Eps 18 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
"Mohon tanya, siapakah yang membunuh See To locianpwee?"
Tanya Cian Lao Pan.
"Dialah kaki tangan Gouw Sam Kui yang bernama Palang Sing, juga beberapa anjing-anjingnya yang lain."
Sahut See To Peng dengan nada gusar. Cian Lau Pan menganggukkan kepalanya.
"See To sauhiap tidak percaya dengan maksud baik kami, hal ini juga tidak dapat disalahkan. Kami serahkan dahulu jenazah almarhum."
Dia memalingkan kepalanya sambil berteriak.
"Bawa ke atas!"
Katanya.
Beberapa orang anggota Thian Te hwee segera meletakkan peti mati berisi mayat See To Pak Lui, sedangkan beberapa lainnya perlahan-Iahan meng-giring seseorang untuk ke atas.
Tangan dan kaki serta kepala orang ini dibelenggu dengan rantai, dan mukanya ditutup dengan sehelai kain hitam, Para murid Ong Ok Pay merasa heran, mereka tidak tahu permainan apa yang sedang dilakukan oleh pihak lawan.
Begitu orang itu sampai di belakang Cian Lou Pan, seorang tentara langsung menarik rantai belenggunya agar tidak berjalan lebih jauh.
"See To Siauhiat,"
Kata Cian Lao Pan.
"Silakan kau melihatnya!"
Dia mengulurkan tangannya untuk menarik kain hitam penutup kepala, Tampak orang itu sedang memelototkan matanya dengan gusar.
Dia adalah Palang Sing.
Begitu melihat orang itu, para murid Ong Ok Pay menjadi murka, Mereka berteriak dengan gusar "Dialah penjahat itu, cepat bunuh saja!"
Terdengar suara yang bising, setiap orang mengeluarkan senjata masing-masing dengan maksud ingin membacok habis tubuh Palang Sing. See To Peng mengangkat kedua tangannya mencegah. Tunggu dulu!"
Dia menjura pada Cian Lau Pan sambil bertanya.
"Kalian telah membawa penjahat ini, entah bagaimana kalian ingin menanganinya?"
"Hamba sekalian sangat menghormati See To Lo Eng hiong, apa lagi tempo hari kami berjodoh bertemu satu kali dengan See To sauhiap, Hari ini kami berhasil meringkus penjahat ini bersama antek-anteknya, maksud kami agar dipotong tubuhnya di hadapan mayat See To Eng Hiong, Kami berharap dengan demikian arwah Lo Eng Hiong akan tenang di alam baka."
See To Peng tertegun, diam-diam dia berpikir, mana mungkin ada urusan yang sebaik ini dalam dunia?
Dia memalingkan kepalanya menatap Palang Sing, hatinya setengah percaya setengah curiga, dia berpikir bahwa Bangsa Tat Cu sangat licik tentu dibalik semua ini ada rencana tertentu.
Tiba-tiba Palang Sing membuka mulut memaki.
"Neneknya! Kau boleh menganggap Lohu seekor kura-kura, setidaknya bapakmu yang tua itu sudah mati di tanganku..."
Tangan kanan Cian Lau Pan mencengkram punggung Palang Sing dan kaki kirinya diangkat ke atas untuk menyepak pinggulnya, Tangan dan kaki Palang Sing dibelenggu dengan rantai, sulit baginya untuk menghindar.
Tubuhnya terjerembab ke depan, jatuh di samping See To Peng, dan dia tidak sanggup berdiri lagi.
"lni merupakan hadiah kecil dari hamba sekalian, harap saudara yang memutuskan bagaimana cara menangani penjahat ini."
Dia memalingkan kepalanya dan berteriak "Bawa semuanya ke atas!"
Para tentara menggiring serombongan penjahat yang tertawan, kepala mereka semua ditutup dengan kain hitam, Begitu kain hitam dilepas, terlihatlah wajah mereka.
Ternyata mereka semua anak buah Palang Sing.
"Harap See To sauhiap membawanya sekalian!"
Kata Cian Lau Pan. Sampai detik ini, baru lenyaplah kecurigaan dihati See To Peng, ia menjura dalamdalam kepada Siau Po sambil berkata.
"Budi Tuan yang besar ini, kami dari partai Ong Ok Pai tidak akan melupakannya untuk seumur hidup."
Meskipun demikian, dalam hati dia masih berpikir.
--Dia melepaskan budi yang demikian besar terhadap kami, entah apa yang diinginkan nya?
Kalau dia berniat meminta kami menyerah kepada Bangsa Tat Cu, hal ini sekali-sekali tidak boleh terjadi -Siau Po segera maju ke depan dan membalas penghormatannya.
"Hari itu siautee mendapat kesempatan untuk bermain dadu dengn See To Heng dan Nona Cin Ju, hal itu selalu terkenang dihati Entah kapan kita bisa mendapatkan kesempatan yang sama lagi."
Dia menunjuk ke arah peti mati dan melanjutkan kata-katanya.
"Di dalam peti terdapat jenazah See To Lo Eng Hiong! Harap saudara membawanya ke atas gunung dan menguburkannya dengan baik!"
See To Peng segera membalikkan tubuhnya dan memerintahkan beberapa orangnya untuk membawa Palang Sing turun gunung.
Para murid Ong Ok Pai semuanya merasa berduka.
Dalam hati See To Peng masih khawatir ada perangkap lainnya, Per-lahan-tahan dia berjalan ke arah peti mati, Ternyata penutup peti itu belum dipantek, Dengan hati-hati dia membukanya, dan tampaklah batok kepala ayahnya bersemayam di dalamnya.
Hatinya sedih sekali, Dia segera menjatuhkan diri berlutut dan menangis meraungraung, Para murid Ong Ok Pai yang melihat sikapnya segera turut berlutut dan menangis dengan pilu.
Akhirnya See To Peng berdiri, dia memanggil empat orang anggotanya untuk menggotong peti mati ke atas gunung, Terhadap Siau Po, dia berkata.
"Harap Tuan sudi menyalakan sebatang hio untuk almarhum ayahku!"
"Lebih baik langsung menyembah di depan layonnya saja!"
Kata Siau Po.
Dia menyuruh para tentara menunggu di tempat itu.
Dengan membawa Song Ji, dia mengikuti See To Peng naik ke atas gunung.
Siau Po berjalan lewat samping Cin Ju.
Dengan suara rendah dia berkata.
"Nona Cin Ju, apa kabar?"
Wajah Cin Ju masih penuh dengan air mata, dia sedang menangis dengan sedih. Matanya merah dan bengkak, Sambil mengusap air matanya dia menoleh kepada Siau Po dan berkata.
"Kau adalah Hua Cai Ciangkun?"
Siau Po senang sekali.
"Kau masih mengingat aku?"
Tanyanya, Wajah si nona menjadi merah padam, dengan suara lirih dia mengiakan.
Melihat wajah si nona yang merah, hati Siau Po jadi bergairah.
Dia berpikir.
--Mengapa setiap kali bertemu dengan aku, wajahnya jadi merah?
Kalau pria tertawa cengar-cengir, pasti bukan orang baik-baik.
sedangkan kalau perempuan, wajahnya merah, pasti sedang memikirkan kekasih hati, Mungkinkah dia ingin aku menjadi suaminya?
Entah siput yang aku berikan kepadanya masih ada atau tidak?
Dia segera bertanya kembali dengan suara lirih.
"Nona Cin Ju, barang yang aku berikan tempo hari, apakah kau masih menyimpannya?"
Kembali wajah Cin Ju jadi merah, dia memalingkan wajahnya, tapi mulutnya bertanya.
"Barang apa? Aku tidak mengingatnya lagi."
Katanya. Hati Siau Po merasa kecewa, Dia menarik nafas panjang, Pada saat itulah Cin Ju memalingkan kepalanya kembali dan tersenyum. "Dasar buaya!"
Katanya.
"Kalau aku buaya, biarlah kau jadi empangnya."
Kata Siau Po dengan nada yang tidak kepalang gembiranya.
Cin Ju tidak melayaninya lagi, dia mempercepat langkah kakinya dan berjalan ke depan, Dia mengiringi samping See To Peng.
Keempat penjuru Ong Ok San bagai sebuah perkemahan, kalau dilihat dari kejauhan bagaikan sebuah kereta besar yang tertutup.
Para anggota Ong Ok Pai tinggal di guagua yang tersebar di sekitar tempat itu.
Kalau musim dingin, mereka akan mendapat kehangatan sedangkan musim panas, mereka tidak kegerahan.
Peti mati See To Pek Lui dimasukkan ke dalam goa Ong Bu tong, kepala dan tubuhnya disatukan.
Siau Po mengajak anak murid Thian Te hwee maju ke depan peti mati, mereka menyalakan hio serta berlutut memberi penghormatan Dalam hatinya, dia berkata.
--Demi mengambil hati Nona Cin, sebaiknya aku berlagak sesedih mungkin -Pura-pura menangis memang keahlian utama Siau Po.
Dia mengingat kembali dirinya yang kerap kali dihina oleh si nenek sihir (ibu suri palsu), pengalamannya yang penuh bahaya di hadapan Hong kaucu, ditipu oleh Hong Cit, cinta A Ko yang hanya dipersembahkan kepada The Kek Song, timbullah rasa pilu dalam hatinya, dia pun menangis meraung-ragung.
Mula-muIanya memang terasa agak dipaksakan, tapi sedetik kemudian, dia menjadi Iancar, Semakin menangis, tampangnya semakin mengenaskan Dia malah berkata dengan suara nyaring.
"See To Lo Eng Hiong, sudah lama boanpwee mendengar nama besarmu, dalam hati berharap dapat menjadi murid mu, biarpun hanya beberapa jurus yang dapat dipelajari pokoknya bisa menirukan sedikit semangat hidupmu! Tidak tahunya kau orang tua telah dicelakai oleh orang jahat Hu... hu... hu.,, hu. Bagaimana hati ini tidak menjadi sedih karenanya?"
See To Peng, Cin Ju dan para murid Ong Ok San lainnya memang sedang bersedih, mendengar suara tangis dan kata-katanya, tangisan mereka semakin keras, Suasana dalam goa itu diliputi ratap tangis yang tidak henti-hentinya.
Ci Thian Coan dan yang lainnya tadinya tidak ingin menangis, tapi menghadapi suasana yang demikian pilu, tanpa terasa mereka pun meneteskan air matanya.
Siau Po memukul dadanya dan membantingkan kakinya di atas tanah keras-keras, Suara tangisnya semakin lama semakin nyaring.
Setelah dibujuk berulang kali oleh para murid Ong Ok Pai, dia baru menghentikan tangisnya.
Dia memerintahkan orang-orangnya untuk menggiring Palang Sing, kemudian dia mengambil sebatang golok dan diserahkannya kepada See To Peng.
"See To sauhiap, harap kau bunuh penjahat ini untuk membalaskan dendam bagi ayahmu!"
Katanya.
See To Peng menggerakkan golok itu untuk menebas batok kepala Palang Sing dan diletakkannya di atas meja sembahyang, Para murid Ong Ok Pai segera menjura dalam-dalam dan menghaturkan terima kasih atas budi Siau Po yang besar.
Sebetulnya usia Siau Po masih terlalu muda, dia juga belum mengerti bagaimana mengambil hati orang dengan melepas budi, Dia hanya menirunya dari salah satu lakon sandiwara tentang Cu Kek Liang yang pernah ditontonnya, Untung saja syair-syair dalam sandiwara itu terlalu panjang, Siau Po tidak mengingatnya sedikit pun.
Kalau tidak, apabila dia membacakannya di hadapan para murid Ong Ok Pai, rahasianya pasti akan terbongkar.
Dengan perbuatannya ini, tentu saja tidak kepalang rasa terima kasih dalam hati para murid Ong Ok Pai.
Apalagi ketika bertaruh bermain dadu dengan See To Peng hari itu, Siau Po telah memperlihatkan keroyalannya dengan menyebarkan uang, ketika itu dia juga telah menanam budi pada mereka.
Tapi, mengapa seorang pembesar kerajaan Ceng dapat berbuat demikian, tidak ada seorang pun yang mengerti Cian Lao Pan mengajak See To Peng ke sudut dan menjelaskan bahwa mereka merupakan tugas dengan menyelinap sebagai pembesar kerajaan Ceng.
Rahasianya tidak boleh dibongkar kalau tidak, usaha mereka yang besar bisa berantakan.
Karenanya, dia hanya mengoceh sembarangan tentang Siau Po, dengan mengatakan bahwa orang yang satu ini berjiwa besar, senang bergaul dengan siapa saja, itulah sebabnya para saudara dari Thian Te hwee menganggapnya kawan baik.
Begitu mendapat penjelasan itu, rasa penasaran dalam hati See To Peng lenyap seketika, berulang kali dia menganggukkan kepalanya sambil menghaturkan terima kasih, sekarang hatinya sudah lega dan jauh berbeda dengan perasaannya sebelumnya.
Selanjutnya mereka membicarakan bagaimana menangani partai Ong Ok Pai.
See To Peng mengatakan bahwa secara mendadak partai mereka mendapat musibah seperti ini, apalagi mereka juga dikepung oleh tentara kerajaan Ceng.
Hal ini belum pernah diduga sebelumnya, sehingga dia sendiri juga bingung mengambil tindakan yang tepat.
Cian Lau Pan mengusulkan agar See To Peng dan anak buahnya masuk menjadi anggota Tian Te hwe saja.
Nama Thian Te hwee sangat terkenal, apalagi bagi para pecinta negara, mereka sangat menghormatinya.
Mendengar usul itu, tentu saja hati See To Peng senang sekali.
Dia segera mengajak anak buahnya berunding, mereka semua menyatakan persetujuannya dan memohon Cian lao Pan bersedia menjadi pengantar atau koneksi mereka untuk masuk menjadi anggota partai itu.
Sampai saat itu, Cian Lao Pan baru memberitahukan secara terus terang kepada See To Peng bahwa Siau Po sebenarnya ialah seorang hiocu dari bagian Ceng Bok tong di Thian Te hwee.
Sore hari itu juga, di dalam goa Ong Bu tong dibuka rapat dengan menerima anak murid Ong Ok pai menjadi anggota Thian Te hwe Mereka semua memberi hormat kepada Siau Po yang selanjutnya menjadi pimpinan mereka.
Hati Siau Po sedang senang sekali, Setelah meneguk arak penghormatan yang diberikan oleh para anggotanya, dia langsung mengusulkan untuk bermain judi.
Dia ingin bermain sepuas-puasnya dengan saudara-saudaranya yang baru.
Cian Lao Pan dan yang lainnya segera mencegah Mereka mengatakan bahwa perjudian yang terlalu bising itu menimbulkan suasana yang kurang menghormati almarhum See To Pek Lui.
Wi Siau Po merasa perjudian tanpa taruhan uang tidak menggembirakan karena itu dia membatalkannya, Dia menanyakan apa yang akan dilakukan para murid Ong Ok Pai setelah upacara pemakaman selesai.
"Para murid Ong Ok Pai banyak bergaul luas di daerah Soa say dan Ho lam,"
Kata Lie Liat Sek.
"Kalau menurut aturan perkumpulan Thian Te hwee kita, memang tidak menjadi masalah menerima anggota dari daerah mana saja, tapi kita tidak boleh menangani urusan yang di luar wilayah bagian kita, misalnya Ceng Bok Tong hanya boleh menangani urusan di daerahnya sendiri. Jadi, kalau menurut pendapatku, sebaiknya para murid Ong Ok Pai pindah ke daerah bagian kita saja."
"Betul,"
Kata Cian Lao Pan.
"Raja Tat cu memerintahkan Wi hiocu untuk menghancurkan Ong Ok Pai, apabila para murid Ong Ok Pai tidak ada di sini lagi, tentu mudah bagi Wi hiocu untuk memberikan alasan sebagai laporannya."
"Tepat."
Sahut See To Peng.
"Siautee tinggal menunggu perintah saudara sekalian saja."
"See To toako,"
Kata Siau Po.
"Sekarang kita akan menuju Yang-ciu untuk membangunkan kuil Tiong Liat su bagi Su Kek Po. Setelah itu, kita bersama-sama menghantam Gouw Sam Kui."
See To Peng langsung bangkit dan berkata dengan suara lantang.
"Wi hiocu ingin menyerang Gouw Sam Kui, hamba See To Peng bersedia menjadi pembuka jalan, Hamba akan memimpin para saudara semuanya untuk mengadu jiwa dengan Gouw Sam Kui dan membalaskan dendam bagi ayahku."
Wi Siau Po merasa senang sekali mendengar janjinya.
"Tidak ada yang lebih bagus lagi dari pada hal itu,"
Katanya.
"Sekarang kalian ikutlah aku ke Yang-ciu. Kita hanya perlu menyamar sebagai para perwira Bangsa Tat cu dan menerima penghinaan untuk sementara."
"Demi membasmi Gouw Sam Kui, penghinaan yang bagaimana besarnya pun akan kami telan,"
Kata See To Peng.
"Wi hiocu bisa memaksakan diri menjadi pembesar Bangsa Tat cu, tentu kami pun bisa menjadi perwira Bangsa Tat cu. Lagipula, Lie Toako, Ci toako dan saudara yang lainnya bukankah semua telah menyediakan diri menyamar sebagai perwira Bangsa Tat cu?"
Malam itu juga mereka beramai-ramai memakamkan jenazah See To Pak Lui, setelah itu mereka berbenah untuk turun gunung, Para lak-laki yang pandai berilmu silat mengikuti Siau Po menuju Yang-ciu terlebih dahulu.
Para wanita yang lemah dibawa ke tempat yang aman dan dekat dengan markas Tian Te Hwee bagian Ceng Bok Tong di sana ada orang yang merawat mereka.
Siau Po mengatakan pada Thio Yong dan yang lainnya.
"Para penjahat dari Ong Ok San melihat bahwa mereka telah dikepung oleh para tentara dalam jumlah yang sangat besar, dan mereka menyadari kalau mereka telah sulit untuk meloloskan diri, Setelah mengadakan perlawanan sedikit akhirnya mereka menyerah Dia mengambil keputusan yang sangat besar, sebagian dari para penjahat itu diterima sebagai tentara kerajaan."
Thio Yong dan yang lain-lainnya mengucapkan selamat pada Siau Po.
Mereka sangat kagum pada Siau Po yang dapat menyelesaikan suatu masalah tanpa harus melalui peperangan, bahkan para penjahat Ong Ok San mau menyerahkan dirinya, maka dengan demikian Siau Po telah mendirikan jasa yang sangat besar.
"Hal ini karena jasa para panglima yang sangat besar, Karena kalian mengepungnya dengan ketat sehingga mereka tak dapat dengan mudah meloloskan diri meskipun mereka memiliki sayap tentulah mereka dengan mudah dapat menyerah. Dan kalau nanti sekembalinya ke kota raja aku melaporkan hal ini pada Sri Baginda raja tentulah kalian akan mendapatkan hadiah dari raja yang sangat besar."
Kata Siau Po pada mereka, Bagian 70 Keempat panglimanya sangat gembira mendengar kata-kata Siau Po tadi, Mereka tahu kalau Siau Po adalah orang kesayangan Sri Baginda, dan juga tahu apa saja yang dikatakan Siau Po pastilah akan diterima oleh Sri Baginda, maka mereka yakin akan mendapatkan hadiah yang sangat besar dari bagindanya.
Pada mulanya Siau Po khawatir kalau-kalau Cin Ju akan ikut dengan para wanita mengungsi ke tempat yang aman, dia ingin gadis itu menyertainya ke Yang-ciu, tetapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya sebagai alasan.
Setelah ia melihat gadis itu mengganti pakaiannya dengan pakaian laki-laki dan berjalan bersama See To Peng, hatinya gembira tidak kepalang.
Dalam perjalanan Siau Po selalu mencari kesempatan untuk dapat bermesraan dengan Cin Ju.
Akan tetapi wanita itu selalu berjalan berdekatan dengan para saudarasaudaranya, Setiap kali Siau Po melihat kepada Cin Ju, wanita itu hanya tersenyum tanpa berkata sepatah kata pun.
Siau Po ingin sekali berkata sepatah dua patah kata dengan gadis itu, tetapi dari awal perjalanan hingga akhir Siau Po tidak ada kesempatan untuk itu.
Hal itu menjadikan hatinya resah, seandainya hanya sebagai seorang pembesar kerajaan Ceng tentulah Siau Po sudah berterus terang berkata secara terbuka pada Cin Ju.
Tetapi karena kedudukannya sebagai seorang Hio Cu dari Thian Te hwee, maka ia merasa tidak enak jika terlihat oleh saudara-saudaranya yang lain.
Oleh karena itu ia menahan keinginan hatinya dan menunggu kesempatan yang lebih baik.
Sepanjang perjalanan banyak yang menyambut mereka dan kesemuanya itu adalah para pembesar setempat.
Mereka pun banyak yang memberikan hadiah pada Siau Po dan tentu saja Siau Po tidak menolaknya.
Ketika menuju ke selatan, bawaan mereka semakin berat saja, Siau Po mengatakan pada saudara-saudaranya dari Thian Te hwee bahwa ada baiknya ia menerima hadiahhadiah itu, toh kesemuanya itu adalah hasil memeras dan rakyat yang dilakukan oleh para pembesar-pembesar itu, dan kemungkinan kelak ada faedahnya khususnya untuk pergerakan mereka.
Ci Thian Coan dan yang lainnya hanya mengangguk setuju.
Belum satu hari mereka tiba di Yang-ciu, dua pembesar setempat yaitu Ma Kit Kiu dan juga Kian Leng serta para pembesar yang lainnya segera menemui Siau Po.
Mereka mengadakan acara penyambutan pada Siau Po dan rombongan jarak mereka hanya beberapa Li dari perbatasan kota.
Pada mulanya Siau Po ditempatkan di salah satu rumah pembesar kota itu, tetapi karena penjagaan di sana terlalu ketat, maka anak muda itu tidak merasa kerasan tinggal di tempat itu, Siau Po mengatakan pada pembesar itu bahwa ia akan pindah ke tempat yang lain.
Tujuannya pindah tempat tinggal ialah Siau Po ingin dekat dengan bekas tempat tinggalnya yang dahulu yakni rumah pelesiran Li Cun Wan, Siau Po ingin membanggakan kedudukannya yang sekarang ini dan sebenarnya Siau Po berniat akan berhenti pada usia yang masih sangat muda itu.
Siau Po berniat akan membangun tempat pelesiran yang lebih indah dan juga sangat mewah di Li Cun Wan dari kekayaannya sekarang, dan hal itu pastilah ia akan merasakan hidup senang sampai akhir tua nanti.
Ada satu lagi niatnya dalam hati yakni akan memetik semua bunga-bunga obat yang ada di depan kuil Tan Ci Si, karena bunga-bunga obat kota Yang-ciu memang sangat terkenal.
Di kuil itu tumbuh dengan subur bunga-bunga obat yang jumlahnya sangatlah banyak sekali, bahkan besar-besar dan jenisnya berlain-lainan.
Siau Po ingat sewaktu ia berusia sepuluh tahun ia pernah bermain-main di depan kuil itu dengan serombongan kawan-kawannya.
Melihat bunga-bunga yang cantik itu Siau Po memetik dua kuntum untuk dimainkannya, namun perbuatannya itu telah diketahui oleh salah satu Hwesio dari kuil tersebut.
Dua kuntum bunga yang telah dipetiknya itu diambil kembali dan bahkan Siau Po terkena dua kali tamparan oleh orang itu.
Siau Po meronta-ronta menendang, memukul bahkan sampai menggigit Hwesio itu.
Akan tetapi karena tubuhnya tubuh Siau Po masih kecil dan usianya pun masih sangat muda maka ia dengan mudah dapat didorong oleh Hwesio itu sehingga jatuh terjerembab di atas tanah dan ditambah dengan tendangan beberapa kali dari orang itu.
Melihat hal itu rombongan kawan-kawan Siau Po menjadi sangat kalap, Mereka ikut menyerbu Hwe Ciu itu, dan beberapa orang di antaranya ada yang mengambil bungabunga obat itu.
Hwesio yang melihat anak-anak itu mengambil bunga-bunga obat itu ia menjadi bingung, maka lalu berteriak-teriak histeris.
Mendengar teriakan Hwesio itu kawan-kawannya yang berada di dalam kuil itu berlari ke luar dan membawa kayu di tangannya, Mereka sampai di tempat itu para Hwesio itu langsung menyerang kawan-kawan Siau Po, sehingga anak-anak itu kena terhajar beberapa kali.
Yang paling celaka yaitu Siau Po, karena sesudah terkena tendangan ia juga terkena beberapa kali pukulan di kepalanya sehingga kepalanya menjadi benjoI sebesar telur ayam.
Ketika kembali ke tempat pelesiran Li Cun Wan Siau Po dipukul beberapa kali oleh ibunya, dan dihukum tidak boleh makan malam, Meskipun pada akhirnya Siau Po berhasil mencuri makanan dari dalam dapur, tetapi peristiwa memetik bunga di kuil Tan Ci Si membuatnya menjadi dendam dalam hati.
Pada hari kedua Siau Po datang ke kuil itu dari jauh ia sudah memaki-maki dalam hati.
"Dari Ji Lay Hud ibu para Hwesio sampai ke cucu Adam aku bersumpah, pada suatu hari Lohu akan memetik habis bunga-bunga di kuil ini. Lohu juga akan meratakan kuil ini dengan tanah dan mcmbakarnya sampai habis. Pada saat itu kalian baru tahu siapa sebenarnya aku."
Siau Po terus saja memaki sampai serombongan Hwesio mengejarnya ke luar, Melihat banyaknya Hwesio yang ke luar, Siau Po langsung mengambil langkah seribu.
Peristiwa itu telah lama berlalu dan Siau Po pun telah melupakannya, Akan tetapi kali Siau Po kembali lagi ke Yang-ciu, melihat suasana dan keadaan sekitarnya ia jadi teringat kembali peristiwa itu.
Siau Po langsung mengatakan pada salah seorang perwira di Yang-ciu, bahwa ia mempunyai niat untuk mengunjungi kuil tersebut, dan kalau perlu akan tinggal di sana.
Perwira tersebut lalu berpikir dalam hati.
--Tan Cie Sie adalah tempat, para umat Budha dan dilarang untuk orang umum dan itu sudah berlaku sejak ribuan tahun yang lalu, dan tak pernah ada salah seorang pembesar yang ada tinggal di dalamnya, takutnya hal ini dapat menimbulkan keonaran Setelah berpikir demikian perwira itu lalu berkata.
"Jawab Tayjin, kuil Tan Cie Sie memang memiliki pemandangan yang indah sekali, Pie Cit sungguh sangat kagum terhadap pandangan Tayjin yang sangat tinggi. Akan tetapi dalam kuil Tan Cie Sie ada larangan meminum-minuman arak dan juga sembarangan bertindak, takutnya hal ini dapat membuat Tayjin menjadi tidak leluasa."
"Mengapa pusing-pusing?"
Kata Siau Po.
"Bukankah kita dapat memindahkan semua patung-patung pemujaan yang ada di dalam kuil itu? Maka dengan demikian sudah tidak ada larangan lagi, dan kita dapat berbuat sesuka hati kita."
Perwira itu terkejut mendengar kata-kata Siau Po. "Bagaimana mungkin patung-patung pemujaan itu boleh dipindahkan karena hal ini dapat menimbulkan bencana."
Katanya dalam hati.
"Apalagi rakyat di kota Yang Cu sangat menghormati dewa-dewa yang dipuja dalam kuil itu, kemungkinan mereka semua akan memberontak pada para pemimpin di kota itu!"
Karena itu perwira itu segera memberi hormat pada Siau Po dan berkata dengan suara yang perlahan.
"Sahut Tayjin! Kota Yang Cu memang terkenal dengan bunga-bunganya. Karena di sepanjang perjalanan Tayjin telah capai dan lelah, maka sesampainya di tempat ini hamba tentunya akan memberikan pelayanan yang baik, Untuk itu hamba telah memanggilkan beberapa orang penyanyi wanita yang mereka itu sangat cantik. Mereka juga pandai memainkan kecapi dan menyanyi, tentunya Tayjin akan merasa puas, namun karena di dalam kuil tempat tidurnya keras, dan para Hwesio tidak enak dipandang, maka hal ini tidak akan menyenangkan Tayjin."
Katanya. Siau Po berpikir, bahwa apa yang dikatakan perwira itu memang ada benarnya.
"Kalau menurut pendapatmu kira-kira di mana aku dapat tinggal, sehingga hatiku menjadi se-nang?"
Tanyanya sambil tertawa.
"Di dalam kota Yang-ciu, ada seorang saudagar yang bernama Hou Yan. Rumah saudagar itu penuh dengan bunga-bunga dan ia mempunyai niat untuk melayani Tayjin dengan baik. Sejak mendengar kedatangan Tayjin ia telah mempersiapkan segala sesuatunya, tetapi karena pangkatnya terlalu rendah, maka ia tak dapat berkata apa-apa. Seandainya Tayjin tidak keberatan, cobalah tinggal barang beberapa hari di sana!"
Jawab perwira itu.
Orang She Ho ini memang seorang yang sangat kaya raya, Ketika Siau Po masih kecil, sering bermain di luar tembok halamannya, dan dari dalam sering terdengar suara kelentingan yang merdu.
Hati Siau Po kagum mendengar suara itu, sayangnya ia tak ada kesempatan untuk melihat ke dalam.
Siau Po ingin tahu bunyi-bunyian apa yang terdengar sampai di luar itu, karena itu ia lalu berkata.
"Bagus! Coba saja kita menginap di sana barang beberapa hari, kalau memang tidak cocok kita dapat pindah ke tempat yang lainnya, Di kota Yang-ciu saudagar garam memang banyak sekali, kita dapat tinggal di sini beberapa hari dan di sana beberapa hari tentulah mereka tidak akan miskin karenanya."
Rumah Hou Yan itu ternyata sangat indah, di halamannya saja terdapat batu-batuan yang dibuat menyerupai gunung-gunung dan dipahat dengan indah, Bunga-bunganya sangat serasi karena ditata dengan rapi dan baik sekali.
Ada jembatan kecil yang di bawahnya terdapat air mengalir sungguh pemandangan yang menyegarkan, sekali lihat saja Siau Po sudah dapat mengira-ngira sudah seberapa banyak uang yang telah dihabiskan untuk membangun tempat itu, Dalam hati Siau Po merasa sangat kagum, Anak muda itu berjanji bahwa pada suatu hari kelak ia akan membuat rumah yang seperti itu.
Kemudian Siau Po memerintahkan para tentara untuk masuk ke dalam dan membawakan barang-barangnya.
Thio Yong dan yang lainnya tinggal di sana sedangkan yang lainnya yaitu para tentara dan opsir-opsir bawahan berpencaran tinggal di rumah-rumah para pembesar setempat dan juga rumah-rumah para penduduk.
Sebenarnya keindahan dan juga kemewahan kota Yang-ciu sudah terkenal sejak lama, Pada jaman dinasti Tong ada pepatah yang mengatakan.
Hamparan mutiara sejauh sepuluh Lie, dua puluh empat jembatan menghiasi bukit Bahkan sampai jaman dinasti Ceng kehidupan para saudagar-saudagar garam di sana semakin subur saja.
Kehidupan rakyatnya pun semakin makmur saja.
Ketika terjadi pertempuran antara kerajaan Beng dan kerajaan Ceng banyak sekali para pemudanya yang gugur sehingga sampai jaman Kaisar Kong Hi di tahun keenam, jumlah pemuda yang ada hanya sembilan ribu delapan ratus jiwa, Akan tetapi belakangan ini menanjak kembali, bukan saja keadaannya yang semakin membaik, kehidupan rakyatnya pun semakin makmur.
Para hari kedua para pembesar di kota Yang-ciu, dan para bawahannya, semuanya datang menemui Siau Po.
sedangkan Siau Po sendiri setelah melihat orang-orang itu segera ia mengeluarkan firman raja tersebut Siau Po tidak mengetahui apa yang ditulis dalam firman itu, tetapi sebelumnya ia telah meminta salah seorang temannya untuk membacakannya sehingga ia telah menghapal seluruh isinya dengan baik.
Untung saja daya ingatnya bagus, sehingga ia tidak salah dalam membaca, Bahkan sewaktu ia membacakan firman itu Siau Po memegangnya secara terbalik, untung saja tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Para pembesar setempat mendengar bahwa Sri Baginda akan membebaskan kota Yang-ciu dari pajak selama tiga tahun, dan akan memberikan tunjangan hadiah kepada para janda veteran perang, serta akan membangun kuil Tiong Liat Su dan akan menghormati para pahlawan seperti Suko Pat dan yang lainnya.
Semuanya mengucapkan selamat panjang umur pada sang Baginda dan mereka sangat berterima kasih sekali.
Setelah selesai membacakan firman itu Siau Po berkata.
"Tayjin sekalian, ketika saudaramu ini ingin ke luar dari kota raja, Sri Baginda telah berpesan bahwa propinsi Yang-ciu, banyak menghasilkan rempah-rempah, bahkan pada tahun belakangan ini semuanya panen dengan subur, Hamba diperintahkan para para petani dan peladang setempat untuk mengurusnya secara baik-baik jangan sampai timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini untuk kemakmuran rakyat itu sendiri Kalian lihat, Baginda begitu sangat memperhatikan para rakyat-rakyat kota Yang-ciu. Kita semua sebagai bawahannya sudah sepantasnyalah untuk bekerja dengan sepenuh hati untuk membalas kebaikannya,"
Kata Siau Po.
Para pembesar setempat segera menyetujui akan tetapi dalam hati mereka mengeluh.
Sebenarnya kata-kata yang diucapkan oleh Siau Po itu mengingatkan mereka semua agar jangan sampai berdua hati, Di samping itu jika mereka mengatakan pemberontakan tentunya si Baginda akan mengambil tindakan yang tegas.
Siau Po sendiri tidak mungkin dapat mengatakan kata-kata tersebut kalau bukan So Ngo Ta yang telah mengajarkannya.
Dengan turunnya firman dari raja maka dengan sendirinya para pembesar itu melaksanakannya, mereka mulai membangun kuil yang dimaksudkan itu.
Dan yang sebagian lagi mencari para janda veteran perang, untuk diberikan tunjangan dari Sri Baginda raja, Beberapa perwira menuju perkampungan kota Yang-ciu itu, mereka menyerahkan tunjangan berupa uang, beras dan kebutuhan yang Iain-lainnya.
Tentulah urusan ini tidak akan sampai satu atau dua hari dapat selesai.
Pada waktu yang senggang Siau Po di Yang-ciu hanya bersenang-senang saja, apa lagi dalam beberapa hari ini para pembesar tidak henti-hentinya mengantarkan hadiah pada Siau Po, ada yang berupa uang emas, uang perak dan barang-barang berharga yang lainnya.
Setiap hari Siau Po teringat pada ibunya yang berada di Li Cun Wan, dan karenanya ia sangat ingin menjenguknya, Akan tetapi di sana-sini orang banyak yang mengundang Siau Po.
Hal itu tak pernah henti-hentinya, dapat dikatakan tidak ada kesempatan sama sekali, apa lagi ia sebagai seorang pembesar kerajaan Ceng, yang mempunyai ibu seorang perempuan penghibur di rumah pelesiran Li Cun Wan, tentu saja rahasia ini sama sekali tidak boleh terbongkar.
Karena jika sampai terbongkar urusan ini benar-benar dapat membuat Siau Po malu dan hilang harga diri serta kehormatannya, dan juga dapat menyangkut nama-nama para pembesar kerajaan Ceng.
Siau Po sudah lama menduduki kedudukannya.
Sudah cukup lama dan sama sekali ia belum pernah menjemput ibunya dari Li Cun Wan ke kota raja untuk bersenangsenang.
Bahkan Siau Po membiarkan ibunya terjerumus ke dalam lembah kenistaan Hal ini dapat dikatakan kalau Siau Po adalah seorang yang tidak berbakti pada orang tuanya.
Dalam hati ia berpikir, lebih baik ia menunggu kesempatan yang baik untuk mengambil ibunya dan mengangkatnya dari lembah yang hina itu.
Dengan sembunyi-sembunyi Siau Po mengganti pakaiannya dan merubah dandanannya, ia menyamar sebagai rakyat biasa dan pergi ke Li cun Wan, kemudian memerintahkan pada beberapa tentaranya untuk mengantarkan ibunya ke kota raja, agar dapat menetap di sana.
Hal ini haruslah dirahasiakan Siapa pun tak boleh mengetahuinya, Dahulu Siau Po selalu mengambil keputusan yang gila-giIaan.
Asalkan telah melihat keadaan yang tidak menguntungkannya, ia lalu mencari akal untuk meloloskan diri.
Tidak disangka-sangka pangkatnya semakin lama malah semakin tinggi, dan semakin lama hatinya pun semakin senang, Akhirnya Siau Po mulai terbiasa dengan kehidupan mewah seperti sekarang ini.
Sekarang anak muda itu berpikir untuk menjemput ibunya ke kota raja, tampaknya ia memang tidak ingin melepaskan jabatannya ini.
Beberapa hari kemudian salah seorang pejabat kota Yang-ciu yakni Gouw Cie Yong, berniat akan menjamu Siau Po.
ia pernah mendengar dari salah seorang perwira kalau Siau Po ingin sekali berkunjung ke kuil Tan Cie Sie dalam hati ia berkata.
"Kuil Tan Cie Sie memang sangat indah, tetapi yang paling menarik adalah beberapa bunga yang berada di halaman kuil itu. Bunga-bunga itu dapat dijadikan obat seandainya pembesar itu ingin mengunjungi kuil tersebut pastilah ia sangat senang dengan pemandangan bunga-bunga!"
Karena itu ia lalu memerintahkan beberapa orang ahli untuk membuat karangan bunga yang besar-besar dan dengan jenis yang bermacam-macam, bahkan tempatnya saja terbuat dari ukiran kayu yang sangat indah.
Ada lagi yang sangat khusus dibuat seperti pemandangan alam seperti jembatan dengan air terjun yang suaranya menggemerisik, hal itu memang sangat indah, kesemuanya itu ditaruh di kamar tamu sehingga terlihat semakin serasi.
Siapa yang menyangka kalau Siau Po itu tidak terpelajar.
Mereka tidak mengetahui akan hal itu, bahkan begitu Siau Po sampai di tempat orang itu, sebagai kata-kata yang pertamanya.
"Lho! Mengapa banyak sekali bunga-bunga di sini? Juga terdapat banyak meja yang sengaja dipajangkan bunga? Oh! Aku tahu tentu para Hwesio dari kuil Tan Cie Sie akan mengadakan upacara sembahyang, mereka meletakkan bunga-bunga ini tentulah untuk memuja setan-setan yang kelaparan Bukankah demikian?"
Kata Siau Po. Jerih payah Gouw Cie Yong menjadi sia-sia. Wajah orang itu menjadi murung, tetapi ia tetap berkata.
"Ah! Tayjin memang pandai berbicara! sayangnya pandangan Pie cit terlalu rendah, Andaikata dekorasi ruangan ini tidak sesuai dengan kesukaan Tayjin mohon dimaafkan!"
Katanya.
Siau Po hanya menganggukkan kepalanya, ia melihat para tamu sudah berdiri dengan penuh hormat kepadanya, Siau Po melambaikan tangannya pada beberapa orang kemudian ia duduk pada tempat yang telah disediakan.
Para pembesar setempat semuanya ikut hadir pada undangan itu, Selain itu masih ada beberapa orang yang lainnya yang mereka itu bukanlah para pembesar, melainkan terdiri dari tokoh masyarakat dan sebagian lagi para saudagar garam yang kaya raya itu.
Kota Yang-ciu terkenal dengan berbagai macam hasil bumi, garam, biji pala atau pun lada.
Meskipun Siau Po sendiri adalah penduduk asli kota setempat, tetapi pengetahuannya sangat kurang sekali jadi dia pun tidak begitu mengetahuinya.
Setelah meminum teh sejenak, matahari perlahan-lahan turun ke ufuk barat, sekarang cahayanya tepat menyinari bunga-bungaan yang ada di ruang itu sehingga kelihatannya sangat indah sekali, seperti hamparan bunga-bunga yang sangat luas.
Akan tetapi Siau Po yang melihatnya malah semakin keki, karena hal itu mengingatkannya pada kuil Tan Cie Sie tempat ia mendapat penghinaan yang sangat besar, yaitu dipukuli habis-habisan oleh para Hwesio.
Rasanya Siau Po ingin mencabut semua bunga-bunga itu dan membakarnya sampai habis, Akan tetapi ia harus memiliki alasan yang tepat untuk menghancurkan bungabunga itu, barulah ia dapat turun tangan, Tepat pikirannya sedang melayang-layang, salah seorang pembesar yang bernama Ma Yue berkata.
"Wi Tayjin, kalau mendengar nada suaranya tampaknya Wi Tayjin pernah tinggal di daerah sini, Daerah Wi Yang memang sangat subur karenanya banyak orang-orang terkenal yang berasal dari daerah sini, demikian juga bunga-bunganya."
Katanya.
Para pembesar semua mengetahui kalau Siau Po adalah salah seorang pemimpin dari bendera kuning, justru Ma Jue yang mendengar nada bicaranya sehingga ia demikian yakinnya, karena itu ia lalu mengambil sesuatu untuk diserahkan pada Siau Po.
sedangkan pada saat itu Siau Po sedang berpikir untuk menghancurkan karangan bunga-bunga itu, tanpa sadar ia memaki.
"Dari seluruh kota Yang-ciu kaulah orang yang paling buruk!"
Kata Siau Po dengan nada mendongkol.
Ma Yue diam saja ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan perkataan Siau Po itu.
Sedangkan walikota Mu Cian Yan, adalah seorang yang berpendidikan tinggi, maka ia langsung berkata.
"Wi Tayjin, pandangan Wi Tayjin memang sangat luas, mereka itu tidak menghargai para pembesar negeri dan sering berkata secara menebak saja,"
Katanya. Mendengar perkataan gubernur itu Siau Po merasa gembira sekali.
"Benar sekali.... Benar Wi Tayjin adalah seorang yang berpendidikan tentulah mengetahui segala hal dari pada aku yang bodoh ini."
Kata Siau Po sambil tertawa.
"Wi Tayjin jangan berkata demikian hamba tidak berani untuk menerimanya!"
Kata sang gubernur itu.
"Pada jaman kerajaan Ceng, ada cerita tentang Wang Hue Pikka Louw, bukankah cerita tersebut juga berasal dari kota Yang-ciu?"
Tanyanya pula. Siau Po paling senang jika mendengar cerita, maka dengan cepat ia bertanya.
"Cerita apakah itu? Dan apa yang dimaksud dengan Wang Hue Pikka Louw itu?"
Tanyanya.
"Cerita ini berasal dari kuil Ciok Tok Sie di kota Yang-ciu dan hal itu terjadi di jaman dinasti Tong. Ciok Tok Sie itu juga disebut Box Lan Wan, sedangkan penyair Wang Hue pada usia mudanya berasal dari keluarga yang sangat miskin sekali,.."
Katanya.
"Oh rupanya orang itu bernama Wang Hue! Saya kira Kuang Hue (Sehelai kain kuning)!"
Kata Siau Po dalam hati. Terdengar Mu Cian Yan melanjutkan perkataannya lagi.
"Wang Hue tinggal di Box Lan Wam, setiap kali jika waktu makan telah tiba lonceng selalu dibunyikan oleh salah seorang Hwesio sebagai tanda, Begitu mendengar suara lonceng itu dibunyikan maka Wang Hue cepat-cepat berlari menuju ruang makan dan ikut makan bersama para Hwesio. Itulah sebabnya para Hwe Sio sangat membencinya. Pada suatu hari mereka menggunakan akal, semua Hwesio itu makan lebih awal dan dengan cepat, Setelah selesai makan mereka barulah membunyikan bel itu. Wang Hue yang mendengar suara bel itu segera lari ke ruang makan, akan tetapi tampaknya semua orang sudah bubar, bahkan makanan yang berada di atas meja semuanya telah habis...."
Wi Siau Po menggebrak meja keras-keras, ia sangat marah sekali.
"Hwesio kurang ajar!"
Bentaknya. Mu Cian Yan segera berkata.
"Benar, satu kali makan saja memangnya habis berapa, Pada waktu itu hati Wang Hue sangat kesal sekali, maka ia lalu menulis sebuah syair di atas tembok yang bunyinya sebagai berikut, Yang kuasa telah membedakan antara timur dengan barat, akan tetapi para Hwesio telah merubah jam makannya, tanpa mengindahkan peraturan yang telah disetujui dan dibuat sejak dahulu kala...."
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana?"
Tanya Siau Po kemudian.
"Dikemudian hari Wang Hue menjadi seorang pembesar."
Kata Mu Cian Yan melanjutkan pembicaraannya.
"Kerajaan mengutusnya untuk melihat keadaan kota Yang-ciu dan ia kembali lagi ke tempat kuil itu. Tentu saja para Hwesio menyambut kedatangannya dengan hormat. Pada saat itu ia langsung menuju ruang makan dan ia ingin melihat para tembok itu apakah syair yang ditulisnya masih ada atau tidak, Ternyata ia melihat tembok itu telah ditutupi oleh sebuah bingkai dari batu pualam dan kedua baris itu tepat melingkari syair yang ditulisnya itu. Maka dengan demikian tulisan syairnya tidak akan rusak. Wang Hue merasa terharu sekali melihat kenyataan itu, kemudian ia menambahkan lagi dua baris di belakangnya, yang berbunyi. Tiga puluh tahun yang lalu debu melumuri muka, dan ternyata tulisan tak berharga telah di kelilingi batu kumala."
Kata Mu Cian Yan yang melanjutkan ceritanya itu.
"Tentu Wang Hue menangkap para Hwesio itu bukan?"
Tanya Siau Po yang sedang penasaran itu.
"Wang Hue adalah seorang pahlawan, dan ia adalah seorang laki-laki yang gagah."
Sahut Mu Cian Yan.
"la tidak mengambil hati urusan yang telah berlalu itu."
Dalam hati Siau Po berkata.
"Kalau aku jadi dia mana mau aku harus melepaskan mereka dengan demikian mudahnya! Akan tetapi jika aku harus menulis syair aku tidak memiliki keahlian seperti itu, aku hanya pandai membohong dan tak dapat aku menulis, bahkan membaca pun aku sulit."
Sambil meminum teh yang telah disuguhkan itu, Siau Po mengawasi keadaan di sekitar ruangan itu.
Matanya terus saja melihat-lihat ruangan, Siau Po melihat Tong Cin Huk yang sedang meminum arak seteguk-seteguk dalam cangkir yang besar, tampaknya sangat menyenangkan sekali.
"Tong Cen Kuin! Kau pernah mengatakan apabila kuda-kuda yang digunakan minum obat, maka tenaganya akan jauh lebih besar! Bukankah demikian kau mengatakannya padaku?"
Kata Siau Po.
Sambil berkata demikian, Siau Po mengedipkan matanya sebagai isyarat.
Tong Cin Huk tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan perkataan Siau Po dan dengan tanda isyarat itu, maka ia berkata.
"Ini.... Ini.,.!"
Katanya tersendat-sendat "Sri Baginda sering bahkan selalu menggunakan kuda-kuda pilihan entah itu kuda Mongol, kuda Tibet atau pun kuda Sucuan dan kuda-kuda pilihan lainnya, Sri Baginda juga memesan agar kita dapat memelihara dan merawat kuda-kuda itu, bukankah demikian?"
Tanya Siau Po. Kaisar Kong Hi memang menyukai kuda-kuda pilihan. Siau Po mengetahui akan hal itu begitu juga Cin Huk.
"Apa yang dikatakan Tayjin memanglah sangat benar."
Kata Cin Huk.
"Kau sangat tahu sifat-sifat kuda."
Kata Siau Po.
"Ketika di kota Piecin, kau telah mengatakan apabila kuda-kuda yang digunakan dalam peperangan memakan bunga obat kota Yang-ciu, maka larinya dapat berlipat ganda. Sri Baginda demikian menyukai kuda, maka kaulah sebagai hamba-hambanya tentulah harus mengikuti keinginannya dan memenuhi kepuasan hatinya, Apabila kita memetik bunga-bunga obat di sini dan membawanya ke kota raja untuk diserahkan pada pengurus-pengurus kuda agar diberikan pada kuda pilihan itu, dan Baginda mengetahuinya tentulah ia merasa sangat senang sekali."
Para hadirin yang mendengarkannya menunjukkan mimik wajah yang aneh.
Bunga obat yang tumbuh di kota Yang-ciu memang baru kali ini ia mendengarnya, Apa lagi melihat tampang Tong Cin Hok yang serba salah dan merasa bingung karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Namun meskipun curiga mereka tidak berani berkata apa-apa.
Apalagi sedikit-sedikit Siau Po membawa nama Sri Baginda, siapa lagi yang berani mencelanya atau membantah ucapannya itu.
"Pengetahuan Wi Tayjin sungguh sangat luas,"
Kata Gouw Cie Yong.
"Hal ini sungguh membuat kami merasa sangat kagum, Bunga-bunga obat ini sebenarnya akarnyalah yang mempunyai manfaat. Ada yang mengatakan dapat meluruskan kembali darah-darah yang telah membeku. Dan mengapa bunga semacam ini diberi nama bunga obat tampaknya sejak jaman dahulu orang-orang telah mengetahui bahwa bunga ini dapat dijadikan obat yang sangat berkhasiat Kalau kuda-kuda memakan obat ini darahnya tentu akan beredar dengan cepat, hal ini membuat kuda-kuda itu dapat berlari sama dengan keledai, sekembalinya Wi Tayjin ke kota raja nanti hamba akan memerintahkan orang untuk memetik seluruh bunga-bunga obat di sini dan membawanya pulang ke kota raja."
Para pembesar yang lainnya yang mendengarkan perkataan Gouw Cie Yong, memaki-maki orang itu yang menurutnya sangat licik dan tidak tahu malu.
Demi mengambil hati seorang pembesar dia tidak segan-segannya merusak pemandangan yang sangat indah di kota Yang-ciu.
Wi Siau Po lalu bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Gouw Tayjin memang pandai bekerja.... Bagus sekali.... Bagus sekali.. Ha.... Ha.... Ha!"
Gouw Cie Yong merasa sangat bangga mendengar ucapan Siau Po, maka ia lalu memberikan hormat pada Siau Po sambil berkata.
"Terima kasih atas pujian Wi Tayjin!"
Katanya.
Wali kota Mu Cian Yan berjalan ke arah hamparan bunga-bunga, dan dari hamparan bunga yang banyak itu ia memetik sekuntum yang besar sekali, Kemudian ia kembali ke tempat duduknya, dengan kedua tangannya ia menyerahkan bunga itu pada Siau Po.
"Harap Wi Tayjin sudi menancapkan bunga ini di atas kopiah! Pie cit mempunyai sebuah cerita yang Wi Tayjin sudi mendengarkannya,"
Katanya sambil tertawa.
Wi Siau Po yang mendengar kalau Mu Cian Yang akan bercerita ia menjadi senang sekali, Maka ia segera mengambil bunga itu dan tampak pada bunga itu terdapat sebuah garis merah tua sedangkan di bagian tengahnya terdapat serat-serat kuning keemasan.
Paduan warna yang sangat serasi sekali dan ia segera menancapkan bunga itu pada kopiahnya.
"Selamat kepala Wi Tayjin!"
Kata Mu Cian Yan.
"Bunga obat ini mempunyai julukan Kim Tay Wi (Sabuk emas), jenis ini sungguh langka bahkan pada jaman dahulu sampai menjadi legenda rakyat dan terdapat pada buku-buku. Barang siapa yang dapat melihat Kim Tay Wi tersebut, maka kelak akan menjadi orang suci yang masuk ke dalam surga."
"Benarkah?"
Tanya Siau Po sambil tertawa.
"Cerita ini berasal dari dinasti Song di daerah utara, Pada jaman itu Han Wie Kong yang menjaga kota Yang-ciu, Tepat di depan kuil Tan Cie Sie, di antara gerombolan bunga-bunga obat ini kebetulan sekali ada sebuah pohon yang sedang mekar dan jumlah bunganya hanya ada enam kuntum. Bunga itu mempunyai warna pinggir merah tua dan di tengah-tengahnya terdapat warna kuning emas. itulah bunga yang mendapat julukan Kim Tay Wie ini. Jenis bunga yang satu ini belum pernah ia lihat sebelumnya jadi ia beranggapan kalau bunga itu adalah bunga yang sangat langka. Ketika mendapatkan laporan dari bawahannya Han Wie Kong menjadi penasaran ia lalu memerintahkan salah seorang bawahannya untuk memetik bunga itu, dan membawakan untuknya, Hatinya sangat senang sekali, apa lagi jumlahnya ada empat kuntum. Kemudian terpikir olehnya untuk mengundang tiga orang tamu lagi agar dapat sama-sama menikmati keindahan bunga tersebut."
Dengan hati yang penasaran Siau Po menurunkan kembali kembang yang berada di kepalanya dan dilihatnya kembali bunga itu dengan teliti, ternyata memang sama dengan apa yang dikatakan oleh Mu Cian Yan.
Kalau diperhatikan dengan seksama bunga ini memang sangat langka sekali.
"Pada saat itu di kota Yang-ciu terdapat dua orang yang sangat terkenal, yang satu bernama Ong Kui dan yang satu lagi bernama Ong An Ciok. Keduanya memiliki pandangan yang sangat luas dan pengetahuan yang sangat tinggi, sebab mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai pendidikan Han Wie Kong berpikir dalam hatinya, jumlah bunga seluruhnya ada empat kuntum sedangkan orangnya hanya ada tiga, seakan kecantikan yang kurang sempurna dia harus mengundang satu orang lagi, sehingga menjadi sama dengan jumlah bunga yang ada. Akan tetapi untuk mencari orang itu tidaklah mudah, apalagi ia tidak menginginkan orang yang sembarangan Kebetulan pada saat itu datanglah seorang bawahannya melaporkan bahwa telah datang seorang tamu yang bernama Tam Sin cie, yaitu seorang laki-laki yang gagah perkasa dan sangat terkenal, Han Wie Kong gembira sekali. Pada hari kedua ia mengundang semua tamunya untuk berkumpul di taman bunganya itu, dan ia memberikan masing-masing sekuntum bunga tersebut kepada para tamunya sehingga cerita ini menjadi legenda rakyat, dan akhirnya menurut cerita yang tersiar itu, keempat orang tersebut menjadi orang suci dan naik ke surga."
Wi Siau Po tertawa.
"Menyenangkan sekali! Keempat orang itu adalah orang-orang yang berpendidikan mereka dapat membuat syair dan dapat mengubah kata-kata menjadi indah. sedangkan aku mana dapat melakukan kesemuanya itu, apalagi jika dibandingkan dengan mereka itu."
Kata Siau Po.
"Tidak dapat dikatakan demikian,"
Kata Mu Cian Yan.
"Pada jaman dinasti Cong memang banyak sekali orang-orang yang terpelajar tetapi tidak semua orang-orang itu dapat menjadi orang suci apalagi menjabat sesuatu yang tinggi atau menjadi menteri sedangkan kerajaan Ceng kita pada saat sekarang ini, sudah dapat kita bayangkan kalau kerajaan kita sudah menuju ke saat-saat kecermelangan dan akan merasakan seluruh dunia, Sri Baginda adalah orang yang berpandangan sangat luas, tentulah ia mengetahuinya mana pahlawan-pahlawan yang dapat diandalkannya itu."
Mendengar perkataan orang itu hati Siau Po menjadi sangat senang sekali.
Tentu saja itu merupakan pujian untuk dirinya, sehingga tidak henti-hentinya ia menganggukkan kepalanya.
Mu Cian Yan yang melihat bahwa perkataannya itu mendapat sambutan yang sangat baik, segera melanjutkan kata-katanya tersebut.
"Wi Tayjin! Bunga Kim Tay Wie atau sabuk emas ini tidaklah selangka pada jaman dahulu itu, sekarang sudah banyak bermekaran di mana-mana. Akan tetapi mekarnya yang sekarang tepat sekali dengan kedatangan Wi Tayjin, itu bukanlah sesuatu yang sifatnya kebetulan, melainkan merupakan kehendak yang Maha Kuasa, Pie cit mempunyai sedikit pandangan, harap Wi Tayjin tidak keberatan jikalau Pie cit mengatakannya."
Kata Mu Cian Yan.
"Harap aku diberikan petunjuk!"
Kata Siau Po.
"Untuk memberikan petunjuk itulah hamba tidak berani. Akar bunga-bunga obat ini, di toko obat mana pun sekarang telah ada dan sudah banyak terjual. Andaikata Wi Tayjin akan memberikan makan pada kuda-kuda pilihan Sri Baginda raja tentulah akar-akar obat yang telah diolah, karena itulah yang banyak manfaatnya, Pie cit nanti akan memerintahkan pada beberapa orang untuk memesannya dan mengirimkannya ke kota raja untuk diberikan pada Wi Tayjin dan selanjutnya Wi Tayjin dapat memberikannya pada para pengurus kuda-kuda pilihan Sri Baginda raja, sedangkan bunga-bunga obat yang ada di sini harap Wi Tayjin mengingatnya, penyambutan mereka, Walau demikian semarak dapatkah hamba memohon agar Wi Tayjin membiarkannya untuk sementara waktu, seandainya di suatu hari nanti Wi Tayjin dapat berkunjung kembali ke kota Yangciu ini tentulah tidak menyenangkan jikalau seluruh daerah ini telah tandus, tanpa ada sekuntum bunga pun. Wi Tayjin adalah seorang yang terkenal, maka hamba yakin nama Wi Tayjin akan dikenang sepanjang masa, bahkan dapat seperti tokoh yang lainnya, Nama dan juga peran dari Wi Tayjin akan menjadi sangat menarik dan juga menjadi contoh dari para generasi yang akan datang dan mereka akan sangat menghormati Wi Tayjin."
Katanya. Hati Siau Po menjadi sangat senang mendengarkan perkataan itu.
"Kau katakan bahwa aku akan menjadi salah seorang tokoh cerita? Yang ada dalam legenda?"
Kata Siau Po.
"Benar."
Kata Mu Cian Yan.
"Dan tentu saja seorang yang tampan dan juga gagah dalam memerankan tokoh Wi Tayjin, juga ada lagi beberapa orang yang memerankan berjanggut putih, bercambang hitam, berwajah bintik-bintik berhidung putih, dan yang lainnya sebagai kami-kami ini."
Mendengar perkataan itu para undangan tertawa terbahak-bahak dan Wi Siau Po sangat senang sekali.
"Lalu apa nama ceritera ini?"
Tanya Siau Po sambil tersenyum. Mu Cian Yan menoleh pada Ma Yue dan ia berkata.
"Dalam hal ini kita haruslah meminta pendapat dari saudara Ma!"
Katanya, Karena ia melihat sejak tadi Ma Yue diam saja, akhirnya ia menjadi tidak enak melihatnya. Ma Yue tertawa.
"Kelak Wi Tayjin ingin mendampingi Sri Baginda, Dan hal ini sudah pasti akan menjadi suatu kenyataan Bagaimana kalau kami namakan cerita itu sebagai raja dan wakilnya yang sedang menikmati bunga-bunga?"
Katanya pula.
Para tamu yang mendengarkan pembicaraan itu segera bertepuk tangan tanda setuju.
Hati Siau Po menjadi senang sekali apalagi ia mendapatkan pujian dari kanan kirinya, Dan hal itu dapat menghilangkan kenangan pahitnya di masa lalu.
"Aku tidak percaya kalau hanya sekuntum bunga saja orang dapat menjadi seorang yang suci. Akan tetapi biarlah ada baiknya juga jika aku membiarkan bunga-bunga ini tumbuh di kota Yang-ciu. Setidaknya jikalau dihari tua nanti jika aku telah merasa bosan memangku jabatan ini aku akan tinggal di kota ini, dan aku dapat menikmati keindahan alam yang ada di daerah ini."
Kata Siau Po dalam hatinya. Kemudian Siau Po berkata dengan tenang.
"Sudahlah! Sudah cukup kita membicarakan soal bunga-bunga itu. sekarang lebih baik kalian panggillah para penyanyi itu, aku akan mendengarkan sebuah lagu!"
Katanya.
Para pembesar yang lainnya segera mengingatkan Memang sejak semula Gouw Cie Yong sudah merencanakannya, maka ia lalu memberikan isyarat Tak lama kemudian terdengarlah dentingan-dentingan suara musik diiringi dengan hembusan wewangian yang entah dari mana datangnya.
Semangat Wi Siau Po menjadi terbangun "Pastilah ada banyak wanita yang cantik-cantik yang dapat dilihat!"
Katanya dalam hati.
Belum lama Siau Po berpikir demikian, keluarlah seorang gadis yang berjalan dengan lemah gemulai menuju taman bunga buatan itu, gadis itu membungkukkan tubuhnya sedikit, dan berkata dengan suara lantang.
"Siau Lie memberi hormat pada Tayjin semoga kesehatan Tayjin dalam keadaan baik-baik dan sekarang Siau Lie akan membawakan sebuah lagu."
Katanya dengan lembut.
Gadis itu berusia kira-kira di bawah tiga puluh tahun, tetapi tidak tergolong cantik sekali.
Seorang laki-laki yang duduk di sudut ruangan segera meniupkan serulingnya, dan gadis itu pun mulai bernyanyi Gadis itu menyanyikan sebuah lagu lama yang sudah terkenal di kota Yang-ciu, Siau Po mendengarkannya, suaranya memang enak, tetapi hati Siau Po menjadi kurang sabar, karena ia toh bukan ingin melihat atau mendengarkan gadis itu bernyanyi melainkan hanya ingin melihat wanita-wanita yang cantik-cantik saja.
Setelah gadis itu selesai menyanyikan sebuah lagu lama itu, tampak masuk lagi seorang wanita yang lainnya, Wanita yang baru saja masuk itu usianya kira-kira tiga puluh lima tahun, suaranya bagus dan lagaknya pun cukup luwes, tetapi Siau Po memandangnya dengan enggan.
Setelah selesai bernyanyi, kemudian wanita itu memberi hormat pada Siau Po dan berlalu kembali sambil tertawa.
"Kedua penyanyi-penyanyi itu adalah penyanyi-penyanyi yang sekarang sedang terkenal di kota Yang-ciu, Lagu-Iagu yang dinyanyikannya juga lagu-lagu yang sudah terkenal di daerah ini, sekarang bagaimana pendapat Wi Tayjin!"
Kata Gouw Cie Yong.
Apabila Wi Siau Po akan mendengarkan lagu atau nyanyian ada syaratnya, Yang pertama haruslah gadis yang cantik-cantik, kedua lagunya haruslah lagu yang romantis, dan ketiga lagak penyanyinya haruslah kegenit-genitan.
Dahulu kala Siau Po pernah mendengar Tan Wan Wan menyanyi dan menari.
Dalam keadaan terpaksa saja ia mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan itu sampai selesai.
Sekarang kedua orang penyanyi itu sama sekali tidak menarik hatinya, entahlah apa pula yang dinyanyikannya, Siau Po sengaja bersin keras-keras ketika mendengar pertanyaan Gouw Cie Yong, akan tetapi ia menjawab.
"Lumayan.... Lumayan, hanya saja ketinggalan jaman sedikit, sehingga aku tidak begitu berselera."
Katanya setengah memuji.
"Benar.... Benar."
Kata Gouw Cie Yong.
"Lagu yang dinyanyikannya memang lagu yang berasal dari dinasti Tong, dan pada hakekatnya memang ketinggalan jaman, Ada sebuah lagu yang baru dirancang oleh salah seorang pemuda yang baru saja terkenal di kota Yang-ciu ini, dan benar-benar menyegarkan."
Gouw Cie Yong segera menepuk tangan, maka tak lama kemudian muncullah seorang penyanyi ke hadapannya.
Jikalau Wi Siau Po mengatakan ketinggalan jaman, maksudnya yang ketinggalan jaman itu adalah penyanyinya, Akan tetapi Gouw Cie Yong salah tanggap, bukannya menyajikan penyanyi yang cantik malah ia menyajikan penyanyi yang lainnya, sedangkan Siau Po tidak mengetahui kalau lagu itu lagu pada jaman dinasti Tong atau pun dinasti yang lainnya, Siau Po hanya mendengar Gouw Cie Yong mengatakan sangat menyegarkan.
Siau Po mengira kalau kali ini gadis yang akan menyanyikan lagu itu adalah gadis seperti yang dimaksudkan.
"Yah! jikalau penyanyinya dapat menyegarkan apa salahnya, aku melihatnya!"
Katanya dalam hati.
Siau Po tidak memperhatikan penyanyi yang baru saja masuk.
Akan tetapi setelah Siau Po melihatnya, hawa amarahnya serasa langsung meluap ke atas, rasanya ia ingin berteriak dengan keras.
Ternyata penyanyi yang ini usianya kurang lebih lima puluh tahun bahkan pada rambutnya sudah mulai banyak ditumbuhi uban, mukanya sudah keriput dandanannya sangat medok, bibirnya diolesi gincu yang tebal, benar-benar sangat menyebalkan.
Suaranya memang masih bagus, tetapi Siau Po tidak ingin mendengarkan nyanyian itu, dan kaIaulah perlu ingin menutup kupingnya, Siau Po sangat kesal sekali, tetapi karena ia diundang oleh sekian banyak para pembesar, maka tidak enak hati jika ia mengumbar kemarahannya.
Terpaksa Siau Po harus menahan diri sampai penyanyi itu menyelesaikannya.
Setelah orang itu selesai menyanyikan lagu, dan kembali ke ruang dalam, Siau Po langsung saja memohon diri untuk kembali pada tempat kediamannya yaitu di rumah salah seorang saudagar garam.
Sekembalinya ke rumah saudagar garam itu, Siau Po lalu masuk ke dalam kamarnya, sebelumnya ia memerintahkan pada penjaga agar terus menjaga, dan jikalau ada orang yang akan bertemu dengannya katakan kalau ia ingin beristirahat Tidak perduli tamu mana pun yang datang ia tidak mau menemuinya.
Setelah merapatkan pintu itu Siau Po mengganti pakaiannya dengan pakaian yang rombeng yang dibeberapa bagian banyak terdapat noda-noda minyak sehingga kotor tak karuan ia pun mengganti sepatunya dengan sepatu yang sudah koyak di sana-sini.
Tidak cukup hanya sampai di situ ia pun melumuri wajahnya dengan abu.
Setelah selesai berdandan Siau Po mengaca di cermin itu untuk melihat dirinya sendiri, Tampak dirinya sudah kembali seperti seorang kacung yang bekerja di rumah pelesiran, ia sangat senang dengan penyamaran yang macam itu.
Song Ji membantu Siau Po memakai pakaiannya juga mendandaninya, Dan ia pun jadi tertawa begitu melihat wajah Siau Po dan juga penampilannya berubah, maka ia pun berkata.
"Siangkong, penampilan Siangkong kali ini benar-benar berubah, Apakah pada jaman dahulu menteri Touw Liong To yang menyamar sebagai seorang pengemis, juga mempunyai tampang yang seperti ini?"
Tanyanya.
"Hampir sama."
Jawab Siau Po.
"Akan tetapi pada dasarnya wajah Touw Liong To itu memang hitam sehingga tidak perlu untuk dilumuri abu lagi."
"Siangkong, bagaimana kalau aku menemanimu?"
Tanya Song Ji.
"Kalau kau pergi seorang diri aku khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada dirimu tidak ada orang yang akan membantumu."
"Tempat yang akan aku masuki ini tidak boleh dimasuki oleh gadis-gadis cantik seperti kamu."
Kata Siau Po sambil tertawa. Sambil berkata Siau Po mulai menyanyi lagu yang ada di rumah pelesiran itu, sedangkan Song Ji hanya diam saja.
"Raba sini raba sana, raba ratu cantik Song Jiku tersayang yang elok...!"
Sambil bernyanyi demikian Siau Po mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap tubuh Song Ji, sedangkan Song Ji menjadi malu wajahnya berubah menjadi merah padam, ia tertawa terkekeh-kekeh sambil ia mengegoskan wajahnya.
Siau Po mengambil segumpal cek dan segenggam uang recehan yang kemudian dimasukkannya ke dalam sakunya, Kemudian ia memeluk Song Ji dan mencium pipi kiri dan kanannya, Setelah itu Siau Po menyelinap ke luar dari pintu belakang.
Para penjaga yang melihat seseorang berjalan ke luar rumah itu segera membentaknya.
"Siapa kau?!"
Bentaknya.
"Aku adik misan dari keluarga Houw, apa urusannya dengan kalian?"
Jawab Siau Po.
Para perwira itu tertegun Mereka masih belum dapat mengerti hubungan keluarga macam apa yang telah disebutkan oleh Siau Po itu, dan juga mereka tidak mengenali pembesar itu.
sementara itu Siau Po sudah menyelinap ke luar lewat pintu belakang.
Jalanan besar dan jalanan kecil di kota Yang-ciu, tidak ada satu pun yang tidak dikenalinya, Dapat dikatakan dengan memejamkan matanya pun Siau Po tidak akan mengalami salah jalah.
Tidak lama kemudian Siau Po telah sampai di pinggir telaga yang jaraknya tidak jauh dari Li Cun Wan.
Sayup-sayup mulai terdengar suara ketupan dan suara seruling serta nyanyian yang sumbang.
Dengan mengendap-endap, Siau Po berjalan menuju bagian luar kamar ibunya, Ketika dia melongok ke dalamnya, dia melihat kamar itu kosong, Tahulah dia bahwa ibunya sedang menerima tahu.
Dalam hati dia berkata.
--Dasar ibu murahan, entah !aki-laki mana yang hari ini sedang bergelut dengan ibuku dan menjadi ayah angkatku untuk satu hari?
Dia masuk ke dalam kamar, tampak selimut yang terlipat di atas tempat tidur masih yang dulu juga, Tetapi sudah jauh lebih usang.
Dalam hati ia berpikir lagi.
--Rupanya bisnis ibu kurang lancar, ayah angkat yang datang tidak banyak.
--Dia memalingkan kepalanya untuk menatap ke arah sebuah tempat tidur kecil yang menjadi miliknya duIu.
Letaknya masih dalam posisi semula, Di depan tempat tidur terdapat sepasang sepatu rombeng miliknya, sedangkan selimutnya dicuci bersih dan dilipat dengan rapi.
Dia berjalan ke tempat tidur itu dan duduk di atasnya, Tampak sehelai jubah kepunyaannya juga terlipat rapi di samping tempat tidur itu.
Hatinya merasa agak bersalah.
--Rupanya ibu selalu menunggu kepu!anganku, Maknya!
Lohu hidup mewah di kota raja, selama ini tidak pernah menyuruh orang mengantarkan uang untuk ibu.
Tampaknya ingatanku sudah kurang baik!
--pikirnya.
Dia menyandarkan tubuhnya di tembok pembaringan untuk menunggu kembalinya sang ibu.
Di dalam rumah pelesiran ada sebuah peraturan apabila menerima tamu yang bermalam, di sana ada disediakan sebuah kamar khusus yang lebih besar serta bersih, perabotannya juga lengkap, sedangkan para pelacur ditempatkan dalam kamar yang kecil-kecil, keadaannya juga sederhana sekali.
Pelacur yang usianya lebih muda dan wajahnya cantik mendapat fasilitas yang lebih memadai, mereka bisa menarik langganan yang lebih banyak.
Sedangkan yang sudah setengah baya seperti ibu Siau Po, jarang dicari para tamu, induk semang atau kata kasarnya, germo mereka juga memperlakukannya dengan seenak hati, pokoknya tidak sampai terlantar saja.
Siau Po berbaring sejenak, tiba-tiba dari sebelah kamar terdengar suara bentakan yang nyaring, Ternyata suaranya si mucikari.
"Nenekmu ini sudah mengeluarkan uang banyak untuk membelimu, tapi kau selalu menolak sana menolak sini, sampai sekarang tetap tidak bersedia menerima tamu, Hm! Apakah aku membelimu hanya sebagai patung Kuan Im yang di-pajang? Apakah kau hanya sebagai penghias di rumah pelesiran ini? pukul dia! Pukul yang keras biar tahu rasa!"
Kemudian terdengar suara cambuk yang menghajar kulit tubuh, juga suara jeritan histeris dan teriakan kesakitan, Suara tangis serta bentakan saling membaur.
Suara semacam ini sudah tidak asing lagi bagi telinga Siau Po.
Dia tahu si mucikari pasti mendapatkan barang baru dan hendak dipaksanya untuk menerima tamu, Kalau hanya dicambuk saja sudah merupakan hal yang lumrah, Kalau si gadis masih tidak mau menuruti kemauan si mucikari, kadang-kadang penyiksaan yang dialami para gadis itu lebih sadis lagi, misalnya kuku jari ditusuk dengan jarum panjang, atau sekujur tubuh disundut dengan gagang besi yang telah dipanggang di atas bara api, Pokoknya, masih banyak jenis siksaan yang lain kalau mau disebutkan satu persatu.
Suara jeritan atau tangisan seperti ini sudah lumrah terdengar dalam rumah-rumah pelesiran mana pun.
Merupakan suatu hal yang sulit dihindari Siau Po sudah lama meninggalkan Li Cun Wan, sekarang mendengar kembali suara-suara itu, kenangan lamanya bagai terungkit kembali.
Namun, dia juga tidak begitu merasa kasihan terhadap gadis malang itu.
Terdengar gadis itu meratap dengan suara keras.
"Kau bunuh saja aku! Biar mati sekali pun aku tidak mau menerima tamu. Aku akan membenturkan kepalaku ini ke tembok."
Si mucikari menyuruh kacungnya memukul lebih keras lagi, Kemudian terdengarlah suara cambukan sebanyak dua tiga puluh kali, nona itu masih terus menjerit dengan histeris.
"Hari ini tidak bisa pukul lagi, Lihat besok saja."
Kata si kacung.
"Seret barang murahan ini ke luar!"
Perintah si mucikari. Si kacung memapah gadis itu ke luar, sesaat kemudian dia sudah kembali lagi.
"Barang murahan ini tidak dapat dihadapi dengan cara keras. sebaiknya kita gunakan cara lunak saja. Kasih dia minum arak Mi Jun ciu."
Kata si mucikari.
"Tapi, dia tidak mau minum arak.,."
Sahut si kacung.
"Dasar anak cacing! Campurkan saja ke dalam daging atau hidangan lainnya, bukankah sama saja?"
Kata si mucikari.
"Betul, betuI, Jit ci (kakak ke tujuh), Kau memang selalu punya akal yang hebat!"
Sahut si kacung.
Sekali lagi Siau Po mengedarkan pandangan matanya ke dalam, Tampak si mucikari membuka sebuah lemari dan mengeluarkan sebuah botol arak, Dia menyerahkannya kepada si kacung, setelah menuangkan sedikit isinya ke dalam gelas, Terdengar dia berkata.
"Kedua teman yang ditemani Cun Fang hari ini, tampaknya mempunyai uang yang cukup banyak, Mereka mengatakan akan bermalam di sini untuk menunggu teman, sebetulnya pemuda-pemuda ganteng seperti mereka tidak mungkin menaksir Cung Fang, sebentar aku akan menemui mereka untuk menawarkan si barang murahan tadi, kalau peruntungan kita cukup bagus, mungkin kita akan dibayar tiga atau empat ratus tail perak."
"Selamat kepada Jit ci yang selalu mendapat akal untuk memperoleh keuntungan. Kalau benar, tentu aku bisa menumpang sedikit rejeki untuk membayar hutang di sanasini."
Sahut si kacung. Terdengar si mucikari menggerutu.
"Dasar orang tolol! Punya sedikit uang yang didapatkan dengan susah payah, malah disetorkan ke rumah judi, Ayo, laksanakan tugasmu dengan baik! Awas, kalau tidak, aku akan menggorok batang lehermu!"
Siau Po tahu bahwa Mi Jun Ciu adalah sejenis arak yang dapat membuat orang terbius, Setelah minum arak itu, orang menjadi tidak sadarkan diri.
Setiap rumah pelesiran di mana pun selalu tersedia arak semacam ini.
Khusus digunakan terhadap para gadis yang menolak menerima tamu.
Ketika pertama kali mendengarnya, dia juga merasa heran, tapi kemudian dia tahu dan sekarang sudah tidak merasa aneh lagi.
-Ayah angkatku hari ini merupakan dua orang pemuda?
Entah siapa mereka?
Aku ingin melihatnya!
--katanya dalam hati.
Perlahan-lahan dia menyelinap ke ruang besar yang khusus digunakan untuk menyambut tamu.
Dia berdiri di atas sebuah batu yang selalu digunakannya sejak dulu, jendela ruangan itu besar sekali, sedangkan tempatnya berdiri berada di sudut yang gelap.
Tamu yang ada dalam ruangan duduk menyamping dengan arahnya, Dia bisa melihat ke dalam dengan Ieluasa, tapi tamu yang di dalam justru tidak tahu kalau ada orang yang mengintai.
Dulu, perbuatan ini telah dilakukannya entah berapa ratus kali, selama itu dia belum pernah kepergok sekalipun.
Di dalam ruangan, tampak beberapa batang lilin merah yang besar sedang menyala dengan terang, ibunya sedang menemani dua orang tamu minum arak sambil tersenyum-senyum.
Siau Po memperhatikan ibunya dengan seksama.
Katanya dalam hati.
-Ternyata ibu sudah jauh lebih tua.
--ibunya memakai pakaian berwarna merah jambu, di bagian sanggulnya tertancap sekuntum bunga merah.
pipinya dilumuri bedak yang tebal --Bisnis ini mungkin tidak dapat digeluti lebih lama lagi, hanya kedua pemuda tolol ini saja yang mau memanggilnya untuk menemani minum arak.
Nyanyian ibu juga tidak bagus, Kalau aku yang berpelesiran ke rumah hina, dan kalau dia bukan ibuku, meskipun dikasih uang seribu tail, aku juga tidak akan memanggilnya untuk menemani aku.
-Terdengar ibunya tertawa dan berkata.
"Kongcu berdua sudah minum beberapa cawan arak, sekarang biarlah aku menyanyikan sebuah lagu untuk kalian berdua."
Dia pun mulai bernyanyi.
Siau Po yang mendengarnya langsung menarik napas panjang.
Dalam hati dia berkata.
--Lagu yang bisa dinyanyikan oleh ibu hanya itu-itu saja, Paling-paling cuma tiga buah lagu.
Mengapa tidak belajar beberapa lagu baru, agar langganan lebih tertarik?
-Tiba-tiba hatinya tergerak, dia tersenyum sendiri --Aku belajar silat juga tidak pernah serius, rupanya ini merupakan turunan dari ibu...
-Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang melengking.
"Sudah!"
Begitu kata-kata itu menyusup ke dalam telinganya, seluruh tubuh Siau Po langsung bergetar Hampir saja dia tergelincir jatuh dari atas batu tempat dia berdiri, PerlahanIahan dia mengedarkan pandangan matanya, Tampak sebuah tangan sedang menahan sebuah cawan yang disodorkan ke hadapannya, Dari bagian jari tangan itu, Siau Po menyusuri pandangannya ke atas.
Dia melihat seraut wajah yang manis, siapa lagi kalau bukan A Ko?
Hatinya gembira bukan kepalang, Hampir saja dia tidak dapat menahan luapan hatinya.
--Mengapa A Ko bisa datang ke Yang-ciu?
Mengapa dia bisa muncul di Li Cun Wan ini bahkan memanggil ibuku untuk menemaninya?
Dia datang ke sini dengan menyamar sebagai laki-laki, yang dipanggilnya bukan orang lain, tapi ibuku, pasti tujuannya untuk mencari aku.
Bagian 71 Rupanya selama ini dia tidak melupakan diriku, tidak lupa bahwa kami sudah menjalani upacara sebagai suami istri....
A ha!
Benar-benar menakjubkan!
Hari ini kita suami istri dapat bertemu di sini sekaligus bermalam pengantin....--Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki berkata.
"Gouw hiante, lebih baik untuk sementara kau jangan minum dulu, kita tunggu kawan-kawan dari Mongol.!"
Telinga Siau Po seperti dihantam sebuah palu sehingga berdengung, Dia segera mengetahui bahwa urusannya kurang tepat Matanya berkunang-kunang, bumi seakan berputar Untuk sesaat pandangannya menjadi gelap, Dia memejamkan matanya sesaat untuk menenangkan diri.
Kemudian dia memandang lagi kepada pemuda yang duduk di samping A Ko, kalau bukan The Kek Song, si Ji kongcu dari Taiwan, siapa lagi?
Ibu Siau Po tertawa kembali sembari berkata.
"Kalau siangkong kecil tidak mau minum, biar siangkong besar saja yang minum."
Di menuangkan secawan arak untuk The Kek Song. Disodorkannya arak itu sambil menghenyakkan pantatnya ke atas pangkuan si pemuda.
"Hei! Sopan sedikit!"
Kata A Ko. Wi Cun Fang tertawa.
"Aduh, kulit wajah siangkong kecil rupanya tipis sekali, Tidak terbiasa kiranya melihat pemandangan seperti ini. seharusnya kau datang ke sini setiap hari, kelak pasti kau akan mengatakan bahwa aku masih kurang romantis, Siangkong kecil, bagaimana kalau aku memanggil seorang nona cilik untuk menemanimu?"
Tanyanya.
"Tidak! Tidak!"
Sahut A Ko gugup.
"Jangan! Kau duduk diam-diam saja!"
Sekali lagi Wi Cun Fang tertawa.
"Aih! Tentunya kau cemburu karena aku menemani siangkong besar tetapi tidak menemanimu bukan?"
Katanya sambil berdiri dan bersiap-siap duduk di atas pangkuan A Ko.
Siau Po yang melihatnya merasa mendongkol juga geli, Katanya dalam hati.
--Di dunia ini mana ada peristiwa yang demikian aneh?
Masa istriku datang ke rumah pelesiran untuk bermesraan dengan ibuku?
-Tampak A Ko mengulurkan tangannya untuk mendorong Cun Fang.
Kaki wanita itu limbung dan dia jatuh terhenyak di atas lantai, Siau Po marah sekali.
Dia memaki dalam hati.
--perempuan hina!
Kau berani mendorong mertuamu sendiri!
Benar-benar kurang ajar!
Tapi Cun Fang justru tidak marah, Dengan tertawa terkekeh-kekeh, dia berdiri lagi.
"Kalau siangkong kecil begitu malu, bagaimana kalau kau saja yang duduk di atas pangkuanku?"
Katanya.
"Tidak!"
Sahut A Ko gusar. Kemudian dia berpaling kepada The Kek Song dan berkata.
"Banyak tempat yang dapat digunakan untuk pertemuan, mengapa tetap harus di sini?"
"Kami sudah berjanji akan bertemu di sini, siapa pun tidak boleh mengingkari janji, Aku juga tidak tahu kalau Li Cun Wan adalah sebuah tempat kotor seperti ini. Hai! pokoknya kau duduk baik-baik di sana!"
Kata-katanya yang terakhir tentu saja ditujukan kepada Cun Fang.
Semakin lama, hati Siau Po semakin gusar --Tempo hari di tepi sungai Kuang Say kau memohon lalu mengampuni selembar jiwa anjingmu --pikir Siau Po dalam hati, --Kau bahkan bersumpah berat!
Kau mengatakan bahwa untuk selamanya kau tidak akan berani berbicara lagi dengan istriku, tapi hari ini, entah sudah berapa ribu kata yang kalian bicarakan, masih mending kalau tujuan kalian ke sini hanya untuk bermesraan dengan ibuku saja, tapi ini,., ini huh!
sayangnya hari itu aku tidak memotong lidahmu, aku benar-benar menyesali --Cun Fang menghampiri The Kek Song dan mengelus-elus lehernya, pemuda itu menepis punggung tangan Cun Fang.
"Kau keluarlah dulu, kami kakak beradik ada yang hendak dibicarakan, nanti aku baru memanggilmu lagi!"
Katanya. Dengan perasaan apa boleh buat Cun Fang terpaksa berjalan keluar The Kek Song berkata dengan suara lirih.
"Siauw moay, kalau dalam hal yang kecil saja kita tidak dapat menahan diri, mana mungkin bisa menyelesaikan urusan besar?"
Katanya.
"Pangeran Kaerltan itu bukan orang baik-baik, mengapa dia mengajak kau bertemu di sini?"
Tanya AKo.
Mendengar disebut namanya "Pangeran Kaerltan", Siau Po segera berpikir.
-Si telur busuk itu juga sudah datang, Tentu mereka akan membicarakan urusan pemberontakan Bagus!
Bagus!
Lohu akan memimpin sepasukan tentara dan menjaring mereka sekaligus!
"Dalam beberapa hari ini,"
Kata Kek Song.
"Penjagaan di dalam kota Yang-ciu ketat sekali, Kalau ada tamu asing yang bermalam di rumah penginapan, pasti ada petugas yang datang menanyakan berbagai hal. Dengan kata lain, diinterogasi. Kalau kita tidak hati-hati dan menampakkan sedikit jejak saja, urusannya bisa runyam, Rumah pelesiran seperti ini tidak pernah didatangi para perwira atau pun petugas. Banyak keuntungan kalau kita bermalam di sini. Kita masih tidak apa-apa, tapi rombongan pangeran Kaerltan kan mencolok sekali dandanannya. Lagipula, kau begitu cantik seperti bidadari khayangan, kalau kau menginap di rumah penginapan, para pemuda kota Yang-ciu pasti ke luar semua untuk melihatmu, cepat atau lambat, tentu bisa timbul masalah."
A Ko tersenyum kecil.
"Aku tidak butuh pujian gombalmu!"
Katanya.
"Kau kira, aku hanya sembarangan memuji saja?"
Kata Kek Song.
"Kalau saja bidadari khayangan ada yang secantik dirimu, tentu segala Lie Cun Yang, Thiat Yat Lie dan yang Iain-lainnya tidak akan turun ke bumi. Setiap hari mereka akan berdiam di surga nirwana untuk menatap kecantikan permata hatiku."
A Ko tersipu-sipu, Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya.
Siau Po gusar sekali, Hampir saja dia tidak dapat menahan luapan amarah dalam hatinya, Tangannya merogo ke dalam saku untuk mengeluarkan senjata.
Dia ingin menerjang masuk ke dalam kamar dan menghajar The Kek Song, tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya.
-ilmu bocah ini cukup tinggi, A Ko juga pasti akan membantunya, Kalau aku menerjang ke dalam, pasti terjadi peristiwa "Gundik dan istri membunuh suami".
Di dunia ini, aku boleh menjadi siapa saja, asal jangan menjadi Bu Toa Long!
-Bo Toa Long adalah seorang pemuda di jaman dahulu yang dibunuh mati oleh istrinya dan pacar gelap sang istri, Cerita ini kemudian menjadi legenda dan sering menjadi perumpamaan dalam pembicaraan apabila istri seseorang main gila dengan lelaki lain.
Karena mendapat pikiran itu, dia terpaksa menahan kemarahan hatinya dan melihat kemesraan sepasang pemuda-pemudi itu.
Terdengar A Ko berkata.
"Koko, sebetulnya..."
Mendengar panggilan "koko", hati Siau Po semakin nyeri.
Dia berpikir.
--Maknya!
Benar-benar tidak tahu malu!
Malah sekarang sudah memanggil koko segala...
-Kata-kata A Ko yang selanjutnya jadi tidak terdengar lagi olehnya.
Dia hanya mendengar Kek Song berkata.
"Serahkan saja kepadaku, Dia ada di tempat yang gelap sedangkan kita di tempat yang terang, kita harus berhati-hati. Anak buah pangeran Kaerltan lihay-Iihay, pokoknya kali ini, kita harus membuat lubang di tubuhnya yang tembus pandang!"
"Budak itu terlalu menghina. Kalau tidak membalaskan dendam ini, untuk selamanya aku tidak bisa hidup tenang."
Kata A Ko.
"Kau tahu, sebetulnya aku tidak sudi mengakui ayah, tapi karena dia berjanji akan membalas dendam, serta menyuruh beberapa orangnya yang lihay untuk membantuku, barulah aku mau mengakuinya."
Dalam hati Siau Po berkata.
"Siapa yang menyakitimu? Kalau kau ingin membalas dendam, katakan saja kepada suamimu, tidak ada hal yang tidak dapat kulakukan Mengapa sampai mengakui si pengkhianat sebagai ayah? "
SebetuInya tidak sulit membunuh telur busuk itu!"
Kata Kek Song.
"Tetapi penjagaan anjing-anjing Tat Cu terlalu ketat, Karena itu, urusannya jadi tidak begitu mudah, Kita harus menemukan akal yang sempurna dulu, baru boleh turun tangan."
"Ayah menyetujui permintaanku untuk membunuh orang ini, sebetulnya juga bukan sepenuhnya demi diriku, Ayah ingin memimpin tentaranya mengadakan pemberontakan sedangkan orang ini akan menjadi penghalang utama baginya. Ketika dia mengatakan kepadaku agar tidak menceritakan apa pun kepada ibu, aku segera mengetahui bahwa dia mengandung niat lain."
"Apakah kau pernah mengungkit persoalan ini kepada ibumu?"
Tanya Kek Song. A Ko menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Urusan ini semakin rahasia semakin baik. Kemungkinan ibu akan mencegah tindakan kami, Kalau aku tidak mendengar perkataan ibu, rasanya kurang baik juga, Lebih baik diam saja."
Katanya. Kembali Siau Po berpikir. -Siapa yang ingin dibunuhnya? Mengapa orang ini bisa menjadi penghalang utama Gouw Sam Kui? Terdengar Kek Song berkata kembali.
"Dalam beberapa hari ini, aku selalu memperhatikan gerak-geriknya, tampaknya dia mendapat pengawalan yang ketat sekali, Tidak mudah mendekatinya, Lalu aku menguras otak, budak ini mata keranjang, kalau ada orang yang menyamar sebagai perempuan penghibur atau para penyanyi, tentu mudah mendekatinya." --Mata keranjang? --pikir Siau Po. --siapakah yang dimaksudkannya? Bu Tai atau Hoan Tai? -"Siapa yang sanggup menyamar? Kecuali aku dengan suci? Tapi aku tidak sudi menyamar sebagai perempuan yang demikian rendah."
Kata A Ko.
"Kalau tidak, kita sogok saja koki yang melayaninya, Kita minta dia memasukkan racun ke dalam araknya."
Kata Kek Song.
"Kalau hanya diracuni saja, rasa sakit hati ini masih tidak terbalas, Aku ingin memotong kedua tangannya dan mengiris... lidahnya yang suka berputar sembarangan dan mengoceh yang tidak-tidak. Bocah setan itu... aku.,, aku,.,."
Mendengar A Ko menyebut "bocah setan", Siau Po langsung tersentak sadar.
-Rupanya ingin membunuh suami sendiri!
--Dia tahu sebongkah hati A Ko telah diserahkan kepada The Kek Song, tapi dia tidak pernah menyangka kalau gadis itu begitu membencinya, Dia jadi berpikir -Dalam hal apa aku berbuat kesalahan terhadapmu?
-Pertanyaannya segera mendapatkan jawaban.
"Ko moay, aku tahu, bocah itu tergila-gila kepadamu dia tidak berani menyakitimu sedikit pun. Kalau kau begitu membencinya, semua ini hanya karena perbuatannya terhadapku Ka... sih sayang... mu yang demikian tulus ini, aku... aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalasnya..."
Kata Kek Song.
Tangan pemuda itu menjulur ke depan untuk memeluk tubuh A Ko.
Gadis itu tersipusipu dan menyusupkan wajahnya ke dalam dada kek Song yang bidang.
Hati Siau Po merasa gundah, Nyeri, pilu, marah semua berbaur menjadi satu.
Tibatiba kepalanya terasa terhentak ke belakang, Rupanya kuncir rambutnya telah ditarik oleh seseorang, Lalu telinganya juga dijewer.
Baru saja dia ingin berteriak, dia sudah mendengar sebuah suara yang tidak asing lagi.
"Telur busuk kecil, ayo ikut aku!"
Dalam seumur hidupnya, entah sudah berapa ratus kali dia dipanggil "Si telur busuk kecil"
Oleh orang ini, Karena itu, dia tidak berani membangkang, diikuti saja apa yang diinginkan oleh orang itu.
Orang yang menarik kuncirnya, menjewer telinganya, juga sudah melakukannya entah berapa ribu kali, Dia bukan lain dari pada Wi Cun Fang, ibunya sendiri.
Kedua orang itu kembali ke kamar Wi Cun Fang mendupakkan kakinya ke pintu untuk menutupnya, Setelah itu dia baru melepaskan jambakan dan jewerannya.
"Mak, aku sudah pulang!"
Kata Siau Po sambil tertawa. Wi Cun Fang memperhatikannya sekian lama, kemudian secara tiba-tiba dia menubruk Siau Po untuk memeluknya erat-erat dan menangis tersedu-sedu. Siau Po tersenyum.
"Mak, bukankah aku sudah kembali, mengapa kau masih menangis?"
Tanyanya. Dengan terisak-isak Cun Fang berkata.
"Mati ke mana kau selama ini? Aku mencarimu di dalam dan di luar kota Yang-ciu. Setiap kali bersembahyang di kelenteng, berbagai permintaan selalu kupanjatkan, bahkan entah sudah berapa kali aku membenturkan kepalaku menyembah-nyembah segala dewa di sana, Siau Po yang manis, akhirnya kau kembali juga ke samping Mak!"
Siau Po tertawa.
"Aku toh bukan anak kecil lagi, apa salahnya mencari pengalaman di luar?"
Katanya.
Dengan air mata menggenang di kelopak, Cun Fang melihat putranya sudah jauh lebih tinggi dari pada dulu, Tubuhnya juga lebih tegap, Hatinya merasa senang dan terharu, Kembali dia menangis, tapi mulutnya masih menggerutu.
"Kau ini benar-benar telur busuk kecil! Kalau mau mencari pengalaman di luar, seharusnya kau mengatakannya terlebih dahulu kepada Makmu ini. Kali ini kalau tidak dihajar dengan rotan sampai seratus kali, tentu kau masih belum tahu kelihayan nenek ini!"
Yang disebut hajaran rotan maksudnya menghantam pinggul Siau Po dengan rotan seperti orang menggebuk kasur, Siau Po sudah lama sekali tidak merasakannya, Dia jadi geli sendiri.
Cun Fang juga ikut tertawa, Dia mengeluarkan sapu tangannya dari saku untuk mengusap kotoran yang melekat pada wajah Siau Po.
Sembari menyeka dia melirik ke bawah, tampak pakaiannya di bagian dada telah basah oleh air mata, Bahkan ada ingus serta debu-debu yang jatuh dari wajah anaknya, Tanpa dapat ditahan lagi, hatinya menjadi sakit Dengan keras dia menempeleng pipi Siau Po, mulutnya memaki.
"Aku hanya mempunyai satu lembar pakaian baru ini. Dijahitnya saja baru dua tahun yang lalu, aku malah baru memakainya beberapa kali, Telur busuk kecil! Kau pulang, bukan kebaikan atau keuntungan yang diberikan, justru mengotorkan baju baruku ini. Bagaimana aku harus menemui tamu nanti?"
Siau Po melihat ibunya sangat menyayangi baju barunya itu. Bahkan begitu kesalnya, sehingga selembar wajahnya merah padam serta mencak-mencak. Sambil tertawa dia berkata.
"Mak, kau tidak perlu menyesal Besok aku akan meminta orang menjahitkan seratus stel pakaian baru untukmu, Dijamin mutunya sepuluh kali lipat lebih baik daripada kepunyaanmu ini."
Katanya.
"Si telur busuk kecil memang paling pandai membual,"
Maki Cun Fang. Kepandaian apa yang kau miliki? Lihat saja tampangmu sendiri, mana mungkin bisa kaya mendadak di luaran?"
"Kaya sih belum, tapi dalam hal berjudi aku kan selalu beruntung. Aku berhasil memenangkan sedikit uang."
Sahut Siau Po. Terhadap keahlian Siau Po dalam berjudi, Cun Fang masih punya sedikit keyakinan Dia segera mengulurkan tangannya.
"Bawa ke mari!"
Katanya.
"Kalau kau yang memegang uang, dalam setengah jam saja pasti sudah ludes lagi!"
Siau Po tertawa.
"Kali ini jumlah kemenanganku terlalu banyak, rasanya sampai satu tahun pun tidak sanggup menghabiskannya."
Katanya.
Cun Fang mengulurkan tangannya dan sekali lagi dia menampar Siau Po.
Siau Po menundukkan kepalanya untuk menghindari pukulan itu.
Dalam hati dia berkata.
-Setiap kali melihat aku, pasti mengulurkan tangan untuk memukul, ini yang dinamakan.
"Di utara ada putri, di selatan ada mak tua" ! --Baru dia merogokan tangan ke dalam saku untuk mengambil uang, dari luar terdengar suara teriakan si kacung.
"Cun Fang, tamu memanggil, cepat ke sana!"
"Baik!"
Sahut Cun Fang, Cepat-cepat dia menatap dirinya ke dalam kaca cermin dan menambahkan pupur di wajahnya. Setelah itu dia berkata kepada Siau Po.
"Kau tunggu di sini sebentar, makmu akan kembali untuk menghidangmu, kau... jangan ke manamana!"
Siau Po melihat wajah ibunya menyiratkan perasaan khawatir kalau-kalau akan kehilangan dirinya lagi. Sambil tertawa dia berkata.
"Jangan takut, aku tidak akan pergi!"
Katanya. Cun Fang memakinya "si telur busuk kecil"
Satu kali, sambil melenggak-lenggokkan pinggulnya, dia berjalan ke luar.
Siau Po berbaring di atas pembaringan.
Dia menyelimuti tubuhnya, Belum berapa lama Cun Fang pergi, ternyata sudah kembali lagi, Tangannya membawa sebotol arak, Melihat Siau Po masih berbaring di atas tempat tidur, hatinya menjadi lega, Dia membalikkan tubuhnya untuk berjalan ke luar Iagi.
Siau Po melihat ibunya membawa botol arak, dia tahu tentu Kek Song yang menyuruh ibunya menambah arak.
Tiba-tiba hatinya tergerak dan dia pun berkata.
"Mak, apakah kau menambahkan arak untuk tamu?"
"Ya, kau baik-baiklah berbaring di sana, sekembalinya nanti, aku akan membawakanmu makanan yang enak-enak."
Sahut Cun Fang.
"Setelah mengisi arak, bawalah ke mari agar aku dapat minum beberapa teguk."
Kata Siau Po.
"Dasar mulut rakus!"
Maki Cun Fang.
"Anak kecil mana boleh minum arak?"
Dengan membawa botol arak itu, dia langsung berjalan ke luar.
Siau Po segera mengintip lewat celah yang ada, dia melihat kamar sebelah tetap kosong, Dengan gerakan ekspres, dia menyelinap ke luar dan menuju kamar sebelah, Dia membuka lemari dan mengeluarkan arak Mi Jun Ciu milik si mucikari.
Setelah itu, dia kembali lagi ke kamarnya dan masuk ke dalam selimut Diam-diam dia membuka tutup botol arak itu.
Katanya dalam hati.
--Kek Song, kau si anak haram jadah!
Kau ingin meracuni lohu, biar lohu yang turun tangan terlebih dahu!u!
-Tidak lama kemudian, Cun Fang masuk kembali lagi dengan tangan membawa sebuah botol yang telah diisi dengan arak, Dia menyodorkannya kepada Siau Po sembari berkata.
"Cepat minum dua teguk!"
Siau Po tetap berbaring di atas tempat tidur, dia mengulurkan tangannya menyambut botol arak itu dan meminumnya seteguk, Cun Fang yang melihat anaknya mencuri minum arak tamu, dalam hatinya jadi merasa kasihan.
"Mak, di wajahmu ada noda hitam yang besar."
Kata Siau Po.
Cun Fang cepat-cepat menuju ke kaca untuk melihat noda yang dikatakan anaknya, sementara itu, Siau Po segera membuang arak dalam botol yang dibawa Cun Fang, kemudian menuangkan arak pembius yang diambilnya dari si mucikari ke dalam botol tersebut.
Cun Fang melihat wajahnya putih bersih tanpa noda sedikit pun, segera sadar bahwa anaknya pasti sedang bermain gila karena ingin mencuri minum arak beberapa teguk lagi, Karena itu, dia segera membalikkan tubuhnya dan memaki.
"Si telur busuk kan keluar dari rahim mak tuamu ini, mungkinkah aku tidak tahu cacing busuk yang ada dalam perutmu? Huh! Dulu tidak bisa minum arak, baru berkeliaran di luar beberapa lama saja, perbuatan buruk apa pun sudah dipelajari"
Cun Fang segera merebut botol arak dari tangan Siau Po.
"Mak,"
Kata Siau Po tanpa memperdulikan ocehan ibunya.
"Sifat kedua kongcu itu tidak begitu baik, kau cekoki saja siangkong kecil itu dengan arak agar tidak dapat memaki-maki lagi, dengan demikian sekaligus kau bisa mengelabui si kongcu besar untuk mendapatkan uang yang banyak."
"Makmu sudah melakukan pekerjaan ini hampir setengah hidupnya, masa perlu meminta pelajaran darimu?"
Kata Cun Fang.
Meskipun demikian, diam-diam dia menyetujui usul anaknya, Dia berpikir --Si telur busuk cilik baru kembali, ini merupakan peristiwa yang mengembirakan.
Paling bagus kalau malam ini, si tamu tidak minta aku menemaninya bermalam, aku ingin menemani anakku!
--Cepat-cepat dia berjalan ke luar.
Siau Po berbaring di atas tempat tidur, sebentar dia merasa kesal, tetapi sesaat kemudian dia merasa bangga juga, Dia berpikir --Lohu benar-benar pembesar yang beruntung, Si bocah busuk The Kek Song jauhjauh datang ke mari, bukan perempuan yang lain yang dicarinya, malah memanggil mak tuaku, dan jadi ayah angkatku untuk sementara, Kali ini, aku harus menusuknya dengan pisau lalu menaburkan obat penghancur mayat di atas tubuhnya!
-Dia ingin menggunakan kesempatan ketika Kek Song terbius untuk menikamnya dengan pisau kemudian ditaburi obat penghancur mayat milik almarhum Hay kong kong.
Dia membayangkan setelah A Ko, tentu dia kebingungan setengah mati.
Meskipun dicari ke mana-mana, Kek Song tetap tidak berhasil ditemukan -Maknya!
panggillah kokomu itu beberapa kali lagi, besok mungkin kau tidak mempunyai kesempatan untuk memanggilnya lagi!
--gerutunya dalam hati.
Dia merasa gembira sekali Cepat-cepat dia menegakkan tubuhnya dan mengintip lewat celah papan, Dia melihat Kek Song baru saja meneguk habis arak dalam cawannya, sedangkan A Ko hanya minum seteguk, Siau Po semakin senang, Dia melihat ibunya menuangkan arak lagi untuk Kek Song, tapi pemuda itu mengibaskan tangannya dan berkata.
"Keluarlah, kami tidak membutuhkan pelayananmu lagi!"
Cun Fang mengiakan Ketika meletakkan kendi arak, dengan cepat ia menyelipkan sepotong ham yang besar ke dalam lengan bajunya.
Siau Po tersenyum simpul -Aku akan mendapatkan sepotong ham besar!
--katanya dalam hati.
Dia segera kembali ke kamar dan berbaring Iagi.
Tidak lama kemudian, Cun Fang masuk ke dalam kamar dengan membawa potongan ham yang besar itu.
Sembari tertawa dia berkata.
"Eh, telur busuk cilik, berkeliaran di luar, mana mungkin mendapatkan makanan yang enak seperti ini?"
Dengan tersenyum simpul, dia duduk di ujung tempat tidur, Matanya memperhatikan anaknya melahap habis ham yang besar itu, rasanya lebih senang dari pada dia melahapnya sendiri.
"Mak, kau tidak minum arak?"
Tanya Siau Po.
"Aku sudah minum beberapa cawan Kalau minum lagi, aku pasti mabok, dan kau tentu akan menggunakan kesempatan itu untuk kabur lagi!"
Sahut Cun Fang. Dalam hati Siau Po berpikir. --Kalau mak masih sadar, tentu sulit menyelesaikan urusan --Karenanya dia segera berkata.
"Pokoknya aku tidak akan pergi Sudah lama aku tidak menemani mak tidur, Malam ini jangan menerima tamu lagi, temanilah aku di sini!"
Cun Fang gembira sekali, Ternyata anaknya masih begitu merindukannya, padahal waktu sudah berlalu cukup lama, Tidak disangka, setelah mencari pengalaman sekian lama di luaran, dia masih terkenang kebaikan ibunya, wajahnya langsung ber-seri-seri.
"Baik, malam ini mak akan menemani Siau Po manis tidur."
Katanya.
"Mak, meskipun pergi dari rumah, tapi tiap hari aku selalu memikirkan dirimu, Mari, aku bantu mak melepaskan pakaian."
Kata Siau Po.
ilmu menepuk pantat kuda Siau Po manjur terhadap raja cilik, Hong kaucu, kiong cu, bahkan gurunya sendiri, Tentu saja setelah digunakan menghadapi ibunya, kemanjurannya juga tidak ber-beda.
Cun Fang sudah lama menjadi pelacur, laki-laki model apa pun sudah pernah melepaskan pakaiannya, tapi tangan-tangan mereka tentu rasanya jauh berlainan dengan sentuhan tangan anaknya sendiri, hatinya semakin senang, Dia jadi tertawa terkekeh-kekeh, Siau Po membantu ibunya melepaskan pakaian kemudian dia mengulurkan tangannya untuk mengendorkan tali celana Cun Fang.
ibunya berdehem satu kali kemudian menepiskan tangannya.
"Biar aku sendiri saja!"
Katanya, Tiba-tiba saja dia merasa anaknya sudah besar sehingga merasa malu, Cepat-cepat dia menyusup ke dalam selimut dan melepaskan celananya, Setelah itu, dia mengeluarkan celana itu lalu diletakkannya di atas selimut Siau Po mengeluarkan dua keping uang perak, nilainya kurang lebih tiga puluhan tail, Dia mengangsurkan uang itu ke hadapan ibunya.
"Mak, ini untukmu!"
Katanya. Cun Fang terharu sekali Dia menyambut uang itu dan berkata.
"Aku.,, aku akan menyimpannya untukmu, Beberapa tahun lagi aku akan mencarikan menantu untukmu."
Air matanya pun jatuh berderai, Daiam hati Siau Po berpikir -Tidak usah menunggu beberapa tahun, sebentar lagi aku akan menjemput menantu untukmu, --Dia memadamkan lampu minyak dalam kamar lalu berkata.
"Mak, kau tidurlah, setelah kau tidur,aku baru tidur."
Cun Fang tertawa.
"Lagak si telur busuk cilik semakin lama memang semakin banyak."
Katanya.
Dia menutupi tubuhnya dengan selimut lalu memejamkan matanya, Cun Fang sudah letih karena tidak henti-hentinya melayani tamu sehari penuh.
Dia juga sudah minum beberapa cawan arak, ditambah lagi melihat anaknya sudah puIang, Hati-nya jadi tenang, sejenak kemudian dia sudah tidur pulas.
Siau Po dapat mendengar suara dengkuran ibunya yang halus, Dengan mengendapendap dia berjalan ke arah pintu, tapi dia teringat sesuatu, cepat-cepat dia kembali lagi untuk mengambil celana ibunya dan dilemparkannya ke atas lemari.
Dalam hati dia berpikir -seandainya kau terjaga, tanpa celana kau toh tidak mungkin mengejar aku.
-Siau Po berjalan ke luar ruangan penerimaan tamu, Ketika mengintai ke dalamnya, dia melihat Kek Song duduk bersandar di sebuah kursi, sedangkan A Ko menelungkup di atas meja, keduanya tidak bergerak sama sekali, Hati Siau Po gembira sekali, Dia menunggu lagi beberapa saat, keduanya masih tidak bergerak dia segera masuk ke dalam, lalu menutup pintu ruangan itu, tapi sesaat kemudian dia membatalkan niatnya karena dia berpikir --Lebih baik jangan ditutup dulu, Kalau si budak busuk itu hanya pura-pura pingsan, bisa-bisa aku tidak dapat melarikan diri kalau pintu ini tertutup, -Siau Po mengeluarkan pisaunya kemudian berjalan ke depan beberapa langkah.
Tangan kanannya menggoncang-goncangkan tubuh Kek Song, tetapi Kek Song tak memberikan reaksi sama sekali, ternyata benar-benar sudah terbius.
Kembali dia mendorong-dorong tubuh A Ko.
Mulut gadis itu mengeluarkan suara gumaman yang tidak jelas, tapi tidak sanggup menegakkan tubuhnya, Siau Po berpikir --A Ko minum arak terlalu sedikit Takutnya tidak lama lagi dia akan sadar Kalau hal itu sampai terjadi, gawat!
--Dia menyelipkan pisaunya kembali ke dalam sepatu lalu memapah A Ko agar duduk tegak.
Sepasang mata gadis itu terpejam rapat, tapi mulutnya mengigau.
"Koko, a... ku... aku ti... dak dapat minum la...gi"
Dengan suara rendah Siau Po berkata.
"Moay moay yang baik, minumlah satu cawan lagi!"
Dituangkannya secawan arak, lalu diangsurkannya ke depan bibir A Ko dan memaksanya meneguk kering isi cawan itu.
Dia melihat secawan arak itu sudah tertelan ke dalam perut A Ko.
Hatinya berpikir -Kau dan aku sudah bersembahyang langit dan bumi, berarti kita sudah menjadi suami istri yang resmi, tapi kau tidak sudi bermalam pengantin denganku, malah datang ke Li Cun Wan untuk menjadi pelacur cilik, Apakah kau mengharapkan lohu yang menjadi tamumu?
Benar-benar kurang ajar!
Pada dasarnya A Ko memang sudah cantik, ditambah lagi kedua pipinya yang berona merah setelah minum arak, Hati Siau Po tergerak, dia tidak memperdulikan lagi mati hidupnya The Kek Song, Cepat-cepat dipondongnya A Ko ke dalam kamar besar yang ada di sebelah dalam.
Kamar ini memang khusus disediakan bagi tamu yang ingin bermalam, Tempat tidurnya besar sekali, mungkin kurang lebih enam kaki.
Alas tidurnya halus, selimutnya tebal dan kelambunya dari sutra yang indah.
pokoknya kamar itu didekorasi dengan mewah.
Siau Po meletakkan A Ko di atas tempat tidur Lalu dia ke luar lagi untuk mengambil ciok tai (tempat lilin), Diteranginya wajah A Ko yang cantik lewat sinar lilin itu, Tanpa dapat ditahan lagi, jantungnya jadi berdebar-debar, Dia segera membungkukkan tubuhnya untuk melepaskan jubah luar A Ko.
Tampaklah baju hijau pupus yang biasa dipakainya.
Dia mengulurkan tangannya untuk membuka kancing baju A Ko.
Tiba-tiba dari belakangnya terdengar suara langkah kaki.
Baru saja dia hendak menolehkan kepalanya, tahu-tahu kuncirnya sudah ditarik dan telinganya dijewer oleh seseorang, lagi-lagi Cun Fang telah meringkusnya, Siau Po segera berkata dengan suara rendah.
"Mak, cepat lepaskan!"
"Telur busuk cilik!"
Maki Cun Fang.
"Walaupun kita orang miskin, tapi peraturan di rumah pelesiran ini sangat keras, Di kota Yang-ciu ada sembilan rumah pelesiran, tidak ada satu pun yang pernah melaporkan bahwa tamunya kehilangan uang! Kecil-kecil kau sudah belajar mencuri, ayo ke luar!"
"Aku tidak mencuri uang tamu."
Sahut Siau Po gugup. Cun Fang menarik kuncirnya dengan keras. Dengan susah payah, dia menyeret Siau Po kembali ke kamarnya.
"Kalau bukan untuk mencuri uang, mengapa kau melepaskan pakaiannya? Beberapa puluh tail yang kau berikan ini pasti merupakan hasil curian juga, Setengah mati aku membesarkanmu, akhirnya kau malah jadi tukang copet!"
Makinya.
Hatinya kesal bukan main, dia mengambil uang keping uang perak yang diberikan Siau Po lalu membantingnya ke Iantai.
Sulit rasanya bagi Siau Po untuk menerangkan duduk persoaiannya.
Apabila dia menceritakan bahwa salah seorang tamu itu merupakan perempuan yang menyamar sebagai laki-laki dan adalah istrinya sendiri, tentu kisah ini tak dapat dijelaskan dalam waktu yang singkat Lagi pula ibunya juga belum tentu percaya, Karena itu, dia hanya dapat berkata.
"Untuk apa aku harus mencuri uang orang lain? Kau lihat, aku sendiri mempunyai uang yang banyak."
Dia mengeluarkan sejumlah gin pio besar dari dalam sakunya.
"Mak, semua uang ini sedianya akan kuberikan kepadamu, tapi karena aku takut Mak akan terkejut maka aku bermaksud memberikannya sedikit demi sedikit."
Katanya kemudian. Cun Fang melihat anaknya menggenggam belasan lembar gin pio yang nilai masingmasingnya seratus tail, Tidak kepalang tanggung rasa terkejutnya.
"Ini... ini, dasar maling! pasti kau mencurinya dari saku kedua siangkong tadi, bukan?"
Katanya dengan mata membelalak.
"Biarpun kau masuk lagi ke dalam kandungan dan dilahirkan kembali, tidak mungkin kau bisa menghasilkan uang sebanyak itu, Cepat kembalikan uang itu! Kita yang mencari makan di rumah pelesiran seperti ini, kalau membohongi tamu dengan rayuan, biar jumlahnya delapan atau sepuluh laksa tail sekalipun, harus tamu itu sendiri yang memberikannya dengan ikhlas, Kalau dengan cara mencuri seperti yang kau lakukan, Ji Long sin, sang dewa kebaikan pun tidak akan mengampuni perbuatanmu Menjelma kembali sekalipun, kau tetap akan menjadi pencuri Siau Po yang manis, mak berkata begini semuanya demi kebaikanmu sendiri!"
Akhirnya, dia menarik nafas panjang dan berkata kembali dengan suara yang jauh lebih lembut.
"Besok pagi, kalau mereka terjaga dan mendapatkan semua uangnya sudah hilang, pasti akan timbul keributan. Pada waktu itu, petugas setempat pasti datang menangkapmu dan kau akan dihajar sampai habis seluruh tubuhmu, Siau Po yang baik, kita tidak boleh menyerakahi uang orang lain!"
Siau Po berpikir dalam hati.
"Mak sedang kesal, Untuk sementara, urusan ini sulit dijelaskan. Kalau dia berkoar terus, tentu si mucikari dan si kacung nongol. Kalau itu sampai terjadi, urusan besar bisa kacau! -Hatinya tergerak, dia segera menemukan akal, Karena itu dia berkata.
"Baik, baik, Mak! pokoknya aku akan menuruti apa pun katamu!"
Dia menarik tangan ibunya untuk kembali ke kamar penerimaan tamu, Di sana dia menyelipkan seluruh uangnya ke dalam saku The Kek Song.
Kemudian menarik ke luar sakunya yang sudah kosong melompong dan menepuknepuk pakaiannya sendiri sambil berkata.
"Sekarang, seperak pun aku tidak punya lagi, Apakah kau sudah merasa puas?"
"Bagus, Memang begitulah sebaiknya!"
Kata Cun Fang sambil menarik nafas panjang.
Siau Po kembali ke kamarnya sendiri Dia melihat ibunya mengenakan sehelai celana yang sudah usang, hampir saja dia tertawa geli.
Cun Fang mengangkat tangannya dan dengan telunjuknya mendorong kepala Siau Po.
"Ketika bangun, aku melihat celanaku sudah tidak ada. Aku segera menyadari bahwa pasti kau yang sedang bermain gila."
Katanya, Dia tidak dapat menahan diri sehingga ikut tertawa geli.
"Aduh!"
Teriak Siau Po tiba-tiba.
"Perutku sakit, aku ingin membuang air besar."
Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, dia langsung berlari ke luar.
Cun Fang takut anaknya kembali lagi ke ruangan utama, tapi ketika melihat arah yang diambilnya berlawanan, hatinya baru lega, Dia berpikir.
-Kalau kau pergi lagi ke tempat para tamu itu, pasti tidak akan lolos dari intaian mak tuamu ini!
--Siau Po menyelinap dari pintu samping lalu kembali ke taman keluarga Ho.
penjaga yang mengawasi di tempat pintu langsung menghadangnya dan membentaknya.
"Ada perlu apa?"
"Akulah Ciam Cai tayJin, apakah kalian tidak mengenali aku?"
Kata Siau Po. Prajurit itu terkejut Dia menatap dengan sek-sama, ternyata memang si pembesar cilik. "lya, iya... tayjin..."
Sahutnya dengan gugup. Siau Po tidak menunggu sampai kata-katanya selesai, dengan cepat dia menghambur kembali ke kamarnya.
"Oh, Song Ji yang baik! Cepat-cepat kembalikan dandananku menjadi Ciam Cai tayjin."
Katanya sembari melepaskan jubah panjangnya. Song Ji melayani membasuh muka dan mengganti pakaian, Sambil tertawa dia berkata.
"Ciam Cai tayjin melakukan tugas sampai menyamar sedemikian rupa, apakah kau sudah mendapat hasil?"
"Sudah dapat."
Sahutnya.
"Cepat kau mengganti pakaianmu dengan pakaian prajurit, kemudian panggilkan delapan orang perwira lainnya untuk ikut aku menangkap penjahat!"
"Perlukah aku melaporkan hal ini kepada Ci loya?"
Tanya Song Ji.
Siau Po berpikir dalam hati.
-Si budak Kek Song dan A Ko sudah tidak berdaya, Tanpa susah payah aku berhasil meringkus mereka, Kalau Ci Thian Coan dan yang lainnya ikut ke sana, tentu mereka akan melarang aku membunuhnya, sedangkan membawa para perwira, tujuannya hanya ingin memamerkan diri di depan mak, si mucikari dan si kacung, --Karena itu dia berkata.
"Tidak perlu."
Song Ji segera mengganti pakaiannya.
"Bagaimana kalau kita mengajak Nona Cin Ju pergi bersama?"
Tanyanya.
Di antara para prajurit, hanya Cin Ju dan dirinyalah yang merupakan samaran seorang gadis, Setelah bergaul selama beberapa hari, ternyata keduanya cocok sekali Siau Po berpikir lagi.
--Kalau ingin membopong A Ko sendiri, Song Ji sendirian tentu tidak kuat Harus digotong oleh dua orang.
Sebagai seorang pembesar negeri, mana boleh aku turun tangan sendiri, Kalau menyuruh para prajurit, tentu keenakan mereka menyentuh tubuh istriku!
--Karena itu dia berkata.
"Baiklah. Kau boleh mengajaknya, tapi jangan biarkan satu pun orang dari Ong Ok san yang ikut."
Cin Ju juga menyamar sebagai seorang prajurit.
Dalam sekejap mata dia sudah berdiri di depan Siau Po.
Si anak muda itu mengajak keduanya serta delapan orang prajurit kembali ke Li Cun Wan.
Dua hari dari prajurit itu segera mengetuk pintu.
"Ciam Cai tayjin tiba! Cepat buka pintu untuk menyambutnya!"
Para prajurit itu sudah mendapat perintah dari Siau Po bagaimana harus bersikap di rumah pelesiran tersebut Setelah mengetuk cukup lama, pintu gerbang baru dibuka, Seorang kacung rumah pelesiran itu muncul di depan pintu sambil berkata.
"Ada tamu!"
Dua kata itu diserukannya tanpa bersemangat sedikit pun. Siau Po takut orang itu mengenalinya, karena itu dia tidak berani memandang ke arahnya, seorang prajurit segera berseru.
"Pembesar negeri datang berkunjung, panggil si nenek tua keluar untuk melayaninya baik-baik!"
Siau Po berjalan ke dalam ruangan, Si mucikari ke luar menyambutnya, Dia tidak melihat atau menoleh sedikit pun kepada Siau Po.
"Silahkan loya masuk ke taman bunga untuk bersantap!"
Katanya.
Siau Po berpikir.
--Paling bagus memang kau jangan melihat kepadaku, Dengan demikian aku tidak perlu menemui makku lagi dan aku bisa menyuruh orang langsung mengangkut Kek Song dan Song Ji.
Tapi, aneh sekali, Biasanya si mucikari selalu menyambut tamu dengan ramah tamah, baru hari ini sikapnya demikian dingin, Siau Po merasa urusan ini agak janggal.
Dia berjalan memasuki ruangan besar yang digunakan untuk menerima tamu, Tampak meja-meja masih belum dibersihkan, Kek Song masih bersandar tidak sadarkan diri di kursi, Baru saja dia ingin menurunkan perintah, tiba-tiba dia melihat seseorang berpakaian hijau yang mewah sekali berjalan ke arahnya sambil berkata.
"Wi Tayjin, apa kabar?"
Siau Po terkejut setengah mati, Dia berpikir "Bagaimana kau bisa mengenali aku?"
Siau Po segera menolehkan wajahnya, Rasa terkejutnya tidak kepalang tanggung.
Dia mengulurkan tangannya ke arah pinggang untuk menghunus pisaunya.
Mendadak tangannya terasa sakit, ternyata seseorang telah mencekal pergelangan tangannya dari belakang.
"Duduk baik-baik! jangan sembarangan bergerak!"
Kata orang itu bengis, Tangannya mencengkeram leher Siau Po dan dihenyakkannya tubuh si anak muda ke atas kursi.
Diam-diam Siau Po mengeluh.
Tapi dia mendengar suara bentakan nyaring, ternyata Song Ji sudah bertempur dengan pihak lawan, Cin Ju menerjang ke depan, seorang pemuda berbaju mewah menghadangnya.
Keduanya pun terlibat dalam pertempuran.
Siau Po mengedarkan pandangannya untuk melihat dengan seksama, Pemuda yang bertempur dengan Cin Ju rupanya merupakan penyamaran seorang gadis, Dialah kakak seperguruan A Ko, yakni A Ki.
Sedangkan orang yang bertempur dengan Song Ji bertubuh tinggi kurus, dia bukan lain daripada si lama Tibet, Shang Cie.
Pada saat ini, dia tidak mengenakan jubah pendetanya, Kepalanya tertutup sebuah kopiah, Bahkan di belakang kepalanya terdapat kuncir.
Tentu saja kuncir palsu yang diletakkan pada kopiahnya, Dan orang pertama berpakaian mewah yang dilihatnya bukan lain daripada si pangeran Mongol Kaerltan.
Siau Po berpikir dalam hati.
--Aku benar-benar ceroboh.
Terang-terangan aku sudah mendengar The Kek Song mengatakan bahwa dia telah berjanji akan bertemu dengan pangeran Kaerltan di tempat ini.
Mengapa aku tidak waspada?
Begitu melihat A Ko, aku langsung lupa daratan.
Bahkan she bapak tuaku sendiri aku sampai lupa!
Maknya!
Memang dari lahir aku juga tidak tahu apa she bapakku itu!
-Terdengar Song Ji mengaduh satu kali, ternyata pinggangnya sudah kena ditotok oleh Shang Cie.
Gadis cilik itu langsung terkulai di atas tanah.
Pada saat itu, Cin Ju masih bertarung dengan A Ki.
Meskipun jurus-jurus A Ki banyak variasinya, tapi karena dia tidak pernah mempelajari ilmu tenaga dalam dengan serius, meskipun berhasil menghajar Cin Ju, tapi sejak awal hingga akhir dia tidak sanggup melukai gadis itu.
Shang Cie mendekatkan diri.
Dalam dua jurus, dia sudah berhasil merobohkan Cin Ju.
sedangkan kedelapan prajurit yang menyertai Siau Po, beberapa di antaranya telah roboh di tangan si lhama dan sebagian lainnya mati oleh pukulan pangeran Keart-ten.
Shang Cie tertawa terkekeh-kekeh.
"Wi Tayjin, mana gurumu?"
Tanyanya sambil duduk di atas sebuah kursi, Dia menjulurkan tangannya ke hadapan Siau Po.
Tampaklah ke sepuluh jari tangannya sudah kutung setengah, Jari tangan manusia selalu terdiri dari tiga bagian sedangkan jari tangan Shang Cie sekarang tinggal dua bagiannya saja, Karena itu, kelihatannya jadi aneh dan menyeramkan.
Diam-diam Siau Po mengeluh.
--Tempo hari dia membalikkan halaman kitab, jari tangannya terkena racun yang kutaburkan.
Ternyata orang ini cukup sadis, dia tidak ragu-ragu mengutungkan tangannya sendiri agar racunnya tidak menyebar Hari ini lohu terjatuh ke tangannya, satu dibalas dengan satu.
Masih mending kalau dia hanya mengutungkan ke sepuluh jari tanganku, takutnya dia justru ingin mengutungkan batang leherku juga!
-Shang Cie bangga sekali melihat Siau Po begitu ketakutan.
"Wi Tayjin, hari itu aku mengira kau adalah seorang bocah cilik, Tidak disangka dalam kerajaan kau menjabat kedudukan yang tinggi, Harap kau suka memaafkan kesalahanku itu!"
Katanya.
"Tidak apa-apa. Tempo hari aku juga mengira kau adalah seorang lhama biasa, ternyata kau adalah seorang pendekar besar, Mohon dimaafkan!"
Sahut Siau Po. Shang Cie mendengus dingin satu kali.
"Pendekar besar apa?"
"Ada orang yang menaburkan racun ke atas kitab, Tujuannya ingin mencelakai guruku, tapi untung saja rahasia ini berhasil diketahui oleh beliau, itulah sebabnya dia tidak mau menyentuhnya. Namun kau memaksa hendak melihat buku itu, terpaksa beliau menyerahkannya. Lhama besar, jari tanganmu tersentuh racun, tapi kau langsung mengutungkannya, dengan demikian racun jadi tidak menyebar Kau benar-benar luar biasa! Apabila seseorang mengutungkan batang lehernya sendiri, sama sekali tidak mengherankan tapi kau mengutungkan tanganmu sendiri Hebat sekali, Hal ini tidak pernah terjadi sejak jaman apa pun. Kalau dibayangkan pada waktu dulu saja, Kwan In Tiong (Kwan Kong) mengutungkan lidahnya, dia tidak mengerutkan keningnya sedikit pun. Tapi itu pun dilakukan oleh orang lain. Kalau suruh dia melakukannya sendiri, belum tentu dia sanggup, Kau bahkan lebih hebat dari Kwan In Tiong. Bukankah tidak berlebihan kalau kau disebut pendekar besar di jaman ini?"
Kata Siau Po.
Tentu Shang Cie tahu bahwa kata-kata Siau Po hanya menepuk pantat kuda atau mengumpak saja.
Tidak berbeda dengan memohon pengampunan dirinya, tapi katakatanya itu tetap saja enak didengar oleh telinganya.
Siapa sih orangnya yang tidak suka dipuji?
Tempo hari, demi keutuhan selembar jiwanya, dia terpaksa mengutungkan jari tangannya sendiri.
Meskipun jari tangannya menjadi cacat dan ilmunya jauh menyusut, tapi dia merasa bangga juga terhadap dirinya sendiri yang berani mengambil keputusan penting dikala jiwanya dalam keadaan sekarat.
Tempo hari dia ditugaskan datang ke Tiong Goan untuk mencari kitab Si Cap Ji Cin Keng dengan membawa serta dua belas orang adik seperguruannya, Akibatnya kedua belas adik seperguruannya itu mati semua, dan dia sendiri bertahan hidup dengan tangan cacat.
Urusan ini sungguh memalukan Karena itu, dia juga tidak pernah menceritakannya kepada orang, sedangkan orang lain juga tidak berani menanyakan sebab musabab kecacatan tangannya itu, maka ucapan seperti yang dikemukakan Siau Po ini, baru pertama kali inilah dia mendengarnya.
Wajah si lhama yang kelam perlahan-lahan merekahkan sedikit senyuman.
"Wi Tayjin, kami mendengar bahwa kau akan berkunjung ke kota Yang-ciu ini, itulah sebabnya kami berunding untuk bertemu denganmu, Kau memang sengaja bentrok dengan Peng Si-ong, kau selalu merusak urusannya, Bahkan menantu raja yang ingin kembali ke Inlam, kau pula yang menghalanginya, iya bukan?"
Katanya.
"Kabar berita yang kalian terima cepat sekali sampainya, Aku benar-benar merasa kagum. Kali ini, ketika aku ke luar dari kota raja, tahukah kalian apa yang dipesankan oleh Sri Baginda?"
Tanya Siau Po.
"Untuk hal itu, kami memohon petunjuk dari Wi Tayjin."
Kata Shang Cie.
"Bagus, bagus. Sri baginda berkata begini.
"Wi Siau Po, kali ini kau akan pergi ke kota Yang-ciu, kemungkinan di tengah jalan Gouw Sam Kui akan menyuruh orang menghadangmu, aku benar-benar merasa khawatir Untung saja anaknya ada di tangan ku, kalau sampai terjadi apa-apa terhadap dirimu, aku akan memperlakukan anaknya dengan cara yang sama. Kalau Gouw Sam Kui menyuruh seseorang mengutungkan sebuah jari tanganmu, paling-paling si budak Gouw Eng Him juga kehilangan sebuah jari tangannya, Jadi kalau Gouw Sam Kui menyuruh orang membunuhmu, itu sama saja artinya dia telah membunuh anaknya sendiri" . Aku menjawab.
"Sri Baginda, aku boleh menjadi anak siapa saja, tapi sekali-sekali jangan menjadi anaknya Gouw Sam Kui!"
Sri Baginda tertawa terbahak-bahak, dan aku pun berangkat ke kota Yang-ciu ini."
Shang Cie dan pangeran Kaerltan saling lirik sekilas, Tampak wajah mereka berubah sedikit.
"Kali ini aku datang ke Yang-ciu bersama pangeran, Sejak semula kami sudah mendengar Yang-ciu akan kedatangan seorang Ciam Cai tayjin, Tadinya kami terus menduga-duga siapa kira-kira orangnya, Tidak tahunya, begitu melihat dan jauh, ternyata kenalan lama, Bahkan nona A Ki ini pun tidak asing denganmu!"
Kata Shang Cie.
"Kami memang sudah pernah berkenalan."
Kata Siau Po sambil tertawa. A Ki mengambil sebuah sumpit dari atas meja, Dia mengetuk kepala Siau Po dengan sumpit itu, Siapa yang pernah berkenalan denganmu?"
Makinya.
"Kami telah berjanji dengan Ji kongcu dari Taiwan untuk saling bertemu di sini."
Kata Shang Cie. Tujuannya untuk berunding bagaimana caranya meringkus dirimu, tidak disangka-sangka kau malah mengantar diri kemari."
"Memang betul. Sri Baginda menginterogasi Kan Tiap Mo, sebawahan pangeran yang berewokan itu selama tiga hari, dia juga telah mengetahui semuanya."
Kata Siau Po. Mendengar disebut nama orang itu, baik Shang Cie maupun pangeran Kaerltan terkejut setengah mati, serentak keduanya berdiri "Apa?"
Tanya mereka, "Tidak apa-apa.
Sri Baginda berbicara dengan orang itu dalam Bahasa Mongol, Ci ci ca ca ci ci caca, sedikit pun aku tidak mengerti Kemudian aku melihat Sri Baginda menghadiahkan sejumlah besar uang kepadanya, Dia mengutus orang itu pergi, pembesar yang menangani dokumen-dokumen raja, Tidak sampai tiga hari kemudian, aku diutusnya untuk menyuruh orang itu membuatkan peta secepatnya, Urusan perang atau ketentaraan, aku juga tidak begitu paham, Aku berkata kepada Sri Baginda, bahwa negara MongoI dan Tibet terlalu dingin, Apabila Sri Baginda mengutus para tentara ke sana untuk berperang, maka saat itu juga saya ingin minta cuti pulang ke Yang-ciu agar dapat bersenang-senang beberapa saat di sana."
Wajah pangeran Kaerltan dan Shang Cie menjadi kelam seketika.
"Kau bilang raja akan mengirim tentaranya menyerang Tibet dan Mongol?"
Tanya sang pangeran. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Hal ini aku sendiri tidak begitu jelas. Sri Baginda berkata, bahwa kami hanya bermusuhan dengan si tua bangkotan itu. Kalau Tibet dan Mongol membantu kami, itulah yang paling baik, Kami juga boleh menganggap mereka sebagai teman. Tapi kalau mereka membantu si tua bangkotan itu, terpaksa kami harus menghancurkannya sekalian."
Pangeran Kaerltan dan Shang Cie lagi-lagi saling memandang sekilas, hati mereka agak lega mendengar perkataan Siau Po.
Kemudian pangeran Kaerltan menanyakan tentang keadaan Kan Tiap Mo.
Siau Po menjelaskan tampang orang itu sampai mendetail sekali Dengan demikian, mau tidak mau kedua orang itu terpaksa mempercayai keterangannya.
Siau Po melihat kedua orang itu mengerutkan alisnya, Dia segera menyadari, berpihaknya Kan Tiap Mo kepada pemerintah Ceng, berarti kerja sama antara Tibet, Mongol dan Gouw Sam Kui tidak dapat lagi mengelabui si raja cilik.
Tentunya mereka takut kalau-kalau kaisar Kong Hi menggunakan kesempatan untuk menyerang terlebih dahulu.
Keadaannya sendiri runyam sekali, Song Ji dan Cin Ju sudah tertotok, sedangkan kedelapan prajurit yang dibawanya tidak ada satu pun yang berdaya, Malah ada beberapa di antaranya sudah melayang jiwanya.
Kali ini, dia datang ke Li Cun Wan, namun takut rahasia hidupnya diketahui oleh orang lain, karenanya Ci Thian Coan, Thio Yong maupun Tio Ci Hian tidak ada yang mengetahuinya, Kalau ditilik dari keadaannya sekarang ini, tampaknya, meskipun seluruh tubuhnya dicincang untuk menjadi perkedel atau kepalanya dikutungkan untuk menggantikan pajangan kepala singa yang terbuat dari batu di depan perbatasan kota, tetap saja tidak akan ada orang yang datang menolongnya.
Dari-pada tidak ada jalan untuk meloloskan diri, lebih baik mengandalkan mulutnya yang pandai bicara, Toh setidaknya lebih baik dari pada duduk berdiam diri menunggu kematian?
"Sri Baginda pernah mendengar tentang pangeran Kaerltan yang berilmu tinggi dan sangat gagah.
Beliau juga diam-diam merasa kagum."
Katanya. Pangeran Kaerltan tersenyum.
"Apakah Sri Baginda juga mengerti ilmu silat? Bagaimana dia bisa tahu tinggi tidaknya ilmu silatku?"
Tanyanya.
"Tentu saja Sri Baginda mengerti ilmu silat, Malah kepandaiannya lumayan juga, Tempo hari pangeran mengunjungi kuil Siau Lim si, pangeran menghajar Hong tio kuil itu sampai jatuh di bawah angin, bahkan membuat hwesio-hwesio dari Lo Han Tong, Tat Mo Tong dan Poan Jiak Tong jadi kalang kabut, Semua itu telah kuceritakan dengan terperinci di hadapan Sri Baginda."
Kata Siau Po.
Sebetulnya pangeran Kaerltan justru lari terbirit-birit ketika berhadapan dengan hwesio-hwesio dari Siau Lim si, sekarang Siau Po malah mengatakan bahwa dialah yang mengalahkan rombongan hwesio itu, Dengan demikian pangeran itu jadi mendapat muka terang di hadapan Shang Cie.
Diam-diam hatinya menjadi senang.
"llmu silat Hong tio Siau Lim si, yakni Hui Cong taysu dalam biara itu sebetulnya juga sudah terhitung paling tinggi, tapi hari itu pangeran hanya mengibaskan lengan bajunya, hwesio tua itu langsung jatuh terduduk, karena kakinya limbung, untung saja tempat dia terjatuh ada alas kapuk yang lembut. Dengan demikian beberapa batang tulang belulangnya yang tua tidak sampai patah."
Kata Siau Po pula, Tempo hari, sebetulnya pangeran Kaerltanlah yang dikibas oleh lengan baju Hui Cong taysu sampai jatuh terduduk, Sekarang Siau Po malah membalikkan kenyataan itu, Dalam hati dia berpikir --Selama ini perlakuan Hui Cong suheng terhadapku tidaklah buruk, Tapi hari ini jiwa siautemu sedang berada di ujung tanduk, Kalau salah sedikit saja, kemungkinan akan dipulangkan ke langit barat.
Terpaksa siaute menggunakan ajaran dalam agama Buddha, yang kosong jadi berisi dan yang berisi jadi kosong, Pangeran Kaerltan yang kalah dikatakan jadi pemenangnya, sedangkan Hui Cong suheng yang menang malah jadi yang kalah.
Mudah-mudahan dengan cara ini selembar jiwa siaute bisa dipertahankan untuk sementara, -Mulutnya sembarangan mengoceh, pikirannya melayang-layang, sedangkan sepasang matanya jelalatan ke sana ke mari, Dia melihat A Ki sedang memandang kepada pangeran Kaerltan dengan bibir menahan senyuman.
Matanya memancar sinar kasih, Hati Siau Po langsung tergerak, Dia berpikir lagi.
-Rupanya nona galak ini ingin menjadi permaisuri pangeran Mongol.
Karena itu dia segera berkata.
"Sri Baginda mengatakan kepadaku bahwa pangeran Kaerltan memiliki ilmu yang tinggi, wajahnya juga tampan, orangnya gagah. Kalau dia ingin mencari istri, seharusnya mencari nona cantik yang masih muda, lagipula harus yang mengerti ilmu silat..."
Dia menghentikan kata-katanya sejenak untuk melirik kepada A Ki. Tampak wajah gadis itu merah padam, tapi ronanya berseri-seri, Lalu dia melanjutkan kata-katanya lagi.
"Sri baginda berkata bahwa meskipun Tan Wan Wan adalah seorang perempuan yang cantik sekali, tetapi sekarang usianya tidak muda Iagi, mengapa pangeran Kaerltan berkeras ingin mengambilnya sebagai istri?"
Tanpa dapat menahan diri lagi, A Ki menukas.
"Siapa bilang dia akan memperistri Tan Wan Wan? Kembali kau mengoceh sembarangan!"
Pangeran Kaerltan sendiri menggelengkan kepalanya.
"Mana ada urusan seperti itu?"
Tanyanya.
"Memang betul."
Kata Siau Po.
"Aku berkata kepada Sri Baginda, jawab Sri Baginda, disamping pangeran Kaerltan ada seorang nona yang dekat sekali dengannya, namanya nona A Ki...."
A Ki pura-pura meludah, tapi bibirnya menyunggingkan senyuman, sedangkan pangeran Kaerltan memandang kepadanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"llmu nona A Ki ini, dalam dunia tergolong nomor tiga."
Demikian Siau Po melanjutkan keterangannya.
"Dia hanya tidak bisa menandingi Shang Cie lhama dan pangeran Kaerltan. Kalau dibandingkan dengan Sri Baginda sendiri, hi hi hi hi, rasanya masih lebih tinggi sedikit Sri Baginda, hamba mengatakan yang sejujurnya, harap Sri Baginda jangan gusar!"
Sebetulnya Shang Cie sudah malas mendengar ocehannya, tapi ketika mendengar Siau Po mengatakan kepada raja cilik bahwa ilmunya terhitung nomor satu di dunia, hatinya merasa bangga juga.
Meskipun terang-terangan dia mengetahui bahwa ucapan Siau Po belum tentu setengahnya benar, Karena itu dia mendengus dingin satu kali sebagai pernyataan bahwa dia tidak percaya dengan ocehan Siau Po.
Siau Po melanjutkan ceritanya.
"Sri baginda berkata bahwa dia tidak percaya, Meskipun ilmu nona A Ki itu tinggi sekali, mana mungkin bisa melebihi gurunya sendiri?"
Aku menjawab.
"Sri Baginda tidak tahu, guru nona A Ki adalah seorang rahib perempuan yang selalu berjubah putih. Pada suatu hari dia bertarung melawan lhama Shang Cie. sebetulnya ilmu rahib ini terhitung nomor tiga di dunia, Tapi karena terkena pukulan dari si lhama sehingga dia tidak dapat menahan diri, seluruh tenaga dalamnya jadi lenyap, Dengan demikian, kedudukan nomor tiga di dunia pun jatuh ke tangan A Ki, muridnya."
Mendengar keterangan Siau Po tentang guru-nya, hati A Ki jadi terkejut juga heran.
-Bagaimana dia bisa mengenal guruku?
-tanyanya dalam hati.
Meskipun Shang Cie sendiri belum pernah turun tangan terhadap Kiu Lan, tapi kedua belas sutenya justru mati di tangan murid rahib perempuan itu.
Hal ini sebenarnya memalukan sekali, sekarang mendengar Siau Po berkata bahwa Kiu Lanlah yang menjadi kehilangan tenaga dalamnya ketika bertarung dengannya, wajahnya bagai di-tempeli batangan emas oleh Siau Po.
Tadinya dia dan pangeran Kaerltan khawatir Siau Po akan membongkar kejadian memalukan yang mereka alami, karena itu keduanya ingin membunuh Siau Po untuk membungkam mulutnya, tetapi sekarang mereka justru melihat Siau Po bukan saja tidak menyatakan keburukan mereka, bahkan malah mengangkat tinggi derajat mereka.
Bagian 72 Karena itu keduanya juga tidak terburu nafsu membunuh Siau Po lagi.
Shang Cie memperhatikan A Ki sekilas, --Saat ini aku baru tahu bahwa kau adalah murid si rahib perempuan itu.
Tampaknya dibalik semua ini ada sesuatu yang janggal, -pikirnya dalam hati.
"Kau tadi menyebut-nyebut Tan Wan Wan, kenapa dia?"
Tanya A Ki.
"Perempuan bernama Tan Wan Wan itu, ketika di Kun Beng, aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri Terus terang saja, usianya lebih tua banyak dibandingkan dengan aku, tapi julukan "
Wanita tercantik di dunia"
Yang disandangnya memang tidak berlebihan. Begitu memandangnya, sukmaku serasa melayang, tangan dan kakiku gemetaran seluruh tubuh seperti terhajar petir, Dalam hati aku berkata.
"mana mungkin di dunia ada wanita yang begitu cantik?" , Nona A Ki, sumoaymu A Ko sudah terhitung seorang gadis yang cantik sekali, Tapi kalau dibandingkan dengan Tan Wan Wan itu, baik wajah maupun penampilan, ternyata masih terpaut jauh sekali."
Tentu saja A Ki tahu bahwa A Ko sangat cantik, bahkan melebihi dirinya sendiri.
Dia juga tahu kalau Siau Po tergila-gila kepada adik seperguruannya itu, sekarang mendengar si anak muda berkata demikian, kemungkinan ucapannya memang bukan dusta, Tapi di mulut dia tetap tidak mau kalah.
"Kau benar-benar mata keranjang, melihat wajah cantik sedikit saja, kau sudah memujinya setinggi langit, Taruhlah Tan Wan Wan itu memang sangat cantik, Tapi usianya sekarang sudah empat puluh lebih, tentunya tidak seberapa cantik lagi."
Katanya. Siau Po berulang kali menggelengkan kepalanya.
"Tidak benar, tidak benar."
Katanya.
"Seperti kau sendiri, nona A Ki, usiamu sekarang paling banter delapan belas atau sembilan belas tahun, sedangkan kau cantik sekali, Lihat saja tiga puluh tahun kemudian, kecantikanmu pasti tidak akan pudar sedikit pun, Kalau kau tidak percaya, mari kita bertaruh, seandainya tiga puluh tahun kemudian kau tidak cantik lagi, aku akan memenggal batok kepalaku ini untukmu."
A Ki tertawa cekikikan Perempuan mana pun pasti senang dipuji kecantikannya, apalagi di hadapan si jantung hati, Hatinya langsung berbunga-bunga, sedangkan dia sendiri juga merasa percaya diri terhadap kecantikannya, Kalau dipikir-pikir, kemungkinan tiga puluh tahun kemudian, perubahannya juga tidak banyak.
Di lain pihak, Siau Po berharap A Ki bersedia taruhan dengannya, Dengan demikian, mau tidak mau pangeran Kaerltan harus memandang muka gadis yang dikasihinya dan membiarkan dia hidup tiga puluh tahun lagi.
Sampai waktu itu, kalah atau menang, tentu tidak jadi masalah lagi.
Tidak disangka-sangka Shang Cie justru mendengus dingin.
"Sayangnya umurmu sendiri tidak akan melewati malam ini!"
Katanya.
"Jadi, bagaimana tampang nona A Ki tiga puluh tahun kemudian, kau tidak akan melihatnya lagi!"
Siau Po sengaja tertawa-tawa terkekeh-kekeh.
"Tidak apa-apa,"
Katanya.
"Yang penting Tuan Ihama dan pangeran ingat dengar kata-kataku ini. Dengan demikian kalian akan tahu bahwa aku, Wi Siau Po mempunyai kepandaian meramal."
Shang Cie, pangeran Kaerltan dan A Ki jadi tidak dapat menahan diri untuk tertawa terbahak-bahak.
"Ketika aku pergi ke Kun Beng, kejadiannya sudah beberapa bulan yang lalu, aku ke sana untuk mengantarkan Kian Leng kongcu yang akan dini-kahkan dengan putera Gouw Sam Kui, yakni Gouw Eng Him. Kalian tentu sudah mengetahuinya, bukan? sebenarnya hal itu merupakan peristiwa yang menyenangkan. Namun begitu memasuki kota Kun Beng, di sepanjang jalan tampak orang-orang sedang meratap sedih, Ternyata setiap beberapa rumah ada yang sedang berkabung, hal ini terlihat dari peti mati yang diletakkan di depan pintu rumah. Para wanita dan anak-anak mengenakan pakaian berkabung dan menangis meraung-raung."
"Memangnya kenapa?"
Tanya pangeran Kaerltan dan A Ki serentak.
"Aku sendiri merasa heran, Ketika bertanya kepada para perwira di Kun Beng, mereka termangu-mangu dan tidak bisa memberikan jawaban, Akhirnya, aku menugaskan seorang prajurit ke luar dan mencari tahu. Dengan demikian aku baru mengerti Rupanya pagi hari itu, Tan Wan Wan mendengar tentang kedatangan Kian Leng kongcu, dia ingin menyambutnya sendiri. Namun ketika dia turun dari tandunya, belasan laksa pemuda kota Kun Beng langsung seperti orang gila, semuanya berkerumun untuk melihatnya. Mereka berteriak bahwa ada bidadari yang turun dari khayangan, Kekalutan pun tidak dapat dihindari, kau dorong aku, aku dorong dia, entah berapa ribu orang yang tergencet mati. Para bawahan Peng Si-ong segera turun ke jalan untuk mengatasi keonaran itu, Namun ketika mereka melihat Tan Wan Wan, semuanya juga jadi kesemsem. Bahkan mata mereka membelalak dengan lebar dan air liurnya terus menetes. Senjata di tangan mereka terlepas jatuh, semuanya menatap Tan Wan Wan dengan terkesima sehingga mereka melupakan tugas."
Shang Cie, pangeran Kaerltan dan A Ki jadi saling memandang.
Mereka berpikir dalam hati.
-Bocah ini pasti menambah bumbu di sana sini, Mana mungkin ada kejadian demikian hebat?
Tapi, bisa jadi Tan Wan Wan itu memang cantik sekali, Tidak salahnya kalau bisa melihat satu kali saja, Siau Po melihat ketiga orang itu mulai mempercayai kata-katanya.
Dia melanjutkan keterangannya.
"Pangeran, di bawah pimpinan Peng Si-ong ada seorang cong peng bernama Ma Po, pernahkah kau mendengar namanya?"
Pangeran Kaerltan menganggukkan kepalanya, Tempo hari dia dan A Ki pergi ke Siau Lim si justru bersama-sama orang itu, bagaimana dia tidak mengetahuinya?
"Hari itu kami pernah bertemu di kuil Siau Lim si."
Kata pangeran Kaerltan.
"Oh? Diakah orangnya? Aku sendiri juga sudah lupa."
Kata Siau Po.
"Hari itu aku sibuk memperhatikan lihaynya pangeran ketika menghajar hwesio-hwesio Siau Lim Si, begitu terpananya sehingga aku tidak sempat memperhatikan orang lain. Seandainya ada sedikit waktu luang, aku tentu akan menggunakannya untuk melirik sedikit kecantikan nona A Ki."
A Ki mencibirkan bibirnya, tapi dalam hati dia justru senang sekali "Ada apa dengan Ma Cong Peng itu?"
Tanya pangeran Kaerltan. Siau Po menarik nafas panjang.
"Apa yang terjadi pada Ma Cong Peng juga berlangsung pada hari yang sama,"
Katanya menjelaskan "Dia mendapat perintah dari Peng Si-ong untuk melindungi Tan Wan Wan, Tidak disangka, ketika melihat perempuan itu, dia juga langsung terpesona, Tanpa sadar dia mengelus tangan Tan Wan Wan yang putih dan halus itu.
Kemudian hal itu diketahui oleh Peng Si-ong, dia menyuruh orang merangket bawahannya itu dengan rotan sampai empat puluh kali.
Diam-diam Ma Cong Peng berkata kepada orang-orang.
"Aku meraba tangan kiri Tan Wan Wan, tadinya aku mengira tanganku ini pasti dikutungkan oleh Peng Si-ong. Kalau aku tahu hanya dirangket sebanyak empat puluh kali, tentu aku akan meraba tangan kanannya juga. Kalau baru delapan puluh kali rangketan, belum tentu bisa membuat aku mati. Di bawah pimpinan Peng Si-ong, keseluruhannya ada sepuluh orang cong peng. Mendengar kata-katanya, kesembilan cong peng lainnya merasa kagum sekali, ucapannya itu terdengar sampai di telinga Peng Si-ong. Dia segera menegaskan sejak itu, kalau ada yang berani menyentuh seujung rambut Tan Wan Wan, maka kedua tangan orang itu harus dikutungkan sebagai hukumannya, Menantu Peng Si-ong sendiri juga merupakan salah seorang cong peng. Dia segera menyuruh seorang tukang besi yang ahli sekali untuk membuat sebuah tangan palsu. Katanya, ada kemungkinan dia juga suatu waktu akan bertemu dengan mertua yang cantiknya bak bidadari itu. seandainya dia tidak dapat menahan diri untuk menyentuhnya, saat itu dia sudah ada persiapan. Celaka kalau sampai belum sempat membuat tangan palsu itu, Dia bilang ini yang dinamakan entah sedia payung apa sebelum hujan."
Kaerltan yang mendengarkan sampai melongo, sedangkan Shang Cie tidak hentihentinya menggeIeng-gelengkan kepalanya.
"Keterlaluan! Keterlaluan!"
Katanya. Entah kesepuluh cong peng itu yang keterlaluan ataukah cerita Siau Po yang dianggapnya keterlaluan "Kau sendiri pernah melihat Tan Wan Wan,"
Kata A Ki.
"Mengapa kau tidak menyentuh tangannya?"tanyanya.
"Tentu saja ada sebabnya,"
Sahut Siau Po.
"Ketika aku ingin melihat Tan Wan Wan, Gouw Eng Him datang menemuiku, Dia mengatakan bahwa hatinya merasa berterima kasih sekali karena aku bersedia mengantarkan seorang istri untuknya meskipun jarak dari kotaraja sedemikian jauhnya. Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah benda yang sinarnya berkilauan dan warnanya keemasan, bahkan sekelilingnya bertaburan permata dan berlian, Ternyata sebuah borgol emas."
"Borgol apa yang begitu berharga?"
Tanya A Ki.
"Memang betul, Saat itu aku juga bertanya kepadanya mainan apakah itu, Aku masih mengira bahwa itulah pemberiannya untukku, Tidak tahunya terdengar suara klek! Tanganku sudah diborgol olehnya, Tentu saja aku terkejut setengah mati. Aku langsung berteriak Gok Hu, mengapa kau meringkus aku? Memangnya aku salah apa? "
Gouw Eng Him berkata.
"Ciam Cai tayjin, kau jangan salah paham, maksudku ini baik, Kalau kau ingin melihat bibi Tan Ku itu, bagaimana pun kau harus mengenakan borgol ini. Kalau kau sampai tidak dapat menahan diri serta mengulurkan tangan menyentuhnya, mungkin dengan memandang muka Ciam Cai tayjin, hu ong juga tidak akan mengambil tindakan apa-apa. Tapi takutnya, kau justru raba sana raba sini, Pada waktu itu, kemungkinan hu ong akan berbuat dosa dengan membunuh Ciam Cai tayjin. Kalau sampai terjadi sesuatu pada diri tayjin, tentu seluruh keluargaku juga akan celaka, Aku terkejut setengah mati mendengarnya, karena itu, aku membiarkan diriku diborgol olehnya."
A Ki merasa lucu sehingga tertawa geli.
"Aku benar-benar tidak percaya ceritamu itu."
"Lain kali kalau kau datang ke kota raja, mintalah Gouw Eng Him menunjukkan borgolnya itu kepadamu, sampai waktu itu, kau pasti percaya ceritaku ini, Dia selalu membawanya ke mana-mana, Begitu melihat Tan Wan Wan, dia segera memborgol tangannya sendiri Kalau terlambat sedikit saja, urusannya bisa gawat."
Sahut Siau Po. Shang Cie mendengus dingin.
"Tan Wan Wan itukan ibu tirinya, masa dia berani kurang'ajar?"
Katanya.
"Tentu saja dia tidak berani, itulah sebabnya dia selalu membawa borgol emasnya ke mana-mana."
"Sekarang dia toh ada di kota raja, buat apa dia masih membawa borgol emas itu?"
Tanya A Ki. Siau Po tertegun, Dia mengeluh dalam hati. -Celaka! Aku salah bicara! -Tapi, dasar otaknya memang encer, dalam sekejap mata dia berhasil menemukan jawaban yang meyakinkan.
"Pada dasarnya, Gouw Eng Him ingin cepat-cepat pulang ke Kun Beng, Dia kan tinggal di kota raja karena terpaksa saja."
Shang Cie mendelik kepadanya.
"Kalau begitu, kau membalas air susu dengan air tuba. Orang dengan maksud baik meminjamkan borgolnya kepadamu, tapi kau malah mencegah dia pulang ke Kun Beng!"
Katanya. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Memangnya budi apa yang pernah dilepaskan Gouw Eng Him kepadaku? Antara kami justru ada dendam yang tidak terkatakan dalamnya."
"Dalam hal apa dia bersalah kepadamu?"
Tanya Shang Cie.
"Apa masih tidak bersalah?"
Tanya Siau Po.
Kalau waktu itu ia tidak memborgol tanganku, tentu aku sudah mengelus pipi Tan Wan Wan.
perbuatannya itu malah lebih keji daripada membunuh aku.
Aih!
Lhama besar, pangeranku, kalau aku berhasil meraba wajah Tan Wan Wan yang cantiknya beribu kali lipat dari bunga yang terindah, kemudian Gouw Sam Kui mengutungkan sepasang tanganku ini, apa artinya?
Biarpun dia memotong pahaku untuk dijadikan sate, aku pun tidak keberatan."
Ketiga orang itu sudah banyak pengalaman dan merupakan orang-orang yang luas pengetahuannya, Akan tetapi mendengar uraian tentang kecantikan Tan Wan Wan yang setinggi langit itu, ternyata tidak ada satu pun dari mereka yang mentertawakannya.
Siau Po merendahkan tubuhnya sedikit, dia memperlihatkan tampang misterius.
"Ada sebuah rahasia besar, Kalau kalian bertiga sudah mendengarnya, jangan sekali-sekali membocorkannya, sebenarnya urusan ini tidak boleh dibicarakan, tapi tidak mudah menemukan teman bicara yang cocok, karena itu tidak apa-apalah."
Katanya.
"Rahasia apa?"
Tanya pangeran Kaerltan cepat.
"Sri Baginda melatih para prajurit juga menguji jenderalnya, tujuannya ingin menyerang Gouw Sam Kui."
Kata Siau Po.
Shang Cie dan dua rekannya saling pandang, Diam-diam mereka tersenyum --Rahasia apa itu?
Biar pun raja tidak menyerang Gouw Sam Kui, Gouw Sam Kuinya sendiri juga akan mengadakan pemberontakan -Pikir mereka dalam hati.
"Tahukah kalian mengapa Sri Baginda mempunyai maksud menyerang Inlam? Tentunya kalian tidak dapat menerkanya, bukan?"
Tanya Siau Po.
"Mungkinkah karena Tan Wan Wan juga?"
Tanya A Ki. Siau Po menggebrak meja. Tampangnya seperti orang yang terkejut sekali.
"Aih! Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Aku hanya menerka saja!"
Sahut A Ki. Siau Po menarik nafas panjang seperti orang yang merasa kagum sekali.
"Nona memang pantas disebut Cu Kek Liang wanita, Dalam segala hal dapat menduganya bagai dewata saja, Sri Baginda telah menjadi raja, apa pun telah dimilikinya, yang kurang hanya "
Wanita cantik nomor satu di dunia.
Tempo hari Sri Baginda mengutus aku ke Inlam, Mengapa dia tidak menyuruh orang yang pangkatnya jauh lebih tinggi dari pada aku?
Sebab dia ingin aku melihat sendiri, benarkah wanita itu demikian cantik seperti bidadari.
Sri Baginda juga menyuruh aku mendengarkan dengan penuh perhatian nada bicara Gouw Sam Kui, apakah orang itu bersedia menghadiahkan Tan Wan Wan ke istana?
Apabila mengutus para menteri mengurus masalah ini, tentu Sri Baginda akan kehilangan muka.
Benar bukan?
Tidak disangka, ketika aku mengungkit persoalan itu, Gouw Sam Kui langsung menggebrak meja keras-keras dan berteriak.
"Apa? Kau hanya mengantarkan seorang kongcu ke mari, kau langsung ingin menukarnya dengan buah hatiku? Perlu kau ketahui, biarpun kau mengantar seribu orang kongcu, aku juga tidak sudi menukarnya!"
Shang Cie dan pangeran Kaerltan kembali bertukar pandang.
Diam-diam mereka merasa telah terjerumus dalam jebakan Gouw Sam Kui.
Ternyata dibalik kesekongkolan mereka, urusan ini juga menyangkut kisah asmara.
Tempo hari, Gouw Sam Kui berambisi besar, justru karena Tan Wan Wan, dia rela mengkhianati negaranya sendiri, Hal ini diketahui oleh setiap orang, sedangkan usia si raja cilik masih muda, sebagai seorang kaisar tidaklah heran kalau dia mata keranjang.
Dalam hati Siau Po berkata.
--Siau Hian cu, kau adalah Niau Seng Hi Tong (Sampai sekarang ia masih belum bisa menyebut (Siau Sun Ie Tong)!
Tentu kau tidak sudi mengambil istrinya si kura-kura tua.
Tapi sekarang aku, Siau Kui cu bak telur di ujung tanduk, harap kau tidak menganggapnya serius, karena aku terpaksa menjelek-jelekanmu sedikit!
-Melihat tampang Shang Cie dan si pangeran yang serius, dia segera melanjutkan kata-katanya.
"Ketika itu aku berada di Inlam, meskipun aku membawa ribuan tentara, tapi mana mungkin mengungguli jumlah tentara dan pasukan Gouw Sam Kui yang mencapai puluhan laksa itu, Karenanya, melihat Gouw Sam Kui marah, aku terpaksa berdiam diri saja."
Pangeran Kaerltan menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Pada suatu malam, sebawahan pangeran yakni Kan Tiap Mo datang menemuiku, Dia mengatakan bahwa pangeranlah yang mengutus dia datang ke Kun Beng untuk bekerja sama dengan Gouw Sam Kui. Di sana dia merasa situasinya kurang beres, Dia juga mengatakan bahwa orang-orang Mongol adalah keturunan dari Jeng... entah apa Khan... semuanya terdiri dari laki-laki sejati dan gagah perkasa, mengapa harus mengantarkan jiwa demi seorang wanita pujaan Gouw Sam Kui? Dia memohon kepadaku agar secara diam-diam membawanya ke kota raja agar dapat bertemu langsung dengan Sri Baginda, Dia ingin mengatakan langsung kepada raja bahwa Tan Wan Wan tidak ada hubungannya dengan entah pangeran atau lhama mana pun dari Tibet, pangeran Kaerltan dari Mongol telah memiliki seorang nona A Ki, dia tidak mungkin menginginkan gadis lainnya. sedangkan lhama dari Tibet juga sudah mempunyai... sudah mempunyai beberapa wanita cantik Tibet!"
"Ngaco!"
Bentak Shang Cie.
"Kami para lhama dari Oey Kau paling pantang bermain perempuan, mana mungkin ada kejadian seperti itu?"
"ltukan Kan Tiap Mo yang mengatakannya, tidak ada hubungannya dengan aku lhama besar, sebetulnya tujuan Kan Tiap Mo hanya ingin menghilangkan kekhawatiran di hati Sri Baginda bahwa "
Kalian tidak bermaksud ikut dalam perebutan Tan Wan Wan. Kau harus memaklumi keadaannya saat itu!"
Kata Siau Po. Shang Cie mendengus dingin.
"Lain kali kalau bertemu dengan Kan Tiap Mo, aku akan menanyakannya sampai jelas, sebetulnya dia yang berbohong atau kau yang berbohong!"
Katanya. Diam-diam Siau Po merasa senang. --Dia mau menanyakan hal ini kepada Kan Tiap Mo. Tampaknya untuk sementara dia tidak akan membunuh aku! --pikirnya, Karena itu cepat-cepat dia berkata.
"Betul, betul! Lain kali kau boleh padu aku dan dia! Kalian membantu Gouw Sam Kui, sebetulnya tidak ada keuntungan apa pun yang dapat kalian peroleh. Taruh kata pemberontakannya berhasil, tapi kalau kalian tidak menyediakan borgol dan setiap memandang Tan Wan Wan, hati kalian selalu berdebar-debar tidak karuan...."
Tiba-tiba dia melihat wajah Shang Cie Ihama menyiratkan kegusaran, cepat-cepat dia menggantikan ucapannya.
"Lhama besar, kau adalah seorang yang telah menyucikan diri, isi sama dengan kosong, kosong sama dengan isi, tentu kau tidak akan tertarik kepada Tan Wan Wan, namun... namun... aih!"
"Namun apa?"
Tanya Shang Cie.
"Tempo hari, ketika aku datang ke Kun Beng, Tan Wan Wan ke luar untuk menyambut kedatangan Kian Leng kongcu, Bukankah beberapa ribu orang sampai mati karena desak-desakan? Keluarga para korban itu ingin mengadakan upacara sembahyang, tapi sampai akhirnya tidak ada seorang hwesio pun yang berhasil diundang datang."
"Kenapa?"
Tanya A Ki.
"Para hwesio yang melihat Tan Wan Wan, semuanya tergerak hatinya, Dalam satu hari, entah ada berapa ribu hwesio di Kun Beng yang melepaskan jubah pendetanya dan menyatakan diri mereka tidak jadi menyucikan diri sebagai hwesio lagi, Coba bayangkan saja, tiba-tiba kehilangan begitu banyak hwesio, bagaimana mungkin bisa mengadakan upacara sembahyang?"
Sahut Siau Po.
Pangeran Kaeritan bertiga meragukan cerita Siau Po.
Rasanya cerita anak muda itu terlalu berlebihan Tapi mengenai kecantikan Tan Wan Wan, mereka tidak meragukannya lagi.
A Ki menatap kepada pangeran Kaeritan dan berkata.
"Ternyata wilayah Kun Beng begitu banyak keanehannya, lebih baik aku tidak pergi saja, Kalau kau mau membantu Gouw Sam Kui, kau pergi saja sendiri!"
"Siapa yang bilang aku akan ke Kun Beng?"
Kata pangeran Kaeritan cepat.
"Aku toh tidak bermaksud melihat Tan Wan Wan, aku rasa nona A Ki kita juga tidak kalah cantiknya dengan Tan Wan Wan itu."
Wajah A Ki jadi murung seketika.
"Kau bilang aku tidak kalah dengannya? Terang-terangan kau menyindir bahwa aku tidak bisa mengunggulinya, Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya kau berniat melihatnya."
Katanya kesal, Tanpa menunggu jawaban dari pujaan hatinya, dia langsung berdiri.
"Aku akan pergi!!"
Pangeran Kaeritan terkejut setengah mati.
"Tidak, tidak."
Katanya gugup.
"Aku bersumpah atas nama langit dan bumi, Seumur hidup ini aku tidak akan melirik kepada Tan Wan Wan sedikit pun."
A Ki jadi senang mendengar janjinya, Dia duduk kembali.
"Kalau kau tidak mau melirik Tan Wan Wan sedikit pun juga, ucapanmu itu memang tepat sekali Siapa pun yang pernah melihat Tan Wan Wan, pasti ingin melihatnya sekali lagi dan sekali lagi, Seribu kali, selaksa kali juga tidak pernah cukup."
Kata Siau Po.
"Kau ini memang paling pintar mengoceh sembarangan!"
Maki pangeran Kaerltan.
"Sekarang juga aku bersumpah, kalau dalam hidup ini aku melirik Tan Wan Wan sedikit saja, biarlah sepasang mataku ini menjadi buta!"
A Ki senang sekali, Dengan mata memancarkan cinta kasih, dia memandang pangeran Kaer1tan.
"Aku dengar si raja cilik berkata, dia benar-benar tidak mengerti mengapa kalian mau membantu Gouw Sam Kui. Kalau tujuannya untuk mendapatkan Tan Wan Wan, apa boleh buat. Di dunia ini hanya ada satu Tan Wan Wan, bahkan si raja cilik sendiri tidak memilikinya, Kecuali itu, apa pun yang dimiliki Gouw Sam Kui, si raja cilik pasti memilikinya juga, bahkan berpuluh kali lipat lebih banyak, Kalau kalian bersedia membantu si raja cilik, uang emas atau batu permata sebanyak apa pun pasti diberikannya."
Kata Siau Po.
"Meskipun Tibet dan Mongol terhitung negara yang miskin."
Kata Shang Cie.
"Tapi kami juga tidak rakus akan harta."
Nadanya dingin sekali.
Siau Po berpikir dalam hati.
--Mereka tidak menginginkan harta, juga tidak senang dengan wanita cantik.
Apa sebenarnya yang diinginkan kedua orang ini?
--Tiba-tiba hatinya tergerak, dia berpikir lagi.
-Betul!
Laki-laki berjiwa kerdi!
tidak dapat hidup sehari pun tanpa uang, sedangkan seorang laki-laki berjiwa besar tidak dapat hidup tanpa kedudukan Aku Wi Siau Po adalah seorang laki-laki berjiwa kerdil, mereka berdua tentunya laki-laki yang berjiwa besar (ambisius) -Karena itu, dia segera berkata.
"Si raja cilik pernah berkata, pangeran Kaerltan hanya seorang pangeran, kalau dia bersedia membantu aku, maka aku akan menganugerahkan dia menjadi seorang raja di Mongol,"
Sepasang mata pangeran Kaerltan langsung mengeluarkan sinar terang, Dengan suara bergetar dia bertanya.
"Be... narkah Sri... baginda berkata,.. demikian?"
Tanyanya untuk menegaskan.
"Tentu saja benar, Untuk apa aku berbohong?"
Sahut Siau Po.
"Di dunia ini belum pernah ada kedudukan seperti raja Mongol Kalau si raja cilik dapat membantunya menjadi Jengel Khan saja, pangeran juga sudah merasa puas."
Kata Shang Cie.
"Boleh, boleh."
Kata Siau Po.
"Cun Ke el hao (Seluruhnya sempurna) ini pasti raja cilik bersedia menganugerahkannya, Dalam hati dia justru berpikir -Apa sin Cun Ke el hao itu? Memangnya di dunia ini mana ada apa-apa yang hanya setengah dapat dikatakan sempurna, tentu saja harus seluruhnya! -Shang Cie yang melihat mimik wajah Siau Po, segera sadar bahwa si anak muda tidak mengerti apa yang dikatakannya.
"Mongol terdiri dari beberapa bagian."
Katanya menjelaskan "Raja di Mongol bukanlah raja, melainkan disebut Khan, sedangkan Jengel Khan ini merupakan kedudukan yang tertinggi dan pangeran belum menjadi seorang Khan."
"Begitu rupanya, Kalau pangeran ini menjadi seorang khan, toh bukan hal yang sulit Kalau pangeran bersedia membantu si raja cilik, tentu beliau akan menurunkan firman dengan mengutus laksaan tentaranya ke Mongol. Pada saat itu, mana mungkin ada seorang penduduk pun di Mongol yang berani menentang?"
Kata Siau Po.
"Apabila Sri Baginda bersedia melakukannya, tentu hal inilah yang paling baik,"
Sahut pangeran Kaerltan dengan nada gembira. Siau Po menepuk dadanya.
"Kau tidak perlu khawatir, serahkan saja kepadaku! Si raja cilik hanya membenci Gouw Sam Kui seorang, Meskipun nona A Ki sangat cantik, asal tidak terlihat oleh Sri Baginda, tentu beliau tidak akan merebutnya, sedangkan mengenai Tuan lhama ini, kalau kau membantu raja, tentu beliau akan memberikan kedudukan atau menjadi pembesar paling tinggi di Tibet."
Dia tidak tahu pembesar apa yang kedudukannya paling tinggi di Tibet, karenanya dia tidak berani sembarangan bicara.
"Seluruh Tibet dikuasai Buddha hidup Dalai lhama, tidak bisa sembarangan mendapat penganugerahan dari raja,"
Sahut Shang Cie.
"Orang Iain bisa menjadi Buddha hidup, mengapa kau tidak boleh? seluruhnya ada berapa orang Buddha hidup di Tibet?"
"Masih ada satu lagi, yaitu Pan Dan lhama, seluruhnya dua orang."
Sahut Shang Cie.
"Nah, itu dia! Makan saja satu hari tiga kali, kalau menghitung apa-apa juga sampai tiga, Kalau belum mencapai tiga, biasanya belum klop, Kita mohon Sri Baginda untuk menganugerahkan seorang Buddha hidup lagi, yakni Budda hidup Shang Cie. Buddha hidup besar Shang Cie khusus mengarahkan kedua Buddha hidup kecil entah Da apa dan Pan apa...."
Hati Shang Cie langsung tergerak.
--Anak ini suka mengoceh sembarangan, tapi apa yang dikatakannya ada benarnya juga...
-katanya dalam hati, Berpikir sampai di sini, tanpa terasa selembar wajahnya yang kurus langsung saja berseri-seri.
Siau Po paling pandai melihat mimik wajah orang, Dia tahu perkataannya sudah termakan, Dia harus mencengkeram kesempatan ini baik-baik.
pada saat ini Siau Po hanya berharap dapat meloloskan diri dari maut, apa pun permintaan lawan pasti akan dikabulkannya.
Lagipula, untuk mengangkat Shang Cie mau pun pangeran Kaerltan, dia tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun.
Yang penting dia bisa mengambil hati si raja cilik.
Karena itu, dia segera berkata.
"Aku bukannya membuat Rencana apa pun yang aku kemukakan di hadapan si raja cilik, sembilan puluh persen selalu diterimanya, Lagipula, kalau kalian berdua bersedia membantu Sri Baginda menyerang Gouw Sam Kui, bukan hanya kalian berdua saja yang akan mendapat penganugerahan, aku sendiri juga terhitung sudah mendirikan jasa besar. Pasti kedudukanku akan naik lagi dan akan mendapatkan banyak hadiah. Ada pepatah yang bagus sekali.
"Dalam kerajaan selalu ada orang baik yang jadi pembesar" , aku menjadi pembesar tinggi di kota raja, pangeran menjadi apa Khan di Mongol dan Tuan lhama menjadi Buddha hidup di Tibet, Aku rasa sebaiknya kita bertiga mengangkat saudara saja, Dengan demikian, mulai sekarang ada kesenangan kita rasakan bersama-sama dan bila ada kesusahan kita tanggung bersama pu!a, Kita dilahirkan bukan pada tahun, bulan dan hari yang sama, tapi kita rela mati dalam tahun, bulan dan hari yang sama. Di dalam dunia ini, kecuali si raja cilik, kita bertigalah orang yang paling berkuasa, Bukankah dengan demikian hidup ini akan menyenangkan?"
Dalam hati dia berpikir, -Bersedia mati pada tahun, bulan dan hari yang sama, katakata ini penting sekali, asal mereka mengganggukkan kepalanya, mereka tidak dapat membunuh aku lagi, Sebelum datang ke kota Yang-ciu ini, Shang Cie dan pangeran Kaerltan sudah menyelidiki sampai jelas, mereka tahu anak muda ini merupakan orang kesayangan kaisar Kong Hi.
Pangkatnya naik terus dengan cepat Kekayaannya juga tidak terhitung lagi, Hanya saja, mereka tidak sangka kalau orang yang dimaksud merupakan bocah cilik yang sudah dikenalinya.
Pangeran Kaerltan sendiri sebetulnya tidak ada permusuhan apa pun dengan anak muda ini, Tapi Shang Cie kehilangan dua belas adik seperguruannya di tangan Siau Po.
Apalagi sepuluh jari tangannya sampai kutung gara-gara si bocah ini juga, sebetulnya kebencian dalam hati Shang Cie tidak terlukiskan lagi.
Tapi setelah mendengar kata-katanya barusan, dia berpikir, adik seperguruannya yang sudah mati toh tidak dapat hidup kembali.
Jari tangan yang sudah dikutungkan juga tidak dapat menyambung kembali, bahkan tidak dapat tumbuh lagi, Kalau dia menghantam Siau Po satu kali sampai mati, rasanya juga hanya bisa menyalurkan kekesalan sesaat saja.
Kalau membantu Gouw Sam Kui, juga tidak ada keuntungan apa yang dapat diperoleh, Tetapi kalau mengangkat saudara dengan orang ini, kenyataannya sudah terlihat di depan mata, banyak keuntungan yang dapat diperoleh.
Kedua orang itu saling pandang beberapa saat, kemudian perlahan-lahan mereka menganggukkan kepalanya.
Siau Po bukan main senangnya, Tidak disangka-sangka kalau ocehannya bisa melunakkan hati kedua musuhnya, Karena takut mereka akan mengingkarinya, dia segera berkata.
"Toako, jiko, ji so, kami sekarang sudah menjadi saudara. Ji so (kakak ipar perempuan nomor dua) boleh sembahyang boleh tidak, Kau toh akan menyembah langit dan bumi dengan jiko, berarti sudah terhitung satu orang."
Dengan wajah merah padam A Ki mencibirkan bibirnya, dia merasa ucapan Siau Po selalu dapat menyenangkan hati orang.
Tiba-tiba Shang Cie mengulurkan tangannya dan menghantam ujung meja sampai gompal Plak!!!
Siau Po terkejut setengah mati.
--Ada apa lagi?
--katanya dalam hati.
Terdengar Shang Cie berkata dengan nada keren.
"Wi Tayjin, kata-katamu hari ini, biarlah untuk sementara aku mempercayainya, Tapi kalau kelak kau menyalahi janjimu sendiri dan mengingkarinya, nasibmu akan seperti ujung meja ini!"
Siau Po tersenyum.
"Mengapa toako berkata demikian? Kita bertiga bekerja sama, semuanya akan mendapatkan keuntungan Kalau aku membohongi kalian, kalian satu di MongoI, yang satu lagi di Tibet, kalian berdua jika sampai mengerahkan pasukan untuk menyerang kotaraja dan hal ini sampai diketahui oleh Sri Baginda, tentu batok kepalaku ini tidak dapat dipertahankan lagi,"
Katanya.
"Coba toako dan jiko berdua bayangkan, mungkinkah aku berani berlaku curang kepada kalian berdua?"
Shang Cie menganggukkan kepalanya.
"lya, benar juga."
Katanya.
Saat itu juga, ketiga orang itu menyalakan lilin di ruangan tersebut Mereka berlutut menghadap ke luar, Bersama-sama mereka bersembahyang sebagai upacara pengangkatan saudara.
Shang Cie usianya paling tua, dia dihitung kakak nomor satu, pangeran Kaerltan nomor dua dan Siau Po yang terakhir.
Kemudian Siau Po menyembah kepada Shang Cie dan pangeran Kaerltan sambil memanggil toako dan jiko, Setelah selesai, Siau Po juga menjura kepada A Ki sambil tidak hentinya memanggil ji so.
Dalam hati dia berpikir.
--Kau sudah menjadi ji so ku, lain kali kalau melihat aku bergurau dengan istriku A Ko, tentu kau merasa tidak enak hati menghalanginya lagi, bukan?
A Ki menuangkan empat cawan arak, sambil tersenyum dia berkata.
"Hari ini kalian bertiga telah mengangkat persaudaraan semoga saja ada awal ada akhirnya, Harap kalian bisa melakukan pekerjaan besar bersama-sama. Siau moay menyulang kalian secawan arak."
Shang Cie tertawa.
"Tentu saja arak ini harus diminum,"
Katanya. Dia langsung mengangkat cawan araknya. Siau Po teringat sesuatu, cepat-cepat dia mencegahnya.
"Toako, tunggu dulu! Arak ini arak murahan, kurang bersih, Biar aku suruh orang menggantinya dengan yang baru."
Tanpa menunggu jawaban dia langsung berseru.
"Mana pelayan? Bawakan arak!"
Hatinya merasa heran.
"Bagaimana sih Li Cun Wan ini? Sampai sekian lama kok tidak ada orang yang datang melayani kita?"
Kemudian dia berpikir -Betul!
Pasti si mucikari, si kacung dan para pelayan melihat ada orang yang berkelahi, mereka ketakutan dan kabur!
Baru berpikir, sampai di situ, tampak seorang kacung masuk ke dalam dengan kepala menunduk Dia bertanya dengan nada kemalas-malasan.
"Ada apa?"
Siau Po berpikir dalam hati.
--Kacung di Lie Cun Wan, mana ada yang tidak kukenal?
Yang ini pasti orang baru, mana boleh berbicara kepada tamu dengan nada yang begitu tidak sopan?
Pasti saking terkejut dia jadi bego!
-"Cepat ambilkan dua botol arak!"
Bentaknya keras.
"Baiklah!"
Sahut si kacung yang langsung berjalan ke luar.
Melihat bayangan punggung si kacung, Siau Po berpikir dalam hati.
--Ah!
Siapa sebetulnya orang ini?
Pagi hari ketika menikmati keindahan bunga obat di kuil Tan Ci si, dia juga pernah muncul Aku ingat betul Mengapa sekarang dia bisa jadi kacung di rumah pelesiran ini?
Di balik semua ini pasti ada apa-apanya, -Dia segera memusatkan segenap pikirannya untuk mengingat-ingat, Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin, Bahkan tanpa sadar mulutnya mengeluarkan seruan tertahan.
Shang Cie, pangeran Kaerltan dan A Ki segera bertanya serentak.
"Ada apa?"
Siau Po merendahkan suaranya.
"Kacung yang masuk barusan adalah samaran salah seorang anak buah Gouw Sam Kui yang ilmunya tinggi sekali Apa yang kami bicarakan tadi pasti sudah didengar olehnya."
Shang Cie dan pangeran Kaerltan terkejut setengah mati Mendengar ucapan Siau Po itu.
"Kalau begitu, dia tidak boleh dibiarkan nidup."
Kata mereka serentak.
"Kakak berdua jangan terburu-buru turun tangan. Kita-kita pura-pura belum mengenalinya, Kita lihat dulu, berapa jumlah seluruh orangnya yang telah dikirim kemari! Dan.. dan permainan setan... apa yang telah mereka rencanakan."
Ketika berbicara, suara Siau Po juga sudah gemetar.
Kalau kacung tadi benar-benar samaran orang Gouw Sam Kui, Siau Po pasti tidak akan demikian gentarnya, Ternyata dia adalah orang Sin Liong Kau, Lu Kao Han.
Orang ini bersama-sama dengan Siau Po berangkat ke kota raja dari Sin Liong To, mereka bergaul sudah cukup lama, Dan saat ini samarannya benar-benar sempurna, sampai-sampai Siau Po tidak mengenalinya.
Tapi ketika melihat bayangan punggungnya, Siau Po merasa tidak asing, Pagi hari tadi, ketika berada di kuil Tan Ci Si, dia belum mengingatnya, sekarang mereka bertemu lagi di Li Cun Wan, dia segera manyadari bahwa ada sesuatu yang janggal.
Setelah dipikirkan dengan seksama, dia baru sadar siapa adanya orang tersebut.
Kalau hanya Lu Kao Han satu orang saja, Siau Po juga tidak begitu takut Tapi ternyata orang itu mengatakan bahwa dia akan datang ke Li Cun Wan untuk mendengarkan lagu.
Maka dia segera menyusup ke tempat ini dan menyamar sebagai kacung, Kemungkinan Poan Tau To dan Siu Tau To juga ikut datang, Jangan-jangan Hong kaucunya sendiri juga sudah tiba di sini.
Urusan ini sungguh rumit sekali, Semakin memikirkan, dia semakin takut.
Setetes demi setetes keringat sebesar kacang kedelai menetes membasahi keningnya.
Tampak Lu Kao Han berjalan masuk kembali membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat dua botol arak dengan kepala masih tertunduk.
Dia meletakkan dua botol arak itu di atas meja.
Siau Po berpikir dalam hati.
--Hm!
Dia sengaja menundukkan wajahnya karena takut kukenali Entah berapa orang seluruhnya yang telah datang?
-Karena itu dia berkata.
"Mengapa di dalam rumah pelesiran ini hanya ada kau satu orang? Panggil yang lainnya untuk melayani kami!"
Lu Kao Han berdehem mengiakan, kemudian dia segera membalikkan tubuhnya untuk berjalan ke luar. Siau Po berkata kepada rekan-rekannya dengan suara rendah.
"Toako, jiko, jiso, nanti kalian bertindak mengikuti isyarat mata dariku, Kalau aku mendelikkan mataku ke atas sehingga yang terlihat hanya bagian yang putihnya saja, kalian lekas-lekas turun tangan, Siapa pun yang ada dalam ruangan ini, kalau bisa kita bunuh saja, Mereka semua terdiri dari orang-orang yang kepandaiannya tinggi sekali, jangan dianggap enteng!"
Shang Cie dan yang lainnya menganggukkan kepala tanda mengerti Dalam hati mereka justru berpikir.
--Para bawahan Gouw Sam Kui, meskipun yang ilmunya paling tinggi, juga tidak mungkin seberapa hebat Kenapa kau demikian kelabakan?
Tidak lama kemudian, Lu Kao Han membawa masuk empat orang wanita penghibur, Masing-masing duduk di samping para tamunya, Siau Po memperhatikan dia tidak kenal dengan keempat wanita itu.
Pokoknya bukan perempuan penghibur di Li Cun Wan, Tampangnya juga tidak ada yang enak dilihat BoIeh dibilang malah jeleknya setengah mati.
Ada yang matanya juling, ada yang mulutnya pengok, ada yang kulitnya kuning pucat dan satunya lagi justru hitam sekali seperti arang.
Rata-rata wajah mereka penuh dengan bintik-bintik atau jerawat.
Salah satunya yang penuh dengan jerawat kebetulan sedang melirik kepada Siau Po dan mengedipkan matanya.
Siau Po melihat sinar matanya yang terang sekali, bentuk bola matanya juga sangat indah, Hatinya berpikir --Keempat perempuan ini pasti samaran orang-orang Sin Liong kau juga, Mereka sengaja berdandan sedemikian rupa agar tidak dikenali, perempuan yang satu ini justru mengedipkan matanya kepadaku, apa artinya?
-Siau Po segera menuangkan arak Mi Jun Ciu yang mengandung obat bius tadi ke dalam empat buah cawan dan diserahkannya kepada keempat wanita penghibur itu.
"Mari kita minum bersama-sama!"
Katanya.
Di dalam rumah pelesiran, selamanya belum pernah ada tamu yang menuangkan arak untuk wanita penghibur yang menemaninya.
Begitu tangan si tamu menyentuh kendi arak, wanita penghibur akan segera merebutnya dan menuangkannya.
Akan tetapi keempat wanita itu hanya berdiam diri saja, mereka membiarkan Siau Po menuangkan arak tanya untuk mereka, Tidak ada satu pun di antara mereka yang membuka suara, Siau Po berpikir lagi dalam hatinya.
--Ke empat perempuan ini benar-benar tidak tahu bagaimana harus menyamar sebagai pelacur!
--Kemudian dia berkata.
"Kalian ke mari untuk melayani tamu, mengapa begitu tidak tahu aturan? Minum dulu arak kalian masing-masing!"
Selesai berkata, dia menuangkan secawan arak lagi lalu berkata kepada Lu Kao Han.
"Kau orang baru bukan? jadi kacung saja tidak becus! Kalau kalian tidak minum arak yang disuguhkan tamu, tamu mana yang mau mengeluarkan uang untuk kalian!"
Lu Kao Han dan keempat wanita penghibur palsu itu mengira bahwa memang demikianlah peraturan di dalam rumah pelesiran, Mereka sengaja mengiakan dan mengeringkan arak dalam cawan masing-masing.
"Nah, begitu baru betul!"
Kata Siau Po.
"Apakah di dalam rumah pelesiran ini masih ada kura-kura (germo) atau pelacur lainnya? Panggil semuanya ke luar! Masa Li Cun Wan sebesar ini hanya ada kalian berlima? Rasanya kok aneh!"
Kata Siau Po.
Perempuan yang berwajah kuning langsung mengedipkan matanya kepada Lu Kao Han.
Kacung palsu itu segera ke luar Tidak lama kemudian dia sudah datang lagi dengan membawa dua orang kacung lainnya, Dengan suara yang diserak-serakan dia berkata.
"Pelacur lainnya sudah tidak ada lagi, hanya ada dua ekor kura-kura."
Diam-diam Siau Po merasa geli.
"Pelacur, kura-kura itukan panggilan orang lain, Kau sendiri seekor kura-kura, masa kau menyebut dirimu sendiri dengan panggilan seperti itu? Meskipun tamu yang datang ke sini untuk pelesiran juga tidak akan menggunakan kata-kata yang demikian tidak sopan. Di tempat ini biasanya orang menyebut pelayan dan nona penghibur, aku hanya mengujimu saja, belangnya langsung ketahuan, He he, Hong kaucu pandai meramal dan banyak akal muslihatnya, tapi mimpi pun tidak membayangkan bahwa aku Siau Po justru dibesarkan di rumah pelacuran ini! -Kedua kacung atau germo yang dibawanya bertubuh tinggi besar, Yang satu, sekali lihat saja sudah ketahuan bahwa orang itu samaran Poan Tau To. sedangkan yang satunya tentu Siau Tau To, tapi mengapa bentuk tubuhnya begitu tinggi? Setelah merenung sejenak, Siau Po segera menyadari bahwa kaki orang itu pasti ditambah tongkat penyanggah. Kalau dia kurang cantik, tentu tidak bisa berpikir sejauh itu. Siau Po kembali menuangkan dua cawan arak.
"Sekarang tamu menyuruh kalian dua ekor kura-kura minum arak, kalian para kurakura harus cepat minum!"
Katanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Poan Tau to langsung meneguk kering cawan araknya, Sifat Siau Tau To lebih berangasan.
"Kau si bocah busuklah yang pantas menjadi kura-kura!"
Makinya, Lu Kao Han segera menarik ujung lengan bajunya dengan gugup.
"Cepat minum! Kenapa kau begitu berani terhadap tamu?"
Siau Tau To menyamar sebaga kacung justru karena mendapat perintah dari Hong kaucu, hatinya terkejut sekali ketika disadarkan oleh Lu Kao Han. Cepat-cepat dia mengeringkan cawan araknya.
"Apakah semuanya sudah berkumpul di sini?"
Tanya Siau Po. Tidak ada orang lainnya lagi?"
"Tidak ada."
Sahut Lu Kao Han.
"Apakah Hong kaucu sendiri tidak menyamar sebagai kura-kura?"
Tanya Siau Po sembari cepat-cepat mendelikkan matanya ke atas sehingga yang terlihat hanya bagian yang putihnya saja.
Lu Kao Han bertujuh yang mendengar pertanyaan itu segera menjadi tersentak kaget.
Ke-empat wanita penghibur palsu itu langsung mencelat bangun, Sejak tadi Shang Cie memang sudah bersiap sedia.
Kedua tangannya terjulur ke depan untuk menotok pinggang Siu Tau To dan Lu Kao Han.
Begitu turun tangan, Lu Kao Han langsung roboh, tapi Siu Tau To hanya mendengus satu kali, lalu dia mengibaskan tangannya untuk menghantam kepala Shang Cie.
Shang Cie terkejut.
Dalam hati dia berpikir, ilmu Liong Ci Tan (Totokan dua jari)nya boleh dibilang tidak ada tandingannya di dunia.
Sejak sepuluh jari tangannya kutung, gerakannya memang menjadi agak lamban sedikit, namun karena jarinya tinggal dua ruas, kekuatannya justru jadi berlipat ganda, Terang-terangan totokannya tadi mengenai pinggang Siu Tau To, tapi mengapa orang itu seperti tidak merasakannya?
Mungkinkah dia juga seperti Siau Po yang pernah mempelajari ilmu Kim Kong Kong?
Sebetulnya, di antara kedua orang ini, tidak ada seorang pun yang pernah mempelajari ilmu kebal.
Kalau Siau Po tidak mempan pukulan atau pun senjata tajam itu hanya karena dia mengenakan baju mustika.
sedangkan Siu Tau To menggunakan tongkat penyanggah kaki, dengan demikian tubuhnya jadi lebih tinggi satu kaki.
Shang Cie tentu saja tidak mengetahuinya, dia menyerang di bagian pinggang, tapi sebetulnya mengenai bagian paha, maka Siu Tau To hanya mengaduh kesakitan satu kali, tapi tidak sampai roboh.
Pada saat itu, pangeran Kaerltan sudah bertarung melawan Poan Tau To.
Wanita penghibur yang mukanya jerawatan segera berbaku hantam dengan A Ki.
Sedangkan seorang lainnya segera menerjang ke arah Siau Po.
Si anak muda tertawa.
"Apakah kau tiba-tiba kena sakit ayan? Mengapa menyerang membabi buta?"
Katanya.
Dia melihat kuku jari tangan perempuan itu panjang-panjang, serangannya juga cepat sekali, Hatinya terkejut, dia menundukkan kepalanya dan menyusup ke kolong meja, tangannya terulur untuk mendorong paha perempuan itu.
Perempuan itu sudah minum arak Mi Jun Ciu, kepalanya memang sudah terasa pusing tujuh keliling, begitu didorong oleh Siau Po, gerakannya langsung limbung, tubuhnya terhuyung-huyung beberapa kali, lalu dia jatuh terduduk dan tidak sanggup bangkit kembali.
Kemudian, ketiga wanita penghibur palsu lainnya juga susul menyusul roboh.
Shang Cie dan Siu Tau To sudah bertarung beberapa jurus, Siu Tau To merasa gerakannya kurang leluasa karena menggunakan tongkat penyanggah, Karena itu dia segera membungkukkan tubuhnya untuk mematahkan penyanggah kakinya, Melihat itu, Shang Cie menggumam.
"Rupanya seorang katai!"
Siu Tau To marah sekali.
"Lohu dulu bahkan lebih tinggi daripada kau! Kalau aku lebih senang menjadi orang katai, apa urusannya denganmu?"
Makinya.
Shang Cie tertawa terbahak-bahak, mulut keduanya berbicara, tapi tangan dan kaki mereka tidak berhenti bergerak.
ilmu keduanya sama-sama tinggi, Setelah bertempur beberapa jurus, mereka sama-sama mengagumi lawannya, Shang Cie berpikir dalam hati.
-Di bawah pimpinan Gouw Sam Kui ternyata ada perwira yang kepandaiannya demikian tinggi!
-Sedangkan Siu Tau To berpikir.
-Kepandaianmu memang tinggi sekali, tapi kau bersedia menjadi kaki anjing si budak busuk Siau Po, tampaknya kau juga bukan orang baik-baik!
-Di pihak lain, dalam beberapa jurus saja, pangeran Kaerltan sudah mulai terdesak oleh Poan Tau To.
Untungnya, sebelum terjadi perkelahian Poan Tau To sudah dipaksa minum arak Mi Jun Ciu oleh Siau Po.
Meskipun tidak sampai roboh, tapi gerakannya sudah tidak segesit semula.
Karena itulah, sampai sedemikian jauh pangeran Kaerltan masih belum sanggup dirobohkannya.
Sementara itu, A Ki merasa heran, perempuan yang menyamar sebagai wanita penghibur itu hanya bertarung dengannya beberapa jurus lalu roboh sendiri Ketika dia menolehkan kepalanya, tampak pangeran Kaerltan mulai kewalahan, cepat-cepat dia menghampiri untuk membantunya.
Pandangan mata Poan Tau To tiba-tiba saja menjadi gelap, Tubuhnya terhuyunghuyung.
Dia merasa dadanya kena dihajar oleh lawan, tapi pukulan itu tidak terlalu kuat, Cepat-cepat dia memejamkan matanya, Kedua tangannya direntangkan, dibengkeknya tangan lawan, Jari telunjuk sepasang tangannya langsung meluncur ke depan dan menotok bagian bawah ketiak lawannya.
A Ki segera merasa seluruh tubuhnya lemas, Perlahan-lahan dia jatuh terkulai, dia menindih di atas tubuh Lu Kao Han.
Hatinya takut sekali, tapi kemudian dia melihat Poan Tau To sendiri perlahan-lahan tersungkur jatuh.
"A Ki, A Ki, kenapa kau?"
Tanya pangeran Kaer1tan.
Tiba-tiba Poan Tau To bangkit kembali, secepat kilat dia mengirimkan sebuah pukulan kepada si pangeran, Tubuh pemuda itu langsung terpental jauh sampai ke depan pintu dan dengan keras membentur dinding.
Tenaga dalam Poan Tau To sudah mencapai tingkat yang mahir sekali, Meskipun dia sudah minum arak Mi Jun Ciu, tapi itu hanya semacam obat bius yang biasa digunakan dalam rumah pelesiran untuk mengatasi perempuan-perempuan yang tidak bersedia melayani tamu, dayanya tidak seberapa hebat.
Meskipun kepalanya terasa pusing, tapi dia masih berusaha mempertahankan diri.
Pada saat itu, pandangan mata Siu Tau To mulai berkunang-kunang, Dia mengulurkan tangannya untuk memukul Sang pangeran, tapi dengan mudah semua serangannya berhasil digagalkan oleh Shang Cie.
Pundak kiri dan kening kanannya ber-turut-turut kena hantaman Shang Cie.
Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga dalam Shang Cie, meskipun tubuh Siu tau to seumpamanya terdiri dari otot baja dan kulit besi, tetap saja dia tidak sanggup menahannya, tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia berteriak sekeras-kerasnya, kemudian melarikan diri lewat pintu, sementara itu, Lu Kao Han bangkit dengan tubuh terhuyung-huyung, totokan di pinggangnya masih belum lepas, Dengan setengah bingung, dia ikut Siu Tau To melarikan diri.
Pangeran Kaerltan sendiri kena pukulan Poan Tau To sehingga seluruh tubuhnya yang terpental dan membentur tembok terasa sakit sekali, Baru saja dia hendak memejamkan matanya menenangkan diri, tiba-tiba dia melihat tangan musuh menumpu pada meja dan berdiri sepasang mata orang itu terpejam, tangan kanannya melindungi bagian dada seakan takut terkena serangan.
Kaerltan dapat melihat kesempatan yang baik, dengan memaksakan diri dia mencelat bangun serta mendupak bagian punggung lawan, Poan Tau To menjerit keras-keras, tangannya membalik untuk mencengkeram dada pangeran Kaerltan, Diangkatnya tubuh pangeran itu.
Shang Cie segera menghambur ke depan untuk memberikan bantuan, Poan tau to segera membuka matanya, sambil mencekal dada Kaerltan, dia melompati tembok pekarangan dan melarikan diri.
"Kembalikan orang itu!"
Bentak Shang Cie.
Dia segera mengejar keluar Lalu melompat juga ke atas tembok pekarangan Suara teriakan kedua orang itu sayup-sayup semakin menjauh.
Wi Siau Po merangkak ke luar dari kolong meja, Dia melihat setumpukan tubuh malang melintang di atas tanah, Song Ji dan Cin Ju rebah di sudut ruangan, Keempat anggota Sin Liong kau yang menyamar sebagai wanita penghibur terbaring di atas lantai.
Semua orang itu tidak bergerak sedikit pun.
Ada yang roboh karena tertotok, ada juga yang disebabkan pengaruh arak Mi Jun ciu.
Mereka semua menggeletak seperti orang mati.
Siau Po paling mengkhawatirkan keadaan Song Ji.
Cepat-cepat dia memondong gadis cilik itu.
Dia melihat sepasang mata gadis itu berkedip-kedip, pernapasannya lancar, hatinya menjadi lega, Tapi dia tidak mengerti ilmu membebaskan totokan, Karena itu, terpaksa dia memapah Song Ji, Cin Ju dan A Ki agar duduk di kursi.
Hatinya memikirkan keadaan ibunya, Cepat-cepat dia menghambur ke kamar belakang, tampak ibunya terkulai di atas tempat tidur, Siau Po terkejut setengah mati, Dengan panik dia memondongnya, Tubuh ibunya lemas sekali tapi denyut jantung dan pernafasannya masih normal.
Dia menduga, tentu sang ibu juga terkena totokannya orang-orang Sin Liong Kau.
Kalau hal ini sampai dialami ibunya, kemungkinan kacung dan mucikari serta pelayan lainnya juga sudah mendapatkan bagian yang sama.
Kalau seseorang terkena totokan, dalam waktu beberapa jam akan bebas dengan sendirinya, jadi dia tidak terlalu khawatir.
Siau Po kembali ke ruangan depan, Di depan pintu dia memasang telinganya, tidak terdengar suara Shang Cie, Poan Tau To, Siu Tau To maupun pangeran Kaerltan.
Dalam hati dia berpikir --perempuan yang mukanya jerawatan tadi mengedipkan matanya kepadaku, tampaknya dia memberi isyarat agar aku berhati-hati, Orang ini baik juga hatinya, Entah siapa dia?
--Dia segera menghampiri perempuan itu dan membungkukkan tubuhnya, Dengan tangannya dia mengusap wajah perempuan itu beberapa kali.
Butiran jerawat palsu itu langsung rontok, Tampaknya seraut wajah berbentuk kuaci, putih dan manis sekali, Siau Po mengeluarkan seruan gembira.
Rupanya Siau kongcu, Bhok Kiam Peng.
Siau Po menundukkan kepalanya dan mencium pipi gadis itu.
"Biar bagaimana kau masih bersikap baik kepadaku, tentunya kau dipaksa mereka datang ke mari, bukan?"
Tiba-tiba jantungnya berdebar.
--Entah siapa perempuan penghibur lainnya?
Apakah Pui Ie juga ikut datang?
Perempuan hina yang satu ini selalu mencari akal untuk mencelakakan akui Kalau sekarang dia tidak ikut, benar-benar aneh!
--pikirnya, Teringat kepada Pui Ie, hatinya terasa hangat juga sedih.
Dia menatap kepada perempuan yang wajahnya kuning dan pipinya tembem, tapi tubuhnya langsing, Kemungkinan dialah Pui Ie.
Karena itu, dia segera mengulurkan tangannya untuk menghapus samarannya.
Bedak berwarna kuning itu segera terhapus, tampaklah seraut wajah yang manis dan berbentuk oval, usianya mungkin lebih tua lima enam tahun dibandingkan Pui Ie, tapi wajahnya jauh lebih cantik.
Siapa lagi kalau bukan Hong hujin?
Dalam keadaan terbius, pipinya berona merah, kulitnya halus dan mengkilap, Meskipun dulu Siau Po sendiri sering merasa kalau wanita yang satu ini sangat menawan, tapi pesonanya sekarang semakin terlihat nyata.
Kalau dulu tidak pernah ada pikiran kotor dalam benaknya, sekarang dia menjadi lupa diri melihat kecantikan wanita itu, Karena ada kesempatan, dia segera mengulurkan tangan untuk mengelus-elus wajah Hong hujin.
Tampak sepasang matanya terpejam rapat-rapat, dia dalam keadaan tidak sadar, jantung Siau Po menjadi berdebar-debar, sekali lagi dia mengelus wajah wanita itu.
Kemudian dia membalikkan tubuhnya untuk menatap kedua wanita lainnya, Yang satunya bertubuh sintal pasti bukan Pui Ie.
Salah seorang di antaranya malah menyerang Siau Po dengan ganas tadi, Siau Po mengangkat kendi arak lalu distramkannya ke wajah perempuan itu, kemudian dia menarik ujung baju si perempuan untuk mengusap wajahnya, Siau Po terpana, ternyata si permaisuri palsu, Hati Siau Po menjadi senang.
--Wah, jasaku kali ini benar-benar besar sekali Sri Baginda dan Thay Hou menyuruh aku menangkap si moler tua ini untuk membalas dendam.
Dengan berbagai cara aku tidak pernah berhasil, tidak tahunya sekarang dia malah menyodorkan dirinya dengan menjadi pelacur di rumah pelesiran ini.
Sejak dulu aku sering menyebutnya perempuan hina dan si moler tua, tampaknya aku juga mempunyai bakat meramal nasib orang, Buktinya sekarang dia benar-benar ada di rumah hina ini!
-Kemudian dia mengusap wajah pelacur yang terakhir, yang ini baru samaran Pui Ie.
Siau Po terkejut.
-Mengapa pinggangnya begitu besar?
--katanya dalam hati.
Mungkinkah dia main serong dengan orang lain?
Ya, Thian yang kuasa ...
si moler tua benar Siau Po menjadi pelacur, tampaknya aku Wi Siau Po juga terpaksa harus menjadi kura-kura kecil!
Dia mengulurkan tangannya dan disusup-kannya ke dalam pakaian Pui Ie.
Yang tersentuh olehnya bukan kulit tubuh dan ketika ditarik keluar ternyata sebuah bantal.
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
--Ternyata hatimu jauh lebih jahat dari Siau kungcu, Dia justru khawatir aku terkena tangan jahat kalian sehingga mengedipkan matanya memberi isyarat kepadaku Kau justru takut ketahuan olehku sehingga sudi menyamar menjadi perempuan bunting!
Ha ha ha ha ha.,.!
Si pelacur kecil hamil di dalam rumah pelesiran, aku suamimu akan menggugurkan kandunganmu, menggugurkan kandungan yang ternyata sebuah bantal!
-Siau Po berjalan ke luar ruangan dan melihat-lihat sekitarnya, Tampak mayat berserakan Keadaan di sekitar gelap gulita, tidak terdengar suara apa pun, Dalam hati dia berpikir.
--Poan tau to dan Siu Tau To sudah minum arak Mi Jun Ciu, tentu mereka tidak sanggup mengalahkan kedua kakak angkatku itu.
Tapi bila Hong kaucu dan yang lainnya menantikan di depan sana, akibatnya sulit dibayangkan!
Kakak berdua, kalau kalian hari ini sampai putus jiwa, maafkan kalau siautee menyalahi janji dan tidak sudi mati pada tahun, bulan atau pun hari yang sama!
--katanya dalam hati.
Bagian 73 Dia masuk kembali ke dalam, Dia melihat Hong hujin, Pui Ie, Bhok Kiam Peng, Cin Ju dan Song Ji semuanya tidak sadarkan diri, Masing-masing memiliki kecantikan dan pesona tersendiri Hatinya langsung tergerak.
--Di tempat tidur dalam masih ada seorang gadis yang lebih cantik dari keenam perempuan di sini, Dialah istriku yang telah bersembahyang kepada langit dan bumi bersamaku Malam ini kau sengaja mengantarkan dirimu untukku, Kalau aku tidak memperdulikanmu, bukankah aku terlalu tidak berperasaan?
--katanya lagi dalam hati.
Ketika bermaksud melangkahkan kakinya ke ruangan dalam, dia melihat sepasang mata Cin Ju sedang menatap kepadanya, wajahnya berona merah.
Dia pun berpikir lagi.
--Dari Ong Ok San sampai ke Yang-ciu, sepanjang perjalanan, kau si budak cilik selalu menghindari aku.
Aku ingin bicara beberapa patah kata saja sulitnya bukan main!
Malam ini aku tidak boleh berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu.
-Dia segera memondong gadis itu dan membawanya ke dalam kamar lalu diletakkannya di samping A Ko.
Tampak A Ko masih tertidur dengan pulas, tentu saja bukan benar-benaran tidur, melainkan tidak sadarkan diri, Bulu matanya lentik sekali, Bibirnya menyunggingkan senyuman.
Kemungkinan dia sedang bermimpi indah, yakni bermesraan dengan The Kek Song.
Siau Po berpikir.
--Kalau melakukan sesuatu, jangan kepalang tanggung, Lebih baik aku pindahkan para moler tua, moler cilik dan perempuan jahat atau perempuan baik ini semuanya ke dalam kamar, Bukankah ini Li Cun Wan?
Para perempuan masuk ke dalam rumah pelesiran, memangnya ada pekerjaan baik apa yang dapat dilakukan?
Apalagi kalian sendiri yang datang ke mari, maka kalau kalian terjaga nanti, jangan kalian salahkan diriku!
-Sejak kecil Siau Po sudah bercita-cita ingin membuka rumah pelesiran, malah kalau bisa yang jauh lebih besar dan megah daripada Li Cun wan.
Pada saat itu, dia ingin memamerkan diri kepada orang-orang yang pernah menghinanya, dia akan memanggil seluruh wanita penghibur di kota Yang-ciu untuk menemaninya.
Kemudian, satu demi satu perempuan itu digotongnya ke dalam kamar Terakhir si permaisuri palsu pun dibawanya sekalian.
Delapan wanita tidur berjajar di pembaringan Tiba-tiba sebuah ingatan terlintas dalam benaknya.
--istri teman, tidak boleh dipermainkan Jiso, kau adalah kakak iparku, kita semuanya merupakan laki-laki sejati, aku tidak boleh melupakan tali persaudaraan --Karena itu, dia segera memondong A Ki kembali ke ruangan depan.
Tampak mata gadis itu berkejap-kejap, Entah apa yang ada dalam benaknya.
Siau Po melihat wajahnya cukup cantik, nafasnya memburu dan dadanya tersengalsengal, Tiba-tiba saja dia merasa menyesal --Aku mengangkat saudara dengan Shang Cie toh bukan dengan setulus hati.
Aku hanya menggunakan siasat agar dapat meloloskan diri dari maut, Dengan demikian mereka tidak jadi membunuh aku.
Apa toako atau jiko, itukan hanya panggilan di mulut saja.
Nona A Ki ini lumayan cantik, sayang sekali kalau harus memanggilnya ji so.
sebaiknya aku mengambilnya menjadi istriku saja sekalian.
Pada jaman dahulu, Tong Pek Ho saja mempunyai sembilan orang istri, Aku bisa menganggap A Ki sebagai istriku, jumlahnya juga tidak lebih dari delapan orang, Masih kurang satu.
He he he...
si moler tua sudah berkarat dan galak lagi, mana terhitung wanita cantik?
Kalau dibandingkan dengan Tong Pek Ho, Siau Po masih kalah sedikit, karena Tong Pek Ho mempunyai sembilan istri yang cantik, Kalau si permaisuri palsu tidak dihitung, berarti jumlahnya hanya tujuh, Kalahnya terlalu banyak, Biarlah, tua juga tidak apaapa!
Pikirnya.
Dia lalu mengangkat A Ki kembali ke dalam kamar Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dia berpikir lagi.
-Kwan Im Tiong menempuh perjalanan jauh untuk mengantarkan kakak iparnya.
Tapi sepanjang perjalanan dia juga tidak pernah memperlakukan istri sahabatnya dengan semena-mena.
Aku, Wi Siau Po baru menggendong kakak iparku ini sejauh tujuh langkah, masa aku sudah timbul pikiran buruk?
Rasanya kurang pantas, Biarlah, kalah sedikit juga tidak apa-apa.
Kalau Tong Pek Ho mempunyai sembilan wanita cantik, aku, Wi Siau Po terpaksa harus puas dengan tujuh wanita cantik saja.
Lagi-pula aku masih muda, masa lain kali aku tidak mempunyai kesempatan untuk mencari dua atau lima istri lagi?
-Dengan membawa pikiran itu, dia segera membalikkan tubuhnya dan meletakkan A Ki di atas kursi.
A Ki dalam keadaan tertotok, Dia hanya tidak dapat bergerak atau pun berbicara, tapi pikirannya masih sadar Tentu saja tidak tidak tahu bahwa saat ini sedang terjadi perang di dalam bathin Siau Po.
Mendapatkan Siau Po menggendongnya ke sana ke mari, dia hanya dapat bercuriga dan menduga-duga dalam hati.
Siau Po berjalan ke dalam kamar Dia berkata seorang diri.
"Pui kouwnio (nona Pui), Siau kuncu, Hong hujin, kalian datang ke rumah pelesiran ini untuk menyamar sebagai pelacur sedangkan Song Ji dan nona Cin Ju, kalian sendirilah yang bersedia ikut aku datang ke Li Cun Wan ini. Mungkin kalian sendiri tidak tahu tempat apa yang kalian datangi ini. Tapi karena kalian sudah ada di sini, tidak menemani aku juga tidak bisa lagi, A Ko, kau adalah istriku, kau datang ke sini untuk bermesraan dengan ibuku yang berarti mertuamu, sekarang suamimu akan bermesraan denganmu! -Dia mengulurkan tangannya dan mendorong si permaisuri palsu ke ujung tempat tidur Dia benci melihat wanita itu, Tidak ada gairahnya terhadap perempuan yang satu itu. Kemudian dia menyibakkan selimut, ditutupnya keenam perempuan yang lain. Dia melepaskan sepatunya lalu berteriak sekeras-kerasnya dan akhirnya menyusup ke dalam selimut. Siau Po bergulingan ke sana ke mari sambil tangannya meraba sana-sini. Entah berapa lama sudah berlalu, mulutnya menggumamkan lagu kesayangannya.
"Raba sana raba sini, raba-raba tujuh pasang tangan adikku manis. Raba seratus delapan kali... raba delapan pasang kaki putri cantik...."
Justru ketika tangannya sedang menggerayang ke sana ke mari, tiba-tiba terdengar suara gumaman lirih dan lembut.
"Ja... ngan, ja... ngan, The kongcu, kaukah itu?"
Ternyata suara A Ko.
Keadaan dalam kamar itu gelap sekali, Siau Po tidak bisa melihat wajah para perempuan itu, Dia hanya mengenali dari suaranya, Rupanya dia yang paling dulu minum arak Mi Jun Ciu.
Karena waktunya berlalu sudah cukup lama, maka dia yang pertama-tama siuman.
Mendengar kata-katanya, Siau Po marah sekali, Dalam hati dia memaki.
-Mimpi pun kau masih memanggil nama The kongcu, Tentunya kau merasa senang sekali kalau dia yang naik ke atas tempat tidur ini bukan?
-Dia segera menjawab.
"Aku!"
"Tidak! Tidak! Kau jangan..."
Kata A Ko tersendat-sendat. Gadis itu berusaha memberontak Tiba-tiba terdengar suara The Kek Song dari ruangan depan.
"A Ko! A Ko! Di mana kau?"
Brakkk!
Terdengar suara bising, Rupanya dalam kegelapan dia menabrak sebuah meja sehingga terbalik, Cawan-cawan yang berada di atasnya bergulingan dan pecah berantakan di atas lantai.
A Ko mendengar suara The Kek Song berasal dari ruangan depan, Kalau begitu, yang memeluknya pasti bukan pemuda itu.
Dalam keadaan terkejut kesadarannya jadi bertambah beberapa bagian.
"Siapa kau? Mengapa... a... ku.,.?"
Tanyanya gugup. Siau Po tertawa.
"Masa suara suamimu sendiri kau juga tidak mengenalinya."
Tanyanya. Bukan kepalang rasa terkejut di hati A Ko. Dia berusaha memberontak, tapi seluruh tubuhnya terasa lemas, karena itu dia berteriak sekeras-kerasnya.
"The kongcu! The kongcu!"
Dengan tergopoh-gopoh Kek Song menghambur ke dalam kamar, Tapi karena keadaannya gelap sekali, kepalanya sekali membentur pintu, Namun dia tidak memperduIikannya.
"A Ko! A Ko! Di mana kau?"
Teriaknya.
"Aku di sini...!"
Sahut A Ko.
"Lepaskan tanganmu! Setan kecil! Apa yang kau lakukan?"
"Apa?"
Tanya Kek Song karena tidak tahu bahwa kata-kata A Ko yang terakhir sebetulnya ditujukan kepada Siau Po.
Gairah Siau Po sedang meluap-luap, Mana mungkin dia sudi melepaskannya begitu saja?
A Ko segera berkata dengan suara mantap.
"Suteeku yang baik, aku mohon kepadamu, sudilah kiranya kau melepaskan aku!"
"Kalau aku bilang tidak, tetap tidak! Ucapan seorang laki-laki sejati, kuda mati pun sukar mengejarnya!"
Sahut Siau Po. Kek Song terkejut sekaligus marah.
"Wi Siau Po, di mana kau?"
Teriaknya, Dengan hati bangga Siau Po menjawab.
"Aku ada di atas tempat tidur. Aku sedang memeluk istriku, Kenapa kau ke mari? Aku sedang bermalam pengantin Apa kau ingin mengganggu acara orang?"
Kek Song semakin gusar.
"Siapa yang ingin mengganggu acaramu?"
Teriaknya sekali lagi.
"Mengganggu malam pengantin emakmu!"
"Kalau kau ingin mengganggu malam pengantin emakku, hari ini tidak bisa! Karena malam ini emakku tidak mempunyai tamu, kecuali kalau kau mau menjadi pengantin lakinya!"
Sahut Siau Po sambil tertawa.
"Ngaco!"
Bentak Kek Song yang mendongkol sekali, Dia segera menghambur ke atas tempat tidur Dalam kegelapan dia berhasil menangkap tangan seseorang.
"A Ko, apakah ini tanganmu?"
Tanyanya.
"Bukan!"
Sahut A Ko.
Dalam hati, Kek Song berpikir, kalau bukan tangan A Ko, pasti tangan si bocah busuk, karena itu dia memelintirnya keras-keras, Tidak disangka yang dipelintirnya justru tangannya si permaisuri palsu, Mao Tung Cu.
Karena meneguk arak Mi Jun Ciu, kepalanya pusing tujuh keliling, matanya berkunang-kunang, Namun dia merasa sakit ketika ada seseorang yang memelintir tangannya, tangan kirinya segera meluncur dan melancarkan sebuah pukulan.
Untung saja, tenaganya sudah tinggal satu dua bagian, Meskipun pukulannya itu tepat mengenai dada Kek Song, pemuda itu tidak sampai terluka parah.
Kek Song hanya merasa nyeri, tubuhnya limbung ke belakang, kebetulan kepalanya membentur tembok sehingga sekali lagi dia tidak sadarkan diri.
"The kongcu, bagaimana keadaanmu?"
Tanya A Ko.
"Tidak terdengar sahutan sama sekali.
"Dia kan datang untuk mengganggu malam pengantin kita, pasti dia sudah menyusup ke kolong ranjang!"
Kata Siau Po. A Ko langsung menangis tersedu-sedu.
"Tidak mungkin! Cepat lepaskan aku!"
"Jangan bergerak! jangan bergerak!"
Teriak Siau Po.
A Ko meluncurkan tangannya dan mencengkeram tenggorokan Siau Po.
Si bocah kesakitan, dia segera mendongakkan kepalanya ke belakang, cengkeraman tangan A Ko pun terlepas, Gadis itu bergegas ingin turun dari tempat tidur, Dia membalikkan tubuhnya tapi langsung terjerembab, Dia tidak tahu di atas tempat tidur terdapat banyak orang.
Gerakannya jadi tidak leluasa, dia jatuh menimpa tubuh si permaisuri palsu, Mao Tung Cu kesakitan, dia mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk A Ko erat-erat, Mulutnya berkaok-kaok.
Dalam kegelapan, tentu saja A Ko tidak tahu siapa yang memeluknya, Dalam keadaan kaget, tubuhnya semakin lemas, Tiba-tiba dia merasa kakinya juga ditindih oleh seseorang, Begitu takutnya dia sehingga sekujur tubuhnya mengucurkan keringat dingin.
"Ternyata banyak laki-laki di atas tempat tidur ini!"
Teriaknya. Karena gelap, Siau Po tidak berhasil menemukan A Ko. Dia segera memanggil.
"A Ko! Di mana kau? Cepat jawab!"
Dalam hati A Ko berkata.
--walaupun kau memenggal kepalaku, aku tetap tidak akan menjawab!
-"Baik!
Kalau kau tetap tidak bersuara, aku akan meraba ke sana ke mari, Lama-lama aku pasti berhasil meraba tubuhmu!"
Tiba-tiba dia bernyanyi "Raba sana, raba sini, Raba si putri cantik. Wajah putri bulat seperti kuaci, karena itu jangan sok suci!"
Tiba-tiba, dari luar ruangan terdengar suara bising, ada orang yang memberikan perintah dengan bentakan keras, Rupanya sekeliling rumah pelesiran itu sudah dikepung tentara kerajaan, Kemudian terdengar pula suara langkah kaki yang riuh, Siau Po tahu, yang datang kalau bukan anak buahnya, pasti pejabat kota Yang-ciu.
Hatinya menjadi gembira.
Baru saja dia ingin menyelinap keluar dari selimut, tidak disangka langkah kaki orang itu demikian cepat, tahu-tahu sudah di dalam ruangan, Terdengar suara panggilannya Hian Ceng lojin.
"Wi Tayjin, apakah kau ada di dalam?"
Nada suaranya terdengar seperti orang panik.
"Aku di sini!"
Sahut Siau Po tanpa sadar.
Rupanya para anggota Tian Te hwee tidak berhasil menemukan Siau Po, mereka menjadi khawatir Mereka takut kalau-kalau hiocunya itu menemui bahaya, karena itu mereka segera keluar mencari Kemudian mereka mendengar Siau Po membawa beberapa orang siwi menuju sekitar Beng Giok Hong.
Akhirnya mereka mendengar bahwa ada perkelahian terjadi di rumah pelesiran Li Cun Wan.
Mereka segera menuju tempat itu.
Begitu sampai di depannya, mereka melihat mayat beberapa orang siwi tergeletak di sana, Juga ada beberapa orang lagi yang tidak sadarkan diri ataupun terluka parah.
Mereka menjadi terkejut sekali, setelah mendengar suara Siau Po, hati mereka baru terasa lega, Siau Po mendengar ada orang yang menyapa-nya, cepat-cepat dia mencelat bangun, sementara kedua kakinya menginjak tubuh siapa, dia tidak perduli lagi.
Baru saja dia menyingkapkan selimut, Hian Ceng tojin sudah masuk ke dalam kamar bersama yang lainnya, Tangan mereka masing-masing membawa sebuah obor.
Mereka segera melihat The Kek Song yang terkulai tidak sadarkan diri di lantai.
Hati mereka jadi bingung.
"Wi Tayjin! Wi Tayjin!"
Teriak beberapa orang lagi.
"Aku di sini! Kalian tidak boleh membuka kelambu ini!"
Sahut Siau Po.
Mendengar suaranya, orang-orang segera bersorak tapi kemudian mereka saling memandang, Wajah masing-masing menyiratkan senyuman misterius, Dalam hati mereka berpikir --Kita semua khawatirnya bukan main, kau malah bersenang-senang di sini!
-Dengan bantuan cahaya obor, Siau Po mengenakan pakaiannya kembali Kemudian dia mengambil kopiahnya untuk dikenakan, Lalu dia turun dari tempat tidur dan mengenakan sepatunya, setelah itu dia berkata.
"Dengan berbagai siasat, aku berhasil meringkus beberapa penjahat, mereka sekarang ada di tempat tidur, Jasa kalian kali ini lumayan besarnya!"
Katanya.
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu merasa heran.
Namun mereka semua tahu tindak-tanduk Siau Po memang sulit diraba, Karena itu mereka tidak enak hati untuk banyak bertanya.
Siau Po memberi perintah agar mengikat The Kek Song, lalu membawa A Ki dengan tandu ke tempat tinggalnya, Kemudian dia menyelipkan setiap sisi kelambu ke bawah tempat tidur, setelah itu memanggil belasan siwi masuk dan menggotong tempat tidur besar itu pulang ke tempat tinggalnya, Kepala siwi itu memperhatikan tempat tidur tersebut kemudian berkata.
"Wi Tayjin, tempat tidur itu terlalu besar. Tidak bisa digotong keluar!"
Katanya.
"Goblok! Kenapa tidak kau hancurkan saja temboknya?"
Maki Siau Po.
Kepala siwi itu segera mengiakan berulang-ulang, Dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk merobohkan tembok di sekitar pintu keluar, Kemudian beberapa orang lainnya mencari batangan bambu sebanyak tujuh-delapan buah.
Mereka menyusupkannya di bawah tempat tidur lalu digotong beramai-ramai.
Pada saat itu, hari sudah terang, matahari bersinar cerah.
Tempat tidur yang besar itu digotong beramai-ramai melalui jalan raya.
Beberapa orang tentara membawa papan bertulisan "Harap tenang!"
"dan mundur!"
Mereka mendorong orang-orang yang menghalangi jalan.
Para penduduk kota Yang-ciu yang melihat peristiwa tersebut, semuanya mengeluarkan seruan keheranan.
Tempat tidur itu digotong sampai ke taman keluarga Ho.
pintunya tetap kekecilan, Tapi kali ini para siwi sudah mendapatkan pelajaran, mereka tidak menunggu perintah dari Ciam Cai tayjin lagi.
Beberapa orang segera mengambil peralatan untuk menghancurkan tembok pekarangan tersebut.
Setelah selesai, mereka menggotong masuk tempat tidur itu lalu diletakkan di ruangan depan.
Sekali lagi Siau Po menurunkan perintah Dia mengatakan bahwa di atas tempat tidur terdapat beberapa orang penjahat Para bawahannya harus siap dengan senjata masing-masing di tangan dan menjaga ketat sekitar taman tersebut Dia juga memberi pesan kepada Ci Tian Coan dan yang lainnya untuk berjaga-jaga di luar gedung.
Mereka harus menghindarkan kemungkinan Siu Tau To akan datang menyerbu dengan rombongan lainnya.
Di sekitar taman penuh dengan penjaga, Namun di dalam ruangan besar hanya terdapat sebuah tempat tidur dan Siau Po seorang diri.
Si bocah berpikir dalam hati.
--Tadi di Li Cun Wan, sebetulnya aku mempunyai kesempatan yang baik sekali, Di antara tujuh orang perempuan itu, mungkin baru setengahnya yang sempat dipeluk, LagipuIa keadaan begitu gelap, tidak jelas siapa yang sempat dipeluk dan siapa yang tidak?
sekarang kita mulai lagi dari awal, jangan sampai ada yang ketinggalan....
Mulutnya pun mengeluarkan gumaman Iirih, sembari menyingkapkan kelambu dan menyusup ke dalam tempat tidur "Raba sana, raba sini, raba tangan adikku,.,."
Tiba-tiba kepalanya tersentak ke belakang, kuncirnya telah ditarik oleh seseorang.
Lalu tenggorokannya seperti dicekik sehingga dia merasa kesakitan, Ternyata dialah Hong hujin, Setelah sekian lama, obat bius yang terdapat dalam arak Mi Jun Ciu mulai sirna, Dan bukan hanya dia saja, begitu pula Mao Tung Cu, Pui Ie, dan Bhok Kiam Peng, sedangkan totokan yang dialami Song Ji dan Cin Ju juga mulai bebas.
Namun tempat tidur itu digotong oleh para siwi melalui jalan raya, dan mereka tahu di sekitar mereka juga banyak para jago lainnya, karena itu siapa pun tidak berani sembarangan bergerak atau pun bersuara.
Saat ini, ketika Siau Po ingin memulai dari awal kejahilannya, tahu-tahu dia kena dicekal oleh Hong hujin.
Wajah wanita itu sungguh tidak enak dilihat Dibilang tertawa, bukan, Dibilang senyum juga bukan.
"Setan kecil, nyalimu sungguh besar! Aku pun berani kau permainkan!"
Bentaknya keras. Begitu terkejutnya Siau Po sehingga dia merasa seakan sukmanya melayang entah ke mana. Dipaksakan dirinya untuk tertawa.
"Hujin, a... ku ti... dak ada maksud mempermainkan dirimu, aku...i... ni... itu,.,."
"Lagu apa yang kau nyanyikan tadi?"
Tanya Hong hujin dengan suara bengis, Namun dia tidak berani berbicara keras-keras, mungkin takut terdengar para penjaga. Siau Po tertawa.
"ltu kan lagu yang sering dinyanyikan dalam rumah-rumah pelesiran, Aku hanya iseng-iseng menirukannya!"
"Kau ingin mati atau hidup?"
Tanya Hong hujin kembali. Sekali lagi Siau Po memaksakan dirinya untuk tertawa.
"Hamba Pek Liong su selalu mendoakan agar kaucu dan hujin panjang umur. Usianya seperti usia langit Apa pun yang hujin perintahkan, hamba akan menurutinya!"
Katanya. Hong hujin melihat sikap cengar-cengir Siau Po ketika berbicara kepadanya, Dia langsung pura-pura meludah.
"Cis! sekarang kau bubarkan dulu para penjaga itu!"
Katanya.
"Baik! itukan soal gampang? Sekarang hujin lepaskan dulu tanganmu, nanti aku akan menurunkan perintah!"
Sahut Siau Po.
"Kau berikan perintah dari sini saja!"
Kata Hong hujin. Wi Siau Po merasa apa boleh buat, dia terpaksa berteriak dari dalam tempat tidur.
"Para gubernur, walikota, bupati, dan yang lain-lainnya yang ada di luar kamar! Dengar baik-baik, perintahkan para penjaga untuk mengundurkan diri! Tidak ada seorang pun yang boleh berdiam di luar!"
Hong hujin menarik kuncirnya keras-keras.
"Apaan ada gubernur, walikota segala? Ngaco!"
Bentaknya, Para penjaga yang bersiaga di taman mendengar dia menyebut gubernur, walikota, dan segala macam jabatan, hati mereka sudah merasa curiga, lalu telinga mereka juga mendengar suara jeritan Siau Po.
"Aduh! Sakit!"
Tanpa menunda waktu lagi, mereka segera menghambur ke dalam ruangan untuk melihat apa yang telah terjadi.
"Ciam Cai tayjin, ada apa?"
Tanya mereka serentak.
"Tidak... ti,... dak apa-apa! Aduh, Emak! Sakit!"
Teriak Siau Po.
Para penjaga saling pandang, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Hong hujin panik dan khawatir Dia juga kesal sekali, Karena itu dia mengangkat tangannya ke atas dan menampar pipi Siau Po keras-keras.
"Aduh, Emak! jangan kau pukul lagi anakmu!"
Teriak Siau Po.
Hong hujin, tidak tahu, kalau Siau Po memanggil seseorang sebagai ibunya, berarti dia menyindir orang itu seperti pelacur, Namun melihat mulutnya masih mengoceh sembarangan, dia mengangkat tangannya sekali lagi dengan maksud ingin menempeleng pipi Siau Po lebih keras.
Tapi tiba-tiba, jalan darah di pinggang dan di punggungnya tertotok oleh seseorang, Tangannya langsung terkulai lemas.
Hong hujin terkejut, dia segera menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah turun tangan kepadanya, Ketika dia menoleh, dia melihat orang yang tepat di belakangnya adalah Pui Ie, Dia segera tertawa dingin.
"Nona Pui, ternyata ilmumu tinggi sekali!"
Katanya. Tangannya yang satu lagi lancung meluncur ke arah mata kiri Pui Ie.
"Bukan aku!"
Teriak Pui Ie.
Dia menggeser kepalanya untuk menghindarkan diri.
Hong hujin ingin menyerang kembali, tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang, Rupanya tangan Bhok Kiam Peng.
Dia juga berteriak.
"Hong hujin, yang tadi bukan perbuatan suci ku!"
Dia melihat dengan tegas bahwa orang yang menotok Hong hujin ialah Song Ji.
Mao Tung Cu, si permaisuri palsu mengulurkan tangannya untuk memukul Bhok Kiam Peng, untung saja tenaganya sudah habis, sehingga gadis cilik itu tidak sampai terluka, Ketika dia akan memukul untuk kedua kalinya, Pui Ie segera mengangkat tangannya menangkis.
A Ko melihat telah terjadi pergelutan di antara keempat perempuan itu.
Dia ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk turun dari tempat tidur, Tapi, baru sebelah kakinya keluar dari selimut, pahanya telah ditarik oleh seseorang, Siapa lagi kalau bukan Siau Po?
"Jangan pergi!"
Katanya. A Ko memberontak sekuat tenaga.
"Lepaskan aku!"
Teriaknya. Siau Po tertawa.
"Coba kau tebak, apakah kau bersedia melepaskanmu?"
A Ko menjadi panik. Dia membalikkan tubuhnya sembari meninju, Kebetulan Siau Po sudah bersiap-siaga, dia memiringkan kepalanya, Dengan demikian tinju A Ko tepat mengenai kening Cin Ju.
"Kenapa kau memukul aku?"
Teriak Cin Ju.
"Ma... af! A... duh!"
Tahu-tahu pukulan Pui Ie mendarat di punggungnya.
Keadaan di atas tempat tidur jadi kacau balau, tujuh perempuan itu saling menghantam tanpa memperdulikan siapa lawannya lagi, Siau Po justru gembira melihatnya.
"lni yang dinamakan perang dunia!"
Katanya, Baru saja dia ingin memancing di air keruh, tahu-tahu terdengar suara, Brak!!!
Tempat tidur itu amblas ke bawah.
Tujuh perempuan itu menjerit-jerit, entah tangan siapa menindih paha siapa dan entah kaki siapa mendupak muka siapa.
Para penjaga yang melihat peristiwa itu, tidak ada satu pun yang tidak termangumangu dan terbengong-bengong.
Siau Po tertawa dan terbahak-bahak.
Dia ingin merayap keluar dari timbunan para perempuan itu tapi entah pahanya ditarik oleh siapa.
"Semuanya lepas tangan! Penjaga sekalian ringkus semua istri tua dan istri mudaku ini!"
Teriaknya . Para penjaga berdiri berkerumun, tapi tidak ada satu pun yang turun tangan. Siau Po menunjuk kepada Mao Tung Cu.
"Perempuan ini adalah seorang penjahat besar, jangan biarkan dia meloloskan diri!"
Katanya.
Para penjaga semakin heran mendengar perkataannya, Mereka berpikir dalam hati.
--Tadi kau mengatakan bahwa perempuan-perempuan ini merupakan istri tua dan istri mudamu, mengapa salah satunya justru seorang penjahat besar dan dua di antaranya justru menyamar sebagai tentara?
-Sementara itu, ada beberapa orang yang menudingkan senjatanya kepada Mao Tung Cu.
Dua di antaranya menarik perempuan itu keluar dan memborgoI tangannya.
Siau Po menunjuk kepada Hong hujin.
"Nyonya ini adalah atasanku, tapi sebaiknya kita juga memborgol saja tangannya!"
Katanya.
Para penjaga semakin heran, Namun mereka tetap memborgol tangan Hong hujin.
Kepandaian Hong hujin sebetulnya tinggi sekali, tapi dua buah jalan darahnya telah tertotok Song Ji.
Karena itu setengah tubuhnya menjadi lumpuh, dia tidak dapat berbuat banyak, hingga membiarkan tangannya diborgol.
Pada saat itu, Song Ji dan Cin Ju baru merayap keluar dari timbunan perempuanperempuan lainnya, Kalau mengingat kembali peristiwa tadi malam, mereka merasa jengah dan geli.
Siau Po menunjuk kepada Pui Ie.
"Dia ini istri tuaku!"
Katanya, Kemudian dia juga menunjuk kepada Bhok Kiam Peng.
"Sedangkan yang ini istri kecilku! istri tua tangannya harus diborgol, istri kecil tidak perlu!"
Para penjaga segera memborgol tangan Pui Ie.
Ucapan Ciam Cai tayjin selalu anehaneh saja, mereka yang sudah sering mendengarnya, juga tidak merasa heran lagi.
Ketika itu, yang duduk di atas tempat tidur ambruk itu hanya tinggal A Ko seorang, Rambutnya awut-awutan, pakaiannya tidak karuan, Yang dikenakannya pakaian seorang pria, tapi parasnya justru terlalu cantik.
Tangannya menarik turun jubah atas untuk menutupi pahanya yang telanjang, wajahnya merah padam dan kepalanya tertunduk dalam-dalam.
Dalam hati para penjaga itu berpikir.
-Di antara para istri Ciam cai tayjin, yang satu inilah yang paling cantik!
Terdengar Siau Po berkata.
"Dialah istriku yang resmi, bimbing dia bangun!"
Dia langsung maju dua langkah sembari berkata.
"Hujin, silakan bangun!"
Tangannya diulurkan ke depan. Tiba-tiba terdengar suara Plak!!! Pipi Siau Po sudah kena ditempeleng keras-keras. Sembari menangis dan kepala tertunduk, A Ko berkata.
"Kau memang paling pandai menghina aku! Kau bunuh saja aku! Biar mati sekali pun, aku tidak sudi menikah denganmu!"
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu jadi saling tatap keheranan Ciam Cai tayjin dihina di depan orang banyak, sedangkan mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Dalam hati mereka merasa malu juga.
Tapi Ciam Cai tayjin sendiri mengatakan bahwa gadis itu adalah isterinya yang resmi.
seandainya mereka mengurung gadis itu, kemungkinan si pembesar cilik bisa marah, Apabila mereka membentak gadis itu, rasanya tidak sopan juga, Untuk sesaat mereka jadi serba salah.
Siau Po menutupi sebagian wajahnya yang dipukuli A Ko.
Sambil tertawa cengengesan, dia berkata.
"Mana mungkin aku tega membunuhmu? Nio cu (Panggilan kepada istri) tidak perlu marah, aku akan menyuruh anak buahku segera menghabisi The kongcu itu!"
Kemudian dia bertanya dengan suara keras.
"Ke mana perginya laki-laki yang kalian tangkap dari Li Cun Wan?"
Salah seorang tentara segera maju menghadap.
"Lapor tayjin, budak itu sudah diikat dengan rantai dan sekarang dijaga ketat!"
Sahutnya.
"Bagus! Kalau dia berniat kabur, potong dulu kaki kirinya, kemudian potong pula kaki kanannya!"
A Ko terkejut setengah mati, dia berteriak sekeras-kerasnya.
"Ja... ngan,., jangan dipotong kakinya! Dia pasti tidak akan lari ke mana-mana!"
"Kalau kau berniat kabur, aku akan menyuruh orang memotong sepasang kaki The kongcu!"
Kata Siau Po pula, Dia melirik sekilas kepada Pui Ie dan Bhok Kiam Peng, Kemudian melanjutkan kata-katanya.
"Kalau istri-istri muda dan tuaku yang lain juga berniat melarikan diri, kalian boleh potong hidung atau telinga The kongcu!"
"Kau... kau.,."
A Ko panik sekali "Apa hubungannya perempuan-perempuanmu ini dengan The kongcu? Mengapa kesalahan mereka harus kau timpakan kepadanya?"
"Tentu saja ada hubungannya!"
Kata Siau Po.
"The kongcu kan mata keranjang, kalau dia melihat mereka, pasti timbul niat tidak baik dalam hatinya!"
Dalam hati A Ko berpikir. --Tetap saja tidak ada hubungannya! ~ Tapi dia sadar, Siau Po tidak pernah memakai aturan, bicara apapun tidak ada gunanya, Saking paniknya dia menangis lagi.
"Perempuan yang tangannya diborgol harap digiring keluar, borgol juga kaki mereka dan jaga yang ketat Kemudian perintahkan pada bagian dapur untuk menyiapkan arak serta hidangan, perempuan yang tidak diborgol adalah istriku yang baik, mereka akan menemani aku minum arak!"
Kata Siau Po pula. Para tentara segera mengiakan, Sambil menangis A Ko berkata.
"A... ku tidak ingin menemanimu minum arak, kau boleh borgol saja tanganku ini!"
Cin Ju tidak mengucapkan sepatah kata pun, tiba-tiba dia berjalan keluar. "Hai, mau ke mana kau?"
Tanya Siau Po. Cin Ju memalingkan kepalanya.
"Kau benar-benar tidak tahu malu! Aku tak sudi melihatmu lagi!"
Katanya. Siau Po tertegun.
"Mengapa?"
Tanyanya.
"Kau... kau masih tanya kenapa? Orang toh tidak sudi menikah denganmu, mengapa kau terus memaksanya? Kau anggap, setelah menjadi pembesar kerajaan kau lalu boleh memaksakan kehendak seenaknya terhadap rakyat yang lemah? Tadinya aku masih mengira kau adalah seorang yang gagah, tidak tahunya...."
"Tidak tahunya apa?"
Tanya Siau Po. Tiba-tiba saja Cin Ju menangis tersedu-sedu, dia menutupi wajahnya sambil berkata.
"Tidak tahunya kau... kau, aku tidak tahu! pokoknya kau jahat, bukan manusia baikbaik!"
Selesai berkata dia menghambur keluar. Dua orang tentara sebawahan Siau Po segera maju menghadang.
"Jangan pergi! Berani-beraninya kau menghina Ciam Cai tayjin, Tunggu perintah dari beliau"
Kata mereka serempak.
Siau Po yang mendengar caci maki Cin Ju, justru merasa senang, ia seperti tersentak sadar dan menurutnya, apa yang dikatakan gadis itu memang benar Sebagai seorang pejabat dia tak boleh seenaknya mempermainkan rakyat kecil, bukankah berarti dia sama saja dengan para pembesar anjing yang selama ini selalu dipandang hina olehnya, Dalam hati dia berpikir.
-Masih mending kalau tidak bisa menjadi seorang pendekar atau pahlawan, tapi jangan sampai menjadi manusia yang rendah!
Siau Po menarik nafas panjang.
"Nona Cin Ju, kembalilah, ada yang ingin kukatakan kepadamu!"
Katanya, Cin Ju memalingkan kepalanya.
"Aku telah menghinamu, kau boleh penggal kepalaku ini!"
Katanya dengan nada datar. Hubungan Song Ji dengan gadis itu paling baik, cepat-cepat dia menasehatinya.
"Cici Cin, kau jangan marah, siangkong tidak akan membunuhmu!"
Katanya.
"Kau benar!"
Kata Siau Po.
"Apabila aku memaksa gadis-gadis ini untuk menjadi istriku, aku bahkan lebih hina daripada penjahat yang suka memperkosa anak gadis di desa-desa, Lebih mirip lagi dengan Ong Lao Houw dalam lakon sandiwara yang sering kudengar!"
Dia menoleh kepada Cong Peng kepala yang ada dalam ruangan itu sambil menunjuk kepada A Ko.
"Kau bawalah gadis itu keluar lalu bebaskan The kongcu, biar mereka bersatu dan menjadi suami istri saja!"
Ketika mengucapkan kata-kata ini, sebetulnya hati Siau Po perih sekali. Kemudian dia juga menunjuk kepada Pui Ie dan berkata pula.
"Lepaskan belenggu di tangan gadis itu dan antar dia keluar agar dapat mencari Liu suko kesayangannya, Aih, istriku yang sah keras kepala serta mencintai pemuda lain, istriku yang muda demikian juga. Untuk apa aku dipanggil segala Ciam Cai tayjin dan Tou Tong tayjin? Lebih pantas disebut tayjin kura-kura ganda!"
Cong Peng kepala melihat Siau Po demikian tegangnya hatinya berdebar-debar. Cepat-cepat dia menundukkan kepala tanpa berani bersuara sedikit pun.
"Cepat, bawa kedua perempuan itu keluar!"
Bentak Siau Po.
Cong peng kepala itu segera mengiakan lalu membawa Pui Ie serta A Ko keluar Siau Po menatap punggung kedua gadis itu yang semakin jauh, hatinya terasa agak berat Dia memandangi kepergian kedua gadis itu yang tidak menoleh sedikit pun, apalagi mengucapkan terima kasih atau meliriknya dengan pandangan bersyukur.
Cin Ju berjalan ke depan dua langkah.
"Kau... orang baik! Kau hukum saja aku!"
Katanya dengan suara rendah, matanya menyiratkan sinar bersalah. Semangat Siau Po langsung tergugah, wajahnya tampak berseri-seri.
"Betul, betul! Aku memang harus menghukummu! Song Ji, Siau kuncu, nona Cin, kalian adalah gadis yang baik, mari, kita bicara di dalam saja!"
Ajaknya kepada ketiga gadis itu.
Baru saja dia berniat membawa ketiga gadis itu masuk ke ruangan dalam agar dapat bermesra-mesraan, dari luar ruangan tahu-tahu berjalan masuk seorang tentara yang langsung menjura kepada Siau Po seraya berkata.
"Lapor Tou Tong tayjin, di luar ada seseorang yang mengaku mendapat perintah dari Hong kaucu dan ingin bertemu dengan tayjin!"
Siau Po terkejut setengah mati.
"Apa Hong kaucu, Liok kaucu? Tidak, aku tidak ingin bertemu! sampaikan kepada yang lainnya!"
Sekali lagi tentara itu menjura.
"Baik!"
Dia menyurut mundur dua langkah dan berkata lagi "Orang itu mengatakan bahwa dia mempunyai dua orang laki-Iaki di tangannya dan ingin ditukarkan dengan dua orang wanita!"
"Ditukarkan dengan dua orang wanita?"
Tanya Siau Po. Matanya menyapu kepada Hong hujin dan Mao Tung Cu, kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata pula.
Baca Juga: Rahasia Si Badju Perak 3
Baca Juga: Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 4