Eps 1 Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung
Baca online Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung
Cersil Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung.
Giok Bun Kiam Lu (Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan) Karya . Chin Yung Saduran . Kwee Oen Keng Editor . TAH di upload di Indozone Final edit & Ebook oleh . Dewi KZ
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/
http.//dewi-kz.info/
http.//cerita-silat.co.cc/
http.//ebook-dewikz.com KETEGANGAN menyelinap diatas udara padang rumput yang luas dan sunyi.
Sang Batara Surya sudah mendoyong diufuk barat yang berwarna kuning ke-merah2an.
Se-konyong2 dari sebuah lembah, muncul seorang penunggang kuda.
Dia melarikan kudanya dengan cepat kearah tenggara.
Kearah Giok-bun-koan, daerah perbatasan antara negeri Monggolia dan Tiong-goan.
Penunggang kuda itu ternyata se-orang pemuda yang romannya gagah-perkasa, cakap bagaikan batara.
Umurnya kira2 baru tujuhbelas tahun.
Dia mengenakan tudung bambu lebar dan dandannya seperti seorang ksatria Monggol.
Dipinggangnya menggantung sebilah pedang, pedang pusaka kelihatannya.
Dan diatas punggungnya menggemblok sebuah busur lengkap dengan kantong anak panahnya.
Panah!
Senjata itu merupakan alat-tempur yang lazim dipakai bangsa Monggol, tetapi jarang sekali ada yang menggunakan pedang, kecuali golok, parang atau tombak, Hanyalah ksatriya, kaum bangsawanlah yang biasa membawa pedang.
Ksatriya muda itu membungkukan diri agar dapat lebih lekas menerjang angin.
Tubuhnya tinggi-besar dan kedua belah tangannya berotot kuat.
Matanya bersinar kehitaman, kulitnya halus dan putih -hingga dia lebih menyerupai ...
seorang bangsa Han!
Nampaknya ksatriya muda itu habis melakukan perjalanan jarak jauh, karena mendadak ia menarik les kudanya dengan keras.
la menoleh kebelakang, se-olah"
Sedang memeriksa sesuatu.
Pada saat itu juga ia menjerit tertahan.
Nampaklah lima penunggang kuda berpakaian merah herlari mendatang kearahnya, menyusul!
Mereka adalah perwira2 Jendral Tuli, Panglima tertinggi Angkatan Perang Monggol!
Debu mengepul tinggi diudara.
Kuda sipemuda meringkik keras.
Segera ia menjepit kempungan binatang itu.
Lalu mengaburkan kudanya pula dengan cepat.
Segera menyusul derapan kaki kuda memecahkan kesepian alam.
Kejar mengejar terjadi dipadang rumput itu.
Mendadak terdengar suara desingan anak panah yang melesat diatas kepala sipemuda.
Tanda peringatan supaya ia segera menghentikan kudanya.
Pemuda itu tidak menghiraukan.
la hanya melirik dengan pandangan dingin.
la menggeprak kudanya agar kabur lebih cepat.
Namun, walaupun kuda tunggangannya itu kuda kelas wahid, tapi karena sudah kehabisan tenaga, tak dapat binatang itu berlari dengan lebih pesat.
Kelima pengejar itu makin dekat, makin dekat.
Terdengar salah seorang berseru .
"Lekas berhenti, Gokhiol! Jendral Tuli memerintahkan supaya kau kembali keistana!"
Pemuda itu membalikkan tubuhnya.
"Kalian tak usah membujuk. Sampaikan kepada Jendral Tuli, bahwa aku -Gokhiol -tidak akan menginjakkan kaki dilantai istana sebelum menghirup darah orang yang telah membunuh ayahku!"
Sekejap saja dua perwira sudah mendekati kuda sipemuda.
"Pangeran. Gokhiol! Saudaramu pangeran Pato dan Hulagu sangat merindukan kau. Apakah kau tidak kasihan keipada mereka? Pato sedang mengejarmu dibelakang". Sipemuda yang sadar bahwa dirinya tak dapat lolos lagi, menjadi beringas wajahnya. Dengan gerakan seperti kilat dia mencabut pedangnya dan menuding kebelakang.
"Kamu jangan bikin darahku naik! Enyahlah dari sini!"
Perwira2 Monggol itu sebenarnya takut kepada sipemuda itu, yang bukan lain dari pangeran Gokhiol, anak angkat Jendral Tuli.
Tapi mereka mendapat perintah untuk membawa kembali pangeran yang kabur dasi istana itu.
Perintah lisan dari Jendral Tuli!
Itu harus dilaksanakan tanpa perkecualian!
Serempak mereka mengangkat tombak dan menyerang!
Terpaksa Gokhiol menahan lari kudanya.
Dengan wajah penuh kegusaran ia memutarkan pedangnya yang lantas mengeluarkan sinar merah berkilau2an.
Sinarnya pedang pusaka!
Angin men-deru2 dengan hebatnya dan ujung pedang ber-gulung2 seperti naga merah bermain disamudera.
Perwira2 Monggol itu menjadi pucat.
Mereka tahu sang pangeran tinggi ilmu pedangnya dan mereka sudah mendengar tentang keampuhan pedang pusaka Ang-liongkiam atau Pedang-naga-merah!
Lima tombak melawan satu pedang.
Pertempuran diatas kuda itu seru, hebat dan mengerikan.
Kuda2 meringkik serta ber-lompat2an.
Akhirnya Gokhiol menjadi tak sabar lagi.
la perhebat serangannya dan dengan tiga sampokan geledek dia memapas kutung kelima tombak itu.
"Huh ! Pulanglah, kamu sekalian. Jika kamu masih bandel, nanti kepalamu yang jatuh menggelinding dari leher !"
Mengejek sipangeran. Kelima perwira Monggol itu menjadi gusar bukan kepalang.
"Pangeran Gokhiol! Kau berani menentang perintah PangIima! Awas, lihatlah panah!"
Serempak pula perwira2 itu menjangkau busur.
Tentara Monggol tersohor sebagai jago2-panah yang jarang tandingannya.
Bidikan mereka selalu jitu, yang berarti ...
maut!
Gokhiol berubah wajahnya.
Begitu terdengar terlepasnya tali gendawa, ia segera memutarkan pedang pusaka untuk melindungi dirinya.
Sinar merah berkilauan pula diudara dan ampat anak panah terpapas kutung.
Tapi sebatang anak panah ambles ditubuh kudanya, hingga binatang itu meringkik keras kesakitan dan berlompat-lompatan bagaikan gila.
Gokhiol jatuh terpental!
Namun karena ginkangnya lumayan juga, maka ia dapat hinggap dengan selamat diatas tanah."
Kelima perwira Monggol tanpa ayal lompat turun dari dari kuda dan menubruk Gokhiol untuk membekuknya.
Mereka adalah jago2-gulat kelas satu dan mengira dengan mudah saja dapat menangkap sipemuda.
Sambil membentang tangan mereka mengurung.
Mata Gokhiol menjadi merah.
Darahnya mendidih karena kuda kesayangannya telah tewas.
la berdiri tegak bagaikan harimau.
Perwira2 Monggol menjadi jeri.
Dari sinar mata-sipemuda yang tajam melebihi pisau, mereka melihat ...
nafsu untuk membunuh!
Tanpa sadar mereka mundur.
Terlambat!
Seraya berteriak mengguntur.
Gokhiol sudah maju menangkap perwira yang paling dimuka.
Cepat sekali gerakannya!
Tangannya mencengkeram leher baju mangsanya dan tangan-kanannya sudah terangkat naik untuk menghancurkan kepala perwira itu dengan pukulan geledeknya.
Gokhiol!
Jangan kau berani bunuh seorang ksatriya Monggol!"
Tiba2 seorang perwira berteriak memperingatkan sipemuda.
Gokhiol tersadar.
Jika ia sampai membunuh ksatriya Monggol itu, niscaya dirinya akan celaka -biarpun ia anak-angkat Panglima perang.
Tata-tertib dalam ketentaraan Monggol sangatlah keras, tak boleh dilanggar.
Melihat Gokhiol tertegun, empat perwira lainnya segera menpergtutakan kesempatan itu.
Mereka menerjang berbarengan.
Namun pemuda kita bukan sembarang orang.
Dalam segebrak saja ia sudah dapat membuat lawan2nya itu terpelanting kesana-kemari.
Percuma ia menjadi murid kesayangan jago-gulat istana Yalut Sang.
"Tidurlah, bocah2ku"
Ujar Gokhiol kepada perwira2 itu yang telah rebah ditanah dengan pingsan.
"Maaf, aku perlu pinjam salah satu kudamu". la memilih kuda yang terbaik, lalu lompat keatasnya. Suara tertawanya terdengar diudara tatkala binatang tunggangannya me-ringkik2 untuk kemudian kabur kedepan seperti setan ... Siapakah gerangan sebenarnya sipangeran yang dipanggil Gokhiol itu? Mengapa dia kini meninggalkan istana? ---oo0dw0oo---Siapakah gerangan sebenarnya sipangeran yang dipanggil Gokhiol itu? Mengapa dia kini meninggalkan istana? UNTUK mengetahuinya marilah kita balik kembali keduapuluh tahun yang lampau, pada masa kejayaan kaisar Jenghis Khan yang daerah kekuasaannya hampir meliputi separuh dunia . Tatkala negara Kim jatuh ditangannya, raja Kim yang bernama Wanyen Ping mengirimkan puterinya ke Monggolia sebagai utusan persahabatan. Tapi ketika sampai di Giok-bun-koan, sang puteri Wanyen Hong yang cantik-jelita tiba2 menghilang. Rombongan yang terdiri dari duabelas dayang2, enam pengasuh dan enam Taykiam (pelayan kebiri) serta seratus ksatriya istana Kim-ie-wie menjadi gempar. Mereka mencari ubek2an disekitar daerah perbatasan Giok-bun-koan, namun usaha mereka sia2 belaka. Sang puteri se-olah2 lenyap kedalam bumi! Para ksatrya istana itu semuanya adalah orang2 pandai kelas satu dari negeri Kim. Satu diantaranya yang bernama Tio Hoan malahan adalah sanak-keluarga bangsawan negara Song yang dijadikan orang utusan. Bagaimana ia bisa menjabat sebagai pengawal istana dinegeri Kim? Kiranya setelah Gak Hwie wafat, ketika itu pemerintah Song mengadakan kompromi dengan negeri Kim dan mengangkat seorang pangeran sebagai utusan negara istimewa. Tio Hoan adalah keponakan kaisar Song Ko Cong, sejak masih kecil ia belajar ilmu silat di Boe-tong Pay. Pihak Kim memang, sudah mengagumi kepandaiannya, maka telah meminta ia untuk menjadi orang utusan. Sesampainya Tio Hoan di Yan-king ibu-kota negeri Kim, raja Kim sangat menyayanginya dan telah mengangkat ia menjadi To-wie dan kemudian menganugerahkan padanya pangkat pengawal istana kelas satu. Jenghis Khan yang mengira dirinya dipermainkan, menjadi murka. Ia menitahkan untuk menangkap seluruh rombongan itu! Pasukan Kim-ie-wie adalah pasukan istimewa, terdiri dari ksatrya"
Yang berkepandaian tinggi dan luhur martabatnya.
Mereka menjunjung tinggi kehormatan negaranya dan membela diri mati2an.
Pertempuran berlangsung dengan dahsyatnya.
Pedang dan tombak saling beradu diudara dan suara jeritan yang terluka sebentar2 terdengaf.
Masing2"
Pihak bertempur dengan semangat yang ber-kobar2, sama2 berani dan sama2 gagah-perkasa.
Seharian suntuk mereka bertanding, dan darah sudah membanjir dipermukaan bumi.
Menjelang senja, sisa2 pasukan Kim-ie-wie terpaksa mengundurkan diri.
Mereka mundur teratur untuk pulang kembali kenegeri Kim.
Namun Tio Hoan dan beberapa ksatrya lain yang melindungi pengiring2 sang puteri...
tertawan.
Dengan nekad mereka terus melawan, Tio Hoan menerjang dengan pedang pusaka Ang-liong-kiam.
Tapi akhirnya mereka tak berdaya ...
Para rombongan pengiring diangkut keistana kota-raja Holim untuk dipekerjakan sebagai peiayan permaisuri Bourtai Fijen.
Permaisuri.
ini sangat halus perangainya, maka ketika pengiring2 memohon agar Tio Hoan dan kawan2-nya diberikan ampun, Bourtai Fijen membujuk suaminya Jenghis Khan.
Tio Hoan diberi ampun dan ditugaskan mendidik pangeran Tuli dalam kepandaian surat dan silat.
Mereka berdua kemudian menjadi Akrab satu sama lain.
---oo0dw0oo---Setahun sudah lewat.
Dalam waktu senggangnya Tio Hoan sering bergurau dengan para dayang negeri Kim dan akhirnya ia jatuh cinta pada dayang tercantik yang bernama Lok Giok.
Atas ijin permaisuri Bourtai Fijen mereka menempuh penghidupan baru sebagai suami isteri.
Tak lama kemudian Lok Giok berbadan dua.
Tio Hoan menggunakan kesempatan ini untuk memohon kepada pangeran Tuli agar ia diperkenankan pergi menyelidiki pula putri Wanyen Hong yang hilang di Giok-bun-koan bersama beberapa kawannya.
Pangeran Tuli yang dapat merasakan hati penasaran dari orang itu, telah meluluskan permohonannya.
Setengah tahun lamanya Tio Hoan pergi menyelidiki.
Akhirnya ia kembali keistana dan diam memberitahukan isterinya bahwa dia berhasil mendapatkan jejak dimana sang puteri berada.
Beberapa bulan kemudian Lok Giok melahirkan seorang putera.
Tapi baru saja sang bayi Tio Peng berusia satu bulan, Tio Hoan pergi kembali ke Giok-bun-koan.
Ketika ia hendak berangkat, ditinggalkannya sebuah kantong wasiat kepada isterinya dan memesan bila ia tidak kembali, maka Lok Giok harus menunggu sampai puteranya berusia tujuhbelas tahun dan kantong wasiet itu harus diberikan kerpada puteranya.
Lok Giok dapat menangkap arti kata2 suaminya itu yang mengandung maksud tertentu, maka ia mulai mencucurkan airmata.
Setahun telah lewat.
Dua tahun.
Tiga tahun!
......
Tio Hoan tidak kabar ceritanya.
Pangeran Tuli terpaksa melaporkannya kepada Jenghis Khan.
Dan Tuli pun tidak mengadakan penyelidikan lebih lanjut.
Tapi Lok Giok pada satu malam dengan diam2 keluar dari istana dan bersama dengan seorang pengikutnya pergi menuju Giok-bun-koan.
Lok Giok hampir menjadi pingsan tatkala didalam goa Tung-hong ia menemukan mayat suaminya yang sudah koyak2 dan busuk.
Dengan hati hancur-luluh ia menangis ter-sedu2.
Akhirnya ia mengambil pedang Ang-liong-kiam yang menggeletak ditanah, lalu menyuruh pengikutnya berdiam disitu menjaga mayat suaminya.
Sedangkan ia sendiri pulang kembali ke Holim untuk memanggil Tuli agar pangeran itu tahu bahwa Tio Hoan bukan melarikan diri dari negeri Monggol.
Tetapi ketika Lok Giok kembali digoa Tung-hong bersama Tuli, mayat suaminya sudah hilang lenyap, sedang gantinya menggeletak mayat pengikutnya yang setia .......
---oo0dw0oo---Akisah diceritakan setahun kemudian pangeran Tuli menikah dan Lok Giok bertugas sebagai inang pengasuh anaknya.
Mengingat kebaikan Lok Giok maka Tuli mengangkat pula Tio Peng sebagai anak-angkatnya dan menganugerahkan nama Monggol .
Gokhiol.
Tuli mendatangkan guru2 silat kelas wahid untuk mendidik anak2nya.
Pendeta Lhama dari Ceng-cong Pay, akhli2 anggar dari Eropa dan akhli gulat dari bangsanya sendiri, Yalut Sang!
Dibawah bimbingan para guru istimewa dari berbagai cabang persilatan ini, Gokhiol pun mendapat kesempatan bagus guna melatih dirinya ber-sama2 kelima putera dari Tuli yang bernama Mangu, Moko, Pato, Kubilay, Hulagu dan Kaidu.
Tapi Gokhiol paling akrab bergaul dengan Pato dan Hulagu.
Pada tahun 1227 Tarikh Masehi Jenghis Khan binasa selagi bertempur melawan negeri Song.
Jenazahnya dimakamkan dipadang pasir Go-bie yang merupakan juga tempat kelahirannya.
Ogotai, putera kedua dari permaisuri Bourtai Fijen naik diatas takhta keradiaan sebagai Ka Khan.
Sedangkan Tuli kini mengepalai Angkatan Perang Monggolia, sebagai tempat kelahirannya.
Hari berganti hari, siang berlalu pergi.
Sang waktu lewat dengan cepatnya.
Ketika Gokhiol berusia genap tujuhbelas tahun, pada suatu malam ibunya telah memanggilnya datang dikamarnya.
Tampak airmata ibunya berlinang-linang tatkala inemberikan sebuah kantong kulit kepada sang putera.
Gokhiol adalah searang anak yang cerdik.
Sambil berlutut ia buru2 menyambut kantong kulit tersebut seraya berkata .
"Ibu, barang pusaka ini tentulah peninggalan dari ayah. Anak seringkali menanyakan tentang hat musuh-besar ayah. tapi ibu selalu berkata atplabila anak sudah berumur tujuhbelas tahun barulah ibu mau menceritakannya. Hari ini anakmu sudah mencapai usia itu, tentunya ibu menginginkan agar aku pergi mencari musuh-besar ayah".
"Anakku sayang, dengarkanlah kata ibumu dengan baik2", ujar Lok Giok dengan airmata yang ber-linang2.
"rahasia yang tersimpan selama tujuhbelas tabun akan kuterangkan hari ini kepadamu. Anakku, sebenarnya kau adalah keturunan dari kaisar Song, keturunan bangsa Han. Mendiang ayahmu bernama Tio Hoan..."
Belum ibunya berkata habis atau Gokhiol telah memotongnya .
"Ibu, hal ini telah lama kuketahui. Yang menceritakan kepadaku adalah para kong-kong yang melayani ibu".
"Kalau kau telah mengetahuinya, baiklah", kata Lok Giok seraya membangkitkan anaknya.
"para kong-kong telah datang bersama ibu tatkala mengiring sang puteri radia Kim kenegeri Monggol. Yang penting untukmu ialah mencari siapa pembunuh ayahmu dan merupakan kewajibanmu untuk pergi mencarinya. Benar, kantong wasiat ini adalah peninggalan mendiang ayahmu. Ketika ia hendak pergi, ayahmu telah mempunya firasat bahwa ia akan jatuh ketangan musuh. Maka ia telah terlebih dahulu memesan kepadaku apabila kau telah berusia tujuhbelas tahun, barulah kau boleh menerima kantong wasiat ini. Periksalah isinya dan dengan itu kau mungkin akan dapat mencari jejak musuh-besar tersebut. Gokhiol menjura tiga kali kepada ibunya dan menerima kantong kulit itu. Kantong kulit yang selama tujuhbelas tahun tak pernah dibuka terjahit rapat dengan tali urat sapi. Gokhiol nienuruti perintah ibunya. Setelah kembali kedalam kamarnya ia membuka kantong kulit itu dengan sebilah pisau. Didalam kantong itu terdapat sepotong kulit kelinci berwarna putih. Tampak dengan jelas huruf2 yang tertulis dengan bakaran besi panas mensiratkan kata2 yang berbunyi sebagai berikut .
"Tio Peng, puteraku yang tercinta. Ketika aku meninggalkan kau, usiamu belum ada sebulan, tapi apabila kau telah dapat membaca surat ini, maka usiamu sudah tujuh belas tahun. Aku telah mendoakan kepada Thian yang luhur agar pada suatu hari kau akhirnya dapat membaca suratku ini. Kau adalah keturunan Kaisar Song, yang nasibnya kurang beruntung dan dilahirkan didaerah salju. Maka aku telah menetapkan namamu Tio Peng. Bila dikemudian hari kau mendapat kesempatan untuk kembali ke Tiong-goan, gunakanlah nama tersebut!"
Gokhiol terharu hatinya, hingga airmatanya turun. Tapi ia membaca terus.
"Surat ini telah kutinggalkan kepadamu tatkala aku hendak berangkat ke Giok-bun-koan guna mencari tahu jejak sang putri Wanyen Hong dari negeri Kim. Anakku yang tercinta, aku akan menceritakan suatu rahasia kepadamu. Atas ketekadan hatiku, ketika pertama kali mencarinya, digoa Tung-hong aku menemukan jejak bahwa sang puteri telah diculik oleh seorang yang kepandaiannya lebih tinggi dari padaku. Dan lagi hati orang itu sangat kejam. Perasaanku mencurigai beberapa orang dari tokoh Bu-lim, tapi aku tak dapat mengetahui dengan pasti siapa gerangan orang itu. Lagi pula aku masih percaya bahwa puteri WanYen Hong belum mati, sehingga aku menjadi lebih bersemangat. Namun kepergianku kali ini tentunya telah dapat diendus oleh orang itu. Maka dengan demikian kemungkinan bahaya yang besar akan menimpa diri ayahmu, tak dapat dielakkan lagi. Putraku, apabila kau membuka surat ini, mungkin aku sudah tinggal tulang-belulangnya saja menggeletak didalam kuburan, tapi dalam alam baka aku akan senantiasa mendoa agar pada suatu ketika kau dapat menemukan musuh-besarku dan dapat mengetahui pula dimana gerangan sang putri kini berada. Selain itu masih ada satu tanda bukti yang telah kutinggalkan kepadamu -yaitu sebutir kumala merah. Bila musuhku melihatnya, pasti dia akan segera mengenali bahwa kau adalah keturunan dariku . demikian pula sama halnya dengan sang, puteri serta juga rekan2-ku. Hanya, tentunya kau akan, bertanya siapa gerangan musuh-besarku itu, bukan? Sayang sekali aku belum dapat memberitahukan kepadamu, karena akupun belum dapat memberi kepastian. Ketika pertama kali aku pergi ke Giok-bun-koan untuk mencari sang putri, aku telah mengajak seorang pengawal istana yang telah lanjut usianya bernama Tiang Jun dan seorang ksatrya yang kuikut sertakan dari negara Song sebagai pengawal bernama Giok Liong. Aku telah menitahkan mereka untuk tinggal disekitar Giok-bun-koan guna mendengar kabar-kabar berita. Tiang Jun tinggal disebuah lembah dipingggir sungai Su-lek-Ho, suatu tempat yang sangat sepi dan jarang sekali dldatangi orang. Apabila ia masih hidup, kau dapat mengikuti petunjuk yang tertera didalam peta. Pasti kau akan dapat suatu jalan untuk mencari musuh-besarku. Ibumu yang sangat cerdik dan bijaksana adalah orarag dari negeri Kim. Ketika puteri Wanyen Hong masih diistana, ibumu selalu diangap sebagai saudarinya sendiri. Tio Peng, ingatlah! Kau harus menunjukkan kebaktianmu sebagai seorang putera terhadap orang-tuanya untuk meneruskan usahaku yang belum selesai ini. Aku harap kau berhasil membunuh musuhku dibawah tanganmu sendiri! Selamat berjuang puteraku. Ayahmu . Tio Hoan. Gokhiol membaca surat itu dengan airmata bercucuran. Perlahan-lahan kantong kulit dibukanya dan benar saja didalamnya terdapat sebuah ikat pinggang dengan sebuah kumala merah. Ketika ia periksa lebih lanjut, kiranya dibelakang ikat pinggang tersebut tergores sebuah peta sederhana lengkap dengan petunjuk2nya. Demikian juga letak goa2 di Tung-hong serta lembah2 dan sungai2nya. Surat wasiat serta ikat pinggang batu kumala merah itu disimpannya kembali dengan hati2 kedalam kantong kulit tadi yang merupakan sebuah tempat ransum yang lazimnya dipakai oleh orang2 Monggol. Gokhiol yang berkedudukan sebagai seorang pangeran, andaikata ia minta ijin untuk pergi mencari musuh, ayahnya-angkatnya Tuli takkan mengijinkanya. Demikian pula dengan kedua saudara angkatnya Pato dan Hulagu pasti mereka takkan melepaskannya pergi. Gokhiol berpikir kalau demikian halnya, ia terpaksa meninggalkan Monggolia dengan diam2 dan kelak setelah ia dapat membalas dendam, barulah ia akan kembali untuk mohon maaf kepada ayah-angkatnya. Sedari masih kecil, Gokhiol dididik dalam suasana hidup Monggol, maka tidak heran apabila daerah kejam mempengaruhi dirinya yang berkemauan keras dan tekad. la tak mudah mengalah terhadap segala rintangan yang dihadapinya, pantang mundur. Sebagaimana biasa apa yang terkandung dalam pikirannya, dia selalu memberitahukan kepada ibunya. Tapi mengingat ibunya yang sangat menghormati Tuli, maka ia berpikir apabila maksud kepergiannya untuk mencari jejak musuh ayahnya diberitahukan juga kepada ibunya, niscaya hal ini mengeruhkan suasana istana. Dan ayah angkatnya itu belum tentu akan meluluskannya. Lebih baik ia meninggalkan surat saja kepada ibunya. Keesokan harinya pagi2 sekali Gokhiol membawa pedang pusaka Ang-liong-kiam menuju kandang untuk mendapatkan kuda kesayangannya. la membawa bekal ransum serta minuman, pura2 ingin pergi berburu keluar kota. Bagaikan burung terlepas dari sangkar dia malarikan kudanya keluar dari Holim. Tapi apa mau ia disusul!? ---oo0dw0oo---Matahari telah menyondong ke Barat, hari menjelang petang. Nampak didepan Gokhiol sebuah jembatan bambu melintang yang menghubungi kedua tepi sungai Su-lek Ho. Selagi ia hendak melintasinya, tiba terdengar mendesingnya sebuah anak panah yang memecahkan, kesunyian diangkasa dan memancarkan percikan kembang api berwarna kuning ke-merah2an. Gokhidl mendongak keatas. Hatinya terkejut bukan kepalang Celaka! pikirnya dalam hati.
"Itulah panah Ho-Leng-Cian, panah peringatan Panglima! Mungkinkah Jendral Tuli sendiri yang telah mengubarnya?"
Se-konyong2 dari atas sebuah bukit diseberang sungai mengepul asap, membubung tinggi kelangit.
la tersadar bahwa diatas bukit itu terdapat sebuah pos penjagaan.
Tak beberapa lama kemudian nampak olehnya sepasukan tentara yang tergesa-gesa memotong putus tali2 dari jembatan bambu tersebut.
Itulah satu2nya jembatan untuk dapat menyeberangi sungai!
Gokhiol menarik tali-kekang kudanya dan berhenti didepan jembatan yang telah putus tali gantungannya.
Dengan gusar ia berseru ."Hai, disana!"
Aku adalah Gokhiol, anak-angkat Jendral Tuli! Apakah kamu gila memutuskan jembatan ini, sehingga aku tak dapat menyebranginya ?"
Dari seberang sana seorang perwira maju dan berteriak menjawab.
"Pangeran Gokhiol, apakah kau tidak mengenali panah tanda peringatan panglima? Lebih baik kau putarkan kudamu dan kembali ke Holim. Siapapun takkan diijinkan untuk menyeberangi jembatan ini! Itulah tugas kami sebagai penjaga2 perbatasan."
Gokhiol tak berdaya. Sebaliknya diam2 iapun kuatir kalau"
Pasukan pengejarnya mendatang pula, sehingga kesulitan yang menimpah dirinya akan lebih besar lagi.
Tiba2 saja ia teringat akan peta yang tersimpan didalam kantong kulit.
Disitu dengan jelas sekali diterangkan bagian2 mana dari sungai Su-lek Ho yang dangkal dan dalam letaknya.
Segera ia menyingkir dari tepi sungai dan menghentikan kudanya disuatu tempat agak jauh.
Lalu dibukanya kantong kulit dan dikeluarkannya peta peninggalan mediang ayahnya.
Benar saja!
Dibagian sabelah kanan kira2 satu lie jaraknya dari tempat ia berdiri, terdapat tumpukan batu2 cadas dimana letak sungai adalah agak dangkal.
Tanpa ayal ia meuuju ketempat itu dan setelah tiba disana, iapun menerjunkan kudanya kedalam air untuk menyeberangi sungai.
Hari semakin gelap.
Gokhiol mengikuti jalan kecil yang ber-liku2 dan kadang2 ia harus menuntun kudanya.
Tempat yang dilaluinya itu amat sepi sekali.
Tiada terlihat suatu makhluk yang hidup disekitarnya.
Sampaikan pohon2 kecilpun jarang dijumpai.
Gokhiol berpikir dalam hatinya.
Mungkinkah tempat ini yang disebut lembah Ban-Coa-Kok atau Lembah-ular melingkar seperti yang tertera didalam petanya?
Apabila benar Ban-Coa-Kok, maka tak salah lagi Tiang Jun tinggal ditempat ini.
Hatinya ber-debar2.
la meneruskan perjalannya.
Tak lama kemudian kelihatan dihadapannya sebuah padang rumput yang agak luas, dikelilingi oleh tebing2 batu yang menjulang tinggi keatas tak beraturan.
Gokhiol berdiri keheranan .
Dimana Tiang Jun tinggal?
Lembah yang sunyi-senyap ini mana ada penghuninya?
Ah, sebuah gubukpun tak kelihatan!
Gokhiol Sedang ia berpikir itu tiba2 dari balik sebuah batu besar mendesir suara angin.
Matanya melihat dua batang tombak meluncur bagaikan kilat kearahnya!
Gokhiol berteriak bahna kagetnya.
Lekas2 ia menjatuhkan dirinya keatas tanah dan dua batang tombak itu membeset lewat diatas kepalanya!
Tombak2 nancap keras pada tebing batu!
Tergesa-gesa Gokhiol meloncat bangun dan diawasinya tempat dimana tombak2 itu menancap.
Kemudian ia berpaling ketempat dari mana arah tombak itu dilemparkan.
Pada saat itu juga dua sosok tubuh manusia datang menyerang dirinya.
Penyerang2 itu mengenakan topi dari rotan, ditangan mereka masing2 tergenggam sebuah golok yang panjang dan tajam berkiIau-kilauan.
Ketika itu, sebetulnya pemuda kita dapat menangkis tikaman dari golok itu.
Tapi ia tidak berbuat demikian, sesudah memutarkan badannya ia berlari ketebing dibelakangnya.
Dengan cepat dicabutnya kedua tombak yang masih menancap didinding tebing, lalu dilemparkannya!
Karena tak menyangka serangan balasan, maka tombak2 itu menancap dengan jitu pada dada kedua penyerang.
Lemparan Gokhiol begitu cepat seperti kilat, hingga boleh dikatakan tak terlihat sama sekali!
Kedua Iawanya jatuh binasa.
Gokhiol berdiri kesima atas hasil latihannya yang memperiihatkan hasil luar biasa itu.
Dalam hatinya ia merasa bangga.
Baru saja ia ingin menghampiri kedua mayat tersebut untuk mengetahui dari partai manakah mereka berasal, atau tiba2 terdengar suara orang memuji dari balik batu.
"Sungguh mengagumkan! Hanya saudarakulah yang dapat melemparkan tombak sedemikian hebatnya. Suara itu disusul dengan munculnya sesosok tubuh manusia, menurun dengan gerakan yang ringan sekali dari atas tebing. Gokhiol terkejut bercampur girang. la mengenali orang itu yang tak lain adala4 saudara-angkatnya sendiri . Pato! Dengan tak terasa ia mundur dua tindak, sedangkan matanya terbelalak ke-beran2an. Setelah bungkam beberapa saat, barulah pemuda kita membuka suara .
"Adikku, kau telah mengejar aku sampai disini. Tentu kau hendak menangkap aku untuk dikembalikan ke HoYim, bukan?"
Pato yang memakai pakaian istana dan topi yang berhuntut binatang rusa, menganggukkan kepalanya.
"Saudaraku Gokhiol. Kedua penyerang itu adalah anjing2 See-hek. Perjalanan Gie-ko kelembah ini, tentunya te!ah dapat diketahui orang. Lebih baik kau pulang saja. Sehabis berbicara, Pato menghampiri mayat2 itu dan dengan kedua tangannya ia menyabut batang2 tombak yang nancap tersebut. Setelah itu ia membalikkan mayat2 dengan kakinya. Mata Gokhiol yang tajam lantas melihat pada punggung masing2 mayat tersebut tertancap pula pisau terbang. Adapun pisau terbang semacam itu hanya dipergunakan oleh bangsa Monggol apabila mereka pergi berburu. Demikian ketajaman pisau itu, yang dapat memotong kulit badak dengan mudahnya. Keampuhannya terletak pada ujungnya yang lancip. Maka apabila hendak menggunakan senjata tersebut, orang harus pandai melontarkannya dari jarak yang agak jauh. Sikorban pasti mati dalam sekejap itu juga. Setelah melihat pisau itu menaricap pada tubuh mayat2, Gokhiolpun sadar bahwa pisau itu telah diontarkan oleh Pato sebelum tombaknya mengenakan sasaran. Itulah sebabnya tadi ketika tombak2nya masih meluncur diudara atau ia telah mendengar teriakan yang mengerikan. Buru2 ia berkata pada adik-angkatnya .
"Pato! Kiranya kau yang telah membunuh mereka lebih dahulu. Terima-kasih. Tapi heran sekali, kenapa orang2 See-Hek ini hendak mencelakai diriku?"
"Akupun tak tahu"
Kata Pato dengan wayah Suram.
"Sudahlah, mari kita pulang. Kau yangan melanggar pe raturan ayah, Gokhiol. la sangat gusar yang kau tanpa pengetahuanya meninggalkan Holim."
"Pato, aku hendak mencari pembunuh ayahku Tio Hoan. Harap dimaafkan apabila aku terpaksa melanggar peraturari Gie-hu. Kelak bila aku telah menunaikan tugasku dan bisa kembali dengan hidup, biarlah pada waktu itu aku menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan oleh Gie-hu kepadaku,"
Jawab Gokhiol dengan sungguh2.
"Gokhiol, ayah tidak bermaksud demikian. Karena kau pergi seorang diri, maka ayah sangat kuatir akan keselamatanmu. Maka itu ia telah menitahkan aku untuk mengejar dan mengajak kau kembali..."
Pemuda kita tidak meaunggu sampai orang selesai bicara, atau ia sudah memotong .
"Pato, jangan kau menjadi gusar. Aku telah bersumpah tidak akan kembali sebelum dapat menghirup darah musuh-besar ayahku !"
Pato yang usianya dua bulan lebih muda dari Gokhiol melihat adat saudara angkatnya yang keras kepala, menjadi jengkel.
"Gokhiol, apakah kau tidak mengetahui bahwa selewatnya sungai Su-lek Ho ini, maka disebelah sana adalah wilayah musuh. Kau adalah anak-angkat ayahku Jendral Tuli dan bukankah musuh mengetahuinya juga? Bila kau kena ditawan, niscaya kau akan binasa! Tadi saja sudah ada beberapa orang See-hek yang hendak membunuh kau. Mereka seringkli membunuh orang2 Monggol. Ksatria2 kita sendiripun sering hilang, sampaikan mayatnya pun tak dapat ditemukan, seperti juga halnya dengan ayahmu Tio Hoan dan sang puteri Wanyen Hong dari negeri Kim. Oleh karena itu apabila ksatria2 kami ingin memeriksa Giok-bun-koan, mereka selalu pergi berkelompok. Kini kau pergi seorang diri. Bukankah itu berarti mengantarkan jiwamu kepintu neraka ?"
Sejenak keadaan sunyi-sepi. Namun kata2 Pato tak dapat melemahkan hati Gokhiol yang sudah bergelora. Sambil mencekal pedang Ang_liongkiam ia berkata .
"Terima-kasih, adiku. Tapi apabila aku menurut nasehatmu, maka seumur hidup dendam kesumat ayahku Tio Hoan tak dapat dibalas. Bukankah dengan demikian aku Gokhiol akan menjadi hinaan orang belaka? Mana mungkin aku masih mempunyai muka sebagai anak-angkat dari Panglima Perang Jendral Tuli?"
Pato melihat saudaranya tak dapat dibujuk lagi, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan, Gokhiol. Ketika aku hendak berlalu dari Holim, guru Yalut Sang telah mengirimkan kata2 kepadamu. Guru berkata bahwa sia2 jika dengan usiamu yang masih muda sudah ingin membalas dendam terhadap musuh yang selama tujuhbelas tahun teiah siap2 menantikan kedatanganmu. Kau hanya mengantarkan jiwamu saja."
Gokhiol mesem, ,merigetahui lazimnya . adat kaum -tua yang takut2 saja.
"Selain itu disekitar Giok-bun-koan berkeliaran dua siluman, satu diantara-nya bernama Im Hian Hong Kie-su atau Sipenunggu Puncak Maut. Kabarnia dia memiliki kepandaian yang tiada taranya. Pada duapuluh tahun yang lampau, siluman itu pernah menjatuhkan tujuh orang Ciang-bun-jin dari tujuh perguruan silat dalam waktu seharian ketika sedang diadakan pemilihan Bu-Iim Cin-cun. Setelah itu ia menyembunyikan diri dan belakangan sering terdengar ia muncul disekitar daerah perbatasan dan-menganggu murid2 dari perguruan yang pernah menghadiri pertemuan pemilihan tersebut."
Pato berhenti sebentar sambil melirik kapada saudara angkatnya. Nampak olehnya airmuka sipemuda stdikipun tak berobah. Pangeran itu melanjutkan ceritaranya pula.
"Pernah sekali Im Hian Hong Kie-su memotong kutung telinga seorang perwira Mongol, lalu dilepaskanya setelah mencaci bangsa kita yang dikatakan hanya bisa naik kuda saja, tapi kalau belajar ilmu silat sama saja halnya seperti mengajar kepada kerbau. Pada waktu itu kakekku Jenghis Khan masih hidup. Mendengar hinaan tersebut, sekujur badannya gemetar saking gusarnya. Segera ia menitahkan selusuh pasukannya untuk membekuk hatang leher siluman itu, tapi Im Hian Hong Kie-su melarikan diri. Bertahun-tahun tak terdengar lagi sepak-terjangnya, sampai munculnya sekarang."
Pemuda kita mendengar dengan penuh perhatian.
"Maka itu guru Yalut Sang telah menyampaikan pesanan kopadamu, bahwa belum tiba saatnya bagimu untuk menuntut balas. Kepandaian masih terlampau rendah. Im Hian Hong Kie-su saja sudah sukar sekali untuk dilawan. Sedangkan siapa musuh ayahmupun kau tak tahu."
Mendengar kata2 yang terakhir dari saudara-angkatnya, Gokhiol menjadi tertarik juga.
Bukan karena menjadi jeri, tapi sekedar hatinya merasa heran.
Im Hian Hong Kie-su?
Hm, sungguh nama yang aneh terdengarnya.
Dan yang satu lagi, siapa dia ?
Apakah guru membaritahukan juga kepadamu?"
Pato menyangka bahwa saudara-angkatnya sudah berobah niatannya, setelah mendengar ceritanya yang menyeramkan tadi. Buru2 ia menjawab.
"Siluman yang satunya lagi lebih hebat dan aneh. Dia seringkali dapat merobah roman mukanya. Orang2 See-hek memanggilnya Hek Sia Mo-lie atau Wanita Iblis dari Kota Hitam. Ada yang mengatakan dia asalnya mayat hidup dari istana dibawah Kota Hitam dipadang-pasir, adapula yang mengatakan bahwa dia adalah seekor siluman yang telah berhasil menghisap hawa murni inti jagad, lalu menjelma menjadi manusia. Tabiatnya selalu ingin mengusik orang diwaktu malam hari. Menurut cerita orang yang pernah melihatnya, dia adalah seorang gadis yang cantik-jelita. Tapi ini kebetalan saja, sebab tidaklah beruntung bagi siorang yang bertemu muka dengan sicantik ini, dia dibunuh! Dia tak pernah diberi kesempatan untuk hidup lagi. Berselang beberapa tahun ini sudah banyak sekali jiwa2 yang melayang ditangan Hek Sia Mo-lie. Sungguh berbahaya sekali."
"Aku tak percaya akan segala siluman, Gokhiol memotong,"
Bila bukan guru yang mengatakan, niscaya akan kucaci orang yang berkata demikian tadi sebagai pembual!"
"Sebab apa kau tidak percaya"
Tanya Pato dengan gusar.
"Apakah kau pun tidak percaya akan Dewa2 besar kita?"
"Aku dibesarkan di Monggol dan aku percaya akan Dewa2 bangsa kita yang maha-sakti."
Gokhiol buru2 menambahkan.
"tapi Dewa kita dibandingkan dengan segala siluman atau iblis, adalah lain sekali? Baik kau pulang saja dan sampaikan kepada Gie-hu dan guru bahwa aku, Gokhio!, akan membekuk siluman2 itu. Barulah aku mau pulang!"
Pangeran Pato menjadi sengit mendengar kata2 Gokhiol. Dengan mata melotot ia berteriak .
"Setelah aku bicara sampai berbusah disini, kau masih juga berkepala batu. Kau tahu, aku masih membawa sepasukan tentera berkuda yang telah siap meringkus dirimu. Aku teIah menyia-nyiakan waktu dan, maaf aku tak dapat pulang dengan tangan hampa!"
Pato mundur selangkah seraya mencabut pedangnya.
Dalam keadaan yang gelap lantas memancar sinar hijau bergemerlapan dari ujung dan batang pedang yang tajam itu.
Gokhiol mengerti bahwa ia harus bertanding melawan saudara-angkatnya, tak ada jalan lain.
Tapi ia masih berkata .
"Pato, apakah kau tidak akan menyesal? Kita adalah saudara dan semenjak kecil kita belum pernah bertengkar, apalagi berkelahi."
"Maafkan aku, aku terpaksa menjalankan perintah. Aku telah membujuk kau sampai tenggorokanku kering, tapi kau terus berkeras kepala. Maka tak ada jalan lain setelah usahaku gagal untuk membujuk kau pulang, selain kita bertanding. Bila kau dapat menjatuhkan pedangku ini, maka terserahlah apa yang hendak kau lakukan. Gie-ko, silahkan cabut pedang pusakamu! Biasanya diwaktu latihan, aku selalu berada dibawahmu. Tapi kali ini, aku akan menjatuhkan kau! Agar kau tak usah meninggalkan Holim untuk mengantarkan jiwamu secara konyol!"
Gokhiol per-lahan2 menyabut Ang-liong-kiam dan berkata dengan suara gemetar .
"Adikku, untuk apa kita susah-payah mengadu kepandaian? Salah2 kita bisa terluka atau binasa. Ijinkanlah aku pergi, dan aku akan tak lupa atas kebaikanmu."
"Tak ada perundingan lagi!"
Jawab Pato dengan singkat. Mulailah! Apakah kau takut untuk bertempur?"
Gokhiol tak berbicara lagi. Pedangnya dilintangkan kedepan dadanya, lalu diserongkan kesamping dan kakinya melangkah tiga tindak kedepan. Ia berteriak .
"Awas ! Pedangku datang!"
Pedang pusaka menyambar melintang, gerakan ini terang2 memberitahukan kepada Pato bahwa ia menyerang bagian bawah.
Pato memutarkan pedangnya untuk menangkis serangan Gokhiol.
Pedang beradu!
Tiba2 tangan mereka terasa linu, tandanya kekuatan mereka seimbang!
Mendadak Pato menarik kembali pedangnya dan badanya merendah kebawah.
Dengan pedang melintang ia menantikan serangan berikutnya dari Gokhiol.
Gokhiol diam2 berpikir dengan keras.
Seluruh perhatiannya ia pusatkan diatas pedangnya, yang mendadak digetarkannya kearah ujung pedang Pato.
Bila ia menyentak, tentu pedang adiknya akan terlepas dari pegangannya.
lapun segera memberi isyarat .
"Adikku, peganglah pedangmu dengan erat2. Bila nanti terlepas kau akan kalah!"
Benar saja!
Begitu pedangnya menyentak, maka pedang Pato terpukul sampai mengerai tanah.
Namun pedang itu tak terIepas!
Malahan kini pedang Pato balik membal dan kembali menghantam pedang Gokhiol.
Kedua pedang melekat menjadi satu."
"Ha-ha-ha!"
Tertawa Pato dengan girang.
"Kau tidak berhasil menjatuhkan pedangku. Tidak ada yang kalah, tidak ada pula yang menang. Sekarang baiklah kita mngadu kekuatan, pedang siapa yang menyentuh tanah terlebih dulu, dialah yang kalah. Apakah kau setuju, Gokhiol?"
Pemuda kita mengulum senyumnya.
"Boleh saja! Sekarang akupun tak akan segan2 lagi!"
Demikianlah mereka saling mengadu kekuatan, dua pedang yang melekat saIing berkutetan diudara.
Lambat laun kedua senjata itu bergoyang2 saling dorong-mendorong, tapi selalu berkisar tidak lebih dari dua tiga dim diatas tanah.
Airmuka kedua pemuda itu berobah merah dan keringat mulai ber-cucuran dari wajah mereka.
Selang sipeminuman teh, Pato berkata .
"Kau tak dapat mengalahkan aku, lebih baik kau lepaskan pedangmu. Bila tidak, niscaya kau akan celaka."
Gokhiol yang merasa dirinya lebih kuat menjawab dengan mendongkol.
"Jangan terkebur, adikku. Aku belum dapat kau kalahkan."
"Kau jangan menyesal!"
Teriak Pato seraya menarik pedangnya keatas.
Ketika itu cepat2 digunakan oleh Gokhiol untuk memukul pedang adiknya sekuat tenaga.
Kedua pedang saling beradu pula hingga api berpercikan.
Pedang Pato hampir saja terlepas, sehingga tak tertahan lagi muka sipangeran menjadi merah-padam.
Ia berseru kepada Gokhiol .
"Saudaraku, kau sungguh liehay! Tapi aku juga masih belum kau kalahkan."
Gokhiol bergeser kesamping, matanya tersenyum memandang adiknya yang belum-mau mengalah.
"Memang belum, Pato,"
Sahutnya.
Seraya menerjang kedepan dengan pedang yang hijau berkilauan, Pato menyerang amat bengisnya.
Bagaikan belut Gokhiol berkelit kesamping dan menggerakkan pedangnya menghantam, hebat sekali!
Pedang Pato kesampok hingga menerbitkan suara bergeseknya barang logam yang menyakitkan telinga.
Tiba2 pedang Gokhiol dikendorkan dan dengan tipu Siang-hong Hwie-sauw atau Sepasang-burung-Hong-pulang-kesarang, dengan meminjam tenaga dorong dari pedang adiknya.
ia menekannya kearah tebing batu.
Dalam keadaan yang gelap kelihatan sinar berkelebat dengan pesatnya, disusul dengan terdengarnya suara dua batang pedang amblas kedalam tebing batu!
"Nah, cabutlah pedangmu!
Aku hendak menguji kekuatanmu."
Gokhiol berseru sambil memandang adiknya dengan wajah berseri-seri.
Wajah Pato menjadi merah.
la melangkah ketebing batu dan selagi ia hendak ment}abut pedangnya yang amblas dalam sekali, hingga sukar sekali untuk ditarik keluar -atau tiba2 terdengar suara tertawa seorang wanita!
Suaranya nyaring dan jernih.
Pada detik menyusul dari atas tebing melayang turun seorang gadis yang memakai tutup muka.
---oo0dw0oo---"Celaka!
Dialah Wanita Iblis!"
Pato menjerit dengan cemas.
Buru2 ia menyabut pedang pusaka Ang-liong-kiam, tapi baru saja keluar sedikit atau tiba2 pergelangangan tangannya disamber dan dicengkeram sigadis.
Pato bukanlah sembarang orang, dia murid dari jago silat istana Yalut Sang.
Tangan kirinya dengan ganasnya menjambak pundak gadis itu, untuk membanting.
Tapi diluar dugaannya, begitu tangannya menyentuh pundak yang halus, atau lengannya terasa sakit dan kaku!
Sicantik membentak dengan suara merdu .
"Tat-cu, lihatlah pedang ini!"
Tangannya menurunkan Pedang-naga-merah untuk kemudian digeserkan kesamping menusuk pinggang Pato.
Sekonyong-konyong terdengar suara tertawa yang nyaring dan dari atas tebing meloncat turun seorang gadis yang memakai tutup muka.
"Celaka! Hek Sia Mo-lie datang."
Teriak Pato seraya cepat-cepat mencabut pedang pusaka Ang-lioug-kiam.
Terlambat!
Begitu melihat bahaya mengancam dirinya, buru2 Pato Iompat kebelakang.
Tapi sigadis tidak berhenti sampai disitu saja, belum Pato dapat berdiri dengan benar atau pedangnya telah menyerang pula dengan suara menderu.
Terpaksa sipangeran menjejakkan kakinya dan badannya membubung tinggi keatas udara.
Pedang memukul tempat kosong.
"Tat-cu! Kau dapat mengelakkan beberapa jurus ilmu pedangku, tapi jangan kau sangka bahwa aku tidak dapat membunuh kau malam ini juga!"
Pedang Ang-liong-kiam di putar2kan oleh sigadis dengan kecepatan yang luar biasa, hingga sinar merah berkilauan dimalam yang gelap.
Selagi sigadis ingin menurunkan pedang, tiba2 kelihatan sinar putih.
Dua buah tombak menyambar seperti kilat kearah gadis itu.
la tak keburu berkelit lagi!
Tenpaksa kedua tombak yang ternyata dilemparaan oleh Gokhiol, disampoknya dengan pedang.
Tombak2 tersebut terputus menjadi ampat.
Sungguh tajam sekali pedang Ang-Iiong-kiam!
Pada detik itu juga Gokhiol sambil mencekal busur ditangannya, lompat menghampiri sambil berseru .
"Pato, jangan kuatir. Aku akan membantu kau!"
Sigadis membalik dan dilihatnya Gokhiol sedang membentangkan tali busurnya yang dibidikkan kearahnya.
Nampak sinar mata sipemuda yang bernyala2 dan sikapnya yang beringas seperti harimau.
Mata sigadis dan Gokhiol saling bertemu, dan mau tak mau gadis itu menjadi terpesona melihat pemuda kita yang gagah-tampan romannya.
"Siapa kau, wahai pemuda! Kau kelihatannya seperti orang Han. Janganlah berlaku goblok untuk mengantarkan jiwamu ber-sama2 Tat-cu ini."
"Perempuan iblis"
Mencaci Gokhiol dengan gusarnya.
"Apakah kau belum kenal kepada Gokhiol anak-angkat dari Jendral Tuli? Hari ini akan kuambil jiwamu!"
Begitu tali busur dilepaskan, maka menjepretlah sebuah anak-panah dengan pesatnya.
Tapi sigadis dengan tenang menangkis anak-panah itu dengan pedang hingga jatuh ketanah.
Gokhiol, meiihat orang berhasil menangkis serangan anak-panahnya, segera dengan berturut-turut melepaskan beberapa anak-panah pula.
Tapi sigadis tiap kali dapat menangkisnya dengan cepatan sekali.
Pato yang melihat kejadian tersebut, menjadi kagum bukan kepalang terhadap kepandaian gadis muda itu.
Sebaliknya ia kuatir akan keselarnatan Gokhiol.
Pemuda kita terus melepaskan anak2 panahnya dan tak lama kemudian panahnya sudah habis.
Puluhan anak-panah telah terpapas kutung oleh tangkisan gadis itu dengan pedang pusaka Ang-liong-kiam.
"Hi-hi-hi ,..!"
Terdengar suara tertawa sigadis yang mengejek.
"Gokhiol, Gokhiol! Benar hebat permainan ilmu panahmu. Apakah masih ada ilmu lainnya lagi yang lebih bagus dan menarik untuk dipertunjukan kepadaku?"
Pato berdiri terpaku, tak tahu apa yang harus diperbuat, menurut penglihatannya lebih aman melarikan diri, tapi sebaliknya menurut sumpah, para ksatrya Monggol harus bertempur sampai mati.
Lagipula sang lawan adalah seorang gadis yang masih remaja, maka diam2 ia melihat saja kepada Gokhiol yang sebaliknya tetap berdiri tegak tanpa menunjukkan rasa jeri.
Pato merasa kagum terhadap keberanian saudaranya hingga ia merasa malu sekali akan dirinya.
Gadis itu memperdengarkan pula suara ejekannya.
"Nah, kalau kau tidak mempunyai ilmu lainnia lagi, maka baiklah aku saja yang akan membuat pertunjukan. Bagaimana, pangeranku?"
Gokhiol tertawa, suaranya yang dingin memecahkan kesunyian malam.
"Hm, kau perempuan iblis telah mencuri pedangku selagi kita kakak beradik sadang mengadu kekuatan. Kau telah mengambil kesempatan dengan membokong, tatkala kami tak bersenjata. Apakah itu sifat seorang pendekar? Puh! Meskipun kini kami kalah ditanganmu, kami tidak merasa kecewa. Sebaliknya kau, meskipun menang tapi dengan jalan pengecut!"
Suara sipemuda yang menunjukkan semangat kejantanan, dan sikapnya yang beratu, telah membuat hati sigadis tergerak.
la menyapu dengan pandangan matanya yang halus seraya berkata dengan suara yang lembut seperti agak kemaIu-maluan."
"Apakah kau masih penasaran, Gokhiol?"
Pemuda kita menganggukkan kepalanya.
"Bila kau menyerang secara terang2an, barulah aku puas. Kembalikanlah pedangku yang kau curi itu dan marilah bertanding satu lawan satu. Walaupun binasa akupun meram."
Gokhiol berkata demikian sebetulnya untuk mancing agar sigadis mau mengembalikan pedang Ang-liong-kiam. Namun sigadis mencibirkan mulutnya yang mungil.
"Cis! Kau juga pandai mencari akal yang bulus. Kau ingin menipu aku untuk mengembalikan pedang pusakamu ini? Huh, aku tak mudah kau tipu! Sekarang supaya kau mati tidak menjadi setan penasaran, marilah kita berkelahi dengan tangan kosong. Bila kau dapat menghindarkan tiga jurus pukulanku, maka akan kupulangkan pedangmu ini."
Selesai berkata demikian pedang Ang-liong-kiam dilontarkan sigadis keatas, sebuah sinar merah berkelebat dan pedang pusaka menancap pada tebing batu.
Adapun letak tebing itu dengan tanah sedikitnya lima atau enam tombak jauhnya dan sukar sekali uniuk diambil.
Pato maju dengan gusar melihatnya senjata dibuat main.
"Hai, siluman! Aku siap menyambut tiga jurus pukulanmu. Gokhiol, minggirlah!"
Pangeran muda itu mempunyai suatu ilmu rahasia yang telah diyakinkannya dengan matang betul.
Im-hui Thiat-ciang-hoat atau Telepak-tangan Bendera Awan berasal dari seorang Lhama bangsa Thouw-hoan yang kemudian diambil-alih oleh partiy Ceng-cong Pay.
Gokhiol, melihat adiknya maju kemuka, lekas2 memperingatkan.
"Pato, hati2lah! Kau jangan gagabah!"
Pangeran itu mengikat tali-pinggangnya erat2 dan mengangkat telapak-tangannya."
"Awas! Aku menyerang!"
Teriaknya mengancam.
Sigadis tidak menjawab.
Melihat Pato memukul, ia menggerakkan pula tangannya.
Itulah tipu Ciak-jin Cian-Thian atau Dengan-tangan-mengusap-langit yang hebat sekali.
la menduga tentu Pato mengunakan tenaga keras, maka iapun menyambut dengan kekerasan pula.
Tapi diluar dugaannya, begitu tangannya terbentur, ia merasakan tenaga sipangeran bagaikan kapas!
Pukulannya bagaikan tenggelem dalam air!
Hatinya tersentak kaget.
Pato perhebat pukulannya, hingga sigadis buru2 menyalurkan tenaga-dalamnya.
Pato sangat bernapsu, hingga dadanya melonjak-lonjak.
Itulah kesalahan yang besar!
Karena pada umumnya bila seorang akhli-silat berhadapan dengan lawan yang setanding, maka yang paling pantang adalah dipengaruhi perasaan penasaan -karena perhatiannya menjadi terganggu.
Sigadis yang dapat melihat kelemahan lawannya, cepat2 mempergunakan ketika baik tersebut.
Ia mengempos semangatnya dan menghantam lebih keras.
Sekonyong-konyong Pato merasakan dirinya bagaikan sebuah perahu kecil yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa ada yang mengemudikannya.
Kakinya bergemetar.
Pangeran muda itu bukan kepalang terperanjatnya, peluhnya bercucuran turun membasahi mukanya.
Nampak mukanya pucat seperti kertas.
Napasnya mulai sesak dan memburu!
---oo0dw0oo---Gokhiol kuatir sekali akan keadaan adiknya.
Namun ia malu untuk maju mengerubuti satu lawan.
Tangan kanan sigadis melekat dengan tangan Pato, sedangkan tangan satunya lagi diulurkan kearah tebing batu yang jaraknya kurang lebih satu tombak.
Tiba2 suara angin mendesir keluar dari telapak-tangan sigadis dan meniup keras pada tebing batu.
Lambat-laun tebing itu berlobang!
Reruntuk batu2 berjatuhkan kebawah.
Lobang itu makin lama makin lebar dan dalam!
Gokhiol tahu bahwa gadis itu telah berhasil menyedot tenaga-dalam Pato yang dibuangkannya pula melalui tangannya yang lain kearah tebing batu.
Penuh kegusaran ia berteriak .
"Pato, adikku! Lekas mundur! Kau ditipu oleh gadis licik itu! Pato yang sedang kewalahan segera berontak hendak melepaskan tangannya. Terlambat! Tangannya melekat keras pada tangan gadis itu, tak bisa dicabut ! Sigadis tersenyum dingin, ia menolak dengan tangannya, hingga Pato yang tak bertenaga lagi terdorong kebelakang ... mendekati jurang! Melihat bahaya besar mengancam diri adiknya, Gokhiol tanpa ayal mengenjotkan kakinya loncat menyerbu. Terlambat pula! la berteriak bahna kagetnya. Kaki Pato sudah terlepas dari jurang! Tapi diluar dugaan, selagi pangeran itu akan jatuh, atau tiba2 badannya menaik keatas. Bagaikan ada suatu tenaga yang mengangkat dirinya. Heran sungguh heran. Pato berdiri tegak pula menghadapi sigadis. Gokhiol melongo. Gadis itupun tak luput dari herannya dan matanya membelalak lebar. Pato bagaikan orang yang baru sadar, bertindak kedepan dan mengirimkan pukulan yang menderu seperti taufan. Sigadis cepat2 mengangkat tangannya untuk menyambut. Kali ini kedua pihak sama2 sengit! Pada saat itu juga sigadis terperanjat luar biasa. la merasa tenaga lawannya berbeda jauh dari pada sebelumnya. Kedua tangan saling melekat pula. Pato berputar dan sigadis kini turut berputar pula. Gokhiol meleletkan lidahnya. la sungguh2 tak habis mengerti dengan cara bagaimana mendadak adiknya memiliki kepandaian yang luar biasa itu. Mereka masih berputar2 dan masing2 tak dapat melepaskan diri. Tanah dimana bekas diinjak sigadis melesak kedalam, tandanya ia telah mengerahkan seluruh tenaga-dalamnya untuk menahan kakinya. Tapi tak berhasil. Pato sendiri merasa heran dari mana dirinya tahu2 memiliki tenaga-dalam yang demikian hebatnya. Bagaimanapun juga sigadis membetot, tak berdaya dia melepaskan dirinya. Malahan semakin lama Pato merasakan dirinya semakin kencang berputar, sedangkan ia sendiri bagaikan tak berkuasa atas kakinya. Tiba sigadis itu mendongakkan kepalanya. Terdengarlah teriakannya yang penuh kegusaran.
"Hai, siapa kau diatas! Jangan usilan mengacau pertarungan orang lain!"
Gokhiol dan Pato lekas2 pula melihat keatas dan kelihatan oleh mereka seorang laki2 berpakaian hitam berdiri ditebing sambil memutar2kan kedua tangannya.
Kini mereka baru tersadar.
Sigadis menarik kembali tenaga-dalamnya dan melepaskan Pato.
Segera tubuhnya melayang keatas bagaikan burung Hong, kearah laki2 itu.
Kedua orang itu lantas menghilang ........
Tiba-tiba Hek Sia Mo-lie melihat keatas tebing.
"Hai, siapa kau diatas! Jangan usilan mengacau pertarungan orang lain!"
Teriaknya dengan penuh kegusaran.
Gokhiol memandang ketempat pedang yang tertancap ditebing batu.
Tersiraplah darahnya!
Ternyata pedang pusaka itupun sudah hilang!
"Celaka, pedangku telah dicuri oieh laki2 yang berpakaian hitam itu !"
Gokhiol tidak mendengar Pato memberi jawaban. la menoleh. Pangeran itu kiranya jatuh pingsan kehabisan tenaga. Buru2 pemuda kita mengangkatnya.
"Pato, adikku."
Ujarnya dengan wajah cemas.
"Apakah kau terluka ?"
Dengan napas ter-putus2 Pato menjawab .
"Aku ... aku sangat haus. Ambilkanlah aku air......"
Gokhiol dengan hati legah mengambil tempat penyimpan air dari pinggangnya dan di tuangkannya beberapa teguk kemulut adiknya. Lambat laun Pato pulih kembali tenaganya. la berkata kepada Gokhiol .
"Gie-ko, maafkan aku tadi telah berlaku tidak sopan terhadapmu. Sebetulnya Ama (ibu Gokhiol) telah memesan kepadaku untuk memberitahukan kepadamu agar kau memakai itu batu kumala merah pada badanmu. Aku tahu kau takkan mau kembali, maka aku telah menyuruh pengiring2ku untuk menantikan dimulut lembah. Seharusnya aku tidak men-coba2 kekerasan hatimu yang telah bertekad bulat untuk menuntut balas atas pembunuh ayahmu. Dan lebih disayangkan lagi, karena kesalahanku kini pedang pusaka Ang-liong-kiam telah dibawa kabur orang. Aku benar2 merasa menyesal sekali !"
Kini Gokhiol baru tahu bahwa Pato telah disuruh ibunya untuk menyampaikan pesanan. Hatinya menjadi sangat terharu. la memeluk adiknya.
"Pato, adikku. Tadi aku telah salah sangka, sungguh aku harus merasa malu sekali."
"Gie-ko, sayang ayahku melarang aku meninggalkan Holim, kalau tidak niscaya aku akan turut denganmu untuk mencari kembali pedang pusakamu itu. Dengan jalan demikian, baru hatiku enak."
Tampak airmuka Pato menunjukkan perasaan yang menyesal sekali.
"Gie-ko, apakah kau dapat melihat orang berpakaian hitam tadi dari golongan mana? Melihat kepandaiannya tadi, dia membuat aku se-olah2 seperti dua orang yang berlainan. Sungguh suatu kepandaian yang tak dapat dicari keduanya. Kini ternyata pedang pusakamu jatuh ditangannya..."
Gokhiol terharu mendengar kata2 adiknya.
"Kau jangan bersedih hati. Aku meninggalkan Monggolia kali ini sebenarnya dengan maksud untuk bertemu dengan orang2 pandai dan juga untuk memperdalam pengetahuanku. Mengingat selama sepuluh tahun yang telah lewat, kita meskipun telah mendapat bimbingan dari para ahli2 tempur, namun kita masih bagaikan katak dalam sumur. Gadis tadi, mungkin juga dia Hek Sia Mo-lie dari Kota Hitam seperti yang dilukiskan guru Yalut Sang. Sayang dia memakai tutup muka, hingga kita tak dapat melihat dengan tegas bagaimana roman mukanya."
"Kejadian malam ini benar2 luar biasa."
Ujar Pato.
Dua pembokong tadi berasal dari See-hek dan maksudnya adalah untuk membunuh kau.
Tapi Hek Sia Mo-lie itu apakah permusuhannya dengan kita?
Kelihatannya ia tadi sungguh2 hendak mengambil jiwaku.
Kalau bukannya orang laki2 berbaju hitam menolong aku dengan mempergunakan ilmu Thwan-to Khi-kang atau ilmu Mengirim tenaga-melalui-udara yang telah sempurna itu, niscaya malam ini kita berdua akan binasa."
Mendengar perkataan itu, Gokhiol teringat sesuatu.
"Aku masih mendengar tadi kau menyebut Im Hian Hong Kie-su, mungkin dia orangnya?"
"Entahlah. Tapi hatiku tak tenteram."
Mereka masih bercakap beberapa lama.
"Budi yang telah kau berikan kepadaku, takkan dapat kulupakan. Jagalah ibuku baik2 dan hiburkan hatinya selama aku pergi Tapi kini kau harus lekas2 meninggalkan tempat ini. Baiklah akan kuhantarkan kau sampai dimulut lembah ini,"
Ujar Gokhiol.
Tiba2 terdengar -derapan kaki kuda yang riuh sekali.
Suara sepasukan tentera berkuda yang mendatang kejurusan mereka.
Cepat2 Gokhiol dan Pato memanjat tebing dan benar saja apa yang dilihat mereka adalah sepasukan tentara berkuda Monggol dengan membawa obor berkobar-kobar."
Suramlah wajah Pato.
"Pasukan pengawalku telah datang. Sebaiknya kau lekas2 meninggalkan tempat ini, jangan sampai diketahui oleh mereka. Dengan duaratus pengawal aku dapat pulang kembali ke Holim dengan aman. Harap kau jangan kuatir, Gie-ko. Dan akupun akan mendoakan agar kau berhasil mendapatkan musuh-besarmu serta membunuhnya. Huharap pula agar kau lekas2 kembali ke Holim."
Kedua saudara itu saling rangkul dan dengan air mata berlinang mereka saling berpisahan.
"Semoga Dewi2 kita selalu mendampingi dirimu,"
Bisik Pato dengan suara parau.
Kemudian ia berlalu ...
---oo0dw0oo---GOKHIOL berdiri diatas tebing mengawasi adiknya pergi dengan perasaan pilu.
la merasa sunyi.
Tiba2 terdengar dibelakangnya suara orang ter-batuk2 kecil.
Disusul dengan bisikan yang lirih .
"Oh, Siauw-cu-jin. Aku telah menantikan kau selama terjuhbelas tahun lamanya. Tak disangka kau akhirnya datang juga."
Gokhiol membalik dengan terperanjat.
Kini pedangnya sudah tak ada lagi, sedangkan anak panahnya sudah habis.
Begaikan kilat ia menyabut pisau belatinya.
Ia bersiap untuk bertempur!
Matanya menyapu dengan tajam.
Seorang kakek yang telah berambut putih muncul pada jarak kira2 lima tombak, ia mengenakan pakaian bangsa Han yang sudah koyak2.
Ditangannya tergengam tongkat dari bambu.
la mengawasi Gokhiol dengan mata yang berseri-seri.
Lo-cian-pwee, kau siapa?
Kenapa membahasakan aku dengan Siauw-cu-jin?"
Tanya Gokhiol dengan heran. Tiba2 kakek itu berlutut seraya mengucapkan syukur kepada Tuhan.
"Terima kasih atas berkah Tuhan yang maha-pengasih. Malam ini aku dapat bertemu dengan Siauw-cu-jin yang gagah-perkasa seperti juga dengan mendiang ayahnya. Oh, Cu-jin. Kalau saja kau dapat menyaksikan dialam baka, maka hatimu tentu akan puas."
Gokhiol makin tercengang. Buru2 ia mengangkat siorang tua itu dan berkata.
"Maaf, lo-cian-pwee. Kau salah sangka. Aku bukan Siauw-cu-jinmu. Bangunlah."
Sikakek mengangkat kepalanya.
"Siauw-cu-jin, bukankah kau Tio Peng putera dari Tio Hoan? Aku telah mengikuti mendiang ayahmu dari negara Song kenegeri Kim, kemudian ikut mengawal puteri Wanyen Hong ke Monggolia yang diutuskan sebagai duta perdamaian. Tapi malang sekali puteri mendadak menghilang. Ayahmu telah berusaha untuk mencarinya dan celaka baginya ia telah dibunuh dalam menunaikan tugasnya oleh musuh yang tak dikenal."
Gokhiol menahan napasnya.
"Pada hari itu Cu-jin telah menyuruh aku tinggal ditepi sungai Su-lek Ho untuk mencari berita tentang sang puteri. Selama tujuhbelas tahun aku berdiam disini. Pada sepuluh tahun yang lampau. Cu-be Lok Giok telah memberi kabar bahwa kau telah diangkat anak oleh Jendral Tuli. Ayahmu telah memberi kau nama Tio Peng dan kau adalah keturunan dari pangeran negara Song. Siauw-cu-jin, kau jangan melupakan asal leluhurmu bangsa Han! Setiap hari aku menghitung-waktu mengharapkan kedatanganmu di Ban-Coa-Kok. Syukur sekali akhirnya aku dapat bertemu dengan kau, Siauw-cu-jin. Matipun kini aku rela rasanya."
Bangsa Monggol biasanya banyak pantangannya, begitu juga dengan Gokhiol yang dibesarkan dikalangan istana, sedikit banyak masih terpengaruh sifat2 tahayul.
Begitu mendengar siorang tua menyebut kata "mati,"
Buru2 ia mencegahnya .
"Lo-cian-pwee, mengapa kau mengucapkan kata2 yang demikian? Aku benar adaiah Tio Peng, putera dari Tio Hoan. Kukira kau adalah kakek Tiang Jun pengikut mendiang ayah. Kali ini ibu telah menyuruh aku datang berkunjung kepadamu, untuk bertanya siapakah pembunuh dari ayah."
Sikakek segera merangkul pemuda kita.
"Syukur kau telah terhindar dai bahaya maut. Tapi disini bukan tempat yang baik untuk kita bicara, marilah ikut aku!"
Gokhiol mengikuti orang tua itu meninggalkan lembah yang letaknya ber-lingkar2 itu.
Dibawah sinar bintang2 yang berkerlipan, tampak wajah sikakek yang putih tanpa jenggot dan kumis.
la adalah seorang ...
Tay-kam atau pelayan kebiri!
Ditengah jalan Gokhiol masih betanya .
"Lo-cian-pwee, katanya ketika ayah sedang mencari sang putri Wanyen Hong, ada seorang ksatrya yang bernama Giok Liong. Apakah ia sekarang masih hidup?"
"Mungkin Siauw-cu-jin belum mengetahui,"
Sahut sikakek.
"Sewaktu Cu-jin datang kegoa Tung-hong untuk mencari jejak sang putri, tak lama kemudian orang2 dari See-hek telah terpukul mundur oleh tentara Monggol. Tapi disepanjang jalan mereka masih sempat membakar serta merampok penduduk desa. Aku dan Giok Liong pada waktu itu tertawan oleh mereka, tapi untung aku kemudian dapat meloloskan diri. Sedangkan bagaimana dengan nasib Giok Liong, aku tak mengetahuinya lagi,"
Kata sikakek sambil menghela napas.
Mereka terus berjalan kaki menyusuri tepi sungai dan akhirnya sampailah mereka disebuah gubuk yang dikelilingi dataran tinggi pegunungan.
Sikakek mempersilahkan Gokhiol untuk masuk kedalam gubuknya dan setelah mengunci pintu dengan rapat, dinyalakannya sebuah lampu pelita sebagai penerangain.
Lalu ia menuju kepojokan kamar dan menggeser sebuah periuk yang terbuat dari tanah liat.
Diambilnya keluar suatu benda dari dalamnya.
"Cu-jin berkata bahwa kelak kau akan datang mencari aku dan memesan agar supaya aku menyampaikan benda ini ..."
Gokhiol menyambut pemberian sikakek yang ternyata adalah sebuah sepatu kulit berselongsong panjang. Walaupun sudah gepeng, tapi selongsongnya masih utuh.
"Apakah sepatu ini peninggalan ayahku?"
Tanya pemuda kita dengan parau.
"Memang itulah barang ayahmu,"
Sikakek membenarkan.
"ketika pertama kali Cu-jin pergi kegoa Tung-hong, ia telah menitahkan kepadaku untuk menanti di tempat pegunungan ini. Dua hari kemudian ia telah kembali pula dan wajahnya nampak tegang sekali. la menceritakan kepadaku bahwa sang putri ... masih hidup! Malam hari itu juga ia pergi pula dengan ter-gesa2. Dan esoknya menjelang fajar ia kembali dalam keadaan badan berlumuran darah. Kiranya tangan ayahmu terluka oleh tikaman pedang musuh! Aku masih menanyakan apakah ia telah bertemu dengan sang musuh, tapi Cu-jin tidak memberikan jawaban."
Gokhiol mendengarkan cerita Tay-kam itu dengan kesima. Sikakek meneruskan pula .
"Pada hari itu juga Cujin kembali ke Holim dan sebelumnya memesan kepadaku untuk menunggu ditempat ini. Juga ditinggalkannya sepatu ini dan memesan wanti2 agar menyimpannya dengan baik2. Tapi apa mau dikata Cujin kembali untuk kedua kalinya, aku dan Giok Liong tertawan oleh orang"
See-hek.
Dan mengenaskan sekali Cu-jin kemudian terbunuh oleh musuh.
Sepatu ini telah kusimpan dengan baik' dan beruntung sekali ia tak hilang.
Kukira benda ini penting sekali dan berhuhungan dengan hilangniya putri Wanyen Hong.
Tapi aku yang tolol tak dapat mengetahui makna dari sepatu ini.
Gokhiol memeluk sepatu tersebut bagaikan ia memeluk ayahnya.
Tiba2 ia rasakan ada sesuatu yang tersembunyi didalam sepatu itu.
Buru2 ia membuka jahitannya dengan sabilah pisau.
la berseru tertahan!
Betul saja dan dalam selongsong sepatu itu tersimpan sebuah bungkusan kecil dari sobekan kain baju.
Ketika Gokhiol membuka bungkusan kain tersebut, dinginlah sekujur tubuhnya.
Ternyata isinya adalah sebuah telunjuk tangan manusia yang telah kering!
Melihat bentuk tulangnya yang kasar, dapat dipastikan bahwa telunjuk itu adalah kepunyaan seorang laki2 dan samar2 masih membekas darah yang telah kering, menandakan terpapasnya oleh sebuah benda yang tajam seperti pisau.
Tiang Jun yang juga melihatnya turut terkejut.
Segera ia terangi dengan pelitanya.
"Siauw-cu-jin, kain itu masih ada tanda bekas darahnya!"
Ujarnya dengan suara gemetar.
Gokhiol membentangkan kain itu dibawah cahaya pelita carikan kain itu.
Huruf2nya agak suram tapi samar2 masih dapat dibaca .
Delapan diatas goa ketigabelas, kekanan enambelas tiga dim dibawah lengan.
Gokhiol berdebar hatinya.
Dibacanya huruf2 itu dengan seksama, tapi ia tak dapat menangkap artinya.
"Siauw-cu-jin, aku kira huruf2 itu merupakan tutisan rahasia. Ayahmu rupanya telah menemukan sedikit keterangan, tapi karena dalam keadaan luka ia kuatir takkan dapat melanjutkan pemeriksaannya, maka ia telah menulisnya dalam sobekan kain ini dengan darah dari lukanya."
"Akupun sependapat denganmu,"
Jawab Gokhiol.
"tapi ini telunjuk tangan siapa ?"
Sikakek berdiam. Selang beberapa waktu, barulah ia berkata .
"Siauw-cu-jin, besok akan kucarikan dua ekor kuda untuk kita pergi berdua kegoa Tung-hong, yang letaknya kira2 duaratus lie dari sini. Kita dapat menempuhnya dalam waktu satu hari satu malam."
"Maaf, tak dapat,"
Sahut Gokhiol.
"aku harus mencari dulu pedang pusakaku, yang telah terampas tadi."
Sekonyong-konyong terdengar suara berkeresekan diluar gubuk.
Gokhiol cepat2 meniup padam api pelita seraya menarik badan sikakek kepinggir dinding.
Baru saja sikakek menyingkir atau mendadak saja ...
pintu gubuk terbuka!
Mendadak sebuah sinar yang mengkeredep menyambar ketempat dimana sebelumnya sikakek berdiri.
Gokhiol mencabut pisau belatinya dan dengan berani berlari keluar.
Dalam keadaan yang gelap nampak sesosok bayangan orang berkelebat menghilang dikelam malam.
Tiang Jun tergesa-gesa menyusul keluar untuk mencegah Gokhiol mengajar.
"Siauw-cu-jin, jangan kau kejar! Kau harus bersikap tenang dan berpikiran dingin."
Gokhiol masuk kedalam gubuk kembali dan disuluhinya pula ruang gubuk untuk memeriksa apa yang telah dilemparkan orang itu.
Nampak olehnya sebuah benda logam menancap diatas tanah.
Setelah Gokhiol mencabutnya untuk diperiksa, ternyata benda logam itu berbentuk bulat, dipinggirnya terdiri dari sembilan buah gerigi yang tajam.
la tak mengetahui benda apakah itu?
"Lo-cian-pwee, aku telah tinggalkan kudaku dimulut lembah.
Aku ingin menjemputnya serta mencari laki2 berbaju hitam tadi yang telah mencuri pedangku.
Setelah dapat kurebut kembali maka aku akan kembali kesini untuk menemukan kau."
Tiang Jun hanya dapat memberikan restunya, ia mengawasi Gokhiol pergi meninggalkan dirinya...
---oo0dw0oo---PADA siang hari sampailah Gokhiol pada daerah dataran rendah.
Dipinggiran jalan berderetan kedai2.
la menghampiri salah sebuah tenda dan lompat turun dari kudanya.
Kedai itu adalah milik orang suku Hui.
la memesan makanan dan acuh tak acuh menanyakan jalan kejurusan goa Tung-hong.
"Ada dua jalan yang dapat saudara tempuh untuk pergi ke Tung-hong."
Kata sipemilik kedai dengan ramah.
"satu diantaranya melalui padang pasir dan dusun Ang-Liu-Cun yang merupakan jalan terdekat, sedangkan yang satunya lagi ialah melalui ladang garam yang memakan waktu lebih lama. Tapi lebih baik kau mengambil jalan yang melalui ladang garam walaupun memakan tempo satu hari lebih lama untuk sampai di Tung-hong,"
"Kenapa ?"
Tanya Gokhiol dengan heran. Sipemilik kedai menjadi tegang air mukanya.
"Saudara, jangan kau mengambil jalan yang melalui Ang-Liu-Cun itu. Beberapa waktu akhir2 ini para petualang yang lewat dipadang pasir itu semuanya mati terbunuh. Binasa secara mengerikan dibawah tangan Heh Sia Mo-lie dari Kota Hitam!"
Begitu mendengar namanya Wanita Iblis, Gokhiol menjadi tersirap darahnya.
"Benarkah Hek Sia Mo-lie tinggal di Ang-Liu-Cun tanyanya.
"Tiap orang yang datang kesini semuanya mengetahuinya, demikian juga dengan para ksatrya Mongol. Seorangpun dari mereka tak berani melintasi padang pasir itu dengan seorang diri. Aku nasehatkan kepadamu untuk jangan mengambil jalanan itu."
Gokhiol hanya tertawa dingin.
"Justru aku datang kesini untuk menemukan Wanita lblis itu! Aku ingin sekali mengetahui apakah benar ia seekor iblis atau hanya seorang manusia biasa yang berdarah dan berdaging."
"Saudara jangan bicara keras,"
Sipemilik kedai berkata dengan gelisah, walaupun letak Ang-Liu-Cun jauh dari sini, tapi Hek Sia Mo-lie dapat mengetahuinya.
"Menurui cerita para tamu yang berkunjung disini, dia seringkali muncul disebuah hutan ditengah-tengah padang pasir. Disitu udara luar biasa dinginnya, dulu kabarnya sinar matahari pun tak dapat memanaskan hawa di hutan itu. Katanya pernah seorang raja See-hek mendirikan sebuah kota yang kini dinamakan Kota Hitam. Kemudian karena timbulnya peperangan, maka kota ini musnah dan bangunan2 rumahnya telah terpendam kedalam tanah. Kini kota itu telah dilupakan orang, tapi oleh Hek Sia Molie telah digunakan untuk tempat sarangnya."
Selesai bersantap, Gokhiol melihat matahari telah menyondong kebarat.
Dengan tenang ia membayar uang makanannya untuk kemudian menyemplak kudanya dan di kaburkan kearah ...
jalan kepadang pasir!
Kearah bahaya maut.
Sipemilik kedai menjadi kaget.
Buru2 ia keluar dan berteriak mencegah sipemuda.
Tapi sudah terlambat.
Kuda Gokhiol sudah jauh larinya ...
Sepanjang perjalanan berdiri gundukan2 pasir.
Sete!ah hari menjelang magrib, barulah nampak dataran tawah yang berpohon lebat dan rumput2 yang hijau tebal.
Tak jauh sebuah sungai kecil mengalirkan airnya dengan deras melalui sela2 bukit batu.
Air yang jernih kebiru-biruan itu tertampung pada sebuah danau kecil.
Disekeliling tepi danau mata Gokhiol melihat kelompok pohon Liu yang ditiup angin, melambai-lambai bagaikan gadis2 sedang me-nari2 dengan riangnya.
Air danau berombak kecil bagaikan ingin menyertainya, seirama dengan tiupan angin sepoi2.
Diseberang danau diantara bukit2 yang ber-jejer2 asap mengepul pelan2 keatas.
Disana terdapat sebuah rumah penduduk desa.
Dimuka tumah itu terdapat pelataran rumput yang hiyau membentang ketepi danau.
Tak disangka oleh Gokhiol bahwa di-tengah2 padang pasir yang kering gersang terdapat suatu tempat yang nyaman dan indah permai pemandangannya.
"Alangkah indahnya tempat ini. Nyaman dan jauh dari segala keramaian"
Gokhiol berkata dalam hatinya.
"kini hari sudah mulai gelap, kemarin aku sudah semalman tak dapat meramkan mata. Betul aku dapat meneruskan perjalanan, tapi kudaku sudah letih sekali. Baiklah aku bermalam saja dirumah itu."
Begitu berpikir, pemuda kita pun lompat dari kudanya yang dituntunnya ketepi danau untuk dibiarkan binatang itu minum serta makan rumput.
Sedangkan ia sendiripun membungkuk untuk menceguk air melepaskan dahaganya.
Setelah minum, ia merasa tenggorokannla nyaman sekali dan badannya menjadi segar bugar.
Lalu dituntunnya pula kudanya menyusuri danau.
Sesampainya dihalaman rumah, tiba pintunya terbentang dan dari dalam mencul keluar seorang gadis gemuk berusia kira enambelas tahun.
Gadis itu berwajah ke-tolol2an, sepasang matanya besar dan bundar.
Diatas jidatnya terdapat sebuah tai lalat.
Bibirnya tebal, sedangkan pipinya merah karena dipoles Yan-cie yang terlalu medok.
Rambutnya dijalin menjadi dua buah kepang pendek.
Ditelinganya tergantung dua buah anting2 terbuat dari perak yang bentuknya amat lebar.
Ia berjalan dengan lenggak-lenggok yang di-buat2.
Gadis itu mengenakan baju merah-tua, sedangkan celananya berwarna hijau rumput.
la tidak memakai sandal, ditangannya ia mencekal sebatang bambu.
Melihat wajai serta tingkah-laku orang, mau tak mau Gokhiol tertawa geli.
Pikir Gokhiol.
gadis ini rupanya seorang pelayan.
Coba kutanya kepadanya siapa gerangan majikannya?
la mengikat kudanya pada sebatang pohon.
"Maaf, nona. Aku ingin tanya siapakah majikanmu Yang tinggal dirumah ini? Dapatkah kau mengantar aku untuk bertemu serta berkenaIan dengannya?"
Melihat orang menghampirinya, sigadis mendongakkan kepalanya. Dengan sepasang matanya yang besar ia mengawasi pemuda kita. Airmukanya yang menunjukkan ketololan kini berubah sungguh2.
"Hei, kau anak-muda ini datang darimana?"
Sahutnya gusar.
"Mengapa bukannya memberitahukan namamu lebih dahulu kepadaku, sebelum kau berlaku tidak sopan dengan lantas menanyakan nama majikanku? Apakah kau tidak tahu adat?!"
Batang bambu yang sedang dipegang disembunyikan gadis itu kebelakangnya dan dengan mata yang disipitkan ia mengawasi pemuda dari atas sampai kekaki.
Dipandang demikian rupa, Gokhiol menjadi likat, tapi mengingat gadis itu orang tolol ia mengangkat pundaknya.
la berpikir sebaiknya ia menyebutkan nama Han-nya.
"Nona yang manis, namaku ialah Tio Peng dan hari ini aku kebetulan lewat disini sedangkan hari sudah malam. Maka dengan ini aku ingin menanya dapatkah sekiranya aku bermalam dirumahmu?"
Tiba2 sigadis membalikkan badannya, dilemparkannya bambu ketanah.
la membereskan dandanannya.
Sambil bergaya dengan pinggulnya ia menghampiri Gokhiol.
Matanya mengerling berkali-kali, telunjuknya diletakkan diujung bibirnya.
la berkata .
"Anak-muda, kau masih belum menanya namaku."
Melihat tingkah-laku orang yang gila basah, Gokhiol merasa geli. Ia pun menanya .
"Numpang tanya, siapakah nama nona manis?"
Gadis itu menundukkan kepalanya, kemudian sambil memalingkan kepalanya ia menjawab dengan suara yang merdu .
"Tio siauw-ya, apakah kau ingin mengetahui namaku? Aku bernama Tai-tai."
"Oh, kiranya nona Tai-tai?! Dan siapa nama majikanmu, Tai-tai? Dapatkah kau menolong aku untuk memberitahukannya ?"
"Eh, kenapa kau selalu ingin menanyakan nama majikanku ?"
"Aku ingin bermalam disini, maka sebelumnya aku ingin menemui majikanmu untuk minta ijinnya."
Sigadis mendongak keatas sebentar, kemudian menjawab .
"Hari masih belum gelap dan kalau mau tidurpun masih terlalu siang. Eh, kenapa kau selalu menanyakan nama Siociaku? Dia cantik sekali. Hi-hi-hi!"
Gadis itu tertawa cekikikan, badannya yang gemuk turut ber-goyang2 Gokhiol menjadi jemu melihatnya.
la tahu bahwa orang ada sedikit sinting, tapi mendengar ia masih mempunyai Sio-cia yang cantik, tertariklah hatinya.
"Nona yang manis, apakah Sio-ciamu ada dirumah! Tolong sampaikan bahwa aku Tio Peng yang kebetulan lewat, ingin sekali menemuinya."
Sigadis gemuk membelalakkan matanya, lalu membentak.
"Kau ingin menumpang menginap atau ingin menemui Siociaku?!"
"Aku hanya ingin menginap!"
Sahut Gokhiol dengan tak sabaran. Sigadis memungut kembali tongkat bambunya dan berseru dengan keras.
"Kalau begitu, apa kau belum tahu peraturan disini?"
Gokhiol menggelengkan kepala. Tiba2 sigadis menyabet dengan tongkatnya. Cepat sekali gerakannya! "Kalau belum tahu, baiklah sekarang agar kau tahu!"
Gokhiol tak menyangka orang akan memukul dirinya. Cepat2 ia berkelit tapi kakinya kena juga sabetan bambu. la menjadi mendongkol.
"Kau sungguh perempuan gila! Apa2an kau sembarangan memukul orang yang be!um kau kenal."
Sitolol tak menghiraukan perkataan Gokhiol, ia terus menyerang.
Sipemuda menjadi naik-darah.
la menangkap dengan tangannya dan ditariknya tongkat itu untuk kemudian ...
dilepaskan pula dengan tiba2!
Sitolol jatuh terjungkal kedalam air danau.
Gokhiol masih belum puas hatinya, ia menjemput tongkat itu dan dipatahkannya menjadi beberapa potong.
Sigadis tolol menjadi basah kuyup.
la merayap naik keatas seraya menangis dan menjerit-jerit seperti babi hendak dipotong.
"Sio-cia, lekas kesini! Tat-cu ini telah memukul aku, hu-hu-hu ..."
Gokhiol menyesali dirinya. Tak patut ia melayani gadis tolol itu. Selagi ia ingin mengangkat kaki, atau tiba2 sesosok bayangan berkelebat dibelakangnya, disusul dengan suara yang halus dan merdu.
"Kong-cu, harap tunggu sebentar! Budakku telah berlaku kurang sopan terhadapmu, sudilah kau memaafkannya"
Sipelayan tolol Tai-tai yang diceburkan oleh Gokhiol kedalam danau, merayap naik seraya menangis tersedu-sedu.
"Sio-cia ! Tat-cu ini telah memukul aku,"
Ia mengadu kepada majikannya, yang ternyata adalah seorang gadis cantik-jelita.
Pemuda kita tertegun ...
Gokhiol membalikkan dirinya Nampak dihadapannya berdiri seorang gadis remaja, cantik-jelita memesonakan sukma.
Entah berapa lama ia berdiri memandang, yang dirasakan hanyalah semerbaknya bau harum wewangian.
Luwes dan menggiurkan tubuhnya.
Sicantik kelihatannya baru berusia enambelas tahun.
Raut mukanya berbentuk seperti daun sirih, rambutnya disanggul indah.
Dan bibirnya lembut kemerah-merahan.
Kecantikan gadis itu sungguh jarang tandingannya!
Sigadis mengawasi Gokhiol dengan sebuah senyum manis tersungging dibibirnya.
Melihat orang kesima, ia mesem.
"Puaskanlah matamu, Kong-cu"
Ujarnya. Gokhiol, bagaikan baru bangun dari suatu impian, buru2 memberi hormat.
"Harap Sio-cia sudi memaafkan aku. Aku sedang menyesali diriku atas tindakanku yang telah berlaku kasar terhadap budakmu. Aku kuatir kau menjadi gusar. ..."
Sigadis melontarkan pula senyumannya yang mendebarkan jantung.
"Tai-tai mempunyai sifat yang aneh, aku tak dapat menyalahkan kau. Mari, silahkan Kong-cu. Mari, silahkan mampir kepondokku."
Gokhiol menjadi girang sekali. Sementara itu sicantik berpaling kepada budaknya.
"Tai-tai, apakah kau tidak mau menukar pakaianmu? Hayuh, lekas! Kau harus melayani tamu."
Sitolol meleletkan lidahnya kepada Gokhiol.
"Anak-muda, kau sangat beruntung,"
Katanya "Sio-ciaku sudah sebulan lamanya pergi dari rumah dan baru hari ini kebetulan sekali ia baru saja kembali..."
Pada saat itu juga sigadis membentak.
"Tai-tai, siapa suruh kau banyak mulut?! Lekas pergi!"
Sitolol menurut perintah majikannya, ter-buru2 ia berlari kedalam rumah. Sigadis cantik mengajak Gokhiol masuk pula. Melalaui beberapa ruangan, akhirnya tibalah mereka pada sebuah kamar buku.
"Aku hanya mengganggu kau saja, Sio-cia. Bolehkah sekiranya aku mengetahui namamu? Dan apakah orang tuamu ada dirumah?"
Tanya Gokhiol memberanikan dirinya.
"Tio Kongcu, aku bernama Hay Yan dan berasal dari negeri Kim. Pada enam belas tahun yang lalu ayahku Hay An Peng telah datang kesini,"
Sahut sicantik dengan suara merdu.
Kiranya sigadis adalah bangsa Kim!
Untung sekali aku tidak memperkenalkan diriku sebagai anak-angkat Jendral Tuli, kalau tidak niscaya dia akan mengusir aku keluar dari sini, pikir Gokhiol dalam hatinya.
Sicantik berdiam sebentar kemudian melanjutkan.
"Ayahku sejak beberapa tahun diserang penyakit encok, separuh badannya menjadi lumpuh. Maka ia tak dapat menerima tetamu, harap Kongcu suka memaafkannya."
Hay Yan, walaupun masih muda, tapi mendengar tutur katanya sangatlah sopan.
Mereka ber-cakap2 untuk beberapa saat, lalu Tai-tai muncul dengan menyuguhkan barang2 hidangan.
Sigadis menemaninya dengan ramah-tamah.
Tapi dalam hati Gokhiol merasa curiga karena selain sibudak tidak ada lain orang lagi yang tinggal didalam rumah itu.
"Tio Kongcu melewati kampung kami, sebenarnya hendak pergi kemana?"
Tanya Hay Yan dengan mendadak. Gokhiol berpikir sebentar, gadis ini nampaknya adalah dari golongan lurus, baiklah aku berterus terang saja. Iapun berkata .
"Aku berniat untuk pergi kegoa Tung-hong."
Mendengar keterangan itu, Hay Yan kelihatan agak terperanjat.
"Sebagaimana Kong-cu mengetahui goa Tung-hong telah dibangun pada ratusan tahun yang lampau dan disana kini hanya tinggal para tosu. Apakah Kong cu kesana ingin bertemu dengan mereka ?"
"Bukan,"
Jawab Gokhiol.
"aku kesana dengan maksud mencari jejak seseorang."
Sigadis terdiam.
Sampai disitu penbicaraan tak dilanjutkan pula.
Gokhiol dipersilahkan mengambil sebuah ruangan tamu untuk ia bermalam dirumah itu.
---oo0dw0oo--Keesokan paginya Gokhiol bangun dari tidurnya.
la mendapatkan kamarnya telah dikunci orang dari sebelah luar.
Gokhiol berpura-pura batuk dua kali dan tak lama kemudian pintu dibuka oleh sibudak tolol.
"Apakah Kong-cu dapat tidur dengan nyenyak?"
Tanya Tai-tai begitu melihat sipemuda bangun.
"Oleh karena didalam rumah ini ada seorang laki2 yang tinggal, maka Sio-ciaku telah menitahkan kepadaku untuk mengunci pintu kamarmu dari luar. Harap Kong-cu jangan marah, yah ?"
Gokhiol tertawa. Sibudak merapikan kamar, dan setelah selesai ia mengundurkan diri untuk menyediakan santapan pagi. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa makanan.
"Tai-tai, apakah Sio-ciamu sudah bangun?"
"Sio-ciaku tidak tidur dirumah. Semalam ia telah memesan kelpadaku untuk disampaikan kepada Kong-cu, bahwa ia masih ada beberapa urusan, maka sudilah Kongcu memaafkannya bila nonaku tidak dapat bertemu lagi denganmu. Kuda Kong-cu serta kantong rangsum telah kusiapkan semuanya."
Ketika Gokhiol ingin menanyakan lebih lanjut, tiba2 terdengar suara orang gagu bicara diluar. Sitolol buru2 menarik tangan pemuda kita.
"Lo-ya menyuruh aku untuk mengantar kau keluar."
Gokhiol mengikuti sitolol yang berjalan keluar. Kudanya telah disiapkan, begitupun juga dengan kantong rangsumnya. Setelah menyemplak,kudanya, Gokhiol berseru .
"Tolong sampaikan kepada Sio-ciamu bahwa aku sangat berterima kasih atas kebaikan hatinya dan juga kepadamu, Tai-tai. Tapi kuharap kau jangan sering2 memukul orang dengan bambu!"
Tai-tai mengerlingkan matanya dan melambai-lambaikan tanganya seperti orang ditingalkan kecintaannya.
Gokhiol melarikan kudanya dengan tenang.
Pikirannya masih terbayang2 mengingat senyuman dan suara tertawa Hay Yan yang merdu.
Di Holim aku sudah banyak melihat dayang2 istana yang cantik, tapi tiada satupun di antara mereka yang dapat menandingi kecantikannya Hay Yan yang bagaikan rembulan, pikirnya dalam hati.
Tanpa sadar ia menoleh kebelakang dan nampak rumah itu kian lama kian jauh.
Kelak apabila aku lewat ditempat ini pula, takkan lupa aku mencarinya.
-Gokhiol melamun.
---oo0dw0oo---Setelah melarikan kudanya setengah harian, tibalah pemuda kita pada sebuah lembah.
Sedang Gokhiol menunggang kudanya dengan tenang, tiba2 terdengar suara orang berteriak .
"Hai, bocah ! Tunggu sebentar!"
Suara itu terdengar dekat sekali, seolah-olah didepan telinganya, tapi tatkala ia menoleh heranlah hatinya.
Sebab disekitarnya tidak kelihatan seorangpun.
la mengeprak kudanya untuk lari lebih kencang.
Tapi serentak suara itu terdengar pula .
"Bila kau tidak mau berhenti nanti aku akan membuat kudamu tak dapat bergerak lagi."
Kembali Gokhiol menoleh kesekelilingnya, tapi setanpun tidak kelihatan.
Diam2 ia merasa jeri juga.
Kudanya masih berlari beberapa langkah, tapi kini terasa bagaikan ada seorang yang menahannya dari belakang.
Nampaknya kuda itu seperti sedang berlari, tapi nyatanya binatang itu hanya dapat bergeser tidak lebih diantara satu tombak saja jaraknya.
Gokhiol menjadi penasaran, matanya menyapu lagi dengan seksama.
Maka kini nampaklah diatas tebing seorang laki2 berdiri dengan tangannya asyik di-gerak2kan.
Orang itu memakai topi hitam, sedangkan jubahnya yang panjang berwarna hitam pula.
Wajahnya yang menunjukkan kewibawaan, berkumis dan berjenggot yang bercabang tiga.
Matanya ber-sinar2, sekali memandang Gokhiol mengambil kesimpulan bahwa orang itu berkepandaian tinggi sekali.
Melihat rupa orang itu, Gokhiol menjadi terkesiap.
Orang itu mirip sekali seperti itu laki2 berbaju hitam yang pada kemarin malam telah membawa Iari pedangnya.
Waktu, itu ia tidak sempat untuk memperhatikan laki2 tersebut dengan jelas, tapi melilhat gerakan tangan orang, ia tidak ragu2 lagi.
Ha!
Ia harus merebut kembali pedangnya.
Gokhiol seraya berteriak loncat turun dari kudanya.
Terus ia memburu orang yang sedang berdiri ditebing itu, tapi tatkala hampir sampai, tiba2 laki2 itu menghilang!
sejenak kemudian laki2 itu muncul pula pada tempat yang agak jauhan.
Sungguh kepandaian iimu meringankan tubuhnya hebat sekali.
Gokhiol lantas berteriak.
"Lo-cian-pwee, kau siapa? Tadi kau telah menyuruh aku berhenti, kini kau berlarian seperti orang main petak saja. Apakah kau ingin mengembalikan pedangku?"
"Bocah, kau kemari dulu! Nanti baru akan kukembalikan pedangmu"
Orang itu berkata sambil tertawa.
Gokhiol mengawasi kertempat orang berdiri, jarak antara ia dengan orang itu ada kira2 sepuluh tombak dan sebuah jurang yang sangat dalam memisahkan mereka.
Jika ia terjatuh, niscaya tubuhnya akan hancur-luluh.
Ia jeri juga.
Orang tua itu mengejek pula dengan suara dingin.
Gokhiol mendongkol sekali.
Tapi ia sangsi ia sangsi akan kemampuannya untuk meloncati jurang maut itu.
"Ha-ha-ha! nyalimu seperti tikus. Kau takut, bukan?"
Sekonyong-konyong orang itu mengibaskan lengan bayunya, yang disusul dengan berkesiurnya angin yang menyambar kearah Gokhiol.
pemuda kita merasakan dirinya tak dapat berdiri tegak pula, maka bila ia terus mempertahankan diri, mau tak mau akhirnya ia akan jatuh ia akan jatuh kedalam jurang.
Ia mengkretakkan giginya dan dengan tipu Burung Walet-terbang melewati-jurang, ia mengayunkan kakinya.
Dengan kedua tangan terbentang lebar, Gokhiol mengambil keputusan nekad untuk melompati jurang yang terbentang dihadapannya.
Begitu badannya melompat atau tiba2 dirasakannya badannya terapung tinggi melayang keudara.
Terdengar suara angin men-deru2 bagaikan guntur dan dalam waktu tak berapa lama ia sampai didepan jurang.
Laki berbaju hitam berseri-seri wajahnya.
"Bagus, bagus sekali! Bocah, keberanianmu boleh juga! Mari duduklah disebelahku, aku ingin bicara denganmu."
Gokhiol tahu bahwa sibaju hitam secara diam2 telah menggunakan kepandaiannya untuk membantu dirinya melewati jurang yang curam agar tiba ditempatnya.
"Lo-cian-pwee, terima-kasih atas bantuanmu. Bukankah kau juga yang kemarin malam menbantu adikku melawan Hek Sia Mo-lie?"
Laki2 berbaju hitam itu tidak menjawab, sebaliknya ia mengulurkan tangannya kearah sebuah batu besar yang berdiri dihadapannya.
Suara menggeletar terdengar diudara dan pada saat itu juga batu raksasa itu bergeser.
Nampaklah dibawahnya...
sebuah lobang!
Tatkala Gokhiol melongok, ia melihat pedang Ang-liong-kiam menggeletak didalamnya.
Ia merasa gembira dan ingin mengambilnya, tapi sibaju hitam mencegahnya.
Suara menggelegar terdengar tatkala Im Hian Hong Kie-su mengerahkan seluruh tenaga-dalamnya untuk mendorong batu raksasa.
Ternyata pedang pusaka Ang-liong-kiam tergeletak dibawahnya ...
"Bocah yang baik."
Katanya dengan suara lembut.
"dewasa ini sebaiknya kau jangan mempergunakan dulu pedang mustika ini. Percayalah kepadaku, dalam waktu setelah tiga tahun pasti kau akan menemukan musuh besarmu yang sedang kau cari sekarang ini. Dan pada waktu itu kau sudah dapat mempergunakan pedangmu dengan mahir sekali hingga tak mampu orang merebutnya."
Gokhiol memikir perkataan itu benar juga.
"Tapi sejak hari ini, kau harus mencari seorang guru yang paling kosen dikolong langit untuk mendapat kepandaian yang tinggi, agar kau dapat menuntut balas. Dengan belajar tekun dan dengan kemauan yang keras, niscaya kelak kau akan berhasil mencapai cita2mu itu !"
Gokhiol berdiri terpaku. Sibaju hitam se-olah2 telah mengetahui dengan jelas akan riwayat hidupnya! Selang beberapa saat, barulah ia dapat berkata.
"Lo-cian-pwee, bagaimana kau dapat mengetahui bahwa aku sedang hendak menuntut balas? Dan kau belum memberi tahu namamu yang mulia kepadaku."
Sibaju hitam iersenyum.
"Aku berdiam dipuncak yang sangat berbahaya sekali, maka orang2 menamakan aku Im Hian Hong Kie-su atau Penghuni dari Puncak Gunung Maut. Kau adalah putera Tio Hoan, bukan? Tapi sayang dalam usiamu sekarang, kepandaianmu masih rendah. Apabila kau ingin menuntut balas, maka kau akan gagal. Kemarin malam bila bukannya kebetulan aku berada disitu, niscaya kau sudah binasa ditangan Wanita Iblis itu."
Gokhiol tersipu-sipu menjura.
"Oh, kiranya Lo-cian-pwee adalah Im Hian Hong Kie-su?! Tapi mengapa kebanyakan orang menganggap kau sebagai momok yang sangat kejam dan sering membunuh orang? Aku sungguh tak habis mengerti, setelah melihat rupa dan tindakanmu terhadap diriku."
"Bocah yang baik,"
Sibaju hitam menyahut.
"Pada duapuluh tahun yang lampau tiada seorangpun yang tak kena! padaku, karena aku hidup malang melintang didalam dunia Kang-ouw sebagai pembela keadilan. Aku meaggempur yang kuat dan menolong yang lemah. Semakin kejam orang itu, semakin kejam pula aku mengganyangnya. Aku berpendirian bahwa kaum bathil yang selalu mementingkan dirinya sendiri harus kubasmi habis2-an. Sebab itulah orang2 sampai menyebut puncak gunung dimana aku tinggal dengan nama Puncak Maut!"
Im Hian Hong Kie-su menarik napas panjang, lalu sambungnya pula.
"Sebenarnya akupun tergolong dengan kaum bu-lim yang lurus, yang dapat membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Waktu diadakan pemilihan Bu-lim Cin-cun, karena sifatku yang ingin berkuasa, aku telah merobohkan tujuh orang Ciang-bun-jin dari tujuh perguruan besar. Sebagai akibatnya aku telah menanamkan bibit permusuhan kepada murid2nya. Dan seyak itu pula aku telah mengasingkan diri, karena sangat menyesal sekali.Tapi apa gunanya seperti pepatah mengatakan .Tobat selalu datang terlambat. Sampai kini setelah duapuluh tahun mereka masih belum melupakan diriku, mereka telah meyakinkan kepandaian yang hebat2 untuk menuntut balas terhadap diriku.Dengan berbagai tipu-muslihat mereka mencoba membunuh diriku, tatkala aku muncul keluar dari pertapaanku. Tapi aku selalu dapat menyelamatkan diri."
Gokhiol asyik sekali mendengar cerita orang.
"Ayahmu Tio Hoan adalah seorang murid dari Bu-tong Pay"
Sibaju hitam melanjutkan.
"dahulu ayahmu pernah menolong aku dan akupun tak melupakan budinya itu. Kernarin di Lembah ular melingkar, dengan mempergunakan ilmu mendengar menembus udara, aku telah dapat mencuri dengar percakapanmu dengan Tat-cu Pato. Disitulah aku dapat mengetahui asal usulmu dan aku telah mendengar pula kamu me-nyebut2 namaku. Tak di sangka2 pada ketika itu Hek Sia Mo Lie muncul. Aku melihat dia bertarung dengan Tat-cu Pato, lalu diam2 membantu kamu berdua. Karena kuatir pedangmu jatuh ketangannya, maka aku sengaja telah menbawa lari."
Gokhiol kini baru mengerti "Tapi aku tidak bermusuhan dengan Hek Sie Mo-lie, mengapa dia ingin mencelakai aku dan adikku Pato?"
"Entahlah. Aku sendiripun tak dapat menerkanya, tapi memang dia acap kali membunuh orang."
Mendengar sampai disitu, hilanglah perasaan curiga Gokhiol terhadap si baju hitam.
"Lo-cian-pwee, berikanlah aku petunjuk2 bagaimana rupa dan siapakah sebenarnya pembunuh ayahku serta kini dimana ia berada,"
Ujar Gokhiol sambil berlutut dengan air mata berlinang-linang.
"Bocah, bangunlah! Kau masih muda, tentunya belum banyak mengetahui tentang keadaan Kang-ouw. Bukan aku tidak mau membantu kau untuk mencari musuhmu, tapi aku sendiripun sedang dikejar oleh musuhku. Mereka adalah jago2, kelas satu dan kepandaiannya tinggi sekali. Maka apabila kau turut dengan aku, jiwamu sendiripun pasti akan ikut terancam. Hanya sayang sekali dengan kepandaian yang kau miliki sekarang ini, sukar sekali untuk melawan musuhmu, kecuali kalau dapat meyakinkan semacam kepandaian tunggal!"
Kata sibaju hitarn sambil menepuk-nepuk pundak Gokhiol.
Namun pemuda kita mempunyai pikiran yang berlainan, tadi ia telah menyaksikan sendiri kepandaian Im Hian Hong Kie-su yang dapat menghisap tenaga kuda.
Baiklah akan kuminta untuk diajarkan kepandaiannya, jika dapat kupelajari kepandaiannya dengan baik, maka ia usah lagi aku mencari guru lain.
Maka tanpa ayal ia memohon kepada lm Hian Hong Kie-su agar suka menerima dirinya sebagai murid.
"Bocah yang baik,"
Berkata Im Hian Hong Kie-su dengan sungguh2,"
Kepandaianku masih kurang tinggi untuk mendidik kau agar dapat menandingi musuh-besarmu.
Dan lagipula aku sedang menghadapi musuh2ku, maka takkan leluasa untuk rnenerima kau sebagai seorang murid.
Tapi akan kuperkenalkan kau dengan seorang luar biasa yang kepandaiannya tebih tinggi beberapa kali lipat daripadaku.
Jika ia mau menerima kau sebagai murid, kuyakin dalam waktu tidak lebih dari tiga tahun kau akan menjadi seorang pendekar yang berkepandaian tinggi.
Seteiah itu barulah kau dapat menuntut balas, hanya .., kau harus meluluskan dulu satu permintaanku..."
Belum sampai orang menghabiskan perkataannya,. Gokhiol sudah memotong.
"Lo-cian-pwee, siapa gerangan orang luar biasa itu dan dimanakah dia sekarang ? Kau minta aku meluluskan satu permintaan darimu, apakah itu ? Apa saja pun yang kau suruh, tidak nanti akan kutolak."
"Itu semua adalah untuk kebaikanmu sendiri,"
Jawab Im Hian Hong Kie-su.
"Pedangmu kau harus simpan dulu disini sampai kau kuat mendorong batu besar ini dengan telapak tanganmu. Baru pada waktu itu kau boleh datang untuk mengambilnya! Bila kau setuju, maka aku akan berikan kau semacam tanda pengenal untuk dapat menemui orang luar biasa itu. Tapi apakah orang itu mau atau tidak menerima kau sebagai muridnya, itulah terserah pada peruntunganmu sendiri"
Gokhiol menyetujui permintaan orang itu, selanjutnya ia menanyakan nama dari orang luar biasa itu.
Tapi Im Hian Hong Kie-su tidak menjawab.
Tiba2 diulurkannya telapak-tangannya dan mendorong.
Pelan2 batu raksasa bergeser kembali menutupi lobang dimana pedang Gokhiol tersimpan.
Gokhiol melihat tenaga yang dipakai sibaju hitam sedikitnya ada limaribu kati untuk dapat menggeser batu raksasa itu.
Diam2 hatinya merasa tunduk terhadap Si penunggu Puncak Gunung Maut.
lm Hian Hong Kie-su membalikkan badannya kehadapan Gokhiol seraya membuka leher bajunya.
Sambil menunjukkan sebuah rantai gelang emas putih yang menggantung dilehernya, ia berkata .
"Coba kau patahkan gelang ini!"
Gokhiol mengawas gelang yang terbuat dari emas putih itu, dilihatnya ada ukiran huruf2 yang sangat indah.
la mencekal dengan kedua belah tangannya dan dengan gentakan yang keras gelang itu ditariknya.
Tapi gelang itu hanya merenggang sedikit, tak menjadi patah.
"Tenaga dalammu lumayan juga!"
Memuji sibaju hitam.
Kemudian ia meraba lehernya.
Tiba2 dengan gerakan yang dahsyat gelang itu ditariknya patah menjadi dua potong.
Gokhiol meleletkan lidahnya.
Sibaju hitam menghampiri Gokhiol dan ditangkupkannya gelang itu pada leher sipemuda.
Dengan memencet jarinya gelang itu tersambung pula seperti sediakala.
Gokhiol terperanjat bercampur kagum.
Tangannya merabah gelang yang kini terikat pada Iehernya.
"Ini adalah tanda bukti dariku,"
Ujar Im Hian Hong Kiesu.
"dengan mengenakan gelang ini, dikemudian hari apabila kau bertemu dengan orang luar biasa yang kumaksudkan, maka ia akan segera membukanya tanpa suatupun yang cacat. Dialah yang harus kau angkat sebagai guru. Aku jamin dia pasti akan menerima kau untuk menurunkan kepandaiannya"
Gokhiol berseri-seri wajahnya.
"Lo-cian-pwee, kau belum kasih tahu nama orang itu! Bagaimana aku dapat mencarinya ?"
"Bocah yang baik,"
Sahut sibaju hitam dengan penuh sayang.
"Dengarkanlah! Aku akan perkenalkan kau kepada cucu muridnya Hwee Liong Cin-jin. Kau sudah tahu bahwa Hwee Liong Cin-jin adalah orang yang paling tersohor pada abad yang lampau. Nah, orang yang kumaksudkan adalah cucu murid turunan ketiga, yang bernama Wan Hwi Sian atau Dewa Kera Terbang yang biasanya dipanggil Wan Hwi To-tiang. Dia telah berhasil menyakinkan ilmu pukulan telapak-tangan yang tiada taranya dijagad ini. Tapi pada sepuluh tahun yang lampau, ia telah mendapatkan pula ilmu bersalin rupa, sehingga wajahnya selalu berobah-robah. Sejak itu orang tak dapat melihat lagi wajahnya yang sebenarnya. Orang2 Bulim sangat menyeganinya, karena Wan Hwi To-tiang dapat berada disampingmu, sedangkan kau sendiri tak mengenalinya."
"Kalau begitu bagaimana aku dapat mencari dia?"sela Gokhiol dengan nada putus asa.
"Diam! jangan sambut omonganku!"
Sibaju hitam membentak.
"Wan Hwi To Tiang adalah sahabat karibku. Gelang emas putih ini adalah pemberiannya pada duapuluh tahun berselang. Walaupun sudah lama kami tidak saling bertemu, tapi kau turutkan saya apa yang telah kupesankan kepadamu. Kalau dia melihat barang pengenal ini, niscaya dia akan mendekati kau. Maka telah kukatakan tadi, itu tergantung dari peruntunganmu. Apakah kini kau mengerti?"
Gokhiol meng-angguk2 dengan sikap hormat.
Im Hian Hong Kie-su memesan pula supaya ia pergi kegunung Hwasan, Ciong-lam San, Khong-tong San dan tempat2 terkenal lainnya.
Niscaya dengan nasib bagus tentu Gokhiol akan bertemu dengan Wan Hwi To-tiang.
Hilanglah seluruh rasa curiga pemuda kita dan iapun lupa bahwa tuyuannya ialah untuk mengambii kembali pedang pusakanya.
"Lo-cian-pwee, dimana dan kapan kita dapat bertemu lagi?"
Tanya Gokhiol ketika hendak berlalu. la merasa berat berpisahan dengan sibaju hitam.
"Kemana aku pergi, tak dapat ditentukan. Tapi kau cari aku kelak di Puncak Gunung Maut!"
Gokhiol tak tahu dimana letaknya tempat itu, ketika ia ingin menanyakannya Im Hian Hong Kie-su sudah berkelebat pergi .........
---oo0dw0oo---MATAHARI mulai condong kebarat, Gokhiol menaiki kudanya dengan pesat berlari meneruskan perjalanan.
Rambutnya berterbangan ditiup angin bagaikan rambut singa.
Tanpa mendapat kesukaran ia melewati daerah padang pasir, tapi ia tak dapat menemukan Ang-Liu-Cun yang terletak di-tengah2 padang pasir.
Karena hati sipemuda sedang kegirangan mengingat telah berjumpa dengan siorang tua tadi, maka ia lupa untuk mencari Hek Sia Mo-lie.
Pada petang harinya tibalah ia pada sebuah pangkalan.
Sebuah papan menunjukkan bahwa perjalanan ke Tung-hong tinggal sepoluh lie lagi.
Tampak didepan pangkalan tertambat binatang onta dan kuda.
Begitu melihat Gokhiol yang datang dari arah padang pasir, para tamu mau tak mau memperhatikannya dangan perasaan heran.
Semua mata tertuju pada sipemuda.
Seorang saudagar menegur.
"Saudara datang dari padang pasir? Apa saudara bertemtu dengan Wanita iblis ?"
"Aku hanya bertemu dengan seorang gadis cantik, mana ada iblis segala? Kau sendirilah yang berpikir tidak waras"
Sahut Gokhiol dengan tersenyum. Seorang pengawal Piauw yang sudah agak lanjut usianya menanya .
"Anak muda, apakah kau pernah pergi kerumah keluarga Hay? Disitu pemandangannya indah permai. Sayang sekali orang2 yang lewat disitu tak pernah diijinkan untuk bertamu."
"Justru aku telah bermalam disana, bagaimana kau katakan bahwa dirumah keluarga Hay tak pernah menerima tamu?"
Jawab pemuda kita sambil tertawa. Berapa orang yang mendengar apa yang diceritakan sipemuda, menjadi kagum sekali. Salah seorang diantara mereka bertanya pula .
"Saudara kau sangat mujur. Keluarga Hay itu mermpunyai dua orang gadis. Satu diantaranya sangat cantik bagaikan dewi Kahyangan, sedangkan yang satunya lagi beroman jelek seperti pantat kuali. Beberapa tahun ini penghuni padang pasir telah mengungsi kelain tempat dan hanya tinggal keluarga Hay saja yang tidak takut akan Hek Sia Mo-lie. Mereka tetap tinggal disana. Tapi kedua gadis itupun sangat waspada, orang2 yang datang berkunjung hanya diperbolehkan mampir untuk mengambil air ditepi danau. Tapi apabila ada seseorang yang berani melewati pagar perkarangan, maka ocang itu akan diceburkan kedalam danau."
Gokhiol mesem, teringat akan Tai-tai.
la bermalam ditempat pangkalan itu dan dari tamu2 lainnya ia dapat tahu perihal orang2 Bu-lim yang muncul di Giok-bunkoan pada beberapa tahun berselang.
Pada keesokan harinya sipemuda melanjutkan perjalanannya ke Tung-hong.
Tung-hong adalah sebuah kota yang merupakan pusat dari kebudayaan agama Buddha.
Sejak ahala Tong, Para bangsawan telah menganut agama tersebut.
Mereka tak sedikit mengeluarkan harta bendanya dalam membangun goa2 untuk pemliharaan pautung2 pujaan nan suci.
Beberapa ratus tahun yang lalu diatas gunung Beng-see San telah dibangun ribuan goa2 yang dindingnya dihias deengan lukisan2 dan pahatan2 yang menunjukkan ajaran2 Budha dan jua dipahat patung2.
Goa itu di namakan Cian Hud Tong atau Goa Seribu Arca.
Pada tiap pembuatan sebuah Goa, tidak jarang diundang para imam yang datang dari berbagai tempat untuk mengerjakan dekorasi.
Dan diantara mereka tidak jarang pula ada yang memiliki kepandaian tinggi sekali.
Maka oleh karena itu terdapat juga teori2 mengenai ilmu pedang dan silat didalam goa, sebagai benda penolak rokh jahat.
Gokhiol telah menerima peninggalan ayahnya, yaitu sebuah sepatu yang didalamnya tersimpan secarik kain yang penuh dengan tulisan darah.
Tulisan darah itu merupakan tanda rahasia yang dibikin ayahnya didalam Goa Seribu Arca, pada waktu ia sedang mencari seorang puteri Negeri Kim.
Maksudnya membuat tanda2 rahasia itu, ialah untuk mempermudah usahanya dibelakang hari.
Tapi tak disangka ia lebih dahulu terbunuh oleh musuhnya.
Gokhiol berkeras hati ingin mengetahui rahasia yang terkandung dalam tulisan ayahnya.
Apa sang puteri benar2 masih hidup?
Dengan hanya ber-kira2 saja, maka persoalan tersebut tak dapat dipecahkan, sehingga Gokhiol pergi sendiri ke Goa Seribu Arca.
Pemuda kita sampai dikaki gunung Beng-see San dimana terdapat beberapa kuil yang sudah tua dan rusak.
Suasana sangat sunyi.
Ternyata kuil itu hanya didiami oleh tiga orang hweesio.
Didaerah padang pasir seringkali terjadi pembegalan, hingga tak mengherankan apabila mereka ketakutan dan bersembunyi melihat Gokhiol datang.
Gokhiol menambatkan kudanya lalu berjalan kebelakang kuil.
Dari situ tampak samar2 diatas gunung Beng-see San goa2 yang mirip sarang laba2, membujur panjang hingga puluhan lie.
Didepan dan dibelakang gunung, berjejer goa2 yang amat banyak jumlahnya.
Diantaranya ada yang terletak diatas lereng2 yang curam dan sukar untuk didaki.
Ada juga yang dibuatkan tangga batu untuk memudahkan menaik keatas.
Pemuda kita mendaki sebuah tangga batu, sepanjang jalan ia melihat pada tebing terdapat angka2 yang tak berurutan.
la menghitung seorang diri.
Kemudian makin lama makin banyak jumlahnya yang tak beraturan.
Akhirnya ia sampai pada goa nomor sembilan, yang terletak pada puncak gunung.
Disekitarnya masih terdapat beberapa goa yang mana diantaranya masih ada yang belum diberikan nomor2.
Gokhiol mengeluarkan surat rahasia peninggalan ayahnya dan dibacanya .
Delapan diatas goa ketigabelas, kekanan enam dan tiga dim dibawah lengan.
Gokhiol membacanya berulang kali, akhirnya ia berkata seorang diri.
"Baiklah, mula2 aku harus mencari goa nomor tigabelas."
Ia mencari dengan susah payah.
Goa yang nomor sepuluh terletak pada sebuah tebing yang curam, yang mempunyai tiga ruangan.
Didalanmya kelihatan arca2, tetapi pemuda kita tak sempat untuk menikmatinya.
Kemudian ia berhasil menemukan goa nomor sebelas dan duabelas.
Kini dihadapannya menghadang sebuah batu besar, ia mendapatkan jalan buntu.
Setelah mengasah otaknya, timbullah suatu pikiran bahwa tentunya mesti ada jalan untuk melewati batu itu.
Pemuda kita men-cari2 dan benar saja tak lama kemudian ia menemui sebuah lorong buatan tangan manusia.
Dengan menyusuri lereng gunung, ia mendapat sebuah jalan kecil yang hanya muat untuk dilewati oleh seorang.
Sejenak kemudian diketemukannya sebuah papan batu diatas nama samar2 kelihatan tulisan.
Setelah diperhatikan lebih dekat, ternyata adalah sebuah ukiran huruf nomor tigabelas.
Bukan main girangnya hati sipemuda!
Dengan hati berdebar ia menyingkap rumpun2 belukar yang menghadang dan setelah berjalan beberapa tombak, mendadak dihadapannya terbentang tempat luas.
Kiranya goa itu adalah goa alam!
Dari goa muka terus menembus kebelakang, sinar matahari memancar masuk dari luar menyinari kedalam dengan terang benderang.
Lukisan yang terlihat pada dinding2 terdiri dari model pakaian wanita dari Ngo Tay (Liang, Tong, Cin, Han, Ciu) dan aturan upacara sembahyang agama Buddha.
Pemuda kita menyelidiki lebih lanjut, dikiri kanan berdiri ampat patung malaikat pintu.
Setelah melalui sebuah tangga batu putih, barulah ia sampai pada goa terbesar.
Ketika mengawasi kesekelilingnya, tampak pada dindingnya duapuluh delapan macam patung sikap hwesio bersamadhi.
"Sekarang goa yang ketigabelas telah kuketemukan,"
Pikirnya dalam hati.
"tapi bagaimana selanjutnya dengan isi surat tadi?"
La mengangkat kepalanya menatap dinding2 yang terukir dengan duapuluh delapan patung hwesio, tersusun atas tiga bagian, yang paling atas terdiri dari sepuluh patung, sedangkan susunan yang kedua dan ketiga masing2 terdiri dari sembilan buah.
"Delapan diatas,"
Gumam sipemuda sendirian.
"itu berarti patung kedelapan pada susunan yang paling atas."
La memanjat kesusunan yang lebih tinggi dan tatkala diawasinya patung yang kedelapan, ternyata itu adalah ..... patung Pouw Tee Lee Han! Pemuda kita berpikir .
"Perkataan selanjutnya berbunyi Fie Hee Sam Jun, tiga dim dibawah lengan, tentunya berarti tiga dim dibawah lengan patung ini. Tapi, Yu Cap Lak, kekanan enambelas, apa lagi artinya?"
Dia yakin, ketika tujuhbelas tahun yang lampau ayahnya Tio Hoan, setelah mengadakan pemeriksaan selama dua hari, tentunya sudah mendapatkan sedikit rahasia.
Ia harus memecahkan surat rahasia ayahnya itu!
Gokhiol dengan tekun memusatkan pikirannya, lalu dicobanya mendorong patung itu sebanyak enambelas kali kekanan, akhirnya ia berjalan enambelas langkah kekanan.
Tapi usahanya sia2 belaka.
la menjadi kehabisan akal, dengan termenung ia mengawasi patung dihadapannya.
Goa itu lebarnya sepuluh tombak lebih.
Dinding2-nya terukir patung2 yang beraneka ragam.
Terutama sekali pada patung yang kedelapan terdapat tidak sedikit lukisan2 orang.
Diantaranya terdapat pula patung2 kecil terbuat dari tanah liat.
Akhirnya ia mendapat suatu ilham .
"Aha! Baiklah akan kucoba!"
Kiranya Gokhiol dapat melihat pada dinding sebelah kanan patung yang kedelapan itu, patung2 kecil dari tanah dan ketika la menghitung sampai pada patung yang kesepuluh, patung itu adalah patung Buddha Bertangan Seribu.
Pada punggungnya terdapat delapan buah lengan.
Demikianlah Gokhiol mendapatkan ilham .
"Kekanan enambelas, tiga dim dibawah lengan, kata ini menunjukkan bahwa tiga dim dibawah lengan keenam, pada patung kesepuluh disebelah kanan!'. Kini semakin jelas bahwa kata delapan diatas adalah merupakan kata2 penunjuk, artinya bila mendapatkan patung kedelapan pada susunan yang teratas, maka ia harus berkisar kesebelah kanan dan menghitung sampai Cian Jiu Hut, Patung Bertangan Seribu, yang tepat letaknya pada deretan kesepuluh. Gokhiol merasa kagum terhadap ayahnya. Kini ia berhadapan dengan Patung Bertangan Seribu, tapi baru saja ia ingin mencari tangan yang keenam atau tiba2 tersiraplah darahnya. Matanya tertuju pada dinding dimana ada tanda bekas telapak-tangan yang berwarna hijau! Terpesona Gokhiol mengawasi telapak tangan itu. Jari2 telapak tangan itu hanya ada empat! Telunjuknya tidak ada! Rupanya telapak-tangan itu adalah peninggalan musuh yang telah membunuh ayahnya. Setelah menengok kian-kemari, barulah Gokhiol mulai menghitung lengan patung itu sampai keenam. Dengan telunjuknya ia menekan pada tiga dim dibawah lengan itu. Mendadak lengan itu bergerak! Menyusul terdengar suara gemuruh dan sebuah dinding membuka lebar... Ternyata dinding itu adalah sebuah pintu rahasia! Begitu pintu terpentang, tampak didalamnya sebuah lorong. Gokhiol menyalakan obornya dan masuk kedalamnya. Berjalan beberapa tumbak, sampailah ia pada sebuah kamar batu. Bau yang keluar dari hawa tanah sangat menyesakkan napas. Didalam kamar itu terdapat rak buku yang terisi dengan kitab2, lilin dan bahan bakar. Gokhiol menyalakan lilin dan membuka kitab yang di tulis dengan tangan. Selain itu ia melihat sebuah peti yang diatasnya tertulis sebagai berikut . Didalam peti ini tersimpan obat mujarab penyalin rupa dan yowan untuk awet muda. Hati sipemuda menjadi sangat gembira. ketika ia hendak membuka peti, api lilin tiba2 menyala lebih besar! Keadaan menjadi terang-benderang. Kini ia melihat sebuah ranjang yang tertutup kelambunya. Pemuda kita berdebar-debar hatinya. Apakah ranjang itu ada orangnya ? Berindap-indap dihampirnya ranjang tersebut dan ........ menyingkap kain kelambunya ! la terkejut! Kiranya kelambu itu menjadi debu ditangannya. Tahulah ia bahwa ranjang itu sudah lama tidak dipakai orang. Gokhiol kembali menghampiri peti tadi. Perlahan-lahan dibukanya. Didalamnya terdapat beberapa kitab yang ditulis dengan tangan dan beberapa buah patung kecil serta barang2 ukiran dari batu Giok. Semua letaknya tidak beraturan. la merasa tentunya sudah ada orang lain yang terlebih dahulu memeriksanya ... Gokhiol kembali keruangan dalam. Dilihatnya sebuah teko arak diatas meja. Setelah dilongoknya nyatalah teko itu sudah kering, tapi samar2 masih tercium bau arak. Dan diatas meja masih terdapat dua buah cawan terbuat dari batu Giok. Pasti kamar ini dulu ada penghuninya, pikir Gokhiol seorang diri. Tiba2 matanya mengawasi suatu benda dibawah tempat tidur. Tatkala ia menjemputnya, ternyata benda itu adalah sebuah sepatu seorang wanita. Sepatu itu masih baru, karena sulamannya masih berwarna terang dan indah. Diam2 sipemuda menjadi heran. Mungkinkah orang yang dulu tinggal disitu adalah seorang wanita? Dengan hati diliputi perasaan ingin tahu, sipemuda melanjutkan penyelidikannya. Kasur dan selimut yang terletak diatas tempat tidur itu, walau pun sudah agak koyak, tapi keadaannya masih bersih. Diatas kasur terdapat sepotong kulit kambing dan diatas bantal menggeletak beberapa helai rambut yang panjang. Itulah rambut wanita! Pemuda kita bersiul perlahan. Rambut yang tertinggal diatas bantal itu diambilnya dan dibunghusnya dengan saputangannya. Pada saat itu juga tangannya menyentuh telunjuk tangan yang sudah kering yang tersimpan dalam sakunya. la teringat akan sesuatu.
"Telunjuk tangan inipun aneh,"
Pikirnya .
"coba aku akurkan dengan telunjuk dari bekas telapak-tangan hijau pada dinding luar !"
Pemuda kita keluar pula untuk membandingkannya.
la menahan napasnya.
Ternyata telunjuk itu pas sekali!
Jadi telunjuk itu adalah telunjuk dari telapak-tangan hijau tersebut.
Pikiran pemuda kita bekerja keras.
Mengapa ada tanda telapak-tangan pada dinding ini'?
Lagipula ayahku kenapa bisa menyimpan telunjuk jarinya didalam sepatu dan menuliskan tanda2 rahasia dari goa ini ?
Mungkinkah ayah telah mengetahui rahasia yang tersembunyi disini?
Hubungan apakah yang terjalin antara ayah dengan orang yang telah putus telunjuknya?
Dilihat dari segi2 ini, mungkinkah dia adalah musuh yang telah membunuh ayah!
Cuma masih ada lagi yang gelap.
Siapakah wanita yang pernah tinggal digoa Tung-hong ini?
Tentu wanita itu bukan sembarang orang!
Sang Surya mulai condong kebarat.
Goa mulai menjadi gelap.
Gokhiol sibuk melanjutkan penyelidikannya dan mendapatkan sebuah botol batu Giok.
Mulutnya sudah somplak Kemudian ia menemukan tutupannya.
Botol itu terukir dengan gambar bunga, samar2 masih tampak huruf2 yang tertera .
Lo Hu Siantan atau Obat Pengawet Muda.
Dibelakang botol itu ada tulisan yang berbunyi .
Dibuat oleh Pok Cu Hong-cu pada tahun kedelapan, tarikh Eng Ho.
Gokhiol mengerutkan keningnya, ia tak dapat mengerti arti seluruhnya.
Walaupun ibunya pernah mengajarinya bahasa Tionghoa sewaktu ia masih kecil, tapi huruf kuno ia belum memahaminya.
Selain tulisan obat pengawet muda, lainnya ia tak tahu apa artinya.
Pemuda kita me!ihat bahwa isi botol itu sudah kosong, bekas diambil orang.
Maka iapun menyimpan botol batu Giok itu kedalam sakunya.
Setelah tidak ada lagi barang2 lainnya untuk diperiksa, iapun balikkan tubuhnya hendak berlalu dari goa itu.
Tiba2 saja api Iilin menjadi padam !
Terasa olehnya angin dingin meniup santer membuat bulu romanya berdiri.
Kemudian menyusul terdengar suara tertawa dari seorang perempuan yang bernada aneh meryeramkan.
Gokhiol terkejut!
Sesosok tubuh manusia tahu2 berdiri depan pintu kamar.
Ketika pemuda kita mengawasinya lebih tegas, tersiraplah darahnya.
Orang yang berdiri itu ternyata adalah seorang wanita berupa setan!
Tubuhnya dibungkus oleh jubah hitam-gelap hingga kakinyapun tak dapat terlihat.
Kepalanya dibungkus dengan sehelai selendang hitam, dan rambutnya terurai-urai ditiup angin yang menderu-deru suaranya.
Mukanya pucat kebiru-biruan seperti tak berdarah, alisnya sangat tebal dan jidatnya agak menonjol.
Mulutnya lebar dan bibirnya tebal jelek sekali.
Wajahnya menunjukkan perasaan tak berperi kemanusiaan.
Wanita itu mengawasi pemuda kita dengan sikap bermusuhan, seolah-olah diliputi kegusaran.
Gokhiol tersentak napasnya.
Seorang wanita berjubah hitam seperti setan tahu-tahu berdiri didepan pintu seraya menjerit dengan suara nyaring..........
Gokhiol berdebar hatinya; Dengan tidak disadarinya kakinya mundur kedalam ruangan belakang.
Perempuan itu mengulurkan tangannya, setindak demi setindak ia mengikuti.
Tangannya putih-halus, diyarinya yang lentik sangat tidak sepadan dengan mukanya yang tidak keruan macam.
Dengan tangan memegang pisau belati Gokhiol berkata gemetar suaranya.
"Aku ... aku baru saja masuk disini!"
Orang Monggol sangat percaya akan tahayul, mereka sangat takut akan setan dan roh jahat.
Karena pemuda kitapun dibesarkan di istana Ho-lim, maka tak luput pula terpengaruh jiwanya.
la menyangka perempuan yang berdiri dihadapannya itu berasal dari dunia akhirat, maka hatinya kebat-kebit ketakutan.
Tiba2 Perempuan itu tertawa nyaring.
Bergema suaranya pada dinding dikeempat penjuru.
"Hai, pemuda! Siapa kau yang telah berani memasuki goa ini? Bagaimana kau dapat masuk kedalam? Dalam dunia ini hanya ada tiga orang saja yang mengetahui kunci rahasianya. Seorang telah mati, sekarang hanya dua orang. Dan aku adalah satu diantaranya. Aaah, tentu kau si Iblis sendiri!"
Berkata sampai disitu, mata wanita tersebut ber-sinar2 penuh kegusaran.
Gokhiol merasa ada sesuatu yang aneh!
Perempuan itu tatkala berbicara, bibirnya sedikitpun tak bergerak-gerak.
Melihat orang dapat bicara, tahulah Gokhiol bahwa yang berhadapan dengannya adalah bukan hantu, maka hatinya agak legah dan semangatnya mulai pulih kembali.
"Dia bukannya setan, sudah pasti manusia juga seperti aku. Ah, mungkinkah dia... Wanyen Hong! Sang puteri yang hilang tujuhbelas tahun yang lampau. Ah, tak bisa jadi! Wanyen Hong Kongcoe tak mungkin sejelek dia! Kalau begitu siapa perempuan ini?"
Perempuan berjubah hitam melihat sipemuda berkemak-kemik seorang diri, segera membentak dengan keras .
"Iblis! kematianmu sudah tiba!"
Kemudian tangannya mengibas! Pada saat yang menyusul angin dingin meniup, membuat tubuh Gokhiol kedinginan. Buru2 pemuda kita menjawab sambil menggeleng-geIengkan kepalanya .
"Aku ....., aku tidak tahu siapa yang kau maksudkan dengan Iblis itu."
Perempuan itu menggoyang-goyangkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara nyaring.
"Goa Tung-hong ini, kecuali aku, hanya tinggal si Iblis yang mengetahui rahasianya. Pada tujuhbelas tahun berselang pada tiap2 dua bulan aku pasti datang sekali kesini. Hingga hari ini, baru satu kali kita bertemu. Kau dengan mengandalkan kepandaian menyamar muka, mengira dapat mengelabui mataku?! Percuma kau menyamar sebagai seorang pemuda."
Pemuda kita menjadi pucat.
"Hari ini jangan kau harap bisa lolos dari tanganku lagi. Hutang piutang selama tujuhbelas tahun, harus kita selesaikan sekarang juga! Binatang! Kenapa kau diam saja tak berani turun tangan? Malam ini antara kita berdua harus ada seorang yang mati menggeletak menjadi mayat!"
Gokhiol semakin bingung. la tak tahu bagaimana harus membantah, hingga berdiri menjublak. Siperempuan aneh itu, demi melihat orang melongo, menggeram dengan galaknya.
"Kau tak mau turun tangan? Baiklah, sama saja kau tak ingin hidup lebih lama lagi."
Mendadak perempuan itu mencelat maju. Pemuda kita cepat2 berseru .
"Aku.... aku ... aku bukan orang yang kau maksudkan!"
Dengan satu lompatan ringan pemuda kita mengegoskan tubuhnya kesamping menghindari tubrukan perempuan itu.
Gerakannya luar biasa cepatnya.
Mendadak pisaunya menikam!
Siapa nyana begitu pisau itu menyentuh tubuh siperempuan, bagaikan juga mengenai batu gunung dan tangannya terasa sangat Iinu.
Dan menyusul itu tangannya sudah dicengkeram perempuan itu!
Semacam hawa panas menyerang masuk hingga keuluhati pemuda kita yang ternyata keluar dari tangan lawannya.
Pisau belati terlepas jatuh dari tangannya dan badannya menggigil.
Peluh mengucur memhasahi mukanya.
Tangan sebelah kiri siperempuan aneh menyentuh pipi Gokhiol yang lantas menjadi panas seperti disundut oleh api, ia menjerit kesakitan!
Dan dalam sekejap mata saja tangan kanannya telah dicengkeram pula, hingga tak berdaya sama-sekali.
Kelima jarinya diremas dengan keras, tak terhingga sakitnya hampir2 saja ia jatuh pingsan.
"Kau siapa? Kau bukannya si lblis!"
Seru perempuan itu terperanjat, lalu mendorong tubuh Gokhiol yang lantas ngusruk keatas pembaringan. Pikiran Gocaiol terlintas sesuatu.
"Dia tentunya merasa bahwa kelima jari2ku masih utuh dan kini mengetahui bahwa aku bukan musuhnya yang sedang dicari."
Perempuan aneh itu menatap dengan matanya yang bersinar2.
"Walaupun kau bukannya Iblis itu, tapi malam ini kaupun takkan luput dari kematian! Berapa tahun ini aku sudah membunuh banyak sekali orang2 yang malang seperti kau. Tapi biarpun aku salah membunuh orang lain, tapi pada suatu hari aku pasti akan dapat membunuh lblis itu. Hai siapa yang telah menyuruh kau masuk kemari? Kau ingin mencari kematianmu, jangan sesalkan aku!"
Pemuda kita sadar bahwa orang hendak membunuh dirinya, tapi ketika ia hendak bangkit, kakinya sudah tidak bertenaga lagi. Dengan gelisah ia menarik napas.
"Dengan mudah saja aku mati terbunuh orang, maka sakit hati ayahku takkan terbalas untuk se-lama2nya!"
Pada waktu yang sangat genting ini, sekonyong-konyong teringatlah ia akan surat warisan ayahnya.
Diam2 diluar kesadarannya ia membuka baju luarnya dan ...
kelihatanlah batu kumala merah yang tergantung didadanya.
Begitu melihat batu kumala itu, siperempuan aneh menjadi terkejut!
Walaupun roman mukanya tak menunjukkan suatu perobahan, tapi sepasang matanya ber-sinar2 mengawasi batu kumala merah itu, seolah-olah mengenalinya!
"Kau?!
...
kau sebenarnya siapa?"
Jeritnya dengan tiba2.
Badannya sudah maju kedepan dan bagaikan kilat menjambret batu kumala itu.
Berbareng ia menyentuh bungkusan kain didalam saku Gokhiol, maka ia merogohnya keluar.
Diambilnya keluar pula sepatu wanita sepatu bersulam dan juga botol batu Giok yang telah somplak mulutnya.
"Apa perlunya kau menyimpan barang2 ini,"
Tanya perempuan aneh itu dengan keheranan. Dibukanya bungkusan kain dan berteriaklah dia terperanjat melihat telunjuk tangan yang sudah kering.
"Sudah tujuhbelas tahun lamanya aku mencari telunjuk ini, tak tahunya ada ditanganmu."
Diawasinya sipemuda dengan heran tak terkira.
"Melihat usiamu yang masih begini muda, barang ini pasti bukan kau sendiri yang mendapatkannya. Tapi siapa gerangan yang telah memberikannya kepadamu?"
Gokhiol melihat perobahan orang, diam2 merasa bersyukur bahwa malam ini dirinya akan terluput juga dari bahaya maut.
Selagi ia ingin memberikan penjelasan, pada saat itu juga angin berkesiur dari luar.
Api lilin di dalam goa menjadi padam!
Perempuan itu buru2 menarik pemuda kita kesamping dengan suatu gerakan kilat untuk bertiarap.
Secepat itu terdengar tembok dibelakang menerbitkan suara yang keras, yang disebabkan kena timpukan senjata rahasia.
"Celaka ! Si Iblis ikut datang kesini!"
Bersamaan terdengar suara orang dari luar yang membargunkan bulu roma .
"Hei, Hek Sia Mo-lie! Hari ini adalah hari ajalmu!"
Suaranya terdengar seperti disamping telinga.
Ternyata orang telah menggunakan ilmu mengirimkan suara dengan tenaga-dalam yang tinggi!
---oo0dw0oo---DIDALAM goa gelap-gulita.
Pemuda kita hanya dapat mempergunakan ilmu melihat didalam kegelapan yang masih belum sempurna dan samar2 ia hanya dapat melihat bayangan2 saja.
Mendadak ada bayangan manusia berkelebat dihadapannya.
Perempuan aneh yang disebut Hek Sia Mo-lie itu berkelebat pergi.
Hati pemuda kita bercekad?
Kalau begitu gadis yang dulu bertempur dengan Pato bukanlah Hek Sia Mo-lie!
Rupanya lain sekali.
Apakah mungkin ada dua Hek Sia Mo-lie?
Atau Wanita Iblis itu dapat berganti-ganti rupa?
Diluar terdengar suara desiran angin menderu-deru, yang terkadang terseling jeritan manusia yang mendengking bagaikan hantu dimalam hari.
Dengan hati2 Gokhiol keluar dari dalam goa dan tampak diluar bintang2 bertaburan diatas langit yang bini.
Suara desiran angin sayup terdengar makin menjauh.
Dengan memberanikan diri pemuda kita mengikuti arah suara itu, yang terdengar dari sebuab lereng gunung.
Setibanya dilereng gunung, ia meniarap untuk memandang kebawah.
Tampak dikaki gunung bayangan dua sosok tubuh yang sedang berdiri saling berhadapan.
Kedua bayangan itu bergoyang-goyang, karena dihembus angin yang keras.
Gokhiol menjadi tercengang.
Kiranya bayangan dua sosok tubuh itu adalah dua patung batu yang tadi berada didalam goa.
Entah bagaimana sampai dapat keluar?!
Ketika melihat dengan lebih tegas, ternyata dibelakang patung2 tersebut berdiri dua orang yang bergantian mengirimkan pukulan2.
Masing2 berusaha untuk dapat merobohkan patung yang digunakan sebagai perisai diantara mereka itu.
Tapi setiap kali mereka memukul, maka kedua tenaga saling beradu dan menimbulkan suara ledakan keras diudara.
Pemuda kita melihat lebih lanjut bahwa orang yang bersembunyi dibelakang patung sebelah kiri berpakaian hitam.
Itulah Hek Sia Mo-lie!
Sedangkan musuhnya berperawakan tinggi-besar, juga berpakaian hitam, tapi mukanya tak kelihatan dengan jelas.
Kedua patung itu bagaikan sedang me-nari2, suara pukulan tenaga-daIam masih terus menderu.
Dalam jarak sepuluh tombak debu dan pasir berterbangan bagaikan tersapu angin puyuh.
Pertempuran itu luar biasa hebatnya!
"Hei, lblis?
Kali ini adalah untuk kelima kalinya kita saling bertemu, sedangkan tiap kali kau selalu berganti rupa.
Tapi biar bagaimanapun, kau tetap kukenali sebagai musuh-besarku!"
Tak lama kemudian disusul dengan suara orang yang berdiri dibalik patung satunya lagi .
"Hek Sia Mo-lie, kau jangan omong kosong! Berdiri dan duduk aku tidak merubah namaku, namaku Im Hian Hong Kie-su. Kau yang berhati kejam seringkali menyuruh siluman kecilmu untuk membunuhi orang2 dari Bu-lim. Malam ini aku sengaja datang untuk mengadakan perhitungan denganmu. Bagaimana dapat kau sembarang berkata bahwa kita pernah saling bertemu sebanyak lima kali? Aku baru pertama kali ini melihat kau!"
Kata2 itu disusul dengan pukulan yang bagaikan hendak merobohkan gunung.
Patung didepan siperempuan aneh bergoyang pula bagaikan ingin jatuh.
Gokhiol mendengar orang menyebut dirinya Im Hian Hong Kie-su menjadi terkejut.
Ketika mendengar suara orang itu, memang ternyata dialah sibaju hitam yang ia jumpai ditengah perjalanan.
"Mungkin Im Hian Hong Kie-su diam2 telah menguntit diriku. Malam ini, tatkala dilihatnya perempuan itu ingin membuat aku celaka, segera dia turun tangan untuk menolong."
Pada saat itu Hek Sia Mo-lie meloncat bersama dengan patung didepannya, maju setombak kehadapan lawannya.
"Jika kau benar Im Hian Hong Kie-su, mengapa kau hanya berani sembunyi-sembunyi dan tidak berani bertemu dengan berhadapan muka dengan aku?"
"Hek Sia Mo-lie, siapa yang takut padamu? Malam ini kalau aku tidak keburu datang, niscaya pemuda itu sudah menjadi kurban kejahatanmu!"
Patung dimuka Im Hian Hong Kie-su ber-putar2, untuk maju menerjang.
"Hek Sia Mo-lie, jagalah pukulanku!"
Sekejap saja kedua patung itu berdempetan!
Gokhiol kini dapat melihat orang yang berpakaian hitam itu memang adalah Im Hian Hong Kie-su.
Begitu patung menyambar untuk membinasakan, pukulannya menyusul!
Dengan tangkas Hek Sia Mo-lie berkelit kesamping.
Mendadak terdengar suara pukulan keras, seperti batu beradu dengan batu.
Sebuah tanda telapak-tangan melesak pada patung Hek Sia Mo-lie!
Wanita Iblis bersiul dengan nyaring, dan menyusul patungnya meluncur diudara menubruk Im Hian Hong Kie Su!
Dalam sekejap mata saja terdengar pula suara menggelegar yang disusul dengan debu dan batu berpercikan, kiranya kedua buah patung telah saling beradu dan hancur-lebur ...
Hek Sia Mo-lie dan Im Hian Hong Kie-Su bertempur mati-matian!
Mereka bertempur dengan mempergunakan patung sebagai perisai ........
Bulan yang masih berbentuk seperti sisir memberi pemandangan yang remang2 dari kedua orang yang telah kehilangan perisainya, dan kini berhadapan muka dengan muka!
Ketegangan menggantung berat diudara malam.
Jarak antara mereka tidak lebib dari lima kaki!
Perlahan-lahan Hek Sia Mo-lie menghunus pedang ditangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam sepotong batu dari lengan patungnya yang telah hancur.
Sambil menuding dengan pedangnya ia berseru .
"Iblis! Kau bukannya Im Hian Hong Kie-su! Tujuhbelas tahun yang lampau kau telah mencuri Lo Hu Siantan dan dengan menyamar sebagai Tio Hoan kau telah membuat aku celaka. Kali ini kau kembali pula dengan maksud apa ?"
Orang yang mengaku dirinya Im Hian Hong Kie-su kelihatan terkejut mendengar keterangan itu, ia terkejut dan mundur beberapa langkah.
"Hek Sia Mo-lie, kau ngaco! Tujuhbelas tahun yang lampau aku masih bertapa di Puncak gunung Maut. Bagaimana aku bisa mencuri Lo Hu Siantanmu?"
Ujarnya gusar. Perempuan itu tertawa dingin.
"iblis Keparat? Dihadapan aku jangan kau berpungkir! Telunjuk salah-satu lenganmu sudah putus. itu buktinya."
Im Hian Hong Kie-su mengulurkan kedua belah tangannya dan membentangkan lebar2
"Ha-ha-ha! Kaulihat sendiri, sepuluh jariku masih lengkap semuanya! Hek Sia Mo-lie jangan kau sembarang menuduh!"
Gokhiol yang tengah tiarap diatas lereng gunung menjadi, berdebar-debar hatinya.
Dibawah sinar rembulan ia melihat benar saja jari2 orang itu masih lengkap seluruhnya, satupun tak ada yang kurang.
Perempuan aneh itu menjerit bahna gusarnya .
"Meskipun kelihatannya kesepuluh jari tanganmu masih lengkap, tapi telunjukmu adalah palsu! Kau terang adalah orang yang telah menyamar sebagai Tio Hoan dahulu, Iblis keparat, kaulah yang telah mencemarkan kehormatanku! Siapakah kau sebenarnya? Hari ini adalah kesempatanku yang terbaik untuk membalas sakit hatiku yang terpendam lama."
Hek Sia Mo-lie tidak menunggu lagi, tiba2 ia meloncat dan menyerang dengan pedangnya.
"Jangan harap kali ini kau bisa lari! Iblis keparat! Aku akan susul kau sampai keujung langitpun!"
Kiranya pada waktu itu, orang yang menyebut dirinya Im Hian Hong Kie-su telah berlari menyingkir untuk meninggalkan tempat itu.
Gokhiol terperanjat.
Matanya dengan tegang menatap kebawah.
Tak lama kemudian dua sosok tubuh manusia membubung tinggi keatas, seperti burung layang2.
Pedang siperempuan menyambar dengan hebatnya, menikam bertubi-tubi.
Api lelatu berpercikan, lawannya sibuk menangkis dengan pedangnya yang terbikin dari baja lemas.
Kedua pihak sama2 tinggi kepandaiannya, hingga udara terhias dengan sinar putih yang berkilauan.
Dengan berhati-hati Gokhiol turun kebawah untuk menyaksikan lebih dekat.
Kedua pedang masih saling beradu dengan sengitnya dan gerakan mereka yang bertempur sangat cepat dan dahsyat.
Gokhiol dibesarkan dilingkungan kehidupan2 ksatrya Monggol, tak jarang ia meiihat pertempuran namun kini dengan matanya sendiri ia baru menyaksikan pertarungan yang demikian serunya.
Hatinya berkebat-kebit ......
Mereka telah bertempur seratus jurus, sekonyong-konyong Hek Sia Mo-lie melompat keatas dan memperdengarkan siulan yang melengking memecahkan kesunyian pegunungan, suaranya seperti jeritan iblis.
Disamping itu pedangnya berputar-putar, dan mendadak pedangnya mengeluarkan segumpal asap putih serta menerbitkan suara yang aneh, aneh sekali.
Im Hian Hong Kie-su dengan tidak kurang sebatnya memutar pedangnya yang mengeluarkan cahaya putih berkilauan.
Tapi dengan lantas saja Hek Sia Mo-lie merobah permainan pedangnya.
Begitu perobahan terjadi, pedang lawannya dikurung oleh asap putih!
Asap itu membakar pedang baja lembek sampai ...
meleleh bagaikan lilin kena api!
Tak lama kemudian hanya ketinggalan gagangnya saja.
Tiba2 badan Hek Sia Mo-lie bergoyang-goyang, ia mengirimkan tiga kali tikaman mautnya, yang menusuk berturut-turut sepert kilat.
Gokhiol diam2 merasa kuatir terhadap nasib yang akan menimpah Im Hian Hong Kie-su.
Tapi dengan tak terduga, Im Hian Hong Kie-su dengan mempergunakan tipu Cui-tauw Kui-lo atau Dalam Keadaan Mabuk Menaiki Keledai, mencelat mundur!
Gerakannya cepat mengagumkan.
Kemudian ia menggosok-gosok kedua telapak-tangannya dan mendadak keluarlah sinar kehijauan yang berkeredepan bagaikan ribuan kunang2 berterbangan dimalam hari.
"Hek Sia Mo-lie, kau akan binasa!"
Teriak Im Hian Hong Kie-su dan menghantam dengan telapak-tangannya!
Mata Gokhiol menjadi silau.
Saat itu juga Hek Sia Mo-lie mundur kebelakang sambil menutupi mukanya, dengan lengan bajunya yang panjang.
"Lok-Mo-Ciang? Telapak Tangan Maut Hijau! Dulu telah kupapas buntung telunjuk jarimu. Oh, kiranya benar juga kau jahanam yang kucari-cari!"
Im Man Hong Kie-su menggosok2 pula telapak tangannya sambil maju menyerang. Rupanya muta Hek Sia Mo-lie kesilauan, badannya mulai bergemetar dan gerakan pedangnya mulai kacau balau.
"Hek Sia Mo-lie, kini kau boleh rasakan Lok-Mo-Ciangku! Ha-ha-ha! Jiwamu tinggal seujung rambut. Ha-ha-ha! Tubuhmu akan terbakar hangus ..."
Pada ketika itu Hek Sia Mo-lie berdiri terpaku diatas tanah.....
badannya telah diselubungi oleh sinar hijau.
Setindak demi setindak, Im Hian Hong Kie-su mendekati siperempuan aneh.
Sinar ditangannya semakin hijau menyeramkan, menyoroti muka lawannya yang menjadi pucat-pias.
Tiba2 Hek Sia Mo-lie merobek bajunya dan dari dadanya keluarlah cahaya putih.
Itulah kaca tembaga yang ditengah-tengahnya terdapat sebutir mutiara sebesar biji lengkeng, terikat pada kalung.
Mutiara itu menyinarkan cahayanya yang kuat sekali!
Sungguh aneh!
Cahaya putih itu terus saja membuyarkan sinar hijau!
Sinar Lok-Mo-Ciang kalah!
Im Hian Hong Kie-su menjerit bahna kagetnya, menyusul mana badannya mencelat keatas unutuk kemudian berlari kabur !
Sedang Gokhiol ke-heran2-an, tiba2 bayangan berkelebat dan Hek Sia Mo-lie menghilang dari pemandangan.
Kini suasana disekitarnya menjadi sunyi-senyap kembali.
Kejadian2 yang baru disaksikannya tadi bagaikan suatu impian saja.
Sang rembulan mulai condong kebarat, sipemuda berjalan turun kearah lembah.
Setelah diawasinya, kedua patung tadi telah hancur berkeping-keping.
la berdiri bengong.
"Kedatanganku kegoa Tung-hong adalah untuk mencari tahu jejak rahasia pembunuh ayahku. Tapi pada malam ini juga hampir saja jiwaku melayang ditangan Hek Sia Mo-lie, kalau tidak ada batu kumala merah yang bergantung didadaku. Pantas ibuku menyuruh Pato menyusul diriku dan memesan agar aku memakainya. Kiranya batu kumala merah ini mempunyai khasiat yang besar sekali!"
Gokhiol beristirahat dikuil.
Hwesio2 kini sudah tidak takut lagi, dan keluar untuk melayaninya.
---oo0dw0oo---Keesokan paginya pemuda kita kembali kegoa ketigabelas!
Tampak, puing batu berhamburan, dan tatkala ia hendak membuka pintu goa menurut cara rahasia, ia menemukan kegagalan.
Setelah menyelidiki lebih lanjut, ternyata tanda telapak-tangan yang hijau diatas dinding kinipun telah hilang!
Terhapus!
Hati pemuda kita berdebar-debar.
"Tatkala aku ingin kemari, kakek Tiang Jun wanti2 memesan supaya setelah berhasil mengambil kembali pedang Ang-liong-kiam segera aku harus pulang untuk menemuinya,"
Berpikir Gokhiol.
"Kini pedangmu telah tersimpan dibawah batu oleh Im Hian Hong Kie-su. Baiknya sekarang aku pulang dahulu untuk menemui kakek Tiang Jun dan menceritakan kejadian2 yang kualami ini."
Maka pemuda kita menaik kudanya dan berangkat.
Tak berselang beberapa hari Gokhiol tiba kembali dilembah Ban-Coa-Kok.
Tatkala ia sampai didepan gubuk, dilihatnya pintu tidak tertutup.
Didorongnya pintu itu dan menjeritlah ia bahna terperanjatnya.
Tay-kam Tiang Jun menggeletak dilantai dengan tidak bernyawa lagi!
Gokhiol segera menubruknya dan saking terharunya, ia tak dapat menahan dirinya lagi, ia menangis tersedu-sedu.
Dirangkulnya orangtua itu dengan perasaan sedih dan gusar bercampur satu.
Kiranya pada belakang kepala orang tua yang malang itu terdapat suatu luka dari senjata rahasia Kiu-cu Liu-seng atau Roda bergerigi sembilan!
la memukul-mukul dadanya dan berteriak mengguntur.
"Jahanam yang telah menurunkan tangan-jahat ini akan kucari sampai diakhirat! Aku Gokhiol, anak-angkat Jendral Tuli bersumpah!"
Setelah mengadakan upacara penguburan sederhana, dan menginap satu malam, pemuda kita menaiki kudanya pula.
Wajah Gokhiol diliputi kesuraman, seperti awan gelap.
Tiang Jun sudah meninggal dunia, sedangkan ia sendiri telah lebih dari sebulan lamanya meninggalkan Ho-lim.
Tapi pembunuh ayahnya belum juga diketemukan.
Kembali ia teringat kepada Im Hian Hong Kie-su yang pernah menyuruhnya untuk mencari Wan Hwi Sian.
"Sepak-terjang lm Hian Hong Kie-su ini sangat aneh gumamnya."
La mengatakan bahwa gadis yang bertempur dengan adikku Pato adalah Hek Sia Mo-lie, tapi tadi ia menyebut perempuan aneh itu Hek Sia Mo-lie.
Tapi ah, dia pernah berkata bahwa karena didunia ini banyak musuh2, maka ia tak mau membawa aku.
Apabila ia mempunyai niatan jahat, pada hari itupun juga aku sudah binasa.
Malahan ia telah memberi petunjuk kepadaku untuk berguru dengan Wan Hwi Sian"
Setelah berjalan beberapa hari, kembali Gokhiol sampai didaerah dataran rendah. Pemilik kedai suku Hui mengenali sipemuda, ia berlari untuk menuntun kudanya.
"Saudara, kau benar2 mujur. Sejak kau pergi kegoa Tung-hong, sampai sekarang ini sudah ada beberapa orang yang biasa. Tadi pagi ada pula seorang terhuyung-huyung datang kemari, katanya ia dapat bertemu dengan Ang-Lui Cun kemudian baru saja menyebut "bahaya wanita, bahaya wanita"
Atau dia mendadak mati!"
Sipemilik kedai membasahi bibirnya sebentar, lalu meneruskan .
"Coba kau lihat sendiri. Tuh, disana dimana orang2 sedang berdiri dibawah pohon."
"Apakah yang kau maksud Hek Sia Mo-lie dari kota Hitam?"
Tanya Gokhiol dengan pura2 terkejut. Yang ditanya menganggukkan kepalanya.
"Bukan! Kali ini yang muncul adalah seorang gadis muda cantik-jelita yang biasa dipanggil orang Wie Mo Yauw-lie ."
Wie Mo Yauw-lie!
Ah, terlalu banyak siluman perempuan disini, berkata Gokhiol dalam hatinya.
Ia tak berkata pula dan berjalan menuju tempat kelompok orang2 yang sedang berdiri dibawah pohon.
Tampak olehnya seorang laki2 berbadan tegap menggeletak diatas tanah, pada pinggangnya tergantung sebilah parang.
Orang itu mengenakan seragam tentara See-Hek dan dia sudah menjadi mayat.
Gokhiol mendesak masuk, diperiksanya tubuh mayat itu dengan seksama dan ...
benar saja!
Pada kepala orang itu menancap sebuah benda, dan benda itu tidak lain adalah sebuah Kiu-cu Liu-seng!
Senjata rahasia yang telah merenggut pula jiwa Tiang Jun!
Perasaan dingin menjalar disekujur tubuh Gokhiol, mengetahui ia berada pada jejak yang benar, untuk membalas kematian Tiang Jun.
Tanpa bercakap apa2 lagi pemuda kita menaiki kudanya dan mengambil jalan yang mengarah kepadang pasir!
Orang yang menyaksikannya hanya berdiri melongo saja.
Kudanya berlari dengan pesat, bagaikan terbang diatas dataran yang gersang.
Pada hari senja sampailah ia dirumah keluarga Hay.
Tampak pada air danau yang jernih bayangan terballik dari pemandangan disekelilingnya dan asap mengepul dari selubung rumah.
Hati sipemuda teringat pula akan senyuman manis Hay Yan yang cantik-jelita itu.
Entah sebab apa, hatinya memukul lebih keras jika ingat pada gadis itu, yang bersenyum seperti bidadari.
Wajahnya senantiasa ter-bayang2 dan meresap kelubuk hatinya.
Sepasang matanya yang bersinar bening, bibirnya yang merah delima mengiringi kerlingan yang menawan hati, pipinya yang samar2 tampak sujennya.
Semua ini berkumpul dilamunan sipemuda.
Keadaan dikampung itu tetap sunyi dan tenang, tak ubahnya seperti dahulu ia datang.
Angsa2 bermain diatas air dengan lincahnya.
Baca Juga: Suling Emas 9
Baca Juga: Istana Pulau Es 4