Ceritasilat Novel Online

Kaki Tiga Menjangan 10

Eps 10 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.

Kata-kata Siau Po itu sebenarnya hanya sembarangan mengoceh, Dia sedang mempermainkan tosu itu yang karena peraturan agama tidak boleh berdekatan dengan kaum wanita, Tapi tosu itu tidak gusar Dia malah minta penjelasan yang lebih lanjut tentang Liu Yan.

Dengan senang hati Siau Po melanjutkan ceritanya.

"Bibi Liu Yanku itu senang memakai sepatu sulam merah. Oh, suhu, aku menduga kau pasti mencintainya.... Benar bukan? Kapan saja kalau suhu bertemu dengannya, suhu boleh tidur dengannya dan aku yakin keesokan harinya dia tidak akan bangun lagi untuk selama-lamanya!"

Gusar sekali tosu itu mendengar ocehan si bocah, Dia memang tidak tahu Liu Yan sudah mati dan tidak mungkin bisa bangun kembali, Dan bocah itu memang sengaja mempermainkannya.

"Bocah cilik, kau mengoceh sembarangan!"

Bentaknya, Tapi dia mulai mempercayai keterangan yang diberikan oleh Siau Po.

Perlahan-lahan dia menepuk perut Siau Po untuk membebaskannya dari totokan, Dan dia tidak berhasil karena tangannya menyentuh kita Si Cap Ji Cin Keng yang disimpan Siau Po di balik pakaiannya.

"Eh, barang apa itu?"

Tanyanya.

"Oh, ini uang yang aku curi dan kubawa kabur dari rumah,"

Sahut Siau Po dengan hati tercekat "Ngaco! Mana mungkin kau membawa uang begitu banyak?"

Tanpa menunda waktu dia segera mengulurkan tangannya dan merogoh-rogoh tubuh Siau Po dan mengeluarkan bungkusan kitab itu.

Ketika dia membukanya, saat itu juga dia jadi tertegun, kemudian wajahnya menjadi berseri-seri.

"Si Cap Ji Cin keng! Si Cap Ji Cin keng!"

Kemudian tosu itu membungkus kembali kitab itu sampai rapi lalu dimasukkannya ke dalam saku pakaian, Kembali dia menjambak dada Siau Po dan diangkatnya tinggitinggi.

"Dari mana kau mendapatkan kitab ini?"

Tanyanya dengan suara garang.

Sulit sekali menjawab pertanyaan itu, apalagi hati Siau Po sedang terkejut dan khawatir kehilangan kitabnya itu, Tapi untung saja otaknya cerdas sekali, Dia menabahkan hatinya dan berusaha tertawa lebar.

"Kau menanyakan kitabku itu? Oh, ceritanya panjang sekali, Akan memakan waktu lama untuk menceritakannya...."

Siau Po terus mengulur waktu, Selain ingin mendapatkan kebebasan, Siau Po juga berharap dapat merebut kitabnya kembali, Karena itu, dia perlu mengasah otaknya untuk mencari keterangan yang masuk akal...

"Cepat katakan! Dari mana kau mendapatkan kitab itu?"

Bentak tosu itu sekali lagi.

"Siapa yang memberikannya kepadamu?"

Belum lagi Siau Po sempat menjawab pertanyaan itu, dari kejauhan tampak serombongan hwesio sedang berjalan mendatangi Tampaknya mereka Cap Pek Lohan dari biara Siau Lim Sie yang membantu Heng Ti mengusir para Ihama dari Tibet, Ketika dia menoleh ke arah barat, ternyata dari sana juga sedang datang beberapa orang hwesio sehingga jumlahnya menjadi belasan orang.

--Bagus!

--seru Siau Po dalam hatinya, Dia merasa senang --Tosu bangsat, biar pun kepandaianmu lebih hebat lagi dari sekarang, tidak mungkin kau sanggup melawan Cap Pek Lohan dari Siau Lim Sie!

-"Cepat katakan!"

Bentak tosu itu.

"Ayo, cepat katakan!"

Sekarang tosu itu juga melihat munculnya beberapa orang hwesio dari arah timur, barat dan utara. Dia tidak memperdulikan orang-orang itu tapi dia bertanya kepada Siau Po.

"Mengapa beberapa orang hwesio itu datang ke mari?"

Tampaknya Siau Po sudah memikirkan pertanyaan itu. Dengan seenaknya dia menjawab .

"Para hwesio itu telah mendengar tentang kehebatanmu, sekarang mereka datang untuk mengangkat kau menjadi guru."

Sudah sampai di hadapan si tosu dan sepasang muda-mudi itu. Bahkan hwesio yang usianya sudah lanjut dan aliasnya panjang langsung memberi hormat dan menyapa.

"Taysu, apakah taysu ini Poan Toato Ay Cun cia dari Liau Tong?"

Ketika itu tubuh Siau Po masih diangkat tinggi-tinggi oleh si taysu, tapi mendengar pertanyaan itu dia jadi tertawa terbahak-bahak, Menurutnya, pertanyaan itu aneh sekali.

Poan tauto artinya tosu gemuk, sedangkan Ay Cun cia berarti Cun cia pendek, Cuncia adalah sebutan suci bagi para pengikut Buddha, Tetapi kenyataannya tosu itu bertubuh tinggi kurus, Apakah hwesio itu matanya buta?

Tidak!

Terang dia bisa melihat Lalu, mengapa dia menyebut tosu itu dengan sebutan yang demikian menggelikan?

Ataukah hwesio itu sengaja mengejeknya?

Tosu itu menggelengkan kepalanya.

"Betul! Akulah Poan Tauto Ay Cun cia! Kalian bisa mengetahui namaku, Hal ini berarti kalian bukan orang sembarangan Nah, taysu, siapakah kau sebenarnya?"

"Gelar lolap Teng Sim dari Siau Lim Sie,"

Sahut hwesio beralis panjang itu.

"Kedudukanku di dalam biara sebagai ketua dari ruang Tat Mo Ih. Dan ketujuh belas suhu ini rekan-rekan lolap yang juga anggota ruang Tat Mo Ih."

Sedang mendatangi itu dan berseru.

"Lebih baik kalian menggelinding pergi dari sini, jangan ganggu aku dengan segala macam kerewelan!"

Suaranya yang keras bergema di sekitar lembah itu kedengarannya penuh wibawa.

Rombongan ke delapan belas Lohan dari Siai Lim Sie itu tidak menghiraukan seruannya, Mereki seakan tidak mendengar apa-apa.

Para Lohan iti terus mendaki ke atas dan tidak lama kemudian "Aku tidak pernah menerima murid,"

Katanya Mendengar pertanyaan itu, tosu itu segera menjawab dengan suara lantang. Kemudian dia menghadap ke arah para hwesio yan "Oh!"

Seru tosu itu yang nadanya tidak garang lagi seperti sebelumnya.

"Kiranya delapan belas Lohan dari Tat Mo Ih telah berkumpul di sini, Aku hanya seorang diri, tidak bisa aku melayani kalian semua...." Teng Sim segera merangkapkan sepasang tangannya.

"Di antara kita satu dengan yang lain tidak terlibat permusuhan atau persengketaan apa pun, bahkan kita sama-sama merupakan pengikut Buddha. Bagaimana taysu bisa mengatakan soal perkelahian?"

Katanya dengan nada sabar "Kedua Cun cia gemuk dan kurus dari Liau Tong mempunyai nama yang terkenal sekali karena ilmu silatnya yang lihay, Kami justru merasa kagum sekali, Kami juga merasa gembira atas keberuntungan kami dapat bertemu dengan taysu di sini."

Setelah Teng Sim selesai berkata, ketujuh belas rekannya yang lain segera memberi hormat sehingga tosu itu repot membalas penghormatan mereka.

"Untuk apakah kalian datang ke Ngo Tay san ini?"

Tanya tosu itu kemudian. Teng Sim tidak menjawab pertanyaan Ay Cun cia, dia malah menunjuk kepada Siau Po.

"Sicu kecil ini mempunyai hubungan yang erat dengan biara Siau Lim Sie kami, oleh karena itu, kami mohon sudilah kiranya taysu bermurah hati membebaskannya...."

Ay Cun cia memperhatikan hwesio itu.

Dia tampak ragu-ragu.

Tapi pihak lawan adalah ke-delapan belas Lohan yang sudah terkenal dari Siau Lim Sie, sedangkan dia hanya seorang diri, sanggupkah dia melawan mereka?

Tentu lain halnya kalau mereka berkelahi satu lawan satu.

"Baiklah,"

Sahutnya kemudian.

"Dengan memandang wajah taysu, aku akan melepaskannya,"

Tosu itu langsung menurunkan tubuh Siau Po. setelah itu dia menepuk perut bocah itu untuk membebaskan totokannya. Begitu berdiri tegak, Siau Po mengulurkan tangannya ke hadapan tosu itu.

"Mana kitabku?"

Katanya.

"Kitab itu merupakan pemberian sahabat dari delapan belas suhu ini agar aku membawanya ke Siau Lim Sie dan akan diserahkan kepada Hong Tio biara itu."

"Apa?"

Tanya Ay Cun cia gusar "Apa hubungannya kitab ini dengan pihak Siau Lim Sie?"

"Pokoknya kau telah merampas kitab milikku!"

Sahut Siau Po dengan berani "Kitab itu diserahkan oleh seorang suhu tua yang meminta aku menyerahkannya kepada seseorang, Urusan ini penting sekali, Biar bagaimana kau harus mengembalikan kitab itu!"

"Kau mengoceh tidak karuan!"

Kata tosu itu yang langsung mencelat ke bawah untuk turun gunung.

Tiga orang hwesio Siau Lim Sie segera lompat ke depan dengan tangan terulur guna menyambar orang itu.

Ay Cun cia tidak ingin melayani, dia menggeser tubuhnya ke samping untuk menghindarkan diri.

Tubuhnya tinggi kurus, meskipun tampaknya kaku tapi gerakannya justru gesit dan lincah sekali walaupun sambaran tangan ke tiga hwesio itu lihay sekali namun tidak mengenai sasarannya!

Menyaksikan keadaan itu, empat orang hwesio lainnya segera turun tangan, Mereka menghambur ke depan untuk menghadang dengan merentangkan kedua tangannya.

Terdengar seruan nyaring dari mulut Ay Cun cia, kedua tangannya didorongkan ke depan dengan jurus "Ngo Teng Kay san", setelah itu dia mencelat lagi.

Keempat hwesio itu berusaha merintangi kembali Mereka menyerang serentak Ketika mereka menangkis, merasa tenaga tolakan lawan keras sekali sedangkan si tosu merasa serangan yang dilancarkan keempat hwesio itu berbeda-beda, Dua yang di kiri menyarang dengan tenaga yang kuat, sedangkan dua yang di kanan menyerang dengan tenaga lunak, Begitu lunaknya sehingga mirip membentur tumpukan kapas.

-Ah!

--, seru tosu itu dalam hatinya, --Aku sudah mendengar bahwa ilmu silat Siau Lim Pai lihay sekali, sekarang aku telah membuktikannya sendiri Mereka benar-benar tidak Boleh dianggap enteng.

Tosu itu segera berusaha membebaskan diri, tapi tiga hwesio lainnya sudah mendesaknya dari belakang.

Dia menjejakkan kakinya di atas tanah untuk mencelat ke atas dan menghindarkan diri dari serangan empat kepalan tangan.

Sembari melompati dia menolehkan kepalanya ke belakang.

Ternyata serangan yang dilancarkan mereka memang berbeda-beda dan dari arah yang berlawanan pula, itulah serangan cengkeraman Naga, Kuku Hari-mau, dan Cakar Garuda.

Diam-diam hatinya merasa jeri Dia tidak berani berlaku ayal Dia memutar tubuh sambil melompat ke arah Siau Po untuk menyambar bocah itu dengan tangan kanannya, Setelah mendarat di atas tanah, dia membentak dengan nada bengis.

"Kalian ingin melihat dia mati atau hidup?"

Gerakan tosu itu cepat sekali dan tahu-tahu Siau Po telah tercekal olehnya.

Ke delapan belas Lohan dari Siau Lim Sie itu segera mengambil posisi mengurung.

Teng Sim merangkapkan sepasang tangannya dan berkata.

"Kitab sicu ini merupakan kitab yang sangat penting, oleh karena itu, kami mohon sudilah taysu mengembalikannya. Dengan demikian taysu telah mendirikan pahala, Atas itu, kami semua juga akan merasa bersyukur dan berterima kasih!"

Ay Cun cia mengangkat tubuh Siau Po tinggi-tinggi, tangannya yang sebelah lagi mengancam batok kepala bocah itu, Tosu itu tidak menghiraukan Teng Sim, malah tanpa berkata apa-apa lagi, dia membawa Siau Po lari ke arah utara.

Ancaman itu hebat sekali, seandainya pihak Siau Lim Sie memaksakan kehendak mereka untuk meminta kembali kitab Si Cap Ji Ciang Keng, maka dia akan menghajar batok kepala Siau Po agar mati seketika.

Dalam keadaan seperti ini, beramai-ramai mereka menyebut nama Sang Buddha kemudian mundur serempak untuk membuka jalan.

Tosu itu langsung berlari sambil membawa Siau Po.

Gerakannya gesit dan cepat Tujuannya ke arah utara.

Meskipun sempat ragu-ragu, akhirnya ke delapan belas Lo han dari Siau Lim Sie itu menyusul juga, Mereka segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh agar tidak ketinggalan terlalu jauh atau kehilangan jejak orang yang disusul itu.

Pada saat itu, Song Ji juga sudah lari menyusul Dia dibebaskan totokannya oleh salah seorang hwesio.

Saking khawatirnya, dia berlari kencang sekali.

Tapi dia mengalami kesulitan untuk mengejar apalagi menyusul tosu itu, Hal ini karena dia kalah tenaga dalam disebabkan usianya yang masih muda.

Gadis cilik itu bingung sekali sehingga tanpa sadar dia menangis, namun tidak menghentikan langkah kakinya.

Sebaliknya, di sebelah depan, para hwesio itu juga belum berhasil mengejar Ay Cun cia.

Tidak lama kemudian, baru tampak Ay Cun cia membawa Siau Po mendaki puncak sebelah utara, para hwesio tetap mengejarnya, Hanya ada satu jalan untuk mendaki puncak itu dan sempit pula, Karena itu, mereka terpaksa berlari dengan antri atau berbaris satu per satu.

Ketika Song Ji menyusul sampai di kaki bukit itu, tenaganya sudah habis.

Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat ke atas, Tampak puncak bukit itu bagai menyusup ke dalam gumpalan awan yang tebal.

Hatinya khawatir sekali, kalau tosu itu sampai tergelincir tamatlah riwayatnya bersama-sama Siau Po, Tidak jadi masalah kalau hanya tosu itu yang mati, tapi,., bagaimana kalau Siau Po yang....

Ketika gadis cilik ini sedang melihat ke atas, tiba-tiba terdengarlah suara yang bergemuruh, disusul dengan berloncatannya para hwesio, Rupanya dari atas bergelindingan puluhan batu yang ukurannya berbeda-beda.

Tentunya Ay Cun cia mendupak batu di sana sini agar para hwesio itu mengalami kesulitan mengejarnya.

Di antara para hwesio itu, Teng Kong tertinggal di bagian paling belakang, Lukanya yang terjadi karena bertarung dengan Hong Hu Kok masih belum sembuh betuI, tenaganya jadi jauh berkurang.

"HongTio!"

Teriak Song ji memanggilnya.

"Hong Tio!"

Teng Kong menoleh, kemudian dia menghentikan langkah kakinya, Dihampirinya Song Ji yang tampaknya sudah letih sekali dan tampangnya menyiratkan kekhawatiran, Teng Kong segera menghiburnya.

"Jangan cemas, tidak mungkin dia mencelakai kongcumu!"

Katanya, Setetah itu dia menarik tangan gadis cilik itu.

Dia tidak merasa jengah, pertama karena usia Song Ji masih belia, kedua gadis itu juga memerlukan bantuannya, Dengan ditarik olehnya, Song Ji bisa mendaki terus, Bagi Song Ji, keadaan dirinya ibarat seorang yang terombang ambing di tengah lautan dan tiba-tiba menemukan selembar papan untuk dijadikan pegangan sehingga perasaannya menjadi agak lega.

"Hong Tio,"

Kembali Song Ji bertanya.

"Benarkah dia tidak akan mencelakai kongcu?"

"Tidak, tidak mungkin,"

Sahut Teng Kong yang terpaksa menjawab demikian meskipun dia tahu watak Ay Cun cia kejam sekali Puncak yang mereka daki merupakan puncak bagian selatan, Lam tay dari Ngo Tay san.

Dapat dimengerti bahwa puncak itu membahayakan tapi untungnya jalan tidak terjal hanya berkelok-kelok sehingga akhirnya Teng kong dapat juga menyusul rekanrekannya.

Tampak mereka tengah mengurung sebuah kuil Dapat dipastikan bahwa Ay Cun cia sudah membawa Siau Po ke dalam kuil tersebut Ngo Tay san mempunyai lima puncak dan setiap puncak terdapat sebuah kuil.

Di puncak gunung itu bersemayam seorang tokoh Bodhisatva yakni Bun cu Pou sat.

Dari sanalah dahulu kala sang Dewi menyiarkan khotbahnya.

Ke lima puncak itu masing-masing dididami seorang tokoh Bodhisatva atau Buncu Pou sat yang berlainan Hal ini karena Bun cu Pou sat memiliki kepandaian yang tinggi sekali dan sering memperlihatkan wujud yang berlainan di bagian Tong Tay, yakni puncak sebelah timur, ada sebuah kuil yang bernama Bong Hay Si, yang dipuja Cong Beng Bun cu.

Di Tiong Tay, puncak yang terletak di tengah-tengah, yakni puncak Cui Giam Hong, ada kuil bernama Yau Kau si, yang dipuja di sana ialah Ji Tong Bun cu.

Di Si Tay, yakni puncak barat atau lebih terkenal dengan nama puncak Kwa Goat Hong, terdapat kuil Hoat Lui si dan di Lam Tay, puncak selatan atau disebut juga puncak Kim Siau hong, terdapat kuil Pou Ci si dan yang dipuja di sana adalah Ti Hui Bun cu.

Yang terakhir inilah yang didatangi para hwesio karena mengikuti jejak Ay Cun cia.

"Kongcu! Kongcu!"

Teriak Song ji begitu berkumpul dengan para hwesio lainnya.

Dari dalam kuil tidak terdengar sahutan apa-apa, Hati Song Ji jadi tegang, Dia mengkhawatirkan keselamatan Siau Po.

Karena itu, dia langsung menghambur ke depan untuk memasuki kuil "Jangan!"

Cegah Teng Kong sambil mengulurkan tangannya untuk menarik Song Ji.

Tapi Song Ji lincah sekali, Teng Kong tidak berhasil mencekalnya, Dia lari terus ke dalam pendopo, tampak Ay Cun cia sedang berdiri dengan tangan kiri memegang Siau Po.

"Kongcu!"

Teriak Song Ji.

"Apakah tosu jahat itu mencelakaimu?"

"Jangan khawatir!"

Sahut si bocah nakal.

"Tidak mungkin dia berani mengganggu seujung rambut ku."

Ay Cun cia marah mendengar kata-katanya.

"Siapa bilang aku tidak berani?"

Tanyanya dengan suara garang. Siau Po memang pemberani Dia malah tertawa lebar.

"Kalau kau mencelakai aku,"

Katanya.

"Walau pun hanya seujung rambutku saja, nanti kau aka diringkus oleh ke delapan belas Lo han di depan sana dan kau akan dibuat menjadi manusia gemuk dan kate, Kalau hal itu sampai terjadi, celakalah kau seumur hidupmu. Bisa-bisa kau malah pulang ke asalmu."

Tampak Ay Cun cia terkejut setengah mati.

"Apa katamu?"

Tanyanya.

"PuIang ke asalku Bagaimana kau bisa tahu?"

Siau Po mengawasi tosu di depannya, Sebenarnya dia tidak tahu apa-apa.

Katakatanya tadi hanya ingin mempermainkan si tosu dan menggertaknya saja, Tidak tahunya dia malah mengetahui borok di dalam hati si tosu.

Tapi pada dasarnya dia memang pandai melihat mimik wajah orang.

"Tentu saja aku tahu,"

Jawabnya sembarangan Setelah melihat si tosu cemas sekali, Dia sengaja memperlihatkan senyuman ejekan. Ay Cun cia berusaha menenangkan dirinya.

"Mereka pasti tidak sanggup melakukannya,"

Sahutnya masih dengan nada yang garang, Meskipun demikian, Siau Po dapat merasakan tangan tosu itu agak bergetar.

"Mereka memang tidak tahu, tapi lain halnya dengan Giok Liam taysu."

Kata Siau Po.

"Asal mereka pergi ke Ceng Liang si untuk menanyakannya, mereka pasti akan tahu."

Hati Ay Cun cia semakin tercekat "Giok Lim taysu ada di Ceng Liang si?"

Tanyanya. Siau Po menganggukkan kepalanya.

"Kalau kau tidak percaya, pergilah kau ke sana dan buktikan sendiri! Di sana kau akan mendapat kenyataan."

Tiba-tiba Ay Cun cia menjadi gusar.

"Untuk apa aku ke sana?"

Katanya dengan suara keras.

"Walaupun harus mati, aku tidak akan kesana."

"Kitab Si Cap Ji Cin Keng itu, Giok Lim taysu yang memberikannya kepadaku."

Kata Siau Po.

"Meskipun kau tidak menemuinya, dia pasti akan mencarimu.,"

Ay Cun cia mendadak bersikap seperti orang kalap, Dengan kaki kanannya, dia mendupak sebuah batu besar yang terdapat di depannya sehingga tembok kuil itu retak dan pasir-pasir berhamburan Kemudian dia berkaok-kaok dengan keras.

"Kalau Giok Lim taysu datang ke puncak gunung ini, aku yang akan membunuhnya terlebih dahulu, Kata-kataku berat seperti gunung Ngo Ta san ini Sekali aku mengucapkannya, aku akan melaksanakannya."

Di dalam hatinya Siau Po mengeluh --Celaka!

Aku telah salah bicara, Entah mengapa dia begitu membenci Giok Lim taysu, Kalau hwesio itu benar-benar datang ke puncak gunung ini, jangan-jangan jiwaku sendiri sulit dipertahankan lagi!

"Untuk apa kau ikut ke mari?"

Tanya Ay Cun cia kepada Song Ji yang sejak tadi mendengarkan percakapan di antara mereka berdua.

"Apakah kau juga sudah bosan hidup?"

"Dengan kongcu, aku telah berjanji sehidup semati."

Sahutnya dengan berani "Kalau kau mencelakai dia, aku akan mengadu jiwa denganmu."

"Setan alas!"

Teriak si tosu.

"Apa sih keanehan bocah ini? Hh, bocah cilik, apakah kau mencintai nya?"

Wajah Song Ji menjadi merah padam mendengar pertanyaan tosu, Untuk sesaat gadis itu membungkam, sejenak kemudian dia baru berkata.

"Kongcu orang baik, sedangkan kau jahat."

Bersamaan dengan ucapan Song Ji, ke delapan belas Lo han di luar kuil memperdengarkan suara pujian.

"Amitabha! Amitabha! Buddha maha pengasih dan penyayang!"

Mendengar pujian itu, wajah si tosu jadi pucat pasi Kembali terdengar suara ke delapan Lo han dari Siau Lim Sie itu, kali ini ditujukan kepada tosu.

"Ay Cun cia! Bebaskanlah sicu kecil itu dan kembalikanlah kitabnya!"

Tubuh Ay Cun cia bergetar Tosu itu melepas cekalan tangan kiri nya.

Dengan demikian, Siau Po jadi bebas, kemudian dia menutupi kedua telinganya dengan sepasang tangannya, Hal ini karena suara para hwesio itu seakan memekakkan gendang telinganya dan dia tidak suka mendengarnya.

Peluang itu digunakan Songji untuk memeluk dan mengangkat tubuh Siau Po yang kemudian dibawanya kabur.

Ay Cun cia melihat perbuatan Song Ji.

Tosu itu segera mengulurkan tangannya untuk mencengkeram, tapi mengalami kegagalan Gerakan tubuh Song Ji lincah dan licin seperti seekor belut Tetapi tosu itu memang lihay sekali Ketika dia menjambak untuk kedua kalinya, Song Ji tidak dapat menghindar lagi, dan langsung mencengkeram.

Lagi-lagi terdengar suara pujian para hwesio di luar kuil.

"Amitabha! Amitabha! Buddha maha pengasih dan Penyayang! Ay Cun cia, kau seorang tokoh berkenamaan di dunia Bu lim, sekarang kau melayani seorang gadis cilik, apakah kau tidak takut dirimu akan menjadi bahan tertawaan?"

Pertanyaan itu diajukan dengan nada yang penuh kesabaran, Siau Po yang mendengarnya merasa kurang puas, Dia merasa sikap para hwesio itu terlalu lunak.

Kembali hati Ay Cun cia bagai ditikam mendengar ucapan itu.

Hawa amarah dalam dadanya seakan meluap-luap.

"Kalau kalian tetap menggunakan ilmu siluman itu,"

Teriaknya keras kepada para hwesio itu.

"AwasI Aku tidak akan berlaku sungkan lagi! Aku akan mengambil tindakan tegas! Aku akan membunuh bocah ini kemudian merusak kitabnya, Aku ingin tahu, apa yang dapat kalian lakukan!"

Ternyata ancaman itu berhasil. Para hwesio itu langsung berhenti mengeluarkan suara pujiannya.

"Ay Cun cia,"

Terdengar suara Teng Kong bertanya.

"Apa yang kau inginkan agar kau mau melepaskan bocah itu dan mengembalikan kitabnya?"

"Asal kalian berjanji tidak mengganggu aku lagi aku segera melepaskan bocah ini,"

Sahut Ay Cun cia.

"Tetapi mengenai kitabnya, maaf, aku tidak bisa mengembalikannya!"

Para hwesio itu membungkam, Tentu mereks sedang berpikir keras.

Ay Cun cia kembali menotok jalan darah Siai Po dan Song Ji, kemudian dia melihat ke sekitarnya yang sunyi sekali, Dia ingin mencari jalan untuk meloloskan diri, justru pada saat itulah tampak ke delapan hwesio itu berjalan mendekai tempatnya.

Lima orang hwesio memisahkan dirinya di sebelah kiri, lima lainnya di kanan, mereka mengambil sikap mengepung.

Melihat hal itu, Ay Cun cia jadi mendongkol sekali.

"Kalau kalian berani, mari kita bertarung satu lawan satu!"

Teriaknya.

"Dengan satu per satu, kalian boleh menguji kepandaianku! sekalipun kalian menghadapi aku secara bergiliran, aku tidak takut!"

Teng Kong merangkapkan kedua tangannya.

"Maafkan kami!"

Katanya.

"Maaf kalau sikap kami kurang hormati Kami akan maju bersama-sama."

Ay Cun cia mengangkat kaki kirinya untuk dijejakkan di atas kepala Siau Po. Kemudian dia mendengus dingin.

"Hm! Hm!"

Dia bermaksud memperingatkan, asal hwesio itu maju lagi, terlebih dahulu dia akan membunuh Siau Po.

Siau Po tercekat hatinya dan cemas ketika mencium bau busuk dari sepatu tosu itu, Tiba-tiba saja pikirannya menjadi gelap sehingga dia tidak tahu bagaimana harus menyelamatkan diri, Totokan tosu itu membuatnya tidak bisa berkutik.

Song ji juga tidak berdaya, Bersama-sama kong-cunya, dia memperhatikan Ay Cun cia yang sedang mengawasi para hwesio dengan tatapan tajam, Semuanya berdiam diri untuk memutar otaknya, Mata Siau Po jelalatan di sekitar pendopo.

Dia ingin mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk mengalihkan perhatian tosu dan dengan demikian para hwesio itu dapat maju serentak menolongnya, Dia sengaja menghindarkan diri dari tatapan tosu yang tajam.

Tapi, karena kaki tosu itu ada di atas kepalanya, Siau Po tidak leluasa melihat ke sekitarnya kecuali keluar justru pada saat itulah dia melihat sebuah batu besar berbentuk kura-kura di luar kuil, Di punggung arca kura-kura itu terdapat sebuah batu lainnya yang penuh dengan ukiran huruf, Selain itu, dia tidak bisa melihat apa-apa lagi, Tapi dasar otaknya memang cerdas, batu itu saja sudah cukup baginya untuk memikirkan sebuah akal.

"Eh, Ay suhu!"

Demikian katanya.

"Kau lihat ayahmu tengah mendekam di halaman dengan punggungnya menggendong sebongkah batu besar yang beratnya mungkin mencapai ribuan kati, Tidakkah dia terlalu capek? Kalau kau tidak cepat-cepat menolongnya, kau sungguh anak yang tida berbakti!"

"Apa yang kau maksudkan dengan ayahmu mendekam di halaman luar?"

Bentak tosu itu.

"Janga ngoceh sembarangan!"

Siau Po tidak memperdulikannya, dia hanya bertanya.

"Kitab Si Cap Ji Cin Keng terdiri dari delapan jilid, kau hanya mendapatkan satu, masih sisa tujuh lainnya. Apa gunanya kalau hanya memiliki satu

Jilid saja?"

"Di mana tujuh

Jilid lainnya?"

Tanya tosu itu segera.

"Apakah kau mengetahuinya?"

"Tentu saja aku tahu,"

Sahut Siau Po kalem.

"Di mana tempatnya?"

Tanya tosu itu dengan nada mendesak "Lekas beritahukan kepadaku, kalau tidak aku akan menginjak batok kepalamu biar jadi bubur!"

"Tadinya aku tidak tahu,"

Sahut Siau Po.

"Baru saja aku mengetahuinya."

"Baru saja kau mengetahuinya?"

Tanya si tosu bingung.

"Apa maksudmu?"

Di punggung arca kura-kura itu terdapat banyak ukiran hurufnya. Siau Po tidak tahu apa bunyinya, sebab dia buta huruf, karena itu dia pura-pura membaca dengan perlahan-lahan.

"Kitab Si Cap Ji Cin keng semuanya terdiri dari delapan jilid, Kitab yang pertama terletak di propinsi Ho Lam, entah di kuil apa atau gunung apa, sebab ada beberapa huruf yang tidak aku kenal...."

"Huruf-huruf mana?"

Tanya Ay Cun cia yang ikut memperhatikan punggung kura-kura itu.

"Toh semua tulisannya jelas sekali..?"

Siau Po tidak menjawab pertanyaannya, dia masih memperhatikan punggung kurakura itu dengan seksama.

"Kitab yang kedua terletak di propinsi Sho Say di gunung Pit Ki san,"

Kembali dia pura-pura membaca.

"Entah dalam wihara apa.... Suhu, dua huruf itu aku tidak kenal, ukirannya pun samar-samar Kepandaianmu tinggi dan kau pun berpendidikan tinggi, coba kau ke sana melihatnya sendiri..."

Ay Cun cia percaya dengan kata-kata Siau Po Dia mengangkat tubuh bocah itu dan dibawanya ke dekat batu kura-kura itu.

Tetapi huruf yang terukir di batu itu adalah huruf Toan Ji.

Dia sendiri tidak mengerti huruf model itu.

"Kitab yang ketiga terletak di propinsi Su Coan wilayah kota Seng Tou, tapi apa nama gunungnya aku tidak tahu, Aku tidak kenal huruf-huruf itu...

kata Siau Po yang melanjutkan bacaannya.

Memang Ay Cun cia pernah mendengar tentang kitab Si Cap Ji Cin Keng yang terdiri dari delapan jilid, Dan ke delapan

Jilid kitab itu harus disatukan baru ada gunanya, tetapi di mana adanya kitab-kitab tersebut, dia sama sekali tidak tahu, itulah sebabnya dia percaya dengan ocehan Siau Po.

Dia segera menggeser kakinya dari kepala si bocah dan membangunkannya.

"Di mana tersimpan kitab ke empat?"

Tanyanya. Siau Po pura-pura mengawasi batu itu. Dia menolehkan kepala ke kanan ke kiri, kemudia menggeleng beberapa kali.

"Aku tidak dapat melihat hurufnya dengan tegas..."

Sahutnya Ay Cun cia menenteng tubuh bocah itu dan dibawanya maju tiga langkah sehingga jarak mereka dengan batu itu semakin dekat, kemudian dia menatap Siau Po lekat-lekat seakan bertanya dengan sinar matanya.

"Aduh... kepalaku gatal sekali!"

Teriak Siau Po tiba-tiba.

"Apa katamu?"

Tanya tosu itu.

"Kuil ini banyak kutunya, ada kutu yang melompat ke atas kepalaku,"

Sahut si bocah yang cerdik.

"Dia menggigit kulit kepalaku sehingga aku kegatalan, Ay Cun cia, coba kau cari dan tangkap kutu itu. Kepalaku gatal sekali sehingga aku tidak dapat melihat dengan jelas...."

Ay Cun cia membuka kopiah bocah itu, kemudian mengacak-acak rambut Siau Po dengan jari tangannya yang panjang-panjang. Maksudnya tentu ingin mencari kutu yang dikatakan Siau Po.

"Bagaimana? Apakah gatainya sudah berkurang?"

"Belum,"

Sahut Siau Po.

"Aih... aih... kutu itu pindah ke sebelah kiri, sedangkan kau menggaruk sebelah kanan. Ya percuma saja, gatalnya semakin bertambah-tambah...."

Ay Cun cia menggaruk sebelah kiri.

"Eh, eh!"

Seru si bocah sekali lagi.

"Eh, dia pindah ke bawah, Di dekat tengkuk, apakah kau melihatnya?"

Ay Cun memperhatikan Tosu itu bukan orang toloI, Dia langsung menyadari bahwa Siau Po sedang mempermainkannya.

Tapi dia ingin mengetahui bunyi huruf-huruf yang tertera di atas batuI itu, karena itu, dia menepuk punggung Siau Pol untuk membebaskan jalan darahnya, Kecuali itu dia pun meletakkan tangan kirinya di atas bahu bocah itu agar dia tidak melarikan diri.

"Nah! Kau garuk saja sendiri!"

Katanya karena tidak ingin dipermainkan terus oleh Siau Po.

"Aduh! Kutu ini jahat sekali! Mungkin sudah ada tiga tahun dia tidak pernah menghisap darah manusia. Tadinya dia pasti pendek gemuk dan sekarang dia menjadi kurus kering, Sialnya dia menumpahkan kemarahannya kepadaku dan menggigit aku habis-habisan!"

Sembari berkata, Siau Po menyusupkan tangan nya ke balik pakaian dan menggaruk di sana sini.

Ay Cun cia tahu, secara tidak langsung bocah ini sedang menyindirnya.

Tapi dia membiarkan saja Tosu itu pura-pura tidak tahu.

Dia hanya bertanya kembali.

"Di mana letaknya kitab yang ke empat?"

"Kitab yang ke empat terletak di propinsi Hi Lam, di gunung Siong."

Sahut Siau Po yang menghentikan ucapannya sejenak dan berpura-pura memperhatikan ukiran di punggung kura-kura itu dengan serrius.

"Entah gunung apa, di dalam kuil Siau Lim Sie, di Tat... entah apa ih...."

"Apa?"

Seru Ay Cun cia terkejut "Di simpan dalam kuil Siau Lim Sie, ruang Tat Mo Ih?"

Sengaja Siau Po memberikan keterangan yang ngawur itu, Karena dia melihat kenyataan bahwa Ay Cun cia tidak suka terhadap para hwesio dari Siau Lim Sie dan dia yakin tosu itu tidak berani menyatroni ruang Tat Mo Ih yang terdapat dalam kuil Siau Lim Sie.

"Entahlah, pokoknya tulisannya Tat entah apa ih..."

Sahutnya.

"Eh, Ay Cun cia, kalau kau tahu semua tulisan ini, untuk apa kau menyuruh aku membacanya? Kalau kau buta huruf, katakan saja terus terang! Ah, aku tahu sekarang! Tentunya kau sedang menguji aku, bukan? sayangnya banyak huruf yang aku tidak tahu,..."

Tosu itu diam saja.

Rona wajahnya berubah-ubah.

Hal ini membuktikan bahwa dia merasa jengah Beberapa kali dia melirik ke arah para hwesio dari Siau Lim Sie, tentunya hatinya merasa bimbang.

Siau Po memperhatikan sikap tosu dengan seksama, Dia juga melirik ke sekitarnya, lalu diam-diam dia menarik ke luar pisau belatinya dari dalam kaos kakinya untuk disimpan di dalam sakunya, Gerakannya lincah sekali.

"Di mana tersimpan

Jilid yang ke lima?"

Tany Ay cun cia kemudian, Perihal Siau Lim Sie yang merupakan sebuah partai persilatan terbesar yang ada di dunia kangouw, sebenarnya Siau Po mendengar dari mulut Ha Tay Hu.

Selain itu, dia juga tahu Bu Tong Pai da Kong Tong Pai pun termasuk partai persilatan yang besar dan ternama, Sebab si nenek sihir pernah berusaha meyakinkan Hay kongkong bahwa dirinya berasal dari partai Bu Tong pai, sedangkan Hay kongkong sendiri berasal dari Kong Tong Pai.

Itulah sebabnya dia segera memberitahukan bahwa atas punggung kura-kura itu tertulis bahwa kitab lima ada di partai Bu Tong Pai dan kitab ke enam ada di Kong Tong Pai.

Mendengar keterangannya, wajah Ay Cun cia yang sudah muram berubah semakin kelam.

Kemudian dia menanyakan tentang kitab yang ke tujuh dan yang terakhir.

"Kitab yang ke tujuh didapatkan oleh keluar Bhok yang ada di Inlam,"

Sahut Siau Po, Dia mmang cerdik, dan tidak kenal takut "Dan kitab yang ke delapan, katanya ada di dalam istana yang sebut Peng Si onghu yang ada di propinsi In lam juga...."

Siau Po sengaja menyebut Bhok onghu, karena dia sangat benci kepada Pek Han Hong yang pernah menyakitinya, Dia berharap Ay Cun cia akan datang ke sana dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, Karena itu pula, dia sekalian menyebut Peng Si onghu, Mendengar keterangan tentang tempat tersimpannya kitab ke delapan, Ay Cun cia agak heran.

"Kau mengatakan kitab yang ke delapan ada di dalam istana Peng Si onghu?"

Tanyanya menegaskan "Entahlah, Peng si onghu atau bukan..."

Sahut Siau Po.

"Aku tidak begitu kenal dengan huruf-hurufnya...."

"Ngaco!"

Bentak Ay Cun cia dengan nada garang.

"Batu berukiran itu setidaknya sudah berusia seribu tahun, sedangkan berapa usia Go Sam Kui sekarang? Di atas batu berusia seribu tahunan, mana mungkin terukir nama Peng Si Ong?"

Memang warna batu serta kura-kura itu sudah tua dan berlumut pula, Dalam hal ini, dasar usia Siau Po masih terlalu muda, dia tidak pernah berpikir sejauh itu, Menyebut nama berbagai partai, memang masih bisa diterima, tapi menyebut namanya Go Sam Kui, lain sekali -Ah, celaka!

celaka --, keluhnya dalam hati, Dia insyaf atas kekeliruannya, Dasar otaknya cerdik, dia tidak jadi panik, Dengan tenang dia berkata.

"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak kenal semua huruf itu, Kalau sekarang ada Peng Si Ong, mungkin saja jaman dulu ada Kau Si Ong, Miau Si ong atau Ku Si Ong, Oh, Ay Cun cia, biar aku katakan terus terang kepadamu, Huruf-huruf miring ke sana-sini, banyak sekali lekukannya, kai nanya jadi sulit dikenali Kau sendiri mengal mengerti, mengapa kau tidak membacanya sendii Kalau memang tidak tahu, katakan saja tidak tahu, tidak usah berpura-pura, Di depan ada para hwesio yang semuanya berpendidikan tinggi, kalau di depan mereka kau membaca secara serampangi apakah kau tidak takut menjadi bahan tertawaan. Kata-kata Kau, Miau dan Ku yang diucapkan Siau Po tadi artinya anjing, kucing dan kura-kura. Sengaja Siau Po menyebutkan kata-kata itu untuk mempermainkan si tosu. Ay Cun cia membungkam. Rona wajahnya kembali berubah-ubah. Memang benar apa yang dikatakan Siau Po. Kali ini dia tidak menjadi marah. Malah ia menganggukkan kepalanya.

"Memang benar Aku tidak kenal satu huruf-huruf yang seperti cacing itu."

Ujarnya kemudian.

"Jadi, kemungkinan itu bukan huruf Pengsi Ong, lalu bagaimana dengan huruf-huruf selanjutnya?" -Sungguh berbahaya! -keluh Siau Po dalam hatinya, --Untung aku bisa mengelabuinya. sekarang aku harus menggunakan kata-kata yang biasa dan ucapan yang manis agar hatinya menjadi tenang, Tadi dia mengatakan tentang pulau Coa yang sama dengan Sin Liong To, dia juga kenal dengan si gendut Liu Yan, kemungkinan dia berasal dari Sin Liong kau... -Dengan membawa pikiran itu, Siau Po segera menelengkan kepalanya dan berpurapura memperhatikan batu berukiran itu lagi.

"Huruf-huruf yang ada di bawah mirip dengan tulisan Siu (umur) serta huruf Thian (langit),"

Katanya kemudian "Aih! Thian apa ya?"

Tampaknya Ay Cun cia tertarik sekali dengan keterangannya.

"Coba lihat yang tegas!"

Katanya memerintahkan "Huruf Siu dan Thian, lalu apa lagi?"

"Tampaknya mirip dengan huruf Ci,,."

Kata Siau "o.

"Ah! itulah huruf Siu I Thian Ci!"

Mendengar keterangan itu, tiba-tiba wajah Ay Cun cia jadi berseri-seri, Siu I Thian Ci artinya berusia panjang seperti langit, Dia sampai menggosok-gosokkan kedua tangannya.

"Benar! Benar!"

Serunya gembira.

"Apa tulisan lainnya?"

"Huruf-huruf ini sudah tua dan aneh pula,"

Kata tiau Po.

"Sungguh susah mengenalinya, Ya, ya... ada luruf Hong, ada tiga huruf Hong kaucu, Ada juga dua huruf Sin dan Liong, Nah, lihat ini! Ada huruf "

In Tong Kong Tay (Artinya kepandaian yang dahsyat) Tiba-tiba si tosu berjingkrak kegirangan.

"Benarkah Hong kaucu demikian beruntung sehingga usianya sama dengan usia langit?"

Katanya, benarkah ukiran ini sudah tua sekali umurnya?"

"Di batu ini terdapat peringatan bagi Kaisar Tong Thay Cong Lie Si Bin. Beliau memerintahkan Cin Siok Po beserta Tia Kau Kim membuat batu peringatan ini. Di sini pun tertera jelas nama guru besar atau penasehat agung jaman dinasti itu, yakni Kunsu Ci Bou Kong yang pandai meramal kejadian yang akan terjadi seribu tahun mendatang atau pun seribu tahun yang telah lalu. Beliau telah meramalkan bahwa pada seribu tahun kemudian akan muncul seorang Hong kaucu, yakni ketua sekti agama dari Sin Liong kau yang kesaktiannya bagai dewa dan usianya panjang seperti usia langit."

Siau Po mengetahui nama-nama kaisar seperti menteri-menteri besar di jalan dahulu kala karena sering menonton pertunjukan wayang orang ketika masih di Yang-ciu.

Dia sendiri tidak menyangka ocehannya itu akan berhasil mengelabui tosu itu sedangkan tentang kesaktian dan kesetiaan para pengikut Hong Kaucu, Siau Po mendengarnya di rumah keluarga Cung ketika ciong losam berbicara dengan rekan-rekannya.

Ay Cun cia menggaruk-garuk kepalanya denga mulut melongo.

"Entab di belakang batu itu masih terdapat tulisannya atau tidak?"

Kata Siau Po kemudian.

"Ya, mungkin saja,"

Kata Ay Cun cia yang tertarik sekali Dia segera berjalan ke belakang bat itu untuk memeriksanya.

Bagian 38 Tepat pada saat itu, Siau Po segera melompat satu tindak untuk mundur ke belakang, Tosu itu terkejut setengah mati, Dia mengulurkan tangannya untuk menjambret bocah itu, Tapi empat orang hwesio dari Siau Lim Sie yang ada di kiri dan kanan segera maju mengibaskan tangannya yang sedang meluncur itu.

Dengan demikian, dia terpaksa membela dirinya terlebih dahulu, Siau Po berhasil lolos, dia segera bersembunyi di belakang para hwesio lainnya, sedangkan empat hwesio lagi segera berhambur ke depan untuk memberikan bantuan kepada para rekannya.

sekarang Ay Cun cia dikepung oleh delapan orang hwesio yang langsung melancarkan serangan kepadanya.

Kena atau tidak, dia tetap diserang, Dengan demikian ke delapan hwesio itu seperti bukan menghadapi lawan, mereka seakan sedang mengajak si tosu berlatih silat.

Ay Cun cia mengadakan perlawanan sepasang tangannya digunakan untuk melindungi diri dari serangan delapan orang lawan, Kadang kala dia membalas menyerang, Tampaknya dia sanggup mempertahankan diri, Tidak tampak tanda-tanda dia keteter atau kewalahan Satu kali dia menoleh ke arah batu besar berukiran itu, tangannya langsung terhajar oleh seorang hwesio, tapi dengan lincah dia bisa membalasnya.

Hwesio yang satu ini segera mengundurkan diri untuk digantikan oleh seorang kawan nya.

Lewat beberapa jurus, paha Ay Cun cia kena tendangan.

Dia segera membalas dengan menghantamkan kedua tangannya ke depan berulang-ulang.

Dengan demikian ke delapan hwesio itu menyurut mundur.

"Tahan!"

Teriaknya kemudian Delapan hwesio itu menyurut mundur lagi dua langkah, kemudian mereka memperhatikan si tosu lekat-lekat.

"Hari ini aku yang hanya seorang diri tidak dapat melawan kalian yang jumlahnya jauh lebih banyak,"

Kata Ay Cun cia terus terang.

"kitab ini aku serahkan kepada kalian."

Dia langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan kitab yang dimaksudkan.

Teng Sim mengerahkan tenaga dalam untuk mempersiapkan diri apabila terjadi halhal yang tidak diinginkan Kemudian dia baru mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut kitab yang disodorkan.

Di luar dugaan, ternyata Ay Cun ia benar-benar menyerahkan kitab itu tanpa melakukan tindakan apa-apa, malah tosu itu tersenyum "Teng Kong taysu!"

Katanya.

"Kalian delapan belas Lo han dari Siau Lim Sie mempunyai nama yang telah menggetarkan kolong langit Kalau kalian delapan belas orang menghadapi aku seorang diri, apakah kalian tidak merasa merendahkan diri sendiri?"

Teng Kong yang ditegur segera merangkapkan sepasang tangannya.

"Maaf!"

Katanya sambil membungkuk dalam-dalam "Kalau kami menghadapimu satu per satu, terus terang kami bukan tandinganmu,"

Kemudian dia mengulapkan tangan kirinya, Rekan-rekannya yang lain langsung mengundurkan diri melihat isyarat itu.

Mereka khawatir si tosu akan mencekal Siau Po lagi, Karenanya, enam orang hwesio segera mengelilinginya dengan maksud melindungi.

Ay Cun cia membalikkan tubuhnya ke arah Siau Po.

"Wi sicu,"

Katanya dengan nada sabar.

"Ada sebuah permintaan yang ingin aku ajukan Aku harap kau bersedia mengabulkannya."

"Urusan apa?"

Tanya Siau Po.

"Aku ingin mengundang kau ke pulau Sin Liong to selama beberapa hari sebagai tamuku."

Tosu itu menjelaskan permintaannya, Siau Po terkejut setengah mati. Para hwesio dari Siau Lim Sie pun heran mendengarnya.

"Apa?"

Tanya Siau Po.

"Kau ingin mengundang aku ke pulau Sin Liong to? Untuk apa? Tempat itu...."

"Harap kau jangan salah paham, Wi sicu,"

Kata Ay Cun cia.

"Aku sudah menyerahkan kitabmu kepada Teng Kong taysu, dengan demikian urusan di antara kita telah selesai Kalau kau bersedia datang ke Sin Liong to, kami para anggota Sin Liong kau, baik yang tua maupun yang muda akan menerimamu dengan penuh kehormatan. Setelah kau bertemu dengan Hong kaucu, kami akan meng antarkan kau pulang dengan selamat tanpa kurang sesuatu apa pun."

Sembari berkata, tosu itu menatap Siau Po lekat-lekat. Dia sadar bocah itu masih merasa ragu-ragu atau kurang percaya. Cepat-cepat dia melanjutkan kata-katanya.

"Aku harap Teng Kong taysu bersedia menjadi saksi! Kata-kata yang telah diucapkan Ay Cun ci bukan sekedar bualan belaka."

Teng Kong tahu tosu itu memang termasuk golongan sesat, tapi dia tidak pernah melakukan kejahatan besar. Dia bersama sahabatnya yang bertubuh pendek gemuk memang selalu memegang teguh kata-katanya.

"Apa yang Cun cia katakan, memang dapat di percaya. Hal ini diketahui baik oleh semua orang, Tapi, Wi sicu ini sedang mempunyai urusan yang penting, Mungkin untuk sementara belum sempat dia datang ke pulau Sin Liong To.,,."

"BetuI! Aku memang mempunyai urusan yang penting sekali."

Tukas Siau Po cepat.

"Lain kali apabila aku mempunyai waktu luang, aku pasti akan datang ke pulau Sin Liong to untuk menjenguk Ay Cun cia serta Hong kaucu."

"Kau harus mengatakan Hong kaucu dan Poa tauto sebawahannya,"

Cela Ay Cun cia.

"Di kolong langit ini, tidak ada seorang pun yang boleh ada di atas Hong kaucu, jangan sekali-kali menyebut nama orang lain di depan nama beliau, perbuatan itu benar-benar tidak menghormat dan merupakan hal penting yang harus diingat!"

Siau Po tertawa.

"Bagaimana dengan Sri Baginda raja?"

"Tetap Hong kaucu terlebih dahulu baru kaisar."

Sahut Ay Cun cia, Nadanya jelas dan tegas, seakan sebuah pernyataan yang tidak dapat diganggu gugat.

"Hal kedua yang harus diperhatikan adalah, di hadapan Hong kaucu, tidak boleh memanggil seseorang dengan sebutan Cun Cia atau cin jin. Di dunia ini hanya ada seorang Hong kaucu yang kedudukannya paling tinggi dan agung. Siau Po sampai meleletkan lidahnya saking heran dan kagum "

Kalau Hong kaucu benar-benar begitu hebat, aku semakin tidak berani menemuinya,"

Katanya.

"Tapi Hong kaucu orangnya penuh welas asih dan penyayang."

Kata Ay Cun cia menjelaskan "Beliau telah melepas budi ke seantero dunia ini, Orang seperti engkau ini, Wi sicu, berotak cerdas, gesit dan masih muda, Hong kaucu pasti senang melihatmu Kalau kau mengadakan perjalanan ke Sin Liong To, aku yakin sepulangnya kau akan mendapatkan banyak keuntungan Hong kaucu pasti akan memberikan hadiah yang istimewa buatmu.

Hal itu tidak perlu dikatakan lagi.

Bahkan, ada kemungkinan, bila hati Hong kaucu sedang gembira, dia akan mengajarkan kau satu dua jurus ilmu yang sakti, Dengan demikian, kelak kau akan menjadi orang yang paling gagah dan jago di kolong langit ini, seumur hidupmu kau akan merasakan kesenangan yang tidak terkirakan"

Ay Cun cia bicara dengan tampang serius, perubahan sikapnya ini sungguh mengejutkan Padahal tadinya dia tidak memandang sebelah mata pada Siau Po, bahkan ingin menginjak kepalanya sehingga hancur lebur seperti bubur.

Sekarang dia memuji Siau Po gagah dan cerdas.

Dia juga selalu memanggil Siau Po dengan sebutan sicu, malah dia takut suaranya kurang jelas sehingga ketika berbicara dia membungkukkan tubuhnya sedikit agar dekat dengan telinga si bocah.

Sementara itu, Siau Po teringat akan pesan To Hong Eng.

Terutama ketika berada di rumah keluarga Cung, dia telah melihat gerak gerik Ciong losam dan rekan-rekannya, Dia juga teringat akan ibu suri, Liu Yan serta laki-Iaki yang menyamar sebagai dayang, Karena itu, kesannya terhadap Sin Liong kau memang sudah kurang baik.

Tapi dia harus mengakui bahwa di antara para anggota Sin Liong kau yang pernah dia temui, Ay Cun cia inilah terhitung yang paling jujur dan poIos.

Dia juga sportif, hanya sayang dia juga agak sembrono dan wataknya keras kepala.

-Sekarang dia mengundang aku ke Sin Liong To, tampaknya dia mengandung maksud kurang baik....-pikirnya dalam hati, -Kata-katanya sekarang memang manis dan sungkan, mungkin saja karena dia jeri menghadapi ke delapan belas Lo han dari Siau Lim Sie ini, Tapi kalau para hwesio ini sudah pergi, kemungkinan dia akan memperlakukan aku dengan sewenang-wenang!

Kalau hal itu sampai terjadi, siapa yang dapat mengendalikannya lagi?

Siapa yang dapat menolong aku?

--Karena berpikir demikian, dia segera menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak mau pergi,"

Katanya menolak undangan si tosu.

Wajah Ay Cun cia langsung berubah kelam dan mengandung penyesalan.

Perlahanlahan tosu itu menegakkan tubuhnya dan matanya menatap ke arah delapan hwesio dari Siau Lim Sie dan berkata dengan suara lirih.

"Sicu kecil,"

Katanya.

"Bagaimana menurut pandanganmu bila ilmu silatku dibandingkan dengan ke delapan belas orang taysu ini?"

"Masing-masing ada kelebihannya."

Sahut Siau Po.

"Masing-masing ada kelebihannya?"

Tanyanya mengulangi dengan nada gusar dan mata mendelik.

"Bagaimana kalau mereka disuruh bertarung denganku satu per satu?"

"Kalau satu lawan satu, mungkin kau yang menang,"

Sahut Siau Po.

"Tapi kalau satu lawan delapan belas, sudah pasti kau yang kalah, itulah sebabnya mengapa aku mengatakan kalian mempunyai kelebihan masing-masing. Kalau satu lawan satu masih kau yang kalah juga, apalagi yang harus dibandingkan?"

Meskipun ucapan Siau Po selalu berputar balik ke sana ke mari, tapi Ay Cun cia tidak menjadi marah, dia malah tertawa.

"Pernahkah kau melihat orang yang ilmunya setinggi ilmuku?"

Tanyanya pada Siau Po.

"Tentu saja pernah,"

Sahut Siau Po cepat dan lancar "llmu kepandaianmu juga biasabiasa saja. Orang yang kepandaiannya lebih hebat sepuluh kali lipat darimu saja, aku sudah cukup banyak melihatnya."

Siau Po masih saja memutar lidahnya yang tajam.

Bocah itu memang pandai melihat gelagat sembari berbicara, dia memperhatikan orang tosi itu lekat-lekat, Tidak tampak perasaan takut sedikit pun pada dirinya, Tiba-tiba Ay Cun cian menjadi marah kembali sekonyong-konyong dia menjulurkan tangannya ke depan untuk membekuk Siau Po.

Begitu tosu itu melompat ke depan, empat orang hwesio segera mengeluarkan suara pujian kemudian maju menghadang sehingga gagallah serangan si tosu.

"Ayo, katakan!"

Teriak Ay Cun cia.

"Siapa yang lebih lihay sepuluh kali lipat dari aku?"

Sebenarnya Siau Po hanya sembarangan mengoceh saja, Ditanya sedemikian rupa, dia jadi terdiam.

Memang dia belum dapat membayangkan siapa orangnya yang lebih jago dari tosu ini.

Kemungkinan gurunya sendiri, Tan Kin Lam, belum tentu sanggup mengalahkan Ay Cun cia.

Melihat bocah itu terdiam, puaslah hati si tosu.

"Lihat!"

Katanya.

"Kau tidak sanggup menyebutkan siapa orangnya, bukan? Kau memang sembarangan mengoceh, bukan?"

Siau Po cerdas sekali, Dalam keadaan terdesak, memang dia sempat bingung, Tapi otaknya langsung berputar. Sesaat kemudian, dia segera berkata.

"Siapa bilang aku tidak bisa menyebutkannya? Tadinya aku hanya berpikir tidak ingin memberitahukannya kepadamu Aku khawatir kau akan terkejut setengah mati. Baiklah, sekarang aku akan memberitahukannya kepadamu, Orang yang jauh lebih gagah dan hebat dari padamu yakni Tan Kin Lam, Cong tocu dari Tian Te hwe. Aku pernah menyaksikan dia bertarung melawan empat orang tosu di kota Pe King, Dengan kedua tangannya dia menyambar ke empat tosu itu. Bayangkan saja, setiap tosu beratnya mungkin paling tidak dua atau tiga ratus kati. Tapi begitu menghentakkan kakinya, dia sanggup melompati tembok kota dengan menenteng empat orang tosu itu. Dibandingkan dengan Cong tocu itu kau pasti masih kalah jauh."

"Huh!"

Ay Cun cia mendengus dingin, Dia memang pernah mendengar nama besar Tan Kin Lam, tapi dia ragu kalau orang itu demikian lihay sehingga sanggup menenteng empat orang tosu sekaligus sedangkan tangannya hanya sepasang.

Apalagi sambil melompati tembok kota.

Karena itu dia tertawa mengejek.

"Kau hanya membual!"

Orang kedua yang ilmu silatnya tinggi sekali ialah seorang nyonya muda yang disebut Sio Kian (si kaki kecil) dari Kang-lam.

Sembari berbicara Siao Po melirik ke arah Song Ji.

Gadis itu menggoyang-goyangkan tangannya agar dia jangan melanjutkan kata-katanya.

Tapi Siau Po tidak memperdulikannya.

"Nyonya muda itu pernah bertarung melawan tiga puluh enam orang tosu dari Bu tong pay. Dia dikurung oleh tiga puluh enam orang tosu itu. Entah apa nama barisan mereka itu..."

"Para tosu itu bertangan kosong atau mengunakan senjata?"

Tanya Ay Cun cia.

"Pedang."

Sahut Siau Po.

"Barisan itu dinamakan Cin Bu Kiam Tin, ilmu barisan rahasia dengan pedang Cin Bu."

Kata Ay Cun-cia menjelaskan.

"Oh, Poan tauto, ternyata pengetahuanmu luas sekali dan kaupun sudah banyak pengalaman, sehingga kau tahu tentang barisan Cin Bu Kiam. Ketiga puluh enam tosu itu mengurung si nyonya muda dengan masing-masing mencekal sebatang pedang. Sedangkan di pihak si nyonya, selain bertangan kosong, dia juga menggendong seorang anak..."

Ay Cun ia tertegun mendengar keterangan Si Po.

"Apa ?"

Tanyanya seakan kurang percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Nyonya muda itu menggendong seorang anak. Dan dia melakukannya sembari bertarung dengan para tosu dari Bu tong pay?"

"Benar."

Sahut Siao Po.

"Memang apanya yang aneh? Nyonya muda itu malah menggendong sepasang anak kembar. Kedua-duanya lucu dan montok-montok."

Sengaja Siao Po membual dengan mengangkat tinggi si Nyonya muda. Bahkan anak yang tadinya seorang sekarang malah menjadi sepasang anak kembar. Kemudian dia menambahkan lagi.

"Sembari berkelahi, nyonya muda itu juga harus membujuk kedua anak kembarnya agar jangan menangis. Dia berkata.

"Anak-anak manis, jangan menangis. Kalian lihat ibumu bermain sulap!"

Selesai berkata, nyonya muda itu langsung menerjang ke arah para tosu itu.

Gerakannya lincah sekali, tangannya menjulur ke sana kemari dengan cepat.

Dalam sekejap mata dia berhasil merampas pedang para tosu itu lalu satu persatu dia menotok mereka sehingga tidak berdaya.

Si Nyonya muda membiarkan anaknya membetot-betot janggut dan kumis para tosu itu sehingga mereka menjadi gusar.

Sedangkan kedua anaknya justru tertawa kegirangan."

Bu Tong Pai sama terkenalnya dengan Siau Lim Pai, mungkin hanya kalah usia saja, ilmu silatnya lihay, karena itu, sengaja Siau Po memilih partai itu sebagai bahan ceritanya sebab dia mendapat kenyataan bahwa Ay Cun cia tidak mungkin sanggup memecahkan-barisan Lo han tin.

Ay Cun cia berdiam diri, tampaknya dia sedang berpikir keras, Kemudian dia menarik nafas dalam-dalam.

"Aih! Di kolong langit ini ternyata ada ilmu silat yang demikian lihay!"

Katanya kagum dan takluk "Kepandaian nyonya muda itu pasti lebih tinggi daripada Tan Kim Lam yang hanya sanggup menenteng empat orang lawan sambil melompati tembok kota!"

Siau Po merasa puas melihat si tosu percaya dengan ocehannya.

"Biar aku katakan terus terang kepadamu, nyonya muda itu adalah ibu angkatku,"

Katanya kemudian.

Sementara itu, hati Song Ji menjadi lega mendengar cerita Siau Po.

Tadinya dia mengira Siau Po akan mengatakan tentang nyonya ketiga dari keluarga Cung yang pernah menjadi majikannya.

Tapi setelah mendengar kelanjutan cerita Siau Po tentang si nyonya yang mempunyai anak kembar bahkan mengakui si nyonya sebagai ibu angkatnya, dia langsung sadar bahwa Siau Po hanya membual untuk mempermainkan tosu tersebut.

Mana mungkin ada nyonya selihay itu di dunia ini?

Ay Cun cia justru percaya penuh dengan ocehan Siau Po.

Hatinya menjadi kagum juga tercekat.

"Apa? Nyonya muda itu ibu angkatmu?"

Tanyanya.

"Apakah nyonya muda itu dari keluarga she? Di kolong langit ini ternyata ada seorang nyonya muda yang demikian lihay tapi aku kok belum pernah mendengarnya?"

Siau Po tertawa.

"Di dalam dunia persilatan orang yang kepandaiannya tinggi, jumlahnya banyak sekali,"

Katanya.

"Umpama saja istriku ini...."

Siau Po menunjuk ke arah Song Ji.

"Kau lihat tubuhnya kecil langsing, tampaknya lemah tetapi tidak disangka dia begitu lihay, bukan?"

Wajah Song Ji jadi merah padam.

"Bukan."

Katanya jengah.

"Wi siauya, jangan kau bicara yang bukan-bukan?"

Ay Cun cia menyadari bahwa ilmu silat gadis itu memang hebat sekali Apabila dia sendiri kurang lihay, mungkin sudah sejak semula dia roboh di tangan Song Ji.

Karena kata-kata Siau Po memang ada benarnya, ia pun menganggukkan kepalanya.

"Kau benar,"

Katanya.

"Karena Sicu tidak bersedia memenuhi undangan ke pulau Sin Liong To, ya sudahlah Tidak apa-apa. Tuan-tuan sekalian, di sini Poan tauto mengucapkan selamat jalan."

"Taysu, silahkan taysulah yang berangkat terlebih dahulu!"

Kata Siau Po cepat.

Sikap Siau Po sungkan dan penuh hormat padahal dia memang ingin tosu itu berangkat terlebih dahulu atau lekas-lekas mengangkat kaki dari tempat itu.

Dengan demikian, kalau si tosu menuju ke timur, dia akan mengambil arah sebelah barat Dan kalau dia menuju ke utara, Siau Po akan mengambil arah selatan Dengan kata lain, dia tidak ingin bertemu dengan tosu itu lagi Tapi Ay Cun cia menggelengkan kepalanya.

"Sicu, silahkan sicu berangkat terlebih dahulu!"

Katanya.

"Aku ingin mencatat dulu bunyi huruf-huruf yang terukir di atas batu ini."

Siau Po yakin ucapannya bukan hanya sekedar dusta, Dia tadinya tidak menyangka si tosu akan percaya sepenuh hati terhadap apa yang diocehkannya, Tanpa menunda waktu lagi, dia segera mengajak Song Ji serta kedelapan hwesio meninggalkan puncak Kim Siu Hong tersebut.

Teng Sim mengeluarkan kitab Si Cap Ji Cin keng dan mengembalikannya kepada Siau Po.

"Sicu, apakah sicu benar-benar langsung pulang ke kota Pe King?"

Tanyanya.

"Benar."

Sahut si bocah.

"Ada apa, taysu?"

"Kami menerima perintah dari Giok Lim taysu untuk mengantarkan sicu sampai di kerajaan,"

Sahut hwesio itu. Mendengar kata-katanya, Siau Po senang sekali.

"Bagus, Bagus sekali,"

Katanya.

"Aku justru sedang bingung kalau tosu tadi tidak mau menyudahi urusan ini dan mengganggu aku lagi dalam perjalanan Tapi, kalau taysu sekalian melindungi aku dalam perjalanan, siapa yang menjaga keselamatan Heng Ti taysu?"

"Sicu tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu,"

Kata Teng Sim.

"Giok Lim taysu telah mempunyai rencana tersendiri."

Siau Po menganggukkan kepalanya, sekarang dia percaya penuh terhadap Giok Lim taysu, meskipun hwesio itu bersemedi dengan memejamkan mata, tapi dia memang telah mengatur segala sesuatunya dengan sempurna.

Kalau ditilik dari keadaan luarnya, dia bersemedi dengan khusyuk sekali Mungkin langit runtuh pun dia tidak akan perduli Tapi sebetulnya dia tenang dan hebat.

Satu hal yang pasti, dengan diantar oleh para hwesio ini, dia tidak mengkhawatirkan apa pun lagi.

Mereka segera melakukan perjalanan menuju kerajaan.

Pada suatu hari, tibalah mereka di luar tembok kerajaan.

Di sana kedelapan belas Lohan dari Siau Lim Sie berpamitan dengan Siau Po.

"Sicu, kita sudah sampai di tujuan, sekarang kami akan kembali ke kuil kami,"

Kata Teng Sim.

"Terima kasih, Taysu sekalian!"

Kata Siau Po.

"Kalian sudah bercapek lelah mengantarkan aku. Kalian baik sekali Nah, terimalah hormatku!"

Dia langsung menjatuhkan dirinya berlutut dan menyembah.

Teng Sim mengulurkan tangannya membangunkan Siau Po.

Dia mencegah anak itu memberi hormat secara berlebihan "Perjalanan yang kita lakukan tidak bedanya dengan berpesiar, Sicu, Sedikit pun kami tidak merasa lelah, Sungguh menarik hati melihat pemandangan alam yang indah dari Shoa Say ke kota Pe King ini.

Sicu tidak perlu sungkan atau pun banyak peradatan!"

Siau Po mempunyai uang dalam jumlah yang banyak sekali.

Sejak berangkat dari Ngo Tay san dia sudah menyewa sembilan belas buah kereta, Dia dan Song Ji duduk di atas sebuah kereta, sedangkan para hwesio dari Siau Lim Sie masing-masing menduduki sebuah kereta, Ie Pat diperintahkan berangkat sehari sebelumnya untuk mempersiapkan makanan, minuman, atau penginapan Para hwesio itu dilayani dengan baik sepanjang perjalanan, meskipun mereka semua Cia Cai atau berpantang daging dan makanan sayur mayur saja, tapi mereka merasa puas.

Apalagi sepanjang perjalanan Siau Po memberikan tip dengan royal kepada para pelayan rumah makan maupun penginapan.

Kedua belah pihak sama-sama berat untuk berpisah, Para hwesio itu sangat menyukai Siau Po yang sikapnya hormat serta pandai membawa diri.

Bahkan bicaranya pun selalu menyenangkan.

Bocah itu sendiri merasa berat berpisah dengan para hwesio itu, dia sampai mengeluarkan air mata.

"Siancay! Siancay!"

Teng Sim mengeluarkan kata pujian "Sicu kecil, janganlah kau bersedih hati Kalau ada jodoh, sudilah kiranya kau berkunjung ke Siau Lim Sie agar kita dapat berjumpa lagi!"

"Aku pasti akan datang"

Kata Siau Po sambil menangis terisak-isak.

"Sicu,"

Kata Teng Sim kemudian "Kita akan berpisah, ijinkanlah aku berbicara terus terang, Menurut penglihatanku, tampaknya sicu terkena semacam racun.

Secara diamdiam aku pernah berusaha mengusir racun itu, tapi tidak berhasil.

Karenanya aku jadi heran, apa jenis racun itu sebenarnya?"

Siau Po menganggukkan kepalanya, Memang benar, sejak diracuni oleh Hay Tay Hu, sering dia merasakan nyeri di dadanya, atau lambungnya, Dan rasa nyeri itu semakin terasa serta menjadi sering, Kalau datangnya cepat, perginya cepat pula, Karena itu penderitaannya agak berkurang, Namun, sejak dihajar oleh ibu suri, luka itu semakin parah, Tapi dia tidak menghiraukannya.

Pertama karena dia masih muda, selain itu pikirannya juga terbuka dan tidak begitu mengkhawatirkannya, Sekarang, setelah mendengar ucapan Teng Sim, dia baru teringat kembali sehingga tanpa sadar dia mengucurkan air mata kembali.

"Aku dicelakai oleh dua orang jahat,"

Katanya menjelaskan "Yang pertama menaburkan racun dalam makananku, yang kedua menghajar aku sehingga terluka parah."

Teng Sim berdiam diri sejenak, kemudian dia baru berkata lagi.

"Kalau begitu, sicu, sebaiknya kau harus banyak melakukan amal, Dengan demikian diharapkan segala yang buruk dapat diubah menjadi kebaikan Mengenai racun yang mengendap dalam tubuh seandainya kau tidak sanggup menyembuhkann silakan kau datang ke Siau Liam si, di sana aku hwesio tua akan berusaha menyembuhkannya!"

Senang sekali hati Siau Po mendengar janji ini. Dia berlutut dan menganggukkan kepalanya berkali-kali serta mengucapkan terima kasih.

"Bangunlah, sicu!"

Kata Teng Sim sembari membangunkannya sekali lagi.

Sampai di situ, kedua belah pihak pun berpisah.

Sementara itu, Song Ji bingung mendengar pembicaraan kedua orang itu tentang luka serta racun yang mengendap dalam tubuh Siau Po.

"Siauya,"

Katanya dengan merubah panggil nya yang sebelumnya Kongcu itu.

"Ternyata kau keracunan dan terluka puIa, Bagaimana keadaan sekarang? Apakah kau masih merasakan sakitnya?"

Selesai bertanya, tanpa sempat menunggu jawaban Siau Po, gadis kecil itu sudah menangis tersedu-sedu, Hal ini membuktikan bahwa dia cemas sekali terhadap keselamatan Siau Po.

Si bocah tanggung tertawa.

"Eh, kenapa kau menangis?"

Tanyanya.

"aku tidak merasa sakit sedikit pun."

Dia mengangkat lengan bajunya kemudian digunakan untuk menghapus air mata Song Ji. Wajah gadis kecil itu berubah merah padam, ia merasa jengah sekali.

"Siauya,"

Katanya.

"Aku rasa sebaiknya beberapa hari lagi kita pergi ke Siau Lim Sie dan minta taysu tadi mengobatimu."

"Baik."

Kata Siau Po memberikan janjinya.

"Kebetulan Teng Tong si hwesio muda baik sekali kepadaku, aku ingin bermain-main dengannya."

Di antara kedelapan belas hwesio dari Siau Lim sie yang tergabung dalam Cap Pek Lo Han, usia Teng Tong yang termuda, Dia baru berumur dua puluh empat tahun, Tetapi dia cerdas, giat, rajin, serta tekun, Belakangan ilmu silatnya mengalami banyak kemajuan sehingga terpilih menjadi salah satu anggota Lo Han Tin.

Selama dalam perjalanan, ia memang cocok sekali dengan Siau Po.

Begitu tiba di kota kerajaan, Song Ji mendecak kagum, Kota itu begitu ramai dan indah, Dia sampai terpana menyaksikan segalanya.

Semasuknya ke Se Mui, pintu kota sebelah barat, Siau Po langsung mengajak Song Ji menuju hotel Ji Kwi.

Dia minta disediakan kamar kelas satu dan telah merencanakan untuk membiarkan Song Ji menetap di sana saja, Dengan demikian keesokan harinya, bila dia menemui junjungannya, dia tidak kan mengalami kerepotan Dia harus memberikan laporan tentang hasil perjalanannya.

Malam itu, setelah menyuruh Songj Ji kembali ke kamarnya, gadis itu mendapatkan kamar yang terpisah Siau Po sendiri mulai bekerja, Sejak siang harinya dia memang sudah merencanakan apa yan harus ia lakukan dan semuanya pun telah dipersiapkan, Setelah mengunci pintu, Siau Po mengeluarkan pisau belatinya yang tajam.

Setelah menggeser meja, ia membuat lobang di kolong meja itu untuk menyimpan kitabnya, Kitab Si Cap Ji Ci keng telah dibungkus rapih dengan kain minjak dan dimasukkan dalam kotak baju itu segera disimpannya dalam lubang itu.

Setelah dimasukkan kitab itu ke dalamnya temboknya pun dipelester kembali dengan semen yang telah disiapkan sebelumnya.

Habis menyimpan kitabnya Siau Po dapat mengeluarkan napas lega, Dia berpikir dari suatu perangkat terdiri dari delapan jilid, Dia sudah menyelesaikan tujuh jilid, Maka dia tinggal menyelesaikan satu

Jilid lagi kemudian dia dapat pergi ke tempat simpanan harta bangsa Boan Ciu guna mencari. Menggali dan mendapatkannya.

"Tetapi aku harus mengelabui kaisar Kong Hi"

Pikirnya kemudian.

"Tegakah aku mendustainya?"

Siau Po merasa tidak enak sendiri menipu Kaisar, yang menyayangi dan menyukainya, hingga ia pun menyukainya sebagai sahabat layaknya.

"Dengan susah payah aku mendapatkan kitab ini dari tangan Ay Cun cia. jika tidak diselesaikan tentu kitab ini akan jatuh entah pada tangan siapa. Tak apa toh sekarang kitab ini sudah jatuh ke tanganku."

Berpikir demikian, Siau Po dapat menenangkan hatinya, lantas membuka pintu kamarnya, Tiba-tiba dia merasakan nyeri pada lambungnya.

"Oh celaka si kura-kura dan si moler bangkotan itu."

Dia mendamprat dalam hati sebab tiba-tiba saja luka dalam tubuhnya kumat, nyerinya bukan main, Maka dia harus menungkuli diri guna melawan penyakit tersebut.

Besok paginya, Siau Po memerintahkan Ie Pat pergi dan mencari kereta, Dia ingin mengajak Song Ji makan di rumah makan besar agar gadis itu terbuka matanya, Buat Siau Po sendiri ia ingin membeli pakaian thay-kam lengkap dengan topinya agar ia dapat menghadap raja dengan pakaian baru.

Jika pakaian thay-kam sukar didapatkan dia akan berdandan saja selaku siwi, pengawal raja, Kalau ia memasuki istana dengan pakaian sebagai siwi, pasti semua siwi lainnya akan memperhatikannya.

Tapi itu tidak mengapa, ia toh siwi sejati, Dan raja sendiri yang mengangkatnya menjadi Gie Cian Siwi Hu Cokoang.

Berpikir demikian, lega rasanya dan Song Ji pun girang.

"Ya begini saja,"

Katanya dalam hati.

"Buat apa berdandan sebagai Thay-kam, seorang kebiri? Betapa agungnya seorang pengawal pribadi raja, Lohu akan memasuki istana dan keraton dengna memakai baju Makwa kuning."

Demikian bersama Song Ji, thay-kam ini menaiki kereta yang dipesannya, Sewaktu berbicara dia juga meniru lagu orang Pakha, Orang kota, bahkan orang kaya raya.

"Lebih dahulu kita pergi ke rumah makan Kweeseng,"

Kata Siau Po pada kusir kereta.

"Masakan di sana semua lezat."

Sang kusir menyahut "ya"

Lantas naik dan duduk di sisinya, Dia memuji keledai penarik kereta yang disewa ini.

Keledai semacam ini didapat dari propinsi Soa Sai.

Siau Po gembira sekali, ia tidak memperhatikan jalannya kereta, Dan ia baru terkejut setelah kereta itu tiba di luar kota.

"Eh, eh, aku ingin pergi ke See Tan kenapa sekarang keluar kota?"

"Ya, ini sebab si keledai bandel itu,"

Kata sais kereta.

"Setelah sampai di jalan menuju luar kota tak mau ia memutar dan berbalik arah."

Siau Po tertawa begitu juga Song Ji. Mereka menganggap binatang itu lucu.

"Ah, sekalipun keledai di kota itu banyak lagaknya,"

Kata Ie Pat. Dari gerbong kota, kereta menuju utara, sudah kira-kira satu lie jauhnya, sang keledai tak mau kembali, Demikian melihat Siau Po menjadi curiga.

"Eh, Kusir!"

Sapanya.

"Jangan main gila! Ayo kembali!"

Kusir itu menyahut, lalu membentak keledainya.

"Kembali Tak Jie. Kembali! Ayo kembali!"

Tak Jie nama sang keledai, Setelah itu ber-getarlah cambuk itu berulang-ulang kali, tetapi binatang itu tetap lari ke utara.

"Hai! Keledai busuk!"

Teriak kusir mengumpat binatang piaraannya itu.

"Aku suruh kau kembali, kenapa kau lari terus? Tak Jie berhenti! Berhenti! Berhenti. Oh, binatang celaka!"

Keledai itu kabur terus.

Tiba-tiba muncul dua penunggang kuda di tengah-tengah jalan, Dari sisi jalan mereka ingin memotong jalan kereta, tubuh mereka besar dan keren-keren.

Siau Po melihat dua penunggang kuda itu.

"Turun tangan!"

Ia berkata pada Song Ji.

ia sendiri pun sedang bersiap karena adanya gelagat buruk, Memang lagak si kusir sudah mengundang kecurigaannya.

Si nona kecil mengerti dan segera bertindak ia menotok pinggang si kusir dan kusir itu pun jatuh terhuyung-huyung dari atas kereta, Sedang mulutnya mengeluarkan jeritan.

Hampir dia menimpa si penunggang kuda, Si penunggang kuda melompat dari kudanya untuk naik ke atas kereta.

Tanpa banyak bicara Song Ji menyambut orang itu dengan satu totokan, Orang itu rupanya lihay, Dia dapat berkelit sambil ingin menangkap tangan si nona.

Si nona berlaku cerdik, dia memutar telapak tangannya dan tangan yang satunya dipakai menepuk muka orang itu.

Si penunggang kuda itu menangkis dengan tangan kirinya, dan tangan kanan nya menjulur ke bahu si nona.

Sama-sama mereka bertarung di atas kereta Sulit mereka itu bertarung dan tak dapat lebih leluasa.

Kereta pun kabur terus.

"Bagaimana, eh?"

Tanya penunggang kuda yang lain.

"Apa yang terjadi?"

Pertanyaan itu tidak ada jawabannya.

Sebaliknya terdengar suara menggelebuk disusul denga jatuhnya si teman dari atas kereta, Sebab Song Ji telah menghajar orang itu dengan satu tonjokan keras.

Orang itu kaget dan gusar, segera ia menyambuk rambut si nona.

Song Ji yang melihat datangnya cambuk itu segera memapak menyambut dengan cekalannya, dan menyusul dengan lemparannya yang membuat sang penunggang kuda itu tersungkur dari punggung kudanya.

Saking kaget dan khawatirnya penunggang kuda itu melepaskan cambuknya dan berteriak-teriak.

Song Ji tidak menghiraukan ia menyambar tali kendali keledai lalu diserahkannya kepada Ie pat seraya berkata.

"Kau kendalikan kereta ini!"

"Aku,., aku... tak bisa."

Sahut orang itu. Song Ji ke depan untuk mewakili menjadi kusir sebenarnya ia tak dapat memegang kendali, namun ia terus mencoba, ia menarik tali kendali seraya berseru.

"Tak Ji, Tak Jie!"

Seperti si kusir tadi, sedangkan tangan kirinya dikendorkan dan tangan kanannya dikeraskan.

Keledai itu pun memutar haluan, sama sekali ia tidak bandel.

Di saat itu tampak penunggang kuda itu menghambur mendatangi suara derap langkah kaki kuda terdengar nyata.

Siau Po kaget sekali, ia menarik keretanya untuk dilarikan ke samping, Para penunggang kuda itu pun memutar kudanya lalu mengejar terus.

Tidak lama kemudian kereta keledai itu pun telah dapat dikurung oleh para penunggang kuda yang jumlahnya lebih sepuluh orang.

Siau Po melihat belasan penunggang kuda itu masing-masing memegang senjata.

"Sekarang ini hari terang benderang, Di sini pula termasuk tempat kakinya sri baginda raja, Apakah benar kalian berani melakukan perampokan?"

Salah seorang penunggang kuda tertawa.

"Kami utusan-utusan yang ditugaskan mengundang tamu-tamu."

Katanya.

"Kami bukannya kawanan perampok atau berandal, Wie Kong Cu! Tuan kami mengundang kalian untuk minum arak!"

Siau Po tetap curiga dan menatap semua penunggang kuda itu.

"Siapa majikan kalian itu?"

Tanyanya.

"Jikalau Kong cu sudah bertemu, Kong cu pasti mengenalnya."

Sahut orang itu.

"Jikalau majikan kami bukan sahabat Kong cu, mana dapat Kong cu mengundang minum arak?"

Siau Po tetap saja mencurigainya.

"Jikalau kalian tidak menjawab siapa majikan kalian, undangan ini bukan undangan yang setulus nya."

Katanya.

"Nah! Kalian bukalah jalan untuk kami."

Seorang lainnya tertawa dan berkata.

"Mudah untuk membuka jalan!"

Terus ia menggerakkan tangannya untuk menyerang keledai hingga binatang itu roboh dan mati seketika.

Siau Po turun dari kereta, disusul oleh Song Ji.

Bahkan Song Ji bergerak cepat lalu menyerang penunggang kuda itu.

Nona itu kecil dan kate sedangkan si penunggang kuda itu jangkung maka susah diserangnya.

Oleh karena itu ia hanya menotok mata kudanya, Dan serangannya itu dilakukan terus menerus bergantian ke arah kuda yang lainnya.

Hingga dalam beberapa waktu saja ramailah suara kuda tak hentinya disusul dengan teriakan si penunggangnya.

Sementara jalan besar itu bukanlah jalan sepi, maka banyak pejalan kaki menonton pertarungan yang luar biasa itu.

Para penunggang kuda itu berlompatan turun dari kudanya, semuanya menggunakan senjatanya masing-masing menyerang nona Song.

Akan tetapi Si nona sangat gesit dan lincah, dia menyerang sambil berlompatan ke segala arah.

Menyerang dan berkelebat akhirnya dalam tempo yang pendek delapan lawan sudah roboh, sedangkan empat penunggang kuda yang lainnya tidak lagi berani bergerak hanya saling memandang dengan temannya karena terheran-heran.

Tengah keadaan diam itu, kembali terdengar suara roda-roda kereta, ternyata yang datang sebuah kereta kecil, Kereta itu dilarikan dengan cepat, hingga dalam waktu singkat kereta itu pun sudah sampai, dan dari dalam kereta itu segera terdengar teriakan seorang wanita.

"Jangan turun tangan terhadap kawan sendiri!"

Siau Po mengenali suara itu, hatinya senang sekali.

"Oh, istriku datang!"

Serunya gembira.

Song Ji beserta ke empat penunggang kuda lainnya segera menoIeh.

Nona itu merasa heran karena sekali tidak menyangka kalau Siau Po sudah beristri.

Meskipun di jaman itu biasa terjadi pernikahan usia dini.

Banyak pemuda-pemudi berusia empat belas atau lima belas tahun yang sudah menikah.

Tapi Song Ji merasa heran karena selama ini dia belum pernah mendengar Siau Po membicarakannya.

Sementara kereta kecil yang berjalan kencang itu sudah sampai.

dari dalamnya muncul seoran gadis, siapa lagi kalau bukan Pui Ie.

Dengan wajah berseri-seri, Siau Po menghampiri gadis itu.

Dia langsung menyambar tangan gadis dan menggenggamnya erat-erat.

"Oh, kakak yang baik!"

Serunya.

"Kakak, aku sudah rindu sekali terhadapmu sehingga rasanya ingin mati, Ke mana kakak selama ini?"

Pui Ie tersenyum.

"Nanti perlahan-lahan saja kita bicara.,."

Katanya dengan nada sabar "Oh ya, mengapa kalian berkelahi?"

Dia heran sekali melihat beberapa orang telah roboh di atas tanah dengan darah berceceran Salah seorang di antaranya menjura dan menjawab.

"Nona Pui Ie, kedatangan kami ke mari sebetulnya untuk mengundang Wi kongcu minum arak. Tapi rupanya sikap kami kurang sopan sehingga menimbulkan kegusarannya. Untung Nona datang sendiri...."

Pui Ie masih bingung. Dia menoleh kepada Siau Po.

"Kaukah yang telah merobohkan mereka semua? Oh, tidak disangka ilmu silatmu telah mengalami kemajuan yang pesat sekali!"

"Seandainya ada kemajuan juga tidak mungkin sepesat ini,"

Kata Siau Po terus terang.

"Semua ini dilakukan oleh Nona Song Ji yang telah melindungi diriku, Karena itu pula, dia terpaksa memamerkan kepandaiannya."

Siau Po berkata sambit menunjuk kepada kawannya.

Pui Ie menolehkan wajahnya untuk melihat Song Ji.

Dia merasa heran sekali, Nona cilik itu kemungkinan baru berusia tiga atau empat belas tahun tapi aneh kalau dia sudah sedemikian lihay.

"Adik, kau she apa?"

Tanyanya.

Song Ji tidak kenal dengan gadis yang menyapa-nya itu.

Meskipun ketika berada di rumah keluarga Cung, mereka pernah ada dalam satu atap tapi mereka tidak sempat bertemu, Mendengar pertanyaan itu, ia segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan Pui Ie.

"Nyonya muda, terimalah hormat Song Ji!"

Katanya. Siau Po tertawa terbahak-bahak mendengar panggilan Song Ji kepada Pui Ie. sedangkan wajah Pui le langsung berubah merah padam saking jengahnya, Dia lekas

Tiraikasih website

http.//cerita-silat.co.cc/ lekas menyingkir agar tidak perlu menerima sujud Song Ji sembari mengajukan pertanyaan kembali.

"Eh, kau memanggil apa kepadaku? Aku... aku bukan...."

Song Ji berdiri.

"Siauya mengatakan bahwa kau adalah nyonya,"

Sahut si gadis cilik.

"Karena aku melayani Siauya, maka sudah sewajarnya aku memanggil kau nyonya muda."

Mendengar jawabannya, Pui le langsung membelalakkan matanya kepada Siau Po.

"Orang ini hanya bisa mengoceh yang bukan-bukan!"

Katanya.

"Jangan kau percaya kata-katanya, Sudah berapa lama kau melayaninya? Masa kau belum kenal sifatnya? Oh ya, aku bernama Pui Ie."

Song Ji tersenyum, Dia menganggukkan kepalanya.

"Baiklah,"

Sahutnya.

"Untuk sementara aku tidak akan memanggil kau nyonya muda, tapi nanti..."

Wajah Pui le menjadi merah kembali.

"Lain kali..."

Katanya, tapi kemudian dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya kembali.

Sebaliknya, Song Ji memperhatikan Siau Po Dia melihat pemuda itu senang sekali, Wajahnya berseri-seri dan bibirnya terus menyunggingkan senyuman, Tiba-tiba wajahnya juga berubah merah, Dia ingat apa yang pernah dialaminya ketika berada di Gunung Ngo Tay san.

Di sana Siau Po juga pernah menyatakan kepada Ay Cun cia bahwa dia adalah istrinya.

Rupanya Siau Po hanya bergurau, Pemuda tanggung itu suka sekali menyebut nona yang masih muda sebagai istrinya.

"Eh, mana istriku yang satu lagi?"

Tanya Siau Po kemudian Dia tertawa lebar Rupanya dia menanyakan si nona cilik, Bhok Kiam Peng. Song Ji yang mendengarnya tidak merasa heran lagi, Tapi Pui le justru membelalak lagi kepada Siau Po.

"Sudah lama kita tidak bertemu, kau bukan bicara soal yang serius, malah berkata yang bukan-bukan. Sudah, mari kita berangkat!"

Katanya. Siau Po tertawa lagi.

"Kalau sejak semula aku tahu kau yang mengundang, Tentu aku menyesal tidak mempunyai sayap agar dapat cepat-cepat terbang menemuimu!"

Kembali Pui le membelalakkan matanya.

"Dasar kau yang telah melupakan aku!"

Katanya, Tentu kau tidak mengira bahwa aku akan mengundangmu!"

Senang sekali hati Siau Po mendengar nada suara si nona, Rasanya manis sekali di dalam hati.

"Mana mungkin aku melupakanmu?"

Katanya.

"Kalau kau yang mengundang aku, jangankan untuk minum arak, biar untuk minum air kencing kuda sekalipun aku tidak akan menolaknya. Bahkan aku rela meminum racun, Bagiku, kapan saja kau mengundang, aku pasti akan datang."

Dengan matanya yang indah, Pui Ie memperhatikan Siau Po.

"Jangan bicara manis-manis!"

Katanya.

"Bagai mana kalau aku menyuruh kau pergi ke ujung langit atau tepi laut dan minum racun di sana?"

Siau Po membalas tatapan gadis itu.

Dia melihat Pui Ie bicara setengah serius dan setengah bercanda, hatinya merasa puas, Nona itu tampak semakin cantik dan semakin manis, perasaannya sampai tegang menatapnya.

"Jangankan baru ujung langit atau tepi pantai", sahutnya.

"Biar meski mendaki gunung golok atau terjun ke panci panas aku pasti akan pergi juga."

"Bagus,"

Kata nona Pui Ie.

"Seorang laki-laki sejati, sekali mengeluarkan katakatanya, kuda apa pun tak dapat mengejarnya."

Sengaja nona Pui Ie menggojoki kata-kata yang pernah diucapkan oleh Siau Po. Siau Po menepuk dada.

"Ya."

Katanya.

"Satu kali seorang laki-laki telah mengeluarkan kata-katanya, kudapun tak dapat menangkapnya."

Pui Ie tertawa maka tertawa pula si bocah.

Lantas si nona memerintahkan seseorang untuk mengambil seekor kuda buat Siau Po dan seekor lagi buat Song Ji-Song Ji dipersilahkan naik ke atas kereta, sedangkan ia sendiri menunggang kuda untuk bergandeng bersama Siau Po.

Mereka mengambil arah menentang matahari, dan semua orang yang tadi datang menjemputnya mengikuti dari belakang.

"Kau lihay,"

Kata Pui Ie sembari berjalan "Kepandaian apakah yang kau miliki hingga kau berhasil mendapatkan seorang budak yang demikian lihaynya itu?"

Orang yang datang itu berlagak pilon.

"Kepandaian apa?"

Katanya balik bertanya.

"Tidak sama sekali, Soalnya dia sendiri yang ingin merawat dan mengikutiku."

Pui Ie tertawa pula, ia mengerti Siau Po muda usianya tetapi dia sangat cerdas dan banyak uangnya pula, hingga ia dapat menggunakan fasilitas itu dengan leluasa, Maka ia pun menerka Song Ji tentu telah dibelinya.

Yang lebih aneh lagi Song Ji sangat lincah.

Kemudian Siau Po balik bertanya tentang Cie Than coan serta Bhok Kiam Peng.

"Sewaktu kalian ditawan orang-orang Sin Liong kauw di dalam rumah hantu itu, bagaimanakah kalian dapat meloloskan diri? Apakah Sam Nay Nay dari keluarga Chung yang menolong kalian?"

Pui Ie heran mendengar nama Chung Sam Nay Nay disebutkan Dia pun menggelengkan kepalanya.

"Siapakah Sam Nay Nay dari keluarga Chung itu?"

Tanyanya.

"Dialah yang memiliki desa keluarga Chung itu"

Sahut Siau Po.

"Memiliki desa keluarga Chung?"

Si nona mengulangi.

"Sejak semula hingga akhir, belum pernalh aku mendengar dan melihatnya. sebenarnya orang yang dicari Sin Liong Kauw itu ialah kau sendiri. Terhadapmu mereka tak bermaksud jahat. Dulu Chiang Loo Sam tidak berhasil mencarimu, dia lalu memerdekakan kami semua, Kuncu kecil dan Ci Loo Yat Ju semua berada di sana dan tak lama lagi kita akan bertemu dengan mereka."

Berkata begitu si nona menoleh dengan matanya yang jeli lalu menatap Siau Po. "Yang kau senantiasa ingat dalam hatimu ialah menuju kaucu kecil."

"Baru kita bertemu beberapa saat, kau sudah menanyakan tujuh atau delapan kali."

Siau Po tertawa.

"Kapan aku menanya tujuh atau delapan kali tanyanya.

"Sungguh aku penasaran, coba aku bertemu dengannya dan tak melihat engkau, Pasti aku akan menanyakan engkau, Mungkin sampai tujuh atau delapan puluh kali."

Pui Ie tersenyum, sekarang sudah tak ada rasa muak atau yang menjemukannya terhadap bocah yang nakal dan beraneka macam ini.

"Meski kau bermulut sepuluh tak mungkin kau menanyakan sampai tujuh atau delapan puluh kali."

Katanya.

"Namun sekarang, meskipun kau bermulut satu nampaknya kau lebih lihay dari pada bermulut sepuluh!"

Siau Po pun tersenyum. BegituIah sembari berjalan mereka mengobrol satu dengan yang lainnya hingga tak terasa mereka sudah melalui sepuluh lie lebih.

"Apakah kita akan lekas sampai?"

Tanya Siau Po, walau bagaimana pun dia sudah tak sabar lagi. Mendengar pertanyaan itu, Pui Ie kurang puas.

"Masih jauh sekali,"

Katanya, Taruhlah kau rindu pada kuncu kecil tak usah kau menjadi tak sabaran, Kalau aku tahu begini, kubiarkan kuncu kecil memapakmu, supaya kau tak keras memikirkannya sampai begini."

Siau Po mengeluarkan lidahnya, dia dapat mengerti kenapa nona ini merasa kurang puas.

"Baiklah,"

Katanya.

"Sepatah kata pun aku tak akan menanyakannya."

"Di mulut kau tak menanyakannya namun di hati lain,"

Kata nona Pui.

"Hatimu tentu tak sabaran, itu membuatmu menjadi dongkol."

Siau Po mendengar suara nona yang terang dan jelas itu, Maka ia tertawa dan berkata.

"Jikalau aku tidak sabaran, aku bukan suamimu, Aku putramu yang nakal."

Mau tak mau si nona tertawa.

"Oh anak,.,"

Katanya dalam hati, dan mendadak kata-katanya berhenti untuk menyebut kata itu.

"Oh anak yang manis...."

Ia mengerti meski kata kata itu hanya bersifat bergurau namun kata-kata itu kurang tepat untuk diucapkan.

Perjalanan ditunda sesudah tengah hari, mereka singgah di sebuah tempat yang ramai.

Kali in Siau Po tidak berani menanyakan apa-apa.

ia tidak menanyakan kapan sampai dan bagaimana Kiam Peng, yang terpenting ia sudah jauh dari kerajaan hingga hari itu ia tak dapat bertemu dengan raja.

"Tak apalah aku tak dapat langsung bertemu dengan raja."

Demikian pikirnya.

"Aku pun tak memberikan batas waktu pada Siauw Hian cu. Katakanlah aku jalan-jalan di Ngo Tai San atau aku tertahan oleh Ay Cun cia, buatku sama saja."

Selanjutnya muda-mudi itu membicarakan hal-hal yang tak penting selama dalam keraton, meski mereka berdua di dalam kamar, sebab mereka bersama Bhok Kiam Peng, Pui Ie mengekang diri.

Dia harus dapat menjaga harga dirinya, sekarang ini mereka hanya berdua.

Mereka berjalan berdampingan dan kuda mereka berjalan berendeng, Demikianlah mereka dapat bergurau dengan bebas, Rombongan pun sengaja berjalan jauh di depan mereka.

Siau Po masih muda tetapi pergaulannya membuat mereka mulai mengerti arti asmara.

Sering menyebut Pui Ie sebagai istrinya, itu dilakukan sambil bergurau, sekarang ia mendapat anggapan lain, ia tertarik lagak nona itu yang tertawa sebentar cemberut.

Sesudah menjalani perjalanan yang cukup jauh, Pui Ie tampak letih, dua belah pipinya yang halus menjadi merah dan keringat pun mulai bercucuran itu yang membuatnya lebih menarik.

Ternyata Siau Po terlena memandangi wajah itu.

Nona Pui berpaling pada orang yang mengawasinya dengan mendadak dan ia pun tertawa.

"Eh, eh, kau kenapa?"

Tanyanya.

"Kenapa kau diam saja?"

Siau Po terperanjat dan kaget.

"Oh, kakak, kakak yang baik,"

Katanya sambil tersenyum.

"Kakak, sungguh kau manis sekali di-pandangnya. Aku pikir Aku pikir..."

"Kau pikir apa?"

Tanya si nona. "Akan aku jawab tetapi kamu jangan marah, ya.,."

Sahut Siau Po.

"Asal kau bicara dari hal yang benar pasti aku tak marah,"

Sahut Pui Ie.

"Tetapi jikalau kamu bicara tak karuan tentu aku tidak senang dan marah. sekarang katakanlah apa yang sedang kau pikirkan.,.?"

Siau Po menatap dan ia pun menjawab.

"Aku memikirkan,"

Katanya.

"Jika benar kakak menjadi istriku betapa bahagianya hatiku ini."

Tiba-tiba saja mata Pui Ie melotot dan wajahnya berubah menjadi bengis. Akan tetapi ia tak berkata apa pun dan ia menoleh ke lain arah. Siau Po menjadi kebingungan.

"Oh kakak..."

Katanya.

"Oh kakak yang baik "

Apakah kakak ragu padaku?"

"Pasti aku gusar!"

Sahut si nona.

"Ya. Aku gusar sekali!"

"Tapi aku.... aku bersungguh-sungguh, kakak!"

Kata Siau Po.

"Tidak ada kata-kata yang terlebih sungguh-sungguh dari pada itu."

"Tapi kau harus ingat!"

Kata si nona.

"Selama di dalam keraton aku telah bersumpah bahwa seumur hidupku, aku akan turut padamu, melayanimu, apakah itu palsu belaka? sekarang kau menginap begini, apakah itu berarti bahwa kata-katamu telah berubah?"

Mendengar jawaban itu Siau Po girang bukan main, Kalau mereka tidak sedang menunggang kuda, mungkin mereka sudah berpelukan sambil berciuman.

Maka itu mereka hanya mengulurkan tangan kanannya dan menarik tangan kirinya untuk berpegang-pegangan dengan erat.

"Mana dapat hatiku berubah?"

Katanya sambi menatap si nona.

"Seribu tahun, selaksa tahun tak mungkin hatiku dapat berubah."

"Dengan katamu ini, terang kau sudah berubah,"

Kata si Nona.

"Coba saja kamu pikir, mana ada manusia berumur seribu atau selaksa tahun? Kecuali kura..."

Mengucap kura itu Pui Ie tidak meneruska menjadi "kura-kura"

Ia sudah tertawa dan menoleh ke lain arah, tetapi tangan yang dipegang Siau Po dibiarkannya tetap tidak ditarik. Siau Po merasa puas memegang tangannya yang halus dan licin.

"Kau baik sekali padaku kakak,"

Katanya sambil tertawa.

"Karena itu untuk selamanya, aku tak akan menjadi kura-kura yang sangat menjijikkan."

Kura-kura itu mempunyai arti lain, bukan binatang kura-kura.

sebenarnya seorang suami yang istrinya berlaku serong dengan laki-lain dialah kura-kura, Arti kura-kura sudah sangat umum buat wilayah Kang lam dan Pui Ie mengerti sekali, lantas ia memperhatikan wajah keren.

"Rupanya bagimu sudah tidak ada kata-kata lainnya lagi! Kenapa kata-kata demikian keluar dari mulut anjingmu?"

Tetapi Siau Po tertawa.

"Kau ingat kata-kata ayam turut ayam dan anjing menikah dengan anjing."

Katanya.

"Apakah kau mengharap melihat dari mulut suamimu akan muncul cacing gajah?"

Mau tak mau si nona tertawa, dan tangan kirinya balas memegang tangan kanan Siau Po.

Demikianlah mereka bergurau di sepanjang jalan, sampai waktu magrib mereka telah sampai pada suatu tempat yang ramai dan megah dan mereka bermalam di tempat itu.

Keesokan harinya Siau Po menyuruh Ie Pat mencari kereta kuda untuk mereka dan Pui Ie duduk di dalamnya, hingga mereka dapat bergaul dengan leluasa sekali.

Saat itu Siau Po telah berani merangkul dan menyiumi Pui le dengan tak ada bosan-bosannya.

Pui le tidak menentangnya, ia membiarkan saja, Tetapi lebih dari itu, ia tidak memberikan balasan, hingga di antara mereka tidak terjadi pertentangan dengan pri kesopanan Siau Po pun puas sampai d situ sebab dalam soal asmara ia belum tahu banyak ia hanya menuruti suara hatinya yang polos.

Apa yang diketahui Siau Po agar kereta berjalan terus, jangan berhenti, agar ia dapat berduaan terus dengan si nona manis mungkin sampai langit atau ke ujung laut.

Pengalaman itu membuat Siau Po lupa untuk menghadap pada raja guna memberikan laporannya, ia sampai lupa juga pada Si Cap Jie Cing Ken kitab yang penting itu, juga kaisar tua yang berada di Ngo Tay San.

Bahkan ia lupa hari, karena sudah beberapa hari dan malam ia sudah lewati di sepanjang jalan itu.

Pada suatu sore, akhirnya kereta sampai pada suatu tempat di tepi laut Di sana Pui le mengajak Siau Po turun dari kereta dan menyewa sebuah perahu sambil berpegangan tangan.

"Adikku mari kita ke perahu dan berpesiar empat penjuru laut, guna melewatkan harihari ibaratnya kitalah dewa dewinya, bagaimana menurutmu, bukankah bagus begitu?"

Menutup kata-katanya, nona menarik tangan Siau Po hingga tubuh mereka rapat, dan ia meletakkan kepalanya di dada Siau Po hingga mereka tampak mesra sekali.

Siau Po merangkul pinggul si nona agar tak jatuh, sedangkan rambut si nona terus bermain di mukanya, Dia lupa bahwa perjalanan di laut banyak bahayanya, hingga tak dapat ia mengeluarkan kata-kata menolak.

Di tepi laut itu tengah berlabuh sebuah perahu besar, dan setelah mereka mengetahui kedatangan perahu Pui le segera mereka mengibarkan sapu tangan hijau, pertanda ia akan mengirim perahu kecil untuk menyambut kedatangan Pui le dan Siau Po yang naik perahu kecil itu untuk segera naik ke perahu yang besar.

Setelah Siau Po menyaksikan ruang dalam kapal tersebut, ia kaget sebab kapal itu dan semua peralatan terbuat dari benda-benda yang berharga, bahkan lantainya dilengkapi dengan permadani perlengkapan kapal ini lebih mirip sebuah pendopo atau tempat raja sedikitnya menteri muda.

"Kakak menyambutku secara begini, tidak mungkin ia menyimpan maksud yang tidak baik atas diriku,"

Pikir Siau Po.

Dua orang bujang datang menyerahkan sapu tangan hangat untuk mengusap keringat Dan menyusut dua mangkuk mie guna mengisi perutnya yang dilihatnya begitu nikmat Di samping itu perahu sudah mulai berlayar.

Berada dalam perahu Siau Po merasa puas, Pui Ie menemani makan dan minum arak, sambil bermain tebak-tebakan tangan atau berbicara sambil tertawa ria, sedangkan jika malam telah tiba, Siau Po diantarkan ke tempat tidur, setelah itu Pui Ie baru kembali ke kamarnya sendiri.

Bagian 39 Malam itu Siau Po dapat tidur nyenyak, sedangkan besok paginya begitu ia mendusin, nona Pui sudah datang kepadanya dan membantunya menyisir rambut.

Menyaksikan kelakuan si "calon istri", Siau Po tersenyum, Diam-diam dia berpikir dalam hati.

--sekarang dia belum tahu bahwa aku buka thay-kam yang sebenarnya, Dia mengira kelak kami akan menjadi suami istri hanya dalam nama saja.

Sampai kapan aku baru bisa membuka rahasia ini kepadanya?

Setelah itu, selanjutnya sepasang pemuda mudi itu selalu berduaan di dalam kamar, Mereka duduk berdampingan, makan bersama, Dari jendela perahu mereka dapat melihat keindahan mentari pagi, kecantikan alam, Di permukaan laut terlihat pantulan sang surya yang gemilang bagaikan emas permata.

"Ketika belum lama ini aku masuk ke dalam istana bangsa Boan Ciu untuk membunuh kaisarnya,"

Kata Pui Ie sambil menarik nafas panjang "Aku kira aku tidak mungkin hidup lagi, mungkin aku akan kehilangan nyawaku di sana.

Tak disangka Tuhan yang Maha Kuasa masih melindungi diriku, Di sana aku bertemu denganmu Dengan demikian sampai sekarang kita masih bisa menikmati keindahan alam ini.

Adikku yang baik, sungguh, mengenai dirimu, sedikit pun aku tidak tahu apa-apa.

Dapatkah kau menjelaskan kepadaku bagaimana kau bisa masuk ke dalam istana dan segala hal yang menyangkut ilmu silatmu?"

Ditanya demikian, Siau Po tertawa.

"Semua hal itu, justru aku telah berpikir untuk menceritakannya kepada kakak,"

Katanya.

"Hanya aku khawatir, kau nanti akan terkejut sehingga berjingkrak atau mungkin jatuh pingsan saking kagetnya ."

Pui Ie menggeser tubuhnya agar rapat dengan pemuda di sisinya.

"Kalau aku mendengar ceritamu, aku pasti akan senang sekali,"

Sahutnya.

"Sekalipun keteranganmu itu merupakan sesuatu yang tidak aku sukai, asal kau tidak berbohong, aku tidak perduli...."

"Baik, kakak,"

Kata Siau Po.

"Baiklah kalau itu yang kakak inginkan, Aku ini kelahiran kota Yang-ciu dan ibuku dari kalangan rumah pelesiran...."

Pui Ie terkejut setengah mati sehingga dia memalingkan wajahnya dan menatap Siau Po lekat-lekat.

"Apa kerja ibumu di dalam rumah pelesiran itu?"

Tanyanya penasaran. Suaranya rada gemetar.

"Apakah ibumu bekerja mencuci pakaian atau memasak nasi di sana? Atau mungkin tukang sapu atau pelayan yang mengantarkan makanan?"

Hati Siau Po ikut tegang menyaksikan perubahan wajah si gadis.

Terang nona itu memandang hina rumah pelesiran.

--Kalau aku menjelaskan yang sesungguhnya bahwa ibuku adalah seorang pelacur, dia pasti tidak memandang sebelah mata kepadaku, --pikirnya dalam hati.

--Dia tentu tidak akan memperlakukan aku dengan baik lagi --, maka itu dia langsung tertawa.

"Selama ibuku berada dalam rumah pelesiran usianya baru enam atau tujuh tahun,"

Sahutnya menerangkan.

"Mana mungkin sekecil itu ibu bisa mencuci pakaian atau memasak nasi?"

Mendengar jawaban itu, hati Pui Ie agak lega perasaan tegangnya menjadi lenyap.

"Oh, ibumu baru berusia enam atau tujuh tahun ketika itu?"

Dalam hal berdusta, Siau Po memang ahli. Dengan cepat dia dapat memberikan keterangan yang masuk akal.

"Ketika bangsa Boan Ciu berhasil melintas perbatasan San Hay kwan, tidak sedikit penduduk kota Yang-ciu yang menjadi korban. Tahukah peristiwa itu?"

Pui Ie menganggukkan kepalanya.

"lya,"

Sahutnya.

"Kakek luarku seorang pembesar dari dinasti Beng."

Siau Po menjelaskan lebih jauh.

"Ketika bangsa Tatcu itu menyerbu dan menghancurkan kota Yang-ciu, kakek luarku roboh sebagai korban, Karena saat itu ibuku masih kecil sekali sehingga terlunta-lunta, Di dalam rumah pelesiran itu ada seorang tamu yang baik hatinya, dia segera mengajak ibuku pulang dan diambilnya sebagai pelayan. Tatkala tamu itu menanyakan nama serta she keluarga ibuku, ibuku menyebut nama kakek luarku itu, Ternyata tamu itu sangat menghormati kakek dan karena itu, dia mengangkat ibuku sebagai anaknya. Kemudian ibu menikah dengan ayahku, seorang pemuda terkenal dari kota Yang-ciu...."

"Oh, rupanya begitu.,."

Kata Pui Ie.

"Tadinya aku kaget sekali ketika mendengar kau mengatakan ibumu dari kalangan rumah pelesiran, ternyata ibumu menjadi pelayan di sana dan melayani segala wanita hina yang tidak tahu malu itu,.,."

Tidak puas hati Siau Po mendengar ucapan Pui Ie.

Diam-diam dia berpikir dalam hati.

--Apakah kau kira semua wanita yang berasal dari Bhok onghu pasti istimewa dan luar biasa?

Aku malah merasa wanita yang tidak tahu malu ada di mana saja...

Karena menyaksikan sikap Pui Ie yang demikian, Siau Po batal menceritakan riwayat hidupnya yang sebenarnya, Sebaliknya, kumat lagi tabiatnya, dia membual panjang lebar dengan mengatakan bahwa ia berasal dari keluarga besar Dan dia menceritakan bahwa rumahnya di Yang-ciu besar sekali serta mewah, Tapi dia menuturkannya dengan mencontoh rumah pelesiran yang ditempati ibunya sekarang.

Setelah mendengarkan semuanya, Pui Ie bertanya.

"Apakah keterangan ini yang kau katakan akan membuat aku terkejut setengah mati bahkan bisa berjingkrak atau pingsan?"

"Benar."

Sahut Siau Po.

"Apakah kau tidak senang mendengarnya?"

"Aku senang,"

Kata Pui Ie.

Tapi nadanya tawar sekali, pertanda bahwa dia menjawabnya dengan terpaksa.

Mata Siau Po memandang ke luar jendela perahu, Dia memikirkan persoalan lain untuk dijadikan bahan pembicaraan tetapi tiba-tiba dia melihat sebuah daratan di arah timur tenggara, Ketika itu perahu sedang melaju dengan pesat sekali.

"Eh, tempat apakah itu?"

Tanya Pui Ie dengan nada heran, Dia juga sudah melihat tanah daratan itu.

Tepat pada saat itu, dengan cepat perahu suda melaju mendekati tanah daratan tersebut, sehingga tampak jelaslah pepohonannya dan pesisiran yan penuh dengan pasir putih.

"Mari kita mendarat,"

Ajak si nona.

"Sudah berhari-hari kita berdiam di atas perahu, kepalaku sudah terasa pusing sekali, Bukankah ada baiknya kita turun dan melihat-Iihat pulau ini?"

"Aku setuju,"

Sahut Siau Po menganggukkan kepalanya.

"Rupanya pulau ini cukup besar. Entah ada apanya yang menarik hati untuk dipandang di dalamnya..."

Pui Ie memanggil tukang perahu dan menanyakan nama pulau tersebut.

"Nona, inilah pulau Sim Sian To yang terkenal di lautan timur,"

Sahut orang yang ditanya.

"Katanya di atas pulau itu terdapat semacam buah dewa, siapa yang memakan buah itu akan panjang umur, dan hidup sepanjang masa, Tapi, siapa yang berjodoh mendapatkan buah yang langka itu? Entahlah! Tapi, tidak ada halangannya apabila nona dan Wi Kongcu ingin mencoba peruntungannya."

Pui Ie menganggukkan kepalanya, Setelah tukang perahu itu mengundurkan diri, Dia berkata kepada Siau Po.

"Aku tidak berharap untuk makan buah dewa yang dapat membuat orang hidup sepanjang masa, Bagiku, hidup sekarang ini sudah memuaskan Aku menganggapnya lebih menyenangkan dari pada kehidupan para dewa."

Senang hati Siau Po mendengar kata-kata si nona.

"Oh, kakak yang baik!"

Katanya.

"Kakak, marilah kita tinggal di pulau ini untuk seumur hidup, Kalau kita dapat menemukan buah mukjijat itu, syukur, tapi kalau tidak, ya sudah! Bagiku sendiri, yang penting aku bisa bersama-sama kakak untuk selama-lamanya."

"Aku juga begitu,"

Kata Pui Ie.

Dia menyandarkan kepalanya di bahu Siau Po.

suaranya merdu dan halus.

Keduanya segera naik ke atas sebuah perahu kecil untuk menuju tepian daratan.

Ketika melangkah di pesisir yang berpasir halus itu, mereka sudah mencium bau segarnya pepohonan yang ada di sana.

Semua itu terbawa oleh hembusan angin.

Mereka juga mencium bau air.

"Entah pulau ini ada penghuninya atau tidak..., kata Pui Ie kemudian.

"Manusia lainnya tidak ada,"

Kata Siau Po sembari tertawa.

"Yang pasti ada seorang dewi yang cantik dan manis tiada tandingannya dan datan membawa budak-budaknya ke pulau ini."

Pui Ie tertawa.

"Oh, Adikku yang baik!"

Katanya dalam hati berbunga.

"Bagiku asal kelak di kemudian hari kamu tidak menganggapku sebagai seorang budak, dalam mimpiku juga aku dapat tersenyum."

Dengan bergandengan tangan muda mudi itu berjalan memasuki rimba, hingga hidung mereka sudah diserang harum bunga.

"Bunga ini harum baunya, maka sangatlah mustahil kalau pulau ini pulau dewata,"

Kata Siau Po Pui Ie tersenyum.

Keduanya maju terus, tiba-tiba menyusul berbagai suara di rerumputan yang ada di depan mereka, mendadak dari dalam rumput itu ke luar tujuh atau delapan ekor ular yang warnanya kuning mengkilap yang terus menyambar mereka.

Siau Po berseru kaget, tangannya menarik tangan Pui Ie untuk diajaknya mundur Tetapi di depan mereka telah menghadang tujuh atau delapan ular, yang semuanya menjulurkan lidahnya.

"Lekas menyingkir,"

Kata Nona Pui, yang sedang menghunus belati.

"Nanti aku yang mengitari sarangnya."

Siau Po sebaliknya tidak mau lari sendiri, malah menghunus pisau belatinya.

"Mari!"

Ia mengajak menyingkir dari belasan ular yang ada di depan dan di belakangnya. Baru saja beberapa langkah, Siau Po kaget sekali lehernya telah digigit ular, yang turun dari dahan pohon.

"Celaka!"

Siau Po berseru. Pui Ie menyambar tubuh ular itu niatnya untuk ditarik dan di1emparkannya.

"Jangan!"

Siau Po berseru mencegahnya.

Sudah tentu ular yang ditangan Pui Ie menggigit tangannya, bahkan ular itu tidak segera melepaskan gigitannya.

Siau Po khawatir bercampur gusar, ia lalu menghunus pisaunya dan mengiris tubuh ular itu.

Justru di bawah, ular lainnya sudah melilit kaki mereka berdua.

Muda-mudi itu merasa kaget Siau Po berhasil menebas ular di betisnya, dan ia pun kaget karena betis yang lain digigit ular juga dan seketika itu juga betisnya beku dan tak dapat digerakkan.

Pui Ie bingung hingga ia melepaskan goloknya untuk terus memeluk Siau Po.

"Hari ini kita akan mati sebagai pasangan suami istri di sini...."

Keluhnya menangis.

Siau Po tetap tabah meskipun kakinya beku tetapi tangannya masih dapat bekerja, dia masih dapat menepis setiap ular yang mendekat atau menyambarnya dengan pisau belati yang cukup tajam itu.

Namun anehnya ular di dalam rimba itu cukup banyak, mati yang satu datangnya yang lain-Iainnya dan semuanya galak-galak, Ketika Siau Po dan Pui Ie telah sampai pada batas rimba, mereka suda digigit tujuh sampai delapan ular, Selain nyeri kepala mereka sudah mulai terasa pusing bahkan mereka sudah mulai merasa was-was, Sewaktu mereka menatap ke laut, perahu yang mereka tumpangi sudah jauh meninggalkan mereka dan sia-sia saja mereka berteriak memanggil.

Buktinya perahu mereka semakin menjauh.

Pui Ie menggulung celana Siau Po, ia membungkuk hendak mengisap darah dan racun yang ada di kaki Siau Po.

"Jangan!"

Teriak Siau Po.

"Jangan!"

Mendadak Siau Po mendengar langkah kaki hingga suaranya berhenti, dan menyusul ia mendengar teguran "Eh, siapa kalian, buat apa kalian datang ke mari, apakah kalian tidak takut mati?"

Siau Po menoleh seraya mengangkat kepalanya, Dengan demikian dia dapat melihat ketiga orang itu dan ketiganya tidak mereka kenal. Usia mereka sekitar pertengahan.

"Paman tolong!"

Ia lantas memohon "Kami digigit ular!"

Salah seorang mengeluarkan obat lalu dibubuhkan pada luka bekas gigitan ular di kaki Siau Po.

"Kau... kau tolong dahulu, dan obati dia.,."

Ujar Siau Po kepada orang itu. Pui Ie menerima obat yang diberikan oleh orang itu.

"Kakak..."

Siau Po memanggil tetapi belum sempat dia meneruskan kata-katanya, matanya sudah gelap dan tubuhnya roboh ke tanah.

Ketika Siau Po sadar ia merasa mulutnya kering dan dadanya nyeri hingga ia merintih saking tak kuatnya menahan sakit, ia pun kemudian mendengar orang berkata.

"Bagus dia telah sadar"

Perlahan-lahan Siau Po membuka mata hingga ia melihat orang membawa semangkuk obat untuk diminumnya, ia lalu meminum obat itu walaupun dengan rasa yang kurang enak.

"Terima kasih atas pertolonganmu ini, paman"

Ujarnya.

"Bagaimana dengan kakakku, apakah ia tidak apa-apa...!"

"Syukur, ia tertolong!"

Jawab orang yang ditanya.

"Kalau kita terlambat sedikit saja kalian sudah tak dapat tertolong lagi. Kalian bernyali besar kenapa kalian datang ketempat ini?"

Siau Po merasa berlega hati mendengar kabar bahwa Pui le tidak apa-apa.

"Terimakasih.... terimakasih!"

Katanya berulang-ulang.

Sekarang Siau Po merasa terharu menemuk dirinya terbaring di pembaringan dengan pakaian yang telah dibuka, dan ia ditutupi selimut, kedua kakinya terasa mati, tak dapat digerakkan.

Siau Po menghela napas panjang ketika melihat wajah orang yang menolongnya.

Wajah orang ini amatlah buruk, namun hatinya penuh rasa kasih sayang.

"Tukang perahu mengatakan pulau ini memiliki buah kemuzijatan, jika seseorang memakan buah itu, dia akan tetap muda,"

Ujar Siau Po.

"Hm!"

Seru si penolong sambil tertawa dingin.

"Jika memang benar pulau ini memiliki buah yang kamu bilang itu, mustahil tukang-tukang perahu itu tidak ikut mengambilnya."

"Oh! Jika demikian tukang-tukang perahu itu bermaksud jahat, pantas mereka membawa perahu kami pergi, lalu bagaimana dengan kawan-kawan kami yang berada di perahu besar itu? Jangan-jangan mereka jatuh ke tangan orang-orang itu! Paman bagaimana caranya agar kami dapat menolong kawan-kawan kami?"

Laki-laki yang bermuka jelek itu pun menggelengkan kepala.

"Mereka sudah pergi sejak tiga hari yang lalu, kemana mereka harus kita kejar?"

Katanya. Siau Po menjadi lemas.

"Sudah tiga hari?"

Tanyanya mengulangi ucapan orang-orang itu, ia menjadi bingung sendiri.

"Ya, Kau telah pingsan selama tiga hari tiga malam."

Orang-orang itu menjelaskan "Jangan heran jika engkau tidak mengetahui itu!"

Siau Po terdiam, lalu ingat Song Ji.

ia khawatir benar, sebab meskipun nona itu lihay, namun kurang pengalaman sedangkan ia berada di tengah laut dan bersendiri saja.

Mana mungkin ia dapat melawan anak buah kapal yang jumlahnya cukup banyak itu?

Makin jauh berfikir Siau Po semakin bingung.

"Sekarang kau bingung dan rasa khawatir itu pun akan datang."

Hibur sang penolong, yang dapat menerka keadaan hati Siau Po.

"Yang penting sekarang kau istirahat dengan tenang, ular berbisa di pulau ini ganas sekali, paling sedikit kau harus beristirahat selama tujuh hari baru racun itu dapat dikuras habis."

Kemudian tuan rumah itu menanyakan she dan nama Siau Po serta ia pun menyebutkan she dan namanya sendiri yaitu Phoa Hiong, Lewat tiga hari barulah Siau Po dapat turun dari pembaringan dan dapat berjalan dengan berpegangan pada dinding, Kemudian Bhoa Kiong mengajaknya menengok Pui Ie yang berada di ruangan bersama seorang wanita yang merawatnya.

Setelah bertemu mereka merasa girang sekali kemudian keduanya saling merangkul dan bertangis tangisan karena merasa haru bercampur bahagia.

Sejak itu, Siau Po dan Pui Ie selalu bersama dan mereka berbincang-bincang membicarakan ular yang telah membuat mereka pingsan dan sakit beberapa hari.

Pada hari keenam, Siau Po dan Pui Ie didatangi tuan penolongnya.

"Tabib Liok dari pulau kami telah datang pada kami. Dia sengaja kami undang untuk melihat keadaan saudara she."

"Terimakasih, Kakak Phoa!"

Ucap Siau Po.

Tak lama kemudian datang laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahunan, Laki-laki itu mengenakan pakaian pelajar, raut wajahnya ramah dan gerak-geriknya sangat sopan, Laki-laki setengah baya itu bertanya kepada Siau Po tentang masalah ular itu, kemudian ia tertawa.

"Kalian menderita karena kalian tidak mengetahui kebiasaan penduduk di sini, di sini orang tak pernah digigit ular bahkan ular takut mendekati penduduk. Kebiasaan penduduk di sini selalu membawa bekal belerang,"

Katanya.

"Oh."

Seru Siau Po yang baru tahu.

"Pantas Kakak Phoa dan yang lainnya tak takut ular!"

Tabib Liok memeriksa luka-luka Siau Po dan Pui Ie lalu memberikan obat kepada Siau Po seraya berkata.

"Kau makan tiga butir dan yang tiga untuk kawanmu, satu hari makan satu butir saja."

Siau Po menerima obat itu sambil mengucapkan terimakasih, kemudian ia menyerahkan uang dua ratus tail.

"Aku minta kiranya Tuan sudi menerima uang yang tak seberapa ini!"

Ujar Siau Po. Tabib Liok heran, tetapi ia tertawa dan ber-kata.

"Mana dapat aku memakai uang begini banyak? Buatku sudah cukup kalau Kong Cu memberiku dua tail perak."

"Saya harap agar Tuan tidak menolak!"

Kata Siau Po mendesak "Tuan telah menolong kami, jumlah ini tidaklah berarti, bukan?"

Karena dipaksa, tabib itu pun menerima uang itu dan ia pun mengucapkan terimakasih.

"Kong Cu, terpaksa aku menerima uangmu ini. Kalau tidak aku dikira kurang hormat sekarang aku minta Kong Cu beserta kawanmu sudi kiranya datang ke rumahku untuk minum barang secawan arak, Bagaimana?"

Siau Po bersyukur dan merasa girang sekali maka ia menerima baik undangan tabib itu.

Kembali ia mengucapkan terimakasih.

Benarlah di waktu magrib mereka menyiapkan sebuah tandu untuk menyambut kedatangan tamu-nya.

Mereka memikul Siau Po dan Pui le dengan sebuah tandu dan dibawa jalan melewati kali kecil di kaki gunung yang airnya jernih dan berbunyi nyaring sebab alirannya yang deras, Siau Po dan Nona Pui merasa puas melihat pemandangan di sepanjang kali kecil itu.

Akan tetapi mereka merasa takut setelah melihat rerimbunan pohon.

Keduanya teringat ketika diserang ular berbisa.

Setelah perjalanan tujuh atau delapan lie, mereka sampai didepan sebuah rumah yang tiang dan dindingnya semua terbuat dari bambu, Rumah ini memiliki tiga ruangan yang rapih dan sangat bersih, Buat wilayah Kang Lam dan Hoo Pak, sukar untuk melihat bangunan seperti itu.

Tampak laki-Iaki setengah baya keluar dari rumah itu dengan wajah ramah dan gerak-gerik yang sangat sopan, Laki-Iaki itu Tabib Liok yang telah beberapa saat menunggu kedatangan tamunya.

Tabib itu menyambut dan mengajak mereka masuk.

Rombongan itu disambut juga oleh seorang wanita berusia tiga puluhan, yaitu nyonya tabib, Dengan ramah sekali nyonya itu mengajak Pui le masuk.

Tabib Liok mengajak tamu-tamunya ke kamar tulisnya, Di dalam kamar itu banyak buku, kitab-kitabnya, dan lukisan-lukisan yang membuktikan bahwa tuan rumah gemar karya sastra dan seni.

"Tinggal di pulau ini, kami terasing dengan dunia luar."

Kata tuan rumah dengan ramah dan rendah hati.

"Tidak demikian halnya Kong Cu berdua, yang datang dari dataran luas dan ramai, dan Kong Cu pun dari keluarga besar. Bagaimana pendapat Kong Cu tentang lukisan-lukisan itu."

Siau Po merasa sulit menangkap kata-kata tuan rumah ini, Bocah itu tidak terpelajar dan buta huruf, sebaliknya tuan rumah seorang pintar dan halus gerak-geriknya, Dia lalu mengamati lukisan-lukisan yang berupa pesona alam pegunungan burung, dan kura-kura.

"Kura-kura itu bagus,"

Pujinya sambil tertawa. Tabib Liok heran lantas ia menunjuk sebuah gambar "Wi Kong Cu,"

Tanyanya.

"Bagaimana kau lihat hurup-hurup ini."

Siau Po mengamati hurup-hurup itu, dan ia mendapatkan beberapa hurup yang bentuknya melengkung mirip sebuah jimat.

"Bagus,"

Pujinya pula.

"Bagus sekali."

Tabib Liok menunjuk tulisan yang lainnya.

"Bagaimana dengan yang ini?"

"Ah, ini kurang bagus!"

Sahutnya sambil ia menggelengkan kepalanya. Tuan rumah segera mengambil sikap hormatnya.

"Jikalau dapat, aku minta Kong Cu menunjukkan mana kelemahannya!"

Siau Po tidak mengenal huruf mana yang baik dan mana yang buruk.

Dia menjawab seadanya Demikian pula sewaktu ia ditanyakan lukisan yang lainnya.

Sampai di situ, adem hatinya, tuan rumah, Ha tuan rumah itu merasa tenang.

"Kiranya Kong Cu tidak kenal satu hurup pun, dan awam tentang lukisan."

Tabib itu masih penasaran maka ia menunjuk lukisan lainnya.

"Dan yang ini bagaimana,"

Tanyanya pula. Siau Po mengamati hurup-hurup yang mirip cacing itu.

"Oh, aku kenal beberapa hurup ini!"

Sahutnya Dirinya merasa pernah melihat hurup semacam itu di Gunung Ngo Tay san.

"Hong Kauw Cu dan Sin Liong Kauw selama tahun tidak pernah tahu dan selamanya memperoleh kebahagiaan bagaikan dewa berilmu sakti. Usianya sama dengan usia langit."

Suara Siau Po seperti membaca hurup-hurup itu, Mendengar demikian, tiba-tiba saja tabib Liok menjadi girang sekali.

"Berterimakasihlah pada langit dan bumi. Benar-benar kau mengenal dengan hurup ini,"

Ujarnya dengan girang sehingga bergetar suaranya. Siau Po heran hingga timbul rasa curiganya.

"Kenapa dia begitu girang lantaran aku kenal hurup itu? Apakah dia orang Sin Liong Kauw? Oh celaka ular berbisa! Apakah ini pulau Sin Liong To?"

Karena berpikir demikian tak terasa ke luar kata-kata itu.

"Ay Cun cia dimana kau?"

Tabib Liok terkejut sekali sehingga dia menyurut satu langkah ke belakang.

"Oh... kau telah mengetahuinya?"

Tanyanya heran. Siau Po menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa-apa mengenai si tosu.

"Bagus kalau kau telah mengetahuinya!"

Kata tabib Liok, Dia segera menghampiri meja tulisnya lalu mengosok bak tinta serta membeberkan kertasnya, kemudian dia berkata kembali.

"ToIong kau jelaskan setiap huruf yang ada di sini, Yang mana huruf Hong dan yang mana huruf Kau!"

Mendengar permintaannya, hati Siau Po tercekat.

Diam-diam dia mengeluh dalam hati, wajahnya langsung berubah.

Tapi dia memaksakan diri untuk berjalan ke meja tulis dan mengambil pit, Luar biasa caranya memegang pit, karena dia melakukannya seperti orang yang memegang sumpit makan.

Diam-diam tuan rumah jadi mengeluh dalam hati menyaksikan sikap tamunya, Hal itu sampai tampak pada perubahan air mukanya, Tapi dia masih berusaha untuk sabar.

"Sekarang terlebih dahulu kau tuliskan dulu she dan namamu!"

Katanya.

Siau Po langsung berjingkrak bangun untuk berdiri tegak, sedangkan pitnya yang sudah dicelup ke tinta dilemparkannya sehingga tintanya bermuncratan kemana-mana.

Kemudian dia berteriak dengan suara lantang.

"Lohu tidak kenal dengan segala huruf anjing. Kentut anjingpun aku tidak tahu bagaimana cara menulisnya! Apa itu Hong kaucu usianya sama dengan usia langit? Lohu hanya mengoceh sembarangan untuk mengelabui si tosu, Kalau kau ingin aku menulis huruf, sebaiknya kau tunggu sam aku menitis kembali! Kalau kau hendak membunuh Lohu, bunuhlah! Tidak akan aku mengernyit kening, kalau sampai terjadi, aku bukanlah seorang laki-laki sejati!"

"Benarkah kau tidak mengenal huruf sama kali?"

"Memang tidak!"

Sahut Siau Po tegas.

"Tidak tahu huruf telur busuk!"

Saking terdesak, tegang rasanya syaraf Siau Po sehingga dia jadi marah-marah tidak karuan, Dia tidak kenal lagi kata takut meskipun berada di pulau Ular yang sangat beracun ini.

Tabib Liok terdiam lalu mengambil pitnya dan menulis beberapa huruf.

"Coba baca, huruf apa ini?"

Tanyanya.

"Gila!"

Seru Siau Po.

"Aku bilang aku tidak kenal surat, aku serius! Kau kira aku bohong?"

Tabib Liok menganggukkan kepalanya dengan kesal.

"Bagus!"

Katanya.

"Jadi kau berhasil mempermainkan Ay Cun cia! Tapi urusan ini telah disampaikan kepada Hong kaucu! Oh, kau! Dasar bangsat cilik."

Mendadak si tabib melompat ke depan untuk mencekik leher Siau Po, seraya berkata dengan sengit.

"Kau mencelakai kami sehingga kami mendustai kaucu! Sama artinya kau membuat kami mati tanpa tahu di mana kami akan dikuburkan! Karena itu, sebaiknya kita mati bersama-sama saja. Dengan demikian aku tidak perlu mengalami penderitaan dan siksaan!"

Siau Po benar-benar tersiksa, wajahnya pucat kebiru-biruan dan lidahnya menjulur ke luar Kalau dia dicekik lebih keras sedikit lagi, pasti nyawanya akan melayang.

Tetapi tepat pada saat yang genting itu, tiba-tiba tabib Liok mengendurkan cekikannya dan mendorong tubuh Siau Po sehingga bocah itu terjerambab jatuh lalu dia meninggalkannya.

Sesaat kemudian, Siau Po baru sanggup menenangkan dirinya, Setelah benar benar sadar, dia mencaci maki dengan sembarangan.

"Kura-kura mau mampus! ibumu bangsat!"

Namun sekarang dia harus berpikir keras.

"Aku berada di atas pulau, ke mana aku harus menyingkir? Kala aku kabur ke hutan, hal itu malah akan mempercepat kematianku Tapi, aku cukup puas kalau bisa mati bersama-sama Pui Ie.,."

Katanya seorang diri.

Kemudian Siau Po pergi ke pintu dan berusaha membukanya, Ternyata pintu itu terkunci dari lua Karena itu dia pergi ke jendela untuk melongok ke luar, Dia mendapat kenyataan bahwa jendela itu menghadap ke arah lembah yang curam, Di sana pun tidak ada jalan untuk meloloskan diri.

Siau Po memalingkan wajahnya kembali ke dalam kamar dan memperhatikan beberapa gambar yang tergantung di dinding.

-Apanya yang bagus dari pigura-pigura ini?

--pikirnya dalam hati.

Saking panasnya hati Siau Po, dia segera menambil pit tulis kemudian digunakannya untuk mencoreng gambar-gambar yang tergantung di dinding.

Lukisan itu diganti dengan gambar kura-kura besar dan sejumlah kura-kura kecil, Tentu saja dia melukis secara sembarangan sehingga banyak lukisan-lukisan yang berharga itu rusak karenanya.

Setelah merasakan tangannya pegal, Siau Po melemparkan pit itu terus menjatuhkan diri untuk duduk di atas sebuah kursi.

Dia menyenderkan tubuhnya dan melenggutlenggut.

Sesaat kemudian dia sudah tertidur pulas.

Dia tertidur sampai cuaca remang-remang.

Tidak ada seorang pun yang datang mengganggunya, sehingga kemudian dia merasa perutnya keroncongan karena minta diisi.

-Rupanya kura-kura hijau itu mengharap Lo-hu mati kelaparan di sini!

--pikirnya kemudian, Dia menyebut tuan rumahnya sebagai "kura-kura hijau"

Dan tetap membahasakan dirinya sebagai Lohu, Tepat pada saat itulah dia mendengar suara langkah kaki dari luar kamar, disusul dengan masuknya cahaya terang api dari sela-sela pintu.

Bahkan daun pintu pun segera terbuka dan muncullah tabib Liok dengan sebatang lilin yang menyala di tangannya, Dia melirik si bocah tanpa mengatakan sesuatu pun.

Tidak terlihat apakah dia sedang marah atau senang.

Mau tidak mau, Siau Po menjadi tidak enak hati dan merasa khawatir.

Tabib Liok meletakkan lilin nya di atas meja, kemudian melirik ke arah dinding yang penuh dengan lukisan itu.

Tiba-tiba saja dia menjadi gusar sekali.

"Kau! Kau!"

Teriaknya setengah kalap. Tangannya sudah diangkat tinggi-tinggi dengan maksud ingin menghajar tamunya, Akan tetapi dia tidak meneruskan niatnya itu, sebab dapat menguasai dirinya.

"Kau... kau.-."

Berhentilah suaranya. Di lain pihak, Siau Po dapat mengendalikan dirinya, justru melihat si tabib gusar, dia tertawa lebar.

"Nah, lihat!"

Katanya.

"Bagaimana menurut pendapatmu? indah tidak lukisanku itu?"

Tabib Liok menarik nafas panjang, Perlahan lahan dia menurunkan tangannya lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas kursi.

"Bagus."

Katanya kemudian.

"Lukisanmu bagus sekali."

Siau Po menjadi heran. Orang itu bukannya menghajar dia lagi tapi malah memujinya, Dia juga menjadi tidak enak hati menyaksikan tuan rumah itu menjadi kesal dan sedih.

"Tuan Liok, maaf... maaf.,."

Katanya kemudian "Aku telah membuat lukisanmu menjadi kotor...."

Tabib Liok menggelengkan kepala dan menggoyangkan tangannya.

"Tidak.,, tidak apa..."

Sahutnya sabar, Dia memegangi kepalanya lalu mendekam di atas meja. Sesaat kemudian....

"Kau tentunya sudah lapar bukan?"

Tanyany lantaran Siau Po diam saja.

"Nah, kau makanlah dulu, nanti kita bicara lagi!"

Di ruang tamu sudah disediakan hidangan yang terdiri dari empat macam lauk, Ada ikan, daging, juga ayam.

Pui Ie muncul dengan ditemani oleh Nyonya Liok, Mereka berempat duduk mengelilingi meja dan mulai bersantap.

Siau Po merasa heran sekali, Diam-diam dia berpikir dalam hati.

--Mungkinkah lukisanku benar-benar demikian indah sehingga hati tabib Liok menjadi senang dan menjamu aku?

-Akan tetapi sesaat kemudian dia sudah menyangkal pemikirannya itu, Tidak mungkin!

Tidak mungkin orang yang lukisannya dirusak malah menjamunya!

Bocah itu bermaksud menanyakannya kepada si tabib, tapi akhirnya dia membatalkannya pula, Dia melihat tampang si tabib yang lesu dan tidak bersemangat Dia khawatir tabib itu marah.

Tanpa banyak bicara mereka terus bersantap, Setelah itu, Tabib Liok kembali membawa Siau Po ke kamar tuIisnya, Seorang kacung segera datang untuk mengantarkan teh hangat.

Tabib Liok mengambil pit yang dilemparkan Siau Po, lalu menulis tiga huruf "Wi Siau Po"

Di atas kertas.

"lni namamu,"

Katanya.

"Apakah kau bisa menulisnya?"

"Dia dapat mengenali aku, tapi aku tidak mengenalinya, Mana bisa aku menulis.,.!"

"Oh!"

Seru si tabib yang lalu menengok ke luar jendela, agaknya dia berpikir Kemudian dia mengangkat tempat lilin dan huruf huruf yang berupa anak katak lalu dibawanya ke depan dan dibacanya Setelah itu dia kembali lagi ke meja untuk mengambil sehelai kertas dan mulai menuIis, Tuan rumah itu menulis dengan cepat sekali, setelah itu lalu dibacanya.

"Ketiga huruf itu sama dan aku harus cepat membacanya dan menulis,"

Katanya. Setelah selesai tabib Liok mengoreksi tulisannya, kali ini ia merasa gembira sekali.

"Sekarang baru sempurna,"

Katanya.

Siau Po merasa heran dan si tabib tetap dia saja tak bergerak, Kemudian tabib itu kembali mengambil kertas dan mulai menulis.

Hanya kali ini ia menulis agak pelan terlihat dengan gelengan-gelengan kepalanya seraya membaca tulisan ini dengan perlahan.

Siau Po mendengar dengan samar-samar kata yang diucapkan oleh tabib itu yakni "Sin Liong To yang berarti pulau malaikat atau naga sakti dan ka "

Hong Kaucu", serta usianya sama dengan usia langit"

Dan yang terakhir yaitu kata "Bahagianya pertama di gunung... dan yang ke dua di gunung.. sama sekali tidak menyebutkan nama gunung d nama tempatnya. "Ah, aku ingat,"

Pikir anak muda itu.

Dia berbicara sendiri setelah itu ia berbicara dengan Cun Cia di kuil Pao Ci Si, sewaktu ia ingin loloskan diri, hingga ia berbicara secara sungguh-sungguh, tetapi siapa sangka ia malah mendapatkan pujian, pikirnya pula.

Ketika itu aku diajak Ay Cun cia untuk menghadap Hong Kau Ju di Si Liong To.

Aku tidak sudi ikut padanya dan ternyata aku dapat sampai pada pulau ini....

Bagaimana jika Hong Kaucu gusar?

Jangan-jangan aku dan Pui akan dimasukkan ke dalam lobang ular, dan aku akan dikeroyok oleh ular-ular itu hingga tak tersisa daging dan tulangku..!

Mengingat demikian, Siau Po jadi bergidik, ia dapat membayangkan seandainya dirinya dililit beribu-ribu ular.

Lalu tampak tabib Liok berpaling, wajahnya terlihat sangat gembira.

"Wi Kong cu kau kenal huruf-huruf yang bagaikan katak itu, kau sungguh menggembirakan dan sepatutnya diberi selamat! itu pun bertanda yang sangat baik bagi Hong kaucu mirip dengan langit dan Tuhan telah menjelmakan engkau sebagai anak gaib karena engkau dapat membaca tulisan pada batu itu,"

Katanya sambil tersenyum. Siau Po merasa tak enak hati.

"Jangan kau permainkan aku!"

Katanya.

"Sebenarnya aku hanya bicara sembarangan untuk menipu Tautoo cebol, Karena kau telah mengetahui kepalsuanku, sebaiknya kau secepatnya membunuh diriku.,.!"

Tabib Liok tertawa.

"Jangan terlalu merendah Siau Po!"

Katanya pula, Dia lalu memanggil "Kong Ju"

Suatu sebutan untuk anak muda hartawan dan berpangkat.

"lt kata-kata yang Kong Ju bacakan di luar kepala sedangkan aku mencatatnya, Kong Ju tunjukkan mana yang salah? Nah dengarkan aku membacakannya!"

Benar-benar Tabib Liok membaca tulisan itu.

"Bagaimana ada yang salah atau tidak,"

Tanyanya setelah selesai membaca.

"ltu toh tulisan pada batu pada jaman kerajaan Tong. Bagaimana dapat diketahui yang jelek? Di kemudian hari dapat terjelma seorang Gou Sam Kui yang hidup sebagai raja muda Peng Si Ong?"

"Siang Te Maha cerdas dan maha pandai, tidak ada yang tidak diketahuinya?"

Jawab si tabib dengan menyebut nama Tuhan Allah yang maha Ku (Siang Te).

"Karena bakal ada seorang Hong Kou Cu, pasti akan ada pulau Gou Sam Kui itu."

Siau Po tertawa sendiri sambil mengangguk dan berkata.

"Ya, itu benar juga"

Di dalam hatinya.

"Entahlah apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya...."

Tabib Liok berpikir dan berkata.

"Tulisan di batu itu tak dapat dibaca asal meskipun hanya satu hurup, Kong Ju cerdas meskipun demikian pasti Kong Cu telah dibantu oleh Siang Te, maka Kong Cu dapat membacanya, Aku pikir Kong Cu membacanya, sebab nanti jika Kong Cu dipanggil Hong Kaucu, Kong Cu dapat membacanya diluar kepala dengan lancar dan jelas, tanpa ada salah, jika itu benar pasti Kong Cu akan mendapatkan hadiah yang sangat besar."

Mendengar demikian Siau Po mengerti dan memahaminya bahwa Ay Cun cia dan tabib Liok pasti sudah melaporkan pada Hong Kaucu, Tentang janji itulah sangat berbahaya, Bagaimana kalau rahasianya terbuka?

Rupanya mereka jadi khawatir jika nanti terjadi, maka mereka sengaja merencanakan itu.

Lalu tabib Liok berkata.

"Sekarang mari aku bacakan, baris demi baris dan kamu mendengarkan lalu yang salah kamu perbaiki, aku tidak ingin ada satu huruf pun yang salah dari tulisanku ini."

Mau tidak mau Siau Po harus menurut, sebab ia sedang dalam ancaman maut, Dasar ia cerdas ia dapat membaca, hanya ada beberapa yang salah, tetapi ia membaca terus, sedangkan si tabib mendengarkan dan memperbaikinya maka akhirnya, setelah ia membaca lebih dari sepuluh kali akhirnya tidak terdapat kesalahan lagi.

Malam itu Siau Po tidur di rumah tabib Liok, Paginya selesai bersantap ia menghapal kembali kata-kata itu.

Tabib Liok gembira mendengar Siau Po dapat membacanya, tapi ia belum merasa puas, Dia menulis lagi dan mengajarkan huruf demi huruf agar ia mengenal mana "wi"

Dan "Ceng"

Dan semuanya.

Di dalam hati Siau Po mengeluh, Dia harus dapat menyatukan huruf yang satu dengan huruf yang lainnya, Kecuali itu ia tidak tahu apakah tabib Liok menulis sembarangan saja, maksudnya aga nanti dapat menyenangkan hatinya.

Lama juga Siau Po mengenali kata demi kata.

Sampai siang hari ia baru dapat menghapal enam huruf, sore tujuh huruf dan malamnya enak huruf.

Selama itu ia mengalami kesulitan hingga ia melempar penanya, dan tabib Liok mengambilkannya.

sedangkan Pui Ie diminta duduk di dekatnya untuk menemaninya.

Sambil mengajari, hati tabib Liok selalu khawatir kalau-kalau ia dipanggil Hong kaucu, Kalau Siau Po belum mengenal huruf-huruf itu ia akan mendapatkan bahaya, begitu juga dengan keluarganya.

Dalam belajar Siau Po sangat sulit ia ingin secepatnya dapat memahami kata demi kata, lewat beberapa hari ia baru dapat mengenal seratus huruf dan tiba-tiba dia mendengar suara orang memanggilnya.

"Liok Sin Se, Kau cu memanggil Wi Kongcu datang menghadap."

Itulah suara Ay Cun cia.

Tabib Liok kaget sekali hingga mukanya mendadak kaget dan tangannya bergetar hingga pena yang ada di tangannya jatuh ke bajunya, Habis memanggil, Ay Cun cia lalu masuk.

Siau Po menyambutnya sambil tertawa dan berkata.

"Eh, Ay Cun cia, kenapa baru kali ini aku kau jemput? Kau tahu, aku sudah lama menantimu menjemputku!"

Sementara itu Ay Cun cia menatap wajah Tabib Liok. Dia menerka ada suatu kesulitan.

"Memang aku mengetahui kau mengacau balau, Kau main gila, tetapi kau ingin membangun jasa besar. Aku khawatir kau nanti akan mati lebih awal."

Tabib Liok tertawa dingin dan berkata pula pada si tamu tadi.

"Kau pun sama saja. Aku si orang Si Liok, rumah tanggaku terdiri dari delapan jiwa, biarlah semuanya ikut denganku ke lain dunia...!"

Katanya. Ay Cun cia menarik napas lalu ia pun berkata.

"Kalau nasib kita begini kita memang sukar untuk meloloskan diri. Tetapi kau harus tahu meski tak ada peristiwa ini, tak mungkin kaucu membiarkan kita hidup lebih lama meski beberapa hari...!"

Tabib Liok melirik Siau Po dan berkata.

"Ya kalau nasib apa mau dikata dasar mau mati...."

Mendengar suaranya tabib ini merasa putus asa. Ay Cun cia menghela nafas pula dan berkata.

"Aku tadinya mengira, karena dia masih kecil. Dia membawa sukanya kaucu, namun tak disangka..."

"Dia kecil, bahkan masih terlalu kecil."

Kata tabib Liok. Siau Po bingung, dia tidak dapat membaca perkataan itu dan terdengar pula suara Ay Cun cia.

"Saudara Liok, karena hal ini akan terjadi, apa yang harus kita lakukan. Kita berjanji susah dan senang kita tanggung bersama, bagi laki-laki sejati! Mati ya mati...!"

Siau Po menepuk tangan.

"Ay Cun cia benar!"

Katanya.

"Kalau seorang laki-laki sejati, apa yang harus ditakuti? Aku tidak merasa takut. Oleh karena itu kalian tak perlu takut."

Liok Sin Se tertawa dingin.

"Siau Po tak tahu apa-apa,"

Katanya dengan suara keras.

"Kau tidak tahu langit itu jauh dan bumi itu tebal. Nanti, setelah kau mengetahui apa itu tak kau baru berkata itu biasa!"

Ia lalu menoleh pada Ay Cun cia dan berkata pula.

"Ay Cun cia tunggulah sebentar, aku akan memberikan pesan pada istri dan keluargaku!"

Habis berkata ia pun lalu masuk, Ketika le beberapa detik Liok pun ke luar, tampak ada bel air mata di pipi nya. Melihat demikian Ay Cun cia jadi tertawa.

"Nyata terkaanku sama dengan terkaan malaikat katanya."

"Aku telah menduga bahwa suatu waktu akan datang hari yang seperti ini dan untuk itu aku tak ingin menikah dan tidak ingin mempunyai anak, jadi bagiku tidak ada yang diberati."

Tabib Liok gusar hingga ia mengangkat sebelah tangannya dan mengancam.

Siau Po kaget sekali dan ia berseru.

Perlahan-lahan tabib Liok menurunkan tangannya yang sudah diangkat.

Tampak telapak tangannya sudah berubah warna kecoklatan, itu yang membuat Siau Po menjadi khawatir.

"Apakah pada waktu begini kita masih dapat bergurau?"

Tanya si tabib. Ay Cun cia malah tersenyum.

"Ya. Aku yang salah."

Ujarnya.

"Saudara Liok, mari bagi aku pil Tok Liong Wan buatanmu barang sebutir...!"

Tabib Liok mengangguk dan ia pun merogoh kantung untuk mengambil pil yang diminta itu.

"Asal obat ini sudah masuk ke dalam mulut dan tertelan, orang akan segera mati, untuk itu jangan kau sembarang dalam menggunakannya!"

Ujarnya. Ay Cun cia mengambil sebutir.

"Terimakasih!"

Katanya sambil tertawa.

"Poan Tau To juga memandang jiwanya sendiri berharga sekali."

Siau Po mengamati gerak-gerik orang itu, ia lalu sadar akan gentingnya suasana itu, Selama mengalami perjalanan dari Siau Lim Pai, tampak nyata kegagahannya, akan tetapi saat ini ia meminta pil racun untuk dirinya cuma disebabkan ia takut pada Hong kaucu.

Jadi ia pikir orang itu akan membunuh diri bila saatnya telah tiba, baru ia mengerti keadaan dan ia pun takut.

Selagi mereka berjalan ke luar rumah Siau Po mendengar samar-samar suara tangis dari dalam rumah itu.

"Apakah Nona Pui tidak ikut bersama mereka?"

Pertanyaan itu yang didengar dari dalam rumah, dan ia pun ingat pada Pui Ie.

"Kau masih begini kecil tapi sudah pandai bermain asmara."

Kata Ay Cun cia tertawa.

"Di gunung Ngo Tay san ada Song Ji dan di sini adapula Nona Pui."

Selesai berbicara dia memegang tangan Siau Po dengan tangan kirinya dan lalu berkata dengan suara keras.

"Mari berangkat!"

Lantas dia berjalan dengan langkah lebar ke arah timur.

Liok Sin Se mengikutinya dengan wajah suram dan terus mendampingi si kakek gagah itu.

Siau Po menjadi kagum sekali, Tak disangka si tabib yang berbadan lemah itu ternyata mempunyai ilmu silat yang cukup sempurna dan itu terbukti dengan larinya yang sangat cepat sekali.

Siau Po lalu berkata sendiri.

"Liok San Se, Ay Cun cia, kalian memiliki ilmu silat yang sangat sempurna, mengapa kalian harus takut pada Hong Kau cu?"

Ay Cun cia mengulurkan tangan kanannya untuk membekap mulut Siau Po.

"Di atas pulau Sin Liong to ini kau berani mengeluarkan kata-kata dan kau mendurhakai ini,"

Tegurnya bengis.

"Apakah kau sudah bosan hidup?"

Siau Po diam saja, dia hanya dapat mengeluarkan kata-katanya dalam hatinya saja dan merasa dongkol.

"Setan alas! Kau berani menyindir aku secara tajam. Apakah dengan demikian kau dapat disebut seorang enghiong? Kau justru lebih hina dari anjing!"

Mereka bertiga menuju sebuah puncak gunung di sebelah timur pulau, puncaknya tinggi dan ramping.

Belum begitu lama mereka berjalan, Siau Po menyaksikan sesuatu yang menggidikkan hatinya, Di segala tempat terdapat ular berbisa tetapi anehnya kesemuanya takut pada Ay Cun Cia dan Liok sin she.

Dan setelah berjalan jauh mereka sudah hampir sampai, tampak di depan mereka sebuah bangunan di atas puncak, Bangunan itu terbuat dari bambu dengan atap yang besar.

Di sana mereka dibawa dan tetap saja Ay Cun cia dan sang tabib itu berlari seperti semula cepat dan tangkas.

Hanya beberapa waktu saja mereka telah sampai pada puncaknya dan mereka disambut oleh empat orang anak muda yang tangannya saling berpegangan dan semuanya menggendong pedang Usia mereka kurang lebih dua puluh tahun.

"Poan Tau To, mau apa bocah cilik ini?"

Dia masih muda, tapi memanggil Siau Po, A Cun dan tabib itu bocah. Ay Cun cia menurunkan Siau Po yang sewaktu naik ke puncak digendongnya.

"Kaucu memerintahkan untuk memanggil Siau Po, beliau ingin menanyakan sesuatu kepadanya."

Dan dari arah lain datang tiga orang wanita berbaju merah. Mereka datang dengan wajah berseri dan menanyakan kepadanya.

"Eh, Poan Tau To, apakah anak ini yang kau dapatkan dari istrimu yang di luar pernikahan itu."

Sambil berkata itu ia pun mencubit pipi Siau Po.

"Ah, Nona bergurau saja!"

Sahut Ay Cun cia.

"Anak ini sengaja dipanggil kaucu karena ada masalah penting yang akan ditanyakan padanya."

Baik anak muda itu maupun wanitanya memanggil "Poan Tau To"

Pada Ay Cun cia, jelas mereka mengira ia bersenda gurau. Seorang nona mencubit pipi kanan Siau Po sambil berkata.

"Anak ini mempunyai wajah yang tampan dan pasti ini anak dari Poan Tau dengan wanita itu dan tak usah menyangkalnya."

Kalau tadi Siau Po diam saja, kali ini sudah tak tahan menerima penghinaan itu dan ia pun berkata.

"Akulah anak di luar pernikahan yang dilahirkan olehmu, Kau telah berlaku serong dan main gila dengan Poan Tau To maka itu lahirlah aku."

Semua muda mudi itu diam saja dan mereka berdiri terpaku.

Hebat perkataan bocah itu, tetapi hanya sebentar dan mereka semuanya tertawa, lain halnya dengan si nona yang menyapa itu, Wanita itu menjadi marah.

"Cis."

Dia meludah dengan suara dongkol.

"Kau mau mampus yah!"

Sambil berkata begitu tangannya melayang ke arah Siau Po.

Siau Po mengelit dari serangan itu.

Dan ketika itu pula, Datanglah segerombolan muda mudi yang mendengar berisik.

Mereka lalu mendekat dan menggoda si nona yang berwajah merah sedang menahan amarah, Nona itu menyerang dengan tendangan ke arah pinggul Siau Po.

"Oh, ibu! Mengapa kamu menyerang anakmu?"

Seru Siau Po yang berkelit dan terus menggodanya.

Maka lagi-lagi mereka semua tertawa geli, justru itu mendadak terdengar suara teriakan dan mereka semua berhenti tertawa lalu berlarian menuju rumah bambu.

"Kaucu cia hendak berkotbah."

Kata Ay Cun cia lalu membimbing Siau Po.

"Sebentar lagi kita akan menghadap kaucu cia dan kuminta agar kau jangan sembarang berbicara!"

Siau Po mengangguk, di dalam hatinya merasa kasihan, muda mudi itu tadi sama sekali tak menghormati pada Ay Cun cia.

Lalu dari keempat penjuru lari berdatangan ke gubuk bambu itu.

Tabib Liok dan Ay Cun cia menuntun Siau Po menuju rumah itu dan memasukinya.

Mulanya mereka berjalan di sebuah lorong panjang kemudian sampai di sebuah ruangan, Ruangan itu besar sekali dapat memuat seribu orang.

Sudah lama Siau Po tinggal di istana, tapi tak pernah melihat ruangan yang sebesar itu, Maka mau tak mau dia merasa hormat dan kagum.

Di dalam ruangan itu terdapat muda mudi, Mereka semuanya duduk berkelompok menurut warna pakaian mereka yaitu, hitam, kuning, hijau, dan putih.

Ada satu lagi yaitu merah, dan itu yang dipakai oleh para wanitanya.

Semua muda-mudi itu memegang golok masing-masing, dan setiap kelompok terdiri dari seratus orang atau lebih.

Di tengah-tengah Toa Tia terdapat dua buah kursi.

Kursi itu juga terbuat dari bambu, tetapi dihiasi dengan ukiran yang indah dan bagus serta dilapisi dengan alas sulam.

Di kanan dan kirinya berbaris puluhan orang laki-laki dan wanita, Usia mereka yang muda kira-kira tiga puluhan, dan yang tua kira-kira lima puluh sampai enampuluh tahun, Hanya mereka tidak memegang senjata.

Jumlah yang hadir kira-kira enam ratus orang, Ruangan itu sunyi bahkan yang batuk atau berdehem pun jarang.

Siau Po heran dan berkata dalam hatinya.

"Sunggun gila! Sungguh bertingkah! ini berIebih-lebihan seperti seorang raja saja."

Tak lama kemudian terdengar suara gendang dipukul dan bersamaan dengan itu terdengar pula derap suara kaki yang datangnya dari arah ruangan dalam menuju ruangan tengah. Pikir Siau Po dalam hati.

"Pastilah yang datang itu si kaucu, Hantu sedang keluar!"

Kira-kira yang muncul itu sepuluh orang pria yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun dan mengenakan pakaian dengan lima warna, Kemudian mereka menempati tempat di samping kursi itu.

Lewat beberapa detik kembali terdengar suara gendang, dan kali ini disambut dengan suara kelenongan yang mungkin jubahnya seratus buah.

Setelah suara kelenongan itu berhenti semua yang ada di ruangan itu bertekuk lutut sambil berkata.

"Semoga kaucu berbahagia dan panjang usia sama dengan langit!"

Siau Po ikut berlutut hanya tidak ikut dengan puji-pujian itu.

Bahkan sebaliknya ia mencuri pandangan hingga ia melihat dari ruang dalam muncul dua orang pria dan wanita yang terus duduk berdampingan pada tempat yang telah disediakan itu.

Kembali suara kelenongan dan para hadirin bangun dari berlututnya secara perlahan-lahan.

Si laki-laki berwajah buruk sekali kumis dan janggutnya putih panjang sampai dada serta pada wajahnya terdapat codet bekas luka, Siau Po pun menerka, mungkin ini yang disebut kaucu atau raja agama.

Wanita yang mendampingi laki-laki berjanggu panjang itu sangat cantik, genit, penuh senyum dan usianya kira-kira dua puluh limaan.

Dalam hati Siau Po berkata.

"Wanita itu cantik dan lebih cantik dari kakakku."

Lalu di sebelah kirinya tampak seorang laki-laki membacakan sebuah surat dari kertas hijau.

"Membacakan dengan hikmat ajaran Hong kau cu karena pengaruhnya sudah sampai keempat penjuru dunia bunyinya, kemustajaban pil emas sudah tak dapat ditandingi lagi."

Serentak para hadirin mengikuti pembacaan itu dengan suara keras. Siau Po heran sekali, dia terkejut dan bagaikan guntur Siau Po mendengar kata-kata itu. Si baju hijau membaca lebih keras lagi.

"Sunggun beruntung kita menemukan guru yang maha pandai, kita diajarkan bersemedi dengan duduk bersila untuk menyingkirkan kesulitan agar kita dapat hidup lebih lama."

Di dalam hati Siau Po tertawa.

"lni mirip pembacaan doa oleh seorang pendeta, apa sih Kaucu."

Kembali bacaan itu diulangi oleh para hadirin dengan suara lantang. Selesai membaca itu para hadirin menambahkan lagi.

"Ajaran kaucu selalu kami ingat dalam hati kami dan kami doakan agar kaucu panjang umur."

Diam-diam Siau Po memperhatikan para muda mudi.

Mereka sangat bersungguhsungguh.

Lain halnya dengan si kaucu, dia tampak tenang saja dan dingin, Yang lebih aneh lagi para wanitanya, mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh tetapi sambil senyum-senyum, Setelah itu suasana kembali tenang.

Dalam saat sunyi itu si wanita terus saja memandang ke barat dan timur, wajahnya berseri dan berkata.

"Hek Liong Su dari Hek Liong Bun hari ini telah tiba hari perjanjian dan untuk itu silahkan kau persembahkan kitab-kitabmu!"

Suara wanita itu tenang tetapi jelas dan juga merdu, sangat indah didengarnya, Kemudian ia menjulurkan tangan kirinya untuk menerima kitab yang ia sebutkan itu.

Siau Po mengamati tangan yang putih dan mulus itu hingga tak terasa ia pun berkata dalam hatinya.

"Wanita itu telah berusia cukup tua tetapi tidak ada cacatnya, jika saja ia menjadi istriku,,., Coba pergi ke Li Cun Wan untuk jadi pelacur, pastil para hidung belang itu pada lari ke tempat itu dan pastilah tempat itu akan penuh oleh orang itu dan kemungkinan pintunya akan jebol karena terlalu banyak orang yang datang."

Setelah itu si tua maju dua langkah sembari membungkuk pada si nyonya itu dan melaporkan.

"Harap Hu Jin mengetahui Menurut berita dari kerajaan, sekarang ini sudah diketahui di mana sebenarnya keempat

Jilid kitab itu dan sekara sedang dicari dengan sungguhsungguh buat menuruti ajaran dari kaucu, Untuk itu kami tak menghiraukan jiwa kami, pasti kitab tersebut akan dicari sampai dapat, guna dihaturkan pada kaucu serta Hu Jin."

Orang itu membahas tentang "Hu Jin"

Nyona yang dimuliakan. Dia berbicara dengan suara bergetar, itu pertanda bahwa ia sangat takut sekali. Si Hu Jin sebaliknya tersenyum dan ia berkata.

"Kaucu sudah menambah waktu tiga hari, Liong Su mengapa kau masih panik? Kenapa kau tidak bekerja dengan sungguh-sungguh? Bukankah itu bertanda kau tidak setia pada kaucu?"

Hek Liong Su menjura dalam dan katanya.

"Hamba telah menerima budi sangat besar dari kaucu dan Hu Jin, biarkanlah tubuh ini hancur lebur, sebab budi itu sukar untuk dibalas, Maka itu hamba tak berani untuk tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, sebenarnya hal ini sangat sulit, dari enam orang hamba yang diperintah menyelidiki istana, dan dua diantaranya Song Beng Gi dan Liu Yan telah mengorbankan jiwanya dan untuk itu hamba mohon agar Hu Jin dapat memberikan waktu yang cukup lama lagi."

Bagian 40 Mendengar disebut nama Liu Yan hati Siau Po bergetar. Teranglah Liu Yan orang Sin Liong Kau, entah siapa itu Song Beng Gi apakah ia bukannya si dayang keraton?"

Tengah Siau Po berpikir, si nyonya menggapai tangan kirinya memanggil Siau Po sambil tertawa.

"Eh, adik kecil kemarilah!"

Panggilnya.

"Aku,"

Katanya, ia pun heran sekali. Nyonya itu pun tertawa.

"Benar."

Sahutnya.

"Aku memanggil engkau."

Cepat-cepat ia menoleh pada tabib Liok dan Ay Cun cia yang ada di sampingnya dengan bermain mata sebagai isyarat.

"Hu Jin memanggilmu Cepat kau pergi dan beri hormat!"

Kata si tabib. Di dalam hati Siau Po berkata-kata.

"Aku tak mau menghormatinya, apa yang akan ia lakukan jika ia tidak memberikan hormat padanya,"

Tetapi ia tetap saja memberikan hormatnya seraya berkata.

"Semoga kaucu dan Hu Jin berbahagia dan panjang umur sama dengan langit!"

Hong Hu Jin pun girang sekali.

"Nak kau masih kecil tetapi kau cerdas sekali, Siapa yang mengajari kau kalau disamping kaucu kau juga harus menghormatiku?"

Memang biasanya dalam Sin Liong Kau orang cuma memujikan ketua-nya, dan tak pernah ada orang yang menambahkannya meskipun hanya satu kata, Maka untuk itu Siau Po berlagak lain dari pada yang lain, dalam hati dia merasa tak puas tetapi dia tidak menampakkannya.

Dia melihat wanita cantik dan berpengaruh maka sudah selayaknya ia mengalah, Demikian juga bila si nyonya yang cantik itu bertanya ia pun lalu menjawabnya.

"Kaucu, sudah sepantasnyalah jika usia Hu Jin harus sama dengan usia kaucu, jika tidak nanti jika Hu Jin dipanggil yang maha kuasa tentunya kaucu merasa kesepian."

Hu Jin tertawa terpingkal-pingkal begitu juga kaucu, Sambil tertawa ia mengusap jenggot dan kumisnya yang putih dan panjang itu.

Semua anggota Sin Liong Kau ngeri melihat mereka yang sebagai ketuanya itu, bagaikan tikus melihat kucing, Mereka sudah ketakutan jikalau mereka salah dalam berbicara.

Tetapi melihat kaucu dan Hu Jin tertawa mereka jadi tenang dan ketegangan mereka pun hilang.

"Jadi itulah kata-kata yang kau tambahkan sendiri ?"

Kata sang ratu.

"Benar Hu Jin,"

Sahut Siau Po.

"Kata-kata itu tak dapat dihindarkan, sebab di dalam tulisan batu yang mirip dengan anak-anak katak itu juga terdapat nama Hu Jin."

Liok Sin Si kaget sekali mendengar ocehan Siau Po. Tubuhnya merasa dingin bagaikan es karena si bocah telah menambahkan kata "Hu Jin"

Itu, ia sendiri sudah menambahkannya, Siau Po benar-benar lancang sekali, Bukankah dengan demikian rahasianya akan terbongkar? Hong Hu Jin heran mendengar jawaban Siau Po.

"Kau bilang namaku terukir dalam tulisan itu."

Tanyanya.

"Benar,"

Katanya, Di lain waktu dia sadar dan mengingat perintah yang mengatakan agar ia menghapal kalimat tersebut Bersyukur sekali Siau Po karena Hu Jin tidak menanyakan lebih jauh lagi.

"Kau Si Wi, datang dari pakia, bukan?"

Tanya si nyonya.

"Menurut Poan Tou To kau pernah bertemu dengan seorang nyonya gemuk yang disebut Liu Yan, bahkan Liu Yan pernah mengajari mu ilmu silat, benarkah itu?"

Si nyonya Hu Jin bertanya. Ditanya begitu Siau Po berpikir dengan cepat.

"Apa yang Hu Jin bicarakan dengan Ay Cun cia, Ay Cun cia telah menyampaikan pada kaucu dan Hu Jin. Maka itu aku harus bersikap cepat karena Liu Yan sudah mati dan saksinya tak ada?"

Maka ia cepat menjawab.

"Benar, Bibi Liu dulu sahabat kekal pamanku, baik di waktu siang maupun di waktu malam, ia sering ke rumahku."

Hong Hu Jin tertawa.

"Mau apakah dia dengan kedatangannya itu?"

Tanyanya.

"Dia suka bergurau dengan pamanku, sering mereka merangkul satu dengan yang lainnya, mereka menyangka aku tidak melihatnya tetapi aku sering mengintainya."

Hu Jin pun tertawa pula.

Siau Po pandai sekali berbohong, Dia berpikir semakin banyak berbicara semakin mudah untuknya berbohong, sebab ia mengira orang akan percaya akan kata-katanya yang dilakukan secar wajar.

Lagi-lagi Hu Jin tertawa.

"Eh, Nak! Kau cerdik sekaii, begitu beraninya kau mengintip pamanmu yang sedang berciuman dan berpelukan itu."

Ia lalu menoleh pada He Liong Su dan berkata.

"Nah, kau dengar atau tidak anak ini tak mungkin berdusta."

Diam-diam Siau Po melirik pada Hek Liong Su Dia melihat wajah orang itu menjadi pucat dan menggigil, suatu tanda ia sangat ketakutan. Dia harus menjatuhkan diri dan berlutut sambil mengangguk-angguk.

"Hamba... hamba kurang penilikan... hamba harus mati... hamba mohon kaucu dan Hu Jin dapat memberikan ampunan pada hamba dapat menebus dosa ini...."

Siau Po merasa heran juga, Diam-diam dia berpikir dalam hatinya.

-Tua bangka ini aneh juga, Aku toh cuma mengatakan bahwa si Liu Yan berpelukan dan berciuman dengan pamanku, apa hubungannya dengan dia ini?

Mengapa dia jadi demikian ketakutan?

Hong Hu Jin tertawa.

"Membuat jasa guna menebus dosa?"

Katanya "Jasa apakah yang kau miliki? Aku mengira orang yang kau beri tugas itu sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, Tak disangka di kota kerajaan dia malah bermain asmara?"

Hek Liong Su mengangguk lagi berulang kali, bahkan kepalanya sampai membentur batu sehingga dahinya berdarah.

Melihat demikian, Siau Po tidak sampai hati.

Akan tetapi dia tidak menemukan katakata yang baik untuk meredakan suasana.

Hek Liong Su merayap kehadapan kaucu.

"Kaucu"

Katanya.

"Hambamu ini sudah cukup lama mengikuti kaucu bercapek lelah, biar pun tidak berjasa apa-apa, banyak bahaya yang sudah hamba tempuh demi...."

Belum lagi kaucu itu memberikan jawaban apa-apa, Hong Hu Jin sudah tertawa dingin.

"Untuk apa kau menyebut-nyebut pekerjaanmu yang dulu-dulu?"

Tegurnya.

"Usiamu sudah begini tua, masih berapa tahun lagi kau sanggup menyumbangkan tenagamu untuk kaucu? Karena itu, ada baiknya kau tidak usah menjabat lagi kedudukanmu sebagai Hek Liong Su. Bukankah demikian lebih menyenangkan?"

Hek Liong Su mengangkat kepalanya untuk menatap sang kaucu.

"Kaucu!"

Katanya dengan suara bergetar "Apakah benar terhadap hambamu yang lama yang sudah seperti saudaramu ini, kau tidak mempunyai sedikit pun rasa menyayangi?"

Sejak semula sikap Hong kaucu tetap tenang, dengan tawar dia menjawab.

"Di dalam partai kita banyak sekali orang-orang tua yang kerjanya sudah tidak karuan, maka itu ada baiknya sejak sekarang kita mulai melakukan penertiban."

Inilah untuk pertama kalinya Siau Po mendengar suara si kaucu yang perlahan dan kurang tegas, justru ketika otaknya sedang bekerja, terdengar para pemuda pemudi memperdengarkan suaranya yang nyaring dan lantang.

"Ajaran kaucu senantiasa kami ukir dalam hati. Kami akan membangun jasa! Kami akan mengalahkan setiap musuh agar dapat melindungi diri dan hidup panjang umur!"

Mendengar suara itu, Hek Liong Su menarik nafas panjang, Dengan tubuh masih bergetar, dia bangkit "lnilah yang dinamakan, habis manis sepah dibuang!"

Katanya.

"Kami merupakan orang-orang yang sudah tua dan tidak berguna, memang sebaiknya kami mati saja!"

Dia langsung memutar tubuhnya kemudian berkata kembali "Marilah!"

Empat pemuda sudah langsung maju ke depan, Tangan mereka masing-masing membawa sebuah nampan kayu yang di atasnya terdapat sebuah kotak yang berisi sejenis kopiah dari bahan kuningan Mereka maju ke depan dan meletakkan nampan-nampan itu di hadapan Hek Liong Su kemudian mereka kembali lagi ke tempat semula.

Begitu juga dengan orang-orang lainnya, mereka masing-masing menyurut mundur dua langkah.

Terdengar suara Hek Liong Su yang lantang.

"Ajaran Kaucu senantiasa kami ukir dalam hati! Kami akan membangun jasa! Kami akan mengalahkan setiap musuh agar dapat melindungi jiwa kami dan hidup.... Hm! Tapi, tidak apa-apa meskipun jiwaku yang tua ini tidak dilindungi."

Sembari berkata, Hek Liong Su memegang bagian atas dari sebuah kotak, kemudian dia menariknya, Setelah itu dari dalam kotak tampak mencelat bayangan sesuatu benda dan disusul dengan berkelebatnya sinar keputihan.

Ternyata cahaya dari sebatang golok yang membacok bayangan yang mencelat tadi sehingga terkutung menjadi dua bagian dan terjatuh ke dalam nampan, namun masih terus berkutik-kutik.

Rupanya itulah seekor ular kecil panca warna.

Menyaksikan hal itu, Siau Po terkejut setengah mati, Dia bahkan sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Lalu terdengar suara teriakan banyak orang.

"Siapa? Siapa yang berani menentang atasan. Bekuk dia! Siapa si murid murtad yang berani menentang kaucu?"

Menyusul itu, terdengar suara Hong Hu Jin yang keras.

"Ngo Liong Siau Lian! Lekas turun tangan!"

Ngo Liong Siau Lian yang dimaksudkannya ialah barisan pemuda "Lima Naga"

Ternyata nyonya itu tidak dapat dilihat dari sudut kecantikan ataupun sikapnya yang centil.

Begitu dia mengeluarkan suaranya yang keras, suara-suara bising lainnya langsung sirap, sebaliknya para pemuda-pemudi itu langsung bergerak.

Hal ini membuktikan, bahwa selain wajahnya yang cantik dan sikapnya yang centil, nyonya itu mempunyai tenaga dalam yang dahsyat.

Suaranya mengandung pengaruh yang besar.

Begitu mendengar perintahnya, ratusan pemuda-pemudi langsung menghunus pedangnya masing-masing sehingga timbullah suara berdesingan yang riuh, Setelah itu mereka lantas mengurung para orang tua yang tadinya merupakan rekan mereka juga.

Semua pemuda-pemudi itu bergerak dengan rapi menurut warna seragamnya masing-masing.

Mereka terdiri dari kelompok-kelompok, Ada lima atau enam orang yang mengepung satu orang tua.

Di bagian lain ada juga yang terdiri dari delapan atau sembilan orang, sedangkan pedang mereka masing-masing mengancam bagian tubuh yang mematikan dari para orang tua itu, Dengan demikian para orang tua itu seakan sudah tidak mempunyai jalan untuk meloloskan diri lagi.

Tabib Liok dan Ay Cun cia juga tidak terkecuali, mereka juga ikut terancam.

Seorang imam berkumis hitam dan usianya kurang lebih lima puluh tahun tertawa.

"Hu Jin."

Katanya.

"Entah berapa bulan waktu yang kau habiskan untuk melatih barisanmu yang istimewa ini. Tapi kalau tujuannya untuk menghadapi para saudara tuamu ini, sebetulnya tidak perlu kau sampai menggunakan cara ini!"

Begitu dia selesai berkata, dua dari delapan orang nona yang mengurungnya segera maju selangkah dan mengancam dada orang itu dengan pedang masing-masing.

"Jangan kau bersikap kurang ajar terhadap Kaucu dan Hu Jin!"

Katanya garang. Si imam tertawa lagi.

"Hu Jin!"

Katanya kepada nyonya kaucu itu.

"Sebaiknya aku katakan terus terang bahwa naga Ngo Cay Sin Liong itu, akulah yang membunuhnya."

Yang ia maksudkan tentunya ular kecil panca warna tadi namun disebutnya naga.

"Kalau Hu Jin ingin menjatuhkan hukuman atas dosaku itu, silahkan Hu Jin turun tangan kepada diriku! Harap jangan merembet orang lain yang tidak bersalah!"

Hong Hu Jin tersenyum.

"Bagus! Kau telah mengakuinya sendiri!"

Katanya.

"Totiang, bukankah selama ini perlakuan kaucu terhadapmu tidak dapat dikatakan buruk? Bukankah kau telah dipercayakan tugas Cia Lioi Bun, Ciang Bun Su? Bukankah kedudukan itu hanya di bawah kaucu seorang, tapi di atas ribuan orang lainnya? Mengapa sekarang kau justru berkhianat?"

"Aku yang rendah sama sekali tidak berniat mengkhianati"

Kata si imam.

"Hek Liong Su To Yam Goat telah berjasa besar terhadap partai sekarang hanya karena kesalahan kecil yakni kurang waspada terhadap sebawahannya, Hu Jin ingin merampas selembar jiwanya, Tindakan Hu Jin ini benar-benar membuat aku tidak puas. Aku mohon agar kaucu dan Hu Jin memberikan keringan kepadanya!"

Hong Hu Jin tertawa kembali.

"Bagaimana kalau aku menolaknya?" . Sejak semula selalu si nyonya muda ini yang berbicara, sedangkan kaucunya hanya diam saja.

"Sin Liong Kau dibangun oleh kaucu,"

Sahut Bu Kin Tojin.

"Tetapi, di samping itu, kami ribuan saudara lainnya juga turut berjasa dengan mempertaruhkan nyawa bekerja tanpa menghiraukan marabahaya, Semula jumlah kita semuanya ada seribu dua puluh tiga orang, sampai sekarang orang lama hanya tersisa beberapa ratus saja, Saudara kami yang lainnya telah tiada, ada yang terbinasa di tangan musuh, ada juga yang dihukum mati oleh kaucu sendiri. Karena itu, aku mohon kaucu sudi mengampuni jiwa kami yang sisanya tidak seberapa ini, Pecatlah kami dan keluarkanlah kami dari partai! Apabila kaucu dan Hu Jin sudah jemu melihat kami yang sudah tua-tua ini, serta berniat memakai orang-orang baru, silahkan kaucu dan Hu Jin mengusir kami agar kami berlalu dari sini!"

Hong Hu Jin tertawa dingin.

"Semenjak partai Sin Liong Kau didirikan, belum pernah ada orang yang keluar dari partai dalam keadaan hidup-hidup, Karena itu, Bu Kin tojin, tidaklah kata-katamu itu luar biasa sekali?"

"Kalau begitu, apakah berarti Hu Jin tidak sudi menerima baik permintaan kami?"

Kata Bu Kin tojin.

"Maaf! partai kita tidak mempunyai peraturan seperti itu."

Sahut si nyonya tegas. Bu Kin Tojin tertawa terbahak-bahak.

"Kalau begitu, tentunya Hu Jin dan kaucu akan membunuh habis kami semuanya."

Katanya nyaring. Hong Hu Jin hanya tersenyum.

"Tidak sepenuhnya betul."

Katanya.

"Para anggota yang sudah tua, asalkan masih setia terhadap kaucu, tetap kami anggap sebagai saudara. Kami tidak mementingkan usia muda atau tua, yang penting kesetiaannya, Nah, sekarang kalian semua dengar! Siapa yang masih setia kepada kaucu, silahkan angkat tangan!"

Si nyonya langsung bertanya kepada para anggota partainya.

Para muda-mudi yang jumlahnya ratusan orang itu langsung mengacungkan tangannya.

Para orang tua yang terkepung itu pun ikut mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tidak terkecuali Bu Kin tojin.

Kemudian terdengar suara teriakan dari para anggota partai itu.

"Kami semua setia terhadap kaucu, Kami tidak akan berhati dua."

Bahkan Siau Po pun ikut mengangkat tangannya. Hong Hu Jin yang menyaksikan keadaan itu langsung menganggukkan kepalanya.

"Bagus sekali."

Katanya gembira.

"Rupanya setiap orang setia terhadap kaucu, Bahkan adik kecil yang baru datang ini pun tidak terkecuali ia juga mengatakan kesetiaannya."

Mendengar ucapan si nyonya muda, Siau Po berpikir dalam hati. -sebetulnya aku hanya setia kepada si kura-kura dan si jahanam hina dina, Hong Hu Jin berkata kembali.

"Semuanya setia kepada kaucu, Kalau begitu, di sini tidak terdapat seorang pengkhianat pun, Benarkah? Bukankah keadaannya jadi tidak tepat? Karena itu, aku harus menanyakannya satu persatu dengan teliti, Saudara sekalian, sudilah kiranya kalian menyerahkan diri di belenggu sementara!"

"Baik."

Sahut beberapa ratus pemuda-pemudi itu.

"Tunggu dulu!"

Tiba-tiba terdengar suara lantang seorang pria, Tubuhnya tinggi besar dan orangnya penuh wibawa.

"Hai, Liong Su!"

Sapa Hong Hu Jin.

"Apakah kau mempunyai pemikiran yang sempurna?"

"Pemikiran yang sempurna memang tidak ada."

Sahut orang yang ditegur.

"Apa yang hamba pikirkan adalah masalah ketidakadilan."

"Hm! Hm!"

Si nyonya muda mengeluarkan suara mengandung keheranan "Apakah kau bermaksud mengatakan bahwa tindakanku ini tidak adil?"

"Hal itu, hamba tidak berani mengatakannya."

Sahut pria tinggi besar itu.

"Hamba telah mengikuti kaucu selama dua puluh tahun, selama itu persoalan apa pun, hamba selalu ke depan, tidak pernah menyurut mundur. Ketika hamba mempertaruhkan nyawa demi partai ini, bocah-bocah yang hadir di sini pasti belum lahir, Karena itu, mengapa mereka yang masih muda mendapat prioritas dengan dikatakan setia terhadap kaucu, sedangkan kami yang tua tidak?"

"Dengan kata-katamu ini, Pek Liong Su, berarti kau telah membeberkan jasamu sendiri."

Katanya.

"Sama saja artikan kau mengatakan, bahwa tanpa jasamu Tio Ci Leng si Naga Putih, Sin Liong Kau tidak dapat berdiri sampai sekarang, bukankah begitu?"

Orang bertubuh tinggi besar itu memang bernama Tio Ci Leng. Dia segera menjawab.

"Berdiri serta bertahannya Sin Liong kau sampai sekarang ini, semuanya berkat jasa kaucu sendiri Kami semua hanya memberikan sedikit bantuan, tidak pantas di katakan sebagai jasa, Akan tetapi...."

"Akan tetapi apa?"

Tukas Hong Hu Jin.

"Akan tetapi, kalau kami yang sudah tua ini dikatakan tidak mempunyai jasa apa-apa, anak-anak yang masih bau kencur ini."

Sahut Ci Leng dengan berani.

"Usiaku sendiri belum mencapai tiga puIuh, apakah aku juga terhitung orang yang belum mempunyai jasa apa-apa. Mendirikan partai dan menjalankannya itu jasa kaucu sendiri."

Tidak tampak kegusaran pada mimik wajah Hong Hu Jin. Dia hanya berkata dengan perlahan.

"Kalau semua memang tidak ada jasanya, seandainya kau kubunuh, tentu kau juga tidak akan penasaran, bukan?"

Tiba-tiba sinar mata nyonya muda ini menyorotkan kebencian dia berteriak.

"Kalau hanya aku orang she Tio yang di bunuh, tidak apa. Tapi aku khawatir, bila kau membunuh para menteri-menteri yang setia dan sudah lama mengikuti kaucu, maka Sin Liong Kau akan hancur di tanganmu seorang."

"Bagus! Bagus!"

Seru si nyonya muda, sikapnya masih tenang sekali "Aih, aku merasa letih sekali."

Kata-kata itu di ucapkan dengan seenaknya.

orangnya pun tampak lesu, siapa tahu rupanya itulah isyarat rahasia untuk segera melaksanakan hukuman, Tujuh orang pemuda segera menghunjamkan pedangnya ke tubuh si Naga Putih, Ketika pedang mereka di cabut kembali, darah pun ber-cipratan ke mana-mana.

"Kaucu, kau... tega seka... li!"

Seru Tio Ci Leng.

Hanya sekian kata-katanya dan tubuhnya roboh di atas tanah dengan jiwa melayang, sedangkan ke tujuh pemuda itu sudah kembali ke tempatnya semula.

Sebetulnya Tio Ci Leng terhitung salah satu anggota yang lihay sekali dari Sin Liong Kau, tapi ketika ke tujuh pemuda itu menikamnya, dia tidak berdaya sama sekali, Hal ini membuktikan bahwa ilmu ketujuh pemuda itu sudah dilatih sedemikian rupa sehingga mencapai kesempurnaan.

Hong Hu Jin menguap, dengan tangan kirinya dia menutup bibirnya yang mungil seperti buah ceri, Tampaknya dia mengantuk serta letih sekali.

Bagaimana dengan Hong kaucu?

dia tetap berdiam diri seperti tidak melihat bagaimana Tio Leng dibinasakan.

Kemudian dengan sikap seenaknya pula Hong Hu Jin bertanya.

"Chi Liong Su, Oey Liong Su, bagaimana pendapat kalian tentang Pek Liong su yang berani berniat berkhianat? Bukankah dia sudah selayaknya mendapat hukuman atas dosanya itu?"

Seorang tua yang tubuhnya pendek segera menjura dan berkata.

"Sebenarnya niat Pek Liong Su berkhianat kepada kaucu dan Hu Jin sudah berlangsung lama. Beberapa kali hamba melaporkan hal ini kepada Hu Jin, tetapi Hu Jin selalu mengatakan, selaku sesama saudara, Hu Jin ingin membiarkan saja agar tersadar dengan sendirinya, Kaucu dan Hu Jin ya berhati mulai masih berharap dia insyaf dengan kesalahannya itu dan dapat memperbaiki diri. Siapa tahu hatinya yang busuk dan tidak selayaknya mendapatkan pengampunan sekarang dia telah menerima hukuman yang pantas baginya, sesungguhnya kami semua bersyukur atas tindakan Hu Jin dan kaucu ini!"

Mendengar ucapan si kate itu, Siau Po berpikir dalam hati. --ini dia yang dinamakan si raja menepuk-nepuk kempolan kuda! -Hong Hu Jin tersenyum.

"Ternyata Oey Liong Su pandai melihat suasana. Nah, Chi Liong su, bagaimana pikiran Anda?"

Seorang tua berusia kurang lebih lima puluhan tahun dan bertubuh tinggi memandang bengis kepada delapan pemuda yang mengurung dan mengancamnya. Dia berkata dengan suara keras.

"Kalian semua mundur! Kalau kaucu hendak membunuh aku, kalian kira aku tidak dapat melakukannya sendiri?"

Delapan pemuda itu bukannya menyurut mundur, mereka malah menjulurkan pedangnya sehingga menempel di dada orang.

Orang jangkung kurus itu tertawa dingin beberapa kali, Dengan perlahan dia mengangkat tangannya untuk memegang leher bajunya, kemudian dia berkata dengan suara lantang.

"Kaucu! Hu Jin! Dahulu hambamu bersama ke empat Ciang Bun Su Merah, Putih, Hitam, dan Kuning telah mengangkat tali persaudaraan Kami bersatu hati untuk menjual jiwa demi Sin Liong Kau, tak disangka sekarang bisa ada kejadian seperti hari ini? Kalau Hu Jin ingin membinasakan aku si orang she Kho, sama sekali tidak aneh. Yang aneh ialah kakek tua she In yang memangku jabatan Oey Liong Su ini, dia tamak akan kehidupan, takut menghadapi kematian. Maka barusan dia telah mengucapkan katakatanya yang hina dan busuk, Dia telah memfitnah saudaranya sendiri."

Berkata sampai di situ, tiba-tiba si jangkung kurus merobek bajunya sendiri sehingga koyak menjadi dua bagian kemudian dilepaskannya dan secepat kilat diayunkannya ke depan seperti selembar selendang.

Dalam sekejap mata dia sudah berhasil merampas dua batang pedang, Tanpa berhenti sedikit pun, tangannya yang sudah menggenggam pedang digerakkan secepat kilat.

Di lain saat ke delapan pemuda yang berdiri di hadapannya dan mengepungnya sudah roboh di atas tanah bermandikan darah dan mati seketika, Gerakannya sungguh hebat dan mengagumkan.

Hong Hu Jin terkejut sehingga dia berjingkrak bangun dari kursinya, Dia menepuk kedua belah tangannya, dua puluhan pemuda berseragam hijau dengan pedangnya masing-masing segera menghadang di depan Chi Liong Su, sedangkan beberapa puluh pemuda lainnya langsung mengambil sikap mengepung.

Chi Liong Su atau si Naga Hijau tertawa terbahak-bahak.

"Oh, Hu Jin!"

Serunya nyaring.

"Kawanan bocah asuhanmu ini semuanya dogol sekali. Sungguh kecewa kaucu mengandalkan mereka untuk menghadapi musuh."

Sungguh luar biasa juga ketenangan kaucu Sin Liong Kau itu.

Tadi, ketika ke tujuh pemudanya membinasakan Pek Liong Su, dia seakan tidak melihatnya, sekarang Chi Liong Su berbalik membunuhi delapan orang anggotanya yang muda, dia juga diam saja, dia seperti tidak menghiraukan kejadian apa pun.

Ketika Hong Hu Jin melihat sikap suaminya, dia menjadi jengah sendiri.

Akan tetapi, dia menabahkan hatinya dan tetap tersenyum Kemudian dengan tenang dia duduk kembali di kursinya.

"Chi Liong Su!"

Katanya.

"llmu pedangmu lihay sekali Hari ini aku...."

Belum habis ucapan si nyonya, tiba-tiba terdengar suara yang memusingkan suasana yang mencekam, karena beratus-ratus pedang di tangan pemuda pemudi itu terlepas sendiri dan secara aneh sekali berjatuhan di atas tanah.

Ketika orang-orang lainnya masih merasa aneh, para pemuda pemudi itu pun terkulai di atas tanah menyusul jatuhnya pedang-pedang mereka, Para anggota yang tenaga dalamnya lebih mahir roboh belakangan dengan tubuh terhuyung-huyung terlebih dahulu, Tiba-tiba saja mereka merasa kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang dan kedua lututnya menjadi lemas seperti orang yang kehabisan tenaga dan tidak sanggup lagi berdiri "Ka,., lian kenapa?"

Teriak si nyonya muda yang langsung berjingkrak bangun roboh kembali dan melorot dari atas kursinya.

Chi Liong Su tetap berdiri tegak, Kedua pedang yang berhasil direbutnya dari para pemuda tadi masih digenggamnya erat-erat, Dia mengeluarkan suara tertawa dingin kemudian berkata.

"Kaucu! Kau telah membinasakan saudaramu sendiri secara kejam, Siapa sangka akan datang hari seperti ini bagimu."

Kata-katanya ditutup dengan dibenturkannya kedua batang pedang di tangan kanan kirinya sehingga menimbulkan suara yang nyaring, Setelah itu, dia berjalan ke depan melewati para pemuda yang terkulai di atas tanah untuk menghampi ketuanya.

"Hm! Belum tentu!"

Sahut si ketua yang baru memperdengarkan suaranya kembali Tangannya segera bergerak, palang kursi yang terdapat bagian belakang tempat duduknya langsung ditarik dan terputus lalu dicekal erat-erat olehnya.

Chi Liong Su terkejut setengah mati sehingga tanpa sadar kakinya menyurut mundur satu tindak, diam-diam dia berpikir --Hebat kaucu ini!

Ternyata dia dapat melawan pengaruh obat!

Aku harus mencari jalan membiarkannya agak lama sehingga dia roboh sendiri,., --Karena itu, untuk mengulur waktu, dia sengaja berkata.

"Kaucu! Sin Liong Kau begini besar dan berpengaruh tetapi sekarang menjadi hancur lebur seperti ini, sebenarnya siapakah yang menyebabkannya ? Tentunya kaucu sudah mengerti sendiri, bukan?"

Hong kaucu mengeluarkan seruan tertahan dan tubuhnya merosot jatuh bersama kursinya, Dia terduduk di atas lantai disebabkan kaki kursi itu patah sendiri.

Menyaksikan keadaan itu, senang sekali hati Chi Liong Su, Dia langsung menerjang ke depan.

Tepat pada saat itulah, Serrrrr, Sreettt!

Sebuah benda menyambar ke arah dada si Naga Hijau ini sehingga dia terkejut setengah mati, Dengan gesit dia menggerakkan pedangnya dan berhasillah dia menyelamatkan diri karena benda itu terpapas kutung olehnya.

Ternyata benda itu sebuah pegangan kursi yang ditimpukkan si kaucu dengan tenaganya yang terakhir Karena kayu itu kena dikutungkan ujung yang satunya tetap meluncur Si Naga Hijau yang baru saja merasa lega karena mengira dirinya telah bebas dari ancaman, langsung menjerit ngeri karena dadanya telah tertikam kutungan kayu itu.

Enam potong tulang rusuknya patah dan tembus sampai ke paru-parunya.

Saking kaget dan nyerinya, Chi Liong Su menjerit keras-keras, namun baru sampai setengah jalan, pernafasannya telah tertutup, mulutnya tidak sanggup menimbulkan suara lagi, dan tubuhnya terhuyung-huyung sesaat kemudian dia pun roboh.

Yang sial justru dua orang pemuda yang sedang roboh tidak berdaya, Kedua batang pedang yang tadinya digenggam si Naga Hijau jatuh menancap di tubuh mereka sehingga mereka berkaok-kaok kesakitan namun tidak sanggup bangun atau pun menyelamatkan diri.

Para pemuda yang roboh di atas lantai itu menyaksikan kegagahan si kaucu, serentak mereka bersorak kembali menyatakan pujiannya.

Hong kaucu berusaha untuk bangun, tangan kanannya menumpu pada lantai, kaki kanannya digerakkan juga, tetapi tetap saja dia tidak sanggup melakukannya.

Kedua kakinya terasa lemas sekali.

Dia roboh kembali bahkan tubuhnya berguling seperti labu air.

Menyaksikan hal itu, sadarlah para pemuda itu bahwa kaucunya telah menjadi korban semaca racun yang digunakan pihak lawan.

Tapi yang roboh bukan hanya para pemuda beserta kaucu dan Hu Jinnya saja, orang-orang yang tua pun ikut roboh.

Dilain detik, setelah sekian lama yang berdiri tinggal satu orang saja, Dia bertubuh kecil, bahkan termasuk kate, tetapi setelah semuanya roboh di atas lantai, dia justru menjadi orang yang paling jangkung di antara yang lainnya.

Dia jadi mirip seekor burung bangau di antara burung-burung kecil lainnya.

Dialah Wi Siau Po, thay-kam kita, Mulanya dia berdiri terpaku sebab dia heran sekali atas peristiwa yang berlangsung di hadapannya, Baru kemudian dia sadar lalu cepatcepat menarik tangan tabib Liok.

"Liok Sin Se, bagaimana ini?"

Tanyanya bingung. Si tabib sendiri juga heran. Karenanya, dia bukan menjawab malah bertanya.

"Eh, apa kau tidak keracunan?"

"Keracunan?"

Tanya si bocah.

"Aku.,, tidak tahu,.,." Ketika masih merasa heran, Siau Po membantu si tabib bangun dan berdiri Tetapi kemudian menegakkan tubuhnya sedikit, tabib itu langsung terjatuh kembali. Ketika itu, Chi Liong Su masih belum mati, Dia dapat bergerak dan berusaha bangun, Tubuhnya terhuyung-huyung, mulutnya mengeluarkan suara gumam yang tidak jelas, Dia juga terus terbatuk-batuk. Liok Sin she memperhatikan orang itu.

"Saudara Kho,"

Tanyanya.

"Racun apa yang kau gunakan?"

"Sayang... sayang.."

Sahut orang she Kho itu, Dia bukannya menjawab tapi menggumam seorang diri.

"Sayang usahaku cuma berhasil sebagian, akhirnya toh aku gagal juga... sayang,., aku sudah tidak berguna lagi..."

"Apakah kau menggunakan Sip Hiang Joan atau Cian Li Siau Hun?"

Tanya Liok Sin Se.

"Ataukah itu racun Hoa Hiat Hu Kut Hun?"

Ketiga obat yang ditanyakannya semua merupakan racun.

Di waktu menyebut nama obat yang terakhir, si tabib jadi menggidik sendiri, terang dia merasa takut sekali.

Chi Liong su terluka pada bagian paru-paru kanannya, Dia terus terbatuk-batuk, sebab itu dia tidak dapat menjawab pertanyaan si tabib.

Liok Sin si pun menoleh kembali kepada tamunya, si bocah tanggung.

"Eh, eh, Wi Kongcu,"

Tanyanya.

"Mengapa kau tidak terkena racun? Oh, ya."

Mendadak dia berhenti berkata, seakan ada suatu ingatan yang melintas dalam benaknya.

"lya, aku ingat sekarang, Pada ujung pedang pendek itu telah kuolesi obat Pak Hoa Hok. Wi Kong Cu, coba kau cium ujung pedangmu! Bukankah berbau wangi bunga?"

"Ujung pedang itu ada racunnya, mana sudi aku menciumnya."

Kata Siau Po dalam hati tetapi ia menjawab.

"Sekarang aku mencium wangi bunga yang begitu menyengat."

Mendengar jawaban itu, Liok Sin Se menjadi sangat senang.

"Benar-benar Pak Hoa Hok!"

Serunya.

"Obat itu kalau dipakai dan ditelan serta bercampur dengan darah akan berbau harum yang sangat keras sekali, Sebab yang dipakai sari wangi-wangian. Dan yang menciumnya akan mendapatkan kesegaran dari wanginya itu, Namun kami yang tinggal di pulau ini memakainya untuk mengobati orang yang terkena ular berbisa, Namun sebaliknya, jika wangi-wangain itu tercampur dengan arak warangan, akan menyebabkan orang menjadi lemas selama seharian Saudara Kho memang bagus sekali dan sebenarnya Pak Hoa Hok itu benda terlarang, Siapa tahu kau telah menyimpannya secara diam-diam. Dan bukankah sudah beberapa bulan ini kau tidak minum Hong Hok Tau Yung Cu itu."

Ci Liong Su duduk merebahkan diri di samping seorang anak muda. Atas pertanyaan itu ia menggelengkan kepala dan ia sangat menyesali lalu berkata.

"Perhitungan manusia tak dapat melawan nasib dan takdir Akhirnya aku pun terkena tangan beracun itu."

"Oh, murid jahanam yang berhati besar."

Dia mendamprat anak muda.

"Bagaimana kau berani-beraninya menyebutku dengan nama suci dari kaucu?"

Chi Liong Su tertawa dingin sambil perlahan ia bangun dari duduknya, lalu mengambil sebilah pedang, kemudian langkah demi langkah ia mendekati Hong kaucu.

"Apa?"

Katanya.

"Tak dapatkah kau menyebut nama Hong An Tong? Aku justru akan membinasakannya mengapa aku tak dapat menyebut nama itu?"

Lewat beberapa detik terdengarlah suara dari dalam yaitu suara si naga sakti.

"Kakak, jika kau berhasil membunuh Hong An Tong, kami semua akan mengangkatmu menjadi kaucu dari Sin Liong Kau. Mari ramai-ramai kita menyebutkan Khau kaucu, kami setia dan tidak berhati dua!"

Hanya sejenak keadaan menjadi sunyi dan tak lama kemudian berkatalah semua yang hadir di situ.

"Kami bersedia menerima perintah dari Khau kaucu, Kami semua akan setia dan tak akan berhati dua!"

Suara itu tidak sama, ada yang keras ada puIa yang lembek.

Chi Liong Su berjalan beberapa langkah, dia luka parah tetapi masih ingin membinasakan ketuanya yang jahat itu.

Tiba-tiba Hong Hu Jin tertawa cekikikan.

"Chi Liong su, kau telah kehabisan tenaga, katanya.

"Lihat kakimu sudah mengucurkan darah, begitu pula dadamu, sebentar lagi kau akan kehabisa darah, Duduk, duduklah! Kau hidup pun percuma mendingan kau mati, Kalau kau sudah mati baru kau merasakan enak sekali,"

Katanya. Kau Sou Teng, demikian Ching Liong su memberikan suaranya.

"Oh,., Oh.,."

Beberapa kali ia mengungkapkannya lalu jatuh terduduk dan tak bangkit lagi, Namun pikirannya masih tetap sehat dan cepat sadar karena jika ia tetap duduk saja tak mungkin dapat membunuh Hong kaucu di antara mereka yang jumlahnya ratusan itu, Hong kaucu saja yang tenaganya paling mahir, karena itu pasti hanya dia yang mampu menghilangkan racun itu, dan dia pula yang akan menolong kawan-kawan mereka dari racun itu dan mereka semua akan merasa menjadi tangan kanannya kaucu itu.

"Liok... Liok Sin Se, tolong kau berikan aku pilihan mana yang harus aku jalani karena aku sudah tak dapat bergerak lagi, coba kau tolong pikirkan sesuatu untuk aku!"

Liok Sin Se tidak menjawab dan ia hanya berkata pada Siau Po.

"Wi kaucu itu sangat jahat dan kejam kalau dia dapat menghilangkan racun ular itu dari dalam tubuhnya ia akan membinasakan kita semua, Kau pun tak akan dapat hidup lebih lama lagi karena itu kau harus dapat membinasakan kaucu dan istrinya Hu Jin!"

Kata-kata itu telah dapat menginsapkan dirinya dan karena itu ia lalu mengambil pedang dan melangkah dengan ringan sekali ke arah kaucu. Berkata pula Liok Sin si.

"Wi Kong Cu awas dengan Hu Jin ia pandai membuat orang hilang ingatan, jangan pandang wajahnya terutama matanya! jangan percaya dengan kata-katanya karena itu dapat membuatmu menjadi celaka, dan pertama kau datang hadiahkan untuknya sebuah tusukan atau tebasan pedangmu itu!"

"Ya,"

Sahut Siau Po yang maju terus pada Hu Jin. Sementara itu Hu Jin menatap terus anak it terutama matanya.

"Hai anak kecil! Coba kau bilang aku cantik atau tidak,"

Katanya.

Suara itu terdengar sangat merdu dan orangnya pun sangat lemah lembut serta gerak-geriknya sangat bagus.

Hati Siau Po merasa berdebar dan ia ingin melihat mata dan wajah Hu Jin yang cantik itu tetapi ia sadar akan teriakan Ay Cun cia.

"Jangan lihat matanya itu mata celaka yang akan menghancurkanmu!"

Siau Po terkejut lalu ia memejamkan matanya Hong Hu Jin tertawa perlahan dan berkata.

"Anak kecil coba kau buka matamu dan lihat mataku! Di mataku ada bayang-bayang dirimu."

Siau Po sangat tertarik sekali ingin membuka matanya tetapi ia masih dapat menahan diri untuk tidak melihat, Anak tanggung itu sudah siap menghunjamkan pedangnya, namun tiba-tiba.

"Kakak yang baik jangan bunuh dia!"

Itu teriakan yang suaranya sangat ia kenali.

Sambil membatalkan tikamannya itu ia menoleh mencari arah suara itu.

Tampak di sebelah kiri tergeletak seorang nona cantik bergaun merah, Nona itu ternyata Sio Kuncu Bhok Kiam Peng yaitu seorang putri pangeran Bhok dari In Lam, ia sangat terkejut sekali mengapa putri itu ada di markas Sin LiongKau dan dalam keadaan seperti itu pula.

Siau Po cepat-cepat menghampiri nona bangsawan itu dan membantunya untuk bangun.

"Eh Nona, mengapa kau berada di sini?"

Nona bangsawan itu tidak menjawab pertanyaan Siau Po, malah dengan nada bingung ia berkata.

"Kau tak dapat membinasakan Hu Jin dan kau pun tak dapat membinasakan kaucu...!"

Siau Po diam dan ia terus menatap nona itu.

"Apakah kau telah masuk ke dalam Sin Liong Kau?"

Tanyanya heran.

"Dan mengapa kau bisa jadi begini?"

Kiam Peng bersandar pada tubuh Siau Po. Nona itu sangat lemas dan mulutnya yang mungil itu dekat dengan kuping Siau Po dan ia berkata.

"Aku minta pada kakak sudi kiranya kakak mengabulkan permintaanku Yaitu kakak jangan membunuh Hu Jin dan juga kaucu, Jika saja Su Ci ada di sini tentu ia pun memohon padamu untuk tidak membunuhnya."

"Su Ci"

Adalah kakak seperguruannya yang perempuan.

Siau Po terdiam, ia sangat senang sekali karena nona bangsawan itu telah lama tidak berjumpa dan kali ini ia berada dalam dekapannya bahkan mulutnya yang mungil itu berada di telinganya.

"Bagaimana sekarang? Jika aku tak membunuh kaucu, nanti setelah ia terbebas dari racun itu ia yang akan membunuh aku,"

Kata Siau Po yang memeluk nona itu dan berbicara di telinganya.

"Kau menolong kaucu dan Hu Jin, mana mungkin ia mau membunuhmu."

Siau Po berpikir, benar juga kata-kata itu namun ia memikirkan tabib Liok, Ay Cun cia dan Bun Kin Tojin, Bukankah ia akan dibinasakan oleh kaucu, Liok Sin Si dan Ay Cun cia adalah sahabat barunya yang baik sedangkan Bun Kin Cun adalah imamnya yang sangat gagah.

Tidakkah sangat disayangkan jika mereka itu sampai dibinasakan ole kaucu dan Hu Jin?

"Yang paling baik, jangan membunuh kaucu dan Hu Jin tetapi juga dia harus dapat melindung kawan-kawannya bertiga.,."

Demikian pikirnya.

"Kami semua orang-orang Hu Jin,"

Kata Kiam Peng dengan suara berbisik.

"Kalau Chi Liong Su berhasil mempengaruhi yang lainnya dan ia diangkat menjadi kaucu, kita semua pasti tidak bisa hidup lebih lama lagi."

"Kau benar, istriku yang baik!"

Kata Siau Po "Aku pasti akan membantumu."

Dia mencium pipi kiri si nona yang halus.

Kiam Peng menjadi jengah sehingga wajahnya merah padam.

Tapi matanya menyorotkan cahaya yang menandakan bahwa hatinya senang sekali.

Sambil merangkul Kiam Peng, Siau Po berkata kepada kawannya.

"Liok Sin Se, kaucu tidak boleh dibunuh, demikian pula Hu Jin, Bukankah di atas batu berukir telah dinyatakan bahwa kaucu dan Hu Jin akan kekal berbahagia dan usianya sama dengan usia tangit? Mana boleh aku mencelakai mereka? Lagi-pula kedua orang itu sakti sekali, taruh kata ada niat kita mencelakakannya, belum tentu hal itu akan kesampaian."

Liok Sin Se bingung sekali.

"Huruf-huruf yang ada di atas batu itu palsu semuanya."

Katanya.

"Mana boleh hal itu dianggap benar? Kita juga tidak boleh berpikir yang tidak-tidak, Lekas kau bunuh kedua orang itu! Kalau tidak, kita semuanya bakal celaka, mungkin kita bisa mati tanpa liang kubur."

Berulang kali Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Liok Sin Se, tidak boleh kau mengucapkan kata-kata yang mendurhakai itu,"

Katanya.

"Apakah kau mempunyai obat pemunah racun? Cepat kita tolong kaucu dan Hu Jin!"

"Ya, benar sekali, saudara kecil!"

Kata Hong Hu Jin. Sekian lama ia berdiam diri mendengarkan pembicaraan mereka.

"Sungguh kau berpemandangan luas. Jelas Tuhan telah mengutus kau yang muda belia turun ke dunia untuk membantu dan menunjang kaucu, Dengan adanya pahlawan muda seperti kau ini, Sin Liong kau pasti akan mencapai masa kejayaannya."

Kata-kata itu sepertinya diucapkan dengan sungguh-sungguh, bibirnya juga menyunggingkan senyuman yang manis sekali, suaranya juga merdu di telinga.

"Hu Jin aku bukannya orang Sin Liong Kau,"

Kata Siau Po sambil tertawa. Hong Hu Jin tertawa senang.

"Oh, oh... saudara kecil!"

Katanya.

"Kau sampai berpikir sejauh itu. sekarang juga kau bisa masuk menjadi anggota Sin Liong Kau dan aku akan menjadi si juru antar kaucu!"

Nyonya itu menambahkan pada suaminya.

"Saudara kecil ini sudah memberikan jasa besar sekali bagi partai kita, Coba kau pikir, jabatan apa yang pantas kita berika kepadanya!"

"Ciang Bun su dari Pek Liong Bun, Tio Ci Le telah mengkhianati kita dan dihukum mati."

Sahut si kaucu.

"Karena itu, aku pikir sebaiknya anak muda ini menggantikan kedudukannya sebagai Pek Liong su."

Hong Hu Jin tertawa.

"Bagus!"

Serunya.

"Saudara kecil, orang teragung dalam partai adalah kaucu sendiri, Dibawahnya ada lima naga yang terdiri dari naga Hijau, Merah, Putih, Hitam dan Kuning. Orang seperti kau yang baru masuk langsung diangkat sebagai anggota bahkan menjabat sebagai Liong Su, baru pertama kali ini terjadi. Hal ini membuktikan bahwa kaucu sangat menghargaimu, Saudara, kami tahu kau she Wi, tapi kami ingin mengetahui nama lengkapmu." "Aku bernama Wi Siau Po."

Sahut si bocah.

"Di dunia kangouw, orang menyebut aku Siau Pek Liong atau si Naga putih kecil."

Bocah itu menyebut nama gelaran tersebut karena tiba-tiba dia teringat julukan yang pernah diberikan oleh Mau Sip Pat, Dia tidak menyangka wanita itu akan menanyakan namanya.

Hong Hu Jin tampak girang sekali.

"Kau lihat!"

Katanya.

"lni merupakan suatu hal yang telah diatur oleh Thian Yang Maha Kuasa! Kalau tidak, tak mungkin terjadi kebetulan seperti ini! kaucu bermulut emas, apa yang pernah diucapkannya tak pernah ditarik kembali!"

Liok Sin Se mendengarkan semuanya, Hatinya menjadi bingung dan resah.

"Eh, Wi Kongcu! Wi Kongcu!"

Serunya.

"Jangan sampai dirimu diakali oleh mereka! sekalipun kau diangkat menjadi Pek Liong Su, tapi sekali saja mereka tak menyukaimu, maka akan timbul keinginan membunuh dalam hati mereka, Bila mereka ingin melakukannya, hanya semudah membalikkan telapak tangan, Pek Liong Su Tio Ci Leng menjadi bukti di depan mata. Bagaimana dengan mudah di dibunuh begitu saja, meskipun jasanya sudah banyak terhadap partai ini. Lekas kau bunuh saja kaucu dan Hu Jinnya itu, Nanti kami akan mengangkat dirimu menjadi kaucu!"

Mendengar ucapan si tabib, Ay Cun cia, Kh Soat Teng, dan Bu Kin tojin jadi tercekat hatinya.

Namun kemudian mereka berpikir.

Mulanya mereka memang tak setuju dengan usul itu, Tapi kalau bukan Siau Po yang diangkat menjadi ketua, Di sana tak ada orang lain yang lebih cocok Iagi.

Bukankah keselamatan jiwa mereka semua ada di tangan anak muda ini?

Yang penting sekarang mereka harus hidup, urusan lainnya bisa dipikirkan kemudian.

"Akur! Akur!"

Akhirnya seru mereka bersa sama.

"Kami semuanya mendukung Wi Kongcu menjadi ketua atau kaucu dari Sin Liong Kau!"

Tapi Siau Po meleletkan lidahnya waktu mendengar ucapan mereka.

"Aku tidak dapat menjadi kaucu,"

Katanya tertawa.

"Dengan ucapan kalian ini, kalian sudah mengurangi rejekiku, Menurut aku, sebaiknya be saja, Kaucu beserta Hu Jin dan semua lainnya yang ada di sini hidup akur bersama-sama, Apa yang telah terjadi, kita lupakan saja! Anggap saja pernah terjadi, Harap kaucu sudi melepas dengan melupakan perbuatan Liok Sin Se dan yang lainnya, Bukankah bagus usulku ini?"

Hong kaucu terdiam beberapa saat, Ada sesuatu yang tengah dipikirkan.

"Baik,"

Katanya kemudian.

"Keputusanku sudah tetap, Urusan ini kita sudahi sampai di sini saja!"

"Nah, kalian sudah dengar sendiri, Liok Sin Se, Bagaimana pendapatmu?"

Liok Sin Se berpikir sejenak, Akhirnya dia merasa memang tak ada jalan lain yang lebih bagus.

"Baiklah,"

Katanya.

"Kami percaya kaucu tak akan menarik kembali kata-katanya sendiri!"

Dia langsung mengeluarkan sebotol obat yang kemudian dicampurkan dengan air, lalu diminumkan kepada orang banyak.

Kurang lebih satu kentungan kemudian, semuanya sudah membaik, Hong kaucu juga tak menyebut-nyebut lagi kejadian tadi, Dia hanya berkata kepada Siau Po.

"Sekarang siapkan meja upacara! Kita akan mengangkat Wi Siau Po sebagai Pek Liong Su yakni Ciang bunsu dari Pek Liong Bun!"

Perintah itu segera dilaksanakan.

Dalam sekejapan mata meja sembahyangan dan keperluan lainnya telah dipersiapkan.

Caranya berlainan dengan cara yang dilakukan Tian Te hwe.

Di sini Siau Po harus memberi hormat kepada sebuah kotak berisi lima ekor ular dengan warna yang berlainan Setelah itu Hong Hu Jin mengangkat cawan araknya dan berkata.

"Kau harus minum tiga cawan arak!"

Katanya sambil tertawa.

"Dengan demikian, ularular di pulau ini tidak akan mengganggumu lagi."

Siau Po tidak mengatakan apa-apa.

Dia meneguk habis tiga cawan arak yang disodorkan Hong Hu Jin.

Setelah itu para anggota Sin Liong Kau yang lainnya segera memberi selamat kepada Siau Po.

Tidak ketinggalan Liok Sin Se dan yang lainnya.

Hong kaucu menanyakan keadaan Chi Liong su.

Liok Sin Se menyatakan luka yang diderita saudaranya itu parah sekali, sehingga belum tentu dapat disembuhkan Hong kaucu mengeluarkan sebuah botol kecil dan menuangkan tiga butir isinya."

"Berikan pil ini kepadanya, Obat ini mujarab sekali, Tapi karena lukanya cukup parah, perlu waktu lama apabila keadaannya ingin membaik."

"Oh, ya.,."

Ujar Hong Hu Jin.

"Pek Liong Su apabila kau kembali ke kotaraja nanti, kau harus menyelidiki tentang Siau Kui cu, apa maksud Sri Baginda mengutusnya datang ke Gunung Ngo Tai san?"

Mendengar kata-katanya, Siau Po terkejut setengah mati. Untung saja dia cukup cerdik sehingga tak tampak perubahan pada wajahnya.

"Baik! Baik!"

Jawabnya.

"Kaucu menginginkan kitab Si Cap Ji Cin Ken kata Hong Hu Jin kemudian "

Maka itu menjadi tugasmu untuk mendapatkannya, Di dalam kitab itu katanya ada rahasia untuk panjang umur.

Pek Lio su, kaucu kami telah mendapatkan berkah dari Thian Yang Maha Kuasa, Sudah selayaknya beliau mendapatkan kitab tersebut.

Kalau engkau berhasil jasa mu besar sekali, Kaucu tidak akan melupakannya, Kaucu pasti akan memberikan hadiah besar kepadamu!"

Siau Po berdiri, kemudian menjura dalam-dalam kepada kaucu dan Hu Jin.

"Biarpun tulang di tubuh hambamu ini akan hancur tebur, hamba tetap akan bersetia kepada kaucu dan Hu Jin!"

Katanya.

"Bagus!"

Kata Hong Hu Jin.

"Kau boleh memilih beberapa orang rekan sebagai teman seperjalananmu nanti, Nah, Pek Liong Su, siapa yang akan kau pilih sebagai rekanmu?"

"Hamba memilih...."

Siau Po berpikir sejenak, Matanya memperhatikan orang-orang dalam ruangan itu, kemudian menjawab dengan tegas.

"Hamba memilih Ay tosu dan tabib Liok sebagai rekan dalam perjalanan!"

"Baik!"

Sahut Hong Hu Jin.

"Aku memberikan tiga butir pil ini untuk ditelan oleh kalian masing-masing, Namanya Tok Liong I Kin Wan!"

Ay Cun cia dan Tabib Liok segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan ketuanya, Meskipun tidak mengerti, Siau Po ikut berlutut juga.

Mereka masing-masing menyambut sebutir pil dan mengucapkan terima kasih, Kemudian di depan ketuanya itu, mereka langsung menelan pil tersebut.

"Pek Liok Su, kau menggunakan senjata apa?"

Tanya Hong Hu Jin tiba-tiba.

"Kepandaian hamba buruk sekali,"

Sahut Siau Po.

"Hamba belum pernah belajar menggunakan senjata apapun, kecuali pisau belati kecil ini!"

Dia segera mengeluarkan pisau belatinya yang tajam dan memperlihatkannya kepada Hong Hu Jin.

"Oh, pisau yang bagus sekali! Bukan main tajamnya!"

Gumam Hong Hu Jin setelah memperhatikan pisau itu dengan seksama.

"Baiklah! Aku akan mengajarkan tiga jurus ilmu kepadamu Harap kau perhatikan baik-baik! ilmu ini bernama Bi Jin Sam Ciau!"

Tanpa menunggu komentar dari Siau Po, dia langsung menggerakkan kedua tangan dan kakinya serta mulai melangkah Siau Po cepat-cepat memusatkan perhatiannya untuk menyimak baik-baik.

Siau Po merasakan gerakan wanita itu bagus sekali Dia berusaha mengingat setiap langkah yang dijalankannya, Setelah selesai jurus pertama, Hong Hu Jin menyuruh Siau Po menirukannya.

Ternyata Siau Po sanggup meskipun masih banyak kesalahan yang dilakukannya.

Selesai jurus pertama, Hong Hu Jin langsung menjalankan jurus kedua dan ketiga, semuanya ditiru baik-baik oleh Siau Po.

Hong Hu Jin dengan sabar menunjukkan di mana letak kesalahan yang dilakukannya.

Setelah cukup lama, Siau Po mulai bisa menjalankannya dengan baik.

Hong Hu Jin tersenyum.

"Bagus!"

Katanya.

"Pek Liong Su, ternyata otakmu cerdas sekali!"

"Sebetulnya otak hamba tidaklah cerdas, hal ini bisa terjadi karena Hu Jinlah yang pandai mengajarkannya."

Hong Hu Jin tertawa senang, Hong kaucu berdiri dari kursinya.

"Karena istriku telah mengajarkan tiga jurus ilmu kepadamu, ada baiknya aku pun mengajarkan satu jurus kepadamu,"

Dia menoleh kepada istrinya.

"Hu Jin, sini sebentar! Kau tangkislah seranganku ini! Dan Pek Liong Su, kau perhatikan baik-baik."

Hong Hu Jin memenuhi permintaan suaminya, Dia segera maju ke depan, Hong kaucu segera menggerakkan kedua tangannya dengan perlahan-lahan agar Siau Po dapat melihat gerakannya dengan jelas.

Meskipun demikian, ternyata Hong Hu Jin tak sanggup menahan serangan kaucu itu.

Siau Po merasa kagum sekali sehingga dia mendecakkan mulutnya, Sebuah jurus yang demikian sederhana saja ternyata begitu ampuh, apalagi ilmu lainnya.

"llmu ini terdiri dari banyak jurus dan perubahannya, Yang pertama baiknya kita namakan Ngo Cu Si mengangkat kaki. Dan yang kedua ini.... Ti Cim Poat Liu yaitu Ti Cim mencabut pohon Liu...."

"Bagus!"

Seru Hong Hu Jin.

"Ti Cim memang seorang gagah, Tapi jurusmu yang ketiga ini tidak mirip dengan perbuatan seorang gagah atau pendekar umumnya!"

"Kau harus tahu, tak semua pendekar terdiri dari orang yang gagah, Tidak jarang yang berjiwa pengecut!"

Kata Hong kaucu sambil tersenyum. Tapi si nyonya tidak dapat tertawa... karena seakan ditampar wajahnya mendengar sindiran suaminya. Hong An Tong tertawa.

"Mengapa itu tidak dapat dinamakan orang gagah?"

Dia balik bertanya, Tapi tak apalah, namakan saja Tio Ciang Hoa Bi atau Tio Ci "

Menyipat alis...."

Sembari berkata, dengan tangannya Kaucu memberi contoh dengan pura-pura menyipat istrinya. Hong Hu jin tertawa.

"Kau aneh!"

Katanya.

"Tio Ciang bukan orang gagah! Apakah dia seorang pendekar yang khusus menolong istrinya menyipat alis?"

Hong An Thong tertawa Iagi.

"Tapi dia orang gagah dari lain kalangan!"

Katanya.

"Apakah bukan orang gagah kalau dalam kamar dia sanggup menguasai istrinya dan menyipat alis istrinya itu?"

Mau tidak mau, wajah Hong Hu Jin jadi merah padam.

"Kau bisa saja!"

Katanya. Siau Po berpikir dalam hati, Dia tak tahu siapa itu Tio Ciang. Menurutnya, menyipat alis istri bukan perbuatan laki-laki yang gagah, pasti kaucu itu hanya bergurau, Maka dia turut bicara.

"Kau cu, bukankah lebih tepat kalau jurus itu dinamakan In Ciang atau Siok Po menunggang kuda?"

"Nama itu sebetulnya dapat dipakai, tapi masih kurang tepat,"

Kata Hong Kau cu.

"Apa sebabnya? Sebab kuda Kwan In Tiong itu asalnya milik Lu Pou, sedangkan kudanya sendiri telah dijual Aku pikir sebaiknya menggunakan nama Tek Ceng Hang Ki saja, sebab Tek Ciang telah menaklukkan kuda naganya."

"Bagus!"

Seru Hong Hu Jin sembari bertepuk tangan, Tek Ciang adalah seorang pendekar. Dia pernah membuat musuhnya terkejut dan melarikan diri!"

Sampai di situ, Siau Po kembali mengulangi pelajaran ilmu Bi Jin Sam Ciau itu, dan Hong Hu Jin selalu memberi petunjuk mana yang masih belum sempurna, pelajaran itu sebenarnya suIit, tapi untungnya bocah kita ini bisa mengingat setiap jalannya, sehingga dia dapat berlatih terus.

Sementara itu, waktu sudah menjelang tengah hari.

"Pek Liong Su,"

Kata Hong Hu Jin kemudian "Kau sungguh beruntung. Kau tahu, orang dalam partai ini yang mendapat pelajaran langsung dari Kau cu, selain aku sendiri, kau merupakan orang satu-satunya!"

"ltu karena peruntunganku yang bagus!"

Sahu Siau Po.

"Hambamu sangat berterima kasih kepada Kau cu dan Hu jin!"

"Karena itu,"

Kata Hong Hu Jin kembali "Kau harus belajar sungguh dan kelak di kemudian hari harus bisa membalas budi kebaikan Kau cu ini. Terutama, kau harus bekerja sesungguh hati terhadap Kau cu!"

"lya, Hu Jin!"

Sahut Siau Po.

"Nah, sekarang kau boleh mengundurkan diri"

Kata Hong Hu Jin.

"Kau harus mempersiapkan diri agar besok kau bisa mulai menjalankan tugasmu. Besok pagi-pagi kau harus berangkat bersama Po Tauto dan Liok Kho Hian, tanpa perlu berpamit lagi pada kami!"

Siau Po mengangguk. Kemudian dia memberi hormat pada ketua dan nyonyanya itu, Setelah itu dia membalikkan tubuh untuk mengundurkan diri. Tetapi ketika sampai di ambang pintu, dia berkata. Bagian 41

"Hu Jin, kalau hambamu nanti berumur delapan puluh tahun, waktu itu Kau cu dan Hu Jin bisa mengajarkan aku tiga jurus ilmu lagi!"

Mendengar kata-katanya, Hong Hu Jin tertegun, namun sesaat kemudian, dia mengerti maksud si bocah, Dia sadar Siau Po sedang menyatakan pujian dan ucapan selamat panjang umur kepada mereka.

Kalau bocah itu berusia delapan puluh tahun, berarti dia masih akan hidup enam puluh tahun lebih!

bukankah hal itu berarti Siau Po sedang mendoakannya?

Karena itu, dia menjadi berbahagia sekali, Dia tertawa dan berkata.

"Baiklah! Kalau usiamu delapan puluh tahun nanti, Kau cu dan aku akan mengajarkan tiga jurus ilmu lagi kepadamu, Dan nanti, kalau kau masuk usia seratus tahun, kami akan mengajarkan lagi tiga jurus ilmu yang dinamakan Lau Siu Chi Sam Ciau, Bintang panjang umur dan Lau Popo Sam Ciau, si nyonya tua!"

"Oh, tidak tua, sama sekali tidak tua!"

Sahut Siau Po.

"Mungkin waktu itu Hu Jin masih akan tetap muda dan secantik sekarang, Bahkan Kau cu pun akan tetap muda atau bisa jadi lebih muda dari sekarang, sedangkan ilmu yang akan diwariskan kepadaku, namanya Kim Tong sam Ciau dan Giok Li Sam Ciau!"

Kim Tong dan Giok Li merupakan sebutan bagi sepasang bocah laki-laki dan perempuan yang biasa mengikuti dewa.

Hong An Thong dan Sou Coan merasa girang sekali mendengar perkataannya.

Tatkata Siau Po sampai di luar ruangan, dia sudah ditunggu Liok Kho Hian dan Ay Cun Cia.

Mereka itu mengkhawatirkan si anak muda, sehingga mereka gembira sekali melihat ia muncul dalam keadaan baik-baik saja.

Tapi mereka tak berani menanyakan mengapa pemuda itu tertahan begitu lama di dalam.

"Kau cu dan Hu Jin telah mengajarkan aku banyak ilmu silat baru!"

Kata Siau Po menjelaskan tanpa diminta.

"Selamat, Pek Liong Su!"

Seru kedua orang itu.

"Di dalam partai kita, kecuali Hu Jin, tidak ada seorang pun yang mendapat ajaran langsung dari kaucu!"

"lya, Hu Jin juga berkata demikian!"

Sahut si bocah tanggung yang merasa senang sekali.

"Pek Liong Su dapat membuat Kaucu gembira, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya!"

Kata tabib Liok.

"Apakah Kau cu pun mengajari kau rahasia membuat pil Tok Liong I Kin Wan?"

"Tidak! Apakah Liok Sin Se mengerti caranya?"

"Aku bisa membuatnya, tapi kalah jauh mujarabnya dengan buatan Kau cu sendiri!"

Sahut Liok Sin si.

Sementara itu, mereka kembali ke rumah si tabib, Liok Kho Hian memang baik hati, Dia langsung mewariskan kepandaiannya membuat pil Tok Liong I Kin Wan kepada Siau Po.

Dia menyatakan bahwa setiap hari pemuda itu harus duduk beristirahat setengah jam agar obat itu bisa meresap ke dalam seluruh tubuhnya, Dia juga diajari ilmu bersemedi dan meluruskan pernafasan.

Sementara itu pula, Siau Po bingung menyaksikan raut wajah Ay Cun cia dan Liok Kho Hian, Mereka juga pernah menelan pil Tok Liong I Kin Wan, tapi wajah mereka tidak segar dan gembira, malah lebih sering kelihatan murung dan gundah, dia menganggap nama obat itu juga kurang bagus, karena mirip dengan nama racun, Karena itu dia langsung mengutarakan jalan pikirannya itu kepada kedua rekannya.

Ay Cun cia menarik nafas panjang.

"Tok Liong I Kin Wan itu racun atau obat yang mujarab, kita lihat saja nanti! Yang jelas, jiwa kami berdua berada dalam genggamanmu, Pek Liong Su!"

Katanya. Siau Po heran dan tersentak kaget.

"Kenapa begitu?"

Tanyanya. Ay Cun cia menoleh kepada Liok Kho Hian dan tabib itu menganggukkan kepalanya.

"Pek Liong Su,"

Katanya.

"Orang yang merasa segan kepadaku menyebut aku Ay Cun cia. Sebaliknya, orang yang tidak memandang sebelah mata kepadaku, memanggil aku Poan Tauto, seperti kau tahu, Ay Cun cia artinya si Buddha kate dan Poan Tauto artinya si tosu gemuk. Namun kenyataannya tidak demikian Aku bertubuh kurus dan tinggi, tapi orang toh menyebut aku si gemuk pendek, karena itu coba kau bilang, aneh tidak?"

"Benar, aku memang merasa heran!"

Sahut Siau Po.

"Aku mengira orang hanya bergurau denganmu, tapi aku dengar Kaucu sendiri menyebutmu demikian. Beliau tidak mungkin bergurau, bukan?"

Ay Cun cia menarik nafas panjang.

"lni merupakan kedua kalinya aku makan pil Tok Liong I Kin Wan,"

Katanya.

"Aku seperti orang yang sudah mati lalu hidup kembali. Kalau mengingat hal itu, aku seperti orang yang bermimpi Kau tahu, asalnya aku memang pendek gemuk? itulah sebabnya orang menyebutku Ay Cun cia atau Poan Tauto, Sebutan itu bukan hanya gurauan atau kosong belaka!" Siau Po bertambah heran.

"Ah!"

Serunya.

"Jadi setelah makan obat itu, kau menjadi tinggi dan kurus seperti sekarang ini? Kalau begitu, bagus sekali! sekarang kau tampak gagah, Aku yakin ketika masih pendek gemuk, tampangmu tidak seperti sekarang ini!"

Ay Cun cia tertawa sumbang.

"Kau benar juga!"

Katanya.

"Tapi, coba kau pikir, tubuh yang pendek dan gemuk berubah menjadi tinggi kurus hanya dalam waktu tiga bulan saja. Lagi pula kulit tubuhku berubah menjadi merah seperti darah, Coba bayangkan bagaimana rasanya!"

Siau Po merasa hatinya kaget bercampur bingung. Sekali lagi Ay Cun cia menarik nafas panjang.

"Untung saja aku telah lama mengikuti Kaucu. Aku diberikan obat penentangnya, kalau tidak mungkin sekarang aku sudah bertambah jangkung tiga kaki lagi!"

Katanya kemudian. Hati Siau Po sampai berdegup-degup mendengarnya.

"Lalu bagaimana dengan kita sekarang?"

Tanyanya.

"Bagiku, tentu tidak menjadi persoalan kalau aku bertambah tinggi tiga kaki, Tapi lain halnya dengan engkau, kalau kau bertambah tiga kaki lagi, aku sungguh tak berani membayangkannya!"

"Tapi, Tok Liong I Kin Wan memang sangat mujarab,"

Kata Ay Cun cia.

"Siapa yang makan pil itu, dalam waktu satu tahun tubuhnya akan bertambah sehat dan kuat, Tapi kalau dalam satu tahun, orang tidak makan obat penentangnya, racun itu pasti bekerja, dan belum tentu dia menjadi jangkung, Hal itulah yang terjadi pada kakak seperguruan Kho Cun cia, tiba-tiba saja dia menjadi pendek!"

Siau Po tertawa geli.

"Kalian berdua sungguh aneh,"

Katanya.

"Ay Cun cia berubah menjadi Kho Cun cia, sebaliknya Kho cun cia berubah menjadi Ay Cun cia. Tidakkah itu lucu dan bagus? Dengan demikian, mudah saja bagi kalian untuk bertukar nama!"

"Tidak bisa!"

Sahut Ay Cun cia dengan suara keras, Dia juga menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Oh, Ay Cun cia,"

Kata Siau Po.

"Aku telah salah bicara, janganlah kau marah!"

"Kau memegang Ngo Liong Leng,"

Kata Ay Cun cia kemudian.

"Dengan demikian aku menjadi orang sebawahanmu, Kalau kau mencaci atau menghajar aku sekali pun, aku tak akan melakukan perlawanan Lagipula, kau juga tak bermaksud mengejek atau . menghina kami ketika mengucapkan kata-katamu itu. Tetapi, antara aku dengan kakak seperguruanku itu, semuanya tidak sama, Baik ilmu silat kami mau pun sifatnya, jadi bentuk tubuh kita itu tidak dapat dijadikan bahan untuk bertukar nama!"

Siau Po menganggukkan kepalanya.

"Oh, begitu."

"Lima tahun yang lalu,"

Kata Ay Cun cia.

"Bersama kakakku itu, aku telah dititahkan untuk melaksanakan sebuah tugas yang sebetulnya sulit sekali, Ketika kami berhasil menyelesaikan tugas kami, tak mau batas waktunya sudah lewat Cepat cepat kami pulang ke pulau dengan menumpan perahu, Ketika kami tiba, racunnya sudah bekerja. Bukan main hebatnya derita yang kami rasakan benar-benar sulit diuraikan dengan kata-kata! Si kho langsung menjadi kalap. Dia menghajar dan menendang tiang perahu sehingga patah, dengan demikian perahu kami jadi terombang ambing tengah lautan, sementara itu, tubuhku semakin hari semakin tinggi dan kurus, sedangkan tubuh saudaraku semakin hari semakin pendek dan gemuk. Pada saat itu, timbul perasaan bahwa kami tidak dapat hidup lebih lama lagi, Apalagi perbekalan makanan juga sudah habis, Untungnya kami bertemu sebuah perahu yang akhirnya membantu kami dengan memberikan makanan sehingga kami dapat pulang ke pulau Sin Liong To ini. Kau cu menganggap kami telah bekerja dengan baik sehingga kami diberikan obat penawarnya untuk sementara."

Mendengar penuturan tosu itu, hati Siau Po menjadi dingin, pengalaman itu sungguh hebat sekali Penuh bahaya dan maut.

Kemudian dia menoleh kepada tabib Liok dan melihat wajah orang itu menyiratkan ketegangan yang luar biasa.

Hal ini membuktikan bahwa apa yang dikatakan Ay Cun cia bukan dusta!

"Kalau begitu,"

Ujar Siau Po kemudian "Dalam waktu satu tahun, kita harus bisa mendapatkan Kitab Si Cap Ji Cin Keng itu! Setelah itu, kita baru pulang ke pulau ini..."

"Bicara memang mudah, tapi cara kerjanya?"

Tukas Ay Cun cia.

"Bagus kalau kita berhasil mendapatkan satu atau dua

Jilid kitab itu, sehingga kita bisa pulang dulu dan meminta obat penawarnya kepada Kau cu...."

Siau Po berpikir dalam hati. -Di tanganku sekarang ada tujuh

Jilid kitab Si Cap Ji Cin Keng, kalau tahun depan aku memberikan satu

Jilid saja, apa masalahnya? --Karena berpikiran seperti itu, hati Siau Po merasa sedikit tenang, Kemudian dia tertawa dan berkata.

"Kalau Kau cu tidak memberikan obatnya kepada kita, mungkin yang muda akan menjadi tua dan sebaliknya yang tua akan menjadi muda. Ya.... Aku akan menjadi kakek berusia delapan puluh tahun dan kalian akan berubah menjadi bocah cilik, bukankah hal itu menarik sekali?"

"Memang hal itu ada saja kemungkinannya..."

Jawab tabib Liok, Hatinya tidak tenang, tentu saja dia merasa takut sekali.

"Tuan-tuan jangan khawatir,"

Kata Siau Po.

"Serahkan saja tanggung jawabnya kepadaku, Aku jamin Kau cu akan memberikan obat penawarnya kepada kita, sekarang kalian duduk dulu, aku ingin berbicara dengan nona Pui Ie!"

Bocah itu sudah bertemu dengan Bhok Kiam Peng. Namun dia hendak memberitahukan hal itu kepada Pui Ie. Tapi Kho Hian segera mencegahnya.

"Hong Hu jin sudah memanggil nona Pui,"

Katanya.

"Nyonya berpesan supaya Pek Liong Su tak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Asal kau bekerja dengan sungguhsungguh, di pulau ini nona Pui pasti akan mendapat banyak keuntungan!"

Mendengar kata-kata itu Siau Po terkejut setengah mati.

"Apa nona Pui tidak pergi bersama-sama kita?"

Tanyanya.

"Tidak,"

Sahut tabib Liok.

"Hong Hu Jin telah memanggil nona itu, demikian pula dengan nona Bhok Kiam Peng!"

Di dalam hati Siau Po mengeluh, dia sudah mengatakan akan mengajak beberapa orang Iainnya.

Yang dimaksudkan ialah Kiam Peng dan Pui Ie, siapa sangka Hong Hu Jin telah mencurigainya.

Karena itu dia bertanya.

"Apakah Hong Hu Jin tak percaya kepadaku?"

"lni merupakan peraturan partai,"

Kho Hian menjelaskan "Siapa saja yang keluar melaksanakan tugas, tidak boleh membawa keluarganya!"

Siau Po tertawa menyeringai.

"Tetapi nona-nona itu bukanlah anggota keluargaku,"

Katanya.

"Walaupun demikian kan sama-sama saja,"

Kata Hong Kian. Bukan main malunya Siau Po, karena esok hari ia ingin mengajak Kiam Peng dan Phui Ie berangkat bersamanya maka ia berkata.

"Benar, kaucu dan Hu Jin sangat lihay sekali! Bukan hanya tak mempan dengan Tok Liong Ie Kim Wan saja, mereka juga menahan kedua nona itu agar aku dapat dikekangnya!"

Besok paginya sewaktu bangun dari tidurnya ia mendengar suara terompet dan teriakan dari luar kamar.

"Murid dari Pek Liong Bun bersiap mengantarkan Ciang bungsu berangkat guna mewakilkan dan bekerja pada kaucu."

Kata-kata itu disusul dengan bunyi-bunyian yang ramai. Cepat Siau Po keluar dari kamarnya, Anggota Pek Liong Bun yang semua menggunakan baju putih tampak menghadap sang ketua dan mereka berseru.

"Semoga Cang Bung Su memperoleh kemenangan dan keberhasilan!"

Biar bagaimana pun, Siau Po segera terbangun Lalu ia mengajak Liok dan Ay Cun cia untuk naik perahu guna mencari keselamatan.

Ketika sampai di tepi sungai ia mendengar suara derap kaki kuda, Setelah ia mengetahui bahwa yang menunggangnya adalah Bhok Kiam Peng dan Phui Ie hatinya sangat girang.

"Tak mungkin pikiran Hu Jin berubah untuk mengijinkan mereka ikut denganku bertugas,"

Gumam Siau Po dalam hati. Keduanya tampak turun dari kuda. Kemudian mereka berkata.

"Aku ditugaskan untuk memberimu ucapan selamat jalan dari kaucu dan Hu Jin."

Dalam hati Siau Po berkata.

"Hm... ternyata hanya ingin mengucapkan selamat jalan saja."

Tetapi Phui Ie menambahkan kata-katanya lagi.

"Atas perintah Hu Jin, kami dari Cek Liong Bun dipindahkan ke Pek Liong Bun, serta diharuskan bekerja di bawah perintah Pek Liong Su...."

Segera Siau Po melangkah Hatinya merasa kecewa.

"Oh, Phui Ie. Rupanya kau telah bermain sandiwara, Kau sedang menjalankan tugas dari kaucu, Karena Ay Cun cia tak berhasil memperdaya aku dengan kekerasan, lalu ia mengutus kau untuk memperdaya aku dan kau berhasil,"

Gumam Siau Po dalam hati.

Di depan umum rupanya Siau Po tak dapat berbicara lebih leluasa, maka ia hanya diam, Kemudian tangannya dikatupkan dan memberi hormat pada nona itu.

ia lalu ingat akan sesuatu, ia pun berbicara.

"Liok Sin Se, cepat kau pergi, dan katakan supaya ia melepaskan budak Song Ji, yang biasa memberiku jajan. Aku hendak mengajaknya pergi bersama denganku!"

"Tapi..."

Baca Juga: Badik Buntung 3

Baca Juga: Lima Jago Luar Biasa 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert