Ceritasilat Novel Online

Kaki Tiga Menjangan 16

Eps 16 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.

"Sekarang aku angkat kau menjadi Cu-ciak kelas satu dan pangkatmu yaitu Toutong dari pasukan Jiaw Kie Eng bagian bendera putih sebagai tambahan Dan di Kwan-Gwa sana kau dapat menggerakkan pasukan perang Hong Tian, yang dapat kau gunakan untuk menumpas gerombolan Sin Lion Kauw."

Kata sang raja. Siau Po segera berlutut sambil mengangguk-angguk seraya mengucapkan kata terima kasih.

"Pangkat hamba semakin ada tugas semakin saja naik, maka sekarang pangkat hamba semakin tinggi. Dengan demikian makin besar dan banyak pula rejeki dan peruntungan bagiku."

Katanya.

"Akan tetapi perlu kau ingat, tindak tandukmu sekarang ini tidak dapat kau pamerkan dahulu, untuk menjaga agar Gouw Sam Kui dan Siang Ko Jie tidak mendengar apaapa. Karena bila ia mengetahuinya, pastilah ia akan mempercepat kegiatan pemberontakan. Maka yang paling baik kau hancurkan Sin Liong Kauw dahulu dan jika dapat kau harus menghancurkannya dengan tidak menimbulkan keributan Kalau tidak sekarang kau aku angkat menjadi utusan raja yang ditugaskan untuk mengadakan sembahyang digunung Tiang Pek San. Gunung itu adalah tempat yang suci bagi kami Bangsa Mancu, Dengan kau datang bersembahyang, siapa pun tak akan mencurigaimu"

Siau Po memuji kecerdasan rajanya.

"Kecerdasan Sri baginda tidak ada bandingannya. Usia kaucu Sin Liong kau seperti usia ulat."

Ujarnya. Raja tertawa.

"Apa artinya usia kaucu Sin Liong Kau seperti usia ulat?"

Tanyanya.

"Kaucu Sing Liong kau itu paling senang kalau orang memuji usianya seperti usia langit, padahal hari kematiannya sudah hampir sampai, Jadi sekarang, lebih tepat bila dikatakan bahwa usianya sama dengan usia ulat."

Meskipun di mulutnya Siau Po berkata demikian, tapi membayangkan kesaktian kaucu Sin Liong Kau, hatinya bergidik Apalagi dia diharuskan menyerang pulau itu, bisa-bisa usianya sendiri yang seperti usia ulat.

Ketika melangkah ke luar dari istana, hati Siau Po gundah sekali Dia berpikir.

"Bagaimana keberangkatan ke pulau Sin Liong to sangat berbahaya, sebaiknya dicari jalan untuk mengurungkannya, Meskipun perlakuan Siau Hian cu terhadapku baik sekali, tapi aku toh tidak mungkin mengantarkan nyawa demi dirinya, Atau sebaiknya aku pura-pura menerima tugas itu, tapi di tengah jalan aku memutar ke Lu Ting san untuk nlengambil harta pusaka, lalu mencari A Ko untuk mengambilnya sebagai istri dan untuk selamanya hidup tenang?"

Pada hari kedua, Kaisar Kong Hi mengumumkan tentang kenaikan pangkat Siau Po.

Ketika upacara berlangsung, setiap pembesar memberi selamat kepada Siau Po.

Hubungan So Ngo Ta dengannya paling istimewa, pembesar itu sengaja mendatangi kamarnya untuk berbicara dengannya, Dia melihat tampang Siau Po muram sekali.

"Saudara kecil, kepergianmu ke Liau Tong tentu berbeda jauh dengan perjalanan ke Hun Lam. Kali ini mungkin kau tidak akan mendapatkan pemasukan apa-apa. Mungkin itulah sebabnya kau menjadi tidak senang."

Ujar So Ngo Ta.

"Terus terang aku katakan kepada toako, aku ini berasal dari selatan. selamanya aku paling takut dingin. Membayangkan cuaca dingin di luar perbatasan saja, aku sudah gemetaran Biar bagaimana malam ini aku harus menyalakan tungku api yang besar untuk menghangatkan diri sepuas-puasnya."

So Ngo Ta tertawa terbahak-bahak.

"Dalam hal ini, adik tidak perlu khawatir, nanti aku akan menyuruh orang mengantarkan tungku besar, agar dalam perjalanan adik selalu merasakan kehangatan Selain itu, di Liau Tong adik juga bisa mendapatkan keuntungan."

Ujarnya.

"Oh, rupanya ada yang menarik juga di Liau Tong?"

Tanya Siau Po.

"Dalam hal ini aku harus meminta petunjuk toako?"

"Di Liau Tong terdapat beberapa macam pusaka, bahkan ada pepatah yang mengatakan.

"Tiga pusaka dari Liau Tong, Jin som, kulit harimau dan rumput wula, semuanya sama berharga, pernahkah adik mendengarnya?"

Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Belum,"

Sahutnya.

"Kalau Jin som dan kulit macan tutul memang berharga, tapi apa kegunaan rumput wula itu?"

"Rumput wula itu juga merupakan benda yang berharga sekali,"

Kata So Ngo Ta.

"Cuaca di Kwan Tong dingin sekali, orang-orang atau penduduk yang miskin tidak sanggup membeli kulit macan tutul untuk dijadikan mantel Kalau sampai kaki mereka beku kedinginan siapa yang akan menggotong tandu bagimu? sedangkan rumput wula ada di mana-mana di daerah itu, asal kita ambil sejumput dan diselipkan dalam sepatu, dia bisa menimbulkan hawa hangat Dengan demikian seluruh tubuh pun akan berkurang rasa dinginnya."

"0h.... Jadi kegunaannya hanya untuk menghangatkan tubuh?"

"Memang benar."

Sahut So Ngo Ta.

"Tentu saja barang seperti itu tidak berharga di daerah lainnya yang tidak begitu dingin seperti Kwan Tong. Dan kebetulan rumput itu pun hanya tumbuh di daerah tersebut. Kalau ingin membawanya sebagai kenangkenangan, boleh saja. Tapi nantinya hanya merepotkan adik saja."

"Apakah Jin som dan kulit macan tutul itu ada dijual di mana-mana?"

Tanya Siau Po.

"Barang itu susah diperoleh namun kedatangan adik di sana tentu diketahui pembesar setempat. Kakak rasa, pasti ada saja yang menghadiahkannya kepadamu Mengenai hal itu, kau tidak khawatir!"

Siau Po tertawa, Dia memang paling tertarik dengan barang-barang langka, Hal ini demi menambah kekayaannya yang sudah cukup banyak.

Dia membayangkan akan menghadiahkannya untuk A Ko, gadis pujaannya itu.

Mungkin hati si nona akan menjadi senang mendapat hadiah yang jarang didapat darinya.

"Akan tetapi kalau adik ingin membelinya, memang ada beberapa orang juga yang menjualnya, Lain halnya dengan rumput wula, itu tidak perlu dibeli karena dimana-mana pun ada."

"Oh, kiranya begitu!"

Kata Siau Po.

"Rumput Wula itu tak dibutuhkan oleh kita, berbeda dengan Jin som dan kulit harimau, Maka tak ada salahnya kalau aku membawa pulang beberapa ratus helai agar nanti dapat aku bagikan pada kawan dan kenalanku."

So Ngo Ta tertawa.

Tengah mereka itu sedang berbicara, datanglah seorang utusan yang mengatakan ada kunjungan dari Sui Su Tee tok Sie Long.

Mendengar nama itu, wajah Siau Po mendadak berubah karena secara tiba-tiba ia mengingat kematian yang menyedihkan dari Kwan An Kie.

Dahulu sewaktu ia menahan Kek Song dan memasukkannya ke dalam peti mati, gurunya memerintahkan nya agar membuka peti mati itu, Waktu ia membuka tutup peti mati itu ternyata yang ada di dalamnya adalah mayat A Kie dan bukan mayat Kek Song.

Pada tubuh mayat itu ada sehelai kertas yang tulisannya ikut berbela sungkawa atas nama Sie Long.

Menurut gurunya, orang itu sangat pintar otaknya dan sangat lihay dalam permainan ilmu silatnya, sampai-sampai Kok Seng Ya sendiri kalah dengannya.

"Sekarang apakah maksudnya ia datang padaku?"

Tanya Siau Po dalam hati, Karena ragu-ragu, ia lalu memerintahkan pelayannya.

"Cepat kalian panggil A Sam dan A Liok berdua datang ke mari!"

Maka tak lama kemudian datanglah dua orang yang dimaksud, Mereka adalah Ay Cun Cia bersama Liok Kho Hian.

Keduanya memberi hormat dan langsung berdiri di samping Siau Po.

Maka dengan demikian, hati Siau Po merasa tenang.

Tak lama kemudian datanglah pelayannya dengan membawa nampan dan menyerahkannya pada Siau Po.

Siau Po melihat isi nampan itu yang ternyata adalah sebuah kotak kecil, Setelah kotak itu dibuka, tampak sebuah mangkuk putih dengan cawan di dalamnya ada tulisan yang indah.

"Bagaimana?"

Tanya Siau Po yang tak bisa membaca dan menulis.

"Mangkuk ini memakai namamu."

Kata So Ngo Ta.

"Di situ terdapat pujian untukmu dan pangkatmu terutama pada yang memberikan pangkat Di situ juga terdapat katakata "

Hormat adik Sie Long."

Siau Po terdiam, sementara otaknya terus bekerja.

"Aku tidak kenal dengan dia, tetapi ia mengirimkan bingkisan padaku, mungkin ia mempunyai maksud yang tidak baik padaku."

Katanya. So Ngo Ta tertawa.

"Maksud orang itu sudah jelas sekali, Dia bertekad ingin menyerang Taiwan untuk membalas sakit hati anak dan istrinya, Selama di sini ia sudah sering mendesakku untuk baginda turun tangan pada orang Taiwan itu, ia telah mengeluarkan uang paling sedikit dua puluh laksa tail, maka tentu telah mengetahui kalau kau adalah orang yang paling disayang oleh baginda, Maka jelas sudah kalau ia ingin membaikimu."

Kata So Ngo Ta. Keterangan itu dapat membuat hati Siau Po menjadi tenang kembali.

"Saudara-saudara dapatlah kalian menerangkan padaku tentang duduk masalahnya hingga orang itu sangat membenci bangsa Taiwan?"

Tanya Siau Po pada kawankawannya.

"Sebenarnya orang itu adalah seorang panglima yang paling utama dari The Seng Kong, akan tetapi ia dicurigai The Seng Kong. untunglah ia dapat meloloskan diri. The Seng Kong merasa kesal, Maka lalu menghukum mati ayah, ibu, anak dan istri Sie Long."

Sahut So Ngo Ta. Siau Po diam saja.

"Dia hebat, The Seng Kong yang gagah perkasa itu pun sampai kalah perang dengannya. jikalau demikian panglima semacam ia tak mungkin aku dapat menemukannya, Nah So Toako, mari sama-sama kita menjemput dia...!"

Kata Siau Po.

Siau Po dan So Ngo Ta akhirnya pergi menemui tamunya yang berada di ruang tamu itu.

Tampak Sie Long duduk seorang diri di ruang tamu, ia menolehkan kepalanya ke arah suara langkah Siau Po dan So Ngo Ta yang datang menghampirinya, Tamu itu lalu bangkit dan memberi hormat.

"So Tayjin! Wie Tayjin! Yang rendah Sie Long datang menghadap!"

Katanya. Siau Po membalas hormat.

"Tak berani aku menerima hormat yang sedemikian besar, Pangkat Ciangkong jauh lebih tinggi daripada pangkatku, mana dapat aku menerima hormat yang semacam ini? Nah, silahkan duduk! silahkan duduk! Kita tak usah sungkan-sungkan!"

Kata Siau Po. Sie Long memberikan hormatnya seraya ia berkata.

"Wie Tayjin sangat sungkan, itu yang membuat aku kagum, Tayjin masih sangat muda tetapi telah menjadi seorang bangsawan, kedudukanmu pun sangatlah mulia. Kemajuan Tayjin sangat pesat, aku percaya tak usah sampai sepuluh tahun lagi, tayjin akan menjadi raja muda, sebaliknya aku hanya jendral muda, apalah artinya pangkatku ini?"

Katanya. Siau Po tertawa.

"Jikalau datang hari yang dikatakan itu aku sangatlah berterima kasih atas katakatamu itu."

Katanya. So Ngo Ta juga ikut bicara setelah ia tertawa.

"Oh, Lao Sie!"

Katanya.

"Baru saja beberapa hari kau berdiam di kota raja ini, sekarang kau telah pandai sekali bicara, Kau bukan lagi seperti orang yang baru saja datang ke tempat ini."

"Memang Pie Cit seorang peperangan yang sangat kasar dan tak mengenal aturan, Syukur berkat bimbingan Tayjin sekarang Pie Cit telah dapat merubah semua tabiat yang jelek dan menghiIangkannya."

Sahut Sie Long dengan menggunakan kata Pie Cit yang artinya orang yang lebih rendah pangkatnya.

"Ya semuanya dapat kau pelajari."

Kata So Ngo Ta sambil tertawa dengan tenang.

"Sekarang kau telah mengetahui bahwa Wie Tayjin adalah orang kesayangan raja, maka kau langsung datang mengadakan kunjungan. Kau memang jauh lebih menang dari para pembesar lainnya dan para mentri."

Katanya pula.

"Di dalam segala hal Pie Cit mengandalkan pada Tayjin berdua dan selama-lamanya Pie Cit tak akan melupakannya."

Kata Sie Long.

Sementara itu Siau Po terus saja memandangi Sie Long, Tamunya itu berusia kirakira lima puluh tahun namun sorot matanya masih begitu tajam, potongan tubuhnya sangatlah keren dan licik, tetapi sedikit kucal yang mungkin karena penderitaannya selama ini.

"Kiranya dialah yang telah membunuh kawanku itu dan menyelamatkan Kek Song dari dalam peti mati."

Kata Siau Po dalam hati.

"sebaiknya aku berpura-pura tidak tahu, aku tak tahu apakah ia mengenali aku atau tidak, yang jelas Sek Lian jangan sampai tahu akan hal ini."

Kata Siau Po dalam hati.

"Hadiah yang kau berikan itu sangatlah bagus dan tentunya mempunyai nilai jual yang tinggi, namun pada hadiah itu terdapat kata-kata yang.."

Kata Siau Po. Nampak Sie Long terperanjat segera ia berdiri.

"Entah apakah yang cacat... tolong Tayjin katakan padaku...!"

Ujarnya dengan nada memohon. Siau Po tertawa.

"Cacat pada barangnya sendiri itu tidak ada, tetapi yang aku maksudkan adalah indahnya barang itu dan mahalnya harganya, di waktu kita menggunakan mangkuk dalam bersantap, tangan harus bergetar karena takut barang itu pecah dan hancur"

Katanya. So Ngo Ta pun turut tertawa. Mendengar hal itu Sie Long pun turut bersama mereka tertawa.

"Sejak kapan She Ciangkun datang ke Pakhia?"

Tanya Siau Po.

"Sudah tiga tahun Pie Cit berada di kota raja ini."

Jawab Sie Long. Siau Po terheran-heran mendengar ucapan Sie Long.

"Sie Ciangkun menjadi laksamana dari pasukan air di Hokkian, kenapa kau tidak pergi ke sana? Mengapa kau hanya berdiam di sini? Kenapakah? Ah, aku tahu! Pasti di kota raja ini dalam sebuah rumah pelesiran ada yang menjadi sahabat kekalmu dan kau merasa sangat keberatan meninggalkannya karena dia adalah seorang nona yang cantik!"

Katanya.

"Ah, Tayjin pandai bergurau! sebenarnya baginda memanggilku untuk menjaga dan mempertahankan Taiwan, Mungkin keteranganku belum sempurna maka belum ada orang utusan untuk memanggilku kembali hingga aku didiamkan di sini, sekarang aku sedang menanti perintah apa pun.,."

Kata orang itu.

"Sri baginda sangat cerdas, mestilah sekarang ia sedang memikirkan sesuatu hal yang tepat Maka untuk sementara waktu biarlah kau tetap di sini, nanti juga datang kesempatan untukmu."

Kata Siau Po.

"Pie Cit sangat bersyukur karena Pie Cit lelah mendapatkan pelajaran dari Tayjin ini."

Kalanya dengan hormat "Sebenarnya dalam tiga tahun ini hati Pie Cit merasa kurang tenang, Pie Cit khawatir telah melakukan sesuatu yang diri sendiri tidak mengetahuinya.

Akan tetapi sekarang mendengar kata-kata Tayjin, hatiku menjadi lega, kiranya baginda tengah memikirkan sesuatu."

Biar bagaimana Siau Po gemar akan pujian, maka ia senang mendengarkan katakata orang itu.

"Sri baginda telah mengatakan, bahwa jika seseorang itu selalu marah, maka orang itu termasuk manusia yang tak ada gunanya dalam kehidupan. Oleh karena itu orang semacam itu haruslah diruntuhkan kejumawaannya, Umpamanya, jangan katakan kalau baginda telah menurunkan pangkatmu itu bukanlah suatu hukuman, sekalipun kalian dihukum atau dipenjarakan, itu masih termasuk hitungan kalau kau sedang dididik..."

Ujarnya.

"ltu benar.,."

Kata Sie Long dalam hati. Akan tetapi Sie Long tetap merasa khawatir, sampai tangannya menjadi basah karena keringatnya.

"Benar perkataan saudara Wie, memang kalau tidak digosok, mana mungkin batu kumala akan menjadi batu permata?"

Kata So Ngo Ta yang turut berbicara.

"Ya.... Ya..."

Kata si panglima.

"Sie Ciangkun, silahkan duduk!"

Kata Siau Po.

"Dahulu Ciang kun pernah menjadi orang bawahan The Seng Kong, sebenarnya apa sebabnya sampai Ciangkun bentrok dengannya?"

Tanyanya kemudian "Sebenarnya Wie Tayjin,"

Kata Sie Long.

"Pie Cit adalah bawahan The Cie Liong, ayah dari The Seng Kong, dan baru belakangan pie cit berada di bawah langsung dari The Seng Kong sendiri itulah sebabnya kenapa di waktu The Seng Kong bentrok aku pas berada di bawahnya, maka Pie Cit terpaksa turut padanya."

"Oh, begitu."

Kata Siau Po.

"Lalu bagaimana selanjutnya?"

"Lalu tiba saatnya The Seng Kong berperang di Hokian, ketika itu tentara Boancu menyerah dengan menggunakan tipu daya, dan E Mui dapat dirampas. The Seng Kong menjadi salah tingkah, maju salah mundur salah, sedangkan saat itu aku berada di sana dan membantunya, kami telah berhasil merampas lagi kota itu."

"Dengan cara demikian, berarti kau telah membantu banyak pada The Seng Kong, kau berjasa besar"

Kata Siau Po.

"Ketika itu, The Seng Kong juga telah menaikkan pangkat Pie Cit Pie Cit juga mendapat hadiah berbagai macam barang, namun kemudian, karena suatu urusan kecil, terjadilah bentrokan di antara kami."

"Urusan apa itu?"

Tanya Siau Po.

"Pie Cit mempunyai seorang anak buah, Pie Cit menitahkan suatu urusan agar dia menanganinya, tidak tahunya orang ini malas dan takut mati, Dia pergi ke pegunungan dan tidur di sana selama beberapa hari, Setelah kembali dia memberikan laporan yang bukan-bukan, Pie Cit merasa keterangannya tidak beres, karena itu Pie Cit menanyakannya dengan seksama. Akhirnya kebohongannya terbongkar Pie Cit kesal sekali dan memerintahkan orang untuk memenjarakannya. Tidak tahunya, pada keesokan harinya, orang ini licik sekali. Tengah malamnya dia berhasil melarikan diri, dan kabur ke gedung The Seng Kong dan meratap-ratap di hadapan The Seng Kong dan istrinya dengan mengatakan bahwa aku memfitnahnya. Hati hujin memang lemah, dia menyuruh orang menyampaikan laporan anak buah Pie Cit itu dan meminta Pie Cit mengampuninya. Malah aku mendapat teguran keras dari beliau."

Mendengar keterangan Sie Long, Siau Po segera teringat kata-kata Tan Kin Lam tentang wanita itu. Hatinya menjadi panas.

"Oh, si moler tua itu, urusan kenegaraan dia pun mau ikut campur. Orang perempuan memangnya mengerti apa? Nenek moyangnya, kurang ajar! Urusan besar negara bisa hancur di tangannya! Kalau ada anak buah yang bersalah tidak dihukum sebagaimana mestinya, bukankah setiap orang berani melakukan kesalahan yang sama nantinya? Kalau begitu, keadilan toh tidak bisa ditegakkan lagi! Dasar perempuan hina, tahunya hanya berpelukan dengan laki-laki muda yang ganteng saja!"

Sie Long tidak menyangka kalau Siau Po akan begitu marah mendengar ceritanya, Dia langsung bersemangat dan menepuk pahanya keras-keras.

"Wi Tayjin benar sekali!"

Katanya.

"Wie tayjin sudah biasa memimpin anak buah, tentunya tahu bagaimana harus bersikap terhadap anak buah yang bersalah!"

"Kau tidak usah perduli omongan si moler tua itu. sedangkan anak buahmu yang kurang ajar itu, tangkap saja dan tusuk sekalian agar mati!"

"Ketika itu, apa yang Pie Cit pikir, persis sama dengan pikiran Wie tayjin sekarang."

Kata Sie Long.

"Aku berkata kepada utusan Hu Jin itu, bahwa aku si orang she Sie hanya merupakan bawahan Kok Seng ya. Apa yang dikatakan Kok Seng Ya baru jadi hitungan. Dengan demikian, aku bermaksud mengatakan bahwa aku tidak perlu menuruti apa pun perintah hujin."

Dengan hati yang panas Siau Po menukas.

"Betul, Siapa yang menjadi bawahan si moler tua itu, dia akan sial tujuh turunan."

So Ngo Ta dan Sie Long merasa geli mendengar Siau Po yang selalu menyebut si nyonya dengan kata-kata si moler tua. Mana mereka menyangka bahwa hatinya mempunyai pemikiran yang lain."

"Si Mo... hujin mendengar hal ini dari Pie Cit, dia malah mengangkat anak buah Pie Cit itu menjadi pengawal di rumahnya. Di samping itu, dia juga mengatakan, apabila Pie Cit punya nyali, silahkan datang ke rumahnya dan bunuh orang itu, Hati Pie Cit langsung menjadi gusar, Dalam keadaan kalap, Pie Cit benar-benar mendatangi rumahnya, lalu Pie Cit mendatangi orang itu untuk membekuknya dan menebasnya sekali sehingga jiwanya langsung melayang."

Siau Po bertepuk tangan keras-keras dan bersorak memuji.

"Bagus! Bagus! Orang itu memang patut dibunuh! Dengan dibunuhnya orang itu, hati pun menjadi puas, urusan lain belakangan!"

"Setelah membunuh orang itu, Pie Cit baru sadar bahwa Pie Cit telah mengundang datangnya malapetaka, Pie Cit segera menemui The Seng Kong untuk menyatakan kesalahan Pie Cit pikir, setidaknya Pie Cit pernah mendirikan jasa besar, sedangkan anak buah Pie Cit itu memang bersalah dan sepatutnya mendapat hukuman mati, Namun The Seng Kong lebih mendengarkan kata-kata Hu Jin, dia mengatakan aku telah bersikap kurang hormat dan harus diringkus, Aku pikir Kok Seng Ya berjiwa besar dan selalu bijaksana. Mungkin dalam amarahnya, dia akan mengurung Pie Cit selama beberapa hari, tapi kalau hatinya sudah dingin, aku pasti akan dilepaskan kembali. Tidak tahunya, setelah lewat beberapa hari, kakekku, adikku, bahkan istriku juga sekalian dibekuknya dan ikut dipenjarakan. Ketika itulah aku baru merasakan bahwa urusan ini tampaknya tidak beres, The Seng Kong memang ingin membunuh aku, dia memang sengaja mencari-cari kesalahanku agar batang leherku ini dapat dipenggal. Pie Cit mencari kesempatan ketika para penjaga lengah untuk melarikan diri, Setelah beberapa hari kemudian, Pie Cit baru mendapat berita bahwa seluruh keluarga Pie Cit telah dikenakan hukuman mati."

So Ngo Ta memang sudah tahu sekelumit tentang cerita ini.

Tapi dia tidak menyangka kejadiannya begitu tragis, tanpa dapat menahan diri lagi, ia mengeluarkan seruan tertahan.

Sedangkan mata Sie Long menjadi merah.

Rupanya dia mengingat kembali kenangan pahit yang pernah dialaminya dulu.

tangannya dikepalkahnya kencangkencang.

Siau Po menggelengkan kepala.

Sie Long sebaliknya, ia menggertak gigi.

"Keluarga The itu adalah musuh besarku!"

Katanya dengan sengit "Sayang The Seng Kong telah mati, sehingga aku tak dapat membalas dendam langsung dengannya, Sejak itu aku telah mengangkat sumpah berat yaitu akan membabat habis keluarga The itu."

Siau Po tahu kalau The Seng Kong menjadi pendekar kebangsaan, akan tetapi di sana ada Kek Song, bagaikan melupakan sang pendekar ia selalu mengangguk-angguk dan berkata.

"Dia memang harus dibinasakan, jikalau kau tidak membinasakannya berarti kau bukanlah seorang laki-laki sejati!"

"Sie Ciangkun,"

Kata So Ngo Ta yang turut berbicara.

"Memang tak selayaknya orang She The membinasakan keluargamu, tetapi disamping itu, Ciangkun justru mendapatkan untung bagus, karena sekarang kau telah meninggalkan tempat yang gelap itu dan sekarang berada di tempat yang terang, seandainya tidak demikian mungkin sekarang ini Ciangkun masih berada di Taiwan, tengah menentang angkatan perang negara, hingga kau tetap menjadi si pemberontak."

Sie Long mengangguk.

"So Tayjin benar."

Katanya. Siau Po lalu menanyakan, dan menegaskan.

"Setelah The Song Kong membunuh seluruh keluarga Ciangkun, apakah dengan kemarahan itu Ciangkun langsung, menghambakan diri pada pemerintahan Ceng yang maha agung?"

"Benar,"

Katanya.

"Sri baginda almarhum baik sekali, aku ditugaskan di propinsi Hokkian. Budi itu akan kubalas dalam pertempuran aku akan bertempur tanpa memikirkan jiwaku lagi, Syukur aku telah dapat membuat jasa, maka aku diangkat menjadi Hu Ciang di kota Tong-an, masih dalam wilayah propinsi Hok-kian itu, Kemudian datang The Seng Kong menyerang, dan aku menyambut serangan itu dan aku mendapatkan kemenangan. Karenanya aku diangkat menjadi Tongpeng kota Tong-an itu dan berhasil merampas kota E Mui, Kim Mui dan Gouw-su, selanjutnya aku bekerja sama dengan tentara Inggris. Dengan naik kapal dan senjata serta meriam, kami dapat menghajar The Seng Kong hingga ia lari ke lautan. Sebagai kesudahannya baginda almarhum mengangkat aku menjadi panglima dari armada di Hokkian dengan gelar Hay Ciangkun, sebenarnya jasaku itu tidaklah seberapa karena sebagian dari kerjaan Ceng yang maha agung, serta sebagian lagi atas petunjuk dari banyak mentri, Yang benar adalah jasa dari So Tayjin dan Wie Tayjin berdua yang jauh lebih besar!"

Siau Po tertawa.

"Pandai sekali orang ini mengangkatku!"

Katanya dalam hati, Kemudian Siau Po bertanya lebih jauh lagi mengenai hal itu.

"Ketika kau merampas kota-kota itu, aku masih menjadi kacung di rumah pelesiran di Yang-ciu dan sedang repot melayani para tamu, karena kau pernah berada dalam pasukan The Seng Kong, dan berperang beberapa kali di Hokoan, maka kau pasti mengetahui banyak tentang Taiwan, Apakah katamu waktu baginda memerintahkan menyerang pulau itu? Atau bagaimanakah rencana kalian?"

Tanya Siau Po.

"Aku telah melaporkannya pada yang mulia, bahwa letak Taiwan memencil sendiri di tengah laut."

Katanya.

"Bahwa pulau itu sangat baik untuk membela diri, dan tidak dapat untuk diserang, Lagi-pula para pembelanya terdiri dari orang-orang yang pandai berperang, Maka jika akan menyerang pulau itu, kepala perang harus diberi kekuasaan penuh, jangan ada gangguan baginya, Dengan cara demikian barulah kita akan memperoleh hasil."

"Apakah dengan demikian kau menginginkan kekuasaan ada pada tanganmu sendiri?"

Tanya Siau Po.

"Tak berani aku berlaku demikian."

Katanya.

"Namun dengan demikian kalau ingin menyerang Taiwan haruslah dengan tiba-tiba. jarak antara Taiwan dan Pakhia sangat jauh, jika akan menyerang kita harus meminta ijin terlebih dahulu, itu sangat memerlukan waktu yang lama, Kalau penyerangan dilakukan secara mendadak justru dapat menimbulkan kegagalan. Lagi pula di Taiwan itu ada Tan Eng Hoa yang selalu dipuja-puja serta Lauw Kok Hian yang masing-masing gagah dan juga cerdik, Oleh karenanya jika melakukan penyerangan secara mendadak kita akan sulit untuk menang."

Siau Po mengangguk.

"Kau benar."

Katanya.

"Sri baginda sangat cerdas, tak mungkin kata-katamu ini tidak dibenarkannya. Lalu apa lagi yang akan kau katakan?"

"Baginda menanyakan cara untuk menyerang Taiwan, Aku memberitahukan, walaupun tentara Taiwan itu lihay-Iihay, tetapi jumlah mereka sangatlah sedikit, meski demikian kalau kita akan mengadakan penyerangan ke sana, kita harus menggunakan dua cara dengan sekaligus. Yang pertama dengan cara halus yaitu membuat cara agar mereka saling mendendam satu dengan yang lainnya, Cara itu sangatlah baik dengan mengabarkan cerita burung. Umpamanya, Tan Eng Hoa mempunyai cita-cita akan memecat pemimpinnya, untuk ia berdiri sendiri, dan akan bekerja sama dengan Lauw Kok Hian, The Keng tidak cerdas, dan kecurigaannya akan timbul, hingga dengan demikian ia akan membunuh kedua orang itu, atau paling tidak orang itu tak lagi dipercaya, dan mereka akan dikekang. Merekalah kedua tiang Taiwan, maka sungguh baik jika keduanya dapat disingkirkan sedangkan yang lainnya tak dapat berbuat banyak."

Dalam hati Siau Po merasa sangat kaget, hebat rencananya orang itu, dengan cara itu memang dapat mencelakai Taiwan. Mengingat demikian Siau Po merasa lega hatinya.

"Bukankah di sana masih ada satu orang yaitu It-Kiam Bu Hiat Phang Sek Hoan?"

Tanya Siau Po. Mendengar pertanyaan itu Sie Long merasa kaget.

"Oh, Wie Tayjin kenal orang She Phang itu?"

Tanyanya,.

"Ya, aku mendengarnya dari sri baginda,"

Sahut Siau Po.

"Ciangkun tahu bahwa sri baginda mengetahui benar tentang keadaan di Taiwan, seperti baginda melihat lima jari tangannya sendiri, Kata sri baginda, Tan Hujin menyukai The Kek Song, perubahan kedudukan kedua putra itu, berjalan dengan mengangkat Kek Song menjadi Sie Cu ahli waris yang bakal menjadi pengganti kepala di Tai-wan kelak di belakang hari."

Kembali Sie Long terkejut sekarang ia kembali menjadi kagum.

"Sri baginda cerdas luar biasa."

Pujinya.

"Sejak jaman purba belum ada junjungan sepintar itu, Sri baginda berdiam di dalam istana tapi dia mengetahui teluk beluk,"

Katanya.

"Oh, benarkah itu?"

Siau Po menambahkan namun yang satu terkejut tapi yang lainnya pura-pura saja tentang kejadian kedatangan The Kek Song yang datang ke kotaraja.

"Jikalau demikian,"

Siau Po menambahkan "Sudah seharusnya kau menganjurkan untuk menyingkirkan kakaknya agar Kek Song bisa mengangkat dirinya sendiri menjadi raja Taiwan, Dalam hal ini dia harus dibujuk atau dianjurkan agar lebih dahulu menyingkirkan Tan Eng Hoa dan Lauw Kok Hian."

Berulangkali Sie Long menepuk pahanya lalu bangkit dari duduknya.

"Wie Taijin sangat cerdas!"

Pujinya, Segera Tayjin memikirkan apa yang baik, sungguh Tayjin membuatku kagum, Memang demikian anjuranku kepada The Kek Song dan dia telah menerimanya dengan baik, bahkan berjanji akan mengambil tindakan itu.

Tan Eng Hoa mempunyai nama lain yaitu Tan Kin Lam.

Tatkala dulu gagal memberontak di Kanlam, dia kabur ke Taiwan, Ketika itu masih banyak orang yang tak dapat kabur bersama mereka yang lantas dibuyarkan ke berbagai kota propinsi Tan Eng Hoa sendiri diberi tugas oleh The Seng Kong membangun durhaka yang sesat jalan, yang dinamakan Tian Tee Hwee (perkumpulan langit dan bumi).

Semua anggota perkumpulan rahasia itu berjalan dengan sisa pengikut-pengikut Tan Kim Lam itu, agar mereka semua dapat tertampung.

Dengan demikian diharap agar mereka dapat meneruskan maksud jahat mereka untuk memberontak terhadap raja, Begitulah Tan Kin Lam sering menyelundup masuk ke Tionggoan namun tetap menjalankan tampuk pimpinan partainya itu, Kejadian tersebut benar-benar mau mengangkat dirinya sendiri menjadi pemimpin utama di Taiwan, Berita itu bukan cerita burung belaka....

bukan hanya fitnah!

"Bagaimana kau bisa mengetahui urusan ini?"

Tanya Siau Po dengan wajah yang menunjukkan keheranan "Apa mungkin kau masih mempunyai hubungan rahasia dengan orang dalam pihak Taiwan itu?"

"Sebenarnya Pie Cit berniat keras akan menyerang Taiwan."

Jawab orang yang ditanya, yang ternyata suka bicara banyak.

"OIeh karena itu di E Mui dan Kim Mui juga daerahnya telah kulepas tak sedikit mata-mata agar menyelundup ke Taiwan. Ketika The Kek Song datang ke mari, di antara rombongannya ada beberapa orangku itu, Ketika rombongan Kek Song tiba segera aku mendapatkan informasi tentang hal tersebut sebenarnya aku akan menjaring kelompok Tan Eng Hoa, karena Pie Cit, Seorang laksamana propinsi Hokkan dan di Pakhia ini. Tan Eng sendiri tidak punya jabatan itu, bahkan tidak mempunyai kekuasaan apaapa. Namun seterimanya berita itu Pie Cit segera menghadap Peng Pou Siang Sie. Mendengar demikian, So Ngo Ta dan Siau Po tertawa, Namun si kacung tertawa sambil nyengir, sebab dalam hatinya hal itu berbahaya, seandainya hari itu laporannya berhasil dan pasukan tentara dikirim untuk menyerbu, menggerebek dan menawan kami, pastilah kepalaku bakal terpisah dari batang leherku. Semenjak datang ke kotanya (kotaraja) ini, cuma sekali buronan datang dari Taiwan menghadap kaisar, seterusnya ia menganggur saja. Di kota raja ini ia tak punya sedikit pun kekuasaan hingga ia kalah pengaruh sekalipun hanya dipadu dengan para pegawai kepresidenan Sun-Thian-hu. Bahkan bekalnya hampir habis sebab dipakai ongkos penghidupannya selama tiga tahun tinggal menganggur di kota raja ini. Tanpa uang di tangan, makin sulit baginya menghubungi setiap kantor pemerintah apalagi bagian Peng Pou, Kementerian perang. Siau Po menenangkan hatinya, setelah itu ia berkata.

"Jika demikian adanya, sungguh orang-orang di dalam Peng Pou itu merusak usaha negara dan dosa mereka bukannya ringan.

"Jangan Wie Taijin mempersalahkan Peng Pou!"

Kata She Sie.

"Mungkin tabiatnya memang begitu.... Hanya pada waktu itu Pie Cit yang bingung sendiri. Pikirku, rombongan Kek Song sudah semua tiba, dapatkah dibiarkan mereka itu akan pergi berlalu pula dengan tidak kurang suatu apa pun? Akhirnya Pie Cit pergi sendiri ke pondok kawanan Thian Tee Hwee itu.

"Oh, jadi dalam Thian Tee Hwee itu orang berperang saudara?"

Kata Siau Po ... seharusnya siapakah itu yang telah berkelahi? Ketika bertanya begitu hati Siau Po kurang tentram, karena ada So Ngo Ta. ia khawatir kalau orang itu akan bilang melihat kepadanya.

"Ah, makin lama urusan makin aneh!"

Kata Siau Po.

"Sie Ciangkun, apakah tak mungkin saat tersembunyi itu kau sedang nyeri kepala dan panas tubuhmu hingga pikiranmu rada kacau? Mestinya kau telah keliru mendengar...."

"Jikalau bukannya Pie Cit mendengar sendiri."

Katanya, Tapi di sela Siau Po ia berkata.

"Kau dengar telingamu? Jadi bukannya kau melihat dengan mata kepalamu sendiri.?"

Bagian 62 Tee tok mengawasi Siau Po yang ada di depannya, ia tampak ragu-ragu dan kemudian dia menggeleng pula kepalanya.

Ketrka itu Pie Cit bersembunyi di semak kayu bakar dan rumput Pie Cit hanya mendengar dan sama sekali tidak melihat.

Diam-diam Siau Po mengeluarkan napas lega sebab hatinya menjadi lapang.

"Bagaimana kejadian selanjutnya?"

Tanyanya.

"Rombongan Tan Eng Hoa ramai-ramai meninggalkan tempat itu. Aku lekas keluar dari tempat persembunyianku Kemudian aku menghampiri peti mati dan dengan perlahan-lahan aku membukanya. Ternyata di dalamnya terdapat Kek Song dan akupun menoIongnya."

"Ada satu hal yang aku kurang jelas,"

Kata Siau Po. "Apakah itu Tayjin? Bukankah kau berada di gudang kayu itu? Dari mana kau mendapatkan alat tulis dan kertasnya hingga kau dapat menulis surat ?"

Tanyanya. Sie Long kaget bukan main.

"Su... surat apakah?"

Tanyanya.

"Bukankah sehabis menolong The Kek Song Kau meninggalkan surat dalam peti mati itu?"

Kacung balik bertanya.

"ltu kan sepucuk surat panjang lebar yang dialamatkan pada Tan Eng Hoa? Bukankah kau telah menulis panjang sekali? Yang mana untuk membicarakan perdamaian sesuatu dan mengenai Thian Tee Hwee?"

Paras si orang She Sie menjadi pucat karena kaget sekali.

"Ba... ba... bagaimana.... Wie Taijin tahu itu?"

Siau Po tersenyum, ia melayani orang dengan tenang saja.

"Aku menerka saja"

Katanya dengan sabar.

Siau Po mau menggertak orang yang ada di depannya itu sebagaimana isi surat yang singkat The Kek Song dan Tan Eng Hoa adalah orang yang dipandang pemerintah Boan sebagai pemerintah atau pengkhianat, tetapi sekarang Sie Long telah menolongi pemuda bangsawan dari Taiwan itu, itulah salah satu perbuatan yang menyalahi undang-undang atau kehendak pemerintah Boan itu.

Dalam hal itu, jelas sudah bahwa laksamana itu telah berbuat salah.

"ltu bukannya surat, melainkan hanya sepotong kertas.,."

Kata si orang She Sie menyangkal.

"Sehelai kertas juga dapat ditulis dengan kata-kata."

Kata Siau Po.

"Sebenarnya aku hanya menulis kata-kata. Hormat adik Sie Long, hanya empat huruf saja, Habis menolong Kek Song, ketika aku hendak pergi tiba-tiba datanglah pemimpin penjahat Thian Te Hwee ia lalu kuhajar dengan satu pukulan tangan kosong sampai mati. Kumasukkan mayatnya ke dalam peti mati bersama dengan surat itu."

Kata Sie Long.

"Oh, kiranya demikian."

Kata Siau Po.

"Suratmu tentunya ditujukan pada saudara atau sahabatmu, siapakah dia itu?"

"Pastilah dengan itu diartikan sahabat kekal."

Sahut So Ngo Ta.

"Oh, demikian."

Kata Siau Po.

"Jadi kau masih menganggap Tan Eng Hoa sebagai sahabat kekal?"

Dahi Sie Long mengeluarkan keringat dingin.

"Harap Tayjin berdua ketahui, kata-kata orang di luar itu tak dapat dipercaya, Banyak kata-kata yang tujuannya untuk merusak orang lain."

Kata Sie Long.

"ltu benar,"

Siau Po berkata pula.

"kata-kata yang kurang beralasan itu tak mudah sampai di telinga baginda, Akan tetapi kau mengatakan bahwa untuk menyerbu Taiwan ada dua cara, Cara yang pertama tadi sudah kau katakan yaitu dengan menghancurkan diri dalam, memfitnah kedua orang itu sampai mati, sedangkan jalan yang kedua itu apa?"

"Jalan yang kedua adalah dengan mengerahkan pasukan air. penyerangan dengan satu jalan saja tak mudah mencapai Maka kita harus menyerang dengan tiga jurusan, Yang utara, menyerang pelabuhan Bun Kang, tengah menyerang pelabuhan Tai-wan, dan yang selatan menyerang pelabuhan Kwau-kang. Kalau kita berhasil dalam satu jalan saja dan dapat mendaratkan pasukan, maka penduduk Taiwan akan kacau, Dengan demikian maka kita dapat lebih mudah menyerang, bagaikan kita membabat hutan bambu saja."

"Rupanya kau sangat berpengalaman dalam memimpin pasukan air,"

Kata Siau Po.

"ltu adalah berkat aku hidup dalam kalangan tentara air, maka aku sangat paham dalam berperang di Iaut."

Katanya.

Tiba-tiba Siau Po teringat sesuatu "Orang ini sangat berniat akan membasmi keluarga The.

Tak apa jika ia dapat membunuh The Seng Kong.

Bukankah The Kek Song orang gagah?

Maka tak mungkin keluarga The Kok dapat dibinasakan seluruhnya, Dengan menyerbu Taiwan, orang itu akan mencelakai guruku, Aku harus dapat mencegahnya, karena dia pandai berperang di air, maka jika itu dilakukan akan berakibat fatal!"

Berpikir demikian maka Siau Po bertanya kepada So Ngo Taa.

"Kakak, bagaimanakah menurutmu sekarang?"

Tanyanya.

"Baginda sangat cerdas dan pintar. Kita sebagai hamba sebaiknya menurut saja apa kata raja."

Jawab orang itu.

"Hm, bagus kau tak dapat bertanggung jawab!"

Kata Siau Po yang langsung bertanya juga pada Sie Long. "Sekarang ini ke manakah perginya kawanan pemberontak itu?"

"Sejak malam itu mereka pergi entah ke mana. Dan sampai sekarang ini tak ada lagi kabarnya."

Jawab Sie Long. Siau Po mengangguk.

"Lain kali jika The Kek Song dan Tan Eng Hoa datang ke Pakhia, tak usah kau melapor pada kementrian peperangan, nanti kau ketemu batunya lagi. sebaiknya kau beritahukan saja padaku, nanti biar aku sendiri yang mengundangnya datang ke mari untuk beberapa hari,.,."

"Ya.... Ya."

Sahut Sie Long.

"Dengan Tayjin memimpin pasukan Jiauw Kie Beng serta Gie-Cian Sie Wie, tujuan Tayjin pasti berhasil."

Sampai di situ, sambil mengangkat cawan tehnya Siau Po berseru.

"Antar tamu pulang!"

Sie Long tahu diri, maka ia langsung berdiri untuk berpamitan lalu ia memberi hormat dan pergi. Tak lama kemudian So Ngo Ta pun turut berpamitan.

"Sekarang aku tak lagi berkhayal"

Kata Siau Po dalam hati ia terus pergi menghadap raja untuk memberitahukan tentang rencana Sie Long menyerang daerah Taiwan.

"Terlebih dahulu kita menyingkirkan Sam Hoan, setelah itu barulah kita meratakan daerah Taiwan, Langkah itu yang harus kita jalankan, Sie Long memang pintar, Aku khawatir, jika dibiarkan kembali ke Hokian ia akan melakukan hal yang kurang baik, ia tentu dipengaruhi niat menuntut balas, itu dapat membuat pihak Taiwan bersiap-siap, maka kau harus menahannya jangan sampai ia keluar kota."

Kata raja pada Siau Po.

Sampai di situ, Siau Po heran karena raja telah menahan Sie Long untuk kembali ke Taiwan, di sana ia akan mempersiapkan tentaranya untuk menyambut tentara kerajaan Dengan demikian maka serangan itu tidak ada artinya dan hanya membuang-buang waktu saja."

Kaisar Kong Hie tersenyum.

"Kau benar, memang ada pepatah yang mengatakan bahwa menitahkan seorang panglima tak ada yang lebih baik daripada membuatnya menjadi panas hati, Begitu juga dengan aku menahan Sie Long agar ia tak dapat menggunakan kepandaiannya dan juga tenaganya, agar ia beranggapan kalau aku tak sudi memakainya dan menempatkannya di tempat yang penting, Akan tetapi nanti jika ia diperintahkan tentu seluruh tenaga dan juga kepandaiannya akan dikerahkan seluruhnya, dan tak akan berani berbuat ayal atau alpa."

"Bagus tipu daya raja ini!"

Kata Siau Po memuji rajanya.

"Sekalipun Cukat Liang tidak dapat melawannya, pernah hamba menonton sandiwara yang memainkan cerita Teng Kun San, ketika itu Cukat Liang telah membuat Oey Tiong yang tua naik darah sehingga dengan satu tebasan golok maka lawan pun binasa."

Kata pula Siau Po. Raja tertawa.

"Sekarang kau katakan padaku Sie Long telah memberikan bingkisan apa padamu?"

Tanya sang raja. Siau Po terkejut.

"Ah, Baginda dapat tahu semuanya! Sie Long menghadiahkan kepadaku sebuah cawan kumala, tetapi itu tak membuatku gembira."

Jawabnya.

"Memang ada apakah dengan cawan kumala itu?"

Tanya raja.

"Cangkir itu memang sangat mahal harganya, tetapi sangat mudah pecah, Buat menghamba para baginda, hamba justru mengandalkan tanganku yang buruk ini, yang tak mudah lodoh dan tak pernah karatan sampai seribu tahun juga, itu toh besar bedanya bukan?"

Kata Siau Po. Kaisar tertawa pula.

"Baginda,"

Kata Siau Po.

"Tiba-tiba saja hamba mendapatkan pikiran entahlah pikiran hamba ini dapat dijalankan atau tidak,"

"Pikiran apakah itu? Coba kau jelaskan!"

Tanya raja.

"Menurut Sie Long dia sangat pandai berperang di laut."

Kata Siau Po. Raja menepukkan tangannya pada meja.

"Bagus.,.!"

Serunya.

"Siau Kui-cu kau pandai sekali, Nah, pergilah kau ajak dia ke Liau Tong, di sana kau perintahkan untuk menyerang pulau Sin Liong To!"

Dalam hati, Siau Po terkejut mendengar kata-kata raja, suka ia lalu mengawasi orang teragung itu dan lalu berkata.

"Baginda, Bagindalah malaikat yang turun ke bumi, mengapa setiap hambamu ini berpikir selalu saja baginda telah mengutarakannya, baginda telah mengetahuinya terlebih daripada aku, itu berarti pikiran baginda jauh lebih cepat!"

Katanya. Kaisar Kong Hie tertawa mendengar penuturan dari orang yang ia sukai itu.

"Cukup sudah kau menepuk-nepuk punggung kuda!"

Katanya menggoda.

"Siau Kuicu, daya upaya ini memang baik, namun aku khawatir jika kau menyebut-nyebut nama pulau Sin Long To kau berhasil atau tidak.... Sie Long sebagai orang peperangan di laut. Kirim lebih dahulu dia ke pulau itu. Di sana kau latih dia, tetapi dalam hal ini jangan kau mernbocorkannya!"

"ltu pasti."

Kata Siau Po. Raja memerintahkan untuk memanggil Sie Long datang menghadap, Kemudian pada laksamana itu ia berkata.

"Aku memerintahkan pada Wie Siau Po pergi ke Tian Pek San untuk melakukan sembahyang, Berhubung dengan itu ia telah memujimu pandai bekerja dan memintamu untuk ikut padanya, Mendengar kata-katanya terang aku tak percaya...."

Mendengar kata-kata raja itu Siau Po diam saja, dia tertawa dalam hati dan berkata pula.

"Nah, inilah Cukat Liang yang sedang membakar hati Oey Tiang!"

Sie Long sebaliknya hanya mengangguk dan berlutut.

"Jikalau hamba ditugaskan untuk mengikuti pada Wie Toutong, pasti hamba akan setia dan tidak akan memperdulikan lagi jiwa raga hamba, supaya dengan itu dapatlah kiranya hamba membalas budi baik baginda yang besar laksaan langit..."

"Kali ini kau boleh mencoba dahulu,"

Kata raja.

"Jikalau kau berhasil aku akan menugaskan lagi."

Sie Long sangat gusar, kembali ia mengangguk.

"Tetapi kau ingat baik-baik, inilah rahasia besar, dan rahasia ini tak diketahui oleh mentri yang lainnya kecuali pada Siau Po sendiri. Karena itu kau harus taat pada perintahnya itu, nah sekarang kau mundurlah!"

Hamba itu memberikan hormat sebelum berlalu dan raja memberikan kata-katanya.

"Wie Toutong memperlakukan kau tanpa ada celanya sama sekali, maka itu kau harus membuat mangkuk emas yang besar untuk dihadiahkan kepadanya!"

Hamba hanya menerima perkataan raja tanpa mau mempertimbangkannya..

Setelah Siau Po kembali ke gedungnya, Sie Long sudah menunggunya di depan pintu dan mengucapkan terima kasih kepadanya.

Wie Siau Po tertawa lalu ia berkata.

"Sie Ciangkun, maafkan aku kali ini. Aku minta kau berdiam dalam tangsi sebagai seorang perwira yang berpangkat rendah itu agar orang tak mengetahui akan adanya kau!"

Orang itu nampaknya girang sekali "Dalam segala hal aku akan menurut padamu."

Katanya. Siau Po sementara berpikir dan berkata.

"Sebenarnya aku hendak meletakkan jabatan, Siapa tahu kau bisa sebagai pengganti menggantikan aku untuk mati maka pergilah kau untuk mengadu nyawa dengan Hong Kauwcu, agar kau mati bersama dengan kutu!"

Kata Siau Po dalam hati. Setelah orang itu pergi maka Siau Po memanggil kawan-kawannya untuk membicarakan masalah yang akan dipikulnya itu.

"Jahanam itu yang telah membunuh Kwan Hu-cu, sekarang ia berniat juga ikut denganku dan akan menyerang Taiwan, Dengan demikian ia akan menyusahkan Congtocu kami maka syukur sekali ia terjatuh ke tanganmu, dan sekarang bagaimana kita harus bertindak?"

Kata Thian Cong. Wie Siau Po mengawasi orang-orang itu dan ia berkata.

"Sin Liong Kauw bersekongkol dengan Gauw Sam Kui, dan juga Losat, sekarang aku ditugaskan baginda untuk menumpasnya, maka aku berpikir, lebih baik aku menugaskan orang itu untuk pergi menyerang Sin Liong Kauw, Biar mereka bertempur mati-matian, dan dengan demikian kitalah yang akan memungut hasilnya."

Kawan-kawan Siau Po semuanya setuju.

"Menurut penglihatanku dan meneliti gerak geriknya, ketika baru-baru ini ia membinasakan Kwan Hucu serta menolong Kek Song, mungkin ia telah melihat aku walaupun dalam gelap, Hanya waktu itu aku berdandan lain dari biasanya, hingga ia tidak merasa pasti Disamping itu aku sekarang menjadi atasannya, maka seandainya benar ia mengenali aku, aku percaya ia tak akan berani melakukan hal itu. Oleh karena itu saudara sekalian sebaiknya berhati-hati agar rahasia ini tidak terbongkar olehnya!" "Aku percaya dia tak akan berani melakukan hal itu pada kami semua."

Kata Kho Gan.

"Sekarang ini aku sedang menyamar sebagai anggota Tangsi Jiauw Kie Eng. Kami jarang bertemu dengan dia, maka misalkan dia melihat kami pasti tak akan dapat melakukan hal yang merugikan kami."

"Baiklah kalau begitu. sekarang kalian lebih baik merubah wajah kalian agar ia benar tak mengenali kita, Karena tenaga orang itu sedang kita butuhkan untuk menyerang Sin Liong To, sekarang belum tiba saatnya untuk membunuhnya."

Setelah itu mereka berpamitan pada Siau Po.

Dalam penyerangan ke Sin Liong To, Siau Po tidak membawa Liok Kho dan juga Ay Cun Cia.

ia hanya membawa Song Jie.

Selang beberapa hari Siau Po menerima firman raja yang memintanya untuk berangkat dengan membawa meriam.

ia akan melakukan sembahyang dan meriam itu nantinya dibunyikan untuk sembahyang dengan langit.

Setelah menerima firman itu Siau Po membawa serta pasukan Jiau Kie Eng dan beberapa orang kawannya.

Siau Po memberikan firman raja itu pada pemimpin di situ, dan mencari informasi armada.

Sambil menunggu selesainya urusan pemberangkatan, Siau Po mengajak kawankawannya untuk melakukan bermain judi.

Setelah selesai semua persiapan itu maka pemberangkatan segera dimulai Berangkatlah pasukan Siau Po dengan terlebih dahulu menyediakan rangsum, obat dan persiapan yang lainnya.

Sampai ditengah laut, Siau Po memberitahukan tugas yang sebenarnya pada para penglima perangnya, untuk menyerang pulau Sin Liong To dan mereka diminta bekerja dengan sungguh-sungguh.

perintah itu disambut baik oleh anak buah kapal.

Sebenarnya Siau Po merasa jeri pada Hong Kauwcu tetapi hal itu dapat ia sembunyikan karena ia berada dekat dengan pasukan yang kuat dan juga dengan Sie Long.

"Bagaimana caraku untuk menyerang Sin Liong Kauw sementara aku harus dapat menyelamatkan Phui Ie?"

Tanyanya dalam hati, dan hal itu yang memberatkan pikirannya.

Dan akhirnya Siau Po memanggil Sie Long untuk menanyakan cara yang dipakai untuk penyerangan.

Sie Long lalu mengambil gulungan kertas lalu dibukanya dan menerangkannya pada Siau Po.

Siau Po melihat pada peta itu pulau Sin Liong To telah diberi bundaran merah, Pulau itu akan diserang dari tiga arah.

Utara, Timur dan Selatan.

"Oh, kiranya kau telah mengatur penyerangan kita? Baru di tengah laut tadi aku memberitahukan hal itu padamu, kau ternyata telah mengetahuinya, Bagaimana sekarang kau telah menyiapkan peta itu?"

Tanya Siau Po kagum.

"Aku mendengar rencana pemberangkatan kita kemarin, maka segera aku menyediakan peta laut ini. Aku memang sangat gemar dengan laut, maka sejak awal aku membuat peta laut ini."

Jawabnya.

"Bagus."

Kata Siau Po memujinya.

"Jikalau demikian kita akan memenangkan pertempuran ini."

"Dalam hal ini kita mengandal pada rejeki baginda, juga rejeki Tayjin sendiri. Menurut aku kita menyerang dari tiga tempat, sedangkan bagian barat itu kosong, Aku berpikir, setelah diserbu, musuh akan menyingkir ke bagian barat Tak jauh dari pulau itu terdapat pulau kecil dan di sana kita semua bertugas memepet ke pulau itu untuk menjaga jangan sampai orang-orang itu lolos. Setelah terkurung dari empat penjuru, orang itu tak akan dapat lolos, hingga mereka akan terbasmi semua."

"Bagus."

Kata Siau Po yang kembali menjadi sangat girang karena ia menyangka penyerangan itu akan berhasil dan ia akan memenangkannya.

"Sekarang Tayjin memerintahkan untuk pergi ke pulau kecil itu guna memegang tampuk pimpinan di sana, Tetapi jangan sekali-kali Tayjin naik ke kapal perang. Di darat kedudukan Tayjin kuat dan terjamin, dan jika berada di kapal perang aku takut nanti Tayjin menggoncangkan hati para anak buah kapal, Nanti akan ada kabar dari kapalkapal kecil, agar kami dapat bekerja sama. Harap Tayjin memberikan perintah!"

Siau Po sangat senang sekali.

"Sebenarnya sudah lama aku mengagumi nama besar Tayjin, telah aku ketahui bagaimana Tayjin membinasakan Goh Pay, Dengan keberanian Tayjin itu aku khawatir Tayjin akan maju sendiri makanya aku memilih tempat yang aman.

Kalau terjadi sesuatu atas diri Tayjin mana sanggup aku bertanggung jawab?

Karena itu aku memohon agar Tayjin tetap berada di pulau itu!"

"Sebenarnya bertempur di atas kapal perang sangatlah menyenangkan hati. Memang aku sedang berpikir akan maju sendiri untuk menghajar orang-orang itu. Karena kau berpikir demikian sempurna, maka baiklah kalian pergi."

Kata Siau Po.

"Baiklan Tayjin, terimakasih atas kebaikan Tayjin!"

Kata Sie Long.

"Di Sin Liong To ada beberapa orang wanita, dan aku ditugaskan membawa para wanita yang telah lari dari istana itu. Karenanya di saat kalian menyerang berhatihatilah dalam memilih sasaran. Kau pasti akan dihukum jika para dayang itu sampai mati, Maka ingatlah ini tugasmu yang sangat penting!"

Kata Siau Po mendustai firman raja itu. Sie Long terkejut.

"Oh Tayjin, jikalau Tayjin tidak memberitahukan padaku tentulah aku telah melakukan hal yang salah, Baiklah aku akan mengatur agar para wanita jangan sampai ada yang mati, agar Tayjin dapat mencarinya."

Kata Sie Long.

"Nah begitu baru bagus!"

Kata Siau Po, yang benar-benar senang.

"Beberapa orang dayang itu mengenali aku, maka jika aku mencarinya sangatlah mudah mengingatnya. Hal ini adalah rahasia kerajaan, kau harus dapat menjaganya jangan sampai bocor ingat jaga baik-baik!"

Pesan Siau Po pada Sie Long dengan bersungguh-sungguh.

"Baik Tayjin.... Baik..."

Sahut orang itu.

"Tak berani aku bicara sembarangan. Dengan Tayjin aku baru terbuka."

Katanya pula.

Rombongan kapal perang berlayar menuju ke timur, yang jalannya amat perlahan sebab berlawanan dengan arah angin, Akan tetapi tak lama lagi kapal itu akan sampai di pulau yang dituju.

Sambil tangan kirinya menunjuk, Sie Long berkata pada utusan raja itu.

"ltulah pulau yang akan menjadi markas Tay-jin."

Katanya.

"PuIau itu belum memiliki nama maka itu silahkan Tayjin memberikan nama pada pulau itu!"

Siau Po menganggukkan kepalanya.

"Kau meminta nama padaku itu sangatlah suIit, kita sekarang sedang berada di medan perang dan kita harus berhasil"

Itulah seruan Siau Po dalam bersandiwara, yang sering ia saksikan itu.

Tetapi sekarang ini ia berkata dengan sungguh-sungguh hingga mendapat sambutan dari para tentaranya dengan meriah.

Maka perahu berlayar secara perlahan tetapi baru saja berangkat ada laporan bahwa di tepi laut ada mayat.

"Menemukan mayat? Bukankah itu pertanda buruk? Bukankah dalam perjalanan ini aku akan kalah?"

Kata Siau Po.

"Selamat Tayjin, belum lagi kita menembak sudah ada mayat, itu alamat baik. Maka tunggulah aku akan melihatnya!"

Kata Sie Long. Selesai berkata Sie Long langsung pergi, dan tak lama kemudian ia sudah kembali dan memberikan laporan.

"Harap Tayjin ketahui, mayat itu terikat kaki dan tangannya sepertinya mayat itu terkena bajak laut."

Katanya.

Belum lagi laporan itu terhenti sudah ramai orang yang mengatakan banyak mayat.

Wajah Siau Po berubah karena ia mendengar kata dan laporan itu.

Dan ia berbeda pendapat dengan Sie Long tentang mayat-mayat itu.

Sie Long pergi lagi memeriksa mayat-mayat itu.

Tak lama kemudian ia datang dengan membawa laporan pada Siau Po tentang mayat-mayat itu.

"Tayjin ketiga mayat-mayat itu adalah anggota dari pihak Sin Liong To."

"Bagaimana kau dapat mengetahui hal itu?"

Tanya Siau Po.

"Mayat yang pertama kurang jelas,"

Sahut orang itu pada Siau Po. Tetapi pada mayat yang kedua dan yang terakhir ini, terang mereka orang-orang Sin Liong To.Tubuh mereka yang kekar menandakan mereka itu pandai dalam ilmu silatnya."

Katanya.

"Apakah mungkin telah terjadi perang saudara dalam Sin Liong To?"

Tanya Siau Po.

"Entahlah, tetapi semoga saja demikian, karena dengan demikian akan mempermudah kita."

Jawab Siau Po.

"Apakah itu?"

Tanya Siau Po karena ia melihat ada barang yang mengambang di atas air. "Entahlah!"

Jawab Sie Long. Kemudian Sie Long memerintahkan anak buahnya untuk melihat benda yang terapung itu.

"Mayat lagi! Namun kali ini mayat itu bertubuh katai!"

Kata serdadu itu. Siau Po terkejut.

"Diakah?"

Ia menerka dalam hati.

"Cepat bawa mayat itu kemari!"

Katanya. Yang mendapat perintah itu langsung membawa mayat yang dimaksud itu kepada Siau Po. Akan tetapi anehnya, mayat itu ternyata masih mengeluarkan napas, Maka mereka semua berteriak girang.

"Oh, ternyata ia masih hidup!"

Kata Sie Long kemudian mengangkat tubuh itu dan membalikkannya, Tak lama kemudian air dari dalam perut orang itu mengalir ke luar, dan orang itu pun sadar "Eh, apakah ini istana naga ataukah akherat?"

Tanyanya. Siau Po kemudian tertawa dan memberikan jawaban.

"lnilah istana raja naga dan akulah raja Hay Liong Ong."

Kata Siau Po bergurau. Mendengar ucapan itu semua orang-orang tertawa. Kho Cun Cia membuka matanya dan mengawasi orang yang ada di sekitarnya.

"Eh.... Kau.,., Mengapa kau berada di sini?"

Tanyanya setelah melihat Siau Po. Siau Po takut kalau-kalau rahasianya terbongkar, maka ia berkata pada pengawalnya.

"Orang ini agak aneh, Cepat kalian bawa ke dalam kapal aku akan memeriksanya!"

Perintah Siau Po. Perintah itu dituruti maka orang itu pun dibawanya ke kapal.

"Kalian semua tunggu di luar!"

Kata Siau Po. Setelah itu Siau Po mengawasi orang yang baru saja ditemukan itu.

"Eh, bukankah kau pergi ke Sin Liong To untuk mencari obat? Apakah di sana kau ditawan Kauw-cu? Benarkah?"

Tanyanya. Si Katai menatap, tampak ia heran sekali.

"Eh, kenapa kau ketahui hal itu? Sungguh aneh!"

Katanya.

"Bukankah jiwamu telah ditolong olehku?"

Tanya Siau Po.

"Apakah itu benar? Oh pastilah adikku telah mati!"

Katanya. Siau Po heran mendengar ucapan si katai.

"Mo Sek Sek,"

Kata Siau Po mengulang kata-kata orang itu. Siau Po terus berpikir, siapakah yang di maksudnya Oh ya. ia bara saja ingat Mo Sek Sek adalah ibu suri palsu yang biasa ia sebut si moIer tua.

"Aku telan ditaklukkan oleh Hujin."

Katanya.

"Kau telah ditaklukkan olehnya?"

Tanya Siau Po. Lalu mendadak Kho Cun Cia mengeluarkan suara aneh. Mendengar hal itu Siau Po mundur dan mengeluarkan pisaunya, sementara pengawal yang di luar sudah siap menyerang maka ia berkata.

"Tak apa-apa, kalian tunggulah di luar!"

Katanya.

"Kenapa kau lakukan itu?"

Tanya Siau Po.

"Karena kau adalah orang kepercayaan Hu Jin dan juga Kauwcu dan aku telah memberikan penjelasan padamu segala apa yang aku ketahui dari Sin Liong To!"

Katanya. Siau Po tertawa.

"Tidak ada yang hebat!"

Katanya.

"Kau boleh menganggap seperti juga aku tak pernah menolongmu. Ya, kau boleh berdiam kembali di dalam laut, biar sepuasmu minum airnya yang asin...."

Kho Cun Cia mendongkol mendengar ucapan Siau Po itu.

"Minum air laut?"

Katanya.

"Air asin itu sungguh tak lezat."

"Sekarang begini saja!"

Kata Siau Po.

"Jika kau sudi mengangkat sumpah menyatakan takluk padaku bahwa selanjutnya kau tak akan berhati dua padaku, aku akan membantumu mencari obat kayob itu-"

"Baik... baik!"

Si katai berkata keras, Nyata ia girang sekali "Aku suka... menakluk padamu, dan untuk selanjutnya aku tak akan memberontak dan menentangmu, Jika aku toh melawan padamu, maka... maka...."

Siau Po lantas mendahului "... Mo Sek Sek akan dirampas Kauwcu buat dijadikan gundiknya."

Siau Po tertawa pula. "Jika kau memberontak terhadapku maka akan terjadi peristiwa seperti sumpahmu, sebaliknya jika kau tak memberontak Mo Sek Sek bakal jadi istrimu."

"Baik"

Jawab Kho Cun Cin.

"Baik aku akan bersumpah berat seperti itu. Jika aku berkhianat pada kau, Pek Liong Su, maka Mo Sek.... Sek... biarlah dia mati."

Si Kate tak rela kekasihnya dijadikan gundik ketua kumpulan agama, ia bahkan tak sudi menyebut istilah gundik itu.

"Tidak bisa kecuali kau bersumpah biar berat!"

Kata Siau Po seraya menggelengkan kepala.

"Aku tak percaya padamu."

"Mari kutanya kau!"

Kata Siau Po kemudian.

"Sebenarnya kenapakah kaum Ngo Liong Bun itu berperang saudara?"

"Ketika aku tiba di Sin Liong To, mereka itu sudah berkelahi sejak beberapa hari yang lalu,"

Sabutnya.

"Aku lantas mencari keterangan tentang kejadiannya. Kiranya Cie Liong Su dan Khou Soat Teng pada suatu malam telah ada yang membunuh secara tiba-tiba. Di dalam kamarnya tertinggal sebatang golong Ho Seng, murid kepala Cek Long Su Bu Kin Tojin."

Di dalam hatinya Siau Po terkejut mendengar kematian Khou Soat Teng itu.

"Mungkin sekali Hong Kaucu memerintahkan orang untuk membunuhnya."

Katanya.

"Memang mereka berlima yang bertempur secara kacau."

Ujar Kho Cun Cia memberi kepastian.

"ltulah sebab kemudian entah bagaimana awal masalahnya, Oey Liong Bun telah membantu Cee Liong Bun, dan Hek Liong Bun juga membantu Cek Liong Bun. Demikian orang saling bunuh."

"Lalu bagaimana dengan Pek Liong Bunku?"

Tanya Siau Po.

"Kau menjadi Pek Liong Su, mengapa kau tidak tahu urusan kaummu sendiri?"

Kho Cun Cia balik bertanya.

"Telah kubilang padamu bahwa pada saat itu aku tidak ada di pulau tersebut,"

Sahut Siau Po sabar.

"Kaummu itu menjadi terpecah dua golongan,"

Sahut Kho Cun Cia.

Kaum yang tua membantu Cek Liong Bun dan yang muda membantu Cee Liong Bun.

Siau Po mengerutkan keningnya.

Berbagai kaum tersebut berperang saudara dan melakukannya kalang kabut, Kaucu tidak berdaya lagi mengatasinya.

Tepat si Kate berbicara sampai di situ, mendadak kapal berhenti berlayar, lalu terdengar suara ramai-ramai dari anak buahnya serta jangkar diturunkan ke air untuk melabuhkan kapal itu.

Ternyata mereka sudah sampai di Pulau Tong Kit To.

Siau Po lantas pergi ke luar, ke kepala perahu hingga ia melihat daratan yang terdapat banyak pohon lebat serta tanjakan dan bukit kecil.

menurutnya, itulah tempat yang bagus.

Kemudian utusan kaisar itu....

Di pulau Sin Lion To terdapat ular-ular berbisa di segala tempat, maka itu sekarang coba kau kirim orang untuk mencari tahu di sini dan ular semacam itu atau tidak.

Sie Long menurut perintah, segera ia memberikan titahnya, maka belasan perahu kecil lantas berlayar berpencaran untuk melakukan penyelidikan.

Segera atas perintahnya Siau Po, pasukan depan mulai mendarat, satu barisan demi satu barisan Mereka lalu memilih tempat untuk membangun tangsi, terutama mendirikan Tion Kun atau markas besar lantas memasang sebuah bendera besar berhuruf "Wie"

Selesai pembangunan markas besar itu barulah Siau Po turun mendarat dengan diapit oleh Sie Long dan Cong Peng Oy Hu, selain terompet, orang juga menyembunyikan seruni, Siau Po duduk di kursi kebesarannya di dalam markasnya itu.

Lantas kacung kita memerintahkan pegawai pribadinya mengurus Kho Cun Cia di belakang markas dan memesannya agar orang tawanan itu diberikan makan dan minum yang cukup, asal belenggunya jangan diloloskan sebab orang itu kasar dan tabiatnya keras, Dia memang sudah menakluk tapi harus dijaga.

Kacung kita memang bekerja hebat Setelah kerjaan beres ia memberikan perintahnya dan Siu Long mulai melaksanakan ia memimpin tiga puluh buah perahu yang besar.

Perahu-perahu itu mulai maju menuju ujung timur, utara dan selatan guna mendekati Sin Liong To, untuk mengurung dan menyerang Sin Liong Kau dan Oey Cong Peng diperintahkan untuk memimpin sisanya dan bersembunyi di bagian barat bukit Tong Kit To itu dan diperingatkan mereka boleh bertindak setelah ada aba-aba.

Hari itu juga setelah datang sang fajar, semua tentara sudah siap sedia dan semuanya sudah bersantap, pasukan air menyerang pada waktu maghrib dan semua maju dengan diam-diam, penyerangnya di tiga penjuru diserahkan pada Hauw Sie jam lima pagi esok harinya.

Setelah paginya, Siau Po sudah siap dan diiringi oleh pengawal pribadinya.

Nyata sekali Sie Long telah melakukan penyerangan atas pulau Sin Liong Kau.

Ia percaya laksamana itu akan berhasil, maka ia girang sekali namun dalam hatinya ia berkecamuk dan khawatir sekali...

Bagaimana dengan Phui Ie?

ia khawatir sekali akan keselamatan nona yang cantik itu, sebab peluru tak mengenal siapa serta tak dapat membedakannya.

Setelah berdiri lama Siau Po menggerak-gerakkan kakinya yang terasa pegal lalu turun dan kembali ke kamarnya, Dr sini ia menerima berita dari medan laga, Sewaktu mendengar berita itu, ia mengeluarkan enam biji dadu lalu dilemparkan di atas meja, sambil hatinya berkata, jika Sie Long berhasil maka bijinya harus keluar warna merah.

Tetapi apa yang terjadi, si kacung kita terkejut karena yang keluar adalah warna hitam semua, tak satu pun warna merah.

Si kacung tidak putus asa.

Dikumpulkannya semua dadu dan yang keluar tidak hitam semua.

Di antara enam dadu tersebut yang keluar warna merah empat biji, lega rasanya si kacung.

Walaupun dia sendiri menyadari bahwa itu hanya permainan, tapi dia sudah merasa gembira karena ada titik terang dari hasil mainnya itu, Dengan sendirinya dia terhibur.

Pengawalnya yang selalu mendampinginya sudah menyuguhkan air teh dan memberikan harapan kepada majikannya untuk ada harapan menang yang besar.

"Bukankah kita sudah memberikan bekal yang banyak termasuk meriam besar?"

Kata si nona, Mana mungkin mereka bisa bertahan dengan melakukan penyerangan mendadak dan dahsyat"

Siau Po agak puas.

"Mari, Song Jie!"

Katanya.

"Ayo kita melempar dadu lagi! Jika kau yang menang berarti aku gagal, tapi kalau kau yang kalah itu tandanya aku menang perang."

Wajah si nona menjadi merah.

"Ah, tak mau aku!"

Katanya.

"Kalau begitu mari kita bertaruh duit!"

Kata Siau Po pula.

"Kalau kau menang kau membayar satu cie padaku dan sebaliknya aku memberikan kau satu liangl Kau setuju bukan?"

Si nona tertawa.

"Tapi aku tak punya uang,"

Katanya.

"Kau menginginkan uang?"

Dan ia pun mengeluarkan uang dari sakunya lalu nengeluarkan di depan tangan si nona tersebut. Song Jie tertawa lagi.

"Aku tidak membutuhkan uang karena uang tak dapat kupakai,"

Katanya.

"Kalau begitu kau memang tidak gemar berjudi, nah pergilah kau dan bawa tawanan kita ke mari aku hendak bertaruh dengannya."

Kata Siau Po. Baru Siau Po berkata demikian, dia dikejutkan oleh suara meriam yang meledak hingga ia lompat berjingkrak terus dan merangkul tubuh Song Jie seraya berkata.

"Kita menang, mari aku cium kamu sebagai tanda kemenangan!"

Song Jie lengah, maka pipi kanannya terkena cium, Nona itu lalu menunduk dan ketika itu Siau Po mengambil kesempatan untuk mencium tengkuknya sampai dua kali.

"Lehermu putih sekali."

Kata Siau Po.

Kemudian terdengar lagi bunyi meriam yang besar sekali.

Siau Po langsung berlari ke luar dan ke atas untuk melihat langsung perahu jauh ke depan dan perahu perang yang menggelegar cepat melaju ke timur.

"Benar Sie Long,"

Katanya dalam hati, ia mengawasi terus gerak gerik sejumlah kapal perang, Namun anehnya tak tampak perahu lawan yang kabur dari Sin Liong To.

Tak tampak juga gerakan menggencet dari Sie Long dan Oey Hu terhadap musuh kita itu.

Dari hasil peperangan itu semua anggota Sie Long dan Oey Hu menang dan membuat Siau Po girang sekali ia merasakan bahwa benar-benar mereka itu adalah pejuang yang berani dan pandai bekerja secara baik dan sempurna.

Banyak tawanan yang ditangkap dan banyak pria apalagi wanita, Siau Po menatap terhadap tawanan wanita dari Ngo Liong Bun.

semuanya ditatap tapi Phui Ie belum tampak.

Dan dia menanyakan pada pengawalnya.

"Apakah masih ada tawanan di sini?"

Kata anak buahnya.

"Perlu tuan tahu bahwa di belakang sana masih diadakan penyelidikan dan penangkapan."

Siau Po meminta keterangan kejadian perang tadi dan perwira pun menjelaskan bahwa ada tiga puluh kapal perang mendekati daratan dan menyerang secara tiba-tiba.

Kami memancing, akhirnya ada sekitar dua ratus lawan mati dan tak lama kemudian muncul pasukan pemuda berani mati.

Dan mereka berteriak.

"Hong Kauwcu berbahagia bagaikan dewa usianya panjang bagaikan usia langit Mereka nekad mendekati kita, setelah itu kami tembak dan semuanya gugur. Selanjutnya Siau Po terus memeriksa tawanan wanita, ia tertarik pada seorang wanita, Kacung itu teringat bahwa ia pernah mengatai wanita itu anak haram dari Ay Cun Cia dan pernah juga menamparnya.

"Oh, anjing kau... kau...."

"Oh, Ibu!"

Siau Po memotong... apakah ibu sudah lupa pada putramu?"

"Apakah namamu Siau Po?"

Tanyanya tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya.

"Lekas kau bunuh aku! Apa pun pertanyaanmu aku tak akan menjawabnya!"

"Kau tidak sudi bicara?"

Kata Siau Po. Lantas ia memanggil serdadu dan menyuruh membawa wanita tersebut pergi. Dan memerintahkan agar dia ditelanjangi saja. Wanita itu berteriak.

"Jangan... jangan...!"

Baru nona itu mengaku namanya, Ie So Bwe.

"Apakah kau Cek Liong Bun?"

Tanya Siau Po.

"Ya,"

Wanita itu mengangguk.

"Apakah kau kenal Phui Ie?"

Tanya Siau Po lagi.

"Sekarang ia berada di mana?"

Lanjutnya.

"Sekarang ia menjadi wakil kepala."

Jawab nona itu.

Tadi pagi waktu prajuritmu menembaki kami, ia masih tampak, tapi kemudian ia menghilang.

Siau Po merasa berlega hati mendengar penjelasan nona itu.

ia masih ada harapan untuk bertemu dengan nona Phui Ie yang cantik dan pintar itu.

Lega juga hati Siau Po.

"Akan aku cari terus, Dia ini dahulu pernah mendupakku sekarang aku harus membalasnya..."

Pikirnya. Di saat Siau Po mau menendang nona itu tiba-tiba seorang serdadu pengawalnya muncul dengan laporannya.

"Tayjin telah datang lagi serombongan tawanan perang!"

Tiba-tiba saja ia menjadi girang dan batal niatnya untuk mendupak nona itu, ia terus pergi ke tepi laut dan di sana ia mendatangi sebuah perahu.

Sembari mengawasi, kacung kita menyuruh pengawalnya untuk berkaok menanya ke perahu itu.

"Orang-orang tawanan itu pria atau wanita?"

Tanya pengawal itu. Mulanya masih terpisah jauh, tidak ada jawaban Pihak sana masih belum mendengarnya, Lewat sesaat atas pertanyaan beruIang-ulang, terdengarlah sahutan.

"Ada pria dan wanita!"

Siau Po mengawasi terus perahu itu dan perahu itu pun semakin dekat, Di muka perahu itu tampak tiga atau empat orang wanita, satu diantaranya mirip Phui Ie.

ia mulai mendapat harapan, maka terus mengawasi dengan tajam.

Dengan semakin mendekatnya perahu itu, para tawanan tampak semakin nyata dan akhirnya tampak nona Phui Ie.

Maka bukan main girangnya hati kacung kita.

"Lekas! Lekas lagi percepat lajunya!"

Teriak Siau Po.

Ia memerintah sendiri tanpa menyuruh lagi pengawalnya.

Tiba-tiba perahu di depan itu oleng.

Semua orang menjadi kaget bahkan ada yang menjerit Kiranya perahu itu kandas, membentur batu karang.

Justru itu terdengar teriakan suara nona di atas perahu itu.

"Oh! Siau Po! Siau Po! Kaukah di sana?"

Bukan kepalang girangnya hati kacung kita, sampai dia lupa diri.

"Oh, kakak yang baik, inilah aku!"

Ia berteriak dengan jawabannya.

"Kakak.... Siau Po di sini.!"

Nona itu berteriak pula.

"Siau Po lekas tolong aku! Orang-orang ini telah menelikung aku! Lekas! Lekas!"

"Jangan takut, aku akan menolongmu!"

Teriak kacung kita, yang terus melompat ke sebuah perahu kecil seraya memerintahkan kepada anak buahnya.

"Lekas! Lekas!"

Perintahnya. Perahu itu ada empat orang anak buahnya. Mereka lantas mengerjakan pendayung mereka. Akan tetapi baru kendaraan bergerak seorang bertubuh kecil melompat ke perahu itu seraya berteriak.

"Siangkong...! Aku mau turut agar kau dapat memeriksa di sana!"

Siau Po merasa senang dan terharu karena mereka dapat mengatasi kejadian yang pahit ini dan khususnya terhadap nona Phui le yang ditawan dan dapat diselamatkan dengan baik.

Kiranya dialah Song Jie yang lincah dan cerdas.

Siau Po senang dan membiarkan si nona turut padanya.

"Song Jie tahukah kau siapakah nona di sana itu?"

Tanya Siau Po pada si nona kecil itu. Song Jie tersenyum manis.

"Aku tahu."

Sahutnya.

"ltulah istrimu yang pertama. Baru-baru ini aku pernah memanggilnya, tapi ia tak mau menjawab."

Siau Po tertawa.

"Hari itu dia lihat kau malu.

"Kali ini kau memanggilnya, dia tentu akan menjawab."

Katanya. Sementara itu perahu di depan itu masih saja oleng tak menentu.

"Oh, Siau Po, benar-benar kau!"

Terdengar suara Phui Ie.

"Ya, aku."

Sahut Siau Po. Segera kedua perahu itu saling mendekat satu dengan yang lainnya, Siau Po memerintahkan salah seorang pengawal nya.

"Lekas merdekakan kaum nona itu!"

"Baik!"

Jawab orang yang diperintah itu yang lalu bertindak dengan cepat.

Tidak ayal lagi, Siau Po melompat ke perahu tawanan itu, ia tidak menghiraukan ketika ia meminta pengawalnya berhati-hati.

Phui Ie sendiri, lekas memperoleh kemerdekaan dan terus dia merentangkan kedua belah tangannya dan tak lama kemudian Siau Po sudah berada dalam rangkulannya.

"Oh kakak yang baik kau membuatku sangat kaget!"

Kata Siau Po.

Phui Ie pun membalas memeluk, sehingga keduanya saling berpelukan.

Kali ini tubuh Siau Po merasa hangat Tadinya ia belum tahu apa arti cinta kasih.

Sehabis perjalanan ke Inlam di mana ia dapat main gila dengan Kian Leng Kongcu, ia dapat merasakan Iain.

Tiba-tiba Siau Po merasa tubuhnya bergerak.

Kacung itu tak menghiraukan itu bahkan hendak mencium nona Phui.

Namun tiba-tiba ia terkejut karena mendengar berita beberapa anak buahnya, Maka ia lekas-lekas menolehkan kepalanya.

Apakah yang telah terjadi?

Seseorang dengan jangkar besar di tangannya telah menghajar anak buah perahu sehingga mereka tercebur ke laut Setelah itu jangkar ditangannya juga digunakan untuk menyerang perahu kecil itu sehingga karam.

Siau Po merasa heran.

Dia mengenali penyerang itu sebagai salah seorang perwira Jiau Kie Eng, meskipun ia lupa namanya, Kejadian itu juga membuat para tentara yang ada di darat berteriak-teriak.

"Eh, apa yang kau lakukan?"

Tegur Siau Po pada perwira itu, sedangkan perahunya terus bergerak, hanyut mengikuti arus gelombang.

"Apakah kau hendak memberontak?"

Selesai berkata, Siau Po membalikkan tubuhnya. Namun tiba-tiba ia merasa ada tangan yang kuat menyambar batang lehernya diiringi dengan terdengarnya suara yang merdu namun keras.

"Pek Liong Su, apakah kau baik-baik saja? Hari ini kau menyuruh orang menyerbu Sin Liong To, jasamu sungguh besar sekali!"

Siau Po terkejut setengah mati, Dia mengenali suaranya Hong hujin, itu berarti celaka, Dia segera meronta, tapi tidak dapat melepaskan diri.

Hal ini disebabkan Pui le memeluknya erat-erat.

Bahkan, setelah itu, dia merasa pinggangnya nyeri, Rupanya dia telah ditotok, entah oleh Pui le atau orang lainnya, Dia juga segera melihat seraut wajah garang, potongannya bulat dan montok.

Iya...

wajahnya Kho Cun Cia!

Peristiwa itu membuat Siau Po seakan tengah bermimpi Tapi dia segera ingat, karena itu dia berkata dalam hati.

Celaka!

Kembali Pui le bermain gila terhadapku Dia langsung berteriak-teriak.

"Mana orang? Lekas tolong aku!"

Ketika itu, Pui le sudah melepaskan rangkulannya.

Dia bergeser ke samping membuat Siau Po jatuh duduk di lantai perahu, sementara perahu itu sendiri sudah mulai berlayar dengan cepat.

"Oh, langit bumi yang maha pengasih!

Mudah-mudahan saja Sie Long dan Oey Hu dapat mencegat dan menolong aku.

Semoga mereka tidak sembarangan melancarkan tembakan...."

Ketika Siau Po sedang berdoa, suara berisik para tentara di daratan pun lenyap dengan cepat, Hal ini karena perahu melaju dengan cepat.

Siau Po segera tahu bahwa dirinya berada di tengah laut yang luas dan tak ada sebuah perahu pun di sekitarnya.

Sembari duduk berdiam di atas lantai perahu, Siau Po memperhatikan beberapa orang perwira Jiau Kie Eng yang berada di antaranya, Mereka sedang tersenyum mengejek kepadanya, sekarang setelah perasaannya agak tenang, dia dapat melihat jelas wajah sekalian para serdadu itu.

Dia mengenali salah satu yang berwajah jelek tak lain Kho Cun Cia yang wajahnya kurus ialah Liok Kho Hian.

sedangkan yang ketiga berwajah panjang, dia tak lain Ay cun Cia.

Hatinya semakin heran.

Bukankah dua di antara mereka berada di kota Pe King, kota raja?

Mengapa sekarang mereka bisa berada di Sin Liong To?

Dan ketika Siau Po melihat kepada seraut wajah yang cantik manis, dia segera mengenalinya sebagai Hong hujin, orang yang membekuknya dibantu Pui Ie, kekasihnya itu...

Nyonya Hong sendiri sedang mengawasi tawanannya sambil tersenyum simpul.

Kemudian, sambil mencubit pipi Siau Po dan tertawa manis, dia berkata.

"Toutong tayjin, usiamu masih demikian muda, tapi kau sudah hebat sekali"

Siau Po berusaha menguasai dirinya, Dia tertawa dan berkata.

"Kaucu dan hujin berbahagialah kalian dan panjang umurnya seperti usia langit! Kali ini bawahanmu bekerja kurang sempurna, sayang sekali dia tidak mempunyai daya apa-apa...."

"Sebaliknya, Toutong tayjin telah bekerja dengan sempurna sekali."

Kata Hong hujin sambil tertawa manis.

"lya, tidak ada yang kurang sama sekali sehingga kaucu memujimu setinggi langit, Kau telah memimpin pasukan perang yang besar, Dengan meriam kau menghujani seluruh pulau Sin Liong to. Biasanya kaucu dapat meramalkan segala sesuatu dengan jitu sekali, tapi kali ini beliau gagal, terkaan beliau keliru, karena itulah beliau sangat takluk kepadamu."

Siau Po diam saja.

Dia insyaf dirinya telah berada dalam genggaman lawan, sia-sia saja kalau dia melayani omongan orang, sekarang ini, yang paling penting dia harus berlaku tenang dan menggunakan otaknya.

Barangkali dia bisa mendapat akal atau kesempatan untuk meloloskan diri.

Tinggal tunggu waktu saja....

"Semoga kaucu dalam keadaan sehat dan berbahagia!"

Katanya sambil tertawa.

"Sebenarnya, bawahanmu ini meninggalkan pulau kita, tapi senantiasa dia teringat kepada kaucu dan hujin, Semoga semakin lama hujin menjadi semakin muda dan semakin cantik, supaya kaucu puas menemani hujin dan hujin berdua selamanya serta panjang umur!"

Bagian 63 Nyonya kaucu itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Oh, kunyuk cilik!"

Katanya sinis.

"Sampai saat ini kau masih tidak sadar kapan kau akan hidup dan kapan kau akan mati."

Siau Po memperhatikan si nyonya yang cantik, Dia menarik napas panjang.

"Oh, nyonya yang baik, kau telah memperdayai aku dan membuat aku begitu sengsara...."

"Aku memperdayaimu?"

Tanya si nyonya.

"Ah...."

"Memang betul, nyonya yang baik,"

Sahut Siau Po.

"Tadi tentara ceng telah menawan sejumlah kakak beradik, merekalah nona-nona dari Cek Liong Bun, Tadi aku berdiri di tepi pantai tapi sayang aku tidak mengenali hujin yang kukira seorang anggota biasa saja, sehingga aku berkata pada diriku sendiri "

Oh, entah kapan Cek Liong Bun kedatangan seorang wanita yang luar biasa cantiknya!

Mungkinkah dia adik kaucu atau putrinya sendiri?

Aku ingin sekali mencari tahu lebih jauh tentang dirinya, Oh, hujin, pikiranku menjadi kalut dan aku juga lekaslekas melompat ke dalam perahu untuk melihat dari dekat!

Siapa tahu, wanita cantik itu ternyata hujin sendiri!" Hong Hu Jin tertawa geli mendengar pujian Siau Po.

Memang benar, meskipun dia menyerbu sebagai salah seorang serdadu Jiau Kie Eng, tapi kecantikannya tetap menonjol penyamarannya kurang sempurna.

Sementara itu, Kho Cun Cia jadi tidak sabaran.

"Hei, setan paras cantik,"

Bentaknya.

"Mengapa di depan hujin sekalipun kau berani mengoceh yang bukan-bukan? Lihat, aku akan membeset kulitmu atau menarik ototototmu atau tidak?"

"Oh, Kho Cun Cia!"

Kata Siau Po kepada orang yang mendampratnya.

"Kau adalah manusia bodoh, Tidak sudi aku berbicara panjang lebar denganmu."

Kho Cun Cia menjadi gusar mendengar ejekan Siau Po.

"Kaulah yang bodoh!"

Bentaknya.

"Kau tolol sebab kau tidak sadar orang hanya purapura mati, bahkan kau menolongnya dan kemudian meminta keterangan dariku! Tentu saja aku menjawab seperti apa yang diajarkan oleh kaucu. Tapi kau memang dungu, kau percaya segala macam ocehanku!"

"Tolol! Tolol!"

Maki Siau Po dalam hati, Dia mencaci dirinya sendiri, Memang dia merasa dirinya dungu sekali sehingga dapat dikelabui orang-orang itu.

Iya, Wie Siau Po, kau memang harus mati konyol!

Mengapa kau tidak ingat bahwa tenaga dalam Kho cun cia sudah mahir sekali sehingga dia dapat pura-pura mati dan hanyut di laut sekian lama?

Mengapa kau percaya saja segala obrolannya, bahwa di dalam Sin Liong kau sudah terjadi segala perang saudara yang dahsyat!

Tapi dia tidak mau kalah bicara, karena itu dia berkata lagi.

"Aku bukannya dungu atau tolol! Tapi aku terpedaya oleh siasat kaucu dan hujin!"

"Hm! Kalau kau tidak tolol atau dungu, jadi kau anggap dirimu itu cerdik?"

"Memang aku cukup cerdik!"

Sahut Siau Po.

Tapi aku ingin mengatakan kepadamu, kalau berhadapan dengan kaucu atau pun hujin, orang yang paling cerdik sekalipun pasti akan terjungkal di tangan mereka berdua!

Memang kaucu dan hujin sangat pandai meramal dan menghitung, Kalau mereka mengerjakan sesuatu, hasilnya begitu mudah seperti orang membelah bambu sehingga semuanya cepat selesai!"

Ketika mengucapkan kata-katanya yang terakhir Siau Po sengaja melirik kepada Hong hujin yang bibirnya agak bergetar. Kembali nyonya itu tertawa. Tampak dua baris giginya yang putih dan rapi.

"Pek Liong su, dasar kau memang jauh lebih cerdas daripada siau tauto!"

Demikian katanya.

"Dia memang kalah bicara kalau dibandingkan dengan kau! Tapi, aku hendak bertanya kepadamu, mengapa kau mengatakan dia tolol?"

"Sebenarnya, Siu tauto mempunyai seorang kenalan baik!"

Sahut Siau Po.

"Sahabatnya itu adalah..."

Belum lagi Siau Po menyelesaikan kata-katanya, Kho cun cia sudah mengeluarkan seruan keras dan menerjang ke depan untuk menerkam si bocah, Kedua tangannya yang kuat mencengkeram ke arah batang leher.

Hong hujin mengulurkan tangannya mencegah serangan itu.

"Jangan buat keonaran!"

Bentaknya.

Kho Cun Cia takut sekali terhadap nyonya yang masih muda ini.

Tapi karena dia sedang melompat, terpaksa dia meneruskan gerakannya untuk menyambar tiang layar setelah itu dia baru mencelat turun kembali di atas perahunya, namun mulutnya tetap mengeluarkan ancaman.

"Kalau kau tetap sembarangan mengoceh, aku akan mengadu jiwa denganmu!"

Siau Po melihat sikap orang, Dia tahu Kho Cun Cia keberatan menceritakan soal Mo Sek Sek, karena itu dia jadi berpikir keras, Setelah itu dia baru mengambil keputusan.

"Baiklah! Untuk sementara aku tidak akan mengatakan hubungannya dengan ibu suri palsu itu. Mungkin kelak aku dapat membebaskan diriku dengan mengandalkan rahasia ini...."

Oleh karena mendapat pemikiran itu, Siau Po segera mengganti siasatnya. Dia berkata kepada orang yang hatinya mudah terbakar itu.

"Siu tauto, kau telah melihat hujin yang cantiknya luar biasa, bahkan melebihi bidadari, seharusnya kau tidak bisa tertarik hati oleh wanita cantik lainnya, tapi kau memang lain. inilah sebabnya mengapa aku mengatakan kau dungu dan toIol. Perlu kau ketahui, aku paham sekali apa yang terpikir dalam hatimu, Iya, kau sedang mengenaskan dan tidak dapat melupakan wanita cantik yang kedua itu, siapakah wanita cantik itu? Apakah kau ingin akau menyebutkannya?" Kembali Kho Cun Cia menjadi gusar.

"Jangan sekali-sekali kau membuka mulut!"

Bentaknya nyaring. Siau Po tertawa.

"Ya, jangan membuka mulut, ya jangan membuka mulut."

Dia mengulangi kata-kata Kho Cun Cia.

"Tapi, bukankah aku bisa mengatakan bahwa adik seperguruanmu jauh lebih cerdik daripada dirimu? Adik perguruanmu itu, begitu sekali saja melihat wajah hujin, dia langsung mengatakan kepadaku bahwa untuk selanjutnya, tidak ada kegembiraannya untuk melihat wanita lain."

Mendengar ucapannya, wajah Ay Cun Cia menjadi merah padam.

"Kau mengoceh sembarangan!"

Bentaknya perlahan "Mana ada urusan seperti yang kau katakan?"

Siau Po menatap Ay Cun Cia dengan tertegun.

"Apa?"

Tanyanya untuk menegaskan "Kalau begitu, apa benar setelah melihat kecantikan hujin kau masih ingin melihat wanita cantik lainnya?"

Ay Cun Cia terdesak oleh pertanyaan itu, Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Aku adalah seseorang yang telah menyucikan diri."

Katanya perlahan "Aku telah merubah cara hidupku, pandanganku terhadap semuanya telah kosong melompong. Aku tidak pernah memikirkan lagi urusan laki-laki dan wanita."

"Hm! Hm!"

Siau Po memperdengarkan suara yang seperti orang kagum tapi mengandung ejekan.

"Oh, hwesio tua, kau seperti mempunyai mulut tapi tak punya hati, lya, kau sama saja dengan kakak seperguruannya. Kau kan seorang tosu? lya, mengapa kau setiap hari juga memikirkan kenalan baik kakak seperguruanmu itu?"

Meskipun di mulut dia berkata demikian, tapi di dalam hati Siau Po justru mempunyai pemikiran yang lain.

lya, dia memang merasa aneh.

Bukankah aku menitahkan dia dan Liok Kho Hian berdiam di kota raja?

demikian pikirnya, Mengapa sekarang mereka berdua bisa berada di sini?

Bahkan ada di atas perahu ini?

Mengapa mereka bisa ada bersama-sama Hong hujin?

Aneh bukan?

Ketika itu terdengar Ay Cun Cia berkata lagi.

"Kakak seperguruanku adalah kakak seperguruanku, demikian pula aku adalah aku, jangan kau membanding-bandingkan kami berdua!"

"Menurut pandanganku, kalian berdua justru tidak berbeda satu dengan lainnya."

Kata Siau Po yang masih mendesak terus.

"Kakak seperguruanmu memang rada tolol, tapi kalau dibandingkan dengan dirimu, dia masih agak jujur. Kalian dua bersaudara, kalian telah merusak usaha besar kaucu dan hujin. Sungguh dosa kalian berdua merupakan dosa yang tidak kepalang besarnya."

Baik Kho Cun Cia dan Ay Cun Cia langsung berteriak setinggi langit.

"Cara bagaimana kami merusak usaha kaucu dan hujin?"

Tanya mereka.

Siau Po tidak menjawab, Dia justru mengeluarkan suara tertawa dingin, Dia bukannya tidak mau menjawab, tapi saat itu, dia benar-benar kehabisan akal untuk menjawab lebih jauh.

Maksud hatinya ingin memfitnah kedua kakak beradik seperguruan itu.

Sebaiknya aku bersabar dulu -demikian pikirnya dalam hati, Nanti setelah aku tahu apa sebabnya mereka meninggalkan kota raja, baru aku pikirkan hal dengan cara bagaimana aku bisa membangkitkan kecurigaan atau kecemburuan dalam hati hujin.

Dengan membawa pikiran itu, Siau Po memalingkan wajahnya untuk memperhatikan lautan yang luas, Dari sana tetap tidak terlihat sebuah perahu pun, malah dari kejauhan terdengar suara dentuman meriam.

Karena itu, dia menduga tentunya Sie Long dan Oey Hu sedang melabrak orangorang Sin Liong to yang berusaha melarikan diri....

Sementara itu, Liok Kho Hian menatap si anak muda, yang sejak semula semua kata-katanya didengar dengan jelas, Di dalam hatinya dia berpikir.

"Anak ini masih muda sekali tapi otaknya luar biasa cerdas dan juga licin sekali, Dia seharusnya disingkirkan sejak siang-siang supaya jangan terus sembarangan mengoceh, ocehannya bisa menimbulkan malapetaka bagi kami semua."

Karena mendapat pemikiran demikian, Kho Hian langsung berkata kepada Hong hujin.

"Hujin, anak ini berdosa besar sekali terhadap partai kita. sebaiknya hujin mengabarkan perihal dirinya kepada kaucu. Dengan demikian kita bisa melemparkannya ke dasar laut agar menjadi hidangan malaikat naga kita."

Terkejut juga hati Siau Po mendengar kata-kata Liok Kho Hian.

--Aku si naga cilik palsu, kalau aku sampai dilemparkan ke dalam laut, pasti melayanglah selembar jiwaku ini.

--katanya dalam hati.

Tapi dia segera mendengar sahutan Hong hujin.

"Masih ada beberapa persoalan yang ingin kaucu tanyakan kepadanya?"

"Baiklah kalau begitu,"

Kata si orang she Liok yang langsung mendorong tubuhnya Siau Po sambil membentak "Mari kita menghadap kaucu!"

Siau Po menurut, tapi dalam hatinya dia mengeluh --Di depan hujin aku masih bisa mengoceh untuk mengambil hatinya atau menyenangkan hatinya tapi tidak demikian halnya di depan kaucu, Rupanya dia juga ada di atas perahu ini.

Mau atau tidak, kali ini aku, si naga putih cilik terpaksa harus masuk ke dalam istana laut.,, --Siau Po menoleh kepada Pui Ie dan menggunakan kesempatan itu untuk rnenatapnya, Dia melihat gadis itu berdiri dengan berdiam diri, tidak tersirat pun perasaan senang atau sedih di wajahnya, Karena itu, dia segera berkata.

"Nona Phui, aku mengucapkan selamat kepadamu."

"Mengucapkan selamat kepadaku?"

Tanya si nona heran.

"Selamat untuk apa?"

Siau Po tertawa.

"Bukankah kau telah mendirikan jasa besar untuk Sin Liong Kau kita?"

Katanya.

"Bukankah kaucu akan memberikan hadiah besar kepadamu atau menaikkan pangkatmu?"

"Hm!"

Terdengar suara si nona singkat Dia sadar dirinya sedang diejek maka dia memilih untuk berdiam diri.

"Semua masuk ke dalam!"

Perintah Hong hujin.

Pada saat itu, semuanya memang berada di luar kabin perahu.

Tanpa menunda waktu lagi, Kho Hian segera mencekal batang leher Siau Po dan menyeretnya dengan paksa ke dalam perahu.

Di dalam, Sin Liong kaucu terlihat sedang duduk tegak, wajahnya tampak berwibawa.

Siau Po sendiri segera maju ke depan untuk memberi hormat kepada sang kaucu sambil menyerukan.

"Kaucu dan hujin berbahagia, usianya panjang seperti usia langit! Bawahanmu, Pek Liong Su datang menghadap."

Kho Hian segera melepaskan cekalannya, bersama-sama Phui le, dia pun memberi hormat kepada ketuanya, yang dia pujikan panjang umur beserta Hong hujin.

Diam-diam Siau Po memperhatikan ketua Sing Liong Kau itu.

Orang itu tidak memperhatikan siapapun juga.

Matanya menatap ke luar perahu.

Di sisinya berdiri empat orang, mereka adalah Chi Liong Su Bu Kon tojin, Oey Liong Su Ing Tiong Tat, Khou Soat Teng, dan Hek Liong Su Thui Tan Goat.

Menyaksikan keadaan Sin Liong kaucu beserta keempat pembantunya, Siau Po segera mendapatkan pikiran baru, Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan menghadap kepada Liok Kho Hian untuk menegur dengan keras.

"Orang busuk! Bagaimana kau bisa menyebarkan cerita burung yang tidak-tidak? Mengapa kau mengatakan kaucu bersama hujin sedang terancam bahaya sehingga aku harus terburu-buru datang untuk menolong mereka? Nah, sekarang kau lihat sendiri, bukankah kaucu dan hujin tidak kurang suatu apa pun? Bukankah mereka sehat-sehat saja? Dan para ciang bunsu itu, bukankah mereka berkumpul bersamasama? Kapan mereka memberontak sehingga terjadi perang saudara yang hebat?"

"Apa katamu?"

Tanya Hong kaucu dengan suara dingin.

"Sebawahanmu dibuat tidak mengerti."

Sahut Siau Po.

"Sebagaimana kaucu ketahui, sebawahanmu dititahkan kaucu bersama hujin untuk menyelundup masuk ke dalam istana kaisar di kota raja. Tugas itu telah sebawahanmu laksanakan. Di sana sebawahanmu telah mendapatkan dua

Jilid kitab Si Cap Ji Cin Keng, Belakangan, di Kun Beng, di gedung Gauw Sam Kui, sebawahanmu kembali mendapatkan tiga

Jilid lainnya dari kitab pusaka itu...."

Sepasang alis Hong kaucu terangkat ke atas. Tampaknya dia tertarik sekali dengan keterangan si anak muda.

"Oh, jadi kau telah mendapatkan lima

Jilid kitab?"

Tanyanya.

"Lalu, di mana kitab-kitab itu sekarang?"

"Ada sebuah kitab yang sebawahanmu telah menyuruh seseorang yang istimewa untuk mengantarkannya kepada kaucu dan hujin,"

Sahut Siau Po yang bicaranya lancar dan sikapnya tenang-tenang saja.

"Empat kitab lainnya masih sebawahanmu simpan di kota raja, di sebuah tempat yang aman sekali serta menugaskan Poan tauto dan Liok Kho Hian yang menjaganya..."

Mendengar sampai di situ, wajah Ay Cun Cia serta Kho Hian langsung berubah. Tampaknya mereka terkejut sehingga menjadi pucat pasi, mereka segera menyahut.

"Ti... dak tidak ada urusan seperti itu.... jangan kaucu percaya ocehannya!"

Siau Po tidak menghiraukan kedua orang itu. Dengan tenang dia melanjutkan keterangannya.

"Sebawahanmu khawatir keempat

Jilid kitab itu nanti dicuri orang, Karena itu sebawahanmu memesankan kepada Poan tauto dan Liok Kho hian menjaganya baikbaik dan tidak boleh meninggalkan tempat penyimpanannya selangkah pun sampai kaucu mengutus orang datang mengambilnya..."

Berkata sampai di situ, Siau Po menghentikan kata-katanya sejenak untuk menoleh kepada Ay Cun Cia serta Kho Hian dan dia bertanya dengan suara lantang.

"Liok Kho Hian! Poan tauto! Bagaimana? Aku menitahkan kalian berdua menjaga di dalam rumah, aku larang kalian pergi ke mana pun, mengapa sekarang kalian justru berada di sini? Bagaimana kalau semua kitab itu lenyap sehingga gagallah usaha besar kaucu serta hujin? siapakah nanti yang akan bertanggung jawab?"

Kho Hian dan Ay Cun Cia saling menatap sejenak, keduanya sama-sama bungkam. Lewat sesaat, Kho Hian baru membuka mulutnya.

"Kau toh tidak mengatakan kepada kami kalau kau menyimpan kitab itu di dalam tembok? Bagai mana kami bisa mengetahuinya"

"Tapi aku telah mendapat pesan kaucu agar bekerja serahasia mungkin."

Sahut Siau Po yang cerdik sekali.

"kata kaucu, lebih satu orang yang mengetahui sebuah rahasia, maka rahasia itu sendiri lebih mudah bocor Kepada kalian berdua, untuk berbicara terus terang, tentu saja aku masih belum menaruh kepercayaan penuh. Karena itu mana mungkin aku mengatakannya kepada kalian berdua? Kalian tahu, apa yang aku lakukan setiap hari? Setiap pagi aku berdoa agar kaucu dan hujin panjang umur dan berbahagia, usianya seperti usia langit Setiap makan, setiap mau masuk tidur, tentu aku memuji sekali 1agi. Tapi, bagaimana dengan kalian berdua? Begitu kalian meninggalkan Sin Liong to, belum pernah kalian memuji kaucu dan hujin apalagi kelihayannya yang ibarat Niau Seng Hi Tong."

Siau Po tidak tahu tentang sebutan Oiau Sun Ie Tong.

Kaisar-kaisar bijaksana di jaman dahulu, yakni kaisar-kaisar Giau, Sun, Ie dan Tong, Dia salah menyebutnya menjadi Niau Seng Hi Tong yang artinya sudah berbeda jauh (Burung hidup dan sup Ikan)."

Karena itu, mendengar kata-kata si anak muda, orang-orang menjadi heran.

Wajah Kho Hian dan Ay Cun Cia langsung berubah, sebentar merah sebentar putih, Mereka merasa malu dan takut.

Terhadap Siau Po, mereka justru benci sekali, Akhirnya Kho Hian bisa menenangkan diri, dia berkata dengan suara lantang kepada si anak muda.

"Kau sendiri melakukan sebuah kesalahan besar sekarang kau mengoceh sembarangan untuk mengambil hati kaucu! Dengan demikian kau akan mendapat pengampunan dari kaucu dan hujin, Kami yang berdiam di dalam pulau, kami sangat menderita, bahkan usaha besar kami sejak puluhan tahun yang lalu, kini runtuh di tanganmu, Kau masih mengharap hidup? jangan bermimpi di siang hari bolong!"

"Kho Hian, Kho Hian, bicaramu salah sekali."

Kata Siau Po yang tidak mau kalah debat.

"Kita semua yang menghamba kepada kaucu dan hujin, Sejak semula masuk menjadi anggota saja, nyawa kita bukan milik kita lagi. Nyawa kita sudah menjadi milik kaucu dan hujin, Karena itu, apa pun perintah kaucu dan hujin, bagi kita hanya ada satu pilihan, yakni melaksanakan dengan sebaik-baiknya, Kita harus jujur dan setia, Bahkan asal kaucu dan hujin menghendaki jiwa kita, kalau kita diharuskan mati, maka kita tidak dapat menolak atau mengelakkannya, Siapa yang berani menyangkal berarti dia tidak lagi bersetia kepada kaucu maupun hujin."

Tegas dan nyata kata-kata Siau Po, lidahnya memang tajam sekali, Mendengar itu, Hong kaucu langsung memuntir-muntir kumisnya serta janggutnya dengan perIahanlahan.

Dia mendongakkan wajahnya untuk menatap tajam kepada Kho Hian dan Ay Cun Cia berdua.

"Kalian mengatakan Pek Liong su memimpin pasukan perang air dengan maksud tidak baik terhadap perkumpulan agama kita, sebenarnya bagaimana duduk persoalannya itu?"

Dalam pendengaran Kho Hian dan Ay Cun Cia, suara ketuanya mengandung perasaan kurang puas, Keduanya menjadi terkejut sekali. Yang pertama segera berkata.

"Harap kaucu ketahui! Kami berdua mendapat tugas mengintai gerak-gerik Pek Liong Su. Tugas itu sudah kami jalankan dengan sebaik-baiknya, Setiap saat kami selalu memasang mata dan telinga kami, Kami tidak berani lengah sedikitpun juga. Demikianlah pada suatu hari raja memberinya kenaikan pangkat, lalu ada seorang pembesar yang datang mengunjunginya. Apa yang mereka bicarakan kami berdua mendengarnya dengan nyata dan jelas seperti apa yang pernah kami laporkan kepada kaucu, pembesar itu ialah Suisu Tetok Sie Long, laksamana yang sekarang memimpin pasukan armadanya datang menyerang kita. Kemudian Pek Liong Su mengajak Sie Long pergi bertugas, Sie Long diharuskan menyamar sebagai salah seorang perwira tangsi Jiau Kie Eng. Di lain pihak, Pek Liong Su melarang kami ikut bersamanya, Hal itu justru yang membuat kami menjadi sangsi serta curiga...."

Mendengar sampai di sini, Siau Po berkata dalam hatinya. --Bagus ya, rupanya kalian berdua ditugaskan kaucu untuk mengawasi aku.Kho Hian melanjutkan keterangannya.

"Pada suatu pagi, setelah lewat beberapa hari, sebawahanmu telah mendapatkan sesuatu dalam keranjang surat di kamarnya Pek Liong Su. Surat itu sudah tersobeksobek menjadi beberapa bagian, Ketika sebawahanmu menyambungnya kembali sehingga sempurna, kiranya itulah daftar nama-nama di Liau Tong dalam bahasa Boan Ciu. Pek Liong Su buta huruf, apalagi huruf Boan Ciu, tentu itulah surat yang diberikan raja kepadanya. Kemudian kami mendengar bahwa Pek Liong Su sudah berangkat dengan sejumlah meriam besar. Karena dalam hati kami telah timbul kecurigaan, kami langsung memikirkan urusan ini secara sungguh-sungguh. Siau Po berangkat bersama seorang laksamana, dan pula mereka membawa sejumlah besar meriam, Kami segera menduga dia mempunyai niat yang kurang baik, apalagi sebelumnya dia mendapat surat dari raja, oleh karena itu, cepat-cepat kami meninggalkan kota raja untuk kembali ke sini. Maksud kami hendak memberi kisikan kepada rekan-rekan lainnya, Tapi hujin mempunyai pikiran yang Iain. Hujin mengatakan bahwa Pek Liong Su sangat setia kepada perkumpulan kita, tidak mungkin dia berkhianat. Tapi akhirnya toh memang nyata, tahu orang, tahu wajah, tapi tidak tahu isi hatinya, Nah, Pek Liong Su berhati srigala, berparu-paru anjing, kau telah menyia-nyiakan kepercayaan kaucu terhadapmu"

Sementara Kho Hian menceritakan keterangannya kepada kaucu, Siau Po hanya berdiam saja. Sampai dia sudah selesai, Siau Po baru menarik napas panjang dan berkata dengan suara perlahan.

"Tuan Liok, rupanya kau menganggap dirimu pintar dan sangat pandai bekerja, Tapi kau tidak pernah berpikir bahwa kau tidak mungkin membandingkan dirimu dengan kaucu atau pun hujin, Selaksa lawan satu, kau tidak nempil sedikit pun. Aku katakan terus terang kepadamu, kau... ya kalian berdua,., salah. Yang benar ialah kaucu dan hujin."

Kho Hian mendongkol sekali. Dia merasa gusar "Kau ngaco!"

Bentaknya. Tapi kata-katanya segera disela oleh Siau Po.

"Kau bilang aku ngaco?"

Tanyanya sambil menuding orang itu.

"Aku sendiri tidak berani memastikan kata-kataku, iya, hanya kaucu dan hujin yang selamanya benar Apa kau merasa tidak puas? Apa kau mengira kaucu dan hujin tidak benar? Jadi hanya kau si Tuan Liok yang selamanya benar?"

Wajah Kho Hian jadi merah padam. Dia kesal sekali.

"Bukan begitu maksudku,"

Bantahnya.

"itulah kata-katamu sendiri. A... ku.,., aku tidak mengatakan demikian."

"Kaucu dan hujin mengatakan bahwa aku si Pek Liong Su sangat setia dan tidak mungkin berkhianat,"

Kata Siau Po yang terus bersikap sabar.

"Beliau berdua juga sangat pandai meramal Mana mungkin ramalannya salah? Baiklah, mari aku berikan penjelasan kepadamu! Memang raja menitahkan aku membawa pasukan laut untuk pergi ke Liau Tong, juga meriam-meriam besar Tapi itu.,, itu, hm! Tahukah kau apa maksudnya?" Sembari berkata demikian, Siau Po menguras otaknya, Dia berpikir keras dan bertanya kepada dirinya sendiri.

"Ya, apa yang dititahkan oleh si raja cilik? Aku harus mencari jawaban yang masuk akal..."

Tepat pada saat itu, Hong kaucu justru bertanya kepadanya.

"Raja menitahkan kau melakukan apa?"

"Sebenarnya urusan itu rahasia sekali, biar bagaimana aku tidak boleh membocorkannya."

Sahut Siau Po.

otaknya langsung menemukan jawaban yang harus diberikan "Kalau raja mengetahui aku telah membocorkan rahasia ini, pasti batang leherku ini tidak dapat dipertahankan lagi, leherku pasti dikutungkan, sekarang kaucu menanyakan sebawahanmu ini, mau tidak mau aku harus mengambil keputusan.

Di mataku, kaucu dan hujin bahkan terlebih agung daripada raja sekali pun.

Kalau kaucu menghendaki sebawahanmu ini bicara, sebawahanmu tidak dapat menutup mulut lagi..."

Kembali Siau Po berpikir bagaimana harus menyusun kata-katanya agar kaucu dan istrinya percaya dengan kata-katanya.

Luar biasa sabarnya kaucu itu, meskipun Siau Po ayal-ayalan, dia bukannya gusar, tapi malah tertawa, dia memainkan kumisnya sambil mengangguk-angguk.

"Harap kaucu dan hujin ketahui,"

Kata Siau Po kemudian.

"Di sisi raja ada dua orang asing, namanya John dan James. Mereka diangkat menjadi kepala dari Kim Thian Kam, kantor perbintangan...."

"Nama John memang pernah kudengar,"

Tukas Hong kaucu.

"Menurut apa yang tersiar di luaran, dia pandai ilmu alam dan ilmu perbintangan."

"Memang demikianlah kenyataannya."

Sahut Siau Po.

"Kaucu tidak pernah bepergian, tetapi kaucu dapat mendengar dan mengetahui apa pun. Si John itu telah menghitung bintang dan katanya di utara ada sebuah negara yang dinamakan Losat. Negara itu mengandung niat tidak baik atau tidak menguntungkan bagi raja."

Hong kaucu mengerutkan alisnya.

"Lalu bagaimana?"

Tanyanya seperti tidak tahu ke mana arah pembicaraan si anak muda.

Diam-diam Siau Po memperhatikan gerak geriknya si kaucu, maka dia percaya orang mulai yakin dengan kata-katanya.

Karenanya pula, diam-diam ia merasa girang, Dia membayangkan ancaman maut terhadap dirinya akan lenyap...

"Si raja cilik tampak berduka mendengar keterangan si John,"

Sahut Siau Po melanjutkan keterangannya.

"Lalu dia minta si John memutar otaknya dan meminta pendapat kepadanya.... Mendengar demikian, si John berjanji nanti malam dia akan melihat dulu jalannya bintang dan menghitungnya. Benar saja, lewat beberapa hari, dia datang lagi menghadap raja serta mengatakan tentang urat nadi negara Losat yang berada di Liong Tong entah di gunung apa yang namanya aneh yakni, Tamati apa, serta sebuah sungai yang setahu sebawahanmu ini namanya sungai Amar.."

Hong An Tong sudah lama berdiam di Liau Tong, karena itu dia kenal baik semua nama gunung-gunung maupun sungai-sungai di sana.

Mendengar ucapan Siau Po, dia langsung tertawa dan berkata kepada istrinya.

"Kau dengar hujin, bukankah anak ini lucu sekali? Gunung Huma Erlwotsi dikatakan gunung Tamati, dan sungai Amur disebutnya sungai Amar, Ha ha ha ha ha ha!"

Nyonya Hong juga ikut tertawa.

"Ya, ya, kaucu benar!"

Kata Siau Po memuji.

"Memang seperti yang dikatakan sebawahanmu tadi, tidak ada hal yang tidak kaucu ketahui. Sungguh sebawahanmu kagum sekali! Apa yang dikatakan orang Inggris itu, sebawahanmu tidak ingat lagi. Tapi kaisar membuat catatan dalam bahasa Tiong-hoa dan Boan ciu yang mana beliau berikan padaku, sayangnya sebawahanmu ini tidak kenal tulisan sama sekali, maka sebawahanmu asal menyebut nama gunung dan sungainya tadi...."

Kembali Hong kaucu tertawa, Kemudian dia berpaling kepada Liok Kho Hian, sorot matanya menunjukkan kebengisan.

Sementara itu, hati Ay Cun Cia dan Liok Kho Hian sejak tadi memang sudah tidak tenang, mereka khawatir ketuanya gusar Mereka berdua berdiam diri dengan perasaan dag dig dug.

Siau Po melanjutkan keterangannya.

"Si John langsung mengusulkan untuk membuat sepuluh meriam besar yang harus diangkut ke Liau Tong lewat jalan laut, tujuannya menyerang kearah gunung dan sungai itu. Meriam-meriam itu dapat melancarkan dua ratus kali tembakan dengan demikian urat nadi Bangsa Losat dapat dirusak, kalau perlu malah dimusnahkan. Dengan demikian puIa, selama dua ratusan tahun, kerajaan Ceng akan mengalami pemerintahan yang damai serta aman. Tegasnya satu tembakan berarti jangka waktu satu tahun Karena itu, si raja cilik menanyakan bagaimana kalau melepaskan tembakan sebanyak seribu kali saja, bukankah itu berarti negara akan damai dan aman selama seribu tahun juga? Kali ini John menjawab, kalau tembakan dilepaskan terlalu banyak, akibatnya rahasia alam tidak boleh dibocorkan selanjutnya dia mengatakan tentang jalan kuning dan jalan hitam dan lainnya yang entah apa artinya, sebawahanmu ini tidak mengerti, mendengar saja bingung..."

Hong kaucu menganggukkan kepalanya.

"Si John itu telah membuat sebuah buku yang diberi nama Tay Ceng Si Hian Lek artinya kitab penanggalan kerajaan Ceng Maha Besar,"

Katanya "Kitab itu memang berbatas pada waktu dua ratus tahun, Karena itu, kemungkinan kerajaan Ceng hanya bisa bertahan sampai dua ratus tahun saja."

Siau Po hanya mengaco belo, Siapa nyana apa yang dikatakannya dekat dengan kenyataan.

Karenanya, Hong An Tong yang pengetahuannya luas mulai percaya dengan keterangannya.

Kemudian terdengar Hong hujin ikut bicara.

"Kalau begitu, si raja cilik telah menugaskan kau pergi ke Liau Tong untuk melakukan penembakan itu?"

Siau Po pura-pura terkejut dan heran, Dia menatap si nyonya dengan tertegun.

"Oh, hujin, bagaimana hujin bisa mengetahui hal itu?"

Nyonya ketua itu tertawa.

"Sebab aku merasa kata-katamu tidak seluruhnya benar."

Katanya.

"Raja mengirim kau ke Liau Tong, mengapa kau justru melancarkan tembakan di Sing Liong To?"

"ltu pun karena apa yang dikatakan oleh orang asing itu,"

Sahut Siau Po yang selalu mendapat akal untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya.

"Menurut bangsa Losat, apa yang disebut urat nadi negaranya adalah seekor naga laut. Karenanya ke sepuluh meriam besar itu harus dibawa lewat jalan air serta harus ditembakkan ke arah naga itu secara langsung, Waktu penembakan pun harus ditentukan yakni disaat si naga hendak membuka mulutnya untuk menyedot air. Asal dia terluka parah, naga itu tidak berdaya lagi, seandainya dia ditembak dari darat, baru sekali tembak saja, dia akan segera terbang ke langit Satu tembakan berarti satu tahun. Lain tahun penembakan harus diulangi, demikian pula seterusnya.

"Bukankah hal itu merepotkan sekali? Lagi pula, walaupun meriam diangkat dengan jalan laut, jalannya sendiri juga berliku-liku. Dengan demikian si naga urat nadi tidak menjadi terkejut."

Hong kaucu merasa sangsi mendengar kata-kata Siau Po. Biar bagaimana dia masih menaruh kepercayaan tentang letak "Hong Sui"

Yakni tentang keletakkan tanah yang baik, atau tempat yang dikatakan mengandung urat nadi bangsa tertentu atau orang tertentu.

Diam-diam Siau Po mencuri pandang kepada si kaucu dari Sin Liong Kau itu, Meskipun usianya masih kecil, tapi pengalamannya sudah banyak sekali Dia sadar si kaucu ragu-ragu dengan ceritanya, Karena itu dia segera berkata pula.

"Setan asing itu telah membuat beberapa gambar untuk si raja cilik, Setelah itu dia mengukur gambarnya dari sana sini Dia juga memberi tanda bundaran-bundaran merah serta beberapa garis untuk menjelaskan mengapa atau bagaimana urat nadi itu dapat bergeser.... sayangnya sebawahanmu itu bodoh sekali sehingga tidak mengerti apaapa. Sebaliknya, si raja cilik itu sangat tertarik sekali hatinya...."

Hong kaucu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Di dalam hatinya dia berpikir, mungkin orang asing itu benar-benar mempunyai keistimewaan tersendiri dalam melihat "Hong Sui".

Lega hati Siau Po melihat kaucu Sing Liong Kau itu mulai mempercayainya.

--Asal aku bisa meloloskan diri kali ini, lain kali tidak ada yang perlu kukhawatirkan Iagi...

-pikir-nya.

Karena itu, dia segera berkata pula.

"Pada suatu hari, si raja kecil memerintahkan pembesar Kim Thian Kam memilih hari yang baik. Setelah itu dikeluarkan firman sebawahan Tiang Pek San. Yang turut bersama sebawahanmu ini ialah seorang laksamana dari propinsi Ho Kian bernama Sie Long. Dia pandai menembak dengan meriam dari atas kapal perang, Dia disuruh oleh si raja cilik untuk ikut serta dan sebelumnya dipesankan agar menyimpan rahasia ini rapat-rapat, kalau rahasia ini sampai bocor, maka gagallah usaha besar si raja cilik. Kami berangkat ke Thian Cin lewat laut. Kami memutar ke tempat yang jauh untuk menuju Liau Tong. Di luar dugaan sebawahanmu ini, kemarin sore kami menemukan sejumlah mayat yang mengambang di atas permukaan laut. Di antara mayat-mayat itu, ada beberapa mayat asli tapi ada beberapa pula mayat palsu. Maksudnya orang yang pura-pura mati, dialah Siu tauto! Sebawahanmu berlaku murah hati dan menolongnya, di waktu sadar dia segera menceritakan tentang keadaan di pulau Si Liong To yang mana telah terjadi peperangan yang sangat kacau sehingga umpama kata langit runtuh dan bumi ambruk. Dia juga mengatakan bahwa Hong kaucu telah memerintahkan orang untuk membunuh Chi Liong Su Khou Soat Teng."

"Dusta!"

Bentak Kho Cun Cia.

"Aku tidak pernah mengatakan bahwa kaucu akan menghukum mati Chi Liong Su...."

Justru orang membantah dengan suara keras, Hong hujin segera meliriknya dengan tajam dan berkata dengan nada penuh wibawa.

"Siu tauto, di hadapan kaucu, siapa pun tidak boleh berteriak-teriak."

"Ya.,."

Sahut Kho Cun Cia sambil menganggukkan kepalanya.

"Kau toh mengatakan bahwa Chi Liong Su telah dibunuh orang?"

Tanya Siau Po.

"Benar bukan?"

"Aku memang berkata demikian,"

Sahut Kho Cun Cia.

"Tapi kaucu sendiri yang menyuruh aku berkata demikian untuk mendustaimu."

"Kaucu menitahkan kau bergurau denganku, hal itu sudah lumrah."

Otaknya memang cerdik sekali, Ada saja jawaban yang dapat diberikan olehnya.

"Tapi dalam kata-katamu itu, ada kelainannya, Kau mengatakan pula, bahwa untuk membalaskan sakit hatinya, kaucu sudah membunuh Chi Liong Su dan Hek Liong Su. inilah yang aku sangsikan, Kaucu jujur dan adil, tidak berpikiran licik bahkan bijaksana dan welas asih, tidak mungkin kaucu akan ingat dan mendendam sakit hati terhadap bawahannya."

"Kau berbohong!"

Seru Kho Cun Cia pula.

"Terang kau mengatakan bahwa kaucu telah membunuh Hek Liong Su dan Chi Liong Su dengan maksud membalas sakit hati."

Kata Siau Po kukuh.

"Dusta!"

Teriak Kho Cun Cia.

"Aku tidak pernah mengatakan demikian."

"Kaucu kan jujur dan adil."

Kata Siau Po.

"Dusta!"

"Kaucu bijaksana dan welas asih!"

"Dusta!"

"Kaucu tidak pernah ingat sakit hati atau dendam terhadap bawahannya."

"Dusta!"

Justru ketika Kho Cun Cia terus berteriak dusta, Liok Kho Hian segera menarik ujung baju sahabatnya itu, Dia sadar temannya telah terperangkap dalam jebakan si bocah cerdik, Selama Kho Cun Cia berteriak.

"dusta, dusta" , dia melihat wajah ketuanya sudah berubah merah padam. Karena itu, sembari menarik ujung baju sahabatnya, dia berkata.

"Kau dengarkan saja apa kata kaucu jangan kau memotongnya!"

"Tapi, bocah ini mengoceh yang tidak-tidak."

Teriak Kho Cun Cia.

"Apakah dia harus dibiarkan mengoceh tidak karuan?"

"Kaucu cerdas dan pintar, kaucu dapat mengetahui apapun juga."

Kata Kho Hian, Dia membujuk dan menyadarkan kawannya.

"Jangan kau sibuk tidak karuan. Kaucu pasti mengerti nantinya."

"Hm!"

Kho Cun Cia mendengus dingin.

"Aku khawatir kaucu..."

Tapi kali ini, dia segera menghentikan kata-katanya, Matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar, dia tertegun perasaan takut tiba-tiba melanda hatinya, dia merasa mulutnya telah bicara berlebihan.

Siau Po menatap tajam kepada orang yang sedang didesaknya, Begitu pandangan mata mereka bertemu, dia segera mencibirkan bibir untuk mengejeknya, Kedua tangannya dimainkan di depan wajahnya.

Kho Hian bermata tajam, Dia melihat sikap anak muda, Dia mengerti apa maksud lagak orang, Dia juga mendongkol sekali walaupun demikian, dia tidak berani berkata apa-apa.

itu urusannya Kho Cun Cia, dia khawatir sang kaucu akan marah kalau dia turut bicara.

Untuk sesaat keadaan di tempat itu menjadi sunyi senyap, Yang terdengar jelas hanya nafas memburu dari Kho Cun Cia yang hatinya masih panas karena penasaran sekali, Tapi dia berusaha mengekang dirinya, Dia merasa jeri terhadap kaucunya.

Setelah lewat sesaat, baru terdengar Hong kaucu berkata.

"Apalagi yang dikatakan olehnya ?"

Suaranya tenang dan pertanyaannya ditujukan kepada Siau Po.

"Harap kaucu ketahui, dia juga mengatakan bahwa kaucu telah bertindak yang tidaktidak, Bahwa kaucu telah mengadu dombakan sebawahannya sehingga pihak Cek Liong Bun menyerang pihak Hek Liong Bun..."

"Aku tidak berkata demikian..."

Seru Kho Cun Cia membantah. Baru sekarang Hong kaucu menatap langsung anak buahnya itu. Matanya mendelik menandakan kegusaran hatinya, Dia juga membentak.

"Tutup bacotmu! Kalau sekali lagi kau berkaok-kaok, aku akan membelah-belah tubuhmu yang seperti semangka itu!"

Kho Cun Cia terdiam, wajahnya jadi merah.

Dia masih mendongkol tapi sekarang dia harus menahan hawa amarah dalam hatinya.

Liok Kho Hian dan Ay Cun Cia terkejut sekali, wajah mereka sampai tampak pucat, Mereka, maksudnya semua anggota Sin Liong, maklum sekali apabila ketuanya gusar.

Kegusarannya itu tidak ditunjukkan pada mimik wajahnya, namun kali ini berbeda, kaucu mereka malah sudah membentak dengan suara keras.

Sebaliknya dengan Siau Po, Bocah ini justru merasa senang walaupun dia hanya mengutarakannya dalam hati, di luar dia hanya tersenyum, Dia pun berpikir.

--Kho Cun Cia sudah tidak bisa membuka suaranya, sekarang, apapun yang kuocehkan, dia pasti tidak berani menentangnya lagi, -Maka dia segera berkata kepada ketua Sing Liong Kau.

"Kaucu yang mulia, Siu tauto sebetulnya tidak mengucapkan kata-kata yang menghina kaucu, dia hanya mengatakan bahwa pikiran kaucu picik sekali, Bahwa kaucu mudah membuat pembalasan sebagaimana kaucu pernah menugaskan seorang anggota bernama Ho Seng untuk melakukan pembalasan itu, Ho Seng itu murid Bu Kin tojin, mengapa sebawahanmu ini tidak tahu tentang Ho Seng it?"

"Memang ada orang yang bernama Ho Seng,"

Sahut Hong hujin yang mewakili suaminya menjawab "Lalu bagaimana tentang itu?"

Dalam waktu yang singkat, Siau Po sudah berpikir. -Ho Seng itu murid Bu Kin tojin, tentu usianya masih muda,.. maka dia lantas menjawab.

"Menurut Kho Cun Cia, Ho Seng itu tergila-gila kepada hujin, bahwa selama beberapa tahun dia telah melakukan sesuatu yang tidak pantas disebutkan di sini, Sebawahanmu gusar mendengar ocehannya sehingga dia telah menampar mulutnya, baru dia berhenti mengoceh tidak karuan..."

Wajah Hong hujin jadi merah padam.

"Oh, dia berani menyebut-nyebut aku?"

Tanyanya keras.

"Tidak! Tidak!"

Bantah Kho Cun Cia.

"Aku tidak berkata demikian!"Tapi Siau Po segera menukas.

"Kaucu melarang kau bicara, jangan kau banyak omong, sekarang aku bertanya kepadamu, kau pernah menyebut orang bernama Ho Seng atau tidak? Kalau benar, kau menganggukkan kepalamu, kalau tidak, kau boleh menggeleng."

Kho Cun Cia segera menganggukkan kepalanya.

"Nah, ketika itu pernah kau mengatakan bahwa Ho Seng dan Khou Soat Teng telah berlomba dalam urusan asmara, Bahwa mereka saling bersaing dan saling mendengki karena rasa cemburunya satu dengan lainnya, Bahwa mereka saling merebut mengambil hati hujin, yang akhirnya kejadian Ho Seng membunuh Khou Soat Teng. Katamu kejadian itu membuat hujin senang sekali, Dan dalam hal ini kaucu telah berhasil ditutupi, sehingga kaucu seperti terkurung di dalam tambur yang tidak tahu apa-apa, Ho Seng mengatakan bahwa setelah Chi Liong Su terbunuh, di dalam kamarnya terdapat sebatang golok yang penuh berlumuran darah dan itulah golok orang She Ho. Nah, Kho Cun Cia sekarang jawablah, pernahkah kau mengatakan demikian?"

Kho Cun Cia menganggukkan kepalanya.

"Namun..."

Katanya.

"Kau telah mengiakan, itu sudah lebih dari cukup."

Potong Siau Po tanpa memberikan kesempatan kepada orang untuk melanjutkan kata-katanya, Dengan demikian ucapan Kho Cun Cia hanya setengah jalan dan Siau Po lah yang melanjutkannya.

"Kau telah mengatakan,"

Siau Po segera berkata kembali "Bahwa orang-orang Cek Liong Bun, Chi Liong Bun, Oey Liong bun, juga orang-orangku dari Pek Liong Bun, sedang bertempur satu sama lain sehingga keadaan di pulau Sin Liong to kacau balau karena terjadinya perang saudara.

Bahwa kaucu sampai kehilangan kewibawaan serta kekuasaannya, Kaucu sampai tidak berdaya memulihkan keadaan seperti semula, Benarkah demikian?"

Kho Cun Cia mengangguk lagi, Memang dia pernah berkata demikian dan dia tidak dapat menyangkalnya. Dia anggap itulah pesan kaucu sendiri...

"Kau juga mengatakan semua orang di pulau telah memberontak sehingga kaucu dan hujin sudah tertawan, bahwa seluruh pakaian hujin telah dilepaskan sehingga hujin menjadi telanjang bulat."

Siau Po melanjutkan keterangannya.

"Bukankah kau mengatakan bahwa di samping hujin sudah diarak keliling pulau, kaucu sendiri juga telah dibelenggu dan digantung di atas pohon sampai tiga hari tiga malam selama. Bahwa kaucu tidak diberi makan maupun minum. Ya, sekarang kau tentu tidak berani mengakuinya, bukan?"

Wajah Kho Cun Cia jadi merah padam saking malunya dan panas hatinya, pertanyaan itu tidak dapat disangkal atau pun diiyakan, Keringat dingin langsung membasahi seluruh pakaiannya.

"Sekarang kau pasti akan menyangkalnya!"

Kata Siau Po yang mendesak terus.

"Benar, kan?"

"Aku tidak mengatakan demikian!"

Akhirnya Kho Cun Cia tidak dapat menahan diri, dia menyangkalnya juga. Siau Po tidak memperdulikan penyangkalan itu, dia meneruskan kata-katanya.

"Singkatnya, kau mengatakan kepadaku, bahwa keadaan dalam perkumpulan kita sedang kacau balau, Sebab kaucu sudah menawan sebagian besar anggotanya serta melemparkannya ke dasar laut. sedangkan sisanya saling menyerang, aku bunuh kau dan kau bunuh aku. Kau juga mengatakan bahwa kaucu dan hujin sudah benar-benar celaka, Meskipun saat itu mereka belum menutup mata, tapi umur mereka pasti tidak lama lagi."

"Aku,., aku...."

Kho Cun Cia jadi gugup karena dibikin bingung oleh Siau Po.

Dia difitnah habis-habisan sehingga hawa amarah dalam dadanya meluap seketika, Tapi dia tidak berdaya, Karena setiap kali dia ingin menjelaskan si anak muda selalu memotong perkataannya.

Memang dia pernah menceritakan soal kekacauan di pulaunya, tapi keterangannya tidak sama dengan yang diberikan Siau Po sekarang.

Sampai di situ, Siau Po berpaling kepada ketuanya sikapnya hormat sekali.

"Harap kaucu ketahui, sebenarnya sebawahanmu ini mengepalai pasukan laut untuk pergi ke Liau Tong guna menggempur musnah urat nadi musuh, yakni negara Losat. Namun setelah sampai di sini sebawahanmu langsung teringat kepada hujin dan nona Phui, Di dalam hatiku, aku telah berikrar akan menikahi nona itu, Untuk itu hamba berharap kaucu serta hujin akan memberikan perkenannya, Dengan demikian hamba dapat mengajaknya pergi sekalian, itulah sebabnya mengapa hamba menitahkan segenap anak buah untuk menjalankan perahu perlahan-lahan menuju pulau kita, Maksudku ialah agar sedikit banyak para anak buahku itu mengetahui dan melihat keindahan pulau kita, Dengan demikian pula sebawahanmu ini mempunyai kesempatan menjenguk kaucu serta hujin."

Hong hujin tertawa kecil.

"Tentu juga menjenguk nona Phui, bukan?"

Katanya.

"lya, itu memang benar,"

Sahut Siau Po mengakui.

"Memang sebawahanmu ini hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, bukan sekedar menghadap kaucu dan hujin saja, Dalam hal ini, sebawahanmu ini mohon diberikan pengampunan!"

Hong kaucu menganggukkan kepalanya, rupanya dia menjadi sabar sekali.

"Silahkan bicara terus!"

Katanya.

"Apa mau, seperti telah diketahui di tengah laut hambamu menemukan beberapa mayat dan akhirnya menolong Siu tauto ini,"

Kata Siau Po pula.

"Entah maksud apa yang terkandung dalam hatinya, setelah sadar dari pingsannya, dia langsung mengutuk kaucu beserta hujin, Ketika sebawahanmu pun merasa heran, Tiba-tiba saja hamba menjadi bingung, rasanya ingin tiba-tiba tumbuh sayap untuk terbang ke pulau ini untuk melihat keadaan kaucu serta hujin dan membantu menumpas kawanan pemberontak. Ketika itu, sebawahanmu lantas mencaci maki kawanan penjahat itu, Sebawahanmu juga mengatakan pepatah lama yang berarti urusan yang sudah-sudah tidak perlu ditimbulkan kembali terutama jangan mendendam Mengapa mereka justru memberontak serta menimbulkan huru hara? Sebawahanmu menjadi bingung tatkala teringat kaucu yang sedang digantung dan hujin yang dibuat menjadi telanjang bulat. Tentunya kaucu serta hujin sedang membutuhkan pertolongan sedikit waktu pun tidak boleh ditunda lagi, Dasar sebawahanmu ini yang tolol sekali, mengapa sebawahanmu sampai lupa bahwa kepandaian kaucu tinggi sekali dan mempunyai kesaktian yang luar biasa? Mana mungkin kaucu bisa dicelakai? Bukankah dengan mudah saja kaucu meluncurkan tangan untuk membekuk mereka seperti sekawanan semut? Mana mungkin sampai kaucu kena ditawan dan dihina seperti apa yang dikatakan oleh Kho Cun Cia? Namun dalam keadaan bingung, sebawahanmu langsung memimpin tentara dan menitahkan mereka melakukan perombakan ke pulau Sin Liong To. Sebawahanmu mengatakan mereka para tentara bahwa kemungkinan besar penduduk yang baik-baik sudah kena ditawan para penjahat. Karena itu, asal ada perlawanan si pengkhianat harus dihujani tembakan meriammeriam besar Dan selekasnya kita mendarat anak buahku harus mencari seseorang yang bertubuh kekar dan bertampang gagah bagaikan Giok Hong tayte sebab orang itu adalah kaucu dari Sin Liong Kau yang Maha Mulia, perintah itu segera dituruti dan diiyakan oleh anak buahku. Pesanku lainnya yaitu agar semua orang perempuan jangan diganggu! Terutama seorang nona muda yang cantik manis bagaikan bunga indah atau batu kumala, Dialah Hong hujin yang dihormati oleh segenap anggota Sin Liong Kau dan selalu dijunjung tinggi!"

Hong hujin tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan Pek Liong Sunya.

"Menurut keteranganmu ini,"

Katanya.

"Jadi kedatanganmu ke pulau Sin Liong To bukan untuk menyerang, tetapi hanya karena kesetiaanmu terhadap kaucu? jadinya kau tidak bersalah, tapi malah berjasa besar?"

"Sama sekali tidak ada jasanya sebawahanmu ini,"

Sahut Siau Po dengan merendahkan diri.

"Apa yang ada dalam benak sebawahanmu ini hanya kelegaan karena kaucu dan hujin tidak kurang suatu apa. Serta sejumlah anggota yang setia sama sekali tidak melakukan pemberontakan Harapan sebawahanmu yang pertama

Tiraikasih website

http.//cerita-silat.co.cc/ tama hanyalah kebahagiaan kaucu serta hujin dan diberi panjang umur seperti usia langit.

Kedua, agar semua anggota kita setia guna membela agama dan negara.

Agar mereka selalu menuruti apa pun yang dikatakan kaucu serta hujin...."

Hong hujin tertawa nyaring memutuskan kata-kata si anak muda.

"Dan yang ketiga... agar nona Phui dapat menjadi istrimu?"

"Ya, tapi itulah soal yang lain."

Sahut si bocah yang tidak tahu malu.

"Yang ketiga, sebawahanmu ini sudah mengambil keputusan untuk bekerja sebaik-baiknya dan setia agar membuat kaucu serta hujin menjadi senang hati, Dengan demikian, sebawahanmu percaya kaucu dan hujin akan memperlakukan hamba dengan baik."

Hong An Tong menganggukkan kepalanya.

"Mulutmu ini sungguh lihay, kau memang pandai bicara!"

Katanya.

"Kalau demikian hebat kesetiaan dan ingatanmu kepada aku serta hujin, mengapa kau tidak memimpin sendiri pasukanmu ke pulau Sin Liong To, tapi malah lantas menghujani dengan tembakan meriam sedangkan kau sendiri bersembunyi di garis belakang?"

TAMAT (Bagian ke dua) Bagian KETIGA Bagian 64 Hati Siau Po berdetakan, hebat sekali pertanyaan ketua Sin Liong To itu. Telak dia kena dihajar. Celaka jika ia tak dapat menjawab dengan cepat.

"Memang sudah seharusnya sebawahanmu ini berdosa hingga harus mati berlaksa kali,"

Demikian ia memberikan jawabannya.

"Satu kali lagi sebawahanmu ingin memberikan penghargaan dan kesetiaan terhadap Kaucu dan hujin. Benar-benar kaget sewaktu pertama kali sebawahan mendengar kabar dari Siu Cuncia bahwa Kauwcu dan Hujin telah ditawan oleh orang-orang jahat itu, sebawahanmu pun ngeri sekali bila ditawan, pastilah ia akan menyayat kulitnya dan menarik ototnya.... Sebawahanmu ini memang takut mati, karena itu aku bersembunyi di baris belakang. Sebawahanmu ini cuma menugasi para perwiranya untuk menolong kaucu dan juga Hujin.. Ya memang sebawahanmu ini bersalah besar...."

Kaucu dan Hujin saling memandang dan Hujin mengangguk perlahan.

"Anak ini mengaku sendiri kalau ia itu takut mati, memanglah benar apa katanya kalau ia itu tidak berdusta,"

Kata Hujin. Kauwcu tidak menjawab pertanyaan istrinya, tetapi ia berkata dengan sabar namun tegas.

"Tentang perkataanmu ini benar atau tidak aku akan menyelidikinya dengan perlahan, akan tetapi jika aku memperoleh buktinya kalau kau itu berdusta maka kau akan tahu sendiri...."

Siau Po mengangguk.

"Jikalau benar sebawahan telah bersalah, hukuman apa pun yang diberikan akan sebawahan terima, tetapi sekarang sebawahanmu ini minta dengan sangat agar jangan diserahkan pada Poan Toucu, Sin Touto dan Kho Hian bertiga, atau pada salah satu dari mereka! Kali ini mereka sedang mengatur tipu daya sangat licik, hingga mereka berhasil memancing tentara Ceng melakukan penyerangan mendadak ke Sin Liong To hingga terbinasa banyak saudara kita. Menurut sebawahanmu, langkah mereka itu sangatlah berbahaya atau mungkin Liok Kho Han mempunyai maksud tertentu untuk mengangkat dirinya menjadi seorang Kauwcu, Selama di Propinsi Inlam ia pernah mengadakan tidak akan atau mengharapkan hidup yang belaka, berbahagia atau hidup kekal sama dengan usia dewa, Tetapi ia mengharapkan dapat hidup seratus tahun saja itu sudah cukup..."

"Kau.... Kau...!"

Kata Kho Hian sangat gusar dan tangan yang satu sudah menampar Siau Po.

Belum sempat Siau Po menangkis serangan itu, Bukin Tojin telah menangkisnya, maka terdengarlah suara tangan yang sedang beradu tadi.

Tubuh orang yang menyerang itu mundur beberapa langkah sedangkan tubuh si imam hanya limbung.

"Liok Kho Hian!"

Katanya.

"Bagaimana dapat kau menyerang orang di depan Kauwcu?"

Kho Hian sadar maka mukanya tiba-tiba menjadi merah, setelah itu ia memberikan hormat.

"Maafkan, Kauwcu..!"

Katanya dengan suara yang tidak lancar.

"Anak ini telah memfitnah dengan hebat sekali hingga aku tak dapat menahan emosi lagi."

"Hm!"

Sang ketua memperdengarkan suaranya itu, Setelah itu ia berpaling pada Siau Po dan berkata.

"Sekarang kau boleh mundur dahulu dan kau dapat beristirahat!"

Sedangkan pada sang imam ia berpesan.

"Kau sendiri yang menilik padanya, jaga jangan sampai ada orang yang mencelakainya tetapi jangan pula dia kelayaban sembarangan! Anak ini sangat cerdik dan licin, jaga dengan perhatian yang istimewa...."

Bu Kin menjawab.

"Ya!"

Dan seterusnya ia membungkuk lalu pergi.

Demikianlah seterusnya Bu Kin mengikuti terus ke mana Siau Po pergi dan memberi kamar hingga mereka berdua selalu dapat matahari, perahu di kasi jalan kearah utara.

Selama hari pertama Siau Po selalu mengharapkan untuk bertemu dengan Sie Long atau dengan yang lainnya, atau pasukannya agar ia dapat ditoIong.

akan tetapi setelah itu ia menjadi sangat putus asa, tidak pernah ia bertemu dengan siapa saja dari pihaknya itu.

"Omonganmu dapat dipercaya oleh Kauwcu dan juga Hujin, sekarang tinggal aku memerintahkan pasukan perang untuk menghujani Sin Liong To dengan peluru. Syukur aku tak langsung membinasakan Kauwcu, Dan kapal ini melaju ke utara mungkin tujuannya itu Liauw-tong?"

Pikir Siau Po kemudian.

Lalu Siau Po bertanya pada Bu Kin, tetapi yang ditanya menjawab dengan semaunya saja.

Beberapa kali Siau Po menanyakan hal yang lainnya, tetapi mendapatkan jawaban yang tidak enak didengar.

Akhirnya pada suatu saat orang itu memberitahukannya.

"Kouwcu melarangku berbicara denganmu."

Katanya.

Siau Po hilang kegembiraannya, ia pun dilarang untuk ke luar kamar ia senantiasa menerka-nerka saja, apa yang akan kaucu lakukan pada dirinya, ia selalu berpikir jalan apa yang akan di ambil untuk meloloskan diri.

Kemudian Siau Po ingat akan sesuatu.

"Aku ditawan karena Phui Ie, apakah sekarang aku dapat meloloskan diri dari sini? sekarang jika aku dapat lolos dari sini aku tak akan berpaling lagi dengannya walaupun untuk sekali saja, Sudah dua kali aku dipermainkannya, Tak akan aku mencuranginya untuk yang kesekian kalinya.,."

Kata Siau Po dalam hati.

Akan tetapi jika ia membayangi wajah manis dan cantiknya itu, hati Siau Po menjadi luluh juga.

Kapal musuh saja mengarah ke utara, angin semakin dingin pula, Bu Kin mempunyai tenaga dalam yang mahir sehingga ia tak merasakan menderita dari udara yang dingin itu, Akan tetapi Siau Po tidak demikian, ia merasakan kedinginan yang amat sangat.

Pada suatu hari muncullah angin yang besar, membuat udara tambah membekukan, di saat lain turunlah hujan salju.

"Kali ini aku akan mati kedinginan!"

Kata Siau Po dalam hati.

"Kakak So Ngo To pernah menghadiahkan padaku baju dari kulit binatang Tiauw, sayang barang itu aku tinggalkan dalam markasku, Coba aku tahu Phui Ie akan mengakali aku, pasti kali ini aku sudah merangkulnya secara terus-terusan hingga aku tak akan kedinginan! Oh, Pek Liong Su! Benarkah kau menjadi begini bijak?"

Kata Siau Po dalam hati.

"Ah!"

Pikirnya.

"Aku gila, Kalau aku tahu Phui Ie akan mengakali, aku tak akan menjadi seperti ini? sekalipun Sin Long kaucu dan semua memiliki ilmu silat yang sangat lihay, tak bakal mereka mampu menyerbu aku di pulau Tong Kit To..."

Kapal berlayar terus sampai tengah malam, tiba-tiba Siau Po mendengar suara nyaring berulang-ulang, mulanya ia heran sampai ia teringat, itulah es di tengah laut yang saling bertabrakan.

"Ah, celaka!"

Serunya.

"Bagaimana kalau kapal ini terhadang es di tengah laut ini?"

"Di tengah laut air tak dapat beku,"

Kata Bu Kin Tojin.

"Kita pun bakal segera mendarat."

"Apakah kita telah sampai di Liauw Tong?"

Tanya Siau Po.

"Hm!"

Bersuara dingin si imam, yang terus tutup mulut.

Keesokan paginya, sewaktu Siau Po membuka jendelanya, di depannya tampak putih seluruhnya, itulah es air laut yang beku.

Dari kejauhan tampak daratan, Di sana kapal menuju dan berlabuh di waktu sore.

Walaupun Bu Kin berkata bahwa mereka akan segera mendarat dan jangkar telah diturunkan tetapi baru keesokkan paginya mereka benar-benar turun ke darat.

Malam itu otak Siau Po terus berputar.

Dia memikirkan nasibnya, sebab dia masih belum mengetahui keputusan terakhir dari Hong kaucu terhadap dirinya, Sia-sia belaka dia menduga-duga, Apakah ketua itu percaya penuh dengan keterangannya?

Dia akan dihukum atau di bebaskan?

Dan apa maunya Hong kaucu mendatangi tempat seperti ini?

Setelah letih menguras otaknya, Siau Po tertidur pulas, Dia bermimpi Pui Ie duduk di sisinya, Dia segera merangkul gadis itu dan nona itu berkata.

"Hush! jangan bercanda!"

"lstriku, aku memang hendak bergurau denganmu!"

Sahutnya. Masih dalam mimpinya, Siau Po merasa Pui Ie meronta-ronta, lalu seperti setengah sadar setengah tidur, Siau Po mendengar seseorang berkata kepadanya.

"Siangkong, ayo cepat kita pergi!"

Dia mengenali suara itu sebagai suara Song Ji.

Terkejut sekali hati Siau Po, dia langsung terjaga, Tapi dia benar-benar merasa ada seseorang yang memeluk tubuhnya.

Tubuh orang itu sendiri lunak sekali, Hanya saja karena keadaan sangat gelap, dia tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang itu.

Dia menduga-duga, kemungkinan nona Pui atau Hong hujin.

Di atas kapal perang itu, setahunya hanya ada dua orang perempuan, si nona dan si nyonya ketua.

-Ah, perduli amat dia Pui Ie atau Hong hujin, lebih baik aku cium dulu dia satu kali...

-pikirnya dalam hati, Dia segera membalikkan tubuhnya untuk mencium pipi orang itu.

perempuan itu tertawa kecil, dia memaling wajahnya.

Mendengar suara tawa itu, Siau Po segera yakin bahwa yang datang memang Song Ji.

Dia menjadi girang berbareng terkejut juga heran.

"Eh, Song Ji?"

Tanyanya.

"Bagaimana caranya kau bisa sampai ke mari?"

"Ayo cepat kita pergi!"

Sahut Song Ji.

"Urusan lainnya kita bicarakan nanti saja."

Siau Po seperti lupa daratan, dia tertawa puIa.

"Aku dingin sekali, seluruh tubuhku terasa beku."

Katanya.

"Mari masuk ke dalam selimutku!" "Aih, Siangkong!"

Terdengar Song Ji mengeluh.

"Siangkong yang baik, kalau kau ingin bergurau, tunggulah sampai kita sudah berada di tempat yang aman! Apakah Siangkong lupa tempat apa ini?"

Siau Po mempererat rangkulannya pada tubuh yang lunak itu.

"Ke mana kita akan pergi menyingkir?"

Tanyanya.

"Ke belakang perahu."

Sahut Song Ji.

"Di sana kita mencari perahu kecil untuk melarikan diri. sesampainya di tepian, walaupun ada orang yang memergoki kita, tidak mungkin mereka sempat mengejar kita lagi dan kita pun tidak akan tertawan."

"Bagus! Bagus!"

Seru Siau Po saking senangnya, Tiba-tiba suatu ingatan melintas dalam benaknya.

"Ah! Mana si imam?"

"Dia telah ku totok dan tak berkutik lagi."

Sahut si nona cilik.

Bukan main senangnya hati Siau Po.

Di samping itu, dia juga kagum sekali dengan kelihayan si nona.

Song Ji menarik tangan Siau Po.

Keduanya segera ke luar dari kamar, Di luar wajah Siau Po diterpa angin kencang, Dia terkejut sekali mendapatkan hawa yang demikian dingin.

Dia segera lari kembali ke dalam kamar untuk mengambil jubah Bu Kin tojin yang kemudian digunakannya untuk menyelimuti tubuhnya agar jangan menggigil.

Ketika itu, malam gelap sekali, Tidak tampak adanya rembulan Sebaliknya, salju sedang turun, Hal ini membuat cuaca luar biasa dinginnya.

Setibanya di luar, sepasang muda-mudi itu memasang telinganya, Keadaan di sekitar sunyi senyap, bahkan juru mudi pun sudah tertidur pulas, Begitu sampai di belakang perahu, Song Ji berbisik.

"Aku turun terlebih dahulu, nanti kau menyusul, Siangkong...."

Siau Po menganggukkan kepalanya, Si nona sendiri langsung melompat turun ke sebuah perahu kecil yang tertambat di belakang kapal Memang setiap kapal yang tidak dapat berlabuh sampai tepian sekali selalu membutuhkan perahu kecil untuk menurunkan dan mendaratkan para penumpangnya.

Perahu-perahu kecil itu juga dapat digunakan sebagai sarana penyelamatan diri apa bila kapal yang ditumpangi karam terhajar badai misalnya.

Tubuh Song Ji ringan sekaIi.

Dia dapat tiba di depan perahu tanpa meninggalkan suara sedikit pun.

Siau Po melongok ke bawah, Gelap seluruhnya sehingga hatinya agak gentar Tetapi dia dapat melompat turun juga.

Di perahu kecil Si nona menyambutinya sehingga kakinya dapat mendarat tanpa menimbulkan suara.

Tepat pada saat itulah, dari atas kapal terdengar pertanyaan.

"Siapa di sana?"

Itulah suaranya Hong kaucu.

Baik Siau Po maupun Song Ji terkejut sekali, walaupun keadaan di sekitar sangat gelap, tapi mereka segera menggeser dan mendekam di lantai perahu.

Mereka tidak berani menerbitkan suara sedikit pun juga.

Segera juga dari jendela kapal tampak sinar api yang menyorot ke Iuar.

Song Ji merasa pasti Hong kaucu sudah mendengar suara bisikan mereka, Tidak ayal lagi dia berdiri dan mengangkat pengayuh dengan maksud mengayuh perahu kecil itu agar mereka dapat melarikan diri, Dengan demikian suara dayungnya langsung terdengar oleh orang yang ada di atas.

"Siapa di sana?"

Kembali terdengar pertanyaan yang keras.

"Jangan bergerak!"

Kembali kedua muda-mudi itu terkejut Apalagi perahu mereka tidak mau maju sedikit pun.

Rupanya dalam keadaan gugup, Song Ji lupa melepaskan tambatan perahu tersebut Karena itu, Siau Po segera memasukkan tangannya ke dalam air yang dirasakannya dingin sekali.

Perahu kecil itu tertambat dengan rantai besi.

suaranya bising sekali ketika Siau Po mengangkatnya, Suara itu segera terdengar oleh orang-orang di atas kapal.

"Pek Liong Su lenyap!"

Demikian terdengar suara teriakan berulang-ulang.

"Tentu dia yang kabur! Ke mana perginya orang itu? Lekas kejar! Lekas susul!"

Dalam keadaan seperti itu, Siau Po tidak menjadi bingung.

Dia segera mengeluarkan pisau belatinya yang tajam dan dikutungkannya rantai besi yang menambat perahu tersebut.

perahu itu langsung meluncur karena Song Ji masih mengayuhnya keraskeras.

Ketika itu, Hong kaucu bersama Kho Cun cia, Ay Cun cia juga Bu Kin tojin sudah lari ke buritan kapal Liok Kho Hian pun menyusul di belakang, Dengan bantuan sinar api, mereka sempat melihat perahu kecil yang mengangkut Siau Po serta Song Ji melaju pesat.

Dalam sekejap mata jarak antara mereka sudah beberapa tombak.

Bukan main marahnya hati Hong kaucu, tangannya segera bergerak untuk menyambar sepotong kayu dan digunakannya untuk menimpuk ke arah perahu kecil dengan sekuat tenaganya.

Sayangnya, walaupun tenaga dalam orang itu sudah mahir sekali, tapi kayu itu sangat ringan.

Karena itu serangannya gagal.

Hajarannya hanya mengenai air di belakang perahu sebab perahu itu sendiri keburu melesat ke depan.

Ketika itu Bu Kin tojin dan yang lainnya tidak berani turut menyerang dengan menggunakan senjata rahasia masing-masing.

Mereka masih belum tahu pikiran ketuanya, Mereka masih takut mencelakai Siau Po.

Hal itu bisa membuat mereka menjadi sasaran amarah kalau melihat kegusaran ketuanya sekarang ini, Sesaat kemudian mereka baru berani mulai menyerang.

Tidak ada senjata rahasia yang mengenai sepasang muda-mudi itu.

perahu kecil mereka melaju dengan pesat sehingga keduanya bebas dari ancaman maut.

"Bocah itu benar-benar licin!"

Teriak Kho Cuncia saking mendongkolnya.

"Sedari siang-siang aku sudah tahu dia bukan orang baik-baik, seharusnya dia ditebas batang lehernya! Hidupnya orang itu bisa mendatangkan bencana besar bagi kita!"

Hong kauw cu memang sedang kesal dan marah.

Kata Kho Cun cia seperti minyak yang disiramkan ke atas api.

Tentu saja dia mengetahui bahwa Kho Cun cia setengah mengejeknya.

Karena itu dengan tangan kirinya dia langsung menyambar bagian leher orang itu sembari membentak.

"Lekas kau bekuk dan bawa dia kembali!"

Tangan kirinya itu terus diangkat sehingga tubuh Kho Cun cia terangkat juga, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk menampar sebawahannya itu sambil membentak lagi.

"Lekas pergi!"

Perintah itu diiringi dengan pengerahan tenaga dalam pada kedua lengannya yang digerakkan ke depan, Dengan demikian tubuh Kho Cun cia bagaikan bola daging yang langsung meluncur jauh ke laut, ke arah perahu Siau Po.

Song Ji terus mengayuh perahunya kuat-kuat.

"Oh, celaka!"

Teriak Siau Po yang samar-samar melihat datangnya serangan yang istimewa itu.

"Awas! ada peluru daging!"

Tapi, seperti juga batangan kayu dan berbagai senjata rahasia tadi, Tubuh Kho Cun cia yang meluncur juga tidak sampai ke perahu, Dia terbanting keras ke permukaan air, Dengan demikian air laut jadi muncrat dan terdengar suara jeburannya yang nyaring sekali.

Jarak antara perahu dan tubuh orang itu hanya beberapa kaki saja, Hal itu membuktikan betapa kuatnya lemparan Hong kaucu tadi.

Kho Cun cia pandai berenang, Begitu tubuhnya tercebur ke dalam laut, dia segera mengulurkan tangannya untuk menyambar perahu kecil yang maksudnya hendak mencekalnya dan membuatnya terbalik agar karam, Tetapi Song Ji mengetahui gerakgerik orang itu.

Dia segera menghajar dengan dayungnya yang mengenai kepala orang itu sampai Kho Cun cia merasa kesakitan dan pusing tujuh keliling, walaupun demikian, cekalan tangannya pada perahu tidak segera di lepaskan.

Song Ji kebingungan Dia menyerang sekali lagi, Kali ini dia membuat lawannya hampir pingsan walaupun demikian, lawannya itu masih belum melepaskan cekalannya juga.

Karena itu, Siau Po segera bertindak.

Dengan pisau belatinya, dia mengutungkan ke lima jari tangan orang itu.

Kho Cun cia kesakitan Dia tidak bisa menahannya sehingga cekalannya terpaksa dilepaskan Hatinya panas sekali, Di samping menahan rasa sakit, mulutnya terus mencaci maki.

Song Ji tidak memperdulikan orang itu, dia terus mengayuh perahunya agar melaju ke depan, dengan cepat dia memisahkan diri dari kapal Hong kaucu.

Siau Po menjemput sehelai papan pendek dari dasar perahu, Dia membantu si nona mengayuh sehingga perahu itu semakin laju, Ketika melarikan diri, telinganya masih sempat mendengar suara sayup-sayup makian dari atas kapal, rupanya Hong kaucu sedang memaki kalang kabut.

Sesaat kemudian, suara cacian pun lenyap terbawa angin.

Siau Po menghela napas panjang, hatinya terasa agak lega, tidak seperti barusan yang terus berdebar-debar saking tegangnya.

"Syukur kepada Langit dan Bumi! Akhirnya kita berhasil juga meloloskan diri!"

Katanya.

Song Ji mengayuh terus, akhirnya mereka sampai juga ke tepian Dia melompat turun ke air yang dalamnya sebatas lutut Kemudian dia menarik perahunya ke pinggiran sehingga menempel pada daratan Lalu dia berkata.

"Sudah cukup, Siangkong, kau boleh melompat sekarang!"

Siau Po menurut dengan menjejakkan kaki di perahunya kemudian mencelat ke daratan.

"Kita selamat!"

Serunya. Song Ji tertawa.

"Jangan kegirangan saja, Siangkong!"

Tegumya.

"Mari kita menyingkir terus! Kita harus waspada agar Hong kaucu tidak bisa menyusul kita."

Siau Po terkejut Alisnya langsung berkerut dia segera melihat ke sekitarnya, Kecuali warna putih dari salju, bumi masih gelap, Tadi saja Song Ji tahu mereka sudah sampai di mana karena di tepian karena perahu tidak dapat maju lagi.

"Aku sendiri tidak tahu apa nama tempat ini dan di mana letaknya?"

Kata Song Ji.

"Sekarang, Siangkong, arah mana yang harus kita tempuh?"

Nona ini turut membalikkan tubuhnya untuk mengawasi sekitarnya, Dia lebih memang dalam hal ilmu silat tapi dalam hal kecerdikan, dia masih kalah di bandingkan dengan Siau Po.

Namun di saat itu, otak Siau Po sedang tumpul.

Hawa dingin bagaikan membuat otaknya menjadi beku, Rasanya sukar baginya untuk memikirkan daya upaya.

"Dasar si Pui Ie celaka!"

Akhirnya dia mendamprat "Dia membuatku sengsara seperti ini!"

"Mari kita pergi!"

Kata Song Ji.

"Dengan berjalan seluruh tubuh kita bergerak, otot kita tak akan kaku seperti sekarang. Kita akan mendapatkan hawa hangat agar tidak terasa begitu dingin."

Siau Po menganggap pikiran itu ada benarnya.

Dia menurut bahkan keduanya lantas berjalan dengan bergandengan tangan.

Namun, mereka masih merasakan penderitaan Salju yang tebal membuat mereka sukar melangkah meskipun mereka berjalan dengan menyeret kaki satu tindak demi satu tindak, Hal ini karena kaki mereka melesak ke dalam salju sampai batas betis.

Dengan melawan penderitaan itu, Siau Po melangkah terus.

sebelum dia mengetahui di tempat mana dia berada, dia masih khawatir akan tersusul oleh Hong kaucu.

Apalagi jalan mereka sekarang begitu lambat dan jejak kaki mereka tertanam jelas di atas salju.

Sambil berjalan, Siau Po menanyakan Song Ji bagaimana bisa berada di atas kapal musuh, Song Ji segera memberikan keterangannya.

"Hari itu, secara sembunyisembunyi aku mengikuti siangkong. Aku dapat melihat bagaimana orang-orang itu menawanmu, justru ketika semua orang sedang memperhatikan siangkong, diam-diam aku menyelinap ke belakang kapal itulah kapal pemerintah yang berhasil di rampas oleh Hong kaucu. Di situ masih terdapat sejumlah anggota tentara tangsi Jiau Kie Eng, Kaucu itu sendiri masih mengenakan seragam tangsi itu. Aku menunggu sampai tengah malam dan keadaan sudah sunyi, baru aku keluar menolong siangkong."

Siau Po merasa bersyukur dan senang sekali Dia memuji kecerdikan dan keberanian si nona.

"Pui Ie, si budak celaka telah mengkhianati aku. sebaliknya kaulah yang baik hati Kau telah menolongku Aku tidak sudi lagi mengambil Pui Ie sebagai istri, aku akan menikahimu saja, Song Ji..!"

Si nona cilik terkejut, dia melepaskan cekalan tangannya dan menggeser ke samping.

"Aih, siangkong!"

Katanya.

"Akulah budakmu, aku memang harus melayani kau seumur hidupku."

"Justru karena kau adalah budakku, maka sekarang ini aku merasa bahagia sekali."

Sahut Siau Po.

"Rupanya karena aku sering mengetuk Bok gi dan membaca doa, aku mendapatkan keberuntungan ini."

Song Ji tertawa.

"Siangkong bisa saja!"

Katanya.

Perjalanan dilanjutkan sampai terang tanah, Telah jauh mereka meninggalkan tepi laut Di atas salju tampak tegas jejak kaki.

Di sekitar mereka, terlihat tempat itu demikian luas seakan tidak ada batasnya.

Tidak ada tanda-tanda dari pihak Hong kaucu, akan tetapi hal itu masih belum membuat hati Siau Po merasa tentram.

"Entah tempat apa ini? --pikir Siau Po dalam hatinya, --Biar bagaimana ada kemungkinan ini masih wilayah kekuasaan ketua Sin Liong kau itu... --. Karena mendapat pemikiran ini, dia segera berkata kepada rekan seperjalanannya.

"Kalau begini terus, meskipun kita berjalan sampai belasan hari, masih ada kemungkinan orang-orang Hong kaucu bisa menyusul kita."

Song Ji menganggukkan kepalanya, Kemudian dia menunjuk ke depan.

"Bukankah tempat itu banyak pepohonannya?"

Tanyanya.

"Nah, mari kita pergi ke sana! Dengan berada di dalam hutan, musuh sukar melihat atau mencari kita."

Siau Po memperhatikan tempat yang di tunjuk oleh si nona itu.

"Bagus kalau itu memang hutan,"

Katanya.

"Tapi rasanya kok bukan...."

Tapi keduanya toh menuju ke sana juga, Mereka berjalan dengan setengah berlari, setelah kurang lebih satu jam, jarak mereka baru agak dekat dan mereka dapat melihat dengan jelas, Rupanya itu memang bukan hutan, hanya sebuah bukit kecil.

Keadaannya belum diselimuti salju seluruhnya.

Disana juga tidak ada tempat persembunyiannya.

"Coba kita melihat ke belakangnya,"

Kata Siau Po.

"Mungkin di sana ada tempat untuk berlindung...."

Dan dia terus berjalan, nafasnya mulai terasa sesak.

Kurang lebih setengah jam telah lewat pula, Mereka sudah sampai di belakang bukit itu, keadaan di sana justru putih seluruhnya dan mirip dengan lautan salju, Di sana juga tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Siau Po membaringkan tubuhnya di atas tanah salju tersebut Dia merasa letih dan lapar.

"Oh, Song Ji yang baik,"

Katanya. Dalam keadaan seperti ini, ia masih dapat bergurau.

"Kalau kau tidak mengijinkan aku memeluk tubuhmu dan mencium pipimu, mungkin aku tidak mempunyai tenaga untuk berjalan lebih jauh lagi..."

Wajah si nona cilik jadi merah padam.

Dia merasa jengah serta malu, Dia juga merasa serba salah, Menampik atau jangan?

Tapi ketika dia sedang ragu-ragu itulah, tiba-tiba telinganya mendengar suara samar-samar dari belakang mereka, Dia merasa terkejut sekali sehingga cepat-cepat dia menolehkan kepalanya.

Di sana, dari balik bukit, muncul tujuh atau delapan ekor manjangan besar.

"Bagus!"

Seru Siau Po.

"Nah, Song Ji, apakah kau mempunyai jalan untuk menangkap salah seekor manjangan itu? Kita sudah lapar, kita bisa menyantap dagingnya sebagai pengganti nasi...."

"Nanti aku coba,"

Sahut si nona, Dia tidak begitu letih kalau dibandingkan Siau Po.

Mendadak dia melompat terus berlari ke arah serombongan binatang berkaki empat itu.

Gerakannya gesit sekali, Mungkin hal ini karena ilmu silatnya yang jauh lebih tinggi dari pada Siau Po.

Sang manjangan terkejut.

Mereka langsung lari kocar kacir, Sia-sia saja si nona mengejar sehingga sampai akhirnya dia menjadi letih sendiri.

Tapi, ternyata binatang-binatang itu tidak takut terhadap manusia, Melihat Song Ji berhenti berlari, mereka pun tidak kabur lebih jauh.

Mereka berhenti dan memalingkan kepala untuk mengawasi Song Ji.

"Sulit rasanya menangkap binatang itu,"

Kata Song Ji akhirnya kepada Siau Po.

"Mari kita menggunakan akal!"

Kata Siau Po yang cerdik.

"Kita pura-pura mati saja, lalu kita lihat, mereka akan mendekati kita atau tidak. Kalau mereka menghampiri kita..."

Si nona tertawa.

"Akal itu sangatlah bagus!"

Katanya.

"Baik. Mari kita mencobanya!"

Kemudian ia merebahkan tubuhnya. Siau Po memang sudah rebah, dia terus berdiam saja, Akan tetapi, dasarnya memang jenaka, dia tetap saja mengoceh terus.

"Manjangan mari kau datang padaku, Kamu tahu kami berdua telah mati! Kami berdua bagaikan berada dalam liang kubur, tak dapat kami bergerak. Akan tetapi Song Ji telah memberikan aku delapan orang anak laki-laki dan sembilan anak perempuan...."

"Siapakah yang melahirkan anak sedemikian banyak padamu itu."

Tanyanya dan mukanya menjadi merah.

"Kalau delapan dan sembilan anak terlalu banyak menurut kamu, berarti cukup masing-masing tiga saja!"

Kata Siau Po sambil tertawa pelan.

"Tidak..."

Kata si nona, ia berhenti berbicara karena kawanan manjangan itu sedang mendatangi mereka.

Si Kacung pun lantas menutup mulutnya.

Siau Po dan juga Song Ji berpura-pura mati, Napas mereka berhenti, tetapi mata mereka terus saja mengawasi kawanan manjangan yang mendekati itu.

Beberapa kawanan manjangan itu mendekati lalu menjilati Siau Po dan Song Ji.

Segera setelah saatnya tiba, mendadak Siau Po melompat langsung ke punggung salah satu manjangan itu dan kakinya menjepit perutnya serta kedua tangannya menyambar ke lehernya, yang terus di peluknya ke atas.

Melihat tindakan Siau Po, Song Ji pun tak mau kalah, Dengan sekali gerakannya Song Ji telah berada di punggung menjangan yang Iain.

Sisa menjangan yang kaget lari semuanya.

"Kau potong manjangan itu dan nanti kita akan dapat makan dengan daging manjangan yang lezat ini!"

Kata si nona.

"Sabar dahulu!"

Kata Siau Po.

"Lebih baik kita menggunakan hewan ini untuk melarikan diri dari kejaran Hong kaucu, pastilah mereka tak dapat mengejar kita!"

Katanya pula.

"Baik.... Baik!"

Kata si nona.

"Apakah kau dapat mengendalikan binatang ini? jika tidak kita akan terpental karenanya..."

Siau Po mengangguk.

"Mari kita berangkat"

Ajak Siau Po yang langsung menggeprak binatang itu agar berlari.

Song Ji mengikuti cara yang dilakukan Siau Po.

Aneh adalah sifat dari binatang manjangan itu, ia suka berkawan, Sisa yang kabur itu, melihat kedua kawanannya tidak terganggu, semua datang mendekati kawannya itu untuk berjalan bersama-sama.

jelas sifat mereka itu gemar berkumpul dan juga bergerombol dan lari mereka tidak kalah dengan larinya kuda.

Arah tujuan Siau Po adalah barat daya, Sesudah berlari dengan kencang mereka lalu memperlambat larinya, Dua manjangan yang ada penunggangnya berjingkrakan akan melemparkan si penunggangnya itu.

Tetapi Siau Po dan juga Song Ji tak dapat dirobohkannya.

Kaki Siau Po dan juga kaki Song Ji menjepit dengan keras sedangkan tangannya memeluk leher binatang itu dengan keras juga.

"Kita jangan turun! Jika kita sampai turun sulit bagi kita untuk naik kembali ke punggungnya, Kita harus dapat melarikannya sejauh mungkin. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, sekali kata-kata sudah terucap maka manjangan pun tak dapat mengejarnya?"

Kata Siau Po.

Song Ji hanya dapat mengangguk dan tersenyum.

Siau Po dan Song Ji sangat letih tetapi mereka itu tak mau melepaskan binatang itu.

Mereka membiarkan tubuh mereka dibawa kabur oleh binatang itu.

Sampai datangnya sang magrib mereka itu sudah dibawa ke sebuah rimba.

Siau Po melihat ke sekitarnya.

"Nah di sini saja kita beristirahat"

Katanya.

Kemudian Siau Po mengambil pisaunya lalu ditusukkannya pada leher manjangan itu, Ditariknya, pisau itu ke bawah dan ke atas, hingga leher binatang itu seakan mau putus.

Sang manjangan itu kaget dan kesakitan ia berontak dan berlompat-lompatan.

Tak lama kemudian tubuh manjangan itu roboh sebab nyawanya telah hilang.

Siau Po dengan cepat melompat dari punggung manjangan itu sehingga tubuh Siau Po tidak terpental "Aku rasa satu ekor saja sudahlah cukup, maka sebaiknya yang satu ekor ini aku bebaskan saja."

Kata Song Ji yang setelah berkata demikian ia pun berlompat turun.

Untuk sekejap Siau Po merebahkan tubuhnya ke tanah untuk melegakan pernapasannya, Baru setelah itu ia mendekati manjangan itu dan menadahkan dengan mulutnya darah yang mengalir dari lehernya itu.

Siau Po telah meminum darah manjangan itu sampai ia merasa puas, Setelah itu barulah ia memanggil Song Ji untuk sama meminum.

Gadis itu menurut juga.

Setelah meminum darah manjangan itu, tubuh mereka terasa segar dan juga hangat tidak seperti semula.

Selesai beristirahat Song Ji meminjam pisau belati Siau Po untuk mengambil daging manjangan itu, Setelah itu ia mengumpulkan kayu bakar dari ranting pohon yang kering lalu dibakarnya.

"Manjangan, maafkan kami!

Kau telah menolong kami, tetapi kau kubinasakan, itu terpaksa sebab kami perlu mengisi perut, Di sini tak ada makanan yang dapat kami makan..!"

Demikianlah, setelah daging itu matang mereka langsung menyantapnya, Setelah memakan daging manjangan itu mereka barulah merasakan segar kembali, dan dalam beberapa detik dapat melupakan orang yang sedang mencarinya.

"Song Ji yang baik!"

Kata Siau Po kemudian.

"Mari kita tetap tinggal dalam hutan ini. Aku sebagai seorang pemburu sedangkan kau sebagai seorang istri dari pemburu, Rasanya aku tak ingin kembali lagi ke Pakhia."

Katanya. Song Ji tertunduk.

"Ke mana juga Siangkong pergi, aku akan tetap bersamamu untuk merawatmu."

Katanya dengan perlahan-lahan.

"Sebaiknya Siangkong kembali saja ke kota raja untuk memangku jabatan yang penting atau pun tetap di sini sebagai seorang gembala, aku tetap saja sebagai seorang budakmu."

Lanjutnya. Song Ji yang sangat cantik dan kulit tubuhnya kuning, mulus itu sangat menarik hati Siau Po.

"Dengan demikian bukankah itu berarti hidup kita telah menjadi sempurna?"

Katanya sambil tertawa.

"Oh!"

Kata si nona yang tampaknya sangat kaget Setelah itu ia berlompat naik ke atas pohon dan berkata.

"Belum.... Belum...."

Siau Po tertawa menyaksikan hal itu, Setelah malam tiba mereka sama-sama tertidur Keesokannya Song Ji bangun langsung mengambil daging manjangan yang tersisa itu untuk mereka sarapan, sedangkan kulit dari manjangan itu akan dijadikan baju untuk Siau Po dan sisanya akan digunakan untuk membuat topi, Sampai pada waktu itu Siau Po masih belum dapat melupakan musuhnya yang menurutnya masih saja mengejarnya.

"Kita sudah dapat meloloskan diri dari tangan Hong kaucu tetapi aku rasa kita ini belum lagi aman sepenuhnya."

Kata Siau Po yang mengutarakan halnya pada Song Ji.

"Aku anggap kita harus mencari manjangan lagi untuk kita pergi ke arah utara selama tiga atau empat hari lamanya, Di sana, di tempat yang aman sentosa barulah aku akan menjadi Wi kaucu dan kau Song Ji Hujinnya buat kita hidup beruntung dan usia kita sama dengan usia langit."

Song Ji tertawa.

"Apa itu Song Ji Hujin? Rasanya kata-kata itu tak enak didengar."

Kata si nona.

"Tetapi untuk menunggangi manjangan itu aku rasa tidaklah sulit karena kawanan

Tiraikasih website

http.//cerita-silat.co.cc/ kawanan manjangan itu sedang menuju ke mari. Coba kau lihat di sana itu! Bukankah manjangan-manjangan itu sedang menuju ke mari?"

Kata Song Ji.

Manjangan-manjangan itu datang dari arah timur karena di arah sana terdapat hujan salju, Mungkin itu kawanan manjangan yang kemarin kabur, tetapi sekarang jumlahnya makin besar.

Mereka berjalan dengan mengangkat kepala dan sambil memakan dedaunan, rupanya manjangan itu jarang sekali atau tidak pernah melihat manusia, Hal itu terbukti dengan binatang itu yang tidak takut pada manusia malah, dan malah mendekatinya....

"Semua manjangan itu sangat baik. sebaiknya kita jangan mengganggunya,"

Kata Song Ji.

"Manjangan yang kemarin saja sudah cukup untuk kita makan selama sepuluh hari atau lebih..."

Katanya pula.

Selesai berkata demikian Song Ji membungkus daging yang tersisa itu dengan kulitnya dan memberikannya pada Siau Po satu dan untuknya satu, Dengan demikian mereka itu membawa persediaan mereka masing-masing dan mereka menggendongnya.

Selain bekerja mereka berdua berjalan dengan perlahan-lahan mendekati kawanan manjangan itu, Siau Po kemudian mendekati manjangan yang paling besar lalu mengusap-usap kepala binatang ku.

Anehnya binatang itu malah menjilati muka Siau Po, bukannya pada lari....

"Manjangan ini dapat membuatku berhasil!"

Kata Song Ji pada Siau Po.

Siau Po menurut Dengan perlahan tetapi pasti, kacung itu telah naik ke punggung manjangan, sedangkan sang manjangan itu tetap saja diam.

Song Ji pun telah berhasil mencari manjangan yang lainnya.

"Nah marilah kita berangkat!"

Kata Siau Po.

Maka kemudian manjangan itu berlari dengan cepat menuju arah dalam rimba, Kedua ekor manjangan itu dapat dikendalikan maka mereka berangkat dengan rasa aman.

Lewat beberapa saat, pada suatu tempat Siau Po dan juga Song Ji turun dari manjangan itu.

Kemudian mereka membebaskan manjangan itu untuk pergi.

Setelah melihat arah yang akan dituju, Siau Po mengajak Song Ji untuk pergi ke arah utara.

Mereka menganggap, dengan demikian mereka sudah terpisah dari Hong kaucu.

Ketika mereka berada di dalam rimba, mereka sudah berjalan belasan hari, Kemudian mereka bertemu dengan lain manjangan, Hidup dari daging manjangan itu.

Kesulitan yang mereka rasakan hanyalah dikarenakan pakaian mereka robek terkena duri dan juga ranting hingga mereka itu harus menggunakan pakaian dari kulit manjangan dan begitu juga dengan sepatu mereka.

Pada suatu hari ketika mereka sedang berjalan, mereka mendengar suara air yang mengalir dengan derasnya, Kemudian mereka mendekati arah datangnya suara itu, barulah mereka dapat melihat, ternyata di sana terdapat sebuah sungai.

Mendadak mereka merasa senang.

Masih saja mereka berjalan beberapa lie jauhnya dan berjam-jam lamanya, Baru setelah itu ia bertemu dengan orang, orang-orang itu memakai pakaian dari kulit manjangan juga, dan membawa pacul, Mereka tampaknya adalah seorang pemburu.

Girang hati Siau Po dapat bertemu dengan keempat orang itu.

"Kalian mau pergi ke mana?"

Tanya Siau Po.

"Kami ingin pergi ke pasar di Bouw Tan Kang, dan kalian?"

Kata salah satu orang yang usianya lebih tua.

"Oh, untuk pergi ke Bouw Tan Kang itu melewati jalan itu dan bukan jalan ini."

Kata Siau Po yang menjawab dengan ragu-ragu.

"Jikalau demikian, kami salah jalan! Bagaimana kalau kami ikut jalan bersama dengan kalian? Baik bukan?"

Tanyanya pula.

Orang-orang itu tidak merasa keberatan, lalu Siau Po dan juga kawan barunya itu jalan bersama-sama, Di tengah perjalanan mereka berbicara dari hal yang kurang penting sampai pada soal yang agak penting.

Hal itu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan orang-orang itu dan juga, asal-usulnya.

Setelah itu barulah diketahui kalau orang itu adalah suku Tungku atau Tungus, yang hidup sebagai pemburu yang setelah mendapatkan hasil buruan mereka membawanya ke pasar yang sekarang akan mereka tuju.

Di sana mereka berhubungan dengan Bangsa Tionghoa, makanya mereka jadi mengetahui Bahasa orang Tionghoa.

Kiranya pasar yang mereka tuju itu adalah pasar besar.

Siau Po merogoh kantung untuk mengambil beberapa tail uang peraknya, kemudian mengajak kawan barunya untuk makan dan minum arak di salah satu rumah makan.

Ketika mereka sedang minum, mereka mendengar seseorang yang duduk di meja sebelahnya berkata.

"Tongkatmu ini memang bagus, namun tongkatku yang tahun dulu aku dapatkan dari gunung Humaer Wotsi, menurut catatannya lebih tua lima puluh tahun dari kepunyaanmu ini."

Siau Po dan Song Ji segera menoleh pada mereka, Bukannya tertarik pada tongkat atau pada pembicaraannya itu, tapi mereka terkejut dengan disebutkannya nama gunung yang pernah mereka dengar itu.

Mereka lalu saling lirik.

Siau Po kemudian mengeluarkan beberapa tail perak, lalu memanggil pelayan untuk menyediakan daging sepanci besar dan arak dua kati untuk kedua tetangganya itu, Mereka merasa heran, kenapa si pemburu sangat baik hati, Kemudian mereka mengucapkan terimakasih.

Siau Po pun mengajak tetangganya untuk minum bersama-sama dengan mereka, sehingga sesaat kemudian mereka sudah dapat berbicara tentang letak gunung itu dan beberapa sungainya.

Untuk memperoleh penjelasan, Siau Po kemudian memanggil Song Ji untuk menyebutkan nama beberapa gunung dan sungai yang disebutkan oleh orang yang duduk di meja sebelahnya itu.

Selesai makan dan minum, Siau Po memisahkan diri dengan kedua tetangganya dan ketiga kawan barunya itu, ia memisahkan diri untuk berpikir tentang masalah itu.

"Jikalau demikian, gunung Lok Teng San masih terpisah beberapa lie jauhnya dari sini, Tetapi mumpung sekarang aku sedang merantau, sebaiknya aku pergi ke sana untuk mengambil harta itu. Baiklah aku dan Song Ji berdiam saja di tempat asing, menanti sampai delapan atau sepuluh tahun, mustahil jika kaucu belum juga mati.... Benarkah usianya akan sama kekal dengan usia langit?" Siau Po masih membekal uangnya, Maka ia lantas menyewa kereta untuk pergi ke utara bersama Song Ji. ia mengambil perjalanan ke utara, dikarenakan semakin ia ke utara maka semakin jauh dari kawanan Sin Liong Kauw.... Oleh karena itu rasa khawatir ada orang yang mengenalinya maka Siau Po memutuskan untuk tetap memakai pakaian kulit rusa dan di tambah dengan muka yang di coret-coret, Di dalam kereta ia selalu berbicara dengan Siau Po dengan gembira. Setelah berjalan beberapa hari lamanya, Siau Po merasakan udara di daerah itu semakin dingin, bahkan keretanya lambat jalannya karena yang dilewatinya tertutup salju, Oleh karena itu mereka melanjutkan perjalanannya dengan menunggang kuda, Tak lama kemudian, kuda itu pun tak dapat berlari. Maka Siau Po dan Song Ji melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, Mereka berjalan melalui rimba dan tanah yang datar. Di tempat yang sepi itu hati Siau Po merasa sangat tenang, ia merasa telah jauh dari musuhnya dan bahkan musuh tak mengetahui akan keadaannya. Song Ji berotak cemerlang atau pintar, perjalanan dilanjutkan dengan cara seperti primitip dan terus menuju utara, Kalau mereka bertemu dengan para pemburu tak lupa Siau Po meminta keterangan dari mereka itu. Di atas peta bumi terdapat delapan bundaran merah. itulah letaknya Lok Teng San (Gunung Kaki Tiga Manjangan), Tempat itu merupakan tempat bertemunya dua aliran sungai besar. Pada suatu hari, akhirnya sampai juga Siau Po dan Song Ji di tempat yang terpisah dari tempat yang lainnya yaitu sebuah Rimba, Di sanalah Siau Po dan Song Ji berjalan dengan berpegangan tangan, Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara ledakan senjata api.

"Mari cepat!"

Siau Po berseru sambil menarik tangan Song Ji.

"Celaka! Hong kaucu telah menyusul kita!"

Katanya pula.

Mereka segera bersembunyi ditengah rerumputan yang lebat dan tinggi.

Baru saja Siau Po dan Song Ji bersembunyi terdengar suara teriakan-teriakan dari belasan orang dan juga suara derap kaki kuda yang mendatangi mereka.

Siau Po memasang telinga memperhatikan suara orang dari pihak Hong kaucu yang ia takuti itu.

Kacung itu merasa takut, sebab kalau ia sampai di tawan maka kulitnya pasti akan diseset dan ototnya akan ditariki.

Akan tetapi kemudian Siau Po merasa lega karena yang datang itu bukannya orang dari partai Sin Liong Kau, melainkan orang Iain.

Maka ia langsung saja mengintai orang yang baru saja datang itu.

Di sana terlihat orang-orang Tungku berlarian mendatangi, sambil berteriak-teriak.

Yang membuat Siau Po kaget adalah terdengarnya suara senjata api yang disusul oleh robohnya satu persatu orang Tungku.

Siau Po memegang tangan Song Ji erat-erat.

Dalam hati ia berkata.

"Senjata-senjata api itu milik orang asing."

Terkaan Siau Po ternyata benar.

Tak berapa lama kemudian datanglah beberapa orang menunggang kuda ke arah Orang Tungku tadi, rata-rata mereka berambut kuning dan bermata biru.

Jelas mereka itu opsir atau para perwira yang kesemuanya bertubuh kekar dengan muka yang bengis-bengis, Mereka itu bersenjatakan pedang yang melengkung.

Dengan senjata api mereka itu menyerang orang Tungku sampai habis, semuanya mati di pedang mereka, Setelah itu mereka tertawa dan berlompatan dari punggung kudanya lalu menggeledah para korban dan mengambil kulit binatang Ciauw, Kemudian mereka berbicara berbisik-bisik dan pergi.

Siau Po dan Song Ji terus saja bersembunyi sesudah orang-orang asing itu pergi, barulah mereka keluar dari persembunyian Keduanya tercengang melihat mayat orang Tungku bergeletakan dengan berlumuran darah.

"Hantu-hantu orang asing itu pastilah juga orang-orang begal yang suka merampok Bahkan jauh lebih jahat, Mungkinkah Gouw Sam Kui sudah memulai memberontak?"

Kata Siau Po dengan kesal.

Siau Po baru teringat telah bersengkongkolnya Gouw Sam Kui dengan bangsa asing, Asal Propinsi Inlam bergerak, maka bangsa Losat akan menyerang dari arah utara, Mengingat angkatan perang lawan sangat kuat dan tangguh, ia pun timbul rasa khawatirnya pada si raja cilik, maka matanya melotot menyaksikan salah satu mayat itu.

Song Ji menyaksikan Siau Po terus.

"Kasihan sekali para pemburu ini pastilah ayah, ibu, istri dan anaknya sedang menanti hasilnya.-."

Katanya terharu.

"Oh! Aku ingin menemui si raja cilik,"

Kata Siau Po.

"Menemui raja cilik?"

Tanya Song Ji yang terus saja mengawasi Siau Po.

"Tak salah, Gouw Sam Kui telah berkhianat, pastilah raja cilik akan berbicara denganku, tentulah banyak kata-kata yang akan dia ucapkan padaku, Taruh kata aku tak dapat memberikan jalan pikiran yang baik, paling tidak aku dapat menghibur hatinya yang sedang resah itu, Nah... marilah kita kembali!"

Kata Siau Po. Song Ji merasa heran.

"Jadi batal kita pergi ke Lok Teng San?"

Tanyanya.

"Sekarang kita tangguhkan dahulu, lain waktu mudah-mudahan kita dapat pergi lagi mencari!"

Kata Siau Po.

Siau Po tamak tetapi seperti telah ia katakan, kekayaan yang ia pakai sekarang ini sudah tak habis-habisnya.

Mengingat Lok Teng San itu merupakan gunung urat nadi raja cilik, ia khawatir jikalau ia menggali tempat pusaka itu ia akan meminta kurban raja cilik, sekarang ini biar bagaimana pun ia merasakan persahabatannya dengan Kaisar Kong Hie sangat erat, Lagi pula jikalau hanya mereka berdua mana dapat menggali harta di Lok Teng San itu?

Dan jika mereka berhasil menggalinya, mana sanggup mereka membawa barang itu?

Dan bagaimana jikalau kepergok oleh para penjaga gunung itu?

Dalam hal itu Song Ji tak mempunyai pikiran apa-apa ia hanya menurut saja apa kata Siau Po.

"Dalam perjalanan itu kita tak boleh bertemu dengan orang asing itu, sebaiknya kita berjalan melalui pesisir pantai saja sambil melihat-lihat apakah terdapat perahu sewaan atau tidak..."

Kata Siau Po.

Song Ji mengangguk, maka bersama-sama mereka memasuki rimba itu lalu terus berjalan ke arah timur Kira-kira tengah hari mereka sudah tiba di tepi pantai, Dari kejauhan tampaklah sebuah kota, Melihat hal itu hati Siau Po merasa girang sekali.

"Sesampainya di dalam kota, aku akan menyewa perahu atau menyewa kuda itu sama saja, yang penting kita sampai ke kota raja."

Kata Siau Po.

Maka perjalanan dilakukan dengan cepat.

Setelah lewat beberapa lie, tampak sebuah sungai yang luas yang airnya mengalir dari barat daya dan banyak pengkolannya, Air sungai itu mengalir sangat deras, Yang menarik perhatian yaitu sungai tersebut berhubungan dengan sungai lain.

Menyaksikan sungai itu kemudian Song Ji berkata.

"Siangkong, ini dia sungai Amur serta sungai Hek Liong Kang dan itu.... itu adalah gunung Lok Teng San."

Ia pun segera menunjuk pada benteng kota. Siau Po terperanjat dia menoleh pada Song Ji. iapun mengawasi sasaran yang di tunjuk si nona.

"Apakah kau tidak keliru? Sungguh suatu hal yang sangat kebetulan sekali!"

Kata Siau Po.

"Demikianlah halnya yang ada dalam peta bumi itu. Dalam peta itu hanya terdapat delapan bundaran berwarna, tetapi tidak ada kota atau bentengnya."

Kata Song Ji.

"Di dekat gunung Lok Teng San terdapat gunung lain dan kau katakan tadi tidak ada kota dan bentengnya, sungguh luar biasa! Maka menurutku kota dan benteng itu tak dapat di percaya. sebaiknya kita jangan pergi ke sana.,."

Kata Siau Po.

"Apakah artinya tidak dapat di percaya itu?"

Tanya Song Ji.

"Lihatlah di atas benteng kota itu! Bukankah itu ada mengembang mega? Bukankah mega itu mega siluman! Di dalam kota itu mesti terdapat siluman."

Kata Siau Po. Song Ji terkejut.

"Oh! Memang aku paling takut pada siluman! Siangkong, mari kita cepat-cepat pergi menyingkir katanya. Pada waktu itu terdengar derap kaki kuda, dari pesisir pantai yang deras itu, Ketika Siau Po dan Song Ji menoleh tampak dari kejauhan para penunggang kuda. Sementara Siau Po dan Song Ji sedang berada di tempat terbuka dan di sekitarnya pun tanah terbuka, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Melihat demikian, Siau Po lalu menarik tangan Song Ji mengajak menjauhkan diri, mereka bergulingan di pesisir sungai dan akhirnya bersembunyi di balik batu yang ada di tepi sungai itu. Segera juga para penunggang kuda itu melewatinya. Ternyata mereka itu adalah para serdadu bangsa asing. Melihat mereka Siau Po mengeluarkan lidahnya meledek, sementara mereka itu sudah memasuki benteng kota.

"Nah, benar tidak apa kataku? Aku tadi mengatakan bahwa kota itu tak dapat di percaya, hanya saja yang datang tadi bukanlah bangsa siluman, melainkan bangsa asing itu yang menempatinya."

Kata Siau Po.

"Dengan susah payah kita mencari gunung Lok Teng San dan ternyata bangsa asing itu yang telah menempatinya lebih dahulu dan telah merampasnya."

Kata Song Ji.

"Oh!"

Siau Po menjerit dengan tiba-tiba dan melompat berjingkrakan.

"Celaka.... Celaka!"

Serunya. Song Ji terperanjat dan heran.

"Apakah yang kamu maksud dengan celaka?"

Tanya Song Ji yang melihat wajah Siau Po menjadi pucat.

"Pasti orang-orang asing itu telah mengetahui rahasia gunung Lok Teng San!"

Kata Siau Po.

"Kalau tidak, mau apa mereka datang ke sini? pastilah harta dan juga urat nadi naga itu telah mereka ketahui...."

Song Ji heran karena belum pernah mendengar tentang harta dan juga urat nadi naga itu.

Gadis itu hanya mengetahui tentang peta itu yang di dapatnya secara susah payah.

ia dapat menerka bahwa pastilah telah ada sesuatunya yang sangat penting dan berharga sekali, ia lalu mengawasi Siangkong atau tuan mudanya itu.

"Siangkong, kalau orang asing itu telah mengetahui dan telah mengambilnya berarti kita sudah tidak ada daya lagi. Mereka bersenjata api lagi pula bengis dan kejam, Kita hanya berdua saja, mana dapat kita melawan mereka yang kuat itu?"

Katanyaa Siau Po menghela napas panjang.

"Aneh sekali! Bukankah peta bumi itu baru saja kita selesaikan dalam beberapa hari ini? Bagaimana rahasia itu dapat sampai bocor keluar, terutama dapat diketahui bangsa asing itu? Ah, Tolol, Tolol!"

Kata Siau Po. Siau Po memukul kepalanya sendiri. Song Ji segera mencegahnya.

"Eh Siangkong kau kenapa? jangan kau memukuli kepalamu sendiri!"

Kata Song Ji.

"Mungkin setelah aku selesai mengakurkan ada orang yang telah mencuri atau melihatnya. Aku telah menugaskan Liok Kho Hian dan Ay Gun cia menunggui kau. Karena itu mungkinkah yang telah mencuri dan melihatnya itu kedua orang jahanam itu?"

Katanya.

"Ah! Ya, Mungkin saja! Mungkin mereka telah mencuri dan melihatnya sewaktu aku sedang tertidur pulas."

Katanya. Siau Po tertawa.

"Kau yang begini cantik tentulah kedua setan itu telah pula mengawasimu di samping mengawasi peta itu."

Kata Siau Po.

"Hus!"

Kata Song Ji yang mukanya terus memerah.

"Aku mengatakan mereka itu telah melihat peta bumi yang kau rancang itu."

Kata Song Ji. Siau Po tertawa sementara hati dan pikirannya terus saja bekerja memikirkan hal itu.

"Mungkinkah setelah mereka mengetahui peta bumi itu lalu melaporkannya pada Hong kaucu dan setelah itu kaucu melaporkannya pula pada orang asing itu? Akan tetapi mengapa mereka mengatakannya secepat ini? Mengapa kaucu tidak menelannya sendiri? Padahal itu pastilah terdapat rahasianya, sekarang aku harus mengetahui apakah bangsa asing itu telah mengetahuinya atau belum? Apakah mereka telah merusaknya atau belum? Tak dapat tidak aku harus melakukan penyelidikan untuk mendapatkan kepastiannya."

"Bukankah kalau aku pergi ke sana itu sangat berbahaya? Maka aku harus mencari akal agar aku dapat pergi ke sana."

Katanya.

"Kita pergi nanti saja setelah matahari terbenam. Dengan demikian mereka akan mengalami kesulitan untuk mengetahui kedatangan kita, maka kita dapat lebih leluasa."

Kata Song Ji Siau Po membenarkan pikiran Song Ji.

ia terus makan daging dendeng bekalnya itu.

Setelah itu mereka merebahkan diri sambil menanti datangnya sang malam.

Kira-kira jam dua mereka bangkit menuju ke kota, malam itu jagat sangat sunyi, rembulan pun bercahaya terang.

Terlihat benteng kota yang tentunya di buat bukan dalam waktu satu hari.

Ketika berjalan, Siau Po terperanjat melihat bayangan sendiri dan Song Ji.

"Dari atas musuh pasti akan melihat kedatangan kita."

Kata Siau Po.

"Kalau mereka menembak beberapa kali saja, pastilah jiwa kita akan melayang..."

Pikirnya.

Maka Siau Po menarik tangan Song Ji dan langsung dibawanya bersembunyi sambil mereka memasang telinganya.

Di atas tembok sebelah timur laut tampak sebuah rumah kecil yang jendelanya terbuka, Dari jendela itu ke luar sinar yang terpancar dari sebuah lampu, Rupanya di sana terdapat tempat untuk berjaga-jaga.

"Mari kita pergi ke sana untuk menyingkir dari para penjaga yang berada di dalam rumah itu!"

Kata Siau Po dengan berbisik-bisik di telinga Song Ji.

Song Ji mengangguk.

Mereka berdua lalu mengendap-endap untuk naik ke atas rumah itu.

Setelah sampai di rumah itu, mereka berdua mendengar suara tawa dari dalam rumah itu.

Setelah mereka perhatikan suara tawa itu ternyata suara tawa seorang perempuan.

Berkali-kali wanita itu tertawa genit sambil berkata.

Siau Po dan juga Song Ji terheran-heran mendengar suara tawa itu, Mereka saling memandangi dan berkata dalam hati masing-masing.

"Mengapa dalam rumah penjagaan ini terdapat seorang wanita?"

Siau Po mencoba mengintip dari celah-celah jendela, tetapi tak terlihat, sebab dalam musim dingin ini orang memakai gorden tebal, sedangkan suara tawa itu terus saja terdengar dari luar dan sesekali mereka berkata-kata namun bahasa mereka itu tak dapat dimengerti oleh Siau Po.

Siau Po hanya dapat menerka-nerka, bahwa sepasang manusia yang ada di dalam rumah itu pastilah bukan orang baik-baik.

Mereka pastilah sedang melakukan perbuatan yang kurang sopan....

Bagian 65 Diam-diam Siau Po merangkul Song Ji dan nona itu tetap diam saja, sebab ia khawatir akan membuat suara yang mencurigakan orang yang ada di dalam rumah itu.

Gerak-gerik orang yang di dalam mencurigakan separuh dimengerti dan separuh tidak.

Siau Po senang melihat orang yang di peluknya hanya pasrah dan diam saja, Dengan tangan kirinya ia memeluk tubuh Song Ji dan tangan kanannya meraba-raba pipi yang licin milik Song Ji.

Song Ji tak meronta, ia terdiam saja dan melemaskan tubuhnya bagaikan merasa aman berada di pelukan Siau Po, si tuan mudanya, Dengan siapa ia bersama dan dengan siapa ia merdeka.

Ketika sedang berdiam saja, tiba-tiba Siau Po terkejut karena kaki kirinya menginjak batu es.

ia jatuh terpelanting sehingga kepalanya membentur kayu jendela.

"Aduh!"

Serunya.

Benturan itu telah menimbulkan suara yang berisik.

Rupanya suara yang di timbulkan oleh Siau Po terdengar sampai ke dalam sehingga suara tawa dan bicara orang yang di dalam itu terhenti sementara suara yang di luar pun terhenti, maka suasana di situ menjadi sangat sepi.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah yang menegur orang yang di luar.

"Siapa di sana?"

Tegurnya.

Siau Po dan Song Ji mendekam di tanah, mereka tak berani membuka suaranya apalagi menjawabnya.

Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka, tampak seseorang melangkah ke luar dengan membawa lentera.

ia berjalan ke sana ke mari mencari arah datangnya suara.

Siau Po tahu apa yang harus ia lakukan, mendadak ia melompat bangun sambil mengeluarkan pisau belatinya yang tajam itu yang lalu digunakannya untuk mencari sasaran, Maka tak ayal lagi dada orang itu terkena pisau belatinya.

Tak lama terdengar suara tertahan, dan setelah itu orang yang terkena pisau itu jatuh terkulai dengan darah yang bercucuran lalu mati.

Sementara itu Song Ji yang cerdik tidak tinggal diam, ia pun terus berdiri dan melompat masuk ke dalam rumah itu.

sesampainya di dalam nona itu merasa heran, sebab tadi ia mendengar ada suara seorang wanita, tetapi sekarang tak ada orang sama sekali.

"Ah, mana dia si wanitanya?"

Pikirnya.

Siau Po segera menyusul masuk.

Kamar itu dilengkapi dengan bangku panjang yang di gunakan untuk tidur, sebuah meja dan sebuah peti kayu yang di gunakan untuk menyimpan barang, sedangkan di atas meja masih terdapat lilin, tetapi si wanita menghilang entah ke mana.

"Cepat kau cari dia, orang itu tak boleh lolos!"

Kata Siau Po yang memerintahkan Song Ji untuk mencari si wanita yang tadi tertawa-tawa dengan yang pria.

Siau Po lalu pergi keluar rumah untuk melihat orang yang baru saja ditikamnya, Orang itu memakai baju seragam, tetapi tidak memakai celana, Siau Po terus saja menatapnya.

"Dia pasti berada di sini!"

Kata Siau Po. Kemudian ia mencurigai peti itu. Maka ia lalu membuka peti itu sambil berkelit ke samping karena takut kalau orang yang ada di dalam langsung menyerangnya, Akan tetapi peti itu kosong.

"Aneh!"

Katanya.

Siau Po terus memeriksa peti itu, tetapi yang didapatkan hanyalah kulit binatang Ciauw, Siau Po mengulurkan tangannya untuk memeriksa tumpukan kulit itu.

Sambil berbuat demikian Siau Po membungkuk Tiba-tiba ia mencium bau bedak.

"Ah."

Serunya perlahan. Kecurigaan Siau Po mulai timbul ia menggunakan tangannya untuk memindahkan kulit-kulit itu dari dalam peti, Setelah habis semuanya ternyata di bawahnya terdapat sebuah lubang besar.

"Oh di sini!"

Katanya.

"Kiranya di sini ada jalan bawah tanah."

Kata Song Ji.

"Kita harus dapat merintangi dia, jikalau dia dapat meloloskan diri dan membawa kabar pada kawan-kawannya kita bisa celaka. Bagaimana seandainya datang pasukan asing yang banyak jumlahnya?"

Tanya Siau Po.

Setelah berkata demikian Siau Po mengeluarkan pisau belatinya dan langsung ditusukkan ke dalam lobang itu.

Dengan tubuhnya yang kecil mudahlah baginya untuk bergerak, maka dengan cepat ia mengejar orang yang lari itu, sampai ia menyambar paha yang tak bercelana.

Si wanita itu kaget maka ia terus menjerit, dan berusaha meronta-ronta untuk tetap lari.

Diam-diam hati Siau Po merasa girang.

"Aku ingin tahu kau hendak pergi ke mana."

Katanya dalam hati.

Siau Po menyimpan pisaunya, Dengan kedua tangannya ia memegang kedua paha orang itu.

Wanita itu bertenaga besar.

ia lalu menarik kakinya yang dipegang Siau Po dan terus saja merayap, sampai-sampai tubuh Siau Po terseret.

Untuk mempertahankan tubuhnya, kacung itu mementangkan kedua kakinya, Maka dengan demikian tubuhnya tak terseret lagi.

Tiba-tiba wanita itu meronta dan kali ini berhasil melepaskan kakinya yang satu dari pegangan Siau Po.

Siau Po terkejut lalu melompat menubruknya.

Kebetulan waktu itu mereka berdua telah sampai pada tempat yang cukup luas.

Mendadak si wanita itu tertawa, Dia memutar tubuhnya ke belakang, mukanya diajukan sehingga tepat mulutnya membentur mulut Siau Po.

Wanita itu ia mencium Siau Po tetapi hanya dapat mencium bagian hidung, Di dalam lubang itu sangat gelap sehingga sulit untuk memperhatikan wajah orang lain.

Siau Po mencium bau yang sangat harum yang menempel pada hidungnya, Diamdiam ia pun terkejut mendapatkan tubuh yang memeluknya itu ternyata tak menggunakan pakaian selembar pun.

Yang lebih mengagetkan lagi, sekarang wanita itu malah memeluknya, Ketika ia sedang berada dalam pelukan wanita bugil itu, tiba-tiba dikagetkan oleh suara Song Ji.

"Siangkong bagaimana?"

Tanyanya.

Siau Po ingin menjawabnya, tetapi mulutnya terus saja dicium oleh wanita itu, sehingga ia tak dapat menjawab pertanyaan Song Ji yang menanyakan keadaannya itu.

Kembali terdengar suara orang dari atas lobang, tetapi kali ini bukan suara Song Ji, Siau Po mendengarnya dengan jelas.

"Kami mendengar kabar bahwa Gubernur jendral telah tiba ke Ya Kutak, maka kami terus datang menyambutnya untuk selanjutnya mengadakan perjanjian dan pertemuan!"

Mendengar kata-kata itu, Siau Po bagaikan disiram air dingin, ia mengenali dengan jelas suara itu, itulah suara Hong kaucu.

"Kenapa Hong kaucu telah berada di sini? Mengapa wanita yang seharusnya aku tawan ini telah berbalik menjadi baik kepadaku?"

Tanyanya dalam hati.

Siau Po terus berpikir dengan keras, Luar biasa pengalamannya terutama malam ini.

ia dapat memeluk tubuh yang lunak dan juga harum Namun hatinya takut juga.

ia teringat kalau ia sampai ditawan oleh Hong kaucu, tubuhnya pasti dikuliti dan ototnya akan di tarik keluar, itulah siksaan yang tidak ingin ia dapatkan.

Maka akhirnya Siau Po meronta untuk melepaskan dari pelukan si wanita itu untuk lari, Tetapi usahanya itu mengalami kegagalan Wanita itu malah memeluknya dengan erat.

Dalam kebingungannya, Siau Po berkata dengan bahasa yang ditirunya dari bangsa asing itu, di telinga si wanita, Akan tetapi si wanita malah berbalik berkata di telinga Siau Po dengan perlahan.

"Kau bicara apakah? Hi... hi... hi!"

Kata-kata itu diakhiri dengan satu tamparan. Pada saat itu dari atas lobang terdengar kata-kata dalam bahasa Losat, disusul dengan suara orang Iain.

"Menurut Bapak Gubernur Jendral, kedatangan Sin Liong kaucu di sambutnya dengan senang, bahkan ia meminta maaf karena ia tidak dapat mengadakan acara penyambutan yang selayaknya, Dan kali ini ia telah melakukan perbuatan yang kurang hormat padamu, Bapak Gubernur juga mengatakan dan sekaligus mendoakan agar usia kaucu sama dengan usia langit dan panjang umur, dan dapat mencapai maksud dan tujuan yang diinginkan dan berbahagia selalu! Bapak Gubernur juga ingin bersahabat agar dapat selalu bekerja sama dengan kaucu, Maka dengan demikian usaha kita akan dapat tercapai dengan baik!"

"Orang itu kurang pandai berbicara."

Kata Siau Po dalam hati yang mendengarkan suara orang itu. Lalu terdengar suara Hong kaucu.

"Aku pun memberikan hormat dan memujinya agar usia dia panjang umur dan berbahagia! Aku pun memuji agar Bapak Gubernur panjang umur dan dapat naik pangkat dengan cepat Memang aku sangat ingin agar kita dapat bekerja sama, guna mewujudkan usaha kita bersama. Ada rejeki kita rasakan bersama ada kesulitan kita pikul bersama pula, Untuk selama-lamanya kita saling mengikat janji."

Selesai berkata demikian, Bapak Gubernur itu pun berkata dalam bahasanya sendiri.

Siau Po mendengarkan pembicaraan itu, lalu bertanya pada si wanita yang merangkulnya dengan erat itu, dengan suara sangat perlahan sekali.

"Siapakah kau? Mengapa kau tidak berpakaian sama sekali?"

Tanyanya dengan heran. Si wanita itu tertawa perlahan ia malah berbalik bertanya pada Siau Po.

"Kau siapa? Dan mengapa kau berpakaian?"

Bersamaan dengan itu si Wanita itu membuka pakaian Siau Po sampai pakaian dalamnya. Di saat seperti itu Siau Po sudah tak memiliki kegembiraan apa lagi untuk bergurau.

"Keadaan di sini sangat berbahaya, Mari kita cepat ke luar!"

Kata Siau Po.

"Jangan kau bergerak! jikalau kau bergerak maka akan menimbulkan suara yang dapat mencurigakan."

Kata si wanita.

Wanita itu bicara dalam bahasa Tionghoa tetapi logatnya kaku.

Siau Po tak dapat bergerak maka bersama wanita itu ia hanya mendengarkan pembicaraan antara Hong kaucu dengan Bapak Gubernur Jenderal itu.

Siau Po mendengarkannya dengan seorang wanita yang belum dikenalnya dan juga belum mengenalinya.

Mereka itu sedang merundingkan masalah yang sangat besar, Asal Gouw Sam Kui telah bergerak maka mereka semuanya ikut bergerak untuk menggencet pemerintah dari dua arah.

Rencana mereka itu sama dengan rencana yang dikatakan Khantema, yang mengatakan pemerintah Boancu akan diserang dari dua arah.

Kemudian Hong kaucu mengutarakan pikirannya, dan mengatakan.

"Jikalau pihak Losat bergerak dari Liautong, sudah tentu itu terlalu jauh dan nantinya akan mendapatkan hambatan dari masing-masing penjagaan di berbagai tempat, Dengan demikian sebaiknya menggunakan jalan air saja, dan mendarat di Thian Cin. Kota raja Pakhia harus dihajar dengan senjata api, dan meriam-meriam besar, Maka dengan demikian pihak Losat akan mendahului pihak Gouw Sam Kui untuk merampas kota raja Pakhia."

Gubernur jendral itu sangat senang dengan pemikiran tersebut Maka seterusnya ia berkata sambil memuji-muji orang itu.

"Hong kaucu sangatlah setia sekali Maka nanti jika kita telah berhasil pastilah kau akan diberikan hadiah beberapa propinsi untuk dijadikan tempat Hong kaucu memerintah."

Katanya.

"Terimakasih.... Terimakasih!"

Katanya. Siau Po kaget sekali mendengar pembicaraan orang itu.

"Dia benar-benar penghianat besar! Hingga tak terdapat perbedaan antara dia dan Gouw Sam Kui. Rencana ini sangat jahat, maka aku harus melaporkannya pada si raja cilik, agar di pelabuhan Thian Cin ditempatkan meriam-meriam besar, Dengan demikian jika nanti armada Losat datang langsung dihujani dengan peluru meriam-meriam itu, agar mereka itu tahu rasa!"

Kata Siau Po dalam hati. Masih terdengar tawa mereka, maka Hong kaucu berkata.

"Yang mulia Gubernur Jendral, dari jauh kalian datang ke Tiongkok, Kami tak mempunyai barang yang berharga untuk di persembahkan, maka sudilah Bapak menerima mutiara yang berjumlah ratusan ini, seratus lembar kulit Tiauw dan seratus kati Jimson. Semua ini untuk Bapak sendiri, sedangkan untuk raja Losat, kami ada hadiah tersendiri."

Mendengar pemberian hadiah yang sangat berharga itu, Siau Po berkata dalam hatinya.

"Hebat penghianat ini! Dia dapat mengumpulkan barang-barang yang sangat berharga itu. Anjing tua itu ternyata benar-benar lihay!"

Katanya.

Siau Po berhenti berpikirnya karena secara tiba-tiba pipinya merasa hangat.

Ternyata si wanita itu sedang mencium, dan memeluknya erat-erat serta tangannya sedang meraba tubuh Siau Po dengan gencarnya.

"Kau berani main gila denganku, baiklah aku tak akan sungkan-sungkan lagi padamu!"

Setelah berkata demikian Siau Po mulai beraksi.

ia memang gemar bergurau, Kacung itu mulai meraba tubuh si wanita dan menciumnya.

Tiba-tiba si wanita tertawa dengan keras, sehingga suaranya itu terdengar sampai ke atas, dan di dengar oleh Hong kaucu, Tetapi Hong kaucu diam saja.

ia menganggap sangat wajar jika di dalam rumah Gubernur jendral itu terdapat penghuninya seorang wanita, bahkan ia berpura-pura tidak mendengar apa-apa.

Setelah berkata dengan rendah hati, ia pun berpamitan untuk pulang, dan katanya pembicaraan dapat dilanjutkan besok.

Tiba-tiba Siau Po mendengar ada suara yang berasal dari atas kepalanya, Tak lama kemudian muncullah cahaya terang benderang, Siau Po terkejut sebab mereka berada di dalam peti itu dan ditutup, kemudian tutup itu ada yang membukanya dengan lebar.

Si wanita itu melepaskan rangkulannya dan langsung melompat ke luar sambil menyambar kain dan membalutkan pada tubuhnya, Ternyata wanita itu seorang opsir asing.

ia bertubuh tinggi, berambut pirang dan hidungnya mancung serta cantik, Opsir itu memegang pedang yang sudah keluar dari sarungnya.

"Kau keluar!"

Kata opsir itu kepada Siau Po. Siau Po menurut saja lalu keluar dari dalam peti itu.

"Masih ada satu lagi."

Kata wanita itu sambil tertawa, Yang di maksud ialah Song Ji. ia bersembunyi di sisi peti itu, tetapi sekarang muncul.

"Ah! Bocah cilik!"

Kata wanita itu kepada Siau Po sambil menatapnya.

"Kau masih begini kecil tetapi sangat romantis, Kaulah si telur busuk! Hi... hi... hi!"

Tawanya.

Siau Po diam saja, begitu juga Song Ji.

Si Gubernur jendral berkata dan di terjemahkan oleh si wanita itu sebab sang Gubernur menggunakan bahasanya sendiri, Setelah berkata demikian sang Gubernur memberikan hormat pada Siau Po.

Kembali si wanita itu mengucapkan kata-kata yang ditujukan untuk Siau Po yang masih diam saja.

Diam-diam Siau Po memperhatikan isi ruangan itu atau kamar tempat sekarang ia berada, Tampak perlengkapannya terdiri dari banyak kulit binatang dan juga bulunya, Di atas pembaringan terdapat banyak pakaian wanita yang berwarna-warni yang bergemerlapan cahaya ke emasan.

Si wanita yang menutupi tubuhnya itu tampak buah dadanya yang putih dan betisnya yang bagus.

Tengah menatap tubuh si wanita itu, tiba-tiba Siau Po dikejutkan oleh si penerjemah yang berkata kepadanya.

"Tuan putri dan juga gubernur jendral menanyakan padamu, kau sebenarnya orang apa?"

Tanyanya. Siau Po heran, ia bukannya menjawab pertanyaan itu malah ia balik bertanya.

"0h.... Dia itu tuan putrinya?"

Demikian pertanyaannya.

"Benar, ia adalah adik kaisar Losat yang bernama Sophia dan yang ini adalah Gubernur Jenderal Koricin, Cepat kau berlutut memberikan hormatmu!"

Kata si penerjemah itu yang memperkenalkan satu persatu pada orang yang ada di depan Siau Po. Setelah mendengarkan penjelasan itu Siau Po berpikir.

"Dialah tuan putri? Adiknya kaisar Losat! Tetapi mengapa lagaknya begitu genit dan juga ceriwis? Tetapi Kian Leng Kong juga tidak kalah genitnya dengan tuan putri ini,.,."

Karena berpikir demikian maka Siau Po tertawa, Setelah itu ia mendekati tuan putri itu dan memberikan hormatnya seraya berkata.

"Tuan putri baik-baik saja? Sungguh tuan putri sangat cantik seperti bidadari yang turun dari kayangan! Di negara kami, Tiongkok tak ada wanita secantik kau."

Tuan Putri Sophia mengerti bahasa Tiongkok, Wanita itu mengetahui kalau orang itu telah memuji kecantikannya itu, ia sangat senang sekali hatinya, Ternyata anak kecil ini sangat romantis.

"Oh, anak baik, ada hadiah untukmu."

Katanya sambil terus menghampiri meja untuk mengeluarkan laci yang berisi uang emas, ia mengambil uang itu hanya belasan biji, dan meletakkannya pada tangan Siau Po.

"Terimakasih!"

Kata Siau Po yang menerima uang itu.

Akan tetapi setelah menerima uang itu, Siau Po melihat jari-jemari tuan putri.

Hatinya tergiur, pada jari-jemari tangan tuan putri yang sangat indah, Maka ia lalu memegang tangan wanita itu dan menciumnya.

"Jangan kurang ajar kau!"

Kata si penerjemah.

Mencium tangan adalah kebudayaan orang asing tetapi cara yang di lakukan Siau Po berbeda dengan cara orang asing itu, Siau Po mencium bukannya punggung tangan itu melainkan semuanya.

Herannya tuan putri itu malah tertawa, dan tidak cepat-cepat menarik tangannya.

"Eh, anak kecil kau sedang berbuat apa?"

Tanyanya pada Siau Po sambil tertawa.

"Si anak kecil sedang memburu."

Jawab Siau Po. Justru pada saat itu terdengar seseorang berkata di luar kamar dengan suara keras.

"Jangan terpedaya olehnya! Bocah itu adalah mentri kebesaran kaisar Tiongkok."

Katanya.

Ternyata itu, suara Hong kaucu dari perkumpulan agama rahasia Sin Liong Kau yang berada di pulau Sin Liong To.

Mendengar suara itu Siau Po tersentak kaget, tetapi ia masih sadar dan dapat mengendalikannya, Maka ia menarik ujung baju Song Ji untuk diajaknya pergi meninggalkan tempat itu, Akan tetapi setelah ia membuka daun pintu, di situ sudah terdapat Hong kaucu yang menghadang dengan tangannya yang di rentangkan untuk menghalangi orang yang akan melalui tempat itu.

Song Ji yang pemberani itu menyerang maju, dan sebelah tinjunya langsung melayang ke samping.

Hong kaucu menangkis dengan tangan kirinya, Bersamaan dengan itu tangan kanannya menyerang sambil menotok ke arah pinggang Song Ji.

Maka tak ayal lagi Song Ji terkena totokan kaucu di pinggangnya maka dengan demikian Song Ji terkulai lemas, dan jatuh.

"Oh, Hong kaucu! Kau beruntung dan berbahagia, Usianya kekal dan sama dengan langit! Oh, ya. Mana Hong Hujin? Apakah ia telah berada di sini bersamamu?"

Kata Siau Po.

Hong kaucu tak menjawab pertanyaan Siau Po.

ia malah mengulurkan tangannya untuk mengangkat pundak Siau Po.

Tubuh Siau Po di tenteng dengan tangannya yang satu dan dibawanya masuk ke dalam kamar itu.

"Harap diketahui oleh tuan putri serta Paduka Gubernur Jendral! Anak ini bernama Wi Siau Pek atau Siau Po. ia adalah menteri besar kesayangan Kaisar Tiongkok dan ia juga menjadi kepala pasukan pengawal pribadi kaisar, dan juga pengawal istana raja, ia menjadi kepala utusan raja cilik dia serta kedudukan kebangsawanan Cu-ciak."

Kata raja agama Sin Liong Kau.

Setelah berkata demikian, Hong kaucu meminta pada si penerjemah untuk menerjemahkan kata-katanya itu kedalam bahasa Losat Hal itu dimaksudkan agar Gubernur dan juga tuan putri mengerti apa yang dimaksudkan olehnya.

Setelah penterjemah itu mengutarakan pada Gubernur dan juga tuan putri, mereka berdua tak mempercayainya, maka tuan putri itu tertawa lalu berkata.

"Dia adalah anak kecil dan bukan mentri besar."

"Tetapi hamba mempunyai buktinya!"

Kata Hong kaucu yang terus menoleh pada anak buahnya untuk memerintahkan sesuatu seperti biasanya sewaktu ia berada di pulau Sin Liong To.

"Bawa ke mari baju anak ini!"

Katanya, Dari luar kamar terdengar suara jawaban, Tak lama kemudian ada seorang yang masuk sambil membawa pakaian dan kopiah Siau Po. Dia adalah Liok Kho Hian. Melihat pakaian itu Siau Po kaget.

"Aneh! Dari mana ia mendapatkan pakaianpakaianku itu? jika demikian memanglah Hong kaucu sangat lihay!"

Katanya dalam hati.

"lnilah pakaian dan juga kopiah anak kecil itu!"

Kata Hong kaucu.

Siau Po diam saja ketika orang mendandaninya, Memang pakaian itu adalah pakaiannya, maka setelah dipakainya, pakaian itu sangatlah cocok dengannya dan terlihatlah Siau Po sebagai pembesar istana Boancu.

Walaupun rahasianya telah terbongkar hingga ia tak dapat menyangkal Iagi, Siau Po tidak merasakan takut, ia malah tertawa terbahak-bahak lalu berkata pada ketua Sin Liong Kau itu.

"Hong kaucu sungguh kau sangat lihay! Di sepanjang jalan aku membuang pakaianku yang terkoyak-koyak itu dan di sepanjang jalan itu pula aku memungutinya."

Hong kaucu tidak menjawab kata-kata Siau Po itu.

"Geledah tubuhnya!"

Perintahnya pada sebawahannya itu.

"Dia pasti membawa firman dari kaisar itu serta surat-surat yang lainnya!"

Katanya pula. Kembali Siau Po tertawa walaupun sebenarnya ia merasa kaget.

"Tak usah kau menggeledah, aku sendiri yang akan mengeluarkannya."

Kata Siau Po.

Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan susunan Gin-pio yang jumlahnya laksaan tali uang perak.

Gubernur jendral yang sudah lama tinggal di Liouwtong mengenali uang kertas itu.

Maka setelah menyaksikan uang yang jumlahnya banyak itu ia merasa heran dan kagum.

"Benar-benar anak ini ada asal-usulnya, Dia memiliki uang yang demikian banyaknya."

Kata Gubernur itu pada si tuan putri.

"Anak ini sangat licin, geledah dia!"

Kata Hong koucu yang masih belum puas juga.

Maka Liok Kho Hian yang dibantu oleh Ay Cuncia mengeluarkan isi saku Siau Po.

Memang benar di salah satu sakunya itu terdapat firman raja cilik itu, yang di antaranya menerangkan tentang raja-raja muda yang di perintahkan untuk mengundang setiap pemberontak yang akan masuk ke wilayah kota raja.

Mereka itu menyanggupi firman itu, Dan juga di situ diterangkan mengenai pangkatpangkat Siau Po di antaranya Kim Cee Tayjin yaitu utusan raja, Butggraf tingkat satu, Baturu perkenaan memakai pakaian kehormatan warna kuning, pemimpin dari tangsi Jiau Kie Eng berbendera putih merangkap Hu Congkuan wakil kepala pasukan pengawal Gie Cian Sie Wie pengawal pribadi raja.

Penterjemah memberikan salinan dari firman kaisar Tionghoa itu pada Gubernur jendral dan tuan putri Sophia, Mereka berdua menjadi sangat heran dan juga kagum pada Siau Po.

"Harap Tuan putri ketahui, Kaisar Tiongkok ini masih kecil sehingga ia paling suka memilih anak kecil juga sebagai para menterinya, Begitulah anak ini dapat bermain dengan rajanya, Dia sangat pandai menepuk punggung kuda dan punggung kerbau, Karenanya kaisar Tiongkok yang masih kecil itu sangat senang padanya."

Kata Hong kaucu yang memberikan keterangan pada kedua orang itu.

Setelah penterjemah itu menerangkan dan memberikan penjelasannya, tuan putri Sophia tertawa dan berkata.

"Aku memang paling suka dengan orang yang pandai menepuk punggung kuda dan meniup kulit kerbau itu."

Katanya. Mendengar kata-kata tuan putri itu Siau Po menjadi senang, sedangkan wajah ketua Sin Liong Kau menjadi merah dan tak sedap jika di pandang mata.

"Berapakah usia kaisar Tiongkok yang masih muda itu?"

Tanya si tuan putri Sophia.

"Kaisar Tiongkok berusia delapan belas tahun. Banyak orang yang mengatakan kaisar besar itu bukanlah berarti ia besar, melainkan ia agung dan mulia walaupun masih seperti anak-anak."

Siau Po yang memberikan keterangannya. Putri Sophia tertawa lagi.

"Raja kerajaan Losat yang besar juga diperintah oleh saudaraku yang masih kecil, usianya baru dua puluh tahun, dan karenanya dia bukannya tua bangka."

Katanya. Siau Po menoleh sedikit mendengar kata "tua bangka"

"Apakah arti dari tua bangka itu?"

Tanyanya dalam hati.

"Apakah yang dimaksudnya itu orang dewasa?"

Maka ia lalu berkata dengan keras pada tuan putri itu.

"Tuan putri yang cantik, raja tuan putri bukanlah tua bangka itu bagus, Dan raja kami pun bukannya tua bangka itupun bagus."

Katanya. Tetapi Siau Po tidak berhenti sampai di situ, ia terus melanjutkan kata-katanya yang di tujukan untuk Hong kaucu.

"Telur busuk dari Tiongkok ialah seorang yang tua bangka! itu tidak bagus. Ya... tidaklah bagus."

Katanya.

Mendengar hal yang demikian putri Sophia tertawa terpingkal-pingkal.

Gubernur Jenderal yang usianya baru tiga puluh tahun pun ikut tertawa mendengarkan kata-kata Siau Po.

Hong kaucu sebaliknya mukanya menjadi merah karena menahan rasa malu, Dalam hati ia merasa sangat mendongkol dan juga menyesal, hingga ia ingin membuat Siau Po mati saja.

Lalu mendengar pula perkataan putri Sophia.

"Utusan raja kecil dari Tiongkok datang ke mari, Lalu ada apakah keperluannya itu?"

Tanyanya.

"Yang di pertuan kaisar Tiongkok mendengar kabar berita bahwa pembesar dari bangsa Losat telah tiba ke Liauwtong, Maka aku diutusnya untuk mendapatkan kepastian, Kaisar Tiongkok juga telah mendengar berita bahwa raja Losat juga masih anak-anak dan putri mahkotanya seperti seorang bidadari yang turun dari kayangan, Dari itu aku diutus ke mari untuk memberikan barang-barang hadiah kepada Tuan putri dan juga untuk paduka Gubernur Jendral, aku di bekali dua ratus butir mutiara Tay Tong serta Jimson dua ratus tail, Namun di tengah perjalanan kami dipegat segerombolan penjahat dan mereka itu merampas semua harta kami."

Belum sempat Siau Po melanjutkan kata-kata-nya, Hong koucu yang sedari tadi diam saja menjadi sangat kesal, ia lalu menggerakkan tangannya untuk menyerang Siau Po.

Pukulan itu diarahkan ke kepala Siau Po.

Ketika berbicara Siau Po memang sudah memperhatikan gerak-gerik Hong koucu, Maka setelah mendapatkan serangan yang tiba-tiba itu, ia sempat mengelak dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang diajarkan oleh gurunya, ia langsung ke belakang tubuh tuan putri Sophia.

Sungguh menakjubkan gerakan Siau Po.

Terutama ilmu meringankan tubuh yang diajarkan Kiu Lan gurunya itu, Siau Po nampak mahir sekali menggunakan ilmu itu, Sebagai akibatnya tangan Hong kaucu yang menyerangnya membentur bangku hingga hancur.

Korichin kaget sekali, ia lalu mencabut pistolnya dan terus mengancam pada Hong kaucu sambil membentaknya.

"Jangan kau berbuat sembrono!"

Bentaknya.

Barusan itu tuan putri Sophia mendengarkan pembicaraan Siau Po.

Hanya Siau Po berbicara panjang lebar sehingga tuan putri Sophia banyak yang tidak mengerti makanya ia meminta penterjemah untuk menerangkan padanya dan setelah mengerti maksud dari Siau Po ia pun tertawa.

"Bingkisan hadiah telah dirampas dan sebagian kau pakai untuk keperluanmu sendiri itu sangatlah tidak bagus."

Katanya yang ditujukan untuk kaucu. Mendengar kata-kata tuan putri itu kaucu menjadi bingung.

"Bukan, Anak ini memang paling pandai berdusta, janganlah Tuan putri percaya padanya!"

Sangkalnya.

Hal itu Siau Po lakukan karena sewaktu berada di bawah lobang itu ia mendengar kalau Hong kaucu telah memberikan hadiah pada Gubernur jendral itu, dan karena kecerdikannya itu ia merubah jumlah yang besar itu menjadi lebih besar lagi.

Mendengar kata-kata Siau Po, Hong kaucu sangat mendongkol sekali, Tetapi ia tak dapat melakukan apa-apa, apalagi sekarang gubernur itu mengancam akan menembaknya dengan senjata api yang telah di arahkan kepadanya.

sebenarnya ia tidak takut pada senjata api, tetapi ia masih mengingat ada hal lainnya yang sangat penting dan memerlukan bantuan bangsa Losat itu yaitu untuk menyerang Boancu, maka tak selayaknya urusan yang besar dapat dirusak dengan urusan yang sepele itu.

Jadi ia harus dapat menahan diri, Maka dengan sabar ia melangkah ke pintu, ia tak melakukan perlawanan dengan gubernur itu tapi tetap tenang-tenang saja.

Gubernur itu menyimpan lagi senjatanya, dan mengucapkan kata-katanya yang langsung diartikan oleh penterjemah.

"Paduka gubernur mengatakan bahwa Hong kaucu tak usah gusar Dia mengetahui kalau anak ini pandai berbicara yang tidak karuan. Katanya pula, tuan putri Sophia datang ke Tiongkok ini secara rahasia, Karenanya kaisar Tiongkok pastilah tidak mengetahuinya. Dan ia mengatakan tak mungkin kalau kaisar Tiongkok memberikan hadiah yang besar itu pada tuan putri Sophia dan juga untuk Gubernur jendral yang berasal dari Bangsa Losat."

Kata penterjemah itu. Mendengar keterangan itu Hong kaucu sangat senang dan amarahnya reda seketika.

"Paduka Gubernur sangat pandai dan juga cerdas, serta bijaksana, Memang ia tak mungkin terpedaya oleh ocehan anak kecil."

Mendengar demikian, Korichin lalu menanyakan tentang asal-usul Siau Po.

Hong koucu menerangan dari pertama Siau Po yang membinasakan Goh Pay dan mengantarkan tuan putrinya Kian Leng untuk menikah dengan anak Gouw Sam Kui di Inlam, Anak ini pandai mengarang untuk membuat dusta pada setiap orang dan juga membuat kejahatan.

Tetapi anehnya anak ini sangatlah disayang oleh kaisar Tionghoa, ia mengutarakannya banyak yang ditambah-tambahkan dan pada akhirnya ia berkata.

"Bocah ini menjadi tangan kiri dan kanannya Kaisar Tiongkok, jikalau kita membunuhnya, pastilah kaisar itu merasa tidak puas dan murka, Oleh karena itu sekarang kita sebaiknya jangan meladeninya. Lebih baik sekarang kita membicarakan cara menggerakkan angkatan perang yang hasilnya jauh lebih bermanfaat."

Ketika Hong koucu berbicara, penterjemah itu tak henti-hentinya memberikan keterangan pada atasannya dalam bahasa Losat, Sambil mendengar pembicaraan itu tuan putri pun tersenyum sambil memperhatikan Siau Po.

Korichin berpikir dan setelah itu ia berkata.

"Jadi kaisar itu sangat sayang pada anak ini?"

Tanyanya.

"Tidak salah lagi."

Sahut Hong kaucu dengan segala kepastian.

"Jika tidak demikian, mana mungkin dalam usia yang sedemikian mudanya ia telah memperoleh pangkat yang sangat tinggi dan kedudukan yang sangat besar itu?"

Katanya pula.

"Jikalau anak ini tak dapat kita binasakan, sebaiknya kita membuat surat pada kaisar Tiongkok yang kecil itu untuk mengirim permata yang jumlahnya sangat besar untuk menebus anak ini."

Kata Korichin.

Tuan Putri Sophia yang mendengarkan pembicaraan kedua orang itu menjadi tertawa.

Secara perlahan-lahan ia menciumi pipi Siau Po dan berkata tetapi tidak diterjemahkan, Siau Po mengira kata-kata itu suatu sanjungan, Maka hatinya merasa girang.

"Asal aku tidak dihukum mati mudah untuk si raja cilik mengeluarkan uang dan permatanya untuk menebus aku."

Katanya dalam hati.

Hong kaucu tampak tidak puas tetapi ia hanya diam saja.

Setelah itu Siau Po mengambil uangnya dan membagi menjadi tiga tumpukan, Yang paling banyak ia berikan pada tuan putri Sophia dan pada tumpukan yang kedua ia berikan pada Korichin, Gubernur Jendral, sedangkan tumpukan yang terakhir ia berikan pada si penterjemah dan sisanya ia masukan kembali kedalam sakunya.

Sophia dan Korichin serta penterjemah itu memerintahkan menghitung jumlah uang itu dan seterusnya memerintahkan agar surat-surat berharga itu dapat ditukarkan dengan uang di pedalaman Tiongkok.

Kiranya jumlah uang si tuan putri itu selaksa tail lebih, Hal itu yang membuatnya sangat senang, itulah harta karun yang didapatnya dalam sekejap saja.

Saking girangnya, ia memeluk tubuh Siau Po dan menciumi pipi kanan dan kirinya berulangulang.

Setelah itu ia berkata dengan suara nyaring.

"Jumlah ini sangatlah besar! Untuk itu lepaskanlah anak ini agar ia pergi!"

Itulah kemerdekaan yang diinginkan oleh Siau Po, tetapi ia berpikir dan berkata dalam hati.

"Aku memang ingin merdeka, tetapi bukannya sekarang, Karena jika aku pergi, pastilah aku akan dibunuh oleh Hong kaucu ini."

Setelah berkata demikian, maka Siau Po tertawa.

"Oh, Tuan putri! Tuan sangatlah cantik, dan aku belum pernah melihat orang yang secantik kamu, Oleh karenanya ijinkanlah aku singgah barang beberapa hari lagi untuk melihatmu."

Sophia tertawa geli.

"Jikalau demikian, baiklah! Baiklah, besok kita pulang ke Moskwa!"

Katanya. Siau Po tidak mengetahui di mana tempat yang tadi telah disebutkan itu. seenaknya saja ia berkata.

"Jikalau Tuan putri yang cantik pergi ke Moskwa, utusan raja yang berpangkat tinggi ini akan pergi ke sana, Dan jikalau Tuan putri yang cantik ini pergi ke awan, maka utusan raja cilik ini akan pergi ke sana juga...."

Senang hati Sophia melihat anak ini yang pandai berbicara dan nada bicaranya sangatlah jenaka sekali Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum dan berkata.

"Baiklah. jikalau demikian, maka aku akan membawamu ke Moskwa,"

Kata tuan putri.

Tetapi Korichin meminta pada Hong kaucu untuk meninggalkan tempat itu karena ia ingin berbicara panjang lebar dengan Siau Po.

Tampak Hong kaucu tidak membantah keputusan dari Gubernur jendral itu, ia diam dan menurut saja, tetapi sewaktu ia hendak meninggalkan tempat itu, sampai di pintu ia menatap Siau Po dengan mata yang bengis.

Siau Po menjulurkan lidahnya serta kedua tangannya untuk menutupi mukanya, itulah caranya mengejek, Sambil berbuat demikian ia berkata bagaikan berseru.

"Hong kaucu beruntunglah dan berbahagia untuk selama-lamanya dan usianya sama dengan usia langit!"

Kaucu tidak menjawab perkataan Siau Po, dengan sangat mendongkol ia mengajak Liok Kho Hian pergi meninggalkan tempat itu.

Baca Juga: Pusaka Pedang Embun 1

Baca Juga: Kisah Sepasang Naga Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert