Ceritasilat Novel Online

Kaki Tiga Menjangan 15

Eps 15 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.

Gauw Sam Kui yang sedari tadi hanya mendekam saja, setelah mendengar kata-kata mereka itu, mendadak bangun dan langsung menyerang tuan putri itu. Kiu Lan terkejut akan tetapi ia selalu bersiap sedia.

"Makhluk tak tahu diuntung!"

Katanya sedang tombak yang ada di tangan kirinya dipakai untuk menggeprak tombak lawan.

Gauw Sam Kui kaget sekali, geprakan itu membuat tenaganya habis, bahkan tangannya kesemutan.

Bukan saja ia gagal membokong, bahkan tongkatnya terlepas dengan sendirinya ke lantai dan menyusul tombak lawan sudah mengarah pada kerongkongannya.

Dengan hati ciut dan takut bukan main, Peng See Ong melangkah mundur agar ujung tombak tak menemui sasaran.

Akan tetapi Kiu Lan mengikuti terus dan ujung tombaknya mengancam tempat yang sama, sampai orang itu mepet pada tembok dan tak dapat mundur lagi.

Sementara itu Lie Cu Seng menjemput tongkatnya, maka di lain pihak, Kiu Lan terus menyerahkan tombak itu pada raja muda seraya berkata.

"Nah, kalian berdua, pergi kalian bertempur secara jantan dan jadilah kalian sebagai laki-laki sejati!"

"Baik,"

Gauw Sam Kui berseru, dan menurut kebiasaan berlaku licik tanpa mengatakan apa-apa ia langsung menyerang lawan.

walaupun mereka berhadapan serangan itu adalah serangan membokong.

Lie Cu Seng waspada dan telah siap sedia, maka itu ia dapat menangkis serangan itu, setelah itu dengan hati panas ia membalas menyerang maka di situ mereka bertempur.

Kiu Lan diam-diam menarik tangan Siau Po dan dibawanya ke belakang tubuhnya, sehingga Siau Po terlindung dengannya, Mereka itu bertempur dengan menggunakan senjata tajam, maka bila ada diantara mereka yang tidak konsekwen, tak ayal pula mereka kena sasaran.

Tan Wan Wan juga pergi ke pojok tembok, mukanya sangat pucat, tak berani menonton pertarungan itu, ia memejamkan matanya sebab kedua orang itu suaminya dan bekas suaminya, Sewaktu meram, ia membayangi suatu peristiwa di masa dahulu.

"Waktu itu ia berada dalam istana, Di dalam keraton kerajaan Beng, Sri baginda Cong Ceng malam-malam datang padaku, Dia sangat memuji kecantikanku, Besok paginya baginda tak menghadiri rapat istana seperti biasanya, ia selalu berada dalam keraton menemaniku ia menyuruh aku bernyanyi untuknya, ia pun membedakiku dan memakaikan aku Yang-Ji hingga kedua bibirku menjadi merah. Setelah itu ia menyipat alisku, Baginda telah berjanji akan mengangkatku sebagai Kui Hui, selirnya yang sah. Dan kemudian akan mengangkatku sebagai Honghouw, permaisuri ia sampai mengatakan semenjak itu dalam istana tak ada lagi yang dipandang mata, dalam hal kecantikan. Saat itu baginda masih muda akan tetapi suatu saat, sewaktu ia sedang tertawa mendadak ia berhenti dan diam saja, Maka di mataku ia tak lebih dari laki-laki bangsawan lainnya yang biasa datang berkunjung ke tempat-tempat pelesiran. Selama tiga hari, siang dan malam tak pernah ia meninggalkan aku sekalipun satu langkah, Di hari keempat aku tersadar terlebih dahulu, Aku heran menyaksikan wajahnya yang pucat, tiada darahnya, pipinya celong dan alisnya berkerut itu pertanda, sekalipun dalam tidurnya, ia masih saja berduka. Menyaksikan hal itu aku berkata dalam hatiku "

Lnilah seorang raja? Dia yang menjadi dipertuan dalam suatu negara, mengapa ia tidak bergembira?"

"Hari itu baginda pergi ke suatu sidang istana, Mukanya tampak lebih pucat dan matanya lebih cekung, Tiba-tiba ia marah padaku, ia katakan kalau aku telah menggagalkan urusan negara, Katanya, ia adalah raja yang bijaksana, tidak dapat terpengaruh oleh paras yang elok, Dan ia bukanlah raja Bo-To. Katanya puIa, ia akan memperbaiki pemerintahan, lalu raja memerintahkan pada seorang kacung untuk menyuruhku pergi dari istana. Katanya aku wanita siluman, hal itu setelah ia mengeram tiga hari dalam kamarku, pemberontak Lie Cu Seng telah berhasil merampas tiga kota. Aku tidak jadi berduka aku menganggap bangsa pria demikian adanya. Asal tidak puas ia akan menyesatkan dan menggerutu pada wanita, Raja terus bersusah hati, ia khawatir bukan main, ia paling takut dengan orang yang bernama Lie Cu Seng hingga aku menerka-nerka.

"Lie Cu Seng itu orang macam apa? Dia orang hebat, dia telah membuat seorang raja menjadi takut padanya."

Ngelamun sampai di situ, Wan Wan membuka matanya, ia melihat Lie Cu Seng tengah menyerang terus pada Gauw Sam Kui dan Peng See Ong senantiasa berkelit, hingga dia tak kena tersodok atau terkemplang tongkat.

Maka katanya dia dalam hati.

"Dia masih gesit, rupanya selama tahun-tahun yang belakangan dia tetap melatih ilmu silatnya, Sebab... sebab... dia ingin menjadi raja dan hendak membawa tentaranya menyerang jatuh Pakhia, kota raja?"

Kembali Kiu Lan ngelamun lebih jauh, Nyonya itu teringat ia sekeluarnya dari istana sudah kembali ke Kok-thio hu, gedung mertua raja, yang ada seorang she Cu.

Pada suatu hari Kiu Lan dipanggil keluar untuk bernyanyi dan menari, Ketika itu, Ciu Kok-thio tengah mengadakan pesta, justru malam itu Gauw Sam Kui melihatnya.

Dan ia pun melihat bagaimana mencorongnya sinar mata pria, yang sering ia saksikan sinar mata Siau Po tadi sewaktu mereka mula-mula bertemu demikian pula.

Bukankah itu sinar mata umumnya kaum pria?

"Mungkinkah bocah itu pun tersesatkan kecantikanku seperti kebanyakan orang dewasa?"

Demikian pikirannya, Karena itu ia segera melirik Siau Po hingga ia mendapat kenyataan bagaimana perhatian si bocah sangat tertarik oleh pertempuran yang lagi berjalan seru itu.

Kali ini Gauw Sam Kui yang berbalik melakukan serangan pembalasan.

"Setelah melihat aku, Gauw Sam Kui segera minta aku pada Ciu Kok-thio,"

Wan Wan terus ngelamun lebih jauh.

"Lewat beberapa hari, raja mengirimnya ke San-hay Wan untuk memerintah di kota itu selaku persiapan kalau-kalau bangsa Boan-ciu datang menyerbu justru itu Lie Cu Seng mendahulukan merampas Pakhia, Karena runtuhnya kota raja, maka kaisar Cong Ceng mengasingkan diri di sebuah kuil di gunung Bwee San. Dengan demikian juga aku telah tertawan, Lie Cu Seng pria yang bertubuh kasar dan juga kekar, dan keren, orang yang ditakuti kaisar Cong Ceng sekalipun dalam impian Dengan jatuhnya Pakhia Lie Cu Seng menjadi repot mengatur pemerintahan. Banyak menteri dan pembesar istana yang ia hukum mati.Toh setiap malam selagi menantiku ia selalu riang gembira, tertawa nyaring tenggoroknya pun keras sekali, hingga di wajah tidur ia sering membuatku terbangun, ia pun berbulu seluruh tangan, dada dan kakinya, belum pernah aku mendapatkan pria seperti dia...."

Wan Wan melirik juga ke medan pertempuran dan ia terus melamun.

"Dengan robohnya kota raja, Gauw Sam Kui sebenarnya sudah takluk pada Lie Cu Seng, akan tetapi setelah ia mendengar berita telah dirampasnya Cu Seng, ia datang terlebih dahuIu, ia meminjam tentara Boan. Dengan demikian ia telah membawa masuk tentaranya, Lie Cu Seng pun membawa tentaranya dan menyambut tentara lawan, maka terjadilah peperangan itu. Di situ tentara Boan datang secara mendadak maka tentara Lie Cu Seng terkena hajar, pertempuran terbukti dengan adanya banjir darah sampai beberapa puluh Lie dan mayat-mayat serdadu berserakan. Orang mengatakan korban itu roboh dikarenakan aku. Karenanya aku dianggap mempunyai banyak dosa besar. Atas dasar itu, Lie Cu Seng lari ke kota raja, Di sini ia segera naik tahta kerajaan untuk menjadi raja, tetapi setelah itu ia mengajak kabur aku ke barat daya. Sementara Gauw Sam Kui terus mengejarnya, walaupun kalah perang dan sedang melarikan diri, Lie Cu Seng masih dapat tertawa riang gembira. Tentaranya berkurang setiap hari, hal itu ia tidak dihiraukannya, ia berkata, pada asal mulanya ia tak mempunyai apa-apa, karena itu paling ia hanya dapat kembali tidak punya apa-apa. Jadi hal itu tak usah dijadikan heran ia pun pernah mengatakan selama hidupnya pernah membuat dirinya puas, Pertama-tama ia telah berhasil memaksa hingga kaisar Cong menggantung diri. Kedua ia pernah berhasil menjadi raja, dan yang ketiga ini halnya, ia telah berhasil mendapatkan wanita tercantik dan dapat tidur dengan wanita itu bahkan ia menjelaskan dari ketiga hal itu justru hal yang ketiga yang membuatnya sangat puas."

"Tidak berhasil sebagai Lie Cu Seng, adalah Gauw Sam Kui,"

Demikian Tan Wan Wan melamun terus menerus.

"sebenarnya Lie Cu Seng ingin menjadi raja tetapi keinginannya itu tidak pernah ia utarakan Tetapi aku ketahui itu, ia ingin menjadi raja tapi takut, ia selalu ragu-ragu. Asal hari ini ia tidak mati mungkin tiba harinya ia akan menjadi raja, Tak perduli dia menjadi raja di Kun Beng, tak perduli walaupun untuk satu hari. Kaisar Eng Lek menyingkir ke Birma, Gauw Sam Kui mengejarnya dan ia berhasil membunuhnya, maka orang mengatakan bahwa tiga orang raja mati di tanganku, ialah Cong Ceng, Eng Lek dan Lie Cu Seng, yang memakai kerajaan Tay Sun. Kalau kemudian Gauw Sam Kui berhasil menjadi raja, mungkin namanya pun dihitung dalam daftar nama-nama raja yang mati karenaku.... Aku selalu ditimpa kesalahan runtuhnya kerajaan Beng, matinya laksaan tentara, dan rakyat pada negara-negara keempat kerajaan itu? Toh aku tak pernah melakukan perbuatan jahat, bahkan aku tak pernah memfitnah mereka...."

"DahuIu karena kalah perang dan tentaranya buyar, Lie Cu Seng pada suatu malam berpisah juga denganku, Aku diketemukan orang-orang Gauw Sam Kui dan aku dibawanya pada kepala rombongan Dia sangat girang dan dia mengatakan bahwa dengan mendapatkan aku dia sangat puas walaupun orang mencaci aku sebagai pengkhianat bangsa Han. Tegasnya, dia melakukan segala apa tanpa meminta pendapat umum. Aku pun telah berpikir, aku akan hidup tenang dan senang, tak perduli orang berpangkat atau bangsawan buat aku sudah cukup asalkan aku tak jatuh ke tangan orang lain hingga aku hanya menjadi permainan pria. Namun... lewat beberapa tahun Congpeng Gauw Sam Kui diangkat menjadi Cin Ong, Sebagai raja muda ia harus mempunyai putri. Berhubung itu adik Gauw Sam Bwee memberitahukan bahwa raja sedang uring-uringan, menurut Gauw Sam Kui akulah yang harus diangkat sebagai istri yang sah, tetapi ia tahu asal usulku. Kalau ia mengajukan diriku pada raja berarti ia telah menghina raja, aku mengerti itu karena aku memang bunga raja, Aku memberitahukan hal itu kepada adiknya agar namanya tak tercemar Sikapku itu membuatnya bergembira, Buat aku menjadi Fuchin atau tidak sama saja, akan tetapi setelah itu hatiku menjadi tawar. Demikian aku pindah ke mari Gauw Sam Kui harus menjalankan acara pernikahannya, dan gedung itu akan menjadi tempat tinggalnya."

"Tiba-tiba Lie Cu Seng muncul, dan ia telah jadi biarawan, Aku sangat kaget karena aku menyangka ia telah mati, Dalam beberapa hari aku berduka, Menurutnya, ia menjadi biarawan karena terpaksa, untuk mengelabuhi mata orang banyak, Dan ia pun tak suka mencukur seluruh rambutnya, tetapi memakai kuncir sebagaimana orang Boanciu, Dalam beberapa tahun ia selalu memikirkan aku, bahkan di kota Kunbeng saja, dia sudah berdiam tiga tahun lamanya, masih terus menantikan hari untuk bertemu denganku. Hingga datanglah hari itu ia lebih sayang padaku, Dan mulai dari itu ia selalu datang menemui aku hingga aku hamil anak itu. Karena adanya anak perempuan itu hingga aku tak dapat bertemu lagi dengannya. Aku kembali ke istana untuk memberitahukan pada Gauw Sam Kui bahwa aku kangen dengannya, Aku diterima oleh Gauw Sam Kui yang sebenarnya tidak menyintai istrinya, tentang lahirnya anak itu entah ia curiga atau tidak. Anak itu sangat mirip dengan aku. Sewaktu aku berumur dua puluh tahun, pada suatu malam ia lenyap dan aku bingung, Aku menyangka Lie Cu Seng yang telah mencurinya dari tanganku, maka aku membiarkannya. Aku berpikir Lie Cu Seng pastilah kesepian dan ia mengambil anak itu untuk menghiburnya, tetapi terkaanku tidak tepat."

Tiba-tiba Tan Wan Wan tersadar dari Iamunannya, ia mendapatkan percikan darah di tangannya.

Setelah ia melihat kedua orang yang sedang bertarung tampak muka Gauw Sam Kui telah penuh dengan darah.

Di luar kuil itu sangatlah berisik, Para tentara Gauw Sam Kui berteriak-teriak tetapi mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Dia hanya berteriak mengancam Lie Cu Seng dan juga Kiu Lan, karena mereka khawatir Ongyanya celaka.

Gauw Sam Kui hampir habis napasnya, tapi tiba-tiba ia melompat bukannya menyerang lawannya tetapi malah menyerang Tan Wan Wan dengan senjatanya, hingga si nyonya berteriak dan mencoba berkelit.

Traaaang!

Demikian suara melengking, itulah Lie Cu Seng yang menahan serangan Gauw Sam Kui.

Gauw Sam Kui menjadi kalap, ia terus saja menyerang Wan Wan secara beruntun, namun selalu saja terhalang oleh senjata lawan.

"Aneh,"

Pikir Siau Po yang menyaksikan pertempuran itu sejak semula.

"Kenapa ia bukannya menyerang lawan tetapi malah akan membunuh istrinya? Ah, aku mengerti sekarang, rupanya ia cemburu pada Lie Cu Seng."

Kiu Lan dapat menangkap pikiran Gauw Sam Kui pikirnya.

"Pengkhianat ini tak dapat melawan Lie Cu Seng maka ia menggunakan akal liciknya."

Katanya.

Benar terkaan Gauw Sam Kui kalau Lie Cu Seng akan berusaha menolong Wan Wan, maka secara tiba-tiba Gauw Sam Kui menyerang lawannya dan bukan pada Wan Wan.

Maka hal itu tak dapat dielakkan lagi.

Lie Cu Seng kaget sekali sampai senjata yang ada di tangannya juga terlepas, maka dengan demikian Gauw Sam Kui dengan mudah menodongkan senjatanya pada lawan.

"Nah, pemberontak, masih kau tidak ingin berlutut untuk mengatakan menyerah?"

Tanyanya sambil tertawa.

"Ya, ya,"

Kata Lie Cu Seng sambil berusaha menekuk kakinya untuk berlutut. Siau Po heran menyaksikan hal itu.

"Aku menyangka Lie Cu Seng adalah manusia luar biasa."

Katanya.

"Kiranya dia pun takut akan mati,..."

Baru saja Siau Po berpikir demikian, maka secepat itu ia lalu berguling di lantai untuk mengambil tombaknya dan langsung digunakannya untuk menyerang kaki Gauw Sam Kui.

Gauw Sam Kui kaget, ia tak dapat mengelak serangan yang secara mendadak itu, maka betisnya terkena hajar dan roboh, Sedangkan lawannya sudah berdiri dan langsung menyerangnya lagi dan kali ini serangan mengarah pada bagian kepala.

"Mereka berdua sama-sama licik."

Kata Kiu Lan dalam hati.

"Pantas kerajaan Beng hancur oleh mereka!"

Sementara itu, di saat akan menusukkan tongkatnya Wan Wan melompat menutupi tubuh Gauw Sam Kui dan berkata.

"Bunuhlah aku lebih dahulu!"

Lie Cu Seng tak sanggup melakukan hal itu, ia hanya menghantamkan tongkatnya pada tembok, maka terdengarlah suara yang sangat keras.

"Eh, Wan Wan apalah artinya semua ini?"

Tanyanya pada sang kekasih. Wan Wan tak menjawab pertanyaan itu, akan tetapi akhirnya ia pun berkata juga dengan suara perlahan.

"Denganku ia telah menikah dua puluh tahun lebih, dan selama itu ia telah berbuat baik terhadapku tak dapat aku membiarkan ia mati karena kau!"

Katanya.

"Minggir!"

Kata Lie Cu Seng dengan suara keras.

"Aku dengannya adalah musuhl"

"Kau bunuhlah aku bersama dengan dia!"

Kata Wan Wan. Bekas pemberontak itu pun menghela napas.

"Kiranya dalam hatimu masih ada dia.,.!"

Katanya menyesal Kekasihnya tak menjawab, sebaliknya.

"Kalau ia hendak membunuhmu aku pun akan mati bersama denganmu...."

Tentara yang berada di luar berteriak-teriak dan akan menyerbu ke dalam setelah mereka melihat Ongyanya jatuh, Kemudian seorang perwira berteriak "Cepat bebaskan Ongya kami, biar kalian dapat kuberi ampun dari kematian!"

Ternyata dia adalah Kok Siang, menantu Peng See Ong. Kemudian dia berkata lagi dengan suara keras.

"Kawan-kawanku semua berada di sini, jikalau Ongya kami hilang sehelai rambutnya saja, segera beberapa kepala mereka akan berjatuhan!"

Wie Siau Po heran maka ia menoleh keluar jendeIa.

Dengan demikian ia melihat Bhok Kiam Peng bersama Liu Tay Hong, Gauw Lip Sin dan yang lainnya keluarga Bhok dalam keadaan terbelenggu bahkan di sana pun terlihat Cie Cian Coan dan Kho Gan Ciauw, Hiang Ceng Tojin bersama orang Thian Tee Hwee berikut Tio Cee Hian, Thio Kong Lian serta Giatjin Sie Wie begitu juga para perwira Jiauw Kie Eng semua pada terbelenggu.

Dan di belakang mereka para pengawal Peng See Ong, Dengan golok terhunus para pengawal itu mengancam batang leher mereka.

Siau Po berpikir menyaksikan hal itu.

"Taruh kata suhu dapat mengajak aku menyingkir dari sini, dari kota Kun Beng, bagaimana dengan mereka itu? Bukankah mereka akan mati? Buat membinasakan Gauw Sam Kui aku rasa tidak sekarang juga...."

Maka ia lalu mengambil keputusan, segera menghunus pisau belatinya dan mengancam punggung Peng See Ong.

"Ongya, jikalau kita semua mati di sini itu sangat tidak menarik hati, maka sebaiknya kita mengadakan jual beli!"

Kata Siau Po.

"Mau beli?"

Tanya Peng See Ong.

"Kau bebaskan A Ko serta kawan-kawanku, barulah kau akan aku bebaskan dari ancaman guruku!"

Kata Siau Po.

"Baik aku setuju!"

Kata Ongya itu.

"Ada satu hal lagi, kau harus memerintahkan pada para pengawalmu untuk membawa Kongcu dan juga putramu untuk menghadap pada baginda raja dan ibu suri sebagai mertuanya, Dan aku minta agar kau mengantarkan aku dan rombonganku sampai pada batas kota!"

Katanya pula.

"Siecu dan Kongcu akan kau bawa pergi. itu sangatlah mudah. Aku berjanji akan mematuhi kata-kata kita tadi, Kalau kau masih kurang percaya, jalanlah di belakangku Jika aku berbuat yang tidak-tidak kau boleh menusuk aku beberapa kali. Toh aku berada di depan kalian, dan kau pun pandai bermain silat."

Siau Po tertawa.

"Bagus."

Pujinya.

"Ongya berlaku jujur dan terus terang, kalah ya kalah menang ya menang, seperti terbukti, kau memberontak pada kerajaan Beng, Kau terus berontak, dan kau menakluk pada kerajaan Ceng, kau terus menakluk juga, Ya, sedikit juga Ongya tak berpikir yang tidak-tidak."

Muka Gauw Sam Kui tampak merah padam. Sungguh tajam kata-kata anak yang berada di depannya itu, ia tidak menghiraukan kata-kata itu malah berpaling pada Lie Cu Seng.

"Bagaimana dengan pemberontak ini? Dia toh bukannya sahabat baik dari Toutong?"

Tanyanya, Siau Po tidak cepat-cepat menjawab, terlebih dahulu ia menoleh pada gurunya. Belum lagi Kiu Lan menjawab pertanyaan itu tiba-tiba Lie Cu Seng sudah berkata dengan suara nyaring.

"Aku bukan sahabat karib pembesar anjing cilik ini."

Katanya.

"Bagus."

Kata Kiu Lan.

"Pemberontak ini mempunyai tulang yang keras. Gauw Sam Kui, biarlah pemberontak ini ikut kami!"

Tan Wan Wan menoleh pada biarawati itu, ia memperlihatkan sorot mata tanda bersyukur dan memohon.

"Su-Thay."

Panggilnya. Kiu Lan berpaling ke lain arah, ia tak mau menatap sorot mata nyonya itu. Gauw Sam Kui sementara itu sudah melangkah ke depan jendela lalu melongok keluar dan berkata dengan suara nyaring.

"Sie-Cu bersama Wie Toutong akan berangkat ke kota raja untuk menghadap baginda raja dan sekalian akan mengantarkan tuan putri."

Mendengar ucapan tersebut, pasukan Gauw Sam Kui lalu berbaris dan salah seorang membunyikan terompet mereka akan mengantar tuan putri putra raja mudanya dan Siau Po sebagai utusan dari sri baginda raja.

Siau Po berjalan bersama-sama dengan Gauw Sam Kui dan Kiu Lan mengikuti mereka dari belakang, sambil mengawasi lawannya itu.

Sesampai mereka di luar kuil, Siau Po melihat tentara Peng See Ong yang jumlahnya cukup banyak, mereka sudah mengelilingi kuil itu.

"Oh, Ongya sungguh tentaramu berjumlah tidak sedikit! Menurut penglihatanku, tentara ini sudah cukup untuk diajukan berperang dengan tentara dari kota raja.,."

Kata Siau Po. Mendengar kata-kata Siau Po, Gauw Sam Kui merasa tidak enak, maka ia lalu berkata.

"Wie Toutong, jikalau nanti di hadapan baginda raja kau mengatakan hal yang tidaktidak tentang aku, aku pun akan melaporkan pada baginda raja bahwa kau juga telah bersekongkol dengan pemberontak Lie Cu Seng."

Siau Po tertawa.

"Ah ini aneh!"

Katanya.

"Lie Cu Seng cuma gemar dengan wanita tercantik itu, dia mana mau bersamaku orang cilik jenaka di kolong jagat ini? Sekati lagi kukatakan dia itu hanya mengejar wanita tercantik sejagat itu saja."

Bukan main dongkolnya hati Gauw Sam Kui, ia telah disindir oleh anak kecil ini, hingga ia mengepalkan jemari tangannya untuk menghajar hidung si anak kecil itu yang gemar dan pandai bergurau.

"Jangan gusar Ongya!"

Katanya.

"Bukankah Ongya menginginkan keselamatan? Bukankah dengan memangku jabatan tertinggi dan jauhnya ribuan Lie itu hanya ingin mencari harta? Jika aku berbicara dengan raja aku akan mendapatkan hadiah, dan hadiah itu lebih besar dari apa yang kau terima, maka kita berdua harus bekerja sama. Sepulangnya dari sini aku akan menghadap pada raja dan akan memujimu setinggi langit, dan kesetiaanmu tak usah ditanyakan, aku pun telah dengan sungguh-sungguh menjaga Sie Cu, dengan demikian setiap tahun dapat kau mengantarkan emas atau pun perak kepadaku, untuk aku berbelanja, bagaimanakah menurutmu?"

Kata Siau Po. Sambil berkata demikian Siau Po terus berjalan berendeng dengan raja muda itu.

"Harta benda hanyalah kebutuhan lahiriah."

Kata si raja muda.

"Jikalau Toutong menghendaki, itu tidaklah sukar, namun jika engkau akan menyulitkan aku, maka kau harus tahu bahwa Ongyamu berada jauh di Inlam, di tangannya terdapat tentara yang cukup banyak hal itu tak membuat aku jadi takut."

Katanya.

"ltu sangatlah wajar,"

Kata Siau Po.

"Kapan Ongya mencekal tombak, Ongya tampak gagah, Dengan itu Ongya dapat melabrak semua pemberontak di kolong langit ini, hingga mereka tak berdaya. sekarang ini tibalah saatnya kita berpisah, maka Ongya tolong serahkan apa yang pernah Ongya janjikan untukku!"

"Eh, Siau Po!"

Katanya.

"Mengapa kau berbicara seperti orang yang tidak tahu malu saja?"

"Suhu, sepulangnya aku dari sini aku harus menghadiahkan pada para bawahanku agar mereka tak menganggap jelek pada Ongya."

Aku khawatir kalau mereka itu tak diberikan hadiah, mereka akan beranggapan jelek pada ongya,"

Sahut Siau Po. Gauw Sam Kui berpikir "Dia menginginkan uang ini sangatlah mudah."

Lalu ia memerintahkan pada Kok Siang untuk mengambil uangnya.

"He Congpeng, coba ambilkan aku uang seratus laksa tail, untuk dipakai memberikan hadiah pada para Sie Wie dan kau juga menyiapkan hadiah untuk Wie Toutong yang sangat istimewa!"

Setelah menerima hadiah maka rombongan akan memulai berangkat menuju kota raja.

Gauw Sam Kui pergi mendekati tuan putri dan menghormat, setelah itu ia mendekati anaknya dan ia berkata dengan suara pelan hingga tak terdengar oleh orang lain, dan akhirnya ia membawa kembali pasukannya.

Menyaksikan hal itu Siau Po menjadi berlega hati, tetapi ia masih khawatir kalaukalau ia hanya dibohongi.

"Lebih baik aku secepatnya meninggalkan kota ini."

Katanya dalam hati.

Maka itu ia lalu memerintahkan pada pasukannya untuk segera berangkat meninggalkan kota itu.

Setelah berjalan sepuluh Lie, rombongan itu berhenti untuk istirahat, ketika itu Lie Cu Seng berkata pada Kiu Lan.

"Su-Thay telah menolongku hingga aku tak terbinasa oleh penghianat bangsa Han, Aku sangat bersyukur, maka tibalah kini Su-Thay turun tangan padaku! Silahkan!"

Katanya. Pemberontak itu menghunus golok dan menyerahkannya kepada Kui Lan.

"Hm,"

Kiu Lan memberikan suaranya, ia merasa ragu-ragu.

"Dialah musuh yang menyebabkan ayahku binasa. Dapatkah sakit hati itu aku tidak membalasnya? Tetapi ia telah pasrah, dapatkah aku menanganinya...?"

Katanya dalam hati, ia lalu berpaling pada A Ko dan ia berkata dengan suara dingin.

"Dia.... Dialah anak perempuanmu..."

"Dia bukan ayahku."

A Ko berkata sebelum Lie Cu Seng menjawab pertanyaan gurunya.

"Kau mengaco saja!"

Kiu Lan membentak sang murid itu.

"lbumu sendiri yang mengakuinya, mustahil jika ia mendustaimu."

"Dialah ayahmu."

Siau Po turut bicara.

"Bahkan ia bersama dengan ibumu telah menyerahkan kau untuk aku jadikan sebagai istriku inilah yang dikatakan perintah ayah ibu.,.,"

A Ko yang sedang berduka dan mendongkol itu, sedari tadi diam, tetapi kali ini ia tak dapat menahan amarahnya lagi.

Mendengar suara Siau Po yang bernada mengejek itu, ia langsung melayangkan tangannya untuk menyerang Siau Po.

Siau Po tidak menyangka akan mendapatkan serangan yang mendadak, maka tak ayal lagi pukulan A Ko tepat mengenai hidungnya dan yang langsung mengeluarkan darah segar.

"Oh, ada orang yang ingin membunuh suaminya sendiri!"

Kata Siau Po dengan nada mengejek. Kiu Lan tidak senang menyaksikan kejadian itu.

"Kalian semua gila,"

Katanya dengan keras.

"Kalian adalah pengacau!"

A Ko mundur beberapa langkah, tetapi hatinya masih saja kesal, Hal itu terlihat dari wajahnya yang tampak merah.

"Kau bukan ayahku."

Katanya sambil menunjuk pada Lie Cu Seng.

"Dia pun bukan ibuku."

Yang ia maksudkan ialah Tan Wan Wan.

"Kau pun bukan guruku.... KaIian.... Kalian.,., Kalian manusia-manusia busuk semua.... Aku.... Aku benci pada kalian..!"

Kata A Ko yang kali ini mengarah pada Kiu Lan. Mendadak si nona menangis sambil menutup mata, Kiu Lan menghela napas.

"Tidak salah,"

Kata Kiu Lan.

"Memang aku bukanlah gurumu, aku yang menculikmu dari sisi Gauw Sam Kui dengan menyimpan maksud yang teramat jahat. Maka itu sekarang kau pergilah! Namun ayah dan ibu kandungmu tak dapat tidak kau akui."

Nona itu membanting kaki.

"Aku tak mau mengakui mereka, aku pun tak mempunyai guru,"

Katanya dengan suara keras di sela isak tangisnya.

"Tetapi engkau mempunyai aku, suamimu!"

Kata Siau Po.

Bukan kepalang panasnya hati A Ko mendengar kata-kata Siau Po itu, Nona itu lalu mengambil batu kerikil untuk melempari Siau Po.

Siau Po berkelit, justru itu si nona pun langsung kabur dengan berlari cepat ke arah barat.

Melihat hal itu Siau Po hanya melihat saja, begitu juga Lie Cu Seng dan Kui Lan.

Mereka sama-sama hanya melihat perginya nona itu, mereka semua tak dapat menahannya.

Kui Lan berduka sekali menyaksikan kejadian itu, lantas mengulapkan tangannya pada Lie Cu Seng, ia tak membuka mulutnya enggan untuk bicara.

Melihat hal demikian Siau Po berkata pada bekas kepala pemberontak itu.

"Gak-hu, guruku tidak ingin membinasakan engkau, oleh karenanya cepatlah kau pergi!"

Lie Cu Seng bingung, ia merasa gembira karena telah dibebaskan, namun suasana itu membuatnya menjadi hilang kegembiraannya, Kekasih pergi dan anak tak sudi mengakui sebagai ayahnya, juga terhadap Siau Po ia tak merasa puas, hingga ia menatapnya dengan mata yang merah.

"Fui,"

Lie Cu Seng meludah dan ia terus pergi.

Melewati jalan kecil di samping mereka, ia terus berjalan dengan langkah lebar.

Siau Po menggelengkan kepalanya menyaksikan mertuanya yang berlalu pergi.

Kemudian ia berkata dalam hati.

"A Ko berkata biar bagaimana pun ia tak sudi menikah denganku, ia pun tak mengakui ayah dan ibunya, mana sudi ia mengakui aku sebagai suami...."

Ketika Siau Po menoleh ke belakang, tampak di belakangnya sudah berdiri dua orang temannya, yakni Cie Thian Coan bersama dengan Kho Gan Ciau dengan memegang senjata mereka masing-masing.

Rupanya mereka berjaga-jaga sebab mereka khawatir kalau-kalau Lie Cu Seng gusar dan menyerang Siau Po.

"Dialah yang dahulu membuat langit ambruk dan amblas."

Kata Siau Po.

"Dia juga yang membuat kerajaan Beng musnah hingga kita semua dijajah bangsa Boan, sekarang saja ia sudah berusia lanjut tetapi masih tampak gagah."

Kata orang She Cie.

"Ya, dia lihay sekali, lalu bagaimana dengan Khantema?"

Tanya Siau Po pada mereka.

"Dialah si orang penting, tak berani aku melenyapkannya."

Jawab mereka.

"Bagus."

Kata Siau Po.

"Harap kalian terus berjaga-jaga agar ia jangan sampai loIos!"

Perjalanan diteruskan ke arah utara, Siau Po mengambil kesempatan untuk menemui keluarga Bhok, Ketika itu Bhok Thian Sin merasa tidak puas, sebab dalam hatinya ia berpikir "Semua jiwa kami ditolong oleh mereka, lalu dengan cara bagaimana keluarga Bhok dapat bersaing dengan mereka dalam hal jago!"

Ujar Bhok Thian Sin dalam hati. Liu Tay Hong yang jujur berkata dengan sikap tenang.

"Wie Hiotcu, selanjutnya kami tak dapat bersaing lagi dengan Thian Tee hwee. ini disebabkan tindak tanduk Gauw Sam Kui, dan kalian yang telah menolong kami semua, Mungkin kami tak dapat membalas budi baik kalian."

Katanya.

"Kita lebih baik tak usah berbicara mengenai budi."

Kata Siau Po.

"Bukankah kita sama-sama dapat lolos dari maut yang telah mengancam jiwa kita? Menurutku, jiwa kita telah ditolong oleh kita sendiri, bukan olehku."

Lanjutnya. Sementara itu Gouw Lip Sin sangat mendongkol terhadap Law It Cou, maka ia berkata.

"Kalau jahanam cilik itu datang, aku akan menyincangnya hingga hancur lebur."

"Oh, jadi dialah yang telah membocorkan rahasia kita pada Gauw Sam Kui?"

Tanya Siau Po.

"Siapa lagi kalau bukan dia, ketika itu Liu Suhu memerintahkannya untuk pergi mencari berita, akhirnya ia ditawan oleh Gauw Sam Kui, Dan pada malam harinya satu pasukan datang mengurung tempat kami. Bukankah tempat kami menjadi tempat rahasia? Jika bukan jahanam itu yang membocorkannya mana mungkin Gauw Sam Kui mengetahui tempat tinggal kami yang letaknya sangat tersembunyi itu?"

Kata Lip Sin. Habis berkata demikian orang She Bhok menarik napas berat, kemudian dengan menyesal ia berkata.

"Sayang Goh Toako telah wafat sebagai korban dari keganasan si pengkhianat itu, maka sebaiknya kita berpisah sekarang."

"Di sini masih wilayah si pengkhianat besar itu, maka mari kita tetap bersatu agar jika timbul penyerangan mendadak kita dapat bekerja sama menghancurkannya, Nanti jika kita sudah sampai pada perbatasan wilayah, baru kita berpisah."

Berkata Siau Po. Bhok Kiam Sin menganggukkan kepala.

"Terima kasih atas kebaikanmu, aku justru khawatir kalau-kalau kita terjatuh ke tangan Gauw Sam Kui, si pengkhianat bangsa Han. Jika hal itu terjadi lagi sungguh aku tak memiliki muka untuk hidup lebih lama lagi."

Katanya.

Setelah berkata demikian mereka pergi bersama rombongan keluarga Bhok, Rombongan tersebut mengambil lain arah, setelah mengucapkan kata-kata terima kasihnya pada Siau Po.

Bhok Kiam Peng berjalan paling belakang, Belum jauh ia berjalan kemudian menoleh ke belakang dan berkata pada Siau Po.

"Aku pergi sekarang, kalian jaga diri baik-baik!"

Katanya.

"Ya, kau juga jaga dirimu baik-baik, kau turutlah pada kakakmu dan jangan kau kembali lagi ke Sin Lioang To..."

Jawab Siau Po yang semula dengan suara keras tapi akhirnya dengan suara rendah, Nona itu mengangguk. Siau Po lalu menuntun kudanya untuk selanjutnya diserahkan pada nona tersebut.

"lni kudaku, aku akan memberikannya padamu,"

Katanya dengan perlahan.

Mata si nona menjadi merah, ia sangat terharu dengan perpisahan itu.

Nona itu kemudian menerima kuda pemberian Siau Po, yang kemudian ia menaikinya, dan melarikan dengan cepat untuk menyusul rombongan kakaknya yang terlihat sudah jauh itu.

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan semakin jauh mereka berjalan ternyata tidak tampak tentara dari Gauw Sam Kui yang mengejar mereka, pada suatu siang, tampak empat orang penunggang kuda dengan cepat.

Sesampai mereka pada rombongan Siau Po, salah satu dari mereka lalu meminta ijin untuk bertemu dengan Siau Po, yang menjadi pimpinan rombongan itu.

Mereka lalu dipersilahkan masuk ke dalam tenda Siau Po.

Di sana mereka memperkenalkan pimpinan mereka.

"Saudara Kwie, inilah Wie Hio-Cu dari Ceng Bok Tong dari Tian Tee Hwee kami!"

Kata sang pemimpin. Kembali orang itu memberi hormat tetapi kali ini dengan cara Thian Tee Hwee.

"Langit dan bumi, ayah dan ibu, kami menentang kerajaan Ceng dan kami akan membangun pula kerajaan Beng, Hamba yang menjadi orang bawahan hamba adalah Kwie Thian Hong Hwee Tong, Kami menghadap saudara Wie Hio Cu serta para Tou dari Ceng Bok Tong."

Katanya.

"Senang sekali aku dapat bertemu dengan kalian, semenjak kita berpisah dari Ku Hiocu di 0uw-pak, kita tak pernah bertemu lagi, Bukankah dalam segala hal Ku Hiucu selalu mendapatkan angin baik?"

Tanya Siau Po.

"Ku Hiocu dalam keadaan baik-baik saja, Aku pun dititahkan memujikan kesehatan Hiocu semua, Kami semua bergembira mendengar segala sesuatu yang telah dikerjakan Wie Hiocu, Kami semua merasa sangat kagum Hari ini kami merasa senang dapat bertemu Wie Hiocu,"

Kata Tian Hiong. Siau Po tertawa.

"Kita semua bersaudara, Lebih baik kalian jangan berlaku sungkan!"

Katanya.

"Dalam beberapa hari lagi kami akan tiba di Kwiciu dan di sana kami akan bertemu dengan Hu Hiocu, kami sangat senang seka!i. Kami ingin berbincang-bincang dengan Hu Hiocu kalian."

"Kami dipesan Hiocu kami, untuk mengajak Wie Hiocu melalui jalan memutar jadi nanti tak melalui Kwieciu lagi."

Kata sang pemimpin itu.

Mendengar hal demikian Siau Po dan kawan-kawannya merasa sangat heran hingga mereka itu semuanya bengong.

Tian Hiong dapat mengerti semua itu, maka ia lalu berkata memberikan penjelasan pada Siau Po dan kawan-kawannya.

"Ku Hiocu ingin sekali bertemu dengan Wie Hiocu, karenanya ia memerintahkan aku untuk memberitahukan tempat penemuan yang paling baik untuk semuanya dan itu di tempat sana di propinsi Kwie-say saja."

"Mengapa demikian?"

Tanya Siau Po.

"Kami telah mendengar, Gauw Sam Kui telah menyebarkan tentaranya dan mereka itu tidak menggunakan pakaian tentara, Mereka diperintahkan untuk melakukan tindakan-tindakan kejahatan Dan hamba rasa tentara-tentara itu mempunyai niat jahat terhadap Hiocu dan kawan-kawannya."

Sahut Tian Hiong.

"Oh, begitu, Celaka! Si pengkhianat itu telah kalah tetapi ia tetap tidak mau mengakui kekalahannya, bahkan dengan demikian dia sudah tidak sayang lagi terhadap nyawa anaknya sendiri."

Kata Siau Po.

"Gauw Sam Kui memang sangat jahat dan juga licik."

Kata Tian Hiong.

"Dia mengatakan telah mengirim tentaranya untuk menculik guru Wie Hiocu dan setelah itu barulah ia akan menculik anak tuan putri dan juga Wie Hiocu sendiri sedangkan yang lainnya akan mereka binasakan untuk membungkam mulut mereka. sekarang ini orangorang Gauw Sam Kui telah menutup jalan dan mengurung daerah itu hingga setiap orang tak ada yang dapat melewatinya, begitu juga dengan kami berempat. Setelah kami mendapatkan perintah dari Hu Hiocu, kami langsung berangkat dengan melewati jalan kecil hingga dengan demikian mereka tak mengetahui kami, Karena kami merasa khawatir Wie Hiocu tidak mengetahui akan hal itu, maka kami langsung menyusul kemari, untuk mencegah jangan sampai Wie Hiocu dan kawan-kawan terjebak dalam daerah itu."

Siau Po memperhatikan orang-orang itu dan memang mereka berempat telah melakukan perjalanan yang sangat jauh, dan mata mereka semua tampak merah dan lesu.

"Saudara-saudara kalian telah menempuh perjalanan yang sangat jauh oleh karenanya sebaiknya kalian pergi untuk istirahat Kami semua sangat berterima kasih pada kalian yang telah menyelamatkan nyawa kami."

Kata Siau Po.

"Kami sangat senang karena kami tidak terlambat untuk melaporkan hal ini pada Wie Hiocu."

Ujar Tian Hiong. Cian Lao pan berpikir lalu ia bertanya.

"Tian Hiong, di tempat mana Ku Hiocu akan menemui Wie Hiocu di Kwie-say? Dan berapa jumlah pasukan yang digunakan untuk mengurung daerah itu?"

"Hal itu tidak ada kepastian, hanya yang aku lihat sekitar tiga laksa jiwa, jika tak ada halangan, pertemuan akan dilaksanakan di dalam kota,"

Jawab Tian Hiong.

"Ku Hiocu sudah mengirim orang untuk memberitahukan pada Ma Hiocu dari Kee Hou Tong di Kwiesay, Untuk Hweecu itu bersiap menyambut kami, maka jika Hiocu setuju kita semua jadi berkumpul di sana. Untuk menuju ke sana kita mengambil arah barat daya, jalannya tidak bagus tapi di sana tidak ada tentara Gauw Sam Kui, dan sepanjang jalan saudara Ku Hiocu telah berjaga-jaga jadi kita tak usah khawatir. Mendengar kabar tersebut Siau Po menjadi dongkol hatinya, ia kemudian memerintahkan untuk memutar arah, sementara itu para utusan yang memberitahukan pada Siau Po diminta naik ke kereta putra Gauw Sam Kui, ia diminta untuk berjaga-jaga kalau-kalau nanti anak itu melakukan tindakan, juga agar para utusan itu dapat beristirahat. Pada saat itu langit sudah tampak gelap, maka mereka beristirahat pada tempattempat yang lapang, penjagaan pun dilakukan dengan lebih ketat. Pada suatu hari mereka telah sampai pada pertengahan jalan, Mereka langsung disambut oleh Hiocu Ma Ciau Hin dari Kee Houw Tong serta Hiocu Ku Cie Cong dari Cek Houw Tong dari Tian Tee Hwee yang berkumpul dengan membawa para bawahannya, Maka ketiga Hiocu itu melakukan pertemuan dengan gembira. Pada malam harinya orang yang bertugas memata-matai tentara Gauw Sam Kui memberikan laporan, bahwa tentara Gauw Sam Kui mengetahui bahwa Siau Po dan rombongan telah memutar arah, maka mereka langsung mengejar rombongan Siau Po. Ma Ciaou Hin tertawa lalu ia berkata.

"Kwie-say bukanlah wilayah Gauw Sam Kui, jikalau pengkhianat itu membawa tentara ke wilayah itu, mereka pasti menyangka bahwa tentara itu akan melakukan pemberontakan secara nyata, sekarang ini Wie Hiocu dan saudara kalian masih letih, sebaiknya kalian beristirahat barang beberapa hari lagi, kemudian kalian melanjutkan perjalanan ke arah utara lebih jauh lagi, Karena dengan demikian kalian tak akan dapat ditemui pemberontak itu...."

Mendengar kabar demikian Siau Po dan rombongannya melanjutkan perjalanan mereka diantar sampai pada batas propinsi Inlam, Perjalanan dilakukan terus hingga mereka sampai pada propinsi Kwie-say, Di sinilah mereka baru dapat beristirahat dengan tenang, Ketika Siau Po dan para pembesar yang lainnya sedang berbincang-bincang datanglah salah seorang pimpinan pasukan pengawal raja yang memberikan laporan.

"Tio jieko telah ditahan!"

Katanya.

"Kurang ajar siapa yang telah berani melakukan perbuatan itu? Sungguh ia berkeberanian besar!"

Kata Siau Po.

"Yang menahannya bukan para pembesar kota ini tetapi di rumah judi, Kami semuanya bertujuh dan kami kalah bermain. Tetapi sewaktu uang kami akan diambil oleh si bandar kami menahannya, Kami tak mengijinkan uang kami diambil mereka."

"Jika demikian kalianlah yang bersalah Kalian memang tidak tahu malu, Kalian sudah kalah mengapa kalian tidak mau menyerah? jangan kata baru orang membuka biji besar beruntun empat kali!"

Kata Siau Po.

"Ya, kami mengaku telah bersalah, dan selanjutnya uang kami dikembalikan karena Tio Cieko mengancam mereka dengan menghunus goloknya, lalu kami mengambil uang itu."

Katanya.

"Lalu?"

Tanya Siau Po.

"Kenapa kalian jadi berkelahi? Apakah si bandar itu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi?"

"Sama sekali tidak demikian."

Sahut Kong Lian.

"Bersama dengan Thi Cieko kami membawa uang kami, di saat kami akan meninggalkan tempat tersebut tiba-tiba terdengar suara seorang penjudi yang berkata dengan suara keras, Setan alas! Enak saja orang memperoleh uang? Habis apakah kita harus makan angin busuk? kalau begini sebaiknya kita pergi ke istana, di sana kita bekerja melayani raja... ya raja! Bukankah itu bagus? Congkoan, ketika berkata demikian mereka bersikap tak hormat sekali, kata-kata mereka kotor, tak sanggup aku menahan emosinya..."

Kata Kong Lian. Bagian 58 Siau Po mengangguk "Aku tahu itu,"

Katanya.

"Terang mereka sudah bernyali besar."

"Memang demikian adanya, maka mendengar kata-kata demikian kami menjadi marah, bahkan Co Jioko melemparkan uang kemudian ia menghunus pedangnya. Di luar dugaan dengan hanya sekali kibas saja Co Jioko sudah terkena tinjunya, bahkan lebih dari itu langsung tak dapat bangun lagi. Melihat kejadian itu kami berempat menyerang bersama-sama, orang itu lihay luar biasa. Di luar sadarku, aku terkena tinjunya hingga kepalaku menjadi pusing, tubuhku terlempar ke luar kamar judi dan aku tak ingat apa-apa lagi, Kemudian ketika kami sadar tampak kawan-kawan kami sudah pada pingsan semua, sedangkan dengan sebelah kakinya, musuh menginjak kepala Jioko seraya ia berkata.

"Di sini ada enam kepala, masing-masing kepala seharga enam ribu tail perak. Maka sekarang cepat kau pergi untuk mencari uang guna membebaskan kawan-kawan kalian ini, tuan besarmu akan menunggu. Selama dua jam dan selebihnya aku tak tahu menahu. Aku akan memenggal kepala kawan-kawanmu satu persatu, dan nanti aku akan menjualnya dengan harga sepuluh tail perak untuk satu kepala, Jika barang itu tak laku aku yakin akan dapat menjual seribu untuk salah satu kepala kalian."

"Orang macam apa dia itu? Kalian dapat mengenalinya atau tidak?"

Tanya Siau Po dengan perasaan yang mendongkol.

"Dia bertubuh gagah dan berkepala besar, mukanya penuh dengan rambut dan jenggotnya putih,"

Sahut orang yang ditanya "Tetapi ia mengenakan pakaian acakacakan. Dia lebih mirip dengan seorang pengemis tua."

"Apakah dia mempunyai kawan? Dan berapa jumlah kawan-kawannya itu?"

Tanya Siau Po.

"ltu yang bawahan tak memperhatikannya. Ketika itu, di tempat judi ada tujuh atau delapan belas orang tetapi aku tak tahu mereka itu kawannya atau bukan."

Jawab Kong Lian. Siau Po dapat mengetahui kebingungan orang itu sebab orang itu baru saja kena hajar jadi dia tak dapat berpikir secara normal.

"Tak mungkin aku akan membawa serdadu yang jumlahnya banyak itu hanya untuk satu orang yang seperti pengemis itu."

Kata Siau Po dalam hatinya.

"Kalau aku memerintahkan seratus Sie Wie yang dapat diandalkan untuk mengawal tuan aku rasa sudah cukup."

Kata Kong Lian. Siau Po berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kong Lian itu. Dan setelah mendapatkan jalan pikirannya Siau Po berkata.

"Tak usah biar aku saja yang menyelesaikannya, kalian jangan khawatir!"

Kata Siau Po.

"Tetapi mereka itu sangat lihay dalam ilmu silatnya."

Kata Kong Lian memperingatkan Siau Po.

Siau Po tak menjawab perkataan Kong Iian, ia malah kembali ke kamarnya untuk mengambil uang emas dan gimpon.

Setelah itu Siau Po pergi ke kamar dua orang kawannya.

Kedua kawan Siau Po yang diajak pergi tersebut bukanlah orang-orang sembarangan melainkan orang yang mempunyai ilmu silat yang tinggi, umpamanya saja Ay Cun-cia dia dapat menandingi orang-orang Siau Lim Pay dari kalangan Sip-Pat Lohan atau Lohan yang ke delapan belas, begitu juga Ko Han, dia pun memiliki ilmu silat yang tinggi.

Untuk menghadapi orang yang menahannya itu Siau Po merasa sudah cukup.

Walaupun dengan hati yang tidak tenang Kong Lian akhirnya mengantarkan Siau Po dan kawan-kawannya itu ke tempat judi, dari luar Siau Po dan kawan-kawannya sudah dapat mendengar omongan mereka yang berada dalam rumah judi tersebut.

"Kepandaian berjudiku ini, terkecuali orang yang pandai luar biasa, tak mungkin ada yang dapat mengalahkan."

Kata salah seorang penjudi itu.

Siau Po kemudian memasuki rumah itu, sedangkan kawannya dan juga Kong Lian menunggu di depan pintu, untuk selanjutnya menunggu aba-aba dari Siau Po.

Setelah Siau Po dan kawan-kawannya memasuki rumah itu, mereka terdiam, Kemudian Siau Po mengawasi sebuah meja dengan empat orang yang sedang asyik berjudi seolah-olah mereka tak mengetahui kedatangan Siau Po dan kawan-kawannya itu.

Di bawah orang yang sedang berjudi itu tampak para Sie Wie yang masih mereka tawan, dan tampak di antara mereka seorang yang mengenakan baju robek-robek, dan pada badannya dipenuhi dengan rambut itulah orang yang dimaksud dengan Kong Lian.

Di ujung meja duduk pemuda tampan, yang dandanannya mirip seorang pelajar.

Melihat pemuda itu Siau Po langsung mengenalinya dalam hati ia berkata.

"Ah, dia! Mengapa dia ada di sini?"

Pemuda itu adalah Lie See Hoa, yang pernah bertemu dengan Siau Po di kota raja.

ia mempunyai ilmu silat yang cukup lihay tetapi ia pernah juga diajar oleh ilmu silat jambretan Gie Sin Jiaou dari Tan Kin Lam dan semenjak itu ia tak pernah bertemu lagi dengannya.

Dan tampak di sebelah utara seorang yang luar biasa, dengan pakaian rapi dan sangat indah, ia mengenakan baju panjang dengan lapisan muka semacam rompi sulam, ia menyipitkan dan mengarahkan matanya pada kartu yang dipegangnya, sudah jelas ia tengah memusatkan perhatiannya pada kartu itu.

Setelah memperhatikan orang-orang itu, Siau Po lalu mencari tempat duduk dekat mereka.

"Keempat sahabat, nampaknya kalian tengah bergembira sekali, bagaimana jika aku turut dengan kalian berempat main? Dapatkah?"

Ujarnya sambil tertawa.

Tatkala Siau Po ingin mendekati, tampak di atas meja telah bertumpuk uang kira-kira berjumlah lima atau enam ribu tail perak, terutama yang terbanyak yang ada di depan pak tani yang wajahnya nampak sedih dan berduka.

Anehnya, orang itu tidak merasa puas dan masih saja tampak sedih.

"Bagus.... Bagus!"

Kata orang itu sambil tertawa terbahak-bahak.

"Lihatlah siapa yang menang?"

Siau Po terus saja memperhatikan orang-orang yang sedang bermain itu.

Petani itu rupanya penggemar judi, Hal ini dapat dilihat baik kalah maupun menang ia tetap tenang.

Siau Po menyaksikan kedua orang itu tengah bertengkar omong, yaitu antara pak tani itu dengan yang kate gendut.

Melihat hal itu Siau Po berkata.

"Sudah.... Sudah,., daripada main kartu lebih kita main dadu!"

Si kate menggoyang-goyangkan kepalanya.

"Aku justru senang main kartu."

Katanya.

"Tapi kau tak mengerti aturan mainnya mana dapat kau melanjutkan permainan itu?"

Kata temannya. Si kate itu menjadi gusar maka ia mengangkat badan orang yang berkata itu lalu digoyang-goyangnya.

"Apa katamu?"

Tanyanya dengan sengit "Kau katakan aku tak mengerti aturan permainan kartu?"

Siau Po merasakan tulang tubuhnya pada berbunyi.

"Kho Cun Cia, jangan-jangan tuan ini Wie Tayjin... kau jangan bertindak sembarangan jangan sampai kau mendapat salah! Cepat kau bebaskan dia?"

Kata Ay Cun-cia.

"Apa?"

Tanya si kate "Apakah,., apakah... apakah ia Wie Siau Po? Ha, ha, aku memang sedang menanti dapat bertemu dengan dia, ini sangatlah kebetulan sekali."

"Kho Cun-cia,"

Tegur Kho Hian.

"Kau sudah mengenal Wie Tayjin, tetapi mengapa kau masih kurang ajar padanya? Cepat kau bebaskan dia!"

"Sekalipun kauwcu yang datang padaku, masih aku tidak mau membebaskannya, kecuali jika ia memberikan obat pemunah Kay-toh!"

Katanya.

"Sudah, Suko jangan kau main gila! Kau toh tak meminum racun itu, buat apakah obat pemunah itu?"

Tanya Ay Cun-cia.

"Kau tahu apa?"

Kata si kate dengan suara keras.

"Cepat kalian buka jalan untukku, jangan kalian tidak dapat berlaku sungkan lagi!"

Saat itu Siau Po baru mengerti kalau orang yang gemuk itu adalah gendak ibu suri yang palsu yang dahulu pernah kepergok dengannya dalam keraton.

Dan yang lebih mengherankan dia itu kakak seperguruan Ay Cun-cia dan sekarang Siau Po baru dapat melihat orang itu dengan jelas.

Ingat pada si kate itu, Siau Po berpikir lebih jauh.

"Menurut Ay Cun, dia dan si kate ini dahulu diperintahkan oleh gurunya untuk pergi ke luar negeri, tetapi mereka diserang angin sehingga mereka harus kembali lagi ke darat belum pada waktunya. Karena mereka sudah terlanjur meminum obat racun itu sehingga Ay Cuncia kini bertubuh jangkung dan kurus sedangkan Kho Cun-cia bertubuh gemuk sehingga mirip dengan labu. Tetapi mereka itu telah meminum obat pemunah racun itu, mengapa sekarang ia memintanya padaku? Oh, ya aku mengertil ibu suri masih belum dapat disembuhkan dan mereka berdua adalah sahabatnya yang sangat kental."

Memikir hal tersebut Siau Po lalu mengeluarkan suaranya.

"jikalau kau menginginkan obat pemunah itu, bebaskan dulu aku, baru nanti kuberikan obat itu padamu."

Mendengar sebutan nama obat itu Kho Cun-cia menjadi takut dan ngeri lalu ia menurunkan tangannya, dan menyodorkan tangan kirinya untuk meminta obat itu.

"Mana, mari kau berikan obat itu padaku !"

"Tetapi kau telah berlaku kurang ajar terhadapku."

Kata Siau Po. Meskipun demikian ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan lencana Ngo Liong Leng.... Lima Naga... seraya berkata dengan keras.

"Kau lihat apa ini?" Orang itu nampak sangat kaget sehingga mukanya pucat, tetapi ia masih saja sangsi. Kakinya mundur satu langkah sedangkan matanya mencekung.

"Eh, Kho Cun-cia apa katamu barusan?"

Tanya Siau Po. Rupanya si kate itu telah berpikir dan secara tiba-tiba ia melakukan penyerangan pada Siau Po, tangannya diarahkan pada dada lawan.

"Cepat berikan obat itu!"

Katanya dengan berteriak.

"Jangan!"

Teriak Ay Cun-cia dan Liok Kho Hian serentak.

Sementara itu datang pula tiga tangan, itulah si pengemis tua yang mengancam jalan darah Pek-hiat-hwee pada kepala, tepatnya ubun-ubun tangan Lie See Hoa mengancam belakang kepalanya, jalan darah Giok-Cu Hiat, dan tangan si pak tani sudah siap menotok mukanya, tepatnya pada matanya.

Kho Cun-cia kalah daripada Siau Po, tak heran kalau tangan tiga orang itu telah mengancam muka, dada, kepala dan punggungnya.

"Jangan!"

Mereka berteriak mencegah. Mereka tahu jika ia mengerahkan tenaganya, Khu Cun-cia akan tak bernyawa lagi.

"Eh, kate! Angkatlah tanganmu!"

Kata si pengemis.

"Asal ia memberikan obat itu padaku, aku akan mengangkat tanganku dari sini?"

Katanya.

"Jikalau kau tak mengangkat tanganmu aku akan mengarahkan tenagaku untuk mencegahnya!"

Ancam si pengemis itu.

"ltu tak apa paling-paling kita mati bersama-sama."

Kata si kate itu.

Justru saat mereka itu sedang berbicara Ay Cun-cia dan Liok Kho Hian bergerak benama-sama masing-masing mengancam dada dan leher pengemis itu.

Melihat itu semua pak tani menjadi tertawa sendiri, tetapi tak ayal ia pun terkena ancam, sehingga jumlah mereka yang saling ancam itu tujuh orang.

Siau Po tertawa.

"Sungguh menarik hati! Eh, orang cebol! jikalau kau menghajar aku sampai mati, itu tidak ada artinya, kau tahu, kau tak akan mendapatkan obat itu, yaitu obat Tok Liong Wan yang hanya ada di Siau Lim See. hendakmu yang tua itu nanti akan mati secara perlahan-lahan pertama dagingnya membusuk, kemudian kepalanya membotak, dan kemudian...."

"Tutup mulutmu!"

Kata si katai. Siau Po tertawa.

"Dan mukanya karena luka itu nantinya akan menjadi bolong-bolong...!"

Demikian katanya tanpa menghiraukan larangan itu. Baru berhenti suara Siau Po, tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dan keren.

"Di manakah tawanan semua?"

Suara itu telah berhasil menarik perhatian orang-orang itu, sehingga mereka terperanjat karena kaget Mereka lalu berpaling ke arah suara itu.

Bersamaan dengan itu mereka melihat sinar putih pedang yang mengkilap.

Kemudian tampak seseorang mendekati mereka.

Kemudian orang itu menotoki jalan darah mereka, maka tak ayal lagi mereka ambruk semua.

Ternyata yang datang itu berjumlah empat orang.

"Oh, A Ko kau datang!"

Kata Siau Po dengan suara perlahan sekali.

Yang berdiri di sisi A Ko adalah Lie Cu Sen, di sebelah kirinya The Kok Song, dan di sebelah kanannya justru orang She The yang paling tidak ia sukai.

Masih ada orang yang ke empat, dialah Phang Sek Hoan yang bergelar "lt Kian Gu Hiat"

Si pedang tanpa darah. Di antara kedelapan orang itu, bahkan Kong Lian terkena tusukan.

"Kau makhluk apa? Kau berani menotok jalan darah Kwat-hiat dan Sin-tong-hiat aku?"

Kata Kho Cun-cia. Phang Sek Hoan tertawa dingin.

"Ternyata ilmu silatmu tak ada apa-apanya. Kau ketahui jalan darahmu kena tertotok."

Katanya.

"Cepat kau bebaskan jalan darahku, mari kau layani orang tuamu beberapa jurus! Caramu sekarang ini main bokong, itu bukannya cara orang Enghiong."

Kata si kate.

"Kaukah si Enghiong? Benar-benar gila! Bukankah kau roboh di lantai tanpa berkutik? Beginikah cara orang Enghiong?"

Tanya Sek Hoan. Kho Cun Cia panas hatinya.

"Tuan besarmu bukan roboh, melainkan dia sedang duduk. Apakah kau tidak punya mata?"

Katanya sengit.

Sek Hoan mengangkat kakinya dan ia lalu menendang orang kate itu, Si kate jatuh roboh tetapi anehnya, ia cepat bangun kembali sehingga ia terduduk lagi seperti semula, Memang beda dengan yang lainnya, ia duduk tidak jatuh seperti yang Iainnya, itu dikarenakan badannya yang gemuk itu dapat menjadi bahan penimbang.

Asalkan mau roboh, ia dapat bangun kembali, jadi ia seperti boneka yang tak dapat tertidur, ia hanya duduk saja.

The Kek Song tertawa menyaksikan hal itu.

"Kau lihat adik Kok?"

Demikian katanya, inilah suatu boneka hidup! Bagus bukan?"

Lanjutnya.

"Ya, memang sangat aneh dan sangat lucu!"

Jawabnya.

"Kau mau mencari si setan cilik untuk membalas sakit hatimu dan akhirnya sekarang kau dapatkan itu dapat memenuhi keinginanmu dan kita telah berhasil menawannya. Seterusnya kau boleh menyiksanya dengan perlahan-Iahan. atau barangkali kau ingin membinasakannya dengan satu kali tebas saja?"

Tanya Kek Song pada A Ko. Siau Po terkejut.

"Si setan cilik?"

Pikirnya.

"Terang dengan demikian akulah orang yang dimaksudkan Mustahil A Ko akan membinasakan aku? Aku toh tak pernah bersalah padanya?"

Segera terdengar suara sengit dari si nona.

"Jikalau aku melihat dia lama-lama hatiku semakin panas! Aku pikir, jika kutebas satu kali saja, hal itu lebih memuaskan hatiku."

Kata A Ko dengan kesalnya. Kata-kata itu dibarengi dengan keluarnya sebuah golok dari dalam sarungnya, Kemudian nona itu mendekati Siau Po.

"Jangan.... jangan bunuh dia!"

Kata Kho Cun Cia, Liok Kho Hian dan juga Kong Hian.

"Su-Cie, bukankah aku tidak..."

Kata Siau Po.

"Siapa yang menjadi Su-Ciemu? Setan cilik kau justru berdaya hendak mencelakai aku."

Kata si nona yang langsung mengangkat pedangnya untuk menikam dada Siau Po.

Semua orang yang berada di sana berteriak, justru itu pedang si nona terpental setelah mengenai sasaran sedangkan Siau Po tak terluka, karena ia menggunakan baju anti senjatanya yang tak mempan dengan senjata apa pun.

Menyaksikan hal itu si nona tercengang saking herannya.

"Tusuk matanya!"

Kata Kek Song, Sebab ia mengetahui kalau orang tidak mempan ditusuk badannya maka ia akan mempan jika ditusuk matanya.

"Benar,"

Kata si nona yang sadar, dan terus mengulangi serangannya dan kali ini mengarah ke mata Siau Po.

Kembali orang-orang itu terkejut.

Sewaktu serangan berlalu, ada orang melompat menubruk Siau Po.

Dia berlompat dari pojok tembok, karena itu ujung pedang mengenai bahunya.

Akan tetapi ia terus memeluk Siau Po, untuk diajak menjatuhkan diri kembali ke pojok rumah, ia lalu mengambil pisau Siau Po.

Orang itu memakai pakaian tentara Sie Wie, tubuhnya kotor dan dekil, walaupun orang tak melihatnya, dia pasti memiliki ilmu silat yang tinggi.

"Ah, dia setia sekali."

Demikian kata mereka bersama.

Phang Sek Hian menghunus pedangnya, ia maju lalu memutar tubuhnya dan senjatanya sehingga ruangan itu penuh dengan sinar berkilauan dan langsung menyerang tentara itu.

Senjata itu beradu dengan senjata lawan, akan tetapi tentara itu banyak mengeluarkan darah.

Sek Hoan malu dan penasaran, wajahnya jadi merah padam.

Terdengar suara "Trang"

Senjata kedua belah pihak beradu. Karena beradunya senjata itu maka senjata lawan yang beradu dengan senjata Siau Po menjadi buntung. Maka itu Siau Po sudah kembali pada jalan darahnya.

"Ha ha ha ha! Phang Sek Hian, kau hanya dapat melawan serdaduku dan mencelakainya saja, Untuk itu sebaiknya kau ganti saja gelarmu dengan yang lainnya. Bagaimana jika kuganti dengan Poan Kiam Yu Hiat Phang Sek Hian?"

Katanya.

Setelah itu Cun Cia sangat gusar dan kesal sekali, Bukankah mereka itu orang-orang yang lihay dalam ilmu silatnya, sementara yang sedang tertotok itu lalu tertawa mendengar Siau Po menyebutkan kata-kata itu.

Begitu juga si pengemis tua, dia langsung memperdengarkan suaranya yang nyaring.

"Bagus.... Bagus kata-kata itu sangat cocok denganmu, gelar itu sekarang dapat kau gunakan, Dasar kau orang yang tidak tahu malu!"

Katanya. Lie See Hoan heran.

"Kenapa dia terhitung juga keduanya?"

Tanyanya.

"Aku mohon penjelasan darimu!"

"Sebab jika diadu dengan Gauw Sam Kui ia masih kalah seurat!"

Sahutnya. Kembali orang banyak tertawa lagi.

"Menurut aku bedanya sangat terbatas!"

Kata Kho Hian turut berkata pula. Panas hati Sek Hian mendengarkan kata-kata itu, tetapi ia masih dapat mengekang amarahnya, sehingga tubuhnya bergetar "Apakah She dan namamu?"

Dia tanya pada si serdadu.

"Hari ini aku belum mau mengambil nyawamu, tetapi lain waktu jika ketemu lagi denganku tak dapat aku mengampunimu. Aku akan membuat kau mati secara tersiksa!"

"Aku, aku..."

Sahut si serdadu suaranya perlahan namun halus, Siau Po terkejut dan merasa girang.

"0h.... Oh, kiranya kau Song Jie!"

Siau Po lalu membuka topi Song Jie maka terlihatlah rambutnya yang panjang itu, Kemudian ia merangkul tubuhnya dan berbalik menatap pada Phang Sek Hian dan berkata.

"Hm, sekali pun budak cilik, kau tak sanggup melawannya! Untuk apa kau membual...?"

Sek Hian gusar mendadak, kakinya terangkat lalu menginjak meja yang ada di depannya, Maka uang yang ada di atas meja itu juga tubuh Tiao Cee Hian ikut terangkat Setelah itu mereka berjalan pergi, tetapi baru saja sampai di pintu ada dua orang yang menghampirinya.

"Minggir!"

Bentaknya dengan suara keras.

Tangannya beradu dengan tangan orang yang berada di depan pintu, Kedua orang tua terdorong beberapa langkah ke belakang.

Sek Hian terus melangkah, sementara kedua orang itu langsung mengeluarkan darah segar dari mulutnya.

Siau Po cepat-cepat memaksakan diri untuk bangun, Setelah melihat lebih dekat ternyata yang datang itu Cie Tiong, Hian Ceng, Dan tak lama kemudian datanglah kawan-kawan Siau Po.

A Ko yang melihat kawan-kawan Siau Po semakin banyak itu memberikan isyarat pada kawannya agar segera pergi.

Lie Cu Seng menghampiri Siau Po, lalu ia menghentakkan tongkatnya ke lantai, terus ia berkata.

"Seorang laki-laki sejati harus dapat membedakan budi dengan sakit hati! Dahulu gurumu tidak membinasakan aku, maka hari ini kau pun tidak aku bunuh, senang aku mengampuni selembar nyawamu! Namun setelah hari ini jika kau masih tetap mengikuti putriku, atau kau mengucapkan sepatah kata dengannya, awas, akan aku cincang dagingmu hingga hancur!"

Siau Po berani sekali.

"Apakah menurutmu tentang satu ucapan yang dikeluarkan oleh seorang laki-laki? Dahulu kau katakan A Ko telah resmi menjadi istriku, Hal itu kau ucapkan di depan kekasihmu Tan Wan Wan, di kuil Sam Seng Am, Mengapa sekarang kau melarangku untuk bertemu dengan istriku? Mengapa kau menyangkalnya? Mustahil kau, seorang mertua melarang anaknya bertemu dengan suaminya!"

Muka A Ko menjadi merah.

"Ayah, mari kita pergi!"

Ajaknya pada Lie Cu Seng.

"Janganlah Ayah melayani orang yang bicara ngaco itu! Di.... Di mulut anjingnya tak mungkin terdapat gigi gajah, Maka itu mana dapat kita mengeluarkan kata-kata yang baik padanya.,.?"

"Bagus.,.! Akhirnya kau mau mengakui ia sebagai ayahmu! Bagaimana tentang keputusan ayah dan bundamu, kau turut atau tidak?"

Lie Cu Seng gusar bukan kepalang, belum lagi putrinya menyahut dia mengangkat tongkatnya.

"Hay, Anak haram masih kau tak mau menutup mulutmu.,.?"

Tegurnya dengan bengis.

Melihat hal itu kawan-kawan Siau Po langsung maju dengan golok terhunus...

Cian Lao Pun dan Cian Coan langsung membacokkan goloknya ke punggung Lie Cu Seng, Melihat lawan menyerang maka Lie Cu Seng memutar tongkatnya untuk menangkis golok lawan, Dengan demikian maka gagallah serangan itu.

Kho Gan Ciauw pun sudah mengeluarkan golok dari sarungnya segera digunakan untuk memapak serangan senjata lawan.

Siau Po yang menyaksikan hal itu segera berkata dengan suara keras.

"Lie Cu Seng, kau ingat, selama dalam kota Kun-beng, siapakah yang telah menolong jiwamu? Anakmu dan kekasihmu? Mengapa sekarang kau menentang budi baikku dan berlaku begini menentang perikebajikan? Sungguh kau tidak tahu malu!"

Mendengar perkataan Siau Po, Lie Cu Seng dan juga yang berada di luar merasa sangat kaget Lie Cu Seng sangat tersinggung.

"Kau.... Kau...."

Lie See Hao berseru.

"Lie Cu Seng, kiranya kau belum mati, bagus!"

Kata-kata itu dikeluarkan dengan nada penasaran.

Dahulu semasa berkuasa, Lie Cu Seng memandang jiwa orang lain bukanlah jiwa manusia, maka itu ia telah menyebabkan banyak orang merasa sakit hati, hingga banyak orang yang menginginkan balas dendam padanya, sekarang pun ia masih ingin membalas dendam padanya, maka setelah ia mendengar nama itu darahnya mulai mendidih.

Padahal sebelumnya ia orang yang paling sabar A Ko menarik baju Lie Cu Seng.

"Ayah, mari kita pergi!"

Katanya dengan berbisik. Kembali Lie Cu Seng menggedukkan tongkatnya ke lantai, kemudian berlalu pergi, diikuti anaknya dan Kek Song. Melihat itu Lie See Hao berkata dengan suara nyaring.

"Lie Cu Seng, jikalau kau laki-laki sejati, kutunggu kau pada waktu dan tempat yang sama. Kutantang kau bertempur satu lawan satu, sampai diantara kita ada yang mati! Kau mempunyai nyali atau tidak?"

Lie Cu Seng kemudian berpaling, matanya mengawasi tajam, dengan tatapan menghina lalu ia menjawab.

"Loocu telah malang melintang di kolong langit ini! Ketika itu kau belum lahir Karena aku seorang She Lie, aku orang gagah, laki-laki sejati atau bukan, tak usah kau yang menilainya!"

Semua orang terdiam, tetapi semua beranggapan katanya itu beralasan, mereka mengetahui kalau Lie Cu Seng bukan hanya orang yang berani, tetapi juga bertanggung jawab.

Hal itu diakui mereka baik yang menyukainya maupun yang tidak.

Dan ternyata sekarang walaupun sudah berusia lanjut, ia tetap gagah dan perkasa.

"Song jie, bagaimana kau datang ke mari? Kebetulan sekali kau pun telah dapat menolongku! Jika tadi tidak kau tolong mungkin aku telah mati di tangan istriku itu!"

Kata Siau Po sambil membantu membalut luka di tubuh Song Jie.

"Aku bukannya datang secara kebetulan tetapi memang telah mengikutimu sejak tadi, hanya saja Kong Kong tak mengetahuinya!"

Jawab Song Jie. Siau Po heran.

"Jadi kau senantiasa berada di dekatku?"

Tanya Siau Po. Bersamaan dengan itu terdengar suara nyaring dari Kho Cu. Cia.

"Hai, tolong bebaskan totokan ini, dan cepat kau berikan obat itu kalau tidak awas aku..."

Mendengar itu, mereka semua tertawa, Akhirnya mereka dibebaskan dari totokan satu persatu, Yang pertama dibebaskan yaitu si petani, setelah itu kedua kawan Siau Po kemudian si pengemis tua.

Dan terakhir Kho Cun Cia, namun yang terakhir ini tidak langsung dibebaskan.

Akhirnya mereka merasa kasihan dengan keadaan Kho Cun Cia maka si pengemis itu lalu membebaskan totokan itu.

Setelah bebas dari totokan Kho Cu Cia langsung menyerang Siau Po.

Melihat hal itu, si pengemis langsung mencegahnya, tetapi Kho Cun Cia balas menyerang pada si pengemis.

Si pengemis berkelit ke sisi, dari situ ia mengirim tangannya ke atas untuk menyerang tubuh lawan.

Namun si penyerang dapat menekan kaki lawan, hingga tubuhnya kembali terpental.

-ooo) II-62 (oooKejadian itu terus berulang beberapa kali, hingga tubuh Kho Cun Cia seperti tak pernah menapak lantai, Dari situ terbukti ilmu silatnya benar-benar lihay, Hingga Lie See Hoa semua menjadi kagum pertempuran seperti itu belum pernah mereka menyaksikan sebelumnya.

Diam-diam semua orang pun memperhatikan cara bersilatnya si pengemis yang tak kalah lihaynya itu.

Dari sikap serangan dan gerakan yang dilancarkan dalam pertarungan itu terasa seru dengan menggetarkan, hal itu membuat Lie See Hoa semua mundur ke tembok.

Segera juga terdengar seruan Kho Cun Cia ketika kembali menyerang si pengemis tersebut yang dimulai dengan tangan kanannya dan disusul tangan kirinya mengancam ubun-ubun lawan.

"Bagus!"

Berseru si pengomis, yang langsung bergerak merendah sambil kedua tangannya diangkat ke atas perlahan untuk menyambut Maka tangan mereka yang saling beradu keras, Dan kesudahannya, lagi-lagi Kho Cun Cia terpental ke atas, hingga tubuhnya membentur langit-langit.

Tampak beberapa genteng pecah dan jatuh berantakan, tempat itu pun seketika berantakan, berserakan pecahan genteng di mana-mana.

Setelah membentur tubuh Kho Cun Cia terbanting ke lantai.

Kali ini si pengemis menyingkir ke sisi, membiarkan tubuh lawannya jatuh ke lantai.

"Hahaha!"

Si pengemis tertawa melihat lawannya jatuh, Belum berhenti suaranya, tubuh Kho Cun Cia kembali melesat ke atas dan dengan kepalanya dia menyerang pula.

Si pengemis bergerak ke pinggir untuk menyelamatkan diri, Dengan posisi terbaring tangan kanannya dipakai untuk menepuk kepala lawan sambil berseru, Maka terlihat tegas bagaimana Kho Cun Cia meluncur terus semakin keras, Kepalanya bergerak menuju ke tembok di depannyal Ketika kepala itu membentur tembok, semua orang terkejut melihat kejadian tersebut itulah yang berbahaya buat Cun Cia.

Ay Cun Cia juga melihat bencana bagi saudara seperguruannya itu, namun ia tak menjadi bingung dan gugup.

Sebab luar biasa ia menyambit tubuh orang Sie Wie yang menggeletak ke tanah dan ia lemparkan ke arah tembok, mendahului tubuh saudara seperguruannya.

Hal itu tepat ketika kepala Kho Cun Cia menghajar tembok, maka terasa kepalanya terganjal perut Sie Wie.

seketika perut Sie Wie itu pecah dan meletus kepala Kho Cun Cia melesak ke dalam perut yang pecah itu.

Tak urung, tembok itu gempur tertembus tubuh Sie Wie.

Ketika Kho Cun Cia menjejakkan kaki tubuhnya berdiri sedikit terhuyung.

Kepala dan kakinya berlepotan darah Sie Wie.

Dia mendongkol sekali hingga mengeluarkan kutukan, Dia pun repot membersihkan darah di muka dan kakinya itu.

Semua orang terkejut dan kagum, bersyukur Kho Cun Cia tak kurang suatu apa pun pada dirinya.

"Nah bagaimana?"

Si pengemis tertawa dan bertanya.

"Kau masih mau bertempur atau cukup sampai di sini?"

"Dahulu waktu tubuhku tinggi besar, kau tak dapat mengalahkan.."

Sahut Kho Cun Cia.

"Dan sekarang?"

Tegas si pengemis. Kho Cun Cia menggeleng kepala.

"Sekarang aku tidak sanggup melawanmu!"

Jawabnya manggut "Ya. Sudah, sudahlah!"

Setelah mengaku kalah, tubuh Koh Cun Cia mencelat ke arah dinding, ke tempat tadi tubuh Sie Wie yang menghalang-halangi.

Hingga terdengarlah suara keras dan berisik, sebab tembok tergempur dan tertembuskan tubuh Sie Wie turut molos ke luar.

Ay Cun Cia kaget sekali.

"Suko! Suko!"

Panggilnya berulang-ulang dan ia pun terus melompat menyusul saudara seperguruannya.

"Wie Tayjin... nanti aku pergi melihat,"

Kata Lio Kho Hian, yang terus memberi hormat pada si Tayjin cilik, untuk berlompat pergi, menjeblos lobang di dinding tembok itu.

"Bagus!"

Beberapa orang memberikan pujian sesuai dengan apa yang telah disaksikan Suatu pertunjukan yang indah dari orang She Liok itu ketika loncat keluar.

"Sementara itu Cie Thian Thoan Cian Lao Pan semua berkata di dalam hatinya masing-masing. Entah dari mana Wie Hiocu dapat berdua sebawahannya itu. Ternyata mereka memiliki ilmu silat yang baik sekali dan mahir, mereka lebih jauh menang dibandingkan dengan kita."

Sementara itu Lie See Hong memberi hormat seraya berkata.

"Maaf, aku tak dapat lama menemani pula,"

Lalu terus berjalan pergi. Siau Po memberi hormat pada pengemis seraya berkata.

"Heng Tay, dapatkah mereka itu diijinkan pergi?"

Ia pun menunjuk pada Cie Hian semua, ia memanggil "Heng Tay, itu adalah sebutan kakak yang dihargai atau terhormat. Pengemis itu tertawa.

"Jikalau dari tadi siang aku tahu bahwa mereka sebawahan saudara Wie, aku tidak berani berbuat salah terhadap mereka,"

Katanya seraya mengulurkan tangan. Tak tampak bagaimana caranya bekerja, setelah orang pada bangun berdiri mereka semua telah terbebas dari totokan masing-masing.

"Terima kasih!"

Kata Siau Po, dan terus meminta Cie Hian untuk memintanya pulang terlebih dahulu. Cian Coan melirik pada Song Ji.

"Apakah nona ini menjadi orang kepercayaan Wie Hiocu?"

Tanyanya.

"Benar,"

Sahut Hiaucu itu.

"Apakah juga tidak disembunyikan dari dirinya?"

"Nona ini sangat muda tapi dia memiliki kesetiaan dan keberanian yang tinggi."

Si pengemis angkat bicara.

"Susah mencari orang seperti dia yang berwatak demikian itu, Coba tadi dia tidak datang menghadang, pastilah mata Hiocu tak akan terlindung dengan baik tanpa dia."

"Benar-benar!"

Kata Siau Po seraya menarik tangan si nona.

"Syukur dia telah menolongku!"

Lanjutnya.

Wajah Song Ji menjadi merah seluruhnya, ia malu karena banyak orang memujinya dan ia langsung menunduk tak berani mengawasi mereka satu persatu.

Cie Cian Thoan melangkah ke depannya si pengemis.

"Lima orang yang memisahkan sebuah syair tubuh Hong Eng tak ada yang tahu!"

Katanya, seraya menggunakan kata-kata Thian Tee Hwee. Atas ucapan itu si pengemis menjawab! "Sejak ini dapat mewariskan sekalian saudara, kemudian saling mengenali maka bersatulah kita."

Siau Po pun mengetahui segala rahasia tersebut maksudnya istilah-istilah itu. Mulanya ia tak ingat semua, tetapi pada saat pengemis menyinggung dan bicara ia pun ikut bicara.

"Mula pertama memasuki mengangkat saudara di saat langit terang untuk bersumpah menunjukkan hati yang sebenarnya."

Ujarnya.

"Pintu merah,"

Diartikan Hong Bung, Kembali si pengemis berkata.

"Cemara dan satu, dua cabangnya terbagi kiri dan kanan, di tengahnya terdapat bunga merah membesar tempat"

Mengangkat saudara."

Siau Po menimpali pula.

"Di depan ruang kesetiaan dan kejujuran saudara-saudara berkumpul, di dalam kota panglima memimpin sejuta jiwa tentara."

Masih si pengemis melayani bicara katanya.

"Di depan rumah Hok Tek Su datang mengangkat sumpah, menentang Cheng membangun Beng. Dialah Hong Eng kami!"

Sampai di situ kacung kita tidak melanjutkan kata-kata rahasianya, Dia berkata "Wie Siau Po sekarang ini menjadi Hiocu dari Cheng Bok Tong, Mohon tanya, kakak, Semua yang mulia serta namamu yang besar, serta sekarang ini kakak termasuk golongan mana serta apa jabatannya?

Dengan "golongan Siau Po yang dimaksudkan "Tong"

Atau cabang.

Pengemis itu menjawab "Aku ini Gou Liok Kie, sekarang Hiocu dari Gou Liok Kie....

Maksudku dari Hong Sun Tong, Hari ini aku dapat bertemu dengan Wie Hiocu serta sekian saudaraku aku sangat bergembira!"

Mendengar disebutnya nama tersebut, semua orang pihak Wie Siau Po terperanjat merasa girang.

Semua lantas menunduk hormat pada pengemis itu, sebab Gouw Liok Kie ini sangat terkenal pelajarannya.

Sebenarnya Gouw Liok Kie pernah memegang jabatan atau pangkat yang tinggi sebagai pangkat militer yang dinamakan Tee Tok, Seorang gubernur militer propinsi Kweitang, Di tangannya terdapat satu pasukan yang sangat besar, akan tetapi karena petunjuk Ca La Mong di dalam hatinya tumbuh semangat mencintai negara.

Maka dia bercita-cita membangun kerajaan Beng, bersiap akan menjatuhkan pemerintah Tjeng.

Kemudian secara diam-diam ia masuk menjadi anggota Thian Tee Hwee di mana ia dipercayakan kedudukan Hiocu atau Ang Kie Hiocu, Hiocu bendera merah dari Hong Sun Tong, Keluarga atau kalangan Thian Tee Hwee sangat menghargai dan menghormati huruf "Han"

Dan bangsawan Han, sebab salah satu asal utama dari kesuku-an Tionghoa. Kalau huruf "Han"

Itu disingkirkan tiga coretan di dalamnya yaitu huruf "Touw".

"Tanah", maka huruf itu berubah sendirinya menjadi huruf "Hong". Dengan huruf Touw"

"Tanah"

Itu , yang berarti sebutan di antara persaudaraan kaum Thian Tee Hwee, sebagai tanda peringatan yang bangsa Han tak akan melupakan cita-cita membangun pula negara (kerajaan Beng).

"Begitulah Siau Po, aku mengirim sepuluh saudara ke Inlam guna bekerja secara diam-diam dan akhirnya mereka bekerja hampir secara sempurna, Secara kebetulan segala ancaman bencana dapat kami hindarkan, sehingga Hong Sun Tong tak usah membantu apa-apa. Dan beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar hingga diamdiam aku menyusul ke sana dan menyamar."

Mendengar itu Siau Po girang sekali.

"Oh, kiranya demikian,"

Kata Siau Po. Dia tak menyangka gurunya sangat memperhatikannya serta Giao Hiocu.

"Aku sangat berterima kasih atas kejadian ini semua, Namamu sangat terkenal di empat penjuru lautan, tiada yang tidak mengenal Siapa tahu kaulah kiranya saudara kami!"

Di mulut Siau Po mengatakan demikian, padahal dia baru dengar nama tersebut pada saat kejadian itu. Liok Kei berkata.

"Justru kaulah yang terkenal di empat penjuru lautan Wie Hiocu.,.! Kau telah membinasakan Go Pay yang tersohor itu."

"Di antara saudara-saudara sendiri, janganlah kita terlalu sungkan, Aku minta maaf karena telah berbuat yang tidak pantas terhadap Sie-Wie bawahanmu"

Siau Po tertawa.

"Jangan sungkan, justru para Sie Wie itulah yang kurang ajar dan berbuat gila. Sudah kalah masih saja menyangkal! Pantas jika kau menghajar mereka agar lain kali kalau berjudi tahu aturan, jangan seenak perutnya saja! justru aku yang minta maaf dan terima kasih pada Hiocu!"

Liok Kie tertawa terbahak dan bergelak.

Sampai di situ semua orang duduk dan Gouw Liok Kie mulai menanyakan segala tindak lanjut Siau Po selama di Inlam.

Akhirnya kacung memberikan keterangan yang seperlunya.

Gouw Liok Kie kagum mendengar Siau Po sudah mempunyai keterangan lengkap tentang niat Gauw Sam Kui memberontak melawan pemerintah.

Terus kabarnya jika pengkhianat itu mulai bekerja pasti ia menyerbu ke propinsi Kwietang, Nah, pada saat itu mereka dapat menggempurnya, Setelah dia dapat ditumpas, baru mereka dapat menuju ke utara guna menyerbu kota Pakhia!

Pada saat mereka ngobrol datanglah Ma Ciau Hia, Hiocu dari Kee Hou Long.

Dia menerima berita perihal Siau Po dan Liok Kie.

Dia bertemu dengan Liok Kie dan bicara banyak tentang peristiwa yang baru terjadi.

"Phang Sek Hoan manusia busuk."

Liok Kei menambahkan kemudian.

"Dia berlaku curang sehingga hampir aku celaka karenanya! Lain kali kalau aku bertemu dengannya akan kugempur kembali"

Dapatlah dimengerti bahwa si Giao Hiocu sangat bersakit hati. Seumur hidup belum pernah ada orang dapat membuatnya tidak perdaya.

"Si pemberontak telah membunuh Kaisar Cong Ceng. kebetulan dia berada di LiuCiu baik kita jangan melepaskannya."

"Thian Tee Hwee bersetia terhadap Kerajaan Beng, dengan demikian sendirinya Lie Cu Seng dipandang musuh besar. Lie Cu Seng yang memaksa hingga Kaisar Beng yang terakhir itu menggantung diri sampai mati di bukit Bwee San."

Kemudian lagi, Siau Po meminta penjelasan kepada Song Jie bagaimana mulanya dia mengikutinya.

dan si nona cilik memberikan penuturannya.

Setelah terpisah di Ngo Tay San, Song Jie terus mencari si kacung di mana-mana.

Maka ia lantas menyusul ke Pakhia, Namun siapa tahu kacung kita justru telah pergi ke selatan, Tidak bersangsi pula dia menyusul, bahkan sebelum lagi si kacung kita keluar dari propinsi Hoo Pak.

Dia berpikir sesudah memangku pangkat yang besar, mungkin Siau Po membutuhkan pula perjalanannya yang lebih jauh dari itu.

Dia tak berani pergi menemui sebaliknya dia bersiasat dengan mencuri seragam Jiau Kie Eng dan menyamar menjadi serdadu tangsi itu.

Dia berdiam di tangsi tanpa diketahui rahasianya.

Dan dia terus berada di Inlam dan Kwie Say sampai terjadi peristiwa yang hebat di saat A Ko hendak membinasakannya baru dia muncul, menolong dan terus dapat dikenali oleh si kacung.

Siau Po sangat bergembira dan bersyukur serta tertawa.

Dia merangkul dan mencium pipinya, Dia pun berkata.

"Oh, budak tolol, mana aku tak dapat menghendaki pertolonganmu Bahkan aku ingin diajari selama hidupku kecuali jika kau sendiri yang sudah tak menyukai disebabkan kau memikir hendak menikah...!"

Song Jie gembira bercampur malu dan mukanya menjadi merah.

"Tidak... tidak..."

Katanya sukar keluar.

"Tak nanti aku menikah dengan orang lain...!"

Malam itu Ma Ciau Hin mengadakan pesta di sebuah rumah pelesiran buat menghormati Gou Liok Kie.

Di saat pesta berlangsung, datang laporan dari salah seorang anggota Thian Tee Hwee yang ditugaskan mencari informasi tentang Lie Cu Seng.

Melaporkan kedatangan orang di dalam rumah kecil di tepi sungai Liu Kang.

Kota Liu Ciu terkenal karena kayunya, terutama peti matinya, tersohor di seluruh negara, hingga ada pepatah yang berbunyi.

"Mampir di Hang Ciu bersantap di Kwie Ciu dan mati di Liu Ciu" , Di Liu Kang, potongan-potongan kayu semacam getek dari arah timurnya dialirkan ke hilir, Di sungai Liukang ini getek kayu terdapat banyak bagaikan tak dapat terhitung jumlahnya, di situ pula banyak dibangun gubuk atau rumah kecil. Tidak heran jika orang sukar dicari andaikata ia bersembunyi di tempat seperti itu. Mungkin kalau bukan orang Thian Tee Hwe, yang jumlahnya besar, sangat sulit orang mencari orang lain di tempat itu. Gouw Liok Kie menepuk meja sambil dia berjingkrak bangun.

"Mari, kita lekas pergi!"

Serunya, Tak usah kita minum arak lebih jauh."

"Sabar."

Kata Ma Ciau Hin.

"Nanti aku mengatur dahulu supaya mereka tak sampai dapat meloloskan diri."

Orang menanti sampai jam yang kedua barulah Ma Hiocu mengajak rombongannya pergi ke sungai Liokang, ke tepi sungai di mana terdapat sebuah perahu, Ke atas perahu itu mereka pada naik.

Tukang perahunya tanpa diperintahkan pula segera melajukan kendaraan itu.

Di belakang mereka mengikuti delapan buah perahu lainnya, mengikuti tidak begitu jauh.

Sesudah melewati perjalanan jauh, tujuh atau delapan Lie, perahu segera dihentikan.

Seorang anak perahu masuk ke dalam perahu untuk berkata sangat perlahan.

"Hiocu bertiga, orang yang dicari itu berada di dalam rumah kecil di atas getek kayu di depan kita ini."

Siau Po pergi ke luar perahu, akan mengawasi ke depan.

Memang di atas deretan getek terdapat sebuah rumah kecil.

Dari dalam mana menyorot keluar sebuah cahaya api bersinar kuning, Ketika ia mengawasi ke arah sungai matanya segera melihat di sebelah timur atau di barat terdapat masing-masing sebuah perahu, Begitu pula di arah lainnnya, jumlahnya tak kurang dari empat puluh perahu.

"Semua perahu kepunyaan kita..."

Ma Ciu Hin berbisik. Siau Po gembira mendengar keterangan itu Pikirnya.

"Kalau di dalam perahu terdapat sepuluh orang. jumlah mereka sudah empat ratus jiwa, Biarlah Lie Cu Seng dan Phang Sek Hoan lihay sekali, apa kiranya mereka bakal sanggup meloloskan diri.?"

Justru itu maka dari dalam rumah kecil di depan itu terdengar bentakan bertanya.

"Siapa itu di luar?! Kenapa lagakmu mirip hantu?"

Suaranya gagah berani. Ya suara Lie Cu Seng. Dari tepian, terdengar suara tawa yang nyaring disusul dengan jawaban.

"Lie Cu Seng, akhir-akhir ini aku toh dapat mencarimu!"

Dan itulah suara Lie See Hoa. Ma Ciau Hin dan Gou Liok Kie saling memandang, Keduanya merasa aneh. Di dalam hati mereka saling bertanya.

"Aneh! Kenapa dia kini dapat mencari sampai di sini?"

Setelah itu mereka melihat sesosok bayangan hitam berlompat ke arah getek kayu, Di bawah sinar rembulan terlihat pedangnya berkilau, sedangkan dari dalam rumah gubuk itu segera tampak seseorang berlompat keluar.

Di tangannya tercekal sebatang siang-thung tongkat sucinya, Sebab dialah Lie Cu Seng si bhiku.

"Bagus.,.!"

Pendeta itu berseru keras.

"Akhirnya kau dapat juga mencari aku!"

Lantas kata Lie See Hoa.

"Jlkalau hari ini aku merampas nyawamu mungkin kau setan sesudah menjadi, kaulah si setan yang tak tahu apa-apa!"

Jawab Lie Cu Seng, sederhana saja.

"Aku sih orang She Lie, aku telah membinasakan orang berjumlah selaksa jiwa, mana sempat aku menanyakan mereka satu demi satu? Maka itu, kau menyerahlah.! Dan segera majuIah...!"

Suara itu menggelegar bagaikan guntur.

Kumandangnya terdengar jauh di sungai itu, Dan setelah itu tongkat sudah menyambar ke arah si orang she Lie!

Lie See Hoa tidak menangkis hanya berkelit sehingga ujung tongkat lewat.

Habis itu barulah ia membabat dengan pedangnya.

Lie Cung mengelit.

Tongkatnya cepat ditarik pulang untuk kemudian dibabatkan ke punggung lawan.

Ketika itu tampak si orang She Lie, Kaki kirinya ditaruh pada ujung perahu, dan kaki kanannya dibiarkan berada di permukaan air.

"Maju sedikit, mari kita lihat dengan lebih tegas!"

Katanya. Kemudian si tukang perahu itu menjalankah perahunya. Kata Ma Ciauw Hin.

"Sekarang ada orang yang menggerembengi dia, itu lebih baik bagi kita."

Terus ia berkata pada si tukang perahu itu.

"Lekas berikan aba-aba!"

"Baik,"

Kata si anak buah.

Kemudian anak buah itu mengambil lentera merah dan mengikatkannya pada tiang perahu itu.

Setelah melihat tanda rahasia itu, samar-samar Siau Po melihat beberapa orang ke luar dari perahunya masing-masing lalu turun ke air.

"Bagus! Bagus!"

Kata Siau Po kegirangan Siau Po tak pandai bermain silat, makanya bocah itu senang dengan cara keroyokan ia pun percaya, dengan jumlah yang lebih besar, tentu pihaknya akan lebih berhasil.

orang-orang Thian Tee Hwee itu pandai berenang dan juga menyelam.

Secara diam-diam mereka mendekati perahu lawan untuk memutuskan hubungan satu dengan yang lainnya.

Tiba-tiba Siau Po teringat bahwa dalam rombongan Lie Cu Seng terdapat seorang nona, maka cepat-cepat ia berkata pada Ma Ciauw Him.

"Ma Toako, dalam rumah kecil itu ada seorang nona, dialah calon istriku, Maka harus dijaga, jangan sampai ia mati kelelep."

"Jangan khawatir, Wie Hiocu!"

Sahutnya sambil tertawa.

"Saudaramu ini telah mengatur, di antara orang-orangku ini ada sepuluh orang yang kutugaskan secara istimewa untuk menolong si nonamu itu, mereka semua pandai berenang dalam air, dan sangat gesit bagaikan ikan, sekalipun ikan dapat mereka bekuk!"

"Bagus.... Bagus!"

Siau Po memuji saking senangnya, dalam hati ia berkata.

"Paling baik Kek Song yang mati tenggelam dalam air."

Tampak mereka bergerak perlahan-lahan menuju perahu itu, di atas perahu itu tampak sinar putih berkelebat ternyata pertempuran tengah berlangsung dengan serunya.

"Rupanya Lie Cu Seng belum mencapai latihan yang sempurna."

Kata Gouw Liok Kie sewaktu mereka menonton pertarungan itu.

"Dia hanya mengandalkan tenaga besarnya saja, Aku percaya dalam beberapa jurus lagi Lie Cu Seng akan dapat dikalahkan oleh Lie See Hoa."

Aku tidak percaya kalau seorang kosen yang ternama itu bakal mati kecewa di sungai Liukang ini."

Lanjutnya. Siau Po tidak mengatakan apa-apa, ia bukanlah ahli dalam ilmu silat ia hanya dapat mengetahuinya sewaktu Lie Cu Seng semakin terdesak dan terus saja mundur.

"The Kongcu, cepat minta Phang Suhu untuk membantu ayah!"

Suara itu berasal dari dalam rumah kecil itu. Siau Po mengetahuinya kalau itu suara A Ko, istrinya.

"Baik."

Jawab Kek Song, dan kemudian ia berkata lagi.

"Suhu, tolong bereskan anak yang berada di luar itu!"

Begitu suara Kek Song terhenti pintu kamar itu pun terpental .Tampak muncul Phang Sek Hoan, dengan pedang terhunus.

Ketika itu tubuh Lie Cu Seng sudah terdesak jauh dan kakinya sudah sampai pada tepi perahu itu, jika ia tetap saja mundur, maka tak ayal lagi tubuhnya akan kecebur ke dalam air.

Justru itu terdengar teriakan Phang Sek Hoan.

"Hay bocah, akan kutusuk jalan darah Leng tay-hiat yang ada di punggungmu!"

Dan benar saja pedang itu sudah mengarah pada punggung lawannya itu. Lie See Hoa hendak menangkis serangan itu untuk membela diri, tetapi dari arah wuwungan rumah itu terdengar teriakan.

"Hay bocah, aku akan menikam jalan darah Leng tay-hiat yang berada di punggungmu!"

Dan suara itu disusul dengan berkelebatnya satu bayangan putih, sebab sudah banyak orang yang turun menyerang jalan darah Phang Sek Hoan.

Munculnya orang-orang itu membuat kaget semua orang yang berada di situ.

Di luar dugaan, di atas rumah itu sudah banyak orang yang anehnya dari lawan dan bukan kawan sendiri Hal itu membuat orang She Phang menjadi bingung.

Phang Sek Hoan tak dapat menyerang Lie See Hoa, maka terpaksa ia harus memutar tubuhnya untuk menangkis serangan-serangan lawan yang datang secara tiba-tiba itu, dengan demikian senjata-senjata mereka saling beradu sehingga terdengar suara nyaring.

Ternyata para penyerang yang datang dari atap itu bersenjatakan sebilah golok.

Kedua-duanya sama-sama mundur, mereka merasa bahwa lawan mereka kali ini sangatlah tangguh.

"Siapakah kau?"

Tanya Phang. Orang yang ditanya itu tertawa.

"Aku kenal kau sebagai poan Kiam Yu Hiat Phang Sek Hoan."

Jawabnya dengan tenang.

"Apakah kau benar-benar tidak mengenali aku lagi?"

Sekarang Siau Po dapat melihat dengan jelas orang yang berada di atas wuwungan itu mengenakan baju dan juga kain dari bahan yang kasar.

Kepala mereka diikat dengan sabuk warna putih, pinggangnya terikat ikat pinggang warna hijau dan sepatunya sepatu rumput.

Dialah orang tani yang telah berhasil membebaskan dari totokannya, rupanya ia menjadi dendam pada Phang Sek Hoan sehingga kali ini ia datang.

"Tuan, dengan kepandaianmu ini, kau mungkin bukan sembarang orang. Maka itu aneh mengapa kau membawa dirimu dengan cara seperti ini. Kau seperti main sembunyi-sembunyian."

Kata Sek Hoan dengan terkejut.

"Sekalipun aku bukan orang yang ternama, tetapi aku masih mempunyai harga diri dan lebih menang daripada Poan Kiam Yu Hiat."

Katanya dengan tenang.

Sek Hoan menjadi gusar, maka ia langsung menyerang orang itu secara tiba-tiba.

Si orang tani itu menangkis serangan Sek Hoan dan kemudian dia pun balik menyerang dengan goloknya.

Nampaknya mereka ingin saling membunuh, tetapi golok telah sampai duluan daripada pedang, Melihat hal itu Phang Hoan kaget, sehingga ia tak sempat menangkis serangan itu tetapi ia sempat berkelit melompat ke samping.

Si orang tani yang melihat serangannya itu gagal, terus menyerang lagi dengan sangat cepatnya yang mengarah pada pinggang Sek Hoan.

Kali ini Sek Hoan sempat menangkis serangan lawan.

Si orang desa itu terus saja menyerangnya dan kali ini goloknya mengarah pada bahu lawan.

Sek Hoan berlaku tangkas, Sambil menahan serangan lawan, ia pun membalas serangan dengan tusukan-tusukan pedangnya yang sangat tajam.

Seperti semula, sewaktu Sek Hoan menyerang, si orang desa itu bukanya berkelit melainkan balas menyerang, Melihat kenyataan itu Sek Hoan kembali berkelit karena tangannya terancam golok.

Sungguh luar biasa pertarungan itu!

Si orang desa yang lugu dan nampaknya dungu itu, sangat lihay memainkan goloknya.

cepatnya sabetan golok bagaikan sambaran kilat maka itu Gouw Liok Kie dan kawan-kawannya menjadi heran, mereka menonton dengan penuh perhatian "Tahan!"

Teriak Sek Hoan, ia pun melompat mundur "Oh, kiranya tuan yang terhormat adalah Peng Seng...."

"Jangan banyak bicara!"

Kata si orang desa itu.

"Mari kita bertempur terus!"

Kemudian si orang desa itu melompat dan menyerang Iagi.

Dalam beberapa kali itu Sek Hoan tetap saja hanya berkelit Terdesak demikian Phang Sek Hoan balas menyerang, ternyata ia pandai juga dalam memainkan senjatanya, Dengan memusatkan perhatiannya, ia berhasil mengimbangi kegesitan lawannya, sehingga orang desa itu tak dapat berbuat seperti semula.

Sering senjata mereka beradu sehingga terdengarlah suara nyaring yang berasal dari senjata yang beradu itu, dan mereka masing-masing berkelit dari serangan lawan.

Di lain tempat terlihat Lie Cu Seng yang bertempur dengan Lie See Hoa, si orang She Lie terus saja bertahan, A Ko bersama The Kek Song, dengan senjata di tangannya siap membantu kawan-kawannya.

Setelah bertempur cukup lama Lie See Hoa menggunakan tipu silat.

"Go In Hoan"

Awan Timur Berbalik, suatu jurus turunan dari Yan ceng salah seorang pendekar dari gunung Liang San pada jaman kerajaan Song. Sambil melakukan tipu silat itu ia berkata.

"Hari ini kau tak akan hidup lebih lama!"

Katanya.

Mereka yang menyaksikan hal itu merasa heran, terutama A Ko dan Kek Song, Mereka menjadi heran hingga tak sempat memberikan bantuan.

Tiba-tiba saja terdengar bentakan dari Lie Cu Seng, yang matanya melotot dan suaranya mengguntur, membuat orang yang berada di situ menjadi ketulian, sedangkan Lie See Hoa menjadi kaget sehingga senjata yang berada di tangannya terlepas, justru itu Lie Cu Seng mengambil kesempatan itu, ia lalu menendang Lie See Hoa, membuat orang yang ditendang itu menjadi terjungkal balik, sedangkan tongkat Lie Cu Seng sudah siap untuk menyerang dada lawannya.

Dengan demikian pertarungan akan segera berhenti Lie See Hoa akan menemui ajalnya bila Lie Cu Seng mengayunkan tongkatnya.

"Asalkan engkau mengaku kalah aku akan mengampuni selembar nyawamu!"

Kata Lie Cu Seng.

"Cepat kau bunuh aku! Aku tak dapat membalas sakit hati ayahku, mana aku mempunyai muka denganmu? Lebih baik aku mati daripada hidup harus menanggung malu!"

Katanya. Lie Cu Seng tertawa.

"Apakah kau orang She Lie dari HoIam?"

Tanyanya.

"Ya."

Sahut See Hoa.

"Sayang di antara orang She Lie telah terlahir kau, orang yang picik dan tak lapang dada, sehingga kau menjadi manusia pengecut yang gagal membangun hal yang terbesar!"

Hati Lie Cu Seng bergetar, ketika See Hoa berkata demikian, maka ia pun bertanya.

"Lie Gam Lie Kongcu pernah apakah denganmu?"

"Dia ayahku!"

Jawab Lie See Hoa.

"Seumur hidupku, perbuatanku yang paling bersalah adalah mencelakai ayahmu."

Kata Lie Cu Seng.

"Kau mengatakan aku si pengecut yang tidak berhasil berusaha besar itu tidaklah salah! Kau sekarang hendak membalas sakit hati ayahmu itu pun sudah selayaknya dan pantas sekali, Seumurku, aku telah membinasakan berlaksa-laksa jiwa. semua itu tak dapat masuk dalam pikiran, akan tetapi sewaktu ia membunuh ayahmu aku sangat malu."

Bagian 59 Berkata demikian maka Lie Cu Seng mengambil tongkatnya dan membuang tongkat itu ke sungai, sehingga terdengar suara yang sangat berisik. Justru itu, mendadak dia muntah darah.

"Jikalau kau menyesal dan malu sendiri, itu terlebih baik daripada aku harus membunuhmu."

Kata Lie See Hoa, yang terus pergi menjauh dari tempat itu.

"Ayah!"

Teriak A Ko memanggil ayahnya yang sedang muntah darah, gadis itu mengulurkan tangannya untuk memapah ayahnya naik ke perahu.

Lie Cu Seng yang dipanggil itu tetap saja pergi tak menghiraukan panggilan putrinya dan kemudian menghilang.

A Ko sangat bingung, dia lalu menoleh ke belakang.

"The Kongcu,"

Katanya.

"Ayahku,., dia... dia,., telah,., per... pergi..."

Yang lalu ia menangis dan berlari ke arah anak muda itu membuang diri dalam rangkulannya.

Kek Song memeluk anak Lie Cu Seng dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya digunakan untuk mengusap-usap rambutnya.

"Ayahmu sudah pergi, biarlah!"

Katanya dengan lembut.

"Di sini ada aku yang akan menjaga dirimu."

Baru pemuda itu berkata demikian, ia kaget bukan main karena getek yang mereka tumpangi sudah bergerak satu dengan yang lainnya, belum sempat mereka berbuat sesuatu mereka berdua sudah tercebur ke kali.

Itulah hasil kerja orang-orang Kee Hou Tong yang ditugaskan untuk menyelusup merusak getek itu dengan cara memutuskan tali-tali yang dipakai untuk mengikat tali yang satu dengan tali yang lainnya.

Phang Sek Hoan pun kaget, lalu berlompat ke arah kayu yang besar.

Orang desa yang menjadi lawannya pun ikut dengannya dan langsung menyerangnya dengan membacokkan goloknya dan terpaksa ia harus meladeninya.

Kali ini kedua orang itu bertarung dalam posisi yang kurang baik.

sedangkan kumpulan getek itu pun sekarang sudah hancur berantakan terpisah antara satu dengan yang lainnya.

Perlahan-lahan sisa getek itu hanyut.

Tepat pada saat itu, Gouw Liok Kie teringat sesuatu, hingga ia berseru.

"Oh sekarang aku baru ingat saudara itu adalah Pek Seng To Ong Ouw It Cie! Dia... dia! Mengapa dia berubah demikian rupa? Cepat.... Cepat susul mereka!" "Out It Jie."

Ma Ciauw Hin mengulangi kata-kata itu. ia seperti baru ingat akan sesuatu.

"Bukankah ia yang bergelar Bie To Ong? Dia tersohor karena ketampanannya, si ganteng nomor satu dari rimba persilatan, mengapa sekarang ia menyamar sebagai pak tani tua?"

"Bie To Ong"

Itu berarti raja golok tampan sedangkan Pek See To Ong adalah raja golok yang selalu menang. Ma Ciauw Hin berpikir lain.

"Cepat kalian kirim bantuan yang lebih banyak untuk menolong nona A Ko!"

Katanya. Baru saja kata-katanya itu diucapkan, tiba-tiba dari dalam air muncul dua orang yang membawa tubuh A Ko yang basah kuyup dan salah satu di antara mereka berkata.

"Inilah yang wanita berhasil kami tangkap!"

Kata salah satu di antara mereka. Tak lama kemudian timbul lagi salah satu dari mereka dengan membawa tubuh seorang laki-laki seraya ia pun berkata.

"lni dia yang laki-laki...."

Dan dia menarik kuncir Kek Song, tetapi mendadak pemuda itu berontak, hingga yang tertinggal hanya kuncirnya saja yang ternyata kuncir palsu.

Melihat hal itu mereka semua tertawa, dan tiga orang dari mereka mengejar Kek Song yang berusaha kabur.

Melihat A Ko dapat ditolong, hati Siau Po merasa girang, sambil tertawa ia pun berkata.

"Cepat kalian lihat pertempuran itu!"

Gouw Liok Kie lalu mendesak orang untuk mendayung perahunya mendekat dengan perahu orang yang sedang bertempur.

Berbicara mengenai pengalaman dan kepandaian ilmu mereka berdua sama-sama tangguh, Hanya sekarang Sek Hoan merasa sesak pada dadanya, sebab sebelumnya ia telah bertempur dengan Hong Cie Cong dan Hian Ceng Tojin.

Mereka itu sangat lihay menggunakan ilmu tenaga dalam, sehingga sewaktu Sek Hoan bertempur yang cukup lama, rasa nyeri itu datang dan ditambah lagi dengan tempat mereka berpijak cukup sulit.

Di pihak lain, lawan telah menyerang dengan mati-matian.

Hanya saja cara menyerang Pek See To Ong lain dengan cara orang yang perang karena takut mati ia melakukan pertempuran dengan hati-hati dan sempurna.

Yang sangat menakutkan Phang Sek Hoan adalah perahu-perahu kecil yang cukup banyak serta mendekati mereka yang sedang bertempur.

Ditambah lagi dengan salah satu perahu yang ditumpangi si pengemis tua yang dia temui dalam rumah judi itu.

Bacokan demi bacokan dapat dihindari oleh Phang Sek, namun selanjutnya Pek Seng To Ong menggunakan taktik lain, sebab bacokan yang pertama tidak mengenai tubuh lawan, melainkan meleset dan membentur kayu yang diinjak lawannya, dengan demikian kayu itu bergulir dan lawan jatuh ke air.

Melihat hal yang demikian, Pek Seng To Ong tidak tinggal diam.

ia terus melakukan serangannya, malah kali ini ia melemparkan goloknya ke arah lawan, Lawan yang sudah tercebur itu cepat menangkis serangan Pek Seng To 0ng.

Kaki yang satu dipakai untuk menggerakkan kayu, sedangkan tangannya digunakan untuk menangkis serangan lawan.

Mengalami hal yang demikian Phang Sek Hoan merasa bingung, maka ia mengambil jalan pintas yaitu menyelam, Pek Seng To Ong yang melihat lawannya pandai menyelam dalam air dia menjadi ciut juga.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari Gouw Liok Kie.

"Nama Pek Seng To Ong bukan nama kosong belaka! Hari ini aku menyaksikan pertempurannya, sungguh mataku terbuka! Tuan silahkan kau naik ke perahu kami! Bagaimana jikalau kami mengundang tuan untuk minum arak?"

"Aku mengganggu saja!"

Sahut Pek Seng To Ong sambil menjejak sisa geteknya itu untuk mendekat pada perahu itu.

Dia datang tidak membuat perahu itu tenggelam barang sedikit pun bahkan menggoncangkannya pun tidak, hal itu disebabkan Ken Sin Sut atau ilmu peringat tubuh orang itu sudah mencapai tingkat sempurna.

Siau Po yang tidak mengetahui ilmu persilatan diam saja tidak merasa kagum, sedangkan Gouw Liok dan Ma Ciau Hin merasa sangat heran, Gouw Liok Kie lalu memberikan hormat.

"Aku yang rendah ini ingin memperkenalkan diri, namaku Gouw Liok Kie dan ini saudaraku Ma Ciauw Hin sedangkan yang satunya Siau Po. Kami semua dari Thian Tee Hwee!"

Ujarnya. Pek Seng To Ong mengacungkan jempol "Hebat saudara Gouw!"

Katanya memuji.

"Kalian berada dalam Thian Tee Hwee. Hal ini harus dipegang rahasianya, sebab satu kali saja rahasia itu bocor maka seluruh keluarga kalian akan mati semua, Hari ini kita baru saja bertemu, tetapi kalian sudah tak mau merahasiakan sesuatu apa pun padaku Sikap gagahmu itu membuatku sangat kagum."

Siau Po dan kawan-kawannya tertawa.

"Bukankah jika aku tak memberikan kepercayaan pada tuan aku akan menjadi manusia yang hina dina?"

Katanya.

"Selama beberapa tahun ini aku menyembunyikan diri dengan cara bercocok tanam sayuran,"

Katanya.

"Selama itu aku tak lagi mencampuri urusan di dunia sungai telaga, dan tak tahunya hari ini aku dapat berkenalan dengan kalian sebagai sahabat istimewaku."

Lalu keduanya bergandengan tangan sambil memasuki gubuk perahu itu.

Terhadap Siau Po dan Ma Ciauw, ia hanya mengangguk saja.

Rupanya terhadap mereka berdua ia tak menaruh simpatik.

Siau Po sangat bersyukur ada orang yang dapat mengalahkan guru Kek Song.

"Ouw Taihiap telah menghajar guru Kek Song hingga ia tercebur dalam sungai, dengan demikian segala ikan dan binatang laut akan menggigitinya, hingga hancur lebur!"

Ujarnya. Out It Cie tersenyum.

"Wie Hiocu, kepandaianmu dalam bermain dadu juga tak dapat dianggap enteng."

Ujarnya. Siau Po yang mendengar orang menyindirnya yang mengatakan bahwa ia hanya pandai main dadu sedangkan dalam ilmu silat tidak ada sama sekali maka itu ia pun berkata.

"Kami bekerja sama dan telah memenangkan tidak sedikit uang si kate, Andaikata Ouw Tayhiap menginginkannya, sekarang juga akan kuberikan."

"Wie Hiocu jika nanti kita bermain lagi, aku tak ingin jika kalian main dengan kawanan, sebab jika hal itu terjadi, aku tak akan menang."

Ujar It Jie sambil tersenyum.

Ma Ciau Hin memerintahkan orang-orangnya menyediakan arak untuk minum di situ, Baru saja meminum satu cawan, tiba-tiba sebuah perahu kecil menghampirinya dan memberikan Iaporan.

"Muda mudi yang berada dalam perahu getek itu sudah dapat ditolong dan sekarang mereka sudah diikat, tinggal menunggu keputusan dari Hiocu!"

Katanya. Mendengar laporan itu Ma Ciauw Hin tertawa.

"Terhadap nona itu kalian jangan berani kurang ajar. Si nona itu yang nantinya calon istrinya Hiocu! Begitu juga terhadap prianya."

Ia menoleh pada Siau Po sambil tertawa.

"Gaplok dahulu barang tiga kali baru setelah itu kalian gantung dan ingat jangan ganggu jiwanya!"

Siau Po balik menoleh.

"Ah, sungguh Ma Toako saudaraku yang mengetahui kebaikanku!"

Ujarnya sambit tertawa. Out It Jie menenggak araknya lalu berkata.

"Hari ini kita bertemu dan kita akan menjadi bagian sahabat lama, Jadi tentang diriku, aku tak dapat merahasiakannya. Akan tetapi berbicara mengenai itu, aku menjadi malu sendiri.... Selama dua puluh tahun lebih aku mengundurkan diri dari dunia persilatan aku terus menyendiri di luar kota Kun Beng, itu hanya untuk seorang wanita...."

"Dalam nyanyian Tan Wan Wan ada kata-kata yang mengatakan seorang gagah banyak menyinta, karena kau gagah dan perkasa juga maka tak heran kalau kau juga penyinta,"

Kata Siau Po. Mendengar perkataan Siau Po, Gouw Liok mengernyitkan alisnya.

"Ah, anak kecil kau tahu apa!"

Katanya dalam hati. Di luar dugaan, maka It Cie tampak berubah yang akhirnya ia berkata dengan sangat pelan.

"Seorang gagah perkasa banyak menyinta,.. itulah syair bagus dari Gouw Bwee Cun. Akan tetapi orang macam Gauw Sam Kui bukankah orang gagah? Dia pun tak banyak menyinta, ia hanya orang yang rakus paras elok."

Dia menghela napas berat "lstrinya yang mengenal usaha besar"

Kemudian ia menambahkan pada Siau Po.

"Wie Hiocu selama di kuil Sam Seng Am kau banyak mendengar lagu Tan Wan Wan. Sungguh telingamu besar rejekinya, Aku yang tinggal bersamanya selama dua puluh tiga tahun, mendengar lagu itu baru tiga baris, mengenai baris terakhir itu aku dapat bantuanmu...."

Siau Po heran hingga ia menatap. "Kau berdiam di sisinya selama dua puluh tiga tahun? Apakah kau menjadi kekasih Tan Wan Wan?"

Tanyanya. Orang itu tersenyum sedih.

"Sebenarnya ia memandang padaku pun tak pernah! Selama tinggal di wihara itu, kerjaku menanam sayur dan menyapu rumput atau mencari kayu dan mengambil air, dan kemungkinan ia menyangka kalau aku adalah seorang petani biasa."

Siau Po merasa heran maka ia pun bertanya.

"Ouw Tayhiap, ilmu silatmu demikian lihaynya, mengapa kau tidak mendapatkannya dengan cara memeluknya dan membawanya pergi?"

Mendengar pertanyaan itu, muka dan sorot mata It Cie menjadi menyeramkan, hingga Siau Po menjadi sangat takut sehingga cawan yang berada di tangannya menjadi jatuh, Sang kosen yang melihat hal itu hanya dapat tertunduk dan menghela napas saja.

"Pada suatu hari aku kebetulan bertemu dengan Tan Wan Wan. Kemudian aku menjadi penasaran dengannya, Setiap hari aku hanya melamun dan aku mengambil keputusan untuk turut dengannya kemana pun ia berada, Sewaktu ia berada dalam istana Peng See Ong, aku melamar menjadi tukang kebun dan tukang mencuci rambutnya, hingga ia pindah ke wihara itu aku pun ikut pindah dengan nya, dan di sana aku menjadi tukang masak dan tukang kebunnya. Tatkala itu tak ada maksud lain dariku kecuali ingin melihat wajahnya yang cantik dan manis itu saja. itu saja sudah membuat aku... aku... aku puas. Mana berani aku melakukan perbuatan yang tidak-tidak terhadapnya!"

Katanya.

"Jikalau demikian dalam hatimu kau sangat menyintainya, Selama dua puluh tahun lebih itu apakah ia mengetahui kau yang sebenarnya dan juga hatimu itu?"

Tanya Siau Po.

"Aku khawatir rahasia diriku itu akan terbongkar maka setiap hari aku jarang mengucapkan kata-kata, terutama di depan dia. Mulutku membungkam selama dua puluh tiga tahun itu bagaikan orang bisu. Paling juga aku hanya mengucapkan kata sebanyak empat puluh sembilan kata terhadapku katanya.

"Ouw Toako, orang-orang dengan sifatnya ada yang doyan judi ada yang doyan ilmu silat dan juga yang suka wanita.,., Tan Wan Wan adalah wanita tercantik di kolong jagat ini. itu sangatlah wajar Akan tetapi yang utama kau harus dapat mengendalikan nafsumu dan kau harus dapat menghormati kesuciannya. Saudara, aku ingin bicara denganmu dengan membesarkan keberanian, apakah kau mau mendengarkannya?"

"Silahkan saudara Gouw!"

Katanya.

"DahuIu Tan Wan Wan itu cantik, tiada lawan, akan tetapi sekarang ia sudah tua, pipinya keriput, Aku pikir..."

"Cukup saudara Gouw, setiap orang mempunyai pikiran masing-masing. Aku memang si orang tolol, Saudara, jika saja kau bukan sahabat.... Baiklah, sampai di sini dulu!"

Katanya dengan kesal.

Melihat kenyataan tamunya itu merasa tidak senang karena nada bicara tuan rumah itu sangat merendahkannya, maka ia pun menerangkan tentang kecantikan Tan Wan Wan pada mereka yang berada di situ.

"Jangan kalian heran dengan kecantikannya, Bila kalian telah melihatnya, maka kalian akan mabuk kepayang, jangankan baru jadi tukang sapu atau tukang kebun, hendak dibunuh juga kita masih senang asalkan kita dapat perhatian darinya."

Kata Siau Po untuk meyakinkan kawan-kawannya itu.

Setelah menceritakan tentang kecantikan Tan Wan Wan, Siau Po lalu menceritakan tentang dirinya yang telah jatuh hati dengan anaknya, A Ko hingga akan dicolok matanya pun ia rela.

Mendengar kisah cinta Siau Po dengan A Ko putri Tan Wan Wan yang sangat mirip dengan kisah cintanya itu, ia menjadi sangat kasihan pada Siau Po.

Ouw It Cie kemudian memberikan nasihat pada Siau Po.

"cinta itu tak dapat dipaksakan Jika seseorang sudah mencintai seseorang, maka ia tak mungkin akan jatuh cinta pada orang lain."

Ujarnya, Siau Po hanya mengangguk.

"Cepat saudara bicara!"

Katanya.

"Dia bagai tak menghiraukan aku. Dia menganggap aku tidak ada di dunia ini, tetapi itu adalah aku suka, aku lebih menyukainya jika ia sedang marah padaku!"

Ouw It Cie menarik napas.

"Seandainya ia membunuhmu, itupun baik. Jika ia benar telah membunuhmu, dalam hatinya pasti ia menyesal Bukankah itu lebih baik daripada dalam hatinya tak ada kau?"

Siau Po menganggukkan kepalanya berulang-ulang.

"Saudara Ouw, kata-katamu itu sangatlah jelas. DahuIu aku tidak sampai berpikir sejauh itu, namun satu kali aku sudah menyukai nona, aku harus menikah dengannya, aku tak sesabar kau! Andaikata benar A Ko menginginkan aku untuk menanam sayursayuran dan mengambil air asal aku dapat mengawininya, aku pun rela dan sanggup melakukannya. Namun Sie Kongcu, jika ia berada di sampingnya maka aku akan membuat golok putih masuk menjadi golok merah, artinya golok itu akan keluar dengan berlumuran darah."

Kata Siau Po.

"Dalam hal ini saudara kecil tidak tepat,"

Kata Ouw It Cie.

"Jikalau kau mencintai seorang wanita, kau harus membuatnya bahagia, Kau harus berbuat sesuatu untuknya, Umpamanya, jika ia ingin menikah dengan orang lain, maka kau harus berusaha mewujudkan cita-citanya. Dan jika ada orang yang akan mencelakai pasangan orang yang kau cinta itu kau harus membelanya demi kekasihmu. jika dalam hal itu kau kehilangan nyawamu itu adalah hal yang istimewa."

Siau Po menggelengkan kepala.

"Menurut aku itu bukan jalan keluarnya,"

Katanya.

"Untuk orang dagang itu namanya rugi, juga modalnya habis, Tidak, tak dapat aku melakukan hal itu, Ouw Toako, aku sangat mengagumimu, ingin aku mengangkat kau menjadi guruku, bukannya untuk belajar ilmu golokmu, melainkan ingin mencontoh kadar cintamu pada Tan Wan Wan. Dalam hal itu aku sangat ketinggalan jaman!"

Ujarnya. Ouw It Cie sangat girang mendengar kata-kata Siau Po.

"Untuk mengangkat guru itu tak usah yang penting asal kita sama-sama untung saja."

Katanya.

Kedua kawan Siau Po hanya menggelengkan kepala, Mereka orang Ouw sejati yang tak mau melihat wanita mana pun.

Buat mereka wanita cantik pun berada dalam rumah pelesiran, Asal ada uang, berapa pun kita kehendaki dapat kita lakukan.

Di mata mereka, Siau Po dan It Jie adalah orang-orang yang gagal dalam hal asmara, Siau Po dan It Jie merasa bahwa semakin lama mengobrol, semakin mengasyikkan, Bahkan mereka sangat menyesali mengapa hal itu baru terjadi di saat mereka sudah berpisah dari masing-masing kekasihnya, Siau Po yang jatuh cinta pada A Ko ingin menyingkirkan Kek Song dari sisi si nona, sebaliknya It Jie, ia sangat memikirkan halnya agar dapat melihat Tan Wan Wan sehingga ia rela berdiam selama bertahuntahun.

Dan kali ini ada orang yang mengaguminya sehingga ia menjadi hidup kembali.

Orang itu senang dengan kesabaran dan ketabahannya.

Ketika itu perahu mereka masih berlabuh di tengah sungai.

Tanpa perintah, si tukang perahu sudah berani menjalankan perahunya Teman Siau Po hanya mendengarkan pembicaraan itu.

Tatkala itu It Jie berkata pada Siau Po.

"Saudara kecil, kita baru saja bertemu, tetapi sudah seperti sahabat-sahabat lama saja, Dalam dunia ini, paling sukar kita mencari orang-orang yang mempunyai satu cita-cita. Sama dengan pepatah kata mendapat satu kawan baik mati pun tak menyesal. Aku orang She Ouw, dahulu aku mempunyai kenalan di seluruh dunia ini. Tapi tak ada satu orang pun yang satu pikiran denganku, sekarang kita berjodoh, dapat bertemu satu dengan yang Iainnya. Karena itu, bagaimana kalau kita mengangkat saudara?"

"Bagus,"

Kata Siau Po.

"Namun... ada sesuatu yang tidak sempurna...."

"Apakah itu?"

Tanya It Jie.

"Seandainya cita-cita kita sama-sama terwujud, yaitu kau berhasil menikah dengan Tan Wan Wan dan aku dengan A Ko, di situ akan timbul kesulitan karena saat itu kau akan menjadi ayah mertuaku Nah, mana dapat kita menjadi kakak beradik lagi?"

Kata Siau Po. Mendengar kata-kata itu kawan-kawan Siau Po tertawa, mereka beranggapan hal itu sangatlah lucu. Ouw It Jie nampak tidak puas.

"Ah, kau pun belum mengerti sepenuhnya rasa hatiku pada Tan Wan Wan."

Katanya.

"Selama hidupku, aku tak akan dapat menyentuh tangannya, tidak juga ujung bajunya, jikalau aku berdusta, meja ini yang akan menjadi saksi!"

Tiba-tiba Ouw It Jie mengulurkan tangan kirinya untuk menyambar ujung meja itu, dan secepatnya ia menggerakkan tangannya dengan tangan kanan.

Maka meja itu pun hancur menjadi potongan-potongan kecil.

It Jie membuka matanya lebar-Iebar lalu menatap orang Gouw, ia tak mengatakan sesuatu hanya berkata dalam hatinya.

"Apakah arti ilmu silatku ini? cintaku yang mempunyai arti sangat besar ternyata kau bukanlah orang yang bersatu dengan pikiranku...."

Siau Po tidak memuji kepandaian kawannya dalam memeras meja itu, Maka ia mengambil pisau belatinya dan menusukkannya pada meja yang tersisa itu, Dia meletakkannya di atas meja dan memotongnya berulang-ulang hingga menjadi beberapa potong.

"Jikalau Wie Siau Po gagal menjadikan A Ko sebagai istrinya, ia bagaikan ujung meja ini, yang kena bacok berulang-ulang, dan ia tak akan membalasnya."

Kawan-kawan Siau Po sangat kagum menyaksikan pisau yang begitu tajamnya. Namun mengenai sumpah itu, mereka menganggapnya lucu sehingga mereka tertawa.

"Ouw Toako, jika demikian seumur hidupku aku tak akan menjadi menantumu. Nah, mari kita mengangkat saudara."

Senang It Jie mendengarkan kata-kata itu, ia tertawa terbahak-bahak lalu menarik tangan Siau Po dan mengajaknya pergi menuju kepala peraju. Di situ mereka berlutut menghadap si putri malam.

"lt Jie hari ini mengangkat saudara dengan Wie Siau Po. Maka selanjutnya, jika ada kebahagiaan kita cicipi bersama dan jika ada kesukaran kita tanggung bersama, jikalau aku melanggar sumpahku ini, biar aku mati kelelep dalam sungai ini!"

Ujarnya. Siau Po pun mengangkat sumpahnya menyusul kakak angkatnya itu hanya pada akhir kata-katanya lain.

"Biarlab aku mati kelelep dalam sungai Liu Kang ini, sudah pasti aku tak bakal melakukan sesuatu terhadap Ouw Toako, Namun jika terjadi kekeliruan, aku toh tak datang ke propinsi Kwiesai, Aku tidak akan mati kelelep dalam sungai ini, kalau sungai lain itu tidak masuk dalam hitungan..!"

Selesai mengangkat sumpah, keduanya sama-sama tertawa, Kemudian sambil berpegangan tangan, mereka kembali ke dalam perahu, Nampaknya mereka semakin erat hubungannya.

Ciauw Hin dan Liok Kie memberikan kata selamat pada kakak beradik baru itu, kemudian mereka sama-sama tertawa.

"Sekarang mari kita pulang!"

Kata Siau Po. Ouw It Jie mengangguk.

"Baik, tetapi saudara Ma dan juga adik Wie, ada satu hal yang aku mohon dari kalian, Nona A Ko ini akan aku bawa ke Kun Beng!"

Siau Po terkejut, sedangkan Ciauw Hin tak merasakan apa-apa.

"Mau apakah Toako membawanya ke sana?"

Tanya Siau Po. Ouw It Jie menghela napas ketika ia menjawab.

"pertanyaan adik angkat itu..."

"Hari itu setelah Nona Tan dan anak perempuannya saling mengenali di biara Sam Seng Am, malamnya ia terus jatuh sakit."

Demikian katanya.

"la selalu memanggil nama anaknya, Dia pun berkata, A Ko mengapa kau tidak datang jenguk ibu? A Ko, kaulah mustika satu-satunya bagiku. A Ko kau membuat aku menderita memikirkanmu. Aku tak sanggup mendengar suara Nona Tan, akhirnya aku berangkat menyusul Nona A Ko. Di tengah jalan aku menasehati serta membujuk si nona untuk pulang supaya ia dapat menemani ibunya, tetapi ia menolak dengan keras, Aku tidak dapat memaksa, aku jadi kewalahan tetapi mengikutinya, Aku masih mengharap ia dapat berubah pola pikirannya, sekarang Nona A Ko kena tawan. seandainya Ma Hiocu sudi menjadikan ia merdeka agar dia pulang ke Kun Beng untuk menengok ibunya, aku rasa ia akan sudi menurut."

"Di dalam hal ini aku tidak mempunyai pikiran apa-apa."

Sahut Ma Ciauw Hin.

"Aku sendiri terserah pada pikiran Wie Hiocu sendiri."

Mendengar demikian It Jie berkata pada Siau Po.

"Adikku, jikalau ingin menikah dengan dia, waktu masih sangat panjang. jikalau seandainya Nona Tan sakit terus sampai ia tak dapat bangun pula, sampai dia tak dapat bertemu lagi dengan anak perempuannya.

"0h... itulah sangat hebat, itu pasti akan membuatnya menyesal seumur hidup...."

Liok Kie heran, hingga ia menggelengkan kepala berulang-ulang.

"Ah... orang ini.,."

Katanya di dalam hati "Rupanya telah musnah semangat kegagahannya.

Kenapa sekarang ia bicara seperti wanita?

Kenapa dia runtuh disebabkan oleh selir Gauw Sam Kui?

Apakah ini sifat laki-laki sejati?

Lagi pula Tan Wan Wan adalah salah satu biang bencana yang membikin musnah kerajaan Beng yang kita cintai.

Kalau lain waktu aku dapat memimpin angkatan perang serdadu ke Kun Beng untuk menyerang, sudah tentu yang lebih dahulu aku bunuh mati adalah dianya!"

Siau Po sementara itu bangkit berdiri "Toako, kalau Toako hendak membawa dia ke Kun Beng, boleh saja."

Katanya.

"Namun bertabiat aneh, Buat bicara terus terang, dia sebenarnya sudah menjadi sah sebagai istriku sebab kami sudah menghormati orang tuanya, Namun dia tak sudi menikah denganku, malah justru mau menikah dengan The Kongcu, Maka itu, asal dia mau berjanji akan tetap menjadi istriku, dapatlah aku memerdekakan dia supaya dia mau pulang ke Kun Beng...."

Mendengar kata-kata itu Hiocu, Gouw Liok Kie menjadi gusar hingga tanpa sadar ia menggeprak meja, sampai poci arak dan cangkir terpental terbalik.

"Ouw Toako, adik Wie, kalau benar nona kecil ini tidak mau pergi ke Kun Beng menjenguk ibunya yang lagi sakit, dia benar-benar sangat tidak berbakti Dia pula sudah sah menjadi istri Wie, kenapa dia justru mencintai The Kongcu? Kalau demikian dia bukan wanita yang baik, Untuk apa membiarkan hidup pada istri yang tak setia itu? Nyatanya dia cantik tapi buruk hatinya, Mari biar kupatah batang lehernya agar ia tak usah menyebabkan dongkol!"

Begitu habis berkata keras itu orang She Liok ini lantas memerintahkan tukang perahu.

"Lekas maju!"

Ujarnya dengan suara keras.

Ouw It Jie, Ma Ciauw Hin dan terutama Wie Siau Po terkejut menyaksikan orang she Gouw, yang suaranya demikian keras itu.

Tukang perahu menuruti perintah lalu perlahan-lahan mengarahkan perahunya ke tepi.

"Mana seorang laki-Iaki dan seorang perempuan itu?"

Tanya Liok Kie dengan suara keras.

"Mereka di sini, masih terbelenggu."

Jawab salah seorang dalam perahu kecil. Liok Kie memberi tanda dengan gerakan tangannya, maka tukang perahu itu segera mengarahkan perahunya yang berada di sebelah timur mereka.

"Saudara Wie.

"Kemudian Liok Kie berkata pada Siau Po dengan sungguh sungguh.

"Kautah saudara kami dalam satu partai Kita bagaikan saudara kandung, Maka aku sebagai kakakmu, tak sudi melihat kau tersesat karena paras elok, hingga kau bisa mengantarkan secara cuma-cuma nama dan nyawamu, Saudara hari ini aku hendak memberikan keputusan untukmu."

Siau Po terkejut.

"Dalam hal ini kita harus damai dulu dengan sabar,"

Katanya.

"Apa yang hendak didamaikan?"

Tanya Liok Kie.

"Ma Toako, tolong kau jelaskan pada Gouw Toako.,."

Ujar Siau Po kepada Ma Ciauw Hin.

"Wanita sangat banyak yang cantik di kolong langit ini. Kau serahkan urusan ini pada kakakmu, aku jamin kau akan mendapatkan istri yang bakal memuaskan hatimu. Kenapa mesti memberati wanita semacam itu?"

Kata Gouw Liok Kie. Sepasang alis Siau Po berkerut, dia berduka sekali "Ah... ini..."

Katanya.

Mendadak sesosok tubuh tampak mencelat ke perahu yang sedang datang itu.

Ternyata dialah 0uw It Jie.

It Jie masuk ke dalam perahu, terus keluar lagi dari bagian belakang.

Tampak ia memondong seseorang dan terus membawanya pergi dengan cepat menuju tepian, Dia menghilang di kejauhan beberapa tombak.

Namun dari kejauhan masih terdengar suaranya.

"Gouw Toako! Ma Toako! Adik Wie! Maafkan aku, aku menyesal sekali! Di belakang hari saja aku akan memohon ampun, buat apa hukuman kalian?"

Ujar Ouw It Jie.

Liok Kie kaget dan gusar, ia hendak menyusul tapi kemudian ia mengurungkan niatnya itu.

Orang sudah pergi jauh, sukar untuk menahannya, Sesaat kemudian ia pun tertawa bergelak gelak.

Bahkan Siau Po pun hilang kagetnya, dia turut tertawa seraya bertepuk tangan.

Dia menerka, Ouw It Jie membawa kabur A Ko tentu akan membawa nona itu ke Tan Wan Wan, ibunya.

Segera juga perahu menempel dengan perahu yang lain, perahu di depannya yaitu perahu yang ditumpangi Kek Song tergusur ke luar.

"Orang celaka!"

Siau Po mendamprat "Kau sudah membunuh saudara-saudaraku separtai dan juga hendak mencelakai guruku! Kau kejam! Juga sudah mengetahui A Ko menjadi tunanganku, mengapa kau berani mendekatinya?"

Sambil berkata demikian, Siau Po mengayunkan kedua tangannya mengarah ke pipi Kek Song.

Ayunan kedua tangan si bocah itu tepat mengenai sasarannya, sehingga terdengarlah empat kali suara gaplokan pada pipi dan telinga si putra raja.

Selain habis terlelapkan, Kek Song pun bekas dihajar orang-orang Thian Tee Hwee, sekarang dia dihajar oleh Siau Po, maka dapat kita bayangkan betapa hebat penderitannya.

ia kesal sekali melihat wajah muram Siau Po.

"Wie.... Wie Taijin..."

Ujar Kek Song memohon.

"Dengan memandang muka ayahku, aku mohon sudilah kau mengampuni selembar nyawaku. Sejak sekarang dan selanjutnya aku tak akan berani bicara dengan Nona A Ko sekalipun sepatah kata saja...."

"Bagaimana kalau dia yang bicara denganmu?"

Tanya Siau Po. Dia masih sengit sengaja dia menanya demikian.

"Aku tidak akan menjawabnya."

Sahut Kek Song dengan janjinya.

"JikaIau... jikalau sebaIiknya...."

Tak tahu anak muda bangsawan itu mengatakan apa.

"Bicaramu bagaikan angin busuk!"

Kata Siau Po keras.

"Lebih dahulu lidahmu yang dibuntungkan, agar kau tak mampu berbicara dengan A Ko."

Lanjutnya. Benar-benar kacung kita menghunus pisau belatinya yang tajam.

"Ulur ke luar lidahrnu!"

Perintahnya bengis. Kek Song kaget dan takut sekali "Aku pasti tak akan bicara dengannya."

Katanya cepat dan bingung.

"Jikalau aku bicara dengannya, akulah si manusia hina dina...!"

Rupanya Siau Po cuma menggertak ia pun khawatir akan ditegur gurunya, Namun ia ingin mengajar adat, maka sebagai gantinya lidah, ia menebas telinganya hingga ia kesakitan dan kelabakan.

"Jikalau lain kali kau berani lagi kurang ajar terhadap guruku, serta mencelakai saudara-saudara seperguruanku, terutama kau berani main gila dengan A Ko."

Kata Siau Po dengan bengis.

"Maka akan kau saksikan bagaimana pisauku ini menembus badanmu!"

Selesai berkata, Siau Po lalu melemparkan pisaunya pada kepala perahu itu, maka di sanalah pisau itu menancap.

"Tidak.... Aku tidak berani... lagi!"

Kata Kek Song yang sedang ketakutan itu. Kemudian Siau Po berpaling pada Ma Ciauw Hin.

"Ma Toako!"

Katanya.

"Dia adalah orang tahanan ke Hou Tong, karenanya silahkan Ma Toako yang menghukumnya!"

Hiocu She Ma itu menggelengkan kepalanya.

"Kek Song Ya dari Taiwan demikian gagah perkasa, maka aneh sekali kenapakah kau dilahirkan sebagai anak cucunya yang tidak berguna ini!"

Katanya sangat menyesal.

"Dialah anak haram dan bukan daging-daging Kok Song dari Taiwan itu."

Kata Siau Po.

The Seng Kong adalah gelar dari Kek Song Ya.

Dia adalah seorang pendekar dari Taiwan juga pendekar kebangsaan, Namun di mata Bangsa Belanda, dia seenaknya saja dinamakan "Perampok Cokinga" , Nama itu diambil dari gelar Kok Seng Ya, yang dalam bahasa Naskmat Tionghoa berbunyi.

"KouSingYehZ"

Panas hati Kek Song, mendengar pembicaraan kedua orang itu, tetapi ia tak dapat melakukan apa-apa. Terpaksa ia hanya menggertakkan giginya lalu menggigit bibirnya untuk menahan amarahnya.

"Jikalau dia dapat pulang ke tempat asalnya di Taiwan, pasti dia akan mendatangkan bahaya yang besar bagi Congtocu."

Kata Gouw Liok Kie.

"Maka itu menurut aku lebih baik dia itu dipotong menjadi dua bagian, supaya kelak di belakang hari tidak ada ancaman bagi kita!"

Katanya pula.

"Ja... Ja.... jangan!"

Teriak Kek Song yang kaget tak terkirakan karena tubuhnya akan dipotong menjadi dua bagian.

"Tidak.... Tidak.... Tidak akan aku melakukan itu! jikalau aku nanti dapat pulang, aku akan meminta pada ayahku untuk menghadiahkan pangkat yang tinggi pada Eng Hou Tan Sianseng ya pangkat yang besar dan tinggi."

"Hm!"

Ma Ciauw Hin memperdengarkan suaranya yang dingin.

"Apakah Congtocu kami tertarik dengan janji-janjimu itu?"

Kemudian dengan setengah berbisik ia berkata pada Gauw Liok Kie.

"Dialah putra dari raja muda She The dari Taiwan. Aku khawatir jika kita membinasakannya, nanti Congtoai dapat disebut tidak setia pada negara atau tidak setia dan tidak bijaksana terhadap negara..."

Katanya pula.

Thian Tee Hwee dibangun oleh Tan Eng Hoa.

Karenanya tltah Kek Song, benar Tan Eng Hoa menjadi ketua, Akan tetapi dia tetap berpangkat yang masuk bawahan Yan Peng Kue, raja muda dari Taiwan.

Maka itu, kalau ada orang Thian Tee Hwee yang membinasakan The Kek Song, meskipun itu Tan Eng Hoa tidak hadir bersamanya dia tidak lolos dari tanggung jawab, melainkan tetap tersangkut paut.

Mendengar demikian, Gouw Liok Kie menganggap kata-kata orang itu benar maka ia lalu mengulurkan tangannya, dan memutuskan belenggu pada tangan orang itu seraya berkata dengan sangat nyaring.

"Nah, pergilah kau menggelinding!"

Bersamaan dengan itu, ia lalu menggerakkan tangannya untuk melemparkan orang itu dari atas perahu.

Kek Song sangat kaget dan takut sekali, tubuhnya bagaikan melayang menuju ke tepian, ia pun berkoak-koak karena percaya, setelah sampai ke darat ia akan mati, Akan tetapi setelah sampai ke tepian, tubuhnya itu tak mengalami apa-apa, sebab ia terjatuh pada tempat yang empuk dan licin.

Kecuali rasa nyeri dia pun tak mengalami luka sama sekali.

Karenanya ia lalu berlari.

Gouw Liok Kie dan Siau Po tertawa sedangkan Ma Ciauw Hin berkata.

"Manusia ini sungguh telah menjatuhkan nama besar Kok Seng Ya...!"

Setelah itu Liok Kie bertanya.

"Dengan cara apa dia dapat membinasakan kita dan mencelakai Congtocu?"

"Panjang keterangan untuk itu."

Berkata Siau Po.

"Baik aku akan menjelaskan, tetapi nanti setelah kita mendarat dan mendapatkan tempat yang aman."

Selesai berkata, Siau Po menengadahkan kepalanya ke langit.

"Awan hitam berkumpul di sana."

Kata Siau Po sambil tangannya menunjuk ke langit "Mungkin akan turun hujan besar, mari kita mendarat!"

Mendengar kata-kata Siau Po, mereka kemudian mengangguk dan mengarahkan perahunya ke darat.

"Hebat angin ini!"

Katanya.

"Mungkin akan turun hujan besar dan sebaiknya kita ke tengah perahu ini. Di sana kita minum arak selagi angin besar dan hujan besar pula, pasti kita akan bergembira."

Siau Po terkejut mendengar ucapan itu.

"Perahu kita ini perahu kecil mana dapat menantang hujan yang besar? Bukankah itu akan mendatangkan celaka jika perahu kita nanti karam?"

Kata Siau Po. Ma Ciauw Hin tertawa, ia lalu mewakilkan yang lainnya untuk menjawab pertanyaan Siau Po.

"Hal ini tak usah dikhawatirkan"

Kata seseorang yang mewakili Ma Ciauw Hin.

Si tukang perahu itu memberikan jawaban, setelah itu ia mengarahkan perahunya ke tengah laut dan memasang layar.

Ketika angin bertiup kencang, perahu itu pun melaju dengan cepatnya menerjang gelombang yang kecil sampai pada gelombang yang besar.

Siau Po sangat menyesal karena mendapatkan julukan yang ia rasakan tidak enak didengar, yaitu "Siau Pek Liong"

Atau si naga putih kecil sedangkan ia tidak pandai berenang. Dia sangat takut hingga mukanya menjadi sangat pucat pasi. sungguh tak sesuai gelar "Naga"

Itu! Liok Kie tertawa melihat kekhwatiran Siau Po.

"Wie Hiocu,"

Katanya.

"Aku juga tak pandai berenang."

"Apa?"

Tanya Siau Po heran, matanya dibuka lebar-lebat "Kau pun tak dapat berenang?"

Orang yang ditanya itu menggelengkan kepala.

"Memang aku tak dapat berenang,"

Katanya secara terus terang.

"Biasanya kalau aku melihat air, kepalaku langsung terasa pusing."

"Ha? Lalu mengapa kau justru menghendaki perahu ini dibawa ke tengah laut?"

Tanya Ma Ciauw Hin. Liok Kie tertawa pula.

"Bagiku, segala kejadian di dunia ini, makin itu menakutkan maka aku semakin senang. Kalau toh perahu kita ini akan karam, paling juga kita semua akan menjadi setan-setan air. itu toh tak aneh bukan? Bukankah Ma Toako berjuluk See Hay Sin Kauw, atau si Ular Naga Sakti dari laut barat serta ilmu renangnya yang luar biasa itu? Ma Toako, mari kita bicara lebih dahuIu, sebenarnya kalau kapal layar kita dan perahu kita terbalik, paling dahulu kau tolongi saudara Wie, setelah itu baru kau menolongku."

Ma Ciauw Hin tertawa, dia menganggap kawan-kawannya ini sangat jenaka dan lucu.

"Baik,"

Katanya.

"Dalam hal ini aku berjanji!"

Mendengar keterangan kawannya itu hati Siau Po menjadi senang.

Memang benar, angin itu menghembus dengan sangat kecang sehingga ombak menjadi sangat deras, sampai suatu waktu perahu itu mendadak seperti terbang, dan turun bagaikan terbanting sehingga seperti berada di bawah air saja.

Seperti telah direncanakan setelah angin itu bertiup dengan kencang, tak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya.

Ketika itu Tenglong pun tersiram air hingga apinya padam.

"Celaka.... Celaka...!"

Kata Siau Po yang sedang ketakutan itu sambil berteriak-teriak.

"Jangan takut saudara Wie!"

Kata Ma Ciauw Hin menghibur hati Siau Po yang bernyali besar tetapi sekarang menjadi penakut itu.

"Biar aku nanti yang akan memegang kemudil"

Ketua She Ma itu kemudian pergi ke belakang, lalu memberikan perintah pada anak buahnya.

Anak buah kapal itu lalu pergi ke tiang layar, tapi tubuh mereka terhuyung-huyung karena tertiup angin yang keras itu.

Karena ia ingin melindungi diri makanya perahu itu menjadi miring.

"Aduh!"

Terdengar teriakan Siau Po.

"Dasar si pengemis tua! Karena ia ingin minum arak di tengah laut maka aku jadi sengsara begini, di tengah laut dan hujan serta angin yang sangat kencang! Bahkan ia sendiri tak dapat berenang! Mengapa ia memilih perahu kecil ini untuk tempat minum di tengah laut? Apakah ia bersenda gurau dalam hal ini?"

Gumamnya.

Ketika itu air hujan telah membasahi tubuhnya sehingga bajunya basah kuyup.

Kembali tubuh perahu itu miring dengan tiba-tiba, kali ini disebabkan kain bendera itu terlepas dan jatuh, Karena itu Siau Po pun terjatuh karena terkena meja.

"Aduh!"

Teriaknya dalam hati, sehingga ia berpikir "Aku toh tak bersalah padanya mengapa kali ini ia seakan ingin membuat aku mati tenggelam dalam air?

Oh, ya benar!

Tadi sumpahku itu bukanlah sumpah lurus, aku seperti ada maksud yang tidak baik saja!

Ya, aku telah mempunyai kata Siau Po dalam hatinya.

Mengingat hal yang demikian ia lalu memuji pada yang Maha Kuasa, sepuluh raja yang dan para Buddista, dan berjanji akan hidup senang dan sengsara bersama dengan She 0uwnya....

Ketika hujan dan angin turun itu, tiba-tiba terdengar suara Gouw Liok Kie bernyanyi dengan membuka lebar-lebar kerongkongannya.

"Berjalan di tepi sungai, kepada siapa penasaran akan ditumpahkan selagi air maya bercucuran dikota yang terpencil sendiri siapakah yang diharap-harap akan datang? Sampai habis tentara di medan laga berdarah, lolos dari kurungan kota.... Ya, bersedih untuk negara. Siapa tahu habis bernyanyi kosongkan segala apa-apa...."

Suara nyanyian itu sangat keras hingga hujan dan angin yang bertiup dengan kencang pun tak dapat mengalankannya.

"Bagus.... Bagus.,.!"

Kata Ciauw Hin di belakangnya dengan penuh rasa kagum dan gembira.

Siau Po pun tertarik hatinya, hanya ia tak mengerti arti dari nyanyian itu, dan keadaan di sekitarnya pun tak memungkinkannya, Maka ia pun berkata dalam hatinya.

"Kau mempunyai suara yang baik, mengapa kau tak naik ke panggung dan hanya bernyanyi di sini? Dengan menjadi anak wayang kau pasti tidak akan mati kelaparan asalkan kau berani membuka suara, Oh, tuan-tuan dan nyonya-nyonya tolong kau berikan aku nasi dingin!"

Sementara Siau Po berpikir demikian, tiba-tiba terdengar suara dari semak-semak, namun suara itu sangatlah jelas dan terang sekali.

"Semenjak ribuan tahun kerajaan selatan menjadi sebutan.... Hatinya terluka, air mata berdarah menyiram laut dan sungai serta gunung!"

Juga suara itu tak terhalang hujan dan angin yang berisik itu.

itu menandakan bahwa orang yang memperdengarkan suaranya itu sangat mahir dalam menggunakan ilmu tenaga dalam.

Siau Po melangkah untuk mendengarkan kata-kata itu dengan lebih jelas lagi, dan ternyata ia mendengar sapa Ma Ciauw Him "Apakah Congtocu di sana?

Ma Ciauw Hin di sini." "Benar ini aku!"

Jawab orang di sana.

"Apakah Siau Po ada bersamamu?"

Tanya orang di sana. Mendengar suara itu Siau Po menjadi sangat girang karena ia sangat mengenal suara itu. itulah suara Tan Kin Lam, ketua pusat Thian Tee Hwee.

"Oh, Suhu.,.!"

Katanya.

"Suhu aku di sini.!"

Tetapi suara Siau Po tidak disertai tenaga dalam, dan ditambah lagi dengan suara hujan deras dan angin kencang, maka tak terdengar dari sana. Ma Ciauw Hin pun segera menjawab.

"Congtocu, Wie Hiocu berada di sini! Di sini juga terdapat Gouw Hiocu dari Hongcu Tong bagian bendera merah!"

Bendera merah itu adalah Ang Kie. Jadi itulah Ang kie Hong Sun Tong.

"Bagus."

Terdengar suara Tan Kin Lam nyaring "Pantas suaranya bagaikan sampai ke langit. Suara itu mengatakan, bahwa pembicaraan girang sekali Gauw Liok Kie juga segera mengatakan.

"Sebawahan Gauw Liok Kie menghadap Kongtocu!"

"Diantara saudara sendiri janganlah kalian sungkan-sungkan!"

Kata Kin Lam.

Suara itu semakin dekat Ternyata Kim Lan mendekati perahu itu, dengan menggunakan perahu juga.

Hujan dan angin belum juga reda, Siau Po menongol ingin melihat dari mana asalnya suara itu.

Tidak berapa lama, sinar api itu pun mendekat bahkan kemudian Tan Kin Lam sudah berhasil melompat naik ke atas perahu itu.

"Suhu datang aku ketolongan."

Kata Siau Po dalam hatinya, ia segera menyambut dan memberikan hormat pada sang guru. Tan Kin Lam langsung memegang tangan Siau Po.

"Hujan dan angin sangat besar sekali apakah kau tidak takut?"

Tanya Kin Lam.

"Syukur tidak,"

Sahut Siau Po. Ciauw Hin dan Liok Kie mendekati Kin Lam kemudian memberikan hormat.

"Baru tadi aku tiba di kota. Kabarnya kalian pergi ke sungai, maka aku menyusul ke mari, Di luar dugaan, hujan dan angin telah turun, jika aku tak mendengar suara kau bernyanyi maka tak mungkin aku dapat menyusul ke mari untuk bertemu dengan kalian."

Kata Kin Lam.

"Sebawahan malu dengan Congtocu,"

Kata Liok Kie.

"Sebawahan bernyanyi karena sebawahan sedang mendapatkan kesenangan."

"Sudahlah! Kita semua memanggil saudara saja, dan bukankah tadi Gouw Toako menyanyikan lagu Toh Hoa San?"

Tanya Kin Lam.

"Benar, itulah sebuah lagu yang mengutarakan tentang kegagahannya Su Kek Pou, yang berkorban untuk negara dan bangsa, Lagu ini adalah lagu yang paling aku sukai dan aku pun menyanyikannya,"

Kata Liok Kie.

"Kau justru dapat menyanyikannya dengan sangat bagus."

Puji Kin Lam. Tetapi Siau Po berkata dalam hati.

"Lagu bagus apa! itu justru lagu apes karena aku mau tenggelam dalam sungai, pergilah kau, aku tak akan menemanimu!"

Siau Po berkata demikian karena ia merasa tidak puas terhadap lagu yang sedih itu, Lagu pengorbanan Su Kek Pou, yang mati di dalam air.

Ketika itu, angin mulai reda, tinggal hujan yang masih besar.

Kemudian Tan Kin Lam berkata pula.

"Baru-baru ini dalam perahu di Kee Hin, Kanlam, aku telah mendengar pembicaraan tuan-tuan Ut Cung Gie, Liu Lian dan Ca La Hong bertiga, para sastrawan itu membicarkan tentang usaha Gouw Toako, Usaha itu sangat mengagumkan. Kita adalah anggota partai, tetapi sayang aku sedang repot jadi aku tak sempat pergi ke sana untuk menemuimu. Toako sendiri juga sangat sibuk tak ada waktu untuk datang ke utara, Maka itu, diluar dugaan di sini kita dapat bertemu satu dengan yang lainnya, Sungguh aku sangat puas!"

"Demikian juga dengan adikmu,"

Kata Liok Kie.

"Sejak aku masuk dalam partai, memikirkan toako, sekarang ini dalam dunia Kangouw terdapat kata-kata "

Seumur hidup tak pernah melihat Kin Lam, percuma saja ia menyebut dirinya itu orang gagah dan hari ini aku dapatkan si gagah perkasa!"

Yang dimaksudkan orang gagah ialah "Eng Hiong"

Seorang yang gagah dan pandai mencintai negara, pendekar kebangsaan. "Aku sangat berterima kasih atas kebaikan Kang Ong yang sangat menghargai aku."

Kata Kin Lam.

"Sebenarnya penghargaan orang-orang itu membuatku menjadi sangat malu."

Gouw Liok Kie sangat menyukai kepribadian ketuanya itu, maka tak terasa ia semakin asyik saja berbicara dengan sang pemimpin, sampai mereka melupakan angin dan hujan yang tadi sangat besar itu.

Di saat hujan mulai reda, Tan Kin Lam barulah menanyakan tentang Gouw Sam Kui.

Maka Siau Po memberitahukan pada gurunya tentang hal itu dan bahaya yang mengancamnya.

Dapat dimengerti sang murid pandai menuturkan hal itu yang diantara kawan-kawannya tak ada yang mengetahuinya.

Tan Kin Lam girang mendengar berita tentang ditawannya si orang Mongol itu, Namun ia merapatkan alisnya ketika mendengar tentang Gauw Sam Kui yang bersekongkol dengan negara Losat dan negara-negara lainnya yang ada di Asia bagian utara untuk menyambut pemberontakan orang-orang She Gouw.

Supaya dapat merampas Kwan Gwa.

"Suhu."

Kata Siau Po kemudian "Bangsa Losat itu berambut merah dan bermata biru, tetapi mereka tak usah ditakuti dan kita tak usah mengawasinya lama-lama.

Namun yang sangat berbahaya itu senjata api mereka, Sebab jika itu sudah digunakan, orang tangguh sekalipun tak akan sanggup menahannya."

"Aku justru sedang memikirkan tentang senjata api itu."

Kata Tan Kin Lam.

"Gauw Sam Kui telah bentrok dengan bangsa Tangcu, Jika keduanya runtuh itu sangat menyenangkan bagi kita, karena tanah orang Han dapat diambil pulang, Akan tetapi menurut laporanmu itu, itulah yang dinamakan di pintu depan mengusir harimau, di pintu belakang datang srigala, Kita telah dapat mengusir Bangsa Tatcu tapi datang bangsa Losat, yang lebih berbahaya dari bangsa Tatcu itu. Bagaimana jika mereka dapat merampas bangsa kita yang indah ini?"

"Apakah sudah tidak ada daya untuk melawan senjata orang Losat itu?"

Tanya Liok Kie.

"Jalan masih ada, saudara-saudara tentunya belum mengenal dengan yang satu ini.."

Kata Kin Lam. Setelah berkata demikian Kin Lam memanggil orang yang dimaksud itu.

"Hin Cu, cepat kau ke mari!"

"Baik."

Jawab orang yang dipanggil itu, Tak lama kemudian datanglah seseorang yang langsung lompat ke perahu itu dan di depan Kin Lam ia memberikan hormat sambil tertunduk-tunduk.

Ciauw Him bertiga mengenali orang yang baru saja datang itu, ia berusia kira-kira empat puluh tahun, tubuhnya kecil dan kurus, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia orang yang sangat cerdik.

"Mari kuperkenalkan kau dengan Gouw Toako dan Ma Toako ini! Dan yang ini adalah muridku seorang Sie Wie."

Kata Kin Lam. Orang itu merangkapkan dua tangannya untuk selanjutnya ia memberikan hormat. Liok Kie bertiga bangkit dan membalas hormat orang itu.

"Inilah saudara Lim Hin Cu,"

Kata Kin Lam memperkenalkan orang itu.

"Selama di Taiwan saudara Lim banyak membantu aku. Dahulu ketika Kok Seng Ya melabrak bangsa Ang Mo dan merampas Taiwan, saudara Lim ini yang banyak jasanya."

"Saudara Lim pernah menggempur bangsa Ang Mo itu sangat bagus,"

Kata Siau Po yang sangat girang mendengar kabar itu.

"Bangsa Losat memiliki senjata, demikian juga bangsa Ang Mo. Dengan demikian saudara Lim telah mempunyai cara untuk melawan bangsa Losat itu."

Liok Kie dan Ciauw Hin merasa sangat girang juga mendengar kabar itu, sampaisampai mereka bertepuk tangan. Mereka mempunyai perasaan yang sama dengan Siau Po.

"Saudara Wie sungguh cerdas!"

Puji mereka.

Sebab Siau Po segera mengingat tentang orang she Lim yang mengetahui masalah atau hal ikhwalnya senjata api.

Mulanya Liok Kie kurang menghargai Siau Po yang dianggapnya hanya seorang kacung, kalau mulanya dia bersikap ramah, hal itu karena mengingat bocah itu merupakan murid Tan Kin Lam, ketua mereka.

Namun sekarang, pandangannya terhadap bocah itu langsung berubah.

Dia berpikir dalam hati.

"Bocah ini dapat berpikir dengan cepat sekali Kiranya dia benar-benar mempunyai kepintaran! Tan Kin Lam tertawa.

"Ketika dahulu Kok Seng Ya menyerang Taiwan,"

Katanya.

"Aku turut bersama pasukan perangnya. Memang lihay pasukan bangsa Ang Mo itu dan sangat sulit untuk dilawan, Sewaktu melakukan perlawanan, kami membuat tumpukan tanah untuk melindungi diri. Kami mengurung bangsa Ang Mo agar tetap berada di dalam kota. sedangkan pihak kami yang lain memutuskan sumber air yang menuju kota itu. Mereka kekurangan air sehingga kelabakan dan akhirnya menyerbu ke luar. Pada waktu siang kami tak mau melayani mereka untuk berperang, namun pada waktu malam kami baru mengadakan penyerangan dengan snjata golok, tan-ta. dan tamang, Nah Hincu, tatkala kita akan memimpin tentara berperisai untuk menyerang, coba kau terangkan bagaimana caranya melakukan itu?"

"Semua itu adalah hasil pemikiran dari Kunsu kami yang pandai dan lihay itu."

Kata Lim Hin Cu.

Kunsu itu adalah penasihat pasukan atau otaknya tentara.

Semasa di Taiwan Kin Lam disebut Tan Eng Hoa.

Dialah yang menyarankan pada Teng Seng Kong menyerbu Taiwan dan berhasil Dalam kalangan kerajaan Teng Seng Kong memanggil Kin Lam dengan sebutan Tan Eng Hoa dan Kun Su.

"Kun Su,"

Kata Siau Po sambil menatap Hin Cu, namun orang itu malah menoleh pada Kin Lam, hingga Siau Po pun turut menoleh ke arah gurunya.

Wajah yang dipandang itu tersenyum, hingga si bocah segera mengerti bahwa Kunsu itu ternyata sang guru, ia menjadi sangat girang hingga terus berkata.

"Oh Suhu! Kiranya Suhu adalah Cu-kat Liang, Di jaman dahulu Cu-kat Liang sudah berhasil melabrak Lam Ban dan sekarang Suhu akan menghajar bangsa Ang Mo!"

Cu-Kat Liang adalah tangan kanan Lauw Pie dari sejaman Sam Kok.

Dia sangat pintar dalam mengatur tentara, Maka Siau Po membandingkan gurunya dengan seorang ahli peperangan dalam jaman kerajaan Han.

Kemudian Lim Hin Cu memberikan penuturannya.

"Kok Seng Ya mulai bergerak pada tanggal satu bulan dua tahun ketiga belas. Pada hari itu mengadakan sembahyang besar di sungai. Beliau sendiri yang akan mengatur para pembesar sipil dan para militer serta pasukan tentaranya. Kami menggunakan kapal-kapal perang mulai berangkat dari teluk Kolo, Pada tanggal dua puluh empat kami tiba di Peng Ouw, selanjutnya pada tanggal satu bulan empat kami berangkat ke Lok Cie Bun di Taiwan. Di luar pintu kota itu terdapat muara dangkal yang luasnya dua puluh Lie. Di situ juga bangsa Ang Mo memasang rintangan berupa perahu-perahu perang yang ditenggelamkan guna menutup mulut pelabuhan. Dengan demikian maka tentara kita akan mengalami kesulitan Mau kata apa dalam keadaan kebingungan itu, tiba-tiba laut mengalami pasang, air naik tinggi. Tentara kita sangat girang hingga mereka bersorak sorai bagaikan menggertak langit, lalu maju dengan cepat. Mereka semua mendarat di benteng air dan tentara Ang Mo menyambutnya dengan serangan senjatanya. Dan disaat itu Kunsu memberitahukan kepada kami bahwa jika kita mundur satu langkah saja berarti kita kecebur ke dalam air dan tenggelam di dalam laut Karena itu kami harus terus maju. Kata Kunsu, senjata musuh itu hebat dan kita harus terus maju menyerangnya. Anjuran itu disambut baik oleh tentara kami. Lalu Kunsu maju di depan untuk memimpin kami, semakin kami maju, semakin mendengar suara yang sangat berisik seperti suara guntur tak henti-hentinya. Asap pun mengepul terus dan hitam warnanya, Lalu satu persatu tentara kami roboh dan mau tidak mau kami terpaksa harus mundur juga...."

Itulah yang disebut Bangsa Ang Mo menyambut serbuan dengan senjata apinya."

Kata Siau Po.

"Sewaktu pertama kali mendengarkan senjata itu, aku kaget sekali."

"Benar kami kaget sekali!"

Kata Hin Cu.

"Dan sewaktu kaget itu kami bingung, harus berbuat apa. Tiba-tiba kami mendengar suara Konsu yang katanya, musuh telah menembak satu kali, sekarang ia tak mengisi lagi senjatanya, maka itu hayo sekarang kita menyerbu mereka! Aku menurut lalu mengajak saudara-saudaraku untuk mulai menyerang kembali. Dan benar bahwa musuh sedang mengisi peluru, Ketika kami sampai di sana, mereka sudah selesai memberikan isi pada senjatanya, Sewaktu mereka menembak kami lalu bergulingan di tanah, namun banyak saudara yang lainnya mati dan terpaksa kami mundur lagi. Syukurlah Bangsa Ang Mo tidak berani mengejar kami. Maka kami sangat rugi karena beberapa ribu jiwa mati, Kami sangat menyesal dan juga gusar, tetapi kami tak berdaya apa-apa"

Bukankah dengan demikian Kunsulah yang memperoleh akal yang sempurna itu?"

Tanya Siau Po.

"Benar Malam itu Kunsu memanggilku dan menanyakan padaku, katanya, saudara Lim bukankah kau itu murid persilatan Tee Tong Bun di gunung Bu Le San? Aku segera menjawab pertanyaan itu, Dan ia bertanya lagi, mengapa tadi siang ketika musuh berteriak dan memberikan serangan aku malah berkelit Aku sangat malu dengan pujian Kunsu, sebenarnya aku bukannya takut mati, Baik-lah nanti jika kita bertempur lagi aku akan maju terus dan tak akan menjatuhkan diri, karena jika hal itu aku lakukan berarti telah menjatuhkan pamor tentara kita."

Bagian 60

"Saudara Lim. Aku tahu, guru tentunya tak mengatakan kalau kau itu takut mati, sebaiknya guru memuji kau yang telah berusaha menyelamatkan diri, pasti guru ingin meminta diajarkan ilmu itu pada semua saudara-saudara kami Benar bukan?"

Kim Lama melirik Siau Po dan merasa puas, Hin Cu pun menepuk pahanya dan berkata.

"Benar, saudara Wie kaulah murid suhu. Benar-benar guru lihay dan mempunyai murid yang pandai!"

Siau Po tertawa dan balik memuji.

"Kaulah bawahan guruku. Memang di bawah perintah panglima yang gagah, tak akan ada tentaranya yang lemah."

Mendengar ucapan Siau Po, mereka semua tertawa.

"Memang benar malam ini Kunsu memerintahkan aku demikian."

Kata Hin Cu.

"Kata suhu, jangan kau salah mengartikan maksudku. Aku melihat bahwa ilmu berguling itu dapat dipakai untuk tentara kita, sewaktu musuh menembak, kita menjatuhkan diri dan dapat mendekatinya dengan cara bergulingan yang kemudian membuat mereka menjadi habis. Mendengar kata-kata Kunsu, aku menjadi berlega hati, Sebab dengan demikian aku tak ditegurnya. Lalu aku berkata, Kunsu, aku pernah mempelajari ilmu Tee Tong Kunhoat itu. DahuIu guruku juga berkata demikian di waktu berperang, kita dapat menggunakan ilmu itu untuk mendekati musuh. Hanya musuh Ang Mo tak menggunakan kuda jadi aku beranggapan bahwa ilmu itu tak layak untuk digunakan padahal semestinya dapat digunakan untuk membabat kaki musuh, Bukankah itu sama saja? Ah, benar-benar tumpul otakku! Aku tak teringat akan hal itu."

Siau Po tersenyum dan dalam hati berkata.

"Gurumu telah mengatakan padamu, sambil berguling kaki dapat membabat kaki musuh, mengapa kau tidak ingat kaki kuda dan kaki manusia itu sama saja? Benar-benar kau kurang cerdas!"

Lim Hin Cu berkata.

"Lalu Kunsu meminta padaku untuk mengajarkan ilmu silatku itu. Kata-nya kepandaianku itu sangat baik, dan kepandaianku itu berkat latihanku selama sepuluh tahun, itu adalah waktu yang lama, sedangkan kita memerlukannya besok, mana ada waktu itu untuk mempelajarinya?"

"Ya itu yang biasa dinamakan tidak pernah pasang Hio, sudah kelabakan barulah ia memeluk kaki sang Buddha, Atau di medan perang baru kita mengasah pedang. Namun kalau seorang nona mempelai di waktu mau naik joli baru melubangi kuping itu mendingan daripada tidak sama sekali, atau mengasah pedang diwaktu perang itu sangat baik daripada tidak menggunakan pedang."

"Benar, benar demikian,"

Kata Hin cu.

"Ketika itu Kunsu pun berkata demikian Meskipun penyerbuan kita kali ini gagal, tapi telah membuat musuh kita sangat jeri. Buktinya musuh tidak mengejar kita sewaktu kita mundur, sebaiknya kita dengan cepat membuat benteng bawah tanah, dan dengan pasukan panah kita berjaga-jaga kalaukalau pasukan musuh datang menyerbu kita. Dan selama itu kalian mendidik pasukanmu ilmu bergulingan untuk membabat kaki musuh. sekarang ini kita tak memerlukan ilmu itu, tetapi nanti sewaktu kita menghadapi musuh itu, aku terima titah Kunsu aku akan melatih tentara kita sampai jauh malam, agar besok pagi jika benar-benar musuh datang, ia akan terpukul oleh pasukan panah kita. Setiap serdadu yang sudah dapat menggunakan ilmu itu kita perintahkan untuk mengajarkan pada yang belum bisa, Dengan demikian maka latihan kita menjadi cepat ini juga menggunakan tameng kayu untuk menyelamatkan diri dari serangan peluru." Siau Po terdiam mendengarkan orang yang sedang berbicara itu.

"Di hari keempat musuh akan datang pula dan menyerang lagi, maka kali ini kita menyambutnya dengan bergulingan Kita akan bebas dari peluru dan kita dapat membabat kaki mereka, selanjutnya musuh akan kabur dengan meninggalkan kaki-kaki mereka, Dan sewaktu kami berperang dengan Tai-wan kami menggunakan cara itu,"

Kata Hin Cu. Liok Kie girang.

"Jika dengan cara itu Kunsu dapat menghajar orang Ang Mo, maka kali ini kita tidak usah khawatir untuk mengusir orang Losat."

Kata Liok Kie.

"Walaupun demikian dahulu dan sekarang itu berbeda,"

Kata Kim Lan dengan tenang.

"Dahulu tentara Ang Mo hanya berjumlah tiga sampai empat ribu jiwa, mereka mati satu berarti hanya kurang satu, sebaliknya Bangsa Losat, jika kali ini bangsa itu mendatangkan belasan laksa, dengan demikian maka akan berdatangan dengan jumlah yang sama pula dan terus menerus Dan ilmu berguling itu hanya dapat digunakan untuk berperang dengan musuh dalam jarak dekat. Namun jika musuh itu dari jarak jauh dan menggunakan meriam, maka kita pun akan mengalami kesulitan,"

Katanya pula.

"Kunsu benar, sekarang bagaimana caranya menurut Kunsu?"

Tanya Liok Kie.

"Negara Tionghoa sangat luas dan banyak rakyatnya. Maka jika tak ada pengkhianatannya, maka orang luar akan mengalami kesulitan untuk menyerang ke sini."

Kata Kin Lam.

"Itu benar, negara Tatcu pun dapat merampas negara kita karena mendapatkan bantuan dari Gauw Sam Kui yang memimpinnya untuk masuk."

"Dan sekarang bangsa orang Gauw Sam Kui telah bersekongkol dengan Bangsa Losat, maka kita harus mendahulukan menghajar mereka, agar dengan tidak adanya bangsa asing sulit untuk masuk."

Kata Kin Lam.

"Namun jikalau Gauw Sam Kui itu mati dengan cepat maka dia tak dapat saling bunuh dengan bangsa Tatcu, dengan demikian keduanya tak binasa bersama-sama."

"Kau benar juga, namun ancaman bangsa asing itu lebih berbahaya dari bangsa dan orang-orang Losat yang lihay dalam senjata api dibanding dengan Gauw Sam Kui."

Kata sang ketua.

"Benar, Bangsa Tatcu sama dengan kita, baik itu dari rambut, mata maupun bicaranya, sebaliknya dengan bangsa asing itu kita tidak sama, apa lagi dengan cara mereka berbicara, sama sekali kita tak mengerti."

Kata Siau Po yang turut berbicara. Sampai di situ Kin Lam talu menanyakan tentang Kek Song. Kin Lam adalah utusan raja muda Taiwan, maka ia langsung menanyakan The Kek Song, untuk diajaknya pergi.

"Kabarnya Kongcu berada di Li Ciu dalam perlindungan seorang yang ahli dalam ilmu silat, yaitu yang bernama Phang Sek Hoan yang bergelar Poan Kiam Bun Hiat,"

Kata Ma Ciau Hin.

"Kalau aku mengirim orang ke sana, mungkin mudah mencari tahu tentang itu."

Karena adanya Lim Hin Cu, maka ia mengatakannya dengan sangat hati-hati. Tatkala itu langit sudah terang maka Ma Hiocu berkata.

"Kebetulan sekali Kunsu dan juga Gouw Toako berkunjung ke Liu-ciu. ini kebetulan sekali karena pakaian kita semua basah kuyup, Maka marilah kita mendarat untuk minum arak untuk melawan serangan rasa dingin ini."

Tan Kin Lam setuju.

"Baik sekali."

Katanya.

Selama hujan dan angin kencang tadi, perahu sudah terdampar demikian jauhnya.

Maka sewaktu mereka akan mendarat, sampai di darat sudah tengah hari dan mereka mendarat di pelabuhan semula.

Tampak dari jauh ada orang berlari dengan tubuh yang kecil dan berkata dengan nyaringnya.

"Oh, Siangkong! Kau.... Kau.... Kau akhirnya pulang juga.,."

Ternyata ia Song Jie, yang seluruh tubuhnya masih basah, sedangkan wajahnya menandakan ia sangat kaget bersama dengan girang.

"Eh, mengapa kau berada di sini?"

Tanya Siau Po.

"Tadi malam angin dan hujan sangat besar, sedangkan Siangkong pergi dengan menggunakan perahu, Karena itu hatiku tidak tenang sekali, maka aku selalu mengharap-harap agar Siangkong dapat kembali dengan tidak kurang suatu apa pun...."

Kata Song Jie. Siau Po menjadi sangat heran.

"Jadi selama itu kau terus menantiku di sini?"

Tanya nya. Nona itu lalu mengangguk.

"Ya...."

Sahutnya dengan perlahan "Karena hatiku tak tenang, aku geIisah...."

Siau Po tertawa.

"Hatimu tak tenang karena kau khawatir perahuku akan terbalik, bukankah demikian?"

Tanyanya. Wajah si nona menjadi merah dan ia cepat-cepat menundukkan wajahnya.

"Aku tahu kalau nasib dari Siangkong selalu saja baik, dan karenanya tak mungkin perahu Siongkong akan mengalami hal yang kurang baik atau karam."

Katanya. Di saat mereka sedang asyik berbicara tiba-tiba datanglah seorang anak buah perahu di pelabuhan itu. ia lalu tertawa dan berkata.

"Congya kecil ini tadi malam sewaktu angin dan hujan turun akan menyewa perahu, ia mengatakan akan menjenguk salah satu orang yang sedang berlayar. MuIanya ia akan memberikan sewa sebanyak seratus tail, Kami tak ada yang mau, kemudian ia menaikkan menjadi dua ratus tail dan kali ini ada yang menyanggupi. Namun sialnya, sewaktu akan berangkat tiang perahu orang yang menyanggupi itu mengalami patah terkena angin, Maka gagallah pelayaran itu, sehingga tak ada lagi yang menyanggupi nya dan demikian ia pun menangis...."

Bukan main tergerak hati Siau Po, ia lalu memegang tangan si nona dengan eraterat.

"Song Jie,"

Katanya dengan suara tergetar "Kau,.,, Kau baik sekali terhadapku."

Kembali wajah si nona tersipu malu.

Sementara itu orang sudah berjalan demikian jauhnya menuju Ma Ciauw Hin.

Di sana mereka berganti pakaian dan setelah itu Ma Ciauw Hin memberikan laporan kepada sang ketua.

Kin Lam menerima laporan itu.

"Sekarang ini saudara Ma coba kau kirim salah seorang anak buahmu untuk mencari tahu The Kongcu!"

Katanya.

Setelah menerima perintah itu Ma Ciauw Hin lalu mengajak para tamunya untuk bersantap, Kursi pertama Kim Lan, kedua Liok Kie dan Siau Po di kursi yang ketiga, Akan tetapi Siau Po menolaknya dengan alasan yang tepat, ia meminta agar si orang Lim duduk pada kursi yang ketiga itu.

Setelah bersantap, Kin Lam mengajak Siau Po untuk berangkat melanjutkan perjalanannya menuju utara, Siau Po menurut karena ia adalah muridnya dan itu memang tugasnya.

Tetapi sebelum berangkat, Siau Po memberikan hadiah pada Gouw Liok Kie, berupa senjata yang diberikan dari Gauw Sam Kui padanya.

Gouw Liok Kie menerima hadiah itu dan ia mengetahui kalau hadiah dari Siau Po itu adalah senjata buatan Bangsa Losat yang menjadi musuhnya itu.

Setelah itu Gouw Liok Kie mencoba senjata itu dan mengarahkannya keluar jendela.

Maka terdengarlah suara yang sangat keras disusul dengan keluarnya sebutir peluru panas.

Kemudian Lim Hin Cu berkata.

"Senjata api ini jauh lebih baik daripada senjatanya bangsa Ang Mo."

Kemudian Gouw Liok Kie mengucapkan kata terima kasih pada Siau Po yang selanjutnya ia menyimpan senjata itu.

Tan Kin Lam yang melihat senjata dan cara kerjanya itu mengerjitkan alis, dalam hatinya ia berkata.

"jikalau senjata Losat sedemikian hebatnya, dan ia benar datang, maka sukar untuk ditentangnya...."

Siau Po demikian mengeluarkan Gin-pio seharga lima ribu tail dan menyerahkannya pada Lim Hin Cu, untuk dipakai seperlunya.

Hin Cu terheran melihat anak kecil mempunyai uang yang cukup banyak dan sangat royal Disaat hendak menolaknya ia melihat Siau Po sudah mengambil uangnya lagi dan diberikannya pada Ma Ciau Hin.

"Tolong kau terima uang ini untuk mentraktir anak buahmuI"

Kata Siau Po. Ciauw Hin heran dan girang demikian ia tertawa.

"Jumlah ini terlalu banyak."

Katanya.

"Dengan jumlah sebanyak ini orang minum arak selama satu tahun pun tak akan habis...."

Setelah memberikan uang itu, Siau Po lalu memberikan hormat pada sang guru sambil ia berlutut.

Sang guru yang melihat muridnya itu demikian pemurah ia sangat sayang, maka ia lalu berkata pada sang murid itu.

"Kau memang sangat baik, tidak kecewa aku mengangkatmu menjadi muridku."

Siau Po lalu berdiri setelah ia berlutut di samping sang guru, Si bocah berpikir hadiah apa yang pantas untuk sang guru, ia diberi uang, sang guru itu pasti akan menolak Begitu pula kalau diberi batu permata, Lalu apa yang harus diberikan kepada sang guru itu?

Di saat berpikir keras itu, tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Suhu,"

Kata Siau Po sambil menarik ujung baju sang guru.

"Ada satu hal yang akan aku sampaikan pada Suhu."

Kim Lan heran tetapi ia harus mengikutinya.

Siau Po mengajaknya ke samping rumah, kemudian mengambil sebuah bungkusan yang berisi robekan-robekan dari kitab yang orang-orang cari, ia lalu membuka bungkusan itu satu persatu.

"Suhu! Aku tidak mempunyai barang apa pun yang pantas untuk aku haturkan pada Suhu, maka sudilah kiranya Suhu menerima kertas robekan itu."

Kata Siau Po.

Sang guru memperhatikan bungkusan yang sedang dibuka muridnya itu, ia mengira, pasti isinya adalah barang yang sangat berharga, Setelah selesai Siau Po membuka bungkusan itu, sang guru menjadi heran karena isi bungkusan itu ternyata hanya robekan kertas saja, Hal itu membuatnya menjadi heran sekali.

"Barang apakah itu?"

Tanyanya.

"Inilah halaman-halaman yang telah aku kumpulkan,"

Kata Siau Po yang kemudian menerangkan tentang kitab itu.

Mendengar akan hal itu, Kin Lam menjadi tertarik dan juga heran.

Siau Po terus saja menerangkan satu per satu dari pemilik kitab-kitab itu yang semuanya membuat hati gurunya menjadi bergetar.

Sang guru mengetahui bahwa jika kitab itu disatukan maka akan dapat ditemukan tempat penyimpanan harta karun yang sangat besar.

Sekian lama Tan Kin Lam memperhatikan robekan-robekan itu dan otaknya terus saja bekerja.

"Siau Po, barang ini sangat luar biasa. Dengan ini kita nanti membawa kawan-kawan kita untuk mengambil urat nadi naga Bangsa Boan, untuk mengambil hartanya dan kita gunakan untuk menggerakkan tentara kita.

"Dengan ini kau telah mendapatkan jasa yang sangat besar Namun kali ini aku sedang mencari The Kongcu untuk diajak pulang ke Taiwan, Lebih baik dalam hal ini kau saja yang menyimpannya, dan nanti jika aku sudah kembali aku akan menemuimu di Pakhia dan selanjutnya kita bekerja mencari harta itu."

"Baik, Suhu!"

Jawab sang murid.

"Harap suhu dapat segera datang ke Pakhia!"

"Kau jangan khwatir! Aku pun tak puas karena kita telah dihina oleh raja yang lainnya, Dan kaisar cilik itu ternyata pandai juga memerintah kerajaan dan itu membuat kita semakin sulit saja... aku tak menyangka Gauw Sam Kui akan mengadakan pemberontakan.... Siau Po, kau telah mendapatkan isi kitab ini maka sangat baik bagi kita!"

Melihat keadaan gurunya, Siau Po menjadi senang karena sang guru pun merasa sangat senang. Hal itu dapat dilihat dengan adanya perubahan pada wajah sang guru.

"Kau memang pandai bekerja, Siau Po!"

Kata sang guru.

"Kau memang pantas menjadi muridku! Bagaimana tentang racun yang ada di dalam tubuhmu? Apakah sudah mendingan?"

Lanjut nya.

"Bisanya sudah bersih semua, Guru!"

Kata Siau Po memberikan jawabannya.

"Aku telah berhasil memakan obat pemunah dari si Moler tua itu!"

"Bagus! sekarang kau harus sadar bahwa pada kedua bahumu itu telah terpikul tanggung jawab yang berat, yaitu merobohkan kerajaan Boan dan mendirikan kerajaan Beng. Kau harus berhati-hati dalam menjaga diri dan kau harus selalu waspada!"

Ujar Kin Lam.

"Aku akan selalu mengingat pesan guru, yang sebenarnya dalam memperoleh peta itu aku mempertaruhkan nyawa ku!"

Kata Siau Po memberikan penjelasan. Sang guru tersenyum.

"Setelah kau pulang ke Pakhia, kau harus mengunci pintu dan jendelamu. Kau juga harus menyatukan robekan yang satu dengan yang lainnya dan kau ingat, setelah itu barulah peta ini kau robek dan robekannya itu kau simpan pada tempat yang berbedabeda, dan jangan lupa kau harus selalu waspada!" "Suhu benar."

Kata Siau Po.

"Andaikat aku bermain judi, aku mendapatkan angka delapan. Maka aku harus mempertahankan agar orang lain tidak dapat melebihiku."

Kin Lam berpikir orang yang diajak bicara itu ngelantur.

"Kau sudah sadar itu syukur, tetapi kau harus ingat bahwa usaha kita ini tidak dapat disamakan dengan orang yang bermain judi, Kalau dalam judi ada yang menang dan ada yang kalah, tetapi dalam usaha kita, kita tak boleh mengalah peta ini diperebutkan oleh banyak orang, maka kita pun harus mempertahankannya! Siau Po, mendengar beritamu ini aku merasa sangat puas walau pun aku harus mati sekarang aku bersedia."

Kata sang guru.

"Apakah selama di Taiwan Suhu merasa kurang bergembira? Hal itu terlihat dari wajah Suhu, setahuku sesulit apa pun Suhu tak pernah merasa sedih tetapi mengapa sekarang Suhu berubah? semua orang sangat menghormati Suhu bahkan Suhu tak merasa takut pada raja. Dan di dunia ini Suhu hanya menghormati satu orang saja yaitu The Tay Ongya dari Taiwan mungkinkah?"

Tanya Siau Po. Kin Lam menarik napas panjang.

"Ongya sangat menghormati dan menghargai ku. Dahulu aku pernah mendapatkan pertolongan besar dari keluarga Kok Seng Ya. Maka aku memutuskan akan berbakti padanya selama aku hidup, Jika ada keluarga The yang mengalami kesukaran, maka aku akan menolongnya dengan sungguh-sungguh. dan jika aku sudah mati barulah aku merasa puas, namun kali ini putranya, The Kongya bukanlah putra sejati."

Siau Po tidak mengerti maksud gurunya.

"Apakah yang dimaksud dengan keturunan tidak sejati?"

Tanya Siau Po.

"ltu artinya ia bukanlah putra yang dilahirkan oleh Ong-Hui sendiri."

Jawab sang guru.

"Dahulu ketika Kok Seng wafat, urusan ini ada sangkut pautnya, sebenarnya Ongya hui tidak menyukainya, dan ia selalu meminta aku untuk memecatnya dan menggantikan dengan yang lain."

Siau Po menggelengkan kepala berulang-ulang.

"Jie Kongcu orang bodoh dan penakut Dia pun masih kalah dibandingkan dengan Gauw Sam Kui,"

Katanya.

"Tak tepat ia menjadi pengganti dia bahkan si telur busuk, si dungu, si hina dina."

Siau Po menjadi sangat sebal, ia teringat pada Jie Kongcu yang telah tergila-gila terhadap A Ko.

"Siau Po hati-hatilah dengan kata-katamu!"

Kin Lam menegur Menurutnya kata-kata Siau Po membuatnya kurang puas.

"Bukankah dengan demikian seperti juga kau tengah mencaci orangnya.,.?"

Tanyanya.

"Oh.-.!"

Suara Siau Po tertahan "Ya, aku memang tak boleh sembarang bicara."

Ujarnya.

"Kalau dibuat perbandingan di antara dua Kongcu itu,"

Kata Kin Lam pula.

"Benar, Jie Kongcu tidak dapat dibandingkan dengan kakaknya, Sie Cu. Jie Kongcu lebih tampan dari kakaknya dan bicaranya manis, karena itu ia menjadi kesayangan neneknya...."

Siau Po menepuk pahanya.

"Sungguh benar kata orang!"

Katanya.

"Memang kaum wanita tak mengerti apa juga, asal ia melihat pria yang kelimis, yang dapat menepuk-nepuk punggung, lalu ia pandang orang itu sebagai mustikanya."

Lanjutnya. Kin Lam tidak tahu bahwa Siau Po menunjuk pada A Ko. ia menggelengkan kepala dan berkata.

"Dalam hal merubah kedudukan kedua Kongcu itu, buat mengangkat Siecu yang baru, Ongya memang tidak setuju. Sekalian mentri sipil dan militer juga menasihati agar Ongya jangan membuat perubahan Namun justru hal itu yang membuat kakak beradik itu jadi tidak akur satu dengan yang lain, hingga di antara Tay Hui dan Ongya, ibu dan putra juga terdapat perselisihan pendapat Ada kalanya Ong Tay Hui sangat mendongkol sampai beliau suka memerintahkan kami untuk menegurnya...."

Hampir Siau Po mendamprat si Moler tua.

"Syukur ia lantas sadar maka ia berkata.

"Nyonya-nyonya agung itu telah bertambah usianya, itu sebabnya mengapa mereka suka berubah menjadi kurang jauh pandangannya. Suhu, aku rasa dengan berdiam di Taiwan, hidup Suhu kurang memuaskan, maka menurut aku, kali ini seberangkatnya Suhu ke utara tak usah Suhu pulang kembali...."

Tan Kin Lam menghela napas.

"Taiwan adalah sebuah tempat yang kecil,"

Katanya.

"Selain itu di sana, di antara orang-orang istana dan dalam tentara juga tidak ada persetujuan, orang saling memikirkan kepentingan masing-masing, Maka hidup di sana sangat tidak menarik hati, Taiwan tak dapat dibandingkan dengan Tionghoan yang luas. Di sana orang dapat hidup bebas merdeka.... Kendati demikian, jiwakau ini bukan lagi jiwaku, sudah sejak siang telah aku serahkan pada Kok Seng Ya. Siau Po, kita lebih baik jangan membicarakan urusan di Taiwan itu, Kau harus tahu, manusia hidup dalam dunia, siapa menerima budi maka dia harus membalasnya. Dahulu Kok Seng Ya telah memperlakukan aku sebagai seorang pelajar yang sangat di hormati, maka sebagai orang yang sangat dihormati aku harus membalas budinya, sekarang Ongya kekurangan pembantu yang pintar dan bijaksana, karena itu tak dapat aku meninggalkannya, untuk mementingkan diri sendiri sekarang ini aku pikir, baiklah aku bekerja terus, kita akan lihat bagaimana kelanjutannya...."

Selesai berkata demikian, pemimpin ini kembali menarik napas pertanda bahwa ia sangat resah, ia tampak seperti telah tawar hatinya.

Siau Po menyesal, ia tak dapat menghibur gurunya sebab tidak tahu jelas keadaan di Taiwan itu, Namun kemudian ia pun berkata.

"Sebenarnya kemarin kita hendak membuat The Kek Song menjadi...."

Kata-kata itu diikuti gerakan tangan hendak membacok dan menebas batang leher orang.

"Dengan demikian, bereslah sudah urusan, Akan tetapi Ma Toako mencegah sebab katanya dengan demikian kita bakal mempersulit Suhu, bahwa nama Suhu dapat tercemar...."

"Memang, itulah namanya membunuh yang dipertuan sendiri,"

Kata Kin Lam.

"Dengan berpikir demikian, Ma Toako bertindak cepat sekali, seandainya kalian benar membinasakan Kek Song, mana ada mukaku akan menghadap Ongya, dan dibelakang hari di alam baka pasti tak dapat aku menjumpai Kok Seng Ya."

"Suhu,"

Kata Siau Po yang segera mengalihkan pembicaraannya.

"Kapan Suhu akan mengajak aku pergi pesiar ke Taiwan. Dalam halnya Ong Thay Hui, untuk menghadapinya aku rasa aku dapat memikir beberapa cara atau jalannya...."

Sian Po ingat halnya ketika ia berhasil menjalani perintah ibu suri palsu, pikirnya, ibu suri dapat ia tundukkan, apalagi seorang nyonya raja muda....

Seorang Ong Tay Hui....

di pulau kecil seperti Taiwan.

Kin Lam tersenyum mendengarkan ucapan Siau Po.

"Hus, jangan mengaco!"

Tegurnya sambil memegang tangan Siau Po lalu menariknya untuk keluar dari kamar sisir itu.

Sesampainya di luar, Siau Po lalu berpamitan pada gurunya, Gouw Liok Kie dan Ma Ciauw Hin, Di waktu ia berangkat, Liok Kie dan Ciau Hin mengantarkan sampai di luar rumah.

"Saudara Wie,"

Kata Gouw Liok Kie.

"Dengan Song Jie aku telah mengangkat saudara hingga sekarang kami menjadi kakak beradik."

Mendengar kata-kata itu, Siau Po dan Ma Ciau Hin terperanjat karena heran, Mereka menoleh ke arah orang She Gouw dan Song Jie bergantian.

Song Jie menunduk, kedua pipinya menjadi merah karena malu.

Tetapi Liok Kie berkata dengan sungguh-sungguh.

"Aku bukannya lagi bercanda. Adik angkatku adalah seorang wanita yang jujur dan setia yang menang daripada kebanyakan pria, Dia justru orang dalam kalangan kita, Aku sebagai kakak sangat menghormati dia. Aku telah menyaksikan kau mengangkat saudara dengan Bie To Ong Ouw It Cie. Kalian berdua demikian bersungguh-sungguh dan bersemangat. Aku jadi sangat tertarik hati, maka aku lantas menurut untuk segera mengajak Song Jie mengangkat saudara. Mulanya Song Jie merendah, dan menampik dengan keras. Dia bukannya tak setuju, melainkan karena derajat kami berdua tak sebanding. Aku mengaku padanya bahwa aku hanya seorang pengemis. Apakah derajat atau kehormatanku? Mana ada tingkat tinggi dan rendah di antara kami berdua? Karenanya aku memaksa, Aku berkata, tak dapat kami tidak mengangkat saudara, Saking terpaksanya adikku itu akhirnya menurut juga."

Ma Ciau Hin tersenyum.

"Kalau demikian kalian berdua ada dalam kamar itu, apakah di sana kalian mengangkat saudara itu?"

Tanyanya.

"Benar.... Benar demikian, hanya adikku mengatakan hal ini jangan sampai orang lain mengetahuinya, Aku tertawa dan aku katakan bahwa mengangkat saudara itu adalah mulia, mengapa harus kita tutupi dan harus dirahasiakan?"

Sahutnya.

"Saudara Wie,"

Kata Liok Kie pula.

"Mulai hari ini dan seterusnya kau harus memberikan hormat pada adikku dan jangan kau sia-siakan, jikalau suatu saat aku mendengar kau menyia-nyiakan adikku, aku tidak tahu menahu."

Song Jie yang mendengar perkataan kakak angkatnya itu menjadi kaget sekali.

"Tidak.... Tidak.,."

Katanya dengan cepat "Tidak terjadi hal yang demikian. Wie.... Wie.... Wie Siongkong, ia... ia telah memperlakukan aku dengan baik sekali...."

Siau Po tertawa.

"Tak mungkin aku dapat berbuat kurang ajar padamu dan juga terhadap dia...."

Katanya.

Selesai berkata Siau Po tertawa, demikian juga kawan-kawannya.

Setelah selesai mereka semua tertawa, Song Jie memberitahukan pada mereka bahwa Gouw Liok Kie telah memberikan kenang-kenangan padanya berupa senjata api pemberian Siau Po itu.

Siau Po menggelengkan kepalanya sewaktu Song Jie akan memberikan senjata itu padanya.

Setelah itu Siau Po dan gurunya pergi meninggalkan tempat itu untuk menuju Pakhia, Di tengah perjalanan Kiu Lan sering kali mengajarkan pada Siau Po ilmu silat.

Pikiran Siau Po tidak berada pada ilmu silat ia mempelajari ilmu silat hanya karena terpaksa, maka tak pernah ia berhasil pada suatu hari Kiu Lan memerintahkan pada Siau Po untuk menjalankan ilmu silat yang pernah ia berikan itu, ternyata tak ada kemajuannya, Menyaksikan hal itu Kiu Lan menarik napas-"Di antara kau dan aku sebagai guru dan murid, tetapi ternyata kau tak memiliki bakat untuk mempelajari ilmu silat sekarang begini saja, dalam kalangan partai persilatanku, Tiat Kiam Bun partai ilmu silat pedang besi.

Ada suatu ilmu yang dinamakan Sin Heng Pek Pian.

itulah ilmu meringankan tubuh yang diwariskan oleh guruku yang bijaksana yaitu Bok Siang Tojin, yang menciptakan sendiri Artinya adalah berjalan bagaikan malaikat dengan seratus perubahannya, sebenarnya ilmu itu haruslah disertai tenaga dalam yang mahir tetapi kau tentu tak sanggup mempelajarinya, Maka aku akan mengajarkan padamu sekedar saja, tetapi ini adalah yang paling perlu, itu untuk menjaga keselamatan dirimu andaikata dikemudian hari kau mengalami bahaya, kau boleh langsung menggunakan ilmu ini...."

Siau Po menjadi girang mendengar kata-kata gurunya itu.

"Bagus Suhu, aku percaya setelah aku dapat mempelajari ilmu itu, maka siapa pun tak ada yang berani mengejarku."

Kiu Lan menggelengkan kepala, walau bagaimana ia tak akan merasa gembira.

"Sin Heng Pek Pian tak ada lawannya, maka sangatlah disayangkan jiwa kau menggunakannya untuk jalan lain yang tidak terlalu penting, Namun tak apalah, toh aku tak memiliki ilmu yang lain..."

Katanya.

"Tidak apa-apa suhu,"

Kata Siau Po.

"Semoga lain waktu Suhu mendapatkan delapan murid untuk Suhu wariskan ilmu yang dimiliki Suhu, hingga ia dapat mengangkat nama Suhu!"

Kiu Lan tertawa.

"Sebenarnya tidak selalu orang yang pandai bermain silat itu menjadi orang baik,"

Katanya.

"Kau sendiri pada dasarnya tidak mempunyai bakat dalam ilmu silat, jadi jika dipaksakan itu tidak baik. sebaliknya kau lebih suka bergurau, ya biar bagaimana kau tetap muridku."

Siau Po merasa sangat girang, Sang guru yang mengetahui tabiatnya dapat memakluminya, jika orang lain tentulah Siau Po sudah diusir karena tidak sungguhsungguh.

Kiu Lan kemudian memberikan aba-aba, maka pelajaran segera dimulai, Sang guru melatih muridnya dengan tanpa tenaga dalam.

Siau Po benar-benar luar biasa, Kalau dalam ilmu silat yang lainnya ia bebal.

Namun demikian dengan ilmu silat ini, kali ini Siau Po bangun semangatnya, ia belajar dengan sungguh-sungguh.

Setiap ada waktu luang, ia tidak menyia-nyiakannya, maka dalam tempo yang singkat ia dapat menguasai ilmu itu, ini terbukti dengan ia main dengan Cie Tian Cong, Orang ini sama sekali tak dapat memegang Siau Po hingga ia sendiri merasa kagum dan memujinya.

Kiu Lan terus mengajari ilmu itu yang membuat sang murid menjadi sangat lincah, maka setelah memasuki wilayah propinsi Ho-pak Siau Po sudah sangat mahir dalam menggunakan ilmu itu.

Kiu Lan heran dengan muridnya ini, ia sangat berjodohan dengan ilmu itu.

Hal itu di luar dugaannya, maka pada suatu hari, sambil tertawa ia berkata pada sang murid.

"Kau memang berbakat untuk lari."

Siau Po tertawa.

"Syukur kali ini aku tidak gagal!"

Katanya.

"Suhu, bukankah kakek guru telah meninggal dunia, dan itu berarti hanya tinggal Suhu saja yang pandai ilmu silat di kolong jagat ini?"

Kiu Lan menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Siau Po.

"Tak berani aku mengangkat diriku sebagai orang yang terpandai dalam ilmu silat dan sebenarnya ada satu orang yang paling tepat untuk sebutan itu. Dialah.... Dialah.-."

Kata sang guru yang langsung menyuruh muridnya untuk pergi meninggalkannya. Siau Po menjadi heran, akan tetapi ia pergi juga dengan perlahan-lahan, Sambil berkata dalam hati-nya.

"Wajah Suhu sangat lain dari biasanya. Apa mungkin orang terpandai silat itu kekasih nya ?"

Besok paginya Siau Po mendatangi kamar gurunya, Seperti biasanya, setiap pagi si murid mengucapkan kata selamat pagi pada gurunya, Kali ini si murid sangat heran karena kamar sang guru itu kosong, Namun sang guru meninggalkan sepucuk surat.

Siau Po lalu membawa surat itu pada Tian Coan untuk minta dibacakannya.

"Sampai ketemu lain kali, jaga dirimu baik-baik!"

Siau Po menjadi heran sendiri, apakah gurunya itu tersinggung dengan pertanyaannya tentang orang terpandai dalam ilmu silat itu.

Perjalanan tetap dilanjutkan maka pada suatu hari tibalah rombongan itu di Pakhia, Siau Po kemudian menghadap pada kaisar bersama dengan Kian Leng Kongcu.

Kaisar Kong Hie sudah menerima laporan akan kedatangan adiknya dan juga Gouw Eng Him untuk memecahkan acara perntkahan ia menyambut dengan perasaan yang girang.

Kian Leng Kongcu menubruk dan memeluk kakaknya, lalu ia menangis seraya berkata.

"Gouw Eng Him, itu adalah binatang yang telah menghina aku...."

Kaisar itu tertawa.

"Kalau demikian anak itu sudah berani kurang ajar,"

Katanya.

"Baiklah aku akan merotani dia! sebenarnya bagaimana hingga hal itu dapat terjadi ?"

"Baiknya koko menanyai pada Siau Kui-cu saja!"

Katanya.

"Yang jelas ia telah berani menghinaku! Dia telah menghina adikmu ini! Kakak raja tidak dapat tidak harus memberikan laporan keadilan pada adikmu ini!"

Kata Kian Leng Kongcu. Kian Leng tidak hanya menangis tetapi juga membanting-bantingkan kakinya, Kaisar masih tertawa.

"Baik,"

Katanya.

"Sekarang kau kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat nanti aku tanyakan keterangannya pada Siau Kui-cu...."

Setelah itu Kian Leng pergi ke kamarnya, dan sebenarnya semua itu sudah menjadi rencana mereka berdua, Siau Po lalu memberikan laporannya pada raja, sementara itu raja hanya diam saja dan kemudian ia berkata.

"Oh, Siau Kui-cu sungguh besar nyalimu!"

Siau Po kaget hingga ia terperanjat.

"Budak tak berani!"

Katanya.

"Kau telah bersekongkol dengan putri bagaimana kau begitu berani mendustaiku!"katanya.

"Ti.... Ti... Tidak,"

Kata Siau Po yang terus menyangkaInya.

"Mana berani budak mendustai Sri baginda raja."

"Kau katakan Gouw Eng Him telah berani kurang ajar pada putri, dan kau tidak melihatnya sendiri bukan?"

Katanya.

"Dengan cara apa kau mengetahuinya, kau cuma mengandalkan keterangan dari tuan putrimu saja? Dan mengapa kau sudah berani memberikan laporan padaku? Aku tahu itu laporan palsu."

Siau Po terus saja membela dirinya dalam memberikan keterangan itu, tetapi raja itu sangatlah cerdik dan sulit untuk diakali.

"Tidak mungkin Gouw Eng Him melakukan hal itu. Di rumahnya terdapat banyak selir, mana mungkin ia berani kurang ajar pada tuan putri, Memang kau kira aku tak tahu kalau tuan putri itu mempunyai tabiat yang kurang baik, paling ia telah berselisih paham dengan Gouw Eng Him dan yang terakhir ia memotong barang Gouw Eng Him..."

Katanya. Mengucapkan kata-kata terakhir ini, mau tidak mau raja jadi tertawa sendiri.

"Mengenai hal itu hamba rasa tuan putri juga tidak menceritakan secara seluruhnya, karenanya hamba memberikan laporan atas dasar penuturan tuan putri sendiri Apa yang tuan putri katakan, itulah yang hamba laporkan..."

Kata Siau Po. Mau tidak mau raja akhirnya menerima laporan itu.

"Memang benar juga!"

Katanya.

"Sekarang kau pergi untuk menyampaikan firmanku agar dia dapat memilih hari yang paling baik untuk melangsungkan pernikahannya, dan nanti setelah cukup satu bulan barulah ia boleh kembali ke Inlam...."

Siau Po tidak segera pergi.

"Soal pernikahan itu bukanlah soal penting, yang penting mengenai Gauw Sam Kui yang akan memberontak itu. Oleh karena itu tuan putri tidak boleh diperkenankan untuk pergi ke Inlam."

Kata Siau Po. Kaisar mengangguk.

"Jikalau benar Gauw Sam Kui akan memberontak lalu apakah yang dapat aku lihat?"

Tanya raja.

Siau Po kemudian menerangkan satu per satu orang-orang yang telah bersekongkol dengan Gauw Sam Kui, diantaranya bangsa Losat, Mongolia, dan Sin Liong Kauw, Dan Siau Popun mengatakan kalau ia telah membawa saksi orang Mongol.

Untuk menguatkan keterangan Siau Po mengutarakan hal itu, dia lakukan dengan berbagai macam cara sampai-sampai ia menipu berpura-pura membinasakan Khantema.

Kaisar terdiam mendengarkan.

"Sungguh peristiwa yang sangat menarik hati! sebenarnya aku belum pernah melihat sendiri Gauw Sam Kui, Sewaktu kuminta untuk menghadap ia membawa pasukan perangnya, dan para menteri mencegahnya karena Gauw Sam Kui membawa pasukan itu dengan alasan pasukan perang tak dapat masuk ke kerajaan, dikhawatirkan ia mengadakan pemberontakan secara mendadak."

Kata sang raja.

"Hal itu dikatakannya menurut kata hati Goh Pay. Khawatir kalau nanti terjadi perubahan, maka Gauw Sam Kui diijinkan datang hanya beserta putranya saja dan pasukannya ditinggal di luar kota, Dengan demikian maka apa yang dapat Gauw Sam Kui lakukan? Mungkin Gauw Sam Kui merasa dicurigai maka ia langsung memberontak daripada hanya dicurigai Demikianlah sikap dia sekarang ini bukan karena sikap kita yang dahulu."

"Apabila dahulu raja memberikan nasihat pada Gauw Sam Kui secara baik-baik, maka tak mungkin sekarang ia akan melakukan hal itu.,."

Kata Siau Po. Tatkala itu aku masih sangat kecil dan aku belum mengerti tentang kenegaraan. Jika sekarang aku bertemu dengannya, kemungkinan ia akan mengadakan pemberontakan sedini mungkin."

Kata raja. Siau Po mengangguk. Kemudian raja bertanya bagaimana muka Gauw Sam Kui dan gerak geriknya.

"Bagaimana kulit harimau yang berada di dalam kamar kerjanya itu?"

Siau Po merasa sangat heran mendengar pertanyaan sang raja itu, tetapi ia kemudian memberikan jawabannya dan ia pun menambahkannya.

"Oh, Sri baginda sampai hal yang kecil pun baginda dapat mengetahuinya."

Kata Siau Po.

Kaisar tersenyum, ia terus berbicara tentang Gouw Sam Kui dan juga menantunya He Kok Siang dan kesepuluh Congpengnya.

Siau Po merasa sangat heran karena kaisar mengetahui hal mengenai Gauw Sam Kui, sampai hal yang sekecil-kecilnya itu.

"Oh Sri Baginda! Sri Baginda belum mengetahui dan belum pergi ke Inlam, tetapi Baginda telah mengetahui banyak tentang Peng See 0ng. Baginda mengetahui lebih banyak daripada aku!"

Kata Siau Po. Setelah berkata demikian Siau Po menunjukkan wajah yang sangat kaget dan ia berkata.

"Sri Baginda entah berapa banyak mata-mata yang dilepas di Kota Kun Beng...."

Kaisar tersenyum.

"lnilah yang dikatakan tahu diri, jika kita berperang seratus kali maka seratus kali pula kita akan mengalami kemenangan. Dia akan memberontak maka tidak mustahil jika kita memperhatikannya, Siau Kui-cu jasamu sangat besar, karena kau telah mengetahui gerak gerik Gauw Sam Kui yang sekian mata-mataku tak dapat mengetahuinya itu. Mereka hanya menyelidiki hal yang kecil tetapi tidak untuk hal yang besar dan penting."

Di dalam hati Siau Po sangat girang.

"Semua itu hambamu mengerti"

Katanya. Raja tersenyum karena orang itu telah memujinya.

"Sekarang kau pergi dan bawa ke mari orang Thay-kam itu, aku hendak mendengar sendiri darinya!"

Siau Po lalu pergi untuk menjalankan perintah itu dengan membawa beberapa orang Sie Wie, untuk mengambil orang Mongol tawarannya itu.

Tak lama kemudian Siau Po menghadapkan orang Mongol itu pada sang raja.

Orang Mongol itu merasa heran karena orang itu dapat berbicara dalam bahasanya.

Maka ia tak ragu-ragu lagi memberikan jawaban secara jelas.

Kaisar memeriksa orang Mongol itu memerlukan waktu yang cukup lama, ia menanyakan juga berapa hal mengenai hubungan antara Gauw Sam Kui dengan bangsa MongoI, dan juga kekuatan tentara Mongol itu.

Di samping itu ia juga menanyakan keadaan Bangsa Mongol yang banyak mempunyai pasukan dari berbagai bendera, yang tidak pernah tenang dan di antara mereka sering bertempur.

Siau Po diam saja mendengarkan pembicaraan kedua orang itu dan sesekali raja menganggukkan kepala, lalu terkejut.

Setelah merasa cukup, kaisar itu memerintahkan agar tawanan itu dikembalikan lagi pada tahanan bawah tanah.

Ketika itu datanglah seorang pelayan dengan membawa minuman, yang kemudian raja memerintahkannya untuk mengambil satu cangkir lagi untuk Siau Po.

"Terima kasih, Sri Baginda!"

Ucap Siau Po sambil cepat-cepat berlutut dan memberikan hormatnya. Selesai minum Siau Po mendengar langkah kaki seorang kebiri yang memberitahukan tentang kedatangan Tongjo Wan dan Nanhuaijin.

"Ijinkan mereka untuk masuk!"

Kata raja, Tak lama kemudian, datanglah seorang yang bertubuh tinggi dan besar, kemudian mereka berdua memberikan hormat pada raja sambil ia berlutut. Siau Po merasa heran lalu ia berkata dalam hati.

"Mengapa ada setan datang ke istana? Aneh!"

Selesai memberikan hormat, orang-orang itu lalu mengeluarkan kitab dan menaruhnya di atas meja, kemudian yang lebih muda berkata dengan tenang.

"Sri Baginda sekarang kami akan membicarakan tentang tenaga tembak dari meriam besar itu."

Kembali Siau Po merasa sangat heran karena orang-orang asing ini dapat berbicara dalam bahasa Tionghoa dengan lancar.

Kaisar menoleh pada Siau Po kemudian ia mulai memeriksa kitab yang ada di atas meja itu.

Nanhuaijin berdiri lalu ia menunjuk-nunjuk dengan tangannya sambil memberikan penjelasan, dan raja selalu menanyakannya jika ada yang tidak dimengerti.

Raja menoleh pada Siau Po, dan ia berkata.

"Kau mendengar ada orang asing yang pandai berbahasa Tionghoa, kau merasa aneh, bukan?"

"Mulanya hamba merasa aneh, tetapi sekarang tidak lagi, Baginda dikelilingi ratusan malaikat, sekarang Bangsa Losat tidak lagi meremehkan bangsa kita, Thian telah mengirim orang asing ini untuk membantu membuatkan senjata api guna melawan Bangsa Losat!"

"Sunggun kau cerdik! Namun kedua orang itu mengerti bahasa kita karena mereka belajar. Yang tua berada di Tionghoa sejak jaman kerajaan Beng dan yang muda adalah orang Jerman dan datang semasa Sri Baginda Sun Tie. Mereka datang untuk menyebarkan agama kristen, dan untuk itu maka ia harus belajar Bahasa Tionghoa."

"Oh, begitu, Semula hamba merasa tidak tenang dan sekarang merasa tenang, karena kita mendapatkan bantuan dari orang asing itu."

"Bangsa Losat sama dengan bangsa kita, yaitu sama-sama manusia, Maka jika bangsa itu dapat membuat meriam, kita pun dapat membuatnya juga, hanya dahulu kita tidak tahu caranya, Dahulu orang Beng juga menggunakan meriam hingga baginda terluka parah karenanya, dan akhirnya bangsa itu telah berhasil ditaklukkan dan menjadi bangsa bawahan negara kita. Maka semuanya itu tergantung dengan manusianya, siapa yang tidak bijaksana maka percuma ia menggunakan senjata yang hebat sekalipun."

"Senjata dan meriam itu dibeli dari Bangsa Losat, Maka jika kita membeli senjata dari bangsa luar tak mungkin ia membeli dan menjual untuk kita, Untuk itu maka kita harus membuatnya sendiri."

Kata raja.

"Sekarang ini kita merasa sulit karena kita harus mencari besi yang terbaik untuk dijadikan alat"

Kata raja.

"Dalam hal ini Baginda janganlah merasa khawatir hamba nanti akan mengumpulkan para pandai besi untuk memilih besi yang terbaik dan mereka langsung mengerjakannya siang dan ma!am. Mustahil jika kita mengerjakan siang dan malam tak berhasil!"

Kata Siau Po. Kaisar itu tertawa.

"Selama kau berada di Inlam aku telah mengumpulkan para pandai besi dan mencari besi yang baik, orang-orang asing itu pun selalu mengawasi pekerjaan itu, dan kapan kau punya waktu untuk melihat pekerjaan itu bersamaku?"

Mendengar hal itu Siau Po merasa senang sekali.

"Sungguh bagus! Hanya hamba khawatir kalau-kalau orang asing itu menyimpan ranjau, Maka sebaiknya Baginda tidak usah pergi ke sana biar hamba saja yang pergi ke sana..."

Katanya.

"Mengenai hal itu janganlah kau khawatirkan. Kedua orang itu sangat setia padaku, tak akan mereka melakukan hal itu pada diriku, Mereka itu sangat mengasihaniku."

Katanya.

"Lihay.... lihay, orang asing itu dapat membuat meriam dan yang satunya dapat membuat penanggalan, Mereka itu orang-orang hebat, hanya tak pandai untuk mencari pangkat.,."

Kata Siau Po sambil tertawa.

"Memang, kala itu Go Pay yang memegang tampuk pimpinan Dia yang menerima laporan tentang kesalahan pembuatan penanggalan, dan selanjutnya Tangjoang dihukum mati sebab telah menyumpahi kerajaan Ceng pendek usianya, Tatkala laporan itu sampai padaku, aku melihat ada satu kejanggalannya."

"Pada waktu itu Sri Baginda baru berusia sepuluh tahun, tetapi baginda sudah secerdik itu, Sungguh luar biasa, dalam usia yang masih semuda itu Baginda sudah cerdik! Baginda adalah kaisar yang tidak ada bandingnya sejak jaman dahulu kala."

Kaisar Kong Hie tertawa.

"Ah, kau ini! Kau tahu sebenarnya soal itu adalah soal yang sangat mudah, Aku hanya menanyakan pada Go Pay tentang tangal pembuatan kalender itu, Dia tidak mengetahuinya lalu malah balik bertanya padaku, Setelah aku dapatkan ternyata tanggal pembuatan kalender itu tahun kesepuluh yaitu masa pemerintahan Sri Baginda Kaisar Sun Tie. Karena itu dia diberi gelar Tong Hian Kauw Su. Aku katakan padanya, pada usiaku yang ketujuh aku pernah melihat kitab penanggalan itu dalam kamar tulis, lalu kutanyakan, mengapa pada saat itu tidak ada orang yang mengusulkannya, bahwa penanggalan itu tidak tepat? Go Pay tidak dapat menghukum mati orang itu, yang selanjutnya ia hanyalah dipenjarakan saja. Perkara itu pun telah aku lupakan hingga sekarang ini Nanhuijin menimbulkan hal itu, Maka aku lantas mengeluarkan firman untuk membebaskannya!"

Siau Po tertawa.

"Jikalau demikian, nanti aku akan membuatnya capai hati Akan aku suruh ia membuat penanggalan yang baru yaitu Tay Ceng Ban Liak Lek."

Itu artinya penanggalan kerajaan Ceng yang usianya ratusan tahun. Kaisar tertawa, tetapi sewaktu ia berbicara ia bersikap sungguh-sungguh.

"Menurut sejarah yang pernah aku baca, kerajaan-kerajaan yang telah lalu, ada kerajaan yang menyayangi rakyatnya, dialah yang hidup lama dan kekal, Sejak jaman purba orang menyebut raja dengan sebutan Ban Swee, Akan tetapi kenyataannya tidak sampai selaksa tahun. Apakah kata-kata Ban Siu Bu Kiang? (Sehat walafiat selaksa tahun). Itu kata-kata untuk menipu orang. Maka ayah-andaku memesanku untuk melakukan sarannya, Telah aku pikirkan pesan itu, maka aku mendapatkan kenyataan Dengan mewujudkan barulah negara kita seumpama negara yang terbuat dari besi. Siau Po mulai sekarang tak usah lagi kita mengkhawatirkan urusan meriam itu, atau angkatan perang Gauw Sam Kui."

Siau Po belum berpikir sampai demikian jauh, sehingga ia hanya mengangguk saja, setelah itu ia memberikan kitab yang ia ambil dari Gauw Sam Kui.

Dengan kedua tangannya ia menghaturkan dengan sikap sangat hormat, dan ia berkata.

"Benar-benar kitab ini telah ditelan oleh Gauw Sam Kui, si bocah tua bangka itu. Telah hamba dapatkan kitab ini dari kamar tulisnya terus saja hamba bawa ke mari, hingga sekarang kitab telah kembali pada pemiliknya."

Kaisar Kong Hie girang sekali.

"Bagus, memang Bu-houw senantiasa memikirkan tentang hal ini. Kitab ini akan kupersembahkan kepadanya, lalu kubawa ke Thay Bio untuk dimusnahkan Tak perduli apa isinya, yang penting selanjutnya tak ada orang yang mengetahuinya lagi."

Bu Houw adalah ibu raja, sedangkan Thay Bio adalah kuil suci peninggalan leluhur.

"Memang lebih baik kau bakar musnah, itu sama saja dengan seorang pengurus mayat yang akan menghilangkan jejak supaya tidak ada orang yang mengetahui aku telah mencuri isinya...!"

Kata Siau Po dalam hatinya.

Setelah menghadap pada rajanya, Siau Po kembali ke tempatnya yang berada di perumahan raja muda.

ia tiba di sana setelah cuaca gelap.

setelah memanggil Song Jie, Siau Po lalu masuk dan mengunci pintu.

"Ada kerjaan untuk kau kerjakan,"

Kata Siau Po pada Song Jie. Siau Po lalu mengeluarkan robekan-robekan dari kitab yang sedang dicari orangorang, kemudian membeberkannya di atas meja.

"Aku minta kau memilih dan mengaturnya dengan rapi dengan yang lainnya sehingga terbentuk satu lembaran yang utuh."

Perintahnya.

Si nona itu mengangguk lalu mengawasi lembaran-Iembaran kertas itu.

Kemudian ia mulai memilih dan menggabungkannya menjadi satu.

Semula Siau Po mengawasi dan turut membantunya, tetapi sampai sekian lama tak juga selesai sehingga ia merasa ngantuk lalu pergi tidur.

Keesokan harinya Siau Po melihat Song Jie sedang duduk menghadapi meja.

Matanya cekung karena semalam tidak tidur dan terus saja memikirkan peta itu.

Diam-diam Siau Po menghampiri Song Jie lalu menepuk bahunya.

"Hay!"

Tegurnya. Song Jie melompat.

"Ah kau sudah bangun!"

Katanya, sambil terkejut bukan main. Namun setelah diketahuinya yang mengagetkannya itu Siau Po maka ia berubah senang.

"Robekan kertas itu sangat menyulitkan orang,"

Kata Siau Po sambil tertawa.

"Sebenarnya aku tak membutuhkannya sekarang, dan aku tak menyuruhmu melakukan pekerjaan sedemikian berat, hingga kau lupa tidur. Nah, sekarang cepat kau pergi istirahat."

Si nona tidak sungkan.

"Baik,"

Katanya.

"Aku akan membereskannya terlebih dahulu."

Siau Po kemudian melihat di atas meja telah ada kertas putih yang telah ditusuk dengan jarum Dengan demikian robekan itu sudah ada yang telah diaturnya, tetapi belum seluruhnya.

"Telah kau selesaikan belasan lembar!"

Kata Siau Po.

"Ya. MuIanya aku mengalami kesulitan tetapi sekarang ako telah mengerti Dan jika nanti aku mengerjakannya lagi, aku akan bekerja lebih cepat lagi."

Kata Song Jie.

"Robekan kertas-kertas itu banyak sekali manfaatnya, maka kau harus menjaganya jangan sampai ada orang lain yang mencurinya, Kau jagalah dengan hati-hati!"

Kata Siau Po pada Song Jie yang sedang merapikan kertas-kertas itu.

"Akan aku jaga kertas-kertas ini dengan baik, dan aku akan tetap selalu berada di sini. Karena itu semalam aku tidak tidur, khawatir kalau-kalau kertas ini ada yang mencurinya dariku sewaktu aku tidur."

Kata Song Jie pada Siau Po.

"Akan tetapi kau jangan merasa khawatir. Nanti akan kuperintahkan satu pasukan untuk mengurung tempat ini, dan kau di dalam dengan tenang-tenang saja, karena kau terus dijaga dari luar."

Katanya. Song Jie tersenyum manis.

"Dengan demikian maka hatiku jauh lebih tenang."

Kata Song Jie.

"Sekarang kau cepat tidur!"

Kata Siau Po.

"Atau kau aku bopong untuk naik ke atas tempat tidur?"

Wajah Song Jie menjadi merah karena merasa sangat malu.

"Jangan.... Jangan.... Tak usah! itu kurang bagus."

Tegas Song Jie.

"Kurang bagus apa? Kau telah membantuku sampai-sampai kau tidak tidur semalaman. Jadi tak apa-apa jika aku menggendong kau naik ke tempat tidur-."

Kata Siau Po yang terus mendesaknya.

Setelah berkata demikian Siau Po mengulurkan tangannya untuk menggendong Song Jie, tetapi gadis itu tertawa dan dengan lincahnya ia dapat meloloskan diri sampai beberapa kali terbebas dari rangkulan Siau Po.

Siau Po menjadi penasaran dan merangkul tak henti-hentinya....

Ternyata Siau Po masih kalah dengan Song Jie dalam ilmu meringankan tubuh.

Akhirnya Siau Po sangat menyesal karena ia tak memiliki ilmu yang tinggi, karena sangat menyesal itu ia membantingkan tubuhnya di atas kursi.

Menyaksikan hal itu Song Jie tertawa, lalu mendekati Siau Po sambil terus tertawa.

"Nanti aku layani dahulu kau mencuci muka,"

Katanya dengan manis.

"Lalu setelah kau sarapan pagi baru aku pergi tidur."

Siau Po hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucap sepatah kata pun. Melihat Siau Po diam saja, Song Jie menjadi heran.

"Siongko..."

Katanya perlahan "Siongko.... Apakah Siongko gusar?"

Tanyanya. Siau Po hanya menggelengkan kepala.

"Tidak Aku tidak gusar terhadapmu, aku hanya menyesalkan diriku mengapa ilmu meringankan tubuhku demikian rendahnya, sangat beda dengan ilmu meringankan tubuh yang kau miliki sebenarnya guruku telah memberikan pelajaran padaku dengan baik, namun aku tak dapat menguasai ilmu itu. Lihat saja tadi aku ingin menangkapmu pun tak dapat Lalu untuk apa aku mempelajarinya?"

Song Jie tertawa.

"Karena kau ingin menggendong aku makanya aku harus berusaha menyingkir darimu."

Katanya dengan manis. Siau Po tidak meladeni bicara Song Jie, tetapi ia malah merentangkan tangannya untuk segera merangkul si nona itu. Sambil bergerak ia berkata dengan keras.

"Aku harus dapat menangkapmu.... Harus dapat!"

Song Jie tertawa geli sambil berkelit.

Kali ini Siau Po menangkapnya dengan cara curang, maka tidak ayal Song Jie dapat ditangkapnya, dan berhasil ia rangkul.

Siau Po merasa sangat puas dapat merangkul tubuh itu, Song Jie tertawa melihat Siau Po bergembira, dan Siau Po mengangkatnya ke tempat tidur Siau Po.

Walau bagaimana wajah Song Jie merah juga.

"Siongko, kau... kau.,.!"

Katanya dengan terputus-putus.

"Kau apa?"

Tanya Siau Po yang tertawa puas, ia menarik selimut untuk dipakai menyelimuti Song Jie. setelah itu ia membungkuk ingin menciumnya sambil berkata.

"Lekas rapatkan matamu, dan tidur lah!"

Selesai berkata demikian Siau Po lalu meninggalkan tempat itu, setelah itu ia menguncinya kembali..

Sesampainya diluar, Siau Po memerintahkan mempersiapkan satu barisan pasukan untuk menjaga Song Jie yang berada di dalam.

Seterusnya, dalam beberapa hari itu Siau Po masih saja sibuk membagikan uang dan benda-benda sebagai tanda mata dari Inlam kepada selir raja, sejumlah mentri dan pangeran juga beberapa pemimpin pasukan Sie Wie.

"Jikalau kau memberitahukan ini adalah hadiah dari Gauw Sam Kui maka aku tak akan mendapatkan nama baik, dan tidak mendapatkan kesan baik dari rakyat di sini. Bukankah itu pantas? Lebih baik aku sendiri yang mendapatkannya...!"

Ujarnya.

Semua orang yang bersangkutan merasa senang.

Mereka semua memuji Siau Po sebagai orang baik dan bijaksana, Bahkan banyak di antara mereka yang mengatakan bahwa raja tak salah dalam memilih seorang pembantu kerajaan orangnya baik dan murah senyum serta pandai membawa diri.

Siau Po setiap harinya repot dengan membagi bagikan hadiah.

sementara itu Song Jie pun tak kalah, ia setiap harinya selalu sibuk dengan robekan kertas-kertas itu.

pekerjaan Song Jie bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan membutuhkan perhatian dan ketelitian Bagian 61 Setiap malam Siau Po selalu meluangkan waktunya untuk melihat Song Jie.

Robekan itu sudah hampir selesai dan kali ini sudah terlihat gambar gunung, sungai dan huruf-huruf dalam bahasa asing.

Setelah datang malam yang ke delapan belas, Siau Po mengunjungi Song Jie.

Tetapi sesampainya di sana Song Jie sedang gembira karena telah berhasil menyusun robekan kertas itu.

"Apakah yang membuat kau sangat bergembira ini?"

Tanya Siau Po pada Song Jie.

"Coba Tiongko terka sendiri!"

Kata Song Jie. Tadi malam Siau Po telah melihat robekan kertas itu hanya tertinggal beberapa helai lagi, dan mungkin ia telah berhasil menyelesaikannya.

"Mari aku menerkanya, kau tentu telah membuatkan kupat untuk aku makan!"

Sahut Siau Po. Song Jie menggelengkan kepala.

"Bagaimana kalau tugasku telah selesai sekarang?"

Tanyanya. Sekarang Siau Po yang menggelengkan kepala.

"Kau sekarang akan mendustaiku, aku tidak percaya!"

Katanya.

"Siongkong, mari!"

Kata Song Jie bersungguh-sungguh pada Siau Po.

"Mari Siongkong melihat sendiri!"

Siau Po melangkah mengikuti Song Jie menghampiri meja, ia melihat di atas meja, robekan-robekan dari kitab itu telah tersusun menjadi satu.

Siau Po girang, ia mendekati Song Jie lalu memeluknya erat-erat dan menciumnya.

Diperlakukan demikian Song Jie meronta, pipinya berubah menjadi merah karena malu bercampur senang.

Melihat hal itu Siau Po tertawa, ia lalu melepaskan rangkulannya tetapi tangannya tetap memegang tangan Song Jie.

Selanjutnya Siau Po mengawasi peta yang sudah tersusun itu sambil menunjuk dan ia berkata.

"Bukankah itu gunung yang tinggi dan sungai yang besar? Dan itu tikungan sungai kecil dengan delapan bundaran kecil, kenapakah tertulis dengan warna merah dan putih, kuning serta biru? Oh ya. Aku mengerti sekarang! Bukankah itu bendera bangsa Boancu? Namun bundaran kecil itu sangatlah aneh. Apakah nama gunung dan kali itu?"

Song Jie tidak langsung menjawab pertanyaan Siau Po, Matanya terus saja mengawasi peta itu, dan memberikannya pada Siau Po karena ia tidak mengerti tulisan Bangsa Boancu.

"Apakah itu dan siapakah yang menulisnya?"

Tanya Siau Po.

"Akulah yang menulisnya."

Jawab si nona, Siau Po heran bercampur senang.

"Ah, kiranya kau mengerti tulisan Bangsa Boancu, Berarti kemarin kau telah mendustai aku."

Kata Siau Po. Sambil berkata demikian Siau Po merentangkan tangannya untuk memeluk tubuh Song Jie. Dengan cepat Song Jie berkelit, dan ia lalu tertawa.

"Aku tak mendustaimu, aku hanya mengikuti tulisan itu sehuruf demi sehuruf dan menyalinnya pada kertas ini."

Katanya.

"Bagus, nanti aku akan mencari orang yang dapat membaca tulisan itu, dan menyalinnya dalam tulisan Tiongkok. Dengan demikian kita dapat membacanya."

Song Jie tertawa.

"Kau baik dan juga cerdas, Karena dengan demikian kau telah mengetahui maksud dari salinan itu. Di samping itu juga rahasia itu tak akan bocor pada orang lain."

Katanya, Siau Po sangat senang dengan hasil kerja song Jie.

Kemudian ia pergi keluar kamar dan memanggil salah seorang pengawalnya untuk mencari orang yang pandai membaca dan menulis bahasa Boancu.

Tak lama kemudian datanglah seseorang yang dimaksudkan oleh Siau Po.

Orang itu kemudian menerangkan satu persatu tulisan itu pada Siau Po.

"Semua gunung dan juga sungai itu sangat terkenal namanya dan itu berada di utara Hek Liong Kang,"

Katanya. Diam-diam Siau Po girang sekali.

"Tak salah lagi di sanalah tersimpan banyak harta karun yang berupa emas, perak dan barang-barang permata lainnya, yang kesemuanya itu sangat berharga, Hanya tulisan-tulisan dan kata-kata-nya sulit untuk diucapkan."

Kata Siau Po dalam hati.

"Ah, makin lama nama-nama itu semakin aneh saja! Bukankah sekarang kau sedang mengaco belo? Mengapa kau tidak menyebutkan nama yang mudah dimengerti!"

Kata Siau Po. Penterjemah itu takut sekali dan sangat bingung, maka kemudian ia memberikan hormat.

"Hamba tidak dapat membohongi Tuan, hamba hanya mengartikan tentang apa-apa yang tertulis dalam peta ini."

Katanya dengan bergetar ketakutan.

"Baiklah, sekarang kau tulis semua itu dalam bahasa Tionghoa dan nanti aku akan menanyakannya pada orang lain, jika nanti kau kuketahui berdusta...!"

Katanya mengancam.

Selesai berkata demikian, Siau Po memanggil seorang pelayan untuk mengambil uang sebagai gaji orang itu.

Melihat uang yang demikian banyak, orang itu langsung mengucapkan terima kasih sampai berulang-ulang dan setelah itu ia pun pergi.

Setelah orang yang pertama itu pergi Siau Po memanggil seorang penterjemah yang kedua untuk mengartikannya lagi, dan begitu selanjutnya dengan orang yang ketiga, Mereka semua mengatakan kata-kata yang sama pada Siau Po.

Siau Po lalu mengingat kata-kata yang terdapat dalam peta itu sambil dibantu oleh Song Jie.

ia kemudian ingat akan pesan dari gurunya yang mengatakan "Jangan sampai peta itu jatuh ke tangan orang lain, itu sangat berbahaya."

Dengan mengingat pesan gurunya itu, Siau Po kemudian mengambil peta itu dan membakarnya sampai habis, senang hati Siau Po melihat api yang membakar peta itu sekarang catatan itu sudah masuk dalam otaknya.

Sambil berpikir Siau Po mengawasi wajah Song Jie yang berada di sisinya, Wajah yang putih mulus dan tersungging senyuman itu menjadikan wajah itu bertambah cantik.

Song Jie yang mengetahui hal itu menjadi malu, kemudian ia tertunduk.

"Oh, Song Jie bukankah kita telah mengetahui kata-kata yang ada dalam kitab dan peta itu? Karenanya kita harus dapat mengingat-ingatnya jangan sampai ada yang lupa!"

Song Jie merasa sangat senang mendengar kata-kata Siau Po sampai ia berjingkrakan.

Tepat pada waktu itu ada seorang pengawal yang memberitahukan pada Siau Po kalau ia telah dipanggil oleh raja.

Siau Po tersenyum pada Song Jie, lalu ia pergi ke istana untuk menghadiri panggilan raja, sesampainya ia di istana, di sana sudah tampak barisan tentara pengawal raja yang sudah bersiap dengan rapi, melihat hal itu Siau Po lalu memberikan hormat pada raja.

Kaisar tertawa.

"Siau Kui-cu! sekarang kau ikut denganku melihat percobaan meriam yang pertama itu!"

Kata sang raja. Kemudian rombongan itu pergi ke tempat pembuatan meriam. Dan sesampainya di sana ia disambut oleh orang asing itu yang langsung memberikan hormat pada raja.

"Kalian bangkitlah! Di mana meriam-meriam itu?"

Tanya sang raja.

"Meriam-meriam itu sekarang berada di luar kota, silahkan Sri baginda menyaksikannya!"

Jawab orang asing itu. Raja dan para pengawalnya kemudian mengikuti orang asing itu untuk melihat percobaan meriam.

"Meriam-meriam ini dapat menembak sejauh satu setengah lie dan di sana telah dipasang sasaran yang akan kita tembak,"

Kata orang asing itu memberikan penjelasan pada raja dan Siau Po.

"Sekarang hamba akan memasang pelurunya dan hamba meminta pada Baginda untuk mundur barang beberapa langkah, sebab suara meriam ini sangatlah keras dan juga untuk menjaga keamanan kita."

Katanya. Raja tersenyum dan kemudian mundur barang beberapa langkah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Siau Po mengajukan diri.

"Untuk meriam yang pertama ini ijinkan hamba yang menyulutnya!"

Kata Siau Po.

Kaisar mengangguk.

Siau Po lalu maju ke sisi meriam itu.

Siau Po kemudian menyalakan meriam itu, setelah itu ia berlari mundur dan tangannya dipakai untuk menutupi kupingnya, sedangkan matanya terus menatap ke arah meriam itu.

Begitu sumbu meriam itu dihidupkan, maka tak lama kemudian melesatlah pelurunya dan kemudian hancurlah sasaran yang dituju itu, Karena pada sasaran itu juga diberi obat, maka setelah tertembak sasaran itu pun terlempar ke udara.

Tentara yang hadir bersorak, dan semua memberikan kata-kata selamat pada raja cilik itu.

Kaisar sangat girang menyaksikan hal itu, maka raja menaikkan pangkat orang-orang asing itu dan menjadikan ketujuh meriam itu sebagai meriam keramat.

Sesampainya di istana, raja memanggil Siau Po di kamar kerjanya.

"Siu Kui-cu marilah kita bekerja siang dan malam untuk membuat meriam yang lainnya, untuk menghadapi Gauw Sam Kui dan sekutunya itu, Siau Kui cu sekarang coba kau katakan nanti pada waktunya apakah ia akan berhasil memberontak atau tidak?"

Siau Po tertawa.

"Berbahagialah Sri baginda!"

Katanya.

"Sebenarnya dalam menghadapi Gauw Sam Kui dan sekutunya itu tak kita perlu dengan meriam, namun jika dibantu dengan meriam itu, kita akan lebih cepat dapat menumpasnya."

Kata Siau Po. Kembali raja tertawa.

"Ah, kau ada-ada saja!"

Kata raja yang secara tiba-tiba wajahnya menjadi berduka.

"Bicara mengenai naga aku jadi ingat, bukankah Gauw Sam Kui telah bersekongkol dengan Bangsa Mongolia, Tibet dan Losat? Bukankah masih ada sekutunya yaitu Sin Liong Kauw, partai keagamaan naga sakti itu? Si moler tua itu justru anggota dari partai itu yang dikirim untuk mengacau dalam istana ini."

"Memang!"

Jawab Siau Po.

"Jikalau si moler tua itu tidak dihukum mati mana dapat kita membalaskan sakit hati ibu suri itu?"

Kata sang raja dengan nada penuh kebencian. Melihat hal itu Siau Po berkata dalam hati.

"Apakah dengan demikian raja akan mengutus aku untuk mencari dan membekuk si moler tua itu? sekarang ini ia bersama dengan Kho Cun Cia, hanya dimanakah mereka itu berada, hingga untuk satu waktu aku tak usah susah-susah mencarinya...."

Karena ragu-ragu maka Siau Po hanya diam saja. Sesaat kemudian terdengarlah raja berkata, ternyata terkaan Siau Po itu sangat tepat.

"Siau Kui-cu, ini adalah urusan yang harus dirahasiakan, dan tak dapat diwakilkan oleh orang lain selain oleh kau sendiri! Maka aku hendak memberikan tugas kepadamu..."

"Baik.... Baik, Sri Baginda!"

Kata Siau Po.

"Hanya entah kemana perginya si moler tua itu, Dan "

Gendaknya itu.... Gendaknya itu orang yang sangat lihay dalam ilmu gaib."

"Si moler tua itu mungkin telah bersembunyi di gunung dan memang sangatlah sukar untuk didatangi."

Kata Raja.

"Tetapi walaupun demikian kau pasti akan dapat menemukannya, dan itu sangatlah mustahil jika tak ada jalan yang lain, sekarang kau pimpin dahulu satu pasukan perang, dan kau pergi untuk membasmi partai naga sakti atau Sing Liong Kauw. Di sana kau bekuk beberapa anggotanya, kita akan mengorek keterangan dari mereka itu perihal si moler tua itu! Asal kau memaksa mereka satu per satu, pasti kau akan mendapatkan keteranganku."

Berkata demikian, raja itu terus saja menatap Siau Po yang tampak ragu-ragu.

"Aku tahu tugas itu memang sangatlah sulit,"

Katanya.

"Sama halnya dengan mencari jarum yang berada dalam lautan, Akan tetapi walaupun demikian, kau janganlah sangsi! Aku tahu kau pandai bekerja, kau juga sangat berbakat untuk menjadi seorang panglima besar. Biasanya sangat sukar jika di tangan orang lain namun di tanganmu masalah itu sangatlah mudah, Maka pergilah kau bekerja! Aku tak akan memberikan batas waktu, setibanya kau di Kwan Gwa kau berhak menggerakkan pasukan perang Hong Thian, kau tunggu saatnya yang baik untuk membasmi dan membekuk partai Sin Liong Kauw..."

"Bakat atau rejeki hamba itu adalah hadiah dari raja,"

Kata Siau Po.

"Sri baginda telah memberikan kepercayaan yang luar biasa padaku, maka dengan sendirinya rejekiku menjadi tambah besar saja, semoga kali ini, dengan mengandalkan pada rejeki dari baginda, hamba dapat mencari dan membekuk si moler tua itu!"

Katanya pula. Girang hati sang raja mendengar kata-kata Siau Po yang menerima perintahnya itu, ia lalu menepuk bahu Siau Po seraya berkata.

"Usaha pembalasan sakit hati adalah usaha yang sangat besar, tetapi jika dibandingkan dengan urusan negara itu termasuk urusan kecil. Keselamatan negara adalah sangat penting. Memang baik sekali untuk membekuk si moler tua itu, apalagi jika kau dapat membasmi partai Sin Liong Kauw inilah tugas yang utama. Kau takut Kwan Gwa adalah tempat asal kerajaan Ceng kami yang maha besar Dan sekarang Sin Liong Kauw tengah mengawasinya, jikalau benar ia akan menyerang dengan bantuan dari bangsa Losat, itu sangat berbahaya. Kalau mereka berhasil menimpa Kwan Gwa, berarti lenyaplah kampung halaman kami. Maka jika kau berhasil memukul pecah pulau Sin Liong To berarti kau berhasil mengenai jari tangan bangsa Losat"

Siau Po tertawa mendengar kata-kata rajanya itu.

"Sri baginda benar"

Katanya dengan mengacungkan jempol tangan kanannya. Melihat tingkah kacungnya itu raja tertawa.

Baca Juga: Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan 1

Baca Juga: Bangau Sakti 21

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert