Eps 7 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
"Ucapan mu barusan merupakan rangkaian kata-kata yang bernada memberontak bahkan durhaka, Bukankah kita semua rakyatnya kerajaan Beng yang maha besar? Bukankah kita merupakan anak cucunya menteri-menteri dinasti itu? Bukankah sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk membangun kembali kerajaan Beng? Mengapa sekarang kita harus memikirkan hal yang justru bertentangan?"
Si Hoa tidak menjadi gusar meskipun dibentak oleh Liu Tay-hong, Malah bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Liu loyacu,"
Katanya dengan nada sabar "Ada satu hal yang boanpwe tidak mengerti dan mohon penjelasan itulah soal yang sedang kita perbincangkan sekarang.
Pada akhir kerajaan Song, bangsa Mongolia terus menerus menyerang negara bangsa Han kita, setelah banyak waktu barulah kaisar Hong Bu dari dinasti Beng kita bangkit di Hongyang dan mengusir bangsa asing itu.
Setelah berhasil, seperti yang cayhe katakan tadi, mengapa Beng thaycou tidak mengangkat keturunan keluarga Tio dari kerajaan Song untuk menjadi raja, tapi malah mengangkat dirinya sendiri?
Mengapa dia tidak tetap menggunakan nama kerajaan Song, tetapi menggunakan nama kerajaan Beng?"
"Hm!"
Seru Liu Tay-hong.
"Ketika itu keturunan keluarga Tio sudah habis, karenanya Beng thaycou yang telah bersusah payah lalu mengangkat dirinya sendiri. Kalau tidak, kepada siapa dia harus menyerahkan tampuk kerajaan? Tatkala itu, tidak ada satu pun keturunan keluarga Tio yang berjasa mengusir bangsa Mongolia, Taruh kata Beng thaycou sendiri bersedia mengalah dan mundur teratur, belum tentu rakyat dan tentara yang iku berjuang mau mengerti!"
"Nah, ini merupakan suatu persoalan pula, kata Lie Si-hoa yang tetap tenang.
"Kelak di kemudian hari, masih belum diketahui apakah keturunan keluarga Cu yang berjasa atau tidak, Seandainya dia berjasa, sudah tentu rakyat akan mendukungnya. Dapat dipastikan tidak ada orang yang berani merebut kedudukan itu. Tapi kalau dia tidak berjasa sama sekali, meskipun dia berhasil naik tahta, belum tentu kedudukannya itu bisa kuat apalagi abadi, Liu loyacu, urusan merobohkan kerajaan Ceng adalah hal yang pelik sekali. Mungki hal itu dapat dilakukan kapan waktu saja denga cepat, namun mungkin juga harus memakan wakt yang cukup Iama. Yang paling penting bagi kita sekarang ini adalah menumpas Go Sam-kui. Masalah pengangkatan raja dapat dirundingkan kembali secara perlahan-lahan!"
Tay Hong langsung membungkam mendengar alasan pemuda itu.
"Mengapa harus perlahan-Iahan?"
Katanya kemudian.
"Aku justru menganggapnya sebagai hal yang paling penting dan merasa menyesal tidak dapat dilakukan sekarang juga!"
"Membinasakan Go Sam-kui adalah urusan yang harus diselesaikan secepatnya kata Si Ho kembali "
Sekarang saja usianya sudah cukup tua, Kalau tidak selekasnya dibunuh, tentu dia akan mati dengan tenang disebabkan usia tua.
Bukankah hal itu akan menjadi penyesalan bagi kita semua?
Masalah mengangkat raja yang baru harus kita tunda dulu, setidaknya sampai bangsa Tatcu terusir dari negara kita yang tercinta ini.
Dan masalah ini juga akan membawa kesulitan bagi kita semua !"
Kin Lam kagum sekali terhadap anak muda itu. Bicaranya jelas dan alasannya kuat.
"Saudara Lie benar sekali,"
Katanya ikut memberikan pendapat "Sekarang aku mohon tanya, jalan bagaimanakah yang harus kita tempuh untuk membinasakan Go Sam-kui?"
"Maaf, Tan Cong tocu,"
Sahut Lie Si-hoa "Aku yang rendah justru ingin mendengar pendapat dari para orang-orang gagah yang berkumpul di sini!"
"Bagaimana dengan Tan Cong tocu sendiri?"
Tanya Bhok Kiam-seng.
"Apakah Tan Cong tocu sudah mempunyai akal yang baik?"
"Pengkhianat Go Sam-kui itu terlalu jahat dan banyak antek-anteknya, terlalu enak kalau hanya dia seorang yang dihukum mati,"
Kata Tan Kin-lam.
"Dan kematiannya sendiri tidak cukup untuk menebus dosa-dosanya terhadap rakyat bangsa Han. seharusnya namanya dirusak dan seluruh keluarganya, baik tua maupun yang muda, jangan ada satu pun yang dibiarkan lolos! Begitu pula seluruh antek-anteknya! Dengan cara demikian, baru puas hati seluruh rakyat bangsa Han!"
"Bagus! Bagus!"
Seru Liu Tay-hong sambil menepuk meja.
"Apa yang Tan Cong tocu katakan memang tepat sekali! Benar-benar meresap dalam hati yang tua ini. Nah, Iaote...."
Dia menambahkan sambil menyambar tangan Kin Lam.
"Apa akalmu untuk membinasakan seluruh keluarga Peng Si-ong beserta antek-anteknya? Lekas katakan!"
Tan Kin-Iam tersenyum.
"Sebaiknya kita pikirkan caranya bersama-sama!"
Katanya.
"Kalau hanya aku seorang diri, mana mungkin menemukan akal yang sempurna?"
"Ah!"
Seru Tay Hong tertahan Dia melepaskan cekalan tangannya, Tampaknya dia agak kecewa mendengar jawaban Tan Kin-Iam. Kin Lam mengulurkan tangannya ke arah Bhok Kiam-seng.
"Siau ongya, kita masih harus bertepuk tangan dua kali lagi!"
Katanya mengingatkan.
"Benar!"
Sahut pangeran dari Inlam itu.
Dia juga mengulurkan tangannya dan mereka pun melanjutkan dua kali tepukan tangan yang tertunda tadi.
Si Hoa bangkit dengan sikap menghormat Tan Cong tocu ingin membasmi Go Samkui, aku si orang she Lie bersedia menerima segala titahmu, Tan Cong tocu, seandainya aku yang rendah beruntung bisa membunuh pengkhianat itu, tidak ada hal lain yang kuharapkan kecuali dapat mengangkat saudara denganmu dan diijinkan saling memanggil dengan kakak dan adik!"
Kin Lam tertawa.
"Lie hiante kau terlalu memandang tinggi kepadaku!"
Katanya yang langsung memanggil "hiante"
Atau tidak.
"Baiklah! Ucapan seorang laki-laki sejati sekali dikeluarkan, empat ekor kuda pun sukar mengejarnya!"
Siau Po menyaksikan gerak-gerik kedua orang itu, hatinya tertarik sekali semangatnya seperti terbangun Dia menyesalkan dirinya yang masih terlalu kecil, Coba kalau usianya sedikit lebih tua dan ilmu silatnya setinggi Lie Si-hoa, tentu dia akan membawa sikap yang sama gagahnya.
Sementara itu, Kin Lam menitahkan agar barang hidangan lekas disajikan Dia ingin menjamu para tamunya, Ketika pesta sedang berlangsung, Lie Si-hoa selalu berbicara dengan nada gembira, Ternyata pengetahuannya luas sekali Tetapi sejauh itu, dia masih tidak menjelaskan asal-usulnya.
Di situ juga Hoan Kong dan Hian Ceng memperkenalkan orang-orang lainnya, Ketika berhadapan dengan Siau Po yang dikatakan merupakan salah seorang hiocu dari Tian
Tiraikasih website
http.//cerita-silat.co.cc/ te hwe, Lie Si-hoa menjadi heran. Namun setelah dijelaskan bahwa bocah itu adalah muridnya Tan Kin-lam, sang ketua, dia berkata dalam hati.
"Oh, rupanya demikian!"
Setelah mengeringkan beberapa cawan arak, Si Hoa yang pertama-tama mohon diri. Dia diantar oleh Tan Kin-Iam sampai di depan pintu dan ketu Tian-te hwe itu berbisik kepadanya.
"Lie hiante, tadi kakakmu ini belum tahu apakah kau merupakan kawan atau lawan kami, karena itu aku telah mencekal kakimu dengan sedikit tenaga. Tanpa disengaja aku telah keliru mengenaimu. Hiante, dua jam lagi kakimu akan terasa nyeri berbahaya sekali kalau kau tidak tahu cara me obati lukamu itu, atau kau gunakan cara lain dengan terpaksa, Hiante, kau harus menggali sebuah lubang yang dalam dan tingginya sesuai dengan be tuk tubuhmu, kemudian kau masuk ke dalamn lalu kau urug kembali dengan tanah sampai sebatas leher. Kau harus berdiam di dalam lubang itu lama empat jam dan tujuh hari berturut-turut dengan demikian lukamu akan sembuh dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi!"
Si Hoa terkejut setengah mati mendengar terangan itu.
"Oh, jadi aku telah terkena pukulan "Geng-hi sin jiau" (Sambaran kuku pembeku darah)?"
Tanyanya.
"Jangan cemas, Tidak perlu takut, hiante,"
Kata Tan Kin-lam.
"Kalau kau ikuti cara yang kukatakan tadi, niscaya kau tidak akan mengalami kejadian apa-apa, Sekali lagi kakakmu mohon agar kau tidak berkecil hati karena kesembronoanku tadi!"
Pertama-tama Lie Si-hoa memang terkejut tapi akhirnya dia menjadi tenang kembali.
"Salahku sendiri."
Sahutnya kemudian.
"Hari ini mataku baru terbuka, Di atas langit masih ada langit, di antara para jago masih ada lagi yang lebih jago!"
Sekali lagi dia merangkapkan sepasang tangannya menjura kemudian ia membalikkan tubuhnya berlalu dari tempat itu.
Liu Tay-hong yang mendengar perkataan Tan Kin-lam barusan, segera bertanya.
Tan Cong tocu, jadi tadi kau menggunakan ilmu "Ceng-hiat sin Jiau"
Untuk menghadapi pemuda itu?
Menurut apa yang pernah kudengar, siapa yang terkena serangan ilmu itu, dalam waktu tiga hari darah di seluruh tubuhnya akan membeku, dan orang itu tidak bisa bergerak sama sekali serta tidak dapat disembuhkan lagi, Benarkah?"
Tan Kin-Iam menarik nafas panjang.
"Pada dasarnya, sifat ilmu itu memang keji sekali,"
Sahutnya.
"Aku sebenarnya tidak berniat menggunakan ilmu itu, tapi cara kedatangannya sungguh luar biasa dan dia sudah mendengar percakapan rahasia kita, ilmunya juga lihay sekali dan kita belum tahu maksud kedatangannya, Untu menjaga diri kita semua terhadap hal yang tid diinginkan, terpaksa aku menggunakan ilmu itu, perbuatanku tadi sama sekali tidak mirip seora laki-laki sejati dan aku menjadi malu karenanya!"
"Tapi,"
Bhok Kiam-seng ikut bicara.
"Perbuatanmu ada benarnya juga, seandainya dia adalah mata-mata musuh atau bawahannya Go Sam-kui dia memang berbahaya bagi kita, Kalau Cong tocu tidak memberi pelajaran kepadanya lalu dia membawa berita tentang kita kepada junjungannya, celakalah kita semua. Syukurlah Cong tocu bisa menguasainya... Tan Cong tocu, kepandaianmu tinggi sekali, kau benar-benar membuat kami kagum!"
Pesta di lanjutkan kembali Akhirnya tiba juga saatnya Bhok Kiam-seng dan rombongannya berpamitan.
"Siau ongya,"
Kata Siau Po pada pangeran itu "Sebaiknya Siau ongya pindah tempat, Sebab entah siang atau malam ini juga, ada kemungkinan ban Tatcu nanti mengirim orangnya untuk mengepung dan melakukan penangkapan atas diri Siau ongya Mungkin Siau ongya tidak takut, tapi kita harus sadar dengan kekuatan kita sekarang ini, kita masih belum sanggup melawan tentara yang jumlah laksaan jiwa...."
Mendengar ucapan bocah itu, Liu Tay tertawa lebar.
"Saudara cilik, apa yang kau katakan memang benar!"
Katanya dengan nada gembira.
"Saudara kecil, sekali lagi terima kasih, terutama untuk saran-mu ini. Baiklah, kami akan segera pindah tempat!"
Kiam Seng pun turut berkata.
"Pembicaraan kita sudah selesai, Hari ini juga kami akan pergi dari kota ini. Tan Cong tocu, Wi hiocu, serta semua sahabat baik yang ada di sini, selama gunung masih menghijau dan sungai masih mengalir, tentu akan ada perjumpaan lagi bagi kita kelak!"
Begitu rombongan itu berlalu, Tan Kin-lam memanggil muridnya.
"Siau Po, kemari!"
Katanya.
"Aku ingin lihat, selama beberapa bulan ini, sudah sampai di mana kemajuanmu?"
Jantung Siau Po langsung berdebaran. wajahnya pun berubah seketika, urusan ini paling dikhawatirkan olehnya, Tapi pada dasarnya dia memang cerdik, dia sudah memikirkan jawaban yang masuk akal.
"Suhu, selama ini kesehatanku agak terganggu, beberapa kali aku jatuh sakit dan asal aku berlatih sebentar saja, perutku langsung terasa nyeri!"
Kin Lam merasa heran sehingga dia memperhatikan muridnya dengan tajam.
"Kau sakit?"
Tanyanya.
"Sakit apa?"
Dia langsung mengajak muridnya ke kamar sebelah timur Setelah merapatkan pintu kamar itu, dia langsung mencekal tangan kanan muridnya.
"Aih!"
Tan Kin-lam sampai mengeluarkan seruan tertahan setelah ia meraba denyut nadi Siau Po. Cepat-cepat dia memeriksa nadi sebelah kirinya.
"Ini... ini.,."
Saking gugupnya, dia sampai tidak sanggup mengatakan apa-apa. pikirannya langsung bekerja.
"Selain terluka parah, kau juga keracunan. Usiamu masih begini muda, bagaimana kau bisa bermusuhan dengan tokoh-tokoh dunia kangouw yang memiliki kepandaian setinggi ini? siapakah musuhmu itu?"
Di hadapan orang lain, Siau Po suka sok gagah, Tetapi di hadapan gurunya ini, dia langsung menangis terisak-isak.
"Perbuatan si nenek sihir dan kura-kura tua itulah yang mencelakai muridmu ini..."
Katanya. Tan Kin-lam semakin bingung, Dia menatap muridnya lekat-lekat "Apa yang yang kau maksud dengan kura-kura tua serta nenek sihti?"
Tanya gurunya.
"Siapakah mereka?"
Siau Po segera menceritakan tentang Hay kongkong yang telah meracuninya dan ibu suri yang telah menepuk punggungnya sehingga dia terluka dalam.
Dia juga menceritakan bagaimana ibu suri berhasil mengancamnya.
Kin Lam berpikir dengan keras.
"Apakah kau membawa obat yang diberikan ibu suri kepadamu?"
Tanyanya penasaran.
"Ya,"
Sahut Siau Po langsung mengeluarkan obat yang selalu dibawanya kemanamana itu.
Kin Lam memeriksa obat itu, dia mengendusnya berkali-kali.
Bahkan dia memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya kemudian dia gigit sampai hancur dan dengan lidah dia mencicipi, tiba-tiba dia menyemburkan obat itu dengan meludah dan kemudian mengomel.
"Oh, dasar nenek sihir!"
Makinya.
"Obat ini juga dicampur dengan racun, Dengan memberimu obat ini, dia ingin membuat kau mati secara perlahan-lahan!"
Bagian 25 Mendengar gurunya juga memaki ibu suri sebagai nenek sihir, tanpa dapat dipertahankan lagi, Siau Po tertawa geli, Ternyata sang guru juga sudah terbawa atau terpengaruh dengan kata-katanya sehingga tanpa terasa dia ikut menyebut ibu suri sebagai nenek sihir, Sebuah perkataan yang tidak selayaknya terucap dari mulut seorang ketua dari perkumpulan besar seperti Tian-te hwe.
Siau Po sendiri sudah terbiasa dengan sebutannya yang kotor dan berbagai ragam karena dia benci sekali kepada wanita itu, meskipun dia adalah seorang ibu suri.
Tapi, setelah tertawa, dia menangis lagi, Dia percaya penuh dengan ucapan gurunya itu, Artinya dia sudah terluka parah dan keracunan Mungkin-kah dia tertolong?
Dia menjadi kecil hati, Tadinya dia masih dapat menguatkan hatinya, namun sekarang di depan gurunya, dia kembali lagi sebagaimana biasanya seorang bocah kecil serta tak dapat mempertahankan lagi ketabahannya yang luar biasa.
"Tahukah kau asal-usul ilmu silat Hay tayhu dan ibu suri itu?"
Tanya Kin Lam kepada muridnya kemudian.
Siau Po segera menceritakan pembicaraan yang berlangsung antara Hay kongkong dengan ibu suri baru-baru ini di taman bunga.
Tapi dia menyampingkan urusan kaisar Sun Ti yang pergi secara diam-diam menyucikan diri di gunung Ngo Tay san juga persoalan ibu suri yang mencelakakan Tang Gok-hui, ibu dan anak.
Kin Lam berpikir sejenak, Kemudian dia ber-kata.
"Kalau begitu yang satu berasal dari partai Kong Tong pai dan satunya lagi murid Coa to (pulau ular) Dengan adanya kedua orang ini yang mendekam dalam istana, kemungkinan mereka masing-masing mengandung maksud tertentu. Malam itu kau terhajar oleh dua orang dengan ilmu yang demikian dahsyat. seharusnya kau tidak dapat hidup lebih lama lagi, malah ada kemungkinan mati seketika, Tetapi hal ini tidak terjadi padamu, Kau hanya terluka saja, apa sebabnya?"
"Pada jubah panjangku ada dua tanda bekas telapakan tangan, yakni bagian dada dan punggung, Tanda itu begitu jelas dan rapi seperti digunting dengan poIa,"
Kata Siau Po menjelaskan. Tan Kin Lam menganggukkan kepalanya, itulah bukti bahwa pukulan itu lihay sekali!"
Katanya.
"Bagaimana kau sanggup bertahan dari hajaran itu? Mungkinkah kau menggunakan baju berlapis baja?"
"Tidak,"
Sahut Siau Po.
Tapi sebuah ingatan tiba-tiba melintas di benaknya, Ketika mengadakan pemeriksaan di rumah Go Pay, dia mendapatkan sehelai baju dalam yang tipis sekali, Mungkin So Ngo-tu tahu bahwa itulah sehelai baju mustika sehingga dia dianjurkan untuk memakainya.
Malam itu, ketika dihajar oleh Hay tayhu dan ibu suri, dia juga mengenakan baju itu, Kemudian dia merasa baju itu kelonggaran sehingga dia tidak memakainya lagi, Begitu diungkit oleh gurunya barusan, dia baru teringat lagi, Karena itu cepat-cepat dia menceritakan soal baju itu.
"ltu dia!"
Kata Kin Lam setengah berseru.
"Pasti baju itu baju mustika sehingga beberapa kali kau terhindar dari kematian sebaiknya kau pakai lagi baju itu siang ataupun malam jangan dilepaskan lagi, Soal racun Hay kongkong, untuk sementara aku masih belum tahu jenisnya, sebaiknya kau ikuti saja petunjukku dulu untuk melatih diri dengan ilmu tenaga dalam aliranku, ilmu itu berkhasiat menyembuhkan luka dalam."
"Baik,"
Suhu,"
Sahut Siau Po.
Namun dalam hatinya dia berpikir "llmu tenaga dalam dari si kura-kura tua sudah aku pelajari sampai tujuh atau delapan bagian Syukur suhu menyangka aku keracunan dan tidak memeriksanya lebih jauh...."
Tapi dia rada khawatir juga. Gurunya ini lihay sekali.Ada kemungkinan rahasianya bisa terbongkar Dia segera berkata lagi.
"Suhu, Sri Baginda menitahkan aku menguntit para penyerbu yang telah dibebaskan. Karena itu, aku harus cepat-cepat pulang ke istana untuk memberikan laporan..."
Dia ingin menyingkir secepatnya dari hadapan gurunya itu.
"Siapakah yang kau maksud dengan para penyerbu?"
Tanya Kin Lam.
Ketua pusat Tian-te hwe ini hanya tahu Siau Po telah menolong ketiga orang Bhok onghu melarikan diri dari istana, Apa masalahnya, dia masih belum tahu.
Siau Po segera menjelaskan tentang penyerbuan di istana dengan tujuan membunuh kaisar Kong Hi dan para penyerbu itu menggunakan baju dalam serta senjata dengan tanda Go Sam-kui, Maksudnya untuk memfitnah pengkhianatan bang-sa, tapi kaisar Kong Hi yang cerdas segera menaruh kecurigaan dan menyuruhnya menguntit kawanan para penyerbu itu supaya dapat menemukan pemimpin utamanya.
"Oh, begitu?"
Kata Kin Lam heran, Dia sudah banyak pengalaman dan pengetahuannya juga luas sekali, tetapi urusan Bhok onghu ini belum didengarnya.
"Rombongan Bhok onghu itu sungguh berani, Tadinya aku mengira mereka menyerbu istana hanya untuk membunuh raja. Tidak disangka masih terselip maksud Iainnya. Rupanya mereka hendak menjatuhkan Go Sam-kui. Kau telah menolong ketiga orang itu, apakah tidak berbahaya bila kau kembali lagi ke istana?"
"Tidak,"
Sahut Siau Po yang tidak menjelaskan masalah pembebasan Gouw Lip-sin bertiga adalah siasatnya kaisar Kong Hi.
"Untuk menutupi masalah ini, aku sudah mencari pengganti diriku, Merekalah yang akan bertanggung jawab, Aku rasa, dalam waktu yang singkat, rahasia ini tidak akan terbongkar dan aku tidak akan dicurigai. Suhu menitahkan aku mencari tahu rahasia negara, kalau hanya karena urusan keluarga Bhok ini aku tidak kembali lagi ke istana, bukankah berarti tugasku gagal? Bukankah dengan demikian aku juga menghancurkan usaha yang sedang dibina suhu?"
Senang sekali hati Kin Lam mendengar kata-kata muridnya yang cerdas itu.
"Siau Po, kau betul!"
Dia membenarkan "Kita sudah membuat perjanjian dengan pihak Bhok onghu, Andaikata mereka berhasil mendahului kita, bukankah seluruh anggota perkumpulan Tian-te hwe harus menunduk di bawah perintahnya?
Bukankah dengan demikian pamor kita akan jatuh?
Menurut pantas, Bhok onghu yang jumlah orangnya jauh lebih sedikit dari kita tidak boleh mendahului kita!
Kalau aku sampai mengikat perjanjian dengannya, hal ini semata-mata karena aku tidak ingin ada perselisihan di antara kita untuk saat ini, Lagi-pula, dengan bergabungnya Bhok onghu, kekuatan kita bertambah, Mereka itu berani sekali, karenanya kita tidak boleh kalah berani, Dengan demikian kita bisa berhasil terlebih dahulu!"
"Suhu benar!"
Sahut Siau Po.
"Sebenarnya, apa sih kehebatan Bhok Siau ongya? Dia toh hanya kebetulan saja terlahir sebagai puteranya Bhok Tian-po. Sebaliknya, orang seperti suhu mana boleh menunduk kepadanya? Kalau hal itu sampai terjadi, aku benar-benar bisa mati berdiri!"
Kin Lam tertawa.
Seumur hidupnya, dia sudah sering mendengar segala macam pujian, Tetapi rasa kagum seorang bocah berusia belasan tahun seperti Siau Po ini, lain sekali bagi dirinya, Dia tidak tahu di mana sang murid dilahirkan atau dibesarkan dalam lingkungan yang bagaimana, juga tidak tahu bahwa dengan kecerdikannya, pergaulannya di istana luas sekali dan banyak mendapat kepercayaan.
Dia hanya mengira karena sudah Iama berada dalam istana, Siau Po sudah banyak belajar apalagi dalam menghadapi Hay kongkong dan ibu suri yang banyak tipu muslihat Dia tidak menyangka muridnya akan mengelabuinya.
"Dasar anak kecil, apa yang kau tahu?"
Katanya sambil tersenyum "Bagaimana kau bisa tahu Bhok Siau ongya tidak mempunyai kebisaan apa-apa?"
"Sebab dia mengirim orang untuk menyerbu istana,"
Sahut Siau Po.
"Dengan demikian dia mengorbankan beberapa lembar jiwa secara sia-sia. Bagi Go Sam-kui, sepak tegangnya itu tidak mendatangkan kerugian sama sekali, Malah dia patut dikatakan sebagai manusia paling tolol di dunia ini!"
"Hush! jangan bicara sembarangan!"
Tegur Tan Kin-lam.
"Tapi, mengapa kau bisa mengatakan bahwa Go Sam-kui tidak mengalami kerugian apa-apa?"
"Untuk menyerbu istana, Bhok Siau ongya menggunakan akal yang mentah sekali, tolol!"
Sahut Siau Po.
"Para penyerbu mengenakan pakaian yang ada sulamannya, yakni empat huruf Peng Si onghu, Dan semua senjatanya juga ada tulisannya, Taybeng Sanhay-kwan Cong Penghu, Bangsa Tatcu bukan bangsa dogol mereka pasti curiga. Tentu mereka dapat berpikir, kalau semua penyerbu itu benar orang-orang suruhannya Go Sam-kui, mana mungkin mereka mengenakan pakaian dalam dan senjata yang bertanda Peng Si ong?"
"Ya, benar juga!"
Kata Tan Kin-lam.
"Masih ada satu hal lagi!"
Kata Siau Po menambahkan "Sekarang ini, puteranya Go Sam-kui yang bernama Go Eng-him sedang berada di kota-raja.
Dia datang dengan membawa upeti berupa uang serta batu permata yang tidak terkirakan jumlahnya, Kalau memang ingin membunuh raja, mengapa Go Sam-kui tidak memilih waktu yang lain, namun justru di saat dia mengutus puteranya itu?
Lagipula, mengapa dia harus membunuh raja?
Apakah dia ingin memberontak untuk mengangkat dirinya sendiri menjadi raja?
Tidak mungkin!
Sebab apabila dia memberontak, pihak tentara Boan akan meringkus puteranya saat itu juga kemudian dihukum mati!
Masa tanpa alasan yang masuk akal, dia sudi mengorbankan jiwa anaknya sendiri?"
Kembali Tan Kin-Iam menganggukkan kepalanya.
"Tidak salah!"
Katanya.
sebenarnya Siau Po hanya berlagak pintar, Semua keterangan itu terlalu dalam bagi usianya yang masih muda.
Kenyataannya memang kaisar Kong Hi yang mengemukakan berbagai alasan itu.
sekarang setelah mengetahui dia mengutarakannya kembali di hadapan gurunya, Kin Lam percaya penuh kepada muridnya ini.
Dan dia merasa heran sekali, Tidak banyak anggota Tian-te hwe yang mempunyai kecerdasan seperti muridnya yang satu ini, Kalau dulu dia memilih sang murid sebagai ketua Ceng-Bok tong, hal ini dilakukannya karena sumpah yang telah mereka ucapkan.
"Anak ini bernyali besar juga cerdik sekali,"
Pikirnya dalam hati.
"Sekarang saja dia sudah sehebat ini. Beberapa tahun lagi, dari pengalaman saja dia sudah tidak takut kalah dengan kedelapan hiocu lainnya!"
"Bagaimana dengan pihak Tatcu sendiri?"
Tanyanya kemudian "Apakah raja mereka sudah tahu siasat Bhok onghu ini?"
"Sekarang masih belum yakin, tapi raja sudah menaruh kecurigaan Tadi pagi raja mengumpulkan para siwi dan menyuruh mereka menjalankan beberapa jurus ilmu yang digunakan para penyerbu, Setelah itu, mereka merundingkan ilmu tersebut Aku juga ikut hadir. Karena itu aku mendengar dan melihat semuanya, Karena itulah aku ingat dua jurus di antaranya adalah Heng-sau Ciang kun dan Kao-san Liu sui."
Kin Lam menarik nafas panjang.
"Benar-benar pihak Bhok onghu tidak ada orang pandai,"
Katanya.
"Kedua jurus itu justru ilmu khas dari keluarga Bhok, Di antara para siwi, tidak sedikit jago yang kosen, Mereka pasti mengenali kedua jurus itu!"
"Pernah aku menyaksikan kedua jurus itu yang ditunjukkan oleh Hong Ci-tiong toako dan Hian Ceng tojin. Karena itu aku juga mempunyai dugaan bahwa bangsa Tatcu pasti bisa mengenalinya juga, itulah sebabnya tadi aku memberi saran kepada Bhok Siauongya agar mereka segera pindah dari tempat yang sekarang!"
"Benar! Tindakanmu benar sekali!"
Kata Tan Kin-lam.
"Nah, sekarang kau boleh kembali ke istana, besok kau datang lagi, Aku ingin memeriksa lukamu agar aku tahu jenis racun apa yang menyerang tubuhmu dan mencari jalan untuk mengobatinya."
Siau Po senang sekali melihat sang guru tidak menanyakan pelajaran ilmu silatnya lebih jauh, Cepat-cepat dia memberi hormat kemudian mohon diri.
Ketika sampai di istana, Siau Po segera menuju kamar tulis Raja untuk menemuinya, Kaisar Kong Hi senang sekali melihat kemunculan si bocah.
"Hai, kabar apa yang kau peroleh?"
"Terkaan Sri Baginda benar-benar seperti ramalan para "Dewa!"
Sahut Siau Po setelah memberi hormat "Memang biang keladi dari penyerbuan di istana ini ialah keluarga Bhok dari Inlam!"
Dengan perasaan senang, Kong Hi tertawa lebar.
"Benar? Bagus! Lihat tampangnya To Lung! Dia tidak percaya sama sekali ketika aku mengatakan dugaanku, Lekas katakan, berita apa saja yang kau peroleh?"
"Ketiga penyerbu itu memang keras kepala,"
Sahut Siau Po.
"Mereka tetap berkeras bahwa mereka adalah orang-orang suruhannya Go Sam-kui. Meskipun To congkoan sudah menyiksa setengah mati, ibarat mereka sudah mati hidup kembali, tetap saja mereka berkeras pada pengakuannya!"
"IImu silat To Lung cukup tinggi, tapi dia memang orang kasar,"
Kata kaisar Kong Hi tertawa.
"Setelah menerima perintah dari Sri Baginda,"
Kata Siau Po memulai keterangannya.
"Hamba segera bekerja. Hamba menggunakan Bong Hoan-yok untuk membius para siwi. Eh, tidak tahunya pada saat itu juga muncul empat orang thay-kamnya Hong thayhou, Mereka mengatakan akan menghukum mati ketiga penyerbu itu sekarang juga. Hamba memberanikan diri menentang mereka dengan mengatakan bahwa hamba ingin melanjutkan tugas hamba sesuai rencana Sri Baginda. Mereka marah sekaIi. Karena itulah, di depan para penyerbu itu, hamba segera membunuh keempat thay-kam tersebut. Setelah itu hamba membebaskan ketiga tawanan itu, Menyaksikan apa yang hamba lakukan, mereka langsung percaya penuh kepada hamba. Tidak ada sedikit pun kecurigaan!"
Kaisar Kong Hi tampaknya puas sekali dengan keterangan Siau Po. ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Baru saja To Lung melaporkan bahwa salah satunya thay-kam Hong thayhoulah yang membebaskan para penyerbu itu, aku justru sedang keheranan. Rupanya itu perbuatanmu!"
"Tapi, Sri Baginda,"
Kata Siau Po selanjutnya.
"Hamba mohon perbuatan hamba itu jangan diberitahukan kepada Hong thayhou!"
Pinta Siau Po dengan tampang khawatir "Kalau tidak, selembar jiwa hamba yang tidak berarti ini pasti tidak dapat dipertahankan lagi, Hong thayhou pernah memaki hamba yang katanya terlalu setia terhadap Sri Baginda dan sebaliknya acuh saja terhadap beliau.
Sebenarnya, mana hamba berani membeda-bedakan antara Sri Baginda dengan Hong thayhou?
Lagipula, ada pepatah yang mengatakan, di langit tidak ada dua matahari, di atas bumi tidak ada dua raja, Biar bagaimana, akhirnya Sri Baginda yang harus didahulukan, sedangkan thayhou sendiri, tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada Sri Baginda, sudah langsung mengirim orangnya untuk menghukum mati ketiga orang tawanan itu, perbuatannya itu sungguh tidak layak dan tidak menghormati Sri Baginda."
"Tak usah perdulikan Thayhou,"
Kata Raja.
"Terhadap thayhou, aku tidak bisa mengatakan apa-apa. sekarang ceritakan saja, bagaimana dengan ketiga penjahat yang kau bebaskan itu?"
"Kemudian hamba mengajak mereka meninggalkan istana,"
Kata Siau Po yang mengarang ceritanya sendiri.
"Ketika berpamitan, mereka menyebutkan nama masingmasing, Yang tua bernama Yau Tau Saycu Gouw Lip-sin, dua orang muda lainnya masing-masing bernama Go Piu dan Lau It-cou. Berulang kali mereka menyampaikan terima kasih kepadaku, Demikianlah mereka kena diperdaya dan mereka mengajak aku menemui pemimpinnya, Seperti dugaan Sri Baginda, pemimpin mereka adalah seorang anak muda yang dipanggil Siau ongya, sedangkan she dan nama sebenarnya ialah Bhok Kiam-seng. Sebawahannya Siau ongya itu ada seorang tua yang kepandaiannya tinggi sekali, julukannya Tiat Pwe-cong Liong Liu Tay-hong, Masih ada beberapa orang lainnya, di antara mereka ada Sin-jiu Kisu Sou Kong, Pek Han-hong, jago nomor dua dari Pek Si Siang hiap, Mereka bermarkas di dua tempat yang berlainan, yakni Yang-ciu hou tong dan Mo-ji hou tong."
"Jadi kau telah bertemu dengan mereka?"
Tanya sang raja menegaskan.
"Ya,"
Sahut Siau Po.
"Kata mereka, rakyat negeri ini menganggap, meskipun usia Sri Baginda masih muda sekali, tetapi kebijaksanaannya sudah kentara. Selama beberapa generasi terakhir, jarang ada raja seperti Sri Baginda, Mereka mengatakan bahwa meskipun nyali mereka sangat besar, tidak mungkin mereka berani mencelakai Sri Baginda, seandainya apa yang mereka katakan hanya pujian belaka, hamba tetap senang mendengarnya!"
Kembali kaisar Kong Hi percaya penuh dengan keterangan thay-kamnya, sebetulnya Siau Po hanya meniru apa yang pernah didengarnya dari tukang cerita ketika masih di Yangciu dulu.
"Sri Baginda, mereka mengumpamakan Sri Baginda sebagai Niau-seng Hi-tong, Bukankah itu artinya burung hidup dan Sup ikan? Hampir saja hamba marah karenanya, kalau tidak memikirkan bahwa hamba sedang menjalankan perintah untuk mencari tahu siapa pemimpin mereka itu!"
Sri Baginda sampai tertegun mendengar Siau Po mengatakan "Niau Seng dan Hi tong."
Untuk sesaat dia menjadi bingung, tetapi setelah berpikir sejenak, dia langsung tersenyum.
"Apaan Niau Seng Hi tong?"
Serunya.
"Yang mereka maksudkan pasti Giau Sun Ie tong!"
"Sri Baginda!"
Siau Po merasa puas karena raja tampak senang.
"Apakah artinya Niau Seng Hi Tong itu yang sebenarnya ?"
"Aih! kau masih mengatakan Niau Seng Hi Tong juga!"
Kata kaisar Kong Hi.
"Kau benar-benar kurang pendidikan itulah marga keempat maharaja yang bijaksana dahulu kala dan sangat dihormati oleh rakyatnya pada jaman kejayaannya masing-masing!"
"Pantas! Pantas!"
Seru Siau Po.
"Tampaknya beberapa orang pemberontak itu cukup terpelajar juga!"
"Meskipun demikian, mereka tidak boleh diberi kesempatan untuk meloloskan diri,"
Kata kaisar Kong Hi.
"Lekas panggilkan To Lung untuk menghadap!"
Siau Po segera mengiakan kemudian mengundurkan diri. Dia pergi memanggil To Lung. Dalam waktu yang singkat, kepala siwi itu sudah menghadap raja di kamar tulisnya.
"Ternyata kawanan penyerbu itu memang orang-orang dari keluarga Bhok di Inlam,"
Kata kaisar Kong Hi kepada To Lung.
"Sekarang juga kau pimpin pasukan pengawal untuk meringkus mereka. Kau, Siau Kui cu, coba kau jelaskan segala sesuatu yang kau ketahui mengenai para pemberontak itu!"
Siau Po menurut Dia segera menjelaskan apa yang diketahuinya, seperti yang diceritakannya kepada kaisar Kong Hi tadi, Dia juga menyebut nama Bhok Kiam seng serta para pembantunya, Ketika To Lung mendengar nama Liu Tay-hong, dia memperlihatkan mimik wajah terkejut.
"Apa?"
Tanyanya heran.
"Tiat-pwe Cong Liong juga ada di antara mereka? Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang-orang sembarangan Nama Yau Tau Saycu Gouw Lip-sin juga pernah hamba dengar. Tidak disangka, meskipun telah ditahan satu hari satu malam, hamba masih belum berhasil mengetahui siapa nama mereka, Aih! Asal hamba teliti sedikit saja, seharusnya hamba sudah mengetahuinya begitu melihat orang tersebut sering menggelengkan kepalanya. Oh, Sri Baginda, seandainya Sri Baginda kurang bijaksana, tentu kita sudah menuduh Go Sam-kui sebagai biang keladi peristiwa ini!" "Tapi... aku khawatir mereka sudah kabur sekarang!"
Kata kaisar Kong Hi.
"Mungkin kita tidak akan berhasil menangkap mereka."
Sri Baginda menghentikan kata-katanya sejenak, kemudian baru melanjutkan kembali.
"Yang penting kita sudah tahu siapa adanya orang-orang itu. seandainya hari ini kita gagal, tidak jadi masalah kalau hari ini kita gagah Yang ditakutkan justru apabila kita buta sama sekali dan dapat dipermainkan oleh pihak musuh seenaknya! Nah, kau pergilah!"
To Lung berlutut serta menganggukkan kepalanya, Kemudian dia mengundurkan diri. Saat itu juga dia mengumpulkan para bawahannya untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan "Sekarang, Siau Kui cu,"
Kata kaisar Kong Hi pada thay-kamnya.
"Mari kau ikut aku menjenguk Ibusuri!"
"Baik, Sri Baginda!"
Sahut Siau Po. Padahal dalam hati, dia justru khawatir sekali, jantungnya berdebar-debar, Hatinya takut berhadapan dengan Hong thayhou, wajahnya langsung tampak kelam.
"Eh, kenapa kau mengernyitkan alismu?"
Tanya kaisar Kong Hi. ia merasa heran melihat tampang si bocah.
"Kau tahu... Dengan mengajakmu menghadap Hong thayhou, aku justru ingin menyelamatkan batok kepalamu agar tetap menempel di batang lehermu itu!"
"Iya... iya, Sri Baginda,"
Sahut Siau Po yang terpaksa mengikuti raja itu.
Begitu sampai di keraton Cu-leng kiong, Raja langsung memberi hormat kepada ibunya, Lalu dia memberi laporan tentang siapa orangnya yang melakukan penyerbuan ke dalam istana, Dia menceritakan bagaimana Siau Po menggunakan akal yang bagus melepaskan para tawanan itu kemudian diikuti sampai ke markasnya sehingga akhirnya dia bisa mengetahui siapa adanya sang pemimpin dari pada pemberontak itu.
Thayhou tersenyum setelah kaisar Kong Hi selesai dengan ceritanya.
"Siau Kui cu, kau memang pandai sekali bekerja !"
Pujinya. Si thay-kam kecil segera menjatuhkan dirinya berlutut dan menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Semua ini berkat terkaan Sri Baginda yang tepat sekali semuanya telah diperhitungkan dengan seksama, Sedangkan hamba hanya menjalankan perintah raja."
Lagi-lagi thayhou tersenyum.
"Biasanya kalau seorang anak kecil keluar rumah, dia senang sekali keluyuran kemana-mana,"
Katanya.
"Apakah kau pergi ke Tiankio untuk menonton pertunjukkan suIap? Atau mungkin kau membeli kembang gula di sana?"
Hati Siau Po cemas sekali mendapat pertanyaan demikian.
"lya, memang benar,"
Sahutnya cepat Hatinya berdebar Dia teringat akan pedagangpedagang yang ditangkapi tentara kerajaan, Semua itu pasti atas perintah ibu suri.
Wanita ini pasti takut ada orang yang akan membawa berita ke Ngo Tay san.
Karena itu, setiap orang yang mencurigakan harus dibasmi sampai tuntas, Siau Po bergidik mengingat kekejaman dan kejahatan ibu suri.
Kembali Hong thayhou tersenyum.
"Aku ingin tanya, apakah kau makan kembang gula hari ini?"
"Harap thayhou maklum,"
Sahut Siau Po yang cerdik. Dia memberikan keterangan yang tidak merupakan jawaban atas pertanyaan ibu suri.
"Selama berada di luar istana, hamba telah mendengar berita tentang wilayah Tiankio yang kurang aman. Para Kiubun te tok sudah menitahkan orang-orangnya untuk melakukan penangkapan sebab menurut mereka, ada orang-orang jahat yang membaur di sana. Karena itu, sekarang para pedagang kembang gula, sudah menukar usahanya, Ada yang menjual kue, ada yang menjual kacang tanah dan buah-buahan, orang-orang seperti itu sudah sering hamba lihat Karena itu ada beberapa wajah yang hamba kenal. Mereka mengatakan bahwa sekarang mereka tidak menjual kembang gula lagi, Malah salah satu di antaranya lucu sekali. Dia mengatakan bahwa dia ingin pergi ke gunung Ngo Tay san atau Liok Tay san untuk menjual bakso tanpa daging bagi para pendeta!"
Panas hati thayhou mendengar sindiran Siau Po.
"Kalau menilik dari ucapan bocah ini, berarti orang yang dicurigai itu telah gagal ditangkap!"
Tapi wanita ini memang licik, Lagi-lagi dia tersenyum.
"Bagus! Bagus sekali!"
Katanya.
"Kau sangat pandai bekerja. Sri Baginda, aku ingin dia bekerja untukku saja, Bagaimana menurut pemikiranmu?"
Siau Po terkejut setengah mati.
sedangkan raja merasa heran dan bimbang, Dia tahu Siau Po memang pandai bekerja dan telah dianggap sebag pembantu dekatnya, sekarang thayhou menghendaki Siau Po untuk bekerja baginya, Kaisar KongHi adalah seorang anak yang berbakti Meskipun thayhou bukan ibu kandungnya, namun dia sudah dibesarkan dan dididik semenjak kecil oleh wanita ini, Mana mungkin dia bisa menentang kehendak ibu suri?
Akhirnya dia tersenyum dan berkata kepada thaykamnya.
"Siau Kui cu, ibu suri telah memilihmu, kenapa kau tidak cepat-cepat mengucapkan terima kasih?"
"Iya,., iya!"
Sahut Siau Po gugup, Dia memang tercekat hatinya, Bahkan kalau ada kesempatan rasanya dia ingin sekali melarikan diri dari tempat itu, sekarang terpaksa dia menjatuhkan diri berlutut serta menyembah beberapa kali.
"Terima kasih atas budi besar Sri Baginda serta Hong thayhou!"
Katanya.
"Bagaimana, heh?"
Tanya thayhou sambil mendengus dingin, Dia dapat melihat sikap Siau Po yang mengucapkan kata-katanya dengan terpaksa sekali.
"Apakah kau hanya ingin melayani Sri Baginda dan tidak sudi melayani aku?"
"Melayani Sri Baginda maupun thayhou sama saja,"
Sahut Siau Po.
"Hamba akan sama setianya dan hamba akan menggunakan seluruh kesanggupan hamba untuk menjalankan tugas...."
"Bagus!"
Kata ibu suri.
"Selanjutnya, tugasmu di Gi si pong tidak usah diteruskan lagi, selebihnya kau hanya bekerja di Cu-leng Kiong ini!"
"lya, iya, thayhou!"
Sahut Siau Po cepat, Tentu saja isi hatinya hanya Thian yang tahu.
"Terima kasih atas budi kebaikan thayhou!"
Raja merasa tidak puas melihat thay-kam kesayangannya diminta oleh ibu suri.
Setelah berbincang-bincang sedikit, dia pun mohon diri dari hadapan thayhou.
Siau Po segera menggerakkan kakinya untuk mengikuti kaisar Kong Hi.
"Siau Kui cu, kau diam di sini saja!"
Kata thay-hou.
"Biar orang lainnya yang mengantarkan Sri Baginda, Ada urusan yang akan kuperintahkan kepadamu!"
"Ya, thayhou!"
Sahut Siau Po. Hatinya ketakutan, namun dia berusaha untuk menenangkan diri, Sambil memperhatikan kepergian raja, otaknya bekerja.
"Sri Baginda, dengan kepergianmu ini, celakalah aku! Entah aku masih bisa bertemu lagi atau tidak dengan Sri Baginda..."
Thayhou minum teh perlahan-lahan. Sepasang matanya memperhatikan Siau Po dengan tajam, Hati si bocah cilik semakin terguncang karenanya. Lewat beberapa detik kemudian, ibu suri baru berkata lagi.
"Bagaimana dengan pedagang yang menjual bakso tanpa daging di Ngo Tay san?"
Siau Po berlagak pilon.
"Maksud thayhou?"
"Kapan dia akan kembali lagi ke kota Peking?"
Tanya ibu suri.
"Hamba tidak tahu,"
Sahut Siau Po.
"Kapan kau akan menemui dia lagi?"
Tanya ibu suri lagi.
"Hamba telah berjanji dengannya untuk bertemu kembali satu bulan kemudian,"
Sahut Siau Po.
Dia sengaja menjawab seenaknya, karena otaknya sedang memikirkan jalan untuk meloloskan diri dari tangan ibu suri yang kejam sebab dia tahu dirinya tidak mungkin dibebaskan "Tapi tempat pertemuannya bukan di Tiankio."
"Lalu di mana kalian akan mengadakan pertemuan?"
Tanya ibu suri.
"Dia akan memberitahu apabila waktunya sudah dekat,"
Sahut Siau Po. Dengan mengucapkan kata-kata ini, Siau Po berharap dia dapat menunda waktu kematiannya. Thayhou menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, baiknya kau berdiam saja di Cuceng kiong sampai datang kabar darinya!"
Kata ibu suri, Kemudian dia menepuk tangannya dan muncullah seorang dayang yang usianya kurang lebih empat puluh lima tahun, Tubuhnya gemuk, tetapi langkah kakinya ringan sekali.
Bentuk mukanya bundar dan manis pula, Dia tersenyum ramah, Begitu masuk, dia segera menjura kepada ibu suri.
Thayhou menunjuk kepada Siau Po sembari berkata.
"Thay-kam cilik ini bernama Siau Kui cu. Dia bernyali besar dan suka main gila, Aku suka sekali kepadanya!"
"lya,"
Sahut dayang itu. Tampangnya memang cerdas sekali, Eh, saudara kecil, aku bernama Liu Yan, sebaiknya kau memanggil kakak saja kepada-ku."
"Celaka! Kau adalah si babi gendut!"
Makinya dalam hati, tapi dia segera tertawa dan berkata.
"Baik, kakak Liu Yan, Nama kakak bagus sekali, Disebutnya enak dan tubuh kakak memang mirip sekali dengan batang Yang Liu, sedangkan jalanmu ringan seperti burung walet kecil!"
Yan artinya burung walet sesuai dengan nama dayang itu.
Di depan ibu suri, tidak ada dayang lain yang berani bicara sedemikian rupa mengenai Liu Yan, Tidak demikian halnya dengan Siau Po, si thay-kam baru di Cuceng kiong, Siau Po memang sengaja berkata demikian, sebab dia mengganggap biar bicara seperti apa pun, tidak akan merubah nasibnya dan membebaskan dirinya dari ancaman bahaya.
Liu Yan tertawa.
"Ah, adik kecil, mulutmu sungguh manis sekali!"
Katanya.
"Selain mulutnya manis, kakinya juga gesit!"
Tukas ibu suri.
"Liu Yan, apakah kau mempunyai jalan agar dia tidak keluyuran kesana kemari dan mengelilingi seluruh keraton ini?"
"Thayhou, serahkan saja dia padaku,"
Sahut Liu Yan.
"Biarlah hamba mendidiknya secara baik-baik!"
Ibu suri menggelengkan kepalanya.
"Kunyuk kecil ini licin sekali seperti belut,"
Katanya.
"Aku telah menitahkan Sui Tong memanggilnya, tetapi dengan mulutnya yang manis dia justru membuat hantu bernyali kecil itu lari ketakutan Ketika aku mengirimkan empat orang thay-kam lagi, dia malah bersekongkol dengan para siwi untuk membinasakan mereka. Dan waktu aku mengirimkan empat orang yang lainnya lagi, Dia berhasil juga mencelakakan Tang Kimkwe ber-empat!"
"Oh, oh, saudara kecil!"
Kata Liu Yan sambil mendecak kagum.
"Kalau demikian, kau ini memang sukar diurus, Thayhou, menurut hambamu ini, tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh agar dia tidak belari kesana kemari kecuali mengutungkan sepasang kakinya Bukankah dengan demikian dia akan menjadi kalem dan tenang?"
Ibu suri menarik nafas panjang.
"Tampaknya memang hanya ada satu jalan itu saja!"
Katanya.
Bukan main tercekat dan takutnya hati Siau Po, Dia langsung mencelat bangun dan lari ke pintu, Tapi baru kaki kirinya melewati pintu, dia merasa kepalanya nyeri sekali!
Rupanya kuncirnya telah ditarik oleh seseorang sehingga kepalanya tersentak dan tubuhnya berjungkir balik ke belakang, Setelah itu dia juga merasa dadanya sakit sekali, sebab ada sebelah kaki yang menginjak dadanya itu.
Dia melihat kaki itu besar dan gemuk serta mengenakan sepatu ber-sulam.
Ternyata Liu Yan yang bergerak cepat meringkusnya.
"Perempuan bau! Lekas singkirkan kakimu yang bau itu!"
Damprat Siau Po saking putus asanya, Dia pun menjadi berani karenanya.
Liu Yan tidak menjawab Dia malah menekan kakinya semakin keras sehingga Siau Po dapat mendengar suara retakan dan dia merasa nafasnya menjadi sesak.
"Ah, saudara kecil."
Kata Liu Yan sambil tertawa.
"Kakimu justru harum sekali sampai-sampai aku ingin mengutungkannya untuk mengendusnya sepuas hati!"
Siau Po berpikir keras, Thayhou sangat membencinya, Kemungkinan sepasang kakinya benar benar akan dikutungkan dan dayangnya itu yan akan menggendongnya pergi mencari Sui Tong Atau mungkin ibu suri akan mengirim orang yang kepandaiannya tinggi sekali dengan maksud mem bunuh Sui Tong apabila tiba di Ngo Tay san.
Hal ini sekali-sekali tidak boleh terjadi.
Di kolong langit ini orang bernama Sui Tong sudah tidak ada, dia suda mati sehingga tidak mungkin bisa ditemukan lag Dengan demikian, rahasianya pasti akan terbongkar.
"Yang paling penting sekarang adalah bagaimana menyelamatkan sepasang kakiku ini,"
Pikirnya dalam hati.
"Bagaimana sekarang? Aku tidak boleh menggertaknya, lebih baik menggunakan akal saja."
Dengan membawa pikiran demikian dia segera berkata.
"Thayhou, tidak ada gunanya mengutungkan sepasang kakiku ini, Taruh kata leherku yang dipatahkan sekalipun, paling-paling tubuhku terpotong menjadi dua bagian, Apa artinya? Sebaliknya, kitab Si Cap Ji cin-keng itu harus disayangkan hm!"
Mendengar disebutnya nama kitab itu, Thayhou langsung melonjak bangun.
"Apa katamu?"
Tanyanya ingin menegaskan. "Yang ku maksudkan adalah beberapa
Jilid kitab Si Cap ji cin-keng!"
Sahut Siau Po mengulangi "Dan aku mengatakan bahwa kitab-kitab itu harus disayangkan...."
"Lepaskan dia!"
Ibu suri segera memberi perintah kepada Liu Yan.
Si dayang segera mengangkat kakinya dari dada Siau Po.
Dengan sigap tangan kanannya menjambret bagian belakang leher baju bocah itu kemudian menghempaskannya keras-keras ke samping.
Siau Po terpaksa berdiam diri diperlakukan demikian, Dia tidak sanggup membela diri.
Dayang itu terlalu tangguh baginya, Dalam keadaan seperti ini, dia juga tidak berani memakinya dengan kata-kata "Perempuan bau!"
Ucapan yang sudah di ujung lidah, terpaksa ditelannya kembali. Terdengar thayhou bertanya kepadanya.
"Dari siapa kau dengar tentang kitab Si Cap Ji cin-keng?"
"Karena kau akan mengutungkan kedua kakiku, aku tidak akan mengatakan apa pun!"
Sahut Siau Po yang mulai menjalankan siasatnya.
"Biar kita sama-sama mengalami kerugian, Aku kehilangan sepasang kakiku dan kau tidak akan mendapatkan kitab Si Cap Ji cin-keng itu!"
"Aku peringatkan kepadamu sebaiknya kau jawab pertanyaan thayhou dengan baikbaik!"
Ancam Liu Yan. Tapi Siau Po tetap keras kepala.
"Kalau aku jawab, aku akan mati, tidak kujawab, paling-paling mati juga. Karena itu, untuk apa aku menjawab pertanyaannya? Atau, kalian ingin menyiksaku sampai mengaku? Aku tidak takut!"
Liu Yan segera menyambar tangan Siau Po. Bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Saudara kecil,"
Katanya sembari tertawa.
"Jari tanganmu indah sekali. Runcing dan panjang!"
"Walaupun demikian, paling-paling kau akan mematahkannya!"
Sahut Siau Po yang mengerti dirinya digertak.
"Apa yang harus disayangkan?"
Belum lagi kata-katanya selesai, tiba-tiba terdengar suara gemerutuk yang membuatnya kesakitan. Tanpa dapat dipertahankan lagi Siau Po menjerit.
"Aduh!"
Ternyata Liu Yan benar-benar menjepit telunjuk Siau Po dan menekuknya keraskeras.
Wajah dayang itu memang manis dan suaranya juga merdu sekali, tapi hatinya sangat keji, sedangkan jepitan tangannya tidak kalah dengan capitan besi.
Dalam keadaan demikian, Siau Po terpaksa membiarkan airmatanya mengalir jari telunjuknya terasa remuk oleh jepitan Liu Yan.
"Thayhou, cepat bunuhlah aku!"
Teriaknya dengan air mata tetap meleleh.
"Masalah kitab itu, jangan harap aku mengatakannya! Kau akan kubunuh seperti kucing yang mengendus bau harum ikan, tetapi tidak dapat menikmatinya. Ya... Kau hanya bisa mencium baunya saja!"
"Kalau kau bicara yang sebenarnya tentang kitab itu, aku akan mengampuni jiwamu!"
Kata thayhou.
"Aku tidak membutuhkan pengampunanmu,"
Kata Siau Po.
"Mengenai kitab itu, jangan harap aku akan bicara!"
Ibu suri langsung mengernyitkan keningnya, Dia tahu bocah itu keras kepala dan berani, Mungkin akan sia-sia apabila dia menggunakan penyiksaan sebagai jalan keluarnya.
"Dia menyebut Si Cap Ji cin-keng, mungkin dia tahu asal-usul kitab itu,"
Pikir thayhou dalam hatinya.
"Cara apa yang harus kugunakan agar dia mau membuka mulut? Benarbenar sulit!"
Thayhou berdiam sekian lama, Akhirnya dia berkata dengan suara perlahan kepada Liu Yan.
"Karena dia tetap tidak mau bicara, kau boleh cungkil kedua biji matanya!"
"Baik, thayhou,"
Sahut Liu Yan.
"Pertama-tama aku akan mencungkil dulu sebuah biji matamu. Eh, adik kecil, bola matamu indah sekali, warnanya hitam, bundar dan jernih pula, Setelah dicungkil keluar, aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan!"
Selesai berkata, jari jempol dan telunjuk kanannya segera menarik kelopak mata Siau Po. Tentu saja hal ini membuat Siau Po kesakitan.
"Jangan korek mataku, nanti aku akan bicara!"
Teriaknya ketakutan. Liu Yan menarik tangannya kembali Dia tertawa .
"Nah, ini baru sikap anak yang baik!"
Katanya.
"Sekarang kau bicaralah baik-baik, Aku tahu ibu suri sangat menyayangimu!"
Siau Po tidak menjawab. Dia hanya mengucek-ngucek matanya karena masih terasa nyeri. Kemu-dian dia menoleh kepada si dayang, kepalanya digeleng-gelengkan.
"Celaka! Celaka!"
Teriaknya berulang-ulang.
"Apanya yang celaka?"
Tanya Liu Yan.
"Sudahlah, jangan kau berpura-pura lagi. Thayhou ingin mengajukan pertanyaan kepadamu, mengerti? Nah, kau jawablah secara baik-baik!"
"Kau telah melukai mataku!"
Kata Siau Po.
"Sekarang kalau aku melihat orang, tampangnya jadi lain, wajahnya saja sekarang lain dari sebelumnya, sekarang tubuhmu tetap seperti manusia, tetapi kepalamu besar seperti babi!"
Liu Yan tidak gusar, dia malah tertawa.
"Bagus, kalau begitu akan kurusakkan juga matamu yang sebelah lagi,"
Katanya. Siau Po mundur satu tindak.
"Sudahlah, jangan!"
Katanya.
"Lebih baik aku ucapkan terima kasih saja!"
Dasar Siau Po bandel dan cerdas, Dalam keadaan seperti itu, dia masih berlagak konyol Dia merapatkan mata kanannya, dengan mata kiri dia menatap ibu suri.
Kemudian dia menggoyang-goyangkan kepalanya, Berbeda dengan Liu Yan, thayhou justru marah sekali, Diam-diam dia berpikir dalam hati "Setan cilik ini tadi melihat Liu Yan dengan sebelah matanya, Dia mengatakan tampangnya sudah berubah, bentuk kepalanya seperti seekor babi yang gemuk, sekarang dia juga melihat padaku sedemikian rupa.
Mulutnya tidak mengatakan apaapa, tapi dalam hatinya entah apa yang diejek-kannya kepadaku!"
Karena itu dengan nada dingin dia berkata.
"Liu Yan, kau cungkil saja matanya, paling baik kedua-duanya, Dengan demikian dia tidak bisa melirik kesana kemari!"
Katanya.
"Jangan, Kalau tidak ada biji mata, Bagaimana aku bisa mencari kitab Si Cap Ji cinkeng...."
"Kau mempunyai kitab Si Cap ji cin keng?"
Tanya ibu suri.
"Dari mana kau mendapatkannya?"
"Sui Tong yang menyerahkannya kepadaku, Dia meminta aku menyimpannya baikbaik. Kalau bisa di tempat yang aman dan tersembunyi Lalu dia berkata.
"Adik kecil, di dalam istana banyak orang jahat, Kau harus berhati-hati, seandainya terjadi sesuatu pada dirimu, seandainya ada orang yang ingin mencungkil matamu, Biarkan saja. Matamu tidak bisa melihat lagi, Kau tidak bisa menemukan tempat di mana kau menyimpan kitab tersebut sedangkan orang yang mencelakaimu juga sama ruginya. Matanya bisa melihat tapi dia tidak akan menemukan tempat kau menyembunyikan kitab itu. Karena itu, perbuatannya yang ingin mencelakai orang lain sama saja mencelakakan diri sendiri!"
Thayhou tidak percaya Sui Tong akan berkata demikian, tetapi memang dia pernah menitahkan orang itu membinasakan seorang keluarganya untuk merampas kitab Si Cap Ji cin-keng.
Hanya saja ketika itu, Sui Tong melaporkan bahwa dia tidak berhasil menemukan kitab itu, Siapa sangka ternyata Sui Tong mengangkangi kitab itu!
Mendengar kata-kata Siau Po, hati ibu suri mendongkol sekaligus gembira.
Dia mendongkol sekali karena Sui Tong berani main gila.
Dan dia merasa gembira karena ternyata kitab itu benar ada dan sekarang dia akan tahu di mana letaknya.
"Kalau demikian,"
Kata thayhou.
"Liu Yan, pergi kau ajak hantu cilik ini mengambil kitab itu untukku! seandainya kitab itu asli, kita ampuni saja selembar nyawanya dan dia boleh dikembalikan kepada Sri Baginda, untuk selama-lamanya dia dilarang masuk ke dalam keraton Cuceng kiong lagi. Dengan demikian aku tidak perlu lagi melihat wajahnya yang menyebalkan itu!"
"Liu Yan segera menarik tangan kanan Siau Po. Dia tertawa manis.
"Adik, mari kita pergi!"
Ajaknya. Siau Po mengibaskan tangannya.
"Aku kan laki-laki dan kau wanita!"
Bentaknya.
"Tapi kau justru memegang-megang tangan orang, apa-apaan?"
"Laki-laki macam apa kau ini?"
Tanya Liu Yan sambil tertawa pula.
"Umpama kata kau seorang laki-laki sejati sekalipun, untuk menjadi anakku saja, kau masih terlalu muda!" Siau Po segera mengejeknya.
"Benar? Kau benar-benar ingin menjadi ibuku? Aku memang merasa kau sama dan persis seperti ibuku dalam segala hal!"
"Fui!"
Kata dayang itu dengan nada menghina.
"Kau tahu, nonamu ini seorang perawan, jangan kau mengoceh sembarangan!"
Meskipun dcmikian, Liu Yan tidak tahu makna ucapan Siau Po.
Sccara tidak langsung Siau Po memakinya sebagai perempuan hina, karena ibunya bekerja sebagai pelacur di Li Cun wan.
Selesai berkata, Liu Yan segera menarik tangan bocah itu untuk diajak pergi.
Tiba di lorong yang panjang, rasanya hati Siau Po semakin tidak karuan, Dia bingung sekali karena belum mendapatkan akal untuk meloloskan diri dari dayang yang lihay ini, Dia ingat pisau belatinya disembunyikan dalam kaos kaki, Kalau dia menggunakan tangan kirinya untuk mengambil, mungkin bisa ketahuan.
Lagipula dia merasa bimbang menggunakan senjata tajam itu.
Mana sanggup dia melawan dayang itu?
Mungkin dalam tiga jurus saja, dia akan kena dirobohkan.
"Aih, celaka!"
Pikirnya dalam hati.
"Dari mana sih munculnya si gendut ini? Tiba-tiba saja dia muncul! Rupanya ketika si nenek sihir melawan Hay kongkong baru-baru ini, si gendut ini tidak ada di tempat, Kalau tidak, tentu si kura-kura tua itu akan mudah dirobohkan oleh mereka berdua, Mungkin dia baru muncul dalam satu dua hari ini.Coba kalau sejak saat beberapa hari yang lalu dia ditugaskan ibu suri untuk membunuhnya, pasti saat ini jiwanya sudah melayang."
Tepat di saat dia berpikir sampai di sini, tiba-tiba saja dia mendapatkan akal yang bagus.
Tanpa menunda waktu lagi dia segera mengajak Liu Yan menuju ke timur mereka melewati samping kamar tulis dari keraton Kian-ceng kiong.
Dia berpikir, satusatunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah memohon pertolongan Sri Baginda, Dia mempunyai dugaan bahwa si gendut ini mungkin belum kenal dengan seluk-beluk istana karena dia baru datang tidak berapa lama.
Baru saja Siau Po menindakkan sebelah kaki-nya.
Tiba-tiba dia merasa bagian belakang lehernya kena dicekal, kemudian terdengarlah suara tertawanya Liu Yan.
"Eh, adik manis kau mau pergi kemana?"
"Ke kamarku untuk mengambil kitab,"
Sahut Siau Po. otaknya yang cerdik dapat mencari jawaban dengan cepat "Lalu kenapa kau malah mengambil arah kamar tulisnya raja?"
Tanya si dayang yang lihay.
"Atau, mungkin kau ingin meminta pertolongannya raja?"
Saat itu juga, habislah kesabaran Siau Po.
"Oh, babi kau!"
Makinya.
"Rupanya kau kenal baik seluk-beluk istana ini?"
Liu Yan tidak marah, sebaliknya dia malah tertawa.
"Bagian lainnya aku tidak kenal, Tapi Kian-ceng kiong, Cu-leng kiong dan kamarmu ini tidak mungkin salah kukenali!"
Dan dia menarik tangan si bocah agar membalik dan melanjutkan kata-katanya.
"Lebih baik kau ikut aku dengan baik-baik. jangan macammacam!"
Suara si dayang terdengar manis dan merdu, tetapi cekalannya bukan main kerasnya, Apalagi ketika leher Siau Po yang dicekal, dia merasa batang lehernya seperti patah, Dua orang thay-kam dari istana ada di dekat sana.
Mereka mendengar suara jeritan Siau Po.
Mereka langsung berpaling dan mengawasi.
Melihat keadaan itu, Liu Yan segera berkata dengan suara perlahan.
"Thayhou telah berpesan kepadaku, seandainya kau berniat kabur atau berkaokkaok sembarangan, aku harus segera membunuhmu!"
Siau Po diam.
Dia sadar bahwa sia-sia saja dia berteriak-teriak memanggil raja.
Menghadapi ibu suri, raja tidak perdaya, Tidak mungkin dia menyuruh para siwi membunuhnya tanpa alasan yang kuat.
Tepat di saat dia sedang berpikir tiba-tiba dia merasa pinggangnya nyeri sekali, Rupanya Liu Yan telah menyikutnya dengan keras kemudian terdengar dia berkata lagi dengan suara perlahan.
"Apakah kau sedang memikirkan akal bulus lainnya?"
Saat itu, Siau Po benar-benar tidak mempunyai akal lain, Terpaksa ia melangkahkan kaki ke kamarnya sendiri, tapi dia berpikir kembali.
"Di dalam kamarku, aku mempunyai dua orang kawan, tapi sayangnya Pui Ie sedang terluka, De-mikian juga Siau kuncu. Kami bertiga mungkin tidak sanggup melawan si babi gendut ini. Sebaliknya, kalau dia sampai memergoki kedua gadis itu, artinya aku mengundang bencana besar."
Sekejap saja mereka sudah sampai di depan pintu kamar Siau Po mengeluarkan anak kuncinya, Sengaja dia membenturkan anak kunci itu agar bunyinya nyaring, Dia sengaja berkata dengan suara keras.
"Perempuan bau! Kau begini menyiksa aku, Awas kau! Nanti pada suatu hari aku akan membuatmu mati penasaran!"
Liu Yan tertawa dan menjawab.
"Untuk menjaga dirimu sendiri agar mati baik-baik saja kau masih tidak mampu, Bagaimana kau masih sanggup mengurus kematian orang lain?"
Siau Po tidak menjawab, Dia membuka pintu kamarnya keras-keras. Dia berkata lagi dengan suara lantang.
"Kitab itu, aku berikan kepada thayhou atau tidak, sebetulnya sama saja. Kau pasti akan membunuhku juga, Kau sangka aku begitu dungu dan tetap mengharapkan kehidupan?"
Sekali lagi Liu Yan tertawa.
"Thayhou sudah menjanjikan akan memberikan pengampunan terhadapmu Kemungkinan dia akan menepati janjinya itu, Paling-paling sepasang biji matamu akan dicungkil atau sepasang kakimu yang dikutungkan!"
"Hm!"
Siau Po memperlihatkan sikap yang berani sekali.
"Apakah kau kira thayhou akan memperlakukan kau secara baik dengan terus menerus? Kau tahu, setelah membunuh aku, thayhou juga akan membinasakan dirimu untuk membungkam mulutmu!"
Liu Yan tertegun, Kata-kata itu tepat menusuk hati kecilnya, Tapi hanya sebentar saja, tiba-tiba dia mendorong tubuh Siau Po dengan keras sehingga membentur daun pintu.
Selama pembicaraan di antara mereka berlangsung, Pui le dan Kiam Peng dapat mendengar dengan jelas, Karena itu mereka segera menduga bahwa orang yang datang dengan si bocah cilik itu pasti orang jahat.
Keduanya segera menyembunyikan diri di bawah selimut Mereka bahkan menahan nafas dan tidak berani bersuara.
Terdengar kembali suara tawa Liu Yan.
"Lihat hari sudah siang sekali dan aku tidak mempunyai waktu untuk menunggumu lama-lama, Cepat kau keluarkan kitab itu!"
Katanya sambil mendorong tubuh Siau Po sehingga bocah itu menjadi terhuyung-huyung.
Justru pada saat itulah, Siau Po melihat sepasang sepatu sulam di kolong tempat tidurnya, Dalam hati dia sampai menjerit celaka, Sepatu itu bisa membahayakan jiwanya, Untung saja saat itu sudah agak siang dan lilin di dalam kamar tidak dinyalakan, Liu Yan juga tidak melihatnya.
Karena itu dia sengaja menjatuhkan diri, seperti orang yang terpeleset, Sepatu itu didorongnya ke dalam lorong tempat tidur, sekaligus dia sendiri juga menyelinap ke dalamnya.
"Akan kubunuh si babi hutan yang gemuk ini, seperti aku membunuh Sui Tong,"
Pikirnya, justru di saat dia menekuk kakinya sedikit untuk mencabut pisau belati, tapi saat itu juga dia merasa kakinya ditarik oleh seseorang kemudian telinganya mendengar suara Liu Yan yang membentaknya.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
"Aku mau mengambil kitab itu,"
Sahut Siau Po yang cerdik.
"Kitab itu aku simpan di kolong tempat tidur ini!"
"Baiklah,"
Kata Liu Yan yang langsung melepaskan cekalannya, ia pikir bocah itu toh ada di dalam kamar sehingga tidak mungkin meloloskan diri darinya.
Senang sekali hati Siau Po.
Dia segera menarik kaki kanannya kemudian mencabut pisau belati itu, Dia menggenggam pisau itu dengan tangan kirinya.
"Mana kitabnya?"
Tanya Liu Yan.
"Ke sinikan!"
"Ah, celaka!"
Teriak Siau Po dari dalam kolong.
"Rupanya ada si buntut panjang yang menggigit buku ini sampai robek tidak karuan!"
"Jangan main gila di hadapanku!"
Bentak Liu Yan.
"Percuma! Lebih baik kau serahkan kitab itu!"
Karena mendongkol dia segera mengulurkan tangannya ke kolong tempat tidur Dia ingin menyambar kitab itu, tapi ia hanya mengenai tempat yang kosong.
Siau Po sudah menyusup lebih dalam lagi.
Dia merapatkan tubuhnya di dinding kamar Liu Yan merasa penasaran Dia menjulurkan tangannya lebih dalam lagi Dengan demikian dia harus berjongkok terlebih dahulu, Tangannya sudah menyusup cukup jauh.
Siau Po menggeser tubuhnya sehingga Liu Yan tidak bisa mencapainya, Dua kali dia lolos dari sambaran orang, tetapi yang terakhir dia bukan hanya menghindar tetapi sekalian menikam tangan orang itu.
Liu Yan lihay sekali, Begitu gagal menyambar dia langsung menarik pulang tangannya sehingga dia tidak sampai tertikam, Dan rupanya gerakan dayang itu hanya siasat saja, hampir dalam waktu yang bersamaan dia mengulurkan tangannya untuk mencekal tangan Siau Po.
Siau Po terkejut setengah mati, pisau belati nya langsung terlepas, Liu Yan tertawa.
"Kau ingin membunuhku bukan?"
Tanya nya.
"Sekarang aku akan mencungkil sebelah matamu terlebih dahulu!"
Dengan gesit Liu Yan mencekik kerongkongan lalu tangan kirinya menjulur ke mata bocah itu.
"Ada ular berbisa!"
Teriak Siau Po tiba-tiba lalu dia menjerit Liu Yan tercekat hatinya.
"Ada apa?"
Tanyanya gugup.
"0h...!"
Terdengar dia mengeluarkan seruan tertahan Cekikannya pada tenggorokan Siau Po mengendur, kemudian tubuhnya terkulai lalu menggelepar-gelepar seperti orang kena sakit ayan dan akhirnya tidak berkutik lagi.
Siau Po terkejut juga senang, Dia segera merayap keluar dari kolong tempat tidur.
"Apakah kau tidak terluka?"
Tanya Siau kuncu.
Siau Po berdiri sebelum menjawab pertanyaan itu, dia menyingkap kelambu tempat tidurnya, Dia melihat Pui Ie sedang duduk di atas tempat tidur, kedua tangannya menggenggam gagang pedang erat-erat, nafasnya tersengal-sengal.
Tubuh pedangnya sendiri amblas dari atas tempat tidur sampai ke kolong.
Rupanya nona Pui inilah yang telah menikam Liu Yan karena dia sadar si thay-kam cilik sedang terancam bahaya, Dan hunjaman pedangnya tepat mengenai punggung wanita itu serta amblas sampai depan dadanya.
Siau Po segera mendupak pinggul Liu Yan yang bulat, Setelah itu ia baru berkata.
"Bagus! Bagus! Kakak yang baik, kau telah menolong selembar nyawaku!"
Katanya, Siau Po segera mencabut pedang Pui Ie lalu digunakannya untuk menikam Liu Yan sebanyak dua kali, Dia khawatir perempuan itu masih belum mati."
"Siapa wanita jahat ini?"
Tanya Siau kuncu "Mengapa dia begitu keji? Tadi aku dengar di hendak mencungkil biji matamu!"
"Dia merupakan salah satu bawahan si nenek sihir yang paling lihay,"
Sahut Siau Po. Kemudian dia menoleh kepada Pui Ie dan bertanya kepadanya dengan penuh perhatian "Apakah lukamu masih terasa sakit?"
Pui Ie mengernyitkan keningnya, sekarang sudah jauh berkurang,"
Sahutnya Nona ini berbohong, Barusan dia menggunakan segenap tenaganya untuk menikam, Hal ini justru membuatnya kesakitan dan hampir saja dia jatu pingsan, itulah sebabnya nafas gadis itu masih tersengal-sengal.
"Sebentar lagi si nenek sihir pasti akan mengirim orangnya lagi untuk menyusul Liu Yan,"
Kata Siau Po kemudian.
"Sekarang juga kita harus memikirkan jalan untuk meloloskan diri, Oh, ya... aku ingat sekarang, sebaiknya kalian berdua menyaru sebagai thay-kam saja, Lalu bersama-sama kita menyelinap keluar dari sini, Kakak Pui, apakah ka sanggup berjalan?"
"Kalau dipaksakan sih bisa saja,"
Sahut Pui Ie.
"Baiklah kalau begitu,"
Kata Siau Po.
"Sekarang, cepatlah kalian berdandan!"
Dia segera mengeluarkan dua perangkat pakaiannya, yakni seragam para thay-kam, yang langsung diberikannya kepada kedua gadis itu.
Dia sendiri segera bekerja, Mulamula dia menarik keluar mayat Liu Yan, Lalu dengan bubuknya yang istimewa dia hancurkan seluruh tubuh wanita yang sudah mati itu sampai lumer menjadi cairan kuning.
Dia juga tidak lupa mengambil seluruh uang miliknya serta kitab rahasia serta tiga
Jilid kitab Si Cap Ji cin-keng, Tentu saja dia juga ingat membawa semua emas permatanya.
Tiba-tiba dia teringat baju dalamnya yang menurut pesan gurunya harus dikenakan terus.
Dia segera mengambil pakaian itu, tapi untuk diserahkan nya kepada Pui Ie.
"Kakak yang baik, kau pakailah baju dalam ini. Baju ini baju mustika yang tidak bisa ditembus oleh senjata tajam!"
"Lebih baik kau sendiri saja yang memakainya!"
Sahut Pui Ie.
"Kau lebih memerlukannya daripada aku!"
Kata Siau Po.
"Kau sedang terluka, kalau kita kepergok para siwi dan diserang, belum tentu kau sanggup melawannya, Dengan memakai baju ini, kau tidak perlu khawatir akan terluka, Ayo, lekas kau pakai!"
"Lebih baik Siau kuncu saja yang memakainya.,."
Sahut Pui Ie.
"Kau saja!"
Kata Kiam Peng menolak.
"Kau sedang terluka dan lukamu itu cukup parah!"
"lbu suri hendak mencelakakan kau,"
Kata Pui le kepada Siau Po.
"Lebih baik kau saja yang memakainya!"
Dia langsung menyingkapkan kelambu dan masuk ke dalam tempat tidur. Siau Po tetap memaksanya.
"Kalau kau tidak mau mengenakannya, baik! Aku yang membantumu memakainya!"
Katanya, Dia langsung menyingkap kelambu tempat tidur itu dan ikut masuk ke dalamnya.
"Keluar! Keluar!"
Teriak Kiam Peng.
"Kami belum selesai berpakaian!"
"Dia tidak mau memakai baju ini, aku yang memakaikannya!"
Kata Siau Po. Pui le menarik nafas panjang.
"Baiklah!"
Sahutnya kemudian "Berikan baju itu padaku!"
Bagian 26 Dia pun mengulurkan tangannya menyambut baju yang disodorkan oleh Siau Po.
sementara kedua gadis itu masih mengganti pakaian, Siau Po menggunakan kesempatan itu untuk memeriksa barang-barang peninggalan Hay kongkong, terutama untuk mengambil beberapa macam obat.
Kiam Peng yang selesai terlebih dahulu, Ketika dia turun dari tempat tidurnya, Siau Po langsung memuji.
"Benar-benar seorang thay-kam yang tampan! Mari aku bantu kau jalin rambutmu!"
Sejenak kemudian, Pui Ie juga keluar dari balik ke1ambu.
pinggangnya kecil dan tubuhnya lebih tinggi sedikit dari Siau Po sehingga tampaknya singset sekali, Ketika dia bercermin, dia menjadi tertawa sendiri.
Kiam Peng pun tertawa.
"Biar dia yang menjalin rambutku!"
Katanya.
"Nanti aku bantu kau menjalin rambutmu!"
Siau Po tidak memperdulikannya, Dia segera mengurai rambut panjang Kiam Peng lalu menjalinnya kembali Dia membuat kuncir secara sembarangan.
"Ah, jelek betul!"
Serunya.
"Nanti aku perbaiki lagi!"
"Tidak usah,"
Kata Siau Po.
"Waktunya sudah tidak ada. Hari sudah mulai gelap, Kita tidak bisa keluar dari istana, Mungkin sebentar lagi si nenek sihir akan mengirim orang lainnya karena Liu Yun masih belum kembali juga. Kita harus mencari tempat untuk menyembunyikan diri, besok pagi-pagi baru kita keluar dari istana!"
"Apakah thayhou tidak akan menyuruh orangnya menggeledah seluruh keraton?"
Tanya Pui Ie.
"Dia toh bisa melakukan hal itu?"
"Bisa sih bisa, tapi belum tentu dia akan me-lakukannya!"
Sahut Siau Po.
"Kita lihat saja nanti. sekarang kalian ikut aku!"
Siau Po teringat kamar di mana dulu dia sering berlatih gulat dengan kaisar Kong Hi.
Setahunya kamar itu cukup aman karena tidak pernah di-masuki orang lain.
Kaki Kiam Peng tidak terlalu nyeri lagi, dia bisa berjaian, Pui Ie juga bisa jalan, tetapi setiap kali melangkahkan kakinya, dia harus menahan rasa sakit di dadanya, Karena itu, Siau Po segera membimbingnya untuk berjalan setindak demi setindak, Untung saja seluruh tempat itu sudah gelap dan sunyi Mereka tidak bertemu dengan seorang thaykam pun.
Begitu sampai di kamar tempat Siau Po dan kaisar Kong Hi berlatih, baru ketiganya dapat menghembaskan nafas lega.
Tadi jantung mereka berdebaran dan hati mereka tegang sekali Siau Po segera memalang pintu kamar dan membawa Pui Ie untuk duduk di atas sebuah kursi.
"Di sini sebaiknya kita jangan berbicara kalau tidak perlu sekali,"
Kata Siau Po.
"Kamar ini dekat sekali dengan koridor panjang dan tidak sesunyi kamarku."
Pui Ie menganggukkan kepalanya, begitu juga Kiam Peng.
Malam makin gelap, Ketiga orang itu sampai tidak dapat melihat wajah temantemannya.
Ketika berdiam diri, Kiam Peng segera membuka kuncirnya kemudian merapikannya kembali.
Pui Ie ikut meraba kuncirnya, tetapi tiba-tiba saja dia mengeluarkan seruan tertahan.
"Kenapa kau?"
Tanya Siau Po heran. Dia ter-kejut sekali "Tidak apa-apa..."
Sahut Pui Ie.
"Aku hanya kehilangan tusuk kondeku...."
"lya, aku ingat sekarang!"
Kata Kiam Peng.
Ketika aku melepaskan tusuk kondemu, aku meletakkannya di atas meja, selesai mengepang rambutmu, aku jadi lupa memasangnya kembali Celaka betul!
Tusuk konde itu kan pemberian Lau suko!"
"Sudahlah,"
Kata Pui Ie "sebatang tusuk konde toh tidak berarti apa-apa!"
Dalam telinga Siau Po, ucapan Pui Ie justru berarti banyak sekali sebatang tusuk konde memang tidak berarti apa-apa, tapi nada suara si nona lain sekali.
Jelas nona itu sangat menyayangi tusuk konde yang merupakan pemberian Lau It-cou, kakak seperguruan sekaligus kekasih hatinya itu.
"Berbuat kebaikan jangan kepalang tanggung,"
Pikirnya dalam hati "Sebaiknya aku kembali lagi ke kamar untuk mengambilnya."
Setelah berpikir demikian, Siau Po berdiam diri sejenak, Sesaat lagi dia baru berkata.
"Aku lapar sekali, Kalau sebentar lagi fajar menyingsing, aku tidak akan kuat berjalan, Kalian tunggu di sini, aku akan pergi mencari makanan!"
"Kau harus kembali cepat-cepat!"
Pesan Kiam Peng.
"lya!"
Sahut Siau Po.
Kemudian dia membuka pintu dengan hati-hati dan melongok ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada orang lain disekitar tempat itu.
Setelah yakin, dia cepat-cepat merapatkan pintu kamar kembali dan kembali ke tempatnya sendiri Dia tidak berani lancang memasuki kamarnya, Pertama-tama dia mengambil jalan memutar dan memasang telinga, Dia khawatir ibu suri sudah mengirim orang lain ke kamarnya, Setelah mendapat kenyataan bahwa di sana sepi-sepi saja, dia baru mendorong daun jendela dan melompat ke dalam.
Sinar rembulan membuat tusuk konde Pui Ie yang tergeletak di atas meja memancarkan cahaya yang berkilauan Benda itu terbuat dari perak dan harganya paling banyak dua tail.
Buatannya juga kasar, tapi Siau Po mengerti bahwa tusuk konde itu berarti sekali bagi Pui Ie.
"Hm!"
Pikir Siau Po.
"Dasar Lai It-cou itu bocah melarat Barang sejenak ini dihadiahkannya juga kepada nona Pui!"
Dia meludahi tusuk konde itu beberapa kali, Kemudian dia menyekanya dengan ujung baju dan menyimpannya dalam saku, Kemudian dia juga mengambil kue kering yang selalu tersedia di mejanya.
Ketika hendak berlalu, dia melihat bayangan berwarna merah di atas lantai, itulah sepasang sepatu yang masih lengkap dengan kakinya, Kaki-nya Liu Yan!
Rupanya lantai kamarnya tidak rata dan bubuk obat yang mencairkan tubuh itu mengalir ke dalam lekukan sehingga sebagian kaki Liu Yan tidak ikut mencair Mulamulanya Siau Po memang terkejut, namun kemudian dia sadar apa sebabnya.
Setelah berdiam sejenak, dia berpikir lagi.
"Bagaimana baiknya sekarang?"
Dia kebingungan "Obat itu ada dalam buntalan buntalan dan dipegang oleh Pui Ie, Tanpa obat, kaki dan sepatu ini tidak dapat dimusnahkan. Dibawa juga mere-potkan...."
Sesaat kemudian dia sudah mendapat pikiran yang bagus.
"Kali ini, begitu keluar dari istana, aku tidak akan kembali lagi, Dengan demikian aku juga tidak akan bertemu lagi dengan si nenek sihir Karena itu, ada baiknya sepasang kaki ini aku lemparkan ke dalam kamarnya agar dia kaget setengah mampus!"
Membawa pikiran itu, Siau Po segera mengambil secarik kain yang digunakannya untuk membungkus kaki itu, Kemudian dia melompat keluar lewat jendela serta langsung menuju keraton Cu-leng Kiong.
Begitu jaraknya dengan kamar ibu suri sudah dekat, dia tidak berani langsung meneruskan langkah kakinya, Untuk sesaat dia berputaran di taman bunga sambil memasang telinga.
"Kalau aku kurang berhati-hati sedikit saja, tentu aku bisa kepergok si nenek sihir dan kali ini aku tidak bisa menyelamatkan diri lagi,"
Pikirnya dalam hati, Setengah khawatir, setengah mendongkol mengingat kebencian ibu suri, Siau Po perlahan-lahan mendekati kamarnya ibu suri itu.
Tangannya sampai berkeringat saking tegangnya, "Akan kuletakkan sepasang kaki ini di depan undakan tangga,"
Kata Siau Po dalam hati.
"Nanti pagi dia pasti akan melihatnya. sedangkan bila dilempar ke dalam kamarnya, hal ini terlalu riskan bagiku!"
Siau Po maju dua tindak lagi, Langkahnya ringan sekali, Tiba-tiba dia mendengar suara seorang laki-laki dalam kamar thayhou.
"Ah, aneh si A Yan, Mengapa dia belum kembali juga?"
Siau Po bingung.
"Eh, kenapa di dalam kamar thayhou ada suara laki-laki?"
Tanyanya.
"Suara itu juga tidak sama dengan suara para thay-kam, Apa mungkin nenek sihir itu mempunyai simpanan? Ha,., ha,.,.! Lohu ingin menangkap basah orang yang sedang main asmara!"
Di dalam hatinya, Siau Po mengatakan ingin menangkap basah thayhou, tapi belum tentu dia berani melakukannya, jangan kata memergoki ibu suri, melihatnya saja dia ngeri, Di lain pihak, dia juga tidak sudi melepaskan sepasang kaki Liu Yan begitu saja, Dengan mengendap-endap, Siau Po maju lagi beberapa tindak lagi.
Langkah kakinya semakin ringan dan perlahan Dia harus berhati-hati agar jangan sampai menginjak ranting pohon yang mana akan menerbitkan suara.
Kembali terdengar suara pria itu.
"Jangan-jangan telah terjadi sesuatu! Kau tahu sendiri, setan cilik itu sungguh licik, Kenapa kau membiarkan A Yan sendiri saja yang membawanya?"
"Ah, mereka tengah membicarakan diriku,"
Pikir Siau Po.
"Mesti aku dengarkan terus.,."
Karena itu dia terus memasang telinga. Kali ini dia mendengar suara sahutan seorang wanita.
"llmu silatnya A Yan sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada dia. Dia juga cerdik dan selalu siap siaga, mana mungkin terjadi apa-apa pada dirinya?"
Siau Po segera mengenalinya sebagai suara ibu suri dan wanita itu melanjutkan kata-katanya kembali.
"Mungkin kitab itu disimpan di tempat yang jauh sehingga A Yan harus membawa bocah itu mengambilnya!"
"Bersyukurlah kalau kitab itu masih bisa didapatkan,"
Kata yang Iaki-1aki.
"Kalau tidak, hm... hm.,.!"
Nada suara laki-laki itu keras dan berwibawa. Tampaknya dia tidak begitu menghormati ibu suri, Saking herannya, Siau Po jadi ingin lebih tahu.
"Di kolong langit ini siapa orangnya yang berani bicara begitu kurang ajar terhadap ibu suri? Mungkinkah dia si raja tua yang sudah kembali dari Ngo Tay san?"
Pikirnya dalam hati.
Memikirkan kemungkinan kaisar Sun Ti yan sudah kembali ke istana, diam-diam hati Siau Po jadi senang, kegembiraannya muncul secara tiba tiba.
Dia menganggap dirinya akan menonton suatu pertunjukan yang hebat.
Kembali terdengar suaranya ibu suri.
"Kau toh tahu, aku sudah menggunakan segala macam cara, Orang dengan kedudukan seperti aku ini kan tidak mungkin menentengnya kemana mana? Mustahil aku harus mondar-mandir dengan menggiringnya. Apabila aku melangkah keluar satu tindak saja dari Cu-leng kiong ini, para thay-kam dan dayang-dayang akan mengiringiku, Karena it mana mungkin aku berbuat demikian?"
"Tidak dapatkah kau menunggu sampai malam tiba baru membawanya?"
Kata si lakilaki. Nadanya mendesak sekali.
"Kalau memang itu yang menjadi alasanmu, mengapa kau tidak memberitahukann kepadaku agar aku sendiri yang akan membawanya untuk mengambil kitab itu?"
"Tidak berani aku membuatmu letih,"
Sahut thayhou.
"Keberadaanmu di sini, biar bagaima tidak boleh ada orang yang mengetahuinya!"
Laki-laki itu tertawa dingin.
"Urusan ini toh besar dan penting sekali,"
Katanya tajam "Menghadapi urusan semacam inipun tidak perlu kita perdulikan lagi.
Aku tahu apa sebabnya kau tidak bersedia memberitahukan kepada kita!
Kau khawatir aku akan merebut jasa yang telah kau tanamkan!"
Suara itu mengandung kemarahan dan penasaran.
"Apa jasaku?"
Tanya ibu suri.
"Ada jasa, begini. Tidak ada jasa, toh begini juga."
Suaranya justru mengandung penyesalan.
Coba kalau Siau Po tidak kenal baik dengan suara ibu suri, tentu dia tidak akan percaya bahwa wanita itu bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu.
Dalam anggapannya, pasti salah seorang dayang yang mengatakannya.
Kedua orang itu bicara dengan perlahan, tapi jarak Siau Po sudah dekat sekali sehingga dia dapat mendengar dengan jelas, Apalagi malam itu sunyi sekali.
Siapakah pria itu?
sekarang Siau Po menyangsikan kalau itu adalah kaisar Sun Ti.
Bukankah sang kaisar telah mensucikan diri di gunung Ngo Tay san?
Saking kerasnya keinginan dalam hati Siau Po untuk mengetahui siapa orang itu, ia memberanikan diri mendekati jendela, Dia mengintai di sela-selanya.
Dilihatnya ibu suri sedang duduk di atas tempat tidur, sedang seorang dayang sedang berjalan mondarmandir dalam kamar itu dengan memangku sepasang tangannya di depan dada.
Selain mereka berdua, tidak ada orang lainnya lagi di dalam kamar itu!
"Eh, kemana perginya laki-laki itu?"
Tanya Siau Po dalam hati, Dia menjadi kebingungan Matanya celingak-celinguk, hatinya terus bertanya-tanya. Tiba-tiba si dayang membalikkan tubuhnya.
"Sudah! Tidak perlu kita menunggunya lagi!"
Katanya.
"Aku akan pergi melihatnya!"
Mendengar suara orang itu, Siau Po terkejut setengah mati, Suara itu bukan lain dari suara si laki-laki tadi, tapi bentuk orangnya sendiri seperti dayang yang biasa melayani putri atau ibu suri dalam kerajaan.
Rupanya dia seorang laki-laki yang menyamar sebagai dayang!
"Mari kita pergi bersama!"
Kata ibu suri. Dayang itu tertawa datar.
"Apakah kau merasa khawatir?"
Tanyanya.
"Bukannya hatiku tidak tenang,"
Kata ibu suri.
"Aku bingung dan cemas telah terjadi sesuatu atas diri A Yan. Dengan berdua, kita bisa menghadapinya bersama apabila terjadi apa-apa!"
Dayang itu menganggukkan kepalanya.
"Ya, apa yang kau katakan ada benarnya juga!"
Sahutnya.
"Memang kita harus waspada, agar perahu kita tidak berbalik haluan dan tercebur atau karam Mari kita pergi bersama!"
Thayhou menganggukkan kepalanya, Kemudian dia berdiri untuk menyingkapkan kasurnya, Kemudian tampak dia mengangkat sehelai papan.
Diterangi oleh cahaya lilin dalam kamar, tampak tangannya telah mencekal sebatang pedang, Yang mana kemudian dimasukkannya ke balik pakaian "Oh, rupanya di bawah tempat tidur itu ada tempat rahasianya,"
Kata Siau Po dalam hati, Tentunya untuk menjaga segala kemungkinan, dia menyembunyikan pedang itu di tempat tersebut Dengan demikian mudah diambilnya bila terjadi apa-apa.
"Ibu suri dan dayang gadungan itu segera keluar dari kamar, Lilinnya tidak dipadamkan Sembari memperhatikan otak Siau Po terus bekerja.
"Sebaiknya aku letakkan sepasang kaki Liu Yan ini di tempat rahasianya, pikirnya kemudian "
Kalau sebentar dia kembali lagi dan menyimpan pedang-nya.
Pasti dia akan menyentuh sepasang kaki ini dan kaget setengah mati.
Karena menganggap siasat itu bagus sekali, tanpa bimbang lagi Siau Po masuk ke dalam kamar ibu suri, Dia langsung menuju tempat tidur dan menyingkapkan kasurnya, Di bawah situ ada gelang besar yang digunakan untuk menarik papannya, Dan Siau Po langsung melihat tiga
Jilid kitab Si Cap Ji cin-keng! Bocah itu segera mengenali ketiga kitab tersebut. Yang satu memang milik ibu suri sendiri, yang kedua didapatkannya dari rumah Go Pay, demikian pula yang ketiga.
"Entah ada manfaat busuk apa dari kitab ini?"
Pikir Siau Po dalam hatinya, namun hatinya senang sekali dengan penemuannya itu.
"Mengapa setiap orang demikian menghargainya? Lebih baik aku ambil saja semuanya, biar si nenek sihir kelabakan setengah mati dan langsung jatuh semaput!"
Di dalam kotak rahasia itu masih ada beberapa macam barang lainnya, tetapi Siau Po tidak berani membuang-buang waktu untuk memeriksanya. Hanya sekilas dia melihat ada beberapa
Jilid kitab lainnya. Dia hanya mengambil ketiga
Jilid kitab itu yang dibungkusnya dengan sobekan kain taplak meja, Sebagai gantinya, dia memasukkan sepasang kaki Liu Yan ke dalam kotak rahasia tersebut Kemudian dia menutup papannya kembali dan menurunkan kasurnya, Ketika dia membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka lalu didorong.
"Celaka!"
Seru Siau Po dalam hatinya, Dia tidak menyangka bahwa ibu suri dan dayang palsu itu akan kembali demikian cepat, Tidak ada jalan lainnya, Dia segera menyusup ke dalam kolong tempat tidur untuk bersembunyi jantungnya berdebar-debar, hatinya ketakutan setengah mati, Kalau dia sampai kepergok....
Dalam hatinya, Siau Po berharap ibu suri kembali karena ketinggalan sesuatu, dan setelah menemukannya dia akan keluar lagi, Tentu saja dia berharap barang itu tidak disimpan dalam kotak rahasia.
Pintu kamar segera terbentang lebar dan seseorang melompat masuk, Gerakannya cepat dan langkahnya ringan.
Rupanya orang itu bukan ibu suri, tetapi seorang wanita bersepatu hijau muda, celananya juga berwarna sama, Kalau dilihat dari celananya, dapat dipastikan bahwa dia seorang dayang.
"Entah Lui Cu atau bukan yang datang ini.,."
Siau Po menerka-nerka dalam hati. Dia belum sempat melihat wajah orang itu.
"Kalau dia tidak cepat-cepat pergi, terpaksa aku harus membunuh-nya.... Tunggu sampai dia mendekati tempat tidur ini...."
Siau Po mengeluarkan pisau belatinya yang tajam, Dia bersiap menikam perut orang itu agar tewas seketika, Siau Po memang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dia dapat mendengar.
Dia mendengar suara lemari dibuka, Kerjanya cepat, entah apa yang dicarinya, Dia tidak mendekati tempat tidur, Kemudian dia juga mendengar suara gerakan senjata tajam yang merusak dua buah peti kayu.
"Ah, dia pasti bukan sembarangan dayang!"
Kata Siau Po dalam hati. Dia menjadi bertanya-tanya sendiri. Hatinya juga dilanda perasaan heran.
"Dapat dipastikan bahwa tujuannya masuk ke kamar ibu suri ini adalah untuk mencuri. Mungkinkah dia juga mencari kitab Si Cap Ji cin-keng? Dia membawa senjata tajam. Hal ini membuktikan bahwa dia mengerti ilmu silat Aku tidak boleh keluar. Bisa-bisa dia membunuhku terlebih dahulu."
Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po terus mendekam di kolong tempat tidur. Dayang itu masih mengacak di sana-sini. Beberapa peti kembali dirusaknya, Siau Po menjadi khawatir sekaligus mendongkol.
"Kalau kau tidak cepat-cepat berlalu, sebentar lagi si nenek sihir itu pasti akan kembali Tidak apa kalau kau sendiri yang mampus, bagaimana kalau aku sampai terbawa-bawa dan selembar jiwa Wi Siau-po ini terpaksa harus pulang ke alam baka?"
Makinya dalam hati Tampaknya wanita itu sibuk sekali Dia masih belum berhasil menemukan apa yang dicarinya, Hal ini terbukti dari tindakannya yang kembali merusak beberapa buah peti Suaranya juga bising sekali.
"Mungkin dia memang sedang mencari kitab Si Cap Ji cin-keng ini,"
Pikir Siau Po bingung.
"Apa sebaiknya aku lemparkan saja sebuah kitab ini agar dia cepat-cepat pergi?"
Tapi, tepat pada saat itu juga, terdengar suara langkah kaki mendatangi.
"Aku yakin Liu Yan, si perempuan hina itu telah berhasil mendapatkan kitab tersebut dan membawanya kabur!"
Segera terdengar suara ibu suri.
Siau Po terkejut setengah mati Dia merasa mendongkol juga bingung, Si wanita yang berdandan seperti dayang tidak mempunyai kesempatan untuk kabur lagi Dia segera menyelinap ke dalam lemari yang kemudian ditutupnya dari dalam.
"Apakah kau benar-benar mengirim Liu Yan untuk mengambil kitab itu?"
Terdengar suara 1aki-laki tersebut "Bagaimana aku bisa tahu bahwa apa yang kau katakan adalah hal yang sebenarnya?"
"Apa katamu?"
Tanya thayhou dengan nada gusar "Aku tidak menyuruh Liu Yan mengambil kitab itu? Lalu, apa yang kusuruh ia lakukan?"
"Bagaimana aku bisa tahu peran apa yang sedang kau mainkan? Siapa tahu sebenarnya kau hanya ingin menyingkirkan Liu Yan yang menjadi duri di matamu?"
"Hm!"
Terdengar suara thayhou yang bukan main marahnya.
"Bagus! Begini rupanya kelakuanmu sebagai seorang suheng (kakak seperguruan)? Bagaimana kau bisa berkata begitu? Liu Yan kan sumoayku! Mana mungkin aku tega mencelakakan nya?"
Siau Po berpikir dalam hati.
"Dia menyebut-nyebut soal suheng dan sumoay.
"Rupanya dayang palsu ini suhengnya, sedangkan Liu Yan adalah sumoaynya...."
Si dayang berkata lagi.
"Nyalimu memang besar dan hatimu juga keji! Hal apa yang tidak dapat kau lakukan?"
Siau Po semakin heran, Kedua orang itu berjalan masuk ke dalam kamar, Begitu mereka melihat keadaan dalam kamar, keduanya langsung bingung serta terperanjat sehingga mengeluarkan seruan tertahan, Terutama ibu suri.
Kamar itu kacau sekali, semua peti dirusak dan dibongkar, isinya berantakan kemana-mana!
"Ah ada orang mencuri kitab!"
Teriak ibu suri tercekat hatinya ketika teringat kitab yang disimpannya, Dia langsung menghambur ke tempat tidur untuk menyingkapkan kasurnya serta membuka kotak rahasia.
"Aduh!"
Jeritnya, Kitab yang disimpannya benar-benar lenyap, sebaliknya di situ, dia mendapatkan sepasang kaki yang mengenakan sepatu sulam.
"Lihat ini!"
Laki-laki yang menyaru sebagai dayang segera menyambuti.
"Sepasang kaki orang!"
Serunya heran.
"Kaki Liu Yan!"
Teriak ibu suri.
"Oh, dia telah dibunuh oleh seseorang!"
"Nah, apa kataku?"
Kata si dayang yang langsung tertawa dingin.
"Tidak salah, bukan?"
Thayhou merasa bingung dan juga tercekat hatinya, Di samping itu, dia semakin marah.
"Apanya yang tidak salah?"
Tanyanya.
"Tempat penyimpanan kitabmu itu. Di kolong langit ini, hanya kau seorang yang tahu!"
Kata laki-laki yang menyaru sebagai dayang itu.
"Kalau bukan kau yang membunuh Liu sumoay, lalu siapa? Mengapa sepasang kakinya bisa berada di kotak rahasiamu itu?"
"Percuma kalau kita hanya berdebat saja di sini!"
Tukas thayhou.
"Pencuri kitab itu pasti belum pergi jauh. Cepat kita kejar!"
"Benar!"
Kata si dayang.
"Mungkin dia masih ada di sekitar Cu leng kong ini!"
Meskipun berkata demikian, thayhou tidak segera keluar mengejar.
Dia malah menghampiri lemarinya yang tertutup, Hal ini membuktikan bahwa dia menaruh kecurigaan.
Siau Po mengintai dari kolong tempat tidur, Hatinya berdebar-debar dan hampir saja dia menjerit saking khawatirnya.
Tiba-tiba terlihat bayangan golok berkelebat Tentunya thayhou yang melakukan hal itu.
Dengan tangan kiri dia membuka pintu lemari dan tangan kanan yang menggenggam golok berniat menebas ke dalamnya.
Memang benar, setindak lagi thayhou akan sampai di depan lemari itu.
Tapi, tiba-tiba pintu lemari itu menjublak lalu menghantam ibu suri.
Thayhou terkejut setengah mati.
Dia tidak menyangka akan terjadi hal itu.
Untung saja matanya awas dan gerakannya cepat Dengan lincah dia mencelat mundur Namun di saat itu juga, kepalanya tertutup beberapa potong pakaian yang dilemparkan dari dalam lemari, Dengan panik dia menyingkirkan pakaian-pakaian itu.
Kembali menyusul sepotong baju yang menyambar ke arahnya, Kali ini dia langsung menjerit keras.
Ternyata di balik baju itu bersembunyi seseorang.
Mulanya si dayang palsu berdiam diri saja, Dia hanya berdiri memperhatikan.
Begitu mendengar suara jeritan ibu suri, dia langsung menerjang ke depan, ke arah baju yang sedang menyambar itu.
Siau Po yang bersembunyi di kolong tempat tidur merasa khawatir sekali, Dia sempat melihat gumpalan baju itu bergulingan di atas tanah sehingga rada tersingkap sedikit dan tampaklah pakaiannya yang berwarna hijau.
Entah senjata apa yang tergenggam di tangannya, Saat ini dia menggunakannya untuk menyerang si dayang palsu.
Laki-laki yang menyamar itu mengeluarkan seruan tertahan Setelah menghindarkan diri, dia balas menyerang.
Dayang bercelana hijau itu juga mengelak lalu mengulangi serangannya, Tampaknya gerakan perempuan itu cukup gesit.
Siau Po masih mengintai Dia tidak bisa melihat wajah mereka, hanya bagian kaki yang terlihat Si dayang palsu mengenakan celana berwarna abu-abu, sepatunya hitam, Kedua orang itu bertempur dengan sengit sebegitu jauh, tidak terdengar suara beradunya senjata tajam.
Hal ini membuat Siau Po menduga bahwa si dayang palsu tidak menggunakan senjata dalam perkelahian Namun suara angin yang terpancar dari pukulannya justru terdengar jelas.
Lilin di ruangan itu tinggal setengah, namun kedua orang itu masih tetap bertarung, sebetulnya jumlah lilin dalam ruangan itu ada tiga, tapi yang satu sudah padam karena terhempas angin kencang dari pukulan si dayang palsu.
"Terima kasih kepada Langit dan Bumi,"
Siau Po berdoa dalam hati.
"Semoga kedua batang lilin lainnya juga padam sehingga kamar ini menjadi gelap gulita dan aku bisa meloloskan diri...."
Baru berdoa sampai di sini, tiba-tiba lilin yang kedua pun padam.
Di lain pihak, kedua dayang itu masih bertempur terus, Tiada seorang pun yang bersuara, Rupanya mereka khawatir menimbulkan kebisingan yang akan menyebabkan datangnya para pengawal thay-kam maupun dayang-dayang istana tersebut.
Culeng kiong mempunyai banyak dayang dan thay-kam, Tetapi saat itu tidak ada satu pun yang muncul karena tadi thayhou sudah berpesan bahwa mereka tidak boleh mendekati kamarnya, kecuali bila ada panggilan.
Di samping suara berkesiurnya angin dari pukulan dan gerakan tubuh keduanya, suara bising lainnya timbul dari kursi serta meja yang terjungkir balik.
"llmu silat si laki-Iaki yang menyaru sebagai dayang itu hebat sekali,"
Pikir Siau Po.
Tapi pikirannya tidak sempat berlanjut sebab dia melihat benda yang berkilauan mencelat ke atas langit-langit kamar dan menimbulkan suara keras.
Siau Po menduga bahwa benda itu kemungkinan senjata si dayang bercelana hijau yang terlepas dari cekalannya, Senjata itu terlontar ke atas dan menancap di langitlangit Kemudian, kedua pasang kaki orang-orang itu tidak terlihat lagi.
Hal ini disebabkan keduanya sudah bergulingan di lantai.
Mereka saling mencekal meronta dan bergumul.
Sekarang Siau Po dapat melihat, kedua-duanya menggunakan ilmu Kim Na-hoat, ilmu memegang tangan lawan.
ilmu itu dikenal baik olehnya karena dia pernah mempelajarinya bersama-sama kaisar Kong Hi.
Pertempuran masih terus berlangsung, Siau Po tetap jadi penonton gelap, Dia hanya berharap lilin ketiga juga akan padam.
Dengan demikian dia bisa pergi secara diamdiam.
Akhirnya, mendadak saja lilin yang ketiga pun padam, Kamar itu jadi gelap gulita seketika, Namun pada saat itu juga, ternyata pertempuran juga sudah sampai pada tahap akhir.
Dayang perempuan itu kalah ulet Dia kalah tenaga, Dengan demikian si laki-laki berhasil menguasainya, Dayang perempuan itu kena ditindihnya.
Tangan dan kakinya tidak berdaya lagi.
Tapi si pria juga tidak dapat melakukan hal lainnya, karena kedua tangannya sibuk mengendalikan perempuan itu.
Tangan kirinya mencekik bagian leher, sedangkan tangan kanannya sibuk menangkis kedua tangan si perempuan yang terus menerus menyerangnya.
Beberapa saat kemudian, habislah tenaga si dayang perempuan.
Gerakan tangannya semakin lemah dan nafasnya tersengal-sengal, Hal ini disebabkan cekikan di lehernya yang membuat nafasnya jadi sesak, Kedua kakinya memang masih bisa bergerak, tapi sudah tidak ada artinya lagi.
"Kalau si dayang bercelana abu-abu berhasil membunuh si dayang bercelana hijau, celakalah aku!"
Pikir Siau Po dalam hatinya.
"Setelah membunuh lawannya, dia pasti akan memeriksa kolong tempat tidur dan aku Wi Siau-po akan berubah menjadi mayat!"
Berpikir demikian, si thay-kam cilik gadungan ini jadi nekat.
Tanpa ragu sedikit pun, dia segera merayap keluar dari kolong tempat tidur, Setelah dapat bergerak dengan bebas, mendadak dia menerjang ke arah dayang gadungan dan menghunjamkan pisaunya ke punggung orang itu.
Serangan itu benar-benar di luar dugaan si celana abu-abu.
Hatinya tercekat, dia menjerit dan meronta.
Setelah menikam, Siau Po mencelat mundur Karena itu, si celana abu-abu dapat bangkit berdir kemudian melakukan serangan kepada pembokongnya, Gerakannya cepat sekali, sekali lompa saja dia sudah mencapai lawannya dan menceki leher si bocah, Siau Po menjadi bingung.
Dia mencoba untuk melepaskan diri sehingga untuk sesaat dia lupa untuk menikamnya kembali Sekarang wanita bercelana hijau itu sudah bebas.
Dia dapat mengatur pernafasannya sekejap kemudian melihat apa yang terjadi .Tanpa membuang waktu !agi, dia menerjang ke arah musuhnya.
Tangan kanannya membacok pipi kiri orang itu sedangkan tangan kirinya menjambak rambut orang itu sehingga tertarik ke belakang.
Di saat itu terjadi sesuatu yang luar bias.
Rambut si dayang bercelana abu-abu copot karena tertarik keras.
Rupanya dia mengenakan rambut palsu, sedangkan kepalanya sendiri gundul plontos tanpa rambut sehelai pun.
Rupanya dia seorang biksu yang menyaru sebagai dayang.
Hebat sekali serangan dayang bercelana hijau itu, Orang itu sampai tersungkur jatuh.
Dara mengalir deras dari punggungnya kemudian dia terkulai di atas lantai Ternyata di saat dayang bercelana hijau it menjambak rambutnya sehingga ia tersungkur, Siau Po segera menggunakan kesempatan itu untuk bangun dan menikam punggung orang itu, Padahal dia mengerahkan sisa tenaganya yang terakhir, tapi untung saja berhasil "Terima kasih, kongkong kecil,"
Kata si dayang bercelana hijau kepada Siau Po.
"Kongkong telah menolong aku."
Siau Po menganggukkan kepalanya, tidak sempat dia memberi jawaban, Tangan kirinya repot mengusap-usap lehernya yang dicekik dayang palsu tadi.
"Dia... dia...?"
Tanyanya sambil menunjuk kepada si biksu.
"Dia seorang pria yang menyelundup ke dalam istana dan menyamar sebagai seorang dayang,"
Sahut wanita itu, Belum sempat dia meneruskan kata-katanya, mendadak dari luar kamar terdengar suara teriakan.
"Mana orang? Cepat! di sini telah terjadi pembunuhan!"
Nada suara orang itu bukan nada suara seorang laki-laki atau perempuan, tapi suara seorang thay-kam, (Para thay-kam adalah laki-laki yang sudah dikebiri, mereka tidak dapat berhubungan dengan perempuan sebagaimana laki-laki normal.
Tingkah mereka juga jadi tidak wajar Kalau zaman sekarang, mungkin hampir sama dengan waria).
Wanita itu terkejut, ia segera memberi isyarat kepada Siau Po, kemudian dia melompat lewat jendela.
Hampir dalam waktu yang bersamaan, terdengarlah suara jeritan tertahan disusul dengan suara ambruknya tubuh seseorang, Rupanya thay-kam yang berteriak tadi sudah disambit dengan senjata rahasia sehingga mati seketika.
"Mari!"
Wanita itu mengajak Siau Po yang telah mengikuti perbuatannya melompati lewat jendela, Siau Po menurut saja karena tangannya memang dipegangi, Dia dibawa lari ke arah utara dengan melalui tiga halaman kemudian sampai Yang-hoa mui.
Setelah itu mereka memutar lewat pendopo I-hoa kok dan pendopo Po-hoa tian dan sampai di samping keraton Hok-kian kiong yang merupakan sebuah tempat untuk mengadakan pembakaran, Sampai di sini baru tangan Siau Po dilepas.
Bocah cilik itu memperhatikan si wanita lekat-lekat.
"Hebat sekali!"
Pujinya dalam hati, Siau Po merasa kagum sekali, Bentuk tubuh wanita itu tidak berbeda banyak dengan dirinya, tapi dengan mudah dia menenteng Siau Po dan membawanya berlari.
Tempat di mana mereka berada adalah tempat untuk membakar segala macam sampah dan barang-barang yang tidak terpakai lagi.
Pada malam hari, tempat ini sepi sekali.
"Kongkong kecil, siapakah nama kongkong?"
Tanya wanita itu.
"Aku bernama Siau Kui cu!"
Sahut Siau Po.
"Oh!"
Seru wanita itu heran.
"Rupanya kaulah Siau Kui cu yang telah menawan Go Pay dan sangat sayang oleh Sri Baginda!"
Siau Po tersenyum.
"Tidak berani aku menerima pujian setinggi itu!"
Katanya merendah, Dia memperhatikan wanita itu sekali Iagi. Usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun, Siau Po tidak mengenalnya, Lagi-pula selama di istana ia jarang memperhatikan para dayang.
"Kakak, siapakah nama kakak sendiri?"
Tanyanya kemudian. Dayang itu tampak ragu-ragu sejenak. Kemudian dia baru menjawab.
"Kita merupakan orang senasib. Tidak boleh aku mendustaimu, Aku she To, karena aku seorang dayang, orang-orang biasa memanggilku To kiong-go (panggilan untuk dayang) Eh, apa yang kau lakukan sehingga bersembunyi di kolong tempat tidur ibu suri?"
"Aku mendapat firman Sri Baginda untuk memergoki perbuatan ibu suri,"
Sahut Siau Po ber-bohong, Dia tidak ingin memberikan keterangan yang sebenarnya. To kionggo terperanjat.
"Apa?"
Serunya.
"Apakah Sri Baginda sudah mengetahui ada laki-laki yang menyamar sebagai dayang di keraton Cu-leng kiong?"
"Sri Baginda sudah mengetahuinya, hanya belum jelas saja."
Dayang itu terdiam sejenak, kemudian dia berkata.."A...
aku telah membunuh ibu suri, urusan ini gawat sekali, sebentar lagi pasti keluar perintah untuk menutup seluruh pintu istana dan melakukan penggeledahan Oleh karena itu aku harus berlalu dari sini secepatnya.
Sahabat kecil, sampai jumpa!"
Siau Po berpikir cepat.
"Kalau ibu suri sudah mati, aku aman berdiam dalam istana, Tapi berbahaya sekali kalau semua pintu ditutup dan dilakukan penggeledahan Bagaimana dengan kedua nona Bhok dan nona Pui? Aku harus mencari akal."
Cepat-cepat Siau Po berkata kepada To kionggo.
"To cici, aku mempunyai akal,"
Katanya.
"Sekarang juga aku akan menghadap Sri Baginda untuk melaporkan bahwa aku melihat sendiri ibu suri dibunuh dayang palsu itu! Bukankah ibu suri sudah mati dan di sini tidak ada saksi lainnya lagi?"
To kionggo merenung sejenak.
"Akalmu bagus juga,"
Katanya kemudian Tapi, thay-kam itu, siapa yang membunuhnya?"
"Mudah saja,"
Sahut Siau Po.
"Aku akan mengatakan kepada Sri Baginda bahwa dayang palsu itulah yang membunuhnya!"
"Saudara kecil, urusan ini berbahaya sekali,"
Kata To kionggo.
"Meskipun Sri Baginda sangat menyayangimu, tetapi aku khawatir dia akan membunuhmu untuk menutup mulut."
Mendengar kata-katanya, seluruh tubuh Siau Po langsung bergetar Apa yang dikhawatirkan memang mungkin bisa terjadi.
"Sri Baginda akan membunuh aku?"
Tanyanya.
"Tapi, apa sebabnya?"
To kionggo tertawa dingin.
"lbu suri berbuat serong dengan seorang laki-laki yang tidak dikenal. Kalau peristiwa ini sampai bocor keluar dan menjadi gunjingan rakyat, bagaimana raja bisa mempertahankan kewibawaannya lagi? Taruh kata kau berjanji akan menutup rahasia ini rapat-rapat, tetapi setiap kali Sri Baginda melihat wajahmu, tentu otaknya berputar. Pasti hatinya ragu Iagi atau paling tidak dia merasa malu sendiri, itulah sebabnya, cepat atau lambat, dia pasti akan membunuhmu!"
Siau Po tertegun.
"Be... narkah... dia begitu kejam?"
Tanyanya ragu, Tapi si dayang memang benar.
Kekhawatiran dan dugaannya memang beralasan Jadi, dia tidak dapat membuka rahasia ibu suri kepada raja.
Ketika keduanya sedang berdiam diri, tiba-tiba mereka mendengar suara tabuhan dari arah selatan, yang disusul dengan sambutan dari tiga arah lainnya Seluruh tempat itu jadi bising oleh suara tersebut itulah isyarat bahwa di dalam istana telah terjadi kebakaran atau bencana lainnya, Karena adanya tanda bahaya itu, seluruh pengawal harus bersiap sedia.
"Nah, kau dengar!"
Kata To kionggo.
"Sekarang tak sempat lagi kita menyingkir pergilah kau membantu mereka menangkap orang jahat, tentu saja hanya berpura-pura. Dan aku sendiri akan kembali ke kamar untuk tidur,"
Kata wanita itu kemudian.
Selesai berkata, wanita itu langsung mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang Siau Po kemudian dibawanya lari seperti ketika mereka keluar tadi.
Mereka menuju pendopo Eng-hoa tian, Begitu sampai di sampingnya, To kionggo berbisik kepada Siau Po.
"Hati-hatilah!"
Tanpa menunggu jawaban Siau Po, dia segera menyelinap ke tempat yang gelap.
Siau Po memikirkan Pui Ie dan Kiam Peng.
Dia segera menuju tempat persembunyian kedua gadis itu.
Begitu sampai dia segera berkata.
"Aku yang datang!"
Maksudnya agar mereka tahu dan mengenali suaranya.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Kiam Peng cemas.
"Di luar berisik sekali dengan suara tabuhan, Apakah mereka akan menawan kita?"
"Bukan,"
Sahut Siau Po.
"Kita kembali dulu ke kamarku, di sana lebih aman!"
Kiam Peng terkejut mendengarnya.
"Kembali ke kamarmu?"
Tanyanya menegaskan "Bukankah di... sana kita sudah membunuh orang?"
"Jangan takut!"
Hibur Siau Po.
"Tidak akan ada yang tahu! Cepat!"
Siau Po berjongkok untuk menggendong Pui Ie, kemudian dia menarik tangan Kiam Peng dan mengajaknya pergi dengan tergesa-gesa.
Belum berapa jauh mereka berjalan, di sebuah lorong, tampak serombongan siwi yang sedang mendatangi dengan cepat, Salah satunya yang menjadi pemimpin segera mengangkat obornya tinggi-tinggi.
"Siapa?"
Bentaknya.
"Aku!"
Jawab Siau Po. Suaranya keras dan mantap.
"Cepat kalian lindungi Sri Baginda, Apakah telah terjadi kebakaran?"
Siwi itu langsung mengenali Siau Po. Cepat-cepat dia menyerahkan obornya kepada salah seorang bawahannya dan berdiri tegak dengan sikap menghormat "Kui kongkong,"
Katanya.
"Telah terjadi sesuatu di Cu-leng ki-ong...."
"lya, iya,"
Kata Siau Po.
"Kalian jalanlah duluan, nanti aku susui."
"Baik!"
Sahut siwi itu menganggukkan kepa!anya. Kemudian dia berlalu dengan mengajak orang-orangnya.
"Tampaknya mereka takut kepadamu,"
Kata Kiam Peng.
"Barusan aku khawatir sekali kita akan tertimpa bencana...."
Siau Po sebenarnya ingin mengucapkan kata-kata gurauan, tapi dia ingat mereka dalam keadaan sedemikian rupa, maka dia membatalkannya danberkata dengan sungguh-sungguh.
"Mari!"
Ajaknya, dia mendahului berjalan di depan Satu kali lagi mereka sempat bertemu dengan serombongan siwi lainnya, tapi rombongan siwi itu juga tidak berani banyak bertanya.
Karena itu dalam waktu yang singkat mereka telah kembali lagi ke kamar Baru semuanya sempat menarik nafa lega.
Untung saja Pui le dan Kiam Peng berdandan sebagai thay-kam Dengan demikian tidak ada yang mencurigainya.
"Sekarang kalian diam di sini!"
Kata Siau Po "lngat, jangan ganti dulu pakaian kalian!"
Dia ke luar dan mengunci pintu, setelah itu dia berjala menuju Kian-ceng kiong, kamar tidurnya raja.
Kaisar Kong Hi sudah terjaga karena riuhnya suara tabuhan Dia segera turun dari tempat tidur lalu mengenakan pakaiannya, Tepat pada saat itu lah seorang siwi masuk dan melaporkan bahwa telah terjadi keonaran di Cu-Leng kiong, tapi belum jelas apa masalahnya.
Raja kebingungan Saat itulah muncul Siau Po Karena itu kaisar Kong Hi langsung bertanya kepadanya.
"Apa yang terjadi? Apakah thayhou baik-baik saja?"
"Thayhou menitahkan hamba pulang dan tidur di kamar hamba sendiri,"
Sahut Siau Po mulai mengarang-ngarang.
"Katanya besok baru hamba pindah. Siapa sangka telah terjadi sesuatu di Cu-leng kiong, entah apa. sekarang juga hamba akan melihatnya !"
"Aku juga ingin melihat thayhou,"
Kata kaisar Kong Hi.
"Ayo, kau ikut denganku!"
"Baik,"
Sahut Siau Po.
Raja sangat berbakti.
Dia tidak sempat mengenakan pakaian kebesarannya.
Disambarnya sehelai jubah panjang dan kemudian pergi dengan tergesa-gesa dengan diikuti oleh Siau Po.
Sembari berjalan dengan cepat, dia bertanya kepada Siau Po.
"Thayhou minta kau melayaninya, mengapa kau malah kembali kepadaku?"
"Hamba mendengar suara tabuhan, tadinya hamba kira mungkin telah terjadi kebakaran atau ada penyerbu yang datang lagi,"
Sahut Siau Po dengan cerdik.
"Tanpa sadar hamba langsung datang kepada Sri Baginda yang tidak dapat hamba lupakan Ya, hamba memang bersalah...."
Kaisar Kong Hi tidak mengatakan apa-apa, Dia terus berjalan, sekeluarnya dari kamar dia lantas diiringi para siwi dan beberapa orang thay-kam.
Belasan lentera menerangi jalan sehingga dia melihat pakaian Siau Po yang tidak karuan dan rambutnya acak-acakan Dia menyangka thay-kam cilik itu sangat setia kepadanya sehingga begitu terjaga dari tidur langsung menemuinya.
Dia tidak tahu bahwa bocah cilik itu justru baru dari berdekam di kolong tempat tidur Hong thayhou sehingga pakaiannya kusut semua.
Pada saat itu, muncul dua orang siwi.
"Ada orang jahat yang menyerbu Cu-leng kiong!"
Lapor salah satunya.
"Seorang thaykam dan seorang dayang terbunuh!"
"Apakah thayhou terkejut karena kejadian ini?"
Tanya kaisar Kong Hi dengan nada khawatir.
"Sekarang seluruh istana telah dikurung rapat!"
Sahut siwi itu.
"To congkoan sudah mengepalai barisan pengawalnya!"
Hati raja menjadi agak lega mendengar keterangan itu. Tidak demikian halnya dengan Siau Po. Dalam hatinya dia berkata.
"Meskipun To congkoan memimpin seluruh pasukan berkuda pun sudah terlambat!" Jarak antara Kian-ceng kiong dengan Cu-leng kiong tidak seberapa jauh, Raja tiba di kamar ibu suri setelah melewati pendopo Yang-sim tian dan Tay-kek tian, Cu-leng kiong memang dijaga ketat Bahkan mungkin seekor lalat pun sulit menyelina ke dalamnya. Melihat tibanya raja, para siwi segera memberi hormat dengan berlutut Raja mengibaskan tangannya kemudian dia berjalan masuk ke pendopo. Siau Po mendahului raja untuk menyihgkapka gorden, Kaisar Kong Hi segera berjalan ke dala kamar Dia melihat semuanya dalam keadaan kacau. Darah berceceran, dua sosok mayat tergeletak di lantai, Hatinya bingung juga melihat situasi kamar itu.
"Thayhou! Thayhou!"
Panggilnya berulang-ulang.
"Rajakah di sana?"
Terdengar suara dari tempat tidur yang kelambunya tertutup.
"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa!"
Itulah suara ibu suri, Siau Po merasa tercekat hatinya.
"Oh, rupanya si nenek sihir belum mampus juga!"
Katanya dalam hati.
"Aih! Dasar aku yang teledor Kenapa aku tidak memeriksanya dan menikamnya sampai mati? sekarang dia masih hidup, hal ini berarti akulah yang akan mati...."
Si thay-kam cilik langsung mempunyai pikiran untuk lari, Tapi ketika menoleh, dia melihat penjagaan ketat sekali, Runtuhlah keinginannya.
Kepalanya menjadi pusing dan pandangan matanya menjadi kabur, hampir saja dia semaput.
Kaisar Kong Hi tidak memperhatikan keadaan Siau Po.
Dia langsung mendekati tempat tidur.
"Apakah thayhou kaget?"
Tanya kaisar Kong Hi prihatin.
"Sungguh menyesal penjagaan di sini kurang sempurna sehingga hal ini sampai terjadi, Semua siwi kantung nasi ini harus mendapat hukuman berat!"
Terdengar ibu suri menarik nafas panjang.
"Tidak, aku tidak kaget Aku tidak apa-apa,"
Sahutnya.
"Hanya seorang dayang dan seorang thay-kam yang bertengkar sehingga terjadi perkelahian dan kedua-duanya mati, otomatis dalam hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan para siwi."
"Jadi thayhou tidak apa-apa?"
Tanya kaisar Kong Hi menegaskan "Tidak. Tidak apa-apa,"
Sahut ibu suri.
"Aku hanya merasa kesal saja, Anak, kembalilah ke kamarmu dan perintahkan para siwi agar bubar!"
Raja mengiakan kemudian langsung memerintahkan.
"Lekas undang Tabib istana untuk memeriksa keadaan thayhou!"
Siau Po bersembunyi di belakang kaisar Kong Hi. Dia tidak berani bersuara, Dia khawatir ibu suri akan mengenali suaranya dan memanggilnya.
"Tak usah!"
Kata thayhou pada kaisar Kong Hi.
"Tidak perlu memanggil tabib, Asal aku bisa tidur dan beristirahat cukup, tentu hatiku akan tenang kembali Kedua mayat itu tidak usah diangkat Hatiku sedang kacau.... Nah, kau suruh semuanya bubar!"
Suara ibu suri lemah dan terputus-putus, Hal ini membuktikan bahwa dia pun terluka cukup parah, Kaisar Kong Hi merasa berat meninggalkannya, tapi dia tidak berani menenteng kehendak ibunya, sebetulnya dia ingin menanyakan sebab musabab pertengkaran antara thay-kam dan dayang yang mati itu, tapi khawatir ibu suri akan sedih atau mendongkol.
Karena itu dia membatalkan niatnya, padahal sudah selayaknya dia mengetahui sebab terjadinya perkelahian yang sampai mengorbankan jiwa.
Lagipula keluarga kedua korban harus diberi kabar, Narnun thayhou tidak mengijinkan kedua mayat itu disingkirkan Hal ini berarti dia tidak mau berita ini tersebar luas.
Akhirnya dia memberi hormat dan memohon diri.
Bukan main senangnya hati Siau Po, tetapi sepasang kakinya menjadi lemas sehingga dia harus berjalan dengan menumpu pada tembok.
Kaisar Kong Hi memutar otaknya, Hatinya ber-tanya-tanya, peristiwa ini hebat dan luar biasa, Sesekali dia menoleh ke belakang dan melihat Siau Po masih mengikutinya.
"Eh, thayhou meminta kau melayaninya, mengapa sekarang kau kembali mengikutiku?"
Siau Po sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu, Tapi ia pikir bahwa ia akan meninggalkan istana secepatnya, karena itu tidak menjadi persoalan apabila dia menjawab sekenanya saja.
"Barusan hamba mendengar ucapan thayhou sedang pusing dan banyak pikiran Thayhou juga menyuruh semuanya bubar, Hal ini berarti thayhou tidak ingin melihat siapa pun itulah sebabnya hamba berpikir untuk menyingkir sementara, Besok pagi barulah hamba menemui beliau lagi...."
Raja menganggukkan kepalanya, Apa yang dikatakan thay-kam cilik itu memang beralasan Dia berjalan terus menuju kamar tidurnya.
Begitu sampai dia segera menyuruh seluruh pelayannya mengundurkan diri, Kemudian dia berkata kepada Siau Po.
"Siau Kui cu, kau tunggu sebentar!"
"Baik!"
Sahut Siau Po. Hatinya terasa kurang enak, Dia berpikir "Kalau Raja menyuruhku tidur di sini untuk menemaninya, kedua mustika hidup dikamarku bisa kebingungan setengah mati!"
Kaisar Kong Hi berjalan mondar-mandir dari timur ke barat, kemudian dari barat ke timur lagi. Hal ini membuktikan otaknya sedang bekerja keras, Akhirnya dia berkata kepada Siau Po.
"Bagaimana pikiranmu? Menurut pendapatmu kira-kira apa sebabnya thay-kam dan dayang itu bisa berkelahi sampai mati bersama-sama?"
"Hamba tidak dapat menerkanya, Sri Baginda,"
Sahut Siau Po.
"Memang di dalam istana banyak thay-kam dan dayang yang tidak cocok, Sedikit persoalan saja bisa timbul pertengkaran. Tapi biasanya mereka tidak berani melakukannya di hadapan Sri Baginda ataupun thayhou."
Raja mengangguk.
"Sekarang kau pergi memberitahukan semua orang agar urusan ini jangan dibicarakan lagi, Dengan demikian thayhou tidak akan kesal dan marah lagi!"
"Baik, Sri Baginda,"
Sahut Siau Po.
"Nah, kau pergilah!"
Siau Po memberi hormat, kemudian dia mengundurkan diri, Di dalam hatinya dia berkata.
"Dengan kepergianku ini, untuk selama-lamanya kita tidak akan berjumpa lagi!"
Dengan membawa pikiran demikian, dia menolehkan kepalanya, Dilihatnya kaisar Kong Hi sedang menatap ke arahnya dengan wajah berseri-seri.
"Kemari!"
Panggil kaisar Kong Hi. Siau Po memutar tubuhnya untuk menghampiri Kaisar membuka sebuah kotak emas yang ada dekat bantal kepalanya, ia mengambil dua potong kue. Sembari tertawa dia berkata.
"Kau tentunya letih dan lapar, ambillah kue ini!"
Siau Po menyambut kue-kue itu dengan kedua tangannya, Dia mengucapkan terima kasih.
Dalam hati dia merasa bersyukur dan terharu, Dia merasa tidak tega meninggalkan raja itu.
Dia berkata dalam hati.
Thayhou sangat kejam dan jahat, Lagipula dia berani mengeram laki-laki dalam kamarnya, Mungkin suatu hari dia bisa mencelakai Sri Baginda pula....
Bukankah Sri Baginda tidak tahu apa-apa?
Sri Baginda memperlakukan aku sebagai seorang sahabat baik, kalau aku menyimpan rahasia ini dan dia sampai dicelakai oleh thayhou, bukankah berarti aku tidak kenal budi dan tidak memperhatikannya sedikit pun?"
Membawa pikiran demikian, tiba-tiba saja di pelupuk mata Siau Po membayangkan raja yang sudah mati.
Mayatnya menggeletak di atas tanah dalam keadaan mengerikan Keadaannya sungguh mengenaskan sehingga tanpa sadar air mata Siau Po jatuh bercucuran.
"Eh, kenapa kau?"
Tanya raja heran melihat si thay-kam cilik menerima kue pemberiannya sambil menangis, Kemudian dia menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.
Kau ingin tetap melayani aku, bukan?
Soal itu mudah!
Tunggu beberapa hari lagi, setelah keadaan thayhou tenang kembali, aku akan berbicara dengannya agar kau boleh tetap mengikuti ku.
sebenarnya aku sendiri tidak sampai hati ber pisah denganmu!"
Siau Po berpikir dengan cepat Dia ingat kata kata To kionggo bahwa kalau sampai dia membuk rahasia, kelak Sri Baginda pasti akan membunuh nya.
Hal ini demi membungkam mulutnya aga rahasia tidak sampai terbongkar.
"Tapi, biarlah!"
Pikirnya kemudian "Seoran laki-laki berani berbuat, berani pula bertanggun jawab, Kalau memang harus mati, biar saja mati!"
Dia sudah mengambil keputusan Karena itu dia segera meletakkan kue pemberian kaisar kemudia mencekal tangan junjungannya itu seraya berka dengan suara bergetar.
"Siau hian cu. Kali ini aku memanggilmu Si hian cu, boleh bukan?" Raja tertawa meskipun merasa heran Thay-kam itu memanggil nama kecilnya dan membahasakan dirinya dengan kamu.
"Tentu saja boleh!"
Katanya sambil tertawa lagi.
"Aku toh sudah mengatakan kepadamu, Kalau di tempat yang tidak ada orang lainnya, kau boleh memanggil aku dengan sebutan itu. Apakah kau ingin berlatih silat lagi denganku? Begitu? Mari, mari. Aku temani kau!"
Raja segera memutar tangannya dan mencekal kedua lengan Siau Po.
"Jangan! jangan terburu-buru berlatih silat!"
Kata Siau Po menolak ajakan raja.
"Sekarang aku mempunyai urusan besar dan rahasia yang ingin kuberitahukan kepada sahabatku, Siau nian cu! Rahasia ini jangan sekali-sekali diketahui oleh Sri Baginda, junjunganku yang Mulia dan Maha Agung. Sebab, kalau raja sampai mendengarnya, dia pasti akan menghukum mati diriku dengan memenggal batang leherku ini. Siau hian cu menganggap aku sebagai sahabat sejatinya, karena itu kurasa tidak ada halangannya kalau aku bicara dengannya."
Raja heran Dia tidak dapat menduga urusan apakah yang demikian penting dan harus dirahasiakan tapi hal ini justru menambah rasa ingin tahu-nya, Karena itulah dia segera menarik tangan Siau Po dan mengajaknya duduk berdampingan di atas tempat tidur.
"Cepat kau beritahukan kepadaku! Cepat!"
Siau Po tidak mau langsung bercerita, sebaliknya dia menegaskan sekali lagi.
"Sekarang kau adalah Siau hian cu. Bukan raja kan?"
Raja bertambah heran, tapi dia tersenyum.
"Benar!"
Sahutnya.
"Sekarang ini aku adalah Siau hian cu, sahabat karibmu, bukan raja! Kau toh tahu, dari pagi sampai malam aku menjadi raja yang selalu disanjungsanjung, Selama ini aku belum pernah mempunyai seorang pun sahabat sejati, sungguh tidak enak!"
"Kalau demikian, baiklah! Aku akan memberitahukan kepadamu,"
Kata Siau Po pula.
"Kalau toh akhirnya kau tetap akan memenggal batang leherku, ya,., apa boleh buat, aku toh tidak ber-daya...."
Raja kembali tersenyum "Untuk apa aku membunuhmu?"
Tanyanya.
"Lagipula mana mungkin seorang sahabat akan membunuh teman yang sudah seperti saudara baginya?"
Siau Po menarik nafas panjang.
"Baiklah! sekarang aku akan bicara!"
Kata nya.
"Siau hian cu, aku bukanlah Siau Kuin cu yang sebenarnya, aku juga bukan seorang thay-kam! Siau hian cu, Siau... Kui cu yang asli... telah mati di tanganku!"
Meskipun berusaha untuk menenangkan diri, mau tidak mau Kaisar Kong Hi terkesiap juga mendengarnya.
"Apa katamu?"
Tanyanya heran.
"Betul, Siau hian cu. Aku bukan Siau Kui cu. Aku juga bukan seorang thaykarn!"
Sahut Siau Po tegas, Dia lalu menceritakan bagaimana dirinya dipaksa masuk ke dalam istana, Bagaimana dia mencelakai Hay kongkong dengan membutakan sepasang matanya, lalu dia menyamar sebagai Siau Kui cu yang sebelumnya telah dibunuhnya terlebih dahulu, Dia juga menceritakan bahwa Hay kongkong yang mengajarkan ilmu silat kepadanya.
Mendengar semua itu, mula-mula Kaisar Kong Hi tertegun, kemudian ia malah tertawa.
"Oh, rupanya kau bukan seorang thaykarn!"
Katanya.
"Kau hanya membunuh seorang Siau Kui cu, apa artinya? itu toh bukan urusan besar! Tapi selanjutnya tidak pantas lagi kau berdiam di dalam istana, Kau bisa ku angkat menjadi congkoan dari barisan pengawal pribadiku To Lung memang gagah, tapi dalam pekerjaan dia sering sembrono dan otaknya kurang cerdas!"
Bagian 27
"Kau baik sekali, aku mengucapkan terima kasih kepadamu,"
Kata Siau Po.
"Tapi, meskipun demikian, aku tidak bisa menjadi congkoan, Siau hian cu, aku ada mendengar beberapa urusan penting yang ada kaitannya dengan diri thayhou."
Kembali raja merasa heran, Dia menatap Siau Po lekat-lekat.
"Urusan yang ada kaitannya dengan thayhou?"
Tanyanya menegaskan "Urusan apakah itu?"
Walaupun dia mengajukan pertanyaan ku dengan sabar, tapi hatinya merasa kurang tenteram, Dia seperti mendapat firasat yang kurang baik.
Siau Po menggigit bibirnya keras-keras untuk menabahkan hatinya, Kali ini dia menceritakan percakapan yang terjadi antara Hay kongkong dengan thayhou di taman bunga, Dia menceritakannya dengan terperinci.
Mendengar keterangan itu, kaisar Kong Hi menjadi terperanjat heran juga gembira, Jadi, ayahnya, kaisar Sun Ti masih belum wafat, Dan sekarang ayahnya itu malah menyucikan diri menjadi pendeta di gunung Ngo Tay san!
Saking tegangnya, tubuh kaisar Kong Hi sampai menggigil Dia menggenggam tangan Siau Po erat-erat.
"A,., pa.,, apakah yang kau katakan itu benar adanya?"
Tanyanya gugup.
"Apakah kau tidak ber-bohong? 0h.... Ayah... ayahku masih hidup...?"
"BegituIah menurut apa yang kudengar dari pembicaraan antara thayhou dan Hay kongkong berdua,"
Sahut Siau Po memberikan kepastiannya. Raja turun dari tempat tidurnya untuk berdiri "Siau Kui cu... bagus! Bagus sekali!"
Serunya berulang kali.
"Siau Kui cu, begitu fajar menyingsing, mari kita berangkat ke gunung Ngo Tay san untuk menjenguk ayahku itu, Aku akan memintanya kembali ke istana!"
Kong Hi adalah seorang raja, Apa pun kehendaknya dapat terpenuhi, tapi ada sesuatu yang dirasakannya kurang, yakni dalam usia yang demikian muda, dia telah kehilangan kedua orang tuanya, Memang ada ibu suri, tapi thayhou adalah seorang ibu tiri, Meskipun demikian, dia memperlakukannya dengan penuh bakti, Dia menganggapnya sebagai ibu kandung, namun ayahnya yang telah menutup mata, tiada penggantinya, Karena memikirkan dan merindukan seorang ayah, kaisar Kong Hi pernah sampai menangis.
sekarang dia mendengar berita rahasia dari Sfau Po bahwa ayahandanya itu masih hidup.
Benar dia merasa gembira sekali, tapi terselip juga sedikit keraguan dalam hatinya, karena itu dia ingin pergi ke gunung Ngo Tay san untuk membuktikannya.
"Tapi, masih ada satu hal lagi, Siau hian cu,"
Kata Siau Po.
"Aku khawatir thayhou tidak menyukai kepergianmu Sampai sebegitu jauh thayhou telah menyembunyikan urusan ini kepadamu, tentunya hal ini menyangkut urusan yang besar sekali."
Kaisar bingung juga. Dia harus mengekang diri, supaya kegembiraannya tidak terlalu meluap.
"Urusan besar di dalam istana, apalagi yang penting-penting, semuanya tidak jelas bagiku,"
Kata Siau Po.
"Apa yang aku tahu hanya apa yang kudengar dari pembicaraan antara thayhou dengan Hay kongkong dan semua itu dapat kuceritakan dengan jelas."
"Baik, baik,"
Kata raja.
"Nah, kau ceritakanlah."
Kali ini Siau Po menceritakan tentang bagaimana kedua permaisuri Toan Keng honghou dan Hau Kong honghou telah dibunuh oleh thayhou. Kaisar Kong Hi langsung melonjak bangun.
"Kau... kau bilang Hau Kong honghou telah... dibunuh?"
Siau Po terkejut, hatinya ciut, Dia melihat wajah raja garang sekali, matanya mendelik, daging di pipinya sampai bergerak-gerak.
"Aku... ku tidak tahu.,."
Sahutnya bingung.
"Aku hanya mendengar percakapan antara Hay kongkong dan thayhou..."
"A... pa yang mereka katakan?"
Tanya raja.
"Co,., ba kau ulangi sekali lagi!"
Ingatan Siau Po memang kuat sekali, Dia mengulangi ceritanya sekali lagi, Kali ini dengan perlahan-lahan dan jauh lebih jelas, Diulanginya setiap patah kata dari pembicaraan antara ibu suri dengan Hay kongkong.
Kaisar Kong Hi tertegun sekian lama, Otakny terus bekerja.
Dia benar-benar bingung.
"I... bu... ibu kandungku... telah dibunuh orang... katanya.
"A... pakah Hau Kong honghou itu ibu kandungmu?"
Tanya Siau Po. Raja mengangguk.
"Benar!"
Katanya.
"Teruskanlah ceritamu, jangan sampai ada yang ketinggalan!"
Suara raja terdengar bergetar, satu bukti bahwa dia sedang menahan guncangan hati sekuatnya, tapi tak urung air matanya mengalir juga.
Siau Po melanjutkan ceritanya, Dia menjelaskan seperti apa yang didengarnya, yakni kedua permaisuri Toan Keng honghou dan Hau Kong honghou mati akibat pukulan "Hoa-kut bian ciang."
Demikian pula dengan putera Toan keng honghou, pangeran Yong Cin ong serta selir Tang Gok ceng-hui, serta bagaimana mayat mereka diperiksa sebagaimana permintaan Hay kongkong.
Setelah itu Hay kongkong berangkat ke Ngo Tay san untuk menyampaikan berita tersebut kepada kaisar Sun Ti.
itulah sebabnya kaisar Sun Ti memerintahkan Hay kongkong pulang ke istana untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut.
Kemudian Siau Po juga menjelaskan jalannya pertempuran yang berlangsung antara thayhou dan Hay kongkong, Tentu saja dia tidak sudi mengaku bahwa Hay kongkong mati di tangannya, Dia hanya mengatakan bahwa mata Hay kongkong sudah buta.
Karena itu dia tidak dapat melawan ibu suri sehingga berhasil dibunuhnya.
Raja berdiam diri sambil memikirkan keseluruhan cerita itu.
Dia juga berusaha menenangkan hatinya agar bisa berpikir dengan kepala dingin, Beberapa kali dia mengajukan pertanyaan yang semuanya dijawab dengan jelas oleh Siau Po.
Akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa Siau Kui cu tidak mungkin membohonginya.
"Sekarang aku tanya lagi kepadamu,"
Kata kaisar Kong Hi kemudian.
"Mengapa sampai hari ini baru kau menceritakan semuanya kepadaku?"
"Urusan ini besar sekali, mana mungkin aku berani lancang mengingatkannya ?"
Sahut Siau Po. Dia bicara seenaknya seakan menghadapi seorang teman saja.
"Lagipula besok pagi aku akan kabur meninggalkan istana ini dan untuk selamanya aku tidak akan kembali lagi!"
Siau Po bicara terus terang tanpa kepalang tanggung. Raja merasa heran.
"Eh, kau ingin meninggalkan istana?"
Tanyanya.
"Kenapa? Apakah kau takut akan dicelakai oleh thayhou?"
"Biarlah aku bicara terus terang kepadamu,"
Kata Siau Po yang secara tidak langsung menjawab. Pertanyaan kaisar Kong Hi itu.
"Tahukah kau siapa kiongli (dayang) yang mati di Culeng kiong? Dia adalah seorang dayang palsu, sebenarnya dia seorang laki-laki, bahkan masih suhengnya ibu suri sendiri!"
Raja tertegun Dia merasa heran sekali, Sekarang dia baru mengetahui bahwa ayahandanya kaisar Sun Ti masih belum mati, Hau Kong honghou atau ibu kandungnya sendiri justru mati di tangan thayhou, Dan sekarang dia mendengar tentang seorang dayang yang ternyata seorang laki-laki.
Semua ini benar-benar aneh baginya!
"Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?"
Tanyanya kemudian.
"Malam itu, seperti apa yang kuceritakan tadi, aku telah mendengar pembicaraan antara Hay kongkong dan ibu suri,"
Sahut Siau Po.
"Meskipun aku berusaha menutupinya, thayhou tetap curiga, Berutang kali thayhou berusaha membunuh aku."
Kemudian Siau Po menceritakan bagaimana thayhou telah menitahkan Sui Tong lalu Liu Yan dan beberapa orang thay-kam untuk menawan dan membunuhnya, Dia juga menceritakan bagaimana dia mencuri dengar pembicaraan thayhou dalam kamarnya dengan seorang pria, Bagaimana keduanya berselisih mulut dan ternyata dia adalah seorang dayang palsu atau seorang laki-laki yang menyaru sebagai dayang dan akhirnya setelah melalui suatu perkelahian yang sengit, thayhou berhasil membunuhnya, namun ibu suri sendiri pun terluka.
Dalam hal ini, Siau Po bicara hal yang sebenarnya, kecuali ada beberapa bagian yang ia hilangkan.
Dia tidak menceritakan perihal To kionggo.
Dia juga tidak mengakui soal Liu Yan dan Sui Tong yang mati di tangannya, Apalagi persoalan kitab Si Cap Ji Cin-keng yang telah diambil alih olehnya.
Untuk sesaat kaisar Kong Hi berdiam diri, otaknya terus bekerja, Dia bingung mendengar sepak terjang ibu suri yang biasanya ia hormati dan sayangi, Kalau menilik cerita Siau Po, seharusnya ibu tirinya itu kejam dan jahat sekali.
"Benarkah dayang itu suhengnya ibu suri?"
Ta nya nya kemudian "Mungkinkah ada orang lain yan mendalangi perbuatan thayhou? Kalau meman ada, siapa kira-kira orang di balik layar itu?"
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu,"
Sahutnya.
"Aku benar-benar tidak dapat menerkanya."
"Sekarang pergilah kau panggilkan To Lung kemari!"
Kata kaisar Kong Hi memerintahkan.
"Baik!"
Sahut Siau Po yang langsung berlalu.
Di dalam hati dia justru berpikir "Mungkin raja akan berbentrok dengan ibu suri, Dia memanggil To Lung untuk membekuk si nenek sihir dan memenggal lehernya, Bagaimana dengan aku?
Sebaiknya aku cepat-cepat meninggalkan tempat ini atau menunggu lagi untuk memberikan bantuan kepada raja?"
Sementara itu To Lung sedang berduka dan bingung, Di dalam istana sudah berulang kali terjadi peristiwa yang hebat dan dialah yang harus bertanggung jawab, Celaka kalau sampai jabatannya copot apalagi batang lehernya putus, Dia terkejut setengah mati ketika mengetahui raja memanggilnya, dengan perasaan kurang tenang dia datang juga menghadap junjungannya.
Begitu sampai di kamar tidur raja, kaisar Kong Hi langsung berkata kepada pemimpin barisan pengawalnya itu.
"Di keraton Cu-leng kiong sudah aman. sekarang juga kau tarik seluruh penjagaan barisan siwi dari tempat itu. Thayhou merasa kesal dan pusing mendengar banyak siwi yang berkumpul di sana!"
"Baik!"
Sahut To lung, Diam-diam dia merasa senang, Tadinya dia mengira panggilan raja adalah akan menegurnya.
Dia segera mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah Sri Baginda.
Pikiran kaisar Kong Hi masih terus berputar.
Dia ragu-ragu mengambil tindakan sementara itu, thay-kam gadungan kesayangannya juga sedang bimbang, apakah sebaiknya dia menetap di istana atau segera melarikan diri?
Setelah sekian lama, kaisar Kong Hi merasa seluruh barisan siwi sudah ditarik dari keraton Cu-leng kiong, Dia segera berkata kepada Siau Po.
"Siau Kui cu, mari kau ikut aku ke keraton Cu-leng kiong, Malam ini kita akan mengadakan penyelidikan secara diam-diam."
"0h... Kau mau pergi sendiri?"
Tanya Siau Po. Hubungan kedua orang ini memang sudah seperti sahabat karib.
"lya,"
Sahut raja, Dia menganggap urusan ini sangat besar dan dia tidak dapat mempercayai keterangan seorang thay-kam begitu saja.
walaupun thay-kam itu adalah Siau Kui cu yang sangat disayanginya.
Dia masih dilanda kebimbangan, sebab selama ini dia merasa sikap thayhou terhadapnya sangat baik.
Mungkinkah dia dapat melakukan semua perbuatan ini?
Baginya, penyelidikan di malam hari dan secara diamdiam adalah cara yang paling tepat untuk membuktikan semuanya.
Dia juga ingin mencoba kepandaiannya, Dia ingin mencicipi bagaimana rasanya menjadi "Ya heng-jin" (Orang yang mengendap-endap di malam hari) seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang dunia kangouw.
"Tapi,"
Tukas Siau Po.
"Thayhou sudah membunuh suhengnya itu. sekarang dia pasti sedang tidur atau mungkin sedang mengobati lukanya, Apa yang bisa kita selidiki?"
"Kalau kita tidak menyelidiki dari mana kita bisa mendapat penjelasan tentang semua ini?"
Kata Raja.
Siau Po terdiam, Dia bersedia mengikuti junjungannya itu.
Kaisar Kong Hi segera berdandan, Selain baju yang singset, dia pun memakai sepatunya yang ringan, itulah pakaian yang selalu dipakainya dulu ketika masih berlatih silat dengan Siau Po.
Selesai berpakaian, mereka keluar dari pintu samping da terus menuju keraton Cu-leng kiong.
Beberapa orang siwi dan thay-kam melihat kemunculan sang raja, Mereka langsung mengiringi.
"Semua diam di tempat!"
Kata raja dengan suara berwibawa.
"Siapa pun tidak boleh sembarangan bergerak!"
Ucapannya merupakan firman atau perintah seorang kaisar Para thay-kam dan siwisiwi itu langsung berdiri tegak dan tidak ada seorang pun yang berani mengikuti lagi.
Kaisar mengajak Siau Po berjalan terus sampai di taman keraton Cu-leng kiong, Suasana di tempat itu sunyi sekali.
Tidak terlihat seorang pengawal atau thay-kam.
Dengan mengendap-endap, raja menghampiri jendela kamar ibu suri, Di sana dia memasang telinga, Dari dalam terdengar suara batuk-batuk ibu suri.
Hati kaisar Kong Hi berdebaran, itulah suara ibu tirinya, Dia merasa bingung juga.
Dia penasaran mengingat kekejaman dan kejahatan thayhou, tapi dia juga sedih dan kasihan mendengar suara batuk-batuk itu, yang menandakan penderitaannya.
Dua macam perasaan yang berbeda berkecamuk dalam hati kaisar Kong hi.
Antara benci dan sayang, Rasanya dia ingin masuk ke dalam kamar itu untuk memeluk dan menanyakan keadaannya, Di lain pihak, dia juga ingin menerjang ke dalam untuk menanyakan kebenaran yang didengarnya tentang segala perbuatan thayhou yang kejam dan jahat, Dia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi atas diri ayah kandung dan ibu kandungnya?
Di satu pihak, dia juga berharap apa yang dikatakan Siau Po adalah kebohongan belaka.
Namun ada juga terselip perasaan bahwa ingin apa yang dikatakan Siau Po adalah hal yang sebenarnya, Demikianlah untuk sesaat dia dilanda dua macam keinginan yang terus bertentangan Di dalam kamar thayhou, penerangan belum dipadamkan Cahaya lilin bergoyangan Sebentar gelap, sebentar terang.
Raja tidak perlu memasang telinga terlalu dalam Dia mendengar suara seorang perempuan.
"Thayhou, hamba telah selesai menjahit...."
"Oh!"
Seru ibu suri.
"Ma... yat., nya dayang itu,., kau masukkan ke dalam kantung...."
"Baik, thayhou,"
Sahut perempuan itu. Dapat dipastikan bahwa dia juga seorang dayang.
"Bagaimana dengan mayatnya thay-kam itu?"
"Kau gila!"
Bentak thayhou.
"Aku menyuruh kau mengurus mayat dayang itu mengapa kau menyebut-nyebut soal mayatnya thay-kam?"
"Baik, baik thayhou,"
Sahut si dayang berkali-kali, kemudian terdengar suara seperti benda berat yang digeser.
Raja ingin melihat.
Kalau tadinya dia hany memasang telinga, sekarang dia mengintai.
Tadinya dia tidak berani melihat ke dalam, karena sebaga seorang raja, perbuatan itu tidak pantas, Tapi ternyata dia tidak dapat melihat apa-apa.
Semua sela jendela ditempel dengan kertas sehingga tertutup rapat.
"Bagaimana baiknya sekarang? Biar bagaimana, aku ingin melihatnya,"
Katanya dalam hati.
Akhirnya dia mengambil keputusan untuk melakukan tindakan seperti yang biasa diambil oleh orang-orang kangouw bila ingin melakukan pengintaian yakni dengan membasahi telunjuk dengan air ludah dan kemudian ditusukkan pada kertas jendela sehingga koyak dan terbentuk lubang.
Raja langsung bekerja, Tidak lama kemudian hasilnya sudah terlihat Di depan matanya terlihat sebuah sela kecil.
Dari sana dia dapat mengintai ke dalam, usahanya pun tidak menimbulkan suara apa-apa.
Apa yang terlihat olehnya?
Tempat tidur thayhou tertutup dengan kelambu sehingga tubuh thayhou tidak terlihat sebaliknya di depan tampak seorang dayang yang usianya masih muda sekali sedang berusaha memasukkan sesosok mayat ke dalam sebuah kantong besar.
Mayat itu mengenakan pakaian yang sama seperti dayang tersebut, tetapi kepalanya gundul plontos tanpa sehelai rambut pun, Setelah memasukkan mayat itu ke dalam kantong, si dayang mengambil sebuah rambut palsu yang sejak tadi tergeletak di lantai, Mula-mula dia agak ragu, tapi akhirnya dia melemparkan rambut palsu itu juga ke dalam kantong berisi mayat.
"Thayhou, sudah selesai."
Katanya kemudian dengan suara perlahan.
"Apakah siwi di luar sudah pergi semua?"
Tanya thayhou.
"Aku seperti mendengar suara orang...."
Dayang itu menuju pintu dan melongok keluar "Sudah pergi semuanya,"
Katanya melaporkan "Di luar tidak ada sepotong manusia pun...."
"Kau bawa kantong ini ke tepi kolam,"
Kata thayhou menitahkan "Nanti kau masukkan empat potong batu besar ke dalamnya, kemudian kau ikat mulut kantong itu dengan tali yang kuat, lalu kau.,."
Kembali thayhou terbatuk-batuk.
"Kau dorong kantong itu agar tenggelam ke dasar koIam..."
"Baik, thayhou,"
Sahut dayang itu, Kali ini suaranya gemetar, menandakan hatinya yang ketakutan.
"Setelah kantong itu masuk ke dalam air, kau timbun bagian atasnya dengan tanah agar tidak kelihatan!"
Kata thayhou lagi.
"Baik, thayhou,"
Sahut dayang itu, ia langsung menarik kantong mayat itu menuju taman. Raja memperhatikan dalam hatinya dia berpikir.
"Siau Kui cu mengatakan bahwa dayang itu sebenarnya seorang laki-laki, ternyata dia tidak berdusta, Agaknya di balik semua ini memang benar terselip rahasia yang besar sekali, Kalau tidak, mengapa thayhou ingin menenggelamkan mayat itu agar buktinya hilang?"
Siau Po berada di samping raja.
Tiba-tiba kaisar Kong Hi menggenggam tangannya erat-erat.
Rupanya tangan kedua-duanya sama-sama basah oleh keringat dingin saking tegangnya hati masing-masing.
Hebat sekali apa yang mereka saksikan apalagi bagi seorang raja.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara ceburan air, lalu menyusul dengan kembalinya si dayang ke kamar ibu suri.
Raja tidak kenal siapa adanya dayang itu.
Tidak demikian dengan Siau Po.
Dia tahu dayang itu Lui cu adanya.
"Sudah beres semuanya?"
Tanya thayhou ingin mendapatkan keyakinan.
"Ya, thayhou,"
Sahut Lui cu.
"Di sini tadinya ada dua sosok mayat, sekarang tinggal satu,"
Kata thayhou.
"Kalau besok pagi ada yang menanyakannya kepadamu, bagaimana kau menjawabnya?"
"Ham... ba... hamba akan menjawab tidak tahu,"
Sahut Lui cu gugup.
"Kau selalu mendampingi dan melayani aku, bagaimana kau bisa mengatakan tidak tahu?"
Tanya ibu suri kembali.
"Iya... iya,"
Sahut si dayang kebingungan Tampaknya dia tidak biasa berdusta.
"Apanya yang iya... iya?"
Bentak ibu suri gusar. Dibentak sedemikian rupa, tiba-tiba saja kecerdasan si dayang tergugah. Dia segera menjawab.
"Hamba... melihat dayang yang sudah mati itu tiba-tiba bangun kembali, rupanya dia hanya ter-luka, Ke... mudian dengan perlahan-lahan... dia berjalan keluar kamar Saat... itu thayhou sedang tidur nyenyak, ham... ba tidak berani mengganggu, da... yang itu ke... luar dari.... Cu-1eng... kiong, 1a... lu pergi entah... ke... mana...."
Thayhou menarik nafas panjang.
"Oh, begitu.,."
Katanya.
"Amitaba.,.! Kiranya di belum mati, ia menyingkir sendiri.... Nah, bagus begitu!"
"Terima kasih kepada Langit dan Bumi karena dia belum mati!"
Kata Lui cu yang mengikuti nada bicara ibu suri.
Raja dan Siau Po masih mencuri dengar pembicaraan mereka.
Untuk beberapa saat keduanya berdiam diri, kamar itu menjadi sunyi, Kaisar Kon Hi menduga tentunya ibu tiri itu sudah tidur, Diam diam raja melangkahkan kakinya untuk pulang ke kamarnya sendiri Dia mendapatkan para siwi dan thay-kam masih berdiri tegak di tempat semula, Di jadi tertawa melihatnya.
"Sekarang kalian bebas bergerak!"
Katanya.
Meskipun tertawa, nada suara raja tawar sekali.
Hal ini disebabkan perasaannya yang juga tawar sekali, Apa yang ia dengar dan saksikan di kamar thayhou merupakan pukulan berat bagi bathinnya.
Ternyata keterangan Siau Po memang benar Sepak terjang ibu tirinya hebat sekali!
Setelah berada di dalam kamar, kaisar Kong Hi menatap kepada Siau Po yang masih terus mengikutinya, Siau Po pun tengah memperhatikan junjungannya itu dengan hati bertanya-tanya, Tindakan apakah kira-kira yang akan diambil raja setelah mengetahui rahasia ibu tirinya itu?
Tiba-tiba air mata kaisar Kong Hi mengucur dengan deras.
"Thayhou... Thay... hou..."
Panggilnya dengan nada sedih.
Siau Po diam saja, Dia tidak tahu bagaimana harus menghibur junjungannya itu.
Raja masih berdiam diri sekian lama.
Kemudian dia menepuk tangan satu kali.
Dua orang siwi segera muncul di depan pintu, Mereka memberi hormat kepada kaisar Kong Hi lalu berdiri menunggu perintahnya.
"Ada dua urusan penting dan rahasia, kalian harus mengerjakannya,"
Kata kaisar Kong Hi kepada kedua pengawalnya itu.
"Kalian harus ingat, rahasia ini jangan sekalisekali sampai bocor! Di dalam taman Cu-leng kiong, di dasar kolam teratai ada sebuah kantong yang besar sekali, Kantong itu harus kalian angkat dan bawa kemari. Kalian harus bekerja dengan hati-hati, jangan menimbulkan suara berisik. Thayhou sedang tidur, jagalah jangan sampai beliau mendusin. Kalau hal itu sampai terjadi, awas batang leher kalian!"
Kedua orang siwi itu menerima baik perintah tersebut Setelah memberi hormat, keduanya langsung mengundurkan diri.
Kaisar Kong Hi duduk di atas tempat tidur, otaknya masih terus bekerja.
Tentu hatinya masih belum tenang juga, Dia menantikan hasil kerja kedua orang siwi itu dengan berdiam diri.
Tidak lama kemudian, kedua siwi itu muncul kembali.
Mereka menggotong sebuah kantong yang basah kuyup dan airnya masih terus menetes.
Kantong itu diletakkan di depan kamar.
"Apakah thayhou kaget atau terjaga?"
Tanya kaisar Kong Hi. Hal itulah yang selalu dikhawatirkan nya sejak tadi.
"Tidak! Hamba tidak berani menyebabkan hal itu terjadi!"
Sahut kedua pengawal itu. Kaisar Kong Hi mengangguk "Baik! sekarang bawalah kantong itu ke dalam!"
Perintah itu segera dilaksanakan.
"Sekarang kalian boleh pergi!"
Kata raja menitahkan, Kedua siwi itu langsung mengundurkan diri, Siau Po segera menutup pintu, Tidak lupa di menguncinya, Setelah itu dibukanya ikatan kanton tersebut dan dengan berani ia menarik keluar mayatnya.
Mayat itu berkepala licin, demikian pula wajahnya, Tidak ada sehelai rambut atau cambangpun, tetapi ada bayangan hitam dari bekas cukurannya dan di tenggorokannya juga ada tonjolan sebagaimana biasanya kaum pria, Dadanya rata, Tidak perlu diragukan lagi dia memang seorang laki-laki, bahkan tubuhnya berotot keras dan jeriji tangannya kasar-kasar.
Hal ini membuktikan dia pandai ilmu silat, Kalau ditilik dari wajahnya, tampaknya belum lama dia menyaru sebagai dayang dalam istana, kalau tidak, rahasianya pasti sudah lama terbongkar.
Kaisar Kong Hi sangat teliti, Dia menghunus golok di pinggangnya dan digunakannya untuk mengoyak celana orang itu.
Setelah melihat dengan jelas, hawa amarahnya langsung meluap.
Meskipun yang dihadapinya hanya sesosok mayat, namun dia melampiaskan kemarahannya dengan membacoknya berkali-kali.
Sekejap kemudian bagian dada dan pinggang mayat itu tidak karuan lagi bentuknya.
"Thayhou.,."
Siau Po ingin mengatakan sesuatu melihat kemarahan junjungannya itu.
"Thayhou apa?"
Kata kaisar Kong Hi dengan nada gusar "perempuan hina itu sudah mencelakai ibu kandungku sampai mati, dia juga menyebabkan ayahandaku meninggalkan istana ini.
perbuatan busuknya benar-benar mengotori istana, Dia benarbenar jahat!
A...
ku ingin membacoknya ratusan kali, Seluruh keluarganya harus dibunuh!"
Siau Po menghela nafas, Dia terdiam namun hatinya lega, Biar bagaimana, perasaan jerinya terhadap ibu suri tetap ada. sekarang lain, Dia berpikir dalam hati.
"Sekarang raja tidak mengakui thayhou sebagai ibunya lagi, Karena itu, walaupun thayhou akan mengambil tindakan yang bagaimana busuknya sekalipun asal aku mengetahuinya, tidak mungkin raja akan membunuhku untuk menutup mulutku ini...."
Saking sengitnya, raja masih membacok mayat itu beberapa kali.
Bahkan hampir saja dia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk memerintahkan beberapa siwi menangkap ibu suri agar dihadapkan ke padanya.
Untung saja di lain saat ada suatu hal yang terlintas di benaknya.
"Ayahanda belum wafat, sekarang beliau ber ada di gunung Ngo Tay san untuk menyucikan diri pikirnya dalam hati.
"lni merupakan urusan besar yang harus dirahasiakan Kalau rakyat sampai mengetahui hal itu, tentu akan terjadi pergolakan. Tidak, Aku tidak boleh sembrono!"
Karena itu di menoleh kepada Siau kui cu sambil berkata.
"Sia Kui cu, besok pagi-pagi, mari kita berangkat bersama ke Ngo Tay san untuk mencari keterangan dan bukti di sana!"
"Baik, Sri Baginda!"
Sahut Siau Po.
Hatinya senang sekali.
Baginya perjalanan itu seperti pesiar saja.
LagipuIa, keselamatannya di luar lebih terjamin daripada berada dalam istana.
Raja berkata demikian hanya mengikuti suara hatinya saja.
Sesaat kemudian, dia berpikir lain, Ketelitiannya dapat membuatnya berpikir jauh, Dia sadar bahwa dia tidak bisa pergi berdua saja dengan Siau Po.
Kalau dia pergi secara terang-terangan, tentu banyak hal yang harus dipersiapkan Para menteri dan pembesar di setiap kota harus mengetahuinya, dengan demikian mereka bisa mengatur penyambutan terutama demi menjaga keselamatannya.
Tapi, yang terpenting adalah masalah di kota-raja sendiri.
Dia masih muda sekali, Tidak semua menteri setia kepadanya, Bagaimana kalau di saat dirinya sedang melakukan perjalanan lalu thayhou menggunakan kesempatan ini untuk merampas kedudukannya dan mahkotanya dicopot?
Lalu, bagaimana seandainya ia tidak berhasil menemukan ayahandanya di Ngo Tay san?
Apakah ayahnya itu benar-benar masih hidup atau sudah mati?
Kalau dia sampai gagal menemukan ayahnya, sedangkan hal ini sudah terbuka, bukankah dia akan menjadi bahan tertawaan?
Setelah berpikir boIakbalik, akhirnya dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Siau kui cu!"
Katanya yang masih memanggil "Siau Kui cu pada sahabatnya itu.
"Aku tidak bisa meninggalkan kotaraja, sebaiknya kau pergi saja sendiri!"
Siau Po heran, hatinya agak kecewa.
"Aku sendirian?"
Tanyanya.
"lya, kau sendiri saja,"
Kata kaisar Kong Hi tegas.
"Kau lakukan penyelidikan untuk mendapatkan kepastian bahwa ayahku benar-benar masi hidup dan sedang menyucikan diri di gunung Ng Tay san, Aku harus di sini untuk memperkokoh kedudukanku. Aku harus bersiap menghadapi perempuan hina yang jahat itu! Setelah kau mendapatkan hasil dan kedudukanku di sini sudah cukup aman dan kuat, barulah kita pergi bersama!"
Siau Po berpikir cepat. Usul raja itu memang cukup bagus, Tampaknya raja sudah bertekad untuk menentang ibu suri.
"Ada baiknya kita bekerja masing-masing,"
Pikirnya, Karena itu dia segera menganggukkan kepalanya.
"Baik! Aku akan pergi ke Ngo Tay san!"
"Ada sebuah aturan dalam kerajaan Ceng, seorang thay-kam tidak bisa meninggalkan istana se orang diri, kecuali secara resmi atau ikut bersama ku. Tapi, Siau kui cu, sekarang kau berbeda, karena kau bukan thay-kam, Kau boleh pergi, asal buka sebagai seorang thay-kam, sebaiknya kau berdanda sebagai siwi saja, Hal ini mungkin menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan orang-orang dalam istana, Karena selama ini kau dikenal mereka sebagai thay-kam, Bagaimana baiknya sekarang?"
Raja termenung sejenak, kemudian baru di berkata lagi.
"Begini saja, Siau kui cu, akan kujelaskan pada orang-orang bahwa demi membunuh Go Pay, aku menugaskanmu agar menyamar sebagai thay-kam, sekarang tugasmu sudah selesai, kau tidak perlu menjadi thay-kam lagi, Siau kui cu, sebaiknya setelah ini kau rajin belajar ilmu surat agar kelak aku bisa menghadiahkan kau pangkat yang tinggi!"
Siau Po tertawa.
"Baik!"
Serunya.
"Bagus sih bagus! Tapi setiap kali melihat buku, kepalaku langsung jadi pusing!"
Raja pun tersenyum, Dia segera duduk di meja dan mengeluarkan kertas serta alat tulisnya untuk membuat surat pada ayahnya, Dia ingin menjelaskan bahwa bukan dirinya tidak berbakti (put hau), tapi sampai sekarang ia baru mengetahui bahwa ayahnya masih hidup dan menetap di gunung Ngo Tay san.
Keterangan itu membuat hatinya senang sekali, karenanya dia berjanji akan mengatur persiapan untuk menyambut kepulangan ayahnya ke kotaraja, Dengan demikian mereka ayah dan anak dapat berkumpul bersama-sama lagi."
"Siau kui cu, kau harus berhati-hati,"
Pesan kaisar Kong Hi ketika menyerahkan surat itu kepada Siau Po.
"Kalau surat ini sampai terjatuh ke tangan orang, kemungkinan kau akan diringkus dan dibunuh...."
"Aku mengerti!"
Sahut Siau Po. Raja mengambil sehelai kertas lagi kemudian menulis kembali, Bunyinya begini.
"Diperintahkan kepada Wi Siau-po, Gi-cian siwi hu congkoan yang dihadiahkan baju Ma kwa kuning untuk pergi ke gunung Ngo Tay san dan sekitarnya untuk melakukan tugas kenegaraan, Semua pembesar setempat sipil dan militer harus bersedia menerima segala titahnya. Firman atas nama kaisar Kong Hi. Selesai menulis, raja menyerahkan surat pengangkatannya pada Siau Po dan berkata sambil tertawa.
"Aku memberimu sebuah pangkat. Nah, kau lihat sendiri, pangkat apa itu?"
Siau Po menyambuti kertas itu dan membelalakkan matanya untuk membaca surat itu.
Tidak, di hanya melihat, bukan membaca!
Sebab yang dikenalnya hanya beberapa huruf seperti Ng (lima), san (gunung), It (satu) dan Bun (sipil lainnya tidak, Karena itu dia menggelengkan kepalanya sambil menyahut.
"Aku tidak tahu pangkat apa. Tapi karena kau yang menganugerahkan, tentunya pangkat ini tidak rendah, bukan?"
Raja tertawa, kemudian dia membacakan firmannya, Mendengar apa yang tertulis di dala kertas itu. Siau Po menjulurkan lidahnya. "Oh! pangkat Gi-cian siwi hu congkoan?"
Katanya.
"Sungguh hebat! Sungguh hebat! Malah aku mengenakan baju Ma kwa kuning!"
Pangkat yang diberikan raja adalah Pemimpin muda dari pasukan pengawal pribadi kaisar. Raja tersenyum dan berkata.
"Walaupun To Lung menjadi congkoan, tapi dia tidak dianugerahkan baju Ma kwa kuning, sedangkan kau, bila kau berhasil menjalankan tugasmu dengan baik, sekembalinya nanti, pangkatmu akan kunaikkan lagi, Sayang sekali usiamu masih terlalu muda, karena itu rasanya tidak pantas kau menjadi menteri Tapi biarlah urusan itu kita bicarakan lagi perlahan-lahan bila kau sudah kembali nanti!"
"Bagiku sendiri, pangkat tinggi atau rendah sama saja,"
Sahut Siau Po. Dia memang pandai bicara dan berotak encer "Bagiku sudah lebih dari cukup kalau aku bisa senantiasa mengikutimu."
Di dalam hatinya kaisar Kong Hi senang sekali mendengar ucapan hambanya itu.
"Kau harus berhati-hati dengan kepergianmu ini,"
Kata kaisar Kong Hi.
"Semua gerak-gerikmu harus dirahasiakan. Mengenai firmanku ini bila tidak dalam keadaan terpaksa, jangan kau perlihatkan pada siapa pun! Nah, kau pergilah!"
Siau Po mengucapkan terima kasih, dia memberikan janjinya, Setelah itu dia memberi hormat dan memohon diri. Ketika kembali ke kamarnya di mana kedua nona Bhok dan nona Pui bersembunyi dia berpikir.
"Tentu mereka memikirkan aku sampai bingung dan khawatir...."
Tatkala itu fajar sudah mulai menyingsing.
sampai di kamarnya, Siau Po mendorong pintu perlahan-lahan.
Dia segera melihat kedua nona itu sedang duduk berdampingan dengan punggung menyandar tembok, Pui Ie tidak tidur.
"Oh, kau sudah kembali!"
Sapanya.
"Bagus sekali, selamat!"
Kata Siau Po tanpa menjawab kata-kata gadis itu.
"Mari kita keluar dari tempat ini sekarang juga!"
Berbeda dengan Pui Ie, Kiam Peng sedang tertidur pulas. Mendengar suara orang, dia membuka matanya sambil berkata.
"Kau tahu, suci merasa khawatir sekali, dia takut kau menghadapi ancaman bahaya..."
"Tidak apa-apa, tak ada bahaya apa-apa,"
Sahut Siau Po.
Pada saat itu terdengar suara bunyi genta sebagai tanda pintu istana telah dibuka dan ratusan pembesar sipil maupun menteri-menteri hadir seperti biasanya untuk memberi hormat dan mengikuti rapat umum bersama Sri Baginda setiap paginya.
Siau Po mendengar suara itu, tapi dia tidak memperdulikannya, Dia malah menyalakan lilin sehingga keadaan kamar menjadi terang dan dia dapat melihat wajah kedua nona itu, Dandanan mereka, benar-benar sempurna.
"Kalian berdua terlalu cantik,"
Katanya.
"Sebaiknya wajah kalian diolesi tanah sedikit agar tidak terlalu putih!"
Kiam Peng kurang setuju dengan saran Siau Po, tapi Pui Ie langsung mencoret tanah dan mengolesi wajahnya sendiri, terpaksa Kiam Peng pun mengikuti kelakuannya, Dengah demikian rona wajah mereka jadi agak gelap.
Siau Po membungkus ketiga kitab Si Cap Ji cin-keng menjadi satu kemudian dia mengeluarkan tusuk konde perak dan menyerahkannya kepada Pui Ie.
"Bukankah ini tusuk konde yang kau maksudkan?"
Pui Ie jadi terharu sehingga wajahnya menjadi merah, cepat-cepat ia berpaling ke arah lain. Siau Po tersenyum.
"Sebenarnya tidak ada bahayanya sama sekali,"
Katanya, sedangkan dalam hatinya dia berkata, ini yang dinamakan, berbuat baik mendapat pembalasan yang baik pula, Kalau aku tidak pergi mengambil tusuk konde ini, mana mungkin aku mendapat hadiah baju Ma kwa kuning seperti sekarang?"
Siau Po segera mengajak kedua kawannya meninggalkan istana, Mereka keluar Sinbu mui, yakni pintu belakang kota terlarang, Ci-kiam sia.
Tatkala itu hari baru mulai terang, cuaca masih suram, penjaga kota melihat yang keluar adalah Siau kui cu bersama dua orang thay-kam lainnya.
Dia tidak berani mencegah, bahkan bertanya pun tidak, Malah dia bersikap mengambil hati Siau Po yang dia tahu merupakan thay-kam kesayangan raja, Dengan demikian, tanpa menemui kesulitan sedikitpun mereka berhasil keluar dari Ci-kiam sia.
Setelah berjalan belasan tombak, Pui Ie menoleh ke belakang, kemudian dia menarik nafas lega.
Banyak yang dipikirkannya, sejak menyerbu ke dalam istana, dia telah mengalami berbagai peristiwa, Dia seperti sudah mati dan menjelma kembali...
Setibanya di jalan raya, Siau Po segera menyewa tiga joli kecil untuk membawa mereka bertiga, Masing-masing naik ke dalam sebuah joli, Dia menyuruh tukang joli membawanya ke jalan Tiang An barat Di sana mereka turun dan berganti dengan joti lainnya, sekarang mereka baru menuju ke tempat cabang kantor Tian-te hwe Setelah sampai dan turun dari joIi.
Siau Po berkata kepada kedua nona itu.
"Rekan-rekan kalian dari Bhok onghu sejak kemarin sudah keluar dari kota ini. Karena itu, aku harus berunding dulu dengan kawan-kawanku untuk mengambil keputusan kemana kalian harus diantar."
Pada saat ini, sikap Siau Po sudah berubah, sekarang dia sudah menjadi Gi-cian siwi hu cong koan (Pemimpin muda dari pengawal pribadi raja).
Mendadak dia merasa seperti orang dewasa, Apa lagi sekarang dia sedang menerima tugas penting dari raja, Dia harus menyelidiki suatu urusan besar karena itu dia tidak bersikap sembarangan, sedangkan saat itu gurunya masih ada di sana sehingga dia tidak berani banyak tingkah.
"Aku tidak berani berdiam di kotaraja ini lama-lama,"
Kata Siau Po terus terang.
"Bagiku, mungkin pergi semakin jauh semakin baik, Aku harus menunggu sampai thayhou mati dan keadaan aman, baru aku kembali lagi ke sini!"
"Kami mempunyai sahabat yang tinggal di dusun Cioki cung, wilayah Ho Pak,"
Kata Pui Ie.
"Kalau kau tidak keberatan, seba... iknya kau ikut kami pergi ke sana untuk menyingkirkan diri sementara, Bukankah ini merupakan jalan yang baik?"
"Baik, sih baik!"
Kata Kiam Peng sebelum orang memberikan jawabannya.
"Kau adalah penolong kami, jadi kau adalah orang sendiri, Bahkan dengan mengadakan perjalanan bersama-sama, kita bisa bergembira!"
Kedua nona itu menatap Siau Po dengan sorot mata berharap, Kiam Peng tampaknya bernafsu sekali, tapi sikap Pui Ie agak malu-malu.
Bukan main senangnya hati Siau Po dapat berjalan bersama kedua gadis cantik itu, apalagi perjalanan yang jauh.
Tetapi dia ingat akan tugasnya, Dia harus menanti perintah raja dan terpaksa menolak ajakan kedua nona itu, Karena itu dia menjawab dengan menggunakan alasan yang masuk akal.
"Aku telah berjanji kepada seorang sahabatku untuk melakukan sesuatu, Karena itu aku tidak pergi bersama kalian ke dusun Cioki cung. Kalian sedang menyembuhkan luka dan tidak dapat melakukan perjalanan jauh, karena itu, aku berpikir untuk meminta pertolongan sahabatku yang dapat dipercaya untuk melindungi kalian sepanjang perjalanan, sekarang mari kita singgah dulu di suatu tempat untuk bersantap dan beristirahat. Kalau perlu nanti kita rundingkan kembali."
Kedua nona itu menyatakan persetujuannya.
Siau Po langsung mengajak mereka ke cabang markas Tian-te hwe.
Anggota Tian-te hwe yang berjaga di ujung lorong segera mengenali Siau Po dan mengajaknya masuk, Di dalam, mereka disambut oleh Kho Ga tiau yang heran melihat hiocunya membawa dua orang thay-kam bersamanya.
Siau Po mengerti perasaan rekannya itu.
dia segera membisikkan.
"Kedua nona ini.... Yang satu ialah Putri dari Bhok onghu, sedangkan yang satu ini adalah kakak seperguruannya, Aku baru saja menolong mereka meloloskan diri dari istana."
Gan Tiau segera mempersilahkan kedua nona itu duduk dan menyuguhkan air teh. Kemudian dia menarik Siau Po ke samping dan berkata kepadan dengan nada berbisik.
"Tadi malam Cong tocu sudah meninggalkan kotaraja."
Mendengar berita itu, bukan main senangnya hati Siau Po.
Hal ini berarti untuk waktu agak ia dia tidak akan bertemu dengan gurunya, Dia paling takut bertemu dengan Tan Kin-Iam, sang guru, dia juga tidak tahu, apabila bertemu dengan gurunya itu, haruskah dia menceritakan tugas yang diberikan kaisar Kong Hi kepadanya.
Sekarang dia bebas, hatinya lega sekali, Tapi, di hadapan Gan Tiau sengaja dia memperlihatkan sikap lain, Dia seakan kecewa dan menyesalkan hal itu, Dia membanting-banting kakinya seraya berkata.
"Ah! Kenapa suhu begitu cepat meninggalkan kotaraja?"
"Cong tocu telah berpesan kepada sebawahanmu ini untuk memberitahukan hiocu,"
Kata Gan Tiau.
"Katanya Cong tocu telah menerima berita kilat dari Taiwan, karena itu, mau tidak mau dia harus kembali kesana untuk mengurusnya, Cong tocu berharap, dalam segala hal hiocu harus bertindak seksama dan pandai melihat situasi Cong tocu juga mengatakan, seandainya hiocu tidak leluasa berdiam lagi di kotaraja, sebaiknya hiocu pergi untuk sementara, Pesan lainnya ialah agar hiocu rajin berlatih silat, sedangkan mengenai racun yang mengendap dalam tubuh hiocu, seandainya bertambah parah, harap hiocu segera mengabarkan pada Cong tocu."
"Ya, aku mengerti,"
Sahut Siau Po.
"Suhu memang sangat prihatin terhadap ilmu silat dan racun yang mengendap dalam tubuhku, Syukurlah aku mendapatkan seorang suhu yang begitu baik."
Ucapan Siau Po yang terakhir adalah kata-kata yang keluar dari hatinya yang paling tulus, Bukankah dalam keadaan yang demikian genting, Ta Kin-lam juga masih demikian memperhatikannya?
"Sebenarnya apa yang terjadi di Taiwan?"
Tany Siau Po kemudian.
"Katanya dalam keluarga The, terjadi perselisihan antara ibu dan anak, Malah menyebabka terbunuhnya seorang menteri,"
Kata Gan Tiau.
"Rupanya di sana terjadi kekacauan di dalam, Cong tocu sangat dihormati, karena itu, dengan kembalinya beliau, mudah-mudahan urusan bisa dijernihkan Hiocu tidak perlu khawatir Hoan toako, Ho toako dan Hian Ceng tojin ikut dengan Cong tocu ke sana. sedangkan Ci samko dan sebawahanmu ini disuruh menetap dulu di kotaraja untuk menerima titah dari hiocu.
"Siau Po mengangguk.
"Baiklah,"
Katanya.
"Sekarang tolong kau panggilkan Cisamko!"
Di dalam hatinya, diam-diam Siau Po berpikir.
"Kepandaian Ci samko tinggi sekali dan otaknya pun cerdas. Lagipula usianya sudah lanjut dan banyak pengalamannya, Kalau dia disuruh mengantarkan kedua nona ini ke dusun Cioki cung, pasti tepat sekali..."
Sedangkan mengenai urusan di Taiwan, dia berpikir juga.
"Di Taiwan juga terjadi perselisihan antara ibu dan anak, tidak berbeda keadaannya dengan thayhou serta kaisar Kong Hi, namun entahlah kalau masalahnya...."
Seberlalunya Gan Tiau, Siau Po mengajak Kiam Peng dan Pui Ie makan mi. Baru bersantap setengah mangkok, Bhok Kiam-peng tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk bertanya pada Siau Po.
"Benarkah kau tidak bisa ikut kami ke dusun Cioki cung?"
Siau Po tidak langsung menjawab.
Matanya memperhatikan Pui Ie yang sedang asyik makan mi.
Meskipun sedang makan, gadis itu mengangkat wajahnya sehingga pandangan mata mereka bertemu satu dengan lainnya, Siau Po dapat melihat bahwa mata itu juga menyorotkan sinar berharap sebagaimana halnya mata Kiam Peng.
"Aih!"
Keluhnya dalam hati.
"Mereka berharap aku dapat menemani, tapi bagaimana mungkin? Tugasku ini penting sekali. Aku juga tidak dapat mengajak mereka, Keduanya sedang terluka, bukankah akhirnya malah akan merepotkan aku? Lain kalau mereka dalam keadaan sehat, Kecuali dapat membela diri apabila ada apa-apa, mereka juga dapat memberikan bantuan kepadaku, sekarang justru aku yang harus melindungi mereka berdua, Dan perjalanan bersama mereka pasti menarik perhatian umum!"
Karena itu, akhirnya dia menarik nafas panjang.
"Begini saja, setelah tugasku selesai, aku akan pergi ke dusun Cioki Cung untuk menjenguk kalian. siapakah she dan nama kawanmu itu dan apa nama kampungnya?"
Pui Ie menundukkan kepalanya, Tangannya menyumpit mi, tapi dia tidak langsung membawa ke mulutnya, dia hanya berkata dengan suara perlahan.
"Sahabat kami itu tinggal di dusun Cioki cung, di sebelah barat pasar. Dia membuka sebuah perusahaan pengangkutan dengan keledai dan kuda, Dia mendapat julukan Koay Ma Ti-sam atau si Kuda Cepat !"
"Koay Ma Ti-sam!"
Siau Po mengulangi nama itu sekali lagi.
"Baiklah, Nanti aku akan menjenguk kalian."
Dia memperlihatkan tampangnya yang berseri-seri dan bergurau lagi sebagaimana biasanya.
"Mana bisa aku meninggalkan sepasang istri tua dan muda yang demikian cantik cantik bagai batu kumala yang indah?"
Kiam Peng tertawa.
"Belum apa-apa, kau sudah mempermainkan lagi lidahmu yang tajam itu,"
Katanya, Dia tahu Siau Po hanya bergurau sehingga dia tidak merasa jengah atau malu. Pui Ie juga tidak merasa jengah, malah dia berkata.
"Kalau kau benar-benar menganggap kami sahabat karib, setiap hari kami akan mengharapkan kedatanganmu.... Sebaliknya, bila kau tidak memandang sebelah mata kepada kami, lebih baik kau tidak usah datang." Siau Po tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Dia menjadi tidak enak sendiri lekas-lekas dia berkata.
"Baiklah! Baik! Kalian tidak suka bercanda, lain kali aku akan bersikap serius!"
Pui Ie senang mendengar janji itu.
"Bicara main-main tentu boleh saja, tapi harus ada batasnya,"
Katanya sambil tertawa manis.
"Untuk bercanda, orang harus tahu waktu dan tempat yang tepat. Kau... kau... apakah kau marah?"
Hati Siau Po senang sekali, Dia berkata dengan penuh semangat "Tidak! Sebaliknya, aku justru berharap kau tidak marah...."
Pui Ie tertawa.
"Menghadapi orang sepertimu, siapa pun tidak bisa marah!"
Dengan demikian, suasana dalam ruangan itu menjadi ceria.
Hubungan mereka pun semakin akrab.
Di wilayah utara, meskipun pagi hari, udara sudah dingin sekali, Begitu pula yang dirasakan ketiga orang muda itu.
Siau Po menghirup kuah mi di mangkuknya, Dia seperti tidak sempat mengatakan apa-apa lagi, Tepat pada saat itu, dari halaman luar terdengar suara langkah kaki berat yang mendatangi Siau Po segera menoleh dan tampaklah Pat-pi Wan kau (Si kera bertangan delapan) Ci Tian-coan masuk ke dalam ruangan.
Begitu sampai di depan Siau Po yang usianya jauh lebih muda, Tian Coan segera menjura dalam-dalam memberi hormat, wajahnya berseri-seri dan dia menyapa dengan ramah.
"Apakah Nilo (tuan yang terhormat) dalam keadaan baik-baik saja?"
Tian Coan sudah tua dan banyak pengalaman Dia juga orang yang berhati-hati, Melihat sang hiocu datang bersama dua orang yang tidak dikenal, ia tidak menyebutnya sebagai ketua, tetapi menyapanya dengan panggilan Tuan yang terhormat Siau Po merangkapkan tangannya membalas hormat dan berkata sambil tertawa manis.
"Ci toako, mari aku kenalkan kau dengan dua orang sahabatku, Yang ini nona Pui, dan yang ini nona Bhok, Siau kuncu dari Bhok onghu. Mereka adalah murid-murid berbakat dari Tiat-pwe cong liong Liu Tay-hong!"
Kemudian dia menoleh kepada kedua nona itu.
"Nona-nona, inilah Ci toako yang sudah kenal baik dengan guru kalian serta Siau ongya.,."
Dia khawatir kedua nona itu masih memendam atau penasaran, karenanya dia segera menambahkan "Dulu memang terjadi kesa!ah-pahaman, tetapi sekarang semuanya sudah beres."
Kedua belah pihak saling memberi hormat. Setelah itu Siau Po berkata kepada Ci Tian-coan.
"Ci toako, kali ini aku hendak memohon bantuanmu...."
Sekarang Tian Coan percaya kedua nona itu sudah mengetahui siapa adanya Wi Siau Po, karena itu dia langsung berkata.
"Wi hiocu, sebawahanmu akan mentaati apa pun perintahmu!"
Terkaan Tian Coan keliru, sebenarnya Kiam Peng dan Pui Ie belum tahu bahwa thaykam yang menolong mereka adalah hiocu dari Tian-te hwe.
Karena itu mereka merasa heran mendengar orang tua yang sudah mempunyai nama itu memanggil Siau Po dengan sebutan hiocu.
Mereka segera menoleh dan memperhatikan Siau Po lekat-lekat saking herannya.
Siau Po mengerti kebingungan kedua nona itu, dia langsung tersenyum dan menjelaskan.
"Nona-nona, perlu kalian ketahui bahwa Gouw Lip-sin loyacu dan muridnya serta Lau It-cou telah berkumpul kembali bersama Bhok siau ongya dan sudah meninggalkan kotaraja ini. Kamilah yang mengatur semua itu."
"lya, betul,"
Kata Ci Tian-coan menambahkan.
"Bhok ongya kemarin sudah meninggalkan kotaraja dan keadaannya baik-baik saja."
"Jadi kakak Lau It-cou juga bersama dengan toako sekarang?"
Tanya Kiam Peng mewakili nona Pui yang kemalu-maluan.
"Benar,"
Sahut Tian Coan.
"Aku sendiri yang mengantarkan mereka keluar pintu kota, tapi mereka berpencar menjadi dua kelompok Lau It-co berjalan bersama dengan Liu loyacu."
Pui Ie menundukkan kepalanya.
Wajahnya merah padam.
Melihat sikap nona itu, Siau Po berkata dalam hatinya.
"Kau mendengar kabar tentang pacarmu yang berhasil meloloskan diri dengan selamat, tentu saja kau kesenangan setengah mati.."
Tetapi, sebenarnya dugaan Siau Po keliru, Pu Ie justru merasa sedih dan bingung, Dia berpikir dalam hati.
"Aku sudah berjanji dengannya, bila dia berhasil menyelamatkan Lau suko, maka aku bersedia menikah dengannya, Meskipun aku rela, tapi dia kan seorang thay-kam, mana mungkin aku menikah dengannya? Dia juga masih terlalu muda, meskipu tingkahnya berlebihan sekarang dia malah menjadi Wi hiocu entah apa."
Siau Po tidak memperdulikan pikiran nona itu, dia berkata lagi dengan cepat.
"Kedua nona itu sempat berhadapan dengan para siwi istana sehingga keduaduanya terluka, sekarang mereka ingin pergi ke dusun Cioki cung di mana tinggal salah seorang sahabat mereka, Aku berpikir untuk memohon bantuan Ci toako agar sudi mengantarkan sampai tujuan dengan selamat."
"Urusan itu mudah!"
Sahut Tian Coan.
"Malah aku merasa senang sekali hiocu memilih aku yang menjalankan tugas ini. Sebawahanmu ini merasa menyesal terhadap apa yang pernah terjadi antara sebawahanmu dengan keluarga Bhok, Bukankah Siau ongya telah menolong aku? Aku merasa bersyukur sekaligus malu, karena itu aku senang sekali menerima tugas ini. Aku harap aku dapat mengantar kedua nona ini sampai di tujuan tanpa kurang sesuatu apa pun. Dengan demikian perasaanku menjadi agak lega...."
Bhok Kiam-peng memperhatikan Ci Tian-coan.
Dia melihat orangnya sudah tua dan tubuhnya juga kecil kurus, punggungnya agak membungkuk.
Dia jadi mempunyai dugaan bahwa orang ini pasti roboh tertiup angin yang rada kencang saja, mengapa orang tua semacam ini diberi tugas mengantarkan mereka berdua?
Bisa jadi nanti bukan mereka berdua yang dilindungi malah mereka berdualah yang harus melindungi si tua bangka itu."
Justru karena Siau Po mengatakan bahwa dia tidak dapat turut serta, Kiam Peng menjadi tidak puas, Hal ini tersirat jelas pada wajahnya.
Sebaliknya Pui Ie tidak memperlihatkan reaksi apa pun.
Dia hanya berkata.
"Ci toako, kami benar-benar tidak berani merepotkan dirimu,"
Katanya merendah "Bagi kami, sudah lebih dari cukup apabila disediakan sebuah kereta yang besar agar dapat melanjutkan perjalanan. Luka kami sudah tidak terlalu mengkhawatirkan..."
Ci Tian-coan tertawa.
"Nona Pui, tak usah nona sungkan-sungkan!"
Katanya.
"Hiocu sudah menitahkan aku dan aku harus menjalankan tugasku sebaik-baiknya, Nona berdua sangat gagah, sebetulnya kalian tidak memerlukan pelayanan kami yang mungkin menjemukan Lagipula aku sudah tua, tidak pantas dikatakan mengantarkan, tapi setidaknya aku cukup berguna untuk disuruh-suruh. Aku bisa mencarikan penginapan untuk beristirahat, menyewakan kereta, membelikan barang-barang yang dibutuhkan Aku senang dalam melakukan semua itu. Dengan ikutnya aku si orang tua, nona berdua tidak perlu capekkan diri melakukan sendiri pekerjaan kasar apa pun."
Mendengar ucapan si orang tua yang ramah itu, Pui dan Kiam Peng sadar mereka tidak enak untuk menolak terus, Akhirnya Pui Ie berkata.
"Ci loyacu sangat baik hati, entah bagaimana kami dapat membalasnya kelak?"
Kembali Tian Coan tertawa.
"Apanya yang harus dibalas?"
Sahutnya ramah.
"Bicara terus terang, nona berdua, kekaguman aku si orang tua terhadap hiocu kami yang satu ini tidak pernah habishabisnya, jangan nona-nona memandang remeh terhadap usianya yang masih muda, kenyataannya banyak yang dapat dilakukannya, Kemarin hiocu telah membantu aku melegakan dadaku yang sesak ini, dan di saat aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk membalas budi, tahu-tahu begitu kebetulan aku mendapat tugas ini.
"Nona berdua, meskipun kalian tidak sudi diantar olehku, aku bisa tahu diri. Nanti aku akan berangkat terlebih dahulu agar dapat berjalan di depan kalian dan si orang tua ini bisa mengatur segalanya, seandainya bertemu gunung, aku akan membuat jalannya, bertemu sungai, aku akan membangun jembatannya, dengan demikian tanpa kesulitan nona-nona berdua bisa tiba di dusun Cioki cung, jangan kata mengantar nona berdua sampai dusun itu, yang hanya makan waktu beberapa hari, sekalipun harus mengantarkan sampai ke Inlam, aku juga akan menjalankannya dan baru berhenti apabila kaitan sudah sampai di tujuan" Kiam Peng tertarik juga mendengar kata-kata Tian Coan wajahnya memang tidak enak dilihat, tapi orang tua ini berani dan bicaranya polos, Kiam Peng jadi suka berbicara dengan nya.
"Dalam urusan apakah kemarin dia membuat dada loyacu jadi lega?"
Tanyanya.
"Ke... marin kan dia ada dalam istana?"
"Persoalannya begini..."
Sahut Tian Coan sambil tertawa.
"Di bawah pemerintahan Go Sam-kui dari propinsi Inlam ada seorang pembesar anjing bernama Yo It-hong. Dia telah menangkap aku si orang tua. Di tempat tahanannya aku dimaki-maki seenak perutnya dan disiksa secara bergantian. Hampir saja selembar jiwaku yang tua ini melayang, Untung kakakmu, Bhok siau ongya telah mengirim orang untuk menolong aku. Pada waktu itu Wi hiocu berjanji akan menyuruh orang menghajar kaki pembesar anjing itu sampai patah,."
Kebetulan putra Go Sam-kui datang ke kota-raja dengan membawa banyak pengikutnya, Ter-masuk Yo It-hong.
sebelumnya dia pernah makan hantamanku, karena itu dia menjadi tidak puas, tapi dia tidak dapat menemukan aku karena tidak tahu di mana aku berada, Beberapa hari yang lalu, ternyata datanglah bintang gelap yang menimpaku.
Ketika aku berada di toko obat di sebelah barat kota, dia menculikku, Tentu saja dengan mengandalkan orang-orangnya yang banyak dan saat itu aku masih dalam keadaan terluka.
Setelah ditolong oleh Bhok siau ongya, aku terus mencari jalan untuk membalaskan sakit hatiku, Sampai sekian jauh belum datang juga kesempatan itu.
Eh, tida tahunya kemarin aku bertemu dengan seorang sahabat yang menjadi tabib khusus patah tulang.Dialah yang memberitahukan padaku bahwa orang-orang Peng Si ong menggotong seorang pembesar negeri yang terluka, Dia seperti diarak ke setiap tabib di kota, Anehnya, meskipun telah mendatangi tiga puluhan tabib, tidak ada seorang pun yang bersedia mengobatinya.
Dia dibiarkan kesakitan orang-orang yang menggotongnya menjelaskan bahwa pembesar anjing yang luka itu bernama Yo It-hong dan lukanya itu didapatkan karena baru saja dihajar oleh puteranya pengkhianat Go Sam-kui, yakni Go Eng-him dengan toya, Katanya pembesar anjing itu dibiarkan menderita selama tujuh hari tujuh malam baru akan diobati!"
Bagian 28 Kiam Peng dan Pui Ie merasa heran.
Hal itu benar-benar aneh bagi mereka, Untuk apa pembesar itu diarak ke setiap tabib kalau bukan untuk diobati?
"Apa arti perbuatan orang-orang yang menggotongnya itu?"
Tanya kedua nona itu kepada Siau Po. Orang yang ditanya tertawa.
"Yo It-hong, pembesar anjing itu telah bersalah kepada Ci toako,"
Sahutnya.
"Perbuatannya sungguh keterlaluan sekarang dia harus diberi pelajaran agar tahu rasa dan menderita!"
"Lalu, mengapa dia digotong kesana kemari oleh anjing Peng Si ong? Apakah sengaja dilakukan agar dilihat oleh orang banyak?"
Siau Po tertawa.
"Go Eng-him, si bocah busuk itu melakukan hal tersebut supaya aku mendengarnya,"
Sahutnya.
"Aku yang menyuruh dia menghajar kaki pembesar anjing itu dan ternyata dia telah melakukannya dengan baik."
Kiam Peng semakin heran.
"Lalu, mengapa Go Eng-him harus mendengar kata-katamu?"
Tanyanya kembali. Kembali Siau Po tertawa.
"Aku hanya mengoceh sembarangan di hadapannya untuk mengelabuinya,"
Sahutnya.
"Rupanya dia percaya dengan ocehanku."
"Tadinya aku ingin membunuh pembesar anjing itu, tapi setelah dipikir-pikir, aku membatalkannya. Dia toh sudah diarak kesana kemari dalam keadaan terluka, Kakinya yang patah itu tidak boleh diobati dulu. Kalau dia langsung dibunuh begitu saja, tentu terlalu enak baginya. Karena itulah aku membiarkannya, Kemarin sore aku melihatnya sendiri. Menurut pandanganku meskipun masih hidup, tapi nyawanya tinggal satu dua bagian saja, Kedua kaki celananya digulung ke atas sampai ke paha, Kakinya yang terluka pun sudah membengkak dan biru matang. Aku yakin paling-paling dia bisa bertahan beberapa hari lagi Nah, nona-nona berdua, coba kalian pikir, apakah aku tidak merasa puas melihat kenyataan itu?"
Kedua nona itu tersenyum, Demikian pula dengan Siau Po.
Tidak lama kemudian muncul Kho Gan-tiau yang melaporkan bahwa dia sudah mencarikan dua buah kereta besar dan sekarang sudah menunggu di depan pintu, Dia termasuk seorang anggota penting dalam perkumpulan Tian-te hwe, tetapi menurut peraturan partai itu, dia tidak boleh sembarangan diperkenalkan dengan orang, itulah sebabnya dia tidak diajak kenal dengan kedua nona itu, Tian-te hwe bertujuan menentang pemerintahan Boan, karena itu anggota-anggotanya dianggap tidak perlu terlalu menonjolkan diri.
Menerima laporan itu, Siau Po berpikir dalam hati.
"Dalam buntalanku sudah terkumpul enam
Jilid kitab Si Cap ji cin-keng.
Apa faedahnya kitab-kitab itu?
Aku sama sekali tidak tahu, Mengapa orang lain selalu menginginkannya, sampai-sampai menempuh jalan mencuri bahkan mengorbankan jiwa orang lain?
Di balik semua ini, pasti ada sebabnya, Karena itu, aku harus menjaga baik-baik agar kitab ini jangan sampai hilang."
Hanya sejenak Siau Po berpikir Kemudian dia mendapat akal, Dia menggapaikan tangannya kepada Kho Gan-tiau.
"Kho toako,"
Bisiknya.
"Selama di istana aku mempunyai seorang sahabat yang telah dibunuh oleh para siwi. Karena dia merupakan sahabat karibku, maka aku menyimpan tulang belulangnya, Ada niatku untuk menguburnya baik-baik. Karena itu, tolong kau beli sebuah peti mati yang bagus untuk menempatkan abunya."
Orang she Kho itu menerima perintah itu dengan mengangguk Ketika mengundurkan diri, dia berpikir.
"Sahabat hiocu itu pasti seorang gisu yang menentang kerajaan Boan, karena itu aku harus mencari peti mati dengan kayu pilihan dari Liu Ciu."
Gan Tiau cerdas juga pandai bekerja, Dia diberikan uang sebesar lima ratus tail perak, tapi masih bersisa tiga puluh tail lebih.
Kecuali peti mati, dia juga membeli pakaian, guci, semen, kertas, lengpay dan lain-lainnya.
Menuruti pesan sang hiocu dia juga membeli pakaian serta sepatu untuk Pui Ie dan Kiam Peng, Tidak lupa pula ia membeli ransum kering untuk perbekalan dalam perjalanan.
Sampai sekembalinya Kho Gan-tiau, Siau Po, Kiam Peng dan Pui Ie mendapat kesempatan tidur selama kurang lebih dua jam.
Siau Po yang pertama-tama mengganti pakaian, dia tidak berdandan sebagai seorang thay-kam lagi.
Dia sendiri yang mengurus penyimpanan kitab-kitabnya, Mula-mula dia membungkus keenam kitab itu dengan kertas yang berlapis-lapis, kemudian dimasukkannya ke dalam guci lalu dipenuhi dengan abu gosok.
Paling bagus kalau peti mati ini aku isi denga kerangka manusia,"
Pikirnya dalam hati "Seandai nya ada orang yang curiga, dan membuka tutup pe mati ini, mereka tidak akan ragu 1agi.
Tapi, dalaim waktu yang singkat, kemana aku harus mencar kerangka manusia atau mayat yang utuh?
Di mana aku harus mencari orang jahat yang patut dibunuh?
Ketika akan keluar dari kamarnya dengan membawa guci, Siau Po membasahi matanya dengan air.
Dia muncul dengan tampang sedih, Peti mati diletakkan di ruangan belakang dan memang tempat itulah tujuannya, Dia memasukkan guci berisi "abu jenasah.
Setelah selesai, dia menjatuhkan dirinya berlutut untuk memberikan penghormatan yang terakhir kepada "sahabat'nya itu.
Dia melakukannya sambil menangis pilu.
Di ruang itu telah berkumpul Ci Tian-coan, Kho Gan-tiau juga kedua nona dari keluarga Bhok, Tidak ada seorang pun dari mereka yang menaruh kecurigaan Bahkan semuanya ikut memberikan penghormatan terakhir.
Siau Po pernah melihat upacara sembahyang di rumah keluarga Pek, maka dia pun menirunya, Dia berlutut di depan keempat orang itu dan menghaturkan terima kasih.
"Hiocu, siapakah nama sahabatmu itu?"
Tanya Kho Gan-Tiau.
"Nama dan she dia harus ditulis dengan jelas."
"Dia... dia.,."
Kata Siau Po pura-pura menangis, padahal dia bingung karena belum memikirkan nama sahabatnya itu. Dia... she Hay bernama Kui Tong."
Siau Po memang cerdas sekali, Dalam waktu yang singkat dia bisa memikirkan sebuah nama yang diambilnya dari nama Hay thayhu, Siau Kui cu, dan Sui Tong, Dia berpikir dalam hati.
"Aku telah membunuh kalian bertiga dan sekarang aku bersembahyang untuk arwah kalian. Uang ini boleh kalian gunakan di dalam alam baka, Tapi arwah kalian tidak boleh mengganggu aku, ya!"
Kiam Peng melihat Siau Po menangis dengan sedih.
Dia segera menghibur.
"Bangsa Tatcu telah membunuh para gisu dan sahabat kita, Suatu hari pasti akan tiba saatnya kita membalaskan sakit hati mereka, Dan sakit hati gisu ini pun akan terbalaskan!"
Abu jenasah palsu itu disebut "gisu"
Panggilan yang luar biasa hormatnya, Karena "gisu"
Berarti "Patriot pecinta negara"
"Memang bangsa Tatcu harus dibasmi!"
Kata Siau Po dengan nada sengit "Kalau tidak, arwah para gisu tidak akan tenang dan sakit hatinya tidak terlampiaskan!"
Selesai upacara sembahyang, semua orang berdiam untuk beristirahat. Kemudian mereka mengucapkan selamat berpisah kepada Kho Gan-tiau untuk melanjutkan perjalanan.
"Biar aku antar kalian barang selintasan,"
Kata Siau Po kepada kedua nona dari keluarga Bhok itu."
Tentu saja Kiam Peng dan Pui Ie menjadi gembira mendengarnya.
Kedua nona itu duduk dalam satu kereta, sedangkan Ci Tian-coan dan Siau Po duduk dalam keretanya masing-masing, Kereta itu keluar dari pintu timur dan menuju arah timur juga, Setelah lewat beberapa li, baru mereka mengambil arah selatan.
Kurang lebih menempuh perjalanan sejauh delapan li, Tian Coan menyuruh keretakereta itu dihentikan Kemudian dia berkata kepada Siau Po.
"Ada pepatah yang mengatakan mengantar sahabat sejauh seribu li" . Tapi meskipun demikian, akhirnya toh harus berpisah juga, Begitu pula dengan kita. sekarang hari sudah siang, Mari kita singgah untuk minum teh, setelah itu kita melanjutkan perjalanan masing-masing."
Siau Po setuju, mereka mampir di sebuah kedai teh yang letaknya di pinggir jalan Ketiga sais kereta juga diajak serta, mereka duduk bertiga di meja lain.
Ci Tian-coan tahu diri.
Dia menerka kedua nona itu tentu ada apa-apanya dengan hiocu perkumpulan mereka.
Mungkin ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.
Dengan mencari alasan, dia mengundurkan diri, Dia berdiri memangku tangan dan menyaksikan pemandangan alam di luar kedai.
"Kui.. Kui.,."
Kata Kiam Peng membuka mulut, tapi dia segera mengganti katakatanya.
"Oh, bukan, bukan. sebenarnya kau she Wi bukan? Dan kau juga seorang... entah hiocu apa?"
Siau Po tertawa.
"Aku she Wi dan namaku Siau Po,"
Katanya terus terang.
"Di tempat ini aku adalah seorang hiocu dari Ceng-bok tong yang merupakan bagian dari Tian-te hwe. sekarang aku tidak dapat berbohong lebih lama lagi."
"Oh!"
Seru nona Bhok heran. Kemudian dia menarik nafas panjang.
"Mengapa kau menarik nafas?"
Tanya Siau Po.
"Kau adalah seorang hiocu bagian Ceng-bok tong dari Tian-te hwe,"
Kata si nona.
"Tetapi... mengapa kau menjadi thay-kam dalam istana Boan? Bukankah hal itu...."
Pui Ie menduga Kiam Peng akan mengatakan bukankah hal itu sayang sekali?"
Untuk mence-gahnya, dia segera menukas, Dia tidak ingin Siau Po menjadi tidak enak hati.
"Kalau seorang yang berjiwa gagah dan bersemangat patriot sudi bekerja untuk negaranya,"
Katanya.
"Dia tidak akan memperdulikan jalan apa pun. walaupun hal itu menentang sanubarinya sendiri, dia tetap akan menjalankannya. Kita justru harus menghormati orang seperti itu!"
Nona Pui menduga Siau Po mendapat tugas dari perkumpulannya untuk menyelinap ke dalam istana kerajaan Ceng untuk menjadi mata-mata.
Demi keberhasilannya, dia rela menjadi thay-kam, pengorbanan semacam itu baginya besar sekali!
Siau Po dapat menerka isi hati kedua nona itu.
Dia tersenyum.
Dalam hatinya dia bertanya pada dirinya sendiri "Apakah sebaiknya aku menjelaskan bahwa aku bukan seorang thay-kam asli?"
Tepat pada saat hiocu ini sedang berpikir keras, tiba-tiba dia dikejutkan suara bentakan Ci Tian-coan.
"Hm! Sahabat yang baik! Apakah sampai detik ini kau masih tidak mau memperlihatkan dirimu?"
Teguran itu ditujukan pada salah seorang sais kereta yang duduk di sampingnya.
Tangannya segera meluncur untuk menepuk bahu orang itu.
Tapi tepukannya itu gagal, karena si sais berhasil memiringkan bahunya dengan gesit sekali.
Tangan kiri Tian Coan segera meluncur lagi untuk menghajar pinggang kiri orang itu.
Ternyata sais atau kusir itu memang lihay sekali Dia menangkis sambil menggeser tubuhnya sehingga terbebas dari serangan itu.
Tian Coan merasa penasaran, sikut kanannya menyusul ke arah belakang leher si kusir.
Tukang kereta itu memang hebat Dia mengelakkan bagian belakang lehernya sambil membalas dengan meluncurkan tangan kanannya ke wajah penyerangnya.
Menyaksikan hal itu, Tian Coan mencelat mundur Dia merasa heran sekaligus kagum.
Kelihayan orang itu benar-benar di luar dugaannya, Apalagi selama mengelakkan diri maupun menyerang.
Kusir itu tetap duduk di atas kereta, Bukankah kepandaiannya sendiri cukup tinggi dan serangannya selalu membahayakan?
Dari tiga jurus yang sudah berlangsung, kentara jelas Ci Tian-coan yang keteter, dia menjadi tercekat hatinya sekaligus gusar, Bukankah dia mendapat tugas untuk mengantar kedua nona dari keluarga Bhok dan keselamatan mereka harus terjamin?
Tapi sekarang, baru menempuh perjalanan sebentar saja, dia telah menemui rintangan hebat!.
Untung saja dia keburu mencurigai kusir itu.
jangan kata tiba di dusun Cioki cung, mereka sekarang baru terpisah dari kotaraja sejauh belasan li.
"Tentunya dia jago dari istana!"
Pikir Ci Tian-coan dalam hati. Tentunya dia mendapat tugas melakukan penangkapan...."
Mengingat demikian, lekas-lekas Ci Tian-coan memberi isyarat kepada Siau Po bertiga yang perhatiannya sudah tertarik, Dia ingin mereka bertiga menyingkir terlebih dahulu agar dia bisa leluasa menghadapi kusir itu.
Siau Po bertiga terdiri dari orang-orang gagah.
Meskipun Pui Ie sedang terluka dan tidak dapat berkelahi, namun ketiganya sudah menghunus senjata masing-masing serta menerjang ke depan untuk mengepung kusir itu.
Sang kusir meloncat turun dari kereta dan duduk di atas tanah.
sekarang dia menoleh ke arah Ci Tian-coan dan sembari tertawa manis dia berkata.
"Sungguh tajam mata Pat-pi Wan Kau!"
Suaranya kecil, tapi agak melengking.
Siau Po berempat memperhatikan kusir itu, Mereka melihat wajahnya agak tembem seperti bengkak, kulitnya kuning, pipi dan dahinya kotor, pakaiannya juga dekil Sulit menaksir berapa kira-kira usianya.
Tian Coan heran mendengar orang itu bisa menyebut julukannya, Dia segera merangkapkan sepasang tangannya menjura.
"Tuan, siapa Anda?"
Tanyanya.
"Mengapa tuan menyamar menjadi kusir kereta dan mempermainkan aku si orang tua?"
Sampai waktu itu, barulah si kusir berdiri kembali Dia bangun perlahan-lahan dan sambil tertawa dia berkata.
"Mempermainkan? Aku yang rendah benar-benar tidak berani! Aku yang rendah adalah sahabatnya Wi hiocu! Aku mendengar kabar Wi hiocu sudah meninggalkan kotaraja, karena itu aku datang untuk mengantarkan."
Siau Po mengawasi orang itu, Kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Maafkan..."
Katanya.
"Kenyataannya... aku tidak kenal dengan tuan."
Kusir itu kembali tertawa.
"Kita berdua telah menghadapi musuh tangguh tadi malam,"
Katanya.
"Hiocu yang baik, masa kau begitu pelupa?"
Siau Po terkejut.
"Oh!"
Serunya.
"Rupanya kau To...."
Siau Po segera menyimpan pisau belatinya, Dia menghambur ke depan untuk meraih tangan kusir itu.
Rupanya kusir itu merupakan samaran dari To kionggo, Dia memoles wajahnya sedemikian rupa sehingga tidak mudah dikenali "Aku khawatir hiocu mendapat rintangan di tengah jalan dari bangsa Tatcu, dan aku menyamar dengan niat mengantarkan kau barang selintasan!"
Kata orang she To itu menjelaskan. Kemudian tampak dia menarik nafas panjang.
"Di luar dugaanku, mata Ci loyacu begitu tajam sehingga tidak dapat aku mengelabuinya!"
Ci Tian-coan memperhatikan kedua orang itu.
Hatinya menjadi lega dan sekaligus malu, Rupanya kusir itu adalah penyamaran sahabatnya sang hiocu, Dia juga menjadi jengah mengetahui kepandaian orang begitu tinggi, bahkan sepuluh kali lipat dari dirinya sendiri.
"Aih! Kalau dia benar-benar seorang musuh, pasti kami berempat sulit meloloskan diri dari maut,"
Pikirnya dengan hati jeri. Membawa pikiran demikian, Ci Tian-coan segera memberi hormat Sambil tertawa dia berkata.
"Tuan, sungguh aku merasa kagum dengan kelihayanmu! Dan kau, Wi hiocu, rejeki dan jodohmu sungguh bagus, di mana-mana kau mendapatkan kawan yang hebat!"
To kionggo tertawa.
"Ci toako hanya memuji,"
Katanya.
"Tidak sanggup aku menerimanya, tapi aku mohon tanya, kelemahan apakah yang Ci toako lihat sehingga samaranku ini bisa ketahuan?"
"Dalam hal dandanan, aku tidak menemukan kelemahan apa pun,"
Sahut Ci Tiancoan.
"Tetapi kecurigaanku timbul sejak keberangkatan tadi. Aku heran menyaksikan gerakan tanganmu ketika mengendalikan kuda dan menggunakan cambuk, Gerakan tanganmu tidak mirip dengan kusir lainnya, Aku lihat cambukmu meluncur lurus, tapi lenganmu tidak bergetar sebagaimana biasanya orang sedang mengayunkan cambuk. Ketika cambuk itu ditarik kembali, tanganmu juga tidak menekuk sebagaimana umumnya, Kalau aku tidak keliru, gerakan lengan itu dinamakan Kim-liong Ciong ho (Naga emas menerobos sungai) suatu ilmu tenaga dalam yang istimewa, Setahuku, di antara para kusir di kotaraja, tidak banyak yang menguasai ilmu tenaga dalam semacam itu."
Mendengar kata-katanya, Siau Po dan kedua nona dari keluarga Bhok tertawa, Demikian pula To kionggo dan Ci Tian-coan sendiri Mereka merasa orang she Ci ini benar-benar teliti juga cerdas, Sampai gerakan tangan orang mengayunkan cambuk pun dia perhatikan, sehingga dapat terlihat perbedaannya dari kusir-kusir lain.
Setelah tertawa, Tian Coan berkata.
"Aku yang rendah benar-benar tidak mempunyai mata, seharusnya aku tidak boleh sembarangan turun tangan sehingga perbuatanku menjadi kurang hormat, sayangnya aku si tua bangka ini sungguh tidak tahu diri dan sudah berlaku lancang."
"Jangan berkata demikian, Ci toako,"
Kata To kionggo.
"Tidak berani aku menerimanya, Sebaliknya, aku sangat mengagumimu karena kau berani bertanggung jawab melindungi Wi hiocu sekalian."
"Terima kasih, tuan. Pujian mu terlalu tinggi, Tuan, bolehkah aku tahu she dan namamu yang muIia?"
"Sahabatku ini she To,"
Siau Po mendahului memberi jawaban "Dengan aku sudah seperti saudara sehidup semati!"
"Tidak salah,"
Kata To kionggo membenarkan "Kamilah sahabat sehidup semati! Wi hiocu telah menolong selembar nyawaku!"
"Oh, cianpwe! janganlah cianpwe berkata demikian,"
Ujar Siau Po cepat.
"Yang benar, kita berdua telah bekerja sama dengan baik bertarung dan membunuh seorang telur busuk yang maha besar."
To kionggo tersenyum.
"Saudara Wi, Ci toako, nona Pui dan nona Bhok, sampai di sini saja kita berpisah!"
Habis berkata, dia memberi hormat dan lompat naik ke keretanya.
"To... To toako!"
Panggil Siau Po gugup, To toako kau hendak kemana. To toako tersenyum "Dari mana aku datang, kesanalah aku akan pergi!"
Sahutnya. Siau Po mengangguk "Baik!"
Katanya.
"Sampai jumpa!"
To kionggo hanya tersenyum. Dia langsung melarikan keretanya. Siau Po dan rekanrekannya hanya mengawasi kepergian orang itu. Hati mereka merasa kagum sekali.
"Ci loyacu, benarkah kepandaian orang itu tinggi sekali?"
Tanya Kiam Peng yang masih penasaran.
"Kepandaiannya lebih hebat sepuluh kali lipat daripadaku,"
Sahut Tian Coan, Terangterangan dia mengakui kehebatan lawannya tadi.
"Apalagi sebagai seorang wanita, lebih-lebih luar biasa!"
"Apa?"
Tanya Kiam Peng yang saking herannya sampai tertegun untuk sesaat.
"Dia wanita?"
"lya,"
Sahut Ci Tian-coan.
"Ketika dia melompat naik ke atas kereta, gerakan tubuhnya begitu gesit dan lincah serta menarik untuk dilihat!"
"Sebenarnya, aku juga mendengar suaranya tajam, tidak mirip dengan suara lakilaki,"
Kata Kiam Peng pula.
"Wi toako, dia... apakah wajahnya yang asli... cantik?"
"Empat puluh tahun yang lalu, kemungkinan dia cantik dan lucu,"
Sahut Siau Po. Tapi kalau di bandingkan dengan engkau, empat puluh tahun kemudian kau akan tetap cantik seperti sekarang. Bukannya cemburu atau malu, Kiam Peng malah tertawa geli.
"Ah!"
Serunya.
"Mengapa kau membanding bandingkan aku dengannya? Rupanya dia sudah tua!"
"Memang betul, mestinya usia wanita ini tidak muda lagi,"
Kata Tian Coan ikut memberikan komentar.
"llmu Kim-liong ciong ho yang dimilikinya pasti sudah dilatih lebih dari tiga puluh tahun, kala tidak, mana mungkin begitu lihay?"
Sementara itu, hati Siau Po sedih sekali, baru saja dia berpisah dengan To kionggo, sekarang di harus berpisah lagi dengan Kiam Peng dan Pui Ie.
Dua orang nona yang cantik dan manis, Selanjutnya dia akan sendirian.
Entah mengapa, tiba-tiba saja dia menjadi takut.
Di istana, meskipun thayhou sangat membencinya, tapi dia sudah terbiasa dengan tempat itu, lagipula banyak orang yang di kenalnya, Dibantu dengan kecerdasannya, dia selalu bisa terhindar dari marabahaya, Tapi sekarang Dia harus pergi ke gunung Ngo Tay san yang masih asing baginya, sedangkan tugasnya penting serta berat, Seumur hidupnya, dia juga belum pernah menempuh perjalanan sejauh itu seorang diri.
Pada dasarnya dia memang masih seorang bocah cilik.
Ci Tian-coan mengira sang hiocu akan kembali ke istana, karena itu dia berkata.
"Wi hiocu, hari sudah senja, Cepat kau puIang, Nanti sebentar lagi pintu kota akan ditutup!"
"lya,"
Sahut Siau Po. Pui Ie menyerahkan sebuah buntalan kepada si thay-kam cilik.
"lni bajumu, kau saja yang memakainya!"
Katanya.
"Tidak!"
Tolak Siau Po.
"Lebih baik kau yang memakai!"
"Kami diantar oleh Ci loyacu,"
Kata Pui Ie.
"Tentu tidak ada apa pun yang terjadi pada diri kami, mengapa kau masih merasa berat dan khawatir?"
Terpaksa Siau Po mengulurkan tangannya menyambut buntalan itu, Dia tidak mengatakan apa-apa, hatinya bingung sekali.
Tian Coan segera mempersilahkan kedua nona itu naik ke atas kereta.
Kemudian dia duduk di samping pak kusir, Begitu dia memberi isyarat, kereta itu langsung dijalankan menuju selatan.
Siau Po berdiri terpaku di pinggir jalan, matanya menatap ke arah kereta yang sedang melaju tanpa berkedip sedikit pun.
Dia melihat kedua nona itu melongokkan kepalanya dan melambaikan ta-ngannya, Tidak lama kemudian, kereta itu pun lenyap dari pandangan Setelah melaju kurang lebih tiga puluh tombak, jalan di sana membelok dan pemandangan pun terhalang oleh pohon Yang Liu yang rimbun.
Akhirnya, Siau Po pun naik ke atas keretanya sendiri Dia menyuruh kusir itu menjalankan keretanya menuju barat, bukan kembali ke kota Peking.
Kusir itu bingung sehingga dia memandang Siau Po dengan tertegun, Siau Po mengeluarkan uang sebanyak sepuluh tail dan disodorkannya kepada kusir kereta itu.
"lni uang sebanyak sepuluh taiI. Cukup untuk sewa kereta selama tiga hari bukan?"
Bukan main senangnya hati kusir itu.
"SepuIuh tail cukup untuk menyewa kereta ini selama satu bulan. Baiklah, kongcu ya, aku yang rendah akan melayanimu. Kongcu mau berjalan atau minta berhenti, harap diperintahkan saja."
Berbeda dengan semula, kusir itu memanggil Siau Po dengan sebutan kongcu ya yakni tuan muda dari kalangan atas.
Siau Po tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tersenyum, Malam itu dia singgah di sebuah dusun yang letaknya kurang lebih dua puluh li dari kota Peking, Dia memilih sebuah penginapan kecil, Di dalam kamar, dengan bantuan cahaya lilin, dia membuka, buntalan yang diberikan oleh Pui Ie.
Dikeluarkannya baju mustika berwarna hitam itu, kemudian dikenakannya sebagai pakaian dalam lalu ia berangkat tidur.
Besok paginya, Siau Po terjaga dari tidur, dia terkejut setengah mati.
Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan matanya berat sekali.
Untuk sekian lama dia tidak sanggup membuka matanya, Yang lebih celaka, seluruh tubuhnya justru terasa lemas seakan tidak mempunyai tenaga sedikit pun.
Dia merasa dirinya seperti sedang bermimpi buruk, Dia ingin membuka mulutnya untuk berteriak, tetapi tidak ada sedikit pun suara yang keluar Akhirnya, ketika dia mulai bisa membuka matanya, hatinya langsung tercekat Dia melihat ada tiga sosok mayat menggeletak di depan tempat tidurnya.
Saking kagetnya, Siau Po diam terpaku, Setelah agak sadar, dia mencoba menenangkan diri.
Dipaksakannya otaknya untuk berpikir.
Dia berusaha bergerak dan bangun, sekarang dia melihat di dalam kamarnya sudah bertambah satu orang lainnya.
Orang hidup, Dan saat itu sedang duduk memperhatikannya sambil tersenyum simpul!
"Oh!"
Serunya terkejut sekaligus gembira.
"Kau rupanya!"
Orang itu tertawa.
"lya!"
Sahutnya.
"Kau baru terjaga?"
Rupanya orang itu bukan lain dari To kionggo! Dalam sekejap saja, hati Siau Po jauh lebih lega.
"To cici!"
Katanya.
"To... ie ie... apa sebetulnya yang telah terjadi?"
To kionggo tidak langsung menjawab, Dia menunjuk ke arah tiga mayat yang menggeletak di atas lantai.
"Coba kau lihat! Siapa mereka?"
Siau Po mencoba turun dari tempat tidur, tapi baru saja dia menginjakkan kaki ke lantai, kedua lututnya terasa lemas dan dia jatuh terduduk.
Dengan berusaha sekuat tenaga akhirnya dia bisa berdiri juga, punggungnya bersandar pada tiang tempat tidur, Dia memperhatikan ketiga orang yang sudah menjadi mayat itu.
Tidak ada satu pun yang dikenalinya.
"Bibi To, kau telah menolong jiwaku?"
Tanyanya sambil mengawasi wanita itu. To kionggo balas menatapnya lekat-lekat "Sebenarnya kau memanggil aku kakak atau bibi?"
Tanyanya tertawa.
"Ayo, jangan memanggil tidak menentu!"
Siau Po ikut tertawa.
"Kau.,, kau adalah bibi To!"
Sahutnya kemudian. To kionggo tertawa lagi. Lalu dia berkata.
"Kau melakukan perjalanan seorang diri, lain kali kalau makan atau minum, kau harus hati-hati. Coba kau jalan bersama-sama Pat-pi Wan Kau, tentu tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Jadi tadi malam aku telah diracuni orang dengan Bong Hoan-yok?"
Tanya Siau Po.
"Kurang lebih begitulah!"
Sahut To kionggo tertawa.
"Mungkin obat itu dicampur ke dalam air teh,"
Sahut Siau Po. Ketika aku minum, memang aku rasa ada sedikit beda, ada sari asam dan manisnya."
Sembari berkata, bocah itu mengangkat teko teh. Dia ingat, tadi malam isi teko itu masih setengah, tapi sekarang sudah kosong, tidak ada isinya setetes pun.
"Oh? jadi ini sebuah penginapan gelap?"
Tanyanya.
"Tadinya sih penginapan bersih, sejak kau datang kemari, langsung saja berubah menjadi penginapan gelap!"
Kata To kionggo menjelaskan. Siau Po meraba kepalanya yang masih terasa nyeri.
"Aku benar-benar tidak mengerti!"
Katanya.
"Tidak lama setelah kau masuk ke dalam penginapan ini,"
Kata To kionggo kembali.
"Segera ada orang yang menyusul kemari dan membekuk pemilik penginapan ini. Mereka terdiri dari sepasang suami istri dan seorang pelayan Salah seorang penjahat itu langsung menyamar sebagai pelayan dengan mengganti pakaiannya lalu menyeduh teh dan membawakannya untukmu. Aku melihat kau berganti pakaian, tapi sampai lama kau hanya berdiam diri, entah apa yang sedang kau pikirkan Aku berlalu sebentar dengan pikiran sesaat lagi aku akan kembali, Tidak tahunya kau sudah minum teh yang mengandung obat bius itu, Untung saja yang dicampurkannya bukan racun."
Wajah Siau Po jadi merah padam Dia merasa malu dan jengah, Dia menyesal bertindak kurang hati-hati dan ceroboh sehingga berhasil dikerjai orang, Tadi malam, ketika'mengenakan baju mustikanya, dia ingat baju itu pernah dikenakan nona Pui yang cantik dan manis.
Dulu nona itu sangat membencinya, tapi sekarang sikapnya baik sekali.
Mengingat dia mengenakan pakaian yang baru dikenakan gadis itu, dia menjadi tidak enak, Dia juga malu mengetahui To kionggo melihatnya berganti pakaian tadi malam.
Memang usianya sudah lanjut, tapi To kionggo masih seorang nona, sebab dia belum menikah.
To kionggo melanjutkan keterangannya.
"Setelah kita berpisah kemarin, aku langsung kembali ke istana, Aku heran sekali mendapatkan keadaan di istana sunyi senyap dan tidak ada perkabungan bagi thayhou, Cepat-cepat aku mengganti pakaian kemudian pergi ke Cu-leng kiong, Sejak dari luar keraton, keadaan biasa-biasa saja. Segera aku memperoleh kepastian bahwa thayhou belum mati, itu suatu hal yang buruk bagi kita. Mulanya aku pikir, asal thayhou mati, kita berdua bisa berdiam terus di istana. sekarang ternyata dia masih hidup, hal ini berarti mau atau tidak kita harus meninggalkan istana, Terutama aku harus memperingatkan kepadamu, agar kau jangan kembali ke istana, karena perbuatan itu berarti kau mengantar nyawamu sendiri!"
Siau Po yang cerdik pura-pura terkejut "Oh!"
Serunya.
"Ternyata si nenek sihir belum mati? Wah! Berbahaya sekali!"
Dalam hati sebetulnya dia tidak enak karena mendustai wanita ini. Dia berkata dalam hati, Aku meninggalkan istana dengan tergesa-gesa, karena itu aku lupa memberitahukan urusan itu!"
"Setelah mendapat keterangan bahwa thayhou belum mati, aku segera membalikkan tubuh untuk pergi, Tapi, tiba-tiba aku melihat tiga orang siwi keluar dari Cu-leng kiong. Tindak-tanduk mereka mencurigakan sekali. Aku menduga thayhou mengirim mereka untuk menangkap aku, Namun setelah aku ikuti, ternyata mereka tidak menuju ke kamarku, sayangnya aku tidak sempat mengikuti lebih jauh. Cepat-cepat aku kembali ke kamar untuk berkemas dan meloloskan diri dari samping dapur Gisian pong!"
"Rupanya bibi menyamar sebagai petugas dapur,"
Kata Siau Po.
Di sana memang banyak sekali pekerjaan Seperti membelah kayu, menggotong arak, memotong ayam, mencuci sayur-mayur dan sebagainya, semuanya dilakukan oleh pegawai rendahan, sehingga tidak banyak orang yang memperhatikan mereka.
To kionggo melanjutkan kata-katanya.
"Begitu aku keluar dari istana, aku segera melihat ketiga orang siwi itu, mereka sudah mengganti pakaian dan pergi dengan menunggang kuda, Hal ini membuktikan bahwa mereka akan menempuh perjalanan jauh...."
"Oh!"
Seru Siau Po sambil menendang salah satu mayat tersebut "Jadi mereka inilah ketiga saudara baik hati yang membuka penginapan gelap ini?"
To kionggo tertawa.
"Karena itu kau harus mengucapkan terima kasih kepada mereka,"
Katanya.
"Kalau bukan mereka yang memimpin jalan, bagaimana mungkin aku bisa menemukanmu? Siapa yang menyangka kau akan memutar arah ke barat? Mereka ini justru menuju ke barat sepanjang perjalanan mereka selalu menanyakan tentang seorang bocah laki-Iaki berusia kurang lebih lima atau enam belas tahunan yang melakukan perjalanan seorang diri. Karena itulah aku menduga mereka mendapat tugas untu menangkapmu Mereka tiba di sini ketika magrib dan aku berhasil mengejar mereka tepat waktunya."
Siau Po merasa terharu sekali.
"Kalau bibi tidak datang menolongiku, kemungkinan sampai di alam baka pun aku tidak bisa menjawab pertanyaan Raja akherat mengenai kematianku,"
Sahutnya bersyukur "Kalau aku ditanya kan tentang cara kematianku, aku sendiri akan terbingung-bingung!"
To kionggo tersenyum, Senang hatinya berbicara dengan bocah ini.
Sudah berapa puluh tahun dia mengeram di dalam istana, jarang dia berbicar secara akrab dengan orang lain.
Bocah ini sungguh menarik, Mendengar kata-katanya, To kionggo sampai tertawa geli.
"Pasti Raja akherat akan berkata.
"Bawa dia pergi dan hajar lagi!"
Siau Po juga tertawa.
"Memangnya tidak?"
Katanya.
"Pasti raja akherat akan marah, Pasti dia tidak sudi di dalam nerakanya ada setan yang asal-usulnya tidak jelas, Dia juga tidak mau mengurus hantu yang kematiannya tidak karuan!"
Lagi-lagi To kionggo dan Siau Po tertawa.
"Bibi To, apa yang terjadi kemudian?"
Tanya Siau Po.
"Aku mencuri dengar pembicaraan mereka di dapur di mana mereka berkumpul. Tentu saja setelah membuat pemilik rumah penginapan dan pelayannya tidak berdaya, Menurut mereka, thayhou menitahkan kau hidup atau mati, sebaiknya ditangkap hiduphidup, tapi kalau terpaksa bunuh saja. Kalau kau sudah mati, semua barang milikmu harus dibawa pulang dan diserahkan kepada thayhou, Tidak boleh ada yang kurang! Katanya kau mencuri kitab suci milik thayhou, kitab yang biasa digunakan untuk membaca doa bagi Sang Buddha, Nah, adikku, benarkah kau mencuri kitab suci milik thayhou? Apakah Cong tocu yang menitahkan kepadamu?"
Sembari bertanya, To kionggo menatap Siau Po lekat-lekat "Aih! Tidak salah lagi!"
Pikirnya.
"Dayang ini pernah menggeledah kamar thayhou, tentu dia mencari kitab Si Cap Ji cing-keng.,."
Siau Po sadar dia tidak boleh membiarkan To kionggo menunggu lama untuk jawabannya, Dia memperlihatkan tampang terkejut dan balik bertanya.
"Apa? Kitab Buddha apa? Cong tocu kami tidak memuja dewi Pousat dan kami tidak pernah melihatnya membaca doa!"
To kionggo percaya dengan keterangannya, Wanita itu memang gagah, tapi dia kalah cerdas dengan Siau Po.
Di dalam istana kenalannya cukup banyak, tapi sahabatnya hampir tidak ada.
Dia hanya kenal baik dua dayang tua lainnya, Dia juga mendapat kenyataan bahwa thay-kam ini cerdas dan polos.
Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Aku telah menolongnya dan tentu saja dia bersyukur sekali kepadaku, Mustahil dia berbohong, LagipuIa, aku telah memeriksa buntalan nya.."
Karena itu dia menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Aku melihat mereka membuka buntalanmu dan memeriksa isinya, mereka mendapatkan dua
Jilid kitab ilmu silat, tampaknya mereka merasa bimbang dan tidak bisa memastikan apakah itu kitab yang dimaksudkan ibu suri!"
"Oh!"
Teriak Siau Po. Dia memang terkejut, taa terus menjalankan sandiwaranya.
"Kitab ilmu silat itu merupakan tulisan guruku, celakalah kalau sampai diambil oleh mereka."
To kionggo tersenyum "Jangan khawatir!"
Katanya.
"Kitab itu masih ada dalam buntalanmu Sebaliknya, mereka justru keblinger melihat uangmu yang begitu banyak, Bahkan mereka sudah berdamai untuk membagi hasil dan menyembunyikannya. Aku jadi marah sekali, saat itu juga aku langsung masuk dan membereskan mereka, sekarang soal kitab agama Buddha itu, Aku yakin kitab itu penting sekali artinya, Aku juga tidak percaya kalau kau menyerahkannya kepada Ci loyacu atau kedua nona yang pergi ke dusun Cioki cung, Karena ketiga musuh itu sudah mati dan kau tidak kurang suatu apa pun, menggunakan waktu saat kau beristirahat aku langsung menyusul Ci loyacu, Aku pergi dengan menunggang kuda. untung saja aku berhasil menyusul mereka yang sedang beristirahat dalam sebuah penginapan. Mula-mula aku berpikir untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam Tapi nyatanya Pat pi Wan Kau memang lihay sekali. Baru saja aku naik ke atas genteng, dia sudah tahu, terpaksa sekali lagi kita bertempur...."
"Dia kan bukan tandinganmu!"
Kata Siau Po.
"Sebenarnya aku tidak berminat melakukan kesalahan terhadap pihak Tian-te hwe, tapi kali ini aku benar-benar terpaksa,"
Sahut To kionggo dengan nada penuh penyesalan "Setelah bertarung beberapa saat, aku berhasil merobohkannya, kemudian baru aku beri penjelasan dan memohon agar dia tidak salah mengerti atas apa yang kulakukan serta sudi memberi maaf.
Karena itu pula, aku harap kalau kau bertemu dengannya, tolong kau jelaskan sekali lagi dan minta agar dia jangan mendendam terhadapku Aku berbuat begitu saking terpaksa, Aku telah memeriksa buntalan mereka bertiga, aku juga menggeledah seluruh kamar, tapi aku tidak berhasil mendapatkan apa pun.
Dan ketika aku akan meninggalkan penginapan tersebut, aku melihat seorang dari dunia kangouw yang gerak-geriknya mencurigakan.
Dia sedang mendekam di wuwungan atap kamar Ci loyacu, Dari gerak-geriknya itu pula, aku mempunyai keyakinan kepandaiannya tidak seberapa tinggi dan Ci loyacu bertiga tentu sanggup menghadapinya, Maka dari itu, aku segera meninggalkan mereka dan kembali ke sini."
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis Kho Ping Hoo
Baca Juga: Anak Rajawali 7