Ceritasilat Novel Online

Kaki Tiga Menjangan 12

Eps 12 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.

Walaupun Jiang chi seorang lhama dari Tibet, tapi dia berbicara bahasa Tionghoa dengan aksen Pe King.

Kata-katanya jelas dan lancar.

Gerak-geriknya pun sabar dan halus, Coba dia tidak mengenakan baju jubah kuning, orang pasti mengira dia penduduk Pe King dari kalangan atas.

"Pujian itu terlalu tinggi, tidak pantas kami menerimanya."

Kata Hui Cong merendah "Sebaliknya kami mengagumi Mongolia, Tibet dan In Lam.

Di ketiga tempat itu, umat Buddha hidup rukun, maju dan subur.

Mengingat pangeran bertiga telah menerima sinar terang dari Sang Buddha, kami justru ingin memohon petunjuknya."

Hwesio ini pandai membawa diri.

Ketika si lhama membicarakan ilmu silat, dia mengalihkan kepada agama Buddha, Dia memang berpegang pada pokok tujuan Siau Lim Sie yang mengutamakan agama, sedangkan ilmu silat hanya merupakan sarana untuk menyehatkan tubuh dan membela diri.

Kemudian terdengar pangeran Kaerltan berkata.

"Siau Lim Sie mempunyai tujuh puluh dua macam ilmu silat yang telah menggetarkan dunia persilatan. Boleh dikatakan sudah tidak ada tandingannya, Karena itu, dapatkah kiranya Hong Tio meminta beberapa Kho Ceng menunjukkan kepandaiannya agar kami dapat membuka mata?"

"Yang Mulia,"

Kata Hui Cong tetap dengan nada merendah "Harap Hong tio ketahui, tentang ilmu silat partai kami, apa yang tersiar di luaran hanya berlebihan, tidak perlu dijadikan perhatian Yang benar, kami para pendeta hanya mmepelajari dan mendalami agama, untuk mencari kebenaran dan mencapai kesempurnaan hidup, Memang ada beberapa diantara kami yang belajar ilmu silat, tapi tujuannya hanya untuk membela diri dan menjaga kesehatan pelajarannya sendiri tidak layak mendapat penghargaan...."

"Aih! Hong Tio, ternyata kau kurang berterus terang!"

Kata sang pangeran "Tunjukkan saja ke-tujuh puluh dua macam ilmu silat partai kalian itu, kami pun tak lebih tak kurang hanya ingin melihatnya saja, Bukankah kami tidak mungkin mencuri mempelajarinya?

Mengapa pandangan Hong tio demikian picik?"

Kejadian seperti ini sudah sering dialami oleh pihak Siau Lim Sie.

Bahkan sudah sejak seribu tahun yang lalu, Masalahnya nama kuil yang satu ini terlalu terkenal Ada yang datang dengan kesungguhan hati untuk belajar, tapi tidak jarang juga yang sengaja mencari gara-gara.

Biasanya permintaan itu ditampik dengan cara halus serta ramah tamah.

Sekalipun orang yang kasar, mereka juga menghadapinya dengan sabar.

Kalau sampai ada yang melakukan kekerasan, pihak Siau Lim Sie baru mengambil tindakan Begitu pula nada bicara sang pangeran, Hui Cong sudah biasa mendengarnya, karena itu dia hanya tersenyum dan berkata.

"Pangeran Yang Mulia, kalau kedatangan kalian ini untuk membicarakan urusan agama, maka lolap akan menghimpun seluruh murid untuk merundingkannya bersamasama."

Katanya.

"Tapi tidak demikian halnya kalau yang ingin dibicarakan itu soal ilmu silat, Ada peraturan yang harus ditaati dalam kuil kami, yakni tidak boleh menunjukkan ilmu silat di hadapan para tamu yang terhormat."

"Kalau begitu, nama besar Siau Lim Sie ternyata hanya kosong belaka."

Kata si pangeran dengan suara keras.

"Dengan demikian juga, ilmu silat Siau Lim Sie tidak lebih dari angin busuk."

Hui Cong tertawa.

"Manusia hidup di dunia, sebetulnya memang hanya menyandang nama kosong."

Katanya.

"Jadi ucapan Yang Mulia memang tepat sekali. Nama besar tidak bedanya dengan angin busuk, tidak berharga sepeser pun. Nama hanya merupakan benda di luar tubuh sesuatu, jadi ucapan pangeran memang benar sekali."

Kaerltan terdiam. Dia tidak menyangka hwesio tua ini demikian sabar, Dia berdiri, untuk sesaat dia masih berdiam diri. Kemudian dia menunjuk kepada Siau Po sambil bertanya dengan suara lantang.

"Eh, hwesio cilik, apakah kau juga mirip dengan angin busuk anjing dan tidak berharga sepeser pun?"

Di luar dugaannya, Siau Po justru tertawa geli, dengan gembira dia memberikan jawabannya.

"Yang Mulia, dapat dipastikan kalau Yang Mulia masih menang jauh dibandingkan aku, si hwesio cilik ini. Siau Ceng tidak mirip dengan angin busuk anjing dan tidak berharga sepeser pun. sedangkan yang Mulia justru mirip dengan angin busuk anjing dan berharga satu tail. Pokoknya, Yang Mulia masih menang satu tingkat."

Mendengar jawabannya, beberapa hadirin langsung tertawa terbahak-bahak.

Bukan main panasnya hati pangeran Kaerltan, Hampir saja dia maju dan menyerang si hwesio cilik, untung saja dia masih sadar dengan kedudukannya.

-Hwesio ini masih kecil tapi kedudukannya tinggi, mungkin ada sesuatu yang aneh pada dirinya....

Siapa tahu?

-, pikirnya dalam hati.

Karena itu dia menahan kemarahannya.

"Yang Mulia, harap Yang Mulia jangan gusar,"

Kata Siau Po yang dapat melihat gerak gerik orang.

"Perlu diketahui bahwa di dunia ini yang busuk bukan hanya kentut anjing saja tetapi kata-kata manusianya juga. Ada sebagian orang, kalau dia berbicara, angin busuknya terpancar sampai ke atas langit sehingga baunya mirip... mirip.... Ah! sebaiknya tidak usah kukatakan Lagi pula, kalau tidak berharga sepeser pun, itu toh bukan nilai yang paling rendah, Manusia yang rendah justru orang yang hutangnya mencapai laksaan tail tapi tidak sudi membayar satu tail pun, Mengenai Yang MuIia sendiri, apakah Yang Mutia pernah berhutang kepada orang lain atau tidak, tentu hanya Yang Mulia sendiri yang mengetahuinya."

Kaerltan terbungkam, dia tertegun sehingga untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Siau Po.

"Kata-kata Sute benar sekaIi. Artinya pun sangat dalam."

Sambung Hui Cong.

"Lolap benar-benar merasa kagum, Manusia yang hidup di dunia semua sudah ada karmanya, perbuatan manusia terdiri dari sebab dan akibat. Siapa yang berbuat jahat, kejahatan pulalah yang akan diterimanya, itulah yang dikatakan tidak berharga sepeser pun, Yang lebih baik, kalau seseorang itu tidak berbuat kejahatan, tidak bersikap terlalu mulia dan juga tidak berhutang."

"Ya, Susiok Hui Beng memang sangat cerdas,"

Kata Teng Koan yang ikut memuji Siau Po.

Wajah Kaerltan menjadi merah padam.

Dia mengira rombongan hwesio itu sudah sepakat untuk mempermainkan dan menyindirnya.

Tiba-tiba dia melompat maju ke arah Siau Po dan menerjangnya, jarak diantara mereka berdua kira-kira satu tombak.

Si pangeran mengulurkan kedua tangannya, Yang satu untuk menyambar wajahnya dan yang satunya lagi untuk mencengkeram dadanya.

Terlambat sudah rasa terkejut Siau Po.

Tidak sempat dia membela diri atau menghindarkan serangan tersebut.

Hui Cong dapat menyaksikan kejadian yang berlangsung di depan matanya.

Dengan gesit dia mengibaskan lengan bajunya sehingga serangan si pangeran sempat terhalang bahkan orangnya sendiri merasa nafasnya sesak serta darah dalam tubuhnya bergolak.

Mula-mula dia terhuyung-huyung kemudian menyurut mundur tiga langkah, dia memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, tapi ternyata dia terhuyung-huyung kembali lalu mundur lagi tiga tindak, dan akhirnya jatuh terduduk.

-Celaka!

--serunya dalam hati, -Aku bisa mendapat malu besar!

--Tetapi ternyata dia jatuh terduduk di kursinya sendiri.

"Bagus!"

Seru orang banyak.

Lega juga hati pangeran itu.

Dia tidak perlu mendapat malu besar.

Dia juga merasa senang ketika menyalurkan pernafasan dan mendapat kenyataan dirinya tidak terluka sedikit pun.

Siau Po sendiri masih bingung menghadapi kenyataan itu.

Hui Cong menoleh dan berkata kepadanya.

"Sute, semangatmu bagus sekali, hatimu kukuh tidak tergoyahkan! Kau bisa bersikap tenang meskipun ada bahaya yang mengancam. Kau juga cerdas sekali."

Kaerltan panas sekali mendengar tuan rumah memuji adik seperguruannya, Dia menoleh ke belakang dan mengeluarkan seruan yang berupa perintah, beberapa pengawal di belakangnya langsung menggerakkan tangan masing-masing sehingga terlihatlah sinar kuning berkelebatan bagaikan kilat datang menyambar.

Ternyata itulah senjata rahasia Kim Ci piau atau senjata rahasia uang emas yang meluncur ke arah Hui Cong, Teng Koan dan Siau Po.

sasarannya dada ketiga hwesio tersebut.

Karena jarak mereka sangat dekat, maka serangan itu dahsyat sekali, Apalagi Kaerltan bicara dengan bahasanya sendiri sehingga mereka tidak tahu apa artinya.

Yang jelas senjata-senjata rahasia itu meluncur tepat kepada sasarannya.

"Aduh!"

Terdengar Hui Cong, Teng Koan berseru, tapi sang ketua sempat mengibaskan tangannya seperti tadi.

Dia menggunakan ilmu Poa Lap Kong (llmu Jubah Rombeng).

Dengan demikian, tiga buah Kim Ci piau yang meluncur ke arahnya dapat dihalangi sehingga dadanya tidak terluka.

Teng Koan menggunakan cara yang lain.

Dia menyambut ketiga buah senjata rahasia itu dengan jurus Keng Le Sam Po (Membalas penghormatan tiga mustika).

Caranya ialah dengan menggerakkan tangannya menangkap senjata rahasia tersebut Yang hebat justru ketiga buah Kim Ci piau yang meluncur ke arah Siau Po.

Selain tidak bersiaga, kepandaiannya juga masih cetek, sehingga tanpa ampun lagi ketiga buah senjata rahasia itu tepat mengenai dadanya, Dia pun menjerit seketika.

Meskipun demikian, hwesio cilik ini tidak roboh atau terluka, Yang jatuh justru ketiga buah senjata rahasia tersebut.

Hal ini karena dia mengenakan baju mustikanya.

Para tamu menjadi tertegun saking herannya.

Di luar dugaan, seorang hwesio cilik saja sudah menunjukkan ketangguhannya, Mereka mengira Siau Po menguasai salah satu ilmu istimewa dari Siau Lim Pai yakni ilmu kebal yang dinamakan Kim Kong Hu Te Sin Kang.

Zang Chi lama tertawa dan berkata.

"Kho Ceng kecil ini sungguh lihay! Tidak mudah melatih ilmu Kim Kong Hu Te Sin Kang sampai taraf ini. Namun ilmu yang satu"

Ini juga ada kelemahannya, yakni tidak sanggup mengelakkan diri dari serangan senjata rahasia, hal ini terbukti dari jubahnya yang bolong di sana sini.

" --Tidak heran hwesio yang masih kecil sudah menyandang huruf Hui, --pikir beberapa orang tamu. -pantas kedudukannya bisa seimbang dengan sang ketua, Ternyata dia memang lihay! -Sebenarnya, walaupun tidak terluka, Siau Po merasa kesakitan juga, serangan itu cukup hebat Tapi karena dia memang keras kepala dan dapat menahan diri, dia tidak meringis atau menjerit, justru dia mengembangkan senyuman yang manis. Karena itulah, dia lebih menjadi perhatian ketimbang Hui Cong atau pun Teng Koan. Sebetulnya Kaerltan gusar sekali, tapi melihat hwesio cilik itu benar-benar lihay, kemarahannya langsung buyar. Diam-diam dia berkata dalam hatinya. -Ternyata ilmu Siau Lim Pai memang hebat! -"Sekarang kami telah melihat ilmu Siau Lim Pai yang ternyata hebat dan tidak dapat disamakan dengan angin busuk seekor anjing, Tapi, kabarnya di dalam kuil kalian tersimpan seorang wanita, hal ini tidak pantas dan melanggar peraturan..."

Kata Zang Chi pula. Mendengar kata-kata itu, wajah Hui Cong langsung berubah dingin.

"Kata-katamu keliru sekali, bapak lhama besar! Wihara kami bahkan tidak menerima tamu wanita yang ingin bersembahyang sekalipun Darimana datangnya sumber berita yang tidak dapat dipercaya itu?"

Katanya dengan nada penuh wibawa. Zang Chi tertawa dan berkata pula.

"Berita itu sudah tersebar luas di dalam dunia Kangouw dan semua orang mengetahuinya."

Hui Cong tersenyum.

"Berita yang tersiar dalam dunia Kangouw tidak usah dihiraukan!"

Katanya.

"Paling bagus seperti Sute Hui Beng, hatinya tidak tergerak oleh apa pun yang datang dari luar, Dia sudah memperoleh keinsyafan."

Agaknya Zang Chi masih penasaran, dia berkata lagi.

"Kabarnya Kho Ceng kecil ini menyimpan wanita yang sangat cantik di dalam kamarnya. Menurut berita yang kami dapatkan, dia sengaja menculik wanita itu, Kalau benar demikian, mungkinkah hati Kho ceng kecil ini tidak tergiur melihat kecantikannya?"

Siau Po terkejut setengah mati mendengar kata-kata orang itu.

--Bagaimana mereka bisa tahu aku menyimpan seorang wanita?

Tanyanya dalam hati, Dia jadi berpikir lagi.

-Ah!

Aku tahu sekarang!

Berita ini tersiar pasti karena kaburnya si nona berbaju biru, Dia tentu pergi menemui gurunya dan membeberkan kejadian ini.

Malah ada kemungkinan orang-orang ini datang ke mari karena diminta bantuannya oleh si nona berbaju biru tua.

Benarkah kedatangan mereka kemari untuk menolong calon istriku itu?

Tapi sekarang istriku sudah kabur, Rupanya dia tidak bertemu dengan orang-orang dari rombongan ini.

Karena si nona berbaju hijau itu sudah melarikan diri, meskipun terkejut, tapi Siau Po tidak takut.

Setelah mendengar kata-kata si lhama dari Tibet, dia pun tersenyum dan berkata.

"Apakah di kamarku ada wanita cantik atau tidak, tentu kalian dapat mengetahuinya setelah melihat sendiri Para tamu yang terhormat kalau kalian mempunyai kegembiraan untuk melongoknya, silahkan!"

"Baik!"

Seru Kaerltan.

"Mari kita periksa ke sana untuk mendapatkan kepastian!"

Selesai berkata, pangeran ini langsung berdiri dan mengulapkan tangannya.

"Geledah kuil ini!"

Perintah itu langsung saja dilaksanakan oleh anak buah pangeran itu, mereka segera bergerak menuju ruang belakang wihara tersebut "Yang MuIia, sabar dulu!"

Kata Hui Cong.

"Yang MuIia hendak menggeledah kuil kami, entah atas perintah siapakah?"

"Sudah tentu perintahku sendiri."

Sahut si pangeran "Mengapa harus menunggu perintah orang lain?"

"Kalau begitu, pangeran telah berbuat kekeliruan."

Kata Hui Cong sabar "Yang MuIia seorang pangeran dari Mongolia, Kalau Yang MuIia sekarang berada di MongoIia, tentu Yang MuIia boleh berbuat sesuka hati, Tapi di sini bukan wilayah Mongolia, karena itu bukan hak Yang Mulia untuk mengurus persoalan Siau Lim Sie.

Yang Mulia tidak mempunyai wewenang itu."

Kaerltan segera menunjuk kepada Ma Cong Peng.

"Kalau begitu, biar dia saja yang melakukan penggeledahan."

Katanya.

"Dia orang dari pemerintahanmu, karenanya dia berhak melakukan penggeledahan."

Pangeran ini tidak berani sembrono, jumlah orangnya kecil, dia khawatir, kalau harus menggunakan kekerasan, mungkin pihaknya akan kalah, Para hwesio Siau Lim Sie rata-rata berkepandaian tinggi dan jumlahnya juga banyak sekali.

Karena itu dia segera menambahkan "Kalau kalian membangkang terhadap perintah seorang pembesar negeri, maka berarti kalian semua dapat disebut sebagai pemberontak."

"Menentang perintah pemerintah kami tidak berani."

Kata Hui Cong pula, Tapi Bapak pembesar ini merupakan bawahan Peng Si Ong yang berkuasa di In Lam. Meskipun sebagai seorang Raja muda, kuasanya besar sekali, namun tidak mencakup wilayah Hu Lam ini."

Zang Chi tertawa.

"Bukankah pendeta kecil ini sudah mengijinkan adanya penggeledahan? Mengapa Hong Tio sendiri menolaknya? Apakah nona cantik itu bukan disembunyikan dalam kamar si hwesio cilik ini tapi ada di dalam kamar Hong Tio sendiri?"

Hui Cong segera memuji Sang Buddha berulang-ulang.

"Dosa! Dosa!"

Katanya.

"Taysu, mengapa kau sampai mengeluarkan kata-kata seperti itu?"

Baru saja selesai Hui Cong berkata, dari belakang Kaerltan terdengar suara seorang wanita yang berseru dengan lantang.

"Yang MuIia, memang benar adik perempuanku telah ditawan oleh si hwesio cilik itu.

Lekas suruh mereka serahkan adikku itu!

Kalau tidak, aku tidak mau mengerti, aku akan membakar ludes kuil ini."

Suara yang datangnya tiba-tiba itu membuat semua orang menjadi terkejut, lebihlebih pihak Siau Lim Sie, Yang lebih aneh, suara yang terdengar itu suara seorang wanita, sedangkan orangnya laki-laki berwajah kuning dan berewokan.

Hanya Siau Po seorang yang segera mengenali bahwa laki-Iaki itu samaran si nona berbaju biru, Nona itu memulas wajahnya dengan lilin kuning dan memakai kumis serta cambang palsu.

Rupanya dia datang secara diam-diam sehingga tidak ada orang yang memperhatikannya, sebaliknya dari khawatir, Siau Po justru senang sekali, Dia berkata dalam hati.

Selama beberapa hari ini aku terus bersedih, sampai she dan nama istriku sendiri saja, aku tidak mengetahuinya, sedangkan aku pun bingung ke mana harus mencarinya, Siapa tahu dia ada di dalam rombongan orang-orang MongoIia ini.

Tidak bisa tidak, pokoknya hari ini aku tidak akan membiarkannya lolos lagi.

Hui Cong juga segera mengenali si nona yang menyamar ini.

Maka dia langsung berkata.

"Oh, nona! Kiranya kaulah yang kemarin ini datang melakukan penyerangan ke kuil kami sehingga ada beberapa muridku yang terluka, memang ada seorang kawanmu yang berdiam di kuil kami untuk diobati lukanya, tapi dia sudah pergi lagi, bukankah dia pergi bersama-samamu?"

"Kebenaran itu hanya sebagian."

Bantah si nona. suaranya keras karena dia memang marah sekali.

"Akan tetapi kemudian adikku telah ditawan oleh si hwesio cilik itu. Dalam hal ini dia dibantu pula oleh si hwesio tua."

Nona itu langsung menuding kepada Teng Koan, Siau Po jadi terkejut setengah mati.

-Celaka!

--, pikirnya dalam hati, -Teng Koan tidak pandai berdusta, ini berbahaya sekali!

Bagaimana kalau rahasiaku sampai terbongkar?

--, karenanya Siau Po jadi kebingungan otaknya langsung berputar keras.

Si nona yang sedang menuding kepada Teng Koan berkata lagi dengan suara keras.

"Eh, hwesio tua! Bicaralah! Ayo bicara! Benar atau tidak apa yang kukatakan barusan?"

Teng Koan merangkapkan sepasang tangannya, dia tidak menjawab, tapi malah balik bertanya.

"Nona, ke manakah perginya adik nona itu? Aku harap sudilah kiranya kau memberitahukan kepada kami! Paman guruku ini telah terluka olehnya, bahkan masih ada sisa racun jahatnya yang mengendap dalam tubuh paman guruku ini. Oh, Li sicu,., sukalah kau bermurah hati, cepat kau cari adikmu dan minta obat darinya! Dalam hal ini, paman guruku pasti tidak akan menyalahkannya."

Kata-kata ketua Poan Jiak Tong ini bagus sekali, Secara tidak langsung dia mengakui bahwa nona itu pernah ada dalam kuilnya tapi sekarang sudah pergi lagi, bahkan dia telah melukai paman gurunya dan meninggalkan racun dalam tubuhnya yang bisa mengancam keselamatan jiwanya.

Semua mata diarahkan kepada Teng Koan, Melihat wajahnya yang lugu serta polos, orang-orang yang hadir dalam ruangan itu langsung mempercayai kata-katanya.

Bahkan pihak si pangeran pun jadi berpikir.

-Kuil ini demikian besar dan luas, kamarnya saja ada ratusan.

Pasti sukar untuk menggeledahnya satu per satu, Mungkin kita memerlukan waktu yang lama untuk melakukannya, Lagipula, hwesio tua itu telah menerangkan dengan jelas, seandainya kami tetap menggeledah mana mungkin wanita itu bisa ditemukan?

Bukankah dia telah pergi?

Seandainya kami memaksakan diri lalu tidak berhasil menemukan apa-apa, bukankah kami akan menderita malu yang besar sekali?

Si nona yang sedang menyamar tetap tidak mau mengerti.

"Sudah terang adikku ditawan dan dibawa masuk ke dalam kuil ini, Kalau dia sampai hilang, kemungkinan besar kalian telah mencelakainya, Kalian para hwesio yang mendurhaka terhadap Thian yang maha Kuasa, Kalau kalian melenyapkan adikku itu, memang tidak ada buktinya lagi,..."

Ketika mengucapkan kata-katanya yang terakhir suara si gadis bergetar, pertanda hatinya gundah sekali.

"lya, memang benar"

Tukas Kaerltan sembari menganggukkan kepalanya, Sejak tadi dia memang diam saja.

"Hwesio cilik itu... pasti bukan orang baik-baik."

Si nona berhenti menangis, Dia menuding kepada Siau Po.

"Kau... kau memang manusia busuk!"

Makinya.

"Tempo hari, ketika berada di rumah pelesiran, kau bergaul dengan segala pelacur, setelah melihat kecantikan adikku, kau langsung berubah pikiran, kau berusaha bermain gila dengan adikku itu, Tentu adikku itu tidak sudi melayanimu sehingga kau membunuhnya. Ke rumah hina saja kau pergi, perbuatan apalagi yang tidak berani kau lakukan?"

Hui Cong mendengar dengan jelas setiap patah kata yang dikatakan gadis itu.

Dalam hati dia tertawa.

--Mana mungkin!

--katanya dalam hati.

Teng Koan lebih-lebih tidak percaya kata-kata si nona, Dia melihat sendiri si paman guru bersungguh-sungguh menjadi hwesio, Apaiagi paman guru itu mewakili kaisar.

Bukankah dia masuk menjadi hwesio secara sah dan resmi?

Sejauh ini, dia pun tidak pernah melihat tindakan yang menyeIeweng dari paman gurunya itu.

Sementara itu, Siau Po masih kebingungan.

Hebat sekali caci maki si nona, Di saat yang genting itu, tiba-tiba seseorang muncul dari belakang, Ma Cong Peng dan merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada si nona sembari berkata "Ji kounio, hamba tahu sekali bahwa bapak guru kecil ini sangat taat beragama, patuh kepada peraturan dan pantangan Kalau dikatakan beliau pernah main gila di rumah hina, hamba...

hamba khawatir telah terjadi kekeliruan."

Semua orang segera menoleh dan mengawasi orang yang berbicara itu, Saat itu Siau Po sudah mengenalinya, Orang itu ialah Yo Ek Jie yang pernah ditemuinya di Kota raja.

Ketika itu Yo Ek Jie mengawal Go Eng Him dan Siau Po sempat berkawan dengannya, Rupanya, setelah Eng Him kembali ke In Lam, Ek Jie kembali lagi mengiringi Ma Cong Peng.

Sejak tadi dia selalu berada di belakang pembesar negeri itu sehingga tidak dapat melihat dengan jelas siapa hwesio cilik yang sedang diajak berbicara itu.

Si nona gusar sekali kepada orang yang ikut campur dalam urusannya itu.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Tanyanya dengan keras.

"Tidak mungkin kau kenal dengannya."

Yo Ek Jie bersikap hormat sekali ketika menjawab pertanyaannya.

"Hamba kenal dengan sian su muda ini, Bahkan Sicu hamba juga kenal dengannya, Terhadap istana kami, sian su ini sudah menanamkan budi yang besar, Sebelum menyucikan diri Siau Su ini adalah seorang Kong Kong dalam istana Sri Baginda. Karena itulah hamba berani mengatakan bahwa tuduhan ke rumah hina itu atau memaksa Sam kounio (nona ketiga) pasti bukan kenyataan Ji kounio, hamba harap sudilah kiranya Ji kounio mengerti."

Hampir semua hadirin mengeluarkan seruan tertahan Mereka pun jadi tertegun Diam-diam mereka berpikir.

--Kalau dia benar seorang thay-kam, tentu tidak mungkin dia pergi ke rumah hina, lebih-Iebih tidak mungkin menyembunyikan seorang wanita di dalam kamarnya untuk diperkosa -Nona itu melihat wajah para hadirin, dia menjadi mendongkol jelas orang-orang itu tidak mempercayai keterangannya lagi, Dia toh tidak sembarangan menuduh?

Karena itu, dengan sengit dia membentak.

"Bagaimana kau tahu dia seorang thay-kam? Kalau dia benar seorang kebiri, mengapa dia mengatakan kepadaku bahwa dia ingin menikahi adikku? Dan bukan hanya si hwesio cilik itu saja yang ceriwis, si hwesio tua pun pandai menggoyangkan lidahnya, Dan mau menang sendiri."

Sembari berkata, si nona menuding lagi kepada Teng Koan.

Mata para hadirin pun beralih lagi kepada Teng Koan Hwesio itu sudah berusia delapan puluhan tahun, wajahnya welas asih, gerak-geriknya halus, bahkan tampangnya ketolol-tololan.

Sedangkan, barusan mereka semua mendengar katakatanya juga kurang lancar, bicaranya agak gugup.

Karena itu, mana ada orang yang percaya kalau dia pandai memutar lidah?

sebagian besar dari mereka langsung merasa menyesal telah mengikuti permintaan si nona dengan mendatangi kuil ini.

Sementara itu, terdengar Yo Ek Jie berkata kembali "Ji kounio, kounio tentu belum tahu siapa sian su kecil ini sebenarnya.

Sebelum menjadi hwesio, dia mempunyai nama yang besar sekali.

Dialah Kui Kong Kong yang telah berhasil membunuh Go Pay si menteri durhaka.

Ongya kami telah termakan fitnah orang, untung ada sian su kecil ini yang sudi berbicara dan menjelaskan semuanya di hadapan Sri Baginda, kalau tidak, mungkin seluruh keluarga Ongya kami bisa mati penasaran Budi yang besar ini masih belum terbalaskan oleh kami sampai saat ini."

Para hadirin semuanya sudah pernah mendengar prihal kematian menteri Go Pay di tangan seorang thay-kam cilik, Semua orang juga tahu, Kui Kong Kong atau thay-kam cilik itu sangat disayangi raja.

Karena itu, ketika mendengar penjelasan Yo Ek Jie kembali mereka mengeluarkan seruan tertahan Mereka menjadi kagum sekali.

Sementara itu, bukan main leganya hati Siau Po.

Dia segera menghampiri Yo Ek Jie.

Sembari tertawa dia berkata.

"Saudara Yo, sudah lama sekali kita tidak bertemu Bagaimana kabarnya Sicu kalian di In Lam? Apakah beliau baik-baik saja? Aih! Saudara, untuk apa kau ungkit lagi peristiwa yang telah lalu?"

Meskipun Yo Ek Jie mengikuti Ma Cong Peng mendaki bukit Siau Sit san tersebut, tapi selain orang-orangnya Peng Si Onghu sendiri, baik pengikut si pangeran maupun para lhama tidak ada yang mengetahui namanya.

Karena itu, begitu mendengar Siau Po memanggilnya dengan sebutan "Saudara Yo,"

Mereka langsung percaya bahwa kedua orang itu memang saling mengenal. Mendengar sapaan Siau Po itu, Yo Ek Jie langsung tersenyum.

"Sian su baik sekali"

Kata nya.

"Sian su menyebut hal itu sebagai peritiwa kecil tapi Sicu kami justru sangat berterima kasih, Memang Sri Baginda sangat bijaksana dan pandai membedakan hitam serta putih, tapi kalau waktu itu sian su tidak menjelaskannya, pasti ongya kami akan mendapat banyak kesulitan sebelum semuanya menjadi terang."

"Ah, kau cuma memuji, saudara Yo!"

Kata Siau Po.

"Yang benar, ongya kalianlah yang terlalu sungkan."

Meskipun di mulutnya Siau Po berkata demikian, tapi di dalam hatinya dia justru mendumel.

-Aku menyesal tidak berhasil merobohkan ongya kamu itu.

sebenarnya Sri Baginda memang cerdas sekali dan telah tahu semuanya dengan jelas.

sedangkan aku hanya mengikuti arusnya saja, Namun, siapa sangka perbuatanku itu justru mendatangkan kebaikan sehingga hari ini aku dapa lolos dari mala petaka....

-Sementara itu, Kaerltan menatap si anak muda dengan seksama, Sesaat kemudian dia baru berkata.

"Oh, rupanya kaulah si thay-kam cilik yang sudah membinasakan Go Pay. Ketika di MongoIia, aku telah mendengar namamu yang menjadi buah bibir di mana-mana. Karena Go Pay jago nomor satu dari Boan Ciu, maka ilmu silatmu pasti berasal dari partai Siau Lim Sie ini."

Siau Po tertawa dan menyahut dengan merendahkan diri.

"llmu silatku cetek sekali, tidak ada harganya disebut-sebut, Hanya akan menjadi bahan tertawaan saja, Sebenarnya, orang yang mengajarkan ilmu silat padaku cukup banyak, salah satunya ialah saudara Yo ini, dia mengajarkan aku dua jurus Heng Siau Ciang kun dan Ko San Liu Sui."

Selesai berkata, Siau Po langsung menjalankan kedua jurus itu, Dia memang tidak menguasai tenaga dalam, tapi orang tidak akan mengetahuinya Yang penting kedua jurus yang disebutkan dijalaninya dengan benar.

Setelah Siau Po selesai bersilat, Yo Ek Jie berkata kembali "Kedua jurus inilah yang menjadi andalan kita ketika itu, Karena siansu menunjukkan kedua ilmu ini di hadapan Sri Baginda, untuk membuktikan kata-katanya, jadi jelaslah ongya kami hanya termakan fitnah musuhnya."

Mendengar pembicaraan itu, hati si nona berbaju biru tidak begitu gusar lagi, Dia lantas memperhatikan Ek Jie dan bertanya.

"Yo si siok (Paman keempat), benarkan Peng Si Ong berhutang budi sebesar itu kepada nya ?"

"Benar, Ji kounio,"

Sahut Ek Jie.

"Kalau kounio bertemu dengan Sicu, kounio bisa menanyakan sendiri duduk persoalannya sehingga jelas." Si nona berdiam diri sejenak.

"Lalu,"

Dia menoleh kepada Siau Po kembali "Kau telah melakukan hal yang sedemikian terhadap kami kakak adik berdua, apakah kau hanya bergurau atau memang mengandung maksud tertentu?"

Suaranya tidak sekeras sebelumnya lagi.

"Bergurau? Sama sekali aku tidak berani, kalau mempunyai maksud tertentu, itu memang benar,"

Sahut Siau Po. sementara itu, dalam hatinya dia berkata, --Maksudnya ingin menikahi adikmu.,., -Tapi dia tidak mengutarakannya, dia hanya berkata.

"Tapi di sini banyak orang, tidak leluasa aku mengatakannya."

"Apa maksudmu itu?"

Tanya si nona.

Siau Po tersenyum, Dia tidak memberikan jawaban apa-apa.

Mendengar pembicaraan kedua orang itu dan menilik sikap si hwesio cilik, orangorang jadi berpikir --Kalau dia mempunyai maksud tertentu, pasti tidak dapat mengatakannya di depan orang banyak..,.

Sampai di situ, Zang Chi segera bangkit dan merangkapkan kedua tangannya untuk memberi hormat.

"Hong tio, Hui Beng Siansu, kedatangan kami ini sungguh sembrono, kami mohon maaf! Perkenankanlah kami mengundurkan diri sekarang!"

Katanya. Hui Cong segera membalas hormatnya.

"Para tamu yang terhormat sekalian telah datang dari tempat yang jauh, sebaiknya kita bersantap bersama dulu sebelum kalian mohon diri."

Katanya, Kemudian dia menoleh kepada si nona berbaju biru yang sedang menyamar itu.

"Kau seorang wanita, Kau memang sedang menyamar sebagai pria dan lancang memasuki kuil kami. Urusan yang sudah lewat tidak perlu kita ungkit kembali, tapi... untuk mengundang kau makan bersama-sama, rasanya kurang... tepat."

Zang Chi tertawa lagi dan berkata.

"Terima kasih! Terima kasih!"

Katanya.

"Harap Hong Tio tidak perlu repot-repot Tidak perlulah kami bersantap bersama."

Dan dia langsung mengajak rombongannya mengundurkan diri dari kuil tersebut.

Para hadirin itu langsung memberi hormat Hui Cong, Siau Po dan Teng Koan mengantarkan sampai di pintu halaman.

Tepat pada saat itulah terdengar suara bisingnya derap kaki belasan ekor kuda ke arahnya.

Dalam sekejap mata rombongan yang terdiri dari enam belas orang Gi Cian Sie Wie atau pengawal istana raja telah sampai.

Tiba di depan kuil, keenam belas orang Sie Wie itu langsung melompat turun dari kuda masing-masing kemudian membentuk tiga barisan yang rapi menghampiri Siau Po.

Dua orang Sie Wie yang jalan paling depan ialah Tio Kong Lian dan Cio Ci Hian.

Begitu melihat Siau Po, mereka segera menyapa dengan suara nyaring.

"Tou... tayjin, apakah tayjin baik-baik saja?"

Sebenarnya mereka hendak memanggil Tou tong tayjin, tapi ketika melihat jubah pendeta yang dikenakan si anak muda, mereka menjadi ragu.

Selesai berkata, keduanya segera memberi hormat kepada Siau Po.

Senang sekali hati Siau Po melihat kedatangan rombongan itu.

"Tuan-tuan sekalian, silahkan bangun!"

Katanya ramah.

"Kalian tidak perlu melakukan banyak peradatan. justru setiap hari aku sedang menunggu-nunggu kedatangan kalian."

Kaerltan merasa heran dan kagum melihat para pengawal istana bersikap demikian menghormat kepada si hwesio cilik, sekarang dia tidak berani tidak memandang mata lagi kepada Siau Po.

-Ternyata hwesio cilik ini memang mempunyai kedudukan yang tinggi!

--, pikirnya, Kong Lian dan yang lainnya merupakan pengawal-pengawal pribadi raja, Terhadap para pembesar dari propinsi luar, mereka tidak memandang sebelah mata.

Karenanya, ketika melihat Ma Cong Peng, mereka hanya mengangguk sedikit dan tidak menghiraukannya lagi, Mereka langsung berbicara dengan Siau Po.

Kelihatan tidak puas melihat sikap para Sie Wie itu.

Hatinya menjadi panas.

"Hm!"

Dia mengeluarkan dengusan dingin.

"Ayo berangkat, tidak tahan aku menyaksikan wajah-wajah yang tidak tahu malu ini!"

Kemudian dia memberi hormat kepada Hui Cong dan yang lainnya lalu berjalan dengan langkah cepat dan diikuti oleh orang-orangnya.

Setibanya di pendopo besar, Tio Kong Lian segera mengeluarkan firman raja yang langsung dia bacakan.

Kaisar menghadiahkan uang sebanyak dua laksa tail kepada pihak Siau Lim Sie.

Untuk digunakan sebagai biaya memperbaiki kuil serta patung

Tiraikasih website

http.//cerita-silat.co.cc/ patung yang rusak, sedangkan kepada Siau Po, dianugerahkan sebutan kehormatan, yakni "Hu Kok Hong Seng Siansu" (Pendeta terhormat yang membantu negara menghormati sang nabi).

Hui Cong dan Hui Beng segera berlutut dan menyatakan terima kasihnya.

Selesai menjalankan upacara singkat itu, Kong Lian dijamu air teh.

Setelah itu, Siau Po mengajak pengawal pribadi raja itu ke dalam kamarnya bersama Cio Ci Hian, Di dalam kamar itu setelah berbicara sebentar, Tio Kong Lian segera berkata.

"Sri Baginda menitahkan agar Tayjin segera menetapkan hari untuk berangkat ke gunung Ngo Tay san."

"Baik!"

Sahut Siau Po.

Dia memang telah menduga akan datang titah itu.

Kong Lian merogoh sakunya, Dia mengeluarkan apa yang disebut firman rahasia, dengan kedua tangannya dia menyerahkan firman itu kepada Siau Po.

"Sri Baginda juga mengirimkan firman rahasia ini...."

Siau Po menjatuhkan dirinya berlutut ketika menerima firman tersebut Katanya dalam hati, -Entah ada perintah apa lagi?

Aku buta huruf Bagaimana aku mengenali kata-kata dalam firman ini?

Katanya ini firman rahasia, jadi aku tidak dapat memperlihatkannya kepada Kong Lian atau Coi Ci Hian, Lebih baik aku minta bantuan Hong To suheng, tentu dia tidak akan membocorkan rahasia.

Dengan membawa firman itu, Siau Po segera menemui Hui Cong taysu.

"Hong Tio suheng, ada firman rahasia untukku, sudilah kiranya suheng memberi petunjuk kepadaku!"

Katanya sambil membuka firman tersebut Rupanya isi firman itu terdiri dari empat helai peta.

Gambar yang pertama merupakan sebuah gunung dengan kelima puncaknya, Siau Po segera mengenalinya sebagai gunung Ngo Tay san.

Di bagian utara dari puncak selatan terdapat sebuah wihara dengan nama "Ceng Liang si."

Karena sempat berdiam cukup lama dalam kuil itu, Siau Po jadi mengenali huruf-huruf itu.

Gambar yang kedua melukiskan seorang hwesio cilik tengah memasuki sebuah kuil dan papan di atasnya juga bertuliskan huruf "Ceng Liang si."

Di belakang hwesio itu mengiringi serombongan pendeta dan di atas kepalanya terdapat tulisan "hwesio-hwesio Siau Lim Sie."

Huruf-huruf itu juga dikenal oleh Siau Po.

Gambar yang ketiga adalah gambar sebuah pendopo, yakni Tay Hiong Po Tian.

Di sana ada seorang hwesio cilik yang duduk di kursi pertama dan letaknya di tengahtengah ruangan.

Hwesio cilik itu bukan lain daripada Siau Po sendiri, Dia mengenakan jubah merah, jubah seorang Hong Tio atau kepala pendeta.

Dia didampingi oleh sejumlah hwesio Iainnya.

Melihat gambar yang telah dia kenal dengan baik itu, Siau Po menjadi tertawa sendiri.

Sekarang dia membeberkan gambar yang keempat Kali ini tampak seorang hwesio kecil sedang berlutut di hadapan seorang hwesio lainnya.

Usia hwesio itu sekitar empat puluhan tahun, wajahnya putih bersih, mengandung wibawa besar dan enak dipandang, Tentu saja hwesio itu dilukiskan sebagai Heng Ti taysu atau kaisar Sun Ti yang telah menyucikan diri.

Melihat keempat gambar tersebut Siau Po mula-mula tidak mengerti artinya, Dia memperhatikan dengan seksama, Begitu pula Hui Cong taysu, Mereka sama-sama menguras otak.

Siau Po membalikkan gambar yang pertama, Dia tahu lukisan itu mengartikan bahwa dia harus menuju gunung Ngo Tay san.

Tapi hal itu memang sudah diketahuinya, untuk apa Sri Baginda melukiskannya lagi, Siau Po menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal Setelah menerima dan membaca isi surat dari raja yang isinya meminta pada Siau Po pergi ke Ngo Tay san guna merawat ayah raja di kuil Ceng Liang Sie.

Mulanya Siau Po sangat gembira menerima surat dari raja, Tetapi, setelah diketahui isinya ia lalu berpikir, sampai kapankah ia harus merawat ayah raja?

Apakah ia harus menjadi biksu sampai tua?"

Sute selamat kau telah diperintahkan raja untuk pergi ke Ngo Tay san, di sana kau akan menjadi seorang ketua, kau tahu?

Usia kuil itu lebih tua dari kuil ini, Sute, harapanku semoga kau berhasil dalam memajukannya!"

Kata Hui Cong. Siau Po hanya menggelengkan kepala.

"Sebenarnya aku tak sanggup menjadi ketua di sana, aku akan ditertawakan orang."

Keluh Siau Po.

"Kau jangan merendah, kau kan dapat membawa pendeta di sini untuk membantumu dan kau pun di suruh membawa pendeta itu katanya dalam surat itu dan mereka juga bawahanmu pasti mereka akan menurut dan membantumu."

Jawab Hui Cong memberikan keyakinan. Siau Po terdiam dan katanya dalam hati.

"Raja memang pandai, sebelum aku disuruh merawat ayahnya yang berada di kuil itu aku disuruh menjadi biksu di kuil ini agar nanti aku dapat dipindah ke Ngo Tay san dengan membawa biksu pilihanku. Karena ayah raja sekarang telah menjadi biksu, maka tak mungkin ia mau selalu dikawal oleh para Sie Wie, hal itu untuk menghilangkan kecurigaan di samping itu juga salah satu pendeta di sini ada yang berada di sana dan itu sangat memudahkan Orang tak kan tahu kalau ayah raja masih tetap dikawal, Tetapi kali ini bukan oleh para Sie Wie melainkan oleh para biksu,"

Katanya. Setelah berpikir demikian Siau Po lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil uang dan dihadiahkan pada para pengawal yang telah membawakan surat itu. Satah satu dari mereka lalu berkata.

"Sejak dahulu hingga sekarang ini, baru kali ini seorang biksu memberikan hadiah pada pengawal raja!"

Katanya gembira. Siau Po tertawa.

"Biksu tua tidak, tetapi biksu cilik ya!"

Katanya.

"Sute, tentang perintah raja kami tak banyak tanya, tetapi jika sute memerintahkan pada kami, kami akan mematuhi sama halnya dengan kami menerima perintah dari raja kami akan setia padamu."

Katanya.

"Jika Sute akan melakukan sesuatu kami bersedia mewakilinya, Umpamanya saja, kamu akan mengambil kitab ilmu silat Siau Lim Sie atau membakar perpustakaan itu kami akan melakukannya."

Jawabnya pula. Bagian 46 Mendengar ucapan itu Kiong Lian tertawa.

"Ya, itulah yang dinamakan merampok, selagi ada kebakaran kita mengambil kitab itu."

Katanya. Siau Po terkejut lalu berkata dalam hati.

"Ya, mereka menyangka aku dikirim ke mari ada maksud tertentu yaitu untuk mendapatkan kitab ilmu silat itu dan bukankah raja sangat menyukai ilmu silat?"

Katanya dalam hati.

"Jangan khawatir dalam hal itu aku sudah berhasil katanya sambil tertawa.

"Dasar rejeki besar Baginda raja, kau memang sangat cerdik dan kau sudah membangun jasa."

Jawabnya.

"Apakah kau hendak menyerahkan pada raja, dan jika kau dicurigai kau dapat mengijinkan mereka menggeledah kau."

Jawabnya. Siau Po tertawa lagi.

"Sejauh itu tak usah, kau cukup memberikan laporan pada raja jika suratnya telah sampai ketanganku, dan aku berjanji akan bekerja dengan sebaik-baiknya."

Jawab Siau Po.

"Kiranya kau telah membaca kitab itu, itu sangat baik karena dengan demikian kau dapat mengingat-ingat isi kitab silat Siau Lim Sie yang sangat terkenal itu."

Kata seorang Sie To.

"Memang itu yang terbaik, ada buku atau tidak itu tidak mengapa yang penting kau sudah dapat menghafal isi kitab itu, dan memahami isinya."

Kata Kiong Lian. Dalam hati Siau Po berkata.

"Mereka telah menyangka bahwa aku telah berhasil mendapatkan kitab itu."

Katanya. Setelah berbicara kedua orang itu pun berpamitan. Tiba-tiba Siau Po ingat rombongan pangeran itu lalu bertanya pada utusan itu.

"Tuan-tuan apakah Tuan mengetahui rombongan siapakah yang tadi ke mari?"

Tanyanya. Kiong Lian berdua menggelengkan kepala.

"Tidak!"

Sahutnya.

"Jika demikian kau harus mencari tahu, sebab ia datang ke mari sangat mencurigakan. Atau mereka akan mencuri kitab ilmu silat Siau Lim Sie terutama si Cong Peng, dia bekerja untuk siapa dan siapa pemimpinnya. Mengapa ia mau merusak usaha Baginda? perbuatan mereka itu adalah perbuatan durhaka dan pengkhianat. Jika kalian dapat mengetahuinya kalian akan berjasa besar pada raja!"

Kata Siau Po.

"lni sangatlah mudah, mereka pergi belum lama dengan demikian kami dapat mengejarnya dan Cong Peng itu telah aku ketahui nama mereka dan itu pekerjaan yang sangat mudah!"

Jawab mereka. Siau Po tahu Cong Peng itu bawahan Gou Sam Kui tetapi ia tak mau mengatakannya karena dengan demikian itu namanya memfitnah, dengan demikian Siau Po telah membangun jasa pada raja.

"Dalam rombongan itu ada seorang nona yang menyamar sebagai seorang laki-laki."

Kata Siau Po menerangkan pada mereka yang secara langsung itu perintah panglima.

"Dia bersama rombongannya sedang mencari salah seorang nona yang cantik yang umurnya kurang lebih enam belas tahun Mereka berdua sangat erat sekali dengan rombongan Dan kalian juga harus mengetahui nama nona itu dan asal-usulnya dan kau segera menulis surat padaku!"

Perintah Siau Po pada mereka.

Mereka berdua lalu berjanji untuk bekerja dengan sebaik-baiknya dan untuk tugas penyelidikan itu tugas mudah bagi mereka.

Setelah mereka pergi Siau Po lalu memberitahukan pada ketua pendeta bahwa ia akan pergi besok ke Ceng Liang Sie.

Hui Cong Sian Su mengatakan setuju bahkan itu lebih baik.

"Kau cerdas Sute, kau pasti akan dapat memajukan kuil itu sangat disayangkan kita bersama hanya sampai di sini, Berapa orang yang akan kau ajak pergi ke sana?"

Tanya Hui Cong.

"Yang paling penting ialah Teng Koan. Juga delapan belas dari anggota Lohan Tong dan yang lainnya hanya pelengkap jumlah seluruhnya adalah tiga puluh empat orang!"

Kata Siau Po menjelaskan Hui Cong tak berkata apa-apa ia lalu memerintahkan pada pengawalnya untuk mengumpulkan orang-orang yang dimaksud dan menerangkannya akan tugas ke Ngo Tay san di kuil Ceng Liang Sie.

Demikianlah keesokan paginya mereka sudah siap dengan peralatan mereka dan tak lupa sebelum berangkat Siau Po menemui Song Ji.

Sudah kira-kira setengah tahun Siau Po dan Song Ji tidak bertemu dan pertemuan itu membuat Song Ji sangat terharu, ia lalu menangis, ia tahu kalau Siau Po menjadi biksu dari Kong Lian ia sangat sedih dan kali ini Siau Po datang dengan kepala botak.

"Song Ji, janganlah kau menangisi Apakah yang kau tangisi? Apakah kau menangisi karena aku tak pernah menengokmu!"

Tanyanya.

"Bu.... Bukan itu Siangkong. Namun kau telah mensucikan diri!"

Katanya.

"Oh, anak tolol Siangkongmu ini menjadi pendeta hanya pendeta palsu!"

Kata Siau Po sambil memegang tangan si nona dan lalu dicium.

Song Ji percaya, dan itu yang membuatnya menjadi girang tetapi ia menjadi maIu.

Siau Po menatap wajah nona itu yang sekarang menjadi kurus dan lemah hal itu menjadikan ia terlihat jangkung.

"Kenapa kau jadi kurus apakah setiap hari kau hanya memikirkan aku saja?"

Tanyanya. Nona itu menjadi merah mukanya dan ia tertunduk.

"Sudah, sekarang kau ganti pakaian, dan menyamar menjadi pria. Kau turut denganku!"

Kata Siau Po.

Kembali Song Ji menjadi girang, Tanpa berkata apa pun ia lalu masuk ke kamarnya dan berganti pakaian, Tak berapa lama kemudian ia ke luar dengan pakaian pesuruh pelajar.

Selesai berganti pakaian ia lalu mendekati Siau Po dan mengajaknya untuk pergi.

Perjalanan ke Ngo Tay san tidak mendapatkan halangan Setelah mereka tiba di kaki gunung itu, baru saja mereka ingin mendaki tiba-tiba dari atas gunung sudah berlari beberapa biksu lalu menanyakan apakah mereka dari Siau Lim Sie.

Siau Po mengangguk dan membenarkan pertanyaan itu.

"Jikalau demikian siansu tentu Hui Beng Siansu?"

Tanyanya. Siau Po lalu menganggukkan kepala. Lantas mereka berlutut dan memberi hormat seraya berkata.

"Siansu datang untuk mengepalai kuil ini dan sebenarnya kami telah menanti sejak beberapa hari yang lalu."

Katanya.

Biksu itu benar, raja terlebih dahulu telah mengirim surat ke kuil itu akan kedatangannya seorang kepala pendeta, tentang diangkatnya Hui Beng baru untuk kuil itu.

Hoat Seng dipesan akan menyerahkan kedudukannya itu jika pendeta ketua yang baru telah tiba, maka untuk itu ia memerintahkan anak buahnya untuk menanti ketua yang dijanjikan raja untuk kuil itu.

Sesampainya di atas gunung Siau Po disambut oleh Hoat Seng dan ia lalu menyerahkan kedudukannya itu pada Siau Po, Semua pendeta dan juga undangan hadir pada acara penyerahan jabatan itu, hanya ada tiga pendeta yang tak dapat hadir tetapi mereka itu sudah mengirim surat yang isinya mengatakan bahwa mereka tidak hadir karena mereka sedang menyendiri.

Para biksu Ceng Liam Sie sudah mengenal Siau Po dan Song Ji mereka mengenal Siau Po dan juga Song Ji sewaktu mereka sedang mendapat serangan dari musuh dan Siau Po juga Song Jie yang membantu mengusir orang-orang itu.

Mereka menjadi heran karena mereka telah mengetahui budi biksu cilik itu dan juga Song Jie yang sekarang menjadi kepala biksu mereka.

Song Ji seorang wanita, walaupun mereka masih kecil ia tak baik berada di dalam kuil itu.

Siau Po mendapat akal untuk menghindari kecanggungan dari para biksu itu, ia mencukur botak kepala Song Ji dan si wanita itu menurut saja, tugasnya sebagai pembantu bagian dalam.

Setelah ia menjadi ketua dan mulai menjalankan segala tugasnya, ia lalu ingat akan perintah raja yang memintanya untuk merawat sang ayah, Lalu menanyakan pada pengawalnya tentang ayah raja yang sekarang telah menjadi biksu, ia mendapat jawaban bahwa sang ayah itu tidak berada di kuil melainkan di sebuah gunung, beliau tinggal sendiri.

Lalu Siau Po juga mengatakan memerintah para biksu untuk membangun bangunan gubuk-gubuk di sekitar tempat ayah raja itu dan masing-masing gubuk dihuni oleh enam orang biksu.

Jika malam telah tiba Siau Po ingat pada nona yang memakai baju hijau, ia lalu meminta pada Teng Koan untuk mengajari ilmu silat dan Siau Po selalu memuji kepandaiannya.

Siau Po lalu menyerap semua ilmunya, Karena dirinya cerdas maka dengan waktu singkat ia dapat menguasai ilmu itu.

Siau Po sekarang sedang menunggu kabar dari utusannya yang ditugaskan untuk mengetahui nama dan asal usul nona-nona itu, ia sangat khawatir sekali.

"Aku telah makan obat Tok Liong Ie Kin Wan dari kaucu, maka bila aku tak memberikan kitab itu padanya dalam waktu satu tahun racun itu akan bekerja dan itu sangat berbahaya, kalau tidak salah waktunya tinggal dua bulan lagi."

Katanya dalam hati.

Siau Po lalu berjalan-jalan di sekitar Gunung Ngo Tay san sepulangnya dari berjalanjalan ia dikagetkan oleh hadirnya beberapa biksu dengan menggunakan pakaian resmi dan memegang senjata.

"Berapa jumlah mereka?"

Tanya Siau Po.

"Empat ribu delapan puluh dua Ihama!"

Jawab Teng Koan.

"Apa yang hendak mereka lakukan?"

Tanyanya lagi.

"Hamba tidak mengetahuinya,"

Jawabnya pula.

"Mungkinkah mereka akan menyerang kita?"

Tanyanya.

"Mungkin juga, tetapi nampaknya mereka tak mungkin menyerang kita sekarang ini. Sebab mereka penganut Sang Buddha. Tak mungkin mereka menyerang kita pada saat siang hari. Sebab Sang buddha sangat mencintai kedamaian.-."

Jawab Teng Koan.

"Jikalau demikian, kita harus memberitahukan pada para biksu yang berada di gubuk-gubuk itu. Cepat!"

Perintah Siau Po.

"Sebaiknya aku meminta bantuan pada raja!"

Pikirnya.

"Namun aku khawatir yang dari jauh akan bertindak sia-sia!"

Jawab Teng Koan.

"Jikalau demikian, mari kita melindungi Heng Tie Taysu menyerbu keluar!"

Kata Siau Po.

"Ya, nampaknya hanya ada satu jalan, kami tiga puluh tujuh murid Siau Lim Sie mana mungkin dapat menyerang orang sebanyak itu. sebaiknya untuk menerobos lolos itu sangatlah mudah..."

Katanya.

"Sebaiknya kita harus dapat menyelamatkan Heng Tie Taysu serta Giok Lin Taysu walau dengan jalan apapun!"

Kata Siau Po.

Setelah berkata demikian Siau Po pergi ke kamarnya untuk mencari jalan yang terbaik guna menyelamatkan kuil ini dan juga guru besar mereka, Sambil berpikir Siau Po akhirnya tertidur.

Belum seberapa lama kemudian Siau Po dibangunkan oleh anak buahnya yang melaporkan keadaan di luar kuil itu.

Siau Po lalu berpikir keras, dan ia memutuskan untuk menemui guru besar tersebut satu persatu guna menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya agar mereka mau ikut meloloskan diri.

Sesampainya mereka di tempat Giok Lim, Siau Po mengalami kekecewaan Biksu tersebut beranggapan dingin atas usul Siau Po untuk meloloskan diri.

Siau Po menjadi bingung, cara apa yang harus ditempuh guna mencari jalan yang terbaik.

Sedang berpikir demikian tiba-tiba terdengar suara langkah yang sedang terburuburu, lalu muncullah Teng Koan dari Siau Lim Sie yang terus memberikan laporannya.

"Harap Susiok ketahui, tadi para Ihama mulai mencari lagi kira-kira seratus tombak!"

Katanya.

"Mengapa mereka datang secara bertahap? Apakah mereka itu telah terpengaruh Buddha kita, Merasa menyesal dan sadar bahwa berpaling ke belakang berarti melihat gili-gili tempat mendarat!"

Kata Siau Po.

"Bukan.,.! Bukan demikian. Mereka sedang menanti datangnya sang malam hingga mereka akan menyerang kita!"

Kata Heng Tian.

Heng Tian adalah salah seorang perwira dan ia juga salah seorang pengawal raja yang sudah sering kali menghadapi peperangan.

Oleh karenanya ia sekarang berpangkat perwira, ia juga seorang ahli dalam peperangan.

"Baiklah, kita menunggu saja mereka sampai memasuki pendopo dan menyaksikan Sang Buddha yang bersifat pengasih itu.... Mudah-mudahan mereka menjadi sadar,.,"

Kata Siau Po.

"Oh, Heng Tian yang muda, bagaimana kau bicara begini rupa? itu tak mungkin bukan?"

Kata Heng Tian. Giok Lim diam saja sewaktu mereka melihat Siau Po dan Heng Tian berbicara dengan emosi masing-masing.

"Heng Tian, mengapa kau berpikir seperti itu? Dia benar dan ia telah mendapatkan keyakinan Buat apa kau berpikir terlalu keras!"

Kata Giok Lim. Heng Tian terdiam.

"Oh, kiranya kau telah mendapatkan jalannya!"

Katanya.

"Sama sekali aku tak mempunyai daya yang sempurna, aku cuma berpikir jika kita melarikan diri, inilah saatnya...!"

Kata Siau Po. Heng Tian dan Teng Sim mengangguk tanda setuju.

"Jika demikian, cepatlah kalian berkemas dan kita berangkat sebelum mereka datang ke mari! Kita harus menyerbu turun guna meloloskan diri, kita menyingkir ke kota Hu Peng, Aku percaya walaupun Ihama itu berani tapi tak mungkin mereka berani menyerang kota Hu Peng!"

Berkata pula Siau Po. Mereka lalu secara bersama menjawab setuju. Baru saja mereka akan meninggalkan tempat itu Heng Tian berkata.

"Aku orang yang berjubah apes! Dahulu sudah banyak korban gara-gara aku dan kali ini aku dibilang celaka, Biarlah nanti aku akan menunggu tibanya orang-orang itu dan aku akan membakar diriku dihadapan mereka agar mereka merasa puas, bukankah yang mereka cari adalah aku agar mereka dapat melakukan sesuatu dengan kepuasan!"

Kata Heng Tie yang sudah pasrah itu.

"Tidak.... Tidak suheng, lebih baik aku yang menggantikan suheng untuk membakar diri!"

Teriak Heng Tian. Heng Tie tersenyum ternyata dia benar-benar berani "Kau hendak menggantikan aku untuk membakar diri, sedangkan yang mereka cari adalah aku. itu sangat percuma!"

Kata Heng Tie. Kembali semua terdiam.

"Heng Tie taysu sudah sadar, benar kata Sang Buddha kalau bukan kita yang masuk neraka lalu siapa...?"

Kata Giok Lim.

"Ah biksu busuk! Kau mengatakan itulah kesadaran tetapi aku sebaliknya! itu bukan arti yang tulen, itu palsu!"

Siau Po mencaci dalam hati.

"Kalian tunggu saja nanti bila Ihama itu datang, aku dan dia akan bersama-sama membakar diri dan kalian janganlah mencegahnya.,.!"

Kata Giok Lim. Siau Po dan lainnya saling memandang. Heng Tie pun berkata.

"Dahulu karena aku, rakyat jadi menderita, Banyak mereka yang tewas. Jika sekarang aku mati dengan seribu kali takkan mungkin aku dapat menebus dosa-dosaku yang telah lalu aku sudah terlalu banyak dosa dan untuk itu jika aku nanti membakar diriku itu hanya salah satu cara untuk menebus dosaku. Untuk itu aku minta kalian supaya mendukung aku, Jika saat ini aku mempunyai kesalahan, maafkan aku, Aku tak ingin saat ini timbul lagi korban, Aku berharap kalian dapat memahaminya..!"

Katanya.

Selesai berkata ia lalu memberikan hormat pada Siau Po dan yang lainnya karena mereka telah berani membelanya.

Melihat kenyataan itu Siau Po dan kawannya masing-masing kembali ke kamarnya.

Sesampainya di kamar Siau Po memanggil beberapa anak buahnya untuk memberitahukan tentang keputusan Heng Tie.

"Mereka bertiga hendak membakar diri, jika mungkin marilah kita mencegahnya dengan kekerasan dan melindunginya!"

Kata Siau Po.

"Bukankah kalian akan menyelamatkan mereka bertiga? Jawab, ya atau tidak.,.?"

Tanya Siau Po.

"Benar!"

Jawab mereka secara serempak.

"Jikalau demikian itulah yang sangat sulit!"

Kata Siau Po.

"Sekarang kalian dengar perkataanku Kalian pergi menerobos dari sebelah timur, dengan lagak ingin meloloskan diri turun dari gunung. Lalu bersamaan dengan itu kalian turun dan balik lagi, tetapi kalian harus membawa beberapa orang Ihama ke mari!"

Kata Siau Po sambil mengatur siasat. Mendengar itu Teng Sim berkata.

"Apakah maksud tuan untuk membuat sandera agar mereka itu tak dapat langsung menyerang? Kalau memang demikian kita harus mencari sandera orang yang berpangkat!"

Katanya.

"Mungkin sukar untuk membekuk Ihama tingkat tinggi, dan itu dapat menimbulkan banyak jatuh korban, Aku pikir lebih baik kita menangkap Ihama dari golongan rendah saja..!"

Ujar Siau Po.

Para biksu itu tak mengerti maksud Siau Po, tetapi karena itu perintah maka mereka lalu pergi melakukan tugasnya.

Tak lama terdengar suara ribut-ribut, Siau Po naik ke atap di sana ia menyaksikan muridnya yang sedang menjalankan perintah Terlihat kelebatan sinar pedang.

Biksu-biksu yang diperintahkan Siau Po adalah orang-orang pilihan, tapi Ihama itu bukanlah lawan mereka dan setelah mereka mendapatkan bantuan dari atas Siau Po berteriak.

"Musuh terlalu tangguh, sebaiknya kalian mundur.-.!"

Katanya. Teriakan Siau Po menggunakan tenaga dalam yang cukup sempurna maka suara itu berkumandang ke segala arah.

"Bagaimana sekarang!"

Tanya Teng Koan.

"Kita cepat kembali dan kita bekuk beberapa orang itu.,.!"

Kata Teng Sim yang lalu menarik musuh.

Kata-kata itu dilakukan dengan menyambar para Ihama yang tak berdaya, Ada yang dipanggul dan ada pula yang digendong.

Teng Sim dan Teng Koan berlari di belakang, hingga mereka dapat mencegah orang yang akan mengejarnya.

Dengan tertawa girang Siau Po menyambut kedatangannya di depan pintu yang selanjutnya mereka dibawa ke dalam wihara untuk selanjutnya akan ditanya, jumlah mereka yang berhasil ditawan ada empat puluh tujuh orang.

Telanjangi mereka lalu totok jalan darahnya dan masukkan mereka ke dalam gudang kayu belakang.,.!"

Perintah Siau Po.

Para biksu heran tetapi mereka melakukan juga perintah itu.

para Ihama yang terkurung itu sudah telanjang bulat dan tak dapat bergerak.

Selesai melakukan tugasnya masing-masing, biksu berkumpul untuk mendengarkan kata-kata dari ketua mereka itu lalu Siau Po berkata.

"Para keponakan muridku, di dunia ini tak ada yang sempurna, Kalian para biksu sama dengan para lhama, Untuk itu sekarang buka jubah kalian dan pakailah pakaian para Ihama itu!"

Para Ihama itu menjadi terbengong. "Song Ji ke mari, lekas kau bantu aku untuk memakai pakaian sebagai mana Ihama cilik!"

Katanya.

"Kau juga harus menyamar sebagai Ihama cilik!"

Kata Siau Po pada Song Ji. Si nona cilik yang mendengarkan perintah itu menurut.

"Susiok apakah arti kita menggunakan pakaian lhama ini!"

Tanya Siau Po.

"Mungkin kita akan mengatakan takluk pada pihak musuh atau apakah kita akan mengganti agama kuning!"

Tanya Teng Koan.

"Bukan, kita sekarang menyamar sebagai seorang lhama dan nanti kita menyerbu ke kuil di gunung itu. Kita bekuk dan kita totok sedapat mungkin Giok Lim, Heng Tje, dan Heng Tian lalu kita bawa mereka dan kita ganti pakaian mereka dengan pakaian lhama ini. Mendengar keterangan itu mereka semua tertawa, mereka telah mengetahui maksud dari taktik Siau Po.

"Bagus!"

Kata Siau Po.

"Jika kalian telah mengetahuinya, kita bergerak saat orangorang itu menyerang ke mari. Dengan demikian mereka tak mengetahui mana yang asli dan mana yang tidak.,.!"

Katanya.

"Dengan begitu kita tak usah melakukan pembunuhan!"

Kata Teng Sim penuh semangat.

Hampir tengah malam Siau Po dan kawan-kawannya pergi ke tempat ketiga guru besarnya itu.

Sengaja ia memancing keributan hingga ketiga biksu itu tak sempat berkata lalu para lhama palsu itu sudah menyerbu masuk ke dalam, Langsung ketiga biksu itu ditotok dan diganti pakaiannya dengan pakaian lhama itu.

Setelah itu Siau Po memerintahkan pada Song Ji untuk membakar tempat itu yang secara kebetulan telah disiapkan kayu dan jerami untuk membunuh ketiga biksu itu.

Belum beberapa jauh mereka berjalan, terlihat sudah api yang melalap kuil itu sudah nyala berkobar.

Mereka berlari tanpa ada halangan, hal itu karena mereka menggunakan pakaian lhama itu.

"Kuil itu sudah terbakar habis dengan demikian mereka tak mungkin dapat menemukan ketiga orang ini. Lalu dengan begitu mereka tak mungkin dapat mencari kita!"

Kata Song Ji.

"Kau benar, Sute!"

Kata Teng Koan.

Sesampainya di situ Siau Po meminta totokan tersebut agar dibebaskan, mereka lalu meminta maaf karena telah berbuat kurang ajar.

Semenjak ditotok mereka melihat dan mendengar Mereka mengetahuinya kalau ini perbuatan para biksu, yang berusaha menolongnya, Dan setelah membebaskan totokan Heng Tian berkata dengan suara nyaring tetapi berwibawa.

"Bagus... bagus, akal kalian sungguh sangat bagus, sekarang kita semua sudah terancam mara bahaya! Hong Tio taysu kau telah menolong kami, Untuk mengucapkan terima kasih saja kami tak terburu, mana dapat kami menggusarimu!"

Kata Heng Tian. Heng Tie yang tadi ingin membakar diri pun bergembira.

"ltu sangatlah bagus, kita bebas tanpa kerugian sedikit pun!"

Katanya pada Siau Po. Tiba-tiba saja terdengar suara berisik dari atas gunung.

"Susiok, mereka menyusul kita!"

Seru Teng Koan sambil melihat ke arah atas para pendeta yang sedang mengejar mereka.

"Mari, kita menemuinya. Kita bicara dengan mereka sampai mereka tak tertawa dan tersenyum baru kita menunjuk ke arah gunung itu. Walau bagaimana kita tak boleh menyerang mereka itu!"

Kata Siau Po. Teng Koan semua maju dan mereka semua ikut bersama.

"Loo Hong ya, dengar titahku dan juga guru Loo Hong ya!"

Kata Siau Po dengan senang, lalu mereka bertiga dikurung di tengah dan mereka bersama lari ke arah jalan besar Belum jauh mereka berlari terlihat ada serombongan sedang menuju ke arahnya dan pada masing-masing orang itu menggunakan kalung yang isinya sebuah kalimat yaitu "Mau berziarah dengan sujud."

Dari rombongan peziarah lalu muncul seorang yang tinggi besar dan menegur mereka.

"Kalian sedang buat apa?"

Tanyanya, Melihat orang itu Siau Po girang sekali dia adalah salah seorang pengawal raja yaitu congkoan To Liong, Maka ia lalu melangkah ke depan dan menyapanya.

"Hay, To Toako! Kau lihat siapa diriku ini?"

Tanya Siau Po. Orang itu lalu meneliti muka yang lucu itu dengan kepala botak licin. Siau Po memasang mukanya dan terus tertawa.

"Kau,., kau saudara Wie.,.? Mengapa kau berada di sini dan mengapa kau memakai pakaian lhama?"

Tanyanya, Siau Po tertawa.

"Dan kau sendiri, kenapa berada di sini?"

Siau Po balik bertanya. Tak berapa lama kemudian datanglah serombongan Sie Wie yang sebagian mereka kenal.

"Apakah Sri Baginda yang menyuruh kalian datang ke mari?"

Tanya Siau Po.

"Sri Baginda dan Thay Hou datang ke Ngo Tay san untuk bersembahyang dan sekarang ini rombongan Sri Baginda berada di wihara Leng Keng Sie!"

Jawabnya. Siau Po girang bercampur keheranan "Sri Baginda datang ke Ngo Tay san dan si molek tua ikut juga, ia mau apa?"

Tanya Siau Po dalam hati.

"Tio Toako, tolong kau menghadap Kong Cin Ong! Katakan padanya aku akan menggunakan pasukan tentara, guna melakukan suatu gerakan, Namun karena urusan ini sangat penting aku tak sempat menemui langsung padanya untuk minta ijinnya..."

Kata Siau Po. Cee Hian menurut ia lalu beranjak pergi, Dan tak lama datang pasukan dari bendera kuning lalu Siau Po langsung berkata pada pimpinannya.

"Toa Tong Tayjim, di sini ada beberapa ribu pendeta lhama dan rupanya mereka sudah mengetahui bahwa raja ingin berziarah sekarang mereka sudah mengurung wihara itu dan nampaknya mereka akan mengadakan pemberontakan maka itu silahkan kalian pergi, inilah jasa besar bagi kalian!"

Perintah Siau Po.

Kedua pembesar itu girang sekali dan ia lalu berlari dan mengucapkan terima kasih.

Keduanya percaya dengan keterangan itu.

Setelah memberikan pesan pada beberapa orang pembesar militer Siau Po lalu mengajak rombongannya untuk beristirahat dan berganti pakaian di salah satu kuil, Siau Po menyewa kuil itu pada salah seorang pendeta.

Melihat uang sewa yang diberikan Siau Po, pendeta itu merasa gembira.

Siau Po lalu ke luar.

Kali ini ingin memberikan kabar yang rahasia, ia juga memerintahkan pada seratus lebih Sie Wie untuk berjaga-jaga di sekitar kuil itu.

Setelah mengatur siasat Siau Po lalu mengutus beberapa orang Sie Wie untuk memberitahukan pada raja.

"Budak Wie Siau Po tengah melakukan tugas yang berat. Tak berani budak meninggalkan tugas itu, maka itu budak hanya bisa menanti di kuil Kim Kok Sie!"

Itulah isi surat Siau Po.

Siau Po lalu pergi ke kuil yang dimaksudkan itu, Tak lama kemudian ia mendengar keributan dari atas gunung, itulah suara pertempuran pasukan Sie Wie dengan para lhama itu.

Setelah keributan itu berhenti tak lama kemudian datang rombongan pasukan raja ke kuil itu.

"Pastilah raja kecil itu telah tiba."

Katanya.

Sambil berkata demikian Siau Po lalu mengambil pisau belatinya guna menjaga kemungkinan jika yang datang itu bukan rombongan raja.

Suara itu terdengar semakin dekat dan tak lama kemudian muncul rombongan raja didahului dengan datangnya para Sie Wie dan langsung berbaris.

"Cepat kau simpan senjata tajam itu.,.!"

Kata salah seorang Sie Wie dengan suara perlahan.

"Selamat Baginda! Ayah Baginda berada di dalam!"

Kata Siau Po. Kong Hie mengangguk.

"Kau tolong aku dengan memberi kabar!"

Katanya dan ia lalu memerintahkan para Sie Wie itu untuk meninggalkan tempat itu.

"Kalian boleh pergi ke luar!"

Kata raja pada para Sie Wie. Semua Sie Wie lalu pergi ke luar Siau Po mulai mengetuk pintu kamar ayah raja itu dengan suara perlahan-Iahan.

"Hui Beng mohon menghadapi-kata Siau Po. Tetapi dari dalam kamar itu tak terdengar suara apa-apa. Hingga raja menjadi tak sabaran dan langsung memanggilnya dengan panggilan yang biasa digunakan di Kerajaan. Karena dari dalam tak terdengar jawaban akhirnya raja menjadi bersedih, melihat rajanya menangis Siau Po teringat pada ayah dan ibunya. Tak lama terdengar pintu itu terbuka, Melihat hal itu raja sangat senang maka ia lalu segera masuk dan langsung menubruk kaki ayahnya. Heng Tie perlahan-Iahan mengusap kepala putranya itu.

"Nak.... Nak!"

Kata ayah raja dan ia pun menangis.

Siau Po sudah berhenti menangis, ia telah memasang telinganya untuk mendengarkan pembicaraan antara raja dengan ayahnya.

Heng Tie mengatakan sesuatu, suaranya sangat perlahan hingga tak terdengar oleh Siau Po dari luar, ingin ia mendengarkan pembicaraan antara raja dengan ayahnya, tetapi ia tak berani mengintai dan juga mendengarkan pembicaraan itu dari selah-selah.

Tak lama terdengar suara raja dengan menyebut nama permaisuri Toan Keng Hong Hau dan disusul dengan suara ayah raja.

"Untuk selama-lamanya jangan menaikkan pajak!"

"Jangan menaikkan pajak? Adakah pesan lain yang akan disampaikan raja pada ayahnya?"

Tanya Siau Po dalam hati Tak lama kemudian terdengar lagi pembicaraan mereka.

"Hari ini kita bertemu satu dengan yang lainnya, itu juga sudah tak selayaknya, bukan sedikit kau menggagalkan pertapaanku, Mulai saat ini kau jangan datang-datang lagi ke mari!"

Pesan ayah raja. Raja tak mengucapkan kata-katanya yang terdengar suara ayahnya.

"Kau telah mengutus orang untuk melayaniku, meskipun itu datang dari hatimu yang paling dalam, kau masih keliru beranggapan demikian. Seorang pertapa ia harus dapat merasakannya sendiri Hal itu sudah seharusnya mereka terima, maka itu jika kau merawatku dengan sempurna sekali itu pun tak baik!"

Katanya. Terdengar suara raja tetapi, tiba-tiba terdengar suara dari ayah raja dengan nada yang keras.

"Sekarang sebaiknya kau menjaga dirimu sendiri Dengan kau mencintai rakyat, berarti kau sudah berbakti kepadaku.,.!"

Kata ayah raja.

Agaknya raja merasa sangat berat untuk meninggalkan ayahnya.

Lalu terdengar langkah kaki mendekati pintu kamar Siau Po dengan cepat berpurapura melihat halaman dan menjauhi dari tempatnya mengintai.

Segera terdengar suara pintu terbuka, ayah raja itu sambil memegangi tangan anaknya melangkah ke luar dari kamarnya.

Ayah dan anak itu saling mengawasi Anak itu terus memegang erat tangan ayahnya.

Dengan perlahan-lahan raja melepaskan tangan yang memegang tangan ayahnya itu, lalu ayah raja segera kembali ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.

Kong Hie menubruk ke pintu dan kembali menangis.

Siau Po berdiri diam menemani raja dan menangis.

Tak lama raja berhenti menangis, ia merasa yakin bahwa ayahnya tak akan membukakan pintu, walaupun demikian ia tak mau segera berlalu dari kamar itu, Maka ia mendekati Siau Po dan menarik tangan Siau Po untuk duduk, Dengan sapu tangan ia menghapus air matanya.

"Menurut Hu Hong kau baik sekali Kau pandai bekerja tetapi Hu Hong tak menghendakinya lebih jauh, Katanya kalau para menteri melayaninya dengan sempurna bukan lagi ia seorang pertapa.,.!"

Menyebut kata "Pertapa"

Air mata raja itu mengalir pula. Senang Siau Po mendengar raja tua itu tak mau dirawatnya lebih lama, akan tetapi pada wajahnya tak menggetarkan, sebaliknya ia berkata.

"Ada banyak sekali orang yang hendak mencelakai raja yang tua, oleh karena itu raja harus melindunginya terutama menjaganya secara diam-diam!"

Kata Siau Po.

"Itu pasti!"

Kata raja.

"Kawanan Ihama itu sangat jahat! Entah apa maksudnya dan apa pula daya upayanya.,.?"

Katanya. Hampir raja ini mengutuk dengan kata-kata cara rumah hina seperti biasa diucapkan Siau Po, yang suka meniru, Sebaliknya, ia merubah itu menjadi Nyonya itu. Siau Po tertawa dan berkata.

"Oh, Sri Baginda, Tuan telah mendapatkan kata-kata baru!"

Raja tersenyum.

"Aku dapatkan ini dari mulut adikku, yang mendapatkannya pula dari para Sie Wie nya! Adik-ku itu bersama telah mendaki gunung!"

Kata raja. Sebelum Siau Po mengatakan sesuatu, raja menambahkan "Hu Hong juga tak sudi menemukan ibu suri serta adiku itu...!"

Kata sang raja. Siau Po mengangguk.

"Para lhama itu terang ingin menahan Hu Hong supaya dapat dijadikan jaminan. Dengan begitu dapat memaksa dan memeras aku,"

Kata raja kemudian.

"Mana mereka dapat mencapai hati mereka? Siau Po kau baik sekali, kau telah menolong Hu Hong, jasamu tidak kecil!"

"Tetapi itu berkat kecerdasan raja juga!"

Kata Siau Po.

"Sri Baginda pandai memikir jauh, mulanya Sri Baginda sudah menerkanya. Maka Baginda telah mengirim hamba ini ke mari menjadi biksu sebenarnya aku tak punya jasa apa-apa, Sebab, siapa pun yang Baginda utus ke mari, dia tentu dapat melakukan tugasnya!"

Kata Siau Po.

"Bukan soal itu.,."

Kata raja.

"Kata Hu Hong kau pandai mengetahui hatinya kau dapat menyelamatkan tanpa ada yang korban, Dan di antara kita tak ada yang celaka!"

Kata raja.

"Hamba mendengar Lo Hongya hendak membakar diri hal itu membuat aku khawatir!"

Kata Siau Po.

"Lo Hong hendak menebus dosa...!"

"Apa, membakar diri?"

Tanya raja terkejut "Menebus dosa...!"

Raja itu kaget sehingga tubuhnya menggigil.

"Begitulah!"

Kata Siau Po, yang mengatakan duduknya peristiwa di saat mereka bingung sekali, karena pihak lhama akan datang menyerbu.

"Oleh karena tidak ada jalan lain, terpaksa hamba melakukan itu. Hamba merasa kurang hormat telah menyiraminya!"

"Tapi kau berbuat demikian guna menolong ayahanda, itu bagus!"

Raja justru memuji. Terus raja berdiam untuk menoleh ke pintu ayahnya.

"Hu Hong memesanku untuk menyayangi rakyat. Supaya aku tidak menambah pajak!"

Kata raja.

"Kata-kata itu akan kuingat dan kau pun pernah menyampaikannya terhadapku tetapi kali ini pesan pribadi dari Hu Hong nanti aku tak dapat melupakannya."

"Pajak ialah uang yang dibayarkan kepada negara!"

Sahutnya, menjelaskan.

"Di jaman Ahala Beng, kalau raja mengerjakan angkatan bersenjata untuk berperang uangnya di-dapat dari memeras rakyat Raja-raja itu sangat royal, uangnya kurang. Maka rakyatlah yang diganggu dipaksa memenuhi kehendaknya! para pembesar Beng juga busuk sekali, mereka jahat Jika raja membutuhkan seratus juta mereka menambah menjadi dua ratus juta, Hingga mereka turut me-ngeduk harta! Demikianlah rakyat yang miskin bertambah melarat Raja menambah pajak, lain tahun menambah kenaikan, lalu rakyat dari mana mendapatkan uang?"

Kata raja. Siau Po mengangguk.

"Oh, kiranya begitu"

Kata Siau Po.

"Ayahnya memerintahkan pada raja jangan menaikkan pajak, itu maksudnya agar tak terjadi huru-hara?"

Tanya Siau Po.

"Kau menyebut dia Giau Sun!"

Kata raja.

"Hu Hong berkata padaku sebabnya mengapa ia menyucikan diri, bahkan selama beberapa tahun ia sudah menutup diri, Karena ia malu sendiri atas perbuatannya selama menjadi raja, Dahulu sebenarnya raja Cong Ceng mati dipaksa oleh si berandal yang membuat huru-hara dan memberontak karena Gouw Sam Kui datang ke negeri kita meminta bantuan dan meminjam angkatan perang kita dan si berandal dapat diruntuhkan."

Kata raja.

"Dengan demikian kami membalas sakit hati raja Beng! Akan tetapi lain pandangan rakyat Han, mereka bukan saja berterima kasih pada kami bahkan kami dipandang sebagai musuh besar. Nah, coba kau katakan apa sebab dari itu!"

Tanya raja.

"Mungkin mereka itu tolol!"

Sahut Siau Po.

"Memang di dunia ini ada banyak sekali manusia toIoI, sebaliknya orang pintar sangat sedikit! Atau mungkin mereka itu orang yang tak berbudi yang melupakan kebaikan orang!"

Kata Siau Po.

"Mungkin mereka beranggapan demikian itu bukannya!"

Kata raja, Kaisar Kong Hi menghela napas.

"Pembunuhan sepuluh hari Yang-ciu dan tiga hari di Ke Teng di mana orang yang dibinasakan tak terhitung jumlahnya, itulah perbuatan yang sangat jahat dari Kerajaan kita.,.!"

Katanya menyesal.

"Maka nanti sepulangnya aku dari kota raja, aku bakal memaklumkan pembebasan pajak selama tiga tahun pada para penduduk itu!"

Mendengar kata-kata raja itu, Siau Po berpikir.

"Kalau penduduk kota Yang Cu dan Keng teng bebas pajak tiga tahun, saku mereka tentu akan banyak uangnya, Dan Yang Cu pastilah Lecu Wan akan maju dan subur. Maka itu bagaimana aku dapat berpikir agar raja cilik ini menugaskan aku melakukan sesuatu di Yang Cu..?"

Sedang berpikir demikian Siau Po ditanya rajanya.

"Hai, bagaimana pikiran itu bagus atau tidak?"

Tanyanya. Siau Po terkejut Kemudian raja menceritakan pada Siau Po bahwa ia pernah memerintahkan pada Sie Wie untuk menyelidiki rombongan yang datang itu, ia pun menceritakan perihal ibu surinya.

"Sekarang ini kau sudah selesai mewakili aku menjadi Biksu dan sudah saatnya kau pulang bersama aku ke kotaraja, Untuk itu selain kau menjadi biksu kau juga telah menjadi lhama besar. Kau boleh pilih untuk kau dua ribu Sie Wie untuk menjadi anggotamu, Kau dapat membuatkan mereka tempat di sekitar gunung. Di sana kau akan menjadi lhama dan akan mendapat hadiah yang besar...!" 00oo00 Bhiksuni itu tidak suka banyak bicara, Dia diam saja, Tapi ketika si anak muda mengoceh terus, dia pun berkata.

"llmu silat Siau Lim Pay mempunyai keistimewaan tersendiri katanya.

"Kau si bocah cilik mirip dengan katak dalam tempurung, jangan sembarangan kau berbicara! Memang benar aku tidak mempunyai ilmu kebal seperti kau yang tidak mempan senjata tajam...."

Siau Po jadi tertarik dengan kepribadian si bhikuni itu.

"SebetuInya ilmu kebalku ini ilmu palsu,"

Katanya sembari membuka jubah luarnya untuk memperlihatkan baju mustikanya yang tidak mempan senjata tajam.

"Baju inilah yang membuat tubuhku kebal senjata tajam."

Bhikuni itu segera meluncurkan tangannya menotok baju mustika Siau Po. Tapi sampai berkali-kali dia tidak berhasil menotok putus sehelai benangnya sekalipun Dia pun tersenyum.

"Rupanya begitu! Tadinya aku heran Siau Lim Pay memiliki ilmu kebal yang demikian luar biasa dan engkau yang masih muda sudah berhasil menguasainya!"

Senang sekali hati si bhikuni, bibirnya mengembangkan senyuman kemudian menambahkan.

"Anak, kau benar-benar jujur dan polos!"

Di dalam hati Siau Po tertawa. Dalam hidupnya ada juga orang yang mengatakan dia jujur dan polos. Baginya, pujian itu sungguh langka.

"Suthay,"

Katanya.

"Terhadap lain orang, mungkin aku tidak akan terus terang, tetapi terhadapmu aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak tahu mengapa aku tidak berani berdusta kepadamu, mungkin karena aku menganggap kau sebagai...ibuku,.,."

"Sudah! Sudah!"

Tukas si bhikuni.

"Lain kali, jangan kau bicara seperti itu lagi, kurang enak aku mendengarnya!"

"Baik, baik, suthay!"

Sahut Siau Po.

"Kau telah menyerang aku sampai sekarang rasa sakitnya masih ada. Tapi tidak apa-apa, aku merasa puas dengan sikapmu ini, lagipula aku telah menyebutmu sebagai ibu...."

Ibu Siau Po adalah seorang pelacur, dengan memanggil suthay itu sebagai ibu, dia menganggapnya sebagai seorang pelacur juga, Dasar bocah ini nakal sekali.

Diam-diam Siau Po melirik bhikuni itu.

Dia mendapat kenyataan bahwa wajah wanita itu cantik dan berwibawa, Tanpa terasa timbul perasaan kagum dan hormatnya.

Bocah ini memang luar biasa, Terhadap Sang Buddha saja, tidak ada perasaan hormatnya sama sekali, Terhadap Tan Kin Lam, gurunya, dia hanya merasa takut.

Terhadap Hong kaucu dan Hong hujin, dia hanya hormat dibibir saja, di dalam hatinya dia memandang hina.

Tapi aneh, terhadap bhikuni ini, dia tidak berani kurang ajar.

Hatinya langsung merasa menyesal telah mengumpamakan orang seperti pelacur.

Bhikuni berjubah putih itu mengajak Siau Po turun gunung dari sebelah utara, Dari sana mereka memutar ke timur, akhirnya mereka tibalah di sebuah pasar, Siau Po membeli seperangkat pakaian baru, Setelah berdandan, dia tampak seperti anak tanggung seorang hartawan.

Selama menjadi bhiku palsu dan melindungi kaisar Sun Ti, Siau Po memang membekal uangnya yang jumlahnya beberapa puluh ribu tail perak.

Karena itu, sekarang sepanjang perjalanan mudah saja dia melayani bhikuni itu.

Setiap kali makan, dia selalu meminta barang hidangan yang istimewa, bahkan kalau perlu dia membantu koki rumah makan tersebut bagaimana harus membuat hidangan yang lebih lezat.

Selama di istana dia sudah sering melayani kaisar dan ibu suri, karena itu dia tahu makanan apa saja yang terkenal kelezatannya.

Si bhikuni berjubah putih, atau lebih baik kita panggil saja Pek I Ni rupanya pendiam sekali, dia jarang berbicara, Siau Po segera tahu kebiasaan wanita itu.

Karena itu apabila tidak ada keperluan penting, dia tidak mengajak orang bicara, Dia hanya melayani dengan telaten dan bersikap manis.

Dengan demikian, pada suatu hari tibalah mereka di tempat tujuan, yakni kotaraja.

Siau Po memilih sebuah hotel yang besar, begitu berbicara dengan si pengurus hotel, dia langsung memberi hadiah sebanyak dua puluh tail, karena itu dia segera mendapatkan pelayanan yang memuaskan.

Ketika melihat tamunya seorang pendeta perempuan, pemilik hotel itu merasa heran.

Tetapi dia mengambil sikap tidak perduli..

Hari itu, setelah selesai bersantap, tiba-tiba Pek I Ni berkata kepada Siau Po.

"Aku akan pergi ke bukit Keng San untuk melihat-Iihat."

"Bukit Keng San?"

Tanya Siau Po heran.

"ltukan bukit tempat bersemayamnya arwah para mendiang kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng! Ya, kita memang perlu ke sana untuk memberikan hormat kita."

Segera keduanya berangkat, hanya sesaat saja mereka sudah tiba di tempat tujuan, Mereka sudah berada di sebuah taman yang ada di sisi makam.

Sesampainya di atas bukit, Siau Po menunjuk pada sebatang pohon besar.

"Kaisar Cong Ceng wafat dengan menggantung diri di atas pohon itu."

Katanya menjelaskan.

Pek I Ni mengelus-elus pohon itu.

Tangannya bergetar dan air matanya langsung jatuh berderai membasahi pipinya.

Bahkan sekejap kemudian, terdengar dia menangis tersedu-sedu sampai menjatuhkan dirinya berlutut di bawah pohon itu.

Siau Po heran menyaksikan sikap wanita itu, Sebagai orang yang cerdas, pikirannya langsung bekerja.

-Mungkinkah dia mengenal kaisar Cong Ceng?

--tanyanya dalam hati, Dia langsung teringat kepada bibi To nya.

Karena itu dia berpikir lagi.

--Mungkinkah dia juga bekas seorang dayang dalam istana seperti halnya bibi To?

Atau...

dia salah seorang selir raja?

Ah, tidak mungkin!

Usianya tidak tepat!

Dia malah lebih muda dari pada si perempuan hina ibu suri.

Pek I Ni masih menangis terus.

Mau tidak mau, Siau Po jadi terharu sekali, Tanpa terasa dia ikut menjatuhkan diri berlutut di bawah pohon itu bahkan menyembah beberapa kali untuk menghormati arwah kaisar Cong Ceng yang mati menggantung diri di sana.

Tidak lama kemudian, Pek I Ni berdiri Dia merangkul pohon itu dan tiba-tiba tubuhnya jatuh terkulai Rupanya dia tidak sadarkan diri lagi.

Siau Po terkejut setengah mati, Dia berdiri, kemudian berusaha membangunkan wanita itu.

"Suthay! Suthay!"

Panggilnya berkali-kali.

"Suthay, sadarlah!"

Sejenak kemudian, Pek I Ni siuman juga dari pingsannya, Wanita itu masih berdiam diri sekian lama, akhirnya dia baru berkata dengan suara lirih.

"Mari kita pergi ke istana untuk melihat-lihat."

"Baik,"

Sahut Siau Po.

"Kita pulang dulu ke rumah penginapan Di sana aku akan mencari pakaian thay-kam. Nanti suthay menyamar sebagai seorang thay-kam baru kita masuk ke dalam istana."

Pek I Ni tampaknya tidak senang dengan usul itu.

"Mana boleh aku mengenakan pakaian bangsa Tatcu?"

Katanya dengan nada keras. Siau Po bingung. Tetapi sesaat kemudian dia sudah mendapat akal.

"Begini saja,"

Katanya.

"Sebaiknya suthay menyamar sebagai seorang Ihama, Sudah biasa di istana kedatangan pengikut agama asal Tibet itu."

Pek I Ni menggelengkan kepalanya.

"Tidak!"

Katanya.

"Aku tak sudi menyamar sebagai Ihama. Aku akan pergi dengan pakaianku ini. Siapa yang berani menentang aku?"

"Memang benar, para pengawal dalam istana pasti tidak mungkin bisa merintangi suthay, tapi kalau sampai terjadi penghadangan, berarti terjadilah pertempuran Dengan demikian suthay tidak akan mendapat kesempatan untuk melihat-lihat lagi."

Siau Po tidak ingin kedatangan mereka sampai menimbulkan keonaran. Pek I Ni mengangguk perlahan.

"Kau benar juga,"

Katanya.

"Sebenarnya kalau hari sudah gelap aku akan masuk ke dalam istana, Kau tunggu aku di rumah penginapan ini saja, jadi kalau terjadi sesuatu, dirimu pasti tidak akan terlibat"

"Oh, tidak, tidak!"

Sahut Siau Po cepat "Aku ingin ikut bersama suthay.

Aku kenal baik keadaan dalam istana, tidak ubahnya seperti rumahku sendiri Aku pun mengenal dengan baik seluruh penghuni istana itu.

Pokoknya, apa pun yang ingin suthay lihat, aku ingin menunjukkannya."

Bhikuni itu tidak berkata apa-apa, dia hanya diam saja, Siau Po juga membungkam.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua tengah malam , Pek I Ni ke luar dari kamarnya, dia meloncati genting dan Siau Po mengikuti di belakangnya.

Sesaat kemudian mereka sudah sampai di luar tembok istana.

"Mari kita putar ke arah timur laut!"

Ajak Siau Po.

Dua dinding sebelah sana lebih pendek dari yang lainnya, Di bagian itu, hanya pegawai serabutan yang tinggal disana, Tidak pernah para pengawal meronda sampai ke bagian itu.

Pek I Ni menurut Dia menuju timur laut seperti yang ditunjuk anak muda itu, sesampainya di bawah tembok, dia segera mencekal ikat pinggang Siau Po dan ditentengnya melompati tembok tersebut dan seterusnya turun ke dalam halaman istana.

"Selewatnya dari sini, kita akan sampai di ruang Lok Siu Tong dan pendopo Yang Seng Tian,"

Kata Siau Po memberikan keterangannya.

"Bagian mana yang suthay ingin lihat?"

"Semua bagian pun aku ingin melihatnya,"

Sahut Pek I Ni yang langsung berjalan menuju barat Mereka melintasi Lok Siu Tong dan Yang Seng Tian, kemudian memutar ke sebuah koridor dan sampai di pendopo Han Kiong Potian.

Lalu mereka menyusun keraton Keng Yang Kiong, Ciong Ciu Kiong dan akhirnya sampai di taman bunga.

Walaupun cuaca gelap gulita, nyatanya Pek I Ni dapat berjalan dengan cepat dan ketika membelok, dia tidak ragu-ragu sedikit pun.

Dan di setiap tempat yang ada penjaganya, dia selalu sudah bersiap siaga dengan menyembunyikan diri dulu di tempat yang gelap atau di gerombolan pepohonan.

Setelah penjaga itu lewat, dia baru melanjutkan langkah kakinya.

Menyaksikan gerak-gerik bhikuni itu, Siau Po merasa heran.

-Aneh!

--katanya dalam hati, -Mengapa suthay ini kenal baik sekali keadaan dalam istana ini?

Bahkan tampaknya lebih kenal daripada aku sendiri Aku menyatakan akan menjadi petunjuk jalan baginya, malah sekarang boleh dibilang dia yang mengantar aku....

-Sembari membungkam dan dalam hati menduga-duga, Siau Po membiarkan dirinya diajak ke arah barat.

Mereka ke luar dari pintu Kun Leng Mui dan sampai di keraton Kun Leng Kiong.

setibanya di sana, si bhikuni tampak agak ragu-ragu.

"Bukankah permaisuri tinggal di dalam keraton ini?"

Tanyanya.

"Sri Baginda toh belum menikah, jadi mana mungkin memiliki permaisuri?"

Sahut Siau Po. Tadinya ibu suri yang berdiam di sini, sekarang dia pindah ke Cu Leng Kiong. Tempat ini tidak ada yang menghuni lagi."

"Mari kita masuk untuk melihat-Iihat!"

Kata Pek I Ni yang langsung menghampiri jendela, Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh daun jendela itu, Sekali tarik saja jendela itu sudah terpentang.

Dengan satu kali loncatan, Pek I Ni masuk ke dalam, Tindakannya diikuti oleh Siau Po.

Siau Po sendiri belum pernah masuk ke dalam kamar ini.

Dapat dipastikan bahwa kamar ini sudah lama dibiarkan kosong.

Begitu masuk ke dalam, hawa pengap langsung menusuk hidung.

Untung ada sinar rembulan yang menyorot lewat jendela, sehingga keadaan di dalamnya tidak terlalu gelap.

Siau Po melihat Pek I Ni langsung duduk di atas tempat tidur tanpa bergerak sama sekali.

Sesaat kemudian, Siau Po tambah heran, dia melihat wanita itu meneteskan air mata.

--Tidak salah lagit Dia pasti sama dengan bibi To yang pernah menjadi dayang dan melayani permaisuri dari dinasti yang terdahulu Kemudian tampak Pek I Ni berdiri Dia mendongakkan kepalanya dan memperhatikan tiang penglari.

"Dulu, permaisuri Cin Hong hou mati gantung diri di sana.-."

Katanya perlahan.

"Benar,"

Sahut Siau Po yang kecurigaannya bertambah-tambah, Karena itu, dia segera bertanya dengan suara perlahan.

"Suthay, maukah kau menemui bibiku?"

"Bibimu?"

Tanyanya bingung.

"Siapakah bibimu itu?"

"Bibiku itu she To, namanya Hong Eng."

"Hong Eng?"

Sahut Pek I Ni menegaskan.

"Tidak salah!"

Sahut Siau Po.

"Mungkin suthay mengenalnya, Dulu dia menjadi dayang putri Tiang Kongcu dari kaisar Cong Ceng...."

"Bagus!"

Seru Pek I Ni yang tampaknya tertarik sekali.

"Dimana dia sekarang? Suruh dia menemui aku!"

Siau Po tahu biasanya wanita ini tenang sekali sebagaimana ketika dia berusaha membunuh kaisar Kong Hie.

Gerakannya gesit dan sikapnya tidak gugup sedikit pun.

Tetapi kali ini suaranya agak bergetar Hal ini menandakan hatinya tegang sekali.

"Malam ini bibiku itu tidak dapat dipanggil"

Kata Siau Po.

"Kenapa?"

Tanya si bhikuni dengan suara mendesak.

"Bibiku itu setia sekali terhadap kerajaan Beng yang agung,"

Sahut Siau Po.

"Dia pernah berusaha membunuh ibu suri bangsa Tatcu, Sayang dia gagal, ibu suri tidak sampai mati, Oleh karena itu, bibi terpaksa harus menyembunyikan diri dalam istana, Bibi To harus melihat dulu tanda rahasia dariku, besok malam baru kita dapat bertemu dengannya."

"Baiklah,"

Kata Pek I Ni.

"Hong Eng, budak itu benar-benar pemberani dan bersemangat, Apakah tanda rahasia yang harus kau buat untuk memanggilnya ?"

"Dengan bibi aku telah berjanji,"

Kata Siau Po.

"Kalau kami hendak bertemu, aku harus menancapkan sebatang kayu di tempat pembakaran, melihat kayu itu, bibi To segera akan tahu maksudku."

"Kalau begitu, mari kita buat tanda itu!"

Kata Pek I Ni yang segera melompati jendela.

Setelah itu dia menarik tangan Siau Po untuk ke luar dari pintu Liong Hok Mui, lalu melintasi keraton Eng Siu Kiong, melewati pendopo-pendopo Te Goan Tian dan Po Hoa Tian, kemudian menuju utara di mana terletak tempat pembakaran.

Di sana, Siau Po bermaksud langsung menancapkan sebatang kayu sebagai tanda, tapi tiba-tiba si bhikuni memberikan isyarat kepadanya.

"Awas! Ada orang!"

Tempat itu tempat pembakaran sampah atau barang-barang rongsokan yang tidak dipakai lagi, jarang sekali tengah malam ada orang yang datang ke sana.

Siau Po segera menarik tangan Pek I Ni dan diajaknya bersembunyi di belakang sebuah jambangan besar.

Segera terdengar suara langkah kaki yang cepat dan ringan, Orang itu berjalan di atas kerikil, jadi timbul sedikit suara, sebentar saja dia sudah sampai di tempat pembakaran sampah, Dia melihat kayu yang ditancapkan Siau Po.

Sekejap kemudian, dia menghampiri kayu itu dan mencabutnya.

Ketika orang itu memutar tubuhnya, Siau Po segera melihatnya dengan jelas dan mengenalinya sebagai To Hong Eng.

"Bibi, aku di sini!"

Panggilnya perlahan Dia pun segera muncul dari tempat persembunyiannya. Hong Eng segera menghambur ke depan dan memeluk Siau Po.

"Oh, anak yang baik!"

Serunya girang.

"Akhirnya kau kembali juga. Kau tahu, setiap malam aku datang kemari untuk metihat-lihat. Aku selalu berharap dapat menemukan tanda yang kita janjikan dulu."

"Bibi,"

Kata Siau Po kemudian.

"Ada seorang yang ingin bertemu dengan bibi...."

Tampaknya Hong Eng merasa heran, Dia melepaskan pelukannya dan menatap Siau Po lekat-lekat.

"Siapa orang itu?"

Tanyanya. Pada saat itu, Pek I Ni sudah ke luar pula dari tempat persembunyiannya.

"Hong Eng,"

Sapanya.

"Hong Eng, apakah kau masih mengenali aku?"

To Hong Eng terkejut setengah mati, Dia tidak menyangka ada orang lain yang bersembunyi di belakang jambangan besar itu.

Tanpa terasa kakinya sampai menyurut mundur tiga langkah, tangan kanannya segera meraba ke bagian pinggang untuk menghunus pedang pendeknya.

"Siapa kau?"

Tanyanya. Pek I Ni menghela napas.

"Rupanya kau sudah tidak mengenali aku lagi."

Katanya perlahan, Hong Eng memperhatikan dengan seksama.

"Kau... kau.,."

Katanya sambil maju dua langkah.

"Aku tidak dapat melihat wajahmu dengan jelas...kau.,.,"

Pek I Ni memiringkan tubuhnya sedikit agar wajahnya tersoren cahaya rembulan. Sembari melakukan hal itu, dia berkata dengan Iirih.

"Wajahmu juga sudah banyak berubah...."

Hong Eng terkejut setengah mati.

"Kau... kau..."

Tiba-tiba dia melemparkan pedang pendeknya kemudian menghambur ke depan Pek I Ni dan menjatuhkan dirinya berlutut serta memeluk pahanya.

"Oh, Tiang kiongcu!"

Seru nya. suaranya bergetar.

"Kiranya Kiongcu! Aku... aku.,,."

Dia langsung menangis tersedu-sedu, Tampaknya ia sedih sekali Setelah lewat sesaat, dia baru memaksakan dirinya berkata lagi.

"Kongcu, sekarang aku bertemu lagi dengan kongcu, walaupun aku harus mati, rasanya aku sudah cukup puas, Hatiku senang sekali!"

Bagian 47 Mendengar To Hong Eng menyebut Tiang kongcu atau puteri Tiang, bukan main terkejutnya hati Siau Po.

Langsung teringat olehnya penuturan bibi To beberapa waktu yang lalu, To Hong Eng adalah dayang kongcu ini.

Menurut To Hong Eng, kaum pesuruhnya Li Cong menyerbu kotaraja, Kaisar Cong Ceng bermaksud membunuh puteri kesayangannya ini dengan tangan sendiri, dia tidak ingin puterinya itu terjatuh ketangan si pemberontak Setelah menebas sebelah lengan puterinya itu, Cong Ceng berniat mengulangi bacokannya.

Tapi untuk Hong Eng keburu datang dan dia membiarkan punggungnya yang terkena bacokan itu, Karena itu pula, Hong Eng jatuh tidak sadarkan diri, Tatkala siuman kembali Cong Ceng dan Tiang kongcu telah lenyap.

Entah ke mana perginya mereka, sekarang ternyata Tiang kongcu masih hidup dan dia dapat bertemu kembali dengan dayangnya yang sangat setia itu.

Siau Po melirik kepada Pek I Ni dan berkata dalam hati.

--Dia telah kehilangan sebelah lengannya.

Dia juga kenal baik keadaan dalam istana ini dan tadi di dalam keraton Kun Leng Kiong dia juga menangis sedih sekali, seharusnya sejak semula aku sudah dapat menduga siapa dirinya.

Tapi sampai sekarang aku baru mengetahuinya, aku benar-benar tolol sekali....-"Apakah selama ini kau terus berdiam dalam istana ini?"

Terdengar pertanyaan Tiang kongcu pada bekas dayangnya itu.

"lya,"

Sahut To Hong Eng yang masih menangis sesenggukan "Kata bocah ini, kau pernah mencoba membunuh ibu suri bangsa Tatcu."

Kata pula si tuan puteri.

"ltu bagus, Tapi,., hal itu bisa menyulitkan kedudukanmu sendiri."

Sembari berbicara, tanpa dapat menahan keharuan hatinya, puteri itu meneteskan air mata.

"Kongcu, dirimu lebih berharga dari laksaan tail emas,"

Kata Hong Eng.

"Kongcu tidak boleh berdiam di sini terlalu Iama. Bahaya sekali, sebaiknya aku antar kongcu keluar dari istana sekarang juga."

Tiang kongcu menghela napas panjang.

"Sedari lama aku bukan kongcu lagi."

Katanya.

"Tidak, tidak."

Kata To Hong Eng.

"Di mata hamba, sampai kapan pun, kongcu tetap seorang tuan puteri Untuk selama-lamanya tetapi Tiang kongcu hamba."

Pek I Ni tersenyum pilu, Diantara sinar sang rembulan, tampak air mata membasahi pipinya yang cantik, Tapi senyumannya itu tampak dipaksakan sekali.

"Apakah keraton Leng Siu Kiong ada yang menempati?"

Tanyanya pula, ingin sekali aku melihatnya."

"Leng Siu Kiong?"

Suara To Hong Eng agak ragu-ragu.

"Sekarang ini Leng Siu Kiong ditempati oleh Kian Leng kongcu, puteri si raja Tatcu. Namun sudah beberapa hari ini entah raja, ibu suri dan puterinya pergi ke mana. Mereka tidak berada di kotaraja, jadi di sana hanya ada beberapa dayang dan thay-kam. sebaiknya aku pergi ke sana membinasakan mereka semua agar kongcu dapat pergi ke sana."

"Tidak perlu kau sampai membunuh orang!"

Kata si puteri.

"Aku hanya ingin melihatlihat saja."

Hong Eng menganggukkan kepalanya.

"Baik."

Sahutnya.

Dayang ini tidak tahu tuan puterinya telah memiliki ilmu silat yang tinggi.

Dia hanya merasa terharu dan senang dapat bertemu kembali dengannya.

Tentu dia juga senang sekali dapat mengantarkan tuan puteri nya, sekalipun ke tempat yang penuh dengan mara bahaya.

"Mari, kongcu!"

Katanya kemudian.

Dia langsung berjalan mendahului Mereka bertiga menuju keraton Leng Siu Kiong.

Setelah melalui beberapa pendopo dan gudang daun teh serta tempat penyimpanan kain sutera, mereka pun sampai di tempat tujuan.

"Harap kongcu tunggu sebentar!"

Kata Hong Eng setengah berbisik "Nanti hamba pergi mengusir dulu para thay-kam dan dayang-dayang di sana."

"Tidak usah,"

Kata Tiang kongcu yang langsung menghampiri pintu dan dengan mendadak menubruknya, pintu itu langsung jebol olehnya, sehingga timbul suara berisik, Dan Tiang kongcu langsung masuk ke dalamnya.

Rupanya, meskipun telah direbut oleh kerajaan Ceng, keadaan di dalam istana itu masih belum berubah banyak.

Tiang kongcu kenal baik semua kamar-kamar dalam istana itu.

Karena itu dia langsung memasuki kamar para thay-kam dan dayang, Mereka terkejut setengah mati, Tetapi sebelum mereka sempat mengambil tindakan apa-apa.

Mereka sudah ditotok satu per satu oleh Tiang kongcu.

Dengan demikian, Tiang kongcu tidak menemukan halangan apa pun untuk memasuki kamar itu.

To Hong Eng merasa heran dan kagum akan kelihayan tuan puteri itu.

"Oh, kongcu!"

Serunya.

"Kiranya kongcu sudah demikian lihay sekarang!"

Pek I Ni tidak mengatakan apa-apa.

Dia langsung duduk di atas tempat tidurnya dan terpaku karena teringat masa lalunya, Kejadian itu sudah berlangsung kurang lebih dua puluh tahun yang lalu.

Di sinilah lengan kanannya dikutungkan oleh ayahnya, sekarang negaranya telah berhasil dirampas oleh musuh dan kamarnya pun menjadi kamar tuan puteri bangsa Tatcu itu.

Hong Eng dan Siau Po berdiri di kedua sisi tuan puteri itu.

Mereka sama-sama membisu.

"Coba nyatakan lilin!"

Perintah Tiang kongcu setelah lewat sejenak.

Hong Eng mengiyakan.

Dia segera melaksanakan perintah itu.

Sekejap kemudian kamar itu sudah terang benderang, Tampak di dinding, di atas meja terdapat berbagai senjata tajam seperti golok dan pedang.

Ada juga cambuknya.

Hal ini membuktikan bahwa penghuni kamar ini mengerti ilmu silau Tidak mirip dengan kamar seorang puteri.

Perlahan sekali Tiang kongcu menarik napas panjang.

"Rupanya puteri Tatcu itu gemar ilmu silat."

Katanya.

"Puteri Tatcu itu mempunyai watak yang sangat aneh,"

Kata Siau Po.

"Dia bukan hanya senang menghajar orang, dirinya sendiri pun senang bila mendapat hajaran dari orang, Tentang ilmu silatnya, sebetulnya belum berarti apa-apa, bahkan masih lebih rendah dari pada aku."

Diam-diam Siau Po melirik ke dalam tempat tidur Dia teringat akan peristiwa hari itu ketika dia terpaksa bersembunyi di dalam selimutnya puteri Tatcu itu sampai akhirnya dia dipergoki oleh ibu suri dan dibekuknya.

Kalau saat itu dia belum mempunyai Ngo Liong Leng, mungkin saat ini dia sudah tidak hidup di dunia ini lagi "Semua lukisan dan kitabku mungkin telah dibuang oleh puteri Tatcu itu,"

Kata Tiang kongcu yang kembali menarik napas panjang.

"Dia kan puteri Tatcu, aku rasa dia hanya mengenal beberapa huruf saja,"

Kata To Hong Eng.

"Karena itu, mana mungkin dia mengenal ilmu silat dan seni lukis?"

Tiang kongcu tidak mengatakan apa-apa Iagi, Dia hanya mengibaskan tangan kirinya sehingga padamlah lilin di depannya.

"Mari ikut aku!"

Katanya kemudian.

"Baik, kongcu!"

Sahut Hong Eng.

"Kongcu begini lihay, alangkah baiknya andaikata kongcu dapat membekuk ibu suri bangsa Tatcu dan memaksa dia menyerahkan beberapa

Jilid kitabnya supaya kita dapat merusak otot nadi naganya...."

"Kitab apakah itu?"

Tanya Pek I Ni.

"Dan apa yang kau maksud dengan urat nadi naganya?"

"Kitab Si Cap Ji Cin Keng,"

Hong Eng memberikan keterangannya.

"Kitab itu memuat rahasia urat naga bangsa Tatcu." Dayang ini langsung menjelaskan dengan singkat tentang kitab pusaka tersebut yang semuanya terdiri dari delapan jilid. Pek I Ni mendengarkan dengan seksama dan otaknya bekerja, Setelah To Hong Eng selesai dengan ceritanya, dia baru berkata.

"Kalau benar isi kitab itu seperti yang kau katakan, bagus sekali sebaiknya kita tunggu sampai kembalinya ibu suri bangsa Tatcu itu, baru kita kembali lagi ke sini!"

Ketiga orang itu segera ke luar dari Leng Siu Kiong lalu meninggalkan istana itu lewat pintu utara kembali sebagaimana masuknya tadi.

Mereka langsung pulang ke penginapan.

Malam itu Hong Eng gembira sekali.

Dia telah bertemu kembali dengan tuan puterinya bahkan dapat tidur satu kamar dengannya, Saking senangnya.

Hong Eng sampai tidak bisa tidur.

Sementara itu, otak Siau Po terus berputar -Dari delapan

Jilid kitab Si Cap Ji Cin Keng itu, enam di antaranya ada padaku, Yang satu lagi berada di tangan Sri Baginda, entah di mana

Jilid yang ke delapan itu, sekarang si tuan puteri beserta dayangnya ingin memaksa si nenek sihir menyerahkan kitab itu.

Mana mungkin?

Tapi ada baiknya kalau mereka berhasil membunuh ibu suri, dengan demikian aku dan raja tidak pusing-pusing lagi....

Selama beberapa hari, Tiang kongcu dan To Hong Eng tidak pernah ke luar dari kamarnya, sebaliknya Siau Po setiap hari ke luar penginapan untuk menyelidiki apakah raja telah kembali ke kotaraja.

Pada hari ketujuh, tampaklah Kong Cin Ong, So Ngo Ta dan To Liong memimpin barisan Gi Cian Sie Wie melindungi beberapa buah kereta kerajaan dan memasuki halaman istana.

Hal ini menandakan raja sudah pulang, Hal itu lantas diperkuat oleh munculnya berbagai pwe lek atau pangeran, Mereka pasti ingin menjenguk raja dan menyatakan selamat atas kembali Sri Baginda dalam keadaan baik-baik saja.

Siau Po bergegas kembali ke penginapan untuk menyampaikan hal itu kepada Tiang kongcu.

"Bagus!"

Kata si tuan puteri setelah mendengar laporan Siau Po.

"Nanti malam aku akan memasuki istana, Karena raja baru pulang, penjagaan di dalam istana pasti ketat sekali, sebaiknya kalian berdua diam di dalam rumah penginapan ini saja!"

Tuan puteri bermaksud mengatakan bahwa kepandaian Siau Po dan To Hong Eng masih belum cukup tinggi untuk digunakan sebagai andalan dalam menempuh bahaya yang demikian besar.

"Suthay, aku ingin ikut."

Kata Siau Po.

"Begitu pula hambamu ini, kongcu."

Tukas Hong Eng.

"Hamba dan anak ini kenal baik sekali keadaan dalam istana, tidak perlu khawatir akan ada bahaya apa pun."

Terang dayang ini tidak ingin berpisah dengan tuan puteri yang baru ditemuinya ini.

"Kalau kalian tetap memaksa, baiklah."

Kata Tiong kongcu, Ketika saatnya sudah tiba, ketiga orang itu segera berangkat menuju istana, Mereka langsung menuju luar Cu Leng Kiong, tempat tinggal ibu suri, Siau Po membekal Ngo Liong Leng, Dia telah memikirnya matang-matang.

seandainya mereka kepergok, dia akan menunjukkan lencana itu agar ibu suri tunduk kepadanya.

Lencana itu disimpan dalam saku, tapi tangan kirinya terus menyusup ke dalam dan menggenggamnya erat-erat.

Bagian luar dari keraton Cu Leng Kiong tampak sepi sekali, Tidak tampak seorang pun di sana.

Tiang kongcu mengajak kedua rekannya memutar ke belakang dan melompati tembok dari sana.

Siau Po ditenteng olehnya dan dibawa melompati tembok bersama-sama.

Dan ketika Hong Eng melompat turun ke halaman dalam, tuan puteri itu menahan dengan tangan kirinya agar tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Dengan menunjuk ke arah jendela samping dari kamar ibu suri, Siau Po bermaksud memberikan isyarat kepada si tuan puteri bahwa si "nenek sihir"

Tinggal di sana.

Kemudian dengan gerakan tangannya, dia mengajak Tiang kongcu dan To Hong Eng pergi ke halaman belakang yang menjadi tempat tinggal para dayang keraton Cu Leng Kiong itu.

Dalam keadaan yang gelap gulita, hanya tiga buah kamar yang menampakkan sinar remang-remang, Tiang kongcu segera menghampiri salah satu kamar tersebut Dia mengintai ke dalamnya, Tampak belasan dayang sedang duduk seperti sedang bersemedi.

Dengan perlahan-lahan, Tiang kongcu menyingkap tirai kemudian memasuki kamar ibu suri, Hong Eng dan Siau Po mengikuti di belakangnya.

Di dalam kamar itu ada empat batang lilin yang dinyalakan, tapi tidak kelihatan penghuninya.

Sambil menunjuk ke arah tempat tidur, Hong Eng berkata dengan suara lirih.

"Biasanya kitab itu disimpan di tempat rahasia yang ada di bawah tempat tidur...."

Dia langsung maju mendekat untuk menyingkapkan kasur dan mencari tempat rahasia itu, Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara langkah kaki.

Siau Po segera menarik ujung baju si dayang dan diajaknya menyembunyikan diri di belakang tempat tidur.

Hong Eng mengerti.

Bersama-sama Tiang kongcu, keduanya mengikuti Siau Po bersembunyi di belakang tempat tidur.

Dari luar kamar segera terdengar suara seorang wanita.

"Mama, aku telah melakukan tugasku, Hadiah apa yang akan kau berikan kepadaku sebagai imbalannya?"

Itulah suara Kian Leng kongcu, tuan puteri bangsa Boan Ciu. Kemudian terdengar pula jawaban si ibu suri.

"Mamamu hanya menyuruh kau melakukan urusan kecil, untuk itu pun kau mengharapkan hadiah, Benar-benar gila!"

Sembari berbicara, keduanya sudah memasuki kamar ibu suri.

"Aha! Urusan kecil kata mama?"

Terdengar si tuan puteri berkata.

"Bagaimana kalau kakak raja mengetahui akulah yang mengambilnya? Tentu dia akan marah sekali."

Ibu suri duduk, terdengar kembali suaranya.

"Hanya sebuah kitab agama, apa artinya? Kita pergi ke Ngo Tay san untuk bersembahyang, maksud kita ingin mendapat perlindungan dari Pou Sat. Karena itu, sepulang dari sana kita harus bersembahyang lagi, Dengan demikian hati Pou Sat pasti senang sekali."

"Kalau hal itu memang urusan kecil seperti kata mama, sebaiknya nanti aku menemui kakak raja dan mengatakan bahwa mamalah yang menyuruh aku mengambil kitab Si Cap Ji Cin Keng itu untuk membaca doa guna memohon perlindungan Pou Sat agar kakak raja dalam keadaan sehat-sehat selalu."

Mendengar kata-kata si tuan puteri, hati Siau Po senang sekali. --Bagus! Rupanya si nenek sihir telah menyuruh puterinya mencuri kitab Si Cap Ji Cin Keng itu!"

Berpikir demikian, tiba-tiba hati Siau Po merasa kurang puas, ia ingat keadaan dirinya yang kurang menguntungkan.

Mengapa dia justru mendengar berita baik ini disaat Tiang kongcu berada di sampingnya ?

Coba kalau dia mendengarnya sendiri, bukankah kitab itu akan terjatuh ketangannya.

sedangkan sekarang keadaannya jadi menyulitkan....

"BoIeh kau beritahukan kepada kakak rajamu itu,"

Terdengar ibu suri berkata kembali "Tapi kalau raja datang menemuiku, aku akan menjawab bahwa aku tidak tahu menahu tentang kitab itu. Kata-kata seorang bocah mana boleh dipercaya begitu saja?"

"Oh, Mama! Apakah Mama ingin menyangkalnya?"

Seru si tuan puteri "Bukankah kitab itu memang ada di tangan Mama?"

Ibu suri tertawa.

"Bukankah masalah itu mudah sekali?"

Sahutnya.

"Aku bisa melempar kitab itu ke dalam tungku api sehingga tidak meninggalkan bukti apa-apa."

"Sudahlah, sudahlah!"

Kata si tuan puteri yang kewalahan juga akhirnya.

"Aku kalah bicara, Dasar Mama sudah tidak mau memberikan hadiah malah ingin mempermainkan aku!"

"Sebenarnya, kau toh telah memiliki segalanya, Apa lagi yang kau inginkan?"

Tanya ibu suri.

"Memang aku sudah memiliki apa saja, tapi masih ada satu yang kurang."

Kata si tuan puteri.

"Apa?"

"Aku kekurangan seorang thay-kam yang dapat ku ajak bermain-main."

Ibu suri tertawa.

"Seorang thay-kam?"

Katanya.

"Bukankah di dalam istana ini ada beberapa ratus orang thay-kam? Bukankah kau bisa memilih salah satu di antaranya untuk kau jadikan kawan bermain-main? Mengapa kau harus mempersoalkan masalah yang sepele itu?"

"Tidak! Aku tidak membutuhkan segala thay-kam yang Mama katakan, Mereka semua tolol. Persis seperti mayat hidup. Tidak menggembirakan bermain-main bersama mereka, Aku menginginkan Siau Kui Cu, thay-kam yang selalu mendampingi di sisi kakak raja."

Mendengar kata-kata si tuan puteri, hati Siau Po langsung tercekat.

--Aih!

Rupanya si tuan puteri ini masih belum lupa kepadaku, Tapi mengajaknya bermain bukan hal yang mudah, bisa-bisa jiwaku melayang karenanya!

-"Aku sudah menanyakannya kepada kakak raja,"

Terdengar si tuan puteri berkata kembali "Kata kakak, thay-kam itu sedang bertugas ke luar kotaraja dan sampai sekian lama belum kembali juga, Karena itu, Mama, sebaiknya kau saja yang mengatakan kepada kakak bahwa aku minta thay-kam itu diberikan kepadaku." -Ah, budak yang satu ini --, Siau Po mengeluh dalam hatinya.

--Aneh-aneh saja dia bisa punya pikiran seperti itu, Kalau aku sampai terjatuh ke tangannya, pasti setiap hari tubuhku akan babak belur dihajarnya.

"Raja menyuruh Siau Kui Cu melakukan suatu tugas?"

Tanya ibu suri.

"Tahukah kau ke mana perginya anak itu? Dan tugas apa yang harus dilaksanakannya?"

"Menurut apa yang aku dengar dari para Sie Wie,"

Sahut Kian Leng kongcu,"

Kakak raja menitahkan Siau Kui Cu pergi ke Gunung Ngo Tay san."

"Oh!"

Seru ibu suri perlahan.

"Dia pergi ke Ngo Tay san? Mengapa kita tidak bertemu dengannya?"

"Aku juga baru tahu setelah kita kembali ke istana ini. Mereka tidak tahu tugas apa yang diberikan kakak raja kepadanya, Kata para Sie Wie, kakak raja sangat menyayangi thay-kam itu. Bahkan pangkatnya telah dinaikkan."

"Oh!"

Terdengar ibu suri kembali mengeluarkan seruan tertahan, Setelah itu keadaan sunyi senyap, Beberapa saat kemudian, terdengar ibu suri baru berkata kembali.

"Baiklah, Kita tunggu sampai dia pulang, Nanti aku akan membicarakannya dengan raja."

Suara ibu suri terdengar tawar sekali.

"Sekarang sudah cukup larut, kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat"

Terdengar ibu suri melanjutkan kata-katanya.

"Aku tidak ingin kembali ke kamarku."

Kata si tuan puteri.

"Aku ingin menemani Mama tidur di sini."

"Kau toh bukan anak kecil lagi, mengapa tidak mau tidur di kamarmu sendiri?"

"Aku takut, katanya di sana ada hantu."

Sahut Kian Leng kongcu.

"Ngaco!"

Bentak ibu suri.

"Mana mungkin!"

"Tapi, memang benar, Mama! Para dayangku dan thay-kam yang mengatakannya, Mereka mengatakan bahwa beberapa malam yang lalu, mereka telah diganggu setan, Tiba-tiba saja mereka semua tidak sadarkan diri, sampai keesokkan harinya mereka baru mendusin Mereka juga mengatakan bahwa mereka seperti bermimpi saja...."

"Mana mungkin! jangan kamu dengar ocehan para budak itu!"

Bantah ibu suri. Pasti selama kita pergi, para dayang dan thay-kam itu jadi ketakutan sendiri dan menduga yang tidak-tidak. Nah, kembalilah ke kamarmul"

Kian Leng kongcu tidak berani membantah lagi, Segera dia mengucapkan selamat malam kepada ibunya lalu mengundurkan diri.

Ibu suri duduk sambil bertopang dagu, Matanya terpaku menatap sinar lilin, Lewat sekian lama, dia baru menolehkan kepalanya, Tiba-tiba dia melihat dua sosok bayangan yang bergerak-gerak menuruti gerakan cahaya lilin.

Dia terkejut setengah mati dan juga merasa heran sehingga matanya terasa berkunang-kunang, Namun dia menabahkan hatinya dan memperhatikan dengan seksama.

Tidak salah lagi, Memang itulah dua sosok bayangan dari tubuh manusia.

Tapi hatinya tetap tercekat.

--Benarkah di dunia ini ada hantu?

--, demikian pikirnya dalam hati, sekarang dia merasa, dari kedua bayangan itu, yang satu adalah bayangannya sendiri dan yang satunya lagi bayangan orang lain.

Kemudian dia teringat banyaknya korban yang mati ditangannya, umumnya mereka mati karena terkena fitnahnya, Tanpa terasa, bulu romanya jadi berdiri, tubuhnya menggigil bergidik itulah sebabnya, meskipun nyalinya besar dan kepandaiannya tinggi, dia tidak berani bergerak sedikit pun.

Sampai sekian lama, ibu suri tetap berdiam diri, namun sementara itu, otaknya terus bekerja.

--Ah, tidak, tidak!

Hantu tidak mempunyai bayangan Yang punya bayangan pasti bukan hantu, -, demikian pikirnya.

Tapi, setelah memasang telinga sesaat, ibu suri tidak mendengar suara dengus napas manusia, karena itu dia berpikir kembali.

--Kalau bukan manusia, mungkinkah sesosok mayat?

--otomatis seluruh persendian tubuhnya menjadi lemas, Dia duduk tidak berkutik Matanya terus memperhatikan kedua bayangan di hadapannya, Hampir saja dia jatuh pingsan saking pusing memikirkannya.

Setelah lewat sejenak, tiba-tiba ibu suri mendengar suara tarikan napas di belakangnya, Wanita itu merasa pasti sehingga hatinya menjadi senang sekali Dia segera menolehkan kepalanya.

Di sana, terhalang sebuah meja, dia melihat seorang pendeta perempuan sedang duduk berdiam diri dengan sepasang mata menatap kepadanya, Bhikuni itu berwajah putih bersih, mimik wajahnya tampak tenang sekali.

Sulit memastikan apakah dia seorang manusia hidup atau sesosok mayat....

"Siapa kau?"

Tegur ibu suri "Mengapa kau berada di sini?"

Suaranya agak bergetar.

Bhikuni berwajah putih bersih itu tidak menjawab pertanyaannya, ibu suri juga menatap terus, Kemudian dia mengulangi pertanyaannya, Sesaat kemudian, terdengar bhikuni itu berkata.

"Siapa kau? Mengapa kau berada di sini?"

Pertanyaan itu persis sama dengan pertanyaan yang diajukannya, Namun, sekarang hati ibu suri jadi lega, Dia dapat mendengar suara orang yang terang dan jelas.

Dapat dipastikan bahwa itulah suara seorang manusia, Karena itu hilanglah seluruh perasaan takutnya.

"Di sini keraton, istana raja!"

Katanya kemudian.

"Besar sekali nyalimu...."

Pek I Ni bersikap dingin, Sahutannya juga tawar sekali.

"Tidak salah, ini memang istana kaisar, keraton permaisuri atau ibu suri. Tapi kau, makhluk apakah kau ini? Mengapa nyalimu demikian besar sehingga kau berani datang ke mari?"

Keberanian ibu suri sudah terbangun Dia dapat mendengar dengan jelas bahwa itulah suara manusia, Bukan suara hantu.

"Aku Hong thayhou."

Sahutnya keras.

"Tentu aku berhak berdiam dalam keraton ini. Sedangkan, kau... siluman dari manakah kau ini?"

Pek I Ni mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas kitab Si Cap Ji Cin Keng yang ada di atas meja, kemudian perlahan-lahan dia mengangkatnya.

"Lepaskan!"

Bentak ibu suri, Tangannya bergerak menghajar tangan Pek I Ni.

Pek I Ni membalikkan tangannya untuk menyambut serangan ibu suri, Dengan demikian, beradulah tangan kedua orang itu dan akhirnya tubuh ibu suri terhuyunghuyung sehingga dia langsung melompat turun dari tempat tidurnya.

"Bagus!"

Serunya.

"Rupanya kau juga pandai silat!"

Sambil berseru, ibu suri menyerang, Berhadapan dengan manusia biasa, dia tidak takut sama sekali, Bahkan berturut-turut dia telah menyerang sebanyak empat kali.

Sementara itu, Pek I Ni masih duduk di atas kursi.

Bahkan dengan tangan kirinya, dia menyelipkan kitab Si Cap Ji Cin Keng itu ke dalam sakunya, sedangkan tangannya yang iain dapat membela diri dengan baik sekali, Dalam sekejap mata, pecahlah keempat serangan lawannya itu.

Ibu suri tambah gusar.

Di depan matanya sendiri, dengan mudah orang dapat merampas kitabnya, Dia merasa penasaran sekali, Dengan lincah ia meraba paha kanannya untuk mengeluarkan senjatanya, sehingga dilain detik tangannya sudah menggenggam sebuah senjata pendek yang berkilauan.

Siau Po memasang mata dengan tajam.

Dia melihat senjata ibu suri bukan golok pendek atau pisau belati, melainkan sebuah Pek Kim Tian Kong Ngo Bi Ci atau mirip dengan trisula pendek dengan bahan dari emas putih bercampur baja.

Senjata itu pula yang digunakan ibu suri untuk membunuh Hay Kong Kong tempo hari.

Dengan senjatanya itu, ibu suri menyerang kembali.

Dalam gusarnya, dia bersikap garang sekali, Senjata dalam genggamannya berkelebat ke sana ke mari sehingga menimbulkan cahaya yang berkilauan.

"Aku harus ke luar untuk mencegahnya menyerang terus,"

Katanya kepada To Hong Eng dengan suara berbisik Dia tidak ingin melihat Tiang kongcu terancam bahaya.

"Aku tidak ingin Tiang kongcu terluka...."

To Hong Eng segera menarik tangan Siau Po. "Tidak usah!"

Bisiknya.

Pek I Ni masih duduk tegak di atas kursi, ia menggerakkan tangannya untuk menotok sana dan menekan sini, Dengan cara demikian, semua serangan ibu suri dapat dipunahkannya, Meskipun setiap serangan itu sangat membahayakan.

Gerakan ibu suri gesit sekali.

Begitu dia maju, dia langsung melompat mundur kembali atau bergeser ke kiri dan kanan dan mendadak dia melakukan penyerangan lagi, Angin yang terpancar dari gerak-gerik mereka membuat lilin dalam kamar itu terus bergoyangan.

Ketika pertempuran masih berlangsung, tiba-tiba saja dua dari keempat batang lilin yang ada dalam kamar itu padam Dengan demikian keadaan di dalam kamar tidak seterang sebelumnya lagi.

Tidak lama kemudian, dua batang yang lainnya juga ikut padam sehingga kamar itu menjadi gelap gulita, pertempuran masih berlangsung terus, sebagaimana dapat diketahui dari suara yang terbit dari pukulan-pukulan keduanya.

Juga terdengar dengus napas ibu suri yang berat, Rupanya dia benar-benar gusar serta penasaran Tiba-tiba terdengar Pek I Ni bertanya.

"Kau seorang ibu suri, tapi dari mana kau mempelajari ilmu silatmu?"

Ibu suri tidak menjawab, dia masih menyerang terus, Segera terdengar suara tepakan nyaring sebanyak empat kali, itulah suara muka ibu suri yang terkena gaplokan berkali-kali.

Lalu disusul dengan suara jeritan kemarahan dan penasaran kemudian menghilang Dengan perlahan-lahan suara-suara itu menghilang seiring dengan berhentinya pertempuran yang aneh dan dahsyat itu.

Selama itu Pek I Ni masih tetap duduk di atas kursinya, Sejenak kemudian, kamar itu menjadi terang kembali Rupanya Pek I Ni segera menyatakan sebatang lilin yang ada di dekatnya, Tampaklah ibu suri sedang bertekuk lutut di hadapan lawannya tanpa dapat berkutik sedikit pun.

Menyaksikan keadaan itu, hati Siau Po senang sekali --Biar bagaimana, aku harus membunuh setan perempuan itu hari ini --, pikirnya, Sementara itu, Pek I Ni mengulurkan tangannya untuk menyulut tiga batang lilin lainnya, Dengan demikian suasana kamar itu kembali terang seperti semula.

Rupanya Tiang kongcu menyalakan lilin dengan Hwe Cip (pemantik api) yang selalu dibekalnya, Siau Po kagum sekali melihat kelihayan dan kecerdasan puteri itu.

Wajah ibu suri pucat pasi, rupanya dia merasa malu dan tidak berdaya.

"Bunuhlah aku!"

Katanya.

"Menyiksa dengan cara seperti ini bukanlah perbuatan orang gagah."

"Kau ini benar-benar aneh."

Kata Tiang kongcu yang tidak menggubris permintaan orang.

"Bukankah kepandaianmu ini berasal dari Coa To? Mengapa kau yang merupakan seorang nyonya agung, ibu suri sebuah kerajaan, bisa berhubungan dengan kawanan Sin Liong kau?"

Diam-diam Siau Po tercekat hatinya.

--Segala apa pun diketahui oleh suthay ini, aku harus berhati-hati --pikirnya, -Aku tidak boleh sembarangan berbicara atau membohonginya....

-"Apa itu Sin Liong Kau?

Aku tidak tahu."

Sahut ibu suri.

"Kepandaianku ini aku dapatkan dari seorang thay-kam."

"Apa? Seorang thay-kam?"

Tanya Pek I Ni heran.

"Jadi ada seorang thay-kam di sini yang mempunyai hubungan dengan Sin Liong Kau? Siapa thay-kam itu? Siapa namanya?"

"Dia bernama Hay Tay Hu, dia sudah lama menutup mata."

Mendengar jawaban itu, Siau Po tertawa dalam hatinya.

--Nenek sihir ini mengoceh tidak karuan!

Coba kalau dia tahu aku ada di sini, tentu dia tidak berani bicara seperti itu.

--Meskipun berpikir demikian, Siau Po tetap tidak ke luar dari tempat persembunyiannya.

Pek I Ni berdiam diri sekian lama, kemudian baru dia berbicara lagi.

"Hay Tay Hu?"

Tanyanya. Agaknya dia sedang berpikir "Aku belum pernah mendengar nama itu, Barusan kau menepuk aku tujuh kali dengan tenaga yang luar biasa beratnya. Apa nama pukulan itu?"

"Menurut keterangan guruku, itulah pukulan dari Bu Tong pai,"

Sahut ibu suri, "Namanya Jiu In Ciang (Tangan awan lunak)."

Pek I Ni menggelengkan kepalanya.

"Bukan,"

Katanya.

"ltu bukan Jiu In Ciang, tapi Hoa Kut Bian Ciang (Tangan kapas menghancurkan tulang belulang), Bu Tong Pai adalah sebuah partai lurus, tidak mungkin memiliki ilmu yang begitu sadis."

"Mungkin suthay benar,"

Sahut ibu suri.

"Aku menyebutkannya karena menuruti keterangan guruku saja, Benar atau salah, aku tidak tahu...."

Ibu suri melihat bhikuni itu gagah dan cerdas, Dia menjadi kagum sekaligus takluk serta takut. Pek I Ni bertanya lagi.

"Dengan ilmumu ini, sudah berapa banyak orang yang kau celakai?"

"Aku.... Boanpwe.,."

Sahut ibu suri yang bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu dan tidak tahu bagaimana harus menyebut dirinya sendiri "Boanpwe hidup dalam istana, boanpwe belajar silat hanya untuk membela diri saja, juga untuk menyehatkan tubuh, boanpwe sama sekali belum pernah mencelakai siapa pun...." --Muka badak!

--, maki Siau Po dalam hati.

"Harap suthay ketahui,"

Kata ibu suri menambahkan "Boanpwe selalu mendapat pengawalan ke mana saja, Karena itu, Boan pwe belum pernah bertempur dengan siapa-siapa, Malam ini merupakan pertama kali boanpwe bentrok dengan suthay, Ternyata ilmu silatku belum berarti apa-apa...."

Pek I Ni tersenyum.

"Sebenarnya ilmu silatmu baik sekali."

Katanya.

"Boanpwe seperti katak dalam tempurung,"

Kata ibu suri merendah.

"Coba kalau hari ini boanpwe tidak menyaksikan ilmu silat suthay yang demikian tinggi, mana mungkin boanpwe tahu bahwa langit sebenarnya luas sekali...."

"Hm!"

Terdengar Pek I Ni mendengus dingin.

"Kapan matinya thay-kam bernama Hay Tay Hu itu? Siapa yang membunuhnya?"

"Sudah beberapa tahun dia mati... karena usianya yang lanjut...."

"Mungkin engkau sendiri belum pernah melakukan kejahatan,"

Kata Pek I Ni kembali "Akan tetapi, kalian bangsa Tatcu sudah merampas dan menduduki kerajaan Beng ku.

Kalian sudah memaksa kaisar kami membunuh diri.

Kaulah istrinya raja Tatcu yang pertama, atau ibunya raja Tatcu yang kedua, karena itu kau tidak boleh hidup lebih lama lagi."

Ibu suri terkejut setengah mati sehingga tubuhnya menggigil.

"Suthay..."

Katanya.

"Kaisar yang sekarang bukanlah anak kandungku, ibunya adalah permaisuri Hau Kong yang sudah lama mati...."

Pek I Ni mengangguk.

"Oh, begitu !"

Katanya.

"Tapi kau tetap istri kaisar Sun Ti. Sun Ti sudah menganiaya dan membunuh ribuan laksa jiwa bangsaku, bangsa Han. Mengapa kau tidak memberi nasehat kepadanya atau mencegahnya melakukan pembantaian itu?"

"Harap suthay ketahui,"

Kata ibu suri yang pandai bicara.

"Dalam hal ini, boanpwe tidak dapat berbuat apa-apa. Mendiang raja Sun Ti sangat menyayangi selirnya, Tang Gok Hui, karena itu pula, dahulu sulit bagi boanpwe untuk bertemu dengan kaisar sendiri itulah sebabnya boanpwe tidak menemukan jalan untuk menasehatinya atau mencegahnya...."

Pek I Ni terdiam sekian lama.

"Bicaramu memang beralasan,"

Katanya.

"Baiklah. Malam ini aku tidak akan membunuhmu."

"Terima kasih, suthay!"

Tukas ibu suri langsung.

"Boanpwe berjanji, mulai hari ini dan selanjutnya boanpwe akan berdoa memuji Sang Buddha, Oleh karena itu, harap suthay kembalikan lagi kitab suciku itu...."

"lnikah kitab Si Cap Ji Cin Keng"

Kata Pek I Ni.

"Untuk apa kau memiliki kitab ini?"

"Boanpwe ingin bersujud terhadap Sang Buddha,"

Sahut ibu suri.

"Karena itu, sejak hari ini, siang dan malam boanpwe ingin membaca doa."

"Kitab Si Cap Ji Cin Keng adalah kitab umum, dalam setiap wihara atau kuil, pasti ada. Mengapa kau justru menginginkan yang satu ini?"

Tanya Pek I Ni.

"Mungkin suthay belum tahu,"

Kata ibu suri yang berkeras ingin mendapatkan kitabnya kembali "Kitab Si Cap Ji Cin Keng yang satu ini, dahulu selalu dibaca siang dan malam oleh almarhum Sri Baginda, Karena itulah boanpwe tidak dapat melupakannya, boanpwe selalu menganggap kitab itu seperti almarhum sendiri...." "Kalau begitu sikapmu, terang kau keliru sekali."

Kata Pek I Ni.

"Siapa yang membaca kitab ini, pikirannya harus kosong dan bersih, Tidak boleh ada kenangan apa pun yang melekat dalam hatinya, Kau membaca kitab suci dan berdo'a tapi di samping itu kau masih ingat terus pada suamimu, apa gunanya kau berdoa?"

"Terima kasih, suthay! petunjuk suthay ini berharga sekali."

Kata ibu suri.

"Tapi boanpwe bodoh sekali, tidak mudah boanpwe menerima penjelasanku..."

Sekonyong-konyong saja sepasang mata Tiang kongcu menyorotkan sinar yang berapi-api.

"Cepat katakan!"

Bentaknya dengan suara keras.

"Apanya yang istimewa dari kitab ini? Cepat katakan!"

Hati ibu suri diam-diam jadi tercekat "Sebenarnya.,."

Katanya gugup.

"Hal ini hanya karena kekolotan pikiranku dalam beragama. walaupun Sri Baginda almarhum telah memperlakukan aku dengan tidak selayaknya, tapi aku tetap tidak dapat melupakannya. Setiap kali memegang kitab ini, hati boanpwe tidak begitu tersiksa oleh kerinduan...."

Pek I Ni menarik napas panjang.

"Kalau kau tetap kukuh dengan pendirianmu dan tidak mau sadar."

Katanya.

"Apabila kau tetap tidak mau berterus terang, terserah kepadamu!"

Sembari berkata, Pek I Ni mengibaskan ujung lengan bajunya sehingga totokan pada tubuh ibu suri terbebaskan seketika.

"Terima kasih atas kebaikan suthay!"

Kata ibu suri sambil berlutut dan menyembah beberapa kali . Setelah itu dia baru bangun.

"Jangan bicara tentang kebaikan hatiku!"

Kata Pek I Ni.

"Aku tidak melakukan kebaikan apa pun terhadapmu sekarang aku ingin bertanya, Yaitu mengenai kepandaian Hoa Kut Bian Ciang yang kau miliki, bagaimana apabila kelak kau menggunakan ilmu itu untuk mencelakai orang?"

"Tentang hal itu, guruku tidak pernah memberikan keterangan yang selengkapnya"

Sahut ibu suri yang licik itu.

"Dia hanya mengatakan ilmu itu hebat sekali dan di dalam dunia ini hanya ada beberapa orang yang dapat menahannya."

"Oh, kau tadi menyerang aku sebanyak tujuh kali,"

Kata Pek I Ni.

"Aku toh tidak melawannya, aku hanya melontarkan kembali seranganmu singkat kata, aku telah mengembalikan ilmumu sendiri sehingga kau roboh tadi. Siapa yang berbuat jahat, dia akan menerima akibatnya, Karena itu, jangan kau sesalkan apa pun juga!"

Mendengar keterangan itu, semangat ibu suri serasa terbang melayang.

Dia insyaf dengan kehebatan Hoa Kut Bian Ciang, Tidak aneh kalau tadi dia roboh sendiri Tenaganya seakan tiba-tiba terkuras habis.

Sampai-sampai dia merasa sulit walau ingin menggerakkan satu jari tangannya saja, Tidak di-sangka-sangka dia termakan serangannya sendiri ini yang dinamakan senjata makan tuan.

Dahulu dia menggunakan pukulan itu untuk membunuh pangeran Eng, putera selir Tang Gok Hui serta dua saudara perempuan selir itu, sehingga tiga jiwa melayang ditangannya.

Ketika itu, dia telah menyaksikan sendiri bagaimana penderitaan ketiga orang itu ketika jiwanya sekarat Dia tidak menyangka bhikuni ini demikian lihay, pukulan mautnya dapat dialihkan kepada penyerangnya sendiri.

Saking takutnya, ibu suri menjatuhkan diri berlutut di hadapan Pe I Ni.

"Suthay, tolonglah!"

Tang Gok Hui bertiga saja tidak dapat bertahan dari satu pukuIannya, sekarang dirinya sendiri terkena tujuh pukulan sekaligus, mana mungkin dia dapat menahan penderitaannya?

Pek I Ni menarik napas panjang.

"Siapa yang berbuat jahat, dia akan menerima akibatnya."

Katanya.

"Dalam hal ini, kau sendiri yang harus menyelamatkan dirimu, orang lain tidak berdaya apa-apa."

Ibu suri mengangguk-anggukkan kepalanya, Dia benar-benar takut sekali.

"Boanpwe benar-benar mengharapkan kebaikan suthay,"

Katanya.

"Boanpwe minta sudilah kiranya suthay menunjukkan suatu jalan hidup untukku!"

"Kau menyembunyikan segalanya, kau tidak mau berbicara terus terang, itu akibat kesesatan dirimu sendiri."

Kata Tiang kongcu.

"Bukankah jalan terang terbentang di hadapanmu? Mengapa kau tidak memilihnya, malah sekarang menyesali orang lain? seandainya aku memang mempunyai kemurahan hati, tentu akan kupersembahkan kepada bangsaku sendiri, orang Han. Kau adalah budak Boan Ciu, di antara kau dan aku terhalang dendam yang dalam, bagaimana aku dapat menolongmu? Sudah bagus hari ini aku tidak langsung turun tangan sendiri merampas selembar nyawamu. Dengan demikian, berarti aku telah berbuat kebaikan kepadamu."

Sembari berkata, Tiang kongcu bangun berdiri ibu suri terkejut sekali Dia mengerti keadaan yang di hadapinya, Kalau kesempatan baik ini lenyap, pasti celakalah dia.

Dia bakal menderita seperti Tang Gok Hui dan yang lainnya, Dia menggigil sendiri setiap mengingat penderitaan mereka.

"Su... thay!"

Akhirnya dia memanggil "A... ku bukan bangsa Tatcu.... Aku... aku...."

"Kau apa?"

"A... ku orang Han...."

Pek I Ni tertawa tawar.

"Hm.... Sampai detik ini kau masih mengoceh tidak karuan, Seorang permaisuri bangsa Tatcu, mana mungkin bisa orang Han?"

"Boanpwe tidak sembarangan berbicara. Kaisar yang sekarang adalah putera Tong Ke si. Dan Tong Ke si itu anak perempuan dari Tong Tou, dia orang bangsa Han."

"Kalau begitu, Tong Ke si mendapat kemuliaan karena mengandalkan puteranya,"

Kata Pek I Ni.

"Dengan demikian, dia hanya seorang selir bukan permaisuri bahkan belum pernah diangkat jadi permaisuri justru karena puteranya sudah menjadi kaisar, dia baru dianugerahkan menjadi ibu suri."

"lya, memang begitulah.,."

Kata ibu suri menganggukkan kepalanya. Pek I Ni berdiam diri, kemudian dia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu.

"Suthay!"

Panggil ibu suri yang bukan main bingungnya.

"Dengan sebenar-benarnya aku bukan orang Tatcu, bahkan aku benci sekali kepada mereka, sebagaimana suthay membencinya."

"Apa sebab kebencianmu itu?"

"Sebenarnya ini merupakan sebuah rahasia besar,"

Kata ibu suri.

"Sebenarnya juga aku tidak boleh membuka rahasia ini, tapi...."

"Kalau rahasia ini memang tidak boleh dibuka, sebaiknya kau simpan saja sendiri...."

Ibu suri tambah bingung. Karena itu, dia tidak memperdulikan apa-apa lagi.

"Suthay!"

Panggilnya kembali "Dengan sebenar-benarnya aku bukan bangsa Tatcu, Bahkan aku juga bukan ibu suri yang sejati, aku hanya seorang ibu suri palsu, Ya, aku bukan ibu suri kerajaan Ceng."

Biar bagaimana, hati Pek I Ni tercengang juga mendengar pernyataan itu, Dia merasa heran sekali.

Bahkan Siau Po yang bersembunyi di belakang tempat tidur tidak kalah herannya.

Dengan tindakan yang lamban sekali Pek I Ni kembali ke kursinya.

"Kau seorang ibu suri palsu? Mana mungkin? Bagaimana caranya?"

"Duduk persoalannya begini,"

Kata ibu suri memberikan keterangannya.

"Ayah dan ibuku telah dianiaya sampai mati oleh bangsa Tatcu, Karena itu aku sangat membencinya, setelah orang tuaku dibunuh, aku pun ditawan dan dipaksa menjadi dayang melayani permaisuri. Kemudian... aku... aku langsung menyaru sebagai permaisuri itu...."

Mendengar kata-katanya, Siau Po semakin heran.

--Nenek sihir ini benar-benar berani berbohong, -pikirnya dalam hati, -Bagaimana dia bisa mengucapkan kata-kata seperti itu?

Wanita yang mengaku dirinya sebagai ibu suri palsu segera melanjutkan keterangannya.

"lbu suri yang asli memang orang Boan Ciu."

Katanya.

"Shenya Po erl Chiteh dan dia puteri pangeran Koerltsin, Ayahku sendiri she Mo dan bernama Bun Liong, Dia seorang panglima besar dari kerajaan Beng...."

Pek I Ni tercengang mendengar kata-katanya.

"Kau puteri Mo Bun Liong?"

Tanyanya menegaskan "Kau maksudkan Mo Bun Liong yang dulu memangku jabatan tinggi dan berkuasa di pulau Pi to?"

"Benar."

Sahut ibu suri sambil menganggukkan kepalanya.

"Sepanjang tahun ayahku menempur bangsa Tatcu, kemudian akhirnya dia malah dihukum mati. Padahal ayahku itu menjadi korban musuh yang menggunakan tipu daya mengadu domba perwiraperwira kerajaan Beng."

"Oh, ini merupakan sebuah berita baru dan aneh."

Kata si bhikuni heran.

"Yang aneh justru kau. Bagaimana kau bisa menyamar sebagai permaisuri? Mengapa dalam sekian tahun rahasia itu tidak pernah terbongkar?"

"Cukup lama aku melayani permaisuri "sahut ibu suri palsu"

Selama itu aku selalu mendengarkan suara dan memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama, Aku juga mempelajari semua kebiasaannya. Bahkan wajahku ini adalah wajah palsu."

Sembari berkata, ibu suri palsu itu menghampiri meja rias.

Dia merendam sapu tangannya dengan air kemudian diusapkannya ke muka, Dalam sekejap mata, terkelupaslah dua potong kulit wajahnya, Dengan demikian, terlihatlah selembar wajah yang lain.

Wajah yang tadinya montok dan gemuk berubah menjadi kurus panjang dengan potongan kuaci, malah matanya agak mendelong.

"Oh!"

Seru Tiang kongcu saking heran dan terkejutnya.

"Benar-benar wajahmu jadi berubah dan berlainan sekali "

Dia berdiam sejenak kemudian baru melanjutkan kembali "Tidak mudah bagimu melakukan penyamaran ini.

Apakah dayang atau pelayanmu tidak ada yang curiga dengan kepalsuanmu ini?

Mungkinkah suamimu sendiri tidak mengetahuinya?"

"Suamiku?"

Kata ibu suri palsu itu.

"Hmm! Raja almarhum itu hanya menyayangi Tang Gok Hui, selirnya yang genit itu. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah bermalam di kamar ini. permaisuri yang asli saja dia tidak pernah melirik barang sedikit pun, Apalagi yang palsu."

Nada suara ibu suri palsu itu menyiratkan kegetiran hidup dan kepahitan serta penderitaan yang dalam. Kemudian terdengar dia menambahkan lagi.

"Jangan kata aku telah menyamar dengan demikian sempurna, meskipun hanya sedikit kemiripan saja, mana mungkin dia mengetahuinya?"

Pek I Ni berdiam diri, Tampaknya dia percaya dengan keterangan ibu suri palsu itu.

"Lalu, apakah tidak ada seorang dayang atau pelayan pun yang mengetahui kepalsuanmu ini?"

Tanyanya kembali.

"Begitu aku berhasil mengekang ibu suri, aku segera mengganti semua pelayan dan dayang yang melayani permaisuri asIi, Aku juga jarang keluar di siang hari, Kalau toh aku terpaksa ke luar juga, dalam istana ini ada sebuah peraturan yang menguntungkan aku, yakni para dayang, pelayan atau thay-kam dilarang melihat wajah junjungannya, Ada kemungkinan mereka memperhatikan dari jauh, tapi mana mungkin mereka mengetahui penyamaranku ini?"

Pek I Ni terdiam kembali, tetapi tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya.

"Pengakuanmu itu tidak tepat."

Katanya nyaring.

"Kau mengatakan bahwa raja tua tidak memperdulikan dirimu, tapi bukankah kau mempunyai seorang puteri dengannya?"

"Puteri itu bukan puteri asli si raja tua."

Sahut pula si ibu suri palsu.

"Di dalam istana ada seorang laki-laki bangsa Han yang biasa menyamar sebagai dayang dan senantiasa mendampingi aku, puteri Kian Leng kongcu adalah anak gadisnya, Sayang sekali belum lama ini tidak beruntung laki-laki itu telah menutup mata...."

To Hong Eng mencekal tangan Siau Po keras-keras ketika mendengar keterangan ibu suri.

Demikian pula si anak muda, mereka sama-sama berpikir keras, memang ada seorang laki-laki yang menyamar sebagai dayang tapi dia bukan mati sakit Siau Po pun berpikir lebih jauh.

--pantas tuan puteri demikian centil dan berandalan.

Rupanya dia anak campuran si ibu suri palsu dengan dayang palsu, Raja tua demikian welas asih dan sabar, bagaimana mungkin menurunkan seorang puteri semacam dia?

Sementara itu, Tiang kongcu pun berpikir --Kau hamil dan melahirkan seorang puteri sedangkan si raja tua tidak biasa bermalam di kamarmu, mana mungkin kecurigaannya tidak timbul?

Meskipun berpikir demikian, dia tidak berani menanyakannya, Dia sendiri seorang gadis suci yang belum pernah menikah, Tapi dia juga berpikir lebih jauh, -Karena dia permaisuri palsu, begitu mengetahui dirinya hamil, tentu dia mencari jalan agar rahasianya ini jangan sampai terbuka.

Dalam hal ini, lebih baik aku selidiki secara keseluruhannya Karena itu, dia menggelengkan kepalanya sambil berkata pula.

"Kata-katamu itu tidak benar semuanya."

"Tapi, cianpwe!"

Ibu suri menjadi bingung dan khawatir "Bukankah boanpwe telah membuka semua rahasia yang memalukan ini? Mana mungkin boanpwe masih menyimpan rahasia lainnya?"

"Kalau ceritamu benar,"

Kata Pek I Ni.

"Berarti permaisuri yang asli telah kau bunuh, Oh, sungguh tanganmu itu penuh dengan noda darah!"

"Boanpwe penganut agama Buddha, setiap hari boanpwe membaca doa dan bersembahyang. Meski-pun boanpwe benci sekali terhadap bangsa Tatcu, tapi boanpwe tidak berani sembarangan melakukan pembunuhan permaisuri yang asli sampai sekarang masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja."

Keterangannya itu membuat hati Tiang kongcu dan dua orang lainnya yang bersembunyi di belakang tempat tidur menjadi terkejut setengah mati, Hal ini benarbenar di luar dugaan mereka.

"Jadi permaisuri itu masih hidup?"

Tanya Pek I Ni menegaskan.

"Di mana dia sekarang? Kalau dia masih hidup, apakah kau tidak khawatir ia akan membongkar rahasiamu ini?"

Ibu suri menggelengkan kepalanya, Dia langsung merogoh sebuah anak kunci yang terbuat dari emas dari dalam sakunya, Kemudian dia berjalan ke samping tempat tidur, Di situ terdapat sebuah Iemari besi.

Dengan anak kunci itu, dia membuka lemari tersebut Begitu kedua pintunya terpentang lebar, Tiang kongcu langsung mengeluarkan seruan tertahan.

Tampak di dalam lemari terdapat seorang wanita yang sedang rebah tidak berkutik dan tubuhnya ditutupi dengan sehelai selimut yang indah.

"Diakah permaisuri yang asli?"

Tanyanya sambil menunjuk kepada wanita itu.

"Silahkan cianpwe lihat sendiri!"

Kata ibu suri sambil mengambil sebuah tempat lilin yang dalam keadaan menyala dan dibawanya ke dekat wanita itu untuk menerangi bagian wajahnya.

Pek I Ni memperhatikan dengan seksama, Dia melihat wajah wanita itu pucat pasi seakan tidak mengandung darah setetes pun.

Tapi tampangnya memang persis dengan ibu suri palsu ketika penyamarannya belum dibuka.

Mendengar suara pintu lemari dibuka, wanita itu membuka matanya perlahan-lahan dan dia langsung memejamkannya kembali "Aku tidak sudi bicara, Lekaslah kau bunuh aku!"

Ujarnya lirih.

"Aku tidak pernah membunuh orang."

Kata ibu suri.

"Mana mungkin aku membunuhmu?"

Dengan perlahan, ibu suri palsu itu menutup kembali pintu lemarinya.

"Bukankah kau telah mengurungnya selama belasan tahun?"

Tanya Tiang kongcu.

"Benar."

"Tadi dia mengatakan bahwa dia tidak sudi berbicara, dalam hal apakah kau memaksanya? Apakah karena dia tidak mau berbicara maka kau mengurungnya demikian lama? Andaikata dia tetap tidak mau berbicara, bukankah akhirnya kau akan membunuhnya juga? Kau akan membunuhnya, bukan?"

Ibu suri menggelengkan kepalanya.

"Tidak... tidak,"

Sahutnya.

"Boanpwe mengetahui dengan baik sekali bahwa pantangan utama dalam agama Buddha adalah membunuh Boanpwe juga pantang makanan berjiwa, boanpwe tentu tidak akan membunuhnya."

"Hm!"

Pek I Ni memperdengarkan suaranya yang dingin.

"Apakah kau menganggap aku seperti bocah berusia tiga tahun? Apakah kau pikir aku tidak dapat membaca jalan pikiranmu? Kau mengurung dia, itu berarti karena setiap saat ada ancaman bahaya bagimu bukan? Dan pada saat itu kau bisa menggunakannya sebagai barang jaminan, bukan? Kau belum membunuhnya, hal ini pasti karena kau masih mempunyai rencana yang lain. Apa itu? Bukankah berbahaya sekali apabila dia berkaok-kaok dalam lemari?"

"Dia tidak berani berteriak Aku telah memberitahukan kepadanya, kalau dia bersuara sedikit saja, pertama-tama aku akan membunuh si raja tua, kemudian aku juga akan membunuh raja yang masih kecil itu. Wanita ini sangat menghormati si raja tua dan sayang kepada si raja muda. Tidak mungkin dia membiarkan boanpwe mencelakai mereka."

"Sebenarnya, urusan apa yang kau tanyakan kepadanya?"

Tanya Tiang kongcu kembali.

"Urusan apa yang kau minta dia mengatakannya? Karena dia tidak membuka mulut sampai sekarang, mengapa kau tidak membuktikan kata-katamu dengan membunuh raja?"

"Hal ini karena dia mengatakan, apabila aku membunuh kedua raja itu, maka dia akan membunuh diri."

Sahut ibu suri.

"Dia mengancam tidak mau makan, Karena itu, di antara kami berdua, saling takut satu dengan yang lainnya, Dia telah berjanji tidak akan membunuh diri, apabila aku juga tidak membunuh raja."

Apa yang dikatakan ibu suri palsu itu memang benar Dia belum membinasakan ibu suri yang asli itu, karena masih ada rahasia yang ingin ia korek dari mulutnya.

Kalau tidak, permaisuri itu pasti sudah dibunuhnya sejak dulu, Tentu mudah saja baginya melenyapkan bukti, setelah membunuh dia dapat membakarnya sampai musnah.

"Aku telah bertanya kepadamu, tapi kau masih tidak mau mengatakannya juga,"

Kata Tiang kongcu pula.

"Sebenarnya urusan apa yang hendak kau korek?"

"Baik,baik."

Sahut ibu suri, itulah rahasia yang menyangkut keruntuhannya kerajaan Boan Ciu.

pada mulanya, bangsa Boan Ciu berdiri di daerah Liau Tong.

Kalau akhirnya dia berhasil menyerang dan menduduki kerajaan Beng kita yang Maha Agung, hal ini karena mereka mengandalkan urat naganya yang berada di daerah makmur itu."

Tiang kongcu hanya berdiam diri dan mendengarkan dengan seksama. Ibu suri palsu itu melanjutkan kembali keterangannya.

"Sebegitu jauh yang boanpwe ketahui, di Liau Tong, yakni Gunung Tiang Pek San terdapat uratnya dari keluarga Aishin Goro, yaitu keluarga asli dari keturunan rajaraja Boan Ciu, Katanya, asal urat naga itu diputuskan atau dipisahkan dari kepala dengan ekornya, maka bukan saja bangsa Han kita dapat membangun kembali kerajaan Beng, sebaliknya bangsa Boan Ciu sendiri akan runtuh habis-habisan sampai dipusatkan di Kwan Tong."

Pek I Ni mengangguk Keterangan itu sama dengan keterangan yang diberikan oleh To Hong Eng.

"Di mana letaknya urat naga itu?"

Tanyanya kemudian. Yang dinamakan urat naga sebetulnya ialah garis-garis atau batas-batas letaknya kedudukan tanah yang makmur dalam suatu wilayah atau daerah.

"Nah, itulah yang dinamakan rahasia besar."

Sahut ibu suri.

"Si kaisar tua mengetahui hal itu. Ketika kaisar tua hendak menutup mata, kaisar cilik masih belum mengerti apaapa. Karena itu, rahasia tersebut hanya diberitahukan kepada permaisurinya. Menurutnya, permaisuri harus menunggu sampai si raja cilik agak dewasa, rahasia itu baru boleh disampaikan kepadanya, Ketika kaisar tua berbicara dengan permaisurinya, boanpwe masih menjadi dayang, Dengan demikian boanpwe berhasil mendengar pembicaraan mereka. Tapi sayangnya apa yang boanpwe dengar tidak lengkap, Karena itu, tidak ada jalan lain bagi boanpwe untuk melakukan penyelidikan lebih jauh. Boanpwe terpaksa menempuh jalan seperti sekarang ini, supaya kelak dikemudian hari boanpwe bisa mengumpulkan kawan-kawan seperjuangan untuk pergi ke gunung Tiang Pek San dan memutuskan urat naga bangsa Boan Ciu, Dengan demikian pula, kerajaan Beng kita baru bisa dibangun kembali."

Pek I Ni berdiam untuk berpikir "Soal urat naga, sebetulnya merupakan masalah yang menyangkut Hong Sui suatu tempat."

Katanya.

"ltu juga merupakan urusan yang tidak bisa dipercaya sepenuhnya, Apa yang aku tahu, runtuhnya kerajaan Beng disebabkan oleh pemerintahannya yang kurang tepat. Terutama rakyatnya yang terlalu ditekan sehingga timbul keinginan untuk memberontak Aku mengetahui hal ini setelah bertahun-tahun aku merantau dan banyak bergaul dengan rakyat jelata."

"Meskipun demikian, ada baiknya suthay menaruh sedikit perhatian,"

Sahut ibu suri.

"Menurut boanpwe, urusan membangun kembali kerajaan Beng kita, soal Hong Sui itu sebaiknya dipercaya daripada tidak. seandainya kita membongkar urat naga itu dan tidak membuahkan hasil, berarti kita hanya kehilangan waktu dan tenaga, Kita tidak menderita kerugian apa-apa. sebaliknya kalau kita berhasil, kita bisa menumpas kerajaan musuh sekaligus membangun kembali kerajaan kita, Singkatnya, kita bisa menolong rakyat kita dari penderitaan yang berkepanjangan ini."

Pek I Ni menganggukkan kepalanya, Dia tertarik juga mendengar alasan ibu suri palsu itu.

"Kau benar juga,"

Katanya.

"Masalahnya sekarang hanya kepercayaan. Memang, andaikata kita gagal, kita tidak menderita kerugian apa-apa. Tapi, kalau kita tidak berhasil dan kegagalan kita tersiar luas, pasti kepercayaan rakyat kita akan goyah, demikian pula kepercayaan bangsa Boan Ciu. Bukankah mereka percaya sekali dengan urusan urat nadi naga ini? Hal ini justru menguntungkan pihak kita, Apakah kau memaksa ibu suri yang asli mengatakan di mana letaknya urat nadi tersebut?"

Bagian 48 Ibu suri itu mengangguk.

"Benar, tapi sungguh celaka perempuan hina itu? Dia tahu urat nadi itu sangat penting bagi kejayaan bangsanya, sehingga dia memilih tidak mengatakannya, meskipun dirinya terancam bahaya maut dan setiap saat jiwanya bisa melayang, Selama belasan tahun ini, tidak perduli boanpwe menggunakan cara yang halus atau kasar, juga berbagai akal, dia tetap dengan sikap kepala batunya itu, Dia sengaja menutup mulutnya erat-erat."

Pek I Ni mengeluarkan kitab Si Cap Ji Cin Keng.

"Bukankah kau ingin mengetahui di mana letaknya kitab-kitab yang lainnya?"

Tanyanya. Ibu suri terkejut setengah mati sehingga tanpa terasa kakinya menyurut mundur dua langkah.

"Jadi kau telah mengetahui hal itu?"

"Rahasia besar tentang urat nadi naga bangsa Boan Ciu terletak dalam delapan

Jilid kitab Si Cap Ji Cin Keng ini,"

Katanya terus terang.

"Berapa

Jilid yang telah kau dapatkan?"

"Suthay benar-benar lihay, Urusan apa pun dapat suthay ketahui,"

Kata si ibu suri palsu mengakui "Baiklah.

Boanpwe pun tidak mau menyembunyikan apa-apa lagi.

sebenarnya boanpwe sudah berhasil mengumpulkan sebanyak empat jilid, Tapi...

tapi pada suatu malam, telah datang orang yang memasuki istana dan mencoba melakukan pembunuhan dia telah berhasil menikam aku satu kali, setelah itu dia merampas keempat

Jilid kitabku itu.... Coba suthay periksa."

Selesai berkata, si ibu suri palsu membuka bajunya, juga kutangnya untuk memperlihatkan tanda bekas tikaman kepada si bhikuni, Lukanya itu cukup besar.

Tiang kongcu tahu tentang To Hong Eng yang menyelundup ke dalam keraton dan berusaha melakukan pembunuhan atau diri si ibu suri.

Karena itu, dia tidak heran melihat luka tersebut Karena itu, dia yakin keempat

Jilid kitab itu berada di tangan dayangnya dan nanti dayang itu pasti akan berbicara terus terang kepadanya.

Sementara itu, hati Siau Po terguncang ketika mendengar kata-kata si ibu suri palsu.

--Kalau bhikuni ini menyelidiki lebih jauh, kemungkinan kecurigaannya akan jatuh pada diri-ku.

--pikirnya.

Kemudian terdengar Pek I Ni berkata kembali.

"Aku tahu siapa orang yang menyerang dirimu, tapi setahuku, dia tidak mengambil keempat

Jilid kitabmu itu."

Ibu suri palsu begitu heran sehingga dia memperdengarkan seruan tertahan.

"Penyerang itu tidak mengambil kitab tersebut?"

Tanyanya.

"Lalu, siapa yang mencurinya? Sungguh aneh!"

Pek I Ni tidak memperdulikan kepusingan ibu suri.

"Kau mau bicara terus terang atau tidak, terserah kepadamu sendiri."

Katanya.

"Suthay,"

Kata si ibu suri palsu itu maklum orang kurang percaya kcpadanya.

"Suthay sangat membenci raja Tatcu, juga bangsanya, Dan kepandaian suthay tinggi sekali. Sungguh tepat kalau rahasia itu jatuh ke tangan suthay. Dengan demikian, suthay dapat memimpin tampuk pimpinan untuk membawa orangorang membongkar urat naga bangsa Tatcu, Suthay, urusan ini minta pun boanpwe tidak berani, apalagi berbohong? Ke delapan

Jilid kitab itu harus didapatkan terlebih dahulu, baru urat nadinya bisa ditemukan Sekarang suthay baru mendapatkan satu, seandainya digabungkan dengan empat

Jilid yang tadinya kumiliki, tetap saja masih belum cukup."

Sikap Tiang kongcu tetap dingin.

"Sebenarnya, apa yang kau pikirkan dalam hatimu, aku tidak tahu. Aku juga enggan menduga-duga, Tapi kau anak gadis Ma Bun Liong dari Pi to (Pulau kulit), sekarang kau katakan terus terang bukankah kau mempunyai hubungan yang erat dengan Sin Liong Kau?" "Tidak... tidak,"

Sahut ibu suri palsu menyangkal "Bahkan boanpwe belum pernah mendengar tentang partai Naga Sakti itu...."

Pek I Ni menatap tajam wanita di depannya "Mari aku ajarkan kau semacam kepandaian,"

Katanya kemudian "Setiap hari, pagi, siang dan malam, kau harus melatihnya dengan tekun, inilah semacam latihan menepuk kayu, kau harus menepuknya berturut-turut sembilan kali sembilan, 4 jadi delapan puluh satu hari, Kalau kau melatihnya dengan baik, maka sisa racun Hoan Kut Ciang yang tersisa dalam tubuhmu akan musnah secara keseluruhan."

Senang sekali hati ibu suri mendengar keterangan itu.

Dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan puteri kerajaan Beng untuk memberi hormat dan mengucapkan terima kasihnya berulang kali.

Pek I Ni segera mengajarkan caranya melakukan latihan yang istimewa itu.

Kadangkadang dia berbicara untuk menjelaskannya lebih mendetail.

Setelah selesai dia menambahkan "Mulai hari ini, apabila kau menggunakan tenagamu untuk mencelakai orang, maka seluruh tulang belulang dalam tubuhmu akan terlepas dengan sendirinya Kalau hal itu sampai terjadi, tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menolongmu lagi."

Ibu suri menyahuti dengan suara perlahan sebagai tanda bahwa dia sudah mengerti pesan itu.

Di dalam hati, dia sangat menyesal dan sedih.

--Kalau begini, percuma saja aku belajar ilmu silat, karena aku tidak boleh menggunakannya sama sekali --, pikirnya.

Pek I Ni segera mengibaskan lengan bajunya dan menotok jalan darah hun-hiat di tubuh ibu suri, lalu dia berkata dengan perlahan "Nah, kau ke luarlah sekarang!"

Ibu suri menurut. Dia memberi hormat dan mengucapkan terima kasih kemudian mengundurkan diri. Setelah itu, Hong Eng dan Siau Po baru muncul dan tempat persembunyiannya.

"Suthay, kata-kata perempuan itu hanya tiga bagian yang benar, tujuh bagian lainnya merupakan kebchongan, jangan suthay percaya penuh kepadanya!"

Kata Siau Po. Pek I Ni menganggukkan kepalanya.

"BetuI,"

Sahutnya.

"lsi kitab ini bukan hanya mengenai urat nadi naga bangsa Tatcu saja, juga menyangkut harta karun yang besar sekali, Tapi dia sengaja tidak menyebutnyebutnya."

Sementara itu, Hong Eng sudah membongkar sprei dan tempat tidur Dia menemukan tempat penyimpanan rahasia si ibu suri palsu, Ketika membukanya, dia menemukan banyak barang permata juga uang perak, tapi hanya keempat

Jilid kitab Si Cap Ji Cin Keng itulah yang tidak berhasil ditemukannya.

"Ambillah semua harta itu!"

Kata Pek I Ni.

"Kelak kalau kita merantau, kita akan membutuhkannya."

Hong Eng menurut, dia membungkus harta itu lalu diserahkan kepada si bhikuni.

Sementara itu, Siau Po berkata dalam hatinya, , --Kali ini si nenek sihir benar-benar bangkrut habislah semua hartanya!

-"Perempuan tadi menyamar sebagai ibu suri, pasti dia mengandung niat tertentu,"

Kata Pek I Ni.

"Karena itu, kau boleh berdiam di sini terus untuk memata-matainya, ilmu silatnya sudah musnah. Tidak perlu kau takut lagi kepadanya."

Hong Eng mengangguk sebagai tanda menerima tugas itu, Tapi hatinya juga sedih sekali karena sadar akan berpisah lagi dengan junjungannya yang disayanginya itu.

Pek I Ni segera mengajak Siau Po kembali ke penginapan Di dalam kamar, dia membuka kitab Si Cap Ji Cin Keng dan memeriksanya halaman demi halaman, Dia kenal baik dengan kitab agama itu, Setiap lembarnya sudah dihafalnya luar kepala.

Setelah membalik halangannya sampai selesai, dia memulainya dari pertama lagi, tapi kali ini dia mendekati lilin yang ada di atas meja dan memeriksa halamanhalamannya dengan teliti.

Tiang kongcu berdiam diri sekian lama, Tampaknya dia sedang memutar otaknya dan menerka-nerka, Kemudian bhikuni itu mengambil air dan membasahi pinggiran kitab itu juga tiap halamannya.

Dengan demikian, dia bisa membuka bagian kulit kitab itu.

Lalu dia membuka benang jahitannya, Di antara kulit kitab yang terbuat dari kulit kambing itu, dia menemukan belasan potongan kulit kambing lainnya dengan ukuran keciI-kecil.

Senang sekali hati Siau Po melihatnya.

"Tidak salah!"

Serunya.

"Ternyata kitab ini memang berisi rahasia besar!"

Pek I Ni membeberkan semua kulit kambing itu di atas meja, Bentuknya berbedabeda, ada yang persegi, ada yang segi tiga, ada yang berbentuk bujur sangkar dan lainlainnya.

Yang disayangkan setelah dicoba-coba, ternyata potongan itu tidak dapat dicocokkan satu dengan lainnya.

Di atas potongan kulit itu terdapat garis-garis halus dan huruf-huruf Boan Ciu yang ditulis dengan warna hitam Setelah memperhatikan dengan seksama dan berpikir Siau Po berkata.

"Rupanya setiap

Jilid kitab mempunyai tanda-tanda rahasia seperti ini. Kiranya benar bahwa harus didapatkan dulu ke delapan

Jilid kitab ini, baru tanda-tanda ini bisa disatukan dan jadilah peta yang sempurna."

"Tampaknya memang demikian,"

Kata Pek I Ni yang merapikan kembali semua kulit kambing itu, lalu di masukkannya ke dalam bungkusan dan di masukkan ke dalam sakunya.

Besok pagi, Tiang kongcu mengajak Siau Po meninggalkan kotaraja, terus menuju barat sampai di kecamatan Ciang Peng, di taman makam Su Leng, gunung Kim Peng San, itulah taman makamnya kaisar Cong Ceng.

Karena tidak ada yang mengurus, rumputnya tumbuh tinggi-tinggi dan keadaannya sungguh mengenaskan.

Sepanjang perjalanan Pek I Ni diam saja, Tapi sesampainya di sana tanpa dapat dicegah lagi, dia menangis tersedu-sedu, Siau Po berlutut dan ikut memberi hormat, Tiba-tiba dia melihat berke!ebatannya warna hijau seperti sehelai gaun di sisinya.

Dia terperanjat Warna itulah yang sering terbayang di pelupuk matanya akhir-akhir ini.

Kemudian dia mendengar suara yang nyaring serta halus.

"Ah! Akhirnya tidak sia-sia aku menunggu di sini! Aku... aku...."

Dia menarik napas panjang kemudian menambahkan "Aku sudah menunggu di sini tiga hari lamanya, Sudahlah, tidak ada yang perlu disedihkan!"

Dia berkata demikian, tapi lagi-lagi dia menarik napas panjang.

Itulah suara si nona berbaju hijau, Suara itu membuat Siau Po senang sekali Sampaisampai dia merasakan seluruh persendian tubuhnya menjadi lemas, Suara itu demikian merdu dan meresap di hati.

Karena itu, dia cepat-cepat menjawab.

"Ya, kau telah menunggu aku selama tiga hari lamanya, tapi tidak perlu kau bersusah hati."

Selesai berkata, Siau Po bangkit dan berpaling kepada si nona yang kecantikannya luar biasa itu.

, tetapi si nona tampaknya terkejut setengah mati melihatnya.

Kemudian tampak mimik wajahnya menunjukkan perasaan kurang senang.

"Aku juga sangat memikirkanmu,"

Kata Siau Po kembali.

"Bahkan aku sangat menderita...."

Tiba-tiba dia harus menghentikan kata-katanya karena perutnya terasa nyeri sekali dan tubuhnya terpental roboh ke belakang lalu jatuh di atas tanah.

Rupanya secara tiba-tiba dia ditendang oleh gadis itu.

Rupanya juga tidak hanya cukup dengan menendang, gadis itu juga mengeluarkan pisau Liu Yap tonya dan menikam ke arah Siau Po, Untung anak muda itu cukup gesit.

Dia menggeser sedikit dengan menggelinding sehingga pisau gadis itu menikam di atas tanah.

Di saat si nona yang masih penasaran itu ingin membacok lagi, terdengarlah teriakan si bhikuni.

"Tahan!"

"Dia jahat! Dia... paling pandai menghina aku!"

Gadis itu melemparkan pisaunya dan menangis tersedu-sedu.

"Suhu, lekas suhu bunuh dia!"

Siau Po gembira sekaligus heran mendengar kata-kata si nona berbaju hijau itu.

Namun pikirannya langsung bekerja.

--Oh, rupanya dia murid suthay, jadi kata-kata nya tadi bukan ditujukan kepadaku -Dia langsung duduk tegak, sementara itu, otaknya terus berputar.

Akhirnya dia mengambil keputusan dalam hati --Aku harus berlagak menjadi orang baik-baik, lebih bagus lagi kalau aku bisa membuat suthay ini menyukaiku, dengan demikian kelak dia akan menjodohkan aku dengan muridnya ini.

Membawa pikiran demikian, si anak muda yang banyak akalnya ini segera berdiri dan menjura dalam-dalam.

"Nona, seandainya tanpa sengaja aku telah membuat kekeliruan terhadapmu, dengan kemurahan hatimu, sudilah kiranya kau tidak menjadi kecil hati, Kalau nona ingin memukul aku, pukullah, asal kau sudi mengampuni jiwaku.,.,"

Nona itu masih memeluk gurunya, Sebelah kakinya di angkat ke atas untuk menendang dagu Siau Po.

"Aduhl"

Jerit Siau Po yang kembali terjungkal ke belakang dan tidak bangun lagi, sedangkan dari mulutnya terus keluar suara rintihan.

"Aih A Ko!"

Kata si bhikuni.

"Mengapa kau sembarangan menendang orang tanpa menanyakan dulu sebab musababnya?"

Siau Po senang mendengar suara si bhikuni yang nadanya mengandung teguran kepada si nona, Diam-diam dia berkata dalam hati.

-Oh, rupanya kau bernama A Ko!

Akhirnya aku berhasil mengetahui namamu juga.

-, sementara itu, dia mulai kenal sifat si bhikuni, karena itu, kembali dia menjura dan berkata.

"Suthay, sudah seharusnya nona ini menendang aku dua kali! Memang akulah yang bersalah, walaupun nona ini menendang aku seribu kali atau sampai mati sekalipun, aku memang pantas mendapat hukuman ini!"

Selesai berkata, si anak muda meraba dagunya, air matanya pun berceceran. Kali ini bukan pura-pura lagi, Dagunya memang terasa sakit sekali.

"Suhu, hwesio ini sangat busuk, Dia selalu menghina aku."

Kata A Ko pada gurunya. Pek I Ni menatap Siau Po lekat-lekat.

"Bagaimana dia menghinamu?"

Wajah si nona jadi merah padam.

"Dia... dia sering kali menghina aku.-."

Katanya.

"Pokoknya sering sekali...."

"Suthay."

Kata Siau Po.

"Singkatnya, akulah yang toloI, Lebih-lebih ilmu silatku ini tidak berarti sama sekali, Baru-baru ini, nona ini berjalan-jalan ke Siau Lim Sie...."

"Oh! Kau pergi ke Siau Lim Sie?"

Tukas si bhikuni.

"Aih! Kau kan seorang anak perempuan, untuk apa kau pergi ke Siau Lim Sie?"

Mendengar teguran halus itu, hati Siau Po semakin senang.

"Oh!"

Seru Siau Po.

"Rupanya nona ini pergi ke Siau Lim Sie bukan atas titah suthay? itu lebih bagus lagi.

"Dia menghentikan kata-katanya sejenak kemudian baru melanjutkan lagi.

"Dia pergi ke Siau Lim Sie bukan seorang diri, tapi bersama seorang kakak perempuannya, Si nona ini ikut pergi karena tidak dapat menentang kehendak dan bujukan nona yang satunya lagi."

"Eh, bagaimana kau bisa mengetahuinya?"

Tanya Pek I Ni.

"Sebab saat itu aku berada di dalam kuil,"

Sahut Siau Po.

"Ketika itu aku sedang menjalankan tugas yang diberikan si raja Tatcu, Aku harus menggantikan dirinya menjadi hwesio di wihara tersebut. Aku melihat kedatangan nona yang satunya, lalu nona ini baru menyusul, wajahnya menunjukkan kurang setuju...."

"Apakah A Ki yang mengajakmu?"

Tanya si bhikuni kepada muridnya, Si nona menganggukkan kepalanya.

"Para hwesio dari Siau Lim Sie itu galak sekali."

Sahutnya.

"Menurut mereka, kuil mereka itu tidak boleh dimasuki kaum wanita."

"Lalu bagaimana?"

Tanya sang guru.

"ltu memang benar."

Tukas Siau Po cepat "Peraturan Siau Lim Sie itu memang tidak tepat Mengapa kaum wanita tidak di ijinkan memasuki kuil? Bukankah Kuan Se In Pou Sat juga seorang wanita?"

"Lalu, apa yang terjadi?"

Tanya si bhikuni kembali Siau Po menunjuk kepada A Ko.

"Nona ini mengatakan,"

Kalau orang tidak mengijinkan kita masuk, ya sudah.

Mari kita pulang saja!

Tetapi keempat Ti Kek Ceng dari Siau Lim Sie memang tidak kenal kesopanan, mereka malah mengoceh tidak karuan sehingga kemarahan kedua nona jadi bangkit Celakanya, kawanan para hwesio itu benar-benar tidak punya guna, ilmu mereka terlalu rendah,.,."

"Apakah kalian bertempur?"

"Dalam hal ini, keempat Ti Kek Ceng itulah yang bersalah,"

Sahut Siau Po mendahului si nona.

"Aku melihat sendiri peristiwa itu. Mereka menguluran tangannya mendorong si nona. Nona suthay bayangkan saja, kedua nona ini anak gadis yang masih suci bersih, mana boleh disentuh oleh tangan kotor para hwesio itu. Karena itu, kedua nona tersebut langsung menghindarkan diri. Dengan demikian, tangan dan kaki para hwesio itu melanggar tiang sehingga mereka semua merasa kesakitan...."

"Hm."

Si bhikuni memperdengarkan suaranya yang tawar.

"llmu silat Siau Lim Sie menjagoi dunia persilatan, mana mungkin murid-muridnya demikian tidak punya guna? Eh, A Ko, coba kau katakan, jurus apa yang kau gunakan ketika menghadapi mereka?" A Ko tidak berani berdusta, Dengan nada perlahan dia menjelaskan kepada sang guru.

"Jadi kau telah merobohkan empat orang hwesio Siau Lim Sie?"

"Dengan dia, semuanya berjumlah lima orang."

Sahut A Ko.

"Nyalimu sungguh tidak kecil!"

Tegur sang guru.

"Kamu sudah berani lancang mendatangi Siau Lim Sie, kau juga melukai para hwesio di sana sampai patah tangan dan kakinya."

Pek I Ni menatap muridnya dengan garang. A Ko takut sekali, wajahnya jadi pucat pasi. Ketika itu, si bhikuni sudah melihat tanda bekas luka di leher muridnya.

"Apakah lukamu kau dapatkan ketika berhadapan dengan hwesio Siau Lim Sie?"

Tanyanya.

"Bu,., kan.,."

Sahut A Ko gugup.

"Dia,., dia...."

Tangannya menunjuk kepada Siau Po. Matanya menjadi merah, sambil menangis dia melanjutkan kata-katanya.

"Dia sangat menghina aku, maka aku menggunakan senjataku untuk membunuh diri, tapi,., aku tidak sampai mati karenanya...."

Mengetahui kedua muridnya lancang mendatangi Siau Lim Sie, Pek I Ni gusar sekali Tapi ketika melihat bekas luka di leher A Ko, hatinya merasa iba juga.

"Bagaimana caranya dia menghinamu?"

Tanyanya. A Ko tidak menjawab, dia hanya menangis.

"Memang akulah yang bersalah."

Kata Siau Po cepat "Aku bicara tanpa pikir-pikir lagi, MuIutku lancang sekali, sebaliknya si nona itu hanya menyambar aku dan membuat aku takut karena dia ingin mengorek kedua biji mataku, Aku begitu takutnya sehingga aku menggerakkan tanganku dengan serabutan sehingga tanpa disengaja aku menyentuh tubuhnya....

Maka itu, tidak dapat disalahkan kalau nona itu merasa gusar sekali,..."

Sembari berkata, secara diam-diam si anak muda melirik kepada A Ko.

Dia mendapat kenyataan bahwa wajah si nona menjadi merah padam, Rupanya A Ko menjadi jengah sendiri, tapi di samping itu hatinya juga agak lega karena Siau Po selalu membelanya.

Pek I Ni masih menanyakan jalannya pertempuran setelah memperoleh jawaban, dia baru mengerti duduk perkaranya.

"Kesalahan itu terjadi tanpa sengaja, karenanya urusan ini juga tidak perlu ditanggapi secara serius."

Katanya kemudian, Dengan perlahan-lahan dia menepuk bahu muridnya sambil berkata kembali.

"Dia masih kanak-kanak, lagipula dia juga seorang thay-kam, jadi tidak ada yang perlu dijadikan masalah, bukan? Dengan pukulan Leng Yan Kui Cau kau telah mematahkan kedua tangannya, ini sudah merupakan hukuman yang pantas baginya."

A Ko menangis sambil berdiam diri.

Dalam hati dia berkata.

--Siapa bilang dia masih kanak-kanak, buktinya dia berani pergi ke rumah hina untuk berbuat busuk....

-Meskipun demikian, dia tidak bisa mencetuskan pikirannya itu, karena gurunya pasti akan bertanya panjang lebar mengapa dia sendiri bisa masuk ke tempat seperti itu, Tapi hatinya mendongkol sekali sehingga dia masih menangis terus.

Siau Po berlutut di depan nona itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata.

"Nona, kalau kau masih belum puas, silahkan! silahkan kau tendang lagi aku beberapa kali. Puaskanlah hatimu!"

A Ko menangis.

"Aku tidak akan menendang kamu!"

Katanya.

Tapi Siau Po tidak puas.

Dia segera menggaplok kedua pipinya sendiri secara bergantian sehingga terdengarlah suara Plak!

Plok!

Yang nyaring "Dasar aku memang pantas mati!

Dasar aku memang pantas mati!"

Katanya. Pek I Ni mengerutkan keningnya.

"Dalam hal itu, bukan kau yang bersalah"

Katanya.

"Eh, A Ko, kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi orang lain, Kita juga tidak boleh menghina orang sedemikian rupa."

A Ko menangis sesenggukan.

"Tapi dia terlalu menghina aku."

Katanya.

"Suhu tahu, dia telah menangkap aku dan menahan aku dalam kuilnya, dia tidak mau membebaskan aku...."

"Apa katamu?"

Tanya Pek I Ni.

"Sampai terjadi hal sedemikian rupa?"

"Benar, memang benar."

Kata Siau Po mengaku.

"Dalam hal ini, akulah yang bersalah. Aku ingin menyenangkan hati nona ini, Aku ingin mengambil hatinya karena itu aku mengundangnya masuk ke dalam kuil. Ketika itu aku berpikir, nona ini ingin sekali melihat-lihat keadaan dalam kuil, tapi dilarang oleh para hwesio, tentu saja si nona menjadi gusar dan mendongkol. Karena itulah aku mengundang nona ini memasuki pendopo Poan Jiak Tong dan meminta seorang hwesio tua menemaninya berbicara...."

"Kacau! Kacau! Kalian berdua benar-benar keterlaluan!"

Tukas Pek I Ni.

"Kau menyebut-nyebut seorang hwesio tua, siapa hwesio itu?"

"Dia Teng Koan taysu, ketua dari Poan Jiak Tong-Hwesio yang pernah mengadu tangan dengan suthay ketika berada di kuil Ceng Liang Si, Ngo Tay san...."

Pek I Ni menganggukkan kepalanya.

"Taysu itu memiliki ilmu yang tinggi sekali,"

Katanya memuji, Terus dia menepuknepuk bahu A Ko seraya berkata kembali "Sudahlah!

Taysu itu sangat lihay ilmu silatnya, lagipula usianya sudah lanjut sekali, Siau Po meminta dia menemanimu, hal ini tidak membuat dirimu terhina, Sekarang, sudah!

Urusan kalian jangan diperpanjang lagi!"

Mendengar ucapan gurunya, A Ko berkata dalam hatinya.

-Bocah ini sungguh jahat!

Sayang ada beberapa hal yang tidak dapat ku utarakan, karena aku khawatir suhu akan menyelidikinya lebih jauh, sedangkan aku bersama enci memang telah melakukan beberapa kesalahan....

Tapi, meskipun berpikir demikian, dia tetap berkata.

"Suhu, ada yang tidak diketahui oleh suhu, dia.,,."

Pek I Ni tidak memperdulikan muridnya lagi, Sebaliknya, dia hanya memperhatikan gundukan tanah di depannya dengan pandangan kosong.

Siau Po menatap si nona, dia menjulurkan lidahnya, tangannya menjungkit hidung dan wajahnya dibuat-buat seperti badut, Dia sengaja menggoda nona itu.

A Ko mendongkol sekali, Dia mendelik kepada Siau Po yang jahil itu, tetapi dengan demikian si anak muda justru semakin senang, Walaupun sedang kesal dan marah, kecantikan si nona tidak berkurang sedikit pun, Bagi Siau Po tidak ada bagian tubuh gadis itu yang tidak menggiurkan.

A Ko melirik si Siau Po.

Tampak Siau Po masih memperhatikannya lekat-lekat, wajah si nona jadi merah padam, dia merasa malu sekaligus mendongkol.

Karena itu tanpa memperdulikan keadaan gurunya yang masih berdiam diri, dia menarik ujung pakaiannya sambil berkata.

"Suhu, dia terus memperhatikan aku,.,."

Sang guru masih berdiam diri, Dia sedang mengenangkan kehidupannya yang telah berlalu di dalam istana kerajaan.

Dia seperti tidak mendengar dan tidak merasakan apa-apa....

Lambat laun, sang surya mulai menggeser diri, dari timur ke barat Pek I Ni masih berdiam diri.

Da!am hal ini, Siau Po lah yang paling tidak keberatan.

Baginya, semakin lama Pek I Ni berdiam di makam itu, semakin baik.

Dia dapat melihat si nona dengan sepuas hatinya, Sebaliknya, A Ko menjadi tidak leluasa sekali Berulang kali dia melihat si anak muda masih meliriknya dengan "mata maling"

Nya.

Dia jadi malu, bingung dan mendongkol.

Sang waktu masih terus berlalu, Sore sudah mulai menjelang, sementara itu, A Ko masih merasa kesal sehingga dia berkata dalam hati.

-Bocah ini jahat sekali Entah apa yang dikatakannya kepada suhu sehingga suhu demikian mempercayainya, Awas!

Kalau suhu sedang tidak ada, aku akan menendangmu sampai mati Ya, setelah kau dibunuh, masa bodoh kalau suhu menyalahkan aku.

Aku tidak mau dihina terus-terusan olehnya."

Akhirnya, terdengar Tiang kongcu menarik napas panjang sembari berkata.

"Mari kita pergi!"

Malam itu, mereka tidak pulang ke penginapan melainkan bermalam di rumah seorang petani.

Siau Po pandai membawa diri.

Dia tahu Pek I Ni sangat resik, sebelum bersantap, dia selalu mencuci mangkok piring serta sumpitnya sampai bersih sekali.

Bahkan dia menyeka meja dan kursi dan sebelum tidur, dia juga membersihkan kamar serta merapikan tempat tidur pendeta perempuan itu.

Pek I Ni mengangguk-angguk melihat sikap bocah itu.

-Anak ini sungguh cekatan dan mengerti segala hal, kalau dia diajak bepergian, dia bisa banyak membantu....

katanya dalam hati, Selesai bersantap malam, Pek I Ni menanyakan tentang A Ki, murid perempuannya yang satu lagi.

"Sejak hari itu ketika kami berpisah di depan kuil Siau Lim Sie, aku tidak melihatnya lagi.,"

Kata A Ko.

"A... ku... aku khawatir dia telah dibunuh oleh anak muda ini..."

"ltu tidak mungkin terjadi"

Sahut Siau Po cepat.

"Ketika aku bertemu dengan nona A Ki, aku melihatnya bersama-sama pangeran Kaerltan dari Mongolia, Bersama mereka juga ada seorang Ihama dari Tibet serta seorang Cong Peng yang menjadi bawahan Gou Sam Kui..."

Mendengar disebutkan nama Gou Sam Kui, sepasang mata Tiang kongcu langsung membelakak, Hawa amarahnya meluap dengan tiba-tiba.

"Aih! Mengapa dia bersama-sama orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita?"

"Mungkin ketika rombongan si pangeran tiba di luar Siau Lim Sie, kebetulan nona A Ki pun sampai di sana."

Kata Siau Po. Dia ingin meredakan kemarahan bhikuni itu. Kalau suthay memang ingin pergi mencarinya, sebaiknya aku ikut Aku yakin nona itu mudah ditemukan."

"Mengapa kau begitu yakin?"

Tanya Pek I Ni.

"Hal ini karena aku mengenal baik pangeran dari Mongolia, si lhama serta perwira tersebut."

Sahut Siau Po.

"Cukup asal kita menemukan salah seorang dari mereka, lagipula mudah bagi kita menanyakan tentang mereka di mana pun sampainya kita."

"Baik!"

Kata Tiang kongcu.

"Kau boleh ikut aku mencari A Ki."

"Terima kasih, suthay!"

Kata Siau Po yang gembira sekali.

"Suthay memang baik sekali!"

Pek I Ni jadi heran melihat sikap Siau Po.

"Kau mau membantu aku, seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih kepadamu,"

Katanya.

"Mengapa sekarang malah kau yang menyatakan terima kasih kepadaku?"

"Hal ini karena suthay sendiri. Setiap hari, kalau aku dekat dengan suthay, hatiku menjadi lega dan terbuka. Karena itu aku berharap dapat mengikuti suthay untuk selama-lamanya. seandainya tidak bisa, lebih satu hari di dekat suthay kan lebih baik dari pada tidak?"

"Benarkah?"

Tanya Pek I Ni.

Tiang kongcu sudah mengambil A Ki dan A Ko sebagai murid, sikapnya biasa-biasa saja, sedangkan kedua muridnya itu sangat takut kepadanya sehingga mereka tidak berani mengatakan apa-apa, Lain halnya dengan Siau Po yang baru dikenalnya ini.

Siau Po cerdas dan berani, dia juga dapat memberikan pelayanan yang baik.

Meskipun Pek I Ni sendiri orangnya pendiam dan hatinya sudah tawar, tapi dia senang juga dengan sikap Siau Po.

Karena itu, akhirnya dia tersenyum.

"Suhu!"

Kata A Ko yang terkejut karena gurunya ingin mengajak si bocah melakukan perjalanan bersama-sama.

"Suhu, dia...."

Si nona tahu benar, meskipun mulut Siau Po berkata demikian, tapi tujuan yang sebenarnya ingin selalu dekat dengannya. Pek I Ni mendelik kepada muridnya itu.

"Ah! Kau tahu apa? Mana kau tahu isi hati orang? Memang aku selalu berpesan kepada kalian berdua agar jangan sembarangan menghadapi orang-orang dunia Kangouw, tapi bocah ini lain, Dia tidak bisa disamakan dengan yang lainnya, Sudah cukup lama dia mengikuti aku, dan aku tahu dia dapat dipercayai."

A Ko menundukkan kepalanya.

"Ya,"

Sahutnya tanpa berani banyak bicara lagi.

Keesokan harinya, mereka menuju selatan, Di sepanjang jalan mereka bertanyatanya tentang A Ki.

Selama itu, Siau Po juga selalu bersikap baik.

Dengan hati-hati dia melayani guru dan murid itu, Terhadap A Ko, meskipun cintanya kebelet sekali, dia tidak berani bersikap ceriwis atau sembarangan.

Dia tidak ingin perbuatan buruknya kepergok oleh Pek I Ni dan akibatnya dia pasti tidak disetujui.

Selama dalam perjalanan Siau Po juga tidak pernah berbicara dengan A Ko.

Sebaliknya, apabila ada kesempatan baik, yakni disaat gurunya sedang tidak melihat, dia suka menendang Siau Po atau menggaploknya berkali-kali.

Tapi Siau Po membiarkan saja.

Dia menganggap gadis itu mungkin menjadi senang atas perlakuannya itu.

Pada suatu hari, ketiga orang itu bermalam di sebuah penginapan kecil di dekat kota Cong Chiu, Siau Po segera pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar dan memasakkannya untuk si bhikuni, Ketika pulang dari pasar, A Ko sedang berdiri di depan pintu penginapan dengan mata menatap ke arah jalan besar.

Dia segera menghampiri dengan wajah tersenyum dan tangannya memegang sebungkus kembang gula Bwe Kui Siong yang dibelinya dari pasar, Sembari mengasongkan bungkusan permen itu, Siau Po berkata.

"Nona A Ko, barusan aku membelikan sebungkus kembang gula untukmu, Tidak kusangka di tempat yang begini terpencil ada orang yang menjual kembang gula sebagus ini."

A Ko tidak menyambut kembang gula itu, Gadis itu malah mendelikkan matanya sambil berkata.

"Kembang gula yang kau beli pasti berbau busuk, Aku tidak sudi memakannya."

"Aih, nona!"

Kata Siau Po dengan maksud membujuk "Kembang gula yang aku beli ini sama sekali tidak berbau, malah rasanya lezat sekali, Cobalah dulu!"

Diam-diam Siau Po sering memperhatikan makanan apa saja yang menjadi kesukaan nona itu.

Biarpun Pek I Ni jarang memberikan uang banyak, tapi kalau membelikannya, si nona selalu memakannya dengan lahap.

Karena itulah, sengaja Siau Po membelikan sebungkus kembang gula kesukaan gadis itu.

"Aku tidak suka makan kembang gula,"

Kata si nona yang terpaksa melayani orang bicara.

"Suhu sedang bersemedi, mungkin perlu waktu satu dua jam baru selesai Hatiku kesal sekali, Aku ingin mencari suatu tempat yang pemandangannya indah, tapi sepi yang tak ada orang...."

Hampir Siau Po tidak percaya dengan pendengarannya sendiri Darah dalam tubuhnya langsung mengalir lebih deras dan wajahnya berubah menjadi merah.

"Apakah... kau bukan sedang mempermainkan aku?"

Tanyanya heran.

"Mempermainkanmu? Untuk apa?"

Kata A Ko.

"Kalau kau tidak suka menemani aku, sudahlah! Aku bisa pergi seorang diri."

Selesai berkata, nona itu langsung berjalan menuju arah timur yang ada sebuah gang kecil.

"Pergi! Pergi! Aku pasti mau pergi denganmu!"

Sahut Siau Po yang senangnya setengah mati.

"Demi engkau, jangan kata menemani jalan-jalan, meskipun harus terjun ke dalam lautan api sekalipun, aku pasti akan menyertaimu!"

Dia langsung mengikuti di belakang si nona.

Begitu ke luar dari daerah pasar, A Ko menunjuk ke arah timur tenggara.

Sejauh beberapa li dari tempat itu tampak sebuah bukit "Tentu menggembirakan kalau kita berpesiar ke sana!"

Kata si nona. Bukan main girangnya hati Siau Po.

"lya, iya."

Sahutnya cepat.

Mereka langsung menuju bukit tersebut yang keadaannya sepi sekali dan pemandangannya sama sekali tidak indah, Tapi dalam pandangan mata Siau Po, tidak ada pemandangan yang lebih indah lagi dari pada tempat itu.

Hatinya senang sekali sehingga tanpa sadar dia memuji.

"Sungguh sebuah tempat yang luar biasa indahnya !"

"Apanya yang indah?"

Kata A Ko.

"Lihat sendiri. Pepohonannya kacau dan batunya berserakan dimana-mana, Tempat ini justru menjemukan."

"lya, benar juga, pemandangannya memang tidak seberapa bagus."

Sahut si anak muda yang merasa serba salah.

"Tapi baru saja kau memujinya,"

Kata A Ko kembali "Mengapa?"

Siau Po tersenyum.

"Sebenarnya pemandangan alam di sini tidak indah."

Katanya.

"Tapi, wajah nona yang cantik luar biasalah yang menggantikan bunga-bunga yang seharusnya memenuhi tempat ini. Di sini tidak terlihat seekor burung pun, suara nona yang merdulah sebagai pengganti burung-burung itu."

"Hm!"

A Ko memperdengarkan suaranya yang dingin.

"Kau tahu apa maksudku mengajak kau ke mari? itu bukan karena aku ingin mendengarkan ocehanmu. Aku justru ingin kau pergi, pergi sejauh-jauhnya dan secepat-cepatnya. Jangan pernah muncul lagi di depan mataku. Kalau kau berani menampakkan dirimu lagi, hati-hati akan ku cungkil biji matamu!"

Siau Po terkejut setengah mati, Dia melihat wajah si gadis sangat muram.

"Oh, Nona!"

Katanya dengan nada sedih.

"Nona, untuk selanjutnya aku tidak akan berani main gila lagi di hadapanmu, Mohon sudilah kau mengampuni aku!"

"Sekarang justru aku sudah memberikan pengampunan kepadamu."

Kata A Ko.

"Aku tidak langsung mengambil jiwamu, bukan?"

Mendadak dia menghunus goloknya lalu menambahkan "Kau mau ikut aku ke mari karena kau mengandung niat buruk, bukan?

Apakah kau kira aku tidak mengetahuinya?

Kau sangat menghina aku, karena itulah aku menghukummu, aku tidak perduli kalau nanti suhu akan menghajar aku dengan rotan sebanyak seribu kali pun."

Hati Siau Po semakin tercekat, gadis itu membolak-balikkan golok di tangannya sehingga sinarnya berkilauan.

Dia langsung membayangkan watak keras si nona dan saat ini tentunya si nona tidak sedang bergurau dengannya.

"Nona,"

Katanya.

"Suthay mengajak aku mencari nona A Ki. Baikiah, setelah berhasil menemukannya, aku tidak akan mengikuti kalian lagi."

A Ko menggelengkan kepalanya.

"Tidak bisa."

Katanya keras.

"Sekalipun tanpa engkau, kami pasti akan menemukannya, Lagi-pula, dia bukan anak kecil berusia tiga tahun, memangnya dia tidak punya kaki untuk pulang sendiri?"

Kembali A Ko menggerakkan goIoknya.

"Kalau kau masih tidak mau pergi, jangan kau sesalkan aku!"

Katanya pula dengan suara bengis. Siau Po mencoba tertawa.

"Nona, tampaknya Nona bermaksud tidak baik terhadapku"

Tanyanya.

"Mengapa?"

Nona itu tampaknya gusar sekali.

"Sampai saat ini kau masih berusaha mempermainkan aku?"

Katanya sambil menerjang ke depan dan mengirimkan sebuah bacokan. Siau Po terkejut, dia merasa takut tapi untung-nya dia juga sempat menghindarkan diri.

"Kau mau pergi atau tidak?"

Ancam si nona.

"Maaf, Nona!"

Kata Siau Po.

"Aku tidak dapat pergi. walaupun kau cincang seluruh tubuhku sampai hancur lebur, walaupun aku harus menjadi setan gentayangan aku harus mengikutimu terus."

Bukan main marahnya hati A Ko, kembali dia melancarkan tiga bacokan.

Dalam hal menghindarkan diri dari serangan Siau Po sudah cukup lihay, Tidak siasia dia mencangkok pelajaran Teng Koan taysu sekarang dia dapat menggunakannya dengan baik.

Semua serangan si nona menjadi sia-sia.

Hal ini justru menambah kegusaran dalam hati A Ko, dia mengulangi serangannya dengan sadis dan beruntun Repot juga Siau Po dibuatnya, Akhirnya dia terpaksa menghunuskan pisau belatinya dan digunakan untuk menangkis serangan si nona sehingga golok A Ko jadi kutung.

A Ko terkejut sekaligus marah, Dengan golok buntungnya, dia menyerang kembali Kali ini malah secara serabutan.

Menyaksikan orang sudah menjadi kalap, Siau Po tidak berani melayani terus, Dalam hal ilmu silat, dia masih kalah jauh, Karena itu, terpaksa dia membalikkan tubuhnya dan lari menuruni bukit.

A Ko mengejar.

"Larilah yang jauh! Kalau kau lari jauh-jauh, aku tidak akan membunuhmu!"

Teriaknya.

Siau Po tidak menyahut, dia hanya berlari terus.

Melihat arah larinya si anak muda, A Ko jadi bingung.

Karena Siau Po lari pulang ke penginapan.

-Ah, dia lari pulang.

--, pikirnya dalam hati.

--Dia pasti mengadu kepada suhu!

-Dengan membawa pikiran demikian, dia mempercepat larinya, Tapi sayangnya ilmu meringankan tubuh gadis itu juga masih kepalang tanggung, tidak berbeda jauh dengan Siau Po.

itulah sebabnya dia tidak berhasil mengejar si anak muda.

Sesaat kemudian, tampak si anak muda sudah menyelinap ke dalam penginapan.

--Celaka!

--pikir A Ko.

--Kalau dia sampai mengadu kepada suhu, apa boleh buat, aku akan membeberkan semua perbuatannya kepadaku tempo hari!

Karena merasa sudah terlanjur, si nona melambatkan langkah kakinya dan berjalan perlahan lahan menuju pintu penginapan Baru sampai di ambang pintu kamar, tiba-tiba A Ko menjadi terkejut setengah mati, Karena sekonyong-konyong ada angin atau tenaga keras yang menyerangnya, membuatnya terhuyung-huyung tiga langkah sampai dia tidak dapat mempertahankan diri dan jatuh terduduk, Kembali A Ko terkejut, dia berusaha untuk bangun Karena itu, dia menjulurkan tangannya untuk menumpu di atas tanah, Tidak tahunya dia malah menyentuh wajah seseorang.

Terpaksa dia menekan terus untuk melompat bangun, Setelah berdiri, dia baru menolehkan kepalanya dan menoleh kepada orang yang diduduki dan ditekannya barusan.

Kembali dia terkejut karena mengenali Siau Po yang sangat dibencinya.

"Hai, apa yang kau lakukan?"

Tanyanya kaget dan heran Namun baru selesai dia mengajukan pertanyaan itu, kembali kedua lututnya terasa lemas dan dia terjatuh kembali.

"Eh, eh!"

Serunya pula, Tapi sudah terlambat, dia jatuh justru menimpa tubuh Siau Po sehingga wajah mereka jadi saling berhadapan dan dalam posisi berpelukan.

Bukan main khawatirnya hati A Ko.

Dia takut wajahnya dicium oleh si anak muda yang ceriwis itu, Karena itu dia berusaha untuk bangun kembali Tapi entah mengapa, seluruh tubuhnya terasa lemas sehingga niatnya menjadi gagal.

Dia terpaksa melengoskan wajahnya.

"Cepat bangunkan aku!"

Katanya dengan terpaksa.

"Aku juga kehabisan tenaga.,."

Sahut Siau Po.

"Bagaimana baiknya sekarang?"

Meskipun mulutnya bertanya demikian, hati Siau Po justru senang sekali, Dia toh ditindih oleh si nona cantik, yang tubuhnya lembut dan kulitnya halus, Dalam keadaan seperti itu, dia masih sempat berkata dalam hatinya.

--jangan kata sekarang tenagaku benar-benar sudah lemah, meskipun tetap kuat seperti semula, aku tidak akan membangunkan engkau, Bukankah kau sendiri yang jatuh menimpa aku?

jangan kau salahkan atau sesalkan aku -AKo menjadi bingung.

"Suhu sedang dikepung musuh!"

Katanya.

"Kita harus menolongnya!"

Barusan, ketika memasuki kamar, A Ko sempat melihat gurunya sedang mengibaskan sebelah lengan bajunya dan menghantam sebelah tangannya lagi untuk menolak serangan lawan.

Tapi tadi A Ko belum sempat melihat lawan gurunya dengan tegas.

ia hanya tahu bahwa musuh itu bukan hanya satu orang, Ketika dia ingin melihat lebih tegas, angin pukulan dari dalam kamar sudah menghantamnya sehingga dia terjatuh dan menimpa tubuh si anak muda.

Siau Po melangkah terlebih dahulu, Ketika sampai di depan pintu kamar, dia pun menyaksikan apa yang dilihat A Ko.

Dia juga roboh tidak berdaya.

Dia merasa kesakitan tapi hatinya senang sekali.

Dia malah berharap si nona menindihnya terus, sampaisampai dia lupa Pek I Ni sedang bertarung dengan siapa....

A Ko menekan dada orang, Dia terpaksa berusaha bangun.

Perlahan-lahan dia bangkit berdiri kemudian menghembuskan napas lega.

"Mengapa kau berbaring di atas tanah?"

Tanyanya "Mengapa kau membuat aku jatuh tersandung?"

Nona ini sudah menduga jatuhnya Siau Po pasti karena alasan yang sama dengan dirinya, tapi dia tetap mengajukan pertanyaan itu.

"lya, Nona!"

Sahut Siau Po yang menyimpang dari pertanyaan gadis itu.

"Kalau aku tahu kau akan jatuh di sini, seharusnya aku cepat-cepat menyingkir agar kita bisa jatuh berdampingan."

"Cis!"

Si nona meludah, Tapi dia mengkhawatirkan keselamatan gurunya sehingga cepat-cepat dia memperhatikan keadaan di dalam kamar.

Pek I Ni masih duduk bersila di atas tanah, Kedua tangannya digerak-gerakkan untuk menahan datangnya serangan lawan, jumlah musuhnya ada lima orang, Semuanya para lhama dengan jubah merah.

Setiap lawannya menyerang dengan cepat dan dahsyat, walaupun demikian, mereka tidak sanggup mendekati bhikuni itu, A Ko berusaha maju terus, Dia ingin mengetahui apakah masih ada musuh lainnya di dalam kamar Tapi, baru saja kakinya menindak dua langkah, tiba-tiba serangkum angin kencang kembali menerpanya sehingga mau tidak mau dia harus menyurut mundur kembali.

Begitu mundur nona itu menendang Siau Po.

"Eh, cepat bangun!"

Katanya.

"Kau masih enak-enakan berbaring di sini. Lihat musuh-musuh itu, orang dari golongan apakah mereka itu?"

Siau Po menumpu pada dinding dan bangun perlahan-Iahan. Lalu memperhatikan ke dalam kamar.

"Semuanya ada enam orang lhama dan mereka semua terdiri dari orang jahat."

Katanya.

"Ngaco!"

Bentak si nona.

"Sudah tentu mereka orang-orang jahat, untuk apa kau mengatakannya lagi?" "Tapi mereka menyerang suthay, itulah yang membuktikan bahwa mereka itu orang jahat."

Si nona mendelikkan matanya.

"Aku rasa kau tentunya teman orang-orang itu, Kau yang mengajak mereka ke mari untuk mencelakai suhu."

Tukasnya.

"Mana mungkin, Nona?"

Kata Siau Po.

"Aku justru sangat menghormati suthay seperti halnya aku menghormati Kuan Im Pousat, mana mungkin aku mencelakainya?"

A Ko segera menoleh ke dalam kamar.

Tiba-tiba dia mengeluarkan seruan tertahan Siau Po pun cepat-cepat memperhatikan keadaan di dalam kamar Tampak keenam lhama itu, masing-masing menghunus goloknya dan menyerang Pek I Ni.

Tapi mereka tertahan oleh pukulan si bhikuni sehingga mereka tidak bisa maju lebih dekat.

Hanya saja sekarang di atas kepala wanita itu tampak uap putih mengepul, menandakan dia sudah mengeluarkan tenaganya terlalu banyak dan keadaan ini membahayakan dirinya.

Dalam hati Siau Po ada niat ingin membantu bhikuni itu, tapi dia tidak dapat memasuki kamar .Bahkan kalau dia bisa masuk sekalipun, malah bisa membuat Pek I Ni menjadi kikuk.

Bukankah dia tidak berdaya apa-apa menghadapi keenam lhama yang tangguh-tangguh itu?

Melihat ke sekitarnya, Siau Po mendapatkan ada sebatang sapu tersandar di sudut tembok, Dia merayap perlahan-lahan ke sana lalu diambilnya sapu itu, Kemudian Siau Po menjulurkan sapu itu lewat sela pintu dengan maksud menyodokkannya ke wajah salah seorang lhama sehingga orang itu kurang waspada dan Pek I Ni mempunyai kesempatan menghajarnya.

Tapi, baru saja sapunya masuk ke dalam, dia sudah mendengar suara bentakan keras disusul dengan kelebatan sinar golok.

Sapu di tangan Siau Po langsung terkutung menjadi dua bagian, Bahkan dia sendiri ikut terkena sambaran angin sehingga terpental ke belakang.

"Kau benar-benar sembrono,"

Kata A Ko.

"Mana boleh kau melakukan hal itu?"

Siau Po tidak menyahut otaknya terus bekerja keras, matanya jelalatan ke sana ke mari, Anak muda itu memperhatikan posisi keenam orang lhama itu lalu mengendapendap ke belakang mereka, Karena terhalang dinding kamar, lawan tidak dapat melihat nya.

Dia berdiri tepat di belakang salah seorang Ihama, yakni orang yang mengutungkan sapunya tadi.

Dia menikamkan pisau belatinya pada orang itu.

Pisau itu luar biasa tajamnya, sedangkan tebal dinding tidak lebih dari satu dim.

Pisau itu telak mengenai punggung si Ihama, Lhama itu menjerit, lalu tubuhnya terkulai di atas tanah.

Dia sama sekali tidak tahu bagaimana dirinya diserang lawan, sehingga boleh dikatakan menjadi mati konyol.

Diam-diam Siau Po merasa girang, karena mendengar suara teriakan atau jeritan si Ihama, Dia tahu tikamannya sudah membawa hasil.

Karena itu, dia segera menggeser ke arah Ihama yang kedua dan kembali menikamkan pisaunya.

"Aduh!"

Jerit lhama itu dan tubuhnya pun terkulai seperti kawannya barusan.

--Bagus!

--, seru Siau Po dalam hatinya, Dia puas dengan usaha itu walaupun yang dilakukannya berupa serangan gelap, Tanpa ragu lagi, dia segera melanjutkan serangannya.

Dalam waktu yang singkat, empat orang lhama telah roboh tidak berkutik Untung pisau belatinya tidak tembus ke dalam sekali sehingga luka setiap lhama tidak mengucurkan darah, Dengan demikian kawan-kawannya tidak tahu apa yang telah terjadi.

Saking heran dan khawatir dalam pikiran mereka langsung timbul niat untuk melarikan diri.

Pek I Ni dapat melihat sikap para lhama itu, Dia menghajar seorang lhama yang sedang memutar tubuhnya untuk pergi, Robohlah orang itu, mulutnya mengeluarkan darah dan jiwanya melayang seketika, sedangkan dengan kibasan lengan baju kanannya, dia membuat seorang lhama lainnya tidak dapat melarikan diri karena lima jalan darahnya telah tertotok.

Dengan demikian lhama itu juga langsung roboh tidak berkutik.

Pek I Ni menendang kembali tubuh keempat lhama yang sudah rebah di atas tanah, Bhikuni itu melihat lubang bekas tikaman juga darah yang merembes ke luar dari selaselanya, maka dia segera mengerti sebab kematian keempat lhama tersebut.

Dia lalu bertanya kepada lhama yang tertotok itu.

"Kau,., siapa?"

Tiba-tiba tubuhnya terhuyung-huyung dan jatuh terguling di atas lantai, dari mulutnya muncrat darah segar.

Rupanya Tiang kongcu sudah menguras tenaganya secara berlebihan ketika menghadapi keenam orang lhama yang kepandaiannya tinggi-tinggi itu.

Untung dia masih bisa bertahan sampai tahap terakhir dan kemudian baru roboh.

A Ko dan Siau Po terkejut setengah mati, Mereka segera menghambur ke depan dan memapah bhikuni itu.

"Suhu! Suhu!"

Panggil A Ko berulang kali.

Napas Pek I Ni lemah sekali, Matanya terpejam dan mulutnya tertutup rapat-rapat.

Bersama-sama A Ko, Siau Po mengangkat tubuh bhikuni itu ke atas tempat tidur, Darah masih mengalir dari sudut bibir wanita itu.

A Ko bingung sekali sehingga dia menangis terus.

Ketika pertempuran terjadi, para pelayan serta pemilik penginapan semuanya lari kucar-kacir, sekarang mereka kembali lagi dan ketika melihat darah berceceran dimana-mana mereka jadi ketakutan.

Beberapa diantaranya malah berteriak-teriak seperti orang kalap.

"Untuk apa kalian berteriak-teriak?"

Bentak Siau Po sambil memungut sebilah golok.

"Diam! Atau kalian semuanya ku bunuh!"

Orang-orang itu ketakutan, mereka segera menutup mulut Siau Po mengeluarkan sejumlah uang lalu menyerahkannya kepada salah seorang pelayan.

"Sekarang cepat kau carikan dua buah kereta besar! Yang lima tail ini untukmu!"

Katanya, Siau Po mengeluarkan uang lagi sebanyak empat puluh tail, lalu dia berkata kepada pemilik penginapan.

"Keenam orang lhama ini mati karena saling menyerang antara kawannya sendiri, kalian semua juga menyaksikan bukan?"

Padahal para pelayan dan pemilik penginapan itu tidak melihat apa-apa, tapi mereka takut terhadap ancaman Siau Po sehingga serentak mereka menganggukkan kepalanya dan mengiyakan.

Tidak lama kemudian kedua kereta besar yang dipesan Siau Po sudah datang, Dengan dibantu oleh A Ko, dia menggotong Pek I Ni ke atas sebuah kereta.

"Kau duduk di atas satu kereta dengan gurumu, aku akan membawa lhama yang tertotok ini."

Katanya kepada A Ko.

"Ke barat daya!"

Kata Siau Po pula kepada sais kereta setelah mereka semua naik ke atasnya.

Siau Po khawatir lhama itu bisa membebaskan sendiri totokannya, Karena itu dia mengikat kaki dan tangan orang itu erat-erat.

Sementara kereta berjalan terus, Siau Po melihat si Ihama, sudah sadar.

Tanpa menunda waktu lagi, dia mulai mengajukan pertanyaan kepadanya.

"Kau lihat sendiri, empat orang rekanmu telah terbunuh di tanganku, Kalau kau tidak menjawab pertanyaanku baik-baik, maka kau akan mengalami nasib yang sama. Malah aku akan menyiksamu terlebih dahulu, Nah, sekarang katakan, siapa yang menyuruh kalian mencari keributan dengan suthay kami?"

Lhama itu takut sekali. Apalagi setelah Siau Po mengeluarkan pisau belatinya yang sinarnya berkilauan dan terus digerak-gerakkan di depan hidungnya.

"Aku bernama Hupain, lhama dari Tibet."

Kata orang itu.

"Kami mendapat tugas untuk menangkap hidup-hidup suthay itu. Orang yang memerintahkan kami adalah kakak seperguruan kami yang tertua, namanya Shang Cie."

"Suthay ini orang baik-baik,"

Kata Siau Po.

"Dengan kakak seperguruanmu pasti tidak ada persengketaan apa-apa, Mengapa kakak seperguruanmu memerintahkan kalian menangkapnya?"

"Menurut kakak seperguruanku suthay itu telah mencuri kitab suci... bukan di pinjamKitab suci itu seluruhnya ada delapan

Jilid dan mempunyai sangkutan yang penting dengan Buddha hidup kami. Kami harus meminta pulang kitab tersebut"

"Kitab apakah itu?"

Tanya Siau Po.

"Kitab Chayen kulu-kulu."

"Ngaco!"

Kata Siau Po.

"Mana ada kitab Chayen kulu-kulu?"

"ltulah bahasa Tibet!"

Sahut si Ihama.

"Dalam bahasa Tionghoa, orang menyebutnya Si Cap Ji Cin Keng."

"Bagaimana kakakmu yang busuk itu bisa tahu suthay kami memiliki kitab tersebut ?"

Tanyanya kembali. "Tentang itu aku tidak tahu apa-apa."

"Sekarang aku ingin tanya lagi kepadamu, bersama kakak seperguruanmu yang busuk itu, orang yang kepandaiannya lebih rendah atau lebih tinggi daripadaku masih ada berapa lagi?"

"Jumlah kami semua tiga belas orang, suthay telah membinasakan lima di antara kami, sekarang masih tersisa delapan orang lagi."

Siau Po mendupak tubuh orang itu.

"Kau sangat busukl Sudah mau mati, masih mengoceh yang tidak-tidak. Jadi kepandaian mereka semuanya lebih tinggi daripada aku? Kau lihat saja nanti, kalau bertemu dengan mereka, aku akan menghabisi mereka satu persatu, Biar kau tahu sampai di mana kelihayanku!"

"lya, iya!"

Sahut si lhama yang ketakutan.

Siau Po masih belum puas, dia masih mengajukan beberapa pertanyaan, dan tidak memperoleh keterangan yang cukup jelas lagi, dia baru menghentikan kereta dan melaporkan apa yang didapatkan kepada Pek I Ni.

"Suthay, di sana masih ada delapan orang lhama. Kalau mereka datang sekaligus, mungkin sulit bagi suthay untuk melayaninya, Lain halnya kalau keadaan suthay sehat seperti sebelumnya."

Pek I Ni menggelengkan kepalanya.

"Sekalipun dalam keadaan sehat, satu lawan tujuh, tetap saja tidak mungkin menang, Menurut apa yang aku ketahui, Sang Cie itu merupakan lhama yang kepandaiannya nomor satu di wilayah Tibet. ilmunya tinggi sekali, Menghadapi dia satu orang saja masih belum tentu kesudahannya, apalagi kalau dia mengandalkan saudara-saudara seperguruannya yang lain."

Katanya.

"Kalau begitu, sebaiknya kita menggunakan tipu daya kata Siau Po."

Aku mempunyai akal yang cukup baik, tapi entah suthay mau menjalankannya atau tidak...."

Bhikuni itu menarik napas panjang.

"Sekarang aku sudah tidak berbeda dengan manusia biasa, Coba kau katakan apa akal mu itu?"

"Aku berpikir agar kita pergi ke sebuah tempat yang sunyi,"

Kata Siau Po.

"Di sana suthay menyamar sebagai wanita setengah baya yang sedang sakit. Aku dan A Ko akan menjadi anak-anakmu yang mengurusmu, Entah bagaimana pendapat suthay? Tentu saja hanya untuk sementara, setidaknya sampai kesehatan suthay pulih kembali."

Pek I Ni menggelengkan kepalanya.

"Huh! pikiran apa yang kau cetuskan?"

Bentak AKo.

"Sungguh bodoh! Suhu adalah orang gagah di jaman ini, mengapa suhu harus menyembunyikan diri sedemikian rupa? Bukankah itu berarti takut?"

"Akal ini sebetulnya dapat dilakukan, tapi kalian harus menyamar sebagai keponakanku..."

Kata Pek I Ni. Siau Po senang sekali mendengar ucapan si bhikuni.

"Baik, baik!"

Katanya berkali-kali. A Ko mendelikkan matanya kepada si anak muda, Dia merasa tidak puas mendengar suhunya setuju dengan usul si bocah tengik.

"Lhama itu sebaiknya jangan dibiarkan hidup, nanti dia bisa menimbulkan kesulitan bagi kita, Kita kubur saja dia hidup-hidup di tempat ini."

Kata Siau Po pula.

"Tadi kita bertempur karena terpaksa, kau membunuh orang juga karena terpaksa, sekarang lhama ini sudah tidak berdaya, apabila kita membunuhnya juga, itu berarti kita terlalu kejam, sebaiknya kita bawa saja dia bersama-sama...."

Bagian 49 Siau Po menurut.

Mereka segera menjalankan lagi kereta tersebut sampai sekian tama menempuh perjalanan, mereka masih belum menemukan satu pun rumah penduduk desa, Siau Po khawatir mereka akan tersusul oleh rombongan Shang Cie, karena itu, ketika melihat sebuah gang kecil, dia menyuruh sais membelokkan kereta ke arah gang itu.

Justru kereta sedang dijalankan perlahan-Iahan, dari belakang mereka terdengar suara derap kaki belasan ekor kuda.

Siau Po menjadi terkejut sekali.

Hatinya juga langsung merasa cemas.

Mungkinkah rombongan lawan sudah menyusul tiba?

-Celaka!

Rupanya jumlah para lhama itu lebih dari belasan orang!

--keluhnya dalam hati.

Suara derap langkah kaki kuda itu semakin cepat.

Diam-diam Siau Po mengintai ke luar jendela, Tampak puluhan penunggang kuda dengan pakaian berwarna hijau mendatangi kereta.

Ternyata mereka bukan rombongan para Ihama, Dalam waktu yang singkat kereta itu sudah tersusul sebentar lagi para penunggang kuda itu akan melewati mereka.

Tiba-tiba terdengar suara A Ko memanggil.

"The toako! The toako!"

Salah satu dari penunggang kuda itu, yakni seorang anak muda, langsung menghentikan kuda tunggangannya. Dibiarkannya kereta itu lewat di sisinya sehingga mereka berjalan berdampingan.

"Nona Tan !"

Sapa si penunggang kuda itu.

"Benar, memang aku!"

Sahut A Ko yang dari nada suaranya kentara bahwa hatinya senang sekali.

"Tidak tersangka kita akan bertemu kembali?"

Kata si anak muda.

"Apakah kau bersama-sama nona Ong?"

"Bukan,"

Sahut A Ko.

"Kakak seperguruanku tidak ada di sini"

"Apakah kau pun hendak menuju Ho Kan?"

Lagi-lagi anak muda itu bertanya.

"Tidak!"

Sahut A Ko.

"Kota Ho Kan ramai sekali"

Kata si penunggang kuda.

"Sebaiknya kau ke sana saja!"

Pembicaraan itu berlangsung sementara kereta terus berjalan sedangkan Siau Po yang masih duduk satu kereta dengan si nona terus memperhatikannya.

Tampak kedua pipi si nona bersemu dadu, wajahnya berseri-seri seakan senang sekali dapat bertemu dengan pemuda pujaan hatinya, Siau Po merasa dadanya seperti dihantam oleh martil dengan keras.

--Apakah penunggang kuda itu kekasih nona A Ko?

--, tanyanya dalam hati Lalu dia berkata dengan suara perlahan kepada si nona.

"Sekarang kita mau menyembunyikan diri dari kejaran musuh. sebaiknya jangan sembarangan berbicara dengan orang yang tak ada sangkut pautnya dengan kita."

A Ko seperti tidak mendengarkan kata-kata Siau Po.

"Ada keramaian apa di kota Ho Kan?"

Tanyanya kepada si penunggang kuda.

"Apakah kau belum mengetahuinya?"

Terdengar suara si penunggang kuda yang sembari mengulurkan tangannya menyingkap tirai kereta sehingga kepalanya dapat menjulur ke dalam.

Wajah pemuda itu tampan sekali Usianya sekitar dua puluh tigaan tahun, apalagi wajah itu penuh dengan senyuman sehingga tampak semakin manis dan ganteng.

"Di kota Ho Kan ada keramaian menyembelih kura-kura. Semua orang gagah di seluruh negeri ini sedang menuju ke sana."

Katanya.

"Apa sih maksudnya menyembelih kura-kura?"

Tanya A Ko.

"Kalau hanya menyembelih kura-kura, apa yang bagus dilihat?"

"Memang yang dilaksanakan di sana menyembelih kura-kura."

Kata si penunggang kuda sambil tersenyum "Tapi yang disembelih bukan kura-kura busuk, melainkan seseorang yang akhir namanya menggunakan kata-kata Kui seperti bunyinya kurakura."

A Ko tertawa.

"Ah! Mana ada orang yang namanya menggunakan huruf "Kui"

Kura-kura."

Katanya.

"Kau hanya membohongi aku."

Si penunggang kuda ikut tertawa.

"SebetuInya tulisannya memang tidak sama, Hanya bunyinya saja yang sama, Huruf itu huruf Kui dari bunga Kui Hoa. Coba kau tebak siapa orangnya?"

Siau Po terkejut setengah mati, Dalam hati dia berpikir.

-Sejak tadi dia terus-terusan menyebut nama dengan huruf Kui, apakah dia bukan bermaksud mengatakan Siau Kui Cu?

Kalau benar, matilah aku!

-Sementara itu, A Ko tertawa sambil bertepuk tangan.

"Aku tahu sekarang."

Katanya gembira.

"Kau maksudkan si pengkhianat besar, Gouw Sam Kui bukan?"

Penunggang kuda itu lagi-lagi tertawa.

"Benar, Kau cerdas sekali. Satu kali terka saja langsung tepat."

Katanya.

"Eh, apakah kalian telah berhasil membekuk Gouw Sam Kui?"

Tanya A Ko.

"Belum sih,"

Kata si penunggang kuda.

"Kami semua justru ingin merundingkan cara menyembelihnya."

Siau Po bernapas 1ega.

Jadi bukan dia yang dimaksudkan --pantas kalau begitu!

-katanya dalam hati, --Aku si Siau Kui Cu hanya seorang bocah cilik, untuk apa mereka membunuh aku?

Lagi pula, kalau benar mereka ingin membunuh aku, juga tidak perlu diadakan Cham Ku Tayhwe, pertemuan yang luar biasa itu.

Dasar aku yang apes!

Mengapa justru kepilih orang yang bernama Siau Kui Cu?

-Pemuda itu tertawa manis sambil menjalankan kuda tunggangannya.

Dia memiringkan tubuhnya sedikit agar dia dapat melihat wajah si nona sementara berbicara dengannya.

Dari sikapnya ini saja dapat dibuktikan bahwa dia seorang penunggang kuda yang baik.

Sementara itu, A Ko menoleh kepada Pek I Ni.

"Suhu,"

Panggilnya dengan suara perlahan "Apakah kita ikut menyaksikan keramaian?"

Pek I Ni merenung sekian lama sebelum memberikan jawaban sebetulnya dia ingin sekali menghadiri pertemuan besar itu, tapi dia juga mengingat keadaannya sendiri yang sedang menjadi incaran musuh, seharusnya mereka menyembunyikan diri, masa sekarang malah mau tampil di depan umum?

"Bagaimana menurutmu?"

Tanya Pek I Ni kepada Siau Po akhirnya.

Si anak muda sejak tadi berdiam diri saja, Hatinya masih panas melihat kemesraan A Ko dengan pemuda yang menunggang kuda itu.

Sebenarnya dia merasa muak mendengar pembicaraan mereka dan mendongkol melihat sikap si pemuda terhadap A Ko.

Dia tidak ingin A Ko terus-terusan dekat dengan pemuda itu.

"Kalau rombongan Ihama jahat itu tiba, kita pasti kerepotan melayaninya. Lebih baik kita cari tempat untuk singgah terlebih dahulu."

Sahutnya kemudian.

"Apa itu Ihama jahat?"

Tanya si pemuda.

"The toako, ini guruku."

Kata A Ko memperkenalkan.

"Di tengah jalan kami bertemu dengan satu rombongan Ihama jahat, mereka hendak mencelakai guruku ini. sekarang guruku sedang terluka parah, sedangkan di belakang ada serombongan Ihama jahat yang mengejar."

"Oh, begitu!"

Kata si pemuda yang langsung berteriak nyaring kepada rombongan di belakangnya kemudian menghentikan tunggangannya, Bahkan kedua kereta yang ditumpangi Siau Po dan yang lainnya juga ikut berhenti.

Pemuda itu segera melompat turun dari keretanya lalu menyingkap tirai kereta kemudian menjura sambit berkata.

"Boanpwe The Kek Song menghadap cianpwe!"

Pek I Ni menganggukkan kepalanya.

"Kalau baru beberapa orang Ihama, rasanya tidak perlu dijadikan bahan kecemasan,"

Kata Kek Song kembali.

"Cianpwe, boanpwe bersedia mewakili cianpwe membereskan mereka."

Mendengar kata-kata pemuda itu, A Ko langsung merasa senang sekali, Tapi di samping itu, hatinya juga dilanda kekhawatiran....

"The toako, ilmu para Ihama itu tinggi sekali."

Katanya.

"Semua kawanku itu juga memiliki ilmu silat yang tidak lemah, Aku percaya mereka bisa membereskan para Ihama itu,"

Kata Kek Song.

"Kalau enggan main keroyok, satu lawan satu pun tidak menjadi masalah."

A Ko menoleh kepada gurunya seakan hendak meminta pendapat wanita itu.

"Tidak bisa!"

Sahut Siau Po cepat sebelum si bhikuni sempat menjawab "Suthay begini lihay saja masih terluka di tangan mereka, Kalian hanya dua puluh orang lebih jumlahnya, apa yang bisa kalian lakukan?"

"Aku tidak tanya pendapatmu!"

Bentak A Ko.

"Untuk apa kau banyak mulut?"

"Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan suthay."

Sahut Siau Po.

"Kau sendiri yang takut mati tapi kau menggunakan guruku sebagai alasan."

Kata A Ko yang tetap gusar "Kau si kecil busuk! Hatimu selalu mengandung niat yang tidak baik!"

"Apakah orang she The ini kepandaiannya tinggi sekali?"

Tanya Siau Po yang tidak memperdulikan caci maki gadis.

"Apakah dia lebih lihay dari suthay sendiri?"

"Tapi dia membawa dua puluh orang lebih,"

Kata A Ko berkeras.

"Semua orang itu lihay-lihay, Mustahil kalau dua puluh orang yang tidak bisa melawan tujuh Ihama?"

"Bagaimana kau bisa tahu kalau kedua puluh orang itu ilmunya lihay-Iihay?"

Tanya Siau Po.

"Dalam pengamatanku, ilmu mereka justru rendah sekali."

"Tentu aku tahu."

Kata A Ko.

"Aku pernah menyaksikan mereka turun tangan, Setiap orang dari mereka pasti bisa menghadapi seratus orang sebangsamu."

Sementara kedua bocah itu bersitegang, Pek I Ni tetap berdiam, ia memikirkan kesehatannya sendiri meskipun dia juga ingin sekali menghadiri pertemuan Cham Ku Tayhwe itu.

Dia ingin tahu apa rencana mereka dalam menumpas Gou Sam Kui.

Tapi para Ihama jahat itu membuatnya pusing, Dia juga tidak sudi menerangkan bahwa sekarang mereka bermaksud menyembunyikan diri untuk sementara, hal ini hanya akan membuat dirinya malu saja.

"Silahkan, kongcu! silahkan kau lanjutkan perjalanannya."

Katanya kemudian "Para Ihama itu hanya mencari aku, biarlah aku yang melayani mereka. Terima kasih banyak untuk kebaikanmu, kongcu!"

"Harap suthay jangan sungkan!"

Kata Kek Song.

"Sudah sepantasnya kalau dalam perjalanan aku memberikan bantuan sekedarnya kepada orang yang membutuhkan Apalagi suthay adalah guru nona A Ko, aku lebih-lebih harus membantu."

A Ko menundukkan kepalanya, wajahnya merah padam Dia merasa jengah karena namanya disebut-sebut.

"Baiklah kalau begitu."

Kata Pek I Ni akhirnya.

"Mari kita berangkat bersama ke Hon Kan untuk menyaksikan keramaian di sana! Tapi aku harap kau jangan menyebutnyebut apa pun tentang aku, sebab aku tidak ingin menemui siapa pun!"

Kek Song gembira sekali.

"Baik!"

Dia memberikan janjinya.

"The kongcu, kau dari golongan mana? Dan siapa nama gurumu yang mulia?"

Tanya Pek I Ni.

"Boanpwe telah menerima budi tiga orang guru,"

Sahut Kek Song.

"Guru yang pertama ialah Sie suhu, ahli silat dari Bu I Pai. Yang kedua Lau suhu, murid tidak resmi Siau Lim Pay cabang Pou Tian, Ho Kian...."

"Apakah nama mulia Lau suhu itu?"

Tanya Pek INi.

Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti 5

Baca Juga: Banjir Darah Di Borobudur 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert