Eps 19 Bangau Sakti - Chin Tung
Baca online Bangau Sakti - Chin Tung
Cersil Bangau Sakti - Chin Tung.
Caci Giok Siauw Sian Cu dan melanjutkan "Dia mundur karena merasa tidak kuat melawan kita, bagaimana mungkin dia mau keluar lagi?"
Saat ini yang paling cemas adalah Bee Kun Bu, sebab ia masih ingat akan Pek Yun Hui yang kehilangan jejak itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ketika melihat mereka berdua berdebat, ia pun menarik nafas seraya berkata.
"Kalian berdua jangan terus-menerus berdebat alangkah baiknya kita berunding harus dengan cara apa menerjang ke luar."
"Benar."
Kuang Ti Taysu tertawa.
Hweeshio tua itu langsung mengepit Gin Tic Suseng, kemudian memungut senjatanya dan melangkah menuju pintu.
Ketika ruangan itu berubah gelap, pintu di tempat itu pun tertutup.
Akan tetapi, ingatan Kuang Ti Taysu sangat kuat, Hweeshio tua itu masih ingat berada di arah mana pintu tersebut Begitu Kuang Ti Taysu berjalan ke dinding tempat pintu iiu, Bee Kun Bu pun langsung mengikutinya Namun mendadak ada sebuah tangan lembut menarik-nva.
tentunya amat mencengangkan Bee Kun Bu.
"Kakak...."
Ternyata yang menariknya Giok Siauw Sian Cu, dan cepat-cepat wanita itu berbisik.
"Adik Bee, kalau pintu itu dapat diterjang, cukup keledai gundul itu seorang diri saja, seandainya tidak bisa terbuka, kenapa engkau harus ikut menempuh bahaya?"
Bee Kun Bu mengerutkan kening, Mereka sama-sama terkurung di ruangan ini, maka kalau ada bahaya juga harus menghadapinya bersama, itu yang dikehendaki Bee Kun Bu.
Pada waktu bersamaan, Kuang Ti Taysu sudah mengayunkan senjatanya ke dinding sekuat tenaga sambil membentak "Walau ini dinding baja, aku pun harus menghancurkannya!"
Blammm! Terdengar suara benturan keras.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu berdiri agak jauh dari situ, sama sekali tidak tahu bagaimana hasil hantaman itu.
Mereka berdua pun tidak bisa melihat dengan jelas, sebab ruangan itu sangat gelap.
Tak lama kemudian suara benturan itu sirna, tetapi tidak terdengar suara Kuang Ti Taysu, Tersentaklah hati Bee Kun Bu dan ia pun langsung bertanya.
"Taysu berada di mana? Taysu...."
Tiada sahutan, maka Bee Kun Bu jadi cemas sekali, lalu bertanya pada Giok Siauw Sian Cu.
"Kak! Apa yang terjadi atas diri Taysu itu?"
"Adik Bee!"
Jawab Giok Siauw Sian Cu tenang.
"Kelihatannya keledai gundul itu memang telah terjadi sesuatu, sebab banyak jebakan di dalam Pil Sia Kiong ini."
"TapL, bukankah Taysu dan Gin Tie Suseng belum meninggalkan ruangan ini?"
Bee Kun Bu ingin melangkah ke dinding itu, tapi Giok Siauw Sian Cu segera menarik langannya, bahkan kemudian memeluknya, sehingga amat mengejutkan Bee Kun Bu.
"Eh? Kakak kenapa...?"
"Hi hi!"
Giok Siauw Sian Cu tertawa.
"Adik Bee, engkau masih muda dan tampan seka!i. Entah berapa banyak anak gadis yang jatuh hati padamu? sedangkan aku tidak mendapat tempat di dalam hatimu, Tapi bisa mati bersamamu, itu sungguh menggembirakan."
Bee Kun Bu terheran-heran, ia tidak mengerti kenapa Giok Siauw Sian Cu mengeluarkan ucapan yang bernada putus asa? "Kak!"
Bee Kun Bu mendorongnya perlahan.
"Jangan berpikir begitu!"
Setelah mengetahui Kuang Ti Taysu dan muridnya hilang begitu saja, maka Giok Siauw Sian Cu pun yakin mereka
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
berdua tidak akan bisa meninggalkan Pit Sia Kiong ini. Oleh karena itu ia pun tertawa ringan.
"Adik Bee, aku memang harus gembira,"
Sahutnya. Bee Kun Bu tidak tahu harus bagaimana, sebab ia tahu bagaimana perasaan Giok Siauw Sian Cu terhadapnya itu membuatnya diam saja.
"Adik Bee!"
Ujar Giok Siauw Sian Cu lembut "Apa-kah engkau masih ingat ketika kita ke cabang Partai Thian Liong, di tengah jalan kita terjebak di dalam telaga lumpur sehingga nyawa kita nyaris melayang?
Engkau masih ingat tentang itu?"
"lngat."
Bee Kun Bu mengangguk "Pada waktu itu, kakaklah yang menolong diriku."
"Adik Bee...."
Giok Siauw Sian Cu menarik nafas panjang.
"Kali ini kakak tidak bisa menolong dirimu lagi."
Bee Kun Bu diam saja.
"Adik Bee, kakak bisa mati bersamamu, itu sungguh menggembirakan hatiku, Kalau engkau tidak pereaya, aku akan meniupkan sebuah lagu untukmu, dengar."
Bagaimana mungkin Bee Kun Bu saat ini akan menikmati suara suling Giok Siauw Sian Cu?
Sebelum ia menyahut, Giok Siauw Sian Cu sudah mulai meniup sulingnya.
Mula-mula suara suling itu memang bernada gem-bira, namun berselang sesaat, berubah sedih memilukan hati.
Tanpa sadar air mata Bee Kun Bu pun berIinang-linang, lama sekali barulah ia berkata.
"Sudahlah Kak, jangan kau tiup lagi suling itu!"
Giok Siauw Sian Cu berhenti lalu menarik nafas panjang dan berkata perlahan-lahan.
"Adik Bee, kalau engkau menyuruhku meniup iagi, aku pun sudah tidak sanggup lagi."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Suara Giok Siauw Sian Cu agak serak. Bee Kun Bu tahu bahwa saat ini hati Giok Siauw Sian Cu amat berduka.
"Kak, kita tidak bisa diam saja,"
Ujar Bee Kun Bu.
"Kita harus memikirkan jalan keluarnya."
"Adik Bee!"
Sahut Giok Siauw Sian Cu.
"Diamlah kau di sini, aku akan coba menerjang!"
"Kak!"
Bee Kun Bu tertawa.
"Hingga saat ini Kakak masih tidak tahu bagaimana perlakuanku terhadap orang?"
"Aku tahu, namun tidak menghendakimu ikut menempuh bahaya,"
Sahut Giok Siauw Sian Cu.
"Kak, aku tahu maksud baikmu, tapi ada bahaya harus kita hadapi bersama,"
Ujar Bee Kun Bu. Giok Siauw Sian Cu diam saja, tapi mendadak ia melesat pergi, Betapa terkejutnya Bee Kun Bu, ia cepat-cepat menyambar tangan Giok Siauw Sian Cu, namun tak berhasil "Kakak! Kakak.,.!"
Teriaknya.
Akan tetapi, tidak terdengar suara sahutan sama seka!i.
Bee Kun Bu tertegun, kemudian mengayunkan pedangnya dengan gerakan kilat melesat pergi.
Tiba-tiba ia mencium semacam bau wangi aneh.
Bee Kun Bu tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, maka cepat-cepatlah menutup pernafasannya, dan sekaligus memutar pedangnya dengan tiga jurus beruntun mengarah ke kiri dan ke kanan, lalu menerjang ke depan.
Namun tadi ia sudah terlambat menutup pernafasannya, sehingga tersedot juga bau wangi aneh itu.
Pada gerakan ke tiga, ia sudah merasa sekujur badannya tidak bertenaga, Setelah itu ia pun terkulai dan merasa mengantuk sekali, Kini ia baru tahu, apa yang dialaminya pasti seperti apa yang dialami Kuang Ti Taysu, Gin Tie Suseng dan Giok Siauw Sian Cu.
Sudah tiada waktu baginya yang berpikir, sebab ia telah tertidur, sedangkan ruangan itu tetap gelap gulita.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
***** Bab ke 26 -Pek Yun Hui Muncul Ruangan tersebut masih tetap gelap, bahkan sunyi senyap, tak terdengar suara apa pun.
Namun sesekali justru terdengar suara dengkuran, Tak seberapa lama kemudian terdengarlah suara tawa yang terbahak-bahak, yaitu suara tawa Souw Peng Hai.
"Lam Kiong Siu! Engkau memang sungguh hebat!"
Terdengar pula suaranya.
"Jangan terlampau memuji!"
Sahut Kim Hun Tokouw dingin.
Kraaak!
Terdengar suara dinding bergerak.
Kim Hun Tokouw, Souw Peng Hai dan Co Hiong melangkah memasuki ruangan yang masih gelap gulita itu.
Mendadak Kim Hun Tokouw mengayunkan tangannya ke atas mengarah pada lampu kristal yang bergantung di situ.
Seketika juga lampu tersebut menyala, membuat ruangan itu jadi terang benderang, Tampak empat orang tergeletak di lantai Mereka adalah Kuang Ti Taysu, Gin Tie Suseng, Giok Siauw Sian Cu dan Bee Kun Bu.
Keempat orang itu kelihatannya tidur pulas, Menyaksi-kan keadaan itu, wajah Souw Peng Hai langsung berseri, sedangkan Co Hiong tertawa gembira sambil mendekati Bee Kun Bu.
"Saudara Bee, engkau dalam tidur menuju ke alam baka, Aku sungguh merasa iri padamu,"
Ujar Co Hiong sambil menghunus pedangnya, lalu menusuk tenggorokan Bee Kun Bu.
Saat ini, Bee Kun Bu sama sekali tidak bisa bergerak dan dalam keadaan tak sadar, bagaimana mungkin ber-kelit?
Ketika Co Hiong menusuk, berarti nyawa Bee Kun Bu berada di ujung tanduk, Namun mendadak Co Hiong malah tertawa gelak sambil menghentikan pedangnya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Saudara Bee, engkau begitu tampan, pantas banyak anak gadis tergila-gilapadamu! Haha! Aku menghendaki adik Loanmu tahu kalau engkau akan berubah jadi apa!"
Co Hiong menggerakkan pedangnya, Tampak pedang itu membentuk belasan bulatan mengarah pada wajah Bee Kun Bu.
itu adalah jurus Lian HoanKiuSiau(SembilanKunei Beruntun), Kalau wajah Bee Kun Bu terkena serangan tersebut, tentu tidak akan menyerupai wajah manusia lagi.
Souw Peng Hai mengerutkan kening menyaksikan tindakan murid kesayangannya itu, ia memang sangat membenci Bee Kun Bu, maka tidak mencegah perbuatan Co Hiong.
"Berhenti, Co Hiong!"
Bentak Kim Hun Tokouw dingin.
Co Hiong tertegun mendengar suara bentakan itu, lalu menghentikan pedangnya.
Mereka berdua guru dan murid mengunjungi gunung Taysan (Altai), tidak lain bertujuan meminjam tangan Kim Hun Tokouw untuk membasmi sembilan partai besar di Tionggoan, berikut orang-orang di Kwat Cong San.
Oieh karena itu, mereka masih tidak berani melakukan suatu kesalahan terhadap Kim Hun Tokouw.
"Nanti engkau akan tahu rasa!"
Ujar Co Hiong dalam hati. Akan tetapi, wajahnya justru berseri ia membalikkan badannya seraya berkata pada Kim Hun Tokouw.
"Apakah Tokouw khawatir Sumoynya akan berduka menyaksikannya maka menyuruhku jangan merusak wajahnya ?"
"Engkau cukup berhenti!"
Sahut Kim Hun Tokouw dingin.
"Tidak perlu banyak bertanya!"
Betapa gusarnya Co Hiong, tapi wajahnya justru bertambah berseri menawan hati, Ketika ia baru mau
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
membuka muIut, Souw Peng Hai telah mendahuluinya, sebab ia tahu apabila muridnya terus beidebat dengan Kim Hun Tokouw, pasti akan menimbulkan hal-hai yang tak enak.
"Anak Hiong jangan banyak bicara Tokouw sudah punya rencana, janganlah engkau merusak .encanjnya!"
Ujar Souw Peng Hai.
"Ya, Guru,"
Jawab Co Hiong sambil leisenyum, lalu mundur ke sisi Souw Peng Hai. sedangkan Kim Hun Tokouw sudah duduk di kursi batu pualam.
"Mereka berempat sudah terkena Kiu Tian Hiang (Semacam obat tidur),"
Ujar Kim Hun Tokouw memberitahukan.
"Tiga jam kemudian, mereka berempat akan sadar Maka sebelumnya mereka harus dikurung di ruang rahasia, lalu tiupkan Cien Meh San (Racun Pelemah Tubuh) ke dalam hidung mereka, jadi kalau pun sadar, mereka tetap tidak bisa bergerak sama sekali."
"Ooooh!"
Souw Peng Hai manggut-manggut. Kim Hun Tokouw bertepuk tangan tiga kali, dan tak lama tampaklah delapan anak gadis memunculkan diri.
"Gotong mereka ke ruang rahasia!"
Perintah Kim Hun Tokouw.
"Ya,"
Sahut delapan gadis itu serentak, Ketika mereka baru mau menggotong ke empat orang itu, mendadak muncul dua gadis dengan sikap gugup.
"Kiong Cu!"
Lapor ke dua gadis itu.
"Di luar ada seseorang ingin bertemu Kiong Cu."
Kim Hun Tokouw mengibaskan tangannya, delapan gadis itu langsung pergi, Setelah delapan gadis itu pergi, barulah Kiong Cu itu bertanya.
"Siapa orang itu?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Dia...."
Ketika dua gadis itu baru mau menjawab, mendadak berkelebat sosok bayangan memasuki ruangan itu.
Cepatnya laksana kilat, sehingga tidak bisa dilihat jelas, Setelah sosok bayangan itu melesat ke dalam, tampak pula dua buah benda meluncur secepat kilat ke arah Kim Hun Tokouw.
Saking cepatnya membual Kim Hun Tokouw tidak bisa melihat benda apa itu, Karena benda itu mengarah padanya, maka tanpa berpikir lagi ia langsung melancarkan sebuah pukulan pada ke dua benda yang meluncur datang itu.
"Aaaakh...."
Terdengar suara jeritan yang memilukan, ternyata jeritan dua orang lelaki, penjaga di terowongan rahasia, Kedua penjaga itu telah mati dengan tubuh tidak utuh terkena pukulan Kim Hun Tokouw.
Seketika juga Souw Peng Hai dan Co Hiong tahu bahwa tempat itu telah kedatangan musuh yang tangguh, Co Hiong segera mengibaskan tangannya, tampak tiga buah gelang emas meluncur ke arah bayangan itu.
Trang!
Trang!
Trang!
Terdengar suara benturan, tiga buah gelang emas itu terpental jatuh.
"Sambut seranganku!"
Bentak Souw Peng Hai sambil menyerang ke arah bayangan itu dengan tongkat berkepala naga, Yang dikeluarkannya adalah jurus San Peng Te Liak (Gunung Runtuh Bumi Retak).
Saat ini, pendatang itu telah berada di sisi Bec Kun Bu yang menggeletak di tantai, Tampak sinar pedang berkelebat menangkis serangan Souw Peng Hai, dan seketika juga terdengar suara senjata beradu, Souw Peng Hai dan pendatang itu masing-masing mundur selangkah Tersentak hati Souw Peng Hai, karena orang itu mampu menyambut serangannya yang sangat dahsyat
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Souw Peng Hai segera menegasi orang itu, ternyata seorang gadis cantik jelita, namun wajahnya penuh diliputi kegusaran Siapa gadis itu?
Tidak lain adalah Pek Yun Hui.
Setelah termundur selangkah Pek Yun Hui pun mengeluarkan suara siulan panjang.
Sebelum suara siulannya hilang, sudah tampak sosok bayangan yang amat besar meluncur ke dalam.
Bukan main cepatnya, bahkan sekaligus mencengkeram Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu, kemudian meluncur keluar lagi secepat kilat.
Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui juga membentak ringan sambil menggerakkan pedangnya, Tampak sinar pedang berkelebatan mengelilingi badannya, lalu mendadak meluncur pergi "Gampang datang sulit pergi!"
Bentak Kim Hun Tokouw.
Seketika juga muncul delapan gadis menghadang di pinlu, Tangan mereka memegang sebatang besi kosong.
Ketika delapan gadis itu muncul Pek Yun Hui sudah melesat sampai di pintu, Terdengarlah dua kali jeritan, tampak dua gadis terkulai bermandikan darah.
Yang mencengkeram Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu adalah Hian Giok, si Bangau Sakti, Hian Giok mengibaskan sepasang sayapnya, seketika juga dua gadis terpental Hian Giok lalu meluncur pergi, begitu pula Pek Yun Hui.
Dalam waktu sekejap, mereka sudah meninggalkan Pit Sia Kiong.
Kim Hun Tokouw bangkit berdiri, tapi kemudian kembali duduk sambil tertawa, Dipandangnya Souw Peng Hai seraya bertanya.
"Gadis yang barusan datang itu adalah salah satu wanita dari gunung Kwat Cong San?"
"Betul."
Souw Peng Hai mengangguk "Dia adalah Pek Yun Hui!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui datang dan pergi secara mendadak, bahkan juga berhasil membawa pergi Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu, sekaligus melukai beberapa pelayan Kim Hun Tokouw, Ilu pertanda dia berkepandaian tinggi selalu "Oooh!"
Kim Hun Tokouw manggut-manggut.
"Ternyata dia Pek Yun Hui!"
Sementara Co Hiong pergi memungut tiga buah gelang emasnya, Kim Hun Tokouw menatapnya seraya berkata.
"Apa yang pernah kau katakan, memang benar se-kali."
"Maksud Tokouw?"
Tanya Co Hiong sambil tersenyum.
"He he!"
Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh "Pek Yun Hui memang berkepandaian amat tinggi, namun dia tidak berakal panjang, Tidak sampai tiga hari, dia pasti membawa Bee Kun Bu ke mari."
"Oh?"
Souw Peng Hai tereengang.
"Kenapa bisa begitu?"
"ltu karenanya aku membiarkan dia pergi, tapi nanti dia ke mari lagi, Dia akan tahu kelihayan Pit Sia Kiong ini,"
Sahut Kim Hun Tokouw.
"Kenapa Tokouw mengatakan Pek Yun Hui akan membawa Bee Kun Bu ke mari tiga hari kemudian?"
Tanya Co Hiong mendadak "Apakah orang luar bisa tahu kelihayan Pit Sia Kiong?"
Sahut Kim Hun Tokouw seakan tidak mau memberitahukan secara terus terang. Souw Peng Hai dan Co Hiong saling memandang, namun sama sekali tidak mengeluarkan suara.
"Kiu Tian Hiang (Obat Tidur) itu dibikin dari sembilan jenis racun. Siapa yang terkena Kiu Tian Hiang itu, pasti tak sadarkan diri."
Ujar Kim Hun Tokouw sambil tersenyum "Bukankah tadi Tokouwsudah bilang, bahwa tiga jam kemudian mereka akan tersadar?"
Tanya Co Hiong.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Tidak salah, tiga jam kemudian mereka akan ter-sadar,"
Jawab Kim Hun Tokouw menjelaskan "Akan tetapi, sepasang kaki mereka tetap tidak bisa bergerak, kecuali makan obat penawar racun dariku." .
"Oooh!"
Souw Peng Hai tampak gembira sekali.
"Kalau begitu, Pek Yun Hui pasti akan ke mari minta obat tersebut kan?"
"Kalau tidak, Bee Kun Bu pasti lumpuh seumur hidup,"
Sahut Kim Hun Tokouw sambil tersenyum.
"Bagus!"
Seru Co Hiong sambil tertawa girang, Kim Hun Tokouw bertepuk tangan tiga kali, lalu muncullah beberapa anak gadis.
Kim Hun Tokouw segera perintahkan mereka menggotong Kuang Ti Taysu dan Gin Tie Suseng ke ruang rahasia.
Pek Yun Hui dan Bangau Sakti telah berada di sebuah lembah.
Begitu Pek Yun Hui bersiul, Hian Giok segera berhenti terbang dan turun ke bawah, Setelah itu, dengan hatihati sekali menaruh Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu ke bawah.
Tak seberapa lama kemudian, muncullah seorang gadis dengan langkah sempoyongan, dan wajahnya tampak pucat pias.
"Nona Pek...."
Gadis itu menggenggam tangan Pek Yun Hui erat-erat.
"Akhirnya Kun Bu tertolong juga. Tapi... dia... dia sudah terkena racun Kiu Tian Hiang...."
"Siauw Yun, akan bagaimana setelah terkena racun itu?"
Tanya Pek Yun Hui.
Ternyata gadis itu Siauw Yun.
Dia yang menunjukkan jalan untuk menolong Gin Tie Suseng yang terkui ung di ruang bawah ianah.
Gadis itu tahu, bahwa Kim Hun Tokouw pasti membunuhnya, maka ia menelan racun, Akan tetapi, betapa terkejutnya Siauw Yun ketika tahu Bee Kun Bu sudah
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
tertangkap dan akan ditukar dengan kitab Kui Goan Pit Cek milik dua wanita di Kwat Cong San.
Siauw Yun sudah tahu Pek Yun Hui berada di Taysan, maka timbullah niatnya mencarinya untuk menolong Bee Kun Bu.
Akan tetapi, Taysan sedemikian luas, gadis itu harus mencari ke mana?
Namun demi keselamatan Bee Kun Bu, Siauw Yun pun bertekad mencari Pek Yun Hui.
Oleh karena itu, ia segera meninggalkan Pit Sia Kiong, sebab kebetulan Kim Hun Tokouw menyuruhnya pergi mengurusi sesuatu, maka ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari Pek Yun HuL ia pun tahu bahwa nyawanya cuma tinggal tiga jam.
Kalau dalam waktu tiga jam tidak menemukan Pek Yun Hui, ia pasti mati dan Bee Kun Bu pun tidak dapat diselamatkan Akhirnya ia sampai di sebuah lembah, Tampak seorang gadis berbaju putih duduk di atas batu sambil melamun Begitu melihat gadis itu, Siauw Yun bersorak kegirangan dalam hati,, karena ia yakin bahwa gadis baju putih itu adalah Pek Yun Hui.
"Nona.,.!"
Serunya sambil menghampiri gadis berbaju putih itu.
"Apakah Nona marga Pek?"
Gadis berbaju putih itu menoleh. Tampak air matanya meleleh membasahi pipinya yang putih mulus.
"Apakah Kakak adalah Pek Yun Hui?"
Tanya Siauw Yun.
"Betu!."
Gadis berbaju putih itu mengangguk "Aku adalah Pek Yun Hui."
"Syukurlah Kakak adalah Pek Yun Hui!"
Siauw Yun langsung menggenggam tangannya eral-erat.
"Kakak Pek, Bee siauhiap terjebak di dalam Pit Sia Kiong, Kakak harus segera pergi menolongnya!"
"Engkau bilang apa? Engkau bilang siapa?"
Tanya Pek Yun Hui cepat
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Bee siauhiap adalah Bee Kun Bu, dia terjebak di dalam Pit Sia Kiong, Aku bernama Siauw Yun. Kakak Pek, cepatlah pergi menolongnya! Dari sini menuju ke utara, setelah melewati jalan kecil yang penuh batu tajam Kakak Pek pasti sudah sampai."
Pek Yun Hui tidak banyak bertanya lagi, ia langsung bersiul panjang, dan seketika juga terdengar pekikan yang amat keras, yaitu suara pekikan Hian Giok.
Ternyata Pek Yun Hui menunggang Hian Giok itu menuju ke Pit Sia Kiong, Setelah itu ia pun berhasil menolong Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu.
Kini Siauw Yun mengatakan bahwa Bee Kun Bu terkena racun Kiu Tian Hiang, maka cemaslah hati Pek Yun Hui.
"Siauw Yun!"
Pek Yun Hui memegangnya, karena Siauw Yun hampir terkulai "Tiga jam kemudian, Bee siauhiap... akan sadar Tapi...."
Mendadak kepala Siauw Yun terkulai Gadis yang penuh cinta kasih murni itu telah mati, namun wajahnya tampak berseri Mungkin ia sangat girang di saat terakhir masih dapat melihat Bee Kun Bu.
Pek Yun Hui memandang mayat Siauw Yun dengan mata basah, Siauw Yun cuma bilang tiga jam kemudian Bee Kun Bu akan sadar, tapi tidak keburu memberitahukan tentang yang lain, maka Pek Yun Hui tid,ik mengetahuinya.
Kemalian Siauw Yun juga sangat mengherankan Pek Yun Hui, kenapa gadis itu mati mendadak?
Ternyata Pek Yun Hui sama sekali tidak tahu bahwa Siauw Yun telah menelan racun.
Pek Yun Hui menggali sebuah lubang dengan pedangnya, kemudian mengubur mayat Siauw Yun di situ.
Setelah itu ia duduk sambil menunggu Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu sadar Saat ini, hari sudah mulai menjelang senja, pemandangan di lembah itu sangat indah, tapi Pek Yun Hui tidak menikmati
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
keindahan alam di sekitarnya, melainkan terus duduk melamun dengan wajah murung, Kelihatannya Pek Yun Hui berduka sekali dalam hati.
ia berduka bukan karena memikirkan keadaan Bee Kun Bu atau Giok Siauw Cu, sebab ia sudah tahu, tiga jam kemudian mereka akan sadar Kalau begitu, kenapa Pek Yun Hui tampak begitu berduka?
Ternyata ada suatu kenangan yang membuatnya berduka, Namun tiada seorang pun tahu dalam hatinya tersimpan suatu kenangan apa.
sementara hari pun sudah mulai gelap, tak seberapa lama kemudian, bulan pun mulai menampakkan diri, sehingga lembah itu kelihatan agak terang.
sedangkan Pek Yun Hui tetap duduk di situ tak bergerak sama sekali.
Tampak dua baris air mata mengalir turun dari matanya, saat ini hati Pek Yun Hui tereekam rasa duka yang tak terhingga.
Tidak sampai tiga jam, Bee Kun Bu sudah tersadar itu karena racun yang disedotnya tidak begitu banyak, maka lebih cepat tersadar dari pada Giok Siauw Sian Cu.
Setelah sadar ia sama sekali tidak merasa tersiksa, hanya saja merasa sekujur badannya tak bertenaga.
Dan ia pun terbelalak sebab dirinya berada di dalam lembah itu.
"Eh'"
Gumamnya heran.
"Kok aku bisa berada di lembah ini?"
Kemudian ia pun ingat apa yang telah terjadi atas dirinya di dalam istana Pit Sia Kiong, Setelah itu ia bangun duduk, dan di saat itulah ia melihat Pek Yun Hui. Betapa girangnya Bee Kun Bu.
"Kakak Pek! Kakak Pek! Kakak Pek!"
Panggilnya sampai beberapa kail Ketika menyaksikan Pek Yun Hui duduk melamun dengan air mata berderai, hati Bee Kun Bu merasa berduka sekali.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ia mengira Pek Yun Hui mengucurkan air mata lantaran mengkhawatirkan dirinya yang tak sadarkan diri, maka ia pun bergumam dalam hati.
"Bee Kun Bu! Bee Kun Bu! Beberapa gadis penuh cinta kasih terhadapmu, harus bagaimana engkau terhadap mereka kelak ?"
Akhirnya ia menarik nafas pan-jang, lalu berkata pada Pek Yun Hui dengan suara rendah.
"Kakak Pek, apakah Kakak Pek yang menolongku dari Pit Sia Kjong?"
Akan tetapi, Pek Yun Hui diam saja.
Tentunya hal itu mencengangkan Bee Kun Bu dan bertanya-tanya dalam hati, sekarang aku sudah sadar Kalau dia mengkhawatirkan diriku, pasti bergirang setelah aku sadar Tapi kenapa dia diam saja seakan tidak mendengar suaraku?
Apakah di dalam hatinya terganjel suatu masalah lain?
Tiba-tiba Bee Kun Bu teringat sesuatu, yakni Pek Yun Hui mendadak kehilangan jejak di gunung Taysan ini.
Apakah ada kaitannya dengan kedukaannya ini?
Bee Kun Bu pun masih ingat, bahwa setelah bertemu Pek Yun Hui di gunung Kwat Cong San, kemudian mereka pun menjadi teman baik.
Namun Pek Yun Hui begitu mislerius.
ia cuma tahu bahwa Pek Yun Hui adalah Lan Tay Kong Cu, putri kaisar yang dibawa pergi oleh Na Hai Peng dari istana ke Kwat Cong San.
Setelah Pek Yun Hui berada di Kwat Cong San dan apa yang terjadi, Bee Kun Bu sama sekali tidak tahu.
sementara Pek Yun Hui masih tetap duduk mematung dengan air mata berderai-derai, sedangkan Bee Kun Bu terus memandangnya dengan mata terbelalak Berselang beberapa saat kemudian, Giok Siauw Sian Cu pun tersadar dan langsung bangun duduk, Ketika melihat Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui duduk mematung sambil melamun, tereenganglah Giok Siauw Sian Cu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Adik Bee, Nona Pek! Kenapa kalian?"
Tanyanya heran. Suara yang agak keras itu membuat Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui tersentak, dan seketika juga Bee Kun Bu bertanya pada Pek Yun Hui.
"Kakak Pek kenapa terus duduk melamun?"
Pek Yun Hui segera menyeka air matanya, setelah itu barulah menyahut dengan suara rendah.
"Oh! Kalian berdua sudah sadari"
"Kakak Pek tahu kami akan sadar?"
Tanya Bee Kun Bu.
"Ya."
Pek Yun Hui mengangguk "Siauw Yun yang memberitahukan."
"Siauw Yun?"
Kini giliran Giok Siauw Sian Cu yang kebingungan "Siapa Siauw Yun itu?"
"Panjang sekali kalau dituturkan,"
Jawab Bee Kun Bu.
"Ohya! Apakah Kakak Pek yang menolong kami keluar dari Pit Sia Kiong?"
"BetuI."
Pek Yun Hui manggut-manggut, lalu menceritakan tentang Siauw Yun yang mencarinya, berikut bagaimana cara ia ke Pit Sia Kiong menolong mereka, Setelah itu ia pun bertanya pada Giok Siauw Sian Cu.
"Kenapa engkau juga ke mari?"
"Yah!"
Giok Siauw Sian Cu tertawa sambil menggelenggelengkan kepala.
"Adik Ceng Loan terus ribut mau cari kakak Kun Bu-nya. maka aku ke mari cari Bee Kun Bu demi adik Ceng Loan."
"Ooooh!"
Pek Yun Hui manggut-manggut, kemudian menarik nafas panjang.
"Kun Bu, aku minta maaf karena tidak dapat menolong Gin Tie Suseng dan Hweeshio tua itu. Ohya, siapa Hweeshio tua itu?"
"Hweeshio tua itu adalah Kuang Ti Taysu dari Kuil Ceh Yun Si di gunung Tay Pah San."
Bee Kun Bu memberitahukan "Guru Gin Tie Suseng."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kalau begitu, kita tidak perlu mencemaskan Gin Tie Suseng,"
Ujar Pek Yun Hui.
"Kakak, kenapa kita tidak perlu mencemaskan Gin Tie Suseng?"
Tanya Bee Kun Bu heran "Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu berniat memusuhi kaum Bu Lim di Tionggoan, tentunya dia ingin menarik tenaga Kuang Ti Taysu, lagi pula kemungkinan besar akan membujuk Ku Ciok Sianjin untuk membantunya, otomatis dia tidak akan turun tangan jahat terhadap Kuang Ti Taysu dan muridnya."
Memang masuk akal apa yang dikatakan Pek Yun Hui. Oleh karena itu Bee Kun Bu pun manggut-manggut.
"Ohya!"
Bee Kun Bu teringat sesuatu dan langsung bertanya.
"Ketika itu Kakak pergi ke mana? Aku dan Gin Tie Suseng melihat Hian Giok meluncur di sebuah Iem-bah, lalu kami berdua segera memburu ke sana dan melihat baju luarmu menyangkut di dahan pohon Maka aku kira Kakak Pek telah mengalami kecelakaan, sehingga kami menerjang ke Pit Sia Kiong."
"Begitu gampang pihak Pit Sia Kiong ingin mencelakaiku?"
Dengus Pek Yun Hui, namun kemudian menarik nafas panjang dengan wajah murung. Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu saling memandang. Mereka tahu bahwa Pek Yun Hui sedang berduka dalam hati.
"Kakak Pek!"
Tanya Bee Kun Bu.
"Siauw Yun berada di mana sekarang?"
"Siauw Yun adalah pelayan di Pit Sia Kiong, bagaimana engkau bisa mengenalnya?"
Pek Yun Hui balik bertanya.
"Dia memang pelayan Kim Hun Tokouw.,."
Jawab Bee Kun Bu menutur tentang semua itu.
"Oooh!"
Pek Yun Hui manggut-manggut "Ternyata begitu! Setelah aku berhasil membawa kalian ke mari, tak lama dia pun mati keracunan."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Aaakh...!"
Keluh Bee Kun Bu.
"Siauw Yun mati demi cinta, aku salut padanya,"
Sela Giok Siauw Sian Cu sambil menarik nafas panjang.
"Mati demi cinta! Mati demi cinta..."
Gumam Pek Yun Hui berulang kali, kemudian meleleh lagi air matanya.
"Kakak Pek!"
Bee Kun Bu menggenggam tangannya eraterat.
"Kalau ada urusan dalam hati, kenapa harus terusmenerus disimpan? Bukankah itu akan membuat Kakak berduka selalu?"
"Kejadian masa lalu itu, sudah beberapa tahun kusimpan dalam hati,"
Sahut Pek Yun Hui.
"Biarlah terus disimpan dalam hati saja."
"ltu tidak baik, Kak,"
Ujar Bee Kun Bu.
"Curahkan saja agar Kakak tidak begitu tertekan."
"Nona Pek, aku akan meniup suling,"
Sambung Giok Siauw Sian Cu.
"ltu akan membuatmu mencurahkan kedukaan tersebut."
Giok Siauw Sian Cu tidak menunggu persetujuan dari Pek Yun Hui, langsung saja ia meniup sulingnya membawakan sebuah lagu sedih.
"Aaaakh...!"
Pek Yun Hui menarik nafas panjang.
"Baiklah, Aku akan menceritakan kejadian masa laluku itu." ***** Bab ke 27 -Kejadian Masa Lalu Pek Yun Hui Dua tahun sebelum bertemu Bee Kun Bu, Pek Yun Hui masih merupakan gadis remaja berusia enam belasan ia ikut Na Hai Peng tinggal di gua Thian Kie Cinjin di gunung Kwat Cong San mempelajari ilmu silat yang ada di dalam kitab Kui Goan Pit Cek. Gadis itu pun melewati hari-hari yang penuh ketenangan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui dibesarkan dalam istana dan tubuh pun sangat lemah.
Begitu keluar dari istana, ia amat tertarik akan dunia luar, maka tidak heran kalau gadis itu senang bermain, sehingga agak menghambat kemajuan ilmu silatnya.
Na Hai Peng memang gurunya, namun juga budak-nya, maka tidak heran kalau hubungan mereka guru dan murid agak luar biasa, Na Hai Peng sangat menurut pada Pek Yun Hui, bahkan ia pun tahu bahwa tubuh Pek Yun Hui sangat lemah, tapi memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Oleh karena itu, Na Hai Peng mengambil keputusan untuk menggembleng gadis itu, namun tidak begitu memaksanya untuk melatih diri.
Hari itu kebetulan mulai musim semi, hawa udara pun berubah sejuk menyegarkan Tampak bunga-bunga liar memekar indah di sekitar gunung Kwat Cong San Hari itu Pek Yun Hui mengenakan pakaian lelaki, sehingga membual dirinya menyerupai pemuda yang sangat tampan.
Tangannya membawa sebuah kipas, dan terus berjalan sambil menikmati keindahan panorama Kwat Cong San.
Tanpa sadar sepasang kaki membawa dirinya menuju kaki gunung tersebut Di kaki gunung Kwat Cong San terdapat sebuah jalan, Pek Yun Hui memandang orang-orang yang mendorong gerobak berlalu-lalang di jalan itu.
Ternyata tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah desa kecil, Tampak asap putih membumbung ke atas, mungkin kaum wanita di desa itu sedang memasak.
Menyaksikan itu, hati Pek Yun Hui tertarik Sebab sejak tinggal di gua Thian Kie Cinjin di Kwat Cong San ini, gadis itu sama sekali tidak pernah ke desa tersebut Di saat itu pula timbul niatnya untuk mengembara di Kang Ouw mencari pengalaman Oleh karena itu, ia pun segera kembali ke gua Thian Kie Cinjin.
"Guru! Guru!"
Panggil Pek Yun Hui begitu sampai di dalam gua, dan sekaligus mendekap di dada Na Hai Peng.
"Guru...."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ada apa?"
Tanya Na Hai Peng sambil membelainya.
"Guru! Kalau aku beritahukan, Guru harus mengabulkan!"
Jawab Pek Yun Hui manja.
"Belum tentu,"
Sahut Na Hai Peng dan menggelengkan kepala.
"Kalau Guru tidak mengabulkan, aku akan mengambek."
Pek Yun Hui cemberut "Eh? Kong Cu! sebetulnya ada apa? Beritahukanlah dulu!"
Na Hai Peng menatapnya dalam-dalam.
"Guru! Aku ingin mencari pengalaman di Kang Ouw, sekaligus mencari bibi Cui."
Pek Yun Hui memberitahukan.
"Apa?"
Na Hai Peng terbelalak.
"Itu tidak boleh sama sekali."
"Kenapa?"
"Kong Cu harus tahu, betapa bahayanya Kang Ouw, lagi pula kedudukanmu amat istimewa, bagaimana mungkin mengembara di Kang Ouw?"
"Guru!"
Pek Yun Hui tertawa.
"Kalau di dalam istana tiada bahaya, bagaimana mungkin Guru akan membawaku keluar dari sana?"
Na Hai Peng tertegun, bahkan membungkam seketika juga.
"Guru!"
Pek Yun Hui tersenyum "Ilmu silatku sekarang sudah lumayan, tentunya tidak akan terus menyendiri di gua Thian Kie ini kan? Kalau Guru tidak mengabulkan, aku akan pergi secara diam-diam."
"Kong Cu!"
Ujar Na Hai Peng setelah berpikir sejenak "Engkau memang harus mencari pengalaman di rimba persilatan, tapi harus ingat dua hal."
"Hal apa?"
Pek Yun Hui girang sekali, karena Na Hai Peng mengizinkannya mengembara di Kang Ouw.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Engkau mengenakan pakaian lelaki, justru tidak mirip anak gadis."
Na Hai Peng menatapnya dengan penuh perhatian "Maka selanjutnya engkau harus terus mengenakan pakaian lelaki, Oleh karena itu, siapa pun tidak akan tahu engkau adalah anak gadis, jadi dapat menutup rahasia dirimu sebagai Lan Tay Kong Cu."
"Guru! Aku memang tidak mau jadi Lan Tay Kong Cu, maka tidak akan beritahukan kepada siapa pun."
"Hal ke dua yakni menyangkut ilmu silatmu,"
Ujar Na Hai Peng serius.
"Walau belum mencapai pada tingkat lertinggi, tapi jurus-jurusnya amat aneh, Karena itu, janganlah engkau membocorkan sumber ilmu silatmu. dan tidak boleh menyebut namaku juga!"
"Memangnya kenapa?"
Tanya Pek Yun Hui heran.
"Engkau masih belum tahu, bahwa semua ilmu silatku berasal dari kitab Kui Goan Pit Cek. Kini kitab itu berada di tangan bibi Cuimu, Namun kaum Bu Lim justru tidak tahu itu, Lagi pula kitab tersebut merupakan benda pusaka yang diincar kaum Bu Lim. Kalau engkau membocorkan rahasia itu, berarti engkau dalam bahaya."
"Wuah!"
Pek Yun Hui meleletkan lidahnya "Begitu luar biasa, pokoknya aku tidak akan membocorkan rahasia tersebut."
"Walau engkau berjanji begitu, aku tetap tidak bisa berlega hati,"
Ujar Na Hai Peng.
"Guru, aku tidak akan menimbulkan masalah di rimba persilatan. Setahun atau setengah tahun, aku pasti pulang."
"Kalau begitu...."
Na Hai Peng menarik nafas dalam-dalam.
"Baiklah, Aku mengabulkannya."
"Terimakasih, Guru!"
Pek Yun Hui berjingkrakan saking gembiranya.
"Aku akan berangkat esok."
"Boleh."
Na Hai Peng mengangguk dan berpesan.
"Tapi engkau tidak boleh bertarung dengan siapa pun."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ya."
Pek Vun Hui mengangguk Pek Yun Hui telah meninggalkan gua Thian Kie Cinjin, ia berdiri di pinggir jalan sambil menengok ke sana ke mari, karena tidak tahu harus menuju ke mana.
Akhirnya ia mengambil arah utara.
Tak seberapa lama kemudian, ia melihat tiga buah gerobak ekspedisi Beberapa orang berteriak-teriak, tampak dua orang piauwsu (Pengawal barang ekspedisi) berjalan di belakang gerobak-gerobak itu.
Setelah mereka lewat, Pek Yun Hui mengambil keputusan untuk mengikuti di belakang mereka.
Berselang beberapa saat kemudian, mendadak ke dua piauwsu itu menoleh ke belakang memandang Pek Yun Hui, lalu berbisik-bisik.
Pek Yun Hui baru memasuki rimba persilatan, tentunya tidak mengerti apa-apa.
Ketika ke dua piauwsu itu memandangnya, gadis itu tersipu mengira ke dua piauwsu itu sudah tahu akan penyamarannya sebagai pemuda.
Karena itu, ia pun memperlambat langkahnya, dan berpaling ke arah lain berpura-pura menikmati keindahan alam.
Ia sama sekali tidak menyadari, bahwa itu justru menimbulkan kecurigaan ke dua piauwsu tersebut Salah seorang piauwsu itu melotot, lalu mengeluarkan sebuah panji kecil.
Panji kecil tersebut bersulam seekor naga emas.
Piauwsu itu menancapkan panji tersebut ke atas gerobak, agar Pek Yun Hui tahu bahwa mereka dari ekspedisi Thian Liong.
Pemimpin ekspedisi Thian Liong adalah Souw Peng Hai dijuluki Hai Thian It Siu.
ia mendirikan ekspedisi tersebut dengan tujuan tertentu, yakni mengumpulkan para pesilat Bu Lim yang tiada partai agar bergabung, Setelah memiliki kekuatan, maka akan bertarung dengan sembilan partai besar
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Souw Peng Hai merupakan orang yang sangat licik, sama sekali tidak memberitahukan pada siapa pun tentang tujuannya itu, sebab tidak menghendaki sembilan partai besar mengetahuinya.
Oleh karena itu, setelah mendirikan Thian Liong Pang (Partai Thian Liong) dan ekspedisi Thian Liong, ia pun mulai menarik para pesilat uniuk bergabung, sesudah banyak pesilat Bu Lim bergabung, mulailah ia membuka cabang ekspedisi Thian Liong di daerah lain.
Walau pesilat dari golongan sesal atau dari golongan hitam, Souw Peng Hai tetap menerimanya.
!felas membuat Partai Thian Liong semakin kokoh dan ekspedisi Thian Liong pun bertambah meluas ke mana-mana, Oleh karena itu, ekspedisi tersebut sampai ke mana, tiada penjahat yang berani mengganggu nya.
Akan tetapi, Pek Yun Hui yang baru hari itu menginjak ke dalam rimba persilatan, sama sekali tidak tahu tentang itu, Tentunya merasa heran akan gerak-gerik ke dua piauwsu tersebut, apa lagi ketika menyaksikan panji yang amat indah itu sehingga hatinya pun semakin tertarik.
Gerobak-gerobak ekspedisi Thian Liong terus maju, sedangkan Pek Yun Hui juga terus mengikuti dari belakang.
Berselang beberapa saat kemudian, sampailah di sebuah kota yang cukup besar dan ramai, yaitu kota Ling Hai.
Keindahan kota tersebut justru membuat Pek Yun Hui lupa mengikuti ekspedisi itu.
Pek Yun Hui membeli seekor kuda jempolan, lalu menunggang kuda itu menuju ke rumah makan.
ia menyerahkan kudanya pada pelayan, kemudian sambil tersenyum ia memasuki rumah makan itu.
Begitu masuk, Pek Yun Hui melihat ke dua piauwsu itu duduk di sudut kiri sambil meneguk arak.
Kedua piauwsu itu juga melihat Pek Yun Hui yang mereka anggap sebagai pemuda berbaju hijau.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
itu suatu kebetu!an, tapi ke dua piauwsu itu malah mengira bahwa Pek Yun Hui sengaja menguntit mereka, Olomatis ke dua piauwsu itu pun meraba gagang golok masing-masing.
Pek Yun Hui tersenyum lembut, namun senyumannya justru telah mengejutkan ke dua piauwsu ilu.
kemudian kedua piauwsu itu berbisik-bisik.
"Saudara Wang, kelihatannya pemuda itu memang menguntit kita."
"Aku pun sedang bereuriga,"
Sahut temannya dengan suara rendah.
"Tapi siapa yang begitu berani mengusik ekspedisi Thian Liong?"
Sementara Pek Yun Hui sudah duduk, salah seorang piauwsu itu meliriknya dan berbisik lagi pada temannya.
"Sulit dikatakan, sebab hanya dalam beberapa tahun, ekspedisi Thian Liong sudah berkembang pesat, tentunya ada orang tertentu merasa tidak senang, Karena itu, mereka ingin coba-coba cari gara-gara dengan kita. saudara Wang, dapatkah engkau melihat pemuda berbaju putih hijau itu berasal dari mana?"
Temannya menggelengkan kepala, lalu melirik Pek Yun Hui sejenak, setelah itu ujarnya perlahan "Entahlah, Siapa pemuda berbaju hijau itu memang sulit diduga.
Namun dia tampak begitu lemah lembut, yang pasti dia punya asal-usul yang luar biasa."
"Kalau begitu, nanti kita harus berhati-hati dalam perjalanan Alangkah baiknya tidak terjadi sesuatu."
Mereka berdua lalu berbisik-bisik, sepertinya sedang merundingkan sesuatu yang amat penting.
Seusai menyantap, mereka berdua segera meninggalkan rumah makan tersebut Pek Yun Hui masih bersantap, Berselang sesaat barulah ia meninggalkan rumah makan itu menunggang kudanya ke luar kota, Memang sungguh di luar dugaan, ia mengambil jalan yang searah dengan ke dua piauwsu ilu.
Begitu sampai di luar
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
kota, Pek Yun Hui pun menyusul mereka dan sekaligus tersenyum pu!a.
kedua piauwsu itu memang lelah bereuriga, tapi Pek Yun Hui tidak tahu sama sekali, dan terus memacu kudanya, Kirakira sepuluh li kemudian, ia berhenti dan duduk di sebuah batu di dekat sebuah rimba.
Mungkin udara agak panas, maka Pek Yun Hui mengeluarkan kipasnya untuk mengipas dirinya, Tak seberapa lama ia duduk di situ, muncullah gerobak-gerobak ekspedisi Thian Liong.
Ketika melihat pemuda berbaju hijau duduk di atas batu, ke dua piauwsu yang telah bereuriga itu mengira Pek Yun Hui sengaja menghadang mereka, Mereka berdua saling memandang, salah seorang segera berteriak Seketika juga gerobak-gerobak itu berhenti Kedua piauwsu itu meloncat turun dari kuda masingmasing, lalu mendekati Pek Yun Hui sambil menjura.
"Kawan, bolehkah kami tahu namamu?"
Tanya salah seorang piauwsu.
"Namaku Pek Yun Hui,"
Sahutnya karena melihat ke dua piauwsu itu bersikap ramah. Pek Yun Hui? Kedua piauwsu itu mengernyitkan kening, sebab mereka tidak pernah mendengar nama tersebut di rimba persilatan "Kawan!"
Salah seorang piauwsu menatapnya.
"Ke-napa engkau menghadang kami ke sini?"
"Eh?"
Pek Yun Hui terheran-heran.
"Siapa yang menghadang kalian?"
Air muka ke dua piauwsu tampak berubah, karena mengira Pek Yun Hui sedang menyindir mereka, Padahal sesungguhnya, gadis itu memang berkata sebenarnya, sama sekali tidak menyindir ke dua piauwsu itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kawan! Tahukah engkau tentang ekspedisi Thian Liong?"
Tanya salah seorang piauwsu itu dengan suara dalam.
"Tidak lahu."
Pek Yun Hui menggelengkan kepala.
Pek Yun Hui baru meninggalkan gunung Kwat Cong San, mungkin belum ada satu hari, tentunya tidak tahu tentang ekspedisi tersebut ia menjawab sesungguhnya, tapi ke dua piauwsu itu justru menganggapnya menghina ekspedisi Thian Liong yang telah kesohor itu.
Trang!
Salah seorang piauwsu itu mencabut golok kepala setan, kemudian tersenyum dingin seraya berkata.
"Kawan! Engkau sungguh berani mengusik ekspedisi Thian Liong, aku mohon petunjuk beberapa jurus!"
Pek Yun Hui semakin tereengang, lagi pula ia tidak mengerti apa yang dikatakan piauwsu itu.
"Kenapa engkau ingin mohon petunjuk beberapa jurus, aku tidak mengerti,"
Ujar Pek Yun Hui. Piauwsu itu semakin gusar, ia mengira pemuda berbaju hijau itu sengaja menghinanya.
"Nah, dengar baik-baik! Aku ingin bertarung de-nganmu!"
Bentaknya.
"Oh?"
Pek Yun Hui tampak girang sekali, ia memang ingin mencoba kepandaiannya, karena selama ini ia cuma berlatih dengan gurunya, kini ada orang mengajaknya bertarung, tentunya ia merasa girang sekali.
"Baiklah!"
Sahutnya sambil bangkit berdiri "Hmmm!"
Dengus piauwsu itu, lalu meluruskan goloknya ke depan. Mendadak Pek Yun Hui memutar badannya, tahu-tahu tangannya telah menggenggam sebilah pedang yang mengeluarkan hawa dingin.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Kedua piauwsu itu tertegun, sebab gerakan Pek Yun Hui barusan sangat indah dan cepat, sehingga membuat ke dua piauwsu itu meiongo.
"Sungguh indah dan laksana kilat gerakan barusan!"
Mendadak terdengar suara orang mernujinya.
Pek Yun Hui mendongakkan kepala, tampak seorang pemuda berusia sembilan belasan duduk di dahan pohon sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
pemuda itu tampan sekali, sepasang matanya pun bersinar terang, Ketika mengetahui pemuda itu yang mengeluarkan suara memuji, giranglah hati Pek Yun Hui tapi tampak tersipu pula, sehingga wajahnya berubah agak kemerah-merahan dan terus memandang pemuda itu.
Yang terkejut adalah ke dua piauwsu itu, ternyata mereka mengira pemuda itu adalah teman pemuda baju hijau yang akan mereka hadapi, Oleh karena itu, piauwsu yang bersenjata golok langsung menyerang Pek Yun Hui dengan jurus Yah Hwee Sauh Thian (Api Berkobar Membakar Langit).
"Hei! Saudara kecil, hati-hati!"
Seru pemuda itu.
Pek Yun Hui langsung menoleh, namun golok itu sudah mengarah ke dadanya, Betapa terkejutnya Pek Yun Hui, secepat kilat ia meloncat mundur sambil menggerakkan pedangnya mengeluarkan jurus Goan Yah Cing Coh (Rerumputan di Padang Liar).
Trang!
Terdengar suara benturan senjata tajam, bunga api pun berpijar.
Pek Yun Hui dan piauwsu, masing-masing mundur beberapa langkah, Mereka sama sekali tiada permusuhan apa pun.
Tadi piauwsu itu mengajaknya bertarung, dikira-nya cuma sekedar bertanding Tapi kini, piauwsu itu kelihatan malah ingin membunuhnya.
"Hei!"
Bentak Pek Yun Hui.
"Kenapa engkau melancarkan serangan gelap?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Piauwsu itu tidak menyahut, malah menyerang Pek Yun Hui lagi, Pek Yun Hui segera berkelit, bukan main cepatnya gerakan itu, ternyata ia menggunakan ilmu Ngo Heng Mic Cong Pu (llmu Langkah Ajaib), pada waktu itu, ia masih belum begitu mahir, Namun cukup mengejutkan lawan sehingga tampak tertegun "Hi hi!"
Pek Yun Hui tertawa geli di belakangnya, kemudian mendadak ia menotok punggung piauwsu itu dengan ujung sarung pedangnya.
Piauwsu itu terkejut, tetapi ketika baru mau berkelit, Tay Meh Hiat di pinggangnya telah tertotok, seketika juga piauwsu itu berdiri seperti patung di tempat, bahkan tangannya masih menggenggam goloknya.
Pek Yun Hui segera meloncat mundur beberapa depa.
Begitu melihat keadaan piauwsu itu, tak tertahan Pek Yun Hui langsung tertawa geli lagi.
Terdengar pula suara tawa di pohon, ternyata pemuda yang duduk di dahan pohon juga ikut tertawa.
Begitu mendengar suara tawa pemuda itu, Pek Yun Hui pun tahu dia adalah pemuda periang, dan tanpa sadar kepalanya menoleh ke arah pemuda itu lagi sementara piauwsu yang satu lagi gusar bukan main, ketika melihat temannya dipermainkan pemuda baju hijau itu, maka tanpa mengeluarkan suara sedikit pun ia mendekati Pek Yun Hui yang sedang memandang ke atas.
sedangkan Pek Yun Hui juga merasa heran pada dirinya sendiri, kenapa begitu terkesan baik terhadap pemuda itu.
Kebetulan pemuda itu juga memandangnya, sehingga dua pasang mata beradu dan hati Pek Yun Hui pun semakin tertarik.
Oleh karena itu, ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya dalam bahaya, Piauwsu yang mendekatinya itu berkepandaian lebih tinggi dari piauwsu tadi.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Serrrl! Piauwsu itu mengayunkan goloknya, setelah itu barulah membentak "Lihal go!ok!"
Pek Yun Hui terkejut, tapi masih sempat meloncat ke depan, Piauwsu itu memburunya dengan gerakan Sing Goat Kiau Hui (Bulan Dan Bintang Memancarkan Cahaya), Akan tetapi, Pek Yun Hui pun langsung mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar Tampak badan Pek Yun Hui berkelebat laksana kilat, dan seketika juga sudah menghilang dari hadapan piauw-su itu.
Pada waktu bersamaan, berkelebat pula sosok bayangan lain, ternyata pemuda itu, Tangannya menggenggam sebatang ranting, justru telah menekan golok piauwsu itu.
Wajah piauwsu itu merah padam, lalu mengerahkan tenaganya untuk mengangkat go!oknya, namun tidak berhasil Ketika melihat pemuda itu berkepandaian ting-gi, Pek Yun Hui pun girang bukan main.
"Ekspedisi Thian Liong sudah cukup terkenal, tapi kenapa kalian berdua yang sudah ada umur malah bertempur dengan anak kecil?"
Tanya pemuda itu membentak keras. Begitu mendengar pemuda itu mengatakan Pek Yun Hui adalah anak kecil, seketika juga ia mendengus dan sekaligus berseru.
"Hei! Apakah engkau kakek-kakek?"
Pemuda itu tertawa gelak, kemudian mendadak menggerakkan ranting membentuk sebuah lingkaran Golok piauwsu itu juga ikut bergerak membentuk sebuah lingkaran pu!a.
"Ha ha!"
Pemuda itu tertawa lalu membentak "Lepaskan golokmu!"
Golok itu terlepas dari tangan piauwsu, sehingga piauwsu itu termundur dengan wajah berubah.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Bedebah! Tinggalkan...."
Piauwsu itu ingin mengucap "Tinggalkan namamu", namun sebelum usai mengucapkan itu, ranting di tangan pemuda itu pun sudah bergerak secepat kilat menotok Pit Keng Hial piauw.su itu, dan seketika juga piauwsu itu berdiri mematung di tempat.
"Saudara kecil!H ujar pemuda itu pada Pek Yun Hui sambil tersenyum.
"Sungguh besar nyalimu, berani bertarung dengan orang-orang ekspedisi Thian Liong! Apakah engkau tidak tahu, bahwa kepala piauwsu bendera putih bernama Yap Yong Ceng dengan julukan Cu Bo Sin Tan berada di Sih Tong?"
"Aku memang ingin cari gara-gara, kenapa engkau yang kalut?"
Sahut Pek Yun Hui. Sahutan yang kasar itu tidak membuat pemuda itu gusar, sebaliknya malah tertawa. Pek Yun Hui pula yang jadi gusar, sehingga melototinya.
"Kenapa tertawa?"
Tanyanya ketus.
"Wuah!"
Pemuda itu tertawa lagi.
"Jangan-jangan engkau darah tinggi!"
Mendadak pemuda itu melangkah maju, lalu menggerakkan rantingnya membentuk beberapa buah lingkaran kecil, langsung mengarah muka Pek Yun Hui.
Pek Yun Hui sama sekali tidak menyangka pemuda itu akan menyerangnya, otomatis membuatnya terkejut sekali, dan sudah tiada kesempatan baginya untuk berkelit Di saat muka Pek Yun Hui akan tergores oleh ranting itu, tiba-tiba pemuda tersebut tertawa sambil meloncat mundur Pek Yun Hui tertegun.
Setelah pemuda itu meloncat mundur, barulah ia tahu kalau pemuda itu cuma ingin menakutinya saja, seketika juga darahnya naik, dan secepat kilat menyerang pemuda itu dengan pedangnya.
"Eeceh! Celaka!"
Teriak pemuda itu sambil tertawa.
"Saudara kecil betul-betul sudah marah! Celaka! Celaka...."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Walau sudah berulang kali diserangnya, tapi pemuda itu tetap dapat berkelip lagi pula Pek Yun Hui tidak bermaksud melukainya, maka memperhitungkan setiap serangannya, Akan tetapi, sudah menyerangnya tujuh kali, masih tidak dapat menyentuh ujung baju pemuda itu.
Dapat dibayangkan betapa penasarannya Pek Yun Hui.
"Coba sambut lagi tiga seranganku!"
Bentak Pek Yun Hui.
ia menyerang pemuda itu tiga kali beruntun mengeluarkan jurus-jurus yang dipelajarinya dari Kui Goan Pit Cek, yakni jurus Jit Cut Tong Hong (Matahari Terbit di Timur), Giok Touw Sia Sen (Kelinci Meloncat Miring) dan Kim Ciauw Si Cen (Burung Emas Tenggelam Di Barat).
pemuda itu terus berkelit, akan tetapi jurus ke tiga itu membuatnya tidak dapat berkelit lagi.
sedangkan pedang Pek Yun Hui justru mengarah ke dada pemuda itu.
Pek Yun Hui terkejut bukan main.
ia ingin menghentikan pedangnya, tapi sudah tidak keburu dan yakin dada pemuda itu akan terluka oleh pedangnya.
Disaat yang amat kritis, mendadak pemuda itu menggerakkan rantingnya menyabet pedang Pek Yun Hui.
Plak!
Pek Yun Hui merasa ada tenaga yang amal besar menangkis pedangnya, Walau demikian, baju bagian dada pemuda itu telah terkoyak juga oleh pedang Pek Yun Hui.
Gadis itu segera meloncat mundur, kemudian tanyanya cemas dan penuh perhatian "Bagaimana?
Apakah dadamu terluka7"
"Untung tidak!"
Sahut pemuda itu sambil tertawa.
"Engkau juga sih!"
Pek Yun Hui menyalahkannya.
"Mendesak orang turun tangan."
"Oh?"
Pemuda itu menatapnya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kalau engkau terluka, entah bagaimana baiknya?"
Gumam Pek Yun Hui dan tersentak, kenapa ia begitu menaruh perhatian padanya? Wajah Pek Yun Hui langsung memerah.
"Eh? Saudara kecil!"
Pemuda itu tampak tereengang.
"Kenapa engkau? Kok seperti anak gadis saja?"
"Aku...."
Pek Yun Hui agak tergagap.
"Aku khawatir akan melukaimu, itu kan tidak baik."
"Dadaku hampir tertusuk oleh pedangmu,"
Ujar pemuda itu.
"Saudara kecil, ilmu pedangmu sangat luar biasa, Entah siapa gurumu?"
"Maaf!"
Sahut Pek Yun Hui.
"Guruku melarangku menyebut namanya."
"Kalau begitu sama,"
Ujar pemuda itu sambil menarik nafas.
"Guruku pun melarangku memberitahukan namanya pada siapa pun!"
"Oh!"
Pek Yun Hui gembira.
"Baguslah kalau begitu! Kita pun tidak usah saling bertanya asal-usul."
"Benar."
Pemuda itu mengangguk, lalu maju ke hadapan Pek Yun Hui, dan sekaligus memegang bahunya.
Pek Yun Hui ingin mengelak, tapi mendadak ia ingat akan dirinya yang menyamar sebagai anak lelaki, maka ia membiarkan pemuda itu memegang bahunya.
Akan tetapi, hatinya justru berdebar-debar tidak karuan.
"Saudara kecil!"
Ujar pemuda itu.
"Aku kagum padamu, sebab engkau berani melawan orang-orang ekspedisi Thian Liong itu. Nah, bagaimana kalau kita jadi ieman".""
"Baiklah."
Pek Yun Hui mengangguk.
"Namaku Sie Bun Yun, namamu?"
"Namaku Pek Yun Hui."
"Bagus! Bagus!"
Sie Bun Yun tertawa gembira.
"Nama kita sama-sama ada Yunnya!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Mendengar itu, wajah Pek Yun Hui tampak memerah, itu membuat Sie Bun Yun terheran-heran, tapi kemudian tertawa gelak.
"Saudara kecil! Kenapa engkau begitu pemalu? Aku omong sedikit wajahmu sudah memerah! Dasar...."
"Dasar apa?"
Pek Yun Hui cemberut "Siapa yang seperti mukamu begitu tebal sih?"
"Eh?"
Sie Bun Yun menatapnya sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kok anak lelaki bisa cemberut? Jangan-jangan engkau terlampau dimanjakan!"
"Omong sembarangan!"
"Ohya! Saudara kecil mau ke mana?"
"Entahlah."
Pek Yun Hui menggelengkan kepala.
"Kemana pun boleh."
"Kalau begitu, kebetulan aku akan ke Cui Cuk San Cung (Perkampungan Cui Cuk) di kaki gunung Thian Muk San. Aku ke sana untuk menemui pamanku, dua hari lagi beliau akan merayakan ulang tahunnya ke enam puluh, Bagaimana kalau engkau ikut aku ke sana?"
"ltu.-"
Pek Yun Hui tampak ragu.
"Engkau pasti mau kan?"
Sie Bun Yun tertawa, lalu mendadak menarik Pek Yun Hui menuju ke tempat kudanya ditambah Setelah berada di sisi kuda itu, tiba-tiba Sie Bun Yun merangkul pinggangnya, dan sekaligus mengangkatnya ke punggung kuda.
"Eeeeh?"
Wajah Pek Yun Hui memerah. ia telah duduk di atas punggung kudanya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sambil tersenyum, Sie Bun Yun pun meloncat ke punggung kuda lain, lalu memandang Pek Yun Hui seraya berseru.
"Ayohlah! Mari berangkat kok malah melamun?"
Pek Yun Hui mengangguk Ternyata tadi ia masih memikirkan pemuda itu merangkul pinggangnya, itulah yang membuat jantungnya nyaris copot ""
Bagian ke dua puluh delapan perkampungan Cui Cuk San Cung Dalam perjalanan menuju perkampungan Cui Cuk, tak henti-hentinya Sie Bun Yun menceritakan tentang rimba persilatan Pek Yun Hui mendengarkan dengan penuh perhatian dan semakin tertarik pada Sie Bun Yun.
Sarnbil bereerita, Sie Bun Yun selalu tertawa-tawa dengan wajah berseri Memang tidak salah, pemuda itu memang pe-riang.
Kira-kira dua jam kemudian, mereka sudah tiba di kaki gunung Thian Muk San, dan mulai memasuki Cui Cuk San Cung.
justru sungguh mengherankan karena tempat tersebut ditumbuhi bambu hijau, Tiba-tiba Sie Bun Yun menarik nafas.
"Saudara kecil, sejak kecil aku tidak punya orang tua, paman yang membesarkanku, beliau adalah adik a!marhumah ibuku, Setelah berusia dua belas tahun, aku ikut guru pergi, Enam tahun kemudian yakni hari ini, aku baru kembali di sini, dan tempat ini kelihatan tidak berubah sama sekali."
"ltu tentu."
Pek Yun Hui tersenyum "Dalam enam tahun, bagaimana ada perubahan?"
Sie Bun Yun tertawa misterius, dan Pek Yun Hui menatapnya heran.
"Kenapa engkau tertawa?"
Tanyanya.
"Aku tahu, Cui Cuk San Cung ini memang tidak berubah, namun ada seseorang justru telah berubah."
"Maksudmu?"
Pek Yun Hui merasa bingung.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ketika aku meninggalkan Cui Cuk San Cung ini, adik misan perempuanku baru berusia sebelas tahun, Kini dia sudah berusia tujuh belas tahun, Dalam kurun waktu enam tahun, bukankah dia telah berubah?"
Jawab Sie Bun Yun memberitahukan "Dia pasti sudah besar sekarang."
Begitu mendengar itu, timbullah perasaan aneh dalam hati Pek Yun Hui, lagi pula ketika Sie Bun Yun menyinggung adik misan perempuannya, wajahnya pun tampak berseri-seri.
"Oooh!"
Pek Yun Hui tersenyum hambar "Enam tahun lalu ketika aku mau pergi, dia.,, dia menangis tersedu-sedu,"
Ujar Sie Bun Yun sambil tersenyum "Pada waktu itu, dia cuma merupakan gadis cilik yang masih ingusan, entah bagaimana dia kini?"
Semakin mendengar, hati Pek Yun Hui pun semakin tertusuk, maka ia berpaling ke tempat lain.
"Saudara kecil!"
Sie Bun Yun tersenyum "Engkau pun akan bertemu dengannya."
"Oh?"
Sesungguhnya di saat itu, Pek Yun Hui hampir menangis, tapi ia masih berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir Serrrt!
Serrrrt!
Mendadak di rimba bambu itu muncul dua orang lelaki, mereka menjura sambil berkata.
"Tamu harap memberitahukan nama, agar kami pergi melapor!"
"Ha ha!"
Sie Bun Yun tertawa gelak.
"Ei! Tan I.o Sam. sungguhkah engkau tidak mengenaliku !agi?"
Yang dipanggil Tan Lo Sam itu terkejut lalu menatap Sie Bun Yun dengan penuh perhatian "Hah? A Yun! Engkau sudah pulang! Nona amat rindu padamu! Ayoh, cepat masuki Cepat masuk!"
Serunya girang.
"Di mana piauw moyku (Adik misan perempuan)?"
Tanya Sie Bun Yun sambil tertawa gembira.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Beberapa hari banyak tamu ke mari, maka nona sedang sibuk, A Yun akan tahu setelah masuk ke dalam."
Wajah Sie Bun Yun masih berseri-seri, lalu meloncat turun, dan segera melesat ke dalam sejauh tiga depa, Mendadak ia berhenti sambil membalikkan badannya lalu memandang Pek Yun Hui seraya berkata.
"Saudara kecil, mari ikut aku!"
Pek Yun Hui melihat dia begitu girang ketika mendengar tentang piauw moynya, bahkan nyaris melupakannya pula, Betapa dukanya dalam hati, karena itu sahutnya dingin.
"Engkau masuk duluan, aku akan segera menyusul."
"Saudara kecil! Di Cui Cuk San Cung kita tidak begitu gampang masuk,"
Ujar Sie Bun Yun sambil tersenyum.
"Cepatlah ikut aku ke dalam!"
Hati Pek Yun Hui sedang kesal, maka ketika mendengar itu ia pun amat penasaran, dan ujarnya kelus.
"Aku justru ingin masuk seorang diri. Engkau tidak usah perduli."
"Wuah!"
Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau mulai naik darah lagi! Baiklah, aku masuk du!uan."
Sie Bun Yun melesat ke dalam, tak lama ia sudah tidak kelihatan lagi, Begitu melihat dia sungguh tidak memperdulikannya, hati Pek Yun Hui semakin berduka, lalu masuk ke dalam dengan menunggang kudanya, Akan tetapi, mendadak muncul beberapa orang menghadang-nya.
"Harap siauhiap turun dari kuda!"
Ujar salah seorang. Pek Yun Hui yang sedang mendongkol itu, justru tiada tempat untuk melampiaskannya, kebetulan muncul beberapa orang itu menghadang, maka seketika juga ia melampiaskannya.
"Aku senang menunggu kuda ke dalam, kalian mau apa?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Beberapa orang itu saling memandang, Mereka ter-heranheran kenapa pemuda berbaju hijau itu tak tahu aturan sama sekali?
Namun mereka tahu bahwa pemuda tersebut teman Sie Bun Yun, maka mereka tidak berani berlalu kurang ajar terhadapnya, Kemudian salah seorang segera menjura sambil berkata ramah.
"Kalau siauhiap terus ke dalam, di situ cuma ada jalan setapak yang tak dapat dilalui kuda, Karena itu, lebih baik kuda siauhiap diserahkan pada kami saja."
Karena orang itu berlaku sopan dan ramah, maka Pek Yun Hui pun merasa tidak enak kalau berkeras kepala.
ia tersenyum dingin sambil meloncat turun, kemudian melesat ke dalam, Semakin ke dalam semakin sempit pula jalan yang dilaluinya.
Berselang beberapa saat kemudian, ia berhenti sambil mengerutkan kening, Ternyata di hadapan terbentang sebidang tanah kosong, dan terdapat empat buah jalan.
Pek Yun Hui mendongakkan kepala memandang ke depan.
Di sana hanya tampak ada pohon bambu yang linggitinggi, tidak tampak rumah sama sekali, Gadis itu tampak kebingungan, karena tidak tahu harus mengambil jalan yang mana, Akhirnya ia sembarangan memilih sebuah jalan, Setelah melangkah kurang lebih sepuluh depa, ia pun merasakan adanya gelagat tidak beres.
pohon bambu semakin jarang, tapi jalanan yang dilaluinya juga semakin berliku-liku dan banyak tikungan-nya.
Tak seberapa lama kemudian, Pek Yun Hui mengira dirinya sudah keluar dari jalanan itu.
Akan tetapi, setelah diperhatikannya, ternyata ia masih tetap berada di tempat semula.
Pek Yun Hui tahu, kini dirinya berada di dalam semacam formasi, Pantas tadi Sie Bun Yun mengatakan tidak gampang
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
memasuki Cui Cuk San Cung ini, tidak tahunya ada semacam formasi di tempat ini.
Dia tinggal pergi menemui piauw moynya, dan dibiarkan dirinya tersesat di tempat ini.
Gadis itu berduka sekali, bahkan juga tampak kesal ia mulai melangkah lagi, tapi tetap tidak bisa keluar dari tempat itu.
Akhirnya ia mencabut pedangnya, kemudian mendadak membabat sebatang bambu yang berukuran besar.
Braak!
Pohon bambu itu langsung tumbang.
Ketika ia baru mau membabat pohon bambu lain, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring.
"Bocah liar dari mana, berani mengacau di Cui Cuk San Cung? Engkau harus diberi sedikit pelajaran!"
Tampak berkelebat sosok bayangan laksana kilat.
Pek Yun Hui mendengus dingin sambil mundur selangkah Di hadapannya telah berdiri seseorang, ternyata seorang gadis.
Usia gadis itu sebaya dengan Pek Yun Hui, amat cantik tapi wajahnya tampak gusar sekali.
ia terus melototi Pek Yun Hui, lama sekali barulah berianya.
"Siapakah kau?"
"Kenapa engkau harus tahu siapa aku?"
Sahut Pek Yun Hui dingin.
"Engkau lelah menumbangkan sebatang pohon bambu, kok masih berani bersikap begitu kasar?"
Gadis itu melotot lagi.
"Aku senang menumbangkan semua pohon bambu yang ada di sini, engkau mau apa?"
Pek Yun Hui mengayunkan pedangnya. Braaak! Tampak sebatang pohon bambu tumbang lagi.
"Bagus!"
Gadis itu gusar sekali.
"Dasar bocah liar! Engkau dideking oleh siapa sehingga berani mengacau di sini? Apakah Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Ceng?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui tahu nama tersebut dari Sie Bun Yun, karena masih dalam keadaan kesal, maka ia pun sengaja menjawab demikian.
"Tidak salah! Aku adalah paman gurunya!"
"Hah?"
Gadis itu tertegun.
"Engkau punya hubungan apa dengan orang itu?"
"Aku adalah paman gurunya! Engkau tidak dengar ya?"
Sahut Pek Yun Hui.
Mendadak gadis itu tertawa cekikikan sambil memegang perut, sebaliknya Pek Yun Hui malah melototinya.
Perlu diketahui, Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Ceng berkedudukan tinggi di rimba persilatan, bagaimana mungkin punya paman guru yang masih begitu muda?
"Phui!
jangan omong besar!"
Bentak gadis itu.
"Kalau engkau adalah orang ekspedisi Thian Liong, maka kesalahanmu pun bertambah! Tapi mengingat usiamu masih muda, aku akan bermohon pada ayahku agar meringankan hukumanmu! Ayoh, mari ikut aku!"
"Berdasarkan apa aku harus mengikutimu?"
Sahut Pek Yun Hui dingin.
"Untung aku yang menemukanmu, kalau ditemukan orang lain, mungkin engkau sudah ditangkap! Ei! Kok tidak mau dengar perkataan ku ?"
"Ha ha!"
Pek Yun Hui tertawa.
"Aku justru tidak pereaya, ada kelihayan apa di Cui Cuk San Cung ini!"
"Hei, bocah liar!"
Air muka gadis itu berubah.
"Eng-kau sungguh bermulut besar! Aku beritahukan, ayahku tidak akan bergabung dengan partai Thian Liong! Kalian jangan bermimpi, mau ikut aku tidak?"
Setelah itu, gadis tersebut pun mengeluarkan senjatanya yang berupa tongkat trisuIa.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Bagus!"
Seru Pek Yun Hui.
"Mau berkelahi ya? Aku lihat engkau masih berbau pupur, maka aku akan mengalah tiga jurus padamu!"
Wajah gadis itu langsung memerah, lalu maju sambil menyerang Pek Yun Hui dengan jurus Tok Coh Yu Hong (Duduk Tenang Seorang Diri), ujung tongkat trisu!a itu mengarah dada Pek Yun Hui.
Pek Yun Hui segera melintangkan pedangnya, kemudian mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu (litnu Langkah Ajaib) menghindari serangan itu, Setelah itu, mendadak ia menggerakkan pedangnya menyerang gadis itu, Yang dikeluarkannya adalah jurus Ombak Laut Men-deru Balik.
Betapa terkejutnya gadis itu, sebab mendadak pemuda berbaju hijau itu menghilang dari hadapannya, Lebih terkejut lagi pedang pemuda berbaju hijau itu telah mengarah lengan kirinya.
Secepat kilat gadis itu mengayunkan tongkat trisu!a~ nya.
ia mengeluarkan jurus Cui Cuk Yauw Ih (Bambu Hijau BergoyangCepat), pedang Pek Yun Hui tertangkis.
"Bagus!"
Seru Pek Yun Hui memujinya.
Setelah pedangnya tertangkis, Pek Yun Hui pun langsung menggerakkan pedangnya menyabet pinggang gadis itu dengan jurus Yang Hui Touw Coan (Matahari Berputar).
Gadis itu berkelit, tapi Pek Yun Hui merubah jurus itu dengan jurus Seng Cah Put Cih (Berhambur Tak Teratur), Tampak berkelebatan sinar pedang mengitari badan gadis itu.
Terkejutlah gadis tersebut, lalu secepat kilat meloncat mundur Akan tetapi, tangan kiri Pek Yun Hui justru ikut menyerang laksana kilat, ia menggunakan jurus Fan Yun Fan Ih (Awan Dan Hujan Berbalik), yaitu salah satu jurus dari Kui Goan Pit Cek, tergolong ilmu mencengkeram.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Gadis itu sama sekali tidak menduga akan serangan tersebut, lagi pula jurus itu sangat aneh, sehingga gadis tersebut tidak dapat berkelit.
"Ha ha!"
Pek Yun Hui tertawa sambil memperlihatkan sekuntum bunga yang di tangannya, Ternyata bunga itu tadi menghias di rambut gadis tersebut, tapi kini telah berpindah ke tangan Pek Yun Hui.
"Kepandaianmu sungguh hebat!"
Disindir demikian, wajah gadis itu langsung memerah ia membentak keras sambil mengerahkan ilmu an-dalannya, Tampak tongkat trisulanya berkelebatan menyerang ke arah Pek Yun Hui.
Pek Yun Hui juga segera mengerahkan ilmu pedang andalannya, maka terjadilah pertarungan yang amat seru dan dahsyat Gadis itu mati-matian menyerang Pek Yun Hui, lantaran ingin menebus kekalahannya tadi, sedangkan Pek Yun Hui juga ingin menundukkan gadis itu, sehingga ia pun balas menyerang dengan hebat.
Ketika mereka bertarung dengan seru dan sengit, mendadak muncul seorang tua dan seorang pemuda sambil membentak "Berhenti, anak Hung!"
"Adik Hung, cepat berhenti!"
Pek Yun Hui tahu, bahwa pemuda itu adalah Sie Bun Yun, dan seketika ia tersentak sadar, gadis yang sedang bertarung dengan dirinya tidak lain adalah adik misan perempuan Sie Bun Yun itu.
Setelah mendengar suara bentakan itu, Pek Yun Hui pun segera mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu, tahu-tahu ia sudah berdiri beberapa depa dari gadis tersebut "Gerakan yang sungguh indah dan hebat!"
Orang tua itu mengeluarkan suara pujian Pek Yun Hui segera mengarah pada orang tua itu, berbadan tinggi besar dan sepasang matanya menyorot tajam.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
sedangkan Sie Bun Yun langsung mendekati gadis itu dengan wajah berseri "Adik Hung, engkau masih ingat padaku?"
Tanyanya.
"Engkau...."
Gadis itu menatap Sie Bun Yun dengan penuh perhatian, lalu berseru girang.
"Aku ingat! Engkau adalah kakak A Yun!"
Gadis itu memang berseru girang, tapi sama sekali tidak mengandung cinta kasih, itu membuat Pek Yun Hui membatin "Sie Bun Yun, mungkin engkau akan kecewa, karena adik misan perempuan itu telah melupakan masa kecilnya denganmu."
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun tertawa gembira.
"Syu-kurlah engkau masih ingat, sudah enam tahun, aku pasti sudah banyak berubah kan?"
"Tidak,"
Sahut gadis itu sambil tersenyum.
"Engkau tetap begitu."
Sie Bun Yun menjulurkan tangannya menggenggam tangan gadis itu, namun gadis tersebut justru mengelak Sie Bun Yun tertegun Kemudian ia baru sadar bahwa adik misan perempuannya itu telah besar, bagaimana mungkin sembarangan menggenggam tangannya seperti ketika masih kecil?
"Ayah!"
Gadis itu mendekati orang tua itu.
"Orang itu... menghinaku."
Orang tua itu membelai-belai rambut gadis tersebut dengan penuh kasih sayang seraya berkata.
"Saudara kecil itu adalah teman A Yun, bagaimana mungkin dia akan menghinamu?"
"TapL.,"
Gadis itu membanting-banting kaki.
"Dia jahat sekali!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Oh?"
Orang tua itu tertawa gelak.
"Bagaimana jahatnya dan bagaimana dia menghinamu? Beritahukanlah!"
Gadis itu menoleh memandang Pek Yun Hui, tetapi kegusaran Pek Yun Hui telah reda, maka ia menatap gadis itu sambil tersenyum-senyum.
Tertegunlah gadis itu, bahkan hatinya pun berdebar-debar tidak karuan ditatap dengan cara begitu.
"Dia... dia... dia...."
Gadis itu tergagap dengan wajah memerah. Menyaksikan putrinya tergagap-gagap, orang tua itupun melongo, lalu berkata dengan suara rendah.
"Anak Hung! Beritahukanlah! Kenapa dia?"
"Dia... dia begitu turun tangan, langsung... langsung merebut bunga yang menghiasi di rambutku,"
Jawab gadis itu setengah berbisik dengan wajah tampak kemerah-merahan.
"Eh?"
Orang tua itu memandang rambut putrinya.
"Jangan omong sembarangan, bukankah bunga itu masih menghias di rambutmu?"
Gadis itu tertegun, lalu cepat-cepat meraba ram-butnya.
Ternyata bunga itu memang menancap di rambutnya, Heranlah gadis itu, kemudian memandang Pek Yun Hui.
justru Pek Yun Hui memperlihatkan wajah setan untuk menggodanya.
Gadis itu tak tertahan dan langsung tertawa geli.
"Ayah!"
Ujar gadis itu manja.
"Aku salah ingat!"
"Kalau begitu...."
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak "Harus dipukuI."
Kenapa bunga itu bisa menancap lagi di rambut gadis tersebut? Ternyata ketika melewati sisi gadis itu, dengan gerakan kilat Pek Yun Hui menancapkan bunga itu ke rambut nya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Saudara Bun Yun, mereka berdua adalah..."
Tanya Pek Yun Hui.
"Saudara kecil! ini adalah adik misan perempuan-ku.,.,"
Sebelum Sie Bun Yun usai memperkenalkan gadis itu segera menyambung.
"Namaku Ling Hung, Bocah liar, bolehkah aku tahu namamu?"
"Eh? Anak Hung, jangan kurang ajar!"
Tegur orang tua ilu.
"Bocah liar bernama Pek Yun Hui,"
Sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum.
"Ha ha!"
Orang tua itu tertawa gelak "Engkau masih muda, namun sudah berkepandaian tinggi, Aku kagum sekali Sudah lama aku mengundurkan diri dari rimba persilatan, tak disangka dalam Bu Lim telah muncul pendekar muda, Bagaimana kalau ikut aku ke dalam Cui Cuk San Cung untuk bereakap-cakap?"
Tapi...."
Wajah Pek Yun Hui agak kemerah-me-rahan.
"... aku ke mari tidak membawa kado, sebaliknya malah telah menumbangkan dua batang pohon bambu."
Siapa orang tua itu?
Tidak lain adalah majikan Cui Cuk San Cung Ling Kie Ngiap, julukannya adalah Cui Cuk Cin Ong (Orang Tua Sakti Bambu Hijau).
Ketika mendengar Pek Yun Hui berkata begitu, ia pun tertawa terbahak-bahak "ltu tidak apa-apa,"
Ujarnya.
"Saudara kecil tidak usah berlaku sungkan-sungkan, itu akan membuat pamanku jadi tidak enak,"
Sela Sie Bun Yun.
"Baiklah."
Pek Yun Hui mengangguk "Aku memang sangat kagum akan Cui Cuk San Cung ini."
Ling Kie Ngiap tersenyum, lalu mengayunkan kaki-nya.
sedangkan yang lain segera mengikutinya dari be-lakang.
Keluar dari rimba bambu dan berbelok lagi beberapa kali, tampaklah puluhan rumah di sana, Namun sungguh
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
mengherankan, semua rumah itu dibikin dari bambu.
Ling Kie Ngiap mengajak Pek Yun Hui menuju rumah bambu yang paling besar, yaitu tempat tinggal orang tua tersebut Setelah berada di ruang depan, Pek Yun Hui melihat semua kursi meja juga dibikin dari bambu, dan tampak belasan orang duduk di situ.
Ling Kie Ngiap lalu memperkenalkan mereka pada Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui, Para tamu itu merupakan pesilat yang terkenal di rimba persilatan.
Nama Pek Yun Hui masih begitu asing bagi para tamu, maka mereka pun tidak begitu memperdulikannya, sebaliknya malah terus mengobrol dengan Sie Bun Yun.
Pek Yun Hui berdiri salah tingkah di situ.
Tiba-tiba ia mendengar suara yang amat merdu.
"Bocah liar! Kenapa engkau tidak menghiraukan aku? Masih marah padaku ya?"
Pek Yun Hui menoleh, tampak Ling Hung berdiri di belakangnya, sepasang matanya penuh mengandung cinta kasih menatap Pek Yun Hui.
Hati Pek Yun Hui tersentak, karena ia tadi melihat Ling Hung bersikap acuh tak acuh terhadap Sie Bun Yung, namun terhadap dirinya justru begitu.
Di saat itu, tiada kesempatan bagi Pek Yun Hui untuk menjelaskan maka terpaksalah ia tersenyum.
"Bagaimana mungkin aku marah?"
Sahut Pek Yun Hui.
"Apakah engkau tidak merasa kesal kupanggil anak liar?"
Tanya Ling Hung sambil tersenyum "Tentu tidak."
Pek Yun Hui tersenyum lagi "Aku sebal berdiri di sinl.,."
Tiba-tiba wajah Ling Hung kemerah-merahan.
"Bagaimana kalau kita duduk di tempat lain?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui merasa tidak enak menolak, maka mereka lalu duduk di sudut kiri ruangan itu, Celaka!
Seru Pek Yun Hui dalam hati.
Kalau ini terus berlanjut, pasti akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan, maka lebih baik malam ini kabur saja!
Setelah berpikir begitu, Pek Yun Hui jadi tenang, Akan tetapi kalau ia pergi malam ini, otomatis akan berpisah dengan Sie Bun Yun, itu juga membuatnya jadi ragu lagi.
Sie Bun Yun merupakan pemuda tampan, periang dan memiliki kepandaian tinggi Begitu melihatnya, Pek Yun Hui sudah terkesan baik padanya, bahkan amat tertarik pu!a.
Ketika teringat pada Sie Bun Yun, Pek Yun Hui pun diam dengan kening berkerul-kerut.
sedangkan Ling Hung yang duduk di hadapannya terus memandangnya seperti kehilangan sukma.
"Nona Ling, aku sedang memikirkan kakak misan-mu,"
Ujar Pek Yun Hui memberitahukan "Kenapa memikirkannya?"
Tanya Ling Hung heran "Dia bilang padaku, enam tahun yang lalu ketika dia mau meninggalkan perkampungan ini, engkau menangis tersedusedu merasa berat berpisah dengannya, Ya, kan?"
Sahut Pek Yun Hui.
"ltu urusan anak kecil"
Wajah Ling Hung memerah.
"Kenapa diungkit kembali?"
"Nona Ling...."
Diam-diam Pek Yun Hui menarik nafas panjang.
"Kakak misanmu sudah pulang sekarang, engkau tidak merasa gembira?"
Ling Hung menundukkan kepala, namun kemudian mendongak seraya berkata.
"Aku gembira."
Legalah hati Pek Yun Hui, tapi Ling Hung segera melanjutkan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Aku gembira karena dia datang bersamamu."
Ling Hung adalah anak gadis, dia mengucapkan begitu tentunya secara tidak langsung mencurahkan pe-rasaannya. Tersentaklah Pek Yun Hui, dan segeralah ia menggenggam"
Tangan gadis itu.
Wajah Ling Hung memerah dan tampak tersipu, dan sepasang matanya yang bening terus menatap Pek Yun Hui.
Kenapa Pek Yun Hui menggenggam tangannya?
Ternyata ia ingin menjelaskan tentang dirinya, Namun pada waktu bersamaan teringat pula akan pesan gurunya, jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa dirinya seorang wanita.
Kini ia masih belum tahu siapa majikan Cui Cuk San Cung itu, bagaimana mungkin boleh sembarangan membocorkan tentang dirinya?
Oleh karena iiu, ia cuma menggenggam tangan Ling Hung tanpa memberitahukan apa pun.
Disaat itulah terdengar suara seruan "Adik Hung, di mana kau?"
Ternyata suara Sie Bun Yun.
"Saudara Bun Yun, Nona Ling berada di sini!"
Sahut Pek Yun Hui. Sie Bun Yun menghampiri mereka sambil tersenyum, tetapi ketika melihat mereka berduaan, ia pun tertawa sambil berkata.
"Wuah! Tempat ini memang sepi! Adik Hung, dalam enam tahun ini, bagaimana ilmu silatmu?"
"Biasa saja,"
Jawab Ling Hung dengan wajah agak memerah dan bertanya.
"Kak A Yun, bagaimana cara engkau berkenalan dengan Saudara Yun Hui?"
"Aku mengenal saudara kecil ketika saudara kecil ini bertempur dengan dua orang piauwsu ekspedisi Thian Liong,"
Jawab Sie Bun Yun memberitahukan sambil tertawa.
"Kedua piauwsu itu masih berdiri mematung di tempat itu."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Bagus! Bagus!"
Ling Hung bertepuk tangan.
"Me-reka memang harus dipukul."
"Nona Ling!"
Pek Yun Hui tersenyum.
"Kenapa engkau begitu membenci orang-orang ekspedisi Thian Liong?"
"Orang-orang ekspedisi Thian Liong, tiada satu pun yang baik,"
Sahut Ling Hung.
"Sudah lama ayahku hidup menyendiri di sini, tapi Yap Yong Ceng mengutus orangnya ke mari beberapa kali mengajak ayahku bergabung dengan ekspedisi tersebut, namun ayahku menolak langsung."
"Kalau begilu...."
Kening Sie Bun Yun berkerut "Dia pasti tidak akan menyudahi begitu saja."
"Benar."
Ling Hung mengangguk "Kemarin dia masih mengutus orangnya mengantar kado ke mari.
orangnya juga bilang dia akan ke mari menghadiri pesta ulang tahun ayahku, Siapa suka dia ke mari, dengar namanya saja aku sudah merasa sebal."
"Kalau begitu celaka!"
Ujar Sie Bun Yun sambil mengernyitkan kening.
"Kenapa celaka?"
Tanya Ling Hung dan Pek Yun Hui serentak.
"Aku sama sekali tidak tahu tentang ini, tadi aku menotok jalan darah piauwsu itu, bahkan juga memberitahukan ke mana tujuanku, Kalau Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Ceng tahu, bagaimana mungkin dia akan menyudahi urusan itu?"
"Saudara Bun Yun boleh berlega hati,"
Ujar Pek Yun Hui.
"Aku yang menimbulkan urusan itu, biar aku yang bertanggung jawab."
"Saudara Yun Hui!"
Sela Ling Hung.
"Aku pasti membantumu."
"Ha ha!"
Sie Bun Yun tertawa.
"Saudara kecil adik Hung! Kalian kira aku takut urusan?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ling Hung melotot, namun ketika ia baru mau membuka mulut, tiba-tiba mengalun suara orang berseru.
"Kepala piauwsu bendera putih ekspedisi Thian Liong, Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Ceng datang!"
Suara seruan itu membuat hening suasana dalam ruangan tersebut, Pek Yun Hui bertiga segera melangkah ke pintu, Tampak seorang lelaki berusia empat puluhan berjalan ke dalam, Wajah orang itu agak kepucat-pucatan dan badannya tinggi kurus.
Dua orang lelaki mengikutinya dari belakang, Wajah mereka kelihatan penuh diliputi kegusaran Pek Yun Hui tertegun melihat dua orang itu, sedangkan Sie Bun Yun segera berbisik.
"Saudara kecil, ke dua orang itu ikut dalang juga."
Ternyata ke dua .
orang itu adalah piauwsu yang dipecundang mereka.
Ketika berbisik, Sie Bun Yun pun mendekati Pek Yun Hui, itu membuat gadis tersebut merasa nyaman, namun juga timbul suatu perasaan aneh dalam hatinya, Apa yang akan terjadi di situ, ia sama sekali tidak memperhatikannya.
Siapa lelaki tinggi kurus dan berwajah kepucat-pucatan itu, ternyata Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Ceng, Kedudukannya di rimba persilatan cukup tinggi, maka ketika ia melangkah ke dalam, para tamu yang ada di ruangan itu pun segera bangkit berdiri menyambut ke-datangannya, Begitu pula Cui Cuk Sin Ong Ling Kie Ngiap, ia langsung menghampirinya sambil menjura.
"Selamat datang!"
Ucapnya.
"Kenapa harus merepotkan Tuan untuk hadir?"
"Hm!"
Dengus Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Cengdingin.
"Kalian semua duduklah! Saudara Ling, aku punya sedikit urusan ingin mohon petunjuk!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Di antara para tamu, terdapat juga orang yang terkenal terutama dua orang dari partai Hwa San.
Mereka berdua adalah adik seperguruan Pat Pie Sin Ong, yakni To Pie Kim Kong-Thu It Kang dan Sam Ciu Ju Lay Cing Men, bahkan tampak pula murid dari partai Swat San dan partai Tiam Cong.
Oleh karena itu, sikap Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Ceng yang jumawa itu, membuat mereka merasa tidak senang, Namun mereka terpaksa diam, karena mereka merupakan tamu di Cui Cuk San Cung ini.
LagipuIa mereka pun mendengar bahwa Kim Coa Suseng-Wang Han Siang yang sangat kesohor itu pun telah bergabung dengan Partai Thian Liong.
Kedudukannya adalah kepala piauwsu bendera kuning di Ekspedisi Thian Liong, sedangkan pemimpin ekspedisi Thian Liong adalah Souw Peng Hai, setelah berhasil menundukkan Cuang Tong Si Chouw (Empat Manusia Buruk Cuang Tong), maka nama Souw Peng Hai semakin terkenal, sehingga para pesilat lain pun tidak berani cari gara-gara dengan ekspedisi Thian Liong.
"Saudara Yap punya urusan apa?"
Tanya Ling Kie Ngiap dan tetap berlaku sopan walau hatinya sudah mendongkol akan sikap Yap Yong Ceng.
"He he!"
Yap Yong Ceng tertawa terkekeh.
"Tentu punya urusan penting!"
Sementara Ling Hung menyaksikan gerak-gerik Yap Yong Ceng, sudah tidak sabaran, namun ketika ia baru mau meloncat ke hadapan orang itu, Pek Yun Hui telah menangkap tangannya dan berbisik "Nona Ling Hung, jangan menimbulkan urusan!"
Padahal wajah Ling Hung penuh diliputi kegusaran, tapi begitu mendengar suara Pek Yun Hui, seketika juga wajahnya berubah berseri.
"Apa yang engkau katakan memang benar,"
Sahutnya lembut.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui menarik nafas dalam hati, Kelihatannya gadis ini telah jatuh cinta padaku, Biar bagaimana pun malam ini aku harus kabur dari sini, Kalau tidak, pasti celakai Ujar Pek Yun Hui dalam hati.
ia sama sekali tidak berani memandang Sie Bun Yun, sebab ia tahu, kalau ia memandangnya pasti tidak jadi meninggalkan Cui Cuk San Cung ini.
Padahal Pek Yun Hui kenal Sie Bun Yun dan Ling Hung baru satu hari, namun dalam sehari ini, hubungan mereka justru kacau begini.
"Ha ha!"
Ling Kie Ngiap tertawa.
"Apakah karena aku tidak mau bergabung dengan Partai Thian Liong, maka Saudara Yap ingin cari urusan di sini?"
"He he!"
Yap Yong Ceng tertawa aneh.
"Banyak pesilat tinggi di dalam partai Thian Liong, Saudara Ling tidak mau bergabung juga tidak apa-apa!"
"Kalau begitu, kenapa Saudara Yap masih ke mari?"
Tanya Ling Kie Ngiap sambil mengerutkan kening.
"Hm! Hm!"
Dengus Yap Yong Ceng berulang kali.
"Ekspedisi Thian Liong dengan Cui Cuk San Cung selama ini tiada pertikaian Kenapa engkau mengutus orang merobohkan ke dua orangku?"
Setelah mendengar apa yang dikatakan Yap Yong Ceng, tertegunlah Cui Cuk Sin Ong-Ling Kie Ngiap.
"Kenapa engkau mengatakan begitu?"
Tanyanya heran Yap Yong Ceng tertawa dingin, kemudian menoleh ke belakang seraya bertanya pada ke dua orang itu.
"Apakah mereka yang merobohkan kalian itu berada di sini?"
Sebelum ke dua piauwsu itu menyahut, Pek Yun Hui sudah memunculkan diri, lalu berkata lantang.
"Aku berada di sini!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Dia!"
Kedua piauwsu itu segera menunjuknya.
"Me-mang dia!"
"Saudara Yun Hui!"
Seru Ling Hung cemas.
"Yap Yong Ceng itu sangat lihay, engkau jangan bertempur dengannya!"
Setelah berseru, Ling Hung pun berlari ke sisi Pek Yun Hui. seketika juga Ling Kie Ngiap mengerutkan kening dan membentak "Anak Hung jangan banyak mu!ut!"
Ling Hung langsung diam, namun masih melirik ke arah Pek Yun Hui.
Setelah itu barulah menundukkan kepala.
***** Bab ke 29 -Banjir Darah di Cut Cuk San Cung KemuncuIan Pek Yun Hui justru membuat Ling Kie Ngiap terheran-heran, Maka ia menatapnya seraya bertanya.
"Yun Hui! Ada kaitan apa dengan dirimu?"
"Aku menunggang kuda seorang diri, mereka berdua menantang aku bertarung, Kepandaian mereka masih rendah maka roboh di tanganku! Mau bilang apa itu?"
Jawab Pek Yun Hui.
Ketika melihat kemunculan Pek Yun Hui yang ber-karisma, itu membuat Yap Yong Ceng tertegun Akan telapi, ketika mengingat ke dua anak buahnya dipecun-dang orang, seketika juga ia membentak "Sungguh besar omonganmu!
Beranikah engkau menyambut sepuluh jurus seranganku di tempat ini?"
"Kenapa tidak?"
Pek Yun Hui menatapnya dingin.
"Jadi engkau mau bertarung dengan aku?"
Ling Kie Ngiap tahu akan kelihayah Yap Yong Ceng, maka orang tua itu khawatir Pek Yun Hui akan celaka di tangannya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Engkaujangan ceroboh!"
Kemudian Ling Kie Ngiap memandang Yap Yong Ceng.
"Saudara Yap, kenapa harus bertarung dengan kaum muda?"
"Ha ha!"
Yap Yong Ceng lertawa.
"Cui Cuk Sin Ong, apakah engkau ingin mengalihkan urusan itu pada dirimu?"
Sesungguhnya Ling Kie Ngiap sudah lama mengundurkan diri dari rimba persilatan, tentunya juga merasa enggan bertarung dengan siapa pun.
Akan tetapi, kalau ia tidak turun tangan, bagaimana mungkin Pek Yun Hui mampu menghadapi Yap Yong Ceng?
Mendadak ia mendengar suara tawa yang amat nyaring.
"Ha ha ha!"
Ternyata Pek Yun Hui yang tertawa.
"Paman Ling, ini adalah urusanku, tak mungkin ditim-pakan pada diri Paman!"
"BetuI! Harus berani menghadapi Yap Yong Ceng,"
Seru beberapa tamu yang tidak senang pada orang tersebut Begitu mendengar seruan itu, semangat Pek Yun Hui pun bertambah, dan seketika juga menghimpun Lwee-kangnya.
"Yap Yong Ceng, lihat serangan!"
Bentak Pek Yun Hui dan langsung menyerang tiga jurus beruntun.
Ketiga jurus itu adalah Hui Liong Sam Sek (Tiga jurus Naga Sakti), yang dipelajarinya dari Kui Goan Pit Cek.
Sungguh dahsyat dan aneh ke tiga jurus tersebut, mengarah pada jalan darah penting di tubuh Yap Yong Ceng.
Yap Yong Ceng terkejut ketika melihat serangan-serangan, Pek Yun Hui.
ia sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apa itu.
Karena tidak dapat memecahkan jurus-jurus tersebut, maka ia terpaksa mundur selangkah, lalu balas menyerang dengan jurus Tok Mien Hong Lan (Mendorong Dengan Angin Puyuh).
Jurus ini penuh mengandung Lweekang, Maksudnya ingin membuat Pek Yun Hui terpental sementara para tamu sudah
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
bangkit berdiri, dan dengan mata tak berkedip mereka menyaksikan pertarungan itu.
Akan tetapi, badan Pek Yun Hui bergerak menggunakan Ngo Heng Mie Cong Pu.
Sebetum angin pukulan menyentuhnya, ia telah lenyap dan tahu-tahu sudah berdiri di belakang Yap Yong Ceng.
pukulan Yap Yong Ceng menghantam tempat ko-song, dan menghancurkan beberapa kursi bambu di ruangan itu.
Ketika ia baru mau membalikkan badannya, pada waktu bersamaan, dua pukulan Pek Yun Hui sudah mendarat di punggungnya.
Pada waktu itu, Lweekang Pek Yun Hui masih belum begitu tinggi, maka pukulannya tidak merenggut nyawa Yap Yong Ceng, hanya membuatnya berkunang-kunang dan sempoyongan Yap Yong Ceng bertarung dengan kaum muda, sebetulnya telah mencemarkan kedudukannya, namun kini malah punggungnya harus menerima pukulan itu pula, Dapat dibayangkan, betapa malunya di saat itu.
Trang!
Yap Yong Ceng mencabut goloknya, kemudian tertawa aneh sambil menyerang Pek Yun Hui.
Pek Yun Hui sudah tidak sempat mencabut pedangnya, tapi ia masih sempat mendengar suara bentakan Tampak empat orang melesat ke arah Yap Yong Ceng, bahkan tampak pula sebuah cambuk menangkis go!oknya.
Yap Yong Ceng terpaksa menarik goloknya dan memandang, ternyata orang yang menggunakan cambuk menangkis goloknya itu seorang berpakaian pelajar berusia empat puluhan Dia adalah Phang Niap Kia dari Partai Tiam Cong, Satu lagi adalah Liauw Cin dan To Pie Kim Kong-Thu It Kang serta adik seperguruan Sam Ciu Ju Lay-Cing Men.
Begitu melihat empat orang berkapandaian tinggi itu mengurungnya, Yap Yong Ceng tertawa gelak seraya berkata.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kalau Partai Tiam Cong dan partai Hwa San ingin cari urusan dengan ekspedisi Thian Liong, aku dan semua saudara-saudaraku di ekspedisi Thian Liong pasti menunggu kalian di Cing Pak! Kenapa kalian mau turut campur di sini?"
"Phui!"
Liauw Cin meludah.
"Yap Yong Ceng, engkau tergolong orang yang berkedudukan tinggi di rimba persilatan Tadi engkau menantang sepuluh jurus, tapi tidak sampai empat jurus, malah sudah terkena pukulan lawan Kenapa tidak mau mengaku kalah?"
"Omong kosong!"
Bentak Yap Yong Ceng sambil tertawa.
"Sebelum ada yang mati, bagaimana mungkin tahu siapa yang kalah dan yang menang?"
"Dasar tak tahu malu!"
Sela Ling Hung mendadak ia amat girang karena Pek Yun Hui dapat memukul punggung Yap Yong Ceng.
"Sudah kalah masih omong besar!"
Tiba-tiba Yap Yong Ceng memekik keras, lalu langsung mengayunkan goloknya dengan gerakan Yah Hwee Sauh Thian (Api Berkobar Membakar Langit) menyerang ke empat lawannya, serangan yang mendadak itu membuat ke empat orang lawannya terpaksa meloncat mundur.
Setelah ke empat orang itu mundur, sekonyong-konyong Yap Yong Ceng menyerang Pek Yun Hui dengan jurus Tok Tang Kan Kun (Menggetarkan Jagat).
Pek Yun Hui segera mencabut pedangnya, Karena golok Yap Yong Ceng sudah mendekat, maka gadis itu terpaksa mengeluarkan jurus SiauwCih Thian Lam (Ter-tawa Menunjuk Thian Lam) untuk menangkis serangan itu.
Trang!
Terdengar benturan keras.
Pek Yun Hui merasa tangannya ngilu, dan seketika juga pedangnya ter!cpas.
ia memang bukan lawan Yap Yong Ceng, maka setelah pedang itu terlepas dari tangan-nya, pasti dirinya dalam bahaya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Benar!
Sebab Yap Yong Ceng masih menyerangnya dengan golok, pada waktu bersamaan, terdengarlah suara tawa yang amat nyaring, tampak sosok bayangan berkelebat laksana kilat, kemudian berdiri di tengah-tengah Yap Yong Ceng dan Pek Yun Hui.
Ketika menyaksikan sosok bayangan tersebut, Yap Yong Ceng tertegun, karena orang itu dapat menerobos serangan goloknya.
"Saudara kecil! Biar aku yang menghadapinya!"
Ujar orang itu yang ternyata Sie Bun Yun.
Yap Yong Ceng mengernyitkan kening, karena sosok bayangan itu ternyata seorang pemuda yang tangannya hanya memegang sepotong bambu kering, Betapa gusarnya Yap Yong Ceng dan langsung menyerang Sie Bun Yun bertubi-tubi dengan jurus Yah Hwee Sauh Thian (Api Berkobar Membakar Langit), Siang Hong Cun Yun (Awan Beterbangan Di Dua Puncak) dan Yu Ih Pan Lang (lkan Berenang Melawan Arus).
Sie Bun Yun pun menggerakkan bambu kering itu membentuk sebuah lingkaran Kelihatan amat sederhana gerakan itu, namun justru dapat membendung seranganserangan Yap Yong Ceng, sedangkan Yap Yong Ceng ingin menebas bambu kering tersebut, akan tetapi, bambu kering itu selalu dapat mengelak, bahkan sekaligus menekan golok itu di bagian tumpulnya.
Betapa penasarannya Yap Yong Ceng, sebab lingkaranlingkaran itu penuh mengandung tenaga, sehingga membuatnya sulit untuk mengerahkan ilmu golok an-dalannya, Tentunya menyebabkan Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Ceng terkejut bukan main.
Dari mana munculnya pemuda itu, kok ilmu silatnya begitu aneh?
Setelah berpikir demikian ia pun tidak berani meremehkan lawannya lagi, Kemudian ia menyerang pemuda itu dengan jurus Heng Sau Cian Kun (Menyapu Ribuan Prajurit) jurus tersebut dapat membuat goloknya terlepas dari tekanan bambu kering pihak lawan, bahkan sekaligus menyabet ke
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
pinggangnya, Tapi tiba-tiba terdengar suara "Ngung", bambu kering itu pun bergerak dan berhasil menekan golok Yap Yong Ceng lagi.
"Hm!"
Dengus Yap Yong Ceng, ia berusaha menyalurkan Lweekangnya ke goloknya, namun mendadak terdengar suara "Taak", bambu kering itu berhasil mengetuk bagian tumpul golok tersebut Bukan main terperanjatnya Yap Yong Ceng, sedangkan Sie Bun Yun malah tersenyum-senyum, dan sekaligus menggerakkan bambu keringnya laksana kilat mengarah pada Yang Men, Yang Ku dan Yang Ceh Hiat, tiga jalan darah di lengan Yap Yong Ceng.
Pek Yun Hui yang menonton itu kagum bukan main, sehingga coba menduga siapa guru Sie Bun Yun.
Akan tetapi, bagaimana mungkin ia menduganya?
sementara Yap Yong Ceng yang diserang itu tampak kalang kabut dan terpaksa menarik lengannya ke belakang.
Pada waktu bersamaan, Sie Bun Yun juga segera merubah jurusnya, tahu-tahu ujung bambu kering itu sudah mengarah pada tenggorokan lawan.
Wajah Yap Yong Ceng telah berubah hijau.
ia bertarung dengan dua orang di tempat ini, justru dirinya yang di bawah angin, sehingga kegusarannya pun memuncak Ketika melihat bambu kering itu mengarah pada tenggorokan nya, ia pun cepal-cepat membungkuk Di saat membungkuk, ia pun mengeluarkan jurus Kun Suh Keng (Pohon Lapuk Akarnya Tereabut), itu merupakan serangan mendadak, maka sulit bagi Sie Bun Yun mengelaknya.
Kelihatannya sepasang kaki Sie Bun Yun akan buntung oleh golok itu.
Namun disaat itulah Pek Yun Hui menyambar pedangnya di lantai, kemudian mendadak menerjang dengan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
pedangnya, menggunakan ilmu Sin Kiam Hap (Badan Dan pedang Menyatu).
ilmu itu merupakan ilmu pedang tingkat tinggi Namun karena Lweekang Pek Yun Hui masih dangkal, maka belum mencapai ke tingkat itu.
Namun terjangannya justru mengarah pada dada Yap Yong Ceng, Kalau Yap Yong Ceng meneruskan serangannya pada Sie Bun Yun, dadanya pasti tertembus pedang Pek Yun Hui.
Oleh karena itu, ia terpaksa menarik goloknya dan sekaligus menangkis pedang Pek Yun Hui.
Tranng!
Pedang itu terlepas dari tangan Pek Yun Hui.
Yap Yong Ceng memang sudah amat membenci kepadanya, maka tangan kirinya pun melakukan jurus Yen Kauw Tie Kua (Monyet Memetik Buah) Plaak!
Dada Pek Yun Hui terkena pukulan, membuat matanya langsung gelap dan jatuh berguling-guling.
Setelah berhasil memukul dada Pek Yun Hui, ia pun tertawa dingin sambil mundur Begitu melihat Pek Yun Hui terluka demi meno!ong-nya, Sie Bun Yun terharu dan sangat berterimakasih padanya, Disamping itu, ia pun amat membenci pada Yap Yong Ceng.
Ketika Yap Yong Ceng mundur, Sie Bun Yun pun langsung menyerangnya.Tapi kini Yap Yong Ceng sangat bersemangat setelah berhasil melukai Pek Yun Hui dengan puku!annya, apalagi ia masih memiliki senjata rahasia Cu Bo Sin Tan (Peluru Sakti) yang belum digunakannya.
Yap Yong Ceng menyambut serangan itu, kemudian balas menyerang dan terjadilah pertarungan yang amat seru.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Di sisi lain ketika Pek Yun Hui jatuh berguIing-guling, Ling Hung segera melesat ke arahnya, lalu me-mapahnya bangun dengan wajah cemas dan air matanya pun meleleh.
"Yun Hui, bagaimana lukamu?"
"Mungkin tidak apa-apa, Nona Ling,"
Sahut Pek Yun Hui yang wajahnya pucat pias. Ling Hung memapah Pek Yun Hui ke tempat duduk, lalu mengeluarkan senjatanya merupakan tongkat trisula.
"Yun Hui, aku akan menuntut balas untukmu!"
Sementara Yap Yong Ceng dan Sie Bun Yun masih bertarung dengan serunya, Mereka berdua dikelilingi Ling Kie Ngiap, Liauw Cin dan beberapa jago lain yang semuanya sudah siap menolong Sie Bun Yun.
Ling Hung menerjang, namun ditahan oleh Ling Kie Ngiap, sehingga gadis itu terpaksa kembali ke sisi Pek Yun Hui.
sekonyong-konyong terdengar suara "Bumm", atap rumah sudah berlubang dan melayang turun seseorang berusia empat puluhan, tangannya memegang sebuah kipas, Begitu sepasang kakinya menginjak lantai, kipas yang di tangannya menunjuk ke sana ke mari.
Ternyata ia telah menyerang orang-orang yang berdiri di situ, sehingga membuat mereka terpaksa mundur Sungguh tinggi kepandaian pendatang itu, Kemudian ia segera menghampiri Yap Yong Ceng, dan berseru Ian-tang.
"Saudara Yap! Aku datangi Cong Cin To (Oambar penyimpanan Kitab Pusaka), Kui Goan Pit Cek berada pada pemuda ini!"
Begitu melihat temannya datang, Yap Yong Ceng bersiul panjang sambil menyerang Sie Bun Yun bertubi-tubi.
Namun bambu kering di tangan pemuda itu masih dapat bergerak lincah, Walau sudah berada di bawah angin, tapi ia masih belum kalah.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ketika orang berkipas itu mencetuskan ucapan, seketika juga para tamu bangkit berdiri.
Cong Cin To (Gambar penyimpanan Kitab Pusaka) Kui Goan Pit Cek, kata-kata tersebut bagaikan geledek di siang hari bolong menggelegar di setiap hati para tamu.
itu karena Cong Cin To-Kui Goan Pit Cek, konon siapa yang memperoleh kitab pusaka itu, akan menjadi jago nomor wahid di kolong langit, Maka Cong Cin To (Gambar penyimpanan Kitab Pusaka) pun menjadi incaran kaum Bu Lim, dan karena itu Bu Lim pun akan terjadi banjir darah.
Kini Cong Cin To itu berada pada Sie Bun Yun.
Hati siapa tidak akan tergerak karenanya?
Setelah bangkit berdiri dan tertegun sejenak, mereka serentak menghampiri Sie Bun Yun.
Orang berkipas itu langsung mengeluarkan siulan panjang, lalu berkata pada Yap Yong Ceng.
"Saudara Yap! Biar aku saja!"
Yap Yong Ceng tahu maksud temannya itu, maka ia segera mengayunkan goloknya, lalu mundur Orang berkipas itu melesat ke hadapan Sie Bun Yun, sekaligus menggerakkan kipasnya mengarah Wie Bun Hiat di pinggang Sie Bun Yun.
Pemuda itu menurunkan bambu kering yang di tangannya, kemudian secepat kilat memukul kipas tersebut Akan tetapi, tangan kiri orang berkipas itu bergerak cepat mencengkeram urat nadi di lengan Sie Bun Yun.
Pemuda itu tidak bisa berkelit, maka urat nadi di lengannya berhasil dicengkeram lawan.
Serrrt!
Orang berkipas itu menariknya melesat ke arah atap rumah yang telah bolong itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ketika melihat Sie Bun Yun telah dikuasai orang, cemaslah hati Pek Yun Hui, maka ia berteriak keras dan pingsan seketika, Cepat-cepat Ling Hung menahan dirinya agar tidak jatuh, bahkan mulai menangis.
Di saat itu, tampak beberapa orang ikut melesat ke luar melalui atap rumah, mereka bermaksud mengikuti orang berkipas itu.
Akan tetapi, pada waktu bersamaan Yap Yong Ceng juga mengayunkan tangannya melepaskan senjata rahasia yang amat terkenal itu.
Serrt!
Serrrt!
Serrrt...
Beberapa orang yang telah melesat itu jatuh ke bawah, Ternyata mereka sudah terluka oleh senjata rahasia tersebut.
"He he he!"
Yap Yong Ceng tertawa terkekeh.
"Siapa yang masih ingin mencoba kehebatan peluru sakti Cu Bo Sin Tan?"
Tak terdengar suara apa pun.
Yap Yong Ceng tertawa lagi, lalu mendadak melesat pergi melalui atap rumah yang bolong itu.
Tepat pada saat itu, Cui Cuk Sin Ong-Ling Kie Ngiap membentak keras sambil melancarkan pukulannya ke arah Yap Yong Ceng yang sedang melesat itu.
Yap Yong Ceng tidak bisa berkelit, namun ia segera mengayunkan tangannya melepaskan senjata rahasia andalannya mengarah pada orang tua itu.
sementara Ling Hung terus memijat beberapa jalan darah Pek Yun Hui agar dia sadar Kalau pikiran Ling Hung tidak kacau disaat itu, ia pasti mengetahui kalau Pek Yun Hui adalah anak gadis.
Namun karena hatinya kacau sehingga membuat dirinya tidak menyadari akan hal tersebut Ketika Ling Kie Ngiap membentak, kebetulan Pek Yun Hui mulai sadar dan langsung berseru.
"Kejar! Cepat kejar!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Di saat itu sebetulnya pukulan Ling Kie Ngiap hampir menyentuh badan Yap Yong Ceng, tapi orang itu pun melepaskan senjata rahasianya.
Ting!
Ting!
Ting!
Tiba-tiba semua senjata rahasia itu terjatuh ke bawah.
Ternyata Ling Kie Ngiap telah mengeluarkan sebatang bambu memukul jatuh semua senjata rahasia itu.
Ling Kie Ngiap tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung menggerakkan bambunya menyerang kaki Yap Yong Ceng, itu adalah jurus Cui Cuk Yauw Ih (Bambu Hijau Bergoyang).
Terkejutlah Yang Yong Ceng, tapi ia masih sempat melancarkan sebuah pukulan ke arah Ling Kie Ngiap, Sebelah tangannya pun cepat-cepat menyambar bambu yang melintang di lubang atap rumah itu, Dengan meminjam tenaga sentakan, ia langsung melesat pergi.
"Jangan kabur!"
Bentak Ling Kie Ngiap, orang tua itu pun melesat pergi melalui lubang itu untuk mengejar Yap Yong Ceng.
sementara para tamu mulai berhambur ke luar Mereka pun ingin mengejar orang berkipas yang membawa pergi Sie Bun Yun itu.
Nah!
Karena Cong Cin To, para pesilat rimba persilatan akan saling membunuh demi merebut Cong Cin To tersebut dan bencana banjir darah pun akan melanda rimba persilatan Kini di ruang itu tinggal dua orang, yaitu Pek Yun Hui yang telah terluka parah, dan Ling Hung menjaganya dengan air mata berderai-derai.
"Kejar! Cepat kejar!"
Gumam Pek Yun Hui.
"Yun Hui! Semua orang sudah pergi mengejar me-reka, engkau tidak usah cemas,"
Ujar Ling Hung mem-beritahukan.
"Nona Ling, kakak misanmu jatuh ke tangan penjahat dia... dia...."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Yun Hui, engkau telah terluka parah, beristirahat saja! Kalau engkau kenapa-napa, aku... aku...."
Pek Yun Hui sedang mengkhawatirkan Sie Bun Yun, maka tidak begitu memperhatikan reaksi Ling Hung.
sedangkan Ling Hung sudah mulai terisak-isak, sepasang matanya yang basah itu terus menatap Pek Yun Hui.
"Nona Ling! Engkau.,.?"
Pek Yun Hui tertegun.
"Yun Hui...."
Ling Hung menarik nafas panjang.
"Lukamu sedemikian parah, kalau terjadi sesuatu atas dirimu, aku... aku pun tidak mau hidup lagi."
Betapa terkejutnya Pek Yun Hui mendengar ucapan Ling Hung.
Setelah itu ia pun menggeleng-gelengkan kepala sambil menarik nafas panjang.
Kalau sekarang ia meninggalkan Cui Cuk San Cung ini, otomatis berpisah dengan Sie Bun Yun, itu membuatnya merasa berat sekali.
Akhirnya ia memejamkan matanya, Di saat itu pula ia teringat akan cara pengobatan yang dipelajarinya dari kitab Kui Goan Pit Cek.
Oleh karena itu ia mulai menghimpun Lweekangnya untuk mengobati lukanya.
Memang tidak bisa segera sembuh, namun setelah ia menghimpun Lweekangnya untuk mengobati lukanya, tak lama wajahnya tampak tidak begitu pucat Iagi.
"Kakak Yun, sekarang engkau merasa cnakan?"
Tanya Ling Hung lembut dan girang menyaksikan muka Pek Yun Hui sudah agak memerah.
Pek Yun Hui tertegun ketika mendengar Ling Hung memanggilnya "Kakak Yun", karena itu merupakan panggilan yang mesra, Akan tetapi, Pek Yun Hui pura-pura tidak tahu.
"Nona Ling, Saudara Sie Bun Yun sudah pulang?"
"Belum."
Ling Hung menggelengkan kepala.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kalau begitu, barusan engkau memanggil siapa?"
Tanya Pek Yun Hui. Wajah Ling Hung kemerah-merahan, kemudian menyahut dengan suara rendah dan lembut "Kakak Yun, aku memanggilmu demikian, apakah engkau merasa kesal?"
"Karena engkau memanggil demikian, sama juga memanggil Sie Bun Yun, maka aku tidak dapat membedakannya,"
Ujar Pek Yun Hui dan menambahkan.
"Karena itu, aku tidak tahu engkau sedang memanggil siapa?"
"Engkau adalah Kakak Yun, sedangkan dia kakak misan A Yun, bagaimana engkau tidak bisa membedakan-nya?"
Ling Hung tersenyum.
"Nona Ling!"
Pek Yun Hui menatapnya da!am-dalam seraya berkata.
"Kakak misanmu sangat menyukaimu apakah engkau tidak tahu?"
"Kakak Yun!"
Ling Hung tertawa kecil.
"ltu urusan ketika kami masih kecil, kenapa harus diungkit kembali?"
Pada saat itu, terdengar suara langkah berai memasuki ruang tersebut Pek Yun Hui segera berpaling ternyata yang masuk itu adalah To Pie Kim Kong-Thu It Kang, kemudian menyusul pula Phang Niap Kia dari Partai Tiam Cong, wajah mereka tampak gusar seka!i.
Tak lama masuk pula beberapa orang, termasuk Cui Cuk Sin Ong-Ling Kie Ngiap, wajah mereka pun tampiik gusar "Di mana Saudara Sie Bun Yun?"
Tanya Pek Yun Hui cepat Suaranya agak lemah lantaran terluka parah, lagi pula ia duduk di sudut, maka tiada seorang pun dapat mendengar pertanyaan nya.
ia ingin bangkit berdiri, tapi Ling Hung segera mencegahnya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Keponakanku ditangkap oleh orang ekspedisi Thian Liong, kalian semua ikut mengejar, namun tidak membantuku apa maksud kalian begitu?"
Tanya Ling Kie Ngiap mengguntur bernada gusar.
"Hm!"
Dengus To Pie Kim Kong-Thu It Kang.
"Sau-dara Ling, di antara kita sudah terjalin hubungan baik, kan?"
"Tidak salah!"
Ling Kie Ngiap mengangguk "Kalau begitu..."
Sela Phang Niap Kia.
"Keponakan-mu telah menemukan Cong Cin To, kenapa engkau tidak mau memberitahukan pada kami? Apakah engkau masih menganggap kami sebagai teman lamamu?"
"Tadi aku telah menjelaskan aku sama sekali tidak tahu tentang itu!"
Sahut Ling Kie Ngiap.
"Ling Kie Ngiap!"
Terdengar suara seruan disertai tawa dingin.
"Siapa akan mempereayai omonganmu?"
"Selama ini aku tidak pernah bohong!"
Bentak Ling Kie Ngiap.
"Siapa yang bersuara barusan?"
"Aku!"
Seseorang tampil ke depan.
Semua orang langsung mengarah padanya, Orang itu berbadan kurus pendek, wajahnya pun buruk sekali, namun semua orang mengenalinya, dia adalah Hui Liong Ciu-Cih Sia (Si Tangan Kilat Naga Terbang), adik seperguruan Sin Goan Tong dari Partai Khong Tong.
"Saudara Cih!"
Ling Kie Ngiap tertawa dingin.
"Apakah barusan engkau omong bereanda?"
"Ha ha!"
Cih Sia tertawa gelak.
"Ling Kie Ngiap, siapa yang omong bereanda?"
"Oh?"
Wajah Ling Kie Ngiap langsung berubah, kemudian orang tua itu pun tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata kalian ke mari demi merebut Cong Cin To itu, bukan untuk menghadiri pesta ulang tahunku!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ling Kie Ngiap mengatakan begitu, disebabkan kegusarannya telah memuncak.
padahal sesungguhnya, para tamu itu ke mari memang untuk menghadiri pesta ulang tahun Cui Cuk Sin Ong-Ling Kie Ngiap, namun begitu mendengar tentang Cong Cin To itu, tergeraklah hati mereka untuk merebut Gambar penyimpanan Kitab Pusaka tersebut "Ling Kie Ngiap, kebetulan kami berada di sini, uolehkah engkau memperlihatkan Cong Cin To itu?"
Tanya seseorang.
"Omong kosong!"
Sahut Ling Kie Ngiap dengan wajah kehijau-hijauan.
"Tadi Kim Coa Suseng (Pelajar Ular Emas) Wang Han Siang telah menangkap keponakanku seandainya Cong Cin To itu ada, juga pada dirinya!"
"He he he!"
Hui Liong Ciu-Cih Sia tertawa aneh.
"Cong Cin To itu menyangkut kitab Kui Goan Pit Cek, Keponakanmu telah berada di sini sebelum ditangkap Kim Coa Suseng itu, tenlunya.... Cong Cin To itu sudah tidak berada padanya, kan?"
"Kalau begitu, Kim Coa Suseng-Wang Han Siang itu sudah jadi orang bodoh!"
Sahut Ling Kie Ngiap.
"Dia sama sekali tidak bodoh!"
Cih Sia tertawa dingin.
"Sie Bun Yun itu adalah calon menantumu, Kim Coa Suseng menangkapnya dengan maksud memaksamu menyerahkan Cong Cin To itu!"
Padahal sesungguhnya, Cui Cuk Sin Ong-Ling Kie Ngiap sama sekali tidak tahu menahu tentang Cong Cin To tersebut, Apa yang dikatakan pada-para tamu memang sejujurnya.
Akan tetapi, para tamu yang merupakan teman baik-nya, justru tidak pereaya sama sekali, maka betapa kecewa dan gusarnya Ling Kie Ngiap.
"Jangan omong sembarangan!"
Bentaknya menggun-tur.
"Ling Kie Ngiap, kenapa kau harus keras kepala!"
Ujar Thu It Kang dan menambahkan.
"Walau memperoleh Cong Cin To itu, namun masih harus pergi mencari kitab pusakanya, Nah,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
bukankah lebih baik diperlihatkan bersama, lalu masingmasing pergi cari kitab pusaka itu berdasarkan keberuntungan masing-masing pu!a?"
"Kalian semua jangan bicara sembarangan!"
Bentak Ling Hung mendadak "Kalian jangan coba-coba mengacau di Cui Cuk San Cung! Ayoh, cepat enyah!"
Ling Hung membentak sambil bertolak pinggang, suara bentakannya yang amat nyaring itu membuat semua orang tertegun.
"Anak Hung!"
Hardik Ling Kie Ngiap.
"Jangan banyak omong, cepat papah Yun Hui ke ruang dalam!"
Lantaran Ling Kie Ngiap menghardik begitu, maka beberapa orang yang ada di situ pun yakin, bahwa Cong Cin To tersebut berada di Cui Cuk San Cung ini.
Pihak ekspedisi menangkap Sie Bun Yun untuk dijadikan san-dera, Kalau begitu, kini masih punya kesempatan menangkap Ling Hung, putri kesayangan Ling Kie Ngiap itu.
Ada beberapa orang berpikir demikian, karena itu Hui Liong Ciu-Cih Sia yang turun duIuan, langsung melesat ke arah Ling Hung, Beberapa tahun ini, nama Partai Khong Tong memang tidak begitu baik, tidak heran Hui Liong Ciu-Cih Sia begitu Hcik langsung turun tangan.
Ketika melihat sepasang bola mata Cih Sia berputar-putar, Ling Kie Ngiap sudah tahu bahwa orang itu berniat jahat, maka begitu melihat badannya bergerak, Ling Kie Ngiap pun langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah pinggangnya Di saat itu, badan Hui Liong Ciu-Cih Sia sudah melesat ke atas, Ketika melihat pukulan itu, ia membentak keras sambil menggerakkan tangannya, itu adalah salah satu jurus dari ilmu Sam Im Ciang Hoat (Pukulan Hawa Dingin), ilmu andalan Cih Sia.
Ling Kie Ngiap berkelit, kemudian mendadak menyerang lagi dengan sebuah pukulan, Akan tetapi, Hui Liong Ciu-Cih
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sia sudah melesat ke hadapan Ling Hung dan sekaligus mencengkeram lengannya. Pada waktu bersamaan, berkelebat sosok bayangan ke sisi Ling Hung pula seraya berseru.
"Saudara Cih, harap berhenti!"
Ternyata orang itu adalah To Pie Kim Kong Thu It Kang, ia pun mengeluarkan jurus Siauw Pit Sung Thian (Melintang Di Tengah Langit), untuk menangkap tangan Cih Sia.
Hui Liong Ciu-Cih Sia yang sedang gusar itu sudah tidak perduli kawan atau lawan lagi, ia langsung menggeserkan lengannya dan secepat kilat menyerang dengan jurus Im Hong Ce,n Cen (Desiran Angin Dingin).
To Pie Kim Kong tidak mengelak, malah mengeluarkan jurus Yen Kauw Long Ciang menyambut pukulan yang dilancarkan Cih Sia.
Dua tangan beradu dan masing-masing terdorong mundur dua langkah, Mereka sama-sama merasakan tangannya ngilu.
Pada saat itu, Ling Hung yang sudah menyiapkan senjatanya di tangannya pun segera mundur ke sisi Pek Yun Hui.
"Nona Ling!"
Ujar Pek Yun Hui.
"Jangan maju Iagi, tetap berdiri di sisiku saja!"
Sebetulnya Ling Hung memang sudah ingin menyerang mereka, tapi begitu mendengar suara Pek Yun Hui, ia pun langsung merapatkan dirinya di sisi Pek Yun Hui.
sementara Ling Kie Ngiap sudah mulai bertempur dengan beberapa orang, Ling Hung menggenggam senjatanya eraterat.
"Nona Ling!"
Pesan Pek Yun Hui.
"Jangan sembarangan menyerang!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kakak Yun, engkau sudah terluka parah, biar aku memapahmu ke ruang dalam saja,"
Sahut Ling Hung. Ling Hung ingin memapah Pek Yun Hui ke dalam, namun mendadak Pek Yun Hui bangkit berdiri seraya berseru nyaring.
"Kalian semuanya jangan bertempur kitab Kui Goan Pit Cek itu sudah ada majikannya!"
Kenapa Pek Yun Hui berseru demikian, ternyata ia melihat Ling Kie Ngiap dalam bahaya, lagi pula urusan tersebut justru ia yang menimbulkannya.
Maka ia berseru agar mereka berhenti bertempur Benar!
Mereka yang sedang bertempur itu langsung berhenti Hui Liong Ciu-Cih Sia dan To Pie Kim Kong-Thu It Kang lalu bertanya serentak "Siapa yang telah memperoleh Kui Goan Pit Cek?"
Pek Yun Hui tertegun Ketika berseru begitu, ia sama sekali tidak memikirkan akibatnya, dan tidak menyangka semua orang menghendaki Kui Goan Pit Cek.
Padaha!
kitab tersebut sudah diperoleh Na Hai Peng gurunya itu.
justru disaat itu, pesan gurunya pun mengiang di dalam lelinganya, sehingga ia pun membisu.
"Dia bohong!"
Seru seseorang, Setelah itu tampak beberapa orang mulai menyerang Ling Kie Ngiap lagu Orang tua itu mengeluarkan siulan panjang, lalu tampak bambu yang di tangannya berkelebat balas menyerang mereka, dan terjadilah pertarungan yang amat seru.
"Kakak Yun! Cepatlah engkau bersembunyi bisik Ling Hung, kemudian memapahnya ke ruang dalam menuju kamarnya. Setelah berada di dalam kamar tersebut, wajah Ling Hung tampak kemerah-merahan.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kakak Yun! ini adalah kamarku, engkau boleh beristirahat di sini,"
Ujarnya agak malu-malu dan lembut "Nona Ling...."
Pek Yun Hui ingin memberitahukan bahwa dirinya juga seorang gadis, namun Ling Hung sudah berlari ke Iuar.
Apa boleh buat!
Pek Yun Hui terpaksa duduk di pinggir tempat tidur dengan hati kacau baIau.
Sayup-sayup ia pun mendengar suara pertempuran di !uar.
ia yakin Ling Hung sudah ikul bertempur membantu ayah-nya.
"Ling Kie Ngiap!"
Terdengar suara seruan To Pie Kim Kong-Thu It Kang.
"Kalau engkau masih keras kepala, kami akan membakar Cui Cuk San Cung ini!"
Betapa gusarnya Ling Hung mendengar suara seruan itu, ia langsung menyerang Thu It Kang dengan trisu!anya mengeluarkan jurus Tok Coh Yu Hong (Duduk Tenang Seorang Diri).
Thu It Kang tidak menyambut serangan itu, melainkan cuma berkelit, lalu melesat keluar Pada waktu bersamaan, Ling Hung merasakan adanya desiran angin di belakangnya, Tanpa menoleh ia langsung menangkis dengan jurus Cun Yah Coh Hoat (Rerumput Musim Semi Mulai Tubuh) dan serangan gelap itu dapat ditangkisnya, Setelah itu ia pun merapatkan punggungnya ke punggung Ling Kie Ngiap.
sementara mereka berdua ayah dan anak bertempur matimatian, tiba-tiba terdengarlah suara ledakan dahsyat Bum!
Bum!
Bum!
seketika juga tampak api ber-kobarkobar.
"Thu It Kang!"
Bentak Ling Kie Ngiap.
"Engkau sungguh membakar Cui Cuk San Cung ini?"
Ling Kie Ngiap segera melesat ke luar Memang tidak salah, Thu It Kang sedang metempar semacam obat peledak, dan sebuah obor untuk membakar ke sana ke mari. Dalam
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
waktu sekejap, Cui Cuk San Cung itu telah terbakar Maklum, semua rumah di sana terbuat dari bambu, maka amat gampang terbakar Sudah lama Ling Kie Ngiap mengundurkan diri dari rimba persilatan, Cui Cuk San Cung merupakan tempat tinggalnya untuk melewati hari-hari tuanya, Namun siapa nyana, hari ini justru dibakar orang, Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Ling Kie Ngiap.
Orang tua itu segera mengerahkan ginkangnya melesat ke arah Thu lt Kang, bahkan sekaligus menyerangnya dengan dahsyat Thu It Kang merasakan adanya desiran angin di atas kepalanya, maka ia cepat-cepat menundukkan kepalanya sambil berkelit ke samping, lalu balas menyerang dengan obor yang di tangannya.
Ling Kie Ngiap mengibaskan lengannya menghalau obor itu.
Setelah itu secepat kilat menyerang Thu It Kang dengan sepasang telapak tangannya.
Thu It Kang tahu Ling Kie Ngiap sudah gusar sekali, dan juga tahu dirinya bukan lawan Ling Kie Ngiap, Karena itu ia segera meloncat menghindar, bahkan juga melempar obor itu ke rumah Ling Kie Ngiap.
Ling Kie Ngiap menoleh Orang tua itu melihat api sudah berkobar-kobar di rumahnya, Betapa sakit hatinya seketika, Dia buru-buru mengejar Thu It Kang laksana kilat Tampak sosok bayangan melesat keluar dari rumah itu.
Dia ternyata Sam Ciu Ju Lay-Cing Men, adik seperguruan Thu It Kang.
Setelah melesat keluar, Sam Ciu Ju Lay-Cing Men juga langsung menyerang Ling Kie Ngiap dengan sen-jatanya.
jurus yang dikeluarkannya merupakan jurus andalannya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Terperanjat Ling Kie Ngiap, Tanpa banyak pikir lagi ia segera menangkis serangan itu.
Pada waktu bersamaan, Thu It Kang pun menyerangnya secara mendadak dari belakang.
Angin serangan itu membuat Ling Kie Ngiap langsung berkelit ke samping, dan sekaligus menggerakkan bambunya mengeluarkan jurus Fan Yun Fuk Ih (Mem-balik Awan Menurunkan Hujan).
jurus tersebut amal aneh dan dahsyat tapi juga membahayakan dirinya sendiri Ling Kie Ngiap mengeluarkan jurus tersehut justru ingin mati bersama lawannya.
Namun To Pie Kim Kong-Thu It Kang malah tidak sudi mati bersama.
Secepat kilai ia meloncat mundur.
Akan tetapi, Ling Kie Ngiap bergerak lebih cepat DijuIurkan tangan kirinya mencengkeram lengan Thu It Kang, Di saat itu pula Sam Ciu Ju Lay-Cing Men menyerang dari belakang.
Ling Kie Ngiap memutarkan badannya laksana kilat sambil mengayunkan tangan, Sebuah serangan yang tak terduga, membuat dada Cing Men terkena pukulan itu.
Duuuk!
Cing Men terpental dan jatuh terguling-guling, ketika Ling Kie Ngiap berhasil memukul dada Cing Men, Tiba-tiba dirasakan bahunya sakit sekali, Orang tua itu tahu bahunya telah dilukai Thu It Kang, Tanpa menoleh ia balas menyerang dengan sebuah pukulan.
Plak!
Lengan Thu It Kang terpukul, seketika juga terasa sakit dan ngilu, Tapi ia sama sekali tidak mau melepaskan belatinya yang menancap pada bahu Ling Kie Ngiap, sebaliknya malah berusaha merobek bahu itu.
Darah mulai mengucur Ling Kie Ngiap merasa bahunya sakit sekali, Mendadak Ling Kie Ngiap mengayunkan kakinya menendang, Tendangan itu tidak mengena sasaran, sebab Thu It Kang telah meloncat mundur
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Tak mungkin Ling Kie Ngiap akan melepaskannya, maka langsung melesat sambil menyerang Thu It Kang bertubi-tubi dengan jurus yang mematikan "Ayah! Hati-hati!"
Mendadak terdengar suara seruan Ling Hung.
Ternyata ada senjata rahasia menyambar ke arah Ling Kie Ngiap, Orang tua itu tampaknya telah mendengar suara desiran senjata rahasia tersebut "Ha ha!
Saudara Ling harap berbelas kasihan.,.!"
Terdengar suara seruan lain pula.
Terkejut Ling Kie Ngiap dan segera berkelit Dia tidak tahu siapa yang datang, tapi yakin orang itu berkepandaian amat tinggi.
Tiba-tiba melayang turun seseorang, yang ternyata Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, kakak seperguruan Thu li Kang dan Cing Men, Sambi!
melayang orang itu langsung menyerang Ling Kie Ngiap, Serangan itu membuat Ling Kie Ngiap terpaksa meloncat mundur beberapa depa, sebab serangan yang dilancarkan Pat Pie Sin 0ng-Tu Wee Seng dirasakan sangat dahsyat "Sutee (Adik Seperguruan), mari kita-pergi!"
Seru Tu Wee Seng.
Mendengar seruan itu, Thu It Kang dan Cing Men segera melesat pergi, Ling Kie Ngiap tampak ingin mengejar tapi dihalang oleh Tu Wee Seng.
Ling KJe Ngiap telah terluka bahunya, Hal itu menyebabkan tenaganya berkurang.
Hanya dalam beberapa jurus ia telah terpukul oleh Tu Wee Seng.
"Ayah!"
Seru Ling Hung sambil menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Ayah?"
Ling Kie Ngiap terkulai wajahnya pucat pias dengan darah tampak mengalir dari mulutnya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ayah.,.!"
Ling Hung tampak cemas melihat keadaan ayahnya.
"Uaaakh!"
Mendadak Ling Kie Ngiap menyemburkan darah segar dari mu!utnya.
"Ayah...!"
Karena gusar Ling Hung langsung mengejar Tu Wee Seng yang baru melesat pergi.
"Jangan kabur, Jahanam!"
"Anak Hung...!"
Ling Kie Ngiap berteriak lemah, Hal itu membuat dia kembali menyemburkan darah segar dari mulutnya, Sesaat kemudian dia pun pingsan.
sementara para pesilat Bu Lim sudah mulai meninggalkan tempat itu, sebab Cui Cuk San Cung telah musnah dilalap api.
***** Bab ke 30 -Air Mata Bereucuran Berpisah Dengan Kekasih Ling Hung mengerahkan ginkangnya mengejar Tu Wee Seng, namun orang tersebut sudah tidak kelihatan lagi, Dengan rasa penasaran gadis itu terus melesat ke depan.
sementara Thu It Kang dan Cing Men yang telah terluka itu, sudah tidak punya tenaga untuk mengerahkan ginkangnya lagi Mereka berdua cuma berjalan cepat Akibatnya cepat Ling Hung berhasil menyusul mereka.
"Lihat serangan!"
Bentak Ling Hung, langsung menyerang Tu Wee Seng dengan senjatanya, Dia mengerahkan jurus Cuk Thauw Fan Lang (Bambu Menggetar Ombak Menderu).
Tu Wee Seng yang berjalan di belakang tampak diam, Namun, begitu senjata Ling Hung hampir mengena kepalanya, mendadak ia berkelit dan sekaligus balas menyerang dengan toya bambunya, mengeluarkan jurus Han Goat Can Poh (Bulan Dingin Arus Merana).
Kepandaian Ling Hung tak mungkin dibandingkan dengan kepandaian Tu Wee Seng, Tidak heran kalau serangan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
balasan itu membuat Ling Hung terkejut bukan main. Terpaksalah ia mengayunkan trisulanya untuk me-nangkis.
"Nona Kecil, meskipun sepuluh tahun lagi, kau tetap tak bisa menandingiku!"
Ujar Tu Wee Seng dingin.
Ling Hung menyadari hal itu, Namun karena teringat akan luka ayahnya, gadis itu jadi nekad dan menyerang Tu Wee Seng lagi dengan jurus Hun Koh Hui Kie (Ranting Pohon Berterbangan).
"Hm!"
Dengus Tu Wee Seng dingin.
"Engkau mau cari mati, ya?"
Tu Wee Seng tidak berkelit, melainkan menangkis dengan mengeluarkan jurus Taysan To Hong (Gunung Taysan Membendung Angin), itu adalah salah satu jurus dari ilmu Hok Mo Cang Hoat (llmu Toya Penalduk Iblis), Toya bambunya menghantam trisula Ling Hung.
seketika gadis itu terpental, terdorong oleh tenaga yang amat kuat.
Pada waktu bersamaan, sebatang bambu yang terbakar tumbang mengarah ke dirinya, Cepat-cepat Ling Hung menjatuhkan diri, berguling menghindari bambu terbakar itu.
Namun secepat itu pula dia meloncat ba-ngun.
Segera gadis itu kaget melihat Tu Wee Seng dan ke dua adik seperguruannya sudah tidak tampak lagi, Ling Hung berdiri tertegun di tempat, Saat itu tiba-tiba ia teringat sesuatu dan seketika juga air matanya berderai, Ternyata ia teringat pada Pek Yun Hui yang berada di dalam kamarnya.
sementara itu, tampak dua orang lelaki memapah Lie Kie Ngiap meninggalkan api yang berkobar-kobar semakin membesar Api itu sekarang sudah menjalar sampai di rimba bambu.
"Nona!"
Seru salah seorang lelaki itu.
"Cepatlah, tinggalkan tempat ini!"
"Kalian melihat Pek Yun Hui?"
Tanya Ling Hung cepat.
"Tidak!"
Sahut mereka serentak.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
jawaban tersebut membuat Ling Hung langsung melesat ke rumah. Tak seberapa lama ia melihat empat orang berlari keluar.
"Eh? Nona mau ke mana?"
Tanya salah seorang itu.
"Kalian melihat Pek Yun Hui? Apakah ada orang menolongnya keluar?"
Tanya Ling Hung dengan wajah cemas.
"Tidak! Api begitu besar, Nona jangan ke sana!"
Ling Hung memandang ke depan, Di depan sana telah berubah jadi lautan api.
Tidak mungkin ia menerobos ke sana untuk menolong orang, itu sama juga cari mati!
Akan tetapi, Ling Hung sudah tidak memperdulikan itu.
"Kakak Yun! Kakak Yun!"
Seru Ling Hung menerjang ke arah api yang berkobar-kobar itu.
"Jangan takut, Kakak Yun! Aku datang menyelamatkanmu!"
Keempat orang hanya melongo, melihat Ling Hung menerjang api yang berkobar-kobar.
"Ayoh, cepat tolong Nona!"
Seru seseorang.
"Jangan cuma melongo!"
"Tapi.,"
Salah seorang tampak ragu.
"Cepat!"
Bentak temannya, Mereka berempat lalu menerjang ke dalam. sementara Ling Hung sudah sampai di dalam rumahnya yang terbakar, Gadis tersebut pun berteriak-teriak.
"Kakak Yun! Kakak Yun!"
Bagaimana mungkin ada suara sahutan, Ruangdalam sudah terbakar Kobaran api seakan kian membesar dan menyala-nyala.
"Nona! Nona!"
Ternyata ke empat orang itu sudah berada di sisi nya. Mereka berempat berusaha menariknya keluar dari tempat itu,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Akan tetapi, Ling Hung malah mengibaskan tangannya, membuat ke empat orang itu terpelanting keluar Ling Hung seakan sama sekali tidak merasa takut, Gadis itu nekad hendak menolong jantung hatinya, Men-dadak ia mengayunkan senjatanya untuk melindungi diri-nya, lalu melesat ke ruang dalam.
Namun seketika ia disambut oleh asap yang bergumpal-gumpal, sehingga matanya dirasakan pedih sekali, Ling Hung cepat-cepat mengibaskan tangannya, membuat asap itu buyar Mata Ling Hung pun mengawasi ke kamarnya yang ternyata juga telah terbakar Bagaimana dengan nasib Pek Yun Hui?
Saat itu dirinya sedang duduk di pinggir tempat tidur.
Apa yang telah terjadi diluar, ia tidak tahu sama sekali Kemudian telinganya mendengar suara orang berteriak-teriak kebakaran Terdengar pula suara siraman air di luar kamarnya .
Betapa terkejutnya Pek Yun Hui.
Sebab pada waktu itu ia sedang menghimpun Lweekang untuk mengobati lukanya itu.
Dan ketika membuka matanya asap tebal telah mengepul ke dalam.
Segeralah ia bangkit berdiri Namun tubuhnya mendadak terjaluh.
sepasang matanya sulit dibuka, sebab asap semakin banyak mengepul ke dalam kamar Walau demikian, Pek Yun Hui tetap berusaha bangkit berdiri sambil meraba-raba.
Akhirnya ia menemukan pintu kamar Karena di sekitar tempat itu sudah terbakar, sulit sekali bagi Pek Yun Hui untuk meloloskan diri dari kobaran api.
Pek Yun Hui berusaha menghimpun Lweekangnya, lalu melesat keluar Namun karena dadanya telah terluka parah, ia tidak bisa melesat jauh.
Tubuhnya malah kembali merosot ke bawah.
ia tidak bisa melihat apa-apa, karena asap terus memenuhi ruangan, Ketika merosot ke bawah, ia justru merasa badannya menimpa sesuatu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Hah? Kakak Yun...!"
Terdengar teriakan girang.
"Nona Ling.J"
"Kakak Yun, aku menerjang ke mari untuk menyelamatkanmu!"
"Nona Ling, kita terkurung dalam api.,.!"
Keluh Pek Yun Hui "Jangan khawatir Kakak Yun, aku pasti berusaha menyelamatkanmu!"
Ling Hung, lalu menggendong Pek Yun Hui.
Betapa terharunya Pek Yun Hui, seketika matanya berkaca-kaca, Kalau ia seorang lelaki, tentu akan memperisteri Ling Hung itu.
Ling Hung melesat keluar setelah menggendong Pek Yun Hui, Keempat orang yang berada di luar tadi melihat Ling Hung, seketika juga mereka berteriak-teriak.
"Nona sudah keluar! Nona sudah keluar!"
"Pek Yun Hui berada di sini, cepatlah kalian sambut...!"
Ling Hung melempar Pek Yun Hui ke arah empat orang itu, Kemudian ia pun terkulai dan pingsan seketika. Entah berapa lama kemudian, barulah Ling Hung siuman.
"Di mana Pek Yun Hui? Bagaimana keadaannya?"
"Tuan Pek Yun Hui selamat!"
Sahut seorang tua, dia adalah jongos di rumah Ling Kie Ngiap.
"Oooh!"
Ling Hung menarik nafas lega.
"Kalau be-gitu, tenanglah hatiku walaupun harus mati!"
Jongos tua dan beberapa pelayan lelaki yang mendengar itu, barulah mereka sadar bahwa yang Ling Hung cintai adalah Pek Yun Hui pendatang baru ini, bukan Sie Bun Yun.
sedangkan Pek Yun Hui berusaha duduk setelah mendengar itu, ia amat terharu juga merasa cemas, karena Ling Hung begitu mencintainya, padahal dirinya seorang gadis.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Kemudian Pek Yun Hui memandangnya, ternyata rambut Ling Hung telah terbakar sedikit, pakaiannya pun terbakar sana sini, sedangkan dirinya tidak cidera sedikitpun.
"Adik Hung! Adik Hung.."
Panggilannya dengan suara rendah.
Ling Hung segera mendekatinya, Walau sekujur badannya telah terluka bakar, namun wajahnya tidak tampak menderita karena itu.
Ketika mendengar Pek Yun Hui memanggilnya "Adik Hung", wajahnya langsung berseri dengan hati berbunga-bunga.
"Kakak Yun!"
Sahutnya lembut "Aku girang sekali, engkau tidak apa-apa."
"Aku memang tidak apa-apa, tapi...."
Pek Yun Hui menarik nafas panjang.
"Engkau justru telah ter!uka...."
"Kakak Yun!"
Ling Hung tersenyum manis.
"Aku sama sekali tidak merasa sakit."
Aaakh!
Keluh Pek Yun Hui dalam hati, disaat begini, bagaimana tega hatinya memberitahukan, bahwa dirinya adalah seorang gadis?
Ling Hung telah terluka, kalau ia memberitahukannya sekarang, pasti akan membuat batin Ling Hung terpukuL Namun...
apakah ia harus terus mengelabuinya ?
Semakin berpikir hati Pek Yun Hui semakin ber-duka, ia sama sekali tidak menduga, karena dirinya menyamar sebagai anak lelaki, justru menimbulkan urusan ini.
Di saat pikirannya sedang kacau, terdengarlah suara Lie Kie Ngiap.
"Anak Hung! Yun Hui! Kalian berdua ke mari!"
Ling Hungsegera memapah Pek Yun Hui mendekati ayahnya, Di bawah sinar rembulan, wajah Lie Kie Ngiap tampak pucat pias, dan nafasnya pun sangat Icmah.
Menyaksikan itu, tak kuasa Ling Hung menahan sedih, dan seketika juga ia menangis terisak-isak dengan air mata berderai-derai.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ayah...."
"Anak Hung, jangan menangis!"
Ling Hung mengangguk, namun air matanya semakin bereucuran Lie Kie Ngiap menjulurkan tangannya, lalu membelai rambut Ling Hung dengan penuh kasih sayang.
"Anak Hung, ayah sudah habis!"
"Ayah, aku tahu, musuh kita adalah...."
"Anak Hung!"
Potong Lie Kie Ngiap.
"Musuh kita berkepandaian tinggi, engkau jangan sembarangan menyebut nama mereka!"
"Ya."
Ling Hung mengangguk "Yun Hui!"
Lie Kie Ngiap memandangnya.
"Cianpwee mau pesan apa?"
Tanya Pek Yun Hui cepat Lie Kie Ngiap tidak menyahut, hanya menatap Ling Hung seraya berkata.
"Anak Hung, selama ini ayah mengira engkau mencintai kakak misanmu, namun hari ini ayah sudah tahu bahwa ternyata engkau tak mencintainya. Ling Hung langsung menundukkan kepala, dan menjawabnya tampak kemerah-merahan.
"Yun Hui!"
Lie Kie Ngiap menatapnya.
"Engkau harus mengabulkan permintaanku...."
"Katakanlah Cianpwee!"
Ujar Pek Yun Hui.
"Seumur hidupmu, haruslah engkau baik-baik terhadap anak Hung!"
Sahut Lie Kie Ngiap dengan suara lemah. Pek Yun Hui tertegun, sedangkan Ling Hung memandangnya dengan penuh cinta kasih.
"Aku,., aku...."
Pek Yun Hui betul-betul serba salah.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Tiba-tiba Lie Kie Ngiap menjulurkan sepasang tangannya, Digenggamnya tangan ke dua orang itu lalu disatukannya.
"Aku sudah hampir mati, namun semoga kalian berdua saling mencinta selama-lamanya! Yun Hui kabulkanlah ujar Ling Kie Hiap dengan napas semakin lemah, padahal Pek Yun Hui ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menjelaskan hal yang sebenarnya. Akan tetapi, ketika menyaksikan keadaan Lie Kie Ngiap, ia pun merasa tidak tega, sebab tahu kalau ajal telah mendekati orang tua itu.
"Paman!"
Mata Pek Yun Hui berkaca-kaca.
"Legakanlah hatimu selamanya aku pasti baik-baik terhadap Adik Hung!"
Lie Kie Ngiap tersenyum, kemudian mendongakkan kepala memandang jauh ke depan yang masih tampak memerah.
seketika juga wajahnya berubah gusar, bahkan amat menderita karena ia tahu bahwa banyak penghuni Cui Cuk San Cung yang sudah menjadi korban, Setelah itu, ia memandang Pek Yun Hui dan Ling Hung.
wajahnya yang penuh kegusaran mulai berubah tenang, lalu perlahan-lahan kepalanya terkulai ke bawah, ternyata orang tua itu sudah mati, Diam-diam Pek Yun Hui menarik nafas panjang, menyadari bahwa urusan ini akan bertambah kacau, Akan tetapi, terhibur juga hatinya, karena ia dapat menenangkan hati orang tua itu ketika mau menarik nafas penghabisan Kemudian ia duduk termangu-mangu di tempat itu.
"Ayah! Ayah...."
Ling Hung memeluk jenazah ayahnya sambil menangis gerung-gerungan, Pek Yun Hui cuma diam, sama sekali tidak tahu harus bagaimana menghibur anak gadis itu.
Namun ia telah mengambil keputusan dalam hati, bahwa setelah lukanya sembuh, ia akan meninggalkan sepucuk surat
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
untuk Ling Hung memberitahukan tentang dirinya yang sebenarnya, setelah itu akan meninggalkannya .
Menurutnya, memang tepat keputusan ini, namun ia tidak tahu bagaimana perkembangan selanjutnya, sementara Ling Hung terus menangis, sehingga sepasang matanya membengkak Tak terasa hari pun sudah mulai terang.
"Adik Hung jangan terlampau berduka, lihatlah pa-man! wajahnya begitu tenang, berarti beliau pergi dengan damai,"
Ujar Pek Yun Hui menghiburnya.
"Kakak Yun!"
Ling Hung memandang Pek Yun Hui dengan air mata berlinang-Iinang.
"Hatiku sangat duka, ingin tidak menangis tapi tidak bisa."
"Adik Hung, sebaiknya kita kubur jenazah ayahmu du!u!"
Usul Pek Yun Hui.
Ling Hung mengangguk, dan segera berpesan kepada para pelayan lelaki untuk membuat peti mati.
Para pelayan lelaki menurut dan segera melaksanakannya, Setelah petang, usailah pemakaman itu, Ling Hung menyalin pakaiannya, lalu berjalan ke tepi sungai, Dihadapkannya wajahnya ke air sungai lalu diguntingnya rambutnya yang terbakar itu.
Sesudah itu, ia menghampiri Pek Yun Hui seraya bertanya.
"Kakak Yun, rambutku digunting pendek, apakah masih tetap enak dipandang?"
"Adik Hung!"
Pek Yun Hui sambil tersenyum "Bagaimanapun engkau tetap enak dipandang."
Sahutnya.
"Oh?"
Ling Hung menarik nafas.
"Ayahku telah meninggal, maka kini engkaulah orang yang paling dekat denganku."
"Adik Hung!"
Pek Yun Hui mengingatkan "Bukan-kah masih ada kakak misanmu?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
sebenarnya Pek Yun Hui ingin mengalihkan cinta kasih Ling Hung pada Sie Bun Yun.
Meskipun ia sendiri juga mencintai pemuda tersebul, tapi karena Ling Hung telah menyelamatkan dirinya, maka ia rela mengorbankan cintanya demi gadis itu.
"Kakak misan A Yun adalah familiku, dan engkau tidak berbeda dengannya,"
Sahut Ling Hung sungguh-sungguh, Pek Yun Hui tersenyum getir, ia memandang Ling Hung dan berkata lembut.
"Adik Hung, Sie Bun Yun terhadapmu jauh lebih baik dariku, engkau harus tahu itu!"
"Bagaimana baiknya dia terhadapku, tetap tidak sepertimu,"
Sahut Ling Hung sambil menatapnya dalamdalam.
"Kakak Yun, kalaupun engkau jahat terhadapku, aku tetap baik terhadapmu tapi, mungkin aku akan mati."
"Adik Hung...."
Pek Yun Hui terperanjat "Seandai-nya aku... aku...."
"Seandainya kenapa?"
Tanya Ling Hung dengan wajah memerah.
"Aku cuma bereanda saja,"
Sahut Pek Yun Hui karena melihat Ling Hung begitu tegang.
"Seandainya aku juga seorang gadis?"
"Kakak Yun!"
Ling Hung tampak lega.
"Engkau....,"
"Adik Hung, jawablah!"
Desak Pek Yun Hui.
"Kalau engkau adalah wanita, berarti aku tidak punya Kakak Yun lagi, maka aku pun tidak mau hidup lagi,"
Ujar Ling Hung sungguh-sungguh, Celaka! Keluh Pek Yun Hui dalam hati, sebab urusan ini semakin sulit dijernihkan. Sudah hampir delapan hari Pek Yun Hui tinggal di sebuah gubuk,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Selama itu boleh dikatakan setiap detik Ling Hung menemaninya.
Ketika Pek Yun Hui memejamkan mata menghimpun Lweekangnya untuk mengobati luka di dadanya, Ling Hung duduk di hadapannya sambil memandangnya.
Apabila kening Pek Yun Hui berkerut, segeralah Ling Hung bertanya dengan penuh perhatian Enlah sudah berapa kali Pek Yun Hui ingin memberitahukan tentang dirinya, Namun ketika menyaksikan sikap Ling Hung yang begitu, iapun tidak punya keberanian untuk rnemberitahukan.
Pada hari ke sembilan, luka di dada Pek Yun Hui sudah hampir sembuh, dan boleh bergerak bahkan berjalan Karena itu, ia dan Ling Hung berjalan-jalan di luar Cui Cuk San Cung.
Memang memprihatinkan, kini perkampungan itu telah musnah, hanya tersisa abu bambu saja, Menyaksikan keadaan itu diam-diam Pek Yun Hui menarik nafas panjang, ia masih ingat ketika datang bersama Sie Bun Yun, Cui Cuk San Cung ini begitu indah menakjubkan, tapi sekarang...
Sementara Ling Hung berdiri termangu, kemudian air matanya meleleh membasahi pipinya.
"Kakak Yun! Kejadian itu ditimbulkan Cong Cin To (Gambar penyimpanan Kitab Pusaka), Engkau datang bersama kakak misan A Yun, pernahkan engkau dengar dia menyinggung tentang itu?"
Tanya Ling Hung mendadak "Dia tidak pernah bilang apa-apa padaku,"
Jawab Pek Yun Hui sejujurnya.
"Dia juga tidak bilang apa-apa padaku, begitu pula terhadap almarhum Namun orang lain bilang, bahwa Cong Cin To itu berada pada nya. Tentang itu apakah ada sebab musababnya?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Mungkin itu cuma kabar angin,"
Sahut Pek Yun Hui dan bertanya.
"Engkau tahu siapa gurunya?"
"Aku pun tidak tahu, hanya ingat ketika dia mau meninggalkan Cui Cuk San Cung, mendadak muncul seorang tua aneh, Almarhum sangat menghormati orang tua aneh itu, sedangkan di tangan orang tua aneh itu terdapat sebatang bambu kering yang mengkilap. Orang tua aneh itu bilang, dia tertarik akan bambu-bambu di Cui Cuk San Cung, maka mampir untuk sekedar melihat-lihat. Namun ketika melihat kakak misan A Yun, orang tua aneh itu berkeras ingin menerimanya menjadi murid. Pada waktu itu, aku kira ayahku tidak setuju, tetapi tidak tahunya ayahku menyetujuinya dan orang tua aneh itu lalu membawa kakak misan A Yun pergi."
"Siapa orang tua aneh itu?"
"Aku pernah bertanya pada ayah, tapi ayah tidak mau memberitahukannya."
"Oooh!"
Pek Yun Hui manggut-manggut lalu mengalihkan pembicaraan "Sie Bun Yun telah diculik orang, entah bagaimana keadaannya sekarang.
Ekspedisi Thian Liong merupakan perkumpulan apa?
Biar bagaimanapun kita harus menolongnya."
Sebetulnya Pek Yun Hui ingin pergi setelah lukanya sembuh, tetapi dalam sembilan hari ini, ia telah menyaksikan sikap Ling Hung, Kalau ia meninggalkan sepucuk surat lalu pergi, ia yakin Ling Hung tidak akan pereaya apa yang ditulisnya, sebaliknya mungkin akan menganggapnya sebagai penipu, dan Ling Hung pun mungkin akan membunuh diri.
Karena itu, ia tidak berani mengambil keputusan yang semula, melainkan akan menghadapi Ling Hung dengan cara lebih tepat, yakni bersikap dingin dan acuh tak acuh, setelah itu barulah meninggalkannya,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
sedangkan Ling Hung menceritakan tentang ekspedisi Thian Liong, Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Ceng dan Kim Coa Suseng-Wang Han Siang.
"Kalau begitu.,."
Ujar Pek Yun Hui seusai Ling Hung menceritakan itu.
"Belum tentu Sie Bun Yun dibawa ke markas pusat, Mungkin dia dibawa ke markas cabang di Kota Thai Chouw, Bagaimana kalau kita datang ke kota itu menyelidikinya?"
"Baiklah."
Ling Hung mengangguk Pada saat mereka sedang berbicara serius, tiba-tiba terdengar suara tawa aneh.
Pek Yun Hui dan Ling Hung segera menoleh, tampak seseorang berjubah abu-abu berdiri tak jauh dari situ, Tangan orang itu memegang sebatang toya bambu, Begitu melihat orang tersebut, Ling Hung sudah mengenalinya tidak lain adalah pembunuh ayahnya, yaitu Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, ketua partai Hwa San.
Pek Yun Hui dan Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng bertemu di tempat ini, namun kenapa dua tahun kemudian Tu Wee Seng tidak mengenali Pek Yun Hui lagi, ketika bertemu di gunung Kwat Cong San?
itu karena di tempat ini Pek Yun Hui menyamar sebagai anak lelaki, dan kepandaiannya belum begitu tinggi, serta tampak masih kekanak-kanakan, Apalagi ketika bertemu dengan orang tua itu di gunung Kwat Cong San Pek Yun Hui telah berpakaian wanita, Begitu melihat Tu Wee Seng, dendam dalam hati Ling Hung pun membara seketika, dan langsung menyerangnya dengan senjata trisula.
Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng cuma mundur selangkah sepasang matanya terus menatap Pek Yun Hui, sama sekali tidak memandang sebelah mata pada Ling Hung, Tadi Ling Hung menyerang Tu Wee Seng dengan jurus Cun Thau Coh Hoat (Rerumput MuIai Tumbuh Di Musim Semi), Karena Tu Wee Seng melangkah mundur, maka Ling
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Hung menyerangnya lagi dengan gerakan Siau Cih Thian Lam (Tertawa Menunjuk Thian Lam).
Ling Hung tahu bahwa Tu Wee Seng sangat lihay, maka ia tidak berani beradu senjata, Tu Wee Seng berkelit, kemudian balas menyerangnya tiga jurus beruntun, yaitu Kim Kong Ceh Kiam (Arhat Menekan Pedang), Lang Cien Liu Sah (Ombak Menderu Pasir Mengalir) dan Ciau Ceh Lam Hai (Ombak Lam Hai Menderu), Tampak toya bambu Tu Wee Seng berkelebatan mengarah kepada Ling Hung.
Pek Yun Hui yang menyaksikan serangan-serangan itu, tahu bahwa Ling Hung tidak dapat menekannya, Secepat kilat ia melesat ke arah Ling Hung, dan sekaligus memegang lengannya, lalu mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar Walau Pek Yun Hui belum begitu mahir menggunakan ilmu langkah ajaib tersebut, namun tetap berhasil menarik Ling Hung lolos dari serangan-serangan itu, bahkan sudah berada di belakang Tu Wee Seng, padahal waktu itu, Tu Wee Seng yakin dengan tiga jurus itu pasti berhasil membekuk Ling Hung, Akan tetapi, justru mendadak Ling Hung lenyap dari hadapannya.
Tu Wee Seng tertegun dan cepat-cepat membalikkan badannya.
"Siapa engkau?"
Bentak Pek Yun Hui.
Pek Yun Hui adalah putri kaisar, tentunya memiliki suatu karisma tersendiri Maka tidak heran kalau suara bentakannya membuat Tu Wee Seng tertegun, Berselang sesaat, barulah Tu Wee Seng menyahut "Aku Ketua Hwa San, Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng!"
"Hm!"
Dengus Pek Yun Hui dingin.
"Engkau seorang ketua partai, tetapi tidak malu! Cuma berani melancarkan serangan gelap!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Kedudukan dan reputasi Tu Wee Seng amat tinggi di rimba persilatan, maka selama ini tidak pernah dicaci maki orang, Namun hari ini justru dicaci si pemuda berbaju hijau ini, maka tidak heran kalau ia amat gusar, ia menatap Pek Yun Hui tajam, lama sekali barulah berkata.
"Bocah! Walau engkau telah mencaci diriku, aku tidak akan membuat perhitungan denganmu!"
"Kakak Yun, tidak perlu banyak bicara dengannya! Cepatlah turun tangan membalas dendam!"
Seru Ling Hung, Pek Yun Hui khawatir Ling Hung akan menyerang Tu Wee Seng, Oleh karena itu ia cepat-cepat menggerakkan pedangnya ke arah Tu Wee Seng, Ketika menyaksikan gerakan pedang Pek Yun Hui begitu aneh, Tu Wee Seng tertegun dan langsung mengayunkan toya bambunya untuk menangkis seraya membentak "Bocah!
Engkau dari perguruan mana?"
"Phui! Engkau masih belum berderajat menanyakan nama guruku"
Sahut Pek Yun Hui ketus, Setelah itu, ia pun menyerang lagi, Tu Wee Seng berkelit dan sekaligus balas menyerang dengan jurus Yun Liong Sam Hiang (Naga Di Awan Memuncul Tiga Kali) dan Hui Hong Soh Liu (Angin Puyuh Menyapu Pohon), Walau Pek Yun Hui memiliki ilmu pedang aneh, tapi Lweekangnya masih dangkal, sehingga terdesak mundur oleh serangan-serangan Tu Wee Seng.
"Aku ke mari demi kebaikan kalian!"
Bentak Tu Wee Seng.
"Namun kalian sungguh tak tahu diri!"
"Omong kosong!"
Sahut Ling Hung, Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng tertawa gelak, ia tergolong tokoh tua dalam rimba persilatan, namun berhati licik, Kalau
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
bukannya ingin memperalat mereka, mungkin ia sudah turun tangan jahaL Usai tertawa, ia pun berkata.
"Kalian barusan sedang kasak-kusuk tentang Sie Bun Yun, tahukan kalian dia berada di mana sekarang?"
"Dia berada di mana, ada urusan apa denganmu?"
Sahut Ling Hung ketus. Ketika mendengar Tu Wee Seng mengatakan begitu., hati Pek Yun Hui tergerak "Adik Hung, tahan senjatamu!"
Serunya ketika melihat Ling Hung mau menyerang Tu Wee Seng, lalu bertanya pada orang itu.
"Kalau begitu, engkau tahu dia berada di mana?"
"Tentu tahu."
Tu Wee Seng manggut-manggut.
"Kalau begitu...."
Pek Yun Hui maju selangkah "Beritahukanlah pada kami!"
"Beritahukan pada kalian?"
Tu Wee Seng tertawa dingin.
"Apa gunanya aku beritahukan?"
"Aku temannya, maka setelah tahu dia berada di mana, tentunya aku akan pergi menolongnya!"
Sahut Pek Yun Hui.
"Ha ha ha!"
Tu Wee Seng tertawa gelak bergema ke mana-mana.
"Kenapa engkau tertawa, tua bangka?"
Bentak Ling Hung.
"Apakah salah perkataan kakak Yunku?"
"Tahukah kalian, Sie Bun Yun jatuh ke tangan siapa sekarang?"
Tu Wee Seng balik bertanya.
"Dia diculik oleh pihak ekspedisi Thian Liong!"
Sahut Pek Yun Hui.
"Kedua orang yang menculik Sie Bun Yun adalah Wang Han Siang dan Yap Yong Ceng!"
Tu Wee Seng diam saja, akan tetapi secara sengaja dan tidak mendadak menggerakkan toya bambunya ke atas, Tampak seekor burung yang sedang terbang beberapa depa tingginya mengeluarkan suara "Kuk", lalu jatuh seketika.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Hei, tua bangka!"
Bentak Ling Hung ketika melihat burung itu terpukul jaluh.
"Engkau benar-benar tidak punya perasaan! Kenapa burung yang tidak bersalah itu kau pukul sampai jatuh?"
Usai membentak, Ling Hung segera mengangkat burung itu, lalu dielus-elusnya, bahkan kemudian juga disentuhnya dengan pipinya, Pek Yun Hui menyaksikannya dengan hati duka, sebab itu pertanda Ling Hung merupakan gadis yang amat perasaan dan berhati bajik, sebaliknya ia malah akan membuat gadis itu menderita.
Ketika melihat mereka seakan tidak memperdulikannya, Tu Wee Seng segera tertawa dingin.
"Kalian berdua tidak menghendaki Sie Bun Yun hidup, yah! Sudahlah!"
Ujarnya sambil membalikkan badannya lalu melangkah pergi.
"Tunggu, Cianpwee!"
Seru Pek Yun Hui cepat Tu Wee Seng membalikkan badannya, lalu tertawa dingin lagi seraya berkata.
"Kalian berdua punya nyali mau pergi menolong Sie Bun Yun, kenapa masih suruh aku menunggu?"
"Maksud Cianpwee, berdasarkan tenaga kami ber-dua, sama sekali tidak bisa menolong Sie Bun Yun kan?"
"Tidak salah."
Tu Wee Seng mengangguk "Kakak Yun"
Sela Ling Hung, yang telah melepaskan burung tersebut "Jangan dengar perkataannya!"
Pek Yun Hui memang pereaya akan apa yang dikatakan Tu Wee Seng, sebab Yap Yong Ceng memang berkepandaian tinggi, apalagi Kim Coa Suseng-Wang Han Siang, Tentunya mereka berdua tidak akan dapat melawan ke dua orang itu, lagi pula masih ada orang lain yang berkepandaian tinggi di tempat ekspedisi Thian Liong.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Harap Adik Hung diam dulu!"
Sahutnya, lalu berkata pada Tu Wee Seng.
"Cianpwce ada petunjuk apa?"
"Sekarang ini, yang berani menentang ekspedisi Thi-an Liong atau partai tersebut, hanya sembilan partai besar Kenapa kalian tidak mau minta bantuan pada. orang dekat?"
Walau Tu Wee Seng tidak mengatakan secara jelas, namun Pek Yun Hui dan Ling Hung sudah tahu apa maksudnya, yakni minta bantuannya.
"Siapa mau.,.,"
Baru mengucapkan demikian, Ling Hung segera memandang Pek Yun Hui sambil tersenyum.
"Kakak Yun, aku banyak mulut lagi, maaf ya!"
"Tidak apa-apa,"
Sahut Pek Yun Hui lalu menatap Tu Wee Seng.
"Cianpwee adalah ketua partai Hwa San yang berkepandaian tinggi, entah sudi apa tidak membantu kami?"
Tu Wee Seng tertawa terbahak-bahak, lalu menyahut -"
Dengan lantang, Tentu boIeh, tapi aku tak ada urusan apa-apa dengan partai Thian Liong, kenapa harus cari masalah dengan partai itu?"
"Eeeh?"
Sela Ling Hung lagi.
"Kalau begitu, apa kehendakmu?"
"Aku mengerti maksud Cianpwee."
Pek Yun Hui tersenyum "Tentunya kami harus melakukan sesuatu untuk Cianpwee sebagai imbalannya, bukan?"
Tu Wee Seng tertawa gelak, Suara tawanya membuat beberapa batang bambu yang ada di sekitarnya bergoyangnya ng. itu pertanda Lweekang orang itu telah mencapai tingkat tinggi.
"Bocah! Engkau sungguh pintar!"
Ujar Tu Wee Seng.
"Aku memang bermaksud demikian."
"Apa yang harus kami lakukan untuk Cianpwee?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Setelah berhasil menolong Sie Bun Yun, kalian harus menyuruhnya memperlihatkan Gambar Penyimpanan Kitab Pusaka padaku!"
"Sudah lewat sekian hari, apakah Wang Han Siang masih belum memperoleh Cong Cin To itu?"
Tanya Pek Yun Hui heran.
"Sie Bun Yun tidak mau memberitahukan berada di mana Cong Cin To itu,"
Sahut Tu Wee Seng.
"Cianpwee, bagaimana Wang Han Siang memperlakukan Sie Bun Yun?"
Tanya Pek Yun Hui mendadak.
"Tentu tidak terlepas dari suatu siksaan."
Tu Wee Seng memberitahukan Hati Pek Yun Hui terasa sakit mendengar itu, bahkan nyaris mengucurkan air mata pula.
"Baiklah, kuterima syarat Cianpwee Asal berhasil menolongnya, aku pasti menyuruhnya memperlihatkan Cong Cin To itu pada Cianpwee,"
Ujar Pek Yun Hui berjanji "Engkau adalah...."
Tu Wee Seng tampak masih ragu.
"Cianpwee tidak usah ragu, aku teman baik Sie Bun Yun, Pokoknya aku tidak akan ingkar janji,"
Sahut Pek Yun Hui.
"Ha ha!"
Tu Wee Seng tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah, Aku pereaya padamu, Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?"
Ketika Pek Yun Hui baru mau membuka mulut, Ling Hung telah mendahuluinya dengan bentakan "Aku tidak mau bekerja sama dengan orang yang telah membunuh ayahku, Kakak Yun!"
"Adik Hung!"
Pek Yun Hui mendekatinya seraya berbisik.
"Kepandaiannya amat tinggi, maka kita harus memanfaatkan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
kepandaiannya untuk menolong Sie Bun Yun, Adik yang baik, dengarkanlah perkataanku!"
Hati Ling Hung langsung berbunga-bunga ketika Pek Yun Hui memanggilnya "Adik yang baik, ia memandang Pek Yun Hui dengan penuh cinta kasih dan berkata.
"Kakak Yun, aku menurut perkataanmu, tapi tidak sudi bicara dengan orang itu,"
Katanya sambil memandang Pek Yun Hui dengan penuh cinta kasih.
"Adik Hung!"
Pek Yun Hui tersenyum.
"Apakah aku sudi bicara dengannya? Yang penting kita harus pergi menolong Sie Bun Yun."
"Ya."
Ling Hung mengangguk. Setelah mereka berdua usai berbisik-bisik, barulah Tu Wee Seng membuka mulut.
"Wang Han Siang mengurung Sie Bun Yun di Seh Tong, markas cabang ekspedisi Thian Liong, Aku berangkat duluan dan akan menunggu kalian di luar pintu Kota Thai Chouw, Kalian berdua harus segera menyusul, jangan membuang waktu!"
Usai berkata begitu, Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng melesat pergi, dan dalam sekejap menghilang dari pandangan Pek Yun Hui dan Ling Hung, Setelah mengetahui kabar beritanya Sie Bun Yun, hati Pek Yun Hui jadi kacau, ingin cepat-cepat berangkat ke kota Thai Chouw bertemu Tu Wee Seng, lalu bersama menolong pemuda tersebut ***** Bab ke 31 -Cinta Menimbulkan Badai Setelah membeli dua ekor kuda, Pek Yun Hui dan Ling Hung segera berangkat ke Kota Thai Chouw, Pek Yun Hui menunggang kudanya bagaikan terbang dan Ling Hung mengikutinya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kakak Yun!"
Tanya Ling Hung heran.
"Kenapa engkau tampak begitu tergesa-gesa?"
Pertanyaan tersebut membuat hati Pek Yun Hui tergerak, maka ia ingin secara tidak langsung menjelaskan identitas dirinya.
"Adik Hung! Ketika engkau menerjang ke dalam kobaran api menolongku, engkau merasa cemas apa tidak?"
"Cemas sekali!"
"Adik Hung, saat ini perasaanku seperti perasaanmu di saat itu."
Ling Hung manggut-manggut, tapi kemudian menggelenggelengkan kepala seraya berkata.
"Kakak Yun, tidak benar perkataanmu itu."
"Kenapa tidak benar?"
Tanya Pek Yun Hui. Ling Hung tersenyum dengan wajah kemerah-merahan.
"Kakak Yun, karena kalau tiada engkau aku tidak akan hidup lagi, maka aku begitu cemas, sedangkan hubunganmu dengan kakak misanku sangat akrab, namun bagaimana mungkin dibandingkan dengan... cinta kasihku padamu?"
"Adik Hung...."
Diam-diam Pek Yun Hui menarik natas panjang.
"Engkau jangan bodoh, Suatu hari nanti aku pasti mati, apakah engkau pun ingin mati?"
"Betul,"
Sahut Ling Hung sungguh-sungguh.
"Adik Hung, seandainya aku jahat terhadapmu?"
Tanya Pek Yun Hui mendadak.
Wajah Ling Hung langsung menyiratkan kepedihan "Kakak Yun, setelah aku melakukan suatu kesalahan barulah engkau akan jahat padaku, Oleh karena itu, aku tidak akan melakukan suatu kesalahan apa pun."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui tidak menyangka kalau Ling Hung akan menjawab demikian, yaitu yang menandakan Ling Hung sama sekali tidak berpikir bahwa Pek Yun Hui tidak akan mencintainya, Maka seketika juga Pek Yun Hui membisu, sementara kuda mereka terus berlari, derapnya membuat hati Pek Yun Hui semakin kacau, Jarak dari Cui Cuk San Cung ke Kota Thai Chouw tidak begitu jauh, maka tak seberapa lama kemudian, mereka sudah melihat tembok kota tersebut sementara Pek Yun Hui tampak bersemangat tiba-tiba mendadak dari rimba samping muncul beberapa orang berpakaian hitam menghadang di depan mereka, Akan tetapi Pek Yun Hui dan Ling Hung tidak menghiraukanpara peng-hadang itu dan terus memacu kudanya.
"Harap minggir!"
Teriak Pek Yun Hui.
"Kalian berdua harap turun!"
Sahut salah seorang penghadang.
"Cepat tinggalkan gelar!"
Pek Yun Hui belum lama berkecimpung di rimba persilatan, maka tidak tahu apa yang dimaksudkan "gelar"
Tersebut "Kalian bilang apa? Harus tinggalkan apa?"
Tanya Pek Yun Hui sambil menarik tali kendali kudanya agar berhenti "Tinggalkan nama kalian!"
Sahut seorang berbaju hitam dan tampak gusar.
"Kenapa kami harus meninggalkan nama?"
Pek Yun Hui mengernyitkan kening.
sedangkan Ling Hung sudah gusar ia langsung mengeluarkan senjata lalu diayunkannya ke arah orang-orang itu.
Para penghadang itu langsung menyingkir pada waktu bersamaan terdengarlah suara desiran senjata rahasia ke arah Pek Yun Hui dan Ling Hung, Mereka berdua cepat-cepat mengayunkan senjata masing-masing untuk menangkis senjata rahasia itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Akan tetapi, karena mereka berada di atas punggung kuda, maka agak sulit melakukan gerakan, Apalagi ketika kuda mereka meringkik-ringkik dan berjingkrak-jingkrak karena terkena senjata rahasia, Ling Hung meloncat turun, dan sekaligus menyerang orang-orang itu dengan jurus Cui Cuk Yauw Ih (Bambu Hijau Bergoyang), Cun Thauw Coh Hoat (Rerumputan Mulai Tumbuh di Musim Semi) dan Cok Cok Ko Seng (Setingkat Naik Setingkat), Tampak dua orang yang mengeluarkan senjata berupa rantai besi, kemudian menangkis senjata Ling Hung, mulailah mereka bertempur dengan seru.
Tiga orang menghampiri Pek Yun Hui.
seketika juga Pek Yun Hui meloncat turun dari kudanya dengan pedang di tangan.
"Kalian siapa?"
Bentaknya.
"Kalian melakukan perjalanan di malam hari, dan tidak mau tinggalkan nama, maka harus mampus!"
Sahut salah seorang berbaju hitam sambil tertawa terkekeh.
"Apakah kalian opas dari kantor pejabat? tanya Pek Yun Hui. ia seorang putri kaisar, maka tidak memandang sebelah mata pada opas-opas mana pun.
"Hm!"
Dengus salah seorang berbaju hitam.
"Kalian sudah mendekati markas cabang Thian Liong, kalau kalian tidak memberitahukan nama, berarti kalian mau cari gara-gara dengan kami!"
Begitu mendengar mereka dari ekspedisi Thian Liong, timbullah rasa benci dalam hati Pek Yun Hui.
"Ekspedisi Thian Liong sedemikian tidak tahu atur-an, sama juga seperti golongan hitam!"
Ujarnya sambil tertawa,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Apa?"
Wajah ke tiga orang berbaju hitam itu langsung berubah.
"Engkau berani bicara sembarangan di sini?"
"Kenapa tidak?"
Sahut Pek Yun Hui dingin.
Ketiga orang berbaju hitam itu segera mengeluarkan senjata masing-masing, lalu menyerang Pek Yun Hui dari tiga arah, Pek Yun Hui menggerakkan pedangnya mengeluarkan jurus Goan Yah Coh Cing (Rumput Hijau di padang Liar), Badannya berputar, tahu-tahu sudah berada di belakang salah seorang berbaju hitam, Ketiga orang berbaju hitam tertegun, dan ketika baru mau menyerang lagi, mendadak rerumputan yang ada di pinggir jalan bergerak, dan terdengar pula suara "Serrt!
Serrrt!
Serrrrt"
Tampak beberapa sinar meluncur ke arah tiga orang berbaju hitam dan tanpa sempat menjerit lagi ke tiga orang itu pun roboh, Setelah itu, melesat ke luar seseorang dari rerumputan ternyata adalah To Pie Kim Kong-Thu It Kang.
Lukanya telah sembuh, bahkan kini telah membunuh ke tiga orang itu dengan senjata rahasia andalannya.
"Kita bertekad menolong orang, jadi jangan sembarangan membunuhi"
Tegur Pek Yun Hui.
Akan tetapi, Thu It Kang tampak seakan tidak mendengar teguran itu.
ia terus menghampiri dua orang berbaju hitam yang sedang bertempur dengan Ling Hung, kemudian secepat kilat memegang bahu ke dua orang itu seraya membentak "Bagaimana kata sandi markas cabang Thian Liong malam ini?"
Ternyata Thu It Kang telah memegang jalan darah yang mematikan di punggung ke dua orang itu, namun mereka tetap tidak mau memberitahukan kata sandi tersebut.
"Kami orang gagah dari ekspedisi Thian Liong, bagaimana mungkin...."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Belum juga orang itu usai menyahut, Thu It Kang telah menekan jalan darah mereka, sehingga membuat orang tersebut menjerit-jerit kesakitan "Kata sandi malam ini adalah...
"Pendatang Siapa dan Dewa Kaki Telanjang"
Itu adalah kata sandi malam ini!"
Salah seorang itu memberitahukan.
"Hm!"
Dengus Thu It Kang dingin.
"Plak! Plak!"
Terdengar dua kali tepukan, Ke dua orang berbaju hitam itu terpental dengan mulut menyemburkan darah segar, dan nyawa mereka pun melayang seketika.
"Kalian berdua ikut aku!"
Ujarnya dingin pada Pek Yun Hui dan Ling Hung.
"Huh!"
Ling Hung membuang muka.
"Hei!"
Bentak To Pie Kim Kong-Thu It Kang.
"Kenapa engkau mengeluarkan suara Huh?"
Sesungguhnya Ling Hung telah berusaha menekan dendamnya yang membara, terhadap Thu It Kang yang membakar Cui Cuk San Cung, karena itu ia menyahut dengan menghardik "Engkau jangan sok!
Dasar tukang bakar rumah orang!"
Ling Hung langsung menyerangnya dengan jurus Tok Coh Yu Hong (Duduk Tenang Seorang Diri), Thu It Kang segera berkelit dan secepat kilat balas menyerang dengan sebuah pukulan.
Ling Hung melesat ke atas, kemudian menyerang lagi dengan jurus Can Cui Ik Tie (Memular Bambu Hijau), Trisulanya membentuk sebuah lingkaran dan secepat kilat mengarah kepada Thu It Kang.
Thu It Kang tidak mau menangkis serangan itu, melainkan meloncat mundur selangkah, dan sepasang telapak tangannya mendorong ke depan,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui tahu bahwa Ling Hung tidak dapat berkelit atau menangkis pukulan itu, maka laksana kilat ia menyerang punggung Thu It Kang dengan pedangnya mengeluarkan jurus Cang Hong Khoan Jit (Pelangi Me-lintang Di Matahari), Thu It Kang terpaksa menarik kembali pukulannya, dan sekaligus membalikkan badannya.
"Serrt!"
Pada waktu bersamaan, pedang Pek Yun Hui melubangi bajunya, Betapa gusarnya Thu It Kang, ia langsung melancarkan sebuah pukulan yang penuh mengandung Lwee-kang, maksudnya ingin melukai Pek Yun Hui dalam satu puku!an, Akan tetapi, setelah ia melancarkan pukulan itu, di saat bersamaan terdengarlah suara tawa di belakangnya.
Thu It Kang tertegun, ternyata sudah tidak tampak Pek Yun Hui di hadapannya, sehingga pukulannya malah merobohkan sebuah pohon yang ada di depannya.
"Trang!"
Thu It Kang mencabut goloknya lalu membentak keras sambil menyerang Pek Yun Hui dengan jurus Hong Sau Lok Yap (Angin Menyapu Dedaunan Rontok).
Golok itu berkelebat mengarah Pek Yun Hui.
Pada waktu bersamaan, tampak sosok bayangan melesat ke arahnya lalu terdengar suara benturan senjata.
"Trang!"
Sebatang toya bambu menangkis golok Thu It Kang, Ternyata pendatang itu adalah Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng.
"Sutee (Adik Seperguruan), sudah mengetahui kata sandi? Kenapa engkau bertarung dengan mereka?"
Tanya Tu Wee Seng.
"Mereka berdua sungguh menghina orang!"
Sahut Thu It Kang.
"Hm!"
Dengus Tu Wee Seng.
"Yang penting malam ini kita harus melaksanakan pekerjaan itu, kenapa harus ambil pusing pada mereka?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Tapi....,"
"Sudahlah!"
Potong Tu Wee Seng.
"Ayo, cepat ikut aku!"
Tu Wee Seng melesat ke depan, Thu It Kang segera niengikutinya, menyusul Pek Yun Hui dan Ling Hung, Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah tiba di tembok kota, Keempat orang itu mengerahkan ginkang melesat ke dalam melalui tembok kota itu, Setelah berada di dalam tembok kota, Tu Wee Seng segera berkata.
"Selain Wang Han Siang dan Yap Yong Ceng, di dalam markas cabang itu masih terdapat Coan Tiong Si Chouw (Empat Orang Buruk Coan Tiong), Kita menggunakan akal, tidak perlu melawan dengan tenaga, Kalau kalian berdua tidak mendengar perkataanku sehingga tidak dapat menolong orang, jangan menyalahkan aku."
"Kami pasti mendengar petunjukmu,"
Sahut Pek Yun Hui "Bagus."
Tu Wee Seng manggut-manggut dan mengayunkan kakinya, Thu It Kang, Pek Yun Hui dan Ling Hung mengikutinya dari belakang, Sete!ah melewati beberapa jalan kecil, tampaklah sebuah bangunan besar, Di atas pintu bangunan itu bergantung sebuah papan bertuliskan "Markas Cabang Ekspedisi Thian Liong".
"Hati-hatilah!"
Kedudukan Tu Wee Seng adalah ketua dari suatu partai, maka kalau ingin memusuhi ekspedisi Thian Liong, tentunya harus dengan cara terang-terangan, Namun dalam beberapa tahun ini, sudah banyak pesilat tinggi bergabung dengan partai Thian Liong, Oleh karena itu, seandainya hanya mengandalkan partai Hwa San, pasti tidak akan dapat melawan partai Thian Liong, justru itu, Tu Wee Seng ingin menolong Sie Bun Yun dengan cara diam-diam, tidak berani secara terang-terangan,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Usai berpesan begitu, Tu Wee Seng lalu melangkah memasuki halaman bangunan itu, namun tiba-tiba terdengar suara bentakan.
"Pendatang siapa?"
"Dewa kaki telanjang!"
Sahut Thu It Kang, Hening seketika setelah Thu It Kang menyahut begitu, Keempat orang itu lalu menuju pintu bangunan tersebut Tu Wee Seng mendorong pintu itu, dan sekaligus masuk ke dalam.
Thu It Kang, Pek Yun Hui dan Ling Hung segera mengikuti dari belakang, Ternyata mereka sampai di sebuah ruang tamu yang amat besar dan indah, serta penuh lampu menyala terang, Tu Wee Seng dan Thu It Kang menundukkan kepala, lalu melangkah ke dalam melalui sisi dinding.
Ketika Pek Yun Hui dan Ling Hung baru mau mengikuti mereka, mendadak tampak sebuah pintu yang ada di ruang tamu itu terbuka, Segeralah Pek Yun Hui memandang ke dalam pintu itu, Sungguh di luar dugaan, di dalamnya terdapat seseorang, yang tidak lain adalah Sie Bun Yun.
Begitu melihat Sie Bun Yun berada di dalam kamar itu, Pek Yun Hui tertegun beberapa saat lamanya, Setelah itu, ia segera menghunuskan pedang, Namun ketika ia mau menerjang ke dalam kamar tersebut, Tu Wee Seng sudah melesat ke hadapannya seraya berkata.
"Jangan bertindak sembarangan!"
Akan tetapi, Pek Yun Hui sudah tidak dapat mengendalikan diri. Didorongnya Tu Wee Seng ke samping, namun Tu Wee Seng malah mencengkeram lengannya.
"Lepaskan tanganmu!"
Bentak Ling Hung karena melihat Tu Wee Seng mencengkeram lengan Pek Yun Huu justru pada waktu bersamaan, terdengarlah suara bentakan yang amat keras.
"Siapa ribut-ribut di luar?"
"Tidak ada apa-apa!"
Sahut Thu It Kang cepat, lalu melesat ke tempat gelap,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Tu Wee Seng menarik Pek Yun Hui ke sana, Ling Hung pun mengikuti mereka, Setelah berada di tempat gelap itu, Tu Wee Seng langsung berbisik "Kini Wang Han Siang dan lainnya sedang menginterogasi Sie Bun Yun.
Asal mereka membawa dia kembali ke ruang tahanan, kita pun punya akal."
Pek Yun Hui mengangguk dan memandang ke dalam kamar tempat Sie Bun Yun diinterograsl Selain pemuda itu, di dalam kamar itu masih terdapat enam orang.
Dua di antaranya Pek Yun Hui sudah kenal, yakni Yap Yong Ceng dan Wang Han Siang, sedangkan empat orang lainnya pasti Coan Tiong Si Chouw, Sie Bun Yun duduk di sebuah kursi dengan kaki dan tangan diikat ia menghadap mereka berenam juga menghadap pada arah Pek Yun Hui, Sepuluh hari tidak melihat Sie Bun Yun, pemuda itu tampak agak kurus dan wajahnya agak kusut, Menyaksikan itu, mata Pek Yun Hui langsung bersimbah air.
"Bun Yun! Bun Yun!"
Serunya dalam hati.
"Tahukah engkau, aku sudah datang?"
Pek Yun Hui ingin sekali menerjang ke dalam kamar itu untuk menolongnya namun untung masih dapat mengendalikan diri, Ling Hung yang berdiri di sisinya melihat mata Pek Yun Hui bersimbah air, Namun gadis itu sama sekali tidak tahu apa sebabnya, hanya menganggap Pek Yun Hui sangat baik terhadap teman, Terhadap temannya sudah begitu, apalagi terhadap dirinya?
Pikir Ling Hung dan merasa bahagia sekali.
"Sie Bun Yun!"
Suara Wang Han Siang.
"Kami mengundangmu ke mari, Asal engkau bersedia menyerahkan Cong Cin To itu pada kami, siapa pihak lain berani mengganggu dirimu lagi, kami pihak partai Thian Liong pasti membantumu!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ha ha!"
Sie Bun Yun tertawa gelak.
"Terimakasih atas maksud baik ka)ian! Sudah kukatakan sejak aku berada di sini, bahwa aku sama sekali tidak tahu menahu tentang Cong Cin To itu. pereuma kalian terus bertanya padaku."
"Meskipun engkau berada di luar perbatasan, kami sudah mengetahui berita mengenai dirimu."
Ujar Wang Han Siang.
"Tentunya berita itu tidak palsu, Malah kini partai Hwa San telah membumi hanguskan Cui Cuk San Cung, apakah itu tiada sebab musababnya?"
"Apa?"
Sie Bun Yun tampak terkejut sekali.
"Partai Hwa San membumi hanguskan Cui Cuk San Cung? Kalau begitu, bagaimana keadaan paman dan adik misan pe-rempuanku itu? Ayoh! Cepat beritahukan!"
Setelah mendengar itu, berdukalah hati Pek Yun Hui.
Karena setelah mendengar tentang itu, Sie Bun Yun langsung bertanya tentang Ling Hung, sama sekali tidak bertanya mengenai dirinya, Berdasarkan itu, dapat diketahui betapa cintanya pada Ling Hung, Walau kini sedang berada di tangan musuh, ia masih memikirkan keselamatan gadis tersebut Pek Yun Hui menoleh ke arah Ling Hung, Gadis itu justru tampak tidak tahu di balik ucapan Sie Bun Yun yang penuh mengandung cinta kasih padanya, Seketika juga Pek Yun Hui berpikir, kalau ia berniat membantu Sie Bun Yun dalam hal tersebut, mungkin Ling Hung tetap tidak akan mengacuhkan pemuda itu.
"Pamanmu sudah meninggal,"
Sahut Wang Han Siang.
"Kalau begitu, bagaimana keadaan adik misan perempuanku?"
Tanya Sie Bun Yun lagi.
"Tiada kabar berita dan jejaknya,"
Sahut Wang Han Siang sambil tertawa dingin,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ayoh! cepatlah kalian lepaskan aku!"
Bentak Sie Bun Yun dan sekaligus meronta, sehingga kursi yang didudukinya bergoyang-goyang.
"Tenang!"
Ujar Wang Han Siang sambil tersenyum.
"Ekspedisi Thian Liong memiliki banyak anak buah, Hanya mengeluarkan perintah saja, kami akan mengetahui jejak adik misan perempuanmu itu, jadi engkau tidak perlu cemas."
"Aku tidak membutuhkan bantuan kalian! Aku akan pergi mencarinya sendiri!"
Bentak Sie Bun Yun.
"Engkau tidak boleh meninggalkan tempat ini."
Wang Han Siang tertawa-tawa.
"Kecuali kalau engkau menyerahkan Cong Sin To itu."
Sie Bun Yun tertegun, Keningnya berkerut-kerut rupanya sedang mempertimbangkan untuk mengambil suatu keputusan "Kalau engkau masih keras kepala, kami sudah tidak bisa bersabar untuk menunggu lagi,"
Ujar Wang Han Siang bernada mengancam, kemudian mendadak bangkit berdiri dan sekaligus melancarkan pukulan ke arah Sie Bun Yun dengan jurus Wua Ti Fan Yun (Dibawah pergelangan ,Membalikkan Awan), mengarah pada jalan darah Sien Kie dan Hwa Kai, Kedua jalan darah itu terletak di bagian dada.
Siapa tertotok ke dua jalan darahnya itu, kalaupun tidak mati, pasti akan cacat seumur hidup, Akan tetapi, mendadak Wang Han Siang menahan tangannya, ternyata ia cuma ingin menakuti Sie Bun Yun saja, Namun Pek Yun Hui yang bersembunyi itu, tanpa sadar mengeluarkan suara jeritan saking terkejutnya, nAaakh...."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Suara jeritannya itu membuat Yap Yong Ceng dan Coan Tiong Si Chouw langsung bangkit berdiri sambil memandang ke luar.
Tu Wee Seng telah bersusah payah memasuki bangunan markas cabang ekspedisi Thian Liong ini, tapi malah dirusak oleh Pek Yun Hui di saat yang begitu genting, otomatis sangat menggusarkannya.
"Plak!"
Tu Wee Seng langsung menghantam punggung Pek Yun Hui.
seketika juga Pek Yun Hui menjerit, badannya pun terpental ke dalam kamar itu, tepat di sisi kursi Sie Bun Yun.
Keenam orang yang berada di dalam kamar itu tertegun dan terbelalak Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa yang menerobos ke dalam kamar itu seorang pemuda, maka mereka pun berlega hati, dan tertawa dingin seketika, Pek Yun Hui tahu bahwa dirinya sudah berada dalam bahaya, namun ia malah bersikap tenang, bahkan tidak menghiraukan mereka.
"Saudara Bun Yun, bagaimana keadaanmu?"
Tanyanya kepada Sie Bun Yun. Begitu melihat yang menerobos ke dalam kamar itu Pek Yun Hui, hati Sie Bun Yun tersentak kaget dan girang.
"Saudara kecil, engkau bukan lawan mereka! Kenapa engkau harus ke mari cari mati?"
Sahut Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala, Sahutan Sie Bun Yun membuat hati Pek Yun Hui terhibur, sebab pemuda tersebut masih memperhatikan dirinya, Hanya saja pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa Pek Yun Hui adalah seorang gadis.
"Saudara Bun Yun, aku akan melepaskan tali yang mengikat dirimu."
Pek Yun Hui menjulurkan tangannya dengan maksud ingin melepaskan tali itu,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Akan tetapi, di saat bersamaan Pek Yun Hui mendengar desiran di belakangnya, Ternyata Kim Coa Su-seng-Wang Han Siang telah menyerang dengan kipas mengarah pada lengannya, Pek Yun Hui terpaksa meloncat mundur, kemudian bentaknya gusar.
"Saudara Bun Yun sudah bilang, bahwa dia tidak tahu tentang Cong Gin To itu! Kenapa kalian masih mengurungnya di sini? Apakah kalian sudah kebal akan hukum?"
He he he!"
Wang Han Siang tertawa terkekeh.
"Sobat kecil, engkau ingin mencampuri urusan ini?"
Ketika Pek Yun Hui baru mau menyahut, mendadak Sie Bun Yun sudah mendahuluinya bertanya.
"Saudara kecil, di mana Ling Hung?"
Pek Yun Hui tadi cuma memperhatikan Sie Bun Yun, sehingga melupakan gadis tersebut Karena Sie Bun Yun bertanya, ia pun jadi tertegun, Tadi ia bersama Ling Hung, maka seharusnya Ling Hung menyusulnya di kamar ini.
Namun kenapa Ling Hung malah tak ada suaranya?
Apakah ia sudah dibawa pergi oleh Tu Wee Seng dan Thu It Kang?
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, Pek Yun Hui berpikir Walau ke dua orang itu sangat licik dan jahat, namun ia yakin ke dua orang itu tidak akan melukai Ling Hung, sebab masih ingin memperalat gadis itu untuk memaksa Sie Bun Yun membuka mulut, Setelah berpikir demikian, Pek Yun Hui pun berlega hati "Dia baik-baik saja, engkau tidak perlu mencemaskannya,"
Sahut Pek Yun Hui dengan suara rendah.
"Syukurlah kalau begitu,"
Ucap Sie Bun Yun sambil menarik nafas lega,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui mendongakkan kepala, ia melihat dirinya telah dikurung oleh enam orang itu.
ia tahu jelas, kalaupun satu lawan satu, masih sulit baginya untuk melawan, apalagi harus melawan enam orang itu, Namun apa boleh buat, tidak bisa melawan pun harus mengadakan perlawanan "Kalian ingin bertempur?"
Tanya Pek Yun Hui sambil menggenggam pedangnya erat-erat.
"Ha ha!"
Wang Han Siang tertawa gelak.
"Sobat kecil, sungguh besar mulutmu!"
Karena barusan Pek Yun Hui memandang Wang Han Siang, maka dia pula yang menyahut, itu pun karena dia yang menculik Sie Bun Yun.
"Engkau paling jahat!"
Bentak Pek Yun Hui.
ia lalu menggerakkan pedangnya menyerang Wang Han Siang dengan jurus Cang Hong Khong Jit (Pelangi Melintang Di Matahari), yaitu salah satu jurus dari ilmu pedang yang terdapat di dalam kitab Kui Goan Pit Cek.
Maka dapat dibayangkan betapa lihay dan dahsyatnya jurus tersebut, Padahal Wang Han Siang sama sekali tidak memandang sebelah mata pada Pek Yiin Hui, Namun ketika pedang itu berubah berbentuk seperti pelangi mengarah padanya, ia pun terkejut dan tidak berani meremehkannya lagi, ia mengeluarkan jurus Mung Ih Si Kang (Hujan Deras Di Si Kang) untuk menangkis serangan Pek Yun Hui.
ilmu pedang Pek Yun Hui berasal dari kitab pusaka Kui Goan Pit Cek.
Hanya sayang Lweekangnya masih dangkal, sehingga masih tidak mampu mengembangkan kehebatan ilmu pedang tersebut Akan tetapi, cukup merepotkan Wang Han Siang untuk memecahkan jurus tersebut Wang Han Siang menangkis dengan jurus andalannya itu, maksudnya ingin membuat pedang itu terlepas dari tangannya, Tapi mendadak gerakan pedang Pek Yun Hui berubah, Memang masih tetap jurus Cang Hong Khoan Jit
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
tetapi gerakannya telah berubah, Pedang itu membentuk beberapa lingkaran dan tetap mengarah pada dada Wang Han Siang, sehingga membuat kipas Wang Han Siang menangkis tempat kosong, Wang Han Siang sungguh terkejut, dan cepat-cepat mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu Pat Pu Teng Khong (Delapan Langkah Menembus Angkasa), lalu secepat kilat badannya melesat ke belakang, Dengan ilmu ginkang tersebut, barulah Wang Han Siang dapat meloloskan diri dari serangan Pek Yun Hui.
Ketika Wang Han Sang mulai bertarung dengan Pek Yun Hui, Coan Tiong Si Chouw duduk kembali Tentu-nya mereka menganggap Wang Han Siang dapat mengalahkan Pek Yun Hui hanya dalam beberapa jurus.
Akan tetapi, sebaliknya malah Wang Han Siang yang terdesak mundur beberapa langkah, Pek Yun Hui tidak melancarkan serangan lagi pada Wang Han Siang, melainkan dengan jurus Ngo Gwce Tang Hong (Desiran Angin Di Bulan Lima) mengarah pada tali yang mengikat Sie Bun Yun.
"Krek! Krek!"
Tali itu telah putus. Setelah tali itu putus, Sie Bun Yun segera melancarkan beberapa pukulan dan berseru.
"Saudara kecil, terjang ke luar!"
Pek Yun Hui mengangguk, dan mereka berdua lalu menerjang keluar Akan tetapi baru beberapa depa, Coan Tiong Si Chouw telah melesat ke hadapan mereka, dan langsung mengurung mereka dengan Si Siang Tin Hoat (Formasi Empat Gajah).
"Kalian berempat tidak perlu turun tangan!"
Seru Wang Han Siang.
"Biar aku yang minta petunjuk pada mereka!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Setelah terlepas dari ikatan, semangat Sie Bun Yun bertambah, dan kemudian mengeluarkan senjatanya yang berupa sebatang bambu yang mengkilap.
Mereka berdua berdiri dengan punggung menghadap punggung di ruang tengah, Pada saat itu, Pek Yun Hui tampak gagah sekali, siapa pun tak menyangka bahwa sesungguhnya dia adalah seorang gadis.
"Kim Coa Suseng!"
Bentak Sie Bun Yun.
"Engkau adalah tokoh tua rimba persilatan, maka kami berdua melawan satu!"
"Ha ha ha!"
Kim Coa Suseng-Wang Han Siang tertawa jumawa.
"Kalian berdua boleh maju bersama!"
Sie Bun Yun menggerakkan bambunya membentuk beberapa lingkaran ia tidak langsung menyerang Wang Han Siang, melainkan berkata padanya.
"Kim Coa Suseng! Kalau kami kalah memang tidak bisa bilang apa-apa lagi, tapi bagaimana seandainya kami yang menang?"
"Ha ha!"
Wang Han Siang tertawa gelak.
"Kalian sedang bermimpi apa? Majulah!"
"Jawab dulu!"
Bentak Sie Bun Yun.
"Bagaimana seandainya kami yang menang?"
"Kalau kalian menang, kalian boleh meninggalkan tempat ini!"
Sahut Kim Coa Suseng-Wang Han Siang.
Sie Bun Yun memang menghendakinya mengatakan demikian, maka segera menandaskan "Sebagai lelaki sejati, jangan menarik kata-kata yang telah dicetuskan!
Saudara kecil, mari kita serang dia!"
Bambu itu bergerak, jurus Khong Ceh Toh Cing (Merana Seorang Diri) pun dikeluarkan mengarah pada Wang Han Siang.
Guru Sie Bun Yun tergolong tokoh tua yang aneh, maka ilmu silatnya sangat berbeda dengan ilmu silat Tionggoan,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Setiap jurus mengandung banyak gerakan aneh, bahkan amat bertenaga dan sekaligus menotok jalan darah lawan.
Jurus tersebut mengarah pada jalan darah di tenggorokan Wang Han Siang, yakni Thian Tu, Sien KJe dan Hwa Kai Hiat.
"Serrrt!"
Wang Han Siang mengembangkan kipasnya mengeluarkan jurus Sen Ngai Hui Pok (Air Terjun Di Tepi Tebing), Jurus itu dapat mematahkan serangan Sie Bun Yun, bahkan sekaligus menyerang puIa, Sie Bun Yun segera mundur Wang Han Siang ingin memburunya, tetapi pedang Pek Yun Hui telah bergerak, jurus Cih Hun Lam Pak (Memisahkan Selatan Utara) mengarah pada punggung Wang Han Siang, jurus tersebut membuat Wang Han Siang harus meloncat kesamping, akan tetapi pada waktu bersamaan, Sie Bun Yun telah menyerangnya, begitu pula Pek Yun Hui.
pedang dan bambu saling menyusul menyerang Wang Han Siang dengan jurus-jurus yang aneh, Dalam waktu sekejap, Wang Han Siang telah terkurung oleh pedang Pek Yun Hui dan bambu Sie Bun Yun.
Kim Coa Suseng telah mencetuskan, bahwa apabila mereka menang, maka boleh meninggalkan tempat itu.
Yap Yong Ceng dan Coan Tiong Si Chouw diam saja, sebab kedudukan Wang Han Siang masih di atas mereka, Meskipun mereka berlima merasa kurang puas, tapi tetap diam, sementara pertarungan semakin seru, tak terasa sudah melewati belasan jurus, Tiba-tiba Wang Han Siang membentak keras dan tangan kirinya mengeluarkan jurus Kim Coa Seh Yu (Ular Emas Merayap), sedangkan tangan kanannya menggerakkan kipasnya yaitu gerakan Coa Hang Sam Cun (Ular Melingkar Di Musim Semi), mengarah pada Pek Yun Hui.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui terpaksa berkelit ke samping, seketika juga Wang Han Siang menyerang Sie Bun Yun dengan jurus-jurus beruntun, yakni Chiang Coa Cut Tong (Ular Panjang Keluar Gua), Mieh Khi Tok Thian (Hawa Ama-rah Menembus Langit) dan Lang Cien Liu Sah (Ombak Menderu pasir Mengalir).
serangan tiga jurus beruntun itu menimbulkan suara menderu-deru, bahkan mengurung Sie Bun Yun dari tiga arah, Sie Bun Yun termundur-mundur dan kelihatan sudah berada di bawah angin.
Terkejutlah Pek Yun Hui.
ia langsung melesat ke arah Wang Han Siang bersama pedangnya dengan gerakan Liong Hang Yen Khong (Naga Meliuk Di Ang-kasa), Namun sayang sekali, Lweekang Pek Yun Hui masih dangkal, maka belum mencapai tingkat Sen Hap Kiam (Badan Menyatu Dengan Pedang), sebetulnya itu adalah ilmu pedang tingkat tinggi yang tiada laranya, Namun karena Lweekang Pek Yun Hui masih dangkal, maka kedahsyatan jurus tersebut masih kurang, sementara Wang Han Siang terus mendesak Sie Bun Yun dengan jurus-jurus yang mematikan, sehingga membuat nyawa pemuda tersebut berada di ujung tanduk, Akan tetapi, Pek Yun Hui mendadak menyerangnya, sehingga Wang Han Siang terpaksa berhenti menyerang Sie Bun Yun, lalu secepat kilat berkelit sambil melancarkan sebuah pukulan.
Pukulan tersebut disertai hampir delapan bagian Lweekangnya, sehingga menimbulkan suara menderu deru.
ia yakin, pukulannya pasti akan membuat Pek Yun Hui terpental Tapi Wang Han Siang mana tahu, jurus yang dilancarkan Pek Yun Hui justru adalah jurus ciptaan Sam Im Sin Ni dan Thian Kie Cinjin, Dapat dibayangkan betapa lihaynya jurus tersebut Setelah melancarkan pukulan itu, Wang Han Siang menyerang Sie Bun Yun lagi dengan kipasnya, sebab ia yakin
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
bahwa Pek Yun Hui akan terpental oleh pukulannya itu.
Akan tetapi, ketika kipasnya hampir mengenai dada Sie Bun Yun, ia pun merasa punggungnya dingin.
Sungguh di luar dugaannya, ternyata jurus Liong Hang Yen Khong dapat menerobos angin pukuIannya, bahkan pedang Pek Yun Hui mengarah punggungnya, Bukan main terkejutnya Wang Han Siang, ia terpaksa menarik serangannya yang mengarah ke dada Sie Bun Yun, kemudian secepat kilat berkelit ke samping, dan sekaligus batas menyerang dengan kipasnya.
"Tranng!"
Terdengar suara benturan senjata, Pek Yun Hui merasa ngilu tangannya sehingga pedangnya terlepas dari tangannya, Namun memang sungguh luar biasa jurus Liong Hang Yen Khong tersebut, sebab ketika pedang itu terlepas dari tangan Pek Yun Hui, masih dapat menyabet sebagian pakaian Wang Han Siang.
Sementara Sie Bun Yun telah menyerang dengan jurus Phing Lan Cih Ie (Bersandar Di pagar Mengirim Kenangan), ujung bambunya mengarah ke Cioh Ceh Hiat di badan Wang Han Siang.
Wang Han Siang tidak dapat berkelit Lengannya terasa sakit dan ngilu terkena totokan itu, dan kipas pun terlepas dari tangan "Ha ha!"
Sie Bun Yun tertawa gelak.
"Saudara kecil, kita sudah menang, mari kita pergi!"
Sudah lama Wang Han Siang malang melintang di rimba persilatan Selama itu tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Namun jurus Liong Hang Yen Khong, telah membuatnya berada di bawah angin, bahkan pakaiannya juga hilang sebagian tersabet pedang Pek Yun Hui, dan pada waktu bersamaan kipasnya pun terlepas dari tangannya,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Berdasarkan kenyataan, Wang Han Siang memang sudah kalah, Oleh karena itu Sie Bun Yun segera berseru demikian, justru menyebabkan Wang Han Siang tertegun dengan mulut membungkam sementara Wang Han Siang masih tertegun dengan mulut membungkam Sie Bun Yun segera menyentak pedang Pek Yun Hui yang tergeletak di lantai dengan ujung tongkat dengan cepat.
"Wang Cianpwee tidak akan ingkar janji kan? Nah, kami mohon pamit!"
Ujar Pek Yun Hui.
"Saudara Wang!"
Tegur Coan Tiong Si Chouw sambil tertawa dingin "Apakah harus membiarkan mereka pergi begitu saja?"
"Biar mereka pergi!"
Sahut Kim Coa Suseng-Wang Han Siang.
"Saudara Wang!"
Seru Cu Bo Sin Tan-Yap Yong Ceng.
"Bukankah urusan Cong Cin To sangat penting?"
"Aku membiarkan mereka pergi, tentunya aku pula yang akan menangkap mereka lagi!"
Wang Han Siang tertawa panjang, Yap Yong Ceng dan Coan Tiong Si Chouw tahu maksud hati Wang Han Siang yang tidak mau mengingkar janji Namun setelah mereka keluar dari markas cabang Thian Liong, Wang Han Siang pun akan menangkap mereka berdua lagi.
"Ha ha!"
Mereka tertawa gelak.
"Sungguh hebat rencana Saudara Wang!"
Kelicikan mereka membuat Pek Yun Hui gusar sekali, tetapi Sie Bun Yun telah menarik tangannya.
"Saudara kecil, mari kita pergi dulu! Sampai di luar barulah kita cari akal untuk meloloskan diri."
Bisiknya, Mereka berdua lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Coan Tiong Si Chouw, Yap Yong Ceng dan Wang Han
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Siang saling memandang, kemudian mereka pun manggutmanggut sambil tersenyum licik.
***** Bab ke 32 -Hati Remuk Timbul Dendam Sie Bun Yun berjalan sambil mencari akal agar dapat meloloskan diri Sebelum keluar dari pintu markas cabang ekspedisi Thian Liong, sekonyong-konyong terdengarlah suara jeritan yang memilukan, tampak pula api membumbung tinggi "Cepat lapor pada kepala piauwsu, sekelompok musuh menuju ke mari!"
Itu suara teriakan para anak buah Wan^ Han Siang, tentunya sangat mengejutkannya.
"Coan Tiong Si Chouw, cepat pergi lihat apa yang terjadi!"
Seru Kim Coa Suseng-Wang Han Siang, Dalam keadaan kacau balau, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui telah berhasil keluar Tapi begitu sampai di pintu, beberapa orang langsung menghadang mereka, Sie Bun Yun menggerakkan bambunya, dan beberapa orang itu pun roboh seketika.
Wang Han Siang bergerak cepat melesat ke arah mereka, namun pada waktu bersamaan tampak beberapa benda meluncur ke arahnya, Begitu melihat benda benda itu, Wang Han Siang pun membentak "Tikus-tikus Hwa San, ayoh cepat keluar!"
Tampak dua orang melayang turun.
Yang di depan seorang tua memegang sebatang toya bambu, Wang Han Siang mengenali orang itu, yang tidak lain adalah Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, ketua partai Hwa San.
Melihat orang tersebut, Wang Han Siang tidak berani berlaku ayal lagi, dan langsung menyerang dengan kipas-nya.
Tu Wee Seng memutarkan badannya ke belakang, Wang Han
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Siang tidak berani memburunya, karena ia tahu kepandaian orang tersebut amat tinggi Di saat itu, muncul To Pie Kim Kong-Thu It Kang, dan langsung menyerang Wang Han Siang, namun kemudian meloncat mundur Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara anak gadis.
"Jago-jago dari sembilan partai telah ke mari! Hari kiamat bagi ekspedisi Thian Liong telah tiba!"
Wang Han Siang menyadari bahwa setelah ia menculik Sie Bun Yun dari Cui Cuk San Cung, kaum Bu Lim tidak akan menyudahi sampai di situ sebab menyangkut Cong Cin Ttf.
Oleh karena itu, begitu sampai di markas cabang tersebut, secara diam-diam ia pun menghubungi ke suatu tempat di luar Kota Thai Chouw.
Tapi ketika mendengar gadis itu membentak demi-kian, seketika juga ia tertegun Benar atau tidak ucapan gadis itu, ia pun tidak mengetahuinya.
Namun yang jelas suasana di luar telah kacau balau, sementara itu, Tu Wee Seng, Thu It Kang, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan gadis yang berteriak itu telah melesat pergi, Setelah mengetahui bahwa dirinya ter-jebak, Wang Han Siang segera mengejar, tetapi ke lima orang itu telah hilang, Betapa gusarnya Wang Han Siang, akhirnya ia kembali ke dalam untuk membantu memadamkan api yang berkobarkobar.
Segala itu, memang harus berterimakasih pada Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng.
Ketika ia memukul punggung Pek Yun Hui, justru tidak menyangka kalau Pek Yun Hui akan terpental ke dalam kamar tempat Sie Bun Yun sedang diinterogasi, Begitu melihat Pek Yun Hui terpental ke tempat itu, timbullah suatu ide dalam hati Tu Wee Seng.
Pada waktu itu, Ling Hung juga ingin melesat ke dalam kamar itu, namun
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
keburu dicegah oleh Tu Wee Seng sambil menyekap mulutnya agar tidak bersuara.
"Kalau engkau menghendaki dia tidak mati, harus mendengar perkataanku!"
Bisik Tu Wee Seng, Ling Hung memandang ke dalam kamar itu, kebetulan melihat Pek Yun Hui mengayunkan pedangnya memutuskan tali yang mengikat Sie Bun Yun.
ia pun berlega hati menyaksikannya.
Setelah Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui mulai bertarung dengan Wang Han Siang mereka bertiga lalu menyelinap ke belakang, dan sekaligus menyalakan api di sana, Padahal sesungguhnya, Tu Wee Seng ingin menggunakan api untuk memecahkan perhatian Wang Han Siang, Tak terduga sama seka li, begitu api menyala, para anak buah markas cabang ekspedisi Thian Liong pun bermunculan, maka terpaksalah mereka melukai para anak buah itu.
Di saat bersamaan, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui telah berhasil mengalahkan Wang Han Siang, Oleh karena itu timbullah suatu rencana baru dalam hati Tu Wee Seng, yaitu menyuruh Ling Hung berteriak begitu untuk mengejutkan Wang Han Siang agar dia tidak menyuruh para anak buahnya mengejar, Maka dengan aman mereka berlima dapat meninggalkan tempat itu.
Mereka berlima terus mengerahkan ginkang, dan tak lama sudah berada di luar Kota Thai Chouw, Tapi Tu Wee Seng tidak berhenti, masih terus mengerahkan ginkangnya, sehingga yang lain harus mengikutinya.
Berselang beberapa saat kemudian, mereka berlima sudah sampai di tepi sebuah sungai, tanpa membuang waktu mereka langsung meloncat ke dalam perahu yang di situ, Thu It Kang segera menyuruh pemilik perahu mengayuh sekuat tenaga, dalam waktu sekejap perahu itu sudah mulai melaju.
Tu Wee Seng yakin Wang Han Siang akan melakukan pengejaran, tapi ia pun pereaya Wang Han Siang tidak akan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
menduga mereka mengambil jalan air. Maka ia duduk tenang menghadap Sie Bun Yun.
"Sie Bun Yun, kini engkau telah meloloskan diri,"
Ujarnya. Sebetulnya Sie Bun Yun memang sangat berterima-kasih pada Tu Wee Seng, namun ia sudah mengetahui, bahwa Thu It Kang yang membakar Cui Cuk San Cung.
"Lalu kenapa?"
Sahutnya dingin.
"Sebelum pergi menolongmu, aku dan adik misanmu berikut teman baikmu ini, telah mengadakan suatu perjanjian."
"Perjanjian apa?"
"Setelah berhasil menolongmu, engkau harus memperlihatkan Cong Cin To itu padaku,"
Tu Wee Seng memberitahukan.
"Omong kosong!"
Sahut Sie Bun Yun.
"Saudara Bun Yun, pada waktu itu aku memang telah mengabulkannya,"
Sela Pek Yun Hui.
"Saudara kecil!"
Sie Bun Yun mengerutkan kening.
"Bagaimana engkau boleh mengabulkan itu?"
Ditegur demikian, hati Pek Yun Hui merasa ter-singgung, sehingga nyaris menangis seketika, Melihat Pek Yun Hui begitu, hati Ling Hung merasa sakit sekali, maka tanpa sungkan-sungkan lagi ia menegur Sie Bun Yun.
"Kakak misan! Kenapa engkau berlaku begitu kasar terhadap Kakak Yun? Bukankah kalian teman baik? Kok engkau tega menyentaknya?"
Sie Bun Yun tertegun ketika mendengar Ling Hung menyebut "Kakak Yun"
Pada Pek Yun Hui.
"Adik misan, engkau panggil dia apa?"
Tanyanya dengan heran,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Aku memanggilnya Kakak Yun, apakah salah itu?"
Sahut Ling Hung dan balik bertanyaj Mendadak Sie Bun Yun barigkit berdiri dengan wajah menghijau, tapi kemudian kembali duduk.
Itu pertanda hatinya telah terpukul hebat.
Ia begitu mencintai Ling Hung, tapi kini ia dapat melihat Ling Hung begitu dingin dan acuh tak acuh terhadapnya, sebaliknya malah begitu mesra terhadap Pek Yun Hui.
Pemuda itu sama sekali tidak menduga Pek Yun Hui sebetulnya seorang gadis, tentunya tidak bisa mencintai Ling Hung.
Ia mengira, ketika dirinya diculik, Pek Yun Hui justru merebut cinta tersebut, sehingga membuat Ling Hung menjauhinya.
"He he he!"
Sie Bun Yun tertawa aneh.
"Saudara kecil, bagus! Bagus sekali-.!"
"Saudara Bun Yun!"
Sahut Pek Yun Hui tenang.
"Legakanlah hatimu, aku bukan orang semacam itu."
"Masih bilang begitu?"
Sie Bun Yun melotot "Eh?"
Ling Hung terheran-heran.
"Kalian membicarakan apa?"
Pek Yun Hui ingin menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan identitasnya, maka ia berkata dengan mata agak bersimbah air.
"Adik Hung, Saudara Bun Yun mengira aku mencintaimu padahal aku,., aku... aku...."
Berkata sampai di sini, Pek Yun Hui melihat wajah Ling Hung telah berubah pucat, dan air matanya meleleh.
"Kakak Yun, kalau begitu engkau sama sekali tidak mencintaiku?"
"Bukan, Aku...."
Hati Pek Yun Hui kacau balau, Yang paling tidak sabaran adalah Tu Wee Seng.
"Hei! Hubungan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
kalian yang tidak karuan itu, lebih baik diselesaikan nanti saja! sekarang kita membicarakan Cong Cin To itu, di mana barang itu?"
Bentaknya.
"Ada urusan apa denganmu?"
Sahut Sie Bun Yun membentak pula.
"Bagus!"
Tu Wee Seng mulai marah.
"Mati-matian aku menyelamatkanmu, bahkan juga telah mengikat permusuhan dengan partai Thian Liong! Apakah hanya dengan sahutanmu itu dapat menyudahinya?"
"Dasar tak tahu diri!"
Sambung Thu It Kang sambil melangkah maju ke hadapan Sie Bun Yun, kemudian mendadak menyerangnya dengan sebuah pukulan Sie Bun Yun menyambut pukulan itu dan timbullah pertarungan Ling Hung sama sekali tidak mengacuhkan pertarungan itu.
ia menatap Pek Yun Hui dengan mata redup seraya bertanya.
"Kakak Yun, betulkah engkau tidak mencintaiku?"
Pek Yun Hui merasa iba padanya, ia menarik nafas panjang dan menjawab perlahan "Aku tentu mencintaimu."
"Syukurlah!"
Ucap Ling Hung sambil menarik nafas Iega.
"Kakak Yun, kalau engkau menjawab tidak mencintaiku maka aku akan segera bunuh diri di sini."
"Adik Hung, tapi aku... aku...."
Ketika Pek Yun Hui berkata sampai di situ, mendadak ia mendengar suara bentakan Sie Bun Yun.
"Berhenti!"
Pemuda itu meloncat mundur, lalu memandang Pek Yun Hui dengan wajah penuh diliputi kegusaran "Saudara kecil!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Tersentak Pek Yun Hui dibentak demikian lebih-lebih ketika menyaksikan wajah pemuda itu "Saudara Bun Yun, engkau telah salah paham terhadapku!"
Serunya dengan nada berduka.
"Saudara kecil!"
Tiba-tiba Sie Bun Yun menarik nafas dalam-dalam, kemudian ujarnya menegaskan "Aku tidak menghendakimu melakukan suatu kesalahan terhadap adik misanku!"
Setelah menegaskan sampai di sini, wajah Sie Bun Yun berubah pucat pias tapi masih melanjutkan perlu diketahui, pemuda itu telah terluka dalam "Adik Hung!
Aku mengucapkan selamat padamu yang telah mendapatkan.
kekasih yang begitu baik...."
Air mata Sie Bun Yun berderai, kemudian mendadak terkulai.
Ternyata ia ingin berkorban demi Ling Hung, padahal sesungguhnya ia sangat mencintai gadis tersebut Kini yang serba salah adalah Pek Yun Hui.
sesungguhnya ia mencintai Sie Bun Yun sedangkan Sie Bun Yun justru sangat mencintai Ling Hung, sebaliknya Ling Hung malah mencintainya, namun dirinya juga seorang gadis, Entah harus bagaimana membereskan masalah yang tidak karuan ini?
Begitu Sie Bun Yun jatuh pingsan, hati Pek Yun Hui seakan remuk dan merasa dirinya tenggelam entah ke mana?
Tiba-tiba ia merasa matanya gelap, dan apa yang diucapkan Sie Bun Yun terus mengiang di dalam telinganya, sehingga membuat air mukanya berubah tak sedap dipandang.
Sekonyong-koyong ia merasa ada sebuah tangan halus memegang bahunya, terdengar pula suara yang amat lembut "Kakak Yun, kenapa engkau?
Kok diam saja?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
itu suara Ling Hung, akan tetapi mendadak Pek Yun Hui mengibaskan tangannya sekuat tenaga, sehingga membuat Ling Hung terdorong beberapa langkah.
"Saudara Sie Bun!"
Teriaknya sambil mengarah pada pemuda itu.
"Engkau telah salah paham terhadapku!"
Ternyata Sie Bun Yun telah sadar dari pingsannya, Kebetulan ia melihat Pek Yun Hui mengibaskan tangannya mendorong Ling Hung, maka hatinya bertambah duka.
"Saudara kecil!"
Bentaknya mengguntur.
"Engkau.,, engkau bersikap begitu terhadap adik Hung?"
"Saudara Bun Yun...."
Air mata Pek Yun Hui meleleh "Walau Ling Hung mencintaiku tapi aku... aku...."
Tutup mulutmu!"
Bentak Sie Bun Yun lagi.
sementara Ling Hung terhuyung-huyung ke belakang, lalu berdiri dengan wajah pucat pias, dan air matanya mulai berderai-derai "Adik Hung begitu mencintaimu, apakah engkau tidak mengetahuinya?
Saudara kecil!"
Sie Bun Yun menarik nafas panjang.
"Aku tahu."
Pek Yun Hui manggut-manggut.
"ltulah! padahal aku sangat mencintai adik Hung, namun dia malah mencintaimu, oleh karena itu mulai sekarang aku serahkan dia padamu, Tapi kenapa engkau tadi mendorongnya? Apakah engkau cuma ingin mempermainkannya ?"
Tanya Sie Bun Yun dengan wajah murung.
"Saudara Bun Yun, aku akan memapahmu bangun, Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu,"
Ujar Pek Yun Hui lembut "Tidak usah!"
Sahut Sie Bun Yun membentak dan berusaha bangun, tapi terkulai lagi.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Secepat kilat Pek Yun Hui menahannya agar tidak terkulai itu membuat Sie Bun Yun bersandar pada dirinya, sehingga menyebabkan hati Pek Yun Hui ber-debar-debar tidak karuan.
Sie Bun Yun meraih sebuah kursi, lalu duduk dengan nafas memburu, kemudian memandang Pek Yun Hui seraya berkata.
"Engkau mau menyampaikan apa, cepatlah!"
Ketika Pek Yun Hui baru mau membuka mulut, mendadak terdengar suara seruan Ling Hung yang bernada putus asa.
"Kakak Yun!"
Pek Yun Hui segera menoleh memandang Ling Hung, Gadis itu melangkah perlahan dengan air mata terus berderai.
"Kakak Yun, apa kesalahanku sehingga engkau begitu tega mendorongku ?"
Ujarnya.
"Bukan...."
Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala. Ling Hung terus menatapnya dengan mata menyorotkan sinar aneh, lalu tertawa.
"Kakak Yun, legalah hatiku, Aku tadi mengira engkau sengaja mendorongku, maka aku pun ingin bunuh diri,"
Ujar Ling Hung.
"Adik Hung, dengarkanlah!"
Pek Yun Hui mengeraskan hati.
"Kakak Yun, katakanlah! Aku pasti dengar dan menurut seandainya engkau bilang tidak mencintaiku, aku pun tidak akan membencimu Sungguh!"
Ujar Ling Hung sambil tersenyum.
"Adik Hung, aku bukan tidak mencintaimu, melainkan aku...."
Baru berkata sampai di sini, air muka Ling Hung telah berubah.
"Melainkan apa?"
Tanya gadis itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Saudara kecil!"
Bentak Sie Bun Yun.
"Kalau engkau berani menebuskan kata-kata yang menyakitkan hati adik Hung, aku pasti tidak akan melepaskanmu!"
"Aaaakh.,."
Keluh Pek Yun Hui, lalu melangkah ke depan perahu.
"Kakak Yun!"
Ling Hung segera menyusulnya.
Pek Yun Hui berdiri di tempat sambil memandang arus sungai yang terus mengalir pemandangan itu membuat hatinya seperti tersayat "Kakak Yun, perkataanmu barusan masih belum usai,"
Ujar Ling Hung yang berdiri di sisinya. Pek Yun Hui menoleh, tampak wajah Ling Hung pucat pias seperti kertas, dan sekujur badannya bergemetar.
"Adik Hung, apakah engkau tidak tahu Sie Bun Yun amat mencintaimu?"
Tanya Pek Yun Hui.
"Aku tahu itu,"
Sahut Ling Hung.
"Karena engkau tidak mencintainya, maka dia begitu berduka,"
Ujar Pek Yun Hui sambil menatapnya.
"Apakah hatimu sama sekali tidak tergerak?"
"Kakak Yun!"
Ling Hung menarik nafas panjang.
"Aku merasa bersalah terhadapnya, Namun aku cuma seorang diri dan memiliki sebuah hati, sedangkan hatiku telah mencintaimu."
Pek Yun Hui diam, dan di saat itu terdengarlah suara tawa Sie Bun Yun yang memilukan hati.
"Saudara kecil!"
Ujarnya pula.
"Walau adik Hung tidak mencintaiku, aku tetap tidak menyalahkannya, lagi puIa... cinta tidak bisa dipaksa."
Yang paling kesal di saat itu adalah Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, ia menyaksikan adegan itu seakan sedang
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
menonton opera, ia bangkit berdiri menghampiri Pek Yun Hui dengan membawa toya bambunya.
"Urusan kalian yang tidak karuan itu, sudah usai belum?"
Tanyanya dingin.
"Bukankah sudah usai?"
Sahut Sie Bun Yun sepatah demi sepatah.
"Kakak misan A Yun!"
Ucap Ling Hung sambil bersandar di badan Pek Yun Hui.
"Aku memang bersalah terhadapmu."
"Ha ha!"
Sie Bun Yun tertawa.
"Adik Hung, jangan kau ungkit lagi masalah itu!"
Pek Yun Hui malah tertegun.
Kalau urusan ini masih berlanjut, akan semakin sulit menyelesaikannya, Namun kalau ia memberitahukan tentang identitas dirinya se-karang, ia khawatir Ling Hung akan bunuh diri saking malu nya.
Di saat Pek Yun Hui sedang termenung, mendadak terdengar suara deru arus sungai, bahkan terdengar pula suara terompet.
"Kalian cepat masuk!"
Bentak Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng. Karena hatinya sedang kesal, maka ketika mendengar suara bentakan itu, Pek Yun Hui menyahut dingin.
"Kenapa kami harus menurut padamu?"
"Bocah sialan!"
Caci To Pie Kim Kong-Thu It Kang.
"Kakak seperguruan adalah ketua partai Hwa San, tentunya kalian harus menurut padanya!"
"Phui!"
Ling Hung meludah.
"Siapa berani menghina Kakak Yunku?"
"Gadis bedebah...."
"Kalian jangan ribut, cepat lihat!"
Tu Wee Seng menunjuk ke depan.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Air muka Tu Wee Seng membuat mereka tertegun, sebab Tu Wee Seng berkepandaian tinggi, namun saat ini justru tampak gugup, Bukankah sungguh mengherankan7 Ternyata tampak hampir dua puluh orang berenang mendekati perahu tersebut Mereka jelas sangat ahli dalam air, bahkan tangan mereka juga memegang semacam senjata.
"Hm!"
Dengus Pat Pie Sin Ong Tu Wee Seng.
"Memang Kim Coa Suseng-Wang Han Siang tidak bernama kosong, dia bisa menduga kita mengambil jalan air."
"Suheng, apakah mereka orang-orang ekspedisi Thian Liong?"
Tanya Thu It Kang.
"Tidak salah,"
Sahut Tu Wee Seng dan menambahkan "Mereka mahir berenang dan membawa semacam alat, tentu mereka ingin menenggelamkan perahu ini. Maka kalau di antara kita masih ada yang ribut, kita pasti celaka."
Hati Pek Yun Hui dan Ling Hung kebat-kebit menyaksikan itu.
sedangkan Tu Wee Seng sudah mengeluarkan senjata rahasianya, begitu pula Thu It Kang.
Tampak tiga orang berenang mendekati perahu, seketika juga Thu It Kang mengayunkan tangannya melepaskan senjata rahasianya.
Ketiga orang itu tahu akan kelihayan senjata rahasia itu.
Maka mereka segera nyelam, Berselang beberapa saat kemudian, ke tiga orang itu timbul lagi, Akan tetapi pada waktu bersamaan, Tu Wee Seng mengayunkan tangannya melepaskan senjata rahasianya dengan sepenuh tenaga.
Dua orang tidak keburu menyelam, maka tenggelam selama-Iamanya, sedangkan salah seorang yang keburu menyelam itu muncul di tempat lain lalu mendadak mengeluarkan siulan aneh.
Begitu mendengar suara siulan itu, belasan orang yang sedang berenang mendekati perahu itu langsung menyela m.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Tu Wee Seng dan Thu It Kang terus menunggu, tapi mereka tidak timbul lagi, entah menghilang ke mana.
"Suheng, bagaimana baiknya?"
Tanya Thu It Kang.
"Hm!"
Dengus Tu Wee Seng dingin, lalu memandang Sie Bun Yun seraya membentak.
"Bocah! Di mana Cong Cin To itu?"
"Kenapa aku harus bilang?"
Sahut Sie Bun Yun ketus.
Demi Cong Cin To itu, Tu Wee Seng telah bermusuhan dengan partai Thian Liong, tapi akhirnya tetap tidak mengetahui barang itu berada di mana, Sudah puluhan tahun ia berkecimpung di rimba persilatan dan selama itu tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Maka begitu mendengar jawaban Sie Bun Yun yang ketus itu, amarahnya langsung memuncak "Bocah, apakah engkau mau cari mati?"
Bentaknya mengguntur, lalu mendadak menyerangnya dengan jurus Taysan To Liu (Air Mengalir di Gunung Taysan).
Baca Juga: Antara Dendam Dan Asmara 6
Baca Juga: Mestika Burung Hong Kemala 4