Eps 9 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
"Kalau kami berhadapan secara biasa, mungkin seratus orang Siau Kui cu sekali pun belum tentu sanggup membekuknya."
"Lalu, bagaimana si jahanam Go Pay itu sampa menemui kematiannya?"
Tanya Nyonya Cung, Kembali benak Siau Po bekerja.
-Sudah terang nyonya ini bukan siluman atau setan perempuan, dia pasti seorang tokoh dunia kang ouw yang kepandaiannya tinggi sekali, Kalau aku menyebut nama Tian Te hwe, mungkin akan membawa manfaat baik bagiku, -Karena itulah Siau Po menjelaskan lebih jauh bahwa raja menyuruhnya menyelidiki perihal Go Pay.
Bagaimana kebetulan pihak Tian Te hwe juga mengirim orangorangnya menyerbu ke dalam istana Kong Cin ong, Tadinya dia menyangka komplotan itu merupakan orang-orangnya Go Pay.
Dia menceritakan bagaimana dia menyelundup ke dalam istana dan akhirnya berhasil membunuh Go Pay.
"Kemudian aku baru tahu bahwa komplotan itu juga memusuhi Go Pay dan merupakan anggota-anggota Tian Te hwe, Ketika mengetahui aku telah berhasil membunuh Go Pay, mereka merasa bersyukur sekali sebab orang itu sudah banyak menyebabkan penderitaan bagi rakyat Dan boleh dikatakan aku juga telah membantu mereka membalaskan sakit hati."
Nyonya Cung itu menganggukkan kepalanya.
"Jadi, itulah sebabnya Kui kong kong diterima menjadi murid Tan Cong tocu dari Tian Te hwe serta diangkat pula menjadi ketua dari bagian Ceng Bok Tong."
Katanya. --Aih! --, dalam hatinya Siau Po mengeluh, --ternyata urusan apa pun telah kau ketahui, tapi kau masih menanyakannya juga, -Meskipun demikian, dia segera berkata.
"Semua itu hanya kebetulan saja, sebenarnya aku tidak mempunyai kebisaan apa-apa. Dan aku menjadi ketua bagian Ceng Bok Tong sebetulnya hanya menyandang sebuah nama saja."
Dengan berani Siau Po mengatakan hal itu, meskipun dia belum jelas di pihak manakah si nyonya itu berada. Nyonya Cung berdiam diri sekian lama, Akhirnya dia baru berkata kembali.
"Kui kong kong, ketika kau menyerang Go Pay tempo hari, jurus apakah yang kau gunakan? Dapatkah kong kong menunjukkannya kepadaku?"
Siau Po memperhatikan wajah wanita itu sejenak, dia melihat mata Nyonya Cung itu menyorotkan sinar yang tajam sekali, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
-Nyonya ini agak aneh, Dia seakan mengerti ilmu sesat, Apabila aku mengoceh sembarangan mungkin dia akan mengetahuinya, Mungkin ada baiknya aku berterus terang saja.
-Dengan membawa pikiran demikian, Siau P segera berdiri "Sebetulnya seranganku itu tidak patut dianggap sebagai jurus silat."
Katanya, Dia segera men gerakkan kedua tangannya dan menambahkan "Karena kaget dan bingung, aku menyerangnya secara sembarangan saja. Begini...."
Nyonya muda itu menganggukkan kepalanya, .
"Kong kong, silahkan duduk kembali!"
Katany Kemudian dia menghampiri budaknya.
"Eh, Song Ji mengapa kau tidak mengeluarkan kembang gula Kui Hoa tong buatan kita?"
Tanpa menunggu jawaban si gadis cilik, ia segera membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam.
--Dia ingin menghadiahkan kembang gula untukku, tentu dia tidak mengandung niat jahat, --pikir Siau Po dalam hati, Dia hanya mengangguk sedikit ketika nyonya itu meninggalkannya, Namun sesaat kemudian, sebuah ingatan melintas dalam benaknya, --Benarkah dia hendak menyuguhkan kembang gula untukku?
Bagaimana kalau dalam kembang gula itu dicampur cacing atau binatang serangga lainnya?
sementara itu, Song Ji segera melaksanakan perintah nyonyanya, Dia masuk ke dalam dan sebentar kemudian sudah kembali lagi dengan membawa sebuah nampan di tangan, Di atas nampan itu tampak beberapa macam kembang gula, Dengan bibir menyunggingkan senyuman dia berkata.
"Kui kong kong, silahkan!"
Siau Po mengiyakan sampai berkali-kali, tapi tidak menjulurkan tangannya untuk mengambil kembang gula itu.
Di dalam hati dia berkata.
--Biar bagaimana, aku tidak boleh rakus.
celaka kalau segala macam belatung menari-nari dalam perutku, -Siau Po hanya berharap agar fajar cepat-cepat menyingsing Lewat sekian lama, Siau Po merasa aneh, Dia mendengar suara berkibarnya ujung pakaian, kemudian secara samar-samar dia mendapatkan banyak pasang mata yang mengintai ke arah nya.
Apa yang diinginkan orang-orang itu?
Tepat disaat Siau Po sedang menduga-duga, tiba-tiba dari belakang jendela dia mendengar suara seorang wanita yang usianya pasti tidak muda lagi.
"Kui kongkong, kau telah berhasil membunuh Go Pay, Kau telah membalaskan sakit hati kami yang sedalam lautan, Budimu besar sekali, bagaimana kami harus membalas nya ?"
Menyusul kata-kata itu, daun jendela pun terpentang lebar-lebar. Di sana tampak berpuluh-puluh wanita yang mengenakan pakaian serba putih sedang menjatuhkan diri berlutut ke arahnya.
"Ah!"
Seru Siau Po terkejut, Cepat-cepat dia membalas penghormatan itu.
Para wanita itu berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya menyembah, dan Siau Po terpaksa mengangguk-angguk juga untuk membalas penghormatan mereka.
Setelah saling menyembah, daun jendela mendadak tertutup kembali lalu disusul dengan terdengarnya suara wanita tua tadi.
"ln kong (tuan penolong), janganlah In kong memakai banyak peradatan, kami tidak pantas menerima penghormatan In kong itu."
Setelah wanita itu selesai bicara, terdengarlah isak tangis para wanita lainnya, Siau Po merasa heran dipanggil In kong yakni tuan penolong, Diam diam dia merasa bulu romanya meremang, Kemudian suara isak tangis itu semakin kecil dan akhirnya lenyap, rupanya para wanita itu sudah pergi jauh Siau Po merasa dirinya seperti baru terjaga dari mimpi.
-Arwah-arwah siapakah sebenarnya yang kulihat tadi?
-, tanyanya kepada dirinya sendiri Tidak lama kemudian, ketika Siau Po masih termangu-mangu, Nyonya Cung dan Song Ji telah muncul kembali.
"Kui siangkong, aku harap kau jangan heran atau bingung."
Kata nyonya ketiga itu.
"Mereka-mereka yang tinggal di sini, semuanya merupakan korban-korban keganasan Go Pay semasa hidupnya. Mereka berasal dari keluarga orang-orang gagah dan pecinta negara, Rata-rata mereka sudah tidak bersuami, dan si manusia jahat Go Pay itulah yang mencelakai itulah sebabnya mereka datang kemari untuk menyampaikan rasa terima kasih dan bersyukur karena Kui siangkong telah membalaskan sakit hati mereka."
"Kalau begitu,"
Tanya Siau Po yang masih juga merasa bingung.
"Apakah Cung samya juga telah menjadi korban keganasan Go Pay?"
Yang di maksud dengan Cung samya, sudah pasti almarhum suami Sam nay nay itu. Nyonya Cung menundukkan kepalanya.
"Benar!"
Katanya dengan suara lirih dan wajahnya menunjukkan perasaan duka yang dalam.
"Di sini, boleh dibilang setiap hari kami menangis sampai mengeluarkan air mata darah memikirkan sakit hati yang belum terbalaskan. Kami benar-benar tidak menyangka si penjahat besar itu akhirnya mati di tangan Kui siangkong dalam waktu yang begitu cepat."
"Sebenarnya aku tidak berjasa apa-apa."
Kata Siau Po merendah "Boleh dibilang aku berhasil membunuh Go Pay hanya karena kebetulan saja, Kalau benar-benar ingin melakukannya, tentu tidak begitu mudah."
Pada saat itu Song Ji yang membawa sebuah buntalan di tangannya segera meletakkannya di atas meja, Siau Po mengenali buntalan itu sebagai miliknya.
Terdengar Nyonya Cung berkata kembali "Kui siangkong, kau telah berjasa kepada kami, Budimu besar sekali Sudah selayaknya apabila kami melayanimu sebaik-baiknya, Tapi kami yang tinggal di sini, semuanya kaum wanita dan sudah menjadi janda pula, Dengan demikian, banyak sekali kekurangan pada diri kami, Karena itu, setelah kami berunding, kami mengambil keputusan untuk menghadiahkan sedikit barang bingkisan sebagai tanda terima kasih kami terhadap Kui siangkong.
Namun dalam hal ini, kami juga menemui sedikit kesulitan, Apa yang harus kami berikan, kalau dilihat dari isi buntalan Kui siangkong, terang kau sudah tidak membutuhkan apa-apa.
Dan kami yang merupakan orang-orang desa, mana mempunyai barang berharga untuk diberikan Mengenai kitab ilmu silat dan yang lainnya, Kui siangkong juga tidak membutuhkan karena sudah memiliki seorang guru yang kepandaiannya tinggi seperti Tan congtocu dari Tian Te hwe.
Dengan kitab yang siangkong miliki, asal siangkong bisa memahaminya serta giat berlatih, mungkin siangkong bisa menjadi seorang jago tanpa tandingan.
Setidaknya lebih dari cukup bagi kong kong kalau hanya untuk membela diri, itulah sebabnya, kami benar-benar bingung bingkisan apa yang harus kami berikan kepada siang-kong...."
Siau Po merasa terharu mendengar kata-kata Nyonya Cung, sekarang dia sudah mengerti semuanya.
"Sudahlah, jangan kalian berlaku sungkan!"
Katanya kemudian.
"Bagiku sendiri, sudah lebih dari cukup apabila Sam nay nay bersedia mengatakan di mana kawankawanku berada sekarang."
Nyonya Cung merenung sejenak sebelum menjawab "Inkong sudah menanyakan perihal mereka, sesungguhnya tidak berani kami menutupinya."
Sahut wanita itu.
"Hanya ada satu hal yang memberatkan kami, yakni apabila inkong mengetahuinya, maka hanya kerugianlah yang akan inkong dapatkan Maka dari itu, kami hanya menjelaskan secara singkat Mereka adalah sahabat-sahabat In-kong, karena itu kami akan melakukan apa saja agar tidak terjadi apa-apa pada diri mereka itu. Nanti, apabila saatnya sudah sampai, kami akan berusaha agar mereka dapat bertemu lagi dengan inkong."
Mendapat jawaban yang luar biasa itu, Siau Po jadi berpikir ia menganggap sebaiknya dia turuti saja kata-kata wanita itu, Nyonya ini pasti dapat dipercaya, Karena itu dia menganggukkan kepalanya dan matanya menatap ke arah jendela.
-Aih!
Hari belum terang juga...
--pikirnya dalam hati, Tampaknya nyonya Cung mengerti apa yang dipikirkan Siau Po.
"lnkong, ke mana tujuan inkong besok?"
Tanyanya.
"Siau Po berpikir dengan cepat, --Dia pasti sudah mendengarkan pembicaraanku dengan Ciong losam, tidak mungkin lagi aku membohonginya.... Maka dia segera menjawab.
"Aku hendak pergi ke gunung Ngo tay san di propinsi Shoa say."
"Dari sini ke Ngo Tay san bukan perjalana yang dekat,"
Kata si nyonya.
"Dan melakukan perjalanan seorang diri lebih banyak bahayanya, Oleh karena itu, aku berniat menghadiahkan sesuatu kepada inkong dan harap inkong jangan menolaknya."
Siau Po tertawa.
"Kalau orang menghadiahkan sesuatu denga niat baik, mana mungkin aku bisa menolaknya."
Sahutnya.
"Bagus!"
Kata Nyonya Cung, Kemudian dia menunjuk kepada Song Ji.
"Budak Song Ji ini sudah mengikuti aku sejak lama, sekarang aku hendak menghadiahkan nya kepada inkong, Aku harap inkong sudi mengajaknya agar dalam perjalanan ada orang yang mengurus dan melayanimu"
Siau Po tidak menyangka akan mendapat hadiah yang demikian.
Hatinya terkejut berbareng senang, Sejak pertama bertemu, dia memang sudah menyukai budak ini, Dengan mempunyai seorang pelayan, dia jadi tidak perlu repot-repot, Tapi perjalanan menuju gunung Ngo Tay san cukup jauh, Malah bisa berbahaya, apakah tidak menyulitkan apabila dia membawa gadis cilik itu turut serta dengannya?
"Nyonya..."
Katanya kemudian.
"Aku senang sekali nyonya menghadiahkan Song Ji kepadaku, untuk itu, terlebih dahulu aku mengucapkan terima kasih, tapi...."
Song Ji menundukkan kepalanya, namun ekor matanya melirik ke arah Siau Po. wajahnya tampak merah padam saking jengahnya.
"Apakah yang menjadi kesulitanmu, inkong?"
Tanya Nyonya Cung.
"Aku pergi ke gunung Ngo Tay san untuk menyelesaikan sebuah tugas yang tidak mudah."
Sahut Siau Po.
"Oleh karena itu, aku khawatir diriku jadi kurang leIuasa..."
"Kalau hanya itu yang menjadikan keberatan di hati inkong, tidak perlu inkong memusingkannya."
Kata Nyonya Cung pula.
"Meskipun usia Song Ji masih kecil, tapi dia sudah pandai bekerja, Otaknya cerdas dan orangnya lincah, Tidak mungkin di merepotkan inkong atau menimbulkan kesulitan apa-apa. Mengenai hal ini, sebaiknya inkong tenangkan hati!"
Siau Po menoleh kepada Song Ji.
"Song Ji."
Tanyanya langsung kepada si gadis cilik itu.
"Apakah kau bersedia ikut denganku?"
"Sam nay nay telah memerintahkan agar aku mengikuti siangkong supaya dapat memberikan pelayanan."
Sahut Song Ji.
"Sudah tentu aku haru menuruti perintah itu."
"Bukan begitu."
Kata Siau Po yang ingin mendapatkan ketegasan "Yang penting kau sendiri apakah kau bersedia atau tidak, Aku khawatir banyak kesulitan yang akan kita temui dan kita hadapi.."
"Aku tidak takut terhadap kesulitan apa pun."
Sahut si nona cilik tegas.
"Kau baru menjawab pertanyaanku yang kedua tapi yang pertama belum kau jawab."
Kata Siau Po "Kau memang tidak takut bahaya karena Sam nay nay telah menghadiahkan kau untukku, Tapi kau belum mengatakan apakah kau sendiri bersedia ikut denganku atau tidak." "Kami hanyalah para budak, mana mungkin ada kata untuk menyatakan pikiran kami."
Sahut Song Ji.
"Siangkong mengajukan pertanyaan seperti ini, artinya siangkong sangat memperhatikan diriku, Nyonya menyuruh aku melayani siangkong, apa pun akan kulakukan agar aku dapat melaksanakan tugasku itu dengan sebaik-baiknya, Kalau siangkong bersikap baik kepadaku berarti nasibku memang baik pula, Sebaliknya, apabila siangkong bersikap buruk kepadaku, artinya nasibku memang buruk...."
Mendapat jawaban seperti itu, Siau Po jadi tertawa.
"Sudah pasti nasibmu baik, aku tidak akan membiarkan kau menderita."
Katanya. Song Ji tersenyum tersipu-sipu. Dalam hatinya dia bersyukur.
"Song Ji.,."
Terdengar Nyonya Cung berkata pula.
"Berilah hormat kepada Kui siangkong dan ucapkan terima kasih. selanjutnya kau merupakan orangnya sendiri."
Song Ji mengangkat wajahnya, sepasang matanya tampak merah, Dia segera menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Nyonya Cung dan menangis terisak-isak.
"Nyonya... aku... aku.,.."
Dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya karena tenggorokannya serasa tersendat. Nyonya Cung mengusap-usap kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Kui siangkong muda dan gagah, Namanya juga sudah terkenal sekali."
Katanya.
"Kau harus melayaninya baik-baik! Barusan Kui siangkong telah menjanjikan bahwa dia akan memperlakukanmu baik-baik."
"Baik, Nyonya!"
Sahut Song Ji yang langsung memutar tubuhnya dan berlutut kepada Siau Po.
"Sudah, jangan sungkan-sungkan!"
Kata Siau Po yang memegang tangan Song Ji dan membangunkannya, Kemudian dia membuka buntalannya dan mengeluarkan seuntai kalung mutiara, Sembari tertawa dia menyerahkan kepada Song Ji.
"Nah, inilah hadiah dariku untuk pertemuan kita yang pertama ini!"
Setidaknya mutiara itu berharga empat ata lima ribu tail perak, Kalau dengan harga itu orang ingin membeli budak, maka dia bisa mendapatka beberapa puluh orang.
Song Ji menerima dengan kedua tangannya.
"Terima kasih, siangkong!"
Katanya, Kemudian dia langsung mengenakan mutiara itu di lehernya yang putih, Meskipun dia mengenakan pakaia yang kasar, tapi mutiara itu tetap demikian bercahaya dan membuat wajahnya semakin cantik dan manis.
Nyonya Cung memperhatikan sambil tersenyum Kemudian dia bertanya kepada Siau Po.
"lnkong, kau hendak menuju gunung Ngo Tay san, bagaimana caramu melakukan tugas di sana, secara terang-terangan atau dirahasiakan?"
"Tentu saja secara rahasia."
Sahut Siau Po.
"Kalau begitu, sebaiknya inkong bertindak hati-hati dan waspada!"
Pesan nyonya itu."
Di gunung Ngo Tay san, banyak kuil yang terpecah dalam beberapa golongan hijau dan kuning, Di sana juga berdiam orang-orang yang biasa mendapat sebutan harimau tidur atau naga bersembunyi...."
"Aku mengerti."
Sahut Siau Po.
"Terima kasih atas nasehat Nyonya!"
Nyonya Cung segera berdiri.
"Nah, inkong, selamat jalan dan sampai bertemu lagi!"
Katanya.
"Maaf, aku tidak mengantar lebih jauh."
Kemudian dia menoleh kepada budak-nya dan berkata.
"Song Ji, begitu kau ke luar dari pintu rumah ini, kau bukan lagi orang keluarga Cung, karena itu, selanjutnya, apa pun yang kau lakukan dan kau ucapkan, tidak ada sangkut pautnya lagi dengan aku, majikan lamamu, Andaikata di luar rumahku ini, kau berani bertindak sembarangan atau main gila, keluarga Cung kita tidak bisa melindungimu lagi"
Kata-kata itu diucapkan dengan nada serius dan penuh wibawa.
"lya!"
Sahut Song Ji sembari menganggukkan kepalanya.
Nyonya rumah itu menoleh kembali kepada Siau Po dan menjura dalam-dalam kemudian membalikkan tubuhnya masuk ke dalam, Siau Po cepat-cepat membalas penghormatan itu lalu memperhatikan nyonya itu pergi.
Tidak lama kemudian, pada kertas jendela tampak sinar keputihan, itu tanda sang fajar tela menyingsing Song Ji segera masuk ke dalam untuk mengambil perbekalannya, lalu dia mengambil buntalan Siau Po yang digondolnya menjadi satu.
"Mari kita berangkat!"
Ajak Siau Po.
"Baik!"
Sahut nona cilik yang menundukka kepalanya, Tampaknya dia bersedih karena harus meninggalkan rumah yang dihuninya sejak keci Dia juga berduka meninggalkan Nyonya Cung yang telah memperlakukannya dengan baik sekali.
Siau Po ke luar dari pintu gerbang dan si nona cilik mengikutinya, Hujan deras sudah lama be henti tapi air di daerah pegunungan itu masi mengalir dengan cepat.
Suaranya terdengar jelas dan berkumandang di mana-mana.
Setelah berjalan beberapa tindak, Siau Po menoleh ke belakang, ke arah rumah yang baru saja ditinggalkannya, Dia melihat kabut melayang-layang di depan rumah, Dan dalam waktu yang singkat, seluruh rumah itu tidak tampak lagi kare tertutup kabut yang tebal.
"Aih!"
Terdengar bocah itu menarik nafas dalam-dalam.
"Pengalaman tadi malam benar-benar seperti sebuah impian, Song Ji, apa maksud kata-kata terakhir nyonya Cung kepadamu tadi?"
"Sam nay nay menekankan kepadaku, bahwa selanjutnya aku harus melayanimu. Karena itu, segala perbuatanku maupun kata-kata yang kuucapkan tidak ada sangkutannya lagi dengan keluarga Cung."
"Lalu, bagaimana dengan kawan-kawanku sekalian? Ke mana perginya mereka itu? Dapatkah kau memberikan keterangan kepadaku?"
Tanya Siau Po kembali. Ditanya sedemikian rupa, Song Ji jadi tertegun "Kawan-kawan siangkong itu telah ditawan oleh pihak Sin Liong kau."
Sahutnya selang sejenak.
"Tapi nay nay telah berjanji akan berusaha menolong mereka."
"Apakah majikanmu itu pandai ilmu silat?"
"lya, Bahkan kepandaiannya hebat sekali."
Sahut Song Ji. Siau Po menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Tubuhnya kelihatan begitu lemah sehingga akan roboh bila tertiup angin yang agak kencang saja, Bagaimana dia bisa berkepandaian tinggi? Dan seandainya dia benarbenar pandai, mengapa Sam siauya bisa terbunuh di tangan Go Pay?"
Tanya Siau Po tidak mengerti.
"Disaat tuan besar dan tuan ketiga dan yang lainnya terbunuh, jumlah keseluruhannya mungkin ada puluhan jiwa, mereka semua tidak ada yang mengerti ilmu silat,"
Kata Song Ji menjelaskan "Para laki-laki dibawa ke Kota Pe King untuk dihukum mati dan kaum wanitanya dibuang ke Ningkuta untuk dijadikan budak, untunglah di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang tuan penolong, para pengiring yang akan membawa mereka untuk dibuang, berhasil dibunuh dan para perempuan desa kami dibebaskan kemudian dibawa dan ditempatkan di rumah besar tadi, Bahkan Sam nay nay diajar ilmu silat oleh tuan penolongnya..."
Mendengar keterangan itu, Siau Po baru mengerti persoalan yang sebenarnya.
Pada saat itu cuaca sudah cerah sekali Matahari telah memperlihatkan kejayaannya di ufuk timur Hujan besar sepanjang malam seakan dedaunan tampak lebih hijau dan pemandangan lebih segar.
Hampir saja Siau Po percaya bahwa yang ditemuinya tadi malam adalah para hantu perempuan "Di dalam salah satu kamar di rumah Nyonya Cung itu, terdapat banyak meja abu dan abu jenasah."
Kata Siau Po kemudian "Apakah semua itu abu jenasah dari tuantuan tua dan muda kalian?"
"Benar."
Sahut Song Ji.
"Kami tinggal di dalam gunung, Kami tidak pernah berhubungan dengan orang luar. Karena itu, apabila ada orang dusun yang ingin tahu dan datang melongok, kami tidak menghiraukannya, Mula-mula memang ada beberapa orang dusun yang datang dan melihat-lihat tapi mereka kabur sendiri setelah melihat banyak meja abu dalam kamar Kalau ada yang lebih nekat dan ingin mencari tahu, kami pun menyamar sebagai hantu untuk menakut-nakuti mereka agar tidak berani kembali lagi, itulah sebabnya rumah itu kemudian dikenal sebagai rumah hantu dan selama satu tahun belakangan ini, tidak ada orang yang berani menginjakkan kakinya di rumah itu. Di luar dugaan kami, siangkong dan rombongan kalian datang tadi malam Nay nay segera berpesan, sakit hati belum terbalaskan, maka segala sesuatu yang menyangkut diri kita harus dirahasiakan Karena itulah nama-nama di atas meja abu segera disingkirkan katanya tidak baik kalau nama-nama itu sampai diketahui pihak luar."
"Mungkin itulah sebabnya kalian menawan orang-orangku dan juga anggota Sin Liong kau?"
Tanya Siau Po. Song Ji menganggukkan kepalanya.
"Ketika tadi malam siangkong menanyakan urusan ini kepadaku, aku tidak berani memberikan jawabannya."
Sahut gadis cilik itu.
"Tapi tadi Nay nay telah mengatakan bahwa selanjutnya aku harus melayani dan mengurusi Kui siangkong, karena itu, tidak ada halangannya apabila sekarang aku berkata terus terang."
Senang sekali hati Siau Po mendengar kata-kata gadis itu.
"Kau benar!"
Katanya.
"Sekarang aku juga ingin berterus-terang kepadamu. Namaku yang sebenarnya Wi Siau Po dan Kui kong kong itu hanya samaran belaka, Karena itu, sekarang kau adalah orang keluarga Wi, bukan keluarga Kui."
Song Ji sendiri senang mendengar keterangan itu.
"Siangkong telah memberitahukan kepadaku she dan nama yang sebenarnya, hal ini membuat aku benar-benar bersyukur ini berarti siangkong percaya penuh kepadaku dan aku berjanji tidak akan membocorkan rahasia siangkong ini."
Siau Po tertawa.
"Sebetulnya, nama asliku ini juga bukan suatu yang harus dirahasiakan."
Katanya menjelaskan pula.
"Diantara saudara-saudaraku dalam perkumpulan Tian Te hwe, hampir sebagian besar telah mengetahuinya."
"Beberapa orang kawan siangkong itu mula-mula kena diringkus oleh orang-orang Sin Liong kau. Sam nay nay mengetahui hal tersebut dan mengintip jalannya pertarungan Beliau mendapatkan bahwa orang-orang Sin Liong kau memang hebat sekali, Mereka pandai ilmu menjampi...."
"lya, mereka memang pandai membaca-baca mantera,"
Kata Siau Po sambil tertawa.
"Bunyi manteranya begini Ang kaucu memiliki kepandaian yang luar biasa, Usianya sama dengan usia langit Aku sendiri juga pandai membaca mantera sepert itu.,.,"
"Menurut Sam nay nay, mula-mula dia merasa heran, mengapa setelah menjampi tenaga mereka berubah menjadi semakin kuat Nay nay mengintai dan memasang mata dari luar jendela. Setelah itu nay nay mengambil tindakan Dia menyuruh orang memadamkan api dan kemudian menggunakan jala untuk membekuk mereka."
"Bagus!"
Puji Siau Po sembari menepuk paha-nya.
"Tentunya menarik sekali membekuk orang dengan menggunakan jala!"
"Menurut Sam nay nay, sebetulnya kepandaian Ciong losam dan yang lainnya biasabiasa saja."
Kata Song Ji yang ikut tertawa.
"Di belakang gunung kami ada sebuah telaga besar Diwaktu malam hari kami biasa pergi menjala ke telaga, Ketika masih tinggal di Ouw Ciu, rumah kami juga dekat dengan telaga. Bahkan telaga Thay Ouw yang terkenal sekali, Kami mempunyai banyak perahu yang kami sewakan kepada para nelayan Nay nay sering memperhatikan bagaimana mereka menebarkan jalanya kemudian dia mempelajarinya."
"Jadi kalian benar-benar orang Ouw Ciu!"
Kata Siau Po.
"Pantas saja bacang buatan kalian lezat sekali! Sekarang coba kau jelaskan lebih terperinci bagaimana duduknya persoalan sehingga Sam siauya kena ditawan dan dibunuh oleh Go Pay?"
"Menurut Sam nay nay, urusan ini menyangkut perkara Bun ji yok."
Kata Song Ji menjelaskan.
"Bun cu jiok?"
Seru Siau Po menegaskan "Aneh sekali, Masa nyamuk mempunyai daging?"
Bun Cu jiok artinya daging nyamuk.
Sebetulnya yang dikatakan Song Ji adalah Bun ji yok yakni pelanggaran karena tulisan yang menentang pemerintahan.
Jadi ada hubungannya dengan politik, tapi Siau Po yang tidak pernah sekolah mana mungkin mengerti.
Dia hanya mengambil kesimpulan dari bunyi lafal yang didengarnya.
"Bukan Bun cu jiok, tapi Bun ji yok."
Kata Son Ji menjelaskan "Toa siauya kami adalah seorang yang terpelajar Setelah matanya menjadi buta, di menulis sebuah buku yang isinya mencaci maki bangsa Boan Ciu...."
"Hebat betuI!"
Puji Siau Po.
"Sudah buta saja masih bisa menulis karangan, sedangkan aku yang tidak buta, kalau membaca surat malah aku tidak mengenalinya, Rupanya aku ini yang dinamaka buta melek!"
Song Ji tersenyum, tapi dia tidak mengataka apa-apa.
"Menurut Sam nay nay, jamannya tidak te"
Jaman sekarang ini, lebih baik orang buta huruf, dalam rumah kami, setiap orang, baik yang tua maupun yang muda, asalkan kaum pria semuanya berpendidikan tinggi Dan setiap tulisan yang mereka hasilkan, tidak ada yang tidak terkenal.
Tapi justru karena karangannya itu pula, mereka menjadi celaka, Yang laki-laki dihukum mati dan yang perempuan harus dibuang ke Ningkuta untuk dijadikan budak, Tapi, meskipun demikian, Nyonya tetap mengatakan bahwa karena adanya larangan dari pemerintah Boan Ciu yang tidak mengijinkan siapa pun membuat karangan, kita justru harus belajar ilmu sastra lebih giat Dengan demikian, niat pemerintah Boan Ciu yang hendak mengekang kita dan menjadikan kita sebagai bangsa yang bodoh tidak tercapai."
"Bagaimana dengan engkau sendiri?"
Tanya Siau Po.
"Apakah kau juga mengerti ilmu surat dan bisa membuat karangan?"
Song Ji tersenyum manis.
"Aih! Siangkong memang pandai bergurau,"
Katanya.
"Sebagai seorang budak kecil, mana mungkin aku bisa membuat karangan? Sam nay nay memang mengajari aku ilmu membaca dan menulis, tapi aku baru mempelajari tujuh delapan
Jilid buku saja."
"Ah!"
Siau Po mengeluarkan seruan tertahan "Kalau begitu, kau lebih hebat dibandingkan aku. Kau sudah mempelajari tujuh delapan
Jilid buku, sedangkan aku hanya mengenal tujuh delapan huruf saja!"
Kembali Song Ji tertawa.
"Siangkong tidak mengerti ilmu sastra karena itulah Nyonya menyukaimu"
Katanya pula.
"Menurut Nyonya, hanya anak yang mencelakai keluarganya saja yang belajar ilmu sastra sekarang ini."
"Menurut pandanganku si jahanam Go Pay itu tidak mengerti ilmu sastra."
Kata Siau Po.
"Jangan-jangan semua perbuatannya hanya merupakan hasutan dari orang-orang yang pandai mengambil muka saja!"
"Memang benar."
Sahut Song Ji.
"Kitab yang dikarang Toa siauya kami berjudul Beng Si, yakni hikayat kerajaan Beng, Di dalamnya terdapat tulisan yang mencaci maki bangsa Boan Ciu. Konon di kerajaan ada seorang manusia busuk bernama Gou Ci Eng, dia membawa kitab itu dan diserahkannya kepada Go Pay. Dialah yang melaporkan apa yang tersirat di dalam kitab itu, sehingga malapetaka pun terjadi, Beberapa ratus jiwa menjadi korban, Dan penjual buku sampai pembeli dan pembacanya di tangkap, Mereka ditawan kemudian dipenggal kepalanya, Siangkong, selama di kota raja, apakah ka pernah mendengar nama Gouw Ci Eng itu?"
"Tidak, aku belum pernah mendengar nama orang itu apalagi bertemu dengannya."
Sahut Sia Po.
"Perlahan-lahan saja kita cari dia nanti, Akhir nya pasti akan kita temukan, Eh, Song Ji... ak hendak menukar kau dengan seseorang."
Si nona cilik terkejut setengah mati Dia langsung mengangkat wajahnya dan memperhatikan Siau Po lekat-lekat.
"Kau hendak mempersembahkan aku kepada orang lain?"
Tanyanya dengan suara bergetar.
"Bukan dipersembahkan tapi ditukar dirimu dengan seorang lainnya."
Kata Siau Po membetulkan Nona cilik itu masih menatapnya tajam, Mata-nya merah, hampir saja dia menangis.
"Ditukar dengan seseorang?"
Tanyanya tidak mengerti "Bagaimana caranya?"
"Begini."
Kata Siau Po menjelaskan "Sam nay nay menghadiahkan kau untukku.
Karena itu aku hendak membalas budinya dengan cara yang sama.
Sebab budi seperti ini memang sulit dibalasnya, Sekarang, setelah mendengar ceritamu, aku mungkin bisa mendapat kesempatan Aku akan berusaha membekuk Gouw Ci Eng untuk dipersembahkan kepada Sam nay nay.
Dengan demikian, bukankah aku telah membalas budi kebaikannya?"
Mendengar penjelasan Siau Po, hati Song Ji menjadi lega, Dari hampir menangis, dia menjadi tertawa gembira.
"Aih, kau membuat aku terkejut saja!"
Katanya, Tadinya aku mengira siangkong tidak menyukai aku lagi."
Hati Siau Po senang sekali, Dia tersenyum.
"Kalau aku tidak menyukaimu, kau langsung saja menjadi bingung."
Katanya.
"Sudahlah, kau tidak perlu khawatir Tenangkan saja hatimu. Biar-pun orang meletakkan gunung emas di hadapanku, tidak akan aku menukarnya dengan dirimu."
Selagi berbicara, mereka sudah berjalan sampai di kaki bukit Udara tampak cerah sekali, Memang demikianlah halnya kalau habis turun hujan deras, Dunia seakan baru berganti rupa, Suasana jadi berbeda jauh dibandingkan ketika mereka sampai di rumah Nyonya Cung yang disebut rumah hantu.
Untuk sejenak, Siau Po sempat merenung dan mengerti mengapa keluarga Cung demikian membenci bangsa Boan Ciu.
Dia juga memikirkan rombongan Ci Tian Coan yang tentunya berada di tempat yang berbahaya sekali.
Tidak lama kemudian, tibalah mereka di sebuai pasar, Siau Po segera mencari kedai mi.
Mereka masuk ke dalam dan Siau Po langsung duduk di sebuah kursi, Song Ji juga ikut masuk, tapi dia hanya berdiri disamping Siau Po.
Melihat sikap gadis cilik itu, Siau Po tertawa.
"Jangan kau sungkan-sungkan!"
Katanya.
"Mari duduk di sini, kita makan bersamasama!"
Tidak bisa!"
Sahut Song Ji.
"Aku hanya seorang budak, mana boleh aku duduk semeja denganmu Tidak ada aturannya!"
"Perduli amat dengan segala peraturan!"
Kata Siau Po.
"Kalau aku bilang boleh, tentu saja boleh. Lagipula, kalau kau harus menunggu sampai aku selesai makan, kau baru makan, berapa banyak waktu yang harus tersia-sia karenanya?"
"Bukan begitu, siangkong!"
Sahut Song Ji. Dia menyadari sekali kedudukannya sebagai seoran budak.
"Setelah siangkong selesai makan, kita boleh langsung berangkat Bagiku tidak jadi masalah, aku bisa membeli beberapa biji bakpao dan makan sembari melakukan perjalanan Dengan demikian kita tidak perlu membuangbuang waktu, bukan?"
Siau Po menatap Song Ji kemudian menarik nafas panjang.
"Aku mempunyai kebiasaan yang aneh, Kalau aku makan sendirian, perutku ini langsung ngadat, Kalau aku makan tanpa ditemani, sebentar lagi perutku pasti mulas dan sakit sekali."
Song Ji tertawa, Terpaksa dia menarik sebuah bangku dan duduk di ujung meja.
Siau Po segera memakan minya, Baru dia menyumpit tiga kali, tampak beberapa orang Ihama (pendeta-pendeta yang beragama Buddha di Tibet) memasuki kedai itu dan langsung duduk di meja yang dekat dengan jalan besar.
"Cepat sediakan mi untuk kami! Cepat!"
Teriak seorang pendeta dengan suara nyaring.
sedangkan pendeta yang satu lagi memperhatikan kalung mutiara di leher Song Ji.
Kalung itu memang menarik perhatian karena ukurannya besar-besar dan cahayanya menyilaukan mata, Pendeta itu menyikut kawannya yang ketiga dan orang itu pun ikut memperhatikan --Celaka!
--Keluh Siau Po dalam hati, Dia dapat menduga gerak-gerik orang yang mencurigakan Tanpa menunda waktu lagi dia memanggil pelayan kedai itu dan diberikannya uang sebanyak satu tail serta minta dicarikan kereta yang besar.
Dia menyantap minya cepat-cepat.
Tidak lama kemudian, kereta pesanannya pun datang, Siau Po segera mengajak Song Ji naik kereta tersebut untuk melanjutkan perjalanan Mereka tidak berjalan kaki Kereta itu dilarikan dengan kencang.
Baru menempuh beberapa li perjalanan dari bagian belakang sudah terdengar derap langkah kaki kuda, Mendengar suara itu, Siau Po segera menolehkan wajahnya dan tampak ketiga pendeta Ihama tadi sedang menghambur ke arah mereka dengan kudanya masing-masing.
"Ketiga manusia jahat itu ingin merampas kalungmu, kau berikan saja."
Katanya kepada Song Ji "Nanti aku belikan lagi yang lebih besar dan lebih indah!"
"Baik!"
Sahut Song Ji sambil menganggukkan kepalanya.
"Berhenti! Berhenti!"
Segera terdengar suara bentakan berulang-utang dari ketiga lhama te sebut "Kusir kereta! Berhenti!"
Kusir kereta itu menurut Dia segera menahan gerakan keretanya, Siau Po dan Song Ji juga tidak melarang, Dengan demikian, dalam sekejap mat ketiga lhama tadi sudah maju melewati kereta mereka dan menghadang di depannya.
"Bocah-bocah berdua, turunlah kalian dari kereta!"
Terdengar suara bentakan bengis dari salah seorang lhama itu.
Siau Po membungkam, tapi dia juga tidak turun dari keretanya, Song Ji segera melepaskan kalung rnutiaranya dan menyodorkan nya ke luar kereta.
"Kalian toh cuma mengincar kalung ini. Siang-kongku mengatakan agar aku menyerahkannya kepada kalian, Ambillah!"
Salah seorang pendeta yang tubuhnya tinggi besar dan gemuk tidak segera menyambut kalung itu, justru dengan tangannya yang besarnya seperti kipas itu, dia menyambar tangan Song Ji kemudian ditariknya, Gerakannya gesit sekali, Tahu-tahu dia sudah mencekal kedua lengan gadis itu.
Siau Po terkejut setengah mati, Dia langsung berteriak "Kalian mau uang?
Ambillah!
jangan kalian bersikap kasar!"
Justru ketika dia berkaok-kaok itulah, dia melihat sesosok bayangan besar berwarna kuning berjumpalitan di tengah udara dan melesat cepat sekali.
"Sungguh kepandaian yang lihay sekali!"
Puji Siau Po.
Dia tidak terkejut, hanya merasa kagum saja.
Bagian 34 Tapi aneh, Ihama itu bukan mendarat dengan kaki terlebih dahulu, tapi justru kepalanya yang ada di bagian bawah.
Bukankah itu berarti dia akan jatuh nyungsep?
Tidak ampun lagi, kepala itu amblas ke dalam tanah yang lembek dan masuk sampai sebatas dada, Yang tampak hanya bagian pinggang dan kedua kakinya yang merontaronta.
Dari kagum, Siau Po menjadi kaget dan heran, Dia tidak mengerti tipuan apa yang dipamerkan Ihama itu.,., Kedua Ihama lainnya juga terkejut setengah mati, Mereka segera menerjang ke depan untuk menolong kawannya yang melesak ke dalam tanah, Ketika di angkat ke atas, tampak bagian atas tubuhnya, terutama di bagian wajah dan kepala penuh dengan lumpur hitam, Untung saja hujan deras tadi malam telah membuat tanah di daerah itu menjadi lunak, kalau tidak, kepala Ihama itu pasti sudah pecah terhantam tanah yang keras.
Biar bagaimana, Siau Po jadi tertawa menyaksikan hal itu.
Tapi ia ingat diri mereka yang masih dalam keadaan berbahaya, Karena itu, dia segera berkata kepada si kusir kereta.
"Kau masih belum melarikan kereta juga?"
Sementara itu, tangan Song Ji masih menggenggam kalung mutiaranya.
"Siangkong!"
Katanya kepada Siau Po.
"Apakah kalung ini tetap diberikan kepada mereka?"
Belum sempat Siau Po memberikan jawaban.
Kedua lhama yang membantu rekannya ke luar dari tanah berlumpur, sudah langsung saja menghunus goloknya dan menghambur ke arah kereta.
Song Ji segera merebut cambuk yang dipegan kusir kereta dan dalam sekejap mata, tahu-tahu golok pendeta itu sudah terlilit dan tertarik Son Ji mengulurkan tangan kirinya dan dengan mudah dia berhasil merampas golok tersebut Sedangkan cambuk di tangan kanannya digerakkan kembali Kali ini golok pendeta yang satunya lagi ikut terlepas dari genggaman dan berhasil dirampas olehnya.
Lhama yang ketiga berdiri terpaku, Pandangan matanya menyorotkan sinar kekaguman Sesaat kemudian dia baru berteriak "Ayo!"
Tubuhnya langsung menerjang ke dep dan tahu-tahu ngusruk ke depan kereta karena cambuk Song Ji sudah melilit lehernya, sedang golok ditangannya juga ikut terampas, Hebat sekali penderitaan lhama yang satu ini.
Matanya terbelalak yang kelihatan hanya bagian putihnya saja, Lidahnya menjulur ke luar karena Iilitan di lehernya ketat sekali.
Kedua lhama lainnya segera bergerak, mereka menyerang dari kiri dan kanan, Tampaknya mereka hendak memberikan pertolongan kepada kawannya yang terlilit cambuk di tangan Song Ji itu, Meskipun diserang dari dua arah, Song Ji segera menyingkir dengan mencelat ke atas, Sebelah kakinya bertumpu pada atap kereta, sedangkan kakinya yang sebelah lagi menginjak kepala salah seorang lhama itu, Song Ji tidak berdiam diri Kakinya langsung terangkat naik dan mendupak kedua lhama lainnya, Mereka langsung terjungkal roboh.
sementara itu, Song Ji berjumpalitan di udara, Cambuk di tangan kanannya menghajar lhama yang barusan kepalanya diinjak olehnya.
Dalam sekejap mata ketiga lhama itu sudah terkulai tidak sadarkan diri di atas tanah.
Siau Po dapat menyaksikan peristiwa itu dengan jelas, hatinya menjadi senang sekali sehingga dia berjingkrakan, Sebab sekarang dia baru mengerti apa yang telah terjadi.
"Oh, Song Ji!"
Teriaknya. Ternyata kau begitu lihay!"
Katanya. Nona cilik itu tersenyum.
"Kepandaianku belum berarti,"
Sahutnya.
"Dasar ketiga pendeta itu saja yang tidak berguna!"
"Kalau tahu begini,"
Kata Siau Po kembali "Tidak perlu aku merasa khawatir atau kebingungan. Barusan aku mencemaskan keselamatanmu."
Selesai berkata, Siau Po melompat turun dari keretanya dan menghampiri salah seorang lhama itu kemudian mendupaknya keras-keras.
"Hei, kalian bertiga, apa pekerjaanmu?"
Lhama itu dalam keadaan tidak sadarkan diri, Tentu saja dia tidak bisa menjawab pertanyaan Siau Po.
Song Ji juga menghampiri lhama itu kemudian menendang punggungnya, Dengan demikian si lhama itu tersadar dari pingsannya.
"Kau dengar atau tidak?"
Tanya nona itu.
"Siang-kong bertanya kepadamu, apakah pekerjaan kalian sebenarnya?"
Pendeta itu menatap Song Ji lekat-lekat "Nona..."
Katanya.
"Apakah nona mengerti ilmu dewa?"
Song Ji tersenyum.
"Cepat katakan!"
Bentaknya dengan suara garang.
"Apa sebenarnya pekerjaan kalian?"
"Aku,., aku."
Sahut si lhama dengan suara g gup.
"Kami... adalah para lhama dari kuil Bun Cu I di puncak Ngo Tay san...."
"Apanya lama-lama?"
Bentak Song Ji.
"tidak menanyakan engkau lama atau sebentar? Mengapa kau mengoceh yang bukan-bukan?"
"Lhama artinya pendeta Agama Buddha di Tibet."
Kata Siau Po menjelaskan.
"Oh, jadi kalian ini kaum pendeta?"
Tanya Song Ji kembali.
"Kalau memang seorang pendeta, mengapa kau tidak mencukur gundul kepalamu?"
"Kami para Ihama, bukan pendeta."
Sahut orang yang ditanya.
"Apa? Kau masih membandel juga?"
Kata Song Ji yang kembali menendang pantat lhama itu.
Kali ini dia menendang urat darah orang itu yang membuat dirinya seperti digigit oleh ribuan ekor semut.
Tanpa dapat dipertahankan lagi, lhama itu menjerit dan mengerang karena seluruh tubuhnya terasa gatal sekali, suaranya semakin lama semakin lirih....
Kedua lhama lainnya tersadar sendiri mendengar suara erangan kawannya itu.
Mereka merasa heran dan terkejut kemudian terdengar mereka berbicara dalam bahasa Tibet Setelah itu, lhama yang menderita kegatalan itu berkata kepada Song Ji.
"Nona... nona yang baik,"
Katanya.
"Kami adalah kaum pendeta, Apa pun yang nona katakan, kami akan menurutinya. Tapi, cepat... nona bebaskan jalan darahku ini.,.!"
Song Ji tertawa.
"Apa yang nonamu katakan, tidak ada hitungannya. Apa yang benar adalah perkataannya siang-kongku ini. Nah, siangkong. Apa yang ingin kau katakan?"
Siau Po merasa geli sekali, tapi dia menahan tertawanya.
"Kalian adalah orang-orang yang menyucikan diri, mengapa kalian ingin merampas milik orang lain?"
"Iya... kami memang patut mati!"
Kata salah seorang lhama tersebut.
"Lain kali kami tidak berani lagi..."
"Apa kalian pikir masih ada lain kali?"
Tanya Siau Po.
"Sekali kami katakan tidak berani, biar pun seratus tahun kemudian, artinya kami tidak berani lagi melakukan hal ini."
Sahut salah seorang lhama.
"Kalian bukan berdiam di dalam kuil membaca doa di sana, malah keluyuran ke mana-mana, apa yang sedang kalian lakukan?"
Tanya Siau Po.
"Kami... kami dititah guru kami turun gunung...."
"Apakah guru kalian menitahkan kalian turu gunung untuk merampas harta benda milik orang lain?"
"Bukan.... Kami akan pergi ke Kotaraja...."
Kata-kata si lhama yang gemuk jadi berhenti karena seorang rekannya memberi isyarat dengan memperdengarkan suara terbatuk-batuk..
Siau Po sangat cerdik, mendengar suara batuk batuk itu, dia segera melirik.
Dia sempat melihat salah seorang lhama mengedipi kawannya dan mencegahnya bicara lebih lanjut.
Tadinya Siau Po menduga pendeta itu ingin merampas kalung mutiara Song Ji sehingga dia ketakutan sebetulnya para lhama pergi ke Kerajaan bukanlah suatu hal yang aneh.
Dia tahu para lhama dari Tibet sangat dihormati bangsa Boan Ciu.
Kalau didalam istana ada upacara keagamaan, pasti para lhama diundang untuk membaca doa.
Karena istana raja sendiri berbuat demikian tentu para pangeran dan menteri lainnya juga menirunya, Hal ini membuat para lhama di Kerajaan raja besar kepala dan sering melakukan hal-hal yang menentang hukum.
Siau Po sudah berpikir untuk menyiksa para lhama itu dan memberi mereka pelajaran Setelah itu dia baru membebaskan mereka, Tidak tahunya, ia melihat tingkah laku para lhama itu yang mencurigakan.
Dia menduga bahwa mengandung maksud tertentu dan bukan pergi ke Kerajaan hanya untuk membaca doa saja.
"Oh, rupanya kalian bertiga sedang bermain gila!"
Katanya dengan suara garang. "Song Ji, tendang lagi mereka masing-masing satu kali, biar mereka menjerit-jerit kesakitan Setelah itu kita baru melanjutkan perjalanan!"
"Baik!"
Sahut Song Ji.
Dia juga mencurigai gerak gerik si lhama gemuk dan segera dia menendang keras-keras.
Yang diincarnya jalan darah yang tadi juga.
Lhama itu kontan menjerit keras, Song Ji menghampiri lagi lhama yang menjadi korbannya tadi dan siap menendang pula, Lhama itu ketakutan setengah mati.
Dia sudah merasakan penderitaannya yang hebat, karena itu, sebelum ditendang, si lhama langsung berkata.
"Jangan tendang aku, jangan tendang aku!. Nanti aku akan bicara! Se... benarnya guru kami mengirim kami ke Kerajaan untuk membawa dan menyampaikan sepucuk surat...."
"Surat?"
"Iya...."
"Mana surat itu?"
"Surat itu bukan untukmu, jadi aku tidak dapat menyerahkannya kepada kalian berdua, Kalau guru kami mengetahuinya, kami pasti akan celaka, Kemungkinan kami malah akan dibunuhnya...."
"Keluarkan surat itu!"
Bentak Siau Po. Dia tidak menghiraukan keberatan lhama itu.
"Kalau tidak, akan kusuruh nona ini menendang lagi jalan darahmu."
Siau Po berkata sambil menghampiri lhama itu, Orang itu ketakutan setengah mati.
Dia tahu anak muda itu bukan hanya sekedar menggertak.
Dia takut jalan darahnya ditendang lagi, Karena itu dia menjadi bingung sekali.
"Jangan tendang aku!"
Teriaknya panik.
"Surat itu tidak ada padaku."
"Jangan banyak bicarat Pokoknya, keluarkan surat itu!"
Lhama itu ketakutan.
Dia segera menghampiri kedua kawannya dan mengajak mereka berbicara dengan bahasa Tibet.
Si lhama gemuk juga menjawab dengan bahasa yang sama, Tidak jelas apa yang mereka katakan, tapi Siau Po dapat menduga bahwa si gemuk itu melarang rekannya memberikan surat itu kepada mereka, Siau Po menjadi sengit sekali, Dihampirinya lhama bertubuh gemuk itu kemudian didupaknya bagian belakang kepalanya dengan keras sehingga orang itu terkulai tidak sadarkan diri.
Pendeta yang ketiga dapat melihat dengan jelas semua yang terjadi di depan matanya, Dia segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan surat yang dimaksud Surat itu terbungkus rapi dengan kertas minyak, Dengan kedua tangannya dia menyerahkan surat itu kepada Siau Po.
Siau Po segera menerima surat itu dan Song Ji merogoh kantongnya sendiri mengambil sebuah gunting kecil dan digunakannya untuk membantu Siau Po membuka pembungkus surat itu.
Memang benar, bungkusan itu berisi surat yang bagian luarnya terdapat dua baris huruf dalam bahasa Tibet.
"Kepada siapa surat ini ditujukan?"
Tanya Siau Po.
"Untuk paman guru kami."
Sahut lhama gemuk itu.
Siau Po segera merobek amplop surat tersebut.
Melihat tindakannya, kedua lhama yang masih sadar langsung mengeluarkan seruan tertahan saking bingungnya.
Surat itu ditulis dengan sehelai kertas kuning.
Tulisannya menggunakan bahasa Tibet, Di bawahnya ada tulisan panjang yang menggunakan tinta merah seperti hu atau (kertas penangkal setan), Entah apa bunyinya, jangankan surat itu ditulis dalam bahasa Tibet, meskipun ditulis dalam bahasa Cina sekalipun, Siau Po juga tidak bisa membacanya.
Dia segera menyerahkan surat itu kepada Song Ji.
Song Ji mengulurkan tangannya menyambut surat itu, Gadis itu melihatnya dengan seksama, tapi dia juga tidak mengerti arti tulisan itu.
Namun dia memang cerdas, dia segera menoleh pada si lhama yang pendek dan berkata.
"Siangkong menanyakan arti tulisan dalam surat ini. Apa bunyinya? Kalau kau berbohong, aku akan menendangmu sekali lagi, Dan kali ini, aku tidak akan membebaskan dirimu, kau akan kubiarkan dalam keadaan tertotok untuk selamalamanya."
Sembari berkata, Song Ji menyodorkan surat itu, Si lhama menerimanya, dan melihatnya berulang kali, tapi tidak membacanya.
"Ini... ini..."
Katanya dengan gugup.
"Apanya yang ini... ini terus? Cepat bicara!"
Bentak Siau Po.
"Iya.,, iya,"
Kata si lhama ketakutan "Surat in berbunyi. Apa.,, yang kakak tanyakan tentang orang itu...."
Baru berkata beberapa patah kata, kawannya yang satu lagi, bukan si gemuk, segera berbicara dengan menggunakan bahasa mereka, Tapi dia juga hanya sempat berbicara beberapa patah kata saja.
Tiba-tiba Song Ji menggerakkan kakinya menendang lhama itu.
Meskipun gadis itu tidak mengerti apa yang dikatakan orang itu barusan, tapi dia yakin tujuannya pasti ingin mencegah rekannya berbicara lebih lanjut.
Orang yang kena tendangan itu langsung menjerit keras dan berkaok-kaok.
Dia ditendang jalan darahnya yang sama, jadi dia juga merasakan penderitaan seperti rekannya tadi.
Si lhama yang membaca isi surat itu jadi ketakutan setengah mati, wajahnya pucat pasi.
"Da... lam... surat itu dikatakan bahwa... orang yang kita cari tidak berhasil ditemukan, karena itu tentu tidak ada di gunung Ngo Tay san...."
Siau Po menatap orang itu dengan pandangan tajam, Dia melihat orang itu membaca dengan tersendat-sendat dan matanya terus berputaran ke sana ke mari.
"--Aku tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan, tapi dapat dipastikan bahwa dia sedang berdusta."
Pikirnya dalam hati, --Oh, pendeta tolol, berdusta saja tidak bisa! --, karena itu dia segera berkata.
"Manusia ini sedang membohongi aku."
"Hai manusia busuk!"
Teriak Song Ji.
"Dia benar-benar tidak boleh diampuni."
Sebelah kakin langsung diangkat dan menendang jalan darah Thia hoat si Ihama itu sehingga orang itu langsung menjerit sekeras-kerasnya.
"Kau... kau bunuhlah aku. Kakak seperguruan ku tadi sudah mengatakan apabila isi surat itu dibertahukan, maka kami bertiga akan kehilangan nyawa, Maka itu, kau bunuh saja aku!"
"Jangan perdulikan dia! Mari kita pergi!"
Ka Siau Po, Selesai berkata, Siau Po melompat naik ke atas keretanya, Song Ji mengikutinya.
Sementara itu, si kusir benar-benar kagum.
Dia telah menyaksikan semuanya, Dia tidak menyangka nona tanggung itu sanggup melawan tiga orang lhama tersebut.
Di atas kereta, Siau Po membisiki Song Ji "Di depan sana, bila kita sampai di sebuah pasar atau pun kota, kau harus mengganti pakaian untuk menyamar sebaiknya kalung mutiara itu kau simpan saja."
"Baik."
Sahut Song Ji.
"Bagaimana aku harus merubah dandananku?"
Siau Po tertawa.
"Kau menyamar menjadi seorang bocah laki-laki!"
Katanya.
Song Ji ikut tertawa.
Kereta berjalan kurang lebih tiga puluh li dan sampailah mereka di sebuah pasar.
Siau Po turun dari kereta, tidak memperpanjang sewaannya.
Setelah mendapatkan penginapan dia memberi uang pada Song Ji dan menyuruhnya membeli pakaian.
Nona cilik itu menurut.
Tidak lama dia pergi, ternyata dia sudah kembali dengan barang belanjaannya, setibanya di dalam kamar, dia langsung berdandan Sesaat kemudian dia sudah berubah menjadi seorang Sitong atau kacung pelayan seorang sastrawan Dengan demikian, perjalanan selanjutnya membuat Song Ji tidak lagi menarik perhatian.
Namun ada satu hal yang patut disayangkan, meskipun kepandaiannya cukup tinggi, tapi pengalamannya kurang sekali Begitu pula pengetahuan umumnya.
Di dalam segala hal, dia selalu menurut apa yang dikatakan Siau Po.
Sebaliknya, Siau Po cerdas dan sudah cukup banyak pengalaman tapi dia lemah dalam ilmu membaca dan menulis.
Pada suatu hari, tibalah mereka di tapal batas propinsi Shoa Say.
Dari tempat ini, dari kecamatan Hu Peng yang masih termasuk wilayah Tit-le, mereka menuju ke barat Setelah melewati tembok besar Ban Li tiang ceng, mereka sampai di kota Liong Ki kwan.
inilah jalan untuk menuju ke bagian timur dari gunung Ngo Tay san.
jalannya penuh dengan bebatuan.
Di sana juga terdapat banyak tebing dan puncak yang tinggi, Kemudian mereka juga mampir di kuil Yong Coan si, untuk mencari keterangan tentang kuil Ceng Liang si.
Ngo Tay san luas dan lebar, Kuil Ceng liang si terdapat di antara kedua puncak Lam tay dan Tion tay.
Terpisah dari kuil Yong Coan si, letak kuil Cen Liang si sendiri masih cukup jauh.
Siau Po bermalam di dusun Lou Ki Cung yan terletak di sisi kuil Yong Coan si, Malam itu, selesai bersantap, dia merenungkan kembali gerak-gerik pendeta Yong Coan si yang melayaninya berbicara.
Dia merasa pendeta itu kurang begitu memperhatikannya, Mungkin karena dia hanya seorang kacung yang tidak dihargai Ketika dia meminta keterangan dari si pendeta tentang jalanan menuju kuil Ceng Liang si, hwesio itu mengatakan.
"Jalanan ke sana jauh dan sulit ditempuh, Untuk apa kau pergi ke kuil Ceng Liang si,.?" -Rupanya perjalanan menuju kuil Ceng Lian si agak sulit ditempuh -Demikian pikirnya dalam hati --Aku harus menemukan jalan keluarnya. Kalau sulit mencapai tempat itu, berarti sukar pula bagiku untuk bertemu dengan kaisar Sun Ti. -Sembari menikmati teh hangatnya, otak Siau Po terus bekerja. --Dengan uang, setan pun dapat diperintah. --pikirnya kemudian -Mustahil para pendeta di kuil Yong Coan si tidak menyukai uang? Aku ingat kisah yang dituturkan tukang cerita yang ambil bagian peranan Lou Ti Cim yang naik ke puncak gunung Ngo Tay san untuk menjadi pendeta dalam kisah Sui Hu Coan. Dalam cerita itu, dikatakan dermawan Tio telah banyak menyumbangkan uang untuk kuil itu. Lou Ti Cim suka mengacau, Dengan seenaknya dia makan daging dan minum arak, tapi si pendeta tua yang menjadi gurunya tidak marah. Mungkin ada baiknya bila aku datang kembali untuk pura-pura melakukan amal Aku akan menyebarkan uang-ku di sana, kemudian aku akan menetap di kuil itu, Mustahil si pendeta tua akan memaksakan diri mengusirku? -Siau Po sudah memikirkan rencahanya, tapi untuk melaksanakannya masih memerlukan sedikit waktu, Di tempat itu dan sekitarnya, uang goan pio seharga lima ratus tail saja sulit di tukar. Karena itu, terpaksa mereka kembali ke Hu Peng untuk menukar uang kecil. Mereka juga membeli beberapa perangkat pakaian baru untuk menyalin dandanannya. -Aku tidak mengerti urusan sembahyang, mungkin aku akan membuka kedokku sendiri --pikirnya lebih jauh, -sebaiknya aku belajar dulu di kuil lain.... -Dengan membawa pikiran seperti itu, Siau Po segera menuju sebuah kuil yang terdapat di kecamatan Hu Peng. setibanya di sana dia berlutut dan menyembah di depan Pou Sat, setelah itu datang seorang pendeta yang menyodorkan buku derma kepadanya. --Aku ingin menderma, tapi apa yang harus kutuliskan? --, tanya Siau Po dalam hatinya, Akhir-nya dia mengeluarkan sehelai goan pio senilai lima puluh tail perak sehingga si pendeta menjadi terkejut setengah mati melihat jumlah yang demikian besar. --Tuan ini sungguh murah hati, jarang ada orang yang seperti ia di jaman ini --pikir pendeta itu. Karena itu, pendeta tersebut segera mengundang Siau Po bersantap dalam kuilnya, Dia mengucapkan terima kasih dan melayani Siau Po dengan baik sekali, Dia duduk menemani dan tidak lupa memuji sang tamu yang dikatakan pasti akan mendapat berkah karena kemurahan hatinya itu. Dia mengatakan tamunya akan mendapat perlindungan dari Pou Sat dan Bodhisatwa, bila sudah dewasa kelak akan berhasil lulus dalam menempuh ujian di istana dan akan hidup bahagia bersama banyak anak cucunya. Di dalam hatinya, Siau Po tertawa geli. --Ya, kau boleh saja menepuk-nepuk pinggulku, --pikirnya. -Aku toh buta huruf, man mungkin aku lulus dalam ujian, apalagi ujian di Istana! Sama saja kau menyindir aku secara terang-terangan. --Tapi di luarnya, dia tidak menunjukkan perasaan apaapa, hanya bertanya.
"Lo suhu, aku berniat mengadakan upacara sembahyang besar di gunung Ngo Tay san, tapi aku tidak mengerti apa-apa tentang hal itu, Karena itu, sudilah kiranya Lo suhu memberikan petunjuknya!"
"Bagus sekali, sicu."
Kata si pendeta.
"Tapi kuil yang memuja sang Buddha ada di mana-mana dan semuanya sama saja, Kalau hanya ingin mengadakan upacara sembahyang, sebaiknya sicu bikin di sini saja. Kuil kami dapat menyiapkan semuanya dengan sempurna. Untuk apa harus melelahkan diri ke gunung Ngo Tay san yang begitu jauh letaknya?"
Siau Po segera menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa!"
Katanya.
"Aku harus bersembahyang di gunung Ngo Tay san, karena itulah janji yang sudah kuucapkan, sekarang begini saja, Lo suhu tolong carikan satu orang untuk menjadi pembantuku Dan tentu saja aku akan memberikan uang sebagai upahnya, Ini!"
Tidak kepalang tanggung, Siau Po menyodorkan uang sebanyak lima puluh tail perak, Tentu saja pendeta itu menjadi senang sekali.
"Gampang! Gampang!"
Katanya, Dia ingat saudara misannya yang membantu di kuil Meskipun bukan seorang pendeta, tapi urusan mengadakan upacara sembahyang saja tidak menjadi masalah baginya.
pasti dia dapat membantu tamunya ini.
Karena itu, dia langsung memanggil saudara misannya untuk dipertemukan dengan tamunya itu.
Saudara misannya itu bernama le Pat.
Dia pandai berbicara, Siau Po senang mendapat pembantu seperti itu, Dia langsung mengajaknya pulang ke penginapan kemudian dia mengeluarkan uang menyuruh le Pat membelikan segala macam keperluan yang dibutuhkan.
le Pat pandai berbelanja.
Bahkan dia membeli seperangkat pakaian untuk dirinya sendiri Dia juga membelikan pakaian yang mentereng untuk Siau Po.
Katanya, sebagai pengikut seorang hartawan dia harus menyesuaikan dirinya, Harga pakaiannya sendiri hanya lima tail.
Alasan itu memang masuk akal Siau Po dapa menerimanya, Dia juga menyuruh le Pat membelikan lagi beberapa perangkat pakaian untuk Song Ji.
Setelah itu bersamasama mereka berangkat ke Liong Coan Kwan Sesudah melintasiny mereka langsung menuju selatan, menuju Gunung Ngo Tay san.
Barang-barang keperluan bersembahyang digotong oleh delapan orang kuli.
perjalanan ini melalui banyak kuil, Malamnya mereka singgah di kuil Le Keng si, keesokan harinya rombongan itu menuju ke utara, Setelah sampai di kuil Kim Kok si, beberapa li di sebelah barat terletak kuil Ceng Lia si yang letaknya di puncak bukit Ceng Liang san.
Siau Po kecewa ketika melihat kuil itu, melihat keadaannya tidak berbeda dengan kuil-kuil lainnya dan jauh sekali dari bayangan Siau Po sebelumnya.
--Kalau raja tua ingin menyucikan diri, seharusnya beliau memilih kuil yang besar dan namanya tersohor.
Masa dia memilih kuil seperti itu?
Pasti Hay kong kong mengoceh sembarangan Kemungkinan kaisar Sun Ti tidak berada di sini.
--pikirnya dalam hati.
le Pat yang pertama-tama masuk ke dalam pintu gerbang kuil, Dia langsung menemui Ti Kek Ceng (Pendeta yang bertugas menyambut tamu), memberitahukan tentang kedatangan seorang hartawan besar dari Kerajaan yang ingin bersembahyang di kuil itu, Pendeta itu senang sekali, dia segera mengabarkan berita itu kepada gurunya, yakni pendeta Teng Kong yang usianya sudah lanjut, Siau Po langsung dipertemukan dengan pendeta itu, pendeta itu menanyakan maksud Siau Po mengadakan upacara sembahyang.
Kembali Siau Po merasa kecewa melihat tampang si pendeta.
orangnya bertubuh jangkung dan kurus kering, kedua matanya agak tertutup, seperti orang yang tidak mempunyai semangat sedikit pun.
Tapi Siau Po tetap menjawab pertanyaannya.
"Aku ingin bersembahyang selama tujuh hari tujuh malam untuk arwahku dan temantemannya yang telah meninggal dunia."
Tampaknya Teng Kong merasa heran mendengar jawaban itu.
"Di Kotaraja terdapat banyak kuil yang besar, mengapa sicu justru datang ke kuil sejauh ini?"
Tanyanya.
"Tentu saja ada sebabnya, suhu."
Sahut Siau Po.
"Pada tanggal lima belas bulan yang lalu, ibuku bermimpi bertemu dengan arwah ayahku, Beliau mengatakan agar aku mengadakan upacara sembahyang di kuil Ceng Liang si, Ngo Tay san. Menurut ibuku, ayah mengatakan hal ini demi menebus dosa ayah agar mereka tidak tersiksa lebih lama dalam neraka,"
Siau Po hanya mengoceh sembarangan Sebab dia sendiri tidak tahu siapa ayahnya dan dia juga tidak tahu apakah ayahnya itu masih hidup atau sudah mati.
Ketika memberikan jawaban, dalam hatinya dia tertawa sendiri.
"Oh, begitu rupanya."
Kata Teng Kong.
Tapi ada satu hal yang perlu sicu ketahui, mimpi adalah sesuatu yang sulit dijelaskan.
Kebanyakan orang percaya, bila di siang hari kita mengingat sesuatu terlalu dalam, maka malam hari kita akan memimpikannya, Kita tidak dapat mempercayai sebuah mimpi begitu saja..."
"Tapi, suhu.,."
Kata Siau Po.
"Masih ada persoalan lainnya, Pepatah mengatakan, lebih baik percaya dari pada tidak, Karena itu, katakanlah impian ibuku itu tidak benar, toh lebih baik aku menyembahyanginya. Bagaimana kalau ternyata impian itu benar dan aku tidak menurut? Bagaimana kalau arwah ayahku di dalam neraka disiksa oleh Gu tau be bin (Mahluk-mahluk berkepala kerbau dan berwajah kuda)? Bagaimana hatiku bisa tenang? Lagipula, aku sedang melaksanakan titah ibuku yang mengatakan bahwa beliau berjodoh dengan kepala pendeta kuil Ceng Liang si. Biar bagaimana, sembahyang besar ini harus dilakukan di sini."
Berkata demikian, si anak aneh ini pun berpikir dalam hatinya.
-Kalau kau memang berjodoh dengan ibuku, pergilah ke Li Cun wan di Yang-ciu dan bersenang-senang di sana...
Teng Kong segera memperdengarkan suara yang kurang puas.
"Sicu, ada sesuatu hal yang sicu tidak mengerti."
Katanya.
"Sebetulnya kuil kami ini termasuk golongan Sian Cong (Khusus menerima orang-orang yang ingin menyucikan diri), kami tidak biasa melakukan upacara sembahyangan, sembahyang seperti itu biasanya diadakan dalam kuil golongan Ceng Tou Cong. Kuil sejenis itu banyak terdapat di daerah Ngo Tay san ini. Umpamanya kuil Kim Kok si, kuil Pau Ci si, kuil Tay Hud si, dan kuil Yan Keng si. sebaiknya sicu pergi saja kesalah satu kuil tersebut. Siau Po merasa heran pendeta di Hu Peng saja memandang tinggi kuil Ceng Lang si. Di balik semua ini pasti ada sebab-musababnya, Dia mencoba meminta lagi, tapi Teng Kong tetap menolaknya. Bahkan pendeta itu bangkit dan berkata kepada pendeta yang bertugas menyambut tamu.
"Tunjukkanlah jalan pada sicu ini bagaimana mencapai kuil Kin Kok si, Maafkan lolap (panggilan seorang pendeta untuk dirinya sendiri), aku tidak dapat menemani sicu lebih lama lagi."
Siau Po jadi kebingungan "Lo suhu, kalau begitu, sudilah kiranya kau menerima barang-barang yang diperlukan para pendeta di sini!"
Katanya.
"Di dalamnya ada jubah, kopiah, serta uang yang hendak kami amalkan..."
"Terima kasih, sicul"
Kata Teng Kong yang tampaknya tidak tertarik meskipun barang bawaan Siau Po banyak sekali Siau Po benar-benar penasaran.
Dia berkata kembali "lbuku berpesan, aku harus menyerahkan barang-barang ini langsung ke tangan setiap suhu yang ada di sini.
Tidak terkecuali tukang masak, tukang kebun dan yang lainnya.
Semua sudah disediakan bagiannya masing-masing.
Barang yang aku sedia kan cukup untuk delapan ratus orang.
Kalau masih kurang, aku harus membelinya lagi...."
"lni pun sudah cukup, sicu, Malah kebanyakan. sahut si pendeta.
"Jumlah pendeta di dalam kuil kami hanya empat ratus lima puluh orang, Kalau sicu tetap mendesak, baiklah, Sicu tinggalkan saja bagian untuk empat ratus lima puluh orang."
Siau Po menganggukkan kepalanya, tapi dia masih berkata.
"Dapatkah Lo suhu memanggilkan semua anggota kuil agar berkumpul di sini? Dengan demikian, aku bisa menyerahkannya dengan kedua tanganku sendiri inilah pesan yang dititipkan ibuku, aku tidak berani melanggarnya."
Tiba-tiba Teng Kong mengangkat kepalanya, sekilas tampak matanya menyorotkan sinar berkilau bagai kiiat, tapi hanya sekejap kemudian dia menundukkan kepalanya kembali setelah itu dia merangkapkan sepasang tangannya dan memuji Sang Buddha.
"Baiklah! Aku akan mengiringi kehendak sicu,"
Katanya kemudian, Dia langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah ke dalam Siau Po merasa heran, Dia memperhatikan tubuh si pendeta yang tinggi dan kurus.
Dia jadi mendongkol sendiri melihat sikap si pendeta itu, Dia mengangkat cawan tehnya kemudian meneguknya sampai kering.
Ie Pat yang berdiri di belakang si bocah tanggung berkata dengan suara perlahan "Seumur hidup aku baru melihat pendeta seaneh itu.
pantas saja, meskipun kuilnya besar, tapi tubuh suci Sang Bodhisatwa rusak tidak terurus!"
Tidak lama kemudian, terdengar bunyi lonceng, Kemudian si Ti Kek Ceng berkata.
"Sicu, silahkan sicu masuk ke dalam!"
Siau Po menganggukkan kepalanya dan langsung melangkah ke da1am.
Si pendeta menjadi petunjuk jalan, setibanya di pendopo besar, para pendeta sudah berkumpul di sana, semuanya berbaris dengan rapi, Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po membagibagikan hadiahnya.
Sembari bekerja, Siau Po memperhatikan wajah para pendeta itu satu persatu.
Di dalam hatinya dia berkata.
Aku tidak pernah melihat wajah raja Sun Ti, tapi dia toh ayah si raja cilik, kemungkinan tampangnya tidak sama dengan para pendeta lainnya.
Atau mungkin saja ada sedikit kemiripan dengan kaisar Kong Hi...
Ternyata harapan Siau Po sia-sia belaka, sampai ia selesai membagi-bagikan amalnya, tetap tidak ditemuinya orang yang dicari Bahkan yang mirip pun tidak ada.
Saking kecewa, dia berkata dalam hati.
"Tapi, beliau adalah orang agung, mana mungkin dia sudi menerima hadiah seperti ini? Benar-benar sebuah rencana yang bodoh! "
Siau Po masih tetap penasaran, dia bertanya sekali lagi apakah tidak ada hwesio yang ketinggalan menerima hadiah berupa jubah dan kopiah itu.
"Semuanya sudah mendapat bagian, sicu. Dan semuanya berterima kasih sekali terhadap sicu."
Sahut si pendeta penyambut tamu.
"Benarkah semuanya sudah menerima hadiah?"
Tanya Siau Po menegaskan "Siapa tahu ada salah seorang di antaranya yang tidak sudi menerima hadiah ini?"
"Sicu bergurau!"
Kata pendeta itu.
"Mana mungkin ada kejadian seperti itu?"
"Orang yang sudah menyucikan diri tidak boleh berdusta."
Kata Siau Po.
"Kalau kau membohongi aku, setelah kau mati, di dalam neraka nanti, kau akan disiksa, Lidahmu akan dibetot ke luar...."
Mendengar kata-kata Siau Po, wajah pendeta itu menjadi pucat pasi, Siau Po melihat dan dapat menerka sebabnya. Karena itu dia segera berkata.
"Kalau masih ada yang belum mendapatkan hadiah, lekas undang dia keluar!"
"Hanya guru kepala kami yang belum mendapatkan bagiannya."
Sahut si pendeta.
"Tapi aku rasa sebaiknya beliau tidak usah diundang ke luar."
Belum sempat Siau Po mengatakan apa-apa, tampaklah seorang pendeta menghambur ke dalam dan memberikan laporannya dengan sikap gugup.
"Suheng, di luar ada belasan lhama yang memohon bertemu dengan ketua kita.... Mereka membawa senjata, dan berulang kali mengayunkan tinjunya di depan kami. Tampaknya mereka mempunyai niat yang kurang baik."
Kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan perlahan sekali, Ti Kek Ceng itu mengernyitkan sepasang alisnya.
"Di Gunung Ngo Tay san ini, antara kuil hijau dan kuil kuning, biasanya belum pernah berhubungan."
Katanya.
"Lalu ada apa mereka datang kemari? pergilah kau lapor kepada Hong Tio (ketua), aku akan menemui mereka."
"Maafl"
Katanya kepada Siau Po kemudian membalikkan tubuhnya untuk bertindak ke luar. Siau Po tertawa, sembari memandangi punggung pendeta itu dia menggumam seorang diri.
"Pasti para lhama itu sudah datangi Meskipun demikian, Siau Po sama sekali tidak takut. Dia yakin kalau baru belasan lhama, Song Ji pasti sanggup menghadapinya. Dari arah pintu gerbang segera terdengar suara yang bising, disusul dengan masuknya serombongan orang ke dalam pendopo besar tersebut.
"Mari kita lihat keramaian!"
Ajak Siau Po. Setibanya di ruang pendopo besar, mereka melihat belasan lhama sedang mengerumuni di Ti Kek ceng dan berbicara dengan suara yang berisik.
"Tidak bisa tidak! pokoknya kuil ini harus digeledah!"
Kata salah seorang pendeta yang berasal dari Tibet itu.
"Ada orang yang melihat dia masuk ke dalam kuil Ceng Liang si ini."
"Dalam urusan ini, kalianlah yang tidak benar, Tegur lhama lainnya.
"Apakah kalian menyembunyikan orang itu?"
"Sebaiknya kalian serahkan saja orang itu!"
Kata lhama yang ketiga.
"Kalau tidak, awas!"
Siau Po berjalan ke samping pendopo otaknya bekerja, --Lohu berada di sini, majulah kalian ke mari!
--, katanya dalam hati, Tapi tidak ada seorang pendeta pun yang memperdulikannya, Mereka hanya menuding Ti Kek Ceng dengan tuduhan-tuduhan.
Tidak lama kemudian, ke luarlah Teng Kong, si kepala pendeta, ia melangkah dengan perlahan.
"Ada apa?"
Tanyanya dengan nada sabar "Harap Hong Tio ketahui...."
Kata-katanya segera terhenti sebab belasan lhama itu sudah menghampiri Teng Kong dengan posisi mengurung.
"Apakah kau yang menjadi kepala pendeta di sini?"
Tanya mereka.
"Bagus!"
"Lekas serahkan orang itu kepada kami!"
Bentak lhama yang kedua.
"Kalau kau tidak bersedia, akan kami bakar kuil ini sampai rata menjadi tanah!"
"Gila! Benar-benar perbuatan gila!"
Teriak lhama yang ketiga.
"Apakah setelah menjadi pendeta, orang boleh berbohong?"
Bentak lhama yang keempat.
"Para suheng sekalian,"
Kata Teng Kong yang masih bisa menenangkan hatinya.
"Lolap mohon tanya, sebenarnya suheng sekalian berasal dari kuil mana dan apa maksudnya datang ke tempat kami ini?"
Dia benar-benar pantas menjadi kepala para hwesio di Ceng Liang si, sikapnya penyabar, Dia tidak memperdulikan sikap orang yang kasar dan tidak sopan, bahkan dia memanggil mereka suheng (Kakak seperguruan, dalam hal ini mengenai agama) Seorang lhama yang mengenakan pakaian ku ning serta jubah merah segera ke depan dan menjawab.
"Kami datang dari Tibet, Kami sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Buddha Hidup untuk menyelesaikan suatu urusan penting di wilayah Tionggoan, kami datang ke mari untuk mencari seorang hwesio bajingan, sebab dia telah menculik seorang lhama cilik kami dan disembunyikannya dalam kuil kalian ini. Karena itu, Hong tio cepat kau keluarkan lhama cilik kami itu, Kata tidak, kami tidak akan menyudahi urusannya begitu mudah!"
"Urusan ini aneh sekali!"
Seru Teng Kong.
"Kami dari pihak rumah suci Sian Cong yang putih bersih, selamanya tidak ada hubungan apa pun dengan pihak Bit Cong kalian dari Tibet, Karena itu kalau kalian kehilangan seorang Ihama, mengapa tidak mencarinya di kuil kalian sendiri?"
Mendadak si lhama menjadi gusar.
"Ada orang yang melihat bahwa lhama cilik kami itu berada di kuil Ceng Liang si ini."
Katanya "ltulah sebabnya mengapa kami datang ke mari dan menanyakannya!
Kalau tidak, kalian kira kami kekurangan pekerjaan sehingga sengaja mencari keributan di sini?
Kalau kau tahu diri, cepat kau serahkan anggota cilik kami itu, Dengan demikian taruh kata kami tidak menaruh hormat pada para pendeta di sini, kami tetap akan memandang wajah suci Sang Bodhisatwa dan tidak akan menarik panjang urusan ini."
Teng Kong menggelengkan kepalanya, sikapnya tetap sabar.
"Kalau lhama cilik kalian memang ada dalam kuil ini, meskipun suheng sekalian tidak menanya-kannya ke mari,"
Sahutnya.
"Lolap juga tidak akan membiarkan dia berdiam di sini...."
"Sudahlah..."
Teriak beberapa lhama lainnya.
"Kalau memang betul apa yang kau katakan, kau pasti membiarkan kami menggeledah kuilmu ini!"
Kembali Teng Kong menggelengkan kepalanya.
"Tempat ini merupakan kuil suci Sang Buddha, mana boleh sembarangan di geledah?"
"Kalau kau bukan seperti pencuri yang belum apa-apa sudah ciut hatinya, mengapa kau tidak membiarkan kami menggeledah kuil ini? Penolakanmu ini seakan membenarkan bahwa kau memang menyembunyikan lhama cilik kami itu di kuil ini!"
Kembali Teng Kong menggelengkan kepalanya. Dua orang lhama jadi kehabisan sabar. Mereka menyambar leher jubah kepala pendeta itu dan membentak dengan suara keras.
"Kau mengijinkan kami menggeledah atau tidak?"
"Eh, Pendeta tua,"
Tegur lhama lainnya.
"Mungkinkah kuilmu ini menyembunyikan perempuan baik-baik sehingga kau khawatir rahasiamu itu akan diketahui orang? Kalau tidak, tentu tidak ada halangan bagi kami untuk menggeledah kuil ini, bukan?"
Pada saat itu, belasan murid Teng Kong juga sudah muncul di ruangan tersebut.
Tapi mereka langsung dihadang para lhama yang tidak membiarkan mereka mendekati gurunya.
Song Ji memperhatikan sejak tadi.
Hatinya panas sekali.
Dia menganggap para lhama itu sudah keterlaluan sedangkan Teng Kong kelewat sabar.
Karena itu dia segera berbisik kepada tuan mudanya.
"Siangkong, perlukah orang-orang kasar itu diusir pergi?"
"Tunggu dulu!"
Sahut Siau Po.
"Sabar sebentar!"
Meskipun mencegah Song Ji, tapi dalam hatinya si bocah tanggung ini berpikir --perbuatan para lhama ini sungguh tidak pantas.
Tanpa hujan tanpa angin membuat keonaran di sini.
Mana mungkin kuil ini menyembunyikan seorang lhama cilik seperti yang mereka tuduhkan?
Atau...
mungkinkah maksud kedatangan mereka sebetulnya sama dengan tujuanku sendiri, yakni mencari kaisar Sun Ti.
Ketika pikirannya masih bekerja, mata Siau Po melihat berkelebatan dua titik cahaya, Ternyata ada dua orang lhama yang sudah menghunuskan senjatanya masing-masing dan mengancam dada Te Kong.
"Kalau kau tidak mengijinkan kami menggeledah, maka kami akan membunuhmu terlebih dahulu!"
Teng Kong tetap sabar, bahkan di wajahnya tidak tersirat rasa takut sedikit pun, Dia merangkapkan sepasang tangannya dan memuji nama Sang Buddha.
"Bukankah kita sama-sama murid Sang Buddha yang maha suci? Mengapa kita harus menggunakan kekerasan di antara orang-orang kita sendiri?"
Tanyanya. Tampaknya kedua lhama itu tidak dapat menahan luapan emosi dalam dadanya lagi.
"Eh, pendeta tua, terpaksa kami membuat kesalahan terhadapmu!"
Bentak mereka sambil menikamkan goloknya ke dada Teng Kong.
Teng Kong menghindarkan diri, Kedua bilah golok itu langsung bersatu dengan lainnya sehingga menimbulkan suara yang nyaring, sedangkan getarannya membuat tubuh kedua lhama itu terhuyung ke belakang, Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya tenaga kedua lhama itu sangat kuat.
Saking terkejut dan penasarannya, beberapa lhama lainnya segera berkaok-kaok seperti orang kalap.
"Pendeta kepala kuil Ceng Liang si berbuat kejahatan! Dia menyerang orang! Dia membunuh orang!"
Hebat sekali akibat teriakan para lhama itu, dari luar pendopo segera menerobos masuk tiga puluhan sampai empat puluhan orang.
Diantaranya ada Ihama, hwesio, dan beberapa orang lainnya yang mengenakan jubah panjang tapi bukan dari golongan pendeta mana pun.
Salah seorang lhama yang kumis serta janggutnya panjang dan sudah memutih langsung mengajukan pertanyaan.
"Apakah benar Hong Tio dari Ceng Liang yang melakukan kejahatan dan membunuh orang?"
Teng Kong segera merangkapkan sepasang telapak tangannya dan menjura kepada tamu yang baru datang itu.
"Orang yang beragama, berpokok pada welas asih, sama sekali tidak boleh sembarangan melanggar pantangan membunuh, biar terhadap seekor binatang sekali pun!"
Katanya dengan suara halus.
"Para suheng dan sicu sekalian, dari manakah asal kalian?"
Selesai bertanya dia menoleh ke arah seorang pendeta atau hwesio yang usianya kurang lebih lima puluh tahun "Rupanya Hong Tio Sim Ke dari Hud Kong si juga ikut datang berkunjung.
Harap maafkan lolap yang tidak menyambut dari jauh!"
Hud Kong si atau Kuil Cahaya Buddha merupakan salah satu kuil terbesar dan tertua di Gunung Ngo Tay san. Karena itu banyak penduduk sekitarnya yang mengatakan.
"Terlebih dahulu ada kuil Hud Kong si, baru ada Gunung Ngo Tay san Nama asli gunung Ngo Tay san tadinya ialah Ceng Liang san, tapi karena di puncaknya ada lima bukit tinggi, orang-orang lalu merubahnya menjadi Ngo Tay (lima panggung) dan nama Ngo Tay san digunakan sampai sekarang, Ketika itu Hud Kong si sudah dibangun. Nama kecamatan Ngo Tay juga telah diubah sejak jaman Kerajaan Sui. Karena bentuknya yang besar dan usianya yang sudah tua, kedudukan kuil Hud Kong si jadi lebih tinggi dari usianya yang lebih tua, kedudukan kuil Hud Kong si jadi lebih tinggi dari pada kuil Ceng Liang si. otomatis ketuanya, Sim Ke juga menjadi pendeta yang sangat terkenal di daerah Ngo Tay san dan sekitarnya. Sim Ke yang bentuk kepalanya besar, bertubuh gemuk dan wajahnya berminyak ini langsung mengembangkan seulas senyuman dan berkata.
"Teng Kong suheng, mari aku kenalkan kau dengan dua orang sahabat!"
Dia menunjuk kepada seorang lhama dan berkata kembali inilah Lhama besar Bayan yang datang dari Lhasa, Tibet. Dialah lhama besar yang menjadi kesayangan Buddha hidup dan pengaruhnya besar sekali."
Teng Kong menjura pada lhama itu.
"Sungguh aku yang tua berjodoh dengan Tuan Lhama yang agung!"
Katanya. Sim Ke kemudian menunjuk kepada orang yang berdandan sastrawan. Dia mengenakan jubah panjang berwarna hijau dan usianya sekitar tiga puluhan tahun.
"Dan ini Honghu Kok sianseng, sastrawan terkenal dari Kwan Tung."
Katanya memperkenalkan. Sastrawan itu segera memberi hormat kepada Teng Kong dan berkata dengan merendah.
"Sudah lama aku mendengar nama besar Teng Kong taysu dari kuil Ceng Liang si di gunung Ngo Tay san ini, Terutama kedua ilmunya yakni Poan jiak Ciang dan Ki Yap Jiu yang menjagoi dunia persilatan. Karena itu, aku merasa gembira sekali dapat bertemu hari ini, ini merupakan keberuntunganku selama tiga kali penitisan."
Teng Kong dan Sim Ke sama-sama menjadi heran.
--Mengapa dia dapat mengetahui ilmu silatku dengan demikian jelas?
--pikir Teng Kong, --Kabarnya Poan Jiak Ciang dan Ki Yap Jiu merupakan dua dari jurus terlihay si Siau Lim Sie yang jumlah keseluruhannya tujuh puluh dua macam.
Benarkah hwesio yang tampaknya tidak punya semangat hidup ini menguasai ilmu sehebat itu?
Apakah tidak mungkin kalau Honghu siansen hanya menyindir.,."
Pikir Sim Ke. Kembali Teng Kong merangkapkan sepasang tangannya untuk memberi hormat.
"Usia lolap sudah tua sekali. walaupun ketika muda, aku yang rendah pernah belajar ilmu silat beberapa tahun, tapi sekarang semuanya sudah terlupakan. Sebaliknya, Honghu kisu memiliki kepandaian rangkap yang hebat, baik ilmu silat maupun ilmu sastra, Hal inilah yang membuat lolap merasa kagum sekali."
Katanya merendah. Mendengar pembicaraan kedua belah pihak yang saling merendahkan diri, Siau Po menduga tentu tidak akan terjadi pertempuran. Kemudian terdengar Bayan lhama berkata kembali.
"Lo taysu, aku datang dari Tibet bersama seorang muridku yang masih kecil, namanya Yin Cu. Menurut kabar yang kami peroleh, dia ditawan oleh orang-orang dari pihakmu, Karena itu, dengan memandang wajah emas dari Buddha hidup, harap kau sudi melepaskannya. Kami semua akan bersyukur terhadap budi kebaikanmu ini!"
Teng Kong tersenyum.
"Beberapa suheng ini telah membuat kegaduhan di kuilku, tapi aku tidak mau berpandangan seperti mereka itu."
Katanya.
"Aku justru merasa heran, taysu adalah seorang yang penuh pengertian mengapa taysu percaya saja dengan perkataan orang yang belum terbukti kebenarannya? semenjak dibangunnya kuil Ceng Liang si, baru hari ini kami mendapat kunjungan kehormatan dari para lhama yang maha suci, Dari mana datangnya cerita bahwa pihak kami menyimpan muridmu itu?"
Lhama Bayan langsung mendelikkan matanya.
"Kau kira kami sembarangan menuduh?"
Tanyanya bengis.
"Jangan kau tidak minum arak kehormatan justru minum arak dendaan"
Bahasa Cina para Ihama memang kurang lancar. Maksudnya, dia ingin mengatakan.
"Jangah k tolak arak kehormatan, namun mengharap arak hukuman"
Sim Ke tertawa dan langsung ikut memberikan komentar.
"Tuan-tuan berdua, janganlah kerukunan kalian jadi terusik karena hal ini! Menurut aku, hwesio tua, urusan si Ihama cilik ada atau tidak dalam kuil ini, tidak dapat diselesaikan dengan kata-kata saja. Kata-kata tidak mengandung bukti yang penting menyaksikan dengan mata kepala sendiri! Karena itu, Honghu sianseng dan aku hwesio tua akan menjadi saksi. Marilah kita masuk ke dalam kuil untuk meninjau setiap bagiannya ya indah. Bertemu Sang Buddha, kita menyembah bertemu pendeta kita menjura. Kalau kita sudah melihat setiap ruangan dan bertemu dengan setiap hwesionya, namun si Ihama cilik tetap tidak diketemukan, bukankah urusannya akan beres dengan sendirinya?"
Biarpun hwesio itu berbicara dengan halus sopan, namun makna yang tersirat dibaliknya, tentu saja mereka akan menggeledah Ceng Liang si.
Oleh karenanya, kesabaran Teng Kong habis juga, namun dia masih berusaha mengendalikan diri untuk berkata dengan sopan.
"Beberapa Tuan Ihama ini datang dari Tibet, karenanya mereka tidak memaklumi peraturan ini, maka kami juga tidak bisa menyalahkannya. Tapi tidak demikian halnya dengan Sim Ke taysu, Kau adalah seorang tokoh agama yang sudah banyak pengetahuannya dan berbudi luhur, Mengapa taysu mewakili kisu ini berbicara? Sekarang, mengenai Ihama cilik dari Tibet itu, kalau benar dia lenyap di daerah gunung Ngo Tay san, lolap rasa pemeriksaan harus dimulai dari kuil Hud Kong si!"
Sim Ke tertawa manis.
"Kalau seluruh Ceng Liang si sudah dilihat dan Ihama kecil itu tetap tidak berhasil ditemukan, dan seandainya para Ihama suci ini ingin melongok Hud Kong si juga, tentu aku akan menyambutnya dengan hati gembira."
Katanya. Terdengar Ihama Bayan berkata pula.
"Ada orang yang melihat dengan mata kepala sendiri bahwa muridku Yincu disembunyikan dalam kuil Ceng Liang si ini. itulah sebabnya kami datang ke mari menanyakannya, Kalau tidak ada keterangan tersebut, pasti kami tidak berani lancang datang ke sini dan kami tidak akan berlaku demikian sembrono."
"Siapa orangnya yang katanya melihat dengan mata kepala sendiri itu?"
Tanya Teng Kong. Bayan menunjuk kepada Honghu sianseng.
"Tuan Honghu inilah orangnya."
Sahut Ihama tua itu.
"Dia merupakan seorang tokoh yang sudah mempunyai nama besar, tidak mungkin dia berbohong."
Mendengar keterangan itu, Siau Po langsung berkata dalam hati --Kalian merupakan orang-orang satu rombongan mana boleh salah satu dari kalian menjadi saksi?
--Karena berpikir demikian dia segera bertanya tanpa dapat mengekang diri lagi.
"Berapa usianya lhama cilik yang hilang itu?"
Sampai sebegitu jauh, Bayan dan rombongannya tidak ada yang memperhatikan Siau Po maupun Song Ji.
Tapi begitu Siau Po mengajukan pertanyaan serempak mereka menolehkan kepalanya, Mereka melihat seorang bocah tanggung yang mengenakan pakaian indah, kopiahnya berhias batu kumala dan kancing bajunya terbuat dari mutiara.
Sudah barang tentu bahwa dia putra seorang hartawan sedangkan pelayan yang berdiri di sampingnya saja mengenakan pakaian sutera juga.
"Usia lhama kecil itu hampir sebaya denganmu, Tuan kecil!"
Sahut Sim Ke sembari tertawa. Siau Po menoleh kemudian berkata.
"Benarlah kalau demikian, sudah jelas tadi aku melihat lhama kecil itu! Dia masuk ke dalam sebuah kuil yang di atasnya tertera tiga huruf, yakni Hud Kong si!"
Mendengar ucapan si bocah, Bayan dan lainnya menjadi heran sekali.
Untuk sesaat mereka memandanginya dengan wajah tertegun Teng Kong menyaksikan hal itu, Hatinya senang sekali.
Dia tidak menyangka tamunya akan ikut bicara dan memberi penjelasan seperti itu.
"Kau mengoceh sembarangan!"
Bentak Bayan "Ngaco belo!"
Siau Po tidak marah, dia malah tertawa.
"Betul! Bicara sembarangan! Mengoceh tidak karuan! Ngaco belo!"
Katanya beruIang-ulang.
Bayan menjadi gusar, tiba-tiba dia menjulurkan sebelah tangannya untuk menyambar ke arah dada si bocah tanggung.
Justru ketika tangannya bergerak, tangan Teng Kong juga terjulur ke depan.
Ujung bajunya berkibaran menimbulkan suara berkesiurnya angin Tangannya meluncur ke arah sikut si lhama itu, Bayan sempat melihat gerakan si hwesio, Dia berniat menolong dirinya sendiri Ketika tangan kanannya ditarik kembali, tangan kirinya bergantian meluncur, kelima jari tangannya tajam bagai kuku garuda dan disambarnya ujung baju Teng Kong.
Teng Kong menarik tangannya kembali kemudian mengelakkan diri.
Dengan demikian, luputlah serangan si lhama itu.
"Hai!"
Teriak Bayan.
"Kau sudah menyembunyikan lhama cilik yang menjadi pesuruh Buddha hidup, kau berani turun tangan pula! Apakah kau benar-benar ingin melanggar pantangan membunuh? Celaka! Celaka!"
"Jangan menggunakan kekerasan. Kalau ada apa-apa, kita bicarakah baik-baik saja!"
Kata Honghu sianseng, Baru selesai orang itu berbicara, tiba-tiba dari luar kuil terdengar suara teriakan yang riuh.
"Honghu sianseng mengatakan agar jangan menggunakan kekerasan Ada apa-apa, sebaiknya dibicarakan secara baik-baik!"
Kalau ditilik dari nadanya, kemungkinan suara itu diteriakkan oleh beberapa ratus orang, Kemungkinan, sejak tadi mereka memang sudah mengepung kuil itu, hanya saja mereka tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Rupanya mereka juga suda terlatih baik, sehingga ucapannya juga dicetuskan dengan kompak sekali.
Teng Kong mempunyai watak yang sabar dan tenang, tapi mendengar suara itu, tak urung di menjadi terkejut juga.
Honghu sianseng tertawa perlahan.
Teng Kong Hongtio,"
Terdengar dia berkata "Kau adalah seorang cianpwe (angkatan tua) yang sudah mempunyai nama besar, orang yang selalu dihormati.
Karena itu, apabila Bayan lhama ingin melihat-lihat kuil, sebaiknya kau ijinkan saja, Hongtio biasa berkelakuan baik dan tindakannya juga benar, Lagipula, dalam kuil Ceng Liang si tidak ada sesuatu yang tidak boleh dilihat orang, bukan karenanya, untuk apa kita mempertaruhkan kerukunan kaum dunia persilatan?"
Kata-kata itu sopan dan halus namun mengandung desakan, Di balik ucapannya, Honghu sianseng bermaksud mengatakan, apabila Teng Kong tidak mengijinkan Bayan lhama menggeledah kuilnya, maka suatu pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi.
Teng Kong menjadi bingung sekali.
Dia memang mengerti ilmu silat, tapi di dalam kuil Ceng Liang si, dia hanya seorang hwesio atau guru agama, Dia tidak pernah mengajarkan ilmu silat kepada para muridnya.
Diantara empat ratus lebih hwesio di dalam kuil Ceng Liang si, hanya ada beberapa orang saja yang mengerti ilmu silat, Karena itu, mau tidak mau dia menjadi gentar juga, Barusan dia telah berhadapan dengan Bayan, Dia merasa lhama yang satu ini lihay sekali, sekarang dia mendengar ucapan Honghu sianseng, dia mendapat kenyataan bahwa tenaga dalam orang ini pasti sudah dilatih sampai mahir sekali, Karena itu dia menganggap, jangan kata ratusan orang yang ada di luar, sedangkan kedua orang yang ada di hadapannya ini saja sudah sulit dilayani.
Honghu sianseng memperhatikan hwesio yang sedang berpikir itu.
Sejenak kemudian, dia tersenyum lalu berkata kembali.
"Seumpamanya di dalam kuil Ceng Liang si benar-benar tersembunyi wanita-wanita cantik, itu toh bukan sesuatu yang buruk. Anggaplah pemandangan yang indah bagi kami semua!"
Kali ini berbeda dengan sebelumnya, terang-terangan Honghu sianseng mengeluarkan kata-kata yang ceriwis, Terang dia tidak memandang muka Teng Kong lagi.
Sementara itu Teng Kong masih berpikir keras, Dia yakin ilmu silat Bayan merupakan ilmu partai Bit Cong di Tibet, tetapi entahlah dengan Honghu sianseng ini, dia tidak pernah mendengar atau mengenalnya.
Tampaknya orang itu juga tidak gentar terhadap Siau lim pai.
Meskipun dia sudah tahu Teng Kong menguasai ilmu partai tersebut, dia tetap tidak memandang sebelah mata, Mengapa Honghu sianseng begitu berani?
Saking kerasnya si hwesio memutar otaknya, sampai tidak mendengar suara tawa Sim Ke hwesio dan Bayan lhama.
Mereka tertawa setelah mendengar ucapan Honghu sianseng yang mereka anggap jenaka.
"Hong tio suheng,"
Kata Sim Ke kepada kepala pendeta di kuil Ceng Liang si itu.
"Karena keadaan sudah begini rupa, sebaiknya kau ijinkan saja Baya lhama melihatlihat ke dalam kuil!"
Sembari berkata, hwesio ini memonyongkan mulutnya kepada Bayan, dan si lhama yang melihat isyarat itu langsung melangkah ke dalam kuil.
Bagian 35 Teng Kong siansu menarik nafas panjang, Dia berusaha mengendalikan emosinya, Dia memperhatikan orang itu melangkah ke dalam kuil kemudian dia mengikuti dengan perlahan-lahan.
Bayan beserta Honghu sianseng dan Sim hwesio rupanya telah merundingkan bagaimana orang-orang mereka akan melakukan penggeledahan di dalam kuil Ceng Liang si.
Diantara sekian banyaknya hwesio Ceng Liang si, ternyata tidak ada seorang pun yang berani mencegah tindakan Bayan lhama, Mereka tidak mendapat isyarat apa-apa dari kepala guru mereka.
Terpaksa mereka menyaksikan dengan sinar mata menyiratkan kegusaran.
Wi Siau Po dan Song Ji mengintil di belakang Teng Kong.
Mereka melihat lengan jubah hwesio itu bergetar.
Hal ini menandakan bahwa tangan Teng Kong sedang gemetar karena berusaha menahan hawa marah dalam hati nya.
Tiba-tiba dari arah barat terdengar suara yang nyaring.
"Diakah orangnya?"
Mendengar kata-kata itu, Honghu sianseng segera berlari ke depan, Tampak dua orang lhama sedang menangkap atau meringkus seorang hwesio berusia kurang lebih empat puluhan dan tubuhnya kurus kering.
"Mengapa kalian menangkap aku?"
Tanya hwesio itu bingung. Honghu sianseng menggelengkan kepalanya dan kedua lhama itu pun langsung melepaskan cekalannya. Sembari tertawa mereka berkata.
"Maaf!"
Menyaksikan kejadian itu, Siau Po semakin yakin yang dicari rombongan Bayan bukan seorang lhama cilik tapi kaisar Sun Ti yang sudah mengundurkan diri, Teng Kong sendiri tertawa tawar ketika bertanya.
"Hwesio muridku ini, apakah dia si lhama cilik yang kalian cari itu?"
Honghu sianseng tidak menjawab, Dia malah memperhatikan arah lainnya, Ketika itu dua orangnya kembali meringkus seorang hwesio berusia setengah baya, Setelah melihat orang itu dengan seksama, kembali dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
-Oh, rupanya kau tahu bagaimana tampang raja Sun Ti?
--, kata Siau Po dalam hati, Sejak semula dia selalu memperhatikan Honghu sianseng dan kawan-kawannya, Karena itu, dia berpikir lebih jauh.
--Kalau mereka mencari dengan cara demikian lama kelamaan mereka pasti akan berhasil menemukan raja Sun Ti.
Dia adalah ayahanda dari si raja cilik.
Aku harus mencari akal menolongnya....
Tapi, bagaimana aku harus melakukannya?
jumlah mereka banyak, kepandaian mereka juga hebat-hebat...
Sia-sia saja Siau Po mengasah otaknya, Dalam tempo yang begitu singkat, dia tidak berhasil menemukan jalan yang baik untuk ditempuhnya.
Ketika itu, ada beberapa puluh orang yang menggeledah ke arah timur laut, Dimana ada sebuah rumah kecil tempat para pendeta, Letaknya di sebelah depan kuil, Pintu kamarnya tertutup rapat "Buka pintu!
Buka pintu!"
Teriak beberapa orang dengan suara yang garang.
"ltu kamar bersemedi biku kami yang sudah lanjut sekali usianya."
Kata Teng Kong memberikan keterangannya.
"Kamar itu sudah tertutup selama tujuh tahun. Harap sicu sekalian jangan mengganggu semedinya!"
Sim Ke tertawa.
"lni pasti ada orang luar yang masuk dan bersembunyi di dalam kamar, Bukan biku tua yang sedang bersemedi, Kalau tidak, tentu dia telah membuka pintunya sendiri, bukan? Tapi ini bukanlah persoalan bagi kami."
Katanya. Seorang lhama bertubuh tinggi besar segera menghampiri pintu rumah tersebut.
"Mengapa pintu ini tidak dibuka? Pasti dia bersembunyi di dalamnya!"
Katanya sambil menendang pintu rumah itu keras-keras.
Tiba-tiba tubuh Teng Kong berkelebat Dia melompat ke pintu untuk mencegah lhama itu menendang.
Dia tidak ingin pintu rumah itu sampai rusak karena kekasaran orang itu.
Dia berhasil tiba di depan pintu, tapi perutnya terkena tendangan lhama itu sebab dia tidak melindunginya sedikitpun.
Tapi mendadak lhama yang menendang pintu terjungkal roboh ke belakang, Dia yang mengirimkan tendangan, tapi dia pula yang roboh dengan kaki patah.
Bayan terkejut setengah mati Dia langsung berkaok-kaok, tubuhnya segera menerjang ke depan ke arah tuan rumah.
sedangkan kedua tangannya segera digerakkan dengan gaya seperti cakar ayam yang sedang menggaruk.
Teng Kong tetap berdiri di depan pintu ketika serangan itu tiba, ia menghadapi lawannya dengan kedua tangan direntangkan sedangkan lawannya itu juga menyerang dengan dua tangannya, tapi dengan bentrokan keras itu.
"Kepandaianmu ternyata hebat sekali!"
Puji Hong-hu sianseng, Tangan Honghu sianseng segera menghantam ke depan.
Terasa angin menghempas-hempas dari pukulannya ke arah wajah Teng Kong.
Teng Kong menghindarkan diri dan di saat yang lain terdengar suara yang keras karena pukulan itu tepat menghajar pintu rumah tersebut.
"Pukulan yang lihay!"
Puji Teng Kong kembali.
Di dalam hatinya, dia merasa terkejut juga, Ternyata kepandaian Honghu sianseng tidak dapat dipandang ringan.
Teng Kong segera mempersiapkan diri untuk melayani lebih jauh, Walau pun demikian, dalam hati dia sudah mengambil keputusan.
Tujuannya hanya melindungi pintu rumah tersebut tidak ada niatnya untuk mencelakai siapa pun.
Kalau keadaan memang mendesak, dia sudah siap mengorbankan jiwanya agar tugasnya sebagai pelindung dapat dijalankan dengan baik.
Ternyata Honghu sianseng masih penasaran, dia menyerang kembali.
Kali ini dia malah dibantu oleh Bayan.
Dikeroyok oleh dua orang, Teng Kong melakukan perlawanan yang dahsyat.
Kedua tangannya seakan digerakkan secara sembarangan saja, namun setiap serangannya yang seperti tidak mengandung tenaga itu, justru menimbulkan angin yang kencang.
Puluhan pengikut Honghu sianseng segera bersorak-sorak, Mereka seakan memberikan semangatnya kepada sang pemimpin, namun tidak ada seorang pun diantara mereka yang berani maju ke tengah arena.
Rupanya mereka telah mendapat pesan agar tidak lancang maju apabila belum mendapatkan isyarat dari pimpinannya, Beberapa kali Bayan mendesak, serangannya hebat sekali.
Tapi tiap kali dia selalu terpukul mundur Hal itu membuat hatinya gusar Dia merasa penasaran.
Satu kali dia berhasil menjambret janggut Teng Kong sehingga segumpal rambut didagu yang putih itu terbang berhamburan.
Tapi, di samping itu, bahu kanannya sendiri kena ditepuk oleh lawan, Bayan terkejut hatinya, MuIa-mula dia memang tidak merasakan apa-apa, Tapi beberapa saat kemudian, sebelah lengannya terasa semakin berat dan akhirnya sukar digerakkan lagi, Hatinya mendongkol sekali, Tiba-tiba Ihama itu berteriak keras, lalu mendadak dia mencelat mundur.
Sebagai gantinya, empat orang Ihama lainnya yang bersenjatakan golok menerjang ke depan dan menyerang Teng Kong.
Sejak semula Teng Kong sudah meningkatkan kewaspadaannya, Dia melompat ke atas dengan kedua kakinya ditutulkan di atas tanah.
Disambutnya kedatangan lawan dengan kedua kaki yang disepakkan secara bersamaan.
Dengan demikian, robohlah dua orang lawannya, Setelah itu, dengan tangan kirinya dia menepuk dada si Ihama yang ketiga, Lhama itu terkejut setengah mati dan sambil menjerit, tubuhnya terpental mundur ke belakang.
Tepat pada saat itu, sampailah golok Ihama yang keempat, serangan itu disambut Teng Kong dengan mengibaskan ujung lengan jubahnya untuk melilit tangan orang itu.
Bayan yang penasaran dan kesal maju kembali Bukankah keempat orangnya telah mengalami kegagalan?
sekarang tangan kanannya dapat digerakkan lagi dan dia melakukan penyerangan dengan kedua lengannya.
Teng Kong menghindari serangan itu dengan menggeser tubuhnya agak ke kanan.
Tiba-tiba dia mengeluh dalam hati.
--Celaka!
--, tapi terlambat sudah, percuma dia berusaha menepuk lawannya, Tahutahu pipi kanannya terasa nyeri dan gatal, Tahulah dia bahwa dirinya telah terkena tutulan jari tangan Honghu sianseng, serangannya sendiri mengenai iga orang sehingga lengan Honghu sianseng itu tidak sampai patah.
Song Ji melihat wajah Teng Kong penuh dengan noda darah.
"PerIukah aku membantunya?"
Tanya nona cilik itu kepada Siau Po. Dia memang masih kecil, tapi tidak kenal arti kata takut walaupun jumlah musuh begitu banyaknya, Mungkin malah mencapai ratusan orang.
"Tunggu sebentar lagi!"
Kata Siau Po dengan suara lirih, Tadi si nona sendiri berbicara dengannya dengan suara berbisik.
Bocah itu berharap dapat menemui kaisar Sun Ti.
Dia merasa percuma seandainya Song Ji bisa menghalau musuh-musuh itu tapi kaisar Sun Ti tidak dapat ditemukan.
Sampai saat itu barulah sejumlah pendeta Ceng Liang si turun tangan, Mereka tidak dapat membiarkan Teng Kong siansu diserang secara bergantian sedangkan guru itu sudah terluka wajahnya, Di antara mereka ada yang menggunakan tongkat, toya, maupun besi penyungkit arang.
Tapi, sayangnya mereka itu tidak mengerti ilmu silat Dengan demikian, mereka malah terhajar oleh pihak lawan sampai babak belur.
"Semuanya berhenti!"
Tiba-tiba terdengar seruan Teng Kong yang berwibawa itu. Bayan sedang gusar sekali, Dia tidak menghiraukan seruan itu.
"Semua maju!"
Teriaknya kepada orang-orangnya. Tidak usah perdulikan si kepala gundul itu. Bunuh saja!"
Benar saja, Mendengar saran itu, para Ihama segera menyerang dengan sadis.
Dalam sekejap mata, empat orang hwesio sudah terkapar di atas lantai, Bahkan satu di antaranya mati dengan kepala terpenggal.
Sementara itu, Teng Kong melakukan pertarungan dengan pikiran kacau, Dia tidak bisa berkonsentrasi karena hatinya sedih juga bingung, Kembali dia terhajar jari tangan Honghu sianseng, Kali ini dada kanannya yang menjadi sasaran sehingga tampak darah mengalir dengan deras.
Menyaksikan serangannya yang membuahkan hasil, Honghu sianseng tertawa senang.
"Rupanya poan Jiak ciang dari Siau Lim pai begini saja!"
Katanya.
"Ayo, hwesio tua, menyerahlah!"
Teng Kong menyebut nama Buddha.
"Sicu, dosamu besar sekali!"
Katanya penuh penyesalan Tepat pada saat itulah, dua orang lhama menerjang ke depan untuk membacok kaki Hong Cu itu.
Melihat datangnya ancaman bahaya, Teng Kong segera mendahului dengan menendang musuh, tapi tiba-tiba dia merasa dadanya nyeri sekali, Kakinya jadi urung diangkat, hanya tangan kirinya yang meluncur ke depan.
Tangan itu tepat mengenai kepala kedua lhama yang menyerang bagian kakinya sehingga mereka roboh tidak sadarkan diri.
"Keledai gundul kepingin mampus!"
Maki Bayan saking gusarnya, Dia lantas menyerang dengan kedua jari tangannya ke bagian bawah, Tanpa dapat dipertahankan lagi, cengkeramannya mengenai paha kiri Teng Kong dan hwesio tua yang gagah itu pun terkulai di atas lantai.
Menyaksikan keadaan itu, Bayan tertawa terbahak-bahak, Sebelah kakinya segera menendang pintu rumah sehingga menjublak dan terbuka lebar Si lhama itu kembali tertawa nyaring sambil berseri "Keluarlah!
Aku ingin lihat bagaimana tampangmu yang sebenarnya!"
Rumah itu gelap gulita, Tidak tampak seorang pun yang ke luar, malah tidak terdengar suara sedikit juga.
Sementara itu, Honghu sianseng menotok beberapa bagian jalan darah Teng Kong agar hwesio tua itu tidak berkutik lagi, perbuatan itu membuat para hwesio lainnya menjadi gusar, tapi mereka hanya bisa berkaok-kaok dari kejauhan Hal ini disebabkan mereka tidak berani mengadakan perlawanan maupun penyerangan "Coba seret dia ke luar!"
Bayan memerintahkan beberapa orangnya agar memasuki rumah yang gelap itu lalu menyeret penghuninya ke luar.
Dua orang segera tampil ke depan kemudian memasuki rumah.
Tiba-tiba tampak sebuah cahaya berwarna kekuningan berkelebatan Rupanya itulah bayangan toya Kim Hong Cu yang digunakan untuk menyambut kedua penerjang itu.
Masing masing terhajar bagian kepalanya sehingga terdengarlah suara keras dan nyaring dua kali berturut-turut kemudian disusul robohnya tubuh mereka berdua, Dalam waktu yang bersamaan, cahaya kuning itu telah melesat masuk kembali.
Celakalah kedua orang lhama itu.
Kepala mereka pecah remuk dan tubuh mereka terkulai depan pintu.
Semua orang merasa tercekat hatinya, tidak terkecuali Bayan, Tetapi pemimpin ini sudah mejadi marah sekali.
Kembali dia berteriak keras menyuruh beberapa orangnya yang lain maju kembal Tiga orang segera melompat ke luar untuk menerobos ke dalam rumah itu.
Para lhama itu menerjang ke depan dengan golok masing-masing diputar ke atas, maksudnya untuk melindungi bagian kepala, Ternyata penjagaan mereka itu tidak ada gunanya, Meskipun mereka menjaga bagian kepala, toya itu berhasil menghajar mereka juga, bahkan lebih parah lagi golok yang sedang berputaran itu terhajar dan menimpa kepala mereka, akibatnya kepala mereka bukan hanya pecah, tapi malah terbacok tidak karuan karena golok di tangan mereka sedang berputaran ketika turun ke bawah.
Lhama yang kedua masih berusaha mengadakan perlawanan, tapi akhirnya, Dia pun menerima nasib seperti rekannya.
Bagus peruntungan si lhama yang ketiga, saking terkejutnya, tanpa terasa goloknya terlepas dari tangan.
Tubuhnya pun mencelat mundur Karenanya, kepala lhama itu bebas dari hantaman.
Dia hanya mendapat caci maki dari pimpinannya.
Meskipun hatinya gusar sekali, Bayan yang licik tidak mau masuk sendiri ke dalam rumah yang gelap itu.
"Naik ke atas genteng!"
Kata Honghu sianseng memberi perintah ketika melihat kedua serangan itu gagal "Buka semua genteng di atas, kemudian timpukkan ke bawah sebagai senjata!"
Perintah itu segera dilaksanakan Empat orang lompat naik ke atas genteng dan mulai menyerang dengan senjata yang aneh itu.
Honghu sianseng belum puas juga, Dia memerintahkan kembali "Bawa batu dan pasir ke mari!
Kemudian gunakan untuk melakukan penyerangan!"
Perintah itu lagi-Iagi diturut dan orang-orangnya pun segera mencari batu serta pasir Kemudian mereka gunakan untuk menyerang rumah yang gelap itu.
Serangan itu hebat sekali.
Bagaimana orang bisa menghindarkan diri dari begitu banyaknya genteng, batu, serta pasir?
Karena itu, segera terdengarlah sebuah suara yang menggelegar.
Kemudian muncul seorang hwesio yang sebelah tangannya memutar toya Kim Hong Cu.
Tangannya yang sebelah lagi menarik seorang hwesio lainnya, Yang luar biasa adalah tubuhnya yang besar dan tingginya melebihi orang kebanyakan.
senjatanya mengeluarkan kilauan cahaya yang berkelebat terus, Keadaannya saat itu mirip seorang malaikat yang sedang menghalau iblis.
"Apakah kalian sudah bosan hidup? Ayo maju semua sekalian saja!"
Teriaknya dengan suara bengis.
Siau Po segera teringat kepada kaisar Sun Ti.
Namun perhatian orang-orang lainnya justru tertarik pada raksasa bertubuh besar itu, Selain bentuk tubuhnya yang luar biasa, wajahnya berwarna merah tua dan janggut serta rambutnya kusut seperti tidak pernah diurus, pakaiannya pun rombeng sekali.
Dari celah-celah pakaiannya yang rombeng, terlihat ukuran pinggangnya yang besar dan lengan serta jari tangan yang kasar Tanpa terasa Bayan dan Honghu sianseng langkah mundur.
Namun Bayan berteriak dengan suara lantang.
"Jangan takut! Maju terus!"
Tapi saat itu juga, Honghu sianseng berteriak "Hati-hati! jangan sampai melukai hwesio yang di sampingnya!"
Mendengar ucapan Honghu sianseng, otomatis perhatian semua orang tertuju pada hwesio yang dimaksudkan.
Usianya kurang lebih empat puluh tahun, Tubuhnya tinggi kurus.
Meskipun kulit wajahnya pucat, tapi ketampanannya masih tampak jelas.
Hanya saja saat itu dia menundukkan wajahnya dan memejamkan matanya.
Dia seakan tidak menghiraukan bahaya yang sedang mengancam dirinya.
-Pasti dialah ayahanda si raja cilik!
--, pikir Siau Po dalam hatinya, Biar bagaimana, jantungnya berdebar-debar juga, -Tapi wajahnya kok lain dengan Sri Baginda Kong Hi.
Dia malah lebih tampan....
Ketika itu, belasan Ihama sudah menerjang ke arah si hwesio bertubuh tinggi besar.
Orang itu tetap melayani dengan memutar toyanya, Setiap kali dia menggerakkan toyanya, pasti ada seorang atau dua orang Ihama yang roboh di tangannya.
Menyaksikan keadaan itu, Honghu sianseng mengeluarkan joan pian atau senjata ruyungnya yang lunak kemudian dia maju menyerang dengan senjatanya yang luar biasa itu.
Bayan Ihama turut menerjang dengan menggunakan sepasang gembolan Mereka melakukan penyerangan dari dua arah yakni kiri dan kanan.
Joan pian di tangan Honghu sianseng langsung mengenai leher si hwesio tinggi besar itu sehingga dia berkaok-kaok.
Meskipun begitu, tangannya masih sempat menangkis sepasang gembolan Bayan, Lhama itu terkejut setengah mati.
Dia yang melakukan penyerangan, namun tangannya pula yang terasa kesemutan dan sepasang senjatanya pun terlepas dari cekalan.
Justru pada saat itu, joan pian yang seperti dibiarkan terlepas dari leher si hwesio kembali menghajar bahunya, Dari kejadian ini, orang segera beranggapan bahwa ilmu silatnya tampak biasa-biasa saja.
Hanya tenaganya yang besar dan berani.
Saking banyaknya Ihama yang melakukan penyerbuan salah seorang diantaranya berhasil menjambret lengan kiri si hwesio setengah baya yang sedang memejamkan matanya.
Mulutnya mengeluarkan seruan perlahan, Mungkin dia merasa terkejut atau kesakitan.
Tapi matanya tidak dibuka dan tidak terlihat dia meronta.
"Lindungi hwesio itu!"
Bisik Siau Po kepada Song Ji.
"Baik."
Sahut si gadis yang tubuhnya langsung mencelat ke depan, Dengan satu kali lompatan saja dia sudah sampai di depan Ihama yang mencekal lengan si hwesio, Sebelum orang itu menyadari apa-apa, pinggangnya sudah terkena totokan Song Ji dan roboh seketika.
Setelah Ihama itu terkulai lemas, hwesio itu dengan sendirinya menjadi bebas, tapi Song Ji bukan menolongnya, dia malah membalikkan tubuhnya dan menyerang kepada Honghu sianseng dengan mengirimkan sebuah totokan.
Orang she Honghu itu terkejut setengah mati, dia segera menggeser tubuhnya ke kanan sehingga dengan demikian dia dapat menyelamatkan diri.
Song Ji tidak menyerangnya lagi atau mendesaknya lebih lanjut ia membalikkan tubuhnya kembali untuk menotok dada Bayan, sebab lhama itu berada dalam jarak yang dekat sekali dengannya.
"Celaka!"
Seru Bayan kaget serta gusar.
Tapi dia hanya sempat menegakkan sepatah kata itu saja, sebab kemudian tubuhnya sudah jatuh terkulai di atas tanah.
Nona cilik itu tidak berhenti sampai di situ saja, dia bukannya mundur, tetapi malah menerjang terus ke depan, Dia mengirimkan serangan totokan kepada setiap Ihama yang ada di dekatnya, demikian juga orang-orangnya Honghu sianseng, Setiap orang yang tersentuh jari tangannya pasti roboh terkulai di atas tanah, sehingga dalam waktu yang singkat sudah tidak sedikit lawan yang dijatuhkannya.
Sim Ke menjadi heran juga tercekat hatinya.
"Eh, eh, sicu kecil!"
Panggilnya, Rupanya dia ingin berbicara dengan nona itu yang dikiranya seorang hwesio cilik segolongan dengan dirinya.
"Ya, hwesio tua!"
Sahut Song Ji sambil tertawa, Jari tangannya segera meluncur ke depan mengincar pinggang Sim ke.
Honghu sianseng terkejut setengah mati melihat kejadian itu, Dia segera memutar joan piannya untuk melindungi dirinya sendiri.
Dia pikir, tentu tidak lucu kalau dia sampai tertotok juga, Karena itu, dia berusaha membuat jarak kira-kira setombak untuk melindungi dirinya sendiri.
Namun Song Ji tidak menghiraukannya, dia terus melakukan penyerangan Namun sekarang dia berputar ke luar dari lingkungan ujung joan pian yang dapat digunakan seperti cambuk.
Sementara itu, Hong Tio Teng Kong sudah duduk bersila di atas lantai Dia merasa bingung, Diam-diam dia berkata dalam hati.
--Honghu Kok itu lihay sekali Aku tidak tahu dia berasal dari partai mana, tapi si nona.,, itu juga aneh, dia sangat lihay, Dalam sekejap mata dia berhasil merobohkan lawan, Entah murid siapa di itu?
-Honghu Kok bergerak dengan cepat.
Setiap kali ujung senjatanya mengancam tubuh nona cili itu, setiap kali pula si nona dapat menghindarkan diri.
"Oh, dasar bocah cilik!"
Teriak Honghu Ko ujung senjatanya kembali mengancam dada si nona.
Tampaknya dia merasa penasaran sekali.
Karena itu, dia mengerahkan tenaga yang lebih besar.
Serangan itu hebat sekali Song Ji mengelakkan diri sembari maju terus ke depan, Dia seperti terjembab, tapi sebenarnya, sembari terhuyung ke depan dia menggunakan kesempatan untuk menotok perut lawannya.
Honghu Kok tercekat hatinya, Dengan panik dia menggerakkan tangan kirinya untuk menangkis totokan Song Jl Di samping itu, joan piannya juga menyambar ke arah punggung lawannya.
Song Ji berusaha menghindarkan diri, tapi joan pian Honghu Kok telah berhasil melilit tubuhnya, Dan ketika joan pian itu dihentakkan, otomatis tubuhnya juga tertarik bahkan terangkat ke atas, Rupanya Honghu sianseng bermaksud mengayunkan tubuh si nona cilik ke arah tembok untuk diadukannya.
Dengan tubuh dililit joan pian, Song Ji tidak berdiam diri, Dia berusaha melindungi dirinya, Dengan lincah, tangannya berhasil mencengkeram joan pian itu dan menguasainya, Tubuhnya tetap terapung di udara, Namun begitu dia menarik sekali joan pian yang berhasil dicekalnya, tubuhnya jadi terasong ke depan, dan dia menggunakan kesempatan itu untuk mendupak wajah lawannya.
Honghu Kok terkejut Setelah mengaduh satu kali, tubuhnya terkulai dengan perlahan-lahan.
Song Ji segera melompat turun untuk merebut senjata joan pian lawannya.
"Bagus!"
Puji Siau Po merasa gembira dan kagum sekali "Kepandaian yang hebat!"
Dia segera mengeluarkan pisau belatinya dan menggunakan untuk mengancam mata kiri lawan.
"Lekas turunkan perintah. Tidak ada seorang pun yang boleh datang ke mari!"
Katanya.
Bukan main bingungnya perasaan Honghu Kok.
Kecuali sudah tidak berdaya, pisau belati yang berkilauan itu mengancam di depan matanya pula.
Dalam keadaan demikian, terpaksa dia berteriak kepada orang-orangnya.
"Semua jangan bergerak! Dengarkan baik-baik, jangan ada yang bergerak! jangan ada yang masuk ke dalam rumah ini!"
Akibat totokan Song Ji, Honghu Kok sulit mengeluarkan suaranya, Kata-katanya itu jadi tidak seberapa nyaring, Si hwesio raksasa menatap Song Ji dengan termangumangu.
"Oh, anak yang baik!"
Katanya kemudian.
setelah itu dia membimbing hwesio berusia setengah baya itu kembali ke dalam rumah yang gelap.
Siau Po menghambur ke depan, ingin berbicara dengan si hwesio setengah baya, tapi dia ketinggalan.
Sementara itu, Song Ji langsung menghampiri Teng Kong, dia segera membebaskannya dari totokan lawan.
Sekejap kemudian hwesio itu sudah bisa berdiri kembali.
Sembari menolong pendeta itu, Song Ji tersenyum manis.
"Kawanan telur busuk itu sungguh jahat sekali, Mereka berani mempermainkan Lo suhu yang maha suci!"
Teng Kong memberi hormat dengan merangkapkan sepasang tangannya.
"Terima kasih, sicu!"
Katanya.
"Kau benar-benar lihay sekali dan kau telah menolong kuil kami dari bencana, Maafkan lolap yang usianya sudah lanjut dan matanya sudah lamur sehingga sejak semula tidak melihat ada gunung tinggi yang menjulang di depan (Maksudnya tidak mengenali orang yang berkepandaian tinggi)."
"Jangan banyak peradatan, Lo suhu!"
Sahut si nona.
"Kau justru bersikap baik sekali terhadap tuanku."
Teng Kong langsung menoleh kepada Siau Po.
"Wi kongcu, bagaimana urusan ini harus diselesaikan sekarang?"
Tanyanya.
Song Ji memang sudah berhasil merobohkan banyak lawan, terutama tiga orang yang menjadi pemimpinnya, Tapi di luar kuil masih banyak teman-teman mereka, biar bagaimana urusan ini memang harus diselesaikan.
Siau Po hanya tertawa, Dia segera menghadap Honghu Kok, Bayan dan Sim Ke.
Dia tersenyum kepada mereka bertiga dan berkata.
"Tuan-tuan bertiga, bagaimana kalau aku meminta Tuan menyuruh orang-orang kalian mengundurkan diri dari tempat ini?"
Honghu Kok menyadari situasi yang mereka hadapi, Dia sudah menduga Siau Po atau pihak lawan akan mengajukan permintaan itu, Karena itu, tanpa menunggu si bocah menyelesaikan ucapannya, dia sudah berteriak.
"Kalian semua boleh pergi. Tunggu kami di kaki gunung!"
"Ya!"
Terdengar sahutan dari beberapa ratus orangnya, disusul dengan suara riuh derap langkah kaki yang berlarian turun gunung.
Menyaksikan hal itu, hati Teng Kong menjadi agak lega, Dia segera menghampiri Sim Ke dan tangannya diulurkan, Dia berniat membebaskan totokan pada tubuh Hong Tio dari Hud Kong si itu.
"Hong Tio, sabar sebentar!"
Kata Siau Po mencegah "Aku masih ingin berbicara denganmu."
"Tetapi beberapa saudara ini masih dalam keadaan tertotok,"
Kata si hwesio yang murah hati.
"Kalau terlalu lama membiarkan mereka dalam keadaan tidak bergerak, kaki mereka bisa menjadi kaku dan bahkan bisa mengakibatkan kelumpuhan. sebaiknya mereka ini dibebaskan terlebih dahuIu!"
"Jangan terburu-buru, Hong Tio."
Kata Siau Po sembari tertawa.
"Waktu kita masih banyak, sebaiknya kita duduk dulu di dalam ruangan pendopo untuk berbincangbincang sejenak!"
Mau tidak mau, Teng Kong terpaksa menurut Dia menganggukkan kepalanya, Kepandaian hwesio tua ini memang tinggi, tapi hatinya lemah. Kalau melakukan sesuatu, dia tidak bisa bersikap tegas.
"Suheng, harap sabar sebentar, nanti aku akan membebaskan totokanmu!"
Katanya kepada Sim Ke. Selesai berkata, dia mengajak Siau Po ke pendopo sebelah barat.
"Hong Tio, benarkah orang-orang rombongan tadi sedang mencari seorang lhama cilik?"
Tanya Siau Po.
Teng Kong membungkam.
Dia tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
Hal ini karena dia mengetahui dengan baik tujuan Bayan dan yang lainnya datang ke kuil Ceng Liang si dan dia sulit menjelaskannya kepada Siau Po.
Siau Po mengerti kesulitan orang, Dia mendekati telinga hwesio itu dan berkata kepadanya dengan suara berbisik.
"Aku tahu siapa yang mereka cari, mereka mencari pendeta yang tadinya seorang kaisar..."
Tubuh Teng Kong bergetar mendengar kata-kata Siau Po. Dia sempat terhuyunghuyung namun dia menganggukkan kepalanya juga.
"Oh, kiranya sicu juga mengetahui urusan ini."
Katanya.
"sebenarnya lolap pun sudah merasa heran dengan kedatangan sicu ke Ceng Liang si untuk bersembahyang, Aku merasa tidak wajar sekali...."
Siau Po tidak menanyakan apa-apa lagi tentang kaisar Sun Ti, dia mengalihkan pembicaraannya tentang Bayan dan rombongannya.
"Honghu Kok dan Bayan memang sudah tertawan tapi mereka mendatangkan kesulitan bagi kita! Bukankah mudah membekuk seekor harimau, namun berbahaya apabila kita melepaskannya? Kalau sekarang kita membebaskan mereka, lalu dalam waktu beberapa hari mereka datang lagi, bagaimana ? Bukankah kita dilanda kesulitan kembali?"
"Meskipun demikian, kita toh tidak bisa membunuh orang seenaknya!"
Kata Teng Kong yang hatinya welas asih.
"Sekarang saja sudah beberapa orang yang jadi korban! Amitaba Buddha! Omitohud!"
"Membunuh orang juga tidak ada gunanya,"
Kata Siau Po.
"Aku lihat, sebaiknya kita atur begini saja, kau perintahkan beberapa orang untuk meringkus mereka dan kita minta keterangan dari mereka, sebenarnya mereka mempunyai tujuan apa sehingga mencari kaisar yang sudah mengundurkan diri dari tahta kerajaan itu?"
Teng Kong merasa serba salah.
"Tempat lolap ini adalah tempat Buddha yang maha suci dan welas asih!"
Katanya kemudian "Kami adalah orang-orang yang beribadat, mana boleh kami meringkus orang dan mengadakan pemeriksaan perbuatan itu sungguh tidak pantas bagi orang yang sudah menyucikan diri."
"Apa yang dikatakan pantas atau tidak pantas?"
Tanya Siau Po.
"Lalu apakah perbuatan mereka datang ke mari dan melakukan penggeledahan seenaknya dapat disebut sebagai sesuatu yang pantas? Apakah pantas mereka membunuh para hwesio yang menjadi muridmu atau seluruh penghuni kuil ini? Kalau kita tidak memeriksa mereka sampai jelas, kelak mereka pasti berani datang lagi untuk melakukan pembunuhan atau mungkin pembakar-n atas kuil Ceng Liang si. Apa yang akan kau lakukan apabila hal itu sampai terjadi?"
Teng Kong merenung sejenak, Selang sekian lama, dia baru menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, terserah kepada sicu saja!"
Sahutnya kemudian Lalu dia menepuk tangannya dua kali, Segera muncul beberapa orang hwesio dari luar pendopo.
"Pergi kau, undang Tuan Honghu itu datang ke mari!"
Katanya.
"Bilang bahwa kami ingin berbicara dengannya untuk mendapatkan beberapa petunjuk.
"Tampaknya orang she Honghu itu agak licik,"
Kata Siau Po.
"Aku khawatir kita tidak akan mendapat keterangan apa-apa. Lebih baik kita minta dulu keterangan Bayan Ihama yang tinggi besar itu!"
"Benar, benar!"
Kata Teng Kong.
"Mengapa aku tidak berpikir sampai ke sana?"
Hwesio itu segera menyuruh muridnya mengundang Bayan Ihama, Tidak lama kemudian, muncullah Bayan dengan dibimbing oleh dua orang hwesio, Begitu sampai di dalam ruangan pendopo, rupanya kedua orang hwesio itu menjadi sengit mengingat beberapa kawannya yang telah menjadi korban si Ihama gemuk ini.
Mereka melepaskan bimbingannya dengan setengah mendorong sehingga orang itu jatuh terjerembab dengan keras.
"Aih! Mengapa kalian begitu tidak tahu aturan terhadap seorang lhama besar?"
Seru Teng Kong menegur muridnya. "Maaf, suhu!"
Sahut kedua orang itu, Mereka segera mengundurkan diri.
Siau Po mengambil sebuah kursi, kemudian dia memotong salah satu kakinya dan diraut berulang-ulang dengan pisau belatinya.
Dalam sekejap mata kaki meja itu sudah menjadi runcing, Dia lalu memotong kaki meja yang lainnya dan melakukan hal yang sama, Karena pisau belatinya tajam sekali, beberapa saat saja keempat kaki kursi itu sudah teraut menjadi pasak kayu yang runcing.
Teng Kong heran menyaksikan tindak tanduk bocah tanggung itu, Apa yang sedang dilakukannya?
Setelah selesai meraut kaki kursi, baru Siau Po menghampiri Bayan, Dia mengusap kepala orang itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan nya membolangbalingkan pisau belatinya dengan gaya yang persis seperti dia meraut kaki kursi tadi.
"Jangan!"
Teriak Bayan yang mengira dirinya akan dibunuh.
"Jangan!"
Teng Kong ikut mencegah.
"Jangan apanya?"
Bentak Siau Po dengan suara garang.
"Aku tahu di Tibet, semua lhama besar kaum Bit Cong mempelajari semacam ilmu kebal yang dinamakan ilmu kepala besi, Orang yang menguasai ilmu itu tidak mempan terhadap tombak maupun goIok, Ketika di Pe King, aku pernah membacok kepala seorang Ihama, setengah harian aku membacoknya berulang kali, akhirnya tanganku sampai pegal sendiri, tapi orang itu malah seperti tidak merasakan apa-apa. Golokku tidak mempan terhadapnya. Karena itu, lhama besar, aku ingin tahu kau ini barang palsu atau barang asli? Tanpa diuji terlebih dahulu, bagaimana aku dapat membuktikannya?"
Mendengar kata-kata Siau Po, Song Ji tersenyum-senyum, Dia merasa tuan mudanya ini jenaka sekali.
"Aku belum pernah mempelajari ilmu kepala besi."
Sahut Bayan cepat.
"Kalau kau membacok aku satu kali saja, aku akan mati seketika."
"Ah... belum tentu kau begitu gampang mati."
Kata Siau Po kembali "Kalau baru ditusuk dua tiga dim saja, masa kau bisa mati?
Eh, Lhama besar, aku akan membacok kepalamu satu kali saja, yakni dengan membeset kulitnya, aku ingin mengintip otakmu.
pernah aku dengar seseorang berkata, bahwa seorang lhama yang jujur, otaknya pasti diam saja, Tidak ada denyutan sedikit pun.
Sebaliknya, kalau lhama itu suka berbohong, otaknya pasti akan bergolak terus, seperti air yang baru mendidih, Aku hendak berbicara denganmu Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan Kalau aku tidak melihat otakmu terlebih dahulu, aku mana tahu kau akan mengatakan yang sejujurnya atau tidak?"
"Jangan kupas kulit kepalaku!"
Teriak Bayan.
"Aku akan berbicara terus terang kepadamu."
Kembali Siau Po mengusap-usap kepala Bayan, malah mengetuknya perlahanlahan.
"Habis, mana mungkin aku tahu kau bicara yang sebenarnya atau sedang membohongi aku?"
Tanyanya.
"Kalau aku berdusta, kau boleh mengupas kulit kepalaku dan melihat otakku, Saat itu toh masih belum terlambat."
Kata Bayan dengan suara bersungguh-sungguh. Siau Po berdiam diri beberapa saat. Tampaknya dia sedang berpikir keras.
"Baiklah!"
Katanya kemudian.
"Sekarang, mari aku tanyakan dulu kepadamu, Siapa yang menyuruh kau datang ke kuil Ceng Liang si ini?"
"Aku diperintahkan oleh Lhama besar Sinlata dari wihara Wajah asli di puncak Bodhisatva."
"Omitohud!"
Ucap Teng Kong yang merasa heran sekali "Kuil hijau Ngo Tay san selamanya tidak berhubungan dengan kuil kuning.
juga belum pernah ada permusuhan apa pun.
Mengapa pihak puncak Bodhisatwa justru menitahkan kau datang ke mari melakukan penyerbuan?"
"Kedatangan kami bukan untuk menyerbu atau mengacau."
Sahut Bayan.
"Kakak Sinlata menitahkan aku mencari seorang biku berusia kurang lebih empat puluhan tahun. Katanya biku itu sudah mencuri kitab pusaka dari Sang Buddha Hidup kami dari Lhasa dan sekarang dia bersembunyi di kuil Ceng Liang si. Karena itulah, kami harus menawannya!"
"Amitabha Buddha!"
Seru Teng Kong kembali "ltu toh tidak mungkin."
Siau Po mengancam lagi dengan pisaunya.
"Kalau kau berbohong, aku akan mengupas kulit kepalamu!"
Katanya dengan nada bengis.
"Tidak, aku tidak berbohong."
Sahut Bayan.
"Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada kakak Sinlata, Menurut kakakku itu, kami harus mengaku bahwa kami telah kehilangan seorang lhama cilik, padahal tujuan kami ingin mencari biku tua itu, Dia juga mengatakan bahwa Tuan Honghu mengenal biku itu, Kami harus meminta Tuan Honghu menemani kami apabila datang ke kuil Ceng Liang si ini. Kakak Sinlata juga menegaskan bahwa biku itu sudah mencuri kitab kami, kitab pusaka Sang Buddha puIa, maka ini bukanlah urusan kecil Padaku, kakak Sinlata menjelaskan apabila aku berhasil membekuk biku itu, maka jasaku besar sekali Apabila aku kembali ke Lhasa nanti, Buddha hidup kami pasti akan memberikan hadiah besar kepadaku."
Siau Po menatap wajah lhama itu lekat-lekat.
Dia merasa orang itu tidak berdusta, Lhama ini pasti sudah dikelabuhi orang, Tentu orang yang menyuruhnya tidak mengatakan dengan terus terang bahwa yang dicarinya adalah kaisar Sun Ti yang sudah mengundurkan diri dari tahta kerajaan.
Dia segera mengeluarkan sepucuk surat dari dalam saku pakaiannya, itulah surat yang ditemukan Song Ji dari lhama yang berhasil dibekuknya ketika melakukan perjalanan.
Dia membeberkan surat itu di hadapan Bayan lhama.
"Kau baca surat ini agar aku dengar!"
Perintahnya.
"Apa yang tertulis di dalamnya?"
"lya, iya."
Sahut Bayan yang segera mulai membaca. Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Tidak salah,"
Katanya.
"Kau dapat membacanya dengan baik. Tapi bapak kepala pendeta di sini tidak mengerti bahasa Tibet, tolong kau terjemah-kan bunyi surat itu dalam bahasa sini!"
"Isi surat ini mengatakan...."
Tiba-tiba Bayan lhama jadi sangsi.
Sejenak kemudian dia baru melanjutkan kembali "Katanya...
orang itu adalah orang besar dan dia berada di kuil Ceng Liang si, Gunung Ngo Tay san.
Menurut kabar terakhir yang kami terima, pihak Sin Liong kau ingin mengundangnya, karena itu kami harus mendahuluinya..."
Mendengar disebutkan nama perkumpulan Sin Liong kau, Siau Po merasa yakin orang itu tidak sembarangan menerjemahkan arti surat tersebut Tetapi, kembali dia bertanya.
"Apakah surat itu masih mengatakan hal lain nya?"
Bayan meneruskan terjemahannya.
"Dalam surat dikatakan, bahwa tidak sulit sebenarnya mengundang orang besar yang berada di kuil Ceng Liang si, Ngo Tay san itu. Yang dikhawatirkan justru pihak Sin Liong kau keburu mendengar berita ini dan datang merebutnya, Karena itu, kakak Sinlata meminta kakak seperguruan kami, Dahur yang berada di kota kerajaan untuk selekasnya mengirim orang-orangnya yang lihay untuk memberikan bantuan...."
"Apakah masih ada yang lainnya lagi?"
Tanya Siau Po.
"Tidak ada lagi,"
Sahut Bayan.
"Hanya sekian isi surat ini."
"Siapa sebenarnya Honghu Kok itu?"
Tanya Siau Po kembali.
"Dialah salah seorang pembantu kami yang diundang oleh kakak Sinlata."
Kata Bayan lhama menjelaskan "Baru tadi malam dia sampai."
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Lo suhu,"
Katanya kepada Teng Kong.
"Sekarang aku hendak memeriksa Hong Tio dari Hud Kong si. Kalau Lo suhu merasa tidak leluasa, silahkan menuju luar jendela dan memasang telinga di sana!"
"Bagus!"
Kata Teng Kong yang langsung melangkah ke luar sambil menyuruh orangnya membawa Bayan kembali ke depan, dan sebaliknya membawa Sim Ke masuk ke dalam pendopo agar dapat diperiksa oleh si bocah tanggung, Dia sendiri langsung kembali ke kamarnya, karena dia tidak mau memasang telinga di luar jendela yang menurutnya merupakan perbuatan yang tidak layak.
Begitu digiring masuk ke dalam ruangan pendopo, dengan wajah berseri-seri Sim Ke langsung mengeluarkan pujian kepada kedua pemuda-pemudi tersebut.
"Kedua sicu, kalian masih muda sekali, tetapi ilmu kalian sudah lihay sekali, Hal ini belum pernah aku si hwesio tua lihat atau dengar sekali pun. Kalianlah anak-anak muda yang gagah perkasa."
"Hebat nenek moyangmu!"
Maki Siau Po.
"Siapa yang sudi mendengar pujianmu?"
Dia mengangkat kakinya dan menyepak selangkangan hwesio itu. Sim Ke merasa kesakitan tapi dia masih memaksakan dirinya tersenyum.
"lya, ya.... Memang benar,"
Katanya.
"Seorang laki-laki sejati paling benci mendengar pujian bagi dirinya, Tapi, aku si hwesio tua berkata dengan sungguh-sungguh, aku bukan hanya sekedar memuji...."
"Sekarang aku tanyakan kepadamu,"
Kata Siau Po. Dia tidak menghiraukan kata-kata hwesio itu.
"Kau datang ke kuil Ceng Liang si ini dengan lagakmu yang konyol. Siapa yang menyuruh kau datang ke mari?"
"Sicu bertanya kepadaku, tentu aku harus menjawab yang sebenar-benarnya."
Sahut hwesio itu.
"Lhama besar Sinlata di Tibet telah mengirim orangnya untuk mengantarkan uang sebanyak dua ratus tail kepadaku, Dia meminta aku menemani adik seperguruannya datang ke kuil Ceng Liang si ini. Katanya untuk mencari seseorang. Aku toh tidak bisa menerima imbalan tanpa melakukan apa-apa. Karena itulah aku menyertai Bayan lhama datang ke mari."
"Ngaco!"
Bentak Siau Po.
"Kau ingin membohongi aku? Cepat katakan hal yang sebenarnya !"
"lya, iya."
Sahut si hwesio.
"Aku tidak akan membohongi kau, sicu, sebetulnya Ihama besar itu memberikan aku uang sebanyak tiga ratus tail..."
"Oh, kau masih berbohong juga?"
Bentak Siau Po.
"Sudah terang dia memberimu seribu tail."
"Tidak, tidak, sicu!"
Sahut si hwesio tua.
"Sebenarnya cuma lima ratus tail, kalau sampai lebih dari satu tail saja, anggaplah aku bukan manusia lagi!"
Siau Po memperhatikan dengan tajam.
"Dan, mahluk apakah Honghu Kok itu?"
Tanyanya kembali.
"Dia seorang hina dina, Dia bukanlah manusia baik-baik."
Sahut Sim Ke.
"Bayan Ihama yang membawanya ke mari, Kalau sicu membebaskan aku, segera aku akan membawanya ke kantor kecamatan di Ngo Tay san dan meminta bapak camat memberikan hukuman kepadanya, Ceng Liang si adalah tempat suci murid Buddha, mana boleh dikotori manusia busuk seperti dirinya? Sicu kecil, beberapa jiwa korban akan kutimpakan seluruh kesalahan di bahunya."
Siau Po memperlihatkan tampang berwibawa.
"Sudah jelas kau yang membunuh mereka, bagaimana kau bisa menimpakan kesalahan itu pada orang lain?"
Tanyanya.
"Baiklah,"
Kata Sim Ke.
"Sicu kecil, aku harap kau sudi mengampuni aku!"
Siau Po menyuruh orang membawa hwesio itu pergi, sekarang giliran Honghu Kok yang dibawa masuk.
Orang yang satu ini memang keras kepala, Tidak ada satu pun keterangan yang didapatkan dari orang ini, Dia tidak bersedia mengatakan apa-apa.
Song Ji segera menotok jalan darah Thian tok orang itu.
Dalam sekejap mata dia merasa kegatalan serta sakit, Dia segera menjerit keras-keras.
Meskipun demikian, Dia tetap berkepala batu, Tidak ada satu pun pertanyaan Siau Po yang dijawabnya.
"Kalau kau memang laki-laki, bunuhlah aku!"
Tantangnya.
"Kau bunuhlah Tuan besarmu ini, Siapa yang hanya pandai menyiksa, bukanlah orang yang gagah."
Biar bagaimana, Siau Po menghormati keberanian orang itu.
"Baik, aku tidak akan menyiksamu lagi."
Kata nya.
Dia, menyuruh Song Ji membebaskan totokannya.
Setelah itu, dia meminta orang membawa Honghu sianseng itu ke luar, sebaliknya Teng Kong diundang masuk kembali.
Tidak lama kemudian, Teng Kong sudah datang.
"Urusan ini agak sulit."
Kata Siau Po kepada kepala pendeta itu.
"Aku rasa, sebaiknya aku berunding dengan orang besar itu."
Teng Kong menggelengkan kepalanya.
"Sulit!"
Katanya.
"Beliau pasti tidak bersedia bertemu dengan orang luar."
Siau Po merasa kurang puas mendengar jawaban Teng Kong.
"Mengapa beliau tidak mau bertemu dengan orang luar?"
Tanyanya.
"Bukankah tadi dia sudah menemuinya? Bukankah beliau akan tertawan dan dibawa pergi, apabila kami lepas tangan tadi? Untuk selanjutnya, beliau tetap tidak akan merasakan kedamaian Beberapa hari kemudian, pasti akan datang lagi orang-orang suruhan si Ihama besar dari kota Pe King. Belum lagi perkumpulan Sin Liong kau dan partai kurakura lainnya. Mereka tentu tidak sudi menyudahi urusan ini begini saja. Sekalipun kami mau membantu kalian, tapi belum tentu kami sanggup menghadapi lawan sebanyak itu."
Teng Kong menganggukkan kepalanya.
"Apa yang dikatakan sicu ada benarnya juga."
Katanya.
"Karena itu, sebaiknya Lo suhu mendatangi beliau dan ceritakan gentingnya suasana yang dihadapi saat ini. Biar bagaimana, kita harus berunding dan memikirkan jalan untuk menyelamatkan diri kita semua." Tapi Teng Kong tetap menggelengkan kepalanya.
"Persoalan ini sulit."
Katanya.
"Lolap telah berjanji, baik lolap sendiri maupun muridmurid lolap di sini, tidak ada yang boleh berbicara dengannya."
"Tidak apa-apalah kalau begitu,"
Kata Siau Po.
"Aku toh bukan hwesio atau anggota kuil kalian, Biar aku saja yang berbicara dengannya!"
"Tidak, tidak bisa, sicu!"
Cegah Teng Kong.
"Kalau sicu masuk ke dalam rumah pertapaannya, tentu sicu akan dirintangi adik seperguruannya, Heng Tian, Dia seorang hwesio yang tabiatnya keras dan berangasan Bisa-bisa sicu terhajar mati olehnya."
Siau Po tertawa.
"Tidak mungkin dia sanggup menghajar aku sampai mati."
Sahutnya. Teng Kong melirik ke arah Song Ji.
"Meskipun sicu menitahkan pembantumu ini menotok Heng Tian sehingga dia roboh tidak berdaya, Heng Ti sendiri belum tentu sudi berbicara dengan sicu."
"Heng Ti?"
Tanya Siau Po menegaskan sekali Iagi.
"Oh, kiranya itu nama sucinya kaisar Sun Ti."
"Benar! Aku tidak menyangka sicu tidak mengetahui nama sucinya."
Siau Po menarik nafas panjang.
"Kalau begitu, habislah dayaku."
Katanya perlahan "Sayang sekali kuil Ceng Liang si yang suci dan sudah tua ini harus musnah di tanganmu, Lo suhu!"
Teng Kong terkejut. Dia nampak berduka sekali, Untuk sesaat dia menjadi bingung.
"Nanti aku tanyakan kepada Giok Lim suheng,"
Katanya kemudian Tampak sepasang alisnya menjungat ke atas seakan sedang berpikir keras.
"Suhengku itu mempunyai jalan keluarnya..."
"Siapakah Giok Lim taysu itu?"
Tanya Siau Po.
"Beliau adalah guru Heng Ti."
Sahut Teng Kong.
"Bagus!"
Kata Siau Po. Dia tampak senang sekali.
"Nah, mari Lo suhu ajak aku menemuinya!"
Teng Kong menerima baik permintaan itu, Dia langsung mengajak Siau Po ke ruang belakang yang terdapat sebuah kamar untuk bersemedi.
Bahkan di sana tampak seorang pendeta tua sedang duduk bersila dengan mata dipejamkan Pendeta itu sudah putih alis dan janggutnya, Dia tidak tahu ada tiga orang yang memasuki kamarnya.
Teng Kong memberi isyarat dengan kedua tangannya, kemudian dengan hati-hati duduk di sisi hwesio tua itu.
Dia memejamkan matanya dan merapatkan sepasang telapak tangannya.
Di dalam hati, Siau Po tertawa menyaksikan tindak tanduk hwesio itu.
Tapi dia menurut, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, dia ikut duduk di sisi hwesio itu.
Seperti ketika mereka masuk, wihara itu demikian hening sehingga tidak terdengar suara sedikit pun.
Wihara itu seakan hanya dihuni oleh hwesio tua itu seorang diri.
Setelah lewat sekian lama, hwesio itu masih duduk berdiam diri.
Dia mirip dengan mayat hidup, Dan Teng Kong juga ikut mematung.
Siau Po menjadi kewalahan, dia merasa kaki dan tangannya mulai kesemutan Akhirnya dengan terpaksa, dia bangkit Tapi karena kedua orang itu tetap berdiam diri, dia pun terpaksa duduk kembali Beberapa kali dia bangkit dan duduk kembali, tetapi kesunyian tetap saja mencekam.
--Aih, celaka dua belas!
--, keluhnya dalam hati, Saking mendongkolnya, dia memaki si hwesio tua dalam hatinya.
Dia masih harus menunggu cukup lama, namun akhirnya si hwesio tua membuka matanya dengan perlahan-lahan, Dari mulutnya terdengar suara lirih seperti sedang menarik nafas panjang.
Dia melihat ada beberapa orang dalam kamarnya, namun dia tidak menunjukkan perubahan apa-apa, kecuali menganggukkan kepalanya sedikit.
"Suheng."
Teng Kong lantas menyapanya.
"Jodoh Heng Ti dengan dunia luar rupanya belum selesai Ada beberapa orang yang datang menjenguknya, Harap suheng sudi melepaskannya!"
Hwesio yang ternyata Giok Lim taysu itu berkata dengan suara perlahan.
"Suasana disebabkan hati sendiri Karena itu, untuk membebaskan diri, orang juga harus mengandalkan dirinya sendiri..."
Teng Kong menganggukkan kepalanya.
"Hantu dari luar datang bertubi-tubi, Ceng Liang si menghadapi malapetaka yang tidak kepalang besarnya." Dia segera menuturkan usaha Sim Ke, Bayan dan Honghu Kok yang datang mencari Heng Ti dan berusaha menawannya, Untung ada Siau Po datang bersama pembantunya, Mereka memberikan bantuan sehingga Heng Ti terlepas dari ancaman maut Tapi, di dalam pertempuran, kedua belah pihak sama-sama ada yang jatuh korban jiwa.
"Meskipun demikian, pihak sana masih belum mau menyudahi urusan ini."
Kata Teng Kong mengakhiri ceritanya.
Giok Lim taysu mendengarkan keterangan itu dengan berdiam diri, Tidak sekali pun dia menukas, sepasang matanya kembali dipejamkan untuk ber semedi lagi, Keheningan pun kembali menceka kamar itu.
Menyaksikan keadaan itu, habis rasa sabar Sia Po.
Dia segera berjingkrak bangun untuk mencaci Tapi belum juga sepatah kata ke luar dari muIutnya, Teng Kong sudah menggoyangkan tangannya mencegah.
Terpaksa dia menahan sabar dan duduk kembali Kali ini Siau Po harus menunggu lebih lama lagi, sampai dia mencaci dalam hatinya, --Di kolong langit, yang paling brengsek adalah Hay kong kong dengan si nenek sihir, tapi mereka masih tidak begitu menjemukan seperti si kepala gundul ini!
-Baru si bocah tanggung berpikir demikian, tampak Giok Lim taysu membuka matanya, Sembari tertawa dan menganggukkan kepalanya dia ber tanya dengan sopan.
"Apakah sicu ini datang dari Pe King?"
"Benar!"
Sahut Siau Po singkat.
"Apakah di kotaraja sicu bekerja memdampingi Sri Baginda?"
Tanya Giok Lim taysu kembali. Siau Po merasa heran. Hampir saja dia melonjak bangun saking terperanjatnya.
"Bagaimana... taysu bisa tahu?"
Tanyanya kembali. Giok Lim taysu tersenyum.
"Lolap hanya menduga-duga saja."
Mau tidak mau, Siau Po jadi berpikir dalam hatinya, --Hwesio ini agak aneh, jangan-jangan dia menguasai ilmu...., Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po segera duduk dengan diam, Dia tidak berani mencaci lagi, meskipun hanya dalam hati.
Terdengar Giok Lim taysu bertanya lagi.
"Apakah ada sesuatu pesan yang penting sehingga Sri Baginda menitahkan sicu datang ke kuil Ceng Liang si ini?" -Aih, hwesio ini... --, pikirnya kembali --Apa pun diketahuinya, karenanya aku tidak bisa sembarangan berbohong.... --, karenanya dia segera menjawab "Sri Baginda mengetahui bahwa Raja tua masih hidup dalam dunia ini, beliau merasa gembira sekaligus berduka, itulah sebabnya aku ditugaskan datang menjenguknya, untuk menyampaikan rasa hormat Sri Baginda sekaligus menanyakan kesehatannya. Dan seandainya.,., Sri Baginda raja tua bersedia kembali ke istana, itulah hal yang paling baik."
Sebenarnya kaisar Kong Hi menitahkan Siau Po datang ke gunung Ngo Tay san untuk mencari bukti kebenaran bahwa si raja tua masih hidup di dunia ini.
Kalau benar, maka nanti Sri Baginda Kong Hi sendiri yang akan datang ke Ceng Liang si untuk menjenguknya, Tapi Siau Po justru mengubahnya sendiri.
"Apakah Sri Baginda membekali sesuatu sebagai tanda bukti kepada sicu?"
Tanya Giok Lim taysu kembali Tampaknya hwesio tua ini teliti sekali Siau Po merogoh ke dalam sakunya untuk mengeluarkan surat yang ditulis oleh kaisar Kong Hi.
"Silahkan taysu baca surat ini!"
Katanya sembari menyerahkan surat itu yang disodorkan dengan kedua belah tangannya.
Surat ini bukan surat yang ditujukan Sri Baginda untuk ayahandanya, Memang kaisar Kong Hi sudah menulis surat itu, tapi kemudian dia membakarnya, Dia khawatir surat itu terjatuh ke tangan orang lain dan hal ini berbahaya sekali.
Sebagai gantinya, kaisar Kong Hi menuliskan sepucuk surat perintah atau firman Raja.
Begini bunyi surat perintah tersebut.
"Dengan ini dititahkan kepada Gi cian siwi Hu congkoan Wi Siau Po yang dianugerahkan baju makwa kuning untuk pergi ke gunung Ngo Tay san dan sekitarnya untuk suatu urusan dinas, Dengan demikian semua pembesar sipil dan militer setempat harus melakukan segala perintahnya, ini merupakan firman kaisar."
Giok Lim taysu menyambut surat itu kemudia dibacanya dengan seksama, Tidak lupa dia memeriksa cap kerajaan yang tertera di bawahnya Setelah itu dia baru mengembalikannya kepada Siau Po dan berkata.
"Kiranya lolap berhadapan dengan Tuan paduka Gi cian siwi Hu congkoan! Maaf!"
Puas hati Siau Po melihat sikap hwesio tua itu serta mendengar nada suaranya yang penuh hormat, Di dalam hati dia berkata.
--Nah, sekarang kau tentu tidak berani menganggap ringan diriku lagi!
--.
Meskipun demikian, dia tidak menunjukkan sedikit perubahan pun di-wajahnya, Tapi, ketika dia melihat sikap si hwesio tua itu tidak berubah, hatinya menjadi tawar sendiri Terdengar hwesio itu bertanya kembali.
"Wi sicu, kalau menurut sicu, tindakan apa yang harus kita ambil sekarang?"
"Aku ingin menghadap Sri Baginda raja tua untuk mendengarkan perintahnya!"
Sahut Siau Po.
"DuIu, beliau memang mempunyai kekayaan yang tidak terhitung dan kedudukan yang mulia, tapi sejak menyucikan diri menjadi pendeta, semuanya sudah musnah dan hubungannya dengan dunia luar sudah putus, Karena itu, panggilan Sri Baginda raja tua jangan disebut-sebut lagi jangan sampai orang lain yang mendengarnya menjadi kaget dan ketenangannya terganggu karenanya!"
Siau Po diam saja, Dia tidak menyatakan komentar apa-apa.
"Sekarang sebaiknya kau pulang saja dan sampaikan kepada Sri Baginda bahwa Heng Ti tidak bersedia menemuimu Heng Ti juga tidak bersedia menemui orang luar, biar siapa pun orangnya!"
Kata hwesio tua itu.
"Sri Baginda Kong Hi adalah putranya, bukan orang luar,"
Sahut Siau Po dengan berani. Bagian 36
"Tahukah kau apa artinya Jut-ke?"
Tanya Giok Lim taysu.... Siau Po memperhatikan hwesio tua itu lekat-lekat Jut-ke artinya ke luar rumah, Tapi dalam arti kiasan, maksudnya menyucikan diri menjadi pendeta.
"Siapa yang sudah menyucikan diri,"
Kata Giok Lim taysu kembali "Rumah sudah bukan rumah lagi, anak dan isteri pun menjadi orang lain."
Mendengar kata-katanya, Siau Po segera berpikir -Semua ini tentu kau sendiri yang bermain gila dengan berbagai akal muslihat.
Kau ingin menghalang-halangi orang yang ingin menemui kaisar Sun Ti, Andaikan kaisar Sun Ti tidak bersedia kembali ke istana, tidak mungkin dia tidak bersedia bertemu dengan putranya sendiri!
-Dia tidak mengutarakan apa yang tersirat dalam hatinya, hanya berkata.
"Kalau begitu, aku memanggil pasukan tentara untuk melindungi Sri Baginda raja tua. Mereka bisa melarang siapa pun yang bermaksud melakukan pengacauan di sini."
Giok Lim taysu tersenyum.
"Kalau sicu melakukan hal itu, maka Ceng Liangsi langsung berubah menjadi istana kerajaan."
Katanya.
"Dengan kata lain, Ceng Liang si berubah menjadi istana kantor pembesar negeri. Kalau demikian halnya, bukankah lebih baik Heng Ti kembali saja ke istananya di Pe King? Oh, Wi sicu, dengan demikian berarti juga seorang Gi cian siwi hu congkoan menjadi seorang hamba dalam kuil Ceng Liang si."
"Oh, oh.... Rupanya taysu telah mempunyai daya upaya yang lebih sempurna untuk melindungi keselamatan Baginda.,., Baginda raja yang tua? Taysu, aku yang muda masih kurang pengalaman sudilah kiranya taysu mengatakan upaya yang baik itu, agar aku dapat menyuci bersih telingaku ini?"
Kembali Giok Lim taysu tersenyum.
"Wi sicu,"
Katanya.
"Kau memang masih sangat muda, tapi kau benar-benar lihay, Tak heran kalau dalam usia yang begini muda kau telah menjabat pangkat yang tinggi."
Hwesio itu menghentikan kata-katanya sejenak, kemudian baru melanjutkan kembali "Sebenarnya, daya upaya yang sempurna, lolap belum punya, Yang benar, sebagai orang-orang yang sudah menyucikan diri, kami menghindari perselisihan dan pertikaian, kami menyambut kekerasan dengan kelunakan.
Terima kasih atas kebaikan hati sicu yang bersedia melindungi kami.
Tapi, seandainya Ceng Liang si harus mengalami bencana, ini yang dinamakan takdir Siapa pun tidak dapat menghindarinya."
Sembari berkata, hwesio tua itu kembali merangkapkan sepasang tangannya, kemudian dia memejamkan matanya untuk bersemedi lagi.
Melihat keadaan itu, Teng Kong segera berdiri, terus memberi isyarat kepada Siau Po dengan mengedipkan matanya dan menggerakkan tangannya, Setelah itu, dia mengundurkan pintu ke sisi pintu dan menjura kepada Giok Lim taysu.
Siau Po menoIehkan wajahnya untuk menatap Giok Lim taysu sekali lagi, Kemudian dia memencet hidungnya serta mencibirkan bibirnya sebagai tanda mengejek si hwesio yang diartikan bau sekali, Tapi Giok Lim taysu sudah memejamkan kedua matanya sehingga dia tidak melihat apa-apa.
Teng Kong mengajak Siau Po dan pengiringnya ke luar dari kamar itu, sesampainya di luar, dia baru membuka mulutnya.
"Giok Lim taysu adalah seorang hwesio yang berbudi luhur dan usianya juga sudah lanjut sekali."
Katanya.
"Dia telah mencapai kesempurnaan Tentunya dia juga sudah mendapatkan suatu petunjuk. sekarang lolap akan membebaskan Sim Ke, Hon Tio dan yang lainnya, Sicu, di sini saja kita berpisah!"
Selesai berkala, hwesio itu merangkapkan sepasang tangannya untuk memberi hormat.
Denga demikian dia mengartikan bahwa Siau Po dilarang masuk lagi ke dalam kuil Ceng Liang si.
Panas sekali hati Siau Po jadinya.
"Bagus!"
Teriaknya lantang.
"Kalian sudah mempunyai upaya yang bagus, dasar aku sendiri yang banyak mulut!"
Dia segera menyuruh Song Ji mengajak Ie Pat dan yang lainnya turun gunung, Mereka kembali ke kuil Leng Keng si dan bermalam di sana.
Dia disambut dengan hormat dan dilayani dengan baik.
Mungkin karena malam itu kembali dia menderma sebanyak seratus tail.
Tampak Siau Po berdiam di dalam kamarnya, duduk di samping meja sambil bertopang dagu, perasaannya kacau sekali otaknya bekerja keras, Dalam hatinya dia berkata.
--Sri Baginda raja tua telah berhasil ditemukan, namun dia dalam keadaan yang membahayakan.
Lhama dari Tibet hendak membekuknya dan pihak Sin Liong kau ingin menawannya, Di samping itu ada Giok Lim taysu yang banyak macam-macamnya sedangkan kepandaiannya tidak ada.
Tinggal Teng Kong seorang, Apa yang dapat dilakukan oleh kepala hwesio ini?
Aku khawatir beberapa hari lagi Sri Baginda raja tua akan kena diringkus orang dan dibawa pergi.
Kalau hal ini sampai terjadi, bagaimana aku bisa pulang ke Kerajaan dan memberikan pertanggungan jawabku kepada Siau Hian cu?
-Berpikir demikian, Siau Po menoleh kepada Song Ji.
Dia mendapatkan gadis itu berdiri diam dengan sepasang alisnya dirapatkan.
Tandanya dia sedang berduka sekali atau perasaannya kurang puas.
"Eh, Song Ji, mengapa kau kelihatan kurang puas?"
Tanyanya.
"Tidak apa-apa."
Sahut si gadis cilik, Siau Po masih memperhatikan lekat-lekat "Kau pasti sedang memikirkan sesuatu,"
Kata-nya.
"Lekas kau beritahukan kepadaku!"
"Aku benar-benar tidak memikirkan apa pun."
"Ah, aku tahu,"
Kata Siau Po.
"Kau tentunya merasa tidak puas karena di Kerajaan aku memangku jabatan tinggi, tapi sejauh ini aku tidak mengatakannya kepadamu."
Mata si gadis mejadi merah. Dia seperti hendak menangis.
"Kaisar bangsa Tatcu adalah manusia paling jahat di dunia ini."
Katanya dengan tersendat-sendat.
"Siangkong, mengapa kau menerima jabatan itu dan sudi menjadi hambanya?"
Sembari berbicara, airmata si Song Ji sudah bercucuran di kedua belah pipinya yang halus, Siau Po merasa heran.
"Lalu, mengapa kau malah menangis?"
Tanyanya.
"Aih, benar-benar anak tolol."
Song Ji menangis tersedu-sedu.
"Sam nay nay rela menyerahkan aku pada sian kong, dia berpesan agar aku merawatmu. Mendengar kata-katamu, tapi... tapi... ternyata kau bekerja di Kerajaan dan menduduki jabatan yang tinggi pula, Padahal ayah ibuku, ketiga orang saudaraku, semuanya mati di tangan para pembesar jahat bangsa Tatcu."
Saking sedihnya, Song Ji tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi, Siau Po memang cerdas otaknya, tetapi melihat si gadis menangis demikian sedihnya, mau tidak mau dia jadi bingung.
"Ada apa dengan gadis ini?"
"Sudah, sudah!"
Katanya kemudian.
"Sekarang, aku tidak akan menyembunyikan apa-apa darimu lagi, Biar aku katakan terus terang kepadamu. Memang aku menduduki jabatan yang cukup tinggi di Kerajaan, tapi sebenarnya semua itu hanya sandiwara, Kau tahu, aku sebenarnya menjadi hiocu cabang Ceng Bok Tongnya Tian Te hwe. Mengertikah kau makna dari Tian Te hu bo, Hoan Ceng hok Beng" (Langit dan bumi adalah ayah ibu, Ceng digulingkan Beng bangkit kembali)? Guruku adalah Cong tocu dari Tian Te hwe Tentang hal itu aku telah mengatakannya kepada Sam nay nay. Tujuan utama Tian Te hwe kami adalah menentang pemerintahan Ceng, Suhuku menitahkan aku menyelundup ke dalam istana untuk mencari tahu rahasia pemerintah inilah tugas rahasia, kalau sampai bocor, jiwaku akan terancam maut."
Rupanya Song Ji mengerti apa arti kata-kata Tian te hu bo, Hoan Ceng Beng, dia segera mengulurkan tangannya yang halus dan menutup mulut Siau Po.
"Sudahlah, jangan kau berbicara lagi!"
Katanya.
"Aku lah yang bersalah, Sebelum mengerti apa-apa, sudah sembarangan menuduh, Aku seperti memaksa kau bicara terus terang...."
Mendadak dia tertawa dan berkata kembali "Kau orang baik, siangkong, Tidak mungkin kau melakukan perbuatan jahat. Dasar aku memang tolol!"
Siau Po tertawa.
"Kau justru anak cerdik!"
Katanya sembari menarik kedua tangan Song Ji dan diajaknya duduk berdampingan.
Kemudian dengan suara berbisik, dia menceritakan hubungan dan urusan yang menyangkut kaisar Sun Ti dengan Sri Baginda Kong Hi.
"Kau tentu pernah mendengar bahwa raja yang sekarang baru berusia belasan tahun,"
Kata Siau Po melanjutkan keterangannya.
"Dalam usia yang masih begitu belia, dia telah kehilangan ayahandanya yang telah menjadi hwesio. Kaisar Sun Ti tidak memperdulikannya lagi, Coba kau pikir, tidak patutkah dia dikasihani? Hari ini, orangorang yang menangkap si raja tua adalah orang-orang jahat, Untung saja kau turun tangan menoIongnya!"
Song Ji menarik nafas lega.
"Kalau demikian, aku telah melakukan sesuatu yang baik."
Katanya.
"Namun, ada pepatah yang mengatakan "Mengantar Sang Buddha, harus sampai di langit barat"
Kata Siau Po.
"Orang-orang itu sudah dilepaskan oleh Teng Kong hwesio, pasti mereka tidak puas Lain kali mereka akan datang kembali untuk melanjutkan niatnya menawan di raja tua. Coba pikir, kalau mereka berhasil meringkus si raja tua, kemudian membawanya pergi dan memotong-motong tubuhnya untuk dimasak dan dimakan, bukankah celaka dua belas jadinya?"
Siau Po tahu hati Song Ji masih polos sekali, Dengan ucapan dia bermaksud membakar hati orang agar si gadis mengerti kesulitan yang dihadapi kaisar Sun Ti dan menaruh kesan baik terhadap raja yang sudah mengundurkan diri itu serta suka memberikan pertolongan lebih jauh.
Tampaknya si gadis bergidik mendengarkan kata-kata majikannya.
"Mereka mau makan dagingnya si raja tua?"
Tanyanya gugup.
"Kenapa begitu dan untuk apa?"
"Pernahkah kau mendengar kisah tentang si hwesio dari kerajaan Tong yang berangkat ke Tanah barat untuk mengambil kitab suci?"
Bukannya menjawab, Siau Po malah bertanya.
"lya, aku pernah mendengarnya."
Sahut Song Ji.
"Selain hwesio itu, masih ada Sun Go Kong dan Ti Pat Kay...."
"Kau benar. Di sepanjang perjalanan banyak siluman yang ingin makan dagingnya hwesio itu, Menurut cerita itu, hwesio tersebut adalah salah satu dari manusia paling suci di dunia, siapa yang bisa memakan dagingnya, bisa menjadi dewa atau Buddha..."
"Aku mengerti sekarang. Kawanan orang jahat itu ingin menyamakan si raja tua dengan pendeta Tong, kawanan orang jahat itulah para silumannya, sedangkan aku adalah Sun Go Kong dan kau,., kau,.,."
Siau Po mengangkat kedua telapak tangannya dan direntangkan di bawah telinga kemudian digoyang-goyangkannya, Song Ji yang melihat lagaknya tidak menjadi marah, dia malah tertawa.
"Oh, kau maksud aku adalah Ti Pat Kay, si siluman babi?"
Katanya. Siau Po tertawa dan berkata dengan cepat "Wajahmu secantik Kwan In Pou sat, tapi kau sedang menjalankan peranan si siluman babi...."
Song Ji tersenyum sambil menggoyangkan tangannya.
"Jangan sembarangan menyebut nama Kwan Im Pou sat yang maha suci,"
Katanya mencegah.
"Justru engkau, siangkong, yang mirip dengan Siancay Tong-cu Ang Hay ji yang selalu mendampingi dewi Kwa Im itu, aku sendiri hanya...."
Berkata sampai di sini, ucapan si Song Ji jadi berhenti dengan sendirinya, wajahnya menjadi merah padam saking jengahnya. Siau Po tersenyum.
"Tepat, tepat!"
Katanya.
"Aku menjadi Sianca Tongcu Ang Hay ji dan kau adalah Siau Liong ! Kita berdua akan selalu bersama-sama, siapa pun tidak bisa memisahkan kita."
Siancay Tongcu Ang Hay Ji dan Siau Liong adalah sepasang pelayan laki-laki dan perempuan yang mengikuti dewi Kwan Im. Wajah Song Ji semakin merah.
"Aku pasti akan melayani kau,., untuk selama-lamanya..."
Katanya dengan suara lirih.
"Ke.,, cuali kau sudah tidak menginginkan... aku lagi dan mengusirku...."
Siau Po mengangkat tangannya ke arah leher dan dibuat seakan sebilah pisau yang akan menggorokannya.
"Meskipun batang leherku ini dipotong, tidak mungkin aku mengusirmu, Ke... cuali kau sendiri yang tidak sudi mengikuti aku lagi dan kabur secara diam-diam."
Si gadis cilik mengikuti gerakan tangan Siau Po. ..
"Meskipun batang leherku ini dipotong, aku tidak akan pergi darimu."
Katanya.
Siau Po memperhatikan Song Ji.
sedangkan si gadis cilik itu juga menatap ke arahnya, Kemudian keduanya tertawa geli.
Semenjak diserahkan oleh Sam nay nay kepada Siau Po, Song Ji selalu pandai membawa dirinya sebagai seorang budak.
Dia tidak berani bercanda secara kelewatan atau bergurau dengan majikannya.
Sekarang, setelah mengetahui rahasia Siau Po.
Dia baru berani bersikap jenaka dan tertawa bersama.
Dalam hatinya, dia juga merasa senang, Dia percaya penuh kepada Siau Po.
Dengan demikian, otomatis hubungan mereka semakin erat "Sudahlah,"
Kata Siau Po kemudian.
"Urusan mengenai kita berdua telah diselesaikan Sekarang, bagaimana caranya kita menolong pendeta Tong?"
Yang dimaksudkan tentu saja bukan pendeta Tong yang sebenarnya, tapi kaisar Sun Ti. Song Ji tertawa.
"Menolong pendeta Tong adalah tugas Ci Thian Tayseng."
Katanya, Ci Thian Tayseng adalah gelar Sun Go Kong yang artinya Nabi besar setara Langit "Karena itu, seharusnya Ci Thian Tayseng yang mengutarakan jalan pikirannya, Ti Pat Kay tinggal menurut saja!"
Siau Po tertawa.
"Kalau Ti Pat Kay secantik dirimu, aku khawatir pendeta Tong itu tidak mau menjadi hwesio lagi. katanya.
"Kenapa?"
Tanya Song Ji.
"Karena pendeta Tong itu pasti mengambil T Pat Kay untuk menjadi istrinya."
Song Ji tertawa geli.
"Ti Pat Kay adalah siluman babi, siapa yang sudi menikah dengannya?"
Katanya.
Mendengar kata-kata Song Ji, Siau Po langsung terdiam.
Dia ingat Jin Som Hok Leng Ti, babi yang dikirim Cian laopan yang di dalamnya berisi Kia Peng.
otaknya langsung memutar, di mana kira-kira Kiam Peng dan Piu Ie sekarang berada.
Apakah keadaan mereka baik-baik saja?
Song Ji heran melihat sikap Siau Po yang tiba-tiba berubah.
Gadis itu memperhatikan secara diam-diam Tidak berani dia mengganggunya, Hanya sekejap saja, terdengar bocah tanggung itu berkata kembali.
"Benar! Kita harus memikirkan upaya yang baik, Tidak bisa kita biarkan si raja tua dibekuk oleh orang-orang jahat Nah, Song Ji, coba, aku ingin mendengar pendapatmu, umpamanya kita mempunyai suatu barang yang sangat berharga dan banyak penjahat yang mengincarnya, apa yang harus kita lakukan agar penjahat itu tidak berhasil mencurinya?"
"Kalau kita memergoki para penjahat itu sedang bekerja, kita bekuk saja mereka semua!"
Sahutnya singkat. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Akalmu itu kurang sempurna."
Katanya.
"Seharusnya kita sendiri yang menjadi pencurinya!"
Song Ji heran mendengar ucapannya sehingga dia menatap Siau Po dengan tajam.
"Kita sendiri yang menjadi pencurinya?"
Tanyanya menegaskan.
"Benar!"
Kata Siau Po tegas.
"Kita mendahului mereka turun tangan, itu baru akal yang bagus!"
Song Ji masih belum mengerti juga. "Kalau kita mendahului orang-orang itu mencurinya, bukankah para penjahat itu tidak bisa mendapatkan apa-apa?"
Kata Siau Po sambil memperhatikan wajah pelayannya yang cantik itu. Song Ji bertepuk tangan sambit tertawa, sekarang dia baru mengerti maksud Siau Po.
"Aku mengerti sekarang!"
Serunya.
"Kau bermaksud menyuruh aku menculik si raja tua, bukan?"
"Dugaanmu tepat sekali!"
Kata Siau Po membenarkan "Kita tidak boleh membuang waktu, sebaiknya kita bekerja sekarang juga!"
Song Ji setuju, Dia segera berdiri dan bersama-sama Siau Po, keduanya ke luar kamar dan menuju luar kuil Ceng Liang si.
"Cuaca masih belum gelap."
Kata Siau Po, Dia memperhatikan langit "Sebaiknya kita tunggu saja sebentar lagi!"
Song Ji menurut saja.
Keduanya segera mencari pepohonan yang rimbun untuk tempat menyembunyikan diri.
Waktu perlahan-lahan merayap, Akhirnya sang malam yang gelap datang juga, Siau Po mengajak Song Ji ke luar dari tempat persembunyian.
Pada saat itu, keadaan di seluruh pegunungan itu sudah sunyi senyap.
"Di dalam kuil hanya Teng Kong Hong tio yang mengerti ilmu silat."
Kata Siau Po kepada pembantunya.
"Tapi sekarang dia dalam keadaan terluka, dan tampaknya luka hwesio itu tidak ringan Kemungkinan dia sedang beristirahat atau mengobati lukanya dalam kamar. Dengan demikian, tugasmulah melayani si hwesio bertubuh raksasa itu. Kau harus menotoknya sehingga tidak berdaya supaya aku bisa menculik si raja tua. Namun kau harus berhati-hati, senjata Heng Tian si raksasa besar sekali dan berat pula, dia dapat menggunakan senjata itu dengan sempurna...."
Song Ji menganggukkan kepalanya.
"Aku mengerti."
Sahutnya, Tampaknya dia tidak takut sama sekali.
Setelah merasa yakin di sekitarnya tidak ada siapa-siapa, Siau Po mengajak Song Ji menghampiri tembok pekarangan wihara tersebut Dengan mudah mereka melompatinya, lalu masuk ke halaman dalam.
Mereka langsung menuju rumah tempat Heng Ti bersemedi.
Tampak pintu rumah itu sudah ditutup kembali, Hanya bagiannya yang rusak akibat penyerbuan di siang harinya masih belum sempat diperbaiki.
Jadi pintu itu seperti untuk menghalangi angin saja.
Song Ji berjalan di depan, mendekati pintu rumah kemudian menggesernya ke kiri perlahan-lahan.
Baru saja pintu itu bergerak, tiba-tiba berkelebatan bayangan berwarna kuning keemasan.
Ternyata toya Kim Hong Cu sudah menyerangnya dengan hebat Song Ji melihat datangnya bahaya, tapi dia dapat menghindarkan diri dengan mudah, Gadis itu bukannya mencelat mundur, tetapi sepasang kakinya menutul lalu menerjang memasuki rumah.
Dengan demikian, dia jadi menghampiri Heng Tian penyerangnya itu yang tenaganya seperti raksasa, Dengan mudah Song Ji berhasil menotok dada Heng Tian sambil berkata dengan perlahan.
"Maaf!"
Sedangkan tangannya yang satu lagi digunakan untuk merampas toya hwesio itu.
Heng Tian tidak berdaya lagi, Perlahan-tahan tubuhnya terkuIai, bahkan sebelah kakinya menindih toyanya sendiri, sebab sulit bagi Song Ji memeganginya terusterusan.
Tepat pada saat itulah, Siau Po menghambur ke depan pintu untuk menyingkirkannya dan masuk ke dalam, Seluruh ruangan itu gelap gulita, meskipun demikian, samar-samar tampak sesosok bayangan yang sedang duduk bersila, Siau Po merasa yakin bahwa orang itulah si raja tua Sun Ti yang telah menjadi hwesio dan mengganti namanya menjadi Heng Ti.
Dia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan hwesio itu dan menyembah kepadanya sambil berkata.
"Lo ongya, budakmu ini bernama Wi Siau Po. Orang yang tadi siang menolong Lo hongya dari ancaman maut, Oleh karena itu, harap Lo hongya tidak terkejut melihatku!"
Siau Po bersikap sopan sekali Dia menyebut hwesio tua itu dengan panggilan Lo hongya atau si raja tua.
Heng Ti diam saja, Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, Siau Po tetap bersabuk.
Dia berkata kembali.
"Lo hongya bersemedi di sini, memang bagus sekali ini merupakan tempat suci dan tenang, Tetapi di luar sana banyak orang jahat, mereka ingin menawan Lo hongya, Mereka akan melakukan sesuatu yang merugikan Lo hongya, Karena itu, budakmu ini bermaksud melindungi Lo hongya, agar Lo hongya dapat pindah ke suatu tempat yang aman, Dengan demikian orang-orang jahat itu tidak dapat menemukan Lo hongya atau pun menawan Lo hongya lagi."
Hwesio itu masih berdiam diri saja.
"Lo hongya, sudilah kiranya Lo hongya berangkat bersama-sama budakmu ini!"
Kata Siau Po kembali.
Heng Ti masih berdiam diri.
Tidak sepatah kata pun ke luar dari mulutnya, Siau Po memperhatikan hwesio itu lekat-lekat Dia melihat hwesio itu duduk bersila dan gayanya persis dengan Giok Lim taysu, Dia tidak bisa menduga apakah hwesio itu pura-pura tuli atau memang sudah kosong pikirannya .
Setelah menunggu sekian lama dan belum terlihat hasil apa-apa, Siau Po berkata kembali.
"Lo hongya, rahasia Lo hongya telah terbuka, Tidak ada seorangpun dalam kuil Ceng Liang si ini yang dapat melindungi Lo hongya. sedangkan pihak musuh, setelah rombongan yang pertama pergi, pasti datang lagi rombongan yang kedua. Demikianlah seterusnya dan akhirnya, Lo hongya! Karena itu sebaiknya Lo hongya pindah semedi di tempat lain saja!"
Heng Ti masih tetap membungkam. Tiba-tiba, Heng Tian yang ditotok oleh Song Ji membuka suaranya.
"Kalian berdua masih kanak-kanak, kalian adalah orang baik-baik."
Katanya.
"Tadi siang kalian sudah menolong aku. Tentang suhengku ini, dia sedang melakukan apa yang dinamakan semedi Ko Sian, karenanya dia tidak boleh berbicara dengan siapa pun, Ke mana kalian hendak membawanya pergi?"
"Kemana pun boleh, asal tempat yang disuka oleh suhengmu ini!"
Sahut Siau Po cepat "Kau akan mengantarkannya.
Asal tempat itu aman dan tidak terjangkau oleh orang-orang jahat, Dengan demikian beliau bisa melanjutkan semedinya dengan tenang, kalian pun bisa membaca doa sesuka hati."
"Kami berdua bukan membaca doa!"
Sahut Heng Ti menjelaskan "Baik, bukan baca doa, ya bukan baca doa!"
Kata Siau Po yang kemudian berkata kepada Song Ji.
"Lekas kau bebaskan totokan taysu ini!"
Song Ji menurut Dia segera menepuk punggung Heng Tian beberapa kali, Dengan demikian totokannya pun terbebas, Dia dapat menggerakkan seluruh tubuhnya Iagi.
Heng Tian tidak lalu bersikap keras atau garang.
Dia memberi tempat kepada kaisar Sun Ti.
"Suheng, kedua bocah ini meminta kita berdua meninggalkan tempat itu untuk sementara!"
"Tapi, suhu tidak menyuruh kita meninggalkan Ceng Liang si."
Sahut Heng Ti menjawab ucapan adik seperguruannya, padahal ketika Siau Po menyapa nya berulang kali, dia malah diam saja, Baru sekarang Siau Po berhasil mendengar suara Heng Ti yang jelas dan terang.
"Bukannya begitu."
Kata Heng Tian.
"Kalau musuh datang kembali dengan jumlah yang lebih banyak, kedua bocah ini pasti tidak bisa melindungi kita lagi."
"Suasana itu muncul dari dalam hati."
Kata Heng Ti.
"Bicara tentang bencana, bencana itu bisa timbul dimana pun juga. Asal hati merasa tenang, dimana pun kita berada, kita akan memperoleh ketenangan."
Heng Tian jadi tertegun mendengar kata-katanya.
"Apa yang dikatakan suheng benar juga."
Katanya kemudian, Kemudian dia menoleh kepada Siau Po dan Song Ji.
"Suheng tidak mau pergi. Kalian sudah mendengarnya sendiri...."
Sepasang alis Siau Po menjungkit ke atas.
"Bagaimana kalau musuh-musuh jahat itu datang kembali lalu mereka menawan kalian dan menyiksa kalian berdua? Apa yang dapat kalian lakukan saat itu?"
"Manusia di dalam dunia ini, tidak ada yang tidak mati."
Sahut Heng Tian.
"Hidup lebih lama beberapa tahun atau kurang beberapa tahun, tidak ada perbedaannya."
"Kalau begitu, semua juga tidak ada perbedaannya."
Kata Siau Po yang mulai kesal.
"Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati, Orang laki-laki dan orang perempuan juga sama saja, Kalau begitu, apakah tidak ada perbedaan apa-apa antara hwesio, kura-kura atau ayam?"
"Semua makhluk di dunia ini sama, tidak ada yang berbeda dimata Sang Buddha."
Sahut Heng Tian. Siau Po berdiam diri, Dalam hatinya dia ber-kata.
"Pantas mereka mendapat gelar yang aneh. Yang satu disebut Heng Ti, si dungu dan satunya lagi Heng Tian, si edan, Mereka memang dungu, toloI, gila sekaligus edan, Karena itu, rasanya tidak mungkin memaksakan kehendak pada diri kedua orang ini. Kalau Heng Ti ditotok sehingga tidak berdaya, kemudian dibawa pergi, perbuatan ini sungguh tidak sopan, lagipula mudah dipergoki orang..."
Siau Po menjadi kebingungan dan habis kesabarannya, Dengan sengit dia berkata.
"Kalau semua tidak ada perbedaannya, berarti Hou Kong Honghou dan Toan Keng Hong hou juga sama saja, buat apa menyucikan diri menjadi pendeta?"
Tiba-tiba Heng Ti melonjak bangun.
"Kau... apa yang kau katakan barusan?"
Tanyanya dengan suara bergetar. Setelah mengeluarkan kata-kata itu, Siau Po menjadi menyesal. Ketika ditanyakan oleh Heng Ti, dia segera menjatuhkan dirinya berlutut dan menjawab.
"Hamba hanya mengoceh sembarangan harap Lo hongya tidak menjadi gusar...."
Memang benar, saking sengitnya Siau Po menyebut nama kedua permaisuri raja tua itu.
"Segala yang telah berlalu, sejak lama aku sudah melupakannya."
Kata Heng Ti.
"LagipuIa, mengapa kau memanggil aku dengan sebutan seperti itu? Lekas kau bangun, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu!"
"lya,"
Sahut Siau Po yang langsung bangkit, Di dalam hatinya, diam-diam dia merasa senang, Akhirnya kau kena diakali juga dan bersedia bicara, Mungkin aku akan berhasil...
"Dari mana kau mendengar tentang kedua permaisuri itu?"
Tanya Heng Ti.
"Budak mendengarnya dari pembicaraan antara Hay Tay Hu dan Thay hou."
Sahut Siau Po.
"Oh, kau kenal dengan Hay Tay Hu?"
Tanya mantan raja itu.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia telah dibunuh oleh Hong Thay hou."
Sahut Siau Po.
"Apa? Dia telah mati?"
Seru Heng Ti saking terkejutnya.
"Dengan pukulan Hoa Kut Bian Ciang, Thay hou telah membinasakannya."
Sahut Siau Po dengan nada yang jelas.
"Bagaimana kau bisa tahu Hong thay hou mengerti ilmu silat?"
Tanya Heng Ti dengan perasaan heran.
"Hay Tay Hu dan Hong Thay Hou bertarung di dalam taman bunga Cu Leng kiong, ketika itu budakmu menyaksikannya dengan mata kepala sendiri."
Sahut Siau Po terus terang.
"Siapa kau sebenarnya?"
Tanya mantan raja itu kembali.
"Hamba adalah Gi ri suwi Hu Congkoan, Wi Siau Po."
Sahut si bocah tanpa menutupi lagi, Rupanya dia merasa kata-katanya itu perlu didukung bukti yang cukup kuat, Karena itu dia segera mengeluarkan surat yang ditulis oleh kaisar Kong Hi.
"Pangkat itu dianugerahkan oleh Sri Baginda yang sekarang, Di sini pun ada sepucuk surat yang ditulis Sri Baginda sendiri."
Siau Po menyodorkan surat itu, Heng Ti hanya berdiri terpaku, Dia tidak menyambut surat yang disodorkan Siau Po.
"Di sini selamanya tidak ada penerangan."
Kata Heng Tian mewakili suhengnya menjawab. Heng Ti menarik nafas panjang, Kemudian dia baru bertanya.
"Bagaimana keadaan si raja kecil, apakah dia baik-baik saja? Senangkah dia menjadi raja?"
Siau Po menjawab dengan cepat.
"Ketika Sri Baginda mengetahui Lo hongya masih hidup, dia menyesali dirinya yang tidak mempunyai sayap agar bisa terbang ke mari secepatnya, Di dalam istana, Sri Baginda menangis menggerung-gerung, tetapi di samping kesedihannya, dia juga merasa gembira, Sri Baginda langsung mengatakan bahwa dia akan datang ke Ngo Tay san ini, namun akhirnya dia membatalkan niatnya karena khawatir urusan pemerintahan jadi berantakan apabila ditinggalkan oleh beliau, itulah sebabnya Sri Baginda mengutus budakmu ini datang terlebih dahulu untuk menjenguk dan menanyakan kesehatan Lo hongya, Nanti, sekembalinya budakmu ke istana, Sri Baginda sendiri yang akan datang ke mari."
"Dia... dia tidak perlu datang!"
Kata Heng Ti dengan suara bergetar "Dia seorang raja yang bijaksana, yang dapat mendahulukan kepentingan negara.
Tidak seperti aku,.,." Sampai di sini, si raja tua menangis terisak-isak, Air matanya mengalir dengan deras sehingga jubahnya basah kuyup.
Mendengar suara tangisan itu, tanpa sadar Song Ji juga mengalirkan airmata, Rupanya dia teringat akan kedua orang tuanya dan dirinya yang sudah sebatang kara.
Siau Po merasa kesempatan yang baik itu tidak boleh disia-siakan Bukankah hati si raja tua ini sedang tergugah?
Karena itu, dia segera berkata lagi.
"Hay Tay Hu telah mengadakan penyelidikan yang jelas, Mula-mula Hong thayhou menganiaya pangeran Eng Cin Ong sampai mati, Kemudian dia membunuh Toan Keng Honghu dan dia juga membunuh adiknya yakni selir Ceng Hui. Ketika Hong Thayhou mengetahui rahasia telah bocor, dia membunuh Hay Tay Hu sekalian. Terakhir dia mengirim orang-orangnya dalam jumlah yang banyak ke Ngo Tay san ini untuk mencelakai Lo hongya."
"Aih, bicaramu berlebihan.."
Kata Heng Ti sembari menarik nafas panjang.
"Sudah terang Toan Keng Honghou mati karena sakit, mengapa kau mengatakan Hau Kong Honghou yang membunuhnya?"
Siau Po tidak mau kalah bicara.
"Kalau seseorang mati sakit, seluruh tubuhnya tentu akan lurus tanpa cacad sedikit pun."
Katanya.
"Tidak mungkin tulang belulang di tubuhnya patah dan uratnya putus."
Mendengar kata-kata si bocah, Heng Ti membayangkan kembali saat kematian permaisurinya, Ketika itu jari-jemari tangan Toan Keng Hongho tidak dapat digerakkan Bahkan ketika dia memondongnya, tubuh itu lemas sekali seperti tidak bertulang.
Tadinya, dia mempunyai dugaan, hal ini terjadi karena penyakit yang diderita permaisurinya terlalu parah.
Sekarang, setelah mendengar keterangan Siau Po, hatinya tercekat.
Dia teringat saat-saat yang telah berlalu itu.
Tanpa terasa, keringat dingin membasahi keningnya.
"Ya, ya... rasanya memang tidak wajar."
Katanya lirih.
Siau Po menuturkan kembali pembicaraan antara Hay Tay Hu dan Thay hou yang didengarnya malam itu, Dia memang pandai bicara, ceritanya menjadi jelas dan menarik, Kata-katanya meresap dalam hati si raja tua yang sudah menjadi hwesio itu.
Kaisar Sun Ti sangat menyayangi Teng gok hui.
Setelah selirnya itu menutup mata, dia tidak sudi lagi menjadi raja, ia meninggalkan kedudukannya yang maha mulia untuk pergi mengasingkan diri dalam ruang yang sunyi senyap serta menjalani hidup dalam kesengsaraan Meskipun sedang bersemedi bayangan Teng Gok hui masih sering hadir di dalam pelupuk matanya, Sekarang, setelah mendengar cerita Siau Po, dia sampai lupa bahwa dirinya saat ini sudah menjadi biku, Dia merasa sedih serta penasaran, nafasnya jadi sesak membayang kan Hay Tay Hu dan Thay hou.
Selesai bercerita, Siau Po menambahkan.
"Hong Thay hou ternyata tidak mau bekerja kepalang tanggung, setelah mencelakai Lo hongya, dia juga berniat membinasakan Sri Baginda, bahkan dia juga bermaksud membongkar kuburan Toan Keng honghou, Dia ingin membakar sampai musnah buku Toan Keng Honghou yang menurutnya isi di dalamnya hanya segala angin busuk, Dia telah mengeluarkan ancaman, barang siapa yang menyimpan buku itu, selain akan disita, seluruh keluarganya pun akan dijatuhi hukuman mati."
Kata-kata Siau Po yang belakangan hanya karangan belaka tapi justru menikam hati mantan kaisar Sun Ti.
Raja yang telah menjadi hwesio itu langsung dilanda kegusaran yang tidak terkatakan.
Sambil menepuk pahanya keras-keras, dia berseru.
"Oh, perempuan hina itu! Seharusnya.,, aku... aku pecat dia sejak dulu! Tidak disangka, karena kebimbangan sesaat, akibatnya jadi begini...."
Dulu, Kaisar Sun Ti memang mempunyai pikiran untuk memecat permaisuri dan mengangkat Teng Gok hui selir kesayangannya sebagai penggantinya, Tapi keinginannya selalu ditentang oleh Hong Thay hou.
seandainya Teng Gok Hui tidak menutup mata, mungkin sekarang dialah yang menjadi permaisuri Siau Po melanjutkan kembali kata-katanya.
"Hati Lo hongya telah tawar sehingga memilih kehidupan seperti sekarang ini, mungkin bagi Lo hongya sekarang, mati atau hidup tidaklah ada perbedaannya, Namun, tidak demikian halnya dengan Sri Baginda yang masih muda, Kuburan Toan Keng honghou tidak boleh di rusak dan buku catatannya sama sekali tidak boleh dimusnahkan!"
"Benar! Apa yang kau katakan memang benar,"
Sahut Heng Ti yang sudah terkena pengaruh cerita si bocah.
"Oleh karena itu, Lo Hongya, sudah seharusnya Lo Hongya berlalu dari tempat ini untuk menyelamatkan diri, Lo hongya harus menyingkir dari tangan jahat Thay hou,"
Kata Siau Po kembali "Rencana Hong thay hou yang pertama adalah menyingkirkan Lo hongya, kemudian Sri Baginda yang masih muda, Dan yang terakhir adalah membongkar kuburan Toan Keng honghou, Asal rencananya yang pertama mengalami kegagalan, dia pasti tidak berani mewujudkan rencananya yang lain lagi."
Mendengar sampai di sini, habis sudah kesadaran pikiran mantan Kaisar Sun Ti.
"Untung ada engkau,"
Katanya pada si bocah.
"Kalau tidak, semua bisa celaka. Adik, mari kita pergi!"
"Baik."
Sahut Heng Tian. Tangan kanannya mencekal senjatanya yang berat, sedangkan tangan kirinya menolak daun pintu, Begitu daun pintu terbentang, tampak seorang hwesio berdiri menghadang jalan ke luar itu.
"Siapa?"
Tegur Heng Tian sebelum sempat melihat wajah orang itu. Malah senjatanya sudah diangkat dan siap digerakkan "Mau ke mana kalian?"
Tanya hwesio itu tanpa memperdulikan teguran Heng Tian, Heng Tian terkejut.
"Oh, suhu!"
Serunya tertahan Dia segera melemparkan senjatanya dan merangkapkan sepasang tangannya untuk memberi hormat.
"Suhu!"
Heng Ti juga segera menyapa hwesio itu yang ternyata Giok Lim taysu.
"Aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian,"
Katanya dengan nada sabar. --oh, celaka --, gerutu Siau Po yang merasa menyesal "Urusan penasaran dalam dunia ini harus dipecahkan dengan kesabaran, semuanya harus dihilangkan dan dilupakan,"
Kata Giok Lim taysu kembali "Menyingkir bukan jalan ke luar yang sempurna, Ada sebab, pasti ada akibat, Sekali dosa sudah menyertai tubuh kita, maka seluruh yang ada dalam diri kita merupakan dosa."
Heng Ti menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Giok Lim taysu.
"Suhu benar, tecu (murid) sudah mengerti sekarang."
Katanya.
"Mungkin masih belum mengerti sekali,"
Kata Giok Lim taysu.
"Kalau bekas istrimu itu datang mencarimu, biarkanlah dia datang. Sang Buddha kita maha Pengasih, Beliau dapat membawa pengikutnya ke tempat yang aman. Katanya dia masih penasaran kepadamu, membencimu, bahkan ingin membunuhmu Kalau kau menyingkir dosa itu tetap ada. Kalau kau mengutus orang membunuhnya, dosamu semakin berat."
"lya, benar!"
Sahut Heng Ti yang tubuhnya basah oleh keringat dingin.
-Ah!
Dasar bangsat gundul tidak tahu diri!
--maki Siau Po dalam hatinya, Dia merasa panas sekali karena hwesio tua ini bermaksud menggagalkan usahanya, --Kalau aku mencacimu, menghajarmu dan membunuhmu, apakah kau akan membiarkan nya ?
Apakah kau mengijinkan aku memenggal kepalamu yang gundul itu?
-Terdengar Giok Lim taysu berkata kembali "Mengenai Ihama dari Tibet yang ingin menawanmu, berarti ia mencari dosa untuk dirinya sendiri Dia ingin mencelakai rakyat jelata, dia ingin merampas dunia, Dalam hal ini, kita memang tidak boleh membiarkan ia berbuat sesuka hatinya, sekarang ini, kalian tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini sebaiknya kalian ikut aku ke kuil kecil di belakang!"
Selesai berkata, Giok Lim taysu langsung membalikkan tubuhnya lalu berjalan pergi Heng Ti dan Heng Tian segera mengikuti di belakang gurunya, Siau Po yang hatinya panas, langsung berpikir -Kalau usahaku ini sampai gagal, sekembalinya kerajaan nanti, aku tidak bisa memberikan pertanggungjawaban kepada-sang raja cilik, percuma aku dianugerahi baju Makwa kuning.
sebaiknya aku ikut saja dengan mereka!
-Siau Po mengajak Song Ji berjalan di belakang ketiga hwesio itu.
setibanya di kuil kecil yang dimaksudkan, Giok Lim taysu tetap tidak memperdulikan Siau Po dan Song Ji.
Malah seakan dia tidak melihat mereka berdua sama sekali.
Hwesio itu langsung duduk bersemedi dan Heng Ti pun mengikuti tindakannya itu.
Heng Tian melihat ke sekitarnya, dia mencari alas duduk untuk bersemedi tetapi dia tidak berhasil menemukan satu pun.
Terpaksa dia duduk bersemedi tanpa alas disamping kakak seperguruan nya.
Kalau Giok Lim taysu bersemedi dengan memejamkan kedua matanya dan tanpa bergeming sedikit pun, Heng Tian justru sempat celingak-celinguk ke sana ke mari, dan menatap ke atas.
Akhirnya dia baru memejamkan kedua matanya dan meletakkan kedua tangannya di atas dengkul kakinya, namun sikapnya tetap tidak bisa khusuk karena sesekali tangannya meraba senjata yang dikhawatirkan akan hilang.
Heng Ti sendiri duduk mematung seperti gurunya.
Siau Po memberi isyarat kepada Song Ji dengan gaya yang lucu, dia segera duduk bersila di dekat Heng Tian, Song ji menuruti perbuatannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Watak Siau Po memang mirip si Raja kera Sun Go Kong yang tidak pernah biasa diam.
Duduk berdiam diri terlalu lama merupakan siksaan yang tak terkatakan baginya, Mungkin lebih menderita dari pada kehilangan jiwanya sekali pun, Dia juga bingung menghadapi perubahan sikap Heng Ti yang dipengaruhi gurunya itu, Setelah duduk berdiam diri sekian lama, akhirnya dia menoleh ke sana ke mari, lalu menarik telapak tangan Song Ji dan digelitikinya.
Song Ji kegelian, tapi gadis itu berusaha untuk menahan dirinya agar jangan sampai tertawa.
Sementara itu, Siau Po berpikir kembali dalam hatinya.
--Tampaknya Heng Ti sudah berniat mengikuti ucapan gurunya, bagaimana baiknya sekarang?
sebaiknya aku tunggu terus, masa hwesio tua itu tidak ingin membuang air kecil atau air besar?
Asal dia pergi, aku akan membujuk Heng Ti agar melarikan diri dari tempat ini....
Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po menguarkan hatinya untuk duduk terus bersama yang lainnya.
Ruangan itu sejak semula tetap sunyi senyap, Tidak lama kemudian terdengar suara derap langkah kaki sedang mendatangi.
Bahkan semakin lama suara itu semakin jelas, Kalau ditilik dari suaranya, jumlah orang yang datang itu tidak sedikit dan tujuannya sudah pasti kuil Ceng Liang si.
Rupanya Heng Tian juga sudah mendengar suara itu.
Dia segera menyambar senjatanya dan mementangkan matanya lebar-lebar untuk mengawasi keadaan di luar kuil kecil itu.
Tampak Giok Lim taysu, si hwesio tua itu masih duduk bersemedi tanpa bergerak sedikit pun.
Ketika Heng Tian melihat sikap gurunya itu, dia segera meletakkan senjatanya kembali dan duduk bersemedi dengan mata terpejam.
Sementara itu, Siau Po juga sudah mendengar suara gemuruh langkah kaki orangorang berlarian ke sana ke mari, Rupanya orang-orang itu sedang mencari sesuatu, Mungkin karena tidak berhasil menemukan apa yang dicarinya, sampai sekian lama suara itu masih terdengar juga.
--jelas mereka datang ke kuil Ceng Liang si ini untuk mencari Lo hongya -pikirnya, Kalau mereka tidak berhasil menemukannya dimana-mana, akhirnya mereka pasti mencari ke tempat ini juga, Baiklah, bangsat tua berkepala gunduI!
Aku ingin lihat bagaimana caramu menghadapi orang itu nanti!
Keadaan di kuil itu masih demikian mencekam, Giok Lim taysu masih bersemedi dengan tenang, Beberapa saat kemudian, suara berisik itu tidak terdengar lagi, Hanya terdengar langkah kaki orang-orang yang mendatangi kuil kecil itu, Bahkan dalam sekejap mata, mereka pun sudah sampai.
"Geledah kuil itu!"
Terdengar seseorang berteriak dengan suara lantang.
Heng Tian langsung melompat bangun, Dia menyambar senjatanya kemudian menghambur ke depan pintu kuil serta berdiri tegak di tengah-tengahnya dengan sikap menghadang.
Siau Po juga langsung berdiri, lalu berlari ke jendela untuk melihat ke luar.
Di bawah cahaya rembulan tampak segerombolan orang yang seakan hanya bagian kepalanya yang terlihat jelas, Bocah tanggung itu menoleh kepada Giok Lim taysu, Tampak Hwesio tua itu bersama Heng Ti tetap duduk tanpa bergeming sedikitpun.
"Bagaimana sekarang?"
Tanya Song Ji kepada tuan mudanya, Gadis itu juga ikut pergi ke bawah jendela.
"Kita tunggu sampai gerombolan itu menyerbu masuk,"
Kata Siau Po. ucapannya lirih sekali.
"Setelah itu kita tolong si Raja tua dan kita bawa lari lewat pintu belakang."
Song Ji menganggukkan kepalanya, Siau Po melanjutkan kembali kata-katanya.
"Kau ingat, apabila sebentar lagi kita terpaksa berpisah, nanti kita harus berkumpul lagi di kuil Leng Keng si."
Kembali Song Ji mengganggukkan kepalanya.
"Tapi... aku khawatir tidak kuat menggendong si Raja tua terlalu lama,"
Katanya, "Kalau keadaannya terpaksa sekali, kau seret saja.,."
Kata Siau Po. Tepat pada saat itulah di luar kuil terdengar suara yang berisik.
"Hai, siapa itu yang bergerak sembarangan?"
"Bekuk dia!"
"Jangan biarkan dia lolos!"
"Celaka! Cepat tangkap!"
Kemudian Siau Po melihat dua sosok bayangan yang berkelebat melewati Heng Tian dan terus menerobos ke dalam kuil, setibanya di dalam, mereka segera memberi hormat kepada Giok Lim taysu lalu duduk bersemedi di sampingnya.
Ternyata mereka dua orang hwesio berjubah abu-abu.
Anehnya, meskipun ada Heng Tian yang tubuhnya begitu tinggi besar, kedua hwesio itu bisa menyusup masuk tanpa menemui kesulitan apa-apa.
Tiba-tiba di luar kuil terdengar lagi suara teriakan "Ada lagi orang yang datang!"
"Halangi!"
"Cepat bekuk!"
"Buk! Buk!"
Yang terdengar belakangan ini adalah suara tubuh orang yang terbanting di atas tanah.
Setelah itu, kembali tampak dua sosok berjubah abu-abu menerobos memasuki kuil seperti kedua orang yang pertama, mereka juga memberi hormat kepada Giok Lim taysu lalu duduk bersila di sudut ruangan.
Sejak awal hingga akhir tidak terdengar seorang pun dari mereka yang membuka muIutnya.
Lalu, setiap kali terdengar suara bentakan yang berisik, pasti ada pasangan hwesio yang menerobos memasuki kuil dan meniru tindakan keempat orang hwesio yang pertama.
Dengan demikian, ruang yang kecil itu menjadi sempit pasangan hwesio yang menerobos ke dalam sudah mencapai pasangan ke sembilan jadi jumlah semuanya ada delapan belas orang hwesio.
Siau Po segera mengenali, salah satu dari para hwesio itu justru Teng Kong, kepala hwesio di Ceng Liang si.
Diam-diam dia menjadi heran juga gembira.
Hatinya agak lega, dan kagum melihat kepandaian para hwesio tersebut.
Kalau tujuh belas hwesio yang lainnya mempunyai kepandaian yang setaraf dengan Teng Kong saja, biarpun musuh berjumlah lebih banyak lagi, rasanya tidak perlu dikhawatirkan --pikirnya.
Di luar kuil itu, gerombolan tadi kembali menimbulkan suara yang gaduh, tetapi tidak seorang pun yang berani menerobos ke dalamnya, Mereka hanya berkaok-kaok di luar.
Setelah lewat sekian lama, dari luar terdengar suara seseorang yang dapat dipastikan orangnya sudah berusia lanjut dan berbeda dengan suara-suara yang berkaok-kaok sebelumnya.
"Pihak Siau Lim Sie bersikeras hendak membela kuil Ceng Liang si. Apakah hal ini berarti Siau Lim Pai juga bersedia memikul segala tanggung jawabnya?"
Dari dalam kuil tidak terdengar suara sahutan. Sesaat kemudian, terdengar si orang tua berkata kembali.
"Baiklah, Hari ini kami memandang muka terangnya Cap Pek Lohan dari Siau Lim Sie. Nah! Mari kita pergi!"
Gemuruh suara diluar menyusul ucapan si orang tua, tetapi hanya sebentar saja, kemudian suasana menjadi hening kembali Ternyata mereka benar-benar pergi.
Sementara itu, secara diam-diam Siau Po memperhatikan ke delapan belas hwesio yang disebut Cap Pek Lohan (delapan belas Lo han) dari Siau Lim Sie oleh orang tua tadi, Hwesio yang tertua berusia sekitar tujuh atau delapan puluh tahun, Dan yang termuda berusia kurang lebih dua puluhan tahun, Tinggi pendek tubuh mereka tidak sama, demikian pula gemuk atau kurusnya.
Wajah mereka pun ada yang buruk dan ada yang tampan, jubah mereka agak melembung menandakan bahwa mereka membekal senjata masing-masing.
Orang tua tadi menyebut mereka delapan belas lohan, tentunya Teng Kong termasuk salah satu anggota lohan tersebut -pikir Siau Po kembali --Giok Liam taysu, si keledai gundul merasa yakin akan keselamatan Heng Ti.
Dia mengandalkan delapan belas Lohan ini.
Rupanya sejak semula dia sudah mengadakan perjanjian dengan pihak Siau Limsi, Entah sampai kapan mereka akan duduk bersemedi seperti itu?
Masa aku harus mengikuti cara-cara mereka?
--Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po segera bangkit dan menghampiri Heng Ti.
Dia memberi hormat dengan menekuk kedua lututnya.
"Lo suhu, di sini ada Cap Pek Lohan yang menjaga keselamatan Lo suhu, Aku yakin Lo suhu akan baik-baik saja, Karenanya, sekarang aku hendak memohon diri. Apakah Lo suhu mempunyai pesan sesuatu?"
Heng Ti membuka kedua matanya, Dia tersenyum.
"Aku sudah merepotkan dirimu,"
Katanya.
"Pulanglah kau ke kerajaan dan sampaikan pada majikanmu bahwa dia tidak perlu datang ke Gunung Ngo Tay san ini karena hanya akan mengganggu ketenanganku saja. seandainya dia berkeras hendak datang, aku tetap tidak akan menemuinya. Harap kau sampaikan kepadanya, Untuk mencapai keamanan dan ketenangan dalam suatu negara, ada beberapa patah kata yang harus diingatnya baik-baik. Yakni "
Jangan menambah pajak untuk selama-Iamanya. Kalau dia dapat menuruti pesanku ini, berarti dia sudah berbakti kepadaku dan hatiku sudah tidak kepalang gembiranya."
"lya, baik,"
Sahut Siau Po singkat. Heng Ti mengeluarkan sebuah kitab dari balik jubahnya.
"Di sini ada se
Jilid kitab,"
Katanya.
"Serahkanlah pada majikanmu! Katakan kepadanya bahwa segala urusan di dunia ini sebaiknya biarkan berkembang dengan wajar, jangan sekali-sekali dipaksakan. Paling bagus kalau kita bisa membuat rakyat merasa damai dan sejahtera! Dan, seandainya rakyat di seluruh negeri ini menginginkan kepergian kita, sebaiknya kita pergi dan kembali ke tempat asal kita!"
Sembari berkata Heng Ti menepuk bungkusannya perlahan-lahan. Siau Po segera teringat apa yang pernah dikatakan oleh To Hong Eng. --Mungkinkah isinya juga se
Jilid kitab Si Cap Ji Cin keng?
Bibi To mengatakan bahwa ketika bangsa Boan Ciu memasuki kota perbatasan, mereka selalu ingat jumlah rakyatnya yang kecil sekali bila dibandingkan dengan bangsa Han yang jumlahnya besar sekali Jadi, bangsa Bong Ciu belum tentu bisa menduduki Tiong goan untuk selamanya.
Apabila bangsa Bong Ciu berhasil diusir kembali ke Kwan gwa, kitab Si Cap Ji Cin keng itu sangat diperlukan, karena di dalamnya tertera tempat penyimpanan harta karun yang besar.
Asal bisa mendapatkan kembali harta itu, bangsa Bong Ciu dapat hidup sejahtera di negeri asalnya, -Dengan berpikir demikian, Siau Po segera mengulurkan tangannya menyambut kitab tersebut "Sekarang kau boleh pergi!"
Kata Heng Ti setelah Siau Po menerima kitab yang disodorkannya.
"Baik."
Sahut Siau Po sambit menyembah kembali.
"Tidak berani aku menerima penghormatanmu ini!"
Kata Heng Ti.
"Sicu, silahkan bangun!"
Siau Po bangun kemudian membalikkan tubuhnya, Baru berjalan dua langkah, tibatiba suatu ingatan melintas dalam benaknya, timbul sifat kekanak-kanakannya, sifat yang nakal dan jahil.
Dia segera berpaling kepada Giok Lim taysu.
"Lo hwesio!"
Sapanya.
"Kau sudah duduk bersila begitu lama, Apakah kau tidak ingin membuang air kecil?"
Giok Lim taysu diam saja, Dia seakan tidak mendengar pertanyaan itu, Siau Po merasa hwesio itu jenaka sekali. Dia melanjutkan langkah kakinya menuju pintu.
"Katakan juga kepada majikanmu,"
Tiba-tiba kembali terdengar suara Heng Ti.
"Apabila ibunya kembali melakukan kejahatan, seorang ibu untuk selamanya tetap merupakan ibu. jangan sekali-sekali dia melanggar peraturan adat dan jangan sekalisekali merasa penasaran atau menyesalinya!"
"Baik!"
Sahut Siau Po.
Dalam hatinya dia justru meyakinkan dirinya sendiri --Pesan seperti ini tidak mungkin aku sampaikan kepada Sri Baginda.
Sekembalinya ke Leng Keng si, Siau Po langsung masuk kamarnya, Mula-mula dia mengunci pintu, kemudian membuka bungkusan yang diserahkan oleh Heng Ti.
Ternyata isinya memang kitab Si Cap Ji Cin keng.
Yang satu ini kain pembungkusnya berwarna kuning, Dia segera teringat keterangan yang diberikan oleh To Hong Eng mengenai mantan kaisar tua itu.
Tetapi dia mendengar sendiri Heng Ti mengatakan "Apabila seluruh rakyat menginginkan kepergian kita, maka kita harus pulang ke tempat asal dari mana kita datang!"
Bangsa Boan Ciu berasal dari Kwan gwa, yakni Mancuria.
Dari sana mereka menyerbu Tiong goan dan mendudukinya, Apabila mereka pulang tentu tujuannya Kwan gwa.
Mantan kaisar itu menepuk-nepuk bungkusannya ketika mengucapkan pesannya.
Tentu dia ingin mengatakan bahwa setelah kembali ke Kwan gwa, bangsa Boan ciu bisa mengandalkan kitabnya yang menyebutkan tempat penyimpanan harta karun itu.
Siau Po berpikir pula dalam halinya, --Lo hongya menyuruh aku menyerahkan kitab ini kepada Siau Hian cu.
sekarang tinggal keputusanku sendiri, aku mau menyerahkannya atau tidak?
Di tanganku sudah ada enam
Jilid kitab Si Cap Ji Cin keng ini, ditambah yang satu ini, jumlahnya jadi tujuh.
Untuk melengkapkan keseluruhannya yang berjumlah delapan, aku tinggal mencari satu lagi, Kalau kitab ini aku serahkan kepada Siau Hian cu, maka ke enam
Jilid kitab yang ada padaku menjadi tidak berharga lagi, Bukankah Lo hongya sendiri yang melarang Siau Hian cu datang ke Ngo tay san?
Bahkan dia mengatakan apabila Sri Baginda memaksa juga untuk datang, dia juga tidak akan menemuinya, Dengan demikian, berarti sampai mati pun tidak ada saksi, bukan?
Bukankah kitab ini seakan diberikan secara suka rela kepadaku ?
Maka, kalau aku tidak menelannya sendiri, mungkin sikapku akan dicela oleh leluhur-leluhur keluarga Wi."
Meskipun benaknya sudah berpikir panjang lebar, tapi hatinya masih dilanda kebimbangan.
Dia ingat perlakuan kaisar Kong Hi kepadanya sangat baik, dia disayang serta dipercaya penuh.
Dengan menelan kitab ini, bukankah dia seperti tidak menghargai raja yang merupakan sahabatnya juga?
perasaannya benar-benar tidak tenang...
Tapi, otaknya kembali berputar untuk menenangkan hatinya yang bimbang.
-Hari ini, kalau aku tidak menyuruh Song Ji menolong si raja tua, pasti dia sudah ditawan oleh para lhama dari Tibet dan dibawa pergi, Kalau hal itu sampai terjadi, kitab itu pasti dibawa sekalian.
Karena itu, perbuatanku mengambil kitab ini sama saja aku boleh merampasnya dari tangan para lhama itu.
Dengan demikian, apa yang kulakukan tidak bisa dikatakan keterlaluan bukan?
Boleh juga dikatakan bahwa Lo hongya merasa berterima kasih kepadaku sehingga dia menghadiahkan kitab ini untukku, Pantas, bukan?
Lebih penting mana, jiwa atau se
Jilid kitab? Tentunya jiwa lebih penting seratus kali lipat dari pada se
Jilid kitab, Dengan memberikan kitab ini saja, Lo hongya baru membalas budiku sebanyak seperseratus bagian, Berarti dia masih berhutang padaku sebanyak sembilan puluh sembilan bagian.
Tentu saja kelak dia harus memikirkan cara untuk membalas budiku yang masih tersisa banyak itu -Setelah berpikir sampai sejauh ini, hati Siau Po baru lega, Karena itu, keesokan hari nya, dia mengajak Song Ji dan Ie Pat turun gunung, Dalam perjalanan, hatinya berbunga-bunga, Bukankah dia telah berhasil menemui kaisar Sun Ti bahkan menyelamatkannya dari ancaman maut?
Bukankah dia juga memperoleh kitab yang berharga ini?
Di pihak lain, tanpa disangka-sangka dia juga mendapat seorang pembantu selihay dan secantik Song Ji serta menurut?
Mereka baru menempuh perjalanan sejauh sepuluh li.
Saat itu mereka masih berada di pegunungan dan tengah berjalan terus, tiba-tiba Siau Po melihat di depannya ada seorang tosu yang bertubuh tinggi sekali sedang berjalan menghampirinya.
Tinggi tosu ini sangat luar biasa, hampir seimbang dengan Heng Tian, kecuali tubuhnya yang kurus, Si pendeta kepala Teng Kong sudah terhitung kurus, tapi tosu ini masih lebih kurus lagi, wajahnya demikian cekung seakan hanya terbungkus kulit tanpa daging sedikit pun.
Kedua matanya dalam sekali sehingga mirip mayat hidup, sedangkan jubah yang dikenakannya begitu besar sehingga tampangnya seperti gantungan baju.
Biar bagaimana, tercekat juga hati Siau Po melihat tampang tosu itu, dia sampai tidak berani menatapnya, wajahnya sengaja dipalingkan ke arah yang lain.
Dia juga jalan di pinggiran dan membiarkan tosu itu melewatinya.
Bagian 37 Lalu, tibalah saat yang mendebarkan hati si bocah tanggung.
Tepat di depan Siau Po, tosu itu menghentikan langkah kakinya.
"Apakah kau baru datang dari Ceng Liang si?"
Tiba-tiba tosu itu bertanya sambil menatap Siau Po lekat-lekat.
"Bukan,"
Sahut Siau Po cepat "Kami datang dari Leng Keng si."
Apa yang dikatakannya memang benar.
Bukankah semalam dia menginap di Leng Keng si?
Sekonyong-konyong tosu itu mengulurkan tangannya untuk memegang bahu kiri Siau Po lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat Dengan demikian mereka jadi berdiri berhadapan dan tidak menyamping seperti sebelumnya.
"Apakah kau Siau Kui Cu, thay-kam dari kerajaan?"
Tanya tosu itu kembali, (Tosu adalah pendeta agama To), Hati Siau Po tercekat Apalagi dia merasa cekalan tangan si pendeta yang masih memelihara rambutnya itu membuat seluruh tubuhnya menjadi lemas seakan tidak mengandung tenaga sedikit pun.
"Kau ngaco!"
Sahutnya dengan berani. sedangkan mimik wajahnya tidak menunjukkan perubahan apa-apa.
"Kau lihat sendiri, apakah tampangku ini mirip seorang thay-kam? Aku Wi kongcu dari Yang-ciu."
Tepat pada saat itu, Songji pun turut bicara.
"Lekas lepaskan tanganmu!"
Tegurnya pada tosu itu.
"Mengapa kau begitu tidak tahu aturan terhadap kongcuku?"
Tosu itu mengulurkan tangannya yang satu lagi dengan maksud menekan bahu Song Ji.
"Kalau mendengar dari nada suaramu, tampaknya kau juga seorang thay-kam cilik,"
Katanya.
Song Ji menggeser tubuhnya sedikit, dengan demikian serangan tosu itu tidak mengenai sasarannya.
Di samping itu, dia sendiri mengulurkan tangannya untuk menotok jalan darah Thian Hou di tubuh tosu tersebut Song Ji memang lihay sekali.
Sekali saja jari tangannya bergerak, tepat mengenai tubuh si tosu sehingga terdengar suara Tukk!
Tapi dalam waktu yang bersamaan pula, Song Ji mengeluarkan seruan tertahan, sebab dia merasa jari tangannya seperti menotok lempengan besi yang keras, jari tangannya sakit sekali serasa seperti mau patah.
Tepat pada saat dia mengeluarkan seruan tertahan itulah, bahunya pun terasa nyeri, Sebab di luar dugaannya, tahu-tahu bahunya sudah kena dicengkeram oleh tosu itu.
Tangan yang jarinya panjang-panjang dan besarnya seperti kipas.
"Hm! Hm!"
Tosu itu mendengus dingin.
"Thay-kam cilik, usiamu masih muda, tapi kepandaianmu sudah tinggi, Ya, kau sudah lihay sekali."
Song Ji tidak menyahut, sebelah kakinya membentur benda yang keras dan sakitnya tidak terkatakan.
"Thay-kam cilik, ilmu silatmu benar-benar hebat! Benar-benar hebat!"
Terdengar tosu itu memuji kembali. Song Ji merasa penasaran, hatinya panas sekali.
"Aku bukan thay-kam ci!ik!"
Teriaknya marah.
"Kaulah yang thay-kam cilik! Aduh!"
Dia menjerit lagi. Tosu itu tertawa.
"Coba kau pandang aku! Apakah aku mirip seorang thay-kam cilik?"
Tanyanya sambil tertawa lagi.
"Lekas lepaskan cekatan tanganmu!"
Bentak Song Ji. Dia tidak mau melayani tosu itu berbicara, Meskipun Song Ji kesakitan tapi dia sama sekali tidak takut.
"Kalau kau tidak melepaskan cekalan tanganmu, waspadalah! Aku akan mencaci maki dirimu!"
Tosu itu tidak menghiraukan kata-kata Song Ji.
"Kau sudah menotok aku bahkan menendang tulang keringku, tapi aku toh tidak takut, Masa sekarang aku harus takut mendengar caci makimu? ilmu silatmu lihay sekali, tentunya kau orang dari istana, Aku harus menggeledah dirimu terlebih dahulu!"
Song Ji memang berani, dia tidak mau kalah bicara.
"llmu silatmu lebih lihay dari aku, tentunya engkaulah orang dari istana!"
Katanya membalikkan kata-kata si tosu.
"Aih! Thay-kam cilik!"
Tegur si tosu.
"Kenapa kau cerewet sekali?"
Selesai berkata, tosu itu naik ke atas gunung, Tangan kirinya mengangkat tubuh Siau Po, sedangkan tangan kanannya menenteng si gadis yang bernyali besar.
Langkah kakinya ringan sekali, Dia tidak memperdulikan kedua bocah yang berteriak-teriak itu.
Larinya cepat sekali seakan dia tidak membawa beban apa pun.
Ie Pat dan yang lainnya berdiri terpaku, Mereka bingung juga takut.
Setelah mendaki beberapa tombak, si tosu masih terus berlari, Baginya, jalanan yang mendaki itu seperti jalanan yang datar saja, Dia seakan tidak mengalami kesulitan apa pun.
Siau Po hanya dapat mendengar suara bersiurnya angin, Dalam hati ia berkata.
-Tosu ini lihay sekali, Apakah dia malaikat atau siluman gunung ini?
-Setelah berlari sekian larna, tiba-tiba tosu itu melepaskan cekalannya, Kedua tawanannya dilepaskan ke atas tanah, kemudian dia menuding sambil membentak.
"Sekarang kalian bicara! Kalau kalian berkeras kepala, aku akan membawa kalian ke puncak gunung ini kemudian melemparkan kalian ke dalam jurang!"
Tosu itu menunjuk ke arah puncak yang tinggi, yang sebagiannya tertutup awan yang tebak.
"Baik, suhu, Aku akan bicara terus terang.
"Dia adalah... aku...."
"Bicara yang benar! Dia, kau apa?"
Bentak si tosu yang berangasan itu.
"Dia adalah,., istriku."
Sahut Siau Po terpaksa.
Mendengar ucapannya, baik tosu itu maupun Song Ji sama-sama terkejut Bahkan wajah si gadis cilik menjadi merah padam.
Sedangkan si tosu menjadi heran, bagaimana seorang bocah cilik sudah mempunyai istri?
"Apa?
Istri?"
Tanyanya menegaskan. Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Suhu, biarlah aku berbicara terus terang kepadamu,"
Katanya pula.
"Sebenarnya aku seorang kongcu, putera seorang hartawan dari Kota Pe King, Aku tertarik kepada nona, putri tetanggaku ini. karenanya kami telah sama-sama berjanji untuk hidup bersama-sama sampai hari tua, janji itu kami buat secara diam-diam di taman bunga, Ayah nona ini tidak menyetujui hubungan kami, karena itulah aku mengajak nona ini minggat dari rumah, Suhu lihat sendiri, dia seorang gadis, Mana mungkin menjadi thaykam? Tentu saja dia marah! Kalau suhu tetap tidak percaya, buka saja kopiahnya!"
Tosu itu mengikuti perkataan Siau Po.
Dia membuka kopiah Song Ji sehingga tampaklah rambutnya yang panjang dan indah.
Di jaman kerajaan Ceng, kecuali imam (tosu) atau hwesio, setiap laki-laki harus mencukur bagian depan rambutnya sehingga hanya tersisa bagian belakangnya untuk dijadikan kuncir panjang.
Tapi rambut Song Ji lengkap, bagian depannya masih penuh dan bagian belakangnya juga terurai panjang sehingga dapat dipastikan bahwa dia memang seorang perempuan.
"Suhu, aku mohon,"
Kata Siau Po yang pandai bicara.
"Janganlah serahkan kami kepada pihak pembesar negeri, sebab aku bisa kehilangan nyawaku Suhu, aku bersedia memberimu uang sebanyak seribu tail asal kau membebaskan kami...."
"Sekarang terbukti sudah bahwa kalian bukan thay-kam,"
Kata tosu itu kemudian.
"Thay-kam tidak mungkin melarikan anak gadis orang. Ha ha ha ha! Kau masih kecil tapi nyalimu sudah besar sekali!"
Sembari berkata, tosu itu melepaskan cekalannya pada bahu Siau Po.
"Untuk apa kalian datang ke Ngo Tay san?"
Tanyanya kembali.
"Kami pergi ke Leng Keng si untuk bersembahyang pada Sang Bodhisatva."
Sahut Siau Po yang tidak pernah kehilangan akal "Kami memohon perlindunganNya, Semoga aku, pemuda yang malang ini berhasil menjadi Conggoan, dan dia...
kelak setelah menjadi istriku akan dipanggil It Pin hujin...."
Siau Po memang pandai berbicara, Kata-katanya tentang pemuda hartawan yang malang dan mengikat janji di taman bunga, semuanya ia cangkok dari tukang cerita di Kota Yang-ciu.
sedangkan Cong goan artinya mahasiswa yang lulus pertama dalam ujian di istana dan It Pin hujin adalah sebutan untuk para isteri seorang menteri atau jenderal.
Tosu itu berpikir sejenak.
"Kalau begitu, aku yang salah duga, kalian pergilah!"
Katanya kemudian. Bukan main senangnya hati Siau Po.
"Terima kasih, suhu, terima kasih!"
Katanya berulang-ulang, bersama-sama Song Ji, dia memberi hormat kemudian diajaknya turun gunung.
"Aih, tidak benar!"
Tiba-tiba tosu itu berseru. Setelah kedua pemuda-pemudi itu berjalan beberapa langkah.
"Eh, kalian kembali!"
Mau tidak mau, Siau Po terpaksa kembali bersama Song Ji.
"Eh, nona kecil!"
Tegur tosu itu.
"llmu silatmu baik sekali Kau telah menotok dan menendang aku satu kali juga, Sampai sekarang aku masih merasa sakit."
Dia langsung meraba jalan darahnya yang tadi ditotok Song Ji. Kemudian tosu itu bertanya lagi.
"Nona, siapakah yang mengajarkan ilmu silat kepadamu? Tergolong partai manakah kepandaianmu itu?"
Wajah Song Ji jadi merah, Gadis itu tidak biasa berbohong sehingga sulit baginya menjawab pertanyaan itu, Dia juga tidak suka menjelaskan golongan partai persilatannya, Karena itu, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Siau Po yang cerdas, segera mewakili gadis itu menjawab.
"Dia mewarisi ilmu silat keluarganya yang diajarkan turun temurun. Ibunyalah yang mengajarkannya."
"Apa she nona ini?"
Tanya tosu itu kembali.
"Ini... ini... aih!"
Sahut Siau Po ragu-ragu.
"Rasa-nya kurang leluasa menyebut she keluarganya...."
Si bocah nakal mengembangkan seulas senyuman.
"Apanya yang tidak leluasa?"
Bentak tosu itu.
"Lekas katakan!"
"Kami dari keluarga Cung."
Sahut Song Ji mendahului Siau Po.
"Keluarga Cung?"
Ulang si tosu sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tidak benar! Kau pasti berbohong! Di kolong langit ini tidak ada keluarga Cung yang ilmu silatnya terkenal Apalagi mengajarkan seorang anak perempuan sampai begini lihay!"
"Aneh!"
Kata Siau Po yang menjadi berani dan tertawa lebar.
"Suhu, di kolong langit ini, banyak sekali orang yang pandai ilmu silat, Bagaimana kau bisa mengenal mereka semuanya?"
"Diam kau!"
Bentak tosu itu dengan nada gusar "Aku sedang bertanya kepada si nona kecil ini, jangan kau ikut campur!"
Selesai berkata, tosu itu bahkan mendorong tubuh Siau Po dengan perlahan.
Si bocah takut terluka, dia tahu tosu ini lihay sekali, Karena itu, sebelum tangan orang itu sempat menyentuhnya, dia sudah menghindarkan diri terlebih dahulu, Dia menggunakan tipu jurus "Hong Heng Cau Yan" (Angin berhembus, rumput rebah) sehingga dia berhasil menyelamatkan dirinya, sementara itu, dia juga menggerakkan kedua tangannya.
Tangan kirinya diangkat ke atas untuk melindungi dirinya, sedangkan tangan kanan melancarkan serangan.
Tosu itu terkejut setengah mati.
Dia mengulurkan tangannya untuk menyambar dada Siau Po.
Sebelumnya, dia menghindarkan diri terlebih dahulu dari serangan si bocah.
Siau Po cerdik sekali, Gerakannya sangat lincah Dia memiringkan dadanya ke samping, begitu tubuhnya bebas, tangannya melayang lagi, jurus yang digunakannya kali ini ialah "Leng Coa Jut Tong" (UIar sakti keluar dari goa).
Dia memainkannya dengan bagus sekali, Tidak syak lagi, lehernya tosu itu langsung terkena tamparannya, Namun dalam waktu yang bersamaan, dia pun menjerit sekeraskerasnya karena tangannya seperti menghantam besi sehingga ia merasa kesakitan.
Mendengar majikannya menjerit kesakitan, Song Ji segera melompat maju untuk menyerang tosu itu.
Sementara itu, dada Siau Po sudah terkena sambaran tosu itu.
Hal ini karena si tosu gesit sekali, sembari menghindarkan diri, dia balas menjambak dada Siau Po.
Dengan demikian, sekaligus juga dia sanggup melayani si nona cilik.
Song Ji melakukan pertarungan dengan hati-hati, dia sadar betapa lihaynya lawan yang satu ini.
Gadis itu memperlihatkan kegesitan dan kelincahannya, Meskipun demikian, dia tetap kewalahan, sebab tubuh tosu itu kebal terhadap pukulan, ilmu tosu itu bernama Kim Cung Tiau (Tudung lonceng emas) dan Tiat Pou San (Baju besi) sehingga dia tidak usah khawatir terhadap totokan, tinju atau pukulan yang dilancarkan lawan.
Dalam beberapa jurus saja, Song Ji sudah tidak berdaya dibuatnya, Kepandaiannya tidak berarti banyak bagi si tosu, Sesaat kemudian, tosu itu sudah menatap Siau Po lekat-lekat dan bertanya kepadanya.
"Kau mengatakan bahwa kau anak seorang hartawan tapi mengapa kau mengerti ilmu "Kim Na Jiu"
Dari golongan Sin Liong To di Liau Tong?"
Siau Po memang pemberani Dengan suara lantang dia menjawab "Aku toh anak seorang hartawan, lalu mengapa aku tidak boleh mempelajari ilmu Sin Liong To?
Apakah hanya anak orang miskin yang boleh mempelajari ilmu itu?"
Dia sengaja mengucapkan kata-kata itu untuk memperpanjang waktu.
Maksudnya ingin mencari jalan untuk melarikan diri, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
--ilmu Sin Liong To di Liau Tong?
ilmu apakah itu?
Oh.,, Aku ingat sekarang!
Hay Tay Hu si kura-kura tua pernah mengatakan bahwa Thay Hou berusaha menutupi dirinya seakan-akan orang dari Bu Tong Pai, padahal dia sebenarnya memiliki ilmu Coa To yang terletak di Liau Tong.
Coa To itu pasti sama dengan Sin Liong To.
Apa bedanya naga dan ular?
Iya...
dapat dipastikan bahwa si nenek sihir itu mempunyai hubungan dengan orang Sin Liong To.
Tentu saja, nama ular tidak enak didengar, maka mereka menggantinya dengan nama Sin Liong (naga sakti)!
ilmu silat Siau Hian cu diajarkan oleh si nenek sihir.
Karena aku sering berlatih bersamanya, sedikit banyaknya aku jadi memahami ilmu Sin Liong To juga -Begitu bencinya Siau Po kepada Hong Thay Hou sehingga terus-terusan dia menyebutnya sebagai perempuan hina dan si nenek sihir Sementara itu, terdengar suara bentakan si tosu yang mengandung kegusaran "Ngaco!
Ayo katakan yang sebenarnya, siapakah gurumu?"
Siau Po berpikir cepat -Kalau aku mengakui bahwa Thay Houlah yang mengajarkan ilmu silat kepadaku, sama saja aku mengakui diriku seorang thay-kam., -Karena itu dia segera menggunakan alasan yang lain.
"Aku diajarkan ilmu silat olah teman pamanku.... Dia bernama bibi Liu Yan. orangnya gemuk...."
"Nona Liu Yan?"
Tanya tosu itu mengulangi kata-kata Siau Po.
"la sahabat pamanmu? siapakah pamanmu itu?"
"Pamanku itu bernama.... Wi Toa Po,"
Sahut Siau Po sembarangan. Dia mengimbangi Toa Po dengan namanya sendiri, Toa Po artinya mustika besar, sedangkan Siau Po artinya mustika kecil.
"Pamanku itu mata keranjang, Di kerajaan kawan wanitanya banyak sekali dan dia termasuk orang royal, Menghamburkan uang sebanyak seribu tail sehari bukan masalah bagi nya. Dia tampan seperti artis pemain sandiwara di panggung pertunjukan Karena itulah bibi Liu tergila-gila kepadanya sering nona yang gemuk itu datang ke rumah kami pada jam tiga tengah malam dan masuknya melompati tembok taman bunga yang ada di belakang, Memang aku yang merengekrengek kepadanya agar diajarkan ilmu silat Kemudian aku memang diwarisinya beberapa jurus."
Tosu itu ragu-ragu mendengar cerita Siau Po.
"Bagaimana dengan pamanmu sendiri? Apakah dia mengerti ilmu silat?"
Tanyanya. Siau Po tertawa lebar mendengar pertanyaan itu.
"Pamanku pandai ilmu silat asmara, Dia sering dipiting batang lehernya oleh nona Liu, tapi dia malah kesenangan Bahkan ketika nona itu mengangkat tubuhnya naik turun, dia mendiamkan saja, Tapi pamanku itu memang lucu sekali, Sekali waktu aku pernah mendengarnya mengatakan.
"Nah, ini yang dinamakan anak mengangkat ayah" , mendengar kata-katanya nona Liu ikut tertawa bahkan membalasnya dengan mengatakan "lni belum apa-apa, kelak pasti ada cucu yang menenteng kakeknya"
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali Kho Ping Hoo
Baca Juga: Manusia Aneh Dialas Pegunungan Gan Kl