Ceritasilat Novel Online

Kaki Tiga Menjangan 11

Eps 11 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.

Sahut si tabib ragu-ragu.

"Tapi apa..?"

Bentak Siau Po dengan wajah gusar.

"Cepat, kau pergi dan lepaskan dia!"

"Baik, baik."

Liok Sin Se segera beranjak untuk berbicara dengan anak buah di perahu itu.

Orang itu lalu secepatnya pergi sambil berlari.

Belum lama utusan itu pergi, datanglah seorang dengan menunggang kuda dengan cepatnya, Siau Po melihat si penunggang kuda yang juga melihatnya.

secepatnya si penunggang kuda itu melompat ke atas perahu dengan lincahnya.

Si penunggang kuda memanggil namanya "Siau Po!"

Sambil melompat turun dari kepala perahu dan mendekatinya.

ia sangat lincah dan gesit sekali.

Bi Kin sangat kagum, Bukan terhadap lompatannya, melainkan orang yang melompat itu.

seorang anak kecil dan perempuan lagi, ia pun berseru memujinya.

Siau Po tadinya sangat khawatir kalau-kalau ia jatuh ke tangan orang-orang jahat itu.

Nona itu sangat pandai dalam ilmu silatnya tetapi ia kurang pengalaman ia lantas memegang tangan Siong Cu dan menatap matanya.

Siau Po sangat sedih bahkan tampak matanya seperti menangis.

"Apakah ada orang yang menghinamu?"

Tanyanya.

"Ti... tidak-."

Sahut si nona dengan perlahan Siau Po menatapnya dengan perasaan cemas terhadap wanita muda belia itu.

"Aku... Aku cuma memikirkanmu. Mereka... mereka telah... mereka telah mengurung aku."

"Nah, sudahlah, sekarang kita akan pulang,"

Kata Siau Po.

"Di sini banyak sekali ular berbisa,"

Katanya sambil menangis.

"Jangan takut! Tidak apa-apa,"

Kata Siau Po meyakinkan gadis itu.

Dia sangat benci pada Non Phui Ie.

Karenanya ia sampai tergigit ular dan segera ia memerintahkan para awak kapal itu untuk berangkat.

Mendengar perintah itu awak kapal segera menarik jangkar dan di barat terdengar bunyi petasan, Orang-orang berseru mengucapkan kata-kata.

"Semoga Pek Liong Su menang dan dapat membangun jasa besar dari kaucu!"

Angin laut membuat kapal perang itu cepat meninggalkan pulau. Dalam perjalanan Siau Po berpikir dan berkata dalam hatinya.

"Jika saja aku tidak mengetahui Phui Ie menjadi anggota Sin Liong Kau, tentu saat ini aku masih memikirkan dirinya, sekarang aku tak perlu lagi mengingat-ingat akan dirinya, Tetapi ia sangat baik dan juga cantik."

Lewat beberapa hari kapal teliti sampai di Cin Hong To, maka Siau Po memerintahkan agar kapal merapat. Tibalah rombongan Sin Liong Kau di kota Pakhia.

"Aku hendak mencoba masuk ke istana raja,"

Kata Siau Po pada kawan-kawannya.

"Oleh karena itu, aku membutuhkan waktu yang cukup lama, agar dapat berhasil. Kalian harus mencari tempat menyimpan kapal yang aman!"

Perintahnya kepada para awak buah kapal.

Kho Hian menurut dan ia lalu mencari tempat untuk menyembunyikan kapal, ia berhasil menyewa sebuah rumah yang besar beserta koki dan pelayannya, jumlah mereka belasan orang.

Setelah mengatur anak buahnya, Siau Po pergi seorang diri.

MuIanya ia pergi ke tempat kediaman orang-orang Cian Ti Wi.

Di sana terdapat saudagar teh.

Sewaktu Siau Po mengajak bicara, saudagar itu nampak ketakutan sekali, Maka teranglah kalau di itu orang luar.

Karena itu ia lalu pergi ke Cian Kio ia pikir kalau tidak ada Ci Cian Coan tentu yang lainnya, seperti Hoan Kong, Kho Gan Tiau, atau Cian Lau Pun.

Dan ia pun tidak didapatkannya maka Siau Po harus mondar mandir dengan tangan hampa.

Akhirnya Siau Po mencari hotel yang pernah ia singgahi, Lantas ia menaruh uang di atas meja kasir.

Melihat uang yang begitu banyak Siau Po pun diberi kamar kelas satu dan mendapat pelayanan yang sangat baik.

Siau Po meminta kamar nomor 8 yang pernah dipakainya, Setelah pelayan berlalu dari kamarnya Siau Po merebahkan tubuhnya.

Dia menghirup secangkir teh dan ia beristirahat dengan tenang sambil otaknya terus berpikir.

Beberapa lama kemudian setelah keadaan tenang ia mengambil pisau belatinya untuk mengorek tembok tempat ia pernah menyimpan kitab penting.

Kitab itu masih ada dan tak kurang suatu apa pun, ia mengambil dan memasukkannya ke dalam saku.

ia lalu pergi keluar hotel untuk menuju ke istana raja.

Tiba di istana, seorang Sie Wie yang bertugas jaga menegurnya.

"Eh, kau sedang apa di sini?"

Tanya seorang penjaga melihat seorang anak muda dengan pakaian yang sederhana menuju ke pintu istana. Siau Po lalu tertawa dan berkata.

"Ah... Apakah kau tak mengenali aku lagi? Aku kan Kui Kong Kong dari istana.,.?"

Pengawal itu menatap dan dengan cepat mengenali orang yang menjadi pelayan raja, keningnya agak berkerut sambil menatap Siau Po.

"Oh, Kui Kong Kong mana aku mengenalimu, Orang berbadan aneh seperti ini.,.!"

"ltuIah sebabnya aku tak sempat menyalin pakaian lagi, Sri Baginda memerintahkan aku melakukan sesuatu, Aku mesti buru-buru pulang dan melaporkannya,"

Ujar Siau Po kemudian "Jika demikian, pastilah Kong Kong telah berhasil menjalankan tugas dengan baik dan kau pasti akan mendapatkan hadiah yang cukup besar!"

Sahut Sie Wie itu. Siau Po tertawa, ia lalu pergi masuk ke istana kerajaan. Di ruang Gi Sin Pong ia dikerumuni Thay-kam yang girang dengan kembalinya dia.

"Kong Kong pergi lama sekali kami jadi kangen! Kami selalu berdoa agar Kong Kong selamat dan dapat berhasil Tanpa Kong Kong segalanya jadi tak teratur!"

Siau Po tertawa dan berkata.

"Aku pun selalu ingat dengan kalian! Di Gie San Pong ini ada gadisku yang aku belum terima. Nah ambillah ini semua untuk kalian bagi rata!"

Semua Thay-kam menjadi girang sekali Mereka berulang-ulang mengucapkan kata terima kasih pada Siau Po.

Siau Po masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian.

Kitab pun dibungkus dengan rapih.

Kemudian ia pergi ke Lam Si Pong, kamar baca sebelah selatan.

Sebelumnya ia minta pada pengawal untuk memberitahukan pada raja akan kedatangannya.

Kaisar Kong Hi gembira bukan main mendengar orang kepercayaannya telah tiba di istana.

"Lekas, suruh dia masuk...! Lekas... suruh dia masuk!"

Perintahnya pada pengawal berulang-ulang.

Siau Po cepat berangkat setelah mendapatkan laporan dari pengawal.

Dia berjalan dengan cepat dan setelah sampai di depan pintu, raja sudah menyambut kedatangannya.

"Oh, Siau Kui Cu cepat masuki Kenapa kau pergi begitu lama.,.?"

Siau Po menjatuhkan diri sambil menghormat.

"Selamat Sri baginda... Selamat!"

Raja merasa hatinya tegang, jelas maksud sebenarnya ayahnya masih hidup, Karenanya ia m rasa sangat tegang sekaIi.

"Mari, masuk! Kau bicaranya pelan-pelan saja.."

Raja merasa terharu, hampir ia meneteskan matanya karena terharu.

Siau Po masuk ke kamar kerjanya dan segera menguncinya.

Siau Po terlebih dahulu memeriksa kamar tulis itu.

Hatinya khawatir ada orang yang ikut mendengarkan pembicaraannya itu, Kemudian ia mendekati raja dan berkata dengan pelan sekali.

"Sri Baginda, di atas Gunung Ngo Tai San hamba bertemu dengan Lo Hong Ya...."

Lo Hong Ya, tak lain orang tua dari raja. Raja lalu menyambar tangan Siau Po.

"Jadi, benar Hu Hong berada di Ngo Tay San.,.?"

Tanyanya dengan suara bergetar.

"Apa... Apa kata Hu Hong.,.?"

"Hu Hong"

Adalah nama panggilan pada ayah raja"

Siau Po mengangguk lalu segera menceritakan perjalanannya ke Ngo Tay San sampai ia bertemu dengan bekas kaisar di kuil itu, ia pun menceritakan tentang pendeta dari tibet yang ingin mencelakai bekas raja itu.

Namun raja masih dapat diselamatkan dan itu berkata bantuan kedelapan belas arhat dari Siau Lim Sie.

Siau Po memang pandai berbicara, penuturannya cerita itu menjadi sangat rapih dan menarik hati, Dengan demikian ia dapat menunjukkan jasanya terhadap kerajaan.

"Sungguh berbahaya...!"

Gumam raja yang tangannya penuh dengan keringat "Biar nanti saya perintahkan satu pasukan untuk menjaga keselamatan raja," 1anjutnya.

"Jangan, raja tak menghendaki itu!"

Kilah Siau Po. Setelah itu Siau Po menerangkan tentang bekas raja itu yang mengatakan bahwa sang putra tidak ingin menjenguknya. Mendengar perkataan Siau Po, raja itu berkata.

"Sungguh Hu Hong maha bijaksana! Dia lebih menjunjung tinggi kepentingan pemerintahan dibanding dengan kepentingan dirinya, Tidak seperti aku."

Mendadak ia berhenti berbicara untuk menangis, Namun kemudian melanjutkan kata-kata-nya dengan suara pelan.

"Aku mesti menjenguk Hu Hong... Aku harus ke sana,"

Katanya.

"Sabar Sri Baginda.,.!"

Siau Po membujuk raja yang sedang sedih, lalu ia memberikan Kitab pada raja itu.

"Segala urusan pemerintahan supaya berjalan dengan wajar dan jangan menggunakan kekerasan. Lebih baik memberikan kebahagiaan pada rakyat. Apabila rakyat menghendaki kita untuk pergi, kita harus pergi ke tempat asal kita, Dan pesan yang lainnya, jika Sri Baginda menghendaki negara ini aman, agar jangan menaikkan pajak. Jika pesan-pesan itu dilaksanakan dan diturut, maka hanya itu yang membuat hati beliau merasa bangga dan bahagia."

Kaisar itu menjadi sedih mendengarkan kata-kata dari ayahandanya, Air matanya terus menetes membasahi kitab yang ada di tangannya, ia lalu membuka bungkusan itu, Lembar demi lembar kitab itu ia buka, pada lembaran pertama ia mendapatkan pesan dari ayahandanya yang berbunyi.

"Buat selamanya, jangan menaikkan pajak!"

Tulisan itu sangat bagus, Tulisan tangan ayahandanya.

"Hu Hong, pesanmu tak akan kulupakan,"

Katanya sambil menangis.

Setelah dapat menenangkan hatinya, ia lalu bertanya pada Siau Po tentang keadaan ayahandanya, sehatkah ia, sengsarakah ia.

Semua pertanyaannya dijawab oleh Siau Po, Raja mendengarkannya sambil menangis tersedu-sedu.

Mendengar kesedihan raja, Siau Po menjadi berpikir dan berkata dalam hati.

"Aku juga harus turut menangis, pasti aku akan mendapatkan hadiah besar Mengeluarkan air mata pun aku tak membelinya!"

Dan Siau Po pun turut menangis dengan raja. Kong Hi menangis sambil mengusap air matanya ia berkata.

"Aku teringat akan ayahku, sehingga aku menangis, tetapi mengapa engkau ikut menangis, kenapa?"

Memang raja itu menangis dengan pilu sekali, tetapi ia masih dapat menahan tangisnya, walaupun di depan Siau Po, kacungnya, Raja merasa heran melihat Siau Po turut menangis dengan sangat pilu.

Ia tidak tahu kalau Siau Po pandai bermain sandiwara, Anak muda itu berpura-pura menangis agar mendapatkan hadiah dari raja.

Ditanya demikian Siau Po menjawab dengan tenang.

"Hamba melihat Tuanku sangat bersedih, hamba jadi turut bersedih, sebab, hamba teringat pada ayah Baginda yang mengatakan bahwa hamba sangat cerdik, Beliau pun sangat suka pada saya.."

Jawab Siau Po.

"Jikalau hamba tidak harus melaporkan pada raja, tentunya hamba akan lebih suka tinggal bersama dengan ayahanda raja, untuk melayani dan melindungi ayah raja dari gangguan orang jahat."

"Siau Kui Cu, kau baik sekali Aku akan memberimu hadiah besar."

Bukan main girangnya Siau Po, tetapi ia masih saja menangis.

"Sri Baginda baik sekali, Hamba sangat senang-walaupun tidak diberi hadiah hamba masih senang asalkan ayah Raja dan Raja sehat Sebab, hanya itu yang dapat membuat hati hamba senang,"

Ujarnya sambil menangis. Siau Po sangat pandai berbicara, ia hanya belajar sewaktu di Sin Liong To menyanjung-nyanjung atasan.

"Aku juga khawatir kalau ayahku tidak ada yang melayaninya,"

Kata raja.

"Bukankah kau telah mengatakan Heng Tia pendeta dari tibet itu sangat kejam dan sembrono? itulah yang menyebabkan hatiku tidak tenang, untung ayah sangat menyukai engkau,"

Kata raja pada Siau Po. Siau Po sangat kaget mendengar kata-kata raja itu.

"Oh.-.!"

Serunya dalam hati.

"Celaka... celaka kalau kau menugaskan aku pergi ke sana untuk merawat raja tua bangka itu, bukankah aku akan seperti dalam penjara seumur hidup?"

Gumam Siau Po dalam hati.

"Nah, begini saja, kau pergi ke Ngo Tai San, di sana kau masuk menjadi biksu. Kau dapat berdiam diri di sana dan dapat mengurus ayahku."

Bukan main kagetnya hati Siau Po mendengar perkataan dari raja itu dan belum berhenti raja itu berbicara ia sudah menyelanya.

"Merawat ayahanda Raja itu baik, tetapi untuk menjadi biksu hamba harus mensucikan diri hamba terlebih dahulu."

Raja itu pun tertawa.

"Tetapi jadi biksu juga bukan untuk selama-lamanya,"

Kata sang raja.

"Jadi biksu bukan untuk selama-lamanya, ayah sedang mensucikan diri. Nanti jika kau ingin menjadi orang yang tidak suci, kau sudah mendapatkan kemerdekaan, di samping itu pula kau dapat merawat ayahku di sana."

Maksud raja itu ialah jika ayahnya sudah wafat ia dapat kembali menjadi orang biasa lagi.

Walaupun Siau Po sangat cerdik ia tetap merasa putus asa, karena jika menolak keinginan raja tentunya raja akan murka, bahkan mungkin raja akan memerintahkan pengawal untuk memenggal leher-nya.

Namun ia masih dapat berkata dengan nada mengelak.

"Tetapi.... Tetapi Sri Baginda... hamba tak tega meninggalkan Sri Baginda sendiri saja..."

Ujarnya terbata-bata. Kali ini Siau Po menangis dengan sungguh-sungguh, ia tak lagi menangis dengan air mata buaya. Hati raja menjadi terharu.

"Begini saja, kau tetap menjadi biksu untuk beberapa tahun, Nanti aku akan memerintahkan seseorang untuk memintamu kembali dan menggantikanmu, Ayahku melarang aku menjenguknya, tetapi aku akan mengutus seseorang untuk mengurusnya, Aku tak jadi berangkat kesana, Suatu saat nanti aku ke sana kita akan bertemu lagi? Siau Po, ingat pesanku, kau berlaku baiklah pada ayahku Kelak jika kau kembali aku akan memberimu pangkat yang sangat berharga padamu."

Masih saja Siau Po menangis dan raja melanjutkan perkataannya.

"Selama berada di dalam kuil kau harus dapat menggunakan waktu luangmu untuk belajar membaca dan juga menulis, agar nanti jika aku berikan pangkat kepadamu kau sudah dapat membaca dan menulis, Kau akan lebih mudah untuk naik pangkat. Kelak di belakang hari aku berpangkat besar atau tidak, itu urusan belakang, Pikirnya.Tetapi sekarang toh aku mesti menjadi biksu, Siau Po berpikir keras. Jika ia sampai di sana akan mengelabui kaisar yang tua itu.

"Aku akan mengatakan padanya bahwa tanpa layananku raja tak akan dapat makan dan tidak enak minum. sehingga setelah aku meninggalkannya ia menjadi kurus, Aku tahu bahwa raja itu sangat menyayangi putranya itu dan ia pasti akan menyuruhku pulang."

Setelah berpikir demikian, ia dapat mengurangi kesedihannya. Lalu Siau Po berkata pada raja itu.

"Segala titah Baginda akan hamba laksanakan Hamba tidak akan menolak segala perintah Baginda, meskipun hamba harus binasa, jangankan untuk menjadi biksu, menjadi telur busuk sekali pun hamba tak akan menolak, Sri Baginda boleh melegakan hati karena hamba akan berangkat ke Ngo Tai San, untuk merawat ayah Raja dengan sebaik-baiknya. Agar ayah Raja dapat hidup berbahagia dan panjang umur!"

Kaisar Kong Hi merasa gembira lalu tertawa dan berkata.

"Baru dua bulan kau meninggalkan kota raja kau sudah bertambah pengalaman,"

Katanya memuji.

"Kau juga dapat menggunakan pepatah, Eh, mengapa kau berdiam begitu lama di Ngo Tay San, apakah kau mengalami kesusahan dalam mencari Hu Hong?"

Siau Po menganggap lebih baik diam dan tak mau menceritakan pengalamannya pada raja itu. Maka ia menjawab apa adanya.

"Ya, benar, Biksu Ceng Liang Si, juga si tua Giok Lim Lo Hoat Su, menyangkal adanya Lo hongya di dalam kuil itu. sedangkan hamba tidak dapat dengan segera membuka rahasia, Dan hamba menggunakan akal yaitu setiap hari hamba berziarah ke tempat-tempat suci, Berbagai tempat suci di Ngo Tay San hampir seluruhnya hamba ziarahi, Hampir seribu pendeta yang hamba kenal, dan jika tidak ada pendeta lhama pasti saat ini hamba masih berada di Ngo Tay San untuk terus bersujud di berbagai kuil itu,"

Kata Siau Po.

Siau Po menceritakan keadaan di Gunung Ngo Tai san yang menurutnya sangat indah itu, sehingga hati raja menjadi sangat tertarik untuk berkunjungke tempat itu sekaligus ingin menjenguk ayahandanya.

"Siau Kun Cu, sekarang kau pergilah terlebih dahulu, nanti aku akan menyusulmu dan menjenguk ayahanda, Kita harus dapat mengajak ayahku agar mau ke sini, Misalkan ia tak ingin kembali ke sini nanti akan aku buatkan sebuah kamar khusus untuknya, bukankah dengan demikian sama saja?"

Ujar Raja itu kepada Siau Po.

"Mungkin itu sangatlah sulit,"

Jawab Siau Po. Kata-katanya terhenti oleh suara nyaring tetapi halus yang terdengar dari luar ruang baca itu.

"Hong Te Koko, apakah kau tidak ingin berlatih bertempur denganku?"

Dan tantangan itu disusul dengan gedoran daun pintu secara beruntun. Mendengar suara itu raja tersenyum, karena ia mengetahui bahwa yang memanggil itu adiknya. Hong Te Koko tadi berarti "Kakak Raja."

"Buka pintu!"

Perintahnya. Siau Po menurut ia melangkah ke pintu tetapi dalam hatinya ia bertanya.

"Siapakah wanita ini? Apakah ia Kian Leng Kong Cu?"

Ia lalu membuka pintu kamar baca itu, Tetapi dari luar pintu itu telah dibuka, sehingga daun pintu mengenai dahi Siau Po.

"Aduh!"

Teriak Siau Po kesakitan, sambil menahan rasa nyerinya. Setelah pintu terbuka maka masuklah seorang nona yang memakai mantel bersulam merah sebagian penutup wajahnya.

"Sudah lama aku menanti Hong Te Koko, mengapa engkau tak datang-datang juga. Apakah mungkin kau takut kepadaku?"

Tanya nona itu pada sang raja.

Sambil memegangi dahinya yang terbentur daun pintu, Siau Po menatap si nona yang menurutnya berusia kurang lebih empat atau lima belas tahun.

Menurutnya lebih muda darinya, si nona mukanya mirip biji kuaci dan cantik serta memiliki bibir tipis, hingga sangat menggairahkan.

"Siapa yang takut kepadamu? Kau tahu, menurut penglihatanku sekalipun muridku kau tak mungkin sanggup untuk mengalahkannya, apalagi aku, mana mungkin?"

Kata Kaisar Kong Hi sambi tertawa.

"Eh, apakah Koko telah menerima murid, lalu siapakah itu?"

Tanyanya sambil melirik pada Sia Po.

"lnilah muridku! Namanya Siau Kui Cu. Ilmu silat yang dimilikinya adalah hasil pengajaranku. Nah, nak lekas kau menghadap Kian Leng Kong Cu yang menjadi Sukoh-mu!"

Kata-kata yang belakang itu ditujukan pada Siau Po. Kata "Sukoh"

Itu berarti bibi guru.

"Ah, benar-benar tuan putri Kian Leng,"

Kata Siau Po dalam hati.

Memang Kian Leng Kong berarti anak tuan Kian Ling.

Siau Po mengetahui kaisar Sun Te mempunyai enam orang putri, Di mana yang lima telah menutup mata, Hingga sekarang hanya tinggal Kian Leng Kong Cu.

Putri ini jarang datang ke kamar baca, Siau Po tak berani melintasi keraton Cu Leng Kiong, yang merupakan keratonnya Hong Thai Hau.

Yang tinggal di sana ibu suri dan Tuan Putri sendiri, sekarang ia sudah mengerti, bahwa kakak beradik itu tengah bergurau, maka Siau Po mendekatinya dan menghormat serta berkata merendah.

"Sutit memberi hormat kepada Sukoh Tay jin, Hamba mengharap semoga Sukoh selalu dalam keadaan sehat dan berbahagia!"

Putri Kian Leng tertawa karena ada orang yang memanggilnya Sukoh, Mendadak ia menendang dagu orang yang memanggil itu.

Siau Po kaget sebab itu hadiah yang tak terduga hingga giginya terkatup dan terasa nyeri bukan main, Siau Po menjerit dan darah mengucur melalui mulutnya.

"Ah.... Kau..!"

Raja terperanjat Si tuan putri sebaliknya tertawa terbahak-bahak.

"Ah Koko, muridmu sangat tak ada gunanya!

Aku menendang untuk mencobanya, Ternyata dia tak dapat berkelit Karena itu, aku hanya mencoba dan pastilah ilmu silat Koko pun sama, tak berarti!"

Siau Po sangat mendongkol hingga dalam hati ia mengupatnya, berulang kali ia tak dapat berbuat apa-apa. Sekali pun tuan putri hendak menghukumnya ia tak berdaya.

"Bagaimana, apakah kau merasa nyeri pada lidahmu?"

Tanya si nona pada Siau Po. Itulah pertanyaan yang mengejek sekali, tetapi Siau Po hanya menyeringai dan menjawab.

"Tidak apa... tidak apa!"

Suaranya tidak tegas karena sambil meringis kesakitan.

"Tidak apa... tidak apa!"

Kian Leng Kong Cu meniru suara Siau Po.

"Cuma jiwanya baru hilang separuh lebih,"

Ia tertawa lalu menarik tangan sang raja.

"Mari-mari, kita mengadu kepandaian!"

Tuan putri ini belajar silat sewaktu Hong Thayhou mengajarkan silat pada raja, ia berada di sana dan tertarik ingin belajar ilmu silat, Hanya tidak berbarengan ia diajar tidak sungguh-sungguh ia ingin mengalahkan kakak, Selain pada ibunya pun belajar dengan beberapa guru yang terdiri dari Sie Wie, pengawal istana kerajaan ia belajar sudah tiga tahun, tetapi baru menerima belasan jurus ilmu silat Kim Na Chiu, ia pernah menguji kepandaiannya itu dengan beberapa Sie Wie, sengaja berpura-pura kalah.

Karenanya ia menjadi tidak puas, maka ia pergi pada raja, untuk menguji raja itu.

Raja sudah lama tidak berlatih dengan adiknya.

Tangannya merasa gatal, maka segera menyambut tantangan itu.

Tak lama kemudian mereka sudah berada di luar kamar baca, Adiknya itu lantas mengadu kepandaian Pertarungan dilakukan dalam lima babak, Raja bertempur dengan main-main, tidak urung ia menang empat kali, Kian Leng Kong Cu menjadi tidak puas ia lari pada ibunya, ia meminta si ibu mencobanya, Kebetulan sang ibu sedang kurang sehat.

Namun tetap melayani juga, ia merobohkan putrinya, lalu pergi pada gurunya untuk meminta pelajaran lebih jauh.

ia memperoleh pelajaran baru, maka kembali menantang raja.

Namun raja yang repot dengan urusannya telah melupakan janjinya.

Tak ada gairah raja melayani sang adik, Berita tentang ayahnya membuat dirinya banyak berpikir.

"Sekarang aku sedang banyak urusan penting, tak dapat aku bertanding denganmu. Kau lebih baik belajar dahulu dan baru aku akan melayanimu,"

Kata sang raja. Sepasang alis lentik tuan putri berdiri Dia merasa tidak puas terhadap sang raja, kakaknya.

"Kita kaum kangouw, Jika kita mengadu kepandaian, sebelum ada yang mati tak akan ada yang pergi! Kalau kau tidak menepati janji datang tepat pada waktunya, apa kau tidak akan ditertawakan semua orang gagah di kolong langit ini? jikalau kau tidak datang sebaiknya kau mengaku kalah saja!"

Kata-kata putri itu menjadi kata-kata umum dalam dunia kang ouw. Dia pasti mendapatkan dari Sie Wie, Di kalangan istana tak ada kata-kata demikian.

"Baik, baiklah aku mengaku kalah!"

Sahut sang raja "Kian Keng Kong Cu, orang nomor satu dalam ilmu silat di kolong langit ini.

Yang akan dapat menghajar harimau galak dari gunung selatan dan kakinya dapat menendang naga dari laut utara!"

Ujar sang raja memuji. Kian Leng tertawa.

"Yang kakinya dapat menendang kutu dari kutub utara!"

Katanya dan kembali kakinya menendang Siau Po.

Kali ini Siau Po dapat membaca gerakan si nona, ia memang selalu waspada, maka dengan satu geseran tubuh ia dapat berkelit, sehingga tendangan itu mengena tempat kosong.

Tuan putri tercengang karena tendangannya itu gagal.

Apabila raja jadi tidak melayaninya Di menjadi panas hati terhadap Siau Po.

"Bagus, gurumu tak mau melayaniku, maka itu kau saja yang maju! Nah, mari kau ikut denganku!"

Kata sang Putri. Sebenarnya raja sangat menyukai anak itu, gesit dan lincah tak ingin ia membuat kecewa. Karenanya ia lalu berkata pada Siau Po.

"Siau Po, kau pergi temani tuan putri main-main barang beberapa jurus, Besok saja kau datang menghadap."

Baru raja menutup mutut, adiknya sudah berseru dengan mendadak.

"Awas!"

Dan mendadak pula ia menyerang kepada raja menggunakan kedua tangannya, ilmu silat yang ia gunakan ialah "Ciong Kau Ci Beng,"

Gong dan tambur berbunyi berbarengan Dan sasarannya kedua pipi raja.

"Bagus!"

Raja menyambut serangan itu dengan mengangkat sepasang tangannya untuk menangkis serangan Tubuhnya digeser ke samping dan tangannya menyerang ke punggung adiknya yang ia tolak dengan tipu silat.

"Twi Cong Bong Goat,"

Menolak jendela memandang si putri malam.

Kian Leng Kong Cu tidak berdaya karena raja bergerak cepat luar biasa, maka penolakannya itu membuat tubuhnya terhuyung beberapa langkah dan terus roboh tanpa sanggup mempertahankan diri lagi.

Menyaksikan itu mau tak mau Siau Po tertawa.

Bukan main gusarnya si tuan putri.

"Thay-kam, mau mampus!"

Bentaknya.

"Kau tertawakan apa?"

Dia maju seraya menjulurkan sebelah tangannya ketelinga Siau Po untuk memegang terus menarik, hingga Siau Po terbentur ke luar kamar.

Siau Po dapat menangkis atau berkelit melepaskan diri asal ia mau.

Namun hal itu tidak dilakukan karena ia tahu si putri majikannya, ia khawatir menyebabkan tuan putri itu kalap.

Kian Leng Kong Cu terus saja menarik telinga Siau Po sampai keluar pada sebuah lorong.

Di luar terdapat beberapa Sie Wie dan Thay-kam.

Menyaksikan kejadian itu mereka tertawa, Hanya karena mereka takut pada Siau Po maka tertawa sambil mendekap mulut agar tak terdengar.

"Sudah, lepaskan telinga hamba! Ke mana aka dibawa hamba turut dengan Tuan Putri,"

Ujar Sia Po sambil terus mengikuti.

"Kaulah si penjahat yang tak menghiraukan undang-undang negara, maka hari ini kau telah aku tangkap, Apa kau sangka aku akan begitu muda untuk membebaskanmu? Terlebih dahulu aku akan menotok jalan darahmu, setelah itu baru kita berbicara!"

Jawab tuan putri.

Benar saja sehabis berkata, Kian Leng menotok Siau Po pada leher dan perut nya.

Karena tak mengetahui ilmu totok ia menotok sebisa-bisanya dengan menggunakan tenaga yang cukup berat Dan tentu saja Siau Po merasa kesakitan.

"Aduh, aku terkena jalan darahku...!"

Teri Siau Po lantas saja tubuhnya jatuh, Mata serta mulutnya terbuka dengan tubuh tak bergerak lagi.

Kian Leng kaget bercampur girang, lalu menendang dengan perlahan, Siau Po tak bergerak.

Tiba-tiba Kian Leng tertawa.

"Bangun!"

Bentaknya. Tetapi Siau Po diam saja. Kian Leng lalu menerka, mungkin ia tel benar-benar menotok secara kebetulan mengena jalan darahnya.

"Mari, aku akan membebaskan totokan itu"

Katanya, Setelah itu menendang Siau Po. Siau Po yang berpura-pura itu lantas berpikir "Jikalau nona ini ingin membebaskan totokannya dan tak berhasil maka ia akan menendangku lagi."

Karenanya ia lalu berteriak.

"Aduh!"

Dan terus bangun.

"Kong Cu sungguh lihay menggunakan ilmu totok pada jalan darah, Mungkin Sri Baginda juga tak sanggup melakukan hal ini!"

"Mh!"

Tuan putri itu mengeluarkan suaranya yang dingin.

"Thay-kam cilik, kau sangat licik, dulu aku memang belajar ilmu totok, Sekarang, kau ikut dengan ku!"

Katanya dingin.

Siau Po mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya.

Si nona yang anggun itu mengajaknya ke suatu tempat yang biasa digunakan untuk berlatih silat dengan raja.

"Tutup pintu, agar tak ada yang melihat kita!"

Kata putri itu. Siau Po tertawa dalam hati dan pikirnya.

"Kepandaian semacam ini siapa yang sudi melihat dan mempelajarinya."

Namun ia tetap menjalankan perintah putri itu.

Selagi Siau Po menutup pintu, Kian Leng mengangkat kayu lalu menyerang Siau Po.

Dan mendadak kepala Siau Po terasa nyeri bukan kepalang-nya.

Sebab, ia telah dihajar secara tiba-tiba, Tubuh Siau Po roboh tak sadarkan diri, Ketika sesaat kemudian ia sadarkan diri matanya melihat Kian Leng tengah berdiri mengawasinya sambil tertawa.

"ToIol! siapa belajar silat maka matanya harus dapat melihat ke enam penjuru. Telinganya pun harus mendengar kedelapan jurusan, Aku menghajar kau dengan palangan pintu, mengapa kau tak dapat menjaga dirimu? Kalau begitu untuk apa kau belajar silat?"

"Aku.... Aku,"

Kata Siau Po yang tak dapat bicara terus, sebab mendadak ia merasa nyeri pula, Hal itu karena mata kiri dan hidungnya terluka terkena pukulan palang pintu, Tampak darah mengalir ke matanya.

Kian Leng mengangkat palang pintu lalu membentak Siau Po agar bangun.

"Kalau kau laki-laki sejati, mari kita bertempur pula!"

Bentaknya. Namun itu bukan tantangan belaka, Si putri melancarkan serangan mendadak ditujukan pada bahu Siau Po.

"Aduh!"

Siau Po menjerit lalu berkelip karena si tuan putri sudah meneruskan serangannya menyerang kakinya, Melihat itu Siau Po berlompat untuk menghindari serangan itu.

Kemudian dengan cepat dirampasnya palang pintu itu dari tangan si tuan putri.

"Bagus!"

Kata Kian Leng seraya menarik palang pintu itu, dan diteruskan menusuk dada Siau Po.

Siau Po berkeiit ke kiri, Namun di luar dugaannya palang pintu telah melayang ke wajah Siau Po.

Seketika tubuhnya terhuyung-huyung dengan mata berkunang-kunang.

"Hay, kaulah penjahat besar dari rimba hijau!"

Teriak Kian Leng.

"Kau harus dibunuh habis!"

Kem-bali ia menggerakkan palang pintu ditangannya.

Siau Po segera menyadari maka langsung mengelak Namun si tuan putri yang terus melakukan serangan hanya mengenai tempat kosong, Dengan cepat Siau Po menjatuhkan tubuh seperti tidur, untuk menghindari diri dari serangan itu, Tuan putri itu terus saja menyerangnya, Tubuh Siau Po menggelinding, Terdengar suara teriakan si nona karena telah menghajar lantai dengan palang pintu itu.

"Aduh!"

Si Tuan putri terpekik karena tenaga yang digunakan untuk menyerang Siau Po ternyata memukul lantai dan berbalik Tangan si Tuan putri terasa nyeri dan hampir patah.

Kakinya kembali menendang telak pinggang Siau Po.

"Aduh!"

Teriak Siau Po ketika tendangan itu mendarat telak di pinggangnya.

"Menyerah.,.! Menyerah, hamba tak mau bertempur lebih jauh.,.!"

Namun Tuan putri itu terus menyerang berulang-ulang sedangkan mulutnya berteriak.

"Thay-kam, apakah kau mau mati? Aku hendak menghajarmu dan kau berani berteriak.,.!"

Memang Siau Po berkelit terus-terusan, sebab jika tidak, palang pintu itu sudah menghajarnya habis-habisan.

Kali ini Tuan putri menyerang lagi.

Siau Po terkena serangan itu pada leher dan bahunya, Mulutnya meringis merasakan kesakitan Tuan putri sudah tampak kehabisan tenaga, tetapi hawa amarahnya belum juga reda.

ia hendak mengulangi serangannya, Melihat kemarahan lawannya Siau Po cepat melompat bangun.

Ketika palang pintu itu hampir mengenai mukanya dia cepat menangkis dengan tangan kirinya.

"Aduh!"

Siau Po menjerit kesakitan karena tangannya terbentur palang pintu itu. Kali ini hatinya mulai sadar, ternyata si Tuan putri tidak mau berhenti menghajarnya.

"Tentu ada maksud dari si Tuan putri ini. pasti ia tidak sedang main-main. Kenapa ia akan menghajar mati diriku? Tidak salah lagi, dia tentu telah menerima perintah dari Tay Hou yang menghendaki nyawaku..!"

Gumam Siau Po dalam hati.

Karena memikirkan hal yang demikian, Siau Po tidak ingin mengalah terus, Dia melihat palang pintu itu telah menyerangnya kembali Kali ini sambil berkelit ia menyerang lawannya dengan langkah sambil menjerit Dengan cepat Siau Po menendangkan kakinya membuat putri itu roboh.

"Hay, Thay-kam mau mampus kau? Berani benar kau melawanku!"

Teriak Tuan putri kian marah.

Siau Po tidak menjawab ia terus merampas palang pintu itu untuk digunakan menghajar kepala Tuan putri.

Kian Leng Kong Cu kaget dengan mata terbelalak lebar Tampak dari sinar matanya menampakkan ketakutan Melihat wajah Tuan putri, Siau Po terkejut ia lalu berpikir.

"Di sini aku tak dapat menghajarnya, Kecuali aku menghajarnya sampai mati dan tidak terdapat bukti, tidak seperti ini.

Hh...

sangat berbahaya bagi diriku."

Mendapatkan pikiran begitu Siau Po berhenti menyerang. Setelah hilang kagetnya Tuan putri itu mengawasi dengan tajam.

"Thay-kam, apakah kau ingin mampus? Lekas bantu aku bangun!"

Siau Po berpikir cepat lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Tuan Putri itu bangun.

"Kalaupun ia akan mematikan aku, itu bukanlah hal yang mudah,"

Pikir Siau Po.

"Dalam ilmu silat kau tak dapat melawan aku, Barusan aku terpeleset jatuh, Dan tadi kau telah mengaku kalah, kau sampai menjerit menyerah, Mengapa sekarang kau melawan? Kau kan laki-laki, mengapa tidak memakai aturan golongan kang ouw.,.?"

Siau Po mengawasi putri itu yang tampak manja, ia pun mengusap darah yang mengalir di dahinya. Si Putri berbalik mengawasi, lalu ia tertawa.

"Kau sudah kalah, mahluk tak berguna.... Mari aku susuti darahmu!"

Tuan Putri mengeluarkan saputangan putih dari sakunya, Lalu mendekati Siau Po dan mengusap darah yang mengalir di muka Siau Po. Siau Po mundur satu langkah.

"Jangan, hamba tak berani menerima itu!"

Katanya.

"Kita sama-sama orang kangouw sejati Sudah seharusnya kita sama merasakan Rejeki kita sama-sama rasakan, sengsara kita sama menderita!"

Kata sang putri pada Siau Po.

Keduanya sangat dekat sekali, dengan demikian hidung Siau Po dapat mencium wangi harum dari tubuh putri itu, Siau Po pun dapat melihat wajah tuan putri yang sangat cantik dan halus itu.

"Sebenarnya Tuan putri itu sangat cantik,"

Pikirnya.

"Kau berbalik, aku akan melihat belakang kepalamu!"

Kata si Nona. Siau Po menurut dan segera memutar tubuhnya, sedang dalam hati ia berkata.

"Tadi aku salah sangka, Aku menyangka jelek terhadapnya, Sekarang, ternyata benar-benar ia sedang bergurau! Dia hanya tidak mengenal batas, Dia menggunakan tenaga berlebihan...."

"Aduh...."

Kemudian ia menjerit, ia merasakan tangan Tuan Putri telah mengenai lukanya. Kian Leng Kong Cu tertawa.

"Apakah lukamu itu telah mendatangkan rasa sakit.?"

Tanyanya "Tidak seberapa,"

Jawab Siau Po lalu mendadak ia menjerit, Tubuhnya tiba-tiba roboh.

kakinya terikat.

Kiranya di luar dugaan Kian Leng mengambil pisau belati Siau Po selanjutnya digunakan untuk menikam punggung dan paha.

"Sakitkah.,.? Bukankah kau mengatakan lukamu itu tidak seberapa dan aku telah menambahkan untuk beberapa kali lagi.?"

Siau Po kaget sekali.

"Mati aku...!"

Walaupun tak terlalu parah luka pada tubuh Siau Po ia merasakan sakit yang bukan main.

sedangkan untuk melawan ia tak berani, Kali ini pun ia merasa sakit bukan kepalang, Setelah itu ia merasa lemas sekali karena sudah banyak darah yang keluar.

"Apakah sekarang kau merasakan sakit.,.?"

Tanya Si Tuan Putri.

"Sangat nyeri! Kung Cu lihay sekali, Hamba bukan lawan Kong Cu.,.! Kalau jadi orang gagah, menghadapi orang tak berdaya harus mengampuni-nya.,.!"

"Asal kau bergerak aku akan membuhuhmu...!"

Bentak Tuan Putri.

"Hamba tak akan bergerak,"

Jawab Siau Po sambil merintih, sebab ia diduduki oleh Tuan Putri tepat pada lukanya.

Selagi Siau Po diam saja putri itu mengambil ikat pinggang lalu mengikat kaki Siau Po dengan pinggangnya, hingga terbelenggu kedua kakinya.

"Kaulah orang tawananku, Sekarang, mari kita mencoba melatih semacam ilmu silat baru, Nama-nya Cukat Liang Cit Kim Beng Hek.,.,"

Kata si Putri sambil tertawa.

Siau Po mengetahuinya bahwa itu hanya sebuah lakon sandiwara yang biasa dipertunjukkan "Ya...

ya, cukat liang menawan Beng Hek dengan tujuh kali menahan dan tujuh kali melepaskannya.

Namun tidak demikian dengan Kong Cu.

Kong Cu hanya menawan saya sekali dan melepaskannya hanya sekali, Dan jika Kong Cu membebaskan hamba maka hamba tak mungkin dapat melawan Kong Cu.

Sebab, Kong Cu lebih pandai dan lebih lihay dari hamba...."

"Tidak, Tidak dapat!"

Kata sang putri sambil tertawa.

"Cukat Liang juga menggunakan api untuk membakar pasukan musuh yang menggunakan pakaian seragam dengan tilitan rotan!"

Siau Po kaget sekali.

"Tapi.,., tapi hamba tidak menggunakan pakaian lilitan rotan,"

Tukasnya.

"Kalau begitu sama saja jika aku membakar bajumu,"

Sahutnya.

"Tidak.... Tidak dapat, Kong Cu!"

"Tidak dapat apa, jika Cukat Liang mau membakar, dia lalu membakar pasukan rotan itu tidak banyak bicara,"

Bentak Tuan Putri.

"Cukat Liang tidak membakar mati Beng Hek. Jika Kong Cu membakar hamba berarti Kong Cu bukan Cukat Liang, tetapi Cu Coh!"

Kata Siau Po.

Kong Cu tidak menghiraukan ucapan Siau Po.

Dia lalu mengambil baju yang dipakainya.

Tetapi setelah membakarnya tiba-tiba ia melihat kuncir pada rambut Siau Po, ia lalu membakar kuncir itu.

Siau Po kaget, karena ujung kuncirnya sudah terbakar Siau Po berteriak minta tolong.

"ToIong.... Tolong..., Cu Coh membakar Cukat Liang!"

Tetapi Tuan Putri sebaliknya malah tertawa.

"Api telah menyala... inilah obor! Bagus... bagus.... Api menyala dengan cepatnya dan hampir mengenai tangan Tuan Putri. Karena itu ia lalu melepaskan pegangannya, Siau Po kelabakan lalu melompat dengan sekuat tenaganya dan menubruk dada Tuan Putri. Repot juga Kian Leng Kong Cu memadamkan api yang menyala pada dadanya karena ketika ditubruk ia tidak sempat mengelak Saking kesalnya ia menendang Siau Po hingga pingsan. Ketika siuman Siau Po telah berada di atas pembaringan dalam keadaan tak mengenakan baju. Dia mendapati Tuan Putri tengah memegang bubuk garam.

"Hai, kau tengah membuat apa?"

Tanyanya.

"Para Sie Wie mengatakan padaku, jika mendapatkan seorang musuh yang tidak mau mengaku maka para Sie Wie memberikan garam pada luka-nya. Maka nanti musuh akan mengaku, Karena bubuk garam bila ditaburkan pada luka rasanya sangatlah perih."

Siau Po memang merasakan lukanya sangatlah pedih.

"Tolong,.,! Tolong.,., aku mengaku!"

Jerit Siau Po. Tuan Putri tertawa secara terbahak-bahak.

"Hai kantong nasi!"

Bentak si Putri "Kau begit cepat mengaku."

Bagian 42

"Bagiku hal itu kurang menarik.... Sekarang seharusnya kau mengatakan aku sekarang telah jatuh ke tanganmu Terserah padamu mau diapakan diriku ini, Lalu aku mengatakan, aku bukannya orang gagah. Aku menyayat-nyayat tubuhmu dan memberikan bubuk garam itu pada luka itu, kau memohon ampun berulang-ulang. itu barulah menarik,,.!"

Kata si Putri.

"Celaka, perempuan bau! Ya, aku bukanlah orang gagah dan aku mengaku kalah!"

Seru Siau Po ketakutan Kian Leng menghela napas, ia hendak me buang garam itu tetapi segera dibatalkan Lalu memberikan garam itu pada tubuh Siau Po. Sambil tertawa ia berkata.

"Akulah ketua dari Partai Kian Peng Pay yang kepandaiannya nomor satu di dunia, sekarang kau menjadi tawananku, manusia yang tak berguna dan tak ada arti.,.!"

"Yah, aku penjahat yang tak berguna, dan sekarang aku ditawan Ketua partai Kian Peng Pay yang ilmu silatnya nomor satu di dunia, Bagianku sekarang hanya satu... mati, tetapi aku mengaku kalah,"

Keluhnya. Senang hati Tuan Putri mendengar kata-kata itu dan berkata.

"Bagus kalau begitu!"

Di dalam hati Siau Po mengumpat Tuan Putri, Dia menerka-nerka tuan putri itu sedang bergurau atau sedang menjalankan tugas dari ibu suri yang menyuruh untuk membunuhnya.

"Walau bagaimanapun aku harus mencari akal, agar dapat meloloskan diri,"

Pikir Siau Po.

"Aku tidak puas dengan kau, kalau memang benar kau sebagai ketua dari partai itu, bebaskan aku dan nanti kita akan bertempur sampai mati, jika aku mati aku akan menggodamu dan berusaha menghisap darahmu!"

Kong Cu sangat takut pada setan, maka ia sangat kaget sekali.

"Untuk apa aku membunuhmu.,.?"

Tanyanya kaget.

"Kalau demikian, cepat kau bebaskan aku.,.!"

Jawab Siau Po.

Kian Leng mengambil lilin, Lalu digunakannya untuk membakar wajah Siau Po.

Siau Po kaget lalu mendorong tubuhnya menyerang Tuan Putri, Lilin yang ada di tangannya pun jatuh dan mati.

Hal itu membuat Tuan Putri murka, Gadis itu lalu mengambil kayu dan menghajar tubuh Siau Po.

Dalam menghadapi hal itu Siau Po mendapat akal, Lalu pura-pura mati, Hal itu membuat Tua Putri terkejut dan takut, Namun kepura-puraan Siau Po tercium, Tuan Putri segera membentaknya agar bangun dan jika mau bangun ia akan mencongkel matanya.

Siau Po takut kalau-kalau ancaman Tuan Putr benar, sebab ia tahu tabiat putri raja ini aneh sekali.

Siau Po mengadakan perlawanannya, Dia membanting tubuh Putri yang lalu pingsan, Setelah it Siau Po membuka tali yang mengikat kedua kakinya.

Namun secara tidak disengaja kakinya menendang jalan darah si nona, Maka Tuan Putri sadar dari pingsannya, Lalu Siau Po segera menghajarnya.

Anehnya setiap kali Siau Po menghajar lebih keras ia semakin tertawa.

Bukan main herannya Siau Po melihat tingkah wanita cantik itu.

Karena takut ditipu lagi Siau Po menginjak dada Kian Leng, Tuan Putri itu tetap berusaha melepaskan diri dari ancaman ttu.

Namun tetap saja ia mengalami kegagalan.

Kian Leng lalu meratap agar Siau Po mau membebaskan dirinya, Siau Po terus memaki Tuan Putri, Setelah sadar ia lalu membebaskannya.

Setelah dibebaskan Kian Leng berkata sambil tertawa.

"Hey, besok siang kau harus datang ke mari untuk bermain denganku!"

"Tidak, aku tak ingin main lagi denganmu!"

Jawab Siau Po.

"Jika kau tak datang, aku akan mengadukan pada raja.,, bahwa kau telah menganiaya aku.,.,"

Ancam Tuan Putri Kian Leng itu.

Siau Po berpikir Kemudian memutuskan untuk menyanggupi keinginan Kian Leng dan sehabis berkata begitu Kian Leng lalu mendekati Siau Po dan menciumnya, Lalu ia pun pergi.

Keesokan paginya Siau Po menghadap pada raja, Sang Raja terkejut melihat muka Siau Po babak belur, Juga pada rambut dan alis matanya terlihat habis terbakar.

Namun raja sangatlah cerdas karena ia segera dapat menerka penyebabnya.

"Bukankah kau habis dihajar Kong Cu?"

Tanyanya kemudian.

"Guru, muridmu membuatmu malu, Muridmu harus merebut kembali muka yang terang ini dengan lebih banyak belajar!"

Jawab Siau Po.

Mendengar jawaban Siau Po hati raja sangatlah girang, Sebab sebelumnya raja beranggapan kalau kedatangan Siau Po akan menuntut keadilan Jika itu benar, sulit bagi dirinya menghukum adik sendiri.

"Kau baik sekali, kau harus kuberi hadiah besar...!"

Siau Po menjawab dengan cepat "Suhu, kau tak menegur hamba. Hamba sudah sangat bersyukur, maka itu janganlah Tuanku menghadiahkan apa pun pada hamba!"

Jawabnya.

"Paling baik suhu mengajarkan pada hamb ilmu silat, agar nanti jika hamba menghadapi musuh tidak membuat malu suhu dan hamba dapat menjaga diri!"

Katanya. Mendengar kata-kata Siau Po dan panggila "Suhu"

Membuat raja menjadi tertawa, Dia menyanggupi untuk mengajarkan pada Siau Po beberapa ilmu silat yaitu jurus Kim Na Ciu, tangan menangkap, yang ia dapat dari ibu suri.

Beberapa jurus itu bukanlah jurus sembarangan.

Akan tetapi jika dipadukan dengan beberapa jurus dari Hong kaucu dapat menjadi ampuh.

Karena cerdasnya, Siau Po dengan cepat dapat menimba ilmu dari Sang raja yang ia panggil suhu.

"Guru."

Mendapatkan pelajaran dari raja, Siau Po sangatlah senang.

"Suhu, bagi muridmu ini, Wi Siau Po dengan diangkatnya menjadi murid kepala itu sudahlah cukup...!"

Kata Siau Po. Mendengar ucapan Siau Po raja merasa gembira.

"Seorang raja tak dapat berbicara dengan main-main, Untuk itu aku mengangkatmu menjadi muridku,"

Ujar raja sambil menepuk tangan, Kemudian beberapa orang berdatangan mendekati raja.

"Putar tubuhmu!"

Raja berkata dan keempat orang yang dipanggil tadi memutar tubuhnya.

Kong Hi bangkit dari duduknya dan ia mengambil sebilah pisau, digunakan untuk memotong salah seorang Sie Wie yang memiliki kuncir cukup panjang dan juga hitam kelam.

Raja cepat memotongnya.

Thay-kam yang dipotong tadi sangatlah kaget, lalu dengan cepat berlutut di hadapan raja.

"Hamba harus mati.,.! Hamba harus mati!"

Kata itu diucapkan berulang. Raja tertawa melihat Sie Wie itu.

"Jangan takuti Aku beri hadiah padamu tiga puluh tail perak, dan sekarang kau pergi keluar...!"

Setelah keempat Sie Wie pergi raja lalu memberikan kuncir itu pada Siau Po.

"Tidak lama lagi kau akan menjadi biksu, Untuk itu pakailah kuncir palsu ini untukmu, agar tak terlihat jelek di dalam istana."

Siau Po mengangguk perlahan.

"Baik Suhu, Suhu sangatlah baik sekali.,.!"

Ujarnya kepada sang raja.

"Aku mengangkatmu menjadi muridku, jangan sampai orang lain mengetahuinya, Aku sangat percaya padamu, Dan bila kau melanggar janjimu aku akan mencabut ilmu silatmu, Aku pun akan mengusirmu dari istanaku,.!"

Pesan gurunya pada Siau Po.

"Baik, Guru. Murid tak berani melakukan itu.,.!"

Sahut Siau Po, Raja memberikan pesan tersebut pada Siau Po, karena setiap kali ia berlatih dengan Siau Po, tak ada orang lain yang melihatnya selain dari ibu suri dan Hay Kong Kong.

Setelah terduduk, raja lalu berkata lagi.

"Aku telah menurunkan ilmu yang ada padaku, ilmu itu kudapat dari ibu suri. sekarang ini kepandaianku sama dengan kepandaianmu juga kepandaian ayahku, Tetapi ia masih dapat dikalahkan oleh pendeta dari Tibet itu. Untung ayahku di tolong.... sekarang kau pergi berobat dan beristirahat, Besok kau kembali lagi menghadapku.,.!"

Siau Po lalu pergi meninggalkan istana dan kembali ke kamarnya, Dia lalu pergi memang tabib istana untuk mengobati luka-lukanya.

Setelah mendapatkan jawaban dari tabib itu ia lalu tertidur Dan bangun dari tidur ia lalu pergi memenuhi janjinya dengan Kong Cu untuk bermain-main.

Sewaktu ia pergi untuk menemui Kong Cu hatinya mulai dijalari rasa takut dan rasa senang, Takut kalau-kalau ia dihajar habis-habisan.

Dan senangnya jika dapat bertemu dengan putri yang cantik dan manis itu.

Ketika Siau Po mengunci pintu, ia mendengar teriakan Kian Leng yang sudah siap untuk menyerangnya, Mengetahui hal itu Siau Po menerima serangan yang dilakukan secara mendadak itu.

Siau Po menggeser tubuhnya dan kaki serta lengannya cepat menyambut serangan itu.

Dia berhasil menyambar leher si gadis dan langsung menekan ke bawah.

Menerima itu semua Kong Cu hanya tertawa-tawa.

"Oh, Thay-kam apakah kau ingin mati.,.?"

Katanya nyaring.

"Apakah kau ingin mati, dan bagaimana mungkin hari ini kau dapat menahan seranganku?"

Siau Po lalu memegang tangan kiri Tuan putri dan berusaha membuat tak berdaya.

"Bagaimana? Jika kau tak mau memanggilku kakak yang baik aku akan membuat tanganmu menjadi patah!."

"Fui, budak, apa kau mau mampus?"

Dampratnya. Siau Po memutar tangan Kian Leng sambil berkata.

"Jika kau tak memanggilku kakak yang baik aku akan membuat tanganmu patah...!"

Mendapat ancaman itu sang putri malah tertawa.

Hal ini membuat ia menjadi gusar juga, Akhir-nya karena sang Putri yang sangat nakal itu tetap tidak mau menuruti katakata Siau Po pun menghajarnya berulang-ulang kali sampai dirinya tak sanggup untuk berdiri.

Ketika Siau Po berhenti memukulnya, Kian Leng berkata dengan tersengal-sengal.

"Baik, cukup sudah! sekarang giliranku untuk menghajarmu!"

Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Tidak, aku tak ingin dihajar olehmu! Kalau aku sampai dihajar olehmu mungkin aku akan mati...!"

Kian Leng terus saja memohon pada Siau Po. Dan tetap Siau Po tidak mau untuk bergantian memukul Hingga akhirnya Kian Leng berkata.

"Kakak yang baik, berilah waktu guna menghajarmu Sekali saja aku berjanji tak akan melukaimu!"

Sambil berkata, ia memegang kaki Siau Po. Suara itu sangat merdu sekali, membuat hat Siau Po goncang, Ketika hendak menjawab tiba tiba Kian Leng berkata lagi.

"Kakak yang baik, kau lihat tubuhku yang penuh dengan darah. Melihat itu hatiku sangat senang...!"

"Lepaskan kakiku...!"

Kata Siau Po sambil menendang Kian Leng.

"Cepat kau lepaskan, Aku akan pergi dengan hidup bersamamu pada suatu hari aku akan binasa ditanganmu...!"

"Jadi kau tak sudi main-main denganku?"

Kata Kian Leng.

"ltu berbahaya, setiap waktu nyawaku bisa melayang!"

"Baiklah kalau begitu tolong papah aku, kau telah menghajarku sampai-sampai tak dapat ber-jalan...."

"Tidak, aku tak mau mengganggu,"

Tolak Siau Po.

Kian Leng berusaha berdiri dengan berpegangan pada tembok, Lalu ia terpeleset.

Melihat Kian Leng terpeleset, Siau Po langsung menangkapnya, Dan menahannya agar Kian Leng tidak jatuh, Akhirnya Kian Leng memohon pada Siau Po agar memanggilkan dayang-dayangnya, Mendengar permintaan Kian Leng, Siau Po lalu berpikir dan berkata dalam hati.

"Jika ia memanggil thay-kam tentulah ibu suri akan mengetahuinya dan nanti dia akan mencari tahu siapa penyebab semua ini. Aku nanti bisa dihajar oleh ibu suri itu. Maka lebih baik aku yang mengantarkan ia ke kamarnya.,.!"

Ketika mengantarkan Kian Leng, Siau Po ingat pada ibu suri yang tabiatnya sangat jahat Maka iapun menjadi takut Apa lagi setelah melewati lorong dekat kamar ibu suri, Namun tiba-tiba dia dikagetkan oleh Kian Leng yang ingin menggigit telinganya.

"Jangan, jika kau menggigit telingaku kau tak akan datang lagi padamu untuk selama-lamanya. Ingat, aku tak akan tarik kata-kataku itu!"

Sebenarnya Kian Leng ingin menggigit telinganya, setelah mendengar ancaman itu ia membatalkan keinginannya.

Sesampainya di kamar Kian Leng, segera Siau Po hendak berlalu, akan tetapi ditahan oleh Kian Leng.

"Mari masuk! Aku akan memperlihatkan padamu sesuatu mainan!"

Di dalam kamar telah terdapat empat orang dayang, Siau Po menanti di luar dan ia tak berani berlaku sembarangan.

Kian Leng menarik tangan Siau Po dan dua orang dayang turut masuk guna menyiapkan sapu-tangan hangat untuk membasuh muka, Kian Leng mengambil saputangan itu dan diberikannya pada Siau Po, Siau Po lalu segera membersihkan mukanya.

Melihat hal itu para dayang tercengang.

Tuan Putri memperlakukan thay-kam yang satu ini demikian sabarnya, Hingga sangatlah berbeda jika ia mengurus ibu surinya, Kian Leng memperhatikan kedua dayangnya itu.

"Apakah ada yang menarik untuk ditonton?"

Tanyanya, Kedua dayangnya itu kaget dan mereka ingin cepat pergi, tapi terlambat sebab tangan Tuan Putri sudah lebih dulu menyambar muka dayangnya itu.

Tentu saja si dayang jadi kelabakan karena matanya mengeluarkan darah segar.

Menyaksikan hal itu Kian Leng tertawa dan berkata.

"Lihat kawanan budak itu! Mereka hanya bisa menjerit! Maka itu mana ada kegembiraanmu berkumpul dengan mereka...?"

Menyaksikan hal itu Siau Po mengumpat dalam hatinya.

"Maaf, Sri Baginda memerintahkan aku untuk melakukan sesuatu pekerjaan Dan aku harus secepatnya pergi dari sini!"

Kata Siau Po.

"Ah, buat apa terburu-buru?"

Kata si Putri sambil ia mengunci pintu. Hati Siau Po berdebar-debar. ia menduga-duga apa yang akan Tuan Putri lakukan atas dirinya.

"Aku menjadi majikan di sini sudah lima belas tahun, Selalu orang melayaniku, itu yang membuat hatiku sangat tak enak untuk itu. Aku ingin kita menukar tempat kau jadi majikan dan aku menjadi budak...."

"Kau menolak? Awas kalau kau tak menerimanya aku akan berteriak Akan aku laporkan pada raja, bahwa aku telah berbuat tak sopan kepadaku dan kau telah menghajar aku hingga aku tak dapat bergerak...!"

Sambil berkata begitu Kian Leng lalu berteriak Hal itu membuat Siau Po menjadi kelabakan.

Mereka berada dalam kamar putri raja, Dan kalau Kian Leng berteriak pasti ada orang yang masuk, Berbeda dengan tempat mereka berlatih silat, Di tempat itu sangat sepi, tidak seperti di sini yang selalu dekat dengan para dayang dan para Thay-kam.

Kian Leng tersenyum.

"Hai, orang hina dina! Aku berbicara denganmu kau tak menerimanya, itu yang namanya orang yang tak mau diberi rejeki!"

Katanya.

"Kaulah yang hina dina itu!"

Balas Siau Po dalam hati. ia sangat heran sudah menjadi putri malah ingin menjadi budak. Kian Leng lalu duduk bersimpuh dengan sangat hormat terhadap Siau Po.

"Tuan, apakah hendak beristirahat baiklah, hamba nanti akan membantu Tuan membukakan pakaian...!"

"Aku tak ingin tidur, lebih baik kau memijatku dengan perlahan!"

Kata Siau Po sambil bersikap angkuh.

"Baiklah,"

Kian Leng lalu mengangkat kaki Siau Po dan diletakkan pada pahanya ia kemudian mulai memijat Siau Po secara perlahan-lahan.

Kian Leng dalam memijat sangat berlaku hati-hati hingga ia tak menyentuh luka yang ada pada tubuh Siau Po.

"Kau pandai bekerja, budak. Kau baik sekali dalam merawatku.,.!"

Kata Siau Po yang lalu ingin mencubit pipi Kian Leng. Kian Leng merasakan kepuasan diperlakukan seperti itu.

"Tuan sangat pandai memujiku, Tuan silahkan rebah di pembaringan hambamu hendak mengurut punggung Tuan!"

Ujar Kian Peng sambil ia membuka sepatu dan kaus kaki Siau Po. Siau Po menuruti, senang ia diuruti si cantik, putri istana itu. Namun dalam hatinya Siau Po masih terus bertanya-tanya dan menerka.

"lni hanyalah sandiwara, dan ia masih tak mau melepaskan aku.,.."

Sementara itu Siau Po tiduran di atas pembaringan, Hidungnya mencium bau wewangian dari tempat tidur itu. Hingga ia berpikir pula.

"Si wanita ini hidup begitu mewah dalam istana. Berbeda dengan di tempat-tempat pelesiran, meskipun kamar nomor satu tak mungkin indah dan sebagus ini.!"

Tengah merasakan nikmatnya dipijat wanita cantik itu tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar kamar Tuan Putri, Hong Tay Hau datang.

Kian Leng dan Siau Po sangatlah kaget lalu ia berkata pada Siau Po dengan suara bergetar.

"Sudah tak keburu, Sudah kau diam saja di sini dan gunakan selimutku itu!"

Siau Po menurut saja dan ia lalu menutupi tubuh dengan kain selimutnya. Kian Leng lalu menutup kelambu itu, lalu membuka pintu, ibu suri itu lalu masuk.

"Siang-siang kau menutup pintu, Buat apa-kah.-.?"

Tanyanya bernada curiga.

"Aku sangatlah ngantuk, dan hari ini tampaknya Thai Hou sehat-sehat saja.,.!"

Sahut si putri sambil tertawa.

"Hari ini kau main apa saja, dan mengapa mukamu begitu pucat..?"

Tanya ibu suri penuh selidik. Kian Leng memang terlihat pucat ia lalu berkata.

"Seperti yang kukatakan, hari ini aku sangatlah mengantuk.-.!"

Thai Hau tertunduk, lantas ia dapat melihat sepatu Siau Po yang terdapat pada pembaringan. Hatinya heran melihat kelambu bergerak-gerak maka timbullah kecurigaannya.

"Kalian semua keIuar...!"

Perintahnya pada para dayang dan thay-kam.

"Dan kau cepat tutup pintunya dan palang.-.!"

Katanya pada Kian Leng. Kian Leng tertawa.

"Ah, ibu juga mau main apa.,.?"

Tanyanya setelah ia menutup pintu itu, Kemudian Kian Leng mendekati ibu suri dan mengikuti arah matanya memandang, ia pun kaget setelah diketahui bahwa ibunya melihat sepatu Maharani di depan pembaringannya.

"Ah, Ibu! justru aku sedang memikirkan seandainya saja aku memakai pakaian lakilaki aku terlihat tampan atau tidak dan itu akan aku perlihatkan pada ibu...!"

Ujarnya berkilat. Tay Hou menjawab perkataan Kian Leng dengan dingin. "ltu tergantung pada anak yang ada pada pembaringan itu, dia tampan atau tidak.,.!"

Selesai berkata ibu suri mendekati pembaringan putrinya.

"Tay Hou, bersamanya aku hanya bergurau!"

Kata Kian Leng bingung.

Belum habis putrinya berbicara, dengan satu kibasan tangan ibu suri membuat Kian Leng terjatuh.

Setelah itu ia menyingkap kelambu dan menarik selimut yang menutupi tubuh Siau Po.

Lalu Thay hou memekik kaget itu membuat Siau Po terbangun.

Siau Po berpaling ke arah pembaringan.

Dia tak berani memandang mata ibu suri, Tubuhnya bergetar.

"Tay Hou dialah thay-kam cilik yang paling disayang oleh kakak raja!"

Kata Kian Leng.

Ibu suri menyadari bahwa putrinya itu sudah mulai dewasa dan membutuhkan napsu birahi, sehingga ia menyembunyikan pria dalam kamarnya, Syukurlah pria itu masih kecil.

Tentu hubungan itu tidak mempunyai arti, Dan ibu suri memegang tangan Siau Po dan memutar tubuhnya hingga Siau Po berhadapan padanya.

Siau Po lalu ditampar oleh ibu suri dengan kerasnya muka kanan dan kiri sambil membentak dengan bengis.

"Lekas pergi, jika suatu hari aku melihat kau dengan putriku aku akan menghajarmu...!"

Mendadak saja ibu suri menghentikan ancamannya sebab ia mengenali wajah anak itu, hingga lantas ia menegur.

"Oh, kiranya kau...!"

Ujarnya perlahan.

"Bukan aku...!"

Kata Siau Po sambil melengos dan ia menjawab sejadi-jadinya.

"Ada jalan ke surga kau tidak ambil, justru kau mengambil jalan ke neraka yang tak ada pintunya, Kau berlaku tak pantas terhadap tuanmu, maka hari ini jangan persalahkan dan sesalkan aku!"

Kata ibu suri itu. Kian Leng bingung sekali ia lalu berkata.

"Jangan kau persalahkan dia! AkuIah yang menghendaki ia tidur di sini...!"

Tay Hou tidak menggubris putrinya, Hanya dengan tangan kirinya dia mengusapusap kepala Siau Po.

sementara tangan kanannya diangkat tinggi bersiap untuk menghajar dengan keras.

Siau Po kaget dan bingung sekali, ia tahu bagiannya adalah hanya mati, Akan tetapi ia ingat tipu silat ajaran Hong kaucu.

"Tek Ceng Hau ki"

Siau Po menundukkan muka cepat ia meraba dada ibu suri.

Melihat itu Tay Hou merasa kaget dan segera ia menarik cepat dadanya.

Lalu Siau Po mengulurkan kakinya untuk menjejak dan tubuhnya jungkir balik, Dalam beberapa detik ia sudah duduk di atas punggung ibu suri.

Kedua tangannya digunakan untuk memegang pipi ibu suri itu dan ia mengancam dengan keras.

"Jika kau bergerak, aku akan mengorek biji matamu...!"

Menyaksikan hal demikian Kian Leng menjadi tertawa girang dan ia meminta pada Siau Po untuk turun dari punggung ibu suri.

Sebelum turun, Siau Po mencabut belatinya untuk mengancam ibu suri Tetapi setelah ia turun dari punggung ibu suri itu terdengar sesuatu yang terjatuh seketika ia mengenali benda yang jatuh itu, ia ingat kalau ibu suri pernah berhubungan dengan Song Beng Gie.

Mengetahui hal itu Siau Po lalu memberitahukan bahwa dirinya adalah Peng Liong Su yang baru, Setelah mengetahui Siau Po adalah Peng Liong Su maka ibu suri menjadi ketakutan sekali.

Setelah itu ibu suri memerintahkan pada putrinya untuk meninggalkan mereka berdua, Kemudian diajaknya Siau Po untuk datang ke kamarnya, agar pembicaraan mereka tidak ada yang mendengarkan.

Siau Po atau Peng Liong Su mengikuti permintaan Tay Hou, tapi sebelumnya Siau Po memikirkan hal itu.

Di dalam kamar Siau Po dan ibu suri itu duduk berhadapan Siau Po heran, mengapa ibu suri yang kedudukannya sangat terhormat, menjadi anggota partai Sin Liong Kau.

Sementara Tay Hou pun merasa heran melihat Siau Po yang masih muda ini mempunyai kedudukan yang cukup terhormat itu.

Hatinya merasa ragu apa benar, Siau Po itu seorang Peng Liong Su.

Karena keraguan itu ibu suri menjadi sangsi, dan murkanya mulai datang, itu terlihat dari sorot matanya tajam Melihat kenyataan itu Siau Po sudah dapat mengetahuinya.

Dengan cepat ia meyakinkan ibu suri dengan berkata.

"Kau tahu tipu silat yang tadi kuperlihatkan padamu? ilmu itu kudapat dari kaucu."

Ditanya seperti itu Tay Hou menjadi kaget Dalam hati ia berkata.

"Memang aneh cara ia bergerak dan itu aku tidak memilikinya...!"

"Mungkin kaucu yang mengajarkannya padamu,"

Tanyanya dengan suara bergetar.

"Ya, kaucu sendiri yang mengajarkan itu padaku, Kaucu menurunkan tiga puluh macam tipu silat yang dinamakan Kim Na Ciu atau tangan menangkap, sedangkan Hu Jin menurunkan padaku juga tiga puluh macam tipu silat yang dinamakan Sat Ciu atau tangan membunuh, ilmu silat yang kupelajari dari kaucu dan Hu Jin sangatlah ampuh, jika digunakan pasti akan meminta korban! Karena aku tadi hanya menggunakan salah satu dari ilmu yang diturunkan Hu Jin dan aku tidak berniat untuk membunuhmu maka aku tak membunuhmu itu tadi yang dinamakan Hui Yen Kiong Hu."

Mendengar keterangan dari Siau Po, ibu suri itu menjadi yakin dan merasa takut pada Siau Po. Dalam hati ia berkata.

"Hebat ilmu silat anak ini! Jika tadi ia menggunakan ilmu silat yang diturunkan kaucu tentu nyawaku sudah melayang."

Melihat itu Siau Po lalu menyombongkan hati.

"Untung, aku tak jadi mengorek matamu, Jika aku tak menaruh kasihan padamu mungkin aku sudah mengorek matamu...!"

Melihat bekas tamparan yang masih berbekas di muka Siau Po, ibu suri itu pun berkata.

"Hamba telah melakukan kesalahan pada Pek Liong Su. Untuk itu hamba mohon kiranya Pek Liong memaafkan hamba dan semoga Cun Su dapat hidup berbahagia dan panjang umur!"

Siau Po tersenyum.

"ltu tak menjadi soal, Tio Yam Gaot bertugas tidak bersungguh-sungguh, Kaucu dan Hu Jin sangatlah gusar lalu ia mengutusku untuk mencari kitab itu!"

Siau Po diberi beberapa butir obat penawar racun, ia juga disuguhi arak yang langsung ibu suri yang menyuguhinya, Sambil minum arak ia berbicara banyak dan Siau Po menanyakan asal mulai ibu suri itu masuk menjadi anggota partai Sin Liong Kau.

Belum sempat ia menanyakan hal itu Tay Hou bertanya padanya.

"Apakah Cun Su membawa obat penawar racun untuk tahun ini?"

Siau Po lalu tertawa,.

"Mana mungkin kaucu memberikan itu padaku, aku kan orang baru pada partai itu!"

Kata Siau Po. Mendengar jawaban itu ibu suri menjawab.

"Dengan demikian Cun Su sangatlah pandai, Kita berdua sama-sama telah memakan racun itu. Dan pasti Cun Su tak boleh membawanya untukku...!"

Melihat Siau Po diam saja, ibu suri menjadi gelisah, Dia lalu melaporkan mengenai kitab itu pada Siau Po.

"Cun Su, ketiga kitab itu sudah hamba serahkan pada Song Beng Gi dan Lin Yun untuk selanjutnya diserahkan pada kaucu..."

Siau Po telah mengetahui bahwa kedua orang itu ternyata telah mati dan keduanya tidak ada yang membawa kitab yang dimaksud, Karena merasa kurang yakin Siau Po menanyakan lagi.

"Tadi kau katakan kitab itu sudah kau serahkan pada mereka, tetapi mengapa sampai saat ini kaucu belum juga menerimanya? Oleh sebab itu ia lalu memerintahkan aku untuk mencari ketiga kitab itu...!"

"Bukankah Song Beng yang menyamar sebagai dayang di istana itu.-.?"

Tanya Siau Po.

"Benar, dia! sebaiknya jika Cun Su kembali ke sana langsung saja tanyakan pada mereka!"

Kata ibu suri. Mendengar kata-kata itu Siau Po berkata dalam hati.

"Sekarang aku mengerti, pastilah ia menyangka kalau Song Beng dan Liu Yan telah mati. Song Beng mati oleh bibi To dan Liu Yan mati olehku. Dengan demikian ibu suri sudah tak mempunyai saksi lagi, Mana ia tahu kalau ketiga kitab itu sudah ada padaku, Tetapi biarlah untuk sementara aku tak membongkar rahasia itu."

"Kau telah mendapatkan tiga buah kitab itu dan untuk itu jasamu sangat besar Kau juga harus dapat mencari kelima kitab yang lainnya dan nanti jika kembali aku akan menceritakan hal ini pada kaucu agar ia memberimu obat penawar racun itu,"

Kata Siau Po.

"Tentang masalah itu sebawahan turut memikirkannya siang dan malam. Dan dengan demikian hamba sudah dapat membalas sedikit budi baik dari kaucu!"

Sahut ibu suri.

"Kau sudah sangat setia pada partai dan sudah selayaknya kau dibebaskan dari racun itu!"

Jawab Siau Po.

"Budi Cun Su tak mungkin sebawahan takkan mungkin dapat melupakan budi Cun Su tersebut."

Siau Po lalu menanyakan sebab hingga ibu suri menjadi anggota dari partai Sin Liong Kau.

"Aku ingin mengetahui mengapa kau juga menjadi anggota dari partai Sin Liong Kau, Kau harus menceritakannya secara beruntun dan jangan ada yang kau sembunyikan...!"

Pintanya.

"Terhadap Cun Su sebawahan tak mungkin dapat menyembunyikan atau bicara yang tak benar..!"

Kata Tay Hou. Baru saja ibu suri itu akan menceritakan tentang dirinya, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara.

"Harap Tay Hou mengetahuinya, bahwa hamba diperintahkan oleh Baginda agar memanggil Kui Kong Kong untuk menghadap, Sebab ada urusan yang akan diselesaikan jadi ia harus segera menghadap."

Mendengar demikian Siau Po mengangguk pada ibu suri seraya berkata secara perlahan-lahan.

"Baik, kau jangan khawatir! Di lain waktu aku akan menanyakan sesuatu kepadamu!"

Selesai berkata demikian ibu suri berkata dengan keras.

"Sri Baginda memerintahkan kau untuk menghadap, cepat kau pergi!"

Siau Po pun segera berkata dengan keras.

"Baik Tay Hou, semoga Tay Hou berbahagia...!"

Itu dilakukannya agar dayang-dayang itu tak mengetahui bahwa dia adalah anggota partai Sin Liong Kau.

Sesampainya di luar kamar Siau Po sangat kaget, karena yang datang itu ternyata pasukan khusus kerajaan dalam jumlah banyak, Hal itu membuat Siau Po menjadi bertanda tanya dalam hati.

"Mungkinkah ada perkara yang besar di kerajaan?"

Sesampainya di sana Siau Po langsung masuk ke kamar baca.

"Syukurlah kau tak kurang suatu apa. Tadi aku merasa sangat khawatir sebab kau dipanggil oleh ibu suri, Aku takut kau nanti disiksa si tua bangka dan hina dina itu...."

"Terima kasih atas perhatian Suhu. sebenarnya tadi hamba dipanggil oleh ibu suri. Hamba hanya ditanyakan mengenai kepergianku ke Ngo Tay san. Dia pun menanyakan tentang keadaan Sri Baginda, Dan kesemuanya itu tidak hamba jawab dengan benar!"

Ujar Siau Po.

"Bagus, jawaban kau itu pasti akan datang, Suatu hari nanti aku akan membalas sakit hati Baginda Hu Hong serta Bu Hau! Aku khawatir kau dicelakai olehnya untuk itu aku mengutus beberapa Sie Wie untuk memintamu, Jika ia tidak memberikan agar para Sie Wie itu menerobos masuk. Tak apalah jika aku harus bentrok dengan si tua bangka dan hina dina itu. Aku sangat dendam!"

Kata sang raja sambil menggenggam kepalan tangannya. Melihat itu Siau Po menjadi kasihan, ia lalu berkata pada raja itu dan sambil berlutut.

"Hong Te suhu telah melepas budi begitu besar walaupun tubuh hambamu ini hancur sukar buat membalasnya,"

Kata Siau Po ia memanggil raja dengan sebutan "Hong te suhu"

Yang artinya guru yang menjadi raja atau raja yang menjadi guru.

"Asal kau merawat baik-baik ayahanda, itu sudah merupakan balas budimu padaku!"

Ujar sang raja. Dan Siau Po menyanggupinya. Raja lalu mengambil amplop besar dan berwarna kuning, Sambil menyerahkan ia berkata.

"lni adalah kiriman hadiah dariku untuk para pendeta di wihara Siau Lim Sie. Cepat kau pergi dan sampaikan pada mereka itu! Kau berangkat dengan mengepalai ratusan Sie Wie istana dan dua ribu serdadu, Cepat kau pergi ke sana! sekarang pangkatmu aku naikkan menjadi Jiau Kieng Cia Oey Kie Hu Tau Tong itu berarti kau pembesar tingkat tinggi kedua, Aku pun mengangkat kau sebagai Boan Ciu. pasukan itu adalah pasukan raja dan kau beserta perwira pergi ke sana..!"

"Terima kasih, Asal aku dapat sering berada dekat dengan raja, itu sudah merupakan suatu kebahagiaan sekarang aku sudah menjadi orang Han dan siapa tahu aku nanti menjadi orang Boan Ciu!"

Ujar Siau Po.

Raja segera memanggil Tou Tong yaitu seorang gubernur militer dari pasukan bendera kuning untuk memberitahukan sebenarnya Siau Kui Cu bukan thay-kam.

Dia telah diangkat menjadi orang Boan Cu dan dikarunia pangkat Hu Tou Tong.

Gubernur Tsa Ert Cu semasa berkuasa, Go Pay sudah dijebloskan ke dalam penjara, untunglah Go Pay gagal karena telah dibunuh oleh Siau Po.

sekarang ia mendapat panggilan dari raja, bahwa anak tersebut telah diangkat menjadi orang keduanya, Sudah pasti ia merasa senang karena sebelumnya ia pernah diselamatkan oleh Siau Po.

Berulang kali ia memberikan selamat pada Siau Po sambil menambahkan dengan kata-katanya.

"Saudara Wie kita berdua bersaudara, Kita bakal bekerja sama dan tidak ada orang di antara kita yang lebih istimewa. Kau justru orang muda yang gagah dan mungkin pasukan berkuda kita akan mendapatkan nama yang baik...!"

Terhadap atasannya Siau Po merasa berterima kasih, sebab ia telah diberikan katakata selamat.

"Hanya, hal ini tak dapat diumumkan, sebab saat ini pula Siau Kui Cu harus berangkat dan tak usah kau datang lagi ke mari untuk memohon diri padaku!"

Kata raja.

Siau Po lalu mengucapkan kata terima kasihnya karena ia telah dipercaya untuk memimpin pasukan Namun ia tetap saja memikirkan ibu suri yang belum diketahui bahwa ia masuk ke dalam partai Sin Liong Kau.

To Liong mendampingi Siau Po untuk memilih Sie Wie yang akan mereka bawa itu.

"Saudara Wie, kau hendak memilih Sie Wie yang mana? silahkan kau pilih dan jika kau menghendaki aku untuk turut denganmu, aku siap mengikuti dan selalu bersamamu!"

Siau Po lalu tertawa.

"Itulah yang membuatku tak dapat memenuhi keinginanmu jika kau ikut bersamaku lalu siapa yang akan melindungi Baginda, Tugas itu lebih berat daripada tugas yang aku jalankan ini. Kau tak usah memikirkan untuk ikut bersamaku!"

To Liong tertawa.

"Biarlah nanti aku meminta pada raja untuk kita bertukar tempat yakni kau menjadi kepala sedangkan aku menjadi bawahanmu, Agar nanti jika ada tugas keluar dari kota raja, aku yang berangkat!"

Siau Po tersenyum.

ia lalu mencatat nama-nama Sie Wie dan juga pasukan yang akan ikut bersamanya, Dengan cepat pasukan-pasukan itu datang mendekat dan sudah siap untuk berangkat.

Sementara itu kaisar sudah siap menyediakan berbagai macam hadiah untuk para biksu dari Siau Lim Sie.

Wie Siau Po seharusnya muncul dengan mengenakan pakaian pemimpin.

Namun karena ia baru saja diangkat, belum ada pakaian yang sesuai dengan dirinya.

Raja lalu memerintahkan pada tukang jahit untuk ikut serta bersama rombongan sambil menyelesaikan pakaian Siau Po.

Dan ia memerintahkan pada para tukang jahit itu untuk tidak pulang jika belum selesai membuat pakaian Siau Po.

Sebelum berangkat ia menempatkan diri untuk singgah ke Poan Ji Ho Tong untuk menemui Liok Ko hian, untuk memesan mereka agar jangan sembarangan pergi, Karena untuk mencuri kitab itu.

Sewaktu ia akan pergi Siau Po mengajak Song Ji bersamanya, Dan ia meminta pada Song Ji untuk memakai pakaian pria.

Sewaktu akan berangkat Siau Po melihat cuaca sudah gelap, Akan tetapi karena raja memerintahkan untuk pergi, maka ia harus pergi juga, Dan sewaktu ia akan berangkat memang cuaca sudah gelap, sehingga baru saja berangkat beberapa lie mereka harus berhenti untuk mendirikan tenda.

Keesokan harinya, selesai bersantap, ia mengundang beberapa kepala pasukan dan juga bawahannya.

Para kepala pasukan yang diundang itu merasa heran mendapat undangan tersebut Mereka bertanya dalam hati masing-masing, Siau Po mengajak mereka bermain judi, Para pemimpin itu tak percaya ketika melihat Siau Po mengeluarkan dadu dan mereka pun siap melakukan judi.

Rupanya saat ini Siau Po sedang bernasib baik ia selalu menang dalam perjudian itu.

Para kepala pasukan akhirnya terkuras habis uangnya, Namun ketika mereka hendak bubar karena uang sudah terkuras habis.

"Tunggu dulu! Kalian tahu, ini adalah untuk pertama kali aku memimpin pasukan, Oleh karena itu semua kemenanganku ini tak akan kuambil dan tolong kalian bagikan uang hasil kemenanganku ini.!"

Mendengar ucapan dari Siau Po kembali mereka terheran, tetapi setelah itu mereka bergembira bersama karena uang mereka dikembalikan.

Sedang gembira-gembira, mereka dikagetkan oleh suara orang yang datang secara tiba-tiba.

Kedatangan orang-orang itu tak ada yang mengetahuinya.

Melihat kedatangan tamu yang tak diundang itu kepala pasukan memerintahkan para Sie Wie agar menangkapnya, Hanya dengan sekali gebrakan saja mereka sudah dapat menggagalkan serangan para Sie Wie itu.

Melihat kejadian itu para kepala pasukan terheran-heran, pada saat mereka itu terheran ketua dari tamu yang tak diundang itu memerintahkan pada keempat anak buahnya untuk mengurung Siau Po.

Tamu yang tak diundang itu ternyata ingin ikut serta dalam permainan itu, tetapi sekarang menggunakan taruhan bukan dengan uang.

"Aku hendak bertanya, Jika aku kalah aku harus membayar dengan apa dan jika aku menang aku harus membayar dengan apa pula?"

Tanya Siau Po pada ketuanya.

"Mengapa ditanya lagi? Kalah pedang harus dibayar dengan pedang jika kalah kepala harus dibayar dengan kepala.,.!"

Jawab sang ketua. Pemuda yang menjadi ketua itu menyangka mendengar taruhannya mereka akan takut, tetapi kenyataannya lain, Siau Po menyanggupi pertaruhan itu.

"Baiklah, kalah pedang harus membayar dengan pedang, kalah kepala harus membayar dengan kepala, Karena itu siapa yang kalah ia celaka dan siapa yang menang ia akan senang, Nah, untuk itu mulailah kau yang melemparkan dadu itu!"

Kata Siau Po mantap. Musuhnya tercengang, ternyata anak sekecil itu sudah mempunyai nyali yang besar. Si ketua tamu itu lantas berbisik.

"Jangan di luar jikalau nanti kita menang dikhawatirkan nanti terjadi perubahan karena di luar banyak pasukan Iawan...!"

Anak muda itu lalu mengawasi Siau Po.

Dia tak melihat adanya tanda-tanda takut pada anak itu.

Pada permainan pertama Siau Po menang, sedangkan pada permainan yang kedua Siau Po kalah, juga pada permainan yang ketiga, Hingga akhirnya Siau Po ditantang bertempur.

Siau Po lalu berkata dalam hatinya.

"Kalau Loo Cu ingin takluk ia sudah menyerah sejak mereka datang ke kemah itu. Dan jika sekarang aku harus menyerah itu tidak dapat diterima dan jasaku selama inipun akan hilang, Seorang laki-laki sejati jika ia sudah bersipat keras maka harus bersipat keras untuk selama-lamanya."

Dengan si ketua itu Siau Po menganggap derajatnya lebih tinggi Dan setelah berpikir Siau Po tertawa dan berkata.

"Loo Cu adalah Hu Tou Tong sedangkan nama Loo Cu ialah Hoa Ca Hoa Siau Po. jikalau kau hendak membunuh aku maka bunuhlah dan jika ingin bermain, marilah kita bermain lagi, jangan yang tua menghina yang muda itu bukanlah perbuatan Ho Han, dan laki-laki sejati!"

Tantang Siau Po pada mereka. Si anak muda itu tersenyum.

"Ya. Memang benar yang tua menghina yang muda itu bukan Ho Han. Nah, Siau Su Moay, usiamu lebih muda dari anak ini, lebih baik kau yang mengajaknya bertempur.,.!"

Kata si anak muda itu. Kata "Siau Su Moay"

Adalah adik wanita yang cantik, si nona muda itu tertawa.

"Baik, jendral besar Hoa Ca Hoa Siau Po, aku akan belajar mengenalmu dengan jurus-jurus silatmu!"

Kata si nona.

"Lekas maju untuk bertempur..!"

Kata musuh yang berada di samping Siau Po sambil menyerahkan pedangnya.

Si anak muda langsung melemparkan pedangnya dan langsung menancap di atas meja dekat Siau Po.

Tetapi Siau Po berpikir cepat ia berkata dalam hati.

"Aku tak mengetahui ilmu pedang, pasti aku akan dengan mudah dapat dikalahkan si nona itu.,.!"

Pikirnya. Setelah berpikir demikian Siau Po lalu berkata.

"Dengan yang tua menghina yang muda dia bukanlah Hu Hong! Aku lebih tua dari dia mana dapat aku menghinanya?"

Si anak muda itu sudah habis kesabarannya lalu tangan kirinya dipakai untuk mencekik leher Siau Po dan ia lalu berkata.

"Jika kau tak berani dengannya maka kau harus berlutut padanya dan memohon ampun!"

Kata si anak muda itu dengan bengisnya.

"Baiklah jika hal itu yang kau inginkan sebenarnya jika berlutut di hadapan seorang laki-laki yang banyak mempunyai uang emas, itu ada baiknya. Namun untuk berlutut pada seorang wanita.,.?"

Kata Siau Po tetapi ia lalu menekuk kakinya untuk berlutut.

Menyaksi kan hal itu kawanan penjahat tertawa, justru pada saat seperti itu yang sangat di-tunggu-tunggu Siau Po.

ia lalu melakukan gerakan dengan sangat lincahnya dan tahu-tahu sudah berada di punggung anak muda itu sambil mengancam dengan pisau belatinya yang sangat tajam.

"Kau menyerah atau tidak?!"

Ancamnya.

Semua orang terkejut, terutama si anak muda itu, Meskipun sangat lihay tetapi ia pun tak berdaya, Tentu saja mereka semua tak menyangka kalau Siau Po demikian hebatnya, Dan mereka pun tak mengetahui kalau Siau Po menggunakan Hui Yan Kiong Sing yang didapat dari kaucu.

Kekagetan itu hanya sesaat, Kawanan pemuda itu sudah ingin menyerang Siau Po dengan pedang-nya, namun Siau Po membentaknya.

"Lekas minggir.,.!"

Mereka semua minggir.

"Jika kalian tak ingin kehilangan nyawa teman kalian, cepat.,.!"

Siau Po mengancamnya karena mereka semua sudah siap menghunus pedang.

"Tak ada yang aneh, bukan? Sekarang kalian boleh tertawa dengan sepuas hati kalian!"

Habis berkata demikian Siau Po mengebaskan pisau belatinya pada pedang lawan dan mendadak saja semua pedang itu terpotong ujungnya dan ia lalu mengancam anak muda itu.

Semua orang berbaju biru itu kaget, serempak mereka maju dan serempak pula ia mundur "Kembalikan uangku.,.!"

Kata Siau Po.

"Nanti akan aku bebaskan pemimpin kaIian...!"

Orang yang tadi mengambil uang itu tanpa ragu-ragu mengembalikan uang yang dimintanya. Tepat pada waktunya dari luar tenda terdengar suara ratusan pasukan yang berteriak-teriak.

"Jangan biarkan penjahat itu lolos...!"

Mari kita gempur.,.! Hayo kalian cepat menyerah...!"

Teriakan itu terdengar berulang-ulang dari pasukan yang sedang kalap itu. Kiranya tadi itu ada seorang Sie Wie yang dapat meloloskan diri dan mengatakan pada kawan-kawan yang lainnya bahwa ada bahaya.

"Mari, kita bunuh dulu Loo Cu cilik itu.,.!"

Teriak pemuda, lalu menyambar pedang yang ada di atas meja dan langsung menyerang Siau Po tetapi apa yang terjadi.

"Aduh! Aku tak tertikam mati.,.!"

Kata Siau Po. Semua yang ada menjadi heran dan kaget, Melihat kejadian itu si pemuda yang menjadi ketua berseru.

"Semua jangan perdulikan aku, kalian pergilah untuk meloloskan diri!"

Dia terlambat, para Sie Wie itu sudah mengepung mereka dan dengan begitu, sulit baginya untuk meloloskan diri.

Maka Siau Po berpikir panjang lalu mengambil keputusan untuk melakukan permainan dadu lagi dengan taruhan kepala mereka.

"Aku yang menjadi bandar, masing-masing maju satu persatu, Maka jika ia memenangkan taruhan ia dapat pergi dan membawa uang saku seratus tail!"

Yang pertama si nona cilik cantik itu. Tetapi ia menolaknya untuk pergi dan membawa uang itu, tanpa bertaruh.

"Jika demikian, nona ini yang mengadu denganku dan taruhannya adalah kepala kalian...!"

Kata Siau Po.

Sang ketua memberikan isyarat pada si nona tanda menyetujui pertarungan itu.

Tanpa ragu-ragu lagi ia mengadu dadu dengan Siau Po dengan taruhan kepala temantemannya.

Setelah dikocok ternyata yang ke luar dadu tiga-tiga.

Jika bandar sanggup mendapatkan angka empat-empat bandar akan menang dan bila mendapat angka tigatiga pun bandar akan menang.

Sebelum mereka mengadu dadu yang kini tinggal bagian Siau Po, Siau Po mengajak mereka untuk minum bersama, mendadak seorang pria yang mengenakan baju buru itu mengeluarkan kata-kata.

"Untuk kepalaku akulah yang akan memberikan taruhan padamu, Aku tak sudi kepalaku menjadi taruhan kalian...!"

Sang ketua lalu menolak karena mereka sebelumnya sudah berjanji untuk hidup dan mati bersama, itulah janji kaum Ong Ok Pay.

Pria itu tetap berkeras tidak menyetujui taruhan itu, Lalu ketua mereka memutuskan untuk mengeluarkan pria itu dari anggotanya dan dinyatakan sebagai penghianat kaum Ong Ok Pay.

Mendengar jawaban tersebut si Imam merasa tak puas ia lalu menambahkan katakatanya.

"Adik kita telah mengadu dadu dan mendapatkan angka tiga! Mengapa kau baru berbicara sekarang? Dalam kaum Ong Ok Pay tidak ada orang yang sepertimu...!"

Kata si Imam.

"Susiok Ong Ho, jika aku tak menjadi murid Ong Ok Pay toh aku tak kurang suatu apa pun!"

Jawab pria itu.

"Tadi jendral muda itu mengajak kita untuk bertaruh satu lawan satu, tetapi kau menyanggupi menjadikan perwakilan saja, sekarang aku bertanya, kalian setuju atau tidak dengan perjanjian seperti ini. Aku tahu kalian tadi tidak semuanya memberikan jawaban!"

Kata orang muda itu pada kawan-kawannya.

Siau Po talu mengetengahkan lagi dia bersedia menjadikan pertandingan itu menjadi dua babak.

Selesai minum arak Siau Po melanjutkan pertandingan dan ia berkata dalam hatinya.

"Sebenarnya bagiku tidak sulit untuk mempermainkan dadu-dadu ini aku tinggal memilih angka berapa yang aku inginkan, Tetapi sekarang aku sudah lama tidak bermain lagi, maka agak sulit buatku untuk mempermainkan dadu-dadu ini, Jika aku salah angka, nona ini akan ikut mati bersama kawan-kawannya."

Selesai dadu-dadu itu diputar Siau Po lalu memastikan dengan jari kirinya angka berapa yang akan ke luar, ia lalu mempermainkan lagi dadu itu.

Dan setelah mendapatkan kepastian, bahwa si nona dan kawan-kawannya itu dapat memenangkan pertandingan itu ia lalu membukanya.

"Kalian yang menang, ambillah ini dan pergi! Mengapa kalian masih diam saja, apakah kalian akan bertaruh lebih jauh lagi denganku.,.?"

Tanya Siau Po pada mereka.

"Uang itu tak dapat aku terima, ternyata kata-katamu itu dapat dipegang!"

Kata si ketua itu.

"Eh, eh tunggu! Kalian telah memenangkan permainan itu. Bukankah dengan kau tidak mau menerima uang ini berarti kau tidak menghormatiku?"

Kata Siau Po dengan cepat.

"Baiklah kalau itu sudah menjadi keinginanmu,"

Kata si pemuda yang menjadi pimpinan mereka.

Semua orang itu lalu meraup uang yang ada pada meja dan pergi meninggalkan arena itu.

Siau Po terus mengawasi si nona cilik itu sewaktu ia mengambil uang mata mereka bertemu pandang, Dan hati keduanya berdebar-debar.

Si nona itu merasa malu sambil berkata.

"Terima kasih."

Begitu menutup mulut si nona lalu membalikkan tubuhnya, Setelah beberapa langkah mereka berjalan, si nona memutar tubuhnya dan berkata.

"Jendral kecil, dapatkah aku meminta dadu-dadu itu?"

Sambil berkata dengan malumalu.

"Tentu dapat mengapa tidak, apakah kau akan bermain dengan kawan-kawanmu di sana?"

Tanya Siau Po dengan mantap.

"Bukan, aku akan menyimpannya, tadi ada peringatan bagiku, Aku sangat kaget dengan peristiwa itu,"

Katanya malu.

Siau Po lalu mengambil dadu-dadu untuk diberikan pada nona yang cantik itu.

Nona itu pun sudah menyodorkan tangannya.

Goan Gie Hong menyaksikan semua kejadian itu dan sewaktu ia hendak pergi mengikuti yang lainnya Siau Po lalu menahannya.

"Bukankah aku belum bertarung denganmu?"

Kata nya.

"Dasar aku yang salah, kalau aku tahu ia pandai memainkan dadu-dadu itu aku tak mungkin jadi manusia seperti ini. Memang aku manusia yang rendah!"

Pikirnya dalam hati. Dan ia lalu berkata.

"Bukankah kau sudah tak memiliki dadu lagi? Aku menyangka kau tak akan bertaruh lagi denganku!"

Katanya.

"Apapun dapat dijadikan sebagai alat untuk bertaruh, kita dapat menggunakan jari tangan kita atau dengan uang itu. Coba kau terka jumlah uang itu ada berapa...?"

Siau Po balik bertanya.

"Mana dapat aku menerka!"

Jawabnya dengan nada menghina.

"Bandit ini kurang ajar! Seret dia dan penggal lehernya!"

Kata Siau Po. Mendengar itu beberapa orang Sie Wie lalu mendekati orang tersebut dan membawanya.

"Tunggu dulu! sekarang aku akan bertanya dan kau harus menjawab dengan benar, Jika kau berdusta aku akan memenggal lehermu!"

Ancam Siau Po.

Siau Po lalu mencari tahu tentang kaum Ong Ok Pay.

Siapa ketuanya?

Di mana markasnya dan mereka itu siapa serta berapa jumlah mereka semuanya?

Sambil diikatkan kaki dan tangannya orang itu menghadapi Siau Po yang terus bertanya.

Ketika pertanyaan sudah dimulai Kong Lian yang mencatat semua jawabannya.

"Sejarah bermula pada waktu itu. Gou sam Kui ditugaskan untuk melindungi Kota San Hay Kam, ia telah menolak penyerbuan angkatan perang Bon Cu yang telah memasuki wilayah kota Tiongguan. Ketika berperang itulah Suto Pek Lui mempunyai banyak jasa, Dan takkala lawan menyerbu dan mematahkan Kota Bakia, barulah ia mengajak angkatan Bung Cu untuk membantu menumpas pemberontakan Pek Lui yang lebih dulu datang, maka ia yang membebaskan kota itu. Ketika itu Pek Lui beranggapan kalau pasukan itu hanya akan menumpas pemberontakan saja, untuk membalas sakit hati rajanya, Siapa tahu dia datang hanya akan membalas dan merampas Kota Tionggoan. Kedatangan pasukan itu dibiarkannya, dan mulai saat itu orang Sie Gau yang semula mencintai kerajaan berbalik menghianatinya. Pek Lui gusar dan ia meletakkan jabatannya lalu pergi ke gunung tempat sekarang dijadikan markas mereka itu, ia memang sangat lihay dalam ilmu silat, dalam beberapa saat saja ia mengalami kemajuan. Dalam hidup menyendiri itu bukanlah berarti ia sendiri Orang yang simpatik padanya pun ikut, bersamanya dan juga berlatih ilmu silat, pemuda yang memimpinnya tadi adalah putra nomor tiga dari Pek Lui. Dan yang lainnya adalah murid-muridnya, sedangkan si nona yang cantik itu bernama Can Jiu. Dialah putri salah seorang sebawahannya, Paman tua dan yang muda itu Pee Hu dan Siok Hu. Waktu ayah si nona akan meninggal dunia ia menitipkannya pada bekas pemimpinnya dan sekarang nona itu telah menjadi muridnya. Dia mendapat keterangan bahwa rombongan Gou Eng Him telah meninggalkan Kota Pakia, Maka segera memerintahkan putranya untuk menemui Eng Him. Di tengah perjalanan ini ia menemui pasukan Siau Po, putra Pek Lui Seng dan ia mengajak beberapa orang untuk menyelusup masuk ke daIam. ia melihat ada yang sedang berjudi Maka dia bukannya ingin berjudi Tetapi ia sangat benci pada suku Bou Cu, yang telah mengubah kerajaan dan seluruh Tiong Goan, Akhirnya mereka bertemu dengan Siau Po dan tak jadi membunuh Gou Sam Kui. Gio Hong tidak berkelit dan Siau Po lalu menendangnya.

"Hamba meskipun berada dalam suatu wilayah orang-orang jahat tetapi hamba masih mencintai negara. Hamba hanya membutuhkan bantuan Tuan, Dan hamba sudi dijadikan budak Tuan. Hamba akan setia pada Tuan!"

Katanya sambil merasakan dadanya sakit terkena tendangan itu.

"Lalu berapa jumlah mereka itu?"

Tanya Siau Po.

"Jumlah mereka kira-kira tiga puluh ribu orang berikut keluarganya."

Jawabnya.

"Jumlahmu tiga puluh ribu orang dan semuanya pandai bermain silat Dan apakah masih banyak yang anak-anaknya pandai bermain silat?" "Banyak benar yang pandai bermain silat!"

Jawabnya.

"Mengapa kau tidak langsung ke sana dan menanyakannya, Apa alasannya ia tak mau langsung menemuinya, jawab?"

Tanya Siau Po.

"Hamba tidak mengetahuinya!"

Jawabnya.

"Di mana tempat gunung itu..?"

Tanya Siau Po.

"Gunung Ong Ok San terletak di Kecamatan Ce Goan, di dalam propinsi Hoolam!"

"Bagus, kamu kaum pemberontak Bagaimana mungkin kamu dapat menempatkan pasukanmu di dekat Pakia, Apakah kau akan menyerang secara tiba-tiba pada kota raja, Lalu kau akan memenangkannya ?"

Tanya Siau Po.

"ltulah taktik pemberontak, Hamba tak bersangkut paut dengan mereka!"

Jawabnya.

"Dalam partai kamu ada berapa yang menjadi bawahan Gou Sam Kui? jelaskan satu persatu!"

Tanya Siau Po. Bagian 43

"Jumlahnya sangatlah banyak!"

Jawabnya, yang terus menyebutkan namanya satu persatu.

"Sekarang, catatlah satu persatu nama dan pangkat mereka semasa ia bekerja pada Gouw Sam Kui..."

Perintah Siau Po.

"Sekarang hamba sudah tak mengenali mereka"

Katanya lalu memandang Siau Po.

"Banyak di antara mereka yang sudah hamba lupa!"

"Kalau kau tak ingat mudah saja kau harus dipukul dahulu baru kau dapat mengingatnya lagi...!"

Ujar Siau Po dengan tenang.

"Jangan... jangan...! Sekarang.... sekarang hamba sudah mulai mengingatnya,"

Jawabnya dengan gemetar. Seorang serdadu lalu mengambilkan pen untuk menulis nama dan pangkat orang yang dimaksud itu. Siau Po menanti Gi Hong, tapi tak sabaran, lalu berkata.

"Aku meminta catatan orang itu, awas jika aku bertanya kau menjawabnya dengan tidak sungguh-sungguh, kepalamu menjadi taruhannya, kau akan kehilangan kepalamu itu!"

Katanya. Setelah selesai Siau Po memerintahkan agar membawa pergi tawanan itu. Setelah tawanan dibawa pergi Siau Po memanggil empat orang perwiranya dan ia berkata.

"Saudara-saudara sekalian, kita telah mengetahui bahwa akan ada pemberontakan. Untuk itu pasti kita akan mendapatkan hadiah yang sangat besar!"

Kata Siau Po.

"Kalian jangan takut, semua akan mendapatkan bagian yang sesuai!"

Kata Siau Po.

"Katanya Peng See Ong akan mengadakan pemberontakan apakah bukti-bukti kita sudah cukup?"

Tanya Ci Hian. Kawanan Ong Ok Sam ingin memberontak, itu sudah merupakan bukti untuk apa mereka mengadakan pertemuan jika tak ingin mengadakan suatu masalah yang sangat penting!"

Kata Siau Po.

"Mereka berkata bahwa mereka ingin menculik anak Gouw Sam Kui. Hal itu dilakukan untuk memaksa Gouw Sam Kui, agar mau bergabung dengan mereka untuk berontak...!"

Kata Kong Lian.

"Tio Toako, kau mempunyai banyak hubungan dengan istana Peng See Ong dan kau mengetahui banyak tentang mereka itu? Bukankah jika mereka berhasil dalam pemberontakan itu yang menjadi raja adalah Gouw Sam Kui sendiri."

Tanya Siau Po.

Mendengar perkataan Siau Po, Kong Lian kaget sekali.

Tak ada seorang pun yang aku kenal dalam istana itu, Tou Tong Tay Jin.

ia seorang pendurhaka dan kita harus secepatnya melaporkan kejadian ini pada raja...!"

Katanya cepat. Siau Po menganggukkan kepalanya.

"Sekarang kalian menemui Su Ya untuk memberikan laporan pada raja..."

Kata Siau Po.

Kong Lian menurut dan mereka lalu pergi untuk menemui Su Ya.

Dan tak lama kemudian mereka sudah kembali dengan membawa Su Ya dari Tiong Kun.

Dengan rencana yang sudah dituliskannya, ia lalu membacakan laporannya pada Siau Po.

Mendengar demikian Ci Hian bertiga berkata dengan serempak.

"Oh, dengan dimerdekakannya kedelapan belas orang itu merupakan rencana raja!"

Serunya.

"Aku masih muda, mana mungkin aku dapat secerdik ini bila tak ada rencana dari baginda, Dan mana mungkin rencana ini dapat terbongkar dengan tuntas!"

Kata Siau Po.

Akal muslihat Siau Po ini didapat dari Kaisar Kong Hi takkala ia ingin memerdekakan beberapa budak, guna menyelidiki rombongan Bhok yang menyelusup dan menyerbu ke dalam istana, Kong Lian dan kawan-kawannya tidak mengetahui akal bulus Siau Po, makanya ia sangat senang dan gembira karena Siau Po telah berjasa.

Sudah merupakan suatu peraturan jika panglima sedang menjalankan tugasnya ia tak boleh kembali ke kota raja.

Maka untuk itu ia mengutus beberapa Sie Wie untuk menyampaikan berita itu pada raja dan tahanan yang tertangkap itu pun dibawa serta.

Besok paginya mereka berangkat secara perlahan-lahan, magrib mereka beristirahat para serdadu yang diperintahkan untuk menyampaikan kabar itu telah sampai dan bergabung kembali.

"Ada surat rahasia dari baginda!"

Kata salah seorang Sie Wie yang diutus tersebut.

Siau Po gembira sekali, tetapi setelah ia mengetahui kalau isi surat itu sangatlah mengejutkan yang hadir Siau Po dan kawan perwira itu menjadi pucat.

Utusan yang membawa surat perintah itu lalu mendekat pada Siau Po yang lalu berkata secara perlahan-lahan.

"Sri Baginda memerintahkan agar dalam segala hal tuanku harus selalu berhatihati.,.!"

Katanya.

"Ya, aku mengerti. Terima kasih pada Sri Baginda."

Kata Siau Po yang lalu mengambil uang seribu tail untuk mereka. Sambil berpikir Siau Po berkata dalam hati.

"Mungkinkah tawanan itu telah memutar balikkan keterangan itu sehingga baginda raja tak percaya dengan keteranganku...!"

Sesampainya di Kuil Siau Lim Sie mereka disambut dengan gembira, penyambutan itu langsung dipimpin oleh kepala pendeta.

Lalu Siau Po diundangnya masuk ke kuil.

Di sana dibacakan isi surat raja, Di situ disebutkan bahwa raja sangat memuji pendeta itu dan ia pun menyampaikan hadiah untuk para pendeta yang baik.

Dan setelah itu, ia mendapatkan ucapan terima kasih dari para pendeta itu.

Pada akhir suratnya di situ disebutkan "Wie Siau Po, aku hadiahkan baju Na Wa kuning untuk menjadi pendeta di Siau Lim Sie, agar ia mempelajari kitab-kitab suci untuk dapat menyebarkan agama Buddha, Dan kepadanya telah dihadiahkan untuk keperluan suci dan kepalanya harus dibotakkan...!"

Mendengar kata terakhir dari surat itu Siau Po menjadi pucat memang sebelumnya ia berjanji bersedia menjadi biksu tetapi di Gunung Ngo Tay san. ia menjadi bingung tidak karuan.

"Wie Tay jin mewakili raja untuk bersuci, itu merupakan suatu kehormatan bagi kuil kami,"

Kata Hui Cong.

Tak lama kemudian Siau Po mulai dicukur gundul dan mulailah ia menggunakan baju pemberian raja.

Siau Po banyak mendapatkan kata selamat dari para biksu dan para pendeta.

Setelah dicukur dan diberi kata selamat dari para pendeta itu Siau Po lalu menangis.

Selesai para biksu itu mendoakan, Siau Po diberitahu dari keturunan mana Su Ci dan para pendeta Siau Lim Sie ialah delapan hurup Tay Kay Koan Hay teng Ceng Hoa Giam.

Setelah mendapatkan keterangan itu Siau Po lalu diberitahu, bahwa ia sekarang sebagai paman guru jadi dengan kepala pendeta itu adalah sebagai adik seperguruan.

Siau Po ingat Song Ji.

ia adalah wanita jadi dia tak dapat berada dalam kuil itu.

Segera ia memberikan uang lima ratus tail pada Kong Lian, agar ia mencarikan rumah sewaan untuk Song Jie.

Karena dia sebagai pengganti kaisar maka ia mendapatkan kedudukan yang sangat enak dan juga memiliki empat orang kacung.

"Su Te, dalam kuil ini kau bebas, Kau boleh melakukan apa saja asalkan jangan melakukan yang lima larangan ini, yaitu minum arak, membunuh, jinah, dusta dan mencuri..!"

Pesan Hui Tong.

"Keempat-empatnya mungkin dapat aku laksanakan tetapi untuk tidak berbicara dusta rasanya aku su!it!"

Katanya dalam hati. Siau Po lalu bertanya.

"Bagaimana kalau berjudi, apakah itu juga merupakan tantangan? Dalam kuil ini?"

Tanyanya. "Apakah itu berjudi.,.?"

Tanya si pendeta.

"Judi adalah mengadu keuntungan baik dengan dadu atau pun dengan kartu.,.!"

Siau Po memberikan keterangan Hui tong itu lalu tersenyum. Hm dalam lima tantangan itu tak terdapat judi, untuk itu jika orang lain ingin membatasi diri, Su Te sendiri terserah!"

Jawabnya.

"Sri Baginda mengutus aku menjadi pendeta hanya karena aku akan ditugaskan menjaga raja yang tua itu. Tetapi mengapa di sini bukan di Ngo Tay san, mengapa!"

Katanya dalam hati.

Selesai berkata demikian Siau Po lalu berjalan-jalan mengitari kuil itu, ia dapat melihat ada beberapa orang yang sedang berlatih silat ia menjadi sangat tertarik.

Melihat kedatangan Siau Po, mereka langsung menjura memberi hormat Hal itu membuat Siau Po menjadi risih.

"Sering aku mendengar bahwa ilmu silat di kuil ini begitu dahsyat Apakah itu yang dimaksud oleh baginda raja? Agar aku berlatih silat yang nantinya untuk menjaga ayah raja itu.-.?"

Kata Siau Po dalam hati.

"Ah, aku mengerti sekarang, Ketua di sini mengangkat aku sebagai adik seperguruannya, dengan demikian aku sudah tak mempunyai guru lagi sebab guru itu sudah lama meninggal Sungguh licik dia... tetapi aku menjadi orang kepercayaan raja. Atau mungkin ia sungkan untuk mengajarkan aku ilmu silat. Kalau memang demikian aku toh dapat belajar sendiri dengan melihat mereka berlatih aku dapat menirunya..."

Kata Siau Po dalam hatinya.

Beberapa bulan telah berlalu semenjak Siau Po berada di tempat ini.

Musim dingin telah berlalu dan berganti dengan musim semi, tetapi ilmu silat yang dia miliki belum seberapa, Hanya pada pergaulan Siau Po sangat disenangi oleh para pendeta, hal itu dikarenakan Siau Po dapat bergaul dengan siapa saja.

Pada suatu hari Siau Po merasakan tubuhnya sangatlah nyaman, Lalu ia pergi tanpa diketahui para pendeta yang lain.

Dia terus saja berjalan, Siau Po ingat akan Song Cie.

Dengan siapa dia tinggal dan bagaimana keadaannya.

Selagi Siau Po berjalan ia mendengar keributan dari orang yang sedang mengadu mulut Melihat itu Siau Po tersenyum.

Siau Po lalu bergegas ingin cepat sampai dan bertemu dengan Song Cu, wanita yang selalu menyebarnya itu.

Belum jauh Siau Po melangkah terdengar lagi suara ribut-ribut, Setelah mengetahui kedatangan Siau Po para biksu muda itu lalu menghampiri dan bertanya padanya.

Siau Po mengetahuinya kalau biksu muda itu tadi sedang bertengkar mengadu mulut dengan seorang wanita yang memiliki wajah cantik dan manis pula.

Mendengar Siau Po datang dan dipanggil paman guru, si wanita itu lalu tertawa berbarengan sambil mengejeknya.

Melihat nona-nona yang cantik itu hati Siau Po jadi tak menentu, pikirannya melayang-layang dan berhayal jika saja ia dapat menjadikan nona itu sebagai istrinya dia bersedia menukar dengan kedudukannya.

Keempat biksu dan kedua wanita itu heran melihat Siau Po yang terdiam mematung itu.

"Susiok Cou.... Susiok Cou.,.!"

Para biksu itu memanggil-manggil Siau Po. Siau Po tetap saja diam.

"Susiok Cou.... Susiok Cou.,.!"

Panggilnya lagi. Dan masih tetap Siau Po diam saja, hal ini yang membuat biksu dan juga wanita itu menjadi bingung.

"Apakah pendeta cilik ini Susiok Cou kalian?"

Tanya si nona yang mengenakan baju biru.

"Nona harap, nona berbicara dengan sedikit sopan!"

Tegur salah seorang biksu itu pada si nona yang pakaian baju biru.

"Biksu ini berderajat tinggi, Dia juga salah seorang pemimpin kami. Dialah adik seperguruan dari ketua kami yang sekarang memegang tempuk pimpinan pada wihara kami.,.!"

Jawab biksu itu. Lalu si nona yang mengenakan baju hijau tertawa dan berkata pada kawannya.

"Kakak dia mencoba mendustai kita. Dia kira kita dapat percaya begitu saja! Coba pikir biksu semuda ini sudah mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi.,.?"

"Eh, apakah benar kau berderajat tinggi dari Siau Lim Sie?"

Tanyanya dengan suara mengejek. "Pendeta ya tetap pendeta tak usah ditambah dengan kata-kata tinggi. Kau lihat aku, bukankah aku si pendeta kate?"

Kata Siau Po dengan nada merendah. Alis si nona terangkat dan berkata.

"Paman guru kami mengatakan bahwa Siau Lim Sie menjadi pusat ilmu silat sejagat ini. Kami kakak beradik datang ke mari, siapa sangka ilmu silatnya sama saja, Bahkan pendeta-pendetanya tak dapat menjaga mulutnya, Lihat dia, Omongannya sama saja dengan para laki-laki hidung belang yang ada di mana-mana! Hingga membuat orang hilang harapan. Adikku mari kita pulang...!"

Kata si kakak.

"Sie Cue, kau telah datang ke tempat kami dan kau telah melakukan sesuatu yaitu telah memukul orang. Andaikata kau akan pergi sedikitnya kau harus memberitahu nama yang mulya gurumu!"

Siau Po berpikir kalau saja biksu-biksu itu telah tertampar oleh tangan si nona berarti si nona itu memiliki kepandaian yang tidak dapat dianggap enteng."

"Semua pendeta Siau Lim Sie kepandaiannya sangat tinggi, tetapi mereka sekarang kena hajar. itu bertanda kalau kedua nona itu memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi!"

Kata Siau Po dalam hati, Lalu si nona yang berbaju biru itu berkata.

"Dengan ilmu silat yang dimiliki kalian, masihkah kalian menghendaki kami meninggalkan nama besar guru kami? Lalu apakah kalian pantas untuk mengetahui nama besar guru kami?"

"Nona, tugas kami hanya menjemput nona-nona dan tugas itu sudah kami lakukan, Kami diharuskan untuk selalu sopan, sabar, dan ramah. Karenanya mana mungkin kami dapat dengan lancang menyerang nona? jikalau nona-nona ingin menguji ilmu silat kami datanglah atau silahkan nona menanti sebentar Kami akan memanggil beberapa paman guru kami supaya nona dapat bertemu dan berbicara dengan beliau...."

Habis berkata begitu sang biksu lalu membalikkan tubuhnya untuk memanggil beberapa paman gurunya.

Baru saja beberapa langkah, nona itu sudah langsung menyerangnya dan serangan itu berhasil dengan baik.

Ceng Ci gusar dan ia lalu berlompat untuk bangun dan langsung menyerang si nona itu dengan tipu silat.

Nona itu menangkis dengan cepat, lalu ia memutar tangan biksu tersebut.

Tiga biksu itu kaget dan gusar Mereka lalu menyerang si nona dengan serempak.

Tetapi dengan satu gebrakan si nona dapat melumpuhkan ketiga biksu tersebut.

Siau Po kaget sekali, sehingga ia diam saja tahu-tahu ia dikagetkan dengan orang yang telah memukul punggungnya dan tenaganya langsung hiIang, Rupanya ia sudah ditotok jalan darahnya.

Oleh karena itu di depannya terlihat si nona dengan baju biru tengah berdiri, maka Siau Po tahu bahwa orang yang menotok si nona yang berbaju hijau.

Ia menjadi girang sekali, hingga ia berseru.

"Bagus, bagus.,.!"

Ia pikir, tak kecewa orang yang mengakalinnya itu. Ditendang pun ia akan merasa puas lalu ia pun berkata.

"Harum.... Harum.,.!"

Sebab hidungnya mencium bau yang harum! "Ini kepala gundul cilik ini busuk sekali, Adik tebaslah batang hidungnya.,.!"

Kata si nona berbaju biru.

"Baik, lebih dahulu aku akan mengorek kedua biji matanya!"

Siau Po kaget Lalu ia merasakan jari tangan yang lembut merayap ke mata kirinya.

"Perlahan-Iahan mengoreknya, jangan terlalu cepat-cepat!"

Kata Siau Po.

"Kenapa begitu?"

Tanya si nona yang berbaju hijau.

"Sebab lebih baik kau cekik saja, Kau lebih baik cekik saja seperti ini!"

Kata Siau Po.

"Oh, biksu cilik!"

Berseru si nona.

"Jiwamu bakal melayang, kau masih berani bicara gila padaku.,.!"

Siau Po kaget sekali, Mata kanannya terasa nyeri, Terang si nona mengorek matanya itu, Siau Po tidak menjerit tetapi ia tertunduk, ia takut sekali, hingga ia melupakan tipu silat yang diajarkan Hu Jin, Bagaimana cara membebaskan cekalan Iawan.

ia juga membawa tangan Siau Po kebelakang buat mencoba melepaskan diri dari tangan si nona.

Tapi ia telah ditotok jalan darahnya hingga tenaganya sudah tidak ada, Tak berdaya ia melepaskan diri.

"Aduh!"

Demikian ia malah berteriak merasakan nyeri, itu disebabkan si nona menghajar punggungnya.

"Aduh emak.,!"

Ia meronta dengan mencoba menggerakkan kedua tangannya. Tiba-tiba ia menyentuh sesuatu yang lembut! Kiranya itulah buah dada si nona.

"Kurang ajar!"

Berseru nona itu.

Dia menjadi malu berbarengan gusar sekali.

kembali Siau Po menjerit kesakitan, Kali ini si nona menggerakkan kedua tangannya pada kedua tangan Siau Po, membuatnya patah tulang atau salah urat, itulah tipu silat "Leng Yan Kui Cau,"

Artinya walet pulang sarang dari si nona.

"Aduh!"

Siau Po menjerit untuk kesekian kalinya, dan kali ini kakinya terkait sehingga tubuhnya roboh terbanting, ia habis daya bagaimana ia bagaikan benda apa saja waktu tubuhnya itu didupak si nona yang sedang kalap itu.

Karena begitu gusarnya, si nona lalu mengambil golok dan bersiap untuk membunuhnya.

Siau Po menjadi tersentak ia lalu berguling beberapa kali membuat golok itu nyaris mengenai lantai.

Dengan satu tendangan susulan membuat Siau Po terguling ke lantai "Adik jangan bunuh dia!"

Tiba-tiba nona yang berbaju biru itu berseru.

Si nona yang berbaju hijau seperti tak mendengarkan apa-apa terus menghajar tubuh Siau Po.

Tiba-tiba si nona menghajar dua kali, untunglah Siau Po menggunakan pakaian wasiat itu, Melihat Siau Po tidak mati-mati, si nona menjadi kesal.

Crang.-.!

Si nona yang berbaju biru itu lalu menangkis pedang kawannya yang sedang kalap itu dengan pedangnya sendiri hingga senjata mereka beradu dan mengeluarkan suara yang sangat nyaring.

"Pendeta itu tak mungkin dapat hidup dengan lama, dan mari kita menyingkir...!"

Si nona yang berbaju biru itu beranggapan kalau mereka membunuh anggota Siau Lim Sie adalah cara yang kurang baik.

Nona yang berbaju hijau tidak lagi menyerang lebih jauh, sebaliknya ia menangis kemudian mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam pedang untuk membabat leher sendiri.

Lalu nona yang berbaju biru menangkis tangan kawannya yang hendak membunuh dirinya itu, Tetapi tak ayal, golok itu telah mengiris sedikit lehernya dan darah pun menetes.

Nona yang berbaju hijau itu lalu ambruk tak sadarkan diri ia lalu melepaskan pedangnya dan menolong kawannya yang sedang sekarat.

"Amitabha Buddhaf"

Tiba-tiba terdengar suara dari balik si nona yang datang dari arah belakangmu Suara itu sangatlah lembut terdengar.

"la, harus cepat ditolong.-!"

Katanya.

"Dia.... Dia tak tertolong lagi...!"

Kata si nona.

Segera saja si nona menyingkir dan memberikan peluang pada biksu itu, Lalu ia menotok jalan darah pada leher dan di sekitar luka si nona itu.

Orang itu lalu menyobek bajunya dan membalut luka di leher si nona itu.

Dan lalu mengangkat tubuh itu.

Pendeta itu berlari membawa nona itu ke wihara.

Siau Po lalu ke luar dari kolong meja itu dan ternyata kedua tangannya sudah tak dapat digerakkan.

"Ah, si adik itu sangat lihay! ia juga berhati keras? Kenapa dia hendak membunuh dirinya? Bagaimana dia benar-benar mati paling baik aku menghindar dari tempat ini.-.!"

Kata Siau Po dalam hati.

Maka, dengan dahi yang banyak mengeluarkan keringat ia terus mendaki gunung itu.

Tangannya yang patah itu sulit baginya untuk berlari Namun untung saja ada beberapa biksu yang lalu menolongnya.

Tiba di kuil itu ia lalu diobati dan untunglah pada kuil itu terdapat orang yang pandai mengobati luka.

"Meski aku menengok mereka!"

Pikirnya dalam hati. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan delapan orang biksu yang semuanya memegang golok Kay Too. Mereka ternyata bertugas di ruang Kat Lut Ih."

"Susiok Cou diundang Bapak Ketua segera!"

Kata salah seorang biksu yang sebelumnya memberikan hormat pada Siau Po.

"Baik, sekarang aku hendak melihat dahulu kedua nona itu apakah ia dapat ditolong atau tidak?"

Kata Siau Po. Tiba di kamar ia lalu menanyakan tentang nona itu dapat ditolong atau tidak pada biksu yang menjaganya.

"Sekarang Siau Ceng yang menanganinya, dan semoga dapat tertolong jiwanya!"

Kata biksu itu pada Siau Po.

"Semua ini gara-gara biksu cilik itu!"

Kata si nona yang berbaju biru itu.

Siau Po setelah melihat nona itu ia lalu menghadiri undangan dari sang ketua.

Betapa kagetnya Siau Po sesampainya di ruang pertemuan itu.

Ternyata semuanya sudah ada di tempat itu, menjadikan tempat itu semacam akan diadakan sidang umum saja.

"Su Te, silahkan menghormat pada Jie Lay kita!"

Kata Hu Cong. Siau Po lalu menuruti perintah itu.

"Sekarang Su Te, ceritakan duduk perkaranya agar Jie Lay dapat mengetahui duduk persoalannya!"

Katanya pula.

"Aku mendengar ada suara ribut-ribut lalu aku mendekat dan ingin mengetahui apa yang terjadi, Tetapi peristiwa tengah terjadi, aku tak mengetahui sebab-sebabnya, Nah, Ceng Ci sebaiknya kau saja yang menceritakannya!"

Kata Siau Po.

"Baiklah, aku mendengar akan kedatangan nona-nona itu lalu aku menjemputnya. Dan aku menerangkan bahwa di kuil kami tak menerima pengawal wanita, Lalu yang lebih tua itu mengatakan bahwa Siau Lim Sie adalah pusat ilmu silat yang di jaman ini tanpa tanding, maka itu mereka datang untuk mencoba ilmu kita."

"Lalu kami menjelaskan bahwa kami tak berani mengatakan hal yang demikian Dan pun kami menjelaskan bahwa ilmu silat di lain partaipun mempunyai keistimewaan masing-masing!"

Katanya.

"Atas penjelasanku itu Sie Ju tertawa dingin, lalu nona itu berkata, bahwa nama Siau Lim Sie adalah nama kosong dan kepandaian Siau Lim Sie adalah kepandaian kucing kaki tiga yang harus ditertawakan? Lalu kami bertanya mereka berasal dari mana dan siapa nama guru mereka!"

"Kau benar dan ternyata si nona hendak mengacau, dan memandang kita dengan sebelah mata, pasti mereka dari orang yang tak sembarangan. Untuk itu kita memang harus mengetahui nama guru dan dari partai mana mereka berasal!"

Kata Hui Cong.

"Karena pertanyaanku itu ia lalu menampar muka Le Cu dan Ceng Ceng kami tak menyangka akan adanya serangan itu. Lalu Su Te Ceng Ceng bertanya mengapa nona itu begitu kasar, aku jawab itu karena pertanyaanku tentang pertanyaanku itu."

Selesai sidang Siau Po lalu berkata.

"Menurut apa yang aku tahu ilmu silat Siau Lim Pay hanya begini saja. Terbukti dengan beberapa gebrakan saja orang partai kita sudah pada kocar-kacir!"

Katanya.

"Buktinya Ceng Ceng yang sudah belajar lebih dari dua puluh tahun dibuat tak berdaya.,."

Sambungnya.

Mendengar kata-kata itu memang sangat tidak enak didengar tetapi memang itulah kenyataannya.

Mereka lalu pergi ke ruang di mana terdapat nona-nona itu yang sedang dirawat.

Siau Po lalu bertanya pada kakak seperguruannya.

"Apakah ia akan dapat disembuhkan?"

Tanyanya.

"Kelihatannya dia akan dapat disembuhkan...!"

Jawab si biksu.

Si nona yang berbaju hijau itu terbaring dengan mata tertutup dan terlihat seperti pucat.

Lehernya dibalut dengan kain putih dan tangannya sangat bagus.

Hati Siau Po sangat sedih dan hatinya tak tenang melihat tangan si nona yang tergeletak itu Siau Po lalu memegangi tangan itu dan lalu ia berkata.

"Apakah nadinya masih bekerja?"

Tanyanya. Si nona yang satunya, sejak Siau Po masuk ia sudah panas hatinya dan sewaktu Siau Po memegangi tangan itu Siau Po lalu dibentaknya.

"Jangan raba-raba tangan adikku!"

Kata si nona. Mendengarkan hal itu Siau Po lalu menarik tangannya. Teng Koan lalu mengurut tangan si nona itu dan membebaskan totokannya sambil berkata.

"Jurusmu itu jurus tangkapan tangan Kim Na Chiu, dari keluarga Hek Shoasay!"

Katanya.

Melihat itu si nona lalu menarik tangan yang sedang diobati itu dan Teng Koan kembali menyentil tangan nona yang angkuh itu dan kali ini mengarah pada jalan darahnya.

Si nona lalu menyerang dengan tangan kirinya dan kembali tangan itu disentilnya.

Melihat itu si nona lalu mundur beberapa langkah, dan karena penasaran ia lalu menyerang dengan kedua tangannya, Maksudnya agar ia tak dapat menyentilnya.

Melihat itu semua biksu itu tertawa sambil berkata.

"Bagus.... Bagus.,.!"

Katanya.

Selesai berkata si biksu lalu meladeni serangan itu, Anehnya tangan-tangan itu masih dapat ditotoknya meskipun dengan kedua tangannya, Kali ini biksu itu langsung mengarah pada jalan darah si nona yang membuat dia gusar.

"Oh, biksu apakah kau mau mampus!"

Dampratnya.

"Aku masih hidup, Kalau aku mati tak mungkin aku dapat menyentil tanganmu!"

Kata biksu dengan tenang.

"Sekarang kau hidup besok kau akan mati!"

Jawabnya.

"Hai, Nona! Bagaimana kau akan tahu kalau aku akan mati besok apakah kau pandai ilmu nujum..?"

Tanyanya. Nona itu sangat jengkel dan ia tahu kalau orang yang ada dihadapannya itu adalah orang pandai juga.

"Pergi keluar jangan kau ganggu yang sedang sakit itu!"

Pinta si nona.

Sewaktu Teng Koan mengajak Siau Po pergi ia tak mendengarnya karena ia sedang memandang tubuh yang tergeletak itu.

Dan ketika nona yang satu itu mendekati dan langsung menendangnya untuk keluar dari kamar itu Siau Po sangat kaget.

Melihat hal itu Teng Koan lalu mendekati Siau Po yang sedang terjatuh itu dan berkata.

"Siau Susiok, pukulan Nona itu terdiri dari tiga belas jurus dan jika kau tak sudi untuk melayaninya ada enam cara untuk menghindarinya, Kau dapat menyerangnya dengan mengkaitkan tangannya, sambil menyentuh sikunya atau menyentilnya, menotok, dan mencekuk tangannya. Atau kau dapat dengan menendangnya! Semua itu dapat digunakan untuk menghindarinya!"

Karena Siau Po sedang merasakan nyeri maka ia berkata.

"Baru sekarang kau mengatakannya, itu percuma!"

Katanya.

"Susiok benar! Memang Susiok yang salah, coba aku memberitahukannya siang tadi tentulah Susiok tak akan jatuh tersungkur di tanah seperti itu!"

Mendengar kata-kata itu Siau Po lalu berkata.

"Nona-nona yang di dalam itu galak-galak, jika nanti aku bertemu ia di luar pasti nanti aku akan dihajarnya Aku harus dapat menghindar darinya tetapi biksu tua ini tahu ilmu silat nona-nona itu dengan tangannya ternyata dia dapat melumpuhkan nona-nona itu. Agar aku dapat menikah dengan dia aku harus menjadikannya sebagai pengawalku! Tapi ia sudah tua dan kemungkinan dalam beberapa hari lagi ia akan meninggalkan dunia ini. Dan jika biksu ini telah mati apakah aku akan dapat selamat dari ancaman nona-nona ini!"

Tanyanya dalam hati.

"Hanya dengan sentilan tanganmu saja kau dapat menaklukkan nona itu, apakah nama ilmumu itu!"

Tanya Siau Po.

"ltuIah ilmu Tan Cie San Kang, apakah kau tak mengetahui ilmu itu!"

Tanya si biksu.

"Aku tak mengerti Lebih baik kau ajari aku ilmu itu!"

"Asalkan kau perintahkan tak berani aku menolaknya dan ilmu itu tak sukar untuk dipelajari Cukup dengan kita mengetahui jalan darah serta tepat juga sentilan atau totokan itu!"

Kata biksu itu. Mendengar semua itu Siau Po menjadi girang.

"Jika tak sukar untuk dipelajari sebaiknya kau cepat ajari aku tentang ilmu itu!"

"Siau Susiok kau mempelajari Ie Tin Keng sudah sampai mana dan sebaiknya Susiok belajar menyentil terlebih dahulu!"

"Bagaimana aku harus menyentilnya?"

Tanya Siau Po.

Setelah memberi contoh biksu itu meminta Siau Po untuk memperagakannya, Dari hasil percobaan itu biksu dapat mengetahuinya kalau Siau Po belum pernah mempelajari Ie Tin Keng.

Dan ia menyarankan agar Siau Po mempelajari ilmu Ie Tin Keng terlebih dahulu dan barulah ia dapat mempelajari ilmu yang dimintanya.

"Poan Jiak Ciang aku pun tak dapat!"

Katanya.

"ltu tak apa. Mari, kita coba ilmu Cam Hoa Kim Na Ciu!"

Ajak biksu itu pada Siau Po.

"llmu apa itu, aku belum pernah mendengarnya!"

Kata Siau Po. Teng Koan menunjukkan muka yang sangat kecewa karena sulit bagi dia untuk menerangkannya.

"Sekarang, marilah kita mencoba dengan ilmu yang lebih ringan yaitu Kongkong Sin Ciam apakah ilmu itu juga kau tidak tahu?"

Tanya biksu itu. Sang paman menggeleng kepala "Bagaimana kalau kita coba dengan ilmu yang sangat mudah yaitu Polobit Cu?"

Kembali Siau Po menggeleng kepala, Si keponakan murid berbicara terus tetapi tetap saja pamannya menggeleng kepalanya Kewalahan juga ia.

Namun dengan demikian biksu tua itu memiliki seratus kesabaran, ia tak berkecil hati dan berkata.

"Kita kaum Siau Lim Pay pelajaran kita menanjak menurut urutannya dari yang rendah menanjak terus sampai pada yang tinggi, Dengan demikian kita akan mendapatkan tenaga yang sangat dahsyat. Baru nanti ilmu Wieto Ciang, ilmu ini harus dipelajari selama lima tahun dan jika ia cerdas dapat sekalian mempelajari San Hoa Ciang sehingga ia dapat menandingi partai lain,.,!"

Mendengar keterangan itu Siau Po menarik napas berat Dia menjadi sangsi pada dirinya.

"Tadi kau katakan bahwa Tan Cie Sin Kang tak sukar untuk mempelajarinya. Tetapi mengapa aku harus mempelajarinya dari yang paling dasar Harus memakan waktu berapa tahun aku mempelajari ini semua?"

Tanya Siau Po.

"Untuk mendapatkan ilmu-ilmu itu kita memerlukan waktu yang cukup lama!"

Jawabnya. Mendengar jawaban itu Siau Po lalu tertawa, Teng Kong menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata.

"Waktu empat puluh tahun adalah waktu yang sangat cepat, selama seribu tahun, Su Tit yang berhasil mempelajari ilmu menyentil atau menotok itu. Namun tenaga dalamnya masih tergolong biasa saja!"

Kata si biksu menjelaskan pada Siau Po.

Memikirkan hal itu Siau Po menjadi bingung sendiri ia lalu mencari akal bagaimana caranya agar ia dapat mempelajari ilmu itu dalam waktu yang singkat.

Dalam hati Siau Po berkata.

"Aku harus memancing agar ia panas hatinya."

Lalu Siau Po mendapat akal maka ia lalu berkata.

"Kau menjadi ketua poan Cik Tong, jika kau tak mencari jalan untuk mempercepat waktu belajar dan berlatih, apakah kau tak merasa malu pada leluhur Siam Lim Sie, yang telah ribuan tahun Iebih. seandainya kau mati dan bertemu oleh leluhurmu dan kau akan ditanya apa yang telah kau perbuat untuk partai kita? Bagaimana kalau ia mengatakan kalau kau hanya pandai makan dan minum saja. Dan kau tidak memperdulikan apa-apa yang ada di sekitarmu, terutama kau tak memikirkan untuk kemajuan Siau Lim Sie? Apakah kau tak merasa malu?"

Tanya Siau Po pada biksu itu. Mendapat pertanyaan demikian muka biksu itu menjadi merah karena menahan rasa malu.

"Susiok benar, baiklah aku akan mencari cara yang paling cepat untuk dapat menguasai ilmu silat tersebut!"

Katanya. Siau Po merasa senang mendengar jawaban itu.

"Memang jika kau tak berhasil lebih baik kita jangan muncul ke muka umum dan lebih baik kita meminta pada nona itu untuk menjadi ketua di kuil ini. Aku nanti akan meminta padanya diajari ilmu silat agar kita dapat cepat menjadi pandai."

Kata Siau Po memanaskan biksu itu. Ternyata siasat Siau Po berhasil terbukti biksu itu menjadi pucat mukanya dan panas hatinya. Baru saja ia ingin berlalu Siau Po memanggil biksu itu dan mengatakan.

"Tunggu dulu,"

Katanya menahan biksu itu.

"Kau harus dapat merahasiakan terlebih dahulu usaha kita ini jangan langsung kita menyebarkannya. Ingat, lain orang tak boleh ada yang mengetahui rencana kita!"

Pesan Siau Po.

"Mengapa demikian?"

Tanyanya tak mengerti "Orang akan tidak menaruh kepercayaan pada kita, sebab kita belum tentu dapat berhasil.

Bukankah si nona itu masih berada di kuil kita?

Dan hati kita semua belum ada yang tenang!"

Katanya. Teng Koan mengangguk.

"Susiok benar, memang urusan ini untuk kepentingan partai tetapi rahasia tak dapat langsung saja dibuka!"

Besok paginya sewaktu Siau Po bangun dari tidurnya ia lalu pergi ke kamar si nona. ia bertemu dengan biksu yang bertugas merawat si nona yang sedang sakit.

"Selamat pagi, Susiok!"

Demikian biksu itu memberikan hormat pada Siau Po.

"Bagaimana luka si nona apakah ada perkembangan atau mulai membaik?"

Tanya Siau Po pada biksu tua itu.

"Kira-kira tengah malam tadi nona itu siuman, dan setelah diketahui kalau ia berada di kuil kita ia lalu meronta dan meminta saudaranya untuk memapahnya ke luar dari kuil ini. Ketika aku membujuknya ia mengatakan tidak ingin mati di kuil ini!"

Kata si biksu. Siau Po melihat orang itu yang berbicara tak lancar ia lalu menerka kalau si nona sewaktu sadar tadi mungkin ia telah mencarinya.

"Lalu bagaimana...?"

Tanya Siau Po.

"Sutit masih membujuknya, dan ia tampaknya masih penasaran ia dibantu kakaknya keluar dari kuil ini, sia-sia Sutit mencegahnya dan akhirnya dibiarkannya pergi dengan luka-luka itu. Dan aku lalu melaporkan hal itu pada ketua!"

Jawabnya.

Tiba di kamar biksu itu ia mendapatkan si biksu sedang duduk bersila, Di depannya sudah banyak tergeletak buku-buku dan matanya pun cekung, pertanda bahwa semalam ia tak tidur.

Dengan perlahan Siau Po meninggalkan kamar itu sebab ia tak ingin mengganggu konsentrasi biksu itu dan biksu itu pun tidak melihat akan kedatangannya.

Satu bulan sudah berlalu, Pada suatu hari Hui Beng ingin menyegarkan tubuhnya ia lalu melewati kamar Teng Koan, ia sangat heran mengapa akhir-akhir ini Teng Koan sangat kurus dan matanya sangat cekung jika ia berlatih silat hanya sebentar ia melakukannya lalu ia pun terduduk bagaikan orang yang tak bertulang.

Tak ada minat untuk hidup lebih lama juga semangat hidup pun pudar Melihat keadaan itu Hui Beng sangat kasihan.

Demikianlah pada suatu hari ia membawa uang yang cukup banyak, ia ingin sekali bermain judi maka ia lalu pergi turun gunung.

"Sekarang aku akan mencari rumah judi aku akan berjudi dengan sepuas hatiku!"

Katanya dalam hati.

Karena menerka rumah perjudian itu berada dalam gang maka ia lalu pergi ke ganggang yang ada di sekitar kuil itu.

Itulah rumah yang ditujunya itu.

Saking girangnya ia lalu berlari mendekati rumah itu, Tengah ia mendorong pintu itu ia dihadang beberapa orang yang ditugaskan sebagai penjaga.

Siau Po bukanlah anak yang tidak memiliki pengalaman dalam hal seperti itu, ia lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa uang.

"Aku ingin mengalahkan beberapa uangku untuk berjudi sebab tanganku sudah sangat gatal.!"

Kata Siau Po.

"Tapi anak kecil, ini bukan tempat judi! ini tempat orang bermain wanita.,.!"

Kata si penjaga.

"Kau tolong carikan aku pelayan untuk menemaniku minum dan berbicara...!"

Kata Siau Po yang lalu mengeluarkan uang untuk diberikan pada penjaga itu. Pria itu sangat senang sekali ia mendapatkan uang yang begitu banyak dan ia berkali-kali mengucapkan kata terima kasih.

"Terima kasih, Tuan.,.!"

Ucapnya.

"Anak itu pasti anak orang yang sangat kaya, ia lalu mencuri uang ayahnya itu untuk digunakan berpoya-poya, sebaiknya aku meladeni dia agar dapat mengeluarkan uangnya dan aku mendapatkan uang yang banyak!"

Kata Nyonya pemilik rumah itu. Menyambut tamu yang masih muda itu si nyonya lalu tertawa dan ia memperlihatkan para wanita yang ada di sana.

"Kalau kau ingin menemui nona kami terlebih dahulu kau harus membayar uang buka mulut pada-ku!"

Katanya.

"Apakah kau menghina aku karena kau melihat aku masih kecil ini jangan kau lihat aku dari keciInya. Di kampung halamanku aku justru memiliki tempat itu!"

Kata Siau Po dengan penuh semangat "Sekarang kau kumpulkan nona-mu aku akan memilihnya sebagai teman berbicara!"

Kata Siau Po.

Orang yang disuruh mengumpulkan itu lalu pergi dengan memberikan kabar itu pada para wanita itu, Dan dalam waktu yang singkat dia sudah berhasil mengumpulkan orang yang dimaksud itu.

Siau Po sangat senang walaupun tidak ada yang menarik hatinya yang sedang dilanda kekangenan wanita itu.

Lalu Siau Po menarik salah seorang wanita yang akan dijadikannya sebagai teman bicara dan tanpa malu-malu lagi ia mencium wanita-wanita itu.

Sewaktu orang sedang ramai-ramai berbicara dan bercanda maka kamar tersingkap tanpa ada yang mengetahuinya.

"Kedua adik mari aku cium!"

Kata Siau Po tanpa menoleh. Kedua nona itu adalah nona-nona yang diharap oleh Siau Po Siang dan malam. Kedua nya berbaju merah dan hijau.

"Selekas kau meninggalkan desa aku terus mengikuti kau, aku akan mengetahui apa yang akan kau lakukan!"

Kata si nona yang berbaju biru sambil tertawa. Punggung Siau Po mengeluarkan keringat, dan tetapi ia berusaha untuk dapat menguasai diri.

"Nona-nona bagaimana dengan luka-luka yang ada di leher kau apakah itu sudah sembuh?"

Tanya Siau Po.

"Kami berdua kakak beradik setiap hari kami selalu mengikutimu dari kejauhan aku berniat akan menghukum mati kau, Aku akan membalas sakit hati adikku dan ternyata Tuhan telah mencabut nyawamu melalui diriku!"

Siau Po mengeluh dalam hati yang sedang berhadapan dengan gadis-gadis cantik itu.

"Sebenarnya aku tak terlalu bersalah terhadapmu karena saat itu aku tak bermaksud menyentuhnya, Apakah itu aku bersalah.,.?"

Tanya Siau Po pada gadis-gadis itu. Mendengar jawaban itu si nona yang menggunakan baju biru timbul murkanya.

"Apa kau bilang?"

Tegurnya dengan bengis.

"Ah, maaf Nona! Tadinya aku menyangka nona-nona dari tempat ini aku mengaku bersalah!"

Kata-nya.

"Ah, Kakak mengapa kau berbicara terus dengan manusia seperti dia. Dialah si kepala gundul yang jahat, Untuk itu hukumannya ia harus mati.!"

Kata nona yang berbaju hijau.

Gadis itu lalu menebaskan pedangnya diarahkan pada Siau Po dengan sangat cepat.

Siau Po menjerit sambil menunduk Dan tak ayal lagi topinya habis terbabat dan terlihatlah kepala yang gundul.

Yang hadir di situ kaget dan semuanya pada berlarian "Pembunuhan....

Pembunuhan...!"

Demikian teriak mereka. Siau Po lalu bersembunyi pada orang yang dituju sebagai tukang pukul dan ia berkata.

"Eh, ini rumah hina siapa yang masuk ke tempat ini berarti ia seorang pelacur Hayo, kamu berdua pergi dari sini kalau kau tidak mau apa yang dikatakan orang-orang itu!"

Katanya. Nona-nona itu lalu mempermainkan senjatanya karena ia tak berani membacok orang yang ada di sana.

"Kamu masih belum mau juga pergi. Apakah kau ingin membukakan bajuku atau kau ingin membukakan celanaku.,.?"

Tanya Siau Po.

Kedua nona itu menjadi gusar ia khawatir jika orang itu benar-benar membuka baju dan celananya.

Dan kedua nona itu lalu berlarian keluar, hingga hampir saja menubruk orang yang ada di sana.

Hati Siau Po menjadi agak aman tetapi ia masih merasakan kekhawatirannya itu.

ia khawatir nona itu menungguinya di luar.

"Kamu semua jangan berisik, kalian jangan ada yang takut aku akan membagikan padamu uang...!"

Kata Siau Po pada wanita itu.

"Lekas kau pergi membeli seekor kuda dan kau tunggu aku di sana, Nanti aku akan pergi segera!"

Kata Siau Po setelah itu ia pun menyerahkan uangnya untuk membeli kuda.

"lni uang dua puluh tail untukmu dan kau buka pakaianmu aku akan menggunakan pakaianmu untuk pulang.,.!"

Pinta Siau Po.

"Mereka itu adalah istri dan gundikku dan mereka yang mencukur rambutku hingga aku sampai begini, Dan ia pun melarang aku untuk pergi ke tempat seperti ini.,.!"

Jawab Siau Po pada mereka.

"Oh, begitu!"

Jawab mereka, Ternyata keterangan Siau Po dapat dipercaya, lalu ada juga yang tertawa mendengar istri yang menggunduli kepala suaminya.

Siau Po berdandan dengan cepat hal itu membuat nona-nona yang ada di sana semuanya tertawa, maka mereka membantu Siau Po menggunakan bedak.

"Tuan, kuda sudah tersedia, hanya tuan harus berhati-hati sebab istri dan gundik tuan menjaga di sana!"

Kata orang yang disuruh membeli kuda itu.

"Celaka, dasar wanita-wanita galak!"

Kata Siau Po dalam hati.

Sebelum keluar Siau Po mengatur siasatnya.

Bahkan mereka lalu diminta mengalihkan perhatian si nona sedangkan yang lainnya menerobos ke luar bersama dengan dia.

Si nona yang berbaju biru melihat kejadian itu lalu ia mengejar tetapi di gang itu penuh sesak dengan nona yang menggunakan kesempatan itu untuk kabur, Lalu ia berteriak akan menyingkirkan nona-nona itu.

"Hay harimau betina, jantanmu sudah menunggang kuda dan kabur! Mana kau dapat mengejarnya.,.!"

Ejek yang lainnya. Nona itu gusar dan hampir saja mengamuk dengan golok yang sudah siap mencari darah. Ternyata nona-nona itu tak menyerang mereka, hanya mengomel.

"Hay perempuan jahat, perempuan galak!"

Katanya. Sebelum sampai ke kuil Siau Po terlebih dahulu membersihkan diri lalu ia memasuki kuil itu. Diam-diam Siau Po masuk lewat pintu samping.

"Jika mereka datang dan mengatakan hal itu pada pendeta aku akan menyangkaInya...!"

Katanya dalam hati. Sampai malam tiba ia tidak menemui si nona yang tadi mengejarnya dan keesokannya ia kembali memikirkan nona yang menggunakan baju biru.

"Bagaimana aku dapat melihatnya barang satu kali saja!"

Katanya dalam hati.

"Susiok Cau, selama beberapa hari ini jangan ke luar Karena suasana di sana sangat tidak enak.,.!"

Kata seorang biksu.

"Ada kejadian apa di luar sana!"

Tanya Siau Po.

"Tadi tukang masak memberitahukan aku sewaktu ia pergi ke pintu belakang, ia melihat nona-nona itu membawa golok dan menanyakan tentang dirimu padanya!"

Kata si biksu.

"Mereka menanyakan apakah dia mengenalmu, biasanya ia pergi jam berapa dan ke mana perginya? Aku melihat mereka itu mempunyai maksud jahat pada mu. Asalkan kau tak pergi ke luar pasti mereka tak berani masuk ke mari!"

Katanya. Siau Po menggaruk-garuk kepalanya.

"Benar, benar dia wanita jahat."

Katanya.

"Memang ketika tukang masak itu berkata, dia tidak mengenalmu, dia lalu menghajarnya hingga tukang masak itu luka-luka, dia pun berkata jika ia menceritakan hal ini pada yang lain ia akan memotong lidahnya, Sungguh gila dia beraninya datang pada Siau Lim Sie. Memangnya mereka memakan nyali harimau?"

Tanyanya.

"Memang, kita orang-orang Siau Lim Sie tak berani padanya, Terbukti kita semua tak berani keluar dari kuil ini."

Kata Siau Po.

Biksu itu menjelaskan bahwa dalam hidup kita harus berdamai dan hal itu sudah dilaporkan pada ketua pendeta kuil itu.

Mendengar penjelasan itu, Siau Po menganggukkan kepalanya, ia menunggu agar orang yang ada di hadapannya itu berlalu, sebab ia pikir lebih baik aku menemui Teng Koan untuk membicarakan hal itu kepadanya.

Sesampainya Siau Po ke kamar Teng Koan, ia mendapatkan biksu itu sedang berjalan bolak-balik sambil mulutnya tidak mau diam.

Melihat hal itu, Siau Po tak ingin mengganggunya.

ia menunggu, tetapi sudah lama biksu itu masih seperti itu.

Siau Po pura-pura terbatuk karena kedatangannya tak dihiraukan oleh biksu itu.

Hingga habis kesabarannya dan lalu mendekati biksu itu.

Namun biksu itu masih tetap diam saja.

Siau Po lalu menepuk punggung biksu itu, tetapi biksu itu malah terpental ke dinding hingga ia terduduk.

Siau Po sangat kaget, begitu juga biksu itu.

"Oh Susiok, Sutit bersalah, Sutit akan menerima hukuman dari mu. Aku harus mati..."

Kata Teng Koan.

"Silahkan bangun, jangan pakai adat segala! Aku yang bersalah, bukan kau!"

Kata Siau Po setelah hatinya mendapatkan ketenangan. Teng Koan tetap berlutut dan tak henti-hentinya minta maaf.

"Ilmu apa yang kau gunakan hingga kau berakibat seburuk ini?"

Tanya Siau Po.

"Inilah ilmu Hu Tie Sin Kang dari Poan Ciak Ciang yaitu ilmu membela diri."

Jawab si biksu. "Bagaimana apakah kau sudah berhasil mencari jalan untuk dapat belajar lebih cepat?"

Tanyanya.

"Aku sudah memikirkannya, tetapi tanpa kita mempelajari dari awal, tak mungkin dapat aku menurunkan ilmu yang kau maksud."

Kata Teng Koan penuh kecewa.

"Kita harus memerlukan waktu yang cukup lama kira-kira tiga puluh tahun atau lebih."

Lanjutnya.

"Dan itu pun aku masih khawatir, takut itu masih belum cukup."

Jawabnya.

"Baiklah kau tunggu saja, nanti aku akan memikirkan cara yang mudah. Aku akan mencoba dengan ilmu -..\vi dari Ci?ii Ciu Kim Na Ciu."

Kata si biksu untuk memberikan semangat. Siau Po lalu berpikir, biksu itu tentunya telah bekerja dengan keras.

"Loo Su Tit kedua orang itu berusia sangat muda tetapi mereka telah mendapatkan ilmu silat yang cukup tinggi!"

Katanya.

"Orang lain dapat melakukan pelajaran dengan tidak mengikuti aturan urutan ilmu silat."

Kata Siau Po.

"Karena itu mengapa kita harus mati-matian menuruti aturan, Dan mereka pun tak mempunyai aturan juga namun ilmu silat mereka itu menjadi tangguh dan itu terbukti bahwa kita tak berani ke luar menghadapinya."

Teng Koan tersentak kaget mendengar ucapan itu.

"Belajar silat tanpa pokok dasar, itu sama saja dengan ilmu silat yang sesat Peng Bun Co To..."

Jawab si biksu itu.

"Kedua nona itu bukannya Peng Bun Co To, mereka dari Bu Bun Buto, maka itu menghadapi mereka kita dapat menggunakan ilmu silat yang serupa."

Kata Siau Po.

"Aku tak mengerti Bu Bun Bu To.,."

Katanya, Siau Po tertawa.

"Jika kau tak mengerti, baiklah akan kuajarkan pada kau tentang ilmu itu."

Kata Siau Po. Teng Koan memberi hormat.

"Silahkan Susiok mengajari aku!"

Katanya, Biar bagaimana biksu itu akan mencoba ilmu paman gurunya yang tidak mengetahui ilmu tenaga dalam.

"Bukankah kau katakan ilmu silat itu dari partai Kun Ley Pay atau Ngo Bay Pay? Bukankah ilmu kepandaian mereka itu dari ilmu campuran? Jadi kalau ilmu itu dipadu dengan ilmu Siau Lim Pay kita, yang mana lebih lihay?"

Tanya biksu itu.

"Mungkin dari pihak kita yang lebih lihay atau sedikitnya kita ada kelemahan."

Kata biksu.

"Kalau demikian mudah, berarti tidak membutuhkan tenaga dalam, kita gunakan saja salah satu jurus kita dan kita akan menang."

Teng Koan merapatkan alis matanya.

"Tanpa dasar tenaga dalam semua jurus itu tak ada gunanya. Kalau kita menghadapi lawan yang tangguh mudah saja kita dirobohkan olehnya, hingga tulang bisa patah dan otot bisa putus."

Kata biksu. Siau Po tertawa.

"Habis kedua nona itu apakah sempurna tenaga dalam mereka?"

"Tidak ..."

"Habis apa yang membuat kau khawatir?"

"Perbedaan ilmu silat kita dengan yang lain, pada ilmu silat kita terdapat beraneka ragam, dan banyak jurusnya, jumlah semua macam itu ada seribu, Karena itu meskipun tak membutuhkan tenaga, tetapi kita masih membutuhkan waktu yang lama."

Kata Teng Koan. --Hwesio tua ini benar-benar kukuh dan kolot pendiriannya, --Kata Siau Po dalam hati, Kemudian dia tertawa dan berkata.

"Untuk apa kita harus mempelajari semua ini? Cukup asal kita tahu apa kepandaian nona itu, lalu dengan jalan yang sama kita menghadapinya, seperti serdadu datang, perwira menghadang, Air datang, tanggul menampung. Kalau nona itu mengerahkan sebuah jurus, kau gunakan sejurus lainnya, Pasti dia akan lari terbirit-birit."

Teng Koan menganggukkan kepalanya berkali-kaIi, pikirannya mulai terbuka.

"Bukankah kau mengatakan nona itu menggunakan jurus "Kang Ho Jit Hi"

Dari Lau San Pai?

Tentang hal itu, kau mengatakan ada enam atau tujuh cara untuk memecahkannya, Untuk apa repot-repot?

Yang utama, kau harus mengerti satu jurus saja untuk memecahkan ilmunya itu.

Yang lainnya tidak perlu kau pusingkan."

Kata Siau Po kembali. Tampaknya Teng Koan gembira sekali mendengar usul itu. "Benar!"

Serunya.

Ketika si nona mematahkan tangan-tangan Susiok serta Ceng Ci berempat, dia menggunakan jurus Hun Kin Co Kut Hoat.

Jurus itu merupakan jurus campuran dari enam partai persilatan.

Memang kita bisa menggunakan salah satu saja untuk memecahkannya.

Begitu?

Teng Kong langsung memasang kuda-kuda, kaki dan tangannya digerakkan.

Pertama-tama dia menjalankan jurus si nona, kemudian menjalankan jurus pemecahannya, semuanya dilakukan dengan baik agar Siau Po dapat melihat dengan tegas.

Siau Po sendiri merasa kagum terhadap daya ingat si hwesio.

Setelah selesai, Teng Koan mengulanginya sekali lagi, Kemudian dia menyuruh Siau Po mencoba menjalankannya.

Siau Po mencoba, tapi dia mendapat kesulitan untuk mengingat semuanya dengan baik, Dia merasa pelajaran itu terlalu rumit.

Karena itu dia minta cara pemecahan yang lebih sederhana.

Teng Koan menurut, dia menunjukkan beberapa jurus ilmu yang dapat memecahkan pukulan si nona, Asal si bocah tanggung itu menggelengkan kepalanya, dia segera menggantikannya dengan yang lain.

Demikianlah sampai berulang kali, akhirnya sang paman guru mengerti juga beberapa jurus tipu untuk memecahkan "Hun Kin Co Kut Hoat"

Kedua nona tersebut seandainya si nona menyerangnya kembali dengan jurus yang sama, pasti dia dapat menghadapinya bahkan menggagalkan serangan itu.

Teng Koan juga merasa kagum terhadap kecerdasan si paman guru kecil yang dapat belajar dengan cepat itu.

Jurus-jurus itu memang tidak sama dengan Tan Ci Sin Kang, tapi lumayanlah untuk digunakan menghadapi nona-nona itu.

Ketika keduanya sedang bergembira, tiba-tiba si hwesio menarik nafas panjang dan berkata.

"Sayang! Sayang!"

Siau Po merasa heran, dia memperhatikan keponakan muridnya lekat-lekat.

"Berbahaya! Sungguh berbahaya!"

Kembali Teng Koan menggumam seorang diri, dia juga menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apanya yang sayang?"

Tanya Siau Po.

"Apanya yang berbahaya?"

"Begini, Susiok."

Sahut si hwesio tua.

"Seandainya Susiok beserta Ceng Ci berlima menghadapi si nona lagi, bagaimana kalau Susiok ternyata berhasil dikalahkannya bahkan mendapat luka yang lebih parah dan cacad untuk seumur hidup? Bukankah hal itu harus disayangkan? Andaikata kedua nona itu berwatak kejam dan membunuh Susiok sekalian, bukankah hal itu berbahaya sekali?"

"Mengapa kita harus menghadapi mereka dengan berbarengan?"

Tanya Siau Po.

"Untuk menguji kedua nona itu,"

Sahut Teng Koan.

"Siapa tahu mereka masih memiliki ilmu lain yang lebih lihay. Aku yakin kepandaian mereka bukan hanya beberapa jurus itu saja, Kalau Susiok berlima tidak dapat memecahkan jurus mereka yang lainnya, bukankah berbahaya sekali? Sebaliknya, kalau Susiok hanya menghadapi mereka seorang diri, mana mungkin kita bisa tahu ilmu mereka yang lainnya?"

Mendengar keterangan itu, Siau Po tertawa.

"Kalau itu yang menjadi kekhawatiran sutit, masih ada jalan untuk menghindarinya,"

Katanya.

"Kau sendiri saja yang melawannya, dengan demikian, bukankah tidak ada hal yang perlu disayangkan atau membahayakan keselamatanku?"

Bagian 44 Teng Koan tertegun, Tampaknya dia merasa serba salah.

"Aku seorang yang sudah menyucikan diri sehingga tidak boleh mengeluh maupun gusar."

Sahutnya.

"Mana mungkin tanpa sebab musabab aku bertarung dengan kedua nona itu? perbuatan demikian sungguh tidak pantas!"

"Ada jalannya untuk itu, jangan khawatir"

Kata Siau Po.

"Begini, kita pergi ke luar kuil. Syukur kalau kedua Li sicu itu sudah pergi, jadi kita bisa berpegang pada semboyan.

"Orang tidak mengganggu kita, kita pun tidak boleh mengganggu orang lain."

Dengan demikian, perduli amat berapa banyak pun jurus yang mereka kuasai, kita toh tidak perlu menghadapi mereka."

"Benar! Benar!"

Kata si hwesio.

"Tapi, biasanya... sutit tidak pernah ke luar kuil, sekarang sulit harus ke luar dengan niat menimbulkan keonaran pula, ini sungguh tidak layak, Sama artinya kita mengandung niat buruk." "Kita juga tidak perlu ke luar sampai jauh-jauh,"

Kata Siau Po. Dia berusaha membujuk keponakan muridnya itu.

"Kita berjalan-jalan di sekitar kuil saja, Lebih bagus lagi kalau kita tidak bertemu dengan mereka."

Teng Koan segera memuji sang Buddha.

"ltu memang yang paling baik dan paling bagus."

Sahutnya.

"Kalau Susiok berniat melakukan sesuatu hal yang mengandung kebaikan, suka sekali sutit menirunya."

Di dalam hatinya Siau Po tertawa, Kena hwesio tua ini diakalinya.

"Mari!"

Ajaknya kemudian Dia mencekal tangan hwesio itu dan menariknya, Mereka meninggalkan Poan Jian Tong kemudian ke luar dari pintu samping sehingga sekejap saja mereka sudah berada di luar kuil.

Teng Koan belum pernah ke luar dari kuil itu, karena itu dia menjadi kagum sekali, Dia melihat banyak sekali pohon cemara yang daunnya hijau segar pemandangannya juga indah sekali.

"Aneh sekali pohon-pohon cemara itu bisa tumbuh menjadi satu."

Katanya.

"Di dalam halaman Poan JianTong hanya ada dua batang."

Baru selesai ucapan si hwesio, dari arah belakangnya sudah terdengar suara yang halus dan nyaring.

"Di sini rupanya si bangsat gundul!"

Menyusul itu, terlihat sesosok bayangan berkelebatan, disertai dengan membiasnya cahaya putih dari sebatang golok yang meluncur ke arah Siau Po.

"Inilah jurus Beng Hou Hi San dari ilmu Ngo Hou Toan Bun To!"

Seru si hwesio yang merasa terkejut juga heran.

Tetapi dia tetap cukup gesit untuk melihat gerakan tangan orang yang menyerang itu sehingga dia tahu itulah jurus yang dinamakan "Macan turun gunung" , Dia langsung mengangkat tangannya untuk menyambut serangan tersebut dengan jurus Cian Kim Na Jiu.

Tetapi mendadak dia menarik tangannya kembali dan berkata.

"Aih, tidak boleh!"

Dia merasa perlawanannya itu kurang sopan.

Ternyata penyerang itu si nona berbaju biru, Dia melihat Teng Koan menarik kembali serangannya, segera memutar goloknya untuk ditebaskan ke pinggang Teng Koan.

Bertepatan dengan itu, si nona berbaju hijau melompat ke luar dari sela-sela pepohonan dan terus menyerang Siau Po dengan satu bacokan.

Siau Po sempat menghindarkan diri, dan langsung berlari ke belakang Teng Koan untuk menyembunyikan diri.

Si nona menjadi penasaran Dia maju dan menebas lagi, Karena Siau Po terhalang, goloknya jadi mengincar bahu kiri si hwesio tua.

Teng Koan sempat melihat datangnya serangan itu.

"inilah jurus Thay Kek To!"

Serunya.

"Serangan ini dapat dielakkan dengan jurus yang sederhana saja!"

Dia langsung mengelakkan tubuhnya sehingga terbebas dari ancaman bacokan. Kedua nona itu maju kembali Kali ini Teng Koan berkaok-kaok semakin keras.

"Susiok, hebat, hebat sekali!"

Katanya.

"Gerakan kedua Li sicu ini terlalu cepat sehingga aku tidak sempat memikirkan jurus pemecahannya, Karena itu, cepat kau minta kedua nona ini jangan bersikap terlalu keras!"

Panas hatinya si nona berbaju biru, Beberapa kali serangannya mengalami kegagalan, sekarang dia mendengar ucapan si hwesio itu yang dianggapnya sebagai ejekan, Hatinya semakin panas, dia menyerang lebih hebat lagi.

Siau Po berada di tempat yang aman, dia tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan suara lantang.

"Eh, nona-nona sekalian! Keponakan muridku ini menyuruh kalian jangan menyerang terlalu keras. sebaiknya kalian tidak perlu terburu-buru. Perlahan-lahan saja!"

"lya, iya!"

Sambung Teng Koan.

"lya, jangan terlalu keras, otakku ini kurang cerdas, dalam waktu yang sesingkat ini aku tidak dapat menemukan jurus untuk memecahkan serangan kalian!"

Si nona berbaju hijau gusar sekali terhadap Siau Po.

Karena itu, setelah beberapa kali gagal menyerang si hwesio tua, dia mulai menyerang si hwesio muda.

Melihat keadaan itu, Teng Koan segera menggerakkan tangan kirinya untuk menangkis.

"Jangan, Li sicu!"

Teriaknya.

"Paman guruku ini belum pernah belajar ilmu silat, Kau jangan membacoknya."

Si nona semakin kesal Dia memperhebat serangannya.

"Jangan, Li sicu!"

Teriak Teng Koan kembali.

"sebaiknya kau tunggu sampai dia sudah mempelajarinya dan sanggup melayanimu, baru kau boleh membacoknya! Aih, Susiok! Semua jurusku tidak ada hasilnya, Tidak ada satu pun yang dapat kugunakan dengan baik, Karena itu, nanti saja kita mempelajarinya perlahan-lahan!"

Walaupun mulutnya berkoar-koar, tangan si hwesio tua tetap bergerak untuk menyingkirkan bahaya yang mengancam Siau Po.

Dan perbuatannya itu selalu membuahkan hasil sehingga kedua nona itu bagai terkurung oleh tangkisannya dan tidak sanggup mendekati Siau Po.

Kalau tadinya Siau Po merasa khawatir, sekarang dia dapat tertawa-tawa, Dia melihat dirinya sudah tidak terancam bahaya lagi.

Kedua nona itu tidak berdaya menghadapi keponakan muridnya yang demikian polos serta jujur sehingga mirip dengan orang tolol.

"Ha ha ha ha!"

Dia terus tertawa sambil memperhatikan si nona berbaju hijau yang menarik perhatiannya itu, Dia dapat menontoni kecantikan si nona dengan leluasa sebab sekarang dia sudah berhasil menyembunyikan diri di balik sebatang pohon yang besar.

Si baju hijau mengira hwesio muda itu sudah melarikan diri.

Tetapi suatu kali, ketika dia menolehkan kepalanya, dia sempat melihat sinar mata pemuda itu sehingga hatinya semakin kesal.

Dia segera meninggalkan Teng Koan dan menerjang ke arah orang yang dibencinya itu.

Sedangkan pada saat itu, Teng Koan sedang meluncurkan tangannya, Dia tidak menyangka nona itu akan meninggalkan dengan cara mendadak seperti itu, Tanpa ampun lagi, jari tangannya langsung menyentuh sasarannya yakni iga si gadis berbaju hijau.

"Aduh!"

Jerit si nona yang langsung rubuh di atas tanah.

"Oh!"

Seru si hwesio tua terkejut "Maaf, maaf!

sebenarnya totokanku ini, Ciau Ci Thian Lam tidak terlalu hebat dan membahayakan Asal nona menangkisnya dengan jurus Ok Hou Lan Lou dari Ngo Hou Toan Bun to, kau sudah bisa menghadapinya, Si nona berbaju biru tadi sudah melakukannya, aku kira kau juga bisa, tidak tahunya...

maaf!

Maaf!"

Sementara itu, hati si baju biru semakin gusar.

Kembaii dia menyerang hwesio tua itu, Tetapi dia tidak berdaya, seranganserangannya selalu mengalami kegagalan.

Ketika kedua orang itu bertarung, tidak lebih tepat dikatakan seorang menyerang, lainnya menangkis, Siau Po pun ke luar dari tempat persembunyiannya, Dia menghampiri si nona berbaju hijau.

"Nona cantik seperti kau ini, di dalam dunia ini pasti hanya ada satu."

Katanya.

"Kau benar-benar membuat semangatku terbang sampai ke luar angkasa."

Si pemuda tanggung yang nakal ini pun mengulurkan tangannya untuk mengelus-elus pipi si nona yang putih dan halus.

Nona itu dalam keadaan sadar, namun tidak berdaya, Karena itu, dia menjadi gusar sekaligus mendongkol Setelah menatap Siau Po dengan mata mendelik, tiba-tiba dia jatuh tidak sadarkan diri.

"Aih!"

Seru Siau Po. Dia terkejut setengah mati, tapi sesaat kemudian dia tahu nona itu hanya pingsan, sehingga dia tidak merasa khawatir lagi. Lalu dia menoleh kepada Teng Koan dan berkata dengan nyaring.

"Sutit Teng Koan, cepat kau kemari! Nona ini telah tertotok olehmu, sebaiknya kau tanyakan saja kepadanya agar dia dapat menjelaskan kepadamu jurus-jurus yang dikuasainya, Kita harus hidup rukun, tidak boleh bermusuhan dengan sesama kita"

Teng Koan merasa ragu-ragu, dia tidak langsung menjawab permintaan Susioknya.

Sementara itu, hati si nona berbaju biru semakin gusar, Tapi dia tidak berdaya, Tampaknya dia juga khawatir akan dirobohkan seperti rekannya, Apabila itu sampai terjadi, pasti mereka kehilangan akal.

Karenanya, dia hendak menyingkir dulu, Dia pikir kawannya itu tidak mungkin dicelakai itulah sebabnya dia langsung berkata dengan suara lantang.

"Jangan kau celakai adikku! Awas kalau kalian ganggu selembar rambutnya pun, Kalau tidak, aku akan membakar seluruh Siau Lim Sie ini sampai ludes rata dengan tanah!"

Berkata demikian, si nona mencelat untuk menyingkir dari Teng Koan.

Teng Koan dapat mendengar setiap patah kata si nona dengan jelas, dia sampai tertegun karena ancaman nona itu hebat sekali.

"Sebetulnya, mana berani aku mengganggu nona ini?"

Katanya.

"Tapi bagaimana kalau rambutnya rontok sendiri satu lembar saja? Apakah kau tetap akan membakar kuilku?"

Nona itu melompat lebih jauh lagi, kemudian dia mendamprat "Bangsat gundul tua, lidahmu tajam juga! Dan kau, bangsat gundul cilik...."

Hampir saja si nona menggunakan kata-kata yang kotor, tapi untung saja dia insaf, karena itu dia membatalkan nya dan lari memasuki hutan.

Siau Po hanya melihat saja nona itu pergi, kemudian dia menoleh kembali kepada si gadis berbaju hijau yang masih terkulai di atas tanah, Dia memperhatikan wajahnya yang cantik dan tangannya yang indah, dia seakan melihat Dewi Kuan Im sehingga untuk sesaat dia terpana.

Pada saat itu, Teng Koan sudah mengham-pirinya.

"Li sicu, kakakmu sudah pergi,"

Katanya kepada si nona berbaju hijau.

"Sebaiknya kau juga pergi saja, jaga rambutmu agar jangan sampai rontok selembar juga, Kakakmu tadi sudah mengancam akan membakar ludes kuil kami."

Sementara itu, Siau Po berkata dalam hati.

-Ini merupakan kesempatan yang baik, aku tidak boleh menghilangkannya, Si cantik sudah terjatuh ke dalam tanganku, dia tidak boleh dibiarkan lolos, Biar bagaimana, aku tidak boleh membebaskannya, -Membawa pikiran demikian, paman guru ini menoleh kepada Teng Koan, Dia merangkapkan sepasang tangannya dan memuji "Amitabha!

Kita telah dilindungi oleh Nya!

ilmu Siau Lim Sie akan maju pesat, Namanya yang sudah harum akan terus berlangsung sampai ribuan tahun, Sutit, kau benar-benar seorang menteri setia dari partai kita!"

Teng Koan menatap si paman guru, Dia merasa heran.

"Eh, Susiok,"

Katanya.

"Mengapa kau berkata demikian?"

Siau Po segera menjalankan siasatnya.

"Sebenarnya pikiran kita sekarang sedang kusut memikirkan ilmu silat kedua nona ini,"

Katanya.

"Di lain pihak, kita masih belum tahu apakah mereka masih memiliki ilmuilmu lainnya? Karena itu, syukurlah Sang Buddha kita sangat welas asih sehingga kedua nona ini seperti sengaja dikirim ke mari agar mereka dapat memperlihatkan kepandaiannya, Sekarang, sutit, sebaiknya kita cepat-cepat pulang."

Sembari berkata, dia tidak menunggu jawaban Teng Koan, Siau Po langsung membungkukkan tubuhnya untuk memondong tubuh si nona.

Teng Koan menjadi bingung, Dia merasa perbuatannya kurang tepat, tapi semuanya telah terjadi Apa lagi yang dapat dilakukannya?

Tetapi dia tetap berkata.

"Tidak pantas rasanya kita minta Li sicu ini masuk ke dalam kuil kita."

"Untuk apa membicarakan soal pantas atau tidak?"

Kata Siau Po.

"Bukankah dia sudah pernah masuk sebelumnya? Ketika dia datang, apakah Hong Tio tidak mengetahuinya? Bukankah kepala bagian Kay Lut Ih juga mengetahuinya? Bukankah Hong Tio dan kepala Kay Lut Ih juga tidak mengatakan apa-apa? Karena itu, perbuatan kita ini tidak bisa dikatakan kurang pantas, bukan?"

Teng Koan menganggukkan kepalanya, Dia kalah bicara sehingga dia diam saja dan berjalan mengikuti paman gurunya itu dari belakang.

Siau Po cerdik sekali Dia segera membuka bajunya untuk membungkus si nona.

Setelah itu dia menggendongnya ke dalam, jalan yang diambil tetap pintu samping jalan mereka ke luar tadi.

Siau Po berjalan sambil menundukkan kepalanya.

Tampaknya otak si pemuda tanggung itu sedang berputar keras.

Sebetulnya hati Siau Po sedang berdebar-debar.

Dia takut perbuatan mereka akan kepergok oleh yang lainnya, Memang si nona sudah dibungkus rapat-rapat dengan jubahnya, tapi apabila bertemu dengan hwesio lainnya, mereka pasti curiga.

Dia tidak mengharapkan hal itu sampai terjadi Dia berjalan dengan cepat.

Hatinya cemas sekaligus senang, sekarang dia dapat menggendong si nona cantik.

Setibanya di dalam Poan Jian Tong, ada hwesio Cip Su ceng yang menyambutnya.

Dia melihat ketuanya itu dan memberi hormat tapi tidak menanyakan apa-apa.

Sampai di dalam kamar Teng Koan, si nona masih belum sadar juga, sementara itu, tangan Siau Po basah oleh keringat dingin karena kekhawatirannya.

"Bagus!"

Serunya sambil menarik nafas lega. "Apakah nona ini akan ditempatkan dalam kamarku?"

Tanya Teng Koan ragu-ragu.

"Benar!"

Sahut Siau Po.

"lni kan bukan untuk pertama kalinya dia ada dalam kuil kita, Ketika yang pertama kali, lehernya terluka dan ia ditempatkan di kamar sebelah timur, bukan?"

Sang keponakan murid itu menganggukkan kepalanya.

"Tapi waktu itu dia sedang terluka, kita harus mengobatinya untuk menyelamatkan jiwanya. Karena itu... kita harus memberikan kelonggaran kepada nya."

"Urusan ini mudah."

Kata Siau Po kembali Dia langsung mengeluarkan pisau belatinya yang tajam.

"Cukup asal kita tikam dia satu kali supaya jiwanya terancam bahaya lagi Dengan demikian, dia akan mendapatkan kelonggaran untuk berdiam di sini."

Selesai berkata, Siau Po langsung menghampiri si nona, Dia mengangkat tangannya yang menggenggam pisau belati itu seakan siap ditikamkan.

"Ja... ngan!"

Cegah Teng Koan.

"Ti., dak perlu kita melakukan hal itu."

"Tapi,"

Kata Siau Po.

"Seperti yang kau katakan tadi, tanpa terluka, tidak leluasa dia ditempatkan di sini Bagaimana kalau hal ini diketahui oleh Hong Tio dan Teng Cit suheng? Bukankah kita akan disalahkan nanti? Aku rasa, sebaiknya kita tikam atau bacok dia beberapa kali agar ia terluka. Yang penting jiwanya tidak terancam bahaya kematian Kau toh tahu kalau pisauku ini tajam sekaIi...."

Mendadak Siau Po menebas ujung meja sehingga gompal.

"Ja... ngan... jangan kau lukai dia!"

Seru Teng Koan yang hatinya lemah.

"Lalu bagaimana?"

Tanya Siau Po.

"Melukainya tidak boleh, membiarkannya di sini pun tidak boleh!"

"Akan kuatur!"

Kata Teng Koan.

"Kalau begitu, baik."

Sahut Siau Po.

"Kuserahkan saja kepadamu. Bagiku, yang penting, tidak ada orang yang tahu tentang kehadiran nona ini. Kita juga akan membebaskannya setelah dia menjelaskan semua jurus silatnya kepada kita, agar kau dapat memecahkannya, Kita akan keluarkan dia secara diam-diam Kalau tidak sebaiknya dia dilukai saja...."

"Jangan khawatir,"

Kata Teng Koan.

"Nanti aku akan menyimpan rahasia."

Teng Koan sudah tua, tetapi terpaksa dia harus menunduk kepada paman gurunya yang jauh lebih muda, Dia kalah cerdik, Dia juga berpikir urusan ini tidak akan bocor kalau dia menuruti apa yang dikatakan oleh paman gurunya.

Siau Po segera berkata kembali "Li sicu ini wataknya keras kepala, Kau dengar sendiri, dia hendak merebut kedudukan Poan Jiak tong.

Oleh karena itu, aku harus dapat membujuknya baik-baik."

Si hwesio tua ini memang aneh, mendengar ucapan paman gurunya, dia malah berkata.

"Kalau memang dia mau menjadi ketua di sini, biarkan saja...."

Siau Po tertegun Tidak disangka hwesio ini demikian polos dan baik hati.

"Dia kan bukan hwesio di sini?"

Katanya kemudian "Kalau dia berhasil merebut kedudukan ketua Poan Jik Tong, kemana muka kita kaum Siau Lim Sie harus ditaruh?

Tidak bisa!

Lagipula, kalau kau mengijinkannya, malah kau telah berbuat dosa besar terhadap Siau Lim Sie."

Berkata demikian, Siau Po menunjukkan wajah bersungguh-sungguh. sikapnya menjadi penuh wibawa, Keponakan muridnya sampai terkejut melihatnya.

"Iya... iya.,."

Katanya ketakutan. Siau Po segera berkata kembali.

"Sebentar kalau si nona sudah siuman, aku akan menasehatinya, Ketika itu mungkin dia akan gusar dan menyerang aku. Sebagai pendeta, bukankah kita harus bermurah hati terhadap sesamanya? Kalau dia bersikap kasar, mana boleh aku membunuhnya atau melukainya bukan?"

Teng Koan menganggukkan kepalanya.

"Benar, benar."

Katanya.

"Kita harus mengasihi sesamanya, itu memang tujuan suci Sang Buddha kita."

Siau Po pun ikut mengangguk.

"Sekarang begini,"

Katanya.

"Kau ajari dulu aku beberapa jurus ilmu Kim Na Jiu. Dengan demikian, kalau dia menyerang aku, aku bisa menolong diriku sendiri atau menotok jalan darahnya agar tidak bisa melukai aku, Dengan demikian, di dalam ruangan Poan Jiak tong ini tidak akan terjadi pertumpahan darah. Kalau hal ini sampai terjadi, celakalah Siau Lim Sie. Apa kata orang apabila seorang gadis muda berhasil menghajar seorang hwesio angkatan Hui dari Siau Lim Sie? Bukankah itu merupakan hal yang buruk sekali? Sebaliknya, juga merupakan hal yang buruk kalau seorang hwesio Siau Lim Sie sembarangan menghajar seorang nona, bukan?"

"Benar."

Sahut Teng Koan yang kembali menganggukkan kepalanya.

Tapi dia masih sempat ragu-ragu sejenak, kemudian baru mengajarkan tiga jurus ilmunya itu.

Siau Po belajar dengan bersungguh-sungguh.

Sementara itu, tampak tubuh si nona berbaju hijau mulai bergerak-gerak sedikit Siau Po sempat melihatnya dan dia tahu nona itu mulai mendusin, Karena itu, dia segera menutupi wajah si gadis dengan jubahnya, Setelah itu dia kembali berlatih, Dia tidak mau si nona melihatnya dalam keadaan berlatih.

Dalam mempelajari ketiga jurus tersebut, Siau Po mengalami sedikit kesulitan, sebab dia mempunyai kelemahan yakni belum pernah mempelajari ilmu tenaga dalam.

Untunglah, tenaga dalam si nona juga belum terlalu berarti.

Karena itu, dia dapat mengimbangi si nona, itulah sebabnya dia harus menghapal ketiga jurus itu baik-baik.

Ada baiknya selama dalam istana, Hay Kong Kong pernah mengajarinya ilmu Kim Na Jiu tersebut dan dia pun sering berlatih dengan raja cilik.

Karena itu, sekarang ini dia belum terlalu membutuhkan tenaga dalam.

"Mari kita coba!"

Ajak Siau Po setelah merasa sudah hafal, Dia mengajak Teng Koan berlatih dengannya.

"llmu itu tidak bisa kau coba atas diriku, Susiok,"

Kata Teng Koan.

"Kau tidak mengerti tenaga dalam, Kalau kau coba atas diriku, mungkin kau sendiri yang akan terpental mundur atau roboh, dan kemungkinan lenganmu bisa.,, bisa.,.,"

Siau Po tertawa.

"Lenganku bisa patah?"

Tanyanya. Teng Koan menganggukkan kepalanya.

"Kira-kira begituIah,"

Sahutnya. Tentu saja sutit tidak berani berbuat demikian."

Siau Po tersenyum.

"Baiklah."

Katanya.

"Sekarang silahkan kau ke luar dulu, Si. nona sudah siuman, Aku ingin menasehatinya...."

"lya,"

Sahut Teng Koan yang langsung memberi hormat kepada paman gurunya kemudian pergi ke luar lalu merapatkan pintunya kembali.

Siau Po langsung menyingkapkan jubah yang digunakannya untuk menutupi wajah si nona, Gadis itu bermaksud membuka mulutnya memaki, tapi hal itu dibatalkannya karena dia melihat pisau belati yang tajam mengancam di depan hidungnya, muIutnya yang mungil hanya sanggup melongo saja.

Siau Po tertawa.

"Nona kecil,"

Katanya.

"Kalau kau menurut kepadaku, tidak mungkin aku mengganggumu walaupun hanya seujung rambut saja, Sebaliknya, kalau terpaksa, aku akan menebas hidungmu setelah itu aku baru membebaskanmu dan mengusirmu dari kuil ini. Siapa yang sudah kehilangan hidungnya, dia hanya dapat mencium bau yang busuk. Tentunya kau tidak ingin hal ini sampai terjadi, bukan?"

Nona itu gusar sekali, Dia juga merasa mendongkol Namun dia tetap membungkam. wajahnya tampak pucat pasi seakan tidak mengandung darah setitik pun.

"Nah, apakah kau mau mendengar perkataanku ?"

Tanya Siau Po.

"Lekas kau bunuh saja aku!"

Teriak si nona dalam murkanya. Siau Po menarik nafas daIam-daIam.

"Kau begini cantik sehingga mirip dengan bunga dan rembulan, Mana mungkin aku tega membunuhmu?"

Katanya.

"Tapi kalau aku melepaskanmu, tentu siang dan malam aku akan memikirkanmu, Mungkin aku akan mati tercekam perasaan rinduku padamu, Bukankah hal itu buruk sekali dan bertentangan dengan kehendak Thian Yang Maha Kuasa?"

Dari pucat, wajah si nona berubah menjadi merah. Namun sekejap kemudian berubah lagi, Tapi dia tetap membungkam. Siau Po menatap wajah si gadis lekat-lekat.

"Ada satu jalan,"

Katanya kemudian.

"Kalau aku menebas putus hidungmu, tentu wajahmu tidak akan cantik lagi dan aku pun tidak akan merindukanmu pula."

Nona itu memejamkan matanya rapat-rapat. tapi dari sela bulu matanya tampak air mata mengucur dengan deras, melihat keadaan itu, hati Siau Po jadi lemas. "Jangan menangis!"

Katanya.

"Asal kau mau mendengarkan kata-kataku, aku lebih suka memotong hidungku sendiri ketimbang melukaimu Bolehkah aku mengetahui namamu?"

Nona itu menggelengkan kepalanya. Air matanya masih terus mengalir.

"Oh, rupanya kau bernama Yau Tau Miau (Kucing yang menggelengkan kepalanya)."

Kata Siau Po.

"Tapi nama itu kurang enak didengar.,,."

Nona itu membuka matanya dan menatap Siau Po dengan pandangan tajam.

"Siapa yang mengatakan aku bernama Yau Tau Miau?"

Katanya sengit, Dia masih menangis sesenggukan.

"Kaulah si Yau Tau Miau."

Mendengar kata-kata si nona, hati Siau Po justru girang sekali, Selain dapat mendengar suaranya yang merdu, berarti dia juga sudah berhasil memancing si nona membuka mulutnya, Dia langsung tertawa lebar.

"Baik, baik!"

Katanya.

"Akulah si Yau Tau Miau. Lalu, bagaimana aku harus memanggilmu?"

Kembali si nona menggelengkan kepalanya dengan air mata masih bercucuran.

"Aku tidak akan memberitahukannya kepadamu "

Bentaknya.

"Kalau kau tidak mau memberitahukannya, terpaksa aku harus mencari nama untukmu."

Kata Siau Po.

"Mungkin sebaiknya aku memanggilmu Apa Miau (Si kucing gagu)."

"Ngaco!"

Bentak si nona kembali.

"Aku toh tidak gagu."

Siau Po memperhatikan si gadis dengan seksama, Dia mendapat kenyataan Meskipun sedang gusar atau menangis, wajahnya tetap cantik dan menarik.

"Oh, nona yang baik!"

Katanya.

"Siapakah she dan namamu yang mulia?"

"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak sudi memberitahukannya kepadamu."

Teriak si nona.

"Aku tidak mau bicara."

"Jangan begitu, nona manis."

Kata Siau Po yang tidak memperdulikan kemarahan si nona.

"Sebenarnya ada yang hendak ku bicarakan denganmu, Kalau kau tidak mempunyai she atau pun nama, bukankah pembicaraan kita menjadi canggung? Kalau kau tetap tidak mau mengatakannya, baiklah, Aku terpaksa mencarikan nama untukmu, Oh, nama apa ya kira-kira yang indah dan enak didengar?"

"Tidak! Tidak!"

Teriak si nona.

"Aku tidak mau!"

"Oh, ada."

Kata Siau Po. Dia memang jahil dan tidak memperdulikan protes orang.

"Sebaiknya aku panggil kau Wi-bun Yau Si."

Nona itu tertegun.

"Aneh!"

Sahutnya.

"Aku toh bukan dari keluarga Wi."

Wi-bun Yau Si artinya si tukang menggeleng kepala dari keluarga Wi. Kembali Siau Po menatap si nona, Kali ini dia berkata dengan serius.

"Raja langit di atas, Ratu bumi di bawah, dengan ini aku berjanji apa pun yang akan terjadi, baik di atas gunung golok, atau pun dalam kuali minyak, atau dihukum mati seluruh keluarga, biar bagaimana pun aku harus mengambil kau sebagai istriku, Iya, tidak boleh tidak!"

Nona itu terkejut setengah mati, Dia sampai terpaku, Sumpah itu hebat sekali, Dan kata-kata Siau Po yang terakhir membuatnya mendongkol.

"Cis!"

Dia meludah dan wajahnya menjadi merah padam Siau Po juga mendelikkan matanya seraya berkata dengan nada ngotot.

"Aku she Wi."

Katanya.

"Karena kau telah ditakdirkan menjadi jodohku, maka kau pun terhitung kelurga Wi. Aku tidak tahu siapa she dan namamu karena kau hanya menggelengkan kepala kalau ditanya, itulah sebabnya aku memanggilmu Wi-bun Yau Si."

Nona itu memejamkan matanya.

"Kau gila."

Katanya sengit.

"Di dalam dunia ini, aku belum pernah mendengar seorang hwesio berbicara dengan kata-kata seperti itu. Kau mengoceh yang tidak-tidak, Kau toh orang yang sudah menyucikan diri, mengapa kau selalu bicara tentang pernikahan? Apakah kau tidak takut mendapat hukuman dari Pou Sat yang Agung? Kalau kau mati, pasti kau akan dimasukkan ke dalam neraka yang ada delapan belas lapisannya."

Siau Po merangkapkan sepasang tangannya dan menjatuhkan diri berlutut.

Si nona mendengar suara seakan ada orang yang menggabruk terjatuh, Dia merasa heran, karenanya dia membuka mata, Dia melihat Siau Po sedang berlutut menghadap ke jendela dan kemudian dia mendengar si bocah berkata.

"Buddha kami, Ji Lay Hud, Koan Si Im Pou Sat, Giok Hong Tayte, Bun Cu Pou Sat, Pou Hian Pou Sat, keempat Kim Kong Agung, Hakim Giam Ong, para hantu kecil Bu Siang, mohon dengarkan! Aku Wi Siau Po harus menikahi nona ini, tidak boleh tidak, Meskipun aku harus dimasukkan ke dalam neraka delapan belas lapis, dipotong hidungku, digorok leherku, dicabut lidahku, atau tidak dapat menitis lagi untuk laksaan kali, aku tidak perduli semua itu. Di masa hidup, tidak ada hal apa pun yang aku takuti, kalau sudah mati juga sama saja, pokoknya, aku harus mengambil nona ini menjadi istriku."

Tiba-tiba saja timbul perasaan takut dalam hati si nona, karena dia melihat Siau Po demikian bersungguh-sungguh, bukan bergurau atau bermain -main lagi seperti sebelumnya.

"Sudah, sudah!"

Katanya beruIang-uIang, Kemudian dia menambahkan dengan nada penasaran.

"Kau boleh bunuh aku, Kau boleh hajar aku setiap hari, Pendek kata, walaupun aku harus mati penasaran aku tetap tidak sudi menikah denganmu."

Siau Po berdiri.

"Baiklah."

Kata Siau Po.

"Tidak apa-apa kalau kau menolak sekarang, Bagiku, sekarang atau pun delapan puluh tahun kemudian, sama saja, Aku tetap akan menikahimu Kalau sampai akhirnya aku tetap tidak berhasil mengambil kau menjadi istri, aku akan mati penasaran, mataku tidak bisa terpejamkan."

"Aih! Kau benar-benar celaka!"

Seru si nona.

"Mengapa kau menghina aku sedemikian rupa? Lihat saja! Pasti ada kesempatan bagiku untuk membunuhmu Iya, aku akan membunuhmu terlebih dahulu, kemudian aku baru membunuh diri."

"BoIeh saja kau membunuh aku."

Sahut Siau Po seenaknya.

"ltu yang dinamakan istri membunuh suami, Kau tahu, kalau aku tidak menjadi suamimu aku tidak akan mati dengan cara demikian."

Ketika mengucapkan kata-katanya yang terakhir, suara Siau Po agak bergetar dan urat-urat di dahinya menonjol.

Si nona menjadi ketakutan, cepat-cepat dia memejamkan matanya dan tidak berani melihat lagi.

Siau Po maju menghampirinya beberapa tindak, Tiba-tiba dia merasa tubuhnya menjadi lemas, kaki dan tangannya gemetar MuIutnya dibuka seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang sanggup diucapkannya, suaranya lebih mirip dengan rintihan binatang.

Dia mengulurkan kedua tangannya seprti hendak menyentuh si nona, matanya menatap tajam.

Nona itu semakin takut melihat tampang Siau Po.

Tanpa sadar dia menjerit perlahan.

Siau Po sendiri kelihatannya juga terkejut Dia menyurut mundur dua tindak, kemudian terkulai di atas tanah, tapi pikirannya masih sadar.

--Ketika berada dalam istana, aku sering menyebut Pui Ie dan Kiam Peng sebagai istriku.

Ketika itu hatiku bangga sekali dan aku selalu tertawa senang, Rasanya aku bebas dan leluasa sekali, Aku bisa memeluk mereka bahkan mencium mereka kalau aku mau.

Tapi wanita ini, aneh sekali.,., Bukankah dia dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya?

Mengapa aku merasa jeri terhadapnya?

Mengapa aku merasa sungkan?

Sampai-sampai tangannya pun tidak berani kusentuh.

Sungguh gila!

--, demikian pikirnya dalam hati, Tanpa sadar dia menjerit "Edan!"

Nona itu heran mendengar suara Siau Po sehingga dia membuka matanya dan menatap dengan tajam. Wajah Siau Po menjadi merah padam saking jengahnya.

"Aku memaki diriku sendiri yang seperti hantu cilik tanpa nyali, Aku bukan mencaci engkau.,,."

"Nyalimu kecil, aku justru merasa nyalimu terlalu besar sehingga kau selalu lancang melakukan hal apa pun tanpa dipikirkan lagi. Kalau orang seperti engkau dikatakan bernyali kecil, maka langit bisa ambruk dan terjadi gempa bumi yang dahsyat"

Mendengar kata-katanya, tiba-tiba Siau Po berjingkrak bangun.

"Baik."

Teriaknya.

"Aku memang bernyali besar Aku akan membuktikannya dengan membuka pakaianmu sehingga kau menjadi telanjang bulat."

Nona itu terkejut setengah mati, Hampir saja dia semaput mendengar ucapan Siau Po.

Kembali Siau Po menghampirinya, Dia menatap gadis itu lekat-lekat dan melihat sinar matanya yang mengandung kekhawatiran serta ketakutan.

"Sudahlah! Sudahlah!"

Katanya kemudian.

"Biar jadi apa pun, aku suka mengalah terhadapmu"

Dia batal mewujudkan ancamannya, Malah dia berkata dengan nada sabar.

"Seumur hidup, aku paling takut istri, karena itu, sebaiknya aku bebaskan saja kau...."

Nona itu memperhatikan dengan tajam, Hilang sudah rasa takutnya, yang tertinggal hanya rasa marah.

"Kau,., kau...."

Ketika di kota, apa saja yang kau bicarakan dengan para wanita busuk itu?

Bukankah kau mengatakan bahwa kau dan kakakku orang-orang entah apamu?

Bukankah kau hendak menawan aku dan membawaku pulang ke rumahmu?

Kau benar-benar manusia busuk!"

Siau Po tertawa terbahak-bahak.

"Segala wanita busuk itu, apakah yang mereka ketahui?"

Katanya.

"Kelak kalau aku sudah menikah denganmu, biarpun laksaan pelacur itu berbaris di hadapanku, tidak akan aku Wi Siau Po meliriknya walau sekilas pun. pokoknya sepanjang hari, selama dua puluh empat jam, aku hanya memperhatikan kau seorang yang aku sayangi."

Nona itu tampak cemas kembali.

"Lagi-Iagi... kau memanggiI... aku sebagai istri."

Teriaknya marah.

"Untuk selamalamanya aku tidak sudi berbicara lagi denganmu."

Siau Po malah senang mendengar kata-katanya.

"Baik, baik!"

Katanya cepat.

"Aku tidak akan menyebutnya lagi, Aku hanya akan mengingatnya saja dalam hati."

"Di dalam hati sekali pun aku larang kau menyebutnya."

Kata si nona. Si bocah iseng jadi tertawa.

"Kalau aku menyebutkan dalam hati, mana kau bisa tahu?"

"Mengapa aku tidak tahu? Dari mimik wajahmu yang luar biasa anehnya itu saja, aku pasti bisa mengetahuinya."

"Tentang wajahku ini, asalnya memang sudah begini. Mungkin ketika baru dilahirkan saja, aku sudah tahu kelak akan menikah denganmu."

Sahut Siau Po sambil tersenyum cengengesan. Nona itu memejamkan matanya kembali Tidak sudi dia melayani Siau Po berbicara lebih jauh.

"Eh, aku toh tidak memanggilmu istriku lagi?"

Kata Siau Po.

"Mengapa kau malah membungkam?"

"Huh kau masih berani menyangkal"

Teriak si nona.

"Baru saja kau mengatakan kau sudah mengetahui kelak akan,., ah! Pokoknya kau tahu sendiri apa yang telah aku katakan."

"Baik, baik!"

Kata si bocah iseng.

"Aku tidak akan menyebutnya lagi, Aku hanya ingin mengatakan bahwa kelak aku akan menjadi suamimu."

Nona itu gusar seka!i.

Tetapi dia tidak memberikan komentar apa-apa.

Bahkan selanjutnya, apa pun yang dikatakan Siau Po untuk menggodanya, ia tetap membungkam.

Kewalahan juga si pemuda iseng itu, pernah terlintas dalam benaknya untuk berkata "Kalau kau tetap membungkam, aku akan mencium pipimu yang halus."

Tetapi kemudian dia mengurungkan pikiran itu. Dia menarik nafas panjang dan berkata dengan nada perlahan.

"Aku hanya ingin mengetahui nama dan she mu. Setelah itu aku akan membebaskanmu."

"Kau bohong."

Kata si nona.

"Kau hanya ingin memperdayai aku."

"Di kolong langit ini, Semua orang dapat aku tipu, tapi engkau tidak."

Sahut Siau Po.

"Kata-kataku ini ibarat pepatah "Sekali diucapkan, seekor kuda pun sukar mengejarnya."

Malah kalau istriku yang manis tidak sudi bicara, jangan kata kuda mati, kuda hidup pun sulit menyusulnya."

Kata-kata yang diucapkan Siau Po memang selalu aneh-aneh, pepatah apa pun yang pernah didengarnya selalu diubahnya seenaknya sendiri Dan si nona pun menjadi tertegun karenanya.

"Apa artinya kuda mati sukar mengejarnya dan kuda hidup pun sulit menyusulnya?"

"Itulah ujaran yang diajarkan pihak Siau Lim Pay kami,"

Sahut Siau Po.

"Pokoknya aku tidak mendustaimu, Coba kau bayangkan saja, satu-satunya pikiran yang ada dalam hatiku ini hanya mengharap cucumu kelak akan memanggil kakek kepadaku Kalau hari ini aku membohongimu, mungkin anakmu saja tidak mau memanggil aku sebagai ayah, apalagi cucumu."

MuIa-mula si nona bingung mendengar ucapan Siau Po yang aneh itu.

Namun akhirnya dia sadar, pulang pergi, Siau Po tetap menyebutnya sebagai istri.

Hanya dia menyatakannya dengan cara yang tidak langsung saja.

"Aku juga tidak berharap kau membebaskan aku, kau sudah mempermalukan aku sedemikian rupa, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi, Kalau kau memang bersedia berbuat kebaikan, bunuh saja aku."

Siau Po memperhatikan batang leher.

di sana ada tanda merah bekas luka senjata tajam, Dia jadi tidak enak hati, Karena itu, dia langsung menjauhkan dirinya berlutut dan menyembah sebanyak empat kali di hadapan si nona, Setiap kali dahinya sampai membentur lantai.

"Maaf, nona!"

Katanya.

"Aku telah memperlakukan engkau dengan buruk."

Tidak cukup hanya dengan berlutut serta menganggukkan kepalanya, Siau Po malah menampar pipi kiri dan kanannya sendiri berulang kali sehingga terdengar suara yang keras dan kedua belah pipinya menjadi merah serta bengap.

"Jangan bersusah hati, nona!"

Katanya kemudian.

"Aku memang anak yang kurang ajar, aku patut dihajar"

Selesai berkata, Siau Po berdiri, Kemudian dia pergi ke ambang pintu dan berkata dengan lantang.

"Eh, keponakan muridku, aku ingin membebaskan totokan nona ini, ToIong kau katakan jalan darah mana yang harus ku totok!"

Sejak tadi Teng Koan memang terus berdiri menunggu di depan pintu, Dia memiliki tenaga dalam yang hebat Meskipun Siau Po dan si nona selalu bicara dengan perlahan, tapi dia dapat mendengar semuanya dengan jelas, karena itu dia percaya paman gurunya itu memang pandai membujuk si nona.

Bahkan kemungkinan paman guru yang kecil itu masih mempunyai kepandaian lain yang kelak akan berharga baginya, Ketika mendengar pertanyaan Siau Po, dia segera menjawab.

"Nona itu tertotok pada jalan darah Thian Ki di kakinya,"

Sahutnya cepat "Karena itu kau harus menotok dua jalan darah di pahanya, yakni jalan darah Ki bun dan Hiat Hay. Asal kedua jalan darah itu diurut, nona itu akan segera terbebas dari totokannya."

"Di mana letaknya kedua jalan darah Ki Bun dan Hiat Hay?"

Tanyanya.

"Di sini,"

Sahut Teng Koan sambil menunjukkan jalan darah yang dimaksud sekaligus mengajarkan cara mengurutnya.

"Susiok tidak mengerti ilmu totokan, usaha Susiok itu akan berjalan lambat, tapi asal kau mengurutnya perlahan, nanti jalan darah nona itu pasti akan bebas juga."

Siau Po mengangguk, kemudian dia kembali ke dalam kamar.

"Tidak perlu kau membebaskan jalan darahku,"

Kata si nona yang dapat mendengar jelas penjelasan Teng Koan tadi.

"Aku larang kau menyentuh tubuhku."

Terang si nona tidak sudi dirinya disentuh oleh Siau Po, meskipun hanya bagian kakinya saja.

Siau Po pikir memang kurang pantas kalau dia menyentuh bagian kaki si nona apalagi mengurutnya, Dia yakin, meskipun tujuannya baik, nona itu tetap akan mencurigainya dan menganggapnya ceriwis .

--Akan tetapi, dia perlu dibebaskan, --, pikirnya kemudian --Aku juga tidak boleh kehilangan kesempatan yang baik ini, tapi si nona ini berhati keras, Aku ingin membebaskannya, tapi bagaimana kalau setelah bebas, dia membenarkan kepalanya ke dinding?

Aku tentu tidak dapat mencegahnya.

Dengan demikian, hilang pula keturunan anak serta cucuku!

-"Kecuali dengan urutan, apakah ada cara lain?"

Tanyanya kemudian kepada Teng Koan.

"Banyak jalannya,"

Sahut hwesio yang ditanya.

"Umpamanya dengan kibasan lengan baju untuk menotok dari jarak jauh, Tapi Susiok tidak mengerti ilmu Tan Ci Sin Kang, tentu sulit melakukannya, Coba tunggu sebentar, Sutit akan memikirkan cara yang lainnya lagi...."

Sebenarnya, asal dia sendiri yang mengibaskan lengan bajunya dan menotoknya dari jauh, tentu totokan nona itu akan terbebaskan Tapi hwesio yang satu ini memang aneh, sedangkan paman gurunya terus mendesaknya, Dia merasa merupakan kewajiban baginya untuk menjawab pertanyaan paman gurunya itu.

Sedangkan kalau paman gurunya itu harus belajar ilmu menotok dulu, Mungkin akan memerlukan waktu satu tahun baru cukup mahir menggunakan nya.

Siau Po memperhatikan keponakan muridnya, dia heran sekali, Teng Koan berdiam diri cukup lama untuk berpikir Karena itu, dia menggunakan kesempatan itu untuk menatap si nona.

Dia merasa aneh mengapa dia harus merasa segan terhadap gadis yang satu ini.

Kening nona itu tampak berkerut, tampaknya dia sedang merasa sedih, wajahnya mendatangkan perasaan haru serta kasihan Dengan membawa kayu Bok Gi (Biasa digunakan untuk membaca doa sambil diketuk-ketukkan), Siau Po menghampiri nona itu dan berkata.

"Rupanya pada penitisan yang terdahulu, aku Wi Siau Po pernah berhutang budi kepadamu, mungkin itulah sebabnya aku menjadi penakut di depanmu, sekarang aku ingin menyatakan bahwa aku takluk kepadamu, Aku ingin membebaskan totokanmu, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak berniat mengambil keuntungan darimu dalam hal ini."

Sembari berkata, dia membuka jubahnya untuk digunakan sebagai penutup kaki si nona lalu, mengetuknya perlahan-lahan sebanyak beberapa kali.

Nona itu menatap Siau Po dengan tajam, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

"Bagaimana?"

Tanya Siau Po setelah mengetuk-ngetuk.

"Apakah sudah ada rasa nya ?"

Si nona tidak menjawab pertanyaan Siau Po. Dia malah memakinya.

"Kau.,, kau... hanya pandai menggunakan kata-kata busuk seperti buaya darat."

Dampratnya.

"Hal lainnya kau tidak sanggup sama sekali."

Mendongkol juga hati Siau Po mendengar makian si nona, Dia tidak mengerti tenaga dalam Meskipun totokannya sudah tepat, tapi hasilnya tidak berupa kenyataan itulah sebabnya si nona mengejeknya, dia mengira Siau Po hanya pandai membual Dalam keadaan sengit, Siau Po menotok lagi beberapa kali dengan keras.

"Aduh!"

Jerit si nona.

"Aduh!"

"Kenapa?"

Tanya Siau Po kaget.

"Sakit?"

"Aku... aku.,."

Kata nona itu terus berdiam diri lagi.

Siau Po menotoknya kembali Kali ini perlahan-lahan.

Tampak tubuh si nona bergerak sedikit, seperti orang yang menggigil kedinginan.

Melihat hal itu, senang sekali hati Siau Po.

"Bagus!"

Serunya.

"Berhasil! Siau Lim Pay memiliki tujuh puluh dua macam ilmu yang istimewa, tapi dengan ditambahnya ilmu totokanku ini, jumlahnya menjadi tujuh puluh tiga macam, ilmu ini merupakan ciptaan Hui Beng Sian Su dan dinamakan Bok Gi Tui Kay Hiat Sui Kang (Totokan dengan kayu Bok gi sehingga bebas merdeka) "

Hmm!"

Puas sekali hati si anak muda sehingga dia mengeluarkan kata-katanya barusan, Tepat pada saat itulah dia merasa pinggangnya sakit lalu tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi sehingga dia hanya berdiri terpaku.

Sebaliknya si nona sudah berjingkrak bangun, Setelah itu dia merampas pisau belati dari tangan Siau Po lalu digerakkannya ke arah dada si anak muda.

Bukan main terkejutnya hati Siau Po melihat keadaan itu.

"Aduh!"

Jeritnya.

"Kau membunuh suamimu!"

Dan dia roboh terkulai di atas tanah. Nona itu menjejakkan kakinya dan melompat ke ambang pintu.

"Li sicu!"

Teriak Teng Koan yang sempat melihat dan mendengar semuanya dengan jelas.

"Kau membunuh paman guruku?"

Nona itu tidak memberi kesempatan kepada hwesio itu untuk menghadang atau menghalangi jalannya, Baru saja Teng Koan bermaksud menghadangnya, dia sudah menyerangnya dengan gencar Golok Liu Yap To yang ada di tangan kirinya sudah dipindahkan ke tangan kanan.

Teng Koan menghindarkan diri, dia menangkis dengan kibasan lengan bajunya, Nona itu langsung merasa kakinya menjadi lemas kemudian roboh di atas lantai.

Teng Koan sendiri langsung menghambur ke dalam kamar untuk melihat keadaan paman gurunya.

Ternyata pisau belati Siau Po sendiri sudah menancap di dada kanan si anak muda, Tanpa menunda waktu lagi, dia segera melancarkan beberapa totokan untuk menghentikan pendarahannya.

"Terima kasih kepada Sang Buddha!"

Puji hwesio itu sambil mencabut pisau belati tersebut.

Darah pun bermuncratan seketika dari luka Siau Po.

untung tidak terlalu banyak karena jalan darahnya sudah ditutup oleh Teng Koan.

Hwesio itu langsung membuka pakaian si anak muda, Diperiksanya luka Siau Po yang tidak seberapa Iebar, sedangkan dalamnya hanya satu dim.

Kembali dia mengucapkan puji syukurnya, Siau Po mengenakan baju mustika, seandainya pisau belatinya itu tidak tajam sekali, tentu dia tidak akan terluka, itulah sebabnya mengapa dia tidak tertuka parah hanya darahnya mengalir dan sakit saja, Tapi dia menyangka jiwanya masih terancam bahaya sehingga kembali dia berkoar-koar.

"Mencoba membunuh suami sendiri! Mencoba membunuh suami sendiri! Aduh!"

Si nona rebah tidak berdaya, air matanya sudah mengalir dengan deras membasahi pipinya.

"Hwesio tua, aku telah membunuhnya."

Kata-nya.

"Cepatlah kau bunuh aku untuk membalaskan sakit hatinya agar aku dapat menggantikan selembar jiwanya."

"Aih. Li sicu!"

Kata Teng Koan, Dia merasa menyesal sekali atas kejadian itu sehingga dia menarik nafas panjang.

"Paman guruku ini baik sekali hatinya, Dia ingin menolongmu, tapi kau tidak menyadarinya, kau telah tersesat, mengapa kau membunuh orang? Oh, kau sungguh keterlaluan!"

"Aku... aku akan mati...."

Terdengar suara keluhan Siau Po.

"Ah! Dia tega sekali membunuh suaminya sendiri."

Teng Koan terkejut setengah mati, Tapi dia segera tersadar Cepat-cepat dia lari ke luar untuk mengambil obat dan sekejap kemudian dia sudah mengobati luka pamannya itu.

"Jangan khawatir, Susiok!"

Kata nya.

"Kau bermurah hati, Dari bahaya kau akan memperoleh keselamatan Buddha kami bermata tajam, tidak mungkin kau dibiarkan mati muda."

Siau Po menarik nafas panjang.

"Kau... kau lepaskan dia!"

Katanya seperti mengucapkan pesan terakhir "Dia sangat membenci aku, benci sampai mati."

"Bebaskan dia?"

Tanya Teng Koan heran.

"Tapi, bagaimana kalau luka Susiok sukar disembuhkan atau sampai menutup mata?"

Siau Po sangat cerdas, mendadak dia mendapat pikiran baru.

"Kesinikan telingamu!"

Katanya perlahan sembari memberi isyarat, lalu dia menjerit.

"Aduh! Mati aku! Mati aku!"

Teng Koan menghampiri paman gurunya sampai dekat sekali untuk memasang telinganya.

"Kau bebaskan dia!"

Kata Siau Po dengan berbisik "Tapi jangan biarkan dia ke luar dari kamar ini. Kau harus berhadapan dengannya sampai ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, baru... baru.,.,"

"Baru bagaimana?"

Tanya Teng Koan.

"Baru,., baru,.."

Sahut si paman guru yang merasa tenaganya menjadi lemah sekali dan nafasnya kembang kempis.

"Kau turuti saja pesanku, Cepat!"

Melihat keadaan sang paman guru yang demikian mendesak, meskipun Teng Koan masih belum mengerti sepenuhnya maksud si bocah, tapi dia toh menuruti pesan nya.

Dia segera menoleh kepada si nona dan dengan sekali kibasan lengan baju dia membebaskan totokan nona itu.

Sementara itu, si nona berpikir keras, Dia melihat Siau Po berkasak-kusuk dengan si hwesio tua.

Dia menerka, di saat menjelang kematian, anak muda itu pasti akan menggunakan akal busuk untuk menghadapinya, Kalau tidak mengapa dia dibebaskan Dia ingin melompat bangun tapi ternyata tidak ada kemampuan nya.

Dia hanya bergerak satu kali kemudian roboh kembali Hal ini karena darahnya belum dapat berjalan dengan lancar.

Teng Koan menatap si gadis dengan mulut berkomat-kamit membaca doa.

Nona itu takut sekali jadinya.

"Lekas kau pukul aku saja sampai mati!"

Katanya takut tapi nekat "Menyiksa orang dengan cara demikian bukanlah perbuatan orang gagah."

Kembali Teng Koan mengucapkan pujiannya.

"Paman guruku mengatakan bahwa sekarang bukan saatnya untuk melepaskan kau pergi."

Katanya.

"Dengan demikian, aku pun tidak boleh mem-bunuhmu."

Nona itu kebingungan wajahnya pun jadi merah padam.

Hatinya juga dilanda ketakutan Dia ingat apa yang dikatakan Siau Po.

-Hwesio cilik ini jahat sekali, Dia pernah mengatakan, biar bagaimana pun dia akan mengambil aku sebagai istrinya, Kalau tidak, dia akan mati penasaran Mungkinkah,., sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia ingin menikah denganku?

Dengan demikian, bukankah aku telah menjadi istrinya?

-Diam-diam si nona memperhatikan keadaan disekitarnya, kemudian dengan perlahan-lahan dan hati-hati dia mengambil goloknya lalu langsung ditebaskan ke lehernya sendiri.

Gerakan si nona sangat cepat, tapi Teng Koan memang lihay, Dia sempat melihat kenekatan si nona, dia langsung mengibaskan lengan baju kanannya serta mengebutkan lengan bajunya yang satu lagi ke arah wajah si nona dalam waktu yang bersamaan Si nona terkejut sehingga tanpa sadar mencelat ke belakang, sedangkan goloknya terlepas dari genggaman dan terpental sehingga menancap di tiang penglari, Teng Koan mendongakkan kepalanya melihat ke arah golok tersebut.

Si nona segera menggunakan kesempatan baik di saat orang mendongakkan kepalanya, Dia segera mencelat untuk menghambur ke luar ruangan itu.

Teng Koan segera mengulurkan tangannya untuk mencegah, tapi si nona sudah langsung menyerangnya dengan kelima jari tangannya yang membentuk seperti cakar Tapi masih sempat si hwesio menangkap tangan nona itu sambil berkata.

"ln Yan Kwe Gan (Gumpalan asap lewat di depan mata)! inilah ilmu keluarga Cio dari Kang Lam."

Nona itu tidak menghiraukan kata-kata orang, dia hanya mengangkat kakinya untuk menendang perut orang di hadapannya itu.

Teng koan mengempiskan perutnya, tubuhnya membungkuk sedikit Dengan demikian dia berhasil menyelamatkan dirinya, Bahkan sembari meIakukannya, dia berkata.

"Khong Kok Ciok Im (Lembah kosong menggaungkan suara)! ilmu ini berasal dari Cin Yang di Shoa Say, Entah Si To Jin masih mempunyai sebutan lainnya tidak, lolap yang sudah tua kurang banyak pendengarannya, Nona, tolong kau jelaskan, Tahu-kah kau nama ilmu itu yang sebenarnya?"

Nona itu tidak sudi melayani orang bicara, Kembali dia menyerang.

Tangan dan kakinya digerakkan, dia ingin membuat hwesio itu kerepotan.

Kewalahan juga Teng Koan dibuatnya, Dia sampai tidak sempat menyebutkan setiap jurusnya, dia hanya sempat mengelakkan diri atau menangkis.

Tapi disamping itu, dia mengingat setiap jurusnya baik-baik.

Semua serangannya mengalami kegagalan Dia jadi mendongkol pikirannya menjadi kacau, Akhir-nya, bukan menyerang, namun malah terkulai lemas dan tidak sadarkan diri lagi.

"Aih! Nona ini benar-benar tamak akan ilmu silat."

Kata Teng Koan.

"Dia telah mempelajari tipu-tipu silat dari banyak partai, Tapi dia tidak mengerti ilmu tenaga dalam, Dengan demikian, dia tidak akan bertahan lama apabila menghadapi Iawan. Nona, kau harus belajar dari awal lagi, Kau telah kehabisan tenaga, sekarang apabila aku menyadarkan dirimu dan kau mengajak aku berkelahi lagi, kau bisa terluka dalam, Hal ini berbahayasekali, Karena itu, sebaiknya kau beristirahat saja, Bagaimana pikiranmu, Li sicu? Harap kau jangan salah paham, jangan anggap aku si hwesio tua sengaja membiarkanmu dalam keadaan pingsan, Ha ha ha ha! Nona, dasar aku, si hwesio tua ini sudah pikun, Bukankah kau sedang tidak sadarkan diri? Bagaimana kau bisa mendengarkan kata-kataku? Dasar tolol, dari tadi aku bicara terus!"

Setelah itu, Teng Koan meninggalkan si nona untuk menghampiri Siau Po.

Di sisi tempat tidur bocah itu, dia menghentikan langkah kakinya, Diperhatikannya si paman guru dengan seksama, wajah Siau Po pucat pasi, nafasnya tersengal-sengal.

Cepat-cepat dia meraba nadi Siau Po.

Lega juga hatinya karena denyutan masih berjalan biasa, Tidak ada tanda-tandanya bahaya mengancam.

"Selamat, Susiok!"

Katanya dengan nada gembira.

"Lukamu ini tidak mengancam jiwa."

Si hwesio segera meraba punggung bocah itu, yakni di jalan darah Leng Tay, Di situ dia menekan untuk menyalurkan tenaga dalamnya dan membantu si anak muda agar lukanya lebih cepat sembuh.

Sekejap kemudian Siau Po sudah sadar dan lebih bersemangat dari sebelumnya.

"Bagaimana, Lo sutit?"

Tanyanya.

"Apakah Sutit sudah mengingat semua jurusnya baik-baik?"

"Aku sudah ingat, Susiok,"

Sahut Teng Koan.

"Yang sulit justru mempelajari cara memecahkan semua jurus itu." "Cukup asal kau dapat mengingat semua jurus serangannya."

Kata Siau Po. Tentang cara pemecahannya, bisa kita pelajari perlahan-lahan."

Teng Koan menganggukkan kepalanya.

"Susiok benar."

Sahutnya. Sembari berbicara, si hwesio menghentikan bantuan tenaga dalamnya.

"Kalau jurus-jurus tangan kosongnya sudah terkuras habis, kita harus memancingnya menyerang dengan senjata tajam."

Kata Siau Po pula.

"Kalau dia menggunakan goloknya nanti, Sutit harus mengingat setiap gerakannya baik-baik!"

Kembali si hwesio menganggukkan kepalanya.

"Tapi sayang sekali goloknya telah menancap di tiang penglari."

Katanya.

"Apakah Sutit tidak bisa mencelat ke atas mengambilnya?"

Tanya Siau Po.

"lya, benar."

Sahut si hwesio kikuk karena dia tidak berpikir sejauh itu."

Sutit memang tolol sekali Tawa si hwesio nyaring dan lantang sehingga si nona terjaga dari pingsannya, Tibatiba dia menumpu tangannya pada lantai dan mencelat bangun.

Rupanya hal pertama yang diingatnya hanya melarikan diri dari tempat tersebut.

Mata Teng Koan sangat awas dan gerakan tangannya juga cepat sekali.

Melihat tindakan si nona, dia segera mengibaskan lengan bajunya.

Nona itu terhuyung-huyung, tubuhnya membentur dinding.

Dia tidak bisa meloloskan diri dari ambang pintu.

Si hwesio terus bergerak tanpa menunggu sedetik pun.

Kali ini dia menggerakkan tangan kirinya untuk menghadang seandainya si nona akan menerjang ke bagian pintu kembali sedangkan tangannya yang lain membantu si nona berdiri.

Dengan demikian si nona jadi berdiri tegak.

pikirannya ruwet sekali Dia langsung sadar bahwa sia-sia saja dirinya berusaha melakukan perlawanan Dia sudah melihat bahwa hwesio itu lihay sekali.

Akhirnya dia menyurut mundur dua langkah dan duduk di atas sebuah kursi.

Teng Koan menatapnya dengan heran.

"Eh, apakah kau tidak akan menyerang lagi?"

Nona itu menjawab dengan nada penasaran.

"Aku toh tidak dapat menandingimu, untuk apa aku menyerang terus?"

Dengan tampang ketolol-tololan, Teng Koan berkata.

"Kalau kau tidak menyerang lagi, mana aku bisa tahu jurus apa saja yang kau kuasai? Dengan demikian mana mungkin aku memikirkan cara untuk memecahkannya? Ayo, cepat maju lagi, seranglah aku!"

Bagian 45 Diam-diam si nona jadi berpikir -Bagus, ya!

Rupanya kau sengaja memancing aku turun tangan, dengan demikian kau bisa mengetahui asal-usul silatku, Tidak!

Aku justru tidak sudi memperlihatkannya kepadamu!

Dengan membawa pikiran demikian, si nona bangkit kembali Lalu dia mulai melakukan penyerangan Baik dengan satu kepalan atau keduanya sekaligus, Dia menyerang kalang kabut, sama sekali tanpa menggunakan jurus silat mana pun.

Teng Koan menjadi heran.

"Aneh! Luar biasa! Sungguh istimewa! Mengherankan!"

Semua pukulan dan tendangan yang dilancarkan si nona, dia belum pernah melihatnya.

Saking bingungnya pikirannya pun menjadi kacau, Apakah itu ilmu silat?

Mengapa gerakannya demikian kacau?

Dia tidak pernah mengira bahwa nona itu memang sengaja menyerang dengan kalang kabut, Dia juga tidak menyangka si nona berani berbuat demikian karena tidak takut lagi dirinya akan dibunuh atau dilukai, paling-paling dia ditotok.

Kalau orang lain pasti akan melihat tingkah si nona yang lucu, tapi Teng Koan terlalu naif, dia malah merasa aneh dan heran Otaknya berpikir keras, Setelah lewat belasan jurus, dia masih terbenam dalam keragu-raguan.

"Aneh! Aneh!"

Gumamnya seorang diri.

Matanya dipertajam Biar bagaimana dia harus membela diri, Dia menduga gadis itu menggunakan ilmu Bu Tong Pai atau Kong Tong Pai, tapi dia belum bisa memastikannya.

Karena sangsi, hwesio tua itu tidak berani sembarangan menangkap tangan atau kaki lawan, dia takut tipuan jurus yang digunakan si gadis masih asing baginya, Yang membingungkan, nona itu juga menjambak bagian kepalanya, padahal dia tahu benar seorang hwesio pasti berkepala gundul.

Semakin lama, serangan si nona semakin kacau, akhirnya Teng Koan jadi risih sendiri.

Siau Po yang berbaring di atas tempat tidur menyaksikan jalannya pertempuran dengan memiringkan tubuhnya sedikit Dia menyaksikan gadis itu menyerang dengan serabutan dan Teng Koan repot membela diri.

Dia merasa pertarungan itu aneh sekali sehingga tanpa sadar dia tertawa.

justru karena tertawa, lukanya terasa nyeri kembali sehingga dia menjerit perlahan.

Dia menahan rasa sakitnya dan terus menonton pertarungan yang lucu.

Baginya, pertarungan itu merupakan suatu pemandangan yang menarik.

Wajah Teng Koan memerah mendengar suara tawa paman gurunya.

-Tentu susiok menertawakan aku karena dia menyangka aku tidak mengenali jurusjurus yang digunakan nona ini.

--Demikian pikirnya dalam hati, --Aku khawatir nanti dia akan menyuruh si nona menjadi ketua Poan Jian Tong untuk menggantikan aku....-Dia melirik kepada paman gurunya yang menunjukkan wajah sedih, padahal Siau Po bukan bersusah hati, tapi sedang merasa sakit dan berusaha menahannya, Tapi Teng Koan berpikir kembali -Hati Susiok sangat baik, Rupanya tidak tega mengatakannya kepadaku, sebaiknya aku sendiri yang menyerahkan kedudukanku ini kepada si nona...."

Meskipun otaknya sedang berpikir, si hwesio tetap sibuk melayani nona berbaju hijau itu.

Dia repot menangkis ke sana ke mari untuk melindungi dirinya, tapi dia tidak membalas menyerang karena khawatir akan melukai si nona.

Karena itu, dia benarbenar repot jadinya.

Pertarungan yang tidak karuan itu terus berlangsung.

Lama-lama si nona menjadi letih sendiri, dia selalu memukul dan menendang dengan serampangan, gerakannya pun cepat sekali.

Dia khawatir nanti akan dikalahkan lagi oleh si hwesio, pikirannya menjadi tidak tenang, Apalagi sampai sekian lama dia tetap tidak berhasil mengalahkan Teng Koan, akhirnya setelah bertarung sekian lama, tiba-tiba dia menjatuhkan dirinya sebelum terhuyung-huyung sejenak.

Teng Koan merasa terkejut dan heran.

-Apakah ini juga sebuah jurus tipuan?

--pikirnya, --Sungguh luar biasa akal muslihat yang digunakannya!

Bagaimana kalau aku tidak ...

dan dalam keadaan terduduk di atas tanah tiba-tiba dia melakukan penyerangan kepadaku?

-Pusing kepala Teng Koan memikirkannya, karena itu tanpa terasa ia ikut terjatuh duduk di atas lantai.

Nona itu girang sekali melihat orang terjatuh dengan sendirinya.

Tapi dia tidak berani maju atau mendekat karena khawatir Teng Koan hanya menggunakan akal Tanpa menunda waktu lagi, dia segera melompat bangun dan lari ke luar menurutnya, lari adalah jalan yang terbaik.

Di luar kamar ada beberapa orang hwesio yang sedang berkumpul Mereka melihat nona itu ke luar dari ruangan Pan Jiak Tong, tapi mereka tidak berani menghadang atau mencegahnya, Hal ini disebabkan mereka tidak mendapat perintah apa-apa dari sang ketua, Mereka hanya merasa heran...

Sementara itu, Siau Po masih berbaring di atas tempat tidur Dia melihat nona itu melarikan diri, tapi dia tidak berdaya melakukan apa-apa, dia hanya bisa menatap dengan pikiran kalut.

Tidak lama kemudian Teng Koan baru tersentak sadar wajahnya menjadi merah padam.

Hal ini membuktikan bahwa ia merasa malu sekali.

"Susiok, aku malu.,."

Katanya kemudian Dia merasa tidak sanggup mengalahkan si nona. Siau Po tertawa sumbang.

"Sutit, sebenarnya apa yang menjadi pikiranmu?"

Tanyanya.

"llmu silat nona itu aneh sekali,"

Kata Teng Koan.

"Aku tidak dapat mengenali jurusjurus yang digunakannya, Maksudku, ketika dia menyerang aku belakangan."

Dia masih merasa jengah, Dia masih tidak sadar si nona menyerang tanpa menggunakan jurus ilmu mana pun. Siau Po tertawa.

"Apakah kau bermaksud mengatakan ilmu silat si nona itu lihay sekali?"

Tanyanya, "Sungguh menggelikan Bukankah serangannya itu hanya ngawur saja?"

Sang keponakan murid menatap Siau Po dengan tajam.

"Apa Susiok maksudkan bahwa serangannya itu hanya sembarangan? Apakah gerakannya tadi bukan karena ilmu silatnya yang aneh?"

Tanyanya kembali Siau Po ingin tertawa, tapi dia mengurungkannya, Sebab lukanya sakit sekali, dia hanya menyeringai lalu terbatuk-batuk, Keringat dingin juga membasahi keningnya.

"llmu yang digunakannya pasti di kuasai setiap bocah cilik!"

Katanya. Teng Koan tertegun, Tampak dia masih merasa ragu-ragu, Kemudian dia menarik nafas dalam-dalam untuk melegakan hatinya.

"Benarkah serangannya hanya ngawur saja?"

Tanyanya lagi setelah lewat sesaat.

"Di dalam biara Siau Lim Sie, pasti tidak ada ilmu silat seperti itu."

Katanya sambil tertawa, Untuk sesaat, dia sampai lupa tentang sakit dan kesedihan hatinya. Teng Koan berdiam diri Tampaknya dia sedang berpikir keras.

"Aih!"

Tiba-tiba dia berseru sambil menepuk pahanya, Ah!

Aku memang tolol sekali!

Iya!

Serangan-serangan itu memang tanpa ada juntrungan, Dengan ilmu silat Tiang Kun yang paling rendah sekalipun pasti dapat aku merobohkannya, Namun...."

Dia terdiam lagi sejenak, lalu melanjutkan kembali.

"Nona itu sungguh aneh! Mengapa dia menggunakan gerakan seperti itu? Bukankah dengan demikian dia hanya mempermalukan keluarga atau partai nya sendiri?"

"Aku justru merasa tidak ada yang aneh pada nona itu,"

Sahut Siau Po.

"Dia memang sengaja tidak menggunakan ilmu silat apa pun tapi menyerang secara membabi buta."

Paman guru itu kembali tertawa, sedangkan Teng Koan tetap berdiam diri, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Belasan hari telah lewat, Siau Po pun sudah sembuh dari lukanya, Obat luka Siau Lim Pay memang terkenal mujarab, Di dalam biara itu, kedudukannya tetap tinggi sekali karena dia merupakan wakil raja, Asal dia mau, apa pun dapat dilakukannya dan tidak ada seorang pun yang berani menegur apalagi melarangnya, kecuali dia mengatakannya sendiri, tidak ada seorangpun yang berani menanyakan apa yang dilakukannya.

Kali ini Siau Po berbeda dari sebelumnya, Dia tertarik pada apa saja, tapi dia tidak tekun belajar atau berlatih, Dia memang bengal dan nakal Dia selalu mengikuti kemaunnya sendiri.

Tan Kim Lam memberikan se

Jilid kitab ilmu silat kepadanya, dia hanya mempelajarinya satu dua kali, kemudian dia menjadi malas melihatnya lagi.

pelajaran peninggalan Hay Tay Hu lebih mudah dipahaminya, tapi dia hanya mempelajarinya satu hari, sedangkan sepuluh hari lainnya dia lebih banyak bermainmain.

Enam jurus yang lihay dari Hong kaucu dan Hong hujin juga dipelajari seenaknya, begitu meninggalkan pulau Sin Liong To, dia tidak mengingat-ingatnya lagi.

Sekarang, dia diajarkan oleh Teng Koan, sebaliknya dari biasa, dia justru belajar dengan sungguh-sungguh, Karena ilmu-ilmu itu dapat digunakan untuk menaklukkan si gadis berbaju hijau.

Teng Koan mengingat baik-baik setiap jurus yang digunakan si nona berbaju hijau lalu berusaha memecahkannya satu persatu, Dia mengajari paman gurunya jurus-jurus pemecahannya, meskipun dia merasa heran dengan sikap Siau Po.

Suatu saat dia bahkan pernah berkata.

"Susiok, untuk apa Susiok mempelajari semua ini? Menurut Sutit, sebaiknya Susiok belajar dari awal, yakni dari ilmu Tiang Kun. Dengan demikian, kelak kepandaian Susiok bisa mencapai taraf yang tinggi."

"Mengapa kau menganggap pelajaran ini tidak ada faedah nya ?"

Tanya Siau Po.

"Karena pelajaran ini tidak mempunyai landasan tenaga dalam."

Sahut Teng Koan.

"llmu silat seperti ini, asal Susiok bertemu dengan lawan yang kepandaiannya tinggi, pasti Susiok tidak dapat menghadapinya. Kecuali kalau hanya digunakan untuk menghadapi kedua nona itu...."

Siau Po tertawa, hatinya senang sekali.

"Bagus!"

Serunya.

"Aku memang ingin menghadapi kedua nona itu."

Teng Koan menoleh kepada si paman guru dan menatapnya lekat-lekat Dia benarbenar tidak mengerti jalan pikiran Siau Po.

"Susiok, kalau dikemudian hari Susiok tidak bertemu lagi dengan kedua nona itu, bukankah pelajaran Susiok ini sia-sia belaka? Bukankah percuma saja Susiok mempelajarinya dengan susah payah? Hanya membuang-buang waktu dan tenaga saja. Sedangkan, waktu yang dihabiskan ini dapat digunakan untuk mempelajari ilmu silat yang sesungguhnya."

Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Kalau aku tidak bertemu lagi dengan kedua nona itu, tentu aku bisa mati."

Katanya.

"Karena itu, untuk apa aku mempelajari ilmu silat yang sesungguhnya?"

Teng Koan semakin heran.

"Susiok,"

Katanya.

"Apakah Susiok telah terkena racun jahat nona itu sehingga biar bagaimana pun Susiok harus menemukan mereka? Apakah tanpa obat penawar mereka, Susiok akan menemui ajalnya?"

"Benar."

Sahut Siau Po tersenyum Dalam hati dia menertawakan keluguan si hwesio yang tidak kenal asmara.

"Aku memang telah terkena racun jahatnya, bahkan sudah merasuk ke dalam tulang sumsum, Apabila aku tidak berhasil menemukan mereka, aku pasti akan mati."

"Oh, begitu rupanya!"

Kata Teng Koan.

"Sute Teng Ciau merupakan ahli pengobatan dalam kuil kami. sebaiknya aku undang dia untuk memeriksa keracunan dalam tubuhmu...."

"Tidak, tidak usah!"

Cegah Siau Po cepat "Racun ini bersifat Iamban. Hanya dia sendiri yang dapat menyembuhkannya, Orang lain tidak mungkin bisa, lebih-Iebih Teng Ciau."

"Oh, jadi hanya dia sendiri yang memiliki obat pemunahnya..."

Kata Teng Koan raguragu.

"Ya... aku khawatir hanya dia yang memiliki obat penawarnya,"

Sahut si paman guru.

Selanjutnya, Siau Po kembali belajar dengan serius.

Dalam tempo dua bulan, dia sudah mempelajari semua jurus yang dapat memecahkan ilmu si nona.

Dia selalu mengajak Teng Koan berlatih, Keponakan muridnya itu harus menyerangnya dengan ilmu-ilmu yang dimiliki kedua nona itu.

Siau Po memang nakal Dia sering menjahili keponakan muridnya itu dan pura-pura menganggapnya sebagai si nona berbaju hijau yang menawan hatinya itu.

Teng Koan yang polos tidak menghiraukan sikap paman gurunya, Dia malah mengira Siau Po yang cerdik dapat mengubah jurus-jurus yang diajarkannya.

Pada suatu hari, ketika paman dan keponakan muridnya ini sedang berlatih dan merundingkan ilmu golok si nona berbaju hijau, muncullah seorang hwesio dari Poan Jiak Tong yang memberitahukan bahwa ada undangan dari Hong Tio atau ketua mereka.

Diharapkan Susiok cou dan supeknya itu hadir dalam pendopo besar secepatnya, Siau Po dan Teng Koan langsung pergi ke Tay Hiong Po Tian, pendopo besar yang dimaksudkan Di situ sudah berkumpul beberapa puluh orang tamu, Hui Cong Siansu, ketua Siau Lim Sie sedang menemani mereka duduk, Sebagai tuan rumah, si hwesio tua duduk si sebelah bawah.

Tampaknya ada tiga orang tamu yang dianggap terhormat Yang pertama seorang pangeran Mongolia berusia kurang lebih dua puluh tahunan, Yang kedua seorang lhama berusia sekitar lima puluhan tahun dan tubuhnya pendek serta kurus kering dan kulitnya hitam sekali Yang ketiga seorang perwira berusia empat puluhan tahun.

Dari pakaian seragamnya, dapat diduga bahwa kedudukannya seorang Cong Peng atau Brigadir jendral.

Di belakang mereka berdiri puluhan tamu lainnya.

Para perwira sebawahan atau lhama biasa, Bahkan ada beberapa di antaranya yang berdandan seperti rakyat jelata, Tapi dari bentuk tubuh mereka, dapat dipastikan bahwa mereka semua mengerti ilmu silat.

Begitu Hui Beng siansu atau Siau Po muncul, Hui Cong langsung bangkit menyambut seraya memperkenalkan.

"Sute, para tamu agung telah bersedia mengunjungi kuil kami inilah pangeran Kaerltan dari suku Cunkaerl di Mongolia. Dan ini lhama besar Tay Hoat su Zang Chi dari Tibet, ini yang mulia Ma tayjin, Cong Peng sebawahan Raja muda Peng Si ong dari In Lam. Dan saudara-saudara sekalian, ini Hui Beng siansu, adik seperguruan lolap."

Kemudian dia memperkenalkan adik seperguruannya itu kepada para tamunya.

Ketiga tamu itu memperhatikan orang yang diperkenalkan tersebut.

Selain masih muda usianya, Siau Po juga baru sembuh dari lukanya sehingga dia tampak kurus dan lesu.

"Ah! Khoceng ini sungguh menarik hati!"

Demikian terdengar si pangeran berkata sambil tertawa-tawa.

"Aneh! Aneh!"

Siau Po merangkapkan sepasang tangannya untuk memuji Sang Buddha, lalu dia berkata. "Pangeran ini juga sangat lucu, Hi hi hi hi! Aneh sekali!"

Tiba-tiba wajah pangeran itu menunjukkan mimik kurang senang.

"Apanya yang lucu?"

Tanyanya.

"Apanya yang aneh pada diriku?"

"Apa yang aneh pada diri Siau Ceng, itulah keanehan Yang Mulia,"

Sahut Siau Po yang membahasakan dirinya "Siau Ceng"

Atau hwesio cilik.

"lbarat pinang di belah dua! Silahkan! Silahkan!"

Katanya kemudian duduk di samping kakak seperguruannya atau ketua biara Siau Lim Sie itu.

Teng Koan tidak diperkenalkan Dia duduk di belakang paman gurunya.

Pangeran beserta para tamu lainnya mendengar jawaban si hwesio cilik, mereka merasa heran.

Mereka menyangka hwesio cilik itu pasti luas sekali ilmu pengetahuannya.

Sementara itu, Hui Cong segera menanyakan maksud kedatangan para tamunya.

Zang Chi lhama yang memberikan jawaban.

"Sebenarnya kami bertiga hanya kebetulan bertemu dalam perjalanan. Kami telah mendengar prihai ilmu silat yang ibarat gunung Thay san di wilayah Tiong goan. Kami menjadi kagum sekali Kami bertiga tinggal di tanah perbatasan karenanya pendengaran kami sangat terbatas. itulah sebabnya kami berseri untuk melakukan kunjunganmu merantau. Untung sekali kami dapat bertemu dengan Kho ceng!"

Seperti yang diketahui, Kho Ceng artinya hwesio yang berilmu-tinggi.

Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia 01869355886

Baca Juga: Pendekar Bego 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert