Eps 2 Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung
Baca online Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung
Cersil Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung.
Beberapa pohon liu didepan pintu pagar melambai-lambai mengikuti siliran angin yang membisikkan keluhan asmara.
Dahulu dari baIik pohon itulah muncul Hay Yan......
Dengan penuh harapan Gokhiol mengawasi ketempat tadi.
Diam2 ia tertawa seorang diri, benar2 ia seperti orang gila basah saja.
Gokhiol menambatkan kudanya.
Fiatu rumah terbuka dan seorang gadis keluar dari rumah sambil berseru dengan suara riang.
"Tio Kongcu! Apakah kau datang lagi untuk melihat aku?"
Gokhiol mcnjadi kecewa, demi dilihatnya gadis yang keluar itu bukan lain dari ... Tai-tai! Pemuda kita tertawa.
"Tai-tai, kau cantik sekali nampaknya ini hari. Apa Siociamu ada dirumah?"
Tai-tai yang bersolek medok dan rambutnya dikepang, bukan kepalang senangnya. la maju berjalan penuh gayar dan berkata.
"Tio Kongcu, setiap hari aku rmeng-hitung2 jariku. Kongcu sudah berlalu selama satu bulan dan lima hari Tiap2 hari aku selalu me-nanti2kan kedatanganmu didepan pintu ini."
Begitu melihat tingkah-laku Tai-tai yang tengik, Gokhiol sebetulnya ingin mencemplak kudanya saja.
Tapi mengingat kedatangannya adalah untuk menemui nona Hay Yan, yang telah menarik hatinya, maka ia menahan sabar.
"Tai-tai yang manis. Tolong sampaikan kepada Siociamu bahwa aku ingin bertemu dengannya."
Tai-tai melototkan matanya.
"Apa kau datang kemari bukannya untuk melihat aku?"
Gokhiol tertawa.
"Benar, aku datang kemari juga untuk berjumpa dengan kau, tapi aku juga perlu untuk bicara dengan siociamu. Nanti aku akan kembali bercakap2 dengan kau Tai-tai."
Tai-tai tertawa girang, matanya bersinar-sinar.
"Kongcu, kau tunggu sebentar. Nanti kusampaikan dahulu."
Tergesa-gesa Tai-tai berlari masuk kedalam rumah. Selang beberapa saat, ia keluar lagi dengan air muka lesu.
"Tio Kongcu, kau tidak-beruntung. Siociaku tidak ada dirumah."
"Tai-tai, janganlah kau justa,"
Kata Gokhiol dengan mesem.
"tadi kau katakan bahwa kau ingin beritahukan dahulu pada siociamu."
"Hai, kenapa kau begitu melit2. Dengan jelas siociaku mengajari aku untuk mengatakan bahwa ia tidak ada dirumah dan supaya kau datang dilain waktu saja. Bagaimana kau biIang aku berjusta?"
Jawab Tai-tai dengan gusar.
"Siociamu mengajari kau berkata ....."
Tai-tai menyadari ketelepasan omongannya dan cepat2 memungkirinya.
"Oh, tidak, tidak!"
Gokhiol menjadi geli sekali, ia mengetahui bahwa sang majikan adalah gagu, bagaimana ia dapat mengajarinya untuk berkata demikian? lapun berkata pula .
"Tai-tai, bukankah majikanmu tak dapat berbicara?"
Tai-tai kembali kesandung batunya, maka ia menjadi malu dan demi menutupinya, iapun mendamprat dengan suara lantang.
"Kalau majikanku tidak bisa bicara, kau mau apa lagi? Biar bagaimana juga siociaku tidak ada dirumah Habis perkara!"
Selesai berkata gadis itu meleletkan lidahnya mengejek, lalu berjalan masuk dan menggebrakkan pintu.
Gokhiol mencelos hatinya.
la tahu bahwa Hay yan dengan sengaja ingin mengelakkan dirinya, maka tiada guna lagi baginya untuk menunggu lebih lama.
la menuntun kudanya kedanau untuk diberi minum.
Mengingat hari sudah malam, Gokhiol berpikir mungkin didekat tempat itu masih ada penghuni rumah lain yang mau memberikannya naungan untuk bermalam.
Setelah melewati rumah sigadis, betul saja dibelakangnya terdapat beberapa rumah lainnya.
Tapi setelah meminta kepada beberapa orang penghuni, ternyata semuanya pada menolak dengan alasan bahwa sudah peraturannya perkampungan keluarga Hay bahwa mereka tak boleh menerima tamu dari luar!
Dengan perasaan masgul, Gokhiol meninggalkan perkampungan itu.
Setelah berjalan satu lie lebih, tampak pada sebuah lereng tanah tinggi dua buah rumah tua.
Didepan pintu berdiri sebuah istal kuda dan didekatnya berdiri papan yang bertuliskan kata2 sebagai berikut .
Dari sini kedusun Ang-Liu-Cun jaraknya duapuluh lie, diharap umum jangan melewatinya pada malam hari....
Kiranya tempat itu dahulu adalah sebuah tempat pangkalan, didalam rumah terdapat tempat pembaringan dari batu.
Tapi rupanya sudah lama sekali tidak dipergunakan orang lagi.
Gokhiol beristirahat ditempat itu sambil membuka bekalannya.
Ia makan dengan perlahan, kemudian dibersihkannya pembaringan.
la menggeliatkan tubuhnya lalu berbaring diatasnya.
Keadaan sunyi-senyap.
Teringatlah Gokhiol akan sikap Hay Yan, dahulu ia telah menerima dengan ramah-tamah sekali, tapi kali ini mengapa sigadis menampiknya?
Perbuatan itu tentunya mempunyai latar belakang.
Tiba2 ia mengingat sesuatu!
Daerah sekitarnya tempat beroperasinya Hek Sia Mo-Iie!
Jika benar ia seringkali mencelakakan orang lain, mengapa orang2 perkampungan keluarga Hay itu bisa tinggal dengan aman?
Karena pikirannya berputar terus, maka pemuda kita tak dapat memejamkan matanya.
Sang rembulan memancarkan sinarnya yang terang-benderang.
Gokhiol bangkit dari tempat pembaringannya dan melangkah keluar untuk menghirup udara yang segar.
la mengawasi pemandangan disekitarnya.
Dihadapannya terbentang lebar padang pasir yang tiada batasnya.
Dikejauhan samar2 terlihat perkampungan keluarga Hay ...
Pemuda kita berjalan mundar-mandir dan kembali matanya tertuju pada papan pengumuman.
Tiba2 ia teringat akan cerita sipemilik kedai dari pangkalan, katanya didalam hutan Ang-Liu-Cun terdapat sebuah kota tua yang telah runtuh dan terpendam didalam tanah.
Orang2 padang pasir menamakannya Kota Hitam.
Menurut cerita Hek Sia Molie menyemburiikan diri disana hingga tidak seorangpun yang berani memasuki pohon Liu Merah itu.
Kini dihadapannya terdapat sebuah papan yang memberitahukan letak Ang-Liu-Cun itu, hanya sejarak duapuluh lie.
Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh dalam waktu setengah jampun akan sampai ketempat tersebut.
Berpikir demikian, hati pemuda kita menjadi ber-debar2.
la bersalin pakaian malam yang berwarna putih abu2 dan membekal kantong senjata-rahasianya.
Setelah itu pemuda kita melangkahkan kakinya.
Gokhiol mengenakan pakaian putih abu2, adalah untuk menyesuaikan keadaan dipadang pasir agar tak mudah dapat dilihat orang dari jarak jauh.
Setelah berjalan sepuluh lie jauhnya, pemuda kita mempercepat larinya.
Akhirnya sampailah ia ditempat tujuan.
Tampak pohon2 Lui Merah yang tumbuh berbaris amat indahnya.
Tanah ditutupi oleh daun2 kering, sehingga sukar untuk membedakan letaknya jalanan.
Setelah mencarinya dengan teliti, barulah Gokhiol bertemu dengan sebuah anak sungai yang ber-liku2.
Dengan menyusuri pinggir sungai itu, ia berjalan.
Binatang rase ber-lari2an karena terkejut melihat orang.
Semakin kedalam hutan semakin sunyi, kadang2 terdengar suara anjing hutan melolong atau pekikan burung hantu.
Suasana menjadi sangat seram.
Beberapa saat lamanya pemuda kita berjalan, maka muncul dihdapannya dibawah cahaya rembulan sebuah istana kuno.
Kota Hitam!
Istana yang telah runtuh itu, dibangun diatas tanah dataran yang tinggi.
Pintunya terbuat dari batu terukir dengan gambar binatang aneka-ragam yang dikerjakan oleh tangan2 ahli pahat.
Pintu dan jendela tak terhitung jumlahnya, hanya sayang sekali kini semuanya sudah menjadi rusak.
Gokhiol naik dari sebuah batu dan melalui reruntuhan masuk kedalam halaman istana.
Dengan dibantu terangnya sinar rembulan, ia peroleh pemandangan istana kuno itu.
la berpikir tempat semacam ini mana mungkin ada penghuninya?
Selagi pemuda kita bersangsi, tiba2 terdengar suara berkeresekan yang datangnya dari semak2 pohon Liu Merah.
Sejak kecil Gokhiol telah diajari perbedaan antara suara binatang atau manusia.
Mengetahui bahwa suara tersebut adalah berasal dari seorang manusia, maka lekas2 ia bersembunyi dibalik sebuah batu reruntuhan.
Tak lama kemudian tampak olehnya sesosok bayangan manusia berlari datang kearahnya, bergerak dengan kecepatan seekor burung elang.
Orang itu menutupi mukanya dengan sehelai kain hitam dan hanya matanya saja yang kelihatan ber-nyala2, seperti mata harimau.
Dia berhenti sejenak menyapu keadaan disekelilingnya.
Lalu dia berlari menuju tempat dimana Gokhiol sedang bersembunyi!
Hati Gokhiol berdebar-debar, sangkanya tentu itulah Hek Sia Mo-lie!
Karena kuatirnya ia mundur ketempat yang lebih gelap.
la tak periksa lagi dimana ia sedang bersembunyi.
Tiba2 bayangan orang itu berkelebat dihadapannya, jarak antara mereka kini hanya beberapa tombak jauhnya.
Gokhiol melihat disampingnya ada sebuah jalanan kecil, iapun segera mengambil jalanan tersebut.
Sepanjang jalanan kecil itu penuh dihalangi sarang laba2 dan baru saja ia berjalan beberapa langkah atau badannya membentur sebuah tembok.
Tiba2 telinganya mendengar semacam suara yang aneh kedengarannya dan ...
kakinya merosot kebawah!
Celaka!
pikir pemuda, tapi sejenak kemudian kakinya telah menginjak tanah pula.
Kembali Gokhiol meraba-raba dan setelah melalui beberapa pintu, tibalah ia pada sebuah kamar yang terang-benderang.
Perlahan-lahan dibukanya pintu kamar, dan menyambarlah kedalam hidungnya bau harum yang semerbak.
Dihadapannya masih terhalang kain kelambu yang menutupi kamar.
Tatkala Gokhiol melongok kedalam, tersiraplah darahnya.
Kiranya dalam kain kelambu itu terdapat sangkar besi yang besar bentuknya dan didalamnya kelihatan sebuah pembaringan.
Diatas pembaringan itu rebah seorang wanita yang nampaknya sedang tidur dengan nyenyaknya.
Cahaya lampu yang kelip2 menerangi wajah wanita itu yang ternyata sangat cantik dan elok rupanya.
Rambutnya terurai panjang, sedangkan matanya tertutup rapat.
Alis yang menggaris diatas matanya melentik dengan indahnya, hitam bagaikan sepasang sisir surit.
Tubuhnya diselubungi selimut yang tersulam dari benang emas.
Dadanya naik-turun dengan lambat, menandakan orang sedang tidur dengan nyenyaknya.
Gokhiol menjadi keheran-heranan melihat wanita cantik itu sedang tidur dalam sangkar.
Dilihatnya usianya tidak lebih dari duapuluh lima tahun.
Tampak lengan wanita itu terkulai keluar dari selimut dan sebuah gelang emas tertabur berlian yang berbentuk burung Hong terkalung dipergelangan tangannya.
Yang membikin Gokhiol tercengang adalah bahwa wanita itu tidur terkurung dalam sebuah sangkar yang seluruhnya terbuat dari besi berwarna ke-hijau2-an.
Setiap batangnya memancarkan cahaya hijau berkilauan, menandakan tak sembarang dapat didekati orang.
"Apakah wanita ini tertawan oleh Hek Sia Mo-lie disini ?"
Pikir Gokhiol seorang diri. Diawasinya lagi sekitar kamar itu dan tampak olehnya beberapa pintu yang semuanya tertutup rapat.
"Raut muka wanita ini sangat agung, kurasa ia bukan sembarang orang. la tidur nyenyak sekali dan bukannya sudah mati. Lihatlah! Bulu matanya kadang2 bergerak-gerak."
Selagi sipemuda terpesona seorang diri, tiba2 ia teringat hahwa Hek Sia Mo-lie sedang kembali ketempat ini.
Sungguh celaka bila ia diketemukan disitu!
Baru saja Gokhiol ingin menyingkirkan diri, atau terdengar suara berkeresekan dari luar seperti orang datang.
Gokhiol menyelinap dibalik tirai dan pada detik yang menyusul seorang laki2 yang mengenakan topeng dan berjubah hitam sudah berdiri dihadapan sangkar besi.
Dengan sepasang mata yang menyorotkan kebengisan orang itu mengawasi wanita cantik yang sedang tidur dengan nyenyaknya.
Orang itu tidak mengetahui bahwa didalam kamar itu ada pemuda kita yang sedang bersembunyi mengamatinya!
Hati Gokhiol ber-debar2.
la menahan napasnya sedapat mungkin, agar telinga orang itu tak dapat mendengar suara sedikitpun jua.
Sedangkan badannya tak bergerak ...
Tiba2 tangan orang itu diulurkan untuk mernbuka jeruji besi.
Tapi, baru saja hendak menyentuh jeruji, atau sekonyong-konyong saja orang bertopeng itu menarik tangannya kembali.
Rupanya ia bersangsi dan merasa kuatir.
Topeng kain yang menutupi mukanya ber-goyang2.
Beberapa lama diawasinya sangkar besi itu, lalu sekonyong-konyong kedua belah telapak tangannya digosokkannya satu sama lain.
Gokhiol, yang bersembunyi dibalik tirai, menyaksikan kejadian tersebut dengan jelasnya.
Tanpa disadarinya keringat dingin mulai mengucur membasahi badannya.
Dilihatnya dari telapak tangan orang itu keluar sinar hijau yang menyilaukan, memancari muka wanita jelita yang tengah tidur dengan nyenyaknya!
Walaupun jarak antara orang bertopeng itu dengan wanita tidak lebih satu tembak jauhnya, tapi mukanya terpancar seluruhnya oleh sinar hijau yang mengerikan itu.
"Lok-Mo-Ciang! Kalau begitu orang bertopeng ini adalah Im Hian Hong Kie-su!"
Berseru Gokhiol dalam hatinya.
Sesaat kemudian kedua telapak tangan Im Hian Hong Kie-su mencengkeram jeruji besi, ia menarik untuk mematahkannya.
Tapi baru saja tangannya menyentuh jeruji, atau segera terdengar suara mendesis.
Lelatu api berpercikan!
Tubuh Im Hian Hong Kie-su bergemetar untuk kemudian terpelanting kebelakang.
Namun setelah berjumpalitan ia berdiri kembali diatas kakinya pada jarak yang agak jauhan.
Huh!
Bukan kepalang kagetnya orang itu, bercampur perasaan gusar yang tak terhingga.
Tengah pemuda kita asyik menyaksikannya dengan hati ber-debar2, Im Hian Hong Kie-su telah melompat kemuka pula!
Kedua tanganya kini berputar!
Dengan mata berapi-api ia mengulurkan tangannya pula kedalam sangkar besi, tapi kini dengan gerakan kilat ditangannya telah tergenggam sebuah pedang baja lemas.
Gokhiol yang menyaksikan pertempuran dari atas tebing, berdebar-debar hatinya ...
Bagaikan angin badai menderu, Im Hian Hong Kie-su mulai melancarkan serangannya.
Tempat tidur wanita itu ber-goyang2 karena tiupan angin yang bukan main dahsyatnya.
Namun wanita itu terus tidur bagaikan tidak merasakan sesuatu.
Pedang Im Hian Hong Kie-su menusuk tenggorokan sigadis!
Gokhiol mencelat hatinya.
Kejadian tersebut demikian cepatnya, tapi sebaliknya sedang pemuda kita masih terperanjat menyaksikan serangan kilat itu atau tahu2 dari pembaringan itu melesat suatu cahaya putih berkelebatan bagaikan halilintar!
Im Hian Hong Kie-su berseru tertahan!
Seketika itu juga pedangnya terlempar, sedangkan sebelah tangannya mengeluarkan asap putih.
Ternyata sebagian tangannya terbakar oleh cahaya.
Sambil berteriak dengan suara keras Im Hian Hong Kie-su melompat mundur.
Kiranya cahaya itu keluar dari dada sigadis, ribuan berkas cahaya putih berkilauan menembusi selimut sutera.
Gokhiol, yang berdiri teraling tirai masih merasakan matanya pedih sekali.
Cepat2 ia memejamkan matanya.
Cahaya putih itu terus menerus memancar keluar dengan dahsyat!
Pemuda kita teringat kejadian yang telah lalu, peristiwa Hek Sia Mo-lie bertempur dengan Im Hian Hong Kie-su digoa Tung-hong.
Waktu itu ia mendapat lihat bahwa cahaya yang keluar dari dada Hek Sia Mo-lie adalah dari sebuah cermin tembaga yang tengahnya tercantum sebutir mutiara berwarna terang.
"Wanita yang sedang tidur ini bukannya Wanita Iblis yang rupanya menyeramkan itu. Tapi mengapa iapun dapat mengeluarkan cahaya yang serupa itu?"
Gokhiol menjadi bingung memikirkannya. Tak lama pula terdengar suara yang nyaring dari Im Hian Hong Kie-su.
"Hek Sia Mo-lie, malam ini tak dapat aku binasakan kau. Baiklah aku berikan kau hidup beberapa lama lagi!"
Seraya berkata Im Hian Hong Kie-su meniup tangannya yang terbakar dan seketika juga tangannya telah sembuh kembali seperti biasa.
Sambil mengibaskan lengan bajunya ia memukul dengan telapak-tangannya kearah pedangnya yang menggeletak dilantai.
Bagaikan seekor ular yang menyusup kedalam liang pedang lemas itu mencelat kembali ketangan sipemilik!
Melihat kepandaian yang demikian lihaynya, Gokhiol meleletkan lidahnya bahna kagumnya.
Walaupun sudah tinggi kepandaiannya, Im Hian Hong Kie-su masih mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan Wan Hwi Totiang, kepandaiannya baru tiga persepuluh saja.
Apabila ia kelak dapat diangkat menjadi murid Wan Hui To-tiang, bukankah kepandaiannya akan lebih hebat dari Im Hian Hong Kie-su ?
Demikian pemuda kita termenung sambil memandangi punggung orang.
Tiba2 terdengar suara gedebrukan dan begitu ia menoleh, dilihatnya pintu darimana ia masuk kini telah tertutup rapat!
Seorang gadis berbaju putih tahu2 muncul sambil menggenggam pedang ditangannya.
"Iblis tuabangka! Jangan kau melarikan diri! Kau kira dengan menutup mukamu aku tidak dapat mengetahui siapa sebenarnya kau ini?!"
Im Hian Hong Kie-su tampak terperanjat sekali, ia mundur setindak seraya melintangkan pedang lemasnya.
"Siluman kecil, jangan kurang-ajar. Tahukah kau siapa aku ini?"
Muka gadis muda itu terdapat tutupan muka dari kain sutera, sehingga samar2 kelihatan rupanya yang masih muda-belia.
la berusia kurang lebih limabelas tahun.
Perawakannya langsing sedangkan rambutnya diikal dua.
Mendengar suara yang tak asing lagi itu, Gokhiol berdiri terperanjat.
Gadis itu bukan lain daripada gadis yang telah bertempur dengan Pato dilembah Ban-Coa Kok !
Tapi suaranya adalah suara ...
Hay Yan!
Semakin lama pemuda kita mengikulti peristiwa yang tengah dihadapinya, semakin ruwet pikirannya.
"Kau adalah musuhku! Apakah kau kira aku tak mengetahuinya?"
Demikian sigadis membuka suara pula penuh kegusaran.
"Apakah kau tidak tahu, meskipun aku adalah musuhmu, tapi akupun mempunyai nama!"
Jawab sibaju hitam seraya bersenyum nyindir.
"Hai, Iblis! Guruku telah mencarimu selama tujuhbelas tahun lamanya, tapi dengan mengandalkan ilmu mengubah rupa kau menyamar sebagai orang lain. Malam ini juga aku akan membuka rahasiamu! Awas! Terimalah tikaman pedangku!"
Sambil.
membentak gadis itu menyerang dengan pedangnya, menikam sibaju hitam.
Bentrokan kedua pedang tersebut menimbulkan suara keras, bergema di tempat yang sunyi.
Sambil memutar badan, Im Hian Hong Kie-su merubah serangannya dengan menggunakan kedua telapak tangannya.
Dan dengan mengambil kesempatan yang baik, tatkala gadis itu menarik kembali pedangnya, dia mencengkeram lawannya bagaikan elang menyergap mangsanya!
Sigadis tak kehilangan akal dan dengan cepat sekali ia merandek, sedangkan tangan kanannya mengayun se-olah2 ingin menangkis pukulan tangan lawannya.
Tapi diluar dugaan orang, tiba2 dua buah jarum halus melesat keluar, berkilauan warnanya.
Itulah jarum yang mengandung racun!
Andaikata Im Hian Hong Kie-su tidak menarik kembali serangannya, serta melompat kebelakang beberapa tindak, niscaya senjata rahasia itu akan mencabut nyawanya.
Untung ia bertindak cepat.
Kini kedua ahli silat itu saling berhadapan, saling menatap masing2 dengan sikap tegang.
"Siluman kecil, jagalah ! Aku ingin melihat rupamu yang sebenarnya. Aku ingin melihat apakah kau benar2 anakku sendiri!"
Pada detik yang menyusui ia mengebaskan tangannya, dan terdengarlah suara desiran angin.
Angin menampar muka sigadis dan tutupan kain sutera terbang melayang.
Gokhiol menahan napasnya.
Tampak wajah sigadis yang berbentuk biji semangka.
Sepasang matanya yang jeli menyorotkan sinar kegusaran yang tak terhingga, karena rahasia dirinya terbuka.
Pipinya rnenjadi kemerah2an karena rasa malunya.
Gokhiol dapat melihat dengan jelas bahwa gadis itu bukan lain dari Hay Yan!
Gadis yang menjadi lamunannya siang dan malam.
la merasa kaget tercampur girang.
Pikirnya, betapa pandainya gadis itu dapat menyamar sebagai Wie Mo Yauw-lie.
Tapi mengapa dulu Im Hian Hong Kie-su memanggilnya dengan nama Hek Sia Mo-lie?
Gadis itu sudah tak dapat menahan pula amarahnya.
"Iblis! Kau sungguh tak tahu malu. Berani benar kau menghina aku !"
"Benar tidak salah, kau memang adalah anakku!"
Jawab Im Hian Hong Kie-su seraya tertawa dengan panjang.
Begitu sibaju hitam tertawa atau pedang sigadis sudah menusuk dengan hebat sekali.
Segera ditangkis oleh Im Hian Hong Kie-su untuk kemudian balas membuka serangan dengan pedang baja lemasnya.
"Siluman kecil, aku siorang tua tak akan membunuhmu. Aku ingin membawa kau pergi dari sini untuk turut aku pulang. Kelak apabila aku sudah mati, maka rohku ada yang menjagakannya,"
Ujar sibaju hitam seraya setindak demi setindak mendekati Hay Yan.
"Letakkanlah pedangmu secara baik2. Jangan kau coba melawan aku, ayahmu sendiri!"
Demikian sambil berkata, Im Hian Hong Kie-su mengusap2 pedang lemasnya yang seketika itu juga mengeluar sinar hijau. Kemudian ia melanjutkan dengan suara mengejek .
"Pedang ini mengandung racun yang hebat sekali, sedikit tersentuh saja kau akan jatuh pingsan. Namun janganlah takut. Aku hanya ingin membawamu saja meninggalkan tempat ini!"
Dengan mengambil kesempatan orang sedang berbicara dan tak siaga, Hay Yan mencelat keatas pendopo. Sesaat kemudian tangannya telah mencekal pedang lain.
"Iblis! Malam ini aku akan mengambil jiwamu!"
Menyusul mana pedangnya di-goyang2kan.
Ketika itu Im Hian Hong Kie-su sedang menghampirinya, maka pedang Hay Yan menyapu muka lawannya dan kembali kedua pedang saling melekat.
Sinar putih, dan lelatu api berpercikan, tercampur dengan segumpalan asap putih yang mengepul!
Pada detik yang menyusul sinar hijau dari pedang sibaju hitam lenyap!
Pedang sibaju hitam bagaikan bambu saja, terpapas hancur menjadi kepingan!
Im Hian Hong Kie-su berteriak penuh kegusaran untuk melompat pergi seraya menbentak .
"Anak keparat! Setahun lagi aku akan kembali!"
Menyusul mana sibaju hitam melesat kepintu yang tertutup.
Hay Yan menuding dengan pedangnya dan sinar putih keluar dari ujung Sinarnya, menyambar kepunggung sibaju hitam.
Seketika itu juga bajunya terbakar!
Buru2 Im Hian Hong Kie-su merebahkan dirinya sambil ber-guling2 diatas tanah.
Tapi tak urung yuga sebagian bajunya hangus kena api.
Dengan perasaan malu dia berdiri pula sambil berseru .
"Siluman kecil. Kepandaianmu hebat sekali! Kini kau jangan menyalahkan aku berlaku kejam!"
Sejenak terdengar suara desiran dua kali dan tahu2 dari kegelapan menyambar senjata gelap.
Hay Yan lekas2 putarkan pedangnya melindungi dirinya.
Trang!
Senjata gelap tersampok jatuh keatas tanah, sedangkan yang satunya lagi menancap diatas tiang pendopo.
Sesaat kemudian sibaju hitam berlari kearah pintu yang berbentuk bundar itu, yang tertutup rapat.
Pintu roboh dengan suara menggelegar dan dia dapat menerobos keluar!
Gokhiol merasa kagum sekali.
Meskipun pintu terbuat dari besi, tapi sibaju hitam sanggup menghancurkannya.
Itu hebat sekali!
Demikian pula Hay Yan termanggu-manggu melihat kejadian tersebut.
"Iblis itu benar2 lihay. Sebelum meninggalkan tempat ini ia telah menunjukkan kepandaiannya yang bernama ilmu Bouw Pek Kang atau ilmu Memecah Dinding. Kepandaian semacam itu jarang sekali terdapat dikolong langit ini,"
Gumamnya sendirian.
"Apabila aku tidak memiliki pedang Mo-hwee-kiam (Pedang Api Iblis) ini, niscaya aku tak mampu menandingi Lok-Mo-Ciangnya itu."
La termenung sebentar, kemudian ia memeriksa ruangan pendopo.
"Sebelumnya suhu telah meramalkan, bahwa Iblis itu akan datang menyatroni. Malam ini aku telah lalai dan tidak menutup pintu kamar. Beruntung sekali bencana besar yang hendak menimpah tersingkir berkat pertolongan pedang Mo-hwee-kiam."
Gadis itu menekan dinding dan tak lama terdengar suara bergerincingan.
Gokhiol yang tengah bersembunyi dan mendengar seara itu, menjadi kaget bukan kepalang.
Kiranya ruangan pendopo itu dapat ber-putar2!
Tatkala ia memperhatikannya lagi, ternyata keadaan ruangan mendadak berubah sama sekali.
Dihadapan ruang pendopo kini berdiri sebuah tembok batu besar.
"Celaka!"
Gokhiol berseru.
"sekarang bagaimana aku dapat meloloskan diri?"
Menyusul terdengar suara merdu yang nyaring.
"Penjahat kecil! Apa kau masih juga mau keluar dari persembunyianmu? Apa kau ingin sampai nona mudamu menurunkan tangan?"
Berbareng Hay Yan mengayunkan tangannya kearah tirai yang lantas tersingkap terbuka!
Gokhiol tak dapat rnenyembunyikan dirinya lagi.
Sigadis muda itu menunjukkan paras yang muram, sedangkan sepasang matanya memandang dingin bagaikan es.
Pemuda kita melompat kedepan.
"Nona Hay Yan, maafkan atas perbuatanku yang lancang ini. Aku tak sengaja telah masuk ketempatmu yang terlarang,"
Pemuda kita berhenti sebentar untuk menenangkan hatinya.
"sebenarnya aku sama sekali tak mempunyai minat untuk mengintai atau mencari tahu rahasia orang lain."
Dengan suara tawar keluar dari hidung, Hay Yan berkata ......
"Tadi waktu aku hendak mengambil pedangku diatas pendopo, aku telah melihat kau bersembunyi dibalik tirai. Benar besar nyalimu! Apakah kau belum mengetahui Kota Hitam ini? Sejak dahulu kala, apabila ada orang luar yang berani masuk kedalamnya, janganlah mengharap bahwa ia akan dapat keluar lagi dengan hidup!"
Sikap gadis itu dingin, lain sekali daripada waktu sipemuda pertama kali menjumpairnya diperkampungan Keluarga Hay.
Kini mereka bagaikan dua orang yang saling tak mengenal, malahan bermusuhan!
"Tidaklah salah apabila ada pepatah yang mengatakan .
Hati wanita sukar diterka.
Apakah kini aku harus berdiam saja untuk menerima kematian?"
Demikian sipemuda berpikir dalam hatinya, lalu ia berkata .
"Siocia, kau adalah juga seorang manusia terdiri dari darah dan daging. Apakah dalam hatimu tidak mempunyai rasa peri-kemanusiaan sama sekali? Lagipula aku kemari bukan dengan merencanakannya terlebih dahulu. Dan jika pintu tertutup, aku juga tak nanti menyeruduk masuk kedalam kamar ini."
Hay Yan tertawa dengan dingin.
"Adapun aku telah menjamu kau didesa Hay-Kee-Chun ialah se-mata2 untuk mengetahui apakah kau ada hubungannya dengan Iblis itu. Sebab dilembah Ban-Coa-Kok, mengapa kau telah ditolongnya?"
Sigadis mengawasi Gokhiol dengan sorotan mata yang tajam.
"Malam ini kau telah datang bersama-sama dengan dia, maka...aku harus bunuh kau!"
"Omong kosong!"
Bentak Gokhiol dengan sengitnya.
"apakah hubunganku dengan sibaju hitam itu?"
Sambil mengangkat pedangnya per-lahan2 Hay Yan berkata pula dengan suara yang mengejek .
"Aku tak perduli hubungan apakah yang ada antara kau dengan Iblis itu. Yang penting adalah bahwa kau telah masuk kemari dan itu berarti kau tak boleh dibiarkan hidup lebih lama lagi !"
Gokhiol menjadi beringas saking gusarnya. Dengan gerakan kilat dicabutnya pisau belati yang tersisip dipinggangnya.
"Baiklah! Bila kau ingin juga menyerang aku, biarlah aku beri kesempatan, agar kau mati tidak dengan penasaran,"
Hay Yan berseru.
Gokhiol tak ragu-ragu pula, ia membuka serangannya.
Dengan sebelah telapak tangannya ia memukul dan dengan pedangnya pun menikam sigadis!
Hay Yan menangkis!
Pedangnya menempel pada pisau belati.
Maksudnya ialah dengan menyalurkan tenaga dalamnya melalui pedangnya, ia ingin memapas kutung senjata Gokhiol.
Tapi apamau Gokhiol dari permulaan mempunyai siasat yang lain.
Pangkal pedangnya ia tekan kebawah, sedangkan tubuhnya maju kedepan.
Cepat bagaikan kilat tangannya menyambar!
Itulah suatu gaya istimewa dari ilmu gulat Monggolia.
Apabila orang tak ber-hati2, niscaya takkan luput dari tipu tersebut, yang diwariskan oleh Yalut Sang!
Demikianlah pinggang sigadis yang langsing kena dipeluk oleh pemuda kita yang lantas mengangkatnya keatas.
Kini sicantik tak berdaya lagi.
Tapi sckejap mata saja keadaan berubah!
Pundak sipemuda mendadak dicengkeram oleh Hay Yan.
Gelombang panas menyerang kedalam tubuh Gokhiol yang segera mengangkat tangannya ......
untuk menikam!
Tapi tenaganya sudah lenyap!
Hay Yan melepaskan dirinya dari pelukan Gokhiol, kemudian menyampok pisau belati yang lantas terpental diudara.
"Penjahat licik ! Hampir saja aku kena terpedaya oleh akal bulusmu."
Hati Gokhiol memukul keras. Hay Yan dengan mata berapi-api menudingkan pedangnya. Gokhiol tersenyum dan mengerlingkan matanya.
"Aku puas mati ditanganmu, manis,"
Ujarnya menggoda.
Pedang sigadis menggores baju kulit yang dikenakan oleh pemuda kita, maka terlihatlah didalamnya ikat pinggang kulit ular.
Sigadis melihat kancing ikat pinggang yang terbuat dari batu kumala berwarna merah, menjadi merasa heran.
Pedangnya yang tinggal menikam saja pada tubuh sipemuda, terhenti ditengah udara.
"Hm! Kiranya kau ini adalah itu pemuda yang pernah diceritakan oleh guruku!"
Mendengar ucapan tersebut, Gokhiol menjadi heran. Siapakah guru gadis itu? "Kau ingin membunuh aku, bunuhlah segera. Mengapa harus ber-tanya2 lagi?"
Ujarnya menantang.
"Malam ini kau boleh merasa gembira bahwa nasibmu masih baik. Guruku telah, memesan kepadaku sebelum ia tidur untuk menangkap orang yang memiliki batu kumala merah, tapi tak boleh membunuhnya. Kau harus menanti sampai guruku bangun pula dari tidurnya untuk melihat tindakan apa yang akan dilakukan terhadapmu."
Mendadak, mendadak saja Hay Yan menotok belakang kepala sipemuda.
Gokhiol menjadi gelap pemandangannya, bagaikan orang mabuk setengah mabuk setengah tidak sadar, ia sempoyongan jatuh.
Kemudian ia merasa tubuhnya digusur...
Ketika pemuda kita siuman kembali, yang pertama dihendusnya adalah bau tanah lumpur.
Matanya melihat dihadapannya sebuah perapian yang diatasnya tergantung sebuah ketel air.
Sedangkan dipojok terdapat setumpukan arang dan sebuah tempayan penyimpan air.
Sinar api menerangi seluruh ruangan kamar yang terbuat dari batu2 gunung.
Setelah melihat lebih jelas, pemuda kita mendapatkan tempat itu bukanlah merupakan sebuah kamar, melainkan sebuah goa alam yang belasan tombak luasnya.
Diatasnya terdiri dari dinding batu gunung yang tingginya kurang lebih lima atau enam tombak.
Diatas terlihat sebuah lubang yang telah ditutup rapat.
Gokhiol mengamati sekeliling goa itu dan bulu romanya terbangun melihat disana-sini menggeletak tulang belulang manusia!
"Ah, benar2 kali ini aku tak dapat lolos lagi dari kematian,"
Demikian Gokhiol mengeluh seorang diri.
---oo0dw0oo---Pangeran Pato, putera ketiga dari Jenderal Tuli berpisahan dengan Gokhiol, saudara angkatnya dilembah Ban Coa-Kok.
Setelah dua hari kemudian tibalah ia di Ho-lim dan diceritakannyalah pengalamannya yang aneh kepada ayahandanya Jendral Tuli.
Gokhiol disayangi sekali oleh Panglima bagaikan anak kandungnya sendiri.
Kali ini, setelah mendengar cerita puteranya, walaupun pemuda kita melanggar perintah, Jenderal Tuli tak menjadi gusar.
Bahkan setelah diketahuinya bahwa Gokhiol telah membaca surat wasiat ayahnya, Tio Hoan yang ditulis pada tujuhbelas tahun yang lampau dan kini sang putera berniat untuk menuntut balas, didalam hatinya memuji kebaktiannya Gokhiol.
"Pato! Lekaslah kau panggil suhumu Yalut Sang untuk datang kesini"
Ujar Tuli kepada puteranya.
Adapun Yalut Sang ini sebenarnya adalah seorang keturunan bangsawan dari negara Liauw.
Setelah negaranya ditaklukan oleh bangsa Kim, barulah ia mengungsi kedaerah Mongolia.
Dia termasuk ahli silat Tiang Pek Bu-pay yang kesohor namanya.
Banyak hubungannya dengan tokoh2 Sungai-telaga ditanah dataran Tiong-goan dan pengalamannya luas sekali.
Oleh sebab itu Jendral Tuli telah mengundangnya dan dijadikan guru untuk mengajar putera2-nya.
Tak lama kemudian Yalut Sang telah tiba didalam tenda besar Jenderal Tuli, yang segera berbangkit untuk menyambut kehadirannya.
"Apakah Goan-swee mengundang boan-seng kali ini berhubung persoalan Gokhiol ?"
Bertanya Yalut Sang setelah berlutut.
"Tepat sekali dugaanmu, Yalut Sang. Apakah sebelumnya Pato telah menceritakan kepada kau perihal keadaan Gokhiol?"
Kata Tuli dengan sungguh2.
"Boan-seng telah mendengarnya juga. Sibaju hitam yang telah bertemu dengan Gokhiol, boanseng kira ..."
Yalut Sang berhenti sebentar, lalu melanjutkan "bukanlah Im Hiam Hong Kie-su."
Melihat Tuli menjadi terperanjat, Yalut Sang meneruskan .
"Baiklah boan-seng akan memberikan keterangan yang sejelasnya. Adapun watak Im Hiam Hong Kie-su ialah bahwa ia tak suka akan kelicikan. Yang jahat dilawannya Sedangkan yang lemah dilindunginya. Perkara2 besar menarik perhatiannya tapi perkara2 kecil tak suka ia campurtangan."
Yalut Sang termenung, bagaikan sedang memusatkan pikirannya.
"Pada duapuluh tahun yang lampau, didunia kang-ouw boan-seng pernah mengikat tali persahabatan dengannya. Tapi semenjak diadakannya pertemuan untuk pemilihan pemimpin rimba persilatan dipuncak gunung Heng San, boan-seng tak pernah bertemu dengannya pula. Sebagaimana telah diketahui, pada pertemuan tersebut Im Hian Hong Kie-su telah berhasil menjatuhkan tujuh Ciangbun-jin perguruan silat yang terkenal. Sejak, itulah ia menyembunyikan diri dan hidup bertapa seorang diri di Puncak Gunung Maut. Oleh sebab itu sekalipun ia turun pula didunia kang-ouw, ia takkan mengangkat senjata pula untuk bertempur."
Setelah mendengar cerita gurunya yang panjang lebar itu, Pato mengajukan pertanyaan.
"Suhu! Jadi menurut kau sibaju hitam itu bukanlah Im Hian Hong Kie-su?"
Yalut tersenyum dan manggutkan kepalang.
"Benar, muridku. Menurut perkiraanku Im Hian Hong Kie-su itu adalah Im Hian Hong Kie-su palsu! "Yalut Sang"
Kata Tuli demi mendengar keterangan tersebut "kami sebenarnya hendak mengutus kau untuk pergi ke Giok-bun-koan untuk menyelidiki persoalan ini.
Karena pedang pusaka Gokhiol telah dirampas oleh orang yang berpakaian baju hitam itu, pasti dia telah mengejarnya untuk merebutnya kembali.
Kami sangat kuatir sekali akan keselamatannya."
Baru saya Yalut Sang mau menjawab, atau dari balik tirai muncul seorang wanita setengah tua. la berlutut dihadapan Tuli.
"Aku yang rendah mengucapkan banyak terima kasih atas kasih sayang Goan-swee, terhadap Gokhiol yang masih mada-belia itu. Memang sukar diduga bahaya apa yang sedang dihadapinya, sedang pembunuh ayahnya Tio Hoan yang belum diketahuinya itu, bukankah sembarang orang. Jika goan-swee berniat mengutus Yalut Sang untuk melindungi Gokhiol, maka seumur hidup aku akan berhutang budi pada Goan-swee."
Wanita itu bukan lain daripada Lok Giok, ibunda Gokhiol Sudah lama ia mendengar pembicaraan orang dari belakang tirai alingan. Tergesa-gesa Tuli memberikan tempat duduk disisinya.
"Nyonya Lok Giok, bila aku mengetahui bahwa Tio Hoan mempunyai surat wasiat untuk Gokhiol, tidak nanti aku membiarkannya untuk menentang bahaya seorang diri. Baiklah sekarang kau tuturkan kepada kami tentang segala yang telah kau ketahui, agar mempermudah kepergian Yalut Sang untuk menyelidikinya."
Dengan singkat Lok Giok menceritakan tentang kejadian2 yang telah lampau, dimana antara lain ia telah mengutus Tiang Jun untuk tinggal dilembah Ban-Coa-Kok.
Bila ingin mengetahui dimana adanya Gokhiol sekarang ini, maka sebaiknya carilah orang tua itu dahulu.
Yalut Sang mtndengar dengan penuh perhatian dan dingatnya dikepalanya.
Setelah menerima doa-restu dari Jendral Tuli, maka Yalut Sang berganti pakaian perantau.
Dengan menunggang seekor kuda ia meninggalkan kota Ho-lim seorang diri.
Sang kuda berlari bagaikan terbang ...
Sepekan telah lewat!
Yalut Sang tiba kembali dikotaraja.
Melihat wajah orang berlainan dari biasanya, segera Pato menegurnya .
"Apakah suhu telah dapat ketahui dimana Gokhiol sekarang berada?"
Yalut Sang meng-geleng2kan kepala dengan suram.
"Pato, kejadian ini makin lama makin hebat. Tiang Jun sudah mati terbunuh. Mari kita lekas melaporkan kepada Goan swee"
Kiranya pada waktu Yalut Sang tiba dilembah Ban-Coa Kok, dilihatnya sebuah kuburan yang baru dilihat dibawah sebuah pohon.
Diatasnya berdiri sebuah papan dengan tulisan dari tangan yang tak asing lagi, ialah tulisan Gokhiol.
Selanjutnya guru silat itu masuk kedalam gubuk dan diketemukannyalah senjata rahasia Kiu-cu Lui-seng diatas meja.
Rupanya senjata rahasia ditinggalkan oleh Gokhiol.
Yalu Sang menjadi pucat.
"Kiu-cu Lui-seng Hui Piau semacam ini memang merupakan senjata rahasia yang dahulu kala sering digunakan oleh Im Hian Hong Kie-su. Apakah orang tua ini benar2 telah turun gunung dari Puncak Gunung Maut? "
Pikirnya dengan cemas.
Demikian selama empat hari lamanya, Yalut Sang mundar-mandir sepanjang daerah Giok-bun-koan dengan harapan akan memperoleh petunjuk lainnya dalam menunaikan tugas penyelidikannya.
Pada hari berikutnya guru silat itu menemukan sebuah pangkalan.
Ia berhenti dan melompat dari kudanya.
Tiba2 hujan turun dengan lebatnya.
Untunglah terdapat terdapat sebuah kedai, iapun segera masuk untuk berteduh sampai hujan berhenti.
Dipesannya makanan dan minuman untuk menangsal perutnya.
Setelah hujan mulai berhenti dan Yalut Sang ingin meninggalkan itu atau tiba2 diambang pintu bertabrakan dengan seorang yang baru hendak masuk kedalam.
Mereka bertubrukan dengan keras dan Yalut Sang pura2 terjengkang kebelakang.
Tubuhnya terguling-guling ketengah ruangan kedai.
Tengah ia terguling, matanya tak melewatkan ketika untuk melirik orang yang telah menubruknya itu.
Tampaklah olehnya orang itu berjubah hitam, sedangkan dikepalanya terdapat topi bambu yang pinggirannya lebar.
Orang itu menengok dengan gusar seraya mencaci .
"Bedebah! Apakah kau buta?"
Setelah memakil kalang-kabutan, orang itupun terus masuk kedaiam kedai.
Sedangkan Yalut Sang dibangunkan oleh orang2 yang berada didekatnya.
Diam2 guru silat itu menyingkirkan diri.
Kiranya tadi Yalut Sang pura2 jatuh untuk mengelabui mata orang, sukar sekali untuk melakukan tipu tersebut apabila tak memiliki kepandaian yang tinggi.
Dilihat oleh guru silat itu bahwa orang yang berjubah hitam itu mukanya sangat mirip dengan ...Im Hiam Hong Kie-su!
Tapi meskipun demikian, setelah lewat duapuluh tahun lamanya mereka tak bertemu muka, matanya tak dapat dikelabui.
Orang itu bukanlah Im Hian Hong Kie-su!
---oo0dw0oo---Demikianlah Yalut Sang menceritakan kepada Jendral Tuli pengalamannya salama sepekan dan menyusul mana dikeluarkannya pula senjata Kin-cu Lui-seng.
Jendral Tuli memeriksanya dengan seksama.
"Yalut Sang, kau mengatakan bahwa senjata-gelap ini hanya dipergunakan oleh Im Hiam Hong Kie-su saja, tapi kini mengapa kau katakan bahwa orang berbaju hitam bukannya dia? Masakan ada orang yang sedemikian sama rupanya?"
"Dengarlah penjelasanku, Goan-swee,"
Sahut Yalut Sang, sebagaimana diketahui pada duapuluh tahun yang lampau aku bersahabat dengan Im Hian Hong Kie-su.
Mana boleh jadi bahwa waktu kami saling kebentur ia tidak mengenali aku?.
Meskipun kami saling berpandangan mata, namun romannya tak memperlihatkan tanda pengenalan sedikitpun juga, maka hal itu membuktikan bahwa orang itu bukan Im Hian Hong Kie-su.
Dialah orang lain yang telah menyamar sebagai dirinya!"
Yalut Sang berhenti sebentar untuk meneguk secangkir arak yang tersedia diatas meja untuk kemudian meneruskan .
"Hal ini tak dapat diragukan lagi. Sebaliknya orang itupun sangat cerdik. Dengan sengadia ia telah menolak aku dengan tenaga-dalamnya, untuk mengetahui apakah aku memiliki ilmu silat. Untung aku telah bersiaga terlebih dahulu,sehingga berhasil mengelabuinya."
Setelah mendengar penjelasan gurunya. Pato bertanya pula .
"Suhu, jika demikian halnya, maka sibaju hitam yang tempo hari dijumpai Gokhiol dan aku kiranya bukan Im Hiam Hong Kie-su. Namun, aku masih belum mengerti mengapa ia telah menolong kami berdua?"
Atas pertanyaan muridnya ini Yalut Sang terdiam.
"Mengenai hal ini, aku belum dapat mengetahui apa yang menjadi alasannya. Yang mencurigakan adalah orang itu sangat mirip sekali dengan Im Hian Hong Kie-su, sehingga sepintas lalu sukar untuk orang membedakannya."
Sang guru berpikir sebentar, lalu melanjutkan.
"Hanya ada sedikit perbedaan yang jarang dapat diketahui orang selain yang telah mengenalnya dari dekat, yaitu sinar mata Im Hiam Hong Kie-su bersinar terang dan menunjukkan sikap yang agung. Sebaliknya sibaju hitam romannya agak kejam, sedangkan sinar matanya menunjukkan sorotan hawa sesat! Mungkinkah dia pandai menyamar dan mengubah wajahnya? Aku belum dapat memastikan!"
Mendengar keterangan Yalut Sang tentang ilmu penyamaran muka, Jendral Tuli merasa tertarik.
"Yalut Sang, mendengar keteranganmu mengenai ilmu penyamaran, kini teringat aku pada masa ayahku Jenghis Khan masih hidup, pernah aku mendengar dari seorang perutusan kerajaan Song, bahwa ada seorang pendeta kalangan kaum agama Too-kauw yang memiliki kepandaian terscbut. Seorang ksatrya diutus untuk mencari pendeta itu, tapi hingga kini belum mendengar kabar ceritanya lagi."
Yalut Sang tersenyum.
"Untuk mendapat gambaran yang se-jelas2nya mengenai teka-teki ini, aku mohon untuk diijinkan pergi ke Puncak Gunung Maut."
"Apakah kau ingin pergi menemui Im Hiam Hong Kiesu? Kami merasa kuatir kau akan mendapat kesukaran diperjalanan,"
Demikian Jendral Tuli menjawab.
"Apa yang Goan-swee katakan memanglah benar,"
Jawab Yalut Sang.
"sebagaimana diketahui Puntiak Gurung Maut terletak dipegunungan Ji-Long San. Disekitarnya banyak binatang2 buas dan ular berbisa, sehingga berbahaya untuk orang mengunjungi tempat itu. Namun demikian waktu dulu, tatkala aku berpisahan dengan Im Hian Hong Kie-su, ia pernah memberikan kepadaku sebuah peluru yang dapat bersuara. Dikatakannya apabila kelak aku ingin bertemu kepadanya, supaya peluru itu dilontarkan diangkasa. Itulah sebagai tanda pengenal. Oleh karena itulah aku tak merasa kuatir, meskipun perjalanan kegunung Ji-Long San sangat jauh dan berbahaya. Dan apabila dapat berjumpa dengannya, aku dapat menerima petunjuk untuk mencari jejak Gokhiol."
Akhirnya Jenderal Tuli menyetujuinya juga dan Pato pun merasa bergembira dan segera minta untuk ikut serta dengan sang guru. Tapi Yalut Sang menjawab seraya memandang kepada Jenderal Tuli.
"Pato, kau adalah anak Panglima Perang. Bagaimana kau dapat berpergian kesembarang tempat?"
"Su-hu! Bukankah Gokhiol juga merantau dengan seorang diri? Jika suhu memperkenankan aku ikut, maka ayah pun pasti akan mengijinkannya aku pergi guna memperluas pengalaman,"
Demikian Pato berkata dengan sikap yang gagah. Sambil berlutut dihadapan ayahnya, Pato memohon .
"Ayah mempunyai enam anak, mengapa tidak memberi kesempatan untuk mengutus salah seorang puteranya untuk mencari pengalaman dikalangan rimba persilatan dan mempertinggi ilmu kepandaiannya?"
Melihat sikap puteranya yang gagah dan bersungguh-sungguh, Tuli merasa terharu bercampur bangga.
"Pato, anakku, nan tercinta."
Jendral Tuli berkata.
"permohonanmu akan kululuskan, namun demikian tunjukkanlah kesanggupanmu agar kau dapat memperoleh kembali pedang pusaka Ang-liong-kiam peninggalan mantan ayahnya Gokhiol. Janganlah sampai kau mengecewakan tugasmu, bertindaklah sebagai ksatrya Monggol sejati!" ---oo0dw0oo---Adapun gunung Ji-Long San itu merupakan barisan pegunungan yang liar didaerah Patang. Diantaranya terdapat sebuah puncak menjulang tinggi keangkasa, yang diselubungi lapisan mega. Puncak itu sepanjang tahun tertutup dengan tumpukan salju iu, sehingga udaranya sangat dingin. Pada lampingnya banyak sekali tebing2 nan curam dan tinggi2 letaknya, sehingga hampir tidak ada jalan sama sekali untuk melewatinya. Sedang dikaki pegunungan tumbuh hutan-rimba yang lebat, dimana pohon2 berdaun rindang menutupi sinar matahari yang ingin menembusinya. Didalamnya berkeliaran binatang2 yang buas, hingga seorang pemburupun tidak berani datang. Kembali pada Yalut Sang dan Pato yang tengah menempuh perjalanan kedaerah tersebut, setelah lewat belasan hari tiba didataran tinggi Siauw Pa San. Adapun Siauw Pa San terdiri dari gunung2 yang tinggi dan berdinding curam mengerikan. Dibagian pinggir gunung ada jalanan Canto, yang sangat sempit sehingga orang yang melewatinya harus meninggalkan kudanya untuk meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki. Setelah guru dan murid menempuh jarak setengah harian, maka kelihatan tidak jauh dihadapan mereka sebuah gubuk kecil. Diatap gubuk terpancang sebuah bendera menunjukkan tempat orang menjual minuman arak.
"Mari kita melepaskan lelah sebentar untuk minum arak,"
Ujar Yalut Sang.
"Selesai minum kita akan teruskan perjalanan."
Setibanya didepan gubuk tempat penjualan minuman arak, mereka melihat bahwa pemiliknya adalah seorang nenek yang sudah putih ubanan.
Selain itu dibawah gubuk terdapat sebuah batu berwarna hijau dan besar bentuknya, Diatasnya terletak sebuah belanga terbikin dari tanah liat dan tempat dadu.
Melihat keadaan yang ganjil tersebut, Pato membisik kepada gurunya.
"Suhu, mengapa dihadapan nenek penjual arak ini terdapat alat permainan dadu?"
"Nanti akan kutanyakan kepada nenek itu,"
Jawab Yalut Sang seraya berjalan menghampir.
"Lo Twanio, apa kau masih ada persediaan arak?"
Adapun sinenek usianya kira2 tujuh puluh tahun.
Perawakannya tinggi besar, sedangkan rambutnya putih seperti salju.
la mengenakan pakaian serba hitam.
Demi mendengar Yalut Sang menegur kepadanya, ia menengadah seraya menjawab.
"Disini ada arak, tapi biasanya tidak dijual dengan menerima uang."
Tatkala pandangan mata Yalut Sang berbentrok dengan mata nenek tua itu, bercekatlah hatinya.
Sementara itu, Pato yang mendengar orang berkata bahwa arak itu tidak dijual dengan uang, merasa heran bercampur gembira.
"Eh, nenek! Sungguh kau baik sekali, didunia ini memang sukar untuk mendapatkan orang yang kedua seperti kau. Apakah orang boleh minum tanpa bayar?"
Tapi sinenek berkata dengan dingin .
"Kau ingin minum arak, lebih dahulu harus bermain dadu denganku."
Yalut Sang sadar bahwa dibalik peristiwa ini tentunya ada sebab musababnya, maka lekas2 ditariknya tangan Pato seraya berkata kepada sinenek .
"Lau Twanio, coba kau berikan keterangan yang lebih jelas, bocah kecil ini tidak mengetahui aturannya!"
"Ah, mudah saja,"
Jawab sinenek.
"adapun arakku tidak untuk disuguhkan dengan cuma2. Keluarkanlah uang perakmu untuk bertaruh main dadu denganku. Bilamana kau menang, aku akan menyuguhkan arak dengan cuma2."
"Dan apabila kami kalah ?"
Tanya Yalut Sang dengan hati berdebar-debar.
"Marilah kita bermain dadu, kalau aku kalah, kamu orang boleh minum arakku sepuas-puasnya2"
Berseru sinenek penjual arak kepada Yalut Sang dan Pangeran Pato.
"Jika kau kalah, maka keluarkan lagi uangmu, demikian seterusnya sampai kau dapat menang dan kalau aku kalah terus maka aku akan menyuguhkan kau minuman arak sampai se-kenyang2nya!"
Mendengar perkataan sinenek, Pato menjadi timbul isengnya.
Segera dikeluarkannya sebungkusan kecil berisikan uang perak kira2 sepuluh tail beratnya.
Dilemparkannya kantong itu diatas batu seraya berseru .
"Cobalah aku bermain dahulu sekali dan itu uang taruhannya!"
"Hi-hi-hi ! Aku kuatir kau belum dapat menaadingi permainanku. Hi-hi-hi! Lihatlah aku akan menangkan uang perakmu!"
Ujar sinenek sambil tertawa kegirangan.
Menyusul mana dibukanya sebuah tutupan guci arak.
Tampak bahwa didalam guci itu tidak terisi arak, melainkan penuh dengan uang perak.
Uang perak hancuran dituang sinenek berkeresekan diatas tanah.
Melihat kejadian itu, Yalut Sang mendorong Pato kesamping.
"Muridku, biarlah aku yang bermain dahulu. Setelah itu baru kau."
"Benar! Tuan ini rupanya ada pandai sedikit untuk membuat dadu bergerak-gerak,"
Sahut nenek sambil menyerahkan keenam biji dadu kepada Yalut Sang.
"Tuan boleh melemparkannya terlebih dahulu.
"Silahkan!"
Yalut Sang berpikir didalam hatinya.
"Hm, ingin aku mengetahui cara bagaimana kau mempermainkan orang!"
Guru silat itu bersiul meniup dadu2 ditangannya.
Diam2 dadu yang bermata enam semuanya diarahkan keatas, dan dengan mengerahkan tenaga-dalamnya dadu2 itu melekat satu.
Setelah itu dilemparkannya kedalam belanga sambil berteriak .
"Liok Liok! Enam semua!"
Sesaat kemudian keenam dadu itu menggelitir kedalam belanga dan setelah berputar sebentar, kesemua mata enam berjejer didalam belanga! Pato, menyaksikan kelihayan suhunya berseru kegirangan.
"Semuanya bermata enam, sekarang kita dapat sepuasnya minum arak! Ha-ha-ha! Sinenek kalah, sinenek kalah!"
"Tunggu dulu! Aku belum mengambil giliran, jika aku dapat Boan Tong Hong, kalian akan terkalahkan,"
Ujar nenek itu agak gusar. Adapun yang disebut Boan Tong Hong ialah keenam dadu yang semua bermata empat.
"Mana ada hal yang demikian!"
Ujar Pato.
"Lekas kau keluarkan arakmu saja. Tenggorokanku sudah kering."
Sinenek tak menghiraukannya dan sekaligus diambilnya keenam dadu itu lalu dilemparkannya keatas.
Keenam dadu berputar-putar diudara sebentar untuk kemudian turun kebawah dan menggelinding didalam belanga.
Nenek itu menunjuk dengan jarinya.
"Sie Sie ! Semua empat!"
Bentaknya dengan suara keras.
Dan seketika itu juga keempat dadu terhenti dan menunjukkan ...
mata empat!
Sedangkan yang duanya lagi dibiarkannya berputar terus.
Yalut Sang dapat melihat adanya tenaga-dalam yang hebat sekali, yang disalurkan melalui telunjuk tangan nenek itu, maka buru2 dikebutnya kedua dadu tersebut yang lantas berhenti dengan mendadak!
Dan kedua dadu itu menunjukkan mata satu!
Pato, yang ringan mulut tertawa terpingkal-pingkal.
"Nenek, kau sudah kalah! Ha-ha-ha!"
Tapi, sekonyong-konyong kedua batu dadu itu membalik dengan sendirinya dan menunjukkan angka empat! Pato terbelalak matanya dan berseru .
"Kau merubah dadumu! Itu tak dapat dihitung! Curang, curang!"
Dengan gusar sinenek menyambar bungkusan uang perak Pato diatas batu sambil mengawasi dengan mata melotot.
"Apa yang kau bilang? Tak dapat dihitung? Curang?! Jika kau tidak terima, keluarkan saja peluru suhumu yang dapat berbunyi itu untuk taruhannya !"
Bagaikan kilat Yalut Sang mengibas dengan kedua belah telapak-tangannya!
Karena sambaran angin yang keras, maka rambut sinenek tersingkap.
Itulah rambut palsu!
"Kie-su!
Kami datang dari jauh untuk menemui kau.
Apakah kau masih ingin bermain-main?"
Ujar guru silat itu. Sinenek palsu melompat kesamping seraya tertawa bergelak-gelak.
"Yalut Sang, sahabatku! Sudah kuduga kau ini sukar dikelabui oarng! Siapakah pemuda muridmu ini ?"
Tanya siorang tua seraya membuka kedoknya.
Kini kelihatan muka orang yang berkumis rapih.
Jubahnya yang dikenakan tadi dilucutkan kebawah.
Seke jap mata saja sinenek tua telah berubah menjadi seorang laki2 setengah ua dengan rambutnya terikal bagaikan seorang sastrawan.
Sikapnya sangat gagah dan bersemangat, sedangkan sepasang matanya menyorotkan sinar bernyala-nyala.
la mengenakan baju berwarna hitam yang sedap dipandang orang.
Orang itu tidak lain daripada ...
Im Hian Hong Kiesu sendiri!
Sipenunggu Puncak Gunung Maut.
Melihat perobahan tersebut, Pato berdiri menjublak bahna herannya tanpa dapat berkata apa2.
"Kie-su. Dia adalah muridku Pato, putera Jendral Tuli,"
Ujar Yalut Sang seraya mendorong muridnya kedepan untuk diperkenalkan.
Buru2 Pato berlutut.
Diam2 ia mencuri lihat muka orang tua itu.
Terperanjatlah hatinya!
Wajah orang itu tak ubahnya seperti orang yang dahulu dijumpainya berdiri diatas tebing gunung!
Dengan tak terasa lagi ia berkata .
"Kie-su Cianpwee. Pada bulan yang lalu, dengan mujur sekali aku yang rendah telah terlepas dari bahaya maut berkat pertolonganmu. Kalau tidak keburu tertolong, uiscaya Hek Sia Mo-lie telah mencelakakan kami,"
Sambil menjura Pato meneruskan.
"Dengan ini aku yang rendah mengucapkan banyak2 terima-kasih atas budimu yang besar."
Melihat kelakuan sipangeran, Im Hian Hong Kie-su mengulapkan tangannya.
"Kau keliru! Mana pernah kualami kejadian itu? Selama duapuluh tahun ini, akan tak pernah meninggalkan gunung Pa-san ini,"
Ia mengawasi Patodengan keheranan, lalu diteruskannya .
"Memang kudengar kabar bahwa dalam dua tahun ini ada seorang jahanam yang mempergunakan namaku. Dengan sengaja orang itu telah menanamkan bibit2 permusuhan disana-sini. Meskipun aku tak pernah turun gunung, tapi jangan dikira bahwa aku tak tahu akan gerak-geriknya dikalangan kang-auw dewasa ini."
Sipenunggu Puncak Gunung Maut berhenti dan tiba2 suaranya menjadi keras seperti geledek.
"Jangan dikira bahwa tidak ada yang melaporkan kepadaku akan peristiwa-peristiwa yang merusakkan nama baikku. Justru akhir2 ini aku telah berniat turun guuung untuk menyelidiki dan membereskannya sampai terang. Aku hendak kremus jahanam itu."
Mendengar ucapan tersebut, Yalut Sang menyahut.
"Kiranya kau sudah mengetahui juga bahwa ada orang yang telah mempergunakan namamu. Maksud kedatangan kami disinipun adalah untuk memecahkan persoalan tersebut. Tapi tak disangka-sangka ditempat ini kami telah bertemu denganmu."
Im Hian Hong Kie-su tersenyum lebar.
"Adapun aku berada disini adalah untuk menanti pesuruhku yang telah kuperintahkan untuk menyelidiki berita2 yang berkenaan dengan namaku. Aku girang kau datang, Yalut Sang. Huh, gubuk ini bukanlah tempatnya untuk kita ber-cakap2. Marilah kita beristirahat dirumahku."
Yalut Sang dan Pato mengikuti pendekar itu mengambil jalan memasuki barisan pegunungan, melalui canto2 diantara bukit2 yang bentuknya berliku-liku dan dibangun pada tebing2 gunung yang tinggi dan curam.
Tak lama mereka tiba pada selat gunung yang penuh dengan pohon cemara.
Air sungai terdengar gemericik mengalir amat derasnya.
Dibawah sebuah pohon cemara besar berdiri sebuah rumah yang terbuat dari atap.
Yalut Sang dan Pato dipersilahkan masuk kedalam rumah.
Segera Im Hian Hong Kie-su menepuk tangannya dan sekonyong-konyong sepasang kera melompat keluar dengan membawa sesajian air gunung dan bebuahan.
"Kie-su, sudah duapuluh tahun aku tidak melibat kau. Sungguh tak kusangka wajahmu masih tetap seperti dahulu dan tidak nampak lebih tua,"
Demikian Yalut Sang membuka pembicaraan, setelah mereka duduk2.
"Aku sudah berusia enampuluh delapan tahun sekarang ini,"
Sahut Im Hian Hong Kie-su.
"sunguh tak terasa lagi duapuluh tahun telah lewat, semenjak aku meninggalkan pemilihan Bu-lim Cin-cun dipuncak gunung Heng San."
Pendekar itu berhenti sejenak untuk mengingat kenangan2 yang lampau, lalu diteruskannya seraya tertawa.
"Tak disangka, bahwa aku yang sudah mengasingkan diri dari dunia yang ramai, kini harus menjejakkan juga kakiku kembali kedunia kang-ouw."
"Apakah kau benar2 hendak turun dari gunung ?"
Tanya Yalut Sang.
"Sebenarnya aku sudah mengambil ketetapan untuk mencuci tangan dan tidak keluar lagi dari daerah pegunungan. Tapi apa mau dikata, beberapa bulan yang lalu Tiang Pek Loni telah mengirim seekor burung bangaunya dengan membawa sepucuk surat. la, minta pertolonganku untuk menyelidiki suatu rahasia. Karena ia adalah susiokku, mau tak mau aku tak dapat menolaknya."
Im Hian Hong Kie-su mencomot sebuah Toh dan dimakannya lambat2.
"Sebab itu, pada akhir bulan ini aku telah mengutuskan beberapa sahabatku yang dapat dipercayai untuk mencari petunjuk2. Dengan susah-payah barulah aku mendapat kabar berita dan kini aku mengambil ketetapan untuk turun dari gunung."
"Ah, kiranya Tiang Pek Loni masih hidup? Kalau begitu permintaannya untuk kau menyelidikinya adalah bertalian dengan hilangnya seorang murid kesayangannya yang bernama Wanyen Hong. Bukankah demikian halnya?"
Yalut Sang bertanya seraya bermesem-simpul. Mendengar keterangan kawannya itu, Im Hian Hong Kie-su mengawasinya dengan terperanjat.
"Lauwte, sebenarnya aku tidak boleh menceritakan persoalan ini. Tapi karena hal ini ada sangkut pautnya juga dengan majikanmu, maka ada faedahnya untuk menjelaskannya kepadamu."
Pendekar itu mengusap2 kumisnya yang jarang seraya melanjutkan .
"Benar dugaanmu, yang diminta Sin Ciang Taysu itu untuk diusut adalah perihal Wanyen Hong, pateri dari negara Kim. Berhubung Loni sedang melatih ilmu Sam Bie Tay hoat dan harus bertapa selama delapan belas tahun lamanya dan kini masih harus menyelesaikannya setahun lagi maka ia telah memohon pertolongan untuk menyelidiki persoalan hilangnya murid kesayangannya itu."
"Benarkan puteri Wanyen Hong belum mati? Bagaimana Sin Ciang Taysu dapat mengetahuinya?"
Yalut Sang mengerutkan keningnya.
"Lauwte bukan orang luar, maka biarlah aku akan jelaskan kepadamu. Pada waktu Sin Ciang Taysu bertapa, ia masih menerima seorang murid baru. Dialah seorang gadis. Murid itu dibesarkan selama belasan tahun didampingnya dan kini telah mencapai usia duapuluh tahun. Nama gadis itu ialah Liu Bie. Sin Ciang Taysu telah menurunkan kepada muridnya itu ilmu silat Tiang Pek Bu. Menurut katanya, ilmu silat itu hebat luar biasa!"
Sejenak Pato melongo.
"Semenjak beberapa tahun ini, gadis itu telah berkeliaran didalam dunia kang-ouw. Kepandaiannya yang tinggi benar2 membuat orang merasa takjub. Kaum Sungai telaga telah menggelarkannya dengan nama . Kim Gan Bie atau Mata Berkening Mas. Pada saat terakhir Kim Gan Bie sedang menjalankan perintah Sin Ciang Taysu untuk mengusut rahasia tentang lenyapnya Wanyen Hong, kakak seperguruannya yang sudah tujuhbelas tahun lamanya itu." ---oo0dw0oo---"AKHIRNYA gadis itu berhasil menemukan petunjuk bahwa Hek Sia Mo-lie yang ditakuti orang disepanjang Giok-bun-koan tidak lain dan tidak bukan adalah Wanyen Hong!...."
Demikian keterangan Im Hian Hong Kie-su. Pato serempak bangkit berdiri.
"Itulah keliru! Coba Cian-pwee dengarkan dulu keteranganku. Adapun Hek Sia Mo-lie yang kujumpai pada bulan yang Ialu usianya kira2 enam belas tahun. Biarpun boleh dikata ilmu pedangnya tinggi, tapi mana boleh jadi ia itu puteri Wanyen Hong?"
Karena pembicaraannya diputus ditengah jalan, Im Hian Hong Kie-su menjadi agak gusar.
"Tunggu! tunggu dulu! Gadis yang kau jumpai itu bukannya Wanyen Hong. Coba biarkanlah aku ceritakan rahasia yang menyelubungi dalam hal ini! Hampir semua keterangan dapat dikumpulkarn berkat kecerdikan Liu Bie sigadis cilik itu. Adapun pada duapuluh tahun yang lampau Tiang Pek Loni Sin-Ciang Taysu memperoleh sebuah kitab rahasia. Kitab itu diperolehnya dari penggalian disebuah makam purba, dan didalamnya terdapat pelajaran mantera dari latihan sakti ilmu Sam Bie Tay-hoat."
Im Hian Hong Kie-su minum airnya, lalu meneruskan.
"Jika orang berhasil menyelami ilmu tersebut, niscaya ia akan memperoleh raga-sukma yang sempurna. Sama halnya dengan ilmu Thian Gan Tong dari ajaran Buddha, iimu itu, dapat mengetahui hal2 yang belum terjadi! Kecuali mantera, masih terdapat sebuah peta penyimpan benda2 pusaka. Disebutkan dalam peta itu terpandam dua macam benda mustika yang tiada bandingannya dikolong langit ini. Pusaka yang pertama ialah pedang Mo-hweekiam atau Pedang Api Setan, peninggalkan kaum Buddha bekas milik Kong Ciak Tay Beng Ong didiaman purba. Sedang pusaka yang kedua adalah sebuah mustika peninggalan kaum agama To-Kauw, yaitu obat pengawet muda buatan Lo Hu Cian Jin berikut obat aneh untuk merubah rupa. Begitu Sin Ciang Taysu mempereleh kitab ini, maka tersiar meluaslah keselruh penjuru. Banyak Pendekar2 yang tinggi kepandaiannya datang untuk merebutnya.
"Tak segan2 mereka menggunakan segala tipu-daya keji untuk memperoleh kitab tersebut, namun semuanya dapat dipunahkan oleh Sin Ciang Taysu."
Pato terbuka mulutnya bahna asiknya mendengar.
"Tatkala Wanyen Hong menyelesaikan pelajaran, dan pulang kenegeri Kim, suhunya Sin Ciang Taysu telah memberikannya secara diam2 peta penyimpanan benda mustika itu kepadanya. Sedangkan kitab mantera latihan Sam Bie Tay-hoat itu tetap disimpannya sendiri untuk dipurgunakan dikemudian hari"
Yalut Sang mengerutkan keningnya.
"Lewat berapa tahun kamudian, Wanyen Hong pergi ke Monggolia untuk merundingkan soal perdamaian. Kebetulan sekali tempat penyimpanan benda mustika itu terletak pada sebuah goa batu Moh Ko Ciuk Khu digunung See-Beng San. Nah, kejadian berikutnya dapat diketahui berkat jerih payahnya Liu Bie yang menunaikan tugasnia dengan baik."
Im Hian Hong Kie-su berhenti untuk membasahkan tenggorokannya.
"Lewat tembok perbatasan Giok-bun-koan, maha iring2-an diperintahkan untuk beristirahat selama tiga hari. Pada malam harinya Wanyen Hong seorang diri pergi kegoa Cian Hut Tong. Tio Hoan sebagai pengawal yang disayanginya pun tak diberitahukannya. Ketika Wanyen Hong, sampai digoa Cian Hut Tong itu, maka dengan pertolongan peta ia berhasil membuka kamar batu rahasia. Benar saja! Didalamnya menggeletak pedang musrika Mo-hwee-kiam. Kemudian dibukanya sebuah kotak. Didalamnya terdapat obat pengawet muda dan obat pengubah rupa."
Lm Hian Hong Kie-su mengawasi kedua pendengarnya untuk mengetahui dapatkah mereka mengikuti penuturannya.
"Tanpa diketahui, sejak Wanyen Hong memasuki goa itu diam2 ia dikuntit oleh seorang iang bertopeng. Wanven Hong terkejut! Entah siapa gerangan orang bertopeng itu? Maksudnya tak lain ialah untuk merampas benda2 pusaka yang telah ditemukan oleh Wanyen Hong. Maka sekejap saja terjadilah pertempuran hebat antara kedua orang itu."
"Tatkala Wanyen Hong membuka serangan, lebih dahulu ia telah menelan obat pengawet muda kedalam mulutnya. Rupanya sierang bertopeng lebih tinggi kepandaiannya, maka bukan kepalang gelisahnya Wanyen Hong pada waktu itu. Namun apa daya ilmu pedangnya masih berada dibawah angin. Dalam keadaan yang gawat Wanyen Hong ingat akan pedang mustika Mo-hwee-kiam yang baru diperolehnya. Tanpa ayal lagi ia cabut pedang tersebut dan membacok pedang lawannya, yang lantas kutung dua dan jatuh ketanah."
Pato mengambil pula buah Toh.
"Orang bertopeng itu sangat lihay! Ketika mengundurkan diri, ia masih sempat menyerang dengan tangan kosong. Walaupun demikian dia sudah berada dibawah angin dan pukulan2-nya dengan mudah dapat ditangkis oleh Wanyen Hong. Tiba2 orang berkedok itu berteriak mengguntur dan mengangkat telapak-tangannya, untuk memukul! Itulah Lok-Mo-Ciang atau Telapax Tangan Maut Hijau! Dengan nekad Wanyen Hong membacok tangan lawannya yang sudah berkelebat depan matanya, berbareng ia lompat kebelakang. Orang berkedok itu menjerit kesakitan tatkala telundiuk tangannya terpapas kutung oleh Mo-Hwee-Kiam! Tapi tak urung telapak-tangannya membentur dinding hingga berlubang, hijau warnanya."
"Kie-su cianpwee,"
Pato bertanya terperanjat.
"Ilmu silat apakah Lok-Mo-Ciang itu? Bagaimana telapaktangan orang itu dapat bersinar hijau?"
"Pato,"
Jawab pendekar itu.
"sebagaimana kau ketahui, bagian bawah perut kunang2 dan pada tubuh binatang Ya-Kong-Tang mengeluarkan sinar hijau. Adapun kaum rimba persilatan menyebutkan ilmu itu dengan nama Lok-Mo-Ciang. Biasania orang yang berlatih ilmu dahsyat ini. menelan zat hijau dengan cara istimewa. Zat tersebut sangat beracun sekali. Dengan melewati waktu yang tiukup lama dan latihan iang berat dan sukar, maka apabila telah berhasil, akibatnyapun sangat hebat sekali."
"Begitu kedua belah telapak-tangan digosok, maka keluarlah sinar kehijauan. Siapa yang kena pukulan tersebut, sesaat itu juga kepalanya akan terasa pening, sedangkan penglihatannya menjadi kabur dan matanya ber-kunang2. Selain itu menyusul mana napasnya sesak. Zat hijau menembus kulit badan dan dalam waktu singkat saja orang itu akan binasa!"
Demikian Im Hian Hong Kie-su menerangkan secara panjang lebar.
"Alangkah hebatnya!"
Ujar Pato.
"lalu bagaimana selanjutnya dengan Wanyen Hong?"
Maka dilanjutkannya pula penuturan itu.
"Begitu Wanyen Hong melihat musuhnya melarikan diri, keringat dingin mengucur disekujur badannya, mengingat jiwanya hampir saja melayang. Setelah keluar dari goa batu, sang puteripun mainkan pedang pusaka itu. la menyalurkang tenaga-dalamnya, maka tampaklah pada ujung pedang keluar hawa panas dan asap putih yang mengepul-ngepul! Rupanya pedang siorang bertopeng tadi kena panas yang luar biasa, maka menjadi rapuh. Rasa terkejut dan gembira bercampur didalam hati Wanyen Hong. Tapi sebaliknya ia berpikir, apabila ia harus pergi ke Monggolia sebaiknya Mo-Hwee-Kiam tidak dibawa-bawa. Maka kembalilah ia kedalam goa, lalu ditiarinya sebuah sela batu dan pedang pusaka itupun disembunyikannya. Sekonyong-konyong terjadi sesuatu yang, mengejutkan! Tatkala Wanyen Hong ingin berlalu, tiba2 ia merasakan badannya lemas dan matanya terasa berat sekali. la menguap berkali-kali diserang rasa kantuk Yang tak terhingga. Ia mencoba mengerahkan tenaganya, tapi sia2 belaka. Baru saja ia melangkah beberapa tindak, atau badannia jatuh terkulai diatas tanah ... Rupania obat pengawet muda yang ditelan oleh sang puteri tadi kini mulai bekerja didalam tubuhnya. Tatkala ia terbangun pula, entah berapa lama ia telah tidur disana? Dan selain itu hatinya heran sekali mendapatkan dirinya terbaring diatas sebuah pembaringan yang empuk. Didalam ruang kamar ada lilin yang menyala dengan terangnya. Setelah diperiksanya lebih teliti, ternyata ruangan itu bukan lain daripada goa tadi dimana ia menyimpan pedang Mo-Hwee-kiam! Dengan perasaan heran, Wanyen Kongcu berfikir seorang diri .
"Bagaimana aku bisa berada disini?"
Tiba olehnya terdengar suara lemah-lembut disampingnya .
"Oh, rupanya kongcu sudah bangun?"
Bagaikan Kilat Wanyeng Hong membalikkan tubuhnya untuk menatap kearah orang yang bersuara itu.
Dialah Tio-Hoan, pengawal yang disayanginya, yang kini sedang berdiri menanti dibawah cahaya lilin.
Pakaiannya seperti untuk berpergian dimalam hari, serba hitam.
Dikepalanya ia memakai sebuah topi, sedangkan dipinggangnya terselip sebuah pedang yang panjang.
Wanyen Hong Kongcu merasa heran sekali, bercampur girang.
"Tio Hoan, bagaimana kau dapat mengikuti jejakku?"
Sambil membungkukkan dirinya, Tio Hoan menjawab .
"Setelah Kongcu menghilang selama dua hari Iamanya. maka aku menemukan jejak Kongcu, dan mengikutinya sampai didalam goa Buddha ini. Tak disangka olehku mendapatkan Kong-cu tergeletak dilantai. MuIa2, hatiku amtat terkejut, tapi setelah mengetahui Kong-cu hanya sedang tidur, barulah aku merasa lega. Aku telah memindahkan Kong-cu kekamar ini agar dapat beristirahat dengan lebin baik dan enak."
Wanyen Hong melihat bahwa pintu kamar batu tertutup semuanya. Perlahan-lahan ia menarik Tio Hoan untuk duduk disampingnya dan bertanya dengan suara merayu.
"Hoanko. Apakah kau hanya seorang diri saja mencari aku? Sudah jam berapa sekarang?"
Mengambil kesernpatan baik ini, Tio Hoan dengan hati berdebar memegang bahu sang puteri yang halus.
Bau harum semerbak menyambar masuk kedalam hidungnya.
Pada malam kemarin dulu Kongcu telah meninggalkan Kong-cu telah meninggalkan perkemahan dan kini sudah menjelang petang hari yang ketiga.
Kini-diluar sudah gelap.
Untung aku telah membawa sedikit arak dan daging untuk Kong-cu makan."
Setelah mana dikeluarkannya dari kantong kulitnya sebotol susu kuda dan daging yang sudah dimasak serta sepoci arak, semuanya itu ditaruh diatas meja dekat pembaringan.
Kedua muda-mudi itu sejak mula memang sudah saling menaruh hati, dengan muka bersemu merah mereka saling melirik mata.
Melihat Tio Hoan datang membawa daging dan arak, diwaktu perutnya tengah keruyukan, bukan kepalang rasa gembiranya Wanyen Hong.
"Hoanko. Mengapa kau begitu baik sekali terhadapku? Sekarang kita hanya berdua saja, baiklah kau lepaskan pedangmu dan mari kita minum bersama. Sesudah itu baru kita kembali keperkemahan."
Tio Hoan mengambil dua buah cangkir perak dan dituangkannya arak secangkir penuh untuk sang puteri. Seraya tersenyum diangsurkannya.
"Hoanko, mengapa kau berlaku sangat kaku terhadapku? Disini toh bukannya diistana. Aku ingin agar kau bertindak seolah-olah tiada orang lain selain kita berdua dan kau memanggil aku..."
Tia Hoan tersenyum.
"Hong-moay. Minumlah secangkir lagi. Setelah itu ada sesuatu yang hendak kukatakan kepadamu."
Wanyen Hong membalas dengan kerlingan yang menawan.
"Janganlah kau suruh aku minum seorang diri. Hoanko. Harap keringkan juga cangkirmu."
Begitulah kedua muda-mudi itu minum arak sepuas-puasnya. Akhirnya Wanyen Hong mengawasi Tio Hoan dengan pandangan yang menggetarkan sukma.
"Hoanko, apakah yang ingin kaukatakan kepadaku?"
Tio Hoan mesem, lalu mendekatkan mulutnya pada telinga sang puteri.
"Hong-moay, hari sudah jauh malam dan kitapun tidak mempunyai kuda, bagaimana kita dapat pulang? Bukankah lebih baik kita bermalam disini sadia..."
Waktu itu Wanyen Hong sudah dipengaruhi arak dan hatinya berdenyutan, namun ia masih berkata .
"Tidak! Kecuali jika kau tidur diluar !"
Suara tertawa Tio Hoan memecahkan kesunyian goa tatkala ia memeluk tubuh sang puteri yang padat menggairahkan.
"Kongcu, aku cinta padamu. Marilah kita menikmati kemanisannya cinta dimalam sunyi ini. Kongcu, kau membikin aku gila,"
Bisiknya dengan napas memburu.
"Hoanko, lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Menjerit Wanyen Hong seraya meronta-ronta.
Tapi apa daya?
Tubuhnya sudah lemas, tak berdaya dalam dekapan Tio Hoan yang makin erat.
Akhirnya Wanyen Hong, puteri dari negeri Kim, diam saja ...
Demikianlah akhirnya kisah sang puteri ...
dan bagaikan setangkai bunga yang indah, kini telah runtuh tercemar badai topan asmara yang menggelora ...
lilinpun melumer setetes demi setetes diatas meja, ibarat turut berduka dan menangis melihat nasib sang puteri bangsawan Kim yang malang, hilang kesuciannya ...
Ketika cahaya Sang Surya menusuk kedalam goa dengan garangnya.
Wanyen Hong terbangun dari impian yang bahagia, tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga.
Lilin sudah hahis terbakar dan pintu kamar kini sudah terbuka pula, namun dimanalah gerangan adanya Tio Hoan?
Dipanggilnya beberapa kali, tapi tiada yang menyahut.
Wanyen Hong mulai cemas, buru2 ia turun dari tempat pembaringannya.
Begitu melihat goresan kalimat diatas meja, sekujur tubuhnya merasakan seperti diguyur dengan es yang dingin!
Adapun kalimat itu berbunyi .
"Selamanya kau takkan mengetahui siapa aku ini, anggaplah peristiwa malam tadi sebagai suatu pembalasan sakit hatiku karena kau telah mengutungkan telunjuk tanganku!"
Wanyen Hong menjadi pucat pias, menggigil ia dengan hati hancur-l1uh. Namun harapan tipis masih menolak kenyataan malapetaka itu.
"Terang kulihat ia Tio Hoan,"
Ia menghibur dirinya.
Tergesa-gesa ia mengenakan pakaiannya yang tergeletak dilantai dan diambilnya pedang yang disembunyikannya pada selipan dinding batu.
Tampak keadaan kamar kalang-kabut, rupanya orang telah membongkar untuk mencari sesuatu.
Tahulah Wanyen Hong bahwa orang itu telah mencari pedang Mo-Hwee-Kiam!
Untung sekali orang itu tidak berhasil menemukannya.
Tak lama kemudian Wanyen Hong meninggalkan goa ketigabelas itu.
Dari jauh terdengar suara ramai-ramai, sambil mendekam dibalik sebuah batu besar ia mengintai.
Tak berapa lama kemudian kelihatan beberapa orang mendatang, diantaranya Tio Hoan yang mengenakan pakaian seragam perwira Busu.
Mereka berteriak-teriak memanggil namanya.
"Wanyen Hong Kongcu! Dimana kau ? Wanyen..."
Melihat gerak-gerik Tio Hoan, tersesaklah napas Wanyen Hong.
Gelagatnya semalam itu Tio Hoan belum pernah datang kedalam kegoa!
Kepalanya sakit bagaikan dipalu tatkala ia menarik diri kembali kedalam goa.
Dengan airmata mengalir deras dihapuskannya tulisan maut diatas meja, untuk kemudian dicabutnya tusukan gelungnya dan mencoret sebagai gantinya kata2 sebagai berikut .
"Selama hidupku ini, aku tak mempunyai muka lagi untuk bertemu denganmu. Kuminta agar kau jangan mencari aku lagi. Dari Hong sebagai kata terakhir, untuk Tio Hoan."
Selesai menulis, ditancapkannya tusukan gelung itu diatas meja dan ia sendiri diam2 menyelinap keluar.
Pada saat itu juga terdengar tindakan-tindakan kaki orang berlari dari kejauhan.
Mau tak mau Wanyen Hong terpaksa masuk kembali kedalam goa dan bersembunyi dibalik sebuah patung Buddha dari batu.
Baru saja ia bersembunyi dibalik patung, atau Tio Hoan berserta rombongannya sudah sampai ditempat persembunyiannya.
Terdengar salah seorang pengikutnya berseru .
"Tio Siwi, kita sudah mencari sejak kemarin malam, sampai kini bayangannyapun tak kelihatan. Mungkin juga Kong-cu tidak kesini."
"Aku dapat memahami bahwa cuwi sudah sangat lelah, tapi aku bersumpah selama masih bernapas untuk mencari dan mendapatkan Kong-cu. Setelah itu barulah aku akan kembali. Maka ada baiknya kalian pulang dahulu keperkemahan."
Itulah suara Tio Hoan! Wanyen Hong memejamkan matanya, tapi tak urung air mata keluar menbasahi matanya juga.
"Setelah kita mencari sekitar gunung Beng-See San, barulah kita tinggalkan tenapat ini,"
Demikian salah seorarg pengikut lainnya berseru.
Tiba2 mata Tio Hoan melihat dibalik sebuah patung batu terdapat ...
pintu rahasia!
Sambil berseru kegirangan ia menyuruh kawan2nya untuk mengikutnya masuk kedalam kamar rahasia itu.
Tak henti2-nya mereka memanggil-manggil nama Wanyen Hong beberapa kali, tapi mendadak berhenti suara2 itu!
Wanyen Hong mengetahui bahwa Tio Hoan telah melihat tulisannya diatas meja, bukan kepalang rasa pedihnya.
Bagaikan tersayat pisau, hatinya duka sekali sehingga ahirnya tak dapat menahan diri lagi dan jatuh pingsan.
Sayang seribu sayang.
Tio Hoan tidak mengetahui bahwa sang puteri yang sedang, dicarinya sedang pingsan dibelakang patung.
Yang dilihatnya adalah tanda bekas telapak tangan yang berwarna hijau diatas dinding tembok.
Diselidikinya lebih lanjut disekitar ruangan kamar itu, dan tak beberapa lama ditemukan pula sebuah telunjuk tangan manusia menggeletak dilantai.
Celaka!
Dengan tak disengaja waktu berada diluar Tio Hoan menyentuh sebuah patung Buddha dan...
terdengarlah suara menggelegar tatkala pintu kamar rahasia tertutup pula.
Ber-putar2 mengelilingi goa, mereka tak dapat menemukan pintu tadi lagi.
Akhirnya Tio Hoan mengajak kawan2nya meninggalkan Beng-See San untuk kembali keperkemahan....
Hari sudah mulai gelap tapi Yalut Sang dan Pato tak memperhatikannya, mereka asyik mendengarkan cerita yang hebat itu.
Im Hian Hong Kie-su pun melanjutkan kisahnya.
Setelah Wanyen Hong siuman kembali dari pingsannya, ia menangis ter-sedu2.
la bersumpah akan mencari jahanam yang bertopeng itu, yang telah menyamar sebagai Tio Hoan.
la.
telah membacok kutung telunjuk jari tangan jahanam itu.
Maka kelak tak susah untuk mencari Iblis itu!
Pada hari itu juga, dengan diam2 Wanyen Hong meninggalkan goa Cian Hut Tong dan pergi kearah utara.
Beberapa hari kemudian, tibalah ia diperbatasan kota Giok-bun-koan.
Disana ia menginap disebuah tempat penginapan dan pada malam harinya ia mengenakan pakaian hitam dan tutup muka.
Adapun maksudnya ialah untuk mencegat setiap orang yang lewat disana dan memeriksa apakah ada yang telunjuknya hilang.
Akhir2-nya sampai ditengah hari bolongpun ia mencari musuh jahanamnya, begitu hebat kebenciannya.
Namun dibalik kekejaman wajahnya, diterang cahaya mata tersembunyi ....
yang menggambarkan kelesuan dan kelelahan yang dalam dan mencekam.
Banyak orang biasa yang menjadi korban, dibunuh daiam kebencian yang memuncak terhadap setiap laki2.
Banyak pula diantaranya pendekar2 yang memberikan perlawanan dan mati terbunuh ditangan Wanyen Hong, yang seolah-olah menjadi gila.
---oo0dw0oo---Demikian setengah tahun telah lewat, namun Wanyen Hong belum berhasil juga menemukan musuhnya.
Dan sementara itu, ia merasakan perubahan pada tubuhnya ...
ia telah hamil!
Perasaan gusar, benci dan cemas menyerang jiwanya, terpaksa kini ia menyingkir dahulu ketempat sepi, digurun pasir.
Dicarilah sebuah lembah yang penuh pohon untuk menyembunyikan diri, untuk...
menantikan kelahiran sang bayi.
Sungguh Kismet (Nasib) sedang mencoba diri Wanyen Hong.
Obat pengawet muda yang ditelannya sekaligus satu botol, kini mulai memperlihatkan khasiatnya.
Obat yang dibuat oleh Kat Hong, yang terdiri dari ramuan2 ajaib dipogunungan Lohu-san, memperpanjang juga waktu tidur dan waktu melek!
BegituIah sekali orang tidur akan memakan waktu satu bulan lamanya, terus menerus tak bisa bangun.
Sebaliknya begitu orang bangun dan mulai melek, ia takkan dapat tidur pula selama satu bulan lamanya!
Pembaca biasa tidur diwaktu malam dan melek diwaktu siang, bukan?
Tapi orang yang minum obat pengawet muda dari Kat Hong itu, boleh tidur siang malam terus menerus selama satu bulan lamanya dan melek siang malam satu, bulan lamanya pula!
Sebab itulah, karena satu bulan sama dengan satu hari dan satu bulan sama dengan satu malam, maka daya ketuaan tidak menyerang tubuh sang puteri.
Dan puteri itu akan tetap muda-belia, tetap ...
cantik-jelita.
Wanyen Hong belum mengetahui khasiat obat tersebut dan apa yang telah menimpah dirinya.
Ketika ia pertama kali tidur dirimba Ang Liu Wi ditengah-tengah gurun pasir, tidurlah ia selama satu bulan!
Tapi sangat kebetulan sekali, tidak jauh dari rimba Ang Liu Wi ada seorang bernama Hay An Peng.
la gemar sekali menangkap unggas yang aneh untuk dipeliharanya.
Setiap hari ia berburu dirimba Ang Liu Wi.
Ketika itu Hay An Peng sedang berjalan seraya bersiul-siul.
Tiba2 tampak olehnya Wanyen Hong yang sedang tidur itu.
"Dasar malas perempuan ini, kalau aku suaminya, kuceraikan dia!"
Comelnya seorang diri.
Dikiranya mula2 wanita itu adalah isteri orang dari desa dekat yang datang kerimba untuk mencari kayu bakar, tapi malahan tidur.
Maka iapun tak mau mengusiknya.
Tetapi keesokan harinya tatkala ia datang pula ketempat itu, dilihatnya wanita itu masih tertidur juga Demikian beruntun beberapa hari, Hay An Peng merasa heran sekali.
Dihampirinya wanita itu untuk melihat lebih jelas.
Ia menjadi terkejut, tatkala yang dilihatnya itu adalah .., puteri raja dari negara Kim, Wanyen Hong!
Adapun Hay An Peng adalah bangsa Kim juga.
Dulu ia menjadi tukang kebun di istana negeri Kim, maka segera dikenalinya puteri Wanyen Hong.
la masih ingat, tatkala menjadi tukang kebun, puteri itu masih kecil dan baru belajar ilmu silat kegunung Tiang Pek San.
Tak lama kemudian tentera Monggolia menyerang negeri Kim.
Karena mengalami kekalahan, raja Kim memindahkan kota kerajaannya dari Yan Keng, (sekarang Peking), ke Pian King.
Sedangkan ia sendiri ditawan perang, untuk dibawa pergi Monggolia.
Tatkala lewat diperbatasan Giok-bun-koan, ia berhasil meloloskan diri.
Hay An Peng yang menjadi tawar hatinya akan keramaian dunia, maka iapun memasuki daerah gurun pasir untuk mencari sebidang tanah padang rumput.
Bersama kawan2 lainnya yang dapat meloloskan diri, ia membangun sebuah desa.
Melihat Wanyen Hong yang tidur terlentang deng perutnya yang sudah besar, Hay An Peng gemetar kepucatan.
Tentu ada sebab-musababnya yang belum diketahui pikirnya dalam hati.
Terharu diangkatnya sang puteri kepunggung kudanya, dan diletakkannya dengan hati2 sekali.
Setelah itu dibawanya sang puteri pulang kerumahnya.
Ketika itu isterinya baru melahirkan seorang anak perempuan yang romannya jelek sekali.
Anaknya itu diberi nama Tai-tai.
Bersama isterinya, Hay An Feng menunggu siumannya Wanyen Hong dengan penuh rasa kuatir.
Dua hari lewat.
Dua minggu!
Wanyen Hong tak berhenti tidur sampai genap satu bulan lamanya.
Melihat orang mulai mendusin, Hay Ay Peng girang sekali, lalu menghampiri untuk memberikan hormat.
Ditanyakannya sampai bagaimana sang puteri dapat tidur dalam rumah dan mengapa sampai sekian lamanya tidak bangun.
Mendengar pertanyaan orang2 itu.
Wanyen Hong menangis tersedu-sedu.
Dengan ter-putus2 diceritakannya pengalaman pahitnya, bagaimana ia terjatuh kedalam jurang kehinaan yang telah dilakukan oleh seorang yang tidak dikenalnya.
Juga diceritakannya tentang obat pengawet muda yang telah ditelannya, yang menyebabkan ia tidur pulas sebulan lamanya.
Wanyen Hong mehon pertolongan kepada Hay An Peng agar ia diberi tempat tinggal sampai bayinya dilahirkan.
Setelah itu barulah ia berniat untuk mencari lagi musuhnya yarg telah menyamar sebagai Tio Hoan.
"Bahwa aku yang rendah dapat kesempatan untuk menolong Kongcu, sudah terhitung suatu haI yang luar biasa dan adalah merupakan suatu kurnia yang datang dari Thian. Jika ada sesuatu yang diinginkan Kongcu, walaupun harus menerjunkan diri kedalam Iautan api, aku Hay An Peng takkan menolaknya"
Wanyen Hong merasa legah.
"Bayi yang berada dalam kandunganku, adalah darah daging musuhku, kelak apabila ia dilahirkan dan tak perduli laki2 atau perempuan, aku harap kau merawatnya sampai menjadi dewasa. Sementara itu aku akan mengajarinya ilmu silat untuk kelak dapat membunuh ayah jahanamnya dengan tangan sendiri!"
Wanyen Hong berhenti sebentar untuk menahan jantungnya yang berdebar keras.
"Namun demikian aku tak sudi mengakui anak itu sebagai anakku sendiri! Apakah kau ada suatu usul yang baik untuk menyelesaikan persoalan yang sulit ini?"
"Kongcu tak usah bersedih,"
Jawab Han Ay Peng segera.
"tunggulah saja sampai anak itu dilahirkan. Nanti baru kita pikirkan bagaimana baiknya untuk diatur."
Tak lama kemudian Wanyen Hong melahirkan seorang puteri!
Hay An Peng menyuruh isterinya untuk menyusuinya dan diperlakukan seperti anak-kandungnya sendiri.
Pada suatu hari, sebagaimana biasanya, Hay An Peng pergi untuk berburu burung.
Tatkala ia kembali dari hutan, dilihatnya seorang berpakaian hitam bersembunyi dibalik pagar perkarangan rumahnya.
Baru saja ia ingin berteriak, atau orang itu sudah menyelinap kebelakang pohon dan lekas2 ia susul, tapi orang itu sudah menghilang.
Malam hari itu juga diceritakannya kepada Wanyen Hong perihal orang yang berpakaian hitam tersebut.
"Kongcu, menurut pandanganku orang itu mencurigakan sekali. Kemungkinan besar dia bermaksud untuk mengetahui jejak Kongcu. Jikalau pada hari biasa Kongcu berada disini, aku tidak merasa kuatir. Tapi sekali Kongcu harus tidur yang memakan waktu satu bulan lamanya, dan musuh datang tepat pada waktu itu, bukankah itu berbahaya?"
Mereka berunding untuk bagaimana sebaiknya menjaga keamanan.
Hay An Feng teringat bahwa didalam hutan An-Liu Wi terdapat sebuah kota tua yang sudah lama, tidak dikunjungi orang.
Tempat itu baik seka!i untuk, dipergunakan sebagai persembunyian.
Mendengar keterangan itu, Wanyen Hong tertarik hatinya lalu menyuruh membuat persiapan dan mengatur segala sesuatu yang perlu.
Alkisah maka bersemayamlah puteri negeri Kim di Kota Hitam.
Begitulah tanpa terasa, setahun lewat Wanyen Hong tinggal didalam Kota Hitam Hek Sia sambil meyakinkan ilmu silatnya secara tekun.
Pada suatu hari tatkala ia sedang membersihkan ruangan, terlihat olehnya dari salah sebuah kamar yang gelap terpancar cahaya putih.
Dengan heran dihampirinya kamar itu dan setelah dibukanya, ternyata adalah tempat menyimpan barang-pusaka.
Pada dinding tergantung sebuar cermin yang terbuat dari tembaga dan di-tengah2nya tersisip sebutir mutiara sebesar biji lengkeng.
Cahaya putih datangnya dari butir permata itu!
Tentunya benda itu adalah semacam mustika yang tiada taranya dikolong langit.
Kemudian diberitahukannya hal penemuan itu kepada Hay An Peng.
Pada cermin itu terdapat ukiran huruf2 sebagai berikut .
Tanghay Ya Kong Cu Teng Hong San Bu Pek Kiam Tin Sun Yang artinya adalah "Mutiara dari Lautan Timur yang dapat memancarkan sinar diwaktu malam, dapat menentramkan taufan dan membuyarkan kabut, minghindarkan pedang dan menaklukan yang sesat."
"Ini adalah suatu rejeki yang besar bagi Kongcu!"
Ujar Hay An Peng dengan girangnya.
"Mudah2an dalam waktu singkat Kongcu sudah dapat membunuh musuh!"
Mendengar ucapan Hay An Peng itu, Wanyen Hong menqucurkan airmata ia pula.
"Hingga kini aku masih belum dapat mengetahui siapakah gerangan musuhku itu. Sedangkan anakku kini sudah berusia lima belas tahun. Apabila rahasia ini sampai bocor, Iblis itu pasti datang mencari aku."
Hay An Peng dapat menangkap maksud perkataan sang putri, bahwa Wanyen Hong sebenarnya merasa kuatir ia dan isterinya akan membocorkan rahasianya.
Tapi Hay An Peng menentramkan hati sang puteri dan malam itu juga isterinya diberitahukan agar menutup rahasia dengan baik2.
Mengengar sang suami memberi penjelasan padanya, maka sang isteri yang berbudi luhur itu menjawab .
"Alkisah dijaman dahulu, tatkala Thay Cun Tan menugaskan kepada Keng Kho untuk membunuh Cin Ung (Raja negara Cin), ia merasa kuatir rahasianya akan dibocorkan oleh Chan Kong. Sebaliknya demi untuk menunjukkan kesetiaannya, Chan Kong sampai membunuh diri! Kini aku sudah berusia limapuluh tahun, apa sayangnya untuk mati?"
Selesai berkata, mendadak dicabutnya pisau pendek yang terselip dipinggangnya lalu ditublaskannya kedalam perutnya!
Tepat dihadapan sang suami!
Gerakan Hay An Peng untuk merebut pisau terlambat sedetik.
Menyaksikan tindakan isterinya yang agung itu, Hay An Peng terharu bukan kepalang.
Maka iapun minum obat beracun hingga menjadi gagu.
Kemudian ia menulis surat tanda kesetiaannya atas nama isteri dan ia sendiri, terhadap puteri raja Kim itu.
Dalam surat itu diterangkan bahwa adapun ia sendiri belum membunuh diri adaIah semata-mata karena anak dari Wanyen Hong masih harus dibesarkan.
Sebagai gantinya ia telah mencacadkan dirinya, hingga menjadi gagu.
Selanjutnya puterinya sendiri Tai-tai akan dijadikan sebagai pelayan untuk anak sang puteri.
Tapi anak sang puteri itu dianggap sebagai anak Hay An Peng, dengan diberi nama Hay Yan.
Maka dengan cara demikian rahasia dapat disimpan untuk selama-lamanya.
Demi diketahuinya bahwa suami-isteri Hay telah mengorbankan diri untuk keselamatannya, Wanyen Hong kesima sekali hingga gemetar sekujur tubuhnya.
Tak dapat kiranya menyampaikan rasa terima kasihnya dengan ucapan2 kata saja.
Begitulah pada hari2 berikutnya, Wanyen Hong mendidik dan melatih Tai-tai bersama puterinya sendiri, Hay yan.
Siang bertemu malam, malam bertemu siang.
Kedua anak itu digembleng ilmu silat dengan sungguh2.
Adapun yang diajarkannya adalah ilmu dari kaum Tiang Pek Bu-pay yang aseli dan hebat.
Desa Hay-Kee-Chun letaknya hanya kurang lebih duapuluh li dari rimba Ang-Liu-Wi.
Tiap kali Wanyen Hong harus tidur, maka dititahkannya Hay Yan untuk menjaga istana kuno yang terpendam itu sampai ia mendusin lagi sebulan kemudian.
Tanpa terasakan lagi, tahun berganti tahun sedangkan kedua gadis itu sudah mulai dewasa.
Tai-tai semenjak kecilnya memang sudah kelihatan ketololannya, tapi ia polos dan jujur.
Diketahuinya bahwa ayahnya telah dengan sengaja menjadikannya seorang pelayan demi untuk keselamat sang puteri negara Kim.
Ditambah itu pula, Tai-tai membuat dirinya lebih tolol, agar tidak sampai ketahuan rahasia yang tersembunyi.
Tujuhbelas tahun telah lewat tanpa terjadinya sesuatu yang mengerikan.
Wanyen Hong yang sebegitu lama belum juga berhasil menemukan musuhnya, lambat-laun sifatnya berubah menjadi kejam.
Kebenciannya berpindah terhadap kaum laki2!
Dianggapnya semua laki2 berhati binatang, jahat.
Perusak wanita.
Lebih-lebih terhadap orang2 kang-ouw.
Maka terpengaruh oleh pikiran gila itu, akhir2 ia menjadi seperti seorang yang tidak beres.
Hatinya kejam!
Ia tak segan2 untuk menurunkan tangan jahat.
Banyak pendekar yang telah binasa diujung pedangnya.
Demikian pula dengan anaknya Hay Yan!
Tidak bedanya mewarisi sifat ibunya yang telengas.
tidaklah heran apabila orang2 disekitar perbatasan Giok-bun-koan memberi Wanyen Hong julukan dengan nama Hek Sia Mo-lie atau Wanita lblis dari Kota Hitam!
Wanyen Hong sering termenung.
Walaupun ia mempunyai negara, tapi ia tak dapat kembali.
Sebaliknya ia bersembunyi di istana tua dengan dikawani binatang rase dan sebagainya.
Didalam rimba ia tak dapat bergaul sebagaimana seorang bergaul dalam masyarakat.
Bila diingat lebih mendalam adapun sebab mulanya tak lain adalah bahwa ia telah diutus ke Monggolia untuk perdamaian.
Dan hawa amarahnya berbalik kepada bangsa Monggol.
Sebab itulah tiap kali ia bertemu dengan seorang Boe-su Monggol, maka takkan luputlah orang itu dari kematian.
Ia telah membuat sebuah kedok yang dipakainya tiap kali ia keluar mencari mangsa.
la menyamar dengan pakaian hitam menyeramkan.
Waktu ia harus tidur, disuruhnya Tai-tai untuk menjagainya, sedangkan Hay Yan menggantikan dirinya pergi berkelana untuk membunuh.
Dengan mengenakan kain tutup muka dari sutera dan dipinggangnya tersisip pedang, Hay Yan agak berlainan rupanya dengan Hek Sia Mo-lie.
Ia lebih muda.
Orang yang melihatnya mengira bahwa ia itu tidak lain daripada puteri Hek Sia Mo-lie, maka ia dijuluki dengan nama Wie Mo Yauw-li .....
Begitulah akhir kata Im Hian Hong Kie-su menguraikan secara panjang lebar tentang peristiwa puteri Wanyen Hong.
Yalut Sang dan Pato mendengarkannya dengan terheran-heran.
"Kiranya gadis yang kujumpai itu adalah Hay Yan, anak perempuan dari Wanyen Hong! Celaka! Kalau begitu, saudaraku Gokhiol jiwanya terancam!"
"Pangeran Pato"
Sahut Im Hian Hong Kie-su "rasa cinta persaudaraanmu sungguh patut dipuji! Menurut dugaanku sibaju hitam telah memperalat Gokhiol untuk melawan Wanyen Hong!"
"Kalau begitu"
Jawab Pato dengan suara terkejut.
"biarlah aku sekarang pergi ke Ang-Liu-Wi untuk menolong Gokhiol!"
Yalut Sang buru2 menyela.
"Pato! Goan-swee hanya menitahkan kepadaku untuk membawamu bertemu dengan Kie-su. Bila kau ingin pergi ke Ang-Liu-Wi, bukankah sama halnya mengantarkan seekor anak domba kesarang macan? Jika terjadi sesuatu atas dirimu, bagaimana aku dapat berhadapan muka lagi dengan ayahmu?"
"Tidak!"
Jawab Pato dengan suara yang nyaring, sebagaimana suhu ketahui, sebelum meninggalkan Holim aku telah berjanji kepada ayah bahwa aku akan membekuk musuh Gokhiol itu.
Dan apabila aku belum berhasil aku telah mengatakan kepada ayah, bahwa ia tak usah menganggap aku sebagai puteranya lagi!
Selain itu pedang Ang-liong-kiam yang telah dirampas dari tangan Gokhiol, akan kurebut kembali dari tangan musuh!"
Sejenak Pato berhenti sambil menarik napas dan meneruskan dengan suara yang bersemangat .
"Suhu, ayahku adalah ibarat sebagai seekor singa, jantan dari Mongolia! Maka perbuatanku untuk menolong Gokhiol bagaimana ia dapat menyalahkan kepadamu?"
Mendengar ucapan sipangeran, mau tidak mau Im Hian Hong Kie-su yang, didalam hati kecilnya membenci bangsa Mongol berbalik merasa simpati terhadap Pato.
"Lauwte, perkenankanlah muridmu untuk pergi mencari pengalaman sedikit didunia kang-ouw!"
Ujarnya. Yalut Sang menggelengkan kepalanya.
"Kie-su, kau lupa bahwa Pato adalah cucu dari Jenghiz Khan. Kelak iapun mungkin mendapat warisan untuk menaiki takhta Kerajaan Monggolia, mana boleh...."
Belum selesai Yalut Sang berkata, Im Hiaan Hong Kie-su telah memotongnya dengan tersenyum kecil ia berkata .
"Lauwte, kau tak dapat menjejaki perasaan muridmu. Inilah ketika yang baik untuknya dan kelak apabila ia naik takhta, maka ia sudah menjadi seorang ksatria yang bepengalaman luas? Aku situa, meskipun tak pandai, sudi mengikutinya dari belakang untuk melindunginya setiap waktu dia mengalami bahaya. Perkenankanlah ia pergi!"
Pato merasa gembira sekali mendengar kesediaan Si penunggu Puncak Gunung Maut untuk membantu secara diam2.
Buru2 ia berlutut dihadapan Im Hiann Hong Kie-su untuk menunjukkan rasa hotmatnya.
Terpaksa Yalut Sang mengucapkan terima kasih.
"Jikalau kie-su bersedia mengikuti murtdku serta membantunya, maka Aku tidak berkeberatan."
Datuk dunia rimba-hijau itu tersenyum.
"Kau tak usah mengucap terima kasih. Memang sudah nasibnya bahwa aku situa bangka turun gunung! untuk memenuhi permintaan Tiang Pek Lo-ni. Sekarang aku ada permohonan terhadapmu sebelum menemukan Wanyen Hong"
Kedua orang itu serentak mendiawab .
"Katakanlah? Kami pasti akan menyetujuinya."
"Baiklah,"
Jawab pendekar besar itu.
"Lohu masih ada suatu rahasia yang belum diceritakan. Baiklah kututurkan dahulu disini secara singkat."
Segelas air diteguk oleh Im Hian Hong Kie-su, lalu bercerita .
"Adapun laki2 berkedok hitam yang telah mencemarkan. Wanyen Hong Kong-cu, bukan hanya sang korban yang belum berhasil mencari tahu siapakah orang itu. Bahkan Sin-Ciang Taysu serta muridnya Liu Bie selama tujuhbelas tahun ini belum juga dapat membongkar rahasia manusia rendah itu!"
"Siapa dia dan apa partainya, kita dalam keadaan gelap! Sungguh perbuatan kegilaan yang tidak mengenal rasa malu, sehingga hebat sekali bencana yang akan menimpa perguruannya. Setelah orang itu mendapatkan obat pengubah rupa, maka sukar sekali untuk kita ketahui bentuk muka aslinya. Tiap kali ia merubah mukanya, bahkan akhir2 ini ia telah mengubah mukanya sedemikian rupa sehingga mirip sekali dengan wajahku! Bedebah!"
Pato tertawa.
"Namun demikian masih ada jalan. Petunjuk pertama ialah bahwa orang itu kehilangan sebuah telunjuk tangan kanannya. Dan kedua, orang ini pasti terus menerus akan memperalat Gokhiol. Ketika di Ban-Coa-Kok, ia telah menolong Pato dan Gokhiol serta pada waktu itu ia mengetahui pedang Ang-liong-kiam serta hal ikhwalnya. Maka timbullah akal bulusnya dan menurut dugaanku kini ia berpura-pura menyimpan pedang pusaka tersebut."
Pato, yang sifatnya sangat berangasan, tanpa menunggu orang habis bercerita lantas memotong .
"Pedang Ang-liong-kiam hanya pedang peninggalkan mendiang ayah Gokhiol, Tio Hoan. Maka apa gunanya, bukankah pedang yang lebih bagus masih banyak terdapat dikolong langit ini? Dan apa yang membuat dia tertarik merampasnya?"
"Kau dibesarkan di Monggolia,"
Jawab Im Hian Hong Kie-su tersenyum.
"suhumupun bukan orang asli dari Tiong-goan, hingga dengan sendirinya iapun belum mengetahui tentang hal ikhwal Ang-liong-kiam. Baiklah, kuceritakan agar menjadi jelas bagi kalian!"
"Menurut catatan dari kitab2 pedang, dahulu kala dijaman Sam Kok, Co Coh memperoleh dua bilah pedang mustika. Adapun yang satu disebut dengan nama Ie-thian-kiam dan satunya lagi Ang-liong-kiam. Co Coh sebenarnya lebih suka pada pedang le-thian-kiam, sebab dahulu pemiliknya Wan Sut yang memperolehnya sebagai pusaka turun temurun dari leluhurnya. Keluarga Wan sudah tujuh turunan menjabat sebagai pegawai tinggi dikerajaan Han. Maka dengan sendirinya pedang simpanannya itu tiada bandingannya dikolong langit. Sebab itulah Co Coh menganggap pedang Ie-Thian-kiam sebagai benda kesayangannya, setiap pergi tak lupa dibawanya. Pada waktu itu Co Coh mengadakan perjamuan malam di Cek Pek dengan membuat sajak. Pedang Ie-thian-kiam tak lupa tergantung pada pinggangnya. Apa lacur Yang Ciu Cek-su Lauw Hok telah berani menyebtkan kata2 yang menghina Co Coh dalam sajaknya. Saking gusarnya Co Coh menghunus pedang Ie-thian-kiam dan membunuh Lauw Hok."
Setelah hilang rasa arak yang membuat ia lupa daratan, Co Coh pura2 merasa menyesal. Pedang Ie-thian-kiam disimpannya dan sebagai gantinya disarungkan-nya pedang "Ang-liong-kiam."
Tatkala Co Coh memimpin pasukannya untuk memukul daerah See-Liang, ia terkalahkan oleh Ma Jiauw.
Diantara keributan, buru2 Co Coh mencukur habis jenggotnya serta pakaian luarnya dilemparkannya kedalam kali.
Lalu ia menyusup diantara rombongan orang banyak dan meloloskan diri!
Berbarengan itu pula pedang Ang-liong-kiam hilang pula didaerah barat laut.
Setelah peristiwa tersebut.
Pedang-Naga-Merah ber-ulang kali pindah tangan dan akhirn}a jatuh ditangan Tio Hoan.
Karena riwayatnya yang hebat inilah, membuat orang yang menyamar sebagai diriku tertarik pada senjata itu!"
Yalut Sang dan Pato mendengarkan dengan rasa kagum cerita Im Hian Hong Kie-su, yang meskipun mengasingkan diri dari kalangan kang ouw, tapi pengetahuannya sangat luas.
"Jika bukan kie-su yang menceritakan perilhal Ang-liong-kiam,"
Kata Pato.
"aku kira Gokhiol sendiripun belum mengetahui tentang pedang peninggalan mendiang ayahnya itu. Tadi cianpwee mengatakan bahwa ada suatu permintaan yang ingin cianpwee kemukakan. Silahkan cianpwee menebutkannya."
"Siapa suruh kau memotong pembicaraanku,". jawab Im Hian Hong Kie-su sambil tertawa.
"Beginilah! Nanti, apabila kau berjumpa dengan Gokhiol, kau sekali-kali jangan menceritakan tentang masih hidupnya Wanyen Hong kongcu. Kau harus pegang teguh rahasia ini! Juga kau tak boleh memberitahukan bahwa sibaju hitam itu bukannya Im Hian Hong Kie-su. Sebab apabila rahasia ini sampai di ketahuinya, maka saudaramu Gokhiol takkan nanti menemukan musuh besar mendiang ayahnya!"
Yalut Sang belum dapat menangkap maksud orang, iapun hanya mendengarkan dengan mulut ternganga. Demikian pula Pato yang serentak mengajukan pertaniaan .
"Maafkan aku, Kie-su cianpwee. Aku belum dapat menangkap arti maksud perkataanmu."
Im Hiam Hoing Kie-su tersenyum.
"Tadi telah kujelaskan kepada kalian, bahwa sibaju hitam yang menyamar sebagai aku bermaksud mempergunakan Gokhiol? Nah, kita harus membiarkan orang itu melakukan akal bulusnya! Biarkanlah dia mempergunakan Gokhiol sebagai umpannya dan kelak dirinya sendiri akan masuk perangkap! apabila Gokhiol dikasi tahu terlebih dahulu, bukankah hal itu sama juga seperti kita menggeprak rumput untuk mengusir sang ular ?"
Kedua orang itu kini mengerti maksud Sipenunggu Puncak Gunung Maut.
"Kami berdua akan memperhatikan permohonan kie-su serta mentaatinya dengan sungguh2! Kini Pato kuserahkan ketangan kie-su dan kuharap kau melindunginya dengan baik2"
Yalut Sang memohon diri sambil memberikan hormatnya kepada Im Hian Hong Kie-su.
Setelah itu iapun meninggalkan pegunungan Siauw Pa San dengan terlebih dahulu memberikan beberapa pesanan kepada muridnya.
la pulang kembali ke Holim untuk melaporkan hal ikhwal Pato kepada Jendral Tuli.
---oo0dw0oo---Berikutnya kisah ini akan terbagi menjadi dua bagian.
Adapun cerita yang pertama mengisahkan Gokhiol yang sedang terkurung dibawah tanah didalam sebuah lubang gelap.
Hanya dengan melihat dari antara celah2 tutupan diatas ia dapat membedakan hari siang dan malam.
Apabila sinar2 lenyap, tahulah ia, bahwa hari telah malam dan iapun beristirahat dengan merebahkan did.
Apabila dahaga, ditadahnyalah air yang mengalir turun dari atas batu gunung untuk kemudian dihirupnya dengan lahap sekali.
Demikianlah tanpa dirasakan lagi hari berganti hari telah dilewatkannya didalam goa itu.
Empat hari telah lalu.
Sementara itu perut pemuda kita mulai terasa keroncongan.
la berpikir dalam hati, andaikata tidak mati karena terkurung dibawah tanah, ia mungkin akan mati juga karena kelaparan.
Tatkala itu badannya sudah letih sekali, dan remang2 matanya mengawasi kearah tutupan diatasnya.
Tiba2 terdengar suara gedebrukan!
Menyusul mana cahaya menyorot kedalam goa!
Gokhiol menjadi silau matanya melihat sinar matahari yang terang-benderang itu.
Ia menengadah keatas dan melihat tubuh seseorang, manusia!
Cilaka!
Kini Hek Sia Mo-lie datang menghabiskan nyawanya!
Mendadak dari atas meluncur seutas tali yang diturunkan cepat kepadanya, sedangkan diujung tali terkait sebuah rantang.
Baru saja rantang itu menyentuh tanah, maka disentaklah dari atas sehingga rantang terlepas dari kaitan.
Dan tali meluncur pula keatas.
Tak beberapa lama kemudian terdengar suara orang berkata .
"Kongcu, sekarang ini kau merasa dahaga dan lapar, bukan? Silahkan! kau ambil makanan dan minuman yang terdapat dalam rantang. Siociaku telah menitahkan aku untuk mengantantarkan kepadamu. Dan nanti ia akan datang sendiri kemari untuk menjumpai kau. Hi-hi-hi !"
Dialah Tai-tai!
Belum selesai Gokhiol tertepas dari keheranannya atau tiba2 sudah terdengar pula suara menggelegar, tanda batu penutup lobang telah didorong kembali ketempatnya semula.
Gokhiol membuka rantang itu.
didalamnya terdapat sepiring daging masak, kue mantouw, sebotol susu kuda dan air didalam sebuah kantong kulit.
Tanpa memikirkan sesuatu pula pemuda kita menyerbu hidangan itu dengan lahapnya.
Ia tak sempat lagi memikirkan apakah makanan itu beracun atau tidak.
Semua makanan habis disikatnya, sedangkan susu sebotolpun habis pula diminumnya!
Kini semangat pemuda kita mulai bangkit kembali!
Setelah selesai makan, Gokhiol mulai berpikir bagaimana Tai-tai sampai dapat mengunjungi Kota Hitam ini?
Sedangkan yang dimaksud dengan Siocianya tentunya tidak lain daripada Hay Yan.
Tapi bukankah yang mengurungnya di dalam tanah ini adalah Hay Yan sendiri?
Ah, tak salah lagi!
Kini baru ia mengingatnya, Hay Yan adalah...
Wie Mo Yauw-lie!
Hay Yan adalah bagaikan seorang iblis, bagaimana mungkin ia berperikamanusiaan untuk membawakannya makanan?
Tentu ada maksud yang kurang baik yang terkandung dalam hati si ular cantik itu.
Berpikir sampai disitu, Gokhiol memejamkan matanya sambil menantikan bahaya datang!
Demikianlah pikirannya melayang-layang membayangkan wajah sigadis yang cantik rupawan.
Tapi sebaliknya setelah peristiwa terakhir dimana sang gadis berpura-pura tidak mengenalnya, tatkala ia untuk kedua kalinya datang ke Hay-Kee-Cun, hatinya menjadi benci sekali!
"Apa perlunya aku memikirkan gadis yang tak berperikemanusiaan itu!"
Demikian ia menggerutu seorang diri.
Tanpa terasa lagi ia mulai melengat-lenggut.
Gokhiol tidur dengan nyenyaknya.
Baru pada tengah malam ia mendusin, tatkala badannya ada yang goyang-goyangkan.
dengan perlahan.
"Tio Kongcu, bangunlah! Aku kemari untuk menengoki kau. Tentunya kau merasa benci sekali terhadapku, bukan?"
Terdengar suara yang merdu...
Gokhiol mengendus wewangian yang menembusi lubang hidungnya.
Dibukanya kedua matanya dengan pelahan-lahan dan pertama-tama yang nampak olehnya adalah sebuah lampu terletak diatas tanah.
Dan dihadapannya seorang gadis cantik-jelita tengah mengawasinya dengan pandangan mata yang redup2 alang.
Gadis itu tak lain adalah Hay Yan!
Kali ini sicantik mengenakan pakaian seperti pertama, kali ia berjumpa dengannya di Hay-Kee-Cun.
Sambil tersenyum simpul gadis itu mengawasi pemuda kita dengan kemalu-maluan.
Dan sikap kemalu-maluan itulah yang membuat sigadis makin manis dipandang.
Pemuda kita masih tak percaya akan apa yang tengah dihadapinya.
Dikucak-kucaknya matanya sambil berpikir apakah ia bukannya sedang bermimpi?
Dan setelah itu matanya terbelalak.
Tidak salah, apa yang berpeta dihadapannya adalah benar2!
Dengan perasaan terkejut bercampur girang, pemuda kita memandang gadis yang berdiri dihadapannya itu.
Tapi tak lama kemudian hatinya menjadi mendongkol dan timbul rasa bencinya.
Lekas2 ia bangkit dengan gusarnya sambil berteriak "kiranya kaulah Wie Mo Yauw-lie!
Aku telah membuka kedokmu yang palsu itu!
Sekarang aku sudah ditanganmu, apalagi yang kau tunggu?
Mari kita bertempur sampai mati.
Kau tak usah ber-pura2 lagi!"
Melihat kegusaran sipemuda, hati Hay Yan terasa pedih sekali. la menahan airmatanya yang sudah bergelantungan dibawah matanya.
"Tio Kongcu, aku tak menyalahi kau membenci diriku ini. Karena itulah setelah merasa menyesal, pada malam ini aku menemui kau. Sudikah kau menaruh sedikit kepercayaan terhadapku dan juga aku memohon maaf se-besar2nya atas perbuatanku yang kurang sopan ini."
Mendengar kata2 sigads yang tak juntrungan itu, Gokhiol tersenyum getir.
"Huh! Kau kira aku ini seorang anak kecil?! Kau telah menotok jalan-darahku dan kau telah menjebloskan aku ketempat gelap. Apakah itu perbuatan yang sopan?"
Wajah Hay Yan berubah pucat dan dengan suara gemetar ia menjawab .
"Perbuatanku itu bukanlah atas kehendak hatiku. Aku sungguh tak dapat berbuat lain. Namun demikian, kuharap kau dapat memahami rasa pedih hatiku..."
Baru saja Hay Yan berkata sampai disitu atau terdengar suara cemas yang datang dari atas goa.
"Siocia! Lekaslah meninggalkan tempat ini!"
Itulah suara Tai-tai ! Hay Yan mengawasi pemuda kita dengan terharu, matanya agak basah.
"Aku harus meninggalkan kau sekarang. Lewat dua hari apabila tidak ada aral melintang, aku akan kembali menjenguk kau."
Dengan hati berat Hay Yan meninggalkan sipemuda, untuk kemudian melompat tinggi menjambret tambang yang telah diturunkan dari atas.
Menyusul itu ia menghilang dan lubang tertutup kembali ...
---oo0dw0oo---GOKHIOL menengadah keatas sambil terbengong-bengong.
Diudara masih mengambang wewangian sigadis.
Lentera yang terletak diatas tanah masih menyala-nyala dan disampingnya menggeletak sebuah bungkusan kecil.
Pemuda kita rnengambilnya, dan berdebarlah hatinya.
Bungkusan itu adalah saputangan sigadis yang didalamrya tersimpan dua buah Toh yang merah dan harum.
Pemuda kita meneliti saputangan tersebut yang tersulam dengan tangan, sedangkan diatasnya terlukis sepasang burung Hong yang sedang terbang.
Gokhiol berdiri bengong.
"Kalau bukannya ada barang ini, niscaya kejadian tadi akan kusangka sebagai impian belaka!"
Pikirnya seorang diri.
Hari2 berikutnya dilewatkan dengan tidak terjadi suatu apa2, tapi kini tiap harinya ia dikirimkan makanan oleh Tai-tai.
Beberapa kali Gokhiol berteriak kepada Tai-tai mengajukan pertanyaan.
Tapi sipelayan tolol itu buru2 menutup kembali lobang goa.
Makanan yang diturunkan kedalam goa adalah dengan pertolongan seutas tali yang tipis, sehingga sukar bagi pemuda kita untuk menggunakannya.
Iapun menyabarkan diri untuk menantikan kedatangan Hay Yan pula.
Dengan cepat dua bulan telah lewat.
Pada suatu malam Gokhiol mendengar suara batu diatas kepalanya digeser perlahan-lahan.
Pasir halus berjatuhan dari atas mengenai pakaiannya.
Tiba2 tutupan lubang diatasnya terbuka lebar!
Pemuda kita buru2 bangkit berdiri.
Terasa diatas kepalanya desiran angin menyusul mana sebuah bayangan orang meloncat kebawah!
Pemuda kita kira orang itu tidak lain adalah Hay Yan, tapi setelah dekat, segera dikenalinya bahwa itulah saudara-angkatnya Pato!
Ia berdiri menjublak bahna tercengangnya.
"Gokhiol, aku datang untuk menolong kau,"
Bisik Pato, Pemuda kita merasa heran bercampur girang. Mereka saling berpelukan saking terharunya.
"Gokhiol, marilah kita lekas kabur. Disini berbahaya sekali!"
"Adikku, bagaimana kau bisa menemukan aku?"
"Nanti kuceritakan padamu, Gokhiol. Malam ini Hek Sia Mo-lie sedang pergi keluar. maka barulah aku dapat melepaskan dirimu. Sekarang marilah kita tinggalkan tempat ini!"
Gokhiol menengok keatas.
Lubang, mulut diatas kira2 tujuh delapan tombak tingginya.
Baru ia ingin bertanya bagaimana caranya mereka, harus naik keatas, atau Pato merogoh keluar sesuatu dari dalam kantongnya.
Itulah sepasang sepatu dengan solnya setengah kaki tebalnya.
Tiba2 tutupan lubang diatasnya terbuka lebar!
Pemuda kita buru2 bangkit berdiri.
Terasa diatas kepalanya desiran angin menyusul mana sebuah bayangan orang meloncat kebawah!
"Lekaslah kau pakai!"
Pato memberikan sepasang sepatu aneh itu kepadanya.
Gokhiol menjejakkan kedua kakinya.
Pada detik menyusul bayangan orang membumbung keatas.
Setiba dimulut goa buru2 kedua pangeran itu menjambret pinggiran lubang seraya berjumpalitan keluar.
Gokhiol mendapatkan dirinya tengah berada disuatu bukit dibelakang Kota Hitam.
Ketika itu bulan sedang bersinar amat cemerlangnya.
Langit tampak bersih, sedangkan bintang2 hanya sedikit tersebar disana sini.
Benteng tua keiihatan seperti bayangan yang suram menyeramkan.
Tiba2 dari kejauhan tampak berkelebat.
sebuah bayangan putih, yang bergerak bagaikan anak panah melesat dari busurnya.
Makin lama bayangan itu makin mendekati kedua pemuda kita!
"Celaka Hek Sia Mo-lie datang!"
Cepat2 Pato menarik Gokhiol menyusup dibalik pohon didalam rimba yang lebat.
"Dibawah sinar rembulan, mereka melihat searang gadis dengan mukanya ditutupi dengan kain sutera halus, berlari mendatang kearah lubang goa. Segera Gokhiol mengenali gadis itu, yang bukan lain dari Hay Yan! Hatinya mulai berdenyutan. Pemuda kita merasa heran, apakah yang telah terjadi atas dirinya. Apakah ia cinta kepada gadis ini ataukah ia .... benci ? Hay Yan tak mengetahui bahwa Gokhiol dan Pato sedang bersembunyi didalam rimba. Sepasang matanya bersinar mengawasi goa yang sudah kosong. Kelihatannya ia kaget sekali. Terdengar sayup2 suara sigadis berkata seorang diri dengan cemas.
"Kemana gerangan perginya Tio Kongcu? Ah, rupanya sudah ada orang yang menolongnya keluar' Mendadak Hay Yan mencabut pedannnya dan berlari masuk kedalam rimba yang lebat! Baru saja ia masuk, atau tiba2 dilihatnya sebuah bayanqan manusia melompat turun dari atas pohon. Pakaiannya hitam! "Setan, kecil! Mau apa lagi kau kemari?! Gokhiol sudah jauh melarikan diri. Apakah kau kali ini ingin mangantarkan jiwamu?"
Hay Yan mundur beberapa tindak, kemudian diperhatikannya orang itu dengan waspada. Tak lama kemudian dikenalinya orang itu, tak lain dari ... sibaju hitam.
"Iblis!"
Berseru Hay Yan dengan gusar.
"kemana kau bawa pergi Tio Kongcu?"
Sambil tersenyum mengejek sibaju -hitam menjawab .
"Aku hanya kenal Gokhiol. Siapa yang kau maksudkan dengan Tio Kongcu?"
Mendengar jawaban orang yang bernada ejekan, hati Hay Yan menjadi meluap. Ia membentak .
"Hai, Iblis! Malam itu kau beruntung sekali dapat meloloskan diri dari tanganku dengan menerobos pintu. Jangan kira kali ini kau dapat terlepas dari tanganku pula. Lekaslah beritahu kemana kau larikan Tio Kongcu! Bila tak kau serahkan, lihatlah pedangku!"
Belum habis berbicara, Hay Yan membacokkan pedangnya kearah musuhnya. Namun demikian, dengan suatu gerakan yang manis sekali sibaju hitam lompat menyingkir, sehingga terpisah dua tombak jauhnya.
"Ha-ha-ha! Malam ini lebih baik kau simpan saja Pedangmu."
Tanpa menggubris ejekan musuh.
Hay Yan berseru nyaring dan ujung pedangnya menyambar turun, kini Iebih hebat!
Asap putih mulai mengepul dipinggiran pedang.
Sibaju hitam lompat kesana kemari, mengelakkan tikaman2 pedang yang amat ganas.
Sebaliknya sebentar-bentar iapun mengebut dengan lengan bajunya kearah muka sigadis.
Daun2 dan ranting2 kecil berjatuhan disekitar tempat kedua jago silat itu sedang bertempur.
Yang lebih hebat lagi adalah begitu sibaju hitam mengebutkan lengan bajunya, atau sinar api menyambar kearah muka Hay Yan.
Tapi dengan tenang semua serangan sibaju hitam itu dapat dipunahkan oleh sigadis Wie Mo Yauw-lie.
Gokhiol, yang tengah asyiknya menonton perkelahian yang hebat dan seru itu, lapat2 masih dapat mendengar suara ditelinganya.
"Pato, lekas kalian berdua melarikan diri! Aku akan menyusul belakangan."
Kiranya suara itu disalurkan melalui tenaga-dalam yaag tinggi sekali ketelinga putera2 Jendral Tuli.
Pato segera menarik lengan Gokhiol dan diajaknya berlari meninggalkan tempat itu.
Ditengah jalan Gokhiol masih sempat bertanya kepada saudara angkatnya .
"Adikku, apa kau juga mengenal Im Hian Hong kie-su"
"Pst! Jangan berisik! Nanti saja kalau kita sudah jauh, baru akan kuterangkan kepadamu,"
Jawab Pato seraya percepat larinya.
Kiranya sebelum Pato tiba dibenteng Hek Sia untuk menolong Gokhiol, segala rencana telah diatur terlebih dahulu oleh Im Hian Hong Kie-su.
Adapun Im Hian Hong Kie-su telah menyanggupi permohonan dari sahabatnya Tiang Pek Loni guna mencari musuh yang telah mencemarkan Wanyen Hong, puteri dari kerajaan Kim.
Terlebih dahulu ia datang menolong Gokhiol.
Dan maksudnya ialah tak lain agar pemuda kita dapat digunakan sebagai umpan uncuk memancing keluar sibaju hitam yang tak mau memperlihatkan siapa sebenanya dia itu.
Barusan Im Hian Hong Kie-su telah sengaja memancing keluar Hay Yan meninggalkan rimba.
Setelah mengetahui bahwa Gokhiol dan Pato berada dalam keadaan yang aman, iapun melarikan diri...
Sayang!
Hay Yan tak mengetahui bahwa lawannya itu Im Hian Hong Kie-Su yang asli, yang sejati.
Sebaliknya dikiranya adalah si iblis baju hitam!
Angin malam menampar-nampar muka si gadis yang berdiri sendirian dengan pedang Mophwee-kiam ditangan....
Gokhiol mengikuti Pato keluar dari rimba Ang-Liu-Wi.
Begitu sampai diluar atau nampak olehnya dua ckor kuda.
Serera.
kedua pemuda itu menaiki masing2 seekor kuda dan kemudian melarikannya bagaikan terbang dimalam hari meninggalkan Kota Hitm.
Ketika melewati Hay-Kee-Chun, Gokhiol merasa hatinya tak keruan, berat sekali untuk meninggalkan tempat itu.
"Hay Yan amat aneh kelakuannya. Aku dikurungnya dibawah tanah, tapi setiap hari tak lupa dihantarkannya aku makanan. Maka sudah jelas hahwa ia tidak mempunyai maksud untuk membunuh aku."
Kuda mereka sudah lama melewati Hay-Kee-Chun, namun pikiran Gokhiol masih tak terlepas dari kenangan yang baru saja dialaminya, peristiwa dengan si jelita Hay Yan. lapun terus melamun.
"Waktu ia mengunjungi aku pada malam hari, ia menyatakan rasa penyesalannya. Rupanya ada sesuatu yang sukar untuk di utarakan kepadaku. Apakah Hay Yan dikuasai oleh Hek Sia Mo-lie, hingga ia tak bebas dalam tindak-tanduknya?"
Sambil melamun memikirkan nasib gadis idamannya, tangan Gokhiol per-lahan2 masuk kedalam saku celana.
Dikeluarkannya sehelai sapu tangan yang bersulam, yang telah ditinggalkan oleh Hay Yan.
Kemudian diciumnya saputangan yang harum baunya itu dengan penuh kasih sayang.
Ia menarik napas panjang seraya berkata seorang diri .
"Jika kelak aku dapat berjumpa pula dengannya, pasti aku akan....."
Tiba2 Pato menoleh kebelakang dan tangannya mengeprak kuda Gokhiol seraya berseru .
"Apa yang tengah kau pikirkan, Gokhiol? Satu rintasan lagi kita akan keluar dari daerah gurun pasir ini. Hayo, lekaslah larikan kudamu!"
Seketika itu juga semangat pemuda kita bangun pula.
Sambil berteriak dikempitnya pinggang kudanya dan bagaikan mengendarai angin, ia menyusul Pato.
Diufuk timur tampak cahaya merah.
Fajar telah menyingsing.
Mereka tiba pada sebuah pos perjalanan ditapal batas gurun pasir.
Merekapun turun dari kuda untuk beristirahat.
Setelah mengambil tempat duduk dibawah atap rumah.
Pato mulai berkata .
"Gokhiol, adapun orang yang berpakaian hitam tadi adalah lm Hian Hong Kie-su. Tadi malam ia telah mengantar aku ke Hek Sia untuk menolong kau keluar dari kurungan dibawah tanah itu."
Gokhiol sangat terharu mengingat akan jasa adik angkatnya yang telah dua kali menolong jiwanya.
"Adikku, tak kusangka Im Hian Hong Kie-su datang bersamamu!. Baiklah akan kuberitahukan juga kepadamu, bahwa akupun sudah kenal tokoh rimba persilatan yang tinggi ilmunya itu. Entah cara bagaimana kau sampai dapat bertemu dengannya?"
Mendengar pertanyaan Gokhiol ini mau tak mau Pato harus memutar otak bagaimana sebaiknya harus menjawabnya, agar rahasianya tidak sampai bocor.
"Kalau harus kuceritakan perihal lni, maka peristiwanya amat panjang. Semenjak kita berpisah dilembah Ban-Coa-Kok waktu itu, lama juga aku tidak mendengar kabar berita tentang dirimu. Sedangkan ibumu setiap hari bertambah kuatir akan keselamatanmu. Pada suatu hari diberikannya kepadaku sepucuk surat dan minta agar aku pergi kegunung Jie-Liong-San untuk menemui lm Hian Hong Kie-Su yang merupakan sahabat karib mendiang ayahmu."
"Lalu bagaimana?"
Tanya pemuda kita.
"Dan kemungkinan besar Im Hian Hong Kie-su dapat mengetahui dimana kau berada. Setelah susah-payah, tibalah aku dipuncak gunung Ji-Long-San,"
"Oh, kiranya beliau adalah sahabat karib dari mendiang ayahku! Tidaklah heran apabila ia setiap kali secara diam2 menolong aku. Sebagai mana kau ketahui aku bertemu dengannya digurun pasir. Disana ia memberi beberapa patunjuk kepadaku untuk mencari seorang tokoh aneh dikolong langit ini yang bernama Wan Hwi To-tiang."
Pato mendengarkan penuturan Gokhiol dengan hati2 namun ia tak mau menyingkap rahasia bahwa sebaju hitam yang dimaksud Gokhiol itu bukanlah Im Hian Hong Kie-su yang sejati.
"Gi-koko,"
Ujar Pato.
"itulah suatu kesempatan bagus untuk membalas sakit hatimu. Wan Hwi To-tiang kepandaiannya tersohor sangat hebat sekali, tidak ada keduanya dikolong langit ini. Apabila ia menerima kau sebagai muridnya, itu menandakan jodohmu bagus. Biarlah nanti apabila aku kembali ke Ho-lim, akan kulaporkan kepada ayah dan ibundamu agar mereka tidak merasa kuatir lagi. Sebaliknya kau akan menuntut ilmu yang tinggi sekali dengan pikiran yang tenteram."
Pemuda kita merasa lega hatinya dan gembira. Katanya kepada Pato .
"Aku harap kau memelihara dan merawat ibuku baik2. Kelak apabila aku berhasil menemukan Wan Hwi To -tiang, pasti aku akan mernberitahukannya kepadamu."
Kedua pemuda itu memesan minuman arak dan masakan daging.
"Gi-koko, berhubung dengan perpisahan kita ini, marilah kita mengangkat carngkir dan keringkan minuman arak ini! Setelah itu aku ada sebuah permohonan yang kuharap kau sudi melakukannya. Adapun hal itu erat sekali hubunganya dengan keselamatan jiwamu sendiri. Harap kan sudi memperhatikannya!"
Gokhiol menyambuti tawaran arak adiknya yang lalu diminunnya habis sekaligus dalam satu tegukan saja, Setelah itu dipersilahkannya Pato menguraikan permohonannya.
"Jika nanti kau benar2 telah dapat bertemu dengan Wan Hwi To-tiang, janganlah sekali2 kan beritahukan kepadanya persoalan pelepasan-dirimu olehku dan Im Hian Hong Kiesu. Katakan saja bahwa Wie Mo Yauw-lie yang telah melepaskan kau, tanpa kau ketahui sebabnya. Apabila kau membocorkan rahasia tersebut, pasti kau akan binasa!"
"Apakah sebabnya?"
Tanya GokhioI dengan berani.
"Sebaiknya soal ini untuk sementara tak kujelaskan dahulu. Aku hanya minta agar kau menutup mulut. Lagipula kelak kau akan mengetahui sendiri jawabannya,"
Jawab Pato dengan sungguh2. Gokhiol mengangkat bahunya, tapi ia berjanji akan menepatinya.
"Nah, sudah saatnya aku harus kembali ke Ho-lim. Sebagai kata perpisahan, aku mendoakan agar cita2 mu menuntut balas tercapai. Tapi janganlah lupa memberi kabar kepadaku."
Kedua saudara itu saling berpelukan dan masingg2 merasa berat untuk berpisahan.
Kemudian Pato mencemplak kudanya dan meninggaIkan tempat itu, menuju istana Ho-lim.
Teringat akan Gokhiol, bahwa sibaju hitam pada waktu itu telah mengatakan kepadanya agar terlebih dahulu ia harus berkunjung kegunung Hwa-San sambil berpesiar.
Dengan harapan disana akan dapat bersua dengan tokoh persilatan aneh bernama Wan Hwi Sian, maka segera pada waktu itu juga pemuda kita mulai berangkat.
---oo0dw0oo---Dengan cepatnya dua bulan telah lewat, sedangkan Gokhiol masih menjelajahi tanah pegunungan Hwa-San dan gunung Bu-Tong San.
Disamping menikmati pemandangan yang indah, ia mmperhatikan tiap orang dijumpai, adakah diantara mereka yang...
mengenakan gelas emas putih pada leherrnya.
Setelah sekian lamanya belum berhasil menemukan Dewa Kera Terbang, lambat laun ia menjadi ragu2.
Pikirnya dengan cara begini, sampai kapan ia dapat menuntut ilmu?
Pada suatu hari Gokhiol melewati jalanan yang disebut Kian Kok Canto, karena dipinggir jalan itu terdapat jurang yang sangat curam, sedang disebelahnya lagi merupakan tebing gunung yang tinggi tegak menjulang keangkasa.
Jalan Kian Kok Canto itu sangat sempit sekali dan hanya dapat dilewati dua orang saja.
Tiba2 terdengar olehnya suara tok-tok-tok berulang kali, yang datangnya dari kejauhan, maikin lama makin keras, Nadanya bagaikan seorang pedagang bakmi mengetok tabung bambunya, tok ...
tok...
tok ...
Gokhiol mengawasi jalan dimukanya yang sangat ber-liku2 itu, tapi tak terlihat olehnya satu bayangan mahluk pun.
Sesaat kemudian terdengar pula suara tadi, kini semakin keras!
Suara itu terdengar dari atas tebing!
Gokhiol mendongak keatas, maka tampak olehnia sebuah bayangan orang!
Pemuda kita terperanjat tidak terkira.
Tampak orang itu berjalan seperti terbang pada tebing gunung!
Dandanannya sebagai seorang imam aliran agama Too-kauw.
Topinya kerucut yang pinggirannya bersayap bagaikan bentuk pyramid dan warna pakaiannya hijau mengkeredep.
Perawakatnya kurus dan yang lebih ganjil ialah bentuk mukanya, yang berjenggot kambing sedang diatas nya melintir dua garis kumis panjang yang bergulai kebawah sampai lima enam dim.
Dahinya bulat bagaikan ditempel obat koyo.
Kedua kaki imam itu bagaikan melekat pada dinding tebing dan ketika berjalan tak ubah bagaikag seekor kera saja rupanya.
Ditangannya ia memegang sebuah tongkat dari kayu yang panjangnya kira2 satu kaki.
Alat itu sebentar-bentar dipukulkannya menotok dinding tebing gunung, sehinga menerbitkan suara tok-tok-tok.
Adapun bekas dinding yang kena diketok itu meninggalkan lubang sebesar mangkok nasi dalamnya, dan itulah yang membuat si imam bergerak maju.
Pemuda kita membelalak matanya.
Dalam sekejap mata saja imam itu lewat diatas kepalanya, dan lenyap dari pemandangannya!
"Too-su ini benar2 berkepandaian tinggi,"
Pikir pemuda penuh kagum.
"sayang karena bergerak demikian cepat bagaikan terbang, sehingga aku tak dapat menegurnya untuk menanyakan kepadanya apakah ia bukannya Wan Hwi To-tiang."
Tapi diluar dugaannya, tengah ia masih melamun, suara tok-tak-tok terdengar pula dari sebelah belakang!
Buru2 ia menengok kebelakang dan nampak olehnya bahwa imam, itu telah muncul pula pada dinding tebing guuung yang tegak lurus itu.
Baru saja suara itu terdengar..
beberapa kali atau imam itu sudah berada dekat diatas kepalanya!
Bukan kepalang.
terkejut hati pemuda kita, sudah jelas orang itu tadi berjalan kearah depan, tapi kini bagaimana ia begitu cepatnya sudah bisa kembali, bahkan dari belakangnya?"
"Harap To-tiang berhenti sebentar!"
Teriak Gokhiol.
"Aku ingin bertanya tentang seseorang."
Tapi baru sadia ia berteriak atau imam itu sudah jauh berlalu dari situ!
Batu2 jatuh kejalan Canto dan lobang2 bekas totokan tertinggal bagaikan gumpalan bundar.
Gokhiol sudah tidak melihat bayangan imam to-su lagi, maka ia mengoceh sendirian .
"Apakah imam to-su itu akan kembali pula? Apabila ia sekali lagi lewat disini, aku akan memanggilnya saja dengan nama Wan Hwi Sian! Aku ingin tahu bagaimsna reaksinya nanti!"
Tiba2 terdengar olehnya suara orang berkata dari belakangnya .
"Aku sudah kembali! Apakah kau belum tahu?"
Gokhiol berdiri terpaku saking terkejutnya.
Perlahan-lahan ia membalikkan badannya dan tampak olehnya imam itu sudah berdiri dilbelakangnya!
Pemuda kita terlongo-Iongo mengawasi orang aneh itu.
Pada saat itulah si imam melihat gelang emas putih dileher Gokhiol, dan ...
berubahlah airmukanya!
"Anak muda, siapa namamu?
Apakah kau telah disuruh situa bangka Im Hian Hong untuk datang kemari?"
Kini pemuda kita yakin bahwa imam yang luar biasa itu, adalah pasti tidak lain daripada Wan Hwi Sian Totiang. Buru2 ia menjura amat girangnya.
"Tidaklah salah terkaan, To-tiang. Tee-cu bernama Gokhiol yang telah disuruh oleh Im Hian Hong Cianpwee untuk mencari jejak perjalanan To-tiang yang ribuan lie jauhnya. Bahwa hari ini teecu beruntung sekali teIah dapat bertemu dengan To-tiang."
Wan Hwi Sian memandang pemuda kita dari atas sampai bawah.
"Im Hian Hong ini ada2 saja. Mengapa ia memaksa kepadaku untuk menerima kau sebagai murid?"
Buru2 Gokhiol menyahut.
"To-tiang, dengarlah penuturan teecu ini. Teecu mempunyai beban kewajiban untuk menuntut balas sakit hati mendiang ayah. Karena kepandaian teecu masih rendah sekali, maka teecu bersama ini mohon belas kasihan To-tiang. Jika sampai juga permohonan teecu ditolak, maka teecupun tak ada muka lagi untuk kembali pulang"
"Hm,"
Jawab Wan Hwi Sian dengan suara dihidung.
"selama ini aku tak mempunyai niat untuk menerima murid. Jika kau tidak ada muka untuk pulang, baiklah kau mati saja disini!"
Gokhiol berpikir, mengapa baru sekali saja bertemu siimam telah menyuruh ia mati saja? Tentu ia ingin tahu apakah aku akan mentaati perkataannya. Maka ia berkata .
"Bila To-tiang lebih suka teecu mati daripada menjadi murid, baiklah sekarang juga teecu akan membunuh diri dihadapan To-tiang!"
Mengadu untung, Gokhiol menerjunkan dirinya kedalam jurang yang dalam!
Angin mendesir ditelinganya ketika tubuhnya jatuh pesat kebawah.
Pemuda kita memejamkan kedua matanya menantikan saat ajalnya!
Tak lama tiba2 terasa gelang dilehernya ada yang membetot.
Tubuhnya berhenti jatuh kebawah, sedangkan telinganya tak mendengar desiran angin pula.
Beberapa saat kemudian kakinya merasa menginjak tanah pula!
"Anak yang baik.
Aku takkan membiarkan kau mati!", demikian suara Wan Hwi Sian sayup2 terdengar ditelinganya.
Dan ketika Gokhiol membuka kedua matanya, Wan Hwi Sian berdiri disisinya.
Ketika ia mengawasi keadaan disekitarnya, ternyata mereka sudah berada dibawah jurang!
Pemuda kita melihat ditangan sitosu ada gelang emas putih yang tadmya terikat diIehernya.
Pemuda kita meraba lehernya.
Benar saja!
Gelangnya sudah pindah ketangan orang!
Gelang itupun masih utuh kelihatannya, tidak cacad sedikitpun.
Teringatlah Gokhiol akan perkataan Im Hian Hong Kie-su yang mengatakan, apabila gelang masih tetap utuh setelah dibuka oleh Wan Hwi Sian dari lehernya, maka tasu itu akan menerimanya sebagai muridnya!
Segera pemuda kita menjatuhkan diri berlutut dihadapan siimam seraya menyoja sebanyak tiga kali.
Wan Hwi Sian tersenyum simpul .
"Tunggu dulu! Jika ingin menjadi muridku, terlebih dahulu kau harus memenuhi ketiga syarat yang aku ajukan ini. Dan syarat2 ini tidak semudah seperti yang akan kau duga dan lagi aku sangat menyangsikannya apabila kau dapat menyanggupinya."
Gokhiol lantas menyahut.
"Apapun juga yang suhu ajukan, meskipun sukar umpama kata harus memindahkan gunung sekalipun, tak akan teecu menolaknya! Maka silahkan suhu menitahkannya."
Kumis Dewa Kera Terbang yang panjang ber-gerak2 keatas, tanda puas akan jawaban itu.
"Benar2kah kau berani terjun kedalam air yang mendidih apabila aku menitahkan kepadamu? Kau tidak takut?"
"Bagus! Bagus sekali semangatmu. Dengarlah baik2 sekarang. Aku hendak mengajarkan suatu ilmu yang tiada bandingannya dibawah langit ini. Dan kau harus melatihnya dengan rajin mengikuti cara2nya dengan sungguh2. Pasti selama dua tahun lamanya kau akan menjadi pendekar yang menggetarkan dunia Kang-ouw."
Wan Hwi Sian berhenti sejenak sambil mengawasi sipemuda dengan dalam, lalu dilanjutkannya .
"Namun demikian, sebelum kita mulai kau terlebih dahulu harus menjalankan tiga syarat. Syarat pertama, kau harus menghilangkan seluruh kepandaianmu yang kau miliki dan mulai belajar pula dari pertama dengan dasar2nya...."
Belum selesai Wan Hwi Sian berbicara, Gokhiol sudah mendahuluinya .
"Ilmu yang teecu miliki tak akan menjadi soal untuk dilenyapkan sampai ke-akar2nya. Sekarang yang syarat yang ke dua? Karena keyakinan sipemuda, mau tak mau Wan Hwi Sian mengerutkan alis matanya.
"Ah kau terburu nafsu! sedangkan perkataanku belum selesai. Sebab setelah seluruh kepandaianmu lenyap, maka kau akan merasakan penderitaan yang sangat hebat! Hampir seperti orang yang dalam keadaan mati, mendapatkan hidup kembali. Apakah kau berani?"
"Teecu tidak tahut,"
Yawab Gokhiol sambil menggertakkan giginya. Wan Hwi Sian mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, yang kedua ialah kau harus mentaati segala perintahku! Apa saja yang kuminta, kau harus melaksanakannya tanpa memberi alasan! Bila kau berani melanggar dan membangkang, maka hukumannya keras sekali. Dan apabila terjadi, kau tak boleh mengeluh ataupun menyalahkan aku. Baiklah hal ini kau renungkan dulu baik2, setelah masak kau pikirkan, barulah kau berikan keputusanmu kepadaku!"
Tatkala itu hati Gokhiol sudah percaya penuh terhadap Wan Hwi Sian dan memujanya setinggi langit!
Iapun beranggapan sebagai seorang murid terhadap suhunya, maka sudah menjadi kewajibannya mentaati segala peraturan apa saja yang diberikan.
Terdengar pula Dewa Kera Terbang berkata .
"Umpama kata saja aku menyuruh kau membunuh seseorang, tak perduli siapa gerangan orang itu, kau harus memenuhinya! Mengertikan apa yang kumaksud?"
Gokhiol berfikir dalam hatinya .
"Baiklah aku menyetujuinya terlebih dahulu, kelak baru akan kupikirkan dengan tenang."
Maka iapun menjawab .
"Yah!, teecu takkan ber-pikir2 Iagi Walaupun suhu menyuruh teecu matipun, aku takkan menolaknya. Apa lagi yang harus dibicarakan?"
Wan Hwi Sian tersenyum.
"Baiklah,"
Sekarang syarat yang ketiga. Dalam masa dua tahun ini, kecuali aku sendiri kau tak boleh bertemu dengan lain orang."
"Itupun memang sudah seharusnya,"
Jawab Gokhiol dengan serentak.
"Baiklah,"
Wan Hwi Sian berkata.
"sekarang kau adalah muridku. Marilah ikut aku pulang."
Wan Hwi Sian mengambil jalan diantara bukit2 yang tinggi, sedangkan Gokhiol mengikutnya dari belakang.
Mereka berjalan sampai jauh malam.
Dari kejauhan yang kelihatan hanya puncak gunung yang keputih2an diselubungi salju dan tebing2 gunung yang terjal.
Tak lama kemudian sampailah mereka pada puncak gunung dan tampak dibawah puncak itu sebuah sungai es yang mengalir sepanjang ribuan lie, bergemerlapan disinari Rembulan.
Lapisan es yang membeku diatas aliran air rupanya tidak melumer sepanjang tahun.
Sungguh suatu pemandangan alam yang menakjubkan!
Wan Hwi Sian memecahkan kesunyian dan katanya .
"Tempat kediamanku terletak diujung sungai es itu. Kita masih harus menempuh jalan selama dua jam, barulah sampai disana."
"Apa halangannya untuk berjalan. Janganlah suhu menghiraukan untuk berjalan selama dua jam lagi. Sehari lagipun teecu akan menuruti suhu,"
Ujar Gokhiol.
Tapi baru saja ia selesai berkata atau ia menjadi heran.
Sebab dihadapannya jalanan terputus, yang terbentang dibawah adalah sebuah jurang!
"Suhu, kita sudah berada dipuncak gunung, sedangkan didepan kita tidak ada jalan lagi."
Sambil menuding kebawah Wan Hwi Sian berseru .
"Terjunlah kebawah!"
Berbareng itu ditariklah tangan Gokhiol oleh Dawa Kera Terbang dan ber-sama2 mereka terjun kedalam jurang yang curam!
Tampak dua titik bayangan terapung!
diangkasa me-layang2 kebawah, dan tatkala kaki mereka hampir menyentuh tanah, Wan Hwi Sian mengayunkan tubuhnya bersama tubuh sipemuda mengikuti aliran sungai es!
Bagaikan anak panah terlepas dari busurnya kedua orang itu melesat diatas permukaan sungai yang telah menjadi es.
Terdengar ditelinga pemuda kita deru angin yang keras dan tahu2 dirasakannya tubuhnya tertumbuk pada sebuah dinding tebing.
Tapi buru2 Wan Hwi Sian menariknya dengan sebat, dan mereka menikung kesamping dengan pesatnya.
Bukan kepalang rasa terkejutnya Gokhiol!
Peluh dingin mengucur diseluruh badannya.
Sungai es mengkilap bagaikan cermin, memanjang dan licin sekali.
Sebab itu sekali orang meluncur diatasnya, maka sukar sekali untuk berhenti.
Entah berapa Iama merela "terbang"
Diatas es, melewati tikungan2 yang tajam.
Tanpa tertahan lagi Gokhiol merasa pening dan matanya menjadi berkunang-kunang.
Kiranya sungai es itu berakhir pada sebuah jurang gunung dimana kedua belah sisinya merupakan lamping yang sangat berbahaya.
Lamping itu menegak lurus bagaikan dinding tembok, terdiri dari es menjulang keangkasa.
Terdengarlah Wan Hwi Sian berseru .
"Kita sudah sampai !"
Tubuh Gokhiol terguling-guling dan ia dapatkan dirinya sudah jatuh kebawah lamping gunung.
Kiranya muara sungai berada diantara tebing batu dan merupakan sumber air terjun.
Sepanjang tahun es itu tidak mencair, maka muara itu seperti bukit es yang miring letaknya.
"Rupanya aku tadi terguling jatuh dari bukit es itu,"
Pilkir Gokhiol seorang diri.
Pemuda kita mengawasi lebih jauh keadaan sekitar tempat itu dan tampak diihadapannya terbentang sebuah bangunan ibadah kaum Too-kauw.
Besar dan mentereng sekali bentuk kuil itu dan ketika Gokhiol menghampiri lebih dekat, maka kelihatnya pada gerbang pintu tertera tulisan.
"LENG WAN KOAN"
Atau Rumah lbadah Kera Sakti.
Lebih tepat dikatakan kuil itu didirikan me!ekat pada dinding tehing yang curam, sebab bagian belakang bangunan itu tembus kedalam goa gunung yang lalu buntu.
Sedangkan jalan tembusan tidak ada, yang terdapat hanya secbuah panggung batu yang tingginya belasan tombak.
Wan Hwi Sian mengajak Gokhiol masuk kedalam rumah ibadah itu, lalu ia menuding pada sebuah patung yang berjanggut merah, yang berdiri diatas meja sambil berseru .
"Muridku, patung ini ialah Couw-su-kongmu (datuk guru)! Lekaslah bersujud dihadapannya !"
Gokhiol melihat pada kepala patung itu terdapat sebuah topi Peng-Thian-Koan, sedangkan pakaiannya adalah dari kaum Sui-Hwee To-Bauw.
Yang mengherankan adalah muka patung itu!
Tak ubahnya seperti manusia hidup saja!
Itulah patung Hwee Liong Cinjin!
Segera pemuda kita berlutut dihadapannya sambil mengguk beberapa kali, dengan hikmatnya.
Wan Hwi Sian membawanya kedalam sebuah kamar dan disuruhnya pemuda kita untuk tidur.
Pintupun ditutup dengan suara keras.
Gokhiol melihat keadaan dalam kamar itu.
Seluruh dinding terbuat dari batu dan diatas terdapat sebuah lobang angin.
Besar lubang itu hanya sampai kepala orang saja.
Gokhiol memanjat keatas dan melongok keluar.
Tampak dimukanya gunung yang tinggi puncaknya.
Sedangkan dibawahnya terbentang lautan es yang meluas tiada terlihat batasnya.
Melihai pemandangan yang dahsyat itu, hati sipemuda merasa kecil.
Akhirnya ia turun dan merebahkan diri diatas pembaringan.
Menjelang fajar, Gokhiol samar2 mendengar orang berbisik memanggilnya.
"Tio Kongcu! Tio Kongcu!"
Dalam keadaan setengah mimpi ia melihat Hay Yan sedang mendekatinya. Pakaian sigadis serba-putih dan ditangannya tergenggam Mo-hwee-kiam.
"Apakah kau ingin menangkap aku lagi?"
Demikian Gokhiol berteriak dengan suara gusar.
"Kongcu, bangunlah!"
Pemuda kita terkejut dan bangun sebab dahinya kena sesuatu.
Tatkala dibukanya matanya lebar2, ia mendapatkan dirinya masih tetap rebah dalam pembaringan didalam kamar.
Dari lubang angin sinar yang lemah menerobos masuk kedalam kamar.
Rupanya fajar akan segera menyingsing.
DiIihatnya sesosok tubuh manusia tengah bergantungan terbalik dan berbisik dengan pelahan .
"Kongcu, aku menengokmu!"
Gokhiol tercengang.
Suara itu suara perempuan!
Nampaklah kepala perempuan itu yang bundar dengan dua kepang terbalik kebawah.
Siapa lagi yang mengenakan rambut secara demikian kalau bukannya ....Tai-tai?
Pemuda kita cepat2 lompat dari pembaringanya, lalu memanjat kelubang angin.
Keadaan diluar masih diliputi halimun, tak kelihatan apa2.
Baca Juga: Pendekar Remaja 7
Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 16