Eps 8 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
Siau Po memperlihatkan tampang sedih dan menyesal "Kalau demikian, akulah yang benar-benar tolol!"
Katanya.
"Kau telah melakukan banyak hal untukku, tapi aku tetap tidak tahu!"
To kionggo berdiam diri sekian lama. Tampaknya dia sedang merenung.
"Adik,"
Katanya kemudian "Kau sudah cukup lama tinggal di dalam istana, apakah kau pernah mendengar soal kitab Si Cap Ji cin-keng?"
"Kalau aku tidak salah, ibu suri dan Sri Baginda sangat menghargai kitab agama Buddha itu, Tapi dalam pandanganku, apa gunanya? Buktinya thayhou begitu kejam dan jahat, Biarpun dia membaca kitab suci laksaan kali, tidak mungkin Dewi pousat akan melindunginya!"
Tanpa memberi kesempatan kepada Siau Po untuk melanjutkan kata-katanya, To kionggo segera menukas.
"lbu suri dan Sri Baginda sangat memperhatikan kitab itu? Apa saja yang pernah mereka katakan?" "Sri Baginda pernah menitahkan aku ikut dengan So tayjin untuk menggeledah tempat tinggal Go Pay. Aku dipesan mencari dua buah kitab entah Si... Keng... apa. Kalau tidak salah memang ada huruf Cap dan Ji...."
Mendengar keterangan itu, To kionggo semakin bersemangat.
"Benar!"
Serunya.
"ltulah kitab Si Cap Ji Cin-keng, Lalu, apakah kau berhasil mendapatkannya?"
Dalam hal berbohong, Siau Po memang jagonya.
walaupun usianya masih muda, tetapi ketika di Yangciu, pengalamannya sudah banyak, karena dia dibesarkan di tempat pelesiran yang setiap hari penuh dengan kepura-puraan dan kebohongan.
Dia tahu, kalau dia bohong secara keseluruhan, orang bisa curiga, Karena itu, kebohongannya harus dicampur dengan sedikit kebenaran Dengan demikian orang tidak akan ragu atau bimbang mengambil keputusan.
Karena itu dia langsung menjawab.
"Sayang aku buta huruf, sehingga tidak tahu kitab itu Si Cap Ji cin-keng atau Ngo Cap cin-keng. Akhirnya kitab itu memang berhasil ditemukan oleh So tayjin, kemudian aku membawa dan menyerahkannya kepada ibu suri. Bukan main senangnya hati perempuan hina itu! Aku dihadiahkan kue-kue dan kembang gula, juga manisan. Oh! Dasar nenek sihir! Dianggapnya aku seorang bocah cilik sehingga tidak perlu diperseni uang, Kalau tahu dia sepelit itu, dari semula saja kubuang kitab itu ke dalam perapian di dapur Gisian pong!"
"Oh, tidak! Tidak! Kitab itu jangan dibakar!"
Seru To kionggo saking tegangnya sehingga lupa apa yang diceritakan Siau Po sudah lama berlalunya.
"Aku tahu!"
Sahut Siau Po.
"Ketika Sri Baginda menanyakan kitab itu pada So tayjin, aku langsung mengerti bahwa kitab itu penting sekali!"
To kionggo merenung sejenak.
"Kalau begitu,"
Katanya kemudian.
"Paling sedikit thayhou mempunyai tiga
Jilid kitab yang sama...."
"Empat!"
Sahut Siau Po.
"Apa? Empat?"
Tanya To kionggo terkejut "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Sebenarnya thayhou sendiri sudah memiliki satu,"
Kata Siau Po menjelaskan "Ketika aku membawakan dua
Jilid yang didapatkan dari gedung Go Pay, dia meletakkannya di atas meja dan berdampingan dengan yang satu itu, jadi saat itu jumlahnya ada tiga, Kemarin malam, ketika aku bersembunyi di kolong tempat tidur, aku mendengar pembicaraannya dengan si dayang palsu, Kitab yang keempat ada di rumah salah seorang pangeran dan thayhou sedang menitahkan Sui Tong, congkoan dari barisan pengawalnya untuk mengambilnya."
"Kalau begitu, benar saja thayhou memiliki empat
Jilid kitab tersebut,"
Kata To kionggo.
"Bisa jadi... lima atau enam jilid... dia berdiri dan berjalan beberapa tindak, Matanya menatap Siau Po lekat-lekat "
Adik, malam itu kau bersembunyi di kolong tempat tidur thayhou, apa sebetulnya yang sedang kau lakukan?"
"Bibi To, biar aku katakan terus terang ke-padamu!"
Sahut sang bocah.
"Tapi aku harap jangan kau katakan lagi kepada orang lain, kalau rahasia ini sampai bocor, aku akan terancam bahaya, Tentu kau maklum, aku bisa dibunuh oleh guruku!"
Bagian 29
"Kalau urusan itu menyangkut rahasia Tian-te hwe, lebih baik tidak perlu kau katakan!"
Kata To kionggo.
"Tapi.,."
Sahut Siau Po.
"Kau orang baik-baik, aku rasa tidak ada halangannya memberitahukan kepadamu, Thian-te hwe kami sudah membuat perjanjian dengan pihak Bhok onghu, kami akan bekerja sama tapi untuk itu kami harus berlomba, Siapa yang lebih dulu berhasil menumpas Go Sam-kui, maka pihak yang satu harus tunduk pada perintah pihak yang berhasil itu. Karena itulah Suhu menyuruh aku menyelundup dalam istana untuk mencari berita rahasia yang bisa menjatuhkan Go Sam-kui. Dengan demikian Bhok onghu akan tunduk pada Tian-te hwe. Karena itulah aku selalu mencuri dengar pembicaraan ibu suri!"
"Oh, begitu!"
Kata si dayang.
"Bagiku sendiri, tidak perduli pihak mana pun yang berhasil menjatuhkan Go Sam-kui, tetap merupakan hal yang menggembirakan!"
Tapi, bibi To,"
Kata Siau Po dengan suara memohon.
"Kau harus membantu kami, jangan kau membantu pihak Bhok onghu!" To kionggo ragu-ragu, tapi akhirnya dia berkata.
"Sebetulnya aku tidak bermaksud berpihak kepada siapa pun, tapi, baiklah, kalau ada kesempatan aku membantu pihakmu!"
"Terima kasih, bibi! Terima kasih!"
Kata Siau Po gembira sekali To kionggo menarik nafas panjang.
"Sayang sekali kita tidak dapat kembali ke istana lagi, Kalau tidak, tentu kita bisa bekerja sama dan saling membantu!"
Katanya.
"Tapi,"
Tukas Siau Po.
"Sri Baginda sangat menyayangi aku. Kalau aku kembali secara diam-diam, aku percaya beliau tidak akan memberitahukan kepada thayhou, LagipuIa, seranganmu terhadap thayhou cukup berat, meskipun sekarang belum mati, entah bagaimana keadaannya, belum tentu lukanya bisa disembuhkan..."
Sepasang alis To kionggo langsung berkerut mendengar ucapan Siau Po.
"Benar, adik. Apa yang kau katakan memang benar!"
Katanya.
"Sekarang, adikku, ada sesuatu yang ingin kubicarakan.... Aku harap kau bersedia membantu aku mencuri beberapa
Jilid kitab Si Cap Ji cin-keng itu!"
Siau Po pura-pura berpikir "Seandainya umur thayhou tidak panjang, tentu kitab-kitab itu akan dimasukkan ke dalam peti matinya apabila beliau wafat!"
Katanya setelah lewat sejenak.
"Tidak, tidak mungkin!"
Kata To kionggo yakin.
"Aku hanya khawatir didahului oleh Sin Liong kaucu yang cerdik itu. Kalau hal ini sampai terjadi, celaka!"
Siau Po heran mendengar disebutnya nama Sin Liong kaucu yang berarti ketua atau pemimpin dari sebuah perkumpulan bernama Naga sakti, Baru pertama kali ini dia mendengarnya.
"Siapa dia?"
Tanya Siau Po.
To kionggo tidak menjawab, dia hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamar Ketika dia melihat fajar mulai menyingsing di luar jendela, dia segera membalikkan tubuhnya dan menatap Siau Po.
"Kita tidak dapat bicara terlalu banyak di sini, mungkin saja dinding di sini ada telinganya, Mari kita pergi!"
Selesai berkata, To kionggo segera membungkukkan tubuhnya dan memondong dua sosok mayat yang tergeletak di atas lantai untuk dinaikkan ke atas kereta yang ada di depan penginapan tersebut.
Siau Po mengikuti perbuatannya, Dia menggotong mayat yang ketiga, Untung saja ketiga siwi itu mati karena totokan, jadi ditubuh mereka tidak terdapat bekas luka dan tidak ada setetes noda darah pun yang ketinggalan.
Di luar penginapan, To kionggo berkata.
"Pemilik penginapan beserta pelayannya ditotok oleh ketiga siwi ini. Sampai waktunya jalan darah mereka akan bebas sendiri, mari kita pergi!"
Siau Po setuju, Dia menganggukkan kepalanya, Keduanya melompat naik ke atas kereta.
Mereka duduk berdampingan di depan Si dayang yang mengendalikan tali kuda, Kereta segera dilarikan ke arah barat.
Setelah lewat tujuh delapan li, hari sudah terang sekali, Di sisi jalan terdapat banyak kuburan tua.
To kionggo melemparkan ketiga sosok mayat siwi itu, kemudian dia menindihnya dengan batu-batu besar dan naik lagi ke atas kereta serta menjalankannya kembali.
"Sekarang, sembari menjalankan kereta, kita dapat berbicara dengan tenang,"
Katanya kemudian "Kita tidak perlu khawatir ada orang yang mendengarnya."
Siau Po tertawa.
"Bagaimana kalau ada orang yang bersembunyi di kolong kereta?"
Tanyanya. To kionggo terkejut "Kau benar!"
Katanya kagum "Ternyata kau lebih teliti daripada aku!"
Dia langsung mengayunkan cambuknya berkali-kali ke bawah kereta sehingga terdengar suaranya yang nyaring dan berisik, tetapi tidak ada reaksi apa pun dari bawah kereta, Hal ini membuktikan bahwa tidak ada orang yang bersembunyi di sana.
Jalanan yang mereka lalui adalah jalan raya, tapi keadaannya sunyi sekali.
"Kau pernah menolong jiwaku dan aku juga pernah menolong jiwamu,"
Kata To kionggo kemudian "Dengan demikian kita telah menjadi sahabat sehidup semati, Hari depan kita masih panjang, masih banyak kesempatan bagi kita untuk saling membantu, Adik kecil, usiamu masih muda sekali, sebenarnya pantas bagi aku untuk menjadi ibumu, Aku bersyukur kau mau memanggilku bibi, Tapi aku mempunyai usul, entah kau setuju tidak, Bagaimana kalau aku menjadi bibimu yang sah?
Aku akan mengakui kau sebagai keponakanku!"
"Bagus!"
Sahut Siau Po. Dia berpikir dalam hati.
"Tidak ada salahnya menjadi keponakan perempuan ini, aku toh sudah memanggilnya bibi!"
Kemudian dia menambahkan "Tapi ada satu hal yang menjadi masalah. Kalau kau sudah tahu, mungkin kau tidak sudi lagi menganggap aku sebagai keponakan mu...."
To kionggo menatapnya lekat-lekat Dia merasa agak heran.
"Apa itu?"
Tanyanya.
"Aku tidak mempunyai ayah,"
Sahut Siau Po terus terang.
"Lebih dari itu, ibuku tinggal di rumah pelesiran menjadi perempuan penghibur."
To kionggo tertegun saking herannya, Tetapi sesaat kemudian dia tertawa, wajahnya berseri-seri.
"Keponakanku yang baik, hal itu bukan persoalan!"
Katanya.
"Seorang enghiong tidak perlu mengkhawatirkan asal-usu!nya yang rendah. Bukankah Beng thaycou, leluhur kerajaan Beng kita tadinya juga seorang bikhu, bahkan pernah menjadi gelandangan? Anak, urusan seperti ini pun tidak kau sembunyikan dari ku. Hal ini menandakan kejujuran hatimu, Baiklah! Aku juga tidak akan merahasiakan siapa diriku.."
Mendengar ucapan wanita itu, Siau Po berpikir dalam hati.
"lbuku memang seorang pelacur Mau Sip-pat toako juga sudah tahu, tapi dia pun tidak mengatakan apa-apa. Bukankah urusan ini tidak mungkin disembunyikan untuk selamanya? Untuk apa aku menutupinya? Lebih baik aku bersikap terus terang!"
Membawa pikiran demikian, segera dia melompat turun dari kereta, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan To kionggo sambil menjura dan menganggukkan kepalanya.
"Bibi, harap bibi sudi menerima hormat Wi Siau-po, keponakanmu ini!"
Menyaksikan hal itu, bukan main terharunya hati To kionggo Sudah berapa puluh tahun dia mengeram dalam istana tanpa sanak atau orang yang dekat dengannya sehingga dia merasa kesepian.
Hatinya langsung tergerak mendapat perlakuan sedemikian rupa dari si bocah.
Dia langsung melompat turun dari kereta dan membangunkan Siau Po.
"Oh, keponakanku yang baik! Anak, mulai detik ini, aku mempunyai seseorang yang dekat denganku!"
Tak sanggup To kionggo melanjutkan kata-katanya, air matanya langsung mengucur dengan deras. Lewat sesaat, dia baru tertawa, Hatinya senang sekali.
"Anak, kau lihat sendiri, benar-benar memalukan Tanpa karu-karuan bibimu menangis. Setelah itu keduanya melompat ke atas kereta lagi, To kionggo duduk dengan tangan kanan memegang tali kendati kereta dan tangan kirinya menggenggam tangan Siau Po erat-erat. Perlahan-lahan, kereta itu pun dijalankan.
"Anak,"
Setelah sekian lama, terdengar dayang itu berkata kembali "Aku she To, nama lengkapku Hong Eng.
Aku masuk ke dalam istana sejak berusia dua belas tahun dan di tahun kedua aku mulai melayani Tiang kongcu...."
"Tiang kongcu?"
Tanya Siau Po menegaskan "Benar!"
Sahut To kionggo.
"Pada waktu Sri Baginda Cong Ceng meninggalkan istana, dengan satu tebasan dia mengutungkan lengan Tiang kong-cu. Ketika itu aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri Aku langsung menghambur ke arah tuan putri untuk menolongnya, justru pada saat itulah Sri Baginda mengayunkan goloknya kembali dan tepat mengenai punggungku Aku pun roboh dan pingsan, Ketika akhirnya aku tersadar kembali, aku tidak melihat Tiang kongcu lagi, Keadaan di istana sudah kacau balau, Tidak ada orang yang memperdulikan diriku, Tidak lama kemudian muncullah pengkhianat yang menyerbu istana, Setelah itu datang bangsa Tatcu yang mengusir pengkhianat itu dan akhirnya bangsa Boan yang memerinta negara ini, Yah... urusan itu sudah terjadi lama sekali...."
"Oh, rupanya bibi masuk ke dalam istana semenjak Sri Baginda Cong Ceng dari dinasti Beng masih memegang tampuk pemerintahan!"
Kata Sia Po dengan pandangan kagum.
"Benar, anak!"
Sahut To kionggo.
"Tapi.,."
Kata Siau Po.
"Bukahkah Tiang kongcu itu puteri Sri Baginda Cong Ceng? Mengapa raja membacok anaknya sendiri?"
To kionggo menarik nafas panjang.
"Memang Tiang kongcu putrinya sendiri, bahkan raja sangat menyayanginya,"
Sahut To kionggo.
"Tapi karena kotaraja sudah terjatuh ke tangan musuh dan sudah menduduki istana, Sri Baginda Cong Ceng ingin mengorbankan dirinya, Dia tidak sanggup membela diri lagi, namun tidak rela putrinya terjatuh ke tangan musuh, Karena itulah, beliau mengambil jalan pendek dengan maksud membunuh Tiang kongcu!"
"Oh, begitu.,."
Kata Siau Po.
"Bukankah belakangan Sri Baginda Cong Ceng mati menggantung diri di bukit Bwe San?"
"Di kemudian hari, memang berita itulah yang kudengar Bangsa Tatcu bisa masuk ke Tionggoan karena ada Go Sam-kui yang membukakan pintu setelah pengkhianat penyerbu berhasil diusir Setelah bangsa Boan menduduki istana, di antara para dayang dan thay-kam yang masih ada hanya tinggal beberapa orang saja, Yang lainnya dipecat karena diragukan kesetiaannya, sedangkan aku sendiri masih kecil, juga terluka, Aku dibiarkan berbaring dalam sebuah kamar yang remang-remang, Singkat-nya, tiga tahun kemudian aku baru bertemu dengan guruku."
"Bibi, ilmu silat bibi tinggi sekali, tentunya guru bibi luar biasa lihaynya!"
Kata Siau Po.
"Tentang kepandaian, tidak bisa dipastikan Di dalam negeri kita ini, entah ada berapa banyak tokoh-tokoh berilmu tinggi. Guruku itu juga menerima perintah dari gurunya lagi untuk menyelundup ke dalam istana dan menyamar sebagai dayang!"
Sembari berkata, To kionggo mengayunkan cambuknya lebih keras agar kereta berjalan lebih cepat. Tujuan guruku masuk ke dalam istana adalah untuk mencari ke delapan perangkat kitab Si Cap Ji cin-keng,"
Katanya menjelaskan lebih jauh.
"Jadi... kitab itu terdiri dari delapan perangkat?"
"Benar, Bangsa Boan Ciu terdiri dari Pat ki (delapan bendera), Warna kuning, putih, merah dan biru disebut Suki (empat bendera) dan ada ia Siang suki (Empat bendera bersulam), Setiap Ki Ciu (Pemimpin bendera) mengepalai satu bagian atau kelompok, semuanya terdiri dari delapan kelompok dan otomatis kitabnya juga ada delapan."
"Aku mengerti sekarang,"
Kata Siau Po.
"Aku pernah melihat kitab milik thayhou serta dua
Jilid lainnya yang disita dari rumah Go Pay, Semua kita itu berlainan warnanya. Ada yang bertali putih, ada pula yang bersulam tepian merah."
"Tentang tali atau sulamannya yang warnanya berbeda-beda, aku tidak tahu,"
Kata To kionggo.
"Aku sendiri belum pernah melihatnya."
Sementara itu, Siau Po berpikir.
"Aku telah memiliki enam
Jilid kitab itu, berarti masih kurang dua
Jilid Iagi, Entah apa keistimewaan kitab itu?
Tentunya bibi To mengetahui rahasia itu.
Aku harus mencari akal untuk menanyakannya, Tapi harus tanpa dicurigai atau diketahui maksudku yang sebenarnya...."
Karena itu dia segera berlagak pilon dan berkata.
"Oh, rupanya nenek guru memuja pousat dan Sang Buddha! Kitab dari istana itu tentu luar biasa sekali, kemungkinan hurufnya ditulis dengan air emas!"
"Bukan!"
Sahut To kionggo.
"Keponakanku yang baik, biarlah aku memberitahukan kepadamu, Tapi ini merupakan sebuah rahasia besar jangan sekali-sekali kau membocorkannya... Ada baiknya kita mengangkat sumpah."
Siau Po menurut Dia segera mengucapkan sumpah.
Baginya bersumpah merupakan makanan sehari-hari, Sekarang bersumpah, besok dia sudah melupakannya, Dia juga tidak sudi memberitahukan bahwa dia sudah mempunyai enam
Jilid kitab Si Cap Ji cinkeng, Terpaksa dia berbohong, sekalipun terhadap bibi yang menyayanginya itu. Beginilah bunyi sumpahnya.
"Raja Langit dan Ratu Bumi, kalau tecu, Wi Siau-po, membocorkan rahasia kitab Si Cap Ji cin-keng, biarlah tecu disambar geledek atau ditikam ribuan kali dan mati tersiksa seperti kakak seperguruannya si kura-kura thayhou, malah lebih menderita sepuluh kali lipat!"
To kionggo tertawa.
"Sumpah ini cara yang baru dan aneh!"
Katanya.
"Nah! Ketika bangsa Tatcu menyerbu masuk wilayah perbatasan, dia mengakui secara terang-terangan bahwa dia akan menyerbu lebih dalam sehingga berhasil merampas kerajaan Beng yang maha besar, sebenarnya jumlah mereka kecil dan mulanya mereka sudah merasa puas dapat menduduki tanah perbatasan, itulah sebabnya mula-mula mereka hanya main rampas dan merampok harta benda untuk dibawa ke Kwan gwa. (Luar perbatasan), Tatkala itu, yang berkuasa dalam pemerintahan Ceng adalah pangeran Sit Cin ong, pamannya kaisar Sun Ti. Dialah yang mengatur tempat persembunyian harta rampasan itu. Tempat penyimpanannya sangat rahasia sekali dan dia membuat petanya yang terbagi menjadi delapan bagian, Setiap Ki cu (pemimpin bendera) dari Pat ki (delapan bendera) masing-masing menyimpan satu helai."
"Oh! Aku mengerti sekarang!"
Seru Siau Po yang tiba-tiba berdiri namun terjungkal jatuh kembali karena dia lupa kalau kereta sedang bergerak "Tentunya gambar peta itu disimpan dalam delapa
Jilid kitab Si Cap Ji cin-keng."
"Rasanya memang demikian, tapi hal yang sebenarnya hanya diketahui oleh setiap Ki cu dari Pat ki,"
Kata To kionggo.
"Jangan kata kita bangsa Han, mungkin pangeranpangeran dan menteri-menteri bangsa Boanciu sendiri jarang yang mengetahuinya, Menurut penuturan guruku, gunung di mana harta karun itu disimpan disebut Liong meh (nadi naga)-nya bangsa itu, Menurutnya pula, bangsa Tatcu berhasil menduduki Tionggoan karena mengandalkan "
Nadi naga"
Itu...."
"Sebenarnya, apa artinya Liong meh?"
Tanya Siau Po.
"Liong meh itu artinya hampir sama dengan Hongsui, atau kedudukan tanah yang bagus, untuk membangun rumah, pemakaman dan sebagainya,"
Kata To kionggo menjelaskan "Leluhur bangsa Tatcu dimakamkan di gunung itu, dan menurut orang pandai, anak cucunya akan bangkit, makmur dan berhasil menduduki Tionggoan, Guruku mengatakan apabila kita bisa memutuskan nadi naga itu, kemudian kita gali dan bongkar kuburan leluhur bangsa Tatcu itu, bukan saja raja bangsa itu tidak bisa memegang kekuasaan lagi, bahkan seluruhnya akan terbinasa di tangan kita, Demikian pentingnya gunung itu sehingga nenek guru serta guruku sudah berusaha mencarinya selama puluhan tahun.
Katanya, rahasia gunung itu ada dalam kitab Si Cap Ji cinkeng."
"Bibi,"
Siau Po masih kurang mengerti "Kalau memang hal itu merupakan rahasia besar bangsa Tatcu, bagaimana nenek guru serta guru bibi bisa mengetahuinya?"
"Terlalu panjang untuk menceritakannya,"
Kata To kionggo.
"Perlu diketahui bahwa nenek guruku adalah seorang bocah perempuan bangsa Han yang diculik seorang Ki cu dari bendera biru sulam bangsa Boan. Mereka merasa bingung karena mereka mendapatkan kenyataan Tionggoan begitu luas, rakyatnya banyak dan tanahnya indah. Mereka senang sekaligus khawatir Banyak hari-hari yang mereka lewati dengan mengadakan rapat untuk membicarakan tindakan mereka selanjutnya, dalam rapat itu tidak jarang mereka bertengkar karena berselisih pendapat."
"Mengapa?"
"Di antara mereka ada beberapa yang mengajukan usul untuk merebut Tionggoan, tapi ada sebagian yang bimbang dan cemas, Hal ini disebabkan saking banyaknya penduduk bangsa Han. Apabila bangsa Han memberontak ibarat seratus orang melawan satu. Mana mungkin orang-orang dari Bendera itu dapat melawannya? Dalam rapat, ada pula yang mengusulkan melakukan perampokan habis-habisan dan membawa hasilnya ke asal mereka. Akhirnya Sit Ceng ong yang mengambil keputusan Dia menyatakan untuk menggunakan cara "
Sambil menyelam minum air ", yakni merampas sekaligus menduduki Tionggoan, seandainya rakyat Han memberontak, mereka bisa mundur keluar dari Sanhay kwan, tanah mereka sendiri."
"Kalau begitu,"
Kata Siau Po.
"Sejak dulu kala bangsa Tatcu sudah agak takut menghadapi bangsa Han kita!"
Yang dimaksud dengan bangsa Tatcu ialah bangsa Boanciu (Mancu), Dan Boan Ceng merupakan panggilan untuk kerajaan Ceng.
sedangkan bangsa Han adalah bangsa Cina asli, penduduk yang dilahirkan di Tionggoan, Bangsa Cina terdiri dari berbagai suku, termasuk suku Mongolia, Suku Mongolia tinggal di Mongol, sebab pada saat itu Mongol luar sudah terpisah dari daratan Cina (Kalau zaman sekarang kita katakan sudah merdeka dan membangun negara sendiri).
Meskipun suku Mongol dan Boanciu pernah menyerbu serta merampas negara Tionggoan dan bahkan menduduki nya, tapi akhirnya mereka sendiri terpengaruh oleh budaya Han dan semua menjadi bangsa Cina pada akhirnya.
To kionggo melanjutkan ceritanya.
"Bagaimana tidak takut? Bahkan sampai sekarang mereka masih juga merasa takut, Kecacatan kita justru karena kita tidak bersatu padu, kita terpecah belah, Nah, keponakanku, raja Tatcu sangat menyayangimu dan menyukaimu. Kau harus mencari jalan untuk mendapatkan kitab Si Cap Ji cin-keng itu. Kalau kau berhasil, kita bisa mencari harta karun itu dan digunakan untuk biaya perbekalan pasukan perang dan merobohkan kerajaan Ceng, Dengan demikian kita bisa membangun kembali kerajaan Beng kita."
Siau Po mengangguk walaupun perhatiannya tidak tertarik sama sekali tentang memutuskan nadi naga atau memberontak melawan pemerintah Ceng, Yang membuat perhatiannya tertarik, justru harta karun yang disimpan dalam gunung itu.
Semangatnya jadi terbangun membayangkan hal itu.
"Bibi,"
Tanya Siau Po.
"Benarkah rahasia letak gunung Liong meh itu ada dalam kitab Si Cap Ji cin-keng?"
"Mengenai pertanyaanmu itu, aku hanya dapat memberi penjelasan begini,"
Kata To kionggo.
"Menurut keterangan nenek guruku, setelah mengadakan rapat selama beberapa hari berturut-turut, Sit Ceng-ing pulang ke istananya dengan membawa sebuah buntalan yang disimpannya dengan hati-hati sekali, Pada suatu hari, setelah minum arak sampai mabuk, Sit Ceng ong berkata kepada istri mudanya, apabila dia wafat nanti, buntalan itu harus diserahkan kepada putera istri mudanya itu dan jangan sekali-sekali diserahkan kepada putra Toa hokcin (istri tua). Tentu saja istri mudanya itu menjadi tidak senang. Apa gunanya beberapa
Jilid kitab agama Buddha?
Demikian pikirnya, Tapi Sit Ceng ong menjelaskan bahwa beberapa kitab itu justru merupakan titik penting dalam kehidupan Pat ki mereka, itulah sebabnya kitab-kitab itu lebih berharga dari apa pun.
Secara ringkas pangeran itu menjelaskan lebih jauh tentang riwayat kitab itu, pada saat itulah nenek guruku mencuri dengar pembicaraan mereka dari luar jendela sehingga dia mengetahui betapa pentingnya kitab itu.
Ketika itu ilmu silat nenekku sudah tinggi sekali dan guruku juga sudah beberapa tahun belajar dengannya, Karena itulah nenek guruku menyuruh guruku masuk ke dalam istana dan menyamar sebagai dayang, Tidak lama setelah guruku masuk ke dalam istana, keluarlah peraturan baru yang melarang keras para thay-kam dan para dayang sembarangan keluar masuk istana.
Dengan demikian, guruku itu bahkan belum pernah melihat wajah, itulah sebabnya beliau mendapat kesulitan untuk mencari kitab tersebut.
Mula-mula guruku senang kepadaku ketika aku menceritakan pengalamanku bersama Tiang kongcu, akhirnya beliau menerima aku sebagai murid dan mengajarkan ilmu silat kepadaku."
"Pantaslah thayhou bertekad mendapatkan kitab-kitab itu,"
Kata Siau Po.
"Dia orang Boanciu, jadi tidak mungkin dia memutuskan nadi naga itu, Tentu dia hanya berminat pada harta karun yang tersimpan di dalamnya, Yang aneh, dia kan ibu suri! Apa yang diinginkannya pasti dapat dimilikinya Mengapa dia masih menginginkan harta itu?"
"Mungkin di dalam gunung itu ada sesuatu yang aneh,"
Kata To kionggo, Tentang hal itu, nenekku juga tidak tahu apa-apa.
Kemudian nenek guruku itu berusaha mencuri kitab dari tangan Sit Ceng ong, sungguh malang ia kepergok dan terkepung.
Dalam pertempuran dia kehabisan tenaga dan dibunuh oleh musuh.
Tidak lama kemudian, guruku di istana juga jatuh sakit dan menutup mata, sebelum menghembuskan nafas terakhir, guruku berpesan bahwa bila aku bekerja seorang diri, tentu sulit bagi diriku, sebaiknya aku mengambil seorang murid yang dapat kuandalkan Dengan demikian, turun temurun kitab itu jangan dilupakan, dan harus berusaha terus sampai mendapatkannya!"
"Benar!"
Siau Po jadi semakin bersemangat "Kalau rahasia itu lenyap, lenyap pula harta yang demikian banyaknya! Sungguh harus disayangkan!"
To Hong-eng tersenyum.
"Hilang harta tidak menjadi masalah,"
Katanya.
"Yang penting, ialah jangan sampai bangsa Tatcu menduduki negara kita untuk selama-Iamanya. inilah yang membuat kami bangsa Han jadi penasaran!"
"Kata-kata bibi memang benar!"
Sahut Siau Po, tapi dalam hatinya dia justru berpikir "Katanya harta itu jumlahnya besar sekali. Kalau harta itu tidak ditemukan dan digunakan, barulah merupakan penyesalan!"
Siau Po masih muda sekati, dia juga buta huruf, Jadi pandangan hidupnya lain dengan orang banyak Sekian lama dia tinggal di istana, dia banyak melihat dan mendengar Tentang keganasan bangsa Boanciu yang membunuh rakyat Han dan merampas wilayah Tionggoan, Dia hanya mendengarnya dari cerita, semua itu tidak dialaminya sendiri.
Sebaliknya, selama berada dalam istana kerajaan Ceng, kecuali thayhou yang sangat membencinya, semua orang memperlakukannya dengan baik dan hormat Bahkan kaisar Kong Hi sendiri memandangnya bagai saudara, Dengan kata lain, dia tidak melihat atau merasakan kejahatan bangsa Boanciu.
Para pembesar tinggi dan menteri-menteri mungkin memandang padanya karena dia adalah orang kesayangan raja, tapi biar bagaimana dia merasakan keramahan mereka, Soal permusuhan dan dendam negara, merupakan urusan yang tidak menarik baginya .
To kionggo tidak tahu apa yang dipikirkan Siau Po, atau apa yang akan ia lakukan.
"Selama tinggal di dalam istana bertahun-tahun, aku tidak pernah mempunyai murid. Banyak dayang muda yang aku lihat, tapi biasanya mereka bodoh, tidak cerdas dan genit Apa yang mereka harapkan hanya disuka dan disayang oleh raja, malah ada yang berkhayal akan diangkat menjadi selir itulah sebabnya pernah timbul rasa khawatir dalam hati ini bahwa sampai akhir hidup aku tidak akan mendapat seorang murid pun. Dengan demikian, bila aku mati, rahasia ini akan ikut masuk dalam kuburanku dan bangsa Tatcu akan kekal menguasai Tionggoan, Kalau hal ini sampai terjadi, bagi nenek guru dan guruku di alam baka, aku merupakan orang yang paling berdosa, Arwah mereka tidak akan tenang untuk selamanya! Keponakanku, di luar dugaan, kita dapat bertemu, Hal inilah yang membuat hatiku lega dan gembira!"
"Aku juga gembira, bibi! Meskipun aku tidak begitu tertarik dengan urusan kitab itu,"
Sahut Siau Po.
"Kenapa kau merasa gembira?"
"Karena aku pun tidak mempunyai orang yang dekat denganku,"
Sahut Siau Po.
"Memang ibuku masih hidup, tapi sifat kami berlainan dan jarak antara kami juga jauh sekali, Masih ada guruku, tapi beliau sangat sibuk sehingga sukar menemuinya, Tapi, sekarang aku mempunyai orang yang dekat denganku, yaitu bibi, Tentu saja aku merasa gembira sekali."
Senang sekali hati To kionggo mendengar ucapan keponakannya yang pandai bicara ini. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.
"Sejak kecil aku tinggal di istana, meskipun aku mempunyai guru yang mengajarkan aku ilmu silat tapi mengenai urusan dunia kangouw, boleh bilang pengetahuanku sedikit sekali,"
Katanya.
"Tadi aku melihat ada dua buah kitab dalam bungkusanmu isinya ilmu silat, tapi alirannya berbeda dan agak bertentangan Apakah itu ajaran dari gurumu?"
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Bukan dua-duanya,"
Sahutnya.
"Yang satu memang kitab yang diberikan oleh guruku, tapi yang satu lagi milik Hay kongkong, si kura-kura tua!"
"Siapakah gurumu?"
Tanya To Hong-eng.
"Guruku merupakan Cong tocu dari Tian-te hwe,"
Sahut Siau Po terus terang.
"Beliau she Tan dan namanya Kin Lam."
Nama Tan Kin-lam sudah terkenal sekali, tapi bagi To Hong-eng yang separuh hidupnya dilewatkan dalam istana, baru pertama kali inilah dia mendengarnya.
"Kalau gurumu adalah seorang ketua dari perkumpulan Tian-te hwe, ilmunya pasti tinggi sekali !"
"Memang! Tapi, sayangnya aku belum lama mengikutinya,"
Sahut Siau Po.
"Masih banyak pelajarannya yang belum aku pahami dan setiap kali kami bertemu, waktunya selalu terlalu singkat Bagaimana kalau bibi To mengajarkan aku beberapa jurus ilmu?"
To Hong-eng tampak bimbang.
"Kalau asalnya kau belum pernah belajar ilmu silat, tentu aku akan mengajarkannya,"
Kata To kionggo.
"Bahkan aku bisa mengangkat kau sebagai murid. Tapi kau sudah mempunyai guru, aku khawatir aliran ilmu kami berbeda, hal itu malah akan membahayakan kesehatanmu. Coba kau bilang, bagaimana ilmu silat gurumu kalau dibandingkan dengan kepandaianku? Siapa yang lebih hebat?"
Siau Po hanya berpura-pura saja meminta To Hong-eng mengajarinya ilmu silat, dia hanya ingin membuat hati wanita itu menjadi senang, Coba kalau sang bibi mau mengajarkannya, tentu dia akan mencari berbagai alasan untuk menolaknya, Karena dia sadar, dengan mempelajari ilmu silat di bawah bimbingan bibinya itu, pasti gagailah dia berangkat ke Ngo Tay san.
Siau Po memang senang sekali berpesiar kemana-mana.
Dengan demikian berkuranglah minatnya pada ilmu silat, waktunya juga tidak terbagi.
"Bibi,"
Katanya kemudian.
"Di hadapan bibi, aku tidak berani berbohong...."
"Anak kecil memang tidak boleh berbohong,"
Sahut To kionggo.
"Urusannya begini,"
Kata Siau Po.
"Pernah aku menyaksikan guruku bertarung melawan seseoran yang kepandaiannya tinggi sekali, Dalam tiga jurus saja, lawannya itu sudah tidak berkutik, Karena itu aku.,, rasa bibi bukan tandingannya... guruku itu.,., To Hong-eng tersenyum "
Benar!"
Katanya.
"Aku percaya bahwa aku masih kalah jauh. Ketika melawan lakilaki yang menyamar sebagai dayang dalam kamar thayhou tempo hari, kalau kau tidak membantu aku menyerangnya dari belakang, mungkin sekarang sudah tamat wayat hidupku! Gurumu itu, tidak mungkin begitu tidak berguna seperti diriku!"
"Tapi, dayang palsu itu memang lihay sekali"
Kata Siau Po.
"Setiap kali mengingat dia, sampai sekarang aku masih takut...."
To kionggo menatap Siau Po dalam-dalam, kemudian dia menarik nafas panjang.
"Anak, ilmu silatmu sekarang masih rendah sekali, Kau harus banyak berlatih Dengan kepandaianmu ini, untuk menjadi thay-kam memang sudah cukup, malah mungkin berlebihan Tapi bila kau melakukan perjalanan di dunia kangouw, masih jauh dari kurang, Kau tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali..."
Wajah Siau Po jadi merah padam mendengar ucapan bibinya yang hebat itu.
"lya.,."
Sahutnya lirih, Dalam hatinya dia justru menggerutu "Memang kepandaianku belum berarti, tapi aku tidak mengerti mengapa dikatakan sama dengan orang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali?"
"Kalau kau tidak mengerti ilmu silat sama sekali, mungkin malah lebih baik daripada kepalang tanggung seperti sekarang ini,"
Kata To kionggo.
"Sebab musuh tidak akan sembarangan membunuh orang yang tidak berdaya, Tapi kalau kau mengerti, pasti musuh akan berjaga-jaga terhadap dirimu. Sekali mereka turun tangan, pasti tidak akan bermurah hati, Nah, kalau begitu bukankah kau menghadapi ancaman bahaya yang lebih besar?"
"Andaikata kita singgah di penginapan gelap dan bertemu dengan penjahat kelas teri, bagaimana?"
Tanya Siau Po. Hong Eng terdiam. Dia tidak langsung menjawab, Setelah merenung sejenak, dia baru menganggukkan kepalanya.
"Kau benar! Di dalam dunia kangouw, memang lebih banyak orang yang kepandaiannya tidak berarti ketimbang yang benar-benar lihay!"
To Hong-eng tampaknya gelisah terus, Kemudian dia menunjuk ke arah sebuah pohon besar di sebelah depan.
"Mari kita istirahat di sana! Nanti kita baru melanjutkan perjalanan kembali,"
Katanya.
"Kuda kita juga perlu makan rumput!"
Dia menjalankan keretanya ke bawah pohon itu kemudian dihentikan di sana.
Keduanya melompat turun dari kereta dan duduk berdampingan, kembali Hong Eng berdiam diri, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.
Siau Po juga diam saja, Dia heran melihat sikap bibinya sehingga ia bertanya-tanya dalam hati, apa kiranya yang menyebabkan wanita itu gelisah terus.
Lewat beberapa saat, tiba-tiba dia bertanya.
"Apakah dia berbicara?"
Siau Po semakin bingung.
Dia tidak mengertii apa maksud pertanyaan itu sehingga dia menoleh kepada bibinya, Untuk sesaat mereka jadi saling pandang, sedangkan yang mengajukan pertanyaan juga tidak memberikan penjelasan apa-apa.
"Apakah kau mendengar dia berbicara?"
Tanya To Hong-eng kembali setelah mereka tertegun sesaat.
"Apakah kau melihat gerakan bibirnya?"
Mata Siau Po masih memandang terpaku, Dari heran, hatinya mulai merasa takut. Sikap bibinya aneh sekali Mungkinkah dia terpengaruh roh jahat? "Bibi kok jadi aneh?"
Pikirnya kemudian "Apakah dia terkena pengaruh jahat atau melihat hantu?"
Saking bingungnya, dia langsung bertanya.
"Bibi, apakah kau melihat seseorang?"
"Siapa?"
Sang bibi malah balik bertanya.
"Itu... si dayang palsu... laki-laki yang menyamar sebagai perempuan...."
Tanpa dapat ditahan lagi, rasa takut melanda hati Siau Po.
"Apakah kau melihat dayang palsu itu?"
Tanyanya dengan suara bergetar Matanya celingak-celinguk kesana kemari, kemudian kembali menatap bibinya.
"Di mana dia?"
Mendapat pertanyaan itu, To Hong-eng seperti tersentak sadar sikapnya mirip orang yang baru terbangun dari mimpi. Dia langsung tersenyum.
"Aku menanyakan engkau tentang kejadian malam itu ketika berada di kamar tidur thayhou,"
Katanya menjelaskan "Ketika aku bertarung dengannya, apakah kau pernah melihatnya membuka mulut atau berbicara?"
Siau Po menarik nafas lega.
"Oh! Rupanya bibi menanyakan peristiwa malam itu?"
Sahutnya.
"Bibf menanyakan apakah dia bersuara atau tidak? Aku tidak mendengarnya."
Hong Eng berdiam diri kembali, Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"llmu silatku terpaut jauh dengannya, Untuk menghadapi aku, tidak perlu dia menggunakan ilmu gaib,"
Katanya. Siau Po semakin bingung.
"Sudahlah, bibi, Tidak usah bibi pikirkan lagi tentang dia.,."
Kata Siau Po.
"Bukankah kita sudah berhasil membunuhnya? Dia tidak akan hidup kembali!"
"Ya... orang itu sudah kita bunuh dan tidak bisa hidup kembali!"
Kata To kionggo mengulangi Tampaknya dia ingin membuat hatinya lega, tapi kenyataannya gagah. Dia tetap terlihat gelisah dan khawatir walaupun dia berusaha menutupinya.
"Oh, bibi To..."
Kata Siau Po dalam hatinya.
"Kau begitu gagah, tapi takut setan, Baru bunuh satu orang saja, kau sudah gelisah tidak karuan, Kenapa sejak tadi kau terus termangu-mangu? Lagipula, aku yang membunuh dayang palsu itu, bukan kau! Kau memang berusaha membunuh thayhou, tapi nyatanya kau gagal, Sampai sekarang dia masi hidup!"
"Kalau seseorang sudah mati, dia sudah tidak berarti lagi, bukan?"
Tiba-tiba To Hongeng ber tanya kembali.
"Betul!"
Sahut Siau Po.
"Meskipun dia sudah jadi setan, kita juga tidak perlu takut!"
"Apa sih setan?"
Kata Hong Eng.
"Aku hanya mengkhawatirkan muridnya Sin-Liong kaucu itu. Dia... bukankah thayhou menyebutnya suheng? Tidak! Kalau melihat gerak
Tiraikasih website
http.//cerita-silat.co.cc/ geriknya, dia tidak mirip dengan orang yang sedang bersilat. Ya, bukan! Apakah benar ketika bertarung denganku, mulutnya tidak bergerak-gerak? Benar atau tidak?"
Pertanyaan Hong Eng seakan diajukan pada dirinya sendiri suaranya bergetar Tampaknya dia ingin mendapat kepastian dari Siau Po agar dugaannya tidak keliru.
Sebaliknya dengan Siau Po, kepandaiannya memang masih rendah, dia tidak mengetahui ilmu apakah yang digunakan dayang palsu itu ketika menghadapi bibinya ini.
Ketika memberi jawaban, suaranya sengaja diperkeras.
"Jangan khawatir, bibi,"
Katanya.
"Mengenai pertanyaan bibi, aku bisa membenarkan. Memang cara berkelahi orang itu aneh sekali, Ketika bertarung dengan bibi, gerakgeriknya tidak mirip orang yang mengerahkan ilmu silat. Dia juga tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bibi, sebetulnya benda apakah Sin Liong kaucu itu?"
Bocah ini memang luar biasa sekali, Kalau bicara, dia tidak pernah memikirkan katakata yang baik atau tidak, tidak perduli apakah ucapannya aneh atau tidak bagi orang yang mendengarnya, Tapi kadang-kadang, dia bisa juga bicara sopan dan penuh hormat.
"Anak, kau belum tahu siapa itu Sin Liong kaucu!"
Kata To kionggo.
"Kepandaiannya tinggi dan bermacam ragam. Baik ilmu silat maupun ilmu gaib semua dikuasainya dengan baik, Oh, anak... sekalipun di belakangnya, kau tidak boleh sembarangan bicara! Dengan kata lain, jangan sekali-sekali berbuat kesalahan terhadapnya, Kaucu ini mempunyai banyak murid dan juga cucu murid. Sumber beritanya luas dan gosip apa pun cepat sampai ke telinganya, Kalau dia sampai mendengar kata-katamu tadi, hidupmu akan segera menjadi kenangan masa lalu!"
Siau Po merasa heran, Mengapa wanita segagah ini bisa demikian takut terhadap seorang kepala sekte agama yang diberi nama Naga Sakti?
Mengapa selain bicara, matanya juga melirik kesana kemari?
Dia seakan khawatir kaucu itu ada di belakangnya.
"Benarkah Sin Liong kaucu itu demikian lihay?"
Tanya Siau Po saking penasarannya.
"Mungkinkan kekuasaannya melebihi seorang raja?"
"Kekuasaannya sih tidak melebihi seorang raja,"
Sahut To kionggo.
"Tetapi pengaruhnya lebih luas dan selalu tepat. Bersalah terhadap raja, orang masih bisa melarikan diri jauh-jauh atau bersembunyi. Dengan demikian belum tentu kena dibekuk tapi kalau bersalah terhadap Sin Liong kaucu, meskipun kau lari sampai ke ujung dunia, tetap saja tidak bisa melepaskan diri dari maut!"
"Kalau demikian, sudah tentu Sin-liong kaucu lebih banyak anggota dan kekuasaannya lebih besar dari Tian-te hwe kami!"
"Secara keseluruhannya bukan begitu, anak,"
Kata To kionggo.
"Tujuan Sin-liong kau juga berbeda dengan cita-cita Tian-te hwe. Tian-te hwe ingin menghancurkan kerajaan Boan untuk membangun kembali kerajaan Beng, Cita-cita itu luhur dan suci serta dihargai oleh orang banyak, jauh sekali bedanya dengan Sin-Liong kau!"
"Bukankah bibi tadi bermaksud mengatakan bahwa setiap orang dunia kangouw pasti merasa takut terhadap Sin-Liong kau?"
Tanya Siau Po setengah memaksa. To Hong-eng merenung sejenak sebelum menjawab.
"Sebenarnya mengenai urusan dunia kangouw, pengetahuanku terlalu sedikit,"
Sahutnya kemudian "Apa yang aku ketahui, kebanyakan hanya mendengar dari guruku saja.
Dan setahuku, nenek guruku yang demikian lihay saja, terpaksa menelan pil pahit dengan dikalahkan oleh Sin-Liong kaucu!"
"Kurang ajar!"
Teriak Siau Po emosi.
"Kalau begitu, Sin Liong kaucu adalah musuh kita, mengapa kita harus takut kepada nya ?"
To Hong-eng menggelengkan kepalanya.
"Menurut keterangan guruku,"
Katanya dengan perlahan dan sabar "Kepandaian Sin Liong kaucu itu memang luar biasa sekali, di dalamnya terkandung banyak perubahan yang tidak terduga.
Apalagi dia juga lihay dalam ilmu gaib, Mereka pandai membaca mantra dan bila hal itu dilakukan ketika berhadapan dengan musuh, maka lawannya itu akan terpengaruh dan hatinya terguncang serta takut Sebaliknya, mereka sendiri akan semakin kuat dan gagah, Ketika nenek guru berusaha mencuri kitab Si Cap Ji cin-keng, beliau tertangkap basah dan bertarung melawan salah satu murid Sin Liong kaucu, Mula-mula nenek guru sudah menang di atas angin, namun tiba-tiba mulut orang itu berkomat kamit membaca mantra dan serangan-serangan nenek guru pun jadi semakin mengendur.
Dalam satu kesempatan, perutnya sempat terhajar oleh musuh yang mana mengakibatkan kematiannya.
sebenarnya pada saat itu guruku mendampingi nenek guru sehingga dia dapat menyaksikan segalanya dengan jelas.
Guruku gusar sekali melihat kenyataan tersebut Tanpa berpikir panjang lagi dia menerjang ke depan dengan niat membalaskan sakit hati nenek guruku itu, Tapi tibatiba saja lututnya menjadi lemas dan pikirannya berubah, beliau malah menyembah dan menyerah kalah, Setiap kali memikirkan hal itu, guru merasa malu sekali dan juga takut Karena itulah beliau berpesan, jangan sekali-sekali aku bertarung dengan orang-orang dari Sin Liong kau sebab berbahaya sekali!"
Siau Po masih penasaran, Diam-diam dia ber pikir dalam hati.
"Gurumu seorang wanita, tentu saja nyalinya kecil sekali, Dasar perempuan! Mudah merasa takut lalu tunduk dan menyerah kalah! ---Kemudian dia bertanya.
"Bibi, apa yang dijampi oleh musuh nenek guru itu? Apakah guru bibi mendengarnya?"
"Beliau tidak mendengarnya,"
Sahut To Hong-eng.
"Mengenai dayang palsu itu, aku curiga dia adalah murid Sin Liong kaucu. itulah aku bertanya kcpadamu, apakah mulutnya bergerak-gerak ketika bertarung melawan aku?"
"Oh, begitu rupanya!"
Kata Siau Po yang kemudian segera mengingat kejadian malam itu. sesaat dia merenung, akhirnya dia menjawab.
"Tidak, bibi, Aku tidak melihat atau mendengar apa-apa. Apakah bibi mendengarnya?"
"Kepandaian dayang palsu itu jauh lebih tinggi daripadaku,"
Sahut To Hong-eng.
"Aku kesibukan melayaninya sehingga tidak memperhatikan apakah mulutnya bergerakgerak atau tidak, Beberapa kali aku menyerangnya dengan jurus mematikan, tetapi baru dimulai hatiku sudah merasa sangsi dan takut Aku merasa kepandaian lawan terlalu tinggi dan aku tidak sebanding dengannya, Rasanya ingin sekali menekuk lutut dan menyerah saja. Mendapat pikiran seperti itu, gerak-gerikku jadi lamban dan otomatis seranganku selalu gagal di tengah jalan. Belakangan aku menduga bahwa dayang palsu itu pandai membaca mantera mempengaruhi lawan, Tapi aneh! ilmunya toh lebih tinggi daripada aku, mengapa dia harus menggunakan ilmu gaib?"
Siau Po mengangguk.
"Bibi,"
Katanya.
"Bolehkah bibi memberitahukan kepadaku, sejak mempelajari ilmu silat, seringkah bibi menghadapi lawan? Apakah bibi pernah membunuh orang? Kalau pernah, berapa orang lawan yang pernah bibi bunuh sebelumnya?"
To Hong-eng menggelengkan kepalanya.
"Selama ini aku belum pernah bertarung dengan siapa pun, apalagi membunuh orang?"
Sahutnya.
"Sedangkan waktu itu saja aku melakukannya saking terpaksa, karena harus membela diri!"
"Kalau begitu, inilah sebab kegelisahan bibi!"
Kata Siau Po.
"Sebaiknya lain kali bibi bunuh lagi beberapa orang jahat agar bibi terbiasa dan tidak perlu khawatir dan waswas seperti sekarang ini!"
Bagian 30
"Mungkin ucapanmu benar, nak,"
Sahut To kionggo.
"Tapi, kalau keadaan tidak terpaksa lagi, sebetulnya aku tidak suka berkelahi dengan orang, apalagi membunuhnya. Aku hanya ingin hidup dalam ketenangan serta kedamaian. Cita-citaku sekarang hanya ingin mendapatkan kitab Si Cap Ji cin-keng agar dapat merusak nadi naga bangsa Boan agar tidak menjajah kita terus menerus, Hanya itu saja, hatiku sudah merasa puas!"
Di dalam hatinya, Siau Po justru menertawakannya.
"Oh, bibiku yang baik, enak saja kau bicara!, Gara-gara mencari kitab itu, entah sudah berapa nyawa yang dikorbankan. Kau kira kitab itu bisa didapatkan dengan mudah?"
Pada saat itu To Hong-eng sedang menyamar wajahnya dipoles sedemikian rupa sehingga tidak terlihat mimik perubahan apa-apa, hanya sinar matanya yang menyorotkan sinar kekhawatiran.
"Bibi, ada baiknya bibi masuk saja menjadi anggota Tian-te hwe?"
Kata Siau Po kemudian.
Dalam hatinya dia berpikir, jumlah anggota Tian-te hwe banyak sekali, sehingga bibinya tidak perlu merasa takut Hong Eng merasa heran dan menatap Siau Po lekat-lekat "Mengapa kau menyuruh aku masuk menjadi anggota perkumpulanmu?"
Tanyanya.
"Tujuan Tian-te hwe ialah hendak menumbangkan pemerintah Boanciu serta membangun kembali kerajaan Beng,"
Katanya.
"Jadi sejalan dengan cita-cita bibi sendiri"
"lya, tujuan itu memang baik sekali, tapi sebaiknya urusan ini kita bicarakan kelak saja, sekarang aku akan pulang ke kotaraja, Bagaimana dengan kau sendiri? Kau akan kemana?"
Siau Po merasa heran mendengar ucapan wanita itu.
"Bibi akan kembali ke kotaraja?"
Tanyanya.
"Apakah bibi tidak takut terhadap ibu suri?"
To kionggo menarik nafas panjang.
"Sejak kecil aku sudah tinggal di istana dan terus sampai sekarang ini,"
Sahutnya.
"Karena itu, setelah kupikirkan bolak-balik, sebaiknya aku tetap di sana saja, Dengan berdiam di dalam istana, aku tidak pernah merasa takut, sedangkan di luar aku tidak mempunyai kenalan dan buta sama sekali dengan seluk-beluknya, istana sangat besar, banyak tempat bagiku untuk bersembunyi ibu suri tidak mungkin menemukan aku."
"Baiklah,"
Kata Siau Po.
"Bibi kembali saja ke istana, kalau ada kesempatan, aku akan menjenguk bibi di sana. sekarang aku sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh guruku!"
Karena urusan yang dikatakan Siau Po menyangkut perkumpulan Tian-te hwe, To kionggo merasa tidak enak untuk menanyakannya.
"Kelak bila kau datang ke istana, bagaimana kau akan menemui aku?"
Tanyanya. Siau Po memberikan jawaban tanpa berpikir lagi.
"Kalau aku kembali ke istana, aku akan menancapkan sebatang kayu di dekat tumpukan batu tempat pembakaran sampah, kayu itu berukir seekor burung kecil. Kalau bibi melihatnya, tentu bibi akan tahu kalau aku sudah pulang, Malam harinya aku akan datang ke tempat itu menunggu bibi!"
To Hong-eng menganggukkan kepalanya.
"Bagus! Demikianlah perjanjian kita!"
Serunya.
"Anak yang baik, dunia kangouw penuh dengan marabahaya, kau harus berhati-hati dalam melakukan hal apa pun!"
Siau Po menganggukkan kepalanya dengan perasaan terharu.
"Terima kasih, bibi To,"
Katanya.
"Pesan bibi akan senantiasa aku perhatikan Demikian pula dengan bibi sendiri, Bibi harus berhati-hati, Si perempuan hina itu kejam dan jahat sekali, Hatinya beracun Berjaga-jagalah agar bibi jangan sampai terjatuh ke tangannya!"
Kembali To kionggo mengangguk Dia bersyukur sekali mendapatkan seorang keponakan yang begitu baik dan menyayanginya.
Sampai di situ, mereka naik kembali ke atas kereta untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah menempuh beberapa li, kereta dihentikan dan Siau Po pun melompat turun Dia menyewa kereta sendiri untuk meneruskan misi yang diembannya.
Tujuannya ke arah barat, sedangkan Hong Eng ke sebelah timur.
Beberapa kali Siau Po menolehkan kepalanya menatap kepergian wanita itu.
Dalam hatinya dia berkata.
"Dia bukan bibi asliku, tapi dia baik sekali kepadaku!" Dalam perjalanan, Siau Po berusaha tidur sebentar Ketika dia tersadar, dia mendapatkan hari sudah senja. Tepat pada saat itu, dia mendengar derap kaki kuda. Dia melongokkan kepalanya dan melihat seorang penunggang kuda sedang berusaha mengejar keretanya, Tiba-tiba terdengar suara sapaannya.
"Hai kusir! Apakah penumpangmu seorang bocah cilik?"
Hampir saja Siau Po melonjak bangun saking terkejutnya, Untung saja dia segera mengenali suara Lau It-cou. Tanpa memberi kesempatan kepada si kusir untuk menjawab, dia langsung berteriak.
"Lau toako! Apakah Lau toako mencari aku?"
Ketika itu, seluruh tubuh Lau It-cou bermandi keringat wajahnya kotor oleh debu. Ketika mengenali si bocah, dia berteriak dengan suara nyaring.
"Bagus! Akhirnya aku berhasil juga menemukan engkau!"
Kemudian dia melarikan kudanya lebih cepat lagi dan akhirnya menghadang ke depan kereta, Sekali lagi terdengar suara teriakannya.
"Cepat kau menggelinding dari keretamu itu!"
Hati Siau Po tercekat Dia melihat sikap Lau It-cou lain dengan biasanya, Caranya itu tidak bersahabat sama sekali bahkan terselip rasa permusuhan "Eh, Lau toako!"
Tanya Siau Po.
"Apa salahku? Mengapa kau marah-marah?"
It Cou tidak menjawab, cambuknya mengayunkan ke depan dan mengenai kepala kuda yang menarik kereta itu, Binatang tersebut kesakitan dan meringkik nyaring kemudian menghentak-hentakkan sepasang kaki depannya sehingga kereta itu terjungkir ke belakang serta membuat si kusir terjengkang!
Bukan main mendongkolnya hati si kusir.
"Hai! teriaknya.
"Tengah hari bolong bertemu setan? Kenapa tidak juntrungan menyerang kereta orang?"
Tampaknya It Cou sedang marah sekali.
"Memang aku kejam! Memang aku jahat! Kau mau apa?"
Teriaknya berulang-ulang.
Kusir kereta itu mati kutu, Dia tengkurap terus di atas tanah agar tidak menjadi sasaran cambuk Lau It-cou, tapi pemuda itu sedang kesal dan penasaran Dan mencaci maki kalang kabut, Cambuk di tangannya terus diayunkan sehingga akhirnya tubuh kusir kereta itu terlilit dan dihentakkan keras-keras, serangannya ini hebat sekali, Bukan hanya pakaian kusir itu saja yang koyak, bahkan dagingnya juga pecah dan darah pun bercucuran.
Siau Po heran sekali sampai-sampai dia jadi tertegun.
"Sudah pasti dia mencari aku!"
Katanya dalam hati.
"Aku bukan tandingannya, Setelah menghajar kusir kereta itu, dia pasti akan mencari aku. Oh! Kalau hal itu sampai terjadi, bahaya sekali!"
Berkat kecerdikannya, dia segera mengeluarkan pisau belatinya yang tajam..
Diamdiam dia menusuk pantat kuda itu sehingga kesakitan dan lari sekencang-kencangnya.
Melihat kereta itu kabur, Lau It-cou segera meninggalkan si kusir yang membuatnya kesal dan lari menyusul kereta sambil berulangkali mengayunkan cambuk ke bagian belakang kuda tunggangannya.
"Bocah!"
Teriak Lau It-cou.
"Kalau kau laki-laki, jangan lari!"
Kereta masih terus melaju, Siau Po melongokkan kepalanya.
"Bocah yang baik!"
Sahutnya menggoda, dia meniru logat suara Lau It-cou.
"Kalau kau seorang laki-laki, jangan mengejar aku!"
Bocah ini memang jenaka, Orang menyuruhnya jangan lari, dia malah meneriaki agar orang jangan mengejarnya!
It Cou gusar sekali, Dia mencambuki kudanya keras-keras sehingga binatang itu kesakitan dan semakin cepat larinya, Gerakan kereta sudah terhitung cepat, tapi tentu kalah dengan kuda tunggangan Lau It-cou.
Dalam sekejap mata kereta yang ditumpangi Siau Po sudah tersusul.
Siau Po bingung juga.
Dia ingin menyambit orang dengan pisau belatinya, tapi tidak yakin akan berhasil.
Hatinya juga menjadi berat mengingat Pui Ie.
Bukankah si nona cantik itu pacarnya Lau It-cou?
Mana mungkin dia sampai hati mencelakai kekasih hati gadis pujaannya?
Sebaliknya, kalau sampai gagal, dia menyayangkan pisau mustikanya itu....
Tidak ada jalan lain bagi Siau Po.
Dia meng-hentakkan tali laso kudanya agar kereta di jalankan lebih kencang lagi.
Tiba-tiba Siau Po merasakan sambaran angin dan tahu-tahu dia kesakitan.
Ujung cambuk Lau It-cou mengibas pipinya.
Rupanya jarak Lau It-cou sudah dekat sekali Begitu cambuknya digerakkan, luncurannya tepat mengenai sasaran, meskipun hanya pipi lawannya!
Walaupun sudah berusaha mengelakkan diri, Siau Po tetap merasakan pipinya nyeri dan panas, Dia menahan rasa sakitnya, Sambil menunduk matanya melirik keluar Kuda Lau It-cou sudah hampir menempel dengan keretanya, Tentu dengan mudah pemuda itu bisa meloncat ke atas keretanya dan hal itu berbahaya sekali, Dia harus mencegahnya, Bocah kita memang cerdas sekali, Dia segera merogo sakunya dan mengeluarkan uang perak sebanyak tujuh delapan potong, Mendadak dia menundukkan kepalanya dan menyambitkan potong-an-potongan uang perak itu ke arah kepala kuda Lau It-cou.
sebetulnya Siau Po tidak pernah belajar ilmu menyambitkan senjata rahasia, tetapi karena dia sekaligus menimpuk beberapa potong uang perak, jadi kebetulan salah satunya mengenai mata kiri kuda yang ditunggangi Lau It-cou.
Kuda itu tersentak kaget saking nyerinya, Binatang itu langsung kabur tanpa dapat dikendalikan lagi.
Malah arah yang diambilnya ialah tepi jalan yang ada tanjakannya, Lau It-cou khawatir kudanya akan terjungkal dan dirinya pasti akan luka-luka terbanting dari atas kuda.
Karena itu dia segera melompat turun dari kudanya dan membiarkan binatang itu lari terus.
"Kurang ajar!"
Teriak pemuda itu dengan hati mendongkol. Sebaliknya Siau Po masih kabur terus dengan keretanya, Dia melongokkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak, tangannya melambai-lambai kepada Lau Itcou.
"Lau toako! Kau belum pandai menunggangi kuda, Biar aku nasihati, sebaiknya kau tangkap seekor kura-kura kemudian kau tunggangi untuk mengejar aku!"
Meskipun hatinya panas sekali, Lau It-cou tidak memperdulikan Siau Po.
Dia menggunakan segenap tenaganya untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya guna mengejar kereta Siau Po.
Si bocah khawatir juga, Kembali dia menghentakkan tali laso kudanya, Beberapa kali di menoleh ke belakang dan mendapatkan lawannya masih mengejar terus, Tampaknya lari It Cou cepat sekali.
jarak di antara keduanya tinggal dua tiga puluh tombak, dia malah mempercepat langkah kakinya.
"Celaka kalau sampai tersusul olehnya!"
Pikir Siau Po.
"Rasanya sulit bagiku untuk meloloskan diri!"
Kembali Siau Po mengasah otaknya.
Kemudian dia mengeluarkan pisaunya sekali lagi untuk menusuk pantat kuda itu.
Maksudnya agar larinya lebih cepat lagi, Ternyata dugaan keliru, Kuda itu panik sekali karena kesakitan Binatang itu memutar tubuhnya dan malah lari ke arah Lau It-cou!
"Celaka!
Celaka!"
Teriak Siau Po dalam hati, Dia segera menarik tali laso kereta itu kuat-kuat, maksudnya agar kereta itu tertahan dan berputar ke arah semula, Tapi tenaganya kalah kuat, kereta masih meluncur terus.
"Benar-benar celaka!"
Lagi-lagi Siau Po berteriak dalam hati, Melihat gelagat yang kurang baik itu, Siau Po jadi nekad, Dia melepaskan tali laso kuda itu kemudian melompat turun dari keretanya, Setelah itu dia lari ke tepi jalan untuk menyelusup ke dalam hutan, Dia bermaksud menyembunyikan diri di balik pepohonan yang rimbun.
Karena kereta itu kaburnya ke arah Lau It-cou, jarak antara kuda dan kereta semakin dekat.
Begitu Siau Po melompat turun, Lau It-cou pun menyusulnya!
Sekarang jarak mereka semakin dekat, hanya tinggal beberapa tindak saja, Dengan sekali lompatan saja, tangan Lau It-cou sudah menjulur ke depan untuk mencengkeram bagian belakang leher baju Siau Po.
Si bocah cilik tercekat hatinya, Dia merasa takut, tapi berpikir untuk membela diri, Dia harus melakukan perlawanan.
Dengan pisau belatinya ia menikam ke belakang.
Lau It-cou adalah murid pertama dari Tiat-pwe Cong Liong Liu Tay-hong yang merupakan jago nomor satu di antara keempat ke-ciang atau pelindung keluarga Bhok.
Dapat dibayangkan kehebatan ilmu silatnya dan tentu jauh diatas Siau Po.
Dengan satu gerakan tangan kanan yang menggunakan jurus "Heng-in Liu-sui (Awan berarak, sungai "
Mengalir) secara mudah dia berhasil mencekal lengan Siau Po yang kemudian langsung ditelikungnya.
Dengan demikian, otomatis pisau yang tadinya mengincar Lau It-cou sekarang malah mengancam dirinya sendiri.
"Bangsat kecil! Kau masih berani melawan?"
Bentak pemuda itu.
Siau Po terkejut juga takut, Lengannya terasi nyeri dan lehernya juga terancam pisau belatinyi sendiri Dia maklum sekali ketajaman pisau itu Apabila Lau It-cou menekan tangannya sedikit lagi tenggorokannya pasti bolong oleh pisau belatinyi sendiri Tapi dasar anak bengal dan otaknya cemerlang, bukannya memohon pengampunan dia malah tertawa.
"Lau toako!"
Katanya.
"Mari kita bicara baik-baik! Kita kan orang sendiri Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?"
"Fuh!"
Lau It-cou membuang ludah ke atas tanah.
"Masih berani kau mengatakan orang sendiri? Ketika di dalam istana, berani sekali kau mengelabui Pui sumoay!, Mengapa kau berani tidur di atas tempat tidur dengannya? Tidak bisa tidak, kau harus kubunuh!"
Ketika berbicara, urat-urat hijau di pelipisnya bertonjolan, Matanya menyorotkan sinar kemarahan Tampangnya sungguh menyeramkan!
Sekarang Siau Po baru mengerti apa sebab kemarahan Lau It-cou.
Dia hanya merasa heran bagaimana Lau It-cou bisa tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan Pui Ie.
Dia juga sadar dirinya tengah menghadapi ancaman maut.
Tangannya tercekal erat, sedangkan pisau belati mengancam lehernya, Dia tidak berkutik sama sekali, tapi masih saja Siau Po tertawa.
"Lau toako, nona Pui adalah jantung hatimu,"
Katanya.
"Bagaimana aku berani bersikap kurang ajar terhadapnya? Di dalam hati nona Pui hanya ada kau seorang, Kau tahu? Siang malam hanya engkau yang dipikirkannya!"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Tanya It-Cou. Dia jadi suka bicara dan hawa amarahnya agak mereda.
"Karena dia memohon padaku agar membebaskan kau dari penjara,"
Sahut Siau Po.
"Seperti kau ketahui, kau toh benar-benar bebas sekarang, Aku tidak bisa melukiskan, betapa senangnya nona Pui ketika mengetahui kau sudah selamat!"
Mendadak hati It Cou jadi panas kembali Dia menggertakkan giginya erat-erat.
"Kau si telur anjing! Lohu tidak sudi menerima budimu!"
Teriaknya garang.
"Kau tolong aku, syukur. Tidak kau tolong juga tidak apa-apa. Tapi, mengapa kau harus menipu adik seperguruanku agar sudi menikah denganmu, menjadi istrimu?"
"Ah, toako!"
Seru Siau Po yang cerdik.
"Mana ada kejadian seperti itu? Siapa yang mengatakannya ? Nona cantik dan manis laksana bunga seperti nona Pui Ie hanya pantas bersanding dengan Lau toako yang gagah dan tampan!"
Kembali hawa amarah dalam dada Lau It-cou reda tiga bagian. Hatinya senang mendengar pujian bagi dirinya serta kekasihnya.
"Masih kau menyangkal tanyanya pula.
"Benar atau tidak kalau adik Pui-ku itu sudah menyatakan kesediaannya untuk menikah denganmu?"
Siau Po bukannya menjawab, malah tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau tertawakan?"
Bentak It Cou i heran, matanya menatap si bocah dengan tajam.
"Eh, Lau toako, ke sini dulu, Aku ingin bertanya kepadamu,"
Sabut Siau Po.
"Apakah seorang thay-kam atau orang yang sudah dikebiri bisa menikah?"
Lau It-cou langsung berdiri terpaku mendengar pertanyaan bocah itu.
Dia menatap Siau Po Iekat-lekat, pikirannya kacau, Dia mengasah otaknya dan akhirnya dia tertawa terbahak-bahak, Memang benar, mana mungkin seorang thay-kam bisa menikah?
Meskipun tertawa, It Cou tidak segera melepaskan cekalannya pada tangan Siau Po.
"Sekarang giliran aku yang bertanya,"
Katanya.
"Mengapa kau membohongi adik Pui sehingga dia menyatakan kesediaannya menikah denganmu? Mengapa kau mengatakan padanya bahwa kau ingin menikahinya?"
Kembali Siau Po tertawa.
"Lau toako, bolehkah aku bertanya kepadamu?"
Kata Siau Po.
"Dari mana kau mendengar hal ini?"
"Aku mendengar sendiri ketika adik Pui berbicara dengan Siau kun cun!"
Sahut It Cou.
"Kau pikir aku berbohong?"
"Toako, mereka sedang berbicara berdua atau kakak Pui sendiri yang mengatakannya kepadamu?"
Tanya Siau Po ingin mendapat kepastian. It Cou diam. Hatinya ragu-ragu. "Mereka berdua sedang berbicara,"
Sahutnya selang sejenak.
Sebetulnya duduk persoalannya begini.
Ketika Ci Tian-coan mengantarkan nona Pui dan nona Bhok menuju dusun Cioki cung, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Gouw Lip-sin dan Go Piu.
Ketika ditahan dalam istana, Gouw Lip-sin mengalami berbagai siksaan.
Tubuhnya terluka di sana-sini.
Untung saja ototnya tidak ada yang putus, Karena itu dia naik kereta dan bermaksud mencari tabib di dusun Cioki cung, Tentu saja pertemuan itu menggembirakan kedua belah pihak, Cuma, tampak perbedaan pada diri It Cou serta Pui Ie.
Sikap mereka tawar sekali, Tidak akrab dan ramah sebagaimana biasanya.
It Cou justru merasa heran.
Dia merasa penasaran dan kurang puas, Dia ingin mengetahui apa yang menyebabkan perubahan si nona.
Beberapa kali dia mengajak Pui le memisahkan diri dengan yang lainnya agar mereka bisa bicara berdua, tapi Pui le selalu mencari alasan dan selalu berada di samping Kiam Peng seakan tidak sudi berpisah sedetik pun dengan Siau kuncu itu.
Lama-lama It Cou semakin bingung.
Dia tidak tahu apa sebabnya dan tidak dapat menerkanya, Saking penasaran, satu kali dia mencoba mendesak Tidak disangkasangka Pui le justru berkata terus terang bahwa hubungan mereka selanjutnya hanya antara kakak dan adik seperguruan saja, lain tidak.
Pui le juga meminta dia jangan mengungkit yang telah lalu dan menyuruh It Cou melupakannya!
Pada saat itu hati It Cou tercekat Dia juga merasa bingung.
"Sumoay, ada apa sebenarnya?"
Tanyanya penasaran.
"Tidak apa-apa,"
Sahut Pui le dingin dan singkat. It Cou menarik tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Su... moay..."
Katanya.
"Kau...?"
Pui le mengibaskan tangan sukonya itu.
"Berlakulah sopan sedikit, Lau suko!"
Katanya ketus.
It Cou tertegun Dia merasa kecewa dan malu.
Malam itu, di dalam kamarnya Lau It-cou sulit pulas, Dia bergolek kesana kemari.
pikirannya ruwet.
Ada apa dengan kekasihnya?
Akhirnya dia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar, Kemudian dia menuju kamar Pui le dan Kiam Peng, Di dekat jendela, dia memasang telinga.
Kebetulan sekali, kedua nona itu sedang berbincang-bincang.
"Cici, kau perlakukan dia demikian tawar, apakah kau tidak khawatir hatinya menjadi sedih?"
Terdengar suara Kiam Peng bertanya.
"Habis, apa lagi yang dapat kulakukan?"
Sahut Pui Ie.
"Biarlah sekarang hatinya sedih. Lama-lama dia akan biasa kembali. Waktu akan menyembuhkan segala macam duka..."
"Apakah... cici... sudah yakin akan menikah dengan si bocah Wi Siau-po?"
Tanya Kiam Peng kembali.
"Dia masih begitu muda, mana mungkin cici menjadi istrinya?"
Ditanya seperti itu, Pui le menatap Kiam Peng lekat-lekat "Kau sendiri ingin menikah dengan kunyuk kecil itu sehingga kau menganjurkan aku kembali kepada Lau suko, benar bukan?"
"Bukan! Bukan!"
Sangkal Kiam Peng cepat "Kau saja yang menikah dengan kunyuk kecil itu!"
Pui Ie menarik nafas panjang.
"Aku sudah berjanji, bahkan bersumpah!"
Katanya.
"Mana mungkin aku melupakannya? Pada saat itu, aku bilang begini. Raja Langit di atas dan Ratu Bumi di bawah, kalau Kui kongkong berhasil menoIong Lau suko sehingga dapat meloloskan diri dengan selamat, aku Pui Ie bersedia menikah dengannya dan menjadi istrinya untuk seumur hidupnya! Andaikata aku mengingkari janjiku ini, biarlah aku merasakan berlaksa penderitaan terlebih dahulu sebelum menjelang kematian Bahkan aku juga menambahkan.
"Siau kuncu menjadi saksinya!"
Bukan? Nah, aku tidak melupakan apa yang pernah kuucapkan, dan tentunya kau juga tidak melupakannya, bukan?"
"Memang kau telah mengucapkan sumpah itu,"
Kata Kiam Peng.
"Tapi aku rasa si kunyuk kecil itu hanya bergurau, bukan serius!"
"Main-main atau serius, sama saja bagiku!"
Kata Pui Ie tegas.
"Kita kaum perempuan, sekali kita sudah berjanji akan menyerahkan diri, tidak dapat kita tarik pulang kembali! Sudah selayaknya kita mengikuti seorang laki-laki untuk selama-lamanya. Lagipula... lagipula...." "Lagipula apa?"
Tanya Kiam Peng.
"Aku telah memikirkannya matang-matang,"
Sahut Pui Ie.
"Seandainya dia tidak serius dan janjiku itu dapat ditarik kembali, tapi... kita sudah pernah berbaring di atas satu tempat tidur dengannya dan sama-sama mengenakan sehelai selimut...."
Tiba-tiba saja Kiam Peng tertawa geli.
"Kunyuk itu memang luar biasa nakalnya,"
Katanya.
"Malah dia membawa-bawa cerita Eng Liat-toan yang katanya sama dengan apa yang kita alami. Saat itu dia mengatakan. Bhok ongya mengamankan propinsi Inlam dengan tiga batang anak panahnya, Kui kongkong merangkul sepasang nona cantik dengan kedua belah lengannya, Suci, waktu itu dia benar-benar memelukmu, bukan?"
Pui Ie menghela nafas agar dadanya tidak begitu sesak.
Sementara itu, bukan main bingungnya perasaan It Cou mendengar pembicaraan kedua gadis itu.
Hatinya menjadi panas sekaligus sedih, Urusan ini terasa sulit baginya, Pui Ie bersedia menyerahkan diri pada Siau Po atau Kui kongkong karena telah menolong dirinya bebas dari tempat musuh.
Tanpa pertolongan bocah itu, kemungkinan sekarang kepalanya sudah terpisah dari batang lehernya dan jadi setan gentayangan Kepalanya menjadi pusing dan kedua lututnya terasa lemas dan tubuhnya terhuyung-huyung hampir jatuh.
Dia berusaha menekan hawa amarah dalam dadanya.
Kemudian dia mendengar lagi suara Pui Ie yang berkata.
"Memang dia masih muda sekali, tapi dia pandai bicara, Tidak kalah dengan orang dewasa, Yang terutama, dia memperlakukan kita dengan baik sekali, Budinya terhadap kita besar sekali, bukankah dia yang menolong kita melarikan diri dari istana? Bahkan di dalam istana, dia tidak memperdulikan segala ancaman maut untuk melindungi kita, sekarang kita telah berpisah dengannya, Entah kapan kita baru bisa berjumpa kembali..?"
Kembali Kiam Peng tertawa.
"Suci, rupanya kau sedang memikirkannya?"
Tanyanya.
"Apakah kau merasa rindu padanya?"
"Lalu, kalau aku memang memikirkannya dan rindu kepadanya, bagaimana?"
Pui Ie balik bertanya.
"Sebenarnya, suci,"
Kata Kiam Peng.
"Aku juga tengah memikirkannya, Beberapa kali sudah aku mengajaknya datang bersama-sama ke dusun Cioki ji cung ini, tapi dia selalu menolak, Katanya dia mempunyai tugas yang penting sekali, Cici, coba kau terka, apakah dia berbicara yang sebenarnya atau hanya ingin mengelabui kita?"
"Ketika singgah di rumah makan, aku pernah mendengar dia berbicara dengan kusir kereta,"
Kata Pui Ie.
"Dia menanyakan jalanan menuju Shoa Say, Mungkin dia akan pergi ke sana..."
"Dia masih muda sekali dan sekarang melakukan perjalanan seorang diri, Bukankah berbahaya sekali ?"
Kata Kiam Peng.
"Bagaimana kalau dia bertemu dengan penjahat?"
Pui Ie menarik nafas panjang.
"Pernah terpikir olehku untuk berbicara dengan Ci loyacu agar dia tidak usah mengantarkan kita, ingin aku meminta orang tua itu untuk melindungi dia, tapi Ci loyacu pasti tidak akan menerimanya...."
"Cici...."
"Apa, moaymoay?"
"Ah, tidak apa-apa.,,."
Tampaknya Kiam Peng membatalkan apa yang ingin dikatakannya.
"Sayangnya kita berdua masih sama-sama terluka..."
Kata Pui Ie, Kalau tidak, pasti kita bisa pergi bersamanya ke Shoa Say.,,."
Mendengar pembicaraan kedua nona itu, kepala Lau It-cou semakin berat, mendadak tubuhnya limbung dan kepalanya membentur jendela, Kakinya tidak dapat berdiri tegak.
"Siapa?"
Bentak Kiam Peng dan Pui Ie yang merasa terkejut sekali.
It Cou tidak sampai jatuh, Rasa sakit di kepalanya yang terbentur menyadarkannya.
Hatinya panas sekali sehingga tidak mendengar suara bentakan kedua nona itu, Dia malah berteriak dalam hati.
"Aku akan membunuh bocah itu!
Aku harus membunuhnya!"
Lau It-cou segera lari keluar rumah untuk mencari kudanya dan terus melarikannya, Dia mengambil arah barat karena menurut pembicaraan Pui le tadi, bocah kurang ajar itu berangkat ke Shoa Say.
Sampai terang tanah, Lau It-cou masih melarikan kudanya, tapi sekarang dia sering bertanya kepada orang-orang mana jalan menuju ke Shoa say.
Setiap kali bertemu kereta yang sedang bergerak, dia selalu bertanya pada kusirnya.
"Apakah penumpangmu seorang bocah cilik?"
Demikianlah Lau It-cou memberikan keterangannya ketika Siau Po meminta penjelasan sekarang Siau Po tahu bahwa Lau It-cou hanya mendengar sebagian saja dari pembicaraan antara Pui le serta Kiam Peng.
Karena itu, dia segera tertawa dan berkata.
"Lau toako, ternyata kau sudah ditipu oleh adik seperguruanmu itu!"
"Aku ditipu Pui Ie?"
Tanya Lau It-cou bingung.
"Bagaimana caranya?"
"Duduk persoalan yang sebenarnya begini, Lau toako,"
Kata Siau Po dengan nada sabar "Ketika terkurung di dalam istana, nona Pui pernah berkata kepadaku, bahwa dia sungguh-sungguh berniat menolongmu tapi sebaliknya selama ini kau selalu bersikap acuh tak acuh kepadanya, Menurutnya kau kurang perhatian."
It Cou heran sekali.
"Mana ada kejadian seperti itu?"
Katanya.
"Mana mungkin aku bersikap acuh tak acuh kepadanya?"
"Bukankah kau pernah menghadiahkan sebuah tusuk konde kepadanya?"
Tanya Siau Po.
"Tusuk konde itu berbentuk bunga Bwe?"
"Benar!"
Sahut It Cou penuh semangat "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Ketika bertempur di istana, tusuk konde itu terjatuh,"
Kata Siau Po.
"Nona Pui kebingungan setengah mati, karena tusuk konde itu merupakan hadiah dari kekasihnya, Menurutnya, tusuk konde itu tidak boleh hilang, Biar bagaimana dia harus mendapatkannya kembali Demi tusuk konde itu, dia bersedia mengadu jiwa!"
It Cou terdiam, pandangannya termangu-mangu.
"Oh, dia begitu baik kepadaku?"
Tanyanya kemudian "Pasti!"
Sahut Siau Po.
"Masa dia berbohong dalam keadaan seperti itu?"
"Lalu, bagaimana?"
Tanya It Cou yang jadi tertarik.
"Kau mencekal aku begini keras, aku kesakitan setengah mati!"
Kata thay-kam palsu yang cerdik ini.
"Mana mungkin aku berbicara dengan leluasa?"
"Baik!"
Kata Lau It-cou yang kemarahannya sudah reda setengah bagian. Dia juga yakin bocah itu tidak sanggup meloloskan diri dari tangannya. Setelah melepaskan cekalannya dia bertanya.
"Apa yang terjadi kemudian?"
Perlahan-Iahan Siau Po menyimpan pisau belati di dalam kaos kakinya, Kemudian dia juga menggunakan kesempatan itu untuk mengurut tangannya yang biru matang serta bengkak karena cekalan Lau It-cou yang keras.
Setelah itu dia berkata.
"Orang-orangnya Bhok onghu paling pintar dan gemar memencet tangan lawan,"
Katanya.
"Kau begitu, Pek Han-hong juga begitu! lya, memang benar Mengapa aku sampai lupa! ilmu Ku-jiau jiu dari keluar Bhok memang sudah terkenal sekali!"
Kata-kata Siau Po itu merupakan sindiran tajam. Karena Ku-jiau jiu artinya "llmu cakar kura-kura."
Lau It-cou tidak menaruh perhatian pada ucapan Siau Po itu. Dia juga tidak dapat menangkap makna yang terselip di dalamnya.
"Bagaimana sikap Pui sumoay setelah kehilangan tusuk konde pemberianku itu?"
"Dengan ilmu Ku-jiau jiu, kau telah membuat tanganku bengkak dan sakit Aku harus mengatur pernafasan dulu baru bisa bicara dengan lancar."
Kata Siau Po yang masih juga mempermainkan si pemuda keblinger itu.
Dia sengaja memperpanjang waktu agar otaknya bisa bekerja mencari akal, pokoknya dia harus bisa meloloskan diri tanpa kurang apa-apa.
"Biarkan aku beristirahat sebentar Urusan ini penting sekali dan menyangkut apakah kau akan mendapatkan istrimu atau tidak!"
Dia terus mengurut-urut tangannya yang biru matang, sementara itu, Lau It-cou sekarang sudah mengerti apa artinya kata Ku-jiau jiu yang diucapkan Siau Po, tapi dia tidak memperdulikannya, perhatiannya sedang terpusat pada hal lainnya, Apalagi Siau Po mengatakan "ada sangkutannya apakah kau akan mendapatkan istrimu atau tidak?"
"Cepat kau ceritakan!"
Desak It Cou.
"Sudah, jangan bertele-tele lagi!"
"Mari duduk dulu.,."
Ajak Siau Po dengan saban lari kita istirahat sejenak. Setelah pernafasanku lurus, tentu aku bisa bercerita dengan lancar, Kau pasti mendapatkan keterangan yang kau inginkan.?"
Lau tidak mau, It Cou terpaksa menuruti ajakan si bocah tersebut Siaupo berjalan ke bawah sebatang pohon yang rimbun dan duduk di sana, It Cou menghampiri dan duduk di sisinya, Dia tidak mau jauh-jauh dengan Siau Po karena khawatir bocah yang licin itu akan kabur darinya.
Siau Po menarik nafas panjang beberapa kali.
"Sayang... sayang,.,"
Katanya berulang kali.
"Apanya yang sayang?"
Tanya It Cou sambil mengawasi wajah bocah itu.
"Sayang sekali nona Pui tidak ada di sini.,."
Sahut Siau Po sambil memperlihatkan tampang muram.
"Coba kalau dia ada di sini dan duduk berdampingan denganmu, tentu bahagia sekali bila kalian dapat berbicara berduaan dengan mesra!"
Senang sekali hati It Cou mendengar ucapan bocah itu. Tanpa sadar ia tersenyum.
"Bagaimana kau mempunyai pikiran seperti itu?"
Tanyanya.
"Karena aku pernah mendengar perkataan nona Pui,"
Sahut Siau Po.
"Hari itu, ketika tusuk kondenya hilang, nona Pui langsung nekat Dia menerjang tiga pos dalam istana yang dijaga para siwi, Meskipun dia sendiri terluka, tapi dia juga merobohkan tiga orang pengawal Akhirnya dia berhasil mendapatkan tusuk kondenya kembali, Tahukah kau apa bagaimana pikirannya saat itu?"
It Cou menggelengkan kepalanya, Dia masih menunggu kata-kata Siau Po.
"Saat itu aku berkata kepadanya.
"Nona, mengapa kau begitu bodoh? Berapa sih harganya sebuah tusuk konde sampai kau harus menempuh bahaya sebesar ini? Nanti aku akan memberimu uang sebanyak seribu tail dan kau bisa memesan tusuk konde seperti itu sampai empat ribuan batang. Biarpun nona memakainya secara bergantian siang dan malam, berarti dalam satu tahun setiap hari kau akan memakai tusuk konde baru, Nah, tahukah kau apa jawaban nona Pui?"
Sekali lagi It Cou menggelengkan kepalanya.
"Nona itu langsung berkata begini kepadaku.
"Kau anak kecil tahu apa? ini hadiah dari Lau suko yang baik hati dan sangat mencintaiku! Meskipun kau menghadiahkan seribu batang atau selaksa batang tusuk konde yang dibuat dari emas murni dan bertaburan mutiara, tetap saja tidak bisa menyamai tusuk konde pemberian Lau sukoku ini! Bagiku, yang penting hadiah ini dari Lau suko, tidak perduli bahannya dari perak, tembaga atau besi rongsokan sekalipun Nah, Lau toako, coba kau pikir, bukankah nona Pui itu tolol sekali?"
Bukannya mendongkol atau marah, Lau It-cou malah tertawa lebar ia merasa katakata bocah di sampingnya itu lucu sekali.
"Aku ingin bertanya kepadamu,"
Kata It Cou.
"Apakah sepanjang malam itu sumoay hanya membicarakan soal tusuk konde saja?"
"Lau suko, Siau Po tidak menjawab, dia malah bertanya.
"Lau toako, kau mencuri dengan pembicaraan mereka hampir sepanjang malam?"
Wajah It Cou jadi merah padam, Dia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Siau Po.
"Sebenarnya aku tidak bermaksud mencuri dengar pembicaraan mereka,"
Katanya dengan maksud membersihkan diri.
"Malam itu aku terbangun karena ingin membuang air kecil, Ketika lewat di sisi kamar mereka, aku mendengar suara pembicaraan mereka...."
"Nah, Lau toako! perbuatanmu itu tidak dapat dibenarkan!"
Kata Siau Po.
"Masa kau tidak bisa membuang air kecil di tempat lain? Kenapa kau justru memilih bawah jendela kamar kedua nona itu? Apakah kau tidak khawatir air senimu itu akan memancarkan bau harum semerbak sehingga nona pujaan hatimu itu jadi mabuk kepayang karenanya, sedangkan kedua nona itu begitu cantik dan rupawan?"
It Cou semakin jengah.
"lya, iya. Kau benar!"
Sahutnya.
"Kemudian, apalagi yang dikatakan adik seperguruanku itu?"
Rupanya pemuda ini tertarik sekali dengan cerita Siau Po sehingga dia tidak jemujemunya mengajukan pertanyaan.
"Perutku kosong, aku lapar sekali,"
Kata Siau Po.
"Aku kehabisan tenaga untuk bercerita. Sudilah kiranya kau pergi membelikan makanan agar aku bisa mengisi perut Setelah perutku kenyang, aku bisa bercerita panjang lebar dan hatimu pasti akan tergetar mendengarnya!"
"Apanya yang menggetarkan hati?"
Tanya It Cou.
"Pui sumoay adalah seorang gadis yang polos dan tulus, Belum pernah dia mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh...."
"Betul!"
Kata Siau Po.
"Dia memang tulus dan polos. Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata yang tidak sopan, tapi aku ingat dia pernah mengatakan "
Lau sukoku yang baik hati, Lau sukoku yang gagah dan tampan!"
Nah, kata-kata itu manis sekali bukan? Entahlah bagaimana perasaanmu, menurutku kata-katanya itu enak sekali kedengarannya."
Hati It Cou benar-benar senang mendengar keterangan Siau Po. Tapi dia masih belum yakin.
"Benar?"
Tanyanya.
"Benarkah Pui sumoay pernah berkata demikian?"
"Benar atau tidak, terserah dirimu sendiri, Lau toako!"
Kata Siau Po.
"Aku hanya mengatakan apa yang menjadi kenyataan! Nah, sudahlah, aku akan pergi mencari makanan, Maafkan aku, toako!"
Selesai berkata Siau Po langsung berdiri, It Cou sedang penasaran mendengar cerita bocah itu, mana mau dia melepaskannya begitu saja? Dia segera menekan bahu bocah itu.
"Sabar saudara Wi,"
Katanya.
"Jangan terburu-buru pergi. Aku membekal ransum kering, silahkan makan! Nanti, kalau kau sudah selesai bercerita, aku akan mengajakmu ke kota di depan sana, Kita cari sebuah rumah makan, Aku ingin mengundangmu makan dan minum sebagai permintaan maaf atas kesalahan pahaman ini,"
Lau It-cou segera mengeluarkan sebuah bungkusan yang berisi kue kering, Lalu disodorkannya ke hadapan bocah itu.
Siau Po mengambil satu potong kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
Setelah dikunyah, dia merasa kue itu tidak ada sari manisnya, Rasanya tawar sekali.
"Kue apa ini?"
Tanyanya sembari mengambil sepotong lagi dan diserahkannya kepada Lau It-cou. Lau It-cou menyambut kue itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Kue ini memang keras, tidak enak, Tapi lumayanlah untuk mengganjal perut,"
Katanya, Siau Po memeriksa kue lainnya, semuanya terdiri dari beberapa jenis.
"Bagaimana dengan yang ini?"
Dia mengambil beberapa potong kemudian dibolakbalikkannya satu per satu.
"Ah! Ada-ada saja!"
Aku mau buang air kecil,"
Katanya sambari berjalan menuju belakang pohon dan membuka celananya.
It Cou membiarkan Siau Po pergi, tapi dia tetap mengawasinya, sebentar saja Siau Po sudah kembali lagi dan duduk di samping Lau It-cou.
Dia membolak-balik lagi sepotong kue kemudian memasukkannya ke dalam mulut untuk dicicipi.
It Cou sendiri sudah merasa letih karena mengejar bocah itu sepanjang malam, Dia menjemput sepotong kue dan memakannya, Perutnya juga sudah lapar, tapi dia masih ingin tahu kelanjutan cerita Siau Po.
"Apa benar Pui sumoay berkata begitu di hadapan Siau kuncu? Mungkinkah dia hanya mempermainkan perasaanku?"
"Aku toh bukannya belatung dalam perut sumoaymu itu, mana aku tahu apa yang dipikirnya?"
Sahut Siau Po.
"Kan kau kakak seperguruannya yang paling baik dan dekat. Mengapa kau tidak tahu sifatnya? Kok, kau malah tanya kepadaku?"
"Sudahlah, adik,"
Kata It Cou.
"Tadi aku salah paham kepadamu. Aku harap kau suka memaklumi perasaanku Saudaraku, aku minta kau mau menceritakan semuanya kepadaku."
"Kalau begitu, baiklah aku bicara terus terang,"
Kata Siau Po.
"Nona Pui, adik seperguruanmu itu memang manis dan cantik sekali seandainya aku bukan seorang thay-kam, tentu aku suka sekali bisa menikah dengannya, tapi ada satu hal yang perlu aku jelaskan, Meskipun aku tidak bisa menikah dengannya,.. aku khawatir kau juga tidak mempunyai kesempatanmu."
It Cou merasa heran, Dia menatap Siau Po lekat-lekat.
"Kenapa?"
Desaknya.
"Jangan terburu nafsu, sobat!"
Katanya saban "Nanti perlahan-lahan aku akan menjelaskan sebabnya...."
"Ah! Kau sengaja main gila! Caramu ini benar-benar membuat nafsu makanku hilang!!"
Bentak It Cou. Baru saja selesai berkata, tiba-tiba tubuhnya terhuyunghuyung.
"Eh, kenapa kau?"
Tanya Siau Po dengan tampang keheranan "Apakah kau tiba-tiba jadi sakit? Atau kuemu itu kurang bersih?" "Apa katamu?"
Tanya It Cou.
Dia berusaha untuk bangun, tapi mendadak dia merasakan tubuhnya lemas, tenaganya tidak ada sehingga dia menggeletak di atas tanah dekat bawah pohon.
Tiba-tiba saja Siau Po tertawa terbahak-bahak Dengan sebelah kakinya, dia menendang pantat Lau It Cou.
"Eh, mengapa di kuemu ada obat biusnya? Aneh bukan ?"
It Cou roboh dengan mengeluarkan seruan tertanam Ketika Siau Po menendangnya, dia tidak merasakan apa-apa lagi.
TAMAT (Bagian Pertama) Apa sebenarnya yang terjadi pada diri Lau it-cou?
Apakah dia pun kena diperdayai oleh Wi Siau Po, si bocah nakal?
Bagaimana ke lanjutan kisah asmara antara Pui Ie, Lau It-cou dan Wi Siau Poyang terlibat cinta segi tiga itu?
ikutilah bagian ke II dari kisah Kaki Tiga Manjangan ini!
Bagian Kedua Bagian 31 Pada kisah yang terdahulu, diceritakan tentang Lau It Cou, murid Tiat Pwe Cong Liong Liu Tay Hong tiba-tiba merasa kepalanya pusing setelah makan kue kering bersama si Thay-kam cilik, Wi Siau Po.
Bahkan ketika bocah nakal itu menendangnya berkali-kali, Lau It Cau tidak merasakan apa-apa lagi, Siau Po langsung memperlihatkan senyum penuh kebanggaan.
Dia membuka ikat pinggang Lau It Cou kemudian digunakannya untuk membelenggu tangan orang itu.
Di dekat sebatang kayu ada sebuah batu besar Siau Po berusaha menggesernya, kebetulan di bawah batu besar itu ada sebuah lubang, karena itu Siau Po menggesernya terus sehingga mulut lubang itu terbuka lebar Setelah itu dia mengeluarkan bebatuan yang terdapat di dalam lubang itu dan menggali tanahnya sehingga lubang itu menjadi bertambah dalam dan lebar "Hari ini Lohu akan menguburmu hidup-hidup di dalam lubang ini."
Kata Siau Po sembari tertawa, meskipun dia bicara seorang diri, Kemudian ia mengangkat tubuh Lau It Cou, dimasukkannya ke lubang itu dengan posisi berdiri dan punggung bersandar pada dinding lubang.
Setelah itu dia menimbuni lubang itu kembali dengan pasir dan bebatuan sampai batas leher Lau It Cou.
Sekali lagi Siau Po tertawa senang, Tampaknya dia puas sekali dengan hasil kerjanya sendiri, Perlahan-lahan dia berjalan ke tepi sungai, dibukanya jubah luarnya kemudian dicelupkannya ke dalam air.
Dia berjalan balik kembali, lalu berhenti di depan anak muda yang sedang tidak sadarkan diri itu.
Siau Po mengangkat jubah basah itu tinggi-tinggi kemudian diperasnya sehingga airnya mengalir turun dan membasahi seluruh kepala dan wajah Lau It Cou.
Dengan demikian, lambat laun Lau It Cou siuman, Dia kebingungan matanya jelalatan ke sekitarnya, Dia ingin menggerakkan kaki dan tangannya tapi tidak ada kesanggupan sama sekali.
Hal ini membuat hatinya tercekat Dia mulai menerka-nerka apa yang terjadi pada dirinya.
Di hadapannya duduk bersila Siau Po dengan wajah penuh senyuman, bahkan sekali-sekali tampak dia tertawa geli, kedua tangannya berpangku di atas lututnya, Pasti aku telah di akali olehnya.,., pikir Lau It Cou dalam hati, Dia menyesal dirinya sendiri yang ceroboh, tapi dia berusaha menenangkan dirinya.
"Hai, saudara kecil, jangan main-main!"
Katanya sambil tertawa, Sia-sia dia berusaha mengerahkan tenaganya untuk memutuskan ikat pinggang yang membelenggunya.
"Oh, dasar bangsat gila perempuan!"
Maki Siau Po.
"Tahukah kau betapa pentingnya urusan yang sedang aku hadapi? Kau kira aku ada waktu bergurau dengan engkau, si bangsat bau!"
Bocah ini memang luar biasa, Sembari memaki, kakinya mengayun pula menendang rahang pemuda itu sehingga darah bercucuran. Mulutnya tidak berhenti mencaci.
"Nona Pui itu istriku, Orang seperti kau berpikir untuk menikahinya? Hm! Bangsat bau! Kau sudah menghajar lohu sehingga lohu kesakitan serta menderita, sekarang lohu akan menuntut balas padamu! Pertama-tama aku akan memotong telingamu kemudian menebas hidungmu, Iya, aku akan mengerat satu per satu!"
Selesai berkata Siau Po mencabut pisau belatinya, lalu dia membungkuk dan mengacung-acung-kan pisaunya di depan wajah Lau It Cou dengan tampang mengancam. Bukan kepalang terkejutnya hati Lau It Cou.
"Oh, saudara,., saudara Wi yang baik,"
Katanya.
"Wi hiocu, sudilah kau memandang keluarga Bhok dan berlaku murah hati"
"Bagus sekali kau, ya!"
Maki Siau Po.
"Manusia macam apa engkau ini? Dari dalam tahanan di istana aku menolong dirimu sehingga mendapatkan kebebasan kembali seperti sekarang ini. Mengapa kau membalas air susu dengan air tuba? Kenapa kau ingin membunuhku? Hm, orang yang kepandaiannya seperti kau ini, mana mungkin sanggup membunuh aku seorang tokoh besar? sekarang kau malah meminta aku memandang muka keluarga Bhok, tapi bagaimana ketika kau meringkusku? Mengapa kau sendiri tidak memandang muka Tian Te hwe kami?"
"lya, aku telah berbuat kekeIiruan..."
Sahut Lau It Cou mengakui "Aku akan membacok kepalamu sebanyak tiga ratus enam puluh kali."
Kata Siau Po.
"Dengan cara demikian, barulah hilang rasa penasaran dihatiku."
Siau Po menarik kuncir It Cou kemudian di tebasnya dengan pisau belati sehingga putus, setelah itu dia mengayunkan pisaunya bolak-balik dan dalam sekejap mata rambut di kepala Lau It Cou jadi tidak karuan bentuknya, Sebagian besar botak dan di beberapa bagian tersisa rambutnya sedikit-sedikit.
Rupanya hati Siau Po masih panas.
"Bangsat gundul kepingin mampus!"
Makinya untuk kesekian kali.
"Hati lohu paling panas kalau melihat biksu (pendeta), apalagi yang gundulnya kepalang tanggung, Kemarahan di dalam dada ini seakan-akan meluap-luap, karena itu tidak bisa tidak, aku harus membunuhmu!"
Meskipun takut setengah mati, Lau It Cou masih berusaha untuk tertawa. Dia berharap anak nakal itu hanya bergurau dengannya.
"Oh, Wi hiocu yang baik, cayce (aku yang rendah) bukan pendeta,"
Sahutnya. Dia berusaha menentramkan hatinya yang terguncang keras.
"Setan alas!"
Bentak Siau Po.
"Bagaimana kau berani mengatakan bahwa dirimu bukan pendeta? Lalu mengapa kepalamu di cukur plontos seperti itu? Apakah kau ber maksud mendustai aku tuan besarmu ini?"
Li it Cou menjadi bingung, Hatinya juga cemas sekali, Kuncirnya sudah hilang dan kepalanya tiga per empat botak, Dalam hatinya dia mengeluh.
"Kan kau yang memotong rambutku, mengapa kau malah memaki-maki aku? Tapi dia masih menyayangi jiwanya sendiri, tidak berani dia menyahut karena takut Siau Po akan semakin marah, Dia berusaha tertawa dan berkata.
"Wi hiocu, seribu salah selaksa kekeliruan, semuanya aku yang melakukannya, Wi hiocu, kau adalah seorang yang berbudi luhur, aku mohon sudilah kiranya kau bersikap murah hati..!"
Kali ini It Cou mengucapkan kata-kata yang merendah Dia sudah kewalahan menghadapi bocah yang luar biasa ini, Dia sangat menyayangi jiwanya dan tidak sudi mati konyol dengan cara sedemikian rupa.
"Baiklah!"
Kata Siau Po kemudian "Sekarang aku ingin bertanya dulu kepadamu, Kau kenal Nona Pui Ie, bukan? Jawablah, istri siapa nona itu?"
Bukan main bingungnya hati It Cou.
"Dia... dia..."
Ucapannya terputus-putus, Dia tidak dapat melanjutkan ucapannya seperti orang yang kehabisan kata-kata saking takut dan cemas.
Baginya sulit sekali menduga isi hati Siau Po.
Dia sedang bergurau atau benar-benar marah?
"Dia,., dia...
apa?"
Bentak Siau Po.
"Lekas jawab!"
Kembali pisau belatinya yang tajam di gerak-gerakkan di depan muka Lau It Cou.
It Cou semakin bingung, Dia berpikir keras, Celaka kalau sampai dia kehilangan telinga atau hidungnya, urusannya bisa gawat Selain sakit, dia juga harus menderita malu.
"Dia... dia tentu istrimu, Wi hiocu!"
Katanya dengan susah payah, Siau Po tertawa.
"Dia,., siapa?"
Tanyanya sekali lagi.
"Bicara yang jelas! Siapa dia yang kau katakan? Lohu ingin mendapatkan kepastian darimu!"
"Aku.... Maksudku.,., Pui sumoay."
Sahut Lau It Cou dengan terpaksa.
"Dia adalah istri Wi hiocu."
Siau Po tertawa lagi.
"Sekarang kita bicara blak-blakan."
Katanya.
"Lekas kau katakan, apakah aku ini sahabatmu?"
Lega juga hati Lau It Cou mendengar nada suara Siau Po yang sudah mulai lunak, Lekas-lekas dia menjawab.
"Sebenarnya siaujin (orang yang hina ini) tidak berani mengangkat diri sendiri terlalu tinggi, siaujin tidak pantas mengagulkan diri, Tapi kalau Wi hiocu sudi menganggap siaujin sebagai sahabat, siaujin ibarat mendapatkan rembulan jatuh...."
"Baik! Aku suka menjadi temanmu."
Kata Siau Po kemudian "Di dalam dunia kang ouw, orang harus mengingat istri sahabatnya sendiri.
Lain kali, bila kau berani main gila lagi, awas!
Jaga botak kepalamu baik-baik!
sekarang coba kau bersumpah dan buktikan bahwa kau benar-benar sudah tobat, Aku ingin mendapat keyakinan bahwa lain kali kau tidak berani main gila lagi.
Bersumpahlah!"
Di dalam hatinya, Lau It Cou mengeluh. Hebat sekali desakan si bocah nakal ini. Dia menyesali dirinya yang begitu bodoh sehingga kena diakali olehnya dan berbalik kena ditawan.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak sudi bicara."
Kata Siau Po.
"Memang aku sudah tahu lagak setanmu. Kau mengandung maksud buruk. Di dalam hatimu kau sudah mengatur rencana untuk mempermainkan istriku."
Tanpa kepalang tanggung lagi, Siau Po langsung saja menyebut Pui Ie sebagai istrinya, It Cou ngeri melihat pisau belati Siau Po masih terus digerak-gerakkan.
"Tidak! Tidak!"
Katanya.
"Terhadap Nyonya Wi hiocu, tentu aku tidak berani main gila...."
"Awas!"
Ancam Siau Po.
"Tapi bagaimana kelak? Bagaimana bila kau menatapnya terus dan mengajaknya bicara, meskipun hanya sepatah kata?"
Bocah ini masih mendesak terus..
"Tidak mungkin aku melupakannya,"
Sahut Lau It Cou.
"Aku bersumpah, kalau aku sampai melakukannya, biarlah aku dihukum Langit (Thian atau Tuhan) dan di kutuk Bumi."
"Kalau kau berani melakukan hal itu, kaulah si kura-kura, kaulah si manusia hina!"
Kata Siau Po.
"Ya, ya.,."
Sahut Lau It Cou dengan wajah meringis.
"lya, iya apanya?"
Tanya si bocah yang selalu iseng itu.
"lya,"
Sahut Lau It Cou.
"Kalau kelak aku mendekati Pui sumoay atau mengajaknya bicara, akulah si kura-kura, Akulah manusia hina!"
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
"Kalau begitu, baiklah."
Katanya.
"Aku akan mengampunimu. Tapi kau harus merasakan air kencingku terlebih dahulu!"
Sembari berkata, Siau Po pura-pura akan membuka celananya, Tepat pada saat itulah terdengar suara seruan seseorang.
"Me... mengapa kau terlalu menghina orang?"
Terkejut sekali hati Siau Po, terlebih-lebih dia mengenati suara perempuan itu, Sekejap kemudian dia merasa senang sekali, Segera dia menoleh ke arah hutan dari mana suara itu berasal.
Tampak tiga orang muncul dari dalam hutan, yang berjalan paling depan adalah Pui Ie, adik seperguruan Lau It Cou, Yang nomor dua adalah Bhok Kiam Peng, Siau kuncu dari Bhok onghu, sedangkan orang yang berjalan paling belakang bukan lain daripada Ci Tian Coan, Ah...
ternyata di belakangnya mengiringi dua orang Iainnya, Mereka adalah Gouw Lip Sin beserta muridnya Go Piu.
Kiranya sudah cukup lama mereka berlima berdiam dalam hutan dan menyaksikan serta mendengar semua yang berlangsung antara Siau Po dan Lau It Cou, Dan ketika Siau Po hendak menyiram wajah pemuda itu dengan air kencingnya, terpaksa Pui Ie mengeluarkan suara memperingatkannya lalu menampilkan diri.
Dengan demikian, Kiam Peng, Tian Coan, Gouw Lip Sin dan Go Piu terpaksa mengikutinya.
"Oh, rupanya kalian sudah ada disini?"
Kata Siau Po. Dia merasa gembira sekali.
"Baiklah! Dengan memandang Gouw loya cu, aku akan membebaskanmu dari guyuran air kencing."
Tian Coan tidak mengatakan apa-apa, Dia segera berjalan ke depan It Cou dan menolongnya ke luar dari lubang itu, It Cou merasa malu sekali, Dia hanya berdiam diri dengan kepala di tundukkan.
"Keponakanku!"
Kata Lip Sin kepada pemuda she Lau itu.
"Mengapa kau membalas kebaikan dengan kejahatan? Bukankah jiwa kita sama-sama telah diselamatkan olehnya? Mengapa kau yang lebih tua justru menghina yang muda? Mengapa kau meringkusnya? Bagaimana kalau gurumu sampai mengetahui urusan ini?"
Gouw Lip Sin menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil menarik nafas panjang, Hal ini membuktikan bahwa hatinya kecewa sekali melihat tindak-tanduk Lau It Cou.
"Kita yang berkecimpung di dalam dunia kang ouw." . katanya kembali suaranya tawar dan tidak enak didengar oleh Lau It Cou.
"Yang harus kita utamakan adalah Gi Ki (menyayangi sesamanya dan mencintai negara, Dengan kata lain berjiwa sportif atau berjiwa patriot), Sebagai tokoh dalam dunia kang ouw, apalagi dari golongan lurus, kita harus berbudi luhur. Mengapa jiwamu justru demikian rendah, suka berprasangka dan sirik? Mengapa kau menurunkan tangan jahat terhadap orang sendiri? Mengapa kau melupakan budi dan menyia-nyiakan kepribadianmu? sikapmu yang demikian, bahkan tidak pantas disamakan dengan babi atau pun anjing."
Gouw Lip Sin membuang ludah saking marahnya.
"Kau telah menelikung tangan Wi hiocu, kau bahkan mengancam tenggorokannya dengan senjata tajam!"
Kata orang tua itu kembali dengan nada sengit.
"Bagaimana kalau kau berbuat sedikit kesalahan dengan menggerakkan tanganmu tadi dan Wi hiocu jadi terluka karenanya? Bagaimana kalau jiwanya sampai melayang karena perbuatanmu yang konyol itu? Coba jawab!"
It Cou merasa malu sekali Tiba-tiba hatinya jadi panas dan dia pun lupa diri.
"Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa!"
Teriaknya keras.
"Aku akan mengganti jiwanya itu!"
Lip Sin semakin marah melihat sikap pemuda itu.
"Hm!"
Terdengar dia mendengus dingin.
"Enak saja kau bicara! Apakah dirimu seorang eng hiong (pahlawan) atau hohan (orang gagah)? Dengan selembar jiwamu, kau kira dapat menggantikan jiwa Wi hiocu dari Tian Te hwe? Lagipula, bicara tentang jiwamu,.. dari mana datangnya jiwa yang masih menyangkut dalam tubuhmu itu? mungkinkah kau masih hidup sampai sekarang ini kalau kau tidak di tolong oleh Wi hiocu? Kau melupakan budi besar orang, kau bukan membalasnya saja sudah merupakan sikap yang tidak terpuji Apalagi kau melakukan perbuatan yang demikian rendah. perbuatanmu itu sungguh terkutuk...."
It Cou menyesal Dia jadi malu berbareng kesal.
Dia sadar bahwa apa yang dilakukannya memang salah, Tapi dia menganggap paman gurunya itu terlalu mendikte, Lagipula, rahasianya telah di ketahui oleh Pui Ie.
Mereka pasti telah mendengar pembicaraannya dengan Siau Po.
Dia juga ditegur sedemikian rupa oleh Gouw Lip Sin di depan Pui Ie dan yang lainnya, Karena menderita malu besar, di tidak memandang lagi paman gurunya.
"Gou susiok (paman guru Gouw), semuanya telah terjadi, ibarat nasi telah menjadi bubur. katanya nyaring.
"Apalagi yang dapat kulakukan sekarang? Bukankah orang she Wi itu dalam keadaan baik-baik saja? Bagiku, memang tidak ada jalan lain lagi, silahkan susiok sendiri saja yang melakukan!"
Lip Sin sampai berjingkrak-jingkrak saking marahnya, Tangannya menuding wajah Lau It Co dengan gemetar.
"Lau It Cou!"
Bentaknya keras.
"Begini rupanya kau memperlakukan paman gurumu? Tentunya di matamu tidak ada lagi orang yang lebih tua atau lebih muda dari padamu! Apakah kau ingin bertarung dengan aku?"
"Aku tidak berkata demikian dan aku juga bukan tandinganmu."
Sahut Lau It Cou.
"Lalu,., kalau kau merasa dirimu cukup hebat untuk menandingi aku, maka kau pasti akan melawan aku, bukan?"
Kata Gouw Lip Sin denga suara menyindir "Lau It Cou, perbuatanmu sungguh tidak pantas!
Selama di dalam istana saja, kau sudah menunjukkan sikap tamak akan kehidupan, sebaliknya takut menghadapi kematian.
Begitu mendengar kepalamu akan dipenggal, cepat-cepat kau memohon pengampunan dan menyebut namamu, Karena memandang Liu suko, aku tidak memberitahukan soal kepengecutanmu itu padanya, Tapi sekarang?
Hm!
Syukur kau bukan muridku, nasibmu masih cukup bagus."
Dengan kata-katanya, Gouw Lip Sin seakan bermaksud mengatakan, seandainya Lau It Cou adalah muridnya, tentu dia sudah mengambil tindakan dengan menghukum mati pemuda itu.
It Cou menundukkan kepalanya, Dia merasa malu sekali, Dia tidak menyangka paman gurunya akan membuka rahasia tentang kepengecutannya ketika berada dalam istana, wajahnya menjadi pucat pasi dan terbungkam.
Siau Po melihat keadaannya sudah menang di atas angin, dia segera tertawa dan berkata dengan nada manis.
"Sudah! Sudah! Gouw loyacu, Lau toako dengan aku hanya bergurau saja, kami bukan bersungguh-sungguh, Gouw loyacu, aku mohon kepadamu Segala urusan yang sudah lalu, harap jangan kau sampaikan kepada Liu loyacu!"
"Kalau demikian kemauanmu, Wi hiocu, aku tinggal menurut saja."
Sahut Gouw Lip Sin. Kemudian dia menoleh kepada Lau It Cou dan berkata.
"Nah, kau lihat! Betapa luhur kepribadian Wi hiocu. perbuatannya selalu mengagumkan dan hatinya juga luar biasa sabar."
Siau Po tidak ingin urusan ini semakin panjang. Dia sengaja mengalihkan pokok pembicaraan dengan menoleh pada Kiam Peng serta Pui Ie.
"Bagaimana kalian bisa sampai di sini?"
Tanyanya sambil tersenyum. Bhok Kiam Peng belum sempat menjawab, Pui Ie sudah mendahuluinya.
"Kau ke mari!"
Katanya kepada Siau Po.
"Aku ingin berbicara denganmu."
Siau Po memperlihatkan senyuman yang manis ketika dia menghampiri gadis itu, Hati Lau It Cou semakin panas menyaksikan keakraban Pui Ie dengan si bocah nakal, Rasa cemburunya meluap tanpa dapat ditahan lagi, Biar bagaimana, nona itu adalah tunangannya, Karena itu tangannya segera meraba gagang golok dengan niat menghunusnya segera....
Tiba-tiba....
Plokkk!
Terdengar sebuah suara yang nyaring sekali Siau Po terkejut setengah mati dan pipinya terasa sakit Ternyata Pui Ie sudah menempeIengnya.
Dia langsung melompat mundur sambil membekap pipinya.
"Kau... mengapa kau memukul aku?"
Tegurnya pada Pui Ie. Hatinya langsung saja menjadi panas. Pui Ie menatapnya dengan sorotan tajam, wajahnya pun garang sekali. Tapi kulit wajahnya merah padam karena sekaligus dia juga merasa jengah.
"Kau menganggap aku orang macam apa?"
Tanyanya sinis.
"Apa yang kau katakan pada Lau suko? Di belakang orang, mengapa kau suka bicara tidak karuan?"
"Tidak."
Sahut Siau Po.
"Aku tidak membicarakan hal yang buruk tentang dirimu."
"Kau masih berani menyangkal?"
Bentak Piu Ie.
"Aku telah mendengar semuanya dengan jelas, Kamu berdua.,., Iya... kamu berdua memang bukan manusia baik-baik."
Sembari berkata, air mata Pui Ie telah mengucur dengan deras membasahi pipinya.
Ci Tian Coan sejak tadi diam saja, Dia merasa dirinya tidak boleh berpihak pada siapa pun.
Dia harus menganggap muda-mudi itu sedang bergurau sebagaimana biasanya orang yang tengah dilanda asmara, sebentar baik, sebentar bertengkar Dan hal ini harus dihentikan apabila tidak ingin menjadi persoalan yang berlarut-larut, Dia juga harus menjaga agar tidak terjadi pertikaian antara Tian Te hwe dan keluarga Bhok hanya karena urusan muda-mudi ini, Karena itu dia segera tertawa dan berkata.
"Wi hiocu, Lau suheng, kalian telah sama-sama merasakan sedikit penderitaan, sebaiknya urusannya diselesaikan sampai di sini saja, Aku si orang she Ci ini sudah tua, perutku tidak kuat menahan lapar, Ayolah kita cari sebuah rumah makan untuk mengisi perut dam minum arak sampai puas!"
Seiring dengan ucapan orang tua itu, tiba-tiba saja angin bertiup kencang dari barat daya dan tetesan air hujan sekonyong-konyong berjatuhan dari langit.
"Aneh!"
Kata Toan Coan.
"Sekarang kan bulan sepuluh, mengapa tidak karu-karuan turun hujan?"
Dia segera menoIehkan kepalanya ke arah barat daya. Di kejauhan tampak angin sedang berhembus mengarak gumpalan awan-awan hitam.
"Mungkin hujan akan turun deras sekali, Cepat kita cari tempat berlindung!"
Semua orang setuju dengan usul Ci Tian Coan, pembicaraan pun dihentikan untuk sementara.
Dengan tergesa-gesa mereka segera meninggalkan tempat itu dan menuju barat mengikuti jalan besar.
Pui le dan Kiam Peng dalam keadaan belum sehat menemui kesulitan Mereka tidak dapat berjalan cepat sebaliknya sang hujan turun semakin deras.
Tian Coan mengerti kesulitan yang dihadapi kedua nona itu, karenanya dia tidak berani ber!ari-lari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Siau Po dan yang lainnya juga terpaksa mengimbangi kedua orang nona itu.
Celakanya di tempat itu tidak tampak apa-apa.
jangan kata rumah penduduk, sebuah gubuk atau sebuah tempat persinggahan yang biasanya suka tersedia di pinggir jalan pun tidak ada.
Tidak berapa lama kemudian, mereka basah kuyup, Meskipun demikian, semuanya tetap berjalan perlahan-lahan mengimbangi Pui le dan Kiam Peng.
Mungkin hanya Siau Po sendiri yang tidak merasa kesal atau bingung, Dengan berjalan bersama kedua nona manis itu, hatinya malah senang sehingga berulang kali dia tertawa.
"Lebih baik kita jalan perlahan-Iahan, Bagi kita toh sama saja, sudah kepalang tanggung, jalan perlahan-Iahan, basah, jalan cepat, basah juga."
Tian Coan semua berdiam diri, Tidak ada yang memberikan komentar apa-apa.
Tapi mereka memang tidak tergesa-gesa lagi.
Tidak berapa lama kemudian, telinga rombongan itu mendengar suara gemericiknya air yang sedang mengaIir.
Dalam sekejap mereka sudah tiba di tepi sebuah sungai, Mereka segera berjalan menyusun tepi sungai tersebut.
Berjalan kurang lebih setengah li.
Mata Siau Po dan yang lainnya melihat ada sebuah perkampungan di hadapan mereka, Karena itu semuanya menjadi gembira sekali Tanpa terasa, mereka mempercepat langkah kaki, Tapi setelah mendekat, mereka menjadi kecewa.
Rupanya rumah yang mereka lihat dari kejauhan tadi, merupakan rumah berhala yang tersebar di sana sini dan keadaannya sudah tua serta rusak, Apa lagi bagian pintunya, sudah keropos dan bobrok, Tapi meskipun demikian, tempat itu masih lumayan untuk dipakai sebagai peneduh dari air hujan, Mereka segera memilih salah satu kuil yang keadaannya agak baik, Begitu mereka sampai di dalam, hidung Pui le langsung mencium bau lembab yang tidak enak, Mendadak gadis itu mengernyitkan sepasang alisnya, Karena memaksakan diri berjalan terlalu cepat, luka di dadanya terasa sakit kembali.
Dia berdiam diri sambil menggertakkan giginya.
Tian Coan memang sudah tua, tapi orangnya rajin, Dia segera mencari kayu bakar.
Orang tua itu tidak menemukan kesulitan sama sekali, sebab di sana terdapat banyak meja dan kursi bobrok.
Dia segera mengambil beberapa buah dan dipatah-patahkannya kaki-kaki meja serta kursi tersebut Ke-mudian dia menumpukkannya di tengah-tengah ruangan lalu dinyalakannya.
Sesaat kemudian, api unggun mulai berkobar Mereka segera duduk berkeliling di sekitarnya agar pakaian mereka cepat kering dan tubuh mereka terasa hangat.
Di luar kuil, udara semakin gelap dan hujan semakin menjadi-jadi, Ci Tian Coan memang pandai bekerja, Dia segera mengeluarkan ransum kering kemudian dibagibagikan kepada setiap orang, Dengan demikian, paling tidak perut mendapat sedikit ganjalan serta tidak menjadi sakit karenanya.
Sembari mengunyah kue kering, Kiam Peng menatap Siau Po seraya tertawa.
"Apa yang kau lakukan pada kue Lau suka tadi?"
Tanyanya. Siau Po mengedipkan matanya pada gadis cilik itu.
"Tidak."
Katanya.
"Aku tidak melakukan apa-apa."
"Kau masih menyangkal?"
Kata si nona.
"Lalu, kenapa tiba-tiba Lau suko tidak sadarkan diri seperti orang yang kena Bong Hoan Yok?"
"Oh, dia kena Bong Hoan Yok?"
Siau Po balik bertanya dengan sikap pura-pura bodoh.
"Kapan dia terkena obat bius itu? Mengapa aku tidak tahu? Ah! Tidak mungkin! Bukankah barusan dia masih baik-baik saja dan duduk menghangatkan tubuhnya?"
"Hm!"
Kiam Peng mendengus dingin.
"Sudahlah! Kau memang pandai berpura-pura, Aku tidak sudi berbicara denganmu!"
Pui Ie duduk berdiam diri, telinganya mendengar percakapan kedua orang itu.
otaknya terus berputar, hatinya bimbang dan menduga-duga.
Pertama-tama ketika Lau It Cou meringkus Siau Po, jarak Pui Ie masih jauh dari kedua orang itu, Dia tidak dapat melihat dengan tegas, Setelah keduanya duduk berdampingan di bawah pohon dan berbincang-bincang, Pui Ie baru mengendap-endap mendekati sehingga dia dapat melihat keadaan kedua orang itu serta dapat mendengar pembicaraan yang berlangsung dengan jelas.
Dia melihat dengan tegas kue kering itu dikeluarkan dari buntalan milik Lau It Cou.
Kemudian Lau It Cou selalu mengawasi Siau Po agar tidak melarikan diri, Yang aneh justru tiba-tiba saja Lau It Cou terkulai roboh.
Sementara itu, Siau Po tertawa dan berkata.
"Mungkinkah Lau suko mengidap semacam penyakit seperti ayan yang dapat membuatnya pingsan sewaktu-waktu?"
Mendengar ucapan Siau Po, Lau It Cou gusar sekali Dia langsung menjingkrak bangun.
"Kau.,, kau.,.!"
Bentaknya hanya sepatah kata saja, Pui Ie mendelik kepada si bocah nakal.
"Kemari kau!"
Panggilnya.
"Apakah kau ingin menampar aku lagi?"
Tanya Siau Po.
"Aku tidak sudi dekat denganmu!"
"Bukan!"
Sahut Pui Ie.
"Lain kali kau jangan bicara yang bukan-bukan lagi di hadapan Lau suko. Kau masih kecil, kau harus hati-hati dengan kata-katamu, Dari mulut juga, orang bisa mendapatkan kesan baik di dirimu!"
Siau Po meleletkan lidahnya, Dia membungkam.
It Cou merasa puas melihat Pui Ie telah membelanya sebanyak dua kail Di dalam hatinya dia berkata....
Setan cilik ini benar-benar busuk, justru hati Pui sumoay baik sekali...
Di dalam rombongan itu, usia Ci Tian yang paling tua.
Tapi dia terhitung bawahan Siau Po.
Karena itu dia tidak berani turut campur Gouw Lip Sin dan Go Piu juga lebih tua dari Siau Po, namun mereka telah berhutang budi sehingga tidak leluasa mengatakan apa pun.
Nona Bhok sendiri sudah mengatakan dia tidak sudi berbicara banyak lagi.
dengan si bocah, Maka di tempat itu, hanya Pui Ie seorang yang bisa mengendalikannya dan meredakan suasana yang tidak enak pada kedua pihak.
Ketujuh orang itu tetap duduk mengelilingi api unggun, Cuaca tetap gelap dan hujan masih mengucur deras, Karena kuil itu sudah tua sekali, terdapat kebocoran di sana sini yang membuat lantainya menjadi basah, Hampir tidak ada bagian yang kering, Tiba-tiba air hujan menetes membasahi bahu Siau Po sehingga dia terpaksa menggeser sedikit, namun disitu pun bocor.
"Kemari kau!"
Panggil Pui Ie.
"Disini tidak bocor."
Siau Po tidak menyahut Hanya matanya saja yang melirik ke arah si nona.
"Kemari!"
Panggil Pui Ie sekali lagi.
"Jangan takuti Aku tidak akan memukulmu lagi."
Siau Po tertawa kecil, Perlahan-lahan dia pindah ke samping gadis itu. Pui Ie segera membisiki Kian Peng dan gadis cilik itu pun menganggukkan kepalanya sambil tertawa. Kemudian dia membisiki Siau Po.
"Barusan Pui suci mengatakan bahwa dia dan engkau adalah orang sendiri itulah sebabnya dia berani memukul dan memarahi dirimu, Dia juga berharap selanjutnya kau jangan mengganggu Lau suko lagi. Dan Pui suci meminta aku menanyakan kepadamu, apakah kau sudah mengerti maksudnya?"
Siau Po mengawasi Siau kuncu dengan pandangan termangu-mangu.
"Apa sih artinya orang sendiri?"
Tanyanya dengan berbisik-bisik juga di telinga si nona yang kulitnya putih serta lembut "Aku tidak mengerti...."
Kiam Peng sendiri tidak tahu apa artinya, karena itulah dia berbisik lagi kepada Pui le untuk menanyakannya.
Mendengar pertanyaan yang diajukan si bocah nakal, Pui le mendelikkan matanya, tapi dia berbisik juga kepada Kiam Peng.
"Kau katakan kepadanya bahwa aku telah bersumpah dan sumpah itu berlaku untuk seumur hidup. Karena itu dia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi!"
"Kembali Kiam Peng membisiki Siau Po apa yang dikatakan Pui Ie.
"Baik!"
Sahut Siau Po.
"Jadi Nona Pui dengan aku adalah orang sendiri? Lalu, bagaimana dengan dirimu?"
Wajah Siau kuncu jadi merah padam ditanya sedemikian rupa.
"Fuh!"
Sebelah tangannya langsung melayang.
Siau Po menghindar dengan gesit, kemudian tertawa dan menoleh kepada Pui Ie.
Dia menganggukkan kepalanya kepada gadis itu.
Pui le membalas tatapannya, merasa agak jengah tapi hatinya senang sekali wajahnya semakin cantik dan mempesona sementara itu, Lau It Cou hanya memperhatikan tingkah laku ketiga remaja itu, Dia tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, Duduknya memang agak jauh dan mereka berbicara dengan berbisik-bisik pula.
Apa yang sempat tertangkap oleh telinganya hanya kata-kata "Lau suko"
Dan "orang sendiri"
Rupanya mereka menganggap aku orang luar.,., pikirnya, Hatinya panas sekali.
Mendadak saja rasa cemburu memenuhi dadanya, Dalam pandangannya, Pui le itu tetap kekasihnya.
"Coba kau tanyakan kepadanya,"
Bisik Pui le kepada Kiam Peng.
"Sebenarnya akal apa yang digunakan olehnya sehingga Lau suko jadi tidak berdaya?"
Nona Bhok menurut Dia menanyakannya kepada Siau Po.
Bocah nakal itu memperhatikan Pui Ie.
Dia mendapat kenyataan gadis itu ingin sekali mengetahui persoalan yang sebenarnya, Karena melihat nona itu tidak marah lagi, Siau Po pun mau menjelaskannya, Dia berbisik di telinga Siau kuncu.
"Ketika aku membuang air kecil, aku membelakanginya, Aku menggunakan tangan kiri untuk menaburkan Bong Hoan Yok pada kue keringnya, sedangkan kue yang kumakan, kugenggam dengan tangan kananku, karenanya tidak terkena obat bius itu, Nah, sekarang kau sudah mengerti, bukan?"
Sahutnya sambil tersenyum.
"Oh, rupanya demikian."
Kata Kiam Peng yang langsung menyampaikan penjelasan Siau Po kepada Pui Ie.
"Dari mana kau mendapatkan obat bius itu?"
Tanya Kiam Peng kemudian.
"Aku mendapatkannya dari salah seorang siwi di istana."
Kata Siau Po menjelaskan "Justru obat bius itu pula yang digunakan ketika aku menyelamatkan Lau suko meloloskan diri dari istana."
Kiam Peng mengangguk sekarang dia benar-benar sudah mengerti.
Pada saat itu hujan masih turun, bahkan semakin deras, Suara di atas genting bising sekali, Karena itu, Siau Po terpaksa mengeraskan suaranya ketika membisiki si gadis.
It cou masih memperhatikan bagaimana kedua nona itu saling berbisik kemudian Siau kuncu berbisikan lagi dengan Siau Po.
Dia menjadi gelisah sendiri.
Akhirnya dia berjingkrak bangun untuk berdiri, lalu menyenderkan tubuhnya pada sebuah tiang dengan keras karena perasaannya sengit sekali, sekonyong-konyong terdengar suara derakan yang keras dari atas genteng, rupanya beberapa genteng jatuh karena goncangan pada tiang tadi.
"Celaka!"
Teriak Ci Tian Coan.
"Kuil ini akan rubuh, cepat keluar!"
Semua orang merasa terkejut Tidak terkecuali Lau It Cou sendiri ia memang sudah mengelak ketika beberapa genteng terjatuh tadi.
semuanya langsung melonjak bangun dan berhamburan lari ke luar dari kuil tua itu.
Belum seberapa jauh mereka berlari, tiba-tiba terdengarlah suara yang bergemuruh dan memekakkan telinga.
Ternyata seluruh sisa bangunan kuil itu ambruk sehingga tidak berbentuk lagi.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, dari kejauhan terdengar suara samar-samar derap kaki kuda datang ke arah mereka, Kalau ditilik dari suaranya, kemungkinan jumlahnya mencapai belasan ekor, dan datangnya dari arah timur laut Bahkan dalam sekejap mata, belasan penunggang kuda itu pun sudah tiba di hadapan mereka.
Terdengar suara seseorang yang usianya sudah lanjut berkata.
"Sayang sekali! Di sini ada sebuah kuil yang cukup besar, tapi sudah roboh."
"Hai, sahabat!"
Mendadak salah seorang penunggang kuda menegur Ci Tian Coan yang maaih berkumpul menjadi satu dengan rekan-rekannya karena mereka memang belum sempat ke mana-mana.
"Sedang apa kalian di sini?"
"Barusan kami meneduh di dalam kuil,"
Sahut Ci Tian Coan.
"Apa mau dikata, tibatiba kuil itu roboh terlanda hujan deras dan angin kencang, Hampir saja kami semua mati tertimpanya."
"Kurang ajar benar!"
Terdengar gerutuan penunggang kuda yang ketiga.
"Sudah hujan besar, tempat meneduh pun tidak ada! Lihat saja, kuil yang lainnya pun tidak ada yang utuh!"
"Tio losam, bagaimana sekarang?"
Terdengar suara orang ke empat.
"Kuil di sini sudah rubuh semuanya, apakah masih ada tempat meneduh yang lainnya ?"
Tempat untuk meneduh sih ada, tapi tidak berbed jauh dengan kuil-kuil rusak itu.,."
Kata orang tua yang pertama.
"Yang betul, ada atau tidak?"
Bentak seorang lainnya, Ditilik dari suaranya, tampaknya orang yang satu ini lebih berangasan.
"Ada. Letaknya di sebelah barat daya, Di dalam lembah."
Sahut orang yang di tegur "Sebenarnya tempat itu merupakan sebuah rumah hantu.
Hantu yang menghuni di dalamnya juga jahat sekali, Tidak ada seorang pun yang berani berdiam di tempat itu itulah sebabnya aku mengatakan tidak berbeda dengan kuil-kuil rusak itu...."
Mendengar kata-kata si orang tua, beberapa temannya langsung tertawa terbahakbahak. Beberapa teman yang lain mencaci dan menggerutu.
"Lohu tidak takut setan!"
Teriak seseorang. "Malah lebih bagus kalau ada hantunya,"
Teriak seorang lainnya lagi.
"Kita tangkap saja dan kita jadikan hidangan pengisi perut!"
"Lekas tunjukkan jalannya! Kita toh bukan sedang mandi, untuk apa kita berdiam di sini lama-lama? Memangnya enak ditimpa air hujan terus-terusan?"
Orang yang dipanggil Tio losam berkata kembali "Tuan-tuan, aku yang tua tidak menyayangi selembar jiwa ini tetapi sesungguhnya aku tidak berani Tuan-tuan, aku ingatkan, kita jangan pergi ke tempat itu.
Lebih baik kita menuju utara saja, kurang lebih tiga puluh li lagi ada sebuah pasar...."
"Hujan begini lebat kita harus menempuh perjalanan sejauh tiga puluh li lagi?"
Bentak beberapa penunggang kuda serentak "Sudahlah, jangan banyak bacot! jumlah kita toh banyak, mengapa kita harus takut kepada setan?"
"Baiklah kalau begitu!"
Kata Tio losam.
"Mari kita pergi ke barat daya, setelah membelok ditikungan bukit sana, kita memasuki Iembah. Disana hanya ada sebuah jalan, tidak mungkin kita ke-sasar!"
Para penunggang kuda lainnya tidak menunggu kata-katanya selesai, mereka segera melarikan ku-da-kudanya ke arah yang disebutkan tadi.
Tio losam justru sebaliknya.
Dia menunggang keledai, setelah ragu-ragu sejenak, dia memutar balik keledainya ke arah tenggara, arah mereka datang tadi.
"Gouw jiko, Wi hiocu!"
Panggil Ci Tian Coan.
"Bagaimana kita?"
"Menurut aku,.,"
Sahut Gouw Lip Sin yang langsung menghentikan kata-katanya.
Sebab dia merasa seharusnya Siau Po menentukan keputusan yang harus mereka ambil, Karena itu dia melanjutkan "Sebaiknya Wi hiocu saja yang mengambil keputusan...."
Siau Po memang aneh.
Dia cerdas dan berani, tetapi terhadap setan atau hantu, justru paling takut, Mungkin karena usianya masih terlalu muda dan pengaruh sejak kecil sering ditakut-takuti cerita setan.
"Biar paman Gouw saja yang memutuskan.,."
Sahutnya cepat.
"Sebenarnya apa sih yang dinamakan setan?"
Kata Gouw Lip Sin.
"ltu toh hanya ocehan orang kampung yang pikirannya masih bodoh, Kalau pun benar ada setan, kita pun tidak perlu takut, Kita pasti bisa melawan!"
"Bukan begitu..."
Kata Siau Po.
"Ada setan yang tidak berwujud dan tahu-tahu muncul di depan kita sehingga kita tidak sempat lari lagi..."
Lau It Cou merasa tidak puas mendengar ucapan Siau Po, saingannya, Karena itu dia segera menukas dengan suara keras.
"Kita berkecimpung di dalam kang ouw, mana ada yang takut terhadap hantu atau setan? Mana bisa kita kehujanan terus seperti ini? Bisa-bisa kita semua jatuh sakit.,,."
Tubuh Kiam Peng menggigil Kebetulan Siau Po melihatnya, pikirannya segera terbuka.
"Baiklah! Mari kita pergi kesana! Tapi, aku ingatkan kalian agar berhati-hati apabila bertemu dengan setan!"
Kemudian mereka bertujuh pun berjalan menuju barat daya seperti yang dikatakan Tio losam tadi, Cuaca masih gelap, agak sukar bagi mereka menemukan jalanan, Untung saja mereka melihat sesuatu yang berkilauan Rupanya sebuah saluran air.
"Kalau kita tidak berhasil menemukan jalanan.,."
Kata Siau Po.
"lni yang dinamakan "Setan menghajar tembok"
Artinya, setan telah menyesatkan langkah kita."
"Tapi saluran ini justru menunjukkan jalan,"
Kata Tian Coan.
"Kita tinggal mengikutinya saja!"
"Benar!"
Sahut Lip Sin yang segera mendahului lainnya.
Mereka bertujuh pun berjalan mengikuti saluran air itu.
Meskipun lambat, tapi mereka toh bisa meneruskan perjalanan.
Tidak lama kemudian, dari arah sebelah kiri yang terdapat banyak pepohonan lebat, terdengar suara ringkikan kuda.
Mereka yakin itulah suara kuda-kuda rombongan tadi.
"Entah siapa orang-orang itu,.,"
Tanya Tian Coan dalam hatinya, Hatinya diliputi kecurigaan Tapi ada Gouw Lip Sin bersama kami, meskipun seandainya mereka berniat jahat, asal kepandaiannya tidak terlalu tinggi, maka tidak perlu terlalu dicemaskan, Karena itu dia pun jalan terus tanpa mengutarakan perasaannya.
Mereka tetap berjalan terus mengikuti aliran sungai, Tapi sekarang arahnya menuju dalam hutan, jalanan di sana tidak rata, kadang-kadang tinggi, kadang-kadang rendah.
Begitu melangkah ke dalam lembah, mereka dapat merasakan kegelapan yang terlebih parah, Tiba-tiba telinga mereka mendengar suara gedoran pintu, Hal ini membuktikan bahwa di sana memang terdapat rumah penduduk.
Siau Po terkejut sekaligus senang, Dia terkejut bila mengingat tentang setan yang dikatakan Tio losam tadi.
Hatinya senang karena mengetahui adanya rumah untuk berteduh.
Tiba-tiba Siau Po merasa ada sebuah tangan yang menjamahnya.
Tangan yang halus dan lembut itu langsung menariknya kemudian telinganya mendengar suara yang merdu.
"Jangan takut!"
Siau Po segera mengenalinya sebagai suara Pui Ie.
Suara gedoran pintu masih terdengar Hal ini menandakan bahwa pintu masih belum dibukakan juga, Siau Po dan yang lainnya maju terus.
Akhirnya mereka tiba di dekat rombongan itu.
Mungkin karena kesal menunggu, sekarang mereka pun berteriakteriak.
"Lekas bukakan pintu! Cepat! Kami orang-orang yang kehujanan dan ingin numpang berteduh. Teriakan itu tidak mendapat jawaban. Pintu tetap tidak dibukakan, Dari dalam rumah tidak terdengar suara apa pun. Keadaan di tempat itu tetap sunyi senyap.
"Rupanya rumah itu kosong, Tidak ada penghuninya!"
Teriak seseorang. Tio losam sudah mengatakan bahwa inilah rumah hantu."
Kata seseorang.
"Mungkin dia benar. Siapa yang berani sembarangan masuk ke dalam rumah ini? Mungkin kita harus melompat lewat tembok apabila ingin masuk ke dalamnya."
Seiring dengan ucapan itu, tampak dua berkas cahaya berkelebat.
Rupanya dua orang segera melompat naik ke atas tembok pagar sembari menghunus golok masingmasing.
Sesaat kemudian pintu pekarangan sudah terpentang lebar karena di buka oleh kedua orang tadi, Dengan demikian semua orang yang ada di luar bisa masuk kedaIam.
Begitu masuk, tampaklah sebuah halaman, Ci Tian Coan mengajak rekan-rekannya masuk ke dalam.
Diam-diam dia berpikir.
"Mereka orang-orang dari dunia kang ouw, tapi kalau di tilik dari gerak-geriknya, kepandaian mereka tidak seberapa tinggi."
Di hadapan mereka terdapat sebuah pendopo yang luas, Rombongan itu segera masuk ke dalam.
Salah seorang dari penunggang kuda itu membuka buntalannya dan mengeluarkan batu api kemudian menyulut lilin yang terdapat di atas meja, Dalam sekejap mata ruangan itu jadi terang.
perasaan setiap orang pun terasa lebih lega.
Meja dan kursi yang terdapat dalam ruangan itu terbuat dari kayu cendana, Hal ini membuktikan bahwa bekas penghuni rumah itu seseorang yang berperasaan halus, Seleranya untuk perabotan rumah tangga pun cukup tinggi.
Tian Coan memperhatikan keadaan di dalam ruangan itu, dalam hatinya dia berpikir.
"Meja dan kursi-kursi di sini bersih tanpa debu sedikit pun. Lantai pun tersapu bersih. Mengapa rumah ini tidak ada penghuninya?"
Ternyata bukan hanya Tian Coan saja yang berpikiran demikian Salah seorang dari penunggang kuda itu pun mengeluarkan seruan heran.
"Rumah ini bersih sekali, pasti ada penghuninya !"
"Hai! Hai!"
Teriak seseorang lainnya.
"Hai! Apakah ada orang yang menghuni rumah ini? Apakah ada orang di dalam?"
Ruangan pendopo itu besar serta tinggi, Suara teriakan orang tersebut langsung berkumandang ke mana-mana menimbulkan gema, Tapi lambat laun suara itu menghilang dan kesunyian kembali melanda, Hanya suara air hujan yang berderai jatuh di atas genteng menimbulkan kebisingan yang mencekam.
Untuk sesaat orang-orang dari rombongan itu berdiam diri dan saling memperhatikan Mimik wajah mereka menyiratkan perasaan heran.
Kemudian salah satunya yang sudah lanjut usia dan rambutnya penuh uban menegur Ci Tian Coan "Tuan-tuan sekalian, apakah kalian orang-orang dunia Kang ouw?"
Ci Tian Coan hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku yang rendah she Kho."
Sahutnya kemudian "Rombongan kami terdiri dari sanak saudara dan keluarga, Kami ingin pergi ke Shoa say untuk menjenguk famili, sayangnya hujan turun dengan deras sehingga kami terpaksa singgah di sini, Bagaimana dengan tuan-tuan sendiri?
siapakah she dan nama tuan besar yang mulia?"
Orang itu menganggukkan kepalanya, tapi dia tidak langsung memberikan jawaban Diam-diam dia memperhatikan rombongan Ci Tian Coan, Dia mendapat kenyataan bahwa di antaranya ada beberapa wanita dan ada bocah cilik pula.
Dia tidak merasa curiga sedikit pun.
Tapi dia tetap tidak memberikan jawaban dan hanya berkata dengan suara menggumam.
"Rumah ini aneh sekali!"
Kembali terdengar seseorang lainnya berteriak lantang.
"Hai! Apakah di dalam rumah ada penghuninya? Atau para penghuninya sudah mampus semua?"
Tak perlu diragukan lagi kalau orang itu sudah kesal sekali sehingga tegurannya jadi sengit.
Beberapa menit kembali berlalu, tetap saja tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Akhirnya orang tua tadi menunjuk enam orangnya seraya memerintahkan.
"Kalian berenam masuk terus sampai ke dalam dan lihat, apakah rumah ini benarbenar kosong?"
Orang tua itu langsung menghampiri sebuah kursi dan duduk di sana, Enam orang yang ditunjuknya segera mengiyakan, Mereka mencabut senjatanya masing-masing lalu terus melangkah ke dalam.
Salah satu diantaranya membawa sebatang lilin sebagai penerangan Ketika mereka berjalan ke dalam, langkah mereka perlahan sekali, Agaknya mereka bersikap hati-hati dan teliti.
Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka sudah siap menghadapi segala kemungkinan Setelah masuk jauh ke dalam, terdengarlah suara panggilan dan gedoran dari keenam orang itu, Rupanya mereka memeriksa setiap ruangan dan mencoba memanggil-manggil untuk meyakinkan bahwa dalam rumah itu tidak ada penghuninya.
Setelah lewat beberapa detik, suara panggilan dan gedoran pun tidak terdengar lagi.
Tentunya keenam orang itu sudah pergi jauh ke belakang.
Sambil menantikan, si orang tua menunjuk kepada empat orang lainnya sambil memerintahkan.
"Kalian pergi mencari kayu untuk obor, kemudian susul mereka ke dalam!"
Mereka menuruti perintah itu, Keempat orang itu segera ke luar melaksanakan tugas yang di perintahkan itu.
Siau Po dan yang lainnya tidak mengambil tindakan apa-apa.
Dia hanya memperhatikan gerak-gerik rombongan penunggang kuda itu.
Mereka duduk berkumpul di bawah jendela besar ruangan pendopo, semuanya memang sengaja memisahkan diri dari rombongan tersebut.
Dengan kepergian sepuluh orang tadi, dalam ruangan itu masih tersisa delapan orang dari rombongan tersebut Mereka semua mengenakan pakaian yang serupa, Kemungkinan seragam dari suatu perkumpulan tertentu.
Mungkin juga para piau su (pegawai sebuah ekspedisi) yang sedang menjalankan tugas mengawal semacam barang.
Cukup lama Siau Po berdiam diri, akhirnya dia bertanya juga kepada Pui Ie.
"Cici, coba kau katakan, apakah benar rumah ini berhantu?"
"Kemungkinan memang ada."
Sahut gadis itu.
"Mana sih ada rumah yang belum pernah kematian penghuninya?"
Tubuh Siau Po bergidik Dia meringkukkan tubuhnya sedikit padahal dia tidak pernah takut terhadap apa pun, tetapi mendengar setan, nyalinya langsung ciut.
"Para setan di dunia ini paling benci kepada orang yang menghina sesarang yang berhati baik dan suka terhadap orang yang benar-benar jahat. Apalagi bocah tanggung, Sebab kalau orang dewasa hawanya hangat, setan jadi takut Bahkan segala setan, baik yang mati dibunuh atau pun yang menggantung diri, jarang berani mendekati orang dewasa!"
Kata Lau It Cou menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya,.. Diam-diam Pui Ie menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Siau Po.
"Manusia takut kepada setan, tapi setan lebih takut lagi kepada manusia, Asal ada cahaya api atau terang, setan pasti akan lari ketakutan."
Katanya menghibur hati Siau Po.
Kemudian terdengar suara langkah kaki yang riuh, Ternyata ke enam orang yang pertama pergi tadi sudah muncul kembali Tampak jelas wajah mereka menyiratkan perasaan yang heran tidak kepalang tanggung, Hampir serentak mereka memberikan laporannya "Tidak tampak seorang pun di mana-mana, tapi setiap ruangan terawat dengan baik."
"Seluruh tempat tidur di alasi sprei dan kelambu, semuanya bersih, Di depan setiap pembaringan ada sepasang sandal wanita." "Di dalam lemari yang ada dalam setiap ruangan, penuh dengan pakaian wanita, Tidak tampak sepotong pun pakaian pria."
Tiba-tiba Lau It Cou berteriak dengan nyaring.
"Setan perempuan! Setan perempuan! Tidak salah lagi rumah ini dihuni oleh setan perempuan!"
Suaranya begitu keras sehingga pandangan semua mata tertuju padanya, tapi tidak ada seorang pun yang memberikan komentar. Setelah hening sejenak, si orang tua baru mengajukan pertanyaan.
"Ada barang apa saja yang terdapat di dapur?"
"Piring-piring dan mangkok-mangkok telah tercuci bersih."
Sahut salah seorang bawahannya.
"Tetapi tidak ada sebutir beras pun di dalam pendaringan."
Tepat pada saat itu, dari dalam rumah terdengar suara berisik keempat orang yang menjadi rombongan kedua tadi, Mereka berteriak-teriak aneh sambil berlari serabutan, Ketika masuk ke dalam, mereka semua membawa obor yang masih menyala, sekarang obor mereka telah padam semua.
"Orang mati! Banyak orang mati!"
Terdengar suara teriakan mereka yang jelas, Wajah mereka menyiratkan perasaan terkejut sekaligus takut.
"Kalian hanya membuat keributan! Aku kira kalian telah bertemu dengan lawan yang tangguh."
Tegur si orang tua.
"Ternyata kalian hanya melihat orang mati. Kalau hanya mayat, apa yang perlu di takuti?"
"Bukan takut"
Sahut orang-orang itu.
"Kami hanya merasa aneh."
"Apanya yang aneh?"
Tanya orang tua itu kembali "Cepat katakan!"
"Di ruang sebelah timur... terdapat banyak leng tong (meja abu orang mati), Di manamana ada, entah berapa banyak jumlahnya.-."
Sahut seseorang.
"Apakah ada jenasah atau peti matinya?"
Tanya si orang tua kembali. Dua orang yang terakhir langsung saling lirik.
"Tidak... tidak jelas..."
Sahut mereka.
"Rasanya tidak ada...."
"Kalau begitu, cepat kalian persiapkan obor-obor lagi! Kita masuk bersama-sama. Kemungkinan tempat ini merupakan sebuah rumah abu. Bukan-kah tidak mengherankan kalau banyak leng tong-nya?"
Cara bicara si orang tua enak sekali, tapi nadanya mengandung sedikit kebimbangan.
Rupanya dia sendiri ikut terpengaruh bahwa tempat itu bukan rumah sembarangan.
Orang-orang dari rombongan itu segera bekerja, Tidak sulit bagi mereka untuk membuat obor, sebab mereka tinggal mematahkan kaki meja dan kursi, Dalam sekejap mata pekerjaan mereka pun selesai Beramai-ramai mereka masuk ke dalam.
"Biar aku ikut pergi melihat!"
Kata Tian Coan "Gouw toako, harap kalian tunggu dulu di sini!"
Selesai berkata, Ci Tian Coan segera menyusul orang-orang rombongan itu.
"Suhu,"
Tanya Go Pi kepada gurunya.
"Siapakah orang-orang dari rombongan itu?"
"Entahlah!"
Sahut Gouw Lip Sin.
"Aku tidak mengenali atau membedakan orangorang dari golongan mana mereka itu. Kalau ditilik dari aksen-nya, tampaknya, mereka orang-orang dari Ki barat. Tampang mereka juga tidak mirip dengan pembesar sipil Mungkinkah mereka rombongan orang-orang yang sering menyelundupkan barang gelap? Tapi mereka semua berkosong tangan Tidak ada yang membawa apa pun."
"Rombongan itu bukan orang-orang yang perlu diperhatikan secara istimewa."
Terdengar suara Lau It Cou menukas.
"Yang perlu dikhawatirkan justru para hantu perempuan di rumah ini. Mereka tentunya lihay-lihay sekali."
Pemuda ini selalu menyebut-nyebut soal setan, seakan sengaja ingin menimbulkan perang dingin dengan Siau Po.
Rupanya dia masih merasa panas dan mendendam dalam hati.
Sembari berbicara, Lau It Cou melirik ke arah si bocah sambil menjulurkan lidahnya dan membelalakkan matanya, wajahnya menunjukkan seakan dia pun ketakutan.
Siau Po bergidik, Dia menggenggam tangan Pui Ie erat-erat.
Telapak tangannya terasa dingin sekali, karena itu Pui Ie juga menggenggamnya erat-erat agar dia bisa merasakan sedikit kehangatan "Lau...
suko!"
Panggil Kiam Peng.
"Kau jangan menakut-nakuti orang!"
Tentu saja dia dapat menduga maksud hati pemuda itu. sedangkan dia sendiri pun merasa agak takut.
"Siau kuncu, kau tidak perlu khawatir!"
Kata Lau It Cou.
"Kau putri seorang bangsawan, setan apa pun tidak akan berani mendekatimu. Setiap setan yang melihat kau pasti akan lari terbirit-birit Mereka tidak akan berani mengganggumu, Kau tahu, setan jahat paling sebal melihat thay-kam yang perempuan bukan, laki-laki pun bukan."
Sepasang alis Pui le langsung menjungkit ke atas, Dia mendongkol sekali melihat tingkah kakak seperguruannya yang semakin konyol Hampir saja dia membuka mulutnya memaki Untung saja dia masih bisa mengekang diri.
Tidak lama kemudian, terdengarlah suara ramai langkah kaki yang mendatangi Ternyata orang-orang yang masuk kedalam tadi sudah ke luar kembali.
Melihat tampang orang-orang itu, hati Siau Po menjadi agak lega, sehingga dia menarik nafas panjang.
"Memang benar."
Kata Tian Coan kepada rombongannya dengan suara perlahan sekali "Di dalam setiap kamar ada empat puluh meja abu.
Dan disetiap meja dirawat enam atau tujuh buah leng wi (Tempat abu jenasah), Rupanya di atas setiap meja disimpan abu jenasah sebuah keluarga...."
"Hm! Hm!"
Lau It Cou memperdengarkan suaranya yang tawar.
"Dengan demikian, berarti di dalam rumah ini terhuni beberapa ratus setan jahat?"
Tian Coan menggeleng-gelengkan kepalanya, Seumur hidupnya, baru kali ini dia menghadapi pengalaman yang demikian aneh, Sesaat kemudian dia baru berkata kembali dengan nada sabar.
"Yang anehnya, di atas setiap meja terpasang lilin...."
Kiam Peng, Siau Po, dan Pui le merasa heran sehingga serentak mengeluarkan seruan terkejut.
"Ketika kami sampai di ruangan dalam tadi, lilin itu masih belum dinyalakan."
Salah seorang dari rombongan penunggang kuda yang tadi masuk kedalam memberikan keterangan.
"Apa kau tidak salah ingat?"
Tanya si orang tua. Keempat pengikut itu saling memandang sejenak, kemudian sama-sama menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, kita bukan bertemu dengan setan."
Kata si orang tua setelah lewat sejenak.
"Sebaliknya, kita justru bertemu dengan orang-orang yang lihay sekali Bukan hal yang mudah apabila ingin menyalakan lilin dari empat puluh buah leng tong, siapakah kiranya orang yang demikian hebat? Kho loyacu, bagaimana pendapatmu, benar atau tidak apa yang kukatakan ini?"
Pertanyaan itu ditujukan kepada Ci Tian Coan yang mengaku dirinya she Kho. Ci Tian Coan berlagak tolol.
"Kemungkinan kita telah melanggar peraturan tuan rumah tanpa setahu kita."
Sahutnya.
"Tidak ada salahnya kalau kita memberi hormat dihadapan leng tong-leng tong itu...."
"Hm!"
Orang tua itu mendengus dingin, Sesaat kemudian dia baru berkata dengan suara lantang.
"Tuan-tuan yang terhormat! Kami sedang melakukan perjalanan Ketika lewat di tempat tuan ini, kami terhalang oleh hujan deras, oleh karena itu kami lancang masuk ke rumah Tuan ini untuk berlindung, Tuan yang terhormat apakah Tuan sudi menemui kami?"
Sesaat kembali berlalu, meskipun suara si orang tua lantang sekali, bahkan menggaung di dalam rumah, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.
Si orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya, Dia menunggu lagi beberapa saat, lalu berkata lagi dengan suara yang lebih keras.
"Kalau tuan rumah tidak bersedia bertemu dengan kami yang hanya terdiri dari orang-orang kasar ini, harap Tuan sudi memaafkan kami yang lancang berlindung di sini. sebentar lagi, apabila hujan sudah reda, kami semua akan berangkat melanjutkan perjalanan."
Sembari berkata, orang tua itu menggerakkan tangannya memberi isyarat kepada rekan-rekannya agar jangan membuka suara, Dengan demikian mereka bisa samasama memasang telinga.
Bagian 32 Akan tetapi, sampai sekian lama tetap saja tidak ada jawaban atau pun teguran.
"Ciong losam,"
Kata seseorang.
"Perduli apa dia manusia atau hantu, kita tunggu saja sampai pagi, lalu kita pergi saja dari sini. sebaiknya sebelum kita berangkat, kita bakar saja dulu tempat ini sampai ludes."
Tampaknya orang yang satu ini agak berangasan dan tidak sabaran. Si orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya. "Urusan penting kita masih belum terlaksanakan, jangan kita mencari kesulitan lain."
Katanya.
"Marilah kita duduk bersama!"
Mereka pun duduk beristirahat Pakaian mereka basah kuyup, Mereka duduk mengitari api unggun untuk mengeringkan pakaiannya, Salah satu orang dari rombongan itu mengeluarkan poci araknya, Dibukanya tutup poci itu kemudian diserahkannya kepada orang tua tadi untuk meneguknya agar perutnya hangat Setelah menenggak beberapa teguk arak, si orang tua kembali menolehkan kepalanya ke arah rombongan Siau Po.
Sinar matanya berhenti pada diri Ci Tian Coan.
"Kho loyacu, tadi kau mengatakan bahwa kalian terdiri dari orang-orang sendiri, tetapi mengapa aksen bicara kalian berlainan?"
Tanyanya. Ci Tian Coan tertawa.
"Loyacu, telingamu sangat tajam."
Pujinya.
"Anda tentunya seorang tokoh dunia kang ouw yang sudah banyak pengalaman dan luas pengetahuannya. sebenarnya keponakanku ini telah menikah di propinsi In Lam. sedangkan adik perempuanku yang kedua menikah di propinsi Shoa Say. Begitulah kami terpencar Satu di timur, satu di barat. Selama belasan tahun juga sukar mendapatkan kesempatan untuk bertemu."
Orang tua itu menganggukkan kepalanya, kembali dia meneguk arak yang ada dalam poci. Sekali-sekali matanya masih melirik kearah rombongan Ci Tian Coan.
"Apakah Tuan-tuan ini datang dari Pe King?"
Tanyanya kembali.
"Betul."
Sahut Tian Coan.
"Numpang tanya, selama dalam perjalanan apakah kalian melihat seorang thay-kam muda yang usianya sekitar lima belas tahun?"
Tanya orang tua itu pula.
Mendengar pertanyaan itu, jantung Ci Tian Coan langsung berdegup keras.
Untung saja dia sudah berpengalaman menghadapi bahaya sebesar apa pun sehingga dia dapat menyembunyikan perasaan hatinya dengan baik.
Orang tua itu tidak menaruh curiga apa-apa meskipun pada saat itu sedang menatapnya.
Sebaliknya, wajah Go Piu dan Kiam Peng langsung berubah hebat, Untungnya, justru tidak ada orang yang memperhatikan mereka.
"Thay-kam?"
Tanya Ci Tian Coan berlagak pilon.
"Di kerajaan thay kam-thay kam memang banyak sekali, Ada yang tua dan ada juga yang muda, aku sendiri sempat bertemu dengan beberapa di-antaranya."
"Yang aku tanyakan ialah yang kau temui dalam perjalanan menuju ke sini."
Kata si orang tua menjelaskan "Bukan yang ada di Kotaraja."
"Oh, loyacu, pertanyaanmu itu benar-benar tidak tepat."
Kata Ci Tian Coan yang terus memainkan peranannya.
"Menurut peraturan dari pemerintah Ceng kita yang agung, sekali saja seorang thay kam berani melangkahkan kakinya ke luar dari Kotaraja, dia akan segera mendapat hukuman mati. Thay-kam jaman sekarang tidak bisa dibandingkan dengan thay kam kerajaan Beng yang lagaknya sok benar. Karena itu pula, sekarang tidak ada seorang thay-kam pun yang berani meninggalkan Kotaraja dengan sembarangan."
Sengaja Ci Tian Coan memuji kerajaan Ceng yang agung dan mencela kerajaan Beng.
"Oh!"
Seru si orang tua yang langsung sadar bahwa dia telah salah bicara. Cepatcepat dia menambahkan "Siapa tahu dia ke luar dengan cara menyamar?"
Tian Coan menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
"Tidak mungkin!"
Katanya.
"Mana ada thay kam yang nyalinya begitu besar? Tapi, eh.... Loyacu, mohon tanya, bagaimana tampang thay-kam muda yang kau maksudkan itu? Siapa tahu sekembalinya dari Shoa say, aku bisa membantu mencari tahu tentang dirinya...."
"Hm!"
Orang tua itu mendengus dingin.
"Terima kasih, Entah pada saat itu, umurnya masih panjang atau sudah terputus!"
Diam-diam otak Ci Tian Coan langsung berputar "Dia mencari thay kam cilik, Mungkinkah Wi hiocu yang di maksudkannya?
Rombongan orang tua ini bukan orang-orang dari pihak Tian Te hwe atau Bhok onghu, sudah pasti mereka mempunyai maksud buruk, sebaiknya aku meminta penjelasan dari mereka, Tapi aku harus hati-hati agar mereka jangan sampai curiga, Lebih baik aku memancingnya dengan akal saja..."
Dengan membawa pikiran demikian, Ci Tian Coan segera berkata.
"Loyacu, mengenai thay-kam cilik di kerajaan hanya ada satu yang terkenal sekali Namanya tersohor sampai ke mana-mana. Mungkin kau juga pernah mendengar tentang dirinya, Dialah si thay-kam cilik yang memotong leher Go Pay dan sudah membangun jasa besar sekali."
Orang tua itu membelalakkan matanya Iebar-lebar.
"Oh? Apakah yang kau maksudkan itu thay kam cilik yang bernama Siau Kuicu?"
"Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Sahut Tian Coan seenaknya.
"Nyali bocah itu sungguh besar, ilmu silatnya juga lihay sekali, Pokoknya, dia bukan sembarang orang."
"Bagaimana tampang bocah itu?"
Tanya si orang tua.
"Apakah kau pernah melihatnya?"
"Ya!"
Sahut Tian Coan.
"Kui kong kong itu paling sering mondar-mandir di dalam kota Pe King. Aku rasa hampir setiap orang yang tinggal di Kotaraja pernah meIihatnya. Kui kong kong itu berkulit hitam, tubuhnya gemuk pendek dan usianya paling sedikit sudah ada delapan belasan, pasti tidak ada yang percaya bahwa usianya baru lima belasan."
Ketika itu Pui Ie masih menggenggam tangan Siau Po erat-erat, sedangkan sikut Kiam Peng menempel di punggung bocah itu, Meskipun agak tegang, tapi hampir saja mereka tertawa geli mendengar lukisan Ci Tian Coan tentang Siau Po.
Otak Siau Po sendiri sedang berputaran Kalau tadi dia selalu memikirkan soal setan, sekarang dia malah memikirkan sikap orang tua she Ciong itu.
"Oh, begitu?"
Kata si orang tua.
"Tapi menurut yang aku dengar, justru kebalikannya, Kabarnya usia Kui kong kong baru empat belas atau lima belas tahunan, hanya saja otaknya cerdas dan licik, Menurut aku malah ada sedikit kemiripan dengan keponakanmu itu...."
Sembari berkata, si orang tua tertawa terbahak-bahak dan matanya menatap tajam kearah Siau Po.
Orang tua itu menyebut Siau Po keponakan Ci Tian Coan, karena memang demikianlah pengakuan tokoh Tian Te hwe tersebut sedangkan Gouw Lip Sin diakui sebagai moayhu, suami adik perempuannya.
Tepat pada saat itulah, terdengar Lau It Cou ikut berbicara.
"Menurut apa yang kudengar, Kui kong kong itu orangnya jelek, hina dina, dan tidak tahu malu, Dia juga pandai menggunakan Bong Hoan Yok. Ketika membinasakan Go Pay, sebelumnya dia sudah membiusnya dulu, Kalau tidak, mana mungkin bangsat bernyali kecil dan takut setan itu sanggup menghabisi nyawa orang itu!"
Dia langsung menoleh kepada Siau Po dan berkata dengan wajah menunjukkan kegembiraan "Piaute (saudara misan), coba kau katakan, bukankah apa yang kuucapkan ini benar adanya?"
Gouw Lip Sin marah sekali, mendadak sebelah tangannya melayang untuk menampar pipi pemuda itu.
Tapi It Cou sudah terbebas dari belenggu Siau Po.
Dia dapat melihat datangnya serangan dan berhasil mengelakkan diri, Setelah itu dia langsung berjingkrak bangun.
Lip Sin juga bangkit.
Dia ingin melakukan penyerangan kembali.
Secara berturutturut dia mengerahkan tipu jurus Tiau Thian Cui (Menghadap kaisar) dan "Kim Ma Su Hong" (Kuda emas meringkik di antara hembusan angin), Kedua jurus itu merupakan ilmu keluarga Bhok, Dia melakukannya tanpa perpikir panjang lagi karena hatinya panas mendengar Lau It Cou menghina tuan penolongnya.
Meskipun demikian, Lau It Cou tetap dapat menghindarkan diri tanpa melakukan serangan balasan Dan saat itu, justru orang tua she Ciong itu langsung mencelat bangun dari kursinya dan tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Bagus!"
Serunya.
"Tuan-tuan sekalian, sungguh sempurna penyamaran kalian!"
Begitu orang tua itu bangun, kawan-kawannya yang lain pun langsung ikut bangkit.
Gouw Lip Sin terkejut setengah mati.
Dia mengerti bahaya, Karena itu, dia segera menghunus golok pendeknya lalu langsung di tebaskan ke arah kiri, kepala salah satu orang dari rombongan itu segera terlepas dari batang lehernya.
Setelah itu dia menusuk ke kanan sehingga seorang lagi tertembus tenggorokannya dan mati seketika.
Menyaksikan hal itu, si orang tua segera meraba pinggangnya, mengeluarkan sepasang poan koan pit (senjata pendek dengan ujung runcing seperti potlot), Kedua senjata itu diadukan satu dengan lainnya sehingga menimbulkan luara dentingan yang memekakkan telinga, Siapa saja yang mendengar suara itu pasti merasa giginya ngilu.
Setelah membentrokkan senjatanya, si orang tua tidak hanya berdiri diam, Dia segera bergerak dan melakukan penyerangan dengan sepasang senjatanya yang istimewa itu, Dengan pit kiri dia mengincar tenggorokan Gouw Lip Sin, sedangkan pit kanannya mengancam dada Ci Tian Coan.
Serangan bukan serangan biasa, tampaknya seperti tusukan, tapi sebenarnya merupakan sebuah totokan.
Sungguh hebat orang tua ini, dalam waktu yang bersamaan, dia telah mengirimkan serangan sekaligus kepada dua orang.
Ci Tian Coan dapat menghindarkan diri dari serangan yang lebih pantas disebut bokongan itu, sementara itu, tangan kirinya langsung meluncur ke mata salah seorang lawannya, sedangkan tangan kanannya menyambar ke tangan orang itu untuk merampas goloknya.
Orang yang mendapat serangan mendadak itu panik sekali, Tahu-tahu goloknya sudah berpindah tangan dan menjerit histeris sebab di saat itu, golok itu sendiri sudah amblas ke dalam perutnya.
Setelah berhasil merobohkan orang itu, Ci Tian Coan membinasakan seorang musuh lagi yang menerjang ke arahnya, Dia merasa sudah kepalang tanggung, Gouw Lip Sin tidak dapat menahan kesabaran sehingga rahasia mereka terbongkar.
Terpaksa dia pun harus memberikan perlawanan Dia tahu jumlah pihak lawan lebih besar, sedangkan di pihaknya sendiri, ada dua orang yang terluka dan tidak dapat diandalkan.
Pada saat itu, Go Piu juga sudah turun tangan, sedangkan Lau It Cou sempat raguragu sejenak, tapi akhirnya dia mengeluarkan juga joan piannya (Sejenis ruyung yang sifatnya tunak) dan turun ke arena pertarungan.
Siau Po juga sempat bimbang, Dia juga ikut terjun ke arena, tapi hatinya merasa ngeri terhadap si orang tua.
Disamping itu, dia yakin dirinya sanggup melayani yang lainnya, Siau Po segera bersiap sedia dengan pisau mustikanya, Tapi, ketika bermaksud maju, Pui Ie menarik tangannya.
"Pihak kita pasti menang, kau tidak perlu ikut campur!"
Katanya kepada si bocah. Mendengar kata-katanya, Siau Po berpikir dalam hati.
"Aku juga sudah menduga pihak kita yang akan menang, justru karena itu aku mau turun tangan agar perkelahian ini dapat diselesaikan dengan cepat Kalau gelagatnya pihak kita yang akan kalah, tentu aku sudah memikirkan cara untuk meninggalkan tempat ini."
Tiba-tiba terdengar suara yang melengking, ternyata si orang tua menggesekkan sepasang poan koan pitnya dan tampaklah rekan-rekannya segera berlarian menghampirinya.
Dalam sekejap mata semuanya sudah berkumpul dan terbentuklah sebuah tim atau barisan.
Mereka tidak berhimpitan satu dengan yang lainnya, melainkan posisinya agak berjauhan.
Ci Tian Coan dan Gouw Lip Sin merasa heran, keduanya lantas mundur satu langkah, Mata mereka memperhatikan pihak lawan lekat-lekat.
Go Piu penasaran Dia maju ke depan.
Tiba-tiba dia diserang oleh empat orang lawannya, Yang dua membacok ke arah bahunya sedangkan dua yang lainnya segera menerjang ke arahnya untuk menangkis serangan goloknya.
Go Piu menjerit keras sebab salah satu golok lawannya telah berhasil mengenai bahunya.
"Anak Piu, mundur!"
Teriak Gouw Lip Sin.
Muridnya itu segera mencelat ke belakang, Hanya dalam waktu sekejap mata saja, keadaan jadi terbalik sekarang pihak lawanlah yang lebih unggul.
Ci Tian Coan berdiri di depan Siau Po dan kedua gadis itu.
Maksudnya untuk melindungi mereka sembari bersiaga menghadapi serangan tawan.
Matanya melirik ke sana ke mari.
Orang tua dari pihak lawan mengangkat senjatanya tinggi-tinggi sambil berseru.
"Ang kaucu selaksa tahun tetap awet muda. Untuk selama-lamanya merasakan kebahagiaan ibarat para dewata! Umurnya sama dengan Thian!"
Suara itu begitu keras sehingga seisi rumah itu seakan bergetar karena nya.
sedangkan tingkahnya lebih mirip orang kalap.
Thian Coan merasa terkejut juga bingung, Apa sebenarnya yang sedang di lakukan oleh orang tua itu?
Sebaliknya, Siau Po justru terkejut mendengar orang tua itu menyebut nama Ang kuacu, Mendadak dia ingat terhadap kaucu itu.
Tanpa dapat dipertahankan lagi dia berteriak.
"Sin Liong kau! Mereka adalah anggota dari Sin Liong kau!"
Kali ini, bukan hanya pihaknya sendiri, bahkan orang tua dan rekan-rekannya juga terkejut mendengar seruannya itu.
Wajah si orang tua langsung berubah pucat pasi.
"Eh, kau juga tahu tentang Sin Liong kau?"
Tanyanya heran, Tapi dia tidak menunggu jawaban dari Siau Po. Dia segera berseru lagi, malah lebih keras dari sebelumnya.
"Kepandaian Ang kaucu sungguh luar biasa! Setiap kali bertarung setiap kali pula kita meraih kemenangan. Tak ada benteng sekokoh apa pun yang tidak dapat kami hancurkan! Tidak ada musuh yang tidak dapat dikalahkan! Bagai angin topan yang melanda, musuh-musuh lari ketakutan dan kabur sejauh-jauhnya!"
Kembali Tian Coan dan yang lainnya dilanda kebingungan bahkan hati mereka menjadi ngeri.
Mereka merasa musuh-musuh yang dihadapi kali ini aneh sekali, Belum pernah ada musuh seperti ini.
Berhadapan dengan lawan sambil berteriak seperti sedang membaca mantera.
"Mereka mengerti ilmu sesat."
Kata Siau Po memperingatkan "Awas! jangan sampai terpengaruh Cepat kita maju serentak!"
Suara orang tua yang sedang membaca mantera aneh itu semakin lama semakin keras. Bahkan sekarang di ikuti oleh kawan-kawannya.
"Di bawah bimbingan Ang kaucu, para murid mempunyai kegagahan seratus kali lipat Satu orang dapat menghadapi seratus lawan, Seratus orang dapat menghadapi selaksa lawan, Mata Ang kaucu laksana mata dewa, seperti cahaya mentari yang menerangi empat penjuru angin, Seluruh murid berdaya membasmi musuh, Ang kaucu sendiri yang akan menaikkan pangkat atau kedudukannya, seluruh murid rela mati membela agamanya, semuanya akan naik ke langit menuju surga!"
Kali ini, setelah berteriak, merekapun melakukan penyerangan serentak.
Tian Coan dan yang lainnya segera maju menyambut.
Tapi mereka merasa bukan main herannya.
Berbeda dengan semula, pihak musuh tiba-tiba berubah jauh lebih gagah dan perkasa, Setiap serangan dan bacokan mereka hebat sekali, Seakan dalam waktu singkat, kepandaian mereka telah mengalami kemajuan dua kali lipat Mereka bertempur dengan kalap.
Baru beberapa jurus saja, Go Piu dan Lau It Cou sudah berhasil dirobohkan, Menyusul Siau Po, Kiam peng, dan Pui Ie terhajar jatuh, Kiam Peng terluka di bagian lengan, sedangkan Pui Ie terhajar di bagian kakinya dan Siau Po terpukul di bagian punggung.
Untung saja dia mengenakan baju mustikanya sehingga tidak terluka parah, Hanya merasakan sedikit nyeri saja, Tubuhnya bergulingan diatas tanah, Sejenak kemudian, Gouw Lip Sin dan Ci Tian Coan juga dapat dirobohkan dengan mudah.
Kedua orang itu ditotok oleh musuhnya yang sudah tua.
Setelah itu, si orang tua kembali berkaok-kaok dengan nyaring.
"Kepandaian Ang kaucu sungguh luar biasa, Usianya sama dengan usia langit"
Namun, berbeda dengan tadi, setelah berteriak-teriak kali ini, orang-orang itu langsung jatuh terduduk dengan keringat bercucuran di dahi, Nafas mereka tersengal-sengal sebagai bukti bahwa mereka baru saja menguras tenaga habis-habisan.
Padahal, pertempuran tadi hanya memakan waktu yang singkat sekali, tapi keadaan mereka seperti baru saja bertarung selama berjam-jam....
Untung Siau Po dan yang lainnya tidak terluka parah, Diam-diam si bocah berpikir dalam hatinya.
"Rupanya mereka menggunakan ilmu gaib, Mereka pandai ilmu siluman, pantas saja bibi To ketakutan mendengar disebutnya nama Sin Liong kau. Kenyataannya, mereka memang luar biasa lihay!"
Si orang tua duduk bersila untuk beristirahat, matanya di pejamkan Tetapi tidak lama kemudian, dia bangkit kembali.
Mula-muIa dia menyusutkan keringatnya, kemudian berjalan mondar-mandir dalam ruangan pendopo.
Beberapa saat kemudian, teman-temannya yang lain ikut berdiri pula, Terdengar si orang tua berkata kepada Ci Tian Coan.
"Kalian semua ikut aku membaca doa. Pertama-tama kalian harus dengarkan dulu baik-baik. Aku membaca sepatah, kalian mengikuti Nah! Kita mulai sekarang! Ang kaucu kepandaiannya sungguh luar biasa dan usianya seperti usia langit."
Tapi Ci Tian Coan bukannya membaca doa seperti yang di perintahkan dia malah membuka mulut memakinya.
"Kalian semua bangsa siluman! Kalian ingin berlagak menjadi dewa atau kaum dedemit, itu terserah kalian. Tapi kalau meminta lohu menuruti lagakmu yang konyol itu, sama saja kalian sedang bermimpi di tengah hari bolong."
Orang tua itu menjadi gusar, Dengan Poan koan pitnya, dia mengetok dahi Tian Coan sampai mengucurkan darah, Tapi Ci Tian Coan tetap memaki.
"Bangsat anjing! Turunan siluman!"
Orang tua itu tidak memperdulikannya. Kali ini dia menoleh kepada Gouw Lip Sin.
"Bagaimana engkau? Kau mau membaca doa yang ku ajarkan atau tidak?"
Tanya nya. Orang tua ini memang benar-benar aneh, belum lagi Gouw Lip Sin memberikan jawabannya, dahinya juga sudah kena ketokannya, Setelah itu dia langsung menoleh kepada Go Piu.
"Usia nenekmu sama dengan umur anjing!"
Teriak Go Piu sebelum si orang tua bertanya ke-padanya, Pemuda itu sama sekali tidak takut meskipun dia sudah melihat contoh yang ditunjukkan si orang tua di hadapannya, Orang tua itu marah sekali, langsung menghajar Go Pui dengan senjatanya yang khas.
Bahkan kali ini dia mengerahkan tenaga se-kuatnya sehingga pemuda itu roboh seketika dan tidak sadarkan diri.
"Begitukah cara dan tingkah laku seorang laki-laki sejati?"
Teriak Gouw Lip Sin gusar.
"Oh, ibumu bau! Lebih baik bunuh saja aku!"
Orang tua itu tetap tidak menghiraukannya, Dia juga tidak memukul Gouw Lip Sin lagi, senjatanya di angkat ke atas tinggi-tinggi dan di tudingkannya kepada Lau It Cou.
"Bagaimana engkau? Kau mau membaca doa atau tidak?"
"Aku.,, aku.,."
Pemuda itu kebingungan "Ayo baca!"
Bentak orang tua itu.
"Kepandaian Ang kaucu sungguh luar biasa, usianya sama dengan usia langit."
"Ang kaucu.... Ang kaucu..."
Kata Lau It Cou dengan suara terputus-putus. Orang tua itu langsung menggerakkan senjatanya mengetok dahi Lau It Cou.
"Baca terus!"
Perintahnya bengis.
"Cepat!"
"Iya,., iya.,."
Sahut Lau It Cou gugup.
"Ang kaucu.,, usianya seperti usia langit."
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Beginilah orang yang mengenal selatan."
Pujinya.
"Begini baru patut disebut sebagai orang gagah. Bocah cilik, dengan demikian kau tidak usah merasakan banyak penderitaan!"
Sekarang si orang tua mendekati Siau Po.
"Hai, setan cilik! Kau mau membaca doa atau tidak?"
"Tidak usah!"
Sahut Siau Po.
"Tidak usah?"
Tanya si orang tua heran.
"Kenapa?"
"Sebab Wi kaucu lihay luar biasa, usianya seperti usia langit, Untuk selama-lamanya dia akan mendapat kebahagiaan abadi dan rejekinya menyerupai sang dewa, Setiap kali berperang, Wi kaucu tidak pernah kalah, Kekalahan tidak pernah terjadi karena tidak ada perang. Menyerang dia tidak pernah kalah, mengalahkan dia tidak perlu menyerang, Wi kaucu mengangkat kalian semuanya naik ke surga bersama-sama."
Sengaja Siau Po mengganti kata-kata Ang kaucu dengan "Wi kaucu" , Selesai berdoa dia selalu berdehem dan pembacaan doanya dilakukan dengan cepat sekali sehingga orang tidak mendengar perbedaan ucapannya.
"Anak ini cerdas sekali."
Puji orang tua itu senang.
"Anak pintar."
Kemudian orang tua itu menghampiri Pui Ie. Dia meraba-raba dagu gadis itu.
"Oh, anak manis, wajahmu tidak ada celanya."
Katanya.
"Kau ikutlah aku membaca doa!"
"Aku tidak mau!"
Kata Pui Ie sambil membuang muka.
Orang tua itu mengangkat senjatanya tinggi-tinggi dan siap di ketokkan, tapi tiba-tiba dia membatalkannya karena tertarik pada kecantikan Pui Ie.
Dia mengarahkan poan koan pitnya pada pipi si gadis yang halus.
"Kau mau membaca doa atau tidak?"
Tanya si orang tua sekali lagi.
"Biar aku saja yang mewakilinya,"
Tukas Siau Po.
"Aku jamin doaku lebih enak didengar daripada doanya."
"Siapa sudi kau yang mewakilkan?"
Bentak si orang tua.
Dia mengetok bahu Pui Ie sehingga gadis cantik itu menjerit kesakitan Justru pada saat itulah salah seorang rekan orang tua itu mengeluarkan suara tertawa yang menyakitkan telinga dan berkata.
"Ciang samya, kalau gadis itu tidak mau berdoa, kita buka saja pakaian nya!"
"Bagus! Bagus!"
Seru yang lainnya.
"lde itu bagus sekali."
"Eh, mengapa kalian menghina seorang anak perempuan? Bukankah kalian ingin mencari si thay kam cilik? Aku tahu di mana dia berada."
Kata Lau It Cou. "Kau tahu?"
Tanya si orang tua cepat "Di mana dia? Lekas katakan!"
"Asal kau berjanji untuk tidak mengganggu gadis itu, aku akan mengatakannya kepadamu."
Sahut Lau It Cou. Tapi kalau tidak, meskipun kau bunuh aku, aku tidak akan membuka mulut."
"Suko!"
Teriak Pui Ie dengan setengah menjerit "Jangan kau perdulikan aku!"
Orang tua itu tertawa.
"Baik!"
Sahutnya.
"Aku berjanji tidak akan mengganggu gadis itu."
"Apakah kata-katamu itu dapat di percaya ?"
Tanya Lau It Cou.
"Apa yang pernah tercetus dari mulutku, Ciong samya, pasti benar."
Jawab si orang tua.
"Thay-kam yang ku maksudkan ialah thay-kam yang telah membinasakan Go Pay. Namanya Siau Kui Cu. Kau benar-benar tahu di mana dia berada?"
It Cou menganggukkan kepalanya.
"Benar!"
Sahutnya.
"Dia itu jauh di ujung langit, dekat di depan mata."
Si orang tua senang bukan main sehingga hampir saja dia berjingkrakan, Kemudian telunjuknya menunjuk kepada Siau Po.
"Diakah yang kau maksudkan?"
Pui Ie segera ikut bicara.
"Bocah cilik seperti dia ini mana mungkin sanggup mengalahkan Go Pay?"
Katanya.
"Jangan kau dengarkan ocehannya!"
"Memang dialah orangnya!"
Seru It Cou dengan nada ingin meyakinkan Dengan berani dia menentang perkataan Pui Ie yang pernah menjadi pacarnya.
"Dia pandai menggunakan Bong Hoan Yok. Tanpa obat bius itu, tentu dia tidak sanggup membunuh Go Pay si orang gagah nomor satu dari bangsa Boan Ciu."
Orang tua itu tampak bimbang sejenak, Kalau dia harus percaya, memang kelihatannya Siau Po masih kecil sekali Tapi nada bicara Lau It Cou begitu serius.
"Benarkah kau yang membunuh Go Pay?"
Tanya si orang tua kepada Siau Po.
"Benar,"
Sahut bocah cilik itu.
"Lalu, kau mau apa? Dan kalau bukan aku yang membunuhnya, apa pula yang akan kau lakukan?"
"Nenek moyangmu bejat!"
Maki si orang tua.
"Tampaknya kau ada sedikit keturunan sesat, Ayo geledah tubuhnya!"
Dua orang anak buahnya segera menghampiri Siau Po.
Mereka merebut buntalan Siau Po dan menuangkan isinya di atas meja, Si orang tua merasa heran dan kagum sekali, Di dalam buntalan Siau Po ternyata terdapat banyak mutiara, intan permata, uang perak, dan uang emas.
"Aih! ini pasti barang-barang dari istana."
Katanya.
"Dan ini...."
Dia melihat setumpuk Goan pio atau cek yang nilai setiap lembarannya paling rendah lima ratus tail. jumlahnya mungkin mencapai laksaan tail.
"Tidak salah lagi. Dia pasti Siau Kui cu!"
Kemudian dia juga melihat dua
Jilid kitab ilmu silat, Orang tua ini langsung mengucapkan seruan.
"Sedikit pun tidak salah. Lihatlah.... ini kitab warisan Hay kong kong, kitab ilmu tenaga dalam dari Kong Tong pai. Nah, bawa dia ke kamar sana, aku ingin memeriksa lebih lanjut!"
Seseorang langsung memondong tubuh Siau Po, di bawa nya ke dalam, Dua orang lainnya membungkus kembali buntalan yang ada di atas meja, sedangkan orang yang keempat menyalakan lilin untuk dipakai menerangi jalan.
Mereka menuju kamar sebelah timur "Kamu semua boleh mundur duIu."
Kata si orang tua setelah masuk ke dalam kamar.
Keempat orang itu langsung mengundurkan diri dan pintu kamar pun dirapatkan, Tampaknya si orang tua gembira sekali, Dia berjalan mondar-mandir dalam kamar itu sambil memainkan tangannya.
wajahnya berseri-seri, dia menggumam seorang diri.
"Dicari sampai sepatu besi rusak, tidak bisa ditemukan Sekalinya sudah jodoh, begitu mudah bertemunya, Tidak perlu mengeluarkan tenaga, tanpa perlu membuang waktu, Kui kong kong, hari ini aku dapat bertemu denganmu di sini, benar-benar seperti sudah mati dan hidup kembali."
Siau Po tertawa.
"Aku juga beruntung sekali dapat bertemu denganmu di sini."
Katanya dengan berani "Aku seperti hidup kembali untuk keenam kalinya, iya,., malah seperti hidup kembali untuk kesembilan kalinya."
Dalam hatinya Siau Po berpikir, barangnya toh sudah dilihat, percuma bila dia menyangkal terus, Sekarang, yang paling penting baginya hanya mencari akal untuk melarikan diri, Dia harus melihat-lihat situasi dalam mengambil tindakan, Atau seperti pepatah orang yang sedang berperang, prajurit datang, panglima menghadang, Banjir datang, ambil tanah untuk menguruknya.
Si orang tua menjadi bingung mendengar jawaban Siau Po, Apa sih artinya hidup kembali untuk keenam atau kesembilan kalinya?
Tanyanya dalam hati, Tapi otaknya bekerja dengan cepat Dia langsung bertanya kepada Siau Po.
"Kui kong kong, bukankah kau sedang menuju kuil Ceng Liang si di gunung Ngo Tay san?"
Siau Po sengaja memperlihatkan tampang kagum dan heran.
"Apa saja kau tahu, benar-benar orang yang sulit dihadapi,"
Pikirnya dalam hati, Tapi dia segera tertawa geli dan berkata.
"Tuan, kau benar-benar hebat ilmunya tinggi sekali, kau juga pandai menjampi sehingga melebihi kehebatan seorang imam yang berasal dari gunung Mau san. pantas saja nama perkumpulan agama kalian, yakni Sin Liong kau terkenal sampai ke seantero dunia, Sudah lama aku yang rendah mendengar tentang ilmu perkumpulan kalian yang sakti, Hari ini aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri Aku benar-benar kagum sekali."
Demikianlah Siau Po yang cerdik mengalihkan bahan pembicaraan. Tanpa disadari, orang tua itu terbawa arus.
"Dari mana kau tahu tentang Sin Liong kau?"
Tanya si orang tua.
"Aku mendengarnya dari putera Gouw Sam Kui, yakni Gouw Eng Him."
Sahut Siau Po seenaknya.
"Gouw Eng Him datang ke Kota raja karena menerima perintah ayahnya untuk mengantarkan upeti. Dia mempunyai seorang bawahan yang bernama Yo Ek Ci, orangnya gagah sekali, Mereka telah merundingkan urusan membasmi Sin Liong kau. Mereka tahu di dalam Sin Liong kau ada seorang Ang kaucu yang kepandaiannya tinggi sekali, Kaucu itu juga mempunyai pengikut yang banyak sekali, Tapi mereka tidak takut Mereka telah mendapatkan sebuah kitab yang berjudul Si Cap Ji Cin Keng yang menurut mereka hebat sekali, Kitab itu didapatkan dari seorang kepala pemimpin bendera sulam biru."
Mendengar keterangannya, si orang tua semakin heran, Dia pernah mendengar kedua nama Gouw Eng Him dan Yo Ek Ci.
Dan memang benar, ada seorang anggota Sin Liong kau yang menjadi pemimpin bendera sulam biru, Hal itu dia ketahui secara kebetulan kurang lebih satu bulan yang laIu.
Ketika itu dia mendengar disebut-sebutnya nama kitab Si Cap Ji Cin Keng itu, tetapi mengenai isinya, dia tidak tahu sedikit pun.
Karena itu, hatinya menjadi tertarik mendengar keterangan Siau Po.
"Antara Peng Si Ong dengan pihak Kami tidak ada permusuhan apa-apa, mengapa dia ingin menimbulkan masalah? Mengapa dia ingin menumpas kami? Bukankah itu berarti dia sudah bosan hidup?"
"Menurut Gouw Eng Him,"
Kata Siau Po.
"Memang benar di antara Peng Si Ong dan Sin Liong kau tidak ada permusuhan apa-apa. Bahkan mereka sangat mengagumi kepandaian Ang kaucu, persoalannya terletak pada Sin Liong kau yang sudah berhasil mendapatkan kitab Si Cap Ji Cin Keng, Menurutnya, kitab itu sangat aneh dan berharga, biar bagaimana kitab itu harus dirampas, Bukankah di dalam perkumpulan kalian ada seorang wanita yang tubuhnya gemuk dan namanya Liu Yan? Bukankah dia sekarang berada di dalam istana?"
Orang tua itu semakin heran.
"Eh, bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?"
Siau Po sebetulnya sedang mengaco belo, tapi apa yang dikatakannya memang beralasan.
"Aku kenal dengan Liu toaci itu,"
Katanya mengarang terus.
"Kami merupakan sahabat baik. Pada suatu hati, Liu toaci melakukan kesalahan terhadap ibu suri, karena itu Hong thay hou ingin membunuhnya, Untung saja aku berhasil mengetahui hal tersebut. Aku segera menolongnya, aku menyembunyikan Liu toaci di bawah kolong tempat tidur, Dengan demikian, sia-sia belaka ibu suri mencarinya di seluruh istana, Karena kejadian itu, Liu taoci merasa bersyukur sekali Dia juga menasehati aku untuk masuk saja menjadi anggota Sin Liong kau. Menurutnya, kaucu Sin Liong kau sangat suka terhadap anak kecil dan pasti akan menyukai aku, Kalau hal itu sampai terjadi, maka aku akan memperoleh banyak keuntungan."
"Oh!"
Seru si orang tua yang dengan sendirinya semakin percaya terhadap apa yang diocehkan oleh Siau Po.
"Coba kau katakan, mengapa ibu suri ingin membunuh Liu Yan?" "Menurut keterangan yang aku dengar dari Li taoci, urusannya menyangkut sebuah rahasia besar."
Sahut Siau Po.
"Dia mau mengatakannya kepadaku, apabila aku berjanji tidak akan mengatakannya atau memberitahukan kepada siapa pun juga. itulah sebabnya sekarang aku tidak bisa mengatakannya kepadamu Tapi secara singkat aku dapat memberitahukan bahwa urusannya berhubungan dengan kedatangan seorang laki-Iaki yang menyamar sebagai dayang dalam istana dan orang itu ternyata berkepala gundul."
"Eh? itulah Teng Peng Lam!"
Seru si orang tua tanpa sadar "Jadi kau juga tahu urusan Teng toako yang menyelinap ke dalam istana?"
Sungguh kebetulan bagi Siau Po. jadi si dayang palsu itu rupanya kakak seperguruan si orang tua ini, Tapi Siau Po tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Dia hanya tersenyum dan berkata kembali.
"Ciong samya, hal ini menyangkut rahasia yang besar sekali jangan sampai kau bocorkan kepada orang lain. Kalau tidak, kau akan menghadapi ancaman bahaya yang besar sekali Tidak apa-apalah kalau kita bicara berdua, tapi kalau sampai ada orang lain mendengarnya, bisa gawat. Meskipun kepada orang yang paling kau percaya, kau tetap harus berhati-hati! Kalau rahasia ini sampai bocor dan diketahui oleh Ang kaucu, aku yakin kau sendiri tidak sanggup bertanggung jawab."
Setelah berdiam di dalam istana sekian lama, Siau Po sudah paham apa yang disebut rahasia, yakni sesuatu yang sekali-sekali tidak boleh dibocorkan taruhannya berat Bahkan batang leher juga bisa dipenggal, atau setidak-tidaknya pangkat bisa copot sekarang dia menggunakannya untuk menggertak si orang tua, ternyata dia berhasil.
Tapi si orang tua she Ciong ini sendiri mempunyai pikiran yang lain.
"Mengapa aku begitu bodoh bicara secara terbuka dengan bocah ini?" , pikirnya dalam hati,. Ternyata banyak urusan mengenai perkumpulan kami yang diketahuinya, Ah! Biar bagaimana, dia sebaiknya disingkirkan saja. Meskipun sudah mempunyai pemikiran demikian, dia tidak segera turun tangan. Dia masih ingin mengorek keterangan dari Siau Po.
"Apa yang kau bicarakan dengan Teng toako?"
Tanyanya sambil pura-pura tertawa.
"Mengenai pembicaraanku dengan Teng toako-mu itu,"
Sahut Siau Po.
"Antara lainnya adalah pesannya kepadaku, bila kelak aku mendapat kesempatan bertemu dengan Ang kaucu, maka aku harus menceritakan semuanya sampai jelas."
"Oh, begitu?"
Kata si orang tua, Dalam hatinya dia kebingungan apakah dia harus mempertemukan bocah ini dengan kaucunya?
Lalu dia ingat dengan tugasnya sendiri Kaucu memerintahkan dia untuk mencari seseorang, Karena itu dia berpikir lagi, -Untuk menemukan orang itu, mungkin aku bisa berhasil lewat perantara bocah ini.
-Dia segera memasang wajah ramah dan suara yang manis untuk berkata kepada Siau Po.
"Saudara kecil, kau hendak pergi ke Ngo Tay san, di sana kau pasti bertemu dengan Sui Tong yang pangkatnya Hu congkoan, bukan?"
Mendengar pertanyaan itu, Siau Po berpikir dengan cepat --Dia tahu aku hendak pergi ke Ngo Tay san dan dia juga tahu perihal Sui Tong, semua ini pasti diketahuinya dari si nenek sihir, Thay hou menyuruh si laki-laki berkepala gundul itu menyamar sebagai dayang dan ternyata laki-laki itu seorang anggota Sin Liong kau dan bahkan kakak seperguruan orang tua ini pula, Dengan demikian, sudah terang Thay hou juga anggota Sin Liong kau!
sekarang aku terjatuh ke tangan orang-orang dari perkumpulan ini, kemungkinanku untuk dapat hidup jauh lebih tipis dari pada kesempatan untuk mati, aku harus pandai-pandai membawa diri Dia sengaja menunjukkan mimik wajah orang yang terkejut sekali.
"Oh, Ciong samya, sumber beritamu hebat sekali!"
Katanya memuji.
"Rupanya kau juga tahu tentang Sui Hu cong koan?"
Si orang tua tersenyum Rupanya hatinya senang sekali mendapat pujian dari Siau Po.
"Malah aku juga tahu perihal orang yang kedudukannya lebih tinggi berlaksa kali lipat dibandingkan dengan Sui Tong." --Aih! Celaka, celaka --, Siau Po mengeluh dalam hati, rupanya persoalan apa pun sudah dibeberkan oleh si nenek sihir, Kecuali kaisar Sun Ti, siapa lagi yang kedudukannya demikian tinggi? -Terdengar si orang tua berkata kembali.
"Saudara kecil, sebaiknya kau jangan menutupi urusan apa pun dariku, sekarang kau katakan padaku, kepergianmu ke Ngo Tay san ini disebabkan mendapat perintah atau untuk urusanmu pribadi?"
Siau Po menjawab dengan cepat.
"Aku toh seorang thay kam dalam istana, Tanpa perintah, mana berani aku lancang meninggalkan kerajaan? Apakah kau pikir aku ini sudah bosan hidup?"
"Dengan demikian, berarti kau menerima titah dari Sri Baginda, bukan?"
Siau Po memperlihatkan tampang keheranan.
"Sri Baginda?"
Tanyanya menegaskan "Sri Baginda katamu? Ha... ha... ha... Kali ini berita yang kau terima tidak benar. Sri Baginda mana tahu urusan di Ngo Tay san?"
Orang tua itu menatap Siau Po dengan tajam.
"Kalau bukan Sri Baginda, lalu siapa?"
"Nah, coba kau terka!"
Kata Siau Po yang senang mempermainkan orang tua itu.
"Mungkinkah kau dititah oleh ibu suri?"
Tanya orang tua itu kembali. Siau Po tertawa.
"Ternyata Ciong samya pintar sekali!"
Pujinya.
"Sekali tebak saja langsung mengenai sasaran, Di dalam istana, orang yang mengetahui urusan di Ngo Tay san ini cuma ada dua orang dan satu setan."
Ciong samya merasa heran.
"Dua orang dan satu setan?"
"Betul! Dua orang dan satu setan."
Sahut Siau Po memberikan kepastian.
"Siapa-siapa saja mereka itu?"
Tanya si orang tua kembali.
"Dua orang itu, yakni ibu suri dan aku sendiri."
Sahut Siau Po.
"Dan setan yang kau katakan?"
"Setan itu, tentu saja arwah penasarannya Hay kong kong."
Sahut Siau Po.
"Dia kena pukulan Hoa Kut Bian Ciangnya ibu suri."
Si orang tua terkejut setengah mati.
"Hoa Kut Bian Ciang?"
Tanyanya.
"Kau bilang Hoa Kut Bian Ciang?"
"lya, tidak salah."
Sahut Siau Po.
"Memang Hoa Kut Bian Ciang."
"Jadi kau diutus oleh ibu suri?"
Tanya si orang tua kembali.
"Apa yang harus kau lakukan?"
Siau Po tersenyum.
"Thay hou dan kau orang tua terhitung orang sendiri, maka sebaiknya kau tanyakan saja kepadanya!"
Si orang tua terdiam, Hatinya menjadi bingung.
"Oh, jadi ibu suri yang menyuruh kau ke gunung Ngo Tay san?"
Dia menggumam seorang diri seakan sedang mengajukan pertanyaan kepada Siau Po.
"Thay hou juga berkata padaku,"
Kata Siau Po kembali.
"Katanya, urusan ini telah dibicarakan dengan Ang koucu dan Ang kaucu setuju sekali. Thay hou juga berpesan kepadaku agar aku bekerja hati-hati, Asal aku berhasil maka aku akan mendapatkan hadiah besar dan Ang kaucu sendiri akan memberikan aku sesuatu yang sangat berharga."
Sengaja berkali-kali Siau Po menyebutkan nama Ang kaucu, Dia menduga si orang tua takut sekali terhadap ketuanya dan kalau dia sering menyebutnya, mungkin orang tua ini tidak berani mencelakainya..."
Kenyataannya, meskipun dalam Ciong samya meragukan kata-kata Siau Po, tapi dia tidak berani sembarang bertindak Dia merasa lebih baik dirinya percaya daripada tidak sama sekali, Karena itu, dia tidak segera turun tangan.
"Keenam orang yang ada di luar itu, apakah semuanya bawahanmu?"
Tanya orang tua itu kembali.
"Mereka semua orang-orang dari istana,"
Sahut Siau Po.
"Kedua gadis itu merupakan dayang-dayangnya Thay hou, sedangkan keempat laki-laki yang ikut bersamaku adalah para gi cian siwi, pengawal-pengawal pribadi Thay hou, ibu suri pula yang memerintahkan mereka ikut aku melaksanakan tugas ini. Tapi mereka tidak tahu menahu urusan Sin Liong kau, karena ini merupakan rahasia besar. Tidak mungkin Thay hou memberitahukan urusan ini kepada mereka."
Ketika berbicara, Siau Po sempat melihat orang tua itu tertawa mengejek, hatinya langsung mempunyai dugaan yang buruk, Maka dia lantas bertanya.
"Kenapa? Kau tidak percaya keteranganku ini?"
Orang tua itu memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Orang-orangnya Bhok onghu dari In Lam setia sekali terhadap kerajaan Beng, mana mungkin menjadi Gi cian siwi dari kerajaan kami? Kalau kau hendak membual, carilah alasan yang lebih tepat!"
Katanya. Siau Po tertawa terbahak-bahak.
"Hei, apa yang kau tertawakan?"
Tanya si orang tua.
Dia tidak tahu bahwa dirinya telah berhasil memecahkan kebohongan orang, Karena itu, Siau Po sengaja tertawa terbahak-bahak agar orang tua itu menjadi bimbang kembali.
Siau Po masih tertawa, Sesaat kemudian dia baru berkata.
"Orang yang paling dibenci oleh keluarga Bhok bukan Thay hou atau Sri Baginda, mungkin kau sendiri tidak tahu."
"Mana mungkin aku tidak tahu? Yang paling dibenci oleh keluarga Bhok sudah pasti Gouw Sam Kui."
Sekali lagi Siau Po menunjukkan mimik kagum.
"Hebat!"
Serunya.
"Ciong samya memang benar-benar lihay."
Tanpa menunggu komentar dari orang tua itu, dia segera melanjutkan kata-katanya.
"Ciong samya, biarlah aku berkata terus terang kepadamu. Orang Bhok ongya bekerja pada Thay hou, tujuan utamanya adalah untuk mencelakai Gouw Sam Kui agar dihukum mati beserta seluruh keIuarganya. Kalau perlu, segala anjing dan ayam peliharaannya pun tidak ketinggalan jangankan di dalam istana kaisar, di dalam istana Peng Si Ong pun ada orangnya Bhok onghu, sebetulnya ini merupakan rahasia besar, tapi tidak apa-apa aku memberitahukan kepadamu, asal kau jangan membocorkannya saja!"
Ciong samya menganggukkan kepalanya.
"Oh, rupanya begitu."
Katanya, Tapi di dalam hati dia hanya percaya setengahnya saja, Diam-diam dia mengambil keputusan --sekarang biar aku periksa dulu beberapa orang yang di luar itu untuk mendapat kenyataan Aku ingin tahu apakah pengakuan kedua belah pihak sama atau tidak, sebaiknya aku mulai dari si nona muda, anak masih bau kencur begitu biasanya jarang berdusta."
Karena itu dia segera membuka pintu dan melangkah ke luar, Siau Po terkejut setengah mati.
"Eh, kau mau ke mana? ini kan rumah hantu. jangan kau tinggal aku sendirian di sini!"
"Aku akan segera kembali."
Sahut si orang tua meneruskan langkah kakinya. Siau Po benar-benar bingung, Sesaat kemudian terdengar suara teguran yang nyaring.
"Hei! Kalian semua pergi ke mana?"
Kembali Siau Po terkejut hatinya, Dia mengenali suara si orang tua yang mengandung kekhawatiran "Apakah me... reka semua tidak... ada di depan?"
Tanyanya.
"Ke mana kalian?"
Teriak si orang tua kembali "Kalian ada di mana?"
Pertanyaan itu diajukan dengan suara yang lebih keras lagi, tetapi keadaan tetap sunyi senyap, tidak terdengar jawaban dari seorang pun.
Sesaat kemudian, Siau Po mendengar suara langkah kaki berlari-lari, lalu suara pintu ditendang dan terakhir kembali terdengar suara langkah kaki yang berlari, tapi arahnya kembali ke tempat semula, Dan ternyata pada saat itu juga tampak si orang tua menerobos masuk.
Hati Siau Po terkejut Dia melihat wajah orang tua itu berubah menjadi pucat pasi, seakan tidak ada setetes pun darah yang mengalir di dalamnya, Matanya membelalak dam menyiratkan sinar kebingungan.
"Me... reka... semua te... lah lenyap!"
Akhirnya orang tua itu dapat bersuara juga setelah berdiri terpaku sekian lama.
"Apa,., kah mere... ka dilarikan setan?"
Tanya Siau Po dengan nada takut.
"Ce... pat! Cepat kita tinggalkan tempat ini!"
"Mana bisa?"
Bentak si orang tua, Tangannya bertumpu pada meja dan meja itu bergetar Hal ini menandakan betapa khawatir dan bingungnya hati orang tua itu. Kemudian dia melangkah ke arah pintu dan melongok ke luar.
"Hei! Di mana kalian? Di mana kalian semua?"
Meskipun dia mengulangi lagi pertanyaan itu, tetap saja tidak terdengar adanya jawaban, Tapi si orang tua masih memasang telinga, Kesunyian masih mencekam rumah itu.
Walaupun usianya sudah tua dan pengalamannya banyak, tetap saja hatinya gelisah, Sekian lama dia berdiri terpaku, akhirnya dia melangkah mundur ke dalam, pintu kamar dirapatkan lalu dipalangkan.
Matanya melirik kearah Siau Po yang sedang ketakutan.
Siau Po menatap orang tua itu lekat-lekat, Tampak dia menggertakkan giginya eraterat dan kulit wajahnya berubah-ubah, Sekilas tampak pucat pasi, sekejap kemudian kebiru-biruan.
Sebetulnya hujan sudah berhenti cukup lama, tetapi tiba-tiba menjadi deras kembali seperti ada berputuh-puluh ember air yang dijatuhkan dari langit "Oh!
Hujan lagi?"
Terdengar orang tua itu menggumam seorang diri.
Tampaknya dia terkejut sekali.
Sesaat kemudian, terdengar suara seseorang dari arah ruangan pendopo, Meskipun hujan lebat sekali, tapi suara itu bisa terdengar jelas.
"Ciong losam, kemarilah!"
Suara itu suara seorang wanita dan terdengar merdu sekali, Tapi Siau Po dapat mengenali bahwa itu bukan suara Kim Peng atau pun Pui Ie.
"Setan perempuan!"
Teriak Siau Po dalam kagetnya, Rasa takutnya muncul kembali.
"Siapa yang memanggil aku si orang tua?"
Tanya orang tua itu sengaja mengeraskan suaranya.
Namun tidak terdengar suara sahutan dari arah pendopo, hanya suara tetesan air hujan yang membisingkan.
Si orang tua menolehkan wajahnya menatap Siau Po.
Si bocah juga sedang memperhatikannya, Untuk sesaat mereka saling menatap, Keduanya berdiam diri, Seluruh bulu kuduk mereka seakan meremang.
Namun kesunyian tidak berlangsung lama, kembali terdengar suara wanita tadi.
"Ciong losam, ke luarlah!"
Demikian katanya, Suara itu membuat perasaan menjadi tidak enak.
Dalam keadaan seperti itu, si orang tua masih dapat menabahkan hatinya, Mendadak dia menendang pintu kamar sehingga menjublak, Setelah itu dia mencelat ke luar, Rupanya dia ingin menyusul suara panggilan itu agar orangnya tidak keburu menghilang.
"Jangan ke luar!"
Teriak Siau Po.
Tapi orang itu sudah menghilang di balik pintu, sesampainya di ruangan pendopo, orang tua itu tertegun, Keadaan di sana tetap sunyi senyap, Tidak ada seorang pun yang ada di sana, Tidak terdengar suara apa pun, juga suara langkah kaki orang yang sedang berlari.
Kalau toh ada suara yang masuk, hanyalah suara angin yang membawa tampiasan air hujan, Hawa dalam ruangan itu menjadi dingin sekali.
Siau Po sampai menggigil seluruh tubuhnya, dia bermaksud berteriak tapi tidak berani.
Suasana mencekam di sekitarnya membuat hatinya takut.
Braakkk!
Tiba-tiba terdengar suara menggabruk.
Rupanya pintu pendopo itu tertutup sendi karena hembusan angin yang kencang, Keduanya terdiam, mata mereka membelalak tapi otak mereka bekerja.
Dalam hati mereka menduga-duga Suara siapakah yang terdengar tadi?
Dari mana datangnya?
Dan ke mana orangnya menghilang?
Pikiran Siau Po sendiri ikut melayang-layang.
--Ah!
Aku tahu sekarangl Setan hanya menganggu orang dewasa, tidak mengganggu anak kecil --hiburnya sendiri Atau...
sudah banyak manusia yang mereka makan sehingga perut mereka sudah kenyang, Aih!
Yang penting hari cepat pagi.,., Sekonyong-konyong berhembus lagi angin yang dingin tadi Lilin dalan ruangan itu sampai padam sehingga keadaan menjadi gelap gulita.
Siau Po ketakutan sehingga dia menjerit-jeri, tiba-tiba dalam ruangan itu bertambah lagi satu setan...
Dalam pandangan Siau Po, setan itu berdiri tepat di depannya.
Ruangan itu memang gelap dan tubuh setan itu bagai sesosok bayangan hitam.
"Eh, jangan... jangan kau ganggu aku!"
Katanya gugup.
"A... ku sendiri juga sudah menjadi setan seperti engkau, Kita adalah orang sendiri.... Tak ada gunanya kau...."
"Jangan takut!"
Kata setan itu dengan nada dingin.
"Aku tidak akan mengganggumu."
Terdengar jelas bahwa suara itu ke luar dari mulut seorang wanita, Mendengar suara itu, hati Siau Po menjadi agak tenang.
"Kau sudah mengatakan tidak akan menggang-guku, aku yakin kau akan memegang janjimu."
Kata Siau Po.
"Seorang yang gagah harus menjaga ucap-annya, Kalau kau sampai mengganggu artinya kaulah yang setan...." "Aku bukan setan, aku juga bukan segala macam orang gagah."
Kata wanita itu.
"Aku ingin bertanya kepadamu, di kerajaan, Go Pay yang berpangkat tinggi itu, apakah benar-benar mati di tanganmu?"
"Benarkah kau bukan setan?"
Tanya Siau Po tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.
"Kau musuh Go Pay atau sahabatnya?"
Dibalas dengan pertanyaan sedemikian rupa, wanita itu tidak memberikan jawabannya.
itulah sebabnya Siau Po menjadi ragu lagi Benarkah dia bukan setan?
Kalau dia musuh Go Pay, paling baik memang berterus terang, tapi kalau dia sahabatnya Go Pay, jiwanya bisa terancam bahaya, otaknya bekerja keras memikirkan langkah yang harus diambilnya.
-Aih!
Sudahlah!
--, pikirnya lebih jauh, --Biar, aku pertaruhkan nyawaku, Kalau dugaanku benar, dia tentu akan menganggap aku sebagai seoran pahlawan, Sebaliknya, kalau aku salah, paling-paling selembar nyawaku ini akan melayang di tangan nya.
-Dengan membawa pikiran demikian, dia segera berkata dengan suara lantang.
"Memang benar Lohulah yang membunuh Go Pay. Apa yang kau inginkan? Dengan satu tikaman di perut nya, lohu mengirim dia pulang ke alam baka, Rohnya langsung menghadap Raja Akherat, Kau ingin membalaskan dendamnya? Silahkan! Kalau lohu sampai mengernyitkan kening sedikit saja, aku bukannya seorang eng hiong atau hohan."
Wanita itu tidak menjawab, dia malah bertanya ragu, suaranya masih dingin seperti sebelumnya.
"Mengapa kau membunuh Go Pay?"
Kembali pikiran Siau Po bergerak dengan cepat, --Kalau kau memang sahabat Go Pay, biar pun aku timpakan kesalahan pada Sri Baginda, tidak ada gunanya juga, kau pasti tidak akan mengampuni aku.
Kalau kau musuhnya, hm....
-Dengan membawa pikiran demikian, dia segera menjawab dengan berani.
"Go Pay mengangkangi pemerintahan tidak terhitung banyaknya rakyat yang mati gara-gara dia. Oleh karena itu, meskipun aku masih muda sekali, aku sangat membenci nya. Kebetulan sekali dia berbuat kesalahan terhadap Sri Baginda, maka aku menggunakan kesempatan itu untuk membunuhnya. Seorang laki-Iaki, berani berbuat, berani pula bertanggung jawab, Aku akan mengatakan terus terang kepadamu, walaupun seandainya Go Pay tidak berbuat kesalahan terhadap raja, aku tetap akan mencari kesempatan untuk membunuhnya, Demi membalaskan sakit hati rakyat."
Apa yang diucapkan Siau Po sebenarnya hanya meniru kata-kata para anggota Ceng Bok Tong.
Untuk membunuh Go Pay, dia mendapat perintah dari raja, Apa yang terjadi berlainan dengan ceritanya.
Mendengar keterangan Siau Po, untuk sesaat wanita itu membungkam, jantung Siau Po berdegup-degup, hatinya bertanya-tanya, Dia sebetulnya musuh atau sahabat Go Pay?
Dugaannya tepat atau salah?
Sesaat kemudian terasa ada angin yang berhembus lewat, tampak wanita itu, entah setan atau bukan, melesat ke luar dari kamar itu.
Siau Po berusaha menggerakkan tubuhnya, di terkejut setengah mati, ternyata dia tidak bisa berkutik sedikit pun.
Rupanya wanita itu telah menotoknya.
Celaka!
pikirnya dalam hati, Sekarang, setelah ditinggal sendirian, Siau Po dapat berpikir denga tenang, Dia yakin wanita itu bukan setan, melain kan seorang manusia seperti dirinya, Tiba-tiba serangkum angin menghembus kembali, tubuhnya menggigil kedinginan sebab pakaiannya belum kering sama sekali.
Ketika hatinya dilanda kegelisahan dan kebingungan, tiba-tiba ia melihat sinar api yang sedang menuju ke arahnya dengan perlahan-laha Dia segera memperhatikan dengan seksama, Hati nya tercekat "Setan jangkung!
Setan jangkung!"
Serunya lirih.
Dia berdiam diri dan menatap ke arah api it lekat-lekat Semakin lama api itu semakin mendekat, cahayanya tidak terlalu tajam, hatinya menjadi agak lega, Ternyata hanya sebuah lentera yang ditenteng oleh seorang perempuan atau setan bergaun putih Meskipun demikian, cepat-cepat dia merapatkan kedua matanya, dia tidak berani memperhatikan terlalu lama.
Meskipun sepasang matanya telah dipejamkan tapi telinganya masih dapat mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat dan akhirnya berhenti tepat di depannya, jantung Siau Po berdegup semakin kencang.
Tiba-tiba Siau Po mendengar suara tawa seorang gadis yang kemudian bertanya kepadanya.
"Eh, kenapa kau memejamkan matamu?"
Suara itu halus dan merdu.
"Jangan kau takut-takuti diriku!"
Kata Siau Po dengan suara gemetar "Aku tidak berani melihat ke arahmu."
Setan perempuan itu kembali tertawa.
"Apakah kau takut melihat darah mengalir dari hidung dan mataku? Atau kau takut melihat lidahku yang menjulur ke luar?"
Tanyanya.
"Cobalah berani-kan dirimu melihat aku sebentar saja.,.!"
"Aku tidak akan kena diperdayakan olehmu!"
Teriak Siau Po.
"Pasti rambutmu riapriapan dan wajahmu penuh dengan noda darah, apanya yang bagus dilihat?"
Setan perempuan itu tertawa geli.
Tiba-tiba dia meniup Siau Po.
Mula-mula Siau Po terkejut, kemudian dia merasa angin yang timbul dari hembusan mulut perempuan itu terasa hangat sebagaimana umumnya ke luar dari mulut manusia, Hidungnya juga mencium bau harum yang tipis, ia merasa heran, karena itu dia membuka matanya sedikit untuk mengintip.
Apa yang dilihatnya?
Wajah penuh noda dengan rambut panjang beriap-riap?
Tidak!
Justru kebalikannya, Dia melihat selembar wajah putih halus, alis bak bulan sabit dan bibir yang mungil Wajah yang cantik dan penuh dengan senyuman yang manis.
Siau Po mengintip lagi.
Dia membuka sepasang matanya lebar-lebar.
sekarang dia dapat melihat dengan tegas, bahwa yang di pikirnya sebagai setan perempuan, ternyata seorang nona cilik yang wajahnya manis sekali Siau Po menduga usianya paling banter empat belas atau lima belas tahunan, wajahnya cantik, Rambutnya digelung menjadi dua.
Nona itu sedang menatapnya dengan bibir tersenyum.
Bagian 33
"Kau benar-benar bukan hantu?"
Tanyanya kemudian. Nona itu tertawa.
"Aku setan."
Sahutnya.
"Setan yang menggantung diri."
Siau Po memperhatikannya kembali dengan seksama, Nona itu tertawa lagi dan berkata.
"Kau sanggup membunuh seorang penjahat, dapat dikatakan nyalimu besar sekali, Mengapa kau justru takut menghadapi setan yang mati menggantung diri? Mengapa nyalimu jadi begitu kecil?"
Siau Po menarik nafas untuk melegakan hatinya.
"Aku tidak takut pada manusia, Aku hanya takut kepada setan."
Lagi-lagi nona itu tertawa geli.
"Kau tahu jalan darah mana pada tubuhmu yang tertotok?"
Tanyanya.
"Mana aku tahu?"
Sahut Siau Po.
Nona muda itu menekan bahu Siau Po beberapa kali, kemudian menepuk pinggangnya sebanyak tiga kail Setelah itu, Siau Po dapat menggerakkan kaki dan tangannya kembali Dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Hatinya senang sekali sehingga dia tertawa lebar.
"Rupanya kau pandai ilmu menotok, bagus!"
Katanya.
"Belum lama aku mempelajarinya,"
Sahut si nona.
"Malah hari ini baru pertama kali aku mempraktekkannya."
Sembari berkata, nona itu menekan lagi ketiak Siau Po dan pinggangnya sehingga bocah itu berjingkrakan karena kegelian "Jangan! Jangan!"
Katanya sembari tertawa geli Kedua kakinya juga sudah dapat bergerak dengan leluasa.
"Kau menggetitiki aku sampai aku kegelian."
Katanya.
"Sekarang aku akan membalas menggelitikmu."
Dia benar-benar melangkah maju mendekati nona itu.
Gadis cilik itu melangkah mundur dan menjulurkan lidahnya, Dia bermaksud menyaru sebagai setan untuk menakut-nakuti Siau Po, tapi dia gagal.
Tampangnya justru lucu sekali, dan menarik hati, Siau Po menjulurkan tangannya untuk menarik lidah gadis itu, tapi gadis itu menghindarkan diri, dia tertawa.
"Nah, kau sekarang tidak takut lagi pada setan gantung diri,"
"Kau mempunyai bayangan dan hawa yang ke luar dari mulutmu terasa hangat."
Kata Siau Po.
"Jadi kau manusia biasa, bukan setan?"
Nona itu memperhatikannya lekat-lekat.
"Aku kuntilanak, bukan setan biasa."
Katanya. Siau Po tertegun Dia memperhatikan gadis itu, wajahnya cantik, halus dan kulitnya mulus.
"Bukan!"
Katanya.
"Kuntilanak tidak bisa berbicara dan kakinya tidak dapat ditekuk."
Nona itu tertawa.
"Kalau begitu, aku siluman musang."
Katanya kembali. Siau Po juga tertawa.
"Aku tidak takut siluman musang."
Katanya, Tapi dalam hati ia sempat ragu, Benarkah dia siluman musang? --, diam-diam dia berjalan ke belakang nona itu dan memperhatikan pinggulnya. Kembali nona itu tertawa.
"Aku adalah siluman musang yang sudah berusia seribu tahun, ilmuku sudah mencapai kesempurnaan karenanya aku tidak mempunyai ekor lagi."
Katanya. Siau Po tersenyum.
"Kalau aku dipermainkan oleh siluman musang secantik engkau, mati pun aku tidak menyesal."
Wajah si nona menjadi merah padam. Dia menjadi jengah.
"Ah, kau genit"
Katanya.
"Tadi kau takut setan, sekarang kau malah jadi nakal."
Siau Po memang takut terhadap setan penasaran atau kuntilanak, tapi dia tidak begitu takut kepada siluman musang.
Sebaliknya, dia suka sekali terhadap nona cilik yang baru dikenalnya ini.
Dia mendapat kenyataan bahwa nona ini lebih menarik dari pada Kiam Peng atau pun Pui Ie.
Rasanya dia langsung saja akrab dengannya.
"Nona, siapakah namamu?"
"Namaku Song Ji."
Sahut nona itu, Song artinya sepasang.
"Bagus!"
Kata Siau Po.
"Tapi, sepasang kaki yang harum atau sepasang kaos kaki yang bau?"
Si nona tidak marah, malah tertawa.
"Kaki yang harum atau kaos kaki yang bau, sama saja."
Katanya.
"Terserah engkau sendiri! Tapi Kui kong kong, pakaianmu basah kuyup, pasti tidak enak dikenakan silahkan kau pergi ke sana untuk mengeringkannya, Tapi kami mempunyai sedikit kesulitan di sini."
"Apa itu?"
Tanya Siau Po.
"Kami tidak mempunyai pakaian laki-laki."
Sahut Song Ji.
Hati Siau Po kembali terkejut.
-Ah, --serunya dalam hati.
-Apakah rumah ini benar-benar dihuni oleh setan perempuan semua?
-Tentu saja Song Ji tidak dapat menduga jalan pikirannya, Dia segera mengangkat lenteranya tinggi-tinggi.
"Silahkan masuk!"
Katanya. Siau Po berdiri dengan tegak. Hatinya meras bimbang. Nona itu terus berjalan, sampai di ambang pintu, dia menoleh dan tersenyum.
"Kalau kau memakai baju perempuan, tentu kau takut ketimpa sial, bukan?"
Katanya.
"Kala tidak, begini saja. Kau naik ke atas tempat tidur dan tunggu di balik selimut mengeringkan pakaian bukan pekerjaan yang memakan waktu lama."
Siau Po merasa gadis cilik itu baik sekali dan sarannya juga bagus, Dia tidak bisa menolaknya dia akhirnya dia masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana dengan kawan-kawanku yang lain ke mana mereka semuanya?"
Tanya Siau Po. Song Ji melambatkan langkah kakinya agar mereka bisa berjalan berdampingan.
"Sam nay nay telah berpesan kepadaku agar aku tidak berbicara terlalu banyak denganmu."
Katanya "Kau sabarlah sebentar, setelah kau mengisi perut nanti Sam nay nay sendiri yang akan mengatakannya kepadamu."
Siau Po menganggukkan kepalanya, Memang dia sudah lapar sekali.
ingin sekali dia mengisi perutnya dengan makanan Dia juga tidak menanyakan siapa yang dipanggil Sam nay nay itu.
Dialah nyonya ketiga yang pernah bertemu dengannya tadi.
Song Ji mengajak Siau Po menelusuri sebuah koridor panjang yang gelap, Mereka sampai di dalam sebuah kamar.
Di sana mula-mula Song Ji menyulut sebatang lilin, Tampak kamar itu diperlengkapi dengan sederhana, Hanya ada sebuah meja dan sebuah tempat tidur, Semua terlihat bersih, Tempat tidurnya juga sudah dipasang sprei serta kelambu.
Sambil menyingkapkan kelambu, Song Ji berkata.
"Kui siangkong, maril Naiklah ke atas pembaringan setelah itu kau lemparkan pakaianmu kepadaku!"
Siau Po sekarang sudah percaya penuh terhadap si nona, dia menurut Dia segera naik ke atas tempat tidur kemudian menurunkan kelambunya, Dia membuka pakaiannya dan melemparkannya kepada si nona, Dia sendiri menarik sehelai selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Aku akan pergi mencari makanan untukmu sekalian Kau suka makan bacang yang manis atau yang asin?"
Tanya Song Ji sambil menerima pakaian Siau Po dan berjalan ke arah pintu. Siau Po tertawa.
"Aku sedang kelaparan, makan yang mana pun boleh."
Sahutnya.
"Mungkin bacang tanah lempungpun aku bisa makan saat ini."
Nona itu tertawa geli mendengar kata-kata Siau Po.
Dia langsung meninggalkan kamar itu.
Siau Po tidak perlu menunggu terlalu lama.
Sekejap kemudian, hidungnya sudah mencium bau harum daging yang lezat, Song Ji muncul di pintu kamar dan membawa sebuah nampan di tangannya, Dia segera mendekati tempat tidur dan menyingkap kelambunya.
Siau Po melihat ada empat buah bacang yang sudah dibuka pembungkusnya, Bukan main senang nya hati si bocah.
Segera dia menyambar sumpit dari atas nampan dan digunakan untuk menyumpit bacang itu.
Tanpa menunda lebih lama lagi dia seger memasukkan bacang itu ke dalam muIutnya, Di mengunyah dengan cepat, terasa bacang itu leza sekali.
"Song Ji,"
Katanya setelah menikmati setengah dari bacang itu.
"Bacang ini enak sekali seperti bacang Ouw Ciu."
Memang, kalau bicara soal bacang, bacang dari Ouw Ciu Ciat Kanglah yang paling terkenal.
Yang-ciu ada orang yang menjual bacang sepert itu.
Para tamu yang berpelesir di Li Cun Wan sering menyuruh Siau Po membelinya.
Bacang itu te bungkus rapat, tapi setiap kali disuruh, dia mengorek ujungnya untuk mencoba rasanya.
Selama tinggal di utara, dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk mencicipinya lagi.
Song Ji heran mendengar kata-kata bocah itu.
"Ah! Rupanya kau kenal juga makanan Iezat!"
Katanya.
"Bagaimana kau bisa tahu ini bacang dari Ouw Ciu?"
"Ah! Jadi ini benar-benar bacang dari Ouw Ciu?"
Serunya sembari mengunyah "Di tempat ini, di mana bisa membeli bacang seperti ini?"
"Bukannya boleh beli."
Kata Song Ji tertawa geli Dia merasa bocah itu jenaka sekali "Bacang ini buatan siluman musang."
Siau Po pun tertawa.
"Benar-benar seorang siluman musang pandai memasak!"
Tiba-tiba dia ingat tingkah Ciong samya, karena itu dia segera menambahkan "Usianya sama seperti usia langit."
Song Ji ikut tertawa, Tapi dia segera berkata.
"Nah, kau makanlah perlahan-lahan, aku akan mengeringkan pakaianmu.,,."
Dia baru berjalan satu langkah ketika menoleh kembali memandang Siau Po.
"Apakah kau merasa takut?"
Rasa takut Siau Po memang sudah berkurang setengahnya.
"Asal kau lekas kembali!"
Katanya.
"Baikl"
Sahut Song Ji.
Dia langsung meninggalkan kamar itu.
Siau Po makan bacang dengan perlahan-lahan.
Tidak lama kemudian dia mendengar suara langkah kaki, dia mengintai Ternyata si nona telah kembali dengan sebuah setrikaan yang sudah diisi bara arang untuk menyetrika pakaiannya, Dengan demikian, si nona bisa bekerja sembari menemaninya, Dari keempat bacang itu, ada dua yang rasanya manis dan dua lagi rasanya asin, Siau Po menghabiskan tiga biji.
"Apakah kau yang membungkus sendiri bacang ini?"
Tanyanya setelah kenyang makan.
"Sam nay nay yang membuat bumbunya, aku hanya membantu."
Sahut Song Ji. Siau Po dapat mengenali aksen nona itu seperti aksen orang Kang Lam. Karena itu dia segera bertanya.
"Apakah kau berasal dari Ouw Ciu?"
Song Ji agak ragu menjawab pertanyaan itu.
"pakaianmu hampir kering,"
Katanya kemudia "Sebentar lagi kalau kau bertemu dengan Sam na nay, kau bisa menanyakan kepadanya sendiri sama saja bukan?"
Suara itu lembut dan kata-katanya sopan sekali "Tentu saja boleh."
Kata Siau Po cepat "Mengapa tidak?"
Ia menyingkapkan kelambunya dan memperhatikan gadis cilik itu bekerja.
Song Ji mengangkat wajahnya dan menoleh.
Dia memandang Siau Po seraya tersenyum manis Kemudian dia berkata dengan suara penuh perhatian.
"Kau tidak berpakaian hati-hati masuk angin"
Tiba-tiba kambuh lagi penyakit Siau Po yang suka menggoda orang itu, Dia tertawa dan berkata "Kalau aku melompat ke luar, meskipun tanpa berpakaian, aku tidak akan masuk angin...."
Nona itu terkejut sekali mendengar ucapan Siau Po, dia segera menundukkan kepalanya, kemudian dia melirik sedikit, akhirnya dia tertawa geli, Siau Po tidak melompat turun, tapi dia justru menutup seluruh tubuhnya dari atas kepala sampai ke ujung kaki dengan selimut.
Sekejap saja, pekerjaan nona itu sudah selesai Dia membawa pakaian Siau Po ke tempat tidur dan menyodorkannya ke dalam kelambu.
"Cepat kau berpakaian!"
Katanya. Siau Po menurut Setelah dia mengenakan bajunya kembali, Song Ji membantu mengancinginya, Kemudian dia mengambil sisir.
"Sini! Aku jalin kembali kuncirmu yang sudah kusut itu!"
Katanya sekali lagi. Siau Po senang sekali Dia membiarkan rambutnya disisir lalu dikepang. Selama itu dia dapat mencium bau harum tubuh seorang gadis.
"0h.... Rupanya siluman musang mempunyai hati yang demikian baik! Kalau semuanya seperti engkau, tentu aku tidak perlu merasa takut lagi."
Song Ji tertawa perlahan.
"Kau menyebut-nyebut siluman musang, sungguh tidak enak didengar."
Katanya.
"Aku toh bukan siluman musang,"
"Oh ya? Kalau kau bukan siluman musang, tentu kau seorang dewi yang agung."
Kata Siau Po.
"Aku juga bukan dewi."
Sahut Song Ji tertawa.
"Aku hanya seorang budak cilik."
"Aku seorang thay kam kecil dan kau seorang budak cilik."
Kata Siau Po.
"Kalau begitu, kita sama-sama bekerja melayani orang, kita benar-benar merupakan pasangan yang cocok."
"Tetapi kita tidak dapat disamakan."
Sahut Song Ji.
"Kau melayani seorang raja dan aku hanya melayani seorang nyonya, perbedaan kita bagai bumi dan langit."
Sementara itu, Song Ji sudah selesai mengepang rambut Siau Po. ia berkata kembali.
"Aku tidak biasa mengepang rambut seorang laki-laki, entah ada kesalahan atau tidak?"
Siau Po menarik kuncirnya ke depan kemudia melihatnya sekilas.
"Bagus!"
Pujinya.
"Sebenarnya, aku paling segan menguncir rambutku sendiri Lebih baik lagi kalau kau dapat membantu aku menjalin rambut setiap pagi."
"Aku tidak mempunyai rejeki melayani sian kong."
Kata Song ji.
"Kau seorang pahlawan besar. Hari ini aku mendapat kesempatan menguncir rambutmu, berarti peruntunganku sudah bagus sekali."
"Aih! jangan suka merendahkan diri sendiri"
Kata Siau Po.
"Kau seorang gadis yang cantik dan baik hati, Kau mau menjalin rambutku, meskipu hanya satu kali, berarti peruntungankulah yangbagus."
Wajah si nona menjadi merah saking jengahnya.
"Aku bicara yang sesungguhnya, mengapa kau justru menggoda aku?"
"Tidak, tidak!"
Kata Siau Po cepat "Aku juga bicara setulus hati."
Song Ji tersenyum.
"Sam nay nay berpesan,"
Katanya kemudian.
"Kalau Kui siang kong tidak keberatan, nay nay mengundangmu duduk di ruangan belakang."
"Bagus!"
Kata Siau Po.
"Tapi, apakah sam siau ya (Tuan nomor tiga) mu tidak ada di rumah?" Mendengar pertanyaan itu, Song Ji mengeluarkan seruan tertahan yang perlahan.
"Oh! Sam siau ya sudah menutup mata."
Katanya.
Tiba-tiba saja serangkum perasaan dingin menyelinap dalam hati Siau Po.
Dia ingat di dalam rumah itu terdapat banyak meja abu.
Tapi dia tidak berani menanyakan apaapa.
Setelah mengiakan, dia mengikuti nona itu menuju ruangan dalam.
Mereka tiba di sebuah aula yang tidak seberapa besar Di sana dia dipersilahkan duduk oleh si nona cilik yang langsung menyuguhkan secangkir teh hangat untuknya.
Beberapa menit kemudian, terdengarlah suara langkah kaki yang ringan, Lalu disusul dengan munculnya seorang wanita bergaun putih sebagai tanda bahwa dia sedang berkabung.
"Ah, Kui kong kong tentu sudah letih sekali dalam perjalanan."
Katanya ketika sampai di dalam aula kecil itu. Dia juga menjura dengan sikap yang hormat sekali. Siau Po cepat-cepat berdiri dan membalas penghormatan si nyonya.
"Maaf, cayhe tidak pantas mendapat kehormatan yang semakin tinggi."
Katanya.
"Kui kong kong, silahkan duduk!"
Ujar nyonya muda itu.
"Terima kasih!"
Kata Siau Po.
Dia melihat usia nyonya itu paling banter dua puluh lima tahunan.
Tanpa memakai bedak pun, wajahnya sudah putih sekali, bahkan menjurus kepucat-pucatan, Kedua matanya merah, hal ini membuktikan bahwa dia baru saja menangis, Di bawah cahaya lentera, tampak bayangan tubuh nyonya muda itu.
--Dia bukan setan!
--, pikir Siau Po dalam hati, Meskipun demikian, ketika duduk, hatinya merasa kurang tenang juga, Dia segera berkata.
"Terima kasih atas bacang yang disediakan Nyonya, bacang itu benar-benar lezat."
"Aku tidak berani menerima panggilan itu, Ku kong kong,"
Kata wanita itu.
"Suamiku almarhum she Cung. Sudah berapa lamakah Kui kong kon tinggal dalam istana?"
Mendengar pertanyaan itu, Siau Po berpikir dalam hatinya.
-Dalam kegelapan tadi ada seorang wanita yang bertanya kepadaku tentang urusan Go Pay, aku telah mengaku terus terang bahwa akulah yang membunuhnya, Kemudian budak Song Ji dititahkan untuk menemui aku dan mengantarkan bacang untuk mengisi perut.
Perlakuannya pun ramah, Ternyata dugaanku tidak salah sedikit pun.
Karena mendapat pikiran itu, dia segera menjawab.
"Baru sekitar dua tahun."
"Kong kong, apakah kau bersedia menceritakan kepadaku lebih jelas jalannya kejadian ketika kau membunuh pengkhianat Go Pay itu?"
Tanya si nyonya muda kembali.
Hati Siau Po tenang mendengar nyonya muda ini menyebut Go Pay sebagai si pengkhianat, karena itu pula dia mau memberikan keterangan yang selengkapnya, Yakni bagaimana raja menitahkan-nya menawan Go Pay, tapi orang itu mengadakan perlawanan Karena itulah para thay-kam yang lainnya segera turun tangan sehingga orang itu berhasil dibekuk dan dibunuh, Mula-mula ia menyiram matanya dengan abu.
Dia menutupi urusan kaisar Kong Hi yang ikut mengeroyok.
Nyonya Cung mendengarkan dengan penuh perhatian hanya sekali-kali dia mengeluarkan seruan kagum dan heran ketika Siau Po menceritakan bagaimana dia menghempaskan abu ke mata Go Pay, Padahal Siau Po mengisahkannya dengan cara mengikuti lagak si tukang cerita yang sering didengarnya sehingga menarik sekali.
peristiwa itu memang dialaminya sendiri sehingga dapat dimengerti kalau dia dapat menuturkannya dengan baik.
"Kalau demikian, cerita yang tersebar di luaran tidak sepenuhnya benar."
Kata nyonya Cung.
"Menurut apa yang kudengar, ilmu silat Kui kong kong tinggi sekali, Kong kong telah melayani Go Pay sampai tiga ratus jurus, lalu dengan sebuah tipu jurus yang lihay, akhirnya Kui kong kong baru berhasil menaklukkannya. Memang aneh kalau mengingat Go Pay adalah jago nomor satu bagi bangsa Boan Ciu, tapi ternyata dia bisa dikalahkan dengan mudah. Padahal usia Kui kong kong masih demikian muda, biarpun kepandaian Kong kong lebih tinggi sepuluh kali lipat dari sekarang, tidak mudah juga bagi kong kong untuk merobohkannya."
Siau Po tertawa lebar, Kemudian dia berkata.
Baca Juga: Pendekar Misterius 1
Baca Juga: Bangau Sakti 16