Siau Po.
Si laki-Iaki penyakitan dan seorang pelayannya menunggang kuda dan mengejar ke arah mereka, Keduanya melihat kalau kuda tidak dapat masuk ke dalam bebatuan, Si pelayan segera mencelat turun dan berkata.
"Anak-anak berdua kalian janganlah takuti Siong Ya kami hanyalah ingin kalian menemaninya bermain cepatlah kalian ke mari!"
"Kalau main gangsing seperti itu kami tidak mau!"
Kata Siau Po.
Malah ia berlari semakin kencang, Si pelayan ikut menyelinap ke dalam bebatuan, akan tetapi gerakan Siau Po dan Song Ji cepat sekali, karena tubuh mereka jauh lebih kecil, Si pelayan tidak berhasil untuk mengejarnya.
"Oh, kalian ingin main petak umpet, senang sekali!"
Teriak si lelaki penyakitan.
Setelah berkata demikian dia pun turun dari atas kudanya, sambil terbatuk-batuk Lalu segera menyelinap ke dalam bebatuan itu turut mengejar Wi Siau Po dan juga Song Ji.
Siau Po dan Song Ji memutar tubuh dan berlari ke arah tegalan, mereka malah menerjang ke arah si pelayan.
Si pelayan sendiri bermaksud menangkap Siau Po, akan tetapi si bocah yang cerdik itu segera mengerahkan ilmu Sing Heng Pian, Tubuh-nya digeser sedikit sehingga serangan si pelayan gagal.
Song Ji mengerahkan tangannya dan memukul dada orang itu.
Si pelayan yang melihat Song Ji masih kecil tentu saja tidak mengambil hati, malah ia tidak mengadakan perlawanan sama sekali, Tangannya diulur ke depan untuk mencekal tangan Song Ji.
Si gadis yang pintar itu menghantam ke depan dan tepat menghantam bagian belakang lawan.
"Aduh!"
Terdengar ia menjerit Pada saat itu Song Ji mencekal tangannya dan menerjang ke arahnya, dengan keras ia memelintir tangan orang itu hingga tulangnya patah.
Terdengar si laki-laki penyakitan itu mengeluh, ia muncul dari balik bebatuan besar, dengan mencelat beberapa kali ia telah berada di depan Song Ji.
Tangan kanan cepat, diulurkan ke depan dan kopiah di kepala Song Ji pun tercengkram lalu jatuh ke atas tanah.
Rambut Song Ji pun terurai setelah kopiahnya berhasil diambil Si laki-laki penyakitan tertawa terbahak-bahak.
"Oh, rupanya seorang nona!"
Serunya. Tangannya terulur untuk menjambak rambut Song Ji. Nona itu menjerit keras-keras, sepasang tangannya menyikut ke belakang, Namun si laki-laki penyakitan itu terus terbahak-bahak.
"Bagus.... Bagus!"
Katanya sambil tangan kirinya mengulur ke belakang dan menangkap tangan Song Ji.
Kemudian tangan Song Ji dipelintir dan dengan rambut si nona sendiri ia mengikat tangan Song Ji.
Kemudian tertawa terbahak-bahak kembali.
Begitu paniknya Song Ji sampai-sampai air matanya mengalir ke pipinya.
"Siangkong cepat lari.... Cepat lari!"
Teriaknya, Si laki-laki penyakitan mengulurkan tangannya untuk menotok jalan darah Song Ji sambil terus saja tertawa terbahak-bahak.
"la tak dapat melarikan diri dariku."
Katanya.
Kemudian ia mendorong tubuh Song Ji dan kemudian mengejar Siau Po, dalam sekejap mata saja jarak mereka sudah semakin dekat.
Siau Po terus saja berlari Beberapa kali tubuhnya akan berhasil ditangkap oleh lakilaki penyakitan akan tetapi karena ia mengerahkan ilmu Sin Heng Pek Hien maka ia dapat meloloskan diri dari kejaran itu.
Si laki-laki penyakitan itu tertawa kembali.
"Wah, kau pandai juga main petak umpet rupa-nya!"
Katanya.
Tenaga Siau Po masihlah sangat lemah ia belum pernah mempelajari ilmu tenaga dalam, Karena itu baru berlari beberapa lie saja nafas Siau Po sudah tersengal-sengal, ia tahu kalau dirinya dalam sekejap mata saja akan tertangkap maka ia berteriak-teriak.
"Kau tak dapat menangkap aku, sekarang kau cepat lari aku akan menangkapmu sekarang!"
Katanya.
Sambil berkata demikian ia membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah si laki-laki penyakitan itu.
Si laki-laki penyakitan itu tertawa terkekeh-kekeh ternyata yang dikejarnya itu membalikkan tubuhnya dan mengejarnya.
Tampak dia melompat-lompat ke sana ke mari di antara bebatuan tersebut Wi Siau Po dapat melihat kalau orang itu mempunyai ilmu yang tinggi sekali, akan tetapi orang itu berlari terburu-buru, Umurnya sudah empat puluh tahun lebih akan tetapi tingkahnya sama dengan anak kecil saja.
Ia berlari di antara bebatuan itu.
Gerakannya benar-benar gesit, baru saja Siau Po melihat di sebelah timur tahu-tahu sudah muncul di sebelah barat, Dalam hati Siau Po merasa kagum bercampur gentar menyaksikan hal itu, ia lalu berteriak sekeraskerasnya.
"Aku akan menangkap kamu, kamu tak dapat berlari ke mana-mana,"
Kata Siau Po sambil terus saja mengejar orang itu.
Siau Po berpura-pura mengejar orang itu akan tetapi setelah dekat dengan tubuh Song Ji ia lalu memeluk tubuhnya, selanjutnya ia mengangkatnya.
lalu berteriak kembali.
"Hay, meskipun aku dapat memeluk orang ini akan tetapi aku masih dapat mengejarmu...!"
Katanya. Si laki-laki penyakitan itu tertawa terbahak-bahak.
"He.... He! Kau membual saja denganku, mana mungkin kau dapat mengejar aku dengan menggendong orang, Sekarang, coba kau buktikan kepadaku!"
Seru lelaki bertampang penyakitan itu, Siau Po tetap memeluk Song Ji sambil bergerak mengejar laki-laki penyakitan itu, Akan tetapi jarak mereka justru semakin lama semakin jauh, karena ia berpura-pura berlari saja mengejar orang itu, Si laki-laki penyakitan itu berteriak "Dasar orang tak berpikir, mana mungkin kau dapat mengejar aku.
Apa lagi sekarang kau sambil membawa orang dalam gendonganmu, He....
He...!"
Kata orang itu. Laki-laki penyakitan itu malah berlari kembali mengejar Siau Po yang sedang menggendong Song Ji.
"Masa aku tidak dapat mengejar kamu, batuk-mu begitu keras pasti kau tidak dapat berlari lagi!"
Katanya. Siau Po berpura-pura berlari mengejar orang itu, bahkan berpura-pura ingin menerjangnya. Si nenek yang berdiri di kejauhan membentak dengan marah.
"Setan cilik, kau mempunyai nyali yang sangat besar sekali, Berani-beraninya kau membuat anakku terbatuk-batuk begitu."
Katanya.
Setetah berkata demikian ia mengangkat sebuah batu besar dan diarahkannya kepada Siau Po.
Batu yang dibawanya cukup besar pastilah tidak mudah untuk membawanya atau mengangkatnya, Akan tetapi perempuan itu mengangkatnya dengan mudah bahkan melemparkannya kuat-kuat.
Terdengar suara Siau Po.
"Aduh!"
Ia terus mengelak untuk menghindari serangan itu.
Akan tetapi gerakan Siau Po masih terlambat juga dan batu itu dapat mengenai pahanya, Siau Po pun terjatuh dan bergulingan bersama-sama Song Ji yang ada dipelukannya.
"Tangkap ia dan bawa ke mari!"
Perintah si nenek kepada kedua pelayannya.
Salah seorang pelayannya segera mendekati Siau Po dan Song Ji.
Orang itu mencengkram tubuh Siau Po dan Song Ji.
ia mengangkat kedua anak itu ke hadapan si nenek dan dilemparkannya ke tanah.
Si laki-laki penyakitan itu tertawa terbahak-bahak, setelah itu bertepuk tangan dengan keras.
"Tidak ada gunanya, bisanya kau hanya makan saja. He.,., He.... jatuh sedikit saja kau sudah tidak dapat bangun lagi!"
Katanya mengejek Siau Po.
Siau Po terkejut juga marah mendengar kata-kata orang berpenyakitan itu yang telah menghinanya, ia melihat Ci Tian Coan, Hong Jie Tiong, dan yang lainnya telah terikat oleh seutas tali yang sangat panjang, Mereka bahkan mengikatnya menjadi satu, Salah seorang pelayan si nenek menarik ujung tali, bahkan Gouw Cie Yong pun telah diikat bersama dengan yang lainnya.
Kepala mereka tertunduk dengan mata terpejam rapat Tampaknya mereka telah jatuh dan tak sadarkan diri.
"Hem, gadis itu menyamar sebagai laki-laki, Heh, dari mana kau mempelajari ilmumu tadi itu? sedangkan anak laki-laki itu, siapa pula yang mengajak kau ilmu Sin Heng Pien?"
Tanya si nenek.
Siau Po terkejut setengah mati mendengar kata-kata si nenek itu, dalam hati ia berkata.
--Wah pandangan si nenek sungguh tajam, ia bahkan dapat mengetahui ilmu yang aku pergunakan tadi -Setelah berpikir demikian, dan orang itu telah mengetahui ilmu yang digunakan itu, hal ini berarti kepandaian nenek ini sudah tinggi juga, Maka tanpa sadar timbul juga rasa bangga dalam hati Siau Po.
"Apa sih Sin Heng Pek hian, Tadi kau mengatakan kalau aku menguasai ilmu Sin Heng Pekhian? Apa tidak salah?"
Tanyanya.
"Heh!"
Dengus si nenek tua.
"Gerakanmu yang seperti anjing melompat dan seperti orang yang sedang menari itu apa pantas disebut Sin Heng Pekhian?"
Katanya dengan mata membelalak tajam. Siau Po bangkit dan duduk.
"Kau sendiri yang mengatakannya Sian Heng Pekhian, Toh bukannya aku yang mengatakan demikian! Aku mana tahu ilmu yang aku gunakan itu Sin Heng Pekhian atau bukan!"
Katanya. Sambil bertepuk tangan dan tertawa terkekeh-kekeh, si laki-laki penyakitan itu berkata.
"Wah, ternyata kau hebat juga dapat ilmu Sin Heng Pekhian segala, menyenangkan sekali!"
Ia membungkukkan tubuhnya sedikit dan menotok punggung Siau Po, Siau Po merasakan ada hawa panas yang mengalir dalam tubuhnya, pahanya yang tadinya terasa ngilu sekarang terasa segar kembali, ia dapat berdiri dengan tegap.
"Wah ternyata ilmu menotokmu hebat juga!"
Kata Siau Po.
"Ayoh cepat bangun, dan sekarang kau dapat berlari kembali Larilah dengan segala macam gaya yang kau miliki itu. Gaya kepiting, Gaya kura-kura, atau gaya apa saja aku akan melihatnya!"
Katanya.
"Aku tidak dapat berlari gaya kepiting atau dengan gaya kura-kura seperti yang telah kau katakan tadi, kalau kau dapat cobalah kau lari agar aku dapat melihatnya!"
Sahut Siau Po.
"Aku juga tidak dapat, ayahku pernah mengatakan ilmu silat itu bukan hanya dipelajari oleh orang yang mempelajari ilmu silat saja, Lebih bagus lagi kalau orang yang mempelajarinya dapat mengembangkan ilmu itu sehingga dapat berbagai macam bentuk, Dengan demikian ia patut disebut lebih besar, Ayah! Apakah dalam ilmu silat ada yang disebut ilmu lari kura-kura atau lari ilmu ke-piting.,.?"
Tanyanya pada si kakek. Si kakek tua mengerutkan kening sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau kan jago silat, kalau di dunia ini tidak ada yang menciptakannya kau dapat menciptakannya, Dengan demikian kau akan sanggup membuka sebuah perguruan yang disebut dengan nama perguruan lari kocar-kacir,.,"
Jawab si kakek tua. Belum lagi kata-katanya habis, pantatnya sudah ditendang oleh si nenek sambil membentak dengan suara lantang.
"Jangan ngaco!"
Bentak si nenek.
Si nenek melirik sekilas pada putranya, wajahnya menyiratkan kemurungan, seakan takut kalau anaknya mendengar ocehan Siau Po dan benar anaknya akan mati-matian menciptakan ilmu lari kura-kura atau kepiting itu.
ia tidak ingin kalau anaknya mempunyai banyak pikiran, maka ia bertanya lagi pada Siau Po.
"Siapa namamu, dan siapa nama gurumu?"
Tanyanya.
Dalam hati Siau Po berpikir -Kedua siluman ini, dan seorang siluman ilmunya terlalu tinggi Aku tidak mungkin dapat mengungguli mereka, sebagai seorang laki-laki sejati tidak akan memperdulikan hidangan yang ada di depan mata, terpaksa aku harus mendustai mereka dulu, seandainya aku mengatakan kalau aku adalah kawan Gouw Sam Kui tentulah ia tidak akan menyiksa aku -Setelah berpikir demikian ia melirik ke arah Gouw Cie Yong, pikirannya segera tergerak, karena itu ia berkata.
"Aku Se Go, namaku Gouw Cie Yong, Aku adalah salah seorang pembesar dari kota Yang Yu. Pamanku akan menyerang tidak lama lagi ke kota Peking. Pamanku itu bernama Peng Si-ong. seandainya kalian membuat kesalahan sedikit saja denganku, pamanku Peng Si-ong pastilah tidak sungkan-sungkan pada kalian!"
Katanya, Si nenek dan laki-laki penyakitan tampak sangat terkejut Lalu si laki-laki penyakitan itu berkata dan sebelumnya ia melirik pada si nenek.
"Bohong, mana mungkin Peng Si-ong mempunyai keponakan seperti kamu,"
Katanya.
"Mana mungkin aku dapat bohong kepada kalian. Kalian dapat menanyakan satu persatu keluarga Peng Si-ong, dan aku akan menjawabnya, jika aku tidak dapat menjawabnya aku akan bersedia dipenggal kepalaku ini."
Jawab Siau Po.
"Baik, Barang apa yang paling disukai oleh Peng Si-ong?"
Tanya si laki-laki penyakitan itu.
"Yang kau maksudkan benda ataukah orang?"
Tanyanya.
"Kalau orang yang paling dicintainya sudah tentu Tan Wan Wan. Akan tetapi kalau saat ini ia lebih mencintai seorang gadis yang disebut Wan In berwajah empat, hal itu karena Tan Wan Wan telah tua, malah sekarang ia memberikan julukan lain pada gadis yang ia cintai itu yaitu Wan In berwajah delapan."
"Apa gunanya gadis cantik! Yang aku maksudkan adalah benda yang paling ia sukai."
Tanya lelaki berpenyakitan lagi.
"Peng Si-ong mempunyai tiga macam benda kesayangan, yang pertama selembar kulit harimau berwarna putih, yanp kedua sebuah batu permata yang besarnya seperti telur ayam, dan yang ketiga adalah sebuah batu pualam berurat-urat, kembangkembang dan ada harimau di dalamnya."
Jawab Siau Po dengan tenang. Si laki-laki penyakitan tertawa terbahak-bahak.
"Ha.... Ha.... Ternyata kau benar-benar tahu. Nih kau lihat!"
Katanya.
Si laki-laki penyakitan itu membuka bajunya lalu mengeluarkan sebuah bungkusan yang kemudian dihamparkannya, ternyata di dalamnya merupakan sehelai kulit harimau berwarna putih.
Siau Po heran sekali melihatnya.
"Aih.... Aih.... itukan kulit harimau kesayangan Peng Si-ong, bagaimana kau dapat mencurinya.,.?"
Tanya Siau Po. Si laki-laki penyakitan itu tampaknya bangga sekali.
"Mencurinya? ini merupakan hadiah dari Peng Si-ong terhadap aku yang ia berikan sendiri."
Jawabnya. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak percaya, aku pernah mendengar abang angkatku Siang Kok Siang mengatakan.,."
Katanya.
"Oh, Siang Kok Siang itu abang iparmu?"
Tanya si laki-laki penyakitan itu.
"Benar, Abang ipar tapi bukan kambing misan-lah, Kakak misanku Gouw Ci Pang, menikah dengan Siang Kok Siang, Ci Hu Ku itu pandai sekali berperang ia merupakan Cong Peng kepercayaan dari sepuluh Cong Peng yang paling dipercaya Peng Si-ong."
Kata Siau Po. Si laki-laki penyakitan menganggukkan kepalanya.
"Benarlah kalau begitu, Peng Si-ong mengundang aku dan kedua orang tuaku untuk meminum arak, Akan tetapi ayah dan ibuku tidak pergi jadi hanya aku sendiri yang pergi ke sana. Peng Si-ong sendiri yang akan menemani aku, Pada saat itu sepuluh Cong Peng bawahannya semua ikut hadir, malah Cihumu berdiri paling depan."
Katanya.
"Memang benar apa katamu, Selain dia masih ada Ma Toako, Tong Ping Han, Angtiako, Tiakok Cu Angtoako, mereka merupakan jendral-jendral yang paling ternama, Wah bangga sekali, tampang mereka pun benar-benar perkasa!"
Kata Siau Po.
"Apa yang dikatakan kakak iparmu tentang kulit harimauku ini?"
Tanyanya. Siau Po memang berniat akan mengambil hatinya, maka ia berbicara dengan nada menyanjung orang yang ada di hadapannya.
"Menurut abang iparku, ketika Tan Wan Wan masih menjadi orang kesayangan Gouw Sam Kui ia pernah masuk angin, bahkan pilek dan batuk, Dan menurut orang, asalkan menggunakan kulit harimau itu sebagai selimut selama tiga hari tiga malam penyakitnya akan segera sembuh. Karena itu ia memohon pada Peng Si-ong untuk meminjam kulit harimau putihnya ini, akan tetapi Peng Si-ong berkata. dipinjam oleh kamu beberapa hari boleh saja, akan tetapi jika untuk menghadiahkan kepadamu sama sekali aku tidak mau. Kulit harimau ini sangat langka dalam dunia ini. Selama delapan ratus tahun hanya pernah muncul satu kali harimau putih, seandainya ada tentulah sangat sulit untuk menangkapnya, apalagi untuk mengambil kulitnya. Apabila kulit harimau ini diletakkan di dalam rumah, maka segala setan jalanan ataupun jin mana saja yang melihatnya segera melarikan diri terbirit-birit Siapa yang mempunyai penyakit tidak perlu meminum obat, asal menggunakan sebagai selimut tidak sampai beberapa hari saja penyakitnya akan hilang, kau boleh percaya boleh juga tidak."
Kata Siau Po dengan panjang lebar.
"Anakku, Peng Si-ong menghadiahkan benda langka ini kepadamu, Hal ini benarbenar bukti kalau ia sangat sayang kepadamu, Sekarang kau gunakanlah sebagai mantel, siapa tahu benar-benar dapat menyembuhkan penyakitmu..."
Ujar si nenek tua. Si laki-laki penyakitan itu mengerutkan keningnya.
"Aku toh tidak sakit, untuk apa aku mengenakannya?"
Sahutnya cepat. Mendengar kata-kata anaknya si nenek tertawa .
"Ya,., Ya...!"
Anakku memang sangat gagah, segagah naga perkasa, bahkan beberapa jagoan di sini saja dapat kau putar-putar seperti gangsing, Kalau orang lain belum tentu dapat melakukannya."
Katanya memuji. Si laki-laki penyakitan itu tertawa terbahak-bahak, Bahkan sampai terbatuk-batuk. Si nenek berkata dengan tenang.
"Kalau tidur malam hari jangan lupa menggunakan kulit harimau itu untuk kau jadikan sebagai selimut!"
Si laki-laki penyakitan itu memalingkan wajahnya, ia seakan-akan tidak tahu-menahu dengan kata-kata ibunya. Si kakek tiba-tiba menunjuk pada rombongan Hong Cie Tiong dan yang lainnya ia lalu bertanya.
"Apakah mereka juga rombongan Peng Si-ong?"
Tanyanya.
Dalam hati Siau Po berpikir.
--Kalau aku menyamar sebagai keluarga Peng Si-ong tentu tidak apa-apa, akan tetapi jika orang-orang itu juga akan aku katakan sebagai bawahan Gouw Sam Kui tentulah mereka tidak sudi, mereka itu adalah orang-orang yang keras kepala, janganjangan dapat salah omong nanti -Setelah berpikir demikian ia lalu berkata.
"Mereka adalah anak buahku, Kami mendengar kalau Peng Si-ong berniat akan menyerang, sedangkan menantunya yakni Sie Kiong Cu masih berada di kota raja. Mereka tidak berhasil untuk melarikan diri sedangkan Gouw Eng Jin, pamanku itu, sebenarnya paling cocok dengan aku. Aku membawa rombongan ini tujuannya untuk menolong Gouw Eng Him. Meskipun urusan ini sangat berbahaya sekali, tapi kita harus memiliki kesetiakawanan yang besar Meski pun yang kita hadapi gunung golok atau hutan pedang, kami tetap akan menerjangnya !"
Ketika mengucapkan kata-kata ini Siau Po sengaja menunjukkan semangat yang berkorbar-kobar.
Si kakek menganggukkan kepalanya beberapa kali, ia berjalan ke depan beberapa langkah kemudian menarik ujung tali yang melilit tubuh Hong Cie Kiong dan yang lainnya hingga terlepas, Setelah itu si kakek menepuk punggung mereka masingmasing dua kali.
Sesaat kemudian totokan mereka telah terbebas dan seorang pelayan menghampiri Song Ji membuka ikatan tangan dari lilitan rambutnya.
Si kakek berkata dengan Siau Po.
"Kalau hanya mengandalkan kata-katamu tadi sebenarnya tidak dapat aku percaya juga, Kau dapat mengatakan kalau kau adalah keponakan dari Gouw Si Ong, Urusan ini bukanlah urusan kecil apakah kau mempunyai buktinya yang kuat?"
Tanyanya. Wi Siau Po tertawa.
"Lo Ya Cu. Wah urusan ini benar-benar sulit, Aku toh, tidak pernah membawa ayah dan ibuku kemana-mana. Begini saja kita pergi ke kota raja untuk sama-sama menemui menantu raja. seandainya ia telah ditangkap oleh kaisar kita dapat menemui Kian Leng Kong Cu. Kong Cu pastilah akan mengatakan kalau aku ini adalah benar-benar tulen, Bahwa aku benar-benar bernama Gouw Ci Yong,"
Katanya.
Dalam hati ia berpikir.
--sesampainya kalian di kota raja atau ke kota Peking, aku toh tidak harus takut pada kalian lagi.
walaupun kalian dapat menggiring aku ke hadapan Kian Leng Kong Cu.
jangan kata baru menyamar sebagai Gouw Cie Yong, menyamar sebagai kaisar sekali pun aku yakin Kian Kong Cu akan membela aku dan mengatakan benar -Si kakek dan si nenek saling menatap sejenak, mereka tampaknya belum percaya penuh, Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Siau Po, Sambil tertawa ia berkata.
"Ah! Aku mempunyai akal, di sakuku ini ada sebuah surat yang ditulis oleh Peng Siong pribadi Surat ini kalau terlihat oleh orang lain pastilah aku akan terkena bencana, Akan tetapi aku memperlihatkannya kepadamu karena kalian adalah orang-orang kami, Kalau kalian ingin melihat saja tidak apa-apa."
Setelah berkata demikian ia mengulurkan tangannya dan mengeluarkan surat yang dipalsukan oleh Cai Te Kua dan menyerahkannya pada si kakek, Segera si kakek dan si nenek menelitinya bersama-sama, Setelah itu terdengar si nenek berkata.
"Memang tidak salah, Peng Si-ong bermaksud menjadi pahlawan Bangsa Han, serta membangun kembali kerajaannya, Peng Si-ong mengharapkan ia untuk datang ke kota raja untuk menjadi menterinya Jie Ko. Peng Si-ong mengatakan ia ingin memberontak karena ia menginginkan untuk membangun kembali Kerajaan Han, Akan tetapi jika mendengar perkataan dalam surat ini, tampaknya hasratnya sendiri tidak kecil."
Katanya, sambil melirik sekilas pada Siau Po. Kemudian ia berkata kembali "Usiamu masih begini muda.,."
Tentu ia ingin mengatakan kalau ia masih begini muda mana pantas Siau Po akan menjadi mentri.
Si kakek kemudian melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop, Setelah itu ia menyerahkannya kembali kepada Siau Po.
"Maafkan aku. Ternyata kau benar-benar keponakan dari Peng Si-ong. Maafkan aku bila tadi aku telah berlaku kasar kepada kalian!"
Katanya. Siau Po tertawa.
"Tidak apa-apa. Orang yang tidak tahu kan tidak akan salah,"
Katanya.
Pada saat itu kawan-kawannya telah sadarkan diri, Mereka mendengar kalau Siau Po mengaku dirinya sebagai keponakan Gouw Sam Kui, Dan ternyata pihak lawan menjadi percaya penuh, Akan tetapi mereka percaya kalau Siau Po orang pandai yang banyak memiliki akal.
Oleh karena itu tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Dalam hati Siau Po berkata.
-Aku pernah mengaku sebagai putra Gouw Sam Kui, terhadap Kan Tian Mo si orang Mongol.
Anaknya saja aku pernah mengaku, toh tidak ada salahnya sekarang aku mengaku sebagai keponakannya, dan sebaiknya nanti aku menyamar sebagai orang tuanya Gouw Sam Kui atau kalau mungkin kakaknya -Langit telah mulai menggelap, mereka berdiri di tengah-tengah padang rumput yang sangat luas, Serangkum hawa dingin mulai berhembusan dan si laki-laki penyakitan terus saja terbatuk-batuk.
"Mohon tanya. siapakah She Loyatcu dan Lo tai tai ini?"
Tanya Siau Po.
"Kami ini Sai Kui,"
Jawab si nenek tua.
Dan setelah itu Wi Siau Po berpikir --Sai di dunia ini kan banyak sekali, mengapa orang ini memilih Sai Kui (Kura-kura) benar-benar lucu -Sebenarnya Say si nenek dan si kakek itu bukannya Kui (Kura-kura) akan tetapi Kui yang lainnya, Karena Siau Po buta hurup, karena bunyinya sama, ia mengira Say si nenek dan si kakek itu Say Kui yang artinya kura-kura.
Si nenek melirik kembali sekilas pada anaknya, lalu ia berkata.
"Sekarang hari telah mulai gelap, Lebih baik sekarang kita mencari tempat untuk menginap, Urusan yang lainnya dapat kita bicarakan secara perlahan-lahan."
Katanya.
"Benar... benar, Tadi di atas bukit aku melihat di kejauhan, ada asap yang mengepulngepul tentunya ada rumah penduduk di sekitar sini, Ada baiknya kalau kita menginap barang satu malam saja."
Jawab si lelaki penyakitan.
Ia lalu menunjuk ke arah rumah besar Cuang, sebenarnya jarak antara mereka dengan rumah besar Cuang ada belasan Lie.
perjalanannya terhalang oleh perbukitan yang rimbun dengan pepohonan Mana mungkin dapat melihat asap yang mengepulngepul dengan jarak yang sedemikian jauhnya.
Si pelayan laki-laki menuntun dua ekor kuda, dan berjalan menghampiri majikannya, Kemudian ia mempersilakan pada si laki-laki penyakitan dan si kakek serta si nenek menaikinya, Si nenek dan si laki-laki penyakitan menunggang kuda yang sama, si nenek duduk di belakangnya, tangannya memeluk pinggang si laki-laki penyakitan Si kakek dan si nenek sudah naik ke kudanya sedangkan Siau Po dan kawankawannya yang telah memiliki kuda masing-masing menaiki kuda mereka, dan berjalan bersama-sama.
Setelah berjalan sejenak Siau Po berkata dengan Song Ji dengan suara lantang.
"Cepat kau larikan kudamu ke sana, Coba kau lihat apakah di sana ada rumah atau penginapan Carilah satu atau dua rumah untuk kita menginap satu atau dua malam. Tuan muda dari Kui harus meminum obat sop Jin Som dan kita paling tidak harus mencuci muka ataupun mandi, Kalau mereka tidak mau, kasih saja beberapa uang tai! perak sebagai ganti mereka."
Katanya.
Setiap Siau Po mengatakan sepatah kata Song Ji selalu saja mengiyakan, Setelah itu Siau Po mengeluarkan sejumlah uang perak dari dalam sakunya berikut sebungkus obat bius.
Diterimanya semua itu oleh Song Ji yang kemudian ia melarikan kudanya dengan cepat.
Wajah si nenek berseri-seri.
ia melihat Siau Po begitu memperhatikan anaknya untuk meminum obat sop Jin Som, agar kesehatannya terjaga.
Setelah melarikan kudanya beberapa Lie, Song Ji kembali melarikan kudanya ke arah mereka.
"Siang Kong, di depan sana bukannya sebuah desa ataupun kota, akan tetapi di sana ada sebuah rumah besar, Para laki-laki di rumah itu semuanya sedang pergi, mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat menerima tamu, Aku telah memberikan uang pada mereka akan tetapi masih saja menolaknya. katanya. Siau Po berpura-pura marah.
"Dasar budak bodoh, tidak perduli mereka mau menerima kita atau tidak, yang penting kita harus ke sana!"
Bentaknya.
"Baik Siang Kong,"
Sahut Song Ji.
"Kami toh, hanya menginap satu malam saja, Biarpun di rumah itu tidak ada laki-laki memangnya kita mau merampok atau mencuri istrinya?"
Kata si nenek.
Serombongan itu pun berjalan menuju ke keluarga Ceng, Salah seorang pelayan si laki-laki penyakitan itu beberapa kali mengetuk pintu.
Tak lama kemudian keluarlah pelayan rumah itu.
Rupanya telinganya setengah tuli dan matanya rabun.
Setelah diajak bicara beberapa kali ia terus saja mengatakan kalau di rumah itu tidak ada laki-laki.
Si laki-laki penyakitan itu tertawa.
"Kalau di rumahmu tidak ada laki-laki kami kan banyak laki-laki dan berarti kita telah banyak laki-laki."
Kata si lelaki penyakitan Setelah berkata demikian ia turun dari kudanya dan berjalan menyusup ke dalam rumah itu, ia pun mendorong tubuh nenek itu.
Lalu yang lainnya ikut masuk ke dalam.
Tanpa sungkan-sungkan mereka terus saja duduk di ruangan yang besar.
"Mama Tio, Mama Sun cepat kalian masak air dan nanak nasi, Kalau tuan rumah ini tidak menyukai kedatangan kita, biarlah kita bekerja sendiri saja."
Terdengar perintah si nenek tua, ibu si lelaki penyakitan.
Kedua pelayanan yang mendengar majikannya berkata demikian langsung mengiyakan dan berjalan masuk ke dalam dapur.
Ci Tian Coan dan beberapa kawannya pernah masuk ke dalam rumah besar ini, ia pun mengetahui riwayat keluarga itu yang sangat mengenaskan sekarang mereka melihat Siau Po dengan berbagai cara menipu lawannya, Si kakek dan si nenek juga laki-laki penyakitan itu masuk perangkap yang ia buat.
Dalam hati mereka merasa senang, karena itu pula mereka langsung duduk di atas lantai, Mereka sengaja duduk berjauhan dengan si laki-laki penyakitan dan Siau Po.
sehingga mereka berharap tidak sampai menunjukkan kebocoran.
Si kakek menunjuk pada Gouw Cie Yong.
"Siapakah laki-laki yang mulutnya berdarah ini?"
Tanyanya.
"Orang ini seorang pejabat kerajaan, aku bertemu dia di perjalanan. Kami takut kalau dirinya akan membocorkan rahasia kerajaan, karena itu aku memotong lidahnya."
Jawab Siau Po.
Pada saat kejadian jarak antara Siau Po dan si kakek sangatlah jauh, akan tetapi ia dapat melihat kejadian itu.
Hatinya merasa curiga juga.
Setelah mendengar keterangan Siau Po ia tetap merasa curiga, ia lalu berjalan ke arah Gou Cie Yong.
"Benarkah kau seorang pejabat kerajaan?"
Tanyanya. Sejak tadi Gouw Cie Yong sedang menahan rasa sakit yang tidak tertahankan ia hanya dapat menganggukkan kepalanya saja.
"Kau tahu ada orang yang akan memberontak dan kau akan melaporkannya bukan?"
Tanya si kakek kembali. Gouw Cie Yong sadar percuma saja kalau membantah ia hanya berharap kalau si kakek dapat menolongnya. Karena itu ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Dia mengetahui kalau di bagian selatan ada yang akan mengadakan pemberontakan Kalau benar terjadi pemberontakan tentulah kejadiannya akan hebat sekali."
Sahut Siau Po.
"Benarkah apa yang dikatakannya?"
Tanya si kakek kepada Gouw Cie Yong.
Orang yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya saja, Si kakek sudah tidak mencurigai lagi pada Siau Po.
Kepercayaan si kakek sekarang sudah mulai bertambah ia kembali ke tempat duduknya lalu bertanya pada Siau Po.
"Siapakah yang mengajarkan ilmu silat kepada anda?"
"Aduh, guruku ada beberapa orang, yang pertama, kedua, ketiga, yah ada tiga orang guruku, Akan tetapi aku sangat malas dan juga bodoh dalam mempelajari ilmu silat, ilmu apa pun tak dapat aku mempelajarinya."
Jawab Siau Po dengan tenang.
Dalam hati si kakek berpikir.
--Kau kira aku tidak tahu kalau ilmumu itu sangat jelek sekali, akan tetapi sebaliknya ilmu orang ini tidak dapat dikatakan terlalu buruk, walaupun ia menguasai dari luarnya saja, jika untuk melarikan diri dari kejaran musuh rasanya masih ada manfaatnya sedikit.
Hal ini menandakan kalau ilmu ini yang menggunakan orang dari kalangan atas yang jarang ada tandingannya Si kakek bertanya kembali "Siapa yang mengajarimu ilmu meringankan tubuh?"
Dalam hati Siau Po berpikir.
--Sejak tadi ia terus saja menanyakan kepadaku tentang ilmu meringankan tubuh yang aku pelajari Kemungkinan ia sama dengan Su Tai itu.
Wah, aku tidak dapat mengatakannya, akan tetapi ia kawannya Gouw Sam Kui, kemungkinan ada hubungannya juga dengan orang-orang dari Tibet Setelah berpikir demikian ia lalu berkata.
"Ada orang yang dari Tibet yang bernama Sang Cie. Ketika aku mengunjungi Kun Beng untuk bertemu dengan Peng Si-ong, aku kebetulan berkenalan dengan orang Tibet itu. ia mengatakan ilmuku terlalu rendah, kalau aku berkelahi dengan orang pastilah akan mengalami kekalahan Karena itu ada baiknya jika aku mempelajari ilmu melarikan diri, sehingga aku mempelajarinya beberapa hari, Aku mempelajarinya setengah mati. Tadinya aku mengira ilmuku ini sudah tinggi sekali, akan tetapi setelah aku bertemu dengan engkau Kong Kong dan Po Po serta kakaknya yang bertubuh kekar dan sehat ini ilmuku tidak ada gunanya."
Kata Siau Po.
Si nenek mendengar kalau Siau Po memuji anaknya yang bertubuh kekar dan sehat tentu saja hatinya merasa senang sekali.
wajahnya langsung berseri-seri matanya melirik ke arah putranya, Kegembiraannya pun meluap.
"Jie Po. semangat anak kita dalam beberapa hari ini memang sangat baik sekali,"
Katanya.
Si kakek lalu menganggukan kepalanya, ia melihat anaknya dalam keadaan setengah tertidur, di sampingnya, Keadaannya benar-benar mengenaskan sebenarnya ia merasa pilu juga, akan tetapi lalu berkata pula pada Siau Po.
"Oh, rupanya begitu."
Kata si kakek tua.
"Bagaimana Sang Cie dapat menguasai ilmu meringankan tubuh dari perguruan Kiat Kiam Bun?"
Tanya si nenek.
"Di dalam perguruan Kiat Kiam Bun ada seorang bernama Giok Cin Jue. ia pernah tinggal cukup lama di daerah Tibet,"
Sahut si kakek.
"Ah benar, dia adalah adik seperguruan dari Bok Sam Tiang, kemungkinan ketika tinggal di Tibet ia mengajarkan keponakan muridnya yang lain,"
Jawabnya. Ia memalingkan wajahnya pada Song Ji.
"Nona kecil, siapakah yang mengajakmu ilmu silat?"
Tanyanya, Sepasang matanya yang keluar meneliti Song Ji, seakan asal-usul gurunya sangat penting sekali bagi mereka. Hati Song Ji berdebar-debar ditatap oleh si kakek dan si nenek.
"Aku.... Aku.,."
Dia jarang berdusta, maka itu ia bingung untuk berbicara dengan orang-orang itu.
"Dia kan budakku, Si Ihama dari Tibet itu pernah juga mengajari dia beberapa lama,"
Jawab Siau Po, menyesal sebelum Song Ji sempat bisa menjawab. Si kakek dan si nenek serempak menggelengkan kepalanya.
"Pasti bukan!"
Kata mereka.
Wajah mereka segera berubah menjadi kelam, Tiba-tiba si laki-laki penyakitan itu terbatuk-batuk dengan suara keras, Si nenek cepat-cepat menghampirinya dan menepuk-nepuk pundaknya, sedangkan si kakek pun memalingkan wajahnya menatap anaknya.
Dua orang pelayan keluar dari dalam dapur dengan membawa sop Jim Son dan teh hangat di atas nampan, Mereka berdiri di depan si laki-laki penyakitan Setelah sop Jim Som itu dingin mereka meminumkannya pada si laki-laki penyakitan secara perlahanlahan.
Lalu yang seorang lagi membagi-bagikan mangkok teh.
Bahkan kawan-kawan Siau Po mendapat bagian juga.
Si kakek menghirup teh dari dalam cawannya, akan tetapi ketika ia ingin bertanya kembali pada Song Ji ternyata gadis itu telah berjalan ke ruang belakang, Tiba-tiba si kakek berdiri dan bertanya pada mama Sun.
"Dari mana kau mendapatkan air panas untuk menyeduh teh?"
Tanya si kakek.
Siau Po terkejut setengah mati jantungnya berdegup-degup, dalam hati ia berkata.
-Celaka..
Celaka, Si tua yang mau mampus ini tentulah sudah mengetahui siasatku "Aku dan mama Tio yang telah memasaknya."
Jawab orang itu.
"Dari mana kau mendapatkan airnya?"
Tanyanya lagi.
"Dari tempayan di dalam dapur itu,"
Jawabnya. Lalu mama Tio pun ikut berkata.
"Kami telah memeriksanya dengan teliti airnya bersih sekali...."
Belum lagi perkataannya selesai Bluk...
Bluk.
Kedua pelayan si kakek dan si nenek itupun jatuh tak sadarkan diri.
Si nenek langsung mencelat bangun, tubuhnya terhuyung-huyung dan tangannya memegangi erat kepala.
"Di dalam teh ada racun!"
Teriaknya. Ci Tian Coan dan yang lainnya belum meminum teh itu. Masing-masing memberikan isyarat pada kawan-kawan mereka, Satu persatu mereka ber-pura-pura terkulai tidak sadarkan diri.
"Prang.,., Prang!"
Terdengarlah suara cawan itu berjatuhan, dan pecah berantakan Melihat hal itu Siau Po langsung berteriak.
"Aduh!"
Setelah itu ia pun menjatuhkan dirinya ke atas tanah berpura-pura pingsan. Mama Tio dan mama Sun berkata.
"Kami yang telah memasak air itu dan di dalam dapur tidak ada orang lain selain kami berdua, Mana mungkin kami memberikan racun itu pada minuman Siau Ya dan yang lainnya!"
Kata mereka serempak.
"Di dalam tempayan pastilah telah diberikan obat racun. Anakku bagaimanakah perasaanmu?"
Tanya si nenek.
"Lumayan.... Lumayan...!"
Jawabnya. Setelah menjawab pertanyaan ibunya ia pun terkulai dan jatuh pingsan di atas tanah. Melihat hal itu si kakek dan si nenek menjadi terkejut sekali.
"Kami tidak menambahkan air sedikit pun dalam obat sop Jim Som. Sop itu adalah sisa masakan kami tadi siang sewaktu kita berada di dalam kedai itu. Dan kami simpan di dalam kantong ini dengan baik, Mana mungkin itu dapat terjadi? Tadi siang kami tidak apa-apa meminum air di dalam kedai itu mengapa sekarang jadi begini...?"
Kata mama Sun cemas dan ketakutan "Kami hanya menghangatkan sop itu saja dan tidak menambahkan air serta apapun ke dalam sop Jim Som!"
Ujar mama Tio.
"Benar kami tidak menambahkan air sedikit pun!"
Sambung mama Sun.
"Meskipun kalian hanya menghangatkannya, mungkin kalian menggunakan tutup tempayan dalam dapur tadi. Apakah kalian menggunakan tutup tempayan dalam dapur itu?"
Tanya si kakek tua.
"Benar kami menggunakan tutup tempayan itu, akan tetapi jika hanya tutupnya saja mengapa menjadi begini...?"
Tanya mama Sun. "Benar, dari tutupnya akan menguap, dan kini anakku... anakku... Oh mengapa dia..?"
Teriak si nenek panik.
Tangan si nenek meraba-meraba kening si laki-laki penyakitan itu, ia sangat khawatir sekali dengan anak itu.
Sementara itu si kakek berusaha mengatur tenaga dalam untuk selanjutnya ia menggunakan tenaga dalam itu secara keseluruhan ia ingin agar racun yang ada dalam tubuhnya dapat keluar dengan cepat.
Racun itu yang ada dalam minuman mereka.
Terdengar si kakek berbicara.
"Cepat kau ambilkan air dingin.,.!"
Katanya.
Mama Sun dan mama Tio tidak meminum teh yang ia buat itu.
Apalagi setelah ia melihat keadaan itu, Mereka sangat takut sekali serta khawatir kalau-kalau majikannya akan marah kepadanya.
Maka setelah mendengar kata-kata majikannya mereka langsung saja berhamburan pergi ke dalam untuk mengambil air dingin yang dimaksudkan majikannya itu.
"Rumah ini aku rasakan sangat aneh sekali!"
Kata si nenek tua.
Si nenek tua tidak pernah membawa senjata, karena itu ia lalu membungkukkan dirinya untuk mengambil sebilah golok dari tangan salah seorang pelayannya.
Akan tetapi setelah ia menundukkan kepalanya ia merasakan kepalanya sangat pusing sekali, sampai sempat terjatuh duduk, Tangannya sendiri telah berhasil memegang gagang golok, tetapi ia tidak kuat mengangkatnya.
Sementara si kakek menopangkan tubuhnya pada sebuah kursi, matanya dipejamkan rapat-rapat, ia berusaha untuk menguasai dirinya yang sedang terkena racun, ia mengatur pernapasannya dengan cermat, sementara tubuhnya terhuyunghuyung menahan pusing yang sangat.
Siau Po berbaring di atas tanah, matanya dibuka sedikit untuk digunakan mengintip, sementara ia melihat Song Ji yang membawa beberapa orang wanita pelayan.
Melihat Song Ji dengan membawa besar beberapa orang wanita itu si kakek dengan tiba-tiba menghajar Song Ji.
Dan perempuan yang berpakaian putih terpental sejauh beberapa langkah, Tubuh orang itu membentur sebuah kursi barulah ia dapat berhenti.
Dalam waktu yang bersamaan Ci Tian Coan dan yang lainnya segera membentak dengan kasar.
setelah itu mereka semuanya mencelat bangun dan menghampiri si kakek yang telah menghajar wanita itu.
Baru saja mereka mendekat, si kakek telah jatuh terkulai di tanah.
Hong Cie Tiong segera menotok jalan darah si kakek dan juga si nenek.
Setelah itu ia menghampiri si Iaki-Iaki penyakitan dan menotoknya, sehingga dengan demikian si kakek dan si nenek serta si Iaki-laki penyakitan jika terbangun dari pingsannya tidak dapat melakukan perlawanan.
Melihat hal yang demikian Siau Po langsung bangun dari tidurnya di atas tanah, ia lalu tertawa terbahak-bahak, setelah itu berteriak.
"Cuang San Nai Nai, apa kabar?"
Serunya dengan suara keras.
Setelah berkata demikian ia menghampiri si wanita berpakaian putih-putih yang telah terkena tendangan si kakek tadi.
Ternyata wanita yang menggunakan pakaian putih-putih itu adalah nyonya ketiga dari keluarga Cuan, Setelah melihat kalau Siau Po telah mendekat dengannya dan Siau Po sendiri telah memberikan hormatnya, nyonya itu membalas hormat yang telah diberikan Siau Po kepadanya.
"Wi Siau Ya, kau telah mengirim musuh besar kami ke mari, Entah bagaimana kami harus membalas budi baik Wi Siau Ya. Dengan kalian telah mengirim musuh besar kami ke mari, kami dapat membalaskan sakit hati kepada orang-orang ini. Wi Siau Ya, aku menginginkan kau dapat bertemu dengan guru kami,"
Katanya.
Setelah berkata demikian ia menarik tangan Siau Po dan mengajaknya ke hadapan seorang wanita yang menggunakan pakaian kuning-kuning, yang berada di dekat mereka.
Si wanita yang berpakaian kuning-kuning itu terus mengurut tengkuk si wanita yang terkena hantaman tadi.
Ternyata wanita yang terkena hantaman si kakek tua itu telah membuka mulutnya dan mengeluarkan segumpal darah segar.
Sambil tersenyum si wanita yang menggunakan pakaian kuning-kuning itu berkata.
"Sekarang kau tidak apa-apa lagi, kau dapat segera sembuh,"
Kata si gadis yang menggunakan pakaian kuning-kuning itu.
Suaranya sangat lembut sekali, sehingga enak didengar Siau Po melihat usia wanita itu sudah tidak muda lagi, Akan tetapi setelah mendengar suaranya yang merdu dan enak didengar Suara wanita itu sama saja dengan suara seorang gadis belia.
Kepala wanita itu menggunakan sebuah mahkota yang sangat indah dan berwarna kuning juga, sama dengan pakaian yang ia gunakan, Di pinggangnya terdapat sebuah kain sutra berwarna merah.
Akan tetapi wanita ini menggunakan dandanan yang sangat aneh sekali, Rambutnya memang sudah putih, akan tetapi wajahnya pun putih bersih, Di sudut matanya terdapat sedikit kerutan.
Wanita itu juga dilihat dari kepalanya sudah berusia di atas lima puluh tahun.
Akan tetapi jika dilihat dari bentuk tubuh dan wajahnya ia masih sangat muda dan cantik, dalam hati Siau Po berpikir.
--Orang ini toh Guru dari nyonya ketiga Cuang.
Karena itu sudah selayaknya menyembah dan berlutut di hadapannya, Akan tetapi aku, apakah pantas jika aku melakukannya sama dengan apa yang dilakukan nyonya itu?
Setelah berpikir demikian Siau Po lalu menghampiri wanita itu dan selanjutnya memberikan hormat sambil berkata.
"Kakak, Nenek, Siau Po memberikan hormat.,."
Katanya. Wanita itu tertawa.
"Anak muda, kau memanggilku apa?"
Tanyanya, Mendengar kata-kata itu Siau Po lalu berdiri.
"Kau adalah guru dari Sam Nai Nai, akan tetapi jika aku melihat kau dari tampangmu, kau lebih pantas jika menjadi kakakku, Aku tadi memanggilmu nenek, akan tetapi karena kau pantas jadi kakakku maka aku mengalihkan kata-kataku menjadi kakak nenek,.,"
Jawabnya. Perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Kau katakan kalau aku pantas jika menjadi kakakmu? Apakah lebih pantas lagi jika aku menjadi adikmu?"
Kata wanita berpakaian kuning itu.
"Kalau aku mendengar suaramu dari kamar sebelah, pastilah aku akan memanggilmu adik nenek Hal itu dikarenakan suaramu masih sangat merdu jika didengar!"
Katanya.
Perempuan itu tertawa sampai tubuhnya terguncang-guncang.
-Budak ini sangat menyenangkan sekali, mulutnya manis jika mengeluarkan katakata, ia dapat pula membuat orang lain dapat menyukainya -Katanya dalam hati.
Setelah berpikir demikian ia lalu bertanya pada Siau Po.
"Mungkinkah Wi Su Pek (Paman seperguruanku yang pahlawan besar itu pun terkena jerat kata-kata dan juga akal buIusmu?"
Mendengar ucapannya semua orang terkejut setengah mati, Siau Po lalu menunjuk pada si kakek.
"I.... Ni.... Kakek ini, adalah paman seperguruan kakak nenek-"
Katanya. Mendengar kata-kata Siau Po yang menurutnya sangat lucu sekali kembali si wanita itu tertawa.
"Memang bukan,"
Katanya.
"Aku dengan dia sudah empat puluh tahun, akan tetapi kami tidak pernah berjumpa muka, Mulanya aku pun tidak mengenalinya, sampai ketika ia turun tangan, Si kakek itu menggunakan jurus Suap Kuan Tai Ling (Salju menghampar di sekitar pegunungan Tay San). Begitu lihaynya ia menggunakan jurus-jurus itu. Di daerah Puong Wa tidak mungkin ada orang kedua yang dapat menggunakan ilmu itu. Karena itu aku segera dapat mengenalinya."
Wajah Siau Po segera menunjukkan kemurungan.
"Wah, kalau ternyata kakek ini adalah orang sendiri, urusan ini menjadi repot juga."
Katanya. Perempuan itu menggelengkan kepala sambil tertawa, Akan tetapi sambil tertawa wanita itu terus saja berpikir mencari jalan yang terbaik dalam menyelesaikan urusan ini.
"Aku sendiri tidak mengetahui bagaimana caranya menyelesaikan urusan ini dengan paman seperguruanku. Kalau guruku sampai mengetahui akan hal ini, pastilah aku akan dicaci-makinya habis-habisan."
Jawabnya.
Bagian 76 Siau Po melihat beberapa orang wanita dari keluarga Cuang telah berdiri menunggu di samping dengan membawa tali pada tangan mereka masing-masing, Wanita itu sambil tertawa melanjutkan kata-katanya.
"Kalau kau yang telah memerintahkan orang-orang itu untuk mengikat paman seperguruanku dan beberapa kawan-kawannya, lebih baik kau saja yang menarik kembali perintah yang telah kau katakan pada mereka, Jadi tidak ada urusannya denganku, aku hanya melihat kalian saja.
Aku tidak berani mengikat paman seperguruanku itu.
Namun jika ia tidak diikat dan sadar, Wah aku tidak dapat mengalahkannya.
Adik kecil, apakah kau sanggup mengalahkan dia?"
Tanyanya. Siau Po senang sekali, Sambil tertawa lebar ia berkata.
"Wah, lebih-lebih aku. Kalau kau saja sudah mengatakan tidak sanggup lalu siapa yang akan dapat mengalahkannya, sedangkan aku sendiri tidak memiliki ilmu apapun. Siau Po mengamati si wanita itu. ia lalu berusaha mengartikan kata-kata wanita itu. Asalkan urusan ini tidak ada hubungannya dengan aku, atau dapat berkaitan dengan dirinya, dengan demikian ia tidak dapat berlaku kurang ajar terhadap paman seperguruannya itu. Karena itu ia lalu berkata pada kawan-kawannya.
"Orang ini adalah sekongkolan Gouw Sam Kui. ia bukan orang baik-baik. Kita orangorang Thian Te hwe mengikatnya. sehingga urusan ini tidak ada hubungannya dengan kakak nenek. Dengan demikian kita telah mengambil jalan tengah."
Katanya.
Ci Cuan dan yang lainnya telah dipermainkan dengan si laki-laki penyakitan ini, ini merupakan hal yang sangat memalukan dan mereka belum pernah mengalami sebelumnya.
Dalam hati memang mereka telah dendam dan benci setengah mati.
Karena itu mereka segera mengambil tali-tali yang dipegang oleh para wanita yang ada di rumah itu, yaitu wanita dari keluarga Coan.
Setelah menerima tali dari tangan para wanita itu ia segera mengikat si kakek dan si nenek serta si laki-laki penyakitan dan beberapa pelayannya.
Perempuan yang menggunakan pakaian kuning itu lalu bertanya.
"Bagaimana mungkin paman seperguruanku dapat berteman dengan Gouw Sam Kui. Dan dari mana kalian dapat mengetahuinya?"
Mendengar pertanyaan itu, Siau Po lalu menceritakannya kepada si wanita adik seperguruan si kakek yang telah membuatnya menjadi repot, Siau Po menceritakannya tanpa mengurangi ataupun menambahkannya.
Cerita itu diawali sejak mereka bertemu di kedai makan di ujung desa, ia pun menceritakannya tentang kelakuan si laki-laki penyakitan yang telah mempermainkan kawan-kawannya sesama anggota Thian Te hwe, Siau Po ternyata masih menyembunyikan beberapa cerita yang membuat malu pada dirinya dan juga kawankawannya.
Secara kasarnya ia menceritakan kalau si laki-laki penyakitan telah melakukan perbuatan yang memalukan itu, Dan si laki-laki penyakitan itu mempunyai ilmu yang sangat lihat sekali, Kawan-kawannya bukanlah tandingan laki-laki penyakitan itu.
"Adik seperguruanku ini, sebenarnya ia pernah ditolong oleh guruku, Sejak kecil orang ini telah penyakitan, dan sampai sekarangpun aku melihat keadaannya masih sama saja dengan tahun-tahun yang lalu, Namun ia anak tunggal dari paman seperguruanku dan dapat dikatakan kalau anak ini adalah permata hati mereka. Meskipun anak laki-laki yang satu-satunya ini mempunyai penyakit sudah beberapa puluh tahun tidak dapat sembuh juga."
Kata wanita yang menggunakan pakaian kuning. Wanita itu menghentikan sejenak kata-katanya. ia melirik pada si kakek, dan setelah itu ia melanjutkan kata-katanya.
"Paman seperguruanku sebenarnya orang dari golongan lurus, Bagaimana mungkin ia dapat sekongkol dengan si penjahat besar Gouw Sam Kui. Akan tetapi jika masalah itu benar, aku tidak akan dimarahi guruku."
Kalau mendengar dari nada kata-katanya Siau Po dapat mengetahui bahwa si wanita ini sebenarnya paling takut selalu dengan gurunya.
"Siapa pun yang telah menolong Gouw Sam Kui, ia harus dibunuh, itu sudah merupakan keputusan Dan kalau gurumu sampai mengetahui akan hal itu tentulah ia akan memujimu setinggi langit."
Kata Siau Po. Perempuan itu tertawa.
"Benar."
Matanya menatap pada si kakek dan si nenek yang berada di depannya, ia termenung sesaat, lalu memeriksa pernapasan si laki-laki penyakitan, dan berkata kembali "Tan Nai Nai, kalau paman seperguruanku ini sudah sadar, ia pastilah akan marah sekali.
Lebih baik begini saja, mereka kita ikat semuanya, dan setelah itu kita semua pergi meninggalkan tempat ini dan meninggalkan mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri, jika mereka telah sadar, mereka tidak akan mengetahui siapa sebenarnya yang telah melakukannya, bagaimana menurut pendapat kalian?"
Tanyanya.
"Apa saja yang akan diperintahkan oleh Suhu, kami semua akan menurut saja,"
Jawab Sam Nai Nai.
Akan tetapi dalam hati mereka berpikir -Mereka telah tinggal di tempat ini selama beberapa puluh tahun, tiba-tiba mereka harus meninggalkan tempat itu.
Bagaimanapun masih timbul rasa berat dalam hatinya, Lagi pula urusan pindah bukanlah urusan yang mudah dan sepele -katanya dalam hati Seorang nenek yang berpakaian putih pun ikut berkata.
"Musuh sudah kita dapatkan, berarti dendam kami telah terbalas, Karena itu kami akan membakar abu jenazah,"
Katanya.
"Apa yang dikatakan koko memang benar,"
Kata si nenek.
Sementara itu, orang-orang Thian Te hwe segera menyeret Gou Cie Yong, dan menghempaskannya dalam keadaan berlutut di atas tanah, Sang nenek mengambil sebuah buku dari atas meja, dan menyodorkannya pada Gou Cie Yong.
"Gaou Tayjin, buku apa ini? Apakah kau masih dapat mengenalinya?"
Tanyanya.
Gaou Cie Yong setelah melihat buku yang telah lusuh itu, baik tebal tipisnya ia segera mengenali.
Dari buku itulah ia mendapatkan rejeki dan kenaikan pangkat.
Sekali ia melihat judul buku yang diberikannya maka ia langsung saja mengenali dan mengetahui secara benar isi yang ada di dalam buku itu.
Buku itu berisi daftar nama-nama menteri yang setia dan orang-orang kepercayaan dari Kerajaan Beng.
Karena itu ia segera menganggukkan kepala.
"Sekarang kau perhatikan baik-baik! Pada buku ini terdapat nama-nama yang telah ditulis di papan, Kalau kau membacanya sampai habis tentulah kau akan mengetahui isi yang ada di dalam buku ini,"
Kata Nai Nai.
Gaou Cie Yong memalingkan wajahnya dan melihat tulisan yang dimaksudkannya itu, jumlah nama-nama yang ada di dalam buku itu seratus lebih yang kesemuanya adalah orang-orang kepercayaan, atau setidaknya orang yang mempunyai perhatian dengan Kerajaan Beng, Dan dialah yang telah melaporkan hal ini pada Kaisar Tat Cu, sehingga mereka semuanya dihukum mati.
Gaou Cie Yong tidak sempat membaca keseluruhannya, hanya membaca beberapa nama saja, akan tetapi sukmanya terasa sudah terbang melayang, lidahnya telah terpotong oleh Siau Po.
sebenarnya dirinya sendiri sedang berada dalam keadaan setengah hidup, tubuhnya segera lemas, ia terkulai di atas tanah dan gemetar hebat.
"Demi mendapatkan harta dan pangkat, kau telah mencelakai banyak orang, orangorang yang namanya tertulis di buku ini sebagian besar mati di dalam penjara, dan sebagian lagi tersiksa sebelum mati, Bahkan ada yang sampai merasakan berbagai macam penderitaan. Kami-kami ini jika tidak ditolong suhu kami pastilah telah mendapatkan celaka, Kalau pada hari ini kami membunuhmu dengan sekali bacokan saja sebenarnya sudah terlalu enak bagimu. Akan tetapi kami orang-orang dari golongan lurus, seandainya kau akan mati dengan tenang dan enak, sebaiknya kau membunuh dirimu sendiri saja,"
Katanya. Selesai berkata ia lalu membuka tali dan membebaskan jalan darah di tubuh Gaou Cie Yong.
"Trang!"
Ia melemparkan sebilah pedang pendek ke atas tanah.
Tubuh Gaou Cie Yong gemetaran, perlahan-lahan ia mengambil pedang yang diberikan wanita itu, Akan tetapi untuk membunuh dirinya sendiri mana mungkin ia mempunyai keberanian.
Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan berusaha untuk melarikan diri, menghambur keluar ruangan.
Namun baru berlari beberapa langkah tampak belasan perempuan telah menghadang di depannya, Para wanita yang telah menghadangnya semua menggunakan pakaian putih-putih.
Terdengar suara tersendat-sendat dari dalam tenggorokannya dan tubuhnya bergerak berkelojotan, tak lama kemudian tubuh orang itu pun diam.
Sam Nai Nai berjalan mendekatinya, ia melihat dari mulut Gaou Cie Yong mengeluarkan darah segar, hingga mukanya berlumuran darah, Badannya berhenti tidak bergerak lagi, matanya terbelalak dengan muka yang penuh dengan darah, pemandangan itu sangatlah mengerikan sekali.
"Yang jahat selalu mendapatkan balasan dari kejahatannya pula, Si penghianat ini akhirnya mati juga." Setelah berkata dan melihat orang yang baru saja tewas, ia lalu berjalan ke hadapan meja sembahyang, lalu berkata.
"Siang Kong sekalian, dendam telah terbalas, Kami harap arwah kalian dapat tenang di alam baka sana."
Ujarnya dengan suara bergetar.
Melihat Sam Nai Nai sedang bersembahyang sambil terus saja berlutut, wanitawanita yang lain pun mengikutinya berlutut dan melakukan sembahyang yang sama dengan Sam Nai Nai.
Mereka bersama-sama menangis menggerang-gerang.
Wi Siau Po dan para anggota Thian Te hwe memberikan hormat di depan meja sembahyang itu.
sedangkan si perempuan yang menggunakan pakaian kuning-kuning itu hanya berdiri di sampingnya saja, sepasang alisnya bergerak-gerak.
Para perempuan dari keluarga Coan menangis sesaat, kemudian dengan serta merta mereka semuanya berlutut di hadapan Wi Siau Po.
Mereka mengucapkan kata terima kasih karena Siau Po telah membantunya melampiaskan rasa belas dendam terhadap musuh besar yang dalam beberapa puluh tahun tidak dapat ditemukan oleh mereka.
Melihat hal itu Siau Po cepat-cepat menganggukkan kepala beberapa kali untuk membalas hormat para perempuan yang berlutut di hadapannya.
"Urusan kecil mengapa kalian pusingkan? sekarang kalian katakan seandainya kalian masih mempunyai musuh yang lainnya, katakanlah, aku akan menangkapnya untuk kalian."
Ujar Siau Po kepada para wanita itu.
"Si penghianat Gaou Pay telah mati, dan sekarang Gaou Cie Yong telah Wi Siau Ya bawa ke mari dan menghukum orang ini. Maka dengan musuh besar mungkin sudah tidak ada lagi, dan dendam kami telah terbalas dengan tuntas."
Jawab salah dari mereka.
Para perempuan itu segera menggotong keluar meja-meja sembahyang, Setelah itu dibakar menjadi satu.
Si perempuan yang menggunakan pakaian kuning-kuning melihat para perempuan yang menggunakan pakaian putih-putih dari keluarga Caong sedang repot sekali, Mereka berjalan ke sana-ke mari.
ia menjadi tidak sabar, karena itu berjalan keluar dan memperhatikan orang-orang yang sudah terikat.
Melihat si wanita yang menggunakan pakaian kuning-kuning telah keluar Wi Siau Po dan para anggota Thian Te hwe mengikutinya keluar dari dalam rumah itu.
sedangkan si kakek, si nenek, dan si laki-laki penyakitan itu belum juga sadarkan diri.
Si wanita yang menggunakan pakaian kuning-kuning itu tersenyum.
"Eh, Budak kecil, seandainya kau akan menggunakan racun untuk orang lain seharusnya kau gunakan dengan cara yang benar dan jujur, jangan kau gunakan secara sembunyi-sembunyi,"
Katanya.
"Iyah.... Iyah, Huan Hue menggunakan obat untuk membius orang, Hal ini terpaksa kami lakukan karena kalau kami melawannya dengan cara kekerasan kami tidak sanggup, ilmu mereka terlalu tinggi seandainya aku tidak menggunakan akal muslihat, mungkin leherku sekarang ini sudah tidak ada lagi di kepalaku, Mereka pasti akan menebas leherku ini. Memang perbuatan seperti ini tentulah tidak dipandang. Dan dianggap hina oleh para pendekar di dunia Hang Ko. Aku merasa telah melakukan kesalahan besar dan lain kali aku tidak akan melakukan hal yang serupa,"
Katanya. Wanita berpakaian kuning itu tersenyum.
"Apanya yang disebut perbuatan baik atau perbuatan yang salah. Kalau kita membunuh orang, kita tetap pembunuh, Kalau kita menggunakan pedang itupun membunuh orang namanya, dan kalau menggunakan pukulan jika orang yang dipukul itu mati namanya membunuh juga, dan kalau kita membius orang, kalau orangnya mati sama juga dengan membunuhi Hem... dipandang, dihina, siapa yang perlu dipandang oleh mereka di dunia Hang Ko. Kau lihat Gaou Cie Yong itu, ia telah melaporkan orang-orang yang setia dengan Kerajaan Beng, bukankah perbuatannya itu sama dengan membunuh. Apakah ada orang yang memandang ia lebih tinggi dengan orang lain?"
Katanya. Kata-kata wanita itu membuat hati Siau Po merasa senang sekali, sungguh cocok dengan jalan pikirannya, wajahnya langsung berseri-seri.
"Kakak Nenek, Wah, ucapanmu sungguh benar-benar tepat, Ketika aku masih kecil sering membantu orang berkelahi. Kadang-kadang aku menggunakan batu. Ya. Dalam hal ini aku membantu kawan-kawanku dalam berkelahi, sehingga kawan-kawanku menjadi menang. Dengan demikian aku telah menyelamatkan jiwa mereka. Akan tetapi orang-orang itu malah mengatakan kalau aku jahat, .ku telah menggunakan cara yang tidak terpuji lalu ditamparnya pipiku dengan keras, sayangnya pada saat itu Kakak Nenek tidak berada di sampingku, kalau tidak tentu dapat memberikan pelajaran kepada mereka,"
Katanya.
"Akan tetapi kau sekarang menggunakan obat untuk membius paman seperguruanku itu. seharusnya aku pun menempeleng pipimu beberapa-kali,"
Ujar perempuan berpakaian kuning.
"Akan tetapi pada saat itu aku tidak mengetahui kalau ia adalah paman seperguruanmu,"
Jawab Siau Po dengan cepat.
"Kalau kau telah mengetahui kalau ia adalah paman seperguruanku dan dia ingin menebas lehermu, sedangkan kau mempunyai obat bius untuk meracuninya, apakah kau akan diam saja?"
Tanyanya. Siau Po tertawa.
"Urusan nyawa adalah urusan yang paling penting di dunia ini. Yah, terpaksa aku melakukan perbuatan itu,"
Jawab Siau Po.
"Hitung-hitung kau masih dapat berbuat jujur, orang menginginkan nyawamu, mengapa kau tidak mendahului orang. Aku tadi mengatakan kalau aku ingin menempelengmu hanya karena aku ingin mengetahui kau ini jujur atau tidak, Kau hanya menggunakan obat bius yang membuat orang pusing dan tidak membuat orang menjadi mati karenanya, Apakah kau anggap obat itu telah mempan meracuninya, paling-paling itu hanya membuatnya sama dengan bumbu merica saja,"
Katanya.
"Tapi.... Tapi dia,"
Kata Siau Po.
"Kau hanya menggunakan obat bius yang berkadar ringan dalam arak itu. Pamanku sangat berpengalaman puluhan tahun dalam dunia Hang Ko, mana mungkin ia dapat meminumnya dengan begitu saja. Inikan permainan para berandal yang suka berada di rumah-rumah gelap, Aku menyarankan kepadamu, kalau kau ingin menggunakan obat bius haruslah dapat menggunakan obat yang nomor satu, bukannya obat yang kau berikan pada pamanku ini."
Katanya. Siau Po terkejut juga gembira.
"Rupanya.... Rupanya, Kakak Nenek telah mengganti obatku itu dengan obat kelas satu itu?"
Tanyanya.
"Ngaco, aku tidak menukarnya dengan obat bius lain, paman seperguruanku itu memang sudah letih, kepala mereka terasa panas dan berdenyut-denyut, Karena itu mereka jatuh pingsan, apa urusannya dengan aku? Aku melihat yang laki-laki penyakitan itu memang sedang sakit, dan yang nenek itu telah terlalu tua. Memang umur mereka telah delapan puluh tahunan, Kalau orang yang sudah tua dan tidak sadarkan diri itu tidak ada yang diherankan."
Kata wanita itu.
Meskipun wanita itu berbicara dengan kata-kata yang ketus akan tetapi sinar matanya menunjukkan kenakalan.
Siau Po tahu kalau perbuatannya dan juga perbuatan wanita itu takut disalahkan oleh gurunya.
Dengan demikian ia tidak mau mengakuinya, Dalam hati diam-diam Siau Po mengagumi wanita itu.
Tiba-tiba Siau Po menjatuhkan dirinya di atas tanah dan berkata.
"Kakak Nenek, aku menyembahmu sebagai seorang guru, dan terimalah aku sebagai muridmu. Aku akan memanggilmu kakak guru."
Katanya.
Wanita itu tertawa, ia lalu mengulurkan tangan kanannya mengarah ke dada Siau Po.
Si bocah merasakan ada suatu benda yang keras mendekam di dadanya, pastilah bukan tangan seseorang, Karena itu Siau Po memalingkan kepalanya untuk melihat, hatinya terkejut bukan kepalang, tampak benda itu sebuah kaitan yang berwarna hitam mengkilap.
Benda itu sangat mengkilap sehingga dapat dikatakan kalau benda itu sangat tajam.
Wanita itu tertawa.
"Coba kau perhatikan dengan baik,"
Tangan kirinya menyingkap tangan kanannya, maka tampaklah tangannya yang berwarna putih bersih, akan tetapi ujung tangannya sudah buntung, ia tidak mempunyai telapak tangan, Dan kaitan yang berwarna hitam itu, justru dipasang di siku tangannya.
"Kalau kau ingin menjadi muridku, bukannya aku melarangmu, Tetapi kau harus membuntungkan dulu telapak tanganmu, Aku akan memesan sebuah kaitan kecil dan memasangkannya sebagai ganti telapak tanganmu yang telah hilang itu!"
Katanya.
Perempuan ini sebenarnya seorang ketua dari perguruan Ngo Tok Kaow, atau lima racun, yang dipanggil Hou Tiat Jiu atau tangan besi.
Lalu wanita itu mencari Guan Cin Jie, dan mengangkatnya sebagai guru, ia pun mengganti namanya menjadi Ho Ie Siu.
Ketika Kerajaan Beng telah runtuh ia mengikuti gurunya berkelana keluar perbatasan Dan tempo hari ia mendapat tugas dari gurunya pergi ke daerah Tiong Guan, untuk menyelesaikan sebuah urusan, tanpa disengaja ia berhasil menolong Nyonya ketiga dari keluarga Cuan dan bersama para perempuan yang lainnya, ia pun mengajarkan sedikit ilmu pada mereka.
Kali ini ia datang kembali dan secara kebetulan bertemu dengan Song Ji yang membawa obat bius ke dalam rumah itu.
Setelah bertemu dengan Song Ji dan Song Ji pun telah menceritakannya, meskipun ia belum mengetahui siapa sebenarnya lawannya itu.
Akan tetapi ilmu lawannya demikian tinggi ia lalu sadar kalau menggunakan obat bius yang biasa tentulah tidak akan mempan.
Karena itu ia segera mengambil obat yang istimewa dan menukarnya dengan obat bius yang dibawa Song Ji.
Dalam hal menggunakan racun, Ho Ie Siu tidak ada lawannya, Di dunia persilatan namanya telah dikenal dimana-mana, Bahkan ada orang yang mengatakan kalau dirinya sebagai si raja racun.
Si laki-laki penyakitan itu bernama Kui Tiang, Sejak dalam kandungan ibunya ia telah terserang penyakit, sebenarnya tidaklah mudah dalam membesarkan anak ini, namun setelah meminum obat langka serta mujarab nyawanya dapat diselamatkan.
Meskipun demikian tubuhnya tetap lemah dan otaknya tidak cerdas, Biar bagaimana pun laki-laki penyakitan itu tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa, sekarang ia telah dewasa tapi masih seperti orang idiot atau orang yang kurang wajar.
Sedangkan Kui Heng Cu suami istri yang hanya mempunyai seorang anak ini, sayangnya melebihi nyawa mereka sendiri Apa lagi sejak kecil laki-laki itu telah memiliki penyakit, karena itu ia sangat memanjakan anaknya sampai-sampai kelewat batas, sehingga sekarang menjadi besar kepala, Apa saja kemauannya haruslah diturutinya.
Meskipun Kui Tiang ini mempunyai ilmu yang tinggi, dan usianya yang telah mencapai senja namun sikapnya sama saja dengan seorang anak berusia delapan atau sembilan tahun.
Ketika Ho Ie Siu menggunakan obat biusnya, ia masih belum tahu siapa sebenarnya lawan mereka itu.
Namun setelah mengetahui siapa lawan mereka sebenarnya, yang ternyata paman seperguruannya sendiri, beserta seluruh keluarganya, hatinya menjadi gelisah.
Namun nasi telah menjadi bubur, toh semuanya tidak dapat diubah lagi, Apa lagi setelah mendengar kata-kata Siau Po yang telah membuatnya senang, ia semakin gembira, Dalam hati ia berpikir.
-Tinggal di sebuah pulau di luar perbatasan, dia belum pernah bertemu dengan seorang anak muda yang lidahnya setajam dan otaknya secerdas Siau Po, ia pandai sekali berbicara dan mempunyai banyak akal -Siau Po mendengar kalau ia ingin menjadi murid wanita ini harus membuntungkan dahulu sebelah tangannya, agar dapat menjadi murid si perempuan yang menggunakan pakaian kuning-kuning ini.
Siau Po segera mengangkat sebelah tangannya, ia membolak-balikkan tangannya, Selain sakit kalau dipotong, Siau Po sendiri tentu tidak sampai hati atau tidak sanggup melakukan hal itu.
Memikirkan hal itu wajahnya menjadi murung.
Ho Ie Siu yang melihat perubahan wajah Siau Po menjadi tertawa.
"Lebih baik kau jangan menyembah aku sebagai gurumu, atau mengangkat aku sebagai gurumu, Kau pun tidak kuangkat sebagai muridku, karena aku tidak ada waktu untuk mengajari ilmu kepadamu, Akan tetapi aku mempunyai sebuah senjata rahasia, yang bagus, Aku akan memberikannya kepadamu kau tidak akan penasaran setelah menyembah beberapa kali dan memanggil aku sebagai gurumu atau kakak guru,"
Katanya.
"Kakak guru, panggilan itu toh tidak dipanggil secara cuma-cuma. seandainya kau tidak mengajarku ilmu silat ataupun kau tidak memberikan hadiah apa-apa kepadaku, namun melihat wajahmu yang demikian cantiknya biar disuruh memanggil kakak guru beberapa kali pun aku senang melakukannya. Toh aku tidak merasa rugi sedikit pun,"
Kata Siau Po. Ho Ie Siu tertawa.
"Monyet kecil, mulutmu penuh minyak dan lidahmu tidak bertulang, Ngomong dengan nenek saja tidak ada sopannya sedikit pun. Apa lagi dengan wanita-wanita malam, aku tahu kau pastilah sering melakukan hal itu pada setiap wanita."
Sahut wanita berpakaian kuning itu.
Ho Ie Siu adalah seorang perempuan dari suku Biau, Pada hakekatnya mereka tidak terlalu mengindahkan peraturan ataupun larangan-larangan yang telah dibuat, Hal itu dimaksudkan untuk dapat membatasi pergaulan antara laki-laki dengan perempuan Siau Po telah memuji dirinya cantik, ia tidak hanya merasa senang akan tetapi ia pun tersenyum bangga.
"Monyet kecil, coba kau panggil aku sekali lagi, seperti yang telah kau lakukan tadi!"
Katanya. Siau Po tertawa.
"Cici, Ciciku yang baik,"
Katanya. Ho Ie Siu tertawa.
"Aduh, kau ini semakin lama semakin ngaco saja berbicara!"
Tukas si wanita berpakaian kuning. Tiba-tiba Ho Ie Siu mengulurkan tangannya dan mencengkram belakang leher Siau Po dan menentengnya ke sebelah kiri. Maka terdengar suara Trak, Trek, Trak, Trek"
Beberapa kali dan tiba batang lilin yang berada di atas meja langsung saja padam, Lalu terdengar suara gemuruh seperti hujan lebat dari papan penyekat ruangan. Siau Po terkejut juga gembira.
"Senjata rahasia apa itu?"
Tanyanya. Ho Ie Siu tertawa.
"Coba kau lihat sendiri!"
Jawabnya.
Kemudian ia mengendurkan tangannya dan melepaskan Siau Po agar dapat menginjakkan kakinya kembali di tanah.
Siau Po mengambil sebatang lilin dari atas meja, lalu menghampiri papan menyekal ruangan, maka tampaklah belasan batang jarum yang terbuat dari baja telah menancap dalam-dalam pada papan itu.
Hatinya kagum sekali, menyaksikan hal itu ia lalu berkata.
"Cici, kau tadi tidak bergerak sama sekali, Bagaimana dapat melemparkan senjata rahasia itu, Dengan senjata rahasia semacam ini, siapa yang dapat menghindarinya dari serangan senjata semacam ini."
Ho Ie Siu tertawa.
"Dulu aku pernah menggunakan senjata rahasia ini untuk menyerang guruku, akan tetapi ia telah berhasil menghindari dari serangan ini, sepotong jarum pun tak ada yang berhasil melukainya, Namun kecuali guruku seorang, masih ada beberapa orang lainnya yang dapat menghindari dari serangan jarum-jarum ini. Hanya jumlah mereka sangat langka sekali,"
Katanya pada Siau Po.
"Pasti dalam menggunakannya kau terlebih dahulu memberitahukannya sehingga ia dapat bersiap-siap dalam menerima serangan senjatamu ini, seandainya seseorang menyerangnya dengan cara tiba-tiba, meskipun ilmunya tinggi sekali, dengan senjata yang tanpa bayangan dan suara ini mana mungkin ia dapat menghindarinya!"
Katanya.
"Ketika itu aku sedang bermusuhan dengan guruku, ia tidak menyuruh aku melakukan hal itu, atau mengetahui kalau aku telah memiliki senjata rahasia ini, malah ia pun tidak menduga-duga kalau aku telah menyerangnya."
Katanya.
"Nah itu dia! Gurumu kau katakan sedang bermusuhan denganmu, pastilah sebelumnya ia telah melakukan persiapan untuk mengelak setiap serangan yang akan diterimanya. Karena itu ia dapat menghindarinya, seandainya kau berpura-pura menundukkan kepalamu dan ia memalingkan kepalanya, sambil kau berkata.
"Hai, siapa yang datang! Dan pada saat itulah kau menyerangnya, aku yakin ia pasti gagal."
Tukas Siau Po. Ho le Siu menarik napas panjang.
"Mungkin apa yang kau katakan memang tidak salah, Kau tahu, pada ujung jarumjarum ini telah aku berikan racun jahat, seandainya guruku tidak dapat menghindarinya pada saat itu, pastilah ia telah mati dengan jarum-jarum ini, Salahnya pada saat itu aku tidak berpikir untuk membunuhnya, aku hanya ingin mencobanya saja.,."
Katanya.
"Kenapa? Apakah kau telah jatuh cinta dengan gurumu itu?"
Tanya Siau Po. Mendengar kata-kata Siau Po yang terakhir wajah Ho le Siu menjadi merah, ia lalu mendengus satu kali, dan berkata.
"Ngaco jangan kau berbicara sembarangan, Kalau sampai terdengar oleh Su Nio (Guru perempuan)-ku itu pastilah lidahmu akan dipotong, karena kau telah berkata kurang ajar.,.!"
Siau Po sama sekali tidak menduga kalau guru yang dimaksudkan itu adalah seorang perempuan juga, Memang Ho le Siu pernah mengalami jatuh cinta juga, akan tetapi pada saat itu gurunya sedang menyamar sebagai seorang laki-laki.
Dan ia tidak mengetahui akan hal itu, Masalah itu sudah berlangsung lama, akan tetapi jika ia mengingatnya sampai sekarang masih saja merasa malu juga.
Ho le Siu mengeluarkan sebuah sarung tangan, kemudian ia mengenakannya, Setelah itu dia berjalan menuju papan penyekat ruangan, mencabut jarum-jarum yang telah menempel di sana, Setelah itu ia melepaskan sebuah ikat pinggang yang terbuat dari logam, di tengah-tengah ikat pinggang itu terdapat sebuah kotak yang mempunyai lobang-lobang kecil.
Siau Po yang melihat merasa kagum sekali, Sambil bertepuk tangan ia berkata.
"Cici, senjata rahasia itu benar-benar hebat Rupanya kau mengenakannya pada ikat pinggangmu dan kau menutupinya dengan bajumu, seandainya kita mengangkat baju kita sedikit saja dan kemudian kita memencet tombolnya tentulah senjata rahasia itu akan meluncur pula dengan sendirinya, sungguh hebat, aku sangat kagum sekali!"
Dalam hati ia berpikir.
-perempuan ini tadi telah mengatakan kalau ia akan memberikan kepadaku semacam senjata rahasia, Kemungkinan senjata rahasia inilah yang ia maksudkan.
Kalau memang senjata ini yang akan ia hadiahkan kepadaku aku sangat senang sekali -Setelah berpikir demikian hatinya menjadi berbunga-bunga, membayangkannya.
Ho Ie Siu tersenyum, melihat Siau Po sangat kagum dengan senjata rahasia yang ia miliki itu.
"Bagaimana hebatnya senjata rahasia, haruslah diimbangi dengan orang yang akan menggunakannya. ilmu silatmu terlalu rendah, kecuali senjata rahasia yang semacam ini. Jika senjata rahasia yang lainnya kau tentulah tidak dapat melakukannya, sebab jika senjata rahasia, meskipun senjata itu hebat tidak akan berguna jika menggunakannya tidak hebat."
Ho Ie Siu segera memasukkan kembali jarum-jarum itu ke dalam kotak yang ada diikat pinggang, Setelah jarum-jarum itu disimpannya ia memanggil Siau Po dan setelah dekat ia meminta pada Siau Po untuk mengangkat baju jubahnya, Setelah itu ia membantu Siau Po dalam menggunakan sabuk yang istimewa itu.
Kotak yang diikat di pinggang itu tepat mengarah ke dada orang, Ho Ie Siu mengajarkan bagaimana cara menggunakannya, serta menawarkan racun jika ia ingin mengalami kesalahan dalam membidiknya, ilmu menawarkan racun pun telah diberitahukannya pada Siau Po.
"Jarum-jarum yang berada di dalam kotak itu dapat kau gunakan selama lima kali, Jika telah lima kali jarum-jarum itu kau gunakan, kau menambah dan menggantinya dengan jarum-jarum yang lainnya. Guruku beberapa kali memberikan pesan kepadaku agar jangan menggunakan senjata ini dengan sembarangan. Karena racun yang berada di ujung jarum ini sangat ganas sekali, Kalau terlambat sedikit saja orang yang terkena akan mati, namun apabila orang itu mempunyai ilmu yang tinggi sekali, ia hanya merasakan gatal pada sekujur badannya. Namun selanjutnya tenaganya pun lenyap, Pokoknya kau jangan sembarangan melakukan jika dalam keadaan terjepit barulah kau boleh menggunakannya,"
Kata Ho Ie Siu berpesan Siau Po segera mengiyakan beberapa kali, lalu memberikan hormat sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
"Sekarang kau papah mereka bertiga dan dudukkan dengan baik."
Katanya.
Si wanita itu memerintahkan untuk membangunkan keluarga paman seperguruannya, Siau Po mengiyakan, dan iapun berjalan mendekati si kakek dan si nenek serta si laki-laki penyakitan itu.
Pertama-tama Siau Po membangunkan tubuh si kakek dan mendudukkannya di atas kursi, Ketika ia ingin mengangkat tubuh si kakek itu ia membentur sebuah benda keras pada pinggang si kakek, Siau Po lalu mengangkat jubah panjang si kakek untuk melihat dan mengetahui benda apa yang telah dibawa si kakek.
Ternyata sebuah bungkusan.
TimbuI dalam hatinya untuk mengetahui apa isi dari bungkusan yang ada di pinggang itu.
Siau Po lalu membuka bungkusan itu, dan menengok kepalanya ke dalam bungkusan itu untuk melihatnya, Tiba-tiba ia berteriak sekeras-kerasnya.
"Aduh, kepala orang mati.... Dia... Dia matanya melotot dan melihati aku.,.!"
Ho le Siu juga merasa heran mendengar teriakan dan kata-kata Siau Po, yang seperti orang kesurupan itu.
"Entah tokoh penting siapa lagi yang telah ia bunuhnya, sehingga ia merasa perlu menggantungkan kepala orang itu di pinggangnya. Coba kau keluarkan biar aku dapat melihatnya.,.!"
Ujarnya pada Siau Po.
"Orang mati.... Orang mati aku akan mengeluarkanmu. Kau jangan menggigit aku, yah?"
Teriak Siau Po.
Perlahan-lahan Siau Po mengeluarkan kepala manusia yang ada di dalam jubah si kakek.
ia lalu mengulurkan tangannya ke dalam jubah, dan menarik keluar kepala manusia itu, Setelah itu ia menentengnya dan meletakkan ke atas meja.
Cahaya lilin dalam ruangan itu cukup terang, sepasang mata kepala itu melotot besar, Siau Po berteriak sekali lagi, dan ia bergerak mundur tiga langkah, dengan terkejut ia berteriak.
"Dia.... Dia.,., Dia adalah Gouw Toako!"
Katanya. Ho le Siu juga terkejut, ia lalu bertanya.
"Apakah kau kenal dengannya?"
"Dia adalah saudara dalam perkumpulan kami, Gouw Liok Kie, Gouw Toako!"
Katanya.
Hati Siau Po sangat sedih, ia lalu menangis sesenggukan.
Para anggota Thian Te hwe yang telah mendengar kalau Siau Po menjerit dan menangis keras-keras, segera menghambur masuk ke dalam ruangan tempat Siau Po berada, selanjutnya mereka melihat kepala Gouw Liok Kie yang sangat mengenaskan sekali dan terletak di atas meja.
Tangan mereka masing-masing memegang senjatanya, mereka menunjuk pada Ho le Siu dengan pandangan yang sangat curiga, Mereka telah menyangka kalau Gouw Liok Kie telah dibunuh oleh wanita itu.
Lalu Song Ji pun berlari ke dalam kamar itu, Siau Po menarik tangannya ia lalu menunjuk ke arah meja di mana terdapat kepala yang tidak berbadan itu.
"Song.... Song Ji itulah kakak angkatmu Gouw Toako. Dia.... Dia telah terbunuh oleh seorang penjahat..."
Katanya.
Sambil berkata demikian Siau Po mengajak Song Ji untuk mendekati pada si laki-laki penyakitan itu.
Kemudian Siau Po menendangnya beberapa kali pada tubuh si laki-laki penyakitan itu.
ia pun berkata dengan Ci Cian Coan sekalian.
"Kepala Gouw Toako tergantung di pinggang orang jahat ini!"
Katanya terbata-bata.
Para anggota Thian Te hwe memperhatikan kepala kawannya yang berada di atas meja.
Tampaknya darah di lehernya telah mulai mengering, bekas penggalan di kepalanya pun sudah berubah warna kebiru-biruan.
Kalau tidak salah tubuh itu telah dilumuri obat agar tidak cepat membusuk.
Song Ji lalu memeluk kepala itu dan menangis tersedu-sedu.
"Kita gunakan air dingin untuk menyiram orang-orang ini. Dan kita tanyakan mereka secara jelas, setelah itu kita bunuh dia untuk mengganti nyawanya Gouw Toako!"
Kata Lie Liat Sek. Para anggota Thian Te hwe yang lainnya menyetujui usulan itu.
"Orang ini adalah adik seperguruanku kalian tidak boleh mengganggunya seujung rambut pun."
Kata si wanita tiba-tiba.
Sambil berkata demikian si wanita itu mengacungkan tangan besinya lalu dikibaskannya beberapa kali ke arah lilin itu.
Tanpa berkata sepatah kata pun ia berjalan menuju ke dalam.
Tian Ceng Toajin marah sekali.
"Biar gurumu sekali pun aku akan mencincangnya...!"
Katanya, Tiba-tiba terdengar rintihan dari Han Cie Tiong, tangan kirinya memunguti puntungan-puntungan liIin.
sebenarnya panjang lilin yang ada di atas meja itu sekitar delapan inci, akan tetapi sekarang telah terpotong menjadi enam atau tujuh bagian, dan panjang masing-masing kira-kira satu inci dan kalau diukur panjangnya sama.Meskipun demikian lilin itu tidak ada yang terbalik, ilmu orang itu benar-benar lihay.
Wajah para anggota Thian Te hwe tidak ada yang tidak mengalami perubahan, mereka semuanya tegang, Terdengar suara "Prak"
Thian Ceng Toajin menghunus goloknya.
"Aku akan membunuh orang ini, aku akan membalaskan dendammu Gouw Toako. Tidak perduli meskipun aku akan dibunuh oleh perempuan itu. ingatlah kata-kataku ini!"
Katanya.
"Tunggu dulu!"
Cegah Lie Liok Sek.
"Kita harus bertanya dulu sampai jelas, setelah itu barulah kita mengadakan balas dendam dengan orang yang telah membunuh kawan kita ini, Kalian jangan main hantam saja sebelum mendapatkan keterangan!" "Benar, kakak nenek hanya takut pada paman seperguruannya, Kalau saja kita membunuh paman seperguruannya sekalian beserta isinya, tentulah kita tidak punya urusan lagi dengannya, Song Ji cepat sekarang kau ambil seember air dingin, akan tetapi kau jangan dari dalam tempayan itu, karena telah diberikan obat bius yang sangat membahayakan!"
Kata Siau Po.
Song Ji segera berjalan ke dalam dapur rumah itu, Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa seember air dingin dan menyerahkan kepada Cie Ciuan Cuan yang menyambutnya.
Setelah itu ia menyiramkannya ke atas kepala si laki-laki penyakitan itu, Terdengar laki-laki penyakitan itu bersin beberapa kali, perlahan-lahan ia membuka matanya.
Begitu ia akan menggerakkan tubuhnya ia barulah mengetahui kalau tangan dan kakinya telah diikat dan badannya pun telah tertotok.
ia pun marah sekali, merasa tubuhnya telah diperlakukan demikian oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Siapa.... Siapa yang telah berani melakukan hal ini kepadaku?"
Tanyanya. Hian Ceng Tayjin menggunakan ujung pedangnya untuk menepuk-nepuk wajah si laki-laki penyakitan itu.
"Kakekmu yang ini yang mengajakmu main-main!"
Katanya dengan sikap marah. Setelah itu ia menunjuk ke arah meja tempat kepala Gouw Liok tergeletak.
"Apakah kau yang telah membunuh orang ini?"
Tanyanya.
"Tidak salah, memang aku yang telah membunuhnya, Mama, ayah di mana kalian?"
Seru lelaki berpenyakitan.
Setelah berkata demikian ia memalingkan mukanya, dan melihat ayah dan ibunya tengah berbaring di atas tempat tidur, dalam keadaan yang sama dengannya, yaitu terikat tangan dan kakinya.
Begitu terkejutnya sehingga ia hampir saja menangis.
Seumur hidupnya si laki-laki penyakitan itu selalu saja ikut dengan ayah dan ibunya, dalam segala hal ia mengetahui dengan jelas, ia selalu memperoleh kesenangan, apapun yang diinginkannya.
Ayah dan ibunya selalu berusaha mendapatkannya, belum pernah ia mendapatkan penghinaan sedemikian rupa.
"Apa yang kalian telah lakukan, kalian tidak dapat mengalahkan aku. Bagaimana kalian dapat mengikat aku, ayah, dan ibuku?"
Tanyanya sambil menangis. Ci Tian Coan mengibaskan telapak tangannya, Terdengar suara plok plok! Pipi si laki-laki penyakitan telah berhasil ditempelengnya dengan keras.
"Bagaimana kau membunuh orang ini, cepat kau katakan?"
Tanyanya.
"Jika kau berbohong sedikit saja aku akan menyongkel keluar kedua matamu!"
Setelah berkata demikian ia mengulurkan senjata goloknya dan mengarahkannya pada si laki-laki penyakitan itu.
Si laki-laki penyakitan itu terkejut setengah mati, sukmanya seakan melayang, ia terbatuk-batuk tidak henti-hentinya.
"Aku akan mengatakan kalau kau tidak membutuhkan kedua mataku ini. Kalau mataku buta aku tidak dapat melihat apapun, Peng Si-ong telah berkata kalau Kaisar Tat Cu adalah seorang telor busuk besar, ia sudah menduduki negara kita yang makmur ini dan indah, dan menjatuhkan kerajaan Beng kita yang besar dan indah. Dia mengatakan kalau aku diperintahkan untuk membunuh Kaisar Tat Cu itu..."
Ujar si lelaki penyakitan mulai bercerita.
Para anggota Thia Te Hwe menatap sejenak, dalam hati mereka berpikir.
-Apa yang dikatakannya memang tidak salah Siau Po justru tidak merasa senang mendengar kata-katanya itu, ia marah sekali.
"Emaknya, memang Gouw Sam Kui itu orang baik?"
Tanyanya.
"Peng Si-ong adalah pamanmu, Kalau ia bukan orang baik, kaupun pastilah bukan orang baik-baik!"
Tukas Si Kui Tiang, lelaki penyakitan itu. Siau Po menendang tubuhnya dengan keras satu kali.
"Ngaco, Gouw Sam Kui adalah seorang penghianat besar mana pantas ia menjadi pamanku!"
Katanya dengan suara keras dan marah.
"Kau sendiri yang telah mengatakannya kepadaku, Kau telah mengatakannya kepadaku dan kedua orang tuaku, apakah kau akan menjilat ucapan yang telah kau ucapkan itu. Aku tidak mau... aku tidak mau!"
Jawabnya. Lie Liok Sek benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh si laki-laki penyakitan itu, Karenanya ia lalu bertanya.
"Gouw Sam Kui telah memerintahkan kepadamu untuk membunuh Kaisar Tat Cu, mengapa kau malah membunuh orang ini...?"
Sambil berkata demikian ia menunjuk ke arah kepala yang ada di atas meja itu.
"Orang ini adalah pembesar di daerah Kuang Tung, Peng Si-ong mengatakan kalau ia adalah seorang penghianat besar, ia setia sekali pada Kaisar Tat Cu. Peng Si-ong ingin menyusun pasukannya untuk menyerang kota Koang Tou walau bagaimana orang inilah yang pertama-pertama harus dibunuh, Peng Si-ong telah memberikan berbagai macam obat kepadaku, agar dapat menyembuhkan batukku ini, ia pun memberikan hadiah kepadaku selembar kulit harimau putih, ibuku sendiri yang telah mengatakan kalau para penghianat itu harus dibunuh, Huk.... Huk, Orang ini mempunyai ilmu yang cukup tinggi, aku berdua dengan ibuku bertarung melawannya, dengan demikian kami baru dapat berhasil membunuhnya, Cepat, kalian melepaskan aku, dan lepaskan pula ayah dan ibuku. Kami akan berangkat ke Peking, untuk membunuh Kaisar Tat Cu, dengan demikian aku dapat membangun jasa besar.."
Pinta si lelaki penyakitan.
"Hey, kau mau membunuh kaisar itu pastilah bukan bagianmu, setan penyakitan!"
Maki Siau Po.
"Saudara sekalian, bunuh saja ketiga orang ini, urusan kakak nenek biar aku yang bertanggung jawab!"
Tiba-tiba terdengar teriakan suara belasan orang dari luar perkampungan "Setan penyakitan, cepat kau keluar Ayo, keluar... aku akan membalaskan sakit, hati kawanku Gouw Toako!"
Baik di depan rumah maupun yang berada di belakang sama-sama meneriakkan kata-kata serupa.
Bahkan di sekeliling rumah itu banyak orang yang berseru-seru, ternyata rumah itu telah dikepung dengan rapat.
Para anggota Thian Te hwe mendengar orang-orang yang di depan itu berkata ingin membalaskan sakit hati Gouw Liok tentulah mereka orang sendiri hati mereka menjadi gembira, Cian Lau Pan berteriak dengan suara keras.
"Beng bangkit kembali dan Ceng terguling! Tanah adalah ibu dan langit adalah ayah, yang datang dari luar itu saudara dari bagian mana..?"
Tanyanya dengan keras.
Kata-kata sandi para anggota Thian Te hwe adalah sebagai berikut langit sebagai ayah dan bumi sebagai ibu, terang dibalikkan dan bersih dibangkitkan.
Akan tetapi karena belum mengetahui orang-orang yang ada di luar mereka sengaja membalikkan kata-katanya.
Kalau memang yang berada di luar itu saudara seperguruannya tentulah mereka akan mengenalinya, tetapi jika orang lain tentulah mereka tidak akan mengetahuinya.
Terdengar belasan orang yang di luar berteriak menyambutnya.
"Gunung menjulang tinggi, bumi bergetar, sungai mengalir pemandangan indah.,."
Riuh rendah suara itu bersahutan. Dari dalam ruangan terdengar sahutan.
"Pintu menghadap laut besar, Tiga sungai mengalir menjadi satu."
Dari atas genteng ada pula yang berseru.
"Saudara dari bagian mana yang hadir di sini?"
"Saudara-saudara dari Ceng Bok Tong telah berkumpul di sini, Entah saudara dari bagian mana saja yang telah datang?"
Tanya Cian Lao Pan. Pintu ruangan terbuka, seseorang berjalan masuk sambil bertanya.
"Siau Po, apakah kau ada di sini?"
Orang ini bertubuh tinggi kurus, Tampangnya agak lusuh.
Dia bukan lain daripada Cong Tocu perkumpulan Thian Te hwe, yakni Tan Kin Lam.
Siau Po gembira sekali, dia segera menghambur ke depan dan menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah.
"Suhu! Suhu!"
Panggilnya.
"Apa kabar semuanya? Sayang sekali.,,."
Tan Kin Lam tidak dapat melanjutkan katakatanya, sebab tiba-tiba melihat batok kepala Gouw Liok Ki yang tergeletak di atas meja.
Tubuhnya langsung limbung, untung saja dia segera berpegangan pada sebuah kursi, Tampaknya hati ketua ini terguncang sekali, Tanpa dapat dipertahankan lagi air matanya mengucur dengan deras.
Dari depan pintu beruntun masuk beberapa orang, mereka terdiri dari Hiocu-hiocu Thian Te hwe dari bagian yang lain, di antaranya terdapat Liok Cit, Ma Co Heng dan Ko Cit tiong, Begitu melihat Kui Tong, serempak mereka menghunus senjata masingmasing, Dua puluh lebih orang lainnya merupakan bawahan dari bagi Hong Sun Tong, kebencian mereka terlebih-lebih lagi terhadap si laki-laki penyakitan itu.
Kui Tiong melihat begitu banyak orang yang menatapnya dengan sinar mata bengis dan mata garang, Dia terkejut sekali, Setelah terbatuk-batuk dua kali dia pun jatuh pingsan kembali.
Tan Kin Lam membalikkan tubuhnya.
"Siau Po, bagaimana kalian bisa menangkap ketiga penjahat ini?"
Tanyanya kepada sang murid.
Siau Po segera memberikan keterangannya, tapi hal-hal memalukan seperti bagaimana Ci Thian Coan dan yang lainnya dipermainkan oleh si laki-laki penyakitan serta dirinya yang terpaksa menyamar sebagai keponakan Gouw Sam Kui, tentu saja tidak diceritakannya.
"llmu ketiga penjahat ini tinggi sekali, Kami bukanlah tandingannya, Untung saja seorang Kakak nenek ikut membantu sehingga mereka semuanya bisa diringkus, Tapi kemudian si Kakek nenek mengatakan bahwa si tua bangkotan ini adalah paman gurunya, dan kami tidak boleh membunuhnya meskipun untuk membalaskan sakit hati Gouw toako,"
Kata Siau Po akhirnya. Tan Kin Lam mengerutkan keningnya.
"Siapa yang kau maksudkan dengan Kakak Nenek itu?"
Tanyanya.
"Usianya sudah lanjut, karena wajahnya masih terlihat muda, maka aku memanggilnya Kakak Nenek,"
Sahut Siau Po.
"Di mana orangnya?"
Tanya Tan Kin Lam.
"Dia ada di belakang, sedang bersembunyi karena tidak mau bertemu dengan paman gurunya ini. Suhu, Ko toako, Ma toako, bagaimana kalian bisa sampai ke mari?"
Tanya Siau Po.
"Penjahat ini mencelakai Gouw toako, kami segera menyiarkan beritanya, orangorang dari Thian Te hwe hampir semuanya keluar melakukan pengejaran,"
Kata Tan Kin Lam. Para anggota Ceng Bok Tong segera menemui saudara-saudara dari bagian lainnya, Ternyata seluruh perkampungan itu telah dikepung oleh orang-orang Thian Te hwe.
"Adik Wi berhasil mendirikan jasa sebesar ini. Apabila arwah Gouw toako di alam baka mengetahuinya, dia pasti terhibur sekali,"
Kata Ma Co Heng.
"Gouw toako selalu memperlakukan aku dengan baik sekali, Sudah sepantasnya aku membalaskan dendam bagi Gouw toako,"
Sahut Siau Po.
"Lapor Cong Tocu,"
Kata Lie Liat Sek.
"Penjahat ini tadi mengatakan bahwa mereka akan ke kota raja untuk membunuh kaisar Tatcu. Dia juga membicarakan tentang membasmi kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng. Entah bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya!"
"Duduk persoalan apa lagi?"
Sanggah Siau Po.
"Dia takut kita akan membunuhnya sehingga bicara tidak karuan, Di balik pakaiannya ada selembar kulit harimau putih pemberian Gouw Sam Kui. Semua teman anjing Gouw Sam Kui, mana mungkin ada orang baik-baik? Kita beset saja dada orang ini dan keluarkan jantungnya untuk membalaskan sakit hati Gouw toako!"
"Sadarkan dulu ketiga orang ini, biar kita tanyakan dulu sampai jelas,"
Kata Tan Kin Lam.
Song Ji pergi mengambil seember air dingin yang kemudian diguyurkannya ke kepala ketiga orang itu.
Begitu sadar, si nenek tua langsung mencaci maki kalang kabut Dia mengatakan bahwa meracuni orang dengan obat bius merupakan perbuatan yang tidak terpuji dan paling dihina oleh orang-orang gagah dalam dunia kangouw, sedangkan si kakek tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Kalau ditilik dari ilmu silat kalian, tampaknya kalian bukan kaum cecere, Siapa nama kalian? Ada dendam apa antara kalian dengan Gouw Liok Ki, Gouw toako kami? Mengapa kalian menggunakan cara yang demikian kejam membunuhnya?"
Tanya Tan Kin Lam. Si nenek marah sekali.
"Penjahat kelas teri yang menggunakan obat untuk membius orang seperti kalian ini mana pantas mengetahui nama kami?"
Bentaknya. Ko Cit Tiong pura-pura mengayunkan goloknya seakan mengancam, tapi watak si nenek sangat keras, Dia malah memaki-maki semakin hebat.
"Suhu, mereka she Kui, Kui dari kura-kura. Dua ekor kura-kura tua dan seekor kurakura kecil,"
Kata Siau Po menjelaskan "Sekarang aku akan membunuh kura-kura yang kecil terlebih dahulu."
Dia langsung mengeluarkan pisau belatinya yang tajam dan ditudingkan ke arah tenggorokan Kui Tiong. Kui Ji Nio (si nenek) melihat Siau Po bermaksud membunuh anaknya, Dia menjadi panik.
"Eh, setan cilik, kalau kau memang punya nyali, ayo bunuh saja nyonya besarmu ini!"
Teriaknya.
"Tapi jangan coba-coba kau ganggu seujung pun rambut anakku itu!"
"Aku justru paling suka membunuh kura-kura kecil!"
Sahut Siau Po.
Dia mengguratkan ujung belatinya di leher Kui Tiong, Meskipun gerakannya ayal-ayalan, tapi karena pisau itu tajamnya bukan main, maka segera terlihat luka memanjang di leher si laki-!aki penyakitan dan darah pun mengalir ke luar.
"Aduh, Mak!"
Teriak Kui Tiong keras-keras.
"Dia akan membunuh aku!"
"Ja... ngan... jangan bunuh anakku!"
Seru Kui Ji Nio tidak kalah gugupnya.
"Kalau guruku mengajukan sebuah pertanyaan, maka kau juga harus menjawabnya satu kali dengan baik-baik. Kalau menurut, dalam waktu setengah jam aku tidak akan membunuh anakmu,"
Kata Siau Po dengan nada mengancam "Anakmu yang penyakitan dan-sebentar lagi akan mampus itu!"
Kui Ji Nio marah sekali.
"Anakku tidak sakit, Kaulah yang pantas disebut setan penyakitan!"
Teriaknya, Meskipun demikian, hatinya agak lega juga mendengar bahwa untuk sementara Siau Po tidak akan membunuh anaknya.
Siau Po sengaja mengeluarkan suara terbatuk-batuk, Dia meniru nada bicara si Iakilaki penyakitan "Mak, aduh!
Aku...
aku...
huk!
Huk!
sebentar lagi aku akan mati....
Makku yang baik, se...
baiknya kau ber...
bicara terus terang kepada mereka....
Huk!
Huk!
Aku...
tidak sakit...
tubuh...
ku kuat...
sekali, Mes...
ki...
pun pisau mengancam tenggorokanku paling-pa1ing...
tubuhku,., akan dicincang men...
jadi potongan-po...
tongan kecilkecil...."
Kalau soal meniru lagak orang, Siau Po memang rajanya, Lagaknya persis sekali sehingga seluruh kuduk di tubuh Kui Ji Nio jadi merinding.
"Ja... ngan kau tiru anakku!"
Teriaknya. Siau Po malah sengaja meneruskan perannya.
"Mak, ka... lau kau masih tidak... bersedia men... jawab pertanyaan orang,.. sebentar lagi perutku pasti akan di,., belek dan... usus di dalamnya akan,., am.,, buradul...."
Sembari berbicara, dia mengangkat baju Kui Tiong dan menggerakkan sedikit ujung belatinya seakan benar-benar henda membelek perut laki-laki itu.
Kui Ji Nio jadi tidak tega melihat penderitaan dan ketakutan anaknya.
"Baik! Kami berasal dari Hoa San Pai. julukan si tua kami ialah Sin Cian Bu Tek (Tinju Sakti Tanpa Lawan), Pernah menggetarkan dunia persilatan saat itu kalian mungkin masih belum dilahirkan!"
Serunya dengan nada terpaksa.
Tan Kin Lam mendengar bahwa orang yang berhasil diringkus Siau Po ternyata pasangan suami istri Sin Cian Bu Tek yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan berpuluh tahun yang lalu, Tanpa dapat dipertahankan lagi, timbul rasa hormat dalam hati kecilnya.
Padahal dia menyadari betapa tingginya ilmu yang dikuasai oleh Gouw Liok Kie.
Kalau mendengar cerita anggota Thian Te hwe bagian Hong Sun Tong yang menyaksikan peristiwa pertempuran itu, yang melawan Gouw Liok Kie hanya seorang nenek tua dan seorang laki-laki penyakitan.
Mereka berdua mengeroyok Gouw Liok Kie, setelah tewas mereka malah memenggal batok kepalanya, Diam-diam Tan Kin Lam sudah menyadari bahwa lawan mereka pasti bukan tokoh biasa.
Sin Cin Bu Tek pernah mempunyai nama besar di dunia kangouw, Tapi sudah belasan tahun lamanya nama orang ini menghilang, mengapa tiba-tiba bisa muncul di sini dan terlibat dalam kemelut yang memusingkan ini?
Dibalik semua ini pasti ada sesuatu yang janggal, pikir Tan Kin Lam dalam hati.
Karena itu, dia segera maju ke depan dan menjura dalam-daIam.
"Rupanya pasangan suami istri Sin Cian Bu Tek dari Hoa San Pai. Aku yang rendah Tan Kin Lam memohon maaf bila sikap kami kurang sopan,"
Katanya, Tangannya terulur ke depan dan dalam sekejap mata tali yang mengikat orang tua itu sudah terlepas, kemudian dia juga menepuk pinggang si kakek untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok.
Setelah itu dia juga membebaskan ikatan tali Kui Ji Nio dan putranya.
Siau Po yang melihatnya jadi panik.
"Suhu, ketiga orang ini lihay sekali, Sekali-sekali tidak boleh dilepaskan!"
Teriaknya. Tan Kin Lam tersenyum.
"Kui Ji Nio memaki kita menggunakan obat bius dan itu merupakan perbuatan paling hina dalam dunia kangouw, Kami orang-orang Thian Te hwe sama sekali tidak menggunakan obat bius, Lagipula, mengingat dalamnya ilmu tenaga dalam yang dikuasai pasangan suami istri Sin Cian Bu Tek, kalau hanya obat bius saja, mana mungkin sanggup merobohkan dia orang tua.,."
Katanya.
"Betul, betul!"
Sahut Siau Po.
"Kami orang-orang Thian Te hwe tidak pernah menggunakan obat bius!"
Dalam hati dia berkata, -Obat itu toh kepunyaan Kakak nenek, lagipula dia juga yang menukarnya.
Dengan demikian tidak ada sangkut pautnya dengan pihak kami, sedangkan obat itu juga bukan obat bius...
Kui Heng Su mengibaskan tangannya ke arah istri dan anaknya, Tahu-tahu totokan pada tubuh kedua orang itu sudah bebas, Gerakan tangannya ternyata jauh lebih cepat dari Tan Kin Lam.
Tampak dia menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Memang betul ini bukan obat bius yang biasa, tapi sejenis obat yang hebat sekali,"
Katanya, Kemudian dia mengulurkan tangannya untuk merasakan denyut nadi anaknya. Kui Ji Nio menatap dengan pandangan cemas.
"Bagaimana?"
Tanyanya khawatir "Tampaknya tidak apa-apa,"
Sahut si kakek, Dia ingat ketika belum pingsan, dia sempat mengadu tangan dengan seseorang, ilmu orang ini tidak terhitung tinggi, tapi ilmu tenaga dalamnya berasal dari Hoa San pai.
Dan ketika Song Ji mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya di antara bebatuan, yang digunakannya juga ilmu meringankan tubuh gaya Hoa San pai.
Begitu dia mengedarkan pandangannya, dia segera menemukan gadis cilik itu diantara kerumunan orang banyak.
Song Ji melihat sepasang mata si orang tua yang tajam sedang mengawasinya, Hatinya jadi ciut, cepat-cepat dia bersembunyi di belakang tubuh Siau Po.
Bagian 77
"Budak cilik, kemarilah!"
Panggil si kakek.
"llmu yang kau gunakan berasal dari Hoa San pai, bukan?"
"Aku tidak mau ke sana!"
Teriak Song Ji.
"Kau telah membunuh Gouw toakoku, aku ingin membalaskan dendam baginya, Dan aku juga ti... dak tahu apa Hoa San pai...."
Ketika Ho Ie Siu menurunkan ilmunya kepada Sam nay nay dan Song Ji sekalian, dia juga tidak benar-benar menerima mereka sebagai murid, Karena itu mereka tidak pernah menjalani adat penyembahan guru.
Karena itu pula baru pertama kali ini Song Ji mendengar nama Hoa San pai.
Si kakek juga tidak menarik panjang urusan itu dengan Song Ji.
Tiba-tiba dia menarik nafas dalam-dalam dan berteriak.
"Murid atau cucu murid Hong Lam Tek, semuanya keluar!"
Suaranya tidak berapa keras, tapi bergelombang sampai jauh, Bahkan debu-debu di atas tiang penglari beterbangan ke mana-mana karena getaran suaranya.
Si kakek mempunyai tiga orang saudara seperguruan Yuan Jin Ci berada di luar perbatasan yang jauh.
Kakak seperguruannya yang satu lagi sudah meninggal lama sekali.
Dan yang terakhir ketua Hoa San pai juga sudah menutup mata, sekarang perguruan itu dikendalikan oleh murid sulungnya, Hong Lam Tek.
Seandainya di dalam perkampungan itu terdapat orang Hoa San pai, pasti murid atau cucu murid kakak seperguruannya itu, Tapi, ternyata setelah berteriak sekian Iama, tidak terdengar suara sahutan sedikit pun.
"Tahun lalu orang-orang gagah di tanah air merundingkan cara membunuh si pengkhianat besar Gouw Sam Kui,"
Kata Tan Kin Lam.
"Sedangkan murid keponakanmu itu, yakni Hong Lam Tek justru menjadi pemimpin pertemuan membunuh kura-kura tersebut. Mengapa locianpwe sendiri malah bersekongkol dengan Gouw Sam Kui dan membunuh anggota perkumpulan kami? Bukankah perbuatan locianpwe membuat derita sesama dan membuat senang pihak musuh?"
Cara bicaranya memang sungkan, tapi nadanya justru mendesak sekali, Kui Ji Nio melirik Tan Kin Lam sekilas.
"Pernah ada orang yang mengatakan bahwa apabila belum bertemu dan berkenalan dengan Tan Kin Lam, rasanya belum pantas disebut seorang pendekar. Kami suami istri sudah malang melintang sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Apakah kami harus menunggu sampai kau dilahirkan baru kami pantas disebut pendekar? Hm! Benar-benar menggelikan!"
Ejeknya.
"llmu cayhe tentu tidak dapat dibandingkan dengan kalian pasangan suami istri, Apabila orang-orang dalam dunia kangouw memandang tinggi cayhe, itu karena menurut mereka cayhe bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, cayhe tidak sembarangan bertindak atau pun bergaul dengan manusia-manusia rendah,"
Sahut Tan Kin Lam.
"Oh? Jadi kau menuduh kami mengambil tindakan seenaknya dan bergaul dengan manusia-manusia rendah?"
Teriak Kui Ji Nio.
"Gouw Sam Kui kan seorang pengkhianat besar, apakah dia tidak terhitung manusia rendah?"
Tanya Tan Kin Lam.
"Gouw Liok Kie ini menggunakan kekuasaannya untuk mengumbar kejahatan, Dia adalah seorang pembesar bangsa Tatcu, Entah berapa banyak rakyat Han kami yang telah ditindasnya! Mengapa sedikit-sedikit kalian menyebutnya sebagai toako? Bukankah perbuatan kalian sendiri sembarangan dan bergaul dengan manusia rendah juga?"
Teriak Kui Ji Nio tidak mau kalah.
"Meskipun tubuh Gouw toako berada di tempat bangsa Ceng tapi jiwanya berpihak pada kami bangsa Han. Dia sengaja menduduki jabatan di Cuang Tung, Dengan demikian, apabila tiba saatnya untuk merebut kembali negara kita, dia dapat menggerakkan pasukannya untuk membantu. Di samping itu, dia juga serang hiocu bagian Hong Sun tong dari Thian te hwe kami. Saudara-saudara dari Hong Sun Tong, bukankah benar apa yang aku katakan?"
Teriak Ma Co Heng yang marah sekali. Serentak anggota Thian Te hwe berseru menyatakan persetujuan mereka akan ucapan Ma Co Heng.
"Betul, betul!"
"Bukalah baju kalian dan biarkan kedua lo eng hiong ini melihat dada kalian!"
Kata Ma Co Heng pula.
Dua puluh orang lebih segera membuka pakaiannya, Bahkan ada yang melakukannya dengan kasar yakni mengoyak sekeras-kerasnya sehingga kancing baju mereka putus dan berjatuhan.
Dengan demikian dada mereka pun terlihat jelas, Tampak dada setiap orang terdapat guratan tulisannya.
"Langit adalah ayah, bumi adalah ibu, Ceng dihapus dan Beng ditegakkan" , Tulisan itu dibuat seperti tato. Sejak tadi Kui Tiong diam saja, setelah melihat dada ke dua puluhan orang itu dicacah dengan tulisan, Dia segera menepuk tangannya keras-keras.
"Menyenangkan! Menyenangkan!"
Soraknya. Para anggota Thian Te hwe menatapnya dengan pandangan gusar.
"Putra Anda menganggapnya sebagai sesuatu yang menyenangkan Entah bagaimana pendapat lo eng hiong berdua?"
Tanya Tan Kin Lam. Rasa pilu dalam hati Kui Heng Su tidak terkatakan, Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata kepada istrinya dengan nada sendu.
"Kita telah salah membunuh orang!"
"Ya! Salah membunuh orang, kita telah terjebak dalam siasat si pengkhianat besar, Gouw Sam Kui!"
Sahut Kui Ji Nio sambil mengulurkan tangannya dengan gerakan cepat dan tahu-tahu golok di pinggang Ma Co Heng telah dicabut olehnya serta ditebaskan ke arah tenggorokannya sendiri.
"Kau.."
Teriak Tan Kin Lam sambil menggerakkan tangannya mencengkeram pinggang kanan Kui Ji Nio.
Si nenek menghantam dengan telapak tangan kanannya, Tan Kin Lam menyambut dengan tangan kiri, tubuh keduanya terhuyung-huyung.
Tangan kanan Kui Ji Nio sekali dihantamkan ke depan, sementara itu kedua jari telunjuk Tan Kin Lam menepuk pada ujung golok.
Dalam waktu yang bersamaan, pukulan si nenek pun mendarat di dadanya.
Tan Kin Lam mencelat mundur menghindari serangan itu.
Dia khawatir totokannya pada golok akan meleset dan Kui Ji Nio akan berusaha membunuh dirinya lagi.
Barusan dia telah bergebrak satu kali dengan Kui Ji Nio.
Tan Kin Lam sadar karena usianya yang sudah tua, tenaga dalamnya tidak seberapa hebat lagi, tapi gerakannya justru secepat kilat, itulah yang dikhawatirkan oleh Tan Kin Lam.
Karenanya, Tan Kin Lam nekad meneruskan totokannya dan rela dadanya kena dihajar oleh si nenek.
Kui Ji Nio terpaku, golok di tangannya sudah terampas oleh Tan Kin Lam.
Laki-laki itu menyurut mundur dua langkah, Hoooaakk!!
Mulutnya memuncratkan segumpal darah segar.
Ketika Kui Ji Nio merebut golok Ma Co Heng, sebetulnya Kui Heng Su masih sempat mencegah.
Tapi karena mereka telah bersalah membunuh Gouw Liok Kie hatinya menyesal sekali, Memang telah timbul niat untuk membunuh diri guna menebus kesalahan itu, karenanya dia sama sekali tidak mencegah perbuatan istrinya.
Dan ketika melihat Tan Kin Lam menempuh bahaya untuk merebut golok di tangan istrinya, perasaan si kakek semakin malu dan diam-diam berterima kasih sekali.
"Tan Kin Lam adalah orang gagah nomor satu di jaman ini. Tampaknya ucapan ini memang tidak berlebihan!"
Katanya dengan kepala menunduk. Tangan Tan Kin Lam bertumpu pada sebuah meja, dia mengatur pernafasannya sejenak.
"Orang yang tidak tahu, dapat dianggap tidak bersalah, Biang keladi bencana yang terjadi pada diri Gouw toako asalnya bukan lain daripada Gouw... Sam...."
Kembali dia memuntahkan darah segar.
Usia Kui Ji Nio memang sudah tua.
Tenaga dalamnya juga sudah menyusut banyak dibandingkan dulu, Tapi ketika nenek itu melancarkan serangannya, Tan Kin Lam tidak mempunyai kesempatan untuk mengerahkan hawa murninya sama sekali, Karena itulah dia menderita luka dalam yang cukup parah juga.
"Tan Cong tocu,"
Kata Kui Ji Nio.
"Apabila aku tetap ingin membunuh diri, ini berarti aku tidak menghargai pengorbananmu. Kami suami istri telah bertekad membunuh raja Tatcu, setelah itu kami akan berhitungan dengan si Pengkhianat bangsa, Gouw Sam Kui!"
Selesai berkata, dia menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah dan menyembah tiga kali ke arah kepala Gouw Liok Kie.
"Sikap Gouw toako biasanya memang misterius sekali, orang-orang gagah dunia kangouw yang tidak tahu watak Gouw toako yang sebenarnya juga sering mencaci maki dirinya, Tujuan kalian turun tangan kali ini sebetulnya untuk membasmi para pengkhianat bangsa, tapi sayangnya... sayangnya...."
Tan Kin Lam tidak dapat meneruskan kata-katanya karena perasaannya sedih sekali, kembali air matanya mengucur dengan deras.
Dalam hati pasangan suami istri Kui Heng Su telah bertekad.
Mereka akan membunuh raja Tatcu dan Gouw Sam Kui, setelah itu mereka akan membunuh diri untuk menebus kesalahan mereka terhadap Gouw Liok Kie.
Tapi sekarang ini, mereka tidak ingin banyak bicara.
Kata-kata tanpa bukti toh tidak ada gunanya?
Mereka segera menjura kepada Tan Kin Lam.
"Tan Congtocu, kami mohon diri dulu,"
Kata mereka.
"Locianpwe berdua harap tunggu dulu, ada sesuatu yang ingin cayhe katakan!"
Seru Tan Kin Lam. Pasangan suami istri Kui Heng Su baru saja menuntun tangan anaknya dan berniat melangkah ke luar Mendengar panggilan Tan Kin Lam, mereka pun menahan langkah kakinya.
"Gouw Sam Kui telah mempersiapkan pasukannya di In Lam dan memulai pemberontakan tampaknya situasi sekarang ini sedang kacau balau, Boleh dibilang ini merupakan kesempatan bagi kita pecinta tanah air untuk memancing di air keruh guna membangun kembali kerajaan Beng. Dalam beberapa hari ini, orang-orang gagah yang sehaluan dengan kita akan berkumpul di kotaraja guna merundingkan urusan ini, Bagaimana kalau locianpwe berdua ikut dengan kita ke Pe King dan mengadakan pertemuan dengan mereka?"
Tanya Tan Kin Lam.
Hati Kui Heng Su merasa malu dengan perbuatan keluarganya, Dia tidak ingin bertemu dengan orang gagah mana pun.
Karena itu dia menggelengkan kepalanya dan bermaksud berjalan ke luar.
Siau Po mendengar ketiga orang itu akan membunuh si raja cilik, dalam hati dia berpikir Tiga manusia kura-kura ini mempunyai ilmu yang tinggi sekali.
sedangkan kaisar Kong Hi yang tidak tahu apa-apa pasti tidak bersiap siaga, kemungkinan bisa mati di tangan mereka.
Karenanya dia segera berseru.
"lni adalah urusan yang menyangkut negara, sedangkan kongcu kalian itu agak ceroboh kalau melakukan apa-apa. Kali ini, bila kalian melakukan kesalahan lagi, meskipun tiga batok kepala kalian dipenggal sekaligus untuk menebusnya, nama kalian tetap akan,., busuk sepanjang masa!"
Siau Po pernah mendengar orang mengatakan peribahasa yang berbunyi.
"Gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan kulitnya, manusia mati meninggalkan namanya" , Tapi untuk sesaat dia tidak bisa menyebutkan ungkapan itu, karenanya dia hanya mengatakan "nama kalian akan busuk sepanjang masa"
Meskipun demikian, suami istri Kui Heng Su mengerti maksudnya, walaupun ilmu silat mereka tinggi sekali, tapi pengetahuan mereka tidak begitu luas.
pergaulan mereka pun terbatas, kalau tidak, tak mungkin mereka bisa terkecoh oleh omongan Gouw Sam Kui dan tanpa menyelidiki benar tidaknya lagi, mereka langsung membunuh Gouw Liok Kie.
Mendengar ucapan Siau Po, hati mereka tercekat.
--Rencana membunuh kaisar memang merupakan urusan yang menyangkut kesejahteraan seluruh negara!
-pikir mereka dalam hati.
"Raja yang sekarang usianya masih kecil, dia belum mengerti apa-apa. Karena itulah, Gouw Sam Kui sampai bisa menimbulkan kekacauan dengan memberontak. Apabila kalian membunuhnya, tentu ada seorang Bangsa Tatcu yang besar menjadi penggantinya, orang ini tentu tidak bodoh. Kalau hal ini sampai terjadi, urusan negara kita ini bisa hancur di tangan kalian,"
Kata Siau Po pula. Perlahan-lahan Kui Heng Su menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan tubuhnya.
"Locianpwe berdua, bocah ini masih terlalu muda, ucapannya tidak mengenal sopan santun, harap kalian berdua jangan ambil hati,"
Kata Tan Kin Lam sambil menjura.
"Meskipun demikian, usulnya tadi boleh menjadi pertimbangan. Bagaimana kalau kita berunding terlebih dahulu dan sesudahnya baru mencari jalan untuk bertindak?"
Dalam hati Kui Heng Su berpikir, sekali salah masih tidak apa-apa, tapi jangan sampai terulang lagi. jangan karena perasaan bersalahnya, akhirnya malah kembali mencelakakan rakyat seluruh negaranya.
"Baiklah! Kami akan mendengar perintah Tan Cong tocu!"
Katanya.
"Kata-kata perintah, cayhe sama sekali tidak berani menerimanya, Besok siang kita bersama-sama berangkat ke kotaraja, pada malam harinya kita akan berkumpul di tempat kediaman bocah ini untuk merundingkan urusan besar, entah bagaimana pendapat kedua Iocianpwe?"
Kata Tan Kin Lam. Kui Heng Su menganggukkan kepalanya.
"Apakah tempat tinggalmu masih sama?"
Tanya Tan Kin Lam pada Siau Po.
"Tecu (murid) masih tinggal di gedung Tong Mao Cu di sebelah timur kota,"
Sahut Siau Po.
"Lo cianpwe berdua, besok malam kita berkumpul dengan bocah ini di gedung Cu Ciak hanya,"
Kata Tan Kin Lam pula.
"Suhu, kau jangan marah, sekarang sudah menjadi gedung Pak Ciak hu,"
Tukas Siau Po.
"Heh, sudah naik pangkat lagi,"
Kata Tan Kin Lam. Kui Ji Nio mendelik kepada Siau Po.
"Kau toh keponakan Gouw Sam Kui, tetapi tubuhmu di kerajaan Ceng dan hatimu di kerajaan Beng, apakah kau bermaksud membasmi saudaramu sendiri?"
Tanyanya ketus.
"Aku bukan keponakan Gouw Sam Kui, Gouw Sam Kui juga bukan cucuku!"
Sahut Siau Po seenaknya.
"Siau Po! Di hadapan orang tua, jangan kurang ajar! Ayo, cepat menyembah dan minta maaf!"
Bentak Tan Kin Lam.
Siau Po mengiakan Meskipun dia menjatuhkan dirinya berlutut, tapi melakukannya dengan keenggan-engganan.
Kui Heng Su mengibaskan tangannya dan tubuh Siau Po pun terangkat bangun.
Bersama-sama istri dan anaknya, dia melangkah ke luar, Meskipun dia sadar tempat di sekitar situ masih terpencil dan tidak ada sebuah penginapan atau pun rumah makan, tapi dia lebih memilih menyusahkan diri tinggal di tempat terbuka serta menahan lapar.
Tampaknya mereka benar-benar enggan bersama-sama dengan orang-orang Thian Te hwe.
Sejak kecil Kui Tiong tidak mempunyai teman bermain, melihat Siau Po yang pandai bicara, serta usianya yang masih kecil, dia merasa senang sekali, Karena itu dia menggapaikan tangannya.
"Bocah cilik, kau ikut dengan aku, temani aku bermain-main!"
Katanya.
"Kau membunuh temanku, aku tidak sudi bermain-main denganmu!"
Sahut Siau Po.
Tiba-tiba terasa angin berhembus, sesosok bayangan berkebat, Kui Tiong mencelat ke depan dan mencengkeram Siau Po.
Gerakannya benar-benar cepat Tan Kin Lam baru saja terluka, gerakannya tentu saja tidak leluasa, Apalagi jaraknya juga agak jauh.
sedangkan para anggota Thian Te hwe lainnya yang lebih dekat saja tidak ada satu pun yang sempat mencegah.
Kui Tiong tertawa terbahak-bahak.
"Kau temani aku bermain petak umpet. Kali ini kita harus main sampai puas!"
Katanya. Wajah Kui Heng Su tampak kelam "Anakku, lepaskan dia!"
Bentaknya, Kui Tiong tidak berani membantah ucapan ayahnya, Terpaksa dia melepaskan Siau Po. Bibir-nya langsung dower, hampir saja dia menangis tersedu, Kui Ji Nio cepat-cepat menghiburnya.
"Anakku, jangan bersedih, nanti ibu belikan dua orang budak untuk temanmu bermain,"
Katanya .
"Aku tidak suka budak belian, aku suka bocah itu, Mak, kita beli saja dia!"
Kui Heng Su melihat sikap anaknya hanya membuat malu saja, Cepat-cepat dia menarik tangan anaknya lalu diajaknya ke luar.
Para anggota Thian Te hwe saling berpandangan.
Mereka sama-sama merasa Gouw Liok Kie adalah seorang pendekar di jaman ini, sungguh mengenaskan harus mati di tangan seorang idiot, Benar-benar suatu hal yang membuat hati penasaran.
"Suhu!"
Panggil Siau Po.
"Aku akan mengundang Kakak nenek keluar agar bisa bertemu muka dengan kalian."
Bersama Song Ji, dia berjalan ke ruangan belakang, ternyata Ho Ie Siu sudah pergi, sedangkan Sam Nay Nay mengatakan bahwa sebagai kaum perempuan rasanya tidak leluasa bertemu dengan rombongan dari Thian Te hwe, karenanya dia hanya menyuruh beberapa pembantu keperluan mereka.
Keesokan harinya, Siau Po berpamitan dengan tuan rumah lalu berangkat ke kotaraja bersama-sama rombongan Tan Kin Lam.
"Siau Po, pasangan suami istri berniat membunuh raja Tatcu, tapi dia sudah berjanji untuk merundingkan caranya dengan kita sebelum turun tangan, sesampainya di kotaraja, kau tidak boleh menyampaikan urusan ini kepada si raja cilik, jangan sampai dia mengadakan persiapanmu"
Kata Tan Kin Lam. Sebetulnya memang pernah terselip niat itu dalam hati Siau Po, tapi Tan Kin Lam telah memperingatkannya, karena itu dia terpaksa menyahut.
"Tentu tidak, dia merupakan raja Bangsa Tatcu yang telah merebut negara kita, Aku menjadi pembesar dalam pemerintahan kerajaan Ceng juga atas perintah Suhu, mana mungkin aku mengungkapkan masalah ini kepadanya?"
"Baguslah kalau begitu, Apabila kata-katamu sekarang ini tidak tulus dan di kemudian hari kau melakukan perbuatan yang tidak terpuji, aku akan menjadi orang pertama yang tidak sudi mengampunimu!"
Kata Tan Kin Lam tegas.
"Suhu, harap kau jangan khawatir!"
Sahut Siau Po.
Tapi dalam hati dia berkata, -Aku justru yang rada khawatir -Diajaknya Song Ji, serta rombongan Ci Thian Coan untuk menemui Thio Yong dan Tio Liang Tong, mereka menggiring si permaisuri palsu ke kotaraja.
Begitu sampai di gedung tempat tinggalnya, Siau Po langsung teringat kepada kaisar Kong Hi.
-Si Raja cilik adalah temanku, bagaimana mungkin aku membiarkannya mati di tangan ketiga ekor kura-kura itu.
Ah!
Ada!
Aku akan pergi ke istana dan menyiapkan penjagaan yang ketat Aku toh telah berjanji kepada Suhu untuk tidak menyampaikan urusan ini kepada si Raja cilik.
Tapi dengan ketatnya penjagaan, aku bisa menggagalkan usaha para kura-kura itu tanpa harus membocorkan rahasia, -Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po bermaksud berjalan ke luar, tapi baru sampai di depan pintu, dia melihat Tan Kin Lam dan yang lain-Iainnya juga sudah sampai.
Dalam hati Siau Po mengeluh.
--Mengapa mereka begitu cepat sampai kemari?
-Terpaksa dia pura-pura membangkitkan semangatnya dan menyambut mereka dengan tersenyum ramah.
Tidak lama kemudian, para anggota Thian Te hwe yang lain juga mulai berdatangan.
Kemudian tampak Bhok Kiam Seng ikut hadir bersama-sama Liu Tay Hong, Yau Tay Say cu Gouw Lip Sin, Sin Jiu Ki Su Sou Kang, Orang-orang Bhok onghu sudah beberapa hari berada di kotaraja.
Begitu mendapat kabar, mereka segera berkumpul di tempat kediaman Siau Po.
Mereka menikmati hidangan yang disajikan oleh Siau Po.
Setelah selesai, mereka harus menunggu agak lama juga baru Kui Heng Su muncul dengan anak dan istrinya, Siau Po menyuruh orangnya menyiapkan meja hidangan kembali, tapi Kui Ji Nio segera berkata dengan nada tawar.
"Kami sudah makan."
Kui Tiong mengedarkan pandangannya ke sana ke mari, Dia melihat ruangan tempat tinggal Siau Po ini mewah sekali.
"Bocah cilik, dekorasi ruanganmu ini ternyata tidak kalah dengan tempat tinggal Peng Si Ong, Rupanya kau tidak berbohong ketika mengatakan bahwa Gouw Sam Kui adalah pamanmu,"
Katanya.
"Betul, Gouw Sam Kui memang,..."
Tiba-tiba dia menghentikan ucapannya, Tadinya dia hendak meniru ucapan Kui Tiong dengan mengatakan "Gouw Sam Kui adalah pamanmu...."
Tapi dia sadar, apabila dia meneruskan kata-katanya, gurunya, Tan Kin Lam pasti akan marah. Karena itu dia segera berganti haluan.
"Kalau kalian sudah makan, mari kita ke ruangan timur untuk minum teh saja!"
Setelah sampai di ruangan timur, mereka menikmati teh serta makanan kecil, Setelah selesai, Siau Po menyuruh para pelayannya mengundurkan diri, Tan Kin Lam juga memerintahkan beberapa anggota perkumpulannya untuk berjaga-jaga di sekitar tempat itu.
Kemudian dia baru menutup pintu rapat-rapat.
Tan Kin Lam segera memperkenalkan pasangan suami istri Kui Heng Su kepada orang-orang dari Bhok onghu, Meskipun si kakek dan si nenek sudah lama mengasingkan diri, tapi baik Liu Tay Hong maupun Gouw Lip Sin sekalian masih mengagumi mereka.
Kui Ji Nio merasa acara perkenalan sudah cukup, Dia segera membuka suara.
"Gouw Sam Kui telah mengerahkan pasukannya untuk menyerbu wilayah Ho Lam dan Si Cuan. Tentara-tentaranya terdiri dari orang-orang yang sudah terlatih, Kemungkinan mereka akan memperoleh hasil gemilang, Meskipun pada waktu dulu Gouw Sam Kui pernah mengkhianati kita dan berpihak pada musuh, tapi bagaimanapun dia tetap seorang Bangsa Han, bangsa kita. Jadi, menurut loya (suaminya) kami, lebih baik kita bunuh saja raja Tatcu dan membiarkan Gouw Sam Kui berhasil dengan pemberontakannya, Dalam keadaan yang kacau balau, kita malah bisa meraih banyak keuntungan."
"Memang sudah sepantasnya kalau raja Tatcu dibunuh, tapi dengan demikian, bukankah sama saja artinya bahwa kita telah memberikan bantuan kepada Gouw Sam Kui?"
Kata Bhok Kiam Seng menyatakan pendapatnya.
"Pada waktu dulu Gouw Sam Kui telah mencelakai Bhok ongya, Tidak heran apabila Bhok kongcu sekarang tidak sudi melepaskannya, Tapi ada perbedaan antara Bangsa Han dan Bangsa Boan. Pertama-tama kita bunuh dulu si Raja Tatcu, setelah itu, toh masih belum terlambat untuk membuat perhitungan dengan Gouw Sam Kui!"
Kata Kui Ji Nio.
"Apabila Gouw Sam Kui sampai berhasil dengan pemberontakannya,"
Ujar Liu Tay Hong ikut memberikan pendapat "Tentu dia akan mengangkat dirinya menjadi raja.
Pada saat itu, apabila kita ingin membunuhnya, tentu tidak mudah lagi.
Kalau menurut pendapat boanpwe (aku yang lebih muda), lebih baik kita biarkan saja Gouw Sam Kui ber-gontok-gontokkan dengan Raja Tatcu.
Paling baik kalau kedua belah pihak sama-sama hancur.
Kita toh tinggal memungut hasilnya, itulah alasannya mengapa boanpwe mengusulkan agar Raja Tatcu itu jangan dibunuh dulu."
Meskipun Liu Tay Hong juga sudah tua, tapi nama pasangan suami istri Kui Heng Su lebih dulu terkenal daripadanya, Karena itulah dia membahasakan dirinya sendiri boanpwe, sedangkan permusuhan antara Bhok onghu dan Gouw Sam Kui tidak terkatakan dalamnya, Biar bagaimana mereka mengharapkan pengkhianat itu yang dibunuh terlebih dahulu.
"Gouw Sam Kui semata-mata hanya memikirkan rakyat Han. Kalau kalian tidak percaya, di sini ada sepucuk surat pernyataan yang dibuat oleh Gouw Sam Kui ketika mula-mula dia mengumpulkan orang-orang yang sehaluan dengannya untuk melakukan pemberontakan."
Kata Kui Ji Nio pula.
Tan Kin Lam menyambut gulungan kertas yang disodorkan Kui Ji Nio kemudian dibacanya.
isinya antara Iain mengatakan bahwa Gouw Sam Kui merasa menyesal sekali dahulu berpihak pada Bangsa Boan.
sekarang dia baru sadar bahwa bangsanya sendiri banyak yang tertindas.
Karena itu dia ingin memperbaiki kesalahan dengan menjatuhkan kerajaan Ceng.
"Di kemudian hari dia baru menyadari bahwa merupakan salah besar pada waktu dulu memberikan bantuan kepada Bangsa Boan Ciu, tapi tentunya sudah terlambat Dia harus mengokohkan kedudukannya dulu baru bisa menyusun kekuatan,"
Kata Kui Ji Nio pula. Liu Tay Hong mendengus dingin.
"Pengkhianat ini memang licik sekali, Apa yang dikatakannya dalam surat pernyataan itu pasti bohong!"
Katanya.
"Tan Congtocu, harap kau membaca terus!"
Ujar Kui Ji Nio tanpa memperdulikan Liu Tay Hong.
"Baik!"
Sahut Tan Kin Lam.
Dia pun meneruskan bacaannya, Gouw Sam Kui juga menyatakan bahwa dia sama sekali tidak menduga bahwa merencanakan sesuatu itu ternyata memakan waktu yang lama, Hampir tiga puluh tahun dihabiskannya untuk menghimpun kekuatan serta merenungi penyesalannya.
Liu Tay Hong benar-benar tidak dapat menahan kekesalan hatinya lagi mendengar isi surat pernyataan itu.
Sambil menepuk meja keras-keras, dia berteriak.
"Kentut busuk! Kalau memang berhati anjing ini benar-benar menyesal dan lugiz membangun kembali kerajaan Beng, mengapa pada waktu dulu dia membunuh kaisar Eng Liok? Juga pangerannya? Urusan ini diketahui oleh semua orang di dunia ini, bagaimana dia menyangkalnya?"
Para hadirin lainnya melihat Liu Tay Hong begitu marah, mereka benar-benar kagum terhadap kesetiaan laki-laki tua ini.
Dua belas tahun yang lalu, Gouw Sam Kui membunuh kaisar Eng Liok beserta putranya di kota Kun Beng, dalam hal ini memang dia menggunakan cara yang kejam dan licik.
"Apa yang dikatakan Liu toako memang tidak salah, Niat Gouw Sam Kui pasti tidak baik, Aku rasa anak kecil berusia tiga tahun pun tidak percaya dengan kata-katanya. Tapi kami berniat membunuh raja Tatcu, hal ini demi membangun kembali kerajaan Beng, sama sekali bukan untuk membantu Gouw Sam Kui agar dapat menjadi raja,"
Kata Kui Ji Nio.
"Biarkan aku teruskan dulu membaca surat pernyataan ini,"
Kata Tan Kin Lam.
"Setelah selesai, kalian boleh merundingkannya kembali."
Dia pun membaca kembali isinya memang menggunakan bahasa yang terlalu dalam, Apabila tidak disertai penjelasan, hanya beberapa gelintir dari mereka yang bisa mengerti isinya.
"Siau Po, tulisan yang barusan kubacakan mengungkit dirimu,"
Kata Tan Kin Lam.
Siau Po sejak tadi mendengar penjelasan yang diberikan oleh gurunya mengenai isi surat pernyataan itu.
Dia merasa senang juga mendengar perdebatan mereka, Tiba-tiba gurunya mengatakan bahwa dalam surat pernyataan itu Gouw Sam Kui juga menyebutnyebut namanya, tentu saja dia menjadi terkejut dan girang.
"Suhu, apa yang dikatakannya? Hm! Telor busuk itu pasti menjelek-jelekkan aku!"
Kata Siau Po.
"Dia mengatakan bahwa situasi dalam pemerintahan sekarang sudah semakin berantakan Sistimnya tidak bisa dijadikan pegangan lagi. Ada orang yang tidak berpendidikan sama sekali, belum cukup umur, tapi hanya dengan pandai mengambil hati saja bisa menduduki jabatan yang tinggi. Coba kau pikir, kalau bukan kau yang dimaksudkan olehnya, siapa lagi?"
Kata Tan Kin Lam.
"Bagaimana dengan dia sendiri? Kedudukannya lebih tinggi dari aku, tentunya dia juga lebih tidak berpendidikan daripada aku,"
Sahut Siau Po. Para anggota Thian Te hwe tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Siau Po yang lucu.
"Memang betul! Kalau orang yang tidak berpendidikan saja bisa menduduki sebuah jabatan dalam kerajaan, pasti orang yang pangkatnya lebih tinggi lebih bodoh lagi! Padahal, jabatan Gouw Sam Kui dalam kerajaan Ceng sudah sulit dicari tandingannya,"
Kata Liu Tay Hong.
Tan Kin Lam meneruskan bacaannya, isinya yang terakhir mengatakan bahwa Gouw Sam Kui telah berhasil menemukan pangeran ketiga dari Cu Goan Ciang.
Apabila pemberontakannya berhasil, dia berjanji akan mengangkat pangeran ketiga atau Cu Sam taycu itu untuk menjadi kaisar baru.
Diantara orang-orang yang hadir di dalam ruangan itu, boleh dibilang Tan Kin Lam dan Bhok Kiam Senglah yang pernah mengenyam pendidikan tinggi.
Selain mereka berdua, yang lainnya hanya bisa membaca sedikit-sedikit saja, Karena itu meskipun dalam hati merasa kata-kata dalam surat pernyataan di bagian terakhir itu ada sedikit yang terasa janggal, tapi mereka tidak bisa mengatakan apanya yang janggal.
Bhok Kiam Seng merenung sekian Iama.
Kemudian dia baru berkata.
"Tan Congtocu, Gouw Sam Kui berjanji akan mengangkat Cu sam tay cu tersebut menjadi kaisar, mengapa dia tidak menunggu sampai usahanya berhasil dulu baru mengatakannya?
Lagipula, kami tidak pernah tahu ada pangeran yang dipanggil Cu sam taycu, jadi entah benar atau tidaknya, Kemungkinan dia sembarangan mencari seorang bocah yang tidak mengerti urusan apa-apa dan diakuinya sebagai Cu Sam taycu, Bisa jadi dia hanya ingin menarik simpatik orang-orang gagah di negara kita ini agar sudi membantunya,"
Katanya. Para hadirin segera menganggukkan kepalanya sebagai pertanda setuju dengan pendapatnya.
"Gouw Sam Kui menggunakan nama Cu sam taycu untuk menarik simpatik, aku rasa hal ini memang tidak dapat diragukan lagi,"
Kata Kui Ji Nio.
"Kaisar Cu Goan Ciang memang mempunyai seorang putra kecil hal ini diketahui kita semua, Tapi menurut berita yang tersebar, pangeran itu terbunuh ketika masih kecil. Sekarang, kaisar Cu Goan Ciang sudah meninggal tiga puluhan tahun, Kalau puteranya ternyata masih hidup, usianya pasti sudah diatas tiga puluh tahun, tidak mungkin seorang bocah yang tidak mengerti urusan apa-apa."
"Anak berusia tiga puluh tahun ke atas yang tidak mengerti apa-apa, toh bukannya tidak ada,"
Tukas Siau Po sambil melirik kepada Kui Tiong.
Mendengar kata-kata Siau Po, para hadirin langsung memperdengarkan tertawa geli.
Kui Ji Nio marah sekali ketika ingin mengumbarkan kedongkolan dalam hatinya, tibatiba dia berpikir Apa yang dikatakan Wi Siau Po memang tidak salah, Buah hatinya sendiri sudah hidup di dunia ini hampir empat puluh tahun lamanya, tapi tingkahnya masih seperti seorang bocah kecil yang tidak mengerti apa-apa.
Nenek tua itu menarik nafas panjang.
Cukup lama mereka berunding, Usul yang dikemukakan pun berbeda-beda, Ada yang mengusulkan agar mereka meminjam tangan raja Tatcu untuk membunuh Gouw Sam Kui, kemudian baru mencari jalan menjatuhkan raja tersebut.
Tapi ada pula yang mengatakan bahwa sebaiknya mereka jangan membunuh Gouw Sam Kui terlebih dahulu, Mereka harus membantunya menjatuhkan kerajaan Ceng.
Setelah kerajaan Beng dibangun kembali, mereka baru menentukan hukuman bagi penghianat bangsa itu, pokoknya setiap orang mempunyai pandangan yang berlainan.
Karena itu, sampai sekian lama masih belum ada keputusan yang tetap, Akhirnya pandangan mata mereka beralih kepada Tan Kin Lam.
Mereka tahu Iaki-laki ini berpandangan jauh dan berpendidikan tinggi Maka mereka mengharapkan Tan Kin Lam dapat memberikan kepastiannya.
"Kita harus mengutamakan kepentingan umum. Kalau sekarang kita membunuh Kaisar Tatcu, memang merupakan suatu keuntungan bagi Gouw Sam Kui. Akan tetapi di samping itu, The ongya dari Taiwan bisa menggerakkan orang-orangnya dalam waktu yang bersamaan. Dengan demikian kemungkinan Bangsa Boan bisa terusir dari negara kita yang tercinta ini. Pada waktu itu, apabila Gouw Sam Kui berniat mengangkat dirinya menjadi raja, dengan pasukan The ongya dari Taiwan ditambah bantuan dari pihak Bhok onghu, keinginannya itu pasti bisa dicegah dan kita bisa menguasainya, jangan lupa bahwa masih ada saudara-saudara kita dari perkumpulan Thian Te hwe,"
Kata Tan Kin Lam memberikan pandangannya.
"Ucapan Tan Congtocu ini, apakah tidak hanya memikirkan keuntungan pihak The ongya dari taiwan saja?"
Tanya Sou Kang dengan nada dingin.
"The ongya sudah terkenal kesetiaannya terhadap negara, Apakah Sou heng masih tidak mempercayai beliau?"
Sahut Tan Kin Lam.
"Kegagahan dan kebesaran jiwa Tan Congtocu, siapa pun sudah yakin, tapi pengkhianat dan mata-mata musuh juga tidak kurang jumlahnya di samping The Ongya,"
Kata Sou Kang.
"Kata-katanya tidak salah juga,"
Tukas Siau Po yang tidak dapat menahan mulutnya.
"Seperti pendekar yang berjuluk It Kiam Bu Hiat dan putranya sendiri, The Kek Song, kedua-duanya bukan orang baik-baik."
Tan Kin Lam jadi terpaku sejenak mendengar ucapan Siau Po yang tidak berpihak padanya.
Tapi setelah direnungkan sesaat, dia merasa kata-kata bocah itu ada benarnya juga, Akhirnya dia menarik nafas panjang.
"Mengusir Bangsa Tatcu adalah urusan yang paling penting,"
Kata Kui Ji Nio.
"Mengenai siapa yang akan menjadi raja kelak, kita tidak usah memperduIikannya, Menghancurkan kerajaan Ceng harus dilakukan, sedangkan dapat atau tidaknya membangun kembali kerajaan Beng, dapat kita rundingkan perlahan-lahan, Mantan kaisar Kerajaan Beng dulu juga bukan manusia baik-baik."
Baik Tan Kin Lam, orang-orang Bhok onghu maupun para saudara dari Thian Te hwe adalah orang-orang yang setia terhadap kerajaan Beng, Mendengar ucapan Kui Ji Nio, wajah mereka langsung berubah.
"Kalau bukan mengangkat keturunan mantan kaisar Cu Goan Ciang, apakah kita harus mengangkat Gouw Sam Kui, si pengkhianat bangsa itu menjadi raja?"
Tanya Bhok Kiam Seng dengan nada kurang senang.
Tiba-tiba Kui Tiong berteriak "Wah, Gouw Sam Kui orangnya baik sekali.
Dia menghadiahkan aku selembar kulit harimau putih sebagai mantel, apakah kalian sudah pernah melihatnya?"
Selesai berkata dia lalu mengeluarkan kulit harimau putihnya dan direntangkannya Iebar-lebar agar dapat dilihat oleh setiap orang, wajahnya tampak berseri-seri.
"Anak kecil jangan mengacau di hadapan orang banyak!"
Bentak ibunya.
"Di mata Kui Siauya, selembar kulit harimau putih itu bahkan terlebih berharga daripada penderitaan bangsa Han kita,"
Sindir Sou Kang. Kui Ji Nio marah sekali.
"Anakku, bawa mantel itu ke mari!"
Bentaknya.
"Kenapa?"
Tanya Kui Tiong bingung, Kui Heng Su mengulurkan tangannya, Dicabutnya pedang yang terselip di pinggang Kui Tiong, Tampak sinar pedang berkelebat, pedang panjang itu menggores di bagian dada, punggung dan kiri kanan tubuh Kui Tiong dengan kecepatan kilat.
orang-orang yang hadir dalam ruangan itu terkejut setengah mati, serentak mereka melompat bangun dari tempat duduk masing-masing.
Mereka mengira kakek tua itu akan membunuh anaknya, Tetapi setelah dilihat dengan seksama, ternyata sehelai kulit harimau yang membalut tubuh Kui Tiong sudah tertebas menjadi potongan-potongan kecil yang bertebaran ke mana-mana, sekarang Kui Tiong hanya mengenakan sehelai pakaian biasa dan celana panjang dari bahan katun.
Baca Juga: Kelelawar Tanpa Sayap 5
Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis 6