Ceritasilat Novel Online

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan 3

Eps 3 Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung

Baca online Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung

Cersil Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung.

Yang nampak hanyalah Tai-tai yang bergaya seperti capung gelantungan (To-Su Ceng-Teng), kakinya mengngait atap rumah.

"Tai-tai?! Bagaimana kau dapat kemari?"

Tanya Gokhiol dengan keheranan.

"Hi-hi-hi Kongcu juga datang,"

Jawab si tolol sambil mesem.

"kalau Kongcu boleh datang, kenapa aku tidak boleh? Diam2 pemuda kilta mulai sadar bahwa Tai-tai pun memiliki kepandaian yang tinggi.

"Apa Siociamu juga datang?"

"Huh, kau sigenit hanya mencari nonaku saja. Apa kau tidak mengingat sedikit kepadaku?"

Tai-tai mengolok sipemuda sambil menyipiti matanya.

"Rupanya kalian telah membuntuti aku,"

Kata Gokhiol.

"aku baru saja kemarin malam tiba, kini kalian sudah menemui jejakku sampai disini. Apakah kalian tidak takut kalau nanti dilihat oleh suhuku?"

Tai-tai tak menghiraukan perkataan sipemuda bahkan sebaliknya sambil cemberut ia mendesis.

"Memang orang selalu salah menangkap apabila ingin berbuat baik. Nonaku telah menyuruh aku mengirim surat untukmu. tapi sebaliknya kau kini menuduh kami telah menguntit dirimu!"

Dalam hati Sanubarinya pemuda kita memang rindukan Hay Yan. Kini mendengar Tai-tai mengatakan bahwa ia membawakan surat, iapun merasa girang.

"Tai-tai yang baik, mana surat itu ?"

Tai-tai merogoh kedalam kantong bajunya. Tiba2 ia berkata .

"Kongcu, terlebih dahulu kau harus memejamkan kedua matamu, sesudah itu barulah akan kuberikan surat itu kepadamu!"

Gokhiol menuruti permintaan gila itu, dipejamkannya matanya.

Tanpa disengaja mulutnya terbuka.

Pada saat itulah mendadak saja Tai-tai memasukkan secara paksa sebutir pil kedalam mulutnya!

Berbareng mukanya digampar dengan kerasnya sehingga pil itu tertelan masuk melalui lehernya.

Pemuda kita jatuh terguling saking kagetnya, tapi piI sudah masuk kedalam perutnya.

Barulah sekarang ia sadar bahwa dirinya tengah dipermainkan oleh Tai-tai!

"Hi-hi-hi!

Maafkan aku, Kongcu!"

Tertawa sitolol seraya meninggalkan kamar dengan gerakan Hai-hong Jut-yauw atau Burung-walet-keluar-dari-sarang dan terus lompat turun.

Gokhiol lompat pula kelubang angin, tapi karena keadaan cuaca yang masih diliputi oleh halimun, maka tak kelihatan apa2 lagi dari bayangan Tai-tai.

Dengan hati mendcngkol Gokhiol meraba Iehernya dan memandang keluar.

Tampak sinar matahari mulai muncul dari balik bukit, hawa segar masuk kedalam hidungnya, badannya nyaman sekali.

Apakah ia bermimpi, pikirannya dengan ragu2.

la tertawa getir dan kembali turun.

Tapi baru saja ia tiba dekat pembaringan atau disamping bantalnya ia melihat secarik kertas.

Diambilnya kertas itu dan dibukanya dengan hati berdebar-debar.

Beginilah tulisannya .

"Suhumu hendak melenyapkan seluruh kepandaian silatmu pada hari ini, sebab itu aku telah berikan padamu sebuah pil melalui Tai-tai, yang dinamakan PIT JIAUW WAN atau Pil penutup jalan-darah. Pil tersebut untuk sementara dapat menutupi kepandaian silatmu. Ingatlah! Jangan sampai ada orang yang mengetahuinya, kalau sampai ketahuan rahasia ini, niscaya kau akan ... binasa!"

Kejadian yang demikian cepatnya membuat Gokhiol sungguh merasa heran.

Masih teringat olehnya dahinya kena sesuatu.

Rupanya.

kertas itulah yang telah disentilkan kepadanya oleh Tai-tai.

Tapi bagaimana Hay Yan sampai dapat mengetahui bahwa pada hari ini, suhunya hendak melenyapkan seluruh kepandaiannya?

Tiba2 dari luar terdengar suara tindakan kaki.

Tergesa gesa Gokhiol melemparkan carikan kertas tersebut keluar melalui lobang angin.

Baru saja ia melemparkan kertas itu, atau pintu kamar sudah dibuka oleh ...

Wan Hwi Sian.

la menatap sebentar dengan curiga kepada Gokhiol, Ialu berkata .

"Muridku, hari ini kau mulai dengan pelajaranmu. Makanlah dahulu sebentar."

Hari pertama kedua kaki Gokhiol diikat oleh Wan Hwi Sian, lalu digantung-dengan kepala kebawah.

Setelah aliran darahnya turun, sekonyong2 ubun2 kepalanya ditepuk oleh Wan Hwi Sian.

Tubuhnya bagaikan disambar kilat!

Kedua tangan kakinya lantas menjadi kejang dan ototnya seperti putus!

Saking sakitnya, pemuda kita menjerit keras dan meronta dengan sekuat tenaga.

Tali yang menggantung tubuhnya putus, ia jatuh ketanah!

Gokhiol pingsan ....

Setelah siuman kembali ia sudah berada diatas pembaringan.

Rasa lelah yang luar biasa melemaskan sekujur tubuhnya.

la menoleh dan tampak Dewa Kera Terbang berdiri mengawasinya, sambil tersenyum kecil.

"Hari ini aku telah melenyapkan seluruh kepandaian silatmu."

Ujar Wan Hwi Sian.

"Sejak hari ini kau adalah murid dari partai Leng-Wan Pay."

Gokhiol bangkit dengan gemetar, lalu berIutut.

"Suhu telah sudi menerima teecu sebagai murid, maka sejak ini dan seterusnya, seluruh jiwa-raga akan kupersembahkan sebagai milik suhu. Dan untuk seumur hidup, teecu akan mentaati perintah suhu!"

Mendengar ucapan sang murid, wajah Wan Hwi Sian berseri-seri.

Ia meng-usap2 kumisnya dan tertawa terkekeh-kekeh.

Pada hari2 selanjutnya Wan Hwi Sian mengajak Gokhiol kepuncak yang penuh salju.

Disana ia diajarkan bersamadhi dan melatih pernapasan.

Dengan kepandaian menyalurkan hawa murni dari telapak-tangannya, Wan Hwi Sian menambah tenaga-dalam muridnya.

Hawa Cin-khie meresap kedalam tubuh Gokhiol, terus kejantung dan membuka seluruh jalan2-darah.

Dibagian Tan-tian timbul hawa Soen-Yang, yang mengalir dan ber-putar2 keseluruh bagian dari tubuhnya.

Setelah mengikuti perputaran menurut alam sejumlah tiga ratus enampuluh kali, maka lewat empat puluh sembilan hari Gokhiol telah berhasil menyelami kepandaian berlatih iImu pernapasan Leng-Wan Pay.

Tubuhnya menjadi ringan sekali, sedangkan pernapasannya lebih kuat dari sebelum ia datang ketempat itu.

Bukan kepalang girangnya hati pemuda kita!

Diluar dugaan Wan Hwi Sian sebetulnya sedang melaksanakan percobaan ilmu yang baru kepada sipemuda dengan maksud tertentu.

Adapun ilmu GOA-TO-HIANKONG, yaitu sejenis ilmu kebal yang diberi nama Sui Hee To (Jalan air dan api), hanya dapat dijalankan pada tubuh seorang jaka yang masih suci bersih.

Ilmu ajaib ini jika dilatih secara kaum Buddha, sedikitnya harus bertapa selama delapan belas tahun lamanya.

Sama halnya dengan Kim-Kong Put-Hway-Kang atau Tenaga Pengawal Buddha yang tersohor itu.

Kini Wan Hwi Sian mendapatkan suatu cara belajar yang lebih singkat dan cepat, yang dipelajarinya dari kitab To-Ke Pit-Kip, suatu kitab rahasia dari kaum Too-kauw.

Apabila seorang berhasil dengan ilmu tersebut, maka daya dan khasiatnya tidak ada bedanya seperti menguasai Kim-Kong Put-Hway-Kang.

Wan Hwi Sian memberikan ilmu tersebut kepada Gokhiol adalah tidak lain karena ia sendiri telah berusia lanjut dan syarat mutlaknya adalah bahwa orang itu harus masih perjaka suci.

Demikianlah Gokhiol telah diperalat sebagai percobaan!

Apabila kelak berhasil dengan baik, maka dia dapat menitahkannya untuk membasmi lawan2nya!

Pada hari berikutnya Gokhiol ditanggalkan bajunya, lalu digantung dalam sebuah kamar pengolahan obat2an.

Dibawahnya dinyalakan api yang besar sehingga tubuhnya terasa bagaikan dipanggang!

Makin lama kulitnya mulai hitam tambus dan keringat tak henti2nya mengucur bagaikan air hujan.

Mulutnya menjadi kering sekali dan matanya menjadi merah berdarah.

Sambil meleletkan lidahnya, ia berseru dengan napas tersengal-sengal .

"Su. ...Suhu, tee ... teecu ....tidak tahan lagi!"

"Anak yang baik."

Terdengar suara Wan Hwi Sian dengan nada yang dalam.

"tahanlah sedikit lagi akan penderitaanmu ini. Tahanlah untuk beberapa saat pula. Nanti akan kuberikan kanair obat."

Disudut kamar terdapat sebuah empang kecil berisikan air, sedangkan didasarnya terbenam balokan es.

Selain itu terdapat pula tidak jauh dari empang kecil itu, sebuah belanga besi berkaki tiga yang bawahnya dinyalakan api.

Dalam belanga besi tersebut terisi semacam cairan yang mendidih.

Gokhiol samar2 mengawasi empang yang terisi air dingin itu.

la sudah tak tahan lagi, badannya panas sekali.

Hampir2 saja ia pingsan ...

pingsan.

Wan Hwi Sian menyendok cairan dari dalam belanga besi dan menghampiri muridnya .

"Lekas buka mulutmu! Aku berikan obat padamu!"

Gokhiol yang sudah tidak dapat membuka matanya lagi, segera membuka mulutnya.

Wan Hwi Sian menuangkan cairan mendidih itu kedalam mulut pemuda kita.

Bukan kepalang rasa terkejutnya Gokhiol!

Bagaikan segumpalan api menembus kedalam tubuhnya saja, cairan yang dikatakan obat itu.

Lebih tepat cairan itu disebut dengan air raksa yang mendidih!

Gokhiol berteriak sekuat tenaga, tapi napasnya sesak sekali.

Pada saat itulah Wan Hwi Sian melepaskan tali gantungan lalu melemparkan pemuda kita keempang air.

Tubuh Gokhiol terbenam didalam air bercampur es itu.

Air mendesis keras disusul dengan asap putih yang mengepul dari permukaan air.

Gokhiol tengah mendapat gemblengan yang sangat hebat!

Tanpa terasa lagi setengah tahun telah lewat, pemuda kita telah menjadi manusia baru yang berkulit tembaga dan bertulang besi.

Air maupun api takkan dapat membahayakannya!

Selanjutnya Wan Hwi Sian mulai mengajarkannya iImu pedang Leng-Wan Kiam-hoat (Ilmu Pedang Kera Sakti).

(Adapun pemuda kita harus pandai melompat kesana kemari, tinggi-rendah dengan gerakan yang gesit sekali.

Seperti kera saja.

Pada satu hari sang guru dan murid duduk berhadapan untuk melatih jalan pernapasan.

Perlahan-lahan Wan Hwi Sian menyalurkan tenaga-dalamnya yang telah dilatihnya selama puluhan tahun, kedalam tubuh Gokhiol!

Tiba2 bercekadlah hatinya pemuda kita.

la merasa bahwa dari sepuluh jari suhunya yang ditempelkan pada tubuhnya, hanya ...

sembilan jari2 saja yang mengeluarkan getaran2!

"Mengapakah telunjuk tangan-kanannya tidak mengeluarkan apa2?"

Pikirnya heran.

Sebaliknya setelah diperhatikannya, ternyata sepuluh jari2 orang itu lengkap, iapun tidak menaruh curiga lagi.

Setahun telah lewat tanpa terjadi sesuatu peristiwa penting.

Selain mengikuti Wan Hwi Sian pergi meninggalkan Leng Wan Koan, Gokhiol belum pernah berjalan seorang diri.

la selalu bersamadhi menambah tenaga-dalamnya, tekun mempelajari ilmu Ciang-hoat dan Kiamhoat.

Pada suatu hari Dewa Kera Terbang turun, gunung dan menurut keterangannya ia akan pergi selama setengah bulan lebih lamanya.

Gokhiol dipesan agar menjaga kuil Leng Wan Koan dengan baik2, disamping harus terus menerus berlatih apa yang telah diturunkan kepadanya.

Selain itu pemuda kita hanya diperkenankan pergi kepuncak gunung untuk berlatih, sedangkan turun gunung sama sekali tidak diperkenankan.

Kemudian Wan Hwi Sian bergerak melompat dan sekejap mata saja ia sudah naik kemulut batu gunung, dimana sebelumnya mereka pernah masuk melalui muara sungai dari es.

Berselang dua hari, Gokhiol mulai merasa kesepian, tinggal seorang diri didalam rumah ibadah.

Pikirnya .

Sudah setahun sejak aku datang kesini, selain Tai-tai iang pada hari pertama kujumpai, tak ada lain orang lagi yang kulihat.

Kini suhu sedang turun gunung, mengapa kesempatan ini tidak kupergunakan untuk pergi keluar.

Dan apabila ,dibawah sana ada seorang penjual arak maka aku senang sekali untuk minum beberapa cangkir.

Demikianlalh setelah mengambil keputusan, diambilnya sebilah pedang dan ditinggalkannya rumah ibadah ini.

Sampai didepan kuil ia menengadah keatas, dan dilihatnya mulut batu gunung kira2 tujuh sampai delapn tombak tingginya.

Sebenarnya ia belum pandai melompat setinggi itu, tapi kini ia ingin menjajalnya.

Dengan menyedot hawa Cin-kie dan Tan-tian, tiba2 ia menjejakkan kakinya dan diluar dugaannya .....

tubuhnya lantas membubung tinggi keudara!

Tahu2 ia sudah sampai diambang mulut batu gunung!

Pemuda kita sangat terkejut bercampur girang.

Gua batu itu rupanya adalah sebuah terowongan dan ia masih ingat bahwa dari tempat itulah ia dulu tergelincir jatuh kebawah.

Maka ia beranikan diri untuk memasuki terowongan dan setelah berjalan beberapa puluh tombak, tiba2 keadaan menjadi terang benderang.

Rupanya ia sudah sampai diluar gunung.

Tampak olehnya sungai es darimana ia dahulu datang, yang Ietaknya terapit oleh dua puncak gunung.

Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh ia melompat keatas ...

---oo0dw0oo---SUNGAI es itu ber-liku2 bagaikan ular, dan Gokhiol merasakan tubuhnya ringan sekali, bagaikan seekor burung walet menyusuri jurang2 gunung yang berbahaya.

Saat kemudian ia tiba dibawah ...

gunung.

la melihat keatas dan menjalarkan matanya dengan lebih jelas.

Kiranya tempat itu bukanlah jalan yang pernah ditempuhnya waktu dulu!

Diawasinya dengan heran lereng2 gunung yang terjal serta puncak2.

Tiba terdengar suara orang berseru dibelakangnya.

"Halo! Bukankah yang datang kesini Tio Kongcu?"

Bagaikan kilat Gokhiol menoleh kearah darimana suara itu datang dan ... dilihatnya seorang gadis cantik jelita muncul keluar dari balik batu gunung.

"Halo! Bukankah yang datang kisini Tio Kongcu?"

Bagaikan kilat Gokhiol menoleh kearah darimana suara itu datang dan ...

dilihatnya seorang gadis cantik jelita muncul keluar dari balik batu gunung.

Pemuda kita tertegun.

Itulah Hay Yan, gadis yang siang-malam dikenangi olehnya!

Perasaan heran dan girang bergolak dalam hatinya.

Untuk beberapa saat lamanya dipandanginya gadis itu tanpa dapai mengucapkan sepatah kata pun juga.

Hay Yan menghampiri dengan tindakan ayu, disapanya Gokhiol .

"Tio Kongcu, apa kau masih membenci aku!? Dengan susah payah aku tetah mencari kau sehinga sampai disini. Adapun sampai aku berbuat demikian tidak lain adalah untuk memberi beberapa penjelasan kepadamu."

Keadan menjadi sunyi kembali, anginpun seolah-olah berhenti.

Ampat mata saling memandang.

Berdebar-debarlah jantung Gokhiol.

Ingin ia menjerit mengungkapkan rindu-dendamnya, ingin ia mendekap tubuh yang gemulai itu.....

Serabut sutera yang terhalus adalah bagaikan rumput saja jika dibandingkan dengan rambut yang terkulai pada pipi sijuita.

U1ar2 pasti mengiri jika melihat gerakan tubuhnya yang halus tatkala sicantik berjalan.

Sedangkan napasnya memenuhi udara disekelilingnya dengan bau harum yang sedap, karena boleh dikata Hay Yan adalah gadis tercantik dalam dunia...

dimata pemuda kita, tentunya.

Angin dingin yang menampar pipi Gokhiol, telah menyadarkan pemuda kita bahwa Hay Yan sebenarnya adalah...

Wie Mo Yauw-lie!

Seorang pembunuh yang telengas!

ular betina yang cantik, yang menyembunyikan kekejamannya dan kesesatan dibalik ...

kecantikan.

"Nona Hay Yan, apakah yang ingin kau sampaikan kepadaku ?"

Ujarnya dengan dingin.

"bukankah lebih tepat apabila dikatakan bahwa kau mencari aku untuk memberi hukuman atas pelarianku dari Kota Hitam"

Mendengar sindiran sipemuda, Hay Yan tersenyum getir dan tidak menjadi gusar.

"Bukankah setahun yang lalu Tai-tai pernah memberikan pil kepadamu, yaitu pil Pit-Jiauw-Wan? Sebenarnya pada waktu itu akupun berada dengannya..."

"Jika pada waktu itu kau berada disana, mengapa kau tak mau menemui aku?"

Hay Yan memandang dengan sunguh2, lalu menjawab .

"Aku tahu bahwa pada waktu itu hatimu masih penasaran terhadapku dan lagipula aku tak mau mengacaukan pikiranmu selagi kau bermaksud menjadi murid tosu itu."

"Apa maksudmu untuk menyuruh Tai-tai membuat aku menelan pil itu?"

Tanya pemuda kita dengan mendongkol, karena mengingat tentu sicantik tertawa geli tatkala ia jatuh terguling dari lobang angin.

"Kelak Kongcu akan dapat memahaminya sendiri."

Jawab Hay Yan.

"lebih baik tidak kujelaskan padamu saat ini. Adapun kedatanganmu kemari sekedar ingin menyampaikan berita kepadamu."

Sigadis terdiam, lalu bertanya dengan perlahan .

"Apakah kau sudah ketahui siapa sebenarnya pembunuh ayahmu?"

Mendengar pertanyaan yang datangnya seperti halilintar disiang hari bolong itu, mata pemuda kita terbuka lebar.

"Apakah kau bersungguh-sungguh dengan pertanyaanmu itu? Apakah kau sendiri telah mengetahui siapa gerangan pembunuh ayahku? serunya dengan gemetar."

Hay Yan merogo sakunya, lalu dikeluarkannya sebuah benda yang lantas diserahkan kepada Gokhiol.

"Ayahmu binasa karena senjata-rahasia ini!. Sebenarnya ayahmu mengenal baik kepada Im Hian Hong Kie-su. Bahkan sangat erat sekali pertalian persahabatannya. Tetapi setelah orang itu berhasil mencuri sebotol obat mujarab penyalin rupa didalam goa Cian Hut Tong, maka kelakuannya sudah berobah bagaikan iblis. Orang itu terus-menerus merobah roman mukanya, hingga ayahmu tak dapat mengenalinya."

Berhubung disebutnya tentang obat aneh itu, Gokhiol teringat kembali akan peti yang ditemukannya dalam goa batu itu.

Adapun diatasnya terdapat tulisan bahwa dalam peti tersebut tersimpan obat-mujarab penyalin rupa dan yowan untuk awet muda.

Boleh jadi cerita sigadis bukannya khayalan belaka.

lapun berkata .

"Hay Siocia, baiklah aku terangkan sesuatu kepadamu. Dahulu ayahku telah meninggalkan sepucuk surat wasiat yang antara lain juga diterangkan bahwa orang yang harus dicarinya itu pada tangan kanannya kehilangan sebuah telunjuk jari. Apakah Im Hian Hong Kie-su kehilangan sebuah jarinya?"

"Tepat sekali pertanyaanmu,"

Jawab Hay Yan.

"dahulu suhuku telah bertempur dengannya malam2 digunung Ben-See San. Suhuku telah sengaja memancingnya agar dia melakukan pukulan dengan tangannya. Begitu orang itu menyerang, suhuku mengelak dan menyodorkan patung ditangannya. Setelah diperiksanya dengan teliti, maka tampaklah..... tanda pukulan empat jari2-tangan! Maka suhuku segera mengenali bahwa orang itu adalah musuh besarnya. Namun kita harus sangat ber-hati2, karena orang itu sangat licin. Ia telah membuat sebuah telunjuk tangan palsu yang disambungkannya, sehingga dapat mengelabui mata orang. Apabila tidak kebetulan, maka sukarlah untuk mengetahui cacadnya."

Tanpa disadari Gokhiai berkata .

"Hay Siocia, bagaimana kau dapat tahu bahwa gurumupun bermusuhan pada orang yang sama yang teIah membunuh ayahku?"

Hay Yan merasa te!ah terlanjur bercerita, maka iapun menjawab .

"Persoalan itu sebaiknya kelak baru kuceritakan kepadamu. Hanya sckarang ingin sekali kuketaltui, apakah kau percaya atau tidak kepadaku?"

Gokhiol mengangkat pundaknya.

"Kau mengatakan orang itu bernama Im Hian Hong Kie-su, maka aku juga percaya. Tapi apabila kau ingin mengatakan bahwa dia adalah pembunuh ayahku, hal itu belum berani aku percaya. Kecuali apa bila kau dapat memberikan bukti yang nyata."

Melihat akan keraguan sipemuda, Hay Yanpun. berkata .

"Dapatkah kau meninggalkan tempat ini untuk beberapa waktu? Nanti akan kuperlihatkan beberapa bukti kepadamu!"

Gokhiol merasa sangsi. Pikirnya ini mungkin suatu tipu muslihat dari sigadis untuk menjebaknya. Walaupun demikian dalam hatinya ia ingin lebih lama melewatkan waktu dengan sicantik itu.

"Kongcu, sekarang kau sudah berhasil menyelami ilmu silat dari Leng Wan Pay,"

Ujar Hay Yan sambil tersenyum.

"mengapa kau harus merasa takut seperti dahulu?"

Mendengar teguran yang halus itu Gokhiol merasakan mukanya panas, dan sambil tertawa ia menyahut .

"Tempat apakah yang kini kita sedang berada, mungkin kau mengetahuinya. Dan nanti dapatkah kau hantarkan aku kembali kemari?"

Mendencar pertanyaan tersebut Hay Yan tertawa geli.

"Jika melihat usiamu, kau lebih tua dari padaku, tapi kalau dilihat dari kecerdikanmu .... hi-hi-hi!... tempat kau belajar silat saja tidak kau ketahui!-Bukankah hal itu sangat memalukan?"

Sicantik menunjuk kedepan...

"Puncak yang tinggi itu disebut Mo-thian Nia yang letaknya disebelah Utara dari Kiam-bun dan merupakan juga anak cabang dari gunung Bin Gek San. Sekarang bila kau mau ikut denganku, lekaslah kita berangkat!"

Demikianlah kedua muda-mudi itu meninggalkan gunung Mo-thian Nia.

Disepanjang jalan mereka bercakap-cakap dengan riangnya, dengan sebentar-sebentar diselingi......

senda gurau.

Untuk Gokhiol hal ini adalah untuk pertama kalinya bahwa ia berjalan bersama dengan gadis idaman hatinya.

Ia menurut saja bagaikan kambing jinak.

Dikala malam hari mereka bermalam dirumah penginapan dan masing2 mengambil sebuah kamar.

Apabila ada yang bertanya, mereka mengaku sebagai kaka beradik.

Tak berapa lama kemudian tibalah mereka diluar perbatasan Giok-bun-koan.

Setelah sampai disitu, pemuda kita mengenali kembali jalan2an.

Berselang berapa waktu pemuda kita melihat pula daerah gurun pasir dan iapun merasa heran dan kaget.

"Apa kau ingin menipu aku lagi untuk balik ke Kota Hitam?"

Ia bertanya. Hay Yan melontarkan senyumnya yang menarik sukma.

"Bila kau merasa curiga, silahkan kembali kepuncak Mo-Thian Nia!"

Jawabnya, Gokhiol tertawa.

Dalam hatinya ia berpikir bahwa gadisnya ini mempunyai tabiat yang jail pula.

Tatkala itu Sang Surya telah condong ke Barat, kedua muda-mudi itu mendaki puncak Beng-See San.

Kemudian kedua pendekar muda itu mempergunakan ilmu meringankan tubuh dan berlari dengan kencangnya.

Seolah-olah bintang berkilas, tak lama kemudian sampailah mereka pada goa Teng Hong, mereka langsung kekaki gunung.

Itulah tempat dimana dulu Hek Sia Mo-lie bertempur mati2-an dengan Im Hian Hong Kie-su.

Hay Yan mengambil dari semak2 sepotong batu, yang bukan lain adalah sebuah lengan patung.

"Cobalah kau perhatikan. Bekas Telapak tangan ini ada berapa jumlah jarinya?"

Uyar Hay Yan.

Itulah lengan patung yang dipergunakan sebagai perisai dulu oleh Hek Sia Mo-lie.

Gokhiol memperhatikan bekas telapak tangan itu, dan pada detik itu juga napasnya tersesak.

Peras2an dingin menggigilkan sekujur tubuhnya.

"Yang ada .... hanya.... empat jari tangan ?"

Cetusnya.

"Bukankah yang kurang satu itu adalah telunjuknya?"

Tanya Hay Yan.

Tatkala itu Gokhiol telah meluap-luap kegusarannya, keinginannya untuk membalas dendam bergelora keluar bagaikan air sungai Tiang-kang yang mengamuk menghancurkan bendungan.

Tiba2 ia mendongak kelangit dan terdengarlah teriaknya yang mengguntur .

"Ayah! Hari ini puteramu telah mengetahui siapa musuh-besarmu! Aku akan menghirup darahnya, aku aku hancurkan tubuhnya sampaikan berkeping-keping!"

Begitu selesai bersumpah lalu lengan patung itu diremasnya.

Sungguh hebat sekali tenaga Gokhiol!

Lengan batu itu hancur dan menjadi debu ditangannya, berterbangan dihembus angin.

Gokhiol telah mempergunakan tenaga yang sepuluh kali lipat dari pada kekuatannya yang dahulu.

la sendiri pun tercengang menyaksikan hasil latihannya yang dahsyat ini.

"Setahun saja kita berpisah, tak dinyana kepandaian kongcu menjadi demikian tingginya bisik"

Hay Yan amat kagumnya. Gokhiol tak menghiraukan pujian sigadis. la menggumam seorang diri.

"Im Hian Hong Kie-su, kau telah menyuruh aku berguru kepada Wan Hwi Totiang. Bukankah hal ini berarti setelah aku berhasil menamatkan pelajaran aku akan mencari kau untuk mengambil jiwamu. Memang roh ayahkulah yang telah mempergaruhi pikiranmu untuk melakukan perbuatan bahaya ini. Kau telah memasang perangkap untuk dirimu sendiri!"

Tiba2 ia teringat pula akan pedang pusakanya Ang-liongkiam yang dahulu diselipkan dibawah sebuah batu gunung besar.

Dan bahwa kelak setelah tiga tahun ia boleh datang kembali untuk mengambilnya.

Hal ini diceritakannya kepada Hay Yan.

Sigadis hanya tersenyum.

"Kau telah ditipu! Sungguh goblok kau ini, mau mempercayai orang sampai sedemikian rupa. Marilah kita lekas pergi ketempat itu."

Tanpa ayal Gokhiol berlari, diikuti oleh Hay Yan.

Sepemakan nasi kemudian sampailah mereka ditempat penyimpanan pedang Ang-liong-kiam.

Karena amarahnya telah meluap amat hebatnya, tanpa banyak bicara lagi pemuda kita mendorong batu gunung!

itu.

Batu gunung yang besar itu, yang beratnya ribuan kati mulai ber-goyang2.

Sedangkan kedua kaki Gokhiol melesak kedalam tanah!

Sekonyong2 batu raksasa itu terangkat dari atas tanah dan menggelinding jatuh kebawah jurang, disusul oleh suara menggelegar yang seperti guntur kerasnya.

Tapi lubang dibawahnya....

sudah kosong!

Pedang pusaka Ang-liong-kiam sudah hilang tak berkesan, seolah-olah ditelan bumi.

Pemuda kita menahan amarahnya, ia mengawasi gadis disebelahnya.

"Kali ini apabila bukanya kau yang menunjukkan kepadaku, niscaya rahasia pembunuhan ayahku akan tersembunyi terus. Sungguh tak kusangka bahwa lm Hian Hong Kie-su itulah pembunuh ayahku! Tahukah kau kini di mana tempat kediamannya?"

Perlahan-lahan Hay Yan menarik tangan sipemuda untuk meninggalkan tempat tersebut.

"Sekarang baru kau mengerti. Bukankah perjalanan kita jauh2 ini tidak sia2 belaka? Maka sebab itulah aku telah bersusah payah untuk bertemu denganmu dan kuharap pula agar kau suka maafkan perbuatan2ku waktu yang lalu."

Sicantik berhenti sebentar dan menundukkan kepalanya.

"Tempat ini letaknya tidak jauh dari kediamanku, sedangkan haripun sudah mulai gelap. Maka lebih baik kita pergi kerumahku untuk bermalam disana. Nanti akan kuceritakan segala rahasia yang kuketahui kepadamu!"

Tadinya Gokhiol masih mempunyai perasaan curiga terhadap Hay Yan, tapi kini tersapu bersihlah kecurigaan itu.

Pemuda kita memandang tersenyum dan kebetulan sekali Hay Yan tengah mengawasinya dengan sepasang matanya yang bening merayu!

Hay Yan menantikan jawaban sipemuda dengan perasaan malu .

"Apabila kau tidak menyuruh Tai-tai memalangkan pintu pula"

Jawah Gokhiol sambil bergurau.

"maka undanganmu ini bagaikan. karunia dari langit ketujuh."

Kedua pipi Hay Yan menjadi merah, sambil mencubit sipemuda ia meniahut .

"Sebaiknya hal tersebut jangan kita ungkap2 lagi. Nanti aku tinggalkan kau!"

Ber-sama2 kedua muda-mudi itu melomoat turun dari atas tebing.

Bagaikan sepasang burung-walet, mereka melayang turun dibawah sinar remang2.

Sebentar saja mereka sudah tiba dilembah.

---oo0dw0oo---Keadaan di Hay-kee-cun telah malam.

Permukaan air danau mencerminkan kilauannya bintanq2 ditangit, amat indahnya.

Kadang2 tertiup oleh angin sepoi2 permukaan air menunjukkan gelombang berirama yang sedap dipandang.

Hay Yan mengajak Gokhiol mengitari rumahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.

Setiba pada sebuah gundukan tanah, ia melompat naik keatas.

Kiranya dari atas gundukan itu terlihat pemandangan sekitar taman yang terpelihara dengan indah sekali.

Tampak pohon Liu yang berjajar dalam dua baris menghiasi beranda.

Mereka kemudian masuk kedalam ruang-tengah.

Tiba2 terdengar suara orang berseru .

"Siocia datang!"

Pada saat itu juga tirai tersingkap dan Tai-tai berjalan keluar. Tatkala Gokhiol menoleh kepadanya, Tai-tai mencibirkan bibirnya.

"Eh, Tio Kongcu. Kau ketimpa rejeki apa? Tempat ini adalah untuk siociaku tidur, sedangkan kaulah laki pertama yang pernah memasuki ruang ini."

Hay Yan lantas membentak.

"Hei, Tai-tai! Jangan kau berani berlaku kurang ajar terhadap kongcu! Lekas ambilkan teh."

Terbirit-birit Tai-tai berlalu. Hay Yan menambahkan kayu. pada perapian yang telah tersedia dalam ruangan itu dan menyediakan tempat. duduk. Merekapun saling duduk ber-hadap2an.

"Waktu dahulu aku pernah masuk kedalam Kota Hitam,"

Pemuda kita membuka percakapan.

"disana kulihat seorang wanita sedang tidur, apakala ia itu gurumu ?"

Hay Yan mengangguk.

"Tak salah. Guruku adalah Hek Sio Mo-lie."

"Tapi,"

Tanya Gokhiol dengan heran. Ketika aku melihatnya didalam goa Cian Hut Tong, romannya buruk sekali dan menakutkan, tapi sebaliknya waktu kulihat ia sedang tidur, alangkah cantiknya."

Sebuah senyuman tersungging pada mulut Hay Yan, lalu ia mengisahkan tentang hal ikhwalnya Wanyen Hong, puteri negeri Kim yang telah hilang.

selama tujuhbelas tahun lamanya.

Juga diceritakan bahwa gurunya telah menelan obat pengawet muda sehinga oleh karena kasiatnya obat tersebut, maka Wanyen.

Hong harus bersilih ganti tidur satu bulan dan melek satu bulan.

Sebab itulah maka wajahnya tetap muda dan tidak menjadi layu, walaupun lanjut usianya!

Dan apabila ia keluar untuk mencari selalu ia berkedok, guna mengelabui mata sipenjahat itu."

"Sekarang dimana adanya Iblis jahanam itu?"

Tiba2 Gokhiol menegurnya.

"apakah kau sudah mendengar berita?"

Baru saja Hay Yan ingin menjawab atau sekonyong-konyong terdengar suara yang sangat menyeramkan.

"Hai! Kamu berdua anak liar! Kalau sampai dibiarkan hidup, niscaya kamu hanya menanam bibit penyakit saja. Lebih baik aku matikan saja!"

Terkesiap Gokhiol mengenali suara....

Im Hian Hong Kie-su!

Sambil menghunus pedangnya, pemuda kita meloncat keatas dinding tembok.

Setibanya diatas genteng ia mengawasi sekelilingnya.

Benar saja!

Tidak beberapa jauh dari situ berdiri....

sibaju hitam!

Seketika itu juga rasa amarahnya meluap timbul.

"Anjing tua! Benar2 kau licin sekali, untung aku tidak terdiebak oleh akal bulusmu! Kiranya kaulah yang telah membunuh ayahku!"

Gokhiol merasakan dadanya sesak saking gusarnya, dengan mata berkilat-kilat ia mengangkat padangnya.

"Kau telah mengelabui mataku agar aku bertengkar dengan Wanyen Hong dan muridnya. Untung hari ini juga rahasiamu telah tersingkap!"

Dengan teriakan mengguntur diputarnya pedangnya, yang lantas lenyap menjadi gumpalan sinar putih, menyusul ujung pedang menikam kearah kepala lawannya.

Buru2 sibaju hitam menyingkirkan diri dari tikaman ang dahsyat itu.

Lalu dari dalam lengan bajunya ia keluarkan sebilah pedang yang bercahaya merah.

Pemuda kita segera mengenali pedang pusaka Ang-liongkiam yang menjadi kepunyaannya sendiri!.

Maka bukan main rasa marahnya, sekali lagi ia maju menyerang.

Kali ini sibaju hitam tidak berkelit, sebaliknya tampak sinar pedangnya berkelebat bukan main cepatnya.

Tahu2 Gokhiol merasakan tangannya gemetar, sedangkan pedangnya terhisap oleh suatu tenaga yang tersembunyi.

Dengan sekuat tenaga ia menarik kembali pedangnya.

Cahaya merah berkilauan menyerang dengan hebatnya dan....

Lok-mo-ciang....

menyambar mukanya!

Keringat mengucur disekujur tubuh Gokhiol.

la insaf akan bahaya yang sedang mengancam dirinya.

Tetapi pada saat yang genting itu tiba2 terdengar suara berdesiran dua kali dan cepat2 sibaju hitam membungkuk kebawah sambil menangkap sesuatu.

Setelah ia berdiri kembali, maka ditangannya tergenggam dua buat senjata-rahasia berupa anak panah yang terbuat dari emas.

"Ha-ha-ha!.... siluman kecil,"

Berteriak sibaju hitam "sampaikan ayahmu sendiri berani kau serang secara gelap."

Sambil mempergunakan kesempatan musuhnya sedang lengah sebentar, pemuda kita tak alal lagi menarik kembali pedangnya dan melompat mundur.

Hay Yan melompat tinggi keudara untuk kemudian turun menyerang dengan pedangnya sambil berseru .

"Sambulah pedangku, tua bangka yang tak kenal malu!"

Tiba2 saja kedua tangan sibaju hitam terbentang, deagan sebelah tangan ia menikam dengan pedangnya dengan gerakan Heng-kek Kim-liong atau Menyanggah-belanga emas secara-melintang untuk menangkis pedang sigadis.

Sedangkan sebelah tangannya lagi menimpukkan dua buah anak-panah emas tadi yang ditangkapnya itu kearah muka Gokhiol.

Begitu senjata2-rahasia tersebut membeset udara dengan kecepatan antara kelihatan dan tidak, tangannya sudah lantas menyerang Hay Yan!

Gadis kita yang sedang menangkis pedang musuhnya mau tak mau harus mengosongkan pembelaan pada bagian bawah.

Dan hal itu tidak dilewatkan lagi oleh sibaju hitam,...

telapak tangannya menyambar kearah mukanya.

Gokhiol kaget sekali.

Secepat kilat ia maju kedepan sambil menggerakkan pedangnya.

"Trang! Trang!"

Kedua anak-panah itu jatuh terpental.

Melihat serangannya digagalkan oleh pemuda kita.

sibaju hitam lompat kesamping, gesit luar biasa.

Berbareng pedangnya menangkis keatas, hebat sekali!

Terdengarlah suara logam beradu amat kerasnya dan terpentallah pedang Gokhiol.

Ilmu pedang sibaju hitam bukan saja ganas, tapi gerakannya dan mengambill kedudukannya sangat tepat dan terkendalikan.

Sedikitpun tak mempelihatkan kelemahan.

Kini dia merobah serangannya.

dengan tangan!

Tiba2 Gokhiol menjadi terkejut!

Adapun Ciang Hoat itu adalah merupakan ilmu silat yang tiada bandingannya dikolong langit ini, yang bukan lain daripada Kim-kong Put-hway-kang atau Tenaga Pengawal Buddha!

IImu tersebut hanya terdapat dikalangan perguruan kaum Buddha saja.

Serupa dengan ilmu Goa-to Hian-kong yang sudah dipelajarinya, maka Gokhiolpun sangat heran dan terperanjat.

Teringatlah ia akan kata2 gurunya, bahwa setelah setahun ia berlatih dengan tekun, maka hasilnya tenaga dalamnya dapat menahan serangan golok dan pedang.

Terdengar Hay Yan berteriak dengan gusarnya dan pedangnya dibolang-balingkan.

Pada detik itu menyusul uap putih mengepul keluar dari ujung pedangnya, pedang mustika Mo-hwee-kiam!

Im Hian Hong Kie-su tertawa dengan nada mengejek .

"Siluman kecil, ayahmu pun memiliki sebilah pedang pusaka. Heh-heh-heh!"

Menyusul dua bilah pedang saling beradu keras diudara, lalu berkubetan.

Melihat gelagat yang baik.

Gokhiol mempergunakan kesempatannya untuk cepat2 memungut pedangnya, lain seraya berteriak keras ia sampok pedang Ang-liong-kiam.

Tapi tak dinyana pedangnya begitu menyentuh pedang Ang-liong-kiam, tiba2 terasa olehnya adanya hawa panas menyerang ketangannya!

Tahu2 pedangnya keluar asap dan melumer dalam waktu sekejap mata saja.

Sibaju hitam tertawa terbahak-bahak.

Dengan gaya tipu In-liong Chut-siu atau Naga-dalam-awan-keluar-dari-lobang-gunung, ia membalikkan diri.

Berbareng tangannya menyambar laksana ular berbisa memagut dan sinar hijau menyerang dada Gokhiol.

Pemuda kita baru ingin lompat mundur atau kedua kakinya menjadi lemas, terhuyung-huyunglah tubuhnya.

Sementera itu pedang Hay Yan masih melekat berkutetan dengan pedang Ang-liong-kiam.

Bukan kepalang rasa cemas hati sigadis.

Pada detik2 yang sangat krisis itu, tiba2 terdengar suara gemuruh yang datangnya tidak jauh dari bukit yang letaknya miring itu!

Tampak sebuah benda hitam bergelinding turun kebwah dengan kecepatan yang luar biasa_.

Dalam keadaan yang gelap yang kelihatan dari benda tersebut adalah sepasang mata yang menyala-nyala mencoreng kearah sibaju hitam.

Benda itu terus menghantam pedang sibaju hitam hingga tersampok kesamping, namun tak telepas.

Cepat Hay Yan menarik Gokhiol keluar dari gelanggang pertempuran.

Benda itu adalah sebuah guci arak yang besar, yang tadinya tersimpan didalam rumah Hay Yan!

Bukan kepalang gusarnya sibaju hitam, baru saja ia ingin menendang guci itu, atau tiba2 dari dalamnya muncuI sebuah kepala orang yang berambut kepang dua sedang meleletkan lidahnya.

Dialah.....

Tai-tai!

"Hai, bangsat tua!

Sambutlah mustika jimatmu'."

Demikian teriaknya.

Berbareng itu pula melesatlah sebuah senjata gelap yang berputar-putar dengan cepatnya.

Sibaju hitam tidak memandang sebelah mata, senjata-gelap itu ditangkapnya dengan tangannya.

Tapi seketika itu juga ia menggeram kesakitan.

Kiranya senjata-rahasia itu tidak lain adalah Kui Ci Liu Seng!

Ujung jarinya keserempet juga dan suatu aliran hawa panas menyerang masuk kebadannya.

Bukan main gusar hatinya.

Seraya melompat ia mengangkat tangan kanannya dan menyusul mana sinar hijau menyambar diudara.

Gokhiol dan Hay Yan serentak maju menyerang.

"Iblis! kau jangan coba menurunkan tangan jahatmu, lagi!"

Berbareng pegang Mo-hwee-kiam kepunyaan Hay Yan yang mengandung gelombang hawa panas menusuk bagaikan halilintar cepatnya!

Sedang Gokhiol sendiri menghantam dengan telapak-tangannya, hebat sekali pukulannya, bagaikan hendak mengaduk lautan dan merobohkan gunung.

Sibaju hitam yang telah kena racun Kui-cu LuiSeng, merasa tak sanggup untuk terus melayani.

Dengan suatu gerakan kilat tahu2 ia mencelat mundur, dan berlari pergi.

Tai-tai menggeliat keluar dari dalam guci.

la tertawa ha-ha-hi-hi.

Pemuda kita mendapatkan pada bagian atas guci itu dua buah lobang kecil untuk melihat.

Ada pun lobang itu dicat putih, sehingga seolah2 lobang mata itu berkedap-kedip.

Tiba2 Gokhiol berteriak!

Didapatkannya pada bagian dadanya sebuah bekas tanda telapak tangan-hijau.

Tatkala ia mengungkapkan bajunya, seketika itu juga kainnya menjadi hancur.

Sedangkan pada kulit tubuhnya membekas tanda telapak-tangan hijau!

"Ah,"

Seru Hay Yan dengan kagetnya, kau telah kena pukulan maut Lok-Mo-Ciang! Bagaimana baiknya sekarang?"

Tampak wajah sigadis berubah pucat bahna cemasnya, Gokhiol dengan tenang memeriksa lukanya dan dilihatnya bahwa tanda telapak tangan itu....

berjari empat!

Telunjuknya tak ada!

"Tanda bekas telapak tangan ini sama seperti yang kulihat digoa Cian Hut Tong,"

Ujarnya.

"hal ini membuktikan bahwa Im Hian Hong Kie-su yang telah membunuh ayahku!"

"Kini kau baru sadar sendiri, Tio Kongcu,"

Jawab Hay Yan.

"Namun kau terluka oleh tangan-jahatnya, racun Lok-Mo-Ciang merembes kedalam tubuhmu, niscaya jiwamu melayang."

Mata sigadis menjadi basah. Gokhiol cepat menghiburnya.

"Siocia, janganlah kau kuatir. Selama satu tahun ini aku telah berlatih ilmu Hwee Sui To. Biarpun Lok-Mo-Ciang sangat berbahaya, aku masih dapat bertahan untuk tiga sampai lima hari Iamanya. Setelah kembali ke Leng Wan Koan, akan kuminta guruku untuk mengobatinya.' Hay Yan berpikir sebentar, lalu menyahut .

"Suhumu tidak ada diatas gunung Mo-Thian Nia, bagaimana kau dapat berjumpa dengannya. Ah, hampir kulupa. Guruku Wanyen Hong memiliki sebutir mutiara Tong Hay Ya Kong Ci. Cahaya putih yang terpancar dari butir mutiara itu dapat menghilangkan racun. Baik kuajak kau untuk menemui guruku"

Gokhiol merasa hatinya tidak tenteram.

la masih ingat kejadian tahun yang IaIu, tatkala ia malam2 berkunjung ke Kota Hitam.

Bukankah Hay Yan pernah mengurungnya didalam goa dibawah tanah?

Hay Yan membanting-banting kakinya, seolah-olah dapat menduga apa yang sedang dipikir oleh Gokhiol.

"Apakah kau masih curiga aku? Waktu itu suhu sedang tidur. Justru Im Hian Hong Kie-su mempergunakan kesempatan tersebut untuk mencelakakan dirinya. Aku kira pada waktu itu bahwa kaupun adalah kaki tangannya juga. Selain itu suhuku telah memesan kepadaku sebelum ia ingin tidur bahwa apabila aku berhasil menangkap kau, aku harus menunggu sampai ia bangun pula untuk.."

"Dalam Ha1 ini kau ada sedikit salah pengertian."

Gokhiol buru2 menjawab dengan muka merah. Hay Yan tanpa malu2 lagi menarik tangannya.

"Sudahlah, hal2 yang sudah lewat jangan diingatkan kembali. Kebetulan sekali suhuku baru bangun beberapa hari, dan justru pula ia ingin bertemu denganmu."

Serta-merta Hay Yan menyuruh Tai-tai untuk menjaga rumah, sedangkan ia sendiri dengan Gokhiol berangkat dengan menunggang kuda dimalam itu juga.

---oo0dw0oo---Dikisahkan bahwa sejak Hek-Sia Mo-lie atau Wanyen Hong menemukan Gokhiol didatam goa Cian Hut Tong, dengan didapatkan pula sebuah telunjuk tangan manusia yang sudah kering dan kumala merah pada ikat pinggang dari pemuda kita, dalam hatinya Wanyen Hong menduga bahwa ia lagi berhadapan dengan puteranya Tio Hoan.

Tapi, apa mau musuhnya pun telah datang Kembali ia merasa curiga.

Mungkinkah sepemuda ini merupakan suatu jebakan yang sengaja dipasang oleh musuhnya?

Tatkala Gokhiol ditangkap oleh Hay Yan, Wanyen Hong sedang dalam keadaan tidur dan tatkala ia bangun pula, Gokhiol sudah tertolong oleh sibaju hitam.

Maka iapun bercekad hatinya.

Pada suatu hari Hay An Peng menghaturkan sepucuk surat rahasia kepada Wanyen Hong, yang katanya dari seorang pendekar wanita.

Ketika puteri negeri Kim menerima surat itu terkejutlah hatinya.

Kiranya pada surat itu dilukiskan sebuah tangan Buddha!

Adapun lukisan tangan Buddha itu merupakan tanda isyarat gurunya.

Sin Ciang Tay-su!

Dengan jantung memukul keras dibukanya surat itu dan didapatkan didalamnya...

sebutir pil yang berwarna emas, ia membaca surat tersebut .

"Muridku yang tercinta. Kutahu bahwa selama tujuh belas tahun lamanya kau menderita karena malapetaka hebat telah menimpah dirimu. Aku dapat merasakan penderitaaamu, hingga akhirnya kau telah menyepi diri di Kota Hitam. Aku sedang berlatih ilmu Sam Bie Tay-hoat, dan belum sempat membalaskan sakit hatimu, aku masih harus bertapa selama setahun. Setelah itu aku baru dapat bertemu dengan kau. Bersabarlah dan terimalah nasibmu dengan tawakal. Setelah selesai membaca suratku maka dalam waktu tiga hari pergilah ke Leng Wan Koan, di gunung es Mo-Thian Nia. Obat pil berwarna emas Pit Jiauw Wan ini kau suruh anak Tio Hoan menelannya. Dialah Gokhiol, anak angkat Jendral Tuli. Setelah itu dengan diam2 kau harus mengangkat kaki pula. Jangan bercakap sedikitpun dengan dia, karena dapat membahayakan jiwanya. Adapun obat itu sangat penting sekali. Dan janganlah sampai kau gagalkan hasratnya menjadi murid Leng Wan Pay. Perhatikanlah pesananku ini! Tiang Pek Lo-ni."

Wanyen Hong sangat heran.

Bagaimana gurunya Tiang Pek Lo-ni yang sudah duapuluh tahun lamanya tidak jumpai dan sejak itu hingga kini tak pernah diberitahukan tentang keadaannya, sekarang tiba2 saja mengirimkan sepucuk surat kepadanya?!

Lagi pula ia diminta untuk memberikan obat kepada orang lain, apakah benar pemuda itu adalah putera dari Tio Hoan?

Dan gurunya rupanya mempunyai suatu rencana terhadap pemuda itu.

Setelah merenungkan hal itu beberapa lama, maka ia mulai melaksanakan permintaan gurunya.

Segera Tai-tai diajaknya ikut bersama, sedangkan ia sendiri menyamar sampai wajah aslinya menjadi berubah.

---oo0dw0oo---Mereka menempuh perjalanan yang sangat jauh.

Siang dan malam mereka terus berjalan tanpa mengaso.

Setelah tiga hari tiga malam, barulah mereka sampai di gunung Mo-thian Nia.

Keadaan disekitar gunung itu sangat-sepi, hanya tertihat tebing es dan puncak2 bersalju disana-sini.

Dicarinya gedung Leng-Wan Koan dan pada malam harinyalah mereka baru dapat menemukannya.

Adapun letak kuil itu tersembunyi pada goa diantara lamping2 gunung.

Leng Wan Koan bentuknya kecil dan sangat ajaib nampaknya.

Tengah mereka memperhatikan keadaan disekitar gedung itu, tiba2 terdengar suara gemuruh dari atas gunung.

Tentu ada orang yang sedang.

mendatang, pikir Wanyen Hong.

Buru2 ia berlari bersembunyi dibalik sebuah bukit, diikuti oleh oleh Tai-tai.

Dengan teralingnya sinar salju yang remang2 maka tampaklah oleh mereka disebelah kejauhan dua sosok tubuh manusia tengah berjumpalitan turun dari atas bukit.

Salah seorang dikenali oleh Wanyen Hong sebagai pemuda Gokhiol, sedangkan seorangnya lagi sangatlah aneh romannya.

Sedangkan dandanan orang itupun luar biasa.

Bila dikatakan ia seorang hwee-sio, ya bukan.

sebaliknya seorang biasapun bukan pula.

Tak lama kamudian kedua orang itu sudah masuk kedalam kuil.

Dengan menggunakan ilmu ringan tubuh istimewa yang disebut Cok-tee Bu-seng atau Menginjak-tanah-tanpa bersuara, Wanyen Hong dan Tai-tai berhasil juga menghampiri tempat Gokhiol berdiam.

Ia mengintai keadaan ruangan tidur pemuda itu.

dan iapun mendapat suatu akal.

Disuruhnya Tai-tai bergelantungan didepan lubang angin, lalu diberikan petunjuk apa2 yang harus dilakuka olehnya.

Sebagaimana hasilnya, obat pil itu tertelan oleh Gokhiol.

---oo0dw0oo---Kembali kisah dilanjutkan tatkala Wanyen Hong melihat Hay Yan bersama-sama Gokhiol menghampirinya di Kota Hitam.

Diam2 ia merasa gembira sekali.

Disambutnya Gokhiol dengan ramah-tamah dan diajaknya masuk kedalam istana dibawah tanah.

Setelah mereka berada dalam ruangan duduk maka mulailah Hay Yan menceritakan tentang pengalaman2nya, tatkala ia bersama Gokhiol bertempur melawan Im Hian Hong Kie-su.

Setelah itu diperlihatkannya kepada Wanyen Hong tanda bekas telapak tangan pada dada Gokhiol.

Tanpa terasa lagi Wanyen Hong menggertakkan giginya.

Teringatlah kembali olehnya bahwa Im Man Hong Kie-su itu masih, terhitung kemenakan murid dari gurunya Tiang Pek Loni.

Duapuluh tahun yang lalu bersama-sama Tio Hoan, lm Hian Hong Kie-su ber-sama2 bekerja didalam istana raja dari kerajaan Song.

Sedangkan hubungan antara kedua orang itu demikian eratnya, se-olah2 bagaikan kakak beradik saja.

Tapi apa mau dikata, hati orang tak dapat diterka.

Maka yang telah datang ingin merampas mustika yang tersimpan secara rahasia itu bukan lain dari pada Im Hian Hong Kie-su, juga yang mencemarkan dirinya.

Tidaklah heran orang itu telah menutupi mukanya dengan sepotong kain hitam.

Rupanya, supaya orang tidak mengenali rupanya yang asli!

Demikianlah kejadian2 yang selama tujuh belas tahun dialaminya, kini ter-bayang2 pula dialam pikiran Wanyen Hong.

Tiba2 ia tersadar kembali setelah mendengar suara Hay Yan "Suhu!

Lekaslah kau tolong lenyapkan racun Lok-Mo Ciang dari tubuh Tio Kongcu.

Kalau terlambat aku kuatir ia akan binasa."

Semangat Wan Yen Hongt bangkit kembali, diawasinya wajah sipemuda yang tak ubahnya mirip seperti wajah ayahnya Tio Hoan, bekas kekasihnya!

Bukan kepalang rasa pilu hatinya, iapun akhirnya berkata dengan suara perlahan.

"Hian-tit. Apakah kau sudah mengetahui tentang hubungan antara ayahmu dengan aku?"

"Kongcu,"

Jawab Gokhiol dengan tersenyum, siauwtit pernah mendengarnya dari ibuku, bahwa ayahku dahulu menjadi kepala ksatrya dari istana kerajaan Kim.

Bahwa ia ber-sama2 Kongcu pergi untuk menunaikan tugas perdamaian"

"Benar,"

Ujar Wan Yen Hong.

"jika kehidupanku tidak sampai dirusakkan Im Hian Hong Kie-su, aku... aku sudah menikah dengan ayahmu...."

Tak sampai habis pengakuan yang mengharukan itu atau air mata mengalir dengan deras dikedua belah pipi puteri negeri Kim.

Kemudian diambilnya dari dalam sakunya, sebuah cermin tembaga yang pada bagian tengahnya tersisip sebutir mutiara bersinar putih cemerlang.

Gokhiol disuruh mendekatinya dan cermin itu disorotkan pada luka akibat pukulan Lok-Mo-Ciang pada dada Gokhiol.

Kira2 sepemakan nasi lamanya maka mulai kelihatan bekas telapak tangan yang berwarna hijau lambat laun mulai lenyap...

Sedangkan rasa sesak dalam dadannyapun kini sudah tidak terasa lagi.

Gokhiol merasa gembira, iapun segera berlutut dihadapan Wanyen Hong untuk menyatakan rasa terima kasihnya.

Tiba2 pemuda kita teringat pula akan pesan gurunya.

Tanpa perkenan gurunya, ia telah meninggalkan Leng Wan Koan dan apabila gurunya sampai mengetahuinya, niscaya ia akan mendapat teguran.

Maka seketika itu juga ia mohon diri kepada Wanyen Hong.

Wanyen Hong mengerutkan keningnya.

"Siauwtit, kau hendak kemana?"

Tanyanya.

"Aku ingin kembali ke Leng Wan Pay untuk berlatih dengan tekun selama setahun lagi. Kelak, apabila telah tinggi kepandaianku, aku akan mencari Im Hian Hong Kiesu untuk mengadakan perhitungan jiwa!"

Jawab Gokhiol dengan penuh semangat. Sambil me-manggut2kan kepalanya Wanyen Hong berkata pula .

"Benarlah kata2-mu itu. Hanya, kau harus. senantiasa ingat bahwa kau adalah keturunan dari bangsawan kerajaan Song. Kau masih berdarah dan berdaging bangsa Han yang mempunyai nama keturunan Tio. Bahwa dahulu karena aku telah melenyapkan diri, ayahmu telah memutuskan diri untuk menetap di Monggolla. Dan disanalah ia telah menikah dengan ibumu, Lok Giok. Kini kau sudah dewasa, maka sudah kewajibanmu untuk memulihkan martabat nama keluarga she Tio itu dan memakai namamu Tio Peng, namamu yang sebenarnya. Tak boleh kau menjadi anak-angkat Tuli, musuh dari negara dan bangsa kita."

Sungguh tak disangka-sangka oleh pemuda kita bahwa Wanyen Hong akan mengungkap persoalan tersebut. Maka iapun segera menjawab .

"Kongcu, maafkanlah aku sebelumnya, tapi aku kira Monggolia letaknya sangat jauh dengan negeri Song dan diantaranya masih terpisahkan oleh negeri Kim, negeri Kongcu. Bahwa selama beberapa puluh tahun ini kerajaan Song kerapkali mengerahkan tentara dan mengangkat senjata untuk berperang dengan negara Kim. Maka jika berbicara tentang musuh negeriku, Iebih tepat jika dikatakan musuh itu adalah negeri Kim. Dan bagi diriku yang diperlakukan oleh Jendral Tuli sebagai anaknya sendiri, sudah selayaknya berlaku sebagai ksatrya Monggolia"

Wanyen Hong menjadi gusar bukan kepalang.

"Diam!"

Serunya menggeletar.

"Kau tidak mengetahui, apa2! Sejak Monggolia berdiri, negeri Kim telah bersepakat dengan kerajaan Song untuk hidup berdampingan secara damai. Sebab itulah ayahmu telah datang kekerajaan Kim untuk melakukan tugas muhibah. Kelak, dikemudian hari Monggolialah yang akan menghancurkan kerajaan Song! Kau jangan mengira bahwa Tuli berbudi luhur terhadapmu, sesungguhnya ia hendak memperalat dirimu untuk mengabdi kepada Monggolia untuk menghancurkan negeri Song dan negeri Kim!"

Melihat Wanyen Hong demikian, gusarnya, Gokhiol, tidaklah heran apa bila ia senantiasa membunuh Busu2 dari Monggolia! lapun lekas2 menyahut dengan tegas.

"Kongcu, aku bukan orang yang tidak mengenal budi. Hari ini aku telah menerima budi kebaikanmu yang sudah rela menolong jiwaku, maka biarlah kelak seteiah berhasil membalas dendam aku akan, kembali datang bersujud, dihadapan Kongcu!"

Setelah berkata demikian pemuda kita memberi hormat dan membalikkan tubuhnya. Sementara itu Hay Yan melihat gurunya bersitegang dan gusar, tergesa-gesa mendampingi Gokhiol keluar dari istana.

"Suhu bermaksud baik, mengapa kau tidak menuruti perkataannya?"

Gokhiolpun menggelengkan kepalanya.

"Suhumu tak mau membantu aku dalam menuntut balas, sebaliknya malah ia minta aku mangingkari ayah angkatku Jendral Tuli. Manakah dapat aku menyetujui pendapatnya?"

Hay Yan menghantarkan sipemuda keluar dari rimba Ang-Liu-Wi, lalu berpisah dengan airmata bercucuran, hancur hatinya.

Ketika ia kembali kedalam, tampak gurunya sedang mencekal pedang musika Mo-Hwee-Kiam dengan wajah beragi-api.

Terdengarlah teriakannya penuh kemurkaan.

"Yan-jie, tangkap dia! Bawalah dia kembali kesini!"

Mendengar titah gurunya itu, Hay Yan menjadi terkejut.

"Suhu!, apakah yang kau maksudkan dengan kata2-mu itu ?"

Wanyen Hong membuka mulutnya.

"Dia mengetahui rahasiaku. Sekarang dia kembali kegunung Mo-thian Nia. Jika kelak ia mewariskan kepandaian gurunya yaitu Wan Hwi Sian yang menjadi tokoh kaum To Kauw, niscaya ia akan menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan bangsa Monggolia! Dia akan menjadi musuh yang berbahaya! Lebih baik apabila kita siang2 menangkapnya dan mengasingkannya! Janganlah kita sampai meninggalkan bibit bencana dikemudian hari!"

"Tapi.... suhu; bukankah ia puteranya Tio Hoan?!"

Hay Yan menegurnya dengan cemas.

"Diam! Kau tidak tahu apa2. Jika Tio Hoan sendiri dapat mengetahuinya, ia pasti takkan mengijinkan puteranya memandang musuh. sebagai ayah angkatnya. Kini baiklah kau menangkapnya untuk dikurung kembali. Lekas kau pergi dan jangan gagaI!. Kalau sampai kau secara diam2 membantunya, aku... bunuh kau." ---oo0dw0oo---Begitulah tatkala Gokhiol tengah melanjutkan perjalanannia atau se-konyong2 dari belakangnya terdengar suara halus berseru .

"Tio Kongcu! Berhentilah dulu!"

Pemuda kita berpaling kebelakang maka tampaklah o!ehnya Hay Yan berlari datang menyusul.

la menjadi.

heran dan berdiri menanti.

Dilihatnya airmuka sicantik dingin, sedangkan ditangannya mencekal pedang Mo-hweekiam.

"Siocia, apakah kau ingin ikut ke Mo-thian Nia?"

Pemuda kita bertanya dengan tersenyum.

"Guruku menyuruh kau kembali, katanya ia masih ada sesuatu yang ingin diucapkan kepadamu secara pibadi."

"Ha-ha-ha! Kau tak usah mendustai aku,"

Sahul Gokhiol.

"Sedangkan tadi saja aku telah mempunyai firasat yang kurang baik. Gurumu menginginkan agar aku memisahkan diri dari bangsa Monggol dan kembali mengabdi kepada kerajaan Song. Tentu ini menyuruh kau untuk menangkap aku, bukan?"

Hay Yan diam tak bergerak, akhirnya dengan suara gemetar ia berkata .

"Baiklah, setelah kau mengetahuinya juga, akupun akupun tak perlu berdusta pula. Memang pada tahun yang lalu suhu telah menyuruh aku mengurungmu dibawah tanah justru karena ia mengetahui hahwa kau adalah anak angkat dan Jenderal Tuli. Dan kelak dikemudian hari kau pasti akan menjadi musuh negeri Kim dan Song. Selain dari pada itu, suhupun merasa kuatir bahwa kau telah diperkuda oleh Im Hian Hong Kie-su untuk mencari tahu tentang rahasianya. Sebab itulah sekalipun aku hendak, menolongmu, aku masih lebih dipangaruhi oleh perasaan takut dimarahi oleh guruku..."

"Dan sekarangpun kau takut kalau2 gurumu menjadi gusar hingga terpaksa kau menangkap aku juga"

Gokhiol memotong perkataan sigadis.

"Bukankah begitu, Siocia?"

Tampak sepasang mata sigadis bersinar.

"Kau belum habis mendengar penjelasanku! Jika aku bermaksud menangkapmu, untuk apa aku harus membuka mulut panjang-lebar? Suhu menyuruh kau untuk tidak kembali ke Holim dan beliaupun berjanji akan membunuh Im Hian Hong Kie-su!"

"Huh, janganlah membuat aku tertawa. Apakah kau belum tahu bahwa aku ini seorang jantan? Im Hian Hong Kie-su adalah musuh ayahku, aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku tak perlu bantuan suhumu!"

"Tio Kongcu, jika bukan diobati oleb guruku, siapa lagi yang dapat menyelamatkan hidupmu? Paling2 kau masih dapat bertahan selama tiga hari saja! Hal ini sudah membuktikan bahwa kau masih bukan tandingan musuhmu. Maka kalau bukan dengan pertolongan guruku, siapa lagi yang dapat membantumu? Dapatkah kau dengan mendongkol menuntut balas seorang diri?"

Pemuda kita tak mau mengalah dan iapun menyahut .

"Kau jangan meng-agung2kan kepandaian gurumu dihadapanku. Diluar langit masih ada langit yang lebih tinggi. Demikian pula halnya dengan kaum rimba persilatan. Dibalik jago, masih ada lagi yang lebih jago daripadanya. Kau belum tahu bahwa guruku Wan Hwi Sian adalah seorang tokoh kelas satu didunia persilatan. Aku menuntut ilmu kepada beliau, dan akupun pasti akan membunuh lm Hian Hong Kie-su! Lihatlah nanti!"

Tengah mereka sedang ber-cakap2, tiba2 desiran angin menyambar dari atas bukit.

Menyusul mana berkelebatlah satu, bayangan.

Tahu2 orang itu sudah berada dihadapan mereka!

Bukan kepalang rasa kaget hati pemuda kita.

Orang itu kiranya bukan lain dari Wan Hwi Sian!

Buru2 Gokhiol menjatuhkan diri dihadapan gurunya.

"Kedatangan suhu sungguh tepat pada waktunya. Siocia ini.... Tapi Hay Yan cepat2 menjura.

"Boanpwe Hay Yan anak perempuan Hay An Peng dari Hay-Kee-Chun."

Dewa Kera Terbang menatap dengan suram kepada gadis itu, lalu berkata.

"Yan-jie, lebih baik sekarang kau lekas2 kembali ke Hay-Kee-Chun! Hay An Peng telah binasa dibunuh orang "

Hay Yan menjadi pucat, ia sangsi apakah berita itu benar atau tidak.

"Yan-jie, pulanglah dan beritahukan kepada gurumu. jika ingin mencari Im Hian Hong Kie-su untuk menuntut balas, pinto dapat membantunya. Tapi kuminta supaya hal ini jangan sampai bocor. Nanti kelak kita dapat bertemu pula."

Begitulah selesai berkata maka Wan Hwi Siang mengajak Gokhiol pergi meninggalkan tempat itu. Hay Yan menggigil tubuhnya.

"Orang itu adalah gurunya Gokhiol, kiranya tidaklah ia akan mendustai aku,"

Pikirnya dalam hati. Dengan satu, lompatan ia menyusul kedua murid dan guru itu sambil berseru.

"Boanpwee mohon bertanya kepada to-tiang, sekarang ini Im Hian Hong Kie-su berada dimana?"

Wan Hwi Sian berpaling kebelakang, lalu menjawab .

"Dia tidak berketentuan tempat tinggalnya. Maafkanlah Pinto tidak dapat menjelaskannya. Jika gurumu Wanyen Hong Kongcu, memerlukan aku, maka dalam waktu sepuluh hari ini boleh ia bertemu dengan aku diatas bukit Sai-cu-giam di Kiam Kok."

Hay Yan berpikir, bagaimana orang ini dapat mengetahui akan gurunya yang memang adalah puteri dari kerajaan Kim?

Ia menengadah pula tapi kedua orang itu sudah berada jauh sekali.

lapun membalikkan tubuhnya dan berlari menuju...

Hay-Kee-Chun.

Ketika ia sampai di Hay-Kee-Chun, dilihatnya pintu masuk kedalam rumah terkunci rapat.

Keadaan sunyi senyap.

la dobrak pintu itu dan masuk kedalam rumah.

la menjerit bahna kagetnya!

Hay An Peng rebah diatas tanah dengan tidak bernyawa lagi!

la, menubruk tubuh orang itu seraya menangis menggerung-gerung.

Didapatkan olehnya, pada bagian bawah kuping Hay An Peng darah yang sudah-kering dan disitu masih menancap sebuah senjata rahasia!

Dicabutnya senjata itu yang ternyata bukan lain adalah...

Kui-cu Liu-seng!

Sambil menggertakkan giginya ia mendesis seorang diri .

"Im Hian Hong Kie-su! Tunggulah pembalasanku!"

Akhirnya Hay Yan menutupi jenazah.

Hay An Peng dengan selimut, kemudian ia berlari ke Kota Hitam pula.

Setelah tiba dihadapan Wanyen Hong, gadis kitapun menjatuhkan dirinya ditanah.

Sambil, menangis tersedu-sedu dituturkannya perihal kematian Hay An Peng, yang telah terbunuh oleh Im Hian Hong Kie-su.

Diberikan pula senjata rahasia Kui-cu Lui-seng kepada gurunya.

Wanyen Hong gemetar sekujur tubulinya tatkala mendengar semuanya yang diceritakan oleh muridnya, mengenai Gokhiol dan Wan Hwi-Sian.

"Wan Hwi To-tiang yang kau jumpai itu berapa kira2 usianya?"

Tanya Wanyen Hong dengan nada curiga.

"walaupun sejak dahulu aku belum pernah mendengar tentang orang tua itu, didalam rimba persilatan. Heran! Bagaimana ia dapat mengetahui bahwa aku ini adalah puteri dari negeri kerajaan Kim? Dan selain itu, bagaimana ia dapat mengetahui terlebih dahulu akan kematian Hay An Peng?"

"Suhu,"

Jawab Hay Yan.

"sebelum mereka pergi aku teiah menanyakan apabiIa; Wan Hwi To-tiang mengetahui. dimana Im Hian Hong Kie-su berada. Ia katakan bahwa Iblis itu tidak tentu tempat tinggalnia, tapi apabila suhu kelak memerlukan bantuannia, maka dalam waktu sepuluh hari suhu dapat berjumpa dengannya diatas bukit Sai-cu-giam di Kiam Kok"

Wanyen Hong mengerutkan keningnya.

"Dibalik ini tentu orangtua itu ada maksud apa2. Yan jie, baiklah akan kutulis sebuah surat rahasia. Kau harus dengan segera pergi kegedung Hu-tim Koan digunung Ciong-Iam San untuk menyerahkan suratku itu kepadai Hian Cin-cu yang menjadi kepala dari kuil disana. Dia adalah murid dari Song Hie Liam yang kini sudah lanjut usianya. Kemudian kau harus lekas2 kembali untuk menyusul aku digunung Kiam Bun dalam jangka waktu delapan hari. Jangan sampai meleset perhitunganmu!"

"Muridmu pasti akan menjalankan tugas suhu dengan baik,"

Jawab Hay Yan dengan sungguh2

"Hanya aku belum mengetahui hubungan apa yang ada antara suhu dengan pendeta Hian Cin-cu?"

Sambil menulis surat Wanyen Hong menjelaskan kepada muridnya .

"Hian Cin-cu berasal dari partai Bu-tong Pay. Kini ia telah menjadi Ciang-bun-jin perguruan Ciong-lam Pay. Pernah ia menjabat sebagai koksu agama To-Kauw diistana negeri Kim dan menjadi sahabat karib dari guruku. Nah, kalau nanti dilihatnya suratku ini dengan tanda pengenalku, pasti ia akan bertindak. Ingatlah! Kau harus kembali menurut waktu yang telah kutetapkan, janganlah sampai terlambat."

Berbareng dengan selesainya surat itu, Wanyen Hong melepaskan gelang Giok-cwan dari pergelangan tangannya dan kemudian dibungkusnya menjadi satu dengan surat rahasia tadi.

Pada saat itu juga Hay Yan meninggalkan Kota Hitam untuk menempuh perjalanan siang dan malam ...

---oo0dw0oo---MAKA beralihlah kini cerita pada pada pahlawan kita Gokhiol yang tengah mengikuti gurunya Dewa Kera Terbang, melewati gunung Wi-Lian San untuk kembali ke Mo-Thian Nia.

Disepanjang jalan hatinya tidak tenteram, sebab ia telah Melanggar perintah gurunya dan takut dimarahi.

Wan Hwi Sian dapat menangkap pikiran muridnya, iapun mesem.

"Muridku, segala yang telah kau perbuat telah kuketahui semuanya. Peruntunganmu masih bagus, kalau tidak niscaya nyawamu sudah melayang."

"Suhu!"

Jawab Gokhiol dengan rasa herannya.

"bagaimaha suhu mengetahui bahwa aku telah kena pukulan Telapak Tangan Hijau dari Im Hian Hong Kie-su?"

"Aku tidak menyebut tentang kau kena pukulan Lok-mo-Ciang itu, melainkan bahwa Wanyen Hong bermaksud mengambil jiwamu' Mendengar keterangan gurunya itu, pemuda kita makin tidak mengerti.

"Apa suhu juga mengetahui bahwa Hek-Sia Mo-lie itu adalah sama orangnya dengan Wanyen Hong? la telah menyembuhkan luka2-ku bagaimana suhu dapat mengatakan bahwa ia ingin mengambil jiwaku?"

"Huh!"

Bentak Wan Hwi Sian dengan suara dihidung.

"Apakah kau kira aku tidak mengetahui segala-nya? Wanyen Hong bukannya orang baik2. la telah mengetahui bahwa kau tak sudi mengingkari Jenderal Tuli ayah angkatmu dan kelak kau pasti akan menyumbangtan tenagamu demi kepentingan bangsa Monggol, sebab itulah ia bermaksud memusnahkan bibit penyakit yang akan merugikan terhadap kepentingannya negeri Kim."

Sejenak Wan Hwi Sian berhenti, kemudian meneruskan.

"Oleh karena itulah ia telah membujuk Hay Yan untuk menurunkan tangan jahat terhadapmu. Mengenai luka didadamu, sekalipun tidak diobati, kau takkan binasa oleh karenanya. Bukankah kau mengetahui sendiri bahwa selama setahun ini kau sudah berlatih ilmu Sui Hwee To yang tak mempan air dan api? Mana dapat racun Lok-mo-ciang masuk kedalam tubuhmu?"

Gokhiol mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Suhu,"

Tiba2 ia berseru.

"kau telah menjanjikan kepada Wanyen Hong untuk berjumpa denganmu di Kiam Kok, agakah benar2 kau ingin membantunya untuk membunuh Im Hian Hong Kie-su?"

"Benar,"

Jawab Wan Hwi Sian.

"Im Hian Hong Kie-su kepandaiannya tinggi sekali, tetapi sebaliknya terhadap pedang Mo-Hwee-Kiam ia gentar menghadapinya. Nah, begitulah rencanaku! Apabila Im Hian Hong Kie-su sampai dapat ditaklukan, barulah aku membekuk Hek Sia Mo-lie dan kemudian akan kubawa mereka ke Holim untuk memperoleh hadiah dari ayah angkatmu Jenderal Tuli. Dengan jasaku yang besar ini beliau pasti akan gembira sekali. Selain itu kaupun dapat membalas Sakit hatimu dan dihadapan ayah angkatmu kau akan meyakinkan kepercayaan lebih teguh terhadap dirimu. Nah, bukankah kau tidak sia2 mempunyai aku sebagai guru?"

Mendengar ucapan gurunya itu, bukan main besar hatinya pemuda kita. Lekaslah ia berlutut dihadapan sang guru untuk menyatakan terima kasihnya. Tiba2 ia teringat akan nasib Hay Yan.

"Suhu, adapun murid Wanyen Hong yang bernama Hay Yan itu, orangnya baik sekali."

Sebuah senyuman tersungging pada bibir Dewa Kera Terbang tatkala ia berkata .

"Hm, kau sudah terpikat oleh gadis cantik itu? Hati2lah, ia selama ini telah mempergunakan tipu Bie-jin-kee terhadapmu. Dahulu tatkala kau baru saja meninggalkan Holim dan berada dilembah Ban-Coa-Kok, bukankah kau telah diserang oleh dua orang See-hek? Sebenarnya yang berada dibelakang peristiwa itu adalah... Hay Yan sendiri! Kemudian karena usahanya gagal, ia telah muncul sendiri untuk merebut pedang pusakamu Ang-liong kiam. Apakah dengan kejadian tersebut kau masih berpendapat bahwa Hay Yan itu hatinya baik?"

Gokhiol tak sependapat dengan apa yang diuraikan oleh gurunya terhadap Hay Yan, namun hal itu disimpannya saja dalam hatinya.

"Suhu, sekarang kita kemana?"

Ia bertanya.

"Muridku, kau harus benar2 menurut perintahku. Dua hari lagi kita akan tiba didaerah Ceng-hay. Kau harus menyampaikan suratku kekuil Bu-liong Sie yang letaknya dibawah gunung Siok-kit San."

"Tapi, suhu."

Gokhiol menegurnya dengan heran.

"Daerah itu termasuk wilayah See-Hek. Sedangkan suhu sendiri mengetahui bahwa kaum See-Hek itu adalah musuh besar dari Monggolia."

"Aku tahu,"

Jawab Wan Hwi Sian.

"Tapi aku hanya menyuruhmu pergi kekui! Bu-liong Sie untuk menemui Ang-bian Kim-kong disana. Bagaimana orang2 See-Hek dapat megetahui tentang asal-usulmu? Setelah selesai melakukan tugasmu, kau harus lekas kembali ke Leng-Wan Koan dan menunggu berita selanjutnya dariku."

"Mengapa suhu tidak membiarkan teecu mengikuti suhu saja untuk ber-sama2 mencari Im Hian Hong Kie-su?"

Tanya pemuda kita dengan nada tidak puas.

"Apa kau ingin menghantarkan jiwamu dengan konyol?' jawab Wan Hwi Sian dengan gusar.

"Kelak, apabila aku berhasil membekuk Im Hian Hong Kie-su, maka dengan sendirinya kau dapat kesempatan untuk menuntut balas terhadapnya."

Gokhiol terdiam.

Dua hari kemudian tibalah guru dan murid itu digunung Siauw-cek San dan dikejauhan nampaklah pegunungan Siok-kit San.

Wan Hwi Sian menyerahkan sepucuk surat kepada Gokhiol dan mengulangi lagi pesanannya, setelah itu merekapun saling berpisah.

---oo0dw0oo---Cerita beralih pada Hay Yan yang tengah membawa surat rahasia dari Wanyen Hong yang harus disampaikan kepada Hian-Cin-cu digunung Ciong-lam San.

Adapun Ciong-lam San merupakan anak cabang dari pegunungan Cin Nia didaerah wilayah Siam-lam (daerah propinsi Siam-say bagian selatan yang beberapa ratus lie panjangnya).

Tatkala Hay Yan sampai dikaki bukit ia menanyakan letak tempatnya Hu-tim Koan kepada penduduk yang berdiam disekitar daerah itu.

Setelah mendapat beberapa petunjuk, iapun meneruskan perjalanannya mendaki gunung.

Adapun kuil Hu-tim Koan letaknya dilembah In-bu Hoan, bentuknya sangat mewah dan mentereng pada pilar pintu gerbang besar terukir kata2 .

Sin Sian In Kong Kwat.

Gadis kita melewati pintu gerbang itu dan ia terus disambut oleh petugas penerima tamu, yaitu Tie Tek Tosu.

Melihat Hay yan yang masih sangat muda dan ingin menemui Ciang-bun-jin, maka Tie Tek Tosu merasa heran".

"Siauw niocu datang dari Mana? Couw-su kami sudah lama tidak menerima orang luar. Siauw niocu mempunyai urusan apa dengan beliau? Nanti biarlah siauw-te yang menyampaikannya."

Hay Yan tak sabar hatinya, surat rahasia yang harus disampaikan sendiri kepada Hian Cin To-tiang. Harap kau memberitahukan kepada beliau dengan lekas"

Mendengar sigadis mempunyai urusan penting, Tie Tek Tosu tergerak hatinya.

"Silahkan Siauw nioicu masuk dan tunggulah dikamar tamu. Biarlah siauw-te memberitahukannya kepada Couw-su Ya."

Hay Yan diantarkan keruangg tetamu.

Setelah melewati beberapa lapis rumah dan pekarangan, maka sampailah mereka pada sebuah ruangan kecil.

Disitu ada seorang To-tong keci1 menyajikan teh.

Tie Tek Tosu meninggalkan gadis kita diruangan itu.

Setelah menunggu beberapa saat lamanya, Tie Tek Tosu masih belum muncul juga.

Hay Yan menjadi gelisah, ia keluar dari ruangan tamu untuk berjalan dipelataran rumah.

Begitulah tanpa disengaja sampailah ia pada tempat dimana tertanam banyak pepohonan dengan sebuah jalan kecil Yang terbuat dari batu2 menuju kesebuah bukit.

Diatasnya berdiri sebuah rumah yang terbuat dari bambu.

Keadaan disekitarnya sangat sunyi, nampaklah Tie Tek Tosu tengah berdiri tegak didepan rumah bambu itu.

Hay Yan menjadi mengkel.

Mengapa tosu itu berdiam saja disitu dan tidak masuk kedalam rumah?.

Sungguh kelakuan mereka itu sangat tolol kelihatannya.

Hay Yan berlari menanjak bukit, gesit sekali seperti kijang.

Begitu sigadis datang, Tie Tek Tosu lantas membentak.

"Siauw niocu jangan sembarang masuk? Couw-su sedang tidur siang dan tidak boleh dibangunkan"

"Urusanku sangat penting, harap bangunkan saja "Couw-sumu,"

Ujar gadis kita. Tie Tek Tosu menyilangkan tangannya.

"Siauw niocu? Jangan kau coba berbuat lancang! Tunggu dibawah?"

Mendengar bentakan tosu itu, Hay Yan menjadi mendongkol, maka didorongnya Tie Tek Tosu hingga terpental kebelakang. Tapi pada saat itu juga terdengarlah orang berseru dari dalam.

"Biarkan gadis kecil itu masuk, Tie Tek! Surat yang dibawanya telah kubaca!"

Suara itu bergema dikeempat penjuru angin, menandakan tenaga dalam yang sempurna sekali. Tie Tek Tosu tersenyum getir.

"Siauw niocu, silahkan masuk,"

Ujarnya.

Hay Yan dengan hati berdebar masuk kedalam rumah bambu itu dan nampak dihadapannya sebuah tempat tidur yang terbuat dari batu marmer putih.

Seorang Tosu yang lanjut usianya sedang duduk bersila diatas pembaringan itu.

Ditangannya, ia masih memegang sepucuk surat dan diatas meja kecil menggeletak...

batu Giok-Cwan!

Terperanjat Hay Yan merabah saku bajunya dan...

benar saja.

Surat rahasia sudah berpindah tangan tanpa disadarinya sedikitpun juga.

Ia mengawasi dengan terbengong-bengong, kepandaian tosu tua itu sungguh hebat luar biasa.

Penuh hikmat ia berlutut dihadapan Hian Cincu.

"Lo-sin Sian,"

Ujarnya "Tit-lie yang rendah bersujud kepadamu. Surat itu adalah dari suhuku untuk disampaikan kepada Couw-su Ya."

Hian Cin-cu mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata .

"Pinto sudah mengetahui semuanya. Sungguh tidak kusangka bahwa Wanyen Hong Kongcu masih hidup didunia. Kini kau pulanglah dan sampaikan salamku kepadanya."

Hay Yan membelalak matanya.

"Tapi..., tapi, apakah Couw-su hanya dapat memberikan jawaban itu saja?"

"Aku sekarang belum dapat menjawabnya dengan segera. Tapi obat Oil yang gurumu minta akan kuserahkan, tapi kau harus ber-hati2 membawanya dan simpanlah dengan baik2 dalam baju dalammu."

"Couw-su,"

Tanya Hay Yan pula.

"obat apakah itu?"

"Nanti, gurumu akan beritahukan padamu sendiri,"

Jawab Ciang-bun-jin perguruan Ciong-lam Pay.

Setelah menghaturkan terima-kasihnya, maka Hay Yan meninggalkan gunung Ciong-lam San dan menempuh perjalanan siang dan malam tanpa berhenti.

Begitulah ia sampai dibukit Kiam-Bu Nia, yang merupakan daerah penting untuk memasuki propinsi Su-Cwan.

Disitu hanya terdapat jalanan batu pasangan yang berjajar menanjak keatas bukit.

Gadis kita meng-hitung2 dan baru diketahuinya bahwa ia telah berjalan selama tujuh hari lamanya.

Iapun berpikir apakah gurunya sudah sampai atau belum?

Sedang asyiknya berjalan, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melompat turun dari puncak gunung.

Tapi ayal ia bersiap dalam sikap tempur dan nampak olehnya kini orang itu sudah berdiri dihadapannya!

"Yan-jie, gurumu sedang menantikan kau,"

Kata orang. Itulah gurunya Gokhiol, Wan Hwi Sian? "Gurumu sudah bertemu denganku pagi ini,"

Kata Wan Hwi Sian dengan suara tenang.

"kami telah berjumpa dibukit Sai-cu Giam. Ia takut kalau2 ia sampai dikenali orang, sedangkan tempat ini letaknya tidak jauh dari Mo-Thian Nia. Oleh karena itu untuk sementara ia bersama Gokhiol bersembunyi di Leng-Wan-Koan. la telah memberitahukan bahwa hari ini kau akan tiba kesini, maka ia telah minta pertolonganku untuk memberitahukanmu."

Hay Yan setengah tidak percaya akan ucapan itu dan iapun berkata penuh kesangsian .

"Tapi suhu telah menyuruh aku berjurnpa denangnya disini, mengapa sekarang ia sudab pergi lebih dahulu sebelum menemui aku?"

"Suhumu hendak mencari tahu tempat dimana Im Hian Hong Kie-su sedang bersembunyi,"

Jawab Wan Hwi Sian dengan wajah sungguh2.

"Setelah diketahuinya, barulah bersama pinto akan pergi menuntut balas? Nah, oleh karena itu ia menunggu kedatanganmu di Leng-Wan-Koan. Nah, sampai bertemu pula."

Dengan sekali berkelebat Dewa Kera Terbang meninggalkan tempat itu.

Hay Yan menghela napas panjang, tapi tak urung daIam hatinya ia merasa cemas dan kuatir.

Sebaiknya malam itu juga ia pergi ke Leng-Wan-Koan untuk melihat keadaan sesungguhnya.

---oo0dw0oo---Kembali pada kisah Wanyen Hong, yang telah menyuruh muridnya pergi kegunung Ciong-lam San untuk minta obat Cie-sui Wan (Pil penghenti rasa ngantuk) kepada Hian Cin-cu, serta untuk menyelidiki asal-usul tentang diri...

Wan Hwi Sian.

Karena Wanyen Hong merasa curiga terhadap munculnya Wan Hwi Sian didalam dunia persilatan.

Lagipula kekuatiran timbul ia harus tidur kembali, dan keadaan sangat gawat.

Begitulah sejak Hay Yan berangkat, sang waktu berjalan amat pesatnya.

Pada hari kedelapan, pagi2 sekali puteri kita telah berdiri menanti dibawah bukit Salju Giam.

Tapi setelah ditunggu sampai petang, Hay Yan masih juga belum kunjung tiba.

la menjadi gelisah.

Menjelang magib, tiba2 terdengar olehnya suara senjata saling beradu dibawa angin.

Rupanya ada orang sedang bertempur.

Dengan cepat ia lompat kebalik bukit dan memandang kelembah.

Tampak olehnya dua bayangan manusia yang sedang bertempur diancara berkelebatnya sinar2 pedang yang berkilauan.

Tatkala itu sang surya yang berwarna kemerahan sudah lambat2 menyelinap dibalik gunung.

Didalam lembah sudah menjadi gelap.

Wanyen Hong mempergunakan ilmunya untuk melihat dalam jarak jauh.

Maka tampak olehnya salah seorang mengenakan pakaian berwarna hijau, sedangkan seorangnya lagi mengenakan pakaian berwarna hitam.

Walaupun jaraknya jauh, ia dapat melihat bahwa pedang sibaju hitam mengeluarkan sinar merah.

Itulah Ang-liong-kiam!

Sayup2 terdengar orang berseru .

"Hai, iblis Im Hian Hong! Apakah ganjalan sakit hatimu terhadap gadis kecil itu? Mengapa kau menurunkan tangan kejammu?"

Itulah suara Wan Hwi Sian! "Huh,"

Jawab orang yang berbaju hitam itu.

"Hay Yan adalah puteriku. Aku bawa ia pulang, itulah urusanku. Mengapa kau ingin turut campur urusan orang? Kalau kau belum kenal gelagat janganlah kau salahkan bahwa pedang pusaka Ang-liong-kiam tidak mempunyai mata!"

Mendengar ucapan sibaju hitam itu.

Wanyen Hong timbullah kegusarannya.

Sekali cabut pedang Mo-Hwee-Kiam terhunus ditangannya dan bagaikan macan betina ia, melompat turun kedalam lembah dimana dua orang tadi tengah bertempur.

"Wan Hwi To-iang! Jangan lepaskan iblis jahanam itu."

Teriaknya.

Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jarang tandingannya, maka cepat sekali puteri kita sudah sampai dibawah lembah.

Ia lompati batu2 gunung yang terjal bagaikan seekor burung walet saja yang sedang melayang turun dari angkasa.

Begitu mendengar seruan Wanyen Hong, sibaju hitam Menangkis pedang Wan Hwi Sian.

Kemudian menyusul pukulan Telapak Tangan Hijau dan segera pasir serta lelatu kecil berhamburan bagaikan dihembus badai.

Sesaat kemudian sibaju hitam melesat keatas, tebing lamping gunung.

Hal itu tepat terjadi pada ketika Wanyen Hong sampai dibawah lembah!

Bagaikan setan sibaju hitam menghilang tanpa diketahui arahnya lagi.

Wanyen Hong berhadapan dengan Wan Hwi Sian.

Ia melihat pada baju tosu itu terdapat bekas telapak tangan berwarna hijau.

Sedangkan yang kelihatan hanyalah empat jari!

Wan Hwi Sian bermandikan peluh.

Begitu melihat Wanyen Hong ia menyapanya dengan nada menyesal.

"Kalau Kongcu datang sedikit lebih cepat pasti Iblis itu takkan lolos dari kematian."

Wanyen Hong tak menghiraukan ucapan orang itu, sebalikanya ia bertanya dengan kuatir.

"To-tiang, dimanakah muridku Hay Yan ?"

Wan Hwi Sian berubah suram.

"Iblis itu telah menangkap muridmu. Pinto mengejarnya dari belakang tapi tengah kukejar tak di-sangka2 muncul kalian yang lantas mengambil muridmu dan melarikan diri."

"Celaka!"

Wanyen Hong berseru bahna kagetnya.

"aku harus, menolong Yan-jie. Apakah totiang dapat membantu aku untuk mencarinya?"

"Memang aku bermaksud mengajak Kongcu untuk bersama pergi kegunung Jie-Liong San untuk membuat perhitungan dengan jahanam Im Hian Hong Kie-su,"

Jawab Wan Hwi Sian dengan penuh semangat.

"jika Kongcu tidak gentar untuk menyatroni sarang harimau, maka dengan menggabung tenaga kita berdua menjadi satu, pasti kita dapat membunuh penjahat itu!"

Wanyen Hong memberi hormat kepada Dewa Kera Terbang, yang lekas2 mundur seraya mengulapkan tangannya.

"Jangan Kongcu mengucap terima kasih terhadapku. Sudah selayaknya kita harus bantu membantu dalam menumpas kebathilan. Dengan menggunakan pedang Mo-Hwee-Kiam Im Hian Hong pasti akan dapat dibinasakan oleh Kongcu."

"Mula2 aku kira Wan Hwi Sian adalah orang jahat. Sungguh keterlaluan, hampir saja aku memusuhi seorang sahabat rimba persilatan,"

Demikianlah pikir puteri kita dalam hatinya.

Begitulah malam hari itu juga bersama Wan Hwi Sian, Wanyen Hong menempuh perjalanan kegunung Jie-Liong San.

Bagaikan bayangan saja kedua petualangan itu melesat secepat angin dan dalam waktu sekejap mata saja mereka telah hilang dikegelapan malam ...

---oo0dw0oo---Kembali kisah dilanjutkan tatkala Wanyen Hong melihat Hay Yan bersama-sama Gokhiol menghampirinya di Kota Hitam.

Diam2 ia merasa gembira sekali.

Disambutnya Gokhiol dengan ramah-tamah dan diajaknya masuk kedalam istana dibawah tanah.

Setelah mereka berada dalam ruangan duduk maka mulailah Hay Yan menceritakan tentang pengalaman2nya, tatkala ia bersama Gokhiol bertempur melawan Im Hian Hong Kie-su.

Setelah itu diperlihatkannya kepada Wanyen Hong tanda bekas telapak tangan pada dada Gokhiol.

Tanpa terasa lagi Wanyen Hong menggertakkan giginya.

Teringatlah kembali olehnya bahwa Im Man Hong Kie-su itu masih, terhitung kemenakan murid dari gurunya Tiang Pek Loni.

Duapuluh tahun yang lalu bersama-sama Tio Hoan, lm Hian Hong Kie-su ber-sama2 bekerja didalam istana raja dari kerajaan Song.

Sedangkan hubungan antara kedua orang itu demikian eratnya, se-olah2 bagaikan kakak beradik saja.

Tapi apa mau dikata, hati orang tak dapat diterka.

Maka yang telah datang ingin merampas mustika yang tersimpan secara rahasia itu bukan lain dari pada Im Hian Hong Kie-su, juga yang mencemarkan dirinya.

Tidaklah heran orang itu telah menutupi mukanya dengan sepotong kain hitam.

Rupanya, supaya orang tidak mengenali rupanya yang asli!

Demikianlah kejadian2 yang selama tujuh belas tahun dialaminya, kini ter-bayang2 pula dialam pikiran Wanyen Hong.

Tiba2 ia tersadar kembali setelah mendengar suara Hay Yan "Suhu!

Lekaslah kau tolong lenyapkan racun Lok-Mo Ciang dari tubuh Tio Kongcu.

Kalau terlambat aku kuatir ia akan binasa."

Semangat Wan Yen Hongt bangkit kembali, diawasinya wajah sipemuda yang tak ubahnya mirip seperti wajah ayahnya Tio Hoan, bekas kekasihnya!

Bukan kepalang rasa pilu hatinya, iapun akhirnya berkata dengan suara perlahan.

"Hian-tit. Apakah kau sudah mengetahui tentang hubungan antara ayahmu dengan aku?"

"Kongcu,"

Jawab Gokhiol dengan tersenyum, siauwtit pernah mendengarnya dari ibuku, bahwa ayahku dahulu menjadi kepala ksatrya dari istana kerajaan Kim.

Bahwa ia ber-sama2 Kongcu pergi untuk menunaikan tugas perdamaian"

"Benar,"

Ujar Wan Yen Hong.

"jika kehidupanku tidak sampai dirusakkan Im Hian Hong Kie-su, aku... aku sudah menikah dengan ayahmu...."

Tak sampai habis pengakuan yang mengharukan itu atau air mata mengalir dengan deras dikedua belah pipi puteri negeri Kim.

Kemudian diambilnya dari dalam sakunya, sebuah cermin tembaga yang pada bagian tengahnya tersisip sebutir mutiara bersinar putih cemerlang.

Gokhiol disuruh mendekatinya dan cermin itu disorotkan pada luka akibat pukulan Lok-Mo-Ciang pada dada Gokhiol.

Kira2 sepemakan nasi lamanya maka mulai kelihatan bekas telapak tangan yang berwarna hijau lambat laun mulai lenyap...

Sedangkan rasa sesak dalam dadannyapun kini sudah tidak terasa lagi.

Gokhiol merasa gembira, iapun segera berlutut dihadapan Wanyen Hong untuk menyatakan rasa terima kasihnya.

Tiba2 pemuda kita teringat pula akan pesan gurunya.

Tanpa perkenan gurunya, ia telah meninggalkan Leng Wan Koan dan apabila gurunya sampai mengetahuinya, niscaya ia akan mendapat teguran.

Maka seketika itu juga ia mohon diri kepada Wanyen Hong.

Wanyen Hong mengerutkan keningnya.

"Siauwtit, kau hendak kemana?"

Tanyanya.

"Aku ingin kembali ke Leng Wan Pay untuk berlatih dengan tekun selama setahun lagi. Kelak, apabila telah tinggi kepandaianku, aku akan mencari Im Hian Hong Kiesu untuk mengadakan perhitungan jiwa!"

Jawab Gokhiol dengan penuh semangat. Sambil me-manggut2kan kepalanya Wanyen Hong berkata pula .

"Benarlah kata2-mu itu. Hanya, kau harus. senantiasa ingat bahwa kau adalah keturunan dari bangsawan kerajaan Song. Kau masih berdarah dan berdaging bangsa Han yang mempunyai nama keturunan Tio. Bahwa dahulu karena aku telah melenyapkan diri, ayahmu telah memutuskan diri untuk menetap di Monggolla. Dan disanalah ia telah menikah dengan ibumu, Lok Giok. Kini kau sudah dewasa, maka sudah kewajibanmu untuk memulihkan martabat nama keluarga she Tio itu dan memakai namamu Tio Peng, namamu yang sebenarnya. Tak boleh kau menjadi anak-angkat Tuli, musuh dari negara dan bangsa kita."

Sungguh tak disangka-sangka oleh pemuda kita bahwa Wanyen Hong akan mengungkap persoalan tersebut. Maka iapun segera menjawab .

"Kongcu, maafkanlah aku sebelumnya, tapi aku kira Monggolia letaknya sangat jauh dengan negeri Song dan diantaranya masih terpisahkan oleh negeri Kim, negeri Kongcu. Bahwa selama beberapa puluh tahun ini kerajaan Song kerapkali mengerahkan tentara dan mengangkat senjata untuk berperang dengan negara Kim. Maka jika berbicara tentang musuh negeriku, Iebih tepat jika dikatakan musuh itu adalah negeri Kim. Dan bagi diriku yang diperlakukan oleh Jendral Tuli sebagai anaknya sendiri, sudah selayaknya berlaku sebagai ksatrya Monggolia"

Wanyen Hong menjadi gusar bukan kepalang.

"Diam!"

Serunya menggeletar.

"Kau tidak mengetahui, apa2! Sejak Monggolia berdiri, negeri Kim telah bersepakat dengan kerajaan Song untuk hidup berdampingan secara damai. Sebab itulah ayahmu telah datang kekerajaan Kim untuk melakukan tugas muhibah. Kelak, dikemudian hari Monggolialah yang akan menghancurkan kerajaan Song! Kau jangan mengira bahwa Tuli berbudi luhur terhadapmu, sesungguhnya ia hendak memperalat dirimu untuk mengabdi kepada Monggolia untuk menghancurkan negeri Song dan negeri Kim!"

Melihat Wanyen Hong demikian, gusarnya, Gokhiol, tidaklah heran apa bila ia senantiasa membunuh Busu2 dari Monggolia! lapun lekas2 menyahut dengan tegas.

"Kongcu, aku bukan orang yang tidak mengenal budi. Hari ini aku telah menerima budi kebaikanmu yang sudah rela menolong jiwaku, maka biarlah kelak seteiah berhasil membalas dendam aku akan, kembali datang bersujud, dihadapan Kongcu!"

Setelah berkata demikian pemuda kita memberi hormat dan membalikkan tubuhnya. Sementara itu Hay Yan melihat gurunya bersitegang dan gusar, tergesa-gesa mendampingi Gokhiol keluar dari istana.

"Suhu bermaksud baik, mengapa kau tidak menuruti perkataannya?"

Gokhiolpun menggelengkan kepalanya.

"Suhumu tak mau membantu aku dalam menuntut balas, sebaliknya malah ia minta aku mangingkari ayah angkatku Jendral Tuli. Manakah dapat aku menyetujui pendapatnya?"

Hay Yan menghantarkan sipemuda keluar dari rimba Ang-Liu-Wi, lalu berpisah dengan airmata bercucuran, hancur hatinya.

Ketika ia kembali kedalam, tampak gurunya sedang mencekal pedang musika Mo-Hwee-Kiam dengan wajah beragi-api.

Terdengarlah teriakannya penuh kemurkaan.

"Yan-jie, tangkap dia! Bawalah dia kembali kesini!"

Mendengar titah gurunya itu, Hay Yan menjadi terkejut.

"Suhu!, apakah yang kau maksudkan dengan kata2-mu itu ?"

Wanyen Hong membuka mulutnya.

"Dia mengetahui rahasiaku. Sekarang dia kembali kegunung Mo-thian Nia. Jika kelak ia mewariskan kepandaian gurunya yaitu Wan Hwi Sian yang menjadi tokoh kaum To Kauw, niscaya ia akan menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan bangsa Monggolia! Dia akan menjadi musuh yang berbahaya! Lebih baik apabila kita siang2 menangkapnya dan mengasingkannya! Janganlah kita sampai meninggalkan bibit bencana dikemudian hari!"

"Tapi.... suhu; bukankah ia puteranya Tio Hoan?!"

Hay Yan menegurnya dengan cemas.

"Diam! Kau tidak tahu apa2. Jika Tio Hoan sendiri dapat mengetahuinya, ia pasti takkan mengijinkan puteranya memandang musuh. sebagai ayah angkatnya. Kini baiklah kau menangkapnya untuk dikurung kembali. Lekas kau pergi dan jangan gagaI!. Kalau sampai kau secara diam2 membantunya, aku... bunuh kau." ---oo0dw0oo---Begitulah tatkala Gokhiol tengah melanjutkan perjalanannia atau se-konyong2 dari belakangnya terdengar suara halus berseru .

"Tio Kongcu! Berhentilah dulu!"

Pemuda kita berpaling kebelakang maka tampaklah o!ehnya Hay Yan berlari datang menyusul.

la menjadi.

heran dan berdiri menanti.

Dilihatnya airmuka sicantik dingin, sedangkan ditangannya mencekal pedang Mo-hweekiam.

"Siocia, apakah kau ingin ikut ke Mo-thian Nia?"

Pemuda kita bertanya dengan tersenyum.

"Guruku menyuruh kau kembali, katanya ia masih ada sesuatu yang ingin diucapkan kepadamu secara pibadi."

"Ha-ha-ha! Kau tak usah mendustai aku,"

Sahul Gokhiol.

"Sedangkan tadi saja aku telah mempunyai firasat yang kurang baik. Gurumu menginginkan agar aku memisahkan diri dari bangsa Monggol dan kembali mengabdi kepada kerajaan Song. Tentu ini menyuruh kau untuk menangkap aku, bukan?"

Hay Yan diam tak bergerak, akhirnya dengan suara gemetar ia berkata .

"Baiklah, setelah kau mengetahuinya juga, akupun akupun tak perlu berdusta pula. Memang pada tahun yang lalu suhu telah menyuruh aku mengurungmu dibawah tanah justru karena ia mengetahui hahwa kau adalah anak angkat dan Jenderal Tuli. Dan kelak dikemudian hari kau pasti akan menjadi musuh negeri Kim dan Song. Selain dari pada itu, suhupun merasa kuatir bahwa kau telah diperkuda oleh Im Hian Hong Kie-su untuk mencari tahu tentang rahasianya. Sebab itulah sekalipun aku hendak, menolongmu, aku masih lebih dipangaruhi oleh perasaan takut dimarahi oleh guruku..."

"Dan sekarangpun kau takut kalau2 gurumu menjadi gusar hingga terpaksa kau menangkap aku juga"

Gokhiol memotong perkataan sigadis.

"Bukankah begitu, Siocia?"

Tampak sepasang mata sigadis bersinar.

"Kau belum habis mendengar penjelasanku! Jika aku bermaksud menangkapmu, untuk apa aku harus membuka mulut panjang-lebar? Suhu menyuruh kau untuk tidak kembali ke Holim dan beliaupun berjanji akan membunuh Im Hian Hong Kie-su!"

"Huh, janganlah membuat aku tertawa. Apakah kau belum tahu bahwa aku ini seorang jantan? Im Hian Hong Kie-su adalah musuh ayahku, aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku tak perlu bantuan suhumu!"

"Tio Kongcu, jika bukan diobati oleb guruku, siapa lagi yang dapat menyelamatkan hidupmu? Paling2 kau masih dapat bertahan selama tiga hari saja! Hal ini sudah membuktikan bahwa kau masih bukan tandingan musuhmu. Maka kalau bukan dengan pertolongan guruku, siapa lagi yang dapat membantumu? Dapatkah kau dengan mendongkol menuntut balas seorang diri?"

Pemuda kita tak mau mengalah dan iapun menyahut .

"Kau jangan meng-agung2kan kepandaian gurumu dihadapanku. Diluar langit masih ada langit yang lebih tinggi. Demikian pula halnya dengan kaum rimba persilatan. Dibalik jago, masih ada lagi yang lebih jago daripadanya. Kau belum tahu bahwa guruku Wan Hwi Sian adalah seorang tokoh kelas satu didunia persilatan. Aku menuntut ilmu kepada beliau, dan akupun pasti akan membunuh lm Hian Hong Kie-su! Lihatlah nanti!"

Tengah mereka sedang ber-cakap2, tiba2 desiran angin menyambar dari atas bukit.

Menyusul mana berkelebatlah satu, bayangan.

Tahu2 orang itu sudah berada dihadapan mereka!

Bukan kepalang rasa kaget hati pemuda kita.

Orang itu kiranya bukan lain dari Wan Hwi Sian!

Buru2 Gokhiol menjatuhkan diri dihadapan gurunya.

"Kedatangan suhu sungguh tepat pada waktunya. Siocia ini.... Tapi Hay Yan cepat2 menjura.

"Boanpwe Hay Yan anak perempuan Hay An Peng dari Hay-Kee-Chun."

Dewa Kera Terbang menatap dengan suram kepada gadis itu, lalu berkata.

"Yan-jie, lebih baik sekarang kau lekas2 kembali ke Hay-Kee-Chun! Hay An Peng telah binasa dibunuh orang "

Hay Yan menjadi pucat, ia sangsi apakah berita itu benar atau tidak.

"Yan-jie, pulanglah dan beritahukan kepada gurumu. jika ingin mencari Im Hian Hong Kie-su untuk menuntut balas, pinto dapat membantunya. Tapi kuminta supaya hal ini jangan sampai bocor. Nanti kelak kita dapat bertemu pula."

Begitulah selesai berkata maka Wan Hwi Siang mengajak Gokhiol pergi meninggalkan tempat itu. Hay Yan menggigil tubuhnya.

"Orang itu adalah gurunya Gokhiol, kiranya tidaklah ia akan mendustai aku,"

Pikirnya dalam hati. Dengan satu, lompatan ia menyusul kedua murid dan guru itu sambil berseru.

"Boanpwee mohon bertanya kepada to-tiang, sekarang ini Im Hian Hong Kie-su berada dimana?"

Wan Hwi Sian berpaling kebelakang, lalu menjawab .

"Dia tidak berketentuan tempat tinggalnya. Maafkanlah Pinto tidak dapat menjelaskannya. Jika gurumu Wanyen Hong Kongcu, memerlukan aku, maka dalam waktu sepuluh hari ini boleh ia bertemu dengan aku diatas bukit Sai-cu-giam di Kiam Kok."

Hay Yan berpikir, bagaimana orang ini dapat mengetahui akan gurunya yang memang adalah puteri dari kerajaan Kim?

Ia menengadah pula tapi kedua orang itu sudah berada jauh sekali.

lapun membalikkan tubuhnya dan berlari menuju...

Hay-Kee-Chun.

Ketika ia sampai di Hay-Kee-Chun, dilihatnya pintu masuk kedalam rumah terkunci rapat.

Keadaan sunyi senyap.

la dobrak pintu itu dan masuk kedalam rumah.

la menjerit bahna kagetnya!

Hay An Peng rebah diatas tanah dengan tidak bernyawa lagi!

la, menubruk tubuh orang itu seraya menangis menggerung-gerung.

Didapatkan olehnya, pada bagian bawah kuping Hay An Peng darah yang sudah-kering dan disitu masih menancap sebuah senjata rahasia!

Dicabutnya senjata itu yang ternyata bukan lain adalah...

Kui-cu Liu-seng!

Sambil menggertakkan giginya ia mendesis seorang diri .

"Im Hian Hong Kie-su! Tunggulah pembalasanku!"

Akhirnya Hay Yan menutupi jenazah.

Hay An Peng dengan selimut, kemudian ia berlari ke Kota Hitam pula.

Setelah tiba dihadapan Wanyen Hong, gadis kitapun menjatuhkan dirinya ditanah.

Sambil, menangis tersedu-sedu dituturkannya perihal kematian Hay An Peng, yang telah terbunuh oleh Im Hian Hong Kie-su.

Diberikan pula senjata rahasia Kui-cu Lui-seng kepada gurunya.

Wanyen Hong gemetar sekujur tubulinya tatkala mendengar semuanya yang diceritakan oleh muridnya, mengenai Gokhiol dan Wan Hwi-Sian.

"Wan Hwi To-tiang yang kau jumpai itu berapa kira2 usianya?"

Tanya Wanyen Hong dengan nada curiga.

"walaupun sejak dahulu aku belum pernah mendengar tentang orang tua itu, didalam rimba persilatan. Heran! Bagaimana ia dapat mengetahui bahwa aku ini adalah puteri dari negeri kerajaan Kim? Dan selain itu, bagaimana ia dapat mengetahui terlebih dahulu akan kematian Hay An Peng?"

"Suhu,"

Jawab Hay Yan.

"sebelum mereka pergi aku teiah menanyakan apabiIa; Wan Hwi To-tiang mengetahui. dimana Im Hian Hong Kie-su berada. Ia katakan bahwa Iblis itu tidak tentu tempat tinggalnia, tapi apabila suhu kelak memerlukan bantuannia, maka dalam waktu sepuluh hari suhu dapat berjumpa dengannya diatas bukit Sai-cu-giam di Kiam Kok"

Wanyen Hong mengerutkan keningnya.

"Dibalik ini tentu orangtua itu ada maksud apa2. Yan jie, baiklah akan kutulis sebuah surat rahasia. Kau harus dengan segera pergi kegedung Hu-tim Koan digunung Ciong-Iam San untuk menyerahkan suratku itu kepadai Hian Cin-cu yang menjadi kepala dari kuil disana. Dia adalah murid dari Song Hie Liam yang kini sudah lanjut usianya. Kemudian kau harus lekas2 kembali untuk menyusul aku digunung Kiam Bun dalam jangka waktu delapan hari. Jangan sampai meleset perhitunganmu!"

"Muridmu pasti akan menjalankan tugas suhu dengan baik,"

Jawab Hay Yan dengan sungguh2

"Hanya aku belum mengetahui hubungan apa yang ada antara suhu dengan pendeta Hian Cin-cu?"

Sambil menulis surat Wanyen Hong menjelaskan kepada muridnya .

"Hian Cin-cu berasal dari partai Bu-tong Pay. Kini ia telah menjadi Ciang-bun-jin perguruan Ciong-lam Pay. Pernah ia menjabat sebagai koksu agama To-Kauw diistana negeri Kim dan menjadi sahabat karib dari guruku. Nah, kalau nanti dilihatnya suratku ini dengan tanda pengenalku, pasti ia akan bertindak. Ingatlah! Kau harus kembali menurut waktu yang telah kutetapkan, janganlah sampai terlambat."

Berbareng dengan selesainya surat itu, Wanyen Hong melepaskan gelang Giok-cwan dari pergelangan tangannya dan kemudian dibungkusnya menjadi satu dengan surat rahasia tadi.

Pada saat itu juga Hay Yan meninggalkan Kota Hitam untuk menempuh perjalanan siang dan malam ...

---oo0dw0oo---MAKA beralihlah kini cerita pada pada pahlawan kita Gokhiol yang tengah mengikuti gurunya Dewa Kera Terbang, melewati gunung Wi-Lian San untuk kembali ke Mo-Thian Nia.

Disepanjang jalan hatinya tidak tenteram, sebab ia telah Melanggar perintah gurunya dan takut dimarahi.

Wan Hwi Sian dapat menangkap pikiran muridnya, iapun mesem.

"Muridku, segala yang telah kau perbuat telah kuketahui semuanya. Peruntunganmu masih bagus, kalau tidak niscaya nyawamu sudah melayang."

"Suhu!"

Jawab Gokhiol dengan rasa herannya.

"bagaimaha suhu mengetahui bahwa aku telah kena pukulan Telapak Tangan Hijau dari Im Hian Hong Kiesu?"

"Aku tidak menyebut tentang kau kena pukulan Lok-mo-Ciang itu, melainkan bahwa Wanyen Hong bermaksud mengambil jiwamu' Mendengar keterangan gurunya itu, pemuda kita makin tidak mengerti.

"Apa suhu juga mengetahui bahwa Hek-Sia Mo-lie itu adalah sama orangnya dengan Wanyen Hong? la telah menyembuhkan luka2-ku bagaimana suhu dapat mengatakan bahwa ia ingin mengambil jiwaku?"

"Huh!"

Bentak Wan Hwi Sian dengan suara dihidung.

"Apakah kau kira aku tidak mengetahui segala-nya? Wanyen Hong bukannya orang baik2. la telah mengetahui bahwa kau tak sudi mengingkari Jenderal Tuli ayah angkatmu dan kelak kau pasti akan menyumbangtan tenagamu demi kepentingan bangsa Monggol, sebab itulah ia bermaksud memusnahkan bibit penyakit yang akan merugikan terhadap kepentingannya negeri Kim."

Sejenak Wan Hwi Sian berhenti, kemudian meneruskan.

"Oleh karena itulah ia telah membujuk Hay Yan untuk menurunkan tangan jahat terhadapmu. Mengenai luka didadamu, sekalipun tidak diobati, kau takkan binasa oleh karenanya. Bukankah kau mengetahui sendiri bahwa selama setahun ini kau sudah berlatih ilmu Sui Hwee To yang tak mempan air dan api? Mana dapat racun Lok-mo-ciang masuk kedalam tubuhmu?"

Gokhiol mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Suhu,"

Tiba2 ia berseru.

"kau telah menjanjikan kepada Wanyen Hong untuk berjumpa denganmu di Kiam Kok, agakah benar2 kau ingin membantunya untuk membunuh Im Hian Hong Kie-su?"

"Benar,"

Jawab Wan Hwi Sian.

"Im Hian Hong Kie-su kepandaiannya tinggi sekali, tetapi sebaliknya terhadap pedang Mo-Hwee-Kiam ia gentar menghadapinya. Nah, begitulah rencanaku! Apabila Im Hian Hong Kie-su sampai dapat ditaklukan, barulah aku membekuk Hek Sia Mo-lie dan kemudian akan kubawa mereka ke Holim untuk memperoleh hadiah dari ayah angkatmu Jenderal Tuli. Dengan jasaku yang besar ini beliau pasti akan gembira sekali. Selain itu kaupun dapat membalas Sakit hatimu dan dihadapan ayah angkatmu kau akan meyakinkan kepercayaan lebih teguh terhadap dirimu. Nah, bukankah kau tidak sia2 mempunyai aku sebagai guru?"

Mendengar ucapan gurunya itu, bukan main besar hatinya pemuda kita. Lekaslah ia berlutut dihadapan sang guru untuk menyatakan terima kasihnya. Tiba2 ia teringat akan nasib Hay Yan.

"Suhu, adapun murid Wanyen Hong yang bernama Hay Yan itu, orangnya baik sekali."

Sebuah senyuman tersungging pada bibir Dewa Kera Terbang tatkala ia berkata .

"Hm, kau sudah terpikat oleh gadis cantik itu? Hati2lah, ia selama ini telah mempergunakan tipu Bie-jin-kee terhadapmu. Dahulu tatkala kau baru saja meninggalkan Holim dan berada dilembah Ban-Coa-Kok, bukankah kau telah diserang oleh dua orang See-hek? Sebenarnya yang berada dibelakang peristiwa itu adalah... Hay Yan sendiri! Kemudian karena usahanya gagal, ia telah muncul sendiri untuk merebut pedang pusakamu Ang-liong kiam. Apakah dengan kejadian tersebut kau masih berpendapat bahwa Hay Yan itu hatinya baik?"

Gokhiol tak sependapat dengan apa yang diuraikan oleh gurunya terhadap Hay Yan, namun hal itu disimpannya saja dalam hatinya.

"Suhu, sekarang kita kemana?"

Ia bertanya.

"Muridku, kau harus benar2 menurut perintahku. Dua hari lagi kita akan tiba didaerah Ceng-hay. Kau harus menyampaikan suratku kekuil Bu-liong Sie yang letaknya dibawah gunung Siok-kit San."

"Tapi, suhu."

Gokhiol menegurnya dengan heran.

"Daerah itu termasuk wilayah See-Hek. Sedangkan suhu sendiri mengetahui bahwa kaum See-Hek itu adalah musuh besar dari Monggolia."

"Aku tahu,"

Jawab Wan Hwi Sian.

"Tapi aku hanya menyuruhmu pergi kekui! Bu-liong Sie untuk menemui Ang-bian Kim-kong disana. Bagaimana orang2 See-Hek dapat megetahui tentang asal-usulmu? Setelah selesai melakukan tugasmu, kau harus lekas kembali ke Leng-Wan Koan dan menunggu berita selanjutnya dariku."

"Mengapa suhu tidak membiarkan teecu mengikuti suhu saja untuk ber-sama2 mencari Im Hian Hong Kie-su?"

Tanya pemuda kita dengan nada tidak puas.

"Apa kau ingin menghantarkan jiwamu dengan konyol?' jawab Wan Hwi Sian dengan gusar.

"Kelak, apabila aku berhasil membekuk Im Hian Hong Kie-su, maka dengan sendirinya kau dapat kesempatan untuk menuntut balas terhadapnya."

Gokhiol terdiam.

Dua hari kemudian tibalah guru dan murid itu digunung Siauw-cek San dan dikejauhan nampaklah pegunungan Siok-kit San.

Wan Hwi Sian menyerahkan sepucuk surat kepada Gokhiol dan mengulangi lagi pesanannya, setelah itu merekapun saling berpisah.

---oo0dw0oo---Cerita beralih pada Hay Yan yang tengah membawa surat rahasia dari Wanyen Hong yang harus disampaikan kepada Hian-Cin-cu digunung Ciong-lam San.

Adapun Ciong-lam San merupakan anak cabang dari pegunungan Cin Nia didaerah wilayah Siam-lam (daerah propinsi Siam-say bagian selatan yang beberapa ratus lie panjangnya).

Tatkala Hay Yan sampai dikaki bukit ia menanyakan letak tempatnya Hu-tim Koan kepada penduduk yang berdiam disekitar daerah itu.

Setelah mendapat beberapa petunjuk, iapun meneruskan perjalanannya mendaki gunung.

Adapun kuil Hu-tim Koan letaknya dilembah In-bu Hoan, bentuknya sangat mewah dan mentereng pada pilar pintu gerbang besar terukir kata2 .

Sin Sian In Kong Kwat.

Gadis kita melewati pintu gerbang itu dan ia terus disambut oleh petugas penerima tamu, yaitu Tie Tek Tosu.

Melihat Hay yan yang masih sangat muda dan ingin menemui Ciang-bun-jin, maka Tie Tek Tosu merasa heran".

"Siauw niocu datang dari Mana? Couw-su kami sudah lama tidak menerima orang luar. Siauw niocu mempunyai urusan apa dengan beliau? Nanti biarlah siauw-te yang menyampaikannya."

Hay Yan tak sabar hatinya, surat rahasia yang harus disampaikan sendiri kepada Hian Cin To-tiang. Harap kau memberitahukan kepada beliau dengan lekas"

Mendengar sigadis mempunyai urusan penting, Tie Tek Tosu tergerak hatinya.

"Silahkan Siauw nioicu masuk dan tunggulah dikamar tamu. Biarlah siauw-te memberitahukannya kepada Couw-su Ya."

Hay Yan diantarkan keruangg tetamu.

Setelah melewati beberapa lapis rumah dan pekarangan, maka sampailah mereka pada sebuah ruangan kecil.

Disitu ada seorang To-tong keci1 menyajikan teh.

Tie Tek Tosu meninggalkan gadis kita diruangan itu.

Setelah menunggu beberapa saat lamanya, Tie Tek Tosu masih belum muncul juga.

Hay Yan menjadi gelisah, ia keluar dari ruangan tamu untuk berjalan dipelataran rumah.

Begitulah tanpa disengaja sampailah ia pada tempat dimana tertanam banyak pepohonan dengan sebuah jalan kecil Yang terbuat dari batu2 menuju kesebuah bukit.

Diatasnya berdiri sebuah rumah yang terbuat dari bambu.

Keadaan disekitarnya sangat sunyi, nampaklah Tie Tek Tosu tengah berdiri tegak didepan rumah bambu itu.

Hay Yan menjadi mengkel.

Mengapa tosu itu berdiam saja disitu dan tidak masuk kedalam rumah?.

Sungguh kelakuan mereka itu sangat tolol kelihatannya.

Hay Yan berlari menanjak bukit, gesit sekali seperti kijang.

Begitu sigadis datang, Tie Tek Tosu lantas membentak.

"Siauw niocu jangan sembarang masuk? Couw-su sedang tidur siang dan tidak boleh dibangunkan"

"Urusanku sangat penting, harap bangunkan saja "Couw-sumu,"

Ujar gadis kita. Tie Tek Tosu menyilangkan tangannya.

"Siauw niocu? Jangan kau coba berbuat lancang! Tunggu dibawah?"

Mendengar bentakan tosu itu, Hay Yan menjadi mendongkol, maka didorongnya Tie Tek Tosu hingga terpental kebelakang. Tapi pada saat itu juga terdengarlah orang berseru dari dalam.

"Biarkan gadis kecil itu masuk, Tie Tek! Surat yang dibawanya telah kubaca!"

Suara itu bergema dikeempat penjuru angin, menandakan tenaga dalam yang sempurna sekali. Tie Tek Tosu tersenyum getir.

"Siauw niocu, silahkan masuk,"

Ujarnya.

Hay Yan dengan hati berdebar masuk kedalam rumah bambu itu dan nampak dihadapannya sebuah tempat tidur yang terbuat dari batu marmer putih.

Seorang Tosu yang lanjut usianya sedang duduk bersila diatas pembaringan itu.

Ditangannya, ia masih memegang sepucuk surat dan diatas meja kecil menggeletak...

batu Giok-Cwan!

Terperanjat Hay Yan merabah saku bajunya dan...

benar saja.

Surat rahasia sudah berpindah tangan tanpa disadarinya sedikitpun juga.

Ia mengawasi dengan terbengong-bengong, kepandaian tosu tua itu sungguh hebat luar biasa.

Penuh hikmat ia berlutut dihadapan Hian Cincu.

"Lo-sin Sian,"

Ujarnya "Tit-lie yang rendah bersujud kepadamu. Surat itu adalah dari suhuku untuk disampaikan kepada Couw-su Ya."

Hian Cin-cu mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata .

"Pinto sudah mengetahui semuanya. Sungguh tidak kusangka bahwa Wanyen Hong Kongcu masih hidup didunia. Kini kau pulanglah dan sampaikan salamku kepadanya."

Hay Yan membelalak matanya.

"Tapi..., tapi, apakah Couw-su hanya dapat memberikan jawaban itu saja?"

"Aku sekarang belum dapat menjawabnya dengan segera. Tapi obat Oil yang gurumu minta akan kuserahkan, tapi kau harus ber-hati2 membawanya dan simpanlah dengan baik2 dalam baju dalammu."

"Couw-su,"

Tanya Hay Yan pula.

"obat apakah itu?"

"Nanti, gurumu akan beritahukan padamu sendiri,"

Jawab Ciang-bun-jin perguruan Ciong-lam Pay.

Setelah menghaturkan terima-kasihnya, maka Hay Yan meninggalkan gunung Ciong-lam San dan menempuh perjalanan siang dan malam tanpa berhenti.

Begitulah ia sampai dibukit Kiam-Bu Nia, yang merupakan daerah penting untuk memasuki propinsi Su-Cwan.

Disitu hanya terdapat jalanan batu pasangan yang berjajar menanjak keatas bukit.

Gadis kita meng-hitung2 dan baru diketahuinya bahwa ia telah berjalan selama tujuh hari lamanya.

Iapun berpikir apakah gurunya sudah sampai atau belum?

Sedang asyiknya berjalan, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melompat turun dari puncak gunung.

Tapi ayal ia bersiap dalam sikap tempur dan nampak olehnya kini orang itu sudah berdiri dihadapannya!

"Yan-jie, gurumu sedang menantikan kau,"

Kata orang. Itulah gurunya Gokhiol, Wan Hwi Sian? "Gurumu sudah bertemu denganku pagi ini,"

Kata Wan Hwi Sian dengan suara tenang.

"kami telah berjumpa dibukit Sai-cu Giam. Ia takut kalau2 ia sampai dikenali orang, sedangkan tempat ini letaknya tidak jauh dari Mo-Thian Nia. Oleh karena itu untuk sementara ia bersama Gokhiol bersembunyi di Leng-Wan-Koan. la telah memberitahukan bahwa hari ini kau akan tiba kesini, maka ia telah minta pertolonganku untuk memberitahukanmu."

Hay Yan setengah tidak percaya akan ucapan itu dan iapun berkata penuh kesangsian .

"Tapi suhu telah menyuruh aku berjurnpa denangnya disini, mengapa sekarang ia sudab pergi lebih dahulu sebelum menemui aku?"

"Suhumu hendak mencari tahu tempat dimana Im Hian Hong Kie-su sedang bersembunyi,"

Jawab Wan Hwi Sian dengan wajah sungguh2.

"Setelah diketahuinya, barulah bersama pinto akan pergi menuntut balas? Nah, oleh karena itu ia menunggu kedatanganmu di Leng-Wan-Koan. Nah, sampai bertemu pula."

Dengan sekali berkelebat Dewa Kera Terbang meninggalkan tempat itu.

Hay Yan menghela napas panjang, tapi tak urung daIam hatinya ia merasa cemas dan kuatir.

Sebaiknya malam itu juga ia pergi ke Leng-Wan-Koan untuk melihat keadaan sesungguhnya.

---oo0dw0oo---Kembali pada kisah Wanyen Hong, yang telah menyuruh muridnya pergi kegunung Ciong-lam San untuk minta obat Cie-sui Wan (Pil penghenti rasa ngantuk) kepada Hian Cin-cu, serta untuk menyelidiki asal-usul tentang diri...

Wan Hwi Sian.

Karena Wanyen Hong merasa curiga terhadap munculnya Wan Hwi Sian didalam dunia persilatan.

Lagipula kekuatiran timbul ia harus tidur kembali, dan keadaan sangat gawat.

Begitulah sejak Hay Yan berangkat, sang waktu berjalan amat pesatnya.

Pada hari kedelapan, pagi2 sekali puteri kita telah berdiri menanti dibawah bukit Salju Giam.

Tapi setelah ditunggu sampai petang, Hay Yan masih juga belum kunjung tiba.

la menjadi gelisah.

Menjelang magib, tiba2 terdengar olehnya suara senjata saling beradu dibawa angin.

Rupanya ada orang sedang bertempur.

Dengan cepat ia lompat kebalik bukit dan memandang kelembah.

Tampak olehnya dua bayangan manusia yang sedang bertempur diancara berkelebatnya sinar2 pedang yang berkilauan.

Tatkala itu sang surya yang berwarna kemerahan sudah lambat2 menyelinap dibalik gunung.

Didalam lembah sudah menjadi gelap.

Wanyen Hong mempergunakan ilmunya untuk melihat dalam jarak jauh.

Maka tampak olehnya salah seorang mengenakan pakaian berwarna hijau, sedangkan seorangnya lagi mengenakan pakaian berwarna hitam.

Walaupun jaraknya jauh, ia dapat melihat bahwa pedang sibaju hitam mengeluarkan sinar merah.

Itulah Ang-liong-kiam!

Sayup2 terdengar orang berseru .

"Hai, iblis Im Hian Hong! Apakah ganjalan sakit hatimu terhadap gadis kecil itu? Mengapa kau menurunkan tangan kejammu?"

Itulah suara Wan Hwi Sian! "Huh,"

Jawab orang yang berbaju hitam itu.

"Hay Yan adalah puteriku. Aku bawa ia pulang, itulah urusanku. Mengapa kau ingin turut campur urusan orang? Kalau kau belum kenal gelagat janganlah kau salahkan bahwa pedang pusaka Ang-liong-kiam tidak mempunyai mata!"

Mendengar ucapan sibaju hitam itu.

Wanyen Hong timbullah kegusarannya.

Sekali cabut pedang Mo-Hwee-Kiam terhunus ditangannya dan bagaikan macan betina ia, melompat turun kedalam lembah dimana dua orang tadi tengah bertempur.

"Wan Hwi To-iang! Jangan lepaskan iblis jahanam itu."

Teriaknya.

Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang jarang tandingannya, maka cepat sekali puteri kita sudah sampai dibawah lembah.

Ia lompati batu2 gunung yang terjal bagaikan seekor burung walet saja yang sedang melayang turun dari angkasa.

Begitu mendengar seruan Wanyen Hong, sibaju hitam Menangkis pedang Wan Hwi Sian.

Kemudian menyusul pukulan Telapak Tangan Hijau dan segera pasir serta lelatu kecil berhamburan bagaikan dihembus badai.

Sesaat kemudian sibaju hitam melesat keatas, tebing lamping gunung.

Hal itu tepat terjadi pada ketika Wanyen Hong sampai dibawah lembah!

Bagaikan setan sibaju hitam menghilang tanpa diketahui arahnya lagi.

Wanyen Hong berhadapan dengan Wan Hwi Sian.

Ia melihat pada baju tosu itu terdapat bekas telapak tangan berwarna hijau.

Sedangkan yang kelihatan hanyalah empat jari!

Wan Hwi Sian bermandikan peluh.

Begitu melihat Wanyen Hong ia menyapanya dengan nada menyesal.

"Kalau Kongcu datang sedikit lebih cepat pasti Iblis itu takkan lolos dari kematian."

Wanyen Hong tak menghiraukan ucapan orang itu, sebalikanya ia bertanya dengan kuatir.

"To-tiang, dimanakah muridku Hay Yan ?"

Wan Hwi Sian berubah suram.

"Iblis itu telah menangkap muridmu. Pinto mengejarnya dari belakang tapi tengah kukejar tak di-sangka2 muncul kalian yang lantas mengambil muridmu dan melarikan diri."

"Celaka!"

Wanyen Hong berseru bahna kagetnya.

"aku harus, menolong Yan-jie. Apakah totiang dapat membantu aku untuk mencarinya?"

"Memang aku bermaksud mengajak Kongcu untuk bersama pergi kegunung Jie-Liong San untuk membuat perhitungan dengan jahanam Im Hian Hong Kie-su,"

Jawab Wan Hwi Sian dengan penuh semangat.

"jika Kongcu tidak gentar untuk menyatroni sarang harimau, maka dengan menggabung tenaga kita berdua menjadi satu, pasti kita dapat membunuh penjahat itu!"

Wanyen Hong memberi hormat kepada Dewa Kera Terbang, yang lekas2 mundur seraya mengulapkan tangannya.

"Jangan Kongcu mengucap terima kasih terhadapku. Sudah selayaknya kita harus bantu membantu dalam menumpas kebathilan. Dengan menggunakan pedang Mo-Hwee-Kiam Im Hian Hong pasti akan dapat dibinasakan oleh Kongcu."

"Mula2 aku kira Wan Hwi Sian adalah orang jahat. Sungguh keterlaluan, hampir saja aku memusuhi seorang sahabat rimba persilatan,"

Demikianlah pikir puteri kita dalam hatinya.

Begitulah malam hari itu juga bersama Wan Hwi Sian, Wanyen Hong menempuh perjalanan kegunung Jie-Liong San.

Bagaikan bayangan saja kedua petualangan itu melesat secepat angin dan dalam waktu sekejap mata saja mereka telah hilang dikegelapan malam ...

---oo0dw0oo---Diceritakanlah bahwa setelah Im Hian Hong Kie-su yang sejati, nama sebenarnya adalah Gak Hong, keluarga almarhum Jendral besar Gak Hui setelah berpisahan dengan Pato dan Gokhiol di Kota Hitam, lalu balik kembali ke Jie Liong San, ke Jie-liong-bio.

Adapun tatkala Gak Hui difitnah oleh Cin Kui dan menjalani hukuman mati yang menimpah sanak keluarganya.

maka Gak Hong mengganti namanya menjacli Im Hian Hong Kie-su dan hidup mengasingkan diri bersama kedua orang perwira bawahannya yang setia padanya.

Adapun kedua perwira itu yang satu bernama Ong Hoan, yang memiliki tenaga yang luar biasa hebatnya, ia melatih Gwa-kang atau Tenaga-luar.

Sedangkan yang satunya lagi bernama Lie Gan yang mempunyai kepandaian untuk mempergunakan senjata Lian Cu Tancie, yaitu peluru berantai!

Andaikata ia seratus kali melepaskan pelurunya, maka tidak satupun yang gagal menemui sasarannya.

Lie Gan sangat faham akan sifat2 binatang.

Apabila ia bersiul, maka binatang2 buas didalam hutan segera datang menghampirinya.

Semenjak kedua perwira setia mengikuti Im Hian Hong Kie-su untuk hidup menyepi mereka menjadi penjaga kuil Jie-Liong Bio.

Apabila ada orang jahat yang ingin mendaki gunung, maka mereka menggulingkan batu2 besar atau menyuruh binatang2 buas mengusirnya.

Maka selama belasan tahun, tiada seorangpun yang berani mencoba untuk mendekati atau mengganggu Jie-Liong Bio.

Malam itu angin gunung menderu-deru, diluar kuil JieLiong Bio sebaliknya keadaan sunyi senyap.

Tiba2 seekor burung gagak terbang keatas seraya menjerit-jerit dengan berisiknya.

Terkesiap Ong Hoan melompat dan masuk kedalam untuk membangunkan Lie Gan.

"Diluar ada orang!"

Bisiknya.

Cepat2 Lie Gan menjambret busurnya dan membuka jendeIa kamarnya untuk melihat keluar.

Baru saja jendela terbuka atau mendadak desiran angin menyambar masuk.

Pada saat itu juga jeritan mengerikan keluar dari mulut Lie Gan, sekonyong-konyong ia roboh dilantai.

Berbarengan dengan jatuhnya Lie Gan, maka sesosok bayangan hitam muncul dijendela.

Ong Hoan terperanjat bukan kepalang.

Tanpa berpikir panjang lagi ia mengangkat tangannya, dengan penuh kegusaran ia pukul tamu yang tak diundang itu hingga terpental keluar.

Tetapi sebaliknya ia merasa semacam hawa dingin menyerang tubuhnya.

Tanpa ayal Ong Hoan menutupi seluruh jalan-darahnya seraya lompat keIuar melaIui jendela.

Tapi baru saja ia sampai diluar atau mendadak kakinya menjadi lemas.

Maka dengan mengumpulkan tenaga yang penghabisan ia berteriak .

"Cujin ada musuh....!"

Suaranya berkumandang keseluruh penjuru angin, dan setelah itu seluruh pandangan ong Hoan menjadi gelap.

Menyusul mana ia roboh.....

Im Hian Hong Kie-su yang sedang bersamadi didalam kamarnya, tergetar hatinya.

Pada saat itu juga ia mendengar dua macam gelombang suara desiran angin.

Insaf akan kedatangan musuh2 yang tangguh, ia mengganti pakaiannya dan mengenakan baju wasiat Kilin Hok Sin Kok atau baju lapis pelindung tubuh.

Lalu diambilnya pula Biat-hwee Hud-tim atau Pengebut-api yang terbuat daripada bulu jenggot gajah laut.

Disisipkannya senjata itu pada ikat pinggangnya, kemudiarn barulah ia mengenakan baju biasanya lagi.

Mendadak dari luar terdengar suara gedebukan dan tampaklah dua buah benda besar menghantam dinding hingga hancur, dan terus melayang masuk kedalam.

Itulah dua ekor babi hutan besar yang beratnya ratusan kati.

Babi2 itu sudah mati dan kepalanya pecah berlumuran darah.

Seraya tertawa dingin Im Hian Hong Kie-su menyambut hadiah istimewa tersebut dengan kedua belah tangannya.

"Wan Hwi Sian!, malam ini kau baru datang kemari! Sungguh sudah banyak kejahatan yang telah kau lakukan. Bagus! Aku justru hendak menyingkap kedok rahasiahmu!' Pada waktu yang bersamaan Wanyen Hong yang datang bersama sama Wan Hwi Sian, sudah menghunus pedang pusaka Mo-hwee-kiam. Tiba2 terdengar ditelinganya orang berbisik.

"Wanyen Hong Kongcu, dengarlah! Orang yang datang bersamamu itu justru adalah musuhmu! Dialah Iblis yang selalu berganti rupa."

Wanyen Hong menyadari bahwa penghuni dalam rumah itu tengah berbicara dengannya secara rahasia.

Ilmu menyalurkan suara diudara itu mirip dengan ilmu pendeta2 kaum Bit-cong Pay yang bernama Thwan lm Jie-Bie!

Ilmu itu menunjukkan tenaga-dalam yang tinggi sekali!

Dengan cara demikian, hanya orang yang diajak bicara saja yang dapat mendengar, orang lain tidak.

Wanyen Hong sangat terkejut akan apa yang baru didengarnya itu.

Wan Hwi Sian tertawa dingin.

"Iblis Im Hian Hong!"

Ia berteriak mencaci.

"LekasIah keluar untuk menerina ajalmu? Kau sudah membunuh Hay An Peng, menculik Hay Yan. Hah!, hari ini tamatlah riwayatmu."

Berbareng Wan Hwi Sian menggerakkan tangannya, memukul amat dahsyatnya.

Biasanya pukulan angin Wan Hwi Sian dapat membuat rubuh dinding batu, maka sudah semestinya dinding kuil Jie-Liong Bio takkan dapat menahan serangannya.

Namun sungguh aneh?

Beberapa kali Dewa Kera Terbang memukul, tapi rumah itu tidak roboh, hanya pelahan-lahan terbenam kedalam tanah sehingga rumah itu kini lebih rendah berdirinya dari semula.

Melihat kejadian itu, Wan Hwi Sian berdiri mejublak.

Begitu pula Wanyen Hong melongo keheran-heranan.

Sekonyong-konyong ditelinganya terdengar pula bisikan halus.

"Kongcu yang berdiri disisimu itu tidak lain dari pada iblis jahanam yang dulu menyamar menjadi Tio Hoan. Ia mengetahui bahwa aku mengetahui rahasianya, maka ia hendak mempergunakan pedang Mo-hwee-kiammu untuk membinasakan aku. Apabila kau tak percaya, kibaskanlah pedang Mo-hwee-kiam dekat tangan-kanannya dan waktu itu juga telunjuk palsu pada tangan sebelah kanannya akan locot dihadapanmu."

Selesai membisikkan Wanyen Hong, Im Hian Hong Kie-su membentak dengan suara mengguntur.

"Wan Hwi Sian, kau telah menipu Wanyen Hong Kongcu sebagai Tio Hoan. Tepatlah dikatakan bahwa kau berhati serigala dan bernapaskan paru2 anjing ...."

Bukan kepalang gusarnya Wan Hwi Sian! Dangan mata menyala-nyala ia berseru kepada Wanyen Hong.

"Kongcu, lblis itu menyemprotkan darah kepada kita. Apa yang kita nantikan lagi?"

Sambil menarik tangan sang puteri, berbareng ia menghantam bertubi-tubi menghancurkan dinding kuil dengan telapak tangannya.

Serempak dengan itu dari dalam rumah berkelebat keluar dua benda yang lantas saja hancur berkeping-keping.

Itulah babi2 hutan yang dilemparkan keluar oleh lm Hian Hong Kie-su!

Tiba2 angin berkesiur dari dalam rumah dan sesosok bayangan orang muncul keluar.

Wan Hwi Sian mengayunkan tangannya dan bagaikan kilat senjata-gelapnya membeset diudara malam, menyilaukan sinarnya.

Im Man Hong Kie-su berdiri tegak dengan Biat-hwee Hud-tim ditangannya Sekali dikibaskan hud-tim itu.

maka senjata2 gelap itu lantas menempel pada bulu2 hudtim, indah nampaknya bagaikan perhiasan saja!

"Ha-ha-ha!

Sungguh suatu timpukan yang jarang tandingannya dari ilmu Liu-seng Yap-cu Piauw!"

Demi mendengar teriakan itu, hati Wanyen Hong terkejut!

Diawasinya orang yang bersenjatakan Hudtim itu dengan seksama, sibaju hitam!

Dikepalanya terdapat sebuah topi yang biasa dipakai oleh seorang sastrawan, jubahnya amat besar, sedangkan lengan bajunya bergoyang-goyang tertiup angin.

Boleh dikata tidak ada perbedaannya dengan sibaju hitam yang biasa ditemui oleh Wanyen Hong.....

tetapi...

ada perbedaannya diantara keduanya.

Perbedaannya, ialah yang dulu sinar matanya ber-nyala2 seram menakutkan, sebaliknya yang ini dan sekarang berada dihadapannya ....wajahnya jernih dengan sikapnya yang agung.

"Siapakah gerangan orang ini?"

Pikir Wanyen Hong dalam hatinya. Seketika itu wajah Wan Hwi Sian menjadi pucat.

"Im Hian Hong Kie-su!"

Teriaknya dengan gemetar.

"Kiu-cu Liu-seng itu adalah milikmu. Semenjak beberapa tahun ini sudah banyak korban yang jatuh akibat tangan jahatmu. Aku hanya membalas dengan cara yang sama, agar kau binasa dengan nasib serupa seperti korban2-mu."

"Ah, kiranya begitu!"

Jawab Im Hian Hong sambil tersenyum.

"Hek Yauw Hu-lit Sian! Aku Gak Hong mengucap banyak terima kasih atas pengajaranmu!"

Demi Wan Hwi Sian disebut Hu-lit Sian, Wanyen Hong mendadak menjadi pucat air mukanya.

"Apa?! Kau... Gorisan?!"

Seru Wanyen Hong dengan gemetar seraya menuding kepada Wan Hwi Sian. Adapun gerakan itu seolah-olah Wanyen Hong hendak menyingkap wajah aslinya Wan Hwi Sian! "Kau?!...."

Tetapi sampai disitu saja perkataannya, Wan Hwi Sian yang kini bermandikan peluh tertawa dengar suara parau .

"Kongcu, kau jangan mendengar obrolannya. Ia hendak mengadu-dombakan kita. Waspadalah!"

Mendadak, mendadak saja Wan Hwi Sian melompat kesamping!

Dengan gerakan yang amat pesat, ia menyerang Im Hian Hong Kie-su!

Sebagaimana diketahui Wan Hwi Sian mahir menggunakan ilmu meringankan tubuh dari Barat-laut, maka kini dipergunakannya tipu Leng-wan Ya-cong atau Kera-sakti berloncatan dimalam-hari.

Gerakannya sangat gesit dan lincah serta cepat bagaikan halilintar!

Im Hian Hong Kie-su hanya melihat bayangan berkelebat dan tiba2 saja mukanya kena telapak tangan yang bersinar hijau.

"Plak!"

Lm Hian Hong Kie-su terhuyung-huyung kebelakang.

Mata Wanyen Hong membelalak.

Melihat tanda bekas telapak tangan berwarna hijau dileher orang, hatinya menjadi dingin.

Apa yang dilihatnya ialah bahwa bekas telapak tangan itu...

berjari empat!

Puteri negeri Kim menggigil kedinginan.

Nafasnya turun-naik amat sesaknya saking menahan, amarahnya yang bergelora.

Terbayang-bayang pula dalam pikiranya perjamuan maut di Kota Hitam.

Im HianHong Kie-su menggeletak di atas tanah bagaikan mayat.

Seraya menjerit bagaikan keranjingan Wan Hwi Sian lompat menerjang pula untuk membunuh lawannya yang kelihatan sudah tak berdaya lagi, yang sedang menunggu kematian saja.

Dengan gerakan Hek-hauw Tiauw-sim atau Harimau-hitam-mencuri-hati Wan Hwi Sian menghantam dada Im Hian Hong Kie-su dengan suara yang menggeletar.

Sedangkan tangannya yang lain siap-sedia memberikan pukalan untuk membinasakan!

"Gedebuk!...."

Telak sekali pukulan itu mengenai dada Im Hian Hong Kie-su!

Sipenunggu Puncak Gunung Maut menjerit dan berkelejetan seperti seekor ikan!

Dengan megahnya Wan Hwi Sian mendongak keatas dan tertawa terbahak-bahak.

"Ha-ha-ha.! Ha--ha-ha!.... kau akhirnya mampus juga!"

Dia melangkah maju dan melontarkan tendangan geledeknya.

Tapi...

sekonyong-konyong...

dengar tidak ter-duga2 Im Hian Hong Kie-su mencelat bangun!

Sungguh suatu gerakan yang luar biasa cepatnya!

Berbareng dengan itu pendekar besar itu mengirimkan pukulan Wan-to Bian-chiu atau tangan-kapas-meraup-selendang yang hebat bukan kepalang.

Tepat sekali pukulan itu mengenai mukanya Wan Hwi Sian.

Dan Wan Hwi Sian mengerang kesakitan, menyusul mana ia jatuh terguling ketanah.

Selagi Wanyen Hong dengan tegangnya menyaksikan perkelahian yang luar biasa hebatnya itu, bekas tetapak tangan pada leher Im Hian Hong Kie-su lenyap!

Sebaliknya kini nampak dipipi Wan Hwi Sian...

tanda telapak tangan berwarna hijau segar!

Wanyen Hong tak habis berpikir.

Memang ia mengetahui bahwa para ahli tenaga-dalam sudah mencapai taraf yang sempurna, memiliki ilmu Khie-kang Han-thwan-tauw atau Mengirim-tenaga-melalui-udara.

Ilmu tersebut selain dapat mematahkan pukulan musuh, juga dapat berbareng mengembalikan pukulan pada lawannya sendiri.

Tepat kalau dipakai istilah .

Meminjam tenaga lawan untuk menghancurkan lawan itu!

Tadi Im Man Hong Kie-su telah terkena pukulan Lok-mo-ciang dari Wan Hwi Sian, tapi kini telapak tangan itu dikembalikan pada pipi lblis itu.

Hal mana dengan sendirinya telah mengubah serta memunahkan lukanya sendiri!

Wanyen Hong tertegun bahna kagumnya.

Sebagaimana diketahui Wan Hwi Sian telah duapuluh tahun lamanya menyakinkan Lok-mo-ciang, ilmu yang menjadi kebanggaannya.

Tapi tak disangka kini ia sendiri yang menjadi korban kepandaiannya itu!

Tanpa ayal dihisapnya hawa murni untuk melenyapkara tanda telapak tangan pada pipinya itu.

Rupanya Im Hian Hong Kie-su telah menggunakan ilmu Khie-kang Hang-thwan-tauw dan sengaja mandah menerima pukulan dari Wan Hwi Sian itu.

Hal ini ada latar belakangnya, sebab Sipenunggu Puncak Gunung Maut ingin memperlihatkan bahwa telapak tangan Wan Hwi Sian hanya berjari ampat!

Dengan demikian sudah menjadi bukti yang tak dapat disangkal lagi bahwa benarlah orang itu adalah musuh besarnya Wanyen Hong!

Iblis yang telah lama mempergunakan nama baiknya sehingga ia menjadi korban akibat perbuatan2 jahat itu.

Wanyen Hong segera mengenali musuh besarnya!

Hatinya melonjak-lonjak, tubuhnya gemetar.

Hanya matanya saja yang ber-api2 menatap Wan Hwi Sian dengan penuh dendam dan kebencian.

Melihat pandangan Wanyen Hong itu, mau tak mau hati Wan Hwi Sian gentar juga.

"Kongcu, janganlah kau sampai dikelabui akal bulus si Iblis!"

Wan Hwi San berteriak, mencoba ingin membela dirinya.

"Tangan kananku jari2nya lengkap lima buah, lihatlah! Dia sengaja menghilangkan telunjukku agar kelihatannya hanya ada empat jari2 saja! Dia hendak membingungkan kau agar mengira aku adalah musuh besarmu. Maka dengan jalan ini, dia ingin meminjam tenaga Kongcu untuk membunuh aku."

Ketika Wan Hwi Sian sedang berbicara, telinga Wanyen Hong pada saat bersamaan menangkap suara Im Hian Hong Kie-su yang dikirim melalui udara .

"Kongcu, dialah saudara misanm sendiri ....Gorisan! Bunuhlah dia! Jangan kasih lolos!"

Sekonyong-konyong bagaikan gila Wanyen Hong menuding kepada Wan Hwi Sian serta menjerit bagaikan gila.

"Gorisan! Kau manusia yang berjiwa binatang! Tak kusangka bahwa musuhku yang sudah tujuhbelas tahun lamanya kucari-cari adalah kau.... Kau, saudara misanku sendiri! Kau!?."

Bagaikan halilintar pedangnya menyambar, namun Wan Hwi Sian tidak kalah tangkasnya.

Ia merandek, berbareng tangannya mengebut.

Begitu kebutan tangan itu mengenai pedang Mo-hwee-kiam, senjata itu kena kesamppk.

"Kongcu, jangan ladeni hasutannya. Dia justa!"

Berteriak Wan Hwi Sian alias Gorisan.

Pedang pusaka bergetar ditangan puteri negeri Kim.

Matanya mengawasi Wan Hwi Sian dengan panah kebencian yang menggila!

Tampak olehnya samar2 pada muka orang itu ada sesuatu yang tidak beres.

Kulit muka orang itu telah merekah dan terbeset sedikit.

Kini Wanyen Hong menyadari bahwa orang telah mengenakan ...

sebuah kedok!

Gorisan belum mengetahui bahwa sebagian dari kedoknya telah rusak.

Melihat sang puteri tengah memandang dirinya dengan mata berkilat-kilat, tanpa ayal ia lompat menubruk deengan tipu Leng-wan Tie-kauw atau KeraSakti-memetik-buah.

Tahu2 ia berada disamping puteri negeri Kim!

Dengan tangan kirinya diluruskan kaku, Gorisan menotok pergelangan tangan sang puteri yang halus-putih, sedangkan tangan kanannya bergerak mencengkeram.

Tapi pada detik yang gawat itu, Im Hian Hong Kie-su mencelat kedepan, berbareng ia sampok lengan Gorisan.

Hebat sekali pukulannya!

Tapi Gorisan pun bukan sembarang orang.

Laksana ular bermain, jari2nya menyambar untuk menyerang.

Hawa dingin menyambar diudara, terkesiap Im Hian Hong Kie-su menarik kembali tangannya.

Bila terlambat, pasti hawa dingin itu akan merembes kejantungnya dan itu berarti ...

kematian!

Itulah bukan lain daripada tipu Thian-kwan Kay-in atau Malaikat kayangan mencapkan tanda.

"Gorisan, kau adalah manusia anjing yang tidak mengenal budi!"

Tiba2 Wanyen Hong berteriak, disusul dengan serangan pedangnya yang dahsyat laksana halilintar.

Gorisan terkejut!

la menginsyafi dirinya dalam ancaman bahaya menghadapi dua lawan tangguh, maka iapun buru2 melompat keluar dari gelanggang pertarungan.

Dibakar kebencian yang membara, Wanyen Hong melesat kedepan sambil menikam dengan pedang Mo-hweekiam!

Mendadak Gorisan membalikkan tubuhnya dan dengan gerakan Ci-ju Tiauw-swie atau Kodok-bangkong-meloncat-kedalam-air ia menyerang dengan Lok-mo-ciang kearah sang puteri?

Begitu kesampok, pedang Wanyen Hong balik membal keudara.

Dengan gusar Wanyen Hong menggetarkan pedangnya dan asap putih mulai mengepul menyelubungi pedang pusakanya.

Gorisan berkali-kali melepaskan pukulan-mautnya yang dahyat, namun satupun tak ada yang dapat menembusi kepulan asap putih.

Sebaliknya dia sendiri menjadi kepanasan hingga mendadak saja telunjuknya terlocot!

Kiranya telunjuknya adalah palsu!

Tak salah lagi!

Gorisan adalah si Iblis!

Dialah yang telah mencemarkan puteri negeri Kim!

Dialah yang menimbulkan kegegeran dan mala-petaka!

"Gorisan!"

Wanyen Hong berteriak sambil tertawa menyeramkan.

"akhirnya tersingkap juga kepalsuanmu! Malam ini adalah malam kematianmu!"

Wanyen Hong membuka baju luarnya!

Menyusul mana cahaya putih menyorot dari mutiara pada kaca tembaganya.

Cahaya putih itu menyilaukan sekali.

Gorisan memejamkan maianya dan se-konyong2 tubuhnya berjumpalitan membubung keatas, sambil bersiul panjang memekakkan telinga ia sudah hinggap diatas tebing gunung.

Begitu kakinya menyentuh batu.

Sekali sepak saja batu dihadapannya jatuh menggelinding kebawah dengan suara gemuruh.

"Pengecut! Jangan lari!"

Im Hian Hong Kie-su berteriak dengan suara mengguntur.

Dengan tak gentar sedikitpun ia mengangkat tangannya menangkap batu besar itu dan bagaikan menyambut daun yang rontok, maka dilemparkannya kembali keatas.

Tetapi Gorisan sudah menyingkirlan diri dan menghilang ditempat yang gelap.

Sayup2 dari kejauhan berkumandang suaranya.

"Ha-ha-ha! Wanyen Hong, puterimu Hay Yan masih berada ditanganku! Ingatlah!"

Muka puteri negeri Kim menjadi pucat.

"Da menculik Hay Yan. Marilah kita susul!"

Serunya dengan gemetar. Tetapi lm Hian Hong Kie-su mencegahnya.

"Kongcu,"

Katanya dengan sabar.

"Ada peribahasa yang mengatakan . binatang kawa2 matipun tidak kaku. Dia telah meyakinkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali. Tak mungkin kita menyandaknya. Lebih baik kita bersabar dulu. Puterimu Hay Yan tidak terancam jiwanya."

"Kie-su"

Jawab sang puteri.

"walaupun Yan-jie adalah keturunan jahanam itu, tapi aku tetap kuatir akan keselamatannya."

Laksana butir2 permata yang putih airmata puteri kita berlinang turun.

"Kongcu, janganlah bersusah hati,"

Im Hian Hong Kiesu menghibur.

"Kini Gorisan dapat meloloskan diri. Tapi kalau kelak ia kembali ke Mo-Thian Nia, pasti ia akan masuk perangkap adik-seperguruanmu Liu Bie."

Kemalu-maluan Wanyen Hong mengusap matanya.

"Kie-su, bagaimana kau ketahui bahwa adik seperguruanku bernama Liu Bie? Sedangkan aku sendiri belum mengetahuinya,"

Jawabnya dengan heran.

"Dialah murid gurumu Tiang Pek Lo-ni yang terakhir. Liu Bie lah yang mengirimkan surat gurumu kepadamu."

Sahut Sipenunggu Puncak Gunung Maut. Wanyen Hong kini baru mengerti segalanya. Maka ia bertanya pula.

"Bagaimanakah Kie-su mengetahui bahwa puteriku Hay Yan tertawan oleh Gorisan!"

Im Hian Hong Kie-su menceritakan bagaimana Gorisan telah berhasil menipu Hay Yan untuk disuruh pergi ke Leng-Wan-Koan. Dan disitulah sigadis telah tertawan oleh para Lhama."

"Ada hubungan apakah antara kaum Lhama, dengan Gorisan?"

Tanya Wanyen Hong dengan heran.

"Kongcu,"

Jawab lm Hian Hong Kie-su "Ketahuilah bahwa Gorisan pada akhir2 ini telah bersekongkol dengan pihak See-Hek dan berteman dengan Ang-bian Kim-kong dari kuil Bu-liong Sie cabang Ceng-hay.

Dialah yang baru diangkat menjadi menteri agama oleh raja dari negeri See-Hek."

Wayen Hong terdiam, mendengar dengan penuh perhatian.

"Adapun tugasnya yang terutama ialah memimpin agama Too sedangkan yang lainnya untuk mengurus agama Buddha. Beberapa hari yang lalu, Gorisan telah menyuruh Gokhiol untuk mengirim surat ke Bu-liong Sie dengan maksud mengundang datang Ang-bian Kim-kong ke Leng-Wan-Koan untuk menangkap Hay Yan!"

"Jadi puteriku tertawan oleh mereka?!"

Tanya sang puteri dengan cemas.

"Aku harus segera ke Mo-Thian Nia untuk menolonginya."

"Kongcu,"

Ujar Sipenunggu Puncak Gunung Maut.

"Gurumu Tiang Pek Loni memesan agar kita jangan bertindak ter-gesa2. Hati kita boleh panas, namun pikiran haruslah dingin."

Lm Him Hong Kie-su mengajak sang puteri berjalan, tak beberapa lama kemudian sampailah mereka pada sebuah goa yang tertutup oleh batu besar.

Sipenunggu Puncak Gunung Maut mendorong batu tersebut dan dari dalamnya terhuyung-huyung keluar seorang yang berpakaian baju hitam.

Orang itu serupa benar dengan Im Hian Hong Kie-su, bagaikan pinang dibelah dua saja.

"Kie-su, siapakah gerangan dia?!"

Seru Wanyen Hong bahna kagetnya.

"Dia adalah murid Ang-bian Kim-kong dari Bu-liong Sie, namanya Ma Tui si Kaki Terbang. Dialah yang kau lihat telah menyamar seperti aku dan ber-pura2 bertempur dengan Gorisan."

Wanyen Hong begitu melihat orang itu, segera timbul pula amarahnya.

"Plak ! Plok ?"

Tangannya mampir dipipi Ma Tui, yang lantas jatuh terguling.

"Sabarlah, Kongcu; dia hanya alat-boneka saja,"

Ujar Im Hian Hong Kie-su, kuatir sang puteri membunuh si Kaki Terbang.

"Hei, Ma Tui! Dimana Hay Yan? Lekaslah beritahukan sebelum Kongcu mengambil jiwamu."

Ma Tui melihat kepada Wanyen Hong yang tengah mengawasinya dengan mata me-nyala2, menjadi ketakutan sekali.

Lekas2 ia ceritakan apa yang diketahuinya "Nona Hay Yan telah ditipu oleh Gorisan yang telah menyuruhnya pergi untuk berjumpa dengan Koncu di Leng Wan-Koan.

la masuk kedalam kuil, tetapi tidak ada orang.

Samar2 terhendus olehnya bau wewangian yang aneh, yang seolah-olah membetot dirinya untuk berjalan, berjalan menghampiri wewangian itu.

la melewati tiga pintu, lalu tiba pada sebuah ruangan yang ditengah-tengahnya berdiri sebuah patung Buddha sebesar manusia, jubahnyapun merah tua.

Hati gadis kita bercekad!

Patung itu mirip sekaii seperti...

manusia hidup!

Se-olah2 orang hidup dalam keadaan mabuk.

Tiba2 hidungnya mencium pula wewangian aneh, kini lebih keras, sehingga kepalanya menjadi pening.

Kiranya diatas meja sembahyang ada sebuah anglo terbuat dari tembaga yang mengepulkan asap Hay Yan merasakan ada sesuatu yang kurang beres.

Dengan hatil berdebar dihampirinya patung Budha untuk melihat lebih jelas.

Tiba2 pada wajah sigadis membayang kekagetan...

Patung itu bergerak!

"Kau manusia atau setan?!"

Teriak gadis kita dalam ketakutannya.

"Ha-ha-ha....! Ha-ha-ha...! Betul, aku setan... gentayangan, gentayangan yang mencari kau! Ha ha-ha!"

Bukan kepalang kagetnya Hay Yan.

Serentak ia mencabut pedangnya untuk melawan.

Tapi tiba2 sekujur badannya menjadi lemas, padangannya menjadi gelap.

Terhuyung-huyung ......

sigadis jatuh pingsan ...

---oo0dw0oo---MENDENGAR cerita Ma Tui itu, Wanyen hong menjadi tak sabar untuk lekas mendengarkan akhir penuturan itu.

"Lalu bagaimana selanjutnya?"

Ia membentak "Patung Buddha itu adalah guruku dalam penyamaran Tapi ia menantikan Gorisan, untuk mengambil tindakan selanjutnya terhadap muridmu."

"Kemana pedang Ang-liong-kiam yang kau pakai itu?"

Tanya sang putri.

"Gorisan merasa kuatir,"

Jawab Ma Tui.

"Bahwa Gokhiol akan mengenali pedangnya, maka tak berani ia membawanya kemana2. Kemarin ia telah menyuruh aku untuk menyimpannya kembali kedalam lembah. Tapi diluar dugaan, aku telah kena ditawan oleh Kie-su."

"Ma Tui,"

Ujar Im Hian Hong Kie-su.

"Bila kau mau menunjukkan tempat persembunyian pedang itu, nanti setelah Kongcu berhasil membereskan Gorisan, aku akan melepaskan kau!"

Ma Tui menjadi girang bukan kepalang, terus ia berlutut menghaturkan terima-kasihnya.

"Kongcu,"

Ujar Im Hian Hong Kie-su.

Baca Juga: Dara Baju Merah 3

Baca Juga: Istana Pulau Es 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert