Ceritasilat Novel Online

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan 4

Eps 4 Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung

Baca online Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung

Cersil Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan - Chin Yung.

"Setelah pedang itu kembali ditangan kau, kita akan berangkat ke Leng Wan Koan!" ---oo0dw0oo---Kita kembali dahulu pada jago-muda kita Gokhiol yang mendapat tugas dari gurunya untuk mengantarkan surat kepada Ang-bian Kim-kong di Bu-liong Sie. Pada waktu itu wilayah See-Cong masih dibawah kekuasaan pengaruh Turfan dan pengaruh agama Buddha sangat kuat. Ang-bian Kim-kong mendapat anugerah dari raja See-Hek Lie Tek Wang untuk menjabat sebagai menteri agama dan kini ia berkedudukan dikuil Bu-liong Sie di Ceng Hay. Kesanalah Gokhiol pergi dan menyampaikan surat suhunya. Kemudian ia segera berangkat lagi untuk pulang. Sepanjang jalan ia memikirkan kata2 gurunya yang menceritakan kepadanya bahwa Wanyen Hong dan Hay Yan bermaksud untuk membunuhnya. Hal ini mau tak mau menjadi buah pikirannya, membikinya gundah gulana. Sebaliknya waktu akhir2 ini Gokhiol memperhatikan sepak terjang gurunya sangat aneh dan dalam hati kecilnya timbul rasa prasangka. Gurunya menjanjikan untuk bantu membunuh Im Hian Hong Kie-su, tapi sebaliknya kenapa Wanyen Hong yang diajaknya dan bukannya ia sendiri? Dan lagi pula para Lhama di Bu-liong Sie itu roman mukanya bengis2 dan sangat menakutkan, tak tahu dari golongan mana mereka sebenarnya. Mengapa gurunya tak pernah menjelaskannya lebih dahulu? Kali ini ia menyuruh aku mengirimkan surat, tentu ada latar belakangnya. Petang harinya Gokhiol menginap disebuah dusun. Adapun dusun itu hanya terdiri dari tiga sampai lima rumah keluarga. Pemuda kita duduk didepan rumah penginapan sambil melepaskan pandangannya kearah jalanan dihadapannya. Hembusan angin sepoi2 meng-goyang2 daun2 hijau diatas pohon yang berjajar dikedua tepi jalan. Se-konyong2 kesunyian dikejutkan oleh datangnya seorang penunggang kuda, yang kemudian berhenti didepan penginapan. Penunggang kuda itu lompat turun dan melangkah masuk seraya berteriak .

"Hei, pelayan! Lekas sediakan aku makan!"

Gokhiol memperhatihan orang itu dengan diam2. Tampak orang itu menggendong sebuah buntalan dipunggungnya, lalu dilihatnya kedua kaki orang itu sangat panjang seperti cengcorang.

"Ma twaya, kau perlu apa lagi?"

Tanya sipemilik penginapan dengan hormatnya.

"Hari sudah hampir gelap apa twaya masih ingin meneruskan perjalanan."

Orang itu mengeringkan cawannya dan tidak menyahut. Setelah meletakkan kembali gelasnya diatas meja, barulah ia menjawab .

"Guruku menyuruh aku pergi ke Jie-Liong San, tahukah kau jalan mana yang paling dekat?"

"Twaya adalah Ma Tui si Kaki Terbang. Adapun jalan yang Iebih dekat untuk sampai di Jie-Long San, adalah jalan melintang Batu im Peng. Tapi jalanan itu berbahaya..."

Belum sipemilik penginapan habis berkata, Ma Tui telah menjangkau buntalannya.

"Harap kau catat saja hutangku, nanti kalau aku kembali akan kubayar semuanya."

"Tak usah, biarkan saja,"

Jawab pemilik penginapan dengan hormatnya. Baru saya Ma Tui! keluar pintu atau tiba2 ia balik seolah2 ada sesuatu yang terlupakannya.

"Haya!"

Ujarnya.

"Hampir saja aku lupa karena ter-buru2. Sun Lotia, guruku Ang-bian Kim-kong besok pagi akan pergi ke Mo-Thian Nia. Adapun guruku orangnya berbadan tinggi besar, harap kau ingatkan untuk menyediakan seekor unta. Dan sebelum tengah hari kau harus menjemputnya di Bu Liong Sie. Jangan sampai kau lupa!"

Sun Lotia manggut dengan tersenyum.

"Twaya tak usah kuatir. Koksuya akan kusampar."

Gokhiol terkejut.

Kiranya Ma Tui itu dari Bu liong Sie!

Dan dia hendak pergi ke Jie Long San, tempat kediaman Im Hian Hong Kie-su.

Dan Ang bian Kim-kong hendak pergi pula ke Mo-Thian Nia.

Mungkinkah Lhama itu begitu menerima surat lantas berangkat untuk menjumpai suhunya?

Tapi tak mungkin!

Gurunya telah pergi bersama Wanyen Hong dan ia sendiri disuruh kembali ke Leng Wan Koan untuk menanti berita.

Ah, tentunya Ang-bian Kimkong telah mengetahui bahwa suhunya tidak berada ditempat.

Tapi mengapa ia juga hendak pergi ke Mo -Thian Nia?

Ke Leng Wan Koan?

Diawasinya Ma Tui yang menghilang diantara gelapnya sang malam.

Tiba2 terdengar sipemilik penginapan ini menggerutu sendirian .

"Ah, sial sial! Dia makan dengan Cuma2, malahan besok masih harus kucarikan unta untuk Ang-liong Kim-kong, rugi!, rugi!..."

Seorang tamu yang sedang minum arak, tertawa terbahak-bahrk.

"Ha ha ha! untuk menyokong sedikit rasanya tidak ada halangannya. Sedangkan orang lain sampaikan menyembah-nyembah untuk dapat bertemu dengan Ang-bian Kim-kong. Mengapa kau berpikiran demikian tolol, seorang Koksu dari kerajaan See-Hek yang sangat agung kau tak mau mengambil hatinya? Kemungkinan besar kau akan kecipratan jasa baiknya!"

Sun Lotia terdiam, merah mukanya.

Gokhiol mengulum senyumnya.....

Pada keesokan harinya, pagi2 benar Gokhiol berangkat dan melarikan kudanya kearah padang pasir yang luas, menuju Hay-Kee-Cun Matahari bersinar amat teriknya tapi angin menghembus sejuk sekali.

Hati pemuda kita besar sekali, maka dua hari kemudian sampailah ia ditempat tujuannya.

Dusun Hay-Kee-Cun tenang seperti biasa.

Empang yang terdapat didepan pekarangan jernih airnya bagaikan cermin.

Gokhiol lompat turun dari kudanya.

"Tio Kongcu, kebetulan sekali! Ada surat penting sekali untukmu."

Tiba2 terdengar suara dari atas pohon. Terperanjat Gokhiol mengangkat kepalanya dan melihat Tai-Tai yang sedang duduk diatas tangkai pohon.

"Hei!, Tai Tai! Ada surat apa? Hayuh!, lekas turun dan berikan padaku."

Tai-Tai segera turun dari atas pohon. Kemudian dikeluarkannya sepucuk surat dari dalam sakunya dan berkata .

"Kemarin ada seorang gadis cantik menunggang kuda lewat disini. la memberikan aku sekantong buah Toh dan menitipkan sepucuk surat kepadaku. Katanya hari ini kau akan datang. Surat itu harus kusampaikan kepadamu dan menyangkut keselamatan jiwa siociaku. la memesan wanti2 agar jangan sampai surat ini jatuh ketangan yang salah. Sebab itulah aku pagi2 benar memanjat pohon ini untuk menunggu kedatanganmu. Ah, aku takut sekali kau tidak datang."

Gokhiol menerima surat itu dan melihat pada sampulnya tertulis sebagai berikut .

Dihaturkan kepada yang terhormat Tio Peng.

Dalam surat itu tertulis .

Lekas kembali ke Leng-WanKoan untuk menolongi Hay Yan.

Jangan terlambat!

Akan ada orang yang diam2 membantu kau.

Dibawah surat itu terlukis sepasang alis mata.

Gokhiol merasa heran sekali.

Siapakah pengirim surat itu?

Dan bagaimana mungkin Hay Yan berada di Leng-Wan-Koan?

"Siocia menghantarkan surat kegunung Ciong-Lam-San atas perintah gurunya.

Tapi sampai sekarang belum pulang.

Aku kuatir, Tio Kong-cu."

Gokhiol bercekad hatinya. Jiwa gadis yang dicintainya berada dalam bahaya! "Dapatkah kau lukiskan bagaimana romannya gadis yang sampaikan surat ini kepadamu?"

Ia bertanya.

"Aih, dia cantik sekali seperti Siociaku, tapi yang ganjil adalah sepasang alis matanya. Warnanya hijau seperti dua helai daun liu yang malekat diatas matanya yang jelita"

Mendengar tentang warna alis itu, Gokhiol teringat pula akan kata2 Hay Yan dahulu yang pernah menceritakan kepadanya bahwa gurunya Wanyen Hong, Tiang Pek Lo-ni telah menerima seorang murid baru yang mendapatkan julukan Kim Can Bie.

Tentulah gadis itu yang dimaksudkan oleh Tai-tai.

Dengan sekali lompat Gokhiol mencemplak pula kudanya.

"Nonamu jatuh ketangan Ang-bian Kim-kong. Aku akan pergi ke Leng-Wan-Kian untuk menolonginya."

Tapi Tai-tai menahan tali-kekang kudanya serta memaksa agar ia diajak serta.

"Tio Kongcu! Aku mau ikut, tunggulah sebentar."

Tergesa-gesa Tai-tai berlari kedalam untuk bersalin pakaian, tapi begitu ia keluar, Gokhiol sudah tak kelihatan lagi mata-hidungnya. Tai-tai bukan kepalang gusarnya dan sesumbar ia mencaci .

"Persetan! Sial! Gila paras elok!"

Sehabis kenyang memaki, Tai-tai merasa menyesal. Ditempelengnya serdiri mulutnya serta berkata searang diri .

"Aku benar2 jahat. Dia pergi untuk menolong siociaku. Mengapa sebaliknya aku memakinya? Jika terlambat bukankah siociaku akan binasa?"

Mendadak saja bayangan berkelebat dari belakang Tai-tai dan tahu2 tubuhnya berada diatas punggung kuda, sedangkan ditelinganya ia mendengar orang berbisik.

"Janganlah kuatir, Tai-tai."Dia tak mau mengajak kau pergi, aku yang ajak kau."

Dan dalam sekejap mata saja sang kuda berlari kedepan, Tai-tai menoleh dan segera mengenali bahwa yang naik Kuda itu adalah gadis beralis hijau yang telah menyelipkan surat kepadanya waktu kemarin.

Tanpa terasa ia berseru .

"Kau mau bawa aku kemana?"

"Ah, Tai-tai. Jangan banyak bicara, siociamu sedang ditawan musuh. Aku tahu bahwa kau pernah ke Leng-WanKoan, maka aku minta kau menjadi penunjuk jalan." ---oo0dw0oo---Tak henti2nya Gokhiol memacu kudanya, bagaikan angin "terbang"

Diatas padang pasir.

Kemudian ia mengambil jalan singkat menyusuri permukaan sungai yang airnya telah membeku menjadi es.

Akhirnya ia tiba di Leng Wan Koan.

Tapi hari sudah malam.

Pemuda kita loncat keatas genteng rumah dan melongok kesana kemari.

Setelah dilihatnya keadaan aman, barulah ia melompat turun diruang tengah.

la berjalan masuk, berindap-indap tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Tiba2 dilihatnya sebuah topi bambu yang biasa di pakai oleh kaum Lhama bagian barat, menggeletak diatas serambi yang menembus keluarg gunung.

Pada topi itu terdapat tulisan "Bu-liong-Sie"

Yang merupakan tiga huruf Ceng-hay.

Cokhiol terkejut!

Segera ia hampiri goa tadi dan tampak didalamnya sebuah pendopo dengan satu meja sembahyang.

Adapun tempat sembahyang tersebut ialah untuk memuja rohnya Kie Thian Tay Seng, Sun Go Kong si Raja Kera.

Sedangkan diluar goa terdapat tiga huruf Swie-Cian-Tong.

Gokhiol melangkah masuk, dan bercekatlah hatinya.

Patung si Raja Kera sudah tidak ada lagi!

Juga tiang yang berdiri tegak sebagai Kim-kong Pang, senjata Kie Than Tay Seng yang berupa pentungan dan tingginya kurang lebih tiga tombak sudah dicabut dan kini rebah dipinggiran meja sembahyang.

"Siapa yang telah mencabut tiang berat itu?"

Pikir sipemuda dalam hatinya.

"Tenaga orang itu bukan main hebatnya!"

Keadaan didalam goa gelap-pekat.

Tiba2 terdengar oleh Gokhiol suara orang sayup2 me-rintih2, iapun menjadi kaget.

Dihampirinya tempat darimana suara tadi terdengar dan nampak olehnya..., seorang gadis terhimpit balok batu dan pentungan Kim Kong Pang.

Gadis itu bukan lain dari...

Hay Yan!

"Siocia, kau kenapa?"

Seru sipemuda dengan kaget bercampur gusar. Tanpa ayal ia mengangkat sigadis, menariknya, tapi Hay Yan berteriak kesakitan.

"Sudahlah,"

Teriaknya.

"Badanku ... terjepit oleh balok batu..."

Belum habis ia berkata atau sigadis telah...

jatuh pingsan.

Karena terburu-buru Gokhiol tidak melihat lagi bahwa badannya sigadis terjepit balokan batu setengahnya, sampai batas pinggang.

Hay Yan persis masuk pada lubang bekas tiang, sedangkan balok batu itu kelihatannya seperti belum terkisar dan lagi terpendamnya sangat dalam sekali.

Pemuda kita tak habis pikir cara bagaimana harus mencongkel batu besar itu keluar.

Demi melihat keadaan sigadis, hatinya merasa kuatir, pedih bagaikan disayat sembilu.

Berkali-kali ia memanggil Hay Yan, tapi sigadis diam saja.

Wajahnya pucat pasi dan napasnya tersesak-sesak.

Gokhiol bingung, bingung sekali.

Apakah yang harus diperbuatnya?

Tiba2 teringat olehnya bahwa didalam kamar gurunya tersimpan banyak macam obat2-an.

Dengan terharu ia turunkan buntalannya untuk diganjalkan pada kepala sigadis.

Setelah itu lekas2 ia ber-lari2 kekamar gurunya.

Dengan hati ber-debar2 dicarinya obat Sian Cauw Wan Hun Wan atau Pil Mujijat Pemulih Sukma.

Gokhiol mengetahui obat ini, karena apabila ia berlatih ilmu "Sui Hwee To"

Dia kerap kali pingsan, maka Wan Hwi Sian memberikannya obat mustajab tersebut.

Diraupnya beberapa butir pil, lalu pemuda kita berlari keluar.

Benar saja!

Setelah pil itu ditelan, maka Hay Yan sadar pula.

Gokhiol bukan kepalang girangnya.

Sambil menarik napas legah, iapun bertanya .

"Siocia, bagaimana kau sampai datang kesini? Dan kemana perginya Lhama iblis Ang-bian Kim-kong?"

Sambil menyenderkan kepalanya diatas paha sipemuda, Hay Yan menjawab dengan suara yang lemah .

"Bagaimana kau sampai mengetahui bahwa Lhama itu ingin mencelakakan diriku? Aku telah ditipu oleh gurumu untuk datang kemari. Dia bilang guruku ada disini, tapi tak terduga sama sekali aku masuk perangkapnya Ang-bian Kim -kong."

"Aku sudah mengetahui segala tipu busuknya Wan Hwi Sian"

Ujar Gokhiol dengan gemas.

"Memang sebelumnya dalam hati kecilku telah merasa bahwa ia bukan orang baik2. Sebab itulah setelah pulang dari Bu Liong Sie aku mencari kau. Tapi dengan cara bagaimana An-bian Kimkong sampai dapat menawan dirimu ?"

"Dia menggunakan ilmu "Toan-auw Kui-eng-kang"

Atau Ilmu menyusut, tubuh. Dan tanpa terasa lagi aku jatuh Pingsan,"

Demikian Hay Yan menceritakan kepada Gokhiol.

"Setelah aku siuman, ternyata separoh badanku tidak dapat bergerak lagi karena terjepit balok batu ini."

Mendengar penuturan sigadis, hati Gokhiol bergelora bagaikan dibakar saja.

"Tunggulah sebentar,"

Ujarnya.

"Aku akan, menolongmu keluar, nanti kita sama2 pergi mencari Angbian Kim-kong untuk mengadakan perhitungan! Aku keremus dia!"

Gokhiol meninggalkan sigadis sebettar untuk kembali membawa setahang air. Dituangkannya air itu kedalam lubang. Kini semangat sigadis pu!ih kembali, iapun bertanya.

"Apakah yang hendak kau lakukan sekarang?"

Gokhiol menyelidiki keadaan permukaan tanah, lalu jawabnya .

"Aku sedang menyelidiki bagian tanah yang lembek. Disitu tentunya air akan terhisap dengan lebih cepat."

Kemudian Gokhiol mengambil sebuah linggis dan dengan cepat sekali ia sudah berhasil menggali lubang sedalam empat atau lima kaki.

"Ang-bian Kim-kong akan segera kembali,"

Kata sigadis dengan cemas.

"Jika kau melakukan pekerjaan ini, mungkin sampai pagi belum bisa selesai."

Gokhiol tak menyahut.

Tiba2 ditariknya tiang yang terlentang itu, dan ...

tiang itu terangkat naik sedikit.

Hay Yan merasakan getaran tanah yang hebat sekali.

Tampak olehnya peluh telah mengucur diseluruh tubuh Gokhiol, sehingga pakaiannya basah.

Ia maklum, karena sipemuda telah mempergunakan saentero tenaganya.!

Hati Hay Yan merasa girang tercampur terima kasih dan dengan hati berdebar ia berbisik .

"Oh, Kokoku.. Kapankah kau yakinkan tenaga yang sehebat itu?"

Mendengar sigadis membahasakan dirinya dengan koko, hati pemuda kita terasa seperti di-elu2. Semangatnya semakin bertambah dan sambil menyingsingkan lengan bajunya ia berkata .

"Aku telah meyakinkan ilmu Sui Hwee To, sehingga tenagaku seperti raksasa. Tapi sayang sekali, sehabis menggunakan tenaga ini, paling sedikit setengah bulan lamanya aku harus beristirahat. Baru setelah itu tenagaku akan pulih kembali."

Pada waktu itu pentungan Kim-kong Pang sudah menyerong kedalam tanah, sedangkan pangkal lainnya menonjol keluar. Gokhiol mendorong pula pentungan itu beberapa kali kedalam tanah, lalu ia berseru .

"Moay-moay, kau jangan kaget. Lihatlah aku nanti mencongkel balok batu."

Kedua tangannya mencakup ujung pentungan yang keluar dari tanah itu dan dengan sekuat tenaga ditekannya kebawah.

Hay Yan melihat muka sipemuda menjadi merah padam, sedangkan urat2 nadinya menonjol keluar.

Peluh mengalir dengan derasnya, tanpa terasa lagi sigadis berbisik .

"Koko, kau capai sekali. Jangan paksakan dirimu."

"Untukmu Moy-moy, mengorbankan jiwaku aku rela!"

"Aih, balok batu itu sudah bergerak!"

Ujar Hay Yan saking girangnya.

"Lihatlah! Tanahnya sudah naik keatas."

Benar saja balok batu itu telah tercangkel keatas.

Tanah dipinggiran lobang pada merekah.

Gokhiol berkutetan setengah mati.

Mendadak dari luar berkesiur angin yang, amat santer disusul sebuah bayangan merah meleset kedalam.

Dialah Ang-bian Kim-kong!

Tanpa mengucapkan kata2 lagi, Lhama itu menggerakkan tangannya memukul.

Terdengar angin menderu menyertai pukulan geledek tadi, sehingga tanah yang terbuka, kini merapat pula!

"Koko, lekaslah Iari !

Jangan kau hiraukan diriku!"

Sigadis memperingati Gokhiol. Tetapi pemuda kita mana mau mengerti, dengan suara yang menyeramkan ia berseru .

"Ang-bian Kim-kong! Marilah kita bertempur sampai kau atau aku menggeletak menjadi mayat!"

Ang-bian Kim-kong mengawasi pemuda kita sebentar, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Ha-ha-ha! Kau sungguh bernyali besar. Coba lihatlah, aku akan bekuk kepalamu dan mengembalikan kepada gurumu!"

Lhama itu lompat menyerbu.

Gokhiol menyapu dengan pedangnya.

Tapi dengan sekali sampok, pedang sipemuda terpental.

Sedangkan telapak tangan Ang-bian Kim-kong menghantam amat dahsyatnya.

Gokhiol merandek menghindarkan tangan orang, lalu menjemput pula pedangnya.

Bagaikan harimau mengamuk dengan ujung pedangnya Gokhiol tikam perut Lhama itu!

Tak dinyana lawannya memiliki ilmu Thiat-pan Sui-gwa-khang yang sangat sempurna.

Dengan Iengan bajunya ia mengibas dan pedang sipemuda kelibat.

Gokhiol tertarik dan tubuhnya melayang berputar.

Mendadak saja Ang-bian Kim kong mengendorkan lengan bajunya dan Gokhiol terpental menubruk dinding.

Hay Yan, setelah menelan pil mujarab tadi, kini semangatnya telah pulih kembali.

Begitu melihat jantung-hatinya dipermainkan, maka sambil menggertak giginya ia mengeluarkan dari kantong bajunya tiga batang panah kecil dari emas dan ditimpuknya kearah kepala si Lhama!

Ang-bian Kim-kong tak menduga sama sekali yang sigadis telah pulih kembali tenaganya dengan begitu cepat.

Begitu merasa ada samberan angin, ia miringkan kepalanya.

Tapi apes baginya, sebatang anak panah menancap dipipinya.

Yang dua lagi dapat ia elakkan.

Ang-bian Kim kong menggeram kesakitan, dicabutnya panah itu dan dibuangnya ketanah.

Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan dengan sekelebatan saja anglo batu yang atas meja sembahyang telah berada diatas tangannya.

Dengan sekuat tenaga anglo itu ditimpukkan kearah kepala sigadis.

"Budak jahanam! Kuhancurkan kepalamu!"

Teriaknya dengan bengis. Se-konyong2 pada detik yang genting itu angin menyambar masuk, menyusul mana terdengar suara orang berseru .

"Lepaskan anglo itu!"

Maka tampaklah sesosok bayangan berkelebat dan pada detik menyusul anglo itu sudah terlepas dari tangan Angbian Kim-kong.

Terperanjat si Lhama menoleh dan dilihatnya yang menyerangnya adalah seorang ...

gadis muda yang berparas elok.

Adapun yang mengherankan adalah alis sigadis ...

yang hijau!

Ditangannya menggenggam sebuah pecut panjang, sedangkan dipinggangnya terselip sebilah pedang.

Dalam sekejap mata saja pecut gadis itu sudah menggeletar diudara.

Cepat2 Ang-bian Kim-kong menggunakan ilmu Thiatpan-sui yang sangat diandalkannya, dan dengan sekuat tenaga ia menyapu pecut orang!

Biasanya semua senjata lawan akan hancur kena kibasannya itu, tapi kini diluar dugaannya begitu pecut menyambar, ....brett...

bagaikan pisau tajamnya, lengan bajunya terbeset robek!

Ang-bian Kim-kong terperanjat!

Samar2 permainan pecut gadis itu dapat dikenalnya.

Inilah ilmu Tian-Pek Bu-pay yang disebut "Hong-bwee-cie"

Atau Gergaji-ekor angin yang sangat lihay.

Kabarnya Tiang Pek Lo-ni mempunyai seorang murid yang bernama Kim Gan Bie.

Mungkinkah gadis ini orangnya, pikir Ang-bian Kim-kong dalam hatinya.

Si Lhama menjejakkan kakinya dan mencelat keatas meja semhahyang, seraya tertawa dingin ia berseru .

"Hai, gadis cilik! beritahukan namamu! Aku tak pernah membunuh orang yang tiada kuketahui namanya!"

Sigadis menyimpan kembali pecutnya dan sambil menuding ia berseru .

"Ang-bian Kim-kong! Aku memperingatkan kepadamu. Apabila kau mau lekaslah enyah dari sini! Guruku Sin Ciang Taysu sedang menanti diatas puncak!"

Ang-bian Kim-kong gentar juga.

"Mengapa aku harus bercidera dengan Tiang Pek Lo-ni gara2 Gorisan? Nikow tua itu tak boleh dibuat gegabah!"

Tiba2 Gokhiol berteriak mengguntur dan mencabut tiang yang menantap pada lubang tanah, kemudian sambil membalikkan badannya berbareng ia menyapu lawannya.

Bukan kepalang kagetnya si Lhama, buru2 ia lompat kesamping, tapi tak, urung ia masih merasakan juga desiran angin dibawah kakinya.

Menyusul terdengar suara yang keras, pentungan tadi telah membentur batu yang menjepit tubuh Hay Yan.

Tanah disekitarnya bergetar dengan hebatnya, sedangkan balok batu itu menjadi hancur berkeping-keping.

Hay Yan segera meloncat keluar, sedangkan sigadis beralis hijau dengan tersenyum mengayunkan pecutnya hingga berbunyi diudara.

Tanpa pikir panjang Ang-bian Kim-kong berlari pergi meninggalkan tempat itu.

"Gorisan telah menyuruh aku membunuh Hay Yan, baiklah kalian mencari dia saja!"

Teriaknya.

Gokhiol ingin mengejarnya, tapi telah dicegah oleh Hay Yan.

Dan untuk beberapa saat lamanya ketika muda-mudi itu saling berpandangan satu sama lain.

Kemudian pemuda kita memberi hormat kepada sigadis penolongnya seraya berkata .

"Engkaukah Siocia yang dipanggil Kim Gan Bie? Aku mengucapkan terima kasih, atas suratmu. Karena surat itulah aku baru ketahui bahwa Hay Yan tertawan disini. Sudilah kiranya kau menerima hormatku?"

"Tio Kongcu, betul akulah Liu Bie,"

Jawab sigadis beralis hijau.

Kau tak perlu menghaturkan terima kasih kepadaku.

Adapun pada tahun yang lalu guruku Tiang Pek Lo ni telah menitahkan kepadaku untuk menyelidiki hilangnya Wanyen Hong, kakak seperguruanku.

Kebetulan sekali aku telah menyingkap rahasia orang yang telah menyamar sebagai Gak Hong, setelah dengan teliti kuselidiki, barulah dapat kuketahui bahwa segala perbuatan adalah perbuataan suhumu.

Dan selain itu, diluar dugaanku dialah orangnya yang telah....membunuh ayahmu?"

"Liu Siocia"

Tanya Gokhiol.

"Siapa sebenarnya Gak Hong yang kau sebut itu? Apakah dia Im Hian Hong Kiesu?"

"Benar, dialah Im Hian Hong Kie-su keponakan alamarhum Goan-swee Gak Hui,"

Sahut Liu Bie seraya menyahut.

"Tapi mengapa Gak Hong jeriji tangan kanannya putus satu?"

Tanya Gokhiol dengan heran.

"Lagipula apa bukan Gak Hong yang membunuh ayahku?"

"Koko, kau belum mengerti!"

Hay Yan segera memotongnya.

"Orang yang berbaju hitam yang berjumpa denganmu itu adalah Wan Hwi Sian yang menyamar sebagai Im Hian Hong Kie-su. Sejak ia memperoleh obat ajaib untuk merubah rupa, ia dapat menyamar sebagai siapa saja. Waktu itu ia menyamar sebagai Im Hian Hong Kie-su dan kau disuruhnya untuk mencari Wan Hwi Sian itu adalah dia sendiri!"

Begitulah seterusnya sigadis menceritakan bagaimana ia kena ditipu oleh Wan Hwi Sian, yang menyuruhnya datang ke Mo Thian Nia.

Dan lalu bagaimana dirinya sampai kena ditawan oleh Ang-bian Kim-kong, Lhama berwajah merah itu.

Mendengar penuturan Hay Yan itu, pemuda kita bukan kepalang lagi gusarnya "Wan Hwi Sian!

kau sungguh seorang keji.

Bi1a kau tak kubunuh dengan tanganku sendiri, aku bersumpah tidak akan menjadi arang!"

La berteriak dengan suara mengguntur bergema suaranya dikeempat penjuru. Gokhiol bergerak ingin meningggalkan tempat itu, untuk mencari gurunya.

"Tunggu! Kau tak perlu mencari dia!"

Liu Bie mencegahnya "dia menyangka bahwa kalian berdua telah dapat dibereskan oleh Ang-bian Kim-kong, maka tak lama lagi pasti ia akan datang sendiri kesini."

"Tapi Iblis itu berkepandaian tinggi sekali, mungkin kita bertiga bukanlah tandingannya!"

Ujar Hay Yan dengan kuatir.

"Siauw-tit, janganlah kecil hati,"

Ujar Liu Bie.

Dia pergi ke Jie-Liong San bersama gurumu.

Gak Hong Taihiap sudah memasang perangkap sedemikian rupa bahwa didepan gurumu ia akan membuka rahasia Ibis itu.

Maka waIaupun ia dapat meloloskan diri, tentunya tak lain ia akan bersembunyi disini.

Sedangkan Gak Hong dan gurumupun akan mengejarnya sampai kemari.

Sebaliknya kita ikhtiarkan dahulu agar tidak sampai ketahuan olehnya bahwa kau dan Gokhiol dalam keadaan bebas."

Begitulah ketiga muda-mudi itu bersepakat untuk menunggu kedatangannya Wan Hwi Sian, Iblis jahanam itu.

---oo0dw0oo---KEMBALI pada Gorisan yang telah dilocoti kedoknya, oleh Im Hian Hong Kie-su.

Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna ia berhasil melarikan diri.

Dalam hatinya ia tak habis2nya mencaci.

"Selama sepuluh tahun aku berhasil menyembunyikan wajahku, seorangpun tak ada yang tahu bahwa aku Gorisan. Dasar sial! Gak Hong telah menyingkap rahasianya dihadapan Wanyen Hong. Perbuatannya kelak akan kubalas! Tapi, kini Wanyen Hong telah mengetahui bahwa akulah yang telah memperkosa dirinya, pasti ia takkan diam begitu saja. Ah!, masih beruntung aku mempunyai siasat lain, yakni dengan tertawannya Gokhiol dan Hay Yan. Lebih baik kedua anak muda itu kupindakan tempat persembunyiannya!"

Bagaikan terbang ia berlari kembali ke Mo-thian Nia dan lantas masuk ke Leng-Wan-Kwan.

Tapi ia tidak melihat Ang-bian Kim-kong!

Setelah dua kali ia berteriak memanggil dan masih tak ada yang menyahut, iapun mulai merasa curiga, Cepat2 ia lari kebelakang dan samar-samar didengarnya ada orang berteriak.

"Suhu, lekas kau tolongi kami! Ang-bian Kim-kong telah menotok aku bersama Hay Yan."

Maka dilihatnya Gokhiol sedang, duduk meringkuk ber-sama2 Hay Yan, masing2 terborgol pada sebuah tiang besar. Gorisan. merasa bersyukur dalam hatinya, tapi ia masih ber-pura2 untuk bertanya .

"Apakah si Lhama yang telah kau sampaikan suratku kepadanya? Dimana dia sekarang?"

Gokhiol seperti kehabisan tenaga menyahut .

"Pagi2 sekali,ia telah berangkat... suhu... lekas bebaskanlah jalan darahku!"

Gorisan mengawasi kedua muda-mudi itu dengan sepasang matanya yang buas. Gokhiol tiba2 berteriak sambil terbelalak matanya ia berteriak .

"Suhu, wajahmu....! Bagaimana bisa berobah begitu menakutkan?"

Rupanya muka palsu Gorisan telah terpukul rusak oleh Im Hian Hong Kie-su, sehingga kini kelihatan muka aslinya yang bopeng dan menakutkan seperti iblis.

Hay Yan yang sedari tadi hanya turut menyaksikan, kini tak dapat mengekang lagi kegusarannya lebih lama.

"Wan Hwi Sian kini rahasiamu sudah terbongkar, kaulah jahanam yang telah menyamar sebagai Im Hian Hong Kie-su. Pantas kau menipu aku untuk datang kemari, hingga aku kena ditawan Lhama jahanam itu."

Gorisan termenung sebentar, lalu berkata dengan dingin .

"Anak manis, kaupun telah mengetahui rahasiaku! Maka akupun tak sungkan2 lagi untuk memberitahukan padamu bahwa aku adalah ayah kandungmu sendiri yang bernama Gorisan, keponakan raja Wanyen Ping dari negeri Kim. Turutlah aku pulang kenegeri See-hek untuk mengecap kebahagiaan. Janganlah ikuti ibumu yang hidup se-olah2 dalam neraka dan sengsara...."

Hay Yan meludahi muka Wan Hwi Sian.

"Jahanam! aku tidak mempunyai ayah yang berhati binatang! Aku tidak mengakui kau sebagai ayahku. Hatimu melebihi binatang alas. Kaulah iblis yang telah membunuh Tio Hoan!"

Bukan kepalang gusarnya Wan Hwi Sian dimaki habis2-an oleh anaknya sendiri.

"Anak haram! Kuperingatkan kamu bahwa Tiang Jun dan Hay Peng telah mati ditanganku! Jangan kurang ajar. Aku tak sungkan untuk menurunkan tangan dan jangan sesalkan aku apabila nasibmu seperti kedua orang itu. Bila terpaksa aku berani membunuh kau, mengerti!? Gorisan mengangkat tangannya dan memukul tiang batu dihadapannya sampai somplak.

"Hay Yan"

Ujarnya dengan ganas.

"kau boleh pilih mana yang lebih kau suka, mati atau hidup. Apabila ingin hidup, kau harus menyebut ayah kapadaku. Tapi kalau membangkang, tulang igamu akan kucabut satu per satu."

Gorisan menggeram dan mengangkat tangan kanannya.

Seketika itu Gokhiol dapat melihat bahwa jari2 tangan orang hanya ada ...

empat!

Kini pastilah bahwa orang itu adalah musuh besarnya, pembunuh ayahnya.

Tetapi ia segera mengekang nafsunya dan ber-pura2 bermain sandiwara.

"Suhu, sabarlah. Bukankah Hay Yan adalah darah dagingmu sendiri? Biarlah nanti per-lahan2 aku akan membujukinya."

Maka berpikirlah Gorisan seorang diri.

"Tak salah, Hay Yan adalah darah dagingku sendiri, apabila aku mengampuninya kemungkinan besar aku dapat memperalatnya demikian rupa hingga Wanyen Hong tak berani menuntut balas kepadaku"

Maka sambil mengerutkan alisnya ia berkata kepada Gokhiol .

"Baiklah, aku akan mengampuni dianya. Tapi, sebaliknya apa kau bersedia untuk berkorban meggantikan tempatnya?"

"Tapi, suhu!"

Teriak Gokhiol.

"sebab apa kau ingin mengambil jiwaku?"

"Tatkala aku menerima kau sebagai muridku, maka kau telah berjanji apabila aku menginginkan kau mati, kau harus mati, Lagipula kini kau sudah mengetahui bahwa aku adalah musuh besarmu yang telah membunuh ayahmu, Maka apabila tidak ini hari juga aku membunuh kau, kelak kemungkinan besar kau sendiri yang akan mengambil jiwaku!"

Gokhiol meratap mohon ampun, tapi dibalas oleh Gorisan dengan bentakan .

"Diantara kamu berdua salah satu harus mati, dalam tanganku. Lagipula tak seberapa lama lagi Gak Hong bersama Wanyen Hong akan tiba disini."

Akhirnya Gokhiol berkata bersedia untuk menggantikan tempat sigadis, sebaliknya Hay Yan tak mau mengerti dan menyerahkan dirinya untuk menerima kematiannya, berbareng mana ia memaki pula Gorisan dengan habis2an.

Gorisan niengangkat tangannya!

"iblis!

Jahanam!, hari ini kau tidak membunuh aku, tapi pada suatu hari dan suatu ketika aku pasti akan membunuhmu!, hati2-lah."

Gorisan yang digerecoki oleh kedua anak muda itu menjadi mendongkol.

"Hah!, dasar dua2nya sialan. lebih baik apabila tidak ada satu orangpun diantara kalian yang boleh hidup! Aku akan menghantarkan jiwamu keneraka!"

Gorisan menggosok-gosokan tangannya, dan sinar ke-hijau2an keluar dari telapak tangannya. Tapi dalam keadaan yang sangat kritis itu, kedua muda-mudi itu mendadak lompat bangun.

"Gorisan,"

Ujar Gokhiol.

"jangan kau anggap bahwa kami dengan begitu saja ingin mengantarkan jiwa? kepadamu? Huh! sebaliknya kau akan, menemui ajalmu!"

Berbareng itu dua buah pedang menyambar kearah muka si Iblis! Gorisan terperanjat! Tahulah kini bahwa ia sedang dipermainkan oleh anak2 muda itu. Dengan tipu "Angsa-putih menyeblok air."

Kedua tangannya menyapu amat dahsyatnya hawa dingin yang menyerang dua bilah pedang itu, sehingga tersampok miring.

Gorisan tidak berhenti disitu saja, sambil menggeram ia melompat maju, kedua tangannya mencengkeram kepala anak2 muda itu!

Gerakannya bukan main cepatnya!

Tapi dalam keadaan yang sangat gawat, terdangar suara bentakan yang merdu.

Menyusul mana sebuah bayangan menyerang Gorisan.

Gorisan awas matanya, ia tahu bahwa ada gadis muda mengayunkan pecut yang menggeletar bagaikan seekor ular sedang melibat mangsanya.

Tanpa pikir panjang lagi dengan sepasang telapak tangannya mengibas keatas.

Tapi sigadis beralis hijau itu tengah menggunakan ilmu pecut Hong-bwee cie dari Tiang-Pek Bu-pay yang lihay sekali!

Adapun diujung pecut itu terdapat semacam rumput yang sangat beracun dan dinamakan Tauw-kan-Cie adapun bisanya sangat hebat, hingga dapat membunuh seekor banteng.

Kalau yang terluka adalah manusia, maka ia akan menderita dengan perlahan-lahan dan tidak Iantas menemui ajalnya.

Bahkan ilmu menutup jalan darahpun takkan dapat menolong.

Gorisan menjambret pecut orang dengan maksud untuk mematahkannya, tapi sebaliknya duri2 pada pecut itu segera melukai telapak tangannya?

Rasa sakit yang tak terhingga menembus sampai keulu hatinya.

Ia menjerit saking kesakitan.

Gorisan tak mengetahui akan adanya racun yang begitu hebat pada pecut sigadis.

Kini ia buru2 menjatuhkan badannya ketanah dan sambil ber-guling2-an bagaikan harimau terluka ia berlari keluar.

Sementara itu Kim Gan Bie mengejarnya dari belakang dan dengan tipu Tok-coa Ko-su atau ular-berbisa-melilit pohon, pecutnya menyambar punggung lawannya.

Duri2 itu bagaikan jarum yang lembut menembus masuk.

Gorisan mencelat keatas, tapi saking cepatnya sepotong kulitnya terbeset!

Gorisan terperanjat bukan kepalang.

Untung sekali ilmu meringankan tubuhnya sangat lihay, sehingga ia dapat meloloskan diri dan kabur meninggalkan Leng Wan Koan.

Setelah berada pada jarak yang agak jauh, barulah Gorisan menarik napas lega.

la berpikir seorang diri.

"Apakah gadis tadi bukannya murid "Tiang Pek Lo-ni"

Yang benama Kim Gan Liu Bie? Entah senjata yang telah digunakannya tadi? Hm, apabila tidak sekarang juga kucabut nyawanya, dikemudian hari mereka akan menyusahkan diriku saja."

Segera...

dikeluarkannya senjata rahasia yang terkenal...

Kiu-ciu Lui-Seng!....

Ketika Gorisan menoleh, maka dilihatnya dibelakangnya Liu Bie sedang mengejarnya.

Sekelebat saja ia mendapat akal yang licik.

Se-konyong2 ia menjerit dan ber-pura2 jatuh.

Liu Bie tidak sadar bahwa orang ber-pura2, hingga begitu sampai dekat, tiba2 sekelompok benda hitam menyambar kearahnya, bagaikan kupu2 beterbangan.

Celaka!

senjata rahasia itu sudah dekat kepadanya dan....

sukar untuk dielakkannya!

Se-konyong2 segumpalan angin meng-gulung2 menyambar dari atas tebing.

Dalam sekejap mata saja Kiu-cui Lui-Seng yang berjumlah belasan itu kena tertolong oleh gumpalan angin tadi dan berjatuhan bagaikan daun2 yang rontok tertiup angin!

Diatas tebing berdiri dua orang yang bukan lain dari Im Hian Hong Kie-su bersama Wanyen Hong!

Gorisan terperanjat, wajahnya pucat pasi.

Selagi ia ingin melarikan diri, sipenunggu Puncak Gunung Hantu sudah membentaknya.

"Gorisan! Kau ingin lari kemana?"

Berbareng tangannya memukul. Segera terasa angin menyambar, dengan dibarengi suara men-deru2 dan ... Gorisan jatuh terguling. Im Hian Hong Kie-su cepat2 melemparkan pedang kepada Gokhiol.

"Tio Peng, ambillah pedangmu ini! Binasakanlah pembunuh ayahmu!"

Gokhiol menyambut pedang tersebut, yang bukan lain dari Ang-liong Kiam!

Sinar merah gemerlapan diudara, pedang pusaka warisan, dari ayahnya telah kembali ditangannya!

Sipemuda berlari menerjang.

Sungguh gerakannya sangat hebat dan luar biasa.

la menikam!

Pada saat genting itu, Gorisan masih dapat mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya.

Dengan tipu Siauw-pit Wan-teng atau Kera-melompat-ditebing, ia berlari-Iari menuruni tebing yang curam itu.

Maka dengan sendirinya serangan Gokhiol tidak menemukan sasarannya.

Selain itu Gokhiol tak berdaya untuk mengudak musuhnya.

Wanyen Hong yang menyaksikannya dari atas, merasa penasaran.

Ia berteriak .

"Gorisan! Jangan kira kau akan luput dari ujung pedangku!"

Sambil menggerakkan pedangnya, ia berlari dengan ringannya menyusul.

Itulah gerakan Ya-cee Tam-hay atau Setan air mengintai laut.

Dengan pedangnya ia menusuk batok kepala Gorisan.

Im Hian Hong Kie-su merasa kuatir terhadap keselamatan sang puteri.

Sebab kepandaian Gorisan sudah lebih sempurna dari pada Wanyen Hong.

"Kongcu hati2-lah"

Teriaknya memperingatkan.

Baru saja Im Hian Hong Kie-su memberitahukannya atau Gorisan sudah berbalik dan menyerang!

Dengan tipu mencuri buah Toh, diatas pohon menjambret kaki sang puteri!

Sekali bergebrak tubuh Wanyen Hong sudah terangkat tinggi diudara.

"Mundur!"

Serunya mengguntur.

"kamu sekalian harus mundur kembali kedalam Kuil! Kalau kamu membangkang aku tak akan sungkan lagi melemparkan Wanyen Hong kedalam jurang! Boleh kamu saksikan sendiri bagaimana tubuh nanti akan hacur luluh!"

Mendengar ancaman hebat itu, mau tak mau Liu Bie, Hay Yan dan Gokhiol menjadi keder.

Nampaknya ditangan sang puteri masih tercekal pedang Mo-Hwee-Kiam.

Badannya ber-goyang2 hendak jatuh.

Dengan bermandikan peluh Gokhiol menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.

Gorisan tertawa dingin.

"Gak Hong, denagarlah,"

Ujarnya.

"Aku akan menghitung sampai tiga. Dan apabila setelah itu kau masih belum menggelinding dari sini, janganlah sesalkan aku, Gorisan telah berlaku kejam!"

"Satu...

"Kita mundur"

Teriak Hay Yan yang kuatir ibunya akan mendapat celaka."

"Dua... Gokhiol maju kedepan. Hay Yan menjerit dan menarik pemuda kita dengan penuh kecemasan.

"Tiga!"

Tapi diluar dugaan....

"Rasakanlah pedang nonamu!"

Adapun suara tadi datangnya dari bawah tebing!

Gorisan tiba2 merasakan tumitnya ditusuk pedang sampai tembus ketulangnya!

Saking sakitnya ia menjerit sekeras-kerasnya.

Menyusul tubuhnya terjungkal masuk kedalam jurang!

Dikakinya pedang tersebut masih tertancap tak terlepas.

Berbarengan dengan kejadian tersebut, Wanyen Hong tak ayal lagi melepaskan dirinya.

Syukur sekali tangannya masih keburu menjambret sebuah batu besar yang menonjol dipinggiran tebing.

Kini tubuhnya bergantungan diudara.

Tiba2 ia merasakan kakinya ada yang pegang.

Wanyen Hong memandang kebawah dan melihat Tai-tai.

Tahulah ia kini bahwa Gorisan telah kena ditusuk oleh pedang sitolol!

"Tai-tai, bagaimana kau sampai berada disini?"

Tanya Wanyen Hong dengan heran bercampur girang.

"Kongcu,"

Jawab Tai-tai tertawa.

"Aku sudah menanti disini setengah harian lamanya."

Pada waktu itu Im Hian Hong Kie-su dan lain2-nya sudah sampai diatas tebing.

Lalu dengan mengulurkan tangannya Wanyen Hong berhasil ditarik keatas.

Sedangkan Liu Bie dengan pecutnya telah membantu Tai-tai naik keatas.

Sampai diatas Wanyen Hong memeluk Tai-tai seraya berkata dengan terharu .

"Tai-tai, kau telah menolong jiwa aku, maka sejak hari ini juga aku mengangkatmu sebagai puteriku sendiri!"

Rupanya sebelum semua peristiwa terjadi, Liu Bie telah mengajak Tai-tai ke Mo-Thian Nia.

Maksudnya ialah tak lain sebagai penunjuk jalan saja.

Setelah tiba ditempat tujuan, Tai-tai disuruh untuk menanti dibawah gunung.

Sebaliknya Tai-tai setelah menempuh jarak demikian jauhnya ditambah pula mendaki gunung yang terjal, merasa letih.

lapun berjalan dengan seenaknya sambil mengasoh disana sini.

Tatkala itu ia berada dipertengahan kaki gunung, tatkala melihat kebetulan sekali tubuh majikannya sedang diangkat tinggi oleh Gorisan.

Sitolol menjadi bingung dan tanpa pikir panjang lagi buru2 ia mendekati siiblis itu dan dengan pedangnya ia menusuk kaki orang!

"Hai!, ujar Wanyen Hong seraya memuji.

"kalian berempat tak ada seorangpun yang berhasil menjatuhkannya. Sebaliknya dengan tak di-sangka2 Tai-tai inilah yang berhasil menusuk kaki orang!"

"Tapi!"

Ujar Wanyen Hong seterusnya.

"Kalau kita membunuh seekor ular sampai tidak mati, akhirnya kita sendiri yang akan digigit. Baiklah kita turun kebawah untuk memeriksa, dan jangan sampai ia dapat meloloskan diri lagi."

Gokhiol melongok kebawah jurang yang nampaknya dalam sekali, sedangkan kabut2 yang terapung diantaranya tak memungkinkan untuk orang melihat kedasar lembah.

"Baiklah aku dahulu yang turun untuk melihatnya,"

Demikian Gokhiol mengajukan usul.

Dengan menggunakan ilmu ringan tubuh Leng-Wan Pay yang telah dipelajarinya dari Wan Hwi Sian alias Gorisan, pemuda kita melayang-layang turun kekaki gunung, Im Hian Hong Kie su dan yang lain2 menyusulnya dari belakang.

Walaupun bagaimana pandainya ilmu meringankan tubuh Gokhiol, namun untuk turun dari puncak gunung itu yang jaraknya masih ribuan tumbak, dan jalannya ber-liku2, maka tak dapat dikatakan pekerjaan yang ringan.

---oo0dw0oo---SETELAH beberapa waktu berlari, Gokhiol melihat dihadapannya sebuah sungai yang airnya telah membeku jadi es, sesampainya disitu, maka dilihatnya diatas permukaan es itu terdapat bekas2 telapak kaki orang.

Sedangkan disana-sini masih tertinggal tetesan darah segar yang sangat menyolok sekali!

Buru2 ia memberi isyarat kepada pengikut2nya untuk datang ketempat sungai itu.

"Celaka,"

Seru Im Hian Hong Kie-su, setelah melihat bekas2 dipermukaan es itu.

"Kalau begitu jahanam itu belum mati. Darah itu menunjukkan bahwa ia hanya terluka."

Tiba2 Wanyen Hong, berseru tertahan, perasaan kaget membayang dimukanya.

"Hei! Disini ada dua macam telapak kaki!"

Teriaknya. Belum Im Hian Hong kie-su menjawab, atau Liu Bie berseru .

"Lekas tengok kemari!"

Dengan berbareng mereka menoleh ketempat yang ditunjukkan oleh Liu Bie. Tampak seperti rambut dari senjata Hoed Tim yang tersebar diatas salju.

"Iih, inilah rambut senjata Thian-cin Hoed!"

Ujar Wanyen Hong dengan suara lirih.

"Baiklah kita kejar"

Kata sipenunggu Puncak Gunung Maut. Rupanya barusan Gorisan telah bertempur dengan orang ditempat ini. Kukira ia belum begitu jauh perginya!"

Gokhiol memimpin jalan menyusuri sungai es itu.

Mo-thian Nia dikelilingi gunung2 yang jalan2nya ber-liku2 sukar dilewati.

Tatkala mereka sampai dimulut lembah, terdengarlah seperti ada ombak air yang memukul pantai.

Disana ada orang yang sedang bertempur!

Berenam mereka memanjat ketempat yang agak tinggi, dan nampaklah tidak seberapa jauh ......

seorang pendeta tua berjubah putih sedang mengejar Gorisan sambil ber-tubi2 mengirim pukulan.

Pukulan itu hebat sekali!

Meskipun Gorisan pincang sebelah kakinya, tapi kegesitannya tak beda seperti biasa saat ia dalam keadaan sehat.

Pendeta itu memukul dengan kedua telapak tangannya dibarengi suara menggelegar keras yang membisingkan kuping.

Badan Gorisan ber-goyang2 kena angin pukulan2 tersebut.

Untuk menghindarkan diri, terpaksa ia berjumpalitan melarikan diri.

Hay Yan sangat awas, segera dikenalinya siapa Pendeta tua itu.

"Tak salah"

Ujarnya.

"Pendeta itu Hian Cin Cu dari gunung Ciong Lam San. Dialah orangnya yang suhu suruh aku menyampaikan surat kepadanya."

"Kau benar"

Ujar Wanyen Hong.

"marilah kita bantu Totiang!"

Berbareng mereka turun ketempat orang sedang bertempur. Tiba2 Gorisan berhenti berlari dengan ditangannya terhunus sebilah pedang.

"Jahanam!"

Teriak puteri Negeri Kim.

"jangan kau lari!"

Wanyen Hong memotong jalanan Orang dan dengan pedang Mo-Hwee Kiam ia menyerang, sinar berkilauan menyambar.

Gorisan tak menganggap remeh akan kelihayan pedang sang Puter.

Segera ia berjongkok dan mengibaskan tangannya.

Maka segumpalan angin menyapu batu2 kearah Wanyen Hong!

Wanyen Hong berkelit, tiba2 dari belakang Im Hian Hong Kie-su memburu datang, dengan bajunya dikibaskan, sehingga batu2 beterbangan dan berjatuhan kembali ketanah.

Saat itu Hian Cin-cu melompat keudara seraya membentak "Hei, murid murtad!

Bila kau masih mencoba kabur, akan kuambil jiwamu dengan Hwee-liong Piau.!"

Tadi Hian Cin-cn baru datang dibawah gunung.

Didengarnya suara orang berteriak jatuh terguling dari atas.

Ketika diawasinya orang itu, ternyata dandanannya sebagai imam.

Diam2 Hian Cin-cu merasa heran.

Buru2 ia bersembunyi dibalik batu, dilihatnya pada kaki orang masih tertancap sebilah pedang, sedangkan darah segar mengalir terus dari lukanya.

Begitulah setibanya dibawah, imam itu menyembunyikan diri dibalik gundukan batu2.

Setelah Hian Cin-cu mengawasi orang itu lebih tegas, hatinya menjadi terkejut!

Orang itu menyingkapkan kedoknya, hingga tampak wajah aslinya yang sangat menyeramkan.

Kiranya orang itu bukan lain adalah ...

Gorisan adik seperguruannya.

Mengingat surat Wanyen Hong yang telah minta pertolongan kepadanya untuk menyelidiki asal-usul Wan Hwi Sian, kini tak dinyana bahwa manusia yang mencemarkan nama baik murid turunan ketiga dari Hwee Liong Pay adalah ...

simurid murtad itu!

Begitulah Hian Cin-cu melangkah kedepan seraya menegur.

"Gorisan Su-tee, apa kau masih mengenali aku? Benar saja siiblis masih mengenali saudara seperguruannya, maka iapun berkata dengan semangat .

"Su-heng, lekas tolonglah aku. Gak Hong telah melukai aku dan ia hendak menurunkan tangan jahat! "Gak Hong sudah lama mengasingkan dirinya di Jie-Liong San. Selama duapuluh tahun ia tak pernah turun gunung. Sekarang ia muncul kembali. Tentunya kau yang telah menyerang dia dahulu. Kalau tidak, bagaimana ia bisa melontarkan kau kedalam jurang?"

Gorisan mengambil kesempatan orang tengah Iengah tiba2 bagaikan kilat ia lompat maju.

Dengan tipu Cin-Hong Tiam-Hiat atau ilrmu totok jalan darah pengejar angin dari It Yang Cie atau yang disebut juga Telunjuk positip, ia menyerang Hian Cin-cu!

Hian Cin-cu tiba2 merasakan jidatnya seperti ditusuk.

Matanya menjadi kabur dan semangatnya lenyap.

Tapi iapun bukan sembarang orang, buru2 dipusatkan hawa murninya ke Tantian dan mengusir hawa jahat keluar dari tubuhnya.

Dengan sendirinya pintu pembuluh darahnya terbuka pula dan darahnya rmengalir seperti biasa pula.

Begitu juga semangatnya kembali pula.

Setelah mengetahui bahwa dirinya diserang secara licik oleh Gorisan, iapun menjadi gusar sekali .

"Aku takkan mengampuni kau, jahanam!"

Tapi selagi orang baru pulih semangatnya, siiblis menggunakan kesempatan untuk kabur!

Hian Cin-cu adalah Ciang bun-jin dari partai Hwee Liong Pay.

Kepandaiannya maupun kekuatan bathinnya telah terlatih dengan sempurna.

Dengan ilmu "Cu-Hong Pak-Heng"

Atau ilmu-ringan-mengejar-angin-menangkap-bayangan, ia lari mengejar.

"Hai, murid murtad! Kau mau lari kemana?"

Hian Cin cu mengeluarkan kebutannya dan menyapu tubuh Gorisan.

Begitu kena pukulan itu siiblis sempoyongan dan untuk menghindarkan mara bahaya, ia berjumpalitan untuk terus kabur!

Hian Tiin-cn terus mengejarnya.

Kini bulu2 kebutannya menjadi keras bagaikan duri kawat.

la mencelat keatas udara dan menyerang dengan hebatnya.

Dalam keadaan krisis ini, Gorisan sempat menggunakan tipu Tiat-Chin Tau atau Sarung-tangan-besi yang menyengkeram laksana kilat menyambar.

Ilmu tersebut dapat digunakan untuk merampas senjata tajam dari lawan tanpa ada bahayanya untuk terluka.

Benar saja kebutan Hian Cin-cu dapat terjambret hingga bulu2-nya......

tercabut!

Sesaat kemudian hanya tangkainya saja yang tertinggal ditangan Ciang-bun-jin Hwee Liong Pay.

Hian Cin-cu sudah dua puluh tahun lamanya tidak bertemu dengan Gorisan, sehingga ia tidak tahu sampai ditingkat mana orang itu mencapai kepandaian ilmu silatnya.

Maka ia berlaku sebat, tidak berani lengah.

Buru2 ia keluaran pukulan geledeknya yang disebut Lui-cun-cong, yang telah diyakinkan selama selama dua puluh tahun lamanya.

Kedua telapak tangannya dirangkapkan menjadi satu dan dengan cepat bagaikan kilat ia hantamkan pada lawannya ...dan sampai mengeluarkan suara mengguntur memecahkan kesunyian dilembah gunung.

Bulu2 yang sudah berada didepan matanya segera beterbangan dan jatuh ketanah.

Melihat kepandaian orang yang demikian hebatnya, diam2 Gorisan menjadi keder yuga.

Maka satu2nya jalan yang aman adalah ........

kabur.

Tapi Hian Cin-cu tidak tinggal diam, iapun segera mengejar dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang istemewa yaitu "Berjalan-diatas-salju tanpa-meninggalkan-bekas"

Pada saat itulah rombongan Im Hian Hong Kie-su tiba, dan berenam mereka berjajar menutupi mulut lembah.

Gorisan benar2 dibuat kewalahan, didepannya ada orang menghadang, sedang dibelakangnya ada Ciang-bun-jin Hwee Liong Pay tengah mengejarnya!

Begitulah setelah Gorisan berhasil menyampok pedang Wanyen Hong, ia sudah dapat memperhitungkan bahwa diantara musuhnya yang keenam orang itu, Tai-tailah yang kepandaiannya masih paling rendah.

Selain itu iapun menaruh dendam kepada sitolol itu yang telah munusuk kakinya tadi.

Para pendekar bertempur mati2-an melawan Gorisan.

"iblis yang menjadi biang kerok"

Dari segala kekacauan.

Dilihatnya Hian cin-cu sudah mendekatinya, maka iapun segera merogoh kantongnya.

Tampaklah ditangannya segenggam Kiu-cu Lui-Seng yang sangat beracun.

lapun berpura2 melemparkannya kearah Wanyen Hong sambil membentak .

"Perempuan iblis, sambutlah senjataku!"

Diluar dugaan mereka mendadak siiblis berbalik menimpukan senjata2 rahasianya kearah Tai-tai! Liu Bie terperanjat, sedangkan sitolol dalam keadaan maut itu masih bertanya .

"Gorisan, kau hendak bermain apa? "Aku hendak mencabut nyawamu"

Pada detik itu juga Tai-tai membuka baju luarnya.

Tampaklah cahaya putih memancar dari dadanya dan dalam sekejap mata saja Kiu-cu Lui-seng jatuh di tanah!

Sebaliknya Gorisan yang berpikir bahwa sitolol akan roboh, segera lompat menubruk.

Pasti aku dapat meloloskan diri pikirnya dengan girang.

Tapi tiba2 matanya silau dan tak dapat melihat apa2 Sedangkan Tai-tai sendiri melihat ancaman dihapannya tanpa ayal menjatuhkan diri dengan gerakan "merebah diatas es"

Sambil menangkap ikan".

Dengan sendirinya Gorisan menubruk tempat kosong.

Kini Tai-tai tidak tolol lagi.

Begitu melihat kesempatan baik, ia menyapu dengan kakinya sekuat tenaga sehigga musuhnya terpental diudara.

kiranya Wanyen Hong sudah menduga bahwa Gorisan akan menurunkan tangan jahatnya terhadap Tai-tai.

Maka dengan diam2 ia telah berikan mutiara ajaib Ya Kong Cu kepadanya.

Tak heranlah Gorisan jatuh ditangan sitolol!

Hian Cin-cu berlari datang, tubuh Gorisan diinjaknya.

Kaki Ciang-bun Jin itu seolah2 seperti gunung beratnya!

Pendekar2 lain2nya sudah ikut maju dan berdiri mengurung.

Mati kutulah siiblis!

Gokhiol dan Wanyen Hong tanpa ayal lagi mengangkat pedangnya, untuk -memberi tikaman terakhir.

Gokhiol hendak membalas sakit hati ayahnya, sedangkan Wanyen Hong hendak membaIas sakit hatinya berhubung kesuciannya telah dicemarkan.

Tapi belum lagi pedang2 mereka menemui sasaran atau Hian Cin cu sudah menahan pedang mereka berdua dengan gagang hudtimnya, seraya berseru dengan suara yang halus .

"Harap jie-wie sabar. Perkenankanlah aku untuk berkata sepatah kata dua kata dahulu". Kemudian dengan gagang hudtimnya sipendeta menotok pundak Gorisan yang lantas saja berteriak kesakitan. Siiblis pun jatuh pingsan! Wanyen Hong yang masih penasaran hatinya menjadi mendongkol.

"Hian Cin Su-siok, dengan kematiannya bagaiman inipun belum cukup untuk menebus dosanya. Kenapa masih harus dikasihani?"

"Apa yang Kongcu katakan memang benar."

Jawab Hian Cin-cu.

"Pinto teringat akan kematiannya Tio Hoan su-tit yang meninggal secara aneh. Biarkan untuk sementara Gorisan kubawa hidup-hidup ke Ciong lam San untuk diselidiki dan mengorek keterangan dari padanya. Setelah itu barulah kita akan mengambil jiwanya."

Selesai menjelaskan, pendeta itu menoleh pada Gokhiol seraya katanya pula .

"Peng-jie, aku masih ingat pada tujuh belas tahun yang lampau ibumu telah menyuruh orang mengirim surat untukku. Dalam surat itu diterangkan tentang rencana untuk memindahkan jenazah ayahmu. Tapi setelah lewat dua hari, sedang upacara pemindahan belum dilangsungkan, jenazah ayahmu telah Ienyap! Dan hal ini sampai saat ini masih menjadi tanda tanda tanya dalam ingatanku. Itulah sebabnya aku ingin bawa Gorisan kembali untuk mengorek keterangan darinya. Kaupun tak perlu terburu-buru membunuh dia dengan maksud untuk membalas dendam."

IM Hian Hong Kie-su sudah dapat mengerti dengan jelas akan maksud Hian Cin-cu.

Bahwa Gorisan dahulunya adalah murid dari Bu Tong Pay, kemudian ia kabur ke See-hek dan menceburkan diri sebagai murid baru Hwee Liong Pay.

Sebab itulah sebelum perihal ini menjadi jelas, Hian Cin-cu tak menginginkan Gorisan mati dalam tangannya sendiri dan akibatnya akan timbul salah pengertian dan rasa permusuhan antara partai Bu Tong Pay dan Hwee Liong Pay.

"Apa yang To-tiang katakan adalah tepat,"

Ujar Si Penunggu Puncak Gunung Maut.

"Dan aku yakin bahwa Wanyen Hong dan Tio Peng tit-jie maklum adanya. Tentu mereka akan menyetujui segala maksud To-tiang hanya ..."

"Kie-su masih ada pendapat yang lain?"

Tanya Hian Cin-cu dengan mengernyitkan keningnya.

"Aku yang rendah tak berani memberi pendapat lain."

Jawab Im Hian Hong Kie-su.

"Tapi ingin kuberitahu bahwa Gorisan ini banyak akal-bulusnya. Bila To-tiang hendak membawa pulang ke Ciong lam San. baiknya terlebih dahulu seluruh kepandaian orang ini dimusaahkan sehingga ia tak dapat melarikan diri lagi."

Im Hian Hong Kie-su, bermaksud baik, tetapi oleh Hian Cin-cu telah salah diterima, sehingga yang terakhir ini merasa tersinggung.

Lagi pula pada dua puluh tahun yang lampau, Im Hian Hong Kie-su telah mengalahkan tokoh-tokoh dari tujuh partai persilatan yang ternama dalam suatu pie-bu.

diantaranya adalah...."

Hian Cin cu sendiri. Jadi menurut sangkaannya, Im Hian Hong Kie-su bermaksud sengacja mengejek orang bahwa dirinya tak mampu menguasai Gorisan. Segera Hian Cin-cu menjawab dengan nada kurang senang .

"Pinto mempunyai rencana tersendiri, maka bila ia dapat kabur, akan kutebus dengan nyawaku sendiri."

Im Hian Hong Kie-su yang tahu bahwa orang telah salah tangkap maksudnya, maka iapun diam tidak berkata apa-apa lagi. Tapi Sebaliknya Tai-tai yang lancang mulutnya segera nyeletuk .

"To-tiang, apa kau berani jamin yang si iblis ini tidak bakalan kabur? Bukankah barusan bulu-bulu hudtim To-tiang telah kena dicabut sampai gundul!"

Wajahnya Hian Cin-cu berubah merah mendengar sindiran halusnya Tai-tai.

"Aku kurung dia dibawah tmenara yang berlapiskan baja sembilan lembar, sedangkan kaki-tangannya akan kuborgol dengan rantai. Selain itu pintu masuk kurapatkan dengan cairan besi panas! Bukankah dengan demikian kau akan merasa puas?"

Mengingat gurunya masih mempunyai hubungan baik dengan Hian Cin-cu, maka Wanyen Hong menarik lengan baju Tai-tai.

"Susiok, tempo hari siawtit pernah minta pertolongan untuk menyelidiki hal ikhwal Wan Hwi San. Tak dinyana bahwa orang itu adalah saudara misanku sendiri Gorisan. Dengan ini siauwtit ingin bertanya, dia itu mempunyai sangkut paut apa dengan Hwee Liong Pay?"

Hian cin-cu mulai reda marahnya.

"Sebenarnya asal usulnya Kongcu lebih mengetahi jelas, sebab dia adalah saudara misanmu. Dan sedari kecil dia telah berguru pada Bu-Tong Pay. Juga boleh dikatakan dengan Tio Hoan pun dia masih terhitung saudara seperguruan. Aku masih ingat tatkala Gorisan kembali kenegeri Kim, ia telah mencuri se

Jilid kitab See-Hok Bu-Cong, yaitu kitab sumber keilmuan dari dari daerah Barat yang disimpan didalam menara".

"Kitab itu dari Hoat Lian dijaman dinasty Tong, yang telah menyalinnya dari negeri Hindustan. Huruf Cong berarti aliran atau partai. Sedangkan dalam kitab itu terisi sumber2 ilmu silat dari segala aliran partai. Adapun kitab itu dianggapnya kurang penting, maka waktu itu dia tidak mengadakan penyelidikan. Sebaliknya dia mengandung akal busuk, yaitu hendak mencuri kitab aneh Ku Bok Kie-su dari gurumu Tiang Pek Lo-nie, tapi untunglah tidak berhasil. Maka ia pura2 mengambil alasan untuk menyerang kota Tong kwan. Disana iapun telah berpura2 gugur dalam pertempuran. Tapi diam2 ia melarikan diri kedaerah Barat untuk berguru kepada orang2 aneh yang berkepandaian tinggi. Sebab itulah sepak terjangnya dikemudian hari tak seorangpun yang mengetahuinya"

Wanyen Hong mengerutkan keningnya .

Pada waktu itu seluruh warga istana negara Kim menyangka bahwa Gorisan telah gugur dalam peperangan.

Siauwtitpun takkan berpikir dikemudian hari bahwa Wan Hwi Sian itu adalah dia!

Tujubelas tahun lamanya aku gila mencari-cari orang yang telah mencelakakan diriku.

Untung Im Hian Hong Kie-su telah berhasil menyingkap kedok rahasia iblis itu!"

Lewat beberapa saat Hian Cin-cu tak berkata lagi?

Akhirnya ia mohon diri kepada para pendekar.

Gorisan diborgolnya, lalu didukungnya pergi.

Sekejap mata saja ia telah menyelinap hilang diantara bukit2.

Setelah itu Kim Gan Bie Liu Bie memberi hormat pada kakak seperguruannya Wanyen Hong.

Lantas dikeluarkannya dari dalam sakunya sepucuk surat dari gurunya untuk disampaikan, kepada sang putri.

Dalam surat itu diberitahukan bahwa setelah delapan belas tahun gurunya telah berhasil menyakinkan ilmu Kimkong Put-hway Kang dari ajaran Buddha.

Selain itu dipesankan agar sang putri segera kembali kenegeri Kim.

Disana ia harus memulihkan hubungan dengan negeri Song di Tiong-goan, Dan bersama melawan....

bangsa Monggol!

Segera setelah Wanyen Hong membaca itu, disimpannya kedalam sakunya.

la kuatir kalau2 rahasianya akan diketahui oleh Gokhiol yang berdiri dekatnya.

Liu Bie yang sedari tadi memperhatikan sikap Wanyen Hong, merasa kagum dalam hatinya.

Sang puteri ini sudah lewat empat puluh tahun usianya, namun parasnya tetap elok dan ayu.

Bahkan kelakuannya seperti masih gadis remaja.

"Su-cie,"

Ujar Liu Bie sambil tertawa.

"Sungguh mujarab obat pengawet muda yang kau telan itu. Katanya kalu sucie sekali tidur, lamanya kurang lebih tigapuluh hari. Tapi bagi sucie rasanya seperti satu malam saja. Pantaslah selama tujuhbelas tahun ini sedikitpun tak ada perobahan. Su-cie tetap muda belia "

Sang puteri tersenyum kecil, tapi mendadak timbul rasa ngantuknya.

"Wah celaka!"

Jeritnya dengan kaget.

"aku harus tidur, bagaimana baiknya sekarang?"

Suhu!"

Tiba2 Hay Yan berseru.

"hampir2 muridmu lupa, untung obat pemunah ngantuk ini tidak hilang! Hay Yan mengeluarkan sehelai saputangan terbungkus. Ketika dibuka, didalamnya terdapat sebutir obat pulung yang harum baunya. Obat ini adalah pemberian dari Hian Cin-cu, tatkala sigadis menghantarkan surat ke gunung Ciong-Lam San. Wanyen Hong segera menelan pil itu. la berkata sambil berguyon .

"Aku belum tahu apakah obat ini dapat membuat aku hidup sampaikan dunia kiamat."

Gokhiol yang kini merasa simpatik pada puteri negeri Kim, mengulum senyumnya .

"Hari sudah hampir gelap, baiklah kita kembali ke Leng Wan Koan untuk bermalam disana. Besok pagi baru kita lanjutkan perjalanan."

Ujarnya seraya memandang keatas.

"Tio koko kini berlagak menjadi tuan rumah."

Hay Yan memotong sambil tertawa.

"Benar-benar ini apa yang dikatakan pepatah . Si harimau pergi, si rase jadi raja! Wan Hwi Sian berlalu, kini koko yang menggantikan singasananya. Ha!...Ha...! Ha...!"

Wanyen Hong yang mendengar Hay Yan berguyon dengan Gokhiol, lalu meletakkan sepasang matanya yang indah dan berkata .

"Bila pada suatu hari Peng-jie berhasil duduk diatas kursi kerajaannya, apakah kau mau dijadikan selirnya?"

Tanyanya dengan tersenyum manis Memang Wanyen Hong tidak menaruh dendam terhadap Gokhiol tapi karena pemuda kita mengakui Jenderal Tuli.

Panglima Angkatan Perang Monggolia sebagai ayah angkatnya, ia menjadi kuatir.

Sebab pikirnya dikemudian hari Gokhiol tentu akan menyumbangkan jiwa-raganya kepada fihak Monggol, fihak musuhnya!

Kini tak disangkanya bahwa puterinya sendiri, Hay Yan telah berhubungan akrab dengan Gokhiol.

Itulah sebabnya mengapa ia sampai mengluarkan kata-kata yang mengejek.

Disamping itu kebanyakan sifat wanita tak terkecuali Wanyen Hong berpemandangan cupat.

Wanyen.

Hong menganggap bahwa Lok Gok dahulu telah merampas kekasihnya Tio Hoan Yang mengawininya.

Karena itu yuga dalam hatinya timbul rasa cemburu, untuk kemudian menjadi dendam!

Mendengar ajakkan Wanyen Hong ini, Hay Yan jadi kemalu2-an.

la menundukkan kepalanya dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi.

Sebaliknya Gokhiol merasa kurang senang dan dengan suara dingin ia berkata.

"Aku bukannya turunan bangsawan dan juga bukan seorang pangeran. Namun sekalipun aku menjadi raja, Hay Yan akan menjadi permaisuriku, bukannya selir!"

"Kau bukannya turunan bangsawan?"

Tanya Wanyen Hong dengan cukup dingin pula.

"Kau adalah anak Jenderal Tuli yang agung dari Monggolia. Disamping itupun kau adalah turunan pangeran dari kerajaan Song, tapi siapa saugka kau telah mengangkat musuh ...."

Im Hian Hong Kie-su tahu bahwa sang puteri hendak mengatakan "mengangkat musuh sebagai ayahmu".

Diam-diam ia melirik kearah pemuda kita yang air mukanya telah berubah menjadi merah padam.

Maka lekas2 ia berkata .

"Saudara-saudara, hari sudah malam. Bila kalian ingin bersenda gurau, sebaiknya diadakan didalam kuil saja."

Liu Bie adalah seorang gadis yang cerdik, melihat gelagat kurang baik ini, segera menarik tangannya Wanyen Hong seraya membisik dengan perlahan.

"Su-ci, mari kita kembali ke Leng Wan Koan. Aku masih ada omongan yang hendak dikatakan padamu."

Katanya.

"Peng-ji"

Ujar Im Hian Hong Kie su.

"Kau adalah tuan rumah, baiklah kau pimpin kami."

Berenam mereka lalu kembali ke Leng Wan Koan.

Sampai disana, Gokhiol bersama Hay Yan pergi kedapur.

Tampak diatas anglo mengepul asap yang menyebarkan bau harum.

Begitu Hay Yan mengangkat tutup panci, maka dilihatnya daging menjangan yang hampir matang.

Disamping anglo terdapat sepanci bak-pauw, seguci arak.

Mereka jadi girang sekali.

"Inilah hidangan yang telah disediakan oleg Ang-bian Kim-Kong untuk menjamu Gorisan. Kini mari kita makan saja hidangan yang lezat ini.

"berkata Gokhiol dengan tersenyum. Setelah melihat disekitar tempat itu tiada orang lain Hay Yan lalu memandang pemuda kita dengan penuh arti serta sungguh2.

"Koko, tadi ibuku telah mengucapkan kata2 yang kurang enak didengarnya. Aku harap kau jangan menjadi kecil hati. Janganlah kau ladeni dia berdebat yang tak ada gunanya,"

Kata Hay Yan dengan nada yang memohon dimaafkan.

"Sebagai ibumu, tak semestinya ia menyakiti hatimu. Gokhiol menjawab dengan adem.

"Aku tahu, ibuku selamanya membenci orang Monggol. Dia kurang senang melihat kau sebagai anak angkatnya Jendral Tuli. Maka bagaimana kalau mulai sekarang kau gunakan nama pemberian ayahmu?"

Kata Hay Yan. Gokhiol tidak menyahut dan tiba2 dari luar terdengar suara orang berkata.

"Sio-cia, dia busuk hatinya. Dia pakai nama Gokhiol sedangkan nama sebenarnya adalah Tio Peng. Tapi, eh!... ah!..., dia..... dia cinta padmu, Sio-cia."

Kedua muda-mudi itu terkejut, dengan cepat mereka menoleh asal suara itu dan tampak Tai-tai sedang menyemat bak-pauw dari luar jendela yang lantas saja disesapkan kedalam mulutnya.

"Tai-tai!"

Bentak Hay Yan dengan muka yang merah.

"Kembali kau mencuri! Lekas bantukan aku menyediakan barang santapan."

"Ah, aku mengganggu kalian saja, jawabnya sambil memainkan matanya. ---oo0dw0oo---MALAM itu ke-enam pendekar makan-minum dipendopo, sedangkan pembicaraan mereka berkisar tentang Tai-tai yang telah menyumbangkan jasanya yang patut dihargai.

"Dikemudian hari Tai-tai akan menjadi pendekar wanita besar"

Kata Im Hian Hong Kie-su.

"Tetapi sayang......"

La, batalkan niatnya yang ingin mengatakan bahwa Tai-tai itu seorang agak tolol sedikit.

Sedangkan Tai-tai yang mendengar orang ramai memuji dirinya, ia mencibirkan bibirnya saja.

Melihat kelakuan Tai-tai yang lucu itu, para pendekar jadi tertawa dengan ramainya, tetapi sekonyong-konyong Wanyen Hong mengucurkan air mata.

"Itulah semua karena salahku. Sedangkan sekarang sudah terlambat."

Katanya dengan terisak-isak. Im Hian Hong Kie-su samar-samar dapat menerka bahwa kata2 sang puteri mengandung sesuatu yang tersembunyi, maka ia bertanya.

"Kong-cu, apakah gerangan maksud perkataanmu itu ?"

"Dulu ketika Tai-tai dilahirkan, bakatnya kecerdasannya melebihi dari anak kecil lainnya."

Menerangkan Wanyen Hong.

"Maka karena aku merasa takut kalau2 kelak ia sudah besar, rahasiaku akan menjadi bocor oleh-nya tanpa sengaja. Oleh sebab takut dengan hal itu, aku telah berunding dengan Hay An Peng, ayahnya Tai-tai. Hasil perundingan itu ialah . Kami menutup urat syarafnya Tai-tai dibagian jalan darah Leng-su-hiat, yaitu jalan darah kecerdasannya. itulah sebabnya mengapa Tai-tai tampaknya jadi ketolol tololan, aku sungguh berdosa, aku sungguh berdosa....."

"Su-ci."

Memotong Liu-Bie dengan cepat.

"Mengapa kau tidak pulihkan kembali jalan darahnya?"

"Itu memang telah aku lakukan beberapa kali,"

Sahut Wanyen Hong.

"Namun selalu tidak berhasil."

"Bila Kong-cu tidak merasa keberatan."

Berkata Im Hian Hong Kie-su.

"Baiklah kini aku akan mencoba untuk membuka jalan darahnya yang telah tertutup itu, tapi entah bagaimana dengan hasilnya, ini terserah pada Thian yang maha kuasa saja....."

Mendengar ini Wanyen Hong menjadi girang, tergesa-gesa ia menghaturkan terima kasihnya pada Pendekar Si Penunggu Puncak Gunung Maut itu.

Kiranya usaha yang mulia dari Im Hian Hong Kie-su berhasil dengan sempurna.

Bila dikemudian hari kita berjumpa pula dengan Tai-tai, maka sikapnya telah berobah seperti gadis remaja biasa saja.

Pada malam harinya Gokhiol tidur didalam kamarnya, Ketika ia hendak pulas, tiba-tiba terdengar ada suara orang memanggil namanya.

la membuka matanya dan melihat kearah jendela.

Pemuda kita masih ingat ketika tahun yang lalu Tai-tai pernah muncul dijendela itu dan melontarkan Pil Hwee Wan kedalam mulutnya.

Dan berkat obat mustajab itu kepandaiannya sampai tidak menjadi musnah oleh perbuatan Gorisan.

Begitulah Gokhiol menyangka bahw a Tai-tailah yang datang menjenguknya pula.

la bangkit berdiri dan mememasang lilin diatas meja.

"Gie koko, akulah yang datang menjengukmu."

Terdengar suara dari arah jendela.

Bagaikan kilat Gokhiol mencelat kearah jendela, sebab ia mengenali bahwa itulah suara adik angkatnya Pato, ia menjadi heran, maka dengan suara hampir berbisik ia berkata .

"Adikku bagaimana kau bisa sampai kesini?"

Pato tonjolkan kepalanya dari luar jendela.

"Ada sesuatu urusan yang sangat penting, ibumu telah menyuruhku datang mencari kau."

Ia berkata sambil melompati jendela untuk masuk kedalam kamarnya Gokhiol. Kedua saudara ini yang telah lama tidak bertemu lalu saling rangkul dengan mesranya.

"Gie koko,"

Bisik Pato.

"Im Hian Hong Kie-su sangat lihay sekali kepandaiannya, maka kau jangan keras2 bicara."

"Bagaimana kau tahu bahwa mereka berada disini ?"

Tanya Gokhiol dengan keheranan.

"Baiklah kuterangkan padamu."

Jawab pangeran Monggol ini.

"Pada tahun yang lalu, aku pernah turut Yalut Sang untuk menyambangi Im Hian Hong Kie-su. Dia telah membantu Wanyen Hong dan kau untuk menyingkapkan tabir rahasia Gorisan. Hal ini telah kuketahui semuanya."

"Rupanya kau telak mengetahui seluruhnya. Hanya sayang aku belum sempat membalas sakit hatiku!"

Jawab Gokhiol.

"Siapa suruh kalian ditipu oleh Hian Cin-cu? Gie koko, kau sekarang juga mesti turut aku pulang ke Holim."

"Ada urusan apa?"

Tanya Gokhiol dengan kaget.

"Kha-khan yang agung telah jatuh sakit, para tabib tak berdaya untuk berbuat apa-apa lagi. Kini keluarga didalam istana telah bersepakat untuk mengangkat ayah kita sebagai gantinya. Tapi Tiohodai dan Bee-cin Onghouw Cin-sie tak menyetujuinya dan secara diam2 bersepakat pula untuk mengangkat puteranya yang bernama Kubisu. Sebaliknya mereka merasa jeri terhadap putera2 ayah yang berjumlah tujuh itu ....."

"Eh! Gie-hoe hanya berputera enam orang, kenapa kau katakan ada tujuh?"

Menanya Gokhiol dengan heran.

"Apa kau bukannya putera ayahku?"

Berkata Pato dengan bangga.

"Rupanya kau masih belum tahu bahwa sejak kau meninggalkan Holim, ayahku telah mengumumkan dihadapan para tetua istana bahwa kau bukannya anak-angkatnya lagi. Melainkan anak kandungnya sendiri. Sudahlah, sekarang jangan kau tanyakan lagi yang melit-meIit padaku. Baiklah kau dengarkan penuturanku yang penting ini."

Berbagai perasaan berkecamuk didalam benaknya Gokhiol, ketika ia mendengar yang saudara angkatnya bakal menuturkan suatu hal yang penting sekali baginya.

"Ong-hauw merasa takut kepada kita bersaudara, Sepuluh hari yang lalu ia telah memanggil kami urtuk datang menghadap, tapi ini kiranya adalah suatu jebakan saja dan.... kami kena dikurung. Lima saudara kita kena ditawan, yang berhasil melarikan, diri hanyalah aku seorang saja. Disepanjang jalan banyak aku menemui rintangan serta bahaya, namun semuanya itu dapat aku atasi dan akhirnya-aku dapat bertemu dengan kau, saudaraku yang sejati."

Mendengar berita ini Gokhioi menjadi pucat bahna terkejutnya, sebab ia tidalk mengira yang diistana Mongol sedang bergolak dengan ramainya untuk merebut takhta kerajaan!

Kemudian Pato menyambung pula ceritanya "Ayah kini sedang membawa pasukannya untuk menggempur kota Ci-yung-koan, hingga aku tak dapat menghubungi beliau.

Menghadapi kejadian ini Ama dan Yalut Sang menjadi bingung dan karena itulah aku disuruh lekas2 pergi ke Mo-thian-nia untuk mencari kau."

Pada waktu itu yang menjadi kaisar dari kerajaan Monggol ialah Ogotai.

Putera kedua dari Jenghis Khan, Putera sulungnya yang bernama Khetu telah meninggal, sedangkan puteranya yang ketiga Cohodai dan adiknya Tuli, masing2 mempunyai pasukan perangnya.

Bee-cin Ong-how adalah selirnya Ogotai yang keenam serta merupakan selir yang sangat disayangnya.

Dari selir ini Ogotai memperoleh seorang putera yang diberi nama Kubisu yang pada waktu itu baru berusia empat tahun.

Karena merasa takut yang Jenderal Tuli akan menaiki takhta kerajaan Monggol, maka Bee-cin Ong-houw telah memancing putera-puteranya Jenderal Tuli serta menahannya.

Mendengar penuturan adik ini, Gokhiol menjadi sengit "Bee-cin Ong-how berani berbuat demikian?

Apakah ia sudah tidak pandang lagi gei-hoeku yang mempunyai kedudukan sebagai Panglima tertinggi dari pasukan perang Monggolia?

teriak Gokhiol dengan gusarnya."

"Gie koko...."

Ujar Pato, tapi segera ia memperbaiki ucapannya.

"Ah, seharusnya aku membahasakan koko saya padamu. Kokopun sudah mengetahui yuga sifat ayah adalah sangat setia sekali kepada jungjungannya. Segala. perintah Ogotai Khan ia selalu turuti. Kini tanpa perintah dari Khan yang mulia, ayah tak berani, pulang ke Holim."

Gokhiol mendengarkan penuturannya Pato dengan hati gusar, kemudian ia berkata .

"Sekarang lm Hian Hong kie-su dan Wanyen Hong Kong-cu berada disini. Sebaiknya besok baru aku akan menemui kau lagi."

"Tak bisa"

Jawab Pato dengan cepat.

"Biar bagaimanapun koko mesti ikut aku berangkat sekarang juga ke Holim. Sedikit terlambat saja, saudara2 kita akan celaka atau muugkin juga sudah mati !"

Gokhiol segera teringat akan ibunya, lalu terbayang wajahnya, Mangu Moko, Kubilai, Hulahu dan Kadu....saudara angkatnya.

Mereka bertujuh dibesarkan dan pergaulan mereka sangat akrab sekali melebihi saudara kandung.

Maka.

bagaimana, Gakhiol dapat berpeluk tangan melihat saudara2nya dalam marabahaya?

Apakah ia ada seorang manusia yang tidak mengenal budi baik orang?

Mengingat ini semuanya, tanpa memikir Iain Gokhiol segera menganggukan kepalanya sambil berkata.

"Baik, sekarang juga kita berangkat!"

Pato menjadi girang sekaIi, serta-merta dipeluknya saudaranya.

"Aku sudah menduga yang koko pasti akan kembali kekampung halaman kita lagi. Kini selamatkanlah saudara2 kita."

Kata Pato dengan gembira.

Dengan cepat Gokhiol meringkaskan pakaiannya dan tak lupa pula pedang Ang liong-kiam ia selipkan pula dipinggangnya.

Tetapi baru Gokhiol ingin melangkah keluar, didalam pikirannya segera terbayang wajahnya Hay Yan yang cantik jelita, sehingga timbullah niatnya untuk menemui dulu sicantik.

Namun begitu ia teringat akan ejekannya Wanyen Hong tadi, lantas ia urungkan niatnya.

Sebagai gantinya ia meninggalkan sepucuk surat untuk Hay Yan yang diletakan disamping bantalnnya.

"Lekas!"

Berkata Pato yang sudah tidak sabar lagi.

"Hari sudah hampir terang, diluar aku sudah sediakan seekor kuda bagimu."

Segera juga kedua jago muda itu melompat keluar melalui jendela dan sambil.

berlarian mereka turun dari atas gunug bagaikan meteor melesat diangkasa malam yang luas berbintang.

---oo0dw0oo---Pada keesokan harinya, Im Hian Hong Kie-su berserta kawan-kawannya tidak menemukan Gokhiol dikamarnya.

Sedangkan yang diketemukan hanyalah sepucuk surat untuk Hay Yan yang bunyinya sebagai berikut.

"Berhubung saudara-saudaraku di Holim sedang menghadapi bencana dan aku mesti berangkat kesana dalam waktu yang singkat, maka tak sempat lagi aku berpamitan dengan kalian para pendekar yang budiman. Untuk ini harap dimaafkan dan sampai berjumpa. Gokhiol."

"Apa yang kukatakan?"

Ujar Wanyen Hong dengan nada mengejek.

"Sudah kuduga biar bagaimanapun, dia tetap adalah budaknya orang Monggol! la secara mendadak pergi, tentunya ada kawannya yang datang kemari"

"Bagaimana ia sampai tega meninggalkan kita?"

Berkata Hay Yan, hampir2 air matanya keluar.

"Kemarin aku malah sudah menyuruhnya untuk mengganti namanya dengan Tio Peng."

"Huh! Apa kau kira karena ia jatuh cinta, lantas ia sudi menggantikan hubungannya dengan orang2 Mongol?"

Berkata Wanyen Hong kepada puterinya.

"Sedangkan didalam suratnya saja, ia masih tetap menggunakan Gokhiol sebagai namanya. Sayang kemarin aku tidak sempat menawannya. Memang aku sudah mempunyai firasat bahwa dikemudian hari dia merupakan penyakit yang membahayakan kita."

Melihat kedua orang itu saling bertengkar, Im Hian Hong Kie-su menarik napas .

"Kongcu, dengarlah kata kataku sebentar. Tio Peng meskipun dibesarkan dinegri Monggo!, tapi jiwanya tetap adalah jiwanya bangsa Han. Maka itu tetap ia masih dapat membedakan antara budi dan dendam. Dikemudian hari, pastilah ia akan mengakui yang dirinya adalah turunan asli dari pahlawan negeri Song yang jaya! Biarlah kini ia meninggalkan kita, esok-lusapun pasti kita akan bertemu dengan dia. Sekarang yang penting, Kongcu harus kembali pulang kenegeri Kim, agar orang2 Monggol tidak sempat mengetahui bahwa Kongcu berada disini. Demi untuk mencegah timbulnya kesulitan, aku bersedia pula untuk mengantar Kongcu pulang kenegeri Kim."

Kata Im Hian Hong Kie-su. Wanyen Hong terdiam mendengar nasehatnya, jago ini.

"Kata Gak Lo-cianpwee memang Sangat beralasan,"

Liu Bie turut berbicara.

"Kini asal-usul Su-ci telah diketahui orang. Maka apabila Su-ci berdiam terus dikota Hitam orang2 Monggol pasti akan mengadakan penyerangan. Lagi pula suhu ada perintah agar kau kembali kenegeri Kim. Sebaiknya Sucie turuti nasehat itu."

Wanyen Hong termenung.

Teringat olehnya istana dinegerinya yang menjadi tempat kediamannya selama tujuh belas tahun, menghindarikan diri dari dunia keramaian.

Dan belum sempat pula ia menuntut sakit-hatinya, ia tak dapat kembali pulang dan menemui kakaknya Wanyen Ping, raja dari negeri Kim.

Sebaliknya ia merasa kuatir juga terhadap bangsa Monggol, apabila mereka mengetahui bahwa ia masih hidup.

Tentunya mereka akan mengadakan penyergapan.

Kini Jengis Khan telah wafat.

Sedangkan orang yang telah mencemarkan dirinya telah ia ketahui adalah saudara misannya sendiri Gorisan.

Untuk apa ia berdiam terus ditempat sepi!

Maka iapun mengambil keputusan untuk kembali pulang ketanah airnya dan mengakhiri semua peristiwa2 ini.

Dengan pancaran wajah yang tenang ia menghaturkan terima kasih kepada Im Hian Hong Kie-su yang telah bersedia uatuk menghantarnya pulang.

"Sekarang kota Tong-koan dan Hong-leng yang merupakan pintu negeri yang terpenting, telah dikuasai oleh bangsa Monggol. Sebaiknya kita ambil jalan memutar ke Sia See dan menyusuri pegunungan Hu-gu San. Cuma sebelumnya Kong-cu menulis surat agar Liu Bie Kouwnio membawanya lebih dahulu ke Pian Liang dan meminta supaya diadakan suatu penyambutan,"

Ujar Si Penunggu Puncak Gunung Maut.

"Betul,"

Kim Gan Bie membenarkan,"

Baiklah Suci tulis surat itu, nanti akan kuhantarkan."

Puteri negeri Kim menganggukkan kepalanya.

---oo0dw0oo---WAKTU lewat dengan begitu cepatnya, berselang sebulan, Wanyen Hong, Hay Yan dan puteri angkatnya Tai-tai dengan berkendaraan sebuah kereta kuda berjalan menuju negeri Kim.

Sedangkan untuk mengelakkan dari kecurigaannya orang2 Monggol, Im Hian Hong Kie-su menyamar sebagai kusir kereta kuda.

Selagi mereka melewati sebuah gunung, tampak tidak jauh dipinggir jalan berdiri seorang pengemis tua.

Pakainnya yang compang camping tak keruan rupa dan ditangannya ia mencekal sebuah tongkat bambu.

Si pengemis menghadang jalanan kereta!

Im Hian Hong Kie-su mengetahui bahwa termpat sepi ini sering digunakan oleh orang2 aneh untuk menyembunyikan diri.

Melihat si pengemis tua muncul dengan tiba2, ia segera berseru agar sipengemis suka memberi jalan.

Dengan perlahan ia menarik 1es kudanya untuk mengelakan tubuh sipengemis tua itu.

Tapi baru saja kereta lewat disamping pengemis itu, tiba2 terdengar suara keras dan roda kereta menjadi hancur.

Kereta kehilangan keseimbangannya dan membentur sebuah batu besar pada tepi jalan sehingga terbalik.

Kuda2-nya untung tidak lari kabur.

Ketiga penumpang terhempas jatuh, tapi cepat2 bangkit berdiri dengan hati mendelu.

Im Hian Hong Kie-su terkejut!

Pada saat selanjutnya angin berkesiur disampingnya.

la menoleh dan melihat sipengemis tua telah berdiri beberapa tombak dihadapannya Wanyen Hong.

"Apa Kongcu tidak luka?"

Tanya, sipengemis dengan cengar-cengir.

"barusan aku telah berbuat lalai. Aku tak sempat masukkan mainanku kedalam saku, sehingga telah mengagetkan kedua kuda itu."

Karena dirinya dipanggil dengan Kongcu, Wanyen Hong terkejut dalam hatinya.

Diawasinya pengemis itu dengan seksama.

Tampak pada pinggang orang terlilit sebuah benda panjang berwarna merah.

Itulah seekor ular yang berbisa!

"Ular2 ini sering menyusahkan hati tapi sebaliknya dia mempunyai suatu kefaedahannya.

Sekali saja itu memandang kau, maka untuk seterusnya takkan dilupakannya.

Dinegeri Burma orang memanggilnya ular pengenal orang.

Ha...

ha...ha...!"

Sambil berkata sipengemis me-main2kan ularnya.

Panjang ular itu ada kira2 tujuh atau delapan kaki.

Begitu dimainkan, leher binatang itu berkembang dan melembung seperti sebuah bola bundar.

Mulutnya terbuka dan lidahnya melelet keluar.

Kemudian kembungannya kempes kembali.

Mereka yang menyaksikan mencium bau yang sangat amis sekali, seperti ikan busuk.

Wanyen Hong menekap hidungnya, hampir2 ia muntah.

Sipengemis tertawa pula.

"Kongcu tidak biasa mencium bau amis ini. Tapi ular ini dapat membantu kau untuk mencari musuhmu. Maka dikemudian hari akan berguna bagimu!"

Im Hian Hong Kie-su mendengar kata2 sipengemis, menjadi sadar bahwa orang mempunyai suatu maksud. lapun membuka suara .

"Hai sobat. Kita sebenarnya belum saling mengenal. Hari ini kami kebetulan melewati daerahmu dan kau telah membuat terbalik kereta kami. Apakah maksudmu?"

Sipengemis membungkuk sambil memberi hormat.

"Ah, tak ada maksud apa2. Lohu hanya ingin menyampaikan suatu kabar kepada Kongcu."

Wanyen Hong bertanya dengan suara lantang.

"Akulah puteri dari negeri Kim. Kau siapa dan berita apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?"

Sepasang mata sipengemis mengawasi Wanyen Hong tanpa berkesip.

Sedangan airmukanya sukar membedakan apakah menunjukkan perasaan baik atau jahat.

Lama sekali ia mengawasi puteri kita yang cantik jelita, barulah ia membuka suara .

"Aku adalah rakyat-jelata yang juga disebut bangsa Kay-pang. Kongcu tak usah mengetahui siapa namaku, hanya aku ingin menyampaikan berita padamu bahwa raja Kim, Wanyen Ping telah mangkat beberapa hari yang lalu. Sedang sekarang sebagai penggantinya yang duduk diatas takhta adalah Wanyen So-cu. Lohu datang,kesini sengaja untuk memberitahukannya kepada Kongcu."

Mendengar berita tersebut, Wanyen Hong menjadi pucat.

"Apakah kau tidak berjusta? Kau telah merusakkan keretaku, bagaimana aku dapat kembali ke Pian-liang untuk berkabung?"

Sipengemis melibatkan ularnya pada pinggangnya, lalu jawabnya .

"Lohu mempunyai dua ekor kuda yang bagus. Kau boleh meminjamnya. Tunggulah sebentar, nanti akan kuambilkan kuda2 itu."

Sehabis berkata ia memukulkan tongkatnya ketanah, dan tubuhnya melesat bagaikan seekor burung, terbang, keudara.

Dalam sekejap mata saja ia telah menghilang diantara semak2.

Im Hian Hong Kie-su melihat orang berlalu berkata dengan lirih .

"Orang itu sangat aneh. Melihat ilmu ringan tubuhnya, ia tidak berada dibawah kita. Mungkin juga ia adalah seorang utusan dari Pian-lang."

"Bila kulihat tadi waktu mengutarakan perasaannya, ia menunjukkan rasa sedih yang sungguh2"

Ujar Wanyen Hong.

Baru saja sang puteri habis bicara, tiba2 terdengar suara derapan kaki kuda yang mendatang kearah mereka.

Tak lama menyusul dua ekor kuda ber-lari2 menghampiri, sesampainya dihadapan mereka kedua kuda itupun berhenti berlari.

Tapi yang mengherankan ialah sipengemis tak kelihatan lagi mata hidungnya!

Hay Yan melihat disalah satu pelana kuda itu tergores huruf yang berbunyi .

"Kuda ini kuhadiahkan kepada kalian. Sampai berjumpa pula."

Tulisan itu menunjukkan jiwa yang bersemangat. Tulisan itu rupanya dibuat dari goresan kuku tangan.

"Ia pasti takkan kembali kesini,"

Ujar Im Hian Hong Kiesu dengan kaget.

"siapakah gerangan sipengemis luar biasa itu?"

Dengan air mata berlinang Wanyen Hong berkata .

"Kalau dilihat begini, maka benarlah saudaraku telah mangkat. Walaupun aku kembali ketanah airku, tak mungkin aku dapat bertemu pula dengannya."

"Kongcu tak usah bersedih hati,"

Menghibur Sipenunggu Puncak Gunung Maut Im Hian Hong Kie-su.

"ini juga kita dapat sampai di Nie Ho Cun, suatu dusun yang sudah termasuk wilayah Kim. Disana kita dapat ketahui benar tidaknya berita itu."

Segera kedua kuda dari kereta tadi dilepaskan dan bersama dua ekor kuda pemberian sipengemis, maka berangkatlah ke-empat tokoh rimba persilatan itu dengan masing2 menunggang seekor kuda.

Menjelang petang hari, tibalah mereka didusun Nie-Ho Cun Dusun tersebut termasuk wilayah negeri Kim.

Tampak jauh dari dua barisan obor sedang bergerak mendatang kejurusan mereka.

Wanyen Hong terkejut, sedangkan Tai-tai berseru .

"Hati2 Didepan banyak serdadu membawa tengloleng undang datang kemari"

Lm Hian Hong Kie-su melihat bahwa mata Tai-tai sangat tajam sekali, cepat2 bertanya.

"Tai-tai, apakah pada tengloleng itu tertulis huruf2 berwarna merah?"

"Tidak,"

Sahut Tai-tai.

".... semuanya ditulis dengan huruf hitam!"

"Celaka!"

Seru Sipenunggu Puncak Gunung Maut "Kongcu benar2 telah mangkat."

Tak tahan lagi, Wanyen Hong menekap mukanya seraya menangis menggerung-gerung.

Kini rombongan sudah tiba.

Mereka berbaris menjadi dua buah jalur.

Dari antara rombongan keluarlah seorang nenek tua, dialah Tang Seng ibu inang sang puteri.

Disusul oleh pengawal istana Tahasan dan beberapa dayang2 serta penjabat2 istana.

Dibawah sinar terangnya obor, mereka menyaksikan wajah sang puteri yang tetap elok tak ubahnya seperti waktu ia masih remaja.

Segera mereka berlutut untuk memberi hormat.

Salah seorang wakil istana mengucapkan kata2 selamat datang kepada Wanyen Hong yang berdiri tegak bagaikan patung.

"Kami sekalian budak datang untuk menjemput Kong-cu."

Sedangkan ibu inang sang puteri memeluk kaki Wanyen Hong. Yang terakhir ini merangkul inangnya, dengan hati terharunya.

"Aku telah meninggalkan negeriku tujuhbelas tahun lamanya,"

Ujar Wanyen Hong,"

Tapi hari ini aku datang tak dapat bertemu pula dengan saudaraku Sri baginda. Sedangkan ibukota kinipun telah berpindah kebagian selatan. Bagaimana hatiku tidak menjadi sedih?"

Para penyambut setelah mendengar ucapan sang puteri, terdiam dan menundukkan kepalanya.

Malam itu mereka menginap didusun Nie-Ho Cun.

Keesokan harinya Im Hian Hong Kie-su mohon berpamitan diri.

Mengetahui bahwa orang segan untuk mengikut keistana.

Wanyen Hong tak menolaknya.

Setelah menghaturkan terima kasihnya, sang puteri masih bertanya .

"Kalau Kie-su hendak kembali, dapatkah kiranya mampir ke Ciong Lam San. Tolonglah sampaikan salamku kepada Hian Cin-cu dan sekalian lihat Gorisan yang ditawan disana."

"Memang akupun hendak pergi kesana."

Jawab Datuk Rimba-hijau itu.

"sebab akupun merasa kuatir. Gorisan mempunyai banyak tipu muslihat. Aku takut kalau2 Hian Cin-cu kena ditipunya."

Baru saja ia ingin pergi. Wanyen Hong menahannya.

"Harap Kie-su tunggu sebentar......"

Im Hian Hong Kie-su mengetahui bahwa sang puteri. bermaksud mengutarakan sesuatu yang tak mudah di ucapkannya.

"Ah, aku tahu. Kongcu menginginkan agar aku mau selidiki apakah Gorisan yang telah mencelakakan Tio Hoan dahulu bukan?"

Wanyen Hong manggut.

"Dugaan Kie-su tepat. Dahulu Tio Hoan binasa, tapi mayatnya hilang secara rahasia."

"Tapi"

Jawab Sipenunggu Puncak Gunung Maut.

"bukankah waktu itu isteri Tio Hoan, Lu Giok berserta Tiang Jun telah menemukan mayatnya?"

"Kudengar bahwa mayat itu telah koyak2 dimakan oleh binatang2 liar, sehingga sukar dikenali. Sebab itu Lu Giok pun tak berani memastikan bahwa mayat itu adalah Tio Hoan. Ketika mereka kembali, didapatkannya mayat itu telah hilang. Hal itulah yang membuat aku sampai kini merasa gundah-gulanah."

"Dengan kata lain, kalau begitu Kongcu beranggapan bahwa Tio Hoan sampai saat ini ... masih hidup ?"

Sang puteri mengangguk.

"Tapi apabila ia belum mati selama tujuhbelas tahun ini kemana ia pergi ?"

Gumamnya perlahan.

"Aku hanya......."

Belum selesai ia berkata, atau airmata Wanyen Hong sudah ber-linang2 turun membasahi pipinya.

Ternyata cinta-murni sang puteri tidak lumer sepanjang masa.

Im Hian Hong Kiesu melihat orang bersedih hati, iapun tak mengucap sepatah kata lagi.

Diam2 ia mengundurkan diri ---oo0dw0oo---IM HIAN HONG KIE-SU sepanjang jalan menikmati keindahan alam semesta.

Karena itulah berselang sebulan lamanya, barulah ia sampai dipegunungan Ciong-Lam San.

Hari itu ia merasa letih sekali.

Didepan tampak olehnya sebuah dusun yang bernama Lan-kiauw Cun.

la memasuki sebuah warung untuk melepaskan Ielahnya, sambil menceguk beberapa cangkir arak.

Tak beberapa lama ia duduk disana atau sekonyong-konyong terdengar derapan kaki kuda mendatang dan berhenti dimuka warung.

Tak lama kemudian tampaklah penunggang kuda itu yang berjumlah dua orang.

Diam2 ia memperhatikan mereka.

Satu diantaranya adalah seorang nie-kouw yang usianya kira2 empat puluh tahun.

Kawan satunya lagi adalah seorang Lhama dari daerah barat.

la memakai tudung pertapaan yang berbentuk kukusan.

Jubahnya berwarna merah.

Yang sangat aneh adalah alis orang itu yang panjang menurun kebawah.

Yang lebih menarik perhatian ialah bahwa seorang niekouw bersama seorang Lhama berjalan ber-sama2 sungguh menertawakan.

Begitu mereka hampir dekat, Datuk Rimba-hijau kita buru2 mengalihkan pandangannya ketempat lain untuk menghindari bentrokan mata mereka.

Kedua orang itu hanya berhenti dimuka warung dan tidak turun dari kudanya.

Sejenak kemudian dari dalam warung muncul keluar seorang laki2 kate berlari menghampiri si nie-kouw dan membisikkan sesuatu kepadanya.

Im Hian Hong Kie-su waktu itu ber-pura2 seperti orang sedang mabok.

la merebahkan dirinya dengan mukanya dibaringkan diatas meja.

Diam2 ia memasang kupingnya uniuk mendengarkan pembicaraan orang.

Terdengarlah dengan jelas sikate tadi berbisik .

"Barang itu sudah kita peroleh. Suheng tak berani pulang ke Butong. la sedang menunggu dimulut lembah "ya-Ba Kok."

"Aku kuatir ia takkan berhasil."

Jawab si nie-kouw.

"kambing tua itu malam ini juga akan menemui ajalnya."

"Huh, pukulan Sam Im Ciangku, meskipun pihak HweeLiong Pay mengundang orang2 pandai dikolong langit ini takkan berhasil untuk menolongi jiwanya itu."

Ujarnya dengan nada yang sombong.

Habis berkata tanpa memberi pamitan pula, kedua orang tadi berlalu meninggalkan warung.

Si-laki2 kate kembali masuk kedalam warung.

Setelah melirik kesana kemari menyapu tamu2 lainnya dalam warung itu, iapun segera membayar kepada pemilik warung dan meninggalkan tempat itu.

Im Hian Hong Kie-su menunggu sampai orang itu berlalu.

barulah ia mengangkat kepalanya pula.

Ia berpikir dalam hatinya, walaupun barusan ia tidak lihat jelas muka nie-kouw itu tapi mengingat ia berjalan bersama seoranga lhma tentu mereka adalah Im Yang Jie-yauw.

Apabila benar mereka orangnya, dapatlah dipastikan bahwa.

mereka baru saja melakukaan perbuatan.

yang tidak baik.

Im Hian Hong Kie-su masih ingat kata2 nie-kouw tadi yang menyebut nama Hwee-Liong Pay.

"Celaka."

Ia berpikir seorang diri.

"Hian Cin-cu tentu dalam kesukaran. Aku harus segera pergi menolong."

Sang pelayan yang melihat pada muka Im Hian Hong Kie-su membayang kegemasan segera menegur.

"Apakah Lo-ya kehilangan sesuatu?"

Pendekar tua kita sadar bahwa karena ia terlalu dalam ketegangan, hingga lupa akan keadaan sekitarnya.

Tapi begitu melihat tamu2 lain semuanya terdiri dari kaum saudagar.

ia merasa lega pula.

lapun menjawab .

"Oh, tidak hanya badanku rasanya kurang enak."

Ta membayar uanar.ya. Disepanjang jalan ia teringat akan perbuatan2. Gorisan dimasa lampau. Ia mempercepat perjalanannya. Pada dua puluh tahun yang lalu. Gorisan mencuri kitab "See-hek Bu-cong"

Dari Bu Tong-pay.

Kitab itu berisikan sumber2 llinu sakti dari segala aliran Ilmu persilatan.

Gorisan kemudian melarikan diri ke Ceng-cong.

Disana akhirnya ia memasuki partai Lhama pay.

Bila ditilik lebih jauh.

Gorisan kemungkinan besar adalah seperguruan dengan lm Yang Jie-yauw.

Tentulah jiwa Hian Cin-cu sedang terancam bahaya basar.

Begitulah tak putusnya Im Hian Hong Kie-su berpikir disepanjang jalan.

Akhirnya tibalah ia digunung Ciong Lam San.

Ia mengambil sebuah jalanan kecil.

Ketika mendaki sampai dipertengahan kaki gunung tampak olehnya beberapa pendeta sedang berlari datang.

Sikap mereka seolah2 dalam keadaan bingung.

Tanpa ayal pendekar tua kita menyongsong mereka seraya memberi hormat .

"Apakah Hian Cin To-tiang berada dikuil?"

Ia bertanya. Pendeta2 tersebut saling melirik, salah seorang menjawab .

"Harap Sie-cu suka maafkan, Coun-su hari ini tak dapat menerima tetamu. Harap lain kali saja datang."

Mereka lalu ingin meneruskan perjalanannya, tapi Im Hian Hong Kie-su setelah melihat disekitarnya tiada lain orang, berkata dengan perlahan .

"Aku mendapat pesan dari puteri Negeri Kim Wanyen Hong Kongcu. Adapun maksud kedatanganktt adalah untuk mendengar kabar berita. Telah kudengar Couw-sumu dilukai orang, Betulkah?!"

Pendeta yang satunya lagi malihat bahwa Im Hian Hong Kie-su bukanlah seorang penjahat dari golongan hitam, segera mengajukan pertanyaan .

"Sie-cu siapa? Bagaimana sampai dapat mengetahui bahwa Couw-su kami telah dilukai orang?"

Pendekar tua kita memperkenalkan dirinya.

"Pada dua hari ini apakah ada sepasang Lhama dan niekouw yang datang kegunung ini?"

Pendeta yang barusan bertanya adalah orang yang dahulu menghaatar Hay Yan untuk bertemu dengan Hian Cin-cu.

lapun segera mengetahui bahwa Gak Hong adalah nama lainnya dari Im Hian Hong Kiesu yang terkenal kosennya.

Tanpa ayal ia memberi hormat serta berkata .

"Sukur sekali. Atas kedatangan Kie-su. Couw-su kami akan tertolong. Memang benar pada tiga hari yang lalu kami telah kedatangan seorang nie-kouw. Couw-su tidak mau menemuinya. Tapi dengan lancang nie-kouw itu telah menerobos masuk kedalam kamar Couw-su dan berbicara dengannya. Kemudian pagi2 sekali Couw-su sudah keluar. Tak diduga waktu pulang, ia tidak dapat berbicara lagi. Lalu ia menulis dengan telunjuknya sebagai berikut .

"Aku terluka oleh pukulan Sam-Im Ciang. Lekas kau cari orang pandai yang dapat menolongiku"

Im Hian Hong Kiesu kaget sekali mendengar kabar itu.

"Setelah itu iapun tak sadarkan diri lagi. Kami menjadi bingung. Kami tak tak tahu siapa yang harus kami cari. Syukurlah, seperti juga dihantar oleh Thian, Kie-su berkunjung kemari."

Serta merta Hu ln mengantar Im Hian Hong Kie-su berjalan. Ketika sampai dekat pintu luar, pendekar tua kita menjadi terkejut! Sambil menunjuk pada sebuah menara besi yang sudah condong, ia bertanya .

"Apakah Gorisan telah kabur? Menara itu bagaimana sampai bisa begitu doyong kebawah?"

"Panjang sekali bila hendak diteritakan"

Menyahut Hu In, menara itu telah dirusak orang dengan mempergunakan obat peledak. Sedangkan tawanan, yang berada didalam menara itu telah berhasil meloloskan diri."

Benar saja apa yang diduga oleh Datuk Rimba-hijau kita.

Hatinya terkejut.

Begitu sampai didepan kamar Hian Cin-cu ia melihat beberapa pendeta yang menjaga didepannya semuanya pucat.

Melihat Hu In membawa seorang yang tidak dikenal, mereka lantas bertanya .

"Su-heng, apakah tamu ini datang untuk menolong Couwsu?"

"Saudara2ku,"

Jawab Hu In dengan hormatnya.

"harap kalian jangan merasa kuatir. Gak Hong Cianpwee datang untuk menolong."

Dengan hati berdebar-debar Datuk Rimba.hijau kita berjalan masuk.

Im Hian Hong Kie su dihantar masuk kedalam markas besar Ciong lam San...

Hian Cin-cu sedang berbaring disebuah ranjang .

Napasnya terdengar sangat perlahan.

Mukanya pucat-pias.

Keadaan kamar sangat gelap.

Im Hian Hong Kie-su lekas2 menghampiri.

Pada sat itu juga terasa hawa sangat dingin menyambar keluar dari badan Ciang-bun Jin Hwee-Liong Pay itu.

Ini hebat sekali.

"Sungguh lihay ilmu pukulan Sam-lm Ciang,"

Gumam Sipenunggu Puncak Gunung Maut.

Untuk memunahkan racun dingin tersebut, ia segera menyedot hawa murni dari Tantian.

la menoleh kebelakang.

Tampak Hu In dan beberapa pendeta lainnya berdiri menggigil.

Lekas buka semua jendela dan pintu supaya sinar matahari dapat menembus masuk!"

Ia berseru.

Perlahan-lahan ia mengurut nadinya Hian Cin-cu dan dirasakannya tangan pendeta itu dingin bagaikan es.

Aliran darahnyapun ter-putus2.

la meraba2 dada orang, d;., situ juga terasa dingin,sekali.

Hanya kadang2 masib ada hawa panas yang menaik keatas, namun sebentar saja dan lenyap pula.

Hian Cin-cu dapat mempertahankan nyawanya berkat latihan tenaga dalam yang ber-puluh2 tahun lamanya, yang sudah hampir sampai taraf kesempurnaan.

Kalau orang, lain niscaya sudah binasa.

Mengingat pukulan maut niekouw itu, hati, pendekar tua kita bergidik.

"Kie-su Cian-pwee, apakah keadaan Couw-su sangat berbahaya?"

Tanya Hu In berselang beberapa waktu.

Im Hian Hong Kiesu, mengetahui bahwa jiwa Hian Cin-cu ada dalam, .

keadaan, kritis, sukar untuk hidup.

Tapi ia masih tidak mau mengutarakannya kepada pendekar2 itu.

"Gurumu telah dilukai Tai Im Lie-nie dengan Sam-Im Ciang. Ilmu itu berasal dari partai Lhama Pay. Aku tak tahu cara mengobatinya. Tapi jiwa gurumu dapat kuperpanjang sampai waktu duabelas jam lagi lamanya. Dalam tempo itu kalian harus berusaha untuk dapat menemui seorang tabib pandai. Mungkin jiwa gurumu dapat ditolong!"

Mendengar keterangan itu, para pendeta terdiam dengan muka pucat.

Pendekar tua kita menyuruh.

Hian Cin-cu dibawa ke= Iuar untuk dijemur dibawah panas matahari.

Kemudiah ia pasang cermin pada bagian muka, kaki dan badan pendeta itu.

Setelah matahari terbenam, maka dipasangnya api unggun.

Para pendeta kini mengerti maksud Im Hian Hong Kie-su, lalu menghaturkan terima kasihnya.

Selagi orang sibuk menjalankan perintahnya, Datuk Rimba-hijau, kita berjalan keluar.

la hendak memeriksa keadaan.

menara besi tadi.

la melewati taman, maka dilihatnya ada sebuah jalan kecil yang menuju menara tersebut.

Ia terus berjalan.

Sesampainya dimenara, ia melihat bahwa menara itu terbuat dari besi.

Dasarnya dari batu hijau yang sangat keras.

Bentuk dasar menara itu bersegi enam.

Luasnya kira2 enam kaki.

Tinggi tiap susun tidak lebih dari lima kaki.

Semakin tinggi keatas, semakin sempit dan pendek bentuknya.

Pada tingkat yang terendah terdapat sebuah pintu yangmtertutup o1eh besi cor.

Dengan demikian menara itu tidak begitu lagi.

Juga tidak ada jendelanya.

Menara besi itu miring kebawah.

Karena dasarnya sangat kokoh.

Menara tak menjadi roboh.

la berjalan mengitari menara sampai dua kali.

Barulah diketemukan pada-tempat dimana menara itu condong terdapat bekas2 obat peledak.

Sedangkan dibagian lainnya dasar batu hijau itu ternyata berlubang.

Dibawah menara itu masih terdapat tingkatan dalam tanah!

Pada atas bagian batu terdapat lobang yang yang menghubungi sebuah terowongan kedalam tanah.

"Sudah pasti Gorisan mengambil jalan ini untuk meloloskan diri,"

Pikir Im Hian Hong Kie-su seorang diri.

"tapi cara bagaimana ia bisa menghancurkan batu itu?"

Selagi ia ber-pikir2, tiba2 muncul dari dalam lubang suatu makhluk yang berbadan penuh sisik.

Begitu melihat ada orang, mahluk itu cepat2 menyelusup pula kedalam lubang.

Ternyata mahluk aneh itu adalah seekor tenggiling.

"Ah, tentunya binatang inilah yang telah membuat terowongan, sedangkan orang dari luar telah mempergunakannya untuk memasang obat peledak. Maka apa susahnya untuk Gorisan untuk menghancurkan batu itu?"

Pikiran Datuk Rimba-hijau kita berjalan terus, teringat, pula olehnya -pembicaraan laki2 itu kepada nie-kouw.

"Benda, itu telah kami dapati."

Tentunya Gorisan telah berhasil mencuri sesuatu benda yang berharga.

Dan sudah pasti barang itu adalah mustika turunan dari partai Hwee-Liong Pay.

Ketika Im Hian Hong Kie-su kembali kedalam kuil, ia menarik Hu In kesamping dan bertanya dengan suara pelahan.

"To-heng, aku lihat bahwa bagian bawah dari menara seperti bekas dipasangkan obat pe!edak. Sedangkan orang yang gurumu tetah kurung, kinipun turut lenyap. Aku ingin tanya kepadamu, apakah dalam menara itu terdapat sesuatu benda penting yang telah hilng?"

Hu In menjadi terkejut atas pertanyaan orang.

"Benar! Sekarang baru kuingat! Hwee-Liong Pay mempunyai sebuah kitab pusaka yang sudah turun temurun. Kitab itu adalah mengenai teori2 barisan formasi yang aneh2 dari Pak-Kian. Semua ini bersal dari jaman Sam Kok. Sungguh kami tak tahu bagaimana kitab tersebut sampai ditangan partal kami. Hwee Liong Cinjin menggubahnya menjadi Hwee-Liong Tin-hoat atau barisan formasi Naga berapi. Berhasilnya Gak-Goan-swee (Panglima Gak) mengalahkan orang2 Kim dan berhasil menawan pangeran Kim yang ke-empat bernama Kim Hu, itu semuanya berkat pertolongan Cinjin yang telah membantu Gak Goan-swee memasang tin. Sejak itu pula kitab tersebut dianggap pusaka yang tiada ternilai bagaikan mustika untuk partai katmi....."

Im Hian Hong Kie-su tidak menunggu sampai orang habis berbicara, segera ia bertanya .

"Kitab itu disimpan dimana? Apakah To-tiang mengetahuinya? "Siauwte tak tahu"

Jawab Hu In sambil menggelengkan kepalanya.

"Kitab itu tentu sudah hilang. Coba To-tiang antarkan aku keruang pendopo unuk memeriksanya!"

Im Hian Hong Kie-su menarik tangan Hu In.

Kedua orang itu bergegas masuk kependopo.

Didalam tidak terdapat sesuatu yang mencurigakan, tapi pendekar tua kita tak berputus asa.

la terus mengadakan penyelidikan.

Mereka memasuki ruangan lain.

Ruangan ini sangat tinggi dan Iuas.

Bangunannya sangat kekar dan pada sebuah papan beranda tampak sebuah tulisan.

"Lu Sian-Kok"

Yang terbuat dari huruf emas.

Itulah tempat pemujaan Lu Sian yang!

Keadaan sangat sunyi.

Im Hian Hong Kie-su melanjutkan penyelidikannya.

Tantpak olehnya patung pemujaan yang terdapat ditengah ruangan letaknya agak miring mengarah kesamping.

la berteriak terkejut!

"Ah!, kenapa patung dewa Lu Sian-yang ini berkisar?!"

Hu In pun turut kaget.

Ketika ia hampir lebih dekat.

maka tampak alas patung yang terbuai dari batu Giok telah sebesar mulut mangkok.

Dengan hati berdebar Im Hian Hong Kie-su merogoh kedalam dengan tangannya.

Lobang itu kira2 setengah kaki dalamnya.

la tak mendapatkan apa2 didalamnya.

Segera ia menggeser pula patung itu pada letak yang sebanarnya.

Sungguh ajaib!

Lubang tersebut tertutup pula!

Kiranya lubang itu adalah sebuah tempat rahasia!

"Kitab mustika dari Hwee-Liong Pay tentu telah dicuri oleh Gorisan."

Ujar Im Hian Hong Kiesu,"

Mungkin sekarang ia masih berada di lembah Cu-Bu Kok.

"Cianpwee,"

Tanya Hu In.

"bagaimana kau ketahui bahwa orang itu telah melarikan diri kesana? Kalau benar ia ada disana, siauwtee beserta saudara2 lainnya akan pergi kesana untuk menangkapnya kembali!"

"Sebaliknya kalian jangan terlalu ter-gesa2, jika hanya Gorisan seorang, akupun dapat membantu kalian,"

Ujar sipenunggu Puncak Gunung Maut"

Tapi yang kukawatirkan adalah mahluk2 berbisa dari gunung Tangkula itu.

Kedua iblis itu adalah tokoh dari Bit-Cong Pay yang sangat tinggi kepandaiannya.

Aku tak berani pergi mengusik mereka.

Jika To-tiang hendak kesana, sama juga seperti mengantar kambing kemulut Harimau!"

Hu In kelihatanya berputus asa, ia terdiam.

"To-tiang, baiklah sekarang aku pergi ke Cu-Bu Kok untuk meng-amat2ti gerak-geriknya Gorisan. Bila ada kabar, aku akan segera. kembali!"

Sehabis berkata Im Hian Hong Kiesu berangkat meninggalkan mereka.

---oo0dw0oo---Dua iblis dari gunug Tangkula San biasanya jarang berpergian.

Apalagi ke Tiong-goan.

Mereka adalah murid2 dari Bit-Cong Pay.

Dua puluh tahun yang lalu siiblis lelaki Tay Yang Lhama atau si lhama Matahari tinggal di kuil Tay Yang Bit, di pegunungan Tangkula sebelah utara, Sedangkan siiblis perempuan Tay Im Lo-nie atau pendekar perempuan Rembulan tinggal di Goat-Sim Yam dipegunungan Tangkula sebelah Selatan.

Dengan diam2 mereka menyakinkan ilmu lm Yang Cang-hoat atau ilmu pukulan telapak tangan Positip dan Negatip.

Tay Yang Lhama memiliki kepandaian yang sangat lihay, yaitu It Yang Cie atau tetunjuk positip.

Ilmu totokan ini disertai dengan tenaga dalam yang luar biasa hebatnya, tak usah menyentuh tubuh orang dan daIam jarak satu tombak dapat menutup jalan darah lawan!

Kaum Bu-lim didaerah Tiong-goan menamakan ilmu ini dengan nama Kek Kong Ta-hiat atau Menotok jalan darah orang melalui udara.

Sungguh suatu ilmu yang tiada taranya!

Telunjuk tangan Tay Yang Lhama dengan mudah sekali dapat menembusi dinding batu!

Tay lm Lo-nie menyakinkan ilmu telapak tangan Sam Im Ciang.

Ilmu ini harus diyakinkan hanya oleh kaum wanita yang mensucikan dirinya.

Dengan mangandalkan kemurnian hawa negatip untuk menekan hawa positip bila lawannya adalah kaum Adam.

Kemungkinan besar lawannya itu takkan tertolong lagi jiwanya!

Kabarnya keluarga Tay Im Lo-nie seluruhnya telah dibunuh oleh orang?

Monggol.

Sebab itulah ia telah bertekad untuk membalas dendam.

Gurunya Kim Liong Lhama memberikan ia ilmu aneh dari partai Bit-Cong Pay.

Ia berlatih dengan tekun didaerah -pegunungan salju.

Dan kabarnya kemudian Tay Im Lie-nie berhasil dengari baik menyakinkan Sam Im Ciang.

Setiap hari mulai gelap-gulita, maka ia menjalankan latihan pernapasannya dengan menghadap kegunung salju.

Sedangkari tubuhnya telanjang bulat!

Dengan menyedot hawa inti bumi lambat laun berhasillah ia dengan ajaran dari gurunya itu....

Pukulan disertai tenaga ........

dingin!

Ampuh dan berbahaya sekali.

Setelah Gorisan berhasil mencuri kitab See Hek Bu; Cong, ia bermaksud menghubungi kedua iblis dari Tangkula itu.

Karena cintanya tak dibalas oleh Wanyen Hong, Gorisan menjadi patah hati.

Pada suatu medan pertempuran ia ber-pura2 gugur dan semenjak itu ia merobah namanya menjadi Wan Hwi Sian.

Ia berhasil menjumpai Kim-Liong Lhama, yang pertama kali melihat orang itu adalah keturunan darii bangsa Kim mula2 menolak untuk menerimanya sebagai murid.

Tapi melihat hasrat orang itu yang demikian teguhnya, hingga telah datang dari jauh, akhirnya diperkenankan juga Gorisan untuk pergi mencari susioknya yung bernama Kim Teng To-lo.

Wan Hwi Sian diterima juga akhirnya sebagai murid siimam!

Dasar Gorisan sedang bernasib buruk, ketika Ang-bian Kim-kong bertempur dengan Gokhiol dan Kim Gan Bie, dikiranya gurunya sigadis Tiang Pek Lo-nie juga turut serta.

la menjadi jeri dan menyembunyikan diri dibawah gunung.

Tak lama kemudian ia tertawan dan dibawa ke Ciong Lam Sam oleh Hian Cin-cu untuk dipenjarakan dibawah menara besi.

Setelah melihat Gorisan digiring pergi, barulah Ang-bian Kim-kong berani munculkan dirinya.

Karena mempunyai firasat bahwa dirinya takkan unggul melawan para pendekar dari Tiong-goan, maka iapun mengambil keputusan untuk kembali ke Bu-liang Sie.

Tetapi ketika ia tiba di See Hek, sarangnya sudah habis dibakar hangus oleh orang2 Monggol.

Dengan hati sedih ia kembali ke Tay Yang Bio dipegunungan Tangkula untuk menemui suhengnya Tay Yang Lhama.

Setibanya disana, ia tuturkan segala apa yang telah terjadi.

Mendengar cerita orang itu, Tay Yang Lhama menjadi timbul kegusarannya.

"Cu-pu, walaupun kita bukan dari satu guru, tapi kau dan Wan Hwi Sian adalah murid2 Kim Teng To-lo. Dengan adanya hubungan ini, maka tak boleh aku berdiam diri saja. Tunggulah, nanti setelah Su-ciemu Tay Im Lo-nie datang kita akan rundingkan kembali!"

Benar saja tak lama kemudian Tay Im Lo-nie datang. Kembali Ang-bian Kim-kong mengkisahkan mengenai diri Gorisan yang telah tertawan musuh.

"Kau berdua sungguh bukan manusia yang berguna,"

Seru si nie-kauw dengan marah.

"kalian mencemarkan nama partai kita dihadapan orang2 Tiong-goan! Hm..., Hian Cin-cu situa bangka memang busuk. Antara kita dan Hwee-Liong Pay selamanya belum pernah ada ganjelan. Tapi kini mengapa ia memenjarakan Gorisan dibawah menara besi? Su-heng, bagaimana kalau kita me-lihat2 didaerah Tiong-goan?"

"Kita tak boleh sia2kan kesempatan baik ini,"

Jawab Tay Yang Lhama sambil tersenyum "pada lima tahun yang lalu, Ceng Bok Tan-su telah menceritakan suatu rahasia kepadaku.

Katanya ketika Hwee-Liong Pay membangun Lu Sian Kok dalam Hu Cin Kwan, kebetulan salah seorang tukang batu adalah orang Ceng-hai.

Dialah yang telah memberitahukan bahwa dibawah patung Lu Sian Yang terdapat sebuah lubang rahasia.

Sedangkan kuncinya terletak pada patung itu pula."

Tay Yang Lhama berhenti sebentar.

"Didalam lubang itu terdapat benda mustika dari partai Hwee-Liong Pay. Tapi entah benda apakah itu? Ceng Bok pernah mengajak aku untuk mencurinya, tapi aku tak mau. Sampai sekarang kukira Ceng Bok Ta-i-su tak berani pergi sendirian untuk mengusik Hian Cin-cu. Sumoay ingin pergi menolongi Gorisan ke Ciong Lam Sam? Mengapa tidak sekalian menggunakan kesempatan baik ini untuk sekalian menyelidiki benda mustika apakah yang tersimpan dibawah patung itu?"

"Niatan Suheng sungguh bagus! Baiklah, besok kita akan berangkat!"

Demikianlah See Hek Jie-yauw pergi ke Ciong-Lam San.

Ketika itu Gorisan sudah hampir sebulan dipen jara.

Rangsum yang disediakan oleh Hian Cin-cu sudah habis separoh.

Pada suatu malam, tiba2 ia mendengar ada suara dari dalam tanah seperti orang sedang menggali tanah.

Pikirnya dibawah tanah ini tentunya ada suatu solokan rahasia untuk saluran air.

Apakah mungkin ada orang datang untuk menolong?

Demikian beberapa hari ber-turut2 terdengar suara seperti ada orang sedang menggali tanah.

Sementara itu Gorisan telah berhasil memutuskan ikatan belenggunya, la memukul hancur batu lantai dan mendorong patung batu.

Setelah itu dilihatnya seekor makhluk keluar dari terowongan dengan badannya penuh tanah.

Kiranya itulah binatang tenggiling!

Selagi Gorisan berdiri ke-heran2an, dilihatnya pada binatang itu terikat se-helai tali.

la menjadi girang.

Tahulah ia kini bahwa benar2 telah datang orang untuk menolong dirinya.

Tanpa ayal binatang itu ditatangkapnya dan tali yang terikat pada binatang itu ditariknya.

Benar saja pada pangkal tali itu terikat sebuah bumbung yang didalamnya terdapat sepucuk surat serta dua bungkusan kecil.

Gorisan dengan hati berdebar-debar membaca surat itu.

Hatinya-menjadi girang.

Kiranya surat itu dari Ang-bian Kim-kong yang berbunyi sebagai beiikut .

"Tay Yang Lhama serta Tay Im Lo-nie telah datang. Karena solokan sangat sempit, sedangkan fondamen tanah kokoh, maka sukar untuk kita masuk. Maka dengan pertolongan tenggiling ini kami mengirimkan obat peledak. Besok kami akan datang pula."

Gorisan menanggalkan bumbung yang berisikan obat peledak itu, lalu dilepaskannya pula binatang tersebut.

Demikianlah ber-turut2 beberapa malam Gorisan dikirimi obat peledak sedikit demi sedikit.

Akhirnya pada suatu malam, sebagaimana rencana Ang-bian Kim-kong, Gorisan menaikan bumbung itu menjadi satu dan menyumbatnya pada lubang dibawah tanah.

Begitu dipasang, terdengarlah suara ledakan yang luar biasa hebatnya.

Tanah bergetar, sedangkan Gorisan terpental jatuh.

Setelah keadaan menjadi redah, tampak oleh Gorisan menara itu sudah menjadi doyong karena alasnya terbongkar.

Sambil mengorek puing2 yang telah hancur, Gorisan cepat2 keluar dari tempat tahanannya.

Dibawah terangnya cahaya bintang, tampak samar2 dari jauh diatas gunung Ciong-Lam San dua sosok tubuh yang tengah berdiri saling berhadapan!

Mereka adalah Hian Cincu dan Tay Im Lo-nie!

Gorisan Iompat bersembunyi dibalik batu.

Tapi tiba2 sebuah tangan menarik dirinya!

Begitu menoleh, kiranya Tay Yang Lhama bersama seorang laki2 setengah umur.

Selagi ia ingin menghaturkan kamsiah, telinganya mendengar Tay Yang Lhama berkata dengan menggunakan iimu Coan-im Jip-bie atau Mengirim suara melalui udara.

"Gorisan, Iekaslah kau bertindak. Sebentar situa bangka akan roboh dan kau segera pergilah ka Lu Sian Kok untuk mengambil benda yang tersimpan disana."

Setelah memberikan penjelasan dan petunjuk2, Gorisan menganggukkan kepaIanya tanda setuju.

Setelah keadaan sunyi, maka terdengarlah dari kejauhan percakapan antara kedua orang diatas gunung Ciong Lam San.

"Sian-kauw mengajak pinto kemari untuk membicarakan sesuatu,"

Kata Hian Cin-cu.

"bukankah untuk memancing aku?"

"Hian Cin-cu, kau sudah terIambat!"

Ujar Tay lm Lo-nie dengan tertawa.

"Siauwnie sebenarnya ingin memberitahukan bahwa malam ini ada orang meledakkan menara besimu. Sayang kau tak mengijinkan aku untuk melihat benda mustika dari Hwee-Liong Pay! Maka kejadian ini janganlah kau sesalkan aku!"

"Perguruan Hwee-Liong Pay tak menspunyai benda mustika apa2,"

Menjawab Hian Cin-cu dengan gusar.

"terang2an kau berkomplotan dengan Gorisan dan malam ini sengaja memancing aku keluar. Sungguh siasatmu kotor!"

Sehabis berkata Hian Cin-cu membalikan badannya hendak berlalu, tapi Tay im Lo-nie tertawa keras.

"Hai, kau hendak lari kemana?!"

Bentaknya.

Hian Cin-cu insyaf bahwa dirinya telah dipermainkan oleh Tay Im Lo-nie, hatinya menjadi sangat gusar.

Dan teringat pula bahwa gurunya Bu Tong Cin-jin dahulu pernah dirugikan oleh Kim Liong Lhama.

Kini Lhama itu masih berada di See Hek, sedangkan si niekauw ini adalah muridnya.

Kemarinnya si niekauw talah datang ke Hu Cin Kwan, katanya Gorisan adalah murid susioknya Kim Teng To-lo dan meminta agar sudi menyerahkan Gorisan untuk dibawa pulang.

Sudah tentu permintaan itu ditolak mentah2 Tay Im Lo-nie menjadi gusar .

"Gorisan bukanlah dari partai Hwee-Liong Pay! Apabila kau tak mau serahkan juga, maka kelak apa bila terjadi perselisihan antara kedua partai, kau sendirilah yg harus memikul tanggung jawabnya."

Maka karena itulah pada malam esoknya Hian Cin-cu diajaknya berunding dipuncak Sian-jien Hong.

Tapi baru saja meninggalkan Hu Cin Kwan, atau ia mendengar ada bunyi ledakan yang sangat dahsyat yang datangnya dari arah menara.

Terperanjat Hian Cin-cu sadar bahwa kejadian ini adalah tipu dayanya si-niekauw.

Dengari napas memburu bahna gusarnya ia berpaling kepada si niekauw.

"Sian-kauw, maksud kedatanganmu ini adalah untuk menolongi Gorisan, bukankah? Pergilah! Biarlah pinto takkan mengadakan perhitungan deuganmu. Kini kau masih menginginkan apa lagi?"

"Hian Cin-cu! Hi-hi-iii.....! hari ini adalah hari kematianmu. Aku hendak bunuh kau?"

Demikian Tay Im Lo-nie menjerit-jerit dengan suara menyeramkan. Bukan kepalang panas hatinya Hian Cin-cu, iapun rnembalas dengan sengitnya .

"Jika bukanpya Pinto memandang muka kepada gurumu Kim Liong Lhama, malam ini tak mungkin kau bisa melangkah keluar dari Ciong Lam San!"

Sekonyong-konyong Tay Im Lo-nie lompat maju! Angin berkesiur dan tahu2 saja si niekauw telah berdiri dihadapan Hian Cin-cu.

"Kerbau tua! Coba aku ingin tahu siapa gerangan yang lebih unggul? Aku memang ingin men-coba2 ilmu sakti dari Hwee Liong Pay!"

Perlahan-lahan Tay Im Lo-nie membalikkan keduabelah telapakan tangannya.

Hian Cin-cu tahu bahwa ilmu pukulan Im Yang Ciang sangat lihay, maka tanpa ayal dengan mempergunakan ilmu Bong-Yang Too Hoei atau Belalang berterbangan-terbalik, ia mencelat keatas.

Diam2 ia merasa bersyukur bahwa Tay Yang Lhama tak turut serta.

Maka dengan penuh semangat, iapun menyerang, hebat sekali!

Pukulan Auw-tiap Siang-hoei-ciang atau Pukulan Sepasang-kupu2-terbang ia balas dengan pukulan Pao-coan Eng-giok atau Melempar-bata-mendapat-kumala.

Dengan tenaga dalam yang penuh, ia menyerang pula dengan jurusan An-lo Bian-ciu atau Tangan-kapas-meraup-sutera.

Pukulan itu, apabila berhasil menyentuh sedikit saja, sang lawan akan roboh.

Dalam sekejap mata terdengar suara "plak..., plak....!"

Dua kali yang sangat nyaring.

Kedua telapak tangan Tay Im Lo-nie ditangkis mental, dan tubuh wanita iblis itu mundur sempoyongan.

Akhirnya terpelanting kebelakang!

Hian Cin-cu masih belum mengetahui kepandaian seluruhnya dari Tay Im Lo-nie, maka iapun tidak mengeluarkan ilmunya yang sejati.

Dengan girang ia menarik napas legah dan berpikir dalam hati .

"Aku kira Im Yang Ciang sangat hebat, tak tahunya hanya begini saja! Pada saat itu si niekauw sudah berdiri kembati. Mukanya merah padam dan kini menunjukkan sikap kekejamannya. Dengan wajah bengis ia menatap wajah Hian Cin-cu.

"Hian Cin-cu! Coba kau sambut pukulanku lagi! Apabila kau dapat menyambutnya benar2 aku tunduk,"

Habis berkata, Tay Im Lo-nie menyerang pula dengan kedua belah telapak tangannya.

Pukulannya menderu keras karena disertai tenaga-dalam yang luar biasa hebatnya.

Hian Cin-cu tak berani berlaku ayal.

Segera ia menangis pukulan orang, tapi sekonyong-konyong badannya tergoncang sangat keras!

Kedua telapak-tangannya melekat dengan telapak-tangan si-niekauw.

Sementara itu wanita iblis telah menggunakan seantero tenaga-dalamnya.

la hendak merobohkan Hian Cin-cu dengan selekas mungkin.

Tapi Hian Cin-cu sangat berwaspada leka2 is merobah kedudukannya.

Kakinya berkisar kekiri sedangkan badannya mendoyong kekanan.

Berbareng ia menyedot hawa Cin-yang (hawa positip sejati) dan merobah keadaannya dari lembek menjadi keras.

Kini tenaga dalamnya berobah menjadi tenaga-luar!

Semacam tenaga pantulan yang sangat dahsyat berhasil melawan tenaga dalam siniekauw pula!

Tampak sebagai akibatnya, Tay Im Lo-nie jatuh terpental dan hampir2 masuk kedalam jurang!

Hati Hian Cin-cu menjadi besar.

Pikirnya walaupan kepandaian si wanita iblis cukup tinggi, namun masih kalah setingkat dengannya.

Malam ini aku harus berikan sedikit ajaran padanya, pikirnya supaya kaum sesat dapat merasakan keangkeran Hwee Liong Pay yang jangan sembarang mengganggu!

Tapi sayang Ciang-bun-jin kita tak ketahui-bahwa kedua pukulan yang beg-turut2 tadi dari lawannya adalah dengan tenaga kosong belaka!

Tay Im-Lo-nie sedang memancing dirinya....

Sudah selayaknya apabila seorang kosen bertemu dengan lawannya mudah sekali untuk memperlihatkan kepandaiannya, sebaliknya adalah lebih sukar apabila hendak menyembunylkan kepandaiannya untuk mengetahui sang lawannya Tay lm Lo-nie sama sekali tidak memperhatikan pukulan Sam Im Ciangnya.

Hal mana benar-benar telah membuat Hian Cyn-cu terpedaya.

Tatkala itu ia sedang bernyala-nyala semangatnya untuk melampiaskan keamarahannya.

Menggunakan kesempatan selagi lawannya belum sempat bangun, ia menerjang dengan kedua tangannya memukul kedepan.

!a hendak mendesak Tay Im Lo-nie jatuh kedalam jurang!

Tapi pada saat yang amat genting, itu, tiba2 berkelebat sesosok bayangan dari balik batu.

Menyusul terdengar suara orang berkata .

"Hian Cin-cu, mengapa mengikuti hawa nafsumu? Baiklah aku yang memintakan maaf untuk saudariku."

Suara itu diucapkan dengan iimu "Coan-im Jip-bie"

Adapun kelihayan dari ilmu tersebut ialah bahwa suara itu hanya dapat didengar oleh orang yang ditegurnya saja.

Hian Cin-cu menjadi pucat!

Tampak dihadapannya sesosok bayangan orang berdiri tegak diatas batu!

Berbarengan dengan munculnya bayangan itu, maka punahlah tenaga pukulannya.

Sebagai akibatnya, batu2 kecil berpercikan dan tanah pasir berterbangan tertiup oleh tenaga tak kelihatan yang tak biasa.

Hian Cin-cu insyaf bahwa orang itu bukanlah sembarang musuh.

Yang lebih mengejutkan hatinya, tatkala pukulannya dapat dipatahkan, ia merasa ada hawa panas yang menyerang kedalam badannya!

Hian Cin-cu mengetahui bahwa yang berdiri dihadapannya adalah ...

Tay Yang Lhama, yang mengenakan jubah pertapaan berwarna merah.

Mukanya bersemu merah bagaikan api marong.

Kepalanya memakai topi pertapaan berwarna merah pula.

Ditangannya ia menggenggam sebuah kaca tembaga besar yang mengkilap, Dengan matanya yang bersinar-sinar ia mengawasi mangsanya dari jarak kira2 delapan tombak.

Hian Cin-tcu insyaf bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang berkepandaian tinggi.

Selain Tay Yang Lhama, tak ada lain orang yang memiliki kepandaian semacam itu dikolong langit.

Selagi Hian Cin-cu dalam keadaan kaget, Tay Yang Lhama sudah mendahului memberi hormat, dan dengan ilmu Thian-seng Yuk-pit-nya ia berkata .

"Dengan ini Pinceng memberi hormat. Harap maafkan aku yang telah datang pada malam hari begini!"

Kini Hian Cin-cu melihat bahwa Tay Im Lo-nie sudah bangkit dan berdiri tegak.

Kini ia sudah tahu bahwa kedua iblis itu telah datang ber-sama2.

lapun memberi hormat, dengan senyuman getirdiapun berkata.

"Pinto memberi hormat. Numpang tanya apakah Hoat su adalah Tay Yang Lhama dari Tay Yang Bio? Dan entah maksud kedatangan kau kemari sebenarnya untuk keperluan apa?"

Tampak badan Tay Yang Lhama bergerak sedikit dan kakinya maju tiga langkah kemuka.

Kini jarak kedua orang itu semakin mendekat.

Hian Cin-cu merasa hawsa panas yang menyerang dirinya semakin lama semakin tak tertahan.

la hampir2 menjadi kewalahan.

Diam2 ia membentang lebar seluruh perjalanan darahnya, lalu mengatur jalan napasnya.

Akibatnya lobang2 kulitnya mendapat hawa sehingga badannya tidak banyak mengeluarkan peluh.

Tay Yang Lahwa diam2 memuji kelihayan musuhnya.

"Kalau bukannya ada urusan penting, tentu aku tak berani menggangggu kemari. Seperti To-tiang ketahui, Pinceng mendapat titah dari Su-siok Kim Teng To-lo. Bersama su-moayku Tay Im Lo-nie aku hendak bertanya sesuatu kepadamu. Gorisan sebenarnya telah berbuat kesalahan apa terhadap partai Hwee-Liong Pay hingga kau sekap dia dibawah menara besi?"

Hian Cin-cu tertawa getir.

"Huh, kiranya Hoat-su datang kemari untuk urusan itu! Baiklah akan kuterangkan. Tadi menara besi itu telah hancur, Hoat-su tentunya mengetahui hal ini, bukan? Baik, aku juga tidak meminta ganti kerugian atas kerusakan tersebut. Itu membuktikan bahwa aku sudah mengalah, dan tidak akan tarik panjang urusan ini. Tapi apakah kau masih mau minta orangnya lagi?"

"Eh, aneh sekali! Ada hubungan apa kami dengan kerusakan menara? Sedang soal Gorisan adalah To-tiang sendiri yang menawannya. Tapi meskipun kau tak memberikan tentunya kau tak berkeberatan untuk kami bertemu, bukan?"

Hian Cin-cu sudah mengetahui bahwa orang sedang mencari gara2.

Melihat gelagat kurang baik, iapun mencari akal untuk memancing kedua iblis Tangkula San itu untuk mengadakan perundingan lebih lanjut didalam kuil.

Apabila terjadi juga bentrokan sekurang2nya murid2 Hwee-Liong Pay akan dapat membantu.

"Hoat-su ingin bertemu dengan Gorisan,"

Jawabnya dengan tenang.

"aku tak berkeberatan. Marilah silahkan kita bersama2 masuk kedalam kuil."

"Pinceng tak pernah memasuki rumah suci orang lain,"

Menolak Tay Yang Lhama.

"baiklah su-moayku saja yang turut kau."

"Dan tadi ia telah berlaku sembrono terhadap to-tiang, sudilah kiranya kau memaafkannya. Pinceng akan menanti disini saja."

Mengetahui Tay Yang Lhama tak turut serta. Hian Cincu merasa Iegah dalam hatinya. Pikirnya tadi dalam pertarungannya dengan siwanita iblis ia telah berhasil menjatuhkannya sebanyak dua kali.

"Aku tadipun telah kesalahan, harap sian-kauw tidak menjadi kecil hati,"

Ujarnya.

"To-tiang tak usah mengatakan hal itu!"

Berseru Tay Yang Lhama pula,"

Tadi pincang telah menyaksikan dari kejauhan dan memang benarlah bahwa su-moayku yang telah berlaku sembrono.

la lebih dahulu menurunkan tangan jailnya!

Untung sekali to-tiang tadi telah berlaku murah hati.

Memang diantara partai kita berdua tiada permusuhan satu sama lain.

Untuk apa disimpan daIam hati lagi?"

Selesai berkata ia berpaling kepada Tay Im Lo-nie serta berkata.

"Su-moay! Lekaslah menghaturkan maaf kepada totiang! Melihat Tay Yang Lhama berlaku sangat sopan, Hian Cin-cu mengerutkan keningnya, ia sungguh tidak mengerti. Mungkinkah hat ini dilakukannya untuk menghindarkan timbulnya bibit permusuhan? pikir Hian Cin-cu pula. Ledakkan tadi belum jelas diketahui apakah sebab musababnya. Mungkin juga Gorisan masih belum melarikan diri. Mereka telah merobah siasat untuk dengan cara damai dapat mengambil kembali Gorisan. Hian Cin-cu merasa legah hati.

"Ah, tak usah Sian-kauw menjalankan segala peradatan. Pinto tak berhak untuk menyambutnya!"

Sedang ia masih berbicara, tiba2 hawa panas menyerang kembali dari Tay Yang Lhama.

Hian Cin-cu terkejut dan lekas2 menyedot hawa-murni ditantiannya dan gelombang hawa panas itupun dapat dibuyarkanny !"

Menyusul mana Tay Im Lo-nie maju beberapa langkah dengan paras yang sangat menyeramkan. Dengan suara yang beringas ia berkata .

"Su-heng telah menitahkan kepadaku! Siauwnie mana berani tidak menurutinya. Harap to-tiang suka memaafkan kesalahanku yang telah berlaku sembrono terhadap to-tiang!"

Sambil merangkapkan kedua belah telapakan tangannya, si niekauw menjura.

Hian Cin-cu bukan tidak waspada.

la sedang memperhatikan Tay Yang Lhama.

Pikirnya siwanita iblis barusan ia telah uji kepandaiannya, maka ia tidak begitu kuatirkan.

Ia hanya menjaga-jaga serangan dari si Lhama.

Namun sekonyong-konyong Tay Im Lo-nie lompat menerjang!

Hian Cin-cu berseru bahna kagetnya tatkala bayangan telapak tangan menggerayang didepan mukanya!

Ini berbahaya sekali, karena dari anginnya yang membadai dapat dipastikan betapa kerasnya pukulan itu.

Dalam keadaan menghadapi bahaya, Hian Cin-cu yang berpengalaman luas tidak menjadi kalut pikirannya.

Cepat sekali ia membungkukkan badannya, kedua belah tangannya ia pentang lebar2.

Dengan menggunakan tipu Toa-tee Hian-hong atau angin-puyuh-menyapu-bumi dari ilmu pukulan Mo Ban Ciang-hoat, ia mendorong tubuh lawannya dengan kekuatan yang luar biasa!

Namun pada datik bersamaan dada Hian Cin-cu sesak dan dingin bagaikan es!

Celaka, pikirnya dalam hati, karena seraya mundur, Tay Im Lo-nie mengirimkan satu pukulan kilat yang jitu mengenai dadanya.

Mengetahui jiwanya berada dalam bahaya, terpaksa Hian Cin-cu melarikan diri sambil mendekap dadanya.

Kedua iblis Tangkula San segera mengejarnya sambil masing2 mengirimkan pukulan2 nya yang berbisa.

Hian Cin-cu merasakan hawa dari pukulan2 itu panas dan dingin.

Untuk menjaga dirinya, lekas2 Hian Cin-cu mengalirkan hawa murninya keseluruh badannya dan ia memukul kekiri dan kekanan.

Segera tampaklah pasir2 berhamburan, pohon2 disekeliling bergoyang.

Melihat gelagat kurang baik Im Yang Jie-yauw tidak berani mengejar lebih lanjut.

Kesempatan inilah yang telah digunakan Hian Cin-cu untuk pulang kembali ke Hu Cin Kwan.

"Su-moay, tua-bangka itu telah kena pukulanmu. Apakah mungkin dia masih dapat hidup setelah lewat duabelas jam? Biarlah dia pulang untuk mati! Ha-ha-ha.....!"

"Su-heng"

Ujar Tay Im Lo-nie.

"aku kuatir nanti ada orang pandai di Tionggoan yang dapat menyembuhkan lukanya. Bahkan pribahasa mengatakan bila memukul ular harus sampai mati. Kalau tidak, tentu ia akan mengadakan pembalasan dikemudian hari."

"Kau tak usah risau, aku tanggung malam ini juga dia akan menemui ajalnya. Nah, Khutakan sedeng menanti kita di Liauw Kiauw Cin. Mari kita kesana !"

Khutakan adalah murid Ang-bian Kim-kong. Dialah yang menjadi. penunjuk jalan.

"Apa su-heng suruh dia mengawasi Gorisan?"

Tanya Tay Im Lo-nie.

"Gorisan sangat licik,"

Jawab Tay-Yang Lhama.

"Dia pergi mencuri benda mustika Hwee Liong Pay di Lu Sian Kok. Sebab itulah aku telah menyuruh Khutakan untuk meng-amat2inya.

" ~Kedua iblis Tangkala San segera meninggalkan Ciong Lam San. Demikianlah kisah sampai pada saat Hian Cin-cu yang telah dilukai musuh. Dan kebetulan pula Im Hian Hong Kie-su. telah mencuri dengar percakapan antara Tay Im Lonie dengan Khutakan di Liauw Kiauw. Cin, hingga ia keburu datang ke Hu Cin Kwan untuk segera memberikan pertolongan kepada Hian Cin-cu yang dalam keadaan luka berat. Selain itu ia telah mengambil keputusan untuk menguntit Gorisan ....! ---oo0dw0oo---CU BU KOK terletak dipropinsi Siam Say. Dengan Hu Cin Kwan jaraknya hanya kurang lebih seratus lie. Im Hian Hong Kie-su merasa cemas dan berlari dengan cepatnya. la berpikir dalam hatinya, apabila Im Yang Jie Yauw sama2 datang dan dengan ditambah pula Gorisan seorang, mungkin ini bukan tandingannya. la tak boleh melawan dangan tenaga melainkan dengan tipu! Selagi ia berlari bagaikan angin, sekonyong-konyong ia melihat didepannya dari kejauhan diatas gunung dua bintik bayangan manusia, sedang bergerak kearahnya. Bayangan itu meloncat2 dengan lincahnya melalui lereng2 gunung dengan amat pesatnya. Tatkala sudah berada pada jarak yang lebih dekat, terkejutlah Sipenunggu Puncak Gunung Maut. Karena kedua orang itu menggunakan Ilmu meringankan tubuh Pat-Poh Kan-san! Untuk menyelarni Pat-Poh Kan-san saja sudah sukar sekali, apalagi dengan ditambahnya Kwa Piet-keng Pok-kang atau berjalan-dengan-bergenlantungan-ditembok! Kini mereka sudah melalui sebuah bukit lagi. Jarak antara Im Hian Hong Kie-su sudah bertambah dekat dan ia dapat membedakan bahwa salah seorang yang berada disebelah muka adalah seorang Bo siong kecil yang baru berusia lima belas atau enam belas tahun. Sedang dibelakangnya mengikuti seorang pemuda yang berdandan sebagai kesatrya Monggol. Pada pinggangnya tergantung sebilah pedang yang bersinar terang ditimpah sorotan matahari. Pendekar tua kita tercengang. Kiranya pemuda yang berdandan sebagai kesatrya Monggol itu bukan lain dari ....Gokhiol! Yang membuat hatinya lebih heran ialah mengapa sipemuda itu balik kembali? Bo-siong kecil yang turut serta dengannya memiliki kepandaian yang tinggi pula. Pantangan orang2 Monggol jarang ada tandingannya! "Tio Peng Hiantit,"

Teriak Im Hian Hong Kie-su "harap kau suka berhenti sebentar untuk membicarakan sesuatu. Siapakah teman cilikmu itu?"

Suara pendekar tua itu bergema keras.

Si Bo-siong kecil berpaling kepada Gokhiol untuk membisik sepatah dua patah.

Tiba2 mereka berdua mencelat menghilang diantara balik bukit!

Sebenarnya Im Hian Hong Kie-su sebelumnya belum pernah bertemu dengan mata kepala sendiri dengan Tay Yang Lhama.

Mau tak mau hatinya kuatir terhadap petapa2 dari daerah barat yang mempunyai kesaktian yang luar biasa.

Apakah mungkin Tay Yang Lhama telah mengubah dirinya menjadi seorang anak muda?

la menjadi sangat penasaran dan buru2 mengejar kedua pemuda itu.

Sebenarnya ilmu-meringankan tubuhnya tiada berada dibawah kedua pemuda tersebut, namun kedua bayangan manusia itu sudah berada pada jarak yang jauh.

Tiba2 ia merasa seperti ada angin meniup menyusul mana terdengar suara dengan logat ke-kanak2an.

"Kie-su tak usah mengejar kita. Pinto adalah Pasupat. Kami mempunyai sedikit urusan yang perlu segera diselesaikan. Lain kali saja mudah2an kita dapat bertemu untuk menghaturkan maaf kepadamu."

Suara itu entah dari mana datangnya dan dalam sekejap mata saja bayangan Gokhiol bersama Pasupat sudah tidak kelihatan lagi.

Im Hian Hong Kie-su berhenti.

Ia berpikir bahwa Pasupat adalah murid dari Tai Kauw-cu partai Lhama dari Turfan.

Beberapa puluh tahun yang lampau, negara2 dibagian barat telah mengangkatnya sebagai raja.

Sedangkan Pasupat yang menjadi muridnya dikisahkan sejak lahirnya sudah bisa membaca kitab suci.

Dikatakan bahwa Pasupat adalah titisan dari raja "Kong Cok Tai Beng Ong"

Dalam usia lima belas tahun, anak muda itu telah berbasil memperoleh seluruh kepandaian gurunya.

Dan ia teIah berhasil pula merobah para Lhama dari dua puluh delapan kepandaian dari masing2 kelenteng.

Kiranya Si Bo-Siong kecil ini adalah murid turunan agama Buddha daerah See Hek.

Dengan tak disadarkan lagi.

Im Hian Hong Kie-su berjalan dan tak lama kemudian sampai di Cu Bu Kok.

Tiba2 dari belakang terdengar suara tertawa orang.

"Ha-ha-ha! Im Hian Hong Kie-su! Tak dinyana dan tak diduga kau datang untuk menghantarkan jiwamu! Aku Gorisan sebenarnya tiada mempunyai ganjelan apa2 denganmu, tapi sebaliknya mengapa kau telah memusuhkan aku? Dan kau telah merusak rencanaku pula! Huh, tapi ini tak menjadi apa2, yang telah mengherankanku malahan telah membantu Hian Cin-cu si-imam bangkotan, sehingga aku dipenjarakan! Kalau sakit hatiku tidak juga kubalas, maka aku tak mau jadi orang lagi! Ha...ha...ha....!"

Suara Gorisan yang penuh kemurkaan menggema diangkasa dengan seramnya!

Pendekar2 tua kita terperanjat juga, ia mengetahui bahwa suara itu asalnya dipancarkan dari jauh.

Cepat2 ia menenangkan pikirannya pura2 seperti tidak mendengar teguran orang.

la memandang kesekelilingnya.

Ia melihat disebelah bawah ada sebuah sungai yang mengalirkan airnya sampai ketebing curam dan menembus ke lembah Cu Bu Kok.

Diam2 ia berpikir tentunya kedua.

iblis Tangkula San sedang menanti dilembah itu.

Dalam keadaan seorang diri mana ia sanggup melawan mereka?

Baiklah aku menyingkir dulu dengan melewati sungai ini, pikirnya.

Tapi terlambat, karena sekonyong-konyong dibelakangnya berkelebat sebuah bayangan.

Gorisan telah mengejarnya!

"Im Hian Hong Kie-su!

Sambutlah senjata-rahasia aku!"

Tanpa ayal pendekar tua kita memasang telinganya lebar2 dan mengawasi kesekitarnia dengan tajamnya.

Tampaklah sekolompok titik hitam menyerang datang.

Terus saja ia memapakiriya dengan membalas menyerang dengan pukulan yang disertai tenaga-dalam yang luar biasa.

Pada saat itu juga senjata2-rahasia yang terdiri dari puluhan Kiu-cu Liu-seng dibuyarkan oleh Im Hian Hong Kie-su!

"Gorisan!"

Ujar Im Hian Hong Kie-su dengan dingin.

"senjata rahasia semacam itu hanya sebagai permainan saja terhadap diriku. Tapi hari ini Lohu tak mempunyai waktu untuk ber-main2 denganmu. Harap maafkan!"

Kemudian Im Hian Hong Kie-su mencelat keatas!

Dengan gerakan Ya-Lok Peng-see atau Belibis-hinggap-diatas-tanah-pasir badannya membubung tinggi keatas dengan indahnya.

Gorisan menjadi girang, karena ia sedang memancing lawannya untuk turun kelembah.

Maka dengan sengaja ia telah melepaskan senjata rahasianya.

Kini ia berdiri diatas sebuah puncak sambil tertawa ter-bahak2 mengawasi bayangan lm Hian Hong Kie-su yang berlari turun.

Pendekar tua kita mengetahui bahaya sedang mengancam dirinya, tapi sudah kepalang tanggung, tak dapat ia berhenti ditengah jalan.

la paksakan diri dengan memasang mata yang tajam ia men-jaga2 diri.

Akhirnnya tampak olehnya dari mulut lembah muncul dua orang.

Mereka bukan lain dari sepasang iblis Tangkula San!

Wajah Tay Yang Lhama berwarna merah dan dengan jubahnya yang juga kemerah2an menampakkan sekali keangkarannya.

Sedangkan Tay lm Lo-nie berparas putih berbibir merah.

Sepasang alisnya melentik bagaikan bulan sabit.

Hanya sayang, apabila mau dikatakan cantik, melihat air mukanya yang mengandung kebuasan membunuh, orang menjadi bergidik.

Dengan berseri-seri mereka melangkah datang.

"Kami menghatur hormat kepada Gak Tayhiap yang mulia atas kedatanganmu kesini,"

Ujar Tay Yang Lhama.

"Kami sudah lama mendengar nama tayhiap yang tersohor, hanya sayang sekali kita tidak dapat berkenalan terlebih dahulu. Belum, kami hanya dapat melihat tayhiap dari sebelah belakang dan syukur sekali hari ini kita dapat bertemu berhadapan muka dengan muka. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami!"

Sipenunggu Puncak Gunung Maut diam2 agak terkejut juga.

Pikirnya dalam hati, betul2 kedua iblis ini bermata jeli.

Kupikir ketika itu aku berhasil mengelabui mata mereka.

Aku harus ber-hati2, pikirnya!

Im Hian Hong Kie-su mengambil sikap se-olah2 pilon, sambil mundur beberapa tindak ia menyahut.

"Maafkan aku yang bermata picik. Bolehkah aku tanya siapa gerangan nama kalian yang mulia? Dan sungguh luar biasa bagaimana kalian dapat mengenali aku Gak Hong!"

"Im Hian Hong Kie-su,"

Sahut Tay Im Lo-nie tertawa.

"janganlah bermain sandiwara! Eh, kau baru datang dari Hu Cin Kwan, bukan? Dan juga kau sedang mengejar Gorisan!"

Sebelum pendekar tua kita sempat menyahut, Tay Yang Lhama mengedipkan matanya.

Baca Juga: Pedang Sinar Emas 10

Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert