Eps 6 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
"Namanya It Cou,., dan dia... juga kekasih... hati kakak Pui.,,."
Tiba-tiba Kiam Peng berhenti bicara dan tertawa, karena Pui Ie menggelitiknya sehingga dia kegelian.
"Oh, Lau It-cou!"
Seru Siau Po tertahan "Dia..."
"Dia apa?"
Tanya Pui Ie panik.
"Ada apa dengan dia?"
"Bukankah dia bertubuh tinggi, berwajah putih dan tampan? Usianya sekitar dua puluh lebih?"
Tanya Siau Po.
"Bukankah ilmu silatnya cukup tinggi?"
Sebenarnya Siau Po tidak tahu siapa Lau It-cou.
Dia juga belum pernah melihatnya, tetapi karena pemuda itu adalah kekasih Pui Ie, dia dapat menerka bahwa pemuda itu pasti tampan Padahal dia hanya asal menebak dan sebagai kakak seperguruan Pui Ie, pasti ilmu silatnya juga cukup tinggi Di luar perkiraannya, dugaan Siau Po tepat.
"Tidak salah lagi! Memang dia orangnya! Kenapa dia?"
Tanya Kiam Peng. Siau Po tidak langsung menjawab Dia menarik nafas panjang terlebih dahulu.
"Aih.,, rupanya Lau suhu itu kekasih nona Pui,"
Katanya kemudian Tepat pada saat itu dari luar kamar terdengar suara panggilan.
"Kui kongkong, ada hadiah dari thayhou!"
Mendengar itu, Siau Po menjadi senang, Dia berkata dalam hati.
"Oh, dasar perempuan lacur! Dia toh tidak sudi menemui aku, untuk apa aku menemuinya? sekarang lohu tidak takut mati, dia justru yang merasa khawatir!"
Walaupun berpikir demikian, dia tetap menjawab. Terima kasih atas hadiah itu!"
Dan dia membuka pintu lalu menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk kepada orang yang membawakan hadiah itu, seorang thay-kam Dia pun mengucapkan terima kasih kepada thay-kam tersebut.
Hadiah itu berupa sebuah kotak kayu yang berukiran indah, Ketika Siau Po membuka tutup-nya, dia melihat isinya adalah sebotol obat Dia segera mengeluarkan selembar uang kertas bernilai lima puluh tail dan diberikan kepada si thay-kam sebagai persenan.
Thay-kam itu senang sekali, dia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah sebesar itu, Dia mengucapkan terima kasih berulang kali.
Setelah kembali ke dalam kamarnya, tanpa ragu-ragu lagi Siau Po menelan sebutir obat itu.
"Kui toako!"
Panggil Pui Ie.
"Bagaimana dengan Lau su... ko?"
"Oh, dasar perempuan bau!"
Maki Siau Po dalam hati.
"Biasanya kau tidak pernah bersikap ramah kepadaku, sekarang kau melakukannya sebab ingin menanyakan keadaan sukomu, Malah kau memanggil aku Kui toako, sebaliknya aku gertak dulu dia!"
Thay-kam gadungan inipun segera menggeleng kan kepalanya sambil menarik nafas panjang.
"Sayang... sayang sekali.,."
Katanya. Pui Ie terkejut setengah mati.
"Bagaimana?"
Tanyanya gugup.
"Apakah dia terluka atau sudah mati? Cepat katakan!"
Tiba-tiba si bocah nakal itu tertawa lebar-lebar "Oh, orang yang bernama Lau It-cou itu,., katanya memperlihatkan tampang cengengesan "
Aku tidak kenal dengannya dan aku tidak pernah melihatnya.
Tapi kalau kau menanyakan tentang dia, baiklah!
sekarang kau panggil dulu aku kong kong yang baik sebanyak tiga kali, Nanti aku past sudi melelahkan diri mencari tahu soal orang itu!"
Pertama-tama Pui Ie memang terkejut sekali namun setelah mendengar nada suara Siau Po hatinya jadi agak lega. Tapi dia tidak mau memanggil kongkong yang baik, dia hanya berkata.
"Kau selalu bicara tidak karuan! sebaiknya kau katakan terus terang saja! Katakanlah yang sebenarnya!"
Siau Po tidak menjawab kata-katanya. Dia malah ngelantur.
"Hm! Kalau Lau It-cou itu jatuh ke tanganku, mula-mula aku akan meringkusnya kemudian aku hajar habis-habisan, Aku akan menanyakan kepada-nya, dengan rayuan manis apa dia dapat menipu serta mencuri jantung hatiku! Setelah itu aku akan mengangkat golokku tinggi-tinggi dan aku bacok-kan kepadanya, suaranya begini. Creppp!"
Kiam Peng merasa tercekat hatinya.
"Apa?"
Tanyanya.
"Apakah kau hendak membunuhnya?"
"Bukan, bukan!"
Sahut Siau Po.
"Aku hanya ingin membacok kantong telurnya, dengan demikian dia akan menjadi orang kebiri!"
Nona Bhok masih terlalu kecil, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Siau Po, tapi Pui Ie langsung merah padam wajahnya. Dia merasa jengah mendengar kata-kata seperti itu.
"Kau mengoceh sembarangan!"
Katanya.
"Lau sukomu itu kemungkinan sudah tertawan,"
Kata Siau Po sambil tertawa.
"Aku, Kui kongkong memang tukang bicara, tapi banyak orang yang suka mendengarkan perkataanku Nah, nona Pui, sekarang kau katakan, apakah kau ingin memohon bantuan dariku?"
Kembali wajah gadis itu merah padam, Thay-kam cilik ini benar-benar jahil, pikirnya.
"Eh, Kui toako,"
Kata Kiam Peng turut memberi suara.
"Kalau kau memang sudi memberikan bantuan, tidak perlu menunggu orang memintanya. Bantuan yang tulus barulah tindakan seorang yang gagah!"
Siau Po mengibaskan tangannya.
"Tidak! Kata-katamu salah!"
Sahutnya.
"Aku justru paling senang mendengar permohonan orang, Kalau orang memanggilku suamiku yang baik, apalagi dengan nada yang mesra, semakin suka aku membantunya!"
Pui Ie menatap Siau Po lekat-lekat Dia benar-benar kewalahan menghadapi orang yang satu ini.
"Kui toako... akhirnya dia memanggil "Toako yang baik, aku memohon bantuanmu!"
Kembali timbul rasa iseng dalam hati Siau Po. Dia menggoda lagi "Kau harus memanggil suami padaku!"
Katanya sambil tersenyum.
"Bicaramu keliru, Kui toako!"
Kata Kiam Peng.
"Suciku ini akan menikah dengan Lau suko, Karena itu Lau suko yang akan menjadi suaminya, Mana boleh suci memanggil suami kepadamu?"
"Tidak bisa!"
Kata Siau Po.
"Kalau dia menikah dengan Lau It-cou, lohu cemburu! Iya, aku merasa tidak puas, aku iri!"
"Kau tidak tahu, Kui toako,"
Kata nona Bhok kembali. Nadanya setengah membujuk "Lao suko itu orangnya baik sekali..."
"Tidak!"
Bentak si bocah cilik.
"Justru karena dia baik, aku semakin iri! Aku cemburu sekali!"
Berkata begitu, Siau Po tetap tertawa, Sembari meraih bungkusannya di atas meja, dia berjalan keluar, pintu kamarnya dikunci.
Dengan mengajak empat orang thay-kam sebagai pengiring, dia menunggang kuda menuju jalan Tiang An barat, istana yang dihadiahkan Raja untuk Peng Si ong, Ketika Go Eng-him mengetahui kedatangan utusan raja, dia segera keluar dan menjatuhkan dirinya berlutut.
"Sri Baginda menitahkan aku membawa beberapa barang untuk diperlihatkan kepadamu!"
Kata Siau Po langsung.
"Siau ongya, nyalimu besar atau tidak?"
"Nyali Pi cit (hamba yang berpangkat rendah) kecil sekali Pi cit tidak boleh terkejut sedikit pun,"
Sahut Go Eng-him. Siau Po menunjukkan mimik heran.
"Nyalimu kecil sekali sehingga tidak boleh terkejut sedikit pun?"
Tanyanya.
"Tapi, apa yang kau lakukan justru begitu besar dan mengejutkan!"
"Kongkong, Pi cit tidak mengerti apa yang kongkong maksudkan,"
Sahut Go Eng-him. Tolong kongkong jelaskan!"
Ketika bertemu dengan Siau Po di istana Kong Cin ong, Go Eng-him tidak membahasakan dirinya Pi cit atau aku yang berpangkat rendah, Kalau sekarang dia menyebut dirinya demikian, karena Siau Po sebagai utusan raja, Lagipula dia dapat merasakan suasana yang kurang menguntungkan dirinya.
Siau Po tidak memberikan penjelasan Dia berkata lagi dengan tampang serius.
"Tadi malam kau telah mengirim beberapa perusuh untuk menyerbu istana! sekarang Sri Baginda menitahkan aku menanyakan persoalan ini!"
Sejak pagi harinya Go Eng-him sudah mendengar kabar tentang serbuan tadi malam.
sekarang mendengar kata-kata Siau Po, otomatis dia terkejut setengah mati.
Dari berlulut, tanpa sadar dia berdiri kemudian berlutut kembali sambil menyembah berulang kali menghadap arah istana kerajaan.
"Sri Baginda! Sri Baginda telah menurunkan budi yang besar kepada kami ayah dan anak, Meskipun menjadi kerbau atau kuda, sulit rasanya membalas budi yang demikian besar itu, Sri Baginda, budak Go Sam-kui dan Go Eng-him bersedia me ngorbankan jiwa dan raga untuk bekerja demi Sri Baginda, Tidak nanti hati kami berani bercabang dua!"
Siau Po tertawa menyaksikan sikap orang itu.
"Bangun! Bangunlah!"
Katanya ramah.
"Perlahan-lahan saja kau menyembah, semuanya masih belum terlambat Siau ongya, mari! Kau lihat dulu barang-barang yang aku bawa ini!"
Sembari berkata, Siau Po membuka bungkusan nya. Go Eng-him lantas bangkit untuk melihat is bungkusan yang terdiri dari senjata dan pakaian pakaian dalam otomatis dia jadi menggigil dan gemetar.
"Ini... ini.,."
Suaranya bergetar dan ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika membaca surat pengakuan para busu, Dia memaksakan dirinya membaca sampai habis, isinya ternyata pengakuan orang-orang yang tertawan, bahwa kedatangan mereka menyerbu istana adalah atas perintah Go Sam-kui.
Dengan demikian kelak Go Sam-kui akan mendapat dukungan untuk menggantikan kaisar Kong Hi yang harus dibunuh.
Meskipun otaknya cerdas, Go Eng-him tetap terkejut dan ketakutan Kedua kakinya jadi lemas dan sekali lagi dia jatuh berlutut "Kui....
Kui...
kongkong..."
Panggilnya dengan suara bergetar "lni tidak benar!
pastilah orang-orang itu sudah dihasut supaya memfitnah kami ayah,., dan anak!
Kongkong, aku harap kau sudi menghadap Sri Baginda dan menuturkan urusan yang sebenarnya.
Sri Baginda cerdas dan bijaksana, Pasti kata kongkong akan didengarnya....
" "Urusan ini sudah tersiar luas,"
Kata Siau Po.
"So tayjin dan To tayjin telah menghadap Sri Baginda dan melaporkan pengakuan para penyerbu itu, Kau tahu sendiri, ini namanya pemberontakan durhaka terhadap junjungannya! siapakah yang bernyali demikian besar membicarakan urusan kepada Sri Baginda? Kau minta aku menghadap Sri Baginda, sebetulnya bukan tidak bisa, tapi untuk itu aku harus memikirkan cara yang sempurna. Alasan apa yang bisa kukemukakan untuk membelamu, Sulit bukan?"
Bagian 21 Mendengar suara bimbang, Go Eng-him sepert mendapat sedikit harapan, Hatinya senang sekali.
"Biar bagaimana, Pi cit mengharapkan bantua kongkong,"
Katanya.
"Ya, Pi cit hanya mengandalkan kongkong seorang!"
"Kau bangunlah!"
Kata Siau Po.
"Mari kita bicara sembari berdiri!"
Eng Him menurut, dia bangkit.
"Benarkah para penyerbu itu bukan orang orang suruhanmu?"
"Pasti bukan!"
Sahut Go Eng-him tegas.
"Man berani Pi cit melakukan perbuatan durhaka dan memberontak seperti itu? Bukankah itu merupaka dosa tidak terampunkan?"
"Baik,"
Kata Siau Po.
"Aku senang bersahabat dengan mu. Aku percaya padamu, Tapi ingat, kalau mereka memang orang-orangmu, selain menjerumuskan dirimu sendiri, kau juga menyeret aku!"
"Aku tahu, kongkong. Mereka pasti bukan orang-orangku!"
Kembali Eng Him memberikan kepastiannya.
"Siapa kira-kira orang yang ingin memfitnah kalian ayah dan anak?"
Tanya Siau Po.
"Sulit bagiku untuk menunjuknya, Kami mempunyai banyak musuh!"
Sahut Go Enghim bingung "Untuk memberikan penjelasan kepada Sri Baginda, kau harus menyebut nama salah seorang musuhmu,"
Kata si kongkong.
"Dengan begitu Baginda baru bisa menaruh kepercayaan atas apa yang kukatakan."
"lya, kongkong memang benar. Ayah Pi cit telah bekerja banyak demi kerajaan Ceng, tidak sedikit lawan yang telah ia robohkan, Karena itu bisa di mengerti kalau sisa-sisa lawannya masih membencinya sampai sekarang, Tentu saja mereka juga berusaha mengadakan pembalasan, Umpamanya sisa orang-orangnya Lie Cong, pangeran Tong Ong, Kui ong, Juga keluarga Bhok dari Inlam, Mereka-mereka itu pasti bisa melakukan hal apa saja."
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Sekarang coba kau terangkan kepadaku tentang sisa-sisanya Lie Cong dan keluarga Bhok itu, Bagaimana tentang ilmu silat mereka? Dapatkah kau memperlihatkan beberapa jurus di antaranya agar aku dapat tuturkan di depan Sri Baginda nanti? Aku akan mengatakan kepada Sri Baginda bahwa itulah ilmu silat para penyerbu yang kau lihat tadi malam. Dengan demikian kata-kataku disertai bukti."
Eng Him senang sekali mendengar ucapan Siau Po. Dia yakin cara itu memang bagus sekali.
"Pemikiran kongkong ini baik sekali!"
Pujinya.
"Mengenai ilmu silat, kepandaian aku yang rendah masih terbatas, Karena itu, biarlah Pi cit tanyakan dulu kepada orangorangku, silahkan kongkong duduk menunggu, sebentar Pi cit akan kembali lagi!"
Go Eng-him memberi hormat kemudian masuk ke dalam, Tidak lama kemudian, dia sudah muncul kembali bersama salah satu orangnya, yakni Yo Ek-ci, orang yang kemarin dibantu Siau Po untuk memenangkan perjudian sebanyak seribu enam ratus tail.
Ek Ci mengenali thay-kam cilik ini.
Cepat-cepat dia memberi hormat.
wajahnya tampak kelam.
Mungkin Eng Him sudah memberitahukan maksud kedatangan si thaykam cilik sebagai utusan raja ini.
Siau Po tertawa dan berkata.
"Yo toako, jangan khawatir! Tadi malam kau berjudi di istana Kong Cin ong, tidak sedikit orang yang melihatmu Tidak mungkin kau disangka sebagai penyerbu gelap di istana!"
"ltu memang benar! Tapi aku takut ada orang jahat yang ingin memfitnahku,"
Kata Ek Ci. Di adalah kepala pengawal Go Eng-him, karenanya dia juga bertanggung jawab atas para bawahannya.
"Aku khawatir ada orang yang mengatur cerita burung bahwa sengaja Go sicu mengajak aku ke istana Kong Cin ong, tetapi di belakangnya aku justru telah mengatur penyerbuan ke istana raja...."
"Iya.... Kekhawatiranmu memang beralasan juga."
Kata Siau Po.
"Kongkong, kaulah yang dapat menolong kami."
Kata Ek ci kemudian.
"Menurut Go sicu, kongkong sudah memberi penjelasan kepada Sri Baginda tentang bebasnya kami dari sangkaan, Kami benar-benar berterima kasih atas kebaikan kongkong, Musuh Peng Si ong banyak sekali, Pihak-pihak itu juga mempunyai aneka ragam ilmu silat yang berlainan namun ilmu keluarga Bhok istimewa serta mudah dikenali..."
"Aih! Sayang sekali!"
Kata Siau Po yang cerdik, Sayang di sini tidak ada orang keluarga Bhok, kalau tidak, kita dapat memintanya menjalankan beberapa jurus ilmu keluarga itu!"
"llmu tangan kosong dan ilmu pedang keluarga Bhok sangat terkenal dan sudah tersiar luas di wilayah Inlam,"
Kata Ek Ci.
"Karena itu, hamba ingat beberapa jurus di antaranya, kalau kongkong suka, hamba akan berusaha menjalankannya, kawanan penyerbu itu datang membawa golok serta pedang, Bagaimana kalau hamba tunjukkan beberapa jurus ilmu pedang Keng Hong kiam?"
Siau Po memperlihatkan mimik gembira.
"Bagus sekali kalau Yo toako mengenal ilmu silat keluarga Bhok, Aku tidak mengerti ilmu pedang dan untuk mempelajarinya juga memerlukan waktu yang cukup lama, sebaiknya kau mainkan jurus tangan kosong saja, nanti aku akan mencobanya."
"Kongkong telah berhasil membekuk Go Pay, nama kongkong terkenal di empat penjuru dunia!"
Kata Ek Ci.
"Aku yakin ilmu silat kongkong pasti lihay sekali, Kongkong, mana yang aku tidak paham,harap Kongkong sudi memberikan petunjuk!"
Yo Ek-ci segera menuju tengah ruangan dan mulai bersilat dengan perlahan.
Maksudnya agar si thay-kam cilik dapat melihat dengan jelas.
Ilmu silat keluarga Bhok memang terkenal sejak dua ratus tahun yang lalu, itulah sebabnya, meskipun belum lancar sekali, tapi Yo Ek-ci mengenalnya dan dapat menjalankan nya dengan baik, Pada dasarnya dia memang lihay, Banyak sudah dia mendengar dan mengalami sendiri, pengetahuan nya pun luas sekali.
"Sungguh bagus!"
Kata Siau Po memuji ketika melihat Ek Ci menjalankan jurus "Heng-sau cian kun"
Begitu pun ketika orang itu menjalankan juru Kao-san Liu Sui.
"Bagus sekali!"
Pujinya sekali lagi ketika Ek Ci berhenti menunjukkan permainannya.
"Dalam waktu yang sesingkat ini, aku tidak dapat mempelajari semuanya sekaligus. Karena itu, di depan Sri Baginda nanti, aku akan menunjukkan dua jurus itu saja, Dengan demikian Sri Baginda bisa menanyakan kepada para siwi, apakah mereka mengenal jurus tersebut. Coba kau katakan, apakah kau tahu asal-usuI kedua jurus tadi?"
Selesai berkata, Siau Po pun segera menjalan kan kembali kedua jurus Heng-sau Ciang kun da Kao-san Liu Sui tersebut.
"Bagus! Kongkong bagus sekali!"
Seru Ek memuji "Kongkong dapat menjalankan kedua jurus tadi dengan baik sekali!
Setiap ahli silat tentu akan mengenalnya, Kongkong memang cerdas sekali, Dengan sekali lihat saja kongkong dapat mengikutinya.
Kongkong, dengan demikian keluarga Go pasti luput dari ancaman bahaya!"
Go Eng-him berulang kali menjura kepada Siau Po seraya berkata.
"Kongkong, keluarga Go yang terdiri dari seratus jiwa lebih semuanya mengandalkan pertolongan kongkong untuk menyelamatkannya!"
Mendengar ucapan Go Eng-him, Siau Po berpikir dalam hati.
"Keluarga Go ibarat mempunyai gunung emas dan bukit permata, Dengannya aku tidak perlu membicarakan harga!"
Dia pun menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Bukankah kita adalah sahabat sejati? Siau ongya, jangan bicara soal budi pertolongan Dengan berkata demikian, kau menganggap aku seperti orang luar saja, Lagipula, Siau ongya, aku memang berusaha menoIongmu, tapi berhasil atau tidaknya toh masih belum ketahuan!"
"Baiklah, kongkong, Aku mengerti..."
Kata Eng Him. Siau Po berdiri, dia mengambil bungkusaan berisi senjata dan pakaian dalam tadi, Diam-diam dia berpikir.
"Barang-barang ini untuk sementara tidak boleh aku serahkan kepadanya." Kemudian dia pun bertanya.
"Sri Baginda, juga berpesan agar aku bertanya kepadamu, bukankah dari sekian pembesar Inlam ada seorang yang bernama Yo It-kong?"
Go Eng-him tertegun saking herannya.
"Yo It-kong adalah seorang pembesar yang pangkatnya masih rendah,"
Pikirnya dalam hati. Di memang datang ke kotaraja, tapi belum sempat menghadap Sri Baginda, mengapa Sri Baginda bisa mengetahui tentang dirinya?"
Tapi secepatnya di menjawab.
"Yo It-kong adalah seorang camat yang baru diangkat untuk kecamatan Kiokceng di Inlam sekarang dia memang ada di kotaraja menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Sri Baginda,"
"Sri Baginda menyuruh aku menanyakan Sia ongya tentang orang itu,"
Kata Siau Po.
"Beberap hari yang lalu Yo It-kong telah berbuat sewenang-wenang dalam sebuah rumah makan di kotaraja ini, dia membiarkan para pengikutnya menghajar orang. Sri Baginda ingin tahu apakah tabiatnya sekarang sudah berubah atau belum?"
Mendengar pertanyaan itu, Go Eng-him terkejut setengah mati.
Yo It-kong mendapat pangkat camat karena menyogok uang sebanyak empat laksa tail kepada Go Sam-kui.
Dari jumlah itu, Go En him sendiri menarik sebanyak tiga ribu tail.
Ini yang membuatnya terperanjat, cepat-cepat menjawab.
"Nanti Pi cit memberikan pelajaran kepadanya!"
Kemudian dia menoleh kepada Yo Ek-ci dan berkata.
"Kau segera perintahkan orang memanggil Yo It-kong. Pertamatama, hajar dia dengan rotan sebanyak lima puluh kali!"
Setelah itu dia berkata lagi kepada Siau Po.
"Kongkong, tolong laporkan kepada Sri Baginda bahwa Go Sam-kui kurang teliti dalam memilih pejabat. Karena itu Go Sam-kui minta maaf dan bersedia diturunkan pangkatnya! Tentang Yo It-kong dia akan segera dipecat dan untuk selamalamanya tidak akan terpilih kembali. Sebagai penggantinya akan diminta Lie Pou tayjin memilih orang yang cakap!"
Siau Po tertawa.
"Ah, dia tidak perlu dihukum demikian berat!"
"Tapi Yo It-kong sungguh lancang dan nyalinya besar sekali, perbuatannya ini sampai diketahui Sri Baginda,"
Kta Go Eng-him.
"Sebenarnya hukuman itu malah terlalu ringan, seharusnya dia mendapatkan hukuman kematian. Nah, Yo Ek-ci, hajar lah dia yang keras!"
"Baik, Siau ongya!"
Sahut Yo Ek-ci. Siau Po tertawa.
"Aku rasa jiwa orang she Yo itu bisa tidak ketolongan,"
Pikirnya dalam hati, Kemudian dia berkata kepada Go Eng-him.
"Baiklah, Siau ongya, sekarang juga aku hendak kembali ke istana untuk memberikan laporan kepada Sri Baginda, Terutama aku harus melatih dulu kedua jurus Heng-sau ciang kun dan Kao-san Liu Sui itu!"
Selesai berkata, thay-kam cilik itu memberi hormat kemudian membalikkan tubuhnya untuk berjalan pergi.
Go Eng-him mengiakan dan membalas penghormatannya, Kemudian dengan sigap dia mengeluarkan sebuah bungkusan besar dari balik pakaiannya dan dengan kedua tangannya dia angsurkan kepada Siau Po seraya berkata.
"Kui kongkong, budimu yang besar sulit Pi cit balas, Begitu pula kebaikan congkoan, So tayjin beserta beberapa siWi Tayjin. Karena itu, Pi cit harap kongkong sudi membantu bicara dengan mereka dan sekalian tolong sampaikan bingkisan Pi cit yang tidak berharga ini. Kalau nanti Sri Baginda menanyakan apa-apa kepada kongkong, harap mereka sudi membantu kongkong bicara sehingga dapat mencuci rasa penasaran ayah Pi cit!"
Siau Po menyambut bungkusan itu yang berupa uang, Sembari tertawa dia berkata.
"Siau ongya hendak meminta bantuanku, boleh saja!"
Sudah satu tahun lebih Siau Po berdiam dalam istana, Meskipun usianya masih muda, tapi di sudah mengerti banyak cara bicaranya seorang thay-kam dan dia dapat bersikap baik dalam hal ini Eng Him beserta Ek Ci mengantarkan Siau Po keluar Sikap mereka menghormat sekali.
Ketika Siau Po sudah berada di dalam joli, di mengeluarkan bungkusan yang diberikan Go Eng him.
Ketika dia membukanya, ternyata isinya uang kertas senilai sepuluh laksa tail.
"Hm!"
Pikirnya dalam haii.
"Dari jumlah ini, lohu harus mengambil setengahnya!"
Benar saja, Dia segera menyisihkan lima laksa tail dan disusupkannya ke dalam saku pakaian, sedangkan isinya yang lima laksa tail lagi disusun rapi kemudian dibungkus kembali.
Setibanya di istana, mula-mula dia menemui raja di kamar tulis Gi Si pong, Dia memberi laporan tentang Go Eng-him yang menurutnya sangat menghormati dan memuji kebijaksanaan junjungannya itu dan pangeran itu merasa bersyukur sekali.
Kaisar Kong Hi tertawa.
"Hal ini pasti membuatnya terkejut sekali!"
"Ya, dia memang kaget dan ketakutan!"
Sahut Siau Po ikut tertawa.
"Setelah itu hamba bicara tentang para penyerbu yang ilmu silatnya telah Sri Baginda ketahui berasal dari keluarga Bhok. Mendengar itu, Go Eng-him heran sekaligus gembira."
Raja tertawa lagi, Siau Po segera mengeluarkan bungkusan berisi uangnya sambil berkata.
"Ya, Go Eng-him sangat bersyukur Dia memberikan sejumlah uang kertas yang katanya satu laksa buat hamba sendiri, sedangkan sisanya untuk dihadiahkan kepada para siwi yang telah berjasa menghadang dan menumpas para penyerbu, Nah, Sri Baginda, Dengan demikian, bukankah kami telah memperoleh untung besar?"
Siau Po memperlihatkan uang kertas itu, semuanya berjumlah seratus lembar dan nilai masing-masingnya lima ratus tail. Kaisar Kong Hi tertawa dan berkata.
"Kau masih sangat muda, selaksa tail pasti tidak habis kau pakai seumur hidup, sisanya boleh kau bagi rata kepada para siwi itu!"
Senang hati Siau Po mendengar keputusan junjungannya itu, tapi dia masih berpikir.
"Sri Baginda memang cerdas sekali, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau aku Wi Siau-po telah mempunyai uang sebanyak berpuluh laksa tail."
Kemudian dia berkata kepada Raja.
"Sri Baginda, perkenankanlah hamba mengatakan sesuatu, Bagi hamba, apa yang tidak tersedia? Asal hamba setia kepada Sri Baginda dan melayani dengan baik, Sri Baginda dapat memberi kehidupan mewah kepada hamba. Karena itu, biarlah uang sebanyak lima laksa tail ini, semuanya dibagikan saja kepada para siwi dan kepada mereka nanti hamba akan mengatakan bahwa se mua ini adalah persenan dari Sri Baginda sendiri Mengapa kita harus memberi muka kepada orang seperti Go Enghim?"
Sebenarnya tidak ada niat raja menghapus jasa orang. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah kebaikan Go Eng-him. Tapi setelah mendengar kata-kata Siau Po yang mengatakan "memberi muka"
Kepada Go Eng-him,"
Hatinya tercekat.
Meman benar, bila dikatakan uang sebanyak itu adala hadiah dari Go Eng-him, para siwi pasti senantia mengingat kebaikan pembesar dari Inlam itu.
Melihat Raja diam saja, Siau Po dapat menebak isi hatinya, Tanpa menanti rajanya berbicara, Siau Po segera berkata lagi.
"Sri Baginda, ketika Go Sam-kui menyuruh putranya datang ke kotaraja ini, dia pasti membekal uang dalam jumlah yang banyak sekali, Dan setiap bertemu orang, putranya itu pasti memberikan persenan, Karena itu, bukan tidak mungkin dia sengaja menanam kebaikan untuk mengambil hati. Bukanlah dalam satu negara, meskipun seseorang itu uangnya banyak sekali, tetapi sebetulnya merupakan milik Sri Baginda? Maka itu, hamba pikir Go Sam-kui itu rada aneh, Dia seperti menganggap Inlam sebagai miliknya sendiri..."
Kaisar Kong hi mengangguk mendengar kata-kata Siau Po.
"Baiklah!"
Katanya kemudian "Kau boleh katakan bahwa uang itu merupakan persenan dariku!"
Siau Po merasa puas, Dia memohon diri terus keluar dari kamar tulis raja dan menuju tempat para siwi di mana di sana dia juga bertemu dengan To Lung.
"To Congkoan, Sri Baginda menitahkan agar para siwi yang tadi malam telah berjasa dibagikan uang sebanyak lima laksa tail ini!"
Katanya sambil menyerahkan uang itu. To Lung senang sekali, Dia menerima uang itu dengan berlutut dan mengucapkan terima kasih. Siau Po tertawa.
"Sekarang Sri Baginda sedang gembira hatinya, Karena itu, sebaiknya kau menghadap sendiri dan ucapkan terima kasih secara langsung!"
To Lung menurut Bersama Siau Po, dia menuju kamar tulis raja, ia berlutut di hadapan kaisar Kong Hi sambil berkata.
"Sri Baginda telah menghadiahkan uang, karenanya hamba beserta para siwi menghaturkan banyak terima kasih!"
Kong Hi menganggukkan kepalanya sembari tertawa.
Siau Po segera mewakili rajanya bicara.
"To congkoan, Sri Baginda menitahkan supaya semua uang yang jumlahnya lima laksa tail harus kau bagikan kepada para siwi yang telah berjasa tadi malam, Bahkan siwi yang terluka karena tugasnya diberi lebih banyak dari yang lainnya!"
"Baik! Hamba menurut perintah!"
Sahut To Lung. Melihat sikap Siau Po yang demikian cerdas, kaisar Kong Hi berpikir dalam hatinya.
"Siau Kui cu sangat setia dan pandai bekerja, otaknya cerdas sekali, Dia juga tidak tamak oleh harta. Diberikannya semua uang yang berjumlah lima laksa tail itu kepada para siwi, sedangkan dia tidak memungut satu ci pun!"
Sementara itu, Siau Po dan To Lung segera mengundurkan diri. To congkoan menyisihkan uang sejumlah selaksa tail dan diserahkannya kepada Siau Po sambil berkata.
"Kui kongkong, sudilah kiranya kongkong menerima uang ini untuk dihadiahkan kepada para kongkong sebagai tanda bukti kami para siwi terhadap kongkong!"
Siau Po tertawa.
"Oh, To congkoan, kata-katamu menandakan kau kurang bersahabat Aku Siau Kui cu, seumur hidup paling menghormati sahabat-sahabat yang berkepandaian tinggi, Kalau saja uang yang lima laksa tail tersebut dihadiahkan Sri Baginda kepada para pembesar sipil, biar bagaimana aku pasti akan mengambil barang satu atau dua laksa tail. Tapi uang itu diberikan kepadamu, To congkoan, karena itu, biar kau memberikan setengahnya pun kepadaku, aku tidak akan menerimanya!"
To Lung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa.
"Para siwi mengatakan di antara para kongkong, hanya Kui kongkong yang paling muda juga paling bersahabat Ternyata kata-kata mereka bukan bualan belaka!"
Siau Po tersenyum.
"To congkoan,"
Katanya seperti tiba-tiba teringat akan suatu hal.
"Dapatkah kau memberitahukan kepadaku, apakah di antara para penyerbu yang tertawan itu ada seseorang yang bernama Lau It-cou atau tidak? Kalau ada, kita dapat mengorek keterangan darinya!"
"Aku belum tahu, kongkong,"
Sahut To Lung.
"Baiklah nanti aku akan menyelidikinya."
"Baiklah!"
Kata Siau Po yang terus mengundurkan diri. Baru saja dia sampai di depan pintu kamarnya, seorang thay-kam datang memberikan laporan kepadanya.
"Kui kongkong, orang she Cian datang lagi membawa seekor babi yang diberi nama Te Hong jinsom ti. Katanya sebagai hadiah untuk kongkong, Sekarang dia ada di dapur menunggu kedatangan kongkong,"
Siau Po mengernyitkan alisnya, pikirnya diam-diam.
"Babi yang dulu, hoa tiau hokleng ti masih belum selesai urusannya, sekarang dia mengantarkan seekor lagi, Huh! Apa kau kira istana ini tempat penyimpanan babi-babi? Tapi dia toh sudah datang, bagaimana aku harus menolaknya?"
Sembari berpikir demikian, Siau Po segera pergi ke dapur Di sana ia melihat wajah orang she Lian yang ramai dengan senyuman itu. Malah ketika melihat Siau Po, dia langsung berkata.
"Kui kongkong, babi hoa tiau hokleng ti itu benar-benar daging babi yang berkhasiat Lihatlah, setelah kongkong makan daging babi itu, wajah kongkong jadi bercahaya menandakan kesehatannya yang baik, Kongkong, aku bersyukur kongkong sudi membeli daging babi dariku, Karena itu sekarang aku membawakan lagi seekor babi yang diberi nama Te hong jinsom ti, ini dia babinya!"
Katanya sambil menunjuk ke samping.
Kali ini babi hidup yang dibawanya, BuIunya putih mulus dan bersih sekali di dalam kurungan-nya, babi itu jalan berputar-putar.
Siau Po menganggukkan kepalanya, Dia tahu orang itu sedang memberikan kisikan kepadanya, Sebab kedatangan Cian ini tidak mungkin tanpa maksud apa-apa.
Orang she Cian itu segera menghampiri Siau Po sambil mencekal tangannya, Sembari tertawa dia berkata.
"Benar hebat pengaruh daging babi yang hamba antarkan tempo hari, Lihat, tenaga kongkong jadi besar dan nadinya berdenyut kencang!"
Begitu kedua tangan mereka saling menyentuh, Siau Po dapat merasakan ada kertas yang dipindahkan ke tangannya, Dia segera menyambut kertas yang dirasa ada maknanya itu, namun dia masih buta apa kira-kira persoalannya, sedangkan di muka umum dia juga tidak ingin menanyakan apa-apa.
"Babi Te hong Jinsom ini lain lagi cara memakannya,"
Kata Si Cian.
"Tolong kongkong pesankan kepada perawat babi agar binatang itu diberi makan ampas arak selama sepuluh hari berturut-turut, Sampai waktunya aku akan datang lagi untuk menyembelih dan memasaknya buat kongkong!"
Siau Po menjungkitkan sepasang alisnya.
"Babi hoa tiau hokleng saja sudah membuat seluruh tubuhku panas tidak karuan,"
Sahutnya "Bagaimana lagi dengan jinsom ti ini? Nanti kau bawakan aku lagi Yan Oh ti! Saudara Cian, biar ka sendiri saja yang memakan nya, aku tidak mau!"
Orang she Cian itu tertawa.
"Oh, kongkong, inilah tanda buktiku terhadap kongkong,"
Katanya.
"Lain kali aku tidak berani memusingkan kongkong lagi!"
Dia lantas memberi hormat kemudian membalikkan tubuhnya untuk pergi. Siau Po membiarkan orang itu berlalu, Dia berpikir keras.
"Pasti kertas ini ada tulisannya, Tapi, sekalipun hurufnya sebesar semangka, aku juga tidak mengenalnya, Bagaimana baiknya sekarang?"
Siau Po tidak putus asa, Setelah memesan bawahannya untuk memelihara babi itu baik-baik, dia kembali ke kamarnya, Dia berkata lagi dalam hati "Si Cian ini sangat cerdik, pertama kali dia mengantar babi, di dalam babi itu dia menyembunyikan Siau kuncu, sekarang dia membawa babi hidup.
Hanya saja suratnya ini....
Mau tidak mau aku harus minta bantuan Siau kuncu, Dasar celaka orang s Cian itu?
Memangnya dia tidak bisa bicara langsung?
Mengapa harus tulis surat segala?"
Setelah membuka pintu, Siau Po masuk dalam kamarnya.
"Kui toako,"
Kata Kiam Peng begitu melihat thaykarn cilik.
"Tadi ada orang membawakan barang hidangan, Tapi rupanya dia melihat pintu kamar yang terkunci jadi dia pergi lagi tanpa mengetuk pintu."
"Mengapa kau bisa tahu kalau dia datang mengantarkan barang hidangan?"
Tanya Siau Po sembari tertawa.
"Ah! Tentu hidungmu mencium bau masakan yang lezat bukan? sekarang tentunya kau sudah lapar? Kenapa kau tidak makan kue saja?"
Bhok Kiam Peng tertawa.
"Aku tidak malu-malu!"
Sahutnya.
"Tadi aku sudah makan kue itu!"
Siau Po tersenyum.
"Kui,., Kui toako.,."
Panggil Pui Ie.
"Apakah kau,.,?"
Tiba-tiba si nona menghentikan kata-katanya. Dia menjadi jengah.
"Tentang Lau sukomu itu, aku belum berhasil memperoleh keterangan apa pun,"
Shut Siau Po yang mengerti arah pertanyaan si nona.
"Kata para siwi dalam istana, mereka tidak menangkap orang she Lau...."
"Terima kasih!"
Kata Pui Ie.
"Syukurlah kalau dia memang tidak sampai tertawan!"
"Meskipun demikian, ada baiknya bagi kalian,"
Sahut Siau Po.
"Dia ada di luar istana walaupun mungkin dia memikirkan dirimu, Sebaliknya, kau merindukan dia, tapi kau ada di dalam istana, Sepasang kekasih untuk selamanya tidak dapat bertemu, bukankah hal itu mengecewakan sekali ?"
Wajah nona Pui jadi merah padam.
"Aku toh tidak mungkin berada dalam istana ini seumur hidup?"
Katanya.
"Seorang nona, begitu dia masuk ke dalam istana, mana ada kesempatan untuk keluar lagi?"
Sahut Siau Po. Dia memang iseng dan suka menggoda.
"Apalagi nona secantik dan semanis dirimu ini, Aku Siau kui cu, begitu melihat kau saja, hatik sudah kepincut, Timbul keinginan dalam hatiku untuk mengambil kau sebagai istri, Demikian pula Sri Baginda, Kalau beliau melihatmu, pasti dia aka memilihmu menjadi ratu! Karena itu, nona Pui, aku ingin memberi nasehat kepadamu, Ada baiknya kau menjadi ratu saja!"
Hati si nona merasa mendongkol dan tidak puas.
"Tidak sudi aku bicara panjang lebar denganmu!"
Katanya.
"Setiap ucapanmu hanya membuat aku jengkel dan membuat habis kesabaranku!"
Siau Po tidak menggubrisnya, dia hanya te tawa, Kemudian dia serahkan kertas di tangann kepada si nona cilik.
"Siau kuncu, tolong kau bacakan surat ini katanya. Kiam Peng menyambut kertas itu kemudi membacanya.
"Di kedai kopi Kho Seng ada nyanyian dan cerita dengan judul Eng Liat-toan."
"Eh, apa artinya ini?"
Tanya si nona bingung. Mendengar bunyi surat itu, Siau Po lantas mengerti.
"Pihak Tian-te hwe ada urusan ingin bertemu denganku Aku diundang ke kedai kopi untuk mendengar cerita tentang kisah kaisar Beng thaycou dulunya, Kecewa kau menjadi keluarga Bhok kalau kisah Eng Liat-toan saja kau tidak tahu."
"Sudah tentu aku tahu kisah Eng Liat-toan itu,"
Kata Bhok Kiam-peng.
"ltu kan cerita bagaimana mula-mulanya kaisar Beng thayou membangun kerajaan Beng!"
"Bagus!"
Kata Siau Po.
"Sekarang aku akan menanyakan kepadamu, tahukah kau kisah Bhok ongya dengan tiga kali memanah mengukuhkan kedudukannya di Inlam serta Kui kongkong dengan sepasang tangannya memeluk si nona cantik?"
"Fui!"
Ejek si nona dengan keras.
"Ketika kakekku mengukuhkan kedudukannya di Inlam, tentu saja dalam kisah Eng Liat-toan ada disebut juga, Tapi tentang Kui kongkong dengan sepasang... tangannya... tangannya...."
Siau Po memperhatikan si nona cilik lekat-lekat Lalu dia berkata dengan serius.
"Coba kau katakan! Ada tidak kisah tentang Kui kongkong yang dengan sepasang tangannya memeluk sepasang nona cantik?"
"Sudah tentu tidak ada!"
Sahut Kiam Peng.
"ltu kan hanya karanganmu sendiri!"
"Bagaimana kalau kita bertaruh?"
Tanya Sia Po.
"Bagaimana kalau ada? Dan bagaimana kalau tidak ada?"
"Kisah Eng Liat-toan itu, aku sudah hapal luar kepala!"
Sahut Kiam Peng.
"Aku juga sudah mendengar cerita itu berulang kali, Bertaruh apa pun aku berani! Cici Pui, bukankah tidak ada cerita tentang Kui kongkong seperti yang dikatakannya?"
Belum sempat Pui Ie memberikan jawaban, Siau Po sudah melompat naik ke atas tempat tidur.
Tanpa membuka sepatu lagi, dia menyusup ke dalam selimut dan berbaring di tengah-tengah kedua nona itu.
Sepasang tangannya merangkul nona Pu dan nona Bhok!
Saking kagetnya, kedua nona itu sampai menjerit tertahan, namun tidak sempat menyingkirkan diri.
Hanya Kiam Peng yang masih berusaha memberontak.
Siau Po menggunakan kesempatan itu untuk memiringkan tubuhnya ke arah Pui Ie.
Dengan demikian bibirnya segera menyentuh pipi si gadi yang halus, Dia juga menciumnya satu kali.
"Sungguh harum..."
Kata si bocah ceriwis.
Nona Pui terkejut setengah mati, Dia ingin meronta, namun dia hanya mengeluarkan jerita tertahan saking nyerinya.
Lukanya memang masih belum sembuh dan tidak boleh sembarangan bergerak, Meskipun demikian, tangan kirinya masih melayang juga ke pipi si bocah.
Plok!
Terdengar suara gaplokan yang keras.
"Ah! Kau hendak membunuh suamimu? Kau tidak takut menjadi janda?"
Goda Siau Po sambil membalikkan tubuhnya dan terus mencium pipi Kiam Peng yang putih dan halus.
"Hm! Sama harumnya! Setelah itu si thay-kam cilik melompat turun dari tempat tidur Terus dia berlari keluar dari kamarnya dan mengunci pintunya dari luar. Kamar Siau Po terletak disisi ruang makan Raja, di sebelah selatan gudang, Karena itu dia berjalan menuju utara untuk mengitari pendopo Yang Sim-tian, kemudian belok ke kiri melintasi tiga ruangan kemudian melewati pintu Yang Hoa mui. Pintu Sin An mui dan maju terus melalui keraton Siu an kiong yang terletak di sisi pendopo Eng Hoa tian, Lantas memutar lagi lewat pintu Si Tiat mui dan akhirnya keluar dari Sin Bu mui di sebelah utara. Pintu adanya di bagian belakang Ci Kiam sia, kota terlarang, sekeluarnya dari istana dia langsung menuju kedai Kho Seng. Begitu Siau Po duduk, seorang pelayan segera menghampirinya dan menyuguhkan teh hangat, setelah itu, Kho Gan-tiau berjalan perlahan mendekatinya dan melewatinya. Namun ketika lewat dia mengedipkan matanya, Siau Po mengangguk. Dibiarkannya orang itu berlalu.
"Kau pasti menunggu aku,"
Pikirnya dalam hati, Dia meneguk tehnya beberapa kali, terus dilemparkannya uang di atas meja sembari berkata.
"Hari ini tidak ada tukang cerita.,."
Ia pun bangkit dan berjalan dengan tenang seperti Kho Gan-tiau tadi.
Di jalan raya, di sebelah ujungnya tampak Kh Gan-tiau berdiri menunggu.
Siau Po berjalan terus menghampiri Di samping ada dua buah joli.
"Silahkan naik!"
Kata Go Tiau kepada Siau Po Kemudian dia naik ke atas joli lainnya, Dia berbuat demikian setelah menoleh ke sekitarnya dan yakin tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Gerakan kaki si tukang gotong joli cepat sekali, mereka seperti dibawa terbang, Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Siau Po melihat tempat itu merupakan halaman sebuah rumah, Di sini Gan Tiau masuk terlebih dahulu, dan dia pun mengikuti dari belakang, Begitu melintasi dinding berbentuk rembulan, di sana tampak berkumpul sejumlah anggota perkumpula Tian-te hwe, semuanya segera memberi hormat dengan menjura, Di antaranya terdapat, Hoan Kon Hong Ci-tiong, Hian Ceng tojin serta orang she Cian yang mengantarkan babi ke istana.
"Eh, Cian laopan!"
Sapa Siau Po sambil tertawa "Sebenarnya siapakah she dan nama besarmu?"
Orang ditanya ikut tertawa.
"Sesungguhnya sebawahanmu ini memang she Cian, sedangkan nama belakangnya Lao Pun (ua pokok)."
Siau Po tertawa tergelak.
"Kenyataannya kau memang cerdas dan pandai bekerja,"
Puji Siau Po.
"Kalau berdagang, kau pasti untung terus!"
"Ah.... Wi hiocu hanya memuji saja..."
Kata si Cian tersenyum para anggota yang lainnya segera mengundang Siau Po masuk ke ruang tengah dan semuanya langsung duduk berkumpul.
"Wi hiocu, silahkan lihat!"
Kata Hoan Kong yang tidak sabaran. Dia segera memperlihatkan sehelai kartu nama berwarna merah yang lebar.
"Tulisan itu.,."
Siau Po berkata terus terang, tapi sikapnya memang jenaka,"
Mereka semua bisa melihat aku, tapi aku tidak mengenal mereka sama sekali Bahkan inilah pertemuan kita yang pertama!"
"Hiocu, kartu itu merupakan sehelai surat undangan."
Kata Cian laopan menjelaskan "Kita diundang untuk menghadiri sebuah pesta perjamuan.
"Bagus!"
Sahut Siau Po.
"Pihak mana yang memberi muka terang kepada Tian-te hwe dengan undangannya itu?"
"Menurut huruf-huruf yang tertera di atas surat undangan ini, orang yang mengundang kami adalah Bhok Kiam-seng!"
Kata Cian Lao Pun memberikan keterangan. Siau Po langsung tertegun.
"Bhok Kiam-seng?"
Dia mengulangi nama itu sekali lagi.
"lya,"
Sahut si Cian.
"Dia adalah Siau ongya atau pangeran muda dari Bhok onghu."
Sekarang Siau Po baru menganggukkan kepalanya.
"Oh, jadi dia itu kakaknya si babi hoa tiau hokleng itu?"
"Benar!"
Kata si Cian.
"Dia mengundang kita semua?"
Tanya Siau Po kembali "Dalam surat undangan dia menulis dengan sungkan, Dia mengundang hiocu dari Ceng bo tong dan sekalian orang-orang gagah dari Tian Te Hwe untuk menghadiri perjamuannya, Waktunya malam ini, sedangkan tempatnya di lorong Si Kang cu ho tong."
"Coba kau katakan, apa maksud undangannya ini?"
Tanya Siau Po kepada si Cian.
"Mungkinkah dia mencampurkan obat bius dalam barang hidangannya nanti?"
"Menurut tata krama, tidak mungkin dia melakukan perbuatan serendah itu,"
Kata si Cia "Nama Bhok onghu dalam dunia kangouw sangat terkenal sedangkan Bhok Kiamseng juga seorang pangeran muda, Boleh bilang derajatnya sama dengan Tan Cong tocu kita, Meskipun demikian, ada pepatah yang mengatakan, rapat tiada yang sempurna, pesta tidak ada yang baik akhirnya, Karena itu, hiocu, apa yang hiocu khawatirkan, mau tidak mau kita harus menjaganya!"
"Jadi kita pergi ke sana tanpa menyentuh makanannya sama sekali?"
Tanya Siau Po.
"Di sana toh ada masakan yang terkenal di Inlam dan kita harus mencicipinya!"
Para hadirin saling menatap sekilas, Siau Po menjadi heran, Tidak ada seorang pun yang membuka suara sampai sekian lama.
"Kami semua mohon petunjuk dari Wi hiocu,"
Kata Hian Ceng tojin akhirnya. Siau Po tertawa.
"Ada arak yang harus, ada hidang yang lezat Malam ini kita harus mencicipinya, Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kalian mengangkat aku sebagai ketua, Setelah kenyang bersantap, kita bisa berjudi dan berpelesiran dengan nona-nona manis! Aku yang menanggung seluruh biayanya! Tapi, kalau kalian ingin membantu aku berhemat, mari kita semua penuhi undangan keluarga Bhok itu!"
Lucu sekali cara bicara Siau Po, tapi dengan demikian ucapannya jadi tidak jelas, Dia tidak memberikan keputusan apakah mereka harus memenuhi undangan keluarga Bhok atau tidak.
"Hiocu,"
Kata Hoan Kong.
"Menggembirakan sekali hiocu bersedia mengajak kami menghadiri pesta perjamuan undangan keluarga Bhok ini memang harus kita terima baik, Sebab kalau kita menolak, pasti akan mempengaruhi nama baik Tian-te hwe. Bisa timbul anggapan kita ini pengecut dan nama baik perkumpulan kita akan runtuh...."
"Jadi kau setuju kita pergi?"
Tanya Siau Po menegaskan. Kemudian dia menoleh kepada Hian Cen tojin, Hong Ci-tiong, si Cian dan Kho Gan-tiau, Semua rekannya itu menganggukkan kepalanya.
"Kalau semua sudah menyatakan persetujuan nya, nah... marilah kita makan barang hidangan, ada meneguk arak yang mereka sajikan nanti!"
Kata Sia Po akhirnya.
"lni yang dinamakan, musuh datang kita hadang, air datang kita bendung, teh datan kita teguk! Dan nasi datang, kita lahap semuanya Kalau racun yang datang, ya terpaksa kita telan juga! Kita adalah orang-orang gagah yang tidak takut mati. Siapa takut mati, tidak pantas disebut seorang laki-laki sejati!"
"Yang penting kita semua meningkatkan kewaspadaan,"
Kata Hian Ceng tojin kemudian.
"Kita akan tahu bagaimana kenyataannya nanti, Di antara kita, ada yang minum teh, ada pula yang tidak, Juga tidak semuanya minum arak, Ada juga di antara kita yang tidak makan daging maupun ikan. Dengan demikian, biarpun mereka menaruh racun, toh tidak mungkin pada semua makanan dan minuman Kita juga tidak akan mati semua! Kalau kita datang tapi menolak makan dan minum, kita pasti jadi bahan tertawaan...."
Dengan demikian, keputusan sudah diambil, untuk menghadiri perjamuan Bhok Kiam-sen Siau Po melepaskan seragam thay-kamnya, Dia berdandan sebagai seorang pemuda gagah, Untuknya, Kho Gan-tiau telah menyediakan seperangkat pakaian lengkap dengan kopiahnya, Dia juga pergi dengan naik joli, anggota Tian-te hwe yang lainnya hanya berjalan kaki.
Demikianlah mereka menuju lorong Si kongcu ho tong.
Di tengah jalan Siau Po berpikir.
Di dalam istana, siang dan malam aku selalu khawatir memikirkan si nenek sihir yang jahat itu.
Aku takut dia akan mencari kesempatan untuk membunuhku Tapi sekarang, keadaannya berbeda sekali, Di dalam istana mana mungkin aku sebebas dan sesenang ini?
Namun aku harus ingat pesan Suhu, Aku berdiam di dalam istana untuk menyelidiki situasi kerajaan Ceng, Kalau aku lancang mengundurkan diri, bukan saja aku tidak berhasil mendapatkan informasi apaapa.
Mungkin nyawaku sendiri tidak terjamin.
Biar-lah, sebaiknya aku lihat dulu perkembangannya.
Lorong Si kongcu jaraknya dua li 1ebih.
setibanya rombongan, Siau Po langsung keluar dari jolinya.
Mereka segera mendengar suara tetabuhan yang riuh rendah.
"Apakah ada pesta pernikahan sehingga suasananya demikian meriah?"
Tanya Siau Po dalam hati.
Di depan mereka tampak sebuah rumah besar dengan halaman yang luas, Di situ terlihat belasan orang, dandanan mereka rapi, mereka maju untuk melakukan penyambutan di depan pintu gerbang Yang berdiri paling depan adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun, Tubuhn kurus tinggi, tampangnya tampan dan gagah, Dia segera memperkenalkan diri.
"Aku yang rendah bernama Bhok Kiam-sen Dengan segala kehormatan menyambut kedatang Wi hiocu yang terhormat beserta rombongannya!"
Pergaulan Siau Po dengan para pembesar negeri sudah luas sekali.
Karena itu dia menganggap penyambutan yang dilakukan tuan rumah wajar saja, Dengan mudah dia dapat membawa diri.
Kalau perlu dia dapat menunjukkan tampang anggun.
Bhok Kiamseng ini memang pangeran muda, tapi kalau dibandingkan dengan Kong Cin ong, dia masih kalah satu tingkat, pangeran Kong, baik raja sendiri sangat akrab dengannya.
Meskipun demikian, dengan sopan dia membalas penghormatan orang itu sambil berkata.
"Siau ongya terlalu banyak peradatan, tak sanggup aku menerimanya!"
Sementara itu, secara diam-diam Siau Po memperhatikan pangeran muda ini.
Dan dia melihat kenyataan bahwa wajahnya memang mirip deng Kiam Peng, Tidak salah lagi mereka memang kak beradik.
Bhok Kiam-seng sudah tahu bahwa hiocu Ceng-bok tong dari Tian-te Hwe yang berkedudukan di kota Peking usianya masih muda, dan dari Pek Han hong dia juga mendengar kepandaian bocah ini masih rendah sekali, namun mulutnya si hiocu lihay sekali.
Dia pandai memojokkan orang dengan kata-katanya, Tampangnya seperti orang kasar dan kemungkinan dia diangkat sebagai hiocu hanya memandang muka gurunya yang menjadi ketua pusat Tian-te hwe.
Sekarang, melihat ketenangan dan kewibawaan Siau Po, dia menjadi heran, Diamdiam dia berpikir.
"Mungkin bocah ini mempunyai keistimewaan tersendiri..."
Dia segera mengundang tamu-tamunya masuk ke dalam di mana setiap kursi diberi alas merah yang tebal.
Para tamu itu pun mengambil tempat duduk dan begitu pun tuan rumahnya.
Di sampingnya berdiri Sinjiu kisu Sou Kong.
Pek Han-hong dan belasan orang lainnya, Mereka berdiri tegak dengan tangan di luruskan kebawah.
Setelah semuanya duduk, Kedua belah saling berkenalan Sampai di situ, diam-diam Hoan Kong berpikir dalam hati.
"Pangeran Bhok itu sikapnya tidak dibuat-buat dan tidak angkuh. Dia mengenal sekali aturan dunia kangouw!"
Para pelayan pun menyuguhkan teh, Pemainan musik memperdengarkan lagu sebagai penyambutan atas tamu-tamunya, Kemudian barang hidangan pun disajikan Bhok Kiam-seng memberikan isyarat dengan tangan sebagai tanda perjamuan dimulai Dia juga mengajak para tamunya menuju meja makan "Silahkan Wi hiocu mengambil tempat duduk."
Katanya mempersilahkan. Nadanya ramah sekali. Siau Po menerima undangan itu dengan sikap hormat. Dia pun mengucapkan terima kasih. Setelah dia duduk, Bhok Kiam Seng memilih tempat di sebelahnya.
"Undang suhu!"
Kata tuan rumah setelah semua orang duduk, Sou kong dan Pek Han-hong pergi ke dalam, tidak lama kemudian mereka keluar lagi dengan mengiringi seorang tua. Kiam Seng segera menyambutnya sambil berkata.
"Suhu, hari ini hiocu Ceng-bok tong, Wi hiocu dari Tian-te hwe telah sudi berkunjung ke tempat kita, Dengan demikian beliau telah memberikan muka terang kepada kami!"
Kemudian dia berpaling kepada Siau Po dan berkata kembali "Wi hiocu inilah Liu suhu, guru aku yang rendah!"
Siau Po segera memberi hormat seraya memuji orang itu yang menurutnya sudah lama dia mendengar nama besarnya.
Orang tua itu bertubuh tinggi besar, wajahnya kemerah-merahan, kumis dan janggutnya sudah memutih.
sedangkan kepalanya botak, Usianya kira-kira tujuh puluh tahun namun tampaknya masih sehat dan sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam Justru dia sedang menatap tamunya yang masih muda lekat-lekat Kemudian sambil tertawa dia berkata.
"Belakangan ini nama Tian-te hwe semakin terkenal saja!"
Suara si orang tua juga lebih keras dari orang kebanyakan Setelah itu dia menambahkan "Usia Wi hiocu masih muda sekali, Benar-benar orang yang sulit ditemukan keduanya dalam dunia persilatan!" .
Siau Po tertawa dan menyahut.
"Aku bukan orang pandai, justru tolol sekali, Barubaru ini tanganku telah tercekal oleh Pek suhu sehingga tidak dapat berkutik Hampir saja aku berkaok-kaok kesakitan ilmu silatku benar-benar rendah sekali!"
Selesai berkata, si hiocu muda malah tertawa terbahak-bahak Dia tidak merasa malu atau jengah sedikit pun sehingga semua orang menatapnya dengan heran, Malah Pek Han-hong sendiri yang merasa malu.
Si orang tua sebaliknya ikut tertawa lebar.
"Wi hiocu orangnya benar-benar polos!"
Katanya memuji.
"Hm, demikianlah sikap seorang Iaki-laki sejati, Hiocu, lohu kagum tiga bagian terhadapmu."
Kembali Siau Po tertawa.
"Kagum tiga bagian, itu sudah terlalu banyak, Syukur aku yang rendah tidak dipandang sebagai pengemis cilik yang tidak punya kebisaan apa-apa."
Mendengar kata-katanya, orang tua itu tertawa lagi.
"Oh, hiocu sungguh pandai bergurau!"
Katanya. Sampai di situ, Hian Ceng tojin turut bicara.
"Locianpwe, apakah locianpwe ini Tiat Pwe-cong liong Si naga berpunggung besi Liu loeng-hiong yang namanya sudah sangat terkenal di dalam dunia kangouw, khususnya wilayah selatan?"
"Tidak salah!"
Sahut si orang tua. bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Syukur Hian Ceng tojin masih mengingat nama hina aku si orang tua."
Di dalam hatinya Hian Ceng tojin terkejut sekali.
"Belum lagi aku memperkenalkan diri, dia sudah tahu siapa aku. Dari sini dapat dibuktikan bahwa persiapan Bhok Kiam-seng ini sempurna sekali. Dengan hadirnya orang tua ini, pangeran muda ini tidak perlu menggunakan racun. Dengan mengandalkan ilmu silatnya saja, mungkin kami bukan tandingannya!"
Meskipun dia berpikir demikian, tapi imam itu tetap menjura dan berkata.
"Liu loenghiong, ketika tempo dulu Liu Loenghiong menghajar tiga penjahat di sungai Nou kang serta melabrak tentara Boan, nama besar loenghiong langsung menggetarkan dunia kangouw, setiap orang muda dari dunia persilatan memuji tinggi dan sangat menghormati Liu Loenghiong!"
"ltu kan urusan lama, untuk apa diungkit kembali?"
Kata Lio Loenghiong sambil tertawa, tapi nada suaranya menandakan dia senang mendengar pujian itu.
Jago tua itu bernama Liu Tay-hong.
Namanya sudah terkenal sekali, Dan dulunya dia sangat dihargai oleh keluarga Bhok, yakni semasa Bhok Tian-po masih hidup, Ketika pasukan Boanciu menggempur wilayah Inlam, dialah yang berjasa menyelamatkan keluarga Bhok.
sedangkan Bhok Kiam-seng diangkatnya sebagai murid.
Karena itu, di dalam keluarga tersebut, kecuali, sang pangeran, dialah orang yang paling dihormati "Suhu,"
Kata Bhok Kiam-seng.
"Tolong Suhu temani Wi hiocu!"
"Baik!"
Sahut Tay Hong yang terus duduk di sisi Wi Siau-po, hiocu dari Ceng-bok tong itu.
Meja itu berbentuk astakona atau segi delapan, ada juga yang menyebutnya Patkua, Di kursi pertama duduk Siau Po dan Liu Tay-hong.
Di sisinya duduk Sou Kong dan Hong Ci-tiong, sedangkan di sebelah kanan, duduk Bhok Kiam-seng, Di situ masih ada sebuah kursi yang kosong.
Sejak semula pihak Tian-te hwe sudah melihat kursi yang kosong itu, Mereka pun menerka-nerka dalam hati.
"Entah tokoh lihay mana lagi yang diundang oleh pihak keluarga Bhok ini?"
Sebab di meja itu seharusnya ditempati orang-orang yang terhormat. Mereka tidak perlu menanti terlalu lama, karena segera terdengar suara tuan rumah yang memerintahkan.
"Harap bimbing Ci suhu keluar untuk duduk bersama-sama di sini!"
Demikianlah kata si tuan rumah.
"Biar para tetamu kita menemuinya dan semoga hati mereka menjadi tenang karenanya!"
"Ya!"
Sahut Sou Kong yang terus pergi ke dalam.
Sejenak kemudian dia muncul kembali sambil membimbing seseorang yang disebut sebagai Ci suhu itu.
Melihat orang yang dibawa keluar oleh Sou Kong, Hoan Kong dan yang lainnya menjadi terkejut dan girang bukan main.
"Ci toako!"
Tanpa dapat menahan diri mereka semuanya berseru.
"Orang she Ci itu tubuhnya bungkuk, bukan lain dari Patjiu Wan kau Ci Tian-coan yang belum lama ini diculik orang, wajahnya kuning dan pucat, menandakan kesehatannya belum pulih sekali. Yan penting dia sudah bebas dari ancaman maut. Semua orang Tian-te hwe langsung mengerumuninya untuk memberi hormat dan menanyakan keadaannya.
"Ci suhu, mari duduk sini!"
Ajak Kiam Seng sambil menunjuk kursi yang masih kosong tadi, Ci Tian-coan menghampiri Wi Siau-po dan menjura dalam-dalam kepadanya.
"Apakah Wi hiocu baik-baik saja?"
Siau Po membalas hormat.
"Ci samko, semoga kau juga baik-baik saja!"
Katanya.
"Bagaimana dengan usaha obat koyomu? Apakah banyak kemajuan?"
Ci Tian-coan menarik nafas panjang.
"Aku tidak berdagang lagi,"
Sahutnya gundah.
"Sebawahanmu ini telah diculik oleh begundalnya Go Sam-kui. Hampir saja nyawa ini melayang. untung ada Bhok Siau ongya dan Liu Loenghiong yang datang memberikan pertolonganku. Mendengar keterangannya, orang-orang Tian-te hwe langsung tertegun.
"Oh, Ci samko, rupanya hari itu kau diserbu orangnya pengkhianat bangsa Go Samkui itu..."
Seru Hoan Kong.
"Benar! Rombongan pengkhianat itu menyerbu toko obatku dan menawan aku,"
Kata Tian Coan memberikan keterangan lebih jauh.
"Yo It-hong si anjing buduk itu mencaci maki aku dengan serabutan dan mulutku juga ditempel dengan koyo, katanya biar aku si kunyuk tua mati kelaparan!"
Mendengar disebutnya nama Yo It-kong, Hoan Kong dan yang lainnya tidak sangsi lagi bahwa perbuatan itu dilakukan oleh begundalnya Go Sam-kui.
Mereka langsung menghadap Sou Kong dan Pek Han-hong untuk menyatakan maaf.
"Kami mohon maaf atas kelancangan kami yang sembarang menuduh kemarin ini! Kenyataannya kalian demikian baik hati. Kami pihak Tian-te hwe sangat bersyukur karenanya!"
Tidak apa-apa,"
Sahut Sou Kong.
"Kami tidak berani menerima pernyataan maaf kalian, Kami hanya bekerja atas perintah Siau ongya dan kami tidak berani menyebut diri kami telah berjasa dalam hal ini."
Suara Han Hong terdengar tawar, Hal ini membuktikan dia sendiri tidak puas menolong Ci Tian-coan, Rupanya dia masih ingat kematian saudaranya, Pek Hansiong.
"Siau ongya cerdas sekali,"
Pikir Siau Po dalam hatinya, Dia sudah mengerti duduknya persoalan Ci Tian-coan yang menyebabkan kesalahpahaman dengan pihak Bhok ongya.
"Aku telah menahan adik perempuannya, sekarang dia menolong Ci samko. Apakah dia mempunyai maksud tertentu agar aku melepaskan adiknya? sementara ini, biarlah aku pura-pura tidak tahu, biar aku lihat dulu perkembangannya..!"
Karena itu, dia hanya berdiam diri, Ketika itu para pelayan, mulai menyuguhkan arak dan hidangan, Kiam Seng mempersilahkan para tamu untuk mulai bersantap.
Pihak Tian-te hwe menerima baik serta mengucapkan terima kasih.
Mereka langsung minum dan bersantap tanpa ragu-ragu lagi, Apalagi di sana ada Tian Coan dan Liu Tay-hong, tidak mungkin mereka berniat buruk.
Setelah minum tiga cawan, Liu Tay-hong mengelus kumis dan janggutnya, Kemudian terdengar dia bertanya.
"Para laote sekalian, siapakah yang menjadi pemimpin kalian di kotaraja ini?"
"Di kotaraja ini,"
Sahut Hoan Kong.
"Orang kami yang paling tinggi kedudukannya ialah Wi hiocu!"
"Bagus!"
Kata Liu Tay-hong. Dia meneguk araknya kembali "Sekarang aku ingin tahu, apakah Wi hiocu dapat bertanggung jawab dalam urusan perselisihan yang terjadi antara pihak Tian-te hwe dengan kami?"
Siau Po belum paham apa maksud pihak Bhok ong-ya, karena itu dia segera mendahului menjawab.
"Lopek, kalau kau hendak membicarakan sesuatu, utarakanlah langsung! Aku, Wi Siau-po, bahkan masih kecil, kalau urusan kecil aku bisa bertanggung jawab, tapi kalau urusan besar, aku tidak sanggup memikulnya!"
Mendengar kata-kata Siau Po, kedua pihak sama-sama terkejut Mereka mengerutkan alisnya sambil berpikir.
"Cara omong bocah ini benar-benar serampangan! Sudah tentu dia ingin mengingkari kebaikan orang, ucapannya tidak seperti orang gagah!"
Terdengar Liu Tay-hong berkata lagi.
"Kalau kau tidak bisa bertanggung jawab, urusan ini tidak dapat diselesaikan Oleh karena itu, laote, harap kau sampaikan kata-kataku kepada gurumu, Tan congtocu, Supaya gurumu itu yang datang sendiri untuk membereskannya!"
"Untuk urusan apakah Lopek ingin bicara dengan guruku?"
Tanya Siau Po.
"Tapi, baiklah, Lopek tulis saja sepucuk surat, nanti kami menyuruh orang menyampaikannya."
Orang tua she Liu itu tertawa datar.
"Kau ingin tahu apa urusannya?"
Tanyanya menegaskan.
"Urusan kematian saudara Pek Han-siong di tangan Ci samya! Bagaimana urusan ini harus diselesaikan? Dalam hal ini, kami ingin meminta pendapat Tan congtocu, itulah maksud kami mengundangnya!"
Mendengar sampai disini, Ci Tian Coan langsung berdiri.
"Bhok siau ongya dan Liu Loenghiong,"
Katanya dengan suara gagah.
"Kalian telah menolong aku dari tangannya si pengkhianat bangsa. Dengan demikian aku terbebas dari siksaan, Bagiku, hal ini membuat aku bersyukur dan berterima kasih sebanyakbanyaknya, Mengenai urusannya Pek taihiap, dia terbinasa di tanganku, Dalam hal ini, aku bersedia mengganti satu jiwa dengan satu jiwa pula. Aku bersedia menyerahkan jiwa tuaku ini, karena itu, aku minta Siau ongya dan Liu loenghiong jangan menyulitkan Wi hiocu dan Tan cong-tocu kami. Saudara Hoan, pinjamkanlah golokmu padaku!"
Dia mengulurkan tangannya untuk menyambut golok Hong Kong. Rupanya Ci Tian-coan ingin membunuh diri untuk menyelesaikan urusan ini.
"Tahan!"
Cegah Wi Siau-po.
"Ci samko, sabarlah! Kau duduklah dulu! jangan samko emosi, Kau toh sudah berusia lanjut, mengapa pikiranmu begitu pendek? Aku menjadi hiocu Ceng-bok tong dari perkumpulan Tian-te hwe, bukan? Kalau kau tidak mendengar kata-kataku, berarti kau melanggar perintah dan kau tidak menghormati aku sebagai ketuamu!"
Orang-orang Tian-te hwe paling takut mendengar kata "tidak mendengar perintah!"
Tidak terkecuali Ci Tian-coan yang sudah berusia lanjut itu, Bergegas dia menjura kepada Siau Po dan berkata.
"Ci Tian-coan sadar atas dosanya, sekarang Tian Coan akan mendengar perintah hiocu!"
Siau Po merasa puas. Terdengar dia berkata.
"Pek tayhiap sudah menutup mata, seandainya Ci samko mengganti dengan selembar jiwanya, Pek tayhiap tetap tidak akan hidup kembali. Karena itu, kalau kita bicara soal ganti mengganti urusan ini tetap saja tidak dapat diselesaikan!"
Pandangan semua orang segera beralih kepada Siau Po. Kata-katanya sungguh luar biasa, Mereka ingin tahu apa lagi yang akan dikatakannya.
"Mungkinkah nanti dia mengoceh tidak karuan?"
Tentu saja pihak Tian-te hwe yang paling mengkhawatirkan hal ini, Malah ada seseorang yang berkata dengan suara lirih.
"Nama Tian-te he dalam dunia kangouw sudah terkenal sekali. Tidak sepantasnya hancur di tangan hiocu cilik yang belum tahu apa-apa ini. Kalau dia mengoceh sembarangan, kelak di kemudian hari, kita tentu tidak mempunyai muka lagi untuk bertemu dengan orang lain!"
Siau Po seakan tidak memperdulikan sikap para hadirin ataupun rekan-rekannya yang menatap kepadanya dengan pandangan cemas, Dia melanjutkan kata-katanya, kali ini kepada Bhok Kiam Seng.
"Siau ongya,"
Demikian katanya.
"Kali ini Sia ongya datang ke kotaraja dari Inlam yang jauh berapa orangkah yang Siau ong-ya bawa? Apakah semuanya sudah hadir di sini? Bukankah masih ada kurang beberapa orang?"
Kiam Seng merasa heran mendengar kata-ka si bocah.
"Hm!"
Dia mendengus dingin.
"Wi hiocu, apa maksud kata-katamu barusan?"
"Tidak banyak artinya, Siau ong-ya,"
Sahut bocah cilik seenaknya.
"Jiwa Siau ongya san berharga, lain dengan jiwaku, Wi Siau-po yang tidak ada artinya ini, Karena jiwa Siau ongya sangat berharga, berbahaya sekali kalau Siau ongya mebawa orang yang terlalu sedikit untuk melindungimu. Bagaimana kalau kurang waspada, Siau ongya ditawan oleh penjahat bangsa Tatcu? Bukankah hal ini akan menjadi kerugian besar dan sama sekali tidak boleh terjadi?"
Bagian 22 Bhok Kiam-Seng menatap bocah di depannya dengan pandangan tajam, Alisnya menjungkit ke atas.
"Kawanan anjing bangsa Tatcu hendak menawan aku?"
Tanyanya dengan nada sinis. Tidak semudah apa yang kau katakan, Wi hiocu!"
Siau Po tertawa.
"Memang ilmu silat Siau ongya tinggi sekali,"
Katanya.
"Di seluruh negeri ini, mungkin sulit lagi dicari tandingannya, jarang sekali ada orang yang sanggup melawan Siau ongya. Mungkin bangsa Tatcu tidak sanggup menawan Siau ongya, tapi bagaimana dengan orang lainnya? Anggota lain dari Bhok onghu maupun sahabat-sahabat Siau ongya belum tentu selihay Siau ongya sendiri Nah, bagaimana kalau di antara mereka ada yang terjatuh ke tangan bangsa Tatcu? Bukankah kejadian itu akan membawa kesusahan dalam hati Siau ong-ya?"
Wajah si pangeran muda itu langsung berubah hebat. Dia pasti tidak merasa puas.
"Wi hiocu!"
Bentaknya dengan suara keras "Apakah hiocu sedang menyindiri aku?"
"Tidak, Siau ongya, Sekali-sekali tidak!"
Sahu Siau Po tenang.
"Bukan begitu maksudku, seumurku ini, aku sudah sering dihina orang, tetap aku sendiri tidak pernah menghina siapa pun Orang telah mencekal lenganku Nah, lihatlah sendiri buktinya, Ketika itu aku benar-benar kesakitan sehingga seperti mengalami kematian lalu hidup kembali, itulah akibat perbuatan Pek jihiap yang tenaga dalamnya tidak ada tandingannya. Lebih-lebih dua jurus Heng-sau Ciang kun da Kao-san Liu Sui yang hebat luar biasa! Kala kedua jurus ini dipakai untuk menolong sahabat kalian, tentu sangat tepat dan akan berhasil dengan baik. Apalagi kalau dipakai untuk menyambar sesuatu, misalnya kambing atau kerbau, tentu lebih berhasil lagi!"
Wajah Pek Han-hong menjadi merah padam.
Dia merasa malu sekaligus mendongkol.
Hamp saja dia mengumbar hawa amarahnya, tetapi untunglah dia masih bisa mengendalikan diri.
Bhok Kiam-seng segera menolehkan kepalanya dan melirik sekilas kepada Liu Tayhong.
Dia merasa ucapan hiocu dari Tian-te hwe ini mengandung makna yang dalam.
"Saudara kecil,"
Liu Tay-hong segera berkata "perkataanmu itu mempunyai maksud yang dalam sekali sehingga sukar bagi kami untuk menjajaki-nya. Saudara kecil, maafkan kami yang masih kurang mengerti!"
Sebaliknya, Wi Siau-po tetap tertawa.
"Liu loyacu terlalu sungkan!"
Sahutnya.
"Tidak sanggup aku menerima penghargaan yang terlalu tinggi, sebetulnya ucapanku dangkal sekali dan tidak berarti apa-apa!"
"Saudara kecil,"
Kata Liu Tay-ong kembali "Kalau tidak salah, kau bermaksud mengatakan bahwa ada orang kami yang telah ditawan oleh bangsa Tatcu, bukankah begitu? Atau, kau mempunyai maksud yang lain?"
"Tidak ada maksud lainnya sama sekali,"
Sahut Siau Po.
"Bhok siau ongya, Liu loenghiong, anggap saja aku sudah minum arak terlalu banyak sehingga mabuk dan ucapanku jadi ngelantur yang bukan-bukan!"
"Hm!"
Terdengar lagi Bhok Kiam-seng mendengus dingin.
"Wi hiocu, kedatanganmu kemari ternyata hanya untuk bergurau dan menyakiti orang? Atau kau sedang mencari hiburan?"
"Oh, Siau ongya,"
Sahut Siau Po.
"Rupanya Siau ongya hendak mencari hiburan? Apakah di kotaraja ini Siau ongya belum pernah berpelesiran kemana-mana?"
Kiam Seng semakin heran.
"Bagaimana? Apa yang kau maksudkan?"
Tanya-nya.
"Kotaraja ini luas sekali,"
Kata Siau Po.
"Di kota Kun Beng di propinsi Inlam kalian tidak seluas kotaraja ini, bukan?"
Hati pangeran muda ini semakin panas.
"Memangnya kenapa?"
Tanyanya dengan nada jengkel. Hoan Kong juga bingung mendengar kata-kata ketuanya yang tidak karuan, Karena itu dia membuka suara.
"Memang kota Peking ini merupakan kota yang besar dan indah sekali, sayangnya telah diduduki oleh bangsa Tatcu! Kita adalah orang-orang yang berdarah panas, tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak menjadi marah karenanya!"
Siau Po telah mengundang kami menghadiri perjamuan ini, kebaikan ini tidak dapat kami m ba1asnya.
Karena itu, kami ingin melakukan suatu, Kapankah kiranya Siau ongya mempunyai waktu luang?
Aku ingin mengajakmu berpesiar.
Kalau ada orang yang kenal baik wilayah ini, tentu Siau ongya tidak akan kesasar, sebaliknya kalau Siau ongya pergi sendiri berjalan-jalan, lalu tak sengaja salah masuk ke dalam istana raja, oh walaupun Siau ongya berkepandaian tinggi, urusannya bisa gawat sekali...."
"Saudara kecil, di dalam kata-katamu tersembunyi maksud lainnya!"
Tukas Liu Tay-h "Saudara kecil, kita adalah orang-orang sendiri. Ada apa-apa, silahkan kau katakan terus-terang saja!"
Orang tua yang lihay ini menerka ada sesuatu yang penting, karena itu dia bersikap sabar. Tidak ada yang lebih jelas lagi dari kata-kataku ini!"
Sahut Siau Po.
"Para sahabat dari Bhok Siau ongya sangat lihay kepandaiannya, terlebih-lebih kedua jurus Heng-Sau Ciang Kun dan Kao-San Liu Sui, Tidak ada yang sanggup menandinginya, Tapi, di kotaraja, kalau orang pergi berpesiar tapi tidak tahu jalan, mungkin dia bisa keliru masuk Ci-kim Sia, kota terlarang itu!"
Liu Tay-hong dan Bhok Kiam-seng saling menatap sekilas. Mereka mengganggap tamunya ini agak aneh.
"Lalu bagaimana baiknya?"
Tanya Tay Hong.
"Menurut apa yang kudengar,"
Sahut Siau Po.
"Kota terlarang mempunyai banyak pintu, Satu per satu seperti jumlah pendopo-pendopo di dalamnya. Siapa yang jalan di dalam Kota Terlarang, apabila tanpa Raja atau permaisuri yang menunjukkan jalan, mudah sekali orang tersesat Bahkan ada kemungkinan kesasar dan tidak bisa keluar lagi untuk seumur hidup! Aku adalah seorang bocah yang tidak berpengalaman karena itu aku juga tidak tahu, ada atau tidak kemungkinan Raja ataupun permaisuri menjadi penunjuk jalan di malam gelap gulita.... Bisa jadi, dengan nama besar Bhok siauong-ya, si raja cilik atau si nenek sihir menjadi ketakutan dan bersedia menjadi petunjuk jalan, Ha ini sukar dikatakan!"
Siau Po sudah biasa memaki ibu suri sebagai nenek sihir atau perempuan jalang, tapi baru kali ini dia mengatakannya di depan umum, Hal ini justru membuat hatinya menjadi senang, Sedangkan para hadirin yang lain justru merasa heran mendengar Siau Po menyebut ibu suri s bagai si nenek sihir.
Baru kali ini mereka mendengar ada orang yang menyebut kata-kata itu terhadap ibu suri.
Tanpa dapat mempertahank diri lagi, Hoan Kong dan anggota Tian-te hwe lainnya jadi tertawa geli.
Terdengar Liu Tay-hong berkata.
"Orang-orang sebawahannya Siau ongya bia bekerja dengan teliti, Tidak mungkin mereka nyasar masuk ke dalam kota Terlarang, Menurut kabar yang kami dapatkan, Go Sam-kui mengutus puttranya datang ke kotaraja, bisa jadi ia memerintah orang-orangnya membuat kekacauan, Kemungkinan seperti ini ada saja bukan?"
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Apa yang Liu loyacu katakan memang tidak salah, Aku mempunyai seorang teman berjudi yang menjadi pengawal dalam istana, Dia mengatakan tadi malam terjadi penyerbuan di istana oleh sekelompok penjahat."
Dia menghentikan kata-kata-nya sejenak.
"kemudian mereka mengenali orang-orang itu sebagai bawahan Bhok siau ongya..."
Bhok Kiam-seng mengeluarkan seruan tertahan. Terang dia terkejut sekali.
"Apa?"
Tangan kanannya bergetar, sehingga cawan araknya terlepas dan jatuh pecah di atas lantai.
"Tadinya aku juga tidak percaya, tapi aku berpikir lagi, Keluarga Bhok terdiri dari para patriot pecinta bangsa, Mereka memgirim orang untuk membunuh raja Tatcu, hal itu perlu dikagumi sekarang mendengar ucapan Liu loyacu, ternyata mereka adalah orangorang kiriman Go Sam-kui, kalau begitu, orang-orang itu tidak boleh diampuni. Nanti aku harus mengatakan kepada temanku itu, agar para penyerbu itu diberi hukuman berat, Coba bayangkan saja, orang-orang Go Sam-kui pasti bukan terdiri dari manusia baik-baik! Karena itu, mereka harus disiksa biar kapok!"
"Saudara kecil,"
Tanya Liu Tay-hong.
"Siapakah nama sahabatmu itu? Apa pangkatnya dalam istana?"
Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Dia hanya seorang siwi yang pangkatnya rendah sekali, malah dia merupakan orang baru dan belum diberikan kepercayaan penuh, Tugasnya kebanyakan melayani para siwi yang sudah senior, Dia tidak mempunyai she atau pun nama, Kami biasa memanggilnya Lay Li-tau siau Samcu atau si Kepala Kurapan! Menurutnya, para tawanan itu dibelenggu Tadinya aku berpikir untuk menyuruh Siau Samcu memberi makan kepada mereka, tapi sekarang Liu loenghiong mengatakan bahwa mereka adalah kaki tangan bangsa pengkhianat, Nanti aku minta sahabatku itu membacok kaki mereka agar tidak dapat melarikan diri!"
"Aku cuma menerka,"
Kata Liu Tay-hong cepat.
"Tidak berani aku memastikannya, Karena mereka itu berani menyerbu istana, boleh dibilang mereka juga terdiri dari orang-orang yang bernyali besar! Karena itu, Wi hiocu, ada baiknya kau minta sahabatmu itu memperlakukan mereka secara baik-baik saja."
"Sahabatku itu baik sekali kepadaku,"
Kata Siau Po.
"Sering dia mengajak aku bermain judi, Kalau kehabisan uang, aku suka meminjamkan barang delapan atau sepuluh tail Dan aku tidak pernah memintanya kembali Karena itu, apa pun permintaanku dia tidak pernah menolaknya!"
"Baguslah kalau begitu,"
Sahut Liu Tay-hong.
"Sebenarnya berapa jumlah orang yang ditawan dan siapa saja nama mereka itu? Mereka bernyali besar sehingga kami merasa kagum. Bagaimana perlakuan yang mereka terima sekarang ini? Baik atau buruk? Wi hiocu, kami bersyukur sekali andaikata kau dapat menolong kami mencari keterangan tersebut. Siau Po menepuk dadanya.
"Gampang! Tidak ada urusan yang lebih gampang lagi daripada itu!"
Kata Siau Po mengagulkan diri.
"Sayang mereka bukan orang-orangnya Siau ongya, Kalau tidak, aku pasti mencari jalan membebaskan mereka, Dengan demikian kita bisa menukar satu jiwa dengan satu jiwa pula, Dan urusan Ci samko pun bisa diselesaikan."
Liu Tay-hong menoleh kepada Bhok Kiam-seng, sembari menatap, dia menganggukkan kepalanya sedikit.
"lya, Kami tidak tahu siapa para penyerbu itu,"
Kata si pangeran muda.
Tetapi karena mereka berusaha membunuh raja bangsa Tatcu, pasti mereka juga terdiri dari orangorang gagah pecinta negara, Mereka bisa dihitung sebagai rekan kami yang ingin menjatuhkan kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng, Karena itu, Wi hiocu, kalau bisa mencari jalan untuk membebaskan mereka, tidak perduli berhasil atau tidak, Untuk selamanya Bhok Kiam-seng merasa bersyukur dan urusan Ci samya tidak akan diperpanjang Iagi..."
Siau Po menoleh ke arah Pek Han-hong, namun mulutnya menjawab ucapan sang pangeran.
"Kalau tidak mendengar Siau ongya mengatakannya sendiri, kemungkinan Pek jihiap tidak mau mengerti,"
Katanya.
"Apabila lain kali Pek jihiap mencekal tanganku kembali dan meremasnya keras-keras, aku bisa menangis berkaok-kaok saking sakitnya, Hebat sekali penderitaan itu, mungkin aku tidak sanggup menahannya..."
Mendengar ucapan tamunya itii, Pek Han-hong berdiri dari tempat duduknya dan berkata denga nada serius.
"Andaikata Wi hiocu dapat menolong orang kami, eh, menolong orang-orang gagah yang tertawan bangsa Tatcu itu, aku si orang she Pek tanganku yang telah bersalah ini, bersedia dikutungkan sebagai pernyataan maafku!"
"Tidak perlu, tidak perlur kata Siau Po.
"Meskipun kau mengutungkan sebelah tanganmu untukku, tapi apa gunanya bagiku? Lagipula, apakah sahabatku itu bisa menolong mereka atau tidak sekarang masih sulit dipastikan Kawanan penyerbu itu ingin membunuh raja. Dosa mereka tidak palang tanggung beratnya, sedangkan mereka kemungkinan dibelenggu dengan beberapa rantai yang tebal dan dijaga ketat oleh banyak pengawal Kalau aku tadi bicara soal menolong orang, sebetulnya aku hanya membual saja untuk membanggak diriku sendiri..."
"Menolong orang yang tertawan di dalam istana memang merupakan hal yang sulit sekali,"
Bhok Kiam-seng.
"Kami juga tidak berani yakin akan hasilnya, Meskipun dengan sungguh-sungguh. Dengan kata lain, berhasil atau tidak, kami tetap berterima kasih kepadamu."
Dia menghentikan kata-katanya sejenak, seakan ada sesuatu yang dipertimbangkannya, Kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya kembali.
"Ada satu persoalan lagi, Aku mempunyai seorang adik perempuan yang ikut datang ke kotaraja, tetapi beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja dia menghilang, Kami tahu pergaulan Wi hiocu dan anggota Tian-te hwe yang lainnya sangat luas di kotaraja ini. Kami harap saudara sekalian bersedia menolong kami mencari keterangan tentang adikku itu."
"Oh, urusan itu mudah sekali, Kami akan membantu sekuat tenaga, Baiklah, sekarang kami sudah cukup makan dan minum. sekarang juga aku akan menemui sahabatku Siau Samcu untuk merundingkan hal ini, Neneknya! Paling tidak aku harus mengajaknya berjudi dan membuatnya kalah habis-habisan!"
Selesai berkata, Siau Po segera bangkit untuk memohon diri.
"Terima kasih sekali lagi atas perjamuan ini. sekarang aku ingin mengajak Ci samko pulang bersama kami, bolehkah?"
Bhok Kiam-seng tidak melarang, Dia sendiri mengantarkan Siau Po dan rombongan anggota Tian-te hwe sampai depan pintu gerbang.
"Wi hiocu, jangan sungkan-sungkan, Terima kasih atas kedatangan Wi hiocu dan para saudara Tian-te hwe yang lainnya,"
Katanya, Mereka kembali ke tempat semula, Hoan Kong yang tidak sabaran langsung bertanya.
"Hiocu, apakah benar tadi malam istana di datangi penyerbu? Kalau dilihat dari gerak-gerik Bhok siau ongya tadi, kemungkinan para penyerbu memang orang-orang mereka!" "Memang benar ada kawanan pemberontak yang menyerbu istana tadi malam, tapi urusan dirahasiakan. Tidak boleh ada yang menyiarkan karena itu tidak ada orang yang tahu kecuali orang yang bersangkutan dan petugas dalam istana, Kalau menilik dari sikap mereka tadi, sudah terang kawanan penyerbu itu memang orang-orang Bhok onghu!"
"Mereka berani menyerbu istana untuk membunuh Raja, nyali mereka memang besar sekali."
Kata Hian Ceng tojin ikut memberikan pendapatnya.
"Mereka harus dihormati dan dikagumi Hi apakah mereka bisa ditolong? Bukankah sebenarnya urusan ini sukar sekali dilaksanakan?"
Sebenarnya ketika perjamuan sedang berlangsung di tempat Bhok Kiam-seng, Siau Po su menyadari bahwa tentunya sulit menolong penyerbu itu.
Akan tetapi dia ingat bahwa di dalam kamarnya tersembunyi dua orang nona keluarga Bhok, Nona Bhok sebetulnya adalah tawanan orang Tian-te hwe yang diselundupkan ke dalam istana mana mereka anggap sebagai tempat penyekapan yang aman.
Tidak demikian halnya dengan Pui Ie.
Dia termasuk salah seorang penyerbu dan tidak begitu sulit meloloskannya dari istana, itulah sebabnya dia tertawa mendengar pertanyaan Hian Ceng tojin.
"MenoIong orang banyak tentu saja sulit, tapi kalau seorang saja bisa lolos, itu kan sudah cukup? Bukankah Ci samko hanya membunuh seorang Pek Han-Siong? Tidak ada salahnya kalau kita juga cuma membebaskan satu orang saja. Bukankah satu jiwa ditukar dengan satu jiwa? Dengan demikian, kita sama-sama tidak rugi, Sebaliknya, modal kita beranak, Bahkan kita juga bisa mengembalikan si nona yang dibawa Cian laopan sekalian Apa yang akan mereka katakan setelah mendapatkan Siau Kuncu kembali? Nah, Cian laopan, besok pagi kau boleh mengantar seekor babi, tidak. dua ekor babi ke dalam kamarku, Di dapur nanti aku akan marah-marah padamu dengan mengatakan babi yang kau bawa itu jelek sekali dan kau terpaksa membawanya pulang lagi!"
Cian Laopan tertawa sambil tertepuk tangan.
"Bagus! Akal Wi hiocu memang selalu jitu. Babi mati untuk memasukkan si nona cilik sudah ada. Tinggal cari lagi seekor babi yang ukurannya super!"
Wi Siau-po menghibur Ci Tian-coan beberapa patah kata.
"Ci samko, jangan banyak pikiran Semuanya pasti beres, Mengenai Yo It-hong yang telah menyusahkan Ci samko, aku akan meminta Go En him mematahkan kakinya biar Ci samko senang!"
"lya, iya. Terima kasih atas perhatian Wi hiocu"
Sahut Ci Tian-coan, tapi dalam hatinya dia berkat "Bocah ini pembual juga! Go Eng-him adalah putera Peng Si-ong, mana mungkin dia mendengarkan kata-katamu?"
Wi Siau-po berjanji akan menyelesaikan masalah terbunuhnya Pek Han siong tanpa sengaja tangannya, Meskipun hatinya merasa berterima kasih, tapi Ci Tian-goan tidak percaya sepenuhnya bahwa bocah cilik tersebut mempunyai kepandai demikian lihay.
Baru saja Siau Po sampai di dalam istana, dua orang thay-kam segera menyambutnya.
"Kui kongkong, cepat! Sri Baginda mencarimu."
Kata mereka.
"Apakah ada urusan yang penting?"
Tanya Si Po.
"Entahlah! Tapi Sri Baginda telah memanggil mu beberapa kali, Kemungkinan memang ada urusan yang penting. sekarang Sri Baginda ada di kamar tulisnya,"
Sahut salah seorang thay-kam itu.
Siau Po mengiakan.
Dia langsung pergi ke pong, Di dalam kamar tulisnya, tampak Sri Baginda sedang berjalan mondar-mandir dengan kepala tundukkannya, Begitu melihat Siau Po, dia sangat senang, Dia langsung menegur dengan cepat.
"Aih, celaka! Kau pergi kemana saja?"
Siau Po merasa kaisar Kong Hi berbicara dengan gayanya sendiri seperti biasa bila berduaan dengannya, Hatinya menjadi lega.
"Sri Baginda, hamba baru saja kembali dari luar, Hamba memikirkan urusan penyerbuan tadi malam, Kawanan penyerbu itu benar-benar bernyali besar, Kalau tidak ditumpas, mereka bisa menjadi ancaman bahaya! Terutama kita harus mencari biang keladinya! Karena itulah hamba mengganti pakaian seperti orang biasa lalu keluar mengadakan penyelidikan Hamba putar-putar dalam kota, setiap gang dan jalan besar hamba masuki Hamba ingin tahu siapa pemimpin para pemberontak itu dan apakah mereka masih ada di kota raja...."
"Bagus!"
Puji kaisar Kong Hi. Dia merasa puas sekali.
"Lalu, bagaimana hasilnya?" Siau Po berpikir dengan cepat.
"Kalau aku bilang berhasil, rasanya terlalu cepat!"
Karena itu dia menjawab.
"Hamba belum berhasil, Sri Baginda, karena itu besok pagi hamba akan melakukan penyelidikan kembali!"
"Kalau kau menyelidiki dengan caramu itu, belum tentu akan ada hasilnya,"
Kata kaisar Kong Hi.
"Kau seperti mengukur jalanan saja, Nah, aku mempunyai sebuah akal!"
Siau Po menunjukkan mimik kegirangan.
"Apa itu, Sri Baginda?"
Tanyanya.
"Tentunya sebuah akal yang bagus, bukan?"
Kaisar Kong Hi tertawa.
"Barusan To Lung datang memberikan laporan,"
Katanya.
"Menurutnya, para tawanan itu menutup mulutnya rapat-rapat, Mereka tidak mempan bujukan maupun siksaan, Satu-satunya keterangan yang mereka berikan hanya menyatakan bahwa mereka adalah orang-orangnya Go Sam-kui. karena itu, aku rasa, percuma saja mereka dijatuhi hukuman mati. sekarang aku justru menganggap ada baiknya, mereka dibebaskan saja..."
"Di bebaskan saja?"
Tanya Siau Po seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Bukankah terlalu enak bagi mereka?"
Kaisar Kong Hi tersenyum.
"Kita melepaskan anak srigala,"
Katanya.
"Dan anak srigala pasti pulang mencari induknya!"
Mendengar keterangan itu, Siau Po senang sekali, Dia bersorak sambil bertepuk tangan.
"Bagus! Bagus sekali!"
Serunya.
"ltu artinya lepas para penyerbu itu secara diamdiam kita mengikuti mereka, Bukankah dengan demikian kau akan bertemu dengan pemimpinnya? Sri Baginda akal Sri Baginda ini bagus sekali, Kecerdasan Baginda masih memang tiga kali lipat dari pada Cukat Liang!"
Raja tertawa.
"Apanya yang menang tiga kali lipat daripada Cukat Liang? Oh, kau sedang menepuk punggung ku, tapi sayangnya kelebihan. Kau tahu, masih kesulitan lainnya? Setelah kita membebaskan para penyerbu itu, kita masih harus berusaha mengikuti mereka tanpa disadari orang-orang itu Siau Kui cu, aku ingin memberikan sebuah tugas kepadamu, pergilah kau ke penjara dan pura-pura jadi orang baik yang berniat menolong mereka membebaskan diri, Setelah itu, kau pasti dianggap sebagai dewa penolong dan kemungkinan kau akan diajak ke sarang mereka...."
Siau Po pura-pura bimbang.
"Ini... ini.,."
Katanya gugup.
"Memang siasat ini berbahaya sekali dijalankan,"
Kata Sri Baginda. Dia mengira Siau Po mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri.
"Asal mereka tahu siapa dirimu, pasti jiwamu akan melayang, Sayang aku adalah seorang raja, kalau tidak, aku pasti akan melakukannya sendiri, Aku yakin tugas seperti ini pasti menarik sekali..."
"Sri Baginda,"
Kata Siau Po.
"Kalau Sri Baginda menitahkan, hamba pasti menjalankannya, Tugas yang jauh lebih berbahayapun akan hamba laksanakan!"
Senang sekali hati raja mendengar kata-kata Siau Po. Dia menepuk-nepuk pundak bocah itu.
"Memang aku tahu kau cerdas dan bernyali besar!"
Katanya.
"Aku juga tahu kau akan melakukan apa pun untukku, Kau seorang bocah, para penyerbu itu pasti tidak mencurigaimu Tadinya aku berpikir untuk mengirim dua orang pahlawan yang lihay, tapi aku khawatir rahasia mereka akan terbongkar sebab para penyerbu itu pasti bukan oran orang tolol yang bisa menaruh kepercayaan begitu saja. Mereka pasti curiga. Sekali gagal, siasat ini tidak terpakai lagi, Siau Kui cu, kau saja yang melakukan tugas ini, anggaplah kau sebagai pengganti diriku!"
Semenjak belajar ilmu silat, Kaisar Kong ingin sekali menjajal kepandaiannya sendiri, sayangnya kedudukannya terlalu tinggi.
Dia tidak bisa melakukan keinginan hatinya seenaknya, Apalagi melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya.
Karena itu pula, sekarang terpaksa dia menyerahkan tugas ini kepada thay-kam cilik kepercayaan ini.
"Kau harus pandai-pandai membawa diri,"
Pesan raja itu kepada hambanya.
"sikapmu harus wajar mungkin, Ada baiknya kalau di depan mereka kau membunuh satu dua orang siwi, Dengan demikian mereka tidak akan sangsi kepadamu, Akan kupesan To Lung agar memperlunak penjaga sehingga kau dapat mengajak mereka melolosk diri!"
"Baiklah!"
Sahut Siau Po.
"Tapi para siwi jauh lebih gagah daripada hamba, Hamba khawatir untuk melawan mereka saja tidak ada kesanggupan, apalagi hendak membunuh satu dua orang diantaranya!"
"Tentang itu tidak perlu kau cemaskan,"
Kata kaisar Kong Hi.
"Kau harus bekerja dengan melihat situasinya, terutama kau harus berhati-hati, jangan sampai kau yang terbunuh dulu di tangan para siwi itu!"
Siau Po menjulurkan lidahnya.
"Kalau hamba sampai terbunuh lebih dulu, sungguh hamba akan mati kecewa!"
Katanya.
"Pasti hamba akan dituduh sebagai antek-anteknya para penyerbu itu!"
Kaisar Kong Hi mengibaskan tangannya dengan maksud mencegah Siau Po berkata lebih jauh.
"Siau Kui cu, seandainya kau bisa melakukan tugas itu dengan baik, Hadiah apakah yang kau inginkan dariku?"
Nada suara raja menunjukkan hatinya sedang gembira.
"Kalau tugas itu dapat hamba selesaikan dengan baik, pastilah Sri Baginda akan senang,"
Sahutnya.
"Asal Sri Baginda senang, hal itu jauh lebih besar artinya dari apa pun di dunia ini, kegembiraan Sri Baginda tidak dapat dibandingkan dengan hadiah apa pun. Sri Baginda, kalau nanti ada tugas lain yang lebih menarik dan penuh bahaya, harap Sri Baginda menugaskan hamba yang menyelesaikannya. itulah hadiah yang hamba minta pada Sri Baginda!"
Hati kaisar Kong Hi semakin senang mendengar ucapan Siau Po.
"Pasti! Pasti!"
Katanya berulang-ulang.
"Siau Kui cu, sayang kau seorang thay-kam kalau tidak, aku akan memberi pangkat kepadamu!"
Hati Siau Po tercekat, ada sesuatu yang melintas dalam benaknya.
"Banyak-banyak terima kasih, Sri Baginda!"
Tapi dalam hatinya dia justru berpikir.
"Suatu hari nanti kau pasti tahu aku seorang thay-kam gadungan mungkin waktu itu kau akan marah sekali terhadapku!"
Karena itu, dia menambahkan.
"Sri Baginda, hamba ada sedikit permohonan!"
Raja tertawa.
"Kau ingin mendapat pangkat?"
Tanyanya.
"Bukan!"
Sahut Siau Po.
"Hamba sudah lama bekerja pada Sri Baginda, Selama ini hamba setia dan bersedia melakukan tugas apa saja, Karena itu hamba mohon, bila kelak hamba melakukan suatu yang menimbulkan bencana, Hamba mohon, sudilah kiranya Sri Baginda mengampuni jiwa hamba supaya hamba jangan sampai mendapat hukuma penggal kepala."
"Asal kau tetap setia padaku, asal kau bekerja dengan kesungguhan hati, maka kepalamu akan tetap kokoh di atas batang lehermu!"
Kata Kaisar Kong Hi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Terima kasih, Sri Baginda!"
Kata Siau Po kembali, Setelah itu dia memberi hormat dan memohon diri dari hadapan raja. Sekeluarnya dari Gi-Si pong, dia melangkah dengan perlahan, otaknya bekerja.
"Aku bermaksud menolong Pui Ie dan Siau kuncu keluar dari istana ini, siapa sangka sekarang aku justru mendapat perintah untuk membebaskan para penyerbu itu. Kalau demikian, aku tidak perlu terburu-buru melepaskan kedua nona itu. Lebih baik aku menunaikan dulu tugasku ini, Aneh bukan? Barusan aku berkumpul dan berpesta dengan pemimpin para penyerbu itu, Hm! Apakah aku harus melaporkan pada Sri Baginda perihal si kura-kura cilik Bhok Kian-seng dan si kura-kura tua Liy Tay-hong? Tapi, kalau aku melakukan hal itu, pasti kesudahannya suhu tidak akan mengampuni aku. sebetulnya aku masih ingin menjadi hiocu Tian-te hwe atau tidak?"
Siau Po sadar kedudukannya dalam istana, Se-mua orang sangat menghormatinya, Bahkan Sri Baginda pun sangat menyayanginya, Malah pernah dia berpikir untuk menjadi thay-kam saja untuk selamanya, alangkah senangnya hidup seperti ini!
Tapi sekarang, ada satu hal yang merisaukannya, Mengenai masalah thayhou, Setiap kali dia ingat si nenek sihir itu, hatinya langsung terguncang!
"Perempuan tua jalang itu sangat membenciku Setiap saat ada kemungkinan dia ingin merenggut nyawaku,"
Pikirnya kemudian "Karena itulah aku tidak bisa berdiam lama-lama dalam istana!"
Demikianlah sambil berjalan otak Siau Po terus berputar Ketika dia tiba di depan siwi pong, yaitu kamar para siwi yang letaknya di sebelah barat keraton Kian-ceng kiong, seorang siwi langsung menghambur ke depannya untuk menyambut.
Orang itu memamerkan tertawa yang ramah.
"Oh, Kui kongkong! Angin apa yang membawa kongkong berkunjung kemari?"
Siau Po segera mengenali siwi itu sebagai pemimpin di tempat itu.
Dia tidak lain dan tidak bukan dari Tio Ci-hian yang mendapat uang dari Siau Po dan mendapat persenan dari To Lung.
Dia tahu semua ini karena Kui kongkong sudah mengatakan hal yang baik-baik tentang mereka di depan Baginda.
Setelah berhadapan dengan siwi itu, Siau Po segera tertawa lebar.
"Aku datang untuk melihat beberapa penyerbu yang tertawan itu,"
Sahutnya.
"Mereka adalah para pemberontak yang bernyali besar."
Setelah berkata demikian dia segera berbisik kepada orang itu.
"Baginda menitahkan aku untuk memeriksa mereka. Aku harus mendapatkan pengakuan mereka tentang orang yang mendalangi perbuatan mereka itu,"
Ci Hian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah,"
Sahutnya sebagai tanda mengerti. Dia menjawab dengan nada berbisik juga.
"Mulut ketiga pemberontak itu benar-benar tertutup rapat. mereka telah dihajar dengan empat batang rotan yang menjadi patah, tapi mereka tetap tidak bersedia memberikan keterangan apa-apa, Mereka hanya mengaku sebagai orang-orang yang dikirim oleh Go Sam-kui!"
Siau Po mengangguk.
"Biarlah aku coba menanyakan lagi para tawanan itu,"
Katanya, Tio Ci-hian mengantarkan Siau Po ke tempat para tahanan.
Letak ruangannya di sebelah barat Di dalamnya ada tiga orang yang terpancang pada tiang kayu, Tubuh bagian atas mereka telanjang dan penuh dengan bekas pecutan rotan sehingga menimbulkan noda yang mengerikan.
Kulit dan daging mereka terkelupas dan darah pun, memenuhi seluruh tubuh.
Yang seorang bertubuh besar serta berewokan, Dua orang lainnya adalah pemudapemuda berusia kurang lebih dua puluhan tahun, Pemuda yang satu berkulit putih bersih, wajahnya juga tampan sedangkan seorang lainnya lagi lebih angker tampangnya..
Dadanya ditato dengan gambar seekor harimau yang tampak ganas.
"Di antara kedua pemuda ini, entah mana yang namanya Lau It-cou?"
Tanya Siau Po dalam hati, Dia memperhatikan mereka lekat-lekat Dia tidak langsung menanyakan apa-apa kepada para tawanan itu, tapi malah menoleh kepada Tio Ci-hian sambil berkata.
"Tio toako, mungkin kau keliru menawan orang! Coba toako mundur sebentar!"
Ci Hian segera mengiakan Dia segera mengundurkan diri dan menutup pintu tempat tahanan ini rapat-rapat. Siau Po langsung menghampiri ketiga tawan itu.
"Tuan-tuan sekalian, siapakah nama dan she tuan bertiga yang mulia?"
Tanyanya dengan nada ramah. Orang yang bertubuh besar dan berewok langsung mendelikkan matanya lebarlebar.
"Thay-kam anjing!"
Dampratnya.
"Kau kira dengan derajatmu ini, kau pantas menanyakan nama dari she-ku yang mulia?"
Kata-katanya itu merupakan penghinaan dan hal ini membuat Siau Po menjadi kurang senang, tapi dia mengerti bahwa hal ini terjadi karena orang gagah itu telah disiksa sedemikian rupa dan merasakan penderitaan sehingga menjadi gusar.
"Kedatanganku ini atas permintaan seseorang. katanya.
"Aku datang untuk menolong seorang sahabat yang bernama Lau It-cou!"
Begitu kata-katanya diucapkan, ketiga orang itu langsung tampak terkejut saking herannya, untuk sesaat mereka saling mengawasi lalu ketiga menoleh kepada si thaykam cilik.
"Kau menerima permintaan dari siapa?"
Tany bewok.
"Apakah di antara kalian ada yang bernama Lau It-cou?"
Siau Po malah menanya lagi tanpa menghiraukan si bewok.
"Kalau ada, aku ingin bicara dengannya, Kalau tidak ada, ya sudah!"
Kembali ketiga orang itu saling melirik sekilas. Terbukti mereka ragu-ragu karena curiga, tampaknya mereka tidak ingin tertipu oleh siasat lawan.
"Siapa kau?"
Kembali si bewok yang bertanya. Siau Po tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata.
"Orang-orang yang meminta pertolonganku itu, satu she Bhok, sedangkan yang satunya lagi she Liu. Kenalkah kalian pada orang yang berjuluk Tiat Pwe-cong Liong?"
Si Bewok menjawab dengan suara lantang.
"Tiat-Pwe cong Liong Liu Tay-hong terkenal di tiga propinsi Inlam, Kui Cui dan Sucoan, Siapa yang tidak tahu atau mendengar namanya? Dan orang she Bhok itu pasti Bhok Kiam-seng, putera Bhok Tian-po yang namanya sudah tersohor Namun saat ini Bhok Kiam-seng sedang merantau di dunia kangouw, entah sudah mati atau masih hidup,.,."
Kembali Siau Po mengangguk.
"Kalau tuan-tuan bertiga tidak kenal Siau ongya dari keluarga Bhok serta Liu loyacu maka terbukti kalian bukan sahabat-sahabatnya, Dengan demikian kalian juga tidak mengenal dua jurus ilmu ini...."
Tanpa menunggu sahutan dari ketiga orang itu, Siau Po langsung menjalankan kedua jurus Heng-Sau Ciang Kun dan Kao-San Liu Sui, Kedua jurus itu adalah ilmu keluarga Bhok, Di saat dia masih mempertunjukkan kedua jurus tersebut, si pemuda dengan tato harimau di dadanya mengeluarkan seruan tertahan.
"Aih...!"
Mendengar suara itu, Siau Po menghentikan gerakannya.
"Eh, kenapa?"
Tanyanya.
"Ah... tidak apa-apa,"
Sahut orang itu jengah.
"Siapa yang mengajarkan kedua jurus itu?"
Tany si bewok. Siau Po tertawa.
"lstriku!"
Sahut Siau Po.
"Cis!"
Si bewok meludah.
"Bagaimana mungkin seorang thay-kam bisa punya istri?"
Hampir dia mengejek Siau Po dengan kata-kata "thay-kam anjing"
Lagi. sedangkan Siau Po hany tersenyum.
"Memangnya kenapa thay-kam tidak boleh punya istri?"
Tanyanya.
"Kalau orang suka menikah denganku, kenapa kau yang usil? istriku itu she Pui dengan nama tunggal Ie!"
Belum berhenti gema suara si thay-kam cilik, pemuda yang berkulit putih langsung membentak.
"Ngaco kau!"
Siau Po menatap pemuda itu, urat-urat di dahinya menonjol sehingga tampak berwarna biru kehijauan dan matanya mendelik dengan cahaya merah membara.
Hal ini membuktikan bahwa dia gusar sekali mendengar ucapan Siau Po.
Dengan demikian Siau Po segera bisa menduga bahwa dialah yang bernama Lau It cou.
Dia melihat pemuda tampan dan gagah.
Di saat marah, tampangnya berwibawa dan garang.
"Ngaco apanya?"
Dia balik bertanya, Dia tidak merasa takut sama sekali meskipun orang itu tampak angker "Kau tahu, istriku itu adalah keturunan dari salah satu keciang keluarga Bhok yang tersohor yakni salah satu dari keluarga Pek, Pui, Sou dan Lau!
Ketika kami menikah, salah satu saksinya ialah seseorang yang bernama Sou Kong, dia berjuluk Sin Jiu kisu.
Ada seorang lagi yang bernama Pek Han-hong, yakni saudara Pek Han-siong yang belum lama ini mati dihajar orang, Kalian tahu, Pek Han-hong ini miskin sekali, sehingga untuk memakamkan saudaranya dia terpaksa menjadi comblang demi mendapatkan sedikit uang!"
Mendengar ucapannya, si anak muda itu semakin gusar.
"Kau... kau!"
Saking kesalnya dia tidak sanggup mengatakan apa-apa.
"Saudara, bersabarlah,"
Kata si bewok menenangkan rekannya, Kemudian dia menoleh kepada Siau Po.
"Sahabat, tampaknya kau banyak tahu tentang keluarga Bhok?"
"Aku toh termasuk menantu dari keluarga Bhok,"
Sahut Siau Po.
"Sebagai seorang menantu, mana mungkin aku tidak tahu segala sesuatu yang menyangkut keluarga mertuaku? Nona Pui Ie itu tadinya tidak sudi menikah denganku, Katanya dia sudah berjanji akan menikah dengan kakak seperguruannya, Lau It cou. sekarang pikirannya berubah karena dia mendengar kekasihnya itu manusia yang tidak berguna sebab dia datang ke Go Sam-kui si pengkhianat bangsa itu dan sudi menjadi bawahannya, bahkan mau saja disuruh menyerbu istana untuk membunuh kaisar Kong Hi. Nah, coba kau pikir, setiap bangsa Han toh benci sekali kepada Go Sam-kui yang telah menjual negaranya sendiri..." Bicara sampai di situ, Siau Po merendahkan suaranya, Kemudian dia melanjutkan kembali.
"Go Sam-kui sudah berpihak pada orang Tatcu, bangsa yang menjadi musuh negara kita, Dia takluk dan bersedia bekerja bagi musuh kita itu. Go Sam-kui berpihak pada Tatcu dengan mempersembahkan negara kita yang indah dan permai, Siapa saja orang Han, membenci Go Sam-kui sehingga ingin sekali membeset kulitnya dan makan dagingnya, sedangkan It Cou, si bocah busuk itu, dia boleh menghamba pada siapa saja, tapi mengapa dia justru memilih Go Sam-kui sebagai tuannya? Tentu saja karena hal ini nona Pui marah sekali, di mana dia harus menaruh mukanya bila bertemu dengan orang-orang gagah se tanah air? itulah sebabnya dia mengambil keputusan untuk tidak menikah dengan kakak seperguruannya itu!"
Mendengar sampai di sini, tiba-tiba anak muda itu berteriak.
"Aku... aku... aku.,.!"
Tapi lagi-lagi dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena emosinya yang berlebihan "Sabar!"
Seru si bewok, Dia menatap Siau Po lekat-lekat lalu berkata.
"Tuan, setiap orang mempunyai cita-cita tersendiri. Kau telah menjadi thay-kam dalam istana Ceng, bukankah itu suatu pekerjaan yang merendahkan dirimu sendiri?"
"Tepat! Tepat!"
Sahut Siau Po tanpa merasa malu sedikit pun.
"Memang pekerjaan ini membuat pamorku jatuh. Tapi sekarang, mari kita bicarakan saja urusan ini. istriku teringat akan bekas kekasihnya, dia meminta aku mencari tahu tentangnya, Dia ingin mendapat kepastian apakah kekasihnya itu sudah mati atau belum, Dia berkata begini, kalau benar Lau It-cou itu sudah mati, maka dia dapat menikah denganku tanpa merasakan susah, Nah, sahabat bertiga, benarkah di antara kalian tidak ada yang bernama Lau It-cou? Kalau benar, aku akan pergi sekarang, Nanti malam kami akan mengadakan upacara pernikahan dengan bersembahyang pada langit dan bumi!"
Begitu selesai berkata, Siau Po segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu.
"Aku...lah!"
Kata si anak muda berkulit bersih dengan penuh semangat.
"Sabar!"
Lagi-lagi si bewok mencegah rekannya berbicara lebih jauh.
"Jangan sampai kena terpedaya!"
Si anak muda itu meronta-ronta.
"Dia... dia.,.!"
Serunya tersendat-sendat, kemudian dia meludahi Siau Po.
Si bocah cilik sempat melihat hal itu, dia sege mengelakkan diri, Dia juga melihat para tawana nya itu diikat dengan tali yang terbuat dari urat kerbau, Meskipun meronta dengan sekuat tenaga tidak mungkin mereka sanggup meloloskan diri.
Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Sudah pasti dialah Lau It-cou. Dia sudah mau mengaku, tapi sayangnya selalu dicegah oleh temannya, si bewok, Bagaimana baiknya sekarang?"
Setelah berpikir sejenak, bocah yang cerdik ini segera menemukan akal yang bagus.
"Kalian di sini dulu untuk sementara, aku aka pulang dan meminta keterangan dari istriku!"
Memang luar biasa watak bocah yang satu ini.
Dia menyebut Pui Ie sebagai istri.
Dia juga mengatakan akan mengadakan upacara pernikahan dengan bersembahyang pada langit dan bumi, Kali ini dia benar-benar meninggalkan tempat para tahanan itu, sesampainya di pelataran depan, dia berbisik kepada Ci Hian yang sedang menunggunya.
"Aku telah mendapat suatu keterangan. Mulai sekarang, jangan kau siksa lagi mereka. Sebentar aku akan kembali lagi!"
Tio Ci-hian mengangguk dan Siau Po pun segera melangkah pergi.
Ketika Siau Po kembali ke kamarnya, hari su dah gelap, Dia ingat kedua nona yang terseka dalam kamarnya, Pasti mereka sudah lapar, Karena itu dia tidak langsung masuk ke dalam kamarnya tapi berjalan menuju Siang-sian tong untuk memesan barang hidangan, Dia mengatakan ingin menjamu para siwi yang malam sebelumnya telah berjasa meringkus para penyerbu, Dia juga berpesan bahwa perjamuannya nanti tidak perlu dilayani para thay-kam, karena sembari bersantap, dia ingin membicarakan urusan rahasia.
Ketika kembali ke kamarnya, Siau Po disambut oleh Kiam Peng.
"Kenapa kau baru pulang?"
"Kau tentunya kebingungan setengah mati menantikan aku, bukan?"
Sahut Siau Po sambil tertawa "Kau tahu, aku telah menyelidiki dan aku memperoleh kabar gembira!" Pui Ie yang berbaring di atas tempat tidur segera mengangkat kepalanya.
"Kabar apa?"
Tanyanya cepat.
Siau Po menyalakan lilin agar kamar menjadi terang dan dia dapat melihat wajah si nona yang bersemu dadu, matanya membengkak sebagai tanda bahwa dia baru saja menangis.
Pasti hatinya sedih sekali memikirkan kekasihnya, Lau It-cou.
Siau Po menarik nafas panjang.
"Kabar yang aku bawa itu pasti membuat hatimu gembira namun sayangnya merupakan malapetaka untukku!"
Sahutnya.
"Karena istri yang baru aku dapatkan akan melayang lagi! Benar, budak Lau It-cou itu memang belum mati!"
"Ah!"
Pui Ie mengeluarkan seruan tertahan. Untuk sesaat dia tidak dapat menahan keguncang"
Hatinya yang gembira sekali mendengar berita d Siau Po. Kiam Peng juga senang sekali.
"Oh!"
Serunya.
"Jadi, Lau suko selamat dia tidak kurang apa pun?"
"Mati sih belum,"
Sahut Siau Po.
"Tapi untuk hidup terus, sukarnya bukan main. Dia sudah tertawan oleh para siwi dan sekarang sedang diperiksa. Dia kukuh mengaku sebagai orangnya Go Sam-kui dan mengatakan bahwa ia mendapat perintah untuk membunuh kaisar Kong Hi. Begitulah, dia masih hidup sekarang, tapi sedang menantikan hukum kematiannya! Kalau perbuatannya ini tersiar diluaran, pasti namanya akan busuk dan dicela oleh para orang gagah karena dikenal sebagai anjing pengkhianat Go Sam-kui. Apalagi setelah dia menjalankan hukuman mati, Namanya akan semakin bau!"
Pui Ie berusaha bergerak bangun Saat ini dia sudah dapat mengendalikan perasaannya.
"Sebelum datang menyerbu ke istana ini, kami sudah mempertimbangkan bahwa kami bisa ditahan dan dihukum mati, Kami tidak memperdulikan hal itu, asal dapat merobohkan Go Sam-kui, pengkhianat bangsa! Cita-cita kami hanya membalaskan sakit hati raja kami!"
Siau Po mengacungkan jempolnya.
"Bagus! Penuh semangat!"
Katanya memuji.
"Aku si Kui kongkong merasa kagum sekali! Sekarang, nona Pui, ada satu urusan penting yang harus kita rundingkan Mari aku tanya dulu, seandainya aku bisa membebaskan kakak seperguruanmu itu, apa yang akan kau lakukan? Bagaimana dengan engkau sendiri?"
Mata Pui Ie menyorotkan sinar berkilauan wajahnya merah padam.
"Apakah kau benar-benar sanggup menolong kakak seperguruanku itu?"
Tanyanya menegaskan "Kalau benar, bi.,.arlah a.,.ku menjadi budakmu seumur hidup!
Dengan kata lain, pekerjaan apa pun dan sesulit apa pun, asal kau perintahkan aku Pui Ie, akan melakukannya tanpa mengerutkan sepasang alisku!"
"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?"
Tanya Siau Po.
"Bisa? Dalam hal ini, biar Siau kuncu menjadi saksinya! Kalau aku berhasil menolong Lau sukomu itu, akan kuserahkan dia kepada Siau ongya Bhok Kiam seng dan Tiat Pwe-cong Liong Liu loyacu...."
"Eh, kau tahu tentang kokoku dan Liu suhu?"
Tukas Kiam Peng keheranan.
"Siau ongya dari Bhok onghu serta Tiat Pwe-cong Liong Liu Tay-hong merupakan orang-orang yang sudah terkenal sekali, Siapa yang tidak pernah mendengar nama mereka?"
"Kau memang orang baik. Setelah kau berhasil membebaskan Lau suko, kami semua pasti berterima kasih dan bersyukur atas jasa-jasamu itu! kata Kiam Peng. Siau Po menggelengkan kepalanya.
"Aku bukan orang baik,"
Sahuthya.
"Sekarang aku sedang mengadakan transaksi jual-beli dengan kalian, Lau It-cau merupakan orang yang luar biasa. Dia telah melanggar undang-undang negara sehingga dosanya berat sekali, Kalau aku hendak menolongnya, aku juga harus berani mengorbankan diri, Aku bisa menghadapi bencana besar. Kalau perbuatanku itu sampai ketahuan, seluruh keluagaku, termasuk nenek, kakek, paman tua, pam muda, bibi tua, bibi muda, kakak adikku yang jumlahnya sepuluh orang bisa terancam hukuman penggal kepala, Setelah itu, rumahku, harta benda berupa emas, perak, tembaga, uang, barang-bara antik semuanya akan disita oleh negara, Nah, coba kau bayangkan beratnya tanggung jawab yang harus kupikul!"
Setiap kali Siau Po berkata sampai pada bagi tertentu, Kiam Peng selalu menganggukkan kepalanya.
Ucapan Siau Po memang berlebihan, tapi bukan berarti tidak mengandung kebenaran Perbuatannya mengandung resiko yang besar Katakatanya memang harus dibenarkan, meskipun Siau Po sampai membawa nama kakek dan neneknya.
Pui Ie juga membenarkan kata-kata Siau Po.
"Memang benar! perbuatan ini memerlukan tanggungjawab yang tidak kepalang besarnya, Baiklah, aku tidak jadi meminta bantuanmu! Bagiku, kalau Lau suko diancam hukuman mati, aku juga tidak sudi hidup lebih lama lagi. Terpaksa kita menyerah pada suratan nasib saja...."
Selesai berkata, Pui Ie langsung menangis. Air matanya mengucur deras.
"Jangan mudah bersedih, jangan asal mengalirkan air mata saja!"
Kata Siau Po.
"Kau begitu cantik dan manis, Begitu indahnya sehingga mirip batu kumala dan bunga bermekaran, Melihat air matamu mengalir, hatiku pun ikut hancur luluh. Nona Pui, demi engkau, aku akan melakukan apa saja, Aku akan menolong kakak seperguruannya Dan aku pasti akan berhasil! Nona Pui, mari kita mengadakan perjanjian Kalau aku gagal menolong Lau sukomu itu, biarlah seumur hidupku aku menjadi budakmu, Sebaliknya, andaikata aku berhasil menolong Lau sukomu keluar dengan selamat dari istana ini, maka untuk seumur hidup, kau harus menjadi istriku, Seorang laki-laki sejati, asal katakatanya sudah tercetus keluar, entah empat kuda apa pun sukar mengejarnya! Nah, demikianlah janji kita!"
Pui Ie memandangi Siau Po dengan pandangan tertegun wajahnya sebentar merah sebentar pucat, Kemudian dengan perlahan dia berkata.
"Kui toako, demi... keselamatan Lau suko, a... ku akan melakukan apa saja, seandainya kau... berhasil membebas.,.kannya, apabila kau ingin aku melayanimu, se.,, umur hidup, sebetul.,.nya bukan tidak bi... sa, tapi...."
Tiba-tiba Pui Ie menghentikan kata, karena di saat itu juga terdengar suara dari luar kamar.
"Kui kongkong, barang hidangan sudah siap!"
"Bagus!"
Sahut Siau Po yang langsung membuka pintu kamarnya dan merapatkannya kembali Dia membiarkan empat orang thay-kam mengantarkan barang hidangan ke dalam ruang tamu, semuanya diatur dengan rapi di atas meja.
"Sekarang pergilah kalian, kalian tidak perlu melayani aku,"
Kata Siau Po kemudian.
"Baiklah, kongkong!"
Sahut salah satu thay-kam.
"Apakah masih ada yang kurang?"
"Sudah cukup!"
Kata Siau Po. Dia melihat barang hidangan itu cukup untuk delapan orang "lngat! Kalau aku tidak panggil, jangan ada yang datang kemari!"
Dia memberi persen kepada mereka itu masing masing lima tail perak, Tentu saja para thay-kam itu kegirangan menerimanya.
Begitu para thay-kam itu berlalu, Siau Po mengunci pintu kembali Setelah itu dia menggeser meja yang penuh hidangan itu ke dalam kamar.
Dia mengisi tiga mangkok nasi dan juga menuangkan tiga cawan arak.
"Nona Pui,"
Panggilnya seraya tertawa, Hidangan semua sudah tersedia dan tinggal menyantapnya saja, Tadi nona mengatakan tapi, apa maksudnya?"
Saat itu Pui Ie sedang dibantu bangun oleh Kiam Peng, Mendengar pertanyaan Siau Po, wajahnya jadi merah jengah sehingga cepat-cepat dia menundukkan kepalanya, Untuk sekian lama dia berdiam diri.
"Sebetulnya, aku ingin mengatakan,"
Akhirnya dia menyahut juga.
"Kau bekerja sebagai thay-kam di istana, mana... mungkin kau bi.,.sa mempunyai istri? Tapi, tak perduli bagaimana caranya, asal kau bisa menolong Lau suko meloloskan diri dari tempat tahanan, untuk seumur hidup, aku akan melayanimu...."
Sinar lilin menerangi wajah si nona, kecantikannya semakin kentara ketika tersipusipu. Siau Po masih anak bau kencur, tapi dia juga merasa tertarik dengan kecantikan gadis itu.
"Oh, rupanya karena kau mengetahui aku seorang thay-kam?"
Kata si bocah sembari tertawa.
"Karena aku orang kebiri, jadi aku tidak bisa mempunyai istri! Ah... itu urusanku sendiri, tidak perlu kau khawatirkan. Sekarang aku tanya dulu, bersediakah kau menjadi istriku?"
Sepasang alis Pui Ie mengernyit, wajahnya merah kembali, Namun sekarang emosinya meluap Dia merasa gusar, tapi beberapa saat kemudian pikirannya jernih kembali.
"Jangan kata hanya menjadi istrimu, meskipun kau jual aku ke rumah pelesiran menjadi perempuan penghibur atau pun perempuan jalang, aku rela!"
Ucapan itu hebat sekali, Apabila orang lain yang mendengarnya, pasti akan marah karena tersinggung, Tidak demikian halnya dengan Siau Po.
Sejak kecil dia dibesarkan dalam rumah pelesiran Baginya kata-kata itu biasa-biasa saja.
"Baiklah!"
Sahutnya.
"Dengan demikian kita sudah mengadakan perjanjian Nah, istri dan adikku yang manis, mari kita keringkan cawan kita!"
Sejak melihat gerak-geriknya Siau Po dua hari ini, Pui Ie tidak menganggapnya sebagai thay-kam lagi, Dalam pandangannya, Siau Po sangat cekatan dan cerdik, Dengan mudah dia berhasil membunuh Sui Tong dan membuat tubuhnya lumer tinggal cairan.
Dia juga mendapat kenyataan bahwa para thay-kam lainnya di istana ini sangat menghormati bocah, dia masih sangat muda, dan mulai timbul kesan baik dalam hatinya.
Diam-diam Pui Ie juga mengaguminya.
Di lain pihak, Pui Ie juga ingat akan Lau It-cou kakak seperguruan yang dikenalnya sejak kecil.
Mereka berlatih silat bersama-sama, Hubungan mereka sudah erat sekali, Meskipun keduanya tidak pernah mengatakan apa-apa, namun jauh di dasar lubuk hati, mereka telah sepakat untuk menikah kelak.
Malam itu mereka bekerja sama menyerbu istana kerajaan Ceng ini, Bahkan dia menyaksikan Lau It-cou tertawan Dia ingin memberikan bantuan tetapi kondisinya tidak memungkinkan, sebab dia sendiri sudah terluka.
Dia menduga, karena tertawan oleh pihak musuh, nyawa Lau It-cou tidak mungkin dipertahankan lagi.
Di luar dugaannya, si thay-kam cilik ini mengatakan kekasih hatinya belum mati, Bahkan Siau Po juga berjanji untuk menolongnya meloloskan diri.
Karena itu pula, benaknya segera berputar.
"Biarlah Lau suko bebas dan selamat,"
Demikian pikirnya dalam hati, Tidak apa-apa kalau hidupku selanjutnya akan menderita, malah aku bersyukur kepada Thian yang maha kuasa, Apakah thay-kam cilik ini mempunyai maksud tertentu?
Ah!
Mungkin dia hanya mengoceh sembarangan Mustahil seorang thay-kam bisa beristri!
Ya, dia tentu bicara seenaknya untuk menggoda aku!
Biarlah, aku menerima baik saja permintaannya...!"
Demikianlah dia mengambil keputusannya. Karena itu dia langsung mengembangkan seulas senyuman Dia mengangkat cawan araknya dan dibawa ke bibirnya.
"Sekarang aku minum arak bersamamu, tapi kau harus ingat baik-baik. Kalau kau tidak mamp menolongi Lau suko, maka kau tidak akan lolos dari goIokku!"
Siau Po tersenyum, senang hatinya meliha wajah si nona berseri-seri, wajahnya tampak semakin manis kalau tersenyum. Dia mengangka cawannya dan berkata.
"Janji kita merupakan kepastian yang tidak dapat diingkari lagi. Karena itu aku juga ingi bertanya, seandainya aku sudah berhasil menolong Lau sukomu, lalu kau merasa menyesal, bagaimana? Mungkin saja kau mengingkari kata-katamu sendiri dan tetap ingin menikah dengannya, Kalau kalia bekerja sama mengepung aku seorang diri, lalu di menbacok aku satu kali dan kau pun menebas aku satu kali, bukankah tubuh aku, si Kui kongkong akan terbelah menjadi dua bagian? Nah, inilah yan harus aku jaga!"
Pui Ie memperlihatkan tampang serius.
"Raja langit di atas, Ratu bumi di bawah, seandainya Kui kongkong benar-benar berhasil menolong Lau suko meloloskan diri dengan selamat maka Siauli (sebutan untuk diri sendiri bagi anak perempuan) Pui Ie bersedia menikah dengan Kui kongkong dan menjadi istrinya serta melayaninya seumur hidup, Siauli akan setia dan tidak nanti berhati dua. Apabila Siauli mengingkarinya, biarlah siauli tersiksa di alam baka nanti dan tidak akan menjelma lagi untuk selama-lamanya!"
Selesai berkata dia menunjuk kepada Siau kuncu.
"Nah, Siau kuncu menjadi saksinya!"
Bukan main senangnya hati Siau Po mendengar nona itu bersumpah berat, Dia segera menoleh kepada Kiam Peng dan bertanya.
"Adikku yang baik, apakah kau mempunyai kekasih hati yang harus kutolong?"
"Tidak!"
Sahut nona Bhok.
"Sayang! Sayang!"
Kata Siau Po.
"Kalau kau juga mempunyai kekasih hati, aku akan menolongnya sekalian. Dengan demikian, kau juga akan bersumpah menikah denganku, bukan?"
"Fui!"
Kiam Peng pura-pura meludah.
"Sudah mendapatkan seorang istri, masih belum merasa puas! Rupanya dikasih hati, kau malah minta ampela!"
Siau Po tertawa. "Jangan heran!"
Katanya.
"Bukankah ada pepatah yang mengatakan "
Si katak buduk berkhayal ingin makan daging angsa khayangan! Eh, iya, istriku... bersama-sama dengan Lau sukomu itu, ada tertawan dua orang lainnya, Yang satunya berewokan, siapakah dia?"
"ltu Gouw susiok!"
Sahut Kiam Peng, Susiok artinya paman guru.
"Siapakah yang lainnya?"
Tanya Siau Po kembali "Di dadanya ada tato harimau yang buas."
"Dia berjuluk Chi Mo houw (Si harimau hijau) Go piu,"
Sahut Bhok Kiam-peng kembali "Di murid Gouw susiok!"
"Siapa nama lengkap Gouw susiok itu?"
Tany Siau Po.
"Nama lengkap Gouw susiok ialah Gouw Lip sin,"
Sahut Kiam Peng.
"Julukannya Yau Tau Say (Singa menggoyangkan kepala)."
Siau Po tertawa.
"Julukannya bagus sekali,"
Kata Siau Po.
"Apa pun yang dikatakan orang, dia pasti selalu menggelengkan kepalanya."
"Kui toako,"
Kata Bhok Kiam-peng sambil tersenyum, Dia merasa thay-kam cilik ini jenaka sekali "Kau toh ingin menolong Lau suko, sekalian saja kau tolong Gouw susiok dan Go Piu meloloskan diri dari tempat tahanan!"
"Gouw susiok dan Go Piu itu apakah mempunyai puteri atau kenalan gadis-gadis cantik?"
Tanya Siau Po.
"Aku tidak tahu,"
Sahut Kiam Peng.
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
Bagian 23
"Aku ingin menanyakan dulu tentang kenal gadis mereka yang manis-manis itu. ingin kutegaskan, apabila aku menolong Gouw susiok dan Piu, apakah mereka juga bersedia menjadi istriku. Coba bayangkan saja, aku akan menghadapi bahaya besar untuk menolong orang, masa aku harus kerja bakti tanpa pamrih apa-apa?"
Selesai Siau Po berbicara, sebuah benda dengan bayangan kehitaman melayang ke arah kepalanya, Siau Po sempat melihat dan berusaha menghindarkan diri, tapi dia kalah cepat.
Begitu dia menundukkan kepalanya, benda itu dengan telak menghajar dahinya.
"Aduh!"
Jerit Siau Po.
Disusut dengan sebuah cawan yang jatuh di atas tanah dan hancur dengan menerbitkan suara nyaring, sedangkan dahinya mengucurkan darah yang terus mengalir sampai matanya dan membuat pandangannya menjadi samar.
"Pergi kau, bunuh saja Lau It-cou!"
Terdengar suara teriakan Pui Ie.
"Nonamu juga tidak mau memikirkannya lagi, Tidak nanti aku sudi dihina sedemikian rupa selamanya olehmu!"
Ternyata Pui Ie yang menyambit cawan arak ke kepala Siau Po.
Dia kehilangan sabarnya mendengar ocehan si bocah, hatinya panas sekali, Untung saja luka Pui Ie belum sembuh sehingga tenaganya jauh berkurang dibandingkan biasanya, Kalau tidak, serangannya itu pasti luar biasa dan Siau Po bisa celaka karenanya.
Mula-mula Kiam Peng juga ikut terkejut, namun akhirnya perasaannya lebih tenang setelah tahu apa yang terjadi.
"Kui toako!"
Katanya.
"Ke sini! Aku periksa lukamu, jangan sampai ada pecahan beling yang menancap di dalam dagingmu!"
"Aku tidak mau mendekatimu!"
Teriak Siau Po.
"lstriku saja sudah berusaha membunuh suaminya sendiri!"
"Siapa suruh kau mengoceh yang bukan-bukan?"
Kata Kiam Peng.
"Kenapa kau ingin mengganggu anak istri orang? Aku sendiri merasa panas mendengar kata-katamu tadi!"
Siau Po tertawa.
"Oh, aku mengerti sekarang!"
Katanya.
"Rupanya kalian cemburu dan iri. Iya, baru mendengar aku akan mencari perempuan lain saja, istriku yang tua dan istri yang muda sudah lantas cemburu!"
Kiam Peng menyambar lagi sebuah cawan arak.
"Kau panggil aku apa?"
Bentaknya dengan nada keras.
"Awas kalau kuhajar sekali lagi kau denga cangkir ini!"
Siau Po mengusap darah yang mengalir di matanya.
Dia dapat melihat wajah si nona yang sedang marah.
wajahnya semakin manis dan cantik, Karena itu dia malah tersenyum, Setelah itu, dia melirik ke arah Pui Ie.
Nona itu tampak menyesal Siau Po merasa lukanya perih, tapi dia toh merasa senang.
"lstri tuaku telah menimpuk aku dengan cawan arak, karena itu, kalau istriku yang muda tidak diijinkan menyambit juga, namanya tidak adil."
Diapun berjalan mendekati Kiam Peng kemudian melanjutkan kembali.
"Nah, istri mudaku, kau juga boleh menyambit aku sekarang!"
"Baik!"
Seru Kiam Peng.
ia segera menyiram arak di cawannya yang masih sisa setengah ke arah Siau Po!
Si bocah berusaha mengelak, tapi wajahnya basah juga tersembur air arak yang disiramkan itu, Namun dasar bocah nakal, dia malah mengulurkan lidahnya mencicipi arak yang manis itu.
"Sedap. Sedap!"
Katanya berulang kali.
"lstri tua menghajar aku sehingga dahiku mengucurkan darah. sekarang istri mudaku malah menyiram arak ke wajahku, Darah dan arak bercampur menjadi satu, aih! Lama-lama aku bisa mati juga!"
Mendengar kata-katanya lucu, Kiam Peng dan Pui Ie jadi tertawa juga.
"Dasar manusia tidak punya guna!"
Maki Pui Ie sembari mengeluarkan sapu tangan yang kemudian diangsurkan kepada Kiam Peng.
"Kau bersihkan darahnya!"
Kiam Peng tertawa.
"Kau yang menghajarnya sehingga terluka, mengapa aku yang harus membersihkan darahnya?"
Tanyanya. Pui Ie membekap mulut Kiam Peng.
"Kau toh istri mudanya?"
Katanya menggoda. Sekali lagi Kiam Peng tertawa.
"Cis! Barusan kaulah yang menerima baik syarat yang diajukannya, Bukan aku!"
"Siapa bilang kau tidak menerima?"
Kata Pui Ie tidak mau kalah.
"Bukankah dia menantang istri mudanya menyambit juga? Dan kau telah menyiram wajahnya dengan arak! Hal ini kan berarti kau bersedia menjadi istri mudanya?"
Sekarang giliran Siau Po yang tertawa.
"Tepat! Tepat!"
Katanya lantang.
"istri tuaku sungguh cinta dan sayang sekali kepadaku, Baiklah Kalian berdua boleh menenteramkan hati. Tidak mungkin aku main gila dengan perempuan lain!"
Diam-diam Pui Ie berpikir dalam hatinya.
"Dia seorang thay-kam, tidak mungkin bisa menjadi suami yang sebenarnya, Tentunya dia hanya bergurau, Lidahnya memang tajam!"
Pui Ie sudah mempunyai kesan baik terhada Siau Po.
Mengenai ucapannya tentang istri tua dan istri muda, tentunya dia hanya iseng, Bukankah thay-kam cilik itu jenaka sekali?
Demikianlah mereka bertiga terus bersenda gurau, sampai akhirnya Pui Ie berkata.
"Kemari kau!"
Dia memeriksa luka di dahi Si Po.
Dia khawatir masih ada sisa beling yang menancap di dalam dagingnya, sementara itu dia juga membersihkan darahnya dan ditaburi obat agar darahnya tidak mengalir terus.
Ketiga-tiganya tidak suka minum arak, Karena itu sampai selesai makan, arak yang disajikan masih utuh, Tidak ada seorang pun yang menyentuhnya.
Habis bersantap, Siau Po menguap.
"Bagaimana malam ini? Apakah aku tidur dengan istri tuaku atau istri mudaku?"
Tanyanya. Pui Ie memperlihatkan mimik serius.
"Kalau bergurau, kau harus tahu batasnya"
Katanya garang.
"Apabila kau naik lagi ke atas tempat tidur, awas! Aku akan membunuhmu dengan bacokan golok ini!"
Siau Po tertawa, Dia meleletkan lidahnya.
"Hebat!"
Serunya.
"Pada suatu hari nanti, mungkin nyawaku bisa melayang di tanganmu!"
Kedua gadis itu jadi tertawa lagi mendengar perkataannya, Siau Po segera menelan sebutir pil yang dihadiahkan ibu suri, Setelah itu dia membuka pintu kamarnya untuk mengeluarkan meja hidangan Selesai bekerja dia menggelar tikar di atas lantai lalu tanpa mengganti pakaiannya lagi, dia berbaring di sana.
Rupanya dia sudah letih sekali, Dalam sekejap mata dia sudah tertidur dengan pulas.
Ketika keesokan paginya dia terbangun dari tidur, Dia merasa tubuhnya hangat Di saat dia membuka matanya, ternyata tubuhnya telah ditutupi sehelai selimut.
Kepalanya juga beralas bantal Kemudian dia bangkit duduk dan mengawasi tempat tidurnya.
Di balik kelambu yang tipis, tampak secara samar-samar Pui Ie dan Kiam Peng tidur berdampingan Siau Po berdiri, dengan mengendap-endap dia menghampiri tempat tidur itu.
Dengan perlahan dan hati-hati dia menyingkapkan kelambunya kemudian melongok ke dalamnya.
Tampak olehnya Pui Ie dan Kiam Peng sama-sama ayu dan anggun Kedua gadis cantik itu tidur dengan hampir berdempetan Sungguh mempesona pemandangan yang ada di hadapannya, Tanpa sadar dia mendekati wajahnya untuk mencium kedua nona itu, tapi tiba-tiba saja timbul perasaan khawatir mereka akan terjaga karenanya.
"Oh!"
Serunya dalam hati.
"Seandainya kedua gadis cantik ini bisa menjadi istriku, tentu hidupku akan menyenangkan sekali, Di rumah pelesiran seperti Li Cun-wan, mana ada gadis-gadis yang secantik dan seayu mereka?"
Perlahan-lahan Siau Po berjalan mendekat pintu, tapi baru saja dia membukanya, suara gerakan pintu itu ternyata membangunkan Pui Ie Gadis itu langsung membuka matanya dan memperhatikan Siau Po.
Bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Kui... Kui... Oh, kau sudah bangun?"
Sapany dengan suara halus.
"Kui... Kui apa?"
Sahut Siau Po sembari tertawa "Apa kau keberatan memanggilku suami yang baik?"
"lngat!"
Sahut Pui Ie.
"Kau toh belum menolong orang yang kau janjikan itu!"
"Jangan khawatir!"
Kata Siau Po.
"Sekarang juga aku akan membebaskan mereka !"
Tepat pada saat itu terdengar suara bersin Kiam Peng.
"Hei, pagi-pagi begini apa yang kalian bicarakan?"
Tanyanya.
"Kami berdua tidak tidur sepanjang malam"
Sahut Siau Po. Banyak sekali yang kami bicarakan."
Kemudian dia menguap dan menambahkan "Oh, aku mengantuk sekali,.. aku ingin tidur...!"
Wajah Pui Ie jadi merah padam.
"Orang memang tidak bisa bicara baik-baik denganmu,"
Katanya.
"kenapa kau mengatakan kita tidak tidur sepanjang malam?"
Siau Po tidak memberikan komentar, dia hanya tertawa.
"Nah, istriku yang baik,"
Katanya kemudian "Sekarang mari kita bicara serius, Kau tulislah sepucuk surat, nanti aku bawa kepada Lau sukomu itu agar dia percaya kepadaku dan bersedia mengikut aku keluar dari istana ini.
Tanpa surat darimu, aku khawatir dia akan curiga dan takut dirinya ditipu, Kemungkinan dia berkeras mengatakan bahwa dirinya adalah orangnya Go Sam-kui!"
"Kau benar,"
Kata Pui Ie.
"Tapi, apa yang harus kutulis?"
"Kau boleh tulis apa saja!"
Sahut Siau Po.
"Umpamanya kau bisa mengatakan bahwa aku adalah suamimu, suami yang paling baik di kolong langit ini! Ada baiknya kau juga menyebut kebaikanku karena menikahi dirimu, aku bersedia menolongnya membebaskan diri dari tempat tahanan!"
Sembari berbicara, Siau Po mengambil alat tulis milik Hay kongkong.
semuanya dipindahkan ke depan tempat tidur, kemudian dia juga menggosok bak tinta nya agar menjadi kental.
Tidak kepalang tanggung, dia juga mengambil sehelai kertas lalu dibeberkannya di atas meja, dan pitnya disediakan Pui le bergerak bangun untuk duduk, Ketika menerima pit dari tangan Siau Po, tibatiba dia menangis terisak-isak.
Air matanya mengucur dengan deras.
"Apa yang harus kutulis?"
Tanyanya denga tersengguk-sengguk.
"Apa pun boleh,"
Kata Siau Po. Dia merasa kasihan juga melihat kesedihan gadis itu.
"Aku toh buta huruf, apa pun yang kau tulis, aku tidak bisa membacanya. Karena itu kau tidak perlu khawatir Tapi sebaiknya jangan kau katakan bahwa kau telah menikah denganku, nanti Lau sukomu menjad gusar dan tidak sudi ditolong olehku!"
"Kau buta huruf?"
Tanya Pui le menegaskan "Kau tidak membohongi aku?"
"Kalau aku mengerti membaca, biarlah aku menjadi si anak kura-kura!"
Sahut Siau Po.
"Aku bukan suamimu, akulah anakmu, akulah cucumu!"
Pui le dapat melihat kesungguhan Siau Po dan dia mempercayainya. Sembari mengangkat pit, dia terus berpikir Tapi sampai sekian lama dia masih tidak tahu apa yang harus ditulisnya.
"Sudah, sudah!"
Seru Siau Po yang mulai kehabisan sabar.
"Baik, nanti kalau aku sudah berhasil membebaskan Lau It-cou, kau boleh menikah dengannya, Aku tidak akan merebutmu! Lagipula, kau tidak bersungguh hati ingin menikah denganku dengan demikian kelak di kemudian hari aku juga tidak perlu merasakan dikhianati. Lebih baik sejak sekarang aku mengalah, Biar kau senang dapat menikah dengan Lau It-cou! Apa pun yang ingin kau tulis, tulislah! jangan khawatir, aku tidak takut!"
Pui le memperhatikan Siau Po lekat-lekat.
Air matanya masih mengambang, kemudian dia menundukkan kepalanya, Kali ini tampaknya dia bersyukur dan senang, dia juga langsung menggerakkan pit nya.
Beberapa kali dia menambahkan air di bak tintanya, akhirnya selesai juga pekerjaannya.
"Nah, ini!"
Katanya, Dia menyodorkan surat itu kepada Siau Po.
"Tolong kau sampaikan kepadanya !"
"Hm! Kau...!"
Maki Siau Po dalam hati.
"Mengapa kau tidak memanggil aku toako, tapi membahasakan kau saja?"
Hatinya memang mendongkol juga, tapi dia ingin bersikap sebagai seorang laki-laki sejati, Karenanya dia menahan kekesalan hatinya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dia mengulurkan tangannya untuk menyambut surat yang disodorkan si nona kemudian ia masukkan ke dalam sakunya, namun dalam hatinya dia masih berkata juga.
"lstri yang cantik dan baik malah diserahkan kepada orang lain..."
Setelah menutup pintu kamarnya, Siau Po berjalan menuju tempat para siwi, Kali ini yang mendapat bagian meronda adalah Tio Kong-lian.
Dia sudah mendapat kisikan dari To Lung, atasannya untuk membantu Kui kongkong membebaskan ke tiga orang tahanan, namun dia juga mendapat pes untuk berhati-hati agar ketiga tawanan itu tidak menjadi curiga atau mempunyai dugaan bahwa mereka dilepaskan dengan sengaja.
Begitu melihat Siau Po, Kong Lian segera menghampiri untuk menyambutnya.
Sembari tertawa dia mengedipkan matanya, setelah itu dia mengajak thay-kam cilik itu ke samping gunung buatan.
Siau Po mengikuti.
"Kui kongkong, dengan cara bagaimana kongkong akan menolong mereka?"
Tanya Kong Lian, Siau Po jadi berpikir setelah melihat keramahan siwi ini.
"Sri Baginda berpesan agar aku membunuh satu dua orang siwi yang menjaga, agar aku dapat membebaskan para tahanan"
Pikirnya.
"Tapi orang she Tio ini begini baik, tegakah aku membunuhnya?"
"Nanti aku periksa lagi ketiga tahanan itu, katanya setelah berpikir sejenak.
"Aku akan kerja dengan melihat situasinya."
"Terima kasih, kongkong,"
Sahut Kong Lian.
"Untuk apa kau mengucapkan terima kasih kepadaku?"
Tanya Siau Po heran.
"Hamba ingin bekerja dengan Kui kongkong."
Sahut Kong Lian.
"Hamba harap untuk selanjutnya hamba akan mendapat bantuan dari kongkong agar dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi!"
Siau Po tersenyum mendengar ucapan siwi itu.
"Kau bekerja dengan setia kepada Sri Baginda, hanya satu hal yang aku khawatirkan..."
Kong Lian terkejut mendengar kata-kata Siau Po.
"Apa itu, kongkong?"
Tanyanya khawatir.
"Aku takut kalau kau terus memperoleh kemajuan, gudang uangmu tidak akan muat lagi karena hartamu sudah berlebihan..."
Sahut Siau Po. Pertama-tama Kong Lian bingung, namun akhirnya dia tertawa, Kemudian, setelah tawanya berhenti, dia berkata dengan suara perlahan.
"Kongkong, hamba sudah berunding dengan para siwi lainnya yang berjaga di sini bahwa kami semua akan bekerja dengan segenap kemampuan untuk membantu kongkong, Kami yakin kelak kongkong akan menjadi kepala atau pemimpin para thaykam di sini!"
"Bagus!"
Kata Siau Po.
"Hal itu mungkin harus menunggu beberapa tahun lagi kalau usiaku sudah agak dewasa."
Siau Po segera berjalan ke dalam tempat tahanan, Baru satu malam saja tampak jelas Lou It-cou bertiga sudah jauh lebih lesu.
Memang mereka tidak disiksa lagi, tapi karena perasaannya yang sumpek dan rasa nyeri masih nyut-nyutan, mereka tidak ada selera mengisi perut.
Sudah dua hari dua malam mereka tidak makan apa-apa.
Di dalam kamar tahanan, terdapat delapan siw yang menjaga, Melihat kedatangan Siau Po, merek segera memberi hormat dengan menjura.
Siau Po sudah mempertimbangkan apa yang harus diperbuatnya, Dia segera berkata dengan suara lantang.
"Sri Baginda sudah mengeluarkan firman! Ke tiga pemberontak ini besar sekali dosanya, Mereka harus segera dihukum mati di hadapan khalayak ramai. Karena itu lekas kalian siapkan hidangan biar mereka bisa makan sampai kenyang, Dengan demikian, setelah mati mereka tidak akan menjadi setan kelaparan!" Serentak para siwi itu menyahut.
"Baik!"
Gouw Lip-sin, tahanan yang bertubuh besar serta berewokan langsung berteriak.
"Kami mati demi Peng Si-ong, nama kami akan harum untuk selamanya, Kami lebih hebat berkali-kali lipat daripada kalian segala anjing buduk yang menjadi budak bangsa Tatcu!"
"Kurang ajar!"
Damprat salah seorang siwi yang menjadi gusar, ia menyabet satu kali dengan cambuknya.
"Gouw Sam-kui adalah si pemberontak. Dia juga akan dihukum mati berikut seluruh anggota keluarganya!"
Sebaliknya, Lau It-cou tidak mengatakan apa-apa.
Dia mendongakkan kepalanya ke atas seperti sedang memikirkan sesuatu, Bibirnya bergerak-gerak, tapi tidak jelas apa yang dikatakannya, sedangkan kawannya yang satu lagi juga membungkam saja.
Dengan cepat barang hidangan sudah dibawa datang, jumlahnya cukup untuk tiga orang lengkap dengan araknya pula.
"Ketiga pemberontak ini mendengar kepala mereka akan dipenggal sebentar lagi, mungkin karena terkejut setengah mati sehingga tubuh mereka gemetar Aku khawatir mereka tidak berselera untuk makan, Oleh karena itu, saudara sekalian, sukalah kiranya kalian melelahkan diri untuk menyuapi mereka dan bantu mereka minum arak barang dua tiga cawan. Tapi ingat, jangan lolohi terlalu banyak. Kalau mereka sampai mabuk, tentu mereka tidak akan merasa enaknya kepala dipenggal. Mereka tidak akan merasa sakit dan ini pasti terlalu enak bagi mereka yang dosanya demikian besar Lagipula, sesampainya di alam baka, Giam lo-ong akan berhadapan dengan tiga setan pemabukan dan Giam Lo-ong akan marah lalu mencambuki mereka dengan rotan sebanyak tiga kali Bukankah hal ini menambah penderitaan mereka?"
Para siwi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Siau Po.
Mereka merasa thaykam cilik ini lucu sekali, mereka menghampiri ketiga tawanan itu untuk menyuapi mereka.
Gouw Lip-sin tidak sungkan-sungkan lagi, Dia segera meneguk arak yang disodorkan dan menikmati hidangan yang disuapkan.
Go Piu juga makan, tapi setiap kali disuapi, dia selalu memaki.
"Budak anjing!"
Lau It-cou tampak pucat sekali wajahnya. Baru makan satu sendok, dia tidak sanggup lagi membuka mulutnya, Kepalanya digeleng-gelengkan.
"Baiklah!"
Kata Siau Po yang memperhatika ketiga tahanan itu diberi makan.
"Sekarang kalia semua boleh keluar dulu, Aku ingin memeriksa mereka lagi! Masih ada beberapa hal yang ingin diketahui oleh Sri Baginda, Setelah diperiksa, baru mereka dibawa untuk menjalani hukuman mati!"
Tio Kong-lian segera mengiakan.
Dia segera mengajak rekan-rekannya meninggalkan kamar tahanan itu.
Setelah keluar mereka pun merapatkan pintunya.
Siau Po menunggu sampai para siwi itu sudah keluar semua, Dia segera menghampiri Gouw Li sin bertiga, Dia memperhatikan mereka denga senyumnya yang aneh.
Thay-kam anjing, apa yang lucu sehingga kau tersenyum-senyum?"
Bentak Gouw Lip-sin. Siau Po tertawa.
"Aku tersenyum sendiri!"
Sahutnya tenang.
"Apa hubungannya denganmu?"
Tepat pada saat itulah, Lau It-cou berkata.
"Kongkong, a...ku... akulah Lau It-cou."
Siau Po heran sehingga dia tertegun, Dia tidak menyangka Lau It-cou akan mengaku. Belum lagi dia sempat memberikan jawaban, Gouw Lip-sin dan Go Piu sudah membentak kawannya.
"Apa yang kau ocehkan?"
"Kongkong.,."
Kata Lau It-cou tanpa memperdulikan kedua rekannya.
"Kau... tolonglah a.,.ku, tolonglah ka...mi!"
"Hei, manusia pengecut!"
Bentak Gouw Lip-sin.
"Kau tamak kehidupan, kau takut mampus, apakah itu perbuatan seorang enghiong? Mengapa kau mementang bacot memohon pertolongan orang?"
"Tapi..."
Kata It Cou gugup.
"Dia bilang bahwa Siau ongya dan guruku... yang meminta dia menolong kita...."
"Apakah kau percaya ocehannya yang hanya kebohongan belaka?"
Tanya Lip Sin garang. Siau Po tersenyum melihat orang yang adatnya keras kepala itu.
"Yau Ta'u Saycu Gouw loyacu,"
Panggilnya.
"Dengan memandang mukaku ini, bolehkah kau kurangi gelengan kepalamu itu?"
Gouw Lip-sin terkejut setengah mati.
"Kau.. kau...?"
Matanya menatap Siau Po dengan pandangan keheranan Siau Po kembali tertawa.
"Aku kenal baik dengan kalian bertiga,"
Sahutnya.
"Saudara ini bernama Go Piu dan julukannya Chi Mo houw, Go toako ini adalah murid kesayanganmu Seorang guru yang tersohor pasti mempunyai murid yang lihay, aku merasa kagum sekali!"
Gouw Lip-sin terdiam.
Matanya menatap thaykam cilik itu lekat-lekat Dia merasa terkejut dan heran.
Bagaimana bocah ini bisa mengetahui namanya dan julukannya?
Dengan demikian, bukankah rahasia mereka sudah terbongkar?
Hal ini pula yang membuatnya jadi sangsi.
Ketika orang itu sedang berdiam diri, Siau Po merogoh ke dalam sakunya, Dia mengeluarkan surat Pui Ie, kemudian membukanya dan merentangkannya di hadapan pemuda She Lau.
"Kau lihat surat ini, siapa yang menulisnya? tanyanya. It Cou memperhatikan tulisan dalam surat dan membacanya, tiba-tiba dia memperlihatkan kegirangan yang luar biasa.
"lni tulisan Pui sumoay!"
Serunya, suaranya terdengar gemetar "Gouw susiok, adik seperguruanku mengatakan bahwa Kui kongkong ini dapat untuk menolong kita, Kita diharapkan menurut apa pun katanya!"
Gouw Lip-sin merasa heran.
"Mari aku !ihat!"
Katanya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Siau Po membawa surat itu kepada si bewok, Dia harus memberikan bantuannya karena kedua tangan It Cou terik sehingga tidak dapat menyodorkannya sendiri, Bahkan untuk membaca pun, harus Siau Po yang megangi surat itu.
Diam-diam si bocah berpikir dalam hati.
"Entah apa yang ditulis nona Pui dalam suratnya ? Mungkinkah urusan asmara, Kalau benar, sungguh istriku itu tidak tahu malu!"
Ketika itu Gouw Lip-sin sudah membaca surat Pui Ie. isinya sebagai berikut.
"Lau suko, Kui kongkong ini adalah orang sendiri, Dia baik hati, Ditempuhnya bahaya untuk menolongi kalian, Kau harus dengar apa yang dikatakan oleh Kui kongkong agar kalian semua bisa terbebas dari bahaya!"
"Adikmu, Pui Ie."
"Ah!"
Seru Lip Sin. Dia merasa heran sekali.
"Surat ini memakai kode rahasia Bhok onghu kita, Jadi surat ini tentu bukan surat palsu!"
Siau Po senang mendengar bunyi surat itu.Ternyata tidak ada kata-kata mesra yang ditulis Pui Ie.
"Tentu saja, Mana ada surat yang palsu?"
Katanya.
"Kongkong,"
Kata It Cou.
"Dimana sumoayku sekarang?"
"Dia ada di atas tempat tidurku,"
Kata Siau Po, tentu saja hanya dalam hati.
"Dia sekarang sedang bersembunyi di tempat yang aman,"
Sahutnya.
"Setelah berhasil menolongi kalian, baru aku menolongnya, Dengan demikian kalian bisa berkumpul bersama lagi!"
It cou merasa terharu mendengar kata-kata Siau Po. Air matanya sampai mengucur.
"Kongkong, budi besarmu ini, entah kapan dan bagaimana baru aku dapat membalasnya..."
Sebenarnya It Cou gagah berani, tapi barusan ketika Siau Po mengatakan mereka akan dihukum penggal kepala setelah mereka selesai bersantap tiba-tiba saja hatinya menjadi goyah karena terguncang.
Tanpa berpikir panjang lagi dia mengaku dirinya sebagai Lau It-cou.
Karena hal itu pula di dibentak oleh Gouw Lip-sin.
sekarang bukan main girang perasaannya, sebab Pui Ie sudah mengatakan dalam surat bahwa thay-kam di hadapannya ini akan menolongi mereka.
Gouw Lip-sin tetap berani dan tenang.
Kecurigaannya tidak langsung terhapus.
"Tuan, aku mohon tanya she dan namamu ya mulia?"
Tanyanya kepada Siau Po.
"Mengapa tua mau menolong kami?"
"Baiklah! Aku akan berkata terus-terang!"
Sahut Siau Po.
"Di mata sahabatsahabatku, aku bernama Lay Lie-tau Siau samcu. Kalian tidak usah heran, Dulu kepalaku memang kurapan, tetapi sekarang tidak lagi, Aku mempunyai seorang sahabat Dia seorang hiocu bagian Ceng-bok tong dari perkumpulan Tian-te hwe Namanya Wi Siau-po..mengatakan bahwa dalam perkumpulan Tian-te hwe terjadi kesalah pahaman karena salah seorang anggotanya membunuh Pek Han-siong dari Bhok onghu kalian, Hal ini membuat Bhok siau ongya tidak mau mengerti. Bukankah sulit sekali, karena orang yang sudah mati kan tidak bisa hidup kembali? Apa yang harus dilakukan? itulah sebabnya Wi Siau-po datang kepadaku dan meminta tolong agar aku membebaskan kalian bertiga, Dengan demikian, pihak Tian-te hwe tidak berhutang nyawa kepada kalian dan hubungan antara Bhok onghu dan Tian-te hwe pun dapat berlangsung terus!"
Gouw Lip-sin tahu benar urusan kematian Pek Han-siong. sekarang ia percaya penuh terhadap Siau Po, Dia menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Aku tahu urusan itu! Dan aku minta maaf atas kelakuan kasarku barusan!"
Siau Po tertawa.
"Tidak apa, tidak apa!"
Katanya.
"sekarang urusan kita, Bagaimana cara yang baik agar kalian dapat membebaskan diri dari tempat ini?"
"Tentunya Kongkong sudah mendapatkan cara yang bagus!"
Kata Lau It-cou.
"Kami hanya menurut saja, silahkan kongkong katakan apa yang harus kami lakukan!"
"Aku belum mendapat akal apa-apa,"
Sahut Siau Po.
"Bagaimana dengan kau, Gouw loyacu?"
Tanyanya kepada Lip Sin kemudian.
"Di dalam istana ada banyak siwi anjing Tatcu!"
Kata si bewok.
"Oleh karena itu, rasanya kita tidak dapat meloloskan diri di siang hari. Menurutku, lebih baik, kita tunggu sampai hari sudah gelap saja!"
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Nanti tolong kongkong lepaskan ikatan kami. Dengan demikian kita bisa menerobos keluar kata Lip Sin selanjutnya. Sekali Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Cara ini cukup baik,"
Sahutnya.
"Tapi belum seratus persen aman dan selamat!"
Siau Po berjalan mondar-mandir dengan kepala ditundukkan "lya, lebih baik kita menerobos keluar saja"
Kata Go Piu ikut memberikan pendapatnya.
"Syukurlah kalau kita berhasil, kalau sampai gagal paling-paling mati!"
"Go suko,"
Tegur Lau It-cou."jangan kau mengganggu kongkong yang sedang mencari akal!"
Go Piu menoIeh, Dia menatap rekannya dengan pandangan sinis, Diam-diam dia berpikir dalam hati. Sementara itu, otak Siau Po juga sedang be putar.
"Paling bagus kalau aku mempunyai obat bius dengan demikian aku bisa membuat para siwi tidak sadarkan diri dan tidak perlu jatuh korban!"
Dengan membawa pikiran demikian, dia segera keluar dari tempat tahanan untuk mencari Ko Lian. Tio toako, aku memerlukan obat Bong ho yok. Dapatkah kau mencarinya segera?"
"Bisa, bisa!"
Sahut Tio Kong-lian.
"Saudara ini selalu menyediakan obat itu. Nanti aku akan mengambilnya!"
"Tio toako mempunyai obat bius itu?"
Tanyanya ke orang yang keheranan "Buat apa kau selalu menyediakannya?"
"Sebenarnya begini,"
Sahut Tio Kong-lian.
"Kemarin ini Sui hu congkoan menyuruh kami menawan dua orang yang berkepandaian tinggi Kalau kami menggunakan kekerasan pasti ada korban jatuh, Dan lagipula kita tidak bisa menawan orang yang hendak ditangkap itu hidup-hidup, Karena itu saudara Cio segera mencari obat itu untuk kami gunakan!"
Mendengar penjelasan itu, diam-diam Siau Po berpikir dalam hati.
"Apanya yang jatuh korban dan tidak dapat menawan orang-orang itu hidup-hidup? Yang jelas pasti kalian tidak sanggup melawan mereka!"
Lalu dia bertanya.
"Bagaimana kesudahannya?"
Tio Kong-lian tertawa.
"Kami berhasil, orang-orang itu telah tertawan!"
Katanya. Nada suaranya menunjukkan kebanggaan dan kegembiraan Karena hal itu menyangkut Sui Tong, maka Siau Po bertanya lagi.
"Siapa orang-orang yang ditangkap itu? Dan apa kesalahan mereka ?"
"Mereka adalah dua orang Tong-nia dari Cong jinhu. Katanya mereka bersalah terhadap thayhou, Setelah mereka ditawan, Sui hu congkoan memaka mereka mengeluarkan satu perangkat kitab, Kemudian hidung dan mulut mereka ditempel deng kertas perekat agar mereka tidak dapat bernafas sama sekali kemudian akhirnya mati konyol..."
Disebut tentang seperangkat kitab, suatu ingatan segera melintas di benak Siau Po.
"Oh, rupanya si nenek sihir itu berusaha mendapatkan se
Jilid kitab Si Cap Ji cin-keng yang lain, tapi mengapa setelah mendapatkannya, Sui To tidak segera menyerahkannya kepada ibu suri.
Kenapa kitab itu disimpan dalam tubuhnya?
Mungkinkah dia ingin mengangkanginya sendiri?"
Kemudian dia bertanya lagi.
"kitab apakah itu? Mengapa kitab itu demikian penting?"
"Aku tidak tahu kitab apa,"
Sahut Kong Lian "Baiklah, sekarang juga aku akan mengambilkan obat bius itu."
"Oh ya, sekalian saja kau minta orang di Sian sian tong menyediakan hidangan untuk dua meja kata Siau Po menitahkan.
"Aku ingin menjamu para siwi!"
"0h. Lagi-lagi kongkong akan menjamu kami."
Sahut Kong Lian dengan nada riang, pendek kata asal mengikuti Kui kongkong, kami tidak akan kekurangan makan dan minum!"
Tidak lama setelah berlalunya, Tio Kong-li sudah kembali lagi dengan membawa satu bungkus besar obat bius Bong hoan-yok, beratnya mungkin ada satu kati, Dia menyerahkannya kepada Siau Po sembari tersenyum dan berkata dengan perlahan.
"Obat ini cukup untuk merobohkan seribu orang, Kalau sasarannya hanya satu orang, cukup seujung kuku saja dimasukkan ke dalam teh atau arak!"
Selesai berkata, Kong Lian menemui rekan-rekannya untuk meminta mereka menyiapkan meja dan kursi untuk bersantap seraya memberitahukan.
"Kui kongkong akan menjamu kita semua!"
Para siwi itu senang sekali, Mereka segera bekerja dengan perasaan gembira.
"Meja harus diatur dalam kamar tahanan,"
Kata Siau Po.
"kita berpesta pora, biar para tahanan itu melihatnya sehingga mata mereka menjadi merah dan air liur mereka bercucuran!"
Dalam waktu yang singkat, meja telah diatur rapi, Menyusul datangnya barangbarang hidangan yang langsung disajikan di atas meja oleh beberapa thay-kam yang bertugas di dapur Cara kerja mereka cekatan sekali.
"Lihat!"
Kata Siau Po kepada Gouw Lip-sin bertiga.
"Kalian adalah para pemberontak yang bekerja dengan Go Sam-kui. Sampai detik menjelang kematian, kalian masih besar kepala, sekarang kalian boleh menyaksikan bagaimana kami akan berpesta pora. Andaikata kalian tidak dapat menahan keinginan kalian, kalian boleh menggonggong seperti anjing, nanti kami akan melemparkan sepotong tulang untuk kalian!"
Para siwi mendengar ucapan si thay-kam yang jenaka, Gouw Lip-sin segera mendamprat.
"Siwi anjing! Thay-kam bau! kalian semua waspadalah! Akan datang harinya Peng Sin-ong membalaskan sakit hati kami, Kelak dia akan bergerak dari Inlam untuk menyerang kota Peking ini dan meringkus kalian semua, Waktu itu kalian akan diceburkan ke dalam sungai dan dijadikan umpan ikan dan buaya!"
Ketika Gouw Lip-sin memaki-maki dan para siwi memperhatikannya, secara diamdiam Siau Po sudah mengeluarkan obat biusnya, Kemudian sem bari membawa poci arak di tangan kiri, dia menghampirkan tawanan yang bengis itu.
"Eh, Pemberontak! Apakah kau ingin mimu arak?"
Tanyanya sembari mengangkat poci ara tinggi, dia tertawa terbahak-bahak, Lagaknya se akan sedang mengejek, Gouw Lip-sin tidak tahu apa maksud Siau Po Sahutannya semakin keras.
"Minum atau tidak, sama saja! Kalau angkatan perang Peng Si-ong sampai di sini, kau si thay-kam cilik yang pertama-tama akan menerima kematian."
"Ah! Belum tahu!"
Sahut Siau Po sambil tertawa, Pocinya yang diangkat tinggi lalu ditunggin kan sedikit sehingga araknya mengucur turun dalam mulutnya yang menganga.
"Sedap!"
Pujinya seakan ingin membuat para tahanan itu ngiler, Sembari berkata, dia menurunkan pocinya ke bagian dada, tangannya yang sebelah diangkat ke atas untuk menyingkapkan tutup poci lalu jari tangannya yang lain memasukkan obat bius yang telah disediakan sebelumnya, Setelah itu dia mengangkat pocinya lagi dan digoyang-goyangkannya agar obat bius itu larut, Kemudian sambil tertawa dia berkata.
"Pemberontak, kematianmu sudah dekat, kau masih berani mengoceh yang tidaktidak!"
Ketika dia memasukkan Bong hoan-yok ke dalam poci, tidak ada orang lain yang melihatnya kecuali Gouw Lip-sin.
Laki-laki brewokan itu segera sadar.
Diam-diam dia merasa senang, tetapi dengan berpura-pura dia membentak.
"Seorang laki-laki kalau harus mati, ya mati! Apa kami harus meratap memohon pengampunan? Orang yang demikian tidak patut disebut orang gagah! Mari arakmu, biar aku minum!"
Siau Po tertawa.
"Kau mau minum arak?"
Ejek Siau Po.
"Oh, tidak nanti kuberikan kepadamu! Ha... ha... ha... ha.,."
Thay-kam cilik ini lalu memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke meja, Kemudian dia sendiri yang menuangkan arak ke dalam cawan para siwi. Kong Lian bangkit berdiri Demikian pula siwi-siwi lainnya.
"Terima kasih!"
Katanya.
"Mana berani kami menerima penghormatan seperti ini? Kenapa harus kongkong sendiri yang menuangkan arak bagi kami?"
"Jangan sungkan!"
Kata Siau Po tertawa.
"Tidak ada halangannya, Kita semua sudah seperti saudara antara satu dengan yang lainnya!"
Kemudian dia mengangkat cawannya sendiri.
"Silahkan! Mari kita minum!"
Tepat di saat para siwi mengangkat cawannya masing-masing, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara lantang.
"Firman Hong thayhou memanggil Siau Kui cu! Apakah Siau Kui cu berada di sini?"
Siau Po terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
"Ya, di sini!"
Sahutnya cepat Dia meletakkan cawannya sambil berpikir "Mau apa si nenek sihir itu mencariku?"
Terus dia berjalan ke depan untuk menyambut utusan ibu suri itu.
semuanya terdiri dari empat orang thay-kam sedangkan yang satu nya, yakni yang menjadi pemimpin segera maju sambil membusungkan dadanya.
Siau Po menjatuhkan dirinya berlutut seraya berkata.
"Hamba Siau Kui cu menerima firman thayhou!"
Thay-kam yang menjadi utusan ibu suri segera menyahut.
"Hong thayhou mempunyai urusan yang penting sekali. Kau diperintahkan datang secepatnya ke keraton Cu-Leng kiong!"
"Ya, ya!"
Sahut Siau Po yang terus berdiri. Dalam hatinya diam-diam dia berkata.
"Boan Hoa yok sudah dicampur ke dalam arak, kalau aku berlalu dari sini, tentu para siwi akan meminumnya.... Benar-benar sial! Rencanaku bisa berantakan!"
Pikirannya bekerja dengan cepat Dia langsung tertawa dan berkata.
"Kongkong, apakah she kalian yang mulia? Kenapa dulu-dulunya kita belum pernah bertemu?"
"Hm!"
Suara thay-kam itu tawar sekali "Aku Tang Kim-kwe! Mari kita jalan, Thayhou sudah menunggu! Kau tahu, sudah setengah harian ini aku berputaran mencarimu!"
Siau Po tidak menjawab, Dia justru menarik tangan thay-kam itu.
"Tang kongkong, mari aku ajak kau melihat sesuatu yang menarik!"
Tang Kim-kwe berjalan mengikuti Siau Po yang menariknya.
Dia ingin tahu apa yang akan ditunjukkan bocah tanggung itu.
Di dalam ruangan, dia segera melihat dua meja penuh hidangan langsung saja dia berseru.
"Bagus! Oh, Siau Kui cu, kau sungguh beruntung! Thayhou menugaskan kau mengurus Siang-sian tong, Siapa tahu, di balik maksud baikmu, kau malah menghamburkan uang negara untuk berfoya-foya!"
Siau Po tertawa.
"Para saudara siwi ini sudah berjasa mengusir dan meringkus pemberontak yang menyerbu istana,"
Katanya.
"Karena itu Sri Baginda menyuruh aku menjamu mereka. Mari Tang kongkong! Mari kau juga minum bersama, Juga ketiga kongkong itu!"
"Aku tidak bisa minum!"
Sahut Tang Kim-ko sembari menggelengkan kepalanya.
"Thayhou memanggilmu, mari kita pergi!"
Siau Po tidak segera pergi, dia tertawa lagi.
"Semua siwi Tayjin adalah sahabat-sahabat kami. katanya pula.
"Kalau satu cawan arak saja kau tidak sudi minum, berarti kau benar-benar tidak memandang muka para saudara ini!"
"Aku tidak bisa minum!"
Kata Kim Kwe dengan suara keras. Siau Po mengedipkan matanya kepada Tio Ko lian.
"Nah, Tio toako, kau lihat! Kongkong ini terlalu angkuh, dia tidak mau minum bersama kita!"
Kong Lian mengerti maksud Siau Po. Dia segera mengangkat cawannya dan mengambil sebuah cawan lagi untuk disodorkan kepada Tang Ki kwe, utusan ibu suri itu. Sembari tertawa ramah berkata.
"Kongkong, mari kita minum! Untuk kebahagiaan kalian juga kita semua!"
Kim Kwe didesak sedemikian rupa sehinga tidak enak hati, Terpaksa dia menerima cawan berisi arak yang disodorkan kemudian diteguk sekaligus sampai kering.
"Nah, ini baru namanya sahabat!"
Puji Siau Po.
"Nah, ketiga kongkong, kalian juga harus ikut minum!"
Ketiga thay-kam yang lainnya disodori tiga cawan arak oleh para siwi, mereka segera menyambutnya dan meneguknya sampai kering.
"Bagus!"
Seru Siau Po.
"Ayo, semua minum!"
Cepat-cepat dia mengisi lagi keempat cawan yang sudah kosong, Para siwi juga ikut minum, Siau Po juga, Tapi dia memang cerdik.
Dia mengangkat cawannya tinggi-tinggi, Dengan demikian wajahnya jadi terhalang dan dengan mudah dia menuangkan araknya ke dalam lengan baju.
"Mari kita minum lagi!"
Katanya menawarkan Dia khawatir satu cawan arak masih belum cukup untuk membius para thay-kam dan para siwi itu. Seorang siwi segera mendahului Siau Po mengangkat cawan arak.
"Kongkong, biar aku yang mengisinya!"
Tang kongkong mengerutkan sepasang alisnya.
"Kui kongkong, aturan dalam istana sangat ketat. Sekali thayhou memanggil, orang harus langsung menghadap, Malah kalau bisa lari secepatnya, Tapi kau, sekarang kau malah merepotkan diri dengan minum arak, perbuatanmu sungguh tidak menghormati thayhou!"
Siau Po tertawa.
"Sebetulnya hal ini ada sebabnya..."
Katanya sengaja mengulur waktu.
"Mari! Mari kita minum satu cawan lagi, nanti aku akan menjelaskannya kepada kalian!"
Dia langsung mengangkat cawannya. Tio Kong-lian juga ikut mengangkat cawannya.
"Tang kongkong, mari kita minum lagi!"
Ajaknya.
"Aih! Aku tidak boleh minum lagi!"
Sahutnya sambil memutar tubuh untuk berlalu, Tapi tiba-tiba saja gerakannya jadi limbung.
Siau Po tahu thay-kam itu sudah jadi korban obat biusnya, tiba-tiba saja ia meringkukkan tubuhnya dan pura-pura memegangi perutnya.
"Aduh! 0h... Aduh! Perutku sakit!"
Serunya berulang-ulang, Para siwi yang lainnya juga terkejut Apalagi secara tiba-tiba, mereka merasa kepala mereka pusing sekali.
"Ah, celaka!"
Seru mereka.
"Arak ini tidak beres!"
"Tang kongkong!"
Kata Siau Po dengan suara lantang.
"Apakah kau sedang menjalakan perintah thayhou untuk meracuni kami semua? Benarkah?"
"Kenapa kau mencampurkan racun ke dalam arak?"
Tang Kim kwe terkejut setengah mati. Tuduhan Siau Po merupakan fitnah yang keji sekali! "Ma...na... mana mungkin?"
Teriaknya gugup.
"Ah! Kau tentu ingin membalas sakit hati ke-empat thay-kam yang mati kemarin, bukan?"
Desak Siau Po.
"Betul Dan sekarang kau memasukkan racun dalam arak kami! Ayo, para siwi! Bekuk mereka!"
Para siwi itu menjadi bingung, sementara itu, mereka merasakan kepala mereka semakin pusing.
Dua orang thay-kam tidak dapat mempertahankan diri lagi, Mereka segera terkulai di atas tanah.
Disusul dengan robohnya Tang Kim-hwe, kemudian Tio Kong-lian.
Thaykam yang terakhir semakin takut Dia roboh bertepatan dengan para siwi lainnya.
situasi dalam ruangan itu jadi berantakan.
Meja dan kursi terbalik di sana-sini karena tertimpa tubuh para siwi.
Menyaksikan keadaan itu, Siau Po segera menghambur ke depan Tang Kim hwe kemudian mendepak pantat thay-kam itu keras-keras, tapi Tang Kim-hwe tidak berkutik sama sekali, Matanya juga terpejam.
Siau Po senang sekali melihat kenyataan ini.
Dia berani dan gesit sama sekali tidak takut, meskipun dia sudah mencelakai keempat thay-kamnya ibu suri.
Cepat-cepat dia lari ke pintu dan menutupnya.
Setelah itu dia menghunus pisau belatinya dan menikam Tang Kim-hwe serta ketiga thay-kam lainnya masing-masing satu kali.
Gouw Lip Sin dan yang lainnya heran menyaksikan perbuatannya, Bahkan Lau It-cou sampai mengeluarkan seruan tertahan.
Mereka merasa perbuatan thay-kam cilik ini sungguh luar biasa.
Siau Po bekerja dengan cekatan Dia membaw pisau belatinya yang tajam kemudian ditebasnya urat kerbau yang mengikat tangan Gouw Lip-sin bertiga, Dengan demikian mereka jadi bebas.
"Kongkong,"
Kata Lau It-cou.
"Bagaimana caranya kami menyingkir dari sini?"
"Gouw loya cu, Go suheng,"
Kata Siau Po ke pada kedua orang itu.
"Cepat kalian pilih pakaian seragam siwi yang cocok dengan bentuk tubuh kalian Dan kau, Lau suheng, kau tidak mempunyai kumis, sebaiknya kau menyamar menjadi thay-kam saja, Pakailah seragamnya Tang kongkong itu!"
"Biar aku menyamar jadi siwi saja!"
Sahut La It-cou.
"Tidak bisa,"
Kata Siau Po.
"Kau harus menjadi thay-kam!"
Terpaksa It Cou menurut Dia menganggukkan kepalanya, Segera ketiga orang itu bekerja, Dalam waktu yang singkat mereka sudah menyamar menjadi siwi dan thay-kam.
"Mari kalian ikut aku!"
Kata Siau Po.
"Kalau kita bertemu dengan siapa pun dan ada yang menegur kalian, jangan memberikan jawaban, kalian harus pura-pura bisu!"
Selesai berkata, Siau Po mengeluarkan obat mukjijatnya.
Dia mengguyurnya di atas luka Tang Kim-hwe dan menambahkan beberapa tikaman lagi agar daging dan tulang di tubuh thay-kam itu semakin cepat lumernya.
"Mari!"
Ajaknya kepada Gouw Lip-sin bertiga.
Sekeluarnya dari kamar tahanan, Siau Po mendorong ketiga orang itu menuju dapur kemudian pintunya ditutup kembali.
Jarak antara siwi pong dengan Siang-sian tong berdekatan.
Dalam waktu yang singkat, mereka sudah sampai di tempat di mana Cian laopan dan beberapa kawannya sudah menunggu.
Mereka membawa dua ekor babi yang sudah disembelih dan dibersihkan Sikap mereka tampak menghormati sekali.
"Hai, Lao Cian, kau berani main gila!"
Bentak Siau Po tiba-tiba.
"Aku memesan babi yang besar, gemuk dan masih muda, sekarang kau membawakan babi yang kurus dan tua pula! Kau.... Apakah kau masih mau makan nasi?"
Cian laopan tampak ketakutan. Tubuhnya membungkuk dalam-dalam.
"I... ya... iya..."
Sahutnya gugup, Beberapa thay-kam di Siang-sian tong melihat kedua ekor babi itu besar dan gemuk, tapi merupakan kebiasaan bagi mereka bila tidak ada uang pelicin, apapun dicela, Melihat pemimpin mereka membentak dengan suara keras, mereka pun sege meniru.
"Lekas bawa pergi!"
Bentak mereka.
Siau Po tampak semakin gusar, Dia menoleh kepada Gouw Lip-sin bertiga dan memerintahkan "Kedua siwi toako dan kau juga kongko kalian gusur orang itu dari tempat ini!
Lain kali jangan biarkan dia masuk ke dalam istana lagi!"
Cian laopan mengerutkan sepasang alisnya.
"Kongkong, maaf... maaf.,."
Katanya.
"Baik! Hamba akan tukar babi ini dengan yang lebih gemuk dan besar Aku akan membawakan yang lain lagi, Ha...rap... kongkong su..ka memaafkan aku kali ini."
"Kalau aku membutuhkan babi, nanti aku akan suruh orangmu membawakannya! Sekarang cepat kau pergi dari sini!"
Cian laopan segera menjura dalam-dalam.
"lya, iya..."
Sahutnya kemudian sambil memutar tubuhnya untuk pergi.
Lip sin bertiga mengikuti Tubuh Cian lao didorongnya berkali-kali, Siau Po juga ikut, setibanya di lorong, dia tidak ada seorang pun di sana, Siau Po berkata dengan suara perlahan.
"Cian toako, ketiga tuan-tuan ini adalah jago-jago dari Bhok onghu, Yang menjadi pemimpin adalah saudara Gouw Lip-sin ini yang bergelar Yaou Tau Saycu!"
Cian Lao pan langsung mengeluarkan seruan heran.
"Oh! Sudah lama aku mendengar nama besar itu! Tuan-tuan, maaf kalau aku yang rendah tidak segera menyapa!"
Pertama-tama Lip Sin juga bingung, namun kemudian dia merasa gembira setelah mengetahui bahwa orang ini ternyata sahabatnya si thay-kam cilik.
"Tidak apa,"
Sahutnya.
"Kita berada di tempat yang berbahaya, sudah seharusnya kita bersikap demikian!"
"Cian toako,"
Kata Siau Po pada Laopan.
"Nanti kau tolong sampaikan pada Wi hiocu dari perkumpulanmu yang merupakan sahabat baikku, katakan bahwa Lay Lie-tau Siau samcu sudah menyelesaikan tugasnya, sedangkan ketiga tuan ini, harap kau antarkan pada Bhok Siau ongya dan Liu loyacu, Seberlalunya kalian, tentu akan muncul para siwi yang mencari penjahat yang telah membunuh. Oleh karena itu, kau sendiri, sebaiknya jangan datang kemari lagi!"
"Ya, ya!"
Sahut Cian laopan dengan sikap menghormat "Kami semua berterima kasih atas budi kongkong!"
Lip Sin menoleh kepada Cian laopan.
"Tuan, rupanya kau dari pihak Tian-te hwe?"
"Betul, Gouw loyacu,"
Sahut Cian laopan.
"Nah, mari kita pergi sekarang!"
Mereka kembali berjalan lagi.
Siau Po masih mengikuti sebentar saja mereka sudah sampai di Sin-bu mui.
Di sana ada beberapa siwi yang menjaga.
Begitu melihat Siau Po, mereka langsung menyambut dengan hormat.
"Oh, Kui kongkong, Semoga baik-baik saja!"
Sapa mereka ramah. Siau Po tertawa.
"Terima kasih!"
Sahutnya.
"Semoga kalian pun demikian!"
Para siwi itu memperhatikan Lip Sin bertiga Mereka merasa tidak kenal Tetapi karena Siau P menggapit lengan Gouw Lip-sin, mereka tidak berani mencegah ataupun menanyakan apa-apa.
Karena itu, Siau Po berlima pun jalan terus.
Sekeluarnya dari pintu Sin-bu mui, merek sudah berada di luar batas pekarangan istana, Sia Po masih mengiringi mereka berjalan beberapa puluh tindak jauhnya, kemudian baru dia berkata.
"Sekarang aku harus pulang. Sampai jumpa lagi. Kalian tidak usah banyak peradatan pula!"
Tapi Gouw Lip-sin tetap menjura dan berkata "Untuk budi pertolongan ini, kami yakin kongkong tentulah tidak mengharapkan imbalan apa-apa.
Karena itu, kelak di kemudian hari, apabila pihak Tian-te hwe memerlukan tenaga kami, aku dan muridku ini tidak akan menoleh meskip harus terjun ke dalam lautan api!"
"Terima kasih! Tidak berani aku menerima penghormatan demikian tinggi!"
Kata Siau Po.
"silahkan berangkat!"
It Cou tidak mengatakan apa-apa.
Dia memang berjalan mendahului yang lainnya, Berulang kali dia menolehkan kepalanya melihat ke arah Siau Po.
Dia merasa heran mengapa Gouw Lip-sin masih belum menyusulnya juga, Dia merasa tidak tenang.
Soalnya mereka belum jauh dari istana, Sesaat kemudian setelah rekannya berpisahan dengan si thay-kam, hatinya baru lega.
Siau Po kembali ke Sin-bu mui, Terhadap para siwi yang sedang menjaga dia tertawa dan berkata.
"Kongkong tadi adalah orang kepercayaannya Thayhou, Menurutnya mereka bertiga sedang menjalankan titah, aku dimintanya mengantarkan sampai ke depan, Tapi aku tidak tahu tugas apa yang sedang mereka laksanakan!"
Biarpun seorang Cin ong atau Pwe lek juga tidak pantas menyuruh kongkong yang mengantar!"
Kata seorang siwi dengan perasaan tidak puas.
"BetuI! Sungguh bertingkah kongkong itu, seenaknya saja meminta Kui kongkong mengantarkan!"
Sahut seorang siwi lainnya yang juga merasa kurang senang.
"Aih, sudahlah!"
Kata Siau Po dengan menggelengkan kepalanya.
"ltu toh titahnya Hong thayhou, Apa yang bisa kita lakukan? Mereka membawa firman yang ditulis thayhou sendiri, Meskipun kita curiga, kita harus tutup mulut! Benar tidak?"
"Ya, ya. kita memang tidak bisa berbuat apa-apa!"
Sahut siwi lainnya.
Bergegas Siau Po kembali ke tempat tahanan.
Di sana para siwi masih tidak sadarkan diri, Cepa cepat dia mengambil seember air yang kemudia diguyurkan ke kepala Tio Kong-lian.
Siwi itu perlahan-lahan tersadar Begitu ingata nya kembali, dia tersenyum dan berkata.
"Aih, kongkong, Bagaimana aku bisa jadi lupa daratan..."
Dia terus bangkit untuk duduk, ta tiba-tiba dia menjadi terkejut sekali ketika melihat keadaan dalam ruangan itu. Para siwi masih terbaring semaput dan di sana juga ada mayat beberapa thay-kam.
"Ba...gaimana... dengan para penyerbu itu?"
Tanyanya gugup.
"Apakah... mereka sudah kabur?"
Siau Po memperlihatkan sikap tidak kalah penasarannya.
"Thayhou telah menyuruh thay-kam she Tang itu membius kita, lalu melarikan ketiga penjahat itu"
Katanya geram.
Tio Kong-lian merasa bingung, Bong hoan-yok toh ada di tangannya si thay-kam cilik ini.
Namun karena baru sadar, pikirannya masih lemah.
ia tid dapat mengingat dengan baik, Dia jadi tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Siau Po berkata kembali.
"Tio toako, bukankah To congkoan secara diam-diam menyuruh kau membebaskan para tawanan itu?"
Kong Lian menganggukkan kepalanya.
"Ya, To congkoan mengatakan bahwa itulah perintah rahasia dari Sri Baginda untuk membebaskan para penyerbu itu,"
Sahutnya.
"Maksudnya agar pihak kita dapat menguntitnya secara diam-diam dan dengan demikian kita bisa tahu siapa pemimpin mereka yang sebenarnya!"
"Ya, memang benar,"
Kata Siau Po sembari tertawa.
"Tapi sekarang aku ingin bertanya lagi, kalau orang tawanan kabur dari penjagaan, orang yang menjaga itu bersalah atau tidak?"
Kong Lian merasa tercekat hatinya, Untuk sesaat dia jadi tertegun.
"Tentu saja bersalah!"
Katanya kemudian Tapi ini kan perintah To congkoan, kami... yang menjadi bawahan hanya menjalankan perintah saja!"
"Apakah To congkoan memperlihatkan surat perintah?"
Kong Lian bertambah terkejut.
"Tidak... tidak!"
Sahutnya bingung.
"kata To congkoan, tidak perlu membawa surat perintah, karena ini merupakan perintah lisan dari Sri Baginda...."
"Kalau begitu, mestinya To congkoan juga memperlihatkan suatu barang sebagai tanda bukti Sri Baginda?"
Tanya Siau Po kembali.
"Ti... dak,"
Sahut Kong Lian semakin gugup. Tapi, mungkinkah To congkoan akan berdusta? Tubuhnya bergetar dan suaranya menjadi kurang jelas.
"Palsu sih tidak,"
Sahut Siau Po.
"Aku hanya khawatir kalau nanti dia akan menyangkal hal ini apabila keadaan membahayakan Siapa tahu ia akan menimpakan kesalahan pada dirimu? Bukankah in akan menjadi bencana bagimu? Tio toako, tahukah kau mengapa Sri Baginda membiarkan para ta wanan itu bebas?"
"Menurut To congkoan, agar kita bisa menguntitnya dan dapat mengetahui siapa pemimpinnya? sahut Kong Lian.
"Memang persoalannya demikian, tapi.,, bukan kah hal ini agak aneh?"
Kata Siau Po kembali "Bagaimana mungkin para penjahat dibiarkan lolos dan urusan pun tidak diperpanjang lagi?
Sekalipun si penjahat sendiri, bila mendengar urusan ini, pasti tidak akan mempercayainya.
Lagipula tidak muda menemukan pemimpin para penjahat itu, Mungki bisa terjadi nantinya Sri Baginda akan menghukum mati dulu beberapa orang dan apabila berita ini sudah tersiar, para penjahat itu baru tidak curiga Iagi...."
Kata-kata Siau Po ini bukan berarti menuduh Raja akan berbuat demikian.
Kenyataannya Sri Baginda memang menyuruh dia membunuh satu dua orang siwi agar penyerbu itu tidak menjadi curiga.
Sementara itu, wajah Tio Kong-lian semakin pucat, memang ada kemungkinan dia akan dihukum mati, Saking takutnya, dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Siau Po.
"Kongkong, tolonglah aku...!"
Dia memohon sambil menyembah berkali-kali.
"Jangan memakai terlalu banyak peradatan, Tio toako,"
Katanya. Dia mengulurkan tangannya untuk membangunkan siwi itu, Bibirnya menyunggingkan senyuman ramah.
"Jangan khawatir sekarang ada cara untuk menghindarkan dirimu dari hukuman mati, Lihat, di sana ada beberapa thay-kam, mereka dapat menggantikannya. Kita timpakan saja kesalahan pada diri mereka. Kita bilang mereka membawa obat bius untuk membuat kita tidak sadarkan diri, setelah itu mereka membebaskan para tahanan. Dengan demikian, bukankah namamu menjadi bersih? Apabila Sri Baginda mendengar ke-empat orang thay-kam itu adalah orang ibu suri, tentu urusan ini tidak akan diperpanjang. Raja juga tidak akan menghukum mati dirimu apabila ada alasan yang masuk akal. Mungkin kau malah akan mendapat hadiah!" Bagian 24 Mendengar ucapan Siau Po, hati Kong Lian jadi lega. Dari khawatir, dia malah jadi girang sekali.
"Bagus, bagus!"
Serunya.
"Kongkong, terima kasih banyak atas pertolongan kongkong ini!"
Peruntungan Kong Lian memang sedang mujur. Kalau saja tadi Siau Po jadi membunuhnya, tentu dia tidak bisa memerankan sandiwara ini! "Sekarang cepat kita sadarkan para siwi lainnya,"
Kata Siau Po.
"Mereka harus dijelaskan dulu urusan ini, supaya mereka serempak mengaku bahwa telah dibius oleh keempat thay-kam ini!"
"Ya, ya,"
Sahut Kong Lian, Dia segera mencari air dingin, Biar bagaimana, hatinya masih kurang tenang karena belum tahu bagaimana reaksi Sri Baginda.
Dalam waktu yang singkat, para siwi itu sudah siuman kembali.
Kepada mereka dijelaskan bahwa semua orang telah dibuat tidak sadar dengan Bong hoan-yok oleh Tang Kim-hwe berempat, kemudian Tang Kim-hwe membinasakan ketiga orang rekannya dan lalu dia kabur bersama para tahanan.
"Hah! Kurang ajar benar orang itu!"
Caci para siwi itu. walaupun dalam hati mereka terdapat keraguan "mengapa thayhou harus membebaskan ketiga tawanan itu? Mungkinkah mereka justru orang-orang suruhan thayhou?"
Pikir mereka dalam hati.
Tapi karena urusan ini menyangkut diri ibu suri, meskipun curiga, mereka memilih menutup mulu rapat-rapat.
Siau Po sendiri langsung kembali ke kamarnya.
Begitu masuk, dia segera disambut oleh Kiam Peng.
"Kui toako, apa kabarnya?"
Tanya nona cilik itu.
"Kui toako tidak mempunyai kabar apa-apa, goda Siau Po.
"Ada juga suami yang membawa berita...."
Kiam Peng tersenyum.
"Aku tidak takut soal beritanya, Yang dikhawatirkan ada orang lain lagi yang menyebutmu kakak yang baik...."
Wajah Pui Ie merah padam, Dia tahu Siau Kuncu sedang menggodanya, Tapi dia harus bicara, dia memang ingin tahu berita apa yang dibawa Siau Po.
"Saudara yang baik..."
Katanya.
"Kau lebih muda daripadaku bagaimana kalau aku panggil kau saudara yang baik saja? Kau tidak keberatan, bukan?"
Siau Po menarik nafas panjang.
"Aih!"
Katanya.
"Dari suami yang baik tiba-tiba saja berubah menjadi saudara yang baik, bukankah ini sama dengan induk ayam yang mendadak berubah menjadi bebek.,.? Tapi, sudahlah! Yang penting dia sudah berhasil ditolong!"
Tiba-tiba Pui Ie bangkit dan duduk, Ketika dia berbicara, suaranya terdengar bergetar....
"Apa kau bermaksud mengatakan bahwa Lau suko sudah berhasil meloloskan diri?"
Tanyanya penuh minat.
"Sekali seorang laki-laki mengeluarkan kata-katanya, entah empat ekor kuda apa pun tidak dapat mengejarnya!"
Sahut Siau Po serius.
"Aku sudah menerima baik permintaanmu bagaimana pun aku harus menolongnya!"
Ucapan Siau Po dari dulu masih belum berubah. Dia tidak tahu bunyi pepatah yang dikatakannya, karenanya dia selalu mengucapkan "Entah empat ekor kuda apa pun tidak dapat mengejarnya."
"Ba.,.gaimana caramu menolongnya?"
Tanya Pui le kembali Dia penasaran sekali, Siau Po tertawa.
"Dalam hal ini, aku si orang gunung tentu mempunyai muslihat!"
Sahutnya.
"Tunggu saja setelah kau bertemu dengan Lau sukomu, dia pasti akan menceritakannya!"
"Ah!"
Si nona menghela nafas lega, Kemudia dia mendongakkan kepalanya sambil mengucap.
"Terima kasih kepada langit dan bumi, dia benar benar dilindungi sang Pousat!"
Melihat kegembiraan dan rasa bersyukurnya si nona manis itu, hati Siau Po otomatis jadi kurang enak. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya terdengar suara dehemannya yang lirih.
"Eh, eh, Suci,"
Tegur Kiam Peng.
"Kau mengucapkan terima kasih kepada Langit dan Bumi kenapa kau malah tidak mengatakan apa-apa ke pada saudara yang baik ini?"
Pui le menolehkan kepalanya. "Budi besar dari saudara yang baik ini tidak dapat dibalas hanya dengan ucapan terima kasi saja!"
Sahutnya, Mendengar ucapan si nona, hati Siau Po jadi gembira, Bibirnya tersenyum.
"Tidak perlu kau membalasnya,"
Sahutnya.
"Saudara yang baik, apa yang dikatakan Lau suko?"
Tanya Pui Ie.
"Dia tidak mengatakan apa-apa,"
Sahut Siau Po.
"Dia hanya minta aku menolongnya!"
"Ah.,.!"
Seri Pui le kecewa.
"Apakah dia menanyakan tentang kami?"
Siau Po bei-pikir sejenak, kemudian baru menjawab.
"Tidak, Aku yang mengatakan bahwa kau berada di tempat yang aman, karena itu dia tidak perlu mengkhawatirkanmu, Dan tidak lama lagi aku akan mengantarkanmu agar dapat bertemu dengannya!"
Pui le menganggukkan kepalanya.
"Perbuatanmu benar,"
Sahutnya.
"Tapi tiba-tiba saja air matanya, mengalir dengan deras.
"Eh, suci!"
Seru Kiam Peng terkejut "Ada apa? Mengapa kau menangis?"
"A...ku gembira sekali!"
Sahut nona yang sedang menangis itu. Sementara itu, Siau Po berpikir dalam hati.
"Sri Baginda menitahkan aku menguntit ketiga tawanan itu, agar dapat mencari tahu siapa pemimpinnya, Karena itu, aku harus keluar melewatkan waktu supaya tidak dicurigai Setelah satu dua jam, aku baru kembali lagi memberikan laporan..."
Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po segera berpesan kepada kedua nona itu agar berdiam di dalam kamarnya seperti biasa, Dia segera menuju ke Tianhio, Hari itu, bagian kiri jalan terdapat banyak pedagang keIontong.
Malah ada juga yang membuka panggung pertunjukan Tianki memang terkenal sebagai tempat berkumpulnya berbagai kalangan Terutama orang-orang dunia kangouw, Ke sanalah tujuan cilik kita.
Ketika mendekat, perhatian Siau Po tiba-tiba jadi tertarik, Dia melihat kurang lebih dua puluh orang polisi sedang menggiring lima pedagang kecil yang pakaiannya compang-camping.
Dia berdiri sisi jalan dan memperhatikan rombongan itu.
"Benar-benar keterlaluan!"
Gerutu seorang tua "Sekarang ini berjualan saja sulit!"
Siau Po baru saja berniat menanyakan sesuatu kepada orang tua itu, tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk di dekatnya Ketika dia menolehk kepalanya, dia melihat seseorang yang rambutnya sudah penuh uban dan tubuhnya bungkuk.
Setelah diperhatikan dengan seksama, dia mengenali ora itu sebagai Pat-Pi Wan Kau Ci Tiancoan, Orang ini melirik ke arahnya kemudian mengedipkan matanya dan berjalan melaluinya.
Siau Po mengerti isyarat yang ditunjukkan orang tua itu, Dia berjalan perlahan mengikuti sehing sampai di tempat yang sepi.
"Wi hiocu,"
Sapanya.
"Ada kabar gembira!"
Siau Po tersenyum Diam-diam dia berpikir.
"Aku telah menolong Gouw Lip-sin bertiga, rupanya dia sudah mendengar berita gembira it karena itu dia menyahut.
"ltu tidak berarti apa-apa!"
"Tidak berarti apa-apa?"
Tanya Ci Tian-coan dengan pandangan heran "Kau sudah tahu tentang kedatangan Cong tocu?"
Kali ini giliran Siau Po yang tertegun.
"Guruku datang?"
Tanyanya seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri Hal ini memang di luar dugaannya.
"Benar!"
Safiut Ci Tian-coan.
"Aku dititahkan segera memberi kabar kepadamu, Wi hiocu, kau diminta segera menemui beliau!"
"Baik, baik!"
Sahut Siau Po.
otaknya bekerja keras, padahal saat ini, orang yang paling tidak ingin ditemuinya justru gurunya itu, Apa sebabnya?
karena sejak berpisah tempo hari, dia merasa belum memperoleh hasil apa-apa dari kitab yang diberikan gurunya, Tan Kin-lam.
Celaka kalau gurunya sampai menanyakan kemajuan yang telah diperolehnya selama ini.
Urusan ini memang sudah cukup lama terbengkalai karena banyak yang harus diselesaikannya.
"Cong tocu memberitahukan kepadaku,"
Kata Ci Tian-coan pula.
"Waktunya di kotaraja ini tidak banyak, karena itu, biar bagaimana aku harap sudilah Wi hiocu pergi menemuinya!"
Melihat keadaannya yang begitu terdesak, Siau Po merasa apa boleh buat. "Baiklah,"
Katanya, Dia langsung mengikuti Ci Tian-coan.
sepanjang jalan dia terus memikirkan apa yang harus ia katakan kepada gurunya itu.
Di menyesal tidak mengeram saja dalam istana, Kala dia berada dalam istana, tentu gurunya tidak bisa menyeretnya keluar.
Belum lagi masuk ke dalam lorong, Siau Po sudah melihat sejumlah anggota Tian-te hwe yang berpencaran di sana sini.
Tentunya mereka sedang memasang mata untuk melindungi ketua merek dari serangan gelap.
Di dalam rumah juga terdapat beberapa penjaga.
Setibanya di ruangan belakang, Siau Po segera dapat melihat gurunya duduk di tengah-tengah da dikelilingi oleh Hong Kong, Hian Ceng tojin dan Hong Cin-tiong serta yang lainnya.
Mereka sedang berbincang-bincang, Cepat-cepat dia maju menghampiri kemudian menjatuhkan dirinya berlutu dan berkata.
"Oh, suhu! Ternyata suhu benar-benar datang. Muridmu ini sudah rindu sekali!"
Katanya. Tan Kin Lam tertawa.
"Bagus, bagus! Anak baik!"
Katanya.
"Di sini para saudara kita banyak yang memujimu!"
Siau Po langsung bangkit kembali. Hatinya menjadi lega melihat sikap gurunya yang demikian ramah.
"Apakah suhu baik-baik selama ini?"
Tanyanya. Kin Lam tersenyum.
"Baik!"
Sahutnya.
"Bagaimana dengan pelajaranmu? Apakah ada yang kurang kau pahami?"
"Banyak sekali yang murid tidak mengerti, suhu,"
Sahutnya, jawaban ini sudah ia pikirkan matang-matang, Dia tahu gurunya bermata tajam dan cerdas sekali, Tidak mungkin bisa dikelabui olehnya.
"Karena itulah aku mengharap-harap kedatangan suhu agar murid dapat meminta petunjuk"
Pada saat itu, tampaknya hati Kin Lam memang sedang gembira, Mendengar ucapan muridnya, kembali dia tersenyum.
"Baiklah"
Sahutnya.
"Aku akan menggunakan waktu beberapa hari ini khusus untukmu!"
Baru Tan Kin Lam berkata demikian, salah seorang anggota perkumpulan itu tampak mendatangi dengan cepat. Dia langsung memberi hormat seraya menyampaikan laporannya.
"Cong tocu, ada beberapa tamu yang berkunjung, Menurut penuturan salah satunya, mereka adalah Bhok Kiam-seng dari Bhok onghu serta Liu Taykong."
Senang hati Kin Lam mendengar laporan itu, Dia segera bangkit dari kursinya.
"Mari kita sambut mereka!"
Ajaknya.
"Aku belum mengganti pakaian,"
Kata Siau Po.
"Aku tidak bisa ikut!"
"Baik,"
Kata Kin Lam.
"Kau tunggu saja di belakang!"
Begitu guru dan anggota Tian-te hwe yang lainnya berlalu, Siau Po segera menyelinap ke belakang dinding ruangan itu.
Di sana dia menggeser sebuah kursi kemudian duduk.
Tanpa perlu menunggu lama-lama, segera terdengar suara tawa Liu Tay-hong yang nyaring, Siau Po segera mengenalinya.
"Keinginanku yang paling utama selama hidupku adalah perjumpaan dengan Tan Cong tocu yang namanya sudah terkenal di seantero dunia! Hari ini beruntung sekali dapat bertemu, Sungguh, mati pun aku yang tua sudah merasa puas!"
"Ah, Lo enghiong hanya memuji saja!"
Terdengar suara Tan Kin-lam.
"Aku yang rendah merasa malu dan tidak berani menerima pujian yang begitu tinggi!"
Sembari bercakap-cakap, mereka berjalan menuju ruangan dalam. Kemudian kedua belah pihak mengambil tempat duduknya masing-masing.
"Di dalam partai Cong tocu ada seorang yang bernama Wi hiocu, entah beliau ada di sini atau tidak?"
Tanya Bhok Kiam-seng.
"Aku yang rendah ingin bertemu dengannya untuk mengucapkan terima kasih atas budi pertolongannya yang besar. Kami dari Bhok onghu semua bersyukur sekali terhadap apa yang dilakukannya!"
Kin Lam bingung sekali, Dia memang tidak tahu gerak-gerik Siau Po yang telah menolong orang-orang dari Bhok onghu.
"Wi Siau Po hanya seorang bocah cilik, apa jasanya terhadap Bhok onghu? Mengapa Siau ongya begitu merendahkan diri memujinya demikian tinggi, sedangkan dia hanya seorang bocah cilik?" Belum lagi Kiam Seng dan Tay Hong menyahut, salah seorang di antara mereka sudah menyela.
"Aku yang rendah bersama murid dan keponakan muridku Lau It-Cou telah ditolong oleh Wi Hiocu, budinya yang luar biasa besarnya ibarat mega di langit, Aku juga pernah menyatakan pada Cian suhu, apabila perkumpulan tuan-tuan memerlukan bantuan, kami siap menjalankan tugas apa saja yang diperintahkan."
Orang yang berbicara bukan lain dari Yau Tau Saycu, Go-Ip-sin yang jujur dan selalu bicara apa ada nya.
Cong tocu dari Tian-te hwe tetap tidak mengerti Karena itu dia segera menoleh kepada Cian Laopan dan bertanya.
"Saudara Cian, bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya?"
Orang she Cian segera menceritakan apa saja yang terjadi di kotaraja akhir-akhir ini.
sekeluarnya dari istana, dia langsung mengajak Gouw Lip-sin dan rekan-rekannya kembali ke tempat Bhok Kiam-seng, di mana di tempat itu juga dia dijamu.
Pihak Bhok onghu telah menyatakan perasaan terima kasihnya terutama terhadap Wi hiocu, setelah itu Liu Tay-hong dan yang lain meminta dia jadi pengantar ke tempat perkumpulan Tian-te hwe.
Di luar dugaan, justru pada saat itu pula Tan Kin-lam, ketua pusat perkumpulan itu datang ber-kunjung, Karena itu Bhok Kiam-seng dan Liu Tayhong segera memohon bertemu dengan ketua umum itu.
Dijelaskan bahwa Gouw Lipsin bertiga ditolong oleh seorang thay-kam cilik yang mengaku sebagai sahabatnya Wi hiocu dari perkumpulan tersebut Dan si thay-kam melakukan hal itu karena permintaan dari Wi hiocu tersebut.
Baru sekarang Tan Kin-Iam mengerti duduk persoalannya dan dia menjadi senang sekali, Tentu saja thay-kam yang dimaksudkan adalah muridnya sendiri dan hal ini tidak diketahui oleh pihak Bhok onghu.
"Bhok Siau ongya, Liu loyacu dan Gouw toako, kalian bertiga terlalu sungkan,"
Katanya sambil tertawa.
"Pihak Bhok onghu dengan perkumpula Tian-te hwe kami ibarat tangan dan kaki dari sesosok tubuh, Karenanya, kalau orang sendiri memerlukan bantuan, sudah seharusnya kami mengulurkan tangan, janganlah Siau ongya rnenyebut-nyebut tentang budi pertolongan Hiocu Wi Siau-Po adalah muridku yang rendah, dia masih sangat muda dan belum mengerti apa-apa, tidak pantas menerima penghargaan Siau ongya yang demikian tinggi."
Berkata sampai di sini.
Tan Kin-lam berpikir "Siau Po bekerja dalam istana untuk mencari tahu tentang rahasia pemerintah sekarang ia telah melakukan pekerjaan ini, pasti rahasianya akan diketahui oleh orang-orang dunia kangouw, Karena itu, kalau hal ini dirahasiakan pula kepada pihak Bhok onghu, tentu kelak akan timbul kesan yang buruk."
Ketika tuan rumah masih berpikir, Gouw Lip-sin berkata.
"Kami ingin sekali bertemu dengan Wi hiocu agar kami dapat mengucapkan terima kasih secara langsung!"
Kin Lam tertawa.
"Kita semua merupakan sahabat baik, walaupun di balik semua ini ada terselip rahasia yang maha besar dan maha penting, tapi tidak dapat aku menyembunyikannya dari kalian, Gouw toako, thay-kam dalam istana adalah muridku sendiri, Wi Siau-po.... Siau Po, lekas kau temui para cianpwe ini!"
Tentu saja kata-katanya yang terakhir ditujukan kepada sang murid.
"lya,"
Sahut Siau Po yang mendekam di balik dinding, Dia segera muncul kembali memberi hormat kepada Bhok Kiam-seng beserta rombongannya.
Kiam Seng, Liu Tay-hong dan Gouw Lip-si langsung bangkit Mereka merasa heran sekali Ketika membalas hormat, mereka menatap Siau Po lekat-lekat.
Hal ini benarbenar di luar dugaan mereka, Hiocu dari Tian-te hwe menyelundup ke dalam istana kerajaan Ceng dan bekerja sebaga thay-kam.
Malah usianya masih begitu muda, Bagai mana seorang bocah yang masih begitu kecil dapat menjalankan tugas yang demikian hebat dan dapat pula yang menolong jiwa Gouw Lip-sin bertiga!
Siau Po tertawa manis ketika berhadapan dengan Gouw Lip-sin.
"Gouw loyacu, harap kau sudi memaafkan. Selama di istana, boanpwe sudah mendustai loyacu sekalian, boanpwe tidak menyebutkan nama boanpwe yang sebenarnya."
Gouw Lip-sin mengerti.
"Hiocu berada di tempat yang berbahaya, sudah selayaknya hiocu harus bersikap hati-hati,"
Katanya "Mula-mula aku juga sudah berkata kepada muridku Go Piu tentang kau yang masih begitu muda.
Aku heran dengan kecerdasanmu hatimu pun sangat mulia, Kami menganggap kau seorang yang luar biasa sekali.
Kami penasaran mengapa dalam istana kerajaan Ceng ada seorang thay-kam seperti dirimu.
Siapa sangka kau justru hiocu dari Tian-te hwe.
Namun sekarang aku tidak merasa heran lagi."
Gouw Lip-sin mengacungkan jempolnya memuji Siau Po.
Gouw Lip-sin adalah sute atau adik seperguruan Liu Tay-hong.
Dalam dunia kangouw, namanya juga cukup tersohor Karena itu pujiannya bukan pujian kosong, Hati Tan Kin-lam senang bukan main melihat Siau Po, muridnya demikian dihargai.
Tapi dia tidak menunjukkannya di luar, Di mulut dia hanya berkata.
"Saudara Gouw, jangan terlalu memuji muridku yang bodoh ini, nanti dia jadi besar kepala!"
Liu Tay-hong pun tertawa, Dia mendongakkan kepalanya dan berkata.
"Tan Cong tocu, kau seorang diri saja sudah sanggup merebut seluruh kedudukan dalam dunia kangouw, ilmu silatmu lihay sekali Namamu pun terkenal di mana-mana, rupanya itu masih belum seberapa, Setelah berhasil membangun Tian-te hwe dengan jumlah anggota yang besar, sekarang kau juga mempunyai murid yang usianya begini muda, namun keberanian dan kecerdikannya benar-benar luar biasa, Dia membawa kecemerlangan pada wajahmu!"
Kin Lam merangkapkan sepasang tangannya dan menjura kepada Liu Tay-hong.
"Liu loyacu, pujianmu padaku juga terlalu tinggi,"
Sahutnya.
"Nanti aku bisa jadi bangga tidak karuan!"
"Tapi, Tan Cong tocu, aku si tua she Liu ini memang biasa berterus terang!"
Kata Liu Tay-hong.
"Orang yang pantas dihormati seperti dirimu, aku rasa jumlahnya tidak banyak, Kau benar-benar membuatku kagum!"
Cong tocu, apabila kita berhasill mengusir bangsa Tatcu dan Cu Ngo taycu kita naik di atas tahta kerajaan, kauluh orang yang paling cocok menjadi perdana menterinya!"
Kin Lam tersenyum.
"Aku yang rendah kurang bijaksana juga tidak mempunyai kepandaian apa-apa, mana berani aku menerima kedudukan yang begitu tinggi?"
Sahutnya. Tepat pada saat itu Cian laopan ikut memberikan pendapat nya.
"Liu loyacu, kalau bangsa Tatcu sudah berhasil diusir dan Cu Sam taycu sudah naik tahta untuki membangun kembali kerajaan Beng kita yang maha besar, Untuk kedudukan Jenderal besar Peng Maj taygoanswe, kami pasti akan mengangkatmu!"
Liu Tay-hong membuka matanya lebar-Iebar dan menatap Cian Laopan dengan tatapan tajam.
"A... pa yang kau katakan?"
Tanyanya.
"Siapa iti Cu Sam taycu?"
Laopan segera menjelaskan "Setelah Sri Baginda Liong Bu wafat dengan mengorbankan diri demi negara, yang tinggal hanya Cu Sam taycu seorang, Beliau sekarang berada di Taiwan, Kalau kelak di kemudian hari kita berhasil merampas kembali negara ini, otomatis Cu Sam tayculah yang bakal menjadi raja!"
Liu Tay-hong langsung berjingkrak bangun mendengar kata-katanya.
"Tian-te hwe sudah menolong adik seperguruanku beserta muridnya, Untuk ini kami mengucapkan terima kasih dan bersyukur Tetapi, meskipun demikian, urusan raja kita nanti, tidak dapat kita biarkan begitu saja. Cian laote, orang yang akan menjadi junjungan kita nanti adalah Cu Ngo taycu! Sri Baginda Eng Lok adalah raja yang sah, dialah turunan sejati dari kerajaan Beng yang Maha Agung! Seluruh dunia telah mengetahuinya. Karena itu janganlah kau sembarangan bicara!"
Tempo hari perselisihan yang terjadi antara kedua saudara Pek dan Ci Tian-coan juga disebabkan masalah yang sama.
Memang ada dua putera mahkota keturunan kaisar dinasti Beng.
Pihak The-seng kong di Taiwan dan Tian-te hwe menjunjung Tong ong, sedangkan pihak Bhok onghu memihak pada Kui ong, Memang negara sudah dirampas oleh kerajaan Ceng.
seharusnya kedua belah pihak bersatu untuk merebut kembali tanah Tionggoan, tapi perselisihan sudah berlangsung sekian lama dan masih belum bisa diselesaikan juga.
Tan Kin-Iam gagah dan pintar Dia memaklumi keadaan yang terbentang di depannya dan dia juga dapat mengendalikan dirinya.
Sekarang saatnya mereka harus bersatu, perselisihan harus dikesampingkan dahulu, Biarlah sang waktu yang akan memastikan apakah Tong ong atau Kui ong yang akan menjadi raja kelak, karena itu dia segera tertawa lebar dan berkata.
"Liu loyacu, harap jangan marah dulu, Soal siapa keturunan yang sah dari Kerajaan Beng tentu memerlukan waktu dan sekarang belum tiba saatnya untuk membicarakan. Di detik ini, marilah kita duduk bersantap! Mana pelayan? Lekas sajikan barang hidangan! kami hendak berpesta, minum sepuasnya! Asal kita dapat bersatu hati dan bekerja sama untuk mengusir bangsa penjajah, kelak kemudian semuanya bisa dirundingkan!"
"Tan Cong tocu, aku merasa kata-kata Cong tocu itu keliru sekali."
Bhok Kiam-seng ikut bicara.
"Kalau nama kurang tepat, maka kata-kata pun tidak lurus, dan kalau katakata tidak lurus, usaha tidak akan berhasil. Kami menunjang Cu Ngo taycu, tidak sedikit pun kami mengharapkan pangkat atau bagian Apabila Cong tocu sudah mengetahui bahwa ini adalah kehendak Thian yang Maha kuasa dan bersedia demi Cu Ngo taycu, maka kami dari keluarga Bhok, baik atasan maupun bawahan bersedia menjadi pesuruh bagi Tan Cong tocu, tugas apa pun tidak akan kami tolak!"
Tan Kin-lam tersenyum. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
"Di langit tidak ada dua matahari, di dunia pun tidak ada dua raja yang memimpin,"
Katanya.
"Bukankah Cu Sam taycu masih sehat wal'afiat dan jumlah penduduknya terdiri dari laksaan jiwa dan siap menunjangnya apabila waktunya telah tiba nanti?"
Dalam urusan ini, Liu Tay-hong paling keras kepala, Dia tetap berkeras dengan pendiriannya.
"Tan Cong tocu menyebut-nyebut jumlah tentara yang ada laksaan jiwa, apakah dengan demikian Tan Cong tocu ingin mengatakan bahwa pihak kalian akan meraih kemenangan dengan mengandalkan orang banyak? Apakah dengan demikian Tang Cong tocu bermaksud menghina kami? Satu hal yang perlu kau ketahui, rakyat di seluruh negeri yang jumlahnya lebih dari ribuan laksa jiwa semua mengetahui perihal Sri Baginda Eng Lok yang telah mengorbankan jiwa di Birma, sedangkan beliaulah raja terakhir dinasti Beng! Karena itu, kalau kita tidak memilih anak cucunya yang memegang tampuk pemerintahan kelak, mana mungkin rakyat akan menghormatinya ? Bukankah dengan demikian kalian juga seharusnya merasa iba terhadap raja kita yang wafat secara kecewa?"
Mengucapkan kata-katanya yang terakhir, suara Tay Hong jadi tidak jelas, Dia merasa terharu sekali.
Sebetulnya kedatangan Tan Kin-lam di kotaraja ini justru karena mendengar perselisihan antara Tian-te hwe dan pihak Bhok onghu yang menunjang junjungan masing-masing.
Bahkan hal ini telah mengakibatkan kematian Pek Han-siong.
Dia bergegas datang untuk meredakan pertikaian agar urusan ini dapat didamaikan.
Dia berharap dengan kesabaran dapat membujuk pihak Bhok onghu, Dia juga merasa gembira mengetahui Siau Po telah menolong Gouw Lip-sin bertiga sehingga karenanya Bhok Kiam-seng dan yang lainnya sengaja datang untuk belajar kenal dan mengucapkan terima kasih.
Dia tidak menyangka sekarang bisa timbul lagi persengketaan yang sama, bahkan seperti api yang disiram minyak.
"Tentang Sri Baginda Eng Lok yang wafat di Birma, semua orang memang sudah mengetahuinya,"
Kata Tan Kin-Iam kemudian Nadanya sabar sekali dan dia juga terharu melihat Liu Tay-hong sampai menangis karena teringat pengorbanan rajanya itu.
"Kejadian itu membuat seluruh rakyat murka. Hal ini dapat dimengerti Namun Bhok Siau ongya dan Liu loyacu, semasa sakit hati kita belum terbalaskan, mana boleh kita bertikai? sekarang merupakan waktunya kita semua harus kompak dalam bekerja sama untuk membinasakan dan memusnahkan musuh kita, terutama Go Sam-kui yang telah berkhianat. Hal ini juga demi membalaskan kematian Sri Baginda Eng Lok. Demi semua ini, kita tidak boleh tercerai berai! Kita juga harus membalaskan sakit hati Bhok Lo ongya!"
Yang dimaksud dengan Bhok Lo ongya adalah ayah Bhok Kiam-seng. Mendengar ucapan terakhir Tan Kin-lam, Bhok Kiam-seng dan Liu Tay-hong langsung melonjak bangun.
"Benar! Benar!"
Teriak mereka serentak "Tepat sekali!"
Malah beberapa di antara mereka ada yang mengucurkan air mata dan tubuhnya gemetar.
"Lebih baik sekarang kita jangan masalahkan siapa yang akan menjadi raja kelak," kata Tan Kin-lam kembali.
"Bhok ongya, Liu loyacu dan seluruh rakyat di negeri ini, tidak ada satu pun yang tidak merasa benci kepada Go Sam-kui. Baiklah kita mengambil keputusan, siapa saja yang berhasil membunuh Go Sam-kui, maka pihaknyalah yang akan kita angkat menjadi raja!"
"Benar!"
Sambut Bhok Kiam-seng, Dialah yang paling keras keinginannya untuk membunuh Go Sam-kui Musuh besar pembunuh ayahnya.
"Benar, Siapa yang dapat membinasakan Go Sam-kui, dialah yang kita junjung!"
"Bhok ongya,"
Kata Tan Kin-lam, kali ini khusus ditujukan kepada pangeran muda dari Inlam itu.
"Sekarang marilah kita buat perjanjian janji antara perkumpulan Tian-te hwe kami dengan pihak Bhok onghu kalian, Kalau pihak Bhok onghu yang berhasil membunuh Go Sam-kui, maka seluruh anggota Tian-te hwe bersedia menerima segala titah Bhok onghu!"
"Kalau pihak Tian-te hwe yang berhasil membunuh Go Sam-kui,"
Sahut Bhok Kiamseng cepat Maka seluruh anggota keluarga Bhong ongha, mulai dari Bhok kiam-seng semua akan tunduk kepada perintahnya Tan Cong tocu dari Tian-te hwe!"
Sebagai penutup dari janji itu, kedua pihak mengulurkan tangannya dan saling tepuk sebanyak tiga kali, Tapi baru saja mereka saling menepuk satu kali, tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring dari wuwungan rumah yang tinggi kemudian disusul dengan seseorang yang berkata.
"Bagaimana kalau aku yang berhasil membunuh Go Sam-kui?"
Mendengar suara tawa dan pertanyaan itu, beberapa orang langsung menegur.
"Siapa itu?"
Yang menegur adalah beberapa mata-mata Tian-te hwe yang bersembunyi di atas genteng.
Setelah itu terdengar pula suara nyaring lainnya disusul dengan melompat turunnya sesosok bayangan yang terus berkelebat dan masuk lewat jendela tanpa menimbulkan suara sedikit-pun, Hal ini membuktikan bahwa orang yang datang menguasai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup tinggi.
Hong Ci-tiong dan Ci Tian-coan berada di sebelah timur, sedangkan Liu Tay-hong dan Gouw Lip-sin berada di sebelah barat, Serempak mereka menghambur menyerang ke arah sosok bayangan tadi.
Tetapi rupanya orang itu gesit sekali, dia melompat tinggi dan mencelat melewati keempat orang yang sedang menyerang ke arahnya dan tahutahu dia sudah sampai di hadapan Tan Kin-lam dan Bhok Siau ongya.
Keempat penyerangnya terdiri dari jago-jago kelas satu di dunia kangouw pada saat itu, Tetapi mereka tidak sanggup berbuat apa-apa.
Hal ini membuktikan betapa hebatnya tamu yang tidak diundang itu, Dalam waktu yang lain, mereka segera membalikkan tubuh dan menyerang kembali Ci Tiong mencekal bahu kanan orang itu, Tian Coan mencekal iga kanan, Liu Tay-hong mencekal bahu kiri dan Lip Sin memeluk pinggang orang itu dengan kedua tangannya.
Diperlakukan sedemikian rupa, orang itu tidak mengadakan perlawanan sama sekali, Sembari tertawa dia bertanya.
"Beginikah caranya sahabat-sahabat Tian-te hwe memperlakukan tamunya?"
Sekarang ini semua orang dapat melihat tegas tampang tamu yang tenang dan periang itu.
Dia adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tiga atau empat tahun, dia memakai jubah hijau yang panjang, tubuhnya tinggi kurus, roman-nya seperti seorang sastrawan.
Tan Kin-lam segera merangkapkan sepasang tangannya untuk menjura.
"Ciok Hi (panggilan seperti tuan, tapi dengan maksud merendahkan diri) siapakah she dan namamu yang mulia?"
Tanyanya.
"Apakah kau sahabat dari pihak kami?"
Sastrawan itu tertawa.
"Kalau bukan sahabat, tentu aku tidak akan datang kemari!"
Ucapan itu disusul dengan tubuhnya yang menciut seperti segumpal daging sehingga cekalan ke-empat penyerangnya jadi terlepas.
Hong Ci-tiong benar-benar keheranan dibuatnya, Setelah itu, tamu yang tidak diundang tersebut tertawa lagi, Tapi saat ini tubuhnya mencelat lagi ke atas dan berubah menjadi bayangan yang berkelebat seperti sebelumnya.
Sekarang Tan Kin-lam sendiri yang turun tangan Sembari tertawa panjang, ketua pusat Tian-te hwe bergerak bangun sekaligus meluncurkan tangan kanannya, Apabila tamu tak diundang itu berhasil melepaskan diri dari serangan Ci Tiong, maka kali ini dia tidak dapat mengelakkan cekalan Tan Kin-lam pada kakinya.
Dia merasa kakinya tercengkeram kuat seperti dililit oleh rantai besi.
Tapi dia tidak takut, dia malah tertawa panjang sambil mengirimkan sebuah tendangan ke arah orang yang mencekal kakinya itu.
Hebat sekali tendangan itu, arahnya pun ke muka orang!
Tapi Tan Kin-lam bisa menyelamatkan dirinya, Tangan kirinya dengan gerakan cepat menyambar sebuah meja kecil yang kemudian digunakan untuk menangkis, Brakkkk!
Rusakiah meja kecil itu yang mana kemudian menjadi potongan-potongan kecil.
Setelah itu, tangan kanan ketua pusat Tian-te hwe itu, yang tetap memegang kaki orang, digerakkan ke kanan kemudian dihentakkan ke belakang sehingga orang itu menjadi limbung lalu terbanting di atas lantai.
Tapi, ilmu orang itu ternyata lihay sekali, Tidak menunggu sampai tubuhnya menyentuh tanah, tiba-tiba dia mencelat bangun dan terus melesat dengan kecepatan seperti terbang untuk melayang terus ke belakang dan akhirnya berdiri tegak dengan punggung menyandar pada tembok.
Untuk sesaat, Hong Ci-tiong dan tiga orang lainnya langsung tertegun Tangan mereka masing-masing menggenggam secarik kecil dari pakaian tamu tak diundang itu!
Menyaksikan kejadian itu, para hadirin yang lain segera bersorak memuji, bahkan Liu Tay-hong pun tidak mau ketinggalan Gouw Lip-sin berdiri dengan perasaan jengah sekaligus kagum.
Kin Lam tertawa dan berkata.
"Tuan, kalau kau menganggap dirimu seorang sahabat, mengapa kau tidak duduk dan minum teh bersama?"
Pemuda itu merangkapkan sepasang tangannya dan menjura dalam-dalam.
"Kebetulan aku memang ingin sekali minum teh!"
Katanya sambil berjalan menghampiri Dia memberi hormat sekali lagi kepada para hadirin, kemudian duduk di kursi paling bawah.
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu ma sih memperhatikannya lekat-lekat Apabila merek tidak menyaksikan kepandaian pemuda itu denga mata kepala sendiri, sudah pasti mereka akan menduganya sebagai seorang pelajar yang lemah, Kin Lam tertawa.
"Harap Tuan jangan terlalu merendah,"
Katanya.
"Jangan bersikap sungkan, silahkan duduk di kursi utama!"
Sastrawan itu mengibaskan tangannya.
"Cayhe (aku yang rendah) tidak berani,"
Sahutnya.
"Dapat duduk bersama para orang-orang gagah dari dunia kangouw saja, sudah merupakan sebuah kebanggaan bagiku, Untuk apa aku dudu di atas? Tan Cong tocu, barusan Cong tocu menanyakan nama dan sheku dan aku belum menjawab nya, maafkan kelakuanku yang kurang sopan. ak yang rendah she Lie sedangkan namaku Si Hoa."
Baik Tan Kin-lam ataupun Liu Tay-hong belum pernah mendengar nama itu. Apalagi hadirin yan usianya lebih muda. Karena itu, mereka menyangka jangan-jangan yang dikatakannya nama palsu.
"Maaf, aku merasa malu, Pendengaranku berkurang sekali sehingga aku belum pernah mendengar she dan nama tuan yang mulia!"
Anak muda itu tertawa.
"Orang bilang, ketua pusat Tian-te hwe pandai bergaul dan memperlakukan siapa pun dengan baik, ternyata berita itu bukan cerita bohong, Misalnya setelah mendengar namaku barusan, Cong tocu memberikan pujian setinggi langit, pasti aku akan memandang rendah dirimu meskipun aku tidak akan mengatakannya secara terus terang, Aku adalah orang yang baru menginjakkan kaki keluar gubuk, aku sendiri tidak menghargai diri ini, bagaimana aku dapat mengharapkannya dari orang lain?"
Selesai berkata, dia pun tertawa terbahak-bahak. Kin Lam tersenyum.
"Saudara Lie, pertemuan ini membuat hatiku senang sekali,"
Katanya.
"Kau tahu, pertemuan ini juga bisa membuat namamu terangkat ke atas, karena itu, nanti kau bisa buktikan sendiri, setiap bertemu dengan orang, mereka akan menyatakan kekagumannya!"
Memang benar apa yang dikatakan Tan Kin-lam.
Sebab sudah pasti orang-orang dari Bhok onghu dan anggota Tian-te hwe akan memujinya, Orang yang tergolong jago kelas satu sebanyak empat orang saja tidak dapat menandinginya, jangan kata meringkusnya.
sedangkan Tan Kin-lam hanya sanggup mencekal kakinya.
Si Hoa mengibaskan tangannya.
"Tidak, tidak mungkin,"
Sahutnya.
"llmu yang kugunakan tadi hanya tipuan belaka, bahkan mengandung sedikit gerak sembarangan Barusan Liu loyacu mencekal bahuku dengan menggunakan jurus "
Dalam mega memperlihatkan kuku ", hampir saja lenganku patah. sedangkan sahabat yang be rewokan itu telah merangkul pinggangku denga hebat sekali, Bukankah dia memainkan jurus tipuan "
Menerkam kelinci "? dia membuat aku tidak bisa tertawa maupun menangis, Dan kakek yang ber kumis dan berjanggut putih ini meraba tulang igaku dengan ilmu "
Kera putih memetik buah To ", tulang igaku hampir seperti buah itu.
cekalannya demiki an keras seakan tidak akan dilepaskan lagi.
Da terakhir, sahabat yang satunya...
aih!
Bukankan jurus yang digunakannya dipetik dari ilmu "Seta Ciiik Seng Hong?"
Hong Ci-tiong adalah orang yang terakhir yang dimaksudkannya, Dia segera menganggukkan kepalanya.
Dia tidak membantah, meskipun sebenarnya ilmu yang digunakannya bernama "Setan cilik menarik malaikat kota"
"Saudara Lie, ilmu silatmu hebat sekali!"
Puj Liu Tay-hong-Hal ini karena orang itu dapat meloloskan diri walaupun diserang sedemikian rupa "Matamu juga sangat tajam!"
"Liu loyacu berlebihan memujiku!"
Kata Si Ho sembari menggoyangkan tangannya berkali-kali "Serangan yang dilancarkan loyacu berempat tadi sebenarnya bisa mencabut nyawa orang, tetapi kalian tidak bersungguh-sungguh sehingga aku yang rendah tidak terluka sama sekali, Terima kasih atas rasa kasihan cianpwe berempat!"
Hong Ci-tiong senang mendengar kata-kata orang itu, Memang serangan yang dilancarkan mereka berempat tadi lihay sekali, namun keterangan orang she Lie itu juga tidak salah, Mereka tidak melakukan penyerangan secara serius.
"Saudara Lie,"
Kata Tan Kin-Iam kemudian "Dapatkah saudara mengatakan tujuan kunjungan saudara yang sebenarnya, bagi kami hal ini benar-benar merupakan suatu kehormatan besar?"
"Dalam hal ini, sebelumnya aku mohon pengampunan."
Sahut Lie Si-hoa.
"Sudah lama aku yang rendah mengagumi Tan Cong tocu, karena itu, ketika aku mendapat berita tentang kedatangan Tan Cong tocu ini, aku ingin mewujudkan keinginanku untuk bertemu, sayangnya aku tidak mempunyai teman yang dapat dijadikan perantara, itulah sebabnya aku yang rendah berbuat lancang dengan menjadi tamu yang tak diundang, Bahkan untuk beberapa saat aku sempat bersembunyi di atas wuwungan mencuri dengar pembicaraan Cong tocu sekalian, Aku juga benci sekali terhadap Go Sam-kui, menyesal sekali aku tidak mendapat kesempatan untuk mencincang tubuhnya sampai hancur Cong tocu sekalian, sekali lagi harap kalian maafkan kelancanganku ini!"
Lie Sihoa bangun dan menjura ke sekelilingnya. Para hadirin juga segera berdiri dan membalas penghormatan itu.
"Tuan,"
Kata Bhok Kiam-seng.
"Karena tuan juga sangat membenci Go Sam-kui, berarti kita bertujuan sama. Kita adalah orang-orang sego1ong-an. Sudah selayaknya apabaila kita bekerja sama dalam hal ini, Entah tuan mempunyai niat seperti ini atau tidak?"
"Tentu saja ada!"
Sahut Si Hoa cepat "Tadi ketika Tan Cong tocu sedang membuat perjanjian dengan Siau ongya, aku telah mengganggu.
Dan aku merasa menyesal sekali, Bagaimana kalau perjanjian yang tertunda itu dilanjutkan kembali, setelah itu kita rundingkan kembali perjanjian denganku?"
Liu Tay-hong memperhatikan orang itu lekat-lekat.
"Apakah tuan bermaksud mengatakan, apabila tuan yang berhasil membunuh Go Sam-kui, maka kami orang-orang dari Bhok onghu dan Tian-te hwe harus menurut perintahmu?"
Tanyanya.
"Bukan! Aku tidak sanggup menerima hal itu,"
Sahut Si Hoa.
"Aku masih muda, sudah cukup bagiku apabila dapat mengikuti kalian seterusnya.!"
Tay Hong menganggukkan kepalanya, tapi dia masih ingin mendapatkan kepastian.
"Baiklah,"
Katanya, sekarang aku mohon penjelasan dalam pandangan tuan, di antara dua maha-raja Liong Bu dan Eng Liok, manakah yang merupakan turunan langsung dari dinasti Beng?"
Liu Tay-hong ikut bersama kaisar Liong Bu dan Bhok Tian-po berperang ke barat daya, dari propinsi Inlam memasuki wilayah Birma, setelah menderita dan sengsara sekian lama, akhirnya kaisar Liong Bu terbunuh juga di tangan Go Sam-kui.
itulah sebabnya dia bersumpah, biar bagaimana pun juga, dia akan mengangkat keturunan junjungannya menjadi kaisar.
Tan Kin-lam insyaf akan masalah yang pelik ini.
Dia ingin menghindarkan perselisihan yang terjadi, Tetapi jago tua she Liu itu tetap kukuh pada cita-citanya sehingga mengajukan pertanyaan itu kepada Lie Si-hoa.
Mendengar pertanyaan orang tua itu, Lie Si-hoa segera berkata.
"Aku yang rendah mungkin mengucapkan kata yang tidak enak didengar, tapi, meskipun demikian, aku minta tuan-tuan untuk memakluminya!"
Tay Hong tetap tidak sabaran, wajahnya langsung menjadi merah.
"Apakah tuan ini bekas bawahannya Lau Ong?"
Tanyanya, Setelah wafat nya kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng, di berbagai tempat bangkit pangeran-pangeran yang ingin mengangkat diri masing-masing menjadi raja, Mereka adalah Lau ong, Kui ong, dan Tong ong.
Begitu kata-katanya terucapkan, Liu Tay-hong segera menyadari kekeliruannya, Lie Si-hoa masih terlalu muda, Tidak mungkin dia itu bekas bawahannya Lau ong.
Karena itu, sebelum si anak muda menjawab, dia segera membetulkan pertanyaannya tadi.
"Apakah leluhur tuan pernah menjadi bawahannya Lau ong?"
Lie Si-hoa tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata.
"Lebih baik kita tunggu sampai bangsa Tatcu berhasil diusir dari negeri kita ini. Pada saat itu, baik anak cucu Cong Ceng, Tong ong, Kui ong, semuanya berhak menjadi raja, Pada hakekatnya, setiap orang bangsa Han, siapa yang tidak boleh menjadi raja? Umpamanya Bhok Siau ongya dan Liu loyacu dan The ongya dari Taiwan, serta Tan Cong tocu sendiri, mereka juga boleh menjadi raja, ingatkah kalian ketika dahulu leluhur kerajaan Beng mengusir bangsa Mongolia, bukankah beliau juga tidak memilih keturunan kerajaan Song atau keluarga Tio untuk diangkat menjadi kaisar? Bukankah Sri Baginda Beng thaycou Cu Goan-ciang mengangkat dirinya sendiri menjadi raja? Dan rata-rata rakyat menyambutnya dengan gembira!"
Ucapan seperti ini belum pernah didengar oleh para hadirin.
Semua orang menjadi heran serta terkejut.
Meskipun demikian, tidak ada orang yang berani membuka mulut menentangnya, karena kata-kata itu mempunyai dasar yang kuat.
Hanya Liu Tay-hong seorang yang masih kukuh dengan pendiriannya, Dia menggebrak meja dan berkata dengan keras.
Baca Juga: Bangau Sakti 19
Baca Juga: Sepasang Rajah Naga Kho Ping Hoo