Eps 13 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
"Lau suhu bernama Lau Kok Hian."
Sahut si pemuda.
Pek I Ni merasa heran, Ketika menyebutkan nama gurunya, Kek Song tidak menunjukkan sikap yang menghormat sebagaimana biasanya seorang murid, Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya.
"Bukankah nama guru kongcu itu sama dengan nama Lau Toa Ciang Kun dari Taiwan?"
"Benar."
Sahut Kek Song.
"Dia memang Lau toa ciang kun yang memangku jabatan Te-kok di bawah perintah Yan Peng Kun Ong, raja muda dari Taiwan."
Te-kok berarti pangkat yang setara dengan Komandan utama dalam sebuah propinsi.
"Apakah The kongcu termasuk anggota keluarga Yan Peng Kun Ong yang agung itu?"
"Aku puteranya yang kedua."
Pek I Ni menganggukkan kepalanya.
"Kiranya turunan panglima perang yang setia kepada negara."
Raja muda Yan Peng Kun Ong adalah The Seng Kong yang telah berjasa merampas pulang kepulauan Taiwan dari tangan bangsa Belanda, Dia dianugerahkan pangkatnya di tahun Eng Lek kedua belas.
Pangkat militernya Ciau Ciang Kun, panglima perang.
Pada tahun Eng Lek ke enam belas, atau permulaan tahun kaisar Kong Hie bulan kelima, Teh Seng Kong menutup mata.
Tatkala itu, putera sulungnya, The Keng sedang memangku jabatan di Kim mui dan He mui.
Karena itu, The Sip, adiknya yang mewarisi jabatan sang ayah.
Sementara itu, The Keng mengajak Tay Ciang Kun Ciu Coan Pin, Tan Kin Lam dan yang lainnya untuk berangkat ke Taiwan dan merampas kembali kedudukan ayahnya itu, Ternyata dia berhasil The Keng mempunyai dua orang putera, Yang pertama bernama The Kek Cong, dan yang kedua The Kek Song ini..The Keng tidak sudi menakluk pada bangsa Boan, sikapnya itu membuat dirinya disanjung dan dikagumi oleh para pecinta negara.
juga dihormati oleh segala kalangan.
Ketika menyebut nama ayahnya, Kek Song yakin si bhikuni akan menaruh sikap hormat kepadanya.
Ternyata sikap bhikuni itu biasa-biasa saja, Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Tentu saja dia tidak tahu kalau Pek I Ni justru putrinya kaisar Cong Ceng dan Lau Kok Hian adalah bekas panglima ayahnya yang telah menakluk pada pemerintahan Boan Ciu.
Sementara itu, Siau Po berkata dalam hatinya.
-Memangnya apa yang hebat dari Yan Peng Kun Ong?
--, dia tahu siapa raja muda itu, bahkan gurunya sendiri, Tan Kin Lam adalah sebawahannya si raja muda.
Di lain pihak, dia merasa tidak enak hati melihat Kek Song kepada A Ko.
Bukankah pemuda itu putera seorang raja muda dan tampangnya juga jauh lebih ganteng daripada dirinya sendiri?
Dia juga kalah dalam ilmu silat sedangkan dalam hal kepandaian dan usia, dia juga tidak ungkuIan, Ada satu hal yang dikhawatirkannya, Kalau gurunya, Tan Kin Lam tahu dia sedang memperebutkan seorang gadis dengan pemuda itu, bisa-bisa dia mati digantung.
--Pek I Ni mengatakan, pemuda itu keturunan seorang panglima perang yang setia kepada negara, Aku sendiri apa?
-Demikian pikirnya lebih jauh, Dia kalah derajat, malah dia anak seorang perempuan hina yang menjajakan diri di rumah pelesiran.
Pada saat itu, terdengar Pek I Ni berkata kembali.
"Jadi gurumu yang pertama adalah Sie Liang yang telah takluk pada bangsa Boan Ciu?"
"Benar,"
Sahut Kek Song.
"Dia memang orang yang tidak tahu malu, Sudah lama boanpwe tidak mengakuinya sebagai guru, Bahkan lain kali, apabila kami sempat bertemu muka, di medan perang boanpwe akan membasminya dengan tangan sendiri. Ketika berbicara, nadanya bersemangat sekali, malah sepasang tangannya dikepalkannya erat-erat.
"Selama hampir sepuluh tahun ini,"
Kata Kek Song pula.
"Boanpwe selalu mengikuti Phang suhu untuk belajar silat, Phang suhu adalah seorang tokoh utama Kun Lun pai yang mempunyai julukan It Kiam Bu Hiat (Sekali tusukan pedang tanpa darah), Mungkin suthay pernah mendengar nama beliau...."
"Apakah nama lengkapnya Phang Sek Hoan?"
Tanya Pek I Ni.
"Tetapi mengenai asal usulnya aku kurang jelas."
"llmu pedang Phang suhu lihay sekali,"
Kata Kek Song.
"Demikian pula tenaga dalamnya yang sudah mencapai puncaknya, Dengan ujung lengan bajunya saja Phang suhu dapat menotok jalan kematian seseorang. Apabila dia menotok, kulit tubuh orang itu tidak terlihat luka dan tidak mengucurkan darah sama sekali."
"0h...!"
Seru Pek I Ni kagum.
"llmu tenaga dalam yang demikian sempurna, pada jaman ini mungkin hanya beberapa orang yang menguasainya, Berapa usia Phang suhu itu?"
Kek Song tampak puas sekali dengan pujian Pek I Ni.
"Pada musim dingin ini, boanpwe akan memberikan selamat kepadanya untuk ulang tahun yang kelima puluh."
Pek I Ni menganggukkan kepalanya.
"Usianya belum lima puluh tahun, tapi tenaga dalamnya sudah semahir itu, Sukar ditemukan orang sehebat dirinya."
Si bhikuni berdiam diri sesaat Kemudian dia baru bertanya lagi.
"Bagaimana dengan para pengikutmu, kongcu? Apakah ilmu mereka dapat diandalkan?"
"Mengcnai hal itu, harap suthay legakan hati."
Sahut Kek Song.
"Mereka semua merupakan pengikut-pengikut lihay yang telah dilatih dalam istana Yan Peng Kun Ong."
"Eh, suthay!"
Tiba-tiba Siau Po nyeletuk.
"Mengapa orang-orang lihay di kolong langit ini demikian banyak? Lihat saja guru kongcu ini! Yang pertama ialah jago dari Bu I Pai, yang kedua dari Siau Lim Pai, Dan yang ketiga dari Kun Lun Pai, Sudah begitu, para pengiringnya semua lihay luar biasa."
Panas hati Kek Song mendengar ucapan Siau Po.
Dia merasa dirinya sedang disindir Tapi dia menahan kekesalan hatinya, Dia belum kenal siapa anak tanggung itu.
Karena dia melakukan perjalanan bersama nona Tan dan gurunya, mungkin dia mempunyai hubungan dengan mereka.
Sementara itu, terdengar A Ko berkata.
"Bukankah ada pepatah yang mengatakan apabila gurunya lihay, muridnya pasti lihay juga. The kongcu telah dididik oleh tiga tokoh yang terkenal, tentu saja ilmunya tinggi sekali."
"Nona benar!"
Sahut Siau Po.
"Aku bertanya demikian karena belum tahu sampai di mana kelihayan The kongcu. Kalau dibandingkan dengan nona, entah ilmu siapa yang lebih tinggi?"
A Ko menoleh kepada Kek Song.
"Sudah tentu ilmu The kongcu yang lebih tinggi."
Sahutnya, The Kek Song tertawa.
"Ah.... Nona terlalu merendahkan diri sendiri."
Katanya. Siau Po tertawa juga, bahkan dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh, begitu!"
Katanya.
"Tadi Nona mengatakan apabila gurunya lihay, muridnya pasti lihay juga, Dengan demikian guru nona sendiri pasti kurang lihay sehingga dia kalah dengan guru-guru The kongcu."
Wajah A Ko berubah merah padam, Dia tergelincir oleh kata-katanya sendiri.
"Kapan aku mengatakan ilmu guruku rendah? Kau... kau sendiri yang mengoceh tidak karuan."
Pek I Ni memperhatikan sikap ketiga muda-mudi itu.
"A Ko,"
Katanya.
"Kalau mengadu lidah dengannya, mana mungkin kau menang?"
A Ko terdiam.
Dia merasa malu sekali Kereta terus maju ke arah barat Kek Song selalu mengiringi di sampingnya.
Siau Po mengeluarkan tiga butir pil yang diberikan ibu suri kepadanya.
Dia menyodorkannya kepada Pek I Ni dan meminta wanita itu menelannya.
"Suthay, ini obat Soat Som, kabarnya bisa untuk memulihkan tenaga."
Katanya. Pek I Ni menyambut pil itu seraya mengucapkan terima kasih, Dia langsung menelannya sekaligus. Setelah itu, dengan perlahan-lahan dia bertanya kepada muridnya.
"Bagaimana kau bisa berkenalan dengan The kongcu itu?"
Wajah A Ko kembali menjadi merah padam.
"Pertama kali aku melihatnya di kota Kay Hong."
Sahutnya.
"Ketika itu aku bersama kakak dan kebetulan kami sedang menyamar sebagai pria, Karena itu dia menyangka kami Iaki-Iaki sejati dan kami pun sedang berada di dalam rumah makan. The kongcu mengundang kami duduk dan bersantap bersama."
"Nyali kalian benar-benar tidak kecil."
Kata Pek I Ni.
"Dua orang nona berani bersantap di rumah makan."
A Ko menundukkan kepalanya.
"Kami tidak benar-benar minum arak,"
Sahutnya.
"Kami hanya berpura-pura saja, Kami menganggapnya sebagai permainan yang menarik."
"Nona A Ko,"
Tukas Siau Po.
"Wajahmu begitu cantik, meskipun menyamar sebagai laki-laki, setiap orang pasti tahu dan dapat mengenali bahwa kau sebenarnya seorang gadis, Dan The kongcu itu, aku rasa dia mengandung niat yang kurang baik terhadapmu."
"KauIah yang mengandung maksud kurang baik!"
Bentak si nona kesal.
Siau Po terdiam Dia hanya tersenyum simpul.
Pek I Ni ikut-ikutan tersenyum Rupanya dia menganggap tingkah kedua remaja ini sungguh jenaka.
Pada siang hari itu mereka tiba di Hong Ji Cung, dan segera singgah di sebuah rumah makan besar Ketika melompat turun dari kudanya, Siau Po melihat sikap dan tampang pemuda itu gagah sekali, Di pinggangnya terselip sebatang pedang yang pada gagangnya bertaburkan batu permata, sinarnya berkilauan A Ko menuntun Pek I Ni turun dari kereta, Mereka memasuki rumah makan itu lalu mengambil tempat duduk, Siau Po hendak duduk di depan Pek I Ni, tapi dia dipelototi oleh A Ko.
"Di sana banyak tempat kosong, mengapa kau harus duduk di sini? Melihat tampangmu, aku jadi tidak ada selera untuk makan."
Katanya.
Siau Po marah sekali, wajahnya berubah merah padam, Dia membungkam tapi dalam hatinya dia memaki, --lya, kalau The kongcu yang menemani kau makan, kau langsung saja ada selera, -"A Ko, mengapa kau tidak bisa bersikap manis terhadap Siau Po?"
Tanya Pek I Ni.
"Karena dia orang busuk yang sanggup melakukan kejahatan apa saja,"
Sahut si nona.
Siau Po mendongkol sekali, Dia terpaksa berjalan menuju sebuah meja yang ada di sudut rumah makan itu, Dalam hati dia berkata.
--Terang kau ingin menikah dengan The kongcu yang bau itu, Tapi apa kau kira aku, Wi Siau Po akan mudah diperlakukan seperti ini?
Hm!
Lihat saja, nanti aku akan mencari jalan membunuh pujaan hatimu sehingga sebelum menikah kau sudah menjadi janda.
pada saat itu, mau tidak mau kau pasti menjadi isteriku -Setelah pesanan datang, para pengikut The kongcu segera makan dengan lahap.
Siau Po sendiri segera mengambil delapan butir bakpao dan dibawanya untuk Hupian, Dia merasa di antara semua orang itu, hanya si Ihama ini yang bisa diajak bicara.
Setelah itu dia kembali lagi ke mejanya sendiri.
Dengan wajah berseri-seri, A Ko berbicara dengan The kongcu sambil menikmati hidangan di atas meja, Si kongcu juga tampak gembira sekali, Agaknya pergaulan kedua orang itu semakin akrab dan pemandangan itu membuat Siau Po sukar menelan hidangannya sendiri.
--Tidak mudah bagiku untuk membinasakan pemuda ini, Lagipula kalau A Ko sampai tahu aku membunuhnya, bukan saja dia tidak sudi menjadi isteriku, bahkan ada kemungkinan dia akan mencariku untuk membalas dendam.
-, pikir Siau Po dalam hati.
Tiba-tiba, telinga Siau Po mendengar suara riuh derap kaki kuda, Kemudian tampak serombongan orang tiba di depan rumah makan dan turun dari kuda masing-masing.
Melihat orang-orang yang baru datang itu, hati Siau Po tercekat Merekalah tujuh orang berpakaian Ihama, Tapi sesaat kemudian hatinya merasa senang juga, Sebab dia berpikir -Tadi The kongcu membual dengan mengatakan akan membereskan para Ihama ini.
Sekarang aku ingin melihat apa yang dapat dilakukannya, Aku akan menonton, pasti menarik sekali -Begitu memasuki rumah makan dan melihat Pek I Ni wajah ketujuh Ihama itu langsung berubah, Entah apa yang ada dalam hati mereka, Salah seorang yang bertubuh tinggi kurus segera berkata dalam bahasa mereka, lalu mereka mengambil tempat duduk di dekat pintu ke luar.
Mereka juga langsung memesan makanan.
Selama itu mereka terus menatap ke arah Pek I Ni.
Wajah mereka muram sebagai tanda bahwa hati mereka sedang tidak senang.
Sementara itu, Pek I Ni juga sudah melihat kehadiran tujuh orang Ihama tersebut, tapi dia tetap bersikap tenang seakan tidak ada kejadian apa-apa.
Tidak lama kemudian, salah seorang Ihama dari rombongan itu berdiri dan berjalan ke hadapan Pek I Ni.
Wajah orang itu tampak garang sekali.
"Hei, Bhikuni!"
Teriaknya.
"Apakah kau yang mencelakai kawan-kawanku?"
Belum lagi Pek I Ni sempat menjawab, Kek Song sudah mencelat bangun.
"Hai, apa yang kau lakukan?"
Tegurnya.
"Mengapa sikapmu demikian kasar dan tidak tahu aturan?"
"Makhluk apa kau ini?"
Tanya si lhama.
"Aku sedang berbicara dengan bhikuni ini, Apa urusannya denganmu?"
Melihat kongcunya diperlakukan dengan kasar, beberapa orang pengawal dari Yang Peng Kun Ongi segera menghambur ke depan.
Tangan mereka dijulurkan untuk mendorong Ihama tersebut.
Sang Ihama segera menangkap tangan dua orang pengawal yang sampai terlebih dahulu, sedangkan sebelah kakinya menendang seorang lainnya sehingga orang itu terpental ke luar rumah makan dan terbanting di atas tanah.
Lalu tangannya menonjok hidung, orang yang tertangkap tangannya sehingga hidung orang itu mengucurkan darah talu terguling pingsan.
Para pengawal yang lain menjadi terkejut dan bangun serentak.
"Maju!"
Teriak mereka sambil menghunuskan senjata masing-masing.
Mereka langsung melakukan penyerangan.
Lima orang Ihama segera bangun dan memberikan perlawanan Tinggal si Ihama bertubuh tinggi kurus yang tetap duduk di tempatnya dan memperhatikan jalannya pertarungan.
Pertempuran berlangsung dengan seru.
Suara bising beradunya senjata tajam terdengar di sana-sini.
otomatis meja dan kursi dalam rumah makan itu menjadi kacau balau, Para pelayan dan tamu-tamu lainnya kucar-kacir karena takut kena sasaran.
The Kek Song dan A Ko menghunuskan pedangnya masing-masing dan berdiri di samping kiri kanan Pek I Ni untuk melindunginya.
Mata mereka terpentang lebar-Iebar untuk menjaga segala kemungkinan.
Begitu kedua belah pihak bergebrak, segera terdengar suara jerita teraduh-aduh atau suara napas yang tertahan secara mendadak.
Semua itu diiringi suara bentakan dan seruan para Ihama.
Meskipun suasana di dalam rumah makan itu kalang kabut, hati Siau Po masih agak lega sebab kawanan Ihama itu tidak langsung menyerang si bhikuni, Dan sikap wanita itu masih tenang seperti sebelumnya.
Lain halnya dengan wajah A Ko yang sudah berubah pucat pasi.
Kek Song sendiri juga menyiratkan kecemasan melihat kelihayan para Ihama itu.
Tidak lama kemudian, si tinggi kurus berdiri dan menghampiri The Kek Song.
Pemuda itu terkejut dan langsung bersiap siaga.
"Apa yang kau inginkan?"
Tanyanya.
"Kedatangan kami untuk mencari si bhikuni ini. Sama sekali tidak ada urusan denganmu! Apakah kau muridnya?"
Tanya Ihama itu.
"Bukan!"
Sahut The Kek Song.
"Lalu, apa hubunganmu dengannya?"
"Tidak ada!"
"Bagus!"
Kata si Ihama.
"Kalau begitu, kau harus tahu diri, cepatlah kau pergi dari sini!"
"Sia... pakah Tuan?"
Tanya Kek Song gugup.
"Sudilah kiranya Tuan memberitahukan agar kelak di kemudian hari...."
Tiba-tiba lhama itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Namaku Sang Cie!"
Kata si Ihama.
"Akulah Hu kau atau pelindung agama dari Dalai Lhama, Buddha Hidup kami di Tibet, Kau mau apa, anak baik? Apakah kelak kau ingin mencariku untuk membalas dendam?"
Kek Song mengeraskan hatinya.
"Benar!"
Sang Cie tertawa lebar Dia mengibaskan ujung baju kirinya ke wajah pemuda itu.
Kek Song menangkis dengan pedangnya, Tapi si lhama lihay sekali, dengan jari tengahnya dia menyentil dan pedang Kek Song pun terpental dan menancap di tiang penglari.
Lhama itu tidak berhenti sampai di situ saja, tangan kirinya terus bergerak Punggung Kek Song kena dicengkeram lalu diangkat dan didudukan di atas sebuah kursi.
"Duduklah baik-baik!"
Kek Song tidak dapat berkutik, jalan darahnya telah tertotok.
Terpaksa dia menyaksikan saja si lhama kembali ke mejanya.
Siau Po yang menyaksikan kejadian itu langsung berkata dalam hatinya.
--Apalagi yang ditunggunya?
Mengapa dia tidak segera turun tangan kepada Pek I Ni?
Apakah dia sedang menunggu datangnya bala bantuan?"
Tiba-tiba Siau Po ingat kepada Hupian yang masih ada di dalam kereta.
--Celaka!
Kalau keadaannya begini terus, tentu mereka sempat menolong Hupian, Dan mereka pun akan tahu bahwa aku serombongan dengan bhikuni itu.
Mereka juga pasti tahu bahwa akulah yang mencelakai rekan-rekan mereka, Bisa-bisa aku Wi Siau Po dikirim pulang ke alam bakal --, pikirnya kemudian.
Dia menoleh kembali kepada si lhama tinggi kurus yang masih duduk tenang-tenang.
--Mungkin dia belum tahu kalau suthay terluka parah sehingga hatinya merasa jeri.
-, pikirnya.
Tatkala itu, pelayan muncul dengan membawa barang hidangan.
Tangannya gemetar menyaksikan jalannya pertarungan Setelah meletakkan barang hidangan di atas meja Sang Cie, pelayan itu cepat-cepat kembali ke dalam.
Siau Po segera mengintil di belakangnya, Dia melihat pelayan itu sedang mengisi guci arak.
"Apakah arak itu untuk tuan-tuan galak yang ada di depan?"
Tanyanya. Pelayan itu terkejut, Dia menolehkan kepalanya dan melihat yang menegurnya hanya seorang anak tanggung, hatinya jadi Iega.
"Benar!"
Sahutnya.
"Tanganmu gemetaran, nanti arak itu tumpah ke mana-mana, Biar aku membantumu. Coba kau lihat sana, apakah para pendeta itu masih berkelahi atau tidak?"
Pelayan itu memandang Siau Po dengan tatapan berterima kasih, Dia segera menuju ambang pintu ruangan dan melongok ke luar, Menggunakan kesempatan itu, Siau Po mengeluarkan dua bungkus Bong Hoan Yok dan dimasukkannya ke dalam arak lalu diguncang-guncangkannya agar larut.
Sementara itu, si pelayan sudah kembali lagi.
"Mereka masih berkelahi."
Katanya.
"Kau berhati-hatilah, Cepat antarkan arak ini. jangan sampai tuan yang galak itu marah-marah lagi!" Cepat-cepat si pelayan membawa arak itu. setibanya di luar, para lhama itu sedang tertawa-tawa karena pihak merekalah yang menang di atas angin, Secara bergantian mereka meneguk arak dari guci besar itu. Siau Po senang sekali melihatnya, Untung saja para lhama itu masih kurang pengalaman walaupun sebenarnya ilmu mereka tinggi. Salah satu lhama menghampiri A Ko dan menowel pipi si gadis dengan sikap ceriwis.
"Nona, apakah kau sudah menikah?"
A Ko gusar sekali, Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.
Demikian pula Pek I Ni, wajahnya berubah merah padam karena menahan perasaan amarahnya.
Siau Po melihat gelagat yang kurang baik, Diam-diam dia mengeluarkan pisau belatinya.
Digenggamnya pisau belati itu sehingga tertutup oleh lengan jubahnya yang lebar.
"Eh, bapak Ihama, apa yang kau lakukan?"
Tanyanya dengan tertawa-tawa sembari menggeserkan langkahnya merapat ke tubuh orang itu.
Dengan segap dan gesit dia menancapkan pisaunya di punggung Ihama itu berkali-kali.
Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun si lhama terjengkang ke belakang dan mati seketika, Kawan-kawannya heran menyaksikan keadaan itu.
A Ko sendiri belum tahu kalau jiwa si lhama sudah melayang.
Dia menatap dengan mata membelalak.
Siau Po segera berkata dengan suara perlahan "A Ko, cepat ikut aku menyingkir dari sini!"
Tanpa menunggu jawaban si nona, Siau Po segera menarik tangan Pek I Ni dan diajaknya berjalan menuju depan pintu, Tapi beberapa lhama lainnya segera menghadang langkah mereka.
"Tahan!"
Teriak Siau Po ketika melihat mereka mendekat "Guruku ini mempunyai ilmu yang istimewa, Lihat saja lhama itu, Dia kurang ajar sekali sehingga dia sudah dihukum mati, Kalau kalian ingin mendapatkan nasib yang sama, silahkan maju!"
Para Ihama itu menjadi ragu-ragu.
Lalu terdengarlah suara buk!
Buk.
Dan dua orang Ihama pun jatuh terkulai di atas tanah, Rupanya obat bius Siau Po sudah memperlihatkan reaksinya, tapi tentu saja para Ihama itu tidak tahu.
Tidak lama kemudian, dua orang Ihama lagi menyusul roboh.
Sang Cie memperlihatkan tampang bingung.
Dia langsung berdiri tegak, Hanya keadaannya yang lebih baik, mungkin karena tenaga dalamnya lebih tinggi.
Siau Po menggunakan kesempatan itu untuk menarik tangan si bhikuni dan di ajaknya berlari ke luar.
A Ko mengajak Kek Song yang sebelumnya dilepaskan dulu dari totokannya, Sang Cie berusaha menghalangi langkah mereka, tapi baru berjalan dua tiga langkah, dia sendiri terhuyung-huyung lalu roboh terkulai seperti rekan-rekannya yang sudah mendahuluinya.
Kedua sais kereta tidak kelihatan entah ke mana mereka, Dia segera memapah Pek I Ni menaiki kereta, kemudian dia memegangi tali kendali dan menjalankannya.
Hupain masih ada dalam kereta, A Ko dan Kek Song naik di atas kereta yang satunya lagi.
Setelah berlari belasan li, keledai-keledai mereka sudah letih, terpaksa kereta berjalan perlahan-lahan.
Tidak lama kemudian, dari belakang terdengar suara derap kaki kuda, Tampaknya musuh sudah berhasil mengejar mereka.
"Sayang kita tidak mempunyai kuda, kalau tidak, binatang itu larinya lebih kencang dan para Ihama itu pasti tidak bisa mengejar kita."
Kata Kek Song.
"Mana bisa?"
Sahut Siau Po.
"Mana mungkin suthay menunggang kuda? Lagipula, aku juga tidak mengajakmu naik kereta!"
Sembari berbicara, Siau Po menghentakkan tali kendali agar keledainya lari lebih cepat Kek Song merasa kesal dengan kata-kata si anak muda, tapi dia tidak berani membantah Ketika itu, derap kaki kuda di belakang sudah semakin mendekat "Suthay, sebaiknya kita turun dari kereta dan cari tempat untuk menyembunyikan diri."
Dia melongokkan kepalanya ke luar jendela, tapi hatinya gundah karena dia tidak melihat satu pun rumah penduduk.
Di kiri kanan hanya tampak sawah dan ladang, Di sana terdapat banyak pohon gandum dan rerumputan.
"Sebaiknya kita bersembunyi di ladang gandum saja!"
Kata Siau Po yang langsung menghentikan keretanya.
"Bagaimana kita dapat menyembunyikan diri di tempat seperti ini?"
Kata Kek Song.
"Apakah tidak malu apabila ada orang yang mengetahuinya? Bukankah itu bisa menjatuhkan nama besar Yan Peng Kun ong?" "Kau benar, kongcu!"
Kata Siau Po.
"Kami bertiga ingin menyembunyikan diri di sini silahkan kongcu menjalankan kereta itu untuk kabur dari sini sehingga perhatian musuh jadi terbagi!"
Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po menuntun Pek I Ni turun dari kereta. Bhikuni itu tidak menentang, dia menurut saja. A Ko sempat ragu-ragu sebentar. Kemudian dia menggapai kepada Kek Song.
"Mari, kau juga ikut bersembunyi!"
Kek Song tertegun melihat ketiga orang itu memasuki ladang gandum.
Tapi hanya sesaat dia merasa ragu, lalu dia ikut juga bersembunyi di tempat itu.
Tiba-tiba Siau Po ingat sesuatu, Dia segera ke luar dari tempat persembunyiannya.
Dia menghampiri Hupian dan menikamnya berulang kali, sehingga jiwanya meIayang.
Setelah itu dia mengutungkan sebelah lengan orang itu, setelah itu dia menusuk paha keledai sehingga binatang itu kesakitan dan lari sekencang-kencangnya.
Ketika para penunggang kuda itu mulai mendekat Siau Po sudah menyelinap kembali ke ladang gandum, Dia membawa tangan Hupian yang telah dikutungkan, Maksudnya hendak menakut-nakuti Kek Song.
Dengan tangan kanan dia memegangi lengan Hupian, tangan kirinya meraba-raba sampai dia berhasil menyentuh kuncir Kek Song, Dia langsung menarik-nariknya.
Dia menghentikan gerakan tangannya dan mulai meraba lagi, Akhirnya dia memegang sebuah pinggang yang kecil.
Hatinya senang sekali.
Dia tahu itulah pinggang A Ko.
Tiba-tiba dia mencubit seraya berseru.
"Eh, The kongcu, mau apa kau meraba-raba selangkanganku?"
"Tidak."
Sahut Kek Song menyangkal.
"Ah, kau pasti menyangka aku nona A Ko, bukan?"
Kata Siau Po yang sedang bersandiwara, Kau sembarangan menggunakan tanganmu Kau benar-benar tidak tahu adat"
"Ngaco!"
Bentak Kek Song yang hatinya mendongkol sekali Dengan tangan kirinya Siau Po kembali meraba dada A Ko, lalu cepat-cepat dia menarik kembali tangannya seraya berteriak.
"Hai, The kongcu! Mengapa kau terus-terusan menggerayangi aku?"
Kali ini, selesai berkata, Siau Po menggunakan tangan Hupian untuk mengusap-usap wajah dan leher si gadis, Selama itu, A Ko merasa ada tangan yang menggerayanginya, Tapi dia diam saja karena merasa malu dan bingung, Dan dia jadi terkejut sekali ketika ada tangan yang dingin menyentuh wajahnya.
-Pasti ini bukan tangan Siau Po, -katanya dalam hati --Tangan si bocah tidak mungkin sebesar ini Pasti ini tangannya The kongcu!
--Karena itu, dia diam saja, Dia takut sang guru mengetahuinya, Lekas-lekas dia memalingkan wajahnya.
Siau Po membalikkan tangannya dan menyentil kuping orang.
"Bagus, Nona A Ko!"
Katanya.
"Bagus sekali kau menghajarnya. Memang The kongcu ini tidak tahu adat! Eh, eh, The kongcu! Kembali kau meraba-raba aku! Rupanya kau ingin memfitnah aku, ya?"
Mendengar kata-katanya, A Ko berpikir lagi.
--Rupanya benda ini bukannya tangan si bocah busuk!
Tetapi pada saat itulah terdengar suara derap kaki kuda yang sedang mendatangi, Rupanya itulah gerombolan para lhama yang sudah menyusul tiba.
Lhama itu benar-benar tangguh.
Obat bius yang diberikan Siau Po tidak membuat mereka pingsan sampai lama, Ketika terhuyung-huyung, Sang Cie segera teringat bahwa ada kemungkinan mereka telah dibius.
Dengan sisa kesadarannya dia menyuruh pelayan rumah makan mengambil seember air dingin yang digunakan untuk mengguyur bagian kepala.
Sesaat kemudian dia merasa keadaannya sudah membaik, Dia segera memerintahkan mengambil air dingin harus mengguyur kepala teman-temannya, Setelah semuanya sadar, mereka segera berangkat untuk mengejar si bhikuni.
Sementara itu, A Ko mendongkol sekali dengan perlakuan Siau Po.
"Jangan!"
Katanya ketika merasa kembali ada tangan dingin yang menyentuh wajahnya. Dalam waktu yang bersamaan, Siau Po menggerakkan tangannya menampar pipi si pemuda.
"Bukan aku… Bukan aku!"
Teriak Kek Song yang merasa penasaran. Justru pada saat itulah rombongan Sang Cie sampai sehingga mereka sempat mendengar suara teriakan si pemuda.
"Di sini!"
Teriak salah seorang lhama.
Seorang lhama segera melompat turun dari kudanya dan menghampiri pepohonan yang lebat itu, Sebelah kaki Kek Song agak menjulur ke depan sehingga terlihat oleh musuh.
Lhama itu segera menariknya dan melemparkannya sekuat tenaga sehingga tubuh anak muda itu terpental.
Setelah itu, tangannya kembali menyusup ke dalam gerombolan tempat Kek Song bersembunyi dan mulai mencari-cari lagi, Siau Po bingung sekali.
Tiba-tiba dia ingat tangannya Hupian, cepat-cepat dia menyodorkan tangan itu, Lhama itu merasa berhasil meraba tangan seseorang.
Dia mengira pasti bisa menarik tangan itu seperti halnya menangkap kaki Kek Song tadi, tapi ternyata dia keliru, Begitu tangan itu ditariknya, dia malah terjengkang ke belakang.
"Ah!"
Serunya setelah melihat tegas apa yang tergenggam di tangannya.
Siau Po senang sekali menyaksikan orang itu jatuh, Dia segera menjumput setumpukan rumput lalu digunakannya untuk menekap wajah Ihama itu.
Lhama itu terkejut dan cepat-cepat menyibakkan rumput itu dari wajahnya, tapi tiba-tiba dia merasa dadanya nyeri, lalu dia tidak bergerak Iagi.
Orang itu hanya sempat mengeluarkan suara tertahan.
Rupanya itulah hasil kerja Siau Po yang menekap wajah orang dengan rumput, sekaligus, menikamkan belatinya ke dada orang, Ketika menarik kembali pisau belatinya, Siau Po mendengar lagi suara berisiknya beberapa orang lhama.
Diam-diam dia mengeluh Karena merasa kali ini mungkin tidak dapat meloloskan diri lagi, Tapi dia belum mau menyerah begitu saja.
Perlahan-lahan Siau Po berdiri Dia menyimpan pisau belatinya di dalam lengan baju, Dia mengangkat kepalanya dan berpaling.
Tampak Sang Cie bersama sisa empat lhama lainnya berada di tengah ladang gandum, jarak antara mereka dengan dirinya kurang lebih tiga tombak.
Sang Cie masih belum tahu sebab musabab kematian temannya, Dia hanya melihat rekannya roboh dan tidak bangun kembali Dia mengira si bhikuni telah membunuh temannya itu entah dengan ilmu apa.
Dengan demikian dia jadi tidak berani sembarangan turun tangan.
Tiba-tiba terdengar suara si lhama tinggi kurus itu.
"Hai, bhikuni muda! Beruntun kau telah membunuh delapan orang rekanku, maka permusuhan di antara kita sudah mendalam sekali, Mengapa kau bersembunyi di dalam gerombolan pepohonan itu? Apakah perbuatanmu itu pantas disebut perbuatan orang gagah?"
Lhama ini menyebut bhikuni muda, padahal usia Pek I Ni lebih tua daripadanya, Hal ini karena pandangan matanya yang keliru, Pek I Ni memang awet muda karena tenaga dalamnya yang sudah mahir.
Telinga Siau Po serasa mendengung mendengar suara lhama itu.
Hatinya juga tercekat.
--Aneh!
Mengapa dia bisa tahu kalau aku sudah membunuh delapan orang rekannya?
-katanya dalam hati, Dengan membawa pikiran itu, Siau Po segera menghitung, Ternyata memang benar jumlah lhama yang telah dibunuhnya ada delapan orang.
Tapi yang sebenarnya, satu diantaranya mati di tangan Pek I Ni.
Karena ketakutan, Siau Po menyurut mundur dua langkah, Tetapi dia segera menjawab.
"llmu silat guruku lihay sekali, Di kolong langit ini, tidak ada orang kedua yang dapat menandinginya. Namun guruku itu pemurah hati dan berjiwa mulia. Dia tidak mau sembarangan membunuh orang, sekarang kalian berlima, lekas angkat kaki, guruku suka memberikan pengampunannya kepada kalian!"
"Tidak demikian mudah, sobat!"
Kata Sang Cie.
"Hai, bhikuni muda, dengarlah! Cepat kau kembalikan kitab Si Cap Ji CinKeng. Kalau kau tahu diri, Hudya tidak akan menarik panjang urusan ini, Tapi sebaliknya, kalau kau mempunyai niat untuk kabur, sampai ke ujung langit pun akan kukejar!"
Mendengar kata-kata itu, Siau Po segera menjawab.
"Apa? Kitab Si Cap Ji Cin Keng? Bukankah kitab itu terdapat di wihara mana pun, siapakah yang kerakusan mengingatkannya ?" "Tapi kami menghendaki kitab yang ada di tangan suthay itu!"
Kata Sang Cie.
"Kitab itu telah diserahkan kepada bocah itu oleh guruku,"
Kata Siau Po sambil menunjuk kepada Kek Song.
"Kau tanya saja kepadanya!"
Pada saat itu, Kek Song baru saja merayap bangun.
Tiba-tiba dia dihampiri seorang lhama dan dicekal kedua lengannya, Kemudian seorang lhama lainnya langsung merobek pakaiannya sehingga terbelah menjadi dua bagian dan uang serta emas mutiaranya berjatuhan di atas tanah.
Tapi kitab yang disebutkan justru tidak ada.
"The kongcu,"
Kata Siau Po.
"Di mana kau sembunyikan kitab itu? Beritahukanlah kepada mereka, Bukankah kitab seperti itu tidak ada harganya?"
Panas sekali hati Kek Song dibuatnya.
"Aku tidak memiliki kitab itu!"
"Plok! Tiba-tiba pipinya ditampar oleh salah seorang lhama.
"Ayo, kau mau bilang atau tidak?"
Tanya seorang lhama lainnya dengan bengis, tangannya pun ikut melayang ke pipi pemuda itu. Siau Po melihat kedua pipi Kek Song merah dan pengap, hatinya merasa puas sekali.
"The kongcu, antarkanlah beberapa orang Hudyaya ini mengambil kitab itu, Aku melihat kau menggali tanah di rumah makan, bukankah kitab itu kau sembunyikan di sana?"
"Ya, itu benar!"
Kata Sang Cie yang senang sekali.
"Kalau anak kecil yang bicara, dia pasti tidak bohong. Ayo, seret dia kembali ke rumah makan!"
Seorang lhama menyahut "lya,"
Kembali tangannya menggaplok pipi Kek Song.
A Ko dapat melihat semua kejadian itu, Hatinya menjadi tidak tega, Dia juga kurang senang dengan Siau Po, maka dia memberanikan diri muncul dari tempat persembunyiannya dan berkata kepada si lhama yang tinggi kurus.
"Bocah ini tukang bohong, jangan percaya dengan kata-katanya! sebenarnya The kongcu tidak memiliki kitab itu, bahkan melihatnya saja pun tidak pernah."
Mendengar ucapannya, Siau Po segera berbisik kepadanya.
"Aku ingin menolong suthay dan kau, biarkan saja The kongcu yang mengalihkan perhatian mereka!"
"Aku tidak sudi ditolong olehmu! Kau sengaja memfitnah The kongcu, kau ingin membunuhnya!"
"Jiwa suthay dan jiwamu lebih berharga daripada jiwanya."
Kata Siau Po yang merasa kurang puas melihat sikap si nona.
"Jangan bunuh dia!"
Kata Sang Cie kepada kawan-kawannya, Kemudian dia menoleh kembali ke arah gerombolan pohon dan berkata kepada Pek I Ni.
"Bhikuni muda, ke luarlah, kita bersama-sama ke rumah makan untuk mengambil kitab itu!"
A Ko tetap marah. Dia tidak menghiraukan kata-kata Sang Cie. ia hanya berkata dengan suara garang kepada Siau Po.
"Kau sendiri yang takut mampus! Sengaja mencari alasan untuk menolong suhu! Kalau kau memang berani, hadapi para Ihama itu dan hajar mereka!"
Hati Siau Po jadi panas, Dia berkata dalam hati, --Sampai sedemikian jauh, kau masih tidak memandang sebelah mata terhadapku Taruh kata aku menghajar mati para Ihama ini, apa artinya?
--Terus dia berteriak "Berkelahi ya berkelahi!
Aku tidak takut mati!
Mati pun aku tetap akan berdaya menolong suhu dan kau.
Sebaliknya, bagaimana kalau aku menang?"
"Hm!"
Seru si nona dengan suara menghina.
"Biar kau menjelma sekali lagi, tidak mungkin kau menang! Kalau kau berhasil mengalahkan seorang Ihama saja, untuk selama-lamanya aku akan tunduk kepadamu."
"Baik!"
Kata Siau Po.
"Kalau aku dapat mengalahkan seorang Ihama saja, kau harus menikah denganku dan menjadi istriku!"
"Ngaco!"
Bentak si nona, Hatinya panas sekali.
"Kau seorang hwesio, bagaimana,., bagaimana...."
"ltu bukan persoalan."
Kata Siau Po.
"Aku bisa kembali ke asalku sebagai orang biasa, pokoknya kau harus menikah denganku!"
"Suhu, dengarlah..."
Katanya bingung.
"Sampai saat ini dia masih mengoceh yang tidak-tidak."
Pek I Ni menarik napas panjang sekian lama dia diam saja, otaknya bekerja keras.
pikirannya ruwet "Sebaiknya aku membunuh diri dengan memutuskan nadiku sendiri.
Biar bagaimana, aku tidak dapat membiarkan diriku terhina oleh para Ihama ini!
" Dengan membawa pikiran itu, dia segera berkata kepada Siau Po.
"Siau Po, masukkan tanganmu ke dalam sini!"
Siau Po mengiakan. Tangannya diulurkan ke dalam gerombolan pohon, dia merasa tangannya menyentuh segulung kertas kecil, Lalu telinganya mendengar suara Pek I Ni berkata.
"Inilah peta yang disimpan dalam kitab, jangan perdulikan aku lagi! Menyingkirlah kau seorang diri! Kalau kau berhasil mendapatkan ketujuh
Jilid kitab yang lainnya, maka berarti ada harapan bagi bangsa Han dan kerajaan Beng kita untuk bangkit kembali, itu lebih berharga dari satu dua jiwa."
Semangat Siau Po terbangun mendengar kata-kata si bhikuni.
Dia lebih dihargai ketimbang muridnya sendiri.
Tiba-tiba saja satu pikiran melintas dalam benaknya, Dia segera menghadapi para Ihama dan berkata.
"Kalian semua dengar, guruku orang paling lihay dijaman ini. Beliau tidak sudi bertempur dengan kalian, Kalau kalian memang berani, hadapi dulu aku! Kalau kalian menang, baru guruku akan turun tangan. Kita duel satu lawan satu. Aku rasa kalian pasti takut, bukan? Kalau benar, cepat kalian goyangkan ekor dan merat dari tempat ini!"
Selagi berkata, diam-diam dia memasukkan gulungan kertas yang diberikan Pek I Ni ke dalam saku pakaiannya.
Kelima Ihama itu tertawa terbahak-bahak.
Mereka memang agak takut terhadap si bhikuni, tapi tidak terhadap bocah ini.
Salah satu dari mereka segera berkata.
"Dengan satu tonjokan saja kau akan roboh sungsang sumbel, Apa yang hendak diadu? Angin busuk?"
Siau Po maju satu langkah.
"Mari!"
Tantangnya.
"Mari kita bertempur "Terus dia menoleh kepada A Ko seraya berkata.
"Asal aku menang, kau adalah istriku. Awas, jangan kau menyangkal nantinya!"
"Kau tidak mungkin menang."
Sahut si nona.
"Biar bagaimana juga, kau tidak mungkin menang."
"Kau harus tahu,"
Kata si anak muda.
"kalau seorang sudah bertekad, biar selaksa orang pun tidak dapat menghalanginya, Demi dirimu, demi kau menjadi istriku, baiklah, aku akan mengadu jiwa denganmu."
Sementara itu, si Ihama juga sudah maju beberapa langkah, dia tertawa.
"Benarkah kau ingin bertanding denganku?"
"Mana mungkin aku berbohong?"
Sahut si anak muda.
"Mari kita bertempur satu lawan satu! Guru-ku pasti tidak akan membantu aku. Tapi bagaimana dengan keempat saudara seperguruanmu itu, Apakah mereka tidak membantumu?"
Sang Cie tertawa mendengar ucapan si bocah.
"Pasti kami juga tidak akan memberikan bantuan apa-apa."
"Bagaimana bila dengan satu tinju aku bisa membuat saudaramu mampus?"
Ujar Siau Po meminta penegasan.
"Bukankah kalian akan meluruk maju semua untuk mengeroyok aku? Kalau kalian main keroyok, tentu aku tidak sanggup melawan, Apabila hal ini sampai terjadi, guruku pasti akan turun tangan."
Mendengar kata-kata Siau Po, Sang Cie menjadi berpikir.
Laki-laki itu memang jeri terhadap Pek I Ni, sebab dia masih belum tahu mengapa demikian banyak kawannya bisa mati di tangan bikhuni itu.
Karena itu, dia berpikir, ada baiknya apabila salah seorang saudara seperguruannya bertarung dengan si bocah.
Siapa tahu dari gerakan si anak muda itu, dia bisa menjajaki sampai di mana kelihayan gurunya atau berasal dari persilatan yang mana.
"Baik, Kalian berdua boleh bertanding."
Kata Sang Cie akhirnya.
"Siapa yang hidup atau siapa yang mati, dia harus menerima nasibnya, Orang dari kedua belah pihak sama-sama tidak boleh membantu."
"Kalau ada yang membantu, dialah si anak kura-kura."
Tukas Siau Po.
"Ya, kau benar."
Kata Sang Cie yang tidak sadar dirinya dipermainkan oleh si bocah cerdik.
"Bagus!"
Seru Siau Po tertawa.
"Oh, Ihama besar, kau sungguh cerdas dan mengerti keadaan, Aku benar-benar kagum kepadamu."
Sang Cie tersenyum.
"Nah, majulah kau beberapa tindak lagi.,."
Katanya.
ini disebabkan jarak antara si bocah dengan persembunyian si bhikuni terlalu dekat Dia khawatir guru si bocah akan memberikan bantuan tenaga daIam.
Apabila hal ini sampai terjadi, sudah pasti adik seperguruannya akan kalah.
"Kau jangan takut!"
Kata Siau Po.
"Kami bangsa Han adalah bangsa yang terhormat Kalau kami mencapai kemenangan, kami ingin menang dengan cemerlang, Kalau harus kalah pun, kami akan kalah sebagai laki-laki sejati, Kami tidak akan main curang."
Pada saat itu, Pek I Ni berkata pada Siau Po dengan suara berbisik.
"Siau Po, kau tidak mungkin menang, sebaiknya setelah kau berkelahi dengannya lalu pura-pura mundur terus kabur."
"Ya,"
Sahut Siau Po seenaknya, karena ia telah mempunyai rencana tersendiri.
Dia segera maju tiga langkah sehingga jaraknya dengan Pek I Ni menjadi kurang lebih tiga tombak.
Dengan demikian, si bhikuni tidak bisa memberikan bantuan tenaga dalam kepadanya.
Lhama yang mau bertanding dengannya juga maju lagi beberapa tindak, sekarang dia menjadi berhadapan dengan si bocah, Sambil tertawa dia bertanya.
"Nah, dengan cara bagaimana kita mengadu kepandaian?"
"Cara lunak boleh, cara keras pun boleh!"
Sahut Siau Po.
"Bagaimana caranya?"
Tanya si lhama.
"Apa yang dimaksud dengan cara lunak dan apa yang disebut cara keras?"
"Cara lunak misalnya begini, aku menghajar kau satu kali, lalu kau juga menghajarku satu kali,"
Kata Siau Po menjelaskan.
"Setelah itu kau menghajar lagi padaku, demikian pula sebaliknya sampai tujuh atau delapan puluh kali, Batas berhentinya sampai salah satu orang roboh tidak berdaya. Diwaktu kau menghajar aku, aku tidak boleh menghindarkan diri atau menggeser tubuhku sedikit pun, aku harus berdiam diri sambil mengerahkan tenaga dalamku untuk menahan pukulanmu. Demikian pula dengan engkau, ketika aku menghajarmu Kalau cara keras, maksudnya kita berkelahi dengan cara biasa, bebas, boleh menggunakan senjata tajam, boleh juga hanya mengandalkan kaki dan tangan, Dengan demikian otomatis kita boleh menangkis atau mengelakkan diri dari serangan."
Mendengar kata-katanya, Sang Cie berpikir dalam hati.
--Bocah nakal ini bertubuh lincah, kalau dia berkelahi sambil berloncatan, mungkin adik seperguruanku tidak dapat merobohkannya dalam sekali pukulan saja, Bisa-bisa dia menang di atas anginl LagipuIa, ada kemungkinan dia menggunakan tipu muslihat!
Bagaimana kalau dia melompat ke gerombolan pepohonan untuk memancing adikku agar di sana secara diam-diam gurunya bisa turun tangan, Kalau hal ini sampai terjadi, bukankah celaka namanya?
Bagian 50 Tapi kalau dengan cara lunak, kepalan tangan si bocah begitu kecil, meskipun dia menghajar tujuh atau delapan puluh kali, pasti rasanya seperti digaruk saja!
-Dengan membawa pikiran demikian, Sang Cie segera berkata kepada adik seperguruannya dalam bahasa Tibet.
"Kau berkelahi dengan cara lunak saja, jangan kau lukai dia. Kalau perlu pancing dia untuk bertempur agak lama supaya aku bisa mengenali golongan ilmu silatnya."
Siau Po yang tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan segera berkata kepada Ihama yang ada dihadapannya.
"Nah, kakak seperguruanmu sudah takut, Bukankah dia mencemaskan dirimu yang nantinya tidak sanggup menghadapi aku? Tentunya dia menyuruh engkau menyerah kalah saja, bukan?"
Nada dan sikap Siau Po seakan sedang mengejek. Si lhama tertawa.
"Ah, setan cilik!"
Katanya.
"Kau hanya mengoceh sembarangan saja, sebenarnya kakakku kasihan kepadamu, aku dipesan agar jangan menghajarmu sampai mampus, Kau masih kecil sekali. Karena itu, ilmu pukulanmu atau ilmu bersenjatamu pasti masih terbatas, aku tidak mau berlaku curang. Mari aku layani kau dengan cara lunak saja!"
"Baiklah."
Sahut Siau Po yang langsung berdiri tegak, Dia membusungkan dadanya, sedangkan kedua tangannya silipatkan di punggung, Sambil tertawa dia menambahkan "Sekarang kau boleh menyerang aku dulu satu kali, Kalau aku berkelit atau menangkis, maka aku bukanlah orang gagah."
Lhama itu tertawa.
"Kau toh anak kecil,"
Katanya.
"Lebih tepat kalau kaulah yang menyerang terlebih dahulu." Lhama ini langsung berdiri tegak, Dia pun membusungkan dadanya, kedua tangannya di kebelakangkan Dengan berdiri tegak, dia menjadi jauh lebih tinggi daripada Siau Po. wajahnya tersenyum berseri-seri. Tampaknya dia tidak memandang sebelah mata kepada si bocah. Siau Po langsung mengulurkan tangannya dan diluncurkan ke perut lawan Tapi tangannya itu hanya menempel di perut lawan itu, lantas dia bergaya seakan-akan ingin mencoba bagaimana mulai melakukan penyerangannya nanti. Kelima Ihama itu tertawa ketika melihat kepalan kecil Siau Po.
"Baik!"
Seru Siau Po kemudian "Nah, aku mulai!"
Lhama yang menjadi lawannya tidak berani sembrono.
Dia juga khawatir Siau Po telah mewarisi ilmu gaib dari gurunya atau tokoh Kangouw lainnya sehingga tenaga dalamnya sudah mahir sekali perutnya lantas diperkuat dengan memusatkan tenaga dalam di bagian itu, Siau Po langsung melakukan penyerangan Mereka sudah sama-sama siap sedia.
Bocah itu menggunakan tangan kanannya, Dia bukan menyerang perut, melainkan menyerang dada.
Dengan demikian tidak tepatlah dugaan si Ihama, lagipula di saat melakukan penyerangan, lengan bajunya ikut menyerang puIa, sehingga serangannya tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Sang Cie dan yang lainnya, langsung tertawa terbahak-bahak.
Tapi, belum lagi berhenti suara tawa mereka, tiba-tiba tampak tubuh si lhama yang menjadi lawan Siau Po itu terhuyung-huyung dan otomatis mereka pun berhenti tertawa.
Ketika itu terdengar Siau Po berkata.
"Nah, sekarang giliranmu menghajar aku."
Sikapnya wajar sekali, seakan benarbenar sedang bertanding.
Lhama itu tidak menjawab kata-katanya, malah setelah terhuyung-huyung, mendadak tubuhnya jatuh terguling dan tidak berkutik lagi.
Saking kagetnya, Sang Cie sekalian menghambur ke depan "Tahan!"
Seru Siau Po. Dia melompat mundur ke tempat persembunyian"
Siapa yang maju, dialah si anak kura-kura, manusia busuk yang hina!"
Ke empat lhama itu berhenti seketika, Mereka tertegun mengawasi rekannya yang masih tetap tidak bergeming, Mungkin dia terluka parah, atau napasnya tertutup sehingga nyawanya tak tertahan lagi.
Siau Po langsung mengacungkan sepasang kepalan tangannya ke atas.
"llmu yang diajarkan guruku ini dinamakan, Ke San Pa Gu Sin Kun. walaupun seekor kerbau besar,"
Katanya dengan nada nyaring dan sombong.
"Aku bisa menghajarnya sampai mati, apalagi baru seorang lhama cilik, Nah, siapa yang tidak puas, segera majulah untuk merasakan kepalan tanganku ini!"
Selesai bicara, dia berkata kepada nona A Ko dengan suara perlahan.
"Nah, A Ko, istriku, sekarang kau tidak dapat menolak lagi, bukan?"
A Ko sendiri sedang termangu-mangu dan keheranan melihat si bocah sanggup menjatuhkan seorang lhama dengan sekali pukul saja, Dia menjadi lupa mencaci maki. Matanya membelalak menatap si Ihama.
"Kau toh telah menerima baik, istriku yang manis!"
Kata Siau Po pula.
"Tidak!"
Bentak si nona yang bagai tersadar dari mimpi.
"Nah, kembali kau menyangkal!"
Kata si bocah nakal "Kau bukanlah seorang hohan atau enghiong (Maksudnya orang gagah)."
"Bukan ya, bukan."
Sahut si nona ketus.
"Memangnya kenapa?"
Pek I Ni yang matanya tajam dapat melihat ada darah yang merembes ke luar setelah Siau Po menghajar si lhama, Dia langsung menyadari bahwa si bocah pasti menyembunyikan senjata tajamnya di dalam lengan bajunya.
Si bocah hanya pura-pura menggerakkan tangan kirinya untuk mengelabui si lhama, Rupanya dia meninju sambil menikam.
Sang Cie segera memanggil-manggil lhama yang jatuh terkulai itu, tapi tidak ada jawaban sama sekali Dia menjadi heran dan sangsi Salah seorang lhama merasa penasaran, dia segera menghunus goloknya.
"Eh, setan cilik!"
Tegurnya.
"Apa artinya kepalanmu yang lihay itu? Mari Sang Buddha kamu melayani kau bermain-main dengan menggunakan golok."
Lhama itu berpikir, kalau Siau Po lihay dalam ilmu tangan kosong, tentu ilmu menggunakan senjatanya tidak dapat diandalkan Karenanya, dia ingin mencoba.
Siau Po tertawa, Dia berani sekali.
"Mengadu golok juga boleh."
Sahutnya.
"Nah, kau majulah ke mari!"
"Mari kita maju sama-sama!"
Tantang lhama itu.
"Baik,"
Sahut Siau Po dan dia langsung maju tiga tindak.
Lhama itu juga melakukan hal yang sama, Kemudian dia memutar golok di bagian atas kepalanya.
Dia rupanya jeri terhadap ilmu Ke San Pa Gu Sin Kun dari Siau Po.
"Tak usah takut!"
Kata Siau Po tertawa.
"Aku tidak akan menggunakan kepalan saktiku ini."
Si ihama tidak percaya dengan kata-katanya. Dia masih memutar-mutar goloknya.
"Kau majulah!"
Katanya setelah melihat Siau Po diam saja.
"Cepat kau hunus golokmu!"
"Aku telah melatih diriku dengan ilmu Kim Kong Put Hoai Sin Kang."
Kata Siau Po.
"Kau boleh mencoba membacok batok kepalaku, nanti bacokanmu pasti mental kepada dirimu sendiri. Aku mengatakannya terlebih dahulu agar jangan dianggap curang."
Lhama itu menjadi ragu.
Bukankah kawannya dihajar mati dengan sekali pukul saja?
Bukankah bocah ini memiliki ilmu yang luar biasa hebatnya?
Si lhama jadi jeri dan raguragu.
Siau Po memperhatikan orang sambil tersenyum.
"llmu silatmu terlalu rendah."
Katanya kemudian "Aku tidak mau mengadu silat denganmu, Mari, kau bacok saja kepalaku, aku berjanji tidak akan menyerangmu.
Tapi ingat, kau hanya boleh membacok kepalaku, dadaku tidak boleh, sebab ilmuku ini belum dilatih dengan sempurna, kalau kau membacok dadaku, pasti nyawaku akan melayang seketika."
"Benarkah batok kepalamu tidak mempan senjata tajam?"
Tanya si lhama ragu-ragu. Siau Po membuka kopiahnya.
"Lihat kepalaku! Tidak ada rambut dan kuncir-nya bukan? Semakin aku berlatih ilmu kebal itu, rambutku semakin pendek, tapi batok kepalaku akan semakin kuat, Kalau rambut di kepalaku ini sudah botak sama sekali, Biar kau bacok dadaku, aku juga tidak takut lagi."
Ketika menjadi hwesio di kuil Ceng Liang Si, rambut Siau Po di cukur sampai gundul Dan sekarang tumbuhnya belum ada satu dim. Jadi masih pendek sekali.
"Bocah, kau telah membunuh kakak seperguruanku untuk apa aku berlaku sungkan kepadamu?"
Kata si lhama, Kemudian dia berpikir -Aku tidak percaya kepalanya kebal terhadap bacokan!
-"Tapi, aku peringatkan, jangan sekali-kali kau membacok batok kepalaku, kalau golokmu terpental balik maka jiwamu sendiri bisa melayang!"
"Aku tidak percayai kata si lhama.
"Kau jangan bergerak, aku akan membacokmu!"
Siau Po melihat si lhama benar-benar mengangkat goloknya ke atas, Hatinya menjadi cemas, Kalau dia benar-benar dibacok dari atas kepala, tubuhnya pasti terkutung menjadi dua bagian.
Tepat pada saat itu, terdengarlah suara Sang Cie yang berbicara dalam bahasa Tibet.
"Jangan membacok kepala atau leher bocah itu! Dia mempunyai ilmu siluman!"
"Apa yang ia katakan?"
Tanya Siau Po pada si Ihama.
"Pasti dia melarang kau membacok batok kepalaku, bukan? Kalian sangat licik. Kata-kata kalian tidak dapat dipegang."
"Bukan, Bukan."
Sahut si 1hama.
"Kakak seperguruanku itu menyuruh aku agar jangan mempercayai kata-katamu. Dia pasrah walaupun aku membacok kutung batok kepalamu menjadi dua bagian"
Selesai berkata, dia langsung mengangkat goloknya ke atas.
--Celaka aku!
--, keluh Siau Po dalam hati.
Tanpa sadar dia mengangkat kepalanya lalu diperengkatkan.
Golok itu turun terus, tapi bukan membacok batok kepala Siau Po, namun menebas dadanya, Untung Siau Po membungkukkan tubuhnya sehingga golok itu mengenai pinggangnya, Da!am waktu yang bersamaan, tangannya juga bergerak untuk menikam perut lawan.
Tidak kepalang tanggung, dia bahkan menikam sebanyak tiga kali.
setelah itu, dia menelusup kembali lewat selangkangan lhama itu dan berbalik ke tempat persembunyiannya sambil berkaok-kaok.
"Kau curang! Katamu ingin membacok batok kepalaku, Aduh!"
Lhama itu menjerit kesakitan Dia mengira Siau Po menempel terus di tubuhnya, sehingga dia membacok ke arah dirinya sendiri Tidak tahunya bocah itu sudah ngacir ke tempat semula sehingga goloknya tepat membacok wajahnya sendiri.
Siau Po sendiri, setelah kembali ke tempatnya semula, Dia segera berteriak dengan nyaring.
"Suhu, lihat! Latihan punggungku telah berhasil Golok lawan mental ke mukanya sendiri, sehingga dia seperti bunuh diri."
Sang Cie dan yang lainnya menjadi kaget.
Mereka tidak dapat melihat dengan tegas sehingga mereka percaya temannya membunuh diri sendiri.
Mereka langsung memanggil-manggil tapi tidak terdengar jawaban sama sekali.
Pek I Ni juga merasa puas, Siau Po benar-benar cerdik.
Dengan kecerdikannya bisa mengelabui lawan, sedangkan A Ko tidak tahu Siau Po mempunyai baju mustika.
Tadinya dia merasa agak cemas juga, Dia tidak menyangka si bocah bisa meraih kemenangan Biar bagaimana, meskipun tidak terluka, punggungnya terasa nyeri juga, Pek I Ni mengeluarkan pil soat som pemberian ibu suri dan disodorkannya kepada A Ko.
"Berikan obat ini kepada nya!"
A Ko menyampaikan obat itu kepada Siau Po.
"Aku tidak dapat bergerak."
Kata si bocah.
A Ko terpaksa menyuapinya, Melihat tangan A Ko yang demikian putih dan halus, Siau Po menciumnya.
Si nona langsung mendelikkan matanya tapi dia tidak berani mengatakan apa-apa.
Sementara itu, ketiga lhama lainnya segera mengadakan perundingan Kemudian mereka mengeluarkan pelantik api dan menyulut beberapa batang gandum yang kering.
Mereka segera melemparkannya ke arah Pek I Ni.
Tapi, tiga kali mereka menimpuk, semuanya tidak tepat pada sasaran, Sang Cie penasaran.
Dia menyalakan batang gandum yang keempat, sembari berlari ke depan, dia melemparkannya kuat-kuat, tapi karena khawatir dengan ilmu silat Siau Po.
Dia segera melompat mundur kembali.
Begitu terkena api, tumpukan rumput langsung menyala.
Siau Po tidak sempat memadamkan api itu.
Dia mengajak Pek I Ni untuk diajaknya menyingkir.
Dia melihat ke sekitarnya, di sebelah barat ada sebuah goa.
Maka dia berkata kepada A Ko.
"A Ko, lekas papan suhu ke goa itu, aku sendiri akan menghadang para lhama itu!"
Tanpa menunggu jawaban si nona, dia segera maju ke depan dan berkata dengan suara lantang.
"Nyali kalian sungguh besar! Sang Cie, kau sang pemimpin Majulah ke mari dan rasakan kepalan tuan kecilmu ini!"
Gertakan itu hebat sekali, Sang Cie yang sejak semula memang berhati-hati jadi ragu untuk menghampirinya.
Dia ingat bagaimana kawan-kawannya telah terbunuh oleh musuh ini.
Tapi di samping itu, dia ingin sekali membalas dendam dan mendapatkan kitab yang ada pada si bhikuni.
Dan kalau melihat gerak-gerik wanita itu, tampaknya dia seperti sedang terluka parah.
Diam-diam Siau Po menolehkan wajahnya, Dia melihat A Ko sudah membawa Pek I Ni ke tempat persembunyian di dalam goa.
Dia berkata lagi kepada Sang Cie.
"Kalau kalian tidak berani mendekat kepadaku, biar aku yang maju menghadapi kalian, Lihat bagaimana aku nanti membunuh kalian semua, Apakah kalian masih belum mau kabur?"
Menurut suara hatinya, Siau Po telah mengeluarkan kata-katanya yang terakhir, dia seakan membuka rahasianya sendiri Sang Cie menjadi berpikir --Kalau kau benarbenar lihay, mengapa kau tidak segera membunuh kami?
Mengapa kau justru menganjurkan aku melarikan diri?
Kalau begitu, tentunya kau yang takut terhadap kami!
Tiba-tiba lhama ini memperdengarkan suara tawa yang tidak enak didengar Dia segera maju dua langkah, Siau Po terkejut -Celaka!
Rupanya dia sudah menyadari gertakanku.,., sekarang, akal apa lagi yang harus kugunakan?
Akhirnya dia mengambil keputusan untuk bersembunyi terlebih dahulu, Dia membayangkan dapat berduaan di dalam goa yang gelap dengan nona pujaan hatinya, Dalam keadaan genting seperti ini, dia masih tidak melupakan hal kecil seperti itu, Karena itu, kembali dia mengambil tangan Hupian dan disimpannya di dalam saku.
Ketika itu, Sang Cie sudah maju lagi dua tindak.
"Di sini terlalu panas,"
Teriak Siau Po.
"Aku tidak dapat menggunakan kepandaianku Kalau kau memang berani, kita bertarung di sana!"
Tanpa menunggu jawaban lawannya, dia segera berlari ke arah goa.
Di dalam goa, Pek I Ni sedang duduk bersila di atas tanah, Kiranya itu hanya sebuah lubang biasa, Tidak ada tempat yang dapat dijadikan persembunyian A Ko duduk rapat dengan si bhikuni, maka Siau Po tidak mungkin menjahilinya.
Siau Po menarik napas dalam-dalam karena putus asa.
Tatkala itu, Sang Cie dan dua lhama lainnya sudah sampai di depan goa, jarak antara mereka hanya kira-kira tiga tombak, Mereka berhenti dan menatap ke dalam goa.
"Kalian sudah tiba di jalan buntu."
Kata si lhama dengan suara lantang.
"Kalian tidak bisa kabur lebih jauh lagi Lekas ambil api!"
Kedua lhama lainnya segera mengambil ikatan gandum dan kemudian diserahkan kepada sang pemimpin Siau Po dapat melihat gerak-gerik mereka. Tapi dia berlaku tabah.
"Bagus, Lekas kalian lemparkan api itu ke sini! Kalau kami yang mampus, tidak apaapa. Bagai-mana kalau kitabnya yang terbakar dulu?"
Sang Cie jadi ragu mendengar kata-kata si bocah. Dia pikir ucapan Siau Po memang ada benarnya, Maka dia melemparkan apinya ke tanah dan berkata.
"Lekas serahkan kitab itu kepadaku! Hudyaya kamu akan berlaku murah hati dan membuka jalan kehidupan untuk kalian."
Siau Po mengeluarkan suara tawa yang penuh ejekan.
Sang Cie menjadi gusar Dia melemparkan batang gandum yang masih menyala ke dalam goa, Kebetulan angin berhembus, asap yang mengepul semakin tebal dan membuat mata Siau Po dan yang lainnya menjadi perih dan kerongkongan terasa mampet, Tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
Pek I Ni memiliki ilmu yang tinggi, Dia tidak begitu terganggu, sedangkan kedua lhama lainnya segera mengikuti tindakan pemimpinnya melemparkan api ke dalam goa.
"Suthay, kitab itu sudah tidak ada gunanya lagi."
Kata Siau Po.
"Sebaiknya kita serahkan saja pada mereka."
"Baiklah."
Kata Pek I Ni sambil mengeluarkan kitabnya. Siau Po menyambut kitab itu, kemudian berkata lagi keras-keras.
"Di sini ada kitab yang kalian inginkan, tapi hanya satu. Aku akan melemparkannya ke luar. Kalau terkena api dan terbakar, jangan menyesali"
Shang Cie gembira mendengar ucapan si bocah. Dia segera mengambil batu dan memadamkan api yang masih menyala.
"Lekas lemparkan kitab itu!"
Kata nya.
"Baik."
Sahut Siau Po cepat "Kata guruku, kau mau membaca Kitab ini. itulah tandanya kalian semua pengikut Buddha yang baik. Karenanya, aku dipesan agar jangan mencelakai kalian...."
Sembari berkata, Siau Po mengeluarkan pisau belatinya, kemudian dia memotong lengan Hupian dan disusunnya di atas kitab itu, Lalu dengan hati-hati dia menyiramkan obat istimewanya di atas kitab, sembari melakukannya, dia berkata lagi.
"Kata guruku, kitab ini berharga sekali di kota Peking, kalau kalian bisa memahami artinya, agama Buddha bisa hidup makmur di tempat kalian, Semua orang di dalam dunia ini akan mencapai kedamaian hidup."
Sementara itu, Shang Cie merasa senang sekali, Dia sudah tahu kalau kitab itu berasal dari kotaraja dan di dalamnya mengandung sebuah rahasia besar.
Tapi yang pasti bukan menyangkut agama Buddha, Namun dia tidak mengatakannya kepada Siau Po.
Sementara itu, terdengar Siau Po berkata lagi.
"Guruku telah memikirkannya selama berhari-hari, tapi beliau belum sanggup memecahkan arti kitab ini, sekarang kitab ini akan diserahkan kepadamu Guruku berharap, kalau kau berhasil memecahkan rahasianya, harap kau sebarkan seluruh ajarannya di daerah Tiong goan agar rakyat kami juga akan mendapat kemakmuran hidup dalam agama!"
"Jangan khawatir, aku berjanji akan melakukannya!"
Sahut Shang Cie.
"Guruku juga berpesan, kalau kau tidak sanggup memecahkan rahasia kitab itu, sebaiknya kau bawa saja ke biara Siau Lim Sie dan merundingkan isinya dengan para hwesio di sana, Selain itu, kalau kau memang senang membaca kitab agama Buddha, di sana masih terdapat kitab-kitab yang lainnya. Kau bisa meminjamnya dan membacanya sepuas hati."
"Baik, baik!"
Sahut Shang Cie yang mulai kurang sabar.
Siau Po melihat ke arah kitabnya, Cairan warna kuning itu sudah meresap seluruhnya, Dia membuka sepatunya dan digunakannya untuk menjumput kitab itu lalu dilemparkannya ke luar goa.
"lnilah kitab Si Cap Ji Cin Keng, terimalah!"
Katanya, Shang Cie khawatir Siau Po menggunakan tipu muslihat Dia membiarkan kitab itu terjatuh di atas tanah, Tapi dua rekannya segera mengambilnya.
"Suheng, benarkah ini kitabnya?"
Tanya mereka.
"Bawa ke sana, dan periksa yang teliti! jangan sampai kita mendapatkan kitab palsu."
"Toa suheng benar"
Kata kedua lhama itu yang langsung berjalan beberapa tindak dan kemudian memeriksa kitab tersebut "Hati-hati!"
Kata Shang Cie ketika adik seperguruannya membalik-balik halaman kitab itu.
"Kertasnya agak basah, tampaknya kitab itu persis seperti yang dikatakan orang itu."
"Memang benar. Kitab ini asli."
Siang Po dapat mendengar kata-kata mereka, Dia segera berteriak dengan lantang.
"Eh, mengapa di wajah kalian ada kelabangnya?"
Kedua Ihama itu terkejut. Mereka mengusap-usap wajah mereka, Tentu saja tidak ada kelabang di sana, Maka mereka langsung mengumpat.
"Dasar bocah nakal! Kau suka sekali mengoceh yang bukan-bukan."
Shang Cie juga mendengar kata-kata si bocah, tapi karena tidak merasa apa-apa, dia tidak mengusap wajahnya, sementara itu, Siau Po masih ber-kaok-kaok.
"Ah, ah! Ada belasan kelabang yang menyusup masuk dalam pakaian mereka."
Lhama yang pertama tidak melayani nya.
Namun yang kedua merasakan bagian lehernya agak gatal, dengan demikian dia menggaruk-garuk, sekejap saja ke sepuluh jari tangannya juga ikut terasa gatal, Cepat-cepat dia mengulaskan tangannya pulang pergi di lengannya, Lhama yang pertama melihat keadaan kawannya.
Tiba-tiba saja dia juga merasa tangannya gatal Demikian pula dengan Shang Cie.
Bahkan rasa gatal itu bertambah dengan cepat Yang membuat mereka terkejut justru ketika melihat jari-jemari tangan mereka mengeluarkan cairan kuning.
"Aneh!"
Seru mereka serentak.
"Benda apa ini?"
Itu masih belum seberapa, Lhama yang pertama dan kedua merasa wajah mereka juga gatal. Ketika mereka mengusapnya, ternyata wajah mereka juga mengeluarkan cairan kuning.
"Celaka!"
Teriak Shang Cie.
"Kitab ini beracun!"
Dan dia segera melemparkan kitab yang dipegangnya.
Dia melihat tangannya juga mengeluarkan cairan kuning seperti kedua saudaranya.
Cepat-cepat dia memasukkan tangannya ke dalam lumpur yang ada di dekatnya dan menggosok-gosoknya, Memang kedua Ihama lainnya sudah semakin tidak karuan bentuknya, Mereka tidak dapat menahan rasa gatal yang semakin menjadi-jadi sehingga mereka menggaruk semakin hebat Akibatnya mereka bergulingan di atas tanah.
Bekas garukan mereka mengeluarkan darah.
Darah tersebut langsung berubah menjadi cairan kuning, Obat yang Siau Po dapatkan dari lemari Hay Tay Hu memang sangat istimewa, Katanya racun ini datang dari wilayah Sek Hek dan ditemukan oleh seorang ahli racun, yakni Au Yong Hong seorang tokoh persilatan aneh yang hidup dijaman kerajaan Song.
Shang Cie menahan diri sebisanya, Dia tidak menggaruk-garuk wajah dan tangannya yang gatal, Laki-laki itu membuka bajunya dan digunakan untuk membungkus kitab, setelah itu dia lari terbirit birit meninggalkan tempat itu.
Kedua Ihama lainnya semakin kalap, mereka membentur-benturkan kepala mereka pada batu, tidak lama kemudian mereka roboh pingsan tanpa dapat berkutik lagi.
Pek I Ni dan A ko dapat melihat semuanya dari tempat persembunyian mereka.
Keduanya tidak tahu racun apa yang digunakan Siau Po sehingga reaksinya demikian hebat.
A Ko sendiri sampai bergidik melihat penderitaan para Ihama itu.
Melihat Sang Cie sudah kabur dan kedua lhama lainnya sudah roboh, Siau Po menyimpan kembali pisau belatinya lalu menghampiri The Kek Song.
"Nah, The kongcu, bagaimana kepandaianku?"
Katanya.
"Apakah kau ingin mencobanya?"
Kek Song terkejut setengah mati. Tanpa sadar dia melompat mundur. Pemuda itu mengepalkan tangannya seakan-akan siap melawan.
"Kau... kau jangan mendekati aku!"
Katanya.
A Ko marah sekali, untuk sesaat dia hanya dapat mendelikkan matanya tanpa sanggup mengatakan apa-apa.
Siau Po tertawa gembira dan segera menghampiri Pek I Ni yang tampak sedang menarik napas panjang.
"Kalau bukan karena kecerdikanmu, hari ini tentu kita tidak akan terlepas dari maut. Tapi kau harus tahu, menggunakan racun itu tidak baik, Kau tidak boleh melakukannya lagi kalau tidak terpaksa."
"lya, aku juga melakukannya karena terpaksa."
Sahut Siau Po.
"Sebagai seorang lakilaki sejati, kalah atau menang, sudah seharusnya dilakukan secara terang."
Pek I Ni menatap si bocah tanggung lekat-lekat.
"Selama dua hari ini kau selalu menyebut suhu kepadaku, apakah kau ingin mengangkat aku sebagai guru?"
Tanyanya. Siau Po senang sekali mendengar pertanyaan itu, dia segera menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan wanita itu dan memanggilnya suhu.
"Suhu, dia pasti mempunyai niat buruk."
Kata A Ko. Pek I Ni tersenyum.
"Berniat mengangkat seseorang menjadi guru bukanlah niat yang buruk."
Katanya A Ko tidak berani berkata apa-apa lagi, Siau Po segera mengajak Pek I Ni melanjutkan perjalanan, Kek Song tetap ikut dengan mereka, Secara bergantian mereka memondong sang bhikuni, Begitu sampai di sebuah kota kecil, Siau Po segera mencari kereta agar mereka dapat meneruskan perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, mereka sampai di kota Ho Kan, kesehatan Pek I Ni sudah berangsur-angsur sembuh, Mereka mencari sebuah penginapan Kek Song segera ke luar untuk mencari keterangan tentang rapat besar Cham Ku Tayhwe yang akan diadakan di kota itu.
Malam harinya dia baru kembali dan melaporkan barhwa rapat itu akan diadakan pada tanggal lima belas, Pada malam itu juga Pek I Ni memberikan keterangan kepada Siau Po tentang perguruannya.
Nama sucinya ialah Kui Lan, mereka berasal dari perguruan Tiat Kiam Bun.
Siau Po dipesan agar bersikap baik dan jangan memalukan perguruan mereka.
Tepat pada tanggal lima belas, Kiu Lan menyuruh kedua muridnya berdandan.
Begitu pula dengan dirinya sendiri Siau Po yang cekatan telah menyiapkan segalanya.
Dalam sekejap mata, Kiu Lan sudah berubah menjadi seorang wanita setengah baya dengan kulit pucat.
Kedua muridnya berdandan sebagai para pelayannya.
Kira-kira jam satu kemudian datanglah rombongan yang menjemput Kek Song, Mereka berangkat dengan sebuah kereta besar.
Tempat rapat adalah sebuah tanah luas yang ada di sekitar perbukitan.
Di situ telah berkumpul banyak orang, Setelah mereka melihat The Kek Song, langsung bersorak-sorai menyambutnya.
sebagian besar malah menghampirinya.
Kiu Lan dan kedua muridnya justru duduk di bawah sebatang pohon hoay yang letaknya agak jauh dari keramaian Dari empat penjuru, para tamu masih berdatangan Dalam sekejap mata para hadirin di tanah kosong itu semakin banyak, sementara itu, sang putri malam terus merambat.
Pada saat itulah salah seorang yang duduk di bagian atas segera berdiri dan merangkapkan sepasang tangannya.
"Para hadirin yang mulia, terimalah hormat dari Phang LanTek!"
Para hadirin segera berdiri dan membalas hormatnya.
"Sahabat-sahabat sekalian, tentulah kalian sudah tahu apa maksud pertemuan kita malam ini. Karena sebuah cita-cita yang luhur Kerajaan Beng yang kita cintai telah dirampas oleh bangsa Tatcu, Dalam hal ini, orang yang paling jahat, pengkhianat yang terbesar ialah...."
"Gouw Sam Kui!"
Teriak orang banyak.
"Pengkhianat besar!"
Susul beberapa yang lainnya.
"Kura-kura! Anak haram! Aku kutuk dia delapan belas turunan!"
Demikianlah terdengar suara orang banyak memakimaki. Baru saja suara makian itu agak reda. Terdengar seseorang berteriak.
"Aku kutuk dia sembilan belas turunan!"
Itulah suara Siau Po yang hatinya ikut bersemangat.
"Mengapa kau ikut mencaci?"
Tegur A Ko.
"Orang lain boleh mencaci, mengapa aku tidak?"
Sahut Siau Po. Ketika terdengar lagi suara Phang Lan Tek.
"Pengkhianat itu dibenci oleh orang banyak! Lihat anak itu saja meluap rasa amarahnya! Nah, para hadirin, malam ini kita hadir di sini, maksudnya ialah merundingkan jalan yang baik untuk membunuh pengkhianat besar itu."
Orang banyak mengajukan beberapa usul Ada yang mengajak pergi ke In Lam dan menyerbu istana Peng Si ong, ada yang mengusulkan untuk membunuhnya secara diam-diam.
Ada yang mengusulkan agar menculik selir kesayangannya, Tan Wan Wan, agar Gouw Sam Kui menderita.
Sementara itu, hidangan mulai diantarkan, Phang Lan Tek menganjurkan agar semuanya berdahar sambil memikirkan cara yang baik.
UsuI itu langsung diterima, Siau Po langsung makan hidangan itu dengan lahap.
Begitu pula para tamu lainnya, Setelah selesai bersantap, Phang Lan Tek berdiri dan berkata pula.
"Kita semua terdiri dari orang kasar yang hanya bisa menggunakan senjata membunuh musuh, sedangkan pengetahuan kita dangkal sekali, Untuk itu, sebaiknya kita meminta petunjuk Kou Teng Lim sianseng. Kou sianseng adalah seorang terpelajar. Setelah negara kita runtuh, dia menjelajah ke seluruh negeri untuk mencari kawan sehaluan demi membangun kembali kerajaan kita, Kalian pasti sangat mengaguminya, bukan?"
Banyak orang bersorak menyatakan persetujuannya karena Kouw Teng Lim ini sangat terkenal Setelah suara berisik mereda, Kouw Teng Lim segera bangkit dan memberi hormat kepada Phang Lan Tek.
"Phang tayhiap terlalu memuji, malu aku menerimanya. Aku juga telah mendengar suara hati para hadirin yang semuanya cinta pada negara dan bersatu hati ingin menyingkirkan si pengkhianat besar Aku pun kagum terhadap kalian. Memang! Kita harus bersatu! Asal kita bekerja sama dengan baik, niscaya usaha kita akan berhasil."
"Akur! Akur..."
Terdengar sambutan orang banyak.
"Apa yang saudara-saudara sekalian kemukakan tadi, ada benarnya, Tapi kita harus bisa bekerja mengikuti perkembangan yang ada, agar dapat merubah siasat setiap detik dibutuhkan Kita pun dapat bekerja sendiri-sendiri. Yang penting urusan yang maha besar ini jangan sekali-kali dibocorkan. Kalau tidak, si pengkhianat besar keburu melakukan penjagaan ketat, Kedua, kita jangan sembrono supaya kita tidak mengantarkan jiwa secara sia-sia. Dan yang ketiga, karena kita semua sudah seperti saudara, kita jangan berebutan jasa. Hal itu akan merusak persatuan dan merugikan usaha kita."
"Benar!"
Kata orang banyak.
"Jumlah kita besar, kita juga terdiri dari berbagai partai, Kalau kita bekerja secara terpisah, posisi kita menjadi kurang kuat Sebaliknya, kalau kita bekerja berkelompok jumlah kita menjadi terlalu besar dan kemungkinan mudah diketahui pihak musuh, Kita harus mencari jalan untuk memecahkan persoalan ini."
Semua orang terdiam untuk menguras otaknya.
"Bagaimana menurut pemikiran sianseng sendiri?"
Tanya seseorang.
"Menurut aku, kita terpaksa membagi diri menjadi beberapa kelompok."
Kata Kouw Teng Lim.
"Bukankah kita terdiri dari orang-orang gagah dari delapan belas propinsi? sebaiknya setiap propinsi bekerja sama dengan orang-orang dari propinsi masingmasing, Dengan demikian usaha kita bisa berjalan dengan lancar Kita menggunakan nama ikatan Membasmi Pengkhianat."
UsuI itu lagi-Iagi disambut dengan gembira, Pikiran Kouw sianseng ini diterima dengan baik.
"Kouw sianseng memang benar. Kalau para hadirin tidak ada yang memprotes, mari kita buat delapan belas kelompok! Setiap propinsi memilih kepala ikatan yang terdiri dari orang propinsi itu sendiri Bukan menurut asal kediamannya yang terakhir. Misalnya, seorang hwesio dari Siau Lim Sie, tidak perduli asalnya dari Liau Tong atau In Lam, dia tetap terhitung orang Ho Lam. Seperti juga setiap murid Hoa San Pay terhitung orang Siam Say. Bagaimana pemikiran saudara-saudara sekalian?"
"Memang demikian seharusnya!"
Sahut seseorang.
"Umpamanya pihak Siau Lim Sie, kalau kita memakai dasar menyelidiki asal-usul, pasti sulit jadinya."
Orang banyak menyetujui pemikiran itu, tapi ada seseorang yang berteriak.
"Bagaimana dengan kami, orang-orang dari pihak Tian Te hwe? Cabang kami banyak sekali dan pusat kami juga berpindah ke sana ke mari...."
Siau Po mengenali orang itu sebagai Cian Lao Pan. Hatinya senang sekali.
"Begini saja!"
Kata Kaow Teng Lim yang menjawab pertanyaan tadi.
"Orang-orang Tian Te hwe yang ada di kuil Kui Tang, masuk ikatan Pembasmi Pengknianat cabang Kui Tang, demikian seterus-nya. Kita harus bersatu, bukan memecah diri berdasarkan kelompok atau partai masing-masing, Bagaimana?"
"Bagus!"
Seru orang banyak.
Segera orang banyak mengumpulkan diri menjadi delapan belas kelompok Tapi dilain pihak ada beberapa juga yang tidak menggolongkan diri dalam kelompok mana pun seperti halnya Kui Lan serta A Ko.
Beberapa saat kemudian, beberapa propinsi sudah berhasil memilih ketuanya, propinsi Ho Lam memilih Hui Cong Sian Su dari Siau Lim Sie.
propinsi Ouw Pak memilih Ceng Hoa tojin, ketua Bu Tong Pay.
Untuk propinsi Siam Say, yang terpilih ialah Pat Bin Wi Hong Phang Lan Tek, ketua dari Hoa San Pay.
Rombongan dari In Lam memilih Bhok Kiam Seng dari Bhok Onghu dan bagi propinsi Ho Kian, orang mengangkat The Kek Song, putera kedua Raja muda Yan Peng Kun Ong.
Ada beberapa propinsi yang ragu-ragu memilih calon, mereka meminta pendapatnya.
Akhirnya mereka berhasil juga memilih ketuanya masing-masing.
Ada tiga propinsi yang ketuanya semua orang-orang dari Thian Te hwe.
Sampai di situ, Kui lan mengajak kedua muridnya pulang ke penginapan Dia merasa sudah cukup melihat-lihat setuasi pertemuan itu.
The Kek Song tidak turut dengan rombongan mereka, hal ini membuat Siau Po senang sekali.
Siau Po segera mengoceh tentang Kek Song yang katanya akan membawa beberapa orang nona untuk berpelesir ke Taiwan, A Ko hampir menangis mendengar bualannya, hatinya mendongkol sekali.
Mereka tidak jadi pulang ke penginapan melainkan melanjutkan perjalanan seperti permintaan Pek I Ni.
sementara itu, A Ko tampak sedih sekali sejak mendengar ucapan Siau Po tentang The Kek Song.
Kui Lan menegur murid barunya agar dia berhati-hati dengan mulutnya.
Siau Po terpaksa menurut.
Perjalanan diteruskan sampai tengah hari Kemudian mereka singgah di sebuah rumah makan untuk bersantap, Baru saja mereka selesai memesan hidangan, tiba-tiba datang serombongan tamu lainnya yang meluruk masuk memasuki rumah makan dengan suara bising.
"Lekas potong ayam! sediakan hidangan yang enak-enak!"
Wajah A Ko langsung berseri-seri.
"Ah! The... kongcu!"
Ujarnya. Rupanya rombongan yang baru masuk itu memang The Kek Song dengan para bawahannya, Si pemuda mendengar seruan A Ko, dia segera menoleh dan mengembangkan seulas senyuman seraya menghampiri.
"Oh, nona Tan, suthay! Rupanya kalian ada di sini."
Sementara itu, masuk lagi serombongan orang lainnya yang dikenali Siau Po sebagai orang-orang dari Tian Te hwe, hatinya senang sekali orang-orang dari Tian Te hwe itu langsung mengambil tempat duduk di sudut ruangan.
Karena rumah makan itu kecil, terpaksa Kek Song dan yang lainnya bergabung dengan orang-orang Tian Te hwe itu.
Siau Po sendiri segera menghampiri Ci Thian Coan yang ada dalam rombongan orang-orang Tian Te Hwe.
Dia berkata dengan suara perlahan "Kalian jangan coba mengenali aku!"
Ci Thian Coan terkejut ketika mengetahui siapa yang berbicara dengannya. Namun dia mengerti peringatan itu maka dia diam saja.
"Kita bersikap seperti belum pernah berkenalan Ci toako, kau beri bisikan kepada yang lainnya!"
Kata Siau Po pula. Thian Coan menuruti dia segera berdiri dan menghampiri meja Kwan An Ki dan Hoan Kong serta Cian Lao Pan.
"Wi hiocu kita ada di sini."
Tapi kita tidak boleh menyapanya.
Kwan An Ki dan yang lainnya mendengar, tapi mereka diam saja, Hal ini membuktikan bahwa mereka menuruti pesan tersebut Sesaat kemudian, orang-orang dari rombongan Tian Te Hwe telah mengetahui tentang kehadiran hiocu mereka.
Di meja Kui Lan, Kek Song berkata dengan suara keras.
"Suthay, tadi malam dalam rapat, orang-orang telah memilih aku sebagai Bengcu (ketua) untuk propinsi Ho Kian. Masih banyak urusan penting lainnya yang kami bicarakan, ketika subuh aku kembali ke penginapan, ternyata suthay sekalian sudah pergi, untung aku bisa menyusul."
"Selamat!"
Kata Kui Lan.
"Tapi, The kongcu, urusan ini penting sekali, Harap kau jangan sembarangan mengatakannya di depan umum!"
"lya, iya,"
Sahut si pemuda.
"Syukur di sini tidak ada orang luar. Mereka...."
Dia menunjuk pada rombongan Thian Coan.
"Mereka hanya orang-orang kasar yang tidak mengerti apa-apa."
Sembari makan, Siau Po berkata dengan suara perlahan.
"Makhluk itu sungguh sembrono, kemungkinan kelak dia bisa merusak urusan besar ini. Ci toako, Hong toako, harap kalian kasih pelajaran kepadanya! Selagi kalian bertarung, aku akan datang menengahi, harap kalian pura-pura kalah...."
Hong Ci Tiong dan Ci Thian Coan segera menganggukkan kepalanya, Pada saat itu, ada seorang bawahan Kek Song yang menghampiri Hoan Kong, Orang itu mendorongnya keras-keras.
"Pergi kau duduk di sana!"
Inilah alasan yang tepat untuk mencari gara-gara, Ci Thian Coan segera meloncat bangun dan berkaok-kaok.
"Gila! Sudah kami berikan satu meja, masih belum cukup! Tuanmu ini paling benci melihat lagak anak hartawan yang sok pamer!"
Dia meludah ke arah Kek Song.
Pemuda itu sedang berbicara dengan A Ko, dia tidak bersiap sedia, Ketika ludah Ci Thian Coan menyambar, dia masih berusaha berkelit, tapi terlambat Tidak sedikit air liur ini sempat muncrat ke punggungnya, Pemuda itu langsung merasa muak dan cepatcepat mengeluarkan sapu tangan untuk menyusutnya.
"Ah, segala anak dusun kurang ajar!"
Teriaknya.
"Hajar dia!"
Salah seorang pengiring Kek Song langsung menyerang Thian Coan.
"Aduh!"
Teriak orang yang dipukul meskipun tinjunya belum sampai Terus dia menjatuhkan diri sambil berkaok-kaok.
"Aduh Mati aku!"
The Kek Song yang menyaksikan hal itu langsung tertawa terbahak-bahak, Dalam hatinya dia berkata, --Dasar orang tua tidak punya guna! -Hong Ci Tiong segera bangun dan menuding Kek Song.
"Binatang, apanya yang lucu?"
Kek Song merasa gusar.
"Aku mau tertawa, lalu kau mau apa?"
Ketika Kek Song berbicara, Ci Tiong berkelebat ke depannya dan terdengarlah suara gaplokan sebanyak dua kali. Kek Song menjadi gelagapan saking nyerinya.
"Coba aku ingin lihat, apakah kau masih dapat tertawa?"
Tidak sampai di situ saja, Thian Coan ikut mendupak pantat Kek Song sehingga dia teraduh-aduh.
"Kau berani melawan kami, para berandal dari Hok Gu San, Aku, si A Gu akan memberikan pelajaran kepadamu!"
Teriak Ci Thian Coan. A Ko menjadi panik melihat Kek Song dihajar berulang-ulang oleh orang-orang kasar itu.
"Kau berbuatlah sesuatu! Mengapa kau diam saja?"
Tegurnya pada Siau Po.
"Bagimana, suhu?"
Tanya Siau Po pada Pek I Ni.
"Bagaimana kalau aku menasehati mereka agar jangan memukul The kongcu lagi?"
"Apa kepandaianmu?"
Sergah A Ko sinis.
"Mana mungkin kau dapat menasehati mereka?"
"Meskipun kawanan berandal itu lihay-lihay, aku lihat mereka juga tetap memiliki kelemahan. The kongcu tidak tahu kelemahan itu sehingga tidak mampu menghentikan perbuatan mereka."
Kata Siau Po. A Ko merasa penasaran Akan tetapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, sementara itu, terdengar Pek I Ni berkata pula.
"Asal-usul orang-orang itu masih belum jelas, Aku lihat mereka bukan orang-orang jahat, jangan kau ganggu jiwa mereka, jangan kau merusak nama baik partai kita!"
"lya, iya."
Sahut Siau Po.
"Akan ku ingat pesan suhu baik-baik."
Tepat pada saat itu, Hong Ci Tiong melancarkan sebuah serangan kepada Kek Song, Kelima jarinya mencengkeram, tahu-tahu bagian dada pakaian pemuda itu sudah koyak, kalau dia serius melancarkan serangannya pasti dada pemuda ini sudah terluka parah.
Bukan kepalang mendongkol dan malunya hati Kek Song.
Dikeroyok sedemikian rupa, dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Dia berusaha mengadakan perlawanan sebisanya, dia menerjang ke depan, tapi celaka.
Tangannya malah tercekal oleh salah satu Iawannya, Dan itu masih belum seberapa, orang itu segera menghentakkan tangannya dan melemparkannya ke udara sambil berseru.
"Sambutlah!"
Seorang lawan lainnya segera menyambut tubuh Kek Song lalu dilemparkannya lagi kepada temannya yang lain.
Dalam sekejap saja Kek Song sudah menjadi bulan-bulanan kawanan itu yang melemparkannya ke sana ke mari seperti sebuah bola.
Menyaksikan kejadian tersebut, Siau Po sampai lupa diri, Dia bertepuk tangan sambil berseru.
"Bagus! Bagus!"
Dia baru berhenti ketika merasa batok kepalanya ditepuk oleh seseorang. Rupanya A Ko lah yang menepuknya karena merasa tidak senang melihat sikap Siau Po.
"Kau... kau cepatlah tolong dia!"
Katanya tersendat-sendat. Siau Po tersenyum.
"Mereka toh sedang bermain-main, mengapa kau begitu gugup? Suhu sendiri tidak merasa cemas."
"Bukan!"
Sahut A Ko.
"Mereka ingin menculiknya dan kemungkinan ingin meminta tebusan dari ayahnya."
Hong Ci Tiong yang mendengar kata-kata si nona langsung berseru.
"Bagus."
Katanya.
"UsuI yang bagus sekali, Kita minta tebusan sebanyak satu juta tail saja."
Wajah A Ko jadi pucat pasi, Dia sadar dirinya telah kelepasan bicara. sementara itu, Siau Po tertawa.
"Biar saja!"
Katanya.
"Bukankah The kongcu anak orang kaya? Di rumahnya pasti banyak uang, jangankan hanya satu juta, empat atau lima juta juga tidak menjadi persoalan baginya."
A Ko membanting kaki, dia kesal sekali dan hatinya bingung, Siau Po menjadi tidak sampai hati.
"Mudah untuk menolong dia."
Katanya.
"Kita harus mengadakan perjanjian. Kau harus mau menjadi istriku."
Si nona menjadi gusar.
"Ngaco!"
Katanya. Tepat pada saat itu, salah satu dari "kawanan berandal itu berteriak dengan lantang.
"Hai, kalian dengar! Cepat kalian pulang ke Yan Peng Onghu, raja muda kalian, Kalian minta uang yang nanti harus kalian antarkan ke Hok Gu San! Uang itu untuk menebus kongcu kamu ini! Lebih baik kalau secepatnya, Sekarang ini kami tidak akan merampas jiwa kongcu kalian, dalam tiga hari kami hanya akan menghajarnya saja, setiap hari dia akan dirotan sebanyak tiga ratus kali, Kalau uang tebusan cepat datang, penderitaannya akan berkurang."
A Ko bingung sekali Dia menarik tangan Siau Po.
"Kau dengar sendiri Bagaimana baiknya sekarang?"
"ltu tidak apa."
Kata Siau Po.
"Kau jangan khawatir! Kalau satu hari dirotan tiga ratus kali, dua bulan baru tiga kali enam jadi delapan belas, jumlahnya baru seribu delapan ratus...."
"Bukan.,."
Sahut A Ko.
"Selaksa delapan ratus...."
Siau Po tertawa.
"lya, iya."
Sahutnya.
"Aku tidak pandai menghitung, Tapi ada baiknya juga hajaran itu, nanti pinggulnya menjadi kebal dan tahan pukulan."
A Ko semakin marah, Dia mendelik pada si bocah.
"Masa bodoh."
Katanya.
"Aku tidak mau meladeni engkau lagi."
"Sudah, sudah!"
Kata Siau Po.
"Jangan menangis. Nanti aku akan mencari daya untuk menolongnya."
"Cepat kau tolong dia!"
Bentak si nona.
"Urusan lainnya kita bicarakan nanti."
Tatkala itu, kedua tangan Kek Song sudah diikat, anak buahnya tidak berani melakukan apa-apa, karena takut tuan mudanya dicelakai kawanan berandal itu menaikkannya di atas punggung kuda, terang mereka hendak membawanya ke gunung Hok Gu San.
Melihat itu, A Ko semakin bingung.
Siau Po dapat melihat gelagat sekaranglah waktunya untuk bertindak, Karena itu, dia segera menghambur ke depan pintu sambil berseru.
"Hai! Hai! Tay Ong dari Hok Gu San, mari! Aku yang rendah ingin berbicara sedikit denganmu!"
Rombongan Ci Thian Coan memang sedang menunggu panggilan itu, Dengan tampang keenggan-engganan, mereka menolehkan kepalanya. "Eh, saudara kecil, apa maumu?"
Tanya Kho Gan Ciau.
"Tahukah kalian siapa yang kalian tawan itu?"
Tanya Siau Po.
"Dialah putera kedua dari Yan Peng Kun Ong di Taiwan."
Sahut Gan Ciau.
"Pasti kau juga tahu siapa dia. Tapi dia ini benar-benar kurang ajar. Coba kami tidak memandang kakek dan ayahnya, walaupun dia punya sepuluh kepala, tentu kami akan mengutungkan semuanya, Dalam tangsi, kami mempunyai banyak anggota, kami kekurangan biaya, karena itu sekarang kami tawan dia. Maksud-nya untuk ditahan sementara waktu, Kami ingin meminjam uang dari ayahnya sebanyak satu juta tail."
"Satu juta tail?"
Kata Siau Po.
"ltu urusan kecil, aku dapat memberikannya kepada kalian."
Kho Gan Ciau tertawa.
"Eh, saudara kecil,"
Katanya.
"Apakah she dan namamu yang mulia?"
Siau Po tersenyum.
"Aku bernama Wi Siau Po."
Sahutnya singkat "Oh!"
Seru Kho Gan Ciau yang langsung merangkapkan sepasang tangannya untuk menjura.
"Kiranya kaulah Siau Pek Liong Wi Enghiong yang telah membunuh Go Pay, si orang Boan Ciu paling kuat di jaman ini! Namamu sudah sangat terkenal Saudara kecil, kami semua mengagumimu, pertemuan ini sungguh menggembirakan hati kami."
Siau Po membalas hormatnya.
"Tidak berani aku menerima pujian yang demikian tinggi."
Katanya.
"Saudara kecil,"
Kata Kho Gan Ciau.
"Dengan memandang saudara, kami suka membebaskan orang she The ini, uang satu juta yang tadinya hendak kami pinjam, kami tidak mengingatkannya. Ci Thian Coan mengeluarkan dua potong uang perak dari saku pakaiannya kemudian diserahkan kepada si anak muda, sikapnya sangat menghormat "
Wi Enghiong, andaikata kau memerlukan uang untuk perjalananmu silahkan ambil uang seratus tail ini!"
Katanya, Tanpa sungkan-sungkan lagi, Siau Po menerima pemberian Ci Thian Coan.
"Terima kasih!"
Katanya singkat Kemudian dia berpaling kepada A Ko untuk menyerahkan uang itu kepada si nona.
"Simpanlah yang ini, mungkin kita membutuhkannya nanti.,,."
A Ko menjadi heran.
Dia benar-benar tidak mengerti Sungguh di luar dugaan, orang yang sangat dibencinya ini justru mempunyai nama besar, sampai segala berandal dari Hok Gu San itu pun tahu dan menghormatinya sedemikian rupa, dia tidak tahu, bahwa si bocah nakal ini justru pemimpin dari kawanan berandal tersebut.
"Ah!"
Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan Di dalam hati, dia merasa gembira dan heran.
Heran karena bocah itu bisa bergaul dengan siapa saja, gembira karena pemuda pujaan hatinya akhirnya akan dibebaskan oleh kawanan berandal tersebut.
Sementara itu, kawanan berandal dari Hok Gu San semuanya menghampiri Siau Po dan mengajaknya berkenalan Mereka tampaknya bersungguh-sungguh ingin mengenal bocah itu lebih dekat saking kagumnya mendengar nama besar yang disandang si bocah.
Setelah selesai berkenalan Siau Po membalikkan tubuhnya untuk kembali memasuki rumah makan Tiba-tiba Hong Ci Tiong memanggilnya kembali.
"Tunggu dulu, Wi Enghiong!"
Katanya.
Dia memanggil si bocah dengan sebutan Enghiong yang artinya pendekar "Kau telah berhasil membunuh Go Pay, kami semua sangat mengagumimu, Tapi kita baru berkenalan kita tidak tahu satu dengan lainnya, Karena itu kami mana tahu kau ini pendekar sejati atau pendekar palsu, Kalau ada orang yang memalsukan nama Wi Enghiong dan mengakuinya, kami bisa saja dikelabui, siapa tahu ada orang yang sengaja melakukannya untuk mencari keuntungan?"
"Kau benar juga."
Kata Siau Po.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kalian bisa percaya."
"Maaf kalau kami bernyali besar Wi Enghiong!"
Kata Ci Tiong dengan sikap menghormat "Aku mohon sudilah kiranya Enghiong memberikan petunjuk kepadaku barang tiga jurus....
jago Boan Ciu nomor satu saja bisa terbunuh di tangan Enghiong, pasti kepandaian Enghiong tinggi sekali."
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau itu yang kan inginkan."
Sahutnya "Tapi aku tidak ingin berkelahi secara sungguh-sungguh, kita hanya saling mencoba saja, menang atau kalah tidak menjadi persoalan, kita bermain-main sampai batas saling towel saja." Hong Ci Tiong pun menganggukkan kepalanya.
"Benar begitu."
Katanya.
"Aku harap Wi Enghiong menaruh belas kasihan kepadaku sehingga aku tidak sampai terluka parah karenanya..."
Di dalam hatinya Siau Po tertawa. --Biasanya Hong toako ini tidak suka bicara, Tak disangka disaat bermain sandiwara, dia bisa menjalankan perannya dengan demikian sempurna!-"Saudara, jangan sungkan"
Katanya kemudian.
"Mungkin aku bukan lawanmu yang setimpal Harap saudara juga jangan berlaku terlalu keras kepadaku. Nah, mari kita mulai!"
Ci Thian Coan segera maju.
"Saudara, biar aku dulu yang mencoba Wi Enghiong!"
"Tidak bisa!"
Sahut Ci Tiong.
"Aku yang memintanya terlebih dahulu. Jadi akulah yang harus melawannya dulu, kau boleh menyusul belakangan."
Setelah berkata, dia menoleh kepada Siau Po dan berkata.
"Saudara, kau boleh mulai sekarang."
Siau Po langsung melakukan penyerangan Dia mengangkat tangan kirinya ke atas, telunjuknya diayunkan, disusul dengan satu tepukan oleh tangan kanannya, Tapi baru setengah jalan, tangan itu sudah diputar balik untuk menyerang dari samping.
itulah sebuah jurus tipuan yang bernama Bu Sek Bu Siang dari ilmu poan Jiak Ciang yang diajarkan oleh Teng Koan taysu ketika dia berada di kuil Siau Lim Sie.
"Bagus."
Kata Hong Ci Tiong sambil mengacungkan jempolnya.
"lnilah salah satu bagian dari Poan Jiak Ciang yang dinamakan Bu Sek Bu Siang...."
Dia segera menangkis dan berhasil menghindarkan diri dari serangan itu.
Siau Po kembali maju selangkah, kaki kirinya ditendangkan ke samping.
sekarang dia menggunakan sebuah jurus yang pernah diajarkan oleh Hay Tay Hu, tapi dia lupa apa nama jurus itu, Hong Ci Tiong bersikap seakan kurang bersiaga, Dia ingin mengelakkan diri dari serangan itu, tapi apa daya kakinya telah tersepak sehingga dia jatuh terguling roboh.
Cepat-cepat dia bangkit kembali sementara itu, Siau Po tertawa lebar.
"Benar, tuan!"
Katanya.
"Pandangan tuan sungguh tajam, ilmuku tadi dapat tuan kenali dengan baik."
Meskipun mulutnya berbicara, Siau Po kembali melakukan penyerangan Tangan kirinya diangkat ke samping, Dari kanan dibawa ke sebelah bawah kiri, Mendadak kelima jari tangannya menyambar.
"Hebat!"
Seru Ci Tiong yang seakan masih belum kapok. Dia juga merasa agak bingung, inilah pukulan Leng Ciu dari Poan Jiak Ciang juga."
Dia bergerak mundur, menyusul itu, dia menolakkan kedua tangan nya, gerakannya perlahan sekali, Dengan demikian, telapak tangannya hanya beradu sedikit dengan jari penyerangnya.
"Aduh!"
Dia menjerit seperti orang yang kesakitan dan tubuhnya langsung berjumpalitan di udara dan terpental ke belakang seakan tidak sanggup bertahan.
Setelah itu, dia berdiri terdiam wajahnya merah padam laksana orang yang habis meneguk puluhan cawan arak.
Dia seperti malu dan bingung, Sampai cukup lama, dia baru tersentak sadar, langsung jatuh terduduk, Kedua tangannya digoyang-goyangkan sambil mulutnya berkata.
"Aku sangat kagum kepadamu, Wi Enghiong. Ternyata kau memang lihay sekali, tidak heran kau sanggup membunuh Go Pay, si jahanam bangsa Boan Ciu itu. Aku benar-benar takluk kepadamu, Terima kasih karena tidak mengambil selembar jiwaku ini. Kalau Wi Enghiong memerlukan bantuan kami, silahkan datang ke Hok Gu San, jangan sungkan-sungkan, meskipun harus terjun ke lautan api atau gunung gotok, aku pasti rela melakukan apa saja bagi Wi Enghiong."
A Ko dan Pek I Ni dapat melihat jelas semua kejadian itu, Tapi apa yang tersirat dalam pikiran mereka sudah tentu berbeda, Pek I Ni dapat melihat dengan jelas bahwa penyerangan yang dilakukan Hong Ci Tiong hanya pura-pura.
Hatinya jadi bertanya-tanya, permainan apa lagi yang dijalankan bocah ini, Dia juga tidak percaya kawanan berandal itu berasal dari Hok Gu San sebagaimana pengakuan mereka.
Sedangkan A Ko menjadi bingung, Dia tidak menyangka Siau Po mempunyai kepandaian yang begitu tinggi sehingga sanggup merobohkan salah satu dari kawanan berandal itu, Kalau dilihat dari pertandingan yang berlangsung barusan, tampaknya ilmu si bocah ini malah lebih tinggi dari Kek Song.
Hatinya jadi tidak begitu benci lagi kepada si bocah.
Hanya perasaan mendongkolnya yang masih tersisa terus.
Sementara itu, Kek Song yang terikat di punggung kuda sudah dibebaskan oleh kawanan Tian Te Hwe.
Dia ikut menyaksikan jalannya pertempuran.
Untung ilmunya belum tinggi sekali sehingga dia tidak melihat bahwa sebenarnya Siau Po dan Hong Ci Tiong hanya pura-pura berkelahi.
Dalam hatinya juga timbul keraguan Benarkah bocah itu demikian lihay?
Atau dia mempunyai ilmu siluman yang bisa membuat semua lawannya menjadi takluk dan menyatakan menyerah dengan sendirinya?
pikirannya kacau, belum lagi kepalanya yang masih pusing karena diayunkan ke sana ke mari sejak tadi.
Dia malas memikirkan hal itu lebih jauh.
Siau Po sendiri tenang-tenang saja.
Bibirnya mesem-mesem.
Beberapa pelayan rumah makan pun menyaksikan jalannya pertarungan sekarang mereka menatap kepada si bocah dengan pandangan kagum.
Hal ini membuat Siau Po semakin bangga.
Dia menjadi besar kepala, Sudah terbayang dalam benaknya akan duduk bersanding bersama A Ko yang cantik dan manis.
Bagian 51 Sian Po membalas hormat "Ah dasar kau yang mengalah, saudara silahkan diiduk!"
Katanya, ia pun berlaku sungkan. Berkata demikian diam-diam kacung itu mengedipkan mata pada kawannya. Hong Ci Tiong memainkan peranannya sangat bagus, dia berpura-pura malu.
"Wi Enghiong tersohor gagah. Sungguh itu sangat tepat. Namun enghiong, aku yang rendah ini ingin juga mencoba barang tiga jurus. Apakab sudi melayani aku?"
Tanyanya Siau Po mengangguk "Baik,"
Sahutnya singkat dan ia pun maju untuk memutai menyerang.
Tangan kirinya menyambar ke dada orang itu, dan tangan kanannya mencari rusuknya, itulah silat Siau Lim Sie yang diberi nama Ciam Moa Kimna Chiu.
Tian Coan maju untuk bergurau saja, ia tak menyangka si kacung menggunakan tipu silat yang terkenal.
Diam-diam ia sangat kagum dan ia berkata dalam haii.
"Wie HiocU sangat cerdast"
Ia hanya menyangka ilmu silat itu sangat cepat sekali hingga orang yang terkena tidak celaka karena Siau Po menggunakannya tanpa dukungan tenaga dalam Dengan sabar ia membalas untuk melayani orang itu dalam berlatih Karena Siau Po melayaninya dengan sungguh-sungguh maka ia pun sungguh-sungguh pula hingga tampak mereka sedang bertempur Lewat beberapa jurus, kelihatan mereka bergumul dan mendadak Tian Coan menjerit "Aduh!"
Lalu tangannya pun turun, Orang itu mundur beberapa langkah dan tangan kirinya dipakai untuk memegangi tangannya yang kanan, ia berlagak seperti orang terkilir.
"Aku takluk."
Katanya sambil ia memegangi tangan sendiri yang keseleo itu.
Hingga sempurna sekali ia memainkan perannya itu, Menyusul orang Sie Cie itu, Hoan Kong Hian dan Cian Lau pun menantang bergebrak dengan cara bergantian Siau Po tetap menggunakan jurus itu dan dengan hanya delapan jurus mereka satu persatu mengalah kalah.
"Kali ini kami melihat ilmu silat Wi Enghiong. Baru mata kami terbuka dan apabila Enghiong lewat di Hok Gu San kami minta Enghiong sudi mampir barang beberapa hari!"
Kata Ko Gan Ciau, Semua kawanan berandal dari Hok Gu San memanggil "Enghiong"
Yang berarti pendekar pada Siau Po. ia pun membawa aksi dengan baik.
"Pasti!"
Jawab Siau Po.
"Namun harap saja kedatanganku tidak dijadikan gangguan...!"
Lalu kawanan perampok itu memberi hormat dan berlalu dari hadapannya sambil menuntun kuda mereka, sampai jauh mereka baru menaiki kuda-kuda nya.
Mereka tidak berani menaiki kudanya di depan Siau Po.
Sampai di situ tak dapat The Kek Song tidak takluk, ia lalu menghampiri Siau Po dan memberikan ucapan terima kasih.
"Jangan sungkan-sungkan, hanya nasib baik saja yang membuatku dapat mengalahkan mereka itu!"
Kata Siau Po sambil tertawa.
Kali ini Siau Po berbicara dengan sungguh-sungguh akan tetapi dengan cara merendah itu The Kek Song merasa malu dan hal itu yang membuat mukanya berubah merah karena malu.
Siau Po lalu melanjutkan perjalanan, dan malam itu Siau Po telah sampai di kecamatan Hian Koan dan mereka mencari rumah penginapan.
Sewaktu mereka berada berdua Kui Lan berkata pada Siau Po.
"Orang yang bermain sandiwara tadi siang itu apakah sahabatmu?"
Guru itu sangatlah lihay hingga ia dapat melihat orang yang berlatih secara sungguhsungguh dan orang yang sedang bermain-main, Cuma Kek Song saja yang dapat dikelabuhinya.
Siau Po tahu kalau gurunya itu dapat mengetahui sandiwaranya, maka ia memberikan jawaban sambil tertawa.
"Mereka cuma kenalan biasa saja."
"Mereka semua berilmu sangat tinggi mengapa mereka mau berkelahi denganmu secara main-main?"
Tanyanya. Siau Po kembali menjawab.
"Mereka itu semua tidak puas menyaksikan kejumawaan The kongcu. ia sengaja meminjam muridmu ini, suhu, buat memberi pelajaran kepada kejumawaan pemuda takabur itu."
Kata Siau Po. Kiu Lan berdiam sejenak, jawaban itu beralasan juga.
"Tadi ilmu silatmu itu kau jalankan dengan baik juga."
Kata Kiu Lan kemudian "ltuIah gerak-gerik dari ilmu Poan Jiak Ciang."
"Sebenarnya itu tak ada harganya, itu hanya dapat dipakai untuk menggertak orang."
Kata si anak muda yang tertawa pula.
Pembicaraan itu terhenti karena di luar rumah penginapan terdengar suara kuda yang berisik, jelas ada orang yang mau bermalam di situ, Menyusul terdengar pula suara keras dari seseorang.
"Kami membutuhkan sebuah kamar kelas satu yang paling baik, buat yang lainnya seadanya saja pun boleh!"
Siau Po mengenali suara orang yang berbicara itu, ialah Yau Tau Say Cu Gou Lip Sin. Lalu terdengar suara pemilik hotel yang menjamin kamarnya terpilih dan tak ada kutu busuknya meski cuma satu ekor.
"Silahkan Tuan turut aku!"
Kata pemilik itu. Siau Po lalu menanyakan pada gurunya.
"Suhu bukankah kita akan membinasakan Gouw Sam Kui?"
"Ya,"
Sahut Kiu Lan.
"Akan tetapi bukan sekarang. Aku memerlukan sebuah tempat sunyi untuk aku beristirahat satu bulan lamanya guna memulihkan seluruh kesehatanku, Tentang gerak-gerik kita lebih jauh akan aku tentukan nanti saja, Jika sekarang aku menemukan lawan yang lihay, aku tak dapat melayaninya, Kau tahu caramu mengacau itu tak cocok bagi kami kaum Tiat Kiam Bun."
Walaupun ia mengatakan demikian, Pek I Ni tersenyum. ia teringat semua perbuatan Siau Po yang sangat jenaka. Siau Po mengangguk.
"Benar, Kesehatan suhu paling utama."
Katanya.
Kacung ini lantas membuka buntalannya dan mengeluarkan daun Teh Kie Ciou Ling Ceng yang paling tersohor ia segera menyeduh daun teh itu.
Setelah itu ia menyuguhkannya kepada gurunya sambil berkata.
"Kelak di kemudian hari, apa bila aku sudah berhasil mempelajari ilmu silat dari suhu, Setiap berhadapan dengan musuh, akan aku gempur musuh itu secara laki-laki sejati. Suhu, aku ingin pergi ke luar untuk melihat-lihat ada sayuran apa yang masih segar."
Kiu Lan mengangguk memberikan perkenannya, maka muridnya itu pergi ke luar Tampak Kek Song dan A Ko sedang berjalan bergandeng tangan.
ke luar dari rumah penginapan Nampaknya pergaulan mereka semakin erat.
Menyaksikan demikian, Siau Po merasa iri hati.
Diam-diam ia mengintip mereka itu.
Ketika A Ko menolehkan kepalanya ke belakang, tampak Siau Po yang sedang berjalan di belakangnya.
"Mau apa kau mengikuti aku?"
"Aku bukan lagi mengikuti kau!"
Sahut Siau Po.
"Aku sedang membeli sayuran untuk suhu."
"Baik."
Kata si nona dengan suara keras.
"The kongcu, mari kita pergi ke sana!"
Dan dengan tangannya ia menunjuk ke barat kota tempat sebuah bukit kecil. Panas hatinya Siau Po dan ia berkata.
"Kau harus berlaku sedikit berhati-hati! jika kau bertemu orang jahat, aku tak dapat menolongmu lagi!"
Mata si nona terbelalak mendengar ucapan itu.
"Siapakah yang menginginkan pertolonganmu?"
Tanyanya ketus. Sementara itu A Ko dan The kongcu merasa tidak puas terhadap Siau Po.
"Hm!"
Terus ia mempercepat langkah nya, untuk meninggalkannya pergi Siau Po tidak melayani si nona bicara, Anak muda itu mengawasi nona itu menyusul di pemuda, ia mendengar tawa A Ko dan hatinya menjadi panas.
Tanpa terasa ia meraba pisau belatinya yang sangat tajam, yang sudah sering meminta korban.
Hampir ia lari menyusup tapi baru dua tindak, ia sudah berhenti karena hatinya berpikir.
"Aku bukanlah mereka berdua."
Dengan menahan hawa amarahnya, Siau Po lalu pergi ke pasar untuk membeli sayuran, seperti Kuacay dan jamur lalu kembali ke hotel, Ketika itu A Ko berdua masih belum pulang.
Mungkin mereka berdua sedang berkasih-kasihan.
Kembali ia menjadi sangat mendongkol hingga ia berkata seorang diri, lalu ia terkejut karena ada orang yang menepuk bahunya dengan perlahan seraya orang itu memeluknya sambil tertawa.
"Eh, Wie Toutong kau ada di sini?"
Katanya. Siau Po menoleh dengan cepat, ia mengenali orang itu Gie lim Sie Wie Cong Koan To Liong kepala pengawal pasukan raja, dari terperanjat ia menjadi girang dan tertawa.
"Eh, kau pun berada di sini?"
Tanyanya. Di belakangnya juga tampak beberapa Sie Wie yang mengenakan pakaian seragam pasukan biasa namun mereka tidak ada yang berani datang.
"Di sini ada banyak orang mari ke kamarku!"
To Liong berbisik. Kiranya yang datang tadi itu termasuk rombongan Sie Wie ini. Siau Po menurut, dan sampainya ia di dalam kamar barulah Sie Wie itu memberi hormat.
"Sudah.... Sudah,."
Sambil berkata demikian ia merogoh sakunya untuk mengambil uang dan berkata "Pergi kalian minum arak!"
Semua Sie Wie tahu jika ia bertemu dengan Siau Po pasti mereka memperoleh uang dan sekarang ini terbukti Mereka menerima uang dan mengucapkan terima kasih lalu mereka pergi.
Seberlalunya beberapa orang Sie Wie, To Liong berkata pada Siau Po dengan sangat perlahan.
"Ada segerombolan pengkhianat yang berniat melakukan pemberontakan dan mereka sekarang sedang berkumpul di Ho Kan tempat mereka membuat permufakatan. Sri Baginda dapat tahu maka kami dikirim ke mari untuk melakukan penyelidikan. Dalam hati Siau Po terkejut juga.
"Si raja cilik itu pandai juga mencari rahasia gerak-gerik pemberontak"
Pikirnya. Siau Po berkata pada kepala barisan pengawal pribadi raja itu.
"Aku juga datang ke mari untuk maksud yang sama. Menurut apa yang aku dengar, rapat mereka apa yang disebut Sat Kui Tay Wie rapat besar untuk membunuh kurakura...."
To Liong mengacungkan jempoInya.
"Hebat.... Hebat.,."
Puji nya.
"Apa pun tak dapat lewat dari mata Wie Toutong!"
Siau Po terdiam.
"Berita apa saja yang telah kalian peroleh?"
Tanya Siau Po selang sejenak.
"Dua orang anggotaku sudah masuk menelusup ikut rapat besar mereka."
Kata To Liong.
"Kami mendengar halnya, mereka itu akan menentang Gouw Sam Kui, untuk itu setiap propinsi telah mengangkat ketua ikatan, yang disebut Beng-cu. Kami telah mengetahui nama mereka itu."
Hati Siau Po tercekat juga.
"Siapa.... siapakah beberapa Bengcu itu?"
Tanyanya.
"Merekalah Bok Kiam Seng dari In Lam dan The Kek Song putera kedua dari The Keng dari taiwan Hokiang."
Sahut To Liong dan ia pun menyebutkan nama-nama yang lainnya.
"Apakah kau pernah lihat atau pernah mendengar Bok Kiam Seng dan The Kek Song itu?"
Siau Po menanya lebih jauh.
"Bagaimanakah roman dan potongan tubuhnya?" "Karena di waktu malam dan gelap, kedua saudara kami itu tidak dapat melihat dengan jelas."
Si congkoan memberikan keterangan "Mereka berdua juga tak berani mendekati."
"Ada titah apa lagi dari Sri Baginda?"
Tanya Siau Po yang kemudian menanyakan hal yang lain.
"Sri Baginda memerintahkan pada kami untuk mengadakan penyelidikan secara diam-diam, supaya kami jangan seperti menggeprak rumput dan membuat ular kabur Nanti setelah mendapatkan keterangan jelas barulah mereka akan dibasmi semuanya."
"Sungguh raja sangat cerdas dan pintar!"
Siau Po memuji.
"To toako, jika nanti kau kembali ke kota raja kau sampaikan pada baginda bahwa Siau Po budak-nya, tengah mengadakan penyelidikan juga dan nanti setelah mendapatkan keterangan yang pasti barulah aku pulang dan memberikan laporanku pada raja!"
"Baik.... Baiklah Toutong jikalau kau berhasil tentu Toutong akan mendapatkan hadiah dari raja yang sangat besar."
"Hadiah tinggal hadiah yang penting sekarang mendapatkan muka terang dari semua Sie Wie."
Kata Siau Po yang pandai berbicara itu.
"Sekarang To toako ada suatu urusan, untuk itu aku hendak meminta bantuan padamu...."
"Apakah itu To toako?"
Tanya para Sie Wie.
"Untuk toako kami bersedia melakukannya...."
Itu suatu urusan yang membuat orang sangat mendongkol kata Siau Po yang menunjukkan muka penasaran "Masalahnya begini aku mempunyai seorang nona yang menjadi sahabatku, tetapi sekarang ini ia sedang bermain api dengan orang yang bermata keranjang..."
Baru Siau Po berkata sampai di situ para Sie Wie lalu mendaprat mereka berkesan sangat baik terhadap anak muda itu dan sebaliknya sangat membenci orang yang telah merusak hubungan antara Siau Po dengan nona itu.
"Bangsat itu bernyali besar hingga ia berani mengganggu pacar Toutong, Baiklah kami akan melabrak dan membinasakannya."
"Membinasakan dia, itulah tak usah!"
Kata Siau Po yang terus bersikap sabar.
"Cukup dengan kalian melabraknya dan yang laki agar dia tahu rasa, sebenarnya anak itu sahabatku, maka jangan kalian menghajarnya dengan kekerasan dan jangan kau menyentuh si nona...."
Para Sie Wie tertawa.
"Kami mengerti."
Kata seorang.
"Terhadap sahabat wanita Toutong, siapakah yang berani berlaku kurang ajar?"
"Mereka tadi menuju ke barat."
Kata Siau Po.
"Sebentar, setelah kalian mengeroyok si anak muda, aku akan datang pura-pura menolongnya, Kalian harus segera melarikan diri, supaya dengan demikian aku akan mendapat muka...."
Kembali para Sie Wie tertawa.
"Toutong, sungguh menarik hati perintahmu ini!"
Kata mereka. To Liong juga tertawa.
"Nah, kalian pergilah!"
Katanya.
"lngat, kalian harus berlaku hati-hati jangan sampai rahasia terbuka, Biar Toutong Tay Jin akan menganggap kalian bukanlah sahabatsahabat baiknya!"
Lagi-lagi para Sie Wie itu tertawa.
"Buat Toutong, apa pun akan kami lakukan, Baik, kami akan berlaku hati-hati sekali."
Kata mereka.
"Ah, sungguh gila!"
Kata seorang Sie Wie.
"Kenapa anak itu demikian kurang ajar? Dia berani mempermainkan pacar Toutong, itu sama saja dengan dia mempermainkan ibuku, Bagaimana aku tak akan mengadu jiwa dengannya?"
Mendengar itu semua orang tertawa.
"Perlahan sedikit!"
Siau Po memperingatkan.
"Jaga jangan sampai ada orang yang mendengar pembicaraan kita ini!"
Walaupun demikian para Sie Wie itu pada tersenyum.
Kemudian mereka mengundurkan diri, semuanya nampak sangat gembira.
Siau Po cepat-cepat membawa sayurannya ke dapur, dan djserahkannya kepada koki.
ia lalu memberikan persen seraya berpesan agar memasaknya yang baik.
Selesai itu ia pergi ke kota barat, Mulanya cepat sedikit seterusnya ia berjalan perlahanlahan.
Kira-kira berjalan satu lie, ia mulai mendengar suara berisik orang saling menggentak.
Kemudian tampak beberapa orang sedang berkelahi dengan seru.
"Hebat bocah itu!"
Pikir Siau Po.
"Bagaimana seorang diri dia dapat melayani demikian banyak orang?"
Siau Po tertegun melihat perkelahian itu, sebab ia mendapatkan kenyataan bahwa para Sie Wie bukan mengeroyok The Kek Song, melainkan tengah mengepung tujuh atau delapan orang yang membela dirinya sambil mepet pada dinding kota.
Mereka itu rombongan Bok Kiam Seng dan Gauw Lip Sin, Di antaranya terdapat seorang nona yang bersenjatakan sepasang golok, Rambut nona itu kusut awut-awutan, Dengan lincah nona itu berkelahi di sisi Bok Kiam Seng, Di atas kota tampak dua orang, bahkan merekalah The Kek Song dan A Ko.
Keduanya sedang asyik menonton sambil bergandengan tangan.
Menyaksikan demikian pemuda itu nampak lucu.
"Celaka mereka salah raba!"
Katanya dalam hati.
"Terang mereka melihat The kongcu bersama nona itu dan mereka salah sangka!"
To Liong dengan golok ditangan membuat pengawasan Tidak ayal lagi Siau Po menghampiri Congkoan itu untuk mengatakannya.
"Kalian keliru yang aku maksud itu yang berada di atas tembok itu..!"
Habis berkata demikian ia lalu pergi. Mendengar demikian, congkoan terperanjat maka ia lalu berteriak "Keliru.... Keliru, hay sahabat yang berutang bukannya kalian cepat kasih mereka pergi!"
Para Sie Wie yang mendengar suara pimpinannya itu serempak mundur. Lip Sin semua berhati lega, ia sendiri melihat Siau Po maka ia berkata dalam hati.
"Oh, kembali Wie Inkong yang menolong kita! Tak apa andaikata kami sendiri yang terbinasa, asal jangan Siau Ong terjatuh ke dalam tangan musuh."
Yang dimaksud Siau Ong, pangeran ialah Bhok Kiam Seng, si putera raja muda.
Karena tak leluasa buat menemukan Siau Po di saat seperti itu, Lip Sin mengajak kawan-kawannya menyingkir ke arah utara.
Siau Po sementara itu menghampiri A Ko.
"Su ci, kenapa mereka itu bertempur?"
Tanyanya pada si nona yang ia gilai.
"siapakah mereka itu?"
"Tidak tahu! Kata tentara itu, mereka menagih hutang."
Sahut si nona.
"Mari kita pulang! Suhu pasti kesepian."
Ajak Siau Po.
"Silahkan pulang dulu, aku akan menyusul kemudian."
Jawab A Ko. Baru saja A Ko berkata demikian, tampak para Sie Wie tengah memanjat tembok. Mereka semua berlarian, lalu seorang Sie Wie menunjuk Kek Song seraya berkata.
"ltu dia yang berhutang padaku!"
"The kongcu Sute, mari kita pergi dari sini! Lihat serdadu Tatcu itu tengah berbuat sewenang-wenang, celaka kalau mereka mengganggu kita!"
Kata Siau Po secara perlahan. A Ko merasa khawatir.
"Baik mari kita pulang!"
Katanya, Sie Wie tadi justru telah menghampiri lalu ia berhadapan dengan Kek Song dan berkata dengan nyaring.
"Kemarin di Hokan waktu kau pelesiran di rumah hina, kau berhutang padaku selaksa tail perak, hayo sekarang kau bayar!"
"Ngaco belo!"
Bentak Kek Song gusar.
"Siapa yang pelesiran di tempat hina dina? Kenapa aku berhutang padamu?"
"Kau masih menyangkal"
Kata Sie Wie itu.
"Malam itu di pangkuanmu duduk seorang nona manis siapakah mereka itu?"
Belum lagi Kek Song menyangkal seorang Sie Wie yang lainnya sudah mendahului berkata.
"Yang lebih tua namanya A Cui yang muda Hong Po. Ketika itu di kiri ia menciumi pipi si nona lalu kau meneguk arak dan di kanan kau mengelus-elus pipi si nona yang kanan dan kau meneguk arak lagi, sungguh sedap hidupmu itu!"
"Kau!"
Menimbrung Sie Wie yang ketiga.
"Sambil memeluk si nona di kiri dan kananmu kau sudah berjudi denganku, Ketika itu kau kalah dua ribu tail perak dan kau meminjam uangku tiga ribu tail, Kau katakan hendak bermain terus untuk menebus kekalahannya kau juga meminjam dua ribu tail dari kenalanku, Kemudian kau meminjam lagi seribu tail dan terhadap saudara ini kau pinjam seribu lima ratus tail..." "Dan kepadaku,"
Kata Sie Wie yang keempat.
"Juga seribu lima ratus tail!"
Menyusul kata-kata itu, mereka masing-masing mengulurkan tangan.
"Mari bayar uangku!"
Kata mereka bergantian "Jikalau membunuh manusia harus dibayar dengan nyawa, kau berhutang pada kami uang maka kau harus membayar dengan uang juga, Lekas bayar!"
A Ko berpikir mendengar suara para Sie Wie itu.
ia ingin mempercayai separuhnya, tapi dia ingat Siau Po di rumah hina itu dan selama dalam gerombolan pohon itu sudah meraba-raba tubuhnya, Memang malam sebelum itu Sat Ku Tai Wi, Kek Song pernah tidak pulang dan pulangnya di waktu pagi dengan wajahnya menunjukkan bekas menenggak banyak arak namun katanya ia telah diundang kenalannya yang gagah, siapa mau percaya itu?
Mengingat demikian air mata A Ko menetes sebab ia merasakan sangat sedih, Siau Po menarik baju A Ko.
"Mari Sute, urusan mereka bukan urusan kita! Mereka pula orang-orang busuk, maka kita jangan mencari keonaran pada mereka itu!"
Kata Siau Po.
A Ko mengangguk, ia mundur beberapa langkah.
Sekarang Sie Wie itu menghadang Kek Song yang terus mereka kurung, Seorang Sie Wie yang berada di belakang si anak muda bangsawan, lalu menjulurkan tangannya untuk menarik baju dan kuncir anak itu.
Kek Song gusar sekali ia lalu melangkah mundur, sekaligus menjulurkan tangannya untuk meninju dada seorang Sie Wie, sehingga Sie Wie itu berteriak kesakitan.
Melihat demikian para Sie Wie segera menyerang.
Mereka bertarung satu lawan satu saja, para Sie Wie itu bukanlah lawannya.
Akan tetapi sekarang para Sie Wie itu mengeroyok rapat sekali, maka tak lama Kek Song sudah dapat dirobohkan.
"Jangan lancang menyerang orang!"
Seru A Ko yang lalu maju untuk membantu Kek Song.
"Kalau ingin bicara, bicaralah dengan baik-baik!"
Katanya.
"Nona jangan mencampuri urusan orang! ini urusan pribadi kami dengan dia!"
Kata Tio Liong.
"Minggir!"
Kata si nona yang mendongkol dan merasa cemas, hingga dia menjadi bingung, Dia pun mendorong si congkoan yang berdiri menghalang di depan.
To Liong orang lihay, hanya dengan mengibas perlahan dengan tangan kirinya, ia sudah membuat nona itu terpental ke belakang hingga beberapa langkah.
Sementara itu Kek Song sudah diberi bogem mentah oleh para Sie Wie yang mengeroyoknya itu.
ia juga didupak beruIang-ulang, Karena telah dirobohkan, maka ia tak berdaya menghalau serangan itu.
A Ko penasaran, dia melawan To Liong tetapi bukannya ia maju melainkan malah terdesak mundur makin jauh, sebab congkoan itu sengaja mendesak makin jauh.
"Oh nona, pemuda itu gemar berjudi dan main perempuan maka lengkaplah segalanya, Malah tadi pagi ia masih meminjam uang lima ribu tail dari aku. Katanya uang itu akan digunakan untuk menikah dengan dua orang nona manis yang biasa dipangku dan diciuminya. Mengapa nona masih membelanya?"
Kata To Liong sambil tertawa, A Ko benar-benat bingung melawan orang itu, Dia sudah habis dayanya.
"Jangan aniaya dia, kalau kalian ingin bicara, bicaralah dengan baik-baik!"
Teriak si nona pada para Sie Wie. Seorang Sie Wie tertawa.
"Kau suruh dia bayar uangku!"
Katanya.
"Kalau ia mau membayar utangnya sudah tentu aku tak akan menghajarnya!"
Walaupun demikian, sambil bicara ia terus menghajarnya. Kali ini Kek Song terhajar hidungnya, mengeluarkan darah. Seorang Sie Wie lainnya menghunus goloknya.
"Tebas dulu kedua telinganya baru kita mau bicara!"
Katanya dengan nada keras sambil mengangkat goloknya. A Ko terperanjat melihat kejadian itu, Nona itu lari mendekati Siau Po lalu menarik tubuhnya, Diapun sangat bingung sehingga hampir menangis.
"Bagaimana.... Bagaimana?"
Tanyanya. Siau Po yang sejak tadi diam sekarang mulai ikut bicara.
"Kalau cuma selaksa tail perak, aku sediakan uangnya, Hanya aku merasa tak puas jika uangku harus diserahkan pada mereka untuk membayar utang judi dan main moler!"
"Tetapi ia mengancam akan memotong telinganya!"
Kata si nona.
"Mari kupinjam uangmu itu!"
Tambahnya.
"Jikalau Sute yang pinjam jangankan baru selaksa tail, sepuluh laksa tail pun akan kuberikan. Hanya hendak aku jelaskan padamu karena kau akan menjadi istriku maka kau tak perlu meminjamnya. Uangku ya uangmu demikian juga sebaliknyal Maka itu sebaiknya kau suruh The kongcu yang meminjam padaku.,.!"
Kata Siau Po. A Ko membanting-banting kaki.
"Ah kau terlalu!"
Katanya, ia masih bingung tetapi ia lalu menoleh para Sie Wie dan berkata.
"Eh, jangan kau pukul pula! Nanti aku bayar uang kalian semuanya..!"
Para Sie Wie berhenti menghajarnya, namun mereka masih menindih Kek Song hingga ia tak dapat bergerak "The kongcu"
A Ko lalu berkata kepada Kek Song.
"lni adik seperguruanku punya uang, kau pinjamlah uangnya agar kau dapat membayar utang-mu semua..."
Kek Song bingung sekali apalagi ia melihat golok sudah mengancamnya, hingga sewaktu-waktu telinganya dapat pisah, ia berpaling pada Siau Po yang air matanya menunjukkan permohonan A Ko menarik baju Siau Po yang padanya ia merasa sangat muak.
"Kau pinjamkanlah uang padanya.,.!"
Kata gadis itu. Seorang Sie Wie yang mendengar kata-kata si nona tertawa dingin.
"Uang selaksa tail bukanlah sedikit."
Katanya.
"Tanpa jaminan siapa yang sudi meminjamkan uangnya."
Lanjutnya.
"Kecuali jika nona sudah menjaminnya."
Kata seorang Sie Wie yang lainnya.
"Jadi, andaikata bocah ini menyangkal dia tak mau membayar uang yang dipinjamnya nonalah yang harus menanggungnya dan membayarnya hingga beres."
Akan tetapi Sie Wie yang memegang goIok, tetap mengancam ingin memotong telinga Kek Song.
"Si nona dengan si bau ini bukannya sanak bukannya kadang mana si nona mau menjaminnya? LagipuIa kalau uang tak dapat dibayar kembali yang menjadi jaminan adalah diri nona, Artinya nona harus menikah dengan si tuan, nah apa daya?"
Mendengar demikian semua Sie Wie tertawa terbahak-bahak.
"Benar.... Benar...!"
Kata mereka yang tertawa puIa.
"Memang begitu."
"Ah, setuju!"
Kata Siau Po perlahan.
"Kau dengar para Sie Wie itu! Bukankah bicara mereka itu tidak benar? Bukankah dengan demikian kau terlalu dipaksa?"
Belum lagi A Ko menjawab ia mendengar suara menggelepok dengan keras.
Rupanya seorang Sie Wie telah menampar Kek Song yang tak berdaya menangkis atau mengelakkan diri, Sebab selain kedua tangannya, kedua kakinya pun mereka pegangi, sehingga tak berdaya sama sekali "Hajar!"
Teriak seorang Sie Wie.
"Hajar dia biar mati. Hitung-hitung uang selaksa tail itu hanyut di kali, agar mata kita tak melihatnya dan hati tak usah memikirkannya."
"Plok! Plok! Plok!"
Demikian terdengar suara berulang kali, ternyata para Sie Wie sudah menghajarnya lagi.
"Sudah! Sudah!"
Akhirnya Kek Song yang sekian lama berdiam diri sekarang mulai memperdengarkan suaranya, ia benar-benar tersiksa, tapi rasa nyerinya tak terlalu berat dibanding dengan sakit hatinya karena diperlakukan demikian tanpa daya, ia toh putera seorang raja muda yang seharusnya tak dapat dihina secara demikian.
"Eh, saudara Wie, katanya kau mempunyai uang, Mari aku meminjam sebesar selaksa tail perak.,., Aku berjanji akan membayar penuh uang itu...."
Siau Po melirik A Ko. ia tak mau menjawab kata-kata Kek Song tapi malah bertanya kepada si nona.
"Sute, kasih pinjam atau tidak?"
Tanya Siau Po. Air mata si nona berlinang.
"Pin.... Pinjamkanlah!"
Katanya sambil menangis sesegukan.
"Jikalau si nona yang menjamin!"
Kata seorang Sie Wie yang suaranya nyaring.
"Maka kelak si nona akan menikah dengan si tuan uang. Dengan demikian anak ini menjadi perantara! Comblangnya!"
Siau Po lalu merogoh kantungnya dan mengeluarkan uang sejumlah selaksa tail, ia menyerahkan uang bukan kepada Kek Song melainkan kepada A Ko. Si nona menjulurkan tangan untuk uang itu.
"Nah uangnya sudah tersedia!"
Kata nona itu pada para Sie Wie.
"Bebaskanlah dia!"
Para Sie Wie itu ragu-ragu, bukankah ia akan menolong anak muda itu?
sekarang si nona dapatkan?
Siau Po setujukah?
Maka mereka masih belum mau membebaskan Kek Song.
Siau Po mengerti keragu-raguan mereka.
"Kalian ambil uang itu!"
Katanya pada mereka.
"Pergi kalian dan bagi rata uang itu! Hitung-hitung kalian beramal. Nah, lepaskan orang itu!"
Para Sie Wie jadi gembira bukan main.
Kata-kata si Toutong berarti uang itu dihadiahkan pada-nya, maka segera mereka melepaskan Kek Song.
A Ko menuntun Kek Song bangun, terus memberikan uang itu padanya.
Hati si anak muda menjadi sangat panas, ia mendongkol sekali tetapi terpaksa menyambut uang itu.
Hanya tanpa menghitung dan melihatnya dan segera ia sampaikan pada para Sie Wie itu.
"Hay kau segala prajurit Tatcu, kamu terlalu!"
Sambil mengedipkan matanya Siau Po berkata pada para Sie Wie.
"Kenapa kau menghajar sahabatku sampai begini rupa? Awas aku tidak akan berhenti sampai di sini...!"
"Sudahlah!"
Kata A Ko. ia khawatir para Sie Wie itu menjadi gusar."
Sudahlah mari kita pulang!"
"Tetapi kelakuan mereka sudah membuat orang dongkol!"
Kata Siau Po.
"Hay bocah kau baru bebas sudah timbul niatmu yang kurang baik. Kau si setan paras elok! Masihkah kau ingin mempermainkan gadis orang?"
Mendadak To Liong menyambar punggung Kek Song lalu diangkatnya hingga terangkat pula tubuh orang itu dan terus diputarnya.
"Hendak aku lontarkan kau ke kaki tembok kota ini!"
Teriak To Liong.
"Akan aku lihat kau masih dapat hidup atau mati!"
Kek Song kaget dan takut bukan main.
"Jangan!"
Teriaknya "Jangan!"
A Ko pun berseru, Sebab si nona tak kurang cemasnya. Dengan sengitnya, To Liong membanting pemuda itu ke loteng.
"Jikalau demikian buat selanjutnya kau harus menyingkir jauh-jauh dari nona itu!"
Ancamnya.
"Nona itu baik-baik tetapi kau sendiri penjudi dan tukang main perempuan! Namamu boleh tercemar tapi nama nona ini tidak! Aku bilang kepadamu andaikata lain kali aku melihat kau mengganggu nona ini, tak dapat tidak, aku akan patahkan batang lehermu!"
Nampak si congkoan masih sangat mendongkol.
Dengan tangan kirinya, ia menyambar kucir Kek Song dan memegang bongkoknya erat-erat, lalu dengan tangan kanannya ia memegang ujungnya untuk dililit di tangannya, setelah itu sambil berteriak ia menarik keras-keras sehingga kuncir itu putus, terkutung ujungnya.
Para Sie Wie bersorak menyaksikan pemimpinnya menunjukkan tenaganya yang besar itu, sebab bukanlah mudah guna menarik kuncir orang.
To Liong melempar ujung kuncir itu lalu mencekik batang leher Kek Song.
Muka Kek Song tampak berubah merah, disusul dengan ke luarnya lidah akibat cekikan itu, hingga nampaknya sebentar lagi anak muda itu akan mati.
Para Sie Wie pun tidak tinggal diam, mereka segera menghunus senjata masingmasing, lalu mereka mengurung pemimpinnya beserta anak muda itu.
Maksud mereka mencegah andaikata A Ko hendak menolong pemuda itu.
"Hai bagaimana?"
Bentak Siau Po tiba-tiba.
"Bukankah uang kalian sudah dibayar? Apakah kau hendak membunuh orang?"
Pertanyaan itu ditutup dengan sebuah bogem yang mendarat di perut salah seorang Sie Wie.
Yang dihajar perutnya itu terpekik dan mundur beberapa langkah.
Siau Po tidak berhenti hanya sampai disitu, ia menyerang dengan menggunakan tipu silat Siau Liong Cio Cu, sepasang naga berebut mutiara.
To Liong yang tengah mencekik Kek Song, tidak bisa menangkis serangan Siau Po bahkan berkelit pun sukar.
Akan tetapi karena ia bertubuh besar, maka pukulan Siau Po mengarah pada iga-nya.
ia pura-pura gusar dan berkata.
"Hay, setan cilik aku pun akan mencekik mu sampai mampusl"
To Liong melepaskan cekikan Kek Song lalu membalas menyerang. Para Sie Wie talu berteriak.
"Hajar sampai mampus setan cilik itu! Hajar sampai tubuhnya gepeng dan hancur lebur!"
Menyaksikan pertarungan itu A Ko mengkhawatirkan Siau Po terkena pukulan mereka.
"Sute, sudah!"
Ia berteriak memanggil Siau Po.
"Mari kita pulang!" Mendengar suara A Ko, Siau Po merasa girang dan berkata dalam hatinya "Kiranya ia memperhatikan aku juga!"
Katanya dalam hati "Rupanya dia masih mempunyai hatinya yang baik."
Siau Po yang melihat serangan lawan, segera berkelit sehingga serangan lawan itu meleset dari sasaran dan membentur batu yang besar hingga batu itu goyah.
Seandainya kaki Siau Po terkena pukulan itu tentu sangat bahaya sekali.
Bagaimana pertarungan mereka, itu berkat latihan dilakukan oleh Siau Po, pada saat Siau Po menyerang dengan sangat cepat sekali lawan tak dapat melihat serangan itu, sehingga pukulan Siau Po tepat mengenai perut To Liong.
Tetapi To Liong tak berhenti sampai di situ, ia terus menyerang Siau Po dan kacung itu berkelit.
Tembok itu pun jebol.
Oleh karena serangannya yang dahysat itu meleset, maka To Liong terjatuh dan kepalanya membentur tembok.
Siau Po khawatir bukan main, takut To Liong tak bernyawa lagi.
Cepat-cepat ia melompat ke tembok dan menolong lawannya itu, Hatinya sangat lega karena yang dilihatnya bukanlah To Liong yang telah mati, melainkan wajah yang memberikan senyuman To Liong mengusap tangannya yang menandakan agar Siau Po jangan bersedih Setelah itu ia jatuh tak berkutik lagi.
Para Sie Wie kaget bukan main ia lalu berlarian mendekati pemimpin mereka.
Siau Po menarik tangan nona itu dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
"Mari kita pergi!"
Katanya "Mari cepat!"
A Ko menurut lalu berlarian bersama Siau Po.
Mereka lari bertiga dan langsung menuju penginapan.
Kiu Lan melihat napas murid wanitanya tersengal-sengal dan air matanya yang berlinang, segera mengetahui bahwa muridnya habis menghadapi suatu kejadian.
"Apa yang telah terjadi?"
Tanyanya.
"Ada belasan serdadu Tatcu yang mengganggu The kongcu!"
Sahut si murid memberikan keterangannya.
"Syukur ada Sute yang menghajar roboh pemimpinnya..."
"Sekarang kau diam saja di penginapan, jangan sembarangan pergi ke luar!"
Kata sang guru.
"Ya."
Sahut A Ko sambil menundukkan kepalanya.
Akan tetapi karena ingat kepada Kek Song yang terluka, ia pun pergi juga ke kamar pemuda itu untuk melihatnya.
Kek Song sedang tidur dan luka-lukanya sudah diobati oleh para pengiringnya.
Siau Po yang melihat A Ko ke luar dari kamarnya kembali hatinya panas karena nona itu dari kamar Kek Song.
"A Ko selalu memperhatikan pemuda itu!"
Katanya dalam hati.
"Baik pemuda itu akan kutebas telinganya dan ku korek matanya. Dan aku akan dapat melihat ia masih menganggap si jantung hati atau bukan pada pemuda itu."
Walaupun ia sangat cerdas tetapi masih bingung juga dalam menghadapi asmara, Mungkin karena ia masih terlalu muda.
Malam itu sudah larut jauh, Siau Po terbangun dari tidurnya karena mendengar suara dari luar jendela.
"Wie Inkong inilah aku!"
Terdengar suara orang dari luar jendela kamarnya. Siau Po mengenali suara itu. ia segera turun dari pembaringan untuk membuka jendela itu.
"Gauw Jie Siok?"
Tanyanya.
"Benar! Aku"
Sahut suara di luar itu. Dengan berhati-hati Siau Po membuka jendela itu, dan Lip Sin melompat ke dalam dengan sangat bernafsu ia merangkul erat-erat tubuh Siau Po.
"lnkong senantiasa aku ingat saja, Tak ku sangka kau sekarang berada di sini, Selama rapat besar di Hokan, aku telah bertanya kepada kawan-kawan tentang kau. Aku menyesal karena mereka tak berani menerangkan apa-apa."
Siau Po tertawa.
"Mereka bukannya tak percaya kau, melainkan ada sebabnya kenapa mereka tak sudi bicara."
Katanya.
"Sebenarnya aku turut menghadiri rapat Sat Kui Tay Wie itu dengan menyamar dan semua saudara kita tak tahu itu."
"Oh, begitu!"
Katanya.
"Tadi aku telah bertemu kawan serdadu Tatcu, kembali kau telah menolongku jikalau kau tak menolongku aku tak khawatir Siau Ongya kami akan mendapat celaka, Maka dari itu Siau Ongya mengutus aku ke mari guna mengucapkan terima kasih pada Inkong yang sudah melepas budi sangat besar."
"Tetapi kita sahabat."
Kata si kacung.
"Karena-nya janganlah kita berlaku sungkan satu dengan yang lainnya, Ji Siok, kau selalu menyebut Inkong sangat asing, untuk itu jangan pakai kata itu lagi!"
Gauw Lip Sin menatap anak muda di sisinya.
"Baiklah kalau demikian!"
Katanya.
"Tak lagi aku memanggil Inkong padamu, Kita selanjutnya menjadi saudara satu dengan yang lainnya, Karena aku berusia lebih tua. Lebih baik aku memanggil adik kepadamu."
"Bagus."
Kata Siau Po sambil tertawa.
"Dengan demikian bukankah si keponakan murid jadi akan memanggil paman padaku?"
Mendengar disebutnya Lau It, Gauw Lip Sin nampak agak riskan.
"Dialah anak tak berguna, Jadi kita lebih baik jangan menyebut-nyebut dia!"
Katanya.
"Eh, adikku, sebenarnya kau sedang dalam perjalanan ke mana?"
"Sebenarnya panjang untukku mengatakan-nya."
Sahut Siau Po yang seterusnya memanggil "Jiko"
Kakak yang kedua sebagai gantinya Ji Siok paman nomor dua.
"Sekarang ini adikmu tengah menghadapi urusan jodohnya."
Girang Gauw Lip Sin mendengarkan kata-kata adik angkatnya itu. Tak disangka ada orang yang mau memberitahukan urusannya.
"Selamat adikku.,., Selamat!"
Ia lalu memberikan kata selamat "Boleh aku tahu nona itu dari keluarga mana?"
Di dalam hati ia bertanya-tanya.
"Bukankah nona itu Pui Ie?"
"Calon istriku itu She Tan,"
Kata Siau Po.
"Namun ada yang membuat aku menjadi malu."
"Bagaimana itu adikku?"
Tanyanya.
"la mempunyai sahabat kekal seorang She Tan. Bocah itu buruk, ia ingin mengambil calon istriku, tetapi ia justru memberikan bisikan pada tentara Tatcu, hal itu yang membuat aku sangat berbahaya."
Lip Sin menjadi gusar.
"Bocah itu sudah bosan hidup!"
Katanya keras.
"Kenapa ia berbuat demikian?"
Lip Sin menepuk pahanya.
"Justru kami, keluarga Bhok turut membangun kerajaan Beng yang sangat besar Keluarga Bhok lamalah yang turun-temurun memegang kekuasaan di propinsi In Lam, Tetapi keluarga The berasal dari sebuah pulau di Taiwan, mana bisa ia disamakan dengan keluarga Bhok?"
"Memang."
Kata Siau Po.
"Namun dia membanggakan diri. Katanya untuk membinasakan Gauw Sam Kui, pihaknya dapat bekerja dengan mudah. Dia juga mengajakku berunding katanya untuk membinasakan keluarga Bhok. Mendengar demikian aku lalu menegurnya, aku pun memberitahukan padanya, Thian Te Wie dan Bhok Onghu sudah berjanji dan berlomba untuk membinasakan Gauw Sam Kui, Dalam pertaruhan itu kedua pihak harus bekerja sama. Akan tetapi tentara itu mengenalinya dan aku mendustainya bahwa kalian bukan orang yang dicarinya maka loloslah ia."
Lip Sin mempercayai cerita itu.
"Oh, begitu."
Katanya.
"Jikalau demikian bocah itu bukanlah manusia."
"Celaka bocah itu memang harus diajar adat,"
Kata Siau Po pula.
"Namun dia putera Yan Peng Unong, dia tak dapat dibinasakan maka dia cukup dihajar Sewaktu kau menghajarnya aku akan muncul untuk memisahkannya lalu kita berpura-pura bertarung dan waktu itu kau pura-pura kalah dan kau pergi, maukah kau?"
"Adikku kau bekerja untuk kepentingan kami, kenapakah aku tak sudi?"
Kata Lip Sin.
"Caramu ku memang paling baik. Dengan demikian kita tak usah bentrok dengan pihak Taiwan,"
"Kakak, berpura-pura tak mengenal dia."
Kata Siau Po.
"Dengan begitu kakak dapat bermain gila padanya. Dialah orang yang memiliki luka di muka dan pada kepalanya dan dia pula ada bersama aku."
"Baik, adik!"
Kata Lip Sin.
"Nah adik jaga dirilah baik-baik dan aku akan pergi."
Katanya, Tetapi ia merasa berat meninggalkan Siau Po Laki-laki itu lalu memegang tangan Siau Po dan berkata dengan perlahan.
"Di kolong langit ini banyak nona yang cantik prilakunya, oleh karena itu calon istrimu itu berlaku kurang sopan terhadapmu, kau jangan terlalu banyak berpikir, dapat kau tinggal dan mencari gantinya!"
Siau Po mengangguk nampak ia sangat menyesal dan ia berdiam saja.
Gauw Lip Sin lalu pergi lewat jendela itu dan tidak lama lagi tubuhnya sudah menghilang dari pandangan mata, Besoknya Siau Po ikut gurunya dan A Ko pergi ke utara, The Kek Song dan para pengikutnya berjalan bersama-sama.
"The kongcu kau hendak ke mana?"
Tanya Kui Lan.
"Aku hendak pulang ke Taiwan,"
Sahut si pemuda.
"Sekarang aku hendak mengantarkan perhiasan pada suthay, setelah itu kita berpisah."
Lewat kira-kira dua puluh li, jauh di belakang mereka nampak rombongan penunggang kuda yang menuju arahnya, dengan cepat mereka telah sampai, ternyata rombongan para tani yang di tangannya memegang pacul dan garukan.
Salah seorang dari rombongan itu menunjuk ke arah Kek Song.
"lni dia bocahnya!"
Katanya dengan nyaring. Siau Po mengawasi orang tersebut dan ia tahu bahwa orang-orang itu orangnya Gauw Lip Sin.
"Kiranya mereka hendak menyamar,"
Katanya.
"Hendak aku lihat bagaimana mereka itu.,.!"
Rombongan para tani itu melintas di hadapan kereta itu. Lip Sin lalu menunjuk ke arah Kek Song lalu ia berkata dengan bengis.
"Eh, bocah, tadi malam bagus benar perbuatanmu pada keluarga Thio di desa Thio kecung, bagaimana kucing habis mencuri makanan, sekarang kau akan meloloskan diri."
Kek Song gusar, ia merasa tak karuan di fitnah, entah Lie Ke Cung.
"Apakah itu perbuatan di Teo Ke Cung?"
Tanyanya keras.
"Apakah kau tak punya mata? Kenapa kau mengaco?"
"Oh, bagus,"
Kata Lip Sin.
"Jadi peristiwa di Lie ke Cung juga perbuatanmu! jadi nona di desa itu telah kau perdayakan! Bagus kalau kau mengaku sendiri! Oh bocah sungguh kau bernyali besar! Di dalam satu malam kau sudah mendustakan dua orang nonal"
Para pengiring Kek Song menjadi tidak senang, beberapa di antaranya berseru bersama.
"Inilah Kongcu kami! jangan kamu menyangka orang! jangan kamu ngomong sembarangan!"
Lip Sin tidak langsung menjawab pertanyaan itu.
ia menarik ke luar tangan nona yang berada di dalam dan menanyakannya, Melihat hal yang demikian itu Siau Po jadi ingin tertawa karena ia tahu nona itu pastilah orang belian Lip Sin.
Orang itu sangat jelek, Nona itu mengaku bahwa Kek Song lah yang semalam datang ke rumahnya.
Melihat pengakuan si nona itu seorang petani lalu berkata.
"Kau menghina adikku! Enak benar datang-datang kau menjadikan aku toakomu! Sungguh kau sangat kurang ajari Aku ingin mengadu nyawa denganmu!"
Siau Po memandangi orang itu satu persatu, ia mengenali bahwa yang tadi berbicara itu salah satu murid dari Lip Sin dan kata "Toako"
Yang berarti kakak ipar.
Menyaksikan hal itu A Ko menjadi heran dan tidak percaya dengan apa yang dilihat Cuma anehnya mengapa tanpa sebab ada orang yang datang mengusulnya dan menuduh?
A Ko menjadi bingung sebab ia harus berbuat apa.
ia lalu bertanya pada gurunya dan sang guru memberikan jawaban yang kurang enak didengar.
Baik Siau Po maupun Kui Lan diam saja mereka hanya menonton kejadian itu dan tidak ada reaksi memberikan bantuan pada Kek Song.
Hanya beberapa gebrakan saja Kek Song sudah dapat ditundukkan Setelah itu Kek Song pun dibawa kabur ke desa orang-orang itu dan orang Kek Song lalu mengejarnya namun mereka tak berhasil.
"Eh, Sute, coba kau pikirkan bagaimana caranya aku dapat menolong Kek Song itu?"
Tanya Siau Po pada A Ko.
"Apa katamu? Kau ingin menolong dia? Dia toh tak terancam bahaya dan juga tak membunuh orang. jadi ia tak akan mengganti nyawa!"
Kata A Ko dengan sengitnya. Siau Po tertawa.
"Menikah itu baik dan bagus."
Kata Siau Po.
"Aku memikirkan akan menikah denganmu kau malah tak mau." A Ko mendelikkan matanya pada kacung itu dan ia berkata dengan sengit "Orang sedang bingung hingga mau mati kau malah berbicara yang tidak-tidak, Kau lihat saja nanti, aku mau memperhatikanmu atau tidak."
Siau Po dapat menerka maksud nona itu karena ia selalu berbuat yang tidak-tidak, Dan benar saja pada malam harinya nona itu bermaksud ingin pergi menolong Kek Song hal itu diketahui Siau Po, hingga ia sengaja menegakkan si nona yang sedang mengeluarkan kudanya untuk pergi ke desa itu.
"Siau Po!"
Tegurnya "Kaulah itu?"
Siau Po tertawa.
"Benar aku!"
Sahutnya sambil tertawa.
"Bikin apa kau di sini?"
Tanya si nona.
"Aku si orang gunung pandai meramal,"
Sahut Siau Po sambil tersenyum.
"Telah aku meramalkan bahwa malam ini akan ada seorang yang akan mencuri kuda, Oleh karena itu malam ini aku tidur di sini untuk menjaganya.
"Cis,"
Tetapi hanya sebentar kemudian nona itu berkata kepada Siau Po.
"Siau Po aku ingin meminta bantuanmu.... Mari kau menemani aku menolong dia."
Puas hati Siau Po mendengar perkataan nona yang lunak itu.
"Kalau dia berhasil aku tolong, lalu apakah upahnya?"
Tanya Siau Po tanpa malumalu.
"Apa yang kau pinta semua pun boIeh!"
Kata si nona dengan suara ragu-ragu karena tahu kalau Siau Po akan menikahinya dan itu tak dapat diterimanya maka ia berkata.
"Kau selalu menghinaku, belum pernah kau bersungguh-sungguh mau menolongku."
Hati nona merasa sedih, dan setelah berkata demikian ia lalu menangis, karena teringat akan kelakuan Kek Song.
Sebaliknya Siau Po yang melihat dan mendengar nona itu menangis hatinya menjadi resah dan gelisah.
"Baik.... Baiklah!"
Katanya.
"Aku akan menemanimu."
A Ko girang hingga ia berhenti menangis.
"Terima kasih.... Terima kasih!"
Katanya.
"Tak usah kau katakan terima kasih!"
Kata Siau Po.
"Namun aku tak mengetahui letak desa itu."
Siau Po lalu mengambil kudanya dan mereka berjalan berendeng kembali ke tempat semula.
"Sebenarnya ada apakah hingga kau begitu sangat menyukainya?"
Tanya Siau Po.
"Siapa bilang aku menyukainya?"
Sangkal si nona.
"Aku hanya saling mengenal Karena ia sedang dalam kecelakaan, maka sudah sepantasnya aku menolongnya."
"Bagaimana jika ada orang yang menawanku dan akan menikahkan aku, sebagai mana yang terjadi pada diri Kek Song?"
Tanya Siau Po pada nona itu.
"Apa kah kau juga akan menolongku?"
A Ko tertawa.
"Memangnya kau tampan!"
Katanya.
"Siapa yang sudi menawanmu dan memaksamu untuk menikah?"
Siau Po menarik napas panjang.
"Kau tidak memandang padaku,"
Katanya.
"Siapa tahu ada seorang nona yang melihatku lain."
A Ko tertawa lagi.
"Jikalau demikian aku akan bersukur pada langit dan bumi."
Katanya.
"Karena dengan demikian arwahmu tak lagi mengejar-ngejar aku dan aku bebas."
"Baiklah jika demikian halnya, jika nanti ada orang yang menawanmu dan memaksamu untuk menikah dengannya aku tak akan menolongmu."
Mendengar perkataan itu A Ko terperanjat karena jika benar terjadi hal yang dimaksud Siau Po itu, tak ada orang lain yang mau menolongnya selain dari anak muda itu.
"Pasti nanti kau akan menolongku."
Katanya perlahan-lahan.
"Mengapa begitu?"
Tanya Siau Po.
"Jikalau ada orang yang menghinaku tak mungkin kau diam saja karena aku adik seperguruanmu."
Jawab si nona.
Manis rasanya hati Siau Po mendengar kata-kata si nona.
Sementara itu, tanpa sengaja mereka telah sampai pada tempat mereka bertempur tadi siang, tetapi di situ sudah banyak orang yang sedang duduk, Rupanya orang-orang itu yang tadi siang telah menyerang mereka.
A Ko menahan kudanya.
"Mana The kongcu?"
Tanyanya. Rombongan itu berjingkrak bangun lalu siap menyerang A Ko.
"Rombongan orang desa itu telah mengundang The kongcu, untuk menikahkannya, Kongcu menolak tetapi mereka langsung menyerang dengan tendangan dan juga tonjokan.-.!"
Si nona menjadi gusar.
"Kamu.... Kamu. Bukankah kamu semua pandai silat?"
Teriaknya.
"Mengapa dengan orang desa saja kalian tak dapat mengalahkannya?"
Rombongan itu semuanya tertunduk "Orang-orang itu semuanya pandai bermain silat."
Jawabnya.
"Kamu masih mengaco, masa ada orang desa pandai bermain silat apalagi seluruhnya?"
Ia lalu berpaling pada Siau Po.
"Sute ayo kita menolong mereka! Dan kalian jalan duluan untuk menemukan jalan!"
Salah seorang yang lebih tua berkata.
"Kami tak berani datang ke sana karena mereka mengancam akan memenggal kepala kami jika kami datang ke sana!"
"Andaikata kepala kalian yang dipenggal apa yang kalian takuti?"
Tanyanya.
"Kalian takut mati? Bukankah kalian ditugaskan melindungi kongcu? mengapa sekarang kamu takut mati?"
"Ya.... Ya!"
Kata si orang tua.
"Tetapi nona jangan menunggang kuda agar kedatangan kita tidak mereka ketahui!"
Para pengiring itu lalu mengantarkan si nona dengan meninggalkan lampu, jauh juga mereka berjalan, maka sampailah mereka ke tempat tujuan, yaitu sebuah rumah besar yang di dalamnya terdengar bunyi tetabuhan.
Mendengar bunyi tetabuhan yang sangat nyaring itu A Ko menjadi kebingungan.
"Lebih dahulu kita mengintai dari luar!"
Pesan si nona.
A Ko dan Siau Po mengitari rumah besar itu.
Tampak salah sebuah pintu rumah itu yang tidak tertutup rapat, Melalui pintu itu mereka masuk dan sampailah pada sebuah ruangan besar.
Di situlah A Ko menjadi bingung sekali, berbeda dengan Siau Po.
A Ko melihat Kek Song sedang duduk bersanding dengan seorang wanita, Hal itu yang membuat hatinya menjadi resah dan orang-orang itu terus saja menabuh gendang.
"Beri hormat lagi,"
Kata Gauw Lip Sin.
"Apa yang harus dihormati?"
Kata Kek Song.
"Bukankah aku telah menghormati langit dan bumi?"
Mendengar ucapan itu A Ko hampir saja pingsan, karena itu merupakan kedua mempelai sudah melakukan pernikahan. Gauw Lip Sin tertawa.
"ltu sudah aturan kami."
Katanya.
"Mempelai lelaki harus memberi homat kepada mempelai wanita sebanyak seratus kali, sedangkan kau baru melakukan tiga puluh kali, jadi kurang tujuh puluh kali."
Go Pui sebaliknya, ia lalu menendang pantat Kek Song sehingga pemuda itu langsung berlutut.
A Ko telah habis kesabarannya, nona itu menendang jendela lalu menyerang orang yang ada di dalam sambil berteriak.
"Lepaskan dia!"
Ia membentak dengan suaranya yang sangat bengis.
"Lepaskan dia atau aku yang akan membunuh kalian semua?"
"Ah, nona! Apakah nona akan minum arak? Dan memberikan kata selamat kepada kedua mempelai ini? Eh, mengapa nona membawa golok segala?"
Sahutnya dengan riang gembira. Ia tidak menjawab melainkan menyerang dengan goloknya, dan yang diserang hanya berteriak.
"Aduh!"
Tetapi serangan itu tak menemui sasarannya.
Menyaksikan pertempuran itu Gauw Lip Sin tertawa.
Kek Song yang melihat adanya bala bantuan, lalu berdiri ingin membantu nona itu, Akan tetapi terdengar ada suara "Duk"
Dan ia lalu tersungkur ke lantai. A Ko lalu berbalik menyerang Lip Sin. Akan tetapi nona itu tetap kewalahan meskipun lawannya tidak menggunakan senjata.
"Sute, cepat!"
Ia panggil Siau Po.
"Sute cepat bantu aku!"
Bagian 52 Sejak tadi Siau Po terus menonton pertarungan itu dengan matanya yang terus mengamati gaya silat nona A Ko. Mendengar ucapan gadis itu, Siau Po lalu mengeluarkan suara yang bengis.
"Sungguh celaka, kamu lihay sekali! Baiklah, aku yang tua ini akan mengadu nyawa denganmu!"
Gauw Lip Sin mendengar suara dari luar itu, ia memerintahkan kepada kedua muridnya agar melayani nona A Ko dan ia sendiri menghampiri arah suara itu.
"Siapa di luar?"
Lalu ia menoleh muridnya yang sedang bertarung dengan Siau Po.
Setibanya di luar Gauw Lip Sin hampir tertawa.
ia menyaksikan tingkah Siau Po yang sedang menendangi dan memukuli pintu hingga terdengar suara seperti ada orang yang sedang bertempur.
"Hayo berhenti!"
Kata Lip Sin yang sedang bersandiwara.
"Hai bocah cilik sedang apa kau di sini?"
Tambahnya.
"Kakak seperguruanku memerintahkan aku untuk membantu melepaskannya,"
Kata Siau Po yang tidak kalah nyaringnya.
"Cepat kau lepaskan orang itu! Oh, kau lihay sekali!"
Begitu berteriak ia berlari ke depan. Lip Sin lalu menyusul. Sampai di rumah itu Siau Po tertawa.
"Jioko, terima kasih banyak!"
Katanya.
"Pekerjaan Jioko sangat bagus dan menarik hati."
Lip Sin lalu tertawa juga.
"Apakah nona itu kekasihmu?"
Tanyanya.
"Dia cantik dan ilmu silatnya cukup tinggi."
Siau Po menghela napas panjang.
"Tetapi sayang nona itu berniat sekali akan menikah dengan pemuda itu."
Katanya menyesal.
"Dia tak sudi menikah denganku, Kau sudah dapat bersandiwara dengan baik dan aku minta kau pun dapat meyakinkannya agar ia mau menjadi istriku!"
Berkata demikian Siau Po lalu terdiam dan kali ini pemuda itu berkata.
"Jioko, aku minta kau terus membantu aku! Aku ada akal, Bagaimana jika aku turut dikalahkan olehmu, lalu kau suruh aku mengawini dia, Kau lihat akal itu sempurna atau tidak?"
Lip Sin tertawa sambil menggelengkan kepala, lalu tertawa lagi.
"Bagus.... Bagus!"
Katanya kemudian "Saudaraku, janganlah kau berkecil hati! Menggelengkan kepalaku itu kebiasaanku namun...."
Ucapan Lip Sin terputus, rupanya ia ragu-ragu.
"Namun kenapa?"
Tanya Siau Po.
"Kita orang-orang gagah, dalam bersandiwara kita harus mengetahui agar orang tak curiga pada kita, Tetapi aku ingin agar kau berjanji padaku, terhadap nona itu kau jangan melakukan sesuatu yang dapat membuat kita melakukan pelanggaran...!"
Siau Po lalu berjanji pada Lip Sin untuk menjatuhi janjinya itu. Hati Lip Sin girang mendengar perkataan Siau Po. Tampaknya ia sangat percaya pada Siau Po.
"Aku memang tahu bahwa kau laki-laki sejati."
Katanya.
"Sungguh beruntung nona itu dapat menikah denganmu."
Lip Sin dan juga Siau Po tersenyum lalu Siau Po memberikan tangannya ke belakangnya.
"Jangan Jioko sungkan-sungkan!"
Katanya. Lip Sin lalu memegang tangan itu lalu membawa Siau Po masuk, sesampainya di dalam, Lip Sin berkata dengan suara yang keras.
"Nah, kau lihat! Ke mana kalian dapat kabur?"
Katanya.
Di dalam rumah itu pertempuran sudah berhenti A Ko diancam dengan senjata, Namun ia tak berani mencelakai nona itu sebab ia tahu nona itu kekasih Siau Po.
Lip Sin lalu mengikat tangan Siau Po dengan ikat pinggangnya, sedangkan Siau Po diam saja.
Lalu kaki Siau Po ditotok hingga ia jatuh terduduk.
Tidak kepalang tanggung ia pun mengikat tangan A Ko.
Siau Po yang melihat hal itu lalu ingin berkata, namun Lip Sin sudah terlebih dahulu memberikan perkataannya.
"Awas setan cilik!"
Ancam Lip Sin.
"Satu kali lagi kau berbicara akan aku robek mulutmu dan akan kucongkel kedua matamu!"
"Aku justru ingin mendampratmu bangsat!"
Katanya.
"Sudah Sute, jangan kau memaki terus!"
Kata A Ko.
"Jangan kita membuat rugi pada diri kita!"
Mendengar kata-kata nona itu, Lip Sin tertawa.
"Aku akan mengawinkan kau dengan adikku dan dengan demikian nona akan menjadi iparku."
Kata Lip Sin. A Ko terkejut dan ia berkata.
"Tidak.... Tidak mungkin!"
"Mengapa tidak mungkin?"
Kata Lip Sin.
"Seorang nona harus menikah, Kau tahu adikku itu seorang yang gagah, Kau tak akan merasa kecewa, Kenapa kau tidak sudi menerima adikku? Benar-benar kau tidak tahu diri! Mana musik? Cepat mulai!"
Perintah itu lalu dilakukan anak buahnya, maka mulailah suara musik itu terdengar.
Bukan main kagetnya A Ko mendengar kata-kata itu, ia berpikir, orang di sini semuanya dekil dan jorok mungkin begitu juga dengan adiknya itu.
"Aku tak sudi tubuhku dikotori manusia-manusia ini. Aku akan membunuh diriku, tapi apakah itu dapat membersihkan tubuhku?"
Tanyanya dalam hati. A Ko menggertakkan giginya. Lip Sin tertawa pula.
"Tidak.... Tidak!"
Kata A Ko yang memaksa diri membuka mulutnya.
"Aku tak mau menerima! Lebih baik kau bunuh saja aku!"
"Baiklah jika kau menginginkannya."
Kata Lip Sin.
"Sekarang juga aku akan membunuhmu, sekalian dengan adikku."
Lalu ia mengangkat goloknya ke atas. A Ko menangis sambil berkata.
"Cepat kau bunuh aku! Jika kau tak membunuhku, kau bukan laki-laki sejati, Cepat kau bunuh adik seperguruanmu jika lebih baik kau bunuh saja ia dahulu!"
Lip Sin menoleh pada Siau Po dan berkata dalam hatinya.
"Nona ini tak mencintaimu mengapa kau justru mencintainya?"
Lip Sin lalu berpaling pada si nona.
"Aku justru tak ingin membunuh adik seperguruanmu."
Katanya dengan sengit tanda ia sedang kesal.
"A Kau, gusur ke luar bocah bau itu!"
Dan ia menunjuk pada Kek Song.
"Baik."
Yang disuruh itu lalu mendekat dan langsung saja menarik tangan Kek Song. A Ko menjadi sangat kaget.
"Jangan celakai dia!"
Teriaknya.
"Tak dapat ia dibunuh, ayahnya.... Ayahnya...."
"Baik jika demikian."
Kata Lip Sin.
"Kau mau atau tidak menjadi iparku?"
"Tidak! Lebih baik kau bunuh saja aku!"
Teriaknya.
"Baik, sebelum aku membunuhmu aku akan mencambukmu seratus kali."
Ia mengambil sebuah cambuk dan memutarnya berkali-kali lalu baru akan dicambukkan pada nona itu. Tiba-tiba terdengar suara bentakan.
"Tahan!"
Kata Siau Po mencegah.
"Bagaimana?"
Tanya Lip Sin pada Siau Po.
"Kami bangga pada laki-laki sejati, kami mengutamakan setia kawan."
Kata Siau Po.
"Aku dengan dia sama dengan saudara kandung, maka jika kau hendak menghajarnya dengan cambuk, cambuklah aku!"
"Sute, oh Sute kau sungguh baik!"
Kata A Ko. Siau Po lalu menghadapi Lip Sin dan tak menghiraukan kata-kata nona A Ko.
"Saudara tua, apa pun adanya akulah yang harus bertanggung jawab, Seorang lakilaki sejati tak takut pada bahaya, ia bersedia mengajukan dirinya, Jika kau mempunyai adik wanita, aku bersedia dinikahkan dengannya."
Kata Siau Po. Mendengar suara Siau Po, Lip Sin dan juga si nona A Ko menjadi tertawa, Rupanya kata-kata Siau Po tadi dianggapnya sangat Iucu.
"Eh, bocah! Enak saja kau bicara!"
Kata Lip Sin tertawa.
"Rupanya kau benar-benar laki-laki sejati! Sekarang begini saja, karena upacara akan segera dilakukan, cepat kau katakan kau yang menikah atau dia?"
Tanya Lip Sin.
"Dia.... Dia saja!"
Jawab si nona menunjuk pada Siau Po. Lip Sin memandang nona A Ko.
"Kau bilang kau ingin menikah dengan dia?"
Tanyanya. Si nona menunduk.
"Baik."
Kata Lip Sin sambil menunjuk ke arah Siau Po.
"Nah, tak dapat tidak kau harus menikah dengan nona ini."
Siau Po mengawasi A Ko.
"Aku.... Aku...!"
Katanya ragu-ragu.
"Sute,..!"
Kata A Ko perlahan.
"Hari ini kau harus menolongku dari bahaya besar, terimalah dengan baik!"
"Kau maksudkan bersedia menjalani upacara pernikahan dengan aku? tanya Siau Po.
"Ah, tahukah kau bagaimana kesulitannya nanti."
"Aku tahu."
Sahut si nona.
"Jika hari ini kau tak mau menolongku lebih baik aku membenturkan kepalaku pada kayu ini sampai aku mati, Aku tak berdaya maka aku memohon padamu, mereka itu sangat jahat."
Siau Po berdiam agaknya ia sedang berpikir.
"Baiklah."
Kemudian katanya keras.
"Hari ini kau sendirilah yang memintaku untuk menolongmu. Karena itu aku menerimanya dengan sangat terpaksa. Kita menikah atas kehendakmu, bukan kehendakku Bukankah demikian?"
"Benar."
Sahut nona A Ko.
"Benar aku yang meminta padamu. Kaulah seorang yang gagah yang bersedia menolong orang secara suka rela, Kau pun paling mendengar kata.,.!"
Siau Po menarik napas panjang.
"Ah Sute, kau mengenal aku dengan baik bukan? Baiklah, aku menerima baik keinginanmu untuk menikah denganku."
Kata Siau Po.
"Memang kau sangat baik sekali terhadapku. Kelak di kemudian hari aku pun akan baik terhadapmu."
Kata si nona. Siau Po memperhatikan sikapnya yang ceria.
"Nah, sahabat!"
Kata Siau Po.
"Bukankah aku yang tidak mau tetapi kalianlah yang tidak mempunyai kakak atau adik wanita, maka sekarang kalian bebaskanlah kami!"
Tetapi Lip Sin menggelengkan kepala.
"Tidak,"
Katanya.
"Kalau seorang laki-laki sudah berbicara, kuda lari pun tak dapat mengejarnya. Tidak dapat tidak hari ini harus ada upacara pernikahan, Jika tidak kita semua akan celaka, Dapatkah kita mengabaikan itu? Sebab tak adalagi wanita, maka kau saja yang menikah dengan dia!"
"Tidak.... Tidak dapat!"
Kata mereka serentak, Keduanya menyangkal tidak senang mendengar kata-kata itu.
"Mengapa tidak dapat? Apa jeleknya?"
Ia lalu menghadapi nona A Ko.
"Kau bilang tadi ingin menikah dengan saudaraku atau dengan dia, lalu kau pilih pemuda ini."
Muka A Ko menjadi merah lalu menggelengkan kepala.
"Baik, jika kalian tak mau menikah, maka kalian harus dipotong hidungnya terutama nona ini!"
Katanya dengan bengis. A Ko memang tak takut mati tetapi jika harus kehilangan hidung itu tak mungkin.
"Jangan potong hidungnya, potong saja hidungku!"
Kata Siau Po pada Lip Sin.
"Tidak."
Kata Lip Sin.
"Hidung kalian berdua yang harus dipotong, agar hidung kalian berdua dapat dipakai untuk menyembahyangi malaikat. Hidungmu hanya satu mana cukup? Hay, orang She The bagaimana jika aku memotong hidungmu untuk menggantikan hidung nona ini?"
"Bocah ini tidak sudi."
Kata Lip Sin.
"Hanya adik seperguruanmu yang sudi menggantikannya, Kau lihat bagaimana ia sangat menyayangimu. Jika dengan orang semacam dia kau tidak mau menikah, jadi kau akan mencari orang yang bagaimana lagi? ---Hayo kalian mulailah persiapan musik jalan lagi"
Setelah mendengar kata-kata itu Lip Sin tertawa, tetapi tiba-tiba terdengar suara orang bersiul.
Hal itu yang membuat acara menjadi kacau, Semua lampu dipadamkan, Siau Po lalu memegang tangan nona itu yang sekarang telah menjadi istrinya.
Mendengar hal yang sangat berisik itu membuat A Ko sangat takut, ia merapatkan tubuhnya pada Siau Po dan Siau Po pun merangkulnya.
"Jangan takut!"
Katanya.
"Jika tidak salah itu suara seorang pendeta dari Tibet...."
"Habis bagaimana sekarang?"
Tanya si nona.
Saat itu ia masih teringat atau tidak dengan si kacung itu.
Dengan tiba-tiba ruangan jadi terang benderang karena mereka membawa obor lalu beberapa orang masuk, Ternyata mereka itu orang Seng Hoan atau orang Boan Cu bukannya orang Tibet.
Terdengarlah salah seorang berkata.
"Hay orang Han, tak baik membunuh semuanya! Bangsa Boan Cu ingin membunuh orang juga."
Gauw Lip Sin asal propinsi In Lam mengerti bahasa pedalaman, tetapi kali ini ia tak mengerti bahasa orang ini. ia berkata dengan bahasa pedalaman In Lam.
"Kami bangsa Han dan kami orang baik-baik untuk itu kalian jangan membunuh kami!"
Orang Boan Cu itu mangguk-mangguk tetapi ia berkata.
"Orang Han tak baik, bunuh semuanya!"
Suara itu diulangi oleh orang itu lalu mereka memulai menyerang dan terpaksa Lip Sin dan anak buahnya melayani mereka itu.
Ternyata mereka itu semuanya memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi.
Hal itu yang membuat Lip Sin menjadi heran, lalu memerintahkan anak buahnya untuk berhati-hati.
Dengan beberapa gebrakan anak buah Lip Sin sudah dapat dirobohkan dan tak lama kemudian Lip Sin pun roboh juga.
Mereka semua dapat dirobohkannya dan diikat.
Setelah semuanya berhasil dirobohkan, pemimpin mereka memerintahkan pada anak buahnya untuk memeriksa seluruh ruangan, Hal itu yang membuat Siau Po menjadi khawatir.
Siau Po lalu mengajak lari A Ko dengan melewati pintu belakang, Kepala Boan Cu itu mengawasi muka Siau Po.
Setelah itu tangan Siau Po dicekalnya erat-erat dan dibawanya kabur.
Tetapi sebelumnya, Siau Po berpesan pada A Ko.
"Niocu, Boan Cu ini akan membunuh aku, maka itu kau akan menjadi jandaku, jangan kau menikah puIa..."
Setelah jauh membawa Siau Po, orang itu menurunkannya.
"Kui Kong Kong, mengapa Kong Kong berada di sini?"
Tanyanya. Siau Po heran bercampur girang bukanlah panggilan itu untuk para thay-kam dan nada suara itu tak lagi kasar dan bengis.
"Kau.... Kau mengenal aku?"
Tanyanya. Boan Cu itu tertawa.
"Siau Jin Yo Ek Cie."
Sahutnya.
"Aku dari istana Peng See Ong, Apakah Kong Kong sudah tak mengenali aku lagi?"
Tanyanya. Setelah mengamati, barulah Siau Po tertawa.
"Mari kita pergi lebih jauh dari sini, orang lain tak boleh ada yang mendengar pembicaraan kita."
Katanya. Siau Po memperhatikan orang itu lalu berkata.
"Baru-baru ini orang Bhok Onghu memfitnah raja, untunglah raja sangat bijaksana dan dapat mengetahui tipu daya mereka."
"ltu semua berkat jasa Kong Kong."
Katanya.
"Usaha Kong Kong membuat semuanya menjadi terang, membuat Peng Se Ong menjadi terang dan bebas dari penasaran, sering ia menyebut-nyebut Kong Kong dan ia ingin sekali bertemu dan mengucapkan terima kasih."
"Ucapan terima kasih itu tak dapat aku terima, sebaliknya aku sangat bersyukur karena ia masih mengingat aku. Sri Baginda dapat mengetahui cara kerja pemberontak itu, mereka akan mengadakan rapat, Bersamaan dengan itu mereka akan mencelakai Peng See Ong."
Kata Siau Po. Yo Ek Cie girang.
"Bagus kalau baginda telah mengetahui sepak terjangnya, Dengan demikian mereka tak akan berhasil dalam pemberontakannya, Aku pun telah mendengarnya dan aku telah bercampur dengan mereka, cara mereka yang pertama mengangkat ikatan setempat, lalu membangun perserikatan itu dan memilih ketuanya, Mereka itu akan menyerang Ongya kami dan itu sangatlah berbahaya. Namun jika para pemberontak itu berani menyerbu In Lam mereka akan kami ringkus, Tetapi mereka akan memfitnah kami untuk melampiaskan kekesalan mereka itu, itulah ancaman mereka yang paling besar."
Siau Po menepuk dadanya.
"Aku minta padamu tolong kau sampaikan pada Ongya, janganlah ia khawatirkan aku. Nanti akan aku beberkan pada baginda tentang pemberontakan ini. Bukankah melawan Peng See Ong berarti memberontak pada baginda? Dengan demikian Ongyamu akan lebih setia pada baginda dan kau nanti akan mendapatkan hadiah yang besar dari raja atau mungkin kau akan naik pangkat...."
Girang hati Ek Cie mendengar kata-kata itu.
"Semua ini karena bantuan Kong Kong, Siau Jin sendiri tak mengharapkan hadiah atau ganjaran, karena Ongya dahulu pernah menolong ayahku, Maka untuk membalas budinya aku bersedia membelanya sampai mati, Kong Kong, jadi kau datang ke mari untuk menyelidiki gerakan tersebut?"
Siau Po segera menunjukkan jempol "Sungguh kau pandai dalam bekerja!"
Pujinya.
"Jadi kau sengaja menyamar menjadi Seng Hoan, lalu kau menyerbu bangsa Bhok Onghu, Andaikata kau binasakan mereka semua, orang luar pastilah mengira perbuatan itu perbuatan Seng Hoan, Siapa yang akan menyangka itu perbuatan dari Peng See Ong?"
Yo Ek Jie tertawa, membenarkan kata-kata Siau Po itu.
"Benar Kong Kong!"
Katanya dengan semangat. "Hanya saja, cara menyamaran kali ini mendatangkan bahan tertawaan Kong Kong, karena cara kami menyamar tidak karu-karuan itu."
"Tertawa apa?"
Tanya si kacung itu.
"Aku justru sangat senang sekali, dan sangat kagum padamu hingga aku memikir untuk membuka juga pakaianku ini dan mengikuti bersama kalian dalam penyamaran."
Kata Siau Po. Ek Jie tersenyum.
"Jikalau Kong Kong menghendaki sekarang juga Kong Kong dapat melakukannya, Kong Kong dapat mengganti pakaian Kong Kong dan turut bersama kami dalam penyamaran."
Kata Yo Ek Jie pada Siau Po yang sedang menyiapkan perlengkapannya. Siau Po pun tersenyum, Tapi lalu menarik napas berat.
"Sekarang tidak."
Sahutnya dengan cepat.
"Apa kata istriku, jikalau aku berdandan yang tak karuan seperti kalian? Ada kemungkinan ia akan menjadi gusar karena melihat aku...."
Yo Ek Jie tertawa.
"Kong Kong, benarkah Kong Kong telah menikah?"
Tanyanya dengan nada kurang percaya.
"Jadi Kong Kong menikah bukan main-main saja sebab Kong Kong dipaksa oleh mereka itu?"
Siau Po lalu menatap Ek Jie.
"Yo toako,"
Kata Siau Po pada Ek Jie.
"Kita berdua agaknya berjodoh, maka itu andaikata kau sudi memandang mukaku, mari kita mengangkat saudara, supaya kau tak usah segan-segan menyebut Kong Kong atau Siau Jin. Sebab kurasakan itu tak sedap didengar telingaku...."
"Girang Yo Ek Jie mendengar permintaan Siau Po atau tawaran itu. inilah kebetulan Peng See Ong memang mengharap bantuan thay-kam yang sangat dipercaya oleh raja ini. Hingga dipercaya raja, Si thay-kam dapat berbicara banyak untuk kepentingan Ongyanya, ia pun tahu baik thay-kam cilik ini jujur dan terbuka tangannya serta gemar bergaul dengan siapa saja. Selama di istana Kong Cin Ong, orang telah bersikap baik sekali terhadapnya "
Lnilah hal yang aku tak berani memintanya."
Katanya girang, Siau Po mengajak orang tersebut berlutut, untuk menjalankan upacara pengangkatan saudara, Di tempat seperti itu yang tak ada Hio, mereka menggunakan tanah sebagai gantinya.
Delapan kali mereka saling berlutut dan memberi hormat.
Maka jadilah mereka itu saudara angkat satu dengan yang lainnya dan selanjutnya mereka memanggil kakak dan adik.
"Namun, adik."
Kata Ek Jie kemudian.
"OIeh karena kedudukan kita, baiklah selanjutnya dimuka umum aku tetap memanggilmu Kong Kong, supaya dengan demikian kita tak usah membangkitkan kecurigaan umum."
"Kau, benar kakak!"
Sahut Siau Po yang mengatakan setuju.
"Sekarang bagaimana sikapmu terhadap orang-orang Bhok itu? Tanya Siau Po.
"Aku akan membawa mereka ke In Lam."
Sahut Ek Jie.
"Aku hendak menahan mereka itu, guna mengorek keterangan dari mulutnya, Kalau perlu dengan cara perlahan-lahan kita akan mengompas mereka itu, sampai kami mendapatkan pengakuannya tentang Bhok Onghu sudah memfitnah Peng See Ong, supaya setelah itu kami dapat membawa mereka ke kota raja guna menghadapkan pada baginda raja, agar baginda dapat mengetahui kesetiaan Ongya kami. Dengan demikian pembelaanmu akan diperkuat, karena kau membela yang tak keliru."
Siau Po mengangguk.
"Bagus kakak, bagus!"
Siau Po memuji Ek Jie.
"Jadi kakak menghendaki pengakuan orang-orang Bhok Onghu itu?"
Tanya Siau Po. Ek Jie menganggukkan kepala.
"Ya,"
Sahutnya.
"Aku menghendaki pengakuannya Yau Tau Saycu Gauw Lip Sin. Di dunia Kang-ouw, dia sangat ternama, Dia juga bertabiat sangat keras, maka aku khawatir dia tidak mau membuka mulut. Karena aku menghormatinya sebagai orang gagah, tidak akan aku bersikap terlalu keras terhadapnya, namun di antara mereka itu ada yang tak kuat menderita dan dia nanti yang membuka mulut."
Siau Po mengangguk.
"Kakak benar."
Katanya.
"Bagus pikiran kakak itu!"
"Tetapi, saudaraku!"
Kata Ek Jie.
"Andaikata pikiranku ini kurang sempurna, tolong kau berikan petunjukmu dan aku minta kau mau berbicara secara terbuka terhadapku!" "Pikiran kakak bukannya tak sempurna!"
Ujar Siau Po.
"Namun ada sesuatu yang memerlukan pikiran lebih jauh. Katanya dalam keluarga Bhok itu ada seorang pemberontak yang bernama Bhok Kiam Seng, serta seorang lagi yang berpunggung keras bagaikan punggung naga, yaitu She Liu, Entah siapa namanya...,"
Kata Siau Po pula.
"Saudara, rupanya yang saudara maksudkan ialah Tiat pwee Cong Liong Liu Tay Hong!"
Kata Ek Jie.
"Dialah yang bergelar si Punggung Besi, Dia juga guru silatnya Bhok Kiam Seng!"
"Ya, benar dia!"
Ujar Siau Po.
"Kakak, sangat kuat daya ingatmu, Baginda memerintahkan padaku untuk mencari tahu kedua orang itu. Apakah kakak juga telah berhasil menawan mereka itu?"
Tanya Siau Po. Ek Jie menggeleng kepala.
"Kabarnya, Bhok Kiam Seng juga sudah pergi ke Hokan, Kami sudah mengintai dan menguntitnya, namun sayang setibanya di Hian Koang dia bisa lolos, entah di mana ia menyembunyikan dirinya!"
"Ah, kalau begitu ini agak sulit!"
Tukas Siau Po.
"Tadi aku mengoceh tidak karuan, dengan begitu aku dapat mengelabui Gauw Lip Sin, hingga dari sisinya menggoyang kepadanya menjadi singa mengangguk-angguk, Katanya dia akan mengajak aku pergi menemui tuan pangeran mudanya, Siau Ong-ya cilik, itu ada baiknya, aku memang akan mencari tahu apa rencananya, guna menentang Peng Sie Ong, Setelah memperoleh itu baru aku pulang ke kotaraja untuk menyampaikan laporan pada raja, sekarang karena ada rencanamu ini, baik kakak saja yang memaksa mengorek keterangan dari mulut mereka, itu sama saja, justru dengan demikian aku tak usah pergi menempuh bahaya!"
Ek Jie terdiam tapi otaknya bekerja.
"Sebenarnya untuk mengorek mereka itu masih ada satu soal!"
Katanya.
"Mereka yang menjadi orang sebawahan misalnya mengaku bahwa tentu belum tentu mengetahui semua rahasia pemimpinnya. Lagi pula orang She Bhok itu tentu berkepala besar, Dia bagaikan anjing yang berkepala keras, Mungkin ia nanti menyangkal. Menurut aku, dari pada Peng Sie Ongya yang memberi laporan itu kalah kuat dengan laporan orang yang diutus baginda sendiri, aku pikir baiklah pihak kami belum tahu apa-apa. Lalu kaulah yang mengajukan laporanmu itu. Bukankah bagi Ongya kami tindakan itu akan lebih menguntungkan!"
"Jikalau demikian!"
Kata Siau Po.
"Kakak Yo, kau harus dapat menggunakan akal guna membebaskan rombongan Bhok Ongya itu. Bagaimana caranya supaya mereka tidak curiga?"
"Adikku, dalam hal ini aku terserah padamu...."
"Tetapi kakak, lebih baik kaulah yang memberikan petunjuk padaku!"
Ek Jie terdiam, ia berpikir pula, namun kemudian ia berkata.
"Adik, baik kita atur begini saja, sekarang kau pergi masuk ke rumah abu itu. Di sana kau berpura-pura hendak menolong kakak seperguruanmu. Aku akan mengejarmu, Kita berdua nanti ber-pura-pura bicara dalam bahasa Boan Cu. Dan akhirnya aku akan berlaga kena ditaklukkan olehmu. Aku nanti bersikap menghormat dan menurut terhadapmu. Aku yakin dengan demikian orang tak akan mencurigai kita...."
Ujar Ek Jie menjelaskan. Siau Po tertawa.
"Pikiranmu bagus, kakak!"
Pujinya.
"Seperti kau tahu, aku mengerti bahasa Ie."
Lalu anak ini memberi keterangan yang ia ingat tentang ceritanya kaisar Tong Beng Hong, mempunyai seorang menteri yang pandai bahasa asing, Bagaimana menteri itu di waktu mabuk arak, karena kepandaiannya dalam bahasa asing, mampu membikin kaget utusan raja asing, sehingga si utusan kabur Katanya menteri itu She Ie tetapi entah apa namanya."
Ek Jie tertawa.
"Dialah Lie Tay Pek,"
Katanya.
"Memang Lie Tay Pek sewaktu mabuk arak sudah membuat huruf asing, hingga ia mengutus orang asing, Orang asing itu kaget dan ketakutan lalu berlari!"
Mendengar orang itu percaya padanya, Siau Po berbohong.
"Sri Baginda mengutus aku agar menyelidiki gerak-gerik si pengkhianat, Beliau khawatir aku diserang dan dianiaya, maka ia segera membuka bajunya ini lalu diserahkan padaku untuk ku pakai. jangan kau khawatir, mari kau mencoba membacoknya barang beberapa kali!"
Ek Jie menurut ia mencabut goloknya, terus menggores lengan Siau Po.
ia memperoleh bukti-nya.
Siau Po tidak terlukakan, hanya baju luarnya yang sobek, ia penasaran lalu membacokkan lagi, Kembali ia memperoleh buktinya.
"Sungguh baju wasiat!"
Pujinya kagum.
"Selagi kau menyerang aku, sekalian kau bekuk seorang pemuda She The. Dialah yang main gila dengan calon istriku, jadi aku sangat membencinya."
Ujar Siau Po.
"Akan aku hajar dia biar mampus.,.!"
Kata Ek Jie.
"Jangan.-.! jangan bunuh dia.,.!"
Siau Po minta.
"Dialah orang yang dicari baginda, Habis kau bekuk lalu tahan dan jaga baik-baik! jangan kau ganggu! Tak usah kau tanyakan keterangannya, Nanti setelah lewat tujuh atau delapan tahun baru kau antarkan ia padaku ke kotaraja."
Habis berkata demikian dan orang itu pun setuju, mendadak ia berkata nyaring dalam bahasa Boan Cu.
"Kita sudah bicara sekian lama, mungkin orang mencurigai kita!"
Siau Po mengerti, maka ia lalu berkata keras dalam bahasa asing yang tidak karuan, ia tak khawatir orang akan mengerti bahasanya. Ek Jie tertawa.
"Saudara bahasa asingmu lebih pasih dari yang aku bisa!"
Pujinya.
"ltu benar,"
Sahut si kacung tertawa.
"Pernah aku pergi ke negeri asing dan aku akan dijadikan suaminya hingga aku sering gunakan bahasanya itu!"
Ek Jie tertawa puIa.
"Ada suatu kesulitan. Karena itu kuingin kau bantu memikirkannya!"
Ek Jie menepuk dadanya.
"Katakanlah, saudaraku!"
Katanya.
"Apakah urusanmu itu? Kakakmu ini bersedia memberikan nyawa, Katakanlah padaku nanti aku akan menjalankan titahmu itu?"
Siau Po menarik napas.
"Terima kasih,"
Katanya.
"Sukar tetapi tak sukar, mudah tetapi tak mudah!"
"Katakanlah hai, saudaraku!"
Ek Jie mendesak.
"Akan aku lakukan itu sebisaku atau aku tak sanggup. Aku nanti minta bantuan Ongya dapat jadikan tentara atau uang beberapa juta!"
Siau Po tertawa.
"Aku khawatir jiwa tentara serta jutaan tail perak tak akan ada gunanya!"
Katanya.
"lnilah soal kakak seperguruanku ia telah dipaksa menikah denganku tetapi dalam hatinya tak menyukaiku, Maka itu kakak hendak aku tanya upaya apa kau punya supaya beres,.?"
Mendengar demikian Ek Jie tertawa.
"Kiranya begitu!"
Dalam hati.
"Aku menyangka urusan besar bagaimana caranya guna melayani nona, Namun ia seorang kebiri, cara bagaimana ia menikah! Oh ya, aku pernah mendengar orang bilang di jaman kerajaan ada orang thay-kam yang mempunyai beberapa orang istri, maka mungkin ia akan memiliki seorang pelacur mainmain dengannya. Guna menghilangkan kesepian dalam hidupnya...."
Mengingat demikian Ek Jie berduka, ia membayangkan bagaimana seorang pria yang menderita sejak kecil Maka ia segera menggenggam tangan pemuda itu.
"Saudaraku, kau sabar."
Katanya menghibur.
"Memang hidup di dunia ini tak selamanya dapat mencapai semua niat kita, Bahkan banyak orang gagah yang memiliki kekurangan! Saudara, jangan kau terlalu pikirkan itu, Mari!"
Dia menarik tangan Siau Po.
"Baik!"
Sahut Siau Po yang terus turut masuk, ia lari dengan golok di tangannya.
Keduanya memberikan kata-kata dalam bahasa asing, Segera Siau Po kena dipegang, Kembali keduanya berbicara bahasa asing sambil menunjuk Gauw Lip Sin dan A Ko.
Mereka bicara terus.
"The kongcu telah dibawa pergi oleh mereka itu, Bagaimana cara menolongnya?"
Justru itu mempelai wanita mendadak berkata nyaring.
"Suamiku hilang! Suamiku hiIang...!"
Gauw Lip Sin tidak menghiraukan nona itu, ia hanya memberi hormat pada Siau Po sambil menanyakan She dari nama besar penolongnya.
"Aku She Wie."
Sahut Siau Po ringkas.
"Wie Siangkong dan nona ini,"
Ujar Lip Sin.
"Karena di sini sulit untuk menyiapkan sesuatu, aku harap sudi kalian menerima bingkisanku ini!"
Dia menyerahkan dua potong uang emas.
"Terima kasih!"
Jawab Siau Po yang segera mengambil uang itu. Muka A Ko sementara itu tampak memerah dan bingung.
"Bukan!"
Katanya sambil membanting kaki.
"ltu bukanlah sungguhan, ini tidak masuk hitungan!" Gauw Lip Sin menjadi heran, Dia bahkan ter-tawa. Lalu berkata.
"Kalian sudah menikah dengan menjalankan upacara menghormati langit dan bumi, Dan barusan kau juga sudah mengatakan di depan musuh kita tadi, bahwa kaulah istrinya, Kenapa kau sekarang menyangkal? Nah berarti kalian kedua mempelai, pergi kalian bersuka ria di dalam kamar aku tak mau mengganggu lagi!"
Dengan satu gerakan tangan, Lip Sin mengajak kawan-kawannya mengundurkan diri ke luar dari rumah abu itu.
Di dalam rumah abu itu menjadi sunyi sepi, A Ko bingung, malu dan mendongkol menjadi satu, Diam-diam dia melirik pada Siau Po lantas ingat pengakuannya tadi bahwa pemuda di depannya ialah suaminya!
Bukan kepalang pusing pikirannya.
Kemudian ia mendekap meja dan menangis keras.
"Semua gara-gara kau!"
Katanya menyesal.
"Semuanya karena kau buruk!"
"Ya, ya semua benar bahwa aku buruk,"
Sahut Siau Po perlahan, suaranya halus.
"Aku pikir kapan tiba saatnya aku mendapat cara buat menolong kongcu, barulah aku akan mengatakan aku baik!"
A Ko bagaikan terbangun semangatnya, mendengar sebutan kongcu, Dia lantas mengangkat mukanya menatap kacung di depannya itu.
"Kau dapat menolong dia?"
Tanyanya bernafsu.
Lilin merah yang menyala, apinya bergoyang-goyang, Cahaya api itu menyinari si nona yang sedang menangis, walaupun demikian kecantikannya tidak sirna, A Ko menarik ujung baju Siau Po.
"Aku mau tanya!"
Katanya.
"Aku tanya kau, bagaimana harus menolong kongcu dari tangan orang itu?"
"Pemimpin orang Boan Cu tadi mengatakan bahwa asal mereka ke luar tak sudi pulang dengan ---------------nggak nyambung seperti tak habisnya, Gauw Lip Sin heran. Keduanya saling berpandangan Mereka memiliki harapan setelah berpikir "
Sukur ia mengerti bahasa asing mungkin ia dapat berhasil membujuk orang asing itu untuk pergi...."
Kemudian Yo Ek Jie mengangkat goloknya, lalu mengancam kepala A Ko.
"Orang perempuan tak baik bunuh saja!"
Bentak Ek Jie.
"Dialah istriku, jangan bunuh dia!"
Teriak Siau Po.
"Apa? Dia istrimu? jangan bunuh?"
"Ya."
Sahut Siau Po.
"Dialah istriku, jangan bunuh dia! Jangan!"
Ek Jie berpura-pura gusar "istrimu? jangan bunuh? Baik! Bunuh kau saja!"
Ujarnya dengan bengis. Kemudian orang itu mengayunkan goloknya pada Siau Po tetapi tidak mempan. Hal itu yang membuat hatinya menjadi heran. Lalu ia akan membunuh Lip Sin tetapi dicegah oleh Siau Po.
"Hai perempuan! Kau istri dia?"
Tanyanya Ek Jie pada A Ko. Ek Jie membacok pinggiran meja hingga pecah, karena A Ko tak mau menjawab pertanyaan nya.
"Laki-laki itu suamimu?"
Tanyanya lagi. A Ko bingung.
"Ya, dia suamiku!"
Sahutnya perlahan Ek Jie lalu tertawa mendengar jawaban nona itu. Di angkatnya perempuan itu mendekati Siau Po.
"lni istrimu! Kau peluk dia!"
Katanya, Siau Po menurut ia mementang kedua tangannya memeluk si nona.
"inilah istriku, aku memeluknya!"
Katanya sambil memeluk erat. Ek Jie memainkan terus peranannya, kali ini ia menunjuk Kek Song.
"Anak itu anakmu?"
Tanyanya dengan singkat Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Bukan!"
Sahutnya dengan singkat Lalu Ek Jie menyerukan bahasa Boan Cunya, Kemudian ia menyambar Kek Song dan diangkat untuk dibawa lari, Karena ia berseru kawannya semua menyusul Lalu terdengar tapak kuda yang berlalu pergi.
Sementara itu rasa takut A Ko sudah lenyap, Siau Po terus merangkul pinggangnya.
"Lepaskan tanganmu!"
Katanya kemudian.
"lnilah istriku, aku memeluknya!"
Kata Siau Po.
"Setan alas!"
Kata si nona dengan dongkol. Siau Po membiarkan nona itu. ia lalu memungut sebuah golok di lantai yang digunakan untuk membebaskan Gauw Lip Sin.
"Bangsa Boan Cu itu lihay silatnya namun otak mereka bebal!"
Kata si kacung itu.
"Aku mengoceh sedikit saja, dan mereka mempercayai. A Ko teringat pada Kek Song, --------------------tangan hampa! Harus membawa pulang tahanan buat dijadikan hidangan."
Si nona terkejut.
"Jadi dia bakal dibunuh dan dimakan?"
Tanyanya keheranan "Ya, benar demikian! Mereka bilang dagingnya lezat sebenarnya tadi mereka mau menawanmu sekalian."
Tubuh si nona menggigil ketakutan.
"Seperti kau ketahui,"
Sambung Siau Po, ketika aku mengatakan bahwa kau istriku dia langsung melepaskan kau."
A Ko bingung bukan main.
"Kongcu telah dibawa pergi oleh mereka itu. Apakah dia akan dibunuh dan dimakan dagingnya?"
Tanyanya.
"ltu benar! Kecuali jika aku pergi pada mereka dan menggantikannya?"
Ujar Siau Po.
"Jika demikian pergilah kau, menukarnya dan membawa pulang!"
Muka si nona menjadi merah dan dia insaf telah keliru mengucap. Walaupun mendongkol Siau Po tidak mau berlaku keras, ia hanya berkata dengan suara lemah.
"Baiklah jikalau kau menghendaki aku menukar dirinya dengan diriku."
Mereka lalu pergi mencari rombongan yang mengiringi Kek Song.
"Oh, nona Tan!"
Kata mereka itu.
"Nona, mana kongcu kami? Mana kongcu kami?"
Di antara rombongan pengiring itu segera muncul seorang yang tubuhnya kurus, tapi gerakannya sangar gesit dan lincah, Dia sudah sampai di depan rombongan Segera terdengar suaranya.
"Mana dia kongcu kami?"
Siau Po heran. ia mendengar suara tajam tetapi muka orangnya tak segera tampak, ia mundur dua langkah dan orang itu maju dua langkah hingga mereka hanya berjarak dua kaki.
"Mana kongcu kami?"
Tanya orang kurus itu.
"Dia... dia ditawan bangsa Boan Cu...!,"
A Ko menjawab.
"Dia telah dibawa pergi bangsa itu, katanya untuk dimakan dagingnya!"
Orang itu agak heran lalu bertanya.
"Dia dalam wilayah Tionggoan mana ada orang asing Boan Cu?"
"Memang benar Boan Cu nya!"
A Ko memastikan "Pergi lekas susul dan tolong dia!"
"Berapa lamakah mereka sudah pergi?"
"Belum seberapa lama...."
Dengan cepat orang itu melompat mundur, lalu duduk di atas pelana kuda, Setelah ia menjepit perut kuda serta menghentak talinya, binatang tunggangan itu berlari kencang hingga dalam sesaat ia telah lenyap ditelan gelap gulita.
Siau Po dan A Ko saling mengawasi.
"Entah siapa dia?"
Ujar si nona kemudian.
Beberapa orang pengiring lantas menjawab lalu berdiri "Dialah Phang suhu yang bernama Sek Hoan, gurunya kongcu kami Dia yang bergelar sepasang pedang tanpa darah, Phang suhu sangat lihay.
Dengan kepergiannya beliau pasti dapat menolong kongcu kami."
"Oh kiranya dia!"
Kata Siau Po dan A Ko berbarengan.
Memang Kek Song pernah memberitahukan Kiu Lan tentang Peng Sek Hoan gurunya itu, orang hebat dari pihak Kin Lan Pay yang kalau melukai orang tidak meninggalkan darah.
A Ko segera mengawasi semua pengiring.
"Phang suhu telah tiba, kenapa kalian tidak mengajaknya ke rumah abu untuk segera menolong kongcu?"
"Phang suhu baru saja tiba!"
Sahut seorang pengiring.
"Kami mengirim berita dengan perantara burung darah, Seterusnya malam itu juga beliau melakukan perjalanan kilatnya dari Hokan ke mari!"
"Kenapa selama di Hokan aku tidak melihat Phang suhu kalian?"
Tanya Siau Po.
Para pengiring itu saling mengawasi Mereka tidak menjawab, bahkan terus tertunduk.
Mereka seperti menyesal sudah keliru berbicara.
Memang selama rapat besar Sat Ku Tay Hwe itu, banyak orang gagah yang menyembunyikan diri, Baik dengan menyamar atau pun berdiam jauh di belakang.
Demikian juga rombongan dari pihak keluarga The dari Taiwan, Baru sekarang Sek Hoan muncuI, guna menolong tuan mudanya itu.
Sementara itu A Ko berdiam saja, ia ragu-ragu Phang Sek Hoan atau tidak.
Guru silat itu bersendirian saja.
Siau Po mengawasi si nona.
ia dapat menerka hati orang itu.
"Kau tenang-tenang saja! Andaikata Phang suhu tidak berhasil, aku akan mengganti jantung hatimu dengan jantung hatiku! Kata seorang laki-laki, kuda apa pun tak dapat mengejar-nya!"
"Sukur kalau Phang suhu berhasil menolong mereka!"
Kata si nona. A Ko bingung waktu melihat orang bangun, di dalam hatinya dia berkata, kalau Phang suhu gagal dan dia ini pergi. Lalu siapa nanti yang menolong The kongcu?"
Tapi, melihat orang berduduk pula, legalah hatinya, Karena kekhawatirannya itu, ia tak berani berlaku sembrono lagi bahkan ia menggeser tubuh agar duduk lebih dekat...
Siau Po cerdas, ia dapat mempengaruhi hati si nona, maka pikirnya.
"Ya, sekarang kau membutuhkan aku. Kau mengubah sikapmu, sekarang inilah kesempatanku."
Maka ia mengulur tangan kirinya untuk merangkul pinggang si nona itu, tangan kanannya menggenggam tangan kanan perempuan itu.
A Ko meronta sebentar.
Namun kemudian berdiam saja.
Bukan main girangnya si kacung.
"Paling baik orang itu kena dibinasakan Yo toako beramai, supaya buat selama-lamanya dia tak dapat kembali ke mari! Dengan demikian aku jadi dapat duduk terus berdiam di sini menantikannya. Pikir Siau Po. Kacung itu tahu bahwa si nona tidak mencintainya, tapi dia senang duduk berdampingan dengannya sambil merangkul pinggang wanita bertubuh langsing itu. Ketika Siau Po tengah berhayal seperti itu, tiba-tiba telinganya mendengar derap kuda mendatangi. sedangkan si nona sudah berdiri tegak sambil ia berseru.
"Nah, itu The kongcu kembali!"
Begitu tiba di situ sudah jelas siapa si penunggang kuda, Para pengiring The kongcu, dengan lentera di tangan menyambut sambil berseru-seru, Kedua kuda lari mendatangi dengan satu di depan dan satu di belakang, Yang di sebelah depan benarlah The kongcu.
Melihat A Ko datang menyambut sambil berlari-Iari, Kek Song berlompat turun dari kudanya.
Lalu dia menyambar dan merangkul nona itu, sehingga keduanya saling berpelukan erat sekali.
Sambil menyelusupkan kepalanya di dada si anak muda itu, si nona sembari menangis berkata.
"Aku sangat khawatir kawanan Boan Cu itu nanti,., nanti...!"
Siau Po bangkit berdiri, ia asyik menyaksikan pemandangan di depan matanya itu.
Hatinya terasa seperti tertindih sangat berat Dia bagaikan mendapatkan satu hajaran hebat sekali, ia mendadak jatuh duduk dan kepalanya terasa pusing serta matanya berkunang-kunang.
Namun ia masih sadar, maka di berkata.
"Dalam hidupku kali ini, dikala aku tidak dapat menikahimu, maka aku adalah buyut turunan ketujuh atau delapan belas tahun dari The Kek, Aku adalah manusia si hina dina!"
Kalau orang lain berputus asa, tapi si kacung bersemangat karena penasaran sekali, sehingga selang sejenak dia berkata.
"Kau boleh menikah sampai delapan kali tapi yang kesembilan kali kau mesti menikah denganku!"
Bocah ini tidak banyak memikir tentang wanita, sebab selama di rumah hina dina ia telah menyaksikan bagaimana si nona manis menukar "Suami."
Bahkan dengan hati lega ia menghampiri Kek Song untuk menyapanya.
"Oh kau telah pulang The kongcu?"
Kek Song heran sehingga ia menoIeh.
"Digigit apakah,"
Tanyanya.
A Ko pun heran sehingga ia mengawasi si pemuda itu dari bawah ke atas, Akan tetapi ia mendapatkan tubuh pemuda bangsawan itu tak kurang suatu apa, maka hatinya menjadi lega.
Sek Hoan menghampiri Siau Po, Dia masih tetap duduk di atas kudanya.
"Siapakah anak muda ini?"
Tanyanya.
"Dialah Sute dari nona Tang,"
Kek Song menjawab.
Sek Boang mengangguk.
Siau Po mengawasi guru silat bertubuh kurus dengan kulit kehitam-hitaman itu, kumisnya mirip ekor burung walet, matanya cekung hingga bagaikan hantu berpenyakit paru-paru.
sementara itu ia ingat kawan-kawannya, maka lantas berkata.
"Phang suhu, kau lihay sekali! Dengan mudah kau berhasil menolongi The kongcu! Bagaimana dengan si Boan Cu, apakah batang lehernya dapat dipatahkan?"
"Boan Cu?"
Sahut Sek Hoan.
"Boan Cu apakah? Boan Cu teteron!"
Siau Po kaget tapi ia berlaku tenang.
"Boan Cu teteron?"
Ia mengulangi "Habis, mengapa mereka pandai berbahasa Boan Cu?"
A Ko sementara itu ingat gurunya, membuatnya bingung.
"Aku khawatir guruku bingung andaikata sadar, tetapi ia tidak melihat aku...." katanya.
"Mari, kita kembali!"
Siau Po mengajak Si nona mengawasi Kek Song sebelum ia memberikan jawabannya. Anak muda itu mengerti, lantas berkata pada Sek Hoan.
"Suhu, mari kita bersamasama pergi ke rumah penginapan, untuk makan. Habis itu, kita beristirahat."
Sek Hoan setuju, maka berangkatlah mereka bersama-sama.
Di tengah jalan, Siau Po tanya Kek Song bagaimana dia menolongnya, Pemuda She The itu lantas memuji tinggi pada gurunya, maka juga lega hati si kacung yang mengetahui pasukan "Boan Cu"
Sudah dibubarkan dalam beberapa gebrak saja, tapi pimpinannya tak tertawan.
"Sukur!"
Kata Siau Po dalam hati, Dengan demikian, Yok Ek Jie menjadi tidak kurang suatu apa.
Rombongan ini tiba di penginapan, langit sudah terang, Kiu Lan sudah bangun dari tidurnya, Meskipun tidak melihat A Ko dan Siau Po, ia tidak khawatir, sebab ia menerka muda-mudi itu tentunya sedang pergi menolongi Kek Song.
Kek Song mengajar kenal gurunya pada waktu itu.
Kiu Lan melihat wajah orang yang tak menarik hati, sebaliknya ia mengagumi sinar mata orang yang tajam, maka katanya di dalam hati.
"Dia bergelar It Kiam Bu Hiat, pasti benar dia lihay ilmu silatnya!"
Selesai sarapan, Kiu Lan berkata pada Kek Song.
"Kongcu, kami mempunyai urusan, Di sini kita harus berpisah!"
Lantas dengan mengajak A Ko dan Siau Po, Kiu Lan meninggalkan rombongan pemuda She The itu.
Si nona sangat berduka, Kedua matanya menjadi merah, hampir dia menangis, Sebab dia harus berpisah dari si anak muda.
Siau Po sebaliknya bersyukur, bahkan di dalam hatinya dua memuji "Semoga suhu panjang umur sempai seratus tahun serta banyak rezeki!
Semoga Sang Buddha melindunginya.,.!"
Kemudian dia tanya.
"Suhu, kita menuju ke mana?"
"Ke Pakkhia,"
Sahut sang guru singkat "Kalau anak She The itu menyusul siapa pun jangan memperdulikan, ingat siapa tidak dengar pesanku ini, akan aku bunuh pemuda itu!"
Lanjutnya kemudian A Ko kaget, dia heran sekali.
"Suhu, kenapakah?"
Tanyanya.
"Tidak apa-apa!"
Sahut sang guru.
"Aku suka pada kesucian, aku tak mau orang mengganggu ketenanganku!"
Si nona berdiam Tak berani ia minta penjelasan Akan tetapi lewat sesaat ia tanya.
"Bagaimana jikalau aku bicara dengan Sute?"
Dengan "Sute"
Adik seperguruan, maksudnya ialah Siau Po.
"Sama saja, akan aku bunuh dia seperti The kongcu!"
Jawab si guru. Mendengar jawaban itu, tak dapat Siau Po menguasai diri, dia tertawa, Dia puas sekali.
"Suhu, suhu kurang adil!"
Kata si nona.
"Lihat Sute sengaja memancing orang bicara!"
Guru itu mendelik kepada murid wanitanya itu.
"Kalau she The itu tidak datang ke mari, mana bisa Siau Po berbicara? jikalau dia melihat aku tanpa henti, aku pasti akan merampas jiwanya!"
Siau Po bertambah girang, sampai dia seperti lupa diri, Dia menarik tangan gurunya itu untuk dicium.
"Pergi!"
Sang guru mengusir sambil menarik pulang tangannya, Akan tetapi di dalam hati merasa puas, Selama dua puluh tahun belum ada orang yang berlaku demikian akrab dengannya, Murid itu agak gegabah tapi selalu berlaku sungguh-sungguh.
Maka itu ia menegur sambil tersenyum.
A Ko mengalirkan air mata menyaksikan sikap gurunya itu.
Sebab, di matanya si guru sudah berlaku berat sebelah terhadapnya, ia pun berduka sebab tidak tahu sampai kapan bakal bertemu pada si pemuda yang sekarang ini entah berada di mana....
Lewat tiga hari, Kiu Lan bertiga sudah kembali ke Pakkhia, Kotaraja.
Si Bhiku memilih sebuah penginapan kecil di kota bagian timur, di tempat yang sepi.
Kiu Lan masuk ke kamar Siau Po dan bertanya.
"Coba terka apa perlunya kita kembali ke kotaraja ini?"
"Menurut terkaanku,"
Sahut sang murid.
"Kalau bukan karena urusan nona To, pastilah untuk masalah kitab pusaka itu...."
Kiu Lan mengangguk. "Tidak salah!"
Ujarnya.
"Ya, buat beberapa kitab pusaka itu."
Ia berdiam sebentar, ia seperti memikirkan sesuatu, habis itu, ia menambahkan "Aku menyesal merasa terluka.
Memang benar Siapa pandai, kepandaiannya, tetap terbatas, Demikian juga urusan besar, yang harus diurus bersama.
Lihat urusan Sat Kui Tay Hwe di Hokan itu.
Maksud itu baik-sekarang aku insaf.
Andaikata kita berhasil membunuh Gauw Sam Kui satu orang, negara kita tetap berada dalam genggaman bangsa Boan Cu!
Apa gunanya akan melampiaskan saja sedikit rasa mendongkol?
Tidak demikian apabila kita berhasil mendapatkan kitab pusaka musuh, yang dapat membuat kita mampu memotong urat, yang disebut otot naga itu!
Habis itu kita menyerukan masyarakat untuk berbangkit guna bekerja sama menumbangkan kerajaan musuh!"
"Benar-benar!"
Si kacung menyambut gurunya itu,",Suhu benar!"
"Maka itu aku hendak beristirahat lebih jauh!"
Kata guru itu.
"Aku percaya, selewatnya setengah bulan lagi, aku akan sudah sembuh. Maka waktu aku mau pergi menyelundup masuk ke istana guna mencari selebihnya kitab pusaka itu...."
"Baik suhu,"
Kata Siau Po.
"Sementara itu, aku pikir, sekarang baiklah aku yang lebih dahulu menyelundup ke istana, Mendengar-dengar dan meIihat-Iihat. Siapa tahu dengan berkah perlindungan Thian Yang Maha Kuasa aku nanti memperoleh sesuatu.,,."
Kiu Lan mengangguk ia setuju dengan pikiran muridnya itu.
"Kau cerdas, anakku, Semoga kau nanti dapat melakukan sesuatu yang berharga, Jasamu itu...."
Sang guru menghela napas, sinar matanya menandakan bahwa ia merasa sangat bersyukur.
Melihat gerak-gerik gurunya Siau Po hampir membuka rahasia dengan berkata, enam kitab lainnya itu sudah berada di dalam tanganku atau segera ia ingat.
Siau Hian Cu dan aku adalah sahabat-sahabat akrab, jikalau aku membantu suhu menggempur pemerintahannya ini hingga ia tak dapat lebih lama menjadi raja, bukankah itu berarti aku tidak mempunyai rasa tanggung jawab sebagai sahabat,....
Manakah kehormatan diriku,.,?
Kiu Lan melihat Siau Po bagaikan ragu-ragu, ia tidak bercuriga apa-apa hanya menerka pemuda itu merasa khawatir kalau usaha penyelidikannya nanti tidak mendatangkan hasil.
Maka ia berkata.
"Memang soal besar dan sulit, sedikit sekali harapan keberhasilannya, walaupun demikian, kita sudah cukup bekerja dan bersamasama! Dan pepatah pun bilang, manusia percaya, Tuhan berkuasa. sekarang sulit untuk memastikan Peruntungan keluarga Cu sudah akan habis sampai di sini atau masih ada harapannya bangkit dan maju pula! sebenarnya selama dua puluh tahun ini hatiku sudah tawar sekali, telah tekadku akan hidup menyendiri saja. Siapa tahu aku bertemu denganmu dan Hong Eng, hingga hatiku terbangun pula! Aku sudah berpikir tidak akan lagi memperhatikan soal negara, siapa tahu soal itu justru datang sendiri padaku!"
"Suhu,"
Kata sang murid.
"Suhulah pewaris kerajaan Beng. Negara ini telah dirampas orang, sudah selayaknya apabila suhu berupaya buat merampasnya kembali!"
Sang guru menghela napas.
"ltu bukan urusan keluargaku sendiri."
Ujar perempuan tua itu.
"ltu urusan bangsa Han seluruhnya! Namun sekarang ini hampir semua anggota keluargaku sudah habis.,,."
Ia mengusap-usap kepala muridnya sembari berpesan.
"Siau Po, kau ingat! jangan kau bicarakan urusan ini dengan kakak seperguruanmu, agar usaha kita tidak bocor!"
Siau Po mengangguk. Namun di dalam hatinya, ia berkata.
"Kakak seperguruan sangat cantik dan manis, entah kenapa agaknya suhu kurang menyukainya, Mungkin karena dia tidak dapat mendukung suhu...."
Lantas keesokan pagi Siau Po berangkat ke istana dan memasukinya, Bagi dirinya tak usah menyelundup masuk dengan diam-diam seperti yang diceritakan kepada gurunya, Bahkan ia dapat langsung menemukan raja, tak perlu pakai segala aturan.
"Mohon menghadap dahulu"
Seperti kebiasaan para menteri Kaisar Kong Hie girang bukan kepalang melihat si orang kebiri cilik yang berbareng menjadi sahabatnya itu. ia menarik tangan pemuda itu seraya berkata gembira.
"Ah, kau gila benar! Kenapa baru hari ini kau kembali? Kau tahu, setiap hari aku sangat berkhawatir kau nanti kena dibekuk bhikuni itu dan jiwa cilikmu nanti tak tertolong.... Baru kemarin dahulu aku dengar laporan dari To Liong bahwa dia telah melihatmu, maka seketika hati jadi lega, Bagaimanakah caranya kau meloloskan diri?"
Siau Po segera mengarang cerita yang seolah-olah dirinya seorang ahli. "Bhikuni jahat itu sangat murka terhadap hambamu ini."
Demikian mengasikkan keterangannya.
"Dia telah memukul dan menendangku berulang-ulang, Aku telah mengatakan tentang Giaw Sun Le Tung, bahwa baginda sangat bijaksana, Jadi sri baginda tidak dapat dibinasakan. Atas itu ia lantas mengucapkan banyak kata-kata yang tidak pantas! Asal aku membuka mulutku, dia menggaplok telingaku satu kali, hingga kemudian, supaya tidak menderita lelah, aku terus menutup mulutku, aku membungkam...."
"Percuma andaikata bhikuni itu membinasakanmu,"
Kata raja.
"Sebenarnya, siapakah dia? Apakah kau tahu asal-usulnya? siapakah yang memintanya masuk ke istana untuk mencoba melakukan pembunuhan atas diriku?"
"Semua itu karena kebijaksanaanku Sri Baginda!"
Siau Po memuji.
"Ketika baru-baru ini pihak keluarga Bhok datang mengacau istana, mereka memfitnah Gauw Sam Kui, orang percaya fitnahannya, Namun hanya sri baginda yang tahu rahasia itu dan cara memecahkannya, Sehingga, aku diutus baginda untuk bertemu puteranya Gauw Sam Kui guna menyampaikan berita, Dan pada saat itulah bertemu dengan She Yo."
Raja mengangguk.
"Kiranya demikian,"
Katanya.
"Orang She Yo itu bernama Ek Jie,"
Kata baginda.
"dia bicara dengan si bhikuni tentang keluarga Bhok, terutama perihal sri baginda, bahwa walaupun Sri Baginda masih berusia sangat muda, tetapi luas pengetahuannya melebihi Giaw Sam Le Thung, cerdas bagaikan malaikat turun dari bumi,"
"ltu pastilah Gauw Sam Kui si jahanam!"
Kata raja. Siau Po memperlihatkan roman terperanjat dan begitu heran.
"Oh kiranya Sri Baginda sudah mengetahuinya."
Gumamnya.
"Apakah To Liong yang memberitahukannya?"
"Bukan!"
Kata Raja, pemimpin pengawal barisan Gauw Sam Kui kenal bhikuni itu dan mereka berdua telah berbicara, Maka itu juga mana ada urusan baik yang mereka rundingkan."
Siau Po nampak terkejut, namun juga girang. Lekas-lekas dia berlutut dan mengangguk-angguk.
"Sri Baginda, hamba bekerja untuk Sri Baginda, sungguh hamba senang, Dengan begini segala usaha kita akan berhasil."
Bagian 53 Kaisar Kong Hie tertawa.
"Bangun! Bangun!"
Katanya.
"Dahulu di Ngo Tay san, aku telah menghadapi ancaman banyak sekali, jikalau tidak ada kau yang menolongi, pastilah...."
Tiba-tiba wajahnya kaisar tampak berubah menjadi bersungguh-sungguh.
"Pastilah maksud jahat pengkhianat itu bakal kesampaian!"
Raja itu menggigil sendirian ketika ingat ancaman bahaya itu.
Kong Hi tertawa bergelak, ia insaf hari itu kalau tidak Siau Po menghadang di depannya, dia pasti bakal mati di tangan si bhikuni, Dia senang sekali mendapat kenyataan kacung ini demikian setia berbareng tak termasuk akan jasa.
"Kau masih sangat muda tetapi pangkat mu sudah besar, Baik kau tunggu lagi beberapa tahun, akan aku naikkan pangkatmu lebih tinggi lagi...."
Siau Po menggeleng kepala.
"Hamba tidak berpikir menjadi orang pembesar yang berpangkat tinggi,"
Katanya merendah.
"Cukup asal hamba senantiasa dapat bekerja untuk Sri Baginda, supaya hamba tidak sampai menerbitkan kemurkaan Yang MuIia"
Kaisar menepuk bahu kacung itu.
"Bagus! Bagus! Nah, apalagi yang dibicarakan si orang She Yo dengan si bhikuni?"
"Yo Ek Jie tak bosan-bosannya memuji raja dan membicarakan kebijaksanaan raja, Dia menjelaskan pula bahwa Gauw telah melepas budi terhadap ayahnya, karenanya ia harus melindungi orang She Gauw guna membalas budi itu. Namun Gauw berminat ingin menjadi raja dan jikalau tidak berhasil maka ia dan keluarganya akan hancur dan mati kepalanya dipenggal... kemudian si bhikuni bilang bahwa anggota keluarganya sudah habis dibunuh oleh bangsa Tat.... Tat... oleh bangsa Boan Cu kita."
Kaisar mengangguk-angguk. Si kacung terus bercerita.
"Yo Ek Jie bilang juga halnya si Baginda sangat baik dan bijaksana terhadap rakyat... maka apabila sri baginda sampai dibikin celaka ada Gauw Sam Kui naik tahta kerajaan, ia bakal menjadi menteri atau panglima perang akan tetapi rakyat pastilah akan menderita. Bhikuni itu berhati lemah, Setelah sekian lama, dia membenarkan kata-kata orang She Yo itu, lalu selanjutnya dia berkata tak akan mencoba membunuh sri baginda, Dan orang itu mendapat kecocokan apabila Gauw Sam yang naik tahta maka negeri itu akan dibagi dua."
Kaisar Kong Hie bangun berdiri "Oh, kiranya si pengkhianat bersekongkol dengan pengkhianat dari Taiwan itu!"
"Sebenarnya,"
Siau Po tanya.
"Orang She The Taiwan itu, dia kura-kura apakah?"
"Pemberontak She The di Taiwan itu tidak mau tunduk kepadaku!"
Kata raja.
"Karena dia berada di dalam pulau yang jauh dari tanah daratan, agak sulit untuk menghukumnya...."
"Kiranya demikian!"
Kata si kacung, Ketika itu semakin mendengar kuping hamba makin panas!
Pikir saya negara ini milik baginda.,, lantas dua orang itu mahluk-mahluk apa sebenarnya, Bagaimana mereka hendak membagi negara di antara mereka berdua?
Dan She The telah mengutus puteranya yang kedua bernama The....
The Kek...."
"The Kek Song!"
Raja melanjutkan.
"Ya!"
Tampak Siau Po berduka cita.
"Ya, segalanya Sri Baginda telah mengetahuinya!"
Katanya.
Raja tersenyum, dia tidak mengatakan sesuatu, sebenarnya raja telah beberapa tahun berpikir bagaimana caranya menyerang Taiwan, guna merampasnya agar pulau itu termasuk di dalam wilayahnya, Sudah lama dia ingin tahu tentang keluarga She The itu perihal kekuatannya dan angkatan bersenjatanya serta keadaan di pesisir lautan.
"The Kek Song itu,"
Kata Siau Po memberitahukan.
"Sekarang ini dia telah pergi ke wilayah In Lam dengan Gauw Sam pernah bicara selama setengah bulan...."
Wajah raja berubah mendengar keterangan si kacung.
"Oh, ada terjadi demikian?"
Tanyanya, Raja terkejut karena Taiwan dan In Lam ada hubungan justru dua daerah itu yang membuatnya pusing dan sekarang kedua daerah itu sudah terjadi persengkongkolan, pasti kekuatan mereka akan berakibat buruk bagi pemerintahannya, ia pun baru tahu The Kek Song telah pergi ke In Lam.
Siau Po lalu melanjutkan "Di Taiwan ada orang keluarga She The ilmu silatnya aduhai, Orang itu mengikuti The Kek Song, yang terus mengawatnya.
Dia She Phang dan julukannya entah apa, It Kiam Tjut Hiat.
Sengaja kacung menjual mahal supaya raja semakin percaya padanya, BegituIah gelarannya Sek Hoan, It Kiam Bu Hiat, pedang tanpa darah, dia rubah menjadi Kiam Tjut Hiat, pedang mengeluarkan darah....
"Dialah It Kiam Bu Hiat Phang Sek Hoan!"
Kata raja.
"Dialah yang bersama-sama Lau Kok Hian dan Teng Eng Hoa, tiga harimau dari Taiwan."
Mendengar gurunya disebut raja maka si kacung kaget, tetapi ia memaksakan diri tertawa dan berkata.
"Benar-benar dialah It Kiam Bu Hiat Phang Sek Hoan! Menurut katanya Yo Ek Jie ada di antara ketiga harimau dari Taiwan itu. Tang Eng Hoa adalah orang baik-baik dan yang lainnya adalah orang-orang busuk, Tang Eng Hoa tidak suka jadi pengkhianat atau pemberontak tapi karena dialah seekor harimau, dan dia kalah dengan dua harimau yang lainnya itu...!"
Sengaja Siau Po bicara, baik mengenai Kui Lan, Yo Ek Jie, maupun Tan Kim Lan. Agar andaikata mereka itu kena tertawan tidak sampai kena hukuman mati atau kalau ada kesempatan mudah untuk menolongnya.
"Kau bilang Phang Sek Hoan pergi ke In Lam?"
Tanya raja.
"ltulah kata Yo Ek Jie kepada si bhikuni,"
Sahut si kacung.
"Syukur mereka tidak berembuk untuk menyerang Sri Baginda Raja, maka itu hamba tidak terlalu memperhatikannya, Hamba tidur kepulasan hingga hamba tidak begitu mengetahuinya apa tindakan selanjutnya yang mereka bicarakan Dan diam-diam hamba dibangunkan."
Raja mengangguk "Demikian adanya orang She Yo itu baik hati-nya,"
Katanya.
"Maka itu apabila Sri Baginda berhasil membekuknya tolong sri baginda bersikap murah hati sehingga dia mendapat ampun...."
"Jikalau saja ia berbuat jasa, tidak hanya aku ampuni saja tapi aku akan memberikan hadiah besar! Nah dalam rapat apa saja yang kau dengar?"
"Di dalam rapat itu, setiap propinsi akan terdapat ketua yang disebut buncu, bahkan kalau tidak keliru, ketiga propinsi Kwletang, Tilatkang dan Siamsay rupanya termasuk juga dalam wilayahnya. Kaisar Kong Hie tersenyum. Lantas ia menggendong tangan dan berjalan mondar-mandir, Siau Po terkejut. inilah pertanyaan di luar terkanya di mana raja bilang.
"Siau Kui Cu, kau berani dan tidak pergi ke In Lam?"
"Apakah Sri Baginda menugaskan hamba pergi ke sana untuk menyelidiki situasi di sana?"
Raja mengangguk.
"Tugas ini berbahaya buatmu, akan tetapi kau masih kecil, tentulah mereka tidak mencurigaimu."
"Benar Sri Baginda! Hamba bukannya takut ke In Lam hanya baru saja hamba puIang, belum beberapa hari, hamba mesti pergi puIa, inilah yang membuat hamba tidak puas...."
Kaisar mengangguk "Benar!"
Katanya.
"Aku pun merasa kangen seperti kau. Namun aku menjadi seperti raja tak dapat aku menuruti kehendak hati, aku harus ingat urusan negara. sayangnya aku sebagai raja tidak sembarang meninggalkan kotaraja, jikalau tidak, tentulah kita akan berdua pergi ke sana, kita akan menjambret kumis-kumisnya, Kau memegang tangan mereka dan bertanya menyerah atau tidak? Bukankah itu menarik hati?"
Siau Po tertawa.
"Memang itu bagus, namun Sri Baginda tidak dapat ke In Lam, maka baiklah hamba yang memancingnya datang ke kotaraja, Di sini Sri Baginda dapat membetot kumis dan janggut-janggut mereka! Tidakkah ini bagus?"
Kaisar tertawa tergelak.
"Memang bagus!"
Katanya.
"Cuma aku khawatir karena ia sangat licik dan tentunya pengkhianat itu tak akan curigai"
Memang raja sangat benci dan ingin menaklukkan Gauw Sam Kui walau dengan cara apa pun, dan kali ini menggunakan adiknya sendiri Sebenarnya raja sangat sayang pada adiknya itu.
Namun sewaktu mengetahui bahwa ibu suri itu palsu dan telah menyengsarakan ibunya, maka ia lalu membenci ibu suri itu dan juga anaknya yang sekarang akan dinikahkan.
Siau Po lalu memberikan keterangan pada raja tentang keberadaan ibu suri itu dan ia pun menerangkan ibu suri yang asli kini berada dalam tahanan.
itu atas perintah yang palsu.
Sekian lama raja hanya bisa melongo saja, mendengarkan keterangan Siau Po.
Setelah dapat menenangkan hatinya barulah ia sadar.
"Kau tahu dari mana hal ini?"
Baca Juga: Lembah Selaksa Bunga Kho Ping Hoo
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 22