Eps 14 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
Tanya raja "Hamba tahu si moler tua itu mempunyai hati yang sangat busuk!"
Kata Siau Po menerangkan pada raja itu.
"Oleh karena hamba khawatir ia akan mencelakai baginda maka secara diam-diam hamba memakai tenaga seorang dayang yang hamba minta supaya memasang kuping dan telinga. Setiap ia melihat hal-hal yang mencurigakan maka ia lalu melaporkan pada hamba, tadi begitu hamba datang dayang itu sudah memberikan laporan pada hamba!"
Katanya. Kening raja basah oleh keringatnya.
"Mana dayang itu?"
Tanya raja.
"Hamba telah mengambil tindakan terhadapnya,"
Jawab Siau Po.
"Urusan ini sangatlah rahasia maka hamba tidak berani membocorkannya. Ketika tidak ada yang melihat hamba menyeburkan orang tersebut ke sumur, hamba sangat kecewa sekali!"
"Bagus cara kerjamu!"
Kata raja memujinya hatinya lega.
"Besok kau angkat mayatnya dan kau cari di mana letak keluarganya untuk mendapatkan santunan!"
Kaisar lalu mengajak Siau Po untuk pergi ke Cu Leng Kiong sebelum berangkat ia mengambil dua buah pedang.
Yang satu ia pegang sendiri sedang yang satunya diberikan pada Siau Po.
Mereka pergi hanya berdua karena tak menginginkan adanya orang lain yang mengetahui termasuk dayang dan juga thay-kam.
Sesampainya di sana mereka memerintahkan pada para dayang dan juga para thaykam.
Tetapi sebelum sampai tadi Siau Po sempat berpesan pada raja agar tetap membawa pengawal yang hanya ditempatkan di halaman dan jika suatu waktu ia membutuhkan maka pengawal itu telah siap.
Mereka berhenti tak jauh dari kamar ibu suri itu untuk mengatur siasat agar ibu suri itu tak merasa curiga, Karena mereka sangat khawatir jika ibu suri mengadakan perlawanan sebab mereka itu adalah murid dari ibu suri.
Setelah mengatur siasat, raja memerintahkan pada Siau Po untuk langsung memegang kaki ibu suri sedangkan raja yang akan memotong tangan dan kakinya.
Sesampainya di dalam kamar ternyata di sana sudah tak ada dayang maupun thaykam, sedangkan ibu suri berada dalam pembaringan yang ditutup kelambunya.
Melihat hal itu raja lalu memerintahkan pada Siau Po agar membuka kelambu yang menutupi pembaringan itu, Tetapi Siau Po dicegah oleh ibu suri untuk tidak membuka kelambu itu.
Ibu suri mengatakan bahwa ia sedang sakit makanya ia tak ingin kelambu itu dibuka.
Tetapi raja curiga pada lemari yang mengeluarkan suara, maka ia memerintahkan pada Siau Po agar membuka isi lemari itu dengan paksa, Ternyata dalam lemari itu sudah tersembunyi seorang pria yang langsung menendang Siau Po dan dia ke luar sambil menyambar tubuh yang ada dalam pembaringan itu.
Tubuh yang disambarnya itu ternyata telanjang bulat Raja memerintahkan beberapa Sie Wie untuk menangkap orang itu tetapi para Sie Wie itu tak dapat menangkapnya.
Kemudian raja rnemerintahkan pada Siau Po untuk menggeledah isi lemari itu karena sebelumnya raja mendapat kabar bahwa ibu suri yang asli disembunyikan dalam lemari itu.
Mereka semua terdiam.
Siau Po lalu berpikir kalau-kalau ibu suri asli berada di bawah pembaringan Tanpa pikir panjang lagi Siau Po lalu melompat untuk mendekati pembaringan dan membuka papan yang ada dalam pembaringan itu.
setelah mereka membuka papan yang menutupi pembaringan itu Siau Po dan raja menjadi kaget.
"Cepat kalian nyalakan lilin!"
Perintah raja pada Siau Po.
Dengan cepat Siau Po menyalakan lilin, setelah lilin itu menyala di sana baru terlibat sesosok tubuh yang diselimuti dengan sehelai kain dengan wajah yang sangat pucat.
Tak lama Siau Po memperhatikan wajah itu talu ia mengenali ternyata ia adalah ibu suri yang asli.
"Kau... kau!"
Tanyanya pada sang raja.
"Dialah raja yang sekarang, dan baginda sendiri yang datang menolong ibu suri!"
Kata Siau Po.
Mendadak ia menangis dan langsung ia merangkul puteranya.
Selagi raja dan ibu suri itu melepaskan kerinduannya Siau Po memeriksa kamar dan setelah selesai memeriksa ia lalu pamit untuk pergi.
Siau Po tak ingin mengganggu mereka yang sedang dilanda rasa rindunya itu.
Di luar kamar mereka mendapatkan beberapa orang Sie Wie, para dayang sejumlah thay-kam dan Kiongte.
Mereka sangat cemas dengan peristiwa itu.
Siau Po bingung melihat orang yang banyak itu sebab mereka tak menginginkan rahasia ini terbongkar.
Maka Siau Po berbohong pada mereka.
"Barusan tadi baginda dan Kian Leng kongcu sedang bermain petak umpet apakah kalian melihatnya?"
Tanya Siau Po.
"Benar, dan Kian Leng kongcu bergerak dengan cepat dan Iihay, cara penyamarannya sangat sempurna dan menarik hati!"
Kata salah seorang di antara mereka. Siau Po tersenyum.
"Nah, demikianlah cara mereka bermain, untuk itu kalian jangan membocorkan hal ini pada yang lainnya, jika rahasia ini sampai bocor kalian akan kehilangan kepala kalian. Sebab, ini menyangkut kerajaan."
Siau Po lalu menanyakan pada para Sie Wie yang terkena terjangan penjahat tadi, ia lalu mengeluarkan uang untuk mereka yang terluka dan mereka diminta untuk tutup mulut.
Siau Po lalu pergi dan menunggu di luar kamar ibu suri.
Tak lama kemudian Siau Po dipanggil masuk ke dalam kamar Di dalam tampak raja dan ibu suri sedang duduk berdampingan Cepat-cepat Siau Po memberi hormat pada mereka.
Siau Po lalu memberikan laporannya pada raja dengan mengatakan bahwa ia telah mengancam pada mereka yang berani membocorkan rahasia ini dan mereka pada ketakutan.
Mendengarkan laporan Siau Po raja mengangguk-angguk.
"Jika Baginda menghendaki hamba akan menghabisi mereka!"
Katanya. Mendengar demikian raja terdiam.
"Raja, kau harus memberikan kepadanya hadiah!"
Kata ratu.
Raja lalu memberikan sebuah gelar kebangsawanan tingkat empat pada Siau Po.
Setelah itu raja meminta pada Siau Po untuk meninggalkan mereka berdua karena masih dilanda rasa rindu, juga masih ada pembicaraan yang sangat pribadi.
Sesampainya di luar Siau Po berpikir jika nanti moler tua itu pergi ke tempat Kaucu tentulah aku akan mendapatkan bahaya.
Memikir demikian Siau Po mengambil kesimpulan akan menyerahkan kitab itu pada Kaucu tetapi peta yang terdapat di dalamnya akan dia sembunyikan.
Kemudian Siau Po pergi ke suatu tempat di mana terdapat teman-temannya, Lalu Siau Po meminta pada salah seorang temannya untuk mencarikan pahat dan martil.
Pabat dan martil itu digunakan untuk membuka peti mati yang berada dalam ruang bawah tanah itu.
sebelumnya Siau Po menugaskan pada kawan-kawannya untuk berjaga-jaga, jangan sampai ada orang yang melihatnya.
Setelah peti itu terbuka Siau Po lalu mengambil kitab yang ia simpan di sana berjumlah tujuh buah, Lalu kitab-kitab itu ia bungkus kertas minyak dengan rapi.
Di luar rumah itu terdengar suara berisik yang ternyata ada orang yang datang, Namun Siau Po sangat mengenali suara itu, ia langsung berteriak teriak memanggil orang tersebut yang ternyata guru Siau Po.
Siau Po lalu mengenali suara itu yang ternyata suara Kek Song dan ia berkata dalam hati.
"Apakah yang dicari oleh orang itu!"
Menyusul terdengar suara senjata yang beradu dan tak lama kemudian terdengar suara jeritan lalu sunyi kembali.
Tak lama kemudian terdengar orang sedang berbicara, ia mengenal suara itu, ia tahu itu suara gurunya yang sedang berbicara dengan Kek Song.
Terdengar suara Kek Song yang berkata dengan keras dan memerintahkan pada guru Siau Po untuk memotong tangannya atau membunuh dirinya.
Guru Siau Po menolaknya dan terjadilah pertempuran yang sangat seru dari keduanya.
Guru Siau Po atau Kiu Lan di keroyok beberapa orang sedangkan ia tak meladeni Kek Song.
Pada suatu saat Kui Lan dapat dibacok oleh Kek Song dengan demikian Kiu Lan meladeni dua orang dengan keadaan yang tak stabil.
Siau Po sangat bingung, ia harus menolong gurunya tetapi ilmu silatnya belum dapat menandingi mereka, Namun kemudian Siau Po ditolong oleh akalnya.
Siau Po lalu berseru dengan suara sangat aneh, Ketiga orang yang sedang bertempur itu menjadi kaget.
Kek Song yang memang takut pada setan itu segera menghentikan serangannya karena takut, Apalagi setelah ia melihat kamar yang terdapat peti mati itu yang lalu mengeluarkan semburan berupa abu putih, ia menjadi ketakutan.
Setelah menyaksikan hal itu ia lalu pergi meninggalkan rumah dengan sangat ketakutan.
Kiranya yang digunakan Siau Po adalah semen untuk menyembur Siau Po lalu berusaha menyerang lawan yang tak melihat itu tetapi ia merasa takut sebab orang yang akan mereka serang itu sangat lihay dalam ilmu silatnya, Akhirnya Siau Po dapat mengusir guru Kek Song dan Kek Song sendiri dapat ditundukkan.
Siau Po lalu menolong gurunya yang terkena semen itu, Siau Po lalu mencuci mata gurunya dengan minyak agar semen itu dapat hilang.
"The kongcu kau tidurlah di sini untuk beberapa hari. Anggap saja kau bernasib baik, dan hutangmu padaku aku anggap impas!"
Kata Siau Po yang mengurung Kek Song dalam peti itu.
Dalam ruangan itu sudah berserakan kawan-kawan Siau Po yang tak berdaya, Kiu Lan lalu melepaskan totokan itu, ternyata mereka itu ditundukkan satu persatu oleh guru Kek Song.
Setelah melihat gurunya yang sudah dapat melihat lagi Siau Po lalu berpura-pura pingsan, hingga akhirnya ia diangkat oleh gurunya ke atas kursi untuk beristirahat.
Dalam berpura-pura itu sebenarnya Siau Po takut dihukum atau ditegur gurunya, perbuatan yang dilakukan dengan semen walaupun untuk menolong gurunya tetapi itu perbuatan yang tidak jantan.
Kemudian Kiu Lan meminta pada muridnya untuk mencari Kek Song dan gurunya, Mereka tak mendapatkan orang yang dimaksud gurunya itu.
Tetapi Siau Po mengatakan kalau Kek Song dimasukkan ke peti mati itu, maka Kiu Lan memeriksanya.
"Eh, Siau Po! Bukankah kau telah memasukkan Kek Song ke dalam peti mati itu?"
Tanya gurunya.
"Tidak suhu! Mungkin saja Kek Song takut guru akan membunuhnya jadi ia masuk ke peti mati itu dan memanteknya,"
Jawabnya.
"Ngaco kamu! Ayo, cepat buka peti mati itu ia nanti bisa mati karena ia tak dapat bernapas!"
Katanya.
Setelah peti itu terbuka mereka semua merasa kaget sebab yang ada di dalam peti mati itu adalah raja mudanya.
Mereka lalu mempertegas penglihatannya dan benar itu raja mudanya yang telah menjadi mayat.
Melihat kenyataan itu Kui Lan murka, ia menghajar peti mati itu sampai hancur.
"Jika aku tak berhasil membunuh si jahanam itu aku bersumpah aku tak sudi jadi manusia!"
Katanya dengan bengis, karena ia tahu kalau itu perbuatan She Liong, musuh besarnya.
"Kalau demikian pastilah The kongcu telah mereka bawa lari!"
Kata Siau Po menerkanerka.
"Pasti demikian! Dan kita harus segera menolongnya!"
Kata Kiu Lan. Kiu Lan lalu menghela napas.
"Kau benar juga, jika tadi bukan Siau Po yang berlaku sangat cerdik, pasti kita semua sudah menjadi mayat, dan kita semua mati dengan kecewa! Namun..."
Kata Kiu Lan.
"Dia telah menuduh Thian Tee Hwee, kami telah tunduk pada orang Taiwan,"
Hian Ceng ikut bicara.
"Di Tionggoan sini saja dia berani berbuat demikian apalagi bila di Taiwan? pasti di sana kita tak akan diberi kesempatan untuk membuka mulut kita!"
Jin Lau Pun juga berkata.
"Congtocu, sangat jujur dan setia terhadap keluarga The, akan tetapi sekarang kita semua hampir mati dicelakakan Kek Song. inilah penasaran yang tak dapat ditelan dengan begini saja.,.!"
Kui Lan kembali menghela napas.
"Seorang laki-laki sejati, harus bertindak dan melakukan sesuatu yang bakal mengecewakan!"
Kemudian katanya nyaring.
"Kalau kita benar dan orang disisi kita akan mengatakan sesuatu yang bertentangan itu terserah pada mereka.! Maka jika sekarang ini biar bagaimana lebih dahulu kita perlu menolong The Jie kongcu, setelah itu kita harus mencari She Liong, guna menuntut balas bagi kau Jieko, Nah, bagaimana kita harus bekerja?"
Tanyanya.
"Langkah pertama kita harus pindah dari sini."
Siau Po mengutarakan pikirannya.
"Kau benar."
Sang guru membenarkan "Pikiranku sedang kacau sehingga aku lupa memikirkan hal yang seperti ini. Memang ada kemungkinan She Liong sedang memerintahkan pasukannya untuk menyerang kita."
Kata sang guru.
Maka ia menggali lobang untuk mengubur mayat Kwan An Kie yang kuburannya tidak ditimbun dengan tinggi, bahkan diratakan dan disamarkan, agar tentara Boan tak curiga dan membongkarnya, Kemudian mereka menangisinya, lalu pergi dengan perpisahan Siau Po yang cerdik, mengambil kesempatan untuk memisahkan diri, Maka di lain saat ia sudah sampai ke kamarnya lalu menguncinya dan mengambil kitab Sie Cap Ji.
Setelah meneliti setiap halaman ia mendapatkan lembaran dari kulit kambing yang berupa kertas dan semua itu ia ambil dan ia rapikan lagi hingga tak tampak bekas ambilannya, Setelah selesai merapikan ia dipanggil raja.
Raja ada di dalam keratonnya Setelah melihat Siau Po ia lalu berkata.
"Besok akan ada firman dan kau harus mengantarkan Kian Leng kongcu untuk dinikahkan dengan putera dari Gao."
Katanya.
"Baik, baginda!"
Kata Siau Po yang memperlihatkan wajah sebal.
"Belum beberapa hari hamba melayani Tuan dan sekarang hamba harus pergi meninggalkan baginda...."
"ltu tak apa."
Kata raja yang terus berkata dengan suara yang sangat perlahan.
"Tayhau, kau memberitahukan aku tentang sesuatu yang sangat penting, maka sekarang kau pergi ke propinsi In Lam, sekalian melakukan sesuatu di sana."
"Baik Sri Baginda."
Kata si hamba.
"Thayhou, kau juga mengatakan budak jahat yang menyamar sebagai ibu suri dan ia mempunyai maksud buruk yang sangat jahat sekali, ia mau mencari otot nadi naga dari kerajaan Boan Cu kita."
"Untuk dirusaknya, Thayhau telah bertahan menderita tekanan lahir dan batin, Tak sudi Thayhau memberikan keterangan sampai sekarang ini. Berkat pertolongan Tuhan kau dapat selamat dan meloloskan diri."
"Sri baginda!"
Kata Siau Po.
"Tentang rahasia kerajaan yang sangat besar ini jangan baginda bicara pada hambamu ini, karena dengan demikian rahasianya nanti akan mudah bocor...."
Kaisar Kong Hie kagum.
"Makin tambah usiamu makin tambah pengetahuanmu!"
Pujinya.
"Pengalamanmu terus bertambah, tetapi kau jangan khawatir! Cukup dengan kau berhati-hati. Bukankah selama kau bekerja untukku, belum pernah kau membocorkan sesuatu? jikalau aku tak percaya lagi denganmu, maka tak ada orang lain yang dapat aku andalkan."
"Sri baginda!"
Katanya sambil berlutut ia sangat puas dengan sanjungan dan kepercayaan raja itu.
"Karena baginda sangat percaya dengan hambamu ini maka sekalipun lidah hambamu ini dipotong tidak akan hambamu berani membicarakan rahasia ini."
Tambahnya. Kaisar mengangguk.
"Sebenarnya,"
Katanya kemudian.
"Rahasianya otot nadi naga kerajaan Ceng kami itu tersimpan dalam delapan kitab pusaka Sie Cap Ji Cin Keng."
Sebenarnya hal itu bukan lagi rahasia bagi Siau Po, hanya ia berpura-pura tak mengerti.
"Dahulu kala di masa Liap Ceng Ong To Jie Kun memasuki wilayah perbatasan,"
Kata raja.
"Maka semua kitab itu dibagi delapan Kun Cu dari Pat Kie. Kepala dari delapan bendera dan salah satunya dipimpin oleh raja sendiri Maka ketika kitab itu disimpan dalam istana, yang keraton...."
"Ya, hambamu ingat Sri baginda,"
Kata Siau Po.
"Ketika baru-baru ini baginda menggeledah gudang Go Pay, maka si moler tua itu meminta pada hamba pergi ke tempat itu untuk mengambil dua buah kitab itu. Maka hamba memastikan itu kitab yang baginda maksudkan."
"Benar."
Kata raja.
"Di dalam keraton ada tiga kitab dan di gudang Go Pay ada dua kitab, Sedang ayahanda raja memberikan satu kitab lagi, ialah kitab yang kau bawa pulang dari Ngo Tay san. Sama sekali ada empat buah kitab dan kitab itu telah dicuri si moler tua. Sungguh, mimpi pun aku tak tahu halnya, Kitab itu demikian pentingnya dan aku begitu saja menyerahkannya pada si moler tua itu...."
"Jikalau demikian, mari kita cepat pergi dari sini ke Cu Leng Kiong untuk melakukan pemeriksaan,"
Ajak Siau Po.
"Moler tua itu kabur dengan telanjang bulat, barang apa pun tak sempat dibawanya...."
Di dalam hati Siau Po sangat khawatir kalau-kalau raja menggeledah kamarnya, tentu kitab itu akan diketemukannya. Kaisar menggelengkan kepala.
"Aku telah memeriksanya."
Katanya.
"Apa pun tak terdapat di sana kecuali seperangkat jubah biksu, Maka teranglah bahwa orang itu seorang pendeta."
Siau Po tertawa, tetapi kemudian ia menghentikan tawanya karena ia ingat akan sesuatu. Raja tak mengatakan sesuatu, bahkan ia pun tertawa dan berkata.
"Gendaknya itu katai dan gemuk, maka si moler tua itu aneh. Kenapa ia tak mencari lelaki lain yang hanya si kuntet?"
Mau tak mau Siau Po tertawa pula.
"Silabuh itu pandai main silat."
Katanya.
"Kalau orang yang bertampang ganteng mana mungkin ia dapat masuk istana,"
"Ya, kau pandai juga."
Kata raja yang terus tertawa dan ia menambahkan katakatanya itu.
"Memang kedua kitab lagi dibagikan pada bendera merah dan bendera biru, sekarang dari bendera merah telah aku perintahkan untuk menyerahkannya padaku."
Mendengar kata-kata raja itu Siau Po berkata dalam hati.
"Kitab yang berada di bendera merah itu sudah dicuri oleh orang lain dan sekarang kitab itu ada padaku."
Kaisar Kong Hie lalu berkata.
"Kiecu dari bendera biru ialah Hu Teng Lian, yang usianya masih muda sekali, Tadi aku telah minta keterangan darinya, Menurutnya Kiecu, yang dahulu telah mati sewaktu berperang di In Lam, mulai dari situ segalanya diurus oleh Gauw Sam Kui, Sewaktu penyerahan, ia hanya menerima bendera kebesaran dan beberapa tail uang perak dan yang lainnya tak ada lagi."
"Jikalau demikian, kitab tersebut telah ditelan oleh Gauw Sam Kui. Dengan sabar kau tanyakan, dia sangat cerdik dan licik, kau harus dapat menyamar agar ia tak mengetahui maksud kedatanganmu....
"Baik, baginda! Hambamu akan bekerja dengan hati-hati dan dengan melihat kesempatan, agar hamba dapat memancingnya. Yang paling sulit adalah di mana si moler tua itu menyimpannya...."
"Dan tak diketahui asal usulnya."
Sambung sang raja.
"Aku percaya, dia telah mempunyai teman dan dengannya ia bekerja sama, Dengan mendapatkan kitab-kitab itu ia lalu menyelundupkan ke luar istana, Syukurlah katanya kitab-kitab itu harus di dapat semuanya, jika kurang satu pun itu tak berguna, Maka sekarang asal kita berhasil mendapatkan kedua kitab dari bendera merah dan biru dan memusnahkannya, itu artinya segala sesuatunya sudah aman. Bukankah kita tak usah mencari nadi naga itu, cukup asal orang lain tak mengetahuinya?"
Sebenarnya isi kitab bukan hanya mengetahui nadi naga, tetapi di situ diterangkan tempat penyimpanan harta besar.
Harta itu didapat dari perampok di saat tentara Boan menyerang Tiongkok asli, Karena harta itu milik Pet Kie, maka rahasianya terdapat pada delapan bendera itu.
Hal ini dilakukan untuk mereka yang akan menguasai harta itu.
Pada jaman itu, setelah wafatnya pendiri kerajaan Boan Cu, para pemimpin bendera yang terdiri dari para pangeran dan panglima perang besar mempunyai pengaruh sangat besar, Karena didukung Pek Kie, maka pemerintahan Boan masih tetap berlanjut dan pada akhirnya, pada masa kerajaan kaisar Kong Hie pengaruh Pek Kie dapat dikekang dan dirobohkan secara perlahan-Iahan.
Ibu suri pernah mengutarakan pesan dari kaisar Sun Tie katanya, di Kian lee, Tionggoan, jumlah rakyat Tionghoa adalah bangsa Han, jauh lebih banyak dari bangsa Boan Cu.
Maka jika bangsa Han berontak, pemberontakan itu tak dapat diringkus, Tentu bangsa Boan Cu harus kembali ke Kwan Gee yaitu MaiHiuna, tempat asalnya, Maka pada waktu itu Pet Kie akan membongkar harta itu untuk dibagi rata agar mereka dapat hidup dengan tentram dan damai.
Kaisar Kong Hie kembali dari gunung Ngo Tay san, telah membawa pulang pesan dari Sun Tie, ayahandanya.
"Di kolong bumi ini segalanya harus berjalan dengan wajar, jangan main paksa dan paling baik adalah memberikan keberuntungan pada rakyat Dan andaikata bangsa Han menghendaki kita pergi, maka kita harus pergi ke tempat asal. inilah pesan ayah raja."
Kaisar Kong Hie bercita-cita besar, ia merasa berat pergi kembali ke Mancuria, ia tak ingin membagi harta itu pada delapan pemimpin bendera, Maka ia berkata.
"Soal itu tak dapat diberitahu pada rakyat Boan karena mereka nanti akan kembali ke tempat mereka berasal jikalau terjadi orang Han berontak dan di saat genting itu mereka tak ingin berkelahi "
Jadi maksud kaisar itu untuk mendapatkan kedelapan kitab itu bukannya akan melindungi nadi naga, atau mengambil harta itu tetapi akan memusnahkan belaka, Dia menghendaki kerajaan Boan tetap abadi selama-Iamanya, tak sudi mundur secara terpaksa.
Namun sebenarnya ibu suri itu tak mengetahui isi kitab yang mengatakan tersimpan harta yang sangat banyak itu, melainkan ia hanya orang suruhan dari Sin Liong Kaucu, karena mereka mengambil aliran naga sakti, ia menyamar sebagai dayang, untuk mengetahui rahasia istana,.
Tetapi kemudian ia menjadi ibu suri palsu lalu mencari rahasia kedelapan kitab itu dari mulut ibu suri yang asli, Namun ia tak berhasil mendapatkan keterangan darinya walaupun yang asli telah mereka siksa.
Siau Po memperhatikan raja yang berjalan bolak-balik lalu ia mengingat sesuatu.
"Sri baginda!"
Katanya.
"Jika moler tua itu telah menjadi pesuruh Gauw Sam Kui, maka ia yang akan mendapatkan tujuh kitab itu."
Kaisar nampak terperanjat keterangan anak muda itu sangatlah tepat dan benar.
"Panggil Siang Ie Kam!"
Perintahnya, Tak lama maka muncullah thay-kam tua. ia lalu berlutut pada raja, Dialah thay-kam kepala.
"Apakah sudah diperiksa dengan jelas?"
Tanya sang raja.
"Sudah, sri baginda!"
Sahutnya.
"Telah hamba periksa dengan seksama dan terbukti jubah itu buatan kotaraja."
Raja lalu berkata dengan suara yang sangat pelan. Mendengar perkataan mereka, Siau Po mengerti halnya raja memanggil orang itu. Lalu orang itu berkata pada rajanya.
"Namun baju dan celana pria itu buatan Liau-tong, yang biasa terdapat di wilayah Kimcu."
Raja nampak girang.
"Kau pergilah!"
Perintah raja. Thay-kam itu lalu berlutut dan bergegas pergi.
"Mungkin terkaanmu benar "Kemudian raja berkata pada Siau Po.
"Besar kemungkinan si Ay Tong ada sangkut pautnya dengan Gauw Sam Kui."
"Dalam hal ini hamba tak mengerti."
Kata Siau Po.
"Gauw Sam Kui pernah memangku jabatan di San Hay Kwan."
Kata raja.
"Dan kota Kimcu termasuk dalam kekuasaannya, Mungkin sekali Ay Tong Kwa adalah sebawahannya."
Siau Po menjadi sangat girang.
"Benar kalau demikian."
Katanya.
"Sri baginda sangat cerdas dan itu tak akan meleset."
Kaisar Kong Hie berpikir.
"Seandainya si moler tua itu kabur ke propinsi In Lam,"
Katanya kemudian.
"Maka perjalananmu ini ada bahayanya, Karenanya kau harus mengajak lebih banyak Sie Wie serta tiga ribu serdadu pasukan berkuda dari pasukan tangsi Jiau Kie Eng."
"Baik, Sri baginda!"
Sahut Siau Po.
"Harap baginda jangan membuat khawatir. Mudah-mudahan hamba berhasil menangkap si moler tua itu, guna menghukum pancung pada mereka itu, agar penasaran ibu suri dapat terlampiaskan."
Kaisar menepuk-nepuk bahu Siau Po lalu berkata.
"Jikalau kau berhasil dalam tugasmu ini. Hm! Hm! sebenarnya kau masih sangat muda tetapi jika berhasil kau akan naik pangkat, dan orang yang tua pasti akan mengangkat jempol pada kita yang masih kecil-kecil ini."
"Memang usia baginda masih sangat muda tetapi baginda sangat cerdik,"
Kata Siau Po.
"Sebenarnya sudah lama mereka itu sudah dibuat takluk, Maka itu jika kita berhasil melakukan tugas yang besar seperti Gauw Sam Kui pastilah mereka akan lebih tunduk lagi."
"Ah, kau sangat hebat!"
Katanya.
"Kau sangat cerdik sayang kau tidak terpelajar kau belum pernah sekolah!"
Siau Po pun tertawa.
"Sri baginda benar! Sri baginda benar!"
Katanya.
"Baik!ah jika nanti ada waktu senggang, hamba akan mempelajari ilmu sastra, walaupun hanya beberapa hari saja...."
Kaisar Kong Hie tersenyum, ia merasa sangat senang berkawan dengan anak ini, walaupun anak ini berasal dari rumah pelesiran.
Lalu Siau Po berpamitan pada raja, Baru saja Siau Po ke luar dari kamar itu ia sudah disambut oleh salah seorang Sie Wie.
"Wie Congkoan, yang mulia Kong Jie Ong ingin bertemu denganmu entah congkoan punya waktu atau tidak?"
Kata Sie Wie itu.
"Di mana adanya tuan pangeran sekarang?"
Tanya Siau Po.
"Sekarang ini Ongya sedang berada di dalam kamar Congkoan, ia sedang menantikanmu!"
Sahut Sie Wie itu.
"Apakah ia datang seorang diri?"
Tanya Siau Po.
"Ya, benar katanya ingin mengundang congkoan minum arak sambil menonton wayang, tetapi ia sangat khawatir sebab baginda telah memanggil congkoan dan mungkin akan mendapat tugas baru."
Siau Po tertawa.
"Ah, bisa sekali kau bicara!"
Katanya, Sesampainya di kamar Sie Wie, ia menemukan pangeran itu sedang duduk termangu, Tetapi setelah melihat kedatangan Siau Po ia lalu mendekati Siau Po dan merangkulnya.
"Saudaraku, sudah lama aku tak bertemu denganmu aku sangat kangen dan memikirkanmu!"
Katanya. Siau Po tersenyum. ia tahu kedatangan orang ini karena hilangnya kitab itu.
"Oh, Ongya!"
Katanya.
"Jika ada sesuatu urusan, perintahkan saja orang untuk memanggilku itu sudah cukup. Apalagi untuk minum dan memberikan santapan pada hamba. Mustahil hambamu ini tidak segera datang, sekarang ini Ongya telah memberi muka padaku sampai-sampai Ongya datang langsung pada hamba."
Kong Jie Ong tersenyum.
"Pertunjukan wayang sudah siap,"
Katanya.
"Aku hanya khawatir kau tak dapat menghadiri undanganku, Nah, dapatkah sekarang juga kau pergi ke tempatku untuk duduk dan omong-omong barang sebentar?"
Siau Po tertawa.
"Baik, Ongya!"
Katanya.
"Hambamu sangat berterima kasih, Ongya akan menghadiahkan pada hamba santapan, Coba jika baginda hendak menugaskan padaku, meskipun orang tua hamba menutup mata, pasti hamba akan lakukan pergi ke istana Ongya."
Lalu mereka berdua ke luar dari kamar itu dan menaiki kuda untuk pergi ke istana pangeran itu.
Di sana meja perjamuan hanya berdua saja.
Selesai bersantap, Siau Po diajak ke kamar bacanya, Di sana mereka duduk ngobrol, Pangeran itu sangat memuji Siau Po yang telah mewakilkan rajanya yang mensucikan diri menjadi pendeta dalam kuil Siau Lim Sie sehingga ia dapat mengumpulkan jasa, ia pun memuji pada Siau Po yang usianya sangatlah muda, ia sangat cerdas hingga menjadi komandan muda, dari Gie Cian Sie Wie yaitu pasukan pribadi raja, merangkap komandan pasukan berkuda istana.
"Maka itu saudaraku, masa depanmu tak akan ada batasnya."
Puji sang pangeran, Siau Po malah merendahkan diri. Tiba-tiba Kong Jin Ong menghela napas.
"Saudara,"
Katanya.
"Kita orang-orang sendiri, terhadapmu aku tak dapat menyembunyikan apa-apa. Saudara tahu sekarang ini kakakmu sedang menghadapi ancaman bencana besar dan itu tak luput denganku, keluarga, dan juga jiwaku...."
Siau Po mengawasi dengan tajam muka orang itu.
"Ongya, menjadi sanak dekat dengan raja dan raja pun sangat mempercayaimu lalu ancaman dari manakah itu?"
Tanya Siau Po. Kong Jin Ong menghela napas lagi.
"Kau tak tahu, saudaraku!"
Katanya.
"DahuIu setelah kami bangsa Boan Cu memasuki wilayah Toanggoan, oleh raja kami almarhum, setiap kepala pasukan bendera telah diberi hadiah kitab suci. Kami dari bendera merah, aku pun mendapatkan kitab itu, Selang beberapa lama, raja memintaku untuk menyerahkan kitab itu, itu soal biasa tetapi kitab yang kusimpan itu telah lenyap, dan aku tak mengetahuinya siapa yang telah mencurinya."
Siau Po berpura-pura heran.
"Sungguh aneh!"
Katanya.
"Emas perak adalah benda yang biasa dicuri, tetapi kitab apakah ada harganya? Atau kitab itu terbuat dari emas seluruhnya ? Atau kitab itu bertaburan permata yang harganya sangat besar?"
"ltu sama sekali bukan!"
Kata si pangeran "ltu hanya kitab biasa saja, Kesalahanku adalah aku telah lalai menyimpan kitab itu dengan baik, benda pemberian almarhum raja.
Dan itu berarti sangat tidak menghormat Aku khawatir raja akan meminta kitab itu dan mencari tahu, Maka aku meminta bantuan padamu agar aku dapat lolos dari bahaya yang ada ini."
Selesai berkata, pangeran itu lalu memberi hormat pada Siau Po. Melihat hal itu Siau Po menjadi sangat repot sekali untuk membalas hormatnya.
"Ongya terlalu merendah."
Katanya.
"Hambamu dapat mati karenanya."
"Saudara!"
Katanya.
"Jika kau tak dapat menolongku maka pada hari ini aku akan membunuh diriku."
Kata sang pangeran tanpa menghiraukan orang yang di depannya itu.
"Agaknya Ongya menganggap persoalan ini sangat hebat, biar nanti hamba yang menjelaskan pada raja tentang kitab itu, guna memohon keringanan Aku percaya, paling Ongya akan dipotong gaji atau akan diserahkan pada Ong Jin Hu untuk ditegur Hambamu percaya perkara ini tidak akan meminta jiwa.,,."
Pangeran itu lalu menggeleng kepala.
"Bagiku,"
Katanya.
"Asal jiwaku dapat terlindung, walaupun gelar ku dicopot, itu tak apa, Aku bersedia menjadi rakyat jelata, Untuk itu kami akan berterima kasih kepada langit dan bumi, Aku akan merasa puas."
"Benarkah kitab itu demikian pentingnya?"
Tanya Siau Po yang pandai bermain sandiwara.
"Oh, yah, Aku ingat sekarang, Baru-baru ini ketika di rumah Go Pay, ibu suri memerintahkan aku untuk mencari kitab-kitab itu. Apakah Ongya kehilangan kitab tersebut?"
Pangeran itu mengangguk "Ya, aku kehilangan kitab itu."
Sahutnya mengatakan dengan sebenarnya.
"Selama menggeledah rumah itu, Go Pay ibu suri tak menemui apa-apa kecuali kitab itu, maka kitab itu dianggap bukan barang berharga.... Nah, saudaraku apakah kau sanggup mendapatkan kitab itu atau tidak?"
"Dapat dicari!"
Kata Siau Po.
"Go Pay si jahanam telah menyimpan kitabnya di goa dalam tanah, di bawah ubin tempat tidurnya, hingga untuk mendapatkannya aku harus menguras keringat Apakah yang aneh dari kitab itu? Mari akan aku ajak ke kuil pendeta Buddha untuk mengambil kitab itu sebanyak delapan atau sepuluh jilid, Untuk Ongya aturkan pada raja."
Kong Cin Ong menggeleng kepala.
"Kau keliru."
Katanya.
"Kitab itu lain dengan kitab-kitab yang ada di kuil itu."
"Jikalau demikian sukar juga."
Kata Siau Po yang terus berpura-pura tak mengerti.
"Habis Ongya dalam hal mengapa hamba yang diminta tolong ini!"
"Sebenarnya hal itu tak dapat menyebutnya."
Sahut pangeran.
"Habis, mana dapat aku menyuruh kau, saudaraku jadi menghina raja, Siau Po menatap raja muda itu, Dia sangat kasihan dengannya, Siau Po bersedia menggantikan raja muda itu untuk menerima hukuman dari raja. Siau Po menyarankan agar raja muda itu memberitahukan pada raja kitab itu telah dipinjamkan dan kali ini kitab itu hilang, Tetapi raja muda itu tak setuju dengan usul Siau Po. Karena raja muda itu telah tahu kalau Siau Po itu buta huruf. Siau Po tetap bersikeras akan membantu raja muda itu, ia akan memotong lehernya sebagai tanda jika ia setia pada raja muda itu dan untuk membalas budi baiknya. Raja muda itu lalu memerintahkan pada Siau Po untuk mencuri kitab yang ia temukan di kamar ibu suri itu, Dia akan memalsukan kitab itu lalu yang palsu tersebut serahkan pada raja muda yang selanjutnya diserahkan pada baginda raja Kong Hie dengan demikian ia terbebas dari ancaman raja. Siau Po lalu bertanya pada pengeran itu.
"Apakah kitab itu dapat dipalsukan hingga tak kentara yang mana yang asli dan yang mana yang palsu?"
Tanyanya.
"Dapat, Pasti kitab itu akan dapat dipalsukan dengan sempurna selalu, Setelah selesai kita menirunya, kitab harus dikembalikan pada pemiliknya, Aku akan menjamin kitab itu tak kurang suatu apa, guna menjaga keselamatan kita."
Sebenarnya pangeran itu berniat jahat pada Siau Po.
Apabila Siau Po berhasil mencuri kitab itu ia akan menukar kitab yang palsu diberikan pada Siau Po sedangkan yang asli akan ia serahkan pada raja.
Niat jahat raja itu tidak dapat diketahui oleh Siau Po, ia lalu kembali ke kamarnya, sesampainya di kamarnya Siau Po mengambil kitab kitab itu yang jumlahnya baru tujuh buah hanya kurang satu Kekurangan kitab yang hanya satu itu menjadikan kitab-kitab itu tak berarti apa-apa.
Setelah ia pikirkan dengan matang, ia mengambil kesimpulan bahwa ia tak akan memberikan kitab yang diminta pangeran itu.
Besok pagi nya Siau Po berkata dalam hati.
"Kong Cin Ong menjadi pemimpin utama dari bendera merah, dan kitab yang dimaksud itu tentu kitab yang pinggirannya merah. Karenanya baik aku berikan kitab yang pinggirannya kuning..."
Lalu ia mengambil kitab kuningnya untuk diberikan pada pangeran itu.
Begitu diberitahukan kedatangan Siau Po, Dengan bergegas ia menyambutnya lalu mengajak bersalaman dan menggenggam erat-erat tangan Siau Po.
"Bagaimana?.... Bagaimana?...."
Demikianlah pangeran itu bertanya pada Siau Po dengan berulang-ulang.
Siau Po mengernyitkan sepasang alisnya, ia memperhatikan wajah pangeran itu sangat resah, ia pun menggelengkan kepalanya.
Bukan kepalang terperanjatnya si pangeran.
Dia merasa tertipu hatinya bagaikan tertindih berat sekali.
"Memang urusan sangat suIit.,."
Katanya.
"Tetapi, walaupun sekarang kita belum berhasil..."
Tidak menanti pangeran itu berbicara habis, Siau Po menyahut dengan perlahan.
"Sebenarnya kitab telah aku dapatkan, namun aku khawatir Dalam tempo sepuluh hari atau setengah buIan, mungkin kita belum berhasil untuk menirunya...."
Mendengar demikian, pangeran mendadak menjadi girang, karena kitab itu telah berhasil didapatkannya, ia bangun dan memeluk tubuh Siau Po terus thay-kam itu diajak masuk kamar tulisnya.
Sesampainya Siau Po di kamar tulis raja, ia lalu mengeluarkan kitab itu dan memberikannya pada pangeran.
"Benar. Tidak salah lagi maka mulailah kita meniru, Oh ya, aku dapat akal, bagaimana jika aku pura-pura jatuh dari kuda dan setelah kitab itu selesai barulah aku menyerahkan kitab itu pada raja, Coba kau pikir akal itu, dapat dipakai atau tidak?"
Tanyanya. Siau Po menggelengkan kepala.
"Sri baginda sangat cerdik."
Katanya.
"Akalmu itu tak sempurna bagaimana jika ia curiga? Kau juga harus memikirkan kitab itu? Apakah cuma pinggirnya kuning? Apakah tak ada kelainannya?"
"Memang cuma pinggirnya dan semuanya sama."
Katanya.
"Jikalau demikian coba Ongya ubah pinggirnya dan serahkan pada baginda!"
Kata Siau Po.
Pangeran itu berpikir Benar juga pendapat Siau Po, tetapi jika hal ini sampai ketahuan raja maka bukan saja pangeran yang kena tetapi juga Siau Po.
Hati pangeran itu sangatlah risau memikirkan hal itu.
Siau Po kembali ke istana dan mengambil empat kitabnya terus pergi mencari Ay Cun Cia dan Liok Ko Han.
"Liok San Seng, cepat kau pergi dan serahkan keempat kitab ini pada Kaucu dan Hu Jin dan katakan padanya bahwa aku telah berhasil mendapatkan kitab ini dan untuk yang empatnya lagi aku sudah mendapatkan keterangan dan salah satu yang mengetahui Gauw Sam Kui. Dan katakan padanya kalau aku akan setia, Dan aku sekarang akan pergi ke propinsi In Lam dan akan mengajak kalian!"
Kedua orang tersebut diam saja dan menurut apa yang dikatakan Siau Po, dan Ay Cun Cia berkata.
"Saudara Liok, Pek Liong Sie, telah membuat jasa besar. Dengan demikian kita ada manfaatnya dan bukankah Kaucu telah memberikan obat pemusnah racun padamu? Maka kita harus cepat menyuruh orang pergi membawanya."
Liok Ko Han memberikan obat itu pada Siau Po lalu mereka berdua meminumnya sehingga melayani atasannya yaitu Siau Po. Siau Po tertawa.
"Bagus.... Bagus.,.!"
Pujinya.
"Kau begitu setia dan baik terhadapku Maka untuk itu tak mungkin aku dapat melupakan kebaikkanmu."
"Semoga Pek Liong Su mendapat rejeki dan usianya sama dengan gunung selatan!"
Kata mereka.
Tak lama, sekembalinya Siau Po ia lalu dihampiri seorang thay-kam.
Thay-kam itu membawa keputusan raja yang menghadiahkan padanya Cu Ciak tingkat satu, serta diangkatnya menjadi wakil dari raja untuk menghadiri pernikahan putri raja dengan anak Gauw Sam Kui.
Gauw Sam Kui adalah seorang bangsawan yang menguasai propinsi In Lam dan ia menjadi raja muda di sana, Anaknya yang akan menikah dengan putri itu mendapat gelar Ceng Kie Niesaphoan tingkat tiga dengan tambahan wali putra mahkota.
Dalam hati Siau Po berkata putera Gauw Sam Kui telah diberi gelar yang sangat tinggi itu semata-mata agar Gauw Sam Kui menganggap kaisar baik hati tetapi setelah itu barulah kepalanya dipenggal.
Memikir demikian ia menjadi puas.
ia lalu menjenguk raja untuk mengucapkan katakata terima kasih dan ia berkata.
"Kali ini hambamu akan pergi ke In Lam untuk menjalankan tugas jika baginda mempunyai pikiran yang baik sudilah Baginda memberitahukan pada hamba!"
Kaisar itu tertawa dan berkata.
"Siau Kuicu tak terpelajar maka itu biarlah rahasia itu ada pada kantungnya! Lagi pula rahasia itu tak dapat dibuka juga kepadamu!" Ketika sedang berbincang-bincang, datanglah pengawal yang mengatakan bahwa adik raja minta diri untuk menghadap, Baru saja pengawal itu berlalu putri sudah muncul. Kedatangan putri kali ini sangatlah mengejutkan hati raja karena ia meminta agar raja mau menarik keputusannya itu.
"Tidak... tidak! Aku tak mau menikah ke In Lam. Kakak raja, tolonglah aku, tarik pulang keputusan itu!"
Ratapnya.
"Kalau seorang anak wanita dewasa, sudah selayaknya ia dinikahkan atau mengawinkannya dan untuk keputusanku itu tak mungkin dapat ditarik kembali!"
Jawab sang raja.
"Benar.,., Benar!"
Sahut Siau Po.
"Pemuda calon tuan putri itu sudah kesohor ketampanannya. Dan baru-baru ini ketika ia datang ke kotaraja ada beberapa wanita yang pada berkelahi karenanya itu!"
Sahut Siau Po. Kian Leng kongcu melongo.
"Kenapa mesti terjadi hal yang demikian?"
Tanyanya.
"Putra Peng See Ong itu terkenal karena gantengnya!"
Kata Siau Po yang mengetahui maksud hati raja.
"Maka itu sewaktu ia datang ke kotaraja banyak nona-nona yang ingin meIihatnya. Mereka berdesak-desakan dan berkelahi satu dengan lainnya yang akhirnya ada di antara mereka ada yang mati!"
Katanya. Putri itu dari menangis menjadi tertawa.
"Kau mendustaiku!"
Katanya.
"Tak mungkin terjadi peristiwa semacam itu!"
Siau Po tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya mengawasi tuan putri itu.
"Tuan Putri!"
Katanya.
"Dapatkah Tuan Putri menerka hamba ditugaskan ke In Lam? Bahkan hambamu juga dipesan untuk membawa banyak Sie Wie untuk melindungi Tuan Putri?"
Tanyanya.
"Itu dikarenakan raja sangat menyayangi aku!"
Kata putri.
"Benar, Tuan Putri! ini juga menandakan bahwa Baginda sangat cerdas dan ia berpikir ke depan! Coba pikir pemuda itu adalah orang yang terganteng di sana dan Tuan Putri akan menjadikan dia suami, Bagaimana hati nona-nona itu. Mereka yang patah hati biasanya suka melakukan perbuatan yang kurang sopan dan sembrono maka itu di antara mereka itu pastilah ada yang pandai bermain silat, Untuk itu hamba di perintahkan raja mengawal Tuan Putri dengan membawa banyak Sie Wie! Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya mencegah nona-nona yang sedang patah hati itu!"
Katanya. Kian Leng kongcu tertawa..
"Ah, kau bisa saja, Kau pandai sekali berbicara tidak karuan arahnya!"
Tukas si putri itu. Ketika tertawa putri raja itu tampak semakin cantik dan manis. Kemudian Kian Leng berpaling pada raja dan berkata.
"Kakak raja, setelah aku menikah nanti biarlah ia tinggal bersamaku di sana untuk teman ngobrolku, jika kakak raja tak mengabulkannya aku tak ingin berangkat ke sana."
Kaisar Kong Hie tertawa.
"Baik... baiklah!"
Katanya.
"Biarlah untuk beberapa waktu ia akan tinggal di sana sampai kau merasa kerasan tinggal di sana!"
"Aku menghendaki ia tinggal bersamaku!"
Kata si putri.
"Aku sangat tidak setuju mendengarkan kata-kata itu."
"Mana mungkin!"
Katanya dengan cepat.
"Bagaimana kalau Gauw Eng Him bosan melihatku? Bukankah ia dapat membacok batang leherku? jikalau sampai terjadi hal yang demikian maka tak mungkin hamba dapat kembali ke mari!"
Kiang Leng mencibirkan bibirnya.
"Hm, tak mungkin ia berani demikian!"
Katanya sedang yang dituju yaitu calon suaminya.
Siau Po lalu berdiam dan tak lama kemudian ia lalu berpamitan pada raja, sesampainya di luar Siau Po disambut oleh beberapa Sie Wie yang sangat girangnya sebab yang diutus adalah Siau Po.
Bukan hanya Sie Wie tetapi juga thay-kam.
Sie Wie itu mengharapkan dapat ikut bersamanya, Mereka dapat melihat Gauw Sam Kui, kota yang mirip negara dan banyak hartanya, Dengan demikian mereka jadi mendapatkan hasil banyak pergi ke sana.
"Saudaraku, kitab sudah ku berikan pada raja dan ia sangat memujiku!"
Kata sang pangeran yang meniru kitab itu.
"Bagus itu!"
Ujar Siau Po. Raja muda itu menjabat tangan Siau Po, lalu ditarik dan diajak ke luar istana, ia tak membawa ke istananya tetapi ke arah timur di mana terdapat gedung yang sangat megah.
"Saudaraku, kau lihat bagaimana gedung ini!"
Katanya. Siau Po mengawasi dengan kagum.
"Bagus dan megah!"
Ujar Siau Po. Kemudian Siau Po diajaknya untuk masuk. Ternyata di dalam ruangan sudah terdapat banyak orang, Merekalah para pembesar istana.
"Hari ini kita memberikan kata selamat pada Wie Tayjin karena telah naik pangkat seharusnya ia mengambil tempat duduk pada meja istimewa yang dihormati Akan tetapi karena gedung ini akan dilimpahkan kepada nya, maka, baiklah mari kita persilahkan ia duduk selaku tuan rumah dan bukan tamu yang terhormat!"
Kata Kong Cin Ong. Bagian 54 Siau Po heran mendengar ucapan yang terakhir tadi.
"Persahabatan kita lain dari pada yang lain, Dan diantara kita tak ada perbedaan!"
Katanya! "Mari.... Mari, semuanya minum siapa yang tidak minum maka sampai sinting tak akan dapat pulang kembali ke rumahnya masing-masing!"
Pesta benar-benar berjalan dengan sangat meriah Siau Po berpikir dan berkata dalam hatinya.
"Jika saja tempat ini aku jadikan sebagai tempat pelesiran, tentu aku akan mendapatkan uang yang sangat banyak!"
Besok paginya Siau Po menemui Kui Lan untuk memberitahukan padanya, bahwa ia akan pergi ke propinsi In Lam untuk melaksanakan tugas dari raja.
Yaitu menikahkan putri raja pada putra Gauw Sam Kui, Peng See Ong atau raja muda.
Siau Po sangat girang karena ia ditemani langsung olehnya dan ditambah lagi dengan turutnya A Ko pada perjalanan itu.
Sebelurn berangkat Siau Po mampir pada gurunya dan melaporkan tugas itu.
"Raja demikian menghormatinya, dan hal itu hanya bersifat sementara, Hal itu yang membuat kita menjadi sulit untuk menangkapnya, maka kita harus mencari-cari alasan agar ia mau melakukan perlawanan pada kita dan membuat huru-hara, Sebab jika tidak, maka kita yang akan dicurigai mereka. Dan karena Ji kongcu telah diculik maka aku harus menolongnya, Karena itu aku tak dapat ikut serta dengan kalian, Jika kalian memerluka bantuan, bawalah serta saudara-saudara seperguruannya.
"Suhu! Bukankah orang yang akan kau tolong itu orang jahat? Menurutku lebih baik suhu tak usah menolongnya, karena aku khawatir nanti setelah kita menolongnya ia akan mendatangkan bencana bagi kita!"
Tan Kiu Lan menghela napas panjang.
"Kau benar,"
Katanya.
"Akan tetapi Kok Seng Ya dan Ongya sangat baik sekali, Maka untuk membalas budi mereka, meskipun harus mati tak mungkin aku dapat membalasnya, sedangkan yang akan aku tolong adalah anak yang paling ia sayang!"
"She Liong sangat menjemukan! Bagaimana jika aku mengatakannya pada raja untuk memenggal kepalanya?"
Tanya Siau Po. Kiu Lan bangkit berdiri.
"Janganlah kau berbuat demikian, Kalau kita melakukan hal yang demikian maka itu bukanlah tindakan orang gagah!"
Kata gurunya.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan suhu, aku pun tak akan membawa saudara-saudara kami ikut denganku!"
Katanya. Kiu Lan lalu menepuk bahu muridnya itu.
"Mengenai Gauw Sam Kui adalah hal yang sangat penting, maka itu kau harus memusatkan pikiran dan juga tenagamu, Nanti setelah aku berhasil menolongnya, aku akan menyusulmu ke sana, Aku tak menginginkan ia yang mendahului kita."
Kata gurunya. Siau Po mengangguk.
"Coba kau buka mulutmu?"
Kata gurunya.
"Racun dalam tubuhmu belum juga lenyap!"
Selang beberapa hari Siau Po mempersiapkan hal yang akan dibawanya menuju ke In Lam.
Setelah mohon diri pada raja dan ibu suri ia lalu berangkat beserta A Ko yang meniru sebagai dayang, dan kawan-kawannya yang meniru sebagai para pengikut Siau Po.
Demikianlah perjalanan menuju ke In Lam.
Seperti biasanya tuan putri selalu memanggil Siau Po untuk teman bicaranya, Setiap kali Siau Po dipanggil ia selalu membawa temannya sebagai pengawalnya.
Hal itu sering dilakukan Siau Po sewaktu mereka dalam perjalanan sampai sekarang telah tiba di In Lam.
Kali ini Siau Po dipanggil dengan tuan putrinya dan ia pun tak lupa membawa kawankawannya itu.
Tetapi kali ini tuan putri memanggil dan ia menggunakan pakaian yang sangat tipis, Siau Po terus mengawasinya.
"Siau Po apakah kau merasa gerah?"
Tanya pengawalnya.
"Tidak!"
Jawabnya.
"Tetapi mengapa dahimu berkeringat?"
Tanyanya lagi.
Siau Po lalu mengusap dahinya yang berkeringat itu dengan ujung bajunya sampai kering.
Siau Po lalu diberi minum oleh tuan putrinya, Tetapi setelah mereka meminum arak pemberian tuan putri itu kepala mereka menjadi sangat pusing dan satu persatu terjatuh pingsan.
Setelah beberapa waktu lamanya pingsan Siau Po tersadar Siau Po lalu mengawasi isi kamar itu.
Ternyata mereka hanya berdua saja dan yang lebih mengagetkannya yaitu Siau Po berada dalam keadaan telanjang bulat.
"Mana kedua kawanku itu? Dan mengapa kau berbuat seperti ini apa yang kau inginkan?"
Tanya Siau Po.
"Aku sebel dengan mereka itu! Para pengikutmu tadi sudah aku perintahkan untuk memenggal mereka berdua!"
Kata tuan putri.
"Apakah sari buah tadi telah kau campur dengan obat bius?"
Tanya Siau Po. Kian Leng kongcu tertawa.
"Kau sungguh cerdik tapi sayang kau sudah terlambat."
Kata tuan putrinya.
"Dan pasti obat itu kau dapat dari para Sie Wie itu?"
Tanyanya. Kembali Kian Leng tertawa.
"Segala sesuatu dapat kau ketahui, tapi kau tak mengetahui sari buah tadi ada obat biusnya atau tidak."
Kata putri itu.
"Aku memang mengetahuinya, dan sekarang kau bebas melakukan apa yang akan kau lakukan pada diriku ini. Bukankah kaki dan tanganku sudah kau ikat?"
Katanya. Kian Leng kembali tertawa.
"Jika kau membuka mulut kau akan rasakan pisau belatimu ini!"
Ancam tuan putri itu.
Siau Po berpikir, tahu kalau tuan putrinya itu sangat takut pada setan atau pun sejenisnya, Maka setelah ia mengetahui kelemahan lawan, ia berusaha mempengaruhinya dengan cerita-cerita yang menakutkan itu.
"Jika hal itu sampai terjadi maka aku bukan lagi sebagai thay-kam hidup atau thaykam mati, melainkan akan menjadi iblis yang sangat jahat dan aku akan menggodamu selama-lamanya."
"Kau akan menakut-nakuti aku, yah?"
Kata si putri. Siau Po lalu didupak beberapa kali dan itu membuat Siau Po menjadi ingin membuang hajat.
"Aku paling suka rnencambuk orang."
Katanya dan lalu mengambil cambuk yang terdapat di bawah kasur.
Tubuh yang tanpa sehelai benang pun dicambuk beberapa kali dan akhirnya bekas cambukan itu mengeluarkan darah segar.
Melihat hal itu tuan putri malah tertawa dengan senangnya dan ia mengusap-usap luka yang terdapat pada tubuh Siau Po.
"Bukankah kau yang mengusulkan agar aku menikah dengan orang yang belum aku kenal itu?"
Tanyanya.
"Bukan.,., Bukan aku, itu perintah raja."
Jawabnya.
"Tapi mengapa aku harus menikah dengan dia dan biasanya ibu suri sangat menyayangi aku tetapi sewaktu aku hendak pamitan ia nampak acuh saja padaku?"
Tanyanya.
Setelah berkata demikian tuan putri itu mendekap mukanya dengan telapak tangannya dan menangis.
Hanya sebentar tuan putri itu menangis lalu kembali marah dan mendupak beberapa kali pada Siau Po.
Siau Po menahan rasa nyeri.
"Kongcu, kau tak ingin menikah dengannya mengapa kau tak mengatakan padaku? Aku sudah mempunyai jalan yang terbaik untuk kita."
Kata Siau Po. Kian Leng lalu menghentikan tendangannya, ia pun memasang telinganya untuk mendengarkannya.
"Kau akan mendustaiku? Lalu apa yang akan kau katakan?"
Tanya tuan putri itu.
"Memang tak ada yang dapat merubah keputusan raja tetapi kita dapat melakukannya dengan tidak menentang keputusan itu."
Katanya.
"Lalu bagaimana caranya?"
Tanya tuan putri.
"Di sana ada orang yang sangat disegani dan raja sendiri tak dapat melakukan apaapa kita butuh seseorang."
Katanya.
"Siapa orang itu?"
Tanya tuan putri.
"Dialah Giam Lo Ong, Nanti dia yang kita gunakan tenaganya untuk membekuk calon suami putri dan nanti ia tak akan dapat menikah dengan tuan putri. Dengan demikian kita tak melakukan pelanggaran pada keputusan raja."
Kata Siau Po. Kian Leng tetap menatap wajah orang yang menjadi tahanan, ia heran dan berpikir.
"Kau mengajari aku membunuh suamiku?"
Tanyanya.
"Tidak, Bukan kita yang membunuhnya!"
Kata Siau Po. Mendengar hal demikian tuan putri jadi marah dan ia memulai mencambuk tubuh Siau Po yang sudah bermandikan darah itu lagi.
"Apakah kau merasa nyeri? Jika kau merasa nyeri aku semakin senang sekali."
Sambil berkata tangannya terus saja mencambuk tubuh Siau Po.
Kemudian tuan putri itu hendak membakarnya dengan terlebih dahulu ia menyiram tubuh itu dengan minyak.
Berpikir demikian, tuan putri itu pergi mencari minyak.
Siau Po berpikir bagaimana caranya dapat membebaskan diri dari tuan putrinya itu.
Tak lama terdengar suara yang berasal dari luar kamar tuan putri Siau Po mengenali betul suara itu suara gurunya.
Siau Po sangat girang sekali kedatangan gurunya sangatlah tepat, Maka ia laju mengatakan apa yang terjadi pada dirinya.
Ternyata gurunya itu tak dapat menolongnya, sebab Siau Po telanjang bulat sedang ia seorang peribadat dan yang seorang lagi wanita.
Belum sempat sang guru menolong muridnya, tiba-tiba terdengar suara tuan putrinya yang kembali dari mencari minyak.
Tampak tuan putri itu tak membawa minyak tanah atau minyak sayur Tuan putri itu lalu membakar dada Siau Po yang baunya sampai ke luar kamar Hal itu membuat sang guru menjadi tak tahan lalu dengan cepat ia membuka pintu kamar itu dan menyambar tubuh Siau Po.
"Lekas tolong Siau Po!"
Perintahnya pada nona A Ko. A Ko bukannya menolongnya melainkan malah menyerang tuan putri dan membuatnya tak berdaya. Menyaksikan hal itu tuan putri lalu mendamprat dengan kasarnya pada A Ko.
"Kau sendiri yang jahat masih mau ngomeli orang!"
Kata A Ko yang sedang dongkol itu.
Setelah mendamprat tuan putri, A Ko menangis.
Hal itu yang membuat tuan putri menjadi heran.
Tak lama A Ko menangis, ia lalu mengambil pisau belati untuk membuka tambang yang mengikat tangan Siau Po.
ia lalu memberikan pisau itu padanya lalu meninggalkan kamar itu.
Para dayang sebenarnya telah mendengar suara ribut-ribut dalam kamar tuan putrinya, tetapi karena sebelumnya semua sudah dipesan, maka mereka tak ada yang berani berbuat yang tidak-tidak.
Setelah tangannya dibuka dari ikatannya Siau Po lalu membuka tutup mulut dan ikat kakinya, ia mendekati tuan putri yang sedang merasakan sakit karena A Ko berhasil mematahkan tangannya.
Siau Po lalu mengikat tangan tuan putrinya dan menyobek baju wanita itu pada bagian dadanya, Maka dengan demikian tampaklah buah dada yang montok dan mulus itu.
Saking bengisnya Siau Po lalu membakar dada nona itu.
Kian Leng kongcu menjerit menahan rasa sakit.
"Tak apa, kau pun harus merasakan rasa itu dan juga sari dari kaos kakiku ini."
Kata Siau Po yang kemudian menyumbat mulut wanita itu dengan kaos kaki nya.
"Sudah, jangan kau sumbat mulutku aku berjanji tak akan membuka mulut lagi."
Katanya. Siau Po tak jadi membakar tuan putrinya.
"Kui Pee Lek, jika kau ingin membakar aku maka bakarlah aku. Dan jika kau ingin mencambuk aku maka cambuklah aku biar hatimu puas!"
Kata tuan putri itu.
"Memang aku akan mencambukmu dan membakarmu."
Jawab Siau Po. Siau Po lalu menghajar tuan putri itu beberapa kali tetapi yang dihajar bukannya merintih kesakitan melainkan sebaliknya malah tertawa kegirangan.
"Oh, budak hina! Kau merasa senang,ya?"
Tanya Siau Po.
"Ya. Akulah si budak hina dan kau hayo hajarlah aku!"
Kata tuan putri itu sambil tertawa.
"Mana pakaianku?"
Tanya Siau Po.
"ToIong perbaiki dahulu tulang sikutku, nanti aku akan membantumu mengenakan pakaianmu."
Kata si putri. Siau Po berpikir dan berkata dalam hati.
"Aku harus menghajar dia agar mau menunjukkan tempat pakaianku."
Tetapi malah sebaliknya tuannya itu malah tertawa.
"Cepat kau perbaiki tulang sikutku atau kau tak mendapatkan bajumu yang kusimpan itu!"
Katanya. Terpaksa Siau Po menolongnya, sejak tadi tubuh mereka selalu beradu dan keduanya tak mengenakan sehelai benang pun.
"Duduklah kau yang benar agar aku dapat menolongmu!"
Katanya.
"Lagakmu seperti lagak istriku saja!"
Kata Siau Po.
"Aku justru ingin kau anggap sebagai istrimu."
Katanya. Setelah berkata demikian tuan putri merangkul tubuh Siau Po dengan eratnya dan menciumnya. Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari luar kamar.
"Siau Po kau berada di dalamkah?"
Tanya A Ko.
"Ya.... Ya,"
Sahut Siau Po.
"Sedang apakah kau?"
Tanya A Ko.
"Tidak, aku tidak berbuat apa-apa."
Jawab Siau Po.
"Siapa dia?"
Tanya tuan putri.
"Dialah istriku."
Jawab Siau Po.
"Cepat kau suruh dia pergi bukankah aku ini istrimu?"
Kata tuan putri, Mendengar ucapan itu A Ko cepat pergi, Dengan sakit hatinya karena mendengar kata-kata putri itu.
"Sucie.... Sucie!"
Panggil Siau Po berulang-ulang, Tetapi A ko tetap saja pergi meninggalkan Siau Po.
Tidak ada jawaban dari A Ko.
Maka pada pagi harinya rombongan melanjutkan perjalanan ke propinsi In Lam.
Pada suatu hari mereka tiba juga di tempat tujuan, Belum lagi mereka memasuki batas propinsi di sana sudah berada pasukan penyambut yang dikirim Gauw Sam Kui.
Pasukan itu berada di bawah pasukan pimpinan Ma Po.
ia berpangkat brigadir jenderal Siau Po pernah bertemu dengannya di kuil Siau Lim Sie.
Ketika itu Kian Leng bergaul dengan rapat dengan Siau Po mendengar Eng Him yang menyambut kedatangannya.
Maka tuan putri itu kumat tabiat aslinya.
Kian Leng menatap kekasihnya itu, ia mendongkol melihat Siau Po berdiam saja.
ia menegur dengan suara keras.
"Kenapa kau bungkam?"
Bukankah kau yang mengatakan mulanya?"
Pikiran itu toh bukan ke luar dari hati mulutku untuk membunuh calon suamiku."
"Memang ia harus dibinasakan, akan tetapi kita harus menanti kesempatan yang baik,"
Kata Siau Po.
Mendengar kata-kata keras itu Siau Po menjadi gusar, Tangannya menampar telinga putri sambil membentak.
Yang dibentak malah tertawa.
Siau Po terdiam.
Pada suatu hari mereka datang ke ibukota propinsi In Lam.
Atas laporan yang diberikan pada Siau Po, Peng See Ong datang menyambut tuan putri, ia menyambut dengan beberapa tentara yang seragamnya sangat bagus.
Menyusul terdengar suara musik dan beberapa pasukan yang menggunakan seragam merah, Siau Po mengawasi panglima perang itu sambit berdiri, Di sisi kereta, ia lalu menyuruh seseorang untuk memberitahukan pada Gauw Sam Kui agar tidak menggunakan adat yang berlebihan Gauw Sam Kui tertawa.
Tak tama rombongan itu telah sampai di In Lam.
sambutan yang diberikan sangatlah memuaskan hati rombongan Siau Po.
Keesokan harinya Siau Po diundang untuk memeriksa pasukan perang yang dipimpin oleh Gauw Sam Kui dan puteranya.
Selesai Gauw Sam Kui memeriksa pasukan, Siau Po memberikan firman raja dan meminta agar dibaca di depan umum.
Selesai membacakan firman raja itu, Gauw Sam Kui mengundang Siau Po untuk minum arak, Pada saat itulah Siau Po menanyakan tentang Yo Ek Jie.
Gauw Sam Kui menjawab, kalau Yo Ek Jie sedang ditugaskan ke Tibet untuk menyelesaikan suatu masalah.
Siau Po tidak percaya begitu saja, ia mengutus anak buahnya untuk mencari tahu di mana sebenarnya Yo Ek Jie itu, Tak lama kemudian datanglah utusan itu dengan membawa kabar bahwa Yo Ek Jie sekarang sedang dalam tahanan.
Mendengar keterangan itu Siau Po membagi tugas pada para bawahan untuk menolong Yo Ek Jie dan ia mengundang anak Gauw Sam Kui untuk ditahan dan dijadikan sandera.
Tak lama kemudian para utusan yang menangani masalah itu telah kembali dengan hasil yang baik.
"Bagus.,, bagus...!"
Katanya.
"Apakah kau telah berhasil membebaskan Yo Ek Jie dan menawan anak Gauw Sam Kui itu untuk dijadikan sandera agar Gauw Sam Kui tak dapat sembrono terhadapnya!"
Segera mereka menganggukkan kepala.
Setelah itu Siau Po memeriksa Yo Ek Jie yang seperti orang yang kurang sehat itu.
Siau Po sangat kaget karena Ek Jie telah kehilangan tangan dan kakinya hingga tinggal tubuh dan kepalanya.
"Lidahnya telah dipotong dan matanya juga sudah dicongkel keluar!"
Cen Tian Coan memberikan laporannya.
Usia Wie Siau Po masih sangat muda, namun pengalamannya sangat luas, setelah melihat keadaan Ek Jie yang tidak memiliki tangan dan kaki ia menjadi sangat sedih, karena keduanya sudah saling mengangkat saudara.
Siau Po menangis sejadi-jadinya lalu mengeluarkan pisau belatinya dan berkata dengan suara nyaring.
"Aku hendak mengutungkan kaki dan tangan Gauw Eng Him"
Hong Cie Tiong menarik tangan Siau Po.
"Sabar Hiocu... sabar!"
Ujarnya.
"Kita harus berdamai dahulu."
She Hong mempunyai watak pendiam, tetapi sekali berbicara isi pembicaraannya sangatlah bagus. Terhadap kawannya yang satu ini Siau Po sangat menghargainya.
"Toako benar,"
Katanya. Tian Coan telah menyelimuti Ek Jie.
"Kiranya urusan Ek Jie ini ada sangkut pautnya dengan kita."
Katanya.
"Gauw Sam Kui merasa tak puas Ek Jie telah bergaul denganmu, dan ia menuduh Ek Jie sebagai orang yang suka membalikkan tangan atau ular berkepala dua."
"Mulai leluhurnya Gauw Sam Kui memang si kura-kura hitam yang mau mampus."
Katanya dengan gemas.
"Dengan Yo Toako yang bersahabat ia tak pernah berdusta, Dasar dialah si pengecut dan pendurhaka yang tidak karuan Maka dengan demikian jelaslah sudah tujuan pemberontakan sebenarnya apa sebabnya mereka memberontak?"
"Hiocu benar, sebaiknya melaporkan hal ini pada raja dan Hiocu yang langsung menjadi saksinya..."
Kata Tin Loa Pun. Siau Po tak menjawab, ia hanya menoleh.
"Toako, bagaimanakah kiranya hingga kau mengetahui halnya Gauw Sam Kui menyiksanya karena ia bergaul denganku ?"
Tanya nya. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Siau Po tetapi malah pergi ke luar, dan kembali dengan membawa orang yang langsung dijatuhkan.
"Wi Hiocu, orang ini yang nama besarnya sering kita dengar Dia itu Yo It Hong,"
Kata orang She Jie itu.
"Ah, rupanya kau, dulu di kotaraja kau bertindak sangat bebas sekali, Dulu kaupun pernah ditendang oleh Gauw Eng Him dan mengapa sekarang berada di sini?"
Tanya Siau Po.
"ltu yang dikatakan musuh saling bertemu dalam tempat yang sempit,"
Kata Cie Thian Coan.
"Jahanam itu justru sipir penjara besar Hek Kam Cu itu, Biar wajahnya berubah menjadi abu, aku pasti dapat mengenalnya, Ketika kami menjadi pengikut Gauw Sam Kui. ia mendatangi penjara yang lantas mempertontonkan lagak tengiknya, ia lalu meminta tulisan tangan Peng See Ong, si celaka itu."
Siau Po mengangguk.
"Ya, sungguh sangat kebetulan kita telah bertemu dengan makhluk ini. Dengan demikian kita dapat lebih mudah menolong orang,"
Katanya.
"Dia ini yang memberitahukan pada Gauw Sam Kui, Dia menganggap masalah ini rahasia,"
Katanya. Siau Po menendang orang yang berada di depannya itu. Maka tak ayal lagi gigi orang yang ditendangnya itu copot, dan ia lalu berkata.
"Sekarang aku akan kembali ke Gauw Eng Him untuk menunggunya, Saudara semua silakan memeriksa, jika ia memang tak mau bicara maka potong saja kedua tangan dan kakinya itu."
"Aku.... Aku mau bicara,"
Katanya dengan mulut yang masih bercucuran darah.
Orang itu cepat-cepat menjawab setiap pertanyaan karena takut kalau ia melakukan hal yang serupa dengan yang terjadi pada Yo Ek Jie, yang terpotong tangan dan kakinya ditambah lagi dengan mata dan lidahnya juga dicelakai.
Siau Po tidak langsung pergi, ia terlebih dahulu menghampiri Yo Ek Jie.
"Toako...!"
Panggilnya.
Orang yang dipanggil itu lalu bergerak ingin bangun tetapi jatuh kembali Melihat hal demikian Siau Po dan kawan-kawannya sangat terharu, ia menjadi benci pada Gauw Sam Kui dan juga anaknya.
Siau Po mengusap air matanya, lalu pergi ke luar dan menuju pendopo besar itu sambil berkata.
"Sungguh sangat menarik hati!"
Kata Siau Po yang terus berusaha menyenangkan hatinya. Sesampai mereka di pendopo besar itu, ternyata permainan wayang sudah berhenti Tetapi begitu melihat tuannya datang, mereka mulai lagi.
"Maaf Sio Ongya, tadi aku dipanggil oleh Tuan putri untuk ditanya tentang lampang, kegemaran dan sifat Sio Ongya, Kongcu menanya demikian banyak hingga Sio Ongya menanti dengan lama..."
Kata Siau Po.
"Tidak.... Tidak apa,"
Kata Eng Hian yang merasa gembira karena calon isterinya sangat memperhatikannya, Selesai pertunjukan wayang, para tamu kembali ke tempat masing-masing, Siau Po lalu pergi ke tempatnya dan di sana ia tak menemukan siapapun.
"Aneh.,., Apakah yang akan mereka lakukan?"
Tanya Siau Po dalam hatinya.
Siau Po menunggu sampai larut malam, barulah mereka kembali dengan membawa tawanan yang lainnya.
Mereka tadi berhasil mendapatkan keterangan dari tawanan yang pertama, bahwa Gauw Sam Kui menyiksa Yo Ek sedemikian rupa sebab Yo Ek disangka bersahabat dengan Siau Po, untuk sama-sama berkhianat pada raja atau karena putra raja dari Mongolia.
Akhir-akhir ini orang Mongolia erat hubungannya dengan orang She Gauw.
Tak putus-putusnya mereka masing-masing mengirim bingkisan.
Dan akhir-akhir ini ia telah mengirim utusan ke Bun Beng, untuk beberapa lama, Sewaktu mereka mengadakan perundingan Yo Ek disangka telah mengetahuinya.
Keterangan itu didapat dari tawanan yang baru saja dapat.
Toan Coan lalu berunding untuk membahas masalah yang baru saja mereka dapatkan itu, dan pada akhirnya mereka setuju akan terus menyamar sebagai pengawal pribadi Gauw Sam Kui.
Siau Po ternyata kenal dengan Kearltan yang sekarang menjadi tawanan, ia kenal sewaktu bertemu di kuil Siau Lim Sie.
pangeran itu besar kepala dan pernah juga menyerang Siau Po dengan senjata rahasia Piauw, untunglah saat itu Siau Po mengenakan pakaian wasiatnya hingga ia tak menemui celaka, Karena itu ia percaya orang Mongolia yang baru saja ditemuinya itu pun bukan orang baik-baik.
"Coba bawa dia pergi melihat Yo Toako!"
Kata Siau Po.
Salah seorang anak buah Siau Po lalu membawa mereka pergi.
Tiba-tiba terdengar jeritan, ternyata orang Mongol itu telah melihat keadaan Yo Ek Jie.
Setelah itu tawanan tersebut dibawa kembali dan tampaknya ia sangat ketakutan.
"Kau sudah melihat orang itu?"
Tanya Siau Po pada tawanan itu. Tawanan itu lalu mengangguk.
"Ada pertanyaan yang aku ajukan padanya, tetapi sewaktu menjawab ia tidak jujur, Satu kata tak jujur maka satu kakinya pun hilang, dua kata tak jujur, kedua kakinya pun hilang, sehingga akhirnya seperti itu,"
Kata Siau Po.
"la telah berdusta tujuh kata,"
Kata anak buah Siau Po.
"Ah, kalau demikian ia sudah terlalu banyak mendustaiku, Untuk itu maka sebaiknya ia dipotong kaki dan tangannya, bola matanya, lidahnya baru kepalanya,"
Kata Siau Po. Setelah berkata demikian Siau Po mengambil pisaunya lalu menebas kaki kursi, Sekali tebas saja kaki kursi itu buntung, Kemudian ia berkata pada tawanan itu.
"Kalau pisauku ini dipakai untuk memotong kaki atau tangan orang, sedikit saja tak ada darah yang mengotori pisauku ini, Nah, apakah kau ingin merasakan tajamnya pisauku ini?"
Tanya Siau Po.
"Pa.... Paduka, apa yang hendak paduka tanyakan pada hamba yang rendah ini, tak berani hamba berdusta pada paduka barang setengah kata pun,"
Kata Khantema itu.
"Bagus, Peng See Ong menghendaki agar aku menanya kau, yaitu kata-katamu pada raja itu benar atau dusta belaka? Katakanlah!"
Katanya.
"Paduka, hamba mana berani berdusta pada raja,"
Katanya. Siau Po menggelengkan kepala.
"Akan tetapi Ongya tak percaya itu, katanya kau orang MongoI licik dan licin, katakatamu tak dapat dipegang dan kau paling sering menyangkal kata Siau Po"
Tiba-tiba wajah orang tawanan itu berubah merah karena merasa dongkol dan ia berkata dengan suara keras.
"Kami anak cucu Jenghiz Khan, jika kami mengatakan satu, maka satu dan satu itu dua...!"
Katanya. Siau Po mengangguk.
"Tidak salah,"
Katanya, Tiga dikatakan tiga, Empat dikatakan empat...."
Khanlema itu terkejut ia bisa bicara Tionghoa dengan baik, tetapi mengenai pepatah atau pribahasanya masih sangat terbatas, ia tak tahu kalau Siau Po telah menyindirnya, Karena itu ia tak mengerti dan diam saja.
Siau Po memperhatikan wajah Khantema.
"Tahukah kau bahwa aku ini orang macam apa?"
Tanyanya dengan suara keras.
"Hamba tak tahu,"
Jawab orang MongoI itu.
"Nah, cobalah kau terka!"
Khantema melihat bangunan An Hu Wan besar dan megah, Walaupun Siau Po masih muda, tetapi sudah berpangkat tinggi, Hal itu terbukti dengan pakaian kerajaan dan topi yang dihiasi dengan batu permata, ia seorang pemimpin pasukan pengawal raja.
"Maaf, hamba mempunyai mata tetapi seperti tak mempunyai bijinya, Kiranya padukalah putranya Peng See Ong.,."
Kata orang MongoI itu dengan penuh hormat pada Siau Po. Siau Po terbengong mendengar kata-kata orang itu, ia heran sekaligus dongkol.
"Apa katamu? Kau kira aku putra si penghianat besar itu? Dengan demikian bukankah aku nantinya menjadi anak pengkhianat Si kura-kura hitam?"
Kata Siau Po sambil tertawa dan berkata lagi.
"Kau benar cerdas luar biasa, tanpa lawan! PantasIah Kaerltan mengutusmu ke mari dengan tugas begini besar! Memang juga pangeranmu erat hubungannya dengan aku. pernah aku merundingkan soal ilmu silat yang ia pertontonkan padaku, pangeranmu sungguh hebat.,."
Kata Siau Po. Mendengar perkataan demikian, utusan MongoI itu menjadi sangat girang, hingga ia memberikan pujian pada Siau Po.
"Kiranya paduka dan pangeran kami bersahabat erat sekali seperti keluarga sendiri!"
Katanya kemudian "Apakah pangeranmu baik-baik saja? dan apakah pangeranmu itu masih suka bergaul dengan lhama dari Tibet?"
Tanya Siau Po. "Sekarang ini justru lhama itu sedang menjadi tamu pada istana pangeran kami itu,"
Jawabnya.
"Apa seorang Nona bernama A Kie dari Tiong-hoa yang biasa memakai pakaian warna gelap ada dalam istanamu?"
Tanya Siau Po.
"Oh, kiranya paduka mengetahui semuanya sampai soal Nona itu, Paduka sangat hebat.,."
Pujinya. Siau Po pun girang tak menyangka tebakannya itu benar, ia lalu tertawa.
"Pangeranmu itu tak menyembunyikan apa pun juga padaku, A Kie itu menjadi kenalan baik pangeranmu, sedangkan adik nona itu, A Ko menjadi sahabatku Bukankah dengan demikian kita bagaikan keluarga?"
Katanya. Khantema turut tertawa.
"Ayahandaku memerintahkan padaku untuk menanyakan masalah yang kau laporkan itu benar atau tidak?"
Tanya Siau Po.
"Sio Ongya, kau dan pangeranku adalah sahabat yang kekal, bagaimana kau dapat mencurigaiku?"
Tanya orang Mongol itu.
"Soalnya bukanlah demikian, Ayahanda mengatakan kalau seseorang bicara dusta maka kata yang pertama dengan yang kedua tidak sama atau paling tidak ada beda sedikit. Dalam hal ini jika kurang berhati hati maka kita nanti akan rugi, Oleh karena itu ingin aku mendengarkan satu kata lagi langsung darimu, biar dapat diketahui apakah ada perbedaannya atau tidak. Dan bukannya aku tak percaya, kita ini baru pertama kali bertemu maka aku harus berhati-hati, harap kau menjadi maklum,"
Kata Siau Po.
"Ya, memang kalau rahasia bocor, itu sangat berbahaya karena kita akan kehilangan jiwa. Biasa Peng See Ong memang sangat teliti, ada empat keluarga yang akan bergerak, dan masing-masing akan mengerahkan angkatan perangnya untuk merampas negara-negara terdekat Peng See Ong itu sendiri mendapat wilayah Tionggoan, dan tiga yang lainnya pasti iri hati,"
Katanya. Mendengar keterangan tersebut Siau Po menjadi kaget, ternyata bukan hanya satu tetapi ada empat keluarga yang akan berontak. Siau Po berpikir dan berkata dalam hati.
"Entah siapa mereka yang tiga tersebut? Kalau aku menanyakannya, nanti akan dapat diketahui bahwa aku tak tahu menahu tentang masalah ini,"
Berpikir demikian ia lalu berkata.
"Tentang masalah itu aku sudah merundingkannya pada pangeranmu, Akan tetapi belum ada kepastian dari masing-masing dalam pembagian wilayah apabila maksud kita ini berhasil sebenarnya apa kata rajamu?"
"Pangeranku tak serakah dalam pembagian daerah itu, hanya dalam soal berserikat dengan negara Losat, agar negara itupun menurunkan tentaranya,"
Kata orang Mongol itu. Kembali Siau Po terkejut, namun ia sempat menyembunyikan rasa itu dan belum sempat Siau Po berkata apa pun, orang Mongol itu melanjutkan lagi kata-katanya.
"Baru setelah pangeranku berbicara banyak, kesepakatan itu pun dapat diperoleh. Tentara Losat itu sangat lihay dalam senjata api. Asal meriam dan senjatanya berbunyi, tentara Ceng pastilah tak mampu menandinginya. Negara itu berjanji akan mengirimkan pasukan perangnya, nanti Peng See Ong akan menjadi kaisar besar di Tiongkok dan Ongya akan menjadi Cin Ong!"
Kata orang Mongol itu.
Losat atau Rusia adalah negara besar, dahulu tentaranya pernah bertempur dengan tentara Ceng, namun mereka berhasil dikalahkan.
Disamping itu kerugian tentara Ceng sangat besar.
Siau Po tak menyangka kalau Peng See Ong telah berserikat dengan negara Losat, Maka hal ini sangatlah penting untuk diberitahukan pada raja agar ia mengadakan persiapan.
Orang Mongol itu heran melihat Siau Po terdiam saja.
"Sio Ongya, adakah petunjuk dari Sio Ongya?"
Tanyanya. Ditanya demikian Siau Po lalu bangkit berdiri.
"Petunjuk apa dariku?"
Katanya dengan nada kesal.
"Kalau Ongya menjadi raja, kakakku yang akan menggantikannya lalu aku akan menjadi raja muda, untuk apakah hal seperti itu?"
Lanjutnya. Mendengar kata-kata Siau Po, orang Mongol itu tersadar lalu berkata.
"Pangeranku bersahabat dengan Ongya, maka nanti sepulangnya aku dari sini aku akan memberitahukan pada pangeran tentang niat Ongya tersebut Nanti setelah usaha kita berhasil, maka negaraku dan negara Losat ditambah dengan budha dari Tibet akan mendukung Ongya, apa yang Ongya khawatirkan?"
Katanya.
"Kiranya empat keluarga yang dimaksud itu adalah MongoIia, Tibet, Losat dan Gauw Sam Kui,"
Kata Siau Po dalam hati.
"Jika kalian berusaha dengan sungguh-sungguh maka kekuasaan ada dalam genggamanku, pasti aku akan membalas budi baik itu, tak akan aku dapat melupakannya,"
Kata Siau Po berdusta. Berkata demikian lalu Siau Po mengambil uang dari sakunya dan memberikannya pada orang Mongol itu.
"Ambillah uang ini untuk berbelanja dan berpesta pora!"
Katanya.
Orang Mongol itu sangat girang dengan kemurahan pangeran yang sekarang berada di depannya itu, ia menerima uang pemberian dari Siau Po yang dikiranya pangeran anak dari Gauw Sam Kui, yang sedang memperebutkan kedudukan raja dengan kakaknya.
"Apakah kata pengeranmu setelah urusan mereka itu berhasil? Apakah negara dapat dipecah-pecah menjadi beberapa bagian?"
Tanya Siau Po.
"Tentu saja dapat, Tionggoan ini bagian keluarga Gauw, bagian selatan masuk bagian empat serikat Mongolia, See Coan dan Kokonor masuk pada pendeta Tibet dan kedua serikat bagian barat Cahar Jehol, Suiyuan dan Sengtauw masuk pada kami Mongolia,"
Katanya.
"Oh, wilayah itu luas sekali,"
Kata Siau Po. Sebenarnya Siau Po tak mengetahui wilayah yang telah disebutkan itu, Tetapi orang itu telah memberikan gambaran padanya, hingga ia dapat mengira-ngiranya. Khantema itu tersenyum.
"Kami Bangsa MongoIia telah mengeluarkan dana yang cukup banyak untuk membantu Ongya,"
Katanya. Siau Po mengangguk "Lalu bagaimana dengan negara Losat itu?"
Tanyanya.
"Kaisar Losat telah mengatakan bahwa wilayahnya perbatasan dengan wilayah Ongya, ia berjanji tak akan melintasi perbatasan tersebut. Negara Losat hanya akan mengambil seluruh wilayah Boancu, tak akan menduduki tanah Tiongkok,"
Jawab Khantema.
"Begitu adil pembagian itu, lalu kapankah kita mulai bergerak menurut rajamu?"
Tanya Siau Po. Dalam hal ini Ongyalah yang menentukannya, sedangkan tiga keluarga yang lainnya hanya menyambut saja,"
Jawab orang Mongol.
"Sekarang kau katakan, bagaimana cara kalian bergerak jika hal itu sudah ditentukan?"
Tanya Siau Po.
"Mengenai hal itu janganlah menjadi pikiran, Sewaktu pasukan Ongya bergerak dari Inlam, tentara kami bergerak dari barat ke timur, Tentara berkuda Losat dan pasukan senapannya dari utara ke selatan untuk menggencet Pakhia, sedangkan pendeta dari Tibet akan menyerbu propinsi See Coan, sementara pasukan agama Sin Liong Kau...."
"Oh!"
Kata Siau Po tertahan tetapi dengan segera menepuk pahanya dengan kedua tangannya.
"Kau pun tahu urusan Sin Liong Kau... apakah ketuanya Hong kaucu?"
Tanyanya.
"Urusan Sin Liong Kau itu, apakah Ongya telah bicarakan juga dengan Sio Ongya?"
Khantema itu balik bertanya. Siau Po dengan cepat dapat menguasai dirinya.
"Kenapa tidak?"
Katanya.
"Dengan Hong Kaucu dan Hong Hujin pernah dua kali aku berbicara lama dengan mereka, bahkan aku telah menemukan Ngo Liong Su, kelima naga petugasnya, Aku hanya mengira pangeranmu tidak mengetahui tentang kaum agama itu."
Khantema tersenyum.
"Ketua kaum agama itu telah menerima anugerah dari Losat, oleh karena itu asal Losat turun tangan, kaum itu pasti menyambutnya, maka kelak pulau di Tiongkok akan menjadi tempat kaum agama itu, belum lagi dari propinsi yang lain, singkatnya jika Ongya berbicara pasti mereka itu pada membantu, Bukankah dengan demikian wilayah Boancu menjadi milik Ongya?"
Siau Po tertawa lagi.
"Bagus, Bagus!"
Ia berkata dalam hatinya, sebaliknya ia mengeluh "Celaka.... Sungguh ceIaka.... Siapa sangka urusan ini akan menjadi sangat luas."
"Hubungan Ongya dengan pangeran kami sangatlah erat, begitu juga dengan hamba Ongya yang sangat baik, Maka bila Ongya memiliki masalah, biar hamba yang menyelesaikannya, walaupun tubuh hamba hancur, tak mungkin hamba dapat menoIaknya,"
Kata orang Mongol itu.
"Sebenarnya aku sedang memikir, jika kalian berpencar satu dengan yang lainnya maka tugasku sangatlah berat,.,"
Kata Siau Po yang telah dapat menguasai dirinya.
"Oh, kiranya kau mengkhawatirkan masalah itu! Kekhawatiranmu itu beralasan juga,"
Katanya dalam hati. Karena berpikir demikian, maka ia pun berkata.
"Sio Ongya jika nanti Ongya berhasil memimpin negeri, segala Keng Ceng Tiong, Shiang Ko Hie, dan Kong Su Ceng, mereka dapat disingkirkan satu demi satu. Andaikata Ongya membutuhkan bantuan, kami akan membantu Ongya semampu kami,"
Katanya.
"Terimakasih! Kau harus menyampaikan kata terimakasihku pada pangeranmu! kaulah orang kepercayaannya, maka janji yang kau berikan sama dengan janji pangeranmu,"
Kata Siau Po. Selesai bertanya Siau Po berkata.
"Sekarang beristirahatlah kau di sini! Aku hendak pergi untuk memberikan laporan pada ayahandaku, Kau awas jangan sampai pembicaraan kita ini diketahui oleh kakakku dan juga ayahku! Dia nanti akan marah dan akan menghukum kau dan juga mengenai pertemuan kita!"
Ancam Siau Po.
Selesai berkata demikian Siau Po pergi ke luar hendak menemui sahabatnya, Sebelum berangkat, ia menitip pesan pada anak buahnya agar menjaga orang Mongol itu dengan baik, Kemudian ia menjenguk Yo Ek Jie.
Sesampat mereka di sana, Siau Po terkejut sekali melihat tubuh Yo Ek yang tanpa tangan dan kaki itu sudah tak bernyawa lagi.
Dan pada kasur tempat tidur Yo Ek itu tertulis kata-kata.
"Apakah bunyi semua hurup ini?"
Tanya Siau Po yang buta huruf.
"Tujuh huruf itu berbunyi, Gauw Sam Kui memberontak dengan menjual negara,"
Kata Ma Can Ciauw. Siau Po menarik napas panjang.
"Kasihan kau Yo Toako!"
Katanya sedih.
"Di saat kematiannya ia masih dapat menulis dengan tangan buntungnya."
Segera setelah itu, Siau Po mengumpulkan kawan-kawannya untuk membicarakan keterangan yang didapat dari orang Mongol itu.
Mereka semua mengecam tindakan Gauw Sam Kui yang berupa pengkhianatannya yang kedua.
"Saudara-saudara lihat!"
Kata Hian Ceng Ti Jin dengan nada suara kesal, sambil membuka bajunya. Mereka kaget melihat bekas luka pada dada dan tangan orang itu dan dalam hati mereka bertanyatanya bekas luka apakah itu.
"lnilah bekas luka dari senjata apinya Losat,"
Kata Hian Ceng Tojin.
"Kami semua berjumlah sembilan, Saudaraku, ayahku, kakak dan adikku, semuanya telah mati, tinggal aku yang hidup."
"Sekarang bangsa Losat bersatu dengan Gauw Sam Kui untuk merampas negara Tatcu, ini ada baiknya, Kita menonton saja, mereka yang bertempur hingga terlihat seperti langit roboh dan bumi meledak. Pada saat itu kita mengambil kesempatan untuk membangun kembali kerajaan Beng kita,"
Kata Cie Tian Coang.
"Tetapi kita harus waspada, sebab Bangsa Losat itu sangat kejam dan licik, kemungkinan mereka tak puas dengan wilayah jajahannya dan bisa saja menyerang kita,"
Kata Hian Ceng.
"Habis apakah kita harus membantu bangsa Boancu?"
Tanya Cie Tian Coan.
"Sekarang kita tak usah cepat-cepat mengambil keputusan tentang usaha pemberontakan itu, kita lebih baik membicarakan urusan yang ada di depan mata. Kita telah membebaskan Yo Ek dan menawan orang Mongol itu dan usaha kita ini sudah dapat dicium oleh Gauw Sam Kui. sekarang kalian pikirkan bagaimana cara kita menghadapi raja muda yang akan berkhianat itu,"
Kata Siau Po. Mendengar pertanyaan Siau Po memang sangatlah tepat Mereka semua terdiam berpikir keras.
"Si kura-kura hitam dan Gauw Sam Kui banyak mempunyai perwira, Jika kita akan pergi tak lama kita akan tertangkap, jika hendak melawan sekarang bukanlah saatnya, Maka aku pikir sebaiknya kita bawa mayat Yo Ek Jie dan Yo It Hong kembali ke Hek Kamcu..."
Kata Siau Po.
"Mengantarkan mereka kembali?"
Demikian pertanyaan mereka semua.
"Benar, untuk kita menggertak Yo It Hong itu agar tak membuka mulut Jika nanti ia membuka mulut ia sendiri juga tidak lolos dari kecurigaan, dia akan bersangkut paut, Karena Yo Toako telah mati, kita merasa sulit merawat mayatnya,"
Kata Siau Po.
"Aku sangsi pada keteranganmu, apakah ia akan diam sementara urusan begini besar?"
Kata Hian Ceng. Siau Po tertawa.
"Aku justru bukan mengkhawatirkan keberaniannya, tetapi ketololannya dan tak bergunaannya, Dalam pepatah mengatakan, mendustakan itu ke atas bukan ke bawah terserah keadaan mau bagaimana, sekarang sebaiknya kau bawa pembesar itu padaku biar aku yang membuatnya sadar,"
Kata Siau Po.
Selesai Siau Po berkata demikian salah seorang kawan Siau Po pergi untuk mengambil tawanan itu, dan tak lama kemudian mereka datang kembali dengan membawa tawanan yang dimaksud itu.
Wajah tawanan itu pucat pasi karena ia khawatir nanti akan disiksa.
Melihat wajah tawanan itu Siau Po pun tertawa.
"Yo Toako kau tampak cape?"
Tanyanya.
"Oh, tidak Tidak!"
Jawab tawanan itu.
"Yo Toako, kaulah sahabat sejati, kau telah memberitahukan pada kami rahasia Peng See Ong. Sahabat harus dibayar dengan persahabatan karenanya aku hendak membebaskanmu, Kau harus percaya aku tak akan memberitahukan pada siapapun Aku anggota Kangouw sejati, satu aku bilang satu, dua aku bilang dua, tidak sepertimu yang membuka rahasia dengan begitu kau hendak menentang pada Peng See Ong,"
Kata Siau Po. Berkata demikian Siau Po terus saja tertawa, Dia membawakannya dengan sikap yang wajar-wajar saja.
"Biar hamba ini mempunyai nyali setinggi langit tak akan hamba melakukan itu..."
Katanya sambil tertawa.
"Bagus,"
Kata Siau Po.
"Nah, saudara-saudaraku, cepat kalian antarkan ia ke kantornya dan sekalian mayat Yo Ek agar dibawa dan jika nanti ia ditanya pada atasannya dia dapat mempertanggung-jawabkan perbuatannya."
Lewat beberapa hari kawan-kawan Siau Po merasa tidak tenang, ia takut kalau orang yang ia bebaskan itu membuka mulut dan mereka semua ditahan oleh Gauw Sam Kui.
"Sekarang begini saja,"
Kata Siau Po yang ingin membuat kawan-kawannya merasa tenang.
"Aku akan mengunjungi Gauw Sam Kui untuk mengetahui apa yang ia akan bicarakan."
"Aku khawatir justru kau yang akan ditawan mereka, bukankah itu berbahaya? Celaka jika ia menawanmu..."
Kata sang imam. Siau Po tertawa.
"Bukankah sekarang kita dalam genggamannya? Jika ia menginginkan mana kita tak dapat lagi menyingkir,"
Kata Siau Po.
Kemudian Siau Po membawa pasukannya dan para Sie Wie pergi ke istana Gauw Sam Kui, dan langsung disambut oleh Gauw Sam Kui sendiri.
Ketika Siau Po dan pasukannya datang, langsung Gauw Sam Kui yang menyambutnya, ia menjabat tangan Siau Po untuk selanjutnya mengajaknya masuk ke dalam istananya.
"Ada kabar apakah Wie Toutong?"
Tanya Gauw Sam Kui dengan wajah riang.
"Jikalau kau ada urusan tidakkah kau cukup memanggil anakku, Untuk apa Toutong bersusah payah kemari."
Kata Gauw Sam Kui.
"Oh, Ongya sangat sungkan, bukankah pangkat ku sangatlah rendah? mana berani aku memanggil anak Ongya?"
Kata Siau Po.
"Tapi Wie Toutong, kaulah perwira kesayangan baginda dan kau orang kepercayaan raja,"
Kata raja muda itu memuji.
"Hari depanmu masih panjang dan penuh dengan harapan, bahkan tak aneh jika suatu hari kau yang menjadi raja muda di sini."
"Oh, Ongya kata-katamu itu tidaklah tepat,"
Kata Siau Po.
"Mengapa tidak tepat? Bukankah usiamu baru lima atau enam belas tahun dan kau sudah menjadi Hu Toutong dan merangkap menteri besar yang mendapat kepercayaan raja? Maka untuk menjadi itu paling membutuhkan waktu yang tak lama lagi,"
Katanya. Berkata demikian Peng See Ong tertawa, Siau Po menggeleng-gelengkan kepala.
"Ongya, mari aku beritahu!"
Kata Siau Po.
"Sewaktu aku diutus baginda raja, ia memesan, kau anjurkan Gauw Sam Kui untuk baik-baik memangku jabatannya, karena ia harus mengetahui bahwa nanti akan digantikan oleh Gauw Eng Him, iparnya, dan jika nanti Gauw Eng Him telah mati, maka ia akan digantikan oleh anaknya, singkatnya kedudukan Peng See Ong itu turun temurun, Ongya tahu baginda mengatakan demikian secara sungguh-sungguh,"
Kata Siau Po. Dalam hati Gauw Sam Kui girang mendengarkan kata-kata itu.
"Benarkah baginda mengatakan demikian?"
Tanyanya.
"Mana dapat aku mendustaimu, hanya saja aku tidak boleh memberitahukanmu dengan terburu-buru, sebab perlu dicari tahu Ongya menteri yang setia atau tidak? Tetapi aku memikir lain hal itu toh sudah aku beritahukan padamu,"
Kata Siau Po.
"Hm, sekarang kau telah mengatakannya padaku, bukankah dengan demikian kau telah mengatakan bahwa aku menteri yang setia?"
Katanya.
"Kenapa tidak, jika Ongya saja sudah tak setia maka di kolong jagat ini sudah tak ada lagi menteri yang setia,"
Kata Siau Po. Sambil berkata demikian mereka terus saja berjalan ke dalam, Gauw Sam Kui sangat girang hingga ia tak lepas-lepasnya memegang erat tangan Siau Po.
"Mari.... Mari kita duduk dalam kamar tulisku saja!"
Ajaknya.
"Oh, Ongya kulit harimau itu mahal sekali, di istana saja tak ada sungguh mataku terbuka,"
Katanya. Kamar tulis yang menurut dugaan Siau Po hanya berisi buku-buku, kali ini lain dari pada yang Iain. Ternyata kamar itu penuh dengan senjata yang dipampang pada dinding kamar itu.
"Ongya, benarkah Ongya seorang gagah, pendekar?"
Tanya Siau Po.
"Sekalipun dalam kamar tulis Ongya tersimpan senjata, aku memang tak dapat membaca tetapi biasanya kamar baca itu isinya hanya buku, Maka sungguh di luar dugaanku kamar ini sangat indah!"
Pujinya. Gauw Sam Kui tertawa lebar.
"Semua senjata ini ada riwayatnya,"
Katanya bangga.
"Aku memajangnya di sini agar menjadi peringatan bagi diriku."
"Oh begitu,"
Kata Siau Po yang terus bermain komedi.
"Dahulu Ongya bersarang di barat dan timur, utara dan selatan hingga Ongya telah berhasil membangun jasa yang sangat banyak, pastilah senjata-senjata ini yang pernah digunakan,"
Kata Siau Po. Gauw Sam Kui tersenyum dan tangannya mengelus-elus kumisnya, lalu ia pun tertawa.
"Benar,"
Sahutnya.
"Aku telah mengalami perang kecil dan perang besar beberapa ratus kali, itu artinya keluar hidup masuk mati, atau tegasnya mati dan hidup, Jadi kedudukan raja muda kuperoleh antara mati dan hidup,"
Katanya dengan semangat. Siau Po mengangguk-angguk.
"Benar,"
Katanya.
"Ongya ketika dahulu pernah memangku jabatan Sanhay Kwan, senjata manakah yang Ongya pakai dan tanda jasa apa yang paling tinggi.,.?"
Tanya Siau Po.
Wajah raja muda itu secara tiba-tiba berubah.
pertanyaan itu membuatnya kaget, peperangan yang ia lakukan adalah melawan bangsa Boan, dan semakin besar pertempuran maka semakin banyak korban bangsa Boan.
Karena ia merasa pertanyaan itu telah menyindirnya, maka ia menggenggam tangan dengan erat maksudnya agar ia dapat menahan hawa napsunya.
Siau Po pura-pura tak mengetahui Peng See Ong menjadi gusar dan dongkoI serta maIu.
"Kata kaisar Eng Hek dari Ahala Beng telah Ongya kejar dari Inlam sampai ke Birma, Di negara asing itu sang kaisar telah berhasil ditawan, lalu karena tali busur akhirnya kaisar itu telah menemui ajalnya,"
Katanya. Berkata demikian Siau Po menghadap pada dinding yang terdapat panah dan ia menambahkan kata-katanya.
"Bukankah panah itu yang Ongya gunakan?"
Tanyanya.
Peristiwa matinya kaisar itu sebagai bukti bahwa ia akan setia pada pemerintahan Boanceng.
Tetapi sekarang lain, dalam istananya ada orang yang menanyakan hal itu, maka ibarat luka baru saja ingin sembuh sudah berdarah lagi.
"Wie Toutong,"
Katanya dengan suara keras sebab ia sudah tak dapat menahan amarah lagi.
"Apakah maksud Toutong mengeluarkan kata-kata sindiran itu?"
Tanyanya. Siau Po terperanjat.
"Oh tidak... tidak,"
Sahutnya dengan cepat "Mana berani aku menyindir Ongya, sebenarnya selama di Pakhia aku mendengar para menteri yang menceritakan sekalipun kaisar Beng telah Ongya jerat mati, hal ini yang membuat jasa besar pada pemerintahan Ceng bahkan katanya menjerat kaisar itu sudah dilakukannya dengan tangan sendiri hingga terdengarnya tali busur itu dan kaisar merintih, Ongya terus tertawa dan berkata, bagus, bagus, bukankah itu yang menandakan kesetiaan Ongya?"
Gauw Sam Kui yang sedang duduk mendadak bangun.
Sewaktu hendak mengumbar nafsunya ia ingat akan sesuatu, Dalam pikirannya ia masih kecil, apakah mungkin jika tak ada orang yang telah mengajarkannya, Mungkin raja cilik itu atau menteri ku yang merasa iri denganku, mereka membuatku gusar dengan demikian akan mudah menahanku.
Karena memikir demikian maka Gauw Sam Kui tersadar lalu ia berubah manis dan sangat sabar Sambil berkata-kata iapun tersenyum manis.
Siau Po tertawa.
"Sungguh bagus seandainya sekarang ini ada orang yang akan memberontak katanya dengan sikap wajar"
Hati Peng See Ong berdenyut keras.
"Mengapa demikian?"
Tanyanya.
"Jikalau ada yang akan memberontak baginda memerintahkan aku untuk menumpas pemberontak itu. Maka aku akan bertempur mati-matian dan pasti baginda memerintahkan aku untuk memimpin pasukan perang yang sangat besar Di situ baru aku dapat membuktikan bahwa aku setia pada raja dan nanti raja akan memberiku istana dan aku sebagai raja mudanya,"
Kata Siau Po.
"Apakah ada kemungkinan sekarang ini ada yang akan memberontak pada raja?"
Tanyanya.
Gauw Sam Kui terdiam sesaat.
Sambil berkata mata Siau Po terus saja diarahkan pada meja, karena pada meja itu terdapat kitab yang sedang dicarinya, Dari memancing kemarahan dirubah menjadi berkata yang membuat Gauw Sam Kui senang.
Hal itu dilakukan karena ia menginginkan kitab yang ada di meja itu.
"Jikalau aku menggunakan Firman palsu untuk mendapatkan kitab itu pastilah ia akan menyerahkannya, tetapi aku khawatir kalau-kalau kitab itu palsu..."
Kata Siau Po dalam hati, Memikir demikian, lalu Siau Po menarik tangan Gauw Sam Kui untuk diajaknya berbicara secara perIahan-lahan.
"Ongya, sebenarnya hamba dititipi sebuah firman rahasia dari Sri Baginda Raja."
Peng See Ong terperanjat hingga ia berdiri "Hamba sedia menerima firman,"
Katanya.
"Baginda mengetahui bahwa Ongya seorang menteri yang setia pada kerajaan Ceng yang maha agung. walaupun demikian berulang-ulang beliau memesan agar aku tetap mencari tahu anak Tiong Sin atau Kan Sin. Apakah Ongya tahu apa maksud yang sebenarnya dari raja?"
Katanya. Gauw Sam Kui menggelengkan kepala.
"Sebenarnya ada tugas yang besar untukmu, Ongya!. Namun untuk itu baginda merasa ragu-ragu, nanti Ongya akan bekerja dengan sungguh-sungguh atau tidak... baginda menikahkan Kian Leng Kongcu itulah sebabnya..."
"Jikalau baginda yang akan memerintahkan padaku pasti aku akan menjalankan perintah itu dengan sungguh-sungguh,"
Katanya.
"Tugas itu tugas yang sangat penting, sekarang begini saja, besok pada waktu yang sama silakan Ongya menunggu di istana Ongya, dan nanti aku akan datang untuk menyampaikan firman rahasia tersebut,"
Kata Siau Po. Besoknya Siau Po datang pada tempat dan waktu yang telah dijanjikan Kembali mereka berkumpul dalam kamar tulis.
"Ongya,"
Kata Siau Po setelah mereka mengambil tempat duduk.
"Soal ini sangatlah penting, Aku memesan agar rahasia ini jangan sampai bocor. Bahkan, sekalipun dalam laporan Ongya terhadap baginda jangan disebut-sebut mengenai rahasia ini!"
Kata Siau Po.
"Baik, baik!"
Gauw Sam Kui memberikan janjinya.
"Pasti rahasia ini tak akan bocor." "Sebenarnya baginda telah mendapatkan laporan rahasia bahwa Siang Ko Hie bersama dengan Keng Ceng Tiong berniat mendurhaka, memberontak pada baginda..."
Kata Siau Po dengan suara yang sangat pelan.
Bagian 55 Mendengar ucapan Siau Po itu Gauw Sam Kui kaget bukan kepalang dan mukanya berubah pucat, sebagaimana Gauw Sam Kui ketahui bahwa mereka itu raja muda yang sama kedudukannya.
"Apa.... Apakah itu benar?"
Katanya.
"Tentu saja benar,"
Kata Siau Po.
"Biasanya baginda raja tak mudah mempercayai segala laporan."
"Namun kali ini lain,"
Kata Siau Po yang pandai sekali memainkan peranannya.
"Kali ini baginda mempunyai bukti, walaupun demikian pemberontakan mereka belum merupakan kenyataan, baginda masih sabar, tak ingin bergerak hingga bagaikan menggeprak rumput dan ular kaget."
"Lalu tindakan baginda apa?"
Si raja muda bertanya.
"Baginda menghendaki Ongya menyiapkan pasukan perang yang terdidik guna memperkuat tapal batas kedua wilayah itu, dan nanti jika pemberontakan telah terjadi Ongya diminta untuk menghentikan huru-hara dan membekuk pelaku utamanya. itu merupakan jasa yang sangat besar,"
Kata Siau Po. Gauw Sam Kui lalu menjura.
"Hambamu menerima rahasia ini,"
Katanya.
"Jikalau kedua raja muda tersebut benarbenar bertindak tersesat, hambamu akan segera menyerang dan menawan nya."
"Sri Baginda pun mengatakan keduanya adalah manusia-manusia yang tak berguna, dan pasukannya pun bukanlah lawan yang tangguh bagi pasukan Ongya, Maka mereka pasti bakal terbekuk tanpa bantuan dari bala tentara dari pusat,"
Kata Siau Po. Gauw Sam Kui tersenyum mendengarkan kata-kata Siau Po.
"Tolong Toutong sampaikan kepada baginda agar menenangkan hati saja,"
Katanya.
"Hamba akan mengumpulkan pasukan khusus dan dalam latihan akan hamba latih dengan sungguh-sungguh, supaya setiap waktu siap sedia menerima panggilan dari pusat. Semua tentara dan perwira akan kulatih untuk setia pada baginda sampai mati."
"Ongya, aku akan menyampaikan kata-kata Ongya pada baginda raja, Aku percaya baginda bakal menerimanya dengan senang,"
Kata Siau Po.
Dalam hati Gauw Sam Kui merasa senang, karena dengan demikian apabila ia mengirim pasukannya baginda tak mencurigainya, Kemudian Siau Po berbicara dengan hal yang lainnya, ia menunjuk senjata yang tergantung di dinding.
"Ongya, apakah itu senjata api buatan Bangsa Barat?"
Tanyanya, Gauw Sam Kui menganggukkan kepala.
"Seumurku, belum pernah aku menggunakan senjata api itu,"
Kata Siau Po.
"Apakah dapat aku mencobanya barang satu kali saja?"
"Pasti dapat, hanya saja senjata ini biasa dipakai di medan perang, lagi pula kita membawanya kurang leluasa, sebenarnya Bangsa Losat mempunyai senjata yang gagangnya lebih pendek,"
Sahut Gauw Sam Kui..
Gauw Sam Kui lalu mengambilkan senjata yang pendek yang orang Losat bilang pistol Sewaktu Gau Sam Kui mengambil pistol itu, Siau Po mengambil kitab yang berada di atas meja, lalu ditukarnya dengan kitab lain tapi warna kitab itu tidak sama, Demikian cepat cara kerja Siau Po.
Ketika Gauw Sam Kui membalikkan tubuhnya, Siau Po telah selesai menukar kitab itu, Gauw Sam Kui lalu menyerahkan pistol yang sudah diisi peluru itu pada Siau Po.
Siau Po lalu membidik sasaran yang dituju setelah itu ia menyalakan sumbu peluru itu, maka meluncurlah peluru itu dengan cepat.
Siau Po pun merasa tangannya nyeri terkena getaran senjata itu.
"Ya, sungguh hebat barang mainan orang asing itu!"
Katanya. Peng See Ong tertawa.
"Dua buah senjata ini siiakan Toutong bawa pulang, dan senjata ini pun dapat dijadikan mainan,"
Katanya.
Setelah menolak beberapa kali barulah Siau Po menerimanya, ia lalu mengucapkan kata terima-kasih berulang-ulang.
Demikianlah setelah mereka berbicara panjang lebar, barulah Siau Po pamit untuk pulang, Sesampai di kamar Siau Po lalu mengunci kamarnya lalu mengeluarkan kitab itu dengan cepat, ia mencari potongan yang terbuat dari kulit.
"Sekarang aku telah menemukan dengan lengkap sobekan dari dalam kitab itu,"
Kata Siau Po dalam hatinya.
"Maka bagiku tinggal menunggu kesempatan mengumpulkan dan mengakurkannya satu dengan yang lainnya, setelah itu maka nadi naga dan juga harta karun itu dapat aku kuasai."
Berpikir demikian Siau Po lalu menyanyikan lagu yang biasa didengarnya di tempat pelesiran, Ketika sedang asyik bernyanyi tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya diketuk orang.
Siau Po melangkah ke pintu itu dan membukanya.
Tampak beberapa kawannya dengan wajah yang menyiratkan ketegangan.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Siau Po.
"Kami baru mendapat kabar dari para Sie Wie, bahwa anggota Peng See Ong mencari orang Mongol, Yang dicarinya adalah orang yang kita tawan dan mereka itu mencurigai kita, maka bagaimana pendapatmu?"
Tanya mereka.
"Jika demikian maka cepat kalian bawa orang Mongol itu ke kamarku dan kalian sembunyikan dia di kolong pembaringanku, tak akan mereka berani menggeladah kamarku,"
Jawab Siau Po.
"Bagaimana jika ia datang saat kau tak ada, dan ia menggeladah dengan alasan yang kuat?"
Tanya kawan-kawannya.
"Biar bagaimana jangan diijinkan mereka masuk. Jika mereka memaksa kalian dapat menggunakan kekerasan, tak mungkin mereka berani,"
Jawab Siau Po pada kawankawannya. Justru ketika mereka hendak keluar, datang Cian Lao Pun mendekat pada mereka dan berkata dengan suara keras.
"Si pengkhianat hendak melepas api untuk membakar,"
Katanya.
"Apa?"
Tanya mereka.
"Selama beberapa hari ini aku melihat tempat kita ini baik di depan maupun di belakang,"
Sahut Lao Pun.
"Aku selalu berjaga-jaga kalau-kalau si pemberontak itu melakukan hal yang tidak-tidak. Tadi dalam rimba, aku melihat ada orang yang mencurigakan Diam-diam aku mengintai, mereka itu mendatangi karung dan bahan bakar lainnya,"
"Sungguh celaka! Begitu besarkah nyali para pengkhianat itu? benarkah ia akan membakar utusan raja?"
Kata Siau Po.
"Sampai sejauh itu tentu tidak, yang benar mereka menyalakan api, rupanya mereka mencurigai kita yang menculik orang Mongol itu, Mereka menyalakan api membakar apa saja dan pada saat itu semua orang akan sibuk. Pada saat semua orang sibuk, mereka mengadakan penggeladahan.,."
Kata Lao Pun. Siau Po mengangguk "Tidak salah,"
Katanya.
"Pastilah mereka akan menggunakan akal bulus itu, lalu bagaimanakah menurut kalian?"
"Kita bunuh dia dan kita hilangkan jejaknya dengan menyimpan tubuhnya, Hal ini kita lakukan agar tidak ada kebocoran rahasia kita,"
Kata Cie Tian Coan. Melihat demikian Siau Po berkata dalam hati.
"ltu biasa permainan ku. Dan itu pekerjaan yang sangat mudah, Dengan demikian tubuh orang Mongol itu akan mencair dan musnah, Namun ia orang penting yang telah memberikan laporan padaku, maka dia harus dihadapkan pada raja cilik itu untuk diperiksa."
Karena memikirkan demikian maka ia lalu berkata.
"Si pengkhianat itu akan mengadakan pemberontakan dan hanya orang Mongol itulah saksinya, Hingga ia perlu dikirim ke kotaraja untuk diperiksa."
"Maka dengan demikian para pemberontak itu mau tak mau pasti akan berontak juga, jadi orang Mongol itu sangat penting bagi kita sebagai saksi utama."
Mereka bertiga membenarkan keterangan Siau Po dan berkata.
"Jikalau tidak Hiocu mengingatkan kita, pastilah kita akan bertindak keliru dan dengan demikian maka usaha kita pun gagal,"
Dalam hati mereka mengagumi cara berpikir Siau Po yang masih muda tetapi pikirannya cerdik dan pintar.
"Sekarang ini,"
Kata Cian Lao Pun yang turut bicara.
"Bagaimana langkah kita untuk mencegah orang yang akan membakar itu dan bagaimana kita meloloskan orang Mongol itu, sedangkan penjagaan sangat ketat...!"
Siau Po tertawa.
"Lao Pan,"
Katanya.
"Bukankah kau telah berhasil menyelundupkan seekor babi ke dalam istana kaisar? Apakah tak dapat kau menyelundupkan yang lainnya guna keluar dari kota ini?"
Lao Pun tertawa.
"Aku khawatir tak dapat meloloskan babi yang sangat gemuk melewati pintu kota, Aku memikirkan untuk menggunakan akal untuk membawa peti mati yang isinya orang hidup.
itu pun sukar sebab akal yang demikian sudah terlalu umum."
"Bagaimana kalau kita membotak kepala, janggut dan kumisnya lalu kita suruh memakai pakaian tentara kita, dan nanti ia digiring bersama dengan pasukan kita yang lainnya, Aku ingin tahu apakah mereka itu berani memeriksa tentaranya,"
Kata Siau Po. Mereka semua bertepuk tangan. Setelah itu Siau Po bertanya.
"Di kota ini ada tempat pelesiran atau tidak?"
"Apakah kau ingin bersenang-senang di rumah pelesiran itu? pasti di sini ada,"
Sahut Lao Pun yang kemudian tertawa. Siau Po tertawa.
"Bagaimana kalau kita meminta pada Hian Ceng Totiang untuk pergi ke tempat tersebut, apakah ia mau atau tidak?"
Tanya Siau Po.
Mereka semua heran karena yang dimaksud dengan Siau Po itu seorang yang taat beribadah.
Siau Po tertawa melihat mereka yang sedang bengong itu.
Totiang berbadan tinggi dan besar, di antara kita hanya tubuh dia yang sama dengan tubuh Khantema..."
Kata Siau Po. Setelah berkata demikian barulah mereka semua mengerti apa yang dimaksud oleh Siau Po itu, ia bermaksud untuk menyamar sebagai orang Mongol dan pergi ke tempat itu.
"Sekarang kalian bantu kawan-kawan yang sedang membuka pakaian orang Mongol itu, jangan lupa kita butuh kumis dan janggutnya untuk menyamar. Dan pakaian orang Mongol itu nantinya kita pakaikan pada kawan kita itu,"
Kata Siau Po. Mendengar perkataan Siau Po, beberapa orang kawan-kawan nya itu lalu pergi melaksanakan perintahnya.
"Setelah membereskan tugas, kalian juga harus mencarikan tempat pelesiran yang paling bagus. Setelah itu kalian minum beberapa cawan arak dan lalu membuat huru hara pada tempat itu, Pada saat itu salah satu dari kalian membunuh orang Mongol palsu ini."
Kata Siau Po. Mendengar kata membunuh mereka terbengong, tetapi mereka cepat sadar kalau Siau Po itu cerdik maka mereka semua tertawa.
"Tetapi untuk hal itu kita berarti harus mempunyai satu mayat agar tipu daya kita menjadi sempurna,"
Kata orang She Cian. Siau Po lalu mengangguk.
"ltu tak salah, salah satu dari kalian harus mencari mayat lain untuk menggantikan mayat kawan kita itu. jangan lupa kau mencari orang yang sama tinggi dan besarnya dengan orang Mongol itu agar tidak timbul kecurigaan mereka,"
Kata Siau Po.
Setelah mengatur kawan-kawannya dalam tugas itu, Siau Po lalu pergi ke kamar tuan putrinya.
Tuan putri itu telah menantinya dengan kesabaran yang hampir lenyap, setelah Siau Po memasuki kamar, tuan putri lalu berkata dengan suara keras.
"Kenapa baru sekarang kau muncul?"
"Kau tahu mertuamu mengajak aku berbicara dengan panjang lebar jika aku tak pergi mungkin ia masih menahanku untuk diajaknya bicara. Dia telah mengucapkan kata-kata yang kurang pantas, karena itu aku jadi berbantahan dengannya, Andai-kata aku tak ingat kepadamu pastilah aku masih berbicara terus dengannya,"
Kata Siau Po dengan nada marah.
"Apa kata dia itu?"
Tanya Kian Leng.
"Katanya, baginda mencurigai dia sebagai penghianat hingga membuat hatinya menjadi tak tenang. Aku katakan padanya kalau baginda itu mencurigainya tak mungkin putrinya dikawinkan dengan putranya, Apa kata Dia? Dia mengatakan kalau baginda tak menyukaimu, makanya kau dikawinkan dengan anaknya, Hal itu dilakukan baginda untuk mencelakaimu,"
Jawab Siau Po. Kian Leng gusar hingga ia menggebrak meja.
"Kura-kura hitam dan tua itu berbicara tidak karuan,"
Teriaknya.
"Aku hendak menarik copot janggutnya itu, Kau.... Kau pergilah katakan padanya suruh ia kemari!"
Katanya pula. Siau Po tetap menunjukkan roman muka gusar.
"Dia itu orang celaka,"
Katanya dengan suara keras.
"Ketika itu aku mengatakan bahwa baginda sangat menyayangi adiknya yang cantik dan pintar itu, mana putramu setimpal dengan putri baginda kataku, Lalu aku mengeluarkan pisau belatiku untuk menghunusnya, Baiklah Kongcu tak jadi menikah dengan putramu, dan besok kami akan kembali ke kotaraja. Orang semacam Kongcu itu sudah banyak pemuda yang suka padanya, aku sendiri saja ingin menikahinya,"
Kata Siau Po dengan bersungguh-sungguh. Mendengar kata-kata Siau Po tuan putri itu menjadi senang, maka hilanglah rasa gusar dan mendongkolnya itu, lalu tertawa.
"Tepat.... Tepat!"
Katanya.
"Kenapa kau tak mau mengatakan padanya? Siau Po besok kita pulang ke Pakhia, aku hendak mengatakan pada kakak raja tidak dapat tidak aku harus menikah denganmu...!"
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Si kura-kura itu melihat aku gusar maka pucatlah mukanya ia mengatakan bahwa kata-katanya tadi itu hanya sekedar kata-kata dusta dan aku diminta untuk tidak memberitahukan pada baginda dan juga pada Kongcu, Aku mana berani berkata dusta pada Kongcu dan juga pada raja sekalipun hanya sepatah kata pun,"
Kata Siau Po. Mendengar kata-kata Siau Po itu, tuan putri itu merangkul Siau Po dan menciuminya, membuat Siau Po menjadi kelabakan.
"Memang aku tahu kau setia padaku,"
Kata tuan putri.
"Si kura-kura yang mendengar kata-kataku lalu bertekuk lutut dan memohon padaku untuk tidak memberitahukan hal ini pada kongcu dan baginda, Aku diberikan hadiah dua buah senjata dan kau dapat mencobanya,"
Sambil berkata Siau Po memeluk tuan putri itu dan menciuminya dengan berani sekali.
Siau Po lalu mengambil senjata itu dan mengisikan pelurunya lalu menyerahkannya pada tuan putri itu untuk mencobanya, setelah senjata itu berbunyi maka sasaran yang terkena adalah pohon, hingga pohon itu runtuh.
"Kongcu peganglah satu dan aku satu!"
Katanya.
"Memang senjata ini sepasang."
Kian Leng menghela nafas.
Siau Po memeluk tuan putrinya lalu membuka baju tuannya itu hingga telanjang bulat Kemudian tubuh tuan putri itu ditidurkan pada pembaringan dan diselimuti dengan kain selimut yang halus, Dia berkata dalam hati.
"Eh, kenapa para pengkhianat itu masih belum membakarnya?"
"Aku ingin tidur..."
Kata Kian Leng kemudian secara perlahan. Tepat pada saat itu Siau Po mendengar orang yang meneriakkan kata "kebakaran"
Berulang-ulang hingga terdengar sangat berisik. Kian Leng Kongcu itu kaget dan ia memeluk tubuh Siau Po.
"Ada kebakaran?"
Tanyanya dengan takut.
"Setan alas!"
Teriak Siau Po dengan caciannya itu. ia tak menjawab pertanyaan tuan putrinya.
"lni tentu perbuatan anak buah si kura-kura itu. Jelas ia akan membakar kita agar ia dapat menutup mulut,"
Kata Siau Po.
"Habis bagaimana sekarang?"
Tanya tuan putri itu dengan suara bergetar.
"Kongcu tenang saja, api itu tak akan membakar kita, Yang jelas kura-kura itu akan membekuk orang yang berbuat serong,"
Katanya.
"Orang yang berbuat serong?"
Tanyanya heran.
"Sekarang kau tenang saja! Tidurlah dan tutuplah seluruh tubuhmu! Jika nanti api akan mendekat aku akan menyelamatkanmu, Aku akan berjaga-jaga,"
Kata Siau Po.
Siau Po lalu berjalan mendekati pintu dan ia berjaga-jaga dengan membawa senjata pemberian Gouw Sam Kui itu.
Sedang ia berjaga tampak dari kejauhan Gouw Eng Him, putra Gouw Sam Kui yang akan dinikahkan dengan Kongcu, ia menanyakan keadaan tuan putri itu.
"Apakah yang mulia tuan putri sehat walafiat?"
Tanyanya dengan suara nyaring.
Tak lama kemudian datanglah pasukan Siau Po yang berlari-larian dengan pakaian yang tak sempurna, mereka semua sangat kaget dengan peristiwa itu sebab bila tuan putrinya itu sampai celaka maka kepala mereka akan pisah dari badan.
Siau Po memerintahkan pada para Sie Wie untuk melakukan penjagaan yang ketat terutama pada kamar tuan putrinya.
Setelah terdengar bahaya kebakaran segera pasukan Peng See Ong mengadakan penggeledahan Maka terjadilah bentrokan.
Mereka berlompatan dari tembok pada empat penjuru.
"Rupanya mereka itu sudah siap dari tadi,"
Kata Kong Lian dengan suara yang sangat pelan.
"ltu tak aneh,"
Kata Siau Po.
"Sudah jelas Gouw Sam Kui benar-benar ingin memberontak pada pemerintah."
"Benarkah itu?"
Tanyanya dengan heran.
"Jangan halangi! Biar mereka menggeladah!"
Perintah Siau Po pada orang-orangnya itu. Kong Lian mengangguk pada Siau Po lalu pergi untuk memberitahukan pada kawankawan mereka yang sedang menunggu.
"Rupanya ramalan Sio Ongya sangat tepat, malam ini jam dua akan terjadi kebakaran hingga Sio Ongya telah menyiapkan tentara untuk berebut masuk dan berlompatan dari tembok pekarangan untuk memadamkan api. Ha... ha... ha! Ha... ha... ha! Sungguh lihay Sio Ongya!"
Muka Eng Him menjadi merah.
"Sama sekali itu bukan disebabkan aku pandai meramal, sebenarnya soal kebetulan saja, Tadi sore Hee Kok Sing suaminya kakakku, menjamu tamu-tamunya dan aku turut diundang, Aku datang dengan mengajak para pengawalku, Pada waktu lewat di sini, justru sedang terbit bencana api ini, maka segera kami mencoba memberikan bantuan."
Siau Po mengangguk.
"Oh, kiranya demikian,"
Katanya.
"Pernah aku mendengar cerita ada orang yang selalu berhati-hati, maka itu sekarang nyatalah kau yang pergi menghadiri undangan dengan membawa pasukan pengawal dan juga anggota pemadam kebakaran yang lengkap dengan peralatannya, Apakah itu yang disebut dengan kebetulan?"
Tanya Siau Po..Muka Eng Him menjadi merah ia merasa Siau Po telah mengetahui maksud dan tujuannya, namun ia masih dapat mengelak "Di musim kering dan banyak angin ini mudah sekali terjadi bahaya kebakaran.
Untuk itu aku sengaja menyiapkan peralatan, dan itu terbukti kalau ada persiapan maka bencana pun dapat di-hadang."
"ltu benar tetapi sebaiknya kau juga menyiapkan tukang bangunan yang tujuannya untuk memperbaiki bangunan yang terkena kebakaran,"
Kata Siau Po. Mendengar perkataan Siau Po, anak raja muda itu menjadi malu, Hanya ia pandai sekali mengalihkan pembicaraan.
"Wie Toutong mendapat kenyataan barisan tukang pompa tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Untuk itu cepat kau pergi panggil pemimpinnya dan patahkan kakinya!"
Kata anak raja muda itu pada pengawalnya.
"Sio Ongya, Setelah pemimpinnya kau patahkan kakinya apakah ia tak jadi naik pangkatnya?"
Tanya Siau Po.
"Wie Toutong, aku tak mengerti apa maksud kata-katamu ini?"
Tanya Si Ongya muda.
"Aku juga kurang jelas, namun menurut pikiranku sebaiknya kau membangun dua rumah tahanan lagi dan mencari dua orang untuk sipir tahanan."
Kata Siau Po.
Tak lama datanglah pegawai rumah yang melaporkan tentang kebakaran yang sedang melalap beberapa rumah dan kini rumah yang ditempati oleh tuan putri, maka tak ayal lagi tuan putri itu diminta untuk meninggalkan tempat itu.
Siau Po dapat menduga pasukan Peng See Ong yang sedang mencari orang Mongoi itu sudah mencari ke semua tempat tetapi belum juga menemukannya.
Dan kini tinggal kamar putri yang belum digeledahnya.
Mulanya Siau Po tak mengijinkan tetapi setelah didesak terpaksa Siau Po yang mengetahui tanda rahasia tadi mempergunakannya.
Hal itu membuat Eng Him dan kawan-kawannya menjadi bengong.
"Wie.... Wie Toutong, apakah artinya ini?"
Tanya Eng Him pada Siau Po dengan suara yang bergetar. Orang yang ditanya malah menatapnya.
"Mustahil kau tak mengetahui tanda isyarat ini."
Kata Siau Po yang mencontoh tanda rahasia itu.
"lsyarat-isyarat itu terputus-putus, ya aku mengerti sekarang, itu toh artinya uang bukan? Bukankah yang Toutong maksudkan setelah ada uang barulah tuan putri dapat diajak pindah?"
Tanyanya.
"Soal uang itu mudah,"
Demikian katanya.
"Bukankah kita berada dalam satu keluarga sendiri? Soal ini dapat dimainkan,"
Katanya pada Siau Po. Tampak Eng Him ragu-ragu untuk masuk, sebentar ia mengangguk lalu memasuki ke kamar Kian Leng dan dari luar kelambu Eng Him berkata dengan suara perlahan.
"Harap Kongcu ketahui bahwa api telah merambat, dan kini sedang menuju kemari, Untuk itu aku meminta agar Kongcu menyingkir dari bahaya!"
Katanya. Sesaat kemudian terdengarlah suara lemah lembut yang berasal dari dalam kelambu.
"Apa.,.?"
Mendengar pertanyaan itu Eng Him mengulangi kata-katanya.
"Mari kau masuk"
Demikian suara halus tadi. Gouw Eng Him lalu menyingkap kelambu itu. Selama itu Siau Po dan rombongan menunggu di luar kamar itu. Dalam hati mereka berkata.
"Tentunya Eng Him dan tuan putri itu sedang bermesra-mesraan, hingga begitu lama berada dalam kamar itu."
Tengah orang menanti dalam kesunyian, tiba-tiba mereka mendengar suara nyaring yang datangnya dari dalam kamar Kian Leng Kongcu.
"Manusia bernyali besar.... Keluarlah.... KeIuarlah kau!"
Semua orang yang berada di luar kamar itu menjadi terperanjat tetapi hanya sebentar, dalam hati mereka mengatakan mungkin Eng Him sudah habis kesabarannya hingga ia tak dapat menguasai diri.
Suara Eng Him tak terdengar sama sekali, sebaliknya datang suara nyaring Kian Leng Kongcu.
"Kau... Kau jangan berbuat begini.... jangan kau buka bajuku ini... oh... pergilah ke luar, tolong... orang mau memperkosa aku! Tolong!"
Hati Siau Po menjadi panas.
"Pengkhianat cilik ini sangat cerdas, kenapa sekarang ia berlaku kasar? Apakah mereka benar-benar ingin memperkosa Kian Leng Kongcu?"
Kata Siau Po dalam hatinya. Karena berpikir demikian maka Siau Po memperdengarkan suaranya dengan nyaring.
"Sio Ongya, silahkan cepat keluar! Awas, Sio Ongya jangan berbuat yang tidaktidak!"
"ToIong.... ToIong.,.!"
Terdengar lagi suara Kian Leng Kongcu, Tolong.... Tolong.,.!"
Mendadak terdengar suara letusan senjata api yang terdengar sangat nyaring, dan apinya tampak berkelebat ke luar.
Siau Po kaget mendengar suara tembakan itu, maka ia mengusap tangannya seraya berkata dengan nyaring.
"Telah terjadi keributan besar!"
Bahkan segera ia melompat ke arah kamar untuk melihat dengan mata kepalanya.
Beberapa orang Sie Wie dan juga anggota Peng See Ong yang tidak gugup, berlarian mengikuti Siau Po memasuki kamar Kian Leng Kongcu.
Dalam kamar tampak Kian Leng Kongcu berdiri di ujung pembaringannya dengan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tampak telanjang bulat, sedangkan Gouw Eng Him tergeletak tak bergerak.
Setelah diperiksa oleh beberapa orang anggota Peng See Ong ternyata Eng Him masih hidup, ia hanya pingsan, justru itu terdengar suara Kian Leng Kongcu yang berkata sambil menangis.
"Orang ini.... Orang ini Dia berlaku kurang ajar, siapakah dia? Wie Toutong cepat bekuk dia dan bunuh...!"
"Dia.... Dialah Gouw Eng Him."
Jawab Siau Po yang memberikan keterangannya.
"Bukan. Bukan!"
Teriak si tuan putri.
"Dia telah memaksa menelanjangi tubuhku! Dia pula telah pula membuka pakaiannya sendiri! Dia si cabul. Cepat bunuh dia!"
Para Sie Wie dan tentara yang lainnya menjadi gusar.
Tugas mereka melindungi tuan putrinya, Kian Leng Kongcu bukan anak kaisar tetapi ia adik raja.
Dialah putri agung tetapi sekarang telah dihina.
Tak perduli Eng Him itu anaknya Gauw Sam Kui, raja muda tetapi ia telah melakukan perbuatan yang kurang terhormat dan telah melangkahi tugasnya?
Setelah berpikir demikian maka para pengawal Peng See Ong menjadi serba salah ia harus berbuat apa, mereka jadi malu, namun walaupun kejadian itu sedemikian rupa, jika ia dapat menemukan orang Mongol, mereka akan mendapat keringanan.
Dengan demikian mereka berpura-pura menolong anak raja mudanya tetapi matanya mengawasi ke kolong-kolong pembaringan untuk mencari orang MongoI itu.
Salah seorang pengawal pribadi Peng See Ong yang sedang memeriksa itu melihat tubuh tuannya yang tertembak mengeluarkan darah sehingga mereka menjadi bingung, ia ingin menolongnya tetapi dengan cara bagaimana?
Ketika mereka akan bertindak menolong Eng Him, anak dari raja muda itu Siau Po berkata dengan suara keras dan bernada wibawa.
"Gouw Eng Him telah berlaku kurang ajar terhadap tuan putri!
Dia telah melakukan pelanggaran yang teramat besar, maka itu yang pertama tawan dan tahanlah dia!
peristiwa ini harus segera dilaporkan pada baginda raja, agar baginda raja sendiri yang memberikan keputusannya!"
Mendengar perkataan Siau Po para Sie Wie lalu berhamburan akan menangkap dan mengambil tubuh Eng Him dan akan diserahkan pada baginda raja untuk diproses.
Para pengawal Peng See Ong menjadi bingung sebab memang Eng Him yang salah lalu ia harus berbuat apa?
Bukankah tuan mereka jelas melakukan kesalahan?
Akan tetapi salah seorang pengawal itu menghadap pada Siau Po dan berkata.
"Wie Toutong, sudilah berlaku baik! Sie cu sedang luka parah, kami mohon sudilah kiranya kami membawanya ke Onghu untuk diobati, dan dalam hal ini Sie cu pasti sangat berterima kasih kepada Toutong.... sekalipun Sie cu telah berdosa terhadap tuan putri, tetapi kami memohon pada tuan putri yang bijaksana, untuk memberikan keringanan kepadanya untuk kiranya tuan putri mau meringankannya!"
Mendengar permohonan itu maka Siau Po berkata dengan wajah dan nada suara yang bengis.
"Dosa ini sangatlah besar maka itu hanya Bagindalah yang dapat mengambil keputusannya, sekarang kalian keluarlah terlebih dahulu untuk apa kalian berkumpul di kamar tuan putri? Mana ada aturan semacam ini!"
Para pengawal itu lalu keluar, begitu juga para Sie Wie, hingga yang tinggal hanya Siau Po dan tuan putri Kian Leng Kongcu saja.
Setelab kamar menjadi sunyi maka tuan putri itu tertawa dan ia memanggil Siau Po dengan isyarat tangannya, Siau Po yang dipanggil lalu mendekat.
Kian Leng menjulurkan tangannya untuk memeluk tubuh Siau Po hingga mulutnya dapat didekatkan pada telinga Siau Po.
Setelah itu tuan putri tertawa dan berkata.
"Kau tahu aku telah memotong anggota rahasianya...."
Siau Po kaget sekali hingga ia hampir melompat "A.... Apa katamu?"
Tanyanya tak percaya. Kongcu kemudian meniup kembali telinga Siau Po dan ia mengulangi berkata.
"Dengan senjata api itu aku telah menodongnya, dan aku memaksa ia membuka seluruh bajunya, lalu aku pukul tengkuk kepalanya, ia pun pingsan dan pada saat pingsan itu aku memotong anggota tubuhnya yang sangat menyebalkan itu, Maka mulai saat ini ia bukan lagi calon suamiku ia cuma Thay-kamku."
Siau Po terkejut sekaligus girang.
"Kau telah melakukan sesuatu yang hebat."
Katanya kemudian.
"Kau berandalan dan kesalahanmu itu sangat besar."
Kian Leng Kongcu sebaliknya malah tertawa.
"Kesalahan? Kesalahan apa?"
Katanya.
"Kau tahu aku berbuat begini hanya untukmu, Misalkan aku menikah dengannya bukankah kita nantinya hanya suami istri palsu? singkatnya aku tak sudi kau menjadi kura-kura hitam yang menggunakan topi hijau."
Mengenakan kopiah hijau, itu pertanda, seorang suami yang istrinya main serong dengan pria lain, tanpa suami mengetahuinya.
Sewaktu Siau Po berpikir demikian maka Kian Leng Kongcu berkata dengan suara lembut.
"Semuanya palsu belaka tentang ia berlaku kurang ajar dan hendak memperkosa aku. Cuma aku sendiri yang berteriak-teriak secara demikian bukankah kalian di luar kamar telah mendengarnya ?"
Siau Po mengangguk dengan hati yang terus berpikir Maka sadarlah ia akan kecerdikan dan kelicikan tuan putri. Kian Leng tersenyum manis.
"Maka itu sekarang apa yang kita takuti?"
Katanya.
"Andaikata Gauw Sam Kui marah, apakah ia dapat bertindak? Bukankah yang bersalah itu putranya sendiri?"
"Bagaimana jika karena lukanya itu maka ia menemui ajalnya? Apa yang harus kita lakukan?"
Tanya Siau Po.
"ltu tak mungkin terjadi, dalam istana banyak orang yang dikebiri tetapi mereka tak sampai mati."
Kata tuan putri. Siau Po kalah bicara dan ia mengangguk.
"Baiklah, kalau demikian halnya kau harus tetap menuduhnya telah melakukan perbuatan yang kurang baik itu, kau juga katakan ia telah mendalangi kau juga dirinya sendiri, Pada dirimu ia akan melakukan perbuatan yang kurang baik yaitu akan memperkosamu ia telah memaksa dan mengancam mu dengan pisau dan setelah itu ia berusaha akan membunuhmu Akan tetapi kau melakukan perlawanan sebisa-bisanya hingga ia memotong sendiri bagian tubuhnya."
Kian Leng Kongcu tertawa, kemudian ia ber-kata.
"Benar katamu, Aku akan menuduhnya demikian, ia sendiri yang telah memotongnya."
Setelah itu Siau Po lalu mengundurkan diri, akan menemui kawan-kawannya untuk memberitahukan peristiwa yang telah menimpa diri Eng Him, dengan cerita yang telah ia dan tuan putri sepakati.
"Dia cerewet, pantas jika ia menerima hukuman itu."
Kata kawan-kawan Siau Po.
Peristiwa itu kemudian dilaporkan pada raja muda dan pada pengawal yang akan merawat anak raja muda itu, peristiwa terjadi di taman An Hu Wan yang berjalan tak terlalu lama.
Para pengawal dari anggota Peng See Ong dan juga Siau Po berada di luar kamar tuan putri itu, sedangkan yang berada di dalam hanya tuan putri dan Eng Him.
Di lain pihak para Sie Wie menyiarkan berita tentang kelakuan binatang dari Eng Him, dan keterangan mereka cocok dengan keterangan para pengawal pribadi Peng See Ong.
Gauw Sam Kui kaget bukan kepalang, menerima berita tentang kelakuan putranya itu, maka ia langsung menunggang kuda untuk menemui Kian Leng Kongcu di An Hu Wan, yang selanjutnya lalu berlutut meminta maaf.
"Ongya silahkan bangkit!"
Kata Siau Po yang berada di sisi raja muda itu.
"Mari kita masuk bersama untuk menanyakan langsung pada Kongcu!"
"Saudara Wie."
Katanya perlahan.
"Aku datang secara terburu-buru sekali sehingga aku tak sempat membawa Gin Pio, maka itu sudilah kau menerima mutiara ini untuk dibagikan pada para Sie Wie. Tentang pembicaraan di depan Kongcu nanti, aku mohon kiranya kau membantuku dengan kata-kata yang manis!"
Sambil berkata, ia menyerahkan mutiara pada Siau Po. Siau Po lalu mengembalikan mutiara-mutiara itu pada raja muda.
"Tenang, Ongya,"
Katanya.
"Aku berbuat menurut apa yang aku bisa, Mutiara ini tolong Ongya simpan, masalahnya sangat besar sehingga aku tak mengetahui pikiran tuan putri, Hanya aku jelaskan, tuan putri bertabiat sangat keras, dan ia sangat menghargai kesucian dirinya, hingga ia menjadi berandal. Baginda dan ibu suri sendiri sangat sulit untuk mendidiknya, dengan sebenarnya Sute sangatlah berani."
"Ya, walaupun demikian aku mengharapkan kau dapat membantu dengan kata-kata yang manis!"
Kata Peng See Ong. Siau Po mengangguk.
"Kongcu yang mulia."
Katanya.
"Peng See Ong datang sendiri untuk meminta maaf Mengingat jasa darinya pada negara sangatlah besar dan ia pun mentri yang paling tua, maka untuk itu ia minta kiranya tuan putri dapat memberikan keringanan!"
"Ya, benar, Hamba mentri yang paling tua dan berjasa, karenanya hamba mohon diberikan keringanan berhubung dengan putra hamba."
Kata Peng See Ong. Tidak ada jawaban dari dalam hanya terdengar suara kursi yang jatuh. Siau Po dan Peng See Ong menjadi heran.
"Kongcu.,., Kongcu jangan bunuh diri!"
Terdengar suara dari dalam kamar tuan putri. Gauw Sam Kui kaget bukan kepalang, mukanya menjadi pucat, dan ia berkata dalam hati.
"Jika benar tuan putri sampai bunuh diri, maka walaupun aku belum mempunyai persiapan, tak dapat tidak aku harus bergerak sekarang juga karena aku tak mungkin bertanggung jawab dengan kematian tuan putri raja."
Keadaan di dalam kamar itu lalu sunyi, tetapi tak lama kemudian terdengar suara berisik lagi, Menyusul kemudian seorang dayang lari ke luar menerobos dan menangis sambil berbicara terputus-putus.
"Wie.... Wie Toutong! Yang mulia tuan putri sudah! .... Kau.,., Kau lekaslah menolongnya!"
"Mana dapat aku menolongnya masuk ke kamar tuan putri.,.?"
Kata Siau Po yang pura-pura memperlihatkan muka yang bingung. Gauw Sam Kui juga demikian ia lalu mendorong punggung Siau Po ke dalam kamar.
"Cepat kau masuk!"
Katanya.
"Dalam keadaan seperti ini kita perlu kerja cepat." katanya pada Siau Po dan ia pun memerintahkan pada pengawalnya untuk memanggil tabib. Setelah Siau Po dan pengawal itu masuk, didapatinya tubuh tuan putri itu sedang terbaring di atas pembaringan dengan mata terpejam, Pada lehernya terdapat bekas gantungan, Di sisinya para dayang sedang menangis, Di atas tampak sebuah tali gantungan yang sudah terputus dan di bawahnya sebuah kursi dalam keadaan terbalik. Siau Po yang mengetahui permainan sandiwara tuan putrinya itu tertawa dalam hati namun pada penampilannya berpura-pura kaget dan kasihan.
"Aku tak mau hidup lebih lama lagi."
Katanya sambil menangis.
"Kongcu sadari ingat hidup itu sangat indah!"
Kata Siau Po. Gouw Sam Kui yang mendengarkan pembicaraan mereka merasa senang karena tuan putri tak jadi bunuh diri, Dalam hati ia berkata.
"Tidak heran jika ia sampai putus asa, namun mengapa mereka sampai menggunakan senjata tajam, dan yang membuat aku heran mengapa yang menjadi korban bagian tubuh yang..? Bagaimana dengan Eng Him bukankah dengan demikian tuan putri hidup seperti menjanda? Namun yang lebih penting rahasia harus disimpan."
Ketika itu tampak Siau Po ke luar dari dalam dengan menggelengkan kepala. Peng See Ong menghampiri Siau Po.
"Bagaimana keadaan tuan putri?"
Tanyanya "Dia sudah dapat ditolong, hanya tabiatnya itu tetap hendak membunuh diri, Tadi ia mencoba membunuh diri, namun para dayang tadi telah kupesan untuk menjaga tuan putri dengan baik, Aku yang ditugasi menjaga dan melindunginya, maka apabila hal ini sampai terjadi, aku akan kehilangan kepalaku, Untuk itu aku mohon bantuan Ongya untuk memikirkannya bagaimana caranya menyelamatkan jiwaku."
Muka Gauw Sam Kui menjadi pucat "Ya, memang benar, kita harus menjaganya,"
Katanya.
"Ongya, hal ini sangat menyulitkanku,"
Katanya, Peng See Ong menjadi bingung.
"Bagaimana caranya?"
Tanya Peng See Ong.
"Aku sendiri bingung, jalan apa yang harus aku tempuh, dalam beberapa hari ini mungkin kita dapat menjaganya, tetapi bagaimana selanjutnya? Menurutku jalan satu-satunya, tuan putri harus segera dinikahkan, Dengan demikian maka bebaslah tugas hamba."
Katanya. Nampak wajah mereka menjadi tak suram Iagi.
"Jika demikian maka mari kita bicarakan masalah ini. Anakku telah main gila hingga terjadi hal seperti ini. Aku sangat berterima kasih padamu, namun masih ada masalah lainnya, Apakah tuan putri akan bersedia dinikahkan dengan putraku?"
Tanya Peng See Ong. Siau Po hanya diam saja mendengarkan kata-kata itu. Meski masih ragu-ragu, Peng See Ong berkata.
"Ya, bukankah dengan kita menyegerakan pernikahan mereka kita menjadi bebas tugas?! Hamba kira baginda dan ibu suri yang mengetahui putrinya telah menikah tentunya merasa gembira. Baginda sendiri tak mungkin sempat memikirkan hal seperti ini. Karena ia lebih sibuk dengan urusan kenegaraan. Saudara Wie bukankah kita sebagai bawahan harus memberitahukan hal yang baik-baik yang dapat membuat hati baginda menjadi senang?"
Siau Po mengangguk.
"Tetapi, mengenai bocornya rahasia hamba minta Ong Ya tidak mencurigaiku."
"Mengenai hal itu aku tak mungkin mencurigaimu."
Katanya. Siau Po pintar dan cerdik tetapi Gauw Sam Kui lebih pintar dan licik, melihat Gauw Sam Kui terdiam Siau Po menyangka kalau ia sedang memikirkan hal itu.
"Ongya, jangan khawatir apa juga! Aku akan melarang orang-orangku supaya mereka tak menyebarkan rahasia ini."
Katanya. Raja muda yang cerdik itu berkata.
"Saudara Wie, kau telah membantu aku menyelesaikan masalah ini. Hal itu tak dapat kubayar dengan emas dan permata, hanya orang-orang mu sangat banyak, dan nanti aku akan memberikan hadiah pada mereka."
Siau Po lalu mengajak Gauw Sam Kui untuk melihat keadaan putranya, Mereka bertanya pada tabib yang merawatnya.
"Nyawanya tak usah dikhawatirkan tetapi... dia.,, dia."
Kata si tabib yang menerangkan keadaan putra raja muda itu.
"Asalkan jiwanya tak terancam, itu sudah baik."
Katanya, ia memerintahkan pada para pengawalnya membawanya pulang, agar Siau Po tak menahannya.
Setelah ia melihat keadaan Eng Him, Siau Po lalu kembali ke kamarnya, Sesampai di sana Siau Po disambut oleh kawan-kawannya yang senang mendengar keterangan dari Siau Po.
sebaliknya mereka belum bertanya mengenai peristiwa di tempat pelesiran itu.
"Semua berjalan baik sesuai rencana."
Kata Thian Coan. Siau Po gembira tetapi ia berpikir.
"Jika aku sekarang ini langsung pulang, pastilah raja muda itu akan mencurigai aku. sebaiknya aku bersabar beberapa hari, setelah itu baru aku membawa pulang MongoI itu dan menghadap pada baginda."
Baru saja mereka akan pergi, pengawal raja datang, Tampaknya ia sangat terburuburu.
"Harap kalian ketahui bahwa sewaktu Peng See Ong pulang ia ada yang mencegahnya."
Katanya. Siau Po sangat kaget, sehingga cangkir yang ada di tangannya terjatuh.
"Apakah dia terserang parah atau mati? Apakah penyerang itu telah kena tawan? siapakah yang menyerangnya ?"
Tanya Siau Po pada orang itu. Siau Po langsung membawa orang-orang itu keluar kamarnya agar tak dicurigai.
"Tidak, ia tidak mati."
Katanya.
"Penyerangnya yaitu para dayang tuan putri itu sendiri."
Sambungnya dalam memberikan laporan. Kembali Siau Po terkejut.
"Dayang tuan putri?"
Tanyanya.
"Dayang yang mana? Mengapa mereka mencoba membunuh Peng See Ong?"
"Entahlah."
Katanya.
"Begitu menerima kabar aku lalu pergi ke mari...." .
"Jika demikian cepat kau cari keterangan!"
Katanya.
"Dan cepat kau beritahukan padaku!"
"Ya."
Katanya, Pengawal raja itu terus pergi untuk mencari keterangan Baru saja akan mencari keterangan itu ia lalu kembali lagi dan melaporkan.
"Harap kalian ketahui dayang yang menyerang itu bernama Ong Ko Jie."
Katanya. Mendengar keterangan itu Siau Po terkejut "Di mana dia sekarang?"
Tanyanya.
"Sekarang ia dibawa Peng See Ong, Katanya raja muda sendiri yang akan memeriksanya, agar diketahui siapa yang menyuruhnya melakukan percobaan pembunuhan itu."
Siau Po pusing memikirkan kekasihnya ditawan Peng See Ong, sebab ia tahu Ong Ko Jie adalah nama palsu, sedangkan nama aslinya yaitu A Ko, kekasih Siau Po.
Pertanyaan seperti itu sudah wajar, Orang yang menyuruhnya berusia sekitar enam puluhan Dia mengatakan orang yang menyuruhnya itu sangat setia pada putri, hingga ia akan membunuh Peng See Ong itu."
Mendengar kata-kata kawannya itu Siau Po bagaikan mendapatkan angin segar.
"Tepat, Tak mungkin kita memerintahkan wanita yang begitu cantik untuk membunuh Peng See Ong."
"Mungkin Peng See Ong malu kalau rahasia ini sampai terbongkar dan itu sangat berbahaya bagi kita, dan ia pun akan membunuh nona yang telah menyerangnya itu."
Kata Kiong Liam "Tidak, Tidak, ia tak dapat berbuat seperti itu, Jika hal itu sampai terjadi, maka aku akan mengadu jiwa dengannya, dialah si kura-kura hitam dan tua.
Dan ia seorang pengkhianat Aku akan membunuhnya jika hal itu terjadi."
Kata Siau Po. Mereka hanya diam saja tak berani berkata-kata.
"Bagaimana? Bagaimana sekarang?"
Kata Siau Po kemudian.
"Wie Congkoan, harap bersabar Jika hal ini sampai terdengar baginda raja pastilah yang salah Gouw Sam Kui dan putranya yang akan berbuat kurang ajar pada tuan putri, dan Gouw Sam Kui tak terserang sampai mati, makanya bila ia menyangka kita yang telah berbuat demikian, kita dapat menyangkalnya, dan ia tak memiliki bukti yang kuat untuk itu."
Kata Kong Lian. Siau Po menggelengkan kepala.
"Memang itu bukan perbuatanku dan di antara kita tak mungkin menuduh sesamanya."
Katanya. Kong Lian dan Cee Hian merasa lega mendengar penuturan Siau Po itu.
"ltu bagus."
Kata Cee Hian.
"Sekarang marilah kita tidur, kita berpura-pura tak mengetahui hal ini."
"Tidak, tidak demikian."
Kata Siau Po dengan cepat.
"Kalian toIonglah aku menemui Peng See Ong, untuk menyampaikan pesanku.
Aku akan menyampaikan bahwa memang tidaklah pantas bila dayang itu akan melakukan pembunuhan atas diri Peng See Ong, Tetapi dayang itu dayang kesayangan tuan putri, oleh karenanya aku menginginkan bantuan kalian agar dayang itu kalian bawa padaku dan sampaikan aku yang akan melaporkannya pada tuan putri agar ia yang menghukumnya, agar dengan demikian maka Peng See Ong akan merasa puas."
Kedua Sie Wie yang diperintahkan Siau Po berangkat dengan membawa tugas dari Siau Po. Dalam hati mereka berkata.
"Dia terlalu baik, Bukanlah dengan membiarkan ia dihukum oleh Peng See Ong masalah menjadi selesai sampai di sini."
Setelah Sie Wie itu pergi Siau Po lalu mendatangi kamar gurunya dan ternyata gurunya baru saja selesai semedi.
"Suhu,"
Katanya dengan suara bergetar "Apakah suhu mengetahui urusan Sucie?"
Guru itu memandangnya.
"Apa yang terjadi? dan mengapa kau tampak seperti orang sedang bingung?"
Tanya gurunya.
"Suhu, Sujie,., telah mencoba membunuh si pengkhianat besar itu tetapi ia gagal, hingga sekarang ia ditawan, Si pengkhianat itu akan membunuhnya. Mungkin sekarang ia tengah disiksa sampai mati dan pasti si pengkhianat itu hendak mengetahui siapa yang telah memerintahkannya membunuh..."
Kata Siau Po.
"Aku yang menyuruhnya."
Kata gurunya itu dengan nada suara dingin.
"Jika si pengkhianat itu mempunyai keberanian biar dia yang datang sendiri ke mari untuk menawanku."
Walaupun Siau Po merasa heran, ia tetap mengatakan perkataannya dengan suara pelan terhadap gurunya.
"Tak akan ia berani mengatakan nama Suhu pada pengkhianat yang jahat itu."
Katanya.
Setelah berkata demikian Siau Po lalu minta diri.
Lama juga Siau Po menunggu kabar dari para Sie Wie yang diutus untuk mengambil A Ko, maka ia pun memerintahkan lagi tiga orang Sie Wie untuk menyusulnya, tetapi tetap saja Sie Wie itu tak segera kembali.
Karena Siau Po menunggu para utusan itu cukup lama, maka ia langsung berangkat ke sana dengan mengepalai pasukan kecil untuk menemui Peng See Ong di tempatnya.
Akan tetapi mereka hanya sampai kuil yang jaraknya kira-kira tiga lie dari tempat Peng Sie Ong, ia mengutus seorang Sie Wie untuk menyelidikinya.
Tak lama kemudian datanglah Kong Lian dengan menunggang kuda menuju tempatnya.
"Kami telah pergi ke gedung Peng See Ong, dan kami telah mengajukan permohonan untuk bertemu dengan Peng See Ong, tetapi kami tak mendapatkan jawaban, Maka kami pergi untuk memberikan Iaporan. sedangkan kawan kami masih tinggal di sana untuk menunggu jawaban dari Peng See Ong itu."
Ujar Kong Lian. Siau Po bingung sekaligus mendongkol.
"Aku sendiri akan menemuinya."
Katanya.
"KaIian semua boleh ikut aku. Kau, semua pasukan bawa ke mari, kalian menempatkan diri di depan untuk menunggu perintahku."
Kata Siau Po.
Melihat keadaan tersebut, para Sie Wie menjadi terkejut.
Mereka mengetahui bahwa pasukan raja muda itu jumlahnya lebih besar Maka jika benar terjadi pertempuran, dalam waktu singkat saja pasukan Siau Po tentu sudah dapat dikalahkan.
"Congkoan, kita kemari sebagai utusan baginda raja dan sebagai pengawal tuan putri, Untuk itu jika congkoan mempunyai masalah dengan Peng See Ong, dapatlah kiranya berbicara dengan baik-baik saja, dan tak mungkin Peng See Ong menyombongkan diri, Menurut hamba, kita lebih baik bertindak secara perlahan-Iahan saja."
Kata Kong Tian.
Mendengar keterangan bawahannya, hati Siau Po menjadi sangat panas.
ia sangat gusar dengan kejadian yang menimpa kekasihnya itu, Mereka tak ada yang berani berkata-kata dengan sembarangan melihat keadaan Siau Po yang sedang kesal itu.
Siau Po kemudian menunggang kuda menuju istana Peng See Ong, sesampainya di istana itu, para penjaga yang mengetahui kedatangannya langsung memberi hormat padanya.
Mereka lalu menugaskan salah seorang untuk memberitahu pada raja muda.
"Wie Toutong, maafkan.Tentu Toutong telah mendengar kejadian yang menimpa raja muda semalam. sekarang ia tak dapat menyambut kedatangan Toutong karena luka-Iukanya tidak ringan."
Kata pengawal yang ditugaskan memberitahu raja. Siau Po menjadi kaget.
"Ongya terluka? Saya dengar ia tak terluka."
Kok Siang terdiam.
"Ongya tertusuk dadanya dan kedalaman tusukan itu tiga atau empat dim."
Katanya.
"Aku mengatakan Ongya tak terluka, maksudnya agar rakyat jangan terguncang, Akan tetapi terhadap Toutong hamba mengatakan yang sebenar-benarnya, Entah apakah ia dapat ditolong atau tidak?"
Lanjutnya. Siau Po mengangguk "Mari antarkan aku menjenguk Ongyamu."
Kata Siau Po.
Siau Po lalu diajaknya untuk memasuki kamar raja muda itu.
sesampainya di luar kamar, terdengar rintihan Peng See Ong, Kok Siang segera membuka kelambu itu, barulah terlihat darah di sana sini dan pada dadanya terdapat balutan dengan perban yang sudah merah warnanya, Para tabib yang sedang berusaha mengobatinya tampak putus asa.
"Bagaimana luka Ongya? Apakah itu berbahaya?"
Tanya Siau Po. Sedangkan yang ditanya hanya menjawab dengan matanya, Tak lama kemudian terdengar suara orang yang ditanya itu.
"Aduh,., aduh aku tak akan hidup lebih lama lagi, ini gara-gara Eng.... Eng. Cepat panggil ia ke mari untuk dihukum mati!"
Katanya dengan suara perlahan-Iahan. Kok Siang dan Siau Po kemudian pergi ke luar kamar, Sesampai mereka di luar, Kek Song menangis memikirkan nasib raja mudanya itu.
"Aku dapat melihat wajahnya, walaupun lukanya parah ia tak akan mati."
Kata Siau Po pada Kok Siang. Mendengar ucapan Siau Po, hati menantu raja muda itu spontan berubah menjadi girang.
"Dengan budi yang dilepaskan Sri Baginda para Ongya kami, hingga kedudukan Ongya kami sampai pada batas kemuliaan,"
Katanya.
"Kedudukannya itu tak ada lagi yang mengatasinya, pangkatnya pun tak akan naik puIa, maka itu kami hanya mengharapkan agar Ongya kami dapat terluput dari maut yang sedang menunggu waktunya."
Katanya.
Diam-diam Siau Po memperhatikan wajah orang yang ada di depannya, Dengan melihat wajah orang itu Siau Po lalu memulai membualnya.
Siau Po mengatakan halhal yang dapat menyenangkan hati orang itu.
Kok Siang yang belum mengetahui pikiran Siau Po mempercayai segala kata-kata yang diucapkan, tanpa merasa curiga.
"Apakah penyerang Ongya sudah tertangkap? sebenarnya orang macam apa dia? siapakah yang memerintahkannya melakukan penyerangan itu? Apakah ia sisa kerajaan Beng atau orang Bhok Onghu?"
Tanyanya.
"Penyerang itu adalah seorang wanita, ia bernama Ong Ko Jie."
Katanya.
"Ada orang yang lancang mengatakan kalau ia dayang Kongcu, aku tidak mempercayai kata-kata itu, sedangkan ia mengatakan kalau ia hanya seorang dayang, menurut aku memang benar apa katamu mungkin ia orang Bhok Onghu, Aku sangat senang kau dapat membantu memikirkannya."
Katanya. Dalam hati Siau Po terkejut mendengar kata-kata orang itu.
"Celaka,"
Pikirnya.
"Bila ia mengetahui kalau A Ko itu putri dari Bhok Onghu maka dengan demikian sangatlah mudah untuk membunuh A Ko."
Karena memikirkan hal itu maka Siau Po berkata.
"Ong Ko Jie, nama nona itu? Memang benar di antara dayang-dayang tuan putri ada yang bernama itu, Putri sangat sayang pada dayang itu, Nona itu berusia sekitar enam atau tujuh belas tahun, bertubuh langsing dan cantik, kalau memang itu? Memang ia dayang kesayangan tuan putri."
"Aku sangat memperhatikan keselamatan 0ng-ya hingga aku tak sempat meneliti si pembunuh Maka itu kalau ia bukan seorang dayang, pastilah ia orang yang mempunyai nama yang sama, Ongya tentu tak akan setega itu jika memang itu dayang kesayangan tuan putri. Dan biasanya dayang itu lemah lembut, mana dapat ia mencoba membunuh Ongya kami?"
Jawab orang itu.
"Apakah kalian sudah menghukum mati orang itu?"
Tanya Siau Po penuh selidik.
"ltu beIum. Dalam hal ini aku menunggu sampai Ongya sembuh, sesudah itu barulah kami memeriksanya dengan teliti, terutama untuk mencari tahu orang yang menyuruhnya."
Katanya. Siau Po mengangguk.
"Sekarang coba antar aku melihat dayang itu!"
Katanya.
"Kalau memang itu dayang, pastilah aku mengenalnya."
"Tak berani aku membuat Toutong bersusah payah."
Katanya dengan alasannya.
"Pastilah ia bukan dayang tuan putri. Tentang cerita di luaran jangan kau percayakan!"
Katanya pula.
"Ongya telah diserang oleh orang itu sampai ia terluka parah, Jika sampai terjadi masalah yang tidak kita inginkan, siapakah yang harus bertanggung jawab. Dan jika aku kembali ke kota raja pastilah baginda menanyakan masalah ini. Lalu aku harus berkata bagaimana? Apakah aku harus berbohong pada baginda raja? itu namanya aku telah menghina raja. Tak dapat aku berbuat serendah itu."
Kata Siau Po yang terus meminta agar ia diperlihatkan pembunuh raja muda.
Toutong, di sini kami mempunyai peraturan yang telah ditetapkan oleh mertuaku Aku sendiri tak dapat melakukan pelanggaran itu dan aku sering pula diperlakukan dengan keras."
Jawabnya. Siau Po tersenyum.
"Aku hendak melihat dan mendengar keterangan pembunuh itu, namun kau selalu menghalangi halangi bahkan sampai menyebut-nyebut mertua laki-Iaki dan mertua perempuanmu. Apakah maksudmu? Kau aneh, bukan?"
Kata Siau Po yang terus saja dihalang-halangi menantu raja muda itu.
"Aku khawatir kalau itu benar dayang dan Toutong membawa pergi orang itu. Lalu harus dengan apa aku mempertanggung-jawabkannya? Bagaimana aku harus berbuat jika Ongya akan memeriksanya? Bagaimana aku mendapatkan pembunuh itu? Dengan demikian bukankah itu celaka bagiku?"
"Dasar manusia-manusia licik! Kau mencegah aku bertemu dengan A Ko pacarku, Kau melarang aku membawanya pergi. Dapatkah pacarku dihina oleh kalian semuanya?"
Katanya dalam hati. Meski berpikir demikian Siau Po tetap saja tersenyum, hanya saja senyuman itu hambar rasanya.
"Kau sendiri yang mengatakan kalau pembunuhnya itu bukanlah seorang dayang, tetapi mengapa sekarang kau sendiri yang mengkhawatirkannya."
Kata Siau Po.
"Toutong Tayjin, sebenarnya kata-kataku tadi adalah terkaan belaka,"
Katanya.
"Dan aku sendiri tak mengetahui apakah benar pembunuh itu dayang atau bukan."
"Katakan terus terang mengapa aku tak boleh membawa pergi pembunuh itu!"
Tanya Siau Po dengan sengitnya, Bagian 56
"Tak berani aku melarang Toutong,"
Jawabnya dengan kesal.
"Sekarang silahkan Toutong menunggu di sini, aku akan memberitahukan pada Ongya kami, yang selanjutnya tinggal urusan Toutong dengan Ongya kami, kalau Ongya nanti marah tak dapat ia memarahi aku."
Katanya.
"Baik kau boleh pergi meminta ijin pada Ongyamu, tetapi ingat kesehatan Ongyamu, dan kau harus cepat-cepat memberi laporan padaku, karena aku pun punya tugas. Mati atau hidupnya tuan putri bukanlah tugas yang ringan, Kau harus tahu semenjak tuan putri itu dihina, sudah beberapa kali ia hendak melakukan bunuh diri. Jika itu sampai terjadi bukan saja aku, tetapi juga Ongyamu turut bertanggung jawab. Maka itu aku harus secepatnya melihat keadaannya."
Mendengar kata-kata Siau Po.
Hee Kok Siang kemudian memberi hormat, setelah itu ia pun meninggalkan Siau Po.
Kesal Siau Po menunggu kedatangan Kok Siang, sampai ia membanting-banting kakinya saking tak sabarnya.
"Ongya kami masih belum sadar,"
Jawabnya.
"Tetapi karena aku khawatir Toutong menunggu terlalu lama maka aku hanya menyampaikan pertanyaan Toutong tanpa menunggu jawabannya lalu aku kembali ke sini."
Kata Kok Siang.
Siau Po mengangguk lalu mengikuti Kok Siang yang berjalan di depan Siau Po.
Jalan menuju kamar tahanan dijaga sangat ketat oleh para pengawal kerajaan dengan senjata di tangan mereka.
Dan setelah kok Siang memberikan Lengcie, maka mereka berdua baru diperbolehkan masuk.
Siau Po mengangguk-anggukkan kepala sambil mengikuti Kok Siang melewati terowongan, lalu pintu besi sebagai pintu yang pertama, setelah itu jalanan menurun, maka mereka berhenti di depan sebuah kamar kecil yang terdapat lilin, di situlah nona itu ditahan.
Setelah diteliti ternyata bukannya A Ko tetapi Bhok Sio Kongcu anak dari raja bangsa Han, ayahnya telah mati di tangan Gauw Sam Kui jadi ia merasa dendam pada Gauw Sam Kui yang telah menghancurkan keluarganya.
Setelah bertemu pandang, Siau Po dan Bhok Sio Kongcu sama-sama kaget.
Rupanya mereka itu salah sangka, Dalam hati Siau Po berkata.
"Sio Kongcu telah ditawan aku harus dapat menolongnya."
Lalu Siau Po berkata.
"Dia memang dayangnya tuan putri, dan tuan putri sangat menyayanginya."
Katanya pada Kok Siang. Sambil berkata demikian Siau Po mengedipkan matanya sebagai tanda pada Bhok Kongcu, kemudian ia berkata lagi.
"Oh, orang yang bernyali besar, dengan cara apa kau sudah berani mencoba membunuh Peng See Ong? Apakah kau sudah tak menyayangi jiwamu? Cepat kau katakan, siapa yang telah menyuruhmu? Cepat agar kau tidak disiksa."
Kata Siau Po. Mendengar teguran itu, Bhok Kiam Peng menjawab dengan suara keras,"
Gauw Sam Kui adalah pengkhianat besar bangsa Han, dialah yang telah menyerahkan kerajaan Beng yang maha besar pada bangsa Tatcu, setiap rakyat bangsa Han ingin sekali menggigit kupingnya, oleh karena itu sayang sekali aku telah gagal membinasakannya."
Katanya. Siau Po pura-pura gusar ia lalu bertanya.
"Oh, budak cilik kau bicara sangat kurang ajar. siapakah yang memerintahkanmu? Kau sudah lama tinggal dalam istana mengapa kau tak mempunyai adat? Dan sekarang, siapa kawan-kawanmu?"
"Kau sendiri yang berdiam lebih lama dari padaku, apa yang kau tahu tentang aturan? Kau mau tahu siapa kawanku? Dia itulah kawanku!"
Jawabnya sambil menunjuk pada Kok Siang, menantu raja muda. Kiam Peng mengerti, dia lantas berkata keras-keras.
"Memang dia. Dia yang menyuruh aku membunuh Gauw Sam Kui. Dia membilangi aku bahwa Gauw Sam Kui, manusia sangat busuk, bahwa semua orang sangat jemu dan membencinya, Dia memberitahukan, kalau nanti aku sudah berhasil membinasakan Gauw Sam Kui, maka dia... dia . boleh...."
Nona Bhok tidak kenal congpeng itu tak dapat ia menyebut nama orang, maka ia menggunakan saja kata-kata "dia"
Karena ini juga, tak dapat melanjutkan kata-katanya itu.
Tapi Siau Po sangat cerdas, dia segera menambahkan "Dia dapat naik pangkat dan bahagia, selanjutnya tak akan ada lagi orang yang mencaci dan menghukumnya.
Begitukah maksudmu!"
"Tepat! Tepat!"
Seru si nona.
"Katanya, memang Gauw Sani Kui sering mendamprat dan menghukumnya dengan rotan, dia diperlakukan kejam, maka dia sangat mendongkol dan gusar. Dia memang hendak turun tangan terlebih dahulu tetapi dia tidak berani, dia tak ada nyalinya..."
Kok Siang gusar sekali, ia mencaci berulang-ulang akan tetapi Nona Bhok tidak menghiraukan bahkan memastikan kata-katanya.
"Memangnya kau!"
"Berhati-hatilah jikalau bicara!"
Tegur Siau Po kepada nona itu, berpura gusar.
"Kau tahu siapakah ini? Dialah menantunya Peng See Ong Gauw Sam Kui, namanya He Kok Siang, dan pangkatnya Congpeng, Memangnya ada kalanya Peng See Ong mendamprat dan merotaninya tetapi semua itu buat kebaikan menantunya ini sendiri"
"Hee Congpeng ini juga membilangi aku bahwa setelah Gauw Sam Kui mati, maka dia bakal menggantikannya menjadi Peng See Ong."
Kata pula Bhok Kim Peng, yang tidak memperdulikan sikap menantu raja muda itu.
"Dia telah menjanjikan tak perduli aku berhasil atau gagal dengan percobaanku ini, dia akan memerdekakan aku, supaya aku tidak usah menderita siksaan, Buktinya sekarang dia justru mengurung aku di sini. Eh, Hee Congpeng, sampai kapankah kau hendak melepaskan aku?"
Ketika itu Kok Siang dapat menggunakan otaknya, maka ia berkata di dalam hatinya.
"Mulanya kau tidak kenal aku, kau tidak mengetahui nama dan pangkatku, Tapi sekarang, karena munculnya bocah celaka ini, kau berani main gila begini, Buat menolong kau, bocah ini sudah menjadikan aku bahan tertawaan.."
Terus ia menjawab dengan bentaknya, Tutup mulutmu!
jikalau kau mengaco belo, akan aku hajar kau hingga kulit dan dagingmu pada pecah, supaya kau setengah mati setengah hidup!" Kali ini Kiam Peng berdiam, ia berkhawatir juga, ia ingat, kalau Siau Po gagal menolongnya, ia memang bisa dihajar setengah mati....
"Eh Nona apakah yang kau pikir?"
Tanya Siau Po yang melihat kenalannya itu terus membungkam.
"Hayo kau utarakan segalanya! jikalau benar ia yang memerintahkan kau mencoba membunuh Peng See Ong tak ada salahnya kau mengakuinya, aku tak akan membongkar rahasia!"
"Dia... Dia bakal menghajar aku!"
Katanya.
"Jika aku berbicara dengan orang lain!"
"Jikalau demikian kata-katamu benar adanya,"
Kata Siau Po.
"Harap Tayjin,"
Kata Hee Coan.
"Penjahat itu tengah menuduh aku dan ini sudah kebiasaan seorang penjahat, jadi tidaklah benar kata-katanya."
"Kau benar juga,"
Kata Siau Po setelah ia berpura-pura berpikir sejenak.
"Namun memang benar biasanya Peng See Ong memperlakukan keras pada Cong Peng dan karenanya kau merasa kesal, hingga suatu waktu kau berpikir akan membunuh mertuanya, Coba pikir, ia seorang nona mustahil dapat mengarang katakata itu. sekarang begini saja! Kita menunggu sampai Peng See Ong sembuh, nanti aku akan bicara padanya, untuk memberikan nasihat supaya kalian mertua dan mantu tidak sampai bentrok bagaikan air dengan api..."
Kok Siang terperanjat mendengar kata-kata Siau Po, Kata-kata Nona Bhok tak ia hiraukan, lain kata-katanya Siau Po.
Bisa ia celaka bila kata-kata nona itu disampaikan pada raja muda.
Memang ia tahu selama ini tabiat mertuanya berubah menjadi keras, maka ia lalu berkata pada kacung kita.
"Sebenarnya Ongya memperlakukan aku baik sekali, sama seperti pada anaknya sendiri Maka itu membuat aku sangat berterima kasih dan bersyukur Toutong, aku minta agar kau tak bicara pada mertuaku itu."
Siau Po dapat melihat orang itu tersenyum.
"Manusia itu tak berpikir mencelakakan harimau yang hendak makan daging manusia."
Begitu katanya.
"Memang sering terjadi orang membalas kebaikan sesamanya dengan kejahatan Maka dari itu karena Ongya sangat baik padaku, aku harus memberi nasihat padanya agar ia menjaga dirinya baik-baik, agar ia tak usah roboh di tangannya manusia jahat, Tentara Peng See Ong besar dan kuat, di sisinya juga banyak perwira yang lihay yang dapat melindunginya, Jadi jikalau akan mencelakakannya tak mungkin penjahat itu akan berhasil Namun orang jahat sukar diteliti jika orang turun tangan terhadap dirinya mana sanggup ia menjaga dirinya?"
Hati Kok Siang menjadi makin kecil.
Hebat kata-kata Toutong ini, yang telah menimbulkan soal yang tidak-tidak yang maksudnya berniat menolong nona dalam tahanan ini Peng See Ong memang sangat curiga, dia menyangsikan setiap orang.
Baru beberapa hari yang lalu Gouw Sam Bwee datang menghadap dengan lupa meloloskan golok di pinggangnya, Golok itu lalu diloloskan sendiri olehnya dan terus menegur dan mendamprat sedang orang itu adiknya sendiri.
"Jikalau Toutong suka mengangkatku, tak akan aku melupakan budi besarnya itu,"
Katanya perlahan "Dalam hal itu aku berani mengajukan diri walaupun Toutong memerintahkan aku untuk menyerbu api Toutong, dalam segala hal aku berani bertanggung jawab!"
"Sebenarnya aku memikir tentang kebaikanmu,"
Katanya.
"Kau boleh percaya katakata orang itu tak mungkin bocor, Lain daripada langit dan bumi, di sini cuma ada kita berdua, bertiga dengan si budak itu sendiri sekarang kita bicara secara terangterangan, kalau tadi kau bunuh saja budak ini tentulah perkara ini sudah selesai. Kalau toh kau hendak menutup muIutku, tidak ada jalan lain daripada kau membunuh aku. Tetapi ini tak dapat kau lakukan, Kau tahu semua orangku sudah siap sedia, jumlah mereka berapa ribu jiwa, Mereka semua berada di luar istanamu, maka itu sangatlah sukar membunuh aku."
Kata Siau Po.
Mendengar keterangan Siau Po, Kok Siang menjadi pucat, tetapi ia berusaha untuk tersenyum, untuk menenangkan hatinya, Melihat lawan bicaranya sudah berubah, maka Siau Po berusaha mempengaruhi pikirannya.
Siau Po berbicara terus membuat orang itu menjadi bingung harus berbuat apa.
sedangkan Siau Po terus saja mempengaruhinya.
"Terima kasih Toutong, kau telah turut memikirkan masalahku, dan sekarang bagaimana caranya?"
Tanya Kok Siang yang kebingungan.
"Sebenarnya ini soal sukar."
Kata Siau Po yang telah berhasil mempengaruhinya.
"Baik, mari aku terima kau menjadi sahabatku, sekarang begini, kau serahkan saja budak ini padaku, untuk aku bawa pergi, Nanti jika ada yang bertanya katakan budak itu sedang aku periksa, Nanti malam aku hendak membunuhnya, dan jika nanti aku katakan pada raja muda bahwa ia telah mati karena tak sanggup menahan siksaan, coba kau pikir bukankah dengan demikian urusan besar akan menjadi urusan kecil lalu semuanya akan habis sama sekali?"
Mendengar demikian Kok Siang sudah merasa curiga, tetapi yang ia bingungkan tentang budak itu.
"Tetapi Toutong, mengapa sewaktu kutanya ia tak mengetahui keadaan istana? Mengapa Toutong mengenalnya?"
Tanyanya.
"Dia tak mau mengembet-embet tuan putri, Terang saja ia tak mau mengatakan Dia dayang yang paling setia tak mau membongkar atau mengembet orang lain apalagi tuan putrinya."
Jawab Siau Po.
"Baik Toutong, sebaiknya Toutong meninggalkan secarik kertas sebagai tanda Toutong telah membawa budak ini, supaya kalau nanti ditanya, kami mempunyai bukti!"
Katanya, Kembali Siau Po dan Kok Siang menyebutkan tentang dirinya pada masing-masing. Siau Po tertawa tetapi dalam hatinya ia berkata.
"Setan! Aku toh tidak dapat menulis dan membaca, apa yang dapat aku tuliskan?"
Tetapi ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan pistol.
"Inilah senjata yang Ongyamu berikan padaku, sekarang kau boleh bawa dan menunjukkannya pada Ongyamu, dan kau berkata, aku atas titah tuan putri sudah datang mengambil budak ini."
Katanya sambil memberikan pistol itu kepada Kok Siang.
Kok Siang menerima pistol itu, lalu memanggil beberapa orang pengawal untuk membuka kunci tahanan dan mengeluarkan budak itu.
Siau Po bersama orang tawanan itu diantar keluar Sambil memberikan kunci borgoI tangan nona itu, Kok Siang berkata.
"Toutong datang atas perintah dari tuan putri untuk membebaskan budak ini. Oleh karenanya kawallah ia kalau-kalau nanti akan pergi kabur!"
Siau Po dapat mengetahui maksud hati Kok Siang, ia tertawa dan berkata.
"Kau takut aku menyangkal kata-kataku sendiri, bukan? Nah, sekarang banyak orang aku sampaikan bahwa aku dititahkan tuan putri untuk membebaskan budak ini dari tangan kalian dan aku yang akan memeriksanya."
Congpeng itu tertawa.
"Toutong, bukannya aku tak percaya dengan kata-katamu, tak ada dalam hatiku untuk berbuat seperti itu."
Katanya. Siau Po tertawa dan mengangguk.
"Sekarang kau pergi, dan katakan pada Ongyamu, aku sangat memperhatikan kesehatannya, Dan jika ada waktu aku besok akan menemuinya sambil melihat keadaannya."
Kata Siau Po.
"Terima kasih Tayjin, sebenarnya aku tak sanggup untuk menerima Tayjin,"
Katanya. Siau Po tertawa, lalu segera pergi meninggalkan istana itu, Sengaja ia langsung masuk ke kamarnya dan ia menguncinya, lalu berkata pada nona itu.
"Oh istriku, sebenarnya bagaimana persoalannya hingga kau dapat ditawan mereka?"
Tanyanya. Muka Bhok Kiam Peng menjadi merah karena Siau Po menyebut istri padanya.
"Baru bertemu kau sudah berkata demikian, terlebih dahulu kau buka borgol ini."
Katanya. Setelah borgol yang ada di tangannya itu terbuka maka Bhok menceritakan permasalahannya hingga ia sampai seperti itu.
"Setelah kau memerintahkan padaku untuk menyerahkan kitab itu pada Kaucu dan Hujin, maka aku disuruhnya untuk selalu bersamamu dan menjaga jangan sampai ada hal-hal yang kurang baik, dan memikirkan sesuatu."
Katanya.
"Jadi kau dikirim Hujin untukku? Memang Hujin orang yang baik, ia selalu memikirkan keadaanku sekarang aku akan bertanya padamu, apakah kau tersinggung dengan katakataku tadi?"
Tanyanya.
"Sebenarnya aku pergi ke sini tidak sendiri, aku di perjalanan bertemu dengan kakakku, ia sedang bersama dengan gurunya dan aku diajaknya ke tempat tinggalnya, Di sana aku bertemu dengan beberapa orang teman kakakku, setelah kuselidiki ternyata mereka datang ke sini mempunyai tujuan untuk membunuh anak raja Kian Leng."
Katanya. Siau Po terkejut.
"Mereka berniat akan membunuh tuan putri? Ada masalah apa? Bukankah tuan putri tidak bersalah dengan kalian dan keluarga Bhok?"
Tanyanya.
"Menurut katanya, setelah putri raja yang akan dinikahkan dengan putra Gauw Sam Kui itu terbunuh, raja akan mengatakan bahwa anaknya tak dapat menjaganya dengan baik, Dengan demikian hal itu akan membuat raja menjadi marah."
Kata nona Bhok. Mendengar kata-kata tadi Siau Po terdiam, dalam hati ia berkata.
"Aku ditugaskan untuk menjaga tuan putri, sedangkan aku pun ditugaskan membunuh Gauw Sam Kui."
"Lalu bagaimana seterusnya?"
Katanya.
"Lalu kami membagi tugas, aku ditugaskan untuk menyamar sebagai dayang dan menyelusup ke istana, Tugasku yang sebenarnya untuk membunuh tuan putri, Tetapi hal itu belum kulakukan aku bertemu dengan Cek Liong Su. ia mengatakan bahwa yang ditugaskan raja untuk menjaga dan melindungi tuan putri yaitu kau, Jadi alasan dia mencegah aku melakukan pembunuhan itu sangatlah beralasan, Dia mengkhawatirkan jika nanti sampai terjadi aku berhasil membunuh tuan putri maka kau akan kena hukuman dari raja, Lalu aku ingin bertemu denganmu untuk berdamai bagaimana jalan yang terbaik. Namun diluar dugaan kami Liu Suhu mengetahuinya dan ia akan membunuh Ceng Liong Su."
Ujar nona Bhok menjelaskan pada Siau Po. Siau Po lalu memegang tangan nona itu.
"Kakakku dan Ceng Liong Su telah bertempur"
Katanya sedih.
"Kau telah menolong aku, maka itu kita pun harus menolong kakak dan Liu Suhu keluar dari tahanan."
Lanjutnya.
"Apa..? Kakakmu dan Liu Suhu ditawan?"
Tanya Siau Po.
"Ya,"
Sahutnya.
"Kemarin dahulu, sewaktu berada dalam tempat tinggal kakakku, aku diserang oleh orang-orang Gauw Sam Kui. ia membawa pasukan yang sangat besar dan kuat, Kami mengadakan perlawanan tetapi kami kalah maka aku, kakakku dan Liu Suhu, mereka tawan sedangkan Suko Goh Pui terbunuh. Siau Po merasa heran.
"Sejak kau ditawan, dengan cara apa kau mencoba membunuh Gauw Sam Kui?"
Tanyanya.
"Aku mencoba membunuh Gauw Sam Kui?"
Wanita itu balik bertanya.
"Aku memang membunuhnya tetapi itu nanti, Kaki dan tanganku terbelenggu mana dapat aku mengadakan perlawanan padanya?"
Katanya. Siau Po semakin heran.
"Setelah aku ditawannya, aku dibawa ke ruang yang gelap gulita baru tadi pagi aku dipindahkan ke tahanan bawah tanah, kemudian kau datang membebaskanku."
Kata nona Bhok. Siau Po terdiam, ia mengetahui keadaan yang sangat gawat itu. ia sadar bahwa mereka itu telah memalsukan keterangan.
"Oh, istriku yang baik."
Katanya.
"Kau tunggulah di sini, aku akan menolong kakakmu dan Liu Suhu!"
Kiam Peng percaya akan keterangan Siau Po maka ia membiarkan kekasihnya pergi.
Siau Po lalu pergi ke kamar barat, ia sadar bahwa telah terkena tipu dan masuk jebakan, maka lalu mengumpulkan kawan-kawannya untuk membantu menyelesaikan persoalan itu.
Setelah Siau Po menceritakan duduk permasalahannya, mereka semua bingung sebab setiap rahasia mereka selalu saja bocor sampai pada Gauw Sam Kui.
Mereka berpikir "Siapakah yang telah membocorkan setiap rahasianya?"
Pertanyaan mereka dalam hati masing-masing.
"Dalam istana Bhok ada seseorang yang bernama Lauw It Couw, Dia sangat membenciku dan sangatlah serakah, Aku rasa tentu dialah orangnya, sebab dia itu orang penakut."
Kata Siau Po. Mendengar keterangan tersebut Siau Po dan kawan-kawannya menjadi terbuka pikirannya lalu mereka bersama mengatakan setuju.
"Wie Hiocu, keadaan sudah begini, dan sekarang kau harus menghadap pada Gauw Sam Kui untuk mengatakan segala tindakannya itu semata-mata atas dasar perintah dari baginda raja karena baginda raja ada hubungan dengan kaum Bhok. Atau kita memulai saja penyerangan kita pada Gauw Sam Kui?"
Kata kawan nya. Siau Po tersadar, memang keadaan sudah sedemikian gawat.
"Lalu bagaimana dengan kakak dan Liu suhu yang masih mereka tawan?"
Tanya Siau Po.
Mereka terdiam, semuanya berpikir mencari jalan yang terbaik untuk membebaskan kedua orang itu.
Lama Siau Po menunggu mereka yang berpikir, tetapi tak dapat juga, Maka Siau Po minta diri untuk menemui Gauw Sam Kui untuk membicarakan masalah itu.
"Gauw Sam Kui telah menahan orang yang salah yang berarti keadaan A Ko baik-baik saja,"
Katanya dalam hati. Maka pergilah Siau Po ke kamar gurunya. Sesampai Siau Po dalam kamar gurunya, ia langsung menanyakan keadaan Gauw Sam Kui dan juga pertanyaan yang lainnya.
"Luka pada Gauw Sam Kui sangat parah dan aku telah membebaskan Nona Bhok dari kamar tahanan,"
Katanya, Mendengar keterangan Siau Po sang guru sangatlah senang tetapi secara tiba-tiba wajahnya berubah suram, lalu menyuruh Siau Po untuk meninggalkan dirinya seorang diri.
Mendengar perintah gurunya yang ia rasakan mengherankan sekali itu, ia lalu pergi meninggalkan sang guru.
Siau Po lalu melanjutkan mencari Nona A Ko, dan untuk itu ia harus bertanya pada para dayang dan juga para Sie Wie, mereka semua mengatakan jarang sekali A Ko datang ke istana dan mereka juga tak mengetahui dayang mana yang tertangkap oleh Gauw Sam Kui itu.
Sampai larut malam Siau Po tak dapat menemukan A Ko dan akhirnya ia pulang kembali ke kamarnya, setelah berbincang-bincang dengan nona Bhok ia langsung tertidur.
Besok paginya Siau Po pergi ke Gauw Onghu untuk mengetahui keadaan Gauw Sam Kui.
ia disambut oleh anaknya yang ke dua yang mengatakan keadaan Gauw Sam Kui tak banyak berubah, dan mengatakan bahwa raja muda itu sedang tidur hingga ia tak dapat mengganggunya.
Setelah gagal untuk bertemu dengan Gauw Sam Kui, Siau Po langsung kembali ke kamarnya, setelah itu ia lalu mengumpulkan kawan-kawannya untuk membahas masalah yang sama.
Tengah mereka berkumpul untuk membahas masalah itu, tiba-tiba datang Kho Gan Ciau yang menyampaikan sepucuk surat kepada Siau Po.
Dan ia mengatakan bahwa yang membawa surat itu, seorang pendeta wanita dari aliran Tao.
Dalam surat itu disebutkan.
"A Ko dalam bahaya."
Hanya itu yang terdapat dalam surat tersebut Me-reka semua bingung, tak mengetahui hubungan antara Siau Po dengan A Ko.
"Apakah orang yang membawa surat ini masih berada di sini?"
Tanya Siau Po.
"Ya, ia berada di luar."
Jawabnya. Siau Po langsung pergi ke ruang tamu dan di sana telah ada seorang wanita setengah baya yang dikawal oleh dua orang Sie Wie, Melihat kedatangan Siau Po Sie Wie itu berkata.
"Utusan raja telah tiba."
Kata nya. Imam wanita itu lalu berdiri dan memberikan hormat "Siapa yang menyuruh kau datang ke mari?"
Tanya Siau Po.
"Silahkan paduka turut denganku, nanti paduka akan mengetahui sendiri!"
Jawab imam wanita itu.
Siau Po sangat khawatir dan juga bingung.
Mereka naik kereta kuda, sedangkan kusirnya menurut perintah imam wanita itu, mereka jalan menuju ke barat, Tanpa mereka ketahui kawan-kawan Siau Po mengikuti dari kejauhan, mereka sangat khawatir jika ada musuh yang menggunakan akal muslihat untuk menjebaknya.
Mereka berjalan sampai lewat tapal batas kota dan menuju ke arah utara, Dengan melewati jalan yang sempit yang hanya dapat dilalui oleh satu kereta, mereka sampai pada sebuah kuil.
Sebelum Siau Po memasuki kuil itu, terlebih dahulu ia menoleh ke belakang, Tampak di sana beberapa temannya mengikutinya dari belakang, imam wanita itu menyuruh Siau Po masuk, lalu ia menyediakan minuman teh serta makanan ringan yang semuanya makanan mahal.
Mendapat perlakuan demikian Siau Po menjadi heran bercampur curiga, lalu ia teringat ibu suri yang jahat itu, timbul dalam hatinya beberapa pertanyaan.
Sedang Siau Po memikirkan hal itu, tiba-tiba datang seorang wanita cantik yang langsung memberikan hormat padanya, ia mengingat-ingat dan berkata dalam hati.
"Rasanya belum pernah aku bertemu dengan wanita secantik ini."
Melihat lagak Siau Po wanita itu tertawa. Wanita itu sedikit bingung, sebab tamunya hanya anak yang masih kecil dan hal itu diluar perkiraannya.
"Paras cantik itu dapat mencelakakan negara, Hal itu sudah terjadi sejak jaman dahulu, karenanya aku berada di sini untuk menebus dosaku yang cukup banyak ini!"
Kata wanita itu. Mendengar perkataan wanita itu Siau Po menjadi bingung, sebab ia tadi melihat orang yang ada di depannya itu, berbuat senang dan banyak senyum, Siau Po lalu bertanya.
"Apakah ada orang yang telah menghinamu?! Katakan padaku, siapa yang telah menghinamu? Aku akan menghajarnya dan aku akan mengadu jiwa padanya, Dan jika aku gagal maka leherku akan kuserahkan untuk dipenggal kata Siau Po. Mendengar kata-kata Siau Po, wanita itu kemudian bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Siau Po. Siau Po masih belum mengetahui siapa wanita yang berada di hadapannya itu, Setelah ia ingat-ingat, barulah ia sadar bahwa wanita itu ibu dari A Ko.
"Lalu ke manakah A Ko?"
Tanyanya dalam hati.
Tan Wan Wan adalah wanita tercantik, itulah orang tua A Ko.
sedangkan A Ko sangat bermusuhan dengan Gauw Sam Kui, ia menjadi bingung sendiri.
Sedang berpikir demikian, Tan Wan Wan lalu mengajak ke suatu tempat yang sunyi.
Di situ hanya terdapat sebuah gitar dan barisan huruf yang sama sekali tidak diketahui oleh Siau Po.
Tan Wan Wan kemudian mengambil gitar itu, dan ingin menyanyikan lagu kesayangannya yang syairnya ditulis oleh Gouw Bwee Cun peruntukkan dirinya.
"Bagus, cuma aku minta setelah menyanyikan lagu ini kau juga menjelaskan padaku artinya, sebab aku memang tak mengerti,"
Katanya.
"Ah! Tayjin terlalu merendah."
Jawabnya.
Selesai bernyanyi Tan Wan Wan mengartikan isi syair tersebut "Dengan raja dimaksudkan adalah kaisar Cong Ceng yang terakhir yang telah mati, kota raja dikatakan pecah sebab dirampas oleh Gauw Sam Kui, karena itu para pembesar pada berkabung, Wajah dadu yang kumaksud yaitu orang yang tak mendapatkan keberuntungan hingga kerajaan menjadi hancur."
Katanya. Baik Siau Po maupun Tan Wan Wan masing-masing membuka rahasia dirinya yang ternyata mereka dari satu asal yaitu rumah pelesiran, orang tua mereka berasal dari sana.
"Terhadap orang lain tak pernah aku mengatakan ini, apalagi terhadap A Ko. Kemungkinan dia akan menjauhi aku, karena sebelumnya ia telah kurang senang padaku."
Kata Siau Po. Wan Wan mengangguk.
"Tenangkan hatimu, sebenarnya oh, A Ko, ibumu pun bukan berasal dari keluarga orang baik-baik!"
"Tetapi kau jangan mengatakan hal itu kepadanya, sebab ia paling benci dengan bunga raja, Dia katakan wanita itu wanita paling busuk di seluruh dunia."
Kata Siau Po. Tan Wan Wan tertunduk.
"Aku dibeli untuk diserahkan pada kaisar Cong Ceng, agar ia tidak tergila-gila dengan selirnya, Akan tetapi aku ditolaknya dan dibiarkan pergi, Memang laki-laki itu banyak ragamnya, ada yang suka harta, ada yang suka kedudukan dan banyak "
Juga yang suka wanita cantik."
"Heran, kurasa Kaisar Cong Ceng itu tak punya mata, masa wanita secantik kau dia tolak? Aku tak mau jadi raja, hanya ingin memangku jabatan yang baik saja. Tidak seperti orang-orang, sudah mempunyai harta dan kedudukan, tapi wanita cantik pun masih dikejarnya."
Kata Siau Po. Wajah Wan Wan menjadi merah.
"Apakah yang kau maksudkan Peng See Ong?"
Tanyanya.
"Tak dapat aku menyebutkan siapa orang itu, yang pasti ada orang semacam itu di kolong langit ini."
Jawabnya, "Selanjutnya nyanyian mengenai lakonku, bagaimana sampai aku bertemu dengan Peng See 0ng.
ia pergi ke ayah permaisuri lalu meminta aku untuknya, Dan ketika ia bertugas aku diajaknya dan aku berdiam di kota Pakia, tak lama kemudian Lie Cong datang menyerang."
Katanya. Siau Po terus saja memasang telinga dan dia sangat tertegun. Setelah selesai bernyanyi maka Siau Po bertepuk tangan dan berkata.
"Apakah nyanyimu sudah habis!"
Sahut si nyonya. Siau Po menjadi malu.
"Dasar aku yang kurang pembacaan,"
Ia menyesali diri dalam hatinya.
"Orang bernyanyi belum habis, aku tidak tahu,.,." -ooo0oooTan Wan Wan sementara itu dengan perlahan berkata.
"Setelah itu Lie Cong merampas aku, akan tetapi kemudian aku dirampas kembali oleh Peng See Ong, Ya! Aku bukan lagi manusia, aku hanya seperti barang. Siapa orang dapat memilikiku, dan siapa yang kuat pun dapat mendapatkan aku."
Kali ini si nyonya tidak menunda nyanyiannya, ia meneruskan Dan sewaktu ia menunda nyanyian-nya, Siau Po tidak berani berkata apa-apa, ia khawatir akan malu sendiri seperti tadi.
"Kemudian aku menurut Peng See Ong menyerang ke propinsi Su Coan,"
Katanya, Tatkala itu ia diangkat sebagai raja muda, Peng See Ong maka aku pun diangkat sebagai Onghui, istri raja muda, Berita tentang pengangkatanku sampai di Soucu, Di sana para bunga raja yang menjadi kawan-kawanku banyak yang memujiku, Katanya aku beruntung baik, sebab mereka yang usianya makin hari makin tua masih saja menjadi bunga raja berjalan, masih saja mereka itu melakukan perbuatan yang rendah dan hina itu."
"Semasa aku di Lee Cun Wan,"
Kata Siau Po kemudian.
"pernah aku mendengar mereka ada yang menyebut-nyebut kata-kata menukar orang baru dalam semalam. Menurut aku, kata-kata itu bukanlah kurang baik,..."
Katanya. Tan Wan Wan menoleh pada orang yang berada di depannya itu. Wanita itu tidak dapat melihat air muka yang mengejek, maka ia menarik napas lega.
"Tayjin,"
Katanya.
"Kau masih muda kau belum mengetahui kesengsaraan orang hidup di dunia ini."
Lalu tanpa menunggu jawaban ia meneruskan bernyanyi.
"Cuma Gouw Bwee Cun yang mengetahui penderitaanku, walaupun banyak orang yang memuji padaku aku "
Cantik ", Dan banyak orang yang mengatakan bahwa aku sebagai penyebab hancur suatu kerajaan, hingga kerajaan Beng musnah, Gouw Bwee Cun mengetahui aku hanyalah seorang wanita, apa yang dapat aku perbuat?
Baik atau jahat kaum pria yang memuIainya."
"Ya, itu benar,"
Kata Siau Po.
"Angkatan perang Ceng berjumlah ribuan bahkan laksaan jiwa, mereka datang menyerang sedangkan kau hanya seorang diri. walaupun kau cantik kau sangat lemah, tidak mungkin dapat mengalahkan mereka itu,"
Sementara dalam hatinya ia berkata.
"Dia memetik gitar terus, bernyanyi terus, berbicara terus, dia sama dengan tukang cerita di kota Sou Ciu, yang bercerita sambil bernyanyi karena aku mengajaknya bicara maka aku pun mirip dengan pembantu tukang cerita itu.~ kalau kita berdua pergi ke Yangcu, kita bercerita di warung-warung teh, pasti kita akan menggemparkan kota itu, kota akan bergetar juga."
Kata Siau Po dalam hatinya.
Puas hati Siau Po memikir hal seperti itu, tetapi lamunannya berhenti sebab si cantik bernyanyi lagi, Suara gitar perlahan, kemudian naik tinggi lalu turun lagi begitulah secara bergantian dan akhirnya berhenti.
Karena suara Pie Pe dan nyanyian berhenti, Siau Po memandang kepada si nyonya.
ia melihat nyonya itu sedang menarik napas panjang dan air matanya turun secara perlahan-lahan.
"Aku telah memberikan pertunjukan yang sangat buruk.,,."
Ia mendengar orang berkata yang suaranya bercampur dengan suara tangisan Maka ia pun menjadi sangat terharu.
Wan Wan bangkit dengan perlahan-lahan, dan ia akan menaruh alat musiknya kembali seperti semula, Setelah itu ia kembali duduk berhadapan dengan Siau Po, lalu ia pun berkata.
"Lagu yang terakhir mengatakan tentang wafatnya Hucee, raja dari negara Gouw yang istananya musnah, Bunyi nyanyian itu, malah membuat aku tak mengerti, mengapa aku disangkut pautkan dengan nasib raja dan negaranya itu? Bukankah yang dimaksud dengan syair atau nyanyian itu tentang dirinya? Baru aku mengerti bahwa aku dibandingkan dengan See Sie, telah disebut-sebut juga negara atau istana Gouw. itulah istana Peng See Ong, yang belakangan ini, Peng See Ong rajin melatih tentara nya. Maka itu aku khawatir... khawatir, beberapa kali aku menasihatinya tapi bukannya aku berhasil malah aku dianggap membuat dia marah, itu sebabnya aku datang ke mari untuk mensucikan diri di kuil ini. Hanya aku masih memelihara rambutku Aku menyesal, aku mengharapkan agar mereka itu sehat dan selamat, siapa tahu tentang A Ko... ya dia...."
Mendadak si nyonya menangis sesenggukkan, sehingga kata-katanya terhenti-henti, Siau Po tertarik dengan nyanyian dan artinya itu, Untuk sesaat ia dapat melupakan tujuannya datang ke wihara itu, akan tetapi setelah disebutkan nama A Ko, tiba-tiba ia bangkit bagaikan digigit ular, Sekejap ia ingat maksud kedatangannya itu.
"Sebenarnya bagaimana A Ko?"
Demikian tanyanya.
"Jadi benar ia tak jadi membunuhnya? Dialah putrimu, maka bersama juga dengan Kongcu putri Oh, benarbenar celaka!"
"Celaka apanya?"
Tanya Tan Wan Wan.
"Ah, tidak apa-apa."
Jawab Siau Po karena ia ingat A Ko tak melihat mata padanya, sekarang ternyata si nona putri Gauw Sam Kui, adalah seorang Kongcu, maka apa yang dapat dia harap?
"Mengenai A Ko mari aku akan menjelaskannya padamu."
Kata Tan Wan Wan yang melihat gerak gerik kurang baik itu.
"Dua tahun setelah ia dilahirkan, pada suatu malam mendadak ia hilang, lalu Ongya memerintahkan orang-orangnya menyusuri seluruh kota, untuk mencarinya, tetapi itu sia-sia, maka aku menjadi curiga."
Tiba-tiba saja merahlah muka si nyonya.
"Kau mencurigakan apa?"
Tanya Siau Po.
"Aku mencurigai musuh-musuh Ongya, atau usaha ini dilakukan untuk memeras Ongya."
Sahut Wan Wan.
"Bukankah dalam istana terdapat banyak Sie Wie dan juga banyak orang yang lihay dalam ilmu silatnya?"
Kata Siau Po.
"Malam itu A Ko hilang tanpa bekas, dan tentunya penculik tersebut memiliki ilmu silat yang tangguh."
"Memang."
Kata Wan Wan membenarkan kata-kata Siau Po.
"Malam itu Ongya memecat para pejabat dan ia pun menghukum mati pemimpin Sie Wie. Disamping itu ia pun memecat pimpinan militernya. Tetapi usaha pencarian terus berjalan, namun hasilnya sia-sia, sehingga dalam murkanya, Ongya kembali hendak menghukum mati para Sie Wie. Syukurlah aku dapat mencegahnya. Sejak saat itu kabar A Ko tak terdengar lagi sehingga aku menerka A Ko sudah tak ada lagi di dunia ini."
Siau Po terdiam, kemudian ia berkata.
"Jikalau demikian, A Ko berkata kalau dia itu She Tan kiranya dia mengambil She Mu...."
Tan Wan Wan terkejut, tubuhnya menjadi limbung.
"Dia..., Dia menyebut dirinya She Tan? Kenapa ia sampai mengetahui itu?"
Tanyanya.
Sementara itu Siau Po berkata dalam hati, Si pengkhianat besar setiap saat selalu mengkhawatirkan ada orang yang datang mencoba membunuhnya, Dia sangat memperkuat penjagaan, maka itu untuk menculik seorang anak kecil dari istananya, mungkin terlalu sukar, Maka di kolong langit ini, siapa lagi yang sanggup melakukannya kalau bukan Kui Lan.
Katanya dalam hati.
Tetapi sewaktu Siau Po ditanya oleh Wan Wan ia lalu memberikan jawaban.
"Mungkin sekali ia tahu itu dikarenakan ia diberi tahu oleh orang yang menculiknya itu?"
Nyonya Tan Wan Wan mengangguk "ltu bisa terjadi,"
Katanya.
"Namun mengapa ia tak mau mengatakan kalau ia itu She.... She.,.?"
"Bukan she Gouw katamu?"
Kata Siau Po.
"Hm, she dari Beng See Ong bukanlah suatu she yang mentereng...?"
Wan Wan termangu, matanya memandang keluar jendela seperti tak mendengar kata Siau Po.
"Kemudian bagaimana?"
Tanya Siau Po.
"Setiap saat aku selalu mengingat anakku,"
Sahut Wan Wan.
"Aku mengharap Thian mengasihaninya, agar ia tidak mati dan aku suatu saat dapat mengetahuinya, Kemarin siang aku baru saja menerima kabar dari Onghu, bahwa ada orang yang mencoba ingin membunuh Ongya dan katanya, ia terluka parah. Aku pergi ke istana untuk mencari kepastian, ternyata memang benar Ongya ada yang menyerang tetapi ia tak terluka."
Siau Po terkejut.
"Jadi hanya dusta belaka kalau dia itu terluka parah?"
Tanya Siau Po heran.
"Ongya menjelaskan padaku bahwa ia sengaja memberi kabar bahwa ia terluka parah."
Katanya.
"Maksudnya, dengan demikian musuh akan terpancing, baik untuk membuktikan atau untuk mencoba membunuhnya lagi, jikalau musuh berbuat hal yang sembrono maka dengan mudah ia dapat meringkusnya hanya dengan satu gebrakan."
"Benar-benar orang yang sangat licik."
Kata Siau Po seperti berkata seorang diri.
"Aku seharusnya dapat menerka demikian, Ah, sudah nyata kalau dia telah mencurigai aku."
Kata Siau Po.
"Aku telah menanyakan siapakah musuhnya itu."
Kata Wan Wan.
"Ongya tak menjawab pertanyaanku, malah ia mengajakku ke suatu kamar, dan di atas pembaringan ada seorang nona yang tangan dan kakinya terbelenggu. Tanpa memandang lama-lama aku dapat mengenalinya kalau ia adalah anakku sendiri, sebab raut wajahnya sangat mirip denganku semasa aku masih muda dulu, Dia pun tercengang melihat aku. Hingga ia berdiam sekian lama, dan kemudian ia berkata, apakah kau ibuku? Lalu aku menjawab.
"Ya"
Dan itu adalah ayahmu, panggillah ia ayah!"
Mendadak A Ko marah bukan main, ia berkata dengan suara nyaring.
"Dialah si pengkhianat bangsa Han! Dia bukan ayahku! Dia justru yang telah membunuh ayahku dan aku akan menuntut batas dengannya!"
Mendengar demikian Ongya bertanya kepadanya.
"Siapakah ayahmu dan seperti apa katamu itu? Dia menjawab.
"Guruku tidak mengatakannya padaku, hanya mengatakan kalau nanti aku bertemu dengan ibuku, ia yang akan menjelaskannya padaku, Ongya lalu bertanya siapakah gurumu itu? Dia tak menjawab baik dengan cara paksa atau pun dengan dibujuk, pada akhirnya ia mengatakan, kalau ia mendapat perintah dari gurunya melakukan percobaan pembunuhan..."
Dalam hal ini Siau Po dapat menerka bahwa tujuh atau delapan dari sepuluh gurunya sangat membenci Gauw Sam Kui, maka tak puas hanya dengan membunuhnya, Dia sengaja menculik putri pengkhianat itu, dan dididik ilmu silat agar kelak anaknya yang membinasakannya.
Siau Po bangkit lalu pergi ke sisi jendela.
"Ya, aku mengerti sekarang."
Katanya dalam hati.
"Suhu memang tak menyukai A Ko, memang benar suhu telah mengajarkan ilmu silat tetapi ia tak mengajarkan ilmu tenaga dalamnya. Dengan demikian ilmu silatnya masih kurang jauh.,."
Kata Siau Po. Mengingat cara berpikir Kui Lan yang ingin membinasakan pengkhianat itu, Siau Po ketakutan sendiri, karena anak disuruh membunuh ayahnya sendiri.
"Guru A Ko berpikir terlalu jauh, hingga membuatnya berbuat yang serendah itu, Kalau A Ko berhasil berarti maksud dari gurunya dapat tercapai seandainya A Ko gagal itu tak kurang suatu apa. Siapa wanita yang akan membunuh ayahnya sendiri? Mengetahui hal itu bukankah akan menjadi pukulan keras pada dirinya? Bukankah dengan demikian ia akan tersiksa hingga ia akan mengalami goncangan jiwa dan itu lebih berat dari dirinya mati?"
Kata Wan Wan.
"Sekarang semuanya sudah beres,"
Kata Siau Po.
"Sekarang sudah tak ada lagi kejadian yang hebat Dia gagal dengan percobaan pembunuhannya, dan kalian sudah berkumpul bersama dengan keluargamu. Apabila kau beritahu duduk persoalannya pada A Ko bukankah hal itu menjadi indah?"
Kata Siau Po. Nyonya itu menarik napas panjang.
"Jika terjadi hal yang kau maksudkan itu merupakan karunia bagi keluargaku, dan aku akan merasa sangat bersyukur pada Thian Yang Maha Kuasa."
Katanya kemudian.
"A Ko anak kandungmu, siapa pun yang melihat ia akan mengetahui bahwa kau adalah ibunya, jikalau bukan kau yang begini cantik yang kecantikanmu dapat membuat ikan selam tenggelam, burung belibis terbang jauh, mana dapat terlahir seorang anak perempuan yang demikian cantik, yang kecantikannya membuat bunga malu dan rembulan menyembunyikan dirinya, Dan kalau Ongya tak sudi melepaskan A Ko itu mustahil ia diculik sewaktu berusia dua tahun, mana mungkin ia dapat disalahkan?" "Akan tetapi Ongya berpikir lain."
Kata si nyonya pada Siau Po yang terbengong saja.
"Kau tak mau mengaku aku sebagai ayahmu? Jelas sudah bahwa kau bukan anakku, jangankan kau bukan anakku, jikalau kau benar sebagai anakku, kau telah berbuat kurang ajar terhadap orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kamu, perbuatanmu tak mengenal undang-undang dan langit, sama saja kau tak dapat dibiarkan hidup di dalam bumi ini."
Kata Ongya yang ucapannya ditirukan oleh Wan Wan. Siau Po tersenyum.
"Oh, memangnya dia suka mengusap hidungnya ?"
Tanya Siau Po.
"Kau tidak tahu itu memang suatu kebiasaan dari Ongya."
Sahut nyonya itu dengan suara bergetar.
"Asal ia mengusap hidungnya itu berarti ia akan membunuh orang, semenjak dahulu tak pernah berubah."
"Oh,"
Siau Po berseru pula.
"Jadi bagaimana sekarang? Apakah ia sudah menghukum mati atau belum pada A Ko?"
"Sekarang ini belum,"
Kata si nyonya yang cantik itu.
"Ongya.... Dia masih ingin mencari tahu siapakah yang telah membunuh anak itu.,."
Kata si nyonya. Kali ini Siau Po tertawa.
"Jikalau demikian Ongyamu mempunyai penyakit curiga?"
Kata Siau Po.
"Dia jadi raja yang toIol, Begitu aku melihat kau langsung aku menjadi tahu bahwa kaulah ibunya A Ko, karenanya mana mungkin ia bukan ayah A Ko, rupa-rupanya ia sangat mendongkol karena A Ko telah mencoba akan membunuhnya...."
Bicara sampai di situ Siau Po memperlihatkan wajah serius, lalu ia meneruskan katakatanya.
"Sekarang kita harus cepat memikirkan cara untuk menolong A Ko. jikalau Ongya kamu sampai mengusap hidungnya, oh, celaka!"
"Aku mengundang Tayjin ke mari untuk membicarakan masalah ini."
Kata Tan Wan Wan.
"Menurut aku Tayjin menjadi utusan dari baginda raja, Ongya tentu dapat memandang mata padamu, Karena A Ko telah menyebut dirinya sebagai dayang maka hanya Tayjin yang dapat menolongnya, Tayjin dapat menggunakan alasan tuan putri menghendaki dayang itu, aku percaya Ongya tak dapat menolak permintaanmu."
Siau Po mengepal tangannya lalu dipakai untuk mengetuk-ngetuk kepalanya.
"ToIoI.... Tolol!"
Katanya kemudian beru!ang-ulang.
"Aku telah terkena bual olehnya."
Tan Wan Wan menjadi heran.
"Telah terjadi apakah?"
Tanyanya.
"Akalmu itu sudah aku gunakan sejak tadi siang."
Jawab Siau Po dengan kesal "Tidak tahu-nya.,., Ongya kamu lebih lihay dariku.
Aku bagaikan terbelenggu tangan dan kakiku, Kau tahu pada Ongyamu aku telah membebaskan seseorang dan ia telah memberikannya, tetapi orang yang aku minta itu bukannya A Ko.,,."
Tan Wan Wan menjadi heran dan ia terus menatap Siau Po.
Tanpa menunggu pertanyaan lagi, Siau Po lalu mengikuti Kok Siang ke dalam penjara bawah tanah itu untuk mengenali A Ko sebagai seorang dayang, Bagaimana orang itu telah mengetahui bahwa nona itu bukannya A Ko, ia hanyalah sebagai kawan kenalan saja, ia mengakui nona itu adalah seorang dayang sehingga ia dapat membawa pulang nona itu.
"Kiranya Kok Siang telah melaksanakan tipu daya padaku."
Kata Siau Po.
"Di depan orang pengawal Peng See Ong, dia mengatakan dengan keras bahwa dayang tuan putri itu telah ia serahkan padaku, Karena itu mana mungkin aku dapat meminta seorang dayang lagi? jikalau aku sampai berbuat demikian maka ia akan berkata padaku, Wie Tayjin, berhubung dengan ini, apakah Tayjin sedang bermain-main denganku? Toh dayang yang mencoba membunuh Ongya telah aku serahkan kepadamu di depan umum, Aku melakukan itu dengan tanggung jawab dan dengan kopiah kebesaran Dia tentu akan menambahkan bahwa dayang tersebut harus dikompas agar ia dapat memberitahukan siapakah yang memerintahkannya berbuat demikian sekarang aku akan mengambil lagi tidakkah itu lucu?"
Bicara demikian Siau Po menirukan gerak gerik Kok Siang.
"Tayjin benar memang begitu gayanya Hee Congpeng, jadi benar kiranya mereka sudah menggunakan akal muslihat itu untuk membungkam mulut Tayjin...."
Siau Po kesal sekali.
"Sungguh orang yang bejat!"
Kata Siau Po mendongkol. Tan Wan Wan mengawasi Siau Po dan menatapnya.
"Asalkan mereka berani mengganggu sehelai rambut saja,"
Katanya dengan suara keras.
"Aku akan mengadu jiwa dengan mereka, Oh, si telur busuk!"
Katanya pula. Tan Wan Wan memberi hormat seraya merapatkan kedua tangannya dan membungkuk.
"Terima kasih Tayjin kau telah menyayangi anakku, namun.,."
Katanya tersendatsendat. Repot Siau Po membalas hormat nyonya cantik itu. ia lalu berkata.
"Sekarang juga aku akan membawa pasukanku untuk menyerbu dan membinasakannya, jikalau aku tak sanggup menolong A Ko aku bukan lagi seorang She Wie, Biarlah She Ku menjadi She Gouw, hingga aku disebut Gouw Siau Po...."
Tan Wan Wan Siau Po yang ada di depannya, ia agak nyeri saking hatinya tergoncang, Diluar dugaannya utusan raja ini menjadi demikian gusar dan sudah mengeluarkan kata-kata sembarang.
"Tayjin baik sekali terhadap A Ko?"
Katanya dengan sabar dan suaranya lembut.
"Sudah jangan sungkan-sungkan apa itu Tayjin segala!"
Kata Siau Po yang telah habis kesabarannya.
"Jikalau kau mau menganggap aku sebagai orang sendiri panggil saja namaku.,., Siau Po.... Dan sebenarnya aku harus memanggil bibi padamu, Akan tetapi yang menjadi paman membuat aku panas hati.,,."
Dengan "BIBI"
Dimaksudkan "Pee-Bo"
Atau "Pee-EnT yaitu bibi yang tingkat usianya lebih tua, sebaliknya dengan "Siok-Bo"
Atau "Encim"
Yang usianya lebih muda, Kepada Gauw Sam Kui, Siau Po menyebut "Pee Hu"
Yaitu paman yang lebih tua, sebab ia memanggil "Pee Em"
Pada Wan Wan. Nyonya Tan mendekat pada Siau Po lalu meletakkan tangan kanannya pada bahu si bocah itu.
"Siau Po, jikalau kau tidak keberatan, panggillah aku A Ie!"
Katanya, (A Ie berarti bibi misanan). Mendengar ucapan nyonya Tan, Siau Po menjadi girang.
"Aku akan memanggilmu A Ie!"
Katanya.
"Didalam Lee Cun Wan di Yangcu...."
Tiba-tiba Siau Po menghentikan kata-katanya, Wan Wan tidak merasa heran, ia sudah dapat menerka sebab-sebab Siau Po berhenti bicara, Rupanya di dalam Lee Cu Wan, setiap bunga raja dipanggil A-Ie.
"Aku senang sekali mempunyai keponakan seperti kau, tetapi kau tak dapat mengambil sikap keras terhadap Ongya, Kau tahu sendiri, dalam kota ini tentaranya berjumlah besar sekali. Taruh kata kau menang, tetapi jika ia membunuh A Ko bukankah kita akan mengalami penyesalan seumur hidup...?"
BoIeh dikatakan untuk sesaat Siau Po dapat melupakan kemarahannya, Si bibi berbicara dengan lemah lembut dan suaranya merdu, gerak geriknya pun sangat halus, Siau Po tertarik bukan main, ia pun diperlakukan sebagai keponakannya sendiri.
"Habis, A Ie! Apakah daya A-Ie untuk menolong A Ko yang sedang dalam keadaan seperti itu?"
Tanyanya. Wan Wan berpikir sebelum ia menjawab.
"Aku berpikir, lebih baik aku menasihati A Ko agar mau mengakui Ongya sebagai ayahnya."
Katanya.
"Dengan demikian Ongya tak mungkin membunuhnya...."
Belum berhenti kata-kata si nyonya tadi, tiba-tiba dari luar terdengar orang berkata dengan suara keras sekali.
"Mengakui si pengkhianat sebagai ayahnya?"
Katanya dengan suara keras.
"Mana ada aturannya?"
Menyusul masuk seorang laki-laki dengan tubuh yang cukup tinggi dengan tongkat di tangannya, Biksu itu juga bermuka segi tiga, janggutnya sudah berubah warna, sepasang matanya yang tajam menatap, ia berdiri di ambang pintu.
Siau Po terkejut karena pendeta itu keren sekali, ia mundur tiga langkah seperti akan berlindung pada nyonya itu.
Wan Wan tidak merasa takut, bahkan sebaliknya sangat senang dengan datangnya orang suci itu.
"Oh, kau datang?"
Katanya dengan girang.
"Ya, aku datang."
Sahut pendeta dengan suara halus, matanya yang semula melotot berubah sayu. Setelah sinar mata mereka menjadi bentrok nampak mereka sangat girang satu dengan yang lainnya. Siau Po diam saja.
"Siapakah pendeta tinggi besar yang keren itu?"
Tanyanya dalam hati.
"Mungkin.... Mungkinkah ia gendak A-Ie? Atau ia sering mengajak pelesiran sewaktu A-Ie berada dan menjadi bunga raja? Kalau benar ini tidaklah aneh. Sewaktu aku sendiri menjadi pendeta, aku sering pergi ke rumah hina."
Katanya dalam hati. Ketika itu terdengar pula suara Tan Wan Wan.
"Jadi kau sudah mendengar semua pembicaraan itu?"
Tanyanya. Pendeta tua itu mengangguk.
"Ya, aku telah mendengar pembicaraan kalian."
Katanya.
Mendadak Wan Wan menyandarkan tubuhnya dalam rangkulan orang itu.
ia menangis tersedu-sedu, dan dengan tangan kirinya pendeta itu meng-usap-usap kepala Wan Wan.
Menyaksikan hal itu Siau Po menjadi heran sendiri, maka ia pun berkata.
"Apakah kalian menganggap aku sebagai orang mati? Atau kalian menganggap aku sebagai patung? Baiklah jika kalian menganggap aku seperti itu aku akan diam saja melihat tingkah kalian."
Kata Siau Po dengan suara keras. Akhirnya Wan Wan berhenti menangis, setelah mendengar kata-kata Siau Po itu. ia lalu mengangkat kepalanya dan berkata.
"Benarkah kalian akan menolong A Ko anakku?"
Tanyanya dengan suara yang terisak-isak.
"Benar."
Jawab si pendeta.
"Aku akan menolongnya dengan sekuat tenagaku, Walau bagaimanapun anak itu tak dapat mengaku Ongya sebagai ayahnya, apalagi sebagai ayah kandungnya."
Demikian katanya dengan suara gagah.
"Ya, ya, aku keliru."
Kata Wan Wan.
"Aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar aku dapat menolong anakku itu tanpa memikirkanmu, Aku, aku.,, aku... menyesal...!"
Biksu itu tertawa, walaupun tawanya itu bernada sedih.
"Aku mengerti, dan aku tak menyalahkanmu tetapi anak itu tidak dapat mengakui si pengkhianat itu sebagai ayahnya, tidak dapat,., pasti tidak dapat."
Kata si Biksu.
Suara itu sangat pelan tetapi nadanya sangat berwibawa dan memerintah.
Dan pada saat itu terdengar suara langkah kaki yang disusul dengan suara tawa yang menuju ke arahnya, Dan orang itu berkata dengan suara yang masih keras.
"Oh, sahabat kawanku, kau telah sudi datang ke kota Kun Beng ini, sungguh terang muka Siau Ong!"
"Siau Ong"
Berarti raja kecil, Dan kata itu dipakai juga untuk menggantikan kata "Aku"
PuIa.
Mendengar dan mengenali suara itu Siau Po dan juga Tan Wan Wan kaget sekali, wajah mereka menjadi pucat Tetapi justru sebaliknya dengan pendeta itu.
ia tetap tenang seperti tak terjadi apa-apa hanya matanya melihat lebih tajam.
Tiba-tiba tampak bayangan pedang, menyusul gordeng telah tertebas putus dari luar, hingga di lain waktu di depan pintu yang tak teralingi apa-apa itu tampak Gauw Sam Kui berdiri dengan tawanya yang menunjukkan hatinya sangat senang dan di samping kiri dan kanannya berdiri pengawal pribadinya.
Dengan suara nyaring Gauw Sam Kui memasukkan pedang dalam sarungnya, tetapi suara itu disusul dengan suara berisik dalam kamar dan debu pun pada bertaburan, sebab tembok dari empat penjuru itu rubuh dari arah luar.
Maka nampak beberapa pengawal-pengawalnya pada masuk melewati tembok yang runtuh itu, Tembok itu telah digempur dengan palu yang sangat besar sehingga sangatlah mudah untuk merubuhkannya.
Para pengawal itu bersenjatakan panah dan tombak yang kesemuanya di arahkan pada mereka, Mereka terancam sebab jika Gauw Sam Kui memberikan isyarat, maka anak panah dan tombak itu menyerang mereka.
"Wan Wan kau keluar!"
Terdengar suara keras dari Gauw Sam Kui pada istrinya.
Nyonya itu sangsi dengan perintah itu, tetapi ia pergi juga, Baru satu langkah akhirnya ia membatalkan meneruskan langkahnya, dan lalu ia menggelengkan kepala.
"Aku tak mau keluar!"
Katanya, ia lalu menoleh pada Siau Po dan langsung berkata.
"Siau Po urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau, untuk itu pergilah kau keluar!"
Tetapi sekarang Siau Po atau utusan kaisar itu, bukannya menerima anjuran itu malah ia berkata. "Aku tidak mau keluar. Jika kalian berani, bunuhlah aku!"
Kata-kata itu ditujukan pada Gauw Sam Kui. Si Biksu sebaliknya menggoyangkan kepalanya.
"Kalian berdua keluarlah.."
Katanya dengan sabar dan tenang.
"Aku si pendeta tua, memang sejak dua puluh tahun yang lalu seharusnya aku sudah mati."
Tan Wan Wan menarik tangan si Biksu tua itu.
"Tidak.... Tidak.,.!"
Katanya.
"Kau tak dapat mati sendiri kita harus mati bersamasama!"
"A-Ie apakah kalian sangka aku takut mati?"
Kata Siau Po. Gauw Sam Kui gusar hingga ia kalap, lalu mengangkat tangannya dan menuding ke arah Siau Po.
"Wie Siau Po kau berteman dengan pemberontak jikalau aku membunuhmu, aku akan mendapatkan hadiah dari baginda raja dan bukannya hukuman!"
Katanya. Bagian 57 Habis berkata demikian Gauw Sam Kui menatap Tan Wan Wan dan berkata kepada Ong Hui Ong.
"Wan Wan, mengapa kau begini sembrono dan bodoh? Masihkah kau tidak ingin keluar?"
Nyonya Tan menggelengkan kepalanya.
"Pemberontakan apa?"
Kata Siau Po dengan keras selagi sang bibi tak mau dipaksa keluar "Memang aku tahu, kau paling pandai menuduh dan memfitnah orang baik-baik."
Dari murka Gauw Sam Kui berubah tertawa, rupanya ia menganggap Siau Po itu lucu.
"Oh bocah cilik kau rupanya masih belum tahu siapa pendeta tua itu."
Katanya.
"Kau tahu kau membuat kau terselubung hingga kau tak melihat apa juga, Dengan demikian, kalau nanti kau pergi ke neraka kau masih belum tahu siapa yang mengantarkan jiwamu pergi ke sana?"
Belum lagi Siau Po menjawab pertanyaan itu, sang Biksu sudah mendahului berkata dengan keras.
"Aku si orang tua, berjalan aku tak berubah She ku, duduk aku tidak menukar namaku! Akulah Cian Ong si raja langit, She Lie bernama Cu Seng!"
Mendengar kata-kata tersebut Siau Po tersentak kaget bukan main.
"Kau.... Kaukah Lie Cu Seng?"
Tanyanya.
"Tidak salah, saudara cilik!"
Katanya.
"Nah, kau keluarlah! Seorang laki-laki sejati dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri, Aku si orang She telah mengalami perang beratus-ratus kali dalam usiaku yang tujuh puluh tahun lebih, jikalau aku mati aku tak sudi ditemani oleh pembesar cilik bangsa Tatcu."
Setelah selesai ucapan Lie Cu Seng itu, Gauw Sam Kui berseru karena gusar, Akan tetapi sekonyong-konyong tampak satu bayangan putih berkelebat sebab dari atas atap telah melompat turun seorang yang jatuhnya tepat ke arah kepala raja muda itu.
Ketika itu di belakang Gauw Sam Kui telah bertambah para pengawal yang langsung menyerang bayangan putih itu dengan pedangnya.
Bayangan putih itu hanya mengibaskan ujung bajunya dan terasa angin yang berasal dari bajunya, Maka tak ayal lagi empat pengawal yang menyerangnya terpental ke belakang beberapa langkah, menyusul bayangan putih itu menyerang raja muda.
Setelah mendapatkan serangan yang mendadak dari bayangan putih, Gauw Sam Kui terpental masuk ke dalam kamar.
Bayangan putih itu pun ikut masuk ke dalam kamar, kali ini ia menggerakkan tangannya yang kiri langsung ke arah bahu Peng See Ong.
Gauw Sam Kui mengeluarkan suara tertahan lalu jatuh terduduk di Iantai.
Kali ini bayangan putih itu tidak menyerangnya, hanya menekan ubun-ubun Gauw Sam Kui setelah ia lebih dahulu mengawasi ke empat penjuru.
"Cepat letakkan anak panah kalian!"
Demikian bentaknya dengan suara bengis.
Dalam keadaan seperti ini, meskipun kepala perang mereka terancam maut, tidak ada yang berani menggerakkan tangan apalagi menggerakkan anak panahnya.
Siau Po segera mengenali bayangan itu.
"Suhu."
Ia berseru memanggil Ternyata bayangan putih itu Kiu Lan gurunya, yang telah mengikuti Siau Po sejak ia meninggalkan kamarnya, dan selama itu rombongan Cin Thian Coan tidak berani sembarangan bergerak turun tangan, dan setelah ia melihat rombongan Gauw Sam Kui.
Kemudian Kiu Lan menoleh pada Lie Cu Seng.
"Benar kau Lie Cu Seng?"
Tanyanya.
"Tidak salah,"
Jawabnya. ia adalah si raja langit yang menentang pemerintah, tetapi ia mengalami kegagalan dan usahanya buyar.
"Aku dengar kabar bahwa kau telah terkena hajar orang di gunung Kiu Kiong San dan kau mati, kenapa sampai saat ini kau masih hidup?"
Tanya Kiu Lan. Orang She Lie itu mengangguk. Kiu Lan menatap terus.
"Apakah A Ko anak perempuanmu yang kau dapat dari dia?"
Tanyanya sambil menunjuk pada Wan Wan. Liu Cu Seng menghela napas lalu menoleh pada Tan Wan Wan dan langsung mengangguk. Gauw Sam Kui mendongkol sekali, maka ia lalu berkata dengan suara yang keras.
"Seharusnya aku mengetahui hanya kaulah si bangsat yang dapat melahirkan anak..!"
Kiu Lan menendang punggung Gauw Sam Kui maka terdengarlah suara mengaduh dan kata-kata-nya terputus-putus secara tiba-tiba.
"Kamu berdua pengkhianat! Jalan setengah hati jalan delapan tail!"
Cacinya.
"Di antara kalian berdua entahlah yang mana yang lebih jahat dan lebih kejam?"
Liu Cu Seng memukulkan tongkatnya pada lantai maka terdengarlah suara nyaring dan lantai itu pun pecah.
"Hai biksu hina dina, siapakah kau? Mengapa kau berlaku begini kurang ajar?"
Bentaknya.
"Jangan kurang ajar!"
Selak Siau Po pada si biksu. Dengan tibanya gurunya ia menjadi berani dan bersemangat sekali.
"Apakah kau sudah bosan hidup maka kau berani kurang ajar terhadap guruku ini? Kau memang si pemberontak dan pembuat huru hara! Kata-kata guruku tak pernah keliru!"
Katanya.
Suara keras itu diakhiri dengan datangnya tiga buah tombak yang semuanya diarahkan pada Kiu Lan, maka Kiu Lan berkelit.
Biksu itu mengibaskan tangan kanannya dan dua buah tombak berhasil dilumpuhkan.
Dan tangan kirinya mengambil tombak yang satu dan ia melemparkan tombak itu kembali ke arahnya.
Di luar jendela terdengar dua kali jeritan kesakitan itulah jeritan dua orang pengawal yang mati terkena tombaknya sendiri, yang tadi mereka arahkan pada Kiu Lan.
Dengan tombak di tangan kirinya Kiu Lan mengancam si pengkhianat besar, Asal ia menggerakkan tangannya maka matilah si raja muda itu.
"Kamu jangan lancang bergerak!"
Kata Gauw Sam Kui pada para pengawalnya.
"Kamu semua mundur sepuluh langkah!"
Para pengawal itu serempak menyahut, dengan bersama mereka mundur beberapa langkah. Kiu Lan tertawa dingin, ia mengawasi Gauw Sam Kui dan Lie Cu Seng secara bergantian.
"Hari itu suatu kebetulan."
Katanya dengan suara tawar.
"Di dalam kuil yang kamarnya kecil ini telah berkumpul pemberontak kelas satu pada jaman dahulu dan jaman sekarang, serta pengkhianat terbesar bangsa Han sejak jaman dahulu dan jaman sekarang."
"Masih ada lagi."
Kata Siau Po menambahkan "Di situ terdapat nona tercantik dari jaman dahulu hingga jaman sekarang, serta jago silat terbesar dari jaman dahulu sampai jaman sekarang."
Mendengar suara muridnya itu, mau tidak mau si Biksuni tersenyum ia tahu muridnya itu konyol.
"llmu silat nomor satu aku tidak mau terima tetapi pelawak nomor satu sejak jaman dahulu hingga sekarang aku mau terima."
Ujar Kui Lan.
Siau Po tertawa menggelegar.
Mau tidak mau Tan Wan Wan pun tersenyum, ia tengah menyaksikan sesuatu yang sangat lucu.
Gauw Sam Kui dan juga Lie Cu Seng, tengah memikirkan cara untuk dapat meloloskan diri dan tidak menikmati lelucon orang-orang itu.
walaupun mereka diam saja, wajah mereka sama-sama pucat dan mereka itu adalah orang-orang penting, yang pernah dan biasa memimpin angkatan perangnya.
Dan yang pernah merajai dan sering mengalami macam-macam kesukaran.
Tetapi kali ini mereka mengalami saat-saat yang sulit luar biasa, Apalagi Peng See Ong, beberapa macam akal telah digunakannya tetapi tidak satu pun yang dapat dipakai.
Akhirnya Lie Cu Seng menghadapi Kiu Lan.
"Sekarang kau mau apa?"
Tanyanya dengan keras.
"Aku mau bagaimana?"
Ia balik bertanya dan tertawa dengan suara dingin.
"Dengan tanganku sendiri aku hendak membunuh kalian!"
"Su Thay,"
Tan Wan Wan mengelak.
"Apakah Su Thay guru A Ko anak perempuanku?"
Kiu Lan tertawa tawar.
"Akulah yang menculik anakmu itu dan membawanya pergi."
Jawabnya dengan tenang.
"Aku mendidiknya dengan ilmu silat dan aku pula yang membesarkannya agar nanti jika sudah dewasa ia yang akan membunuh pengkhianat bangsa Han atau ayah tirinya."
Katanya dengan jelas. Berkata demikian Kiu Lan kemudian menusuk Peng See Ong dengan tombak yang ada di tangannya hingga mengenai dagingnya sedalam satu dim dan si raja muda itu menjerit kesakitan.
"Su Thay!"
Kata Wan Wan dengan kaget sekali.
"Dia dan Su Thay tidak saling kenal dan tidak pula bermusuhan!"
Katanya dengan cepat, Kiu Lan mengangkat kepalanya sambil berkata.
"Dia denganku tidak kenal dan tidak bermusuhan?"
Katanya.
"Siau Po, beritahukan dia siapa aku, agar pemberontak-pemberontak itu tahu sebelum ia mati dan sudah mengetahui sebab-sebab kematiannya itu!"
Kata guru Siau Po.
"Guruku itu adalah putri kandung dari baginda Cong Ceng kaisar dari kerajaan Beng yang maha besar"
Kata Siau Po yang menjelaskan pada mereka bertiga. Tan Wan Wan, Gauw Sam Kui dan juga Lie Cu Seng mendengarkan kata-kata Siau Po, mereka sama-sama tak menyangka tetapi mereka akhirnya tertawa bersama.
"Bagus.,., Bagus!"
Serunya.
"Dahulu kala aku telah memaksa mati ayahmu, sekarang aku mati di tanganmu, Maka kematian itu jauh lebih menang dalam peperangan dengan pengkhianat besar"
Ia maju selangkah dan menancapkan tongkatnya ke lantai Kemudian ia merobek bajunya dan tampak dadanya yang berbulu.
"Tuan putri, kau boleh turun tangan sekarang, aku si orang She tidak mati di tangan pengkhianat besar tetapi aku mati di tangan tuan putri dari kerajaan Beng itu bagus."
Katanya pada Kiu Lan.
Kiu Lan membenci dan sakit hati terhadap Lie Cu Seng sampai ke tulang-tulang, ia sangat menyesal sewaktu ia mendengar berita bahwa Lie Cu Seng telah mati di gunung Kiu Kiong San.
Maka dengan demikian sudah tidak ada kesempatan untuk membalas dendam sakit hatinya itu.
Ternyata sekarang musuh besarnya itu masih hidup, dan sudah terjatuh ke tangannya, ini di luar dugaannya, ia sangat girang tetapi setelah ia mendengarkan kata-katanya yang gagah itu dan juga sikapnya, ia menjadi kagum sekali.
"Tuan kau sungguh laki-laki sejati!"
Katanya.
"Sekarang begini! Terlebih dahulu aku akan membunuh musuhmu agar kau dapat melihatku, baru kemudian aku akan mengajakmu bermain-main sampai mati."
Liu Cu Seng girang sekali, ia pun memberi hormat pada tuan putri yang sekarang sudah menjadi biarawati itu. ia memberi hormat seraya berkata.
"Terima kasih Kongcu, aku yang rendah bersyukur tak habis-habisnya! Karena keinginanku yang paling utama adalah menyaksikan kematian si pengkhianat besar pada bangsa Han!"
Sementara itu pikiran Kiu Lan telah berubah secepatnya, dan ia menyaksikan Gauw Sam Kui terdiam saja, Di bawah ancaman tusukan tombak, si pengkhianat itu malah merintih kesakitan, sama sekali ia tak meronta-ronta, ia seorang jago selama merantau di Kang Ong.
Tidak sedikit para jago yang terbinasa di tangannya, tetapi tiada yang sepengecut pengkhianat ini.
Hingga tak ada keinginannya untuk membinasakannya sendiri, maka ia lalu menghadapi Cu Seng.
"Aku hendak membuat engkau memenuhi keinginanmu."
Katanya.
"Nah, kau bunuhlah dia!"
Katanya pada Cu Seng. Bukan main girangnya orang itu. "Terima kasih!"
Katanya setengah tertunduk menghormati dan setelah itu ia pun mentap Gauw Sam Kui dan berkata bengis.
"Pengkhianat jahanam, dahulu sewaktu dalam peperangan aku tak beruntung dan aku dapat kau kalahkan. Tak disangka kau kini telah ditaklukkan oleh Kongcu, Kalau aku membunuhmu dengan begini saja, aku rasa kau pun tak merasa puas, kau tentu akan mati dengan mata merem."
Bekas pimpinan pemberontak ini mengangkat kepalanya dan menghadap pada Kiu Lan.
"Kongcu yang mulia."
Katanya.
"Tolong Kongcu merdekakan dia agar aku bertempur secara laki-laki sampai salah satu di antara kami akan mati!"
Pintanya. Kiu Lan mencabut tombaknya.
"Baik,"
Sahutnya.
"Mari kita lihat mana yang lebih dahulu dapat membinasakan lawan!"
Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 4
Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 3