Ceritasilat Novel Online

Kaki Tiga Menjangan 17

Eps 17 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.

Sementara itu Raja Losat yang bernama Gzar yang baru berusia dua puluh tahun, itu adalah adik dari putri Sophia, mempunyai tubuh cacat, tak dapat berjalan, Maka urusan negara yang penting-penting diputuskannya dari atas tempat tidur di mana ia selalu rebah, ada kesulitan baginya mengatur negaranya yang besar.

Buat keamanan negara, Czar memelihara satu pasukan berkuda yang di beri nama Kozakh serta satu tangsi tentara yang dilengkapi dengan senjata api.

Pasukan berkuda itu dipakai untuk menyerang ke segala arah, timur dan barat, dan pasukan bersenjata untuk menjaga keamanan raja pribadi.

Mengenai putri Sophia dapat diterangkan sebagai berikut.

Sophia sangat bebas dalam setiap tindakannya, sikapnya semau gue.

Memang sebagian Bangsa Losat bebas dalam pergaulan antara laki-laki dan wanita, di tambah lagi wajah Sophia sangat cantik, jadi tak heran jika ia memiliki banyak kekasih dari kalangan bangsawan dan pembesar istana.

Bahkan gubernur jendral Korichin tak terkecuali Gubernur jendral itu masih muda dan juga tampan, oleh karenanya ia sangat disayangi tuan putrinya.

Pada saat itu Korichin sedang membuat kota baru di Jaksha dan kota-kota yang lainnya, itulah tugas yang sangat berat baginya, Kerajaan Losat akan memberikan pengaruhnya pada Bangsa Mongolia, Liautong yang termasuk wilayah Tiongkok.

Putri Sophia yang gemar bergerak itu telah menyusul Korichin ke Jaksha.

Dia sangat menyukai si gubernur jendral, tetapi ia tak mempunyai maksud untuk menikah dengannya, Jadi ia hanya ingin bergaul saja.

Pada suatu hari secara kebetulan Sophia menemukan jalan rahasia yang terdapat di dalam kamar Korachin.

jalan itu terletak di dalam tanah.

ia tertarik untuk melihat dan mengetahuinya, ternyata jalan itu menuju ke luar kota dan sampailah di pos itu.

sedangkan jalan itu ia gunakan jikalau dalam melaksanakan tugasnya terdapat huruhara, maka jalan itu baru di gunakan untuk meloloskan diri.

Melihat pada si serdadu penjaga, Sophia lalu mengajaknya untuk main gila dan serdadu itu melayaninya, Tak lama kemudian ia kepergok oleh Siau Po dan Song Ji.

Serdadu itu mati di tangan Siau Po.

Secara kebetulan tuan putri bertemu dengan Siau Po yang ternyata berpangkat tinggi dan bersedia bermain cinta-cintaan dengannya.

Akhirnya ia bersedia mengajak utusan raja ini untuk pergi ke Moskwa.

Dalam perjalanan pulang, tuan putri di kawal oleh dua ratus tentara berkuda, Rombongan besar itu menuju arah barat.

Selama itu tuan putri selalu duduk dengan keretanya atau dengan menunggang kudanya langsung, perjalanan itu bersipat pesiar.

Sesudah melewati dua puluh hari lebih, legalah hati Siau Po.

ia percaya pastilah Hong kaucu tak akan menemuinya, Namun ia sangat terkejut karena mendengar bahwa perjalanan itu dapat memakan waktu empat bulan atau lebih.

"Ah! Bukankah itu sama saja dengan orang yang pergi ke langit? Dan setelah berjalan empat bulan atau lebih itu, bukankah utusan raja, Siau Po telah menjadi tua bangka?"

Mendengar kata-kata yang sangat jenaka itu tuan putri Sophia tertawa.

"Habis mau apa? Apakah kau ingin pulang ke Pakhia? Apakah kau sudah bosan padaku?"

Tanyanya.

"0h... tidak! Memandangi tuan putri yang cantik ini biarkan seribu tahun lamanya tak akan ada bosannya, Juga tidak walaupun selaksa tahun! Namun untuk pergi begitu jauh dan lama, maka dengan sendirinya hati ini menjadi sangat takut dan cemas..."

Jawab Siau Po. Sophia tersenyum mendengarkannya.

"Kau jangan khawatir apa pun juga!"

Kata Sophia menghibur.

Selama dua puluh hari dalam perjalanan bukan main senangnya si tuan putri, ia mendapat kawan Siau Po, dan selama itu pula ia mendapatkan tambahan kata-kata Tionghoa dari pembicaraan itu.

Begitu juga dengan Siau Po, ia mendapat tahu sedikit demi sedikit bahasa Losat, Keduanya memang sama-sama cerdas dan cerdik, dan keduanya sama-sama puas dalam pergaulan.

Yang putri bukanlah gadis baik, dan yang putranya kacung berandalan.

Di samping tidak menghargai kesucian tubuhnya, iapun senang meladeninya.

Dan pada akhirnya tuan putri merasa tidak puas karena Siau Po selalu saja mengingat-ingat negaranya, dan menginginkan pulang kembali.

"Aku tidak mengijinkan kau pulang, Kau harus menemaniku sampai ke negaraku di Moskwa, dan kau harus tinggal denganku selama satu tahun. Setelah itu barulah kau kuijinkan kembali ke kampung halamanmu di Pakhia."

Kata tuan putri.

"Satu tahun? Bukan main lamanya."

Sahut Siau Po.

Selama ini ia cukup mengetahui tabiat tuan putri, Maka ia harus berlaku saban jikalau ia memaksa untuk pergi, ada kemungkinan tuan putri ini akan memerintahkan salah satu serdadunya untuk membunuhnya.

Malam itu diam-diam Siau Po menemui Song Ji untuk membicarakan halnya tuan putri Sophia akan menahannya selama satu tahun di negaranya, ia katakan itu pada Song Ji karena ia tahu kalau Song Ji memiliki otak cerdas dan pandai.

"Apakah kau mempunyai jalan untuk kita menyingkirkan diri?"

Tanya Siau Po.

"Buat apa yang Siangkong lakukan untuk hanya dapat menurut saja."

Katanya yang selalu memanggil Siau Po dengan sebutan "Siangkong"

Sebab ia menganggap laki-laki itu adalah majikannya.

Siau Po memandangi mega, kemudian ia menarik napas dan kemudian menggelengkan kepalanya, itu suatu tanda kalau ia belum mendapatkan jalan ke luarnya.

Perjalanan pulang ke Tiongkok sangat jauh dan berbahaya, Mereka harus membawa bekal pakaian yang tebal dan juga rangsum yang banyak, Andai tuan putri ini tidak mengirim pasukannya untuk mencari dan membunuhnya ada kemungkinan ia akan mati kedinginan dan kelaparan di tengah perjalanan.

Salju terdapat di mana-mana, di daerah yang luas, Berbeda dengan di daerah Liauwtong yang masih terdapat rimba, Orang dapat mencari binatang buruan, sedangkan di sini burung terbang pun tak terlihat.

Demikian selama ia tak berdaya ia mengikuti terus ke mana arah tuan putri itu.

Mulanya ia ingat si raja cilik entah bagaimana dengan raja cilik itu.

juga perihal Gouw Sam Kui, si penghianat itu sudah berontak ataukah belum, Yang terlebih sering yaitu A Ko, ini yang tak dapat ia lupakan.

Dalam hati ia selalu bertanya apakah ia masih berada di Kun Beng atau sudah pindah.

Demikianlah selama satu bulan dalam perjalanan ia selalu mengingat-ingat orangorang yang pernah dikenalnya.

Di dalam wilayah yang bersalju itu, membuat otak jadi beku, Maka sangatlah bersyukur bagi Siau Po, ia mudah untuk menghibur diri, sedangkan putri Sophia membantu banyak padanya, Putri yang genit dan ceriwis itu membuatnya menjadi girang.

Demikian juga Song Ji, ia pun dapat menghiburnya, karena ia dapat berbicara secara terbuka.

Dalam perjalanan akhirnya Siau Po tidak merasa kesepian.

Waktu empat bulan lebih dilaluinya di tengah perjalanan Tiba di luar kota Moskwa bulan sudah bulan ke empat.

Pada waktu itu udara semakin hangat karena air es tersebut makin Iama makin lumer mencair.

Di mata Siau Po walaupun kota Moskwa itu besar tetapi pembuatannya masih kalah dengan kota Pakhia, pembuatannya kasar, di lihat dari jauh rumah-rumah tidak teratur dan kotor, kota itu tak dapat dibandingkan dengan kota Pakhia dan juga kota-kota lainnya yang kecil.

Masih beberapa Lie dari situ telah ada orang istana yang memberikan kabar bahwa istana akan kedatangan tuan putrinya itu.

Maka tak lama kemudian terdengarlah suara terompet yang disusul dengan barisan tentara berkuda yang bersenjatakan senjata api.

"Kakak raja telah memerintahkan kepada orang-orangnya untuk menyambut kedatanganku!"

Kata tuan putri.

Akan tetapi setelah mendekati barisan berkuda itu, Sophia terkejut.

Tampak jelas para serdadu itu menggunakan seragam dengan ditancapkan bulu burung halus warna hitam dan batang senapannya diikat kain hitam juga.

Itulah tanda berkabung.

Dalam kagetnya tuan putri itu langsung mempercepat kudanya dan ia langsung menanyakannya.

"Apa yang telah terjadi?"

Seorang opsir lompat turun dari kudanya, lalu memberikan hormat kepada tuan putri dan berkata.

"Harap tuan putri ketahui, bahwa tuanku sri baginda telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dan sudah meninggalkan dunia, negara, rakyat serta telah pergi ke sorga."

Sophia kaget sekali, maka dengan cepat air matanya bercucuran membasahi pipinya.

"Kapankah terjadinya itu?"

Tanyanya kepada opsir itu.

"Jikalau Tuan putri pulang empat hari sebelum ini, pastilah Tuan putri akan dapat berpamitan pada tuan raja."

Jawab Si Opsir itu.

Sophia mengetahuinya kalau kesehatan kakak raja sedang terganggu, Orang meramalkan tidak lama lagi raja akan meninggal tepat sewaktu tuan putri sedang berada di kota raja itu.

Siau Po heran melihat putri itu.

MuIanya sangat senang tetapi akhirnya sedih, malah ia sangat berduka cita, Maka untuk itu Siau Po mencari keterangan tentang masalah itu.

Setelah ia ketahui masalahnya, dalam hati Siau Po merasa sangat senang, maka ia berkata.

"Dengan wafatnya raja, untuk sementara waktu keadaan istana akan kacau, Maka tak akan mudah mereka mengadakan serangan terhadap Kota Pakhia untuk membantu Gouw Sam Kui."

Katanya dalam hati. Kemudian Sophia masuk ke dalam kota. Di saat ia hendak memasuki istana, opsir itu berkata padanya.

"Atas perintah ibu suri, tuan putri Sophia diminta untuk beristirahat di luar istana!"

Katanya. Sophia merasa heran mendengar hal itu.

"lbu suri apakah?"

Tanyanya dengan bengis.

"lbu suri yang mana yang dapat mengendalikan aku?"

Opsir itu mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk anak buahnya, Para anak buahnya lalu mengangkat senjatanya dan mengarahkannya pada pasukan pengawal tuan putri.

Tak lama kemudian pasukan tuan putri telah berhasil dilucuti senjatanya.

Setelah itu mereka dititahkan untuk turun dari atas kudanya masing-masing.

Kembali Sophia menjadi heran.

ia sangat gusar menyaksikan hal itu.

"Apakah kau ingin berontak?"

Tanyanya dengan bengis. Opsir itu menjawab dengan kata-katanya.

"lbu suri khawatir sekembalinya tuan putri, tuan putri tidak mau menerima pengangkatan raja yang baru, Maka itu aku dititahkan untuk menahan tuan putri," katanya. Muka Sophia menjadi merah.

"Raja yang baru? Siapa raja yang baru itu?"

Tanyanya.

"Raja yang baru adalah raja Peter I."

Jawab opsir itu. Sophia tertawa, .

"Peter!"

Katanya mengulangi kata-kata si opsir.

"Peter toh, masih anak-anak! Usianya pun baru sepuluh tahun lebih! Mana dapat ia menjadi Czar yang baru? Bukankah kau menyebut-nyebut ibu suri? Bukankah ia itu Natalia?"

"Ya."

Sahut opsir itu.

Memang ayah raja Sophia Alexius Mikhailovich, mempunyai dua orang permaisuri, permaisuri yang pertama mempunyai anak laki-laki dan perempuan atau banyak anaknya.

Dialah ibu Sophia kakak beradik, permaisuri yang kedua ialah Natalia, yang usianya jauh lebih muda dan mempunyai seorang putra, dialah Peter yang disebut menjadi Peter I itu.

"Mari antar aku menemuinya di istana!"

Kata Sophia.

"Aku hendak bertemu dengan Natalia, aku hendak bertemu dan berbicara!"

Katanya pula.

"Adikku Ivan berusia lebih tua dari Peter, kenapa bukan dia yang diangkat menggantikan Czar? Lalu bagaimanakah dengan para menteri? Apakah mereka itu tidak berbicara cara mengangkat raja baru pada ibu suri? Apakah mereka bisu?"

Katanya dengan kesal.

"Hamba hanya menjalankan perintah dari ibu suri, serta Sri Baginda raja, Karenanya tuan putri sudi memaafkan aku!"

Jawab si Opsir itu yang kemudian memegang tali kendali kuda tuan putri dan diajaknya untuk pergi ke arah timur.

Sophia gusar bukan main.

Seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berani kurang ajar kepadanya, Maka tak ayal lagi ia mengayunkan cambuknya untuk menghajar opsir itu.

Ternyata opsir itu sudah siap siaga, Setelah mengetahui bahwa akan datang bahaya ia langsung menggerakkan tubuhnya untuk menangkis serangan itu.

ia tidak marah tetapi malah tertawa, Setelah itu ia memerintahkan pada pasukannya untuk menggiring tuan putri meninggalkan istana sampai jauh.

Siau Po dan Song Ji turut pula digiring oleh mereka.

Semasuknya tuan putri ke dalam istana luar itu, sementara istana langsung di jaga ketat dengan pasukan bersenjata, Siapa saja dilarang masuk dan ke luar tanpa ijin.

Dalam marahnya tuan putri menghajar semua perabotan yang ada di sana sedangkan hidangan yang sudah disiapkan dia acak-acak.

Selama beberapa hari penjagaan diperketat pada istana luar atau Villa istana.

Hal itu tak pernah kendor, maka satu kali Sophia memanggil opsir, komandan pasukan pengawal itu.

Dia menanyakan sampai berapa lama ia akan ditahan dalam istana itu.

"Menurut perintah dan pesan dari ibu suri, tuan putri suka atau mau untuk tinggal di luar istana sampai perayaan tahun kelima puluh pengangkatan Sri Baginda Peter I. Dan pada waktu itu tuan putri akan diundang pula."

Sophia kaget bercampur gusar.

"Apa katamu? Aku diminta untuk menanti sampai perayaan penobatan tahun kelima puluh dari si Peter itu? Bukankah dengan demikian aku sama saja ditahan selama lima puluh tahun lamanya?"

Tanyanya dengan bengis. Komandan itu tersenyum, dia bukannya menjawab pertanyaan itu malah berkata dengan ramah.

"Sekarang ini aku sudah berusia empat puluh tahun, maka aku percaya tak akan sanggup melayani tuan putri sampai lima puluh tahun itu. Bahkan sepuluh atau dua puluh tahun lagi akan datang penggantiku yang masih muda dan gagah, Maka hanya sampai di situ aku dapat melayani tuan putri Sophia."

Katanya.

Hati Sophia menjadi ciut mendengar keterangan opsir itu, ia sangat takut orang akan menahannya selama lima puluh tahun, Dia mencari akal untuk meloloskan diri dari tahanan itu.

Sophia mendapatkan akal yaitu dengan cara menggunakan kecantikannya, ia akan merayu opsir itu, agar dengan demikian ia dapat meloloskan diri dari kurungan itu.

Si Opsir berdiam saja, malah ia mundur beberapa langkah.

"Maaf tuan putri, ibu suri telah melarang para pasukan untuk tidak mendekati tuan putri bahkan untuk menoleh saja tak boleh, jikalau hal itu sampai dilanggar kami akan dihukum mati. Apabila kepala pasukan pengawal telah dihukum mati, maka sebagai penggantinya adalah wakilnya, Dan jika wakil itu pun dihukum mati, maka sebagai penggantinya adalah wakilnya, Dan jika wakil itu pun dihukum mati maka yang akan naik yaitu kepala kompi, Demikianlah seterusnya ganti-mengganti, pimpinan pasukan, Oleh karenanya setiap pasukan ingin sekali untuk naik pangkat, jadi penjagaan dilakukan dengan sangat ketat sekali."

Kata opsir itu.

Baru saja komandan itu menutup mututnya, pintu sudah ada yang membukanya, Dialah komandan muda, yang senantiasa menunggu diluar, yang tengah berjaga di luar....

Ibu suri telah mengetahui kalau Sophia itu cantik dan sangat genit Untuk itu ia membuat peraturan agar para penjaga jangan sampai ada yang mendekatinya, ia sangat khawatir jika Sophia akan menggunakan kecantikannya untuk merayu para penjaga itu, maka terlebih dahulu ia mengeluarkan perintah itu.

Hal itu dimaksudkan agar tuan putri itu tidak main gila, Ternyata sekarang kekhawatirannya itu terbukti, sekeluarnya komandan itu, Sophia masuk ke dalam kamarnya dan menangis sepuasnya, Di saat itu ia benar-benar telah putus asa.

Sia-sia saja ia melakukan hal itu, Wanita itu sangat kesal, hanya air matanyalah yang dapat menolongnya mengurangi kesedihannya itu.

Dalam hati ia mencaci ibu tirinya itu.

Selama dalam tahanan itu Siau Po dapat mempelajari sifat tuan putri itu.

Pertama ia mengetahui sifat Sophia yang selalu marah lalu diam saja.

ia pun dapat melihat para serdadu yang mempunyai sifat kasar.

Maka ia beranggapan kalau negara itu adalah negaranya para hantu yang mempunyai sifat kasar dan bengis dan juga memiliki sifat yang sangat jahat dan kejam.

Siau Po dan juga Song Ji sebenarnya tidak merasa sukar untuk ke luar dari istana itu.

Yang mereka pikirkan ialah jalan yang terlalu jauh untuk pulang kembali ke tempatnya, jarak yang terlalu jauh ditambah lagi dengan rintangan yang pasti telah menghadangnya.

Tanpa penunjuk jalan mereka berdua pasti akan tersesat di tanah yang datar dan tanah yang dipenuhi oleh es, serta salju yang sangat dingin sekali.

Kedua tempat itu sangat mengancam mereka jika tidak selalu waspada di antaranya kelaparan, kedinginan.

Walaupun mendapatkan kesukaran, dasar mereka itu masih muda dan masih gagah mereka masih dapat menghibur diri.

Ada kalanya antara mereka itu bercanda satu dengan yang lainnya, Mereka berdua hidup rukun dan damai, saling hormat menghormati satu dengan yang lainnya, terutama Song Ji, Nona itu selalu menghormati siangkongnya.

Pada suatu hari Siau Po bercerita pada Song Ji.

ia mengambil cerita pendeta Tong Sam Chong bersama ketiga pengiringnya yaitu Sun Gouw Kong si siluman kera, Tie Pat Kay si siluman babi, dan See Ceng si siluman naga, yang di ajaknya pergi ke Say Thie (Tanah barat) yang tujuannya akan mengambil kitab suci.

"Mari kita bertaruh! Menurut aku tempat yang dinamakan Say Thie yang mereka tuju itu pastilah tak jauh berbeda dengan tempat Moskwa, Maka kalau dibandingkan dengan pendeta Tong, aku jauh lebih lihay, Kau percaya atau tidak? jikalau kau tidak percaya mari kita sekarang bertaruh!"

Kata Siau Po. Song Ji adalah orang yang tak suka berjudi, menurutnya bertaruh itu sama dengan berjudi. Makanya mendengar kata-kata siangkongnya ia lalu berkata.

"Jikalau siangkong menganggap kalau siang-kong lebih lihay dari pada pendeta Tong itu ya sudah. Baiklah, Siangkong terlebih lihay dari pada pendeta Tong! Aku tak dapat bertaruh, Aku pun tak selihay Tie Pat Kay itu...."

Setelah berkata demikian Song Ji tertawa.

Justru pada saat itu dalam kamar tuan putri terdengar suara yang sangat berisik, itulah suara entah barang apa lagi yang telah menjadi korban, Tak lama kemudian terdengar suara tangis tuan putri itu...

yang tengah memukuli pembaringan dan membanting-banting kakinya....

Bagian 66

"Ah kasihan, nanti aku akan menghiburnya dan datang padanya untuk apakah menangis terus-menerus? Bukankah hal itu tak ada manfaatnya?"

Kata Siau Po terharu.

Song Ji mengangguk tak berkata apa-apa.

setelah itu ia pun tertunduk ikut memikirkan hal yang diderita tuan putri itu.

Siau Po kemudian masuk ke dalam kamar tuan putri Sophia, ia berusaha untuk menghibur tuan putri itu.

Sophia rebah dalam kamarnya di atas pembaringan kakinya digunakan untuk menendang benda yang ada di dekatnya, ia tidak menginginkan ada orang yang mengganggunya, dan ia pun menolak sewaktu Siau Po ingin menghiburnya dengan bercerita.

"Tidak! Aku tidak mau dengar cerita-ceritamu ituI Aku hanya ingin Czarina masuk ke dalam neraka! Ya.... Aku hanya ingin agar Czarina masuk ke dalam neraka, Czarina Natalia.,."

Katanya, Siau Po belum mengetahui apa itu "Czarina" , Kemudian ia bertanya pada tuan putri Sophia dan tuan putri itu menerangkan apa arti Czarina itu.

Setelah ia mengetahui kalau Czarina itu ratu atau ibu suri dari raja Peter I, maka Siau Po berkata dengan sangat senang, hal itu diperuntukkan agar tuan putri dapat melupakan kesedihannya.

"Aku kira Czarina itu orang macam apa tak tahunya ia ibu suri! Nah, mari aku beritahu padamu, Tuan putri! Di Tiongkok, Czarina dipanggil Loo Piauw-cu atau si moler tua, dan dia pula seorang yang sangat jahat dan kejam. Belakangan itu setelah aku memikirkan usaha untuk menyingkirkannya dan aku telah berhasil Aku berhasil membuatnya terusir dari istana, Rajaku sangat senang dengan usahaku dalam mengusir ibusuri itu. Setelah itu aku mendapatkan hadiah dari raja berupa pangkat yang sangat tinggi dan terhormat."

Katanya. Sophia sangat girang mendengar kata-kata Siau Po itu, ia lalu bangkit dan duduk di sisi pembaringan.

"Daya upaya apakah yang telah kau lakukan itu?"

Tanyanya dengan bernapsu. Ditanya demikian Siau Po berpikir dengan cepat lalu berkata dalam hatinya.

"Aku berhasil mengusir si moler tua itu, karena ia ibusuri palsu, Tetapi moler tua dari Losat ini lain, dia adalah ibusuri asli raja Peter I. walaupun ia isteri kedua maha raja, tetapi cara yang aku lakukan di Tiongkok tak dapat aku terapkan di sini."

Katanya.

"Daya upayaku atau cara yang kulakukan dalam hal ini, aku bekerja sama dengan rajaku yang masih sangat muda, dan itu pula dilakukan di hadapan ibusuri Tiongkok."

Katanya memberikan penjelasan. Tuan putri itu lalu merapatkan alisnya.

"Peter sangat menyayangi ibunya, tak mungkin ia mau mendengarkan kata-kataku, Tak dapat ia menentang ibunya, kecuali.... Kecuali."

Kata Siau Po yang kata-katanya agak terpotong-potong.

"Kecuali apa?"

Tanya si putri, sampai-sampai ia melompat dari tempat tidurnya dan mendekat pada Siau Po.

Matanya menatap tajam pada Siau Po dan dari mulutnya keluar nada yang menandakan panas hatinya dan sangat mendongkol.

Dia berjalan mundar-mandir seraya giginya menahan rasa kesal yang amat sangat.

Siau Po menatap tuan putri itu.

Diam-diam ia turut menatap wajah Sophia dan setelah itu ia pun berkata dengan ceritanya.

"Di Tiongkok dahulu pernah hidup seorang raja wanita, Dia sangat cantik, dan ia pun banyak dinikahi oleh banyak laki-laki. Raja itu banyak memelihara selir yang kesemuanya gagah-gagah dan tampan. Hidupnya sangat senang, dan menurut penglihatanku, tuan putri tidak banyak berbeda dengan raja wanita di Tiongkok yang kami sebut Bu Cek Thian. Maka sebaiknya kau sendiri yang menjadi raja, pasti kau akan berhasil...!"

Hati Sophia sangat senang mendengar kata-kata Siau Po itu soalnya seumur hidupnya belum pernah ia memikirkan hal itu.

Di negara Losat belum pernah ada raja wanita, makanya ia beranggapan bahwa wanita itu tidak bisa menjadi raja.

Tetapi sekarang ia berpikiran lain.

Kalau di Tiongkok ada raja wanita mengapa di negaranya tidak ada?

Semenjak di kurung dalam istana itu Sophia senantiasa berada dalam kemendongkolan dan kegelisahan serta ketakutan...

sebab sewaktu-waktu ada kemungkinan ia terancam maut.

Hingga setiap saat ia selalu berpikir bagaimana caranya agar ia dapat keluar dari tempat itu, ia ingin kembali ke timur untuk hidup bersama dengan Korichin.

Di sana pastilah ia merdeka dan hidup tak terkekang seperti di sini, sekarang setelah mendengar kata-kata Siau Po, ia seperti disadarkan dalam mimpinya, ia melihat satu dunia baru terbentang di hadapannya.

Setelah berdiam cukup lama, kemudian secara tiba-tiba Sophia memutar tubuhnya dan dengan tangan-tangannya ia memeluk Siau Po dan seterusnya ia menciumi pipinya, pada saat itu matanya kembali bersinar tenang.

"Jikalau aku telah menjadi raja maka aku akan mengangkatmu menjadi permaisuriku atau suamiku."

Katanya. Dalam hati Siau Po terperanjat itu adalah di luar dari dugaannya, dan sama sekali tak terpikirkan.

"lni tidak dapat. Kami bangsa Tionghoa maka kami tak dapat menjadi ratunya Bangsa Losat, oleh karena itu aku lebih senang jika kau mengangkat pangkatku saja."

Katanya dengan cepat.

"Kau jadi ratuku dan kau pun nantinya akan menjadi pembesar istana."

Kata Sophia, Kembali Siau Po berkata dalam hatinya.

"Sekarang ini kita sedang dalam keadaan bahaya, mengapa aku masih saja bermimpi? Mana dapat ia mengangkat pangkatku?"

Katanya. Sophia menatap Siau Po yang sedang berpikir itu.

"Coba sekarang kau pikirkan bagaimana caranya agar aku dapat menyingkirkan Czarina Natalia itu?"

Tanyanya.

Siau Po merapatkan alisnya, Dalam urusan ke tatanegaraan ia memang kurang mengerti.

Bagaikan langit dan bumi, apabila ia dibandingkan dengan kaisar Kong Hie, ia pun kalah jauh dengan Tan Kin Lam, So Ngo Ta dan juga Gouw Sam Kui.

"Tuan putri, dalam soal ini aku tak sanggup memikirkannya, sekarang begini saja, sebaiknya aku segera pulang ke Pakhia, Di sana aku akan menanyakan pada raja cilikku agar dia mau mencarikan jalan yang baik bagi tuan putri, Setelah itu aku akan kembali ke mari dengan membawa orang-orang yang gagah dan perkasa, untuk mengadakan penangkapan Czarina Natalia atau si moler tua dan Czar si bocah cilik Peter I. Maka dengan demikian jelas kita berhasil dalam usaha kita, Kau akan naik tahta menjadi raja wanita seperti apa yang kau inginkan. orang-orang yang akan aku bawa ke mari di samping gagah dan perkasa aku juga akan membawa mereka dalam jumlah yang besar."

Kata Siau Po. Dalam mengucapkan kata-katanya itu yang terakhir mendadak ia bergerak untuk merangkul tuan putri itu.

"Oh, itu tidak dapat! Kau mau pulang dulu ke Pakhia, baru kau akan kembali lagi ke marl, Untuk itu kau membutuhkan waktu yang tidak sebentar, atau mungkin mencapai satu tahun lamanya, Bu-kankah dengan demikian aku telah mati dan naik kesorga?"

Kata si putri.

Siau Po menarik napas panjang, perkataan tuan putri itu memang benar, Memang sangat banyak yang dibutuhkan untuk perjalanan itu, Akan tetapi bukankah itu hanya sandiwara saja?

"Oh, Tuan putri yang cantik, jikalau tuan putri akan pergi ke sorga maka aku si menteri dari Tiongkok akan ikut denganmu ke sorga."

Kata Siau Po kemudian.

"Oh, Bocah cilik, kau paling pandai mendustai orang, Ya, kau hanya ingin menghibur aku!"

Setelah berkata demikian Sophia mendorong tubuh Siau Po dan berkata pula.

"Oh, anak kecil dari Tiongkok, kau tidak berguna, kau hanya pandai menepuk punggung kerbau dan meniup kulit kuda!"

Katanya. Siau Po tertawa mendengar kata-kata tuan putri yang membalikkan kata-kata itu, yang seharusnya "menepuk punggung kuda dan meniup kulit kerbau"

Ia pun melihat tuan putri itu tak memandang sebelah mata padanya, maka dalam hati Siau Po merasa mendongkol ia lalu berkata dalam hatinya.

"Apalah caranya untuk tuan putri agar dapat menjadi raja? Sayang aku tak tahu caranya."

Katanya dalam hati.

Siau Po berpengetahuan banyak hanya dari pengalamannya, sebab ia gemar menonton sandiwara kebangsawanan, Namun sangat disayangkan dalam hal ini ia belum pernah melihat atau menonton sandiwara tentang berdirinya kerajaan wanita dan sebagai rajanya seorang wanita pula.

"Tentang raja wanita aku tahu bagaimana caranya ia menjadi raja seorang raja dan mendirikan kerajaan, lalu bagaimana dengan raja-raja pria? Aku ingat mengenai Cu Goan Ciang, dia berhasil karena ia mempunyai panglima perang yang besar seperti. Cie Tat, Siang Gie Cun, Ouw Toa Hay, Bhok Eng...."

Itulah lakon cerita "Eng Liat Toan"

Tentang berdirinya kerajaan Beng.

"Tatkala Lie Cu Seng memimpin tentaranya menyerbu Pakhia, kaisar Cong Ceng, telah mati menggantung diri, Setelah itu Lie Cu Seng mengangkat dirinya menjadi raja. Kemudian datanglah tentara Boan, yang menghajar Lie Cu Seng, Karena itu kaisar Sun Tie, si tua bangka, lalu menjadi kaisar tua di seluruh Tiongkok, Kemudian Gouw Sam Kui ingin menjadi raja, dia mengangkat senjata dan mengadakan pemberontakan Maka nyatalah bahwa yang ingin menjadi raja harus mempunyai tentara dan berperang, membuat banyak mayat-mayat manusia berserakan di mana-mana, darah manusia bagaikan air sungai."

Mengingat akan bahaya perang, Siau Po menjadi ketakutan sendiri.

"Dan sekarang kita terkurung di sini. Dari manakah datangnya kekuatan tentara itu? Mana dapat kita berperang? sedangkan jika kita tak berperang kita tak akan menjadi raja?"

Katanya.

Karena pengetahuan tentang hikayat sangatlah sedikit Siau Po tak tahu halnya membangun negara, ia manyangka dengan mengikuti cerita wayang yang pernah disaksikannya, hanya dengan cara berperang orang dapat menjadi raja, Di samping itu ia hanya mengandalkan para kaisar saja, sedangkan kaisar itu pun menjadi raja karena turunan dari ayahnya yang sekarang telah mengundurkan diri.

Banyak lakon yang diingat Siau Po, yang kesemuanya itu adalah untuk menjadi raja.

Kesemuanya itu diawali dengan peperangan yang banyak memakan kurban jiwa manusia, Rakyat yang menderita sedangkan raja yang kaya raya.

Rakyat semakin miskin dan yang kaya semakin kaya, Hanya itu yang diketahui Siau Po.

Namun ringkasnya, semua itu sebagai bukti bahwa itulah yang Siau Po ketahui, bahwa jika seseorang ingin menjadi raja ia haruslah berperang terlebih dahulu barulah ia dapat menjadi raja.

Dan jika ia telah menjadi raja apabila tak pandai berperang, maka kerajaannya akan diambil alih oleh yang menang, dan kerajaan dengan sendirinya akan runtuh...

Sophia mengertakkan giginya dan mengepal keras tangannya.

"Eh kau sedang berbuat apa?"

Tanyanya pada Siau Po yang sedari tadi ngoceh terusmenerus tak henti-hentinya seperti orang yang sedang kesurupan, Cerita itupun membingungkannya.

Ditanya demikian Siau Po melongo terlebih dahulu, ia seperti orang yang baru saja sadar.

"Untuk menjadi raja orang harus dapat berperang."

Katanya. Sophia kembali heran.

"Berperang.... Berperang dengan siapa?"

Tanyanya.

"Tentulah berperang dengan si moler tua Bangsa Losat itu."

Kata Siau Po menerangkan.

Sophia belum mengerti walaupun Siau Po sering mengatakan kata-kata "Moler Tua" , Sewaktu tuan putri itu hendak menanyakannya, daun pintu terbuka dan si komandan muncul Komandan itu menjambak leher baju Siau Po dan berkata dengan nada yang sangat kasar, ia lalu menarik Siau Po untuk keluar dari kamar tuan putri itu.

Sambil menutup pintu keras-keras kaki kanan komandan itu menendang kumpulan kaki Siau Po.

Siau Po merasa nyeri dan gusar, Komandan itu sangat kurang ajar apalagi telah menendangnya dengan keras, Si Komandan tertawa mengejek, mendadak ia jadi naik darah, Setelah komandan itu hendak mendupaknya lagi Siau Po berlompat kesamping, Komandan itu mengulangi lagi begitu juga Siau Po berlompat-lompatan.

Akhirnya Siau Po melompat tinggi dan berdiri di pundak Komandan itu.

Itulah tipu silat yang pernah diajarkan oleh Hong Hujin, Satu di antara tiga jurus terlihay untuk menolong orang dalam keadaan terjepit Siau Po sebenarnya belum mempelajarinya dengan sempurna apa lagi jika ia menghadapi orang yang pandai bermain silat, pastilah ia tidak berdaya.

Tetapi dengan komandan Bangsa Losat ini Siau Po merasa paling pandai.

Dengan tak kurang cepatnya Siau Po menekan mata komandan itu.

"Jangan bergerak.... Awas matamu...!"

Ancamnya pada Komandan yang sudah tak berdaya itu.

Komandan itu kaget, ia dapat menerka arti dari ancaman itu, maka dengan terpaksa ia diam saja.

Dengan tangan kanannya Siau Po menarik telinga Komandan itu.

"Jalan!"

Perintah Siau Po yang tetap berada di punggung komandan itu, ia menganggap komandan itu sebagai kuda tunggang.

Komandan itu menurut saja Siau Po memerintahkannya untuk jalan kearah tuan putri dan memerintahkannya juga untuk menutup pintunya, Siau Po memerintahkannya dengan suara keras.

"Tutup pintunya dan cepat kau ambil senapan."

Katanya.

Sophia sangat kaget dan juga heran, tetapi ia dapat menutup pintu itu, sedangkan Siau Po mengambil senjata milik komandan itu, dan seterusnya senjata tersebut dipakainya untuk mengancam komandan itu.

Siau Po berlompat turun dan dengan tali kulitnya ia mengikat kaki komandan itu, Begitu pun dengan kedua tangannya ia menggunakan tali celana komandan itu maka dengan sendirinya celana itu pun menjadi turun.

"Ha ha ha ha!"

Siau Po tertawa bersamaan dengan tuan putri itu.

Opsir itu sangat malu dan gusar, tetapi ia hanya dapat mendongkol tanpa mengadakan perlawanan, karena kaki dan tangannya terikat.

wajahnya menjadi merah menahan rasa malu yang luar biasa itu.

Tak lama kemudian pintu itu terbuka, tampak Song Ji yang datang melihatnya.

"Tak apa-apakan siangkong?"

Tanyanya perlahan Tetapi setelah melihat keadaan komandan itu, ia terperanjat heran hingga dengan sendirinya ia menjadi malu sendiri. Siau Po menggapai memanggil Song Ji yang baru saja masuk.

"Untuk apakah menahan opsir ini?"

Tanya Sophia.

Ketika tadi membekuk si komandan itu Siau Po hanya bermaksud untuk membalas amarahnya saja dan tidak berpikir apa pun.

sekarang setelah ditanya tuan putri itu ia barulah sadar, Akan tetapi karena ia sangat cerdas segera ia mendapatkan satu pikiran.

"Aku akan menyuruh seseorang untuk membunuh Czar Peter I dan juga ibunya Czarina Natalia, Nanti jika kita berhasil kau akan menjadi raja atau kau akan menggantikan Czarina."

Kata Siau Po.

Bicara Siau Po yang menggunakan bahasa Lo-sat, memang kurang lancar Akan tetapi tuan putri dapat mengerti apa yang dimaksud oleh Siau Po.

Maka tuan putri itu lalu tertawa, dan selanjutnya ia bertanya pada opsir itu, yang sebelumnya ia sudah memikirkan pertanyaan apa yang akan ia tanyakan itu.

Tampak opsir itu menggelengkan kepala, Siau Po mengira-ngira bahwa opsir itu telah menolaknya.

Maka ia berkata dengan suara kasar.

"Jikalau dia menolak maka lebih baik kita bunuh saja."

Katanya sambil mengeluarkan pisau belatinya yang disembunyikannya dalam kaos kakinya, Dengan pisau itu Siau Po mengerok halus berewok sebelah kanan komandan itu. Memang pisau itu sangat tajam.

"Sungguh tajam pisau itu!"

Kata Sophia, Muka komandan itu menjadi pucat karena sangat takut kalau Siau Po benar-benar akan membunuhnya.

"Oh, bocah kecil ini telah menyembunyikan pisaunya dalam kaos kakinya, Sayang sewaktu menggeledahnya aku tidak menemukannya, Anak Tiongkok ini sangat cerdas!"

Katanya dalam hati.

"Eh! Kau mau menyerah atau tidak? Kau mau atau tidak mengangkatku sebagai Czarina?"

Tanya tuan putri itu dengan bengis.

"Bukannya aku menolak, tetapi pasti orang-orang sebawahanku akan menentangku, Lagi pula dalam kota ini ada dua puluh tangsi tentara bersenjata api, sedangkan dalam tangsiku hanya ada satu tangsi saja. Taruh kata kita akan memberontak tak mungkin dapat memenangkannya, Mana dapat satu tangsi melawan sembilan belas tangsi?"

Katanya.

Sophia terdiam, komandan itu berbicara sangat beralasan sekali, ia hendak menjelaskan hal itu pada Siau Po hanya ia khawatir kalau Siau Po tidak mengerti masalah itu.

Maka ia berbicara dengan bahasa isyarat, seperti halnya orang bisu saja, dan untuk mengatakan angka dua puluh ia membuka kaki dan tangannya untuk menunjukkan angka dua puluh.

Agak sulit untuk menerangkan dalam bahasa isyarat itu.

ia hanya menggunakan gerak-geriknya, dan entah Siau Po dapat mengerti ataukah tidak hingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuat Siau Po dapat mengerti apa yang dimaksudkannya itu.

Akhirnya Sophia diam, ia tahu bahwa komandan itu pasti akan membangkangnya, Percuma membunuhnya toh ia tak mau menolongnya.

"Komandan ini menolak, mari kita coba dengan pembantunya!"

Kata Siau Po pada tuan putri itu.

"Pembantunya...?"

Tanya tuan putri mengulangi kata-kata Siau Po tadi.

"Ya, pembantunya, Cepat suruh ia ke mari!"

Kata Siau Po.

Sophia menurut, lalu dibawanya komandan itu ke depan pintu, sedangkan Sophia menodongnya dengan senjata milik komandan itu.

Setelah itu Sophia memerintahkan komandan itu untuk memanggil komandan muda.

"Cepat kau panggil pembantumu!

Kalau kau coba-coba akan melawan aku tak segan-segan membunuhmu!"

Kata Sophia, Terpaksa komandan itu menurut apa kata-kata tuan putri itu, ia lalu memanggil komandan muda.

Song Ji bersembunyi di balik pintu, Setelah si komandan muda itu muncul dan masuk, nona itu menotok punggung komandan muda hingga ia tak dapat bergerak.

"Oh, Siangkong! Kiranya jalan darah setan-setan asing ini sama dengan orang-orang kita. Tadinya aku sangat khawatir keduanya berlainan..."

Kata Song Ji. Siau Po tertawa.

"Bukannya mereka itu sama saja? Mereka mempunyai mata hidung tangan dan kaki, demikian juga dengan jalan darahnya."

Kata Siau Po. Lantas Siau Po mengambil alih pedang si komandan muda itu kepada Sophia.

"Sekarang kau perintahkan membinasakan komandannya, supaya ia memberontak. Kalau ia menolak, suruh sebawahannya membunuhnya!"

Katanya. Sophia mengerti apa yang dimaksud Siau Po, maka ia lalu berkata pada si komandan itu.

"Nah pedang ini kau pegang, dan kau harus membunuh komandanmu! Maka dengan sendirinya kau akan menjadi pemimpin utama dari pasukanmu, Lalu kau pimpin pasukanmu untuk mendengarkan segala perintahku! jikalau kau menolak untuk membunuh komandanmu, aku akan memerintahkan anak buahmu untuk membunuh kalian semua, agar dialah yang akan menggantikan menjadi komandan utama. Nah, kau mau turut perintahku ataukah tidak?"

Tanyanya pada komandan muda itu, Belum lagi si komandan itu menjawab pertanyaan tuan putrinya itu Siau Po sudah lebih dahulu berkata pada Song Ji.

"Song Ji cepat kau bebaskan dia dari totokanmu tetapi badannya saja jangan sekalian tangannya."

Song Ji menurut, dengan cepat ia membebaskan totokan darah pada badan komandan muda itu, Setelah itu ia menyerahkan pedang itu kepadanya.

"Nah bagaimana?"

Tanya Sophia pada komandan muda itu.

Tiba-tiba komandan itu mendamprat komandan muda itu, ia pun mengancam pada komandan muda, maksudnya akan mencegahnya agar ia tidak menuruti kata-kata tuan putri.

Pikiran si komandan muda berubah dengan cepat pada dasarnya ia tidak mau mengikuti kata-kata tuan putri walaupun pernah di antara mereka ada perselisihan, tetapi karena komandan itu mendampratnya maka, ia menjadi panas, karena jika dia tidak membunuh, pastilah ia yang akan dibunuhnya.

Setelah berpikir beberapa saat dia sudah dapat mengambil keputusan untuk membunuh komandan itu, ia lalu berkata dalam hati.

"Kau sudah mencaci maki aku secara keterlaluan Kau membuat aku harus mengambil jalan ini! jikalau aku tidak membunuhmu pastilah nanti aku yang akan dibunuh oleh sebawahanku, Dan kaupun nantinya akan di bunuhnya pula! Untuk apakah kami berdua mati konyol?"

Pikir si komandan muda itu.

Karena berpikir demikian maka komandan muda itu tidak sangsi lagi untuk melakukan hal yang menurutnya itu baik, Pada waktu yang sangat singkat komandan yang muda telah menebas batang leher komandan yang tua atau komandan utama.

"Bagus!"

Kata Sophia, begitu juga Siau Po dan Song Ji yang menyaksikan hal itu.

ia berkata dengan bahasanya sendiri, setelah itu tuan putri Sophia menjabat tangan si komandan muda itu seraya memujinya karena kegagahannya.

"Sekarang aku mengangkat kau menjadi komandan. Kau boleh duduk dan sekarang mari kita berdamai!"

Katanya. Komandan muda yang baru saja diangkat tuan putri itu mengerutkan keningnya, ia tampak menyesal lalu menunjuk pada Siau Po dan Song Ji sambil berkata.

"Kedua anak-anak ini telah menggunakan ilmu gaibnya sehingga anggota tubuhku bagian bawah tidak dapat digerakkan sama sekali..."

Katanya pada tuan putri. Sophia mengangguk dan ia menoleh pada Siau Po.

"Tolong kau singkirkan ilmu gaibmu untuk membebaskan tubuhnya agar dapat digerakkan seluruhnya seperti semula!"

Kata tuan putri pada Siau Po dan Song Ji.

Siau Po dan Song Ji tersenyum mendengarkan kata-kata tuan putri yang dirasakannya lucu itu.

Tanpa menunggu perintah siangkongnya Song Ji telah membebaskan totokannya dari tubuh si komandan muda itu.

Setelah itu Sophia berkata pada si komandan yang baru saja diangkatnya itu.

"Cepat kau pergi memanggil sebawahan-sebawahanmu beserta pembantupembantunya! Akan aku suruh anak-anak Tiongkok ini untuk membuatnya tidak berdaya."

Kata tuan putri itu.

sedangkan pada Siau Po dan juga Song Ji ia memberikan keterangan.

Komandan muda itu mengangguk lalu pergi, Tak lama ia sudah kembali dengan empat orang anak buahnya, yang di perintahkan untuk berbaris di depan pintu.

Para sebawahan komandan itu menanti untuk dipanggil satu persatu, sedangkan Song Ji sudah siap ingin menotoknya, Setelah mereka masuk satu persatu mereka langsung ditotok oleh Song Ji, hingga mereka yang jumlahnya enam orang itu tak dapat bergerak.

Sampai disitu Sophia berkata pada semua opsir yang berada di dalam kamarnya itu.

"lni komandan barumu telah mendukung aku untuk mencari Czarina, Kita semua akan mengerahkan pasukan perang untuk memberantas Czarina Natalia, Sekarang aku akan bertanya pada kaiian, apakah kalian mau bekerja sama dengan aku ataukah tidak?"

Keenam opsir itu bingung, setelah mendengarkan kata-kata tuan putrinya itu.

Sewaktu masuk kamar, mereka telah di totok, hal itu yang membuat mereka menjadi heran.

Sebagai akibatnya mereka tidak dapat menggerakkan kaki dan tangan mereka.

Mereka juga terkejut setelah melihat mayat yang ada di kamar itu.

itulah mayat komandan mereka, sehingga mereka dapat menerka-nerka apakah yang telah terjadi, Dan mereka dapat menerka bahwa bencana telah mengancam mereka, sehingga hati mereka menjadi sangat takut.

Mereka hanya dapat saling memandang satu sama lain.

Siau Po dapat menerka kekhawatiran mereka itu, sehingga kemudian ia berkata pada tuan putri.

"Kau jelaskan pada mereka, bahwa kau akan memberontak di bawah pimpinanmu! Kau juga menjanjikan pada mereka kenaikan pangkat gaji upah yang besar Katakan bahwa mereka akan menjadi pejabat penting dan mempunyai banyak uang!"

Kata Siau Po. Sophia berpikir kata-kata Siau Po itu benar, Maka ia langsung saja menurut apa kata Siau Po, tetapi agar tidak kepalang tanggung ia berkata pada si komandan muda itu.

"Kau panggil semua pasukanmu serta serdadumu sekalian, katakan aku ingin berbicara dengan mereka itu!"

Katanya.

Komandan itu menurut, maka tak lama kemudian Sophia telah berdiri di hadapan para serdadu dan pasukan bersenjata komandan muda itu, jumlah mereka semuanya kira-kira seribu lebih, Di sana pun telah turut ke enam opsir yang telah di totok oleh Song Ji.

Mereka itu dijadikan contoh dari orang yang membangkang.

Segera Sophia berbicara mengenai keinginannya untuk menjadi Czarina, dan menentang maksud dari Czarina Natalia, ia mengutarakan sebab-sebabnya, tapi terlebih dahulu ia memuji para serdadu itu sebagai putra Losat yang gagah dan berani, yang telah berjasa pada negara, Namun katanya....

ia telah mendapatkan upah yang sangat rendah, sedangkan tanpa uang mereka itu tak akan mendapatkan wanita-wanita yang cantik, tak leluasa berbelanja dan rumah-rumah mereka semua sangat kurang pantas jika di bandingkan dengan hasil kerja mereka.

"Coba kalian lihat para hartawan di kota Moskwa ini! Mereka memiliki gedunggedung yang bagus-bagus dan banyak pegawainya, dan istri mereka semuanya cantikcantik. Justru kalian sebaliknya, Kalian tak memiliki semua itu, Coba kalian pikir, apakah itu adil? Padahal kalian telah berjuang membela negara."

Katanya dengan bersemangat.

"Tidak adiI.... Tidak adil!"

Jawab mereka serempak.

"Semua orang yang berharta itu, mereka gemuk-gemuk tetapi mereka bodoh-bodoh, habis makan mereka tidur bagaikan babi saja, jikalau mereka bertempur dengan kalian apakah mereka itu berada di pihak yang akan menang? Apakah dalam ilmu menembak mereka dapat melebihi kalian? Apakah ilmu pedang mereka jauh lebih pandai dari kalian? Apakah mereka yang telah membangun negara serta meninggikan derajat bangsa Losat? Cobalah kalian pikirkan masak-masak!"

Kata tuan putri mempengaruhi mereka.

Setiap pertanyaan tuan putri itu selalu saja dijawab dengan sikap menyangkal oleh para serdadu, jawaban itu sudah Siau Po mengerti artinya dan sudah dapat dikira-kira, Namun Siau Po tidak dapat mengerti pertanyaan yang diajukan oleh tuan putri itu.

Siau Po hanya dapat mengira-ngira bahwa anjuran itu hanyalah untuk mereka berontak di bawah pimpinan tuan putri tetapi mereka menolak....

Masih saja Sophia berbicara.

"Kalian semua sudah sepantasnya mendapatkan kedudukan yang baik dan tinggi Kalian sudah sepantasnya menjadi orang-orang yang hartawan dan banyak uang. Sehingga kalian akan hidup berbahagia."

Kata tuan putri itu memanas-manasi para serdadu.

Para serdadu itu berseru-seru serta menyebut-nyebut tuan putri, Ada di antara mereka yang memberanikan diri unjuk bertanya tentang cara yang harus mereka tempuh untuk mencapai maksud itu.

"Tuan putri Sophia, jalan apakah yang harus kami tempuh untuk kami dapat naik pangkat dan mendapatkan uang yang banyak itu?"

Tanya mereka dengan bersemangat pada tuan putrinya.

"Apakah kalian ingin naik pangkat?"

Tanya tuan putri.

"Mau!"

Seru mereka serempak.

"Apakah kalian ingin memiliki banyak uang?"

Tanya tuan putri pula.

"Mau!"

Jawab mereka serempak pula.

"Apakah kalian mau memiliki wanita-wanita yang cantik-cantik?"

Tanya Sophia lagi.

"Mau.... Mau!"

Jawab mereka, Mendengar jawaban para tentara itu hati Sophia dapat terhibur Apa lagi mereka semuanya dapat dipengaruhi dengan balasan kenaikan pangkat dan harta yang berlimpah ruah.

"Bagus kalau begitu! Kalian dapat pergi dan katakan pada rekan-rekan kalian yang berada di tangsi yang lainnya yang berjumlah sembilan belas tangsi itu! Kalian katakan pada mereka kalau kalian datang atas perintahku Putri Sophia.... Akulah Czarina mereka! Seluruh negara Losat pastilah mendengarkan kata-kataku. Dengan demikian aku berjanji pada kalian, kalian semua dapat mengambil rumah dan harta para hartawan yang ada di kota Moskwa ini. Dan sebelumnya kalian harus menggempur para hartawan itu. siapa yang dapat berhasil membunuh para hartawan itu dialah yang berhak mendapatkan rumah dan isinya, emasnya, kereta-nya, kudanya, pakaiannya, dan yang paling menarik yaitu wanita-wanita cantiknya, Tegasnya kalian berhak memiliki semuanya dari si hartawan yang kalian bantai itu. Nah... berani atau tidak melakukan penyerbuan itu? Untuk membunuh orang, merampas hartanya dan mengambil wanitanya?"

Demikianlah kata-kata tuan putri itu dengan bersemangat.

"Berani.... Berani.... Berani! Untuk membunuh orang, merampas hartanya dan mengambil wanita-wanita yang cantik-cantik itu mengapa kami tak berani."

Jawab mereka.

"Bagus, tadinya aku khawatir kalau-kalau kalian bernyali kecil dan tak berani melakukan usaha besar? Ternyata kalian memang para serdadu yang gagah perkasa yang memiliki keberanian yang tinggi. Nah, sekarang kalian pergi mengambil Vodka, pilihlah yang kalian suka dan ambil sendiri di dalam gudang bawah tanah!"

Katanya senang.

Memang dalam istana luar ini telah tersedia berbagai macam minuman yang kesemuanya sangat enak dan lezat-lezat yang disimpan dalam gedung bawah tanah, Hal itu dimaksudkan untuk keluarga raja dan para menteri pembesar istana, Anggur yang demikian jangan harap para serdadu dapat merasakannya seumur hidupnya, Akan tetapi sekarang sungguh sangat hebat perintah tuan putri itu.

Maka meledaklah mereka kegirangan, lalu berlomba lari ke gudang untuk mengambil minuman mewah yang belum pernah mereka rasakan, Tak lama kemudian mereka sudah menenggak minuman itu dengan sepuas-puasnya.

"Putri Sophia, Czarina.... Hidup Czarina.... Hidup Czarina.,."

Kata mereka berulangulang. Kali ini Siau Po dapat menerka kata-kata tuan putri itu, Maka ia lalu menarik ujung baju gaun putri seraya berkata dengan perlahan.

"Sekarang suruhlah mereka untuk membinasakan keenam pemimpin mereka agar mereka tak ragu-ragu lagi apalagi berubah pikiran!"

Kata Siau Po. Mendengar penjelasan Siau Po yang dirasakan ada baiknya juga, maka Sophia mengangguk dan menuruti kata-kata itu.

"Para orang gagah bangsa Losat, marilah kalian mendengarkan kata-kataku ini! Aku telah memerintahkan pada kalian untuk membunuh para hartawan untuk kalian mengambil harta, wanita dan rumahnya. Akan tetapi Czarina Natalia telah memerintahkan pada enam orang telur busuk ini untuk membinasakan kalian dan menghukum kalian."

Kata Sophia setelah mendapatkan keterangan dari Siau Po yang maksudnya untuk membunuh keenam pasukan yang telah ditotok itu.

Sambil berkata demikian Sophia memperlihatkan keenam orang tentara yang membantahnya.

Mendengar kata-kata tuan putri itu mereka menjadi naik pitam.

Mereka sangat tidak senang dengan cara keenam orang itu, bahkan ada belasan tentara yang membawa pedang yang sudah keluar dari sarungnya.

"Bunuh sekalian para jahanam ini!"

Teriak mereka sambil mengayunkan pedangnya ke arah leher masing-masing opsir itu.

Maka tak ayal lagi keenam orang itu telah menemui ajalnya di tangan anak buah mereka sendiri.

Setelah membunuh para opsir itu pasukan yang telah terpengaruh minuman keras itu bagaikan orang yang telah kehilangan akalnya, ia mengamuk dan mengajak kawankawannya untuk memulai bergerak.

"Mari kita mulai merampas uang, harta, dan wanita yang cantik-cantik! Kita binasakan mereka-mereka itu!"

Katanya. Melihat hal itu Sophia tambah memberikan semangat yang membuat mereka menjadi marah.

"Pergilah kalian menemui kawan-kawan kalian dari kesembilan belas tangsi itu, jikalau ada yang tidak sepaham dengan kalian atau menentang kalian bunuh saja, jangan tanggung-tanggung, meskipun itu para menteri atau jenderal sekalipun! Dan setelah itu kalian rampas hartanya.... Ya rampas hartanya... wanita-wanitanya, Mereka itu memiliki banyak sekali harta juga mutiara... kalian rampas semuanya!"

Kembali para serdadu itu berteriak-teriak, malah sekarang para serdadu itu mengeluarkan pedang mereka masing-masing memberikan semangat pada yang lainnya, Setelah itu mereka ke luar dan bersiap naik kudanya masing-masing lalu kabur ke arah istana.

"Kau juga turut dengan mereka! merampas harta, wanita dan tahta!"

Kata tuan putri pada sang komandan muda itu.

"Kau janganlah sungkan-sungkan! Yang penting kau jangan sarnpai bentrok dengan pasukan bersenjata api itu, Bahkan sebaliknya kau harus dapat mengajak kawan-kawanmu untuk bekerja sama dengan mereka, Lalu kau ajak mereka itu ikut denganmu ke istana Kremlin. Di sana kau bekuk Czarina Natalia dan juga Peter, anaknya! Tentang kekayaan istana dapat kau ambil seluruhnya, semua itu aku hadiahkan kepadamu."

Kata tuan putri Sophia.

Komandan muda yang mendengar kata-kata tuan Sophia itu menjadi sangat girang, Ternyata ia telah merobah pikirannya, Setelah tuan putri itu memerintahkannya untuk pergi ke istana, ia langsung saja berlari ke luar dari kamar itu.

Menyaksikan kepergian orang-orang itu barulah tuan putri dapat bernapas dengan lega, ia menjadi lemah menyaksikan hal itu, hingga ia terjatuh duduk di atas undukan tangga.

"Sungguh meletihkan!"

Keluhnya.

"Mari aku papah kau untuk ke dalam!"

Kata Siau Po. Sophia menggelengkan kepala.

"Tak usah biarlah! Mari kita naik ke atas agar kita dapat melihat bagaimana mereka melakukan hal itu!"

Katanya.

Istana luar kota itu terbuat dari batu-batu kasar dan tinggi, Menara kota tingginya delapan atau sembilan tombak, Menara itu sengaja dibuat untuk mengintai musuh, Sebab sebelum berdiri negara Losat, dahulunya punya kekuasaan Bangsa Hertog, Setelah ia mengalahkan saingan-saingannya, lalu membangun dengan mengangkatnya sebagai kaisar Czar.

Dia sangat khawatir kalau-kalau ada yang menyerangnya secara mendadak maka ia membangun menara itu untuk mengintai musuh.

Dengan mengajak Siau Po mendaki puncaknya, Sophia memandang jauh ke arah barat sehingga tampak sinar api yang berkobar di kota Moskwa, tetapi keadaan di sana sangat tenang, Tuan putri tampak berduka.

"Mengapa tak ada pertempuran? Mungkinkah mereka semua.... Aku.... Aku sangatlah khawatir sekali."

Katanya.

Siau Po tidak mengetahui sifat tentara Losat, maka ia hanya dapat menghiburnya saja.

Dalam kesunyian sang malam itu secara mendadak terdengar suara tembakmenembak dari arah yang sangat jauh tetapi masih dalam wilayah kota Moskwa, Menyaksikan demikian Sophia secara mendadak menjadi girang.

"Pertempuran sudah muIai,"

Katanya dengan senang.

Setelah itu ia menatap tajam ke arah suara tembak-menembak tadi.

Tak lama kemudian kota Moskwa menjadi sangat terang.

Hanya kali ini bukan berasal dari pelita atau lampu yang lainnya, melainkan dari api yang membakar secara besar-besaran.

"Mereka menggunakan api! Bagus! Menyerbu dan membakar adalah salah satu cara yang bagus dalam pertempuran, dan keduanya harus dilakukan bersamaan."

Kata Siau Po. Hanya beberapa lama kemudian api sudah tampak di beberapa penjuru kota, mengepul sampai tinggi ke udara.

"Mereka sedang membunuh, membakar dan menyerbu kota dan masyarakat kota! Oh, Siau Po kau memang orang yang paling cerdas yang pernah aku jumpai."

Kata tuan putri itu, Siau Po tersenyum.

Sophia dan Siau Po terus saja meneliti keadaan kota, Api bukannya padam melainkan malah sebaliknya makin menjadi-jadi, membakar gedung-gedung mewah dan yang lainnya, Melihat hal itu tuan putri Sophia menjadi sedih sebab kejadian itu sangatlah hebat dan luar biasa.

sekarang barulah ia mendapat pikiran itu....

"Setelah membakar dan membunuh orang, habis merampas harta orang lalu apa lagi yang kita harapkan?"

Tanyanya.

Hal itulah yang baru saja ia ingat dan ia pikirkan akibatnya.

Ditanya demikian Siau Po menjadi terbengong-bengong, sebab ia belum mempersiapkan jawabannya.

Setelah beberapa saat kemudian baru ia menjawabnya.

"Hal itu mudah saja, Setelah merampas, pastilah mereka akan berhenti Setelah membunuh mereka tentulah akan berhenti Yang pasti jikalau mereka itu telah puas barulah mereka akan berhenti. Sophia mengerutkan keningnya.

"Bukan itu yang kumaksudkan."

Katanya, Lama mereka bertiga mengawasi kota Moskwa, baru setelah merasakan puas dan terharu mereka bertiga ke istana, Di sini mereka diam saja menanti laporan dari komandan yang muda itu.

Baru keesokan harinya komandan muda itu memberikan laporannya pada tuan putri Sophia, sedangkan Sophia dan Song Ji hanya mendengarkannya, Komandan itu memberikan laporan bahwa dua puluh tangsi tentara tadi malam telah melakukan penyerangan pada kota Moskwa, dan mereka itu tunduk pada perintah dari tuan putri, sedangkan keadaan di istana, mereka berhasil membinasakan Czarina Natalia, serta harta yang menjadi sitaan di antaranya harta emas, perak, intan, berlian, dan banyak lagi yang lainnya, Sedangkan keadaan kota sekarang sedang kacau.

Mendengar berita itu putri Sophia berjingkrak saking girangnya.

"Czarina Natalia telah di bunuh? Lalu bagaimana mengenai anaknya Peter yang telah menjadi raja?"

Tanyanya pada komandan muda itu. Saking girangnya sampaisampai ia berkata acak-acakan.

"Tuan Peter sedang ditawan hidup, sekarang ia telah ditawan dalam istana Kremlin di dalam tanah dekat gedung penyimpanan arak."

Kata komandan muda itu memberikan laporannya.

"Bagus.,., Bagus.... Bagus!"

Kata tuan putri kegirangan karena ia merasa girang karena raja itu tidak turut dibinasakan.

Tak lama kemudian terdengar suara kaki kuda yang sangat riuh.

itulah pertanda akan datangnya pasukan tentara yang sangat besar, Sophia menjadi sangat kaget hingga mukanya menjadi pucat pasi.

"Siapakah mereka itu yang sedang datang ke arah sini?"

Tanyanya pada komandan itu.

"Mereka para pangeran, para menteri dan para pembesar istana serta para jendral, yang datang untuk mengundang tuan putri, Mereka akan mengangkat tuan putri untuk naik menjadi raja Czarina."

Kata sang komandan muda yang memberikan keterangan.

Sophia merasa berlega hati dari khawatir berubah menjadi sangat senang, ia lalu menyambar Siau Po dan merangkulnya untuk selanjutnya menciumi pipi kanan dan kirinya.

"Oh, bocah dari Tiongkok, sungguh bagus tipu dayamu itu!"

Katanya memuji Siau Po.

Tiba-tiba terdengar berhentinya pasukan di luar istana dan disusul dengan langkah kaki serempak.

Tak lama kemudian muncullah para menteri dan pangeran itu.

Di depan tuan putri itu, para pangeran, menteri dan para jenderal memberikan hormat pada tuan putri yang seterusnya ia berkata.

"Para pangeran, para menteri dan para jendral telah sepakat untuk mengundang tuan putri ke istana dan selanjutnya akan dinobatkan menjadi raja atau menjadi Czarina, agar dengan demikian kekacauan dapat segera ditumpas habis serta keamanan dapat dipulihkan kembali."

Kata salah seorang utusan itu. Sophia mengangguk.

"Bukankah si penghianat Natalia telah terbinasa? Dialah sebenarnya pemimpin kekacauan ini."

Katanya dengan tenang.

"Natalia telah mengacaukan pemerintahan dan dia pun telah mencelakai banyak menteri yang sangat setia pada negara, Maka untuk itu ia telah di hukum mati, dengan hukuman penggal kepala."

Kata sang pangeran.

"Bagus.... Bagus.... Nah, marilah kita pulang ke Kremlin!"

Kata sang putri mengajak mereka semua.

Mendengarkan perkataan tuan putrinya mereka semua berangkat untuk menuju istana dalam kota Moskwa, Maka dalam beberapa saat kosonglah istana tempat istirahat itu hanya yang tinggal Siau Po dan Song Ji.

Siau Po menyesal sekali dan sangat mendongkol.

"Celaka! Ternyata putri Losat itu tak memiliki budi sama sekali! Bagaikan seorang pembela ia telah menyia-nyiakan si perantaranya. Sudah menjadi ratu barulah ia tidak membutuhkan kita lagi, habis manis sepah di buang!"

Katanya. Song Ji tersenyum melihat tingkah siangkongnya itu.

"Siangkong.... Apakah siangkong masih mengharapkan agar siangkong diambil menjadi ratu pria-nya? Atau permaisuri prianya? Benar atau tidak?"

Tanya Song Ji sambil bergurau.

"Ah, kau menggoda aku! Lihat aku akan membekukmu atau tidak?"

Kata Siau Po setelah ia sadar kembali dari lamunannya.

Setelah berkata demikian Siau Po maju ingin merangkul Song Ji.

Song Ji tertawa perlahan, dan dengan mudah ia berkelit Pada saat itu musim sedang bagus-bagusnya, Musim salju telah reda dan sekarang sedang berlangsung musim semi, Udara hangat sudah mulai menyinari permukaan bumi, Banyak bunga tumbuh di halaman istana, Burung yang berkicauan saling bersahut-sahutan.

Di istana luar kota kini hanya tinggal Siau Po dan Song Ji.

Mereka berdua saling diam.

Hal itu bukanlah berarti kalau mereka sedang menikmati suara burung atau melihat-lihat bunga yang sedang mekar, melainkan karena mereka itu tidak ada yang mengganggu.

Lawan satu minggu Siau Po dan Song Ji yang ditinggal pergi oleh tuan putri Sophia, Sedang asik mereka melamun tiba-tiba dikejutkan oleh suara beberapa orang penunggang kuda yang memasuki halaman istana luar kota itu.

Setelah diselidiki ternyata mereka itu adalah orang suruhan dari tuan putri yang diperintah untuk menjemput mereka, Siau Po dan Song Ji menyangka kalau Sophia telah menjadi raja atau biasa disebut Czarina, Setibanya mereka di istana, Siau Po dan Song Ji dibawanya masuk ke dalam kamar tuan putri itu.

Siau Po sangat kaget melihat kenyataan kalau Sophia sedang dalam kekacauan, rambutnya acak-acakan, mukanya kusut, dan kakinya di gunakan untuk menendangnendang tepi pembaringan.

Barang-barang perabot rumah tangga semuanya hancur berantakan Tetapi setelah melihat kedatangan Siau Po ia berubah menjadi senang, dan bergembira hingga terdengar suaranya yang dalam beberapa hari ini diam saja.

"Bagus utusan dari Tiongkok telah tiba! sekarang kau pikirkan bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini!"

Katanya.

"Jikalau kau tidak dalam kesulitan tak bakal kau akan mengingat aku. Maka kali ini aku harus dapat mengeduk sesuatu dari kau.,.! jangan kau menyangka bahwa kau dengan mudah dapat mengakali aku dan mendapatkan pikiran dariku..."

Kata Siau Po dalam hati. Karena berpikir demikian maka Siau Po berkata dengan sangat sabar dan perlahan.

"Sri baginda Czarina, ada kesulitan apakah?"

Sophia menggelengkan kepala.

"Tidak... aku bukannya ratu mereka, mereka itu tidak sudi kalau aku menjadi ratunya."

Katanya dengan nada sedih.

Semula Siau Po merasa bingung, tetapi setelah mendapatkan penjelasan barulah ia memahaminya.

Ada aturan yang mengatakan kalau wanita tak dapat menjadi Czar, memang Czarina Natalia telah menutup mata, Akan tetapi masih banyak para menteri yang masih mendukung pada Peter, dan mereka itu berkeras tak akan memecatnya.

Sampai sidang dilakukan berhari-hari tetap saja para jenderal dan para menteri yang memihaknya tak mau memecatnya juga.

Hanya separuh menteri dan jendral yang memihak kepadanya, hingga masalah itu menjadi terapung-apung tak ada penyelesaiannya.

Namun di samping itu mereka yang memihak pada Sophia atau pada Peter masih saja memikirkan diri sendiri agar kedudukan mereka tak goncang, Dan sulitnya mereka itu sama-sama kuat dan sama-sama memiliki tentara.

jikalau mereka sampai bentrok, entah mana yang akan menang.

"lnilah soal yang besar dan aku tidak mengetahuinya, apalah dayaku ini? Yang paling baik aku harus menyingkir dari tempat ini karena hanya itu cara yang terbaik. jikalau mereka itu sampai mengangkat senjata aku akan mengalami celaka."

Kata Siau Po dalam hati. Setelah berpikir demikian Siau Po terus mengawasi ke segala arah, Setelah itu barulah ia berkata.

"Soal mudah. Aku punya cara tetapi harus ada syarat...."

Sophia menjadi senang, mendadak harapannya timbul."

"Katakan apa syaratmu? Apa pun syarat itu aku akan berusaha mengabulkannya, Bukankah kau ingin menjadi permaisuri pria dari aku?"

Tanyanya, Bukannya caranya yang ia tanyakan tetapi syaratnya yang pertama ia tanyakan pada Siau Po.

"Untuk menjadi permaisurimu itu memang baik dan itu memang yang aku harapkan, Namun yang terpenting yaitu kau yang tidak dapat menjadi Czarina itu."

Kata Siau Po. Sophia menjadi heran.

"Kenapakah?"

Tanya Sophia pada Siau Po. Siau Po tersenyum saja.

"Kau pastilah sudah tahu sendiri."

Katanya.

"Syarat-syarat ku tak sukar. Yang pertama aku menginginkan pangkat yang tinggi yaitu pangkat jendral,., yang kedua kau harus tidak atau membatalkan berperang dengan bangsa kami yaitu bangsa Tiongkok, Setelah kau menjalankan syarat-syaratku itu barulah aku akan memberitahukan kuncinya agar negaramu dapat selamat dan kau akan menjadi Czarina."

Kata Siau Po pada Sophia.

"ltu soal mudah, setelah aku menjadi Czarina pertama aku akan mengangkat kau menjadi orang yang berpangkat tinggi atau yang kau sebut jendral Dan jikalau kau ijinkan aku akan mengangkat pula kau menjadi permaisuriku. Setelah itu aku akan membuat surat untuk kaisarmu sebagai arti perdamaian dari Bangsa Losat pada Bangsa Tiongkok. Dan aku akan menurut apa katamu, jikalau kau menginginkan aku bersalaman dengan kaisarmu di depan para tentara itu aku akan melakukannya, Dan aku akan melakukan'hal yang terbaik jika kau mau melakukan pula hal yang terbaik untukku."

Kata tuan putri Sophia itu pada Siau Po. Setelah berkata demikian, Sophia mencium pipi Siau Po berulang kali dan menanyakan apakah masih ada persyaratan yang akan diajukan.

"Bocah Tiongkok, aku pun mencintaimu, karenanya tentara Losat tak akan menyerang Bangsa Tiongkok dan sebaiknya kita bersahabat saja. Untuk kami berperang dengan Bangsa Tiongkok tak bakal kami dapat menang, Bangsamu itu orangnya pandai ilmu gaib sehingga orang tak dapat berbuat apa-apa. Nah, sekarang masih adakah syarat yang akan kuajukan lagi kepadaku?"

Tanyanya sambil tangannya merangkul tubuh Siau Po dan menciuminya terus-menerus.

"Sudah tidak ada, Nah, sekarang aku akan mencari jalan yang baik untuk masalahmu itu. Yang pertama-tama aku akan menanyakan dan mengetahui terlebih dahulu keadaan pemerintahan Mungkin aku dapat mengambil manfaatnya dari situ."

Tanya Siau Po. Putri Sophia sebenarnya pintar Melihat lagak Siau Po tuan putri itu menjadi curiga.

"Jangan macam-macam kau. Bila kau ingin kurang ajar kepadaku aku tak segansegan membinasakan kau."

Ancam tuan putri itu. Siau Po menjadi heran mendengar ancaman itu. ia lalu mengalihkan pembicaraannya ke yang lainnya.

"Baiklah, Mari kita bicarakan saja masalah kau ingin menjadi raja atau Czarina dengan jalan..?"

Katanya terputus.

"Bagaimanakah caranya? Kau tahu sendiri kalau para menteri itu sekarang telah terpecah menjadi dua. Ada yang pro dan kontra padaku, Lalu bagaimanakah jika mereka itu bertempur? pastilah pihakku yang akan mengalami kekalahan yang sangat fatal? pastilah pihakku yang akan mengalami kekalahan yang sangat fatal Hal itu sangat meng-khawatirkan aku."

Kata tuan putri yang tak sabar mendengar penjelasan Siau Po.

"Sekarang begini saja, kalian bersama-sama menjadi raja. Artinya kau dan Peter sama-sama naik tahta menjadi raja, Setelah itu kau singkirkan para menteri yang sekarang kau benci karena ia telah menentangmu, kemudian barulah secara perlahan pula kau singkirkan Peter, Setelah kau menyingkirkan Peter barulah kau mengangkat dirimu sebagai Czarina, Maka dengan demikian kau dapat dua keuntungan."

Kata Siau Po. Sophia merasa senang mendengarkan kata-kata Siau Po.

"Namun bagaimana mengenai kata para menteri yang mengatakan bahwa wanita itu tak dapat menjadi raja...?"

Tanyanya.

"Jikalau memang peraturan yang menerapkan demikian, dan kau tak dapat menjadi raja, kau dapat menjadi kepala pemerintahan sementara!"

Kata Siau Po memberikan keterangannya.

"Bagaimanakah hal itu dapat terjadi?"

Tanya Sophia.

"Kalau bukan menjadi Czar tetapi kau tetap saja menjadi orang yang berkuasa, Buat apa menjadi Czar kalau toh tidak berkuasa? Lebih baik menjadi pejabat pemerintah asalkan orang lain mendengar orang itu sudah takut dan menurut apa katamu."

Kata Siau Po dengan tenang.

"Bagus, Bagus."

Kata tuan putri Sophia yang kemudian memanggil para menteri yang mendukungnya, jumlah mereka itu lebih kecil jika dibandingkan dengan para pendukung Peter.

Kemudian kepada mereka itu tuan putri menyampaikan apa yang dikatakan Siau Po.

Para menteri itu setuju tak apa biar tuan putri tak jadi raja asalkan menjadi orang yang berkuasa.

Akan tetapi kesudahannya mereka masih masih menghendaki ada dua Czar, yaitu Czar tua dan Czar muda.

Biar pun Peter menjadi Czar tetapi di atasnya masih ada Czar tua yaitu adik dari tuan putri Sophia yang bernama Ivan, dan Sophia tetap menjadi Regentes.

Setelah mereka itu mengambil keputusan Sophia mengumpulkan para pasukannya, Setelah itu ia mengundang para menteri dan para pangeran untuk memberitahukan pada mereka tentang keputusan itu.

ia menjamin tak akan sembarang dalam memecat para menteri itu, bahkan akan menaikkan satu tingkat pada siapa yang setuju dengan usulnya itu.

Karena keputusan itu tidak mengganggu pangkat atau peraturan pemerintah, dan para menteri yang mendukung Peter menyatakan setujunya, maka ketika salah satu menteri memberikan kata selamat, menteri yang lainnya pun ikut memberikan kata selamat.

Bukan main puasnya hati Sophia, Kemudian ia memanggil adiknya untuk dinobatkan menjadi Czar tua, dan Peter pun akan dikeluarkan dari tahanannya untuk dikembalikan pada kursi kehormatannya hanya sekarang ia menjadi Czar yang muda, Setelah itu mereka menerima kehormatan itu.

Sophia mengambil tempat duduk di bawah kedua adiknya sebagai Liop-cong-ong, ia adalah yang memegang tampuk pimpinan sampai pada soal mempercepat atau memberikan keputusan pada para menteri yang bersalah atau yang mendapatkan kebaikkan, Usia adiknya, Ivan baru berumur enam belas tahun sedangkan Peter berumur sepuluh tahun, hingga usia mereka itu masih sangat muda.

Sebagai kesudahannya Sophia memanggil Siau Po untuk menghadap kepadanya, ia lalu mengucapkan kata terimakasihnya karena Siau Po telah berjasa kepadanya, jikalau tidak pastilah Czarina Natalia sudah membinsakannya dalam penjara itu, serta lewat beberapa tahun ia pasti akan memaksanya untuk mencukur kepalanya agar ia menjadi biarawati, sehingga ia akan terkeram selama-lamanya dalam biara.

Mengingat ancaman bahaya itu ia menjadi ketakutan dengan sendirinya.

Maka selain ia memuji Siau Po, ia pun ingin memberikan hadiah dan juga pangkat yang tinggi.

Siau Po sebaliknya, ia menganggap tipu dayanya itu tidaklah berarti apa-apa di mata bangsa Tiongkok, ia berkata dalam hati dirinya adalah orang yang tidak berarti bila di Tiongkok tetapi di sini sangatlah di hormati, di pandang pintar sebagai Cukat Liang alias Khong Beng.

Hampir saja Siau Po berbicara yang tidak-tidak, untunglah ia ingat pada sesuatu hal, jikalau ia dianggap pintar luar biasa, ada kemungkinan putri Sophia akan menahannya terus menerus agar ia tinggal di negara Losat, Karena takut akan hal itu Siau Po kemudian merubah jalan pikirannya.

"Tuan putri yang mulia, sekarang Tuan putri telah menjadi wali dari Czar, maka kelak di kemudian hari tak sulit buat aku untuk naik pangkat dan kau akan naik tahta sebagai Czarina, singkatnya jikalau Tuan putri berpegang pada sesuatu dan mentaatinya, pastilah setiap orang akan takluk dan tunduk pada tuan putri."

Katanya kemudian. Putri Sophia heran bercampur senang.

"Apakah itu? Cepat kau katakan!"

Katanya.

"Tuan putri harus dapat membuktikan setiap kata-kata yang telah diucapkan. Katakata kaisar kami di Tiongkok adalah kata-kata emas dan setiap kata-kata yang telah diucapkan tak bakal akan ditarik kembali atau disesali, justru itu yang harus diwujudkan dan dijalankan sama sekali dia tidak menyesal karenanya."

Kata Siau Po.

"Apakah yang pernah aku janjikan padamu? Apakah kau takut kalau aku nantinya akan menyangkalnya? Oh, anak Tiongkok yang harus dicintai kata-kata Bangsa Losat yaitu kata-kata batu permata, karena kata-kata itu jauh lebih mahal dari pada kata-kata emas atau perak yang kau katakan sebagai kata-kata kaisar Tiongkok atau daerah asalmu itu."

Kata tuan putri Sophia pada Siau Po.

Bagian 67 Segera setelah itu Sophia mengeluarkan firmannya, yang isinya mengatakan Siau Po mendapat pangkat kehormatan, yaitu "Graaf, gelar kedua dari raja muda, dan diberikan pula wilayah kekuasaan dengan tentaranya, setelah itu Sophia memerintahkan pada menterinya untuk menulis sepucuk surat yang ditujukan pada kaisar Tiongkok dan yang ditugaskan mengirim surat itu adalah Siau Po yang dikawal oleh pasukan Kozak dan utusan Losat.

Di samping itu Siau Po dihadiahkan banyak uang emas, perak, dan juga permata, serta banyak lagi yang lainnya.

Buat kaisar Tiongkok Sophia juga memberikan hadiah yang cukup banyak.

Hal itu dimaksudkan untuk tanda persahabatan.

Sebagai pengiring atau pelayan pribadi Siau Po, Sophia pun memilih dan menyerahkan sejumlah pria yang tampan-tampan, agar Siau Po memperoleh pelayanan yang menyenangkan selama dalam perjalanan itu.

Ketika tiba harinya Siau Po harus berangkat menjalankan tugas itu, Sophia berat sekali melepaskannya, Selama beberapa bulan mereka berdua tak pernah berpisah, dan kali ini mereka harus berpisah untuk sekian lama.

Pada suatu hari Siau Po berangkat dengan menunggang kuda pilihannya yang diiringi dengan pasukan Kozak, ia melarikan kudanya di antara angin musim semi, dan kaki kuda mereka terdengar sangat asyik sekali.

Hal itu membuat Siau Po senang dan ia berkata dalam hati.

"Setelah aku lolos dari ancaman maut sekarang aku dapat pulang dengan mengepalai pasukan tentaraku ini, padahal aku hanya dapat membantunya sedikit saja pada putri itu. Semua ini berkat aku banyak melihat dan mendengar cerita itu."

Pada suatu hari tibalah rombongan Siau Po di Tiongkok tepatnya di kota Pakhia.

Kong Cin-ong, So Ngo Ta dan yang lainnya merasa heran bercampur girang dengan kedatangan Siau Po, apa lagi mereka melihat Siau Po pulang dengan tidak kurang suatu apa pun, dan kedudukan sebagai utusan dari bangsa asing.

Semenjak Siau Po berangkat dengan pasukan airnya dahulu itu, ia lalu tak ada kabar beritanya lagi, pernah beberapa kali pemerintah memerintahkan untuk mengadakan penyelidikan tetapi hasilnya tidak ada, hingga orang melupakannya, Ketika itu jangankan Siau Po sendiri, perahu layarnya pun tak tampak, karena itu mereka menganggap sang badai telah membinasakannya.

Kaisar Kong Hie pun girang sekali, ia lalu memerintahkan seseorang untuk memanggilnya menghadap.

Siau Po sangat gembira menyaksikan rajanya girang, maka setelah masuk secepatnya ia memberikan hormat pada junjungannya, dan setelah itu ia memberikan keterangan sebelum ditanyakan.

Dahulu sewaktu kaisar Kong Hie memerintahkan untuk menghancurkan kaum Sin Liong Lay dengan membawa pasukan air juga untuk membekuk ibu suri maka di samping ia mentitahkan tugas hambanya, ia senang mendengar berita bahwa pulau itu telah hancur, hanya sayang ibu suri itu telah berhasil meloloskan diri, sebaliknya Siau Po sudah berhasil mengikat tali persahabatan antara negara Losat dengan negaranya.

Karena girangnya raja terus menanyakan hal itu sampai berulang-ulang kali sampai jelas, Dan Siau Po menerangkan segalanya sampai pada soal putri Sophia yang bertindak dan memperoleh kedudukannya yang agung dan berkuasa.

Kaisar Kong Hie tertawa.

"Kau hebat! Dengan apakah kau mengajari wanita Bangsa Losat itu mengangkat dirinya?"

Tanyanya.

Siau Po tersenyum.

Besoknya, Kaisar Kong Hie mengijinkan utusan kaisar itu untuk menghadapnya di istana, Kaisar Kong Hie menyambutnya dengan baik, dan ia menerima hadiah dari putri Losat itu.

sebaliknya ia pun memberikan bingkisan kepada putri Losat berupa barangbarang dari Tiongkok, sedangkan Siau Po ditugaskan untuk mengantarkan tamu dari Bangsa Losat itu berkeliling.

Para tamu utusan dari negara Losat itu sangat kagum menyaksikan Tiong-kok yang telah memiliki meriam-meriam besar.

Di lain waktu setelah utusan itu pulang, kaisar Kong Hie mengangkat Siau Po menjadi Tiong Yong Pek Graf yang setia dan gagah, hingga para menteri memberikan kata selamat padanya.

Sementara itu Siau Po mendapatkan kenyataan Oey Congpeng dan yang lainnya belum juga pulang ke kota raja, ia menerka bahwa mereka itu takut karena kepala perang mereka lenyap, karena itu ia lalu memerintahkan dua orang untuk memanggil mereka pulang.

Pada suatu hari Kaisar memanggil Siau Po ke kamar tulisnya untuk memperlihatkan tiga helai surat laporan yang diletakkan di atas meja.

Siau Po mendekati surat laporan itu untuk melihat lebih jelas lagi, ia mendapatkan kenyataan yang ia tidak mempunyai pegangan, dan ia meminta pada rajanya untuk memberikan gambarannya.

Kong Hie tersenyum, lalu mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat dengan jarinya, dan telapak tangannya di buka untuk memperlihatkan gerakan bacokan sebanyak tiga kali.

Melihat isyarat bacokan itu Siau Po tertawa.

"Hamba mengerti sekarang, itulah laporan dari Gouw Sam Kui, Siang Ko Hie dan Keng Ceng Tiong, ketiga penghianat itu."

Jawabnya.

"Kau memang sangat cerdas! sekarang coba kau terka ketiga laporan itu!"

Kata kaisar.

"Sulit bagi hamba untuk menerkanya! Apakah laporan itu datangnya bersamaan?"

Tanya Siau Po.

"Tidak. Namun beda hari tak seberapa jauh."

Jawab Kaisar.

"Rupanya pikiran ketiga penghianat itu satu rupa. Apakah pikiran itu hamba tidak dapat menerkanya, Akan tetapi isi laporan itu bernadakan kurang baik.."

Kata Siau Po.

Kong Hie menepuk meja, Lalu katanya "Benar terkaanmu!

Laporan yang pertama datang dari Siang Ko Hie si tua bangka, dia mengatakan yang usianya sudah lanjut, berniat mengundurkan diri untuk pulang ke Liau tong tapi ia membiarkan putranya, Siang Cin Sam tinggal menetap di Kwie Tang.

Menurut aku jikalau benar Siang Ko Hie ingin kembali ke Liau tong tak usah putranya tinggal di Kwi Tang.

Rupanya Kheng Tcang Toak dan Gouw Sam Kui mendengar tentang laporan Siang Ko Hie itu lantas mereka mengajukan laporan masing-masing.

Berkata begitu raja mengambil sehelai laporan.

"lni dia laporan Gouw Sam Kui,"

Katanya pula, ia mengajukan alasan bahwa ia sudah lanjut usia dan lemah, Dia menyebut tentang pengunduran dirinya dari Siang Ko Hie.

Aku menduga ia hanya hendak mencoba-coba hatiku, berani atau tidak meluluskan permintaannya itu, jelas dia bukannya bertindak sendiri-sendiri justru dia berserikat dengan Siang Ko Hie dan Kheng Ceng Cong...."

Kemudian raja mengambil laporan yang kedua.

"lnilah laporan Kheng Ceng, dia menyebutkan bahwa dia sudah berperang, Dia ingin beristirahat dan demikian pula Siang Ko Hie mau mengundurkan diri. Tapi anehnya, pernyataan mereka sama yaitu bahwa sementara itu mereka tidak mau melepaskan kekuasaan Apakah mereka masih memandang mata terhadapku?"

Saking mendongkolnya kaisar melepaskan atau melemparkan surat itu ke atas meja.

"Jika demikian adanya, jelas sudah maksud utamanya mereka itu."

Kata Siau Po.

"Oleh karenanya Sri Baginda, baiklah dikirim angkatan perang guna menghukum mereka itu berikut semua anggota keluarganya masing-masing. Semua harus dihukum mati kecuali semua anggota wanitanya yang harus diserahkan kepada anggota menteri" "Jika kita menghukum mereka semua akan ada kemungkinan rakyat merasa janggal karena mereka tidak tahu pokok masalahnya dan mereka menuduh kita keterlaluan yaitu setelah berjasa menteri itu tidak dihargai. Maka aku pikir lebih baik kita berhentikan saja, Dengan demikian kita dapat melihat gerak-gerik mereka lebih jauh, syukur apabila mereka berdiam saja. Tetapi satu kali mereka bergerak maka ada alasan untuk kita menghukumnya."

"Bagus, Sri Baginda dapat memikir sempurna!"

Si kacung memuji. Raja menatap hambanya itu.

"Apakah kau memikirkan buat memimpin pasukan perang penghukum?"

Tanyanya kemudian sambil tertawa.

"Selain hamba ini bocah cilik, mana dapat memimpin satu angkatan perang? Paling tepat Sri Bagindalah yang dapat memimpinnya dan hamba hanya dapat di depan membuka jalan dan memasang jembatan sampai ke Inlam."

Jawab Siau Po.

Kong Hie menyerahkan rekesnya pada Pa Tay, menteri yang berpangkat Tay Kak Su dari istana Tiong Hoa Tian merangkap Lee Pou Siangsie, ia meminta agar para menteri membacakan atau mengutarakan masing-masing pikirannya.

"Sri Baginda, ketika orang raja muda itu mengundurkan diri bukan maksud hati yang sungguh-sungguh tapi mereka ingin mengukur kemampuan pemerintah."

Kata Kong Cing Ong Kia. Di mana ketiga-tiganya menyebut mereka tempat penting bagi segi ketentaraan, tapi mereka minta mengundurkan diri sementara itu tempatnya tidak mau dilepaskan."

"Jadi menurutmu mereka tak usah dikeluarkan?"

Tanya raja. Wee Cu Ciak tidak menjawab langsung pertanyaan junjungannya itu, tapi ia menyebut Loo Cu yang tak suka dengan peperangan.

"Memang perang itu berbahaya karena rakyatlah yang menjadi sasaran namun apakah kau pikir masalah tersebut akan selesai dengan memberikan hiburan?"

"Apakah kau pikir terjadi pemberontakan apabila akan terjadi pergeseran?"

Kata Baginda.

"Benar."

Sahut Boancin. Raja lantas menanyakan pikiran Tayhaksu.

"Bagaimana dengan kau?"

Tanyanya..

"Kedudukan ketiga raja muda disebabkan pemerintah hendak membalas jasanya, sekarang ini mereka tidak melakukan kesalahan besar, maka kalau dipecat mereka akan berkata bahwa pengorbanannya selama ini tidak dihargai sama sekali."

Jawab Lip Tik.

Siau Po mengharapkan agar orang Boangciu itu menentang pikiran para menteri yang menentang terjadinya pemecatan....

Tapi Boangciu merasa perlu dukungan terhadap menteri akhirnya ia pun menambahkan keterangan "Kau salah mengerti,"

Kata Siau Po. So Ngo mengira junjungannya itu memujinya.

"Kau pandai ilmu silat dan perang bagaimanakah pendapatmu?"

Kata kaisar terhadap Tayhaksu.

"Sebenarnya hamba tidak pandai, namun kebaikan hati hamba hingga menjabat sebagai menteri... pendapat hamba kalau ketiga raja muda itu digeser ke Liauwtong sedangkan pasukan mereka terdiri dari beberapa laskar maka itulah yang perlu dipikir."

"Apakah itu perlu dipikir? Liauwtong menjadi wilayah yang besar dan di sana terdapat kuburan leluhur kita, Kalau raja muda mempunyai maksud serong, dengan jumlah tentaranya itu mereka sukar dikekang."

Raja berpaling kepada Pengpao Siangsie Beng cu, menteri perang.

"lnilah urusan yang termasuk di dalam kekuasaanmu bagaimanakah pendapatmu?"

"Sri Baginda cerdas luar biasa, pandangan Baginda jauh diwaktu menghadapi segala urusan, biasa Sri Baginda melebihi kami seratus kali lipat. Mengenai soal raja muda itu, sebenarnya mereka digeser atau tidak itu sama-sama ada cacatnya, ada juga keburukannya, Memikirkan masalah itu beberapa malam hamba tak dapat tidur nyenyak."

Sekarang ini menurut pikiran hamba, sebaiknya Sri Baginda sendiri yang memutuskannya, kami semua menurut saja, Hamba percaya keputusan Sri Baginda takkan gagal, bahkan sebaliknya itu akan berhasil baik.

Akhirnya pasti tay-kit-taylie, ban sucie-li.., berlaksa urusan terwujud dengan benar sesuai dengan apa yang telah diharapkannya.

" Siau Po kagum terhadap menteri perang itu dan berkata.

"Dari seluruh menteri di istana ini tak ada yang kepandaiannya melebihi kepandaian menteri yang satu ini. Dia sangat pandai menepuk punggung kuda. Orang semacam dia perlu kuangkat sebagai guruku, Kelak di belakang hari mahluk ini pasti berhasil menanjak tinggi di kepangkatan, dia akan sangat beruntung berbahagia dan mulia..."

Bocah ini berpemandangan jauh, benar seperti apa yang dia pikir, kelak di belakang hari Beng Cu memang bakal mendapat kepercayaan yang besar sekali dari kaisar Kong Hie. Kaisar tersenyum.

"Harap Sri Baginda ketahui, hamba bukan memuji tapi ini bukti, bicara yang benar apa yang terlihat."

Kata Siau Po.

semenjak Kementrian peperangan mendengar berita tentang gerak-gerik ketiga raja muda itu, baik siang maupun malam, hamba sedang memikirkannya sehingga hamba tidak dapat istirahat dan tidur nyenyak, sampai juga tak napsu makan, Hamba selalu memikirkan daya guna mengatasi soal rumit yang berbahaya itu, Hamba pula berpikir keras, andaikata kekerasan harus digunakan, bagaimanakah caranya mesti bertindak supaya gerakan tentara itu berhasil memuaskan.

Nyatanya sekarang ini Sri Baginda sangat cerdas dan sebaliknya hamba semua sangat tolol Sebab ketika hamba berpikir keras tanpa hasil, Sri Baginda sendiri tak kelihatan bingung, Dasarnya Sri Baginda berbintang Cie Bie Chee yang turun lahir ke dunia, kami yang berasal orang biasa, mana sanggup menimpalinya?

Demikianlah hamba dapat menanti saja, segala perintah Baginda nanti dapat hamba menunaikannya...."

Mendengar keterangan itu, para menteri mencaci dalam dirinya, sungguh manusia tak tahu malu berani menjilat raja di depan orang banyak secara mencolok, walaupun mereka pada berdiam saja.

"Hai Siau Po! Kau pernah ke Inlam, bagaimana katamu tentang urusan ini?"

Kata Raja.

"Sri Baginda, mengenai urusan raja dan negara yang besar yang sangat penting, hamba tidak mengerti apa-apa. Namun kata Gouw Sam Kui kepada hamba, andaikata dibelakang hari terjadi perubahan hamba tidak boleh mengkhawatirkan apa-apa. Pangkat hamba ini ada harapannya menanjak naik tapi tak dapat turut. Hamba tidak tahu apa maksud kata-kata itu, terus hamba bertanya, perubahan apakah yang akan terjadi? Dia menjawab, nanti saja setelah tiba saatnya pasti hamba tahu sendiri. Ya, Sri Baginda, pasti Gouw Sam memberontak sekarang ini sudah sedia dengan jubah naganya, sekarang dia telah mengumpamakan dirinya sebagai harimau yang galak, serta menganggap Sri Baginda hanya burung kepodang...."

Kaisar hanya mengerutkan keningnya.

"Apakah arti harimau dan burung kepodang?"

Tanyanya.

"Maksud kata tersebut ialah Gouw Sam mempunyai tiga buah batu mustika yang menurutnya itu sangat berharga sekali, tapi sekarang belum memuaskannya lantaran masih ada kekurangannya, Mustika pertama sebesar telor ayam berwarna merah mirip darah ayam, Mustika itu disulam pada kopiah kebesarannya dan katanya batu mustika ini besar, sayang kopiahnya kecil..."

Menteri yang lainnya bingung, Mereka mengartikan sendiri artinya mereka menginginkan kerajaan.

Mustika yang lainnya berdasar putih mirip gubahan, Mustika harimau itu cuma ada pada jaman Kaisar Tio Kong dan Cu Goan Ciang yang pernah berhasil memburunya, Dan paling belakang yaitu Coh Coh bersama Louw Pie, satu kali Gouw Sam meletakkan benda itu di atas kursinya...

Dia bilang inilah kulit harimau yang sulit diburu, sayang sekali kursi umum ini yang ditempatinya."

Kaisar mengangguk dalam hatinya Coh Coh tak pernah menjadi kaisar tapi dia mengiakan saja si bocah kecil ini.

Mustika yang ketiga sebuah sekesel yang terbuat dari batu marmer berukiran gambar panorama yang di situ terdapat sebuah pohon kayu yang sebatang pohonnya di menclokkan untuk tempat burung kepodang.

Di bawah pohon terdapat harimau besar, Mengenai sekeselnya itu sangat berharga makanya sayang sekali harimau mendekam dan burung menclok di tangkainya...!"

"Semua mustika itu hanya kata-katanya saja, belum tentu ada niat untuk memberontak."

"Sungguh Sri Baginda sabar dan berhati mulia! Sungguh Sri Baginda menyayangi orang pandai! Namun syukur andaikata Gouw Sam mempunyai kesadaran dan membalas budi pada Sri Baginda, Akan tetapi kenyataannya lain, dia memberikan hadiah para raja-raja muda dan para menteri dalam istana tapi pada raja tidak pernah mempersembahkan apa-apa."

Sri Baginda tertawa.

"Memang Sri Baginda baik sekali, tapi Gouw Sam selalu minta uang, dan kalau mendapatkan ditinggalkan separuh di kota raja untuk dikirim pada pembesar-pembesar, Pernah hamba katakan, Ongya suka menghadiahkan uang dan bertangan terbuka, Melihat itu hamba nyeri sendiri."

"Ah, tahu apa kau bocah kecil! Aku hanya menitipkannya, nanti bertahun kemudian mereka akan membalas jasaku dan membayar utangnya dengan bunga."

"Hal itu hamba merasa tidak mengerti, hamba bertanya lagi. Ongya bagaimana caranya membayar? Bukankah hadiah sudah diberikan secara sukarela dan bukankah Ongya menghadiahkan pada mereka, dan bukan mereka meminta pada Ongya? Mendengar itu dia tertawa lebar dan dia memberikan aku sekantong uang dan berkata pada hamba agar hamba mengambil uang itu sebagai hadiah dengan syarat hamba bercerita baik tentang dia pada Sri Baginda dan kalau Sri Baginda mau memecatnya hambalah yang harus dapat mencegahnya, Uang itu tak ditagihnya kalau hamba berhasil katanya."

Berkata begitu Siau Po mengeluarkan sebuah kantong sulam dari sakunya terus mengangkatnya tinggi-tinggi hingga orang dapat melihat empat hurup pada kantong itu yang berbunyi "Peng See Ong Hu"

Yang artinya "lstana Peng See Ong Hu"

Dan menarik talinya sehingga keluarlah benda jatuh nyaring bunyinya, Ternyata isinya sejumlah mutiara, batu permata serta batu kumala yang indah-indah cahayanya menyilaukan mata.

Itulah yang diterima Siau Po dari Gouw Sam sebagai bahan sogokan dan sejumlah uang dari orang-orang yang menyogoknya.

Kaisar tersenyum dan berkata.

"Kau telah membuat perjalanan ke Inlam, kiranya kau telah memperoleh hasil yang besar sekali."

"Hamba tidak menghendaki semua permata dan barang ini. Silakan Baginda menghadiahkan semua ini kepada orang."

Sahut Siau Po.

"lnilah barang yang Gouw Sam Kui dapatkan untuk dihadiahkan padamu mana dapat aku menghadiahkannya kepada orang lain lagi?"

"Tetapi Gouw Sam Kui menghadiahkan ini pada hamba agar hamba mau mendapatkan berbicara mendustai Baginda menganggap baik dirinya dan mencegah Sri Baginda andaikata hendak memecatnya. Hamba setia pada Baginda, tak dapat hamba menggunakan barang ini, tak dapat hamba katakan bahwa Gouw Sam Kui itu orang baik, setia, jujur, pendusta. inilah milik Sri Baginda sendiri dan Sri Baginda bebas merdeka untuk menghadiahkannya kepada siapa saja. Dengan Sri Baginda yang menghadiahkannya sendiri, Sri Baginda menjadi sudah melepaskan budi, Hingga tak usahlah Gouw Sam Kui yang sebaliknya menjadi orang baik yang berhasil membeli hati orang..."

Tak disangka ternyata ada musuh dalam selimut yang hampir menjadi peperangan yang sangat besar dan menguasai Sri Baginda, Berkat hati yang mulia dan kepercayaannya kepada Beng Cu dan Siau Po yang pandai segala muslihat Gouw Sam Kui terbongkar semua para menteri yang merasa pernah mengalami menjadi risih dan malu hati.

itulah otak-otak licik dari sang pemberontak.

Kaisar Kong Hie tertawa bergelak.

"Sungguh kau setia, Nah semua permata ini aku hadiahkan saja kepadamu."

Berkata begitu raja pun merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebuah arloji emas.

"Dan ini hadiah istimewa lainnya untukmu."

Katanya pula.

Dengan tersipu-sipu Siau Po bertekuk lutut dan mengangguk-angguk, lalu dengan mengangkat kedua tangannya, ia menyambut hadiah itu.

ia pun mengucap terima kasih berulang-ulang, ia merasa girang bukan kepalang.

Sementara itu para menteri yang telah menerima hadiah Gouw Sam Kui merasa tak enak hati walaupun mereka tahu Siau Po hanya mengoceh saja, Di antara mereka ada juga yang menerima hadiah Peng See Ong dengan perantaranya kacung itu.

Toh mereka ketahui bahwa baik raja dan hambanya itu bagaikan tengah bersandiwara, Ocehan Siau Po tak masuk di akal, Tak bakal Gouw Sam Kui bicara sedemikian rupa dengannya, Pun heran sang raja tidak bergusar mendengar ocehan itu.

Beng Cu yang cerdas segera berkata.

"Wie Touwtong sungguh mengagumkan! Kau muda, gagah dan cerdas sekali. Terhadap Sri Baginda kau sangat setia, Bagaimana hebat Touwtong dapat masuk ke istana Gouw Sam Kui serta mendapatkan rahasia raja muda itu. Syukur ada Touwtong, jikalau tidak, siapa yang bakal mengetahui Gouw Sam Kui mempunyai maksud mendurhakai, sedangkan dia sudah menerima budi besar sekali dari negara."

Mendengar suara si raja muda, legalah hati para menteri, Mereka menyetujui katakata itu, yang dianggap dapat merendahkan raja sekaligus mengangkat-angkat Siauw Po.

Pangeran Kong Cin-Ong dan Su Ngo Tu bersahabat kekal dengan Siau Po, mereka dapat menerka hati si kacung.

Maka mereka juga turut bicara dengan masa menindih Gouw Sam Kui.

Setelah itu beberapa orang menteri lainnya turut bicara juga bahkan di antaranya ada yang mengatakan dipecat.

"Gouw Sam mempunyai niat mendurhakai, walau demikian bukti yang kuat masih belum ada, Maka itu buat sementara kita bersabar Aku pikir dia harus diberi kesempatan untuk merubah pikirannya itu, sekarang ini baiklah kalian jaga supaya pembicaraan kita ini tidak sampai bocor dan sampai pada telinga dia itu."

Kaisar Kong Hie lantas mengeluarkan sehelai kertas kuning dari dalam sakunya dan berkata kepada menterinya.

"Coba kalian lihat, keputusanku tepat atau tidak! Ubahlah apa yang harus dirubah!"

Menteri Pa Tay menyambut surat keputusan itu dan lantas membacanya, itulah surat pindahan bagi Gouw Sam Kui, yang sekalian dipersilakan membawa semua pasukannya berangkat ke kota raja, katanya untuk berdiam di dampingnya kaisar, guna sama-sama melindungi negara.

Mendengar perintah itu, para menteri memberikan pujiannya, bahkan Beng Cu memuji cara penulisannya.

"Memang lebih baik Gouw Sam Kui menerima panggilan agar tidak terjadi bencana perang pada rakyat."

Kata raja.

"Sekarang ini perlu dua utusan yang pandai untuk ke Inlam agar mereka dapat berbicara baik dengan Gouw Sam Kui...."

Ucapan itu dengan sendirinya ditujukan pada si kacung kita karena dialah yang dianggap paling pintar dan cerdik dalam menghadapi masalah ini.

"Jikalau tugas ini diberikan padaku, aduh... tugas yang sangat berbahaya. Waktu itu saja mengantarkan teman intim perempuan hampir saja jiwaku melayang.... sekarang memanggil Gouw Sam Kui berarti pemecatan, apa mungkin ia mau ikut?"

Pikirnya. Siau Po ingat, bahwa kalau ia ke Inlam pasti bertemu dengan A Ko si jago hati, Bukankah itu kesempatan baik? Akhirnya hatinya menjadi hangat.

"Siau Po pintar, pandai, cerdas, dan jujur ia juga membenci kejahatan."

Kata Beng Cu.

"Sri Baginda, alangkah baiknya yang diutus itu Leepou Sielong Ci Erl dan Halim Haksu Ta Erl Lie."

Akhirnya raja setuju untuk mengutus kedua menteri tersebut guna merayu Gouw Sam Kui. Sampai di situ sidang ditutup, Baginda mengundurkan diri dan mengajak Siau Po masuk ke dalam keraton.

"Bagus Kacung, kau telah menabur duit. Kalau tidak, mungkin ada menteri yang masih membicarakan tentang Gouw Sam Kui itu."

Kata Kong Hie.

"Tapi Gouw Sam Kui itu susah dilayani, Dia lihat dan semua tentara begitu juga panglima perangnya, seandainya dia mengangkat senjata dan Bangsa Han tahu tentang ini, pasti dia akan membantunya."

"Sebenarnya Bangsa Han yang suka padanya hanyalah pengikutnya saja tapi masyarakat banyak yang membencinya karena ia pengecut."

Kata Siau Po. Kaisar mengangguk dengan serius. Kong Hie berjalan mondar-mandir lalu menyapa Siau Po.

"Kau tentu capek sekali, Sudah beberapa kali kutugaskan keliling negara dan propinsi, kali ini kau kutugaskan lagi ke tempat yang indah sekali,"

"Tempat yang paling indah di bawah kolong langit ini adalah berdekatan dengan Sri Baginda, Sungguh kalau mendengar suara Baginda hamba merasa lega. ini benar hamba tidak mengumbar omongan."

Sahut Siau Po. Kaisar mengangguk.

"Memang benar kau lain dari pada yang lain. Aku raja dan kau hamba, tapi sepertinya kita sudah sejodoh. jarang hal ini terjadi, Tertawa pun sudah senang rasa hati ini."

Kata raja.

"Semoga seumur hidup hamba dapat melayani Baginda!"

Ia sukar mengeluarkan kata-katanya karena sangat terharu.

"Baiklah! Enam puluh tahun aku menjadi raja dan enam puluh tahun pula kau jadi hamba, Kita berhutang satu sama lain dari awal sampai akhir."

"Sri Baginda, jika Baginda memangku jabatan selama seratus tahun hamba pun akan menjadi pelayan Baginda selama seratus tahun juga."

Katanya.

"Seratus tahun? Kau tahu kalau aku akan mengutus kau untuk ke Yung ciau, setelah dari sana kau pulang ke kampung halamanmu dengan mengenakan pakaian sulam!"

Kata sang raja. Siau Po tidak mengetahui apalah arti pakaian sulam itu, maka ia pun bertanya pada sang raja mengenai pakaian sulam itu. Kaisar tersenyum.

"Di kota ini kedudukanmu sangatlah mulia, maka itu jikalau kau nanti akan pulang ke kampung halamanmu kau harus dapat membuat mereka itu menjadi senang dan bangga, Bukankah itu sangat bagus? Bukan dengan demikian derajat ayah bundamu akan terangkat juga?"

Kata raja.

"Oh Baginda, kau sangat baik sekali terhadapku!"

Kata Siau Po. Raja menatapnya.

"Apakah kau kurang puas dengan itu?"

Tanya sang raja. Dengan cepat Siau Po menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa ia merasa sangat puas dengan pemberian raja itu.

"Jikalau kau nanti sampai di kampung halamanmu, tak ada salahnya jika kau mencari ayahmu, Semoga saja kau diberkati Tuhan dan kalian dapat bertemu satu dengan yang lainnya, Siau Po, aku menugaskan kau ke tempat itu adalah pekerjaan yang mudah, kau hanya membangun tempat suci di sana."

Kata raja pada Siau Po.

"Bukankah itu sama dengan Kwan Tee Bio? Siau Po mempertegas karena ia belum dapat mengetahui maksudnya."

"Ya, Demikianlah kira-kira, Tentara Ahala Ceng telah memasuki Tionghoa dan di kota itu telah membunuh banyak orang dengan cara yang sangat kejam, dan hatiku merasakan tidak tenang."

Kata raja.

"Memang peristiwa itu sangatlah kejam, Ketika itu sampai di katakan di setiap tempat terdapat banyak mayat-mayat berserakan, dan di dalam sumur masih banyak terdapat mayat dan tengkorak, Ketika itu hamba dan juga Baginda belum lahir, hingga kita tidak mengalaminya!"

"Demikianlah keadaannya, peristiwa itu adalah peristiwa leluhurku. Dan aku menganggap peristiwa itu adalah perbuatanku sendiri Kau tahu atau tidak?"

Tanya sang raja.

"Hamba tahu Sri Baginda, dialah yang dipanggil Su Kok Pouw Su Ko Hoat, mati karena membela tempat itu. Dialah orang gagah yang mencintai bangsa dan juga negaranya, jika kita menyebut nama itu, orang di tempat itu pasti akan mengeluarkan air mata, di seluruh tempat terdapat kata-kata yang isinya memujinya."

Kaisar itu mengangguk.

"Ya. Dia memang seorang yang gagah dan mencintai negara dan memang orang banyak yang menghormatinya."

Katanya.

"Dengan membawa firmanku kau pergi ke sana dan menggumam di depan umum yang isinya memerintahkan pada rakyat agar mereka itu mau menghormati orang yang kita sebut tadi. Tak perduli dia itu musuh kita ataukah bukan, karena ia adalah seorang yang gagah dan seorang laki-laki sejati, pendekar seperti dia haruslah kita menghormati, dan sudah banyak patung untuk tempat beribadah. Dan aku minta kepadamu supaya membagikan hadiah dariku dan aku akan membebaskan pajak selama tiga tahun."

Kata sang raja, Siau Po menarik napas.

"Baginda, adalah sangat baik, makanya aku akan berlutut beberapa kali di depan Baginda sebagai tanda hormatku."

Kata Siau Po. Kaisar tertawa mendengar kata-kata hambanya itu.

"Jikalau demikian dahulu itu kau berlutut bukan sungguh-sungguh terhadapku, melainkan hanya main-main. Benarkah itu?"

Tanya sang raja, "Ada kalanya aku bersungguh-sungguh, dan ada kalanya aku hanya menjalankan tata kehormatan saja."

Kata Siau Po sambil tertawa, ia mengutarakannya sangatlah berani. Raja tertawa.

"Apakah raja mempunyai cara yang baik dalam hal ini? Aku dapat menaksir jika kita membangun tempat beribadah itu, rakyat Han akan mengetahui kalau Baginda telah memperhatikannya, Dengan berbuat kebaikan itu kalau nanti Gouw Sam Kui dan kawan-kawannya akan memberontak untuk membangun kerajaan Beng, rakyat akan berkata, apalah buruknya kerajaan Ceng? Sungguh Baginda sangat cerdik dan sangat baik hati!"

Kata Siau Po. Kaisar mengangguk.

"Kata-katamu itu benar, tetapi dengan aku memberikan mereka hadiah dan membebaskan pajak bukanlah berarti aku akan mengambil hati pada mereka, Aku hanya ingin berlaku secara jujur."

Kata sang raja.

"Dengan Baginda membangun tempat ibadah itu rakyat akan mengatakan kalau menjadi pembela negara itu sangat baik sekali, tetapi jikalau menjadi penghianat itu sangat jahat Dan jikalau Gouw Sam Kui datang akan mengadakan pemberontakan pastilah rakyat tidak akan memandang mata padanya dan menganggapnya orang yang tidak tahu balas budi."

Kata Siau Po.

"Kau benar, Kita harus mengumumkannya secara terbuka, barang siapa yang telah menjadi pembela negara dialah orang yang beruntung, dan jika barang siapa yang telah berkhianat pada negara, dialah orang yang akan merugi. Dengan cara itu orang takkan mau menjadi orang yang merugi."

Kata raja.

Kemudian raja menceritakan sejarah bangsanya pada Siau Po, dan orang yang diajaknya bercerita hanya diam saja tetapi kemudian ia mengangguk mengerti akan jalan cerita itu.

Maka dalam hati Siau Po berkata.

"Oh, ternyata Bangsa Boan, dan Bangsa Tartar adalah satu keturunan dengan Bangsa Gut Put Hat Bie Cie, dari bangsa Kiam! Agaknya kau beda jauh dengan leluhurmu!"

Katanya.

"Jikalau tidak salah Gunung Ong Ok San dalam propinsi Holam di sana terdapat tentara Gouw Sam Kui yang disembunyikannya, Benarkah itu ada di sana?"

Tanyanya.

"Ya benar, jikalau Baginda tidak menyinggung-nyinggung masalah tentara Gouw Sam Kui pastilah hamba telah melupakannya."

Kata Siau Po.

"Dan hamba mengetahui kalau Baginda akan melakukan penyerangan tetapi tidak secara tiba-tiba melainkan langsung."

Katanya pula. Kaisar tertawa.

"ltu sangat tepat sekali, karena di dalam istana banyak sekali mata-mata Gouw Sam Kui makanya jika kita mempunyai maksud pastilah ia telah mengetahuinya, jikalau ia telah tahu dan pastilah akan mengadakan pemberontakan secepat mungkin, dan itu sangat berbahaya, ia mengetahui kekuatan kita sebaliknya kita tidak mengetahui kekuatannya. Karenanya jika terjadi peperangan maka kitalah yang akan mengalami kekalahan Maka juga sudah selayaknya jika kita mengetahui kekuatan musuh kita itu, dengan demikian jikalau kita berperang seratus kali maka dalam seratus kali juga kita akan mengalami kemenangan."

"Semua pembesar telah tahu kalau aku telah ditegur, Akan tetapi jika Gouw Sam Kui mempunyai mata-mata pastilah ia telah melakukan pemberontakan maka ia akan mentertawakan Baginda."

Kata Siau Po.

"Sekarang kau pergi ke sana dan kau bawa pasukan yang banyak, Di sana kau harus membuat mereka itu hancur semuanya, Kau menyerang secara tiba-tiba, sebab pasukan itu sangat dekat dengan kota raja sehingga terlalu berbahaya."

Kata raja.

"Sekarang kau pergi untuk memikirkan cara mengadakan penyerangan itu, Lewat dua hari barulah kau kembali."

Katanya pula.

Siau Po pergi ke luar, dan sesampainya di luar dia menjadi bingung siapakah yang akan membantunya mengadakan peperangan itu, sebab dia sendiri tidak dapat melakukan peperangan Dalam negaranya memang banyak terdapat tentara yang ahli dalam peperangan tetapi mereka itu berpangkat jendral Aku tak pantas memintanya untuk memikirkan cara mengadakan penyerangan itu.

Siau Po dari duduk lalu berdiri yang selanjutnya berjalan mundar-mandir di kamar.

Memang banyak para panglima yang ahli, tetapi mereka belum tentu ahli dalam peperangan contohnya aku sendiri, aku orang yang berpangkat tetapi aku tak pandai berperang.

Siau Po tertawa sendiri kapan ia ingat lakonnya, ia hanya mengandalkan kecerdikannya serta nyali yang besar.

Kemudian ia mengangkat mangkuk yang besar itu.

Yang beratnya tak ada satu kati atau sedikitnya sepuluh tail, Kacung itu melihat empat huruf besar yang tertera pada mangkuk itu, ia tak mampu membaca tapi pernah mendengar tentang bunyinya yaitu.

"Kee Koan Cin Ciak" (Menambah pangkat menaik kedudukannya). Maka ia terpikir pula, aku Wi Siau Po, apakah karena kepandaianku maka aku memiliki kedudukanku sebagai sekarang ini? Kepandaianku hanya menepuk punggung kuda sampai si raja cilik puas karena aku menepuk pinggulnya. Lainnya? Sangat berbahaya. Ah! Kalau begini rupanya benar, orang pandai tak suka menepuk punggung dan yang suka menepuk punggung dialah orang seperti aku. Kali ini Siau Po mengangkat kepalanya, otaknya mengingat pembesar militer yang mana yang tidak suka menepuk punggung, ia jadi teringat pada Tan Kim Lan dan Gouw Liok Kie. Hanya mereka itu yang hebat silatnya dan pandai memimpin perang dan ada juga satu orang yaitu Lim Hin Cu tapi ia sudah pulang ke Tay Wan. Tiba-tiba Siau Po ingat sesuatu, waktu itu ia mempunyai kenalan yang baik terhadapnya yaitu seorang pembesar militer di Cian Cin. pembesar militer itu tak memandang mata dan tak menepuk-nepuk pinggulnya. Maka lantas ia berpikir, siapakah pembesar militer itu? Siapa gemar menepuk pinggul, dia tak mempunyai kepandaian Siapa tak sudi menyanjung-nyanjung dia pasti pandai, siapakah si brewokan itu? Tak sulit buat Siau Po bekerja, maka tak ayal lagi ia langsung pergi mencari Siangsie Beng Cu di kantor Peng Pou Siangsie, ia minta segera kirim surat panggilan kilat ke Cian Cin untuk memanggil pembesar militer brewokan itu, mestinya pembesar itu berpangkat Letjen atau Letkol. Beng Cu heran, Bagaimana orang berpangkat dapat dipanggil kalau She dan nama orang itu tidak diketahui? Tapi karena ia tahu Siau Po orang kesayangannya raja, maka ia tak dapat menolak, Permintaannya, ia segera membuat surat perintahnya yang dialamatkan pada Congpeng kota Ciang cin, namun bunyinya minta didatangkan semua opsir berewokan dari Congpeng itu. Besoknya tengah hari baru saja Siau Po selesai bersandar, datanglah seorang serdadu pengawalnya melaporkan bahwa Pengpou Siangsie Tay cin, yaitu paduka menteri perang datang memohon bertemu. Mendengar laporan pengawalnya itu Siau Po segera keluar untuk menemui tamunya. Nyatanya si Beng Cu, si menteri perang diiringi oleh dua puluh opsir yang semuanya berewokan, Ada yang berewokan hitam dan putih dan ada pula yang belang putih hitam, Semua muka orang itu mandi peluh dan mandi debu.

"Wie Toutong."

Kata Beng cu sambil tertawa melihat tuan rumah menyebutnyebutnya.

"Orang yang kau minta telah kami kumpulkan di sini, silakan pilih yang mana!"

Sejenak Siau Po mengawasi para opsir brewokan itu, baru kemudian ia sadar dan tertawa bergelak sambil berkata.

"Oh, Beng Cu Taycin! Aku hanya minta satu opsir berowokan ternyata kau dapat mengundangnya dengan sempurna, Kau dapat menghimpun sampai dua puluh orang, Oh! Hahaha! Hahaha!"

"Aku khawatir akan aku keliru memanggil orang, maka itu aku memanggil semua!"

Sahut Beng Cu sambil tertawa.

"Tak kusangka bahwa di Cian Cin banyak opsir yang berewokan!"

Kata Siau Po sambil tertawa pula.

Namun, belum berhenti suara si kacung...

tiba-tiba saja muncul seorang berewokan yang mendadak berkata dengan nyaring keras bagaikan guntur "Memangnya kenapakah orang berewokan dipanggil Apakah sebagai bahan tertawaan?"

Tanyanya.

Siau Po dan Beng Cu terperanjat Keduanya segera menoleh ke opsir yang jelas wajahnya tidak menunjukkan puas, Opsir itu bertubuh besar dan kekar, dia berdiri di antara opsir lain.

Mulanya Siau Po tercengang, tetapi mendadak berubah menjadi girang.

"Benar dia! Benar dia!"

Serunya berulang-ulang.

"Saudara kaulah orang yang kau cari!"

Katanya kemudian. Tapi opsir yang satu ini masih tampak gusar.

"Dulu di Ciang Cin dalam pembicaraan aku telah menentang kau."

Katanya.

"Maka aku menerka, bahwa suatu waktu kau pasti mengadakan pembalasan terhadap diriku guna melampiaskan dendammu. sekarang rupanya tiba saatnya kamu membalas dendammu itu. Akan tetapi aku tak bersalah Taruhlah kau mencari segala alasan, masih tak mudah untuk mencelakai aku."

Katanya.

"Siapakah kau?"

Tanya Siau Po pada si brewokan.

"Apakah she dan namamu? Mengapa kau kurang ajar dan berani di hadapan pembesar yang pangkatnya tinggi ini?"

Dalam hati si berowokan tahu bahwa itu adalah pembesar dan dia pun berkata.

"Harap paduka ketahui bahwa aku adalah Huciang Tio Liang Tong dari kota Cian Cin."

"Kau tahu siapa yang mulia ini? Dialah Tou Long Tayjin serta kebangsawanannya adalah raja muda Cu-Ciak. Dia pula si berhati mulia serta menjadi sahabatku Kenapa kau berlaku kurang ajar terhadapnya? Lekas kau minta maaf!"

Liang Tong terkejut juga, tetapi tetap dia tidak merasa puas, Diam-diam dia melirik pada burgraf itu sedangkan di dalam hatinya dia berkata.

"Kaulah si bocah cilik yang pupuk di kepalamu masih belum kering, kenapa aku harus menghaturkan maaf padamu?"

Sementara itu Siau Po, sudah tertawa dan lantas berkata pada orang tersebut.

"Tio Toako jangan salah mengerti! Aku tahu atas perbuatanku yang tak selayaknya terhadapmu dan sudah seharusnya memohon maaf padamu."

Katanya sambil memandang ke opsir lain dan berkata.

"Tuan-tuan duduk masalahnya begini, ada satu urusan penting yang hendak aku bicarakan dengan Tio Huciang, sayang aku tidak mengetahui she dan namanya, Aku tak ingat pula, maka itu aku minta bantuan paduka menteri perang untuk memanggil tuan-tuan beramai-ramai datang ke kota Pakhia ini, sehingga aku telah mengakibatkan tuan capek dan lelah karena malam-malam ke sini, Tuan-tuan, sungguh aku menyesal."

Sambil berkata begitu Siau Po merangkapkan kedua tangannya kepada semua opsir.

Para opsir merasa agak bingung dengan tersipu-sipu mereka membalas menghormat.

Tio Liang Tong merasa heran melihat Siau Po dan dalam hatinya dia merasa alangkah mulianya dan berbudi pekerti yang halus, dengan sendirinya lenyaplah sudah rasa ketidakpuasannya itu.

Siau Po tidak memberikan kesempatan orang berbicara...

lantas dia mengajak orang masuk ke rumahnya.

Beng Cu mengangguk, dia memang ingin bersahabat dengan orang kesayangannya itu dan dia mengucapkan terima kasih sambil dia masuk ke dalam.

Beng Cu mendapat kursi pertama dan Liang Tong mendapat kursi kedua sementara itu Siau Po di bawah kursi lainnya menemani para opsir yang tadi di tiga meja.

Liang Tong bertabiat keras tapi dia menunduk karena melihat watak Siau Po yang berhati mulia ini, Siau Po bercerita tentang daerah Losat yang banyak kebebasan itu...

sehingga ia berpikir, Siau Po ini apakah bicaranya sembarangan dan tidak tahu malu, dia ceriwis dan banyak merangkul wanita dan akhirnya Siau Po pun bercerita tentang Losat itu tentang kebebasan pergaulan wanita.

Para tamu yang diundang itu maksudnya opsir yang hanya berpangkat pacong tapi mereka di-sederajatkan bangsawan atau tamu tinggi dia merasa terharu karena menyaksikan pesta di rumah kacung yang bukan mestinya untuk golongan mereka, inilah yang tidak mereka sangka...

dan mimpi pun bukan.

Selesai perjamuan barulah Siau Po mengajak Liang Tong masuk ke kamar tulisnya untuk membicarakan masalah yang telah dijanjikan.

Liang Tong merasa kagum melihat berbagai kitab Siau Po.

Dia merasa kagum hingga sekarang berubah pandangannya terhadap kacung kita....

Dalam hatinya, kacung ini masih muda tetapi tak disangka dia terpelajar tinggi...

jelas ia jauh lebih menang dari si orang bangsa kasar...!

Siau Po menatap kumpulan buku-bukunya...

lantas berkata.

"Tio Toaka... tak ingin aku mendustakan kau "toako"

Atau "kakak", Semua buku itu aku atur untuk dipamerkan saja...

semua huruf yang aku hafal semuanya tidak lebih dari sepuluh huruf, Tiga huruf dari namaku, Wi Siau Po dapat aku tulis lain, Dari itu sama saja aku si buta melek...."

Liong Tong minta maaf atas kejadian masa lalu terhadap Siau Po dan si kacung berkata.

"Sekarang sudah tidak ada maaf-memaafkan lagi masalah itu sudah selesai sekarang kita saling memanggil kakak-beradik saja kau kakak dan aku si adik."

"Oh, Touwtong Tayjin!"

Harap tayjin tidak mengucap demikian. Siau Po tertawa puIa. Kemudian Siau Po mempersilakan duduk dan berkata.

"Toako tahu akulah si anak mujur, Karena nasibku bagus aku berhasil melakukan beberapa hal yang berhasil memuaskan raja, Apakah kau menyangka aku mempunyai kepandaian yang istimewa? sebenarnya aku malu sendiri telah berhasil memperoleh kedudukanku ini. Kau lain Tio Toako, aku tak dapat disamakan dengan kau.... Kau dapat menggunakan golok dan tombak, Dengan itu kau membangun jasa. Ya.... Kau memperoleh kedudukanmu berkat kepandaianmu dan kegagahanmu."

Liang Tong girang mendengar pengutaraan jujur itu.

"Adik, aku sebenarnya tidak mempunyai kelebihan yang istimewa, Aku kasar tapi andaikata adik mempunyai sesuatu urusan silakan meminta aku untuk melakukannya dengan pertaruhan nyawaku."

Dalam hati Siau Po girang sekali wajahnya tampak cerah.

"Sebenarnya dahulu di Cian cin... aku telah beruntung melihat kau dan aku telah mendapatkan kau yang berwajah luar biasa dan aku menerka kau pasti bukan orang sembarangan. Tatkala itu aku seorang utusan raja, rata-rata orang mengumpak-umpak, mengangkat-angkat aku... tapi cuma kau seorang yang tidak berbuat demikian"

Liong Tong tampak jengah sekali.

"Aku seorang tentara yang tak pandai mengangkat-angkat pembesar seatasanku."

Katanya terus terang.

"Maka tayjin, waktu itu aku sama sekali tak bermaksud tak memandang mata pada tayjin,.."

"Legakan hatimu, Toako."

Kata Siau Po.

"Aku tak menghiraukan itu. Aku pun tak berkecil hati terhadapmu jikalau tidak, tak bakal sekarang ini aku mencarimu Toako tahu sampai sebegitu jauh aku beranggapan padahal biasanya aku hanya menjilat-jilat supaya bisa naik pangkat dan memperoleh banyak uang. Akan tetapi siapa tak pandai menjilat dialah benar-benar mempunyai kepandaian"

Mau tidak mau Liang Tong menjadi girang, sekarang ia percaya benar terhadap Siau Po yang mulia dan berlaku terbuka terhadapnya.

"Aku sebenarnya tidak bisa menjilat atasan guna bertingkah pula terhadap sesama rekannya, inilah tabiat kasar asal dari aku.,."

Katanya.

"Orang yang tidak bisa menjilat itulah yang sebenarnya mempunyai kepandaian."

Siau Po mendesak. Liang Tong membuka mulutnya tapi kata-katanya tidak keluar. Dalam hatinya dia berkata.

"Ayah bundaku yang melahirkan aku tapi yang mengenal baik diriku inilah Wi Tayjin"

Liang Tong pun bercerita tentang dirinya yang berasal dari propinsi Shoasay, Dia berasal dari keluarga militer dan dia gagah.

Setelah menghadapi beberapa kali peperangan, pangkatnya terus naik hingga sekarang sebagai hu-ciang yang diperolehnya berkat kepandaiannya.

Siau Po berpikiran bahwa nyatalah dia tidak sembarang melihat orang, Maka itu dia lalu bertanya tentang siasat apa yang harus digunakan untuk atau andaikan orang hendak menyerang gunung, Liang Tong tidak pernah membaca ilmu kitab tapi berkat pengalamannya mengadu jiwa di medan perang laga, ia pun menurunkan beberapa

Jilid kitab "Su Sie Ngo Keng"

Dan diletakkannya di atas meja untuk dijadikan perumpamaan garis-garis perang atau bentang, gunung dan lembah serta sungai, dengan demikian ia dapat menjelaskan di mana penyerangan harus dilakukan, jalan mana yang harus diambil, jalan mana tempat mencegat musuh bahkan juga dibagian mana orang harus lari berpura kalah....

"Diumpamakan musuh berjumlah seribu jiwa lebih dan kita lima ribu, bagaimana caranya kita harus menyerang untuk memperoleh kemenangan?"

Tanya Siau Po kemudian.

Si kacung mengambil uang sebagai contoh tentara dan Liang Tong menggambarkan Diam-diam Siau Po memperhatikan secara teliti.

Pada malam itu juga Liang Tong nginap di rumah itu.

Besoknya seorang diri Siau Po pergi ke istana menghadap raja untuk memberikan jawabannya, ia membuat penguraiannya seperti Liang Tong ia hanya tak sampai menggunakan perbagai kitab sang junjungannya.

Kong Hie berdiam sekian lama, baru kemudian ia berkata.

"Siapa yang mengajarmu siasat perang ini?"

Kacung kita tidak berani berdusta.

ia menyebut nama Liang Tong.

Kaisar sebelumnya sudah mendengar dari Beng Cu tentang opsir yang didatangkan untuk menghadap Siau Po.

Mendengar itu kaisar tertawa atas kejujuran si kacung.

"Cara bagaimana kau tahu Liang Tong mempunyai kepandaian tentang ilmu perang?"

Tanya sang raja.

Siau Po tak mau berterus terang tentang rahasia yang diberikan oleh si berewok itu.

Si kacung dengan alasan mengatakan bahwa baru ini Sri Baginda mengutus ia ke Ciancin, Di sana ia menyaksikan si berewokan pandai sekali melatih pasukan tentaranya, maka ia juga lantas berpikir kalau kelak tiba saatnya harus menggunakan kekuatan tentara terhadap Gouw Sam Kui.

Raja mengangguk.

"Kau tak dapat melupakan urusan Gouw Sam Kui, itu bagus. Beda dengan di dalam istana, mereka justru tak dapat melupakan orang tersebut yang bahkan mereka angkatangkat supaya mereka nanti memperoleh uang pelicin. Hmm...! Bukankah sekarang ini Tio Liang Tong berpangkat Hu-Ciang? Nah, nanti kalau kau bertemu dengannya kau boleh menjanjikan kepadanya kenaikan kedudukan. Nanti secara istimewa aku akan mengangkatnya menjadi congpeng supaya dia menerima budi darimu agar kemudian dia bekerja dengan sungguh-sungguh denganmu!"

Siau Po girang mendengar kata-kata itu, ia lantas memberi hormat sambil menghaturkan ucapan terima kasih.

Kemudian si kacung kita pulang ke rumahnya dan memberitahukan kabar kepada Liang Tong untuk diangkat sebagai congpeng, gubernur jenderal untuk Cian Cing dan Siau Po dikuasakan untuk mengurus segala persiapannya.

Bukan main bersyukurnya Liang Tong kepada sahabat ciliknya yang baru ini, ia girang karena bersahabat dengan si kacung, tanpa menjilat-jilat, telah memperoleh kenaikan pangkat Memang soal yang menggirangkan siapa saja.

Pada satu waktu tampak Siau Po dan Liang Tong sedang duduk-duduk, tiba-tiba datanglah utusan dari Gok-Hu Gouw Eng Him yang mengundang si kacung untuk berjamu, Kemudian si kacung pun menerima dan dia pergi bersama Liang Tong ke rumah menantu raja.

Sejak menikah dengan Kian Leng Kongcu, Eng Him telah memperoleh hadiah istana yang terletak di Pakhia, kota raja, Maka istananya berbeda dengan istana, sementara waktu yang semuIa.

Di istana ini, dengan mengajak pembesar yang berada bersamanya, dia ke luar menyambut tamunya, pintu besar dibentang sebab para tamu dianggap tamu agung.

"Wi Tayjin, kita adalah bersaudara."

Kata Eng Him.

"Maka marilah kita berbincangbincang dengan sepuas-puasnya, Di sini tidak ada orang luar kecuali beberapa tamu dari propinsi Inlam, Aku hendak mengundang mereka buat menemani Tayjin."

Dan tuan rumah memperkenalkan tamunya kepada Tayjin, Yang satu Thio Yong gubernur dari Inlam yang berpangkat hu-ciang bernama Ong Cin Po dan Sun Su Kek.

Segera Siau Po mengulurkan tangannya dan berpelukan erat seperti sudah berkenalan sebelumnya, lantas dia berkata.

"Kakak Ong kau bernama Po, begitu pun aku, bedanya kau Po yang besar dan aku yang kecil, yah kita berdua sepasang Po."

Ketika sedang asik ngobrol datang pelayan ke hu-ma.

Pelayan itu berkata bahwa sang istri meminta agar sang tamu masuk ke dalam untuk membuat pertemuan, Mendengar ucapan pelayan itu Siau Po kaget karena merasa risih, Apakah pantas sementara itu dia punya suami?

Sebenarnya tak leluasa bertemu dengan sang puteri.,., Di dalam hatinya jadi ingat waktu perjalanan ke in-lam, dimana saat itu Siau Po dan sang putri dalam sepanjang perjalanan bergaul mirip suami istri pengantin baru.

Tapi si hu-ma tertawa dan berkata.

"Tuan puteri sering mengatakan yang jodoh kami adalah kau Wi Tayjin, maka sudah sepantasnyalah jikalau tayjin sebagai seorang perantara disuguhi arak barang secawan."

Hu-ma berdiri dan mengharapkan tamunya duduk sebentar lalu mengantarkan Siau Po masuk ke dalam.

Tiba di sebuah pendopo yang mereka lewati, si hu-ma mengunci pintu belakang dan minta bantuan terhadap Siau Po.

Siau Po heran, tetapi ia dapat menerka, Maka dengan sendirinya mukanya menjadi merah.

Kemudian ia berpikir dalam hati, Kau membutuhkan bantuanku?

inikah urusan kebiri, sehingga kau tak dapat menjadi suami sejati karenanya kau mengharapkan bantuanku?

Apakah yang kau maksudkan?

Eng Him tercengang tampak dia bingung.

"Tayjin!"

Katanya.

"Jika bukan tayjin siapa pun tak mempunyai kesanggupanmu."

Diam-diam Siau Po berpikir, tentunya sang putri yang meminta bantuanku.

"Kalau kau membantu kami, ayahku, aku, saudaraku tak dapat nanti melupakan bantuanmu yang sangat berharga ini, saudara Wi.!"

Siau Po berpikir, pasti Hu-ma tidak bisa memberikan keturunan dan minta bantuanku untuk memberikan anak, sementara itu aku juga belum tentu bisa.

Siau Po berkata pada Hu-ma seandainya tidak bisa pasti ia akan malu, Tetapi Hu-ma meminta asalkan dia bersungguh-sungguh maka kami dan anak akan berterima kasih dan tak habis-habisnya.

Eng Him maju mendekat satu tindak lalu berkata dengan perlahan-lahan.

"Sebenarnya soal pemecatan, warta beritanya belum sampai di propinsi Inlam ini. Thio Teetok dan yang lainnya belum tahu, Maka seandainya saudara Wi dapat mendahului bicara di hadapan Sri Baginda Raja, supaya menarik kembali perintah pemecatan itu dan segera dikirim utusan ke Inlam, pastilah keputusan itu ditarik kembali...."

"Kau... kau maksudkan pemecatan ?"

Tanyanya menegaskan.

"Ya, benar,.,!"

Sahut Eng Him.

"Bukankah itu urusan sangat besar? Makanya kalau Wi dapat memberikan penjelasan kepada Sri Baginda karena hanya Wi lah yang selama ini orang kepercayaannya yang sangat kuat, dan memang kata-katamulah yang sukar didengar, pastilah pemecatan itu bakal batal dan kami akan ketolongan"

Kembali Siau Po berpikir.... Akh! Kiranya aku telah salah terka! Lucu bukan?.... Karenanya dia lantas terbahak-bahak.

"Saudara Wi, kenapa kau terbahak-bahak? Mungkinkah aku keliru?"

Tanya Eng Him.

"Bukan, Maaf mendadak aku ingat cerita jenaka!"

Jawab Siau Po. Eng Him menjadi tidak puas dalam hatinya.

"Sekarang bolehlah kau bertingkah tetapi tunggu nanti setelah ayahku berhasil dengan pemberontakannya! Bagaimana beliau maju dan cepat serta mudah sampai di Pakhia, maka waktu itu pasti aku membekukmu. Kau lihat saja nanti, aku akan membacokmu berkali-kali."

"Huma!"

Kata Siau Po ketika si menantu raja sedang bengong.

"Besok pagi-pagi aku pasti menghadap Sri Baginda Raja untuk mengatakan yang Gok Huma adalah iparnya Sri Baginda sendiri dan Peng Seng Ong itu adalah besan, maka taruh kata si besan itu tak dapat naik pangkat, tapi tak selayaknya dipecat dari jabatannya sekarang ini. Aku pun akan mengatakan bahwa keputusan itu kurang menghargai adik perempuannya sendiri."

"Benar, benar."

Katanya.

"Sungguh saudara Wi cerdas, di dalam tempo yang singkat kau telah menemukan jawaban dan pikiran yang pandai, Baiklah. segalanya kami serahkan pada saudara, Nah, sekarang mari kita menghadap tuan puteri."

Siau Po mengangguk ia pun mengikuti ketika diajak masuk lebih jauh ke dalam istana menantu raja.

Tiba di kamar tuan putri dikabarkan bahwa sang suami dan Siau Po sudah datang.

Tak lama kemudian ke luar dayang dari kamar sang puteri untuk memberitahukan pada sang suami agar Siau Po menunggu di sisi kamar puteri.

Kemudian datanglah Kian leng kongcu menghampiri Siau Po.

Kemudian tuan puteri berkata keras.

"Siau Kuicu... sudah berapa lama kau tidak mengunjungiku, apakah kau berpikir mati? Hayo, lekas maju ke mari!"

Mendengar teguran itu Siau Po lalu tersenyum dan memberi hormat.

"Semoga Tuan puteri sehat wal'afiat serta bahagia!"

Demikianlah katanya.

"Sebenarnya tiap hari kongcu juga ingat namun sayang Sri Baginda justru menugaskan pergi ke Losat dan baru beberapa hari ini saya pulang ke tanah air,.,."

"Jadi tiap hari kau melihat aku?"

Tanya Siau Po, Tuan putri tak dapat menahan air matanya, dan mukanya pun berubah menjadi merah.

Siau Po lantas melihat tegas kepada si tuan puteri, Wajah wanita itu layu dan lesu, ia menerka pastilah habis menikah dia tak mendapatkan kepuasan dari suaminya.

"Gouw Eng Him adalah seorang kebiri dan seorang nona dinikahkan dengan orang kebiri mana ia akan merasa bahagia,.,?"

Kata Siau Po dalam hati.

Bagian 68 Melihat keadaan tuan puteri ia mengingat saat-saat dulu waktu bahagia bersama dengannya dan akhirnya dia merasa kasihan melihat situasi yang dialami sang puteri.

Tuan puteri terkenang akan Sri Baginda demikian juga Sri Baginda merasa senantiasa ingat Tuan puteri, Maka itu kata Sri Baginda, untuk beberapa hari ini Tuan puteri akan dijemput oleh pengawal ke kota raja, agar kakak-beradik dapat berkumpul dan berbicara.,."

Katanya. Jelas sekali Siau Po mendusta dengan kata-katanya, tapi itu dilakukan demi kebahagian sang puteri yang sakit dan menderita.

"Kapan kau bicara dengan kakak rajaku itu? Kau bilang besok aku akan bertemu!"

"Baik."

Sahut si kacung.

"Memang aku mendapat perintah dari Huma agar besok aku berbicara dengan sang Baginda dan sekalian mengatakan untuk menjemput Tuan puteri pulang ke istana."

"Eng Him pun girang... bagus kalau ada kongcu yang turut bicara."

Si tuan puteri mencibirkan bibir dan terdengar tawanya.

"Dengan kakak raja aku hanya mau berbicara masalah persaudaraan dan keluarga, tak akan membantu kau dalam urusan pemerintah dan negara,"

Eng Him, sang suami kena batunya tapi dia tertawa.

"Kongcu.,, sudah setahun aku tak melihatmu, apa di Losat ada nona-nona yang menemanimu? Benar atau tidak?"

"Mana kejadian semacam itu!"

Sangkalnya. Ia mendadak kaget dan pipinya nyeri serta telinganya terhajar satu gaplokan.

"Aduh.,.!"

Ia memegangi telinganya. Kian Leng Koncu tertawa.

"Kau berbicara tidak jujur!"

Tangan tuan puteri melayang tapi Siau Po mengelak dan kali ini tidak kena. Dia melirik ke suaminya dan berkata.

"Aku ada urusan dengan Siau Po kau tak usah ikut nimbrung...!"

"Eh... setan... kau sudah melupakan aku!"

Katanya kemudian sambil memelintir telinga Siau Po sehingga kacung itu menjerit kesakitan. Tuan puteri mengangkat kakinya.

"Orang tak berbudi,., jika aku tidak memanggil tiga tahun juga kau tak bakalan ke sini."

Lanjutnya. Siau Po melirik di sekitarnya tak ada orang, maka dia langsung saja memeluk sang puteri dan berkata.

"Janganlah kau sembarang menggerakkan tangan dan kakimu... besok akan aku temukan kau di keraton, itu kita bisa berbincang dengan asyik."

Muka sang puteri menjadi merah.

"Omong tentang apa? Tentang kepala batumu?"

Tanya tuan puteri. Dan tuan puteri mengangkat tangannya ingin menghajar tapi tak bisa karena dipeluk erat oleh Siau Po.

"Hahaha...! Siau, Kau lihat bagaimana aku menggunakan tipu muslihatku yang dinamakan Siang Liong Cio Cu!"

Katanya. Itulah tipu muslihat yang berarti.

"Sepasang naga merebut mutiara."

Puteri meludah seraya dia berusaha melepaskan diri. Siau Po tersenyum.

"Jika di sini kita bergurau aku khawatir suamimu curiga, maka baik tunggu saja besok di keraton.-.!"

Paras muka sang puteri menjadi merah.

"Dia curiga?"

Tanyanya.

"Nah, hantu cilik kau pergilah!"

Siau Po pergi dan tertawa, Di sana tampak Eng lim sedang menemani empat perwira, Dua perwira sedang memperebutkan dua masalah karena kelihatan ngotot, tapi melihat Siau Po muncul keduanya menjadi bungkam.

"Apakah yang sedang kalian perebutkan?"

Tanya Siau Po.

"Kuda-kuda yang kami peroleh dari Inlam itu hebat-hebat."

Kata salah seorang dari mereka.

Siau Po pun menyuruh anak buahnya untuk mengambilkan beberapa ekor kudanya yang semuanya itu hadiah dari Ferghena.

Mereka mengajak untuk pacuan jarak jauh antara kuda Ferghena dari Inlam tapi bukan begitu maksudnya, Kuda Inlam umumnya cerdik.

Kuda persilangan itu kuat, kuda persilangan yang dimaksudkan bukanlah kuda sembarangan tapi harus dibedakan kuda yang bisa dipakai berperang dan kuda untuk mengangkut barang.

"Pek-Lie-ma, itu kuda yang dapat menempuh perjalanan seratus lie (pal) dan CianLie-ma seribu (pal)."

"Hm.,.!"

Terdengar tawa si Congpeng.

"Brigjen, kiranya masih ada orang yang memiliki kuda pacu."

Katanya. Cin Po menjadi gusar, sampai ia bangun berjingkrak. "Kau mencari siapa anak haram?".

"Oh! sungguh kata-kata yang tak bersih dan lancang!"

Katanya. Liang Tong juga tertawa dingin.

"Aku bicara tentang kuda, bukan perihal manusia, Lagian siapakah yang turunan tidak bersih serta yang ketakutan sampai mirip seorang maling? Buat apakah orang bergusar tidak karuan?"

Cin Po jadi gusar sekali.

"Sayang di sini di istana Gok Huma!"

Katanya sengit "Jikalau tidak. Hm!"

"Hm apa?"

Tanya Liang Tong.

"Apakah kau hendak menyerang aku? Benarkah?"

Menyaksikan orang berselisih paham. Thio Yong segera menyelak di tengah.

"Ah... Tuan-tuan berdua! Kalian toh baru bertemu berdua, buat apakah kalian meributkan kuda yang tiada bedanya? Mari... mari tak usah kalian bertengkar lebih jauh lagi!"

Tak lama kemudian Siau Po membawa kudanya, ia lalu pergi ke istal di belakang gedung untuk melihat Ong Cin Po benar seorang ahli, Begitu mengawasi Ong Cin Po lantas bisa menyebut sifat setiap kuda itu, apa keunggulannya, apa cacatnya dan bagaimana masing-masing tabiatnya, Hingga perawat kudanya merasa senang.

Cin Po memperhatikan Giok Hoa Cong, kuda tunggang Siau Po sendiri, Kuda itu bertubuh paset, padat, kakinya panjang, romannya tangkas, sedangkan tubuhnya yang putih seluruhnya bagaikan di-tabur dengan titik-titik merah dadu yang berkilat Semua orang yang melihat kuda itu kagum dan menyukainya serta memujinya.

Lain halnya dengan Ong cin Po, dia berkata.

"Kuda ini memang bagus tetapi sayang terlalu dimanja."

"Kenapa demikian..? Tolong kau jelaskan!"

"Kuda pilihan ini seharusnya setiap hari ditunggangi jauh sedikitnya belasan atau puluhan lie. Makin dilatih makin baik.... Akan tetapi dia jadi jarang ditunggangi maka setiap hari dia bertambah bebas saja, sedangkan barang makanannya dari makanan piIihan... ya... dia kurang latihan, kurang gerak badan, Sungguh sayang, dia seperti anak hartawan yang terlalu disayang dan dimanjakan!"

"Ong Huciang,., mungkin kata-katamu ini hanya benar separuh, Setahuku puteraputera orang hartawan juga ada yang berkepandaian tinggi."

Muka Cin Po menjadi merah.

"Tio Congpeng!"

Katanya keras.

"Kenapa hari ini kau nampaknya tidak puas terhadapku? Kau tahu sendiri, sama sekali aku tak pernah melakukan apa-apa yang menyinggungmu!"

Siau Po ke tengah dan ia tertawa.

"Sudah... sudah... janganlah semacam ini menjadi masalah! ini hanya urusan kecil saja kok. Siapa menjadi pembesar tentara, umumnya dia tak memandang mata kepada menteri dalam istana yang usianya masih mudamuda, itu wajar."

"Akan tetapi ketahuilah, Touwtong Tayjin! Aku yang rendah, sama sekali tidak memandang rendah terhadap tayjin."

Sampai di situ, Siau Pek menyela.

"Ong Hu-ciang, sayang kuda peliharaanmu berada di In-lam. jikalau tidak pasti sekali aku ingin melihat dan mencobanya."

Siau Pek memandang Cin Po. Tampak Cin Po masih tidak puas.

"Gok Huma sudi mengalah, Ong Huciang se-baliknya, Nah, begini saja! Aku akan mengeluarkan uang selaksa tail, Gok Huma mengeluarkan sejumlah yang sama! Lohor ini kita pergi ke luar kota, di sana kita mengadakan pacuan, cukup asal kemenangan enam lintasan, Nah bagaimana?"

Kata Siau Pek.

Gouw Eng Him berniat menolak tetapi tiba-tiba ia ingat...

bocah ini masih muda sekali tapi tabiatnya selalu suka menang sendiri Baiklah.

Aku berlagak kalah supaya dapat aku menghadiahkan dia selaksa tail perak agar dia senang dan puas.

Karena memikir demikian putera raja ini segera menjawab "Baiklah, Mari kita mengadu kuda dengan pertaruhan seperti katamu itu!

Namun saudara Wi, seandainya kaulah yang kalah, aku larang kau bergusar!"

Kacung kita tertawa.

"Memang secara gemilang kalah dengan rela, Mana dapat orang kalah lalu menjadi gusar?"

Kacung kita gemar berjudi dan asal berjudi gemar pula ia main curang, Maka lantas dia menerka orang dengan cara menyampaikan itu, karena dia mau menduga yang dia bakal kalah, Karena ini juga segera timbul ingatannya untuk main secara tidak jujur "Oleh karena ini pertandingan besar, maka aku minta kuda yang jempolan, bagaimana kalau pacuan dilakukan besok saja?"

Gauw Eng Him menerima baik tawaran itu, ia pikir dalam sepuluh, delapan atau sembilan lintasan ia bakal menang, jadi sama saja ia menunda lagi satu hari.

Demikianlah Siau Po terus berpesta dan menonton wayang, tentang adu kuda tak dibicarakan lagi, selanjutnya malah mengundang balik ke rumahnya untuk melanjutkan pesta di rumahnya dan akhirnya Huma dan yang lainnya menerima undangan tersebut sesampainya di rumah Siau Po, mulanya Siau Po mau mengajak bersama minum teh tapi dia minta ijin dulu ke belakang.

"Tak usah banyak aturan menyiapkan jamuan!"

Kata Eng Him. Siau Po memanggil pimpinan istalnya.

"Sekarang ini kuda Giok Hoa cong dan lainnya masih ada di gedung Gok Hu."

Katanya pada pegawainya.

"Pergi kau ke sana untuk mengambilnya pulang lebih dulu! Kau ajak pegawai istalnya minum arak sampai teler dan kau berikan makanan pada kudanya supaya dia lesu tapi kau jangan sampai membunuhnya."

"Entah paduka menghendaki apa, nanti hambamu melakukannya,"

Sahut si pegawai. Siau Po tertawa.

"Tak ada halangan bicara terus terang padamu. Duduklah! Begini.... Gok-Hu mempunyai sejumlah kuda yang baru didatangkan dari Inlam, Semua kuda itu disombongkan tangguh sekali dan besok aku diajaknya melombakan kuda itu dengan kudaku, kita toh tak dapat kalah, bukan?"

Pegawai itu segera mengerti dan dia lantas tertawa.

"Jadinya paduka menginginkan hambamu memberi makan sesuatu pada sekalian kuda Gok-Hu itu agar besok selama pacuan pihak kita pasti memperoleh kemenangan?"

Tanyanya.

"Benar"

Sahut Siau Po terus terang.

"Kau sangat cerdas! Dalam pacuan besok ada hadiahnya, jikalau kita menang aku akan berikan prosen padamu, sekarang kau pergilah bekerja secara diam-diam jaga supaya mereka tidak mengetahui perbuatanmu ini uang kau bawa untuk mengundang mereka berpesta dengan nona manis, Kau bikin mereka itu lupa daratan dengan racunmu itu!"

"Jangan khawatir Paduka! Hambamu akan bekerja dengan sempurna dan tidak gagal."

Siau Po tersenyum.

"Nah, kau pergilah!"

Katanya.

Setelah itu ia pergi menemani Eng-him berpesta.,., ia membikin Ong Cin Po tidak meninggalkan mereka karena ia khawatir orang she Ong akan pergi menengok kudanya, bisa-bisa ia melolohnya.

Tio Liang Tong bagaikan gentong arak, dia melayani Cin Po sepuas-puasnya dia tak sudi kalah minum, Maka juga, kecuali kacung kita berdua Eng-Him, keempat perwira itu lantas roboh semuanya.

Besok paginya dengan membawa perintah kaisar Kong Hie, seorang Taykam membawa perintah memanggil Siau Po untuk datang ke istana.

Tak dapat kacung kita menyangkal perintah itu karenanya pacuan itu gagal.

Tiba di keraton, tampak Kong Hie gembira sekali, Dia tertawa dan berkata.

"Eh, Siau kui cu! Ada kabar baik yang hendak kuberitahukan padamu Siang Ko Hie dan Keng Ceng Tiong telah menerima panggilan dan akan datang ke sini hari ini."

"Selamat Sri Baginda!"

Ucap Siau Po.

"Dengan kedua raja muda itu datang ke kota raja, maka Gouw Sam Kui bakal tak dapat bertepuk sebelah tangan."

Kaisar Kong Hie tertawa.

"ltu artinya, tangan satu tak dapat perdengarkan suara."

Katanya.

"Tepat, Dan kita akan menghajarnya sampai lumpuh."

Kata Siau Po.

"Bagaimana andaikata Gouw Sam Kui pun meletakkan jabatannya di perbatasan dan datang ke kota raja?"

Tanya Siau Po. Mulanya Siau Po bengong sedikit, kemudian tertawa dan berkata.

"ltu pun bagus, Di kota raja ini, dia tak bakal mampu berkutik, dia pasti akan tunduk pada segala kehendak Sri Baginda."

Kaisar tersenyum.

"Kiranya kau pun paham soal ini!"

Pujinya.

"Sampai saat itu dia bakal jadi ular-naga di laut pasir atau harimau di tanah datar."

Kata Siau Po, Kong Hie tertawa. "Harimau di tanah datar dapat kau permainkan."

Katanya.

"Selain terhadapku, terhadap kau juga dia pasti tidak bisa bertingkah lagi."

Kembali Siau Po tersenyum.

"Benar."

Katanya.

"Benar! Sungguh menarik hati!"

Sang raja merasa puas, ia pun tertawa.

"Berkas-berkas untuk membangun Tiong Liat Su di Yang-ciu sudah kusiapkan, sedangkan surat perintahnya juga sudah ditulis, Kau bawalah ke Yang-ciu dan ukir di atas batu, pilihlah hari baik untuk berangkat!"

Kata kaisar Kong Hi.

"Baik. seandainya penduduk di sana tidak setuju, apakah Tiong Liat Su ini tetap akan dibangun?"

Tanya Siau Po.

"Entah bagaimana sikap yang akan diambil oleh Gouw Sam Kui. Tapi membangun Tiong Liat Su adalah niat baik, seandainya Gouw Sam Kui tidak menurut, kuil ini tetap harus dibangun."

Siau Po mengiyakan, Ketika ada kesempatan, dia mengatakan tentang permintaan Kian Leng kongcu yang ingin kembali ke istana dan memohon bertemu dengan kakak rajanya.

Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya lalu memerintahkan seorang thay kam yang berdiri di belakangnya untuk menjemput Kian Leng kongcu, Kaisar Kong Hi haus akan pengetahuan.

Dia menanyakan kepada Siau Po tentang kebiasaan Bangsa Losat dan tradisi negara itu.

juga bagaimana caranya mereka membuat senapan ketika itu.

Mengapa puteri Sophia menimbulkan keonaran juga hal-hal lainnya.

Ketika berbincangbincang itulah, Kian Leng kongcu sudah sampai di kamar tulisnya.

Begitu bertemu, Kian Leng kongcu langsung menjatuhkan diri berlutut dan memeluk paha kakaknya, dia menangis meraung-raung.

"Hongte koko, mulai sekarang aku akan menemani kau di istana ini saja, aku tidak mau kembali Iagi...."

Kaisar Kong Hi mengelus-elus kepalanya.

"Ada apa?"

Tanyanya.

"Apakah Gok huma menyia-nyiakan dirimu?"

Kian Leng kongcu masih menangis terus.

"Menyia-nyiakan aku?"

Katanya.

"Hm! Rasanya dia juga tidak seberani itu. Tapi dia... dia..."

Kata-katanya terhenti dan dia menangis pula, Dalam hati kaisar Kong Hi berkata.

--Kau sendiri yang mengebiri dia, sehingga dia tidak sanggup menjadi seorang suami yang sebenarnya.

Kau harus menerima akibat perbuatanmu sendiri sekarang -Setelah menghibur sang puteri beberapa patah kata.

Kaisar Kong Hi berkata pula.

"Sudah, sudah! jangan menangis terus! Mari temani aku bersantap!"

Kalau raja makan, tidak ada waktu tertentu, semua hanya mengikuti kesenangan hatinya saja.

Kapan jam pun dia boleh makan, Seorang kebiri yang melayani raja segera menyiapkan hidangan Siau Po melayani dari samping.

Meskipun raja sangat menyayanginya, tetap saja tidak pantas kalau dia diajak makan bersama, Kaisar Kong Hi menghadiahkan dia belasan mangkok sayur dan lauk-pauk yang lezat.

Dia memerintahkan seorang thay kam untuk mengantarkannya ke istana Siau Po agar dapat disantap sekembalinya nanti.

Kian Leng kongcu minum beberapa cawan arak, wajahnya mulai merona merah.

Matanya yang mengeluarkan sinar berbinar-binar dikedip-kedipkan kepada Siau Po.

Di hadapan kaisar Kong Hi, Siau Po tidak berani menunjukkan sikap yang kurang sopan, sinar matanya sengaja dialihkan ke tempat lain.

Dia tidak berani beradu pandang dengan si puteri, jantungnya berdebar-debar.

Diam-diam dia berpikir.

--Si kongsu sudah terlalu banyak minum, apabila mulutnya membocorkan rahasia, batok kepalaku ini tidak dapat dipertahankan lagi.

-Ketika mengantarkan Kian Leng kongcu menjadi pengantin ke Hun Lam, di sepanjang perjalanan dia telah main serong dengan perempuan itu.

Dosanya tidak bisa dikatakan kecil.

Diam-diam dia merasa menyesal, seharusnya dia jangan menyampaikan pesan si puteri yang ingin bertemu dengan raja.

Tiba-tiba Kian Leng kongcu berkata.

"Siau kuicu, isikan nasi di mangkokku!"

Sembari berkata dia menyodorkan mangkoknya ke hadapan si anak muda. Kaisar Kong Hi tertawa.

"Tampaknya nafsu makanmu boleh juga."

Katanya.

"Begitu bertemu dengan kakak Raja, selera makanku jadi bertambah,"

Sahut Kian Leng kongcu.

Siau Po menyendokkan nasi ke mangkok puteri itu, Dengan kedua tangannya dia menyerahkan kembali mangkok nasi tersebut lalu diletakkannya dengan hati-hati di hadapan sang puteri.

Tangan kiri Kian Leng kongcu disusupkan ke kolong meja.

Dengan keras dia mencubit paha si anak muda.

Siau Po kesakitan, tapi dia tidak berani bersuara, Bahkan senyuman di wajahnya pun tidak berani disusutkan sedikitpun juga, Karena itu, senyumnya jadi janggal, seperti meringis.

Dalam hati dia memaki.

--perempuan celaka!

Lihat nanti aku akan membalas mencubitmu sampai biru matang!

-Baru saja pikirannya berhenti, kepalanya terasa didongakkan ke belakang dan kembali dia merasa nyeri.

Rupanya Kian Leng koncu mengulurkan tangannya untuk menjambak kuncir rambutnya.

Kali ini sikap sang puteri sempat dilihat oleh kaisar Kong Hi.

"Kongcu toh sudah menikah, mengapa masih demikian nakal?"

Tegurnya sambil tertawa. Kian Leng kongcu menunjuk kepada Siau Po sambil tertawa.

"Dia,., dia.,."

Katanya. Hati Siau Po panik sekali Dia tidak tahu apa yang ingin dikatakan oleh sang puteri, Untung saja puteri itu hanya tertawa terkekeh-kekeh.

"Hong te koko, namamu semakin lama semakin besar, tadinya aku tidak tahu, Ketika pergi ke Hun Lam, di sepanjang perjalanan aku mendengar rakyat banyak memujimu Kata mereka, di bawah pemerintahanmu, kehidupan mereka sekarang semakin membaik, Hal itu karena kebijaksanaanmu, sedangkan bocah ini.,."

Dia melirik sekilas kepada Siau Po.

"Pangkatnya semakin lama juga semakin tinggi, Hanya adikmu saja yang semakin lama semakin sial nasibnya..."

Hati kaisar Kong Hi memang sedang senang, Pujian Kian Leng kongcu tepat pada saatnya pula, Dia tertawa dan berkata.

"Orang perempuankan mengikuti rejeki suami Kalau Gouw Eng Him dan ayahnya, Gouw Sam Kui tidak berbuat macam-macam, aku janjikan kepadamu untuk menaikkan pangkat mereka..."

Kian Leng kongcu mencibirkan bibirnya.

"Kakak raja akan menaikkan pangkat si budak Gouw Eng Him atau tidak, hal itu aku tidak perduli. Aku ingin kakak raja menaikkan pangkatku."

Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak.

"Pangkat apa yang kau inginkan?"

"Siau Kui cu pernah mengatakan bahwa puteri apa namanya dari negara Losat menjadi ratu peperangan sekarang aku minta kau mengangkat aku menjadi panglima besar dan tugaskan aku menuju medan perang!"

Sahut Kian Leng kongcu. Sekali lagi Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak "Orang perempuan mana bisa jadi panglima?"

"Pada jaman dahuIu, ada Yu Thay kun, Liau Kui Ing, semuanya merupakan panglima perang yang terkenal Mengapa mereka bisa, aku tidak? Kalau kau menganggap ilmu silatku belum becus, ayo kita bertanding sekarang juga!"

Tantang Kian Leng kongcu, Dia segera bangkit dari tempat duduknya dan tertawa terkekeh-kekeh. Kaisar Kong Hi tertawa pula.

"Kau tidak suka belajar ilmu surat. Kau sama tidak terpelajarnya seperti Siau Kui cu. Yang kau tahu hanya cerita-cerita yang kau simak dari sandiwara saja. Perempuanperempuan yang kau katakan dari jaman dahulu tadi, mereka dapat menjadi panglima besar, memang benar ada, Adik perempuan Lie Sek Beng dari dinasti Tong, yakni Peng Yang kongcu malah membantu kaisar Tong mengamankan negaranya. Dia memimpin sepasukan tentara yang semuanya terdiri dari kaum perempuan dan dinamakan Nio cu Kun (tentara kaum wanita), sedangkan pos penjagaannya juga mempunyai nama, yakni Nio cu kwan (Perbatasan penjagaan para wanita). Dia memang ahli sekali dalam bidang yang satu ini Kepandaiannya bahkan sulit ditandingi kaum laki-laki."

Kian Leng kongcu menepuk tangannya keras-keras.

"ltu dia! Hong te koko, kau menjadi raja melebihi Lie Sek Beng. Aku akan meniru Peng Yang kongcu menjadi panglima besar, Siau Kui cu, kau ingin meniru siapa? Hercules atau Wei Tiong Hian?" Kaisar Kong Hi menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa terbahakbahak.

"Kembali kau mengoceh sembarangan Siau Kui cu hanya seorang thay kam palsu, Lagipula Hercules maupun Wei Tiong Hian adalah sebawahan raja lalim, Dengan demikian, bukankah kata-kata-mu tadi jadi mencaci aku sebagai raja yang lalim juga?"

Kian Leng kongcu tertawa.

"Maaf, Hong te koko! Dalam hal itu, aku tidak mengerti sama sekali."

Meskipun mulutnya berkata demikian, pikirannya merenungkan kata-kata kakaknya yang menyatakan bahwa Siu Kui cu adalah seorang thay kam palsu. Hatinya jadi berbunga-bunga, Dia segera berkata pula.

"Maaf, Hong te koko, aku harus menemui Thay hou sekarang!"

Kaisar Kong Hi tertegun, Dalam hati dia berpikir.

--Celaka!

permaisuri yang palsu telah digantikan oleh permaisuri yang asli, ibumu sendiri sudah melarikan diri....

selamanya kaisar Kong Hi sayang sekali kepada adiknya yang satu ini.

Dia tidak ingin Kian Leng kongcu merasa berduka.

Karena itu, dia segera berkata.

"Dalam beberapa hari ini, kesehatan Thay hou kurang baik. Kau tidak perlu meresahkan dia orang tua. sebaiknya kau mengunjuk hormat di luar pintu keraton Cu Leng Kiong saja."

Kian Leng kongcu mengiyakan.

"Hong te koko, aku pergi dulu ke keraton Cu Leng Kiong, sekembalinya nanti, kita bisa berbincang-bincang pula."

Dia menoleh kepada Siau Po dan berkata kembali "Siau Kui cu, mari kau temani aku!"

Siau Po tidak berani mengiakan Kaisar Kong Hi memberi isyarat dengan ekor matanya, maksudnya agar si bocah mencegah kepergian Kian Leng kongcu ke keraton Cu Leng Kiong, dengan demikian dia tidak dapat bertemu dengan Thay hou.

Siau Po yang cerdik mengerti isyarat itu, dia segera menganggukkan kepalanya dan langsung mengiringi si puteri menuju ke keraton Cu Leng Kiong.

Siau Po segera memberi isyarat kepada seorang thay kam untuk melaporkan kedatangan Kian Leng kongcu, Ternyata Thay hou menurunkan titah bahwa badannya sedang kurang sehat sehingga beliau tidak ingin bertemu dengan sang puteri saat ini.

Kian Leng kongcu sudah lama sekali tidak bertemu dengan ibu nya.

Karena itu dia berkata.

"Kalau Thay hou dalam keadaan kurang sehat, aku justru ingin menjenguknya."

Dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu keraton, sejumlah thay-kam dan dayang mana berani mencegahnya? Dengan cepat Siau Po mendekatinya sambil berkata.

"Tuan puteri, tuan puteri, Thay hou si orang tua sedang flu, tidak boleh kena angin sedikit pun!"

"Aku akan masuk ke dalam dengan hati-hati, pokoknya tidak ada sedikit pun angin yang ikut masuk."

Kata Kian Leng kongcu berkeras, Dia mendorong pintu keraton dengan hati-hati.

sesampainya di dalam, dia melihat tirai diturunkan sedangkan kelambu juga tertutup rapi, Thay hou sedang tidur.

Di depan pembaringannya menjaga empat orang dayang.

Kian Leng kongcu berkata dengan suara rendah.

Thay hou, anakmu datang menghadapi Dia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan pembaringan dan menyembah beberapa kali, Dari balik kelambu terdengar suara gumaman Thay hou yang lirih sekali.

Kian Leng kongcu mendekati tempat tidur, dia mengulurkan tangannya untuk menyingkap kelambu Salah seorang dayang segera berkata.

"Tuan puteri, Thay hou berpesan bahwa siapa pun tidak boleh mengejutkannya."

Kian Leng kongcu mengangguk Dia menyingkapkan kelambu itu sedikit, lalu melongokkan kepalanya ke dalam, Tampak Thay hou tidur dengan wajah menghadap ke bagian dalam, Kian Leng kongcu memanggil dengan suara lirih.

"Thay hou! Thay hou!"

Tidak terdengar sahutan dari permaisuri itu.

Kian Leng kongcu tidak berdaya, Terpaksa dia menurunkan kembali kelambu tempat tidur permaisuri dan mengundurkan diri dengan perlahan-lahan.

Hatinya terasa perih, Tanpa dapat menahan kepiluannya, air mata Kian Leng kongcu mengucur dengan deras.

Wi Siau Po melihat kongcu belum berhasil mengetahui rahasia tentang permaisuri perasaannya menjadi lega, Dia cepat-cepat menghibur puteri itu.

"Kongcu toh tinggal di kota raja, kapan waktu saja bisa datang ke istana, Lain kali, apabila kesehatan Thay hou sudah agak membaik, kongcu bisa datang lagi menjenguknya."

Kian Leng kongcu merasa kata-kata Siau Po ada benarnya juga, Dia segera menghapus air matanya.

"Entah bagaimana keadaan tempat tinggalku dulu? Aku ingin melihatnya."

Katanya, Sang puteri langsung menuju tempat tinggalnya dulu, Siau Po tetap mengintil dari belakang.

Tempat tinggal Kian Leng kongcu dulu letaknya di samping Cu Leng Kiong.

Dalam sekejap saja mereka sudah sampai, setelah sang puteri menikah, tempat tinggalnya masih dirawat dengan baik oleh para thay kam dan dayang-dayang istana, Karena itu, keadaannya tidak berbeda sedikit pun.

Begitu sampai di ruangan pendopo, Kian Leng kongcu melihat Siau Po berdiri di depan pintu sambil tertawa cengar-cengir.

Dia tidak ikut masuk ke dalam, Wajah Kian Leng kongcu menjadi merah padam.

"Thay kam mau mampus! Mengapa kau tidak masuk ke dalam?"

Tanyanya. Sembari tersenyum, Siau Po menyahut "Aku toh seorang thay kam palsu, mana boleh sembarangan masuk ke dalam tempat tinggal kong-cu?"

Kian Leng kongcu segera mengulurkan tangannya untuk menjewer telinga Siau Po.

"Kalau kau tidak mau masuk, biar aku seret kau masuk ke dalam!"

Dia menarik telinga Siau Po keras-keras sehingga kakinya terpaksa melangkah masuk ke dalam ruangan.

Siau Po terkejut setengah mati, Dia juga ketakutan Karena itu, dia segera berkata dengan suara lirih.

"Kongcu, di dalam istana jangan sembarangan! Aku... aku,., bisa kehilangan kepala."

Sepasang mata Kian Leng kongcu yang berbinar-binar bagai mengandung air, Dengan manja dia berkata.

"Wi huya, aku adalah budakmu, biarlah hambamu melayanimu!"

Kedua tangannya segera diulurkan untuk memeluk si anak muda, Siau Po tertawa.

"Jangan, jangan begitu!"

Katanya.

"Baik."

Kata Kian Leng kongcu.

"Sekarang aku akan menghadap Hongte koko dan mengatakan kepadanya bahwa dalam perjalanan ke Hun Lam, kamu telah menggoda aku dan menyuruh aku mengelabui Gouw Eng Him. sekarang kau malah mencampakkan aku."

Selesai berkata, dia langsung mencubit paha Siau Po keraskeras.

Sampai Iama-Iama sekali, keduanya baru meninggalkan ruangan bekas tempat tinggal sang puteri, wajah Kian Leng kongcu tampak berseri-seri.

Sembari tersenyum dia berkata.

"Raja menyuruh kau menceritakan tentang puteri negara Losat, mengapa belum selesai, kau sudah mau pergi?"

"Hamba sudah letih sekali, tidak ada tenaga untuk bercerita pula."

Sahut Siau Po, Kian Leng kongcu tertawa.

"Lain kali kau harus menceritakan lagi pengalamanmu menangkap siluman rubah di Liau Tong!"

Katanya. Siau Po melirik dengan ekor matanya, lalu menjawab dengan suara lirih seperti tadi.

"Hamba benar-benar tidak ada tenaga lagi untuk bercerita."

Kian Leng kongcu tertawa terkekeh, tangannya segera melayang untuk menampar pipi Siau Po.

Para thay kam maupun dayang yang bekerja mengurus Cu Leng Kiong adalah orang-orang Iama.

Melihat sikap puteri itu, mereka sudah terbiasa, Sifat Kian Leng kongcu memang manja dan keras kepala, serta suka berlaku semena-mena terhadap orang, namun mereka berpikir --Kongcu sudah menikah, tapi sikapnya masih belum berubah juga.

Wi tou tong adalah orang kesayangan raja, tapi dia berani turun tangan juga.

Keduanya segera kembali ke kamar tulis raja untuk berpamitan Hari sudah mulai gelap, Tampak di depan kaisar Kong Hi terbentang sehelai peta yang besar, Dia sedang melihatnya dengan segenap perhatian Kian Leng kongcu berkata.

"Hong te koko, kesehatan Thay hou sedang kurang baik, jadi tidak dapat bertemu dengan beliau Lewat beberapa hari aku baru datang lagi mengunjuk hormat."

Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya.

"Beberapa hari lagi, kalau Thay hou sudah mau bertemu, kau datanglah lagi!"

Katanya.

Setelah itu tangannya menunjuk kepada peta dan bertanya kepada Siau Po.

"Kalian menuju Hun Lam lewat Kui Ciu, tapi kalian justru keluar dari Kuang Say, jalan mana yang lebih mudah ditempuh?"

Rupanya dia sedang mereka-reka keadaan di Hun Lam.

"Pegunungan di wilayah Hun Lam tinggi-tinggi, baik dari Kiu Ciu maupun Kuang Say, jalannya sama sukarnya. Banyak daerah pegunungan yang tidak dapat dilalui oleh kereta, ketika itu, kongcu naik tandu, sedangkan hamba menunggang kuda."

Kata Siau Po. Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya, tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya, dia segera mengeluarkan perintah.

"Panggil pengurus kereta dan kuda!"

Katanya kepada seorang thay kam. Kemudian dia menoleh kepada sang puteri dan berkata kembali "Kembalilah kau ke gedungmu, kau sudah ke luar seharian, tentu suamimu menantikan kedatanganmu di rumah !"

Kian Leng kongcu mencibirkan bibirnya.

"Dia pasti tidak menunggu aku."

Hatinya bermaksud ke luar bersama-sama Siau Po.

Dengan demikian mereka masih bisa bercakap-cakap, tapi kakak rajanya memanggil pengurus kereta dan kuda, tentu ada urusan negara yang akan diselesaikannya.

"Hong te koko,"

Katanya pula.

"Hari sudah maIam. Tapi kau masih menyibukkan diri dengan urusan negara, pada waktu dulu ayahanda raja sendiri tidak serajin engkau ini."

Hati kaisar Kong Hi terasa pilu mengingat ayahnya yang menyucikan diri di gunung Ngo Tay san tanpa ditemani oleh sanak keluarganya.

"Ayahanda raja cerdas sekali, beliau dapat menyelesaikan suatu urusan dalam satu jam, sedangkan aku, untuk menyelesaikan urusan yang sama mungkin memerlukan waktu tiga jam. itu juga masih belum tentu."

Kongcu tertawa.

"Aku dengar banyak orang mengatakan bahwa kakak raja berbakat dan sangat cerdas, Sejak jaman dahulu sulit ditemukan Mereka tidak berani mengatakan kau lebih baik dari ayahanda Raja, justru dikatakan sebagai raja yang langka sejak jaman ratusan yang lampau."

Kaisar Kong Hi tersenyum.

"Dalam sejarah negara Cina, raja yang baik banyaknya tidak terkira, misalnya raja Bun Ti dari dinasti Han, raja Kuang Bu dari dinasti yang sama, kaisar Thay Cong dari dinasti Tong. Mereka semua dihormati orang bahkan sampai jaman ini."

Kian Leng kongcu melihat kakak rajanya tetap memandang ke arah peta meskipun sedang berbicara dengannya, dia tidak berani banyak cakap lagi.

Matanya melirik kepada Siau Po.

Tangannya tetap lurus ke bawah, sedangkan jari tangannya menunjuk kepada Siau Po kemudian menunjuk lagi kepada dirinya sendiri Maksudnya ingin mengatakan agar Siau Po sering menjenguknya.

Si anak muda mengerti maksudnya, Perlahan-lahan dia menganggukkan kepalanya sedikit Kian Leng kongcu segera berpamitan kepada kaisar Kong Hi kemudian mengundurkan diri.

Beberapa saat kemudian, kaisar Kong Hi baru mendongakkan kepalanya.

"Kalau begitu, meriam yang kita buat rasanya terlalu besar dan kelewat berat, tentu susah menariknya di jalan pegunungan."

Wi Siau Po tertegun. Dia baru sadar kalau sejak tadi kaisar Kong Hi memikirkan cara mengirim meriam ke Hun Lam untuk menggempur Gouw Sam Kui.

"Benar, benar!"

Katanya.

"Hamba memang ceroboh sehingga tidak terpikir persoalan yang satu ini, sebaiknya dibuat lagi meriam yang lebih kecil, kalau bisa yang dapat ditarik oleh dua ekor kuda, Dengan demikian jadi mudah membawanya ke Hun Lam."

"Perang di wilayah pegunungan tidak dapat mengandalkan laksaan tentara berkuda atau senjata-senjata besar. Malah lebih menguntungkan kalau kita menggunakan pasukan berjalan saja."

Tidak lama kemudian, tiga orang pengurus kereta sudah datang menghadap. Salah satunya seorang laki-laki berbangsa Han, kaisar Kong Hi bertanya kepadanya.

"Apakah kuda-kuda sudah disiapkan?"

Orang itu memang pengurus khusus untuk kuda-kuda dan kereta besar yang biasa digunakan untuk medan perang.

Dia segera memberikan laporannya, Dia mengatakan bahwa telah dipesan sejumlah kuda dari Tibet dan Mongol.

Dia juga sudah membeli sejumlah kuda dari luar perbatasan sekarang ini jumlah kuda yang mereka miliki kurang lebih delapan laksa lima ribu ekor kuda pilihan dan saat ini masih terus dilatih serta dirawat dengan baik.

Kaisar Kong Hi senang sekali mendengarnya, dia memberikan pujiannya dan pengurus itu cepat-cepat menyatakan perasaan terima kasih kepada junjungannya itu.

"Sri Baginda,"

Tiba-tiba Siau Po menyela.

"Katanya kuda-kuda keluaran Hun Lam dan kuda-kuda luar perbatasan seperti Tibet ada perbedaannya. Meskipun tubuhnya lebih kecil tetapi tenaganya lebih besar, serta sanggup berjalan di daerah pegunungan Entah benar atau tidak."

Kong Hi bertanya kepada para pengurus kudanya.

"Benarkah keterangan yang didapatkannya?"

"Benar Sri Baginda,"

Jawab orang Han itu.

"Kuda-kuda Hun Lam mau pun She Cuan memang lebih ulet dan kuat mengangkat beban berat, tenaganya juga lebih kuat, kalau digunakan untuk menempuh jalan pegunungan memang cukup baik, tapi kalau di jalan datar, larinya kurang kencang, Dan untuk perjalanan jauh juga kalah dibandingkan kuda-kuda dari Tibet maupun luar perbatasan. Karena alasan itulah, mengapa pasukan tentara jarang menggunakan kuda Hun Lam maupun She Cuan."

Kaisar Kong Hi melirik kepada Siau Po sekilas, kemudian bertanya lagi kepada pengurus kudanya.

"Berapa ekor kuda Hun Lam dan She Cuan yang kita miliki?"

"Jawab Sri Baginda, di pusat ketentaraan kita di Hun Lam, jumlah kuda-kuda itu banyak sekali. Tapi di wilayah lain justru sangat sedikit Misalnya di Ho Lam, kita hanya mempunyai sekitar lima ratusan ekor saja."

Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya.

"Kalian boleh ke luar sekarang!"

Katanya, Dia tidak ingin maksud hatinya diketahui oleh orang-orang itu. Setelah ketiga sebawahannya itu mengundurkan diri, dia baru berkata kepada Siau Po.

"Untung ada kau yang mengingatkan. Besok pagi kau turunkan perintah agar mendatangkan lebih banyak lagi kuda-kuda Hun Lam dan She Cuan. Jaga baik-baik rahasia ini, jangan sampai diketahui pihak yang tidak berkepentingan!"

Tiba-tiba Siau Po tertawa terkekeh-kekeh, wajahnya menyiratkan kebanggaan hatinya, Kaisar Kong Hi menjadi heran.

"Ada apa?"

Siau Po tertawa.

"Gouw Gokhu ada seekor kuda Hun Lam yang baru didatangkan dari sana, Dia membual kudanya itu lebih kuat dan tenaganya lebih besar, Hamba tidak percaya, karena itu hamba mengajaknya bertanding, Apakah kuda-kuda keluaran daerah itu benar-benar mempunyai tenaga lebih besar, kita akan segera mengetahuinya."

Kaisar Kong Hi ikut tertawa.

"Kalau begitu, kau harus bertanding dengannya baik-baik! Bagaimana cara pertandingannya?"

Tanyanya.

"Kami berjanji untuk bertanding sebanyak sepuluh babak, Yang bisa mengungguli enam babak saja, terhitung keluar sebagai pemenang."

Sahut Siau Po.

"Kalau hanya bertanding sepuluh babak, bagaimana bisa tahu kuda-kuda itu benarbenar kuat atau tidak?"

Kata kaisar Kong Hi.

"Tahukah kau berapa jumlah kuda yang didatangkan dari Hun Lam?"

"Aku lihat di istalnya ada sekitar lima enam puluh ekor kuda, semuanya baru didatangkan dari Hun lam."

"Kalau begitu, sebaiknya kau bertanding dengannya sebanyak lima enam puluh babak, Harus menempuh jarak jauh, paling baik lagi kalau lewat Say sua, jalanan pegunungan."

Dia melihat mimik wajah Siau Po agak aneh, karena itu raja segera menggumam.

"Dasar manusia tak punya guna! Kalau sampai kalah, biar aku yang menggantikan kerugianmu."

Siau Po merasa kurang leluasa untuk berterus terang kepada raja bahwa dia telah menyuruh orang mengerjai kuda Gouw Eng Him.

pertandingan kali ini, sembilan puluh persen akan dimenangkan olehnya.

Tapi kalau raja salah mengira bahwa kuda-kuda Hun Lam tidak berguna, kelak mungkin bisa merusak urusan besar, Karena itu, dengan tersenyum dia berkata.

"Masalahnya bukan taruhannya...."

Tiba-tiba kaisar Kong Hi menarik nafas panjang.

"Aih! Kuda-kuda Hun Lam mempunyai tenaga yang kuat, mendadak si budak Gouw Eng Him mendatangkan begitu banyak kuda-kuda asal daerah nya, entah apa yang direncanakannya?" Wi Siau Po tersenyum.

"Tentu saja dia ingin memamerkan diri bahwa kuda-kuda asal daerahnya adalah kuda yang baik."

Katanya. Sepasang alis kaisar Kong Hi tampak berkerut.

"Tidak mungkin! Budak... itu pasti ingin melarikan diri!"

Siau Po masih belum mengerti maksudnya, Dengan heran dia bertanya.

"Maksud Sri Baginda, kabur?"

"Betul."

Jawab kaisar Kong Hi yang segera berteriak "Mana orang?"

Dia langsung menurunkan perintah kepada seorang thay kam.

"Cepat siarkan perintah untuk menutup sembilan pintu kota, Siapapun tidak boleh ke luar kota raja tanpa ijin tertulis dariku! Lalu panggil Gouw Gokhu untuk menghadap!"

Thay kam itu menurut Perintah kaisar segera dia laksanakan. sementara itu wajah Siau Po berubah perlahan-lahan.

"Sri Baginda, masa nyali Gouw Eng Him si budak itu demikian besar sehingga berani melarikan diri?"

Tanyanya. Kaisar Kong Hi menggelengkan kepalanya.

"Semoga dugaanku keliru, kalau tidak, kita harus segera mengerahkan pasukan tempur untuk melawan Gouw Sam Kui. sedangkan persiapan kita masih belum matang...."

"Kalau persiapan kita belum matang, persiapan Gouw Sam Kui sendiri juga belum tentu sudah sempurna."

Kata Siau Po.

"Bukan begitu."

Kata kaisar Kong Hi.

"Gouw Sam Kui, orangnya belum sampai ke Hun Lam, tapi dia sudah membeli kuda begitu banyak dari sana."

Wajah kaisar Kong Hi tampak kelam sekali.

"Dia sudah menjabat kedudukannya selama belasan tahun, sedangkan aku baru satu dua tahun ini saja."

Siau Po hanya sanggup menghibur junjungannya.

"Tapi, persiapan Sri Baginda selama satu tahun, dapat disamakan dengan persiapan Gow Sam Kui selama dua puluh tahun, Kecerdasan Sri Baginda berpuluh kali lipat daripadanya."

Kaisar Kong Hi mengangkat kakinya dan mendupak Siau Po satu kali. Sambil tertawa dia berkata.

"Aku menendang kau satu kali, setidaknya lebih enak dari pada tendangan Gouw Sam Kui sebanyak dua puluh kali, Enaknya! Siau Kui cu, kau jangan menganggap enteng Gouw Sam Kui, Orang tua itu pandai mengatur siasat perang. Lie Ki Seng yang begitu lihay saja, juga terjungkal di tangannya, Di dalam pemerintahan sekarang, tidak ada seorang pun yang sanggup menandinginya, Maksudku, panglima perang."

"Kita mengandalkan jumlah besar untuk mengunggulinya, Sri Baginda dapat mengutus sepuluh orang panglima, Sepuluh lawan satu, masa tidak menang?"

Tanya Siau Po.

"ltu juga harus mengandalkan jenderal-jenderal yang lihay,"

Kata kaisar Kong Hi.

"Seandainya sebawahanku ada yang setanding dengan Ci Tat, Tiong Gi Cun atau Bhok Eng, dan Tan yu Liang dari kerajaan Beng yang terdahulu, tentu aku tidak perlu khawatir lagi."

"Kalau Sri Baginda turun dengan sendiri mengatur pasukan perang, tentu melebihi segala Ci Tat, Tiong Gi Cun maupun Tan Yu Liang, DahuIu mereka juga turun tangan sendiri memimpin pasukan."

"Kau memang pandai mengumpak, apalagi dengan mengatakan tentang Niau Seng Hi Tong apa, cerdas melebihi sang Buddha.... Kalau memang pintar, tentu harus mempunyai keahlian sendiri dalam memimpin pasukan perang, ini bukan soal mainmain, selamanya aku tidak pernah turun ke medan perang, bagaimana dapat menandingi Gouw Sam Kui? Biarpun berlaksa tentara berkuda, yang dikerahkan, tapi kalau pemimpinnya tidak becus, salah sedikit saja, semuanya jadi fatal. Dijaman dahulu, kaisar Cong Ceng mempercayai kata-kata seorang thay kam yang bernama Ong Cin, dia menyerahkan laksaan tentaranya kepada si thay-kam ceroboh itu. Akhirnya, bukan saja serangan mereka gagal, namun rajanya sendiri kena tertawan oleh pihak musuh."

Siau Po menunjukkan roman terkejut "Tapi, Sri Baginda.,."

Katanya.

"Hamba jangan disamakan, karena hamba adalah thay kam palsu!" Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak.

"Kau tidak perlu khawatir!"

Katanya.

"Seandainya kau seorang thay kam tulen sekalipun, aku toh bukannya kaisar Eng Tiong di jaman kerajaan Beng, mana mungkin aku seceroboh itu mendengarkan perkataanmu tanpa mempertimbangkannya lagi?"

"Betul! Betul!"

Sahut Siau Po cepat.

"Sri Baginda memang cerdas sekali, Segala sesuatu dapat diramalkan dengan tepat, Dalam cerita sandiwara ada disebutkan juga, kalau tidak salah.... pandangan apa... sejauh ribuan li...."

"Sudahlah, kata-kata itu terlalu dalam, aku tidak akan menjelaskannya kepadamu."

Tukas kaisar Kong Hi. Di saat mereka sedang berbincang-bincang itulah, seorang thay kam datang memberikan laporannya.

"Seluruh pintu kota sudah ditutup sesuai perintah Sri Baginda."

Baru saja hati kaisar Kong Hi agak lega, seorang thay kam lainnya datang pula dengan laporannya.

"Gok Huma sedang keluar berburu, karena pintu kota sudah ditutup, jadi perintah Sri Baginda tidak dapat disiarkan keluar."

Kaisar Kong Hi langsung menggebrak mejanya keras-keras sembari mencelat bangun.

"Ternyata dia benar-benar sudah kabur!"

Kemudian dia bertanya.

"Di mana Kian Leng kongcu?"

"Jawab Sri Baginda."

Kata thay kam itu.

"Tuan puteri ada di gedungnya!"

"Kurang ajar!"

Teriak kaisar Kong Hi dengan sikap garang.

"Budak itu benar-benar tidak ingat cinta kasih antara suami istri sedikit pun juga!"

"Sri Baginda, sekarang juga hamba akan mengejar budak itu. Dia sudah berjanji untuk bertanding kuda-kuda kami hari ini. Tiba-tiba dia pergi berburu, tampaknya urusan ini memang agak kurang beres."

Kata Siau Po. Kaisar Kong Hi bertanya kepada thay kam tadi.

"Kapan Gouw Gokhu berangkat berburu?"

"Jawab Sri Baginda, hamba pergi ke gedung Gouw Gokhu, menurut Cong koan rumahnya, beliau sudah berangkat sejak pagi-pagi sekali."

Sahut thay kam yang ditanya. Kaisar Kong Hi mendengus dingin satu kali.

"Pasti pagi-pagi sekali budak ini sudah mendapat kabar dari Ciu Cing Tiong tentang ayahnya yang akan memberontak karena itu dia cepat-cepat kabur!"

Kemudian dia menoleh kepada Siau Po dan berkata lagi.

"Orang sudah berangkat enam tujuh jam yang lalu, pasti sulit mengejarnya lagi. Dia sengaja mendatangkan lima enam puluh ekor kuda dari Hun Lam, tujuannya untuk mengganti tunggangan sepanjang perjalanan Dia pasti lari ke Kunbeng."

Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati, --Terkaan Sri Baginda benar-benar seperti dewa, Mendengar Gouw Eng Him mendatangkan kuda dari Hun Lam, beliau sudah dapat mengira kalau budak itu akan melarikan diri.

Melihat wajah kaisar Kong Hi yang murung, dia tidak berani sembarangan mengumpak Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya, maka dia berkata.

"Sri Baginda harap jangan khawatir! Mungkin hamba mempunyai jalan untuk menangkap kembali budak itu."

"Kau mempunyai akal apa? Ngaco belo!"

Kata kaisar Kong Hi.

"Begitu meninggalkan kota raja, asal sudah agak jauh, dia bisa merubah dandanannya, pada saat itu, mengenalinya pun sulit Apalagi dia menggunakan kuda-kuda yang tenaganya kuat."

Siau Po tidak tahu apakah pengurus kudanya sudah mencekoki kuda-kuda Gouw Eng Him dengan kacang kedelai atau belum, dia tidak berani sembarangan sesumbar di hadapan kaisar Kong Hi. Maka dia berkata.

"Setiap orang peruntungan berlainan Kita adu peruntungan saja dengan mencobacoba mengejarnya, kalau sampai tidak tersusul juga, namanya sudah takdir."

"Baik."

Kata kaisar Kong Hi. Dia mengambil pitnya dan menulis beberapa huruf di atas sehelai kertas, lalu diteranya cap kerajaan. Disodorkannya surat ijin ke luar kota untuk Siau Po itu.

"Kau bawalah sejumlah tentara, seandainya Gouw Eng Him membangkang, ringkus saja!"

"Terima perintah!"

Sahut Siau Po sambil menyambut surat ijin tersebut.

Tanpa menunda waktu lagi, dia menghambur dari kamar tulis raja.

Kian Leng kongcu sedang berdiri di depan pintu istana, melihat Siau Po yang berjalan dengan tergesa-gesa, dia langsung menegur.

"Siau Kui cu, apa yang sedang kau lakukan?" "Anak manis, celaka! Lakimu merat!"

Teriaknya tanpa berhenti berlari, malah dia mempercepat langkah kakinya. Kian Leng kongcu mengomel.

"Thay kam mau mampus! Tidak ada sopan sedikit pun. Ayo berhenti!"

Teriaknya.

"Aku pergi menangkap suamimu kembali!"

Teriak Siau Po sambil berlari terus.

"Kalau sampai terlambat, ibarat api yang menjalar, semakin lama semakin..."

Ocehannya sayup-sayup menghilang seiring dengan orangnya yang sudah kabur jauh.

Wi Siau Po kembali ke gedungnya, dia melihat Tio Liang Tong sedang menemani Thio Yong bertiga minum arak di taman bunga, Dia segera membalikkan tubuhnya dan memerintahkan belasan siwi untuk menangkap Thio Yong bertiga.

Dalam sekejap mata ketiga tamunya itu sudah diikat erat-erat.

Dengan penasaran Thio Yong bertanya.

"Mohon tanya kepada Wi tou tong, apakah kesalahan yang telah kami lakukan?"

"Di sini ada surat perintah penangkapan, aku tidak ada waktu banyak bicara denganmu."

Kata Siau Po sambil memperlihatkan sehelai surat perintah Kemudian dia menurunkan perintah.

"Siapkan tentara sebanyak seribu orang, siwi sebanyak lima puluh orang, suruh mereka menghadap secepatnya, jangan lupa siapkan kuda-kuda untuk tunggangan!"

Beberapa opsir segera menerima perintah itu. Siau Po menoleh kepada Tio Liang Tong.

"Tio Cong peng, si budak Gouw Eng Him sudah melarikan diri Gouw Sam Kui akan memimpin pemberontakannya, kita harus mengejar secepatnya."

Lalu berpesan kepada beberapa opsir yang ada di sana.

"Jaga ketiga orang ini baikbaik! Tio Cong peng, mari kita berangkat!"

Sementara itu, Thio Yong dan kedua rekannya terkejut setengah mati mendengar keterangan Siau Po, Mereka saling pandang sekilas, Thio Yong langsung berteriak.

"Wi Tayjin, kami adalah penduduk dari Si Liang, Dahulu kami menjadi guru silat di Kam Siau, belakangan kami diangkat menjadi opsir di Hun Lam, kami bukanlah antek Gouw Sam Kui! Kami selalu setia kepada pemerintah kerajaan Ceng! kami bahkan selalu ditekan oleh Gouw Sam Kui, sekarang kami dipindahkan dari Hun Lam, justru karena dia tahu kami tidak mau menurut pada perintahnya, dia takut masih merusak usaha besarnya!"

"Aku mana tahu apakah kata-katamu itu benar atau tidak?"

Kata Siau Po.

"Tahun lalu,"

Kata Sun Si Kek yang turut bicara.

"Kepalaku ini hampir saja dipenggal oleh Gouw Sam Kui, untung ada sahabat Thio ini yang memohonkan pengampunannya. Dengan demikian kepada Pie cit baru dapat dipertahankan sampai hari ini. Pie cit justru benci sekali kepada Gouw Sam Kui."

"Kalau kami bersengkongkol dengannya,"

Kata Thio Yong pula.

"Mengapa kami tidak ikut lari bersama-sama dengannya?"

Siau Po merasa kata-kata itu ada benarnya juga, Dengan suara dalam dia berkata.

"Baik! Kalian antek Gouw Sam Kui atau bukan, sekembalinya nanti aku akan menyelidiki dengan seksama, Tio Cong Peng, urusan mengejar orang lebih penting, ayo kita berangkat sekarang!"

"Tou tong tayjin, Ong Hu Ciang sudah lama mengurus kuda di Hun Lam, kuda-kuda daerah itu, sekali lihat jejaknya saja, dia sudah bisa mengenali."

Kata Thio Yong. Siau Po menganggukkan kepalanya.

"Keahlian ini memang ada manfaatnya, tapi kalau dalam perjalanan kalian melakukan yang tidak-tidak, tentu aku sulit mengatasinya."

Sun Si Kek segera berkata dengan suara lantang.

"Tou tong tayjin, kau boleh mengurung hamba di sini, bawalah sahabat Thio dan Ong hu ciang serta, Kalau mereka memperlihatkan gerakan apa-apa, kau boleh kembali ke sini untuk menebas batang leherku."

"Bagus, Kau benar-benar gagah, Tapi, untuk urusan ini aku belum bisa mengambil keputusan Mari, mari! Saudara Thio, kita bermain dadu, Kalau kau menang, aku akan menurut apa yang kau katakan Tapi kalau aku yang menang, kepala kalian bertiga terpaksa menjadi taruhannya."

Tanpa menunggu sahutan dari Thio Yong, dia langsung berteriak kepada bawahannya.

"Bawa dadu ke mari!"

"Hamba selalu membawa dadu."

Kata Ong Cin Po.

"Renggangkanlah ikatan ini, hamba akan menemani tayjin bermain!" Siau Po menjadi heran. Dia meminta seorang opsir untuk melepaskan ikatan orang itu, Ong Cin Po mengulurkan tangannya ke dalam saku, Ternyata dia memang mengeluarkan tiga butir dadu. Dia memutarnya di atas meja. Tangannya tampak sudah terlatih sekali.

"Mengapa kau membawa dadu dalam sakumu?"

Tanya Siau Po.

"Seumur hidup, Pie cit suka berjudi Karena itu, Pie cit selalu membawa dadu ke mana saja. Kalau tidak ada orang yang diajak bertaruh, tangan kiri Pie cit akan menjadi lawan main tangan kanan."

Hati Siau Po tertarik sekali.

"Tangan kiri lawan tangan kanan? Kalah menangnya bagaimana bisa ketahuan?"

Tanyanya.

"Kalau tangan kanan yang kalah, maka tangan kiri akan menghajarnya satu kali, Demikian pula dengan tangan kiri, kalau kalah, giliran tangan kanan yang menghajarnya."

Sahut Ong Cin Po. Siau Po tertawa terbahak-bahak.

"Menyenangkan! Sungguh menyenangkan!"

Katanya lalu berkata dengan serius.

"Lo heng (saudara tua) mempunyai hobby yang sama denganku, berarti kau pasti orang baik-baik, Mana orang? Lepaskan juga ikatan pada kedua jenderal ini! Ong Hu Ciang, aku ingin bertaruh denganmu sebanyak tiga kali, siapa pun yang kalah atau menang, kalian tetap ikut aku mengejar Gouw Eng Him. Kalau aku menang, urusan yang sudah terjadi tidak perlu diungkit lagi, Kalau kebetulan kalian yang menang, aku akan menyembah dan meminta maaf."

Thio Yong bertiga juga tertawa terbahak-bahak.

"Untuk itu, kami tidak pantas menerimanya."

Siau Po mengambil dadu dari atas meja, Baru saja dia ingin melemparkannya, seorang opsir sudah masuk ke dalam ruangan itu dan melaporkannya bahwa para tentara dan siwi yang diminta Siau Po sudah menunggu perintah dengan berkumpul di luar gedungnya.

Siau Po segera menyimpan kembali dadu itu.

"Urusan ini tidak boleh ditunda lagi, lebih penting mengejar pemberontak. Para panglima sekalian, mari kita berangkat sekarang juga!"

Dengan membawa Thio Yong, Tio Liang Tong dan rombongan tentara serta siwi, mereka ke luar dari pintu sebelah selatan.

Ong Cin Po berjalan di depan sebagai pembuka jalan.

Setelah mengejar sampai belasan li, dia turun dari kudanya dan memperhatikan jejak kuda di sekitar tempat itu.

"Tou tong tayjin, aneh sekali, Jejak itu menuju timur."

Katanya.

"Mengherankan! Dia toh akan pulang ke Inlam, seharusnya dia mengambil arah selatan. Baiklah, kita ikut menuju timur!"

Katanya.

Bagian 69 Dalam hati Tio Liang Tong timbul kecurigaan --Menuju ke timur?

Benar-benar tidak masuk akal!

Mungkinkah Ong Cin Po sengaja menyesatkan jalan kami, agar Gouw Eng Him dapat melarikan diri?

-Karena mendapat pemikiran seperti itu, dia segera berkata kepada Siau Po.

"Tou tong tayjin, bolehkan Pie cit membawa sejumlah rombongan untuk mengejar ke selatan?"

Siau Po melirik sekilas ke arah Ong Cin Po, tampak wajah orang itu menyiratkan kemarahan, dia segera berkata.

"Tidak perlu, semuanya ikut dengan petunjuk yang diberikan Ong Hu Ciang saja! Dia yang memelihara kuda-kuda itu, tentu dia lebih mengetahuinya dari pada kita."

Dia segera memerintahkan kepada beberapa orang tentara untuk mengambil senjata dan membiarkan Thio Yong bertiga memiIihnya. Thio Yong mengambil sebatang golok besar.

"Meskipun usia Tou tong tayjin masih muda,"

Katanya.

"Tapi jiwanya besar sekali, Kita merupakan serdadu dari Inlam, Gouw Sam Kui merencanakan pemberontakan, Tou tong tayjin malah mem-perlakukan kami demikian baik dan tidak menaruh kecurigaan sedikit pun."

Wi Siau Po tertawa.

"Kau tidak perlu memuji terlalu tinggi!"

Katanya.

"Aku ini ibarat orang yang menanamkan saham dalam satu usaha, Kalau mendapat laba, berarti untung besar, kita akan berhasil menangkap Gouw Eng Him. Di samping itu aku juga mendapatkan tiga orang sahabat Kalau kalah, berarti rugi besar, Paling-paling ditebas batang leher ini oleh kalian."

Thio Yong senang sekali mendengar kata-katanya.

"Kami merupakan laki-laki sejati dari wilayah barat, kami paling senang berteman dengan orang-orang gagah, Karena Tou tong tayjin tidak keberatan menganggap kami sebagai teman, maka untuk selanjutnya selembar jiwa ini aku serahkan kepadamu."

Dia menancapkan goloknya di dalam tanah lalu menjura dalam-dalam kepada Siau Po, Ong Cin Po dan Sun Si Kek pun ikut menjura.

Siau Po mencelat turun dari kudanya dan membalas penghormatan ketiga orang itu.

Keempat orang itu sama-sama menjatuhkan diri berlutut dan saling memberikan penghormatan setelah itu mereka berdiri dan tertawa terbahak-bahak.

"Tio Cong Peng, ayo kau juga ikut berlutut dan memberikan penghormatan Dengan demikian sejak sekarang kita semua telah menjadi saudara antara satu dengan lainnya."

Kata Siau Po kepada Tio Liang Tong.

"Kalau ada kesenangan kita cicipi bersama, ada kesusahan kita tanggung bersama pula."

"Aku belum percaya penuh dengan Ong Hu Ciang itu, nanti setelah kita berhasil menemukan Gouw Eng Him, baru berlutut dan memberikan penghormatan juga masih belum terlambat."

Kata Tio Liang Tong. Ong Cin Po marah sekali mendengar kata-katanya.

"Meskipun pangkatku rendah, tapi aku tetap seorang laki-laki sejati, siapa yang kesudian saling menghormati denganmu?"

Selesai berkata, ia mencelat ke atas kudanya lalu melarikannya ke depan mengikuti jejak yang terlihat olehnya.

Setelah menempuh perjalanan ke timur sejauh belasan li Ong Cin Po mencelat turun lagi dari kudanya, Kembali dia memeriksa jejak kaki kuda yang tampak di atas tanah.

Sembari menggelengkan kepalanya dia berkata.

"Aneh, aneh sekali!"

"Ada apa?"

Tanya Thio Yong cepat.

"Jejak kaki kuda ini tidak beraturan, sepertinya bukan kuda daerah kita."

Kata Ong Cin Po. Mendengar kata-katanya, Siau Po justru senang sekali, Dia tertawa terbahak-bahak.

"lni dia! Tidak salah lagi! Memang barang tulen! Sudah tentu ini jejak kaki kuda dari Inlam!"

Katanya. Wajah Ong Cin Po tampak kelam.

"Bentuk jejak kakinya memang tidak salah, tapi tenaga jejakannya justru lemah sekali, hal ini benar-benar mengherankan."

Katanya.

"Tidak heran, Sama sekali tidak heran."

Kata Siau Po.

"Kuda Inlam datang ke kota raja, tidak bedanya dengan manusia yang tidak cocok dengan iklim dan makanannya, kuda-kuda itu jadi buang-buang air besar, Setelah lewat tujuh delapan hari, baru terbiasa, Kalau jejak kaki kuda itu lemah, maka tidak salah lagi, pasti kuda Inlam."

Ong Cin Po melirik kepada Siau Po muda sekilas, Dia melihat mimik wajah anak muda itu menunjukkan kejanggalan dibilang ketawa bukan, dibilang mesem juga bukan, Hatinya jadi setengah percaya setengah tidak dengan kata-kata Siau Po, Akhirnya dia mengejar lagi ke depan.

Setelah melarikan kudanya beberapa saat, dia melihat jejak kaki kuda menuju tenggara, Thio Yong segera berkata.

"Tou Tong tayjin, kalau dilihat dari jejak kaki kuda ini, tampaknya Gouw Eng Him hendak melarikan diri lewat jalan laut, Karena terusan jalan ini menuju pantai, Pasti dia sudah menyiapkan kapal atau perahu. Dengan jalan laut dia menuju Kuang Say lalu memutar ke Inlam. Kalau benar demikian, para tentara pun tidak dapat menghalanginya lagi."

Siau Po menganggukkan kepalanya.

"BetuL Dari kota raja ke Kun Beng, jarak yang ditempuh kurang lebih sepuluh laksa delapan ribu li, kapan waktu saja ada kemungkinan dihadang oleh tentara kerajaan jalan lewat laut memang jauh lebih aman."

Katanya.

"Kalau begitu, kita harus mengajar lebih cepat lagi."

Kata Thio Yong.

"Kenapa?"

Tanya Siau Po.

"Dari kota raja sampai ke tepi laut hanya ratusan Ii, dia tidak perlu mengganti kudanya untuk menambah kekuatan dan bisa melarikan diri se-cepatnya."

Sahut Thio Yong. "Betul, betul!"

Puji Siau Po.

"Dugaan Thio taoko ibarat dewa, benar-benar berbakat menjadi panglima besar!"

Thio Yong mendengar si anak muda merubah panggilannya dengan menyebut Thio toako, hatinya senang sekali.

Siau Po segera menurunkan perintah agar beberapa tentaranya segera lari secepatnya menuju tepi pantai dan menyampaikan kepada para pengawas di sana agar menutup jalan laut, jangan ada sebuah perahu atau kapal pun yang diijinkan berlayar Beberapa bawahannya menerima baik perintah itu lalu pergi dengan tergesa-gesa.

Tidak lama kemudian, mereka melihat dua ekor kuda terkulai di pinggir jalan, Ternyata memang kuda asal Inlam, Thio Yong senang sekali melihat kejadian itu.

Tou tong tayjin, ternyata jejak yang diikuti Ong Hu Ciang tidak salah."

Katanya. Wajah Ong Cin Po justru muram sekali, seakan pikirannya ruwet sekali.

"Ong sam ko, mengapa kau tampak tidak senang?"

Tanya Siau Po.

Dalam hati Ong Cin Po menggerutu.

-Aku toh bukan anak ketiga, mengapa kau memanggil aku sam ko?

Tapi dia tetap menjawab "Kuda-kuda yang aku pelihara, semuanya merupakan kuda-kuda pilihan.

Mengapa bisa buang-buang air besar dan terkulai di pinggir jalan?

seandainya Gouw Eng Him melarikannya mati-matian, kuda-kuda ini juga tidak mungkin sedemikian tidak punya guna.

Benar-benar sayang sekali!"

Siau Po tahu orang yang satu ini sangat menyayangi kuda, dia semakin tidak berani menceritakan soal kacang kedelai, dia hanya berkata.

"Si budak Gouw Eng Him hanya mementingkan dirinya sendiri agar dapat kabur sejauh-jauhnya, tidak perduli meskipun kuda-kudanya mati kecapaian Dengan demikian sia-sialah jerih payah Ong sam ko, Budak ini benar-benar tidak punya perasaan, mungkin dia manusia yang tidak terdiri dari darah dan daging."

"Tou tong tayjin, mengapa tayjin memanggil hamba sam ko?"

Tanya Ong Cin Po. Siau Po tertawa.

"Thio toako, Tio ji ko, Ong sam ko, Sun si ko, aku lihat siapa yang jenggotnya lebih putih, maka usianya lebih tua sedikit Maka aku memanggilnya dengan menurut penglihatanku itu."

"Rupanya begitu,"

Kata Ong Cin Po.

"Satu keluarga Gouw Sam Kui memang bukan keturunan baik-baik, orang menjadi tentara tapi tidak sayang kepada kuda, maka akhir hidupnya pasti tragis."

Selesai berkata, dia menarik nafas panjang.

Baru berjalan beberapa li, tampak ada beberapa ekor kuda lagi yang mati terkulai di pinggir jalan.

Tiba-tiba Thio Yong berkata.

Tou Tong tayjin, tampaknya kuda Gouw Eng Him salah makan sehingga tidak kuat berjalan lagi.

Tapi kita harus berjaga-jaga seandainya dia bersembunyi di dalam desa."

"Dalam hal apa pun Thio toako dapat menerka sebelumnya, siautee benar-benar merasa kagum."

Kata Siau Po yang segera menyuruh orang-orangnya berpencar untuk mencari. Ternyata, baru mencari belum berapa Iama, dari arah utara terdengar sorakan yang nyaring.

"Gouw Eng Him sudah tertangkap!"

Siau Po dan yang lainnya gembira sekali.

Mereka segera mengikuti sumber suara sorakan tadi.

Dari kejauhan tampak serombongan tentara sedang berkerumun di tepi pematang sawah.

Di daerah ini tadi malam turun hujan lebat karenanya sekitar tempat itu penuh dengan tanah lumpur dan tanah merah, Puluhan tentara menggiring beberapa orang yang tubuhnya berlepotan tanah merah mendekati mereka.

Orang yang paling depan ternyata memang Gouw Eng Him.

Tapi dia mengenakan pakaian yang biasa dikenakan para petani, sehingga tak terlihat tampang sehari-harinya yang mentereng dan mewah.

Siau Po mencelat turun dari kudanya, Dia segera menjura dan sambil tersenyum.

"Gouw Gokhu, apakah kau sedang bermain sandiwara? Sri Baginda tiba-tiba saja ingin menonton pertunjukan sandiwara, siaute diperintahkan untuk mencari rombongan pemain sandiwara, Kebetulan kau ada di sini, maka sebaiknya kau segera datang ke istana dan tunjukkan permainanmu. Tentu bagus sekali! Ha ha ha ha ha! Kau pasti memegang peranan menjadi pengemis bukan? ini toh cerita dalam lakon "

Si budak Kim Giok mencari jodoh."

Sejak tadi seluruh tubuh Gouw Eng Him sudah gemetar Mendengar sindiran Siau Po, dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun juga.

Dengan penuh kebanggaan, Siau Po menggiring Gouw Eng Him kembali ke kota raja, Ketika mereka sampai di depan gerbang istana, sudah merupakan siang pada hari keduanya.

Sementara itu, kaisar Kong Hi sudah mendapat laporan dari pasukan yang ekspres yang sampai terlebih dahulu, Dia langsung menyuruh mereka menghadap, Wajah Siau Po penuh dengan debu kotor Dia sengaja membiarkannya.

Begitu kaisar Kong Hi melihatnya, tentu saja timbul pikiran bahwa sebawahannya yang satu ini benar-benar setia dan bekerja dengan kesungguhan hati.

Dia mengulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk bahu Siau Po.

sembari tersenyum dia bertanya.

"Makanya! Siau Kui cu, sebetulnya kepandaian apa yang kau miliki sampai kau sanggup menangkap kembali si budak Gouw Eng Him?"

Siau Po tidak berani berbohong lagi, Dia berterus terang kuda-kuda milik Gouw Eng Him yang dikasih makan kacang kedelai.

"Sebetulnya hamba hanya ingin mengalahkan dia dalam pertandingan agar dapat memenangkan uang sebanyak selaksa tail, Dengan demikian lain kali dia tidak berani sesumbar lagi, sekaligus hamba juga bisa punya uang untuk dihambur-hamburkan, Kalau melaksanakan tugas demi Sri Baginda kan tidak perlu minta ongkos lagi? Tak disangka nasib Sri Baginda benar-benar sedang dirundung bintang terang. Garagara keisengan hamba, malah rencana Gouw Sam Kui jadi berantakan. Tampaknya, kalau Gouw Sam Kui benar-benar ingin memberontak usahanya juga akan gagal."

Kaisar Kong Hi tertawa terbahak-bahak Dia merasa semua ini memang sudah diatur oleh Thian Yang Kuasa. Rejekinya sendiri memang tidak kecil, Sembari tertawa dia berkata.

"Aku memang ada rejeki sebagai seorang raja, dan kau juga mempunyai peruntungan bagus sebagai seorang panglima, Setelah ini, kau boleh beristirahat"

Katanya.

"Si budak Gouw Eng Him sudah dijaga ketat oleh para siwi, tergantung Sri Baginda bagaimana hendak menanganinya."

Kata Siau Po.

"Untuk sementara kita jangan mengambil tindakan apa-apa,"

Kata kaisar Kong Hi dengan suara rendah.

"Biarkan dia pulang ke istana huma, Kita tunggu gerakan apa yang akan diambil oleh Gouw Sam Kui. Paling bagus kalau dia tahu anaknya berusaha melarikan diri tapi berhasil ditangkap kembali, tapi sampai sedemikian jauh aku tidak menghukumnya sedikit pun. Dengan demikian mungkin dia akan merasa berhutang budi dan membatalkan rencana pemberontakannya."

"Betul, betul."

Sahut Siau Po.

"Sri Baginda memang berjiwa besar, Niau Seng Hi Tong!"

"Kau perintahkan sejumlah opsir untuk berjaga di bagian depan dan belakang gedung istana Gok hu, siapa pun yang ke luar masuk harus diperiksa dengan teliti! Kuda-kudanya harus ditarik ke luar, seekor pun tidak boleh ditinggalkan di sana!"

Kata kaisar Kong Hi kemudian. Kembali Siau Po mengiakan Kaisar Kong Hi berkata pula.

"Siapa pun yang berjasa kali ini, kau buatkan daftar namanya, semuanya akan mendapat hadiah dan kenaikan pangkat Tidak terkecuali si tukang kuda yang memberi kacang kedelai pada tunggangan Gouw Eng Him, dia pun patut mendapat sedikit kenaikan pangkat Ha ha ha ha ha!"

Siau Po menjatuhkan diri berlutut serta mengucapkan terima kasih, Karena tidak bisa menulis, maka dia menyebutkan saja nama Thio Yong, Tio Liang Tong, Ong Cin Po dan Sun Si Kek.

Thio Yong bertiga sebetulnya pembesar dari Inlam, tapi mereka tahu benar bagaimana harus bersetia kepada Sri Baginda, Mereka telah berjasa besar dalam penangkapan Gouw Eng Him kali ini, Hal ini membuktikan seandainya Gouw Sam Kui akan memberontak para opsir dan pembesar sebawahannya pasti akan memihak kepada kita."

Katanya.

"Bagus sekali kalau Thio Yong dan kedua rekannya tidak sekomplotan dengan Gouw Sam Kui. Thio Yong tadinya seorang opsir di daerah Kam Siau, Tampaknya kedua rekannya yang lain juga bukan orang lama dalam pemerintahan Gouw Sam Kui di Inlam,"

Kata kaisar Kong Hi.

"Dugaan Sri Baginda pasti tidak salah."

Sahut Siau Po. Siau Po segera mengundurkan diri, Begitu sampai di luar, dia menyuruh para opsir membawa Gouw Eng Him kembali ke gedungnya.

"Huma ya, di depan Sri Baginda aku telah berbicara banyak yang baik-baik mengenai dirimu, itulah sebabnya kepalamu masih bisa dipertahankan sampai sekarang, Kalau lain kali kau kabur lagi, bisa-bisa batok kepalaku juga ikut melayang."

Katanya kepada Gouw Eng Him.

Tidak hentinya Gouw Eng Him menghaturkan terima kasih, Tapi di dalam hati dia mencaci maki.

Dia tetap tidak mengerti mengapa puluhan ekor kudanya yang merupakan kuda pilihan bisa begitu lemah dan terkulai mati di tengah jalan.

Beberapa hari kemudian, turun firman dari kaisar Kong Hi tentang kenaikan pangkat Wi Siau Po, Thio Yong dan yang lain-lainnya.

persoalan mengenai Gouw Eng Him yang melarikan diri tidak boleh disebar luaskan, jadi hal ini masih tetap dirahasiakan hanya dikatakan bahwa Siau Po, Thio Yong dan yang lainnya telah berhasil melaksanakan sebuah tugas dengan baik.

Dengan kaburnya Gouw Eng Him, kaisar Kong Hi dapat menduga bahwa rencana pemberontakan Gouw Sam Kui telah sampai pada puncaknya, Namun dengan tertangkapnya kembali putra penghianat itu, setidaknya dapat menunda sejenak gerakan orang itu.

Dalam beberapa hari ini kaisar Kong Hi sibuk sekali, Dia turun tangan sendiri memeriksa para tentara, juga mengeluarkan banyak uang untuk membeli kuda pilihan dan membuat meriam serta senjata perang lainnya.

Masih ada satu hal yang memusingkan pemikiran kaisar Kong Hi, yakni persediaan uang yang semakin menipis.

Belum lagi dia harus mengeluarkan biaya untuk persiapan melawan Taiwan, Mongol, Tibet dan negara Losat.

Untung saja urusan pulau Sin Liong to sudah diselesaikan oleh Siau Po.

Akan tetapi negara Losat adalah musuh yang kuat, sama sekali tidak dapat dipandang ringan, Karena itu, kaisar Kong Hi merasa lebih baik menyuruh Siau Po kembali ke Yang-ciu, kampung halamannya untuk membangun Tiong Liat su.

Dari sana dia bisa memutar ke selatan untuk menyelidiki gerak-gerik, Gouw Sam Kui atau mencari berita mengenai negara lainnya yang bisa menjadi musuh bagi pemerintahan kerajaan Ceng.

Siau Po diperintahkan untuk membawa Thiong Yong berempat.

Hari itu, Siau Po dan Thio Yong berempat sudah bersiap untuk berangkat Tiba-tiba Sie Long, Oey Po serta Ci Thian Coan dan Hong Ci Tiong dari Thian Te hwee datang berkunjung, pertemuan itu sungguh menggembirakan mereka semua.

Rupanya Siau Po terperangkap dalam siasat "Bi Jin ke" (Rayuan wanita cantik) yang dilakukan oleh Hong kaucu, Sie Long dan yang lainnya bukannya tidak berani kembali ke kota raja, Setiap hari Sie Long naik perahu mengelilingi lautan untuk mencari jejak Siau Po yang mungkin memerlukan pertolongan mereka.

Mereka menjelajahi setiap pulau yang ditemui, Ci Thian Coan malah pergi ke Liau Tong, Shan Tung dan beberapa daerah lainnya untuk mencari jejak si anak muda, Sampai akhirnya mereka mendengar Siau Po sudah kembali ke kota raja, barulah mereka bergegas pulang untuk bertemu dengannya.

Tentu saja Siau Po tidak menceritakan pengalamannya yang memalukan Dia hanya mengoceh sembarangan untuk menutupi hal yang sebenarnya, Di dalam hati Sie Long dan yang lainnya kurang percaya dengan keterangan si bocah, tapi mereka tidak berani banyak bertanya.

Siau Po kembali menghadap kaisar Kong Hi untuk menyatakan jasa-jasa yang telah dibuat oleh Sie Long dan kawan-kawan.

Raja cilik itu juga memberi persen serta menaikkan pangkat mereka, sedangkan Ci Thian Coan serta rekan-rekan dari Thian Te hwee tidak mungkin sudi menerima hadiah dari pemerintahan Ceng, tentu saja Siau Po juga tidak menyebutkan nama mereka, Satu hari penuh mereka bercakap-cakap, keesokan paginya mereka baru berangkat bersama-sama.

Belum satu hari mereka sampai di kaki Gunung Ong Ok San.

Secara diam-diam Siau Po memberitahukan kepada saudara-saudaranya dari Thian Te hwee bahwa dia ingin menumpas kepala berandal Pak Lui.

Semuanya terkejut setengah mati mendengar pemberitahuan itu.

"Wi hiocu,"

Kata Lie Liat sek.

"Hal ini sekali-sekali tidak boleh dilakukan. Pak Lui adalah orang dari kerajaan Beng. Dia orang gagah dan pahlawan besar, Kalau kita menghancurkan Ong Ok San, berarti kita menjual tenaga bagi Bangsa Tat Cu."

"Kiranya begitu,"

Kata Siau Po.

"Tadinya aku kira sebangsa berandal yang suka merampok rakyat kecil Tapi aku telah menerima titah dari Sri Baginda, Dalam hal ini aku jadi sukar mengambil keputusan."

"Pangkat Wi hiocu dalam pemerintahan Ceng semakin Iama semakin tinggi, hal ini tidak menguntungkan pihak kita."

Kata Hian Ceng tojin."

Kalau menurut pendapatku, sebaiknya kita bekerja sama dengan See to Pak Lui untuk memberontak saja."

The Ceng Pa menggelengkan kepalanya.

"Langkah kita yang pertama justru meminjam tenaga Tat cu untuk menghadapi si pengkhianat Gouw Sam Kui Kalau Wi hiocu memberontak sekarang, ada kemungkinan raja Tat Cu malah bergabung dengan Gouw Sam Kui untuk melawan kita, Dengan demikian, sia-sia lah jerih payah kita selama ini."

Siau Po memang tidak berniat memberontak terhadap kaisar Kong Hi. Mendengar kata-kata itu, dia segera menyambutnya dengan senang.

"Betul, betul Kita harus mengenyahkan Gouw Sam Kui dulu, urusan lainnya belakangan, Hal itu justru yang paling penting, See To Pak Lui hanya satu di antara ratusan orang yang ada di Ong Ok San, kita tidak boleh menelantarkan urusan besar demi satu orang saja."

"Urusan di depan mata sekarang, ialah bagaimana menangani masalah di depan kaisar Kong Hi."

Kata Ci Thian Coan.

"Apalagi raja Tat cu ingin membangun kuil Tiong Liat su di Yang-ciu. ini merupakan tugas yang baik, kita tidak boleh merusakkannya."

Su Ko Hoat bernyali besar dan setia sekali Dia rela berkorban demi negara, Siapa pun menghormatinya.

Karena itu, mendengar kata-kata Ci Thoan Coan, para anggota Tian Te hwee segera menganggukkan kepalanya, sedangkan mengenai persoalan bagaimana menanggung jawab urusan See To Pak Lui di depan raja Tat Cu, Siau Polah yang paling bisa diandalkan.

Karena itu, pandangan mata semua orang segera beralih kepada anak muda itu.

Sembari tertawa Siau Po berkata.

"Kalau Ong Ok San memang tidak boleh di-kutak-katik, kita kirimkan saja kepada saudara tua See to, minta dia meninggalkan gunung ini."

Orang banyak berdiam diri, Mereka merasa usul itu kurang sempurna, Siau Po teringat ketika dia bermain dadu untuk mempertaruhkan nyawanya, si nona cilik yang berwajah oval dan matanya lebar dari Ong Ok Pay cukup cantik dan manis, Dalam hati, dia berpikir.

--Aku dengar saudara tua See To toh tidak ada hubungan apa-apa.

Kalau harus melepas budi, lebih baik aku melepaskan budi untuk si nona.

--Tepat pada saat itulah, Thio Yong dan Tio Liang Tong mengirimkan utusan masingmasing dengan melaporkan bahwa mereka telah mengepung rapat gunung Ong Ok San.

Seluruh jalan ke luar telah ditutup, Rupanya ketika masuk ke wilayah Ho Lam, secara diam-diam Siau Po sudah memberitahukan rencana memusnahkan seluruh gunung itu kepada Thio Yong berempat.

Keempat panglimanya tidak memperlihatkan gerak-gerik apa-apa.

Secara rahasia mereka memimpin pasukan masing-masing dan menjaga ketat setiap pos penting di gunung Ong Ok San itu.

Mereka hanya menunggu perintah untuk memulai penyerangan.

Setelah mengikuti Siau Po, keempat panglima itu begitu mudah mendapat kenaikan pangkat hanya dengan menanam jasa sepele yakni menangkap Gouw Eng Him, mereka merasa berterima kasih sekali.

Mereka berharap kali ini dapat bekerja dengan sebaik-baiknya, karena itu, di setiap titik penting gunung itu, mereka telah meletakkan pasukan berpanah, tentara berkuda, bahkan serdadu yang membawa senapan panjang, mereka berharap dapat menangkap setiap anggota atau penduduk di gunung Ong Ok San dalam keadaan hidup-hidup.

Satu pun tidak boleh dibiarkan meloloskan diri, Mereka berpikir.

-Dengan tentara sejumlah lima ribu orang lebih, kalau hanya menghancurkan seluruh Ong Ok San yang penghuninya hanya seribu jiwa lebih, apa yang perlu diherankan?

Tapi, kalau bisa menjaring semuanya dalam keadaan hidup-hidup, sedikitnya sudah memperlihatkan kepandaian yang tidak kecil Sementara itu, Siau Po berpikir -Kalau membekuk rombongan See To Pak Lui saja, juga bukan terhitung jasa yang besar.

Apalagi saudara-saudara dari Thian Te hwee tidak setuju.

Seorang laki-laki hidup harus mempunyai rasa setia kawan, tidak boleh menyalahi rekannya sendiri - Justru ketika dia sedang berpikir bagaimana harus merangcang surat yang akan dikirimkan kepada See To Pak Lui, agar mengungsikan seluruh orang-orangnya, tibatiba dari sebelah timur terdengar suara pukulan tambur yang bising, para tentara berteriak-teriak seperti orang kalap.

Mereka memberitahukan bahwa ada sejumlah orang yang berlari turun dari atas gunung untuk melakukan penyerangan.

Siau Po berpikir lagi.

-Di hadapan sebawahan, tidak boleh menurunkan perintah untuk membiarkan musuh IoIos, lebih baik diringkus dulu semuanya, kemudian baru memikirkan cara untuk melepaskannya kembali Karena membawa pikiran demikian, dia segera menurunkan titahnya.

"Tangkap semua hidup-hidup! jangan melukai seorang pun."

Para tentara menyiarkan perintahnya. Tiba-tiba Siau Po menambahkan lagi.

"Terlebih-Iebih kaum wanitanya!"

Diam-diam dia melirik kepada Ci Thian Coan dan Cian Lao Pan, mereka juga sedang menatap ke arahnya.

Tanpa dapat dipertahankan lagi, wajahnya jadi merah, Dia berkata dalam hati kalian jangan khawatir, aku sudah berpengalaman --Kali ini tidak mungkin sama dengan kejadian di pulau Sin Liong To, aku tidak akan terjerumus dalam perangkap "Rayuan wanita cantik".

-Siau Po membawanya rombongan Tian Te hwee ke sebelah timur gunung itu.

Dari sana mereka dapat menyaksikan situasi dengan jelas.

Tampak ada ratusan orang yang menyerbu ke bawah, sedangkan para tentara yang telah mendapat perintah dari panglimanya, tidak berani menggunakan panah, mereka hanya menghadang serbuan itu, sehingga dalam sekejap mata terdengarlah suara bising serta teriakan nyaring.

Orang-orang yang menyerbu ke bawah, satu persatu berhasil diringkus.

Hal ini karena jumlah tentara jauh lebih banyak.

Siau Po ingin melihat siapa saja yang telah berhasil ditangkap, tapi karena jaraknya terlalu jauh, dia tidak dapat melihat dengan tegas.

Tiba-tiba terlihat seseorang menghambur turun dengan gerakan tubuh yang lincah dan gesit, Para tentara berusaha menghalangi tapi ternyata mereka gagah.

Orang itu dapat menyelinap di antara tentara yang demikian banyak, Hian Ceng Tojin memuji.

"Gerakan yang bagus!"

Orang itu berlari dan menyelinap terus sehingga semakin lama semakin dekat, tampaknya beberapa puluh depa lagi dia akan mencapai kaki gunung.

"llmu orang ini tinggi sekali, mungkinkah dia See To Pak Lui sendiri?"

Kata Cian Lao Pan.

"See to Pak Lui adalah seorang jago tua, rasanya yang lainnya juga tidak mungkin...."

Belum juga kata-katanya selesai, tiba-tiba Sun Si Kek berteriak.

"Orang itu sepertinya salah seorang pengawalnya Gouw Sam Kui!"

Ketika dia berteriak, jarak orang itu sudah semakin dekat.

"Tangkap dulu, urusan lainnya belakangan!"

Teriak Siau Po.

Para anggota Thian Te hwee segera mengepung orang itu.

Tangan orang itu membawa sebatang golok, setiap kali mengayunkannya, pasti ada seorang tentara yang roboh.

Dengan membawa senapan panjang, Sun Si Kek menghambur ke depan, Dengan demikian dia dapat melihat orang itu dengan jelas.

"Palang Sing! Apa yang kau lakukan di sini?"

Tanyanya. Ternyata orang itu memang wisu kepercayaan Gouw Sam Kui yang bernama Palang Sing.

"Aku mendapat perintah dari Peng Si-ong!"

Teriaknya.

"Aku membantu kerajaan ceng membasmi musuh, mengapa kalian malah menghadangi aku?"

Mendengar kata-katanya, para anggota Thian Te hwee terkejut setengah mati, Tampak di bagian pinggangnya tercantol sebuah batok kepala yang penuh berlumuran darah, entah apakah itu kepalanya See To Pak Lui atau bukan, Orang banyak segera mencelat ke depan dan mengepungnya.

"Wi Tou tong ada di sini, letakkan senjatamu dan menghadap beliau! Dengarkan apa keputusan beliau nanti!"

Kata Sun Si Kek.

"Baik!"

Sahut Palang Sing, Dia memasukkan golok ke dalam sarungnya dan dengan langkah lebar mendekati Siau Po. Dia segera berkata dengan suara lantang.

"Menghadap Tou tong tayjin!"

"Kau di sini..."

Kata-kata Siau Po belum sempat diteruskan, sebab tiba-tiba Palang Sing mencelat bangun dan mengulurkan tangannya menjambak dada si bocah.

"Aduh, maknya!"

Teriak Siau Po sambil membalikkan tubuhnya untuk lari, tapi ilmu Palang Sing jauh lebih tinggi dari padanya, Sambil mengeluarkan seruan nyaring, tangan kirinya berhasil menjambret baju di bagian punggung Siau Po, sedangkan tangan kanannya meluncur ke arah kepala dengan maksud ingin menjambak lawan.

Mendadak datang sebuah tendangan yang cepat sekali dari arah kanan.

Palang Sing mengegos sedikit untuk menghindarkan diri, orang itu kembali menghantamnya dari depan, ternyata dialah Hong Ci Tiong.

Palang Sing mengangkat tangannya menangkis, tubuhnya terhuyung-huyung sedikit Tiba-tiba dia merasa pinggangnya kencang sekali, rupanya Ci Thian Coan telah memeluknya erat-erat.

Cian Lao Pan mengulurkan tangannya untuk menotok dadanya.

Palang Sing mendengus satu kali, paha kiri Hong Ci Tiong disapu ke arahnya, Palang Sing tidak dapat berdiri dengan mantap lagi, Dia jatuh tersungkur ke atas tanah, Cian Lao Pan tadinya ingin menyambar orang itu, tapi para tentara sudah keburu datang dan membelenggunya kemudian digiring ke hadapan Wi Siau Po.

"Pasukan besar Peng Si-ong dalam beberapa hari ini akan tiba!"

Teriak Palang Sing.

"Kalian yang tahu gelagat, segeralah menyerah. Siau Po tertawa.

"Peng Si-ong sudah menggerakkan pasukan perangnya? Aih, mengapa aku sampai tidak tahu? Apakah kesehatan dia si orang tua baik-baik saja?"

Tanyanya. Untuk sesaat Palang Sing tidak mengerti maksud hati Siau Po yang saat itu bersikap ramah, Karena itu ia berkata.

"Tuan kecil, kau pernah datang ke Kun Beng, Kesan Peng Si-ong terhadapmu lumayan baik. Beliau pernah mengatakan bahwa kau adalah orang yang pandai, mengapa mau menjadi budak bangsat Tat Cu? Lebih baik siang-siang kau bergabung dengan Peng Si-ong!"

Ci Thian Coan menyepak pantatnya keras-keras.

"Gouw Sam Kui adalah si pengkhianat yang tidak tahu malu, kau sebagai budaknya, lebih tidak tahu malu lagi!"

Katanya.

Palang Sing gusar Dia memalingkan wajahnya dan menyemburkan ludah kepada Ci Thian Coan, Tapi lawannya bukan orang sembarangan, dengan menggeser tubuhnya sedikit saja, dia sudah luput dari serangan, Air liur itu malah mengenai wajahnya seorang tentara.

"Pa Loheng, ada urusan apa, kita bicarakan baik-baik, jangan marah dulu! Kau ingin aku bergabung dengan Peng Si-ong, urusan ini bukannya tidak dapat dirundingkan Entah apa kepentinganmu datang ke gunung Ong Ok San ini?"

Tanya Siau Po.

"Biar diberitahukan juga tidak apa-apa, yang penting aku telah membunuh See To Pak Lui."

Sahut Palang Sing, Sembari berkata, dia melirik sekilas ke arah batok kepala yang terselip di pinggangnya.

"Mengapa Peng Si-ong ingin membunuhnya?"

Tanya Siau Po.

"Kau ikut saja denganku agar dapat bertemu dengan Peng Si-ong, dia orang tua pasti akan memberitahukannya sendiri kepadamu."

Sahut Palang Sing.

Ci Thian Coan dan yang lainnya jadi gusar, mereka segera mengangkat tangannya dengan maksud memukul.

Siau Po memberi isyarat dengan kedipan mata mencegah mereka, kemudian dia memerintahkan beberapa tentara untuk membawa ke perkemahan untuk diinterogasi.

Ternyata orang ini berkepala batu, terhadap Gouw Sam Kui setia sekali.

Dia hanya membujuk Siau Po agar bergabung dengan Gouw Sam Kui, urusan lainnya dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Ketika seluruh tubuhnya digeledah, para tentara mendapatkan sepucuk surat dalam sebuah amplop besar berwarna merah, Siau Po menyuruh salah satu bawahannya untuk membacakan isi surat itu.

Ternyata isinya merupakan anugerah bagi See To Pak Lui yang diberi gelar "Kui Kok Ciangkun" (Jenderal pembebas negara).

Siau Po menanyakan asal-usul surat itu, tapi Palang Sing hanya membelalakkan matanya tanpa berkata apa-apa.

Setelah sadar dirinya tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Palang Sing, Siau Po memerintahkan anak buahnya untuk menggiring pergi orang itu.

Kemudian mereka membawa beberapa penduduk Ong Ok San untuk dikompas.

Ternyata ada beberapa di antaranya yang tidak tahan pukulan sehingga dengan suka rela menceritakan apa yang diketahuinya.

Rupanya dalam beberapa hari ini Gouw Sam Kui telah mempersiapkan pasukan perangnya untuk mengadakan pemberontakan.

Karena itu, dia memerintahkan Palang Sing dengan membawa sejumlah serdadu untuk membujuk See To Pak Lui yang pernah menjadi sebawahannya duIu.

Paling bagus kalau See to Pak Lui bersedia bekerja sama, tapi kalau dia sampai menolak, maka Palang Sing boleh membunuhnya agar rahasia ini tidak tersebar ke luar.

Mendengar Gouw Sam Kui akan memberontak terhadap kerajaan Ceng, sudah barang tentu See To Pak Lui gembira sekali, Dia langsung menyetujui permintaan Gouw Sam Kui untuk bekerja sama.

Tetapi ketika dia menanyakannya lagi sampai jelas, dia baru tahu bahwa Gouw Sam Kui bukannya hendak membangun kembali kerajaan Beng, melainkan ingin mengangkat dirinya sendiri menjadi kaisar.

Hal ini terbukti dari anugerah pangkat yang diberikannya.

seandainya Gouw Sam Kui ingin membangun kembali kerajaan Beng, tentu dia tidak bisa sembarangan menganugerahkan pangkat kepada seseorang tanpa persetujuan keluarga kerajaan Beng yang berwenang.

See To Pak Lui langsung mengingkari ucapannya tadi, dia malah meminta Palang Sing membawa kembali surat anugerah itu kepada Gouw Sam Kui dan menyampaikan pesannya, apabila Gouw Sam Kui ingin membangun kembali kerajaan Beng, See To pak Lui tidak keberatan mengorbankan selembar nyawanya sekali pun.

Tapi apabila Gouw Sam Kui sendiri ingin menjadi raja, sedangkan dahulu dialah yang mencelakai Kui Ong, tentu para pecinta negara akan menentangnya.

Palang Sing mencoba membujuk serta menasehatinya, See To Pak Lui menggebrak meja dan membuka mulut memaki, dia mengatakan bahwa Gouw Sam Kui ibarat telah mengirim rakyat Bangsa Han ke tepian neraka, kejahatan apa pun sanggup dilakukannya, seandainya dia mau berubah, mungkin jasanya kelak bisa menutupi sebagian dosanya.

Kalau tidak, perbuatannya ini pasti akan mendapatkan akibat yang mengerikan seumpama senjata makan tuan, Palang Sing tidak banyak omong lagi, malam harinya ketika See To Pak Lui tidak bersiaga, dia mengayunkan golok untuk membunuhnya.

Malah dia menebas batok kepala orang itu, lalu dengan rekan-rekannya dia melarikan diri turun gunung, Para anggota Ong Ok San tidak menduga akan adanya kejadian ini.

Mereka tidak keburu mengejar Tidak tahunya para tentara kerajaan sudah mengepung gunung itu, anak buah Gom Sam Kui segera terjaring.

Di samping itu, Palang Sing sendiri langsung turun tangan terhadap Siau-Po, Maksudnya membekuk si pembesar sebagai sandera agar dia dapat melarikan diri.

Setelah menanyakan duduk persoalan dengan jelas, Siau Po langsung mengajak saudara-saudaranya dari Thian Te hwee untuk berunding.

"Wi hiocu, See To Pak Lui adalah seorang pahlawan besar pecinta negara,"

Kata Lie Liat Sek.

"Tidak beruntung dia terbunuh di tangan antek si pengkhianat bangsa, Kita harus menguburnya dengan layak."

"Aku memang mempunyai niat yang sama,"

Kata Siau Po.

Dia segera mengutarakan maksud hatinya, orang banyak segera bersorak menyambutnya.

Mereka segera berpencar mengerjakan tugas yang diberikan.

Hari itu, para tentara tidak menyerbu ke atas gunung.

Karena kepalanya terbunuh, para anggota Ong Ok San jadi kacau balau, Siau Po hanya menyuruh orangnya menjaga dengan ketat.

Keesokan paginya, Siau Po memimpin para tentara dan anggota Thian Te hwee dengan membawa berbagai perbekalan naik ke pertengahan gunung, Sampai di sana, dia meminta anak buahnya menunggu.

Dia sendiri bersama-sama Ci Thian Coan dan yang lainnya naik ke atas gunung.

Setelah berjalan beberapa li, tampak belasan anak buah Ong Ok San berdiri menghadang di tengah jalan dengan tangan masing-masing membawa sebilah golok, Ci Thian Coan maju sendirian Tangannya membawa selembar kertas besar yang bertulisan "Boan seng (Aku yang muda) Wi Siau Po bersama-sama Ci Thian Coan, Cian Lao Pan, Hong Ci Tiong dan beberapa rekan lainnya datang untuk memberi hormat kepada jenazah See To locianpwe."

Para anak murid Ong Ok San melihat kedatangan mereka tidak mengandung maksud yang buruk, apalagi di belakang mereka ada yang menggotong sebuah peti mati lengkap dengan lilin dan kertas sembahyang, hati mereka menjadi heran, Salah satunya yang menjadi pimpinan segera berkata.

"Harap tunggu sebentar, aku akan ke atas untuk memberikan laporan!"

Selesai berkata, dia segera menghambur ke atas gunung, sedangkan rekannya yang lain tetap menjaga dengan ketat Siau Po dan saudara-saudara dari Thian Te hwee menyurut mundur sepuluh langkah, Beramai-ramai mereka duduk di atas sebuah batu besar untuk beristirahat.

Tidak lama kemudian, dari atas gunung berjalan turun beberapa orang, Yang paling depan ialah See To Peng, putera See To Pak Lui, Mata Siau Po terus mengawasi bagian belakangnya, di mana berjalan seorang nona bertubuh semampai.

Dialah Cin Ju yang sedang disenangi oleh Siau Po.

Dengan suara lantang See To Peng berkata.

"Entah ada keperluan apa kalian datang ke tempat kami ini?"

Sembari berkata, tangannya meraba gagang pedang yang terselip di pinggang. Cian Lao Pan segera menjura dalam-dalam.

"Pimpinan kami Tuan Wi mendengar kabar tentang See To Lo Eng Hiong yang dicelakai orang, hatinya merasa tersentuh. Karena itu, dengan membawa sejumlah orang, beliau datang untuk menghunjuk hormat."

Dari jauh See To Peng melirik Siau Po sekilas.

"Dia adalah pembesar Bangsa Tat cu, bahkan membawa sejumlah tentara mengepung gunung ini. Tentunya dia mempunyai maksud yang tidak baik, Kalau kalian berniat menjebak kami, harap kalian ketahui bahwa kami tidaklah begitu bodoh!"

Baca Juga: Kembalinya Ilmu Ulat Sutera 1

Baca Juga: Bagus Sajiwo 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert